P. 1
buku_pedoman_k3

buku_pedoman_k3

|Views: 951|Likes:
Published by grasty

More info:

Published by: grasty on Nov 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/12/2013

pdf

text

original

BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL

PUSAT TEKNOLOGI NUKLIR BAHAN
DAN RADIOMETRI
Jl. Tamansari No.71
Telp.(022) 2503997 Fax.(022) 250481
http://www.batan-bdg.go.id
BANDUNG 40132
Peuoman Keselamatan Keija Non Rauiasi
PEDOMAN
KESELAMATAN KERJA NON RADIASI
PENYUSUN :
Drs. SUHULMAN
Dra. RINI HEROE OETAMI, MT
RASITO S.Si
AFIDA IKAWATI, ST
ADE SUHERMAN
ZAINAL ARIFIN
SOLEH SOFYAN
Pedoman Keselamatan Kerja Rev.1/2008 i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada ALLAH SWT yang karena rahmatNya kami dapat
menyelesaikan penulisan buku Pedoman Keselamatan Non Radiasi untuk Pusat
Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri – BATAN Bandung.
Buku yang ada di tangan anda ini merupakan seri buku keselamatan yang disusun
oleh Bidang Keselamatan dan Kesehatan Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan
Radiometri. Seri buku ini membahas khususnya tentang keselamatan dan kesehatan
kerja non radiasi yang disusun mengacu pada buku Pedoman Keselamatan Kerja yang
diterbitkan BATAN dan berbagai sumber lainnya. Selanjutnya buku ini akan menjadi
pedoman keselamatan dan kesehatan kerja non radiasi di PTNBR BATAN Bandung.
Buku ini terdiri dari 11 (sebelas) bab, yang berisi pedoman umum keselamatan dan
kesehatan kerja, penanggulangan bahaya kebakaran, keselamatan dan kesehatan di
lokasi kerja dan penggunaan peralatan kerja, tata-tertib di kawasan, serta penggunaan
pakaian dan alat pelindung kerja.
Setiap individu bertanggung jawab atas masalah keselamatan dan kesehatan kerja.
Untuk itu seluruh tingkatan manajemen dan karyawan di lingkungan PTNBR
diharapkan membaca, memahami dan menerapkan ketentuan yang ada di dalam buku
pedoman ini di masing-masing lingkungan kerja yang menjadi tanggung jawabnya.
Meskipun upaya penyusunan buku pedoman ini telah maksimal, penyusun menyadari
bahwa didalamnya masih terdapat kekurangan. Untuk itu penyusun berharap adanya
saran, kritik, dan masukan dari pembaca untuk penyempurnaan buku Pedoman
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Non Radiasi ini kedepan.
Akhirnya, kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan dan penerbitan
buku pedoman ini, kami ucapkan terima kasih.
Bandung, 4 Agustus 2008
Tim Penyusun,
Pedoman Keselamatan Kerja Rev.1/2008 ii
SAMBUTAN
KEPALA PUSAT TEKNOLOGI NUKLIR BAHAN DAN RADIOMETRI
Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh, salam sejahtera buat kita semua!
Sungguh sangat tepat waktunya Bidang Keselamatan dan Kesehatan menyusun buku
Pedoman Keselamatan Kerja yang merupakan revisi total dari seri buku keselamatan
sebelumnya. Dengan kebijakan zero incident yang dianut BATAN, maka usaha untuk
meningkatkan kinerja keselamatan harus lebih mendapat perhatian, kecelakaan-
kecelakaan kecil sekalipun harus tidak terjadi.
Perhatian terhadap keselamatan kerja saat ini makin meningkat, sejalan komitmen
karyawan dan staf pimpinan terhadap keselamatan yang tertuang dalam Kebijakan
Keselamatan. Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri telah melakukan berbagai
usaha, agar kecelakaan tidak terjadi, antara lain dengan selalu mengkaji setiap
prosedur terkait keselamatan oleh Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja,
melakukan kajian risiko bahaya dari setiap kegiatan yang akan dilakukan, membangun
sistem e-learning keselamatan, melakukan survey keselamatan rutin, mengadakan
audit keselamatan internal maupun eksternal, sosialisasi rutin tentang keselamatan
kerja, pengumuman keselamatan sebelum mulai kerja dan saat selesai kerja, serta
berbagai kegiatan lain terkait keselamatan, akan tetapi hal-hal tersebut belumlah
dianggap optimal, karena kami beranggapan bahwa kinerja keselamatan setiap saat
bisa terus ditingkatkan.
Usaha meningkatkan kinerja keselamatan dan mempromosikan agar selalu bekerja
selamat terus menerus dilakukan, salah satunya adalah dengan diterbitkannya
Pedoman Keselamatan Kerja ini. Buku ini selanjutnya akan dijadikan acuan oleh
seluruh karyawan untuk meningkatkan pengetahuannya tentang keselamatan,
sehingga dapat bekerja dalam kondisi selamat, selamat untuk dirinya, selamat untuk
orang lain, dan selamat untuk lingkungan.
Setiap individu bertanggung jawab atas masalah keselamatan dan kesehatan kerja.
Untuk itu seluruh tingkatan manajemen dan karyawan di lingkungan PTNBR
diharapkan membaca, memahami, dan menerapkan ketentuan yang ada di dalam
buku pedoman ini di masing masing lingkungan kerja yang menjadi tanggung
jawabnya. Bersama kita capai zero incident.
Bandung, 11 Agustus 2008
Kepala Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri
Drs. Djatmiko, M.Sc.
NIP:330002309
Pedoman Keselamatan Kerja Rev.1/2008 iii
DAFTAR ISI
Hal
KATA PENGANTAR I
SAMBUTAN KEPALA PTNBR II
DAFTAR ISI Iii
Bab I. Pendahuluan........................................................................................... 1
Bab II. Pedoman Umum Keselamatan dan Kesehatan Kerja............................ 4
Bab III. Penanggulangan Bahaya Kebakaran..................................................... 9
Bab IV. Bengkel................................................................................................... 16
Bab V. Peralatan Listrik...................................................................................... 26
Bab VI. Bahan Kimia........................................................................................... 29
Bab VII. Gas......................................................................................................... 38
Bab VIII. Bejana Tekan......................................................................................... 39
Bab IX. Medik...................................................................................................... 45
Bab X. Tata Tertib di Kawasan PTNBR............................................................. 56
Bab XI. Pakaian Kerja dan Alat Pelindung Diri.................................................... 57
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳ
BAB I
PENDAHULUAN
______________________________________________________________
Bekerja adalah mengembangkan perilaku kehidupan di lingkungan kerja sesuai
dengan keahlian dan ketrampilan yang dimiliki dan bertujuan untuk keselamatan
masyarakat dan lingkungan. Banyak hal yang perlu diketahui oleh seseorang dalam
proses pekerjaan, seperti bagaimana menangani bahan baku, mesin dan peralatan,
bagaimana membaca sebuah gambar atau skema, dan membaca batas waktu
penyelesaian. Namun kriteria terpenting suatu kinerja adalah pada bagaimana
menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan aman.
Bagi karyawan PTNBR yang bekerja di dalam proses produksi maupun operasi
reaktor, keselamatan dan kesehatannya harus menjadi prioritas utama. Tujuan
keselamatan dan kesehatan dari sudut pandang karyawan berarti wajib mematuhi
prosedur kerja standar (standard operating prosedur, SOP) yang telah disediakan dan
tidak boleh mengabaikannya. Dalam pedoman ini akan dijelaskan tindak pencegahan
yang perlu dilakukan untuk menjaga keselamatan dan kesehatan kerja bagi karyawan
baru maupun karyawan lama untuk penyegaran ingatan akan pentingnya keselamatan
dan kesehatan kerja.
Pemahaman tentang konsep dasar pemikiran keselamatan dan kesehatan kerja
sangat penting. Kesehatan jasmani merupakan modal dasar untuk bekerja. Konsep
lama yang mengatakan bahwa kecelakaan tidak bisa dihindari dalam bekerja harus
dihilangkan dari pikiran para karyawan modern. Untuk itu karyawan harus memahami
sebab-sebab kecelakaan dan sakit akibat kerja. Untuk dapat bekerja dalam kondisi
sehat dan aman, jagalah kesehatan, kendalikan diri dari perasaan gelisah, dan
arahkan diri anda kepada suasana kehidupan yang gembira dan menyenangkan.
Mesin yang bagus dan efisien sekalipun dapat menyebabkan kecelakaan atau menjadi
rusak bila dioperasikan dengan tidak benar akibat kondisi fisik pekerja yang sedang
tidak baik.
Cidera terjadi akibat sesuatu kecelakaan, dan kecelakaan dapat dicegah dengan
meniadakan tindakan atau kondisi yang tidak selamat. Kecelakaan dapat terjadi karena
sebab langsung maupun tidak langsung. Di dalam mempelajari penyebab langsung
maka harus diketahui bahwa penyebab tidak langsung melatarbelakangi penyebab
langsung. Karena itu pencegahan terjadinya cidera dimungkinkan dengan cara
menghindari kecelakaan. Tidak saja sebab langsung, tetapi penyebab tidak langsung
juga perlu dihilangkan. Konsep keselamatan yang perlu diperhatikan adalah mencegah
terjadinya kecelakaan apapun akibatnya.
Kecelakaan dapat ditimbulkan oleh kondisi yang tidak selamat, atau tindakan tidak
selamat, atau kombinasi dari keduanya. Karena itu perlu dipahami apa itu kondisi tidak
selamat dan tindakan tidak selamat.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ʹ
a. Kondisi tidak selamat. Kondisi tidak selamat adalah kondisi yang mengandung
bahaya potensial, misalnya pakaian kerja yang tidak sesuai, menghalangi gang
dengan barang, atau tempat kerja yang tidak tertib. Pekerja harus menjaga
agar tidak timbul kondisi tidak selamat dan harus selalu siap untuk
memperbaiki kondisi tersebut setelah diketahui.
b. Tindakan tidak selamat. Tindakan tidak selamat adalah tindakan yang tidak
sesuai dengan aturan yang dibuat untuk menjamin keselamatan di tempat
kerja. Salah satu konsekuensinya adalah larangan melewati suatu daerah gang
yang ditentukan dengan maksud untuk mengambil jalan pintas atau berlari
dengan tergesa-gesa. Untuk itu peraturan keselamatan harus ditaati setiap
saat dan ditempat manapun.
Tindakan tidak selamat yang menyebabkan banyak cidera di tempat kerja berasal dari
kelalaian atau kecerobohan. Faktor-faktor yang merupakan latar belakang penyebab
langsung disebut penyebab tidak langsung. Harus diingat pula bahwa penyebab
kecelakaan tidak hanya tampak dipermukaan saja tetapi juga yang tersembunyi.
Untuk karyawan pemula maupun karyawan terlatih tetap memerlukan pelatihan untuk
mempertahankan perilaku kerja yang berkualitas. Untuk itu dalam melaksanakan
pelatihan kerja, butir-butir penting berikut ini perlu diperhatikan :
1. Mengikuti pelatihan.
Menjadi peserta pelatihan yang aktif dan penuh semangat dengan memusatkan
memusatkan perhatian dan mempunyai keinginan kuat untuk belajar.
2. Aktif bertanya untuk hal yang belum dimengerti.
Jangan segan dan bosan bertanya untuk hal-hal yang belum dimengerti, sampai
dapat betul-betul memahaminya. Jangan mencoba mengerjakan sesuatu tanpa
pengetahuan yang cukup tentang pekerjaan tersebut, karena dapat menimbulkan
kecelakaan, barang atau data yang dihasilkan menjadi rusak, serta menggangu
pekerjaan diri sendiri, rekan sekerja dan suasana di lingkungan kerja.
3. Ingat akan semua hal yang telah diajarkan.
Karyawan harus mampu melaksanakan semua hal yang telah dipelajari dengan
memiliki keyakinan dan mampu menguasai satu jenis pekerjaan yang telah
dipelajari dan ditugaskan.
4. Hal yang perlu diperhatikan pada waktu melaksanakan pekerjaan
Sambil bekerja karyawan dapat bertanya mengenai hal-hal yang belum dipahami
kepada karyawan yang telah banyak pengalamannya dan atasan anda.
5. Praktek kerja yang dilakukan berulang-ulang.
Ulangi praktek-praktek yang dianjurkan sesuai dengan prosedur yang telah
dipelajari.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͵
BAB II
PEDOMAN UMUM KESELAMATAN
DAN KESEHATAN KERJA
____________________________________________________________
a. Tujuan
Pedoman Umum Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K-3) ini disusun dengan
tujuan untuk memberikan petunjuk berupa peraturan-peraturan, dan himbauan
kepada seluruh karyawan PTNBR BATAN Bandung dalam melaksanakan
tugasnya sehari-hari, untuk terciptanya suasana kerja yang aman, sehat dan
tertib.
b. Ruang Lingkup
Ruang Lingkup Pedoman ini adalah untuk Pelaksanaan Ketentuan Keselamatan
Kerja non Radiasi bagi Karyawan PTNBR Batan – Bandung.
c. Bahan Acuan
1. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Himpunan Pedoman
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Mekanik
2. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Himpunan Pedoman
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Penanggulangan Kebakaran dan
Konstruksi Bangunan
3. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Himpunan Pedoman
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Listrik
4. LIPI, Peraturan Umum Instalasi Listrik.
5. Himpunan Peraturan dan Perundangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
6. Undang-Undang Republik Indonesia No. : 13 tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan.
7. Undang-Undang No. : 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
8. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per-04/MEN/1995 tentang Perusahaan
Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja
9. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per-02/MEN/1992 tentang Tata Cara
Penunjukan, Kewajiban dan Wewenang Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja
10. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per-05/MEN/1996 tentang Sistem
Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja
d. Definisi
1. Label Keselamatan (Safety Tag) adalah tanda peringatan yang terbuat dari
kertas/ karton yang kuat, logam, papan dll, ditempatkan atau digantung atau
ditempel pada lokasi ataupun peralatan yang sedang diperbaiki atau yang tidak
boleh diganggu. Isi label berupa larangan, peringatan ataupun anjuran.
2. Penanggung jawab keselamatan kerja di PTNBR adalah kepala Kepala PTNBR
3. Pengawas K3 adalah Kepala Bidang Keselamatan dan Kesehatan (K-2) atau
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ Ͷ
Petugas yang ditunjuk untuk melakukan pengawasan terhadap petugas lain
yang sedang bekerja dengan suatu risiko kecelakaan.
4. Obat-obat terlarang adalah obat-obat keras yang termasuk kedalam golongan
narkotika (turunan Opium) dan obat tidur
5. Petugas gilir adalah karyawan yang bekerja bergantian secara rutin dan terus
menerus, untuk suatu tugas yang berkesinambungan
6. Kendaraan khusus: adalah kendaraan yang digunakan dilingkungan kerja dan
bukan merupakan kendaraan penumpangan.
7. Kecelakaan di tempat kerja: Adalah yang mengakibatkan rusaknya sebagian
atau seluruh alat atau kejadian berakibat luka atau kerugian karyawan yang
menyebabkan korban tidak bisa bekerja selama 2 x 24 jam atau lebih.
e. Petunjuk yang wajib dipatuhi.
1. Setiap orang yang bekerja dengan peralatan dan fasilitas di PTNBR
bertanggung jawab atas keselamatan dirinya selama bekerja.
2. Setiap orang yang memasuki lingkungan kerja harus memakai tanda pengenal
3. Setiap orang yang memasuki daerah instalasi diharuskan memakai alat
keselamatan yang sesuai /disyaratkan dan mematuhi semua ketentuan yang
berlaku.
4. Setiap orang diwajibkan mengumpulkan semua jenis sampah dan kotoran
lainnya dan membuangnya ke tempat sampah yang telah disediakan.
5. Setiap orang diwajibkan memakai alat pelindung diri yang telah disediakan,
apabila bekerja dengan barang-barang yang membahayakan ataupun bekerja
di tempat-tempat yang berbahaya.
6. Setiap orang dilarang makan dan minum di laboratorium, di bengkel, di ruang
komputer, dan instalasi untuk keperluan tersebut harap dipergunakan ruang
makan/kantin yang telah disediakan.
7. Setiap orang dilarang menjalankan/memperbaiki mesin, alat-alat lainnya
apabila tidak ditugaskan untuk itu.
8. Setiap karyawan dilarang keras minum semua jenis minuman yang
mengandung alkohol dan obat terlarang selama jam kerja.
9. Setiap karyawan diwajibkan memelihara tempat kerja dan lingkungan kerjanya
agar selalu bersih, segar, rapi dan indah.
10. Setiap karyawan diwajibkan menggunakan sepatu/alas kaki yang sesuai
dengan daerah kerjanya
11. Setiap karyawan diharuskan melaporkan keadaan yang dapat menimbulkan
bahaya atau kecelakaan kepada Pengawas K3
12. Setiap karyawan, sebelum memulai sesuatu pekerjaan perbaikan daerah kerja,
terlebih dahulu harus memperoleh Surat Ijin Kerja yang sesuai dengan
ketentuan di PTNBR.
13. Setiap karyawan pengemudi kendaraan bermotor khusus harus memiliki SIM
dengan kategori yang sesuai dan berlaku dari Kepolisian.
14. Petugas gilir tidak diijinkan meninggalkan pekerjaannya walaupun jam kerja
telah berakhir, sebelum petugas gilir penggantinya tiba di tempat kerja dan
mengadakan serah terima pekerjaan dahulu.
15. Setiap grid (kisi-kisi lantai) yang terpasang di unit kerja harus selalu dalam
keadaan cukup kuat dan aman.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͷ
16. Tempat kerja harus mempunyai cukup penerangan atau jangan bekerja dengan
penerangan yang kurang memadai, gelap, silau dan pantulan cahaya tidak
dikehendaki dapat menyebabkan bahaya.
17. Tempat kerja harus mempunyai ventilasi dan sirkulasi udara yang baik dan
memadai.
18. Setiap ruangan tempat penyimpananan cairan/gas atau bahan lainnya yang
mudah menguap atau terbakar harus dilengkapi dengan detektor gas sistem
aliran otomatis dan sistem pemadam kebakaran otomatis.
19. Disekitar tempat bekerja yang pekerjaannya mengandung risiko bahaya harus
dipasang rambu-rambu/ label keselamatan. Setiap orang dilarang
memindahkan/merusak rambu-rambu. Label keselamatan, alat-alat pelindung
diri dan sejenisnya yang telah ditempatkan pada lokasi tertentu.
20. Setiap kecelakaan betapa kecilnya harus segera dilaporkan dalam waktu tidak
lebih dari 24 jam ke penanggung jawab ruangan, untuk dilaporkan ke bidang K2
dan jika dianggap perlu akan dibahas oleh P2K3, apabila ada korban segera
bawa ke klinik.
21. Setiap pekerjaan didalam tangki, bejana tekan, apabila menggunakan lampu
penerangan haruslah yang bertegangan setinggi-tingginya 24 Volt, kecuali ada
iziin khusus dari Pengawas K3.
f. Petunjuk Umum
1. Setiap karyawan dianjurkan untuk beristirahat yang cukup di rumah untuk
mencegah terjadinya kecelakaan yang disebabkan oleh faktor kelelahan.
2. Setiap karyawan, sesudah dinas malam, harus tidak dilemburkan karena
kelelahan dapat menimbulkan kecelakaan.
3. Setiap karyawan harus selau dalam keadaan waspada sewaktu melaksanakan
tugas, setiap kecelakaan yang menimpa diri karyawan senantiasa akan
menyebabkan keluarga karyawan menderita.
4. Setiap karyawan sebelum melakukan pekerjaan sebaiknya memikirkan cara
yang aman yang akan dilakukan dan meneliti bahwa semua peralatan kerja
maupun alat perlindungan yang akan dilakukan. Dianjurkan untuk melakukan
evaluasi suatu pekerjaan sebelum pekerjaan dimulai untuk mencegah
terjadinya langkah-langkah yang keliru dan berpotensi mendatangkan bahaya.
5. Dalam melaksanakan suatu pekerjaan yang kiranya membahayakan, setiap
karyawan sebaiknya melakukan musyawarah terlebih dahulu langkah-langkah
2 - 3 yang akan ditempuh. Sumbang saran dari orang lain akan sangat
bermanfaat dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan selamat.
6. Setiap karyawan harap mempertimbangkan dahulu apakah pekerjaan yang
akan dilakukan memerlukan alat-alat pelindung diri ataupun memerlukan
bantuan seorang pengawas Keselamatan Kerja.
7. Setiap karyawan pada saat kerja harus memusatkan konsentrasi sepenuhnya
pada pekerjaan. Dilarang bersendagurau atau mengobrol yang tidak perlu.
8. Dalam melakukan pekerjaan, setiap karyawan selain memikirkan keselamatan
orang lain.
9. Dalam melakukan pekerjaan, setiap karyawan harus menghindari sikap atau
posisi kerja yang tidak mencerminkan keselamatan. Demi keselamatan setiap
karyawan sebaiknya mengambil posisi yang baik dan aman sewaktu bekerja.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͸
10. Setiap karyawan sebaiknya mencuci tangan hingga bersih dengan
menggunakan sabun atau deterjen setiap kali selesai dengan suatu pekerjaan
dan juga setiap saat akan mulai makan dan minum.
11. Setiap karyawan harap berpakaian yang rapi dan bersih. Pakaian yang kotor
menganggu kesehatan, sedangkan pakaian yang kedodoran akan
membahayakan si pemakai terutama apabila berdekatan dengan mesin
dan/atau peralatan yang berputar.
12. Setiap karyawan harus merapikan rambutnya apabila gondrong atau panjang
karena selain mengganggu pekerjaan, rambut gondrong dapat pula
mengancam keselamatan pemiliknya.
13. Setiap karyawan harus memelihara tempat kerja agar selalu rapi, bersih dan
indah agar dapat bekerja dengan nyaman dan aman.
14. Setiap karyawan dianjurkan untuk membiasakan diri berganti pakaian segera
setibanya dirumah dan mencuci bersih tangan dan kakinya. Perlu diingat oleh
karyawan bahwa ia dapat memindahkan debu atau kotoran dari tempat kerja ke
lingkungan keluarganya.
15. Setiap karyawan harap mendengarkan dengan baik semua instruksi atasannya
sebelum melaksanakan pekerjaan menggunakan alat kerja, menjalankan mesin
dan/atau peralatan instansi lain.
16. Setiap orang harap mengembalikan segala sesuatu yang dilihat tidak pada
tempatnya ataupun yang seharusnya tidak terletak dilantai atau tanah.
17. Setiap karyawan harap meletakkan alat kerja pada tempat yang telah
ditentukan/tersedia.
18. Semua jenis sampah dan kotoran lainnya harap dikumpulkan dan dibuang ke
tempat yang telah disediakan.
19. Setiap tumpahan minyak atau benda cair pada lantai atau meja harap
dibersihkan dengan segera.
20. Setiap karyawan harus membaca instruksi kerja (manual) dengan baik tentang
cara-cara menjalankan mesin dan/atau peralatan sebelum memulai suatu
pekerjaan.
21. Setiap karyawan harap menegur siapa saja yang melakukan suatu pekerjaan
yang dapat membahayakan, tanpa mmemandang paakah orang yang
ditegurnya itu atasan atau bukan.
22. Pada waktu mengemudikan kendaraan bermotor, setiap karyawan harus
mematuhi batas-batas kecepatan serta rambu-rambu lalu lintas lainnya.
g. Sanksi
Pelanggaran terhadap Pedoman Umum Keselamatan dan Kesehatan Kerja dapat
dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.
h. Pelatihan
Untuk mencapai dan meningkatkan ketrampilan serta kemampuan personil, harus
disusun program pelatihan yang sesuai dengan kondisi kegiatan. Pelatihan ini
harus meliputi
1. Pelatihan Dasar/awal
2. Pelatihan Kerja termasuk penyegaran
3. Pelatihan Lanjutan dan pelatihan khusus untuk pekerjaan yang berisiko tinggi.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͹
BAB III
PENANGGULANGAN
BAHAYA KEBAKARAN
____________________________________________________________
a. Tujuan
Pedoman Penanggulangan Bahaya Kebakaran ini disusun dengan tujuan untuk
memberikan petunjuk berupa tindakan – tindakan pencegahan dan
penanggulangan bahaya kebakaran dalam melaksanakan tugas sehari-hari.
b. Ruang Lingkup
Ruang Lingkup Pedoman ini Pelaksanaan tindakan pencegahan dan
penanggulangan bahaya kebakaran dalam melaksanakan tugas sehari-hari bagi
Karyawan di PTNBR BATAN Bandung.
c. Bahan Acuan.
1. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Himpunan Pedoman
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Mekanik
2. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Himpunan Pedoman
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Penanggulangan dan Konstruksi
Bangunan
3. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Himpunan Pedoman
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Listrik
4. Himpunan Peraturan dan Perundangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
5. Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. Kep-186/MEN/1999 tentang
Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja
d. Definisi
1. Penanggulangan Kebakaran adalah segala daya upaya untuk mencegah dan
memberantas terjadinya kebakaran.
2. Alat Pemadam api ringan adalah alat pemadam api portable berupa tabung
logam yang bisa diisi kembali. Adapun jenisnya berupa jenis tabung, halon, CO
2
ataupun busa.
e. Petunjuk Umum
Organisasi Penanggulangan Kebakaran : Satuan Tugas untuk mempermudah
pengerahan dan pengendalian personil yang dipimpin oleh Ketua UPN atau
Satuan Pelaksana Pemadam Kebakaran (selanjutnya disebut SatLak DAMKAR).
SatLak DAMKAR dapat dikerahkan secara efektif dan dikerahkan secara dini sejak
mulanya terjadi kebakaran sampai tugas mengatasi kebakaran selesai.
Tugas Pokok SatLak DAMKAR : Tugas Pokok SatLak DAMKAR adalah
menyelenggarakan penanggulangan untuk memadamkan dan mencegah
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͺ
meluasnya api dari akibat yang ditimbulkan, memberikan pertolongan dan bantuan
kepada karyawan serta mengungkapkan sebab musibah pelaku, motif terjadinya
kebakaran secara cepat, tepat dan tuntas. Dengan demikian maka tindakan
penanggulangan mecakup usaha dan tindakan yang dilakukan sebelum, sewaktu
dan setelah terjadinya kebakaran.
Pembagian Tugas : Pembagian Tugas untuk memudahkan pengerahan dan
pengoperasian personil, perlu diadakan pembagian tugas bagi anggota SatLak
DAMKAR kelompok kerja berdasarkan kondisi atau letak geografis perkantoran
yang ada di PTNBR dalam bentuk sektor-sektor. Masing-masing anggota SatLak
DAMKAR bersama-sama dengan karyawan dari sektor terkait bertanggung jawab
terhadap keamanan sektornya dari kemungkinan ancaman bahaya kebakaran
sesuai dengan prosedur yang tersedia.
Klasifikasi Daerah: Untuk kepentingan pengamanan dalam penanggulangan
kebakaran tiap pusat atau kawasan membuat klasifikasi daerah berdasarkan :
9 Daerah aktif
9 Daerah tidak aktif rawan kebakaran
9 Daerah tidak aktif rawan bahan kimia beracun
9 Daerah aman
Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Instruksi Kerja (IK) digunakan sebagai
pegangan untuk menjamin adanya keseragaman dalam pola pikir dan pola tindak
di PTNBR dalam rangka penanggulangan kebakaran.
Juklak dan IK memuat urutan tindakan atau peran yang harus dilakukan oleh
perorangan atau kelompok yang tergabung di dalam SatLak DAMKAR.
f. Manajemen Peralatan
Alat Pemadam Api Ringan (APAR) : Kepala PTNBR wajib menyediakan
peralatan pemadam api ringan (APAR) dalam jumlah cukup, siap pakai dan
terpasang di tempat-tempat yang mempunyai potensi bahaya kebakaran dengan
jenis yang telah disesuaikan dengan potensi bahaya kebakaran tersebut.
Fire Alarm System : Selain APAR seperti tersebut diatas untuk setiap gedung
perlu dipasang atau dilengkapi alat-alat proteksi dan atau deteksi kebakaran (fire
alarm system) sebagai tanda peringatan dini terjadinya kebakaran.
Hydran : Selain alat-alat kelengkapan seperti tersebut diatas, kepala PTNBR
harus mengusahakan pompa hydran, bila oleh sesuatu hal belum bisa disediakan
harus menjalin hubungan dengan dinas Pemadam Kebakaran setempat yang
mempunyai armada mobil pemadam kebakaran.
Perawatan dan Pemeliharaan : Baik untuk APAR, fire alarm system maupun
hydran semuanya perlu perawatan dan pemeriksaan rutin sehingga alat-alat
tersebut dapat tetap berdaya guna dan berhasil guna.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͻ
Kelengkapan Petugas Proteksi Radiasi, Piket UPN dan Jaga reaktor : untuk
mempertinggi kesiap-siagaan Petugas, di ruang piket Petugas Proteksi Radiasi
(pesawat 444), diruang kendali reaktor (pesawat 333) dan piket pengamanan
(pesawat 111) perlu disediakan alat pemadam, alat pelindung diri dan alat-alat
penyelamatan sesuai dengan kebutuhan.
Pelatihan dan Penerangan : Pentingnya latihan guna memupuk kesadaran dan
meningkatkan ketrampilan dalam pencegahan semua karyawan baik yang
bergabung dalam satuan tugas maupun yang tidak,perlu mendapatkan
penerangan atau ceramah dan latihan-latihan menghadapi bahaya kebakaran.
Materi Latihan : Materi Latihan dan penerangan meliputi pengetahuan-
pengetahuan penggunaan alat pemadam kebakaran, upaya tindakan pencegahan
tanda-tanda bahaya kebakaran termasuk pengetahuan bagaimana cara mengatasi
bahaya radiasi.
Bentuk Latihan : Kepala PTNBR harus mengadakan Latihan yang dapat
dilakukan oleh Kepala atau gabungan (terpadu) yang melibatkan seluruh anggota
SatLak DAMKAR dan karyawan. Latihan diadakan sedemikian rupa sehingga
semua personil terutama yang tergabung dalam Satlak DAMKAR benar-benar
mahir dan terampil menghadapi kebakaran.
Koordinasi dan Pengendalian : Pada tingkat pertama terjadi kebakaran yaitu
masih terbatas di lokasi kerja, maka koordinasi pengendaliannya dilakukan Kepala
UPN bekerjasama dengan SatLak DAMKAR dan Kepala Bidang di tempat
Kebakaran terjadi.
Pada saat kebakaran meluas ke luar lokasi kerja : Pada tingkat kebakaran
sudah meluas atau merembet ke luar lokasi kerja maka koordinasi
pengendaliannya dilakukan oleh Kepala PTNBR selaku Penanggung jawab
fasilitas, dibantu Ka.UPN dan SatLak DAMKAR.
Bantuan dari luar PTNBR : Permintaan bantuan pasukan dan peralatan dari luar
PTNBR tidak selalu disertai dengan peralihan komandan pengendalian operasi
meskipun secara taktis dan teknis operasional penggunaan pasukan dan
peralatan tersebut berada di bawah koordinasi komandan pasukan bantuan yang
bersangkutan. Sebelum pasukan atau bala bantuan pemadam bergabung dengan
pasukan yang lain yang sudah beroperasi, terlebih dahulu harus dikoordinasi dan
melapor kepada Kepala UPN untuk mendapatkan petunjuk dan penjelasan
tentang kemungkinan adanya bahaya radiasi.
Koordinasi, pertemuan atau lokakarya: untuk memperlancar dan mendukung
pelaksanaan koordinasi dan pengendalian Satuan Pelaksana penanggulangan
kebakaran, maka pada saat aman, perlu diadakan satu pertemuan atau lokakarya
dengan semua instansi terkait baik instansi pemerintah sipil dan militer maupun
swasta untuk membicarakan / membahas prosedur tetap penanggulangan bahaya
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳͲ
kebakaran di PTNBR. Dari lokakarya atau pertemuan akan dapat dirumuskan
prosedur tetap yang disepakati bersama dan bisa dilanjutkan dengan latihan
bersama atau tindakan lain yang bermanfaat.
Pos komando: pos komando harus segera didirikan (dibuka) dengan memilih
tempat yang aman dan menguntungkan bagi koordinasi dan pengendalian. Setiap
perpindahan Posko perlu disebarluaskan dengan memberikan tanda atau petunjuk
diposko yang lama bahwa posko telah pindah kesuatu tempat yang jelas.
Pengendalian pada saat hari libur atau sesudah jam kerja: Komando
pengendalian pada saat hari libur atau sesudah jam kerja, sementara Kepala
PTNBR selaku penanggung jawab keselamatan atau pejabat pelaksana harian
yang ditunjuk atau Kepala UPN/Ketua SatLak DAMKAR belum datang ke tempat
kejadian, maka komandan piket pengamanan bertindak sebagai penanggung
jawab dan pelaksana utama dalam penanggulang kebakaran. Untuk mempercepat
dan memperlancar penanggulangan kebakaran sekali lagi perlu diingatkan agar di
ruang petugas pengamanan atau jaga reaktor selalu siap alat-alat pemadam dan
keselamatan pemadam kebakaran.
Komunikasi
a. Sistem Komunikasi Darurat terdiri dari sistem telepon, Handy Talky, dan
sound system (tata suara)
b. Sistem telepon harus direncanakan sedemikian rupa sehingga apabila terjadi
kebakaran masih dapat bekerja minimal satu buah pada tiap-tiap lantai.
c. Sound system terpusat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan
instruksi bila terjadi kebakaran pada tingkat awal.
d. Tanda bahaya dan tanda aman harus dimengerti atau dikenal oleh seluruh
karyawan dan disampaikan pada saat dan dengan cara yang tepat.
g. Penyampaian informasi atau komunikasi antar gedung menggunakan sistem
telepon, Handy Talky, dan sound system (tata suara)
Pengawasan dan Pemeriksaan: Pengawasan dan Pemeriksaan diperlukan untuk
meningkatkan kewaspadaan seluruh karyawan agar menerapkan ketentuan-
ketentuan dan peraturan yang sudah ada baik yang menyangkut perlengkapan
bangunan seperti listrik, gas, sistem alarm, alat pemadam kebakaran maupun
sarana lain yang dimiliki perlu dilakukan pengawasan dan pemeriksaan.
Pentingnya Pengawasan Melekat : Dalam rangka penegakkan dan peningkatan
kewaspadaan dalam menghadapi bahaya kebakaran sangat perlu digalakkan
pengawasan melekat sehingga tidak ada peluang atau memperkecil kemungkinan
terjadinya kelalaian dan kecerobohan yang mengakibatkan bahaya kebakaran.
Tindakan Pencegahan : Usaha-Usaha pencegahan perlu ditanamkan di kalangan
karyawan sehinga menjadi sikap hidup yang positif. Setiap karyawan wajib ikut
aktif mengadakan usaha pencegahan kebakaran di lingkungan PTNBR. Dalam
rangka memperkecil atau menghindari kemungkinan terjadinya kebakaran maka
perlu dilakukan pengaturan dalam hal :
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳͳ
9 Pengunaan aliran listrik.
9 Penempatan bahan bakar minyak atau bahan mudah terbakar.
9 Penggunaan kompor (gas atau listrik).
9 Pekerjaan-pekerjaan bengkel termasuk pengelasan.
9 Penyimpanan bahan kimia termasuk cairan yang mudah terbakar atau
meledak.
9 Pembuangan dan pembakaran sampah.
Dan lain sebagainya.
h. Langkah-langkah Penanggulangan
1. Setiap karyawan yang melihat atau mengetahui kebakaran harus
memadamkannya dengan alat pemadam api ringan yang telah tersedia di
daerah kerjanya.
2. Pada saat yang sama, karyawan tersebut harus memberitahu karyawan lain
yang ada disekitarnya untuk melaporkan dan menghubungi Satuan
Pengamanan/UPN bahwa terjadi kebakaran.
3. Selama Satuan Pengamanan belum tiba di lokasi kebakaran, adalah
kewajiban karyawan terdekat yang dipimpin oleh pejabat senior
mengkoordinasikan pemadaman.
4. Setibanya di lokasi kebakaran, Satuan Pengamanan akan mengambil alih
koordinator pemadaman bekerja sama dengan atau dibantu karyawan
lainnya. Bila kebakaran diduga menimbulkan bahaya lain seperti terlepasnya
zat radioaktif atau kecelakaan manusia wajib bekerja sama dengan bidang
K2.
5. Sementara itu Petugas Pengamanan yang lain dengan alat komunikasi yang
ada segera melaporkan kepada Kepala PTNBR, Komandan UPN, dan Kepala
Bidang K2 serta Kepala Bagian Tata Usaha bahwa telah terjadi kebakaran.
6. Kepala UPN setibanya di lokasi kebakaran segera mengambil alih komando
pengendalian pemadam dengan mengerahkan seluruh unit teknis yang ada
dibawahnya dibantu Unit Teknis Pemadam dari sektor lain yang telah siap.
7. Bila api terlampau besar, dimana untuk pemadamannya memerlukan bantuan,
maka Kepala UPN atas sepengetahuan Kepala PTNBR meminta bantuan Unit
Mobil Pemadam Kebakaran terdekat.
8. Bila api menjalar keluar lokasi kerja maka kepala PTNBR sebagai
penanggung jawab keselamatan mengerahkan dan mengendalikan semua
kekuatan yang ada dengan meminta bantuan dari Unit Pemadam Kebakaran
terdekat untuk melakukan pemadaman. Ketua SatLak yang tergabung dalam
Organisasi Penanggulangan Keadaan Darurat (OPKD) PTNBR dan Tim P2K3
selalu mengikuti dan mengevaluasi tingkat bahaya yang mungkin terjadi
akibat kebakaran.
9. Setelah kebakaran dapat dikuasai dan api dapat dipadamkan Unit Pemadam
meneliti daerah tersebut dengan seksama untuk mengetahui apakah masih
ada sisa api atau tidak. Sementara itu SatLak Proteksi Radiasi mengecek
paparan radiasi di daerah TKP dan mengecek kontaminasi Petugas.
10. Kepala PTNBR segera menyelidiki sebab-sebab terjadinya kebakaran dengan
membentuk Tim Evaluasi.
11. Setelah api benar-benar padam, maka SatLak DAMKAR melakukan
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳʹ
konsolidasi menghitung jumlah kekuatan, alat yang masih ada dan yang
hilang atau rusak/habis akibat peristiwa kebakaran. Selanjutnya Kepala UPN
memerintahkan masing-masing SatLak DAMKAR menyusun kembali
kekuatan dalam rangka memelihara kesiapsiagaan.
12. Personil dari biidang yang menjadi anggota SatLak DAMKAR dan bertugas
didaerah terjadinya kebakaran segera melaporkan semua peristiwa yang
terjadi termasuk kemungkinan sebab dan jumlah korban (kalau ada)
disampaikan kepada ketua SatLak DAMKAR untuk menentukan langkah
selanjutnya.
13. Apabila dalam penanggulangan kebakaran terjadi kecelakaan personil, maka
ditempuh prosedur pelaksanaan tentang kecelakaan kerja.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳ͵
BAB IV
BENGKEL
____________________________________________________________
a. Tujuan
Pedoman ini disusun dengan maksud untuk memberikan petunjuk secara umum
kepada seluruh karyawan PTNBR BATAN Bandung tentang Keselamatan dan
Kesehatan Kerja dalam melakukan kegiatan perbengkelan.
b. Ruang Lingkup
Ruang Lingkup yang dibahas dalam Pedoman ini meliputi Bengkel Elektronik,
bengkel instrumen, bengkel mesin yang dikelompokkan sebagai mesin-mesin
pengiris, mesin penyambung dan pemotong, pembentuk, pelapis dan bengkel
gelas dan mesin lain yang digunakan di PTNBR BATAN Bandung.
c. Bahan Acuan
Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Himpunan Pedoman
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Mekanik.
d. Definisi
1. Mesin Pengiris : mesin gergaji, mesin bor, mesin bubut, mesin frais, mesin
gerinda, mesin sekrap, mesin pengasah.
2. Mesin Penyambung dan pemotong : berbagai mesin las, pemotongan dengan
gas.
3. Mesin pembentuk :
a. Mesin rol, mesin tekuk plat, mesin bengkok pipa
b. Mesin Cor
4. Mesin Pelapis : mesin cat, electroplating
e. Petunjuk
Bengkel Elektronik
Umum
1. Setiap pekerja harus menempatkan solder pada tempat yang aman dari
jangkauan yang dapat mengakibatkan kecelakaan.
2. Setiap pekerja harus menggunakan alat pelindung pernapasan atau
menghidupkan fan penghisap untuk menghindari asap dari timah cair.
3. Setiap pekerja yang melakukan pen solder dan posisi hidung tidak boleh
diatas langsung mata solder.
4. Setiap pekerja harus berhati-hati terhadap tegangan tinggi yang tersedia atas
bahaya sengatan listrik.
5. Setiap pekerja harus waspada terhadap pelarut PCB (Feri Klorid yang
membahayakan mata dan kulit).
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳͶ
6. Setiap pekerja harus berhati-hati terhadap sambungan kabel-kabel yang
terbuka (telanjang).
7. Setiap pekerja yang bekerja dengan tegangan tinggi harus menggunakan
sepatu dan sarung tangan dari karet, dan tidak menggunakan perhiasan dari
logam untuk menghindari hantaran listrik.
8. Komponen-komponen yang dipasang harus sesuai dengan tegangan yang
diperlukan untuk menghindari bahaya kebakaran (terutama komponen
resistor) dan ledakan (terutama komponen kapasitor).
9. Alat ukur yang digunakan harus sesuai dengan batas kemampuan
pengukuran.
10. Alat-alat yang telah selesai digunakan harus dimatikan dari sumber listriknya.
11. Komponen-komponen harus disimpan pada tempat yang benar, jauhkan dari
sinar matahari langsung dan tempat yang lembab (basah).
Khusus :
Untuk bengkel elektronik yang khusus akan ditentukan oleh Kepala BIE.
Bengkel Instrumen
Umum
1. Alat-alat ukur harus dikalibrasi secara berkala sesuai prosedur.
2. Instrumen harus dioperasikan pada daerah kerjanya dan pakailah sekring-
sekring yang sesuai dengan yang diperlukan.
3. Setiap pemakai alat ukur harus berusaha menghindari kesalahan pemakaian
pada berbagai macam pengukuran.
4. Instrumen harus disimpan pada tempat, posisi yang benar dan jauhkan dari
sinar matahari langsung serta tempat yang lembab (basah).
5. Setiap pemakai alat ukur harus berhati-hati terhadap kabel yang terkelupas,
tersayat dan telanjang.
6. Probe HV harus dipergunakan pada waktu mengukur tegangan tinggi diatas 1
KV AC/DC.
7. Setiap pekerja harus menggunakan sepatu dan sarung tangan karet, serta
tutup kepala non-logam di lingkungan tegangan yang disyaratkan, serta tidak
menggunakan perhiasan dari logam untuk menghindari hantaran listrik.
8. Instrumen-instrumen analog dalam setiap penggunaannya jangan sampai
polaritasnya terbalik.
9. Alat-alat yang telah selesai digunakan harus diputus dari sumber listriknya.
10. Instrumen gas (manometer gas/regulator) harus terpasang, tersambung
dengan rapat dan kuat.
11. Slang instrumen pneumatik, hidraulik dan gas-gas bertekanan, harus rapat
dan kuat pada sambungannya.
12. Slang penghubung fluida (zat alir) jangan sampai terganggu (tersumbat,
tergencet, rusak)
Ruang Kerja
Setiap pekerja yang melakukan tugas di ruang tertutup harus dihindarkan
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳͷ
kemungkinan dari bahaya keracunan, sengatan listrik, ledakan, benturan / jatuh
karena penerangan yang kurang intensitasnya.
Khusus
Untuk bengkel instrumen yang khusus akan ditentukan oleh Kepala Balai
Instrumentasi dan Elektromekanik (BIE).
Bengkel Mesin
Umum
1. Setiap orang harus memahami lokasi kerja terhadap bahaya kebakaran,
kearah mana pintu-pintu darurat dan atasilah api secepatnya dan semaksimal
mungkin dengan menggunakan peralatan yang telah disediakan sebelum
pekerja menuju ke pintu darurat.
2. Setiap pekerja harus memelihara, memberlakukan alat dengan baik dan
menggunakan secara benar, sesuai dengan fungsi.
3. Setiap pekerja yang mendapat luka walaupun kecil/ringan harus segera
diobati supaya tidak terkena infeksi.
4. Setiap pekerja harus mematikan mesin dari hubungan listriknya jika akan
meninggalkan atau bila akan anda perbaiki.
5. Mesin harus dimatikan bila ada kerusakan pada benda kerja dan atau
kerusakan pada mesin itu sendiri.
6. Mesin jangan dibersihkan, dilumasi disetel dan diperbaiki pada saat
dioperasikan.
7. Setiap orang dilarang mencuci tangan menggunakan air pendingin (coolant).
8. Bagian mesin yang bergerak dari pesawat tenaga, perlengkapan transmisi
tenaga mekanis dan semua bagian yang berbahaya, harus diberi pengaman
secara efektif, kecuali apabila dipasang atau ditempatkan sedemikan rupa
sehingga tidak ada orang atau benda yang dapat menyinggungnya.
9. Setiap orang atau perusahaan yang memasang mesin-mesin baru, bagian
mesin atau perlengkapannya harus menjamin bahwa semua pekerjaan yang
telah dilakukan ditetapkan dalam peraturan.
10. Setiap orang dilarang memindahkan ataupun merubah suatu alat pengaman
dari suatu mesin sehingga mesin tersebut menjadi berbahaya, terkecuali
apabila mesin dalam perbaikan.
11. Setiap petugas harus melaporkan bila terjadi kerusakan atau
ketidaksempurnaan dalam suatu mesin, pengaman pesawat atau alat dari
tempat kerjanya.
12. Setiap petugas yang mengetahui setiap terjadinya kerusakan mesin saat
operasi harus segera mematikan tenaga penggerak dan alat pengaman harus
atau memberi tanda yang bersifat pengumuman yang mudah dibaca dengan
ditempelkan pada mesin tersebut dan melarang penggunaanya sampai
perbaikan yang diperlukan telah dilakukan dan mesin tersebut berada dalam
keadaan baik.
13. Bahan pengamanan standard atau penutup harus dibuat :
a. Dari metal yag kuat atau berlubang atau kawat teranyam dengan bingkai
besi siku, pipa besi atau batang besi padat.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳ͸
b. Dari kayu, plastik atau bahan lain yang cocok untuk apa bahan-bahan itu
dipergunakan.
14. Semua pengaman harus dipasang dengan cara diletakkan dengan aman
kepada mesin, lantai dinding atau plafond dan harus tetap berada
ditempatnya bilamana mesin dioperasikan.
15. Roda gaya dari penggerak utama yang terbuka harus diberi perlindungan
supaya tidak membahayakan dengan cara dipagar, konstruksi pada bagian
luarnya dilengkapi celah-celah pengaman standar.
16. Alat-alat pembatas kecepatan, penghenti keselamatan atau klep penghenti
darurat harus dilengkapi dengan sakelar jarak jauh, sehingga dalam keadaan
darurat penggerak utama dapat dimatikan dari tempat yang aman.
17. Semua sekrup penyetel dalam bagian-bagian yang bergerak, dimanapun
berada, harus dibuat rata, terbenam atau dilindungi dengan tabung
penyelamat atau pembungkus stasioner.
18. Semua kunci, gerendel, nipel gemuk dan lain-lain proyeksi dalam bagian-
bagian yang berputar, harus dibuat rata, atau pembungkus sedemikian rupa
untuk menjaga orang-orang menyentuh proyeksi-proyeksi itu.
19. Titik yang bergerak dari transmisi roda-roda gesek apabila dibuka untuk
bersentuhan, harus ditutup seluruhnya.
20. Bagian yang menggeser dari kompling jepit harus diikatkan kepada pemindah
poros yang dijalankan, yaitu pemindah poros tidak bekerja apabila kopling
dilepas.
21. Roda gigi yang terbuka yang digerakkan dengan mesin harus dijaga dengan
menutup keseluruhan dan atau menutup sebagian pada tempat yang dapat
menimbulkan bahaya.
22. Gigi yang digerakkan dengan tangan harus dijaga dengan cara yang sama
sebagaimana diuraikan untuk gigi yang digerakkan dengan mesin apabila gigi
tersebut dapat menimbulkan bencana.
23. Roda gigi rantai yang digerakkan dengan mesin rantai, harus tertutup
samasekali, kecuali telah aman lokasinya.
24. Mesin tidak boleh diminyaki dengan tangan dalam keadaan jalan hal ini dapat
menyebabkan kecelakaan bagi petugas.
25. Bantalan pemindah poros tidak boleh diminyaki dengan tangan ketika
pemindahan poros sedang berjalan.
26. Tombol listrik penghidup mesin harus terbenam, dan ditempatkan sedemikian
rupa sehingga sukar terhubung karena sentuhan.
27. Jumlah tombol penghenti harus satu atau lebih sesuai dengan posisi kerja dari
operator.
28. Tombol penggerak awal harus dari bahan berwarna hijau dan tombol
penghenti dari bahan berwarna merah terkecuali ditentukan lain seperti
tombol-tombol khusus untuk motor-motor tunggal tidak harus diberi warna
merah.
29. Mesin-mesin yang dioperasikan oleh lebih dari seorang, maka setiap operator
harus disediakan tombol control untuk mengggerakkan dan menghentikan
mesin, dan mesin tidak akan bekerja sampai semua tombol penggerak pada
posisi yang sama.
30. Mesin-mesin yang dijalankan dengan dua motor atau lebih dengan tombol
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳ͹
tekan pengontrol yang terpisah harus dilengkapi dengan atau lebih tombol
penghenti yang dapat menghentikan kerja mesin secara keseluruhan.
31. Pada mesin-mesin berat yang tetap berputar setelah sumber tenaga
diputuskan harus diberi perlengkapan rem yang secara otomatis bekerja bila
diperlukan untuk mencegah bahaya yang terjadi.
Mesin-mesin Pengirisan
1. Mesin harus diberi sekat/pelindung agar percikan gram atau alat yang
memungkinkan terlepas dapat ditahan sehingga tidak melukai orang.
2. Setiap pekerja harus memakai kacamata bila bekerja untuk pekerjaan yang
menghasilkan gram.
3. Lampu yang ada disetiap mesin harus dinyalakan saat bekerja , agar
pekerjaan dapat berjalan lancar tanpa kesalahan atau penyimpangan.
4. Ikatan yang saling berkaitan harus dikencangkan, misalnya ikatan-ikatan
mesin, benda kerja dan alat pemotong.
5. Setiap orang tidak boleh membuka alat-alat pengamanan/tutup mesin yang
sedang bekerja atau berputar.
6. Setiap pekerja dalam kegiatan mengangkat, menarik barang-barang harus
menggunakan sarung tangan. Karena menarik tali kabel atau rantai tanpa
sarung tangan akan mengundang bahaya.
7. Pelat cekam yang sedang berputar atau benda putar yang sedang dikerjakan
jangan sampai tersentuh.
8. Setiap pekerja dilarang melawan kekuatan mesin dengan kekuatan fisik misal
menghentikan putaran dengan tangan, mengencangkan ikatan (baut, mur)
dengan tangan dan lain-lain.
9. Gigi tenaga spindle kopeling silang dan poros pada mesin pelubang dan
mesin bubut harus dilindungi dengan alat pengaman standar.
10. Meja putar horisontal pada mesin vertikal yang besar harus dikelilingi oleh
pagar pengaman, yang menunjang sampai diatas bagian atas alat kerja yang
berada diatas meja pengaman dapat terdiri dari dua bagian yang dapat
dilepas pada bingkai mesin/lantai untuk memudahkan masuk untuk menyetel
atau memperbaiki.
11. Pelat genggam pada meja bubut logam horisontal harus diperlengkapi dengan
sekrup penyetel yang terpendam atau dirancang sedemikian rupa sehingga
tidak terdapat bagian-bagian yang menonjol.
12. Pelat genggam pada pelat genggam pelat cakram beralur pada meja bubut
logam horisontal harus ditutup dengan alat pengaman standar yang akan
mencakup bagian-bagian yang bergerak.
13. Mesin bubut logam horisontal harus diperlengkapi dengan rem otomatis, dan
para pekerja harus dilarang meletakkan tangannya di atas pelat genggam
meja bubut untuk memegang benda yang sedang dikerjakan atau di atas
cakram beralur pace plate kecuali tenaga telah dimatikan.
14. Mesin bubut logam horisontal yang ditempatkan dekat gang atau jalan lewat
atau paralel satu sama lain berdekatan, harus dipasang pengaman apabila
perlu untuk menghindarkan pecahan-pecahan halus yang terbang mengenai
orang-orang yang sedang lewat atau pekerja pada mesin bubut yang lain.
15. Alat penggerak pemotong untuk meja gerak diatas mesin frais harus ditutup
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳͺ
sebagai pengaman.
16. Setiap pekerja pada mesin frais dilarang mencoba membuang kepingan-
kepingan dari benda yang dikerjakan dekat pemotong sebelum mesin
dihentikan.
17. Mesin frais otomatik harus dilengkapi dengan pengaman percikan minyak
pendingin pemotongan.
18. Setiap pekerja dilarang naik pada meja kerja mesin bubut vertikal, mesin
ketam logam ketika mesin sedang beroperasi. Dengan ketentuan bahwa
berada di atas meja kerja dapat diperbolehkan apabila sifat operasi
memerlukannya.
19. Blok pancang pada pengetam logam horisontal harus dilengkapi dengan
pengaman standar untuk sepanjang langkahnya.
Mesin Penyambung dan Pemotong
1. Setiap pekerja dengan mesin las harus memakai kacamata alas untuk
melindungi mata dari cahaya las, percikan bunga api, ingat jangan sekali-kali
melihat cahaya las dengan mata telanjang.
2. Setiap pekerja dilarang mengubah parameter-parameter pengelasan pada
saat pengelasan sedang berlangsung.
3. Setiap pekerja harus memakai apron, sarung tangan dan perlengkapan
pelindung lain, pakailah sarung tangan yang kering untuk melindungi tangan
dari kemungkinan terkena aliran listrik (electric shock), pakailah penutup mulut
dan hidung sebagai filter agar asap dan gas yang timbul pada saat
pengelasan sedang berlangsung tidak berbahaya bagi kesehatan.
4. Tabir penghalang harus dipergunakan untuk menghalangi cahaya tajam dan
percikan bunga api supaya tidak menganggu orang lain.
5. Instrumen gas harus dipasang dengan benar, (manometer, regulator) rapat
dan kuat.
6. Benda yang di las harus diletakkan pada posisi aman agar tidak mudah jatuh
di waktu pengelasan sedang berlangsung.
7. Api rokok atau korek api biasa tidak boeh dipergunakan untuk menyalakan
gas pembakar, pakailah korek gas.
8. Penyembur api dilarang untuk digantungkan pada tabung gas asetilen.
9. Katup silinder zat asam dan asetilen harus ditutup dan buanglah gasnya
hingga manometer menunjukkan angka nol bila pengelasan telah selesai.
10. Katup tabung bila tidak dipakai harus ditutup dengan benar.
11. Selang pipa las tidak boleh dibiarkan tergencet/terjepit dan tertekuk dan
hindarkan selang melintang jalan, supaya tidak tergilas kereta sorong.
12. Setiap pekerja las dilarang mengelas tangki pipa drum yang mengandung
bahan yang mudah meledak/terbakar, sebelum dibersihkan.
13. Setiap orang dilarang mengambil gas, tabung las untuk pernapasan; oksigen
pernapasan.
14. Air pendingin digunakan pada mesin las potong, plasma cutting, gergaji
pemotong baja harus dilengkapi dengan pengaman percikan.
15. Setiap pekerja dilarang membuang pecahan-pecahan gergaji yang patah
tanpa menghentikan terlebih dahulu mesin.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳͻ
Mesin Pembentuk
Roll, Tekuk Plat, Bengkok Pipa
1. Perlengkapan pengaman, penghalang yang tepat atau yang dapat disetel,
harus dipasangkan pada sisi rol yang bergerak sehingga bahan-bahan yang
akan diproses dapat diisikan kepada rol, tanpa menyebabkan tangan operator
terpegang diantara rol atau diantara pengaman dan rol.
2. Setiap pekerja dilarang membersihkan rol tanpa lebih dahulu menghentikan
alat-alat mesin, dan memutuskan arus, kecuali pada mesin yang besar yang
tidak dapat diputar dengan tangan dan dilengkapi dengan pengatur tenaga
yang berjalan lambat.
Mesin Cor
1. Setiap pekerja harus memastikan bahwa kelengkapan dan kesiapan sarana
pendukung pesawat cor dapat beroperasi dan berfungsi dengan baik.
2. Setiap pekerja harus memahami secara keseluruhan sistem mesin tersebut.
3. Setiap pekerja harus mengenakan pakaian kerja yang mampu menahan suhu
panas, percikan api dan percikan logam panas. Pakailah sepatu, sarung
tangan kerja, topi pengaman.
4. Setiap pekerja dilarang mengubah parameter-parameter pesawat cor selagi
sedang beroperasi.
5. Setiap pekerja dilarang melihat cahaya logam cair dengan mata telanjang
terlalu lama, oleh karena itu diwajibkan menggunakan kacamata untuk
pekerjaan cor.
6. Tabir penghalang untuk menghalangi cahaya tajam dan percikan bunga api
supaya tidak menganggu orang lain harus dipasang.
7. Alat pengangkat dan pengangkut yang disediakan harus dipergunakan
dengan cara yang benar terhadap bahan baku dan bahan yang telah jadi.
8. Setiap orang dilarang berdiri atau melewati di depan pintu sewaktu operasi
penyalaan.
Mesin-mesin Pelapis
1. Setiap pekerja harus memastikan bahwa kelengkapan dan kesiapan sarana
pendukung pesawat cat sehinga dapat beroperasi dan berfungsi dengan baik.
2. Setiap pekerja dilarang mengubah parameter pesawat pengecatan yang telah
diset selama berlangsung pengecatan.
3. Setiap pekerja harus memastikan bahwa udara yang digunakan dalam
keadaan kering, keadaan tekanan angin/kompresor telah cukup untuk
mengabutkan cat yang akan digunakan.
4. Setiap pekerja harus mengenakan pakaian pengecatan, kacamata, dan
penutup rambut.
5. Setiap pekerja yang melakukan kegiatan dengan mesin electroplating berhati-
hatilah dengan bahan asam kuat dan hidupkan exhauser untuk mengeluarkan
uap kimia yang terjadi sehingga ventilasi ruangan harus bekerja dengan baik
dan pastikan tidak ada kebocoran pada sistem salurannya.
6. Setiap pekerja harus hati-hati dalam membuat larutan, harus diingat zat kimia
yang dipergunakan mungkin sangat korosif dan reaktif (misalnya: H
2
SO
4
, HF,
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ʹͲ
HNO
3
)
7. Setiap pekerja harus mempergunakan sarung tangan karet, masker,
kacamata untuk menghindari percikan asam kuat.
8. Setiap pekerja harus memperhatikan posisi anoda dan katoda jangan sampai
terbalik.
Bengkel Gelas
1. Setiap pekerja harus memeriksa semua peralatan pengaman saluran gas,
meter dan cobalah sebelum mulai bekerja, supaya dalam melaksanakan
pekerjaan yang sebenarnya tidak terjadi hal-hal yang tidak dinginkan dan
dalam hal penggunaan mesin-mesin yang berputar cobalah terlebih dahulu
mendapatkan putaran yang sesuai.
2. Setiap pekerja harus memeriksa semua ikatan, mesin, benda kerja dan alat
pemotong, dengan kuat dan benar sesuai dengan keadaan yang
dipersyaratkan.
3. Setiap pekerja dengan api pemotong gelas harus memakai kacamata
pelindung yang sesuai dengan pekerjaannya.
4. Setiap pekerja harus mengetahui urutan membuka kran pengatur (buka kran
pengatur gas terlebih dahulu) dan jangan salah langkah dalam menutup kran
pengatur (tutup kran oksigen terlebih dahulu).
5. Setiap pekerja dilarang menyalakan penyembur api dan apapun juga, jika
dicurigai ada kran atau sambungan maupun pipa/slang gas oksigen yang
bocor.
6. Setiap pekerja dilarang menyalakan penyembur api dengan nosel mengarah
ke tubuh.
7. Setiap pekerja dilarang meninggalkan potongan-potongan gelas disekitar
mesin.
8. Setiap pekerja harus menggunakan sarung tangan tahan panas bila
memasukkan/mengambil benda kerja ke/dari dalam oven.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ʹͳ
BAB IV
PERALATAN LISTRIK
____________________________________________________________
a. Tujuan
Pedoman ini disusun dengan maksud untuk memberikan petunjuk umum kepada
seluruh karyawan PTNBR BATAN Bandung tentang langkah-langkah umum dalam
keselamatan kerja dengan peralatan listrik.
b. Ruang Lingkup
Ruang lingkup yang dibahas dalam pedoman ini meliputi seluruh peralatan listrik
yang ada di PTNBR BATAN Bandung
c. Bahan Acuan
1. Peraturan Umum Instalasi Listrik.
2. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Himpunan Pedoman
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Penanggulangan Kebakaran dan
Konstruksi Bangunan.
3. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Himpunan Pedoman
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Listrik.
4. Himpunan Peraturan dan Perundang-undangan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja.
d. Definisi
1. Petugas adalah orang yang diberi wewenang untuk suatu jenis pekerjaan, dengan
suatu syarat mempunyai kecakapan dan pengalaman teknis serta terampil dalam
bidangnya.
2. Bagian listrik bisa berupa Instansi/Bidang/Bagian/Sub.Bid/Sub.Bag yang diberi
wewenang dan tanggung jawab terhadap semua instansi listrik dari unit yang
bersangkutan, baik dari segi operasi maupun pemeliharaannya.
3. Peralatan listrik adalah semua komponen/peralatan listrik termasuk pemutus arus,
isolasi, dan kabel.
4. Kawat pentanahan adalah kawat tembaga telanjang (bare) dengan luas
penampang tidak kurang dari 50 mm yang di klem pada peralatan mesin dengan
baik dan dihubungkan ke tanah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
5. Tegangan adalah beda potensial dari kedua kutub/kawat. Untuk keperluan juklak
ini tegangan lebih besar dari 220 volt disebut tinggi dan untuk tegangan lebih kecil
dari 220 volt disebut tegangan rendah.
6. Pekerjaan adalah semua kegiatan baik berupa pengoperasian, perbaikan dan
pengontrolan instalasi listrik.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ʹʹ
Petunjuk yang wajib dipatuhi dan petunjuk yang disarankan
1. Setiap petugas dilarang melakukan perbaikan sebelum ada ijin dari atasan
ataupun dan diwajibkan melapor bila perbaikan telah selesai dilakukan.
2. Selama peralatan diperbaiki setiap petugas wajib mencegah kemungkinan-
kemungkinan yang bisa membahayakan dan wajib menggunakan label-label
peringatan/pengamanan ataupun menguncinya pada posisi yang aman.
3. Setiap petugas dilarang memperbaiki instalasi-instalasi listrik yang bertegangan
dan bila tidak bisa dihindari perbaikan tersebut dapat dilakukan dibawah
pengawasan atau tanggung jawab dari Kepala BIE.
4. Setiap orang dilarang memasuki/bekerja pada daerah tegangan tinggi kecuali
petugas yang mempunyai otorisasi. Daerah/instalasi tegangan tinggi harus
dikunci, dan kunci disimpan oleh Kepala BIE.
5. Setiap petugas dilarang keras bekerja dengan alat-alat yang bertegangan listrik
terutama di dalam kamar dimana ada bahaya kebakaran atau ledakan, dan di
dalam ruangan dengan udara yang basah atau yang sangat lembab.
6. Setiap petugas dilarang melakukan perbaikan di malam hari kecuali untuk
pekerjaan-pekerjaan yang betul-betul penting demi lancarnya pekerjaan/produksi
dan keselamatan dari instalasi.
7. Setiap petugas dilarang mengubah posisi pemutus arus kecuali atas ijin Kepala
BIE. Dalam keadaan darurat petugas diperbolehkan melakukan tindakan untuk
menyelamatkan jiwa ataupun instalasi.
8. Label peringatan “Jangan dijalankan” harus dipasang pada semua pemutus arus
yang telah diisolasi. Label peringatan ini hanya boleh dipindahkan/dicabut oleh
petugas yang memasangnya. Jangan sekali-kali mengambil risiko, jika timbul
keragu-raguan hubungilah pengawas anda.
9. Semua petugas yang melakukan pekerjaan pada instalasi listrik harus tunduk
kepada instruksi-instruksi dari Kepala BIE.
10. Setiap pekerjaan pada peralatan tegangan tinggi harus dilakukan setelah terlebih
dahulu dilakukan pemutusan arus, pelepasan semua pengamanan/sekering dan
pentanahan peralatan yang diperbaiki. Khusus untuk transformator hal tersebut di
atas dilakukan baik pada sisi primer dan sekunder.
11. Pentanahan pada peralatan tegangan tinggi harus dilakukan instalasi yang baik
dan benar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
12. Setiap petugas dilarang memperbaiki sekering dari tipe cartridge dengan jalan
menghubungkan sekering itu dengan kawat.
13. Setiap orang dilarang melakukan pekerjaan penggalian atau membuat lubang di
lapangan atai di daerah-daerah sekitarnya sebelum lebih dahulu mendapat ijin.
14. Setiap orang dilarang berjalan melalui atau melintasi peralatan/perlengkapan
instalasi listrik.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ʹ͵
BAB V
BAHAN KIMIA
____________________________________________________________
a. Tujuan
Pedoman ini disusun dengan maksud untuk memberikan petunjuk secara umum
kepada seluruh karyawan PTNBR BATAN Bandung tentang keselamatan dan
kesehatan kerja dalam menggunakan bahan kimia.
b. Ruang Lingkup
Ruang lingkup meliputi sarana tempat kerja, bahan kimia, peralatan, dan pekerja
yang merupakan unsur utama dalam melaksanakan kegiatan dengan
menggunakan bahan kimia.
c. Bahan Acuan
1. Hand Book of Laborotory Safety, CRC Press Inc. Boca Raton Florida.
2. Safety Hand Book, Australian Automic Energy Commission, July 1983.
3. Soemanto Iman Khasani, Keselamatan Kerja dalam Laboratorium Kimia, PT.
Gramedia, Jakarta, 1990.
d. Definisi
1. Kimia toksik adalah bahan kimia beracun, yang bahayanya terhadap kesehatan
sangat bergantung pada jumlah zat tersebut yang masuk ke dalam tubuh.
2. Bahan kimia korosif/iritan adalah bahan kimia yang mampu merusak berbagai
peralatan dari logam dan apabila bahan kimia ini mengenai kulit akan
menimbulkan kerusakan berupa iritasi dan peradangan kulit.
3. Bahan kimia eksplosif adalah bahan kimia mudah meledak.
4. Bahan kimia oksidator adalah bahan kimia yang dapat menghasikan oksigen
dalam penguraian atau reaksinya dengan senyawa lain, bersifat reaktif dan
eksplosif serta sering menimbulkan kebakaran.
5. Limbah bahan kimia adalah bahan kimia baik padat, cair, dan gas bekas pakai
yang karena sifatnya tidak dapat digunakan lagi.
6. Nilai Ambang Batas (NAB) adalah konsentrasi dari zat, uap atau gas dalam
udara yang dapat dihirup selama 8 jam/hari selama 5 hari/minggu, tanpa
menimbulkan gangguan kesehatan yang berarti.
7. Tempat dan sarana laboratorium adalah tempat yang digunakan untuk
melakukan kegiatan yang menggunakan bahan kimia serta dilengkapi sarana
sebagai kelengkapan laboratorium, misal ruang asam, glove box, fumehood,
meja kerja, exhaust fan, dan sebagainya.
8. Pekerja adalah peneliti, teknisi, laboran yang secara langsung atau tidak
langsung menggunakan bahan kimia.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ʹͶ
e. Petunjuk
Umum
1. Setiap wadah bahan kimia harus diberi label dan tanda – tanda yang jelas sesuai
dengan sifatnya dan mudah dibaca.
2. Setiap bahan kimia yang terdapat disuatu tempat harus diinventarisasi
berdasarkan sifatnya.
3. Dalam rangka penyimpanan bahan kimia yang akan dilakukan harus
memperhatikan sifat masing-masing bahan yang akan disimpan. Pengelompokan
dalam rangka penyimpanan bahan kimia dapat dilakukan dengan memperhatikan
sifat masing-masing bahan kimia yang akan disimpan.
4. Pekerja yang akan melakukan kegiatan dengan menggunakan bahan kimia harus
menggunakan alat pelindung diri yang sesuai.
5. Setiap pekerja harus melakukan optimasi jumlah bahan kimia yang akan
digunakan dengan memperhatikan nilai ambang batasnya.
6. Sumber api harus dijauhkan apabila digunakan bahan kimia yang mempunyai sifat
mudah terbakar atau mudah meledak.
7. Penggunaan peralatan bantu yang terbuat dari logam harus dihindari apabila
bahan kimia yang digunakan bersifat korosif.
8. Bahan kimia yang mempunyai sifat dapat melakukan reaksi secara cepat harus
dijauhkan dari bahan kimia mudah meledak yang akan digunakan.
9. Pembuangan limbah kimia dapat dilakukan setelah melalui proses olahan sesuai
dengan sifat bahan kimianya.
10. Tumpahan/tetesan bahan kimia yang mempunyai sifat iritan harus dihindari.
11. Orang yang tidak berkepentingan dilarang mendekati daerah kerja.
Ruang Kerja
1. Selama melakukan kegiatan menggunakan bahan kimia, sistem ventilasi ruang
kerja harus baik dengan pergantian udara minimal 8 kali per jam.
2. Fumehood, glove box, atau ruang asam harus digunakan dalam kegiatan yang
menggunakan bahan kimia yang mempunyai sifat yang sesuai, kecepatan aliran
udara minimal 0,5 m/detik.
3. Temperatur dan kelembaban di dalam laboratorium harus dijaga kestabilannya
sesuai dengan jenis peralatan dan pekerjaan yang dilakukan.
4. Ruang kerja harus dilengkapi dengan tempat limbah khusus.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ʹͷ
TABEL 1 : NILAI AMBANG BATAS (NAB) BAHAN-BAHAN KIMIA
NO. NAMA BAHAN NAB (ppm) NAB (mg/m³)
1. Air raksa - 0,05
2. Amoniak 25 18
3. Anilin 2 10
4. Asam bromida 3C 10C
5. Asam klorida 5 7
6. Asam flourida 3C 2,5C
7. Asam formiat 5 9
8. Asam nitrat 2 5
9. Asam sianida 10C 10C
10. Asam sulfat - 1
11. Asam sulfida 10 14
12. Asbes - 5 serat/cm
Panjang 5 um
13. Aseton 750 1.780
14. Benzena 10 30
15. Benzil klorida 1 5
16. Brom 0,1 0,7
17. DDT - 1
18. Dioksan 25 180
19. Etil asetat 400 1.400
20. Etil eter 400 1.200
21. Fenol 5 19
22. Fluor 1 2
23. Formaldehida 1 1,5
24. Heksana 100 360
25. Iodin 0,1C 1C
26. Kadmium(uap, debu) - 0,05
27. Karbon dioksida 5.000 9.000
28. Karbon disulfida 10 30
29. Karbon monoksida 50 55
30. Karbon tetraklorida 5 30
31. Klor 1 3
32. Kloroform 10 50
33. Metanol 200 260
34. Nitrobenzena 1 5
35. Nitrogen dioksida 3 6
36. Ozon 0,1 0,2
37. Sulfur dioksida 2 5
38. Timbal (uap, debu) - 0,15
39. Timbal tetraetil - 0,1
40. Vinil klorida 5 10
Keterangan :
ppm : bagian dari satu juta (volume)
C : batas konsentrasi tertinggi dalam udara tempat kerja.
Daftar di atas diambil dari : Threshold Limit Volues and Biological Exppsure Indices for 1986-
1987 American Conference of Govermental Industrial Hygienists.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ʹ͸
TABEL 2. DAFTAR BAHAN KOROSIF CAIR
Asam Mineral
Asam nitrat (HNO
3
)
Asam sulfat (H
2
SO
4
)
Asam klorida (HCl)
Asam fluoride (HF)
Asam posfat (H
3
PO
4
)
Asam Organik
Asam format (HCOOH)
Asam asetat (CH
3
COOH)
Asam monokloroasetat (CH
2
ClCOOH)
Pelarut Organik
Petroleum
Hidrokarbon terklorinasi
Karbon disulfide
Terpentin
TABEL 3. DAFTAR BAHAN KOROSIF PADAT
Basa
Natrium hidroksida NaOH
Kalium hidroksida KOH
Natrium silikat Na
2
O.xSiO
2
Amonium karbonat (NH
4
)2CO
3
Kalsium oksida/hidroksida CaO, Ca (OH)
2
Kalsium karbida CaC
2
Kalsium sianida Ca (CN)
2
Asam Ttrikhloroasetat CCl
3
COOH
Lain-lain
Fenol C
6
H
5
OH
Natrium Na
Kalium K
Posfor P
Perak nitrat AgNO
3
TABEL 5. BAHAN KIMIA OKSIDATOR
Oksidator Anorganik
Permanganat
Perklorat
Dikhromat
Hidrogen peroksida
Periodat
Persulfat
Peroksida Organik
Benzil peroksida
Asetil peroksida
Eter oksida
Asam perasetat
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ʹ͹
TABEL 4. BAHAN KIMIA KOROSIF GAS
Amonia NH
3
Asam klorida HCl
Asam fluorida HF
Formaldehida HCHO
Asam asetat CH
3
COOH
Sulfurklorida S
2
Cl
2
Tionil klorida SOCl
2
Sulfuri klorida SO
2
Cl
2
Belerang oksida SO
2
Klor Cl
2
Brom Br
2
Arsen triklorida AsCl
3
Posfor triklorida PCl
3
Posfor penta klorida PCl
5
Ozon O
3
Nitrogen oksida NO
2
Fosgen COCl
2
Akrolein CH
2
CHCHO
Dikloroetilsulfida S(CH
2
CH
2
Cl)
2
Diklorometileter O(CH
2
Cl)
2
Kloropikrin CCl
3
NO
3
Dimetilsulfat (CH
3
)
2
SO
4
TABEL 6. PELARUT ORGANIK MUDAH TERBAKAR
No. PELARUT
Daerah konst. (%)
mudah terbakar
Titik A
(
o
C)
Titik B
(
o
C)
Titik C
(
o
C)
1. Aseton 3 – 13 56 -18 538
2. Benzena 1,4 – 8 80 -11 562
3. Bensin 1,4 – 7,6 38 – 204 -43 280 – 456
4. Etilalkohol 3,3 – 19 79 12 423
5. Etil eter 1,85 – 48 34 -45 180
6. Heksana 1,1 – 7,5 68 -22 261
7. Heptana (n) 1,2 – 6,7 98 -4 223
8. Karbon disulfida 1 – 44 46 -30 100
9. Metanol 6 – 36,5 65 12 464
10. Metil etil keton 2 – 10 80 -7 515
11. Minyak tanah 0,7 – 5 170 – 300 38 – 66 229
12. Oktana 1,0 – 4,6 125 13 220
13. Pentana 1,4 – 8 36 -49 309
14. Petroleum eter 1 – 6 30 – 60 -57 288
15. Toluena 1,4 – 6,7 111 4,4 536
Titik A = titik didih Titik B = titik nyala Titik C = titik bakar
Titik A adalah suhu dimana tekanan uap zat tersebut sama dengan tekanan luar.
Titik B adalah titik nyala (flash point) adalah suhu dimana suatu cairan menghasilkan
uap yang dapat membentuk campuran dengan udara yang dapat dibakar pada
permukaan cairan.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ʹͺ
Titik C = titik bakar (ignition point) adalah suhu minimum suatu zat yang diperlukan
agar zat tesebut dapat terbakar tanpa bantuan energi dari luar.
BAHAN-BAHAN YANG DIKETAHUI DAN DIDUGA BERSIFAT KARSINOGENIK
TERHADAP MANUSIA.
Bahan-bahan ini dibagi dalam 3 kelompok, yaitu :
KELOMPOK A : Bahan yang bersifat karsinogenik dan telah ditentukan Nilai Ambang
Batas (NAB) :
BAHAN NAB
Acrylonitrile – kulit 2 ppm
Asbestos
Amosite 0.5 fibre > 5 um/cm
3
Chrysotile 2.0 fibre > 5 um/cm
3
Crocidolite 0.2 fibre > 1 um/cm
3
Other forms 1.0 fibre > 5 um/cm
3
Bis (chloromethyl) ether 0.001 ppm
Pengolahan batuan chromite (chromate) 0.05 mg/m
3
, as Cr
Chromium (VI), senyawa larut dalam air 0.05 mg/m
3
, as Cr
Coal tar pitch volatiles 0.2 mg/m
3
as benzene solubles
Pembakaran Nikel Sulphide,asap dan debu 1.0 mg/m
3
, as Ni.
KELOMPOK B : Bahan yang bersifat karsinogen, tanpa Nilai Ambang Batas (NAB)
4 – Aminodiphenil (p-Xenylamine) – kulit
Benzidine – Kulit
Betta – Napthylamine
4 – nitrodiphenil
Tidak diperkenankan adanya paparan atau kontak langsung dengan bahan – bahan
ini, baik melalui pernafasan, kulit, atau mulut. Pekerja harus dilindungi sedemikian rupa
sehingga tidak akan terkena karsinogen tersebut.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ʹͻ
KELOMPOK C :
BAHAN NAB
Acrylonitrile – kulit 2 ppm
Amitrol -
Antimony trioxide Production -
Arsenic Trioxide Production -
BIS (Chloromethyl) eter 0.001 ppm
Benzene 10 ppm
Benzo (a) pyrene -
Berrium 2.0 ug/m3
1, 3-Butadiene -
Cadnium oxide production -
Carbon tetrachloride – kulit 5 ppm
Chloroform 10 ppm
Chloromethyl methyl eter -
Chromates dari Pb dan Zn, sebagai Cr 0.05 mg/m3
Chrysene -
3, 3-Dichlorobenzidine – kulit -
Dimethylcarbamyl chloride -
1, 1-Dimethil hydrazine – kulit 0.5 ppm
Dimethil sulphate – kulit 0.1 ppm
Ethylene dibromide – kulit -
Ethylene oxide 1 ppm
Formaldehyde 1 ppm
Hexachlorobutadiene 0.002 ppm
Hexamethyl phosphoramide – kulit -
Hydrazine – kulit 0.1 ppm
4, 4-methylene bis (2-chloroaniline) – kulit 0.1 ppm
Methyl hydrazine – kulit 0.2 ppm
Methyl iodine – kulit 2 ppm
2 – Nitropropane 10 ppm
N – Nitrosodimethyllamine -
N – phenyl – beta – naphthylamine -
Phenulhydrazine – kulit 5 ppm
Propane sultone -
Beta – propiolactone 0.5 ppm
Propyleneimine – kulit 1 ppm
O – Tolidine -
O – Toluidine – kulit 2 ppm
Vinyl bromide 5 ppm
Vinyl cyclohexene dioxide 10 ppm
Vinyl chloride 5 ppm
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͵Ͳ
TABEL 7. BEBERAPA SIFAT BAHAN
NO. TANDA ISYARAT CONTOH BAHAN / PRODUK
1. E = Explosive material
Bahan mudah meledak
- Ammonium dikromat
Hindari goncangan, tumbukan,
gesekan, bunga api dan panas.
2. O = Oxidizing substance
Bahan mudah teroksidasi
- Potasium Klorat.
- Hidrogen peroksida.
- As perklorat.
Jauhkan dari bahan bakar.
3. F = Inflamable material
Bahan mudah terbakar
- Solar
- Aceton
- Bensin
- Anh. Asam Asetat
- I. D. O.
- Bayonox activate
- Alkohol
Hindari air, nyala api bebas, panas &
bunga api.
4. T = Poisonous material
Bahan beracun/toksik
- Phostoxin
- Baygon
- Asuntol
Hindari kontak dengan badan; segera
mencari pengobatan bila kesehatan
terasa terganggu.
5. C = Corrosive material
Bahan
korosif/menimbulkan luka
pada kulit
- As. Asetat
- Anh. As. Asetat
- As. Fosfat
- Soda Kausti
- As. Sulfat
- As. Klorida
- Pip. -65
Hindari kontak dengan badan, jangan
menghirup uap, cari pengobatan bila
terasa terganggu.
6. Xn = harmful substance
Bahan berbahaya
Xi = cause irritation
Menimbulkan iritasi
- Xn = - neguvon
- AAs. salisilat
- Xi = - larutan amonia
- As. klorida
Jangan menghirup uap, hindari kontak
dengan kulit, mata dan pakaian.

Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͵ͳ
BAB VI
GAS
____________________________________________________________
a. Tujuan
Pedoman ini disusun dengan maksud untuk memberikan petunjuk secara umum
kepada selurah karyawan PTNBR BATAN Bandung tentang kesehatan dan
keselamatan kerja dalam menggunakan bahan gas.
b. Ruang Lingkup
Ruang lingkup yang akan dibahas adalah bahan gas yang lazim digunakan di
laboratorium/lapangan, serta peralatan, jenis gas yang digunakan, dan pekerja yang
terlibat.
c. Bahan Acuan
1. Safety Hand Book, Australian Atomic Energy Commission, July 1983.
2. Soemanto Imam Khasani, Keselamatan Kerja dalam Laboratorium Kimia, PT.
Gramedia, Jakarta, 1990.
d. Ketentuan
Umum
1. Semua gas harus diinventarisasi dan diberi label dan tanda-tanda yang
menerangkan jenis, masa berlaku dan sebagainya serta mudah dibaca.
2. Tabung gas bertekanan tinggi disimpan dalam keadaan tegak dan terikat.
3. Tabung gas harus disimpan pada tempat yang aman, jauh dari sumber panas atau
api, dari bahan kimia korosif.
4. Pengelompokan gas yang akan disimpan dapat dilakukan dengan memperhatikan
sifat masing – masing gas.
5. Setiap pekerja harus telah mendapatkan pelatihan khusus tentang pemadaman
kebakaran, pelatihan mekanik gas dan sebagainya.
6. Setiap pekerja yang akan menggunakan bahan gas harus menggunakan jas lab
dan peralatan bantu yang sesuai dengan sifat gasnya, misalnya masker, sarung
tangan karet dan sebagainya.
Ruang Kerja
1. Selama melakukan kegiatan menggunakan bahan gas, sistem ventilasi harus dalam
keadaan baik.
2. Temperatur ruangan dan kelembaban harus tetap terjaga kestabilannya.
3. Apabila bahan gas/tabung berada di luar laboratorium, maka pipa yang
menyalurkan gas dibagian luar ruangan harus diberi kran.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͵ʹ
BAB VII
BEJANA TEKAN
____________________________________________________________
a. Tujuan
Usaha pencengahan kecelakaan baik secara preventif maupun korektif terhadap
bahaya yang timbul akibat bejana tekan berupa bahaya peledakan yang terjadi
karena tekanan tinggi dari dalam bejana, bahaya kebakaran atau keracunan oleh
sifat fluida di dalam bejana dan bahaya akibat kesalahan penanganan bejana
tekan itu sendiri.
b. Ruang Lingkup
Pedoman umum tentang bejana tekan adalah pedoman keselamatan dan
kesehatan kerja yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan dalam hal penanganan dan
penggunaan bejana yang berisi fluida bertekanan seperti udara, gas, uap, air dan
cairan berupa tangki tekan, tangki tandon pada kompresor, tabung-tabung baja,
termasuk ketel uap dan meliputi penggunaan material, pemeriksaan dan
perlengkapan perlindungan bejana tekan.
c. Bahan Acuan
Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional :
1. Himpunan Pedoman Keselamatan & Kesehatan Kerja Bidang Mekanik
2. Himpunan Pedoman Keselamatan & Kesehatan Kerja Bidang Listrik dan Uap
3. Standar Nasional Indonesia No. : SNI-1715-1989-E tentang Pewarnaan Botol
Baja / Tabung Gas Bertekanan.
d. Definisi
1. Bejana tekan adalah bejana yang di dalamnya berisi fluida bertekanan lebih
tinggi daripada tekanan udara luar.
2. Tabung baja adalah bejana tekan selain pesawat uap yang dipakai untuk
menampung gas atau gas campuran termasuk udara baik dikempa menjadi cair
dalam keadaan larut atau beku.
3. Pelat nama adalah pelat yang dipasang pada suatu alat/pesawat/bejana yang
memuat data-data atau identitas alat itu.
4. Alat kendali temperatur adalah suatu alat yang dipakai untuk mengetahui dan
mengendalikan temperatur dari suatu bejana bertekanan supaya tidak melebihi
suhu rancangan.
5. Kompresor adalah suatu alat untuk memampatkan gas atau udara.
e. Petunjuk
Tanda-tanda pengenal
1. Pada setiap bejana tekan harus tertera tanda-tanda pengenal berupa pelat nama
atau tercetak langsung pada bejana itu yang harus diperhatikan dalam
penanganan dan penggunaan bejana tekan tersebut.
2. Tanda pengenal harus tercetak tidak mudah terhapus, mudah dan tampak jelas
terlihat dan dibaca dan diusahakan tidak tertutup. Bila bejana harus dibalut isolasi,
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͵͵
maka di atas tanda pengenal diberi petunjuk untuk dapat dibuka dan dibaca.
3. Tanda-tanda pengenal yang harus ada memuat :
a. Tanda atau nama pabrik pembuat
b. Nomor Tag/Seri pembuatan
c. Tahun pembuatan
d. Nama jenis fluida isi (bukan simbol kimia)
e. Volume air yang dapat diisikan
f. Berat kosong
g. Berat isi penuh
h. Kisaran suhu penyimpanan
i. Tekanan kerja maksimum
j. Tekanan uji hidrostatika
k. Waktu pengujian (terakhir)
4. Khusus bejana tekan jenis botol baja harus diberi kode warna dan tulisan sesuai
standar yang dengan itu dapat dikenali isinya untuk perhatian dalam penanganan.
a. Botol baja untuk kelompok gas yang dapat menyebabkan tercekik/kekurangan
zat asam (Asphyxian Gases) misalnya : nitrogen, karbondioksida, gas mulia
(argon, helium, kripton, xenon dan neon), gas fluoro carbon (refrigerant) harus
dicat warna abu-abu.
b. Botol baja untuk kelompok gas mudah terbakar dan atau meledak (Inflammable
and or Explosive Gases) misalnya : hydrogen, asetilen, gas-gas hydrocarbon
(carbonil sulfida, pentana, methana, propylene, methanol, ethanol, benzena,
alkohol, vinil chlorida, butane dan propane) harus dicat warna biru (light blue)
dengan tanda warna merah pada bagian sekeliling tingkapnya.
c. Botol baja untuk kelompok gas beracun (Poisonous Gases) misalnya : arsine,
cyanogen, hydrogen cyanida, phosgene, berbagai macam pestisida, asam
chlorida, dichlorobenzena, nitrogen dioksida, atau tetraoksida, penta chlorida,
fenol, naptalena. Amonium chlorida, carbon monoksida, glioksida dan bromethil
harus dicat warna kuning tua.
d. Botol baja untuk kelompok gas menyengat (Corrosive Gases) misalnya:
anhydrous amoniak, amoniak, boron trikhlorida, khlor, sulfur dioksida, hidrogen
khlorida, methil khlorida, dan methil bromida harus dicat warna kunig muda.
e. Botol baja untuk kelompok gas pengoksida (Oxidijing Gases) misalnya: oksigen
termasuk udara tekan harus dicat warna biru muda.
f. Botol baja untuk gas campuran (Mixed Gases) harus dicat warna gabungan
masing-masing kelompok gas yang dicampurkan.
g. Botol baja untuk kelompok gas bagi keperluan kesehatan (Medical Gases)
harus dicat warna putih.
h. Pada bagian badan botol saja sepanjang badan harus diberi tulisan nama gas
yang diisikan dibuat dengan sablon warna hitam.
i. Pada leher botol dapat ditempelkan label dan tanda-tanda khusus mengenai :
sifat gas, bahaya dan petunjuk penanganannya.
j. Standar warna botol baja ini tidak berlaku untuk tabung alat pemadam api
ringan.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͵Ͷ
Jaminan kualitas bejana tekan
1. Bejana tekan yang dipergunakan harus terjamin kualitasnya yang dinyatakan
dengan kelengkapan sertifikat hasil pemeriksaan atau pengujian yang telah
dilakukan.
2. Sebelum bejana tekan dipergunakan harus diperiksa secara visual terhadap
kerusakan, karat atau cacat pada permukaan. Bejana tekan yang kedapatan rusak
sedemikian rupa sehingga diduga tidak memenuhi syarat keselamatan harus diuji
lagi kekuatannya dan atau dilarang dipergunakan.
3. Pengujian ulang dengan tekanan hidrostatika harus dilakukan secara berkala
sesuai ketentuan ijin yang berlaku.
4. Pengujian ulang juga harus dilakukan pada bejana tekan yang mengalami
perubahan konstruksi, pekerjaan tambah atau dilakukan reparasi atas bejana
tekan itu.
Alat pengaman dan perlengkapan lain
1. Tiap bejana tekan harus dilengkapi dengan alat pengaman dan perlengkapan lain
agar bejana tekan dapat menjamin untuk digunakan dengan aman.
2. Yang termasuk alat pengaman adalah :
a. Alat penurun tekanan.
b. Alat pengurang vakum.
c. Alat kendali temperatur.
3. Yang termasuk perlengkapan lain adalah :
a. Indikator tekanan.
b. Indikator tinggi permukaan cairan.
c. Saluran pembuangan (drainage)
d. Lubang angin (venting)
4. Alat penurun tekanan harus mampu mencegah kenaikan tekanan lebih tidak
melebihi 110% dari disain kisaran tekanan yang disebabkan ekspansi isi bejana
oleh kenaikan suhu, reaksi kimia atau daya tekan dari pompa/kompresor.
5. Alat penurun tekanan yang dipasang, untuk fluida mampat berupa katup
pengaman (safety valve) dan untuk fluida tak mampat berupa katup penurun
tekanan (relief valve) yang dapat bekerja otomatis atas tekanan lebih atau
mempergunakan pelat dapat pecah (rupture disc). Alat penurun tekanan dapat
dipasang tunggal atau rangkap untuk jaminan terhadap keselamatan.
6. Ukuran alat penurun tekanan dan saluran buangannya harus mampu membuang
sejumlah maksimum yang dapat dihasilkan pada bejana tersebut tanpa menaikkan
tekanan lebih besar dari pada 110% disain kisaran tekanan.
7. Diantara bejana dan alat penurun tekanan dilarang ada katup penutup, kecuali
memenuhi persyaratan untuk pemeriksaan berkala atau pemeliharaan dari alat
penurun tekanan tersebut dan dapat disegel dalam posisi tertutup atau terbuka
yang dilakukan berdasarkan prosedur penyegelan oleh pihak yang berwenang.
8. Buangan dari alat penurun tekanan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga
mencegah bahaya bagi orang atau kerusakan pada peralatan lain. Kecuali
ditentukan lain, untuk bejana berisi zat beracun atau mudah terbakar dapat
dibuang ke atmosfer dengan ketentuan buangan ada di luar dan jauh dari
bangunan.
9. Pada setiap bejana tekan harus sekurang-kurangnya dipasang 1 (satu) indikator
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͵ͷ
tekanan yang berfungsi baik dan dikalibrasi.
10. Indikator tekanan harus tampak dari posisi operator mengontrol tekanan bejana,
jelas terbaca dengan ketelitian mempunyai skala pengukura 1,5 sampai 2 kali
tekanan kerja yang diijinkan.
11. Pada bejana tekan harus ada saluran pembuangan cairan yang terletak pada
bagian terbawah bejana, terutama pada tiap bejana yang berisi atau mungkin akan
membawa karat bagi bejana atau yang merugikan atau yang mudah terbakar.
Bilamana menggunakan katup untuk pembuangan material yang merugikan atau
mudah terbakar, maka harus disambung pipa pembuangan yang mengalir ke
lokasi aman, mencegah bahaya bagi orang atau kerusakan peralatan.
12. Pada bejana tekan harus ada lubang angin yang terletak pada bagian tertinggi
bejana untuk mengalirkan udara sewaktu uji tekan hidrostatika.
13. Lokasi pemasangan katup, alat penurun tekanan, alat pengamanan dan
perlengkaan lain harus pada tempat yang mudah dicapai bila diperlukan untuk
operasi, pemeriksaan maupun pemeliharaan.
Peletakan, pengangkutan dan perlakuan terhadap bejana tekan
1. Bejana tekan yang dipasang tetap dalam dudukan dengan penunjang yang kuat
dalam posisi horisontal rata air atau vertikal.
2. Lokasi bejana tekan berada harus terlindungi dan dihindari dari zat yang korosif.
3. Pengangkutan atau pemindahan bejana tekan harus menggunakan alat
pengangkut atau pengangkat yang tepat dan dicegah dari kemungkinan jatuh atau
terantuk dengan benda lain yang keras dan tajam.
4. Terhadap bejana tekan harus selalu dilakukan pemeliharaan, pemeriksaan alat
pengaman dan kelengkapannya serta dijaga kebersihannya.
5. Botol-botol baja bila tidak dipergunakan harus dipasangkan kap pelindungnya
dengan tepat untuk melindung katupnya.
6. Botol baja isi bertekanan dilarang berada dekat dengan sumber panas atau
terkena sinar matahari langsung.
7. Bahan pelumas dan paking yang mengandung minyak atau lemak dilarang
dipergunakan atau untuk melumasi katup pada botol baja yang berisi oksigen atau
gas lain yang mengandung oksida.
8. Botol-botol baja yang digunakan atau disimpan harus diletakkan berdiri dan diberi
pengikat dari kemungkinan roboh dengan memperhatikan jenis isi masing-masing
botol. Botol baja berisi oksigen harus dijauhkan dari botol gas lainnya yang mudah
terbakar, minimum 6 m.
9. Instansi pemakai wajib menyimpan daftar semua botol baja yang menjadi
tanggung jawabnya, lengkap dengan data tanda pengenal, isi dan masa berlaku
isinya.
10. Dari sisi tekan pada kompresor yang berhubungan dengan tangki tandon tidak
boleh ada katup, bila ternyata ada maka harus dipastikan dan diamankan dalam
keadaan terbuka pada saat operasi.
11. Tangki tandon pada kompresor harus secara berkala dikeringkan dari air embunan
di dalamnya dengan membuka katup pada saluran pembuangannya atau
dipasangkan katup pembuangan otomatis (automatic drain).
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͵͸
f. Pengawasan
1. Terhadap bejana tekan harus selalu dilakukan pengawasan untuk menghindari
risiko bahaya yang dapat timbul dan melaksanakan pemeliharaan bejana serta
alat-alat pengaman dan perlengkapan lainnya dengan sebaik-baiknya.
2. Sambungan-sambungan katup, pipa dan perlengkapan pada bejana tekan
harus selalu diperiksa kekedapannya. Kebocoran yang terjadi pada botol baja
sebagai penampung gas akan memberikan kerugian dan pada botol baja yang
berisi kelompok gas yang menyebabkan tercekik, kelompok gas mudah
terbakar dan meledak, kelompok gas beracun dan kelompok gas menyengat
dapat menimbulkan bahaya.
3. Fungsi dari alat-alat pengaman dan perlengkapan bejana tekan harus selalu
diuji ulang untuk menjamin keandalannya.
4. Bejana tekan yang berada di lingkungan zat korosif harus selalu diperiksa
kemungkinan kerusakan karena karat. Untuk botol baja yang berisi kelompok
gas korosif dapat diperiksa dengan diketuk-ketuk, bila bunyinya tidak nyaring
berarti dinding dalam telah dimakan karat yang akan mengurangi kekuatannya.
5. Pengecekan ulang botol baja harus dilakukan apabila warna sudah berubah,
luntur, warna hilang atau tertutup sehingga tidak lagi menunjukkan identitas
warna yang sesungguhnya, atau setelah dilakukan uji tekan hidrostatika ulang,
atau bila dilakukan penggantian isi dengan gas lain atas ijin Departemen
Tenaga Kerja.
g. Pendidikan dan Pelatihan
1. Pengoperasian bejana tekan termasuk peralatan pembangkit tekanan terkait
seperti pompa, kompresor dan pesawat uap harus dilakukan oleh teknisi atau
operator yang mempunyai wewenang mengoperasikan dan telah menjalani
pendidikan dan pelatihan untuk alat-alat itu. Kesalahan operasi seperti
kesalahan buka tutup katup dapat menimbulkan kerusakan dan bahaya fatal.
2. Kepada operator yang melayani penggunaan botol-botol baja berisi gas
berbahaya harus diberikan pendidikan dan pelatihan penanganan terhadap
bahan-bahan berbahaya.
h. Pelaporan
1. Dalam pengoperasian mesin pembangkit tekanan untuk bejana tekan harus
selalu diikuti dengan pencatatan rekaman data dalam buku/lembar log seperti
data tekanan dan temperatur yang dicatat setiap waktu secara berkala.
2. Pengelolaan bejana tekan harus menyimpan sertifikat uji bejana tekan dan
surat ijin pemakaian yang masih berlaku yang dikeluarkan oleh instansi
berwenang, dan mengajukan permohonan perpanjangan ijin sebelum
kadaluarsa.
3. Pengelola harus mencatat jumlah botol-botol baja beserta tanda-tanda
pengenalnya, melakukan pemeriksaan dan mencatat data-data isi gas, tekanan
dan kondisi secara berkala baik digunakan ataupun tidak digunakan.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͵͹
BAB VIII
MEDIK
____________________________________________________________
A. PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN
a. Tujuan
Pedoman ini dibuat sebagai petunjuk bagi awam untuk penyelamatan apabila
terjadi kecelakaan ditempat kerja dengan tujuan agar korban menjadi atau merasa
aman dan tenang serta mencegah kondisi yang lebih buruk sambil menunggu
pertolongan dokter. Oleh karena itu pedoman ini sengaja dibuat rinci.
b. Ruang lingkup
Ruang lingkup pedoman ini meliputi petunjuk umum : pertolongan pertama pada :
pingsan, terbakar, pendarahan, patah tulang, shock akibat aliran listrik, gigitan ular
berbisa; pernafasan buatan dan pijat jantung.
c. Bahan Acuan
1. Kartono M. Pertolongan Pertama, Gramedia, Jakarta, 1980.
2. Safety Handbook, Australia Atomic Energy Commision, 1983
3. Panduan Bahan Berbahaya, Edisi I, Departemen Kesehatan Republik Indonesia
(1985).
4. Diagnosis dan Penilaian Cacat karena Kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja,
Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Jakarta, 1989.
d. Definisi
1. Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak direncanakan yang dapat
menyebabkan luka atau kerugian pada manusia dan benda yang disebabkan
oleh suatu kejadian atau kondisi yang tidak terduga.
2. Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang dialami oleh seorang karyawan
semenjak ia meninggalkan rumah kediaman sampai menuju ke tempat
pekerjaannya, selama jam kerja, maupun sekembalinya dari tempat kerja
menuju rumah kediamannya melalui jalan yang biasa ditempuh, sedemikian
rupa sehingga karyawan tersebut dalam waktu 2 x 24 jam setelah kejadian
kecelakaan itu tidak dapat melakukan pekerjaan.
3. Perlemahan (impairment) adalah setiap gangguan atau ketidaknormalan
psikologik dan atau fisiologik dan atau struktur anatomi dan atau fungsi.
4. Ketidakmampuan (disability) adalah setiap keterbatasan atau berkurangnya
kemampuan (sebagai akibat dari perlemahan) untuk melakukan aktivitas
dengan cara atau dalam batas–batas yang dianggap normal untuk manusia.
5. Cacat (handicap) adalah kerugian yang diderita oleh seseorang sebagai akibat
dari perlemahan atau ketidakmampuan yang membatasi atau mencegah orang
itu untuk melakukan perannya yang normal untuk ukuran orang itu.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͵ͺ
e. Petunjuk
Umum
1. Apabila terjadi kecelakaan di suatu unit atau daerah kerja, maka karyawan yang
mula-mula mengetahui kejadian tersebut harus memberikan pertolongan pertama.
2. Karyawan yang telah memberikan pertolongan pertama ataupun karyawan lain
yang mengetahui kejadian tersebut, harus segera menghubungi poliklinik PTNBR
atau poliklinik yang terdekat dan kepala bidang K2 guna mendapatkan bantuan
segera. Pemberitahuan perihal terjadinya kecelakaan harus singkat dan jelas
dengan menyebutkan lokasi kejadian, identitas pelapor serta peristiwa kejadian.
3. Apabila karena keadaan, poliklinik tidak dapat menangani atau merawat korban,
maka dokter yang bertugas akan mengirim korban ke unit gawat darurat RSU
terdekat guna mendapatkan pertolongan lebih lanjut.
4. Atasan langsung tempat korban bekerja harus melaporkan kejadian tersebut
secara tertulis kepada Kepala Bidang K2 menggunakan formulir laporan
kecelakaan dalam waktu tidak lebih dari 24 jam.
5. Dokter poliklinik yang bertugas harus pula membuat laporan kecelakaan dengan
menyebutkan keadaan korban dan mengirimkan laporan tersebut kepada Kepala
bidang K2.
6. Kepala Bidang K2 harus melaporkan kejadian tersebut kepada Kepala PTNBR.
7. Atas dasar laporan tersebut, Kepala PTNBR akan mengirimkan laporan resmi
kepada Deputi terkait tentang kecelakaan tersebut.
8. Kepala PTNBR akan meneliti sebab-sebab kecelakaan dan menentukan lebih
lanjut langkah-langkah pencegahan agar kecelakaan serupa tidak terulang lagi.
9. Setelah penderita sembuh atau tidak dirawat di rumah sakit, maka ia wajib
melaporkan diri ke dokter poliklinik PTNBR dengan menyerahkan surat keterangan
dari rumah sakit dan/atau dokter yang merawatnya kepada Kepala Bidang K2.
10. Dokter poliklinik PTNBR akan mengirimkan laporan sembuh dengan menjelaskan
tentang prosentase cacat atau keadaan lainnya dari korban kepada Kepala Bidang
K2.
11. Bila kecelakaan kerja menimpa seorang karyawan diluar kawasan atau lingkungan
kerja, maka setiap karyawan ataupun pihak keluarga yang mengetahui kejadian
tersebut harus memberitahukan ke Kepala PTNBR melalui atasan
langsung/Kepala UPN/Kepala Bidang K2.
Pertolongan Pertama
Pingsan
Apabila ada seseorang yang pingsan pada waktu menjalankan tugas karena suatu
kecelakaan, maka korban harus segera mendapatkan pertolongan pertama dari
karyawan lainnya. Langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Korban dibawa ke tempat yang teduh dan aman dimana cukup tersedia udara
bersih.
2. Ikat pinggang dilonggarkan, kaos kaki dilepas, serta baju dan sepatunya
dibuka.
3. Pernafasannya diperhatikan dengan melihat naik turunnya dada dan dinding
perut dan mendengarkan dari dekat mulut korban.
4. Apabila korban tidak bernafas, pernafasan buatan harus segera dilakukan.
5. Ujung-ujung jari kaki dan tangan, punggung dan perut dipanasi dengan botol
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͵ͻ
berisi air hangat.
6. Kepada korban diberikan bau-bauan yang merangsang.
Pendarahan
Apabila seseorang mengalami kecelakaan yang mengakibatkan pendarahan, langkah-
langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Korban diterlentangkan atau dibaringkan dengan menegakkan atau meninggikan
bagian yang luka (kecuali bila ada patah tulang).
2. Tempat perdarahan ditekan dengan tangan secara hati-hati. Sebaiknya digunakan
perban steril untuk menutup tempat perdarahan sebelum ditekan. Selanjutnya
tempat perdarahan dibalut dengan kuat untuk mencegah perdarahan lebih lanjut.
3. Apabila perdarahan masih terus berlangsung, perban steril dan pembalut lain
harap ditambahkan tetapi JANGAN MELEPAS YANG PERTAMA.
4. Apabila terdapat benda asing di tempat luka, seperti : gelas, logam, kayu, dan
sebagainya, maka jangan mencabut benda tersebut. Dalam kasus ini, tekan
bagian tepi dari luka dengan menempatkan perban steril di sekeliling luka dan
balut.
5. Jika perlu bawa korban ke poliklinik terdekat untuk mendapatkan tindakan yang
medis yang lebih lengkap.
Terbakar
1. Apabila seseorang terbakar api badannya dan kemudian pingsan, maka
pertolongan pertama-tama diatasi pingsannya terlebih dahulu. Setelah sadar,
bagian yang terbakar diolesi dengan vaselin atau levertran zalf, kemudian
diselimuti. Jangan sekali-kali memecahkan kulit yang melepuh atau bengkak berisi
air.
2. Apabila seseorang terbakar bajunya, maka orang tersebut harus berguling-guling
dipasir atau dibungkus selimut untuk mematikan apinya. Setelah itu ditolong
seperti prosedur di atas. Jangan merobek atau menarik baju yang terbakar.
3. Apabila seseorang terpercik atau tersiram bahan kimia korosif pada bagian mata,
kulit, atau badan, segera disiram dengan air yang mengalir sebanyak-banyaknya
selama minimal 15 menit.
Patah tulang
Apabila terjadi kecelakaan yang mengakibatkan patah tulang, maka pada tempat yang
patah dipasang dua papan (spalk) dan kemudian diperban :
1. Tulang paha : Spalk dipasang di kanan dan kiri dari paha yang patah dan
kemudian dibalut.
2. Tulang kering betis : Spalk dipasang di kanan dan kiri dari bagian betis yang
patah dan dibalut.
3. Tulang lengan atas atau lengan bawah : Spalk dipasang di kanan dan kiri
dari tangan yang patah dan kemudian dibalut. Setelah itu digendong dengan kain
yang diikatkan pada leher.
4. Tulang telapak tangan : Spalk dipasang disebelah punggung tangan dan
kemudian dibalut. Setelah itu digendong dengan kain yang diikatkan pada leher.
5. Tulang belakang: Penderita diterlentangkan menengadah pada tempat yang keras
dan rata (papan). Diletakkan bantalan di bagian punggung dan dibalut.
6. Tulang leher : Penderita diterlentangkan menengadah. Diletakkan bantalan di
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͶͲ
kanan kiri batang leher yang patah dan kemudian dibalut.
7. Pada patah tulang terbuka atau tulang kelihatan, maka mula-mula tempat tulang
yang keluar ditutup dengan perban steril kemudian dibalut. Setelah itu dipasang
spalk seperti prosedur di atas.
CATATAN : Jangan coba memeriksa dengan menggerakkan bagian
tubuh yang diduga patah !
Shock akibat aliran listrik
1. Korban dibebaskan dari aliran listrik dengan jalan memutuskan saklar yang
langsung mengalirkan aliran listrik tersebut. Apabila aliran listrik tersebut tidak dapat
diputuskan, korban diusahakan ditarik dengan tangan yang memakai sarung tangan
karet anti listrik, tongkat anti listrik atau tali. Perlu diingatkan bahwa semua alat
pertolongan tersebut harus kering dan jangan sentuh korban dengan tangan
telanjang atau logam.
2. Pernafasan korban diperiksa dengan memperhatikan cara naik turunnya dada dan
dinding perut dan mendengarkan dari dekat mulut korban. Bila tidak bernafas,
segera ditolong dengan pernafasan buatan.
3. Bila denyut jantung berhenti, diberikan pijat jantung (cardiac massage)
Pernafasan buatan
Apabila terjadi kecelakaan dan korban tidak bernafas, maka segera dilakukan
pernafasan buatan. Prosedur pertolongan pertama gawat darurat yang memadukan
teknik nafas buatan dan teknik sirkulasi buatan dianggap tindakan penyadaran jantung-
paru yang paling baik, untuk nafas buatan adalah pernafasan mulut ke mukut atau
nafas buatan mulut, dan teknik penyadaran yang baik untuk sirkulasi buatan yang baik
adalah pijat jantung eksternal. Dalam hal ini selalu dimulai nafas buatan mulut terlebih
dahulu. Kemudian ditentukan perlu tidaknya pijat jantung eksternal.
Prosedur teknik nafas buatan mulut
1. Korban dibaringkan terlentang
2. Penolong berlutut di samping korban
3. Mulut dan saluran nafas dibersihkan dari benda asing seperti permen karet, gigi
palsu dan kotoran lainnya.
4. Salah satu penolong diletakkan di bawah leher dengan posisi menyangga
5. Tangan lainnya diletakkan pada jidat korban sedemikian rupa sehingga jempol dan
telunjuk dapat menutup hidung
6. Tangan dibawah leher diangkat dengan hati-hati sedangkan tangan pada dahi
korban ditekan ke bawah. Kejadian ini akan merentangkan leher korban dan
membuka saluran nafas
7. Nafas ditarik dalam-dalam (lebih kurang 2 kali nafas normal) mulut dibuka lebar-
lebar, mulut penolong diletakkan di atas mulut korban dan udara dihembuskan
8. Penolong menahan hingga dada korban menggembung. Segera setelah itu mulut
penolong diangkat dari mulut korban dan hembusan dari korban dibiarkan berakhir
dengan sendirinya.
9. Diulangi sampai 12 – 14 kali tiap menit untuk orang dewasa, 18 – 20 kali untuk
bayi dan anak – anak.
10. Jika dada korban tidak menggembung, diperiksa apakah terdapat salah satu atau
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ Ͷͳ
lebih keadaan berikut ini dan harus diperbaiki. Kebocoran udara; dalam hal ini
kemungkinan letak mulut penolong tidak rapat pada mulut atau hidung korban,
sehingga udara bocor ke samping. Sumbatan saluran nafas korban; dalam hal ini
jari dimasukkan ke dalam mulut korban dan benda asing, muntahan, dan bekuan
darah dikeluarkan. Jika dada masih tidak mampu menggembung, tangan diangkat
dari leher, jempol dimasukkan ke dalam mulut dan rahang bawah dicengkeram
diantara jempol dan jari dan rahang diangkat ke atas, ditahan pada kedudukan ini
sambil diteruskan melakukan pernafasan buatan.
11. Pada anak-anak dan bayi jumlah udara yang diperlukan lebih sedikit. Pada bayi
jumlah udara yang tertahan dalam dada penolong dapat mencukupi. Tetapi,
hendaknya mulut penolong segera diangkat setelah dada korban mengembung,
agar tidak terjadi kerusakan..
12. Pernafasan mulut-hidung dapat dilakukan dengan teknik sama kecuali tentunya,
mulut korban ditutup, sedangkan mulut penolong diletakkan rapat di atas hidung
korban
13. Jika penolong ragu-ragu meletakkan mulutnya di atas mulut korban, pernafasan
mulut ke mulut dengan memuaskan dapat dilakukan melalui sapu tangan.
Pijat jantung eksternal
Setelah pernafasan mulut ke mulut dilakukan dengan 5 – 6 nafas cepat, periksa untuk
mengetahui apakah pijat jantung eksternal harus dimulai, dalam hal ini hanya
diperlukan jika jantung berhenti. Umumnya penyegaran pernafasan mulut ke mulut
akan cukup menyebabkan pergerakan kembali jantung. Denyut nadi diperiksa, dalam
hal ini yang paling baik adalah denyut nadi karotid pada leher, yakni, arteri besar yang
terletak dekat permukaan sisi samping jakun kiri kanan
Pupil mata diperiksa, dalam hal ini jika pupil mata terbuka lebar dan tidak berkerut jika
terkena cahaya, maka aliran darah ke otak tidak mencukupi.
Jika tidak terdapat denyut nadi atau pupil mata terbuka lebar dan tidak berkerut, pijat
jantung eksternal dimulai.
Dilakukan penekanan pada atas tulang dada.
Telapak salah satu tangan diletakkan pada tulang dada sepertiga lebih rendah (tanda
“X” pada gambar 11) dan tangan lainnya di atas nadi.
Tulang dada ditekan ke arah tulang belakang dengan menekan tangan ke bawah
menggunakan bobot bagian tubuh sebelah atas.
Tekanan ini kemudian dilepas cepat-cepat. Siklus ini diulangi 60-80 kali tiap menit
untuk orang dewasa, 80-100 kali tiap menit untuk anak-anak.
Tulang dada harus bergerak 3,75 cm – 5 cm pada orang dewasa. Dada anak-anak
tidak sekuat itu dan pijat jantung eksterna pada bayi dapat dikerjakan dengan dua jari
sedangkan pada anak-anak lebih tua hingga hingga usia 10 biasanya satu tanganpun
sudah mencukupi.
Jari harus tetap jauh dari rusuk untuk menghindarkan patah.
Sering kali denyut jantung dieriksa untuk mengetahui apakah jantung sudah mulai
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ Ͷʹ
bergerak kembali.
Gigitan ular berbisa
Dari lebih dari 2000 spesies ular di dunia, hanya sekitar 250 spesies yang berbisa.
Bisa ular mengandung enzim, protein non-ensimatik dan zat-zat lain seperti asetilkolin
dan shidroksi-triptamin. Beratnya efek toksik dari gigitan ular tergantung kepada jenis
dan jumlah bisa yang digigitkan. Gejala-gejala akibat gigitan ular berbisa :
1. Efek lokal : Ular berbisa meninggalkan dua atau kadang-kadang satu tanda gigitan
ular taring yang khas, sedangkan gigitan ular tak berbisa meninggalkan tanda
gigitan satu gigi yang berbentuk setengah lingkaran. Kulit di tempat gigitan
tersebut berwarna merah, bengkak dan sakit. Setelah beberapa hari, dapat terjadi
kematian jaringan, sehingga kulitnya berubah menjadi kehitam-hitaman disertai
nyeri yang sangat.
2. Sistem Sistematik :
9 Mual dan muntah
9 Pusing dan berkunang-kunang karena tekanan darah turun.
9 Kelemahan otot, sukar bicara dan sukar menelan sebagai akibat kelumpuhan
otot-otot badan. Kadang-kadang disertai kelumpuhan otot-otot pernafasan dan
akhirnya pingsan atau meninggal dunia.
Kotak P3K
1. Isi kotak P3K yang minimum harus ada adalah :
Salep luka bakar 10 g 1 tube
Mercurochroom 25 ml 1 botol
Pembalut 25 g (bungkus plastik) 2 bungkus
Plester 0,5 inci 1 rol
Band aid 10 buah
Refagan/Aspirin 10 tablet
Obat anti diare (Entrostop, Diare dsb.) 10 tablet
2. Kotak P3K ditempatkan di setiap tempat yang telah ditentukan.
f. Pendidikan dan latihan
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan adalah tindakan yang semestinya dapat
dikerjakan oleh setiap orang. Oleh karena itu setiap karyawan wajib membekali diri
dengan pengetahuan dan keterampilan untuk keperluan itu. Agar tujuan tersebut dapat
tercapai maka perlu diadakan kursus singkat dan pelatihan Pertolongan Pertama Pada
Kecelakaan (P3K). Kursus singkat dan pelatihan ini sebaiknya dilakukan setiap
setahun sekali baik bagi karyawan baru maupun karyawan lama (sebagai kursus
penyegaran agar keterampilan tersebut tidak hilang) dan diorganisasikan oleh kepala
satuan kerja yang ditunjuk dengan bantuan para dokter.
B. ANTIDOTUM
a. Tujuan
Dalam menangani keracunan, disamping dilakukan berbagai tindakan, diberikan
terapi antidotum. Maksud pemberian antidotum ini adalah mengakhiri sentuhan
racun atau menetralkan efek racun.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ Ͷ͵
b. Ruang Lingkup
Pedoman ini dibuat untuk awam, sedangkan yang pemberiannya lewat injeksi
harus dilakukan oleh dokter.
c. Bahan Acuan
1. Panduan Bahan Berbahaya, Edisi I, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia (1985).
2. Manual of Early Medical Treatment of Possible Radiation SS No. 25 IAEA.
d. Definisi
Antidotum adalah suatu zat atau bahan yang berfungsi menetralkan efek racun.
Antidotum Umum terdiri dari bahan/zat perangsang muntah, bahan penyerap racun,
zat pengasam dan pengakalis air kemih. Zat perangsang muntah (emetikum) adalah
zat yang kerjanya merangsang pusat muntah pada batang otak. Efektifitasnya
meningkat bila diberikan bersamaan dengan pemberian air sebanyak 200-300 ml.
Emetikum tidak boleh diberikan pada korban-korban yang tidak sadar (pingsan), shock,
pada kasus-kasus keracunan bahan korosif kuat dan pada korban keracunan destilat
minyak bumi.
Antidotum Spesifik adalah antidotum yang penggunaanya hanya sesuai untuk penawar
racun spesific yang sesuai. Antidotum untuk logam yang paling efektif jika diberikan
segera setelah terjadi keracunan logam berat atau sejenisnya.
e. Petunjuk
Umum
Tabel 8. Daftar Antidotum Umum
Sub kelas Jenis Tujuan Penggunaan Dosis
Emetikum
1. Apomorfin Rangsangan muntah
Suntikan bawah
kulit 0,1 mg/kg BB
disertai minum air
200-300 ml
2. Sirup
ipeka
Rangsangan muntah
terutama untuk anak-
anak
Oral : dewasa 20
ml diikuti 200-300
ml pemberian
dapat diulangi 1x
setelah 20 menit.
Zat
penyerap
Karbon aktif Penyerap racun
Oral : 30-100 gr
dalam 250 ml air,
dapat diulangi jika
dikehendaki
Zat
pengasam
kemih
Amonium
klorida
Untuk menghalangi
serapan kembali basa
organik, termasuk
senyawa uranium,
oleh tubulus ginjal.
Oral : dewasa 1 gr-
2gr, diberikan 4-6 x
sehari. Dosis
disesuaikan
dengan monitor pH
kemih
Zat
pengakalis
Natrium
bikarbonat
Untuk menghalangi
serapan kembali
Oral : dewasa 1-4 x
sehari, 300mg-
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͶͶ
Sub kelas Jenis Tujuan Penggunaan Dosis
asam organik oleh
tubulus ginjal.
1,8gr diberikan
sebelum makan.
Intravena : 2-5
mEq/kg BB. Dosis
disesuaikan
dengan monitor pH
kemih.
Spesifik
Tabel 9. Daftar Antidotum Spesifik
Sub kelas Jenis
Tujuan
Penggunaan
Dosis
Antagonis
logam berat
Kalsium
dinartrium
edetat
Selatisasi logam
berat beracun atau
sejenisnya
terutama.
Suntik : Intravena
dewasa : 1,5 gr/m
permukaan tubuh
dibagi dalam 2
dosis.
Deferoksa-
minamesilat
Selatisasi logam
berat beracun
terutama besi.
Suntikan
intramuskulair 1
gr diikuti dengan
dosis tiap 4 jam
500 mg,
tergantung
respon.
Dimercaprol
Selatisasi logam
berat beracun
terutama Arsen
Emas dan Air
raksa.
Dosis diatur
secara individual
sesuai dengan
respon. Yaitu,
kita-kira 2,5-
5mg/kg BB
diberikan
suntikan
intramuskulair.
C. PEMERIKSAAN KESEHATAN
a. Ruang Lingkup
Pemeriksaan Kesehatan pekerja radiasi bertujuan untuk :
1. Mengetahui kondisi kesehatan pekerja radiasi baik sebelum, selama maupun
sesudah masa kerja.
2. Menentukan apakah seseorang boleh bekerja sebagai pekerja radiasi atau tidak.
3. Menyesuaikan penempatan pekerja dengan kondisi kesehatannya.
4. Untuk mengetahui apakah penyakit yang diderita oleh pekerja akibat kerja atau
bukan.
b. Pemeriksaan kesehatan ini dibedakan menjadi
Pemeriksaan kesehatan sebelum masa kerja, pemeriksaan kesehatan selama masa
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ Ͷͷ
kerja, dan pemeriksaan kesehatan setelah masa kerja.
c. Bahan Acuan
1. Safety Series No. 25, Medical Supervision of Radiation Worker. IAEA, VIENNA,
1968.
2. Safety Series No. 83. Radiation Protection in Occupational Health, IAEA,
VIENNA, 1987.
3. BSS No.115 IAEA, VIENNA, 2003
d. Petunjuk
Jenis pemeriksaan
Anamnesa : Pemeriksaan anamnesa dilaksanakan dengan menggunakan formulir
khusus yang diisi dan ditanda tangani oleh karyawan yang diperiksa kesehatannya dan
dokter pemeriksa. Pemeriksaan Anamnesa meliputi :
1. Latar Belakang Keluarga.
2. Riwayat Kesehatan.
3. Riwayat Pekerjaan.
Pemeriksaan Medik . Pemeriksaan Medik meliputi :
1. Pemeriksaan umum meliputi pencatatan data anthropometrik (tinggi dan berat
badan, tekanan darah/tensi, fungsi organ seperti jantung, paru-paru, hati limpa dan
anggota gerak.
2. Pemeriksaan THT.
Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan telinga, hidung, mulut/tenggorokan dan
audiometri.
3. Pemeriksaan laboratorium :
Pemeriksaan laboratorium ini meliputi pemeriksaan darah lengkap dan urine.
4. Pemeriksaan Mata :
Pemeriksaan mata meliputi visus, kelainan refraksi dan ishihara (buta warna).
5. Pemeriksaan Gigi.
6. Pemeriksaan Sistim kardiovaskular :
Pemeriksaan ini meliputi elektrokardiogram (EKG) pada keadaan istirahat.
Frekuensi Pemeriksaan Kesehatan
Pemeriksaan Kesehatan secara lengkap dilakukan secara berkala sekurang-
kurangnya satu kali dalam setahun.
Penanggung jawab Pemeriksaan Kesehatan :
1. Pelaksana Pemeriksaan Kesehatan berkala dilaksanakan oleh SubBid
Pelayanan kesehatan dan dikoordinasi oleh Bidang K2
2. Hasil pemeriksaan kesehatan karyawan disimpan oleh SubBid Pelayanan
kesehatan - Bidang K2
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ Ͷ͸
BAB IX
TATA TERTIB DI KAWASAN PTNBR
____________________________________________________________
a. Bahan Acuan
1. Petunjuk keamanan dan ketertiban di lingkungan Badan Tenaga Nuklir
Nasional.
2. Pengelolaan keselamatan dan keamanan kegiatan nuklir RSG-LP.
3. Keputusan Direktur Jenderal BATAN tentang Klasifikasi Kerahasiaan dan
Pengamanan Bahan Keterangan.
b. Definisi
1. Kecelakaan adalah suatu kejadian yang mendadak, tidak dikehendaki, tidak
direncanakan, tidak terkendali, yang dapat menyebabkan kerugian material
ataupun penderitaan bagi yang ditimpanya.
2. Alat penyelamat adalah alat yang digunakan untuk menyelamatkan orang,
sarana dan prasarana kerja dari kecelakaan, kerusakan dan kemusnahan.
3. Alat deteksi adalah alat yang digunakan untuk mengetahui macam/jenis bahan,
konsentrasi dan kondisi dari sesuatu yang dapat menimbulkan bahaya atau
kecelakaan.
c. Petunjuk umum
Tata Tertib Lalu Lintas Orang (Karyawan & Tamu)
1. Setiap pengunjung (kontraktor, mahasiswa, dan tamu) yang akan memasuki
kawasan PTNBR harus melaporkan terlebih dahulu ke pos penjagaan dan wajib
mengikuti peraturan yang berlaku selama berada di dalam kawasan PTNBR.
Tata Tertib Lalu Lintas Kendaraan dan Barang
1. Setiap barang yang dibawa seseorang atau diangkut dengan kendaraan harus
dilaporkan dengan singkat dan jelas tentang sifat dan kondisi barang tersebut
kepada petugas PAM yang berjaga untuk antisipasi dalam cara pengangkutan dan
penyimpanannya di dalam kawasan.
2. Penyimpanan, penggunaan, perlakuan dan pengawasan terhadap benda-benda
kimia berbahaya mengikuti ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Bahan Kimia.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ Ͷ͹
BAB X
PAKAIAN KERJA DAN ALAT PELINDUNG
DIRI
____________________________________________________________
a. Tujuan
Pemakaian alat pelindung diri pada waktu bekerja atau memasuki suatu tempat
kerja bertujuan untuk melindungi setiap karyawan dari berbagai bahaya yang
dapat menimpa dirinya dan/atau mengganggu pelaksanaan pekerjaanya.
b. Ruang Lingkup
Pedoman umum tentang peralatan kerja dan alat pelindung diri adalah pedoman
keselamatan dan kesehatan kerja yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan dalam hal
penanganan dan penggunaan pakaian dan peralatan pelindung dari bahaya
kecelakaan kerja yang ada di PTNBR BATAN Bandung
c. Bahan Acuan
1. Dr. Sumakmur P.K.,M.Sc. Keselamatan Kerja dan Pencegahan
Kecelakaan
2. Dr. Sumakmur P.K.,M.Sc. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja
3. Herry Soetopo Alat-Alat Perlengkapan Keselamatan Kerja
4. Tia Setiawan, Harun Keselamatan Kerja dan Tata Laksana
Bengkel
5. Soemanto Imamkhasani, PhD Buku Pedoman Keselamatan Kerja Bidang
Kimia
d. Petunjuk
1. Setiap karyawan dalam melakukan pekerjaan yang berbahaya atau memasuki
tempat kerja yang berbahaya baik terhadap kesehatan maupun
keselamatannya harus memakai alat-alat pelindung diri yang sesuai dengan
jenis pekerjaannya dan tingkat bahaya yang dihadapinya.
2. Setiap karyawan berkewajiban merawat dan memelihara alat pelindung diri
yang diterimanya agar selalu dalam keadaan baik dan bersih.
3. Setiap kerusakan alat pelindung diri, haruslah segera dilaporkan kepada Bidang
K2 atau atasan langsungnya guna perbaikan atau mendapatkan penggantian
dengan alat-alat pelindung diri yang baru.
4. Setiap karyawan harus mengembalikan dan menempatkan pakaian kerja dan
alat pelindung diri pada tempat yang ditentukan.
e. Jenis-Jenis Alat Pelindung Diri
Untuk melindungi diri dari berbagai macam bahaya, alat pelindung yang jenisnya
seperti yang termuat dalam daftar di bawah ini harus digunakan:
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ Ͷͺ
Tabel 10. Jenis Alat Pelindung Diri
Faktor bahaya
Bagian tubuh yang
perlu dilindungi
Alat-alat proteksi diri
Tertimpa atau
terantuk benda berat
dan keras
Kepala, betis, tungkai
Tungkai logam atau plastik
lapisan pelindung (decker) dari
kain, kulit, logam, dsb.
Pergelangan kaki,
kaki, dan jari kaki.
Sepatu steelbox toe.
Tertimpa benda
sedang & tidak berat.
Kepala Helm kerja
Benda-benda
beterbangan.
Kepala Helm kerja
Mata
Goggle (=Kacamata yang
menutupi seluruh samping
mata)
Muka Tameng plastic
Jari, tangan, lengan.
Sarung tangan kulit berlengan
panjang.
Tubuh Jaket atau jas kulit
Betis, tungkai, mata
kaki.
Pelindung dari kulit, berlapis
logam dan tahan api.
Debu
Mata
Goggle, kaca mata sisi kanan
kiri tertutup.
Muka Penutup muka dari plastik.
Alat pernafasan Respirator/masker khusus.
Percikan api atau
logam.
Kepala Helm plastik berlapis asbes.
Mata Goggle, kaca mata.
Muka Penutup muka dari plastik.
Jari, tangan, lengan
Sarung tangan asbes berlengan
panjang.
Betis, tungkai. Pelindung dari asbes.
Mata-kaki, kaki. Sepatu kulit.
Tubuh. Jaket asbes/kulit.
Gas, asap, fumes.
Mata. Goggles.
Muka. Penutup muka khusus.
Alat pernafasan.
Jika mengancam jiwa: gas
masker khusus dengan filter.
Tidak mengancam jiwa secara
langsung : gas masker biasa.
Tubuh.
Pakaian karet, plastik/bahan lain
yang tahan kimiawi.
Jari, tangan, lengan.
Sarung plastik, karet berlengan
panjang dan anggota-anggota
badan itu diolesi dengan barrier
cream.
Betis, tungkai. Pelindung dari plastik/karet.
Mata-kaki, kaki.
Sepatu yang kondusif (yang
menyalurkan aliran listrik)
Cairan dan bahan-
bahan kimia.
Kepala Penutup kepala plastik
Mata Goggles
Muka Penutup dari plastic
Alat pernafasan Respirator khusus tahan kimiawi
Jari, tangan, lengan Sarung plastik/karet
Tubuh Pakaian plastik/karet.
Betis, tungkai
Pelindung khusus dari plastik
atau karet.
Mata-kaki, kaki Sepatu karet, plastik atau kayu.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ Ͷͻ
Faktor bahaya
Bagian tubuh yang
perlu dilindungi
Alat-alat proteksi diri
Panas
Kepala Helm asbes.
Lain-lain bagian
Sarung, pakaian, pelindung dari
asbes atau bahan lain yang
tahan panas/api.
Kaki
Sepatu dengan sol berisolator /
bahan tahan panas.
Mata
Goggle dengan lensa tahan
sinar infra merah
Basah dan air
Kepala. Penutup kepala plastik.
Tangan, lengan, jari.
Sarung tangan plastik, karet
berlengan panjang.
Tubuh. Pakaian khusus
Kaki, tungkai. Sepatu boot karet
Terpeleset, jatuh Kaki. Sepatu anti slip
Terpotong, tergosok
Kepala Helm kerja (logam)
Jari, tangan, lengan
Sarung tangan kulit, dilapisi
logam, berlengan panjang
Tubuh Jaket kulit
Betis, tungkai.
Celana kulit dengan decker
pada lutut dan pergelangan kaki
Mata-kaki, kaki Sepatu dilapisi baja, zool kayu.
Dermatis, atau
radang kulit
Kepala Penutup kepala plastik
Muka Sun block, pelindung plastik.
Jari, tangan, lengan
Sun block, sarung tangan karet,
plastic
Tubuh Penutup karet, plastik.
Betis, tungkai, mata-
kaki, kaki
Sepatu karet, zool kayu
Listrik.
Kepala Penutup kepala plastik, karet.
Jari, tangan, lengan.
Sarung tangan karet tahan
sampai 10.000 volt selama 3
menit.
Tubuh, betis, tungkai,
mata kaki, kaki.
Pelindung yang bahayanya dari
karet
Mesin-mesin.
Kepala Penutup kepala
Jari, tangan, lengan Sarung tangan tahan api
Tubuh Jaket dari karet
Betis, mata kaki Celana tahan api atau decker.
Sinar silau. Mata
Goggle, kacamata dengan filter
khusus.
Percikan api dan
silau pada
pengelasan.
Mata Goggle, kacamata filter khusus.
Muka
Penutup muka dengan
kacamata filter khusus.
Tubuh
Jaket tahan api (asbes) atau
kulit.
Kaki Sepatu dilapisi baja.
Penyinaran sedang
Kepala Penutup kepala khusus.
Mata
Goggle, kacamata dengan filter
lensa.
Muka Pelindung muka khusus.
Penyinaran kuat.
Kepala Penutup kepala khusus.
Mata, muka
Goggle dengan filter khusus dari
logam/plastik.
Kebisingan Telinga Earmuff
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳ
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
PUSAT TEKNOLOGI NUKLIR BAHAN DAN RADIOMETRI
Jl. Tamansari No.71
Telp.(022) 2503997 Fax.(022) 250481
http://www.batan-bdg.go.id
BANDUNG 40132

PEDOMAN KESELAMATAN KERJA NON RADIASI

PENYUSUN :
Drs. SUHULMAN Dra. RINI HEROE OETAMI, MT RASITO S.Si AFIDA IKAWATI, ST ADE SUHERMAN ZAINAL ARIFIN SOLEH SOFYAN

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada ALLAH SWT yang karena rahmatNya kami dapat menyelesaikan penulisan buku Pedoman Keselamatan Non Radiasi untuk Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri – BATAN Bandung. Buku yang ada di tangan anda ini merupakan seri buku keselamatan yang disusun oleh Bidang Keselamatan dan Kesehatan Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri. Seri buku ini membahas khususnya tentang keselamatan dan kesehatan kerja non radiasi yang disusun mengacu pada buku Pedoman Keselamatan Kerja yang diterbitkan BATAN dan berbagai sumber lainnya. Selanjutnya buku ini akan menjadi pedoman keselamatan dan kesehatan kerja non radiasi di PTNBR BATAN Bandung. Buku ini terdiri dari 11 (sebelas) bab, yang berisi pedoman umum keselamatan dan kesehatan kerja, penanggulangan bahaya kebakaran, keselamatan dan kesehatan di lokasi kerja dan penggunaan peralatan kerja, tata-tertib di kawasan, serta penggunaan pakaian dan alat pelindung kerja. Setiap individu bertanggung jawab atas masalah keselamatan dan kesehatan kerja. Untuk itu seluruh tingkatan manajemen dan karyawan di lingkungan PTNBR diharapkan membaca, memahami dan menerapkan ketentuan yang ada di dalam buku pedoman ini di masing-masing lingkungan kerja yang menjadi tanggung jawabnya. Meskipun upaya penyusunan buku pedoman ini telah maksimal, penyusun menyadari bahwa didalamnya masih terdapat kekurangan. Untuk itu penyusun berharap adanya saran, kritik, dan masukan dari pembaca untuk penyempurnaan buku Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Non Radiasi ini kedepan. Akhirnya, kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan dan penerbitan buku pedoman ini, kami ucapkan terima kasih.

Bandung, 4 Agustus 2008 Tim Penyusun,

Pedoman Keselamatan Kerja Rev.1/2008

i

SAMBUTAN
KEPALA PUSAT TEKNOLOGI NUKLIR BAHAN DAN RADIOMETRI Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh, salam sejahtera buat kita semua! Sungguh sangat tepat waktunya Bidang Keselamatan dan Kesehatan menyusun buku Pedoman Keselamatan Kerja yang merupakan revisi total dari seri buku keselamatan sebelumnya. Dengan kebijakan zero incident yang dianut BATAN, maka usaha untuk meningkatkan kinerja keselamatan harus lebih mendapat perhatian, kecelakaankecelakaan kecil sekalipun harus tidak terjadi. Perhatian terhadap keselamatan kerja saat ini makin meningkat, sejalan komitmen karyawan dan staf pimpinan terhadap keselamatan yang tertuang dalam Kebijakan Keselamatan. Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri telah melakukan berbagai usaha, agar kecelakaan tidak terjadi, antara lain dengan selalu mengkaji setiap prosedur terkait keselamatan oleh Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja, melakukan kajian risiko bahaya dari setiap kegiatan yang akan dilakukan, membangun sistem e-learning keselamatan, melakukan survey keselamatan rutin, mengadakan audit keselamatan internal maupun eksternal, sosialisasi rutin tentang keselamatan kerja, pengumuman keselamatan sebelum mulai kerja dan saat selesai kerja, serta berbagai kegiatan lain terkait keselamatan, akan tetapi hal-hal tersebut belumlah dianggap optimal, karena kami beranggapan bahwa kinerja keselamatan setiap saat bisa terus ditingkatkan. Usaha meningkatkan kinerja keselamatan dan mempromosikan agar selalu bekerja selamat terus menerus dilakukan, salah satunya adalah dengan diterbitkannya Pedoman Keselamatan Kerja ini. Buku ini selanjutnya akan dijadikan acuan oleh seluruh karyawan untuk meningkatkan pengetahuannya tentang keselamatan, sehingga dapat bekerja dalam kondisi selamat, selamat untuk dirinya, selamat untuk orang lain, dan selamat untuk lingkungan. Setiap individu bertanggung jawab atas masalah keselamatan dan kesehatan kerja. Untuk itu seluruh tingkatan manajemen dan karyawan di lingkungan PTNBR diharapkan membaca, memahami, dan menerapkan ketentuan yang ada di dalam buku pedoman ini di masing masing lingkungan kerja yang menjadi tanggung jawabnya. Bersama kita capai zero incident. Bandung, 11 Agustus 2008 Kepala Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri

Drs. Djatmiko, M.Sc. NIP:330002309

Pedoman Keselamatan Kerja Rev.1/2008

ii

DAFTAR ISI
Hal KATA PENGANTAR SAMBUTAN KEPALA PTNBR DAFTAR ISI Bab I. Bab II. Bab III. Bab IV. Bab V. Bab VI. Bab VII. Pendahuluan........................................................................................... Pedoman Umum Keselamatan dan Kesehatan Kerja............................ Penanggulangan Bahaya Kebakaran..................................................... Bengkel................................................................................................... Peralatan Listrik...................................................................................... Bahan Kimia........................................................................................... Gas......................................................................................................... I II Iii 1 4 9 16 26 29 38 39 45 56 57

Bab VIII. Bejana Tekan......................................................................................... Bab IX. Bab X. Bab XI. Medik...................................................................................................... Tata Tertib di Kawasan PTNBR............................................................. Pakaian Kerja dan Alat Pelindung Diri....................................................

Pedoman Keselamatan Kerja Rev.1/2008

iii

Di dalam mempelajari penyebab langsung maka harus diketahui bahwa penyebab tidak langsung melatarbelakangi penyebab langsung. Untuk dapat bekerja dalam kondisi sehat dan aman.BAB I PENDAHULUAN ______________________________________________________________ Bekerja adalah mengembangkan perilaku kehidupan di lingkungan kerja sesuai dengan keahlian dan ketrampilan yang dimiliki dan bertujuan untuk keselamatan masyarakat dan lingkungan. seperti bagaimana menangani bahan baku. Konsep keselamatan yang perlu diperhatikan adalah mencegah terjadinya kecelakaan apapun akibatnya. Pemahaman tentang konsep dasar pemikiran keselamatan dan kesehatan kerja sangat penting. Karena itu perlu dipahami apa itu kondisi tidak selamat dan tindakan tidak selamat. dan arahkan diri anda kepada suasana kehidupan yang gembira dan menyenangkan. Tidak saja sebab langsung. atau kombinasi dari keduanya. . Dalam pedoman ini akan dijelaskan tindak pencegahan yang perlu dilakukan untuk menjaga keselamatan dan kesehatan kerja bagi karyawan baru maupun karyawan lama untuk penyegaran ingatan akan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja. Cidera terjadi akibat sesuatu kecelakaan. atau tindakan tidak selamat. tetapi penyebab tidak langsung juga perlu dihilangkan. mesin dan peralatan. Banyak hal yang perlu diketahui oleh seseorang dalam proses pekerjaan. Bagi karyawan PTNBR yang bekerja di dalam proses produksi maupun operasi reaktor. keselamatan dan kesehatannya harus menjadi prioritas utama. Tujuan keselamatan dan kesehatan dari sudut pandang karyawan berarti wajib mematuhi prosedur kerja standar (standard operating prosedur. Mesin yang bagus dan efisien sekalipun dapat menyebabkan kecelakaan atau menjadi rusak bila dioperasikan dengan tidak benar akibat kondisi fisik pekerja yang sedang tidak baik. Konsep lama yang mengatakan bahwa kecelakaan tidak bisa dihindari dalam bekerja harus dihilangkan dari pikiran para karyawan modern. Kesehatan jasmani merupakan modal dasar untuk bekerja. Karena itu pencegahan terjadinya cidera dimungkinkan dengan cara menghindari kecelakaan. Untuk itu karyawan harus memahami sebab-sebab kecelakaan dan sakit akibat kerja. Kecelakaan dapat terjadi karena sebab langsung maupun tidak langsung. Namun kriteria terpenting suatu kinerja adalah pada bagaimana menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan aman. jagalah kesehatan. dan membaca batas waktu penyelesaian. SOP) yang telah disediakan dan tidak boleh mengabaikannya. bagaimana membaca sebuah gambar atau skema. dan kecelakaan dapat dicegah dengan meniadakan tindakan atau kondisi yang tidak selamat. Kecelakaan dapat ditimbulkan oleh kondisi yang tidak selamat. kendalikan diri dari perasaan gelisah.

Harus diingat pula bahwa penyebab kecelakaan tidak hanya tampak dipermukaan saja tetapi juga yang tersembunyi. Faktor-faktor yang merupakan latar belakang penyebab langsung disebut penyebab tidak langsung. b. Jangan mencoba mengerjakan sesuatu tanpa pengetahuan yang cukup tentang pekerjaan tersebut. Untuk itu peraturan keselamatan harus ditaati setiap saat dan ditempat manapun. Hal yang perlu diperhatikan pada waktu melaksanakan pekerjaan Sambil bekerja karyawan dapat bertanya mengenai hal-hal yang belum dipahami kepada karyawan yang telah banyak pengalamannya dan atasan anda. Tindakan tidak selamat adalah tindakan yang tidak sesuai dengan aturan yang dibuat untuk menjamin keselamatan di tempat kerja. . Untuk karyawan pemula maupun karyawan terlatih tetap memerlukan pelatihan untuk mempertahankan perilaku kerja yang berkualitas. misalnya pakaian kerja yang tidak sesuai.a. Tindakan tidak selamat. butir-butir penting berikut ini perlu diperhatikan : 1. Salah satu konsekuensinya adalah larangan melewati suatu daerah gang yang ditentukan dengan maksud untuk mengambil jalan pintas atau berlari dengan tergesa-gesa. Pekerja harus menjaga agar tidak timbul kondisi tidak selamat dan harus selalu siap untuk memperbaiki kondisi tersebut setelah diketahui. 5. serta menggangu pekerjaan diri sendiri. Kondisi tidak selamat adalah kondisi yang mengandung bahaya potensial. Untuk itu dalam melaksanakan pelatihan kerja. Jangan segan dan bosan bertanya untuk hal-hal yang belum dimengerti. Menjadi peserta pelatihan yang aktif dan penuh semangat dengan memusatkan memusatkan perhatian dan mempunyai keinginan kuat untuk belajar. Mengikuti pelatihan. 2. menghalangi gang dengan barang. 3. 4. Ulangi praktek-praktek yang dianjurkan sesuai dengan prosedur yang telah dipelajari. atau tempat kerja yang tidak tertib. sampai dapat betul-betul memahaminya. Kondisi tidak selamat. Tindakan tidak selamat yang menyebabkan banyak cidera di tempat kerja berasal dari kelalaian atau kecerobohan. karena dapat menimbulkan kecelakaan. Karyawan harus mampu melaksanakan semua hal yang telah dipelajari dengan memiliki keyakinan dan mampu menguasai satu jenis pekerjaan yang telah dipelajari dan ditugaskan. rekan sekerja dan suasana di lingkungan kerja. Aktif bertanya untuk hal yang belum dimengerti. barang atau data yang dihasilkan menjadi rusak. Praktek kerja yang dilakukan berulang-ulang. Ingat akan semua hal yang telah diajarkan.

Label Keselamatan (Safety Tag) adalah tanda peringatan yang terbuat dari kertas/ karton yang kuat. d. untuk terciptanya suasana kerja yang aman. Undang-Undang No. papan dll. Penanggung jawab keselamatan kerja di PTNBR adalah kepala Kepala PTNBR 3. Kewajiban dan Wewenang Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja 10. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. Undang-Undang Republik Indonesia No. sehat dan tertib. LIPI. Per-04/MEN/1995 tentang Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja 9. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. Per-05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja Definisi 1. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Himpunan Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Mekanik 2. Himpunan Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Listrik 4. Himpunan Peraturan dan Perundangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Pengawas K3 adalah Kepala Bidang Keselamatan dan Kesehatan (K-2) atau b. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. : 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. dan himbauan kepada seluruh karyawan PTNBR BATAN Bandung dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari. Himpunan Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Penanggulangan Kebakaran dan Konstruksi Bangunan 3. 2. Bahan Acuan 1. logam. : 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja 8. 7. 5. . c. Ruang Lingkup Ruang Lingkup Pedoman ini adalah untuk Pelaksanaan Ketentuan Keselamatan Kerja non Radiasi bagi Karyawan PTNBR Batan – Bandung. Per-02/MEN/1992 tentang Tata Cara Penunjukan. ditempatkan atau digantung atau ditempel pada lokasi ataupun peralatan yang sedang diperbaiki atau yang tidak boleh diganggu.BAB II PEDOMAN UMUM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA ____________________________________________________________ a. Isi label berupa larangan. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. peringatan ataupun anjuran. Peraturan Umum Instalasi Listrik. Tujuan Pedoman Umum Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K-3) ini disusun dengan tujuan untuk memberikan petunjuk berupa peraturan-peraturan. 6.

Obat-obat terlarang adalah obat-obat keras yang termasuk kedalam golongan narkotika (turunan Opium) dan obat tidur Petugas gilir adalah karyawan yang bekerja bergantian secara rutin dan terus menerus. Petugas gilir tidak diijinkan meninggalkan pekerjaannya walaupun jam kerja telah berakhir. 5. 13. Setiap orang diwajibkan memakai alat pelindung diri yang telah disediakan. 9. Setiap orang yang bekerja dengan peralatan dan fasilitas di PTNBR bertanggung jawab atas keselamatan dirinya selama bekerja. Setiap orang dilarang makan dan minum di laboratorium. Setiap orang dilarang menjalankan/memperbaiki mesin. apabila bekerja dengan barang-barang yang membahayakan ataupun bekerja di tempat-tempat yang berbahaya. terlebih dahulu harus memperoleh Surat Ijin Kerja yang sesuai dengan ketentuan di PTNBR. 10. 14. Setiap karyawan. Kecelakaan di tempat kerja: Adalah yang mengakibatkan rusaknya sebagian atau seluruh alat atau kejadian berakibat luka atau kerugian karyawan yang menyebabkan korban tidak bisa bekerja selama 2 x 24 jam atau lebih. Setiap orang diwajibkan mengumpulkan semua jenis sampah dan kotoran lainnya dan membuangnya ke tempat sampah yang telah disediakan. Setiap karyawan diharuskan melaporkan keadaan yang dapat menimbulkan bahaya atau kecelakaan kepada Pengawas K3 12. 7. 2. Setiap karyawan dilarang keras minum semua jenis minuman yang mengandung alkohol dan obat terlarang selama jam kerja. 6. Setiap orang yang memasuki daerah instalasi diharuskan memakai alat keselamatan yang sesuai /disyaratkan dan mematuhi semua ketentuan yang berlaku. . alat-alat lainnya apabila tidak ditugaskan untuk itu. 7. Setiap karyawan diwajibkan menggunakan sepatu/alas kaki yang sesuai dengan daerah kerjanya 11. Setiap orang yang memasuki lingkungan kerja harus memakai tanda pengenal 3. Petunjuk yang wajib dipatuhi. Setiap karyawan pengemudi kendaraan bermotor khusus harus memiliki SIM dengan kategori yang sesuai dan berlaku dari Kepolisian. segar. di bengkel. sebelum memulai sesuatu pekerjaan perbaikan daerah kerja. sebelum petugas gilir penggantinya tiba di tempat kerja dan mengadakan serah terima pekerjaan dahulu. 1. untuk suatu tugas yang berkesinambungan Kendaraan khusus: adalah kendaraan yang digunakan dilingkungan kerja dan bukan merupakan kendaraan penumpangan. 5. Setiap grid (kisi-kisi lantai) yang terpasang di unit kerja harus selalu dalam keadaan cukup kuat dan aman. Setiap karyawan diwajibkan memelihara tempat kerja dan lingkungan kerjanya agar selalu bersih. 6. e.4. 4. dan instalasi untuk keperluan tersebut harap dipergunakan ruang makan/kantin yang telah disediakan. 15. 8. Petugas yang ditunjuk untuk melakukan pengawasan terhadap petugas lain yang sedang bekerja dengan suatu risiko kecelakaan. rapi dan indah. di ruang komputer.

7. Tempat kerja harus mempunyai cukup penerangan atau jangan bekerja dengan penerangan yang kurang memadai. 3. Setiap karyawan sebelum melakukan pekerjaan sebaiknya memikirkan cara yang aman yang akan dilakukan dan meneliti bahwa semua peralatan kerja maupun alat perlindungan yang akan dilakukan. setiap karyawan sebaiknya melakukan musyawarah terlebih dahulu langkah-langkah 2 . 4. Setiap kecelakaan betapa kecilnya harus segera dilaporkan dalam waktu tidak lebih dari 24 jam ke penanggung jawab ruangan. 19. Setiap karyawan harap mempertimbangkan dahulu apakah pekerjaan yang akan dilakukan memerlukan alat-alat pelindung diri ataupun memerlukan bantuan seorang pengawas Keselamatan Kerja. 6.16. Dilarang bersendagurau atau mengobrol yang tidak perlu. apabila menggunakan lampu penerangan haruslah yang bertegangan setinggi-tingginya 24 Volt. 2. 17. 20. . 8. Setiap ruangan tempat penyimpananan cairan/gas atau bahan lainnya yang mudah menguap atau terbakar harus dilengkapi dengan detektor gas sistem aliran otomatis dan sistem pemadam kebakaran otomatis. Demi keselamatan setiap karyawan sebaiknya mengambil posisi yang baik dan aman sewaktu bekerja. setiap kecelakaan yang menimpa diri karyawan senantiasa akan menyebabkan keluarga karyawan menderita. setiap karyawan harus menghindari sikap atau posisi kerja yang tidak mencerminkan keselamatan. gelap. 9. 21. Setiap pekerjaan didalam tangki. Disekitar tempat bekerja yang pekerjaannya mengandung risiko bahaya harus dipasang rambu-rambu/ label keselamatan. silau dan pantulan cahaya tidak dikehendaki dapat menyebabkan bahaya. sesudah dinas malam. Setiap karyawan dianjurkan untuk beristirahat yang cukup di rumah untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang disebabkan oleh faktor kelelahan. Dianjurkan untuk melakukan evaluasi suatu pekerjaan sebelum pekerjaan dimulai untuk mencegah terjadinya langkah-langkah yang keliru dan berpotensi mendatangkan bahaya. Tempat kerja harus mempunyai ventilasi dan sirkulasi udara yang baik dan memadai. untuk dilaporkan ke bidang K2 dan jika dianggap perlu akan dibahas oleh P2K3. setiap karyawan selain memikirkan keselamatan orang lain. kecuali ada iziin khusus dari Pengawas K3. f. Setiap karyawan. Dalam melaksanakan suatu pekerjaan yang kiranya membahayakan.3 yang akan ditempuh. Dalam melakukan pekerjaan. Petunjuk Umum 1. apabila ada korban segera bawa ke klinik. Dalam melakukan pekerjaan. 5. harus tidak dilemburkan karena kelelahan dapat menimbulkan kecelakaan. Setiap karyawan harus selau dalam keadaan waspada sewaktu melaksanakan tugas. Label keselamatan. Setiap orang dilarang memindahkan/merusak rambu-rambu. 18. bejana tekan. alat-alat pelindung diri dan sejenisnya yang telah ditempatkan pada lokasi tertentu. Setiap karyawan pada saat kerja harus memusatkan konsentrasi sepenuhnya pada pekerjaan. Sumbang saran dari orang lain akan sangat bermanfaat dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan selamat.

Setiap karyawan harap berpakaian yang rapi dan bersih. Setiap karyawan harus memelihara tempat kerja agar selalu rapi. 22. g. Pelatihan ini harus meliputi 1. Pelatihan Dasar/awal 2. . setiap karyawan harus mematuhi batas-batas kecepatan serta rambu-rambu lalu lintas lainnya. Setiap orang harap mengembalikan segala sesuatu yang dilihat tidak pada tempatnya ataupun yang seharusnya tidak terletak dilantai atau tanah. menjalankan mesin dan/atau peralatan instansi lain. Semua jenis sampah dan kotoran lainnya harap dikumpulkan dan dibuang ke tempat yang telah disediakan. 14. Pelatihan Untuk mencapai dan meningkatkan ketrampilan serta kemampuan personil. Setiap tumpahan minyak atau benda cair pada lantai atau meja harap dibersihkan dengan segera. 12. Perlu diingat oleh karyawan bahwa ia dapat memindahkan debu atau kotoran dari tempat kerja ke lingkungan keluarganya. Pelatihan Kerja termasuk penyegaran 3. 18. Sanksi Pelanggaran terhadap Pedoman Umum Keselamatan dan Kesehatan Kerja dapat dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku. 21.10. 11. harus disusun program pelatihan yang sesuai dengan kondisi kegiatan. 16. Setiap karyawan harap mendengarkan dengan baik semua instruksi atasannya sebelum melaksanakan pekerjaan menggunakan alat kerja. Setiap karyawan harus membaca instruksi kerja (manual) dengan baik tentang cara-cara menjalankan mesin dan/atau peralatan sebelum memulai suatu pekerjaan. 20. 19. sedangkan pakaian yang kedodoran akan membahayakan si pemakai terutama apabila berdekatan dengan mesin dan/atau peralatan yang berputar. 13. Setiap karyawan harap menegur siapa saja yang melakukan suatu pekerjaan yang dapat membahayakan. Setiap karyawan dianjurkan untuk membiasakan diri berganti pakaian segera setibanya dirumah dan mencuci bersih tangan dan kakinya. Setiap karyawan harus merapikan rambutnya apabila gondrong atau panjang karena selain mengganggu pekerjaan. Setiap karyawan sebaiknya mencuci tangan hingga bersih dengan menggunakan sabun atau deterjen setiap kali selesai dengan suatu pekerjaan dan juga setiap saat akan mulai makan dan minum. Pelatihan Lanjutan dan pelatihan khusus untuk pekerjaan yang berisiko tinggi. 15. bersih dan indah agar dapat bekerja dengan nyaman dan aman. tanpa mmemandang paakah orang yang ditegurnya itu atasan atau bukan. Pada waktu mengemudikan kendaraan bermotor. h. rambut gondrong dapat pula mengancam keselamatan pemiliknya. Pakaian yang kotor menganggu kesehatan. 17. Setiap karyawan harap meletakkan alat kerja pada tempat yang telah ditentukan/tersedia.

Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. b. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. c. Adapun jenisnya berupa jenis tabung. Bahan Acuan. CO2 ataupun busa. Definisi 1. Penanggulangan Kebakaran adalah segala daya upaya untuk mencegah dan memberantas terjadinya kebakaran. halon. 2. Himpunan Peraturan dan Perundangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Kep-186/MEN/1999 tentang Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja d.BAB III PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN ____________________________________________________________ a. Himpunan Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Mekanik 2. Petunjuk Umum Organisasi Penanggulangan Kebakaran : Satuan Tugas untuk mempermudah pengerahan dan pengendalian personil yang dipimpin oleh Ketua UPN atau Satuan Pelaksana Pemadam Kebakaran (selanjutnya disebut SatLak DAMKAR). Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. SatLak DAMKAR dapat dikerahkan secara efektif dan dikerahkan secara dini sejak mulanya terjadi kebakaran sampai tugas mengatasi kebakaran selesai. Himpunan Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Penanggulangan dan Konstruksi Bangunan 3. Tugas Pokok SatLak DAMKAR : Tugas Pokok SatLak DAMKAR adalah menyelenggarakan penanggulangan untuk memadamkan dan mencegah . Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. e. 5. Alat Pemadam api ringan adalah alat pemadam api portable berupa tabung logam yang bisa diisi kembali. Tujuan Pedoman Penanggulangan Bahaya Kebakaran ini disusun dengan tujuan untuk memberikan petunjuk berupa tindakan – tindakan pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Ruang Lingkup Ruang Lingkup Pedoman ini Pelaksanaan tindakan pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran dalam melaksanakan tugas sehari-hari bagi Karyawan di PTNBR BATAN Bandung. Himpunan Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Listrik 4. 1.

Juklak dan IK memuat urutan tindakan atau peran yang harus dilakukan oleh perorangan atau kelompok yang tergabung di dalam SatLak DAMKAR. Pembagian Tugas : Pembagian Tugas untuk memudahkan pengerahan dan pengoperasian personil. siap pakai dan terpasang di tempat-tempat yang mempunyai potensi bahaya kebakaran dengan jenis yang telah disesuaikan dengan potensi bahaya kebakaran tersebut. f. Dengan demikian maka tindakan penanggulangan mecakup usaha dan tindakan yang dilakukan sebelum. kepala PTNBR harus mengusahakan pompa hydran. Manajemen Peralatan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) : Kepala PTNBR wajib menyediakan peralatan pemadam api ringan (APAR) dalam jumlah cukup. tepat dan tuntas. sewaktu dan setelah terjadinya kebakaran. fire alarm system maupun hydran semuanya perlu perawatan dan pemeriksaan rutin sehingga alat-alat tersebut dapat tetap berdaya guna dan berhasil guna. Fire Alarm System : Selain APAR seperti tersebut diatas untuk setiap gedung perlu dipasang atau dilengkapi alat-alat proteksi dan atau deteksi kebakaran (fire alarm system) sebagai tanda peringatan dini terjadinya kebakaran. Hydran : Selain alat-alat kelengkapan seperti tersebut diatas. perlu diadakan pembagian tugas bagi anggota SatLak DAMKAR kelompok kerja berdasarkan kondisi atau letak geografis perkantoran yang ada di PTNBR dalam bentuk sektor-sektor. Klasifikasi Daerah: Untuk kepentingan pengamanan dalam penanggulangan kebakaran tiap pusat atau kawasan membuat klasifikasi daerah berdasarkan : Daerah aktif Daerah tidak aktif rawan kebakaran Daerah tidak aktif rawan bahan kimia beracun Daerah aman Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Instruksi Kerja (IK) digunakan sebagai pegangan untuk menjamin adanya keseragaman dalam pola pikir dan pola tindak di PTNBR dalam rangka penanggulangan kebakaran.meluasnya api dari akibat yang ditimbulkan. memberikan pertolongan dan bantuan kepada karyawan serta mengungkapkan sebab musibah pelaku. bila oleh sesuatu hal belum bisa disediakan harus menjalin hubungan dengan dinas Pemadam Kebakaran setempat yang mempunyai armada mobil pemadam kebakaran. motif terjadinya kebakaran secara cepat. . Perawatan dan Pemeliharaan : Baik untuk APAR. Masing-masing anggota SatLak DAMKAR bersama-sama dengan karyawan dari sektor terkait bertanggung jawab terhadap keamanan sektornya dari kemungkinan ancaman bahaya kebakaran sesuai dengan prosedur yang tersedia.

di ruang piket Petugas Proteksi Radiasi (pesawat 444). alat pelindung diri dan alat-alat penyelamatan sesuai dengan kebutuhan. Materi Latihan : Materi Latihan dan penerangan meliputi pengetahuanpengetahuan penggunaan alat pemadam kebakaran.perlu mendapatkan penerangan atau ceramah dan latihan-latihan menghadapi bahaya kebakaran. dibantu Ka. Sebelum pasukan atau bala bantuan pemadam bergabung dengan pasukan yang lain yang sudah beroperasi. maka pada saat aman. Pelatihan dan Penerangan : Pentingnya latihan guna memupuk kesadaran dan meningkatkan ketrampilan dalam pencegahan semua karyawan baik yang bergabung dalam satuan tugas maupun yang tidak. upaya tindakan pencegahan tanda-tanda bahaya kebakaran termasuk pengetahuan bagaimana cara mengatasi bahaya radiasi. Piket UPN dan Jaga reaktor : untuk mempertinggi kesiap-siagaan Petugas. Bentuk Latihan : Kepala PTNBR harus mengadakan Latihan yang dapat dilakukan oleh Kepala atau gabungan (terpadu) yang melibatkan seluruh anggota SatLak DAMKAR dan karyawan. Koordinasi dan Pengendalian : Pada tingkat pertama terjadi kebakaran yaitu masih terbatas di lokasi kerja. pertemuan atau lokakarya: untuk memperlancar dan mendukung pelaksanaan koordinasi dan pengendalian Satuan Pelaksana penanggulangan kebakaran. Koordinasi. Bantuan dari luar PTNBR : Permintaan bantuan pasukan dan peralatan dari luar PTNBR tidak selalu disertai dengan peralihan komandan pengendalian operasi meskipun secara taktis dan teknis operasional penggunaan pasukan dan peralatan tersebut berada di bawah koordinasi komandan pasukan bantuan yang bersangkutan. maka koordinasi pengendaliannya dilakukan Kepala UPN bekerjasama dengan SatLak DAMKAR dan Kepala Bidang di tempat Kebakaran terjadi.UPN dan SatLak DAMKAR. diruang kendali reaktor (pesawat 333) dan piket pengamanan (pesawat 111) perlu disediakan alat pemadam.Kelengkapan Petugas Proteksi Radiasi. Pada saat kebakaran meluas ke luar lokasi kerja : Pada tingkat kebakaran sudah meluas atau merembet ke luar lokasi kerja maka koordinasi pengendaliannya dilakukan oleh Kepala PTNBR selaku Penanggung jawab fasilitas. terlebih dahulu harus dikoordinasi dan melapor kepada Kepala UPN untuk mendapatkan petunjuk dan penjelasan tentang kemungkinan adanya bahaya radiasi. perlu diadakan satu pertemuan atau lokakarya dengan semua instansi terkait baik instansi pemerintah sipil dan militer maupun swasta untuk membicarakan / membahas prosedur tetap penanggulangan bahaya . Latihan diadakan sedemikian rupa sehingga semua personil terutama yang tergabung dalam Satlak DAMKAR benar-benar mahir dan terampil menghadapi kebakaran.

Sistem telepon harus direncanakan sedemikian rupa sehingga apabila terjadi kebakaran masih dapat bekerja minimal satu buah pada tiap-tiap lantai. sementara Kepala PTNBR selaku penanggung jawab keselamatan atau pejabat pelaksana harian yang ditunjuk atau Kepala UPN/Ketua SatLak DAMKAR belum datang ke tempat kejadian. Tindakan Pencegahan : Usaha-Usaha pencegahan perlu ditanamkan di kalangan karyawan sehinga menjadi sikap hidup yang positif. Handy Talky. alat pemadam kebakaran maupun sarana lain yang dimiliki perlu dilakukan pengawasan dan pemeriksaan. dan sound system (tata suara) Pengawasan dan Pemeriksaan: Pengawasan dan Pemeriksaan diperlukan untuk meningkatkan kewaspadaan seluruh karyawan agar menerapkan ketentuanketentuan dan peraturan yang sudah ada baik yang menyangkut perlengkapan bangunan seperti listrik. d. Untuk mempercepat dan memperlancar penanggulangan kebakaran sekali lagi perlu diingatkan agar di ruang petugas pengamanan atau jaga reaktor selalu siap alat-alat pemadam dan keselamatan pemadam kebakaran. dan sound system (tata suara) b. Dalam rangka memperkecil atau menghindari kemungkinan terjadinya kebakaran maka perlu dilakukan pengaturan dalam hal : . Sistem Komunikasi Darurat terdiri dari sistem telepon. Dari lokakarya atau pertemuan akan dapat dirumuskan prosedur tetap yang disepakati bersama dan bisa dilanjutkan dengan latihan bersama atau tindakan lain yang bermanfaat. Penyampaian informasi atau komunikasi antar gedung menggunakan sistem telepon. Pos komando: pos komando harus segera didirikan (dibuka) dengan memilih tempat yang aman dan menguntungkan bagi koordinasi dan pengendalian. maka komandan piket pengamanan bertindak sebagai penanggung jawab dan pelaksana utama dalam penanggulang kebakaran. Handy Talky. c. Pengendalian pada saat hari libur atau sesudah jam kerja: Komando pengendalian pada saat hari libur atau sesudah jam kerja. Komunikasi a. Sound system terpusat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi bila terjadi kebakaran pada tingkat awal. Tanda bahaya dan tanda aman harus dimengerti atau dikenal oleh seluruh karyawan dan disampaikan pada saat dan dengan cara yang tepat.kebakaran di PTNBR. gas. sistem alarm. Setiap karyawan wajib ikut aktif mengadakan usaha pencegahan kebakaran di lingkungan PTNBR. g. Pentingnya Pengawasan Melekat : Dalam rangka penegakkan dan peningkatan kewaspadaan dalam menghadapi bahaya kebakaran sangat perlu digalakkan pengawasan melekat sehingga tidak ada peluang atau memperkecil kemungkinan terjadinya kelalaian dan kecerobohan yang mengakibatkan bahaya kebakaran. Setiap perpindahan Posko perlu disebarluaskan dengan memberikan tanda atau petunjuk diposko yang lama bahwa posko telah pindah kesuatu tempat yang jelas.

Langkah-langkah Penanggulangan 1. Setiap karyawan yang melihat atau mengetahui kebakaran harus memadamkannya dengan alat pemadam api ringan yang telah tersedia di daerah kerjanya. dimana untuk pemadamannya memerlukan bantuan. 11. dan Kepala Bidang K2 serta Kepala Bagian Tata Usaha bahwa telah terjadi kebakaran. 3. 7. Satuan Pengamanan akan mengambil alih koordinator pemadaman bekerja sama dengan atau dibantu karyawan lainnya. Komandan UPN. Setelah kebakaran dapat dikuasai dan api dapat dipadamkan Unit Pemadam meneliti daerah tersebut dengan seksama untuk mengetahui apakah masih ada sisa api atau tidak. Penggunaan kompor (gas atau listrik). 6. maka Kepala UPN atas sepengetahuan Kepala PTNBR meminta bantuan Unit Mobil Pemadam Kebakaran terdekat. karyawan tersebut harus memberitahu karyawan lain yang ada disekitarnya untuk melaporkan dan menghubungi Satuan Pengamanan/UPN bahwa terjadi kebakaran. Sementara itu Petugas Pengamanan yang lain dengan alat komunikasi yang ada segera melaporkan kepada Kepala PTNBR. 9. 4. Penyimpanan bahan kimia termasuk cairan yang mudah terbakar atau meledak. Setelah api benar-benar padam. Bila api terlampau besar. Setibanya di lokasi kebakaran. Kepala PTNBR segera menyelidiki sebab-sebab terjadinya kebakaran dengan membentuk Tim Evaluasi. 8. Pembuangan dan pembakaran sampah. Penempatan bahan bakar minyak atau bahan mudah terbakar. h. Bila api menjalar keluar lokasi kerja maka kepala PTNBR sebagai penanggung jawab keselamatan mengerahkan dan mengendalikan semua kekuatan yang ada dengan meminta bantuan dari Unit Pemadam Kebakaran terdekat untuk melakukan pemadaman. Ketua SatLak yang tergabung dalam Organisasi Penanggulangan Keadaan Darurat (OPKD) PTNBR dan Tim P2K3 selalu mengikuti dan mengevaluasi tingkat bahaya yang mungkin terjadi akibat kebakaran. Bila kebakaran diduga menimbulkan bahaya lain seperti terlepasnya zat radioaktif atau kecelakaan manusia wajib bekerja sama dengan bidang K2. Pada saat yang sama.Pengunaan aliran listrik. 5. Kepala UPN setibanya di lokasi kebakaran segera mengambil alih komando pengendalian pemadam dengan mengerahkan seluruh unit teknis yang ada dibawahnya dibantu Unit Teknis Pemadam dari sektor lain yang telah siap. Selama Satuan Pengamanan belum tiba di lokasi kebakaran. Sementara itu SatLak Proteksi Radiasi mengecek paparan radiasi di daerah TKP dan mengecek kontaminasi Petugas. 10. 2. Dan lain sebagainya. Pekerjaan-pekerjaan bengkel termasuk pengelasan. adalah kewajiban karyawan terdekat yang dipimpin oleh pejabat senior mengkoordinasikan pemadaman. maka SatLak DAMKAR melakukan .

maka ditempuh prosedur pelaksanaan tentang kecelakaan kerja. . Selanjutnya Kepala UPN memerintahkan masing-masing SatLak DAMKAR menyusun kembali kekuatan dalam rangka memelihara kesiapsiagaan. Personil dari biidang yang menjadi anggota SatLak DAMKAR dan bertugas didaerah terjadinya kebakaran segera melaporkan semua peristiwa yang terjadi termasuk kemungkinan sebab dan jumlah korban (kalau ada) disampaikan kepada ketua SatLak DAMKAR untuk menentukan langkah selanjutnya. Apabila dalam penanggulangan kebakaran terjadi kecelakaan personil.konsolidasi menghitung jumlah kekuatan. 12. alat yang masih ada dan yang hilang atau rusak/habis akibat peristiwa kebakaran. 13.

mesin gerinda.BAB IV BENGKEL ____________________________________________________________ a. bengkel instrumen. mesin tekuk plat. pembentuk. pemotongan dengan gas. Mesin Pengiris : mesin gergaji. electroplating Petunjuk Bengkel Elektronik Umum 1. Mesin Cor 4. mesin bor. c. pelapis dan bengkel gelas dan mesin lain yang digunakan di PTNBR BATAN Bandung. Mesin Penyambung dan pemotong : berbagai mesin las. Ruang Lingkup Ruang Lingkup yang dibahas dalam Pedoman ini meliputi Bengkel Elektronik. . Bahan Acuan Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. 5. Setiap pekerja harus waspada terhadap pelarut PCB (Feri Klorid yang membahayakan mata dan kulit). 4. mesin frais. Himpunan Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Mekanik. 3. 2. mesin sekrap. mesin bubut. 2. Setiap pekerja harus menggunakan alat pelindung pernapasan atau menghidupkan fan penghisap untuk menghindari asap dari timah cair. Setiap pekerja harus menempatkan solder pada tempat yang aman dari jangkauan yang dapat mengakibatkan kecelakaan. mesin penyambung dan pemotong. d. bengkel mesin yang dikelompokkan sebagai mesin-mesin pengiris. mesin bengkok pipa b. Definisi 1. Tujuan Pedoman ini disusun dengan maksud untuk memberikan petunjuk secara umum kepada seluruh karyawan PTNBR BATAN Bandung tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam melakukan kegiatan perbengkelan. Setiap pekerja harus berhati-hati terhadap tegangan tinggi yang tersedia atas bahaya sengatan listrik. e. Mesin Pelapis : mesin cat. Setiap pekerja yang melakukan pen solder dan posisi hidung tidak boleh diatas langsung mata solder. Mesin pembentuk : a. mesin pengasah. 3. b. Mesin rol.

rusak) Ruang Kerja Setiap pekerja yang melakukan tugas di ruang tertutup harus dihindarkan . 10. Probe HV harus dipergunakan pada waktu mengukur tegangan tinggi diatas 1 KV AC/DC. Bengkel Instrumen Umum 1. tergencet. serta tutup kepala non-logam di lingkungan tegangan yang disyaratkan. Setiap pemakai alat ukur harus berhati-hati terhadap kabel yang terkelupas. 2. Komponen-komponen yang dipasang harus sesuai dengan tegangan yang diperlukan untuk menghindari bahaya kebakaran (terutama komponen resistor) dan ledakan (terutama komponen kapasitor). Alat-alat ukur harus dikalibrasi secara berkala sesuai prosedur. Instrumen-instrumen analog dalam setiap penggunaannya jangan sampai polaritasnya terbalik. 9. Komponen-komponen harus disimpan pada tempat yang benar. Instrumen harus dioperasikan pada daerah kerjanya dan pakailah sekringsekring yang sesuai dengan yang diperlukan. posisi yang benar dan jauhkan dari sinar matahari langsung serta tempat yang lembab (basah). 12. Instrumen gas (manometer gas/regulator) harus terpasang. Alat ukur yang digunakan harus sesuai dengan batas kemampuan pengukuran. Setiap pemakai alat ukur harus berusaha menghindari kesalahan pemakaian pada berbagai macam pengukuran. serta tidak menggunakan perhiasan dari logam untuk menghindari hantaran listrik. Setiap pekerja harus menggunakan sepatu dan sarung tangan karet. Setiap pekerja harus berhati-hati terhadap sambungan kabel-kabel yang terbuka (telanjang). Alat-alat yang telah selesai digunakan harus dimatikan dari sumber listriknya. Instrumen harus disimpan pada tempat. 7. 4. Slang instrumen pneumatik. tersambung dengan rapat dan kuat. Setiap pekerja yang bekerja dengan tegangan tinggi harus menggunakan sepatu dan sarung tangan dari karet. 11. 3. 6. jauhkan dari sinar matahari langsung dan tempat yang lembab (basah). Slang penghubung fluida (zat alir) jangan sampai terganggu (tersumbat. tersayat dan telanjang. hidraulik dan gas-gas bertekanan. Alat-alat yang telah selesai digunakan harus diputus dari sumber listriknya. 10. 11. 7. 5. 8. 8. Khusus : Untuk bengkel elektronik yang khusus akan ditentukan oleh Kepala BIE.6. harus rapat dan kuat pada sambungannya. 9. dan tidak menggunakan perhiasan dari logam untuk menghindari hantaran listrik.

Setiap orang dilarang memindahkan ataupun merubah suatu alat pengaman dari suatu mesin sehingga mesin tersebut menjadi berbahaya. benturan / jatuh karena penerangan yang kurang intensitasnya. Setiap orang dilarang mencuci tangan menggunakan air pendingin (coolant). bagian mesin atau perlengkapannya harus menjamin bahwa semua pekerjaan yang telah dilakukan ditetapkan dalam peraturan. 12. 9. sengatan listrik. Setiap petugas yang mengetahui setiap terjadinya kerusakan mesin saat operasi harus segera mematikan tenaga penggerak dan alat pengaman harus atau memberi tanda yang bersifat pengumuman yang mudah dibaca dengan ditempelkan pada mesin tersebut dan melarang penggunaanya sampai perbaikan yang diperlukan telah dilakukan dan mesin tersebut berada dalam keadaan baik. 4. 13. 5. perlengkapan transmisi tenaga mekanis dan semua bagian yang berbahaya. Setiap pekerja harus memelihara. dilumasi disetel dan diperbaiki pada saat dioperasikan. Bengkel Mesin Umum 1. 2. Setiap orang harus memahami lokasi kerja terhadap bahaya kebakaran. Setiap pekerja yang mendapat luka walaupun kecil/ringan harus segera diobati supaya tidak terkena infeksi. harus diberi pengaman secara efektif. Setiap petugas harus melaporkan bila terjadi kerusakan atau ketidaksempurnaan dalam suatu mesin. pipa besi atau batang besi padat. kecuali apabila dipasang atau ditempatkan sedemikan rupa sehingga tidak ada orang atau benda yang dapat menyinggungnya. 6. 11. Bagian mesin yang bergerak dari pesawat tenaga. ledakan.kemungkinan dari bahaya keracunan. Dari metal yag kuat atau berlubang atau kawat teranyam dengan bingkai besi siku. Khusus Untuk bengkel instrumen yang khusus akan ditentukan oleh Kepala Balai Instrumentasi dan Elektromekanik (BIE). sesuai dengan fungsi. memberlakukan alat dengan baik dan menggunakan secara benar. 3. pengaman pesawat atau alat dari tempat kerjanya. Bahan pengamanan standard atau penutup harus dibuat : a. kearah mana pintu-pintu darurat dan atasilah api secepatnya dan semaksimal mungkin dengan menggunakan peralatan yang telah disediakan sebelum pekerja menuju ke pintu darurat. 7. Setiap orang atau perusahaan yang memasang mesin-mesin baru. 10. Setiap pekerja harus mematikan mesin dari hubungan listriknya jika akan meninggalkan atau bila akan anda perbaiki. . 8. terkecuali apabila mesin dalam perbaikan. Mesin jangan dibersihkan. Mesin harus dimatikan bila ada kerusakan pada benda kerja dan atau kerusakan pada mesin itu sendiri.

18. 27. Mesin-mesin yang dioperasikan oleh lebih dari seorang. 22. Semua sekrup penyetel dalam bagian-bagian yang bergerak. Tombol listrik penghidup mesin harus terbenam. Alat-alat pembatas kecepatan. 20. harus ditutup seluruhnya. harus dibuat rata. 25. Mesin-mesin yang dijalankan dengan dua motor atau lebih dengan tombol . atau pembungkus sedemikian rupa untuk menjaga orang-orang menyentuh proyeksi-proyeksi itu. Dari kayu. sehingga dalam keadaan darurat penggerak utama dapat dimatikan dari tempat yang aman. 24. 16. 15. dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga sukar terhubung karena sentuhan. harus tertutup samasekali. Roda gaya dari penggerak utama yang terbuka harus diberi perlindungan supaya tidak membahayakan dengan cara dipagar.14. dan mesin tidak akan bekerja sampai semua tombol penggerak pada posisi yang sama. 17. yaitu pemindah poros tidak bekerja apabila kopling dilepas. dimanapun berada. Semua pengaman harus dipasang dengan cara diletakkan dengan aman kepada mesin. harus dibuat rata. maka setiap operator harus disediakan tombol control untuk mengggerakkan dan menghentikan mesin. plastik atau bahan lain yang cocok untuk apa bahan-bahan itu dipergunakan. b. Mesin tidak boleh diminyaki dengan tangan dalam keadaan jalan hal ini dapat menyebabkan kecelakaan bagi petugas. nipel gemuk dan lain-lain proyeksi dalam bagianbagian yang berputar. Bagian yang menggeser dari kompling jepit harus diikatkan kepada pemindah poros yang dijalankan. Roda gigi rantai yang digerakkan dengan mesin rantai. 19. Bantalan pemindah poros tidak boleh diminyaki dengan tangan ketika pemindahan poros sedang berjalan. Jumlah tombol penghenti harus satu atau lebih sesuai dengan posisi kerja dari operator. 30. konstruksi pada bagian luarnya dilengkapi celah-celah pengaman standar. Roda gigi yang terbuka yang digerakkan dengan mesin harus dijaga dengan menutup keseluruhan dan atau menutup sebagian pada tempat yang dapat menimbulkan bahaya. Gigi yang digerakkan dengan tangan harus dijaga dengan cara yang sama sebagaimana diuraikan untuk gigi yang digerakkan dengan mesin apabila gigi tersebut dapat menimbulkan bencana. Tombol penggerak awal harus dari bahan berwarna hijau dan tombol penghenti dari bahan berwarna merah terkecuali ditentukan lain seperti tombol-tombol khusus untuk motor-motor tunggal tidak harus diberi warna merah. 29. gerendel. kecuali telah aman lokasinya. lantai dinding atau plafond dan harus tetap berada ditempatnya bilamana mesin dioperasikan. terbenam atau dilindungi dengan tabung penyelamat atau pembungkus stasioner. penghenti keselamatan atau klep penghenti darurat harus dilengkapi dengan sakelar jarak jauh. 23. Titik yang bergerak dari transmisi roda-roda gesek apabila dibuka untuk bersentuhan. 28. 21. 26. Semua kunci.

Ikatan yang saling berkaitan harus dikencangkan. 10.tekan pengontrol yang terpisah harus dilengkapi dengan atau lebih tombol penghenti yang dapat menghentikan kerja mesin secara keseluruhan. 14. Setiap pekerja dalam kegiatan mengangkat. Alat penggerak pemotong untuk meja gerak diatas mesin frais harus ditutup . Pelat genggam pada meja bubut logam horisontal harus diperlengkapi dengan sekrup penyetel yang terpendam atau dirancang sedemikian rupa sehingga tidak terdapat bagian-bagian yang menonjol. 8. misalnya ikatan-ikatan mesin. Setiap orang tidak boleh membuka alat-alat pengamanan/tutup mesin yang sedang bekerja atau berputar. Mesin-mesin Pengirisan 1. Karena menarik tali kabel atau rantai tanpa sarung tangan akan mengundang bahaya. Setiap pekerja harus memakai kacamata bila bekerja untuk pekerjaan yang menghasilkan gram. Gigi tenaga spindle kopeling silang dan poros pada mesin pelubang dan mesin bubut harus dilindungi dengan alat pengaman standar. 2. dan para pekerja harus dilarang meletakkan tangannya di atas pelat genggam meja bubut untuk memegang benda yang sedang dikerjakan atau di atas cakram beralur pace plate kecuali tenaga telah dimatikan. 7. Setiap pekerja dilarang melawan kekuatan mesin dengan kekuatan fisik misal menghentikan putaran dengan tangan. yang menunjang sampai diatas bagian atas alat kerja yang berada diatas meja pengaman dapat terdiri dari dua bagian yang dapat dilepas pada bingkai mesin/lantai untuk memudahkan masuk untuk menyetel atau memperbaiki. Mesin harus diberi sekat/pelindung agar percikan gram atau alat yang memungkinkan terlepas dapat ditahan sehingga tidak melukai orang. benda kerja dan alat pemotong. 15. Pada mesin-mesin berat yang tetap berputar setelah sumber tenaga diputuskan harus diberi perlengkapan rem yang secara otomatis bekerja bila diperlukan untuk mencegah bahaya yang terjadi. 5. harus dipasang pengaman apabila perlu untuk menghindarkan pecahan-pecahan halus yang terbang mengenai orang-orang yang sedang lewat atau pekerja pada mesin bubut yang lain. agar pekerjaan dapat berjalan lancar tanpa kesalahan atau penyimpangan. Meja putar horisontal pada mesin vertikal yang besar harus dikelilingi oleh pagar pengaman. 31. 3. 13. 9. Lampu yang ada disetiap mesin harus dinyalakan saat bekerja . mengencangkan ikatan (baut. 12. mur) dengan tangan dan lain-lain. 4. 6. Mesin bubut logam horisontal harus diperlengkapi dengan rem otomatis. Mesin bubut logam horisontal yang ditempatkan dekat gang atau jalan lewat atau paralel satu sama lain berdekatan. menarik barang-barang harus menggunakan sarung tangan. Pelat genggam pada pelat genggam pelat cakram beralur pada meja bubut logam horisontal harus ditutup dengan alat pengaman standar yang akan mencakup bagian-bagian yang bergerak. Pelat cekam yang sedang berputar atau benda putar yang sedang dikerjakan jangan sampai tersentuh. 11.

9. (manometer. 14. Setiap pekerja dilarang membuang pecahan-pecahan gergaji yang patah tanpa menghentikan terlebih dahulu mesin. Mesin Penyambung dan Pemotong 1.sebagai pengaman. oksigen pernapasan. 2. Selang pipa las tidak boleh dibiarkan tergencet/terjepit dan tertekuk dan hindarkan selang melintang jalan. tabung las untuk pernapasan. percikan bunga api. sebelum dibersihkan. 3. Dengan ketentuan bahwa berada di atas meja kerja dapat diperbolehkan apabila sifat operasi memerlukannya. supaya tidak tergilas kereta sorong. Katup silinder zat asam dan asetilen harus ditutup dan buanglah gasnya hingga manometer menunjukkan angka nol bila pengelasan telah selesai. 5. 11. 12. Air pendingin digunakan pada mesin las potong. Setiap pekerja dengan mesin las harus memakai kacamata alas untuk melindungi mata dari cahaya las. Penyembur api dilarang untuk digantungkan pada tabung gas asetilen. 19. pakailah sarung tangan yang kering untuk melindungi tangan dari kemungkinan terkena aliran listrik (electric shock). Tabir penghalang harus dipergunakan untuk menghalangi cahaya tajam dan percikan bunga api supaya tidak menganggu orang lain. Setiap pekerja harus memakai apron. 8. mesin ketam logam ketika mesin sedang beroperasi. sarung tangan dan perlengkapan pelindung lain. Api rokok atau korek api biasa tidak boeh dipergunakan untuk menyalakan gas pembakar. Mesin frais otomatik harus dilengkapi dengan pengaman percikan minyak pendingin pemotongan. 16. 15. 13. Instrumen gas harus dipasang dengan benar. Setiap pekerja pada mesin frais dilarang mencoba membuang kepingankepingan dari benda yang dikerjakan dekat pemotong sebelum mesin dihentikan. regulator) rapat dan kuat. Setiap pekerja las dilarang mengelas tangki pipa drum yang mengandung bahan yang mudah meledak/terbakar. Setiap orang dilarang mengambil gas. Blok pancang pada pengetam logam horisontal harus dilengkapi dengan pengaman standar untuk sepanjang langkahnya. 17. ingat jangan sekali-kali melihat cahaya las dengan mata telanjang. Setiap pekerja dilarang naik pada meja kerja mesin bubut vertikal. plasma cutting. pakailah korek gas. Setiap pekerja dilarang mengubah parameter-parameter pengelasan pada saat pengelasan sedang berlangsung. Benda yang di las harus diletakkan pada posisi aman agar tidak mudah jatuh di waktu pengelasan sedang berlangsung. 18. . 4. 6. pakailah penutup mulut dan hidung sebagai filter agar asap dan gas yang timbul pada saat pengelasan sedang berlangsung tidak berbahaya bagi kesehatan. gergaji pemotong baja harus dilengkapi dengan pengaman percikan. Katup tabung bila tidak dipakai harus ditutup dengan benar. 10. 7.

Setiap orang dilarang berdiri atau melewati di depan pintu sewaktu operasi penyalaan. Setiap pekerja dilarang mengubah parameter pesawat pengecatan yang telah diset selama berlangsung pengecatan. 2. Setiap pekerja harus memastikan bahwa udara yang digunakan dalam keadaan kering. Pakailah sepatu. HF. Mesin-mesin Pelapis 1. 7. dan penutup rambut. Setiap pekerja harus hati-hati dalam membuat larutan. 5. Setiap pekerja harus memahami secara keseluruhan sistem mesin tersebut. harus diingat zat kimia yang dipergunakan mungkin sangat korosif dan reaktif (misalnya: H2SO4. 8. harus dipasangkan pada sisi rol yang bergerak sehingga bahan-bahan yang akan diproses dapat diisikan kepada rol. Setiap pekerja harus memastikan bahwa kelengkapan dan kesiapan sarana pendukung pesawat cat sehinga dapat beroperasi dan berfungsi dengan baik. kacamata. 4. Perlengkapan pengaman. percikan api dan percikan logam panas. 6. 6.Mesin Pembentuk Roll. 3. keadaan tekanan angin/kompresor telah cukup untuk mengabutkan cat yang akan digunakan. kecuali pada mesin yang besar yang tidak dapat diputar dengan tangan dan dilengkapi dengan pengatur tenaga yang berjalan lambat. 5. Setiap pekerja harus mengenakan pakaian pengecatan. Tabir penghalang untuk menghalangi cahaya tajam dan percikan bunga api supaya tidak menganggu orang lain harus dipasang. penghalang yang tepat atau yang dapat disetel. Setiap pekerja dilarang membersihkan rol tanpa lebih dahulu menghentikan alat-alat mesin. Bengkok Pipa 1. 2. sarung tangan kerja. Setiap pekerja harus mengenakan pakaian kerja yang mampu menahan suhu panas. . oleh karena itu diwajibkan menggunakan kacamata untuk pekerjaan cor. Setiap pekerja harus memastikan bahwa kelengkapan dan kesiapan sarana pendukung pesawat cor dapat beroperasi dan berfungsi dengan baik. tanpa menyebabkan tangan operator terpegang diantara rol atau diantara pengaman dan rol. Setiap pekerja yang melakukan kegiatan dengan mesin electroplating berhatihatilah dengan bahan asam kuat dan hidupkan exhauser untuk mengeluarkan uap kimia yang terjadi sehingga ventilasi ruangan harus bekerja dengan baik dan pastikan tidak ada kebocoran pada sistem salurannya. Alat pengangkat dan pengangkut yang disediakan harus dipergunakan dengan cara yang benar terhadap bahan baku dan bahan yang telah jadi. Setiap pekerja dilarang melihat cahaya logam cair dengan mata telanjang terlalu lama. topi pengaman. 3. 4. Mesin Cor 1. dan memutuskan arus. Tekuk Plat. Setiap pekerja dilarang mengubah parameter-parameter pesawat cor selagi sedang beroperasi. 2.

Bengkel Gelas 1. Setiap pekerja dengan api pemotong gelas harus memakai kacamata pelindung yang sesuai dengan pekerjaannya. supaya dalam melaksanakan pekerjaan yang sebenarnya tidak terjadi hal-hal yang tidak dinginkan dan dalam hal penggunaan mesin-mesin yang berputar cobalah terlebih dahulu mendapatkan putaran yang sesuai. Setiap pekerja harus memeriksa semua ikatan. mesin. Setiap pekerja harus mengetahui urutan membuka kran pengatur (buka kran pengatur gas terlebih dahulu) dan jangan salah langkah dalam menutup kran pengatur (tutup kran oksigen terlebih dahulu). 5. Setiap pekerja dilarang meninggalkan potongan-potongan gelas disekitar mesin. . 3. 7. Setiap pekerja dilarang menyalakan penyembur api dan apapun juga. meter dan cobalah sebelum mulai bekerja. Setiap pekerja harus memeriksa semua peralatan pengaman saluran gas. 2. kacamata untuk menghindari percikan asam kuat. 8. jika dicurigai ada kran atau sambungan maupun pipa/slang gas oksigen yang bocor.7. Setiap pekerja dilarang menyalakan penyembur api dengan nosel mengarah ke tubuh. 4. dengan kuat dan benar sesuai dengan keadaan yang dipersyaratkan. 6. Setiap pekerja harus memperhatikan posisi anoda dan katoda jangan sampai terbalik. Setiap pekerja harus menggunakan sarung tangan tahan panas bila memasukkan/mengambil benda kerja ke/dari dalam oven. masker. HNO3) Setiap pekerja harus mempergunakan sarung tangan karet. benda kerja dan alat pemotong. 8.

Untuk keperluan juklak ini tegangan lebih besar dari 220 volt disebut tinggi dan untuk tegangan lebih kecil dari 220 volt disebut tegangan rendah. dengan suatu syarat mempunyai kecakapan dan pengalaman teknis serta terampil dalam bidangnya. Ruang Lingkup Ruang lingkup yang dibahas dalam pedoman ini meliputi seluruh peralatan listrik yang ada di PTNBR BATAN Bandung Bahan Acuan Peraturan Umum Instalasi Listrik.Bid/Sub. 2. isolasi. Tegangan adalah beda potensial dari kedua kutub/kawat. d. Himpunan Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Listrik. baik dari segi operasi maupun pemeliharaannya. 1. 4. Peralatan listrik adalah semua komponen/peralatan listrik termasuk pemutus arus. 5.BAB IV PERALATAN LISTRIK ____________________________________________________________ a. Pekerjaan adalah semua kegiatan baik berupa pengoperasian. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional.Bag yang diberi wewenang dan tanggung jawab terhadap semua instansi listrik dari unit yang bersangkutan. Himpunan Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Penanggulangan Kebakaran dan Konstruksi Bangunan. Himpunan Peraturan dan Perundang-undangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Definisi Petugas adalah orang yang diberi wewenang untuk suatu jenis pekerjaan. 3. c. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. b. Kawat pentanahan adalah kawat tembaga telanjang (bare) dengan luas penampang tidak kurang dari 50 mm yang di klem pada peralatan mesin dengan baik dan dihubungkan ke tanah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 2. 6. Bagian listrik bisa berupa Instansi/Bidang/Bagian/Sub. dan kabel. 1. 4. perbaikan dan pengontrolan instalasi listrik. Tujuan Pedoman ini disusun dengan maksud untuk memberikan petunjuk umum kepada seluruh karyawan PTNBR BATAN Bandung tentang langkah-langkah umum dalam keselamatan kerja dengan peralatan listrik. 3. .

10. Setiap petugas dilarang keras bekerja dengan alat-alat yang bertegangan listrik terutama di dalam kamar dimana ada bahaya kebakaran atau ledakan. 6. dan kunci disimpan oleh Kepala BIE. 13. 11. Jangan sekali-kali mengambil risiko. 8. Semua petugas yang melakukan pekerjaan pada instalasi listrik harus tunduk kepada instruksi-instruksi dari Kepala BIE. 3. Setiap petugas dilarang memperbaiki sekering dari tipe cartridge dengan jalan menghubungkan sekering itu dengan kawat. 7. dan di dalam ruangan dengan udara yang basah atau yang sangat lembab. Setiap orang dilarang melakukan pekerjaan penggalian atau membuat lubang di lapangan atai di daerah-daerah sekitarnya sebelum lebih dahulu mendapat ijin. 4. Pentanahan pada peralatan tegangan tinggi harus dilakukan instalasi yang baik dan benar sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Setiap petugas dilarang melakukan perbaikan sebelum ada ijin dari atasan ataupun dan diwajibkan melapor bila perbaikan telah selesai dilakukan. jika timbul keragu-raguan hubungilah pengawas anda. Dalam keadaan darurat petugas diperbolehkan melakukan tindakan untuk menyelamatkan jiwa ataupun instalasi. Setiap orang dilarang memasuki/bekerja pada daerah tegangan tinggi kecuali petugas yang mempunyai otorisasi. 12. Label peringatan ini hanya boleh dipindahkan/dicabut oleh petugas yang memasangnya. Setiap petugas dilarang memperbaiki instalasi-instalasi listrik yang bertegangan dan bila tidak bisa dihindari perbaikan tersebut dapat dilakukan dibawah pengawasan atau tanggung jawab dari Kepala BIE. Daerah/instalasi tegangan tinggi harus dikunci. Label peringatan “Jangan dijalankan” harus dipasang pada semua pemutus arus yang telah diisolasi. 9. . Khusus untuk transformator hal tersebut di atas dilakukan baik pada sisi primer dan sekunder. Setiap petugas dilarang mengubah posisi pemutus arus kecuali atas ijin Kepala BIE. Selama peralatan diperbaiki setiap petugas wajib mencegah kemungkinankemungkinan yang bisa membahayakan dan wajib menggunakan label-label peringatan/pengamanan ataupun menguncinya pada posisi yang aman. Setiap petugas dilarang melakukan perbaikan di malam hari kecuali untuk pekerjaan-pekerjaan yang betul-betul penting demi lancarnya pekerjaan/produksi dan keselamatan dari instalasi. 5. pelepasan semua pengamanan/sekering dan pentanahan peralatan yang diperbaiki. 2.Petunjuk yang wajib dipatuhi dan petunjuk yang disarankan 1. 14. Setiap orang dilarang berjalan melalui atau melintasi peralatan/perlengkapan instalasi listrik. Setiap pekerjaan pada peralatan tegangan tinggi harus dilakukan setelah terlebih dahulu dilakukan pemutusan arus.

2. teknisi. misal ruang asam. c. 3. laboran yang secara langsung atau tidak langsung menggunakan bahan kimia. Pekerja adalah peneliti. 4. Soemanto Iman Khasani. 5. Bahan kimia eksplosif adalah bahan kimia mudah meledak. dan sebagainya. Kimia toksik adalah bahan kimia beracun. Bahan Acuan 1. d. exhaust fan. CRC Press Inc. 8.BAB V BAHAN KIMIA ____________________________________________________________ a. Australian Automic Energy Commission. Bahan kimia korosif/iritan adalah bahan kimia yang mampu merusak berbagai peralatan dari logam dan apabila bahan kimia ini mengenai kulit akan menimbulkan kerusakan berupa iritasi dan peradangan kulit. Nilai Ambang Batas (NAB) adalah konsentrasi dari zat. Jakarta. . Limbah bahan kimia adalah bahan kimia baik padat. yang bahayanya terhadap kesehatan sangat bergantung pada jumlah zat tersebut yang masuk ke dalam tubuh. PT. Gramedia. Hand Book of Laborotory Safety. Bahan kimia oksidator adalah bahan kimia yang dapat menghasikan oksigen dalam penguraian atau reaksinya dengan senyawa lain. 1990. b. July 1983. dan gas bekas pakai yang karena sifatnya tidak dapat digunakan lagi. Tempat dan sarana laboratorium adalah tempat yang digunakan untuk melakukan kegiatan yang menggunakan bahan kimia serta dilengkapi sarana sebagai kelengkapan laboratorium. Safety Hand Book. bahan kimia. dan pekerja yang merupakan unsur utama dalam melaksanakan kegiatan dengan menggunakan bahan kimia. Boca Raton Florida. cair. uap atau gas dalam udara yang dapat dihirup selama 8 jam/hari selama 5 hari/minggu. 6. Definisi 1. glove box. Tujuan Pedoman ini disusun dengan maksud untuk memberikan petunjuk secara umum kepada seluruh karyawan PTNBR BATAN Bandung tentang keselamatan dan kesehatan kerja dalam menggunakan bahan kimia. tanpa menimbulkan gangguan kesehatan yang berarti. 3. 7. bersifat reaktif dan eksplosif serta sering menimbulkan kebakaran. peralatan. Ruang Lingkup Ruang lingkup meliputi sarana tempat kerja. meja kerja. 2. Keselamatan Kerja dalam Laboratorium Kimia. fumehood.

4. Ruang Kerja 1. 8. Fumehood. Tumpahan/tetesan bahan kimia yang mempunyai sifat iritan harus dihindari. Sumber api harus dijauhkan apabila digunakan bahan kimia yang mempunyai sifat mudah terbakar atau mudah meledak. Setiap bahan kimia yang terdapat disuatu tempat harus diinventarisasi berdasarkan sifatnya. Selama melakukan kegiatan menggunakan bahan kimia. 2. Penggunaan peralatan bantu yang terbuat dari logam harus dihindari apabila bahan kimia yang digunakan bersifat korosif. 6. sistem ventilasi ruang kerja harus baik dengan pergantian udara minimal 8 kali per jam. Temperatur dan kelembaban di dalam laboratorium harus dijaga kestabilannya sesuai dengan jenis peralatan dan pekerjaan yang dilakukan. 3. Bahan kimia yang mempunyai sifat dapat melakukan reaksi secara cepat harus dijauhkan dari bahan kimia mudah meledak yang akan digunakan. 3. Dalam rangka penyimpanan bahan kimia yang akan dilakukan harus memperhatikan sifat masing-masing bahan yang akan disimpan. 11. atau ruang asam harus digunakan dalam kegiatan yang menggunakan bahan kimia yang mempunyai sifat yang sesuai. Pengelompokan dalam rangka penyimpanan bahan kimia dapat dilakukan dengan memperhatikan sifat masing-masing bahan kimia yang akan disimpan. 10.5 m/detik. 2. glove box. 9. Pembuangan limbah kimia dapat dilakukan setelah melalui proses olahan sesuai dengan sifat bahan kimianya. Pekerja yang akan melakukan kegiatan dengan menggunakan bahan kimia harus menggunakan alat pelindung diri yang sesuai. kecepatan aliran udara minimal 0. 4. Petunjuk Umum 1. Setiap wadah bahan kimia harus diberi label dan tanda – tanda yang jelas sesuai dengan sifatnya dan mudah dibaca. Setiap pekerja harus melakukan optimasi jumlah bahan kimia yang akan digunakan dengan memperhatikan nilai ambang batasnya. . Orang yang tidak berkepentingan dilarang mendekati daerah kerja. Ruang kerja harus dilengkapi dengan tempat limbah khusus.e. 5. 7.

13. 15.400 1. 37.15 0. 2. 6. debu) Karbon dioksida Karbon disulfida Karbon monoksida Karbon tetraklorida Klor Kloroform Metanol Nitrobenzena Nitrogen dioksida Ozon Sulfur dioksida Timbal (uap.1 2 5 NAB (mg/m³) 0. 28.1 25 400 400 5 1 1 100 0. 36. 21.05 18 10 10C 7 2. 34. 31. 10.05 9. 27. NAMA BAHAN Air raksa Amoniak Anilin Asam bromida Asam klorida Asam flourida Asam formiat Asam nitrat Asam sianida Asam sulfat Asam sulfida Asbes Aseton Benzena Benzil klorida Brom DDT Dioksan Etil asetat Etil eter Fenol Fluor Formaldehida Heksana Iodin Kadmium(uap. 7. 1. 8.000 30 55 30 3 50 260 5 6 0. 5. 35.5C 9 5 10C 1 14 5 serat/cm Panjang 5 um 1.000 10 50 5 1 10 200 1 3 0. 12.780 30 5 0. 25. 38. 14.2 5 0. 16.1C 5. 24.200 19 2 1. 4. 17. 30. 3. 33. 40. 23.5 360 1C 0. 39. 18. .TABEL 1 : NILAI AMBANG BATAS (NAB) BAHAN-BAHAN KIMIA NO. debu) Timbal tetraetil Vinil klorida NAB (ppm) 25 2 3C 5 3C 5 2 10C 10 750 10 1 0.7 1 180 1. 22. 26. 32. 19. 29. 9. 11. Daftar di atas diambil dari : Threshold Limit Volues and Biological Exppsure Indices for 19861987 American Conference of Govermental Industrial Hygienists.1 10 Keterangan : ppm : bagian dari satu juta (volume) C : batas konsentrasi tertinggi dalam udara tempat kerja. 20.

xSiO2 (NH4)2CO3 CaO. BAHAN KIMIA OKSIDATOR Permanganat Perklorat Dikhromat Hidrogen peroksida Periodat Persulfat Benzil peroksida Asetil peroksida Eter oksida Asam perasetat Oksidator Anorganik Peroksida Organik . DAFTAR BAHAN KOROSIF CAIR Asam nitrat (HNO3) Asam sulfat (H2SO4) Asam klorida (HCl) Asam fluoride (HF) Asam posfat (H3PO4) Asam format (HCOOH) Asam asetat (CH3COOH) Asam monokloroasetat (CH2ClCOOH) Petroleum Hidrokarbon terklorinasi Karbon disulfide Terpentin Asam Mineral Asam Organik Pelarut Organik TABEL 3.TABEL 2. Ca (OH)2 CaC2 Ca (CN)2 CCl3COOH C6H5OH Na K P AgNO3 Basa Asam Lain-lain TABEL 5. DAFTAR BAHAN KOROSIF PADAT Natrium hidroksida Kalium hidroksida Natrium silikat Amonium karbonat Kalsium oksida/hidroksida Kalsium karbida Kalsium sianida Ttrikhloroasetat Fenol Natrium Kalium Posfor Perak nitrat NaOH KOH Na2O.

8. 5. 6.1 – 7.4 Titik C (oC) 538 562 280 – 456 423 180 261 223 100 464 515 229 220 309 288 536 Titik A = titik didih Titik B = titik nyala Titik C = titik bakar Titik A adalah suhu dimana tekanan uap zat tersebut sama dengan tekanan luar. 15.0 – 4.7 Titik A (oC) 56 80 38 – 204 79 34 68 98 46 65 80 170 – 300 125 36 30 – 60 111 Titik B (oC) -18 -11 -43 12 -45 -22 -4 -30 12 -7 38 – 66 13 -49 -57 4.85 – 48 1.3 – 19 1.5 1.7 – 5 1. PELARUT Aseton Benzena Bensin Etilalkohol Etil eter Heksana Heptana (n) Karbon disulfida Metanol Metil etil keton Minyak tanah Oktana Pentana Petroleum eter Toluena Daerah konst.6 3. 14. 4.2 – 6. 13.7 1 – 44 6 – 36. 11.6 1.4 – 7. 1. 12. 3.TABEL 4. PELARUT ORGANIK MUDAH TERBAKAR No. .5 2 – 10 0. 10. (%) mudah terbakar 3 – 13 1. Titik B adalah titik nyala (flash point) adalah suhu dimana suatu cairan menghasilkan uap yang dapat membentuk campuran dengan udara yang dapat dibakar pada permukaan cairan.4 – 8 1–6 1. 9.4 – 6. 7. 2. BAHAN KIMIA KOROSIF GAS Amonia Asam klorida Asam fluorida Formaldehida Asam asetat Sulfurklorida Tionil klorida Sulfuri klorida Belerang oksida Klor Brom Arsen triklorida Posfor triklorida Posfor penta klorida Ozon Nitrogen oksida Fosgen Akrolein Dikloroetilsulfida Diklorometileter Kloropikrin Dimetilsulfat NH3 HCl HF HCHO CH3COOH S2Cl2 SOCl2 SO2Cl2 SO2 Cl2 Br2 AsCl3 PCl3 PCl5 O3 NO2 COCl2 CH2CHCHO S(CH2CH2Cl)2 O(CH2Cl)2 CCl3NO3 (CH3)2SO4 TABEL 6.4 – 8 1.

tanpa Nilai Ambang Batas (NAB) 4 – Aminodiphenil (p-Xenylamine) – kulit Benzidine – Kulit Betta – Napthylamine 4 – nitrodiphenil Tidak diperkenankan adanya paparan atau kontak langsung dengan bahan – bahan ini. .asap dan debu 2 ppm 0.2 fibre > 1 um/cm3 1. Pekerja harus dilindungi sedemikian rupa sehingga tidak akan terkena karsinogen tersebut.0 fibre > 5 um/cm3 0.Titik C = titik bakar (ignition point) adalah suhu minimum suatu zat yang diperlukan agar zat tesebut dapat terbakar tanpa bantuan energi dari luar. baik melalui pernafasan.001 ppm 0. as Ni. atau mulut. yaitu : KELOMPOK A : Bahan yang bersifat karsinogenik dan telah ditentukan Nilai Ambang Batas (NAB) : BAHAN Acrylonitrile – kulit Asbestos Amosite Chrysotile Crocidolite Other forms Bis (chloromethyl) ether Pengolahan batuan chromite (chromate) Chromium (VI). as Cr 0. BAHAN-BAHAN YANG DIKETAHUI DAN DIDUGA BERSIFAT KARSINOGENIK TERHADAP MANUSIA.0 mg/m3. NAB KELOMPOK B : Bahan yang bersifat karsinogen. kulit.5 fibre > 5 um/cm3 2. as Cr 0.05 mg/m3. Bahan-bahan ini dibagi dalam 3 kelompok. senyawa larut dalam air Coal tar pitch volatiles Pembakaran Nikel Sulphide.2 mg/m3 as benzene solubles 1.05 mg/m3.0 fibre > 5 um/cm3 0.

1-Dimethil hydrazine – kulit Dimethil sulphate – kulit Ethylene dibromide – kulit Ethylene oxide Formaldehyde Hexachlorobutadiene Hexamethyl phosphoramide – kulit Hydrazine – kulit 4.KELOMPOK C : BAHAN Acrylonitrile – kulit Amitrol Antimony trioxide Production Arsenic Trioxide Production BIS (Chloromethyl) eter Benzene Benzo (a) pyrene Berrium 1. sebagai Cr Chrysene 3.05 mg/m3 0. 4-methylene bis (2-chloroaniline) – kulit Methyl hydrazine – kulit Methyl iodine – kulit 2 – Nitropropane N – Nitrosodimethyllamine N – phenyl – beta – naphthylamine Phenulhydrazine – kulit Propane sultone Beta – propiolactone Propyleneimine – kulit O – Tolidine O – Toluidine – kulit Vinyl bromide Vinyl cyclohexene dioxide Vinyl chloride NAB 2 ppm 0.5 ppm 1 ppm 2 ppm 5 ppm 10 ppm 5 ppm . 3-Butadiene Cadnium oxide production Carbon tetrachloride – kulit Chloroform Chloromethyl methyl eter Chromates dari Pb dan Zn.5 ppm 0.0 ug/m3 5 ppm 10 ppm 0. 3-Dichlorobenzidine – kulit Dimethylcarbamyl chloride 1.002 ppm 0.1 ppm 1 ppm 1 ppm 0.001 ppm 10 ppm 2.2 ppm 2 ppm 10 ppm 5 ppm 0.1 ppm 0.1 ppm 0.

Hindari goncangan. . bunga api dan panas. gesekan.As. Klorida . 5.I.Xn = . -65 Hindari kontak dengan badan. jangan menghirup uap. .As.Solar Bahan mudah terbakar . hindari kontak dengan kulit.Aceton .Pip.Anh. 4. mata dan pakaian. 6.Phostoxin Bahan beracun/toksik . 1. panas & bunga api.Potasium Klorat.As. D.As. Fosfat pada kulit . Xn = harmful substance .Asuntol Hindari kontak dengan badan.As perklorat.Hidrogen peroksida. F = Inflamable material . 3. BEBERAPA SIFAT BAHAN NO. salisilat Xi = cause irritation .Xi = . As. C = Corrosive material . tumbukan.Soda Kausti .Bensin .Anh.larutan amonia Menimbulkan iritasi . Asetat Bahan . . Sulfat . Asam Asetat . Jauhkan dari bahan bakar. TANDA ISYARAT E = Explosive material Bahan mudah meledak CONTOH BAHAN / PRODUK . O = Oxidizing substance .TABEL 7.Alkohol Hindari air. segera mencari pengobatan bila kesehatan terasa terganggu.AAs.Ammonium dikromat 2. nyala api bebas. T = Poisonous material .neguvon Bahan berbahaya .Bayonox activate . cari pengobatan bila terasa terganggu.As. O. klorida Jangan menghirup uap. Bahan mudah teroksidasi .Baygon . Asetat korosif/menimbulkan luka .

jauh dari sumber panas atau api. Pengelompokan gas yang akan disimpan dapat dilakukan dengan memperhatikan sifat masing – masing gas. 6. 2. maka pipa yang menyalurkan gas dibagian luar ruangan harus diberi kran. sistem ventilasi harus dalam keadaan baik. d. Semua gas harus diinventarisasi dan diberi label dan tanda-tanda yang menerangkan jenis. dari bahan kimia korosif. 3. Ruang Kerja 1. misalnya masker. Selama melakukan kegiatan menggunakan bahan gas. dan pekerja yang terlibat. Tabung gas harus disimpan pada tempat yang aman. Soemanto Imam Khasani. Setiap pekerja harus telah mendapatkan pelatihan khusus tentang pemadaman kebakaran. Temperatur ruangan dan kelembaban harus tetap terjaga kestabilannya. jenis gas yang digunakan. masa berlaku dan sebagainya serta mudah dibaca. Ketentuan Umum 1. 5. 4. 3. Keselamatan Kerja dalam Laboratorium Kimia. Apabila bahan gas/tabung berada di luar laboratorium. 2. Jakarta. Australian Atomic Energy Commission. Bahan Acuan Safety Hand Book. July 1983. sarung tangan karet dan sebagainya. PT. 1. serta peralatan. 2. Tujuan Pedoman ini disusun dengan maksud untuk memberikan petunjuk secara umum kepada selurah karyawan PTNBR BATAN Bandung tentang kesehatan dan keselamatan kerja dalam menggunakan bahan gas. . Setiap pekerja yang akan menggunakan bahan gas harus menggunakan jas lab dan peralatan bantu yang sesuai dengan sifat gasnya. c. pelatihan mekanik gas dan sebagainya. Tabung gas bertekanan tinggi disimpan dalam keadaan tegak dan terikat.BAB VI GAS ____________________________________________________________ a. 1990. Ruang Lingkup Ruang lingkup yang akan dibahas adalah bahan gas yang lazim digunakan di laboratorium/lapangan. Gramedia. b.

Kompresor adalah suatu alat untuk memampatkan gas atau udara. 3. Himpunan Pedoman Keselamatan & Kesehatan Kerja Bidang Listrik dan Uap 3. e. 2. Petunjuk Tanda-tanda pengenal 1. Alat kendali temperatur adalah suatu alat yang dipakai untuk mengetahui dan mengendalikan temperatur dari suatu bejana bertekanan supaya tidak melebihi suhu rancangan. uap. tangki tandon pada kompresor. Bahan Acuan Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional : 1. pemeriksaan dan perlengkapan perlindungan bejana tekan. Tanda pengenal harus tercetak tidak mudah terhapus. 4. mudah dan tampak jelas terlihat dan dibaca dan diusahakan tidak tertutup. termasuk ketel uap dan meliputi penggunaan material. Pelat nama adalah pelat yang dipasang pada suatu alat/pesawat/bejana yang memuat data-data atau identitas alat itu. bahaya kebakaran atau keracunan oleh sifat fluida di dalam bejana dan bahaya akibat kesalahan penanganan bejana tekan itu sendiri.BAB VII BEJANA TEKAN ____________________________________________________________ a. Bila bejana harus dibalut isolasi. Himpunan Pedoman Keselamatan & Kesehatan Kerja Bidang Mekanik 2. air dan cairan berupa tangki tekan. Ruang Lingkup Pedoman umum tentang bejana tekan adalah pedoman keselamatan dan kesehatan kerja yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan dalam hal penanganan dan penggunaan bejana yang berisi fluida bertekanan seperti udara. tabung-tabung baja. c. Tujuan Usaha pencengahan kecelakaan baik secara preventif maupun korektif terhadap bahaya yang timbul akibat bejana tekan berupa bahaya peledakan yang terjadi karena tekanan tinggi dari dalam bejana. . d. Bejana tekan adalah bejana yang di dalamnya berisi fluida bertekanan lebih tinggi daripada tekanan udara luar. Standar Nasional Indonesia No. Pada setiap bejana tekan harus tertera tanda-tanda pengenal berupa pelat nama atau tercetak langsung pada bejana itu yang harus diperhatikan dalam penanganan dan penggunaan bejana tekan tersebut. 5. b. Tabung baja adalah bejana tekan selain pesawat uap yang dipakai untuk menampung gas atau gas campuran termasuk udara baik dikempa menjadi cair dalam keadaan larut atau beku. 2. Definisi 1. : SNI-1715-1989-E tentang Pewarnaan Botol Baja / Tabung Gas Bertekanan. gas.

boron trikhlorida. Berat isi penuh h. maka di atas tanda pengenal diberi petunjuk untuk dapat dibuka dan dibaca. khlor. methil khlorida. Pada bagian badan botol saja sepanjang badan harus diberi tulisan nama gas yang diisikan dibuat dengan sablon warna hitam. Volume air yang dapat diisikan f. Botol baja untuk gas campuran (Mixed Gases) harus dicat warna gabungan masing-masing kelompok gas yang dicampurkan. gas-gas hydrocarbon (carbonil sulfida. methana. Waktu pengujian (terakhir) Khusus bejana tekan jenis botol baja harus diberi kode warna dan tulisan sesuai standar yang dengan itu dapat dikenali isinya untuk perhatian dalam penanganan. d. nitrogen dioksida. i. Tahun pembuatan d. Standar warna botol baja ini tidak berlaku untuk tabung alat pemadam api ringan. benzena. . g. vinil chlorida. Nomor Tag/Seri pembuatan c. berbagai macam pestisida. asetilen. ethanol. fenol. e. propylene. 4. atau tetraoksida. b. cyanogen. Tanda atau nama pabrik pembuat b. asam chlorida. dan methil bromida harus dicat warna kunig muda. Berat kosong g. naptalena. dichlorobenzena. Tekanan kerja maksimum j. alkohol. Botol baja untuk kelompok gas pengoksida (Oxidijing Gases) misalnya: oksigen termasuk udara tekan harus dicat warna biru muda. Pada leher botol dapat ditempelkan label dan tanda-tanda khusus mengenai : sifat gas. hidrogen khlorida. hydrogen cyanida. helium. Amonium chlorida. phosgene. sulfur dioksida. Tekanan uji hidrostatika k. carbon monoksida. Botol baja untuk kelompok gas bagi keperluan kesehatan (Medical Gases) harus dicat warna putih. karbondioksida. a. amoniak. gas fluoro carbon (refrigerant) harus dicat warna abu-abu. Nama jenis fluida isi (bukan simbol kimia) e. Botol baja untuk kelompok gas yang dapat menyebabkan tercekik/kekurangan zat asam (Asphyxian Gases) misalnya : nitrogen. c. h. glioksida dan bromethil harus dicat warna kuning tua. kripton. Botol baja untuk kelompok gas beracun (Poisonous Gases) misalnya : arsine.3. pentana. methanol. Tanda-tanda pengenal yang harus ada memuat : a. Kisaran suhu penyimpanan i. Botol baja untuk kelompok gas mudah terbakar dan atau meledak (Inflammable and or Explosive Gases) misalnya : hydrogen. xenon dan neon). gas mulia (argon. penta chlorida. j. bahaya dan petunjuk penanganannya. f. butane dan propane) harus dicat warna biru (light blue) dengan tanda warna merah pada bagian sekeliling tingkapnya. Botol baja untuk kelompok gas menyengat (Corrosive Gases) misalnya: anhydrous amoniak.

Ukuran alat penurun tekanan dan saluran buangannya harus mampu membuang sejumlah maksimum yang dapat dihasilkan pada bejana tersebut tanpa menaikkan tekanan lebih besar dari pada 110% disain kisaran tekanan. Indikator tekanan. 9. 4. karat atau cacat pada permukaan. Buangan dari alat penurun tekanan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga mencegah bahaya bagi orang atau kerusakan pada peralatan lain. Alat kendali temperatur. 2. 5. untuk fluida mampat berupa katup pengaman (safety valve) dan untuk fluida tak mampat berupa katup penurun tekanan (relief valve) yang dapat bekerja otomatis atas tekanan lebih atau mempergunakan pelat dapat pecah (rupture disc). 2. Tiap bejana tekan harus dilengkapi dengan alat pengaman dan perlengkapan lain agar bejana tekan dapat menjamin untuk digunakan dengan aman. reaksi kimia atau daya tekan dari pompa/kompresor. pekerjaan tambah atau dilakukan reparasi atas bejana tekan itu. Alat penurun tekanan dapat dipasang tunggal atau rangkap untuk jaminan terhadap keselamatan. c. Sebelum bejana tekan dipergunakan harus diperiksa secara visual terhadap kerusakan. Kecuali ditentukan lain. Bejana tekan yang kedapatan rusak sedemikian rupa sehingga diduga tidak memenuhi syarat keselamatan harus diuji lagi kekuatannya dan atau dilarang dipergunakan. Alat penurun tekanan. Alat pengurang vakum. Alat pengaman dan perlengkapan lain 1. 3. 8. Yang termasuk perlengkapan lain adalah : a. b. untuk bejana berisi zat beracun atau mudah terbakar dapat dibuang ke atmosfer dengan ketentuan buangan ada di luar dan jauh dari bangunan. Diantara bejana dan alat penurun tekanan dilarang ada katup penutup. Bejana tekan yang dipergunakan harus terjamin kualitasnya yang dinyatakan dengan kelengkapan sertifikat hasil pemeriksaan atau pengujian yang telah dilakukan. Alat penurun tekanan harus mampu mencegah kenaikan tekanan lebih tidak melebihi 110% dari disain kisaran tekanan yang disebabkan ekspansi isi bejana oleh kenaikan suhu. 3. Indikator tinggi permukaan cairan. Saluran pembuangan (drainage) d. Alat penurun tekanan yang dipasang. kecuali memenuhi persyaratan untuk pemeriksaan berkala atau pemeliharaan dari alat penurun tekanan tersebut dan dapat disegel dalam posisi tertutup atau terbuka yang dilakukan berdasarkan prosedur penyegelan oleh pihak yang berwenang. Pengujian ulang juga harus dilakukan pada bejana tekan yang mengalami perubahan konstruksi. 7. b. 6. Pengujian ulang dengan tekanan hidrostatika harus dilakukan secara berkala sesuai ketentuan ijin yang berlaku. Lubang angin (venting) 4. Pada setiap bejana tekan harus sekurang-kurangnya dipasang 1 (satu) indikator . c. Yang termasuk alat pengaman adalah : a.Jaminan kualitas bejana tekan 1.

Botol-botol baja yang digunakan atau disimpan harus diletakkan berdiri dan diberi pengikat dari kemungkinan roboh dengan memperhatikan jenis isi masing-masing botol. jelas terbaca dengan ketelitian mempunyai skala pengukura 1. Botol baja berisi oksigen harus dijauhkan dari botol gas lainnya yang mudah terbakar. Pada bejana tekan harus ada lubang angin yang terletak pada bagian tertinggi bejana untuk mengalirkan udara sewaktu uji tekan hidrostatika. 10. pemeriksaan maupun pemeliharaan. minimum 6 m. maka harus disambung pipa pembuangan yang mengalir ke lokasi aman. Bejana tekan yang dipasang tetap dalam dudukan dengan penunjang yang kuat dalam posisi horisontal rata air atau vertikal. Botol baja isi bertekanan dilarang berada dekat dengan sumber panas atau terkena sinar matahari langsung. Dari sisi tekan pada kompresor yang berhubungan dengan tangki tandon tidak boleh ada katup. 10. 11.tekanan yang berfungsi baik dan dikalibrasi. Lokasi bejana tekan berada harus terlindungi dan dihindari dari zat yang korosif. lengkap dengan data tanda pengenal.5 sampai 2 kali tekanan kerja yang diijinkan. Instansi pemakai wajib menyimpan daftar semua botol baja yang menjadi tanggung jawabnya. Tangki tandon pada kompresor harus secara berkala dikeringkan dari air embunan di dalamnya dengan membuka katup pada saluran pembuangannya atau dipasangkan katup pembuangan otomatis (automatic drain). 8. Botol-botol baja bila tidak dipergunakan harus dipasangkan kap pelindungnya dengan tepat untuk melindung katupnya. 4. Bilamana menggunakan katup untuk pembuangan material yang merugikan atau mudah terbakar. alat penurun tekanan. 3. Lokasi pemasangan katup. terutama pada tiap bejana yang berisi atau mungkin akan membawa karat bagi bejana atau yang merugikan atau yang mudah terbakar. bila ternyata ada maka harus dipastikan dan diamankan dalam keadaan terbuka pada saat operasi. 5. 7. Indikator tekanan harus tampak dari posisi operator mengontrol tekanan bejana. Terhadap bejana tekan harus selalu dilakukan pemeliharaan. isi dan masa berlaku isinya. pemeriksaan alat pengaman dan kelengkapannya serta dijaga kebersihannya. 13. 9. Pengangkutan atau pemindahan bejana tekan harus menggunakan alat pengangkut atau pengangkat yang tepat dan dicegah dari kemungkinan jatuh atau terantuk dengan benda lain yang keras dan tajam. 2. . pengangkutan dan perlakuan terhadap bejana tekan 1. 6. mencegah bahaya bagi orang atau kerusakan peralatan. Bahan pelumas dan paking yang mengandung minyak atau lemak dilarang dipergunakan atau untuk melumasi katup pada botol baja yang berisi oksigen atau gas lain yang mengandung oksida. 12. Peletakan. 11. alat pengamanan dan perlengkaan lain harus pada tempat yang mudah dicapai bila diperlukan untuk operasi. Pada bejana tekan harus ada saluran pembuangan cairan yang terletak pada bagian terbawah bejana.

Untuk botol baja yang berisi kelompok gas korosif dapat diperiksa dengan diketuk-ketuk. 2. kompresor dan pesawat uap harus dilakukan oleh teknisi atau operator yang mempunyai wewenang mengoperasikan dan telah menjalani pendidikan dan pelatihan untuk alat-alat itu. Pelaporan 1. 2. dan mengajukan permohonan perpanjangan ijin sebelum kadaluarsa. 4. warna hilang atau tertutup sehingga tidak lagi menunjukkan identitas warna yang sesungguhnya. Pengecekan ulang botol baja harus dilakukan apabila warna sudah berubah. Pengoperasian bejana tekan termasuk peralatan pembangkit tekanan terkait seperti pompa. . Pengelola harus mencatat jumlah botol-botol baja beserta tanda-tanda pengenalnya.f. pipa dan perlengkapan pada bejana tekan harus selalu diperiksa kekedapannya. Bejana tekan yang berada di lingkungan zat korosif harus selalu diperiksa kemungkinan kerusakan karena karat. 5. g. Fungsi dari alat-alat pengaman dan perlengkapan bejana tekan harus selalu diuji ulang untuk menjamin keandalannya. atau setelah dilakukan uji tekan hidrostatika ulang. Sambungan-sambungan katup. 3. Kepada operator yang melayani penggunaan botol-botol baja berisi gas berbahaya harus diberikan pendidikan dan pelatihan penanganan terhadap bahan-bahan berbahaya. 3. kelompok gas beracun dan kelompok gas menyengat dapat menimbulkan bahaya. Terhadap bejana tekan harus selalu dilakukan pengawasan untuk menghindari risiko bahaya yang dapat timbul dan melaksanakan pemeliharaan bejana serta alat-alat pengaman dan perlengkapan lainnya dengan sebaik-baiknya. melakukan pemeriksaan dan mencatat data-data isi gas. Dalam pengoperasian mesin pembangkit tekanan untuk bejana tekan harus selalu diikuti dengan pencatatan rekaman data dalam buku/lembar log seperti data tekanan dan temperatur yang dicatat setiap waktu secara berkala. Pengelolaan bejana tekan harus menyimpan sertifikat uji bejana tekan dan surat ijin pemakaian yang masih berlaku yang dikeluarkan oleh instansi berwenang. atau bila dilakukan penggantian isi dengan gas lain atas ijin Departemen Tenaga Kerja. Kebocoran yang terjadi pada botol baja sebagai penampung gas akan memberikan kerugian dan pada botol baja yang berisi kelompok gas yang menyebabkan tercekik. tekanan dan kondisi secara berkala baik digunakan ataupun tidak digunakan. 2. Pengawasan 1. bila bunyinya tidak nyaring berarti dinding dalam telah dimakan karat yang akan mengurangi kekuatannya. Pendidikan dan Pelatihan 1. Kesalahan operasi seperti kesalahan buka tutup katup dapat menimbulkan kerusakan dan bahaya fatal. luntur. kelompok gas mudah terbakar dan meledak. h.

PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN a. Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang dialami oleh seorang karyawan semenjak ia meninggalkan rumah kediaman sampai menuju ke tempat pekerjaannya. Panduan Bahan Berbahaya. Edisi I. Safety Handbook. Ketidakmampuan (disability) adalah setiap keterbatasan atau berkurangnya kemampuan (sebagai akibat dari perlemahan) untuk melakukan aktivitas dengan cara atau dalam batas–batas yang dianggap normal untuk manusia. 4. pernafasan buatan dan pijat jantung. shock akibat aliran listrik. . 2. maupun sekembalinya dari tempat kerja menuju rumah kediamannya melalui jalan yang biasa ditempuh. 1989. 1980. Kartono M. Perlemahan (impairment) adalah setiap gangguan atau ketidaknormalan psikologik dan atau fisiologik dan atau struktur anatomi dan atau fungsi. Gramedia. Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak direncanakan yang dapat menyebabkan luka atau kerugian pada manusia dan benda yang disebabkan oleh suatu kejadian atau kondisi yang tidak terduga. d. Australia Atomic Energy Commision. b. 3. 4. c. Jakarta. Definisi 1. Pertolongan Pertama. Jakarta. selama jam kerja. Bahan Acuan 1. 2. gigitan ular berbisa. Ruang lingkup Ruang lingkup pedoman ini meliputi petunjuk umum : pertolongan pertama pada : pingsan. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. patah tulang. 5. terbakar. Diagnosis dan Penilaian Cacat karena Kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja.BAB VIII MEDIK ____________________________________________________________ A. Tujuan Pedoman ini dibuat sebagai petunjuk bagi awam untuk penyelamatan apabila terjadi kecelakaan ditempat kerja dengan tujuan agar korban menjadi atau merasa aman dan tenang serta mencegah kondisi yang lebih buruk sambil menunggu pertolongan dokter. Cacat (handicap) adalah kerugian yang diderita oleh seseorang sebagai akibat dari perlemahan atau ketidakmampuan yang membatasi atau mencegah orang itu untuk melakukan perannya yang normal untuk ukuran orang itu. 1983 3. Oleh karena itu pedoman ini sengaja dibuat rinci. Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1985). pendarahan. sedemikian rupa sehingga karyawan tersebut dalam waktu 2 x 24 jam setelah kejadian kecelakaan itu tidak dapat melakukan pekerjaan.

8. pernafasan buatan harus segera dilakukan. Kepala PTNBR akan mengirimkan laporan resmi kepada Deputi terkait tentang kecelakaan tersebut. 5. serta baju dan sepatunya dibuka. 11. Kepala PTNBR akan meneliti sebab-sebab kecelakaan dan menentukan lebih lanjut langkah-langkah pencegahan agar kecelakaan serupa tidak terulang lagi. Pertolongan Pertama Pingsan Apabila ada seseorang yang pingsan pada waktu menjalankan tugas karena suatu kecelakaan. 2. Kepala Bidang K2 harus melaporkan kejadian tersebut kepada Kepala PTNBR. 2. maka karyawan yang mula-mula mengetahui kejadian tersebut harus memberikan pertolongan pertama. Ujung-ujung jari kaki dan tangan. Atasan langsung tempat korban bekerja harus melaporkan kejadian tersebut secara tertulis kepada Kepala Bidang K2 menggunakan formulir laporan kecelakaan dalam waktu tidak lebih dari 24 jam. kaos kaki dilepas. Apabila terjadi kecelakaan di suatu unit atau daerah kerja. harus segera menghubungi poliklinik PTNBR atau poliklinik yang terdekat dan kepala bidang K2 guna mendapatkan bantuan segera. Pemberitahuan perihal terjadinya kecelakaan harus singkat dan jelas dengan menyebutkan lokasi kejadian. 6. 4. poliklinik tidak dapat menangani atau merawat korban. 9. 4. 5.e. Apabila karena keadaan. Ikat pinggang dilonggarkan. Dokter poliklinik PTNBR akan mengirimkan laporan sembuh dengan menjelaskan tentang prosentase cacat atau keadaan lainnya dari korban kepada Kepala Bidang K2. Korban dibawa ke tempat yang teduh dan aman dimana cukup tersedia udara bersih. Bila kecelakaan kerja menimpa seorang karyawan diluar kawasan atau lingkungan kerja. 3. maka setiap karyawan ataupun pihak keluarga yang mengetahui kejadian tersebut harus memberitahukan ke Kepala PTNBR melalui atasan langsung/Kepala UPN/Kepala Bidang K2. Karyawan yang telah memberikan pertolongan pertama ataupun karyawan lain yang mengetahui kejadian tersebut. maka dokter yang bertugas akan mengirim korban ke unit gawat darurat RSU terdekat guna mendapatkan pertolongan lebih lanjut. maka ia wajib melaporkan diri ke dokter poliklinik PTNBR dengan menyerahkan surat keterangan dari rumah sakit dan/atau dokter yang merawatnya kepada Kepala Bidang K2. Petunjuk Umum 1. identitas pelapor serta peristiwa kejadian. punggung dan perut dipanasi dengan botol . Atas dasar laporan tersebut. 10. maka korban harus segera mendapatkan pertolongan pertama dari karyawan lainnya. Pernafasannya diperhatikan dengan melihat naik turunnya dada dan dinding perut dan mendengarkan dari dekat mulut korban. Langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Apabila korban tidak bernafas. 3. 7. Setelah penderita sembuh atau tidak dirawat di rumah sakit. Dokter poliklinik yang bertugas harus pula membuat laporan kecelakaan dengan menyebutkan keadaan korban dan mengirimkan laporan tersebut kepada Kepala bidang K2.

Jika perlu bawa korban ke poliklinik terdekat untuk mendapatkan tindakan yang medis yang lebih lengkap.6. maka jangan mencabut benda tersebut. 3. Setelah itu digendong dengan kain yang diikatkan pada leher. Kepada korban diberikan bau-bauan yang merangsang. Spalk dipasang di kanan dan kiri dari bagian betis yang 2. Tulang paha : Spalk dipasang di kanan dan kiri dari paha yang patah dan kemudian dibalut. 4. Sebaiknya digunakan perban steril untuk menutup tempat perdarahan sebelum ditekan. kemudian diselimuti. Apabila seseorang terpercik atau tersiram bahan kimia korosif pada bagian mata. langkahlangkah yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1. kulit. bagian yang terbakar diolesi dengan vaselin atau levertran zalf. atau badan. Setelah itu ditolong seperti prosedur di atas. Apabila perdarahan masih terus berlangsung. Tempat perdarahan ditekan dengan tangan secara hati-hati. 2. Jangan sekali-kali memecahkan kulit yang melepuh atau bengkak berisi air. Tulang leher : Penderita diterlentangkan menengadah. Tulang belakang: Penderita diterlentangkan menengadah pada tempat yang keras dan rata (papan). Dalam kasus ini. Patah tulang Apabila terjadi kecelakaan yang mengakibatkan patah tulang. tekan bagian tepi dari luka dengan menempatkan perban steril di sekeliling luka dan balut. segera disiram dengan air yang mengalir sebanyak-banyaknya selama minimal 15 menit. Apabila seseorang terbakar bajunya. maka pertolongan pertama-tama diatasi pingsannya terlebih dahulu. perban steril dan pembalut lain harap ditambahkan tetapi JANGAN MELEPAS YANG PERTAMA. maka pada tempat yang patah dipasang dua papan (spalk) dan kemudian diperban : 1. Tulang lengan atas atau lengan bawah : Spalk dipasang di kanan dan kiri dari tangan yang patah dan kemudian dibalut. Diletakkan bantalan di bagian punggung dan dibalut. Diletakkan bantalan di . 5. Jangan merobek atau menarik baju yang terbakar. Setelah sadar. Apabila terdapat benda asing di tempat luka. kayu. dan sebagainya. Korban diterlentangkan atau dibaringkan dengan menegakkan atau meninggikan bagian yang luka (kecuali bila ada patah tulang). Setelah itu digendong dengan kain yang diikatkan pada leher. seperti : gelas. 3. 3. maka orang tersebut harus berguling-guling dipasir atau dibungkus selimut untuk mematikan apinya. 2. Pendarahan Apabila seseorang mengalami kecelakaan yang mengakibatkan pendarahan. Selanjutnya tempat perdarahan dibalut dengan kuat untuk mencegah perdarahan lebih lanjut. 5. 4. Apabila seseorang terbakar api badannya dan kemudian pingsan. Tulang telapak tangan : Spalk dipasang disebelah punggung tangan dan kemudian dibalut. 6. logam. berisi air hangat. Tulang kering betis : patah dan dibalut. Terbakar 1.

10. Apabila aliran listrik tersebut tidak dapat diputuskan. untuk nafas buatan adalah pernafasan mulut ke mukut atau nafas buatan mulut. gigi palsu dan kotoran lainnya. CATATAN : Jangan coba memeriksa dengan menggerakkan bagian tubuh yang diduga patah ! Shock akibat aliran listrik 1. 2. Bila denyut jantung berhenti. diberikan pijat jantung (cardiac massage) Pernafasan buatan Apabila terjadi kecelakaan dan korban tidak bernafas. Bila tidak bernafas. korban diusahakan ditarik dengan tangan yang memakai sarung tangan karet anti listrik. segera ditolong dengan pernafasan buatan. maka segera dilakukan pernafasan buatan. Pernafasan korban diperiksa dengan memperhatikan cara naik turunnya dada dan dinding perut dan mendengarkan dari dekat mulut korban. tongkat anti listrik atau tali. Tangan dibawah leher diangkat dengan hati-hati sedangkan tangan pada dahi korban ditekan ke bawah. mulut penolong diletakkan di atas mulut korban dan udara dihembuskan 8.7. diperiksa apakah terdapat salah satu atau . 9. Jika dada korban tidak menggembung. Kejadian ini akan merentangkan leher korban dan membuka saluran nafas 7. 4. Nafas ditarik dalam-dalam (lebih kurang 2 kali nafas normal) mulut dibuka lebarlebar. Prosedur pertolongan pertama gawat darurat yang memadukan teknik nafas buatan dan teknik sirkulasi buatan dianggap tindakan penyadaran jantungparu yang paling baik. Prosedur teknik nafas buatan mulut 1. Penolong berlutut di samping korban 3. Kemudian ditentukan perlu tidaknya pijat jantung eksternal. Dalam hal ini selalu dimulai nafas buatan mulut terlebih dahulu. Pada patah tulang terbuka atau tulang kelihatan. Perlu diingatkan bahwa semua alat pertolongan tersebut harus kering dan jangan sentuh korban dengan tangan telanjang atau logam. Tangan lainnya diletakkan pada jidat korban sedemikian rupa sehingga jempol dan telunjuk dapat menutup hidung 6. 3. dan teknik penyadaran yang baik untuk sirkulasi buatan yang baik adalah pijat jantung eksternal. Korban dibebaskan dari aliran listrik dengan jalan memutuskan saklar yang langsung mengalirkan aliran listrik tersebut. kanan kiri batang leher yang patah dan kemudian dibalut. Salah satu penolong diletakkan di bawah leher dengan posisi menyangga 5. Korban dibaringkan terlentang 2. 18 – 20 kali untuk bayi dan anak – anak. Diulangi sampai 12 – 14 kali tiap menit untuk orang dewasa. Penolong menahan hingga dada korban menggembung. maka mula-mula tempat tulang yang keluar ditutup dengan perban steril kemudian dibalut. Setelah itu dipasang spalk seperti prosedur di atas. Mulut dan saluran nafas dibersihkan dari benda asing seperti permen karet. Segera setelah itu mulut penolong diangkat dari mulut korban dan hembusan dari korban dibiarkan berakhir dengan sendirinya.

muntahan. dalam hal ini jika pupil mata terbuka lebar dan tidak berkerut jika terkena cahaya. mulut korban ditutup. Jika penolong ragu-ragu meletakkan mulutnya di atas mulut korban. dalam hal ini jari dimasukkan ke dalam mulut korban dan benda asing. maka aliran darah ke otak tidak mencukupi. Tetapi. Pernafasan mulut-hidung dapat dilakukan dengan teknik sama kecuali tentunya. Siklus ini diulangi 60-80 kali tiap menit untuk orang dewasa. Pijat jantung eksternal Setelah pernafasan mulut ke mulut dilakukan dengan 5 – 6 nafas cepat. periksa untuk mengetahui apakah pijat jantung eksternal harus dimulai. Tekanan ini kemudian dilepas cepat-cepat. Sering kali denyut jantung dieriksa untuk mengetahui apakah jantung sudah mulai . 80-100 kali tiap menit untuk anak-anak. 12. Pada anak-anak dan bayi jumlah udara yang diperlukan lebih sedikit. Sumbatan saluran nafas korban. dalam hal ini kemungkinan letak mulut penolong tidak rapat pada mulut atau hidung korban. Jika dada masih tidak mampu menggembung.lebih keadaan berikut ini dan harus diperbaiki. dalam hal ini yang paling baik adalah denyut nadi karotid pada leher.. 11. Dada anak-anak tidak sekuat itu dan pijat jantung eksterna pada bayi dapat dikerjakan dengan dua jari sedangkan pada anak-anak lebih tua hingga hingga usia 10 biasanya satu tanganpun sudah mencukupi. Jari harus tetap jauh dari rusuk untuk menghindarkan patah. sedangkan mulut penolong diletakkan rapat di atas hidung korban 13. hendaknya mulut penolong segera diangkat setelah dada korban mengembung. yakni. Tulang dada ditekan ke arah tulang belakang dengan menekan tangan ke bawah menggunakan bobot bagian tubuh sebelah atas. sehingga udara bocor ke samping. pijat jantung eksternal dimulai. Tulang dada harus bergerak 3. Jika tidak terdapat denyut nadi atau pupil mata terbuka lebar dan tidak berkerut. ditahan pada kedudukan ini sambil diteruskan melakukan pernafasan buatan. Dilakukan penekanan pada atas tulang dada. Umumnya penyegaran pernafasan mulut ke mulut akan cukup menyebabkan pergerakan kembali jantung. dalam hal ini hanya diperlukan jika jantung berhenti.75 cm – 5 cm pada orang dewasa. Kebocoran udara. jempol dimasukkan ke dalam mulut dan rahang bawah dicengkeram diantara jempol dan jari dan rahang diangkat ke atas. Pada bayi jumlah udara yang tertahan dalam dada penolong dapat mencukupi. Telapak salah satu tangan diletakkan pada tulang dada sepertiga lebih rendah (tanda “X” pada gambar 11) dan tangan lainnya di atas nadi. dan bekuan darah dikeluarkan. agar tidak terjadi kerusakan. tangan diangkat dari leher. pernafasan mulut ke mulut dengan memuaskan dapat dilakukan melalui sapu tangan. arteri besar yang terletak dekat permukaan sisi samping jakun kiri kanan Pupil mata diperiksa. Denyut nadi diperiksa.

Kursus singkat dan pelatihan ini sebaiknya dilakukan setiap setahun sekali baik bagi karyawan baru maupun karyawan lama (sebagai kursus penyegaran agar keterampilan tersebut tidak hilang) dan diorganisasikan oleh kepala satuan kerja yang ditunjuk dengan bantuan para dokter. Tujuan Dalam menangani keracunan. Agar tujuan tersebut dapat tercapai maka perlu diadakan kursus singkat dan pelatihan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).) 1 tube 1 botol 2 bungkus 1 rol 10 buah 10 tablet 10 tablet 2. Bisa ular mengandung enzim. Sistem Sistematik : Mual dan muntah Pusing dan berkunang-kunang karena tekanan darah turun. Isi kotak P3K yang minimum harus ada adalah : Salep luka bakar 10 g Mercurochroom 25 ml Pembalut 25 g (bungkus plastik) Plester 0. 2. ANTIDOTUM a. f. disamping dilakukan berbagai tindakan. Kulit di tempat gigitan tersebut berwarna merah. protein non-ensimatik dan zat-zat lain seperti asetilkolin dan shidroksi-triptamin. Diare dsb. hanya sekitar 250 spesies yang berbisa. Kadang-kadang disertai kelumpuhan otot-otot pernafasan dan akhirnya pingsan atau meninggal dunia. diberikan terapi antidotum. Kotak P3K ditempatkan di setiap tempat yang telah ditentukan. B. Gejala-gejala akibat gigitan ular berbisa : 1. Gigitan ular berbisa Dari lebih dari 2000 spesies ular di dunia. dapat terjadi kematian jaringan. Oleh karena itu setiap karyawan wajib membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan untuk keperluan itu. Efek lokal : Ular berbisa meninggalkan dua atau kadang-kadang satu tanda gigitan ular taring yang khas. sukar bicara dan sukar menelan sebagai akibat kelumpuhan otot-otot badan. Beratnya efek toksik dari gigitan ular tergantung kepada jenis dan jumlah bisa yang digigitkan. Kotak P3K 1. Kelemahan otot.5 inci Band aid Refagan/Aspirin Obat anti diare (Entrostop. . bengkak dan sakit. Pendidikan dan latihan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan adalah tindakan yang semestinya dapat dikerjakan oleh setiap orang. Setelah beberapa hari. sehingga kulitnya berubah menjadi kehitam-hitaman disertai nyeri yang sangat. Maksud pemberian antidotum ini adalah mengakhiri sentuhan racun atau menetralkan efek racun.bergerak kembali. sedangkan gigitan ular tak berbisa meninggalkan tanda gigitan satu gigi yang berbentuk setengah lingkaran.

2. pada kasus-kasus keracunan bahan korosif kuat dan pada korban keracunan destilat minyak bumi. Zat perangsang muntah (emetikum) adalah zat yang kerjanya merangsang pusat muntah pada batang otak. bahan penyerap racun. Definisi Antidotum adalah suatu zat atau bahan yang berfungsi menetralkan efek racun. Panduan Bahan Berbahaya. Daftar Antidotum Umum Sub kelas Jenis Tujuan Penggunaan Dosis Suntikan bawah kulit 0. 25 IAEA. Antidotum untuk logam yang paling efektif jika diberikan segera setelah terjadi keracunan logam berat atau sejenisnya. Untuk menghalangi serapan kembali Natrium bikarbonat . Emetikum tidak boleh diberikan pada korban-korban yang tidak sadar (pingsan).1 mg/kg BB disertai minum air 200-300 ml Oral : dewasa 20 ml diikuti 200-300 ml pemberian dapat diulangi 1x setelah 20 menit. Sirup ipeka Rangsangan muntah terutama untuk anakanak Zat penyerap Karbon aktif Penyerap racun Zat pengasam kemih Zat pengakalis Amonium klorida Untuk menghalangi serapan kembali basa organik. Oral : 30-100 gr dalam 250 ml air. Antidotum Spesifik adalah antidotum yang penggunaanya hanya sesuai untuk penawar racun spesific yang sesuai. Bahan Acuan 1. Petunjuk Umum Tabel 8. shock. Apomorfin Rangsangan muntah Emetikum 2. Manual of Early Medical Treatment of Possible Radiation SS No. c. sedangkan yang pemberiannya lewat injeksi harus dilakukan oleh dokter. Dosis disesuaikan dengan monitor pH kemih Oral : dewasa 1-4 x sehari.b. diberikan 4-6 x sehari. zat pengasam dan pengakalis air kemih. Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1985). 300mg- 1. oleh tubulus ginjal. Edisi I. dapat diulangi jika dikehendaki Oral : dewasa 1 gr2gr. termasuk senyawa uranium. Efektifitasnya meningkat bila diberikan bersamaan dengan pemberian air sebanyak 200-300 ml. d. Ruang Lingkup Pedoman ini dibuat untuk awam. Antidotum Umum terdiri dari bahan/zat perangsang muntah. e.

8gr diberikan sebelum makan. Menentukan apakah seseorang boleh bekerja sebagai pekerja radiasi atau tidak. Mengetahui kondisi kesehatan pekerja radiasi baik sebelum.55mg/kg BB diberikan suntikan intramuskulair. Daftar Antidotum Spesifik Sub kelas Jenis Kalsium dinartrium edetat Tujuan Penggunaan Selatisasi logam berat beracun atau sejenisnya terutama. Spesifik Tabel 9. Yaitu. kita-kira 2. b. Intravena : 2-5 mEq/kg BB. Dimercaprol Selatisasi logam berat beracun terutama Arsen Emas dan Air raksa. Dosis diatur secara individual sesuai dengan respon. selama maupun sesudah masa kerja. C. 2. PEMERIKSAAN KESEHATAN a. tergantung respon. Suntikan intramuskulair 1 gr diikuti dengan dosis tiap 4 jam 500 mg. Deferoksaminamesilat Antagonis logam berat Selatisasi logam berat beracun terutama besi. Ruang Lingkup Pemeriksaan Kesehatan pekerja radiasi bertujuan untuk : 1. 3. 4.5 gr/m permukaan tubuh dibagi dalam 2 dosis. Pemeriksaan kesehatan ini dibedakan menjadi Pemeriksaan kesehatan sebelum masa kerja. pemeriksaan kesehatan selama masa .Sub kelas Jenis Tujuan Penggunaan asam organik oleh tubulus ginjal. Dosis disesuaikan dengan monitor pH kemih. Menyesuaikan penempatan pekerja dengan kondisi kesehatannya. Dosis 1. Untuk mengetahui apakah penyakit yang diderita oleh pekerja akibat kerja atau bukan. Dosis Suntik : Intravena dewasa : 1.

83.kerja. Pemeriksaan Medik meliputi : 1. dan pemeriksaan kesehatan setelah masa kerja. IAEA. Pemeriksaan Gigi. 5. 2. Riwayat Pekerjaan. 25. 4. Pemeriksaan Medik . 6. Radiation Protection in Occupational Health. mulut/tenggorokan dan audiometri. Pemeriksaan Mata : Pemeriksaan mata meliputi visus. VIENNA. 3. IAEA. Latar Belakang Keluarga. 2.115 IAEA. 3. kelainan refraksi dan ishihara (buta warna). Safety Series No. tekanan darah/tensi. Pelaksana Pemeriksaan Kesehatan berkala dilaksanakan oleh SubBid Pelayanan kesehatan dan dikoordinasi oleh Bidang K2 2. 1968. hidung. Penanggung jawab Pemeriksaan Kesehatan : 1.Bidang K2 . Bahan Acuan 1. Petunjuk Jenis pemeriksaan Anamnesa : Pemeriksaan anamnesa dilaksanakan dengan menggunakan formulir khusus yang diisi dan ditanda tangani oleh karyawan yang diperiksa kesehatannya dan dokter pemeriksa. 1987. Riwayat Kesehatan. c. BSS No. Pemeriksaan laboratorium : Pemeriksaan laboratorium ini meliputi pemeriksaan darah lengkap dan urine. Pemeriksaan umum meliputi pencatatan data anthropometrik (tinggi dan berat badan. 2003 d. 3. Hasil pemeriksaan kesehatan karyawan disimpan oleh SubBid Pelayanan kesehatan . VIENNA. paru-paru. Medical Supervision of Radiation Worker. Pemeriksaan THT. Pemeriksaan Anamnesa meliputi : 1. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan telinga. 2. Frekuensi Pemeriksaan Kesehatan Pemeriksaan Kesehatan secara lengkap dilakukan secara berkala sekurangkurangnya satu kali dalam setahun. Safety Series No. hati limpa dan anggota gerak. VIENNA. fungsi organ seperti jantung. Pemeriksaan Sistim kardiovaskular : Pemeriksaan ini meliputi elektrokardiogram (EKG) pada keadaan istirahat.

yang dapat menyebabkan kerugian material ataupun penderitaan bagi yang ditimpanya. Bahan Acuan 1. Alat penyelamat adalah alat yang digunakan untuk menyelamatkan orang. Setiap pengunjung (kontraktor. Penyimpanan. Kecelakaan adalah suatu kejadian yang mendadak. Setiap barang yang dibawa seseorang atau diangkut dengan kendaraan harus dilaporkan dengan singkat dan jelas tentang sifat dan kondisi barang tersebut kepada petugas PAM yang berjaga untuk antisipasi dalam cara pengangkutan dan penyimpanannya di dalam kawasan. 3.BAB IX TATA TERTIB DI KAWASAN PTNBR ____________________________________________________________ a. 3. perlakuan dan pengawasan terhadap benda-benda kimia berbahaya mengikuti ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Bahan Kimia. dan tamu) yang akan memasuki kawasan PTNBR harus melaporkan terlebih dahulu ke pos penjagaan dan wajib mengikuti peraturan yang berlaku selama berada di dalam kawasan PTNBR. konsentrasi dan kondisi dari sesuatu yang dapat menimbulkan bahaya atau kecelakaan. . kerusakan dan kemusnahan. 2. c. Alat deteksi adalah alat yang digunakan untuk mengetahui macam/jenis bahan. Petunjuk umum Tata Tertib Lalu Lintas Orang (Karyawan & Tamu) 1. 2. b. mahasiswa. penggunaan. 2. tidak terkendali. sarana dan prasarana kerja dari kecelakaan. tidak direncanakan. Keputusan Direktur Jenderal BATAN tentang Klasifikasi Kerahasiaan dan Pengamanan Bahan Keterangan. Petunjuk keamanan dan ketertiban di lingkungan Badan Tenaga Nuklir Nasional. Pengelolaan keselamatan dan keamanan kegiatan nuklir RSG-LP. Definisi 1. tidak dikehendaki. Tata Tertib Lalu Lintas Kendaraan dan Barang 1.

e. Setiap kerusakan alat pelindung diri. alat pelindung yang jenisnya seperti yang termuat dalam daftar di bawah ini harus digunakan: . 2.Sc. Setiap karyawan harus mengembalikan dan menempatkan pakaian kerja dan alat pelindung diri pada tempat yang ditentukan. Tujuan Pemakaian alat pelindung diri pada waktu bekerja atau memasuki suatu tempat kerja bertujuan untuk melindungi setiap karyawan dari berbagai bahaya yang dapat menimpa dirinya dan/atau mengganggu pelaksanaan pekerjaanya. Setiap karyawan berkewajiban merawat dan memelihara alat pelindung diri yang diterimanya agar selalu dalam keadaan baik dan bersih.M. Petunjuk 1. Setiap karyawan dalam melakukan pekerjaan yang berbahaya atau memasuki tempat kerja yang berbahaya baik terhadap kesehatan maupun keselamatannya harus memakai alat-alat pelindung diri yang sesuai dengan jenis pekerjaannya dan tingkat bahaya yang dihadapinya. Tia Setiawan. Sumakmur P.. Jenis-Jenis Alat Pelindung Diri Untuk melindungi diri dari berbagai macam bahaya.Sc. 3.. Sumakmur P. Ruang Lingkup Pedoman umum tentang peralatan kerja dan alat pelindung diri adalah pedoman keselamatan dan kesehatan kerja yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan dalam hal penanganan dan penggunaan pakaian dan peralatan pelindung dari bahaya kecelakaan kerja yang ada di PTNBR BATAN Bandung c. Dr. Soemanto Imamkhasani.M. Herry Soetopo 4.BAB X PAKAIAN KERJA DAN ALAT PELINDUNG DIRI ____________________________________________________________ a. PhD Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja Alat-Alat Perlengkapan Keselamatan Kerja Keselamatan Kerja dan Tata Laksana Bengkel Buku Pedoman Keselamatan Kerja Bidang Kimia d. haruslah segera dilaporkan kepada Bidang K2 atau atasan langsungnya guna perbaikan atau mendapatkan penggantian dengan alat-alat pelindung diri yang baru. 3.K. 2. Dr. b.K. Harun 5. 4. Bahan Acuan 1.

Muka Jari. . Respirator/masker khusus. Goggle. lengan. Pelindung khusus dari plastik atau karet. logam. kaki. kaca mata sisi kanan kiri tertutup. Jaket atau jas kulit Pelindung dari kulit. Tidak mengancam jiwa secara langsung : gas masker biasa. Goggles. Helm plastik berlapis asbes. Bagian tubuh yang perlu dilindungi Kepala. Jari. Mata-kaki. plastik atau kayu. Sepatu steelbox toe. mata kaki. Goggle. kulit. dsb. Mata. tungkai. Betis. betis. Sarung tangan asbes berlengan panjang. karet berlengan panjang dan anggota-anggota badan itu diolesi dengan barrier cream. Muka. tungkai Mata-kaki. Jaket asbes/kulit. kaki. Alat pernafasan. tangan. lengan Betis.Tabel 10. Alat-alat proteksi diri Tungkai logam atau plastik lapisan pelindung (decker) dari kain. berlapis logam dan tahan api. Sepatu karet. tungkai. Sepatu yang kondusif (yang menyalurkan aliran listrik) Penutup kepala plastik Goggles Penutup dari plastic Respirator khusus tahan kimiawi Sarung plastik/karet Pakaian plastik/karet. tungkai Pergelangan kaki. dan jari kaki. Jika mengancam jiwa: gas masker khusus dengan filter. lengan Tubuh Betis. plastik/bahan lain yang tahan kimiawi. Mata-kaki. tangan. Tubuh. Kepala Mata Muka Alat pernafasan Jari. Pelindung dari plastik/karet. Sepatu kulit. kaki. Tubuh Betis. lengan. kaca mata. Penutup muka dari plastik. tangan. Tubuh. Kepala Kepala Mata Benda-benda beterbangan. Pelindung dari asbes. Pakaian karet. Penutup muka dari plastik. tungkai. Sarung plastik. kaki Cairan dan bahanbahan kimia. fumes. Jenis Alat Pelindung Diri Faktor bahaya Tertimpa atau terantuk benda berat dan keras Tertimpa benda sedang & tidak berat. Mata Debu Muka Alat pernafasan Kepala Mata Muka Jari. Penutup muka khusus. Percikan api atau logam. tangan. asap. Gas. Helm kerja Helm kerja Goggle (=Kacamata yang menutupi seluruh samping mata) Tameng plastic Sarung tangan kulit berlengan panjang.

kaki Kepala Muka Dermatis. karet. tangan. lengan. lengan Tubuh Betis. Kepala Jari. Penutup kepala khusus. Sinar silau. Mata-kaki. Sarung. plastic Penutup karet. Muka Tubuh Kaki Kepala Penyinaran sedang Mata Muka Kepala Penyinaran kuat.000 volt selama 3 menit. pakaian. kacamata dengan filter lensa. tangan. Basah dan air Tangan. Mesin-mesin. muka Telinga Terpeleset. Pelindung yang bahayanya dari karet Penutup kepala Sarung tangan tahan api Jaket dari karet Celana tahan api atau decker. tungkai. Kaki. Goggle dengan lensa tahan sinar infra merah Penutup kepala plastik. Goggle. Sun block. lengan Tubuh Betis. atau radang kulit Jari. Sepatu dengan sol berisolator / bahan tahan panas. Penutup kepala khusus. tangan. sarung tangan karet. karet berlengan panjang. kaki. Sepatu karet. Tubuh. zool kayu. tungkai. Earmuff Panas Kaki Mata Kepala. Kepala Jari. Pelindung muka khusus. matakaki. kaki Kepala Jari. Goggle. tangan. Sepatu dilapisi baja. lengan Terpotong. zool kayu Penutup kepala plastik. pelindung dari asbes atau bahan lain yang tahan panas/api. Goggle. mata kaki Mata Mata Percikan api dan silau pada pengelasan. jatuh Listrik. Goggle dengan filter khusus dari logam/plastik. kacamata filter khusus. Jaket tahan api (asbes) atau kulit. Sarung tangan plastik. . Penutup muka dengan kacamata filter khusus. jari. lengan. betis. tungkai. kacamata dengan filter khusus. plastik. Sarung tangan karet tahan sampai 10. berlengan panjang Jaket kulit Celana kulit dengan decker pada lutut dan pergelangan kaki Sepatu dilapisi baja. Penutup kepala plastik Sun block. pelindung plastik. Kaki. Tubuh. tergosok Tubuh Betis. tungkai. dilapisi logam. Pakaian khusus Sepatu boot karet Sepatu anti slip Helm kerja (logam) Sarung tangan kulit. Kebisingan Mata. mata kaki.Faktor bahaya Bagian tubuh yang perlu dilindungi Kepala Lain-lain bagian Alat-alat proteksi diri Helm asbes.

(022) 2503997 Fax. Tamansari No.BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL PUSAT TEKNOLOGI NUKLIR BAHAN DAN RADIOMETRI Jl.(022) 250481 http://www.go.71 Telp.batan-bdg.id BANDUNG 40132 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->