HUBUNGAN ANTARA KINERJA MENJAHIT DENGAN SIKAP WIRASWASTA PADA KELOMPOK BELAJAR MENJAHIT DI KELURAHAN BONGSARI KECAMATAN SEMARANG

BARAT

SKRIPSI
Diajukan dalam rangka menyelesaikan studi Strata-1 untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan

Oleh Nama NIM Program Studi Jurusan : Sri Mulyani : 544400021 : PKK S1 Konsentrasi Tata Busana : Teknologi Jasa dan Produksi

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi pada : Hari Tanggal : :

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. Maonah Rahmadi NIP. 130219373

Dra. Uchiyah Achmad, M.Pd. NIP. 130604209

ii

PENGESAHAN KELULUSAN Skripsi dengan judul “HUBUNGAN ANTARA KINERJA MENJAHIT DENGAN SIKAP WIRASWASTA PADA KELOMPOK BELAJAR MENJAHIT DI KELURAHAN BONGSARI KECAMATAN SEMARANG BARAT” ini telah dipertahankan di dalam Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang pada : Hari Tanggal : Senin : 28 November 2005 Panitia Ujian :

Ketua

Sekretaris

Dra. Dyah Nurani Setyaningsih. M.Kes. NIP.1317664485

Dra. Erna Setyowati, M Pd. NIP. 131570062

Anggota Penguji 1. Dra. Hj. Hartatiati S. NIP. 130367994

2. Dra. Maonah Rahmadi NIP. 130219373

3. Dra. Uchiyah Achmad ,M.Pd NIP. 130604209

Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang

Prof. Dr. Soesanto NIP. 130875753

iii

5444000021 iv . bukan jiplakan dari karya tulis dari orang lain. Semarang. Oktober 2005 Sri Mulyani NIM.PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi atau tugas akhir ini benar-benar hasil karya sendiri. baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Almamater yang kubanggakan v . Bapak dan Ibu tercinta atas dukungan dan doanya 2. Teman-teman seperjuangan 4. Muslim) PERSEMBAHAN: Karya ini kupersembahkan kepada 1. Seluruh keluarga yang selalu mendoakanku 3.MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO : Barang siapa berjalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga (HR.

Ketua Jurusan Teknologi Jasa Produksi Fakultas Teknik UNNES 4. Semua pihak yang membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 6.Pd selaku pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan. Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Universitas Negeri Semarang. atas ijin yang telah diberikan kepada penulis dalam penelitian skripsi. Terselesaikannya skripsi ini tak lepas dari bantuan beberapa pihak. Kepala Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk mengadakan penelitian. Rektor Univeritas Negeri Semarang 2. M. Maonah Rahmadi dan Dra. sehingga skripsi ini dapat diselesaikan sesuai dengan rencana. vi . Dra. yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu. Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat: 1. 5.KATA PENGANTAR Puji syukur senantiasa penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya. pengarahan dalam penyusunan skripsi ini. 3. Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Uchiyah Achmad.

Amin.Semoga Allah SWT memberikan pahala yang setimpal atas segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua. 2005 Penulis (Sri Mulyani) vii . Semarang.

Pembimbing: 1.5884 yang signifikan pada taraf signifikansi 5%. Hasil analisis data menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0. 2. Dra. konveksi. Skripsi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kinerja menjahit dan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat. Uchiyah Achmad. viii . dan variabel terikatnya adalah sikap wiraswasta. warga belajar akan mempunyai kinerja menjahit yang lebih baik dan berwiraswasta menciptakan lapangan kerja baru di bidang jahit menjahit. M. Analisis data dilakukan dengan korelasi product moment. Sikap Wiraswasta Kelompok belajar menjahit diselenggarakan dengan tujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan pada bidang jahit menjahit kepada warga belajar.3800%. misalnya modiste.Pd. Disarankan warga belajar hendaknya selalu berusaha untuk meningkatkan kinerja menjahit serta memacu untuk meningkatkan kinerja dan sikap wiraswastanya dengan cara selalu mengikuti kelompok belajar dengan disiplin dan selalu mengerjakan tugas praktek yang diberikan tutor. sehingga disimpulkan ada hubungan antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat. Bagi pemerintah kelurahan dan tutor hendaknya selalu mendorong dan memfasilitasi warga masyarakat dengan menyediakan peralatan yang dibutuhkan dan membuka unit koperasi yang dapat menjual hasil karya kelompok belajar. Variabel bebas adalah kinerja menjahit. 2005. dengan harapan agar mereka mampu bekerja atau menciptakan lapangan kerja pada bidang jahit menjahit. Maonah Rahmadi.6200% terhadap sikap wiraswasta yang dimiliki oleh warga belajar. Analisa data dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan uji prasyarat normalitas karena penelitian ini bersifat parametrik. “Hubungan Antara Kinerja Menjahit Dengan Sikap Wiraswasta Pada Kelompok Belajar Menjahit Di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat”.ABSTRAK Sri Mulyani. sehingga warga masyarakat mempunyai jiwa wiraswasta yang baik. yaitu sebesar 65. dengan jumlah sampel 28 yang ditentukan dengan random sampling. Kata Kunci : Kinerja Menjahit. Dengan demikian masih ada faktor lain yang turut memberikan sumbangan terhadap sikap wiraswasta. setelah mengikuti kelompok belajar menjahit. Jurusan Teknologi Jasa Dan Produksi Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Faktor kinerja menjahit memberikan sumbangan sebesar 34. Dra. Penelitian ini dilakukan pada warga belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat. Manfaat yang diharapkan adalah memberi masukan kepada pemerintah Kelurahan Bongsari untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi seluruh warganya. Idealnya. tailor dan sebagainya.

.................. Permasalahan ........................................................................................................................ v KATA PENGANTAR .............................................. 9 BAB II.............................................. viii DAFTAR ISI...... 8 E.................................................................................................................................................................................................. iii PERNYATAAN................................................................................... Pengertian Kinerja.................................................................................................................................. 12 2............................................................................. LANDASAN TEORITIS DAN HIPOTESIS A.................................................................................... 5 D. 12 1.............................................................. vi SARI..................... 5 C.............................................................................. 13 ix ........................................................................................... PENDAHULUAN A............... 9 F................. xi DAFTAR GAMBAR ................... ix DAFTAR TABEL... 1 B...................................................................... iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................. ii PENGESAHAN KELULUSAN ........................................................................ Penegasan Istilah... Pengertian Menjahit .................................... Kinerja Menjahit ............................ Sistematika Skripsi..................................... i PERSETUJUAN PEMBIMBING.................................................................. Tujuan Penelitian ........DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL.............................................................................. Latar Belakang .. Manfaat Penelitian ......................................................................................................................................................................................................................... xiv BAB I............................ xii DAFTAR LAMPIRAN.........

........ Uji Coba Instrumen ........................................... 64 E........................... Unsur-unsur Sikap Wiraswasta . Teknik Analisis Data....... Analisis Tahap Akhir .................... Kerangka Berpikir.................... 89 x ........... Analisis Data ........... 86 DAFTAR PUSTAKA ........................ Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian ................................................................ 72 C............. Kinerja Menjahit pada Warga Belajar............................................................................................................................................................................ 76 1..............................................................................................................3................................................................................................. 78 D............. Hasil Penelitian ...................................................... 61 C................................... HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A...... 57 BAB III................................. 83 BAB V................................. 85 B........................................................................................ Uji Prasyarat Analisis .......................................... 87 LAMPIRAN............................................................................................... Keterbatasan Penelitian ....................... 58 B........................................ 46 3............................ Penyusunan Instrumen ............... 72 B................ Pengertian Wiraswasta ........ Sikap-sikap Wiraswasta .............................................................. 44 2.. Metode Pengumpulan Data ............ 14 B........... Sikap Wiraswasta ........................................ KESIMPULAN DAN SARAN A............. 44 1...................................... Penentuan Objek Penelitian ........................ 67 BAB IV.................... Kesimpulan . 55 D............ 48 C........................................... Hipotesis.......................................................................... 63 D.. METODOLOGI PENELITIAN A.............................................................. Saran............................................................................................................................................................................................... 76 2.............

................................... Interpretasi Tingkat Korelasi................. 72 Tabel 4....1. Daftar Distribusi Frekuensi Data Variabel Kinerja Menjahit .............. Deskripsi Data Hasil Penelitian ................ 73 Tabel 4..............2......... Kisi-Kisi Instrumen Penelitian............................................................. Statistik untuk Perhitungan Korelasi...DAFTAR TABEL Halaman Tabel 3.....2........3.............. 79 xi ... 75 Tabel 4..........1.....4........ 63 Tabel 3............. Daftar Distribusi Frekuensi Data Variabel Sikap Wiraswasta. 70 Tabel 4.............................

...........................................................................................................DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1 Mesin Jahit Lurus ................................................................................................................................................................ 24 Gambar 14 Alat Pemberi Tanda pada Kain ............................................ 16 Gambar 4 Cara Memasang Benang Pada Kumparan...................................................... 18 Gambar 7 Kepala Mesin ...... 15 Gambar 2 Memasang Jarum Mesin ................................................................................................................. 34 Gambar 20 Penyelesaian dengan Rompok............ 21 Gambar 11 Cara meminyaki Bagian Kaki dan Bagian Bawah Mesin ................. 34 Gambar 19 Penyelesaian dengan Serip ........................................................................ 15 Gambar 3 Memasang Benang Atas........... 20 Gambar 10 Cara Meminyaki Bagian Atas ....................................................................................... 21 Gambar 12 Mesin Obras ........................................................................ 22 Gambar 13 Alat membuat Pola .............................................................................. 35 Gambar 21 Saku Tempel................................. 25 Gambar 15 Bentuk Gunting untuk Berbagai Jenis Bahan ..................................................................................... 27 Gambar 17 Cara Mengukur.......................................................... 19 Gambar 9 Cara Meminyaki Mesin Bagian Kepala ..... 26 Gambar 16 Alat Tambahan dalam Menjahit....................... 29 Gambar 18 Penyelesaian dengan Depun...................................................................................................................... 18 Gambar 8 Setikan untuk Kerutan.................. 17 Gambar 5 Memasukkan Kumparan pada Rumah Kumparan ...... 36 xii ................................................................................................ 17 Gambar 6 Menaikkan Benang Bawah ` ..............................................

.. 38 Gambar 27 Setikan Penguat ..................................................... 39 Gambar 29 Kampuh Pipih.............................................................. 39 Gambar 28 Kampuh Buka ..................... 43 Gambar 36 Belahan Tutup Tarik............................................................................................................................................................ 41 Gambar 33 Penyelesaian dengan Obras....................................................... 40 Gambar 30 Kampuh Tutup........................................................................................... 44 Gambar 4........................ 81 Gambar 4. 38 Gambar 26 Setikan Lengkung...................................................................................... 37 Gambar 24 Setikan Lurus ............................................................................... 37 Gambar 25 Setikan Jelujur .................... 40 Gambar 31 Kampuh Balik ........... 74 Gambar 4..................................................................... 41 Gambar 34 Belahan Lapisan Sama ..............................................................................................1 Diagram Dstribusi Frekuensi Kinerja Menjahit ........... 36 Gambar 23 Tusuk Jelujur .... 76 Gambar 4................................................................... 40 Gambar 32 Penyelesaian dengan Setik ..........................Gambar 22 Saku Dalam ..............................................................................4 Diagram Sumbangan Kinerja Menjahit terhadap Sikap Wiraseasta ..................................................................... 42 Gambar 35 Belahan Amerika..............................................................................2 Diagram Distribusi Frekuensi Sikap Wiraswasta ........................................................................................................................3 Bagan Pengujian t hitung ........... 82 xiii ........................................

......... Contoh Perhitungan Uji Normalitas Kinerja Menjahit . Gambar Pola Sistem Alwine ............ Uji Normalitas Sebaran Data Variabel Kinerja Menjahit ... Contoh Perhitungan Uji Normalitas Sikap Wiraswasta . 104 Pedoman Penilaian Kinerja Menjahit Setelah Uji Coba ................. 105 Instrumen Sikap Wiraswasta Setelah Uji Coba ......... 108 Lampiran 1.... 117 Lampiran 16.... Data Induk Hasil Penelitian Kinerja Menjahit .............................................. Lampiran 8........... 89 Pedoman Penilaian Kinerja Menjahit Sebelum Uji Coba ....... Analisis Hasil Uji Coba Instrumen Sikap Wiraswasta..... Uji Normalitas Sebaran Data Variabel Sikap Wiraswasta..... Data Induk Hasil Penelitian Sikap Wiraswasta... 137 xiv ............... Lampiran 2................... Lampiran 10.. Lampiran 5................................ 135 Lampiran 20..DAFTAR LAMPIRAN Halaman Kisi-kisi Instrumen Penelitian........................... 100 Lampiran 6..................... 113 Lampiran 12........................ 92 Instrumen Sikap Wiraswasta Sebelum Uji Coba ... 136 Lampiran 21............................................. 95 Analisis Hasil Uji Coba Instrumen Kinerja Menjahit .............................................. Lampiran 4.............. 133 Lampiran 19.................................................................. 99 Contoh Perhitungan Validitas Hasil Uji Coba Instrumen Kinerja Menjahit ..... 125 Lampiran 18................. 116 Lampiran 15....................... Tabel Harga kritik dari r Product Moment................ Contoh Perhitungan Reliabilitas hasil Uji coba instrumen Kinerja Menjahit ......... 112 Lampiran 11. Pengujian Korelasi Kinerja Menjahit dan Sikap Wiraswasta .... Rekapitulasi Data Induk.............. Tabel Bantuan Pengolahan Data Induk Penelitian.............. 115 Lampiran 14............. Daftar Tabel Distribusi t...... 124 Lampiran 17..................... Lampiran 3..... 101 Lampiran 7............................................................................. Lampiran 9.... 114 Lampiran 13.........................

penyelenggaraan pendidikan luar sekolah lebih menekankan pada pemberian bekal kepada warga belajar agar mereka mampu menghidupi dirinya sendiri (Pidarta. Salah satu contoh dari pendidikan luar sekolah 1 . berkepribadian unggul. yaitu manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.1997:22). warga belajar akan mempunyai sumber penghidupan yang layak bagi dirinya dan atau keluarganya. disiplin. berpikir maju. penyelenggaraan pendidikan luar sekolah berperan penting dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional.BAB I PENDAHULUAN A. berbudi pekerti luhur. Berbeda dari pendidikan jalur sekolah. berdisiplin. Apabila dicermati maka dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan dilihat dari sektor bidang usaha. Latar Belakang Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu usaha sadar untuk membentuk manusia Indonesia yang berkualitas. Sebagai salah satu sub sistem dari sistem pendidikan nasional. tangguh. profesional. beretos kerja tinggi. Pendidikan luar sekolah diselenggarakan dengan maksud untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan yang berorientasi pada bidang kerja tertentu. bertanggung jawab dan produktif. bertanggung jawab dan produktif. kreatif. cerdas. adalah untuk mengembangkan kemampuan warga belajar sehingga mempunyai keterampilan. Hal ini berarti bahwa dengan adanya pendidikan luar sekolah. profesional. terampil. mempunyai etos kerja tinggi. jujur. mandiri.

Kelompok belajar merupakan kumpulan warga yang belajar dan berusaha mempelajari sesuatu bidang ilmu pengetahuan atau keterampilan pada waktu dan tempat yang telah ditentukan (Depdikbud. tailor dan sebagainya. kelompok belajar menjahit yang ada di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat diselenggarakan oleh pemerintah kelurahan dibantu dari pihak luar yaitu Lembaga Sosial Masyarakat Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata (LSM Soegijapranata). konveksi. Kurikulum pelatihan yang .1996:5).2 yang ada di masyarakat adalah kursus atau kelompok belajar menjahit. Bagi warga masyarakat yang belum memiliki pekerjaan atau sedang mencari pekerjaan namun tidak memiliki keterampilan khusus. Sedangkan bagi warga masyarakat yang sudah mempunyai bakat atau kemampuan menjahit. keberadaan kelompok belajar menjahit dapat dijadikan sebagai tempat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. dengan harapan agar mereka mampu bekerja atau menciptakan lapangan kerja pada bidang jahit menjahit. Kelompok belajar menjahit ini diselenggarakan dengan tujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan pada bidang jahit menjahit kepada warga belajar. misalnya modiste. sehingga bakat yang dimilikinya dapat diasah dan dikembangkan secara lebih terarah. Biaya kursus sepenuhnya dibebankan oleh LSM tersebut. Berdasarkan hasil observasi awal peneliti. sehingga masyarakat yang ikut tidak dipungut biaya apapun. keberadaan kelompok belajar menjahit akan sangat membantu sebagai tempat untuk menimba ilmu menjahit untuk dijadikan modal keterampilan dalam mencari lapangan pekerjaan.

Hal ini merupakan kebijakan pemerintah kelurahan dengan harapan agar banyak warga masyarakat yang ikut prgoram tersebut. Modal usaha dan peralatan yang diberikan oleh LSM tersebut pada dasarnya merupakan pinjaman lunak. dengan harapan agar kualitas kursus yang diselenggarakan tidak kalah dengan kursus menjahit yang lain. yaitu hari Kamis dan Minggu. karena modal tersebut dapat dikembalikan jika warga belajar telah mampu untuk mengembalikan dan tidak disertai dengan bunga pinjaman. Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (Mangkunegoro. mesin obras dan bahan-bahan pendukung lainnya. setelah mengikuti kelompok belajar menjahit. Selain itu juga disediakan pula peralatan latihan seperti mesin jahit. juga memberikan dana atau modal usaha yang dapat digunakan oleh warga belajar yang ingin membuka usaha pada bidang jahit menjahit. Pertemuan kelompok belajar diselenggarakan sebanyak 2 kali seminggu. Idealnya. bertempat di Balai Pertemuan Warga RW 4. warga belajar akan mempunyai kinerja menjahit yang lebih baik dan dapat menciptakan lapangan kerja baru.2000:69). Pemberian materi menjahit diasuh oleh Pimpinan Modiste Alwine Semarang. Warga masyarakat yang ingin menjadi warga belajar di kelompok belajar menjahit tidak dibatasi umur dan jenis kelamin. LSM selain mengundang tutor. Kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari diikuti oleh 30 warga belajar dari lingkungan Bongsari. Dalam pelaksanaannya.3 diberikan disamakan dengan kurikulum yang ada pada kursus menjahit di luar. Namun .

4 demikian. Fenomena tersebut menandakan bahwa warga belajar kurang memiliki motivasi yang tinggi untuk menguasai bidang jahit menjahit. Kondisi ini menunjukkan bahwa mereka kurang mempunyai sikap berwiraswasta dalam bidang jahit menjahit. Hal ini jelas berdampak pada rendahnya kedisiplinan dan juga rasa tanggung jawab mereka yang merupakan ciri dari . setelah selesai mengikuti kelompok belajar menjahit. Berdasarkan hasil wawancara dengan tutor kelompok belajar menjahit di Bongsari. dan bahkan lebih disayangkan lagi bahwa pekerjaan mereka banyak yang tidak sesuai dengan bidang jahit menjahit. banyak warga belajar yang masih bekerja pada orang lain. Sikap wiraswasta dapat diartikan sebagai kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis. Warga belajar yang kurang berhasil dalam bidang menjahit tersebut pada umumnya kurang mempunyai minat dalam mengikuti kursus menjahit.1998:2). kinerja menjahit yang ditunjukkan oleh warga belajar dapat dikatakan masih kurang ideal. Hal ini muncul sebagai akibat dari tidak adanya perhatian dan penjaringan minat. dalam pelaksanaannya di lapangan. guna memastikan sukses (Suharto. Meskipun sudah diberikan bantuan modal untuk membuka usaha jahit. mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan dari padanya dan mengambil tindakan tepat. pada saat penerimaan warga belajar. Hal ini dapat dilihat dari tingkat absensi warga belajar yang mencapai 5% pada setiap kali pertemuan. namun kurang dimanfaatkan oleh warga belajar secara optimal.

Penegasan Istilah Penegasan istilah dibuat dengan tujuan untuk menghindari kesalahan penafsiran tentang judul yang diajukan sehingga tidak menimbulkan . Permasalahan Masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Seberapa besar hubungan antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat? C. Adakah hubungan antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat? 2. kinerja menjahit dan sikap wiraswasta pada bidang jahit menjahit menjadi fokus yang menarik minat peneliti untuk mengkaji lebih dalam tentang ada tidaknya hubungan antara kinerja menjahit yang dimiliki oleh warga belajar dengan sikap wiraswasta bidang jahit menjahit. Berdasarkan uraian di atas.5 sikap wiraswasta. Dengan demikian dapat dipahami adanya hubungan antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada warga belajar. Pengkajian tersebut akan dilaksanakan dalam penelitian skripsi berjudul “Hubungan antara Kinerja Menjahit dengan Sikap Wiraswasta pada Kelompok Belajar Menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat”. B.

2000:771). (Poerwodarminto. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan hubungan adalah jalinan interaksi antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat. lebih efisien dengan usaha yang lebih sedikit. Kinerja Menjahit a. Kinerja Kinerja adalah kemampuan bekerja. kontak. Kinerja dalam penelitian ini . Hubungan Hubungan adalah komponen dalam suatu sistem yang saling berhubungan dan saling membutuhkan. 2. atau dapat pula diartikan bahwa hubungan adalah keadaan berhubungan. kemampuan mengerjakan suatu karya atau dapat diartikan sebagai kemampuan untuk berusaha (Peorwodarminto. Beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.6 pengertian yang berbeda. jalinan yang terwujud karena interaksi antara satuan-satuan yang aktif. ikatan. lebih cepat.2000:314).2000:69). Pengertian lain tentang kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seorang pegawai atau karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (Mangkunegoro. Wahjoetomo (1995:35) menyebutkan bahwa kinerja adalah keinginan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik.

2000:687). guna memastikan sukses (Suharto. 3. b. hakekat.2000:4).2002:162). sifat. Berdasarkan pengertian kinerja dan menjahit di atas.7 dimaksudkan kemampuan mengerjakan secara kualitas dan kuantitas yang dimiliki oleh warga belajar pada bidang jahit menjahit.1998:2). dapat dijelaskan bahwa kinerja menjahit dalam penelitian ini berarti kemampuan mengerjakan tugas. memindahkan garis pola. Wiraswasta adalah seseorang yang berkemamuan keras dalam melakukan kegiatan yang bermanfaat (bisnis) yang patut menjadi teladan hidup (Tarmudji. Wiraswasta dapat juga diartikan sebagai kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis. Menjahit adalah melekatkan (melepit. membuat pola. Menjahit. baik perbuatan sekarang maupun perbuatan dimasa yang akan datang (Ahmadi. Sikap Wiraswasta Sikap adalah suatu hal yang menentukan pandangan. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa sikap . memotong. merancang bahan. baik secara kualitas maupun kuantitas dalam hal pembuatan busana dari mengukur sampai penyelesaian. mengelim. menyambung/menjahit dan penyelesaian (Depdikbud. Pengertian lain tentang menjahit adalah proses pembuatan busana mulai dari mengukur.1991:5). menyambung) dengan jarum dan benang baik dengan mesin jahit atau dengan tangan (Poerwodarminto. mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan dari padanya dan mengambil tindakan tepat.

Pengertian lain kelompok belajar adalah pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah yang diadakan oleh masyarakat dengan tujuan untuk memberikan bekal pengetahuan atau keterampilan kerja bagi warga belajarnya (Pidarta. Kelompok Belajar Menjahit Kelompok belajar merupakan kumpulan warga yang belajar dan berusaha mempelajari sesuatu bidang ilmu pengetahuan atau keterampilan pada waktu dan tempat yang telah ditentukan (Depdikbud. pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat.1997:21). Dalam penelitian ini yang dimaksud kelompok belajar menjahit adalah kumpulan warga yang belajar untuk mempelajari bidang jahit menjahit.8 wiraswasta adalah pandangan seseorang dalam melihat dan menilai peluang-peluang bisnis dan mengatur sumber daya untuk mencapai keuntungan dan sukses.1996:18). 4. yang diselenggarakan oleh masyarakat sebagai salah satu bentuk lembaga pendidikan luar sekolah. Berdasarkan pengertian dari istilah-istilah tersebut di atas. dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan judul skripsi ini adalah jalinan interaksi antara kemampuan seorang warga belajar membuat busana baik secara kualitas maupun kuantitas dengan pandangannya terhadap peluangpeluang bisnis pada bidang jahit menjahit. .

9

D. Tujuan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat. 2. Untuk mengetahui seberapa besar hubungan kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat.

E. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat antara lain: 1. Memberikan masukan kepada pemerintahan di Kelurahan Bongsari untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi seluruh warganya, khususnya dibidang keterampilan untuk menambah penghasilan warga. 2. Memberikan informasi kepada pembaca tentang kinerja dan sikap wiraswasta yang dimiliki oleh warga belajar yang mengikuti kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat.

F. Sistematika Skripsi Secara garis besar skripsi ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu bagian awal, bagian inti dan bagian akhir skripsi. Bagian awal terdiri dari halaman judul, pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel dan daftar lampiran.

10

Bagian inti skripsi terdiri dari 5 bab yaitu: Bab 1, Pendahuluan. Pada bab ini peneliti akan menguraikan tentang latar belakang masalah, permasalahan, penegasan istilah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan skripsi. Bab 2, Landasan Teori. Landasan teori berisi tentang teori-teori yang berhubungan dengan masalah yang dibahas sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Beberapa teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tentang kinerja menjahit dan sikap wiraswasta. Pada bab ini juga diberikan hipotesis sebagai dugaan sementara atas masalah yang dikaji. Bab 3, Metodologi Penelitian. Pada bab ini diuraikan pendekatanpendekatan yang digunakan dalam penelitian yang meliputi penentuan objek penelitian, variabel penelitian, metode pengumpulan data, penyusunan instrumen, uji coba instrumen dan teknik analisis data. Bab 4, Hasil Penelitian dan Pembahasan. Bab ini berisi uraian tentang hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat. Bab 5, Kesimpulan dan Saran. Bab ini berisi tentang kesimpulan yang diperoleh dari hasil analisis dan pembahasan hasil penelitian, serta masukan atau saran dari peneliti untuk perbaikan terkait dengan tujuan penelitian. Bagian akhir skripsi berisi daftar pustaka dan lampiran. Daftar pustaka berisi daftar buku yang digunakan dalam penelitian. Lampiran berisi kelengkapan penyusunan skripsi dan hasil-hasil penelitian.

BAB II LANDASAN TEORI

Sumber daya manusia merupakan salah satu permasalahan pokok yang dihadapi oleh negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, dalam rangka membangun bangsa dan negaranya. Sehubungan dengan itu peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan hal yang sangat penting untuk mendapat perhatian, karena untuk mencapai tujuan pembangunan nasional diperlukan usaha berupa kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada upaya menggali dan memanfaatkan segala sumber daya yang ada. Permasalahan-permasalahan ini hendaknya tidak hanya menjadi perhatian atau tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat luas. Warga belajar seharusnya membekali diri dengan pendidikan dan ketrampilan hal ini dirasa sangat penting karena dalam melaksanakan pembangunan bagaimanapun melimpahnya kekayaan alam, tanpa adanya sumber daya manusia yang

berkualitas tinggi untuk mengolahnya maka akan sia-sia saja kekayaan alam tersebut. Dengan demikian dapat dipahami harus ada keseimbangan antara kualitas sumber daya manusia dan kekayaan alam untuk dikembangkan menjadi sesuatu yang berharga dalam pembangunan nasional. Untuk menuju sumber daya manusia yang berkualitas tinggi, perlu kiranya semua warga masyarakat yang belum terampil dapat memanfaatkan peluang-peluang yang diberikan oleh pemerintah dan lembaga sosial seperti peluang yang diberikan LSM Soegijapranata untuk mengikuti kelompok belajar menjahit.

11

Pengertian Kinerja Wahjoetomo (1995:35) menyebutkan bahwa kinerja adalah keinginan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. kemampuan mengerjakan suatu karya atau kemampuan untuk berusaha. bahkan sering . Pengertian ini memberikan gambaran bahwa kinerja seseorang lebih spesifik pada kemampuannya dalam mengerjakan tugas dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Kinerja Menjahit 1. Kinerja menjahit dapat dilihat dari kualitas dan juga kuantitas hasil kerjanya.2000:69). berkembang dan berubah. Pengertian ini memberikan pemahaman bahwa kinerja ditunjukkan oleh seseorang ketika orang tersebut sedang berusaha atau telah berusaha mengerjakan sesuatu.2004:43) menyebutkan bahwa kinerja adalah perilaku yang berhubungan dengan kerja seseorang. Dessler (dalam Pitoyo. lebih cepat. lebih efisien dengan usaha yang lebih sedikit. Pengertian lain tentang kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (Mangkunegoro. Hal ini memberikan arti bahwa kinerja masih terbatas pada keinginan berusaha dan belum terwujud dalam kegiatan yang nyata. Kebutuhan itu bermacam-macam. Kerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh seseorang untuk mencukupi kebutuhan. Pengertian yang lebih khusus diberikan oleh Peorwodarminto (2000:771) yang menyebutkan bahwa kinerja adalah kemampuan bekerja.12 A.

. memotong. Dari pengertian-pengertian kinerja di atas.2000:687). menyambung) dengan jarum dan benang baik dengan mesin jahit atau dengan tangan (Poerwodarminto. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa segala kegiatan yang berkaitan dengan kain dan benang dapat dikatakan sebagai kegiatan menjahit.1991:5). maka dapat dipahami bahwa yang dimaksud kinerja adalah perilaku kerja seseorang baik secara kualitas maupun kuantitas. mengelim. 2. dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.13 tidak disadari oleh pelakunya. Pengertian Menjahit Menjahit adalah melekatkan (melepit. Seseorang bekerja karena ada sesuatu yang hendak dicapai dan orang berharap bahwa aktivitas kerja yang dilakukan akan membawanya kepada suatu keadaan yang lebih memuaskan daripada keadaan sebelumnya. menyambung dan penyelesaian (Depdikbud. merancang bahan. membuat pola. memindahkan garis pola. Dengan demikian dapat dipahami bahwa menjahit merupakan kegiatan yang khusus berkaitan dengan usaha membuat busana dari mengukur sampai penyelesaian. Pengertian yang lebih khusus tentang menjahit adalah proses pembuatan busana mulai dari mengukur. Berdasarkan pengertian kinerja dan menjahit di atas. dapat dijelaskan bahwa kinerja menjahit adalah kemampuan kerja yang dimiliki seseorang dalam melakukan tugas pada bidang jahit menjahit.

1) Kemampuan mengenal mesin jahit lurus Kemampuan mengenal mesin jahit lurus meliputi pengertian. Pada kejar menjahit warga belajar berusaha membuat pakaian. Kemampuan Mengenal Alat Jahit Pokok Kemampuan mengenal alat jahit pokok adalah kemampuan warga belajar dalam mengenal. injakan untuk lebih jelasnya lihat pada gambar di bawah ini : . Macam-macam merk mesin jahit yaitu Buterfly. badan mesin penutup dasar mesin. untuk itu mereka harus memiliki kinerja menjahit yang meliputi : a. roda bawah. macam dan bagian mesin jahit lurus. Singer dan Standar. menggunakan dan merawat alat jahit pokok sewaktu mengikuti kelompok belajar menjahit. Menurut Radias Saleh (1991:22) pengertian alat jahit pokok adalah alat jahit yang penting dan utama contohnya mesin jahit lurus serta perlengkapannya dan mesin obras.14 3. Kinerja Menjahit Pada Warga Belajar Warga belajar merupakan warga yang mengikuti kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat. roda atas. Pengertian mesin jahit lurus yaitu mesin jahit yang menghasilkan setikan lurus. Bagian-bagian mesin jahit lurus yaitu permukaan dasar mesin.

Memasang Jarum Mesin . sekrup jepitan jarum dikendorkan dahulu. 1991:22) 2) Kemampuan menggunakan mesin jahit lurus Kemampuan menggunakan mesin jahit lurus adalah kemampuan mengusai teknik dasar menggunakan mesin jahit lurus yang meliputi : a) Memasang jarum mesin Cara memasang jarum adalah sebagai berikut. kemudian jarum dimasukkan setinggi-tingginya dengan pangkal jarum. yang bulat menghadap keluar dan sekrup dikencangkan kembali (Radias Saleh. 1991:23).15 Gambar 1 Mesin Jahit Lurus (Radias Saleh. Gambar 2.

Penekanan kumparan dilepas dan kumparan dikeluarkan.16 b) Memasang benang atas Benang atas dipasang dengan mengikuti langkah yang tertera pada gambar. ikuti nomor berikutnya dan terakhir benang dimasukkan ke dalam jarum. Memasang Benang Atas (Radias Saleh. Gambar 3. Benang yang berasal dari gulungan diteruskan ke nomor 1. . Kemudian ujung benang dimasukkan dalam lubang kecil kumparan agar benang tidak lepas. mulai dari nomor 1-8. 1991:23) c) Memasang benang pada kumparan Kumparan dimasukkan dalam sumbu yang terletak di bagian kanan mesin dan gulungan benang dipasang pada cantelan benang menurut gambar. Perhatikan agar isi benang pada kumparan jangan terlalu penuh. Setelah penekan kumparan dan isislah kumparan dengan menjalankan mesin.

1991:24) d) Memasukkan kumparan pada rumah kumparan Sisakan benang dari kumparan kira-kira 10 cm. kemudian masukkan kumparan ke dalam rumah kumparan. 1991:24) e) Menaikkan benang bawah Ujung benang atas dipegang dengan tangan kiri dan jangan ditarik. Roda mesin dijalankan sehingga jarum membuat satu . Selipkan sisa benang tadi melalui klep yang terdapat pada rumah kumparan dan tariklah ujung sisa benang tersebut. Gambar 5. Cara Memasang Benang Pada Kumparan (R Saleh. Selanjutnya masukkan rumah kumparan pada mesin. Memasukkan Kumparan pada Rumah Kumparan (Radias Saleh.17 Gambar 4.

Gambar 6. benang pengatur setikan di sebelah kanan mesin diturunkan ke bawah supaya setikan lebih panjang .1991:26) g) Menggatur setikan untuk membuat kerutan Untuk membuat kerutan. Gigi mesin yang terlalu turun akan membuat bahan yang dijahit tidak dapat berjalan. Kepala Mesin (Radias Saleh. Sedangkan untuk mengatur setikan caranya dengan mengatur batang pengatur setikan di sebelah kanan dengan nomor setikan 1 sampai 20 (Radias Saleh. Gambar 7. Ketika jarum naik benang bawah terkait dengan benang atas sehingga benang bawah dapat diambil. Menaikkan Benang Bawah (Radias Saleh.1991:25) f) Menyetel setikan mesin Setikan mesin dapat diatur dengan jalan mengatur naik turunaya gigi mesin.18 setikan.1991:25).

karena untuk membuat kerutan benang jahit harus dapat ditarik dengan mudah. Lap dari bahan katun yang tidak berbulu digunakan untuk membersihkan bagian luar mesin dari debu dan kotoran lainnya.1991:27) 3) Kemampuan memelihara mesin jahit lurus Kemampuan memelihara mesin jahit adalah kemampuan warga belajar dalam memperlakukan mesin jahit. Langkah-langkah yang harus dilakukan warga belajar untuk membersihkan mesin jahit adalah: a) Bagian luar mesin di lap b) Daun dorongan dikelurkan. Gambar 8. Pemeliharaan mesin jahit membutuhkan alat meliputi sikat khusus untuk menyikat atau membersihkan debu dari bulu-bulu benang yang terdapat di dalam badan mesin jahit.penutup gigi dan rumah kumparan dilepas dan di simpan dalam laci. Setikan untuk Kerutan (Radias Saleh. . Minyak mesin jahit digunakan untuk membuat bagian-bagian mesin yang bergerak agar tidak aus.sepatu mesin.jarum.19 atau jarang.

1991:45) . sepatu mesin yang direndahkan untuk menyerap kelebihan minyak yang mungkin mengalir dari kepala mesin.bagian atas dan bawah disikat agar bersih dari debu dan bulu-bulu benang. f) Bagian-bagian yang dilepas tadi dipasang kembali. g) Untuk menghindari noda-noda pada bahan ketika mesin digunakan untuk menjahit lagi. e) Setelah mesin diminyaki lalu dijalankan perlahan-lahan untuk membiarkan bergerak.20 c) Badan mesin dibalik. letakkan secarik tenunan. Cara Meminyaki Bagian Atas (Radias Saleh. minyak bekerja pada bagian-bagian yang Gambar 9. d) Mesin diminyaki. Cara Meminyaki Mesin Bagian Kepala Gambar 10. tiap lubang dan bagian yang bergerak ditetesi minyak cukup satu atau dua tetes.

Penggunaan mesin obras harus dengan dinamo listrik beserta karet putarnya. Cara meminyaki Bagian Kaki dan Bagian Bawah Mesin (Radias Saleh. . Penggunaan tersebut dengan cara menginjak dinamo listrik. Mesin Obras (Sumber singer) 5) Kemampuan menggunakan mesin obras Kemampuan menggunakan mesin obras meliputi pemasangan benang dan pemasangan jarum pada mesin obras. Singer dan Pegasus.21 Gambar 11.1991:45) 4) Kemampuan mengenal mesin obras Kemampuan mengenal mesin obras meliputi pengertian mesin obras yaitu mesin yang digunakan untuk menyelesaikan bagian kampuh dan terbuat dari besi. Macam-macam merk mesin obras yaitu Butterfly. Gambar 12.

kemudian jarum dimasukkan sampai batas jarum. Benang obras juga berwarna-warni seperti kain. Perawatan mesin obras tidak jauh beda dengan mesin jahit lurus. benang tengah berhenti pada jarum obras yang merupakan hasil setikan dan benang sebelah kanan merupakan benang bawah. Pada mesin obras bagian yang diberi minyak yaitu pada bagian mesin yang bergerak. sekrup jepitan jarum dikendorkan dahulu. Perlu diketahui jarum pada mesin obras berbeda dengan jarum mesin jahit. b) Pemasangan jarum Cara memasang jarum yaitu. .kencangkan kembali sekrup. jarum ini pada bagian ujungnya bulat. Untuk menjaga agar tetap bersih. Benang atas terletak di sebelah kiti. Benang tersebut dipasang pengatur tegangan benang. 6) Kemampuan merawat mesin obras Kemampuan merawat mesin obras adalah kemampuan warga belajar memperlakukan mesin obras.setelah memakai harus dibersihkan dan ditutup dengan kain jika sudah tidak di gunakan.22 a) Pemasangan benang Tekstur benang untuk mesin obras berbeda dengan benang jahit.

1999:3). dan peralatan tambahan (Depdiknas. alat untuk memotong. Meteran berbetuk panjang dan pada bagian sisi terdapat angka-angka dan terbuat dari plastik. Menurut Radias Saleh pengertian alat jahit pelengkap adalah alat jahit yang digunakan sebagai pelengkap dalam menjahit. karena dapat mempermudah dan mempercepat dalam menjahit pakaian. penggaris panggul dan penggaris pesak . Alat untuk membuat pola terdiri dari meteran. Penggaris dibedakan menjadi 3 yaitu penggaris lurus. b) Penggaris berguna untuk membentuk pola.23 b. penggaris dan pensil merah biru yang akan dijelaskan sebagai berikut: a) Meteran berguna untuk mengambil ukuran badan dan mengambil ukuran pada waktu membuat pola. 1) Kemampuan mengenal alat untuk membuat pola Kemampuan mengenal alat untuk membuat pola adalah kemampuan warga belajar dalam memperlakukan alat pembuat pola dengan baik dan benar. Kemampuan Mengenal Alat Jahit Pelengkap Kemampuan mengenal alat jahit pelengkap adalah kemampuan warga belajar dalam memahami alat jahit pelengkap. Meskipun hanya pelengkap tapii harus ada. alat untuk memberi tanda. Alat jahit pelengkap contohnya: alat untuk membuat pola.

Alat untuk memberi tanda pada kain misalnya rader. .24 c) Pensil merah biru berguna untuk membedakan gambar pola bagian depan dan belakang. Gambar dari alat-alat tersebut di atas dapat dilihat pada gambar berikut ini: Pensil Merah Biru Gambar 13 Alat Membuat Pola 2) Kemampuan mengenal alat untuk memberi tanda pada kain Kemampuan mengenal alat untuk memberi tanda pada kain adalah kemampuan warga belajar dalam memperlakukan alat untuk memberi tanda pada kain dengan baik dan benar. Pada bagian ujung rader terdapat roda yang bergigi atau roda yang halus. karbon jahit dan kapur jahit yang akan dijelaskan sebagai berikut : a) Rader berguna untuk menekan karbon jahit sewaktu memberi tanda pola pada kain yang akan dijahit.

2000:16) Karbon Jahit dan Penggunaannya Gambar 14. (Depdiknas. Alat untuk memotong diantaranya gunting kain. Alat Pemberi Tanda Pada Kain 3) Kemampuan mengenal alat untuk memotong Kemampuan mengenal alat untuk memotong adalah kemampuan warga belajar dalam memperlakukan alat untuk memotong dengan baik dan benar. gunting kertas dan gunting benang yang akan dijelaskan sebagai berikut: a) Gunting kain berguna untuk memotong kain.25 b) Karbon jahit berguna menandai garis-garis penting pada bahan. Kapur jahit berbentuk segitiga dan berbagai warna yang diinginkan. c) Kapur jahit berguna menandai garis pada bahan dan dapat digunakan sebagai pengganti karbon jahit dan rader. . biasanya terbuat dari lapisan lilin dan warnanya mudah terhapus pada saat terkena panas setrika .

yang akan dijelaskan sebagai berikut: a) Pendedel digunakan untuk membuka jahitan yang salah dan biasanya berebntuk huruf “ Y “ b) Bidal digunakan untuk melindungi jari dari tusukkan jarum. Peralatan tambahan diantaranya: pendedel. c) Gunting benang berguna untuk memotong benang . Bentuk alat-alat tersebut di atas.26 b) Gunting kertas berguna untuk memotong kertas dan biasanya terbuat dari steenlisteel. Biasanya digunakan pada jati tengah dan berbentuk seperti cicin. dapat dilihat pada gambar berikut ini: Gambar 15 Bentuk Gunting untuk Berbagai Jenis Bahan 4) Kemampuan mengenal peralatan tambahan Kemapuan mengenal peralatan tambahan adalah kemampuan warga belajar dalam memperlakukan alat dengan baik dan benar. bidal. Pada gunting ini hanya terdapat satu lubang yang berfungsi untuk memegang gunting dan biasanya untuk ibu jari. jarum dan sertika. .

membuat pola.27 c) Jarum digunakan untuk menjahit. memotong. merancang bahan. jarum mesin jahit. Bentuk alat tersebut di atas dapat dilihat pada gambar berikut: Gambar 16 Alat Tambahan dalam Menjahit c. macamnya . 1) Kemampuan mengambil ukuran Yang dimaksud mengambil ukuran adalah kegiatan yang dilakukan sebelum menjahit untuk mendapatakan ukuran yang . jarum tangan. jarum pentul. Kemampuan Membuat Pakaian Kemampuan membuat pakaian yang dimaksud adalah warga belajar mampu membuat pakaian mulai dari mengambil ukuran. d) Setrika digunakan untuk memampatkan jahitan dengan tingkat panas yang disesuaikan dengan jenis bahan. memindahkan garis pola dan menyelesaikan pakaian.

e) Telitilah ukuran yang telah dicatat (Depdikbud . c) Orang yang diukur berdiri wajar tidak menunduk dan tidak membesarkan dada/ badan. .28 digunakan sebagai pedoman membuat pola dasar. panjang dada 1 diukur dari bahu dekat leher sampai ke pinggang. panjang sisi diukur dari ketiak sampai pinggang dikurangi ± 3 cm dan lingkar leher diukur sekeliling pangkal leher. tinggi bahu I diukur dari ujung bahu sampai tengah pinggang depan. b) Ujung meteran yang angkanya kecil harus selalu berada ditangan kiri. lingkar pinggang dan lingkar panggul. d) Lakukan pengukuran dengan tepat. Untuk mendapatkan ukuran yang baik warga belajar harus melakukan persiapan dalam mengukur seperti: a) Sebelum mengukur ikatlah lingkar badan. tinggi dada diukur dari bahu tertinggi sampai titik payudara.1999: 5) Kemampuan mengambil ukuran badan meliputi lingkar badan diukur sekeliling badan terbesar ±4 cm. panjang punggung diukur dari tengkuk leher bagian belakang sampai pinggang. tinggi bahu II diukur dari ujung bahu sampai tengah pinggang belakang. lebar bahu diukur dari bahu tertinggi sampai bahu terendah. lebar dada diukur mendatar dari batas kerung lengan kanan ke batas kerung lengan kiri. lebar punggung diukur mendatar dari batas kerung lengan kanan ke batas kerung lengan kiri (± 8 cm dari bawah tengkuk leher). jarak dada diukur dari titik payudara kanan ke titik payudara kiri. Orang yang diukur dalam posisi berdiri tegak. panjang dada 2 diukur dari lekuk leher bagian depan sampai pinggang.

Gambar 17 Cara Mengukur 2) Kemampuan membuat pola Yang dimaksud kemampuan membuat pola adalah kemampuan warga belajar dalam membuat pola dasar sampai merubah pola sesuai model pakaian. lingkar pinggul diukur sekeliling panggul +4cm.29 Kemampuan mengambil ukuran rok meliputi lingkar pinggang diukur sekeliling pinggang. Untuk dapat merubah model pakaian warga belajar harus mengetahui langkah-langkah pembuatan pola dengan sistem alwine seperti pada lampiran 21 halaman 137. dan panjang rok diukur dari pinggang sampai panjang yang dikehendaki. Untuk lebih jelasnya lihat pada gambar 17. Selain itu warga belajar juga harus mengenal tanda-tanda pola sistem alwine seperti dibawah ini: .

30 a) b) garis pensil hitam = garis pola asli garis merah (pensil merah dan spidol) = garis pola menurut model bagian depan c) garis biru (pensil biru atau spidol) = garis pola menurut model bagian belakang d) ……………. batas memakai ballpoint hitam (umpama lipit bentuk yang dipindahkan) k) TM tengah muka . warna menurut tempat dilipit pada pola. h) i) j) lipit (plooi) setengah lipit. warna menurut tempat) g) garis dengan ballpoint hitam = garis pada pola yang perlu digunting untuk dilebarkan.. Titik-titik tempat) = garis penolong (menurut e) garis-titik-garis-titik = garis lipatan (menurut warna tempat) f) garis putus-putus = garis rangkapan (lapisan. Tanda ini dibuat jika lipit atau kerut tidak dibuat pada waktu mengubah melainkan pada waktu merancang bahan.

4) Kemampuan menggunting / memotong Kemampuan mengguting adalah kemampuan warga belajar menggunting pola atau bahan. d) Merancang pola diatas bahan sesuai dengan racangan kertas coklat. Tujuan yang akan dicapai yaitu mengetahui jumlah bahan yang dibutuhkan dan menghindari pemborosan.31 l) m) n) TB tengah belakang siku-siku (900) anak panah hitam = tanda arah benang lurus (Alwine. Langkah-langkah merancang bahan adalah : a) Menyiapkan kertas coklat sebagai pengganti bahan. c) Menempelkan pola kecil pada kertas coklat. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunting bahan adalah: . Hal–hal yang harus diperhatikan saat menggunting pola yaitu harus sesuai dengan garis dan tanda pola. 2000:5) 3) Kemampuan merancang bahan Kemampuan merancang bahan adalah kemampuan membuat perkiraan mengenai jumlah bahan yang di perlukan dalam membuat pakaian. b) Menyiapkan pola kecil yang akan digunakan.

Merader dapat dilakukan dengan cara: a) Menggunakan rader yang bergigi. . sehingga kain tidak akan terangkat terlalu tinggi dan tidak akan berubah arah benang. c) Membuat tusuk jelujur renggang pada kain broklat dengan jarum tangan. b) Kain boleh digunting jika pola sudah terpasang dan diberi kampuh. jika bahan yang akan digunting tebal pakailah gunting yang besar dan apabila bahan yang akan digunting tipis serta mudah digeser maka pola pada kain diberi jarum pentul. Pada umumnya kampuh bagaian sisi bahu 2 cm kampuh kerung lengan 1½ cm dan keling bawah 3 – 4cm.32 a) Memotong bahan harus menggunakan gunting yang tajam. baru melebar. b) Membuat garis dengan kapur jahit pada kain. Panjang dan lebar kain diusahakan tetap sejajar dengan tepi meja. d) Gunting dimulai dari arah memanjang . 5) Kemampuan memindahkan garis pola/ memberi tanda pada kain Kemampuan memindahkan garis pola yang dimaksud adalah kemampuan warga belajar memberi tanda pada bahan. Memindahkan garis pola pada bahan disebut juga merader. c) Gunting dipegang tangan kanan dan tangan kiri menekan kain yang akan digunting. oleh karena itu waktu mengguting kita berjalan mengelilingi bahan.

kemudian diarahkan ke bagian . kemudian diarahkan ke bagian buruk dan diselesaikan dengan tusuk kelim atau setikan mesin. Kemampuan tersebut meliputi: a) Kemampuan menjahit pada badan. Kemampuan menjahit badan meliputi menjahit sisi dan bahu bagian depan dan belakang. Lapisan dijahit dari bagian baik. Menjahit kupnat pada bagaian depan dan belakang b) Penyelesaian kerung leher Penyelesaian kerung leher suatu busana meliputi penyelesaian dengan depun.33 6) Kemampuan menyelesaikan pakaian Kemampuan menyelesaikan pakaian adalah kemampuan warga belajar dalam membuat pakaian. Penyelesaian dengan Depun (Radias Saleh. serip dan rompok (Radias Saleh. Gambar 18. 1991:58) (1) Penyelesaian dengan depun Penyelesaian ini dikerjakan dengan cara melapis kerung leher menurut bentuk.1991:58) (2) Penyelesaian dengan serip Cara penyelesaian kerung leher dengan serip adalah bahan pelapis dijahit bagian buruk.

Penyelesaian ini dapat digunakan sebagai hiasan. Penyelesaian dengan Rompok (Radias Saleh. . Cara penyelesaiannya adalah kumai serong dijahit pada bagian buruk bahan selebar kerung kurang dari 0. kemudian kumai serong dilipat sebagian ke bagian buruk dan dijahit dari bagian baik. Sehingga setengah dari leher kumai serong tampak dari luar dan setengahnya lagi tampak dari dalam.5 cm. Gambar 19. Gambar 20.34 baik dan dijahit dengan mesin.1991:60) c) Macam-macam saku Saku pada busana berfungsi sebagai pelengkap dan sebagai hiasan. Penyelesaian dengan Serip (Radias Saleh. Pada dasarnya saku ada dua macam yaitu saku tempel dan saku dalam.1991:59) (3) Penyelesaian dengan Rompok Penyelesaian ini menggunakan kumai serong atau bisban.

35 (1) Saku Tempel Saku tempel terletak di luar busana misalnya pada kemeja.Langkah-langkah membuat saku dalam adalah: (a) Melapis bentuk saku (misalnya bentuk lengkung) dengan pelapis (saku dalam) (b) Lapisan saku dibalik ke bagian dalam . daster dan busana anak.1991 :61) (2) Saku Dalam Saku dalam biasanya terdapat pada sisi rok atau celana dan letaknya tersembunyi. (b) Menyelesaikan kelim saku (c) Melekatkan saku dengan di setik mesin dari luar. Lapisan saku terdiri dari dua bagian yaitu bagian yang tampak dan tersembunyi. . (c) Supaya rapi saku dijahit. Gambar 21. Langkah-langkah membuat saku tempel adalah: (a) Menentukan letak saku dengan memberi tanda menggunakan kapur jahit atau setikan. setelah itu membuat guntingan agar jahitan rata dan tidak berkerut. Saku Tempel (Radias Saleh.

Kemampuan Pendukung Menjahit pada Warga Belajar Sebelum warga belajar membuat pakaian.1991:50) . Macam-macam Tusuk dan Setik mesin. macammacam belahan seperti : a. macam-macam penyelesaian kelim. Tusuk. Tusuk Jelujur (Radias Saleh. Gambar 23. Yang dimaksud dengan tusukan adalah hasil jahitan yang dikerjakan dengan tangan serta menggunakan benang dan jarum.1991:62) 4. tusuk ini sering digunakan untuk menjahit yang bersifat sementara dan dikerjakan dari kanan ke kiri.tusuk yang biasanya digunakan yaitu : tusuk jelujur.36 (d) Lapisan saku dilipat dan dijahit bagian bawahnya. Saku Dalam (Radias Saleh. maka mereka harus mempunyai kemampuan membuat macam-macam tusuk dan setikan. macam-macam kampuh. Gambar 22. (e) Menyelesaikan kampuh saku dengan obras.

1991:51) 2) Setik Jelujur Setik jelujur digunakan untuk menjahit sementara dan untuk mengerut.1991:53) .1991:52) 3) Setik Lengkung Setik ini digunakan untuk menjahit bagian-bagian busana yang melengkung dan sebagai hiasan. Gambar 26. Jarak setikan lebar dengan pengatur setikan diturunkan paling bawah.antara lain: 1) Setik lurus Setik lurus digunakan untuka menyambung bagian-bagian busana yang berfungsi sebagai hiasan.37 Setik mesin dapat diatur sesuai dengan keperluan. Setik Lengkung (Radias Saleh. Gambar 25 Setik Jelujur (Radias Saleh. Gambar 24. Setik Lurus (Radias Saleh.

1991:55) . murah dan cepat. Macam-macam kampuh Kampuh adalah sambungan yang terjadi waktu menyambung dua potong kain (Radias Saleh.38 4) Setik Penguat Cara membuat setik penguat hampir sama dengan setik lurus. Penyelesaian kampuh sangat mempengaruhi jatuhnya busana. Setik Penguat (Radias Saleh.1991:54) b. Gambar 28. Gambar 27. Pada industri busana tepi kampuh diselesaikan dengan obras karena lebih mudah. sehingga untuk menyelesaikan kampuh diperlukan keterampilan khusus.tetapi pada tempat tertentu dibuat setik maju mundur untuk menguatkan. 1991:54). Beberapa macam kampuh yang biasa digunakan di industri busana adalah: 1) Kampuh Buka Kampuh buka banyak digunakan untuk menyelesaikan busana wanita. Kampuh Buka (Radias Saleh.

Ciri kampuh ini pada bagian luar terdapat satu setikan dan bagian dalam dua setikan.1991:56) 3) Kampuh Tutup Kampuh Tutup adalah kampuh yang tepinya diselesaikan tepinya dengan obras atau dibalut menjadi satu.5 cm. kemudian dibalik dan disetik lagi dengan lebar tidak lebih dari 0.5 cm.1991:56) 4) Kampuh Balik Kampuh balik digunakan pada busana anak. . busana rumah dan kemeja. Cara mengerjakan kampuh ini mula-mula di setik dari bagian baik selebar kurang dari 0.39 2) Kampuh Pipih Kampuh pipih digunakan untuk membuat sarung. Kampuh Tutup (Radias Saleh. Gambar 29. Kampuh Pipih (Radias Saleh. menyelesaikan busana bayi dan busana kerja. Gambar 30.

1991:57) c. . kemudian dikelim selebar yang diinginkan kemudian soom.5 cm.1991:58) 2) Penyelesaian dengan obras Cara mengerjakan tepi kelim di obras lalu dilipat sesuai yang diinginkan.40 Gambar 31. Caranya tepi kelim dilipat kira-kira 0. Kampuh Balik (Radias Saleh. Macam-macam penyelesaian kelim Kelim adalah penyelesaian tepi dari bagian-bagian busana yang dikerjakan dengan cara melipat tepi busana ke bagian buruk dengan jarak tertentu. Cara menyelesaikan tepi kelim antara lain: 1) Penyelesaian dengan setik mesin Penyelesaian ini biasanya digunakan pada industri busana. kemudian disoom. Penyelesaian dengan Setik (Radias Saleh. Gambar 32.

tengah muka. Penyelesaian dengan Obras (Radias Saleh. Langkah-langkah pembuatannya adalah: a) Menentukan tempat.1991:58) d. c) Menjahit sepanjang belahan dari bagian buruk d) Membalik pelapis.41 Gambar 33.1991:63) . dan panjang belahan b) Menyiapkan pelapis belahan yaitu dua kali lebar belahan di tambah dua kali kampuh untuk ukuran lebar dan untuk panjangnya dua kali panjang belahan. lebar. Macam macam belahan Belahan pada busana berfungsi untuk memudahkan dalam memakai dan melepaskan busana. dan manset. Belahan pada busana ada beberapa macam antara lain : 1) Belahan Lapis Sama Belahan ini sering digunakan pada bagian tengah belakang. melipat dan merapikan e) Menjahit pertengahan lapisan f) Tepi lapisan diselesaikan dengan kelim (Radias Saleh.

dibalik.1991:64) . d) Menjahit lapisan bawah.42 Gambar 34.1991:63) 2) Belahan Amerika Belahan ini hampir sama dengan belahan lapis sama. disetik dan dirapikan dengan hasil setengah lebar belahan. Belahan Lapisan Sama (Radias Saleh . Langkah-langkah pembuatannya adalah : a) Menentukan letak dan ukuran belahan b) Menyiapkan lapisan bawah dengn lebar belahan di tambah kampuh c) Menyiapkan lapisan atas. penempatannya dari tengah muka.Lapisan untuk belahan terdiri dari dua bagian yaitu lapisan bawah dan atas. e) Menjahit lapisan atas dengan di setik pada bagian luar ( Radias Saleh. dengan lebar dua kali lebar belahan di tambah dua kali kampuh. ujung lapisan dibuat segi tiga. dan manset. tengah belakang.

1991:64) 3) Belahan Tutup Tarik Belahan ini merupakan belahan yang menggunakan retsliting. sesuai dengan panjang tutup tarik b) Tutup tarik di semat pada belahan. untuk busana wanita kanan menutup kiri. c) Menjelujur d) Membuat setikan yang lurus dan rata Gambar 36. biasanya terletak di tengah muka atau tengah belakang.1991:65 .43 Gambar 35 Belahan Amerika (Radias Saleh. Belahan Tutup Tarik (Radias Saleh. Langkahlangkah Memasang tutup tarik adalah : a) Menentukan panjang belahan.

1999:42). Pengertian tersebut mengindikasikan bahwa wiraswasta adalah suatu sifat berbisnis dan dapat mencakup semua pekerjaan. Penilian test teori dengan pedoman angket dan penilian test praktek dengan pedoman observasi. serta kepercayaan diri dalam memenuhi kebutuhan serta memecahkan permasalahan hidup dengan kekuatan yang ada pada diri sendiri (Soemanto. . bukan kekuatan dari orang lain. Pengertian Wiraswasta Wiraswasta dapat diartikan sebagai keberanian.44 Kemampuan dalam membuat pakaian itu dapat dilihat dari praktek/cara test teori dan praktek. keutamaan dan keteladanan dalam mengambil resiko yang bersumber pada kekuatan sendiri. Pengertian ini mengandung arti bahwa wiraswasta ditujukan pada pribadi seseorang yang mempunyai sifat-sifat unggul dalam berbisnis. B. baik pekerjaan kedinasan ataupun pekerjaan sambilan. keutamaan. dan mengukur resiko suatu usaha bisnis. melainkan sifat-sifat keuletan dan ketabahan seseorang dalam memajukan prestasinya pada usahanya dengan menggunakan kekuatan sendiri. Pengertian tersebut senada dengan pendapat Wijandi (2000:23) yang mengemukakan bahwa wiraswasta adalah sifat-sifat keberanian. Sikap Wiraswasta 1. Pengertian lain tentang wiraswasta adalah orang yang bertanggung jawab dalam menyusun. mengelola. Pengertian ini memberikan gambaran bahwa wiraswasta bukan hanya sekedar kerja sambilan di luar dinas.

dimana antara satu unsur dengan unsur lainnya saling terkait dan tidak terlepas dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut mencerminkan bahwa seorang wiraswasta cenderung memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat dari pada jiwa pekerja pelaksana. Salah satu contoh sikap wiraswasta adalah sikap berusaha dalam bidang menjahit. Maksudnya seseorang yang memiliki sikap wiraswasta selalu menggunakan waktu dengan sungguh-sungguh untuk berusaha dengan tujuan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. tailor. dapat dipahami bahwa sikap wiraswasta merupakan sikap atau pandangan pribadi yang mencerminkan keuletan.45 Seorang wiraswasta merupakan orang yang unggul dalam mengejar prestasi. Dari beberapa pengertian tentang wiraswasta di atas. 2. berani mengambil resiko untuk mulai mengelola bisnis demi mendapatkan laba dan kesuksesan. butik dan garmen. Unsur-unsur tersebut adalah: . bukan kekuatan dari orang lain. misalnya modiste. Dalam memulai usaha pada bidang menjahit. Unsur-unsur Sikap Wiraswasta Wijandi (2000:27-32) mengemukakan bahwa wiraswasta pada dasarnya mencakup beberapa unsur penting. konveksi. sikap wiraswasta sangat dibutuhkan untuk mengelola manajemen usaha dengan baik sehingga dapat memperoleh keuntungan yang optimal dengan sumber daya mausia yang seefektif dan seefisien mungkin. ketabahan dan keberanian dalam usaha memajukan prestasinya dengan menggunakan kekuatan sendiri.

b. Keluasan dan kedalaman pengetahuan seseorang terhadap suatu bidang kajian akan sangat berpengaruh terhadap pola pikirnya dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya.46 a. Akan lebih baik jika unsur pengetahuan ditunjang dengan keterampilan dalam melaksanakan apa yang dipikirkannya. Dalam bidang menjahit. Unsur Keterampilan (psikomotor) Unsur keterampilan dalam sikap wiraswasta lebih disebabkan faktor latihan dan pengalaman seseorang dalam melaksanakan suatu karya atau usaha. . Orang yang memiliki unsur pengetahuan tinggi tapi unsur keterampilannya kurang memadai akan menyebabkan orang hanya berpikir saja tanpa bisa melaksanakan apa yang dipikirkannya. Unsur Pengetahuan (kognitif) Unsur pengetahuan dalam sikap wiraswasta pada dasarnya merupakan kemampuan seseorang untuk berpikir yang cenderung dipengaruhi oleh tingkat pendidikannya baik pendidikan formal maupun non-formal. unsur pengetahuan dapat ditunjukkan dari kemampuan seseorang untuk merancang trend busana di masa yang akan datang. Dengan demikian akan diperoleh pengalaman yang terpadu antara teori dan praktek. Idealnya. khususnya pada kreatifitas dan inovasinya untuk memecahkan permasalahan tersebut. seseorang yang memiliki unsur pengetahuan yang tinggi harus didukung dengan karya dalam melaksanakan imajinasinya tersebut.

Unsur Kewaspadaan Unsur kewaspadaan pada dasarnya merupakan perpaduan antara unsur sikap mental dan unsur kognitif (pengetahuan) seseorang. Unsur kewaspadaan dalam wiraswasta sangat berpengaruh terhadap . ketegasan. artinya situasi tersebut muncul secara tiba-tiba tanpa ada informasi sebelumnya. Unsur Sikap Mental Unsur sikap mental merupakan respon atau tanggapan seseorang jika dihadapkan pada suatu situasi tertentu. sikap mental seseorang akan nampak dengan jelas dan akan memberikan gambaran tentang pribadinya. kejujuran. Dalam sikap wiraswasta unsur sikap mental sangat berperan dalam memunculkan keberanian untuk menerima suatu peluang dan menjadikannya sebagai suatu kesempatan emas untuk sukses. d. keberanian dan inisiatif. unsur keterampilan dapat dilihat dari kemampuan seseorang menyelesaikan jahitan dengan cekatan dan tidak banyak melakukan kesalahan. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap sikap-sikap mentalnya adalah rasa tanggung jawab. dan juga kecakapan seseorang dalam membuat kreasi-kreasi busana. c. Unsur sikap mental dalam wiraswasta bidang jahit menjahit dapat dicontohkan dari sikap berani tidaknya seseorang pada saat muncul peluang order jahitan yang banyak. atau berani menggunakan modal yang tersedia untuk memulai usaha.47 Dalam bidang jahit menjahit. Unsur sikap mental lebih berorientasi pada kejadian sesaat. Dalam situasi tersebut.

baik yang berasal dari dalam maupun dari luar individu itu sendiri (Priyono. Anoraga (1992:35) mengemukakan bahwa motivasi merupakan suatu proses dimana tingkah laku tersebut dipupuk dan diarahkan. Motivasi seorang wiraswasta dapat dilihat dari keinginannya untuk mencapai target sukses tertentu dengan menggunakan kekuatannya sendiri. Sebaliknya jika perencanaan dilakukan dengan matang dilandasi dengan prakiraan yang tepat maka usaha yang dijalankan akan langgeng untuk masa-masa yang akan datang. Siagian (2002:104) menyebutkan bahwa motivasi akan muncul jika ada kebutuhan yang melatar belakanginya. Mempunyai motivasi yang tinggi Motivasi adalah dorongan yang kuat terhadap seseorang untuk mencapai target tertentu.48 kelangsungan hidup usaha yang dijalankan. Sikap-sikap Wiraswasta a. dan ada kesamaan antara motif dan need (dorongan dan kebutuhan). 3. Hal ini dapat dipahami karena kewaspadaan merupakan syarat adanya unsur prakiraan dan perencanaan yang tepat untuk kegiatan usaha diwaktu-waktu yang akan datang. Contohnya warga belajar yang memiliki motivasi tinggi berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan . Apabila prakiraan dan perencanaan tidak dilakukan dengan baik maka usaha yang telah dirintis akan menghadapi kemungkinan kerugian.2004:77).

modiste.49 menjahitnya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan tanpa bantuan orang lain. b. misalnya ingin mendirikan butik. Wiraswastawan yang berhasil selalu mempunyai motivasi yang tinggi dalam setiap kegiatan usaha yang dilakukannya. faktor yang melatar belakangi munculnya motivasi untuk sukses dapat berupa kebutuhan untuk mencapai taraf hidup yang lebih layak. ataupun usaha konveksi. motivasi yang tinggi dalam berwiraswasta dapat ditunjukkan dari keinginan seseorang untuk mendirikan usaha pada bidang jahit menjahit. Dalam berwiraswasta. Misalnya seseorang yang melakukan pekerjaan menjahit mengalami kegagalan membuat busana yang sesuai dengan harapan. sikap ini dapat tercermin dari adanya sikap percaya diri dan mampu menjalankan usaha di bidang menjahit. Optimis dan berpikir positif Machfoedz (2004:63) menyebutkan bahwa salah satu bentuk kepribadian seseorang yang akan dapat mendukungnya menjadi wiraswastawan adalah optimistis dan selalu berpikir positif dalam berusaha. Dalam berwiraswasta bidang jahit menjahit. maka ia tidak akan mudah putus asa dan akan terus mencoba untuk menyelesaikan tugasnya tersebut. . kebutuhan akan prestise dan juga kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri dalam bekerja. Dalam bidang jahit menjahit. Apabila ia mengalami kegagalan maka ia akan mencari tahu penyebab kegagalannya dan tidak langsung patah semangat.

. Kreatif dan inovatif Berpikir kreatif dan inovatif adalah kemampuan seseorang untuk menemukan hal-hal baru dan selalu mencari alternatif pemecahan masalah dengan cara yang efektif dan efisien (Priyono. Cara berpikir seorang wiraswastawan tidak sama dengan orang-orang pada umumnya. proses inkubasi yaitu proses pemikiran dalam alam bawah sadar yang menggerakkan seseorang untuk menyiapkan strategi.50 c. karena dengan wawasan yang luas dan mendalam maka ia dapat menyusun rencana usaha termasuk manajemen pengaturan sumber daya secara efektif dan efisien sesuai dengan fungsinya.2004:82).2004:93). d. Tinggi rendahnya kualitas kreativitas seseorang dalam berwiraswasta akan dipengaruhi oleh faktor akumulasi pengetahuan. dan juga pengalaman ide yang dapat diperoleh seseorang melalui imajinasi dan mimpi-mimpinya (Machfoedz. Wawasan yang luas juga diperlukan untuk memecahkan masalah-masalah dalam usaha yang tentunya tidak hanya masalah laba dan rugi saja. namun juga masalah manajemen ruang dan waktu. sehingga sumber daya yang akan digunakan dapat dimanfaatkan dengan optimal. Mempunyai wawasan luas ke depan Priyono (2004:94) mengemukakan bahwa wawasan luas ke depan merupakan pengetahuan dan pandangan yang luas yang dimiliki oleh seseorang terhadap suatu hal atau suatu bidang kajian. Wawasan yang luas sangat diperlukan oleh seorang wiraswastawan.

Apabila seseorang yang memiliki bakat atau keterampilan tetapi tidak mempunyai keberanian untuk mengambil resiko dalam berusaha. e. Contohnya seorang wiraswasta di . hendaknya resiko yang terlalu tinggi jangan diambil.51 manajemen sumber daya manusia bawahannya. Hendaknya seorang wiraswasta harus mempunyai keberanian untuk mengambil peluang dan kesempatan yang ada. Namun demikian. wawasan luas diperlukan seorang wiraswastawan dalam hal memilih berbagai bahan (kain) yang berkualitas. Dalam berwiraswasta di bidang menjahit. Namun apabila telah diperhitungkan dengan matang maka seorang wirauswastawan harus berani untuk melangkah maju dalam melaksanakan usaha tersebut.2000:11). maka keterampilan yang dimilikinya tersebut akan sia-sia saja. Berani mengambil resiko Keberanian dalam mengambil resiko merupakan keberanian yang dimiliki oleh seseorang dalam menghadapi tantangan yang akan membawa pada keberhasilan maupun kegagalan (Tarmudji. serta wawasan dalam menggunakan alat-alat jahit yang lebih modern untuk menghasilkan produk lebih cepat. untuk dikembangkan menjadi lahan bisnis yang menguntungkan. karena tidak dimanifestasikan dalam kegiatan yang nyata. untuk menghindari kerugian yang fatal. Pada umumnya untuk memulai usaha baru banyak dibayangbayangi oleh resiko kerugian. manajemen keuangan serta kemampuan mengendalikan output produksi.

Pengambilan keputusan hendaknya dilakukan secara tegas sehingga tidak menimbulkan kebimbangan yang berlarut-larut. Adakalanya seorang wiraswasta dihadapkan pada permasalahan yang harus dengan cepat.2004:63). jadi harus dipertimbangkan secara matang dahulu (Machfoedz. tepat dan cermat diatasi dan dicarikan pemecahannya. Saat itulah keputusan harus segera diambil. Contoh perilaku yang menunjukkan keberanian warga belajar dalam mengambil keputusan adalah keberanian memutuskan pilihan corak kain yang tepat serta sesuai dengan postur tubuh dan juga untuk model pakaian yang akan dibuat. maka seorang wiraswastawan tidak akan memproduksi model pakaian tersebut karena hasil produksinya tidak akan laku dan akan menyebabkan perusahaan rugi besar. Machfoedz (2004:63) menyebutkan bahwa wiraswastawan hendaknya bersedia menerima resiko sebagai konsekuensi terwujudnya tujuan. Berani mengambil keputusan Mengambil keputusan adalah memilih alternatif pemecahan masalah dan pada umumnya alteranatif tersebut mempunyai keuntungan dan kerugian yang berbeda-beda (Priyono. . Namun demikian dalam pengambilan keputusan tersebut hendaknya tidak tergesa-gesa. f.52 bidang menjahit sudah dapat mengetahui apabila keputusan untuk membuat pakaian dengan model jabot pada dada tidak disukai oleh banyak orang.2004:99).

1999:75). .53 g. Seorang wiraswasta harus mampu menjalin hubungan kerja sama dengan pihak lain. h. karena dengan adanya komunikasi yang baik maka usaha yang dijalankan akan dapat mencapai target yang telah ditentukan. Komunikasi dalam dunia wiraswasta mempunyai peranan yang sangat penting. Mempunyai kemampuan berkomunikasi. Pembagian yang jelas antara hak dan kewenangan akan mengakibatkan hubungan yang terjalin dapat dibina secara langgeng dan tidak ada unsur saling menjatuhkan. Kemampuan berkomunikasi seorang wiraswasta pada dasarnya sangat berhubungan dengan keterampilan bergaul dengan orang lain (Soemanto. Mempunyai kemampuan bekerja sama Kemampuan bekerja sama adalah kemampuan seseorang dalam menjalin hubungan baik dengan orang lain untuk meningkatkan daya saing perusahaan (Priyono. maka akan mudah untuk mengenal sosok dan kepribadian seseorang. Dengan adanya komunikasi yang baik. Hal tersebut akan dapat tercapai jika hubungan itu didasari atas dasar kesamaan kepentingan serta komitmen yang adil.2004:103). Contoh kemampuan warga belajar untuk bekerja sama yaitu kemauan untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang telah dibebankan kelompok kepada warga belajar dalam memulai usaha dalam bidang menjahit. Kemampuan bekerja sama akan nampak jika seseorang bergabung bersama dengan orang lain untuk mendirikan usaha jahit menjahit.

Kepemimpinan dapat diartikan sebagai keahlian seorang pemimpin yang dapat memungkinkan untuk menyalurkan rekannya agar bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh kepercayaan (Tarmudji.54 sehingga akan memudahkan dalam melayani atau pun bekerja sama dengannya. Kepemimpinan pada dasarnya bukan hanya kemampuan untuk memerintah orang lain. maka seseorang harus mampu memimpin dirinya sendiri dengan baik. i. Kepemimpinan bagi seorang wiraswasta merupakan aset yang sangat penting yang harus dimiliki. sehingga diperlukan keahlian dalam mengarahkan orang tersebut untuk bertindak sesuai dengan harapan agar pekerjaan yang dilimpahkan dapat terselesaikan .2004:111). Ada saat-saat tertentu dimana pekerjaan harus dilimpahkan kepada orang lain. Mempunyai jiwa pemimpin Memimpin dapat berarti memotivasi orang atau mengubah potensi seseorang menjadi realitas (Priyono. Hal ini senada dengan pendapat Soemanto (1999:69) yang menyebutkan bahwa untuk mendapatkan kemampuan kepemimpinan yang baik.2000:44). Contoh perilaku warga belajar yang menunjukkan kemampuan berkomunikasi adalah adanya usaha tiap warga belajar untuk saling bertukar pengalaman dan berpendapat untuk memulai dan mengembangkan usaha bidang jahitan. karena tidak selamanya kegiatan usaha dijalankan oleh diri sendiri. mengenali diri sendiri dan berdisiplin diri. namun juga mengendalikan dan memimpin diri sendiri.

kemampuan bekerja mandiri mensyaratkan adanya rasa percaya diri yang tinggi dan tidak meragukan atas kemampuan yang dimilikinya.55 dengan baik. j. tidak tergantung pada orang lain. Kemampuan untuk bekerja secara mandiri. dapat tercermin dari kemampuan seseorang untuk melakukan pekerjaan secara mandiri tanpa terlalu tergantung pada bantuan dari pihak lain. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam wiraswasta. maka akan mengakibatkan pekerjaan tersebut tidak dapat terselesaikan sesuai dengan harapan dan tujuannya. Wiraswasta akan berpikiran bahwa tindakan yang dilakukan akan mampu mengubah kejadian dan percaya bahwa mereka adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Kerangka Berfikir Dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia. Pemerintah bersama swasta memberikan berbagai keterampilan melalui kelompok belajar (kejar) yang ada di daerah tertentu seperti kejar menjahit yang ada di Kelurahan . Dengan dilandasi sikap-sikap tersebut maka wiraswasta akan mantap melakukan kegiatan-kegiatan untuk meraih kesuksesan. C. Apabila seorang wiraswasta tidak mampu memberikan perintah atau mengarahkan kerja orang lain. Mampu bekerja mandiri Priyono (2004:114) mengemukakan bahwa kemampuan bekerja mandiri merupakan kemampuan seseorang untuk berusaha di atas kemampuannya sendiri.

Selain itu menghemat untuk mandiri. Keinginan membuatkan pakaian untuk orang lain merupakan sikap wiraswasta yang dimiliki warga belajar. Melalui kejar menjahit tersebut warga belajar diharapkan memiliki SDM yang berkwalitas. luhur dan mandiri yang pantas diteladani. sehingga dapat berwiraswasta. Seseorang yang memiliki sikap wiraswasta berarti memiliki motivasi. berani mengambil resiko dan keputusan. Dari proses pembelajaran dan hasil praktek dapat dinilai apakah warga belajar memiliki kinerja menjahit. Sikap wiraswasta adalah sikap atau tingkah laku yang gagah berani. membuat pola. Sikap wiraswasta dapat timbul karena kebutuhan warga belajar. Setelah warga belajar memiliki kinerja menjahit akan timbul keinginan untuk membuat pakaian baik untuk orang lain atau keluarga dengan tujuan menghemat pada saat praktek menjahit. dan kemampuan menjahit.56 Bongsari Kecamatan Semarang Barat. Proses pembelajaran tersebut meliputi kemampuan mengenal alat jahit. Penilaian SDM yang berkwalitas di lihat dari kinerja atau kemampuan dalam menjahit yang secara rutin dilakukan warga belajar pada proses pembelajaran baik teori maupun praktek. mempunyai wawasan luas ke depan. dapat bekerjasama dan berkomunikasi. dapat memimpin dan mandiri. Sikap di atas merupakan indikator dari wiraswasta yang kemungkinan secara tidak langsung timbul pada saat warga belajar memanfaatkan kinerja menjahit yang dimilikinya untuk mencari uang dengan . kreatif dan inovatif. mengambil ukuran. warga belajar juga termotivasi dalam mencari pelanggan dan sebagian pengalaman dalam menjahit. sikap optimis dan berfikir positif.

Dengan kinerja menjahit dan sikap wiraswasta yang dimiliki warga belajar akan menghasilkan suatu benda yang bermanfaat dengan cepat dan rapi. Hipotesis Hipotesis adalah kesimpulan untuk sementara menjawab permasalahan penelitian. Hipotesis alternatif (Ha) Ada hubungan antara kinerja menjahit dan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat. Oleh karena itu dalam penelitian ini hipotesis adalah: 1. Hipotesis nol (Ho) Tidak ada hubungan antara kinerja menjahit dan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat . 2. tailor atau konfeksi. Dalam skripsi ini di bahas tentang Hubungan antara Kinerja Menjahit dengan Sikap Wiraswasta pada Kelompok Belajar Menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat. D.57 membuka usaha dibidang penjahitan seperti modiste.

Metode Penentuan O bjek Penelitian Penentuan objek penelitian meliputi populasi dan sampel penelitian. populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu. tahapan metode dalam penelitian ini akan dijabarkan dalam uraian berikut. Untuk lebih jelasnya. metode yang digunakan untuk mendapatkan hasil yang baik. Sugiyono (2003:55) mengemukakan. maka perlu disusun langkah-langkah penelitian yang tercakup dalam metode penelitian. A. metode pengumpulan data. Dalam penelitian ini yang dijadikan populasi adalah seluruh warga belajar yang mengikuti kejar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat sejumlah 30 orang. 1. meliputi metode penentuan objek penelitian.BAB III METODE PENELITIAN Untuk memperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan penelitian. Populasi Populasi dapat diartikan sebagai keseluruhan subyek penelitian (Arikunto. Ketepatan metode yang digunakan sangat menentukan keakuratan hasil penelitian yang diperoleh. 2002:108). Dalam penelitian ini. 58 58 . instrumen penelitian serta metode analisis data.

sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. dan taraf kesalahan 5% maka jumlah anggota sampel yang representatif yang dapat diambil adalah 95% dari 30 orang.2002:109). Untuk menentukan sebaran anggota sampel dalam penelitian ini. yaitu pengambilan anggota sampel dengan mengambil anggota populasi secara acak tanpa memperhatikan strata atau tingkatan yang ada dalam populasi (Sugiyono. Langkah-langkah yang dilakukan untuk menentukan anggota sampel adalah memberi kode angka pada lembaran-lembaran kertas kecil mulai dari 1 sampai dengan 30 (seluruh anggota populasi). menetapkan ke 28 orang yang terpilih sebagai anggota sampel. Menurut Sugiyono (2003:56). Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Suharsimi Arikunto.59 2. .2001:59). mengundi lembaranlembaran kertas dan mengambil sejumlah 28.2001:68). yaitu sejumlah 28 orang (Sugiyono. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili). digunakan teknik simple random sampling. Dari anggota populasi sejumlah 30 orang. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa sampel merupakan sebagian atau keseluruhan gejala yang diambil dari anggota populasi dan dianggap benar-benar mewakili karakteristik seluruh gejala dalam populasi.

Kemampuan menggunakan alat jahit b. Definisi lain tentang variabel adalah gejala yang menjadi fokus peneliti untuk diamati (Sugiyono.2002:94). Penelitian ini memuat dua jenis variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat.60 3. 2003:3). Variabel yang menjadi fokus penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Variabel bebas (independen) adalah variabel yang menjadi sebab berubahnya variabel terikat (dependen). Sub-sub variabel tersebut adalah sebagai berikut : a. Kemampuan mengambil ukuran c. sedangkan variabel terikat (dependen) adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat adanya variabel bebas (Sugiyono. yaitu variabel sikap wiraswasta. Kemampuan menggunting e. Kemampuan menjahit pakaian . 2003:2). Variabel terikat (Y) . Variabel bebas (X) . yaitu variabel kinerja menjahit b. Variabel Penelitian Variabel adalah objek yang akan diteliti atau yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto. Kemampuan membuat pola d. Berdasarkan definisi-definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa variabel adalah objek atau gejala yang menjadi fokus dalam suatu penelitian. Variabel kinerja menjahit meliputi sub-sub variabel yang juga berperan sebagai indikator pengukuran kinerja menjahit.

e. Dalam penelitian ini pengamatan dilakukan untuk memperoleh data tentang tingkat kinerja menjahit warga belajar yang mengikuti kejar menjahit. b. Tingkatan skor yang digunakan dalam pengamatan adalah sebagai berikut : . h. Pengamatan dilakukan dengan memberikan tanda checklist ( ) pada instrumen observasi berupa lembar observasi yang berisikan skor pada masing-masing indikator kinerja manjahit. f. Metode Observasi Menurut Ridwan (2004:42) observasi adalah melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan. Motivasi Optimis dan berpikir positif Berpikir kreatif dan inovatif Mempunyai wawasan luas ke depan Keberanian mengambil resiko Keberanian mengambil keputusan Bekerja sama Mandiri B. d. g.61 Variabel sikap wiraswasta meliputi sub-sub variabel sebagai berikut : a. Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan untuk pengumpulan data penelitian ini terdiri dari metode observasi (pengamatan) dan metode angket (kuesioner). 1. c.

2. Dengan demikian skor tertinggi yang mungkin dicapai oleh responden adalah 4 x 20 item = 80. Sugiyono (2001:73) mengemukakan bahwa skala Likert sering digunakan untuk . Sangat Baik B. dan skor terendah yang dapat dicapai adalah 1 x 20 item = 20. Baik C. Penggunaan angket dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkap variabel sikap wiraswasta pada diri responden.62 A. Metode Angket Menurut Suharsimi Arikunto (2002:200). Kurang Baik diberi skor 4 diberi skor 3 diberi skor 2 diberi skor 1 Jumlah skor total yang diperoleh oleh tiap warga belajar merupakan cerminan tingkat kinerja menjahit yang dimilikinya. Apabila skor totalnya tinggi maka dapat dikatakan bahwa tingkat kinerja menjahitnya tinggi. sedangkan bila tingkat kinerjanya rendah maka skor total pun rendah. yaitu angket yang telah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih saja pada jawaban yang tersedia. angket adalah sejumlah pertanyaan atau pernyataan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya. angket dalam penelitian ini termasuk angket tertutup. Cukup Baik D. Dipandang dari segi cara menjawabnya. Angket yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala Likert. atau halhal yang ia ketahui.

untuk itu perlu usaha dalam menyusun instrumen yang baik. Alternatif jawaban yang digunakan dalam skala Likert untuk penelitian ini adalah sebagai berikut : Sangat Sesuai Sesuai (SS) (S) diberi skor 4 diberi skor 3 diberi skor 2 diberi skor 1 Kurang Sesuai (KS) Tidak Sesuai (TS) C. Variabel Sub Variabel Kemampuan menggunakan alat jahit Kemampuan mengambil ukuran Kemampuan membuat pola Kemampuan menggunting Kemampuan menjahit pakaian Motivasi Optimis dan berpikir positif Kreatif dan inovatif Berwawasan luas Berani mengambil resiko Berani mengambil keputusan Mau bekerja sama Mandiri Metode Pengumpulan Data Obsevasi Alat Ukur 1 Kinerja Menjahit Chekclist 2 Sikap Wiraswasta Angket Angket .63 mengukur sikap atau pendapat seseorang. maka disusun kisi-kisi instrumen yang akan digunakan dalam angket dan observasi.1 Kisi-kisi Instrumen Penelitian No. Untuk mendapatkan data yang akurat tentang aspek yang diteliti. Kisi-kisi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 3. Penyusunan Instrumen Instrumen yang baik pada dasarnya akan mendukung perolehan data penelitian yang baik pula.

dengan memperhatikan ciriciri yang sama dengan populasi yaitu warga belajar.64 D. betul-betul dapat digunakan untuk mengukur faktor-faktor yang hendak diukur sesuai dengan tujuan penelitian. Validitas Instrumen dan Reliabilitas Instrumen Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (Arikunto. Instrumen yang telah disusun berdasarkan kisi-kisi terlebih dahulu diuji cobakan agar dapat diketahui validitas dan reliabilitasnya. Skor-skor yang diperoleh dari tiap responden kemudian dipergunakan untuk menentukan validitas dan reliabilitas instrumen.2003:267). Dengan demikian validitas dimaksudkan untuk menentukan apakah pertanyaan atau pernyataan yang disusun dalam angket. Uji Coba Instrumen Usaha yang dapat dilakukan untuk mendapatkan instrumen yang baik untuk penelitian salah satunya adalah dengan mengupayakan penyusunan instrumen yang memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas. Sedangkan pendapat lain “instrumen valid” adalah instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur (Sugiyono. Pengujian validitas dilakukan dengan analisis butir (item). Jawaban yang diberikan oleh peserta uji coba kemudian diberi skor sesuai dengan ketentuan yang telah dibuat. analisis butir adalah mengkorelasikan skor tiap butir .2002:144). Pelaksanaan uji coba dalam penelitian ini dilakukan dengan memberikan instrumen yang telah disusun kepada 20 orang anggota sampel yang dipilih secara acak. 1. Menurut Sugiyono (2003:272).

8670.4444 maka disimpulkan bahwa dari 20 item soal. sedangkan item yang lain dinyatakan valid. Setelah dilakukan pembandingan dengan rtabel sebesar 0. Pengujian pada variabel sikap wiraswasta menunjukkan bahwa koefisien korelasi berkisar antara 0. Dengan demikian instrumen telah memenuhi syarat validitas.65 dengan skor total yang merupakan jumlah tiap skor butir. Jika rhitung > rtabel maka item soal dinyatakan valid.2003:272). 11 dan 20.7752. Rumus korelasi yang dapat digunakan adalah rumus korelasi product moment dari Pearson sebagai berikut : rxy = {N ∑ x N ∑ xy − (∑ x )(∑ y ) 2 2 − (∑ x ) N ∑ y 2 − (∑ y ) }{ 2 } Keterangan : r xy = koefisien korelasi Σ x = skor item Σ y = skor total N = jumlah sampel (Sugiyono.3000 sampai dengan 0. maka koefisien tersebut dibandingkan dengan rtabel. Setelah dilakukan pembandingan dengan rtabel sebesar 0. Hasil perhitungan validitas secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 4 dan 5 halaman 93-98.4280 sampai dengan 0. . 3 item dinyatakan tidak valid yaitu nomor 9. Pengujian validitas pada variabel kinerja menjahit menunjukkan bahwa koefisien korelasi berkisar antara 0. 2 item dinyatakan tidak valid yaitu nomor 8 dan 17. Untuk menentukan valid tidaknya item soal.4444 maka disimpulkan bahwa dari 20 item soal. sedangkan item yang lain dinyatakan valid.

66 2.2002:170). misalnya angket atau soal bentuk uraian (Arikunto. Instrumen pada penelitian ini.2002:171) Hasil dari perhitungan rumus Alpha tersebut kemudian dikonsultasikan dengan harga r Tabel pada taraf signifikansi 5% dan jumlah responden (N) sejumlah 20. Jika harga r hitung > r tabel maka instrumen dikatakan reliabel. Rumus Alpha Cronbach digunakan untuk menganalisis reliabilitas instrumen yang skornya bukan 1 dan 0 melainkan berupa interval. Maka reliabilitas intstrumen ini akan dianalisis dengan rumus Alpha Cronbach sebagai berikut : ⎪ ⎧ k ⎫⎧ r11 = ⎨ ⎬⎨1 − ⎩ k − 1 ⎭⎪ ⎩ ∑s ∑s 2 1 ⎫ ⎪ 2 ⎬ t ⎪ ⎭ Keterangan : r 11 = realibilitas instrumen k = banyaknya butir / item soal 2 Σsi = jumlah varian butir Σst2 = varian total (Arikunto. Pengujian reliabilitas dengan internal consistency dilakukan dengan cara mencobakan instrumen sekali. . 2002:171). Suatu angket dikatakan reliabel jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Arikunto. reliabilitasnya diuji secara internal consistency. kemudian hasilnya dianalisis. Uji Reliabilitas Dalam penelitian ini selain uji validitas juga dilakukan uji reliabilitas. namun jika r hitung < r tabel maka instrumen dikatakan tidak reliabel.

9195. Menentukan jumlah butir pertanyaan c. Hasil perhitungan reliabilitas secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 5 halaman 93-98. Menentukan jumlah responden b. Langkah-langkah yang dilakukan untuk membuat daftar distribusi frekuensi adalah sebagai berikut: a. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi teknik analisis deskriptif prosentase. sedangkan pengujian hipotesis dilakukan teknik analisis korelasi product moment.67 Hasil pengujian pada variabel kinerja menjahit. diperoleh koefisien r11 sebesar 0.8803. Menentukan skor maksimum. E. 1. diperoleh koefisien r11 sebesar 0. Karena r11 > rtabel maka instrumen variabel sikap wiraswasta dinyatakan reliabel. Analisis deskriptif dilakukan dengan menggunakan rata-rata data dan standar deviasi. . Karena r11 > rtabel maka instrumen variabel kinerja menjahit dinyatakan reliabel. dengan cara mengalikan skor tertinggi jawaban dengan jumlah item pertanyaan. Selain itu juga dilakukan analisis dengan menggunakan daftar distribusi frekuensi dan tabel distribusi frekuensi. Analisis Deskriptif Analisis deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran atau deskripsi tentang aspek-aspek yang terdapat di dalam variabel penelitian. Hasil pengujian pada variabel sikap wiraswasta.

Menentukan frekuensi perolehan skor dari tiap responden yang sesuai dengan kelas intervalnya k. Membuat kelas-kelas interval mulai dari skor minimum sampai dengan skor maksimum dengan interval yang telah ditentukan i. f. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut: .3 log n. terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan yaitu uji normalitas sebaran data (Sugiyono.68 d. Menghitung prosentase dari frekuensi tiap kelas interval 2. g. Menentukan jenjang kriteria dengan aturan Sturgess k = 1 + 3. Teknik Uji Persyaratan Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi product moment. Menentukan interval kelas skor.2001:114). Menentukan skor minimum. yaitu dengan cara mengurangi skor maksimum dengan skor minimum. dengan cara membagi rentang skor dengan jumlah kriteria h. Sebelum teknik korelasi product moment dilakukan. Memasukkan skor yang diperoleh tiap responden ke dalam kelas interval yang sesuai j. dengan cara mengalikan skor terendah jawaban dengan jumlah item variabel. Menentukan rentang skor. e. Untuk mengetahui normalitas data dari populasi yang ada digunakan uji Lillieffors.

zn yang lebih kecil atau sama dengan zi. maka F (zi)=0. diubah menjadi bilangan baku zi − x −x dengan menggunakan rumus zi = i dengan x merupakan rata-rata s − data dan s adalah simpangan baku.5 + Luas daerah di bawah lengkungan normal standar. 3. Dengan menggunakan teknik ini akan diperoleh harga koefisien r product moment.5 – Luas daerah di bawah lengkungan normal standar. ditulis S(zi).1996:466). 4) Kemudian dihitung selisih antara F(zi) – S(zi) dengan mengambil harga mutlaknya. Caranya dengan membagi banyaknya skor yang lebih kecil atau sama dengan zi dengan jumlah responden (28). z2. Pengujian Hipotesis Teknik yang digunakan dalam pengujian hipotesis adalah teknik korelasi product moment. maka F(zi) =0. jika zi positif. 6) Bandingkan dengan harga L tabel. 3) Selanjutnya dihitung proporsi z1. Teknik ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y). maka sebaran data tersebut mengikuti distribusi normal (Sudjana. Apabila Lo < L tabel. Ketentuannya. 2) Dari tiap angka baku tersebut kemudian ditentukan peluang zi F(zi) dengan bantuan tabel luas lengkungan kurva normal. 5) Menentukan harga terbesar dari selisih tersebut sebagai harga Lo. …. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut : .69 1) Tiap skor total yang diperoleh. jika zi negatif.

80 – 1.599 Sedang 0. Uji signifikansi dilakukan menggunakan uji t dengan rumus sebagai berikut : t= r n−2 1− r2 Keterangan: t = harga t hitung . Untuk mengetahui apakah hasil tersebut berlaku juga untuk tingkatan populasi maka perlu dilakukan uji signifikansi korelasi. Harga koefisien ini menunjukkan ada tidaknya hubungan yang terjadi antara kedua variabel tersebut.000 Sangat kuat Sumber : Sugiyono.00 – 0.799 Kuat 0. Untuk dapat memberikan interpretasi kuat lemahnya hubungan antara kedua variabel.20 – 0.70 rxy = {N ∑ x N ∑ xy − (∑ x )(∑ y ) 2 2 − (∑ x ) N ∑ y 2 − (∑ y ) }{ 2 } Keterangan: r xy = koefisien korelasi antara variabel X dan Y Σ x = skor total variabel X Σ y = skor total variabel Y N = jumlah sampel (Sugiyono. digunakan pedoman sebagai berikut : Tabel 3.399 Rendah 0.199 Sangat rendah 0.2 Interpretasi Tingkat Korelasi Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0.60 – 0.2001:148).40 – 0.2001:149 Harga koefisien korelasi yang diperoleh pada dasarnya masih hanya berlaku pada sejumlah sampel penelitian.

dilakukan perhitungan koefisien determinasi koefisien korelasi product moment.71 r = koefisien korelasi product moment n = jumlah sampel (Sugiyono.2004:218). .2001:150) Kriteria pengujiannya. artinya dapat digeneralisasikan pada populasi. Untuk menentukan seberapa besar sumbangan yang ditimbulkan oleh variabel bebas terhadap variabel terikat. jika harga t hitung > dari harga t tabel maka koefisien korelasi yang diperoleh adalah signifikan. Rumus yang digunakan adalah KP = r2 x 100% dimana KP menyatakan besarnya koefisien determinasi dan r adalah koefisien korelasi antara variabel bebas dan variabel terikat (Ridwan.

1 Deskripsi Data Hasil Penelitian Nilai Nilai Tertinggi 70 68 Terendah 26 29 Variabel Rata-rata 54. Berdasarkan hasil pengumpulan data berupa nilai pada variabel kinerja menjahit dan sikap wiraswasta. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 7 Agustus sampai dengan 1 September 2005.5930. skor tertinggi 70. Berikut ini akan diuraikan hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan. Hasil Penelitian Setelah melakukan kegiatan pengumpulan data dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel.1430 52. Pada variabel sikap wiraswasta skor tertinggi 72 .5930 9. deskripsi data penelitian.9645 Kinerja Menjahit Sikap Wiraswasta Berdasarkan tabel di atas. langkah selanjutnya yang dilakukan peneliti adalah menginterpretasikan data hasil penelitian secara deskriptif. B. analisis data dan pembahasan. diperoleh data sebagai berikut : Tabel 4. dengan mengambil lokasi di Balai RW IV Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat. A. dapat diketahui bahwa pada variabel kinerja menjahit. rata-ratanya adalah 54.1430 dengan standar deviasi 10.5710 Standar Deviasi 10.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab IV akan disajikan tentang waktu dan tempat pelaksanaan penelitian. skor terendah 26.

73

68, skor terendah 29, rata-rata skor adalah sebesar 52,5710 dan standar deviasinya sebesar 9,9645. Selanjutnya, sebaran data tersebut dibuat menjadi daftar distribusi frekuensi dengan langkah-langkah seperti tercantum dalam teknik analisis deskriptif bab metodologi penelitian. Berikut ini hasil penyusunan daftar distribusi frekuensi pada masing-masing variabel. 1. Data Kinerja Menjahit Kinerja menjahit dapat digambarkan dengan daftar distribusi frekuensi data, oleh karena itu dapat ditentukan dengan menentukan interval skor sebagai berikut: a. Jumlah responden 28 b. Jumlah butir pertanyaan 18 c. Skor maksimum = 4 x 18 = 72 d. Skor minimum = 1 x 18 = 18 e. Rentang skor = 72 – 18 = 54 f. Jumlah kelas data = 1 + 3,3 log 28 = 5,7756 dibulatkan menjadi 6 g. Interval kelas = 54 : 6 = 9 Hasil pengolahan data jika disajikan dalam bentuk daftar distribusi frekuensi variabel kinerja menjahit adalah sebagai berikut: Tabel 4.2 Daftar Distribusi Frekuensi Data Kinerja Menjahit Kelas Interval Skor Frekuensi Prosentase % 3,5714 1 18 – 26 A 0,0000 0 27 – 35 B 14,2857 4 36 – 44 C 25,0000 7 45 – 53 D 32,1429 9 54 – 62 E 25,0000 7 63 – 72 F Jumlah 28 100%

74

Tabel di atas menunjukkan bahwa sebesar 32,1429% responden, memiliki skor pada interval 54 – 62, sebesar 25,0000% responden mempunyai skor pada interval 45 – 53 dan pada interval 63 – 72, sebesar 14,2857% memiliki skor pada interval 36 – 44, dan sebanyak 3,5714% memiliki skor pada interval 18 – 26. Dari tabel di atas, diketahui tidak ada responden yang memiliki skor pada interval 27 – 35. Berdasarkan tabel daftar distribusi di atas, jika digambarkan dalam bentuk grafik akan diperoleh gambaran sebagai berikut:

9 8 7 6 5 4 3 2 1 0
18 - 26 27 - 35 36 - 44 45 - 53 54 - 62 Skor 63 - 72

Gambar 4.1 Diagram Distribusi Frekuensi Kinerja Menjahit 2. Data Sikap Wiraswasta Variabel sikap wiraswasta dapat digambarkan dengan daftar distribusi frekuensi data, oleh karena itu dapat ditentukan dengan menentukan interval skor sebagai berikut: a. Jumlah responden 28 b. Jumlah butir pertanyaan 17

Frekuensi

75

c. Skor maksimum = 4 x 17 = 68 d. Skor minimum = 1 x 17 = 17 e. Rentang skor = 68 – 17 = 51 f. Jumlah kelas data = 1 + 3,3 log 28 = 5,7756 dibulatkan menjadi 6 g. Interval kelas = 51 : 6 = 8,5 dibulatkan menjadi 9 h. Hasil pengolahan data jika disajikan dalam bentuk daftar distribusi frekuensi variabel sikap wiraswasta adalah sebagai berikut: Tabel 4.3 Daftar Distribusi Frekuensi Data Sikap Wiraswasta
Kelas A B C D E F Jumlah Interval Skor 17 – 25 26 – 33 34 – 41 42 – 50 51 – 59 60 – 68 Frekuensi 0 1 3 9 6 9 28 Prosentase % 0 3,5714 10,7142 32,1429 21,4286 32,1429 100%

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa responden yang memiliki skor pada interval 42 – 50 dan 60 – 68 masing-masing sebesar 32,1429%. Responden yang memiliki skor pada interval 51 – 59 sebesar 21,4286%, responden yang memiliki skor pada interval 34 – 41 sebesar 10,7142%, sedangkan responden yang memiliki skor pada interval 26 – 33 sebesar 3,5714%. Tabel di atas menunjukkan tidak ada responden yang memiliki skor pada interval 17 – 25. Daftar distribusi di atas, jika digambarkan dalam bentuk grafik akan diperoleh gambaran sebagai berikut:

59 60 . Namun sebelum dilakukan pengujian tersebut. . dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Tiap skor total yang diperoleh. Perhitungan uji normalitas dilakukan dengan uji Lillieffors. dilakukan uji prasyarat analisis terlebih dahulu.68 Skor Gambar 4.33 34 .76 10 8 Frekuensi 6 4 2 0 17 . Pengujian pada analisis ini adalah uji normalitas. Uji Prasyarat Analisis Analisis ini dilakukan untuk menguji normalitas data hasil penelitian sebagai syarat analisis korelasi dengan statistik parametik. Analisis Data Hasil Penelitian Analisis pada tahap ini dilakukan untuk memperoleh jawaban atas hipotesis penelitian. yaitu dengan menggunakan teknik korelasi product moment. diubah menjadi bilangan baku zi − x −x dengan x merupakan rata-rata dengan menggunakan rumus zi = i s − data dan s adalah simpangan baku.25 26 .41 42 . 1.50 51 .2 Diagram Distribusi Frekuensi Sikap Wiraswasta C. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui normal tidaknya sebaran data pada tiap-tiap variabel.

1430 dan s=10.05 adalah 0. − .0000. diperoleh F(zi) antara 0. maka F(zi) =0. 4) Kemudian dihitung selisih antara F(zi) – S(zi) dengan mengambil harga mutlaknya. Dari harga tersebut. 3) Selanjutnya dihitung proporsi z1. Ketentuannya. diperoleh selisih harga mutlak F(zi )-S(zi) atau Lo. 5) Menentukan harga terbesar dari selisih tersebut sebagai harga Lo. Apabila Lo < L tabel. Harga L tabel untuk n = 28 dan taraf signifkansi 5% atau 0. maka sebaran data tersebut mengikuti distribusi normal (Sudjana. kemudian dilaksanakan langkah-langkah seperti tersebut di atas.0075 sampai 0. Dari skor yang diperoleh pada variabel kinerja menjahit. Karena harga Lo < L tabel. …. Dari harga-harga perhitungan pada lampiran. maka disimpulkan bahwa sebaran data variabel kinerja menjahit adalah normal.1996:466).77 2) Dari tiap angka baku tersebut kemudian ditentukan peluang zi F(zi) dengan bantuan tabel luas lengkungan kurva normal. harga maksimal (Lo) sebesar 0.4960.0039 sampai 0. jika zi positif. zn yang lebih kecil atau sama dengan zi.0357 sampai 1.5930. Caranya dengan membagi banyaknya skor yang lebih kecil atau sama dengan zi dengan jumlah responden (28).9327 sedangkan proporsi S(zi) antara 0. 6) Bandingkan dengan harga L tabel.5 + Luas daerah di bawah lengkungan normal standar. z2. Harga zi berkisar antara –2. ditulis S(zi). Dengan demikian. jika zi negatif.0672. maka F (zi)=0.1658.6567 sampai 1. diperoleh x =54. berkisar antara 0. Setelah dihitung.0672.5 – Luas daerah di bawah lengkungan normal standar.

diperoleh x =52. diperoleh F(zi) antara 0.0090 sampai 0.9392 sedangkan proporsi S(zi) antara 0. 2.untuk menguji hipotesis yang diajukan.78 Hasil perhitungan uji normalitas variabel kinerja menjahit terdapat pada halaman 111 lampiran 13.1658.0978.0003 sampai 0. Dari harga-harga perhitungan pada lampiran.3656 sampai 1. berkisar antara 0. harga maksimal (Lo) sebesar 0. Adapun hipotesis yang diajukan adalah berbunyi: . kemudian dilaksanakan langkah-langkah pengujian Lillieffors. Setelah dihitung. Hasil perhitungan uji normalitas variabel kinerja menjahit terdapat pada halaman 120 lampiran 15. maka disimpulkan bahwa sebaran data variabel sikap wiraswasta adalah normal. Harga L tabel untuk n = 28 dan taraf signifkansi 5% atau 0. Dengan demikian. Harga zi berkisar antara –2. Analisis Tahap Akhir Berdasarkan analisis tahap awal diketahui bahwa sebaran data pada ketiga variabel memenuhi syarat normalitas.05 adalah 0. Dari harga tersebut.9640. maka pada analisis tahap berikutnya adalah dilakukan secara parametrik dengan teknik analisis korelasi product moment.5710 dan s=9. Karena harga Lo < L tabel. Dari skor yang diperoleh pada variabel sikap wiraswasta.0357 − sampai 1.0998.000. diperoleh selisih harga mutlak F(zi )-S(zi) atau Lo.5484.

4 Statistik untuk Perhitungan Korelasi Statistik ΣX (ΣX)2 ΣY (ΣY)2 ΣXY ΣY2 ΣX2 n Jumlah 1516 2298256 1472 2166784 81375 80066 85110 28 Harga-harga tersebut kemudian disubstitusikan ke dalam rumus korelasi product moment.79 Ho : Tidak ada hubungan antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat Ha : Ada hubungan antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat a. Berdasarkan tabel pada lampiran perhitungan korelasi diperoleh seperti tabel 4. Korelasi antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta Analisis yang digunakan untuk menentukan ada tidaknya korelasi antara kedua variabel adalah dengan menggunakan teknik korelasi product moment.4 sebagai berikut: Tabel 4. rXY = n ∑ XY − (∑ X)(∑ Y) {n ∑ X 2 − (∑ X) 2 }{n ∑ Y 2 − (∑ Y) 2 } 28x81375 − 1516 x1472 {28x85110 − 2298256}{28x80066 − 2166784} rXY = .

5884 > 0.5884 28 − 2 1 − 0. Untuk n = 28 dan taraf signifikansi 5% diperoleh harga rtabel sebesar 0. Besarnya koefisien korelasi adalah 0.3740 maka disimpulkan hipotesis nol yang berbunyi tidak ada hubungan antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongasari Kecamatan Semarang Barat.58842 t= . Untuk menguji signifikansi koefisien korelasi.5884 Koefisien r tersebut kemudian dikonsultasikan dengan harga r tabel product moment. yang berbunyi ada hubungan antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta.80 rXY1 = 2278500 − 2231552 {2383080 − 2298256}{2241848 − 2166784} 46948 {84824}{75064} 46948 {6367228736} rXY = rXY = rXY = 46948 79794.3740. dilakukan uji t sebagai berikut: t= r n−2 1− r2 0.917 rXY = 0. ditolak yang berarti hipotesis kerja diterima.5884. Karena harga rhitung > rtabel yaitu 0.

3462 atau 34.5884 26 1 − 0.346 3. yaitu sebesar (0.809 Harga thitung tersebut kemudian dikonsultasikan dengan ttabel dengan taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasan n – 2 = 28 – 2 =26. artinya dapat digeneralisasikan pada populasinya.654 t= t= 3. Daerah Penolakan Ho Daerah penerimaan Ho 0 ttabel 1.7060 thitung =3.6200%). . Berikut ini adalah grafik dari hasil perhitungan di atas.7060) maka disimpulkan bahwa koefisien korelasi tersebut signifikan.7082 Gambar 4.00 0. yaitu sebesar 65. dengan demikian ada hubungan antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta.7082 0.7060.5884)2 = 0. Dengan demikian masih terdapat faktor lain yang turut memberikan sumbangan terhadap sikap wiraswasta. yaitu sebesar 1.81 t= 0.3800% (diperoleh dari 100% 34.7082) > ttabel (1.3 Bagan Pengujian thitung Besarnya sumbangan kinerja menjahit terhadap sikap wiraswasta ditentukan dengan mengkuadratkan koefisien korelasi.6200%.00 = 3. Karena thitung (3.

6200% Faktor Lain 65. semakin rendah kinerja menjahit maka sikap wiraswastanya pun semakin rendah. maka sikap wiraswastanya pun akan semakin tinggi. Dan sebaliknya. apabila ada faktor-faktor yang mendukungnya.3740. diperoleh koefisien korelasi (rhitung) sebesar 0. Hasil simpulan ini dapat dipahami karena pada dasarnya seseorang yang memiliki kemampuan dalam menjahit cenderung mempunyai keinginan untuk membuka suatu usaha. Pembahasan Hasil Penelitian Berdasarkan analisis data hasil penelitian dengan menggunakan teknik korelasi product moment antara kinerja menjahit dan sikap wiraswasta.5884)2 . yang signifikan pada taraf signifikansi 5%. cenderung memiliki motivasi untuk mengaktualisasikan keahliannya dalam bentuk usaha yang mendatangkan keuntungan.82 Kinerja Menjahit 34. Besarnya sumbangan kinerja menjahit terhadap sikap wiraswasta ditentukan dengan mengkuadratkan koefisien korelasi.4 Diagram Sumbangan Kinerja Menjahit terhadap Sikap Wiraswasta D. yaitu sebesar (0. Hal ini berarti ada hubungan antara kedua variabel.3800% Gambar 4.5884 > rtabel sebesar 0. Seorang warga belajar yang mempunyai kinerja menjahit tinggi. Jika kinerja menjahit warga belajar tinggi.

3800% (diperoleh dari 100% . serta keberaniannya dalam mengambil resiko dan mengambil keputusan.83 = 0. maka sikap wiraswastanya pun tidak akan berkembang dengan baik. Hal ini dapat terjadi karena meskipun warga belajar memiliki kinerja yang cukup baik. yaitu sebesar 65. Faktor kinerja memberikan sumbangan hanya sekitar sepertiga bagian saja.34. Warga belajar yang memiliki kinerja menjahit baik. masih terdapat beberapa keterbatasan dalam pelaksanaan penelitian ini. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan mengusahakan semaksimal mungkin mengikuti prosedur yang tepat dan benar.62%). Pada umumnya faktor yang sering menjadi penghambat kemauan menjadi wiraswasta dari warga belajar adalah kurangnya keberanian mengambil resiko meminjam modal usaha. Faktor-faktor di luar kinerja menjahit yang turut memberikan sumbangan terhadap sikap wiraswasta antara lain motivasi.3462 atau 34.6200%. Beberapa keterbatasan tersebut antara lain: . Dengan demikian masih terdapat faktor lain yang turut memberikan sumbangan terhadap sikap wiraswasta. kreativitas dan inovasinya. namun apabila memiliki motivasi untuk menjadi wiraswasta atau tidak memiliki kreativitas dan inovasi-inovasi baru. Kreativitas dan inovasi warga belajar kurang berkembang karena kurang adanya pemberian stimulus-stimulus untuk menjadi wiraswasta. tetapi sangat terbatas modal usahanya. sangat kecil kemungkinannya untuk memiliki sikap wiraswasta atau berkeinginan menjadi wiraswasta dalam bidang jahit menjahit. yang mungkin ber pengaruh terhadap hasil penelitian. Namun demikian. sikap optimistis yang dimilikinya. E.

.84 1. 2. Hal ini mungkin berpengaruh terhadap kinerja yang ditunjukkan oleh warga belajar pada saat penelitian yang sesungguhnya dilakukan. Hal tersebut mungkin berpengaruh terhadap hasil penilaian observasi. Idealnya obersvasi dilakukan lebih dari satu kali. namun karena keterbatasan waktu dan tenaga serta sulitnya koordinasi dengan warga belajar dan tutor. maka observasi hanya dilaksanakan satu kali. idealnya dikenakan pada warga belajar menjahit di luar anggota sampel. Pada saat pelaksanaan uji coba instrumen. Namun karena di lokasi lain peneliti tidak menemukan adanya kelompok belajar menjahit lainnya maka pelaksanaan uji coba dikenakan pada sebagian anggota sampel.

baik dari faktor motivasi. kreativitas.6200% atau hanya sekitar sepertiga bagian dari seluruh faktor yang mempengaruhi sikap wiraswasta. Hal ini mengandung arti jika warga belajar mempunyai kinerja menjahit yang tinggi maka cenderung memiliki sikap wiraswasta yang tinggi pula. Ada hubungan yang signifikan antara kinerja menjahit yang dimiliki oleh warga belajar dengan sikap wiraswasta di bidang penjahitan. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan hasil penelitian yang telah diperoleh. dapat disimpulkan bahwa: 1. Besarnya sumbangan kinerja menjahit terhadap sikap wiraswasta sebesar 34. jika warga belajar mempunyai kinerja menjahit yang rendah maka ia cenderung memiliki sikap wiraswasta yang rendah pula. 2. Hal ini dapat disebabkan kurang berkembangnya situasi dan kondisi yang mendukung munculnya sikap wiraswasta warga belajar. Hubungan yang terjadi antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta warga belajar bersifat positif. 85 . inovasi atau pun keberanian warga belajar dalam mengambil keputusan dan resiko.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Begitu pula sebaliknya.

pasar murah maupun lomba tentang busana. . Bagi warga belajar. Pemerintah Kelurahan hendaknya mendukung terciptanya situasi dan kondisi yang memungkinkan dapat meningkatkan sikap wiraswasta warga belajar. Selain itu pemerintah kelurahan harus sering mengadakan pameran. misalnya dengan mengusahakan bantuan alat-alat jahit. hendaknya selalu berusaha untuk meningkatkan kinerja menjahit serta memacu peningkatkan sikap dan jiwa wiraswastanya. Langkah yang dapat dilakukan adalah dengan menekuni serta memperdalam pengetahuan dan keterampilan menjahit. peneliti mempunyai beberapa saran sebagai berikut: 1. Saran Berdasarkan simpulan yang diperoleh. Langkah yang dapat ditempuh misalnya dengan mengusahakan adanya koperasi untuk menampung hasil kerja warga belajar menjahit. Usaha lain yang juga penting adalah mengusahakan ketersediaan fasilitasfasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh warga masyarakat untuk mengembangkan potensi wirausahanya.86 B. bazar. yang juga dapat dimanfaatkan untuk membantu proses pemasaran produksi warga belajar. 2. serta pinjaman modal usaha bagi mereka.

2004. Bandung : Remaja Rosda Karya. 1991. Susilo. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Petunjuk Pelaksanaan Pendidikan Luar Sekolah. 1996. 2001. 2004. Psikologi Kerja. Suatu Pendekatan Praktek. Pandji. Oki. Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta. Psikologi Sosial. Poerwodarminto. Kiat Sukses Wirausaha. Kewirausahaan. Tesis tidak diterbitkan. Pembuatan Busana. Bandung : Alfabeta Sugiyono. 1996. Machfoedz. Manajemen Sumber Daya Manusia. Depdikbud Siagian. 2002. Metode Penelitian Administrasi. Pengaruh Gaya Kepemimpinan. Metoda Statistika. Prosedur Penelitian. 2000. Radias. Yogyakarta: UPP AMP YKPN Pidarta. 2002. Motivasi terhadap Kinerja Guru SMP Negeri Kota Semarang Tahun 2004. Sumber Daya Manusia Perusahaan. Pembuatan Busana Rekreasi. 2003. Jakarta : Rineka Cipta Sugiyono. Jakarta : Depdikbud Departemen Pendidikan Nasional.DAFTAR PUSTAKA Ahmadi. Abu. 1997. Mas’ud. Jakarta : Rineka Cipta Pitoyo. Yogyakarta : Penerbit Palem Ridwan. 1992. Jakarta : Rineka Cipta Arikunto. Statistika untuk Penelitian. Landasan Kependidikan. Jakarta : Rineka Cipta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2004. Nugroho. Bandung : Alfabeta Saleh. Bandung : Alfabeta 87 . 2002. 2000. Made. Anoraga. Jakarta: Depdiknas Mangkunegoro. Jakarta. Jakarta: Balai Pustaka. P. 2004. Jakarta : Balai Pustaka Priyono. Suatu Pendekatan Kontemporer. Metode Statistika. Sondang. Suharsimi. Jakarta : Rineka Cipta Sudjana. 2000.

Pendidikan Wiraswasta. Teori dan Praktek Kewiraswastaan. 1998. Jakarta : Bumi Aksara Tarmudji. 2000. Soedarsono. Yogyakarta : Liberty Wahjoetomo. 1995. Pengantar Kewiraswastaan. Membangun Kelas Menengah. Pola Busana Wanita. Leo. 2000. Bandung : Sinar Baru Algensindo Yekti Kristanto. Prinsip-prinsip Wirausaha.88 Suharto. Jakarta : Bumi Aksara Soemanto. 2000. Tarsis. Alwine Semarang . Jakrta : Rasindo Wijandi. Wasty. 1999.

18 19.Lampiran 1 89 KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIAN VARIABEL SUB VARIABEL Ketepatan menggunakan alat jahit INDIKATOR Cara menggunakan mesin jahit lurus Cara menggunakan mesin obras Cara menggunakan gunting kain Cara menggunakan karbon jahit Cara menggunakan rumah kumparan Cara menggunakan kapur jahit Cara mengukur lingkar badan Cara mengukur lingkar pinggang Cara mengukur lingkar panggul Cara mengukur panjang dada Cara mengukur lebar punggung Cara mengukur pangkal leher Cara mengukur lebar dada Cara mengukur lingkar kerung siku Cara menggunakan tanda pola garis merah Cara menggunakan tanda titik pola garis titik Cara membuat pola dasar badan Cara menyelesaikan kampuh buka Cara menyelesaikan saku dalam Cara menyelesaikan belahan tutup tarik Mempunyai motivasi untuk berhasil Bersikap optimis dan berpikir positif Berpikir kreatif dan inovatif Mempunyai wawasan luas ke depan Keberanian mengambil resiko Berani mengambil keputusan Mau bekerja sama dengan orang lain Mempunyai keterampilan berkomunikasi baik Mempunyai jiwa pemimpin Bersikap mandiri Nomor Item Ketepatan mengambil ukuran Kinerja Menjahit Ketepatan membuat pola Ketepatan menjahit pakaian Sikap Wiraswasta Motivasi Optimis dan berpikir positif Kreatif dan inovatif Berwawasan luas Berani mengambil resiko Berani mengambil keputusan Mau bekerja sama Mampu berkomunikasi Memimpin Mandiri 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 1.4 5.16 17.10 11.20 .2 3.6 7.8 9.14 15.12 13.

90 KISI-KISI INSTRUMEN OBSERVASI Nomor Item VARIABEL SUB VARIABEL Ketepatan menggunakan alat jahit INDIKATOR Cara menggunakan mesin jahit lurus Cara menggunakan mesin obras Cara menggunakan gunting kain Cara menggunakan karbon jahit Cara menggunakan rumah kumparan Cara menggunakan kapur jahit 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Ketepatan mengambil ukuran Cara mengukur lingkar badan Cara mengukur lingkar pinggang Cara mengukur lingkar panggul Cara mengukur panjang dada Cara mengukur lebar punggung Cara mengukur pangkal leher Cara mengukur lebar dada Cara mengukur lingkar kerung siku Kinerja Menjahit 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Ketepatan membuat pola Cara menggunakan tanda pola garis merah Cara menggunakan tanda titik pola garis titik Cara membuat pola dasar badan Ketepatan menjahit pakaian Cara menyelesaikan kampuh buka Cara menyelesaikan saku dalam Cara menyelesaikan belahan tutup tarik .

6 7.12 13.16 17.91 KISI-KISI INSTRUMEN ANGKET VARIABEL SUB VARIABEL Motivasi Optimis dan berpikir positif Kreatif dan inovatif Berwawasan luas Berani mengambil Sikap Wiraswasta resiko Berani mengambil keputusan Mau bekerja sama Mampu berkomunikasi Memimpin Mandiri INDIKATOR Mempunyai motivasi untuk berhasil Bersikap optimis dan berpikir positif Berpikir kreatif dan inovatif Mempunyai wawasan luas ke depan Keberanian mengambil resiko Nomor Item 1.2 3.10 Berani mengambil keputusan Mau bekerja sama dengan orang lain Mempunyai keterampilan berkomunikasi baik Mempunyai jiwa pemimpin Bersikap mandiri 11.8 9.14 15.18 19.4 5.20 .

a. belajar mampu mengetahui bentuk kapur jahit belajar mampu mengetahui mampu menggunakan kapur jahit belajar mampu hanya mengetahui bentuk kapur jahit • • • • Keterangan Skor 4 jika deskriptor muncul semua Skor 3 jika deskriptor yang muncul a – e Skor 2 jika deskriptor yang muncul a – c Skor 1 jika deskriptor yang muncul a – b 1 Warga belajar mampu mengatur setikan mesin untuk membuat kerutan • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Skor 4 jika deskriptor muncul semua Skor 3 jika deskriptor yang muncul a – c Skor 2 jika deskriptor yang muncul a – b Skor 1 jika deskriptor yang muncul a saja Skor 4 jika deskriptor yang muncul a – c Skor 3 jika deskriptor yang muncul a – b Skor 2 jika deskriptor yang muncul a saja Skor 1 jika deskriptor yang muncul d Skor 4 jika deskriptor yang muncul a – c Skor 3 jika deskriptor yang muncul a – b Skor 2 jika deskriptor yang muncul a saja Skor 1 jika deskriptor yang muncul d Skor 4 jika deskriptor yang muncul a – c Skor 3 jika deskriptor yang muncul a – b Skor 2 jika deskriptor yang muncul a saja Skor 1 jika deskriptor yang muncul d Skor 4 jika deskriptor yang muncul a – c Skor 3 jika deskriptor yang muncul a – b Skor 2 jika deskriptor yang muncul a saja Skor 1 jika deskriptor yang muncul d 2 Cara menggunakan mesin obras Cara menggunakan gunting kain. b. belajar mampu memasukkan kumparan pada rumah kumparan. belajar mampu memasang benang pada kumparan. belajar mampu memasang benang. a. belajar mampu memasang rumah kumparan pada mesin jahit. c. b. b. d. d. e. belajar mampu memasang benang pada rumah kumparan. belajar mampu memasukkan kumparan pada rumah kumparan. b. a. g. c. a. c. a. belajar mampu memasang jarum belajar mampu merawat belajar mampu mengoperasikan mesin obras dengan baik dan benar. d. belajar mampu mengetahui kegunaan gunting belajar mampu mengetahui macam-macam gunting belajar mampu menggunakan gunting dengan baik dan benar belajar menggunakan gunting dengan sembarangan belajar mampu mengetahui kegunaan karbon jahit belajar mampu mengetahui bentuk karbon jahit belajar mampu menggunakan karbon jahit dengan baik dan benar belajar mampu menggunakan karbon dengan sembarangan belajar mampu mengetahui fungsi rumah kumparan. Cara menggunakan karbon jahit Cara menggunakan rumah kumparan Cara menggunakan kapur jahit 3 4 5 6 . b. d. memasang benang atas. c.PEDOMAN PENILAIAN OBSERVASI TENTANG KINERJA MENJAHIT No Indikator Cara menggunakan mesin jahit lurus a. belajar mampu menaikkan benang bawah. Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Deskriptor belajar mampu memasang jarum. d. f. d. c. c. belajar hanya mampu menggunakan rumah kumparan belajar mampu mengetahui kegunaan. belajar mampu menyetel setikan mesin. b.

a. Cara mengukur 8 lingkar pinggang Cara mengukur panggul 9 10 Cara mengukur panjang dada Deskriptor Keterangan Warga belajar mengukur keliling badan terbesar + 4 cm dengan baik dan benar • Skor 4 jika deskriptor yang muncul a • Skor 3 jika deskriptor yang muncul b Warga belajar mengukur sekeliling badan terbesar + 1 cm • Skor 2 jika deskriptor yang muncul c Warga belajar mengukur sekeliling badang di bawah payudara + 4 cm • Skor 1 jika deskriptor yang muncul d Warga belajar mengukur sekeliling badan terbesar • Skor 4 jika deskriptor yang muncul a Warga belajar mengukur sekeliling pinggang pas • Skor 3 jika deskriptor yang muncul b Warga belajar mengukur sekeliling pinggang + 1 cm. c. a.No 7 Indikator Cara mengukur lingkar badan a. c. d. b. c. Warga 12 pangkal leher c. Warga belajar mengukur mendatar dari punggung batas kerung lengan kanan ke batas kerung lengan kiri. Warga d. Warga belajar mengukur mendatar dari punggung batas kerung lengan kanan ke batas kerung 11 lebar punggung lengan kiri d. c. Warga Cara mengukur b. • Skor 2 jika deskriptor yang muncul c Warga belajar mengukur sekeliling perut pas • Skor 1 jika deskriptor yang muncul d Warga belajar mengukur sekeliling panggul pas • Skor 4 jika deskriptor yang muncul a Warga belajar mengukur sekeliling panggul terbesar + 4 cm • Skor 3 jika deskriptor yang muncul b Warga belajar mengukur sekeliling panggul terbesar • Skor 2 jika deskriptor yang muncul c Warga belajar mengukur sekeliling panggul + 2cm • Skor 1 jika deskriptor yang muncul d Warga belajar mengukur sekeliling pinggul. b. a. d. a. Warga belajar mengukur keliling pangkal leher dengan baik dan benar belajar mengukur keliling pangkal leher + 1 cm belajar mengukur keliling pangkal leher dikurangi 1 cm belajar mengukur pangkal leher ditambah 2 cm • Skor 4 jika deskriptor yang muncul a • Skor 3 jika deskriptor yang muncul b • Skor 2 jika deskriptor yang muncul c • Skor 1 jika deskriptor yang muncul d . b. • Skor 4 jika deskriptor yang muncul a Warga belajar mengukur dari lekuk leher sampai pinggang • Skor 3 jika deskriptor yang muncul b Warga belajar mengukur dari lekuk leher sampai pinggang + 1 cm • Skor 2 jika deskriptor yang muncul c Warga belajar mengukur dari lekuk leher sampai pinggul • Skor 1 jika deskriptor yang muncul d Warga belajar mengukur dari bahu dekat leher sampai pinggang • Skor 4 jika deskriptor yang muncul a • Skor 3 jika deskriptor yang muncul b • Skor 2 jika deskriptor yang muncul c • Skor 1 jika deskriptor yang muncul d Warga belajar mengukur mendatar dari batas kerung lengan kanan ke batas kerung lengan kiri Warga belajar mengukur mendatar dari batas kerung lengan ka ke batas kerung lengan kiri – 1cm Cara mengukur c. d. b. b. d. a.

Warga belajar mengukur sekeliling siku pas 14 • Skor 2 jika deskriptor yang muncul c lingkar siku c. Warga belajar mengukur dari ujung bahu sampai tengah dada • Skor 1 jika deskriptor yang muncul d d. . Warga belajar mengukur dari ujung bahu sampai tengah pinggang depan Cara mengukur b. Warga belajar mengukur sekeliling siku pas ditambah 2 cm • Skor 3 jika deskriptor yang muncul b Cara mengukur b. • Skor 4 jika deskriptor yang muncul a a. Warga belajar mengukur sekeliling nadi ditambah 2 cm. Warga belajar mengukur dari ujung bahu sampai tengah pinggang depan + 1cm • Skor 3 jika deskriptor yang muncul b 13 • Skor 2 jika deskriptor yang muncul c lebar dada c. Warga belajar mengukur sekeliling siku ditambah 1 cm • Skor 1 jika deskriptor yang muncul d d.• Skor 4 jika deskriptor yang muncul a a. Warga belajar mengukur dari ujung bahu sampai pinggang belakang.

Warga belajar mampu merapikan saku dengan disetik • Skor 1 jika deskriptor yang muncul a saja d. Warga belajar mampu menyelesaikan kampuh saku dengan obras a.No Indikator Cara menggunakan 15 tanda pola garis merah Cara menggunakan 16 tanda titik pola garis titik Cara membuat pola dasar badan 17 Cara 18 menyelesaikan dengan kampuh Cara 19 menyelesaikan saku dalam Cara menyelesaikan 20 belahan tutup tarik Deskriptor Keterangan a. Warga belajar mampu menyelesaikan pakaian dengan kampuh balik • Skor 4 jika deskriptor muncul semua a. Warga belajar tidak mampu membuat pola dasar badan • Skor 4 jika deskriptor muncul semua a. Warga belajar menggunakan tanda pola garis titik-garis titik sebagai tanda TM a. Warga belajar mampu melapis saku dengan pelapis • Skor 3 jika deskriptor yang muncul a – c b. Warga belajar menggunakan tanda garis pola garis merah untuk pola bagian • Skor 2 jika deskriptor yang muncul c • Skor 1 jika deskriptor yang muncul d depan dan belakang c. Warga belajar mampu membuat jahitan agar jahitan rata dan tidak berkerut • Skor 2 jika deskriptor yang muncul a – b c. Warga belajar mampu menyelesaikan pakaian dengan kampuh buka • Skor 3 jika deskriptor yang muncul a – c b. Warga belajar menggunakan tanda pola garis titik-garis titik sebagai tanda • Skor 1 jika deskriptor yang muncul d lapisan c. Warga belajar mampu menyelesaikan pakaian dengan kampuh tutup • Skor 1 jika deskriptor yang muncul a saja d. Warga belajar menggunakan tanda pola garis titik-garis titik sebagai tanda lipit d. Warga belajar mampu membuat pola dasar badan lengkap dengan tanda pola • Skor 4 jika deskriptor yang muncul a • Skor 3 jika deskriptor yang muncul b b. Warga belajar mampu membuat pola dasar badan bagian depan saja • Skor 1 jika deskriptor yang muncul d d. Warga belajar menggunakan tanda garis pola garis merah untuk pola bagian belakang • Skor 4 jika deskriptor yang muncul a a. Warga belajar mampu menyelesaikan pakaian dengan kampuh pipih • Skor 2 jika deskriptor yang muncul a – b c. Warga belajar mampu menyematkan tutup tarik pada belahan • Skor 2 jika deskriptor yang muncul a – b c. Warga belajar mampu membuat setikan yang lurus dan rata . Warga belajar menggunakan tanda pola garis titik-garis titik sebagai tanda • Skor 3 jika deskriptor yang muncul b lipatan • Skor 2 jika deskriptor yang muncul c b. Warga belajar mampu menentukan panjang belahan sesuai panjang tutup tarik • Skor 4 jika deskriptor muncul semua • Skor 3 jika deskriptor yang muncul a – c b. Warga belajar mampu menjelujur belahan • Skor 1 jika deskriptor yang muncul a saja d. Warga belajar mampu membuat pola dasar badan tanpa tanda pola • Skor 2 jika deskriptor yang muncul c c. Warga belajar menggunakan tanda garis pola garis merah untuk pola lengan d. Warga belajar menggunakan tanda garis pola garis merah untuk pola bagian • Skor 4 jika deskriptor yang muncul a • Skor 3 jika deskriptor yang muncul b depan b.

Sangat Tidak Sesuai. pernyataan tersebut sangat tidak sesuai dengan kondisi anda IDENTITAS DIRI NAMA : …………………………………………. Untuk itu. Pilihlah jawaban : a. : …………………………………………. pernyataan tersebut kurang sesuai dengan kondisi anda d. sesuai dengan hati nurani anda. dan saya akan tetap menjaga kerahasiaan jawaban anda. Sri Mulyani Petunjuk Pengisian : Berilah tanda silang (X) pada alternatif jawaban yang tersedia. jika pernyataan tersebut sesuai dengan kondisi anda c. Sangat Sesuai. saya mohon kesediaan anda untuk mengisi angket yang telah saya sediakan. Hasil angket ini tidak akan berpengaruh pada penilaian jabatan tertentu. Kurang Sesuai. . Sesuai. Atas perhatian dan kerjasamanya. saya ucapkan terima kasih. Peneliti. jika pernyataan tersebut sangat sesuai dengan kondisi anda b. saya bermaksud mengadakan penelitian dengan judul ”HUBUNGAN ANTARA KINERJA MENJAHIT DAN SIKAP WIRASWASTA PADA KELOMPOK BELAJAR MENJAHIT DI KELURAHAN BONGSARI KECAMATAN SEMARANG BARAT”.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (U N N E S) Dengan hormat. Dalam rangka menyelesaikan studi di Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi Program Studi PKK Universitas Negeri Semarang.

Sesuai c. Saya sering mendapatkan ide untuk membuat barang-barang antik dari kain perca yang sudah tidak dipakai lagi. Sesuai c. Sesuai c. Sangat Tidak Sesuai [ 6. Kurang Sesuai d. saya yakin usaha jahitan akan tetap diminati dan dicari oleh masyarakat. Sangat Tidak Sesuai 7. Sangat Sesuai b. Sangat Sesuai b. Sesuai c. Menurut saya usaha di bidang jahit menjahit kurang bisa diandalkan untuk menopang ekonomi keluarga a. Saya akan berusaha mengembangkan keterampilan menjahit yang saya miliki menjadi sebuah usaha swasta yang produktif. Sangat Tidak Sesuai 5. Sangat Tidak Sesuai 3. saya mengikuti kejar menjahit. Kurang Sesuai d. Meskipun banyak saingan dari industri konveksi berskala besar. Sangat Tidak Sesuai 4. Sangat Sesuai b. Sangat Tidak Sesuai 2. Sesuai c. Sesuai c. a. Kurang Sesuai d. a. Kurang Sesuai d. Sangat Tidak Sesuai . Sangat Sesuai b. a. Sangat Sesuai b. Dalam rangka memenuhi kebutuhan ekonomi. a. Sangat Sesuai b. Setelah mengikuti kejar menjahit saya yakin dapat mendirikan usaha busana a.LEMBAR ANGKET TENTANG SIKAP WIRASWASTA 1. Sesuai c. Kurang Sesuai d. a. Saya sering membuat rancangan model pakaian yang tren untuk waktu-waktu yang akan datang. Sangat Sesuai b. Kurang Sesuai d. Kurang Sesuai d.

a. Sangat Sesuai b. Kurang Sesuai d. Sesuai c. Sangat Tidak Sesuai 11. a. Kurang Sesuai d. Sesuai c. Untuk menambah modal membuka usaha. Kurang Sesuai d. Saya yakin bisnis di bidang jahit menjahit akan tetap ada dan maju jika kita berniat untuk mengembangkannya. Sesuai c. Saya sudah mantap untuk menjadikan bidang jahit menjahit sebagai bidang kerja dan keahlian saya. Kurang Sesuai d. Sangat Tidak Sesuai 12. Sangat Sesuai b. Saya masih sering ragu-ragu. saya berniat untuk membuka usaha menjahit sendiri. Setelah mengikuti kejar menjahit. Sesuai c. Sangat Tidak Sesuai 13. Kurang Sesuai d. a. Saya sering mencampur beberapa corak bahan untuk saya jadikan pakaian yang saya anggap akan menjadi tren. Sangat Tidak Sesuai 10. Sangat Sesuai b. Saya ingin bekerja sama dengan beberapa teman saya untuk membuka usaha bidang jahit menjahit. Sangat Sesuai b. Sangat Sesuai b. Sangat Sesuai b. Sangat Tidak Sesuai 9.8. Sesuai c. a. Sesuai c. a. apakah tetap mengikuti kejar menjahit atau mencari kursus yang lainnya. Sangat Tidak Sesuai 14. Sangat Sesuai b. Sangat Tidak Sesuai . a. saya berusaha mendekati beberapa kolega yang mau meminjamkan modal. Kurang Sesuai d. Kurang Sesuai d. Sesuai c. a.

Kurang Sesuai d. Saya sering merasa malu berbincang-bincang dengan orang lain yang belum saya kenal dengan baik. Kurang Sesuai d. Jika benar-benar tidak mampu. Apabila saya berhasil mendirikan usaha jahit menjahit. Sesuai c. saya baru minta tolong kepada teman atau instruktur. Sangat Tidak Sesuai 16. Sesuai c. Sesuai c. Apabila mengalami kesulitan dalam praktek di kejar menjahit. a. Sangat Sesuai b. Sangat Tidak Sesuai 19. Saya sering ditunjuk teman-teman untuk menjadi juru bicara suatu pertemuan. Sangat Tidak Sesuai 18. Kurang Sesuai d. Sesuai c. Sangat Sesuai b. Saya menabung sejak mengikuti kejar menjahit untuk mendirikan usaha busana. Sangat Tidak Sesuai 20. Kurang Sesuai d. a. Sesuai c. a. a. Sangat Sesuai b. saya akan menjalankan manajemen yang baik dan profesional. Sangat Tidak Sesuai 17. Kurang Sesuai d. Sangat Sesuai b.15. saya berusaha untuk menyelesaikan sendiri. Sangat Sesuai b. Kurang Sesuai d. a. Saya sering dijadikan ketua panitia atau ketua kegiatan di kampung (organisasi). Sesuai c. a. Sangat Tidak Sesuai . Sangat Sesuai b.

............. : .......LEMBAR PENILAIAN OBSERVASI KINERJA MENJAHIT Nama Responden Alamat Variabel Sub Variabel : ......................................................... Indikator 4 ▪ Cara menggunakan mesin jahit lurus Ketepatan menggunakan alat jahit ▪ Cara menggunakan mesin obras ▪ Cara menggunakan gunting kain ▪ Cara menggunakan karbon jahit ▪ Cara menggunakan skoci jahit ▪ Cara menggunakan kapur jahit ▪ Cara mengukur lingkar badan ▪ Cara mengukur lingkar pinggang ▪ Cara mengukur lingkar panggul Kinerja Menjahit Ketepatan mengambil ukuran ▪ Cara mengukur panjang badan ▪ Cara mengukur lebar punggung ▪ Cara mengukur pangkal leher ▪ Cara mengukur lebar dada ▪ Cara mengukur lingkar kerung siku Ketepatan membuat pola Ketepatan menjahit pakaian ▪ Cara menggunakan tanda pola garis merah ▪ Cara menggunakan tanda titik pola garis titik ▪ Cara membuat pola dasar badan ▪ Cara menyelesaikan kampuh buka ▪ Cara menyelesaikan saku dalam ▪ Cara menyelesaikan belahan tutup tarik Penilaian 3 2 1 Keterangan : Skor 4 Skor 3 Skor 2 Skor 1 : Sangat Baik : Baik : Cukup Baik : Kurang Baik ......................

840 1.860 5 4 2 4 4 4 4 4 3 2 4 4 3 3 4 4 2 2 2 2 4 65 227 4379 0.536 0.410 14 4 4 4 4 4 3 3 3 4 4 4 4 1 3 4 2 3 2 2 4 66 234 4443 0.148 2 4 4 4 4 3 2 4 4 3 4 3 1 2 4 3 2 4 4 2 4 65 229 4347 0.810 15 4 4 4 3 4 4 3 4 1 3 4 3 2 4 4 2 2 2 2 4 16 4 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 4 4 2 3 17 4 4 4 3 3 1 4 4 4 4 4 2 3 4 4 3 4 3 2 4 18 2 3 4 3 3 3 4 1 3 3 4 2 2 4 4 2 2 3 2 4 58 184 3881 0.08 UC .717 0.444 valid 1.735 0.728 0.527 0.088 13 3 4 4 4 4 3 3 3 3 4 3 2 3 3 4 3 4 3 2 4 66 226 4371 0.07 UC .16 UC .000 12 4 3 4 4 4 4 3 4 2 4 4 4 3 4 4 3 2 3 3 4 70 254 4658 0.444 valid 0.830 0.444 valid 0.05 UC .248 1 3 3 4 4 2 3 4 4 1 4 4 2 2 4 4 2 2 2 1 4 59 197 4048 0.493 0.888 3 3 3 4 3 4 4 3 4 3 4 4 3 2 2 4 4 3 3 2 3 65 221 4300 0.444 valid 0.18 UC .919538 70 67 70 260 239 256 4650 4441 4665 0.740 σ 2 t Σσ2b= r11= Reliabel .444 valid tdkvalid valid 0.750 0.743 0.444 valid 0.588 0.665 0.488 4 4 4 4 3 3 4 4 4 2 4 4 4 2 4 2 2 2 2 2 4 64 222 4319 0.438 0.04 UC .444 0.444 valid 0.14 UC .550 63 70 68 217 254 246 4279 4620 4526 0.444 0.09 UC .02 UC .760 0.450 4 3 4 4 4 4 3 2 3 4 4 4 4 4 4 2 1 1 2 4 65 233 4367 0.867 0.228 20 y 74 73 79 73 70 61 70 71 53 75 77 58 46 75 73 55 52 49 43 74 1301 k= y2 5476 5329 6241 5329 4900 3721 4900 5041 2809 5625 5929 3364 2116 5625 5329 3025 2704 2401 1849 5476 87189 20 127.444 valid 1.619 0.11 UC .538 0.444 valid 0.444 valid tdkvalid valid 0.15 UC .03 UC .444 0.ANALISIS HASIL UJI COBA INSTRUMEN KINERJA MENJAHIT No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Validitas Butir Kode UC .450 0.17 UC .751 0.444 valid 0.689 0.20 ΣX ΣX2 ΣXY rxy rtabel Kriteria σb 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 2 1 4 3 1 1 2 2 2 59 199 4019 0.9475 16.18 0.12 UC .444 valid 1.444 0.790 19 4 4 4 4 4 1 2 4 2 4 4 4 1 4 3 2 2 2 4 4 63 223 4252 0.444 0.444 valid 1.788 6 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 1 2 4 7 4 4 4 4 2 2 4 3 2 4 4 2 2 4 3 4 4 4 3 4 8 4 4 4 4 4 2 3 4 3 4 4 3 4 4 4 4 3 2 2 4 9 No Item 10 11 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 3 4 3 4 4 1 4 4 3 4 4 4 1 2 1 3 4 4 3 4 3 3 2 2 2 2 2 4 2 68 60 248 200 4581 4043 0.444 valid 0.19 UC .928 0.13 UC .444 valid valid 0.454 0.614 0.10 UC .557 0.428 0.01 UC .06 UC .

717 dengan n = 28 dan taraf signifikansi = 5% diperoleh rtabel = 0. .(59)(1301) = = = = 3621 25538321 3621 5053.444 Karena rhit > rtabel maka soal nomor 1 valid.717 Hasil perhitungan diperoleh rhit = 0.Contoh Perhitungan Validitas Hasil Uji Coba Instrumen Kinerja Menjahit Rumus: r xy = {n ∑ X nXY .(∑ X)(∑ Y) 2 − (∑ X ) 2 }{n ∑ Y 2 − (∑ Y ) 2 } (ΣX)2 = 3481 Berikut perhitungan untuk nomor soal 1 n = 20 ΣXY = 4019 rxy = ΣX=59 ΣY = 1301 2 ΣX2 = 199 ΣY2 = 87189 (ΣY)2 = 1692601 2 {(20)(199) − (59) }{(20)(87189) − (1301) } 80380 − 76759 {3980 − 3481}{1743780 − 1692601} 3621 (499)(51179) (20)(4019) .545 = 0.

75 = 0.25 = 9.25 = 0. Varian Butir 199 − (59)2 20 20 (59)2 197 − 2 20 * σ2 = 20 (65)2 229 − 2 20 * σ3 = 20 (65) 2 221 − 2 20 * σ4 = 20 * σ 12 = 3481 20 = 199 − 174.95 20 = 20 σ 12 = = = = 127.95 = 1.05 2558.2 = = 0.05 = 22.75 20 20 239 − 224.25 = 17.75 = = 0.728 20 20 2 * σ6 = 20 = = 2 * σ7 = 20 = = * σ 82 = (67 )2 239 − 20 20 = = .45 14.148 = 20 20 20 4225 229 − 20 = 229 − 211.Contoh Perhitungan Reliabilitas Hasil Uji Coba Instrumen Kinerja Menjahit 1.9475 20 20 20 20 2.488 = 20 20 20 199 − 4096 20 20 4225 227 − 20 20 4900 260 − 20 20 4489 239 − 20 20 222 − 2 * σ5 = (64)2 222 − (65)2 227 − (70)2 260 − 20 20 20 20 = = 222 − 204.25 15.55 = = 0.788 20 20 260 − 245 15 = = 0. Varian Total N = 20 ΣY = 1301 ΣY2 = 87189 (∑ Y )2 2 ∑Y − N σ 12 = N (1301)2 87189 − 1692601 87189 − 87189 − 84630.95 = 1.86 20 20 227 − 211.05 = 24.888 = 20 20 20 4225 221 − 20 = 221 − 211.8 17.248 = 20 20 20 3481 197 − 20 = 197 − 174.

45 * σ 17 = 20 20 20 20 256 − 256 − (70)2 2 * σ 18 = (68)2 246 − 20 2 * σ 19 2 * σ 20 20 (58)2 184 − 20 = 20 (63)2 223 − 20 = 20 4624 20 = 246 − 231.2 = 15.2 = 0.841+1+ 0.25 = 21.928 * σ 16 = 20 20 20 20 2 (70) 254 − 4900 254 − 2 20 = 20 = 254 − 245 = 9 = 0.75 = 1.45 = 18.41 * σ 14 = 20 20 20 20 2 (66) 234 − 4356 234 − 2 20 = 20 = 234 − 217.488+0.41+0.79+1.2 = 14.8 = 16.81+0.8 = 0.728+ 0.8 = 0.888+0.75+0.45+0.228 = 20 20 20 246 − Σσb2 = 1.45 = 24.55 = 1.088 * σ 13 = 20 20 20 20 2 (66) 226 − 4356 226 − 2 20 = 20 = 226 − 217.45+1.4900 2 20 = 20 = 256 − 245 = 11 = 0.2 = 16.74 = 20 20 20 3364 184 − 20 = 184 − 168.79 = 20 20 20 3969 223 − 20 = 223 − 198.55 = 0.0888+0.55+0.8 = 0.84 * σ 10 = 20 20 20 20 2 (60) 200 − 3600 200 − 2 20 = 20 = 200 − 180 = 20 = 1 * σ 11 = 20 20 20 20 2 (70) 254 − 4900 254 − 2 20 = 20 = 254 − 245 = 9 = 0.74+0.788+0.228 .8 = 8.248+1.55 * σ9 = 20 20 20 20 2 (68) 248 − 4624 248 − 2 20 = 20 = 248 − 231.928+0.81 * σ 15 = 20 20 20 20 2 (63) 217 − 3969 217 − 2 20 = 20 = 217 − 198.86+0.45 * σ 12 = 20 20 20 20 2 (65) 233 − 4225 233 − 2 20 = 20 = 233 − 211.148+0.2 = 0.

= 16.18 3. Koefisien Reliabilitas 2 ⎛ N ⎞⎛ ∑ σ b ⎞ ⎜1 − 2 ⎟ r11 = ⎜ ⎟ σt ⎟ ⎝ N - 1 ⎠⎜ ⎝ ⎠

16.18 ⎞ ⎛ 20 ⎞⎛ = ⎜ ⎟ ⎟⎜1 − ⎝ 20 − 1 ⎠⎝ 127.95 ⎠ 20 (1 − 0.1265) = 19 20 = x 0.8735 19 = 0.9195 koefisien tersebut kemudian dibandingkan dengan rtabel untuk n = 20 sebesar 0,444. Karena r11 > rtabel maka instrumen tersebut dinyatakan reliabel.

ANALISIS HASIL UJI COBA INSTRUMEN SIKAP WIRASWASTA
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Validitas Butir Kode UC - 01 UC - 02 UC - 03 UC - 04 UC - 05 UC - 06 UC - 07 UC - 08 UC - 09 UC - 10 UC - 11 UC - 12 UC - 13 UC - 14 UC - 15 UC - 16 UC - 17 UC - 18 UC - 19 UC - 20 ΣX ΣX2 ΣXY rxy rtabel Kriteria σb 4 3 4 3 3 4 2 2 2 2 3 4 4 1 3 4 4 3 2 1 58 188 3698 0,574 0,444 valid 0,990 1 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 3 2 4 2 52 142 3274 0,511 0,444 valid 0,340 2 4 3 3 2 4 4 4 3 4 3 3 4 4 2 1 2 3 3 4 2 62 208 3942 0,622 0,444 valid 0,790 3 4 4 4 2 4 4 4 2 4 2 4 3 4 3 1 2 3 2 4 2 62 212 3959 0,644 0,444 valid 0,990 4 2 3 4 2 4 4 4 2 2 3 2 4 4 2 2 3 3 3 4 1 58 186 3694 0,583 0,444 valid 0,890 5 4 4 3 2 4 4 2 2 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 2 69 253 4356 0,527 0,444 valid 0,747 6 4 3 4 1 2 4 2 2 4 3 3 3 4 2 1 3 4 3 4 3 59 193 3751 0,540 0,444 valid 0,947 7 4 4 4 4 2 2 2 2 3 3 2 4 4 3 2 3 4 3 4 1 8 4 4 4 2 2 2 2 2 3 4 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 9 No Item 10 11 3 2 4 4 3 4 4 4 4 3 2 2 1 2 3 4 4 4 2 2 1 2 4 4 3 4 1 3 2 4 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 52 59 156 191 3345 3715 0,651 0,369 0,444 0,444 valid tdkvalid 1,040 0,847 12 3 4 4 4 4 2 2 3 4 3 2 4 4 3 4 3 2 2 4 2 63 213 3998 0,613 0,444 valid 0,728 2 4 4 3 4 3 1 4 4 3 2 4 4 2 4 3 2 1 3 2 59 195 3763 0,574 0,444 valid 1,048 13 4 4 4 4 4 4 2 4 4 3 2 4 4 3 3 3 2 1 4 2 65 229 4145 0,683 0,444 valid 0,888 14 4 4 4 4 4 4 4 1 4 4 2 2 4 1 2 4 1 1 2 3 59 205 3795 0,605 0,444 valid 1,548 15 4 4 4 3 4 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 3 3 4 4 73 271 4568 0,572 0,444 valid 0,228 16 4 4 4 3 4 4 4 2 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 4 3 71 259 4480 0,775 0,444 valid 0,347 17 4 4 4 3 3 4 4 2 4 3 4 4 4 3 4 4 2 4 4 3 71 261 4455 0,491 0,444 valid 0,447 18 4 4 4 3 4 4 4 2 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 19 4 4 4 3 3 2 4 2 4 3 2 3 2 2 2 3 3 3 4 4 20 y 71 74 76 58 69 65 57 50 73 59 54 73 75 46 53 62 57 51 67 47 1237 k= y2 5041 5476 5776 3364 4761 4225 3249 2500 5329 3481 2916 5329 5625 2116 2809 3844 3249 2601 4489 2209 78389 20 94,028 15,398 0,8803

60 55 198 165 3820 3450 0,592 0,300 0,444 0,444 valid tdkvalid 0,900 0,688

69 61 245 199 4348 3833 0,703 0,385 0,444 0,444 valid tdkvalid 0,347 0,647

σ2 t

Σσ2b= r11=

Reliabel

DATA INDUK HASIL PENELITIAN VARIABEL SIKAP WIRASWASTA (Y) Resp S-01 S-02 S-03 S-04 S-05 S-06 S-07 S-08 S-09 S-10 S-11 S-12 S-13 S-14 S-15 S-16 S-17 S-18 S-19 S-20 S-21 S-22 S-23 S-24 S-25 S-26 S-27 S-28 Item 1 4 3 4 3 3 4 2 2 2 2 3 4 4 1 3 4 4 3 2 1 4 3 4 3 4 2 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 3 2 4 2 2 2 4 4 4 3 3 3 3 4 3 3 2 4 4 4 3 4 3 3 4 4 2 1 2 3 3 4 2 3 3 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 2 4 4 4 2 4 2 4 3 4 3 1 2 3 2 4 2 1 2 2 4 4 1 2 4 5 2 3 4 2 4 4 4 2 2 3 2 4 4 2 2 3 3 3 4 1 3 3 4 2 4 4 3 4 6 4 4 3 2 4 4 2 2 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 2 2 2 4 4 4 2 4 4 7 4 3 4 1 2 4 2 2 4 3 3 3 4 2 1 3 4 3 4 2 4 2 4 4 4 4 4 4 8 4 4 4 4 2 2 2 2 3 3 2 4 4 3 2 3 4 3 4 2 2 4 4 3 4 3 4 4 9 4 4 4 2 2 2 2 2 3 4 3 3 3 2 3 2 3 3 1 1 2 2 4 4 4 3 4 4 10 11 12 13 14 15 16 17 3 4 3 4 4 2 1 3 4 2 1 4 3 1 2 3 2 2 2 1 2 2 3 4 4 2 4 4 2 4 4 4 3 2 2 4 4 2 2 4 4 3 4 3 2 2 2 2 2 2 4 3 4 2 3 4 3 4 4 4 4 2 2 3 4 3 2 4 4 3 4 3 2 2 4 1 2 2 4 4 4 2 3 4 2 4 4 3 4 3 1 4 4 3 2 4 4 2 4 3 2 1 3 1 2 2 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 3 2 4 4 3 3 3 2 1 4 2 2 2 3 4 4 3 2 4 4 4 4 4 4 4 4 1 4 4 2 2 4 1 2 4 1 1 2 2 3 2 3 4 4 2 2 4 4 4 4 3 4 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 3 3 4 2 4 3 4 4 4 3 4 3 4 4 4 3 4 4 4 2 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 Y 59 62 64 49 59 55 45 44 61 50 44 62 65 38 44 52 49 41 56 29 43 41 63 62 68 47 56 64 Y2 3481 3844 4096 2401 3481 3025 2025 1936 3721 2500 1936 3844 4225 1444 1936 2704 2401 1681 3136 841 1849 1681 3969 3844 4624 2209 3136 4096 .

DATA INDUK HASIL PENELITIAN VARIABEL KINERJA MENJAHIT (X) Resp S-01 S-02 S-03 S-04 S-05 S-06 S-07 S-08 S-09 S-10 S-11 S-12 S-13 S-14 S-15 S-16 S-17 S-18 S-19 S-20 S-21 S-22 S-23 S-24 S-25 S-26 S-27 S-28 Item 1 1 2 4 2 2 4 3 3 3 4 2 1 3 2 3 4 3 4 2 3 3 4 4 2 2 2 3 4 2 4 2 2 2 2 3 3 2 4 4 3 2 3 2 3 4 1 2 4 2 3 3 4 3 3 2 4 3 3 2 2 2 2 2 3 4 3 3 3 2 3 2 1 3 1 3 2 2 2 4 4 4 3 4 3 3 4 4 4 4 2 1 3 4 2 1 4 3 1 2 3 2 2 2 2 2 2 2 4 4 4 2 4 2 4 3 5 4 3 2 2 4 4 2 2 4 4 3 4 3 2 2 2 2 2 2 1 4 4 4 3 2 3 4 4 6 4 4 2 2 3 4 3 2 4 4 3 4 3 1 2 4 2 2 2 1 4 4 4 4 4 4 4 4 7 3 4 3 1 4 4 3 2 4 4 2 4 3 2 1 3 2 2 2 1 2 4 4 4 4 3 4 3 8 4 4 4 2 4 4 3 2 4 4 3 3 3 2 1 4 2 2 2 1 2 2 4 4 3 3 4 4 9 4 4 4 4 1 4 4 2 2 4 1 2 4 1 1 2 3 3 2 2 2 2 3 2 3 4 4 3 10 11 12 13 14 15 16 17 18 3 4 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 3 3 4 4 4 3 1 4 2 4 3 4 2 4 4 3 4 4 4 2 4 3 3 4 4 3 3 4 1 3 4 3 3 3 1 3 2 4 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 3 4 4 4 3 4 4 2 4 4 3 2 1 1 4 2 2 3 4 3 4 4 3 4 4 4 2 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 4 3 4 4 4 3 4 4 3 3 2 4 2 4 3 2 3 2 2 2 3 3 3 4 4 3 2 2 4 4 3 4 4 3 4 4 3 2 2 1 2 4 3 3 3 3 3 3 2 1 2 4 2 4 2 1 4 4 4 4 4 4 4 2 4 2 4 4 2 4 4 2 2 4 1 2 4 2 4 4 2 3 4 1 4 3 4 3 4 4 4 4 3 2 4 4 2 4 3 4 4 3 4 3 4 3 3 2 2 3 2 1 4 4 4 2 4 3 4 4 2 2 2 4 2 4 3 2 3 3 2 2 3 2 3 2 2 3 3 2 3 4 4 4 4 3 4 4 X 57 55 54 51 44 70 56 47 63 65 44 50 58 35 46 57 45 49 43 26 62 59 68 58 65 53 70 66 X2 3249 3025 2916 2601 1936 4900 3136 2209 3969 4225 1936 2500 3364 1225 2116 3249 2025 2401 1849 676 3844 3481 4624 3364 4225 2809 4900 4356 .

DATA INDUK HASIL PENELITIAN VARIABEL SIKAP WIRASWASTA (Y) Resp S-01 S-02 S-03 S-04 S-05 S-06 S-07 S-08 S-09 S-10 S-11 S-12 S-13 S-14 S-15 S-16 S-17 S-18 S-19 S-20 S-21 S-22 S-23 S-24 S-25 S-26 S-27 S-28 Item 1 4 3 4 3 3 4 2 2 2 2 3 4 4 1 3 4 4 3 2 1 4 3 4 3 4 2 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 3 2 4 2 2 2 4 4 4 3 3 3 3 4 3 3 2 4 4 4 3 4 3 3 4 4 2 1 2 3 3 4 2 3 3 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 2 4 4 4 2 4 2 4 3 4 3 1 2 3 2 4 2 1 2 2 4 4 1 2 4 5 2 3 4 2 4 4 4 2 2 3 2 4 4 2 2 3 3 3 4 1 3 3 4 2 4 4 3 4 6 4 4 3 2 4 4 2 2 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 2 2 2 4 4 4 2 4 4 7 4 3 4 1 2 4 2 2 4 3 3 3 4 2 1 3 4 3 4 2 4 2 4 4 4 4 4 4 8 4 4 4 4 2 2 2 2 3 3 2 4 4 3 2 3 4 3 4 2 2 4 4 3 4 3 4 4 9 4 4 4 2 2 2 2 2 3 4 3 3 3 2 3 2 3 3 1 1 2 2 4 4 4 3 4 4 10 11 12 13 14 15 16 17 3 4 3 4 4 2 1 3 4 2 1 4 3 1 2 3 2 2 2 1 2 2 3 4 4 2 4 4 2 4 4 4 3 2 2 4 4 2 2 4 4 3 4 3 2 2 2 2 2 2 4 3 4 2 3 4 3 4 4 4 4 2 2 3 4 3 2 4 4 3 4 3 2 2 4 1 2 2 4 4 4 2 3 4 2 4 4 3 4 3 1 4 4 3 2 4 4 2 4 3 2 1 3 1 2 2 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 3 2 4 4 3 3 3 2 1 4 2 2 2 3 4 4 3 2 4 4 4 4 4 4 4 4 1 4 4 2 2 4 1 2 4 1 1 2 2 3 2 3 4 4 2 2 4 4 4 4 3 4 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 3 3 4 2 4 3 4 4 4 3 4 3 4 4 4 3 4 4 4 2 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 Y 59 62 64 49 59 55 45 44 61 50 44 62 65 38 44 52 49 41 56 29 43 41 63 62 68 47 56 64 Y2 3481 3844 4096 2401 3481 3025 2025 1936 3721 2500 1936 3844 4225 1444 1936 2704 2401 1681 3136 841 1849 1681 3969 3844 4624 2209 3136 4096 .

0007457 0.95752 -0.269706 0.357143 0.676707 0.86312 -0.383346 0.494615 0.678571 0.0672055 .03537 0.8473 0.0284655 0.142857 0.0127416 0.56958 0.857143 0.194036 0.0317694 0.67431 -0.214286 0.0095114 0.607143 0.321429 0.642111 0.0243581 0.024922 1.428571 0.75 0.0356583 0.798456 0.0348783 0.80714 -1.714286 0.932794 S(z) l F(z) .169153 0.77087 0.8473 0.25 0.003945 0.642857 0.76872 -0.606307 0.606307 0.0322403 0.0375786 0.0360581 0.642111 0.119324 1.0314912 1 0.000836 0.48551 -0.0258714 0.1079 -0.024922 1.95752 -0.457037 0.146418 0.741716 0.29671 -0.107143 0.496932 1.080902 0.039275 0.535714 0.0672055 maksimum 0.0202492 0.0262955 0.5 0.392857 0.0303289 0.785714 0.071429 0.007771 0.65675 -1.0098428 0.0094188 0.178571 0.285714 0.364108 0.364108 0.932794 0.05192 -0.868499 0.0208704 0.269706 0.S(z) l 0.836118 1.313658 0.175304 0.571429 0.892857 0.53224 0.UJI NORMALITAS SEBARAN DATA VARIABEL KINERJA MENJAHIT X 26 35 43 44 44 45 46 47 49 50 51 53 54 55 56 57 57 58 58 59 62 63 65 65 66 68 70 70 Z -2.03646 0.0092839 0.035714 0.221031 0.308128 1.250056 0.964286 0.169153 0.45851 0.0289689 0.904585 0.928571 0.464286 0.347859 0.0135 0.0239864 0.821429 0.0338655 0.496932 F(z) 0.39111 -0.

75 0.634629 0.46236 -1.360026 0.078004 0.607143 0.069101 0.16128 -1.066093 0.022849 0.928571 0.8602 -0.828004 0.946307 0.392857 0.19484 0.5 0.097752 80 Skor Responden 60 40 20 0 0 5 10 15 Responden 20 25 30 .020093 0.0632 0.032831 0.946307 0.645223 0.857143 0.428571 0.477151 0.288042 0.874315 0.097752 0.054256 0.046668 1.147029 1.142857 0.464286 0.344139 0.071821 0.068546 0.070413 1 0.25 0.19484 0.027486 0.8602 -0.852374 0.214286 0.147029 1.122764 0.05516 0.964286 0.96056 -0.874315 0.097752 0.36562 -1.828004 0.845945 0.821429 0.015621 0.019445 0.398192 0.801208 0.071429 0.678571 0.828004 0.035714 0.535714 0.344139 0.35839 -0.35839 -0.25803 -0.8602 -0.062037 0.107143 0.645223 0.321429 0.060754 maksimum 0.571429 0.060584 0.086923 0.04229 0.75984 -0.357143 0.178571 0.UJI NORMALITAS SEBARAN DATA VARIABEL SIKAP WIRASWASTA Y 29 38 41 41 43 44 44 44 45 47 49 49 50 52 55 56 56 59 59 61 62 62 62 63 64 64 65 68 Z -2.009 0.000392 0.939246 S(z) F(z) .714286 0.223676 0.285714 0.006575 0.010184 0.018542 0.785714 0.642857 0.893873 0.634629 0.243778 0.004769 0.122764 0.026714 0.090874 0.548475 F(z) 0.946307 1.360026 0.05731 0.S(z) 0.168387 0.19484 0.247391 1.740609 0.740609 0.892857 0.55911 -0.16128 -0.596298 0.

214286 0.003945 0.642111 0.035714 0.039275 0.285714 0.65675 -1.357143 0.86312 -0.606307 0.39111 -0.1079 -0.0338655 0.0284655 0.024922 1.383346 0.0007457 0.S(z) l 0.868499 0.95752 -0.007771 0.269706 0.535714 0.169153 0.364108 0.05192 -0.178571 0.29671 -0.56958 0.821429 0.0262955 0.0672055 .496932 F(z) 0.0360581 0.8473 0.194036 0.76872 -0.0317694 0.119324 1.392857 0.146418 0.785714 0.607143 0.0239864 0.457037 0.03646 0.932794 0.142857 0.678571 0.857143 0.53224 0.024922 1.071429 0.0672055 maksimum 0.UJI NORMALITAS SEBARAN DATA VARIABEL KINERJA MENJAHIT X 26 35 43 44 44 45 46 47 49 50 51 53 54 55 56 57 57 58 58 59 62 63 65 65 66 68 70 70 Z -2.0202492 0.0303289 0.250056 0.964286 0.892857 0.836118 1.107143 0.080902 0.0095114 0.0375786 0.428571 0.928571 0.321429 0.347859 0.741716 0.0098428 0.904585 0.0127416 0.67431 -0.95752 -0.48551 -0.25 0.5 0.269706 0.0094188 0.80714 -1.798456 0.714286 0.932794 S(z) l F(z) .0208704 0.642111 0.0243581 0.45851 0.169153 0.494615 0.308128 1.676707 0.03537 0.0322403 0.8473 0.0314912 1 0.364108 0.0092839 0.606307 0.571429 0.0135 0.0356583 0.313658 0.0258714 0.496932 1.175304 0.77087 0.75 0.000836 0.642857 0.464286 0.0289689 0.221031 0.0348783 0.

95752 10.1429 = −0.67431 10.5925 − b.5925 35 − 54. a. Dengan x merupakan rata-rata data dan s s − adalah simpangan baku. Dari hasil perhitungan diperoleh rata-rata data = 54.5925 .1429 = −0.95752 10.1429 = −0.5925 45 − 54.5925 44 − 54.5925 44 − 54. kemudian dilakukan analisis dengan langkahlangkah pengujian setelah dilakukan pengurutan data dari yang terkecil sampai yang terbesar.5925 z3 = z4 = z5 = z6 = z7 = z8 = 43 − 54.1429 simpangan baku = 10. Tiap skor total yang diperoleh.76782 10.80714 10.1429 = −1.Contoh Perhitungan Uji Normalitas Sebaran Data Variabel Kinerja Menjahit (X) Berdasarkan data pada tabel di atas. diubah menjadi bilangan baku zi dengan − x −x menggunakan rumus zi = i .1429 = -1.86312 10.1429 = −2. Harga-harga x dan s tersebut kemudian digunakan untuk mencari angka baku zi.5925 46 − 54.05192 10.1429 = −0.1429 = −0.65675 10. misalnya : z1 = z2 = 26 − 54.5925 47 − 54.

1429 = 0.5925 55 − 54.5925 53 − 54.36411 10.1429 = 0.1429 = 0.0809 10.1429 = −0.5925 58 − 54.74172 10.1429 = 0.29671 10.39111 10.5925 54 − 54.36411 10.1429 = 0.02492 10.1079 10.z9 = z10 = z11 = z12 = z13 = z14 = z15 = z16 = z17 = z18 = z19 = z20 = z21 = z22 = z23 = z24 = z25 = 49 − 54.1429 = 1.02492 10.0135 10.1429 = −0.1429 = −0.5925 65 − 54.1429 = 0.1429 = 0.83612 10.1429 = −0.5925 66 − 54.1429 = 0.1429 = 1.26971 10.1429 = −0.5925 51 − 54.5925 57 − 54.5925 50 − 54.5925 63 − 54.5925 .45851 10.1753 10.1429 = 1.5925 59 − 54.5925 58 − 54.5925 62 − 54.1429 = 0.5925 65 − 54.26971 10.48551 10.5925 56 − 54.11932 10.5925 57 − 54.

169 F(z6) = 0.luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.5 . jika zi positif.5925 60 − 54.Luas daerah dibawah lengkungan normal standar harga positif dari zi Besarnya luasan daerah dibawah normal standar dicari dengan menggunakan bantuan tabel luas daerah lengkungan normal standar.194 .169 F(z5) = 0.86312 = 0.luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0. maka F(zi) = 0.luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.05192 = 0.1429 = 1.5 .146 F(z4) = 0.65675 = 0.035 F(z3) = 0.5 .3052 = 0.luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 2.4649 = 0.1429 = 1.3315 = 0.5925 60 − 54.5 .5925 c.z26 = z27 = z 28 = 68 − 54.80714 = 0.49693 10.30813 10.5 .luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 1.5 – 0.5 . maka F(zi) = 0.3315 = 0.luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 1.49693 10.95752 = 0.003 F(z2) = 0.3531 = 0.5 – 0.5 + Luas daerah dibawah lengkungan normal standar zi. Dari tiap angka baku tersebut kemudian ditentukan peluang zi F(zi) Ketentuan yang digunakan adalah.5 .0.5 – 0. F(z1) = 0.4961 = 0.5 .5 – 0.95752 = 0.1429 = 1. Jika zi negatif.5 – 0.

5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.1844 = 0.5 – 0.5 .26971 = 0.5 .luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.348 F(z11) = 0.494 F(z14) = 0.67431 = 0.5 .5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.56 F(z16) = 0.60 F(z17) = 0.1141 = 0.5 – 0.luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.26971 .1753 = 0.5 – 0.5 + 0.250 F(z9) = 0.29671 = 0.5 – 0.5 – 0.53 F(z15) = 0.1026 = 0.luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.315 F(z10) = 0.luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.2794 = 0.0040 = 0.456 F(z13) = 0.0809 = 0.385 F(z12) = 0.5 – 0.2486 = 0.39111 = 0.76782 = 0.5 .luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.5 .5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.0438 = 0.5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.0675 = 0.luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.1517 = 0.5 + 0.5 – 0.5 + 0.1079 = 0.5 .F(z7) = 0.48551 = 0.0135 = 0.221 F(z8) = 0.luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.0310 = 0.5 .

5 + 0.36411 = 0.36411 = 0.30813 = 0.770 F(z22) = 0.02492 = 0.84 F(z25) = 0.74172 = 0.1772 = 0.5 + 0.5 +luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.1026 = 0.64 F(z19) = 0.5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 1.5+ 0.4049 = 0.024942 = 0.5+ luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.5 + 0.5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 1.5 + 0.5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 1.5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.3461 = 0.79 F(z23) = 0.5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 1.11932 = 0.60 F(z18) = 0.64 F(z20) = 0.5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 1.3461 = 0.83612 = 0.49693 .5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.2996 = 0.5+ luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.1406 = 0.2704 = 0.84 F(z24) = 0.5 + 0.5 + 0.= 0.1406 = 0.5 + 0.45851 = 0.5 + 0.5+ 0.67 F(z21) = 0.3665 = 0.904 F(z27) = 0.86 F(z26) = 0.

….4319 = 0.643 = 19/28 = 0.285 = 9/28 = 0.035 = 2/28 = 0.178 = 6/28 = 0. z2.392 = 12/28 = 0.5 + 0.5 = 15/28 = 0.= 0.496393 = 0.142 = 5/28 = 0. zn yang lebih kecil atau sama dengan zi.678 = 20/28 = 0.464 = 14/28 = 0.931 dan seterusnya sampai F(z28) d.75 .714 = 21/28 = 0.535 = 16/28 = 0.931 F(z28) = 0.571 = 17/28 = 0.357 = 11/28 = 0.321 = 10/28 = 0.875 = 8/28 = 0.4319 = 0.5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 1.5 + 0. ditulis S(zi) S(z1) S(z2) S(z3) S(z4) S(z5) S(z6) S(z7) S(z8) S(z9) S(z10) S(z11) S(z12) S(z13) S(z14) S(z15) S(z16) S(z17) S(z18) S(z19) S(z20) S(z21) = 1/28 = 0.428 = 13/28 = 0.107 = 4/28 = 0.071 = 3/28 = 0.607 = 18/28 = 0.214 = 7/28 = 0. Selanjutnya dihitung proporsi z1.

035⏐ = ⏐0.039 = 0.1658 Karena harga Lo < harga L tabel.786 = 23/28 = 0.821 = 24/28 = 0.107⏐ = ⏐0.067 g. . Kemudian dihitung selisih antara F(zi) – S(zi) dengan mengambil harga ⏐F(z1) – S(z1)⏐ ⏐F(z2) – S(z2)⏐ ⏐F(z3) – S(z3)⏐ ⏐F(z4) – S(z4)⏐ ⏐F(z5) – S(z5)⏐ = ⏐0.146 – 0.928 = 27/28 = 0.009 dan seterusnya sampai ⏐F(z28) – S(z28)⏐ f. Apabila Lo < L tabel. Menentukan harga terbesar dari selisih tersebut sebagai harga Lo. maka disimpulkan bahwa distribusi data variabel kinerja menjahit (X) adalah normal.892 = 26/28 = 0. = 22/28 = 0.032 = 0.964 = 28/28 = 1 e. Dari selisih harga-harga diperoleh Lo = 0. maka sebaran data tersebut mengikuti distribusi normal Harga L tabel untuk n = 28 dan taraf signifikansi 5% adalah 0. Bandingkan dengan harga L tabel.071⏐ = ⏐0.S(z22) S(z23) S(z24) S(z25) S(z26) S(z27) S(z28) mutlaknya.169 – 0.035 – 0.169 – 0.003 – 0.857 = 25/28 = 0.142⏐ = ⏐0.027 = 0.036 = 0.178⏐ = 0.

19484 0.946307 1.464286 0.05731 0.607143 0.714286 0.571429 0.25 0.645223 0.247391 1.214286 0.946307 0.928571 0.UJI NORMALITAS SEBARAN DATA VARIABEL SIKAP WIRASWASTA Y 29 38 41 41 43 44 44 44 45 47 49 49 50 52 55 56 56 59 59 61 62 62 62 63 64 64 65 68 Z -2.19484 0.004769 0.078004 0.634629 0.785714 0.55911 -0.000392 0.828004 0.071821 0.344139 0.060584 0.596298 0.964286 0.852374 0.097752 0.645223 0.066093 0.168387 0.874315 0.0632 0.046668 1.086923 0.740609 0.35839 -0.018542 0.04229 0.477151 0.46236 -1.035714 0.022849 0.068546 0.010184 0.019445 0.015621 0.178571 0.893873 0.107143 0.060754 maksimum 0.75 0.874315 0.006575 0.428571 0.357143 0.96056 -0.223676 0.8602 -0.05516 0.032831 0.062037 0.678571 0.36562 -1.071429 0.097752 0.946307 0.147029 1.398192 0.S(z) 0.801208 0.75984 -0.070413 1 0.16128 -1.360026 0.321429 0.097752 80 Skor Responden 60 40 20 0 0 5 10 15 Responden 20 25 30 .069101 0.5 0.009 0.892857 0.857143 0.535714 0.548475 F(z) 0.19484 0.122764 0.122764 0.285714 0.344139 0.828004 0.939246 S(z) F(z) .828004 0.740609 0.642857 0.054256 0.8602 -0.821429 0.35839 -0.288042 0.360026 0.243778 0.8602 -0.027486 0.392857 0.020093 0.634629 0.16128 -0.25803 -0.147029 1.142857 0.090874 0.026714 0.845945 0.

75984 9.96449 − b. a. Dengan x merupakan rata-rata data dan s s − adalah simpangan baku. Tiap skor total yang diperoleh. kemudian dilakukan analisis dengan langkahlangkah pengujian setelah dilakukan pengurutan data dari yang terkecil sampai yang terbesar.5714 = -0.96649 44 − 52.5714 = -0.96649 45 − 52.36562 9.46236 9.96649 41 − 52.5714 = -0.16128 9.5714 = -1.5714 = -1. Dari hasil perhitungan diperoleh rata-rata data = 52.Contoh Perhitungan Uji Normalitas Sebaran Data Variabel Sikap Wiraswasta (Y) Berdasarkan data pada tabel di atas.96649 .5714 = -0.8602 9.16128 9.96649 44 − 52.5714 simpangan baku = 9.5714 = -2.96449 38 − 52.5714 = -0. misalnya : z1 = z2 = 29 − 52. Harga-harga x dan s tersebut kemudian digunakan untuk mencari angka baku zi.96649 44 − 52.96649 z3 = z4 = z5 = z6 = z7 = z8 = z9 = 41 − 52. diubah menjadi bilangan baku zi dengan − x −x menggunakan rumus zi = i .8602 9.96649 43 − 52.5714 = -1.8602 9.96056 9.

94631 9.96649 56 − 52.96649 61 − 52.14703 9.34414 9.55911 9.96649 50 − 52.5714 = 0.5714 = 0.5714 = -0.64522 9.35839 9.84595 9.24378 9.96649 56 − 52.96649 52 − 52.96649 59 − 52.96649 .5714 = 0.5714 = 0.5714 = -0.5714 = 0.25803 9.96649 64 − 52.96649 49 − 52.96649 49 − 52.04667 9.5714 = 0.64522 9.96649 62 − 52.05731 9.96649 64 − 52.5714 = -0.96649 55 − 52.34414 9.94631 9.5714 = 1.z10 = z11 = z12 = z13 = z14 = z15 = z16 = z17 = z18 = z19 = z20 = z21 = z22 = z23 = z24 = z25 = z26 = 47 − 52.96649 63 − 52.14703 9.5714 = 0.94631 9.96649 62 − 52.5714 = 1.96649 59 − 52.5714 = 0.5714 = 1.96649 62 − 52.5714 = -0.5714 = -0.35839 9.5714 = 0.

5.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 1.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.46236 = 0.5.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.16128 = 0.8602 = 0.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 1.luas daerah lengkungan normal standar untuk 2. maka F(zi) = 0.5 .3052 = 0.5714 = 1.0.0.16128 = 0.009 F(z2) = 0. maka F(zi) = 0.4909 = 0.0.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.5 + Luas daerah dibawah lengkungan normal standar zi.5 .0.5. F(z1) = 0.3770 = 0.168 F(z6) = 0.Luas daerah dibawah lengkungan normal standar harga positif dari zi Besarnya luasan daerah dibawah normal standar dicari dengan menggunakan bantuan tabel luas daerah lengkungan normal standar.072 F(z3) = 0.0.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 1.5 . jika zi positif.36562 = 0.4279 = 0.z27 = z28 = 65 − 52. Dari tiap angka baku tersebut kemudian ditentukan peluang zi F(zi) Ketentuan yang digunakan adalah.96056 = 0.24739 9.3052 = 0.5.54847 9.96649 c. Jika zi negatif.5.1948 .123 F(z4) = 0.0.0.96649 68 − 52.5.1948 F(z7) = 0.123 F(z5) = 0.8602 = 0.3315 = 0.3770 = 0.5714 = 1.

5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.288 F(z11) = 0.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.0.1368 = 0.8602 = 0.2734 = 0.25803 = 0.5+ 0.36 F(z12) = 0.5 +luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.1331 = 0.5.75984 = 0.48 F(z15) = 0.35839 = 0.1331 = 0.34414 = 0.F(z8) = 0.1948 F(z9) = 0.63 .5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.5.0.1368 = 0.0.35839 = 0.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.34414 = 0.0.5.5.0.05731 = 0.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.5.0199 = 0.22 F(z10) = 0.40 F(z14) = 0.0.5+ 0.3052 = 0.0987 = 0.5+ 0.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.0987 = 0.55911 = 0.5.0.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.59 F(z16) = 0.36 F(z13) = 0.5.2123 = 0.63 F(z17) = 0.24378 = 0.

3749 = 0.84595 = 0.82 F(z24) = 0.04677 = 0.94631 = 0.3531 = 0.5+ 0.5+ 0.64522 = 0.94631 = 0.5+ 0.5+ 0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 1.64522 = 0.85 F(z25) = 0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.5+ 0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 1.14703 = 0.5+ 0.14703 = 0.894 .5+ 0.74 F(z20) = 0.3264 = 0.3264 = 0.2389 = 0.94631 = 0.80 F(z21) = 0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.5+ 0.3264 = 0.874 F(z26) = 0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 1.874 F(z27) = 0.3749 = 0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.2996 = 0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.82 F(z22) = 0.3944 = 0.5+ 0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.0987 = 0.5+ 0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 1.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.74 F(z19) = 0.F(z18) = 0.82 F(z23) = 0.24739 = 0.

285 = 9/28 = 0.321 = 10/28 = 0.035 = 2/28 = 0.821 = 24/28 = 0.5 = 15/28 = 0.875 = 8/28 = 0.607 = 18/28 = 0.535 = 16/28 = 0.428 = 13/28 = 0.107 = 4/28 = 0.857 = 25/28 = 0. zn yang lebih kecil atau sama dengan zi.214 = 7/28 = 0.714 = 21/28 = 0.75 = 22/28 = 0.464 = 14/28 = 0.142 = 5/28 = 0. z2.9394 dan seterusnya sampai F(z28) d. ditulis S(zi) S(z1) S(z2) S(z3) S(z4) S(z5) S(z6) S(z7) S(z8) S(z9) S(z10) S(z11) S(z12) S(z13) S(z14) S(z15) S(z16) S(z17) S(z18) S(z19) S(z20) S(z21) S(z22) S(z23) S(z24) S(z25) = 1/28 = 0.357 = 11/28 = 0.178 = 6/28 = 0.F(z28) = 0.643 = 19/28 = 0.786 = 23/28 = 0.392 = 12/28 = 0.071 = 3/28 = 0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 1. ….571 = 17/28 = 0. Selanjutnya dihitung proporsi z1.5+ 0.892 .678 = 20/28 = 0.54847 = 0.4394 = 0.

82–0.80–0.82–0.123–0.36–0.82–0.071⏐ = ⏐0.123-0.535⏐ ⏐F(z16) – S(z16)⏐ = ⏐0.072–0.285⏐ = ⏐0.464⏐ ⏐F(z14) – S(z14)⏐ = ⏐0.059–0.22–0.392⏐ ⏐F(z12) – S(z12)⏐ = ⏐0.1948–0.821⏐ ⏐F(z24) – S(z24)⏐ = ⏐0.714⏐ ⏐F(z21) – S(z21)⏐ = ⏐0.107⏐ = ⏐0.035⏐ = ⏐0.1948–0.392 = -0.016 = -0.357⏐ ⏐F(z11) – S(z11)⏐ = ⏐0.185 = 0.548 = 0.40–0.428⏐ ⏐F(z13) – S(z13)⏐ = ⏐0.875⏐ = ⏐0.607⏐ ⏐F(z18) – S(z18)⏐ = ⏐0.0192 = -0.85–0.321⏐ = -0.019 = -0.S(z26) S(z27) S(z28) mutlaknya.009–0.1948–0.068 = -0. Kemudian dihitung selisih antara F(zi) – S(zi) dengan mengambil harga ⏐F(z1) – S(z1)⏐ ⏐F(z2) – S(z2)⏐ ⏐F(z3) – S(z3)⏐ ⏐F(z4) – S(z4)⏐ ⏐F(z5) – S(z5)⏐ ⏐F(z6) – S(z6)⏐ ⏐F(z7) – S(z7)⏐ ⏐F(z8) – S(z8)⏐ ⏐F(z9) – S(z9)⏐ = ⏐0.857⏐ .069 = 0.142⏐ = ⏐0.101 = -0.007 ⏐F(z10) – S(z10)⏐ = ⏐0. = 26/28 = 0.82075 = 0.168–0.928 = 27/28 = 0.178⏐ = ⏐0.01 = -0.75⏐ ⏐F(z22) – S(z22)⏐ = ⏐0.643⏐ ⏐F(z19) – S(z19)⏐ = ⏐0.086 = 0.5⏐ ⏐F(z15) – S(z15)⏐ = ⏐0.064 = 0.63–0.36–0.001 = 0.097 = 0.74–0.059 = -0.026 = 0.062 = 0.35–0.001 = -0.0902 = -0.964 = 28/28 = 1 e.74–0.85–0.034 = -0.678⏐ ⏐F(z20) – S(z20)⏐ = ⏐0.6802 = -0.786⏐ ⏐F(z23) – S(z23)⏐ = ⏐0.214⏐ = ⏐0.571⏐ ⏐F(z17) – S(z15)⏐ = ⏐0.35 = -0.288–0.

0606 f.892⏐ ⏐F(z26) – S(z26)⏐ = ⏐0.874–0.1658 Karena harga Lo < harga L tabel.894–0. maka sebaran data tersebut mengikuti distribusi normal Harga L tabel untuk n = 28 dan taraf signifikansi 5% adalah 0. Bandingkan dengan harga L tabel. Dari selisih harga-harga diperoleh Lo = 0.⏐F(z25) – S(z25)⏐ = ⏐0. .928⏐ ⏐F(z27) – S(z27)⏐ = ⏐0. Apabila Lo < L tabel.097 g.9394–1⏐ = -0.874–0.054 = -0.018 = -0. Menentukan harga terbesar dari selisih tersebut sebagai harga Lo.964⏐ ⏐F(z28) – S(z28)⏐ = ⏐0.07 = -0. maka disimpulkan bahwa distribusi data variabel minat baca karya sastra adalah normal.

5884 Koefisien r tersebut kemudian dikonsultasikan dengan harga r tabel product moment. Untuk n = 28 dan taraf signifikansi 5% diperoleh harga rtabel sebesar 0. rXY = rXY = rXY1 = rXY = rXY = n ∑ XY − (∑ X)(∑ Y) {n ∑ X 2 − (∑ X) 2 }{n ∑ Y 2 − (∑ Y) 2 } 28x81375 − 1516 x1472 {28x85110 − 2298256}{28x80066 − 2166784} 2278500 − 2231552 {2383080 − 2298256}{2241848 − 2166784} 46948 {84824}{75064} 46948 {6367228736} rXY = 46948 79794.PENGUJIAN KORELASI KINERJA MENJAHIT DAN SIKAP WIRASWASTA Rumus: r xy = {n ∑ X nXY .(∑ X)(∑ Y) 2 − (∑ X ) 2 }{n ∑ Y 2 − (∑ Y ) 2 } Dari tabel rekapitulasi skor hasil penelitian diperoleh: ΣX = 1516 ΣY = 1472 ΣXY= 81375 ΣX2 = 85110 (ΣX)2 = 2298256 (ΣY)2 = 2166784 ΣY2 n = 80066 = 28 Harga-harga tersebut kemudian disubstitusikan ke dalam rumus korelasi product moment.374.917 rXY = 0. .

00 = 3.708) > ttabel (1.706.5884 26 1 − 0. dilakukan uji t sebagai berikut: Rumus yang digunakan t= t= r n−2 1− r2 0. yaitu sebesar 1.00 0.706 thitung =3. artinya dapat digeneralisasikan pada populasinya.706) maka disimpulkan bahwa koefisien korelasi tersebut signifikan.809 Harga thitung tersebut kemudian dikonsultasikan dengan ttabel dengan taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasan n – 2 = 28 – 2 =26.708 Bagan Pengujian thitung . yang berarti ada korelasi antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta.58842 0. Untuk menguji signifikansi koefisien korelasi.5884 28 − 2 1 − 0.346 3.Karena harga rhitung > rtabel maka disimpulkan Ho dalam penelitian ini ditolak. Karena thitung (3.708 0.654 t= t= t= 3. Daerah Penolakan Ho Daerah penerimaan Ho 0 ttabel 1.

Lampiran 21 137 Gambar pola dasar sistem Alwine .

d = 7 cm d .138 Pola Badan Pola Depan / Muka Keterangan: Tarik tegak lurus ab a-a1 = 6 cm atau 7 cm a-b = panjang dada I = panjang dada II a2-b titik b naik 2 cm = b1 titik a1 – a3 lebar bahu berpotongan dengan tinggi bahu I (b – a3) b1-c = panjang sisi a2.d1 = 1/2 cm c – c1 = ¼ lingkar badan + 1 cm b1 – b2 = ¼ lingkar pinggang + 1 cm + 3 cm (kup) hubungkan a3 – d1 – c1 = kerung lengan depan a – e = tinggi dada e – e1 = jarak dada Pola Belakang Keterangan: A – A1 = 6 atau 7 cm A – A2 = 2 cm A – B = panjang punggung + 2 cm Titik B ke kanan 2 cm Titik A1 – A3 lebar bahu perpotongan dengan tinggi bahu II (B – A3) B – C = panjang sisi A2 – D = 8 cm D – D1 = ½ lebar punggung C – C1 = ¼ lingkar badan – 1 cm B – B1 = ¼ lingkar pinggang –1cm +3cm (kup) Hubungkan A3 – D1 – C1 = garis lingkar kerung lengan Pola dasar rok Pola belakang Pola depan Keterangan: Keterangan : A – A1 = 2 cm Tarik garis tegak lurus a b c a-a1 = 2cm A – A2 = ¼ lingkar pinggang –1cm a-a2 = ¼ lingkar pinggang +1cm + 3 cm (kup) +3cm (kup) A1 – B = tinggi panggul a1-c = panjang rok A1 – B = tinggi panggul c-c1 = b – b1 + 3 cm B – B1 = ¼ lingkar panggul –1cm A1 – C = panjang rok C – C1 = B – B1 + 3 cm .

139 Pola Dasar Lengan Keterangan: Tarik garis lurus ABCD A–B A–C A–D A – B1 A – C1 C – C1 D–D1 B – B1 = titik puncak = 12 cm = panjang lengan sampai siku = panjang lengan sampai nadi = ½ kerung lengan kanan / kiri = ½ lingkar siku kanan/kiri = ½ lingkar siku kanan/kiri = ½ lingkar nadi = sebagai kontrol = ½ lingkar pangkal lengan = 4 cm .