P. 1
kaedah ushul fiqh

kaedah ushul fiqh

|Views: 474|Likes:
Published by Richy D'fighter

More info:

Published by: Richy D'fighter on Nov 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/26/2013

pdf

text

original

Kultum Mesjid Ar Rahmah Madrasah (Syukurilah Nikmat Tuhanmu!) ADAB BERPUASA November 10, 2009...

10:29 am

KAIDAH-KAIDAH USHUL FIQH*
Jump to Comments 3 Votes BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Masalah Qawaidul Ushuliyah (kaidah-kaidah Ushul) adalah suatu kebutuhan bagi kita semua khususnya mahasiswa Azhar, calon mujtahid yang akan meneruskan perjuangan pendahulu-pendahulu kita dalam membela dan menegakkan islam dimanapun berada. Banyak dari kita yang kurang mengerti bahkan ada yang belum mengerti sama sekali apa itu Qawaidul ushuliyah. Maka dari itu, kami selaku penyusun mencoba untuk menerangkan tentang kaidah-kaidah ushul, mulai dari pengertian, perkembangan, sumber-sumbernya, dan beberapa urgensi dari kaidah-kaidah ushul. II. Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Mengerti dan memahami pengertian kaidah ushul. Menyebutkan sumber-sumber pengambilan kaidah-kaidah ushul. Menyebutkan rukun serta syarat-syarat kaidah-kaidah ushul. Mengerti persamaan serta perbedaan antara kaidah ushul dan kaidah fiqh? Mengeerti hubungan antara kaidah-kaidah ushul dengan ushul fiqh itu sendiri? Mengetahui faedah serta kedudukan kaidah-kaidah ushul. Mengetahui buku-buku yang di karang ulama tentang kaidah-kaidah ushul.

III. Tujuan Pembahasan Makalah ini disusun bertujuan agar kita mengetahui, memahami dan mengerti tentang hal-hal yang berhubungan dengan kaidah-kaidah ushul, mulai dari definisi, sumbersumber, rukun, syarat, perbedaannya dengan kaidah-kaidah fiqh, hubungannya dengan ilmu ushul fiqh dan buku-buku yang menjadi subernya. BAB II

yang kemudian dalam bahasa indonesia disebut dengan istilah kaidah yang berarti aturan atau patokan. Dari seluruh arti tadi dapat kita simpulkan bahwa kaidah secara bahasa artinya tidak akan keluar dari dasar atau pondasi dan tempat sesuatu. Dr. Prof. Didalam seluruh defenisi tadi terdapat perbedaan pendapat dalam kalangan ulama. dan al-nasaq (metode atau cara). kaidah memilik banyak arti diataranya: al-asas (dasar atau pondasi). Muhammad Syabir mendefinisikan sebagai:” ”Suatu perkara kulli (kaidahkaidah umum) yang dengannya bisa sampai pada pengambilan kesimpulan hukum syar’iyyah al far’iyyah dari dalil-dalilnya yang terperinci”.PENGERTIAN Sebagai studi ilmu agama pada umumnya. al-Mabda’ (prinsip). yang baik atau yang buruk). penyusun akan mencoba menulis beberapa defenisi dari kalangan ulama atau hanya sekedar menulis defenisi yang menurut penyusun lebih rajih atau lebih kuat. Jailany mendefinisikan sebagai:” hukum kulli (berifat umum) yang berdiri diatasnya furu’ fiqhiyah yang di bentuk dengan bentuk umum dan akurat”. Qo’id ar rojul (Istrinya). defenisi ushul fiqh secara bahasa dan istilah. Al Qi’dah (cara duduk. . Adapun secara istilah banyak sekali defenisi yang di buat oleh para ulama.“ Defenisi Ushul Fiqh Untuk defenisi ushul fiqh sengaja penyusun tidak sebutkan karena sudah ada yang membahasnya. Dalam bahasa arab. tetapi yang paling lengkap dan paling baik menurut penyusun adalah: ”Suatu perkara kulli (kaidah-kaidah umum) yang berlaku pada semua bagianbagiannya. kita kita akan mencoba menjelaskan beberapa permasalahan mulai dari defenisi kaidah secara bahasa dan istilah. al-Qanun (peraturan dan kaidah dasar). Defenisi kaidah-kaidah ushuliyah Dr. Dzul Qo’dah (nama salah satu bulan qomariyah yang mana orang orab tidak mengadakan perjalanan didalamnya) dan lain sebagainya. defenisi kaidah-kaidah ushuliyyah secara bersamaan. kajian ilmu tentang kaidah-kaidah ushul diawali dengan definisi.. Dalam studi ilmu kaidah ushul fiqh. Defenisi ini belum maani’ karena kaidah-kaidah fiqh masih masuk didalamnya. Defenisi ilmu tertentu diawali dengan pendekatan kebahasaan. Defenisi kaidah Qawaid merupakan bentuk jamak dari qaidah.

maka tidak perlu di perpanjang di sini. bahasa (Ushul at tahlil al lughawi). untuk membebaskan manusia dari kegelapan. dengan dalil . kaidah-kaidah ushul fiqh bersumber dari naql (Al-Qur’an dan Sunnah). AL Isra: 82) Dan firman Allah: “dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”. dan cara penggunaan dalil serta kondisi pengguna dalil”. (QS. yang secara terperinci kita jelaskan dibawah ini. Al Qur’an bisa difahami dari uslub-uslub bahasa arab. Penyusun yakin semua orang tahu itu. firman Allah yang Maha mengetahui apa yang bermanfaat bagi manusia dan apa yang berbahaya. Pertama: Al Qur’an. (QS An Nahl: 89) Ini adalah kedudukan al Qur’an. Diantara kaidah-kaidah ushul yang di hasilkan dari Al Qur’an adalah: 1. Kitab ini adalah kitab undangundang yang mengatur seluruh kehidupan manusia. ‘Akal (prinsip-prinsip dan nilai-nilai). dengan dalil ‫إنا أنزلناه قرآنا عربيا لعلكم تعقلون‬ 3. dan merupakan obat bagi ummat dari segalah penyakitnya. dengan dalil ‫وما ينطق عن الهوي إن هو إل وحي يوحي‬ 2. Adat atau kebiasaan di akui sebagai hukum pada permasalahan yang tidak memiliki dalil. Allah berfirman : “dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”. Sunnah adalah sumber hukum yang di akui. BAB III SUMBER-SUMBER PENGAMBILAN KAIDAH-KAIDAH USHUL Secara global. Al Qur’an merupakan firman Allah SAW yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW.Defenisi yang menurut penyusun lebih akurat adalah:” Hukum kulli (umum) yang dibentuk dengan bentuk yang akurat yang menjadi perantara dalam pengambilan kesimpulan fiqh dari dalil-dalil.

dan masih banyak lagi.‫حذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهلين‬ Kedua: As Sunnah Allah memberikan kemuliaan kepada nabi Muhammad SAW dengan mengutusnya sebagai nabi dan rasul terakhir untuk umat manusia dengan tujuan menyampaikan pesanpesan ilahi kepada umat. 61. Perintah yang mutlak hukumnya wajib (‫)المر المطلق يفيد الوجوب‬ 2. 59. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya. dan Allah akan memberi Balasan kepada orangorang yang bersyukur”. 65.132.144. karena siapapun yang menjadi utusan pasti lebih rendah tingkatannya dari yang mengutus. Allah Berfirman yang artinya:” Muhammad tidak lain hanyalah seorang rasul”. Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun. 64. 172 juga didalam surat An Nisa ayat: 42. Ali Imran: 144) Banyak sekali ayat Al Qur’an yang menjelaskan bahwa sunnah Rasulullah adalah merupakan salah satu sumber agama islam. Ijma’ Sahabat bahwa “hukum terbagi menjadi 5 macam”. Maka nilai kemuliaan Rasulullah bukan dari dirinya sendiri tetapi dari Sang Pengutus yaitu Allah SWT. Jika berkumpul perintah dan larangan maka larangan di dahulukan (‫إذا اجتمع المر‬ ‫)والمحرم قدم المحرم‬ 4. Ijma’ Sahabat bahwa “syariat nabi Muhammad menghapus seluruh syariat yang sebelumnya”. Qiyas merupakan hujjah yang di akui secara syar’I (‫)القياس حجة معتبرة شرعا‬ Ketiga: Ijma’ Diantara kaidah-kaidah ushul yang di ambil dari ijma adalah: 1. Allah berfirman yang artinya: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. (QS. Maka terimalah. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang. diantaranya firman Allah dalam surat Ali Imran ayat: 53. 2. Ali Imran: 144). Ijma’ Sahabat bahwa “hukum yang di hasilkan dari hadits ahad dapat di terima”. sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Ijma’ merupakah hujjah yang di akui secara syar’I (‫)الجماع حجة معتبرة شرعا‬ 3. Jika seluruh perintah Allah telah disampaian oleh Rasulullah kepada umat. 3.“ Diantara kaidah-kaidah ushul yang di ambil dari hadits adalah: 1. dan bertakwalah kepada Allah. Bahkan didalam surat Al Hasyr Allah berfirman: “apa yang diberikan Rasul kepadamu. (QS. Maka tinggalkanlah. . dan apa yang dilarangnya bagimu. selesailah tugasnya dan wajib bagi umat untuk memperhatikan risalah yang di sampaikan oleh rasulullah.

Ilmu Ushuluddin • • • • • • • Baik dan buruk dapat diketahui dengan syar’I bukan dengan akal Rasulullah tidak menetapkan ijtihad yang salah Tidak ada yang ma’sum kecuali nabi Syari’at islam menghapus syari’at sebelumnya Domir goib kadang-kadang kembali pada kalimat yang tidak tertulis. Akal hanyalah sarana untuk mengetahui hukumhukum Allah melalui dalil-dalil al quran dan hadits. dan itu bisa di ketahui melalui siyaaq kalimat. 5. Allah lah yang menjadi hakim. karena kita tidak akan faham islam tanpa akal. apa dalil yang menunjukkan bahwa I’jazul quran sebagai dalil bahwa alqur’an bersumber dari Allah SWT? Dan seterusnya. dan akal merupakan sarana untuk memahami hukum-hukum Allah tersebut. Al Qur’an merupakan dalil yang di akui. . 3. Apa dalil yang menunjukkan bahwa Al Qur’an benar-benar dari Allah? Jika dijawab I’jaz. 2. Hadits-hadits Ahad zonniyah Qiyas adalah hujjah Hukum yang terakhir menghapus hukum yang terdahulu (naskh) Orang awam boleh taqlid Nash lebih di utamakan dari qiyas maupun ijma’ Diantara kaidah-kaidah ushul yang di ambil dari ilmu-ilmu islam 1. 3.Keempat: Akal Akal memiki kedudukan yang tinggi didalam syariat islam. ada satu hal yang harus di perhatikan dengan seksama. Sebagai contoh. Kalimat Aina (‫ )أين‬menunjukkan tempat (syarat ataupun istifham) dan ( ‫)متي و أيان‬ menunjukkan waktu (syarat atupun istifham) Fi’il madi jika menjadi fiil syarat. ia berubah menjadi kaliamat insyaa menurut kesepakatan ahli nahwu. Diantara kaidah-kaidah ushul yang di hasilkan dari akal adalah: 1. Apa dalil yang menunjukkan bahwa Allah itu ada? Jika dijawab Al Qur’an. 4. Baik dan buruk hanya di ketahui melalui syar’I bukan akal. Dengan demikian dapat kita fahami bahwa islam tidak akan kita fahami tanpa akal. 2. bahwa akal tidak bisa berkerja sendiri tanpa syar’I. oleh karena itulah akal merupakan syarat taklif dalam islam. Meskipun demikian. Yang lebih kuat didahulukan dari yang lemah. Kelima: Perkataan Sahabat Diantara kaidah-kaidah ushul yang diambil dari perkataan-perkataan sahabat Rasulullah adalah: 1.

Kalimat Aina (‫ )أين‬menunjukkan tempat (syarat ataupun istifham) dan ( ‫)متي و أيان‬ menunjukkan waktu (syarat atupun istifham) Fi’il madi jika menjadi fiil syarat. (Apakah perintah menunjukkan pengulangan benar-benar terjadi atau tidak?) Jika keempat-empatnya adalah tasowwurot dimanakah hukumnya atau at tasdiq ?? Ahli mantiq ketika berusaha menyelesaikan permasalahan ini berbeda pada 2 pendapat: 1. kaidah-kaidah ushul cukup dengan satu rukun saja yaitu rukun yang keempat.• • (‫ )إلي‬menunjukkan akhir sesuatu (waktu maupun tempat) Dan sebagainya. . ia berubah menjadi kaliamat insyaa menurut kesepakatan ahli nahwu.. ‫( النهي للكرار‬larangan menunjukkan pengulangan) umpamanya kita akan menemukan 4 rukun didalamnya: Pertama : Maudu’ (tema) yaitu ‫النهي‬ Kedua : Mahmuul yaitu ‫التكرار‬ Ketiga : Penisbatan antara keduanya yaitu kebergantungan rukun kedua dengan rukun pertama Keempat : Terjadi atau tidaknya rukun ketiga pada keduanya. 3. dengan kata lain menurut falasifah. 2. o Kaidah ‫سد الذرائع‬ o Kaidah adat dan kebiasaan merupakan dalil yang di akui o Kaidah ‫المصالح المرسلة‬ 2. Ilmu Bahasa Arab • • • • • Domir goib kadang-kadang kembali pada kalimat yang tidak tertulis. (‫ )إلي‬menunjukkan akhir sesuatu (waktu maupun tempat) Dan sebagainya. dan itu bisa di ketahui melalui siyaaq kalimat. Imam Ar Razi mengatakan bahwa at tasdiq tidak cukup dengan rukun ke empat saja tetapi gabungan dari keempat rukun tersebut. Al Falasifah mengatakan bahwa at tasdiq adalah rukun ke empat saja. Ilmu Fiqih • • • Kaidah ‫سد الذرائع‬ Kaidah adat dan kebiasaan merupakan dalil yang di akui Kaidah ‫المصالح المرسلة‬ BAB IV RUKUN DAN SYARAT KAIDAH-KAIDAH USHUL Rukun-rukun kaidah Ushuliyyah Ketika kita melihat sebuah kaidah ushul.

Tujuan dari kaidah-kaidah ushul adalah menyempurnakan ushul fiqh dengan cara menyempurnakan nilai-nilai ushul dengal lafaz yang singkat. Kemudian pembahasan semakin luas hingga muncullah ilmu ushul fiqh.Syarat-syarat kaidah Ushuliyyah 1. dan inilah yang menjadi tonggak munculnya ilmu kaidah-kaidah ushul. Tema kaidah-kaidah ushul adalah ushul fiqh itu sendiri adapun tema ushul fiqh adalah al. Demikian juga ilmu ushul fiqh semakin luas hingga di butuhkan kaidah-kaidah singkat yang dapat dengan mudah diterapkan oleh seorang mujtahid. Dengan demikian tujuan ilmu kaidahkaidah ushul adalah ingin memberikan bentuk lain untuk ushul fiqh dalam bentuk kaidah yang lebih singkat dan sistematis. Tidak bertentangan dengan kaidah lain (baik itu kaidah ushul ataupun kaidah fiqh) yang sebanding dengannya atau lebih kuat darinya. Dari segi histories (Apakah ushul fiqh muncul terlebih dahulu atau kaidah-kaidah ushul?) Sahabat-sahabat Rasulullah. Adapun tujuan ushul fiqh adalah pencapaian nilai-nilai yang dapat menyempurnakan ijtihad dalam fiqh. Perbedaan dalam segi maudu’ (tema). 6. Harus dalam bentuk yang singkat Merupakan perkara yang sempurna Maudu’nya (temanya) harus kulli bukan juz’I (umum) Kaidah-kaidah ushul tersebut tidak bertentangan dengan syari’at dan maqosid syari’ah 5.adillah al ijmaliayah min hautsu dobthi al fiqh. 3. Kaidah-kadiah ushul tersebut harus tegas dan tidak ragu-ragu BAB V HUBUNGAN ANTARA KAIDAH-KAIDAH USHUL DENGAN USHUL FIQH Ketika kita melihat defenis dari ushul fiqh dan kaidah-kaidah ushul. tabi’in dan yang mengikuti mereka sejak dahulu telah berijithad dengan memakai kaidah-kaidah ushul. keduanya tidak akan bisa dipisahkan karena ilmu kaidah-kaidah ushul merupakan bagian dari ilmu ushul fiqh. Hubungan antara keduanya adalah hubungan atara umum dan khusus (ilmu ushul fiqh lebih umum dari ilmu kaidah-kaidah ushul). . dan mengembalikan nilai-nilai tersebut kepada nilai yang lebih umum yang menjadi kaidah buat kaidah tersebut. Dari segi Tujuan. Dengan demikian kaidah-kaidah ushul lebih dahulu muncul dari ilmu ushul fiqh. dah ilmu ushul fiqh muncul sebelum munculnya ilmu kaidah-kaidah ushul. Tetapi meskipun demikian. Adapun perbedaan atara keduanya adalah sebagai berikut: • • • • Mayoritas kaidah-kaidah ushul adalah nilai yang di ambil dari ushul fiqh (ushul fiqh jauh lebih luas pembahasannya daripada kaidah-kaidah ushul). 2. 4. akan jelas sekali perbedaan atara keduanya.

bahwa setiap dalil (baik Qur’an maupun Hadits) yang bermakna perintah menunjukan wajib. Kaidah ushul pada hakikatnya adalah qa’idah istidlaliyah yang menjadi wasilah para mujtahid dalam istinbath (pengambilan) sebuah hukum syar’iyah amaliah. 4. Kaidah ini menjadi alat yang membantu para mujtahid dalam menentukan suatu hukum. Dalam kaidah ini mengandung hukum syar’i. 6. Kaidah-kaidah ushul jauh lebih sedikit dari kaidah-kaidah fiqh. secara ringkas perbedaan kedua kaidah tersebut adalah sebagai berikut : 1. kaidah ushul “al-aslu fil amri lil wujub” bahwa asal dalam perintah menunjukan wajib. Sehingga kita bisa memahami bahwa kaidah fiqih adalah hukum syar’i. Adapun kaidah-kaidah fiqh ulama berbeda pendapat. Kaidah-kaidah ushul lebih kuat dari kaidah-kaidah fiqh. Berbeda dengan kaidah fiqih “al-dharar yuzal” bahwa kemudharatan mesti dihilangkan. kita pun bisa melihat perbedaan yang signifikan dari kedua kaidah tersebut. Perbedaan antara kaidah ushul dan kaidah fiqih pun bisa dilihat dari maudhu’nya (objek). Seperti sholat. Misalnya. Berbeda dengan kaidah fiqih yang banyak terdapat istitsna’iyyah. baik itu pekerjaan atau perkataan. Sedangkan. Kaidah ushul kaidah yang menyeluruh (kaidah kulliyah) dan mencakup seluruh furu’ di bawahnya. karena itu kaidahnya kaidah aghlabiyyah (kaidah umum). Sedangkan kaidah fiqih maudhu’nya perbuatan mukallaf. Seluruh ulama sepakat bahwa kaidah-kaidah ushul adalah hujjah dan mayoritas dibangun diatas dalil yang qot’I. Tetapi dari kaidah ini kita bisa mengambil hukum. Sedangkan kaidah fiqih dari teksnya terkandung kedua hal tersebut.BAB VI PERBEDAAN ANTARA KAIDAH-KAIDAH USHULIYYAH DENGAK KAIDAHKAIDAH FIQHIYYAH Persamaan antara kaidah ushul dan kaidah fiqh terletak pada kesaaman sebagai wasilah pengambilan hukum. Dengan kata lain. Keduanya merupakan prinsip umum yang mencakup masalahmasalah dalam kajian syari’ah. bahwa kemudharatan wajib dihilangkan. ia hanyalah sebuah alat atau wasilah kepada kesimpulan suatu hukum syar’i. Sebagian mengatakan bahwa kaidah-kaidah fiqh bukan hujjah secara mutlaq. 3. Kaidah ushul dalam teksnya tidak mengandung asrarus syar’i (rahasia-rahasia syar’i) tidak pula mengandung hikmah syar’i. kaidah fiqih adalah suatu susunan lafadz yang mengandung makna hukum syar’iyyah aghlabiyyah yang mencakup di bawahnya banyak furu’. Oleh karena itu. dalam perspetif ini kaidah ushul sangatlah mirip dengan kaidah fiqih. Sehingga istitsna’iyyah (pengecualian) hanya ada sedikit sekali atau bahkan tidak ada sama sekali. sebagian . Dan kaidah ini digunakan sebagai istihdhar (menghadirkan) hukum bukan istinbath (mengambil) hukum (layaknya kaidah ushul). zakat dan lain-lain 5. bahwa kaidah ushul bukanlah suatu hukum. Namun. Jika Kaidah ushul maudhu’nya dalil-dalil sam’iyyah. kita bisa memahami. Kaidah ini tidaklah mengandung suatu hukum syar’i. 2.

baik dengan cara taqlid atau ijtihad. dunia dan akhirat. Abu Bakar Al-Qoffal As-Syasyi berkata dalam bukunya “al-ushul”:” Ketahuilah bahwa Nash yang mencakup segala kejadian tidak ada. dan hukum-hukum memiliki ushul dan furu’ . Sebagai muslim tentu berkeyakinan bahwa maslahat dunia adalah sarana untuk mencapat kebahagiaan utama di akhirat nanti. ilmu yang membahas tentang hukum-hukum praktis merupakan ilmu yang paling penting dan harus dikuasai. Setiap manusia berbuat sesuai dengan kemaslahatannya. 7. banyak orang yang mempelajarinya. ia tidak akan melaksanakannya. Allah berfirman yang artinya:” niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. sebagian yang lain mengatakan bahwa kaidah-kaidah tersebut hujjah secara mutlak. dan nilai-nilai itu tidak dapat di ketahui kecuali dengan ilmu fiqh dan ushul fiqh. Faedah Kaidah-Kaidah Ushul Fiqh Manfaat sesuatu bisa dilihat dari buah atau nilai yang di hasilkannya. Jika kita ingin mengetahui manfaat serta kedudukannya maka hendaklah kita melihat kepada nilai atau buah yang dihasilkan oleh kaidah-kaidah ushul fiqh itu sendiri. Setelah ilmu aqidah. tinggi wibawanya . Ilmu ini diambil dari syara’ dan akal yang suci secara bersamaan. Maka hendaklah memulai dengan ushul untuk mengetahui hukum-hukum furu“.. dan furu’ tidak bisa diketahui kecuali dengan ushul. jika tidak ada maslahat (minimal dalam pandangannya). Ia tidak menolak syara’ tidak pula menolak akal. Beribadah atas dasar taqlid tidak sama derajatnya jika dibandingkan dengan beribadah atas dasar ijitihad. Hukum-hukum ini bisa di ketahui.mengatakan hujjah bagi mujtahid ‘alim dan bukank hujjah bagi selainnya. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan“.memiliki banyak pengikut dan murid. Dapat mengangkat derajat seseorang dari taqlid menjadi yaqin. (QS. Imam Ghazali berkata:” Sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang menggabungkan antara akal dan as-sam’ (Al-Qur’an dan Sunnah) dan yang menyertakan pendapat dan syara’”. Diantara faedah kaidah-kaidah ushul fiqh adalah: 1. Kaidah-kaidah ushul lebih umum dari kaidah-kaidah fiqh BAB VII FAEDAH KAIDAH-KAIDAH USHUL FIQH DAN KEDUDUKANNYA DIANTARA ILMU-ILMU SYARA’ 1. Ulama yang faham ushul fiqh dan kaidah-kaidahnya adalah ulama yang tinggi derajatnya. Karena keutamaan ilmu ini lah. Maslahat dibagi dua. Al-Mujadalah: 11) . begitu juga dengan kaidah-kaidah ushul.

hudud dan lain sebagainya. BAB VIII BUKU-BUKU KARANGAN ULAMA TENTANG KAIDAH-KAIDAH USHUL . Ilmu apapun yang memiliki tujuan ini adalah ilmu yang memiliki kedudukan tinggi. Dari segi kebutuhan. lebih singkat dan akurat yang dapat membantu seorang mujtahid dalam pengambilan hukum. Kaidah-kaidah ushul merupakan asas dan pondasi seluruh ilmu-ilmu islam lainnya. tujuan. 3. objek. Semakin besar faedahnya semakin tinggi pula kedudukannya. 5. seseorang dapat dengan mudah mengambil kesimpulan-kesimpulan hukum syari’ah al-far’iyyah dari dalildalilnya langsung dan terus melaksanakannya. Ma la yatimmu al-fadil illa bihi fahuwa faadhil. Usaha untuk mengetahui hukum-hukum Allah adalah merupakan kewajiban terpenting dan merupakan tujuan penciptaan kita di dalam kehidupan ini. Kedudukan Kaidah-Kaidah Ushul Fiqh Kedudukan dan keutamaan sebuah ilmu tidak lepas dari tema. yaitu berada pada urutan pertama setelah ilmu akidah. tujuannya adalah pengambilan hukum syara’ yang praktis dari dalil-dali syara’ dan memperjuangkannya serta memberikan keakuratan dalam berijtihad dan kondisi mujtahid. penyusun telah jelaskan pada penjelasan faedah-faedah ushul fiqh diatas. Karena kaidah-kaidah ushul merupakan sarana yang menghantarkan seseorang pada hukum-hukum fiqh. Tujuan akhir adalah untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Penjelasannya: 1. 4. kekuatan dalilnya serta maslahat yang dihasilkannya. Juga membahas nilai-nilai ushul fiqh untuk di undang-undangkan.2. bagaimanakah kedudukan sebuah ilmu yang bertugas menambah keakuratan ushul fiqh? 3. 2. Dan syariat Allah tidak akan dapat diketahui tanpa kaidah-kaidah ushul. kaidah-kaidah ushul berusaha membentuk kembali ilmu ushul fiqh dalam bentuk yang baru. Tidak ada kebahagiaan didunia maupun di akhirat tanpa syari’at Allah. Jika ilmu ushul fiqh memiliki kedudukan tinggi dalam islam. Kaidah-kaidah ushul memiliki kedudukan tinggi. Dari segi objeknya. Dari segi tujuannya. apa yang di bahas. besar kebutuhan. Dengan memahami kaidah-kaidah ushul. 2. penyusun telah jelaskan bahwa objek kaidah-kaidah ushul adalah ushul fiqh itu sendiri dari segi keakuratannya. Kaidah-kaidah ushul menjadikan pemahaman terhadap al-quran dan sunnah dan sumber-sumber islam lainnya menjadi akurat. tafsir. 6. Dari segi faedah dan buah yang di hasilkan oleh kaidah-kaidah ushul. Seorang yang faham ushul fiqh dan kaidah-kaidahnya akan dapat dengan mudah mengcounter pemikiran-pemikiran yang berusaha menyerang hukum-hukum islam yang telah mapan seperti wajibnya rajam. 4. Maka ilmu fiqh. hadits dan ilmu kalam tidak akan sempurna tanpanya.

Al-Irsyad wa at-taqrib karya Abu Bakar Al-Baqillani 15. At-Tanqih karya Ibnu Mas’ud Al-Hanafi (matan) 9. Mu’tasar al-muntaha al-ushuly karya Ibnu Al-Hajib (matan) 10. Miftah Al-Wusul ila takhrij al-furu’ ala al-Ushul karya Syarif At Tilmisany (710771 H) 4. Ilmu Ushul fiqh karya Syekh Abdul Wahab Khalaf (1888 – 1956 M) 17. begitu . Ilmu Kaidah-kaidah ushul fiqh memiliki objek dan tujuan yang berbeda dengan ilmu lainnya bahkan berbeda dengan objek serta tujuan ilmu Ushul fiqh. Muhammad Zaki Abdul Bar BAB IX PENUTUP Kesimpulan 1. Al-Qowaid wa al-Fawaid Al-Ushuliyah wa ma yata’allaqu biha min al-Ahkam alfar’iyyah karya Ibn Al-Liham Al Hanbaly ( wafat tahun 803 H) 6. apakah merupakan dalil atau tidak dapat dikategorikan pada dua kategori yaitu: Pertama: Kaidah-kaidah ushul yang berdiri sendiri yaitu yang berpatokan pada sumber-sumber islam seperti Al qur’an adalah hujjah. Ushul Fiqh karya Syekh Al-Hadary (wafat tahun 1927 M) 16. Itu artinya ilmu kaidah-kaidah ushul fiqh adalah ilmu yang berdiri sendiri. Aiman Abdul Hamid Al-Badaroin atau buku-buku lainnya.Sebenarnya banyak sekali buku-buku tentang kaidah-kaidah ushul yang dikarang para ulama sejak dahulu hingga awal abad 20 dan dari awal abad 20 hingga sekarang. Takhrijul Al-Furu’ Ala Al-Ushul karya Mahmud bin Ahmad bin Mahmud Abu Al Manqib Al Jinzani (573-656 H) 3. At-Tahrir karya Kamal bin Al Hamam (matan) 8. Minhaj Al-Ushul ila ilmi al-ushul karya Al-Baidawy 12. At Tamhid fi at-takhrij al-furu’ ala al-ushul karya Al Isnawi (7. Bagi yang ingin mengetahui lebih. tetapi pada bab ini penyusun hanya akan menyebutkan nama-nama buku yang membahas tentang kaidah-kaidah ushul yang merupakan referensi utama dalam masalah ini. Al-Ihkam fi Ushul al-ahkam karya Al-Amadi 14. Kaidah-kaidah ushul. Seluruh ulama sepakat bahwa perbedaan antara ilmu dengan ilmu yang lain disebabkan oleh faktor tema atau objek serta tujuan dari ilmu itu sendiri.4-772 H) 5. 2. Taqnin Ushul Fiqh karya Dr. Al-Wusul ila Qowaid al-ushul karya imam Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Muhammad Al Hanafy ( wafat tahun 1007 H) 7. Kaidah-kaidah ushul fiqh adalah ilmu yang mandiri. Diantara buku-buku itu adalah: 1. bisa membaca buku Nadzoriyah at taq’id al Ushuly karya Dr. Raudhatunnazir wa jannatul muanzir karya Ibnu Qudamah 13. Ta’sis An Nazor karya Ubaidillah bin Umar bin Isa Ad Dabusy (364-430 H) 2. Al-Waroqot fi Ushul Al-Fiqh karya Al-Juwaini 11.

Kaidah-kaidah itu adalah yang diambil dari bahasa arab dan lainnya. ijma’ qiyas. Diantara kaidah ini ada yang disepakati oleh ulama sebagai hujjah dan ada yang masih dalam perdebatan dikalangan ulama. Karena ilmu ini merupakan bagian dari ilmu ushul fiqh. Yang kedua ini bukan merupakan dalil yang mandiri tetapi hanya berfungsi sebagai sarana. Ilmu kaidah-kaidah ushul fiqh tidak bisa dipisahkan dari ilmu ushul fiqh itu sendiri. masholih mursalah.juga dengan sunnah. Hubuangan antara keduanya adalah hubungan antara umum dan khusus . 3. Kedua: Kaidah-kaidah yang tidak berdiri sendiri tetapi hanya sebuah alat. saddu ad dzaroi’ dan Istishab.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->