HUBUNGAN ANTARA KINERJA MENJAHIT DENGAN SIKAP WIRASWASTA PADA KELOMPOK BELAJAR MENJAHIT DI KELURAHAN BONGSARI KECAMATAN SEMARANG

BARAT

SKRIPSI
Diajukan dalam rangka menyelesaikan studi Strata-1 untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan

Oleh Nama NIM Program Studi Jurusan : Sri Mulyani : 544400021 : PKK S1 Konsentrasi Tata Busana : Teknologi Jasa dan Produksi

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi pada : Hari Tanggal : :

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. Maonah Rahmadi NIP. 130219373

Dra. Uchiyah Achmad, M.Pd. NIP. 130604209

ii

PENGESAHAN KELULUSAN Skripsi dengan judul “HUBUNGAN ANTARA KINERJA MENJAHIT DENGAN SIKAP WIRASWASTA PADA KELOMPOK BELAJAR MENJAHIT DI KELURAHAN BONGSARI KECAMATAN SEMARANG BARAT” ini telah dipertahankan di dalam Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang pada : Hari Tanggal : Senin : 28 November 2005 Panitia Ujian :

Ketua

Sekretaris

Dra. Dyah Nurani Setyaningsih. M.Kes. NIP.1317664485

Dra. Erna Setyowati, M Pd. NIP. 131570062

Anggota Penguji 1. Dra. Hj. Hartatiati S. NIP. 130367994

2. Dra. Maonah Rahmadi NIP. 130219373

3. Dra. Uchiyah Achmad ,M.Pd NIP. 130604209

Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang

Prof. Dr. Soesanto NIP. 130875753

iii

PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi atau tugas akhir ini benar-benar hasil karya sendiri. bukan jiplakan dari karya tulis dari orang lain. Oktober 2005 Sri Mulyani NIM. 5444000021 iv . baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah. Semarang.

MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO : Barang siapa berjalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga (HR. Almamater yang kubanggakan v . Muslim) PERSEMBAHAN: Karya ini kupersembahkan kepada 1. Seluruh keluarga yang selalu mendoakanku 3. Bapak dan Ibu tercinta atas dukungan dan doanya 2. Teman-teman seperjuangan 4.

yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu. Uchiyah Achmad. 3.Pd selaku pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan. Terselesaikannya skripsi ini tak lepas dari bantuan beberapa pihak. Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Universitas Negeri Semarang. vi .KATA PENGANTAR Puji syukur senantiasa penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya. Ketua Jurusan Teknologi Jasa Produksi Fakultas Teknik UNNES 4. sehingga skripsi ini dapat diselesaikan sesuai dengan rencana. Kepala Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk mengadakan penelitian. pengarahan dalam penyusunan skripsi ini. M. 5. atas ijin yang telah diberikan kepada penulis dalam penelitian skripsi. Semua pihak yang membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat: 1. 6. Rektor Univeritas Negeri Semarang 2. Dra. Maonah Rahmadi dan Dra.

Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua. Semarang. Amin. 2005 Penulis (Sri Mulyani) vii .Semoga Allah SWT memberikan pahala yang setimpal atas segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis.

yaitu sebesar 65. “Hubungan Antara Kinerja Menjahit Dengan Sikap Wiraswasta Pada Kelompok Belajar Menjahit Di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat”.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kinerja menjahit dan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat. Manfaat yang diharapkan adalah memberi masukan kepada pemerintah Kelurahan Bongsari untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi seluruh warganya. dengan jumlah sampel 28 yang ditentukan dengan random sampling. konveksi. Bagi pemerintah kelurahan dan tutor hendaknya selalu mendorong dan memfasilitasi warga masyarakat dengan menyediakan peralatan yang dibutuhkan dan membuka unit koperasi yang dapat menjual hasil karya kelompok belajar.ABSTRAK Sri Mulyani. Sikap Wiraswasta Kelompok belajar menjahit diselenggarakan dengan tujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan pada bidang jahit menjahit kepada warga belajar. Analisa data dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan uji prasyarat normalitas karena penelitian ini bersifat parametrik. tailor dan sebagainya. Penelitian ini dilakukan pada warga belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat. Analisis data dilakukan dengan korelasi product moment. sehingga warga masyarakat mempunyai jiwa wiraswasta yang baik. Dra. Variabel bebas adalah kinerja menjahit.3800%. dengan harapan agar mereka mampu bekerja atau menciptakan lapangan kerja pada bidang jahit menjahit. Dengan demikian masih ada faktor lain yang turut memberikan sumbangan terhadap sikap wiraswasta. Jurusan Teknologi Jasa Dan Produksi Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Idealnya. Skripsi. setelah mengikuti kelompok belajar menjahit. 2. dan variabel terikatnya adalah sikap wiraswasta. Hasil analisis data menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0. M. Pembimbing: 1.6200% terhadap sikap wiraswasta yang dimiliki oleh warga belajar. Disarankan warga belajar hendaknya selalu berusaha untuk meningkatkan kinerja menjahit serta memacu untuk meningkatkan kinerja dan sikap wiraswastanya dengan cara selalu mengikuti kelompok belajar dengan disiplin dan selalu mengerjakan tugas praktek yang diberikan tutor. 2005. Maonah Rahmadi. viii . Uchiyah Achmad. Faktor kinerja menjahit memberikan sumbangan sebesar 34.5884 yang signifikan pada taraf signifikansi 5%. misalnya modiste. Dra.Pd. Kata Kunci : Kinerja Menjahit. warga belajar akan mempunyai kinerja menjahit yang lebih baik dan berwiraswasta menciptakan lapangan kerja baru di bidang jahit menjahit. sehingga disimpulkan ada hubungan antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat.

............................. 9 F..... 12 2.................................................................................................. LANDASAN TEORITIS DAN HIPOTESIS A...... Penegasan Istilah.. viii DAFTAR ISI........................................ 8 E......................................................... ix DAFTAR TABEL..................................................... Tujuan Penelitian .................................................................................. xii DAFTAR LAMPIRAN................................................................................................................................. Latar Belakang ..........................................................................................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL........ Kinerja Menjahit ..................................................................................................... ii PENGESAHAN KELULUSAN ... vi SARI............................................................ v KATA PENGANTAR ..... i PERSETUJUAN PEMBIMBING............................................................................................................................................................................................................................................................................ Pengertian Menjahit ....................... 9 BAB II..................................... iii PERNYATAAN................................ Permasalahan ..................................................................................................................... 1 B................... 12 1...... PENDAHULUAN A............................................................................... Manfaat Penelitian ..................................................... Pengertian Kinerja. 5 C............... 5 D.................................................. Sistematika Skripsi..................................................................................... xi DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................ iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN ............................... xiv BAB I....................................................................... 13 ix .......................

.......................... Penentuan Objek Penelitian .. METODOLOGI PENELITIAN A.................................................................................................. 44 1................................... 89 x ... Sikap-sikap Wiraswasta ........................................ 58 B.................................... 14 B.................................................................................... 57 BAB III.......................................................................................................... Analisis Tahap Akhir ..................................... 48 C... Saran.................................................................................................... Penyusunan Instrumen . 46 3............................ Keterbatasan Penelitian .......................... Teknik Analisis Data.... 83 BAB V......... 67 BAB IV................ 85 B........... Hipotesis................ Kerangka Berpikir......... 61 C.............................................................. 64 E........................ Uji Prasyarat Analisis ....... Hasil Penelitian .............................. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A..................... Kinerja Menjahit pada Warga Belajar..... KESIMPULAN DAN SARAN A........................... Uji Coba Instrumen ..... Kesimpulan ....................................................................................................................................................................................................................................... Metode Pengumpulan Data ................................................................... Pengertian Wiraswasta .......................................................................... 72 B........................................... Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian ...................................................3.................................................. Sikap Wiraswasta ...................... 87 LAMPIRAN............................. Unsur-unsur Sikap Wiraswasta .......................................... 72 C............................................................................... 55 D.......... 86 DAFTAR PUSTAKA ..... Analisis Data ............................................... 76 1............................. 76 2........ 44 2............................................................. 78 D............. 63 D.............................................

........... Interpretasi Tingkat Korelasi................................ Daftar Distribusi Frekuensi Data Variabel Kinerja Menjahit ............................... 73 Tabel 4......DAFTAR TABEL Halaman Tabel 3...........1......................2...4..... Statistik untuk Perhitungan Korelasi... Deskripsi Data Hasil Penelitian .........1........................................ 70 Tabel 4................ 72 Tabel 4............. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian..... Daftar Distribusi Frekuensi Data Variabel Sikap Wiraswasta... 75 Tabel 4..................3........ 63 Tabel 3.2................ 79 xi .................

................... 18 Gambar 8 Setikan untuk Kerutan..................................................................... 16 Gambar 4 Cara Memasang Benang Pada Kumparan........................................................ 15 Gambar 3 Memasang Benang Atas......................................................................................... 22 Gambar 13 Alat membuat Pola ......................................................................................................................... 36 xii ................ 18 Gambar 7 Kepala Mesin .... 25 Gambar 15 Bentuk Gunting untuk Berbagai Jenis Bahan ................ 35 Gambar 21 Saku Tempel.......... 29 Gambar 18 Penyelesaian dengan Depun...................................................................................... 26 Gambar 16 Alat Tambahan dalam Menjahit.......................... 17 Gambar 5 Memasukkan Kumparan pada Rumah Kumparan ................................................................................................................................................................................................................................ 34 Gambar 19 Penyelesaian dengan Serip ...... 19 Gambar 9 Cara Meminyaki Mesin Bagian Kepala ... 24 Gambar 14 Alat Pemberi Tanda pada Kain ................................................................................................................ 27 Gambar 17 Cara Mengukur................. 20 Gambar 10 Cara Meminyaki Bagian Atas .............................................. 34 Gambar 20 Penyelesaian dengan Rompok........ 21 Gambar 11 Cara meminyaki Bagian Kaki dan Bagian Bawah Mesin .......................................................................DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1 Mesin Jahit Lurus ................................................................. 17 Gambar 6 Menaikkan Benang Bawah ` ............................................................................................................................................. 15 Gambar 2 Memasang Jarum Mesin ......................................... 21 Gambar 12 Mesin Obras ...........................................................................

...................................................................................................... 39 Gambar 28 Kampuh Buka ............ 40 Gambar 30 Kampuh Tutup......................................................... 39 Gambar 29 Kampuh Pipih......................................................................................1 Diagram Dstribusi Frekuensi Kinerja Menjahit ................................ 42 Gambar 35 Belahan Amerika................................................................................ 41 Gambar 33 Penyelesaian dengan Obras....... 76 Gambar 4.2 Diagram Distribusi Frekuensi Sikap Wiraswasta .................................Gambar 22 Saku Dalam ..................................................................................................................................................................... 40 Gambar 32 Penyelesaian dengan Setik ....... 44 Gambar 4..................................... 40 Gambar 31 Kampuh Balik ...................................... 37 Gambar 24 Setikan Lurus ........... 82 xiii .......... 36 Gambar 23 Tusuk Jelujur ..................................................................................................................................................................................................................................................................3 Bagan Pengujian t hitung .............................................................................................................................................4 Diagram Sumbangan Kinerja Menjahit terhadap Sikap Wiraseasta ....................... 74 Gambar 4........................................... 43 Gambar 36 Belahan Tutup Tarik....................... 38 Gambar 27 Setikan Penguat ..................................... 38 Gambar 26 Setikan Lengkung.......................... 37 Gambar 25 Setikan Jelujur ........ 41 Gambar 34 Belahan Lapisan Sama ............................................ 81 Gambar 4...............................................

......................... 95 Analisis Hasil Uji Coba Instrumen Kinerja Menjahit .......... Gambar Pola Sistem Alwine ......... 125 Lampiran 18....... Uji Normalitas Sebaran Data Variabel Kinerja Menjahit ............................. Data Induk Hasil Penelitian Sikap Wiraswasta...... Daftar Tabel Distribusi t.................................... 117 Lampiran 16......................... Tabel Bantuan Pengolahan Data Induk Penelitian.................................................................. Lampiran 5. Lampiran 4. 115 Lampiran 14............................ 133 Lampiran 19.............. Lampiran 2............................. 113 Lampiran 12.................................. Pengujian Korelasi Kinerja Menjahit dan Sikap Wiraswasta ..... 89 Pedoman Penilaian Kinerja Menjahit Sebelum Uji Coba .. Lampiran 8........... 92 Instrumen Sikap Wiraswasta Sebelum Uji Coba ............................... Contoh Perhitungan Reliabilitas hasil Uji coba instrumen Kinerja Menjahit .............. 108 Lampiran 1.................. Rekapitulasi Data Induk........................................ 100 Lampiran 6..... 99 Contoh Perhitungan Validitas Hasil Uji Coba Instrumen Kinerja Menjahit ................ 112 Lampiran 11......................... Lampiran 10.... Tabel Harga kritik dari r Product Moment.................................. 136 Lampiran 21..... 105 Instrumen Sikap Wiraswasta Setelah Uji Coba ......... Lampiran 9.... 135 Lampiran 20.................... 101 Lampiran 7.................................. 104 Pedoman Penilaian Kinerja Menjahit Setelah Uji Coba ..... 124 Lampiran 17.......DAFTAR LAMPIRAN Halaman Kisi-kisi Instrumen Penelitian....... Lampiran 3. Contoh Perhitungan Uji Normalitas Kinerja Menjahit ................................ Uji Normalitas Sebaran Data Variabel Sikap Wiraswasta... 137 xiv .. 116 Lampiran 15.............. Data Induk Hasil Penelitian Kinerja Menjahit .............. Contoh Perhitungan Uji Normalitas Sikap Wiraswasta . 114 Lampiran 13...................... Analisis Hasil Uji Coba Instrumen Sikap Wiraswasta..

berdisiplin. beretos kerja tinggi. Pendidikan luar sekolah diselenggarakan dengan maksud untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan yang berorientasi pada bidang kerja tertentu. jujur. terampil. Salah satu contoh dari pendidikan luar sekolah 1 . mempunyai etos kerja tinggi. Latar Belakang Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu usaha sadar untuk membentuk manusia Indonesia yang berkualitas.1997:22). profesional. bertanggung jawab dan produktif. mandiri. adalah untuk mengembangkan kemampuan warga belajar sehingga mempunyai keterampilan. penyelenggaraan pendidikan luar sekolah lebih menekankan pada pemberian bekal kepada warga belajar agar mereka mampu menghidupi dirinya sendiri (Pidarta. berpikir maju. berkepribadian unggul. warga belajar akan mempunyai sumber penghidupan yang layak bagi dirinya dan atau keluarganya. Berbeda dari pendidikan jalur sekolah. penyelenggaraan pendidikan luar sekolah berperan penting dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional. kreatif. cerdas. bertanggung jawab dan produktif. disiplin. Hal ini berarti bahwa dengan adanya pendidikan luar sekolah.BAB I PENDAHULUAN A. Apabila dicermati maka dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan dilihat dari sektor bidang usaha. berbudi pekerti luhur. yaitu manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai salah satu sub sistem dari sistem pendidikan nasional. tangguh. profesional.

Bagi warga masyarakat yang belum memiliki pekerjaan atau sedang mencari pekerjaan namun tidak memiliki keterampilan khusus. kelompok belajar menjahit yang ada di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat diselenggarakan oleh pemerintah kelurahan dibantu dari pihak luar yaitu Lembaga Sosial Masyarakat Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata (LSM Soegijapranata). konveksi. keberadaan kelompok belajar menjahit dapat dijadikan sebagai tempat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya.2 yang ada di masyarakat adalah kursus atau kelompok belajar menjahit.1996:5). Kelompok belajar merupakan kumpulan warga yang belajar dan berusaha mempelajari sesuatu bidang ilmu pengetahuan atau keterampilan pada waktu dan tempat yang telah ditentukan (Depdikbud. Kurikulum pelatihan yang . Berdasarkan hasil observasi awal peneliti. Sedangkan bagi warga masyarakat yang sudah mempunyai bakat atau kemampuan menjahit. Biaya kursus sepenuhnya dibebankan oleh LSM tersebut. misalnya modiste. dengan harapan agar mereka mampu bekerja atau menciptakan lapangan kerja pada bidang jahit menjahit. tailor dan sebagainya. keberadaan kelompok belajar menjahit akan sangat membantu sebagai tempat untuk menimba ilmu menjahit untuk dijadikan modal keterampilan dalam mencari lapangan pekerjaan. sehingga masyarakat yang ikut tidak dipungut biaya apapun. sehingga bakat yang dimilikinya dapat diasah dan dikembangkan secara lebih terarah. Kelompok belajar menjahit ini diselenggarakan dengan tujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan pada bidang jahit menjahit kepada warga belajar.

mesin obras dan bahan-bahan pendukung lainnya. Kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari diikuti oleh 30 warga belajar dari lingkungan Bongsari.3 diberikan disamakan dengan kurikulum yang ada pada kursus menjahit di luar. setelah mengikuti kelompok belajar menjahit.2000:69). bertempat di Balai Pertemuan Warga RW 4. Pemberian materi menjahit diasuh oleh Pimpinan Modiste Alwine Semarang. LSM selain mengundang tutor. yaitu hari Kamis dan Minggu. Idealnya. Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (Mangkunegoro. Warga masyarakat yang ingin menjadi warga belajar di kelompok belajar menjahit tidak dibatasi umur dan jenis kelamin. Selain itu juga disediakan pula peralatan latihan seperti mesin jahit. Hal ini merupakan kebijakan pemerintah kelurahan dengan harapan agar banyak warga masyarakat yang ikut prgoram tersebut. Dalam pelaksanaannya. Modal usaha dan peralatan yang diberikan oleh LSM tersebut pada dasarnya merupakan pinjaman lunak. dengan harapan agar kualitas kursus yang diselenggarakan tidak kalah dengan kursus menjahit yang lain. karena modal tersebut dapat dikembalikan jika warga belajar telah mampu untuk mengembalikan dan tidak disertai dengan bunga pinjaman. Namun . juga memberikan dana atau modal usaha yang dapat digunakan oleh warga belajar yang ingin membuka usaha pada bidang jahit menjahit. warga belajar akan mempunyai kinerja menjahit yang lebih baik dan dapat menciptakan lapangan kerja baru. Pertemuan kelompok belajar diselenggarakan sebanyak 2 kali seminggu.

kinerja menjahit yang ditunjukkan oleh warga belajar dapat dikatakan masih kurang ideal. Hal ini dapat dilihat dari tingkat absensi warga belajar yang mencapai 5% pada setiap kali pertemuan. guna memastikan sukses (Suharto. Warga belajar yang kurang berhasil dalam bidang menjahit tersebut pada umumnya kurang mempunyai minat dalam mengikuti kursus menjahit. dalam pelaksanaannya di lapangan. Hal ini jelas berdampak pada rendahnya kedisiplinan dan juga rasa tanggung jawab mereka yang merupakan ciri dari . Meskipun sudah diberikan bantuan modal untuk membuka usaha jahit. Fenomena tersebut menandakan bahwa warga belajar kurang memiliki motivasi yang tinggi untuk menguasai bidang jahit menjahit. banyak warga belajar yang masih bekerja pada orang lain. mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan dari padanya dan mengambil tindakan tepat. Berdasarkan hasil wawancara dengan tutor kelompok belajar menjahit di Bongsari. namun kurang dimanfaatkan oleh warga belajar secara optimal. Hal ini muncul sebagai akibat dari tidak adanya perhatian dan penjaringan minat.4 demikian. Sikap wiraswasta dapat diartikan sebagai kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis. setelah selesai mengikuti kelompok belajar menjahit. dan bahkan lebih disayangkan lagi bahwa pekerjaan mereka banyak yang tidak sesuai dengan bidang jahit menjahit. Kondisi ini menunjukkan bahwa mereka kurang mempunyai sikap berwiraswasta dalam bidang jahit menjahit.1998:2). pada saat penerimaan warga belajar.

kinerja menjahit dan sikap wiraswasta pada bidang jahit menjahit menjadi fokus yang menarik minat peneliti untuk mengkaji lebih dalam tentang ada tidaknya hubungan antara kinerja menjahit yang dimiliki oleh warga belajar dengan sikap wiraswasta bidang jahit menjahit. B. Dengan demikian dapat dipahami adanya hubungan antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada warga belajar. Seberapa besar hubungan antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat? C. Adakah hubungan antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat? 2. Penegasan Istilah Penegasan istilah dibuat dengan tujuan untuk menghindari kesalahan penafsiran tentang judul yang diajukan sehingga tidak menimbulkan . Pengkajian tersebut akan dilaksanakan dalam penelitian skripsi berjudul “Hubungan antara Kinerja Menjahit dengan Sikap Wiraswasta pada Kelompok Belajar Menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat”. Permasalahan Masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1.5 sikap wiraswasta. Berdasarkan uraian di atas.

Beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Hubungan Hubungan adalah komponen dalam suatu sistem yang saling berhubungan dan saling membutuhkan. Kinerja dalam penelitian ini . Wahjoetomo (1995:35) menyebutkan bahwa kinerja adalah keinginan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. lebih efisien dengan usaha yang lebih sedikit.2000:771). Pengertian lain tentang kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seorang pegawai atau karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (Mangkunegoro.2000:69). Kinerja Menjahit a. ikatan. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan hubungan adalah jalinan interaksi antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat. 2. lebih cepat.6 pengertian yang berbeda. (Poerwodarminto. kemampuan mengerjakan suatu karya atau dapat diartikan sebagai kemampuan untuk berusaha (Peorwodarminto. jalinan yang terwujud karena interaksi antara satuan-satuan yang aktif. Kinerja Kinerja adalah kemampuan bekerja.2000:314). atau dapat pula diartikan bahwa hubungan adalah keadaan berhubungan. kontak.

dapat dijelaskan bahwa kinerja menjahit dalam penelitian ini berarti kemampuan mengerjakan tugas.1991:5). mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan dari padanya dan mengambil tindakan tepat. Pengertian lain tentang menjahit adalah proses pembuatan busana mulai dari mengukur.2000:4).2000:687). memotong. sifat. 3. menyambung/menjahit dan penyelesaian (Depdikbud. Berdasarkan pengertian kinerja dan menjahit di atas. Wiraswasta dapat juga diartikan sebagai kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis. Wiraswasta adalah seseorang yang berkemamuan keras dalam melakukan kegiatan yang bermanfaat (bisnis) yang patut menjadi teladan hidup (Tarmudji. baik perbuatan sekarang maupun perbuatan dimasa yang akan datang (Ahmadi. mengelim. merancang bahan. membuat pola. baik secara kualitas maupun kuantitas dalam hal pembuatan busana dari mengukur sampai penyelesaian.2002:162). b. memindahkan garis pola. Sikap Wiraswasta Sikap adalah suatu hal yang menentukan pandangan. Menjahit. Menjahit adalah melekatkan (melepit.7 dimaksudkan kemampuan mengerjakan secara kualitas dan kuantitas yang dimiliki oleh warga belajar pada bidang jahit menjahit. guna memastikan sukses (Suharto. hakekat. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa sikap .1998:2). menyambung) dengan jarum dan benang baik dengan mesin jahit atau dengan tangan (Poerwodarminto.

Berdasarkan pengertian dari istilah-istilah tersebut di atas. dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan judul skripsi ini adalah jalinan interaksi antara kemampuan seorang warga belajar membuat busana baik secara kualitas maupun kuantitas dengan pandangannya terhadap peluangpeluang bisnis pada bidang jahit menjahit.1996:18). .8 wiraswasta adalah pandangan seseorang dalam melihat dan menilai peluang-peluang bisnis dan mengatur sumber daya untuk mencapai keuntungan dan sukses. Pengertian lain kelompok belajar adalah pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah yang diadakan oleh masyarakat dengan tujuan untuk memberikan bekal pengetahuan atau keterampilan kerja bagi warga belajarnya (Pidarta. Dalam penelitian ini yang dimaksud kelompok belajar menjahit adalah kumpulan warga yang belajar untuk mempelajari bidang jahit menjahit. 4. pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat.1997:21). yang diselenggarakan oleh masyarakat sebagai salah satu bentuk lembaga pendidikan luar sekolah. Kelompok Belajar Menjahit Kelompok belajar merupakan kumpulan warga yang belajar dan berusaha mempelajari sesuatu bidang ilmu pengetahuan atau keterampilan pada waktu dan tempat yang telah ditentukan (Depdikbud.

9

D. Tujuan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat. 2. Untuk mengetahui seberapa besar hubungan kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat.

E. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat antara lain: 1. Memberikan masukan kepada pemerintahan di Kelurahan Bongsari untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi seluruh warganya, khususnya dibidang keterampilan untuk menambah penghasilan warga. 2. Memberikan informasi kepada pembaca tentang kinerja dan sikap wiraswasta yang dimiliki oleh warga belajar yang mengikuti kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat.

F. Sistematika Skripsi Secara garis besar skripsi ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu bagian awal, bagian inti dan bagian akhir skripsi. Bagian awal terdiri dari halaman judul, pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel dan daftar lampiran.

10

Bagian inti skripsi terdiri dari 5 bab yaitu: Bab 1, Pendahuluan. Pada bab ini peneliti akan menguraikan tentang latar belakang masalah, permasalahan, penegasan istilah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan skripsi. Bab 2, Landasan Teori. Landasan teori berisi tentang teori-teori yang berhubungan dengan masalah yang dibahas sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Beberapa teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tentang kinerja menjahit dan sikap wiraswasta. Pada bab ini juga diberikan hipotesis sebagai dugaan sementara atas masalah yang dikaji. Bab 3, Metodologi Penelitian. Pada bab ini diuraikan pendekatanpendekatan yang digunakan dalam penelitian yang meliputi penentuan objek penelitian, variabel penelitian, metode pengumpulan data, penyusunan instrumen, uji coba instrumen dan teknik analisis data. Bab 4, Hasil Penelitian dan Pembahasan. Bab ini berisi uraian tentang hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat. Bab 5, Kesimpulan dan Saran. Bab ini berisi tentang kesimpulan yang diperoleh dari hasil analisis dan pembahasan hasil penelitian, serta masukan atau saran dari peneliti untuk perbaikan terkait dengan tujuan penelitian. Bagian akhir skripsi berisi daftar pustaka dan lampiran. Daftar pustaka berisi daftar buku yang digunakan dalam penelitian. Lampiran berisi kelengkapan penyusunan skripsi dan hasil-hasil penelitian.

BAB II LANDASAN TEORI

Sumber daya manusia merupakan salah satu permasalahan pokok yang dihadapi oleh negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, dalam rangka membangun bangsa dan negaranya. Sehubungan dengan itu peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan hal yang sangat penting untuk mendapat perhatian, karena untuk mencapai tujuan pembangunan nasional diperlukan usaha berupa kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada upaya menggali dan memanfaatkan segala sumber daya yang ada. Permasalahan-permasalahan ini hendaknya tidak hanya menjadi perhatian atau tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat luas. Warga belajar seharusnya membekali diri dengan pendidikan dan ketrampilan hal ini dirasa sangat penting karena dalam melaksanakan pembangunan bagaimanapun melimpahnya kekayaan alam, tanpa adanya sumber daya manusia yang

berkualitas tinggi untuk mengolahnya maka akan sia-sia saja kekayaan alam tersebut. Dengan demikian dapat dipahami harus ada keseimbangan antara kualitas sumber daya manusia dan kekayaan alam untuk dikembangkan menjadi sesuatu yang berharga dalam pembangunan nasional. Untuk menuju sumber daya manusia yang berkualitas tinggi, perlu kiranya semua warga masyarakat yang belum terampil dapat memanfaatkan peluang-peluang yang diberikan oleh pemerintah dan lembaga sosial seperti peluang yang diberikan LSM Soegijapranata untuk mengikuti kelompok belajar menjahit.

11

Pengertian Kinerja Wahjoetomo (1995:35) menyebutkan bahwa kinerja adalah keinginan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. bahkan sering . Pengertian lain tentang kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (Mangkunegoro. Hal ini memberikan arti bahwa kinerja masih terbatas pada keinginan berusaha dan belum terwujud dalam kegiatan yang nyata. Pengertian ini memberikan pemahaman bahwa kinerja ditunjukkan oleh seseorang ketika orang tersebut sedang berusaha atau telah berusaha mengerjakan sesuatu. lebih cepat. kemampuan mengerjakan suatu karya atau kemampuan untuk berusaha. Pengertian yang lebih khusus diberikan oleh Peorwodarminto (2000:771) yang menyebutkan bahwa kinerja adalah kemampuan bekerja. lebih efisien dengan usaha yang lebih sedikit. Kebutuhan itu bermacam-macam.2000:69).2004:43) menyebutkan bahwa kinerja adalah perilaku yang berhubungan dengan kerja seseorang.12 A. Kerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh seseorang untuk mencukupi kebutuhan. Pengertian ini memberikan gambaran bahwa kinerja seseorang lebih spesifik pada kemampuannya dalam mengerjakan tugas dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Kinerja menjahit dapat dilihat dari kualitas dan juga kuantitas hasil kerjanya. berkembang dan berubah. Kinerja Menjahit 1. Dessler (dalam Pitoyo.

Seseorang bekerja karena ada sesuatu yang hendak dicapai dan orang berharap bahwa aktivitas kerja yang dilakukan akan membawanya kepada suatu keadaan yang lebih memuaskan daripada keadaan sebelumnya. Pengertian Menjahit Menjahit adalah melekatkan (melepit. menyambung) dengan jarum dan benang baik dengan mesin jahit atau dengan tangan (Poerwodarminto. dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.1991:5).13 tidak disadari oleh pelakunya. . Pengertian tersebut menunjukkan bahwa segala kegiatan yang berkaitan dengan kain dan benang dapat dikatakan sebagai kegiatan menjahit. Dengan demikian dapat dipahami bahwa menjahit merupakan kegiatan yang khusus berkaitan dengan usaha membuat busana dari mengukur sampai penyelesaian. Pengertian yang lebih khusus tentang menjahit adalah proses pembuatan busana mulai dari mengukur. dapat dijelaskan bahwa kinerja menjahit adalah kemampuan kerja yang dimiliki seseorang dalam melakukan tugas pada bidang jahit menjahit. memotong. merancang bahan. membuat pola. Berdasarkan pengertian kinerja dan menjahit di atas. memindahkan garis pola. maka dapat dipahami bahwa yang dimaksud kinerja adalah perilaku kerja seseorang baik secara kualitas maupun kuantitas. 2. Dari pengertian-pengertian kinerja di atas. menyambung dan penyelesaian (Depdikbud.2000:687). mengelim.

1) Kemampuan mengenal mesin jahit lurus Kemampuan mengenal mesin jahit lurus meliputi pengertian. roda atas.14 3. Macam-macam merk mesin jahit yaitu Buterfly. Bagian-bagian mesin jahit lurus yaitu permukaan dasar mesin. roda bawah. injakan untuk lebih jelasnya lihat pada gambar di bawah ini : . untuk itu mereka harus memiliki kinerja menjahit yang meliputi : a. macam dan bagian mesin jahit lurus. Kinerja Menjahit Pada Warga Belajar Warga belajar merupakan warga yang mengikuti kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat. Pengertian mesin jahit lurus yaitu mesin jahit yang menghasilkan setikan lurus. Singer dan Standar. menggunakan dan merawat alat jahit pokok sewaktu mengikuti kelompok belajar menjahit. badan mesin penutup dasar mesin. Kemampuan Mengenal Alat Jahit Pokok Kemampuan mengenal alat jahit pokok adalah kemampuan warga belajar dalam mengenal. Pada kejar menjahit warga belajar berusaha membuat pakaian. Menurut Radias Saleh (1991:22) pengertian alat jahit pokok adalah alat jahit yang penting dan utama contohnya mesin jahit lurus serta perlengkapannya dan mesin obras.

1991:23). Memasang Jarum Mesin . yang bulat menghadap keluar dan sekrup dikencangkan kembali (Radias Saleh. Gambar 2. 1991:22) 2) Kemampuan menggunakan mesin jahit lurus Kemampuan menggunakan mesin jahit lurus adalah kemampuan mengusai teknik dasar menggunakan mesin jahit lurus yang meliputi : a) Memasang jarum mesin Cara memasang jarum adalah sebagai berikut. kemudian jarum dimasukkan setinggi-tingginya dengan pangkal jarum. sekrup jepitan jarum dikendorkan dahulu.15 Gambar 1 Mesin Jahit Lurus (Radias Saleh.

. mulai dari nomor 1-8. 1991:23) c) Memasang benang pada kumparan Kumparan dimasukkan dalam sumbu yang terletak di bagian kanan mesin dan gulungan benang dipasang pada cantelan benang menurut gambar. Setelah penekan kumparan dan isislah kumparan dengan menjalankan mesin. Penekanan kumparan dilepas dan kumparan dikeluarkan. Kemudian ujung benang dimasukkan dalam lubang kecil kumparan agar benang tidak lepas. ikuti nomor berikutnya dan terakhir benang dimasukkan ke dalam jarum. Memasang Benang Atas (Radias Saleh. Gambar 3. Perhatikan agar isi benang pada kumparan jangan terlalu penuh. Benang yang berasal dari gulungan diteruskan ke nomor 1.16 b) Memasang benang atas Benang atas dipasang dengan mengikuti langkah yang tertera pada gambar.

Cara Memasang Benang Pada Kumparan (R Saleh.1991:24) d) Memasukkan kumparan pada rumah kumparan Sisakan benang dari kumparan kira-kira 10 cm. kemudian masukkan kumparan ke dalam rumah kumparan. Gambar 5. 1991:24) e) Menaikkan benang bawah Ujung benang atas dipegang dengan tangan kiri dan jangan ditarik. Selipkan sisa benang tadi melalui klep yang terdapat pada rumah kumparan dan tariklah ujung sisa benang tersebut.17 Gambar 4. Roda mesin dijalankan sehingga jarum membuat satu . Memasukkan Kumparan pada Rumah Kumparan (Radias Saleh. Selanjutnya masukkan rumah kumparan pada mesin.

1991:26) g) Menggatur setikan untuk membuat kerutan Untuk membuat kerutan. Kepala Mesin (Radias Saleh. Gigi mesin yang terlalu turun akan membuat bahan yang dijahit tidak dapat berjalan.18 setikan. Gambar 7. Sedangkan untuk mengatur setikan caranya dengan mengatur batang pengatur setikan di sebelah kanan dengan nomor setikan 1 sampai 20 (Radias Saleh. Ketika jarum naik benang bawah terkait dengan benang atas sehingga benang bawah dapat diambil.1991:25) f) Menyetel setikan mesin Setikan mesin dapat diatur dengan jalan mengatur naik turunaya gigi mesin. Menaikkan Benang Bawah (Radias Saleh.1991:25). Gambar 6. benang pengatur setikan di sebelah kanan mesin diturunkan ke bawah supaya setikan lebih panjang .

jarum.penutup gigi dan rumah kumparan dilepas dan di simpan dalam laci. Gambar 8.sepatu mesin. karena untuk membuat kerutan benang jahit harus dapat ditarik dengan mudah. Lap dari bahan katun yang tidak berbulu digunakan untuk membersihkan bagian luar mesin dari debu dan kotoran lainnya.19 atau jarang. Langkah-langkah yang harus dilakukan warga belajar untuk membersihkan mesin jahit adalah: a) Bagian luar mesin di lap b) Daun dorongan dikelurkan. Setikan untuk Kerutan (Radias Saleh. Minyak mesin jahit digunakan untuk membuat bagian-bagian mesin yang bergerak agar tidak aus. Pemeliharaan mesin jahit membutuhkan alat meliputi sikat khusus untuk menyikat atau membersihkan debu dari bulu-bulu benang yang terdapat di dalam badan mesin jahit.1991:27) 3) Kemampuan memelihara mesin jahit lurus Kemampuan memelihara mesin jahit adalah kemampuan warga belajar dalam memperlakukan mesin jahit. .

1991:45) . g) Untuk menghindari noda-noda pada bahan ketika mesin digunakan untuk menjahit lagi. minyak bekerja pada bagian-bagian yang Gambar 9.bagian atas dan bawah disikat agar bersih dari debu dan bulu-bulu benang. letakkan secarik tenunan. Cara Meminyaki Bagian Atas (Radias Saleh. sepatu mesin yang direndahkan untuk menyerap kelebihan minyak yang mungkin mengalir dari kepala mesin.20 c) Badan mesin dibalik. f) Bagian-bagian yang dilepas tadi dipasang kembali. d) Mesin diminyaki. e) Setelah mesin diminyaki lalu dijalankan perlahan-lahan untuk membiarkan bergerak. tiap lubang dan bagian yang bergerak ditetesi minyak cukup satu atau dua tetes. Cara Meminyaki Mesin Bagian Kepala Gambar 10.

1991:45) 4) Kemampuan mengenal mesin obras Kemampuan mengenal mesin obras meliputi pengertian mesin obras yaitu mesin yang digunakan untuk menyelesaikan bagian kampuh dan terbuat dari besi. Macam-macam merk mesin obras yaitu Butterfly. Cara meminyaki Bagian Kaki dan Bagian Bawah Mesin (Radias Saleh. Penggunaan mesin obras harus dengan dinamo listrik beserta karet putarnya.21 Gambar 11. Gambar 12. Penggunaan tersebut dengan cara menginjak dinamo listrik. . Mesin Obras (Sumber singer) 5) Kemampuan menggunakan mesin obras Kemampuan menggunakan mesin obras meliputi pemasangan benang dan pemasangan jarum pada mesin obras. Singer dan Pegasus.

Pada mesin obras bagian yang diberi minyak yaitu pada bagian mesin yang bergerak. . Benang obras juga berwarna-warni seperti kain. sekrup jepitan jarum dikendorkan dahulu.kemudian jarum dimasukkan sampai batas jarum.22 a) Pemasangan benang Tekstur benang untuk mesin obras berbeda dengan benang jahit. Perlu diketahui jarum pada mesin obras berbeda dengan jarum mesin jahit. Perawatan mesin obras tidak jauh beda dengan mesin jahit lurus. jarum ini pada bagian ujungnya bulat. Benang tersebut dipasang pengatur tegangan benang. Untuk menjaga agar tetap bersih. benang tengah berhenti pada jarum obras yang merupakan hasil setikan dan benang sebelah kanan merupakan benang bawah.setelah memakai harus dibersihkan dan ditutup dengan kain jika sudah tidak di gunakan.kencangkan kembali sekrup. Benang atas terletak di sebelah kiti. b) Pemasangan jarum Cara memasang jarum yaitu. 6) Kemampuan merawat mesin obras Kemampuan merawat mesin obras adalah kemampuan warga belajar memperlakukan mesin obras.

Menurut Radias Saleh pengertian alat jahit pelengkap adalah alat jahit yang digunakan sebagai pelengkap dalam menjahit. Meteran berbetuk panjang dan pada bagian sisi terdapat angka-angka dan terbuat dari plastik. b) Penggaris berguna untuk membentuk pola. alat untuk memberi tanda.1999:3). Alat jahit pelengkap contohnya: alat untuk membuat pola. penggaris dan pensil merah biru yang akan dijelaskan sebagai berikut: a) Meteran berguna untuk mengambil ukuran badan dan mengambil ukuran pada waktu membuat pola. alat untuk memotong. Meskipun hanya pelengkap tapii harus ada. Alat untuk membuat pola terdiri dari meteran. penggaris panggul dan penggaris pesak .23 b. dan peralatan tambahan (Depdiknas. 1) Kemampuan mengenal alat untuk membuat pola Kemampuan mengenal alat untuk membuat pola adalah kemampuan warga belajar dalam memperlakukan alat pembuat pola dengan baik dan benar. Kemampuan Mengenal Alat Jahit Pelengkap Kemampuan mengenal alat jahit pelengkap adalah kemampuan warga belajar dalam memahami alat jahit pelengkap. Penggaris dibedakan menjadi 3 yaitu penggaris lurus. karena dapat mempermudah dan mempercepat dalam menjahit pakaian.

Gambar dari alat-alat tersebut di atas dapat dilihat pada gambar berikut ini: Pensil Merah Biru Gambar 13 Alat Membuat Pola 2) Kemampuan mengenal alat untuk memberi tanda pada kain Kemampuan mengenal alat untuk memberi tanda pada kain adalah kemampuan warga belajar dalam memperlakukan alat untuk memberi tanda pada kain dengan baik dan benar. Pada bagian ujung rader terdapat roda yang bergigi atau roda yang halus. Alat untuk memberi tanda pada kain misalnya rader. .24 c) Pensil merah biru berguna untuk membedakan gambar pola bagian depan dan belakang. karbon jahit dan kapur jahit yang akan dijelaskan sebagai berikut : a) Rader berguna untuk menekan karbon jahit sewaktu memberi tanda pola pada kain yang akan dijahit.

25 b) Karbon jahit berguna menandai garis-garis penting pada bahan. Alat Pemberi Tanda Pada Kain 3) Kemampuan mengenal alat untuk memotong Kemampuan mengenal alat untuk memotong adalah kemampuan warga belajar dalam memperlakukan alat untuk memotong dengan baik dan benar. gunting kertas dan gunting benang yang akan dijelaskan sebagai berikut: a) Gunting kain berguna untuk memotong kain. Kapur jahit berbentuk segitiga dan berbagai warna yang diinginkan.2000:16) Karbon Jahit dan Penggunaannya Gambar 14. (Depdiknas. Alat untuk memotong diantaranya gunting kain. c) Kapur jahit berguna menandai garis pada bahan dan dapat digunakan sebagai pengganti karbon jahit dan rader. biasanya terbuat dari lapisan lilin dan warnanya mudah terhapus pada saat terkena panas setrika . .

yang akan dijelaskan sebagai berikut: a) Pendedel digunakan untuk membuka jahitan yang salah dan biasanya berebntuk huruf “ Y “ b) Bidal digunakan untuk melindungi jari dari tusukkan jarum. bidal. dapat dilihat pada gambar berikut ini: Gambar 15 Bentuk Gunting untuk Berbagai Jenis Bahan 4) Kemampuan mengenal peralatan tambahan Kemapuan mengenal peralatan tambahan adalah kemampuan warga belajar dalam memperlakukan alat dengan baik dan benar. jarum dan sertika. c) Gunting benang berguna untuk memotong benang . Peralatan tambahan diantaranya: pendedel. . Biasanya digunakan pada jati tengah dan berbentuk seperti cicin. Bentuk alat-alat tersebut di atas.26 b) Gunting kertas berguna untuk memotong kertas dan biasanya terbuat dari steenlisteel. Pada gunting ini hanya terdapat satu lubang yang berfungsi untuk memegang gunting dan biasanya untuk ibu jari.

1) Kemampuan mengambil ukuran Yang dimaksud mengambil ukuran adalah kegiatan yang dilakukan sebelum menjahit untuk mendapatakan ukuran yang . memindahkan garis pola dan menyelesaikan pakaian. d) Setrika digunakan untuk memampatkan jahitan dengan tingkat panas yang disesuaikan dengan jenis bahan. jarum tangan. Bentuk alat tersebut di atas dapat dilihat pada gambar berikut: Gambar 16 Alat Tambahan dalam Menjahit c. macamnya . jarum pentul. Kemampuan Membuat Pakaian Kemampuan membuat pakaian yang dimaksud adalah warga belajar mampu membuat pakaian mulai dari mengambil ukuran. jarum mesin jahit. membuat pola. memotong. merancang bahan.27 c) Jarum digunakan untuk menjahit.

Orang yang diukur dalam posisi berdiri tegak. b) Ujung meteran yang angkanya kecil harus selalu berada ditangan kiri. . tinggi bahu II diukur dari ujung bahu sampai tengah pinggang belakang. tinggi bahu I diukur dari ujung bahu sampai tengah pinggang depan.28 digunakan sebagai pedoman membuat pola dasar. panjang dada 1 diukur dari bahu dekat leher sampai ke pinggang. lingkar pinggang dan lingkar panggul. panjang sisi diukur dari ketiak sampai pinggang dikurangi ± 3 cm dan lingkar leher diukur sekeliling pangkal leher. jarak dada diukur dari titik payudara kanan ke titik payudara kiri. c) Orang yang diukur berdiri wajar tidak menunduk dan tidak membesarkan dada/ badan.1999: 5) Kemampuan mengambil ukuran badan meliputi lingkar badan diukur sekeliling badan terbesar ±4 cm. lebar punggung diukur mendatar dari batas kerung lengan kanan ke batas kerung lengan kiri (± 8 cm dari bawah tengkuk leher). tinggi dada diukur dari bahu tertinggi sampai titik payudara. panjang punggung diukur dari tengkuk leher bagian belakang sampai pinggang. Untuk mendapatkan ukuran yang baik warga belajar harus melakukan persiapan dalam mengukur seperti: a) Sebelum mengukur ikatlah lingkar badan. e) Telitilah ukuran yang telah dicatat (Depdikbud . lebar dada diukur mendatar dari batas kerung lengan kanan ke batas kerung lengan kiri. lebar bahu diukur dari bahu tertinggi sampai bahu terendah. d) Lakukan pengukuran dengan tepat. panjang dada 2 diukur dari lekuk leher bagian depan sampai pinggang.

Untuk dapat merubah model pakaian warga belajar harus mengetahui langkah-langkah pembuatan pola dengan sistem alwine seperti pada lampiran 21 halaman 137. Untuk lebih jelasnya lihat pada gambar 17. Selain itu warga belajar juga harus mengenal tanda-tanda pola sistem alwine seperti dibawah ini: . dan panjang rok diukur dari pinggang sampai panjang yang dikehendaki. Gambar 17 Cara Mengukur 2) Kemampuan membuat pola Yang dimaksud kemampuan membuat pola adalah kemampuan warga belajar dalam membuat pola dasar sampai merubah pola sesuai model pakaian.29 Kemampuan mengambil ukuran rok meliputi lingkar pinggang diukur sekeliling pinggang. lingkar pinggul diukur sekeliling panggul +4cm.

warna menurut tempat dilipit pada pola. batas memakai ballpoint hitam (umpama lipit bentuk yang dipindahkan) k) TM tengah muka . Titik-titik tempat) = garis penolong (menurut e) garis-titik-garis-titik = garis lipatan (menurut warna tempat) f) garis putus-putus = garis rangkapan (lapisan. Tanda ini dibuat jika lipit atau kerut tidak dibuat pada waktu mengubah melainkan pada waktu merancang bahan.30 a) b) garis pensil hitam = garis pola asli garis merah (pensil merah dan spidol) = garis pola menurut model bagian depan c) garis biru (pensil biru atau spidol) = garis pola menurut model bagian belakang d) ……………. h) i) j) lipit (plooi) setengah lipit. warna menurut tempat) g) garis dengan ballpoint hitam = garis pada pola yang perlu digunting untuk dilebarkan..

Langkah-langkah merancang bahan adalah : a) Menyiapkan kertas coklat sebagai pengganti bahan. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunting bahan adalah: . Tujuan yang akan dicapai yaitu mengetahui jumlah bahan yang dibutuhkan dan menghindari pemborosan. b) Menyiapkan pola kecil yang akan digunakan. c) Menempelkan pola kecil pada kertas coklat. 4) Kemampuan menggunting / memotong Kemampuan mengguting adalah kemampuan warga belajar menggunting pola atau bahan. d) Merancang pola diatas bahan sesuai dengan racangan kertas coklat. Hal–hal yang harus diperhatikan saat menggunting pola yaitu harus sesuai dengan garis dan tanda pola.31 l) m) n) TB tengah belakang siku-siku (900) anak panah hitam = tanda arah benang lurus (Alwine. 2000:5) 3) Kemampuan merancang bahan Kemampuan merancang bahan adalah kemampuan membuat perkiraan mengenai jumlah bahan yang di perlukan dalam membuat pakaian.

5) Kemampuan memindahkan garis pola/ memberi tanda pada kain Kemampuan memindahkan garis pola yang dimaksud adalah kemampuan warga belajar memberi tanda pada bahan. Panjang dan lebar kain diusahakan tetap sejajar dengan tepi meja. b) Kain boleh digunting jika pola sudah terpasang dan diberi kampuh.32 a) Memotong bahan harus menggunakan gunting yang tajam. c) Membuat tusuk jelujur renggang pada kain broklat dengan jarum tangan. sehingga kain tidak akan terangkat terlalu tinggi dan tidak akan berubah arah benang. b) Membuat garis dengan kapur jahit pada kain. Memindahkan garis pola pada bahan disebut juga merader. jika bahan yang akan digunting tebal pakailah gunting yang besar dan apabila bahan yang akan digunting tipis serta mudah digeser maka pola pada kain diberi jarum pentul. . Merader dapat dilakukan dengan cara: a) Menggunakan rader yang bergigi. c) Gunting dipegang tangan kanan dan tangan kiri menekan kain yang akan digunting. Pada umumnya kampuh bagaian sisi bahu 2 cm kampuh kerung lengan 1½ cm dan keling bawah 3 – 4cm. baru melebar. d) Gunting dimulai dari arah memanjang . oleh karena itu waktu mengguting kita berjalan mengelilingi bahan.

Lapisan dijahit dari bagian baik. serip dan rompok (Radias Saleh. Menjahit kupnat pada bagaian depan dan belakang b) Penyelesaian kerung leher Penyelesaian kerung leher suatu busana meliputi penyelesaian dengan depun. kemudian diarahkan ke bagian buruk dan diselesaikan dengan tusuk kelim atau setikan mesin. 1991:58) (1) Penyelesaian dengan depun Penyelesaian ini dikerjakan dengan cara melapis kerung leher menurut bentuk. Kemampuan tersebut meliputi: a) Kemampuan menjahit pada badan.1991:58) (2) Penyelesaian dengan serip Cara penyelesaian kerung leher dengan serip adalah bahan pelapis dijahit bagian buruk. Gambar 18. Penyelesaian dengan Depun (Radias Saleh.kemudian diarahkan ke bagian . Kemampuan menjahit badan meliputi menjahit sisi dan bahu bagian depan dan belakang.33 6) Kemampuan menyelesaikan pakaian Kemampuan menyelesaikan pakaian adalah kemampuan warga belajar dalam membuat pakaian.

34 baik dan dijahit dengan mesin. Gambar 20. Sehingga setengah dari leher kumai serong tampak dari luar dan setengahnya lagi tampak dari dalam. Penyelesaian dengan Rompok (Radias Saleh.1991:60) c) Macam-macam saku Saku pada busana berfungsi sebagai pelengkap dan sebagai hiasan.5 cm. . Penyelesaian dengan Serip (Radias Saleh. kemudian kumai serong dilipat sebagian ke bagian buruk dan dijahit dari bagian baik. Gambar 19. Cara penyelesaiannya adalah kumai serong dijahit pada bagian buruk bahan selebar kerung kurang dari 0.1991:59) (3) Penyelesaian dengan Rompok Penyelesaian ini menggunakan kumai serong atau bisban. Penyelesaian ini dapat digunakan sebagai hiasan. Pada dasarnya saku ada dua macam yaitu saku tempel dan saku dalam.

Langkah-langkah membuat saku tempel adalah: (a) Menentukan letak saku dengan memberi tanda menggunakan kapur jahit atau setikan. setelah itu membuat guntingan agar jahitan rata dan tidak berkerut.35 (1) Saku Tempel Saku tempel terletak di luar busana misalnya pada kemeja. Lapisan saku terdiri dari dua bagian yaitu bagian yang tampak dan tersembunyi.1991 :61) (2) Saku Dalam Saku dalam biasanya terdapat pada sisi rok atau celana dan letaknya tersembunyi. Saku Tempel (Radias Saleh. (b) Menyelesaikan kelim saku (c) Melekatkan saku dengan di setik mesin dari luar. Gambar 21. (c) Supaya rapi saku dijahit. .Langkah-langkah membuat saku dalam adalah: (a) Melapis bentuk saku (misalnya bentuk lengkung) dengan pelapis (saku dalam) (b) Lapisan saku dibalik ke bagian dalam . daster dan busana anak.

(e) Menyelesaikan kampuh saku dengan obras.36 (d) Lapisan saku dilipat dan dijahit bagian bawahnya. Kemampuan Pendukung Menjahit pada Warga Belajar Sebelum warga belajar membuat pakaian. Yang dimaksud dengan tusukan adalah hasil jahitan yang dikerjakan dengan tangan serta menggunakan benang dan jarum. maka mereka harus mempunyai kemampuan membuat macam-macam tusuk dan setikan. Macam-macam Tusuk dan Setik mesin. macammacam belahan seperti : a. tusuk ini sering digunakan untuk menjahit yang bersifat sementara dan dikerjakan dari kanan ke kiri. Saku Dalam (Radias Saleh. macam-macam kampuh.1991:62) 4.tusuk yang biasanya digunakan yaitu : tusuk jelujur.1991:50) . Tusuk. Tusuk Jelujur (Radias Saleh. macam-macam penyelesaian kelim. Gambar 23. Gambar 22.

1991:52) 3) Setik Lengkung Setik ini digunakan untuk menjahit bagian-bagian busana yang melengkung dan sebagai hiasan.1991:53) . Gambar 25 Setik Jelujur (Radias Saleh.1991:51) 2) Setik Jelujur Setik jelujur digunakan untuk menjahit sementara dan untuk mengerut.antara lain: 1) Setik lurus Setik lurus digunakan untuka menyambung bagian-bagian busana yang berfungsi sebagai hiasan. Gambar 26.37 Setik mesin dapat diatur sesuai dengan keperluan. Setik Lurus (Radias Saleh. Jarak setikan lebar dengan pengatur setikan diturunkan paling bawah. Gambar 24. Setik Lengkung (Radias Saleh.

sehingga untuk menyelesaikan kampuh diperlukan keterampilan khusus. Beberapa macam kampuh yang biasa digunakan di industri busana adalah: 1) Kampuh Buka Kampuh buka banyak digunakan untuk menyelesaikan busana wanita. Kampuh Buka (Radias Saleh. Setik Penguat (Radias Saleh. Pada industri busana tepi kampuh diselesaikan dengan obras karena lebih mudah.1991:54) b.tetapi pada tempat tertentu dibuat setik maju mundur untuk menguatkan. Macam-macam kampuh Kampuh adalah sambungan yang terjadi waktu menyambung dua potong kain (Radias Saleh. murah dan cepat. 1991:54).1991:55) . Gambar 27.38 4) Setik Penguat Cara membuat setik penguat hampir sama dengan setik lurus. Penyelesaian kampuh sangat mempengaruhi jatuhnya busana. Gambar 28.

39 2) Kampuh Pipih Kampuh pipih digunakan untuk membuat sarung. menyelesaikan busana bayi dan busana kerja. kemudian dibalik dan disetik lagi dengan lebar tidak lebih dari 0. Gambar 29. Ciri kampuh ini pada bagian luar terdapat satu setikan dan bagian dalam dua setikan. Kampuh Tutup (Radias Saleh. Cara mengerjakan kampuh ini mula-mula di setik dari bagian baik selebar kurang dari 0.1991:56) 3) Kampuh Tutup Kampuh Tutup adalah kampuh yang tepinya diselesaikan tepinya dengan obras atau dibalut menjadi satu. Gambar 30. busana rumah dan kemeja. Kampuh Pipih (Radias Saleh.5 cm.1991:56) 4) Kampuh Balik Kampuh balik digunakan pada busana anak. .5 cm.

Macam-macam penyelesaian kelim Kelim adalah penyelesaian tepi dari bagian-bagian busana yang dikerjakan dengan cara melipat tepi busana ke bagian buruk dengan jarak tertentu. Cara menyelesaikan tepi kelim antara lain: 1) Penyelesaian dengan setik mesin Penyelesaian ini biasanya digunakan pada industri busana.1991:57) c. .5 cm.1991:58) 2) Penyelesaian dengan obras Cara mengerjakan tepi kelim di obras lalu dilipat sesuai yang diinginkan. Kampuh Balik (Radias Saleh. kemudian dikelim selebar yang diinginkan kemudian soom. kemudian disoom. Penyelesaian dengan Setik (Radias Saleh.40 Gambar 31. Gambar 32. Caranya tepi kelim dilipat kira-kira 0.

melipat dan merapikan e) Menjahit pertengahan lapisan f) Tepi lapisan diselesaikan dengan kelim (Radias Saleh. Penyelesaian dengan Obras (Radias Saleh. tengah muka. lebar.41 Gambar 33.1991:63) . Belahan pada busana ada beberapa macam antara lain : 1) Belahan Lapis Sama Belahan ini sering digunakan pada bagian tengah belakang.1991:58) d. Langkah-langkah pembuatannya adalah: a) Menentukan tempat. dan panjang belahan b) Menyiapkan pelapis belahan yaitu dua kali lebar belahan di tambah dua kali kampuh untuk ukuran lebar dan untuk panjangnya dua kali panjang belahan. dan manset. Macam macam belahan Belahan pada busana berfungsi untuk memudahkan dalam memakai dan melepaskan busana. c) Menjahit sepanjang belahan dari bagian buruk d) Membalik pelapis.

Langkah-langkah pembuatannya adalah : a) Menentukan letak dan ukuran belahan b) Menyiapkan lapisan bawah dengn lebar belahan di tambah kampuh c) Menyiapkan lapisan atas.Lapisan untuk belahan terdiri dari dua bagian yaitu lapisan bawah dan atas. dengan lebar dua kali lebar belahan di tambah dua kali kampuh. disetik dan dirapikan dengan hasil setengah lebar belahan. ujung lapisan dibuat segi tiga. penempatannya dari tengah muka. e) Menjahit lapisan atas dengan di setik pada bagian luar ( Radias Saleh. dibalik. tengah belakang. d) Menjahit lapisan bawah.42 Gambar 34.1991:64) . dan manset.1991:63) 2) Belahan Amerika Belahan ini hampir sama dengan belahan lapis sama. Belahan Lapisan Sama (Radias Saleh .

c) Menjelujur d) Membuat setikan yang lurus dan rata Gambar 36. Langkahlangkah Memasang tutup tarik adalah : a) Menentukan panjang belahan.43 Gambar 35 Belahan Amerika (Radias Saleh. sesuai dengan panjang tutup tarik b) Tutup tarik di semat pada belahan.1991:64) 3) Belahan Tutup Tarik Belahan ini merupakan belahan yang menggunakan retsliting.1991:65 . untuk busana wanita kanan menutup kiri. biasanya terletak di tengah muka atau tengah belakang. Belahan Tutup Tarik (Radias Saleh.

Pengertian ini memberikan gambaran bahwa wiraswasta bukan hanya sekedar kerja sambilan di luar dinas.44 Kemampuan dalam membuat pakaian itu dapat dilihat dari praktek/cara test teori dan praktek. keutamaan dan keteladanan dalam mengambil resiko yang bersumber pada kekuatan sendiri. . Pengertian tersebut senada dengan pendapat Wijandi (2000:23) yang mengemukakan bahwa wiraswasta adalah sifat-sifat keberanian. keutamaan. Pengertian Wiraswasta Wiraswasta dapat diartikan sebagai keberanian. dan mengukur resiko suatu usaha bisnis. Pengertian tersebut mengindikasikan bahwa wiraswasta adalah suatu sifat berbisnis dan dapat mencakup semua pekerjaan. Sikap Wiraswasta 1. mengelola. B. Pengertian lain tentang wiraswasta adalah orang yang bertanggung jawab dalam menyusun. Pengertian ini mengandung arti bahwa wiraswasta ditujukan pada pribadi seseorang yang mempunyai sifat-sifat unggul dalam berbisnis. melainkan sifat-sifat keuletan dan ketabahan seseorang dalam memajukan prestasinya pada usahanya dengan menggunakan kekuatan sendiri. Penilian test teori dengan pedoman angket dan penilian test praktek dengan pedoman observasi. bukan kekuatan dari orang lain.1999:42). baik pekerjaan kedinasan ataupun pekerjaan sambilan. serta kepercayaan diri dalam memenuhi kebutuhan serta memecahkan permasalahan hidup dengan kekuatan yang ada pada diri sendiri (Soemanto.

ketabahan dan keberanian dalam usaha memajukan prestasinya dengan menggunakan kekuatan sendiri. konveksi. dapat dipahami bahwa sikap wiraswasta merupakan sikap atau pandangan pribadi yang mencerminkan keuletan.45 Seorang wiraswasta merupakan orang yang unggul dalam mengejar prestasi. Salah satu contoh sikap wiraswasta adalah sikap berusaha dalam bidang menjahit. Dari beberapa pengertian tentang wiraswasta di atas. Unsur-unsur tersebut adalah: . bukan kekuatan dari orang lain. sikap wiraswasta sangat dibutuhkan untuk mengelola manajemen usaha dengan baik sehingga dapat memperoleh keuntungan yang optimal dengan sumber daya mausia yang seefektif dan seefisien mungkin. Hal tersebut mencerminkan bahwa seorang wiraswasta cenderung memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat dari pada jiwa pekerja pelaksana. berani mengambil resiko untuk mulai mengelola bisnis demi mendapatkan laba dan kesuksesan. tailor. Dalam memulai usaha pada bidang menjahit. dimana antara satu unsur dengan unsur lainnya saling terkait dan tidak terlepas dalam kehidupan sehari-hari. misalnya modiste. butik dan garmen. Unsur-unsur Sikap Wiraswasta Wijandi (2000:27-32) mengemukakan bahwa wiraswasta pada dasarnya mencakup beberapa unsur penting. 2. Maksudnya seseorang yang memiliki sikap wiraswasta selalu menggunakan waktu dengan sungguh-sungguh untuk berusaha dengan tujuan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

46 a. Orang yang memiliki unsur pengetahuan tinggi tapi unsur keterampilannya kurang memadai akan menyebabkan orang hanya berpikir saja tanpa bisa melaksanakan apa yang dipikirkannya. . Idealnya. Unsur Keterampilan (psikomotor) Unsur keterampilan dalam sikap wiraswasta lebih disebabkan faktor latihan dan pengalaman seseorang dalam melaksanakan suatu karya atau usaha. unsur pengetahuan dapat ditunjukkan dari kemampuan seseorang untuk merancang trend busana di masa yang akan datang. Dalam bidang menjahit. Dengan demikian akan diperoleh pengalaman yang terpadu antara teori dan praktek. Unsur Pengetahuan (kognitif) Unsur pengetahuan dalam sikap wiraswasta pada dasarnya merupakan kemampuan seseorang untuk berpikir yang cenderung dipengaruhi oleh tingkat pendidikannya baik pendidikan formal maupun non-formal. khususnya pada kreatifitas dan inovasinya untuk memecahkan permasalahan tersebut. Akan lebih baik jika unsur pengetahuan ditunjang dengan keterampilan dalam melaksanakan apa yang dipikirkannya. Keluasan dan kedalaman pengetahuan seseorang terhadap suatu bidang kajian akan sangat berpengaruh terhadap pola pikirnya dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya. b. seseorang yang memiliki unsur pengetahuan yang tinggi harus didukung dengan karya dalam melaksanakan imajinasinya tersebut.

Unsur Kewaspadaan Unsur kewaspadaan pada dasarnya merupakan perpaduan antara unsur sikap mental dan unsur kognitif (pengetahuan) seseorang. sikap mental seseorang akan nampak dengan jelas dan akan memberikan gambaran tentang pribadinya. Dalam sikap wiraswasta unsur sikap mental sangat berperan dalam memunculkan keberanian untuk menerima suatu peluang dan menjadikannya sebagai suatu kesempatan emas untuk sukses. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap sikap-sikap mentalnya adalah rasa tanggung jawab. Unsur kewaspadaan dalam wiraswasta sangat berpengaruh terhadap .47 Dalam bidang jahit menjahit. atau berani menggunakan modal yang tersedia untuk memulai usaha. dan juga kecakapan seseorang dalam membuat kreasi-kreasi busana. Dalam situasi tersebut. kejujuran. Unsur sikap mental dalam wiraswasta bidang jahit menjahit dapat dicontohkan dari sikap berani tidaknya seseorang pada saat muncul peluang order jahitan yang banyak. keberanian dan inisiatif. Unsur sikap mental lebih berorientasi pada kejadian sesaat. artinya situasi tersebut muncul secara tiba-tiba tanpa ada informasi sebelumnya. unsur keterampilan dapat dilihat dari kemampuan seseorang menyelesaikan jahitan dengan cekatan dan tidak banyak melakukan kesalahan. ketegasan. d. Unsur Sikap Mental Unsur sikap mental merupakan respon atau tanggapan seseorang jika dihadapkan pada suatu situasi tertentu. c.

baik yang berasal dari dalam maupun dari luar individu itu sendiri (Priyono. Sebaliknya jika perencanaan dilakukan dengan matang dilandasi dengan prakiraan yang tepat maka usaha yang dijalankan akan langgeng untuk masa-masa yang akan datang. Mempunyai motivasi yang tinggi Motivasi adalah dorongan yang kuat terhadap seseorang untuk mencapai target tertentu. dan ada kesamaan antara motif dan need (dorongan dan kebutuhan). 3. Motivasi seorang wiraswasta dapat dilihat dari keinginannya untuk mencapai target sukses tertentu dengan menggunakan kekuatannya sendiri. Siagian (2002:104) menyebutkan bahwa motivasi akan muncul jika ada kebutuhan yang melatar belakanginya.48 kelangsungan hidup usaha yang dijalankan.2004:77). Contohnya warga belajar yang memiliki motivasi tinggi berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan . Apabila prakiraan dan perencanaan tidak dilakukan dengan baik maka usaha yang telah dirintis akan menghadapi kemungkinan kerugian. Anoraga (1992:35) mengemukakan bahwa motivasi merupakan suatu proses dimana tingkah laku tersebut dipupuk dan diarahkan. Sikap-sikap Wiraswasta a. Hal ini dapat dipahami karena kewaspadaan merupakan syarat adanya unsur prakiraan dan perencanaan yang tepat untuk kegiatan usaha diwaktu-waktu yang akan datang.

Dalam bidang jahit menjahit.49 menjahitnya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan tanpa bantuan orang lain. modiste. b. Misalnya seseorang yang melakukan pekerjaan menjahit mengalami kegagalan membuat busana yang sesuai dengan harapan. sikap ini dapat tercermin dari adanya sikap percaya diri dan mampu menjalankan usaha di bidang menjahit. maka ia tidak akan mudah putus asa dan akan terus mencoba untuk menyelesaikan tugasnya tersebut. motivasi yang tinggi dalam berwiraswasta dapat ditunjukkan dari keinginan seseorang untuk mendirikan usaha pada bidang jahit menjahit. Dalam berwiraswasta. misalnya ingin mendirikan butik. Apabila ia mengalami kegagalan maka ia akan mencari tahu penyebab kegagalannya dan tidak langsung patah semangat. Wiraswastawan yang berhasil selalu mempunyai motivasi yang tinggi dalam setiap kegiatan usaha yang dilakukannya. kebutuhan akan prestise dan juga kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri dalam bekerja. . Dalam berwiraswasta bidang jahit menjahit. faktor yang melatar belakangi munculnya motivasi untuk sukses dapat berupa kebutuhan untuk mencapai taraf hidup yang lebih layak. Optimis dan berpikir positif Machfoedz (2004:63) menyebutkan bahwa salah satu bentuk kepribadian seseorang yang akan dapat mendukungnya menjadi wiraswastawan adalah optimistis dan selalu berpikir positif dalam berusaha. ataupun usaha konveksi.

. Mempunyai wawasan luas ke depan Priyono (2004:94) mengemukakan bahwa wawasan luas ke depan merupakan pengetahuan dan pandangan yang luas yang dimiliki oleh seseorang terhadap suatu hal atau suatu bidang kajian. sehingga sumber daya yang akan digunakan dapat dimanfaatkan dengan optimal. proses inkubasi yaitu proses pemikiran dalam alam bawah sadar yang menggerakkan seseorang untuk menyiapkan strategi. dan juga pengalaman ide yang dapat diperoleh seseorang melalui imajinasi dan mimpi-mimpinya (Machfoedz.50 c. Wawasan yang luas juga diperlukan untuk memecahkan masalah-masalah dalam usaha yang tentunya tidak hanya masalah laba dan rugi saja. Cara berpikir seorang wiraswastawan tidak sama dengan orang-orang pada umumnya. karena dengan wawasan yang luas dan mendalam maka ia dapat menyusun rencana usaha termasuk manajemen pengaturan sumber daya secara efektif dan efisien sesuai dengan fungsinya. Tinggi rendahnya kualitas kreativitas seseorang dalam berwiraswasta akan dipengaruhi oleh faktor akumulasi pengetahuan. Wawasan yang luas sangat diperlukan oleh seorang wiraswastawan. namun juga masalah manajemen ruang dan waktu. d.2004:82).2004:93). Kreatif dan inovatif Berpikir kreatif dan inovatif adalah kemampuan seseorang untuk menemukan hal-hal baru dan selalu mencari alternatif pemecahan masalah dengan cara yang efektif dan efisien (Priyono.

Berani mengambil resiko Keberanian dalam mengambil resiko merupakan keberanian yang dimiliki oleh seseorang dalam menghadapi tantangan yang akan membawa pada keberhasilan maupun kegagalan (Tarmudji.2000:11). hendaknya resiko yang terlalu tinggi jangan diambil. Dalam berwiraswasta di bidang menjahit. e. Apabila seseorang yang memiliki bakat atau keterampilan tetapi tidak mempunyai keberanian untuk mengambil resiko dalam berusaha. Pada umumnya untuk memulai usaha baru banyak dibayangbayangi oleh resiko kerugian. Contohnya seorang wiraswasta di . Namun apabila telah diperhitungkan dengan matang maka seorang wirauswastawan harus berani untuk melangkah maju dalam melaksanakan usaha tersebut. untuk dikembangkan menjadi lahan bisnis yang menguntungkan. serta wawasan dalam menggunakan alat-alat jahit yang lebih modern untuk menghasilkan produk lebih cepat. wawasan luas diperlukan seorang wiraswastawan dalam hal memilih berbagai bahan (kain) yang berkualitas. maka keterampilan yang dimilikinya tersebut akan sia-sia saja.51 manajemen sumber daya manusia bawahannya. karena tidak dimanifestasikan dalam kegiatan yang nyata. manajemen keuangan serta kemampuan mengendalikan output produksi. untuk menghindari kerugian yang fatal. Namun demikian. Hendaknya seorang wiraswasta harus mempunyai keberanian untuk mengambil peluang dan kesempatan yang ada.

Pengambilan keputusan hendaknya dilakukan secara tegas sehingga tidak menimbulkan kebimbangan yang berlarut-larut.2004:63).2004:99).52 bidang menjahit sudah dapat mengetahui apabila keputusan untuk membuat pakaian dengan model jabot pada dada tidak disukai oleh banyak orang. tepat dan cermat diatasi dan dicarikan pemecahannya. maka seorang wiraswastawan tidak akan memproduksi model pakaian tersebut karena hasil produksinya tidak akan laku dan akan menyebabkan perusahaan rugi besar. f. Adakalanya seorang wiraswasta dihadapkan pada permasalahan yang harus dengan cepat. jadi harus dipertimbangkan secara matang dahulu (Machfoedz. . Contoh perilaku yang menunjukkan keberanian warga belajar dalam mengambil keputusan adalah keberanian memutuskan pilihan corak kain yang tepat serta sesuai dengan postur tubuh dan juga untuk model pakaian yang akan dibuat. Berani mengambil keputusan Mengambil keputusan adalah memilih alternatif pemecahan masalah dan pada umumnya alteranatif tersebut mempunyai keuntungan dan kerugian yang berbeda-beda (Priyono. Saat itulah keputusan harus segera diambil. Machfoedz (2004:63) menyebutkan bahwa wiraswastawan hendaknya bersedia menerima resiko sebagai konsekuensi terwujudnya tujuan. Namun demikian dalam pengambilan keputusan tersebut hendaknya tidak tergesa-gesa.

Hal tersebut akan dapat tercapai jika hubungan itu didasari atas dasar kesamaan kepentingan serta komitmen yang adil. Pembagian yang jelas antara hak dan kewenangan akan mengakibatkan hubungan yang terjalin dapat dibina secara langgeng dan tidak ada unsur saling menjatuhkan. Kemampuan berkomunikasi seorang wiraswasta pada dasarnya sangat berhubungan dengan keterampilan bergaul dengan orang lain (Soemanto.2004:103).53 g. Mempunyai kemampuan berkomunikasi. maka akan mudah untuk mengenal sosok dan kepribadian seseorang.1999:75). karena dengan adanya komunikasi yang baik maka usaha yang dijalankan akan dapat mencapai target yang telah ditentukan. Seorang wiraswasta harus mampu menjalin hubungan kerja sama dengan pihak lain. Kemampuan bekerja sama akan nampak jika seseorang bergabung bersama dengan orang lain untuk mendirikan usaha jahit menjahit. Komunikasi dalam dunia wiraswasta mempunyai peranan yang sangat penting. Mempunyai kemampuan bekerja sama Kemampuan bekerja sama adalah kemampuan seseorang dalam menjalin hubungan baik dengan orang lain untuk meningkatkan daya saing perusahaan (Priyono. Contoh kemampuan warga belajar untuk bekerja sama yaitu kemauan untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang telah dibebankan kelompok kepada warga belajar dalam memulai usaha dalam bidang menjahit. Dengan adanya komunikasi yang baik. h. .

Kepemimpinan dapat diartikan sebagai keahlian seorang pemimpin yang dapat memungkinkan untuk menyalurkan rekannya agar bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh kepercayaan (Tarmudji.2000:44). sehingga diperlukan keahlian dalam mengarahkan orang tersebut untuk bertindak sesuai dengan harapan agar pekerjaan yang dilimpahkan dapat terselesaikan . i. Hal ini senada dengan pendapat Soemanto (1999:69) yang menyebutkan bahwa untuk mendapatkan kemampuan kepemimpinan yang baik.2004:111). Kepemimpinan bagi seorang wiraswasta merupakan aset yang sangat penting yang harus dimiliki. Ada saat-saat tertentu dimana pekerjaan harus dilimpahkan kepada orang lain.54 sehingga akan memudahkan dalam melayani atau pun bekerja sama dengannya. namun juga mengendalikan dan memimpin diri sendiri. mengenali diri sendiri dan berdisiplin diri. Mempunyai jiwa pemimpin Memimpin dapat berarti memotivasi orang atau mengubah potensi seseorang menjadi realitas (Priyono. karena tidak selamanya kegiatan usaha dijalankan oleh diri sendiri. Contoh perilaku warga belajar yang menunjukkan kemampuan berkomunikasi adalah adanya usaha tiap warga belajar untuk saling bertukar pengalaman dan berpendapat untuk memulai dan mengembangkan usaha bidang jahitan. Kepemimpinan pada dasarnya bukan hanya kemampuan untuk memerintah orang lain. maka seseorang harus mampu memimpin dirinya sendiri dengan baik.

Mampu bekerja mandiri Priyono (2004:114) mengemukakan bahwa kemampuan bekerja mandiri merupakan kemampuan seseorang untuk berusaha di atas kemampuannya sendiri. kemampuan bekerja mandiri mensyaratkan adanya rasa percaya diri yang tinggi dan tidak meragukan atas kemampuan yang dimilikinya. Dengan dilandasi sikap-sikap tersebut maka wiraswasta akan mantap melakukan kegiatan-kegiatan untuk meraih kesuksesan. C.55 dengan baik. Apabila seorang wiraswasta tidak mampu memberikan perintah atau mengarahkan kerja orang lain. Kemampuan untuk bekerja secara mandiri. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam wiraswasta. dapat tercermin dari kemampuan seseorang untuk melakukan pekerjaan secara mandiri tanpa terlalu tergantung pada bantuan dari pihak lain. maka akan mengakibatkan pekerjaan tersebut tidak dapat terselesaikan sesuai dengan harapan dan tujuannya. tidak tergantung pada orang lain. Wiraswasta akan berpikiran bahwa tindakan yang dilakukan akan mampu mengubah kejadian dan percaya bahwa mereka adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Pemerintah bersama swasta memberikan berbagai keterampilan melalui kelompok belajar (kejar) yang ada di daerah tertentu seperti kejar menjahit yang ada di Kelurahan . j. Kerangka Berfikir Dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia.

Sikap wiraswasta dapat timbul karena kebutuhan warga belajar. warga belajar juga termotivasi dalam mencari pelanggan dan sebagian pengalaman dalam menjahit. dapat memimpin dan mandiri. Keinginan membuatkan pakaian untuk orang lain merupakan sikap wiraswasta yang dimiliki warga belajar. Sikap wiraswasta adalah sikap atau tingkah laku yang gagah berani. Penilaian SDM yang berkwalitas di lihat dari kinerja atau kemampuan dalam menjahit yang secara rutin dilakukan warga belajar pada proses pembelajaran baik teori maupun praktek. Selain itu menghemat untuk mandiri. Proses pembelajaran tersebut meliputi kemampuan mengenal alat jahit. dan kemampuan menjahit. Sikap di atas merupakan indikator dari wiraswasta yang kemungkinan secara tidak langsung timbul pada saat warga belajar memanfaatkan kinerja menjahit yang dimilikinya untuk mencari uang dengan . Seseorang yang memiliki sikap wiraswasta berarti memiliki motivasi.56 Bongsari Kecamatan Semarang Barat. membuat pola. dapat bekerjasama dan berkomunikasi. kreatif dan inovatif. berani mengambil resiko dan keputusan. Dari proses pembelajaran dan hasil praktek dapat dinilai apakah warga belajar memiliki kinerja menjahit. mempunyai wawasan luas ke depan. mengambil ukuran. Setelah warga belajar memiliki kinerja menjahit akan timbul keinginan untuk membuat pakaian baik untuk orang lain atau keluarga dengan tujuan menghemat pada saat praktek menjahit. Melalui kejar menjahit tersebut warga belajar diharapkan memiliki SDM yang berkwalitas. sehingga dapat berwiraswasta. sikap optimis dan berfikir positif. luhur dan mandiri yang pantas diteladani.

tailor atau konfeksi. D. Hipotesis Hipotesis adalah kesimpulan untuk sementara menjawab permasalahan penelitian. Hipotesis nol (Ho) Tidak ada hubungan antara kinerja menjahit dan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat .57 membuka usaha dibidang penjahitan seperti modiste. 2. Hipotesis alternatif (Ha) Ada hubungan antara kinerja menjahit dan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat. Dalam skripsi ini di bahas tentang Hubungan antara Kinerja Menjahit dengan Sikap Wiraswasta pada Kelompok Belajar Menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat. Dengan kinerja menjahit dan sikap wiraswasta yang dimiliki warga belajar akan menghasilkan suatu benda yang bermanfaat dengan cepat dan rapi. Oleh karena itu dalam penelitian ini hipotesis adalah: 1.

1.BAB III METODE PENELITIAN Untuk memperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan penelitian. 58 58 . meliputi metode penentuan objek penelitian. metode pengumpulan data. Dalam penelitian ini yang dijadikan populasi adalah seluruh warga belajar yang mengikuti kejar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat sejumlah 30 orang. Populasi Populasi dapat diartikan sebagai keseluruhan subyek penelitian (Arikunto. A. maka perlu disusun langkah-langkah penelitian yang tercakup dalam metode penelitian. instrumen penelitian serta metode analisis data. Dalam penelitian ini. metode yang digunakan untuk mendapatkan hasil yang baik. Metode Penentuan O bjek Penelitian Penentuan objek penelitian meliputi populasi dan sampel penelitian. tahapan metode dalam penelitian ini akan dijabarkan dalam uraian berikut. populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu. Sugiyono (2003:55) mengemukakan. 2002:108). Untuk lebih jelasnya. Ketepatan metode yang digunakan sangat menentukan keakuratan hasil penelitian yang diperoleh.

Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Suharsimi Arikunto. Menurut Sugiyono (2003:56). Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili).59 2. menetapkan ke 28 orang yang terpilih sebagai anggota sampel. sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. yaitu sejumlah 28 orang (Sugiyono. digunakan teknik simple random sampling. Untuk menentukan sebaran anggota sampel dalam penelitian ini. mengundi lembaranlembaran kertas dan mengambil sejumlah 28.2001:59).2002:109). Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa sampel merupakan sebagian atau keseluruhan gejala yang diambil dari anggota populasi dan dianggap benar-benar mewakili karakteristik seluruh gejala dalam populasi.2001:68). yaitu pengambilan anggota sampel dengan mengambil anggota populasi secara acak tanpa memperhatikan strata atau tingkatan yang ada dalam populasi (Sugiyono. Langkah-langkah yang dilakukan untuk menentukan anggota sampel adalah memberi kode angka pada lembaran-lembaran kertas kecil mulai dari 1 sampai dengan 30 (seluruh anggota populasi). . Dari anggota populasi sejumlah 30 orang. dan taraf kesalahan 5% maka jumlah anggota sampel yang representatif yang dapat diambil adalah 95% dari 30 orang.

sedangkan variabel terikat (dependen) adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat adanya variabel bebas (Sugiyono. Variabel terikat (Y) . Kemampuan membuat pola d. Variabel bebas (X) . Berdasarkan definisi-definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa variabel adalah objek atau gejala yang menjadi fokus dalam suatu penelitian.2002:94). Kemampuan menggunting e. Sub-sub variabel tersebut adalah sebagai berikut : a. Kemampuan menggunakan alat jahit b. 2003:3). Variabel bebas (independen) adalah variabel yang menjadi sebab berubahnya variabel terikat (dependen). yaitu variabel sikap wiraswasta. Kemampuan menjahit pakaian .60 3. 2003:2). Kemampuan mengambil ukuran c. Definisi lain tentang variabel adalah gejala yang menjadi fokus peneliti untuk diamati (Sugiyono. Penelitian ini memuat dua jenis variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel yang menjadi fokus penelitian ini adalah sebagai berikut : a. yaitu variabel kinerja menjahit b. Variabel kinerja menjahit meliputi sub-sub variabel yang juga berperan sebagai indikator pengukuran kinerja menjahit. Variabel Penelitian Variabel adalah objek yang akan diteliti atau yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto.

Metode Observasi Menurut Ridwan (2004:42) observasi adalah melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan. Tingkatan skor yang digunakan dalam pengamatan adalah sebagai berikut : . f. Pengamatan dilakukan dengan memberikan tanda checklist ( ) pada instrumen observasi berupa lembar observasi yang berisikan skor pada masing-masing indikator kinerja manjahit. c. h. Dalam penelitian ini pengamatan dilakukan untuk memperoleh data tentang tingkat kinerja menjahit warga belajar yang mengikuti kejar menjahit. Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan untuk pengumpulan data penelitian ini terdiri dari metode observasi (pengamatan) dan metode angket (kuesioner). 1. e. d. Motivasi Optimis dan berpikir positif Berpikir kreatif dan inovatif Mempunyai wawasan luas ke depan Keberanian mengambil resiko Keberanian mengambil keputusan Bekerja sama Mandiri B. g.61 Variabel sikap wiraswasta meliputi sub-sub variabel sebagai berikut : a. b.

Apabila skor totalnya tinggi maka dapat dikatakan bahwa tingkat kinerja menjahitnya tinggi. Penggunaan angket dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkap variabel sikap wiraswasta pada diri responden. Sangat Baik B. yaitu angket yang telah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih saja pada jawaban yang tersedia. Dipandang dari segi cara menjawabnya.62 A. Sugiyono (2001:73) mengemukakan bahwa skala Likert sering digunakan untuk . Cukup Baik D. sedangkan bila tingkat kinerjanya rendah maka skor total pun rendah. dan skor terendah yang dapat dicapai adalah 1 x 20 item = 20. atau halhal yang ia ketahui. 2. Dengan demikian skor tertinggi yang mungkin dicapai oleh responden adalah 4 x 20 item = 80. angket adalah sejumlah pertanyaan atau pernyataan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya. Angket yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala Likert. Kurang Baik diberi skor 4 diberi skor 3 diberi skor 2 diberi skor 1 Jumlah skor total yang diperoleh oleh tiap warga belajar merupakan cerminan tingkat kinerja menjahit yang dimilikinya. Metode Angket Menurut Suharsimi Arikunto (2002:200). Baik C. angket dalam penelitian ini termasuk angket tertutup.

Kisi-kisi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 3.63 mengukur sikap atau pendapat seseorang. Variabel Sub Variabel Kemampuan menggunakan alat jahit Kemampuan mengambil ukuran Kemampuan membuat pola Kemampuan menggunting Kemampuan menjahit pakaian Motivasi Optimis dan berpikir positif Kreatif dan inovatif Berwawasan luas Berani mengambil resiko Berani mengambil keputusan Mau bekerja sama Mandiri Metode Pengumpulan Data Obsevasi Alat Ukur 1 Kinerja Menjahit Chekclist 2 Sikap Wiraswasta Angket Angket . untuk itu perlu usaha dalam menyusun instrumen yang baik. Alternatif jawaban yang digunakan dalam skala Likert untuk penelitian ini adalah sebagai berikut : Sangat Sesuai Sesuai (SS) (S) diberi skor 4 diberi skor 3 diberi skor 2 diberi skor 1 Kurang Sesuai (KS) Tidak Sesuai (TS) C.1 Kisi-kisi Instrumen Penelitian No. maka disusun kisi-kisi instrumen yang akan digunakan dalam angket dan observasi. Untuk mendapatkan data yang akurat tentang aspek yang diteliti. Penyusunan Instrumen Instrumen yang baik pada dasarnya akan mendukung perolehan data penelitian yang baik pula.

Jawaban yang diberikan oleh peserta uji coba kemudian diberi skor sesuai dengan ketentuan yang telah dibuat. Dengan demikian validitas dimaksudkan untuk menentukan apakah pertanyaan atau pernyataan yang disusun dalam angket. Sedangkan pendapat lain “instrumen valid” adalah instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur (Sugiyono. Uji Coba Instrumen Usaha yang dapat dilakukan untuk mendapatkan instrumen yang baik untuk penelitian salah satunya adalah dengan mengupayakan penyusunan instrumen yang memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas.64 D.2003:267). Skor-skor yang diperoleh dari tiap responden kemudian dipergunakan untuk menentukan validitas dan reliabilitas instrumen. Pelaksanaan uji coba dalam penelitian ini dilakukan dengan memberikan instrumen yang telah disusun kepada 20 orang anggota sampel yang dipilih secara acak.2002:144). analisis butir adalah mengkorelasikan skor tiap butir . Menurut Sugiyono (2003:272). Instrumen yang telah disusun berdasarkan kisi-kisi terlebih dahulu diuji cobakan agar dapat diketahui validitas dan reliabilitasnya. dengan memperhatikan ciriciri yang sama dengan populasi yaitu warga belajar. Pengujian validitas dilakukan dengan analisis butir (item). betul-betul dapat digunakan untuk mengukur faktor-faktor yang hendak diukur sesuai dengan tujuan penelitian. Validitas Instrumen dan Reliabilitas Instrumen Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (Arikunto. 1.

sedangkan item yang lain dinyatakan valid. Rumus korelasi yang dapat digunakan adalah rumus korelasi product moment dari Pearson sebagai berikut : rxy = {N ∑ x N ∑ xy − (∑ x )(∑ y ) 2 2 − (∑ x ) N ∑ y 2 − (∑ y ) }{ 2 } Keterangan : r xy = koefisien korelasi Σ x = skor item Σ y = skor total N = jumlah sampel (Sugiyono. Pengujian validitas pada variabel kinerja menjahit menunjukkan bahwa koefisien korelasi berkisar antara 0. Jika rhitung > rtabel maka item soal dinyatakan valid. .4444 maka disimpulkan bahwa dari 20 item soal.4444 maka disimpulkan bahwa dari 20 item soal.3000 sampai dengan 0.8670. 3 item dinyatakan tidak valid yaitu nomor 9.4280 sampai dengan 0. 11 dan 20.7752.65 dengan skor total yang merupakan jumlah tiap skor butir. Dengan demikian instrumen telah memenuhi syarat validitas. Untuk menentukan valid tidaknya item soal. Pengujian pada variabel sikap wiraswasta menunjukkan bahwa koefisien korelasi berkisar antara 0. Setelah dilakukan pembandingan dengan rtabel sebesar 0. maka koefisien tersebut dibandingkan dengan rtabel. sedangkan item yang lain dinyatakan valid. 2 item dinyatakan tidak valid yaitu nomor 8 dan 17.2003:272). Hasil perhitungan validitas secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 4 dan 5 halaman 93-98. Setelah dilakukan pembandingan dengan rtabel sebesar 0.

kemudian hasilnya dianalisis. Jika harga r hitung > r tabel maka instrumen dikatakan reliabel. misalnya angket atau soal bentuk uraian (Arikunto. . namun jika r hitung < r tabel maka instrumen dikatakan tidak reliabel. Rumus Alpha Cronbach digunakan untuk menganalisis reliabilitas instrumen yang skornya bukan 1 dan 0 melainkan berupa interval.66 2.2002:171) Hasil dari perhitungan rumus Alpha tersebut kemudian dikonsultasikan dengan harga r Tabel pada taraf signifikansi 5% dan jumlah responden (N) sejumlah 20. 2002:171). Instrumen pada penelitian ini.2002:170). Pengujian reliabilitas dengan internal consistency dilakukan dengan cara mencobakan instrumen sekali. Uji Reliabilitas Dalam penelitian ini selain uji validitas juga dilakukan uji reliabilitas. Maka reliabilitas intstrumen ini akan dianalisis dengan rumus Alpha Cronbach sebagai berikut : ⎪ ⎧ k ⎫⎧ r11 = ⎨ ⎬⎨1 − ⎩ k − 1 ⎭⎪ ⎩ ∑s ∑s 2 1 ⎫ ⎪ 2 ⎬ t ⎪ ⎭ Keterangan : r 11 = realibilitas instrumen k = banyaknya butir / item soal 2 Σsi = jumlah varian butir Σst2 = varian total (Arikunto. Suatu angket dikatakan reliabel jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Arikunto. reliabilitasnya diuji secara internal consistency.

sedangkan pengujian hipotesis dilakukan teknik analisis korelasi product moment. Menentukan skor maksimum. . Karena r11 > rtabel maka instrumen variabel sikap wiraswasta dinyatakan reliabel. diperoleh koefisien r11 sebesar 0.9195. dengan cara mengalikan skor tertinggi jawaban dengan jumlah item pertanyaan. Langkah-langkah yang dilakukan untuk membuat daftar distribusi frekuensi adalah sebagai berikut: a. Selain itu juga dilakukan analisis dengan menggunakan daftar distribusi frekuensi dan tabel distribusi frekuensi. Hasil pengujian pada variabel sikap wiraswasta. 1. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi teknik analisis deskriptif prosentase. Analisis Deskriptif Analisis deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran atau deskripsi tentang aspek-aspek yang terdapat di dalam variabel penelitian. E. Hasil perhitungan reliabilitas secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 5 halaman 93-98. Menentukan jumlah butir pertanyaan c.8803. Menentukan jumlah responden b. Karena r11 > rtabel maka instrumen variabel kinerja menjahit dinyatakan reliabel. Analisis deskriptif dilakukan dengan menggunakan rata-rata data dan standar deviasi. diperoleh koefisien r11 sebesar 0.67 Hasil pengujian pada variabel kinerja menjahit.

Sebelum teknik korelasi product moment dilakukan. dengan cara membagi rentang skor dengan jumlah kriteria h. Menentukan rentang skor.2001:114). Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut: . Menentukan jenjang kriteria dengan aturan Sturgess k = 1 + 3. Teknik Uji Persyaratan Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi product moment. Membuat kelas-kelas interval mulai dari skor minimum sampai dengan skor maksimum dengan interval yang telah ditentukan i. g. f. dengan cara mengalikan skor terendah jawaban dengan jumlah item variabel. e. yaitu dengan cara mengurangi skor maksimum dengan skor minimum. Menghitung prosentase dari frekuensi tiap kelas interval 2. Memasukkan skor yang diperoleh tiap responden ke dalam kelas interval yang sesuai j.3 log n.68 d. Untuk mengetahui normalitas data dari populasi yang ada digunakan uji Lillieffors. terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan yaitu uji normalitas sebaran data (Sugiyono. Menentukan interval kelas skor. Menentukan skor minimum. Menentukan frekuensi perolehan skor dari tiap responden yang sesuai dengan kelas intervalnya k.

6) Bandingkan dengan harga L tabel. …. 3) Selanjutnya dihitung proporsi z1. Pengujian Hipotesis Teknik yang digunakan dalam pengujian hipotesis adalah teknik korelasi product moment. 4) Kemudian dihitung selisih antara F(zi) – S(zi) dengan mengambil harga mutlaknya. diubah menjadi bilangan baku zi − x −x dengan menggunakan rumus zi = i dengan x merupakan rata-rata s − data dan s adalah simpangan baku.1996:466).69 1) Tiap skor total yang diperoleh. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut : . jika zi positif. 5) Menentukan harga terbesar dari selisih tersebut sebagai harga Lo. Dengan menggunakan teknik ini akan diperoleh harga koefisien r product moment. 2) Dari tiap angka baku tersebut kemudian ditentukan peluang zi F(zi) dengan bantuan tabel luas lengkungan kurva normal. zn yang lebih kecil atau sama dengan zi. maka sebaran data tersebut mengikuti distribusi normal (Sudjana.5 – Luas daerah di bawah lengkungan normal standar. Teknik ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y). Apabila Lo < L tabel. Ketentuannya. z2. jika zi negatif. Caranya dengan membagi banyaknya skor yang lebih kecil atau sama dengan zi dengan jumlah responden (28). maka F(zi) =0. maka F (zi)=0.5 + Luas daerah di bawah lengkungan normal standar. 3. ditulis S(zi).

digunakan pedoman sebagai berikut : Tabel 3. Harga koefisien ini menunjukkan ada tidaknya hubungan yang terjadi antara kedua variabel tersebut.199 Sangat rendah 0.2001:148).799 Kuat 0.20 – 0.00 – 0.2001:149 Harga koefisien korelasi yang diperoleh pada dasarnya masih hanya berlaku pada sejumlah sampel penelitian.000 Sangat kuat Sumber : Sugiyono. Untuk mengetahui apakah hasil tersebut berlaku juga untuk tingkatan populasi maka perlu dilakukan uji signifikansi korelasi. Uji signifikansi dilakukan menggunakan uji t dengan rumus sebagai berikut : t= r n−2 1− r2 Keterangan: t = harga t hitung . Untuk dapat memberikan interpretasi kuat lemahnya hubungan antara kedua variabel.2 Interpretasi Tingkat Korelasi Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0.70 rxy = {N ∑ x N ∑ xy − (∑ x )(∑ y ) 2 2 − (∑ x ) N ∑ y 2 − (∑ y ) }{ 2 } Keterangan: r xy = koefisien korelasi antara variabel X dan Y Σ x = skor total variabel X Σ y = skor total variabel Y N = jumlah sampel (Sugiyono.599 Sedang 0.40 – 0.60 – 0.80 – 1.399 Rendah 0.

artinya dapat digeneralisasikan pada populasi. Rumus yang digunakan adalah KP = r2 x 100% dimana KP menyatakan besarnya koefisien determinasi dan r adalah koefisien korelasi antara variabel bebas dan variabel terikat (Ridwan. dilakukan perhitungan koefisien determinasi koefisien korelasi product moment. jika harga t hitung > dari harga t tabel maka koefisien korelasi yang diperoleh adalah signifikan. Untuk menentukan seberapa besar sumbangan yang ditimbulkan oleh variabel bebas terhadap variabel terikat. .2004:218).2001:150) Kriteria pengujiannya.71 r = koefisien korelasi product moment n = jumlah sampel (Sugiyono.

5930 9. deskripsi data penelitian.9645 Kinerja Menjahit Sikap Wiraswasta Berdasarkan tabel di atas. analisis data dan pembahasan. A. skor terendah 26. dengan mengambil lokasi di Balai RW IV Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat. B.1430 52.1 Deskripsi Data Hasil Penelitian Nilai Nilai Tertinggi 70 68 Terendah 26 29 Variabel Rata-rata 54.5710 Standar Deviasi 10. diperoleh data sebagai berikut : Tabel 4.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab IV akan disajikan tentang waktu dan tempat pelaksanaan penelitian. Hasil Penelitian Setelah melakukan kegiatan pengumpulan data dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel.1430 dengan standar deviasi 10. Berikut ini akan diuraikan hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan.5930. dapat diketahui bahwa pada variabel kinerja menjahit. Berdasarkan hasil pengumpulan data berupa nilai pada variabel kinerja menjahit dan sikap wiraswasta. langkah selanjutnya yang dilakukan peneliti adalah menginterpretasikan data hasil penelitian secara deskriptif. rata-ratanya adalah 54. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 7 Agustus sampai dengan 1 September 2005. skor tertinggi 70. Pada variabel sikap wiraswasta skor tertinggi 72 .

73

68, skor terendah 29, rata-rata skor adalah sebesar 52,5710 dan standar deviasinya sebesar 9,9645. Selanjutnya, sebaran data tersebut dibuat menjadi daftar distribusi frekuensi dengan langkah-langkah seperti tercantum dalam teknik analisis deskriptif bab metodologi penelitian. Berikut ini hasil penyusunan daftar distribusi frekuensi pada masing-masing variabel. 1. Data Kinerja Menjahit Kinerja menjahit dapat digambarkan dengan daftar distribusi frekuensi data, oleh karena itu dapat ditentukan dengan menentukan interval skor sebagai berikut: a. Jumlah responden 28 b. Jumlah butir pertanyaan 18 c. Skor maksimum = 4 x 18 = 72 d. Skor minimum = 1 x 18 = 18 e. Rentang skor = 72 – 18 = 54 f. Jumlah kelas data = 1 + 3,3 log 28 = 5,7756 dibulatkan menjadi 6 g. Interval kelas = 54 : 6 = 9 Hasil pengolahan data jika disajikan dalam bentuk daftar distribusi frekuensi variabel kinerja menjahit adalah sebagai berikut: Tabel 4.2 Daftar Distribusi Frekuensi Data Kinerja Menjahit Kelas Interval Skor Frekuensi Prosentase % 3,5714 1 18 – 26 A 0,0000 0 27 – 35 B 14,2857 4 36 – 44 C 25,0000 7 45 – 53 D 32,1429 9 54 – 62 E 25,0000 7 63 – 72 F Jumlah 28 100%

74

Tabel di atas menunjukkan bahwa sebesar 32,1429% responden, memiliki skor pada interval 54 – 62, sebesar 25,0000% responden mempunyai skor pada interval 45 – 53 dan pada interval 63 – 72, sebesar 14,2857% memiliki skor pada interval 36 – 44, dan sebanyak 3,5714% memiliki skor pada interval 18 – 26. Dari tabel di atas, diketahui tidak ada responden yang memiliki skor pada interval 27 – 35. Berdasarkan tabel daftar distribusi di atas, jika digambarkan dalam bentuk grafik akan diperoleh gambaran sebagai berikut:

9 8 7 6 5 4 3 2 1 0
18 - 26 27 - 35 36 - 44 45 - 53 54 - 62 Skor 63 - 72

Gambar 4.1 Diagram Distribusi Frekuensi Kinerja Menjahit 2. Data Sikap Wiraswasta Variabel sikap wiraswasta dapat digambarkan dengan daftar distribusi frekuensi data, oleh karena itu dapat ditentukan dengan menentukan interval skor sebagai berikut: a. Jumlah responden 28 b. Jumlah butir pertanyaan 17

Frekuensi

75

c. Skor maksimum = 4 x 17 = 68 d. Skor minimum = 1 x 17 = 17 e. Rentang skor = 68 – 17 = 51 f. Jumlah kelas data = 1 + 3,3 log 28 = 5,7756 dibulatkan menjadi 6 g. Interval kelas = 51 : 6 = 8,5 dibulatkan menjadi 9 h. Hasil pengolahan data jika disajikan dalam bentuk daftar distribusi frekuensi variabel sikap wiraswasta adalah sebagai berikut: Tabel 4.3 Daftar Distribusi Frekuensi Data Sikap Wiraswasta
Kelas A B C D E F Jumlah Interval Skor 17 – 25 26 – 33 34 – 41 42 – 50 51 – 59 60 – 68 Frekuensi 0 1 3 9 6 9 28 Prosentase % 0 3,5714 10,7142 32,1429 21,4286 32,1429 100%

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa responden yang memiliki skor pada interval 42 – 50 dan 60 – 68 masing-masing sebesar 32,1429%. Responden yang memiliki skor pada interval 51 – 59 sebesar 21,4286%, responden yang memiliki skor pada interval 34 – 41 sebesar 10,7142%, sedangkan responden yang memiliki skor pada interval 26 – 33 sebesar 3,5714%. Tabel di atas menunjukkan tidak ada responden yang memiliki skor pada interval 17 – 25. Daftar distribusi di atas, jika digambarkan dalam bentuk grafik akan diperoleh gambaran sebagai berikut:

dilakukan uji prasyarat analisis terlebih dahulu.2 Diagram Distribusi Frekuensi Sikap Wiraswasta C. Pengujian pada analisis ini adalah uji normalitas. Namun sebelum dilakukan pengujian tersebut.33 34 .50 51 .25 26 .68 Skor Gambar 4. dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Tiap skor total yang diperoleh. Perhitungan uji normalitas dilakukan dengan uji Lillieffors. 1. Uji Prasyarat Analisis Analisis ini dilakukan untuk menguji normalitas data hasil penelitian sebagai syarat analisis korelasi dengan statistik parametik.41 42 . diubah menjadi bilangan baku zi − x −x dengan x merupakan rata-rata dengan menggunakan rumus zi = i s − data dan s adalah simpangan baku. yaitu dengan menggunakan teknik korelasi product moment. Analisis Data Hasil Penelitian Analisis pada tahap ini dilakukan untuk memperoleh jawaban atas hipotesis penelitian. . Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui normal tidaknya sebaran data pada tiap-tiap variabel.59 60 .76 10 8 Frekuensi 6 4 2 0 17 .

05 adalah 0.0672. diperoleh x =54. 4) Kemudian dihitung selisih antara F(zi) – S(zi) dengan mengambil harga mutlaknya. Dari harga tersebut.77 2) Dari tiap angka baku tersebut kemudian ditentukan peluang zi F(zi) dengan bantuan tabel luas lengkungan kurva normal. Harga L tabel untuk n = 28 dan taraf signifkansi 5% atau 0. Dengan demikian. Apabila Lo < L tabel. Ketentuannya. kemudian dilaksanakan langkah-langkah seperti tersebut di atas. diperoleh F(zi) antara 0. maka F(zi) =0. Harga zi berkisar antara –2.6567 sampai 1.0000. Caranya dengan membagi banyaknya skor yang lebih kecil atau sama dengan zi dengan jumlah responden (28).1430 dan s=10. harga maksimal (Lo) sebesar 0.0039 sampai 0.5930. Dari skor yang diperoleh pada variabel kinerja menjahit.9327 sedangkan proporsi S(zi) antara 0. ….0075 sampai 0. diperoleh selisih harga mutlak F(zi )-S(zi) atau Lo. jika zi positif. maka disimpulkan bahwa sebaran data variabel kinerja menjahit adalah normal.1658. berkisar antara 0. Setelah dihitung. − .1996:466). maka sebaran data tersebut mengikuti distribusi normal (Sudjana.0357 sampai 1. Karena harga Lo < L tabel. ditulis S(zi). 3) Selanjutnya dihitung proporsi z1. jika zi negatif. zn yang lebih kecil atau sama dengan zi.5 – Luas daerah di bawah lengkungan normal standar. maka F (zi)=0. z2.4960. 6) Bandingkan dengan harga L tabel. 5) Menentukan harga terbesar dari selisih tersebut sebagai harga Lo.0672.5 + Luas daerah di bawah lengkungan normal standar. Dari harga-harga perhitungan pada lampiran.

harga maksimal (Lo) sebesar 0.78 Hasil perhitungan uji normalitas variabel kinerja menjahit terdapat pada halaman 111 lampiran 13.9392 sedangkan proporsi S(zi) antara 0.1658. maka disimpulkan bahwa sebaran data variabel sikap wiraswasta adalah normal. Dari harga tersebut.0090 sampai 0. berkisar antara 0. Dengan demikian. Dari harga-harga perhitungan pada lampiran. Analisis Tahap Akhir Berdasarkan analisis tahap awal diketahui bahwa sebaran data pada ketiga variabel memenuhi syarat normalitas. 2. diperoleh selisih harga mutlak F(zi )-S(zi) atau Lo. Setelah dihitung. Harga zi berkisar antara –2.05 adalah 0. Harga L tabel untuk n = 28 dan taraf signifkansi 5% atau 0.0998.5484.5710 dan s=9. diperoleh F(zi) antara 0. Adapun hipotesis yang diajukan adalah berbunyi: .000. Dari skor yang diperoleh pada variabel sikap wiraswasta. diperoleh x =52.3656 sampai 1. maka pada analisis tahap berikutnya adalah dilakukan secara parametrik dengan teknik analisis korelasi product moment. Karena harga Lo < L tabel.0003 sampai 0. kemudian dilaksanakan langkah-langkah pengujian Lillieffors.9640.0978.untuk menguji hipotesis yang diajukan.0357 − sampai 1. Hasil perhitungan uji normalitas variabel kinerja menjahit terdapat pada halaman 120 lampiran 15.

rXY = n ∑ XY − (∑ X)(∑ Y) {n ∑ X 2 − (∑ X) 2 }{n ∑ Y 2 − (∑ Y) 2 } 28x81375 − 1516 x1472 {28x85110 − 2298256}{28x80066 − 2166784} rXY = . Korelasi antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta Analisis yang digunakan untuk menentukan ada tidaknya korelasi antara kedua variabel adalah dengan menggunakan teknik korelasi product moment. Berdasarkan tabel pada lampiran perhitungan korelasi diperoleh seperti tabel 4.4 sebagai berikut: Tabel 4.4 Statistik untuk Perhitungan Korelasi Statistik ΣX (ΣX)2 ΣY (ΣY)2 ΣXY ΣY2 ΣX2 n Jumlah 1516 2298256 1472 2166784 81375 80066 85110 28 Harga-harga tersebut kemudian disubstitusikan ke dalam rumus korelasi product moment.79 Ho : Tidak ada hubungan antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat Ha : Ada hubungan antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat a.

Untuk menguji signifikansi koefisien korelasi.3740 maka disimpulkan hipotesis nol yang berbunyi tidak ada hubungan antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongasari Kecamatan Semarang Barat.5884. Untuk n = 28 dan taraf signifikansi 5% diperoleh harga rtabel sebesar 0. Besarnya koefisien korelasi adalah 0.5884 > 0.5884 Koefisien r tersebut kemudian dikonsultasikan dengan harga r tabel product moment. dilakukan uji t sebagai berikut: t= r n−2 1− r2 0.5884 28 − 2 1 − 0.58842 t= .3740. Karena harga rhitung > rtabel yaitu 0.80 rXY1 = 2278500 − 2231552 {2383080 − 2298256}{2241848 − 2166784} 46948 {84824}{75064} 46948 {6367228736} rXY = rXY = rXY = 46948 79794. yang berbunyi ada hubungan antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta.917 rXY = 0. ditolak yang berarti hipotesis kerja diterima.

346 3. Dengan demikian masih terdapat faktor lain yang turut memberikan sumbangan terhadap sikap wiraswasta. yaitu sebesar (0.7082) > ttabel (1.809 Harga thitung tersebut kemudian dikonsultasikan dengan ttabel dengan taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasan n – 2 = 28 – 2 =26.3800% (diperoleh dari 100% 34. Karena thitung (3.7082 Gambar 4.6200%. yaitu sebesar 1. .5884)2 = 0.7082 0.7060) maka disimpulkan bahwa koefisien korelasi tersebut signifikan.7060 thitung =3.00 0. artinya dapat digeneralisasikan pada populasinya.654 t= t= 3. yaitu sebesar 65.81 t= 0.00 = 3.5884 26 1 − 0. dengan demikian ada hubungan antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta.3462 atau 34.7060.6200%). Berikut ini adalah grafik dari hasil perhitungan di atas.3 Bagan Pengujian thitung Besarnya sumbangan kinerja menjahit terhadap sikap wiraswasta ditentukan dengan mengkuadratkan koefisien korelasi. Daerah Penolakan Ho Daerah penerimaan Ho 0 ttabel 1.

5884)2 . Dan sebaliknya. Besarnya sumbangan kinerja menjahit terhadap sikap wiraswasta ditentukan dengan mengkuadratkan koefisien korelasi.3800% Gambar 4. Jika kinerja menjahit warga belajar tinggi. maka sikap wiraswastanya pun akan semakin tinggi. Seorang warga belajar yang mempunyai kinerja menjahit tinggi.5884 > rtabel sebesar 0.6200% Faktor Lain 65. diperoleh koefisien korelasi (rhitung) sebesar 0. apabila ada faktor-faktor yang mendukungnya. yang signifikan pada taraf signifikansi 5%. Hasil simpulan ini dapat dipahami karena pada dasarnya seseorang yang memiliki kemampuan dalam menjahit cenderung mempunyai keinginan untuk membuka suatu usaha.82 Kinerja Menjahit 34.4 Diagram Sumbangan Kinerja Menjahit terhadap Sikap Wiraswasta D. yaitu sebesar (0. cenderung memiliki motivasi untuk mengaktualisasikan keahliannya dalam bentuk usaha yang mendatangkan keuntungan. semakin rendah kinerja menjahit maka sikap wiraswastanya pun semakin rendah. Hal ini berarti ada hubungan antara kedua variabel. Pembahasan Hasil Penelitian Berdasarkan analisis data hasil penelitian dengan menggunakan teknik korelasi product moment antara kinerja menjahit dan sikap wiraswasta.3740.

34. Faktor-faktor di luar kinerja menjahit yang turut memberikan sumbangan terhadap sikap wiraswasta antara lain motivasi. Warga belajar yang memiliki kinerja menjahit baik. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan mengusahakan semaksimal mungkin mengikuti prosedur yang tepat dan benar. Kreativitas dan inovasi warga belajar kurang berkembang karena kurang adanya pemberian stimulus-stimulus untuk menjadi wiraswasta. E. Namun demikian. sangat kecil kemungkinannya untuk memiliki sikap wiraswasta atau berkeinginan menjadi wiraswasta dalam bidang jahit menjahit.83 = 0. Pada umumnya faktor yang sering menjadi penghambat kemauan menjadi wiraswasta dari warga belajar adalah kurangnya keberanian mengambil resiko meminjam modal usaha. serta keberaniannya dalam mengambil resiko dan mengambil keputusan. namun apabila memiliki motivasi untuk menjadi wiraswasta atau tidak memiliki kreativitas dan inovasi-inovasi baru. maka sikap wiraswastanya pun tidak akan berkembang dengan baik.3800% (diperoleh dari 100% . masih terdapat beberapa keterbatasan dalam pelaksanaan penelitian ini. tetapi sangat terbatas modal usahanya. kreativitas dan inovasinya.62%).3462 atau 34. yaitu sebesar 65. Faktor kinerja memberikan sumbangan hanya sekitar sepertiga bagian saja. Hal ini dapat terjadi karena meskipun warga belajar memiliki kinerja yang cukup baik. Dengan demikian masih terdapat faktor lain yang turut memberikan sumbangan terhadap sikap wiraswasta. yang mungkin ber pengaruh terhadap hasil penelitian. sikap optimistis yang dimilikinya.6200%. Beberapa keterbatasan tersebut antara lain: .

Hal tersebut mungkin berpengaruh terhadap hasil penilaian observasi. Pada saat pelaksanaan uji coba instrumen. Namun karena di lokasi lain peneliti tidak menemukan adanya kelompok belajar menjahit lainnya maka pelaksanaan uji coba dikenakan pada sebagian anggota sampel. . 2. maka observasi hanya dilaksanakan satu kali. namun karena keterbatasan waktu dan tenaga serta sulitnya koordinasi dengan warga belajar dan tutor. Idealnya obersvasi dilakukan lebih dari satu kali. Hal ini mungkin berpengaruh terhadap kinerja yang ditunjukkan oleh warga belajar pada saat penelitian yang sesungguhnya dilakukan. idealnya dikenakan pada warga belajar menjahit di luar anggota sampel.84 1.

6200% atau hanya sekitar sepertiga bagian dari seluruh faktor yang mempengaruhi sikap wiraswasta.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Ada hubungan yang signifikan antara kinerja menjahit yang dimiliki oleh warga belajar dengan sikap wiraswasta di bidang penjahitan. baik dari faktor motivasi. kreativitas. 2. jika warga belajar mempunyai kinerja menjahit yang rendah maka ia cenderung memiliki sikap wiraswasta yang rendah pula. Begitu pula sebaliknya. 85 . Hal ini mengandung arti jika warga belajar mempunyai kinerja menjahit yang tinggi maka cenderung memiliki sikap wiraswasta yang tinggi pula. inovasi atau pun keberanian warga belajar dalam mengambil keputusan dan resiko. Besarnya sumbangan kinerja menjahit terhadap sikap wiraswasta sebesar 34. Hubungan yang terjadi antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta warga belajar bersifat positif. Hal ini dapat disebabkan kurang berkembangnya situasi dan kondisi yang mendukung munculnya sikap wiraswasta warga belajar. dapat disimpulkan bahwa: 1. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan hasil penelitian yang telah diperoleh.

yang juga dapat dimanfaatkan untuk membantu proses pemasaran produksi warga belajar. misalnya dengan mengusahakan bantuan alat-alat jahit. Usaha lain yang juga penting adalah mengusahakan ketersediaan fasilitasfasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh warga masyarakat untuk mengembangkan potensi wirausahanya. bazar. 2. Langkah yang dapat ditempuh misalnya dengan mengusahakan adanya koperasi untuk menampung hasil kerja warga belajar menjahit. . Selain itu pemerintah kelurahan harus sering mengadakan pameran. Langkah yang dapat dilakukan adalah dengan menekuni serta memperdalam pengetahuan dan keterampilan menjahit. hendaknya selalu berusaha untuk meningkatkan kinerja menjahit serta memacu peningkatkan sikap dan jiwa wiraswastanya. serta pinjaman modal usaha bagi mereka. pasar murah maupun lomba tentang busana. Bagi warga belajar.86 B. Saran Berdasarkan simpulan yang diperoleh. Pemerintah Kelurahan hendaknya mendukung terciptanya situasi dan kondisi yang memungkinkan dapat meningkatkan sikap wiraswasta warga belajar. peneliti mempunyai beberapa saran sebagai berikut: 1.

Poerwodarminto. Suatu Pendekatan Praktek. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. Statistika untuk Penelitian. 1996. 2004. Petunjuk Pelaksanaan Pendidikan Luar Sekolah. Bandung : Alfabeta 87 . Susilo. 1992. Jakarta: Balai Pustaka. 2000. 2002. Suharsimi. 2002. Oki. Sondang. Kiat Sukses Wirausaha. Jakarta : Depdikbud Departemen Pendidikan Nasional. Bandung : Remaja Rosda Karya. 2002. Landasan Kependidikan. 2004. Machfoedz. Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2004. Jakarta. Psikologi Kerja. Metode Penelitian Administrasi. Nugroho. Depdikbud Siagian.DAFTAR PUSTAKA Ahmadi. 2004. Jakarta : Rineka Cipta Pitoyo. Jakarta: Depdiknas Mangkunegoro. Kewirausahaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bandung : Alfabeta Sugiyono. Pandji. Abu. Suatu Pendekatan Kontemporer. Metoda Statistika. Metode Statistika. Yogyakarta : Penerbit Palem Ridwan. Motivasi terhadap Kinerja Guru SMP Negeri Kota Semarang Tahun 2004. Jakarta : Rineka Cipta Sugiyono. P. Mas’ud. Jakarta : Balai Pustaka Priyono. Psikologi Sosial. Jakarta : Rineka Cipta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta : Rineka Cipta Sudjana. Made. 2000. Yogyakarta: UPP AMP YKPN Pidarta. 2000. Anoraga. Sumber Daya Manusia Perusahaan. Pembuatan Busana Rekreasi. Pengaruh Gaya Kepemimpinan. Prosedur Penelitian. Radias. Tesis tidak diterbitkan. Jakarta : Rineka Cipta Arikunto. Bandung : Alfabeta Saleh. Pembuatan Busana. 1991. 1996. 2003. 1997.

2000. Pendidikan Wiraswasta. Membangun Kelas Menengah. Wasty. Teori dan Praktek Kewiraswastaan. Leo. 1998. Pengantar Kewiraswastaan. Prinsip-prinsip Wirausaha. 2000. 2000. Bandung : Sinar Baru Algensindo Yekti Kristanto. 1999. 1995. Jakarta : Bumi Aksara Tarmudji. Pola Busana Wanita. Yogyakarta : Liberty Wahjoetomo. Tarsis. Jakrta : Rasindo Wijandi. Alwine Semarang . Jakarta : Bumi Aksara Soemanto.88 Suharto. Soedarsono.

10 11.18 19.2 3.8 9.4 5.14 15.16 17.Lampiran 1 89 KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIAN VARIABEL SUB VARIABEL Ketepatan menggunakan alat jahit INDIKATOR Cara menggunakan mesin jahit lurus Cara menggunakan mesin obras Cara menggunakan gunting kain Cara menggunakan karbon jahit Cara menggunakan rumah kumparan Cara menggunakan kapur jahit Cara mengukur lingkar badan Cara mengukur lingkar pinggang Cara mengukur lingkar panggul Cara mengukur panjang dada Cara mengukur lebar punggung Cara mengukur pangkal leher Cara mengukur lebar dada Cara mengukur lingkar kerung siku Cara menggunakan tanda pola garis merah Cara menggunakan tanda titik pola garis titik Cara membuat pola dasar badan Cara menyelesaikan kampuh buka Cara menyelesaikan saku dalam Cara menyelesaikan belahan tutup tarik Mempunyai motivasi untuk berhasil Bersikap optimis dan berpikir positif Berpikir kreatif dan inovatif Mempunyai wawasan luas ke depan Keberanian mengambil resiko Berani mengambil keputusan Mau bekerja sama dengan orang lain Mempunyai keterampilan berkomunikasi baik Mempunyai jiwa pemimpin Bersikap mandiri Nomor Item Ketepatan mengambil ukuran Kinerja Menjahit Ketepatan membuat pola Ketepatan menjahit pakaian Sikap Wiraswasta Motivasi Optimis dan berpikir positif Kreatif dan inovatif Berwawasan luas Berani mengambil resiko Berani mengambil keputusan Mau bekerja sama Mampu berkomunikasi Memimpin Mandiri 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 1.20 .6 7.12 13.

90 KISI-KISI INSTRUMEN OBSERVASI Nomor Item VARIABEL SUB VARIABEL Ketepatan menggunakan alat jahit INDIKATOR Cara menggunakan mesin jahit lurus Cara menggunakan mesin obras Cara menggunakan gunting kain Cara menggunakan karbon jahit Cara menggunakan rumah kumparan Cara menggunakan kapur jahit 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Ketepatan mengambil ukuran Cara mengukur lingkar badan Cara mengukur lingkar pinggang Cara mengukur lingkar panggul Cara mengukur panjang dada Cara mengukur lebar punggung Cara mengukur pangkal leher Cara mengukur lebar dada Cara mengukur lingkar kerung siku Kinerja Menjahit 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Ketepatan membuat pola Cara menggunakan tanda pola garis merah Cara menggunakan tanda titik pola garis titik Cara membuat pola dasar badan Ketepatan menjahit pakaian Cara menyelesaikan kampuh buka Cara menyelesaikan saku dalam Cara menyelesaikan belahan tutup tarik .

4 5.91 KISI-KISI INSTRUMEN ANGKET VARIABEL SUB VARIABEL Motivasi Optimis dan berpikir positif Kreatif dan inovatif Berwawasan luas Berani mengambil Sikap Wiraswasta resiko Berani mengambil keputusan Mau bekerja sama Mampu berkomunikasi Memimpin Mandiri INDIKATOR Mempunyai motivasi untuk berhasil Bersikap optimis dan berpikir positif Berpikir kreatif dan inovatif Mempunyai wawasan luas ke depan Keberanian mengambil resiko Nomor Item 1.16 17.10 Berani mengambil keputusan Mau bekerja sama dengan orang lain Mempunyai keterampilan berkomunikasi baik Mempunyai jiwa pemimpin Bersikap mandiri 11.12 13.2 3.6 7.14 15.18 19.20 .8 9.

b. belajar mampu memasukkan kumparan pada rumah kumparan. b. belajar mampu memasukkan kumparan pada rumah kumparan. belajar mampu memasang benang pada rumah kumparan. a. belajar mampu memasang benang pada kumparan.PEDOMAN PENILAIAN OBSERVASI TENTANG KINERJA MENJAHIT No Indikator Cara menggunakan mesin jahit lurus a. d. g. d. a. c. d. belajar mampu memasang jarum belajar mampu merawat belajar mampu mengoperasikan mesin obras dengan baik dan benar. c. d. a. b. c. f. belajar mampu memasang benang. Cara menggunakan karbon jahit Cara menggunakan rumah kumparan Cara menggunakan kapur jahit 3 4 5 6 . b. belajar mampu memasang rumah kumparan pada mesin jahit. c. memasang benang atas. Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Warga Deskriptor belajar mampu memasang jarum. b. a. a. belajar hanya mampu menggunakan rumah kumparan belajar mampu mengetahui kegunaan. d. belajar mampu mengetahui kegunaan gunting belajar mampu mengetahui macam-macam gunting belajar mampu menggunakan gunting dengan baik dan benar belajar menggunakan gunting dengan sembarangan belajar mampu mengetahui kegunaan karbon jahit belajar mampu mengetahui bentuk karbon jahit belajar mampu menggunakan karbon jahit dengan baik dan benar belajar mampu menggunakan karbon dengan sembarangan belajar mampu mengetahui fungsi rumah kumparan. b. belajar mampu menyetel setikan mesin. e. c. c. d. belajar mampu mengetahui bentuk kapur jahit belajar mampu mengetahui mampu menggunakan kapur jahit belajar mampu hanya mengetahui bentuk kapur jahit • • • • Keterangan Skor 4 jika deskriptor muncul semua Skor 3 jika deskriptor yang muncul a – e Skor 2 jika deskriptor yang muncul a – c Skor 1 jika deskriptor yang muncul a – b 1 Warga belajar mampu mengatur setikan mesin untuk membuat kerutan • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Skor 4 jika deskriptor muncul semua Skor 3 jika deskriptor yang muncul a – c Skor 2 jika deskriptor yang muncul a – b Skor 1 jika deskriptor yang muncul a saja Skor 4 jika deskriptor yang muncul a – c Skor 3 jika deskriptor yang muncul a – b Skor 2 jika deskriptor yang muncul a saja Skor 1 jika deskriptor yang muncul d Skor 4 jika deskriptor yang muncul a – c Skor 3 jika deskriptor yang muncul a – b Skor 2 jika deskriptor yang muncul a saja Skor 1 jika deskriptor yang muncul d Skor 4 jika deskriptor yang muncul a – c Skor 3 jika deskriptor yang muncul a – b Skor 2 jika deskriptor yang muncul a saja Skor 1 jika deskriptor yang muncul d Skor 4 jika deskriptor yang muncul a – c Skor 3 jika deskriptor yang muncul a – b Skor 2 jika deskriptor yang muncul a saja Skor 1 jika deskriptor yang muncul d 2 Cara menggunakan mesin obras Cara menggunakan gunting kain. belajar mampu menaikkan benang bawah.

Warga belajar mengukur keliling pangkal leher dengan baik dan benar belajar mengukur keliling pangkal leher + 1 cm belajar mengukur keliling pangkal leher dikurangi 1 cm belajar mengukur pangkal leher ditambah 2 cm • Skor 4 jika deskriptor yang muncul a • Skor 3 jika deskriptor yang muncul b • Skor 2 jika deskriptor yang muncul c • Skor 1 jika deskriptor yang muncul d . c. a. d. c. b. a. d. a. Warga Cara mengukur b. • Skor 4 jika deskriptor yang muncul a Warga belajar mengukur dari lekuk leher sampai pinggang • Skor 3 jika deskriptor yang muncul b Warga belajar mengukur dari lekuk leher sampai pinggang + 1 cm • Skor 2 jika deskriptor yang muncul c Warga belajar mengukur dari lekuk leher sampai pinggul • Skor 1 jika deskriptor yang muncul d Warga belajar mengukur dari bahu dekat leher sampai pinggang • Skor 4 jika deskriptor yang muncul a • Skor 3 jika deskriptor yang muncul b • Skor 2 jika deskriptor yang muncul c • Skor 1 jika deskriptor yang muncul d Warga belajar mengukur mendatar dari batas kerung lengan kanan ke batas kerung lengan kiri Warga belajar mengukur mendatar dari batas kerung lengan ka ke batas kerung lengan kiri – 1cm Cara mengukur c. b. Warga d.No 7 Indikator Cara mengukur lingkar badan a. Warga belajar mengukur mendatar dari punggung batas kerung lengan kanan ke batas kerung lengan kiri. c. b. c. a. d. Cara mengukur 8 lingkar pinggang Cara mengukur panggul 9 10 Cara mengukur panjang dada Deskriptor Keterangan Warga belajar mengukur keliling badan terbesar + 4 cm dengan baik dan benar • Skor 4 jika deskriptor yang muncul a • Skor 3 jika deskriptor yang muncul b Warga belajar mengukur sekeliling badan terbesar + 1 cm • Skor 2 jika deskriptor yang muncul c Warga belajar mengukur sekeliling badang di bawah payudara + 4 cm • Skor 1 jika deskriptor yang muncul d Warga belajar mengukur sekeliling badan terbesar • Skor 4 jika deskriptor yang muncul a Warga belajar mengukur sekeliling pinggang pas • Skor 3 jika deskriptor yang muncul b Warga belajar mengukur sekeliling pinggang + 1 cm. a. b. Warga 12 pangkal leher c. b. • Skor 2 jika deskriptor yang muncul c Warga belajar mengukur sekeliling perut pas • Skor 1 jika deskriptor yang muncul d Warga belajar mengukur sekeliling panggul pas • Skor 4 jika deskriptor yang muncul a Warga belajar mengukur sekeliling panggul terbesar + 4 cm • Skor 3 jika deskriptor yang muncul b Warga belajar mengukur sekeliling panggul terbesar • Skor 2 jika deskriptor yang muncul c Warga belajar mengukur sekeliling panggul + 2cm • Skor 1 jika deskriptor yang muncul d Warga belajar mengukur sekeliling pinggul. d. Warga belajar mengukur mendatar dari punggung batas kerung lengan kanan ke batas kerung 11 lebar punggung lengan kiri d.

Warga belajar mengukur dari ujung bahu sampai tengah pinggang depan Cara mengukur b. Warga belajar mengukur sekeliling siku pas 14 • Skor 2 jika deskriptor yang muncul c lingkar siku c. . • Skor 4 jika deskriptor yang muncul a a. Warga belajar mengukur dari ujung bahu sampai tengah dada • Skor 1 jika deskriptor yang muncul d d. Warga belajar mengukur sekeliling siku ditambah 1 cm • Skor 1 jika deskriptor yang muncul d d. Warga belajar mengukur dari ujung bahu sampai pinggang belakang.• Skor 4 jika deskriptor yang muncul a a. Warga belajar mengukur dari ujung bahu sampai tengah pinggang depan + 1cm • Skor 3 jika deskriptor yang muncul b 13 • Skor 2 jika deskriptor yang muncul c lebar dada c. Warga belajar mengukur sekeliling siku pas ditambah 2 cm • Skor 3 jika deskriptor yang muncul b Cara mengukur b. Warga belajar mengukur sekeliling nadi ditambah 2 cm.

Warga belajar mampu menyelesaikan pakaian dengan kampuh tutup • Skor 1 jika deskriptor yang muncul a saja d. Warga belajar menggunakan tanda pola garis titik-garis titik sebagai tanda TM a. Warga belajar menggunakan tanda pola garis titik-garis titik sebagai tanda • Skor 3 jika deskriptor yang muncul b lipatan • Skor 2 jika deskriptor yang muncul c b. Warga belajar tidak mampu membuat pola dasar badan • Skor 4 jika deskriptor muncul semua a. Warga belajar mampu membuat pola dasar badan bagian depan saja • Skor 1 jika deskriptor yang muncul d d. Warga belajar menggunakan tanda pola garis titik-garis titik sebagai tanda lipit d. Warga belajar mampu menyelesaikan pakaian dengan kampuh pipih • Skor 2 jika deskriptor yang muncul a – b c. Warga belajar mampu merapikan saku dengan disetik • Skor 1 jika deskriptor yang muncul a saja d. Warga belajar mampu membuat pola dasar badan lengkap dengan tanda pola • Skor 4 jika deskriptor yang muncul a • Skor 3 jika deskriptor yang muncul b b. Warga belajar menggunakan tanda pola garis titik-garis titik sebagai tanda • Skor 1 jika deskriptor yang muncul d lapisan c. Warga belajar mampu menyelesaikan pakaian dengan kampuh balik • Skor 4 jika deskriptor muncul semua a. Warga belajar mampu membuat setikan yang lurus dan rata . Warga belajar mampu menyelesaikan kampuh saku dengan obras a. Warga belajar menggunakan tanda garis pola garis merah untuk pola bagian • Skor 4 jika deskriptor yang muncul a • Skor 3 jika deskriptor yang muncul b depan b. Warga belajar menggunakan tanda garis pola garis merah untuk pola bagian belakang • Skor 4 jika deskriptor yang muncul a a.No Indikator Cara menggunakan 15 tanda pola garis merah Cara menggunakan 16 tanda titik pola garis titik Cara membuat pola dasar badan 17 Cara 18 menyelesaikan dengan kampuh Cara 19 menyelesaikan saku dalam Cara menyelesaikan 20 belahan tutup tarik Deskriptor Keterangan a. Warga belajar mampu menyematkan tutup tarik pada belahan • Skor 2 jika deskriptor yang muncul a – b c. Warga belajar menggunakan tanda garis pola garis merah untuk pola lengan d. Warga belajar mampu melapis saku dengan pelapis • Skor 3 jika deskriptor yang muncul a – c b. Warga belajar menggunakan tanda garis pola garis merah untuk pola bagian • Skor 2 jika deskriptor yang muncul c • Skor 1 jika deskriptor yang muncul d depan dan belakang c. Warga belajar mampu membuat jahitan agar jahitan rata dan tidak berkerut • Skor 2 jika deskriptor yang muncul a – b c. Warga belajar mampu membuat pola dasar badan tanpa tanda pola • Skor 2 jika deskriptor yang muncul c c. Warga belajar mampu menjelujur belahan • Skor 1 jika deskriptor yang muncul a saja d. Warga belajar mampu menyelesaikan pakaian dengan kampuh buka • Skor 3 jika deskriptor yang muncul a – c b. Warga belajar mampu menentukan panjang belahan sesuai panjang tutup tarik • Skor 4 jika deskriptor muncul semua • Skor 3 jika deskriptor yang muncul a – c b.

pernyataan tersebut kurang sesuai dengan kondisi anda d. dan saya akan tetap menjaga kerahasiaan jawaban anda.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (U N N E S) Dengan hormat. Kurang Sesuai. saya ucapkan terima kasih. Sri Mulyani Petunjuk Pengisian : Berilah tanda silang (X) pada alternatif jawaban yang tersedia. jika pernyataan tersebut sesuai dengan kondisi anda c. Sesuai. Untuk itu. Dalam rangka menyelesaikan studi di Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi Program Studi PKK Universitas Negeri Semarang. sesuai dengan hati nurani anda. pernyataan tersebut sangat tidak sesuai dengan kondisi anda IDENTITAS DIRI NAMA : …………………………………………. saya mohon kesediaan anda untuk mengisi angket yang telah saya sediakan. jika pernyataan tersebut sangat sesuai dengan kondisi anda b. : …………………………………………. Atas perhatian dan kerjasamanya. Pilihlah jawaban : a. Hasil angket ini tidak akan berpengaruh pada penilaian jabatan tertentu. Peneliti. Sangat Sesuai. Sangat Tidak Sesuai. saya bermaksud mengadakan penelitian dengan judul ”HUBUNGAN ANTARA KINERJA MENJAHIT DAN SIKAP WIRASWASTA PADA KELOMPOK BELAJAR MENJAHIT DI KELURAHAN BONGSARI KECAMATAN SEMARANG BARAT”. .

Kurang Sesuai d. Setelah mengikuti kejar menjahit saya yakin dapat mendirikan usaha busana a. Sangat Tidak Sesuai 3. Sesuai c. Sesuai c. Saya akan berusaha mengembangkan keterampilan menjahit yang saya miliki menjadi sebuah usaha swasta yang produktif. Sesuai c.LEMBAR ANGKET TENTANG SIKAP WIRASWASTA 1. a. Sangat Sesuai b. Sangat Sesuai b. a. Menurut saya usaha di bidang jahit menjahit kurang bisa diandalkan untuk menopang ekonomi keluarga a. Sesuai c. Kurang Sesuai d. Kurang Sesuai d. Sangat Tidak Sesuai [ 6. Sangat Sesuai b. Sangat Tidak Sesuai 2. Kurang Sesuai d. Kurang Sesuai d. saya mengikuti kejar menjahit. saya yakin usaha jahitan akan tetap diminati dan dicari oleh masyarakat. Saya sering membuat rancangan model pakaian yang tren untuk waktu-waktu yang akan datang. Sesuai c. Sangat Sesuai b. Sangat Tidak Sesuai . Sangat Tidak Sesuai 4. Kurang Sesuai d. a. Sangat Tidak Sesuai 7. Sangat Tidak Sesuai 5. Sangat Sesuai b. Dalam rangka memenuhi kebutuhan ekonomi. Kurang Sesuai d. a. a. Sesuai c. Sangat Sesuai b. Meskipun banyak saingan dari industri konveksi berskala besar. Saya sering mendapatkan ide untuk membuat barang-barang antik dari kain perca yang sudah tidak dipakai lagi. Sesuai c. Sangat Sesuai b.

Sesuai c. Sesuai c. Saya sudah mantap untuk menjadikan bidang jahit menjahit sebagai bidang kerja dan keahlian saya. Kurang Sesuai d. Sesuai c.8. Sangat Tidak Sesuai 9. a. Saya yakin bisnis di bidang jahit menjahit akan tetap ada dan maju jika kita berniat untuk mengembangkannya. a. Saya masih sering ragu-ragu. Sangat Sesuai b. Sesuai c. Sangat Tidak Sesuai 12. a. a. Sangat Tidak Sesuai 14. Kurang Sesuai d. Kurang Sesuai d. Setelah mengikuti kejar menjahit. Untuk menambah modal membuka usaha. Sangat Tidak Sesuai . Sangat Sesuai b. Sangat Sesuai b. Sesuai c. Sangat Sesuai b. a. Sangat Tidak Sesuai 10. Kurang Sesuai d. Sesuai c. saya berusaha mendekati beberapa kolega yang mau meminjamkan modal. Sangat Tidak Sesuai 11. saya berniat untuk membuka usaha menjahit sendiri. Saya sering mencampur beberapa corak bahan untuk saya jadikan pakaian yang saya anggap akan menjadi tren. Sangat Tidak Sesuai 13. a. a. Sesuai c. Kurang Sesuai d. Kurang Sesuai d. apakah tetap mengikuti kejar menjahit atau mencari kursus yang lainnya. Sangat Sesuai b. Kurang Sesuai d. Sangat Sesuai b. Sangat Sesuai b. Saya ingin bekerja sama dengan beberapa teman saya untuk membuka usaha bidang jahit menjahit.

Sangat Sesuai b. Sangat Sesuai b. Sesuai c. a. Kurang Sesuai d. Apabila saya berhasil mendirikan usaha jahit menjahit. Sangat Tidak Sesuai . Sangat Sesuai b. Kurang Sesuai d. Sangat Tidak Sesuai 19. Sesuai c. Sangat Tidak Sesuai 16. Sesuai c. a. Saya sering ditunjuk teman-teman untuk menjadi juru bicara suatu pertemuan. Sangat Sesuai b. a. Saya sering dijadikan ketua panitia atau ketua kegiatan di kampung (organisasi). a. saya berusaha untuk menyelesaikan sendiri. Sangat Tidak Sesuai 20. Jika benar-benar tidak mampu. Sesuai c. Saya menabung sejak mengikuti kejar menjahit untuk mendirikan usaha busana. Kurang Sesuai d. Kurang Sesuai d. Apabila mengalami kesulitan dalam praktek di kejar menjahit. Sangat Tidak Sesuai 17. Sangat Sesuai b. a. Sangat Sesuai b. Sesuai c. saya baru minta tolong kepada teman atau instruktur. Kurang Sesuai d. a. Sesuai c. saya akan menjalankan manajemen yang baik dan profesional.15. Saya sering merasa malu berbincang-bincang dengan orang lain yang belum saya kenal dengan baik. Sangat Tidak Sesuai 18. Kurang Sesuai d.

...... : ...... Indikator 4 ▪ Cara menggunakan mesin jahit lurus Ketepatan menggunakan alat jahit ▪ Cara menggunakan mesin obras ▪ Cara menggunakan gunting kain ▪ Cara menggunakan karbon jahit ▪ Cara menggunakan skoci jahit ▪ Cara menggunakan kapur jahit ▪ Cara mengukur lingkar badan ▪ Cara mengukur lingkar pinggang ▪ Cara mengukur lingkar panggul Kinerja Menjahit Ketepatan mengambil ukuran ▪ Cara mengukur panjang badan ▪ Cara mengukur lebar punggung ▪ Cara mengukur pangkal leher ▪ Cara mengukur lebar dada ▪ Cara mengukur lingkar kerung siku Ketepatan membuat pola Ketepatan menjahit pakaian ▪ Cara menggunakan tanda pola garis merah ▪ Cara menggunakan tanda titik pola garis titik ▪ Cara membuat pola dasar badan ▪ Cara menyelesaikan kampuh buka ▪ Cara menyelesaikan saku dalam ▪ Cara menyelesaikan belahan tutup tarik Penilaian 3 2 1 Keterangan : Skor 4 Skor 3 Skor 2 Skor 1 : Sangat Baik : Baik : Cukup Baik : Kurang Baik .LEMBAR PENILAIAN OBSERVASI KINERJA MENJAHIT Nama Responden Alamat Variabel Sub Variabel : ......................................................................................

454 0.428 0.810 15 4 4 4 3 4 4 3 4 1 3 4 3 2 4 4 2 2 2 2 4 16 4 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 4 4 2 3 17 4 4 4 3 3 1 4 4 4 4 4 2 3 4 4 3 4 3 2 4 18 2 3 4 3 3 3 4 1 3 3 4 2 2 4 4 2 2 3 2 4 58 184 3881 0.444 valid tdkvalid valid 0.488 4 4 4 4 3 3 4 4 4 2 4 4 4 2 4 2 2 2 2 2 4 64 222 4319 0.888 3 3 3 4 3 4 4 3 4 3 4 4 3 2 2 4 4 3 3 2 3 65 221 4300 0.228 20 y 74 73 79 73 70 61 70 71 53 75 77 58 46 75 73 55 52 49 43 74 1301 k= y2 5476 5329 6241 5329 4900 3721 4900 5041 2809 5625 5929 3364 2116 5625 5329 3025 2704 2401 1849 5476 87189 20 127.438 0.557 0.588 0.840 1.444 valid 0.444 0.919538 70 67 70 260 239 256 4650 4441 4665 0.444 valid tdkvalid valid 0.867 0.614 0.527 0.728 0.450 0.619 0.248 1 3 3 4 4 2 3 4 4 1 4 4 2 2 4 4 2 2 2 1 4 59 197 4048 0.13 UC .148 2 4 4 4 4 3 2 4 4 3 4 3 1 2 4 3 2 4 4 2 4 65 229 4347 0.08 UC .444 valid valid 0.19 UC .18 0.ANALISIS HASIL UJI COBA INSTRUMEN KINERJA MENJAHIT No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Validitas Butir Kode UC .088 13 3 4 4 4 4 3 3 3 3 4 3 2 3 3 4 3 4 3 2 4 66 226 4371 0.743 0.444 valid 0.536 0.760 0.16 UC .444 0.444 valid 1.07 UC .444 valid 0.10 UC .9475 16.790 19 4 4 4 4 4 1 2 4 2 4 4 4 1 4 3 2 2 2 4 4 63 223 4252 0.665 0.740 σ 2 t Σσ2b= r11= Reliabel .550 63 70 68 217 254 246 4279 4620 4526 0.444 valid 0.03 UC .538 0.444 0.750 0.689 0.450 4 3 4 4 4 4 3 2 3 4 4 4 4 4 4 2 1 1 2 4 65 233 4367 0.444 valid 0.01 UC .14 UC .09 UC .06 UC .444 0.735 0.15 UC .02 UC .751 0.05 UC .17 UC .788 6 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 1 2 4 7 4 4 4 4 2 2 4 3 2 4 4 2 2 4 3 4 4 4 3 4 8 4 4 4 4 4 2 3 4 3 4 4 3 4 4 4 4 3 2 2 4 9 No Item 10 11 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 3 4 3 4 4 1 4 4 3 4 4 4 1 2 1 3 4 4 3 4 3 3 2 2 2 2 2 4 2 68 60 248 200 4581 4043 0.860 5 4 2 4 4 4 4 4 3 2 4 4 3 3 4 4 2 2 2 2 4 65 227 4379 0.18 UC .444 valid 0.000 12 4 3 4 4 4 4 3 4 2 4 4 4 3 4 4 3 2 3 3 4 70 254 4658 0.410 14 4 4 4 4 4 3 3 3 4 4 4 4 1 3 4 2 3 2 2 4 66 234 4443 0.493 0.444 valid 1.12 UC .444 valid 1.444 valid 1.444 valid 0.20 ΣX ΣX2 ΣXY rxy rtabel Kriteria σb 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 2 1 4 3 1 1 2 2 2 59 199 4019 0.11 UC .444 0.928 0.830 0.04 UC .444 valid 0.717 0.

(59)(1301) = = = = 3621 25538321 3621 5053.Contoh Perhitungan Validitas Hasil Uji Coba Instrumen Kinerja Menjahit Rumus: r xy = {n ∑ X nXY .444 Karena rhit > rtabel maka soal nomor 1 valid.(∑ X)(∑ Y) 2 − (∑ X ) 2 }{n ∑ Y 2 − (∑ Y ) 2 } (ΣX)2 = 3481 Berikut perhitungan untuk nomor soal 1 n = 20 ΣXY = 4019 rxy = ΣX=59 ΣY = 1301 2 ΣX2 = 199 ΣY2 = 87189 (ΣY)2 = 1692601 2 {(20)(199) − (59) }{(20)(87189) − (1301) } 80380 − 76759 {3980 − 3481}{1743780 − 1692601} 3621 (499)(51179) (20)(4019) . .545 = 0.717 dengan n = 28 dan taraf signifikansi = 5% diperoleh rtabel = 0.717 Hasil perhitungan diperoleh rhit = 0.

Varian Total N = 20 ΣY = 1301 ΣY2 = 87189 (∑ Y )2 2 ∑Y − N σ 12 = N (1301)2 87189 − 1692601 87189 − 87189 − 84630.05 = 24.45 14.788 20 20 260 − 245 15 = = 0.9475 20 20 20 20 2.95 = 1.Contoh Perhitungan Reliabilitas Hasil Uji Coba Instrumen Kinerja Menjahit 1.95 = 1.05 2558.75 = 0.55 = = 0.25 = 9.888 = 20 20 20 4225 221 − 20 = 221 − 211.148 = 20 20 20 4225 229 − 20 = 229 − 211.75 = = 0.25 = 17.8 17.728 20 20 2 * σ6 = 20 = = 2 * σ7 = 20 = = * σ 82 = (67 )2 239 − 20 20 = = .05 = 22.488 = 20 20 20 199 − 4096 20 20 4225 227 − 20 20 4900 260 − 20 20 4489 239 − 20 20 222 − 2 * σ5 = (64)2 222 − (65)2 227 − (70)2 260 − 20 20 20 20 = = 222 − 204.86 20 20 227 − 211.25 15.95 20 = 20 σ 12 = = = = 127.25 = 0.75 20 20 239 − 224.2 = = 0. Varian Butir 199 − (59)2 20 20 (59)2 197 − 2 20 * σ2 = 20 (65)2 229 − 2 20 * σ3 = 20 (65) 2 221 − 2 20 * σ4 = 20 * σ 12 = 3481 20 = 199 − 174.248 = 20 20 20 3481 197 − 20 = 197 − 174.

74 = 20 20 20 3364 184 − 20 = 184 − 168.79+1.41 * σ 14 = 20 20 20 20 2 (66) 234 − 4356 234 − 2 20 = 20 = 234 − 217.79 = 20 20 20 3969 223 − 20 = 223 − 198.84 * σ 10 = 20 20 20 20 2 (60) 200 − 3600 200 − 2 20 = 20 = 200 − 180 = 20 = 1 * σ 11 = 20 20 20 20 2 (70) 254 − 4900 254 − 2 20 = 20 = 254 − 245 = 9 = 0.8 = 0.75 = 1.45 * σ 17 = 20 20 20 20 256 − 256 − (70)2 2 * σ 18 = (68)2 246 − 20 2 * σ 19 2 * σ 20 20 (58)2 184 − 20 = 20 (63)2 223 − 20 = 20 4624 20 = 246 − 231.41+0.86+0.8 = 16.088 * σ 13 = 20 20 20 20 2 (66) 226 − 4356 226 − 2 20 = 20 = 226 − 217.45 = 24.25 = 21.2 = 0.8 = 0.75+0.2 = 15.788+0.8 = 8.2 = 0.928 * σ 16 = 20 20 20 20 2 (70) 254 − 4900 254 − 2 20 = 20 = 254 − 245 = 9 = 0.2 = 14.841+1+ 0.488+0.888+0.74+0.228 .45 * σ 12 = 20 20 20 20 2 (65) 233 − 4225 233 − 2 20 = 20 = 233 − 211.45+0.45 = 18.248+1.55+0.2 = 16.0888+0.55 = 0.728+ 0.45+1.4900 2 20 = 20 = 256 − 245 = 11 = 0.148+0.55 = 1.228 = 20 20 20 246 − Σσb2 = 1.8 = 0.81 * σ 15 = 20 20 20 20 2 (63) 217 − 3969 217 − 2 20 = 20 = 217 − 198.81+0.55 * σ9 = 20 20 20 20 2 (68) 248 − 4624 248 − 2 20 = 20 = 248 − 231.928+0.

= 16.18 3. Koefisien Reliabilitas 2 ⎛ N ⎞⎛ ∑ σ b ⎞ ⎜1 − 2 ⎟ r11 = ⎜ ⎟ σt ⎟ ⎝ N - 1 ⎠⎜ ⎝ ⎠

16.18 ⎞ ⎛ 20 ⎞⎛ = ⎜ ⎟ ⎟⎜1 − ⎝ 20 − 1 ⎠⎝ 127.95 ⎠ 20 (1 − 0.1265) = 19 20 = x 0.8735 19 = 0.9195 koefisien tersebut kemudian dibandingkan dengan rtabel untuk n = 20 sebesar 0,444. Karena r11 > rtabel maka instrumen tersebut dinyatakan reliabel.

ANALISIS HASIL UJI COBA INSTRUMEN SIKAP WIRASWASTA
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Validitas Butir Kode UC - 01 UC - 02 UC - 03 UC - 04 UC - 05 UC - 06 UC - 07 UC - 08 UC - 09 UC - 10 UC - 11 UC - 12 UC - 13 UC - 14 UC - 15 UC - 16 UC - 17 UC - 18 UC - 19 UC - 20 ΣX ΣX2 ΣXY rxy rtabel Kriteria σb 4 3 4 3 3 4 2 2 2 2 3 4 4 1 3 4 4 3 2 1 58 188 3698 0,574 0,444 valid 0,990 1 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 3 2 4 2 52 142 3274 0,511 0,444 valid 0,340 2 4 3 3 2 4 4 4 3 4 3 3 4 4 2 1 2 3 3 4 2 62 208 3942 0,622 0,444 valid 0,790 3 4 4 4 2 4 4 4 2 4 2 4 3 4 3 1 2 3 2 4 2 62 212 3959 0,644 0,444 valid 0,990 4 2 3 4 2 4 4 4 2 2 3 2 4 4 2 2 3 3 3 4 1 58 186 3694 0,583 0,444 valid 0,890 5 4 4 3 2 4 4 2 2 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 2 69 253 4356 0,527 0,444 valid 0,747 6 4 3 4 1 2 4 2 2 4 3 3 3 4 2 1 3 4 3 4 3 59 193 3751 0,540 0,444 valid 0,947 7 4 4 4 4 2 2 2 2 3 3 2 4 4 3 2 3 4 3 4 1 8 4 4 4 2 2 2 2 2 3 4 3 3 3 2 3 2 3 3 1 3 9 No Item 10 11 3 2 4 4 3 4 4 4 4 3 2 2 1 2 3 4 4 4 2 2 1 2 4 4 3 4 1 3 2 4 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 52 59 156 191 3345 3715 0,651 0,369 0,444 0,444 valid tdkvalid 1,040 0,847 12 3 4 4 4 4 2 2 3 4 3 2 4 4 3 4 3 2 2 4 2 63 213 3998 0,613 0,444 valid 0,728 2 4 4 3 4 3 1 4 4 3 2 4 4 2 4 3 2 1 3 2 59 195 3763 0,574 0,444 valid 1,048 13 4 4 4 4 4 4 2 4 4 3 2 4 4 3 3 3 2 1 4 2 65 229 4145 0,683 0,444 valid 0,888 14 4 4 4 4 4 4 4 1 4 4 2 2 4 1 2 4 1 1 2 3 59 205 3795 0,605 0,444 valid 1,548 15 4 4 4 3 4 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 3 3 4 4 73 271 4568 0,572 0,444 valid 0,228 16 4 4 4 3 4 4 4 2 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 4 3 71 259 4480 0,775 0,444 valid 0,347 17 4 4 4 3 3 4 4 2 4 3 4 4 4 3 4 4 2 4 4 3 71 261 4455 0,491 0,444 valid 0,447 18 4 4 4 3 4 4 4 2 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 19 4 4 4 3 3 2 4 2 4 3 2 3 2 2 2 3 3 3 4 4 20 y 71 74 76 58 69 65 57 50 73 59 54 73 75 46 53 62 57 51 67 47 1237 k= y2 5041 5476 5776 3364 4761 4225 3249 2500 5329 3481 2916 5329 5625 2116 2809 3844 3249 2601 4489 2209 78389 20 94,028 15,398 0,8803

60 55 198 165 3820 3450 0,592 0,300 0,444 0,444 valid tdkvalid 0,900 0,688

69 61 245 199 4348 3833 0,703 0,385 0,444 0,444 valid tdkvalid 0,347 0,647

σ2 t

Σσ2b= r11=

Reliabel

DATA INDUK HASIL PENELITIAN VARIABEL SIKAP WIRASWASTA (Y) Resp S-01 S-02 S-03 S-04 S-05 S-06 S-07 S-08 S-09 S-10 S-11 S-12 S-13 S-14 S-15 S-16 S-17 S-18 S-19 S-20 S-21 S-22 S-23 S-24 S-25 S-26 S-27 S-28 Item 1 4 3 4 3 3 4 2 2 2 2 3 4 4 1 3 4 4 3 2 1 4 3 4 3 4 2 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 3 2 4 2 2 2 4 4 4 3 3 3 3 4 3 3 2 4 4 4 3 4 3 3 4 4 2 1 2 3 3 4 2 3 3 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 2 4 4 4 2 4 2 4 3 4 3 1 2 3 2 4 2 1 2 2 4 4 1 2 4 5 2 3 4 2 4 4 4 2 2 3 2 4 4 2 2 3 3 3 4 1 3 3 4 2 4 4 3 4 6 4 4 3 2 4 4 2 2 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 2 2 2 4 4 4 2 4 4 7 4 3 4 1 2 4 2 2 4 3 3 3 4 2 1 3 4 3 4 2 4 2 4 4 4 4 4 4 8 4 4 4 4 2 2 2 2 3 3 2 4 4 3 2 3 4 3 4 2 2 4 4 3 4 3 4 4 9 4 4 4 2 2 2 2 2 3 4 3 3 3 2 3 2 3 3 1 1 2 2 4 4 4 3 4 4 10 11 12 13 14 15 16 17 3 4 3 4 4 2 1 3 4 2 1 4 3 1 2 3 2 2 2 1 2 2 3 4 4 2 4 4 2 4 4 4 3 2 2 4 4 2 2 4 4 3 4 3 2 2 2 2 2 2 4 3 4 2 3 4 3 4 4 4 4 2 2 3 4 3 2 4 4 3 4 3 2 2 4 1 2 2 4 4 4 2 3 4 2 4 4 3 4 3 1 4 4 3 2 4 4 2 4 3 2 1 3 1 2 2 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 3 2 4 4 3 3 3 2 1 4 2 2 2 3 4 4 3 2 4 4 4 4 4 4 4 4 1 4 4 2 2 4 1 2 4 1 1 2 2 3 2 3 4 4 2 2 4 4 4 4 3 4 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 3 3 4 2 4 3 4 4 4 3 4 3 4 4 4 3 4 4 4 2 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 Y 59 62 64 49 59 55 45 44 61 50 44 62 65 38 44 52 49 41 56 29 43 41 63 62 68 47 56 64 Y2 3481 3844 4096 2401 3481 3025 2025 1936 3721 2500 1936 3844 4225 1444 1936 2704 2401 1681 3136 841 1849 1681 3969 3844 4624 2209 3136 4096 .

DATA INDUK HASIL PENELITIAN VARIABEL KINERJA MENJAHIT (X) Resp S-01 S-02 S-03 S-04 S-05 S-06 S-07 S-08 S-09 S-10 S-11 S-12 S-13 S-14 S-15 S-16 S-17 S-18 S-19 S-20 S-21 S-22 S-23 S-24 S-25 S-26 S-27 S-28 Item 1 1 2 4 2 2 4 3 3 3 4 2 1 3 2 3 4 3 4 2 3 3 4 4 2 2 2 3 4 2 4 2 2 2 2 3 3 2 4 4 3 2 3 2 3 4 1 2 4 2 3 3 4 3 3 2 4 3 3 2 2 2 2 2 3 4 3 3 3 2 3 2 1 3 1 3 2 2 2 4 4 4 3 4 3 3 4 4 4 4 2 1 3 4 2 1 4 3 1 2 3 2 2 2 2 2 2 2 4 4 4 2 4 2 4 3 5 4 3 2 2 4 4 2 2 4 4 3 4 3 2 2 2 2 2 2 1 4 4 4 3 2 3 4 4 6 4 4 2 2 3 4 3 2 4 4 3 4 3 1 2 4 2 2 2 1 4 4 4 4 4 4 4 4 7 3 4 3 1 4 4 3 2 4 4 2 4 3 2 1 3 2 2 2 1 2 4 4 4 4 3 4 3 8 4 4 4 2 4 4 3 2 4 4 3 3 3 2 1 4 2 2 2 1 2 2 4 4 3 3 4 4 9 4 4 4 4 1 4 4 2 2 4 1 2 4 1 1 2 3 3 2 2 2 2 3 2 3 4 4 3 10 11 12 13 14 15 16 17 18 3 4 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 3 3 4 4 4 3 1 4 2 4 3 4 2 4 4 3 4 4 4 2 4 3 3 4 4 3 3 4 1 3 4 3 3 3 1 3 2 4 4 4 2 4 4 3 3 4 4 2 4 3 4 4 4 3 4 4 2 4 4 3 2 1 1 4 2 2 3 4 3 4 4 3 4 4 4 2 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 4 3 4 4 4 3 4 4 3 3 2 4 2 4 3 2 3 2 2 2 3 3 3 4 4 3 2 2 4 4 3 4 4 3 4 4 3 2 2 1 2 4 3 3 3 3 3 3 2 1 2 4 2 4 2 1 4 4 4 4 4 4 4 2 4 2 4 4 2 4 4 2 2 4 1 2 4 2 4 4 2 3 4 1 4 3 4 3 4 4 4 4 3 2 4 4 2 4 3 4 4 3 4 3 4 3 3 2 2 3 2 1 4 4 4 2 4 3 4 4 2 2 2 4 2 4 3 2 3 3 2 2 3 2 3 2 2 3 3 2 3 4 4 4 4 3 4 4 X 57 55 54 51 44 70 56 47 63 65 44 50 58 35 46 57 45 49 43 26 62 59 68 58 65 53 70 66 X2 3249 3025 2916 2601 1936 4900 3136 2209 3969 4225 1936 2500 3364 1225 2116 3249 2025 2401 1849 676 3844 3481 4624 3364 4225 2809 4900 4356 .

DATA INDUK HASIL PENELITIAN VARIABEL SIKAP WIRASWASTA (Y) Resp S-01 S-02 S-03 S-04 S-05 S-06 S-07 S-08 S-09 S-10 S-11 S-12 S-13 S-14 S-15 S-16 S-17 S-18 S-19 S-20 S-21 S-22 S-23 S-24 S-25 S-26 S-27 S-28 Item 1 4 3 4 3 3 4 2 2 2 2 3 4 4 1 3 4 4 3 2 1 4 3 4 3 4 2 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 3 2 4 2 2 2 4 4 4 3 3 3 3 4 3 3 2 4 4 4 3 4 3 3 4 4 2 1 2 3 3 4 2 3 3 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 2 4 4 4 2 4 2 4 3 4 3 1 2 3 2 4 2 1 2 2 4 4 1 2 4 5 2 3 4 2 4 4 4 2 2 3 2 4 4 2 2 3 3 3 4 1 3 3 4 2 4 4 3 4 6 4 4 3 2 4 4 2 2 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 2 2 2 4 4 4 2 4 4 7 4 3 4 1 2 4 2 2 4 3 3 3 4 2 1 3 4 3 4 2 4 2 4 4 4 4 4 4 8 4 4 4 4 2 2 2 2 3 3 2 4 4 3 2 3 4 3 4 2 2 4 4 3 4 3 4 4 9 4 4 4 2 2 2 2 2 3 4 3 3 3 2 3 2 3 3 1 1 2 2 4 4 4 3 4 4 10 11 12 13 14 15 16 17 3 4 3 4 4 2 1 3 4 2 1 4 3 1 2 3 2 2 2 1 2 2 3 4 4 2 4 4 2 4 4 4 3 2 2 4 4 2 2 4 4 3 4 3 2 2 2 2 2 2 4 3 4 2 3 4 3 4 4 4 4 2 2 3 4 3 2 4 4 3 4 3 2 2 4 1 2 2 4 4 4 2 3 4 2 4 4 3 4 3 1 4 4 3 2 4 4 2 4 3 2 1 3 1 2 2 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 3 2 4 4 3 3 3 2 1 4 2 2 2 3 4 4 3 2 4 4 4 4 4 4 4 4 1 4 4 2 2 4 1 2 4 1 1 2 2 3 2 3 4 4 2 2 4 4 4 4 3 4 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 3 3 4 2 4 3 4 4 4 3 4 3 4 4 4 3 4 4 4 2 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 Y 59 62 64 49 59 55 45 44 61 50 44 62 65 38 44 52 49 41 56 29 43 41 63 62 68 47 56 64 Y2 3481 3844 4096 2401 3481 3025 2025 1936 3721 2500 1936 3844 4225 1444 1936 2704 2401 1681 3136 841 1849 1681 3969 3844 4624 2209 3136 4096 .

221031 0.0289689 0.53224 0.0243581 0.0360581 0.798456 0.313658 0.071429 0.269706 0.0258714 0.464286 0.107143 0.357143 0.95752 -0.76872 -0.0095114 0.0202492 0.1079 -0.45851 0.S(z) l 0.932794 S(z) l F(z) .39111 -0.0314912 1 0.0094188 0.175304 0.UJI NORMALITAS SEBARAN DATA VARIABEL KINERJA MENJAHIT X 26 35 43 44 44 45 46 47 49 50 51 53 54 55 56 57 57 58 58 59 62 63 65 65 66 68 70 70 Z -2.496932 1.0356583 0.024922 1.25 0.8473 0.0127416 0.0262955 0.678571 0.364108 0.321429 0.119324 1.0348783 0.039275 0.821429 0.250056 0.928571 0.836118 1.194036 0.86312 -0.007771 0.56958 0.535714 0.904585 0.0672055 maksimum 0.03537 0.178571 0.932794 0.0672055 .364108 0.308128 1.428571 0.65675 -1.48551 -0.142857 0.080902 0.0317694 0.857143 0.392857 0.8473 0.003945 0.29671 -0.024922 1.0239864 0.676707 0.785714 0.606307 0.169153 0.77087 0.5 0.741716 0.642857 0.571429 0.0303289 0.000836 0.0135 0.285714 0.0208704 0.383346 0.494615 0.214286 0.0322403 0.642111 0.0375786 0.0092839 0.0338655 0.146418 0.035714 0.03646 0.457037 0.606307 0.347859 0.05192 -0.269706 0.67431 -0.0098428 0.169153 0.0007457 0.80714 -1.75 0.496932 F(z) 0.964286 0.892857 0.95752 -0.0284655 0.714286 0.868499 0.642111 0.607143 0.

068546 0.25 0.714286 0.874315 0.946307 0.009 0.019445 0.96056 -0.398192 0.060754 maksimum 0.25803 -0.19484 0.464286 0.8602 -0.36562 -1.892857 0.S(z) 0.022849 0.168387 0.288042 0.678571 0.054256 0.006575 0.785714 0.015621 0.122764 0.147029 1.078004 0.828004 0.634629 0.060584 0.939246 S(z) F(z) .097752 0.344139 0.046668 1.214286 0.946307 1.821429 0.857143 0.285714 0.122764 0.19484 0.004769 0.05731 0.010184 0.147029 1.071429 0.026714 0.75 0.247391 1.8602 -0.596298 0.107143 0.086923 0.642857 0.645223 0.828004 0.964286 0.571429 0.066093 0.321429 0.740609 0.607143 0.04229 0.097752 0.071821 0.032831 0.874315 0.477151 0.428571 0.845945 0.852374 0.090874 0.16128 -1.928571 0.893873 0.360026 0.535714 0.645223 0.5 0.05516 0.223676 0.020093 0.946307 0.16128 -0.46236 -1.35839 -0.178571 0.018542 0.035714 0.344139 0.062037 0.8602 -0.634629 0.801208 0.19484 0.070413 1 0.027486 0.UJI NORMALITAS SEBARAN DATA VARIABEL SIKAP WIRASWASTA Y 29 38 41 41 43 44 44 44 45 47 49 49 50 52 55 56 56 59 59 61 62 62 62 63 64 64 65 68 Z -2.243778 0.55911 -0.740609 0.142857 0.357143 0.35839 -0.828004 0.069101 0.392857 0.000392 0.75984 -0.097752 80 Skor Responden 60 40 20 0 0 5 10 15 Responden 20 25 30 .360026 0.0632 0.548475 F(z) 0.

0094188 0.0322403 0.45851 0.932794 S(z) l F(z) .313658 0.80714 -1.5 0.48551 -0.347859 0.1079 -0.392857 0.29671 -0.024922 1.0098428 0.496932 1.250056 0.0314912 1 0.03537 0.571429 0.0135 0.0360581 0.0007457 0.119324 1.035714 0.798456 0.0348783 0.606307 0.928571 0.364108 0.65675 -1.175304 0.107143 0.857143 0.024922 1.000836 0.0289689 0.214286 0.0243581 0.8473 0.071429 0.0127416 0.785714 0.285714 0.0239864 0.606307 0.0672055 maksimum 0.0284655 0.0356583 0.607143 0.25 0.642857 0.142857 0.457037 0.321429 0.75 0.535714 0.95752 -0.0095114 0.678571 0.383346 0.0262955 0.0338655 0.178571 0.0092839 0.0317694 0.77087 0.0202492 0.428571 0.003945 0.169153 0.464286 0.146418 0.039275 0.821429 0.76872 -0.868499 0.67431 -0.95752 -0.269706 0.357143 0.05192 -0.892857 0.221031 0.964286 0.39111 -0.8473 0.714286 0.UJI NORMALITAS SEBARAN DATA VARIABEL KINERJA MENJAHIT X 26 35 43 44 44 45 46 47 49 50 51 53 54 55 56 57 57 58 58 59 62 63 65 65 66 68 70 70 Z -2.0208704 0.86312 -0.836118 1.0672055 .0303289 0.56958 0.308128 1.S(z) l 0.080902 0.932794 0.53224 0.364108 0.642111 0.0375786 0.194036 0.269706 0.169153 0.494615 0.0258714 0.741716 0.676707 0.03646 0.642111 0.904585 0.007771 0.496932 F(z) 0.

misalnya : z1 = z2 = 26 − 54.5925 − b.1429 = −0.5925 44 − 54. Tiap skor total yang diperoleh. diubah menjadi bilangan baku zi dengan − x −x menggunakan rumus zi = i . Harga-harga x dan s tersebut kemudian digunakan untuk mencari angka baku zi.5925 47 − 54.Contoh Perhitungan Uji Normalitas Sebaran Data Variabel Kinerja Menjahit (X) Berdasarkan data pada tabel di atas.5925 46 − 54. Dari hasil perhitungan diperoleh rata-rata data = 54.65675 10.1429 = −0.5925 z3 = z4 = z5 = z6 = z7 = z8 = 43 − 54.76782 10.1429 = −0.95752 10.05192 10.67431 10.5925 44 − 54.1429 = −0.5925 35 − 54.1429 simpangan baku = 10. kemudian dilakukan analisis dengan langkahlangkah pengujian setelah dilakukan pengurutan data dari yang terkecil sampai yang terbesar.95752 10.1429 = −0.1429 = -1.86312 10.1429 = −2.1429 = −1. a.80714 10.5925 45 − 54.5925 . Dengan x merupakan rata-rata data dan s s − adalah simpangan baku.

48551 10.1429 = 0.39111 10.5925 57 − 54.z9 = z10 = z11 = z12 = z13 = z14 = z15 = z16 = z17 = z18 = z19 = z20 = z21 = z22 = z23 = z24 = z25 = 49 − 54.26971 10.1429 = 0.5925 .5925 65 − 54.1429 = −0.0135 10.5925 56 − 54.1429 = 0.1429 = 0.5925 55 − 54.1429 = −0.5925 54 − 54.1753 10.1429 = 0.0809 10.1429 = 0.1429 = −0.5925 63 − 54.36411 10.5925 50 − 54.5925 66 − 54.1079 10.5925 51 − 54.11932 10.5925 65 − 54.5925 53 − 54.1429 = −0.74172 10.5925 58 − 54.45851 10.5925 58 − 54.36411 10.1429 = 0.02492 10.5925 57 − 54.02492 10.1429 = −0.26971 10.29671 10.1429 = 1.83612 10.5925 62 − 54.1429 = 1.1429 = 0.1429 = 0.5925 59 − 54.1429 = 1.

5 – 0.3052 = 0.4961 = 0.luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 1.luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 2.5 .05192 = 0.5 .169 F(z5) = 0.5925 60 − 54.169 F(z6) = 0.5925 60 − 54.80714 = 0.65675 = 0.5 – 0.3531 = 0.5 .1429 = 1.86312 = 0.4649 = 0.194 .5 .5 + Luas daerah dibawah lengkungan normal standar zi.1429 = 1.luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 1. jika zi positif.003 F(z2) = 0.0.035 F(z3) = 0.3315 = 0.49693 10. maka F(zi) = 0.3315 = 0.luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.Luas daerah dibawah lengkungan normal standar harga positif dari zi Besarnya luasan daerah dibawah normal standar dicari dengan menggunakan bantuan tabel luas daerah lengkungan normal standar.5 .z26 = z27 = z 28 = 68 − 54.5 .5 – 0.1429 = 1.5 – 0.luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.5925 c. Jika zi negatif.95752 = 0.49693 10.5 . maka F(zi) = 0.luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0. Dari tiap angka baku tersebut kemudian ditentukan peluang zi F(zi) Ketentuan yang digunakan adalah.146 F(z4) = 0. F(z1) = 0.95752 = 0.5 – 0.5 .30813 10.

60 F(z17) = 0.0675 = 0.luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.5 + 0.luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.5 .5 – 0.0040 = 0.29671 = 0.5 .56 F(z16) = 0.1079 = 0.luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.1753 = 0.39111 = 0.76782 = 0.385 F(z12) = 0.5 – 0.5 – 0.5 .0310 = 0.5 .1141 = 0.0135 = 0.5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.5 – 0.5 – 0.1844 = 0.67431 = 0.5 .5 + 0.5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.250 F(z9) = 0.456 F(z13) = 0.luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.5 + 0.348 F(z11) = 0.315 F(z10) = 0.5 .luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.494 F(z14) = 0.26971 .5 – 0.luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.2486 = 0.2794 = 0.0809 = 0.F(z7) = 0.5 – 0.5 .26971 = 0.0438 = 0.1026 = 0.1517 = 0.48551 = 0.221 F(z8) = 0.53 F(z15) = 0.

5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 1.67 F(z21) = 0.5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.5 + 0.30813 = 0.74172 = 0.= 0.79 F(z23) = 0.5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 1.64 F(z19) = 0.5 + 0.2704 = 0.5 +luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.49693 .2996 = 0.5 + 0.5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 1.84 F(z24) = 0.86 F(z26) = 0.11932 = 0.83612 = 0.5+ luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.64 F(z20) = 0.1406 = 0.1026 = 0.3461 = 0.5 + 0.84 F(z25) = 0.5+ luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 0.024942 = 0.5 + 0.45851 = 0.1772 = 0.3665 = 0.02492 = 0.3461 = 0.36411 = 0.5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 1.36411 = 0.5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 1.5+ 0.5 + 0.5+ 0.4049 = 0.5 + 0.904 F(z27) = 0.770 F(z22) = 0.60 F(z18) = 0.1406 = 0.5 + 0.

75 .392 = 12/28 = 0.107 = 4/28 = 0.214 = 7/28 = 0.071 = 3/28 = 0.5 + 0.5 + luas daerah dibawah lengkungan normal standar untuk 1.643 = 19/28 = 0.4319 = 0.178 = 6/28 = 0. zn yang lebih kecil atau sama dengan zi.607 = 18/28 = 0.535 = 16/28 = 0.678 = 20/28 = 0.496393 = 0.428 = 13/28 = 0.931 dan seterusnya sampai F(z28) d. ditulis S(zi) S(z1) S(z2) S(z3) S(z4) S(z5) S(z6) S(z7) S(z8) S(z9) S(z10) S(z11) S(z12) S(z13) S(z14) S(z15) S(z16) S(z17) S(z18) S(z19) S(z20) S(z21) = 1/28 = 0. z2.142 = 5/28 = 0.464 = 14/28 = 0.931 F(z28) = 0.357 = 11/28 = 0. Selanjutnya dihitung proporsi z1.4319 = 0. ….571 = 17/28 = 0.714 = 21/28 = 0.5 = 15/28 = 0.285 = 9/28 = 0.321 = 10/28 = 0.5 + 0.875 = 8/28 = 0.035 = 2/28 = 0.= 0.

035⏐ = ⏐0. Menentukan harga terbesar dari selisih tersebut sebagai harga Lo.039 = 0.009 dan seterusnya sampai ⏐F(z28) – S(z28)⏐ f. Dari selisih harga-harga diperoleh Lo = 0.857 = 25/28 = 0.892 = 26/28 = 0.036 = 0.786 = 23/28 = 0.1658 Karena harga Lo < harga L tabel. Bandingkan dengan harga L tabel.928 = 27/28 = 0. maka sebaran data tersebut mengikuti distribusi normal Harga L tabel untuk n = 28 dan taraf signifikansi 5% adalah 0. maka disimpulkan bahwa distribusi data variabel kinerja menjahit (X) adalah normal.S(z22) S(z23) S(z24) S(z25) S(z26) S(z27) S(z28) mutlaknya.032 = 0. = 22/28 = 0. Apabila Lo < L tabel. Kemudian dihitung selisih antara F(zi) – S(zi) dengan mengambil harga ⏐F(z1) – S(z1)⏐ ⏐F(z2) – S(z2)⏐ ⏐F(z3) – S(z3)⏐ ⏐F(z4) – S(z4)⏐ ⏐F(z5) – S(z5)⏐ = ⏐0.964 = 28/28 = 1 e.027 = 0.107⏐ = ⏐0.142⏐ = ⏐0.146 – 0.821 = 24/28 = 0.169 – 0.035 – 0.067 g. .071⏐ = ⏐0.003 – 0.178⏐ = 0.169 – 0.

097752 0.344139 0.UJI NORMALITAS SEBARAN DATA VARIABEL SIKAP WIRASWASTA Y 29 38 41 41 43 44 44 44 45 47 49 49 50 52 55 56 56 59 59 61 62 62 62 63 64 64 65 68 Z -2.8602 -0.8602 -0.785714 0.428571 0.069101 0.147029 1.35839 -0.062037 0.16128 -1.032831 0.243778 0.04229 0.35839 -0.634629 0.0632 0.96056 -0.16128 -0.5 0.607143 0.19484 0.535714 0.147029 1.060584 0.821429 0.740609 0.828004 0.398192 0.054256 0.035714 0.018542 0.571429 0.086923 0.801208 0.022849 0.25803 -0.046668 1.36562 -1.05516 0.828004 0.477151 0.828004 0.122764 0.247391 1.392857 0.634629 0.845945 0.027486 0.678571 0.060754 maksimum 0.321429 0.464286 0.223676 0.645223 0.548475 F(z) 0.596298 0.946307 1.015621 0.946307 0.857143 0.19484 0.090874 0.214286 0.178571 0.874315 0.25 0.S(z) 0.852374 0.357143 0.285714 0.006575 0.004769 0.122764 0.892857 0.928571 0.46236 -1.645223 0.19484 0.097752 80 Skor Responden 60 40 20 0 0 5 10 15 Responden 20 25 30 .020093 0.168387 0.893873 0.026714 0.714286 0.142857 0.360026 0.75984 -0.068546 0.642857 0.75 0.288042 0.05731 0.000392 0.8602 -0.066093 0.344139 0.078004 0.019445 0.107143 0.010184 0.55911 -0.070413 1 0.874315 0.360026 0.964286 0.009 0.097752 0.939246 S(z) F(z) .071429 0.071821 0.740609 0.946307 0.

96056 9. Harga-harga x dan s tersebut kemudian digunakan untuk mencari angka baku zi.96649 44 − 52.5714 = -0.5714 = -0.8602 9.8602 9. Dengan x merupakan rata-rata data dan s s − adalah simpangan baku.16128 9.96649 z3 = z4 = z5 = z6 = z7 = z8 = z9 = 41 − 52.96649 45 − 52.5714 = -0.36562 9.5714 = -0.5714 = -1.96649 41 − 52.96649 44 − 52. Tiap skor total yang diperoleh.96649 .5714 = -1. misalnya : z1 = z2 = 29 − 52.96649 44 − 52. kemudian dilakukan analisis dengan langkahlangkah pengujian setelah dilakukan pengurutan data dari yang terkecil sampai yang terbesar.8602 9. diubah menjadi bilangan baku zi dengan − x −x menggunakan rumus zi = i .96449 38 − 52.Contoh Perhitungan Uji Normalitas Sebaran Data Variabel Sikap Wiraswasta (Y) Berdasarkan data pada tabel di atas.75984 9.96449 − b. Dari hasil perhitungan diperoleh rata-rata data = 52.5714 = -1. a.96649 43 − 52.5714 simpangan baku = 9.5714 = -0.5714 = -2.16128 9.46236 9.

5714 = -0.04667 9.35839 9.5714 = 0.5714 = -0.96649 56 − 52.35839 9.94631 9.96649 64 − 52.5714 = 0.96649 50 − 52.14703 9.5714 = -0.96649 52 − 52.94631 9.96649 62 − 52.96649 62 − 52.55911 9.34414 9.96649 59 − 52.24378 9.64522 9.96649 49 − 52.96649 49 − 52.5714 = 0.96649 55 − 52.84595 9.5714 = -0.94631 9.5714 = -0.64522 9.5714 = 1.96649 61 − 52.96649 59 − 52.5714 = 0.25803 9.5714 = 0.05731 9.5714 = 1.5714 = 1.14703 9.5714 = 0.96649 .96649 62 − 52.96649 63 − 52.96649 64 − 52.z10 = z11 = z12 = z13 = z14 = z15 = z16 = z17 = z18 = z19 = z20 = z21 = z22 = z23 = z24 = z25 = z26 = 47 − 52.5714 = 0.5714 = 0.34414 9.5714 = 0.96649 56 − 52.

5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 1.8602 = 0.3770 = 0.5.46236 = 0.Luas daerah dibawah lengkungan normal standar harga positif dari zi Besarnya luasan daerah dibawah normal standar dicari dengan menggunakan bantuan tabel luas daerah lengkungan normal standar. jika zi positif.123 F(z5) = 0.5 .5714 = 1.5 .168 F(z6) = 0.0. Dari tiap angka baku tersebut kemudian ditentukan peluang zi F(zi) Ketentuan yang digunakan adalah.3052 = 0.4909 = 0.123 F(z4) = 0.5.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 1.5.5.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.24739 9. Jika zi negatif.5714 = 1.5. maka F(zi) = 0.0.36562 = 0.1948 .0.luas daerah lengkungan normal standar untuk 2.0. F(z1) = 0.0.96056 = 0.0.16128 = 0.1948 F(z7) = 0.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 1.4279 = 0.009 F(z2) = 0.3052 = 0.16128 = 0.3770 = 0.3315 = 0.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 0. maka F(zi) = 0.0.5 + Luas daerah dibawah lengkungan normal standar zi.5 .96649 68 − 52.96649 c.072 F(z3) = 0.5.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.54847 9.8602 = 0.z27 = z28 = 65 − 52.

0.48 F(z15) = 0.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.55911 = 0.5.35839 = 0.1368 = 0.5.5.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.F(z8) = 0.24378 = 0.1331 = 0.59 F(z16) = 0.75984 = 0.5.22 F(z10) = 0.40 F(z14) = 0.0.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.2123 = 0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.34414 = 0.0.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.25803 = 0.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.1331 = 0.63 F(z17) = 0.3052 = 0.8602 = 0.36 F(z13) = 0.0.05731 = 0.36 F(z12) = 0.0.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.0.1948 F(z9) = 0.1368 = 0.0.5.0.35839 = 0.0987 = 0.5.5+ 0.5 +luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.34414 = 0.5+ 0.5+ 0.63 .288 F(z11) = 0.5.0987 = 0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.2734 = 0.0199 = 0.5 -luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.

874 F(z27) = 0.3749 = 0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 1.14703 = 0.894 .5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.5+ 0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 1.5+ 0.94631 = 0.5+ 0.82 F(z23) = 0.5+ 0.3264 = 0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.3749 = 0.84595 = 0.85 F(z25) = 0.5+ 0.64522 = 0.2996 = 0.24739 = 0.94631 = 0.74 F(z20) = 0.3944 = 0.3264 = 0.5+ 0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.5+ 0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 1.80 F(z21) = 0.2389 = 0.5+ 0.94631 = 0.82 F(z24) = 0.3531 = 0.5+ 0.0987 = 0.74 F(z19) = 0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.F(z18) = 0.82 F(z22) = 0.874 F(z26) = 0.5+ 0.64522 = 0.14703 = 0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 1.04677 = 0.3264 = 0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 0.

75 = 22/28 = 0. ditulis S(zi) S(z1) S(z2) S(z3) S(z4) S(z5) S(z6) S(z7) S(z8) S(z9) S(z10) S(z11) S(z12) S(z13) S(z14) S(z15) S(z16) S(z17) S(z18) S(z19) S(z20) S(z21) S(z22) S(z23) S(z24) S(z25) = 1/28 = 0.643 = 19/28 = 0.5+luas daerah lengkungan normal standar untuk 1.071 = 3/28 = 0.142 = 5/28 = 0.678 = 20/28 = 0.428 = 13/28 = 0. …. Selanjutnya dihitung proporsi z1.214 = 7/28 = 0.875 = 8/28 = 0. z2.5+ 0.107 = 4/28 = 0.54847 = 0.714 = 21/28 = 0.178 = 6/28 = 0.821 = 24/28 = 0.285 = 9/28 = 0.9394 dan seterusnya sampai F(z28) d.892 .857 = 25/28 = 0.321 = 10/28 = 0.392 = 12/28 = 0.357 = 11/28 = 0.786 = 23/28 = 0.5 = 15/28 = 0.571 = 17/28 = 0.464 = 14/28 = 0.535 = 16/28 = 0.4394 = 0. zn yang lebih kecil atau sama dengan zi.F(z28) = 0.035 = 2/28 = 0.607 = 18/28 = 0.

22–0.548 = 0.001 = -0.643⏐ ⏐F(z19) – S(z19)⏐ = ⏐0.80–0.086 = 0.35 = -0.875⏐ = ⏐0.016 = -0.285⏐ = ⏐0.714⏐ ⏐F(z21) – S(z21)⏐ = ⏐0.786⏐ ⏐F(z23) – S(z23)⏐ = ⏐0.85–0.026 = 0.63–0.964 = 28/28 = 1 e.071⏐ = ⏐0.82075 = 0.85–0.392 = -0.928 = 27/28 = 0.36–0.168–0.007 ⏐F(z10) – S(z10)⏐ = ⏐0.0902 = -0.069 = 0.019 = -0.1948–0.821⏐ ⏐F(z24) – S(z24)⏐ = ⏐0.034 = -0.009–0.35–0.01 = -0.064 = 0.068 = -0.288–0.6802 = -0.74–0.0192 = -0.059–0.214⏐ = ⏐0.75⏐ ⏐F(z22) – S(z22)⏐ = ⏐0.001 = 0.82–0.571⏐ ⏐F(z17) – S(z15)⏐ = ⏐0. = 26/28 = 0.142⏐ = ⏐0.059 = -0.123–0.40–0.1948–0.82–0.607⏐ ⏐F(z18) – S(z18)⏐ = ⏐0.535⏐ ⏐F(z16) – S(z16)⏐ = ⏐0.428⏐ ⏐F(z13) – S(z13)⏐ = ⏐0.178⏐ = ⏐0.185 = 0.678⏐ ⏐F(z20) – S(z20)⏐ = ⏐0.857⏐ .062 = 0.097 = 0.321⏐ = -0.357⏐ ⏐F(z11) – S(z11)⏐ = ⏐0.36–0.S(z26) S(z27) S(z28) mutlaknya.82–0.5⏐ ⏐F(z15) – S(z15)⏐ = ⏐0.392⏐ ⏐F(z12) – S(z12)⏐ = ⏐0.123-0.101 = -0.107⏐ = ⏐0. Kemudian dihitung selisih antara F(zi) – S(zi) dengan mengambil harga ⏐F(z1) – S(z1)⏐ ⏐F(z2) – S(z2)⏐ ⏐F(z3) – S(z3)⏐ ⏐F(z4) – S(z4)⏐ ⏐F(z5) – S(z5)⏐ ⏐F(z6) – S(z6)⏐ ⏐F(z7) – S(z7)⏐ ⏐F(z8) – S(z8)⏐ ⏐F(z9) – S(z9)⏐ = ⏐0.464⏐ ⏐F(z14) – S(z14)⏐ = ⏐0.035⏐ = ⏐0.74–0.1948–0.072–0.

097 g.07 = -0. maka disimpulkan bahwa distribusi data variabel minat baca karya sastra adalah normal.⏐F(z25) – S(z25)⏐ = ⏐0. Dari selisih harga-harga diperoleh Lo = 0. Menentukan harga terbesar dari selisih tersebut sebagai harga Lo.874–0.0606 f.018 = -0. Bandingkan dengan harga L tabel.892⏐ ⏐F(z26) – S(z26)⏐ = ⏐0. maka sebaran data tersebut mengikuti distribusi normal Harga L tabel untuk n = 28 dan taraf signifikansi 5% adalah 0.964⏐ ⏐F(z28) – S(z28)⏐ = ⏐0.874–0. Apabila Lo < L tabel.928⏐ ⏐F(z27) – S(z27)⏐ = ⏐0.054 = -0.9394–1⏐ = -0.1658 Karena harga Lo < harga L tabel. .894–0.

PENGUJIAN KORELASI KINERJA MENJAHIT DAN SIKAP WIRASWASTA Rumus: r xy = {n ∑ X nXY .(∑ X)(∑ Y) 2 − (∑ X ) 2 }{n ∑ Y 2 − (∑ Y ) 2 } Dari tabel rekapitulasi skor hasil penelitian diperoleh: ΣX = 1516 ΣY = 1472 ΣXY= 81375 ΣX2 = 85110 (ΣX)2 = 2298256 (ΣY)2 = 2166784 ΣY2 n = 80066 = 28 Harga-harga tersebut kemudian disubstitusikan ke dalam rumus korelasi product moment.917 rXY = 0.5884 Koefisien r tersebut kemudian dikonsultasikan dengan harga r tabel product moment.374. rXY = rXY = rXY1 = rXY = rXY = n ∑ XY − (∑ X)(∑ Y) {n ∑ X 2 − (∑ X) 2 }{n ∑ Y 2 − (∑ Y) 2 } 28x81375 − 1516 x1472 {28x85110 − 2298256}{28x80066 − 2166784} 2278500 − 2231552 {2383080 − 2298256}{2241848 − 2166784} 46948 {84824}{75064} 46948 {6367228736} rXY = 46948 79794. Untuk n = 28 dan taraf signifikansi 5% diperoleh harga rtabel sebesar 0. .

Untuk menguji signifikansi koefisien korelasi.654 t= t= t= 3.708 Bagan Pengujian thitung . Daerah Penolakan Ho Daerah penerimaan Ho 0 ttabel 1.809 Harga thitung tersebut kemudian dikonsultasikan dengan ttabel dengan taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasan n – 2 = 28 – 2 =26.706) maka disimpulkan bahwa koefisien korelasi tersebut signifikan. Karena thitung (3. yang berarti ada korelasi antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta.58842 0.00 0.5884 26 1 − 0.706.00 = 3.346 3.706 thitung =3.5884 28 − 2 1 − 0.Karena harga rhitung > rtabel maka disimpulkan Ho dalam penelitian ini ditolak.708 0. yaitu sebesar 1. artinya dapat digeneralisasikan pada populasinya. dilakukan uji t sebagai berikut: Rumus yang digunakan t= t= r n−2 1− r2 0.708) > ttabel (1.

Lampiran 21 137 Gambar pola dasar sistem Alwine .

d1 = 1/2 cm c – c1 = ¼ lingkar badan + 1 cm b1 – b2 = ¼ lingkar pinggang + 1 cm + 3 cm (kup) hubungkan a3 – d1 – c1 = kerung lengan depan a – e = tinggi dada e – e1 = jarak dada Pola Belakang Keterangan: A – A1 = 6 atau 7 cm A – A2 = 2 cm A – B = panjang punggung + 2 cm Titik B ke kanan 2 cm Titik A1 – A3 lebar bahu perpotongan dengan tinggi bahu II (B – A3) B – C = panjang sisi A2 – D = 8 cm D – D1 = ½ lebar punggung C – C1 = ¼ lingkar badan – 1 cm B – B1 = ¼ lingkar pinggang –1cm +3cm (kup) Hubungkan A3 – D1 – C1 = garis lingkar kerung lengan Pola dasar rok Pola belakang Pola depan Keterangan: Keterangan : A – A1 = 2 cm Tarik garis tegak lurus a b c a-a1 = 2cm A – A2 = ¼ lingkar pinggang –1cm a-a2 = ¼ lingkar pinggang +1cm + 3 cm (kup) +3cm (kup) A1 – B = tinggi panggul a1-c = panjang rok A1 – B = tinggi panggul c-c1 = b – b1 + 3 cm B – B1 = ¼ lingkar panggul –1cm A1 – C = panjang rok C – C1 = B – B1 + 3 cm .138 Pola Badan Pola Depan / Muka Keterangan: Tarik tegak lurus ab a-a1 = 6 cm atau 7 cm a-b = panjang dada I = panjang dada II a2-b titik b naik 2 cm = b1 titik a1 – a3 lebar bahu berpotongan dengan tinggi bahu I (b – a3) b1-c = panjang sisi a2.d = 7 cm d .

139 Pola Dasar Lengan Keterangan: Tarik garis lurus ABCD A–B A–C A–D A – B1 A – C1 C – C1 D–D1 B – B1 = titik puncak = 12 cm = panjang lengan sampai siku = panjang lengan sampai nadi = ½ kerung lengan kanan / kiri = ½ lingkar siku kanan/kiri = ½ lingkar siku kanan/kiri = ½ lingkar nadi = sebagai kontrol = ½ lingkar pangkal lengan = 4 cm .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful