P. 1
SKRIPSI DEWI HAPSARI

SKRIPSI DEWI HAPSARI

|Views: 1,799|Likes:
Published by ve_dagadu

More info:

Published by: ve_dagadu on Nov 24, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/21/2013

pdf

text

original

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS RIAU FAKULTAS HUKUM PEKANBARU PELAKSANAAN PENGHAPUSBUKUAN UTANG DALAM PERJANJIAN KREDIT DI BANK

RAKYAT INDONESIA UNIT PANGKALAN KERINCI CABANG PEKANBARU

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Serta Melengkapi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (SI) Pada Fakultas Hukum Universitas Riau

OLEH : DEWI HAPSARI NIM. 0609113643 PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM EKONOMI FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2010
1

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN.............................................................................. LEMBAR PERSETUJUAN.............................................................................

i ii

KATA PENGANTAR....................................................................................... iii DAFTAR ISI...................................................................................................... vii ABSTRAK......................................................................................................... viii BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. ar Belakang Masalah..................................................................... B....................................................................................................Ru musan Masalah.............................................................................. uan Penelitian................................................................................ nfaat Penelitian.............................................................................. 8 8 9 C....................................................................................................Tuj D....................................................................................................Ma E....................................................................................................Ker angka Teori dan Kerangka Konseptual......................................... 10 F.....................................................................................................Met ode Penelitian................................................................................ 21 BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... 25 A....................................................................................................Tinj auan Mengenai Perjanjian Kredit.................................................. 25 B....................................................................................................Tinj auan Mengenai Hak Tanggungan.................................................. 56 C....................................................................................................Tinj auan Umum Tentang Bank BRI.................................................... 68 BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN............................... 80 1 1 A....................................................................................................Lat

2

A....................................................................................................P elaksanaan Penghapus Bukuan Utang di Bank BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru.......................................... ....................................................................................................... 80 B....................................................................................................A kibat Penghapus Bukuan atau Mandatory Write-Off Terhadap Bank BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru................. ....................................................................................................... 95 BAB IV PENUTUP.......................................................................................... 97 A....................................................................................................Kes impulan.......................................................................................... 97 B....................................................................................................Sar an-Saran......................................................................................... 98 DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 100 LAMPIRAN ABSTRAK Penelitian ini berjudul AKIBAT HUKUM PENGHAPUSBUKUAN UTANG DALAM PERJANJIAN KREDIT DI BANK BRI UNIT PANGKALAN KERINCI CABANG PEKANBARU. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya debitur yang melakukan wanprestasi, yang ditunjang dengan kurang telitinya pihak bank dalam melakukan analisis terhadap calon debitur yang akhirnya menimbulkan permasalahan yang serius terhadap kredit yang telah diberikan bank, dan karenanya diperlukan penanganan secara khusus. Permasalahan utama yang ingin dijawab dengan penelitian ini adalah pelaksanaan penghapusbukuan utang atau mandatory write-off di bank BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru, serta apa akibat hukum penghapusbukuan utang atau mandatory write-off terhadap bank BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan Yuridis Normatif mengingat bahwa yang akan diungkap adalah masalah aturan dan norma yakni bagaimana ketentuan atau prosedur pelaksanaan penghapusbukuan utang di bank BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru. Penggalian data dilakukan dengan wawancara terhadap tokoh kunci sebagai responden, disertai dengan melakukan studi kepustakaan. 3

Hasil penelitian ini menunjukkan, prosedur pelaksanaan penghapusbukuan utang di bank BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebagaimana mestinya, dimana sebelum terjadi penghapusbukuan tersebut pihak bank telah melakukan berbagai upaya penyelamatan kredit hingga akhirnya kredit tidak dapat diselamatkan lagi. Dengan terjadinya penghapusbukuan utang pihak bank tidak berarti kehilangan hak tagihnya kepada debitur karena secara yuridis kredit tersebut masih merupakan asset bank yang tetap harus ditagih pelunasannya. Dan terhadap jaminan yang diajukan debitur sebagai agunan akan tetap menjadi hak bank meskipun kreditnya telah dihapusbukukan.

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pada masa pembangunan perekonomian di Indonesia seperti sekarang ini, secara nyata dapat dilihat bahwa perkembangan yang sangat pesat adalah di bidang perbankan. Dan bidang ini merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tujuan pembangunan nasional yaitu mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang berkesinambungan, dan peningkatan pelaksanaan pembangunan nasional yang

4

berdasarkan kekeluargaan yang senantiasa perlu dipelihara dengan baik. Guna mencapai tujuan tersebut maka pelaksanaan pembangunan ekonomi harus lebih memperhatikan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan unsur-unsur

pemerataan, pembangunan ekonomi dan stabilitas nasional. Berdasarkan tujuan pembangunan nasional dibidang perekonomian diatas, Negara telah mempercayakan suatu lembaga resmi yaitu lembaga perbankan guna mencapai tujuan nasional tersebut, yang fungsinya adalah mengelola,

menghimpunan dan menyalurkan dana kemasyarakat. Sehingga dengan adanya lembaga perbankan tersebut maka pemerintah telah memperkecil kemungkinan adanya rentenir-rentenir yang dapat merugikan masyarakat yang memerlukan modal tersebut.1 Berdasarkan Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 yang berbunyi : Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Salah satunya adalah BRI. BRI didirikan berdasarkan UU Nomor 21 Tahun 1968. Sesuai dengan Pasal 7 UU No 21 Tahun 1968 maka tugas dan usaha BRI diarahkan pada perbaikan ekonomi rakyat dan pembangunan nasional dengan jalan melakukan usaha bank umum. BRI diharapkan dapat menjadi subyek hukum yang merupakan lembaga keuangan yang diharapkan mempunyai peranan yang sangat besar dalam memacu perekonomian masyarakat. Usaha pokok Bank adalah sektor perkreditan dan pendapatan bank yang terbesar adalah berasal dari sektor perkreditan. Kredit, baik konsumtif maupun produktif memang sudah mejadi target utama perbankan dalam meraih
1

H. Malayu SP. Hasibuan, Dasar-dasar Perbankan, Bumi Aksara, Jakarta: 2004, hal.3

5

pendapatan. Dengan demikian, kelebihan dana masyarakat yang bisa membuat bank memiliki dana idle yang akan lebih produktif lagi karena diberikan dalam bentuk kredit.Walaupun sudah dilakukan analisis kredit, dan kredit sudah dinyatakan layak untuk diberikan kepada calon debitur, kemungkinan

pengembaliannya kelak mengalami kemacetan selalu ada. Dalam menilai suatu permintaan kredit biasanya sebuah bank berpedoman pada beberapa factor yang dikenal dengan The Five C’s of Credit, antara lain :2 1. Character (Watak) 2. Capacity (Kemampuan Dalam Mengelola Usaha) 3. Capital (Modal) 4. Condition of Economic (Kondisi ekonomi dan Prospek Usaha) 5. Collateral (Agunan) Dengan memperhatikan The Five C’s of Credit, pihak bank akan memakainya sebagai pertimbangan untuk memberikan kredit pada para calon debitur agar debitur tersebut dapat menepati janji karena kelima syarat itu merupakan ukuran kemampuan debitur untuk mengembalikan uangnya. Sehingga bagi pihak sendiri itu merupakan alat pengaman atas kemungkinan terjadinya resiko/kerugian. Sedangkan keberadaan jaminan kredit (Collateral) merupakan persyaratan guna memperkecil resiko bank dalam menyalurkan kredit. Pada prinsipnya dalam penyaluran kredit tidak selalu harus dengan jaminan, sebab jenis usaha dan peluang bisnis yang ada sudah merupakan jaminan terhadap kredit itu sendiri. Hanya saja jika suatu kredit dilepas tanpa agunan, maka akan beresiko besar jika
2

Warman Djohan, Kredit Bank, Mutiara Sumber Widya, Jakarta: 2000, hal.106

6

investasi yang dibiayai mengalami kegagalan atau tidak sesuai dengan perhitungan semula. Pada prinsipnya pemberian Hak tanggungan selalu disertai dengan perjanjian utang piutang atau perjanjian lainnya yang menerbitkan kewajiban pembayaran utang tertentu. Dan dengan tujuan untuk menjamin pelunasan utang piutang inilah maka penjamin dengan hak tanggungan diberikan.3 Adapun penggunaan kredit adalah penting sebagaiman yang dikemukakan oleh seorang sarjana : Setiap usaha apakah itu disektor industri, perdagangan, pertanian atau perhubungan, besar atau kecil memerlukan kredit yang berfungsi sebagai faktor produksi sehingga melalui bantuan kredit bank, uasaha akan semakin besar dan berkembang.4 Pengambilan kredit yang dapat menunjang akan kebutuhan modal kerja untuk mencukupi dan mencapai tujuan usaha dapat diperoleh dengan mudah dengan menggunakan bunga yang rendah yang bertujuan agar nasabah tidak terlalu berat dibebani atas bunga dan cicilan utangnya. Namun dalam hal ini debitur yang mengambil kredit juga tidak boleh ceroboh dalam menggunakan pinjaman dana yang telah diberikan oleh bank, tetapi debitur itu juga harus berpikir bagaimana cara mengembalikan kredit yang telah diambilnya sesuai dengan yang diperjanjikan sehingga nasabah itu terhindar dari kredit macet. Jika hal ini terjadi maka pihak bank akan dirugikan, sebab dana yang disalurkan kemungkinan tidak dapat dikembalikan oleh debitur. Berarti kredit tersebut macet tanpa ada aset dari debitur yang dapat menutup kredit yang tidak terbayar. Sementara itu apabila ada agunan, maka pihak bank dapat menarik
3 Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Jaminan Fiducia, Ctk Kedua, RajaGrafindo Persada, Jakarta: 2001, hal. 108 4 Muchdarsyah Sinungan, Dasar-dasar dan Teknik Manajemen Kredit, Bumi aksara, Jakarta: 1991, hal. 1

7

kembali dana yang disalurkan dengan memanfaatkan jaminan tersebut. Lebih dari itu, jaminan kredit oleh calon debitur/debitur diharapkan dapat membantu memperlancar proses analisa pemberian kredit bank. Mengenai jaminan yang diperlukan bagi pihak bank untuk pelunasan utang ini diperlukan persetujuan mengenai lembaga hak jaminan yang digunakan. Dalam hal ini, kerena pihak debitur memberikan jaminan yang berupa benda tidak bergerak yaitu tanah maka lembaga hak jaminan yang berlaku atasnya adalah ketentuan hak tanggungan yang diatur dalam UU Nomor 4 Tahun 1996. Defenisi Hak Tanggungan dapat dilihat dalam pasal 1 angka 1 UndangUndang Hak Tanggungan yang berbunyi : Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah, yang selanjutnya disebut Hak Tanggungan, adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok –Pokok Agraria, berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lain. Dalam kenyataan, meskipun bank telah melakukan berbagai upaya untuk memperkecil kerugian yang timbul sebagai akibat dari debitur yang wanprestasi baik itu melakukan seleksi terhadap para penerima kredit termasuk jaminannya juga melakukan pengawasan kredit yang dilakukan sejak kredit itu diberikan serta memberi kemudahan-kemudahan mengenai syarat-syarat, prosedur serta bunga yang ringan namun tetap saja banyak debitur yang melakukan wanprestasi, baik itu disebabkan keadaan debitur sendiri yang tidak mempunyai kemauan untuk membayar dan melunasi kredit yang telah diterimannya juga penggunaan kredit yang salah yaitu penggunaannya yang tidak sesuai dengan permintaan semula 8

ataupun faktor-faktor lain yang akan mengakibatkan suatu kerugian bagi kreditur karena akan terjadi tunggakan pembayaran atau kredit macet. Meskipun pihak BRI unit pangkalan kerinci cabang Pekanbaru dalam memberikan suatu fasilitas kredt kepada seorang debitur telah benarbenar didasarkan pada prinsip kehati-hatian dan asas-asas perkreditan yang sehat serta didukung oleh itikad baik dari para pejabat kredit, namun kemungkinan timbulnya kredit bermasalah tetap ada mengingat bahwa pemberian kredit mengandung resiko yang tinggi tidak kembalinya

sebagian/seluruh kredit beserta bunganya. Terbukti dari data kolektibilitas pinjaman dan outstanding BRI Unit Pangkalan Kerinci pada posisi 30 April 2009 menunjukan bahwa kredit mengalami permasalahan dalam proses pengembalian, yaitu adanya debitur yang tidak membayar kredit

sampai tanggal jatuh tempo. Adapun besar kredit dengan kolektibilitas kurang lancar sebesar Rp. 5.862.859,- atau 2 nasabah, kolektibilitas diragukan sebesar Rp. 14.873.690,- atau 8 nasabah dan kolektibilitas macet sebesar Rp.74.966.607,- atau 13 nasabah. Akibat dari terjadinya tunggakan pembayaran atau kredit macet di Bank BRI unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru adalah timbulnya masalah-masalah yang secara tidak langsung akan menghambat kelancaran usaha perkreditan. Dan ini memerlukan proses penyelesaian adalah dengan penghapusbukuan kredit macet atau Mandatory write-of yakni penghapusbukuan utang namun bukan berarti penghapusan utang seutuhnya. Akan tetapi meskipun kredit yang macet itu sudah dihapus dari pembukuan, piutang dari kredit yang macet itu tetap akan terus

9

ditagih oleh pihak bank BRI. Karena jika kredit macet itu dibiarkan tetap tercantum dalam pembukuan sedangkan kepastian kapan kredit yang macet bisa dilunasi masih menjadi teka-teki maka hal itu dapat menyababkan kinerja bank BRI menjadi buruk. Terjadinya kemacetan pengembalian kredit disebabkan oleh beberapa kesalahan/kelalaian dari pihak Bank sendiri atau dari pihak nasabah, atau karena keadaan memaksa (force majure) yang mengakibatkan penyelesaian dengan cara penghapusbukuan utang. Karena besarnya resiko dalam perkreditan, maka Bank Indonesia sebagai pemegang otoritas moneter mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia No. 9/6/PBI/2007 tentang perubahan atas Peraturan Bank Indonesia No. 7/2/PBI/2005 Tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank dalam Hal Hapus Buku Utang. Peraturan-peraturan yang digunakan Bank BRI dalam penanganan kredit macet juga didasarkan dengan Peraturan Bank Indonesia. Mekanisme Pelaksanaan penghapus bukuan yang dilakukan oleh Bank BRI dilakukan dengan peraturan intern Bank. Atas perintah Bank Indonesia yang memberikan wewenang pada Bank untuk menyelesaikan masalah penghapusan piutang kredit macet, maka mekanisme hapus buku yang dilakukan oleh Bank BRI. Maka dari itu, suatu kredit dapat dihapusbukukan apabila telah memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan seperti :5 a. Apabila kolektibilitas dari semua fasilitas yang dinikmati oleh seorang debitur telah macet dan usaha atau semua usaha yang dibiayai dengan fasilitas tersebut benar-benar macet.

5

Peraturan Intern Bank BRI, 2007

10

b. Telah diterbitkan surat ketetapan kredit macet sebagai piutang Negara yang untuk sementara belum dapat ditagih oleh BUPLN. c. Dokumen jaminan lemah (bukti pemilikan tidak lengkap). d. Hasil penjualan baik secara bawah tangan atau hasil pelelangan tidak dapat menutup seluruh kewajiban debitur. e. Jaminan tidak laku minimal telah melalui dua (2) kali pelelangan BUPLN. Masalahnya adalah jika suatu utang telah dihapus dalam pembukuan apakah pihak yang memberi utang (kreditur) dalam hal ini adalah pihak bank masih memiliki kekuatan hukum ketika harus menagih piutangnya? Dan bagaimana dengan jaminan yang diajukan oleh debitur apabila terjadi penghapusbukuan utang? Oleh karena itu, permasalahan ini menarik untuk diteliti dan akan penulis tuangkan dalam proposal yang berjudul “Akibat Hukum Penghapusbukuan Utang Dalam Perjanjian Kredit Pada Bank BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru”.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka pokok permasalah yang dapat dikemukakan untuk dikaji selanjutnya adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana pelaksanaan penghapusbukuan utang atau mandatory write-off di Bank BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru?

11

2. Bagaimana akibat hukum penghapusbukuan utang atau mandatory write-off terhadap hak dan kewajiban Bank BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru? C. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui pelaksanaan terjadinya penghapusbukuan utang di Bank BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru. 2. Untuk mengetahui apa akibat hukum penghapusbukuan utang atau mandatory write off terhadap hak dan kewajiban Bank BRI Unit Pangkalan Kerinci

Cabang Pekanbaru.

D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat memberikan manfaat dari dua (2) sisi secara teoritis maupun secara praktis yaitu : 1. Secara Teoritis Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan kajian lebih lanjut untuk berbagai konsep ilmiah yang pada waktunya nanti dapat memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dalam Hukum Perbankan dan pada Hak Tanggungan, khusunya didalam penyelesaian masalah dalam perjanjian kredit pada Bank BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru dalam kaitannya terhadap penyelesaian akibat hukum mengenai penghapusan utang. 2. Secara Praktis Penulis berharap bahwa tulisan ini dapat bermanfaat sebagi informasi dan pengetahuan bagi masyarat tentang upaya hukum yang dapat dilakukan apabila

12

terjadi masalah akibat hukum penghapusbukuan dalam perjanjian kredit pada bank nasional maupun bank swasta nasional lainnya. Serta dapat pula memberi manfaat atau perbandingan bagi penulis lain yang meneliti lebih lanjut dan mendalam.

E. Kerangka Teori dan Kerangka Konseptual 1. Kerangka Teori Teori berguna untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi,6 Menurut Soerjono Soekanto bahwa”Kontunuitas perkembangan ilmu hukum, selain tergantung pada metodologi, aktivitas penelitian dan imajanasi social sangat ditentukan oleh teori.7 a. Perbankan dan Kredit Pengertian perbankan adalah menurut Pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998, Perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut dengan bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.

6 J.J.J. M. Wuisman, dikutip dalam S. Mantayborbir, Sistim Hukum Pengurusan Piutang Negara, Pustaka Bangsa Press, Jakarta: 2004, hal.13 7 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia(UI Press),Jakarta: 1986, hal.6

13

Menurut Pasal 4 Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tujuan perbankan adalah menunjang pelaksanaan pembangunan Nasional dalam rangka

meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional kearah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak. Pengertian bank adalah “Badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka menigkatkan taraf hidup rakyat banyak”8 Adapun yang menjadi kegiatan utama suatu bank adalah mengimpun dana dari masyarakat melalui simpanan dalam bentuk tabungan, deposito berjangka, giro dan menyalurkan kembali dana yang dihimpun tersebut kepada masyarakat umum dalam bentuk kredit yang diberikan.9 Pembagian jenis bank adalah10: 1. Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. 2. Bank perkreditan rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa lalu lintas dalam pembayaran. Dalam hukum perbankan dikenal beberapa prinsip perbankan, yaitu prinsip kepercayaan ( fiduciary relation principle ), prinsip kehati-hatian ( prudential
8 Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 Perubahan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan 9 Martono, SU, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, Ekonisia, Yogyakarta: 2002, hal.28 10 Ibid

14

principle ), prinsip kerahasiaan ( secrecy principle), dan prinsip mengenal nasabah ( know how costumer principle ) 11 1. Prinsip kepercayaan(fiduciary reletion principle) Prinsip kepercayaan adalah suatu asas yang melandasi hubungan antara bank dan nasabah bank. Bank berusaha dari dana masyarakat yang disimpan berdasarkan kepercayaan, sehingga setiap bank perlu menjaga kesehatan banknya dengan tetap memelihara dan mempertahankan kepercayaan masyarakat. Prinsip kepercayaan diatur dalam Pasal 29 ayat (4) UU No 10 Tahun 1998. 2. Prinsip Kehatihatian ( prudential principle ) Prinsip kehati-hatian adalah suatu prinsip yang menegaskan bahwa bank dalam menjalankan kegiatan usaha baik dalam penghimpunan terutama dalam penyaluran dana kepada masyarakat harus sangat berhati-hati. Tujuan

dilakukannya prinsip kehati-hatian ini agar bank selalu dalam keadaan sehat menjalankan usahanya dengan baik dan mematuhi ketentuan-ketentuan dan norma-norma hukum yang berlaku di dunia perbankan. Prinsip kehati-hatian tertera dalam Pasal 2 dan Pasal 29 ayat (2) UU No 10 tahun 1998. 3. Prinsip Kerahasiaan ( secrecy principle) Prinsip kerahasiaan bank diatur dalam Pasal 40 sampai dengan Pasal 47 A UU No 10 Tahun 1998. Menurut Pasal 40 bank wajib merahasiakan keterangan
11

Rochmat Soemitro, Kumpulan Azas-azas Perbankan Indonesia, Bumi Aksara, Jakarta:1991, hal.185

15

mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya. Namun dalam ketentuan tersebut kewajiban merahasiakan itu bukan tanpa pengecualian. Kewajiban merahasiakan itu dikecualikan untuk dalam hal-hal untuk kepentingan pajak, penyelesaian utang piutang bank yang sudah diserahkan kepada badan Urusan Piutang dan Lelang / Panitia Urusan Piutang Negara (UPLN/PUPN), untuk kepentingan pengadilan perkara pidana, dalam perkara perdata antara bank dengan nasabah, dan dalam rangka tukar menukar informasi antar bank.

4. Prinsip Mengenal Nasabah ( know how costumer principle ) Prinsip mengenal nasabah adalah prinsip yang diterapkan oleh bank untuk mengenal dan mengetahui identitas nasabah, memantau kegiatan transaksi nasabah termasuk melaporkan setiap transaksi yang mencurigakan. Prinsip mengenal nasabah nasabah diatur dalam Peraturan Bank Indonesia No.3/1 0/PBI/2001 tentang Penerapan Prinsip Mengenal nasabah. Tujuan yang hendak dicapai dalam penerapan prinsip mengenal nasabah adalah meningkatkan peran lembaga keuangan dengan berbagai kebijakan dalam menunjang praktik lembaga keuangan, menghindari berbagai kemungkinan lembaga keuangan dijadikan ajang tindak kejahatan dan aktivitas illegal yang dilakukan nasabah, dan melindungi nama baik dan reputasi lembaga keuangan. b. Kredit

16

Istilah kredit berasal dari bahasa Romawi yaitu credere yang berarti kepercayaan. Oleh karena itu dasar dari kredit adalah kepercayaan. Seseorang atau suatu badan yang memberikan kredit percaya bahwa penerima kredit pada masa yang akan datangakan sanggup memenuhi segala sesuatu yang telah dijanjikan. Apa yang dijanjikan itu dapat berupa barang, uang atau jasa.12 Adapun pendapat ahli mengenai pengertian kredit adalah: suatu ukuran kemampuan dari seseorang untuk menapatkan sesuatu yang bernilai ekonomis sebagai ganti dari janjinya untuk membayar kembali hutangnya pada tanggal tertentu.13 Pengertian kredit menurut Undang-undang Perbankan nomor 10 Tahun 1998 adalah: Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjamantara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Menurut Muchdarsyah Sinungan setiap pemberian kredit harus dibuatkan suatu perjanjian tertulis antara bank dengan calon debitur. Dalam perjanjian kredit dicantumkan segala hak dan kewajiban kedua belah pihak dalam garis besarnya tercantum hal-hal yang menyangkut syarat-syarat pelaksanaan kredit, pembayaran kembali, pengikatan jaminan dan jumlah serta lamanya fasilitas.14 Unsur-unsur yang terdapat dalam kredit adalah:15

Thomas Suyatno, dkk, Dasar-Dasar Perkreditan, PT. Gramedia, Jakarta: 1990, hal.11 Mariam Darus Badrulzaman, Perjanjian Kredit Bank, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung:1991, hal21 14 Muchdarsyah Sinungan, Dasar-dasar dan Teknik Manajemen Kredit, Bumi Aksara, Jakarta:1993, hal.134-136 15 H.A,Chalik, Pengantar Perkreditan, PT. Gramedia, Jakarta:1991, hal.13
13

12

17

1. Kepercaayaan, yaitu keyakinan dari sipmberi kredit bahwa prestasi yang diberikannya baik dalam bentuk uang atau jasa, akan bener-benar

diterimanya kembali dalam jangka waktu tertentu dimasa yang akan datang. 2. Waktu, yaitu suatu masa pengembalian hutang yang akan diberikan oleh debitur. 3. Degree of risk, yaitu tingkat resiko yang akan dihadapi sebagai akibat dari jangka waktu untuk pengembalian kredit yang dilakukan oleh debitur. 4. Prestasi, atau objek kredit itu tida saja diberikan dalam bentuk uang, tetapi juga dapat berbntuk barang atau jasa. c. Perjanjian Adapun yang dimaksud dengan perikatan dalam Buku Ketiga KUHPerdata ialah “ Semua hubungan hukum antara dua pihak dalam lapangan harta kekayaan dimana pihak yang pertama berhak untuk menuntut sesuatu dan pihak yang lain berkewajiban memenuhi kewajiban itu”. Sekanjutnya mengenai perikatan itu menurut Subekti adalah “ Suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu “.16 Perjanjian merupakan sumber terpenting dari suatu perikatan seperti yang dinyatakan dalam pasal 1223 KUHPerdata yang menyatakan tiap-tiap perikatan dilahirkan baik karena persetujuan dan juga karena undang-undang.

16

R. Subekti, Hukum Perjanjian, ctk. Kesembilanbelas, Jakarta: 2002, hal. 1

18

Pengertian perjanjian dalam Pasal 1313 KUHPerdata disebutkan sebagai berikut : Suatu persetujuan adalah perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. Menurut M. Yahya Harahap perjanjian atau Verbintenis adalah:”suatu hubungan hukum kekayaan/harta benda antara dua orang atau lebih, yang memberi kekuatan hak pada sutu pihak untuk memperoleh prestasi dan sekaligus mewajibkan pada pihak lain untuk menunaikan prestasi.17 Suatu perjanjian harus memenuhi syarat-syarat sahnya perjanjian dimana dengan dipenuhi syarat-syarat tersebut maka suatu perjanjian menjadi sah dan mengikat secara hukum bagi para pihak yang membuatnya, syarat-syarat sahnya perjanjian menurut Pasal 1320 KUHPerdata adalah:18 1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya 2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan/perjanjian 3. Suatu hal tertentu 4. Suatu sebab yang halal d. Jaminan Mengenai pengertian jaminan secara umum”Jaminan adalah sesuatu yang diberikan oleh debitur kepada kreditur baik yang bersifat materil maupun yang immaterial guna menimbulkan kepercayaan dan keyakinan kepada kreditur untuk kepastian hutang tepat waktunya sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati bersama”19 Adapun pengertian jaminan menurut undang-undang KUHPerdata pasal 1131 adalah:Jaminan adalah segala kebendaan siberhutang, baik yang bergerak
M. Yahya Harahap, Segi-segi Hukum Perjanjian, Alumni, Bandung: 1986, hal. 6 Mariam Darus Badrulzaman, Kompilasi Hukum Perikatan, PT.Citra Aditya Bakti, Bandung: 2001, hal. 73 19 R. Subekti, Hukum Jaminan untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung:1989, hal.15
18 17

19

maupun yang tidak bererakbaik yang ada maupun yang baru aka nada dikemudian hari menjadi tanggungan untuk segala perikatan perseorangan”. Berdasarkan pasal 1131 diatas tujuan dari keberadaan suatu barang jaminan maka terhadap barang jaminan tersebut tidak diberlakukan pejanjian jual beli karena barang jaminan bukan untuk dimiliki oleh kreditur sehingga tidak adanya peralihan hak milik atas suatu barang jaminan dari debitur kepada kreditur dengan jual beli kecuali dengan pelelangan.barang jaminan dipergunakan untuk melunasi hutang dengan cara sebagaimana diatur dalam peraturan yang berlaku yaitu melalui proses pelelangan, dimana hasil pelelangan tersebut dibayarkan untuk melunasi utang dan apabila ada sisa akan dikembalikan kepada kreditur.20 Sedangkan pengertian jaminan kredit adalah ”Bentuk penanggungan dimana seorang penanggung (perorangan)menanggung untuk memenuh utang debitur sebesar sebagaimana yang tercantum dalam perutangan pokok”.21 Pada umumnya jenis-jenis jaminan menurut sifatnya, menurut

objeknya,menurut kewenangan menguasainya dan lain-lain sebagai berikut :22 1. Jaminan yang lahir karena ditentukan oleh undang-undang dan jaminan yang lahir karena perjanjian. 2. Jaminan yang tergolong jaminan umum dan jaminan khusus. 3. Jaminan yang bersifat kebendaan dan jaminan yang bersifat perorangan, 4. Jaminan yang mempunyai objek benda bergerak dan jaminan atas benda tidak bergerak.

Mariam Darus Badrulzaman, op.cit, hal 21 Sri Soedewi Masjohoen Sofwan, Hukum Jaminan Di Indonesia, Liberti Offset, Yogyakarta:1981, hal 42 22 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Op. cit, hal 43
21

20

20

5. Jaminan yang menguasai bendanya dan jaminan tanpa menguasai bendanya.

e. Hapusnya utang Sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 1381 KUHPerdata pembebasan hutang adalah:”Suatu perbuatan yang dilakukan oleh kreditor yang membebaskan debitordari kewajibannya untuk memenuhi prestasi, atau utang berdasarkan pada perikatannya kepada kreditor tersebut”. Pembebasab hutang menghapuskan perikatan yang melahirkan utang yang sedianya harus dipenuhi atau dilaksanakan oleh debitur tersebut. Adapun cara-cara mengenai hapusnya utang sama halnya dengan hapusnya perikatan:23 1. Karena pembayaran 2. Karena penawaran pembayaran tunai, diikuti dengan penyimpanan atau penitipan 3. Karena pembaharuan utang 4. Karena perjumpaan utang atau kompensasi 5. Karena percampuran utang 6. Karena pembebasan utang 7. Karena musnahnya barang yang terutang 8. Karena kebatalan atau pembatalan 9. Karena berlakunya suatu syarat batal 10. Karena lewatnya waktu f. Hak tanggungan
Maryati Bachtiar, Hukum Perikatan, Pusat Pengembangan Pendidikan Universitas Riau, Pekanbaru:2007, hal.77
23

21

Menurut pasal 1 ayat (1)UUHT menyatakan bahwa Hak Tanggngan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah, yang selanjutnya disebut Hak Tanggungan adalah:”hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria(UUPA), berikut atau tidak berikut bendabenda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur lain”.24 Penjelesan pasal 1 ayat(1) UUTH menyebutkan bahwa hak tanggungan adalah hak jaminan atas tanah untuk pelunasan utang tertentu yang memberikan kedudukan diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur lainnya, dalam arti bahwa jika debitur cidera janji, kreditur pemegang hak tanggungan berhak menjual melalui pelelangan umum tanah yang dijadikan jaminan ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan dengan hak mendahului daripada kreditur-kreditur yang lain dengan batasan tidak mengurangi preferensi piutang-piutang Negara menurut ketentuan yang berlaku. Asas ini tersirat dengan jelas dalam pasal 1 ayat (1) UUTH yang selanjutnya diperjelas dalam penjelasan Umum Angka 4, artinya bahwa jika debitur cidera janji, kreditur pemegang hak Tanggungan berhak menjual melalui pelelangan umum tanah yang dijadikan jaminan menurut ketentuan perundang-undangan yang bersangkutan dengan hak mendahului daripada kreditur-kreditur lainnya, tanpa mengurangi preference piutang-piutang Negara menurut ketentuanketentuan hukum yang berlaku.
24

Undang-undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan

22

2. Kerangka Konseptual Konsepsi adalah adalah salah satu bagian terpenting dari teori. Peranan konsep dalam penelitian adalah untuk menghubungkan dunia teori dan observasi, antara abstraksi dengan realitas. Suatu konsep merupakan abstraksi mengenai suatu fenomena yang dirumskan atas dasar generalisasi dari sejumlah karakteristik kejadian, keadaan, kelompok atau individu tertentu. Agar lebih memberikan arah dan tidak menimbulkan salah pengertian yang berbeda dalam penelitian ini maupun dalam pembahasanya secara lebih lanjut maka penulis merasa perlu untuk memberikan penegasan dari pengertian judul diatas. Penghapusbukuan adalah kegiatan untuk menghapuskan suatu piutang Bank dari administrasi penyerah piutang yang didasarkan alasan-alasan tertentu tidak dapat ditagih dan tidak menghapuskan hak tagih.25 Utang adalah uang atau jasa yang dipinjamkan oleh pihak lain, merupakan kewajiban resmi dari sebuah usaha yang timbal balik dari perjanjian tertulis maupun lisan.26 Kredit adalah perjanjian pinjam meminjam uang antara bank sebagai kreditur dengan nasabah sebagai debitur, berdasarkan kepada kepercayaan terhadap nasabah dalam tenggang waktu yang telah disepakati untuk mengembalikan pinjaman.27

25 26

Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 302/kmk.01 Tahun 2002 Joel G. Siegel, Aspek Hutang Dalam Perjanjian Kredit, PT. Gramedia, Jakarta: 1994,

hal.128 Eugenia Liliawati Muljono,Tinjauan Yuridis Undang-undang no 4 Tahun 1996 Dalam Kaitanya Dengan Pemberian Kredit Oleh Perbankan,Harvindo, Jakarta:2003, hal.8
27

23

Perjanjian adalah peristiwa seseorang berjanji pada orang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melakukan suatu hal.28 Perjanjian Kredit dalam skripsi ini adalah suatu perjanjian pinjam meminjam uang dimana dalam hal ini Bank BRI sebagai krediturnya atau penyalur Kredit dan nasabah sebagai debitur atau penerima kredit. Nasabah adalah orang yang mendapat kredit dari Bank BRI Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Bank BRI unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru adalah nama dari bank umum yang merupakan usaha BUMN, yang menjalankan berbagai layanan kepada masyrakat dalam bidang perekonomian termasuk penyaluran kredit dengan jaminan Hak Tanggungan Hak Tanggungan adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah untuk pelunasan utang tertentu yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur lain.29

F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian Untuk mendapatkan data yang diperlukan sesuai dengan masalah yang diteliti maka dalam hal ini penulis menggunakan metode penelitian yang bila
28 29

R. Subekti, Op. cit, hal.122 Undang-undang No 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan

24

dilihat dari jenisnya, maka penelitian ini dapat digolongkan kedalam penelitian observational research dengan cara survey. Penelitian observational research adalah pengumpulan data dilapangan dengan menggunakan alat pengumpulan data berupa wawancara tentang bagaimana prosedur penghapusbukuan hutang pada bank BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru. Sedangkan dilihat dari sifatnya, penelitian ini bersifat deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang hak dan kewajiban yang dibebankan kepada kreditur serta bagaimana penyelesaian wanprestasi terhadap kredit yang disalurkan oleh bank dengan jaminan Hak Tanggungan pada bank BRI unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru.

1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Pangkalan Kerinci tempat kedudukan bank BRI unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru, adapun yang menjadi alasan penulis melakukan penelitian ditempat ini dikarenakan bank BRI unit Pangkalan Kerinci merupakan salah satu bank BUMN yang melakukan pemberian kredit dan penulis memiliki kemudahan dalam mendapatkan data dibandingkan dengan bank swasta lainnya. 2. Populasi dan Sampel Tabel 1.1 Keadaan Populasi dan Sampel No RESPONDEN JUMLAH 1 Kepala bagian kredit Bank 1 BRI 25 SAMPLE PERSENTASE 1 100%

2

Kepala Kantor BUPLN

1

1

100%

Responden dalam penelitian ini adalah dari pihak bank BRI 1 orang, dalam hal ini diwakili oleh Kepala Bagian Kredit, Kepala Kantor BUPLN Pekanbaru. 3. Metode dan Alat Pengumpul Data Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan analisis dan kontruksi yang dilakukan secara metodologis, sistematis dan konsisten. Yang dimaksud dengan “metodologis berarti sesuai dengan metode atau cara tertentu, sistematis adalah berdasarkan suatu system, konsisten berarti tidak adanya hal-hal yang bertentangan dengan suatu kerangka tertentu”30 Pada dasarnya penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan

menganalisanya. Kecuali itu,maka juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam gejala yang bersangkutan. Dilihat dari metode pendekatanya, penelitian ini dilakukan dengan mempergunakan pendekatan yuridis-normatif, yang dapat diartikan sebagai penelitian mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan perjanjian kredit bank dalam penyelesaian

penghapusbukuan hutang dalam perjanjian kredit di bank BRI. a. Data primer yaitu data yang diperoleh penulis dari hasil kerja penelitian lapangan atau riset.
Tatang M. Amirin, Menyusun Rencana Penelitian, Raja Grafindo Persada, Jakarta: 2000, hal 92
30

26

b.

Data Sekunder yaitu data yang diperoleh penulis berdasarkan literature, hasil penelitian, jurnal, surat kabar, majalah serta makalahmakalah yang berkaitan dengan materi skripsi dan yang mendukung data primer.

Adapun yang menjdi alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah: a. Wawancara, yaitu komunikasi dua arah antara peneliti dengan responden untuk memperoleh data primer dengan lebih cepat dan memperoleh keyakinan bahwa penafsiran yang diberikan oleh responden adalah benar. Wawancara dilakukan dengan membuat daftar pertanyan secara urut dan sistematis sesuai dengan yang telah dipersiapkan. b. Studi Pustaka, yaitu metode pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh data sekunder dengan cara menggali sumber-sumber tertulis, baik dari instansi yang terkait, maupun buku literatur yang ada relevansinya dengan masalah penelitian yang digunakan sebagai kelengkapan penelitian.

4. Analisis Data Berdasarkan permasalahan dan tujuan dari peneliti yang telah dikemukakan oleh penulis, maka penelitian ini bersifat deskriptif analisis artinya bahwa penelitian ini termasuk dalam lingkup penelitian yang menggambarkan mendeskripsikan, menelaah dan menjelaskan secara tepat serta menganalisis dan menyeleksi data yang diperoleh sehingga akan diketahui gambaran mengenai halhal yang diperlukan dan kemudian disimpulkan.

27

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Mengenai Perjanjian Kredit 1. Pengertian Kredit Dalam bahasa latin kredit disebut “credere” yang artinya percaya. “Maksudnya” si pembeli kredit percaya kepada penerima kredit, bahwa kredit yang disalurkannya pasti akan dikembalikan sesuai perjanjian. Sedangkan bagi si penerima kredit berarti menerima kepercayaan, sehingga mempunyai kewajiban untuk membayar kembali pinjaman tersebut sesuai dengan jangka waktunya. Oleh karena itu, untuk meyakinkan bank bahwa si nasabah benar-benar dapat dipercaya, maka sebelum kredit diberikan terlebih dahulu bank mengadakan analisis kredit. Analisis kredit mencakup latar belakang nasabah atau perusahaan, prospek usahanya, jaminan yang diberikan serta faktor-faktor lainnya. Tujuan analisis ini adalah agar bank yakin bahwa kredit yang diberikan benar-benar aman. Pemberian kredit tanpa analisis terlebih dahulu akan sangat membahayakan bank. Nasabah dalam hal ini dengan mudah memberikan data-data fiktif, sehingga mungkin saja kredit sebenarnya kredit tidak layak, tetapi malah diberikan. Kemudian jika salah dalam menganalisis, maka kredit yang disalurkan yang

28

sebenarnya tidak layak menjadi layak sehinnga akan berakibat sulit untuk ditagih alias macet31 Pengertian kredit menurut Undang-undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 adalah: Penyediaan utang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan piha lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Sedangkan pengertian pembiayaan adalah dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil. Dari pengertian di atas dapatlah disimpulkan bahwa kredit atau pembiayaan dapat berupa uang atau tagihan yang nilainya diukur dengan uang. Contoh berbentuk tagihan(kredit barang), misalnya bank membiayai kredit untuk pembelian rumah atau mobil. Kredit ini berarti nasabah tidak memperoleh uang tetapi rumah, karena bank membayar langsung kepada developer dan nasabah hanya membayar cicilan rumah tersebut setiap bulan. Kemudian adanya kesepakatan antara bank(kreditur) dengan nasabah penerima kredit(debitur) bahwa mereka sepakat sesuai dengan perjanjian yang telah dibuatnya. Dalam perjanjian kredit tercakup hak dan kewajiban masing-masing pihak, termasuk jangka waktu serta bunga yang ditetapkan bersama. Demikian pula dengan

Mariam Darus Badrulzaman, Beberapa Masalah dalam Perjanjian Kredit Bank dengan Jaminan Hypothek serta Hambatan-hambatannyadalam Praktek di Medan, Ctk. Kelima, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1991: hal.23

31

29

masalah sanksi apabila si debitur ingkar janji terhadap perjanjian yang sudah dibuat bersama. Yang menjadi perbedaan antara kredit yang diberikan oleh bank berdasarkan konvensional dengan pembiayaan yang diberikan oleh bank berdasarkan prinsip syariah adalah terletak pada keuntungan yang diharapkan. Bagi bank berdasarkan prinsip konvensional keuntungan yang diperoleh melalui bunga, sedangkan bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah berupa imbalan atau bagi hasil.

a. Unsur-unsur Kredit Dalam kata kredit mengandung berbagai maksud. Atau dengan kata lain dalam kata kredit terkandung unsur-unsur yang direkatkan menjadi satu. Sehingga jika kita bicara kredit maka termasuk membicarakan unsur-unsur yang terkandung didalamnya. Adapun unsur-unsur yang terkandung dalam pemberian suatu fasilitas kredit adalah sebagai berikut : 1. Kepercayaan Keprecayaan merupakan suatu keyakinan bagi sipemberi kredit bahwa kredit yang diberikan (baik berupa uang, barang atau jasa) benar-benar diterima kembali dimasa yang akan datang sesuai dengan jangka waktu kredit. Kepercayaan diberikan oleh bank sebagai dasar utama yang dilandasi mengapa suatu kredit berani dikucurkan. Oleh karna itu sebelum kredit dikucurkan harus dilakukan penelitian dan penyelidikan lebih dahulu secara mendalam tentang kondisi nasabah, baik secara intern maupun ektern. Penelitian dan penyelidikan

30

tentang kondisi pemohon kredit sekarang dan masa lalu, untuk menilai kesungguhan dan etiket baik nasabah terhadap bank. 2. Kesepakatan Disamping unsur percaya di dalam kredit juga mengandung unsur kesepakatan antara si pemberi kredit dengan si penerima kredit. Kesepakatan ini dituangkan dalam suatu perjanjian dimana masing-masing pihak menandatangani hak dan kewajibanya masing-masing. Kesepakatan ini kemudian dituangkan dalam akad kredit dan ditandatangani oleh kedua belah pihak sebelum kredit dikucurkan. 3. Jangka waktu Setiap kredit yang diberikan memiliki jangka waktu tertentu, jangka waktu ini mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati. Jangka waktu tersebut biasa berbentuk jangka pendek(dibawah 1 tahun), jangka menengah(1 sampai 3 tahun) atau jangka panjang(diatas 3 tahun). Jangka waktu merupakan batas waktu pengembalian angsuran kredit yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak. Untuk kondisi tertentu jangka waktu ini dapat diperpanjang sesuai kebutuhan. 4. Resiko Akibat adanya jangka waktu, maka pengembalian kredit akan memungkinkan suatu resiko tidak tertagihnya atau macet pemberian suatu kredit. Semakin panjang suatu jangka jangka waktu kredit, maka semakin besar resiko, demikian pula sebaliknya. Resiko ini menjadi tanggungan bank, baik resiko yang disengaja oleh nasabah, maupun resiko yang tidak disengaja, misalnya

31

karena bencana alam atau bangkrutnya usaha nasabah tanpa ada unsur kesengajaan lainnya, sehingga nasabah tidak mampu lagi melunasi kredit yang diperolehnya. 5. Balas Jasa Bagi bank balas jasa merupakan keuntungan atau pendapatan atas pemberian suatu kredit. Dalam bank konvensional balas jasa dikenal dengan nama bunga. Disamping balas jasa dalam bentuk bunga bank juga membebankan kepada nasabah biaya administrasi kredit yang juga merupakan keuntungan bank. Bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah balas jasanya ditentukan dengan bagi hasil.

b. Tujuan dan Fungsi Kredit Pemberian suatu fasilitaskredit mempunyai beberapa tujuan yang hendak dicapai yang tentunya tergantung dari tujuan bank itu sendiri. Tujuan pemberian kredit juga tidak akan terlepas dari misi bank tersebut didirikan. Dalam praktiknya tujuan pemberian suatu kredit sebagai berikut : 1. Mencari keuntungan Tujuan utama pemberian kredit adalah untuk memperoleh keuntungan. Hasil keuntungan ini diperoleh dalam bentuk bunga yang diterima oleh bank sebagai balas jasa dan biaya administrasi kredit yang dibebankanpada nasabah. Keuntungan ini penting untuk kelangsungan hidup bank. Bagi bank yang terus menerus menderita kerugian maka besar kemungkinan bank tersebut akan dilikuidir(dibubarkan). Oleh karena itu sangat penting bagi bank untuk

32

memperbesar keuntungan mengingat biaya operasional bank juga relatif cukup besar. 2. Membantu usaha nasabah Tujuan selanjutnya adalah untuk membantu usaha nasabah yang memerlukan dana, baik dana investasi maupun dana untuk modal kerja. Dengan dana tersebut, maka pihak debiturakan dapat mengembangkan dan memperluas usahanya. Dalam hal ini baik bank maupun nasabah sama-sama diuntungkan. 3. Membantu pemerintah Tujuan lainnya adalah membantu pemerintah dalam berbagai bidang. Bagi pemerintah semakin banyak kredit yang disalurkan oleh pihak perbankan, maka akan semakin baik mengingat semakin banyak kredit yang diberikan berarti adanya kucuran dana dalam rangka peningkatan pembangunan diberbagai sektor, terutama sektor riil akan semakin meningkat pula. Disamping memiliki tujuan pemberian suatu fasilitas kredit juga memiliki suatu fungsi yang sangat luas. Fungsi kredit yang secara luas tersebut antara lain : 1. Untuk meningkatkan daya guna uang Dengan adanya kredit dapat meningkatkan daya guna uang, maksudnya jika uang hanya disimpan saja di rumah tidak akan menghasilkan sesuatu yang berguna. Dengan diberikannya kredit uang tersebut menjadi berguna untuk menghasilkan barang atau jasa oleh si penerima kredit. Kemudian juag dapat memberikan penghasilan tambahan kepada pemilik dana. 2. Untuk meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang

33

Kredit uang yang disalurkan melalui rekening giro menciptakan pembayaran baru seperti cek, giro bilyet dan wesel sehingga apabila pembayaranpembayaran dilakukan dengan cek, giro bilyet dan wesel maka akan dapat meningkatkan peredaran uang giral. Disamping itu, kredit perbankan yang ditarik secara tunai dapat pula meningkatkan peredaran uang kartal sehingga arus lalu lintas uang berkembang pula. 3. Untuk meningkatkan daya guna barang Dengan mendapatkan kredit, para pengusaha dapat memproses bahan baku menjadi barang jadi sehingga daya guna barang tersebut menjadi meningkat. 4. Meningkatkan peredaran barang Disamping itu, kredit dapat pula meningkatkan peredaran barang baik melalui penjualan secara kredit maupun dengan membeli barang-barang dari satu tempat dan menjualnya ketempat lain. Pembelian tersebut uangnya berasal dari kredit. Hal ini juga berarti kredit tersebut dapat pula meningkatkan manfaat suatu barang. 5. Sebagai alat stabilitas ekonomi Dengan memberikan kredit dapat dikatakan sebagai alat stabilitas ekonomi, karena dengan adanya kredit yang didirikan akan menambah jumlah barang yang diperlukan oleh masyarakat. Kredit dapat pula membantu mengekspor barang dari dalam negeri keluar negeri sehingga dapat meningkatkan devisa negara.

34

6. Untuk meningkatkan kegairahan berusaha Setiap orang yang berusaha selalu ingin meningkatkan usahanya, namun adakalanya dibatasi oleh kemampuan dibidang permodalan. Oleh karenanya dengan memperoleh kredit nasabah akan semakin bergairah untuk dapat memperbesar atau memperluas usahanya. 7. Untuk meningkatkan pemerataan pendapatan Semakin banyak kredit yang disalurkan maka akan semakin baik, terutama dalam hal meningkatkan pendapatan. Jika sebuah kredit diberikan untuk membangun pabrik, maka pabrik tersebut akan membutuhkan tenaga kerja, sehingga dapat pula mengurangi pengangguran. Dengan demikian mereka akan memperoleh pendapatan/penghasilan. Dan dengan tertampungnya tenagatenaga kerja tersebut maka pemerataan pendapatan akan meningkat pula. 8. Untuk meningkatkan hubungan internasional Bank-bank besar di luar negeri yang mempunyai jaringan usaha dapat memberikan bantuan dalam bentuk kredit bai secara langsung maupun tidak langsung kepada perusahaan-perusahaan di dalam negeri. Begitu juga negaranegara maju yang mempunyai cadangan devisa dan tabungan yang tinggi, dapat memberikan bantuan-bantuan dalam bentuk kredit pada negara-negara berkembang yang sedang membangun. Bantuan dalam bentuk kredit ini tidak saja dapat mempererat hubungan ekonomi antar negara yang bersangkutan tetapi juga meningkatkan hubungan internasional.

35

c. Jenis-jenis Kredit Jenis-jenis kredit yang ada sekarang tidak dapat dipisahkan dari kebijakan perkreditan yang digariskan sesuai dengan tujuan pembangunan. Pada mulanya kredit masih berdasarkan kepercayaan murni yaitu berbentuk kredit perorangan karena kedua belah pihak sudah saling mengenal akan tetapi dengan berkembangnya waktu maka berkembang pula unsur-unsur lain yang dipakai menjadi landasan dalam kredit tersebut. Dalam prakteknya kredit yang diberikan bank umum dan bank perkreditan rakyat untuk masyarakat terdiri dari berbagai jenis. Secara umum jenis-jenis kredit dapat dilihat dari berbagai segi antara lain : 1. Dilihat dari segi penggunaan a. Kredit Investasi Kredit investasi merupakan kredit jangka panjang yang biasanya digunakan untuk keperluan perlunasan usaha atau membangun proyek/pabrik baru atau untuk keperluan rehabilitasi. Contoh kredit investasi misalnya untuk membangun pabrik atau membeli mesin-mesin. Masa pemakaiannya untuk suatu periode yang relatif lebih lama dan dibutuhkan modal yang relatif besar. b. Kredit Modal Kerja Kredit modal kerja merupakan kredit yang digunakan untuk keperluan meningkatkan produksi dalam operasionalnya. Sebagai contoh kredit modal kerja diberikan untuk membeli bahan baku, membayar gaji pegawai atau biaya-biaya lainnya yang berkaitan dengan proses produksi perusahaan.

36

2. Dilihat dari segi tujuan kredit a. Kredit Produktif Kredit yang digunakan untuk meningkatkan usaha atau produksi atau investasi. Kredit ini diberikan untuk menghasilkan barang atau jasa. Sebagai contohnya kredit untuk membangun pabrik yang nantinya akan mengahsilkan barang, kredit pertanian akan menghasilkan produk pertanian, kredit pertambangan menghasilkan bahan tambang atau kredit industri akan menghasilkan barang industri. b. Kredit Konsumtif Kredit yang digunakan untuk dikonsumsi secara pribadi. Dalam kredit ini tidak ada pertambahan barang dan jasa yang dihasilkan, karena memang untuk digunakan atau dipakai oleh seseorang atau badan usaha. Sebagai contoh kredit untuk perumahan, kredit mobil pribadi, kredit perabotan rumah tangga dan kredit konsumtif lainnya. c. Kredit perdagangan Merupakan kredit yang diberikan kepada pedagang dan digunakan untuk membiayai aktifitas perdagangannya seperti untuk mrmbeli barang dagangan yang pembayarannya di harapkan dari hasil penjualan barang dagangan tersebut. Kredit ini sering diberikan kepada supplier atau agen-agen perdagangan yang akan membeli barang dalam jumlah besar. Contoh kredit ini misalnya kredit ekspor impor. 3. Dilhat dari segi jangka waktu a. Kredit Jangka Pendek

37

Merupakan kredit yang memiliki jangka waktu kurang dari 1 tahun atau paling lama 1 tahun dan biasanya digunakan untuk keperluan modal kerja. Contohnya untuk peternakan, misalnya kredit ayam atau jika untuk pertanian misalnya tanaman padi atau palawija. b. Kredit Jangka Menengah Jangka waktu kreditnya berkisar antara 1 tahun sampai dengan 3 tahun dan biasanya kredit ini digunakan untuk melakukan investasi. Sebagai contoh kredit untuk pertanian seperti jeruk atau peternakan kambing. c. Kredit Jangka Panjang Merupakan kredit yang masa pengembaliannya paling panjang. Kredit jangka panjang waktu pengembaliannya diatas 3 tahun atau 5 tahun. Bisanya kredit ini untuk investasi jangka panjang seperti perkebunan karet, kelapa sawit atau manufaktur dan untuk kredit konsumtif seperti kredit perumahan. 4. Dilihat dari segi jaminan a. Kredit dengan Jaminan Merupakan kredit yang diberikan dengan suatu jaminan. Jaminan tersebut dapat berbentuk barang berwujud atau tidak berwujud atau jaminan orang. Artinya setiap kredit yang dikeluarkan akan dilindungi minimal senilai jaminan atau untuk kredit tertentu jaminan harus melebihi jumlah kredit yang diajukan si calon debitur. b. Kredit tanpa Jaminan Merupakan kredit yang diberikan tanpa jaminan barang atau orang tertentu. Kredit jenis ini diberikan dengan melihat prospek usaha, karakter serta

38

loyalitas atau nama baik si calon debitur selama berhubungan dengan bank atau pihak lain. 5. Dilihat dari segi sektor usaha a. Kredit pertanian, merupakan kredit yang dibiayai untuk sektor perkebunan atau pertanian. Sector usaha pertanian dapat berupa jangka pendek atau panjang. b. Kredit peternakan, merupakan kredit yang diberikan untuk sektor peternakan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk jangka pendek misalnya peternakan ayam dan jangka panjang misalnya untuk peternakan kambing atau sapi. c. Kredit industri, merupakan kredit yang diberikan untuk membiayai industri, baik industri kecil, industri menengah atau industri besar. d. Kredit pertambangan, merupakan kredit yang diberikan kepada usaha tambang. Jenis usaha tambang yang dbiayai biasanya dalam jangka pamjang seperti tambang emas, minyak atau timah. e. Kredit pendidikan, merupakan kredit yang diberikan untuk membangun sarana dan prasarana pendidikan atau dapat pula berupa kredit untuk mahasiswa. f. Kredit profesi, merupakan kredit yang diberkan kepada para kalangan profesional seperti dosen, dokter atau pengacara. g. Kredit perumahan, yaitu kredit untuk membiayai pembangunan atau pembelian perumahan dan biasanya berjangka waktu panjang. h. Dan sektor-sektor lainya.

39

d. Jaminan Kredit Untuk melindungi uang yang dikucurkan lewat krdit dari resiko kerugian, maka pihak perbankan membuat pagar pengaman. Dalam kondisi sebaik apapun atau dengan analisis sebaik mungkin, resiko kredit macet tidak dapat dihindari. Pagar pengaman yang dibuat bisanya berupa jaminan yang harus disediakan debitur. Tujuan jaminan adalah untuk melindungi kredit dari resiko kerugian, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Lebih dari itu jaminan yang diserahkan oleh nasabah merupakan beban sehingga si nasabah akan sungguhsungguh untuk mengembalikan kredit yang diambilnya. Seperti sudah dibahas di atas bahwa kredit dapat diberikan dengan jaminan atau tanpa jaminan. Kredit tanpa jaminan sangat membahayakan posisi bank, mengingat jika nasabah mengalami suatu kemacetan maka akan sulit untuk menutupi kerugian terhadap kredit yang disalurkan. Sebaiknya dengan jaminan kredit relative lebih aman mengingat setiap kredit macet akan dapat ditutupi oleh jaminan tersebut. Kredit Dengan Jaminan Jaminan benda berwujud Yaitu jaminan dengan barang-barang seperti: 1) Tanah 2) Bangunan Kendaraan bermotor Mesin-mesin/peralatan Barang dagangan

3)

4)

5)

40

6) Tanaman/kebun/sawah Dan lainnya b. Jaminan benda tidak berwujud Yaitu benda-benda yang dapat yang dapat jaminan seperti: 1) Sertifikat saham 2)Sertifikat obligasi 3) Sertifikat tanah 4) Sertifikat deposito 5) Rekening tabungan yang dibekukan 6) Rekening giro yang diberikan 7) Promes 8) Wesel 9) Dan surat tagihan lainnya c. Jaminan orang Yaitu jaminan yan diberikan oleh seseorang yang menyatakan kesanggupan untuk menanggung segala resiko apabila kredit tersebut macet. Dengan kata lain orang yang memberikan jaminan itulah yang akan menggantikan kredit yang tidak mampu dibayar oleh nasabah.

2. Kredit Tanpa Jaminan Kredit tanpa jaminan maksudnya adalah bahwa kredit yang diberikan bukan dengan jaminan barang tertentu. Biasanya kredit ini diberikan untuk perusahaan yang memang benar-benar bonafit dan professional, sehingga

41

kemungkinan kredit tersebut macet sangat kecil. Kredit tanpa jaminan hanya mengandalkan kepada penilaian terhadap prospek usahanya atau dengan pertimbangan untuk pengusaha-pengusaha yang memiliki loyalitas yang tinggi.

2. Perjanjian Kredit Bank a. Hak dan Kewajiban Para Pihak dalam Perjanjian Kredit Setelah perjanjian kredit dilaksanakan, disetujui dan ditandatangani oleh kedua belah pihak maka timbullah hubungan hukum yang menimbulkan hak dan kewajiban para pihak. Dengan kata lain mereka terikat oleh perjajian kredit tersebut yaitu antara pemberi kredit dalam hal ini pihak bank dan penerima kredit atau nasabah. Untuk memberikan kemantapan dalam memahami permasalahan hak dan kewajiban para pihak dalam perjanjian kredit bank ini, maka akan penulis uraikan serta perinci masing-masing hak dan kewajiban para pihak antara lain: a. Kewajiban bank selaku pemberi kredit 1) Bank berkewajiban untuk menyediakan dan memberi kredit sesuai dengan tujuan dan jangka waktu perjanjian 2) Didalam hal debitur telah melunasi hutangnya pada bank maka bank berkewajiban untuk: i. Menghapus atau menghentikan pengikatan jaminan atas barangbarang yang dijadikan jaminan oleh debitur. ii. Menyerahkan kembali dokumen-dokumen serta surat bukti lainnya milik debitur yang dikuasai oleh bank.

42

b.

Hak bank selaku pemberi kredit Tentang hak bank selaku pemberi kredit ini secara tersirat dapat kita pahami dari rumusan pasal 1 angka 12 Undang-undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 yang pada intinya menentukan bahwa bank selaku pihak pemberi kredit berhak memperoleh perlunasan beserta bunganya yang telah ditentukan setlah jangka waktunya yang telah ditentukan di dalam perjanjian kredit berakhir.

c.

Kewajiban penerima kredit Kewajiban peneima kredit adalah sebagaimana yang telah diatur dalam pasal 1763 KUHPerdata yang berbunyi”Siapa yang menerima pinjaman sesuatu diewajibkan megembalikannya dalam jumlah dan keadaan yang sama, dan pada waktu yang ditentukan”. Selanjutnya dalam Pasal 1764 KUHPerdata juga mengatur mengenai kewajiban penerima kredit yang berbunyi sebagai berikut:

1) Jika ia tidak mampu memenuhi kewajiban ini, maka ia diwajibkan membayar harganya barang yang dipinjamnya, dalam hal mana harus diperhatikan waktu dan tempat dimana barangnya, menurut persetujuan sediannya harus dikembalikan. 2) Jika waktu dan tempatnya tidak ditentukan maka pelunasannya harus dilakukan menurut harga barang pinjaman pada waktu dan tempat dimana pinjaman telah terjadi. Sedangkan menurut ketentuan pasal 1 angka 2 Undang-undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 yang menentukan kewajiban penerima kredit adalah

43

melunasi hutang setelah jangka waktu tertentu dengan bunga yang telah ditetapkan. Disamping itu penerima kredit masih mempuyai kewajiban lain yaitu membayar biaya administrasi untuk tundk pada segala petunjuk dan peraturan bank, seperti: 1) Kewajiban membayar hutang Hutang pokok yaitu yang disetujui oleh pihak-pihak sebagai jumlah pinjaman yang diberikan oleh bank kepada penerima kredit, hutang ini wajib dilinasi pada saat perjanjian kredit berakhir. 2) Kewajiban membayar biaya Setiap penerima kredit wajib membayar sejumlah biaya yang diperlukan guna persiapan perjanjian kredit yang meliputi bea materai, biaya notaris, premi asuransi barang dan premi asuransi pelunasan kredit. 3) Kewajiban membayar bunga Dalam KUHPerdata tidak ditentukan rumus bunga dari Pasal 1767 sehingga dapat disimpulkan: i. Adanya bunga menurut Undang-undang dan ada yang ditetapkan di dalam persetujuan. ii. Bunga ditetapkan di dalam Undang-undang. Bunga yang diperjajikan dalam persetujuan boleh melampaui bunga menurut Undang-undang, dalam segala hal yang tidak dilarang oleh undang-undang. iii. Besarnya bunga yang diperjanjikan dalam persetujuan harus ditetapkan secara tertulis (bunga menuut Lembaran Negara Tahun 1848 Nomor 22 : enam persen).

44

d. Hak penerima Kredit 1. Hak untuk memperoleh kredit sampai jumlah maksimum dengan jalan yang telah ditentukan dengan dikurangi biaya-biaya yang timbul karena pelaksanaan kredit. 2. Hak untuk memperoleh kembali surat dan dokumen aerta benda lainnya yang telah dijadikan jaminan dalam keadaan baik setelah membayar lunas pinjaman kredit yang bersangkutan.

b. Sifat Bentuk dan Isi Perjanjian Kredit Kredit pada hakekatnya dilandasi perjanjian pinjam meminjam uang. Dalam pelaksanaan suatu perjanjian masing-masing pihak yang terlibat hubungan hukum terikat untuk sesuatu yajni adanya prestasi disatu pihak dan kontra prestasi di pihak yang lain. Prestasi dalam perjanjian kredit adalah adanya penyerahan uang kepada debitur. Perjanjian pinjam meminjam diatur dalam Pasal 1754 KUHPerdata dan bersifat riil Sifat riil dari perjanjian pinjam-meminjam dala Pasal 1754 KUHPerdata ini disimpulkan dari kalimat “pinjam meminjam ialah persetujuan dengan mana ihak yang satu memberikan kepada pihak lain suatu jumlah tertentu barang yang akan habis karena pemakaian, dengan syarat bahwa pihak yang belakangan ini akan mengembalikan sejumlah yang sama dari macam dan keadaan yang sama pula” Jadi jelaslah ukuran terjadinya perjanjian pinjam meminjam adalah setelah adanya penyerahan uang atau barang yang habis karena pemakaian. Demikian sebaliknya, selama barang atau uangnya belum diserahkan meskipun para pihak

45

telah sepakat mengenai unsur pinjam meminjam, hal ini tidaklah berarti perjanjian tersebut telah menimbulkan hak dan kewajiban dari masing-masing yang melakukan hubungan hukum. Sedangkan mengenai bentuk perjanjian kredit, KUHPerdata dan UU Perbankan Nomr 10 Tahun 1998 untuk mengatur bagaimana bentuk perjanjian harus dibuat. Namun meskipun demikian dalam membuat perjanjian kredit tidak boleh bertentangan dengan asas atau ajaran umum yang terdapat dalam hukum perdata. Menurut hukum, perjanjian kredit dapat dibuat secara lisan atau tertulis yang penting memenuhi syarat-syarat Pasal 1320 KUHPerdata. Namun dari sudut pembuktian perjanjian secara lisan sulit untuk dijadikan bukti, karena hakekat pembuatan perjanjian adalah sebagai alat bukti bagi para pihak yang membuatnya. Dalam dunia modern yang komplek ini perjanjian lisan tentu sudah tidak dapat disarankan untuk digunakan meskipun secara teori diperbolehkan karena lisan sulit dijadikan sebagai alat bukti bila terjadi masalah dikemudian hari. Untuk itu setiap transaksi apapun harus dibuat tertulis yang digunakan sebagai alat bukti. Dasar hukum perjanjian kredit secara tertulis dapat mengacu pada Pasal 1 ayat (11) Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang perbankan. Dalam pasal ini terdapat kata-kata “Penyediaan uang atau tagihan berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara ban dengan pihak lain”. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa pemberian kredit harus dibuat perjanjian. Meskipun dalam pasal itu tidak ada penekanan perjanjian kredit harus dibuat secara tertulis namun dalam organisasi bisnis modern dan mapan maka untuk

46

kepentingan administrasi yang rapi dan teratur dan demi kepentingan pembuktian kepentingan pembuktian sehingga pembuatan bukti tertulisdarisuatu perbuatan hukum menjadi suatu keharusan, maka kesepakatan perjanjian kredit harus tertulis.32 Dasar hukum lain yang mengharuskan perjanjian kredit harus tertulis adalah instruksi Presidium Kabinet No.15/EK/IN/10/1996 tanggal 10 Oktober 1996. Dalam instruksi tersebut ditegaskan “Dilarang melakukan pemberian kredit tanpa adanya perjanjian kredit yang jelas antara Bank Sentral dan Bank-bank lainnya. Surat Bank Indonesiayang ditujukan kepada segenap Bank Devisa

No.03/1093/UPK/KPD tanggal 29 Desember 1970, khususnya butir (4) yang berbunyi untuk perjanjian kredit harus dibuat surat perjanjian kredit. Dengan keputusan-keputusan tersebut maka pemberian kredit oleh bank kepada debuturnya menjadi pasti bahwa: Perjanjian diberi nama perjanjian kredit. Perjanjian kredit harus dibuat secara tertulis. Perjanjian kredit merupakan iatan atau bukti tertulis antara bank dengan debitur sehingga harus disusun dan dibuat sedemikian rupa agar setiap orang mudah untuk mengetahui bahwa perjanjian yang dibuat itu merupakan perjanjian kredit. Perjanjian kredit termasuk salah satu bentuk akta karena masih banyak perjanjian-perjanjian lain yang merupakan akta misalnya perjanjian jual-beli, perjanjian sewa-menyewa dan lain-lain. Dalam praktek bank ada 2(dua) bentuk perjanjian kredit yaitu:
Sutarno, Aspek-aspek Hukum Perkreditan Pada Bank, Ctk. Kedua, Alfabeta, Bandung:2004, hal.99
32

47

a. Perjanjian yang dibuat dibawah tangan dinamakan akta dibawah tangan artinya perjanjian yang disiapkan dan dibuat sendiri oleh bank kemudian ditawarkan kepada kreditur untuk disepakati. Untuk mempermudah dan mempercepat kerja bank, biasanya bank sudah menyiapkan formulir perjanjian dalam bentuk standar(standardform) yang isi, syarat-syarat dan ketentuannya disiapkan terlebih dahulu secara lengkap. Bentuk perjanjian kredit yang dibuat sendirioleh bank tersebut termasuk jenis akta dibawah tangan. Dalam rangka penandatanganan perjanjian kredit, formulir perjanjian krdit yang isinya sudah disiapkan bank kemudian disodorkan kepada setiap caloncalon debitur untuk diketahui dan dipahami mengenai syarat-syarat dan ketentuan pemberian kredit tersebut. Syarat-syarat dan ketentuan dalam formulir ketentuan perjanjian kredit tidak penah diperbincangkan atau dirundingkan atau dinegosiasikan dengan calon debitur. Calon debitur mau tidak mau dengan terpaksa atau sukarela harus menerima semua persyaratan yang tercantum dalam formulir perjanjian kredit. Seandainyan calon debitr melakukan protes atau tidak setuju terhadap pasal-pasal tertentu yang tercantum dalam formulir perjanjian kredit maka kreditur tidak tidak akan menerima protes tersebut karena isi perjanjian memang sudah disiapkan dalam bentuk cetakan oleh lembaga bank itu sendiri sehingga bagi petugas bank pun tidak bias menanggapi usulan calon debitur. Calon debitur menyetujui atau menyepakati isi perjanjian kerdit karena calon debitur dalam posisi yang sangat membutuhkan kredit (posisi lemah) sehingga apapun persyaratan yang tercantum dalam formulir perjanjian kredit calon debitur dapat menyetujui.

48

b. Perjanjian kredit yang dibuat oleh dan dihadapan notaris yang dinamakan akta otentik atau akta notariil. Yang menyiapkan dan membuat perjanjian ini adalah seorang notaries namun dlam prakteknya semua syarat dan ketentuan perjanjian kredit disiapkan oleh bank kemudian diberikan kepada notaries untuk dirumuskan dalam akta notariil. Memang notaris dalam membuat perjanjian hanyalah merumuskan apa yang diinginkan para pihak dalam bentuk akta notariil atau akta otentik. Perjanjian kredit yang dibuat dalam akta notariil atau akta otentik biasanya untuk pemberian kredit dalam jumlah yang besar dengan jangka waktu menengah atau panjang, seperti kredit investasi, kredit modal kerja, kredit sindikasi (kredit yang diberikan lebih dari satu kreditur atau lebih dari satu bank). Bagian isi pokok perjanjian yaitu mengatur substansi perjanjian karena memuat isi pokok yang diperjanjikan, mengatur syarat dan ketentuan perjanjian secara detail. Isi pokok perjanjian mengandung 3 syarat yaitu : 1. Syarat Esensialia adalah syarat yang harus ada dalam setiap perjanjian. Syarat esensialiaini tergantung dari materi perjanjian. Misalnya perjanjian kredit syarat esensialianya adalah jumlah utang, jangka waktu pengembalian, bunga syarat penarikan kredit, tujuan kredit, cara pengembalian, cidera janji dan jaminan kredit. Dalam perjanjian sewa-menyewa syarat esensialianya harga sewa, jangka waktu sewa dan barang yang disewa dan lain sebagainya. Apabila syarat esensialia ini tidak ada dalam perjanjian maka perjanjian menjadi tidak sempurna atau cacat sehingga menjadi tidak mengikat para

49

pihak. Misalnya saja perjanjian kredit tidak mencantumkan jumlah kredit maka perjanjian kredit tidak jelas berapa utang debitur. 2. Syarat Naturalia adalah ketentuan dalam undang-undang yang dapat dimasukkan dalam perjanjian yang dibuat para pihak. Kalau para pihak tidak mencantumkan dalam perjanjian maka perjanjian yang dibuat para pihak tetap sah maka yang berlaku adalah ketentuan dalam undang-undang. Ini sesuai asas perjanjian yang menganut system yang terbuka. Para pihak bebas untuk membuat perjanjian yang isinya sesuai kehendak para pihak tetapi jika para pihak tidak mengatur dalam perjanjian maka undang-undang yang akan melengkapi. Jadi para pihak bebas untuk mencantumkan syarat yang ada dalam undang-undang kedalam perjanjian yang dibuat para pihak atau tidak. 3. Syarat Aksidentalia syarat

yang tidak harus ada dalam perjanjian. Syarat ini dicantumkan dalam perjanjian karena ada kepentingan salah satu pihak dalam perjanjian. Contoh dalam perjanjian kredit dicantumkan ketentuan bahea selama debitur belum melunasi utang yang diterima tidak diperbolehkan meminjam kredit lagi tanpa persetujuan kreditur atau bank. Selain syarat-syarat esensialia dan syarat lainnya, perjanjian kredit juga mengatur : 1. Syarat yang mengatur jumlah kredit 2. Syarat yang mengatur jangka waktu kredit 3. Syarat yang mengatur bunga kredit 4. Syarat yang mengatur syrat-syarat penarikan atau pencairan kredit

50

5. Syarat yang mengatur penggunaan kredit 6. Syarat yang mengatur cara pengembalian kredit 7. Syarat yang mengatur tentang jaminan kredit 8. Syarat yang mengatur kelalaian debitur atau wanprestasi 9. Syarat yang mengatur hal-hal yang harus dilakukan debitur Syarat yang mengatur pembatasan terhadap tindakan 11. Syarat yang mengatur asuransi barang jaminan 12. Syarat yang mengatur pernyataan dan jaminan 13. Syarat yang mengatur perselisihan dan penyelesaian sengketa 14. Syarat yang mengatur keadan memaksa(force majeure) 15. Syarat yang mengatur pemberitahuan dan komunikasi 16. Syarat yang mengatur tentang perubahan dan pengalihan

c. Syarat Sahnya Perjanjian Kredit Sebelum penulis ketengahkan tentang syarat-syarat perjanjian kredit, ada baiknya terlebih dahulu penulis ketengahkan tentang pengertian perjanjian, antara lain: a. Subekti mengatakan bahwa perjanjian adalah suatu peristiwa diman seorang berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.33 b. Wiryono projodikoro mengatakan bahwa perjanjian adalah suatu

perhubungan hukum mengenai harta benda kekayaan antara dua dalam

33

Subekti, Op.Cit, hal.1

51

suatu pihak berjanjiuntuk melakukan sesuatu hal atau tidak melakukan sesuatu hal sedangkan pihak lain berhak menuntut pelaksanaan janji itu.34 Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut diatas, maka dapat diambil unsur-unsur dari perjanjian tersebut, yaitu : a. Adanya subyek dari perjanjian yaitu sebagai pendukung hak dan kewajiban. b. Adanya obyek dari perjanjian yang berwujud benda khususnya yang menyangkut harta kekayaan. c. Adanya hak dan kewajiban diman salah satu pihak berhak atas prestasi dan di lain pihak berkewajiban memenuhi prestasi. d. Adanya kata sepakat, dimana masing-masing pihak menerima atau menyetujui perjanjian itu. Kemudian untuk mengetahui perjanjian kredit itu sah atau tidak maka unsur-unsur perjanjian kredit tersebut juga merupakan syarat-syarat perjanjian kredit secara umum. Selanjutnya kita lihat dala Pasal 1320 KUHPerdata yang menentukan syratsyarat untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat yaitu : Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya. Cakap untuk membuat suatu perjanjian. Mengenai hal atau objek tertentu. Suatu sebab (causal) yang halal. Syarat pertama dan kedua disebut syarat subyektif karena menyangkut orangorang tau pihak-pihak yang membuat perjanjian. Orang-orang atau pihak-pihak ini
Wiryono Projodikoro, Hukum Perdata Tentang Perstujuan-persetujuan Tertentu, Sumur, Bandung, 1981, hal. 1
34

52

sebagai subyek yang membuat perjanjian. Sedangkan syarat yang ketiga dan keempat disebut sebagai syarat obyektif karena menyangkut mengenai objek yang diperjanjikan oleh orang-orang atau subyek yang membuat perjanjian. Syarat pertama adalah sepakat artinya orang-orang yang membuat perjanjian tersebut harus sepakat atau setuju mengenai hal-hal pokok dari perjanjianyang dibuat dan juga sepakat mengenai syarat-syarat lain untuk mendukung sepakat mengenai hal-hal yang pokok. Sepakat juga mengandung arti apa yang dikehendaki pihak yang satu juga dikehendaki pihak yang lainnya. Jadi pihak-pihak dalam perjanjian harus mempunyai kemauan yang bebas untuk mengikatkan diri dan kemauan itu harus dinyatakan secara tegas atau diam. Syarat kedua cakap dalam membuat perjanjian. Cakap artinya orang-orang yang membuat perjanjian harus cakap menurut hukum. Seorang telah dewasa atau akil balikh, sehat jansmani dan rohani dianggap cakap menurut hukum sehingga dapat membuat suatu perjanjian. Orang-orang yang dianggap tidak cakap menurut hukum ditentukan dalam pasal 1330 KUHPerdata yaitu : 1. 2. Orang yang belum dewasa. Orang yang ditaruh dibawah pengampuan. 3. Orang perempuan dalam hal-hal yang ditetapkan oleh undang-undang dan semua orang kepada siapa undang-undang telah melarang membuat perjanjianperjanjian tertentu. Ketentuan ketiga ini telah dikoreksi Mahkamah Agung melalui surat edaran No.3/1963 tanggal 4 Agustus tahun 1963 yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri diseluruh Indonesia

53

bahwa perempuan adalah cakap sepanjang memenuhi syarat telah dewasa dan tidak dibawah pengampuan Persyaratan kecakapan seseorang yang membuat perjanjian sangat diperlukan karena hanya orang yang cakap yang mampu memahami dan melaksanakan isi perjanjian yang dibuat. Membuat perjanjian berarti terikat dan bertanggung jawab untuk melaksanakan apa yang dijanjiakn bahkan harta kekayaan orang tersebut akan menjadi jaminan apa yang telah dijanjikan. Syarat ketiga mengenai suatu hal atau obyek tertentu artinya dalam membuat perjanjian, apa yang diperjanjikan harus jelas sehingga hak dan kewajiban para pihak bisa ditetapkan. Misalnya perjanjian utang piutang harus jelas berapa besarnya utang, berapa jangka waktu pengembalian dan bagaimana cara pengembalian. Syarat keempat suatu sebab atau kausa yang halal artinya suatu perjanjian harus berdasarkan sebab yang halal atau yang diperbolehkan oleh undang-undang. Kriteria atau ukuran sebab yang halal adalah : 1. Perjanjian yang dibuat tidak boleh bertentangan dengan undang-undang. 2. Perjanjian yang dibuat tidak boleh bertentangan dengan kesusilaan. 3. Perjanjian yang dibuat tidak boleh bertentangan dengan ketertiban umum.

d. Hapusnya Perjanjian Kredit Tentang berakhirnya atau hapusnya perjanjian diterangkan oleh Pasal 1381 KUHPerdata bahwa hapusnya perjanjian disebabkan oleh peristiwa-peristiwa berikut :

54

Karena ada pembayaran Pembayaran adalah kewajiban debitur sacara sukarela untuk memenuhi perjanjian yang telah diadakan. Dengan adanya pembayaran oleh seorang debitur atau pihak yang berutang berarti debitur telah melakukan prestasi sesuai perjanjian. Dengan dilakukannya pembayaran oleh debitur maka perjanjian kredit/utang menjadi hapus atau berakhir. 2. Penawaran pembayaran tunai diikuti dengan penyimpanan atau penitipan(cosignatie) Prestasi debitur dengan melakukan pembayaran tunai yang diikuti dengan penitipan dapat mengakhiri atau menghapuskan perjanjian. Ketentuan pembayaran tunai yang diikuti penitipan ini prosedurnya diatur dalam Pasal 1404-1412 KUHPerdata. Tetapi hanya berlaku untuk perjanjian yang prestasinya “memberi barang-barang bergerak” sedangkan untuk memberi barang tidak bergerak undang-undang tidak mengatur. 3. Novasi atau Pembaruan utang Novasi atau pembaruan utang adalah suatu perjanjian baru yang menghapuskan perjanjian lama dan pada saat yang sama memunculkan perjanjian yang baru yang menggantikan perjanjian lama. Novasi pada hakekatnya merupakan perjanjian baru yang menggantikan perjanjian lama maka perjanjian ikutannya seperti hak tanggungan, gadai, dan hak istimewa lainnya tidak ikut beralih kepada perjanjian baru kecuali diperjanjikan secara tegas dalam perjanjian novasi bahwa perjanjian ikutannya tidak hapus dan ikut beralih dengan terjadinya perjanjian novasi.

55

4. Kompensasi atau perjumpaan utang Untuk dapat dilakukan perjumpaan utang atau kompensasi Pasal 1427 KUHperdata memberikan syarat-syarat yang harus dipenuhi yaitu : a. Kedua utang harus sama-sama mengenai uang atau barang yang dapat dihabiskan dari jenis dan kualitas yang sama . b. Kedua utangseketika dapat ditetapkan besarnya atau jumlahnya dan seketika dapat ditagih. Kalau yang satu dapat ditagih sekarang sedangkan utang yang lainnya baru dapat satu bulan yang akan datang maka kedua utang itu tidak dapat diperjumpakan. Dalam perkembangannya, untuk menyelesaikan kredit macet kreditur dan debitur dapat melakukan perjumpaan utang antara utang dengan jaminan, bukan utang dengan utang saja. Caranya debitur menyerahkan jaminannya kepada kreditur/bank dan bank menghapuskan utangnya, utang dinyatakan lunas. Perjumpaan utang atau kompensasi seperti ini disebut juga set off. 5. Percampuran utang Percampuran utang terjadi apabila kedudukan kreditur dan debitur bersatu pada satu orang, maka demi hukum atau otomatis suatu percampuran utang terjadi dan perjanjian menjadi hapus atau berakhir. 6. Pembebasan utang Pembebasan utang adalah perbuatan hukum yang dilakukan kreditur dengan menyatakan secara tegas tidak menuntut lagi pembayaran utang dari debitur. Undang-undang tidak mengatur bagaimana prosedur terjadi pembebasan utang sehingga diserahkan kepada kreditur yang memiliki hak untuk membebaskan

56

utang sepanjang tidak merugikan hak debitur. Namun berkaitan dengan pembebasan utang ini Pasal 1442 KUHPerdata menentukan bahwa : a. Pembebasan utang yang diberikan kepada debitur utama akan membebaskan pula para penanggungnya. b. Pembebasan yang diberikan kepada penanggung utang tidak membebaskan debitur utama. c. Pembebasan yang diberikan kepada salah seorang penanggng utang tidak membebaskan penanggung utang yang lain. 7. Musnahnya barang yang terutang Apabila barang tertentu yang menjadi obyek perjanjian musnah, hilang, tidak dapat lagi diperdagangkan, sehingga barang itu tidak diketahui lagi apakah barang itu masih ada atau tidak maka perjanjian mejadi hapus asal musnahnya barang/hilangnya barang bukan kesalahan debitur dan sebelum debitur lalai menyerahkan barangnya kepada kreditur. Namun jika debitur mempunyai hakhak berkaitan dengan barang yang musnah atau hilang, misalnya hak asuransi atas barang tersebut maka debitur diwajibkan menyerahkan kepada kreditur. 8. Pembatalan perjanjian Bila salah satu pihak akan membatalkan perjanjian yang tidak memenuhi syarat subyektif maka dapat dilakukan dengan dua cara : a. Secara aktif mengajukan gugatan pembatalan melalui Pengadilan Negeri. b. Secara pasif artinya menunggu pihak lawan dalam perjanjian mengajukan gugatan di Pengadilan Negeri dan di muka Pengadilan Negeri melakukan jawaban atau

57

gugatan balik (gugatan rekompensi) yang mengajukan kelemahan dan kekurangan dalam perjanjian sehingga agar perjanjian dibatalkan. Untuk mengajukan gugatan pembatalan secara aktif Pasal 1354 KUHPerdata memberikan batas waktu 5 tahun yang mulai berlaku : a. sejak hari kedewasaan. b. pencabutan engampuan. c. Dalam hal kekhilafan atau penipuan dihitung Dalam hal pengampuan dihitung sejak hari Dalam hal belum dewasa maka dihitung

sejak hari diketahuinya kekhilafan atau penipuan itu. Sedangkan untuk pembatalan secara pasif tidak ada batas waktunya. Meskipun syarat-syarat subyektif dan syarat obyektif dalam perjanjian telah dipenuhi, perjanjian juga dapat dibatalkan oleh salah satu pihak jika salah satu pihak dalam perjanjian tersebut melakukan wanprestasi(Pasal 1266). Menurut woeker ordonnantie (Stb. 1938) No.524 hakim berkuasa untuk membatalkan perjanjian jika isi pernjanjian membebankan kewajiban yang tidak seimbang atau membebankan kewajiban yang lebih besar pada satu pihak dan menguntungkan pihak lainnya yang disebabkan karena kebodohan, kurang pengalaman atau dalam keadaan memaksa dari salah satu pihak.35 9. Berlakunya suatu syarat batal Untuk menjelaskan berlakunya syarat batal ini kita perlu megingat kembali perikatan bersyarat. Perikatanbersyarat adalah suatu perikatan yang lahirnya
Sutarno, Aspek-aspek Hukum Perkreditan pada Bank, Ctk. Kedua, Alfabeta, Bandung, 2004, hal.145
35

58

atau berakhirnya digantungkan pada suatu peristiwa yang akan datang dan peristiwa itu masih belum terjadi. Suatu perikatan yang lahirnya digantungkan dengan terjadinya suatu peristiwa dinamakan perikatan dengan syarat tangguh. Perikatan yang sudah ada yang berakhirnya digantungkan kepada terjadinya suatu peristiwa dinamakan perikatan dengan syarat batal. Apabila syarat batal dipenuhi maka akan meghentikan perjanjian itu dan membawa kembali kepada keadaan semula seolah-olah tidak pernah ada perjanjian. 10. Daluarsa atau lewatnya waktu atau verjaring. Pasal 1946 KUHPerdata menjelaskan bahwa lewat waktu atau daluarsa adalah suatu upaya untuk memperoleh sesuatu aau dibebaskan dari suatu perikatan dengan lewatnya suatu waktu tertentu dan atas syarat-syarat yang ditentukan oleh undang-undang. Jadi dengan lewatnya waktu tersebut maka terhapus setiap perikatan hukum (natuurlijke verbintenis) yaitu perjanjian boleh dipenuhi tetapi jika tidak dipenuhi debitur tidak dapat dituntut di muka hukim.

B. Tinjauan Mengenai Hak Tanggungan Pengertian Hak Tanggungan Hak Tanggungan, menurut ketentuan Pasal 1 butir 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1996 tentangan Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda yang berkaitan dengan tanah, adalah :

59

Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah, yang selanjutnya disebut Hak Tanggungan, adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Undangundang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap krediturkreditur lain.

Dari rumusan Pasal 1 butir 1 Undang-undang Hak Tanggungan tersebut dapat diketahui bahwa pada dasarnya suatu Hak Tanggungan adalah suatu bentuk jaminan peluasan utang, dengan hak mendahulu, dengan obyek jaminannya berupa Hak-hak Atas Tanah yang diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria Jika kita lihat ketentuan yang diatur dalam Undang-undang Pokok Agraria, dapat kita lihat ketentuan Pasal 51 Undang-undang Pokok agraia, yang menyatakan bahwa : Hak Tanggungan yang dapat dibebankan pada Hak Milik, Hak Guna Usaha dan Hak Guna Bangunan tersebut dalam pasal 25, 33, dan 39 diatur dengan undang-undang. Selanjunya dalam rumusan Pasal 57 Undang-undang Pokok Agraria dinyaakan bahwa:

60

Selama Undang-undang mengenai Hak Tanggungan tersebut dalam Pasal 51 belum terbentuk, maka yang berlaku ialah ketentuan-ketentuan mengenai hypotheek tersebut dalam kitap Undang-undang Hukum Perdata Indonesia dan Credietverband tersebut dalam Staatsblad 1908 No. 542 sebagai yang telah diubah dengan Staatsblad 1937 No. 190. Dengan demikian jelaslah bahwa Undang-undang Hak Tanggungan dibentuk sebagai pelaksanaan dari Pasal 51 Undang-undang Pokok Agraria, yang menggantikan berlakunya ketentuan-ketentuan mengenai hypotheek yang diatur dalam KUHPerdata dan Credietverband yang diatur dalam staatsblad 1908 No. 542 sebagai yang telah diubah dengan staatsblad 1937 No 190. Hal mengenai pencabutan atau pernyataan tidak berlakunya lagi ketentuan-ketentuan mengenai hypotheek yang diatur dalam KUHPerdata dan Credietverband yang diatur dalam staatsblad 1908 No. 542 sebagai yang telah diubah dengan Staatsblad 1937 No. 190 dapat ditemukan dalam rumusan Pasal 29 Undang-undang Hak Tanggungan yang menyatakan : Dengan berlakunya undang-undang ini, ketentuan mengenai Credietverband sebagaimana tersebut dalam Staatsblad 1908-542 jo. Staatsblad 1909-586, dan Staatsblad 1937-190 jo. Staatsblad 1937-191, dan ketentuan mengenai Hypotheek sebagaimana tersebut dalam Buku II Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia sepanjang mengenai pembebanan Hak

Tanggungan pada hak atas tanah, beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah dinyatakan tidak berlaku lagi.36
Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Hak Tanggungan, ctk. Pertama, Prenada Media, Jakarta, 2005, hal.15
36

61

Pemberian Hak Tanggungan Undang-undang Hak Tanggungan menggunakan istilah pemberian

sedangkan Undang-undang Pokok Agraria dan Peraturan Menteri Agraria No. 15 Tahun 1961 Pasal 3 menggunakan dua istilah yaitu Pemberian dan Pemasangan. Menurut Mariam Darus Badrulzaman istilah pembebanan mempunyai arti identik dengan pemberian dan pemasangan.37 Pemberian Hak tanggungan adalah perjanjian kebendaan yang terdiri rangkaian perbuatan hukum dari Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) sampai dilakukan pendaftaran dengan mendapatkan sertifikat Hak Tanggungan dari Kantor Pertanahan. Rangkaian perbuatan hukum Pemberian atau pembebanan Hak Tanggungan memerlukan beberapa tahapan sebagai berikut: 1. Membuat perjanjian kredit Tahap pertama ini didahului dengan dibuatnya perjanjian pokokberupa perjanjian kredit atau perjanjian pinjam uang atau perjanjian lainnya yang menimbulkan hubungan pinjam meminjam uang antara kreditur dengan debitur. Hal ini sesuai sifat accessoir dari Hak Tanggungan yang pemberiannya haruslah merupakan ikatan dari perjanjian pokok yaitu perjanjian kredit atau perjanjian utang atau perjanjian lain yang menimbulkan utang. Pasal 10 ayat (1) Undang-undang Hak Tanggungan mengatakan bahwa Pemberian Hak Tanggungan didahului dengan janji untuk memberikan Hak Tanggungan sebagai jaminan pelunasan utang tertentu, yang dituangkan di dalam dan merupakan bagian tak terpisahkan dari perjanjian utang piutang yang bersangkutan atau perjanjian lainnya yang menimbulkan utang tersebut.
37

Sutarno, Op.cit, hal. 166

62

Janji untuk memberikan Hak Tanggungan sebagai pelunasan utang tertentu harus dirumuskan dalam perjanjian kredit atau perjanjian utang. Janji tersebut dapat dirumuskan dalam salah satu pasal perjanjian kredit atau perjanjian utang. Dalam perjanjian kredit, baru berupa janji untuk memberikan Hak Tanggungan sebagai jaminan pelunasan utang tertentu sedangkan perjanjian

pembrian Hak Tanggungan akan dilakukan dengan akta tersendiri yang disebut Akta Pemberian Hak Tanggungan(APHT) yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah(PPAT). Perjanjian pokok yang berupa perjanjian kredit atau utang atau perjanjian lainnya yang menimbulkan utang yang bentuknya: a. Dapat dibuat dengan akta dibawah tangan artinya dibuat oleh kreditur dan debitur sendiri atau akta otentik artinya dibuat oleh dan dihadapan notaris. b. Perjanjian kredit atau perjanjian utang dapat dibuat oleh orang-perorangan atau badan hukum asing sepanjang kredit digunakan untuk kepentingan di wilayah Republik Indonesia. c. Mengenai tempatnya perjanjian kredit dapat dibuat di dalam atau di luar negeri. 2. Pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) Tahap kedua berupa Pembebanan Hak Tanggungan yang ditandai dengan pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan(APHT) yang dibuat oleh PPAT yang ditandatangani kreditur sebagai penerima Hak Tanggungan dan Pemilik hak atas tanah yang dijaminkan. Bentuk akta pembebanan Hak Tanggungan adalah akta otentik yang dibuat oleh dan dihadapan PPAT. Akta APHT merupakan

63

bentuk standar yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasaional(BPN) yang dipergunakan oleh PPAT. Pasal 10 ayat (2) Undang-undang Hak Tanggungan menegaskan Pemberian Hak Tanggungan dilakukan dengan pembuatan akta pemberian Hak Tanggungan oleh PPAT sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Pasal 11 ayat(1) menentukan bahwa Akta Pemberian Hak Tanggungan berisi: a. Nama dan identitas pemegang dan pemberi Hak Tanggungan. b. Domisili pihak-pihak sebagaimana dimaksud pada huruf a dan apabila diantara mereka ada yang berdomisili diluar Indonesia, baginya harus pula dicantumkan suatu domisili pilihan di Indonesia dan dalam hal domisili pilihan itu tidak dicantumkan, kantor PPAT tempat pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan dianggap sebagai domisiliyang terpilih. c. Penunjukan secara jelas utang-utang yang dijamin. d. Nilai Hak Tanggungan. e. Uraian yang jelas mengenai obyek Hak Tanggungan yaitu uraian rinci mengenai hak atas tanah yang dijaminkan meliuti jenis hak atas tanah, luas tanah, batas-batas, letaknya yang mencerminkan asas spesialitas. f. Janji-janji Hak Tanggungan yang akan diuraikan tersendiri dalam sub dibawah ini. Dalam praktek bank, pemberian Hak Tanggungan yang ditandai dengan pembuatan APHT ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :

64

a. Penandatanganan APHT dilakukan oleh pemilik jaminan bersamaan dengan penandatanganan perjanjian kredit sebagai perjanjian pokok. b. Dengan membuat Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan(SKMHT). SKMHT dibuat karena pemilik jaminan (bisa debitur bisa pihak lain bukan debitur), pada saat penandatanganan perjanjian kredit tidak segera melakukan pembebanan Hak Tanggunga. SKMHT adalah surat kuasa khusus yang dibuat oleh dan dihadapan PPAT atau Notaris yang ditandatangani oleh pemilik jaminan. Isi SKMHT adalah pemilik jaminan memberikan kuasa khusus kepada kreditur(bank) untuk menandatangani Akta Pemberian Hak Tanggungan(APHT). Dengan SKMHT ini kreditur dalam waktu tertentu dapat membebankan Hak Tanggungan dengan menandatangani APHT tanpa harus menghadirkan pemilik jaminan dihadapan PPAT. SKMHT ini dibuat karena Bank sebagai kreditur tidak langsung membebankan Hak Tanggungan pada saat penandatanganan perjanjian kredit karena untuk menghemat biaya. 3. Pendaftaran APHT di Kantor Pertanahan. Pada tahap ketiga ini ditandai dengan pendaftaran Akta Pemberian Hak Tanggungan(APHT) kekantor pertanahan setempat. Hal ini sesuai dengan Pasal 13 ayat(1) Undang-undang Hak Tanggungan yang menegaskan Pemberian Hak Tanggungan ajib didaftarkan pada kantor Pertanahan. Setelah Kantor Pertanahan menerima pendaftaran dari PPAT dalam waktu 7 hri setelah APHT ditandatangani, maka Kantor pertanahan membuatkan buku tanah Hak Tanggungan dan mencatatnya dalam buku tanah hak atas tanah yang menjadinobyek hak Tanggungan serta menyalin catatan tersebut pada sertifikat

65

hak atas tanah yang bersangkutan. Sebagai tanda bukti bahwa Akta Pemberian Hak Tanggungan telah didaftar di Kantor Pertanahan, yang membuktikan adanya Hak Tanggungan maka kantor pertanahan akan menerbitkan sertifikat Hak Tanggungan. Sertifikat Hak Tanggungan diberikan kepada kreditur sebagai pemegang hak Tanggungan. Sertifikat Hak Tanggungan adalah salinan APHT dan salinan Buku tanah Hak Tanggungan yang dijahit menjadi satu. Dengan demikian kalau meneliti sertifikat Hak Tanggungan Nampak sama dengan isi APHT karena petikan APHT merupakan bagian dari sertifikat Hak Tanggungan. Dari pasal 13 Undang-undang Hak Tangungan tersebut dapat disimpulkan bahwa yang didaftarkan ke Kantor Pertanahan yaitu Akta pemberian Hak tanggungan yaitu disertai sertifikat tanah dan surat lainnya sebagai bukti obyek Hak Tanggungan dan identitas dari para pihak-pihak kreditur dan debitur/pemilik jaminan. Sewaktu masih menggunakan hipotik ketentuan pandaftaran ditegaskan dalam Pasal 1186 KUHPerdata yang menentukan apa yang hatrus didaftar yaitu salinan otentik akta hipotik dan dua lembar ikhtiar akta hipotik. Dari tahap pembebanan hak tanggungan akan lahirlah beberapa akta atau dokumen yang diperlukan bagi kreditur jika kemudian hari akan melakukan eksekusi Hak Tanggungan yaitu: a. Perjanjian Kredit/perjanjian utang. b. Surat kuasa Membebankan Hak Tanggungan(SKMHT). Akta ini diperlukan jika pemberi Hak Tanggungan menguasakan kepada kreditur untuk membebankan Hak Tanggungan. Tetapi jika pemberi hak Tanggungan

66

langsung memberikan hak Tanggungan dengan menandatangani APHT maka SKMHT tidak diperlukan. Jadi SKMHT tidak harus ada. c. Akta pemberian hak tanggungan. d. Sertifikat hak tanggungan. e. Sertifikat hak atas tanah yang menjadi obyek hak tanggungan. 3. Lahirnya Hak Tanggungan Hak tanggungan lahir pada tanggal buku tanah hak tanggungan yaitu pada hari ketujuh setelah kantor pertanahan menerima secara lengkap surat-surat yang diperlukanbagi pendaftaran dan jika hari ketujuh jatuh pada hari libur buku tanah yang bersangkutan diberi kerja hari berikutnya. Hari dan tanggal ahirnya Hak Tanggungan menandai atau membuktikan lahirnya hak preferen atau hak diutamakan bagi kreditur sebagai pemegang Hak Tanggungan sehingga kreditur yang memegang hak tanggungan memiliki kedudukan yang diutamakan atas jaminan yang dipegangnya. Kreditur sebagai pemegang hak Tanggungan yang telah memiliki hak preferent tidak perlu lagi khawatir pemilik jaminan akan mengalihkannya seperti menjual, menyewakan, meminjamkan kembali atau disita pihak lain atas jaminan tersebut karena undang-undang memberikan perlindungan dan kekuatan hukum bagi pemegang hak Tanggungan yang memberikan hak preferent. Apabila hak preferent belum lahir kemudian terjadi peristiwa sita jaminan(concervatoir beslag) oleh pengadilan terhdap jaminan itu atau terjadi kepailitanatas diri debitur maka pembebanan Hak Tanggungantidak dapat dilakukan akibatnya kreditur kehilangan hak preferent atau utama atas jaminan

67

dan kreditur hanya memiliki hak konkuren atau hak berbagi dengan kreditur lain terhadap jaminan itu. Oleh karena itu lahirnya hak tanggungan yang merupakan tanda atau bukti kreditur memiliki hak diutamakan terhadap jaminan itu sangat penting sehingga kreditur harus secepatnya memasang hak tanggungan untuk mempercepat lahirnya hak tanggungan dengan tujuan untuk menghindarkan peletakan sita jaminan dari pihak lainnya yang memiliki kepentinan terhadap jaminan itu.

4. Hapusnya Hak Tanggungan Hapusnya hak tanggungan diatur dalam pasal 18 Undang-undang hak tanggungan. Pasal 18 ayat(1) Undang-undang Hak tanggungan memberikan alasan limitatif bagi hapusnya Hak Tanggungan. Alasan-alasan limitatif tersebut adalah: a. Hapusnya utang yang dijaminkan dengan hak tanggungan. Ketentuan yang diberikan dalam Pasal 18 ayata(1) butir a Undang-undang Hak Tanggungan pada pokoknya menunjukkan pada sifat accessoir dari Hak Tanggungan. Tanpa adanya utang yang menjadi sumber eksistensi Hak Tanggungan, maka perjanjian pemberian Hak Tanggungan menjadi tidak memiliki kausa, dan perjanjian tanpa kausa adalah perjanjian yang tidak dapat dimintakan pelaksanaannya oleh kreditur. Dengan tidak adanya kausa tersebut, maka batal demi hukum, perjanjian yang dibuat tidak memberikan hak kepada pemegang hak tanggunganuntuk melakukan eksekusi atas kebendaan yang dijaminkan dengan Hak Tanggungan tersebut. Dengan kata lain hapusnya hak

68

atas tanah disebabkan karena hapusnya utang pokok yang menjadi sumber eksistensi atau keberadaan Hak Tanggungan. b. Hapusnya Hak Tanggungan karena dilepaskan oleh pemegang Hak Tanggungan. Mengenai hapusnya hak Tanggungan karena dilepaskan oleh pemegang Hak Tanggungan, ketentuan Pasal 1 ayat(2) Undang-undang Hak Tanggungan menentukan sebagai berikut: Hapusnya Hak tanggungan karena dilepaskan oleh pemegangnya dilakukan dengan pemberian pernyaaan tertulis mengenai dilepaskannya Hak Tanggungan tersebut oleh pemegang Hak Tanggungan kepada pemberi Hak Tanggungan. Tanpa adanya pernyatann bebas dari kreditur, maka utang debitur masih tetap harus dipenuhi oleh debitur kepada kreditur. c. Hapusnya hak tanggungan karena pembersihan Hak Tanggungan berdasarkan penetapan peringkat oleh Ketua Pengadilan Negeri. Hapusnya Hak Tanggungan sebagai akibat pembersihan Hak Tanggungan bedasarkan penetapan peringkat oleh Ketua Pengadilan Negeri, dilaksanakan menurut ketentuan Pasal 18 ayat (3) Undang-undang Hak Tanggungan yang berbunyi: Hapusnya Hak Tanggungan karena pembersihan Hak Tanggungan berdasarkan penetapan peringkat oleh Ketua Pengadilan Negeri terjadi karena permohonan pembeli hak atas tanah yang dibebani Hak Tanggungan

69

tersebut agar hak atas tanah y dibelinya itu dibersihkan dari beban Hak Tanggungan sebagaimana diatur dalam Pasal 19. Berdasarkan rumusan Pasal 18 ayat(3) Undang-undang Hak Tanggungan tersebut dapat diketahui bahwa hapusnya Hak Tanggungan berasarkan penetapan peringkat oleh Ketua Pengadilan Negeri terjadi karena terdapat lebih dari satu Hak Tanggungan yang diletakkan atas bidang tanah tersebut. Sedangkan dari rumusan Pasal 19 Undang-undang ak Tanggungan dapat diketahui bahwa permintaan penghapusan tersebut dapat dimintakan oleh setiap pembeli hak atas tanah, yang diatasnya terletak beban berupa Hak Tanggungan yang jumlahnya lebihdari satu. d. Hapusnya Hak Tanggungan karena hapusnya hak atas tanah yang dibebani Hak Tanggungan. Hapusnya Hak Tanggungan yang disebabkan karena hapusnya hak atas tanah yang dibebani Hak Tanggungan tidak lain dan tidak bukan adalah sebagai akibat tidak terpenuhinya syarat obyektif sahnya perjanjian, khususnya yang berhubungan dengan kewajiban adanya obyek tertentu, yang salah satunya meliputi keberadaan dari bidang tanah tertentu yang dijaminkan. Karena setiap hal yang menyebabkan hapusnya hak atas tanah tersebut demi hukum juga akan menghapuskan Hak Tanggungan yang dibebankan diatasnya, meskipun bidang tanah dimana hak atas tanahnya tersebut hapus masih tetap ada, dan selanjutnya telah diberikan pula hak atas tanah yang baru atau yang sama jenisnya.

70

C. Tinjauan Umum Tentang Bank BRI 1. Sejarah Singkat BRI Sejarah berdirinya BRI tidak lepas dari seorang Patih Purwokerto yang bernama Raden Bei Aria Wiraatmaja. Pada tahun 1894 beliau diberi kepercayaan untuk mengelola uang kas mesjid, dan dengan seizin atasannya beliau memperluas penggunaan uang kas mesjid untuk pinjaman kepada pegawai negeri, para petani dan tukang yang sedang terjerat utang. Untuk menampung hal tersebut, Patih Wiraatmaja membentuk lembaga semacam bank yang diberi nama “DE POERWOKERTOSCHE HULP EN SPAARBANK INLANDSCHE HOOFDEN” (Bank Bantuan dan Simpan Milik Bumi Purwokerto), yang merupakan awal kegiatan Bank Perkreditan Rakyat di Indonesia. Perkembangan selanjutnya, pada tanggal 16 Desember 1895 didirikan secara resmi bank perkreditan rakyat pertama di Indonesia dengan nama “HULP EN SPAARBANK PER INLANDCHE BESTUURES AMBTENAREN” (Bantuan dan Simpanan Milik Pegawai Pangrepraja Berkebangsaan Pribumi). Bank tersebut kemudian berubah nama menjadi Bank Rakyat Indonesia(BRI). Pada tahun 1897 WPD E WOLFF Van Westrrode melakukan langkah reorganisasi dengan mulai membentuk lembaga-lembaga perkreditan di pedesaan yang dikenal dengan sebutan”Volksbank”. Pada perkembangan selanjutnya, pemerintah Hindia Belanda menyadari akan pentingnya pengawasan dan pembinaan terhadap BRI (Volksbank) yang telah ada, sehingga pemerintah mendirikan centrale kas Voorhet

Volkscredietwezen, yang bertujuan unt menyediakan dana usaha dan memberikan

71

bantuan dalam pengelolaan (pembinaan dan pengawasan) kepada badan-badan kredit serta menerima berbagai simpanan dana dari badan tersebut. Pada kenyataan central kas belum berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Oleh karena itulah perlu dibentuk Algeemene Volks Credit Bank(AVB). Dengan berdirinya AVB ini maka tugas dar central kas diserahkan kepada AVB. Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942 sampai 1945, AVB diubah menjadi Syomin Ginko. Disini ruang lingkup pekerjaan Syomin Ginko sesuai dengan anggaran dasar AVB dulu. Pada awal Oktober 1945, Syomin Ginko namanya kembali menjadi BRI dan menjadi Bank Pemerintah pertama di Indonesia. Mulai saat itu secara de facto BRI dikuasai oleh tenaga-tenaga Indonesia. Doreksi pwrtam BRI adalah M. Morrso Adi (Presiden Direktur), M. Soegiono Tjokrowirono (Diretur), dan M, Soemantri (Direktur merangkap Sekretaris). Dan kantor utamanya adalah gedung Escompto yang terletak di jalan Jakarta Utara. Pada tahun 1947, pada masa Agresi Militer Belanda I pemerintah Indonesia dan Belanda mengadakan perjanjian Renville pada masa ini Belanda kembali mengoperasikan AVBdi wilayah yang dikuasai Belanda. Kondisi BRI menjadi semakin berat lagi setelah Belanda melakukan Agresi Militer II pada tahun 1948, dan pada waktu itu para pimpinan BRI ditangkap Belanda dengan tuduhan telah menggelapkan uang untuk membantu para pejuang kemerdekaan. Tetapi dengan diadakannya perjanjian Roem-Royen tanggal 7 Mei

72

1949, karyawan BRI dilepaskan dari tahanan dan mulai mengoperasikan kembali BRI. Mulai 1 Januari 1950 secara de facto AVB menjadi BRI Serikat(BARRIS). Pada tanggal 15 Agustus 1950, UUDS RI tahun 1950 ditandatangani oleh Presiden Soekarno dan Menteri Kehakiman RIS Mr. Soepomo. Dengan ditandatanganinya UUDS RI 1950, bangsa Indonesia kembali menjadi Negara kesatuan RI sesuai dengan Proklamasi Kemerdekaan. Pada masa ini pemerintah mengeluarkan PP No.25 tanggal 20 April 1951 yang isinya menetapkan BRI menjadi “Bank Menengah”. Dan mulai tanggal25 September 1956, BRI ditetapkan menjadi Bank Devisa. BRI diharapkan dapat memberikan pelayanan yang lebih merata kepada nasabah yang melakukan hubungan dagang dengan luar negeri. Pada tanggal 5 Juli 1959 Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit untuk kembali ke UUD 1945, sehingga system perekonomian kita pun mengalami perubahan secara structural. Berdasarkan keputusan No. 3/KPTS/SD/II/59, system perekonomian Indonesia diselaraskan kembali dengan kepribadian bangsa sesuai dengan jiwa dan tujuan Negara sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945, sehingga pemerintah menjadi sadar akan pentingnya koperasi serta perhatian terhadap nasib petani dan nelayan yang masih memprihatinkan. Oleh karena itulah akhirnya dibentuk BKTN (Bank Koperasi Tani dan Nelayan). Pada tahun 1965 terjadi perubahan-perubahan struktur kelembagaan secara cepat pada bank-bank milik pemeritah. Berdasarkan Penpres No. 8 Tahun 1965 bank-bank umum Negara dan BTN diintregrasikan kedalam BRI, hanya BDN yang tidak terkena integrasi. Dan berdasarkan Peraturan Presiden No. 9 Tahun

73

1965 Tanggal 4 Juni 1965, BKTN diintergrasikan kedalam BI dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi tani dan nelayan(BIUKTN) Pada tanggal 27 Juli 1965 pemerintah telah mengeluarkan Penpres baru No.17 tahun 1965 tentang pembentukan bank tunggal dengan nama BNI. Berdasarkan Penpres itu selain BDN, bank-bank pemerintah diintregrasikan lagi kedalam bank tunggal tersebut. Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani dan Nelayan(BIUKTN) dintregrasikan ke dalamnya dengan nama BNI Unit II. Pada kenyataannya eksperimen dengan bank tunggal/milik Negara ini tidak dapat berjalan lama karena tersusul oleh terjadinya peristiwa G 30 SPKI pada tanggal 30 September 1965. Memasuki babak baru pada tahun 1966 yang lazim disebut awal orde baru karena telah terjadi banyak perubahan baik dibidang politik maupun bidang ekonomi diamana perubahan tersebut tentunya juga berpengaruh terhadap tugas BRI selaku bank Pemerinah. Apalagi dengan diberlakukannya UU No. 21 Tahun 1968 tentang BRI, maka tugas dan usaha BRI sebagaimana dijelaskan pada Pasal 7 adalah diarahkan pada perbaikan ekonomi rakyat dan pembangunan nasional dengan jalan melakukan usaha bank umum. Dari UU No.21 Tahun 1968 tersebut pemerintah berkeinginan agar BRI berperan menjadi bank umum ang dapat membantu pelaksanaan program pembangunan nasional. Pada tahun 1988 BRI go internasional dengan membuka kantor di New York dan di Cayman Island (BRI New Yok Agency). Ekspansi usaha BRI ke

74

manca Negara ini kemudian diikuti dengan pembukaan kantor di Hongkon tahun 1990 dan kantor perwakilan di Singapura tahun 1991.

2. BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru Adanya surat keputusan direksi BRI NOKEP S.34-31/9/69 tanggalk 9 September 1969 sebagai dukungan terhadap idenya DR.Soedarmo Hadisaputra tentang proyek pengembangan ekonomi wilayah unit desa, merupakan awal dan dasar berdirinya BRI Unit desa. Dimulai di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan 18 unit desa dan 54 orang pegawai. Dalam pilot proyek pengembangan ekonomi wilayah pedesaan ini, BRI Unit Desa sebagai salah satu pendukung, yang berperan sebagai penyalur kredit BIMAS (Bimbingan Massal) untuk para petani. Selanjutnya tahun 1970 proyek ini dikembangkan ke seluruh pulau Jawa. Melihat proyek ini dapat berjalan dengan baik, maka pemerintah dengan INPRES No. 4/1973 tanggal 5 Mei 1973, meningkatkan status pilot proyek menjadi proyek nasional untuk dilaksanakan di seluruh nusantara termasuk di Pangkalan Kerinci. Kantor BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru berdiritahun 1989 dan sampai saat ini, terletak dijalan Lintas Timur o. 15-16 Pangkalan Kerinci.

3. Tugas dan Usaha Pokok Bank BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru Tugas dan usaha pokok perbankan secara umum diatur dalam Undangundang Perbankan No. 10 Tahun 1998 Pasal 5 sampai 15. Sedangkan tugas dan

75

usaha pokok BRI diatur dalam Undang-undang No. 21 Tanhun 1968 yang menyatakan sebagai berikut : Tugas dan usaha bank diarahkan kepada perbankan ekonomi rakyat dan pembangunan ekonomi nasional dngan jalan melakukan usaha bank umum dengan mengutamakan : 1. Pemberian kredit pada sektor koperasi, tani dan pelayanan yang melingkupi: a. Membantu perkembangan koperasi, terutama dalam bidang perikanan dan pertanian. b. Membantu kaum tani dan nelayan yang belum tergabung dalam koerasi, untuk mengembangkan usaha-usahanya dalam mengembangkan pertanian dan perikanan, dan menolong srta membimbing kearah usaha bersama atas asas studi perkoperasian. 2. Membantu rakyat yang belum tergabung dalam suatu koperasi dan menjalankan kegiatan dalam bidang kerajinan, perindustrian rakyat dan perdagangan kecil. 3. Pemberian bantuan terhadap uaha Negara dalam rangka pelaksanaan politik agrarian 4. Pemberian bantuan terhadap usaha pemerintah dalam pembangunan masyarakt desa. 5. Pembinann dan pengawasan bank desa, bank pasar dan bank-bank sejenis lainnya berdasarkan petunjuk dari pimpinan Bank Indonesia. Disamping tugas dan usaha pokok bank sebagaimana yang diatur dalam Undang-undang No. 21 Tahun 1968, Bank Rakyat Indonesaia juga melakukan

76

usaha lain seperti pengiriman uang (transfer, incasso)dan memberikan jasa dengan lalu lintas pembayaran dan peredaran uang.

4. Jenis Kredit yang Disalurkan Bank BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru Sebelum kita uraikan mengenai jenis kredit yang disalurkan lewat BRI, maka terlebih dahulu akan kita kemukakan mengenai penggolongan kredit (types of credit). Penggolongan tersebut dapat dilihat dari berbagai sudut, seperti : a. Ukuran dalam menetapkan segmentasi bisnis adalah berdasarkan pendekatan pendapatan bersih dalam setahun dan usaha yang dominan dengan pembidangan sebagai berikut : 1) Bisnis kecil pangan dan koperasi (BKPK) Semua nasabah yang jumlah penjualan bersihnya setahun sampai dengan Rp 750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah) 2) Pertanian (Bistan) Semua nasabah yang jenis usaha dominannya termasuk pertanian dan penjualan bersihnya setahun lebih dari Rp 750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah) 3) Bisnis Komersial (BISKOM) Semua nasabah yang jenis usaha dominannya diluar pertanian dan jumlah penjualan bersih setahun lebih dari Rp 750.000.000,00 (tujuh ratus kima puluh juta rupiah) sampai dengan 25 milyar. 4) Bisnis Korporasi (BISKOR)

77

Semua nasabah yang penjualan bersihnya lebih dari 25 milyar dan pada dasarnya akan dicari dan dilayani sendiri oleh Biskor. b. Jenis-jenis perkreditan menurut bentuknya : 1) Pinjaman Rekening Koran. 2) Pinjaman Persekot, dibadakan menjadi 2 yaitu : a) Pinjaman Persekot Annuitet. b) Pinjaman Persekot Non- Annuitet c. Menurut ketetapan pemerintah (dilihat dari sumber dana) 1) Pinjaman Executing 2) Pinjaman Channeling d. Menurut jangka waktu : 1) Pinjaman jangka pendek, waktunya maksimum 1 tahun. 2) Pinjaman jangka panjang, waktunya lebih dari 1 tahun. e. Menurut tujuan : 1) Pinjaman untuk modal kerja 2) Pinjaman untuk investasi f. Menurut penggunaannya : 1) Pinjaman konsumtif 2) Pinjaman Produktif 3) Pinjaman perdagangan g. Menurut sifat penarikan dananya : 1) Pinjaman langsung 2) Pinjaman tidak langsung

78

h. Menurut sektor ekonomi : 1) Sektor pertanian 2) Sektor pertambangan 3) Sektor perindustrian 4) Sektor listrik, gas, dan air 5) Sektor Konstruksi 6) Sektor pengankutan, perdagangan dan komunikasi 7) Sektor jasa dunia usaha 8) Sektor jasa lainnya 9) Sekor lain-lain Untuk jenis kredit yang disalurkan BRI Unit Pangkalan Kernci Cabang Pekanbaru pada garis esarnya dibagi dua yaitu : 1. Kredit Prioritas yaitu kredit yang menunjang program pemerintah, yang meliputi : a. Kredit investigasi kecil dan kredit modal kerja permanen yang terbagi atas: 1) Massal 2) Khusus 3) Umum b. Kredit modal kerja c. Kredit listrik pedesaan d. Rural crediet project e. Impres pasar (untuk pambangunan pasar) f. Bimas atau Inmas padi dan palawija

79

g. East Java Agricultural Crediet Project termasuk didalamnya kredit PAK (proyek pengembangan pertanian petani kecil). 2. Kredit Non Prioritas, yaitu kredit yang diberikan bukan atas program pemerintah, yang meliputi : a. Perdagangan umum b. Jasa-jasa sosial atau masyarakat c. Konsumtif yang diberikan kepada ; 1) Pegawai non BRI 2) Pensiunan d. Investasi dan konstruksi e. Ekspor dan impor f. Industri g. BKD (Badan Kredit Desa) h. Kupedes (Kredit umum Pedesaan) i. Kehutanan, perkebunan, perikanan laut atau darat dan pertambangan.

5. Sumber Dana Perkreditan BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru Pada dasarnya sumber dana untuk perkreditan sangat erat kaitannya dengan jenis kredit yang disalurkan lewat BRI karena dengan sumber dana tersebut akan jelas kredit apa dan mana yang harus didukung.

80

Sumber daba bagi bank unruk memberikan kredit bermacam-macam. Sumber dana itu mempunyai sifat dan harga tersendiri karena sumber dana itu penting bagi bank, yang antara lain untuk menentukan : a. Besarnya kredit b. Tingkat bunga yang akan dibebankan c. Jangka waktu dari kredit Bank sebagai lembaga keuangan sudah barang tentu akan membebankan biaya yang lebih tinggi daripada yang dibayar oleh bank, besarnya kredit yang diberikan juga harus sesuai dengan sumber dananya, demikian pula jangka waktunya. Secara garis besar sumber dana itu dapat disebutkan sebagai berikut : a. Dana yang dipercayakan masyarakat Yakni dana masyarakat yang disimpan dalam bentuk giro, deposito berjangka, tabungan yang terdiri dari Tabanas dan Taska, Tapelpram, Tabungan Pegawai dan Simpedes dalam kaitannya dengan jenis kredit. Sumber dana dari masyarakat inilah yang dipakai untuk membayar kredit non prioritas. b. Pinjaman dari bank sentral atau bank pemerintah lainnya Dalam penggalian sumber dana, bank dapat juga meminjam untuk pembiayaan pinjaman atau kredit yang diberikan. Sumber dana ini dalam kaitannya dengan jenis kredit yang dipakai untuk membiayai kredit prioritas. c. Sumber dana dari pinjaman luar negeri atau bank dunia Dalam penggalian atau pembahasan dana untuk perkreditan dapat mengambil atau meminjam dana dari luar negeri atau bank dunia yang tentu saja penyaluran sumber dana tesebut harus melalui bank sentral (Bank Indonesia).

81

Dalam penerapan bunganya, bank tidak harus berdasarkan pada undangundang melainkan berdasarkan kebijaksanaan masing-masing bank dan hal tersebut tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. Hal ini telah sesuai dengan Pasal 1767 KUHPerdata yang garis besarnya membolehkan, menentukan atau mengenakan bunga melebihi dari bunga menurut undang-undang yang harus ditetapkan secara tertulis.

82

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Penghapusbukuan Utang di Bank BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru Sebelum kita masuk kedalam pembahasan pelaksanaan penghapusbukuan utang maka terlebih dahulu secara garis besar penulis akan uraikan arti daripada kredit bermasalah tersebut. Pada dasarnya kredit bermasalah merupakan kondisi yang seringkali terjadi pada bisnis perbankan yaitu sebagai resiko dari penyaluran kredit bank yang bersangkutan yang biasanya diawali dengan terjadinya wanprestasi yang dilakukan oleh debitur sebagai penerima kredit. Wanprestasi berasal dari bahasa Belanda yang berarti prestsi buruk. Apabila debitur tidak melakukan apa yang dijanjikannya maka ia dikatakan melakukan wanprestasi.38 Wanprestasi (kelalaian atau kealpaan) debitur dapat berupa empat macam yaitu : a. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukan; b. Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana yang dijanjikan; c. Melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat; d. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya.

38

Subekti, Op.cit., hal.45

83

Terhadap kelalaian atau kealpaan debitur sebagai pihak yang wajib melakukan sesuatu, diancamkan beberapa sanksi atau hukuman. Hukuman atau akibat bagi debitur yang lalai ada empat macam yaitu : a. Membayar kerugian yang diderita oleh kreditur atau disebut juga ganti rugi; b. Pembatalan perjanjian; c. Peralihan resiko; d. Membayar biaya perkara, jika sampai diperkarakan didepan hakim. Karena wanprestasi mempunyai akibat-akibat yang begitu penting, maka harus ditetapkan terlebih dahulu apakah si debitur benar-benar melakukan wanprestasi atau lalai terhadap kredit yang telah diterimanya, dan jika hal itu disangkal olehnya maka harus dibuktikan dihadapan hakim karena kebanyakan terjadinya kredit bermasalah dipicu oleh wanprestasi yang akan menimbulkan kredit macet. Oleh karena itu diperlukan perhatian khusus untuk menangani kredit yang bermasalah. Walaupun kredit bermasalah seringkali sulit untuk dihindarkan namun bank harus tetap mengelolanya secara hati-hati dan sedapat mungkin diminimalkan resikonya sehingga dapat memberikan keuntungan bagi bank. Kredit bermasalah dapat disebabkan oleh beberapa factor kelemahan, yaitu : a. Sisi Intern BRI, antara lain : 1. Itikat tidak baik dari petugas BRI 2. Kekurangmampuan petugas BRI dalam pengelolaan pemberian kredit mulai dari pengajuan permohonan sampai kredit dicairkan. 3. Kelemahan dan kurang fektifnya petugas BRI dalam membina debitur.

84

b. Sisi Ekstern BRI, antara lain : 1. Keadaan Force majeur antara lain : banjir, kebakaran, dan lain sebagainya. 2.Akibat perubahan-perubahan eksternal lingkungan seperti perubahan kebijakan pemerintah berupa peraturan perundang-undangan, kenaikan harga/biaya-biaya, dan lain sebagainya, yang berpengaruh secara langsung atau tidak langsung terhadap usaha debitur. c. Sisi debitur, antara lain : 1. Itikad tidak baik dari debitur. 2. Pengelolaan usaha debitur tidak berjalan baik. 3. Penggunaan kredit tidak sesuai dengan tujuan semula. 4. Menurunnya usaha debitur yang akan mengakibatkan turunnya kemampuan debitur untuk membayar angsuran. Sedangkan jika dilihat dari kelancaran usahanya kredit dapat dikategorikan lagi sebagai berikut : a. Kredit lancar yaitu kredit yang perjalanannya lancar atau memuaskan, artinya segala kewajiban (bunga atau angsuran utang pokok diselesaikan oleh nasabah secara baik). b. Kredit tidak lancar yaitu kredit selama 3 sampai 6 bulan dimana mutasinya tidak lancar, pembayaran bunga tidak baik serta angsuran utang pokoknya demikian juga. c. Kredit diragukan yaitu kredit yang tidak lancar dan telah sampai pada jatuh temponya belum dapat juga diselesaikan oleh nasabah yang bersangkutan.

85

Bank akan memberikan kesempatan kepada nasabah untuk berusaha menyelesaikan selama 3 sampai 6 bulan barulah bank akan mengambil langkah lebih lanjut misalnya mencairkan barang-barang jaminan, mengajukan perkaranya kebadan hukum atau lembaga yang telah ditunjuk. d. Kredit macet sebagai kelanjutan dari usaha penyelasaian atau pengaktifan kembali kredit yang tidak lancar dan usaha itu tidak berhasil, barulah kredit tersebut dikategorikan kedalam kredit macet.39 Dari keterangan diatas yang termasuk dalam kredit bermasalah adalah kredit tidak lancar, kredit diragukan dan kredit macet. Dalam sistem penilaian kualitas kredit, BRI menggolongkan berdasarkan tingkat kolektibilitasnya dimana tingkat kolektibilitas kredit tersebut didasarkan atas prospek usaha, kondisi keuangan dan kemampuan membayar.40 Penilaian terhadap prospek usaha, meliputi penilaian atas potensi pertumbuhan dari industri atau kegiatan usaha, pasar, persaingan usaha, manajemen, perusahaan afliasi atau grup dan tenaga kerja. Penilaian terhadap kondisi keuangan, meliputi penilaian atas perolehan laba, permodalan, likuiditas dan modal kerja, analisis arus kas, jumlah portofolio yang sensitive terhadap perubahan nilai tukar valas dan suku bunga atau telah dilakukan lindung nilai (hedging). Penilaian terhadap kemampuan membayar meliputi penilaian atas ketepatan pembayaran pokok dan bunga, hubungan debitur dengan bank, dokumentasi kredit dan pengikatan agunan.
39 40

Muchdarsyah Sinungan, Op.Cit, hal. 235-236 Pedoman Pelaksanaan Kredit, Kantor BRI

86

Berdasarkan penetapan tersebut di atas kualitas kredit digolongkan menjadi: 1. Kredit lancar adalah pinjaman kredit dengan tingkat pembayaran tepat pada waktunya dan tidak ada tunggakan. 2. Kredit dalam perhatian khusus adalah pinjaman kredit yang terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/atau bunga sampai dengan 90 hari. 3. Kredit kurang lancar adalah pinjaman kredit yang terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 90 hari sampai dengan 180 hari. 4. Kredit diragukan adalah pinjaman kredit yang terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 180 hari sampai dengan 270 hari. 5. Kredit macet adalah pembayaran kredit yang terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 270 hari sampai dengan360 hari. Dalam menyelesaikan kredit yang bermasalah, sebelum diambil tindakan penyeleaian yang tepat, bank akan mengadakan langkah-langkah berikut ini terlebih dahulu : 1 Pengenalan dini (early warning sign) Untuk mendeteksi potensi timbulnya kredit bermasalah baik secara individual maupun secara portofolio kredit sehingga akan memberikan lebih banyak peluang bagi bank dalam mencegah timbulnya kerugian sebagai akibat dari pemberia kredit. Penanganan kredit bermasalah bersifat antisipatif, proaktif dan berdisiplin. Tanda-tanda atau kejadian-kejadian yang dapat dikategorikan sebagai gejala dini kredit bermasalah antara lain :

87

a. Keterlambatan pembayaran angsuran sesuai janji; b. Omset penjualan yang cenderung menurun; c. Kecenderungan untuk berganti usaha, sementara debitur tesebut belum mempunyai pengalaman yang cukup untuk usaha baru yang akan digeluti. 2 Pendekatan kredit bermasalah Seluruh pejabat kredit harus mempunyai persepsi yang sama dalam penyelesaian kredit bermasalah dengan pendekatan sebagai berikut : a. Tidak membiarkan atau bahkan menutup-nutupi adanaya kredit bermasalah. b. Mendeteksi sacara dini adanya kredit bermasalah atau diduga akan menjadi kredit bermasalah. c. Menangani kredit bermasalah atau diduga akan menjadi kredit bermasalah harus dilakukan secara dini dan sesegara mungkin. d. Tidak menyelesaikan kredit bermasalah dengan mengkapitalisasi tunggakan bunga atau yang lazim dikenal dengan plafondering kredit kecuali dalam rangka penyelamatan kredit. e. Tidak melakukan pengecualian dalam penyelesaian kredit bermasalah, khususnya untuk kredit bermasalah kepada pihak-piha yang terkait dengan BRI dan debitur-debitur besar lainnya 3. Evaluasi kredit bermasalah Direksi secara berkala melakukan evaluasi terhadap daftar kredit bermasalah secara keseluruhan termasuk kredit dalam pengawasan khusus dan hasil penyelesaiannya serta akan selalu menghitung dan mengevaluasi prosentase kredit bermasalh terhadap total kredit.

88

Apabila krdit pada bank yang kolektibilitasnya tergolong diragukan dan macet telah mencapai 7,5 % (tujuh setengah persen) dari jumlah kredit secara keseluruhan maka direksi bank wajib menyampaikan laporan tertulis kepada Bank Indonesia kemudian membentuk satuan tugas khusus (STK) yan bertanggung jawab untuk menyelesaikan kredit bermasalah. Pejabat-pejabat yang ditunjuk dalam satuan tugas tersebut wajib menyusun program-program penyelamatan dan penyelesaian kredit yang kolektibilitasnya diragukan dan macet untuk dimintakan persetujuan direksi kemudian melaporkan program yang telah disetujui tersebut kepada Bank Indonesia. 4. Penyelesaian terhadap kredit yang tidak dapat ditagih Mengenai kredit bermasalah yang tidak dapat diselamatkan maka proses penyelesaiannya sebagai berikut : A. Penagihan secara damai berupa tindkan-tindakan seperti; penjualan sebagian atau seluruh harta kekayaan debitur atau barang agunan oleh debitur, pelunasan dengan atau tanpa bunga keringanan atau koreksi bunga atau pembebasan utang sebagian. B. Penagiahan melalui saluran hukum Apabila penyelesaian kredit bermasalah telah dipayakan melalui

penyelesaian secara damai oleh bank dan ternyata tidak berhasil maka bank dapat menyerahkan perkaranya melalui saluran hukum. Badan-badan atau lembaga yang dapat menangani penyelesaian kredit macet melalui saluran hukum sesuai yang diatur dalam Surat Keputusan

89

Menteri Keuangan RI No. 293/KMK.09/1993 tanggal 27 Februari 1993 adalah : 1) BUPLN dengan tahapan-tahapan sebagai berikut : a. Penerbitan Surat Penerimaan Pengurusan Piutang Negara (SP3N), yang ditujukan pada bank sebagai bukti bahwa BUPLN menyatakan telah menerima baik penyerahan perkara kredit macet tersebut. b. Penetapan besarnya piutang Negara. c. Pembuatan pernyataan bersama (PB) untuk lebih memperkuat atau memperoleh kepastian hukum mengenai besarnya piutang yang wajib diselesaikan. Dalam pernyataan bersama termuat pula pemberian kesempatan jangka waktu penyelesaian utang yang dijanjikan oleh pihak yang berutang paling lama 12 bulan. d. Penataan dan pengamanan barang jaminan. e. Penerbitan surat paksa dalam hal debitur tidak memenuhi kewajibannya yang telah ditetapkan dalam pernyataan bersam dan telah diberikan peringatan tertulis yang diserahkan langsung oleh juru sita kepada debitur. f. Penyitaan yang dilaksanakan oleh juru sita berdasarkan surat perintah penyitaan yang ditandatangani oleh ketua BUPN dan disaksikan oleh dua orang saksi apabila ketentuan di dalam surat paksa tidak dipenuhi juga oleh debitur. g. Pelelangan (eksekusi lelang) yang dapat ditempuh dalam bebearapa tahapan seperti penetapan harga limit, penguasaan fisik dan pengosogan

90

barang jaminan yang akan dilelang, persiapan atau pelaksanaan lelang dan tindak lanjut atas pelelangan yang ditunda atau batal. h. Pernyataan pelunasan dan penyelesaian piutang Negara, apabila debitur telah memenuhi seluruh kewajiban utangnya. i. Mengeluarkan surat keterangan tentang Piutang Negara Sementara Belum Dapat Ditagih (PNSBDT)yang kemudian diberitahukan kepada kreditur/penyerah piutang.41 2) Diluar BUPLN, antara lain: a. Pengadilan Negeri b. Kejaksaan Negeri. Sebagaimana yang telah dikatakan di atas apabila telah dilakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan piutang tersebut tetapi tetap tidak mendapatkan hasil sebagaimana mestinya dan telah dikeluarkan pula surat keterangan tentang Piutang Negara Sementara Belum Dapat Ditagih (PNSBDT) yang kemudian diberitahukan kepada kreditur sebagai dasar bagi kreditur untuk mengusulkan hapus buku piutang dari pembukuan kreditur. Sisa utang yang belum dilunasi tetap menjadi kewajiban BUPLN untuk menagih kepada debitur. Sesuai dengan Surat Direksi Bank Indonesia No.11/377/UUP/PK tanggal 14 Maret 1979 tentang tata cara Penghapusbukuan kredit macet (Mandatory writeoff) pada dasarnya menjadi wewenang direksi. Disamping itu sesuai dengan Undang-undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 dan berdasarkan akta pendirian Bank Rakyat Indonesia Nomor 133 Pasal 11 ayat (2)(e), ditetapkan bahwa direksi
Wawancara, dengan Bapak Priyono N, Kabid Piutang Negara Kanwil III BUPLN Pekanbaru, tanggal 31 Agustus 2010.
41

91

BRI berwenang untuk menghapusbukukan kredit macet dan selanjutnya mempertanggung jawabkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Suatu kredit yang pada akhirnya telah ditetapkan sebagai kredit macet dapat diputuskan untuk dihapusbukukan apabila telah memenuhi syarat-syarat penghapusbukuan yang telah ditetapkan. Begitu juga di Bank BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru, dalam menangani kredit macet yang telah diputuskan untuk dihapusbukukan telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebagaimana mestinya. Pejabat yang berwenang untuk memutus penghapusbukan pinjaman serta syarat-syarat yang dapat dihapusbukukan telah diatur dalam surat edaran direksi Nokep : S.38-DIR/ADK/03/2001 tanggal 8 Maret 2001.42 Terjadinya penghapusbukuan kredit macet apabila telah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : A. Kredit Macet Diluar Kredit Tetap dan Kredit Pensiun 1) Syarat umum Pada dasarnya yang dapat dihapusbukukan adalah semua fasilitas kredit atas nama seorang debitur yang kolektibilkitasnya telah macet dan semua usaha debitur yang dibiayai dengan fasilitas kredit tersebut benar-benar telah macet. Dengan kata lain penghapusbukuan hanya dapat dilaksanakan apabila kolektibilitas dari semua fasilitas yang dinikmati oleh seorang debitur telah macet dan usha atau semua usaha yang dibiayai dengan

42

Wawancara, dengan Bapak M. Rafai, Kepala Bagian Kredit, PT. Bank Rakyat Indonesia (persero) Unit Pangkalan Kerinci, Tanggal 19 Agustus 2010.

92

fasilitas terseut benar-benar macet. Penghapusbukuan terhadap sebagian dari fasilitas kredit yang dinikmati seorang debitur tidak diperkenankan. 2) Syarat Khusus Selain syarat umum diatas, suatu kredit dapat dihapusbukukan pabila telah memenuhi salah satu, beberapa atau semua criteria sebagai berikut : a. Telah diterbitkan surat keputusan kredit macet sebagai piutang Negara yang untuk sementara belum dapat ditagih oleh BUPLN. b. Dokomen jaminan lemah (bukti pemilikan dan pengikat tidak lengkap). c. Hasil penjualan baik secara di bawah tangan atau hasil pelelangan tidak dapat menutup seluruh kewajiban debitur. d. Jaminan tidak laku minimal telah melalui 2 kali pelelangan BUPLN. e. Debitur sudah tidak ada lagi atau tidak diketahui lagi alamatnya. f. Debitur badan usaha telah dinyatakan pailit dengan pembuktian surat putusan pailit dari pengadilan Negeri. B. Kredit macet kredit tetap dan kredit pesiun 1) Syarat umum Pinjaman kredit tetap dan kredit pension dapat dihapusbukukan apabila telah dibukukan ke rekening 2) Syarat Khusus Selain syarat umum diatas, kredit tetap dan kredit pension dapat dihapusbukukan apabila telah memenuhi salah satu, beberapa atau semua kriteria dibawah ini :

93

a. Debitur telah meninggal dunia tidak ada asuransi jiwa dan ahli waris tidak mampu atau tidak mampu membayar. b. Debitur tidak diketahui lagi alamatnya yang dibuktikan dengan surat keterangan Lurah atau Kepala Desa setempat. c. SK pensiun debitur palsu yang dibuktikan dengan berita acara pelaporan kepolisian. d. Debitur dikeluarkan atau dipecat dari dinas dan pesangon yang diterima tidak cukup untuk menutup sisa kreditnya sesuai dengan surat keterangan dari instansi yang bersangkutan. Pada uraian diatas telah dijelaskan bahwa terhadap kredit macet yang telah dihapusbukukan pada dasarnya dapat dihapusbukukan oleh pejabat pemutus sesuai kewenangannya. Sehubungan dengan hal diatas, maka perlu ditetapkan urutan prioritas pinjaman yang akan dihapusbukukan sebagai berikut : a. Dasar Aging Kolektibilitas Kredit macet yang akan dihapusbukukan diprioritaskan untuk kredit yang kolektibilitas macetnya lebih awal atau umurnya tertua. b. Dasar Aging Jatuh Tempo Jika tanggal kolektibilitas macet antara kredit yang satu dengan yang lainnya sama, maka aging ditentukan oleh umur tertua menurut tanggal jatuh temponya.

94

Prosedur Penghapusbukuan Kredit Macet Apabila segala upaya penyelesaian kredit macet sudah dilakukan, namun tidak membawa hasil yang diharapkan maka kredit dapat dihapusbukukan setelah memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan. Untuk selanjutnya kredit macet yang telah dihapusbukukan tersebut dilaporkan kepada Dewan Komisaris dan dipertanggungjawabkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Mengenai penghapusbukuan kredit macet oleh PT. Bank Rakyat Indonesia (PERSERO) telah diatur dalam surat keputusan NOKEP : 5.48-DIR/ADK/10/96 tentang kewenangan memutus penghapusbukuan kredit macet. 1. Wewenang memutus penghapusbukuan kredit macet hanya berdasarkan pada kewajiban debitur yang meliputi : a. Pokok, dan b. Biaya-biaya yang berhubungan dengan pinjaman yang di buku piutang lainnya (dahulu : Piutang Ektern) antara lain : Pengikatan agunan, premi asuransi, peningkatan hak dan ongkos perkara. Pembagian wewenang tersebut adalah sebagai berikut : a. Pemimpin Cabang Memutus penghapusbukuan kredit macet yang kewajibannya sampai dengan jumlah Rp. 250 juta. b. Pemimpin Wilayah Memutus penghapusbukuankredit macet yang kewajibannya diatas Rp. 250 Juta sampai dengan jumlah Rp. 400 juta c. Pemimpin Cabang Khusus

95

Memutus penghapusbukuan kredit macet yang kewajibannya sampai dengan jumlah Rp. 400 juta. d. Komite Urusan PLK(yang anggotanya terdiri dari : Kepala Urusan, Wakil Kepala urusan, Kabag PLK dan staff Urusan PLK). Memutus penghapusbukuan kredit macet yang kewajibannya di atas Rp. 400 juta samai dengan 1 Milyar. e. Direktur Bidang PLK Memutus penghapusbukuan kredit macet yang kewajibannya diatas 1 Milyar sampai dengan jumlah 3 Milyar. f. Direktur Bidag PLK dan Direktur Pengganti Memutus penghapusbukuan kredit macet yang kewajibannya di ats 3 Milyar sampai dengan jumlah 15 Milyar. g. Direktur Bidang PLK dan Direktur Pengganti serta Direktur Utama Memutus penghapusbukuan kredit macet yang kewajibannya diatas 15 Milyar sampai dengan 25 Milyar. h. Semua Anggota Direksi Memutus penghapusbukuan kredit macet yang kewajibannya diatas 25 Milyar. 2. Format putusan penghapusbukuan kredit macet mengacu pada Surat Urusan PLK No : B.541-PLK/PKB?08/96, tanggal 21 Agustus 1996 dengan tambahan informasi tentang CAP yang sudah dibuku dan Nilai agunan yang dikuasai(AGYD) dari debitur yang bersangkutan sehingga dapat diketahui beberapa beban CAP yang efektif utuk dipergunakan. Setiap putusan

96

penghapusbukuan kredit macet harus selalu dicantumkan syarat bahwa penghapusbukuan kredit macet bersifat intern dan sangat rahasia, karena tidak membebaskan debitur dari kewajibannya kepada BRI. 3. Jurnal pembukuan/angsuran kredit yang sudah dihapusbukukan mengacu pada Surat Edaran Direksi BRI NOKEP : S.87-DIR/AKU/12/95, tanggal 14 Desember 1995 tentang akuntansi kredit yang dihapusbukukan dan perubahannya. Dasar penghapusbukuan kredit dapat terjadi karena : 1. Umur Tunggakan Kredit yang umur tunggakannya baik pokok dan atau bunga telah melewati 360 hari (Kolektibilitasnya telah diklarifikasikan macet). 2. Alasan Khusus Kredit yang dihapusbukukan dengan kiteria khusus sesuai persetujuan Direksi. 3. Penyerahan ke Saluran Hukum Kredit yang diserahkan penyelesaiannya melalui saluran hukum. Dalam hal penghapusbukuan kredit merupakan kelanjutan dari tindakan penyelesaian kredit dengan cara pengambilalihan agunan maka jumlah yang dihapusbukukan adalah sebesar kewajiban debitur dikurangi dengan nilai bersih yang dapat direalisasikan dari agunan yang diambil alih. Kredit serta tagihan lainnya yang dihapusbuku tetap dicatat secara extracomtable, agar kewajiban debitur tetap dapat diketahui setiap saat dalam rangka penagihan/pembuktian kepada debitur.

97

Jumlah kredit yang dapat dihapusbukukan adalah sebesar bagian yang yang tidak dapat tertagih. Agunan yang diambil alih sehubungan dengan penyelesaian pinjaman diakui sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi. Penerimaan kedit yang telah dihapusbukukan diakui sebagai penyesuaian terhadap penyisihan kerugian sebesar nilai pokok. Jika penerimaan tersebut melebihi nilai pokoknya maka kelebihan nilai tersebut diakui sebagai pendapatan bunga.

B. Akibat Penghapusbukuan atau Mandatory Write-off Terhadap Bank BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru. Kredit yang telah dihapusbukukan adalah kredit yang secara akuntansi tela dikeluarkan pencatatannya dari rekening aktiva BRI Unit, namun secara yuridis kredit tersebut masih merupakan asset BRI Unit yang secara terus menerus tetap harus ditagih pelunasannya dan harus diselesaikan oleh debitur yang bersangkutan. Kredit yang telah dihapusbukukan ini dicatat dalam Register Daftar Hitam dan bersifat rahasia serta tidak boleh diberitahukan kepada kreditur. Kredit yang telah dihapusbukukan, pengelolaan administrasinya dipisahkan sebagai berikut : 1. Register Kredit Daftar Hitam I Register ini untuk mencatat dan memeliharakerjakan kredit yang

dihapusbukukan karena umur tunggakan dan alasan khusus. 2. Register Kredit Daftar Hitam II Register ini untuk mencatat dan memeliharakerjakan kredit yang penagihannya diserahkan melalui saluran hukum.

98

3. Register Kredit Daftar Hitam III a. Register ini untuk mencatat dan memeliharakerjakan kredit yang akan dan telah dihentikan penagihannya. b. Bila menurut Kepala Unit seorang debitur yang tercatat dalam Register Kredit Daftar Hitam I dan Register Kredit Daftar Hitam II sudah tidak bisa diharapkan lagi pemasukannya, maka debitur tersebut atas dasar putusan Pejabat Kredit Lini dapat dipeliharakerjakan dalam Register Kredit Daftar Hitam III.

Mengenai akibat hukum penghapusbukuan kredit terhadap bank BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru, bank tidak kehilangan kemampuan untuk menagih piutang yang telah dihapusbukukan. Kerena sebagaimana yang telah diuraikan di atas penghapusbukuan kredit merupakan pengeluaran kredit tersebut dari pencatatannya direkening aktiva BRI Unit secara akuntansi namun secara yuridis kredit tersebut masih merupakan asset BRI Unit yang tetap harus ditagih pelunasannya dan harus diselesaikan oleh debitur yang bersangkutan. Dan terhadap jaminan yang diberikan oleh debitur yang disini berupa Hak Tanggungan atas tanah akan tetap berada dalam kekuasaan kreditur atau bank, dan apabila bank tidak memerlukannya maka bank wajib mengalihkannya pada pihak lain dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak diperolehnya dan apabila dalam jangka waktu 1 (satu) tahun tersebut perlu diperpanjang maka dapat dimintakan perpanjangan waktunya kepada BPN setempat.

99

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pada hasil penelitian yang telah dilakukan pada bank BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru, maka dapat diambil kesimpulan dan saran sebagai berikut : 1. Prosedur Pelaksanaan penghapusbukuan utang atau mandatory write-off biasanya diawali dengan wanprestasi yang dilakukan oleh debitur yang akhirnya berkembang menjadi kredit bermasalah. Dan apabila kredit tersebut benar-benar telah dinyatakan bermasalah dan telah dilakukan pula berbagai upaya penyelesaian semaksimal mungkin sesuai dengan ketentuan yang berlaku guna menyelamatkan kredit tersebut namun tetap tetap tidak mendatangkan hasil maka setelah dikeluarkannya surat keterangan tentang piutang Negara sementara belum dapat ditagih(PNSBDT) yang kemudian diberitahukan kepada kreditur sebagai dasar untuk mengusulkan hapus buku piutang dari pembukuan kreditur yang kemudian dilanjutkan dengan melaporkannya kepada Dewan Komisaris dan dipertanggungjawabkan pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Penghapusbukuan kredit adalah tindakan administratif bank untuk menghapus buku kredit macet dari neraca sebasar kewajiban debitur tanpa menghapus hak tagih bank pada debitur. Jumlah kredit yang dihapusbukukan adalah sebesar bagian yang tidak dapat tertagih. Agunan yang diambil alih sehubungan dengan penyelesaian pinjaman diakui sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi.

100

2. Akibat hukum penghapusbukuan utang atau mandatory write off terhadap Bank BRI Unit Pangkalan Kerinci Cabang Pekanbaru adalah meskipun secara akuntansi kredit tersebut telah dikeluarkan pencatatannya dari rekening aktiva BRI Unit namun secara yuridis kredit tersebut masih tetap merupakan asset BRI Unit yang secara terus menerus tetap harus ditagih pelunasannya dan harus diselesaikan oleh debitur yang bersangkutan. Kredit serta tagihan lainnya yang dihapus buku tetap dicatat secara extracomtable, agar kewajiban debitur dapat diketahui setiap saat dalam rangka penagihan/pembuktian kepada kreditur. Sedangkan terhadap barang agunan yang disini berupa Hak Tanggungan atas tanah akan tetap berada di bawah kuasa bank sebagai kreditur. Dan apabila bank tidak memerlukannya maka bank wajib mengalihkannya pada pihak lain dalam jangka waktu 1 tahun sejak diperolehnya dan apabila dalam jangka waktu 1 (satu) tahun tersebut perlu diperpanjang maka dapat dimintakan perpanjangan waktunya kepada BPN setempat.

B. Saran-saran 1. Dalam menangani pengajuan kredit hendaknya pihak BRI dapat melakukan analisa secara benar, wajar dan teliti untuk menekan seminim mungkin terjadinya kredit yang bermasalah. Dengan kata lain faktor 5 C harus benarbenar diperhatikan. 2. Dalam melakukan pembinaan kredit harus dilakukan secara teratur dan berkesinambungan, yang dimulai sejak permohonan kredit sampai dengan

101

pelunasannya agar bermanfaat atau memberikan keuntungan baik bagi debitur maupun pihak kreditur serta dapat memberikan arah agar kredit yang diberikan digunakan sesuai dengan tujuannya dan juga dapat mengidentifikasi kelemahan yang terjadi dalam proses pemberian kredit serta mencari solusi untuk memperbaiki kelemahan yang ada.

102

DAFTAR PUSTAKA

Chalik. A, Pengantar Perkreditan, PT. Gramedia, Jakarta, 1991 Muljono Eugenia Liliawati, Tinjauan Yuridis Undang-undang no 4 Tahun 1996 dalam Kaitannya dengan Pemberian kredit oleh Perbankan, Harvindo, Jakarta, 2003 Widjaja Gunawan dan Yani Ahmad, Jaminan Fiducia, Ctk Kedua, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001 Hasibuan. H.Malayu SP, Dasar-dasar Perbankan, Bumi Aksara, Jakarta, 2004 Siegel .Joel G, Aspek Utang Dalam Perjanjian Kredit, PT. Gramedia, Jakarta, 1994 Wuisman. J.J. M, Dikutip dalam S. Mantayborbir, System Hukum Pengurusan Piutang Negara, Pustaka Bangsa Press, Jakarta, 2004 Muljadi Kartini - Widjaja Gunawan, Hak Tanggungan, Ctk Pertama, Prenada Media, Jakarta, 2005 Badrulzaman Mariam Darus, Perjanjian Kredit Bank, PT. Citra Abadi Bakti, Bandung, 1991 Badrulzaman Mariam Darus, Kompilasi Hukum Perikatan, PT. Citra Abdi Bakti, Bandung, 2001 SU. Martono, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, Ekonisia, Yogyakarta,2002 Bachtiar Maryati, Hukum Perikatan, Pusat Pengembangan Pendidikan Universitas Riau, Pekanbaru, 2007

103

Sinungan Muchdarsyah, Dasar-dasar dan Teknik Manajemen Kredit, Bumi Aksara, Jakarta, 1991 Harahap M.Yahya, Segi-segi Hukum Perjanjian, Alumni, Bandung, 1986 Subekti. R, Hukum Jaminan untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1989 Subekti. R, Hukum Perjanjian, Ctk. Kesembilanbelas, Jakarta, 2002 Subekti. R, Jaminan-jaminan Untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia, Ctk Ketiga, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1989 1995 Soekanto Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia (UI Press), Jakarta, 1986 Sutarno, Aspek-aspek Hukum Perkreditan Pada Bank, Ctk Kedua, Alfabeta, Bandung, 2004 Sofwan Sri Soedewi Masjohoen, Hukum Jaminan di Indonesia, Liberti Offset, Yogyakarta, 1981 Amirin Tatang M., Menyusun Rencana Penelitian, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2000 Suyatno Thomas, dkk, Dasar-dasar Perkreditan, PT. Gramedia, Jakarta, 1990 Djohan Warman, Kredit Bank, Mutiara Sumber Widya, Jakarta, 2000 Projodikoro Wiryono, Hukum Perdata Tentang Perstujuan-persetujuan Tertentu, Sumur, Bandung, 1981

104

Peraturan Perundang-undangan Undang-undang republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1992 Tantang Perbankan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998, Tentang Perubahan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 302/kmk.01 Tahun 2002 Undang-undang No. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan

105

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->