P. 1
Berpikir-Reflektif

Berpikir-Reflektif

|Views: 387|Likes:
Published by adipanembahan

More info:

Published by: adipanembahan on Nov 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/16/2012

pdf

text

original

Berpikir Reflektif

Jozua Sabandar
(Prodi Pendidikan Matematika Sekolah Pascasarjana UPI)

Pendahuluan Mengajar matematika di sekolah tidak hanya menyangkut membuat siswa memahami materi matematika yang diajarkan. Namun, terdapat tujuan-tujuan lain misalnya kemampuan-kemampuan yang harus dicapai oleh siswa ataupun ketrampilan serta perilaku tertentu yang harus siswa peroleh setelah ia mempelajari matematika. Pilar utama dalam mempelajari matematika adalah pemecahan masalah. Dalam mempelajari matematika orang harus berpikir agar ia mampu memahami konsep-konsep matematika yang dipelajari serta mampu menggunakan konsep-konsep tersebut secara tepat ketika ia harus mencari jawaban bagi berbagai soal matematika. Soal matematika yang dihadapi seseorang seringkali tidaklah dengan segera dapat dicari solusinya sedangkan ia diharapkan dan dituntut untuk dapat menyelesaikan soal tersebut. Karena itu ia perlu memiliki ketrampilan berpikir agar dengannya ia dapat menemukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Kegiatan atau proses berpikir yang dijalani agar seseorang mampu menyelesaikan suatu soal matematika mempunyai keterkaitan dengan kemampuan mengingat, mengenali hubungan diantara konsep-konsep matematika, menyadari adanya hubungan sebab akibat, hubungan analogi ataupun perbedaan, yang kemudian dapat memunculkan gagasan-gagasan original, serta lancar dan luwes dalam pembuatan keputusan atau kesimpulan secara cepat dan tepat. Kegiatan belajar yang menekankan pada proses belajar tentu akan menghadirkan kegiatan berpikir dalam berbagai bentuk dan level. Proses berpikir yang dibangun sejak awal dalam upaya menyelesaikan suatu masalah hendaknya berlangsung secara sengaja dan sampai tuntas. Ketuntasan dalam hal ini dimaksudkan bahwa siswa yang menjalani proses tersebut benar-benar telah berlatih dan memberdayakan dan memfungsikan kemampuannya yang ada sehingga ia memahami serta menguasai apa yang dikerjakannya selama proses itu terjadi. Dengan demikian siswa harus dilatih agar memiliki ketrampilan berpikir matematika. Yang menjadi pertanyaan adalah: sejauh mana, berapa lama dalam suatu pertemuan di kelas siswa telah dilatih dan dikondisikan untuk berpikir dalam pembelajaran matematika? Atau, dengan cara apa, atau bagaimana guru dapat mengajar siswa agar menjadi terampil berpikir secara matematis, tidak hanya ketika siswa berusaha memahami suatu situasi matematika ataupun ketika siswa harus berhadapan dengan masalah yang memerlukan solusi? Dengan kata lain, jika siswa harus dilatih untuk berpikir maka ia harus diperhadapkan pada suatu situasi ataupun masalah yang menantang serta menarik untuk diselesaikan. Karena situasi dan suasana belajar di kelas dipandang sebagai suatu lingkungan yang penuh dengan tantangan ataupun penuh sumber yang dapat

1

Ada juga yang memandang bahwa ketrampilan berpikir matematika itu harus dilatih secara khusus dalam pelajaran terpisah. Oleh karena itu. antara lain agar mempermudah dan memperlancar seseorang dalam menyelesaikan suatu masalah. Ketrampilan Berpikir Keterampilan atau kemampuan berpikir yang paling rendah adalah mengingat. 6 + 4 = 10. log ab = Sekalipun berada pada level rendah dalam kemampuan berpikir. Jika kemampuan berpikir tingkat tinggi ini tidak dilatihkan dan dipoles maka siswa tidak memiliki perangkat yang cukup untuk menjadi seorang problem solver yang baik. Oleh karena itu 2 . sehingga ketrampilan berpikir ini harus berlangsung dan merupakan bagian dalam setiap pembelajaran matematika. atau dengan kata lain harus menjadikan siswa sebagai seorang pemecah masalah yang baik. cara pembelajaran matematika secara konvensional yang umumnya menitik beratkan pada soal-soal yang sifatnya drill atau algoritmis serta rutin. Soal-soal atau permasalahan matematika yang sifatnya menantang itu akan memberikan kesempatan bagi siswa untuk memberdayakan segala kemampuan yang dimilikinya atau menggunakan ketrampilan berpikir tingkat tinggi. tidak banyak kontribusinya dalam meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi tersebut. namun peranan mengingat tetap penting. Hal inipun dapat dilihat dalam asesmen yang dilakukan terhadap pencapaian siswa. jumlah ukuran tiga sudut dalam log a + log b. Ada yang berpendapat bahwa aktivitas berpikir ini secara otomatis terjadi dalam setiap pembelajaran matematika di kelas. Banyak pendidik matematika yang berpendapat bahwa untuk melatih kemampuan berpikir maka siswa harus dihadapkan pada masalah-masalah yang sifatnya menantang siswa. Namun pertanyaannya adalah: “sampai sesering apakah dan pada level manakah berpikir itu terjadi?”. sembarang segitiga adalah 1800 . dalam pembelajaran tersebut hanya kemampuan berpikir yang sifatnya rendah. yang lebih banyak mengungkapkan tentang kemampuan menghafal atau menghitung secara algoritmis dan jarang mengenai kemampuan pemecahan masalah siswa. Untuk tujuan tersebut. antara lain karena tidak dilatihkan. agar dapat diterapkan ke dalam setiap kegiatan belajar matematika dimana saja. atau terintegrasi dalam pembelajaran. maka dari guru diperlukan adanya langkah-langkah ataupun tindakan yang tepat untuk membuat proses pembelajaran matematika ataupun proses menyelesaikan suatu soal matematika di kelas menjadi suatu tempat serta kesempatan dimana siswa dapat meningkatkan kemampuan ataupun ketrampilan berpikirnya.dirujuk oleh siswa. misalnya mengingat fakta-fakta dasar ataupun rumus-rumus matematika. misalnya mengingat atau ketrampilan yang sifatnya menghafal fakta untuk kemudian mengungkapkannya jika ditanyakan dalam asesmen. Kemampuan ini yang sejak awal umumnya dilatihkan kepada siswa misalnya mengingat 5 x 5 = 25. dan sebagainya. di kelas ataupun di luar kelas.

mempertanyakan. yaitu secara sengaja belajar dari pengalaman . Sebagai contoh. ketika seseorang sedang membaca suatu naskah 3 . demikianpun kemampuan untuk mengenal ataupun menerapkan konsep konsep tersebut dalam mencari penyelesaian terhadap masalah yang dihadapi. Kemampuan berpikir reflektif dalam matematika yang memuat kemampuan berpikir kritis dan berpikir kreatif sama seperti kemampuan berpikir lainnya. Dalam hal ini siswa dapat mengenal bahwa pada situasi mencari penjang sisi-sisi suatu segitiga siku-siku terkandung konsep segitiga siku-siku dengan teorema Pythagoras. Kebanyakan siswa pada tahun-tahun pertama mereka dilatih untuk menghafal agar mereka bisa mengingat walaupun tanpa mengerti mengapa harus demikian. paling banyak adalah kegiatan dan asesmen tentang kemampuan-kemampuan berpikir ini. 2000). langkah looking back dari Polya adalah suatu tahap berpikir reflektif. mengevaluasi semua aspek yang ada dalam suatu situasi ataupun suatu masalah. Selanjutnya ia dapat menggunakan teorema itu untuk menentukan jawab terhadap pertanyaan tadi. yang direkomendasikan untuk dilatihkan serta dimunculkan sejak anak belajar matematika dari Sekolah Dasar sampai seterusnya (NCTM. tetapi sering tidak dilakukan secara efektif dan tersulit diperkenalkan pada orang (Masson.melatih ketrampilan mengingat pun seyogyanya mendapat perhatian yang proporsional. setiap siswa dalam segala level kemampuan matematika maupun jenjang pendidikan perlu mengalami dan dilatih dalam kemampuan pemecahan masalah. Misalnya. tentu mereka perlu dibina agar memiliki kemampuan berpikir yang lebih memungkinkan mereka mencapai jenjang pengetahuan yang lebih tinggi. pembelajaran matematika di kelas perlu menyentuh juga aspek pemecahan masalah dan dilakukan secara sengaja dan terencana. latihan di kelas ataupun asesmen terhadap kemampuan matematika siswa. akan berkesempatan dimunculkan dan dikembangkan ketika siswa sedang berada dalam proses yang intens tentang pemecahan masalah. Dengan kata lain. Pada umumnya bagi para siswa yang senang dan menyadari pentingnya belajar matematika serta manfaat matematika bagi mereka. Berpikir Kritis Krulik dan Rudnick (NCTM. Misalnya dalam pemecahan masalah. dalam mencari panjang sisi siku-siku suatu segitiga siku-siku jika diketahui panjang sisi miring dan sisi siku-siku yang lainnya. Dalam praktek. 1999) mengemukakan bahwa yang termasuk berpikir kritis dalam matematika adalah berpikir yang menguji. menghubungkan. yaitu memahami dan mengerti. Artinya. 2002). Kemampuan problem solving adalah kemampuan atau kompetensi esensial atau utama dalam mempelajari matematika. siswa tahu bahwa ia dapat menggunakan rumus Pythagoras. Kemampuan berpikir pada level berikutnya adalah kemampuan memahami atau mengerti konsep-konsep matematika.

dan cenderung bereaksi terhadap situasi atau informasi itu. kejelasan dan pemeriksaan secara keseluruhan. apa yang diketahui. Demikian juga. Alasan itu dapat berasal dari informasi yang diketahui ataupun. situasi. dan dia harus memilih manakah yang terbaik dari sekian pilihan tersebut. Ada enam unsur dasar yang perlu dipertimbangkan dalam berpikir kritis (Ennis. terdesak oleh waktu serta apa yang dihadapi itu tidaklah begitu jelas dan rumit. Menurut Ennis (1996). Demikian juga dalam hal berpikir kritis. Sebab. 1996). Alasan ini 4 . sifat dll. Seseorang pada suatu saat tertentu akan selalu harus membuat keputusan. Tentu diperlukan adanya suatu observasi yang jelas serta aktifitas eksplorasi. berpikir kritis sesungguhnya adalah suatu proses berpikir yang terjadi pada seseorang serta bertujuan untuk membuat keputusankeputusan yang masuk akal mengenai sesuatu yang dapat ia yakini kebenarannya serta yang akan dilakukan nanti. apa yang merupakan inti persoalan sebelum ia memutuskan untuk memilih strategi atau prosedur yang tepat atau sesuai. misalnya tentang apa masalahnya. terutama ketika dalam membuat keputusan itu ia sedang berhadapan dengan suatu situasi kritis. jika keputusan itu tidak didasarkan pada informasi serta asumsi yang benar. yaitu: fokus . Singkatnya. Jika keseluruhan unsur ini telah dipertimbangkan secara matang maka orang dapat membuat keputusan yang tepat. Jadi dalam berpikir kritis itu orang menganalisis dan merefleksikan hasil berpikirnya. oleh karena itu kemampuan berpikir kritis harus dikembangkan. Dalam belajar matematika ataupun menyelesaikan soal matematika yang sulit orang harus fokus. kesimpulan.ataupun mendengarkan suatu ungkapan atau penjelasan ia akan berusaha memahami dan coba menemukan atau mendeteksi adanya hal-hal yang istimewa dan yang perlu ataupun yang penting. seorang yang berpikir kritis selalu akan peka terhadap informasi atau situasi yang sedang dihadapinya. Hal ini biasanya terjadi jika seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan keputusan yang mungkin. teorema. disingkat FRISCO. maka kesimpulan itu tidak memiliki dasar yang benar. dan inkuiri agar terkumpul informasi yang akurat yang membuatnya mudah melihat ada atau tidak ada suatu keteraturan ataupun sesuatu yang mencolok. maka harus ada alasan (reason) yang tepat sebagai dasar sebelum suatu langkah ditempuh. Misalnya dalam membuat suatu keputusan dalam memilih suatu strategi atau suatu teorema dalam matematika untuk membuktikan suatu statemen untuk menghasilkan suatu kesimpulan yang benar. Demikian juga dari suatu data ataupun informasi ia akan dapat membuat kesimpulan yang tepat dan benar sekaligus melihat adanya kontradiksi ataupun ada tidaknya konsistensi atau kejanggalan dalam informasi itu. keputusan yang akan diambil itu haruslah didasarkan pada informasi yang akurat serta pemahaman yang jelas terhadap situasi yang dihadapi. alasan. maka hal ini harus didasarkan pada informasi yang diketahui atau yang bersumber dari apa yang dketahui serta sifat-sifat matematika yang relevan dengan masalah yang dihadapi. karena matematika adalah ilmu yang sifatnya deduktif.

namun memberikan suatu pengalaman yang diperlukan bagi 5 . ujian atau test saringan dll merupakan suatu situasi tegang yang dapat memicu seseorang untuk berpikir kritis. dan tidak tinggal diam saja menunggu. Berpikir Kreatif Berpikir kreatif sesungguhnya adalah suatu kemampuan berpikir yang berawal dari adanya kepekaan terhadap situasi yang yang sedang dihadapi. Selanjutnya ada unsur originalitas gagasan yang muncul dalam benak seseorang terkait dengan apa yang teridentifikasi. Kesimpulan dapat melahirkan sesuatu yang baru yang dapat berperan sebagai fokus untuk dipikirkan. Hasil yang dimunculkan dari berpikir kreatif itu sesungguhnya merupakan suatu yang baru bagi yang bersangkutan serta merupakan sesuatu yang berbeda dari yang biasanya dia lakukan. Suasana ulangan. Dalam berpikir kritis. penarikan kesimpulan yang benar harus didasarkan pada langkah-langkah dari alasanalasan ke kesimpulan adalah masuk akal atau logis. eksplorasi. misalnya situasi yang disediakan dalam bentuk suatu soal. dengan menggunakan intuisi serta pengalaman belajar yang mereka miliki. unsur-unsur berpikir kritis ini tercermin dalam heuristic Polya untuk pemecahan masalah. Tetapi pendekatan seperti ini khususnya tidak hanya cocok bagi siswa yang pandai. Dalam keadaan yang ideal. 1988). Jika tidak terdapat kejelasan maka akan sulit untuk membuat suatu kesimpulan dan membuat keputusan yang tepat. misalnya dalam merespons terhadap suatu statemen yang orang lain kemukakan secara lisan maupun tulisan. Untuk mencapai hal ini orang harus melakukan sesuatu terhadap permasalahan yang dihadapi. Selanjutnya. Dilihat secara mendalam. dengan hanya sedikit panduan atau tanpa bantuan guru (Sobel. demikianpun dalam menyampaikan pendapat untuk ditanggapi oleh orang lain. dikarenakan waktu yang terbatas dan sifatnya kompetitif. bahwa di dalam situasi itu terlihat atau teridentifikasi adanya masalah yang ingin atau harus diselesaikan. konteks atau situasi perlu diperhitungkan karena hal ini membantu untuk merujuk pada konsep tertentu dan memilih alasan yang tepat. dan Maletsky. manakala siswa dihadapkan (oleh guru) pada suatu situasi.digunakan untuk kita bersikap kritis terhadap suatu situasi. ataupun suatu situasi yang muncul karena pikiran sendiri yang perlu dikritisi berdasarkan alasan-alasan yang tepat agar kebenaran pemikiran itu mendapat penguatan. Suatu situasi yang menempatkan seseorang dalam keadaan terdesak akan memicunya untuk berpikir kritis sebelum bertindak membuat suatu keputusan yang tepat. siswa diminta untuk melakukan suatu observasi. sedangkan alasan merupakan dasar bagi suatu proses penarikan kesimpulan. Pada akhirnya. sehingga tidak terdapat keraguan dalam membuat kesimpulan ataupun suatu keputusan. Kejelasan mengenai masalah yang dihadapi amatlah diperlukan sebelum seseorang bersikap kritis. setiap pemikiran yang muncul perlu memperoleh pemeriksaan kembali (check) tentang kebenarannya.

dari yang sederhana atau yang informal untuk kemudian dapat dikembangkan menjadi lebih lengkap. oleh karena itu pengalaman belajar yang sedemikian itu perlu disediakan di sekolah secara sengaja agar mempersiapkan siswa untuk dapat memanfaatkannya pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau dalam melaksanakan tugas di tempat pekerjaan. Kelancaran dalam memunculkan gagasan atau pertanyaan yang beragam serta menjawabnya. Kepekaan ini akan muncul lebih jelas jika ada semacam rangsangan yang disediakan dalam masalah atau cue serta tantangan yang diberikan oleh guru. Keaslian atau originalitas dipandang sebagai munculnya gagasan dari yang bersangkutan tanpa memperoleh bantuan dari orang lain. strategi yang sesuai untuk menyelesaikan masalah itu. Berpikir kreatif juga nampak dalam bentuk kemampuan untuk menemukan hubungan-hubungan yang baru. Keinginan atau kebiasaan orang seperti ini perlu dipahami. Kepekaan ini lalu memicu individu untuk meneruskan upayanya untuk melakukan kegiatan observasi. Artinya. karena bosan dengan sesuatu yang sifatnya rutin.mereka di kemudian hari dalam melakukan penelitian. Kepekaan juga menyangkut apa yang dipikirkan atau digagas orang lain (Mason. Karena bagi yang bersangkutan hal tersebut adalah sesuatu yang original (baru bagi dirinya). Kepekaan ini termasuk juga apa yang dirasakan seseorang sehubungan dengan masalah yang diidentifikasi. Kepekaan terhadap suatu situasi masalah menyangkut kemampuan mengindentifikasi adanya masalah. 1985) sehingga memicu individu untuk memunculkan ide atau gagasannya. kelancaran (fluency). serta memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dari yang biasanya (Evans. mampu membedakan fakta yang tidak relevan dan yang relevan dengan masalah. ketika tertumbuk pada kebuntuan. namun untuk orang lain tidaklah sesuatu yang baru. Kadang-kadang ia ingin memperoleh solusi cara yang singkat atau praktis informal. kelenturan dalam memilih dan menggunakan strategi yang lain. Kelenturan dapat dipandang juga sebagai suatu variasi yang sesungguhnya menunjukkan kekayaan ide atau alternatif dan usaha dari yang bersangkutan dalam membangun gagasan menuju pada solusi yang diharapkannya. Burton. Evans (1991) mengemukakan bahwa berpikir kreatif terdeteksi dalam empat bentuk yaitu : kepekaan (sensitivity). sering harus muncul. Keaslian ini muncul dalam berbagai bentuk. dan keaslian (originality). seseorang tidak segan dan memutuskan untuk mengganti strateginya dengan strategi yang lain. keluwesan (flexibiliy). orang sering ingin menemukan atau melakukan hal-hal yang baru. Stacey. ataupun merencanakan dan menggunakan berbagai strategi penyelesaian pada saat menghadapi masalah yang rumit serta kebuntuan. misalnya konsep yang terkait. Dalam situasi seperti ini dimana tersedia berbagai kemungkinan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Originalitas dalam hal ini adalah relatif. 6 . explorasi sehingga dapat muncul gagasangaasan. Tentu hal ini dapat dimengerti bahwa dalam kehidupan. 1999). termasuk konsep-konsep yang relevan. tetapi juga ia dapat menginginkan cara yang formal.

Penantaan yang teratur dan rinci ini membuka kesempatan padanya untuk sewaktu-waktu dapat mengulangi atau membaca serta mengkaji kembali apa yang ia hasilkan. Polya menyarankan heuristic. keaslian. Secara umum dapat dikatakan bahwa berpikir kritis dan kreatif saling menunjang dalam upaya seseorang menyelesaikan suatu masalah. Memberdayakan kemampuan berpikir kritis dan kreatif Situasi pemecahan masalah merupakan tantangan dan saat kritis bagi siswa dalam upaya mencari solusi.Berkaitan dengan kepekaan. Hubungan antara berpikir kritis dan berpikir kreatif Aktifitas berpikir kritis dan berpikir kreatif merupakan kemampuan yang diperlukan ketika seseorang sedang berada dalam keadaan kritis dimana ia sedang berusaha memecahkan suatu masalah yang rumit dan memerlukan caracara penyelesaian yang tidak seperti biasanya. Dengan kerja keras mereka membangun rancangan serta memilih beragam strategi untuk menyelesaikan soal. Dalam hal ini. dengan memberikan 7 . apa yang ia dapat lakukan ataupun yang telah ia lakukan. 1999) kemampuan metakognitif. Dalam hal ini ia harus berani mengambil resiko serta bertanggung jawab terhadap pilihan atau keputusannya. Namun. ketika seseorang sedang berpikir kreatif untuk menghasilkan gagasan dalam upaya penyelesaian suatu soal matematika. Dan ini sesungguhnya adalah apa yang dikemukakan oleh Tang dan Ginsburg (NCTM. jika mereka berhenti ketika jawaban ditemukan. Tentu dalam mencari solusi. dimana pada heuristic yang terakhir. Hal ini perlu dilaksanakan agar individu tidak kehilangan momentum dalam suasana belajar. dari pengamatan dan eksplorasi yang ia lakukan serta mengkaitkan situasi yang dihadapinya dengan pengetahuan matematika yang ia miliki. kelenturan serta kelancaran dalam proses berpikir yang melahirkan gagasan (kreatif) dipandang perlu adanya suatu tindakan lanjut untuk membenahi serta menata dengan baik atau teratur dan rinci apa yang telah dihasilkan. siswa sudah harus berpikir kritis dan kreatif. Ia belajar untuk tidak ragu membuat keputusan. mengontrol serta membuat keputusan yang tepat. terutama sebelum ia sempat lupa akan ide-ide yang bagus yang muncul. maka ia juga harus kritis dalam memilih strategi serta mengontrol pemikirannya. Misalnya. proses metakognitifnya harus diberdayakan. looking back (Polya 1975) hanya menguji jawab dan menggunakan hasil yang diperoleh untuk menyelesaikan soal lain. Kedua kemampuan berpikir ini akan saling menunjang satu dengan yang lainnya. Oleh karena pada saat menyelesaikan soal itu mereka sedang termotivasi kemudian senang dengan hasil yang dicapai. yaitu “seseorang yang berpikir mengenai pikirannya sendiri”. maka mereka kehilangan saat yang berharga dalam proses belajar yang sedang mereka jalani. maka rasa senang dan termotivasi ini harus tetap dipertahankan. yaitu memonitor.

. yang didasarkan pada ide individu ataupun pada pengalaman individu. Disini mereka selain kreatif. Karena disini aspek tantangannya kuat sekali. 1999). dan Lian dapat membaca 12 halaman dalam satu jam. Siswa harus menganalisis situasi kemudian membuat keputusan. 1. “Mengajukan pertanyaan . yaitu : “Menyelesaikan soal itu dengan cara yang lain”. “Apa yang salah”. 2. dan kemampuan koneksi matematika siswa juga perlu mendapat kesempatan untuk dikembangkan. atau malahan akan memunculkan soal-soal yang benar-benar baru atau bersifat tidak rutin. informasi pada soal semula diganti.. ataupun solusi yang mengandung kesalahan apakah secara konsep atau perhitungan. karena guru dengan sengaja atau tidak sengaja sudah memilih soal yang penyelesaiannya dapat diperoleh dengan berbagai cara (strategi). Contoh: 1. dan kemudian menjelaskan apa yang salah . dan dapat diharapkan menimbulkan kekaguman atau apresiasi siswa (disposisi) terhadap matematika. Andi membaca 16 halaman dalam satu jam. sesungguhnya menuntut dan melatih siswa untuk berpikir kreatif serta memberdayakan pengetahuan serta pengalaman yang ada pada mereka.. Siswa diminta untuk membuat suatu keputusan. untuk memastikan apakah informasi yang dikurangi atau ditambahkan itu dapat mempengaruhi terdapat tidaknya solusi. Siswa dapat diminta untuk. Andi dan Lian diberikan tugas dari guru untuk membaca buku. 3. misalnya menemukan kesalahan. dikarenakan konsep-konsep di dalam matematika saling terkait.. Soal ini juga dapat merupakan tantangan baru bagi siswa dan mereka harus menganalisisnya. hal ini amat direkomendasikan. sesungguhnya dimungkinkan. “Apa yang salah” merupakan pertanyaan yang memberi peluang untuk siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis. Tuntutan bagi siswa untuk menyelesaikan soal itu dengan cara lain.tugas baru kepada siswa. ditambah atau dikurangi. “Apa yang akan kamu lakukan” termasuk suatu pertanyaan yang menstimulasi berpikir kreatif. Misalnya. mengapa salah. Jika mereka membaca ta 8 . Hal ini mencerminkan juga kekayaan matematika. dalam satu alinea mengungkapkan secara tertulis apa yang dipikirkannya. Tugas siswa adalah untuk menemukan kesalahan itu serta memperbaikinya. dan “Apa yang akan kamu lakukan”( Krulik dan Rudnick . mereka juga akan kritis.bagaimana jika” sesungguhnya memberi peluang untuk siswa kreatif dalam menciptakan soal-soal baru dengan mengacu pada soal yang tadi diselesaikannya. ataupun beragam jawaban. Menyelesaikan masalah dengan cara yang lain. Mengajukan pertanyaan “. Selain itu. ketika kepada mereka disajikan suatu situasi konflik. 4. bagaimana jika”.

00 0 16 32 48 Lian 12 24 36 48 Dengan memperhatikan table ini. Dalam 1 jam Andi membaca 16 halaman. Andi membaca sejumlah halaman yang sama dengan yang dibaca Lian. A. 12 9 . Tetapi Lian akan membaca selama (x+1) jam. Cara lain: Soal ini dapat diungkapkan dalam bentuk pertanyaan lain.00. dan A ndi mulai membaca pada jam 13. dan Lian 12 halaman. Andi akan menghabiskan jumlah halaman yang sama dengan yang dibaca oleh Lian?. terjadi hubungan berikut: x .00 Andi dan Lian telah membaca jumlah halaman yang sama . misalnya: Setelah berapa jam membaca.00 15 .00 – 15. sbb: Andi Lian Jam 0 12 13 H a l a m a n 16 32 24 36 14 15 48 48 16 64 60 17 0 12 Dari table ini ternyata bahwa pada jam 16.00 – 14.00.berhenti.00 – 16. Dengan demikian. Misalnya dengan menyusun tabel yang memuat informasi yang tersedia pada soal. Cara lain: Situasi pada soal ini dapat disajikan dengan cara lain. 16 = ( x + 1 ).00 13 .00. sedangkan Lian mulai jam 12. pada jam berapa mereka sama sama menghabiskan halaman bacaan yang sama banyaknya. Jawab: Halaman Jam Andi 12. Misalkan setelah x jam.00 14 .00 – 13. jelaslah mereka akan sama-sama membaca jumlah halaman yang sama pada pukul 16.

Bagaimana jika mereka mulai membaca pada saat yang sama. situasi ini dapat diubah. dan Lian membaca 4 jam. (x + y )3. serta dapat menemukan suatu generalisasi. i. Untuk menjawab soal ini orang dapat menggunakan berbagai strategi.00. Contoh 2. tetapi selanjutnya suatu statemen 10 . dengan mengajukan pertanyaan “bagaimana jika. disajikan pertanyaan atau masalah.1. KPK dari 12 dan 16 adalah 48. (x + y)2. yaitu pada jam 16. Tentukan jumlah semua koefisien jika (x + y )41 diekspansikan.00. atau berapa jumlah koefisien dari ( x + 2 y)41? Pertanyaan ‘bagaimana jika’. Jadi mereka menghabiskan halaman yang sama banyak setelah Andi membaca 3 jam.16 x = 12 x + 12 4x = 12 x = 3. B. Hal itu terjadi pada pukul 16..00. Dari soal pada contoh 1 tadi.. Bagaimana jika .. Selanjutnya. Sehingga 48 halaman akan selesai dibaca oleh mereka pada jam 16. sehingga dapat disimpulkan bahwa jumlah semua koefisien dari bentuk (x + y)41 adalah 241. akankah mereka menyelesaikan sejumlah halaman yang sama pada jam tertentu? Jika mereka membaca seterusnya. berapa jumlah semua koefisien dari (x + y + z)41. Jadi Andi akan memerlukan 3 jam dan Lian memerlukan 4 jam. dengan memeriksa jumlah koefisien pada (x + y).00 Atau 3 jam setelah Andi membaca yaitu 3 jam setelah jam 13. misalnya dengan menggunakan bantuan segitiga Pascal. kritis.. Ataupun menggunakan strategi menyederhanakan masalah. sesungguhnya menghadirkan tantangan baru bagi siswa untuk kreatif. yaitu 4 jam sesudah Lian mulai membaca pada jam 12. orang yang memahami konsep Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dapat saja menggunakan konsep tersebut untuk menjawab soal ini.00. baru misalnya. yan awalnya merupakan suatu konjektur. dapatkah mereka menyelesaikan jumlah halaman yang sama pada kali kedua.?”. Catatan: Tentu dalam penyelesaian soal ini. dst.00. atau ketiga? ii. misalnya: Contoh 2. setelah jawaban terhadap pertanyaan tadi ditemukan. Contoh 2. adalah jam 16.2..

. dst. dan menyajikan kegiatan-kegiatan yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengasah kemampuan berpikir kreatifnya..y)40 jika kedua bentuk ini diekspansikan? Diharapkan dari soal-soal ini dapat terlihat suatu pola jawaban yang umum yang ada kaitannya dengan soal semula.. Misalnya. dan ini amat bergantung dari antusiasme siswa setelah berhasil menemukan jawaban. atau mencari. 16/64 19/95 26/65 49/98 = ¼. “bagaimana jika’. Misalnya siswa dapat bertanya masih ia dapat menggunakan segitiga paskal. 4. kita temukanlah jumlah koefisien dari (x – y)41. atau ( x . Masih banyak pertanyaan ‘bagaimana jika . Pada suatu saat ada siswa yang menunjukkan berikut kepada guru: 1.. Dengan caranya. Dengan menghadirkan pertanyaanpertanyaan ‘Bagaimana jika . Dengan mengamati pola ini. = 1/5.. C. Misalnya: (x + y + z ) = x + y + z jumlah koef = 3 2 = (x + y + z ) (x + y + z ) jumlah koef = 9 (x + y + z ) 3 = (x + y + z ) (x + y + z ) (x + y + z ) jumlah koef = 27 (x + y + z ) . = 4/8 = ½ hubungan-hubungan dengan cara menghapuskan saja 4 dengan cara menghapuskan 9 dengan cara menghapuskan 6. 3. . atau algoritmanya sendiri ia akan mengklaim bahwa 11 . yang dilakukan berulang-ulang. menemukan lalu menggunakan suatu strategi baru. jika diekspansikan.. atau dengan cara menghapuskan 9. misalnya penggunaan sifat distributif pada perkalian. 2..’ yang lainnya yang dapat dikemukakan.. Apa yang salah Contoh 3. . hal menarik lainnya masih dapat dikembangkan setelah diperoleh jawaban dari soal-soal yang dikemukakan terlebih dahulu adalah mengajukan pertanyaan. ’ guru dengan mudah dapat menggantikan kegiatan-kegiatan siswa menyelesaikan soal-soal rutin.yang benar dan dapat dibuktikan.. Sesungguhnya.1. dapat dibuat suatu kesimpulan tentang jumlah koefisien dari (x + y + z )n. = 2/5.

Jika ia konsisten dengan caranya tadi. Dalam hal ini.(16)/ 4. maka ia akan mendapatkan bahwa 61/64 = ¼. Selanjutnya. lalu mengapa hasilnya (kedua pecahan itu) bisa sama? Langkah ini membuat siswa memperoleh kesempatan untuk berpikir kritis. Jawab siswa 2. sampai diperoleh suatu pecahan yang tidak bisa disederhanakan lagi. Diharapkan hasil ini akan menarik perhatiannya. Soal ini dapat diselesaikan dengan benar.12/23 = 1/3 adalah benar. Jadi. karena ia mulai menggunakan penalarannya. 6 bukanlah faktor. sehingga pemahamannya mengenai cara menyederhanakan pecahan menjadi lebih jelas. yaitu : 16/64 = 61/64 = ¼. Jelaskan apa yang salah dengan alasannya. Jawab siswa 1.(16) . Sebab 16 tidak sama dengan 1. 12 .8/2. jika setelah siswa menjawab 16/64 = ¼ dengan cara mengeliminasi 6 pada pembilang dan penyebut. sehingga diperoleh ¼. Penyebut-penyebut dari kedua pecahan ini sama. tetapi pembilang-pembilangnya berbeda. ia dapat “digiring” untuk menuliskan suatu hubungan dari apa yang ia hasilkan. maka setelah 16/64 = ¼ ia dapat memperhatikan bentuk: 61/64. Memperoleh jawaban ¼ sebagai bentuk sederhana dari 16/64 dengan cara menghapuskan (mengeliminasi) 6 pada pembilang dan penyebut sesungguhnya adalah suatu kesalahan konsep. dan tidak sama dengan nol.32 = 8/32 = 4/16 = ¼.6 (baca satu kali enam). Seandainya siswa telah mengetahui tentang perananan pertanyaan “bagaimana jika?”. sehingga sudah cukup membuatnya untuk mulai waspada. dan mengapa salah. Timbul konflik baru. Perhatikan bahwa. proses belajar tidak terhenti hanya karena telah ditemukan suatu jawab. 16/64 = 2. untuk mengoreksi akan kesalahan yang dibuat . apa yang harus dilakukan untuk mengoreksi kesalahan itu. Pada 16 dan 64. yaitu 16/64 = 61/64. Bentuk ini disederhanakan dengan membagi pembilang dan penyebut dengan 16. jika 16/64 ditulis sebagai 1. maka proses penyederhanaan suatu pecahan harus dilakukan dengan membagi pembilang dan penyebut dari pecahan itu dengan bilangan yang sama. Akan lebih baik. keputusan untuk memperhatikan 61/64 dapat dipandang sebagai suatu pemikiran yang kreatif dalam menguji kebenaran jawaban yang ditemukan dalam penyelesaian suatu soal. hendaknya ia tidak berhenti sampai di situ saja.

Di suatu toko dilaksanakan suatu obral.Contoh 3.2. dan 2a = b). Siswa harus memberi kejelasan konsep atau sifat matematika apakah yang ia gunakan dalam membuat keputusan sehubungan dengan soal yang dihadapi. Siswa diminta untuk membuat suatu pilihan yang didasarkan pada pikiran serta pengalamannya. ia dapat menebak kemungkinan dimana awalnya kesalahan tersebut. dan kalau a = 0. Pertanyaan ini dirancang untuk merangsang berpikir kreatif sekaligus kritis. kemudian tentukanlah pada langkah mana terletak kesalahan. demikian juga baris pertama dengan baris ke empat dan kelima dari akhir. Aturan yang berlaku adalah ada pemotongan harga 10 % dan dilanjutkan dengan 13 . Ia juga dapat mengobservasi adanya ketidak konsistenan antara baris pertama dan baris ketiga dari akhir. Jika diketahui Maka: a2 a2 – b 2 (a + b)( a – b ) a = b = = = ab ab –b2 b (a – b) a + b = b a + a = b 2a = b 2a = a 2 = 1 Siswa mulai menyadari adanya suatu konflik. Jika ia jeli maka ia dapat melihat bahwa baris ketiga sesungguhnya merupakan suatu bentuk 0 = 0. Perhatikanlah uraian berikut ini. Contoh 4. Dengan adanya tanda garis (coretan) pada baris ke 6 dari bawah uraian ini. D. Terlihat bahwa a = b. Sebab baris-baris sebelumnya tidak memuat kesalahan apapun. karena a = b. Apa yang akan kamu lakukan Ini merupakan suatu langkah perluasan dari aktifitas belajar pasca ditemukannya penyelesaian suatu soal. maka b = 0. atau suatu yang sangat janggal ketika ia mengamati lima baris terakhir. tetapi a + b = b. yaitu a = b. Tentu harus ada kesalahan pada baris-baris sebelumnya. Jelaskan mengapa hal itu salah. Ini artinya a = 0.

00 – 10% x Rp.000.000. Keputusan ini diharapkan dibuat berdasarkan uraian terhadap masalah ini secara tertulis.00 .180. 207. 200.00.00 = Rp.27. 180. apakah jika ia sebagai pembeli akankah memilih cara pertama tadi atau cara pembelian kedua. Ani membeli suatu kalkulator yang dijual seharga Rp.dikenakan pajak pembelian sebesar 15% terhadap tiap barang yang dijual. berapa dana yang Ani harus keluarkan untuk membeli kalkulator itu? Jawab Siswa.000.00 + 15%xR. maka syarat yang perlu yaitu kemampuan berpikir kreatif dan kritis sesungguhnya amatlah diperlukan. Kemudian siswa diminta untuk membuat pilihan dari dua alternatif penjualan ini. 20.200. disampaikan kepada calon pembeli bahwa pada saat mereka membeli suatu barang.000. 180. Jika selanjutnya.000.00 Jika ia mendapat potongan harga 10 % dan membayar pajak pembelian. Tetapi untuk tujuan meningkatkan kemampuan matematika siswa secara optimal. Potongan 10% berarti Rp 200. serta sifat matematika apa yang menjadi andalan mereka untuk membuat keputusan. Dalam hal ini siswa diminta untuk mengungkapkan pilihan mereka yang didasarkan pada perhitungan matematika.00 = Rp.000. Penutup Keseharian kegiatan atau rutinitas seorang guru dengan begitu banyak tugas.000. Apalagi jika guru senantiasa merasa aman bahwa muridnya telah disiapkan untuk menghadapi ulangan atau ujian kenaikan kelas atau ujian akhir. Contoh-contoh yang dikemukakan pada uraian di depan sekalipun sederhana. sering digunakan sebagai alasan mengapa guru tidak beranjak dari kebiasaan mengajarnya.Rp. Selanjutnya ia harus membayar pajak 15%.00 = Rp.000. Alternatif penjualan kedua ini menyajikan suatu tantangan pada siswa untuk berpikir secara kreatif atau pun kritis untuk menjamin ia dalam membuat keputusan yang benar tanpa ragu.00.180. 200. mereka akan membayar barang sekaligus pajaknya 15%. jadi yang harus dibayar adalah Rp. namun dapat mengubah suatu kebiasaan yang rutin di kelas menjadi suatu kegiatan belajar mengajar menjadi pelajaran yang bernuansa 14 .000.00 + Rp.000. sehingga siswa menjadi produktif dan menjadi siswa yang independen.000.0 = Rp. selanjutnya dikenakan potongan 10 % terhadap harga pembelian.

Ed. L. Tetapi guru atau siswa dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti pada contoh tadi pada setiap soal yang berpotensi untuk memunculkan berpikir kritis dan kreatif. United State of America : Prentice Hall. 1999 Yearbook NCTM. Aktivitas –aktivitas yang disediakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif ini hendaknya dihadirkan bukan hanya pada saat pembelajaran matematika yang dilaksanakan dengan pendekatan khusus.P (1999). Reston. Prentice Hall New York. Creative Thinking . Dalam Developing Mathematical Reasoning in Grade K-12.V dan Curcio FR. A Psychological View. Young Children’s Mathematical Reasoning. R. Reston. S. Ed.kritis dan kreatif.R. E. Guru sendiri pun perlu yakin akan pentingnya ketrampilan berpikir kritis dan kreatif ini. Virginia Krulik. tetapi juga dalam pendekatan yang sifatnya tradisional atau konvensional yang umumnya digunakan guru di kelas. Dengan kata lain. L. . Sesungguhnya aktivitas pembelajaran yang menuntut sikap kritis dan kreatif adalah suatu yang esensial yang harus dilakukan siswa dangan bantuan guru. Inc. Stiff. Evans. Virginia 15 . Idealnya disediakan session khusus dalam mata pelajaran matematika untuk kepentingan atau tujuan meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. J. yang harus dilakukan siswa dan guru adalah secara konsisten bekerja keras dan serius yang menjamin tersedianya peluang bagi siswa berpikir kritis dan kreatif kualitas pembelajaran serta hasil belajar. Dalam Developing Mathematical Reasoning in Grade K-12. Tang. Memang untuk mencapai hasil belajar matematika yang baik.P dan Ginsburg.H.A. Idealnya untuk tujuan ini guru perlu menghadirkan situasi-situasi pemecahan masalah yang yang memberikan peluang untuk munculnya ketrampilan berpikir kritis dan kreatif pada diri siswa. dan mau menyiapkan dan memunculkan soal-soal tantangan lebih dari sekedar soalsoal yang disiapkan dalam buku pelajaran. 1999 Yearbook NCTM.V dan Curcio FR. terlatih dan akan lebih siap. Innovative Tasks to Improve Critical and CreativeThinking Skills. sebab siswa dan guru akan terbiasa. Critical Thinking. Stiff. dan Rudnick J. sekalipun hal ini tidak mudah namun perlu dicoba dan dilaksanakan. guru harus kreatif. H. (1996). Daftar Bacaan Ennis.

M. NCTM. Teaching Mathematics.J.E.A. Thinking Mathematically. (2002). G. New York Mason. Stacey K. and Strategies.. New York. dan Maletsky. 16 . Prentice Hall. Principles and Standards for School Mathematics. Researching your own Practice. (1985). Virginia. (1988). New Jersey. Burton. How to Solve it. Polya. A Sourcebook of Aids. Reston. Activities.New Jersey. (1975).Mason. Routlege Falmer..M. Princeton. Sobel.J. The discipline of Noticing. Addison Wesley Publishing Company.L. NCTM (2000).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->