P. 1
Manusia Dan Agama

Manusia Dan Agama

|Views: 149|Likes:
Published by andikaikal

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: andikaikal on Nov 24, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/06/2014

pdf

text

original

MANUSIA DAN AGAMA oleh Muhamad Shiroth, Imam Hartojo, dan Reza Nursadewo Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

, Depok, 1999

Manusia dan Alam Semesta Dari sudut pandang manusia, yang ada adalah Allah Sang Pencipta dan alam semesta yang diciptakan Allah. Sebelum Allah menciptakan Adam sebagai manusia pertama, alam semesta telah diciptakan-Nya dengan tatanan kerja yang teratur, rapi, dan serasi. Keteraturan, kerapian, dan keserasian ini dapat dilihat dari dua kenyataan: Pertama,berupa keteraturan, kerapian, dan keserasian dalam hubungan alamiah antara bagian-bagian di dalamnya dengan pola saling melengkapi dan mendukung; Kedua, keteraturan yang ditugaskan kepada malaikat untuk menjaga dan melaksanakannya. Kedua hal itulah yang membuat berbagai keteraturan, kerapian, dan keserasian yang kita yakini sebagai Sunnatullah yakni ketentuan dan hukum yang ditetapkan Allah. Seperti pada matahari sebagai pusat dari sistem tata surya, berputar pada sumbunya dan memancarkan energinya kepada alam semesta secara teratur dan tetap. Ada tiga sifat utama Sunnatullah yang disinggung dalam Al-Qur’an, yaitu: pasti, tetap, dan obyektif. Sifat yang pertama, yaitu pasti, tentu menjamin dan memberi kemudahan kepada manusia membuat rencana, sehingga dapat membuat perhitungan yang tepat menurut Sunnatullah: "… Dia telah menciptakan sesuatu, dan Dia (pula yang) memastikan (menentukan) ukurannya dengan sangat rapi." (QS 25:2) "… Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan (kepastian) bagi tiap sesuatu." (QS 65:3) Sifat yang kedua adalah tetap, tidak berubah-ubah: "… Tidak ada yang sanggup menggubah kalimat-kalimat Allah." (QS 6:115) "… Dan engkau tidak akan menemui perubahan dalam Sunnah kami …" (QS 17:77) Sifat yang ketiga adalah obyektif: "…, bahwasanya dunia ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh." (QS 21:105) Demikianlah alam semesta diciptakan Allah dengan hukum-hukum yang berlaku baginya yang (kemudian) diserahkan-Nya kepada manusia untuk dikelola dan dimanfaatkan, sebagai khalifah. Untuk dapat menjalankan kedudukannya itu manusia diberi bekal berupa potensi seperti akal yang melahirkan berbagai ilmu

sebagai alat untuk mengelola dan memanfaatkan alam semesta serta mengurus bumi ini. "Dia telah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya …" (QS 2:31) Dengan akal dan ilmu yang dikuasainya, manusia akan mampu mengelola dan memanfaatkan alam semesta serta bumi ini untuk kepentingan manusia serta makhluk lain. Atas pelaksanaan amanat tersebut manusia akan dimintai pertanggungjawabannya di akherat apakah telah mengikuti dan mematuhi pola dan garis besar yang diberikan melalui para nabi dan rasul yang termuat dalam ajaran agama.

Manusia Menurut Agama Islam Al-Qur’an tidak menggolongkan manusia ke dalam kelompok hewan selama manusia mempergunakan akal dan karunia Tuhan lainnya. Namun bila manusia tidak mempergunakan akal dan berbagai potensi pemberian Tuhan yang sangat tinggi nilainya seperti: pemikiran, kalbu, jiwa, raga, serta pancaindera secara baik dan benar, ia akan menurunkan derajatnya sendiri menjadi hewan: "… Mereka (manusia) punya hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayatayat Allah), punya mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), punya telinga tetapi tidak mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka (manusia) yang seperti itu sama (martabatnya) dengan hewan bahkan lebih rendah (lagi) dari binatang." (QS 7:179) Di dalam Al-Qur’an manusia disebut antara lain dengan al-insan (QS 76:1), an-nas (QS 114:1), basyar (QS 18:110), bani adam (QS 17:70). Berdasarkan studi isi AlQur’an dan Al-Hadits, manusia (al-insan) adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki potensi untuk beriman kepada Allah dan dengan mempergunakan akalnya mampu memahami dan mengamalkan wahyu serta mengamati gejala-gejala alam, mempunyai rsa tanggung jawab atas segala perbuatannya dan berakhlak (N.A. Rasyid, 1983: 19). Berdasarkan rumusan tersebut, manusia mempunyai berbagai ciri sebagai berikut: 1. Makhluk yang paling unik, dijadikan dalam bentuk yang sangat baik, ciptaan Tuhan yang paling sempurna. "Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya." (QS 95:4) 2. Manusia memiliki potensi (daya atau kemampuan yang mungkin dikembangkan) beriman kepada Allah.

"… ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ " (QS 7:172) 3. Manusia diciptakan Allah untuk mengabdi kepada-Nya. "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS 51:56) 4. Manusia diciptakan Tuhan untuk menjadi khalifahnya di bumi. "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesunggunya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ … " (QS 2:30) 5. Manusia dilengkapi akal, perasaan, dan kemauan atau kehendak. "Dan katakanlah: ‘kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.’ …" (QS 18:29} 6. Manusia secara individual bertanggung jawab atas segala perbuatannya. "… Setiap orang (manusia) terikat (bertanggung jawab) terhadap apa yang dilakukannya." (QS 52:21) 7. Manusia itu berakhlak. Manusia menurut agama Islam, terdiri dari dua unsur, yaitu unsur materi berupa tubuh yang berasal dari tanah dan unsur immateri berupa roh yang berasal dari alam gaib. Al-Qur’an mengungkapkan proses penciptaan manusia: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal dari) tanah [12]. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) [13]. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci-lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik [14]. Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah [7]. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani) [8]. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi Kamu pendengaran, penglihatan, dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur [9]." (QS 23:12-14, 32:7-9) Sedangkan menurut hadits, Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya, setiap manusia dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari sebagai nuthfah (air mani), empat puluh hari sebagai ‘alaqah (segumpal darah), selama itu pula sebagai mudhghah (segumpal daging).

Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalam tubuh manusia, yang berada dalam rahim itu" (HR Bukhari dan Muslim) Ali Syari’ati – sejarawan dan ahli sosiologi Islam terkemuka – mengemukakan pendapatnya mengenai intrepretasi hakikat kejadian manusia. Manusia menpunyai dua dimensi: dimensi ketuhanan (kecendrungan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah) dan dimensi kerendahan atau kehinaan (lumpur mencerminkan keburukan-kehinaan). Karena itulah manusia dapat mencapai derajat yang tinggi namun dapat pula terperosok dalam lembah yang hina, yang manusia dibebaskan untuk memilihnya. Ali Syari’ati memberikan makna tentang filsafat manusia: 1. Manusia tidaklah sama (konsep hukum), tetapi bersaudara (asal kejadian). 2. Manusia mempunyai persamaan antara pria dan wanita (sumber yang sama yakni dari Tuhan). 3. Manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi dari malaikat karena pengetahuan yang dimilikinya. 4. Manusia memiliki fenomena dualistis: terdiri dari tanah dan roh Tuhan, yang terdapat kebebasan pada dirinya untuk memilih. Atas kebebasan memilih tersebut, manusia bergerak dalam spektrum yang mengarah ke jalan Tuhan atau sebaliknya mengarah ke jalan setan. Manusia dengan akalnya sebagai suatu hidayah Allah kepada-Nya , memilih apakah ia akan terbenam dalam lumpur kehinaan atau menuju ke kutub mulia ke arah Tuhan. Dalam menentukan pilihan manusia memerlukan petunjuk yang benar yang terdapat dalam agama Allah yaitu agama Islam, yang menyeimbangkan antara dunia dan akherat. "Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam …" (QS 3:19) Manusia sebagai makhluk Ilahi hidup dan kehidupannya berjalan melalui lima tahap: (1) alam gaib, (2) alam rahim, (3) alam dunia, (4) alam barzakh, dan (5) alam akherat. Dari kelima tahapan kehidupan manusia itu, tahap kehidupan di dunia merupakan tahap yang menentukan tahap kehidupan selanjutnya, sehingga manusia dikaruniai Allah dengan berbagai alat perlengkapan dan bekal agar dapat menjalankan tugas sebagai khalifah di bumi, serta pedoman agar selamat sejahtera di dunia dalam perjalanannya menuju tempatnya yang kekal di akherat nanti. Pedoman itu adalah agama. Sesunguhnya manusia diciptakan Allah untuk beribadah kepada-Nya. Apa arti ibadah? Apakah secara ritual menyembah Allah, shalat lima waktu, puasa, zakat, dan berhaji saja? Bila memang itu maknanya, lalu bagaimana dengan usaha mempertahankan hidup? Apakah hanya dengan shalat maka hidangan akan

disediakan Allah begitu saja? Tentu tidak, kita sebagai manusia harus berusaha memperoleh makan dan minum. Sebagai manusia kita harus bekerja untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup. Bila ibadah hanya diartikan sebatas pada ibadah ritual belaka dan tidak memasukkan bekerja sebagai suatu ibadah pula, maka merugilah manusia karena hanya sedikit dari waktunya untuk beribadah, bila dibandingkan ibadah dalam artian luas yang tidak terbatas pada ibadah ritual belaka. Tujuan ibadah: "Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertaqwa." (QS 2:21) Prof.DR. M. Mutawwali As-Sya’rani mengutarakan bahwa: manusia diberi sarana oleh-Nya, diberi bumi yang tunggal dan beribadah pada-Nya, Alah telah memberi kewajiban-kewajiban, karenanya Allah meminta hak agar manusia beribadah kepada-Nya dengan tujuan agar manusia dapat terhindar dari soal-soal buruk yang merugikan di dunia.

Agama: Arti dan Ruang Lingkupnya Sesuai dengan asal muasal katanya (sansekerta: agama,igama, dan ugama) maka makna agama dapat diutarakan sebagai berikut: agama artinya peraturan, tata cara, upacara hubungan manusia dengan raja; igama artinya peraturan, tata cara, upacara hubungan dengan dewa-dewa; ugama artinya peraturan, tata cara, hubungan antar manusia; yang merupakan perubahan arti pergi menjadi jalan yang juga terdapat dalam pengertian agama lainnya. Bagi orang Eropa, religion hanyalah mengatur hubungan tetap (vertikal) anatar manusia dengan Tuhan saja. Menurut ajaran Islam, istilah din yang tercantum dalam Al-Qur’an mengandung pengertian hubungan manusia dengan Tuhan (vertikal) dan hubungan manusia dengan manusia dalam masyarakat termasuk dirinya sendiri, dan alam lingkungan hidupnya (horisontal). "… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah kuridhai Islam itu jadi agama(din) bagimu …" (QS 5:3) "Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia …" (QS 3:112) Persamaan istilah agama tidak dapat dijadikan alasan untuk menyebutkan bahwa semua agama adalah sama, karena adanya perbedaan makna atas istilah agama tersebut, yang berbeda atas sistem, ruang lingkupnya, dan klasifikasinya. Karena agama merupakan kepentingan mutlak setiap orang dan setiap orang terlibat dengan agama yang dipeluknya maka tidaklah mudah untuk membuat

suatu defenisi yang mencakup semua agama, namun secara umum dapat didefenisikan sebagai berikut: agama adalah kepercayaan kepada Tuhan yang dinyatakan dengan mengadakan hubungan dengan-Nya melalui upacara, penyembahan dan permohonan, dan membentuk sikap hidup manusia menurut atau berdasarkan ajaran agama itu.

Hubungan Manusia dengan Agama Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah sebagai pencipta alam semesta. Allah sendiri yang mencipta dan memerintahkan ciptaan-Nya untuk beribadah kepada-Nya, juga menurunkan panduan agar dapat beribadah dengan benar. Panduan tersebut diturunkan Allah melalui nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya, dari Adam AS hingga Muhammad SAW. Nabi-nabi dan rasul-rasul tersebut hanya menerima Allah sebagai Tuhan mereka dan Islam sebagai panduan kehidupan mereka. Beribadah diartikan secara luas meliputi seluruh hal dalam kehidupan yang ditujukan hanya kepada Allah. Kita meyakini bahwa hanya Islamlah panduan bagi manusia menuju kebahagiaan dunia dan akherat. Islam telah mengatur berbagai perihal dalam kehidupan manusia. Islam merupakan sistem hidup, bukan sekedar agama yang mengatur ibadah ritual belaka. Sayangnya, pada saat ini, kebanyakan kaum muslim tidak memahami hal ini. Mereka memahami ajaran Islam sebagaimana para penganut agama lain memahami ajaran agama mereka masing-masing, yakni bahwa ajaran agama hanya berlaku di tempat-tempat ibadah dan dilaksanakan secara ritual, tanpa ada aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut biasanya disebabkan karena dua hal: Pertama, terjadinya gerakan pembaruan di Eropa yang fikenal sebagai Renaissance dan Humanisme, sebagai reaksi masyarakat yang dikekang oleh kaum gereja pada masa abad pertengahan atau Dark Ages, kaum gereja mendirikan mahkamah inkuisisi yang digunakan untuk menghabisi para ilmuwan, cendikiawan, serta pembaharu. Setelah itu, pada masa Renaissance, masyarakat menilai bahwa Tuhan hanya berkuasa di gereja , sedangkan di luar itu masyarakat dan rajalah yang berkuasa. Paham dikotomis ini kemudian dibawa ke Asia melalui penjajahan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa; Kedua, masih adanya ulama-ulama yang jumud, kaku dalam menerapkan syariat-syariat Islam, tidak dapat atau tidak mau mengikuti perkembangan jaman. Padahal selama tidak melanggar Al-Qur’an dan Hadits, ajaran-ajaran Islam adalah luwes dan dapat selalu mengikuti perkembangan zaman. Akibat kejumudan tersebut, banyak kalangan masyrakat yang merasa takut atau kesulitan dalam menerapkan syariat-syariat Islam dan menilainya tidak aplikatif. Ini membuat masyarakat semakin jauh dari syariat Islam. Paham dikotomis melalui sekularisme tersebut antara lain dipengaruhi terutama oleh pemikiran August Comte melalui bukunya Course de la Philosophie Positive (1842) mengemukakan bahwa sepanjang sejarah pemikiran manusia berkembang

melalui tiga tahap: (1) tahap teologik, (2) tahap metafisik, dan (3) tahap positif; pemikiran tersebut melahirkan filsafat positivisme yang mempengaruhi ilmu pengetahuan sosial dan humaniora, melalui sekularisme. Namun teori tersebut tidaklah benar, sebab perkembangan pemikiran manusia tidaklah demikian, seperti pada zaman modern ini (tahap ketiga), manusia masih tetap percaya pada Tuhan dan metafisika, bahkan kembali kepada spiritualisme. Sejarah umat manusia di barat menunjukkan bahwa dengan mengenyampingkan agama dan mengutamakan ilmu dan akal manusia semata-mata telah membawa krisis dan malapetaka. Atas pengalamannya tersebut, kini perhatian manusia kembali kepada agama, karena: (1) Ilmuwan yang selama ini meninggalkan agama, kembali pada agama sebagai pegangan hidup yang sesungguhnya, dan (2) harapan manusia pada otak manusia untuk memecahkan segala masalah di masa lalu tidak terwujud. Kemajuan ilmu pengetahuan telah membawa manusia pada tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi, namun dampak negatifnya juga cukup besar berpengaruh pada kehidupan manusia secara keseluruhan. Sehingga untuk dapat mengendalikan hal tersebut diperlukan agama, untuk diarahkan untuk keselamatan dan kebahagiaan umat manusia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa agama sangat diperlukan oleh manusia sebagai pegangan hidup sehingga ilmu dapat menjadi lebih bermakna, yang dalam hal ini adalah Islam. Agama Islam adalah agama yang selalu mendorong manusia untuk mempergunakan akalnya memahami ayat-ayat kauniyah (Sunnatullah) yang terbentang di alam semesta dan ayat-ayat qur’aniyah yang terdapat dalam AlQur’an, menyeimbangkan antara dunia dan akherat. Dengan ilmu kehidupan manusia akan bermutu, dengan agama kehidupan manusia akan lebih bermakna, dengan ilmu dan agama kehidupan manusia akan sempurna dan bahagia.

Referensi Al-Qur’an dan Terjemahannya. Al-Qardhawy, Yusuf. Fiqih Daulah dalam perspektif Al-Qur’an dan Hadits. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Ali, Mohammad Daud. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1998.

Memaknai konsep Tuhan dan tugas hamba-Nya

Aug 3, '06 10:56 PM for everyone

Assalamu'alaikum,

Sebenarnya pembahasan tentang konsep Tuhan dalam Islam sudahlah selesai. Agama Islam yang dibawa dan disebar oleh Nabi Muhammad saw adalah agama yang menjunjung tinggi nilai tauhid dan meng-Esa-kan Tuhan yang satu yaitu Allah Subhanallahu wa ta'ala dan menyingkirkan kultus dan penyembahan terhadap tuhan-tuhan lainnya. Adalah menarik sekaligus menyedihkan bahwa sebagian umat Islam ada yang belum menyadari atau menghayati konsep Tuhan dalam Islam sehingga proses pengenalan akan Tuhan hanya terjadi dalam tataran pemikiran tetapi belum mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh karena kurangnya pemahaman tentang konsep Tuhan dalam Islam. Dalam konsepsi Aristotle (384-322 SM), Tuhan disebut sebagai "unmoved mover", yaitu penggerak yang tidak bergerak. Tuhan Aristotle adalah Tuhan filsafat, Tuhan yang ada dalam pikiran, karena ia harus ada secara logika sebagai penggerak alam semesta yang senantiasa berada dalam keadaan bergerak dan berubah. Tuhan dalam konsepsi Aristotle hanya tahu dirinya sendiri, dan tidak paham apa yang ada diluar dirinya. Tentunya Tuhan dalam konsepsi Islam tidaklah demikian. Tuhan menurut al-Qur'an, adalah hakikat yang mutlak (al-Haqq), sementara semua bentuk ketuhanan yang lain adalah salah (bathil), mereka hanyalah nama. Ia bukanlah suatu bentuk proyeksi pikiran manusia, seperti diduga oleh Feurbach, juga Tuhan bukan produk kebencian orang-orang yang kecewa, seperti kata Nietzsche. Bukan pula sebuah ilusi orang-orang yang masih kekanak-kanakan, seperti pendapat Freud. Juga bukan seperti dugaan Marx, suatu candu masyarakat, suatu hiburan yang dipersembahkan demi keuntungan pribadi.

Tuhan menurut al-Qur'an adalah Dia yang selalu hidup (al-Hayy al-Qayyum), yang melampaui batasan tata ruang dan waktu, Yang Pertama (al-Awwal) dan Yang Akhir (al-Akhir), Yang Nyata (al-Zhahir) dan Tersembunyi (al-Bathin). Hakekat Tuhan yang pasti adalah tidak dapat diketahui, karena Ia melampaui semua pengertian. Berulang kali al-Qur'an menyebut bahwa Tuhan selalu hadir dan dekat, bahkan dalam kenyataannya lebih dekat dari urat leher manusia. Apa maksudnya ? Tentu, ini bukan berarti pengertian fisik Tuhan yang berada atau dekat, meskipun dalam kenyataannya dekat dengan manusia. Ini mengimplikasikan, seperti ditunjukkan oleh konteks itu, bahwa Tuhan selalu sadar dan memperhatikan gerak hati dan tindakan-tindakan luar manusia, dengan harapan bahwa manusia akan menahan diri dari tujuan-tujuan yang tidak disukai oleh Penciptanya. Seiring berputarnya waktu, bergantinya zaman dan semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, banyak tuhan-tuhan baru yang tercipta. Manusia tidak lagi mengenal atau bahkan enggan mengenal Tuhan dengan "T" besar. Setiap keputusan yang dibuat dalam kehidupannya selalu menomer sekiankan Tuhan dan menomer satukan dirinya. Bagi sebagian manusia yang telah kering hatinya, Tuhan tidak lagi menjadi tujuan dalam mendapatkan solusi melainkan hanya bilik pengaduan. Mereka menganggap Tuhan tidak lagi berhak mengatur apa yang sudah menjadi urusan manusia, sehingga hukum yang dibuat oleh Tuhan pun ditolak mentah-mentah karena kata mereka hukum itu tidak relevan lagi dengan zaman. Teolog kontroversial Jerman, Hans Kung dalam bukunya Does God Exist ?, menceritakan kisah yang menunjukkan kesombongan hati sejumlah ilmuwan sekular. Ketika ditanya apakah ia meyakini adanya Tuhan, seorang pujangga dan tokoh filsafat besar mengatakan: "Tentu tidak, saya adalah seorang ilmuwan". Sedangkan filsafat al-Qur'an tentang alam semesta akan mendorong seorang ilmuwan menjawab, "Ya, tentu, justru karena saya seorang ilmuwan, maka saya meyakini". Bagi mereka yang menganut paham atheist, agama hanyalah dogma atau bahkan seperti disebut oleh Karl Marx bahwa agama itu adalah candu masyarakat, Nietszche pun mengkampanyekan slogan "Tuhan sudah mati". Memang, pada awal abad kesembilanbelas, atheisme benar-benar telah menjadi agenda. Kemajuan sains dan teknologi melahirkan semangat otonomi dan independensi baru yang mendorong sebagian orang untuk mendeklarasikan kebebasan dari Tuhan. Inilah abad ketika Ludwig Feurbach, Karl Marx, Charles Darwin, Friedrich Nietzsche, dan Sigmund Freud menyusun tafsiran filosofis dan ilmiah tentang realitas tanpa menyisakan tempat buat Tuhan. Muhammad Iqbal dengan tepat sekali mengingatkan bahwa pengetahuan ilmiah yang tidak mempertinggi dan tidak dikaitkan pada agama adalah iblis. Ia menulis,

"Akal yang diceraikan dari cinta adalah durhaka (seperti iblis), sedangkan akal yang disiram dengan cinta pastilah memliki sifat ketuhanan". Dan inilah yang akhir-akhir ini seringkali kita lihat atau dengar di lingkungan sekitar kita, tentang seseorang yang dianggap berilmu tetapi ilmu itu digunakan untuk melawan atau memutar balikkan perintah Tuhan sebagai Sang Pencipta alam semesta. Semua ciptaan di alam semesta ini semisal malaikat, langit, semut dan bahkan petir adalah penting untuk secara spiritual, dalam arti bahwa ciptaan-ciptaan itu pun menyerukan pujian kepada Tuhan dalam kondisi yang melampaui pengertian manusia (QS 17:44). Walaupun begitu, semua alam semesta ini dijadikan untuk dimanfaatkan oleh manusia. Pemanfaatan ini adalah untuk mempertinggi tujuan penciptaan manusia yang sebenarnya, yaitu untuk melaksanakan ibadah kepada Tuhan sesuai dengan surat Adz Dzaariyaat 56, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku". Tuhan sendiri tidak memerlukan balasan berupa pemberian dari manusia atas diciptakannya mereka beserta alam semesta ini (QS 51:57), karena Tuhan-lah Dzat yang selalu hidup (al-Hayy al-Qayyum) dan berdiri sendiri tanpa bantuan siapapun atau apapun (QS 2:255). Sehingga apabila seorang manusia dalam seumur hidupnya selalu digunakan untuk beribadah pun tidak akan menambah keagungan Tuhan, melainkan memberikan keuntungan dan kebaikan terhadap manusia itu sendiri secara lahir dan bathin, untuk di dunia dan terlebih lagi untuk di akhirat. Manusia dan tugasnya Keberadaan manusia di dalam dunia ini dilengkapi dengan dua keadaan. Manusia adalah mahluk yang terdiri dari jasad dan ruh; artinya, mahluk jasadiah dan ruhaniah sekaligus. Manusia bukanlah mahluk ruh murni dan bukan pula jasad murni, melainkan mahluk yang secara misterius terdiri dari kedua elemen ini. Allah menciptakan manusia dengan segala kelebihan dibandingkan dengan mahluk lainnya. Manusia yang diberi akal pikiran, perasaan, cinta, dan fisik yang lebih baik agar bisa membedakan dan mengetahui mana yang lebih baik atau buruk dalam kehidupan ini. Tetapi itu bukan berarti manusia adalah mahluk yang luput dari segala kekurangan. Kekurangan manusia sebagai mahluk banyak disebutkan dalam al-Qur'an. Misalnya, manusia adalah mahluk yang enggan dan kikir (QS 17:100), mahluk yang paling banyak bantahannya (QS 18:54), sangat sedikit dalam mensyukuri nikmat (QS 7:10), tidak sabar dan suka berkeluh kesah (QS 70:19-20), suka melampaui batas dan merasa kaya (QS 96:6). Disebutkan lagi, manusia adalah mahluk yang mencintai kehidupan dunia dan tidak memperdulikan akibat dari perbuatan mereka di hari akhir (QS 76:27) dan lain sebagainya. Maka terlihat jelas, manusia-lah yang membutuhkan Tuhan dan bukan sebaliknya. Manusia akan selalu membutuhkan

Tuhan dalam segala aspek kehidupannya agar menjadi insan yang lebih baik. Allah menciptakan manusia dengan segala kelebihan dibandingkan dengan mahluk lainnya. Manusia yang diberi akal pikiran, perasaan, cinta, dan fisik yang lebih baik agar bisa membedakan dan mengetahui mana yang lebih baik atau buruk dalam kehidupan ini. Kebebasan manusia, akal pikiran dan cabang-cabangnya yang lain, begitu juga alam semesta yang besar ini, haruslah digunakan bukan semata-mata demi kenikmatan tetapi sebagai suatu bentuk beribadah. Dengan cara ini, dimensi spiritual terdalam semua mahluk yang dimanfaatkan manusia untuk beribadah akan mendatangkan keserasian dalam tujuan dan tatanan penciptaan, bukan lagi kekacauan. Oleh karena itu, sudah saatnya manusia, semakin memahami konsep Tuhan seperti yang dijelaskan dalam al-Qur'an dan selalu melibatkan Tuhan dalam setiap ruas kehidupan kita agar setiap manusia semakin mengerti akan tugasnya sebagai hamba. Bukan untuk keuntungan Tuhan, tapi demi manusia itu Pengertian hakikat manusia February 23, 2010 | In: ilmu Pengertian hakikat manusia – Manusia adalah mahluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah SWT. Kesempurnaan yang dimiliki oleh manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah dimuka bumi ini. Al-Quran menerangkan bahwa manusia berasal tanah dengan mempergunakan bermacam-macam istilah, seperti : Turab, Thien, Shal-shal, dan Sualalah. Hal ini dapat diartikan bahwa jasad manusia diciptakan Allah dari bermacammacam unsur kimiawi yang terdapat dari tanah. Adapun tahapan-tahapan dalam proses selanjutnya, Al-Quran tidak menjelaskan secara rinci. Akan tetapi hampir sebagian besar para ilmuwan berpendapat membantah bahwa manusia berawal dari sebuah evolusi dari seekor binatang sejenis kera, konsep-konsep tersebut hanya berkaitan dengan bidang studi biologi. Anggapan ini tentu sangat keliru sebab teori ini ternyata lebih dari sekadar konsep biologi. Teori evolusi telah menjadi pondasi sebuah filsafat yang menyesatkan sebagian besar manusia. Dalam hal ini membuat kita para manusia kehilangan harkat dan martabat kita yang diciptakan sebagai mahluk yang sempurna dan paling mulia. Walaupun manusia berasal dari materi alam dan dari kehidupan yang terdapat di dalamnya, tetapi manusia berbeda dengan makhluk lainnya dengan perbedaan yang sangat besar karena adanya karunia Allah yang diberikan kepadanya yaitu akal dan pemahaman. Itulah sebab dari adanya penundukkan semua yang ada di alam ini untuk manusia, sebagai rahmat dan karunia dari Allah SWT. {“Allah telah

menundukkan bagi kalian apa-apa yang ada di langit dan di bumi semuanya.”}(Q. S. Al-Jatsiyah: 13). {“Allah telah menundukkan bagi kalian matahari dan bulan yang terus menerus beredar. Dia juga telah menundukkan bagi kalian malam dan siang.”}(Q. S. Ibrahim: 33). {“Allah telah menundukkan bahtera bagi kalian agar dapat berlayar di lautan atas kehendak-Nya.”}(Q. S. Ibrahim: 32), dan ayat lainnya yang menjelaskan apa yang telah Allah karuniakan kepada manusia berupa nikmat akal dan pemahaman serta derivat (turunan) dari apa-apa yang telah Allah tundukkan bagi manusia itu sehingga mereka dapat memanfaatkannya sesuai dengan keinginan mereka, dengan berbagai cara yang mampu mereka lakukan. Kedudukan akal dalam Islam adalah merupakan suatu kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia dibanding dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain. Dengannya, manusia dapat membuat hal-hal yang dapat mempermudah urusan mereka di dunia. Namun, segala yang dimiliki manusia tentu ada keterbatasanketerbatasan sehingga ada pagar-pagar yang tidak boleh dilewati. Dengan demikian, manusia adalah makhluk hidup. Di dalam diri manusia terdapat apa-apa yang terdapat di dalam makhluk hidup lainnya yang bersifat khsusus. Dia berkembang, bertambah besar, makan, istirahat, melahirkan dan berkembang biak, menjaga dan dapat membela dirinya, merasakan kekurangan dan membutuhkan yang lain sehingga berupaya untuk memenuhinya. Dia memiliki rasa kasih sayang dan cinta, rasa kebapaan dan sebagai anak, sebagaimana dia memiliki rasa takut dan aman, menyukai harta, menyukai kekuasaan dan kepemilikan, rasa benci dan rasa suka, merasa senang dan sedih dan sebagainya yang berupa perasaan-perasaan yang melahirkan rasa cinta. Hal itu juga telah menciptakan dorongan dalam diri manusia untuk melakukan pemuasan rasa cintanya itu dan memenuhi kebutuhannya sebagai akibat dari adanya potensi kehidupan yang terdapat dalam dirinya. Oleh karena itu manusia senantiasa berusaha mendapatkan apa yang sesuai dengan kebutuhannya,hal ini juga dialami oleh para mahluk-mahluk hidup lainnya, hanya saja, manusia berbeda dengan makhluk hidup lainnya dalam hal kesempurnaan tata cara untuk memperoleh benda-benda pemuas kebutuhannya dan juga tata cara untuk memuaskan kebutuhannya tersebut. Makhluk hidup lain melakukannya hanya berdasarkan naluri yang telah Allah ciptakan untuknya sementara manusia melakukannya berdasarkan akal dan pikiran yang telah Allah karuniakan kepadanya. Dewasa ini manusia, prosesnya dapat diamati meskipun secara bersusah payah. Berdasarkan pengamatan yang mendalam dapat diketahui bahwa manusia dilahirkan ibu dari rahimnya yang proses penciptaannya dimulai sejak pertemuan antara spermatozoa dengan ovum. Didalam Al-Qur`an proses penciptaan manusia memang tidak dijelaskan secara rinci, akan tetapi hakikat diciptakannya manusia menurut islam yakni sebagai mahluk yang diperintahkan untuk menjaga dan mengelola bumi. Hal ini tentu harus

kita kaitkan dengan konsekuensi terhadap manusia yang diberikan suatu kesempurnaan berupa akal dan pikiran yang tidak pernah di miliki oleh mahlukmahluk hidup yang lainnya. Manusia sebagai mahluk yang telah diberikan kesempurnaan haruslah mampu menempatkan dirinya sesuai dengan hakikat diciptakannya yakni sebagai penjaga atau pengelola bumi yang dalam hal ini disebut dengan khalifah. Status manusia sebagai khalifah , dinyatakan dalam Surat All-Baqarah ayat 30. Kata khalifah berasal dari kata khalafa yakhlifu khilafatan atau khalifatan yang berarti meneruskan, sehingga kata khalifah dapat diartikan sebagai pemilih atau penerus ajaran Allah. Namun kebanyakan umat Islam menerjemahkan dengan pemimpin atau pengganti, yang biasanya dihubungkan dengan jabatan pimpinan umat islam sesudah Nabi Muhammad saw wafat , baik pimpinan yang termasuk khulafaurrasyidin maupun di masa Muawiyah-‘Abbasiah. Akan tetapi fungsi dari khalifah itu sendiri sesuai dengan yang telah diuraikan diatas sangatlah luas, yakni selain sebagai pemimpin manusia juga berfungsi sebagai penerus ajaran agama yang telah dilakukan oleh para pendahulunya,selain itu khalifah juga merupakan pemelihara ataupun penjaga bumi ini dari kerusakan. SIAPAKAH MANUSIA Kehadiran manusia pertama tidak terlepas dari asal usul kehidupan di alam semesta. Asal usul manusia menurut ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari teori tentang spesies lain yang telah ada sebelumnya melalui proses evolusi. Evolusi menurut para ahli paleontology dapat dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat evolusinya, yaitu : Pertama, tingkat pra manusia yang fosilnya ditemukan di Johanesburg Afrika Selatan pada tahun 1942 yang dinamakan fosil Australopithecus. Kedua, tingkat manusia kera yang fosilnya ditemukan di Solo pada tahun 1891 yang disebut pithecanthropus erectus. Ketiga, manusia purba, yaitu tahap yang lebih dekat kepada manusia modern yang sudah digolongkan genus yang sama, yaitu Homo walaupun spesiesnya dibedakan. Fosil jenis ini di neander, karena itu disebut Homo Neanderthalesis dan kerabatnya ditemukan di Solo (Homo Soloensis). Keempat, manusia modern atau Homo sapiens yang telah pandai berpikir, menggunakan otak dan nalarnya. Beberapa Definisi Manusia : 1. Manusia adalah makhluk utama, yaitu diantara semua makhluk natural dan supranatural, manusia mempunyai jiwa bebas dan hakikat hakikat yg mulia.

2. Manusia adalah kemauan bebas. Inilah kekuatannya yg luar biasa dan tidak dapat dijelaskan : kemauan dalam arti bahwa kemanusiaan telah masuk ke dalam rantai kausalitas sebagai sumber utama yg bebas – kepadanya dunia alam –world of nature–, sejarah dan masyarakat sepenuhnya bergantung, serta terus menerus melakukan campur tangan pada dan bertindak atas rangkaian deterministis ini. Dua determinasi eksistensial, kebebasan dan pilihan, telah memberinya suatu kualitas seperti Tuhan 3. Manusia adalah makhluk yg sadar. Ini adalah kualitasnya yg paling menonjol; Kesadaran dalam arti bahwa melalui daya refleksi yg menakjubkan, ia memahami aktualitas dunia eksternal, menyingkap rahasia yg tersembunyi dari pengamatan, dan mampu menganalisa masing-masing realita dan peristiwa. Ia tidak tetap tinggal pada permukaan serba-indera dan akibat saja, tetapi mengamati apa yg ada di luar penginderaan dan menyimpulkan penyebab dari akibat. Dengan demikian ia melewati batas penginderaannya dan memperpanjang ikatan waktunya sampai ke masa lampau dan masa mendatang, ke dalam waktu yg tidak dihadirinya secara objektif. Ia mendapat pegangan yg benar, luas dan dalam atas lingkungannya sendiri. Kesadaran adalah suatu zat yg lebih mulia daripada eksistensi. 4. Manusia adalah makhluk yg sadar diri. Ini berarti bahwa ia adalah satu-satuna makhluk hidup yg mempunyai pengetahuan atas kehadirannya sendiri ; ia mampu mempelajari, manganalisis, mengetahui dan menilai dirinya. 5. Manusia adalah makhluk kreatif. Aspek kreatif tingkah lakunya ini memisahkan dirinya secara keseluruhan dari alam, dan menempatkannya di samping Tuhan. Hal ini menyebabkan manusia memiliki kekuatan ajaib-semu –quasi-miracolous– yg memberinya kemampuan untuk melewati parameter alami dari eksistensi dirinya, memberinya perluasan dan kedalaman eksistensial yg tak terbatas, dan menempatkannya pada suatu posisi untuk menikmati apa yg belum diberikan alam. 6. Manusia adalah makhluk idealis, pemuja yg ideal. Dengan ini berarti ia tidak pernah puas dengan apa yg ada, tetapi berjuang untuk mengubahnya menjadi apa yg seharusnya. Idealisme adalah faktor utama dalam pergerakan dan evolusi manusia. Idealisme tidak memberikan kesempatan untuk puas di dalam pagarpagar kokoh realita yg ada. Kekuatan inilah yg selalu memaksa manusia untuk merenung, menemukan, menyelidiki, mewujudkan, membuat dan mencipta dalam alam jasmaniah dan ruhaniah. 7. Manusia adalah makhluk moral. Di sinilah timbul pertanyaan penting mengenai nilai. Nilai terdiri dari ikatan yg ada antara manusia dan setiap gejala, perilaku, perbuatan atau dimana suatu motif yg lebih tinggi daripada motif manfaat timbul. Ikatan ini mungkin dapat disebut ikatan suci, karena ia dihormati dan dipuja begitu rupa sehingga orang merasa rela untuk membaktikan atau mengorbankan kehidupan mereka demi ikatan ini.

8. Manusia adalah makhluk utama dalam dunia alami, mempunyai esensi uniknya sendiri, dan sebagai suatu penciptaan atau sebagai suatu gejala yg bersifat istimewa dan mulia. Ia memiliki kemauan, ikut campur dalam alam yg independen, memiliki kekuatan untuk memilih dan mempunyai andil dalam menciptakan gaya hidup melawan kehidupan alami. Kekuatan ini memberinya suatu keterlibatan dan tanggung jawab yg tidak akan punya arti kalau tidak dinyatakan dengan mengacu pada sistem nilai. Al Qur’an memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis, dan social. Manusia sebagai basyar tunduk pada takdir Allah, sama dengan makhluk lain. Manusia sebagai insan dan al-nas bertalian dengan hembusan roh Allah yang memiliki kebebasan dalam memilih untuk tunduk atau menentang takdir Allah. Manusia memiliki fitrah dalam arti potensi, yaitu kelengkapan yang diberikan pada saat dilahirkan ke dunia. Potensi yang dimiliki manusia dapat dikelompokkan pada dua hal, yaitu potensi fisik dan potensi ruhaniah. Potensi fisik manisia adalah sifat psikologis spiritual manusia sebagai makhluk yang berfikir diberi ilmu dan memikul amanah.sedangkan potensi ruhaniah adalah akal, gaib, dan nafsu. Akal dalam penertian bahasa Indonesia berarti pikiran atau rasio. Dalam Al Qur’an akal diartikan dengan kebijaksanaan, intelegensia, dan pengertian. Dengan demikian di dalam Al Qur’an akal bukan hanya pada ranah rasio, tetapi juga rasa, bahkan lebih jauh dari itu akal diartikan dengan hikmah atau bijaksana. Musa Asyari (1992) menyebutkan arti alqaib dengan dua pengertian, yang pertama pengertian kasar atau fisik, yaitu segumpal daging yang berbentuk bulatpanjang, terletak di dada sebelah kiri, yang sering disebut jantung. Sedangkan arti yang kedua adalah pengertian yang halus yang bersifat ketuhanan dan rohaniah, yaitu hakekat manusia yang dapat menangkap segala pengertian, berpengetahuan, dan arif. Akal digunakan manusia dalam rangka memikirkan alam, sedangkan mengingat Tuhan adalah kegiatan yang berpusat pada qalbu. Adapun nafsu adalah suatu kekuatan yang mendorong manusia untuk mencapai keinginannya. Dorongan-dorongan ini sering disebut dorongan primitif, karena sifatnya yang bebas tanpa mengenal baik dan buruk. Oleh karena itu nafsu sering disebut sebagai dorongan kehendak bebas. PERSAMAAN dan PERBEDAAN MANUSIA DENGAN MAHLUK LAIN. Manusia pada hakekatnya sama saja dengan mahluk hidup lainnya, yaitu memiliki hasrat dan tujuan. Ia berjuang untuk meraih tujuannya dengan didukung oleh pengetahuan dan kesadaran. Perbedaan diantara keduanya terletak pada dimensi pengetahuan, kesadaran dan keunggulan yang dimiliki manusia dibanding dengan mahluk lain.

Manusia sebagai salah satu mahluk yang hidup di muka bumi merupakan mahluk yang memiliki karakter paling unik. Manusia secara fisik tidak begitu berbeda dengan binatang, sehingga para pemikir menyamakan dengan binatang. Letak perbedaan yang paling utama antara manusia dengan makhluk lainnya adalah dalam kemampuannya melahirkan kebudayaan. Kebudayaan hanya manusia saja yang memlikinya, sedangkan binatang hanya memiliki kebiasaan-kebiasaan yang bersifat instinctif. Dibanding dengan makhluk lainnya, manusia mempunyai kelebihan.kelebihan itu membedakan manusiadengan makhluk lainnya. Kelebihan manusia adalah kemampuan untuk bergerak dalam ruang yang bagaimanapun, baik di darat, di laut, maupun di udara. Sedangkan binatang hanya mampu bergerak di ruang yang terbatas. Walaupun ada binatang yang bergerak di darat dan di laut, namun tetap saja mempunyai keterbatasan dan tidak bisa meampaui manusia. Mengenai kelebihan manusia atau makhluk lain dijelaskan dalam surat Al-Isra ayat 70. Diantara karakteristik manusia adalah : 1. 2. 3. 4. Aspek Kreasi Aspek Ilmu Aspek Kehendak Pengarahan Akhlak

Selain itu Al Ghazaly juga mengemukakan pembuktian dengan kenyataan faktual dan kesederhanaan langsung, yang kelihatannya tidak berbeda dengan argumenargumen yang dibuat oleh Ibnu Sina (wafat 1037) untuk tujuan yang sama, melalui pembuktian dengan kenyataan faktual. Al Ghazaly memperlihatkan bahwa; diantara makhluk-makhluk hidup terdapat perbedaan-perbedaan yang menunjukkan tingkat kemampuan masing-masing. Keistimewaan makhluk hidup dari benda mati adalah sifat geraknya. Benda mati mempunyai gerak monoton dan didasari oleh prinsip alam. Sedangkan tumbuhan makhluk hidup yang paling rendah tingkatannya, selain mempunyai gerak yang monoton, juga mempunyai kemampuan bergerak secara bervariasi. Prinsip tersebut disebut jiwa vegetatif. Jenis hewan mempunyai prinsip yang lebih tinggi dari pada tumbuh-tumbuhan, yang menyebabkan hewan, selain kemampuan bisa bergerak bervariasi juga mempunyai rasa. Prinsip ini disebut jiwa sensitif. Dalam kenyataan manusia juga mempunyai kelebihan dari hewan. Manusia selain mempunyai kelebihan dari hewan. Manusia juga mempunyai semua yang dimiliki jenis-jenis makhluk tersebut, disamping mampu berpikir dan serta mempunyai pilihan untuk berbuat dan untuk tidak berbuat. Ini berarti manusia mempunyai prinsip yang memungkinkan berpikir dan memilih. Prinsip ini disebut an nafs al insaniyyat. Prinsip inilah yang betul-betul membeda manusia dari segala makhluk lainnya. TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA

Allah SWT berfirman dalam surat Ad-dzariyat:56 bahwasannya:”Allah tidak menciptakan manusia kecuali untuk mengabdi kepadanya”mengabdi dalam bentuk apa?ibadah dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya seperti tercantum dalam Al-qur’an ????????????? ????? ???????? ???????? ????????? ???? “Sesungguhnya telah ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah.” Perintah ataupun tugas yang diberikan oleh Allah kepada manusia dalam beriburibu macam bentuk dimulai dari hal yang paling kecil menuju kepada hal yang paling besar dengan berdasarkan dan berpegang kepada Al-qur’an dan hadist didalam menjalankannya.Begitupun sebaliknya dengan larangan-larangannya yang seakan terimajinasi sangat indah dalam pikiran manusia namun sebenarnya balasan dari itu adalah neraka yang sangat menyeramkan,sangat disayangkan bagi mereka yang terjerumus kedalamnya.Na’uudzubillaahi min dzalik Dalam hadist shohih diungkapkan bahwa jalan menuju surga itu sangatlah susah sedangkan menuju neraka itu sangatlah mudah.Dua itu adalah pilihan bagi setiap manusia dari zaman dahulu hingga sekarang,semua memilih dan berharap akan mendapatkan surga,namun masih banyak sekali orang-orang yang mengingkari dengan perintah Allah bahkan mereka lebih tertarik dan terbuai untuk mendekati,menjalankan larangan-larangannya.Sehingga mereka bertolak belakang dari fitrahnya sebagai manusia hamba Allah yang ditugasi untuk beribadah.Oleh karenanya,mereka tidak akan merasakan hidup bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. FUNGSI DAN PERANAN MANUSIA Berpedoman kepada QS Al Baqoroh 30-36, maka peran yang dilakukan adalah sebagai pelaku ajaran allah dan sekaligus pelopor dalam membudayakan ajaran Allah. Untuk menjadi pelaku ajaran Allah, apalagi menjadi pelopor pembudayaan ajaran Allah, seseorang dituntut memulai dari diridan keluarganya, baru setelah itu kepada orang lain. Peran yang hendaknya dilakukan seorang khalifah sebagaimana yang telah ditetapkan Allah, diantaranya adalah : 1.Belajar (surat An naml : 15-16 dan Al Mukmin :54) belajar yang dinyatakan pada ayat pertama surat al Alaq adalah mempelajari ilmu Allah yaitu Al Qur’an. 2.Mengajarkan ilmu (al Baqoroh : 31-39)

ilmu yang diajarkan oleh khalifatullah bukan hanya ilmu yang dikarang manusia saja, tetapi juga ilmu Allah. 3.Membudayakan ilmu (al Mukmin : 35 ) Ilmu yang telah diketahui bukan hanya untuk disampaikan kepada orang lain melainkan dipergunakan untuk dirinya sendiri dahulu agar membudaya. Seperti apa yang telah dicontohkan oleh Nabi SAW. Manusia terlahir bukan atas kehendak diri sendiri melainkan atas kehendak Tuhan. Manusia mati bukan atas kehendak dirinya sendiri Tuhan yang menentukan saatnya dan caranya. Seluruhnya berada ditangan Tuhan Hukum Tuhan adalah hukum mutlak yang tak dapat dirubah oleh siapapun hukum yang penuh dengan rahasia bagi manusia yang amat terbatas pikirannya. Kuasa memberi juga kuasa mengambil Betapa piciknya kalau kita hanya tertawa senang sewaktu diberi. Sebaliknya menangis duka dan penasaran Sewaktu Tuhan mengambil sesuatu dari kita. Yang terpenting adalah menjaga sepak terjang kita Melandasi sepak terjang hidup kita dengan kebenaran Kejujuran dan keadilan? Cukuplah Yang lain tidak penting lagi. Suka duka adalah permainan perasaan. Yang digerakan oleh nafsu iba diri Dan mementingkan diri sendiri. Tuhanlah sutradaranya, Maka manusia manusia adalah pemain sandiwaranya Yang berperan diatas panggung kehidupan Sutradara yang menentukan permainannya Dan ingatlah bukan perannya yang penting Melainkan cara manusia yang memainkan perannya itu. Walaupun seseorang diberi peran sebagai seorang raja besar, Kalau tidak pandai dan baik permainannya ia akan tercela. Sebaliknya biarpun sang sutradara memberi peran kecil tak berarti Peran sebagai seorang pelayan atau rakyat jelata Kalau pemegang peran itu memainkannya dengan sangat baik Tentu ia akan sangat terpuji dimata Tuhan juga dimata manusia. Apalah artinya seorang pembesar Yang dimuliakan rakyat Bila ia lalim rakus dan melakukan hal hal yang hina. Maka ia akan hanya direndahkan dimata manusia Dan juga dimata Tuhan. Sebaliknya betapa mengagumkan hati manusia Yang menyenangkan Tuhan Bila seorang biasa yang bodoh miskin Dan dianggap rendah namun mempunyai sepak terjang Dalam hidup ini penuh dengan kebajikan Yang melandaskan kelakuannya pada jalan kebenaran. Maka mereka itulah yang paling mulia dimata Tuhan. “Wahai orang orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan, diatasnya terdapat malaikat malaikat yang bengis dan sadis yang tidak mengabaikan apa yang diperintahkan kepada mereka, dan mereka melakukan apa yang diperintahkan”

Itulah firman Allah yang diberikan kepada manusia dalam menjalankan peranannya selama hidup di muka bumi.Peran terhadap diri sendiri dan keluarga.Bukan diawali dari peran untuk keluarga atau pun negara tapi justru peran itu ditujukan untuk diri sendiri sebelum berperan untuk orang lain.Peranan seseorang harus dibangun dari dalam diri sendiri secara terus menerus untuk mendapatkan hasil yang maksimal,ketika sebuah pribadi telah menguasai peranannya untuk diri sendiri, barulah bisa berperan untuk orang lain,terutama keluarga.Ada sebuah kata kata dari seorang teman yang pernah berbagi dengan saya tentang masalah berderma. Dia berkata pada saya”kawan untuk kita bisa memberikan sesuatu kepada orang lain tentunya kita harus dalam kondisi lebih terlebih dahulu, tidak mungkin kita dalam kondisi kekurangan terus kita meberi untuk orng lain”.Jadi untuk bisa membangun sebuah keluarga, kelompok, negara dan mungkin yang lebih besar lagi maka haruslah menjadi kewajiban kita untuk bisa terlebih dahulu membangun diri kita. TANGGUNG JAWAB MANUSIA SEBAGAI HAMBA ALLAH Tanggungjawab Abdullah terhadap dirinya adalah memelihara iman yang dimiliki dan bersifat fluktuatif ( naik-turun ), yang dalam istilah hadist Nabi SAW dikatakan yazidu wayanqusu (terkadang bertambah atau menguat dan terkadang berkurang atau melemah). Tanggung jawab terhadap keluarga merupakan lanjutan dari tanggungjawab terhadap diri sendiri. Oleh karena itu, dalam al-Qur’an dinyatakan dengan quu anfusakum waahliikum naaran (jagalah dirimu dan keluargamu, dengan iman dari neraka). Allah dengan ajaranNya Al-Qur’an menurut sunah rosul, memerintahkan hambaNya atau Abdullah untuk berlaku adil dan ikhsan. Oleh karena itu, tanggung jawab hamba Allah adlah menegakkan keadilanl, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap keluarga. Dengan berpedoman dengan ajaran Allah, seorang hamba berupaya mencegah kekejian moral dan kenungkaran yang mengancam diri dan keluarganya. Oleh karena itu, Abdullah harus senantiasa melaksanakan solat dalam rangka menghindarkan diri dari kekejian dan kemungkaran (Fakhsyaa’iwalmunkar). Hamba-hamba Allah sebagai bagian dari ummah yang senantiasa berbuat kebajikan juga diperintah untuk mengajak yang lain berbuat ma’ruf dan mencegah kemungkaran (Al-Imran : 2: 103). Demikianlah tanggung jawab hamba Allah yang senantiasa tunduk dan patuh terhadap ajaran Allah menurut Sunnah Rasul. TANGGUNG JAWAB MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH ALLAH Manusia diserahi tugas hidup yang merupakan amanat Allah dan harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Tugas hidup yang dipikul manusia di muka bumi adalah tugas kekhalifaan, yaitu tugas kepemimpinan , wakil Allah di muka bumi, serta pengelolaan dan pemeliharaan alam.

Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang mandat Tuhan untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan kepada manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan dirinya serta mendayagunakan apa yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidupnya. Sebagai khalifah, manusia diberi wewenang berupa kebebasan memilih dan menentukan, sehingga kebebasannya melahirkan kreatifitas yang dinamis. Kebebasan manusia sebagai khalifah bertumpu pada landasan tauhidullah, sehingga kebebasan yang dimilikitidak menjadikan manusia bertindak sewenangwenang. Kekuasaan manusia sebagai wakil Tuhan dibatasi oleh aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh yang diwakilinya, yaitu hokumhukum Tuhan baik yang baik yang tertulis dalam kitab suci (al-Qur’an), maupun yang tersirat dalam kandungan alam semesta (al-kaun). Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakili adalah wakil yang mengingkari kedudukan dan peranannya, serta mengkhianati kepercayaan yang diwakilinya. Oleh karena itu, ia diminta pertanggungjawaban terhadap penggunaan kewenangannya di hadapan yang diwakilinya, sebagaimana firman Allah dalam QS 35 (Faathir : 39) yang artinya adalah : “Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah dimuka bumi. Barang siapa yang kafir, maka (akibat) kekafiranorang-orang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lainhanyalah akan menambah kerugian mereka belaka”. Kedudukan manusia di muka bumi sebagai khalifah dan juga sebagai hamba allah, bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan suatu kesatuan yang padu dan tak terpisahkan. Kekhalifan adalah realisasi dari pengabdian kepada allah yang menciptakannya. Dua sisi tugas dan tanggung jawab ini tertata dalam diri setiap muslim sedemikian rupa. Apabila terjadi ketidakseimbangan, maka akan lahir sifat-sifat tertentu yang menyebabkan derajad manusia meluncur jatuh ketingkat yang paling rendah, seperti fiman-Nya dalam QS (at-tiin: 4) yang artinya “sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya”. KESIMPULAN Manusia adalah mahluk Allah yang paling mulia,di dalam Al-qur’an banyak sekali ayat-ayat Allah yang memulyakan manusia dibandingkan dengan mahluk yang lainnya.Dan dengan adanya ciri-ciri dan sifat-sifat utama yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia menjadikannya makhluk yang terpilih diantara lainnya memegang gelar sebagai khalifah di muka bumi untuk dapat

meneruskan,melestarikan,dan memanfaatkan segala apa yang telah Allah ciptakan di alam ini dengan sebaik-baiknya. Tugas utama manusia adalah beribadah kepada Allah SWT.Semua ibadah yang kita lakukan dengan bentuk beraneka ragam itu akan kembali kepada kita dan bukan untuk siapa-siapa.Patuh kepada Allah SWT,menjadi khalifah,melaksanakan ibadah,dan hal-hal lainnya dari hal besar sampai hal kecil yang termasuk ibadah adalah bukan sesuatu yang ringan yang bisa dikerjakan dengan cara bermain-main terlebih apabila seseorang sampai mengingkarinya.Perlu usaha yang keras,dan semangat yang kuat ketika keimanan dalam hati melemah,dan pertanggungjawaban yang besar dari diri kita kelak di hari Pembalasan nanti atas segala apa yang telah kita lakukan di dunia

penulis Al-Ustadz Saifuddin Zuhri Syariah Khutbah 04 - Juni - 2007 10:13:20 ‫الحمد ل الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسن عمل وهو العزيز ال َفور. أشهد أن ل إله إل ال وحده ل شريك له، يحيي‬ ِ ْ ُ ُ َ َ ْ ِ َ َ ُ َ ْ َ ُ ّ ِ َ َِ َ ْ َ ُ َ ْ َ ُ ْ ُ ‫ْ َ ْ ُ َ ّ ِ ََ َ ْ َ ْ َ َ ْ َ َ َ ِ َ ُْ َ ُ ْ َ ّ ُ ْ َ ْ َ ُ َ َ ً َ ُ َ ْ َ ِ ْ ُ ْ غ‬ ِ ّ ،‫ويميت وهو على كل شيء قدير، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، البشير النذير والسراج المنير صلى ال عليه و َلى آله وصحبه‬ ِ ِ ْ َ َ ِ ِ َ‫ُ ََ ْ ِ َع‬ َّ ُ ْ ِ ُ ْ ُ َ ّ َ ُ ْ ِ ّ ُ ْ ِ َ ْ ُ ُْ ُ َ َ ُ ُ ْ َ ً ّ َ ُ ّ َ ُ َ ْ ََ ٌ ْ ِ َ ٍ ْ َ ّ ُ ََ َ ُ َ ُ ْ ِ ُ َ ُ ْ َ ّ ً ْ ِ َ ً ْ ِْ َ َ َّ َ ‫:وسلم تسليما كثيرا. أما بعد‬ ‫أيها الناس، اتقوا ال تعالى واعلموا أنكم ما خلقتم عبثا، خلقكم ال لعبادته وطا َته وأمدكم بنعمه وسخر لكم ما في السماوات وما في‬ ِ َ ِ َ َّ ِ َ ْ ُ َ َ ّ َ َ ِ ِ َ ِ ِ ْ ُ ّ َ ََ ِ ِ ‫َ َ َ َ َ َْ ُ َ ّ ُ ْ َ ُِ ْ ُ ْ َ َ ً ََ َ ُ ُ ُ ِ ِ َ َ ِ ِ َ َ ع‬ ُ ّ ُ ّ َ َّ ٍ َ َ َ َ َ ْ ّ ِ ِ َ َ َ َ َ ُ ُ ْ َ َ َ ُ ِ َ ْ ُ َ َ ّ َ ُ ِ ُ َ َ ِ ْ ُ ََ َ َ ْ َ ُ َْ ُ َ ْ ُ ْ َِ َ َ ْ ََ ِ ِ َ َ ََ َ َِ ِ ْ ُ ْ ِ َ ْ َ ِ ِ ْ َ ْ ‫الرض ليستعينوا بذلك على طاعته، وأرسل إليكم رسوله وأنزل عليكم كتابه ليبين لكم ما يجب وما يحرم، وجعل هذه الدنيا دار عمل‬ ِ َ ِ ْ ِ َ َ ِ ِ َ ِ ْ ِ َْ َْ ّ ِ ِ َ ِ ِ َ ِْ ِ ْ َ ِ ْ ُ َ ّ َ َ ٍ َ َ َ َ َ َ ِ ْ ‫.والخرة دار جزاء وحذركم من الغترار بهذه الدنيا والنشغال بها عن الخرة‬ Ma’asyiral muslimin rahimakumullah Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu dgn berusaha sekuat kemampuan kita menjalankan perintah-perintahNya dan dgn menjauhi segala larangan-Nya. Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah Ketahuilah bahwa kita diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan semata utk hidup di dunia bukan pula utk sekedar makan dan minum. Apalagi berfoya-foya utk memenuhi tiap keinginan hawa nafsu kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ِ ْ ُ ُ ْ َ ِ ّ ِ َ ْ ِ ْ َ ّ ِ ْ ُ ْ ََ َ َ ‫وما خلقت الجن والنس إل ليعبدون‬ “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” Dari ayat tersebut jelaslah bahwa kita diciptakan utk suatu tujuan yg besar dan sangat mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin memuliakan hamba-hamba-Nya yg mewujudkan tujuan penciptaan diri yaitu beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala tdk membutuhkan hal itu sedikitpun dari hamba-hamba-Nya. Akan tetapi ibadah yg Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada kita adl utk kebaikan diri kita sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ٌ ْ ِ َ ّ ِ َ َ َ ّ َِ ً ْ ِ َ ِ ْ َ ْ ِ ْ َ َ ْ ُ ْ َ ْ ُ ُ ْ َ ْ ِ ‫إن تكفروا أنتم ومن في الرض جميعا فإن ال لغني حميد‬ “Jika kalian dan orang2 yg ada di muka bumi ini seluruh kufur kepada Allah mk sesungguh Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.” Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullah Karena tujuan yg mulia inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus kepada kita Rasul-Nya yg merupakan penutup seluruh para nabi yaitu Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ً ْ ِ َ ً ْ َ ُ َ ْ ‫ِّ َ ْ َ ْ َ َِ ْ ُ ْ َ ُ ْ ً َ ِ ً ََ ْ ُ ْ َ َ َ ْ َ ْ َ َِ ِ ْ َ ْ َ َ ُ ْ ً َ َ َ ِ ْ َ ْ ُ ّ ُ ْ َ َأخ‬ ‫إنا أرسلنا إليكم رسول شاهدا عليكم كما أرسلنا إلى فرعون رسول. فعصى فرعون الرسول فَ َذناه أخذا وبيل‬ “Sesungguh Kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul yg menjadi saksi terhadapmu sebagaimana Kami telah mengutus seorang Rasul kepada Fir’aun. mk Fir’aun mendurhakai Rasul itu lalu Kami siksa dia dgn siksaan yg berat.” Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dlm Tafsir- menyebutkan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata: ‘Memujilah kalian kepada Rabb kalian atas diutus Nabi yg ummi ini yg berasal dari kalangan Arab yg memberi kabar gembira dan peringatan serta menjadi saksi atas amalan yg dilakukan oleh umat ini. Bersyukurlah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan syukurilah ni’mat yg besar ini dgn menaati utusanNya dan janganlah sekali-kali kalian mengkufuri ni’mat ini dgn tdk mau menaati Rasul yg diutus kepada kalian sehingga kalian seperti Fir’aun. Ketika Musa bin ‘Imran diutus kepada Fir’aun dan mengajak kepada agama Allah Subhanahu wa Ta’ala serta memerintahkan utk beribadah hanya kepada-Nya dia tdk mau beriman kepada Musa bahkan bermaksiat kepadanya. mk Allah Subhanahu wa Ta’ala mengadzab dgn adzab yg sangat pedih.” Ma’asyiral muslimin rahimakumullah Oleh krn itu barangsiapa ingin mendapatkan kemuliaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia dan di akhirat selamat dari siksa-Nya dan mendapatkan surga-Nya tdk lain cara dgn beribadah hanya kepada-Nya dan mengikuti petunjuk Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ُ َ ْ ُ ُ ّ َ َ َ َ ُ َْ ُ َ َ َ ِ ْ َ ْ َ َ ُ ْ ِ َ ْ ُ ْ َ ْ َ َِ َ َ ْ ِ َ ْ ِ ِ َ ُ َ ْ َ ْ َ ِ ْ َ ْ ِ ِ ْ َ ٍ ّ َ ُ ْ ِ ْ ُ ُ َْ ُ َ َ َ ِ ِ ُ ْ َ َ ‫ومن يطع ال ورسوله يدخله جنات تجري من تحتها النهار خالدين فيها وذلك الفوز العظيم. ومن يعص ال ورسوله ويتعد حدوده‬ ٌ ْ ِ ُ ٌ َ َ ُ ََ َ ْ ِ ً ِ َ ً َ ُ ْ ِ ْ ُ ‫يدخله نارا خالدا فيها وله عذاب مهين‬ “Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya niscaya Allah akan memasukkan ke dlm surga yg mengalir di dlm sungai-sungai sedangkan mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yg besar. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya serta melanggar ketentuan-ketentuan-Nya niscaya Allah memasukkan ke dlm api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan bagi siksa yg menghinakan.” Dengan demikian jelaslah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan sebab kebahagiaan seseorang di dunia dan di akhirat adl dgn menaati Allah dan Rasul-Nya. Sebalik Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kecelakan serta kebinasaan seseorang di dunia dan di akhirat adl krn bermaksiat terhadap Allah dan

Rasul-Nya. Oleh krn itu marilah kita berusaha utk meraih janji Allah utk mendapatkan berbagai keni’matan di surga-Nya dan dijauhkan dari siksa neraka yaitu dgn mengisi kesempatan hidup di dunia ini dgn beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengikuti petunjuk Rasul- Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ُ ْ ُ َ ْ ِ ِ ْ ُ ّ ّ ُ َ َ َ َ ْ ّ ُ َ َ ْ ُ ُ ّ َ ُ َ َ َ ّ َ ‫َ َّ َ ّ ُ ِ ّ َ ْ َ ل‬ ‫يا أيها الناس إن وعد ا ِ حق فل تغرنكم الحياة الدنيا ول يغرنكم بال الغرور‬ “Hai manusia sesungguh janji Allah adl benar mk sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kalian dan sekali-kali janganlah setan yg pandai menipu memperdayakan kalian tentang Allah.” Hadirin jamaah jum’ah rahimakumullah Kehidupan di dunia ini adl suatu perjalanan yg menghantarkan pada kehidupan yg sesungguh di akhirat. Dunia adl tempat beramal dan akhirat adl tempat pembalasan. mk janganlah kehidupan dunia ini melupakan kita dari kehidupan akhirat. Gunakan ni’mat yg Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepada kita di dunia ini utk mendapatkan kebahagiaan yg sesungguh di akhirat nanti. Karena sesungguh karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala baik yg di langit maupun yg di bumi semua itu telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tundukkan utk manusia sebagai sarana utk beribadah kepada-Nya. Janganlah kita menjadi orang yg menyesal di akhirat nanti sebagaimana disebutkan dlm firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: َ ّ َ ُ ْ ََ َ ْ ِ ِ ّ َ ِ ْ ُ ََ َ ّ ّ ََ ٍ ْ ِ َ ٍ َ َ َِ ِ َ ْ ّ َ َ ْ َ ّ َ َ ْ ُ َ َ ُ ْ َ ْ ُ ُ َ َ َ َ ِ ْ َ ْ َ ِ ْ َ ْ ِ ْ ُ َ ْ َ َ َ ْ ِ ُ ِ ْ ََ ‫وأنفقوا من ما رزقناكم من قبل أن يأتي أحدكم الموت فيقول رب لول أخرتني إلى أجل قريب فأصدق وأكن من الصالحين. ولن يؤخر‬ َ ْ َُ ْ َ َ ِ ٌ ْ ِ ‫ُ َ ْ ً ِ َ َ َ َ َُ َ َ ُ خ‬ ‫ال نفسا إذا جاء أجلها وال َبير بما تعملون‬ “Dan infakkanlah sebagian dari apa yg telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Wahai Rabbku mengapa Engkau tdk menangguhkan ku sampai waktu yg dekat sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang2 yg shalih?’ Dan Allah sekali-kali tdk akan menangguhkan seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yg kamu kerjakan.” ِ ِ َ َِ ْ ُ ََ ْ ِ َ ُ ِ ْ َ ْ ََ َ ْ ُ َ ْ َ َ ُ ْ ُ َ ِ ْ ِ َ ْ ِ ْ ّ َ ِ َ ْ َ ِ ِ ْ ِ َ ِ ْ ُ ّ َِ ْ ِ َ َ َ َ ِ ْ ِ َ ْ ِ ْ ُ ْ ِ ْ ُ ََ ْ ِ ُ َ َ َ ‫بارك ال لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من اليات والذكر الحكيم. أقول ما تسمعون وأستغفر ال لي ولكم ولسائر‬ ٍ ْ َ ّ ُ ْ ِ َ ْ ‫ْ ُ ِْم‬ ‫.المسل ِين من كل ذنب‬ KHUTBAH KEDUA ِ ِ ّ ِ ََِ ِ ِ ّ ِ ْ ُُ ِ ُ َ َ ْ ِ َ َ ُ َ ْ َ ُ ّ ِ َ َِ َ َ ُ َ ْ ََ ِ ِ َ َ َ ِ ِ ْ ِ ْ َ ِ ْ ُ َ َ ََ ِ ِ َ َ ِ ِ َ ْ َ ْ َ ََ َ ْ ِ َ َ ْ ّ َ ّ ُ َ ْ ‫الحمْد ل رب العالمين، خلق الخلق لعبادته وأمرهم بتوحيده وطاعته. وأشهد أنْ ل إله إل ال وحده ل شريك له في ربوبيته وإلهيته‬ ِ ِ ِ ْ َ ََ ْ ُ َ َ ْ ِ ّ ِ ِ َ ْ ََ ِ ِ ََ َ ِ ْ ََ ُ ‫وأسماءه وصفاته، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، أرسله إلى بريته صلى ال عليه وعلى آله وأصحابه الذين ساروا على نهجه‬ َّ ِ ِ ّ ِ َ َِ ُ ََ ْ َ ُ ُْ ُ َ َ ُ ُ ْ َ ً ّ َ ُ ّ َ ُ َ ْ ََ ِ ِ َ ِ َ ِ ِ َ ْ ََ ُ ْ َ ّ َ ً ْ ِ َ ً ْ ِْ َ َ َّ َ ِ ِ ّ ُ ِ ْ ُ ّ َ َ َ ‫:وتمسكوا بسنته، وسلم تسليما كثيرا. أما بعد‬ َ َ َ َ ِ َ ِ َ َ ‫َ َ َ َ َ َْ ُ ْ َ ّ ْ ِ َ َ َ َ َ ُ ْ ُ ِ َ َ ً ِ ّ َ َ ّ ْ ِ ْ ِ َ َ َ ّ ّ َ َ َ َ ُ ْ ُ َ َ ً ِ ّ َ َ ط‬ ‫يا أيها الناس اتقوا ال تعالى واعلموا أن العبادة ل تكون عبادة إل مع التوحيد كما أن الصلة ل تكون صلة إل مع ال ّهارة، فإذا دخل‬ ُ ّ ُ ّ َ َّ َ ُ َ ْ ِ ْ َ َ ً ْ ِ َ َ َ َِ ٌ َ َ ِ ُ َ َ ُ َ ْ ُ َ َ ٌ َ َ ُ َ َ ّ ِ َ َ ُ ْ ّ َ ِ َ َ ّ ‫الشرك في العبادة فسدت كالحدث إذا دخل في الطهارة. فالشرك ل يصح معه عمل ول تقبل معه عبادة. ولهذا كثيرا ما يأتي المر‬ ِ َ َ َ َ ِ ِ َ َ ْ َ ْ َ َ َ ِ َ َِ ْ ِ ُ ْ ّ ‫:بالعبادة مقرونا بالنهي عن الشرك، كقوله تعالى‬ َ َ َ ِ ِْ َ َ ِ ْ ّ ِ َ ِ ْ ّ ِ ً ْ ُ ْ َ ِ َ َ ِ ْ ِ Ma’asyiral muslimin rahimakumullah Marilah kita isi kehidupan dunia ini dgn beribadah kepada Allah Subhanahu wa

Ta’ala dgn menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-laranganNya. Namun harus diketahui bahwa ibadah tdk akan diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dilakukan oleh orang yg bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana shalat tdk akan sah kecuali dikerjakan oleh orang yg bersuci. Apabila orang yg bersuci terkena hadats mk rusaklah bersuci sehingga apabila dia shalat dlm keadaan demikian mk sia-sialah shalat meskipun dilakukan sebanyak apapun. Begitu pula orang yg beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala namun ia terjatuh kepada perbuatan syirik mk dia bukanlah orang yg bertauhid. Apabila dia beramal mk sia-sialah amalan yg ia lakukan krn dia melakukan perbuatan syirik. mk jauhilah perbuatan syirik janganlah seseorang berdoa meminta kepada orang yg telah mati meskipun dia dianggap wali. Jangan pula menjadikan sebagai perantara dlm meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Janganlah seseorang menyembelih utk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala baik dgn istilah sesaji sedekah bumi ataupun sedekah laut krn semua itu adl perbuatan syirik. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan kita di dlm Al-Qur`an tentang bahaya syirik. Di antara dlm firman-Nya: َ ْ ِ ِ َ ْ َ ِ ّ َ ْ ُ َ ََ َ َُ َ ّ َ َ ْ َ َ َ ْ َ ْ َ ْ ِ َ َ ِْ َ ْ ِ َ ْ ِ ّ ََِ َ ْ َِ َ ِ ْ ُ ْ َ ََ ‫ولقد أوحي إليك وإلى الذين من قبلك لئن أشركت ليحبطن عملك ولتكونن من الخاسرين‬ “Dan sesungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada yg sebelummu “Jika kamu mempersekutukan niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang2 yg merugi.” ْ ّ َ َ َ ْ ِ ِ ْ ُ ْ َ َ ْ ّ ّ ِ ََ َ ْ ِ ِْ ُ ْ َ َ َ ْ ِ ْ ّ ‫ّ ُ ّ َ ّ َ َّ ْ ََ َ ْ ِ َ َ َ ُ ِْ َ ُ َ ّ ٍ َ ََ ِ ِ ََ ْ َ ِ ِ َ ْ َ ِ ْ َ ّ ُ ّ َع‬ ‫اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين. اللهم أ ِز السلم والمسلمين وأذل الشرك والمشركين. ودمر‬ َ ْ ِ ِ ْ ُ ْ َ ِ َ ِْ ُ ْ َ َ ْ ِ ِْ ُ ْ ِ ْ ِ ْ ّ ُ ّ ٍ َ َ ّ ُ ‫أعداء الدين، وانصر عبادك الموحدين. اللهم أصلح أحوال الـمسلمين في كل مكان. اللهم اغفر للمسلمين والـمسلمات، والمؤمنين‬ َ ْ ِْ ُ ْ َ َ ْ َ ْ ِْ َ ّ ُ ّ َ ْ ِ ّ َ ُ َ َ َ ِ ْ ُ ْ َ ِ ْ ّ َ َ ْ َ َ َ ْ ُ ِ ّ ‫َ ْ ُ ْ ِ َ ِ ْ َ ْ َ ِ ِ ْ ُ ْ َ ْ َ ْ َ ِ ِّ ُ َ ِ ْ ٌ ُ ِ ْ ُ ّ َ َ ِ َّ َ ِ َ ِ ّ ْ َ َ َ َ ً َ ِ ْ ِ َ ِ َ َ َ ً َ ِ َ َ َ ب‬ ‫والمؤمنات الحياء منهم والموات، إنه سميع مجيب الدعوات. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الخرة حسنة وقنا عذا َ النار. سبحان‬ َ ْ ِ َ َ ْ ّ ّ ُ ْ َ ْ َ َ ْ َِ ْ ُ ْ ََ ٌ َ َ َ َ ْ ِ َ ّ َ ِ ّ ِ ّ َ َ ّ َ ‫.ربك رب العزة عما يصفون وسلم على المرسلين والحمد ل رب العالمين‬ ِ Sumber: www.asysyariah.com

Iman Bisa Bertambah dan Berkurang Kategori Aqidah | 05-02-2010 | 13 Komentar

Permasalahan iman merupakan permasalahan terpenting seorang muslim, sebab iman menentukan nasib seorang didunia dan akherat. Bahkan kebaikan dunia dan akherat bersandar kepada iman yang benar. Dengan iman seseorang akan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan akherat serta keselamatan dari segala keburukan dan adzab Allah. Dengan iman seseorang akan mendapatkan pahala besar yang menjadi sebab masuk ke dalam surga dan selamat dari neraka. Lebih dari itu semua, mendapatkan keridhoan Allah Yang Maha kuasa sehingga Dia tidak akan murka kepadanya dan dapat merasakan kelezatan melihat wajah Allah diakherat nanti. Dengan demikian permasalahan ini seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari kita semua. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menuturkan, “Hasil usaha jiwa dan qolbu (hati) yang terbaik dan penyebab seorang hamba mendapatkan ketinggian di dunia dan akherat adalah ilmu dan iman. Oleh karena itu Allah Ta’ala menggabung keduanya dalam firmanNya, َ َ َ ‫وَقال ال ّذين أوتوا ال ْعِل ْم واليمان ل َقد ْ ل َب ِث ْت ُم في ك ِتاب الل ّهِ إ ِلى ي َوْم ِ ال ْب َعْث‬ َ َ َ ِْ َ َ ِ ِ ْ ُ ُ َ ِ ِ َ “Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): “Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit.” (QS ar-Ruum: 56) Dan firman Allah Ta’aa, ‫ي َرفَع الل ّه ال ّذين آ َمنوا من ْك ُم وال ّذين أوتوا ال ْعِل ْم د َرجات‬ ٍ َ َ َ ُ ُ َ ِ َ ْ ِ ُ َ َ ِ ُ ِ ْ “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS al-Mujaadilah: 11). Mereka inilah inti dan pilihan dari yang ada dan mereka adalah orang yang berhak mendapatkan martabat tinggi. Namun kebanyakan manusia keliru dalam (memahami) hakekat ilmu dan iman ini, sehingga setiap kelompok menganggap ilmu dan iman yang dimilikinyalah satu-satunya yang dapat mengantarkannya kepada kebahagiaan, padahal tidak demikian. Kebanyakan mereka tidak memiliki iman yang menyelamatkan dan ilmu yang mengangkat (kepada ketinggian derajat), bahkan mereka telah menutup untuk diri mereka sendiri jalan ilmu dan iman yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjadi dakwah beliau kepada umat. Sedangkan yang berada di atas iman dan ilmu (yang benar) adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya setelah beliau serta orangorang yang mengikuti mereka di atas manhaj dan petunjuk mereka….”.[1] Demikian bila kita melihat kepada pemahaman kaum muslimin saja tentang iman didapatkan banyak kekeliruan dan penyimpangan. Sebagai contoh banyak dikalangan kaum muslimin ketika berbuat dosa masih mengatakan, “Yang penting

kan hatinya”. Ini semua tentunya membutuhkan pelurusan dan pencerahan bagaimana sesungguhnya konsep iman yang benar tersebut. Makna Iman Dalam bahasa Arab, ada yang mengartikan kata iman dengan “tashdîq” (membenarkan); thuma’nînah (ketentraman); dan iqrâr (pengakuan). Makna ketiga inilah yang paling tepat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Telah diketahui bahwa iman adalah iqrâr (pengakuan), tidak semata-mata tashdîq (membenarkan). Dan iqrâr (pengakuan) itu mencakup perkataan hati, yaitu tashdîq (membenarkan), dan perbuatan hati, yaitu inqiyâd (ketundukan hati)”.[2] Dengan demikian, iman adalah iqrâr (pengakuan) hati yang mencakup: 1. Keyakinan hati, yaitu membenarkan terhadap berita. 1. Perkataan hati, yaitu ketundukan terhadap perintah. Yaitu: keyakinan yang disertai dengan kecintaan dan ketundukan terhadap semua yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah Ta’ala . Adapun secara syar’i (agama), iman yang sempurna mencakup qaul (perkataan) dan amal (perbuatan). Syaikul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dan di antara prinsip Ahlus sunnah wal jamâ’ah, ad-dîn (agama/amalan) dan al-imân adalah perkataan dan perbuatan, perkataan hati dan lisan, perbuatan hati, lisan dan anggota badan”.[3] Dalil Bagian-Bagian Iman Dari perkataan Syaikhul Islam di atas, nampak bahwa iman menurut Ahlus sunnah wal jamâ’ah mencakup lima perkara, yaitu [1] perkataan hati, [2] perkataan lisan, [3] perbuatan hati, [4] perbuatan lisan dan [5] perbuatan anggota badan. Banyak dalil yang menunjukkan masuknya lima perkara di atas dalam kategori iman, di antaranya adalah sebagai berikut: Pertama: Perkataan hati, yaitu pembenaran dan keyakinan hati. Allah Ta’ala berfirman, ُ َ ‫إ ِن ّما ال ْمؤْمنون ال ّذين آ َمنوا بالل ّهِ وَرسول ِهِ ث ُم ل َم ي َرتابوا وَجاهَدوا ب ِأ َموال ِهِم وَأ َن ْفسهِم في سبيل الل ّهِ أول َئ ِك هُم‬ ِ ْ ِ ُ ُ َ ُ َ ْ ْ ّ َ ُ ِ ُ ُ َ ُ ْ ِ ُ َ َ ِ َ ِ ِ َ َ ْ ‫الصادِقون‬ َ ُ ّ “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang hanya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orangorang yang benar.” (QS al-Hujurât: 15)

Kedua: Perkataan lisan, yaitu mengucapkan syahadat Lâ ilâha illallâh dan syahadat Muhammad Rasulullâh dengan lisan dan mengakui kandungan syahadatain tersebut. Di antara dalil hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, َ ّ ُ ُ َ ً ّ َ ُ ّ ْ َ‫أ ُمرت أ َن أ ُقات ِل الناس حتى ي َشهَد ُوا أ َن ل َ إ ِل َه إ ِل ّ الل ّه وَأ َن محمدا رسوْل الل ّهِ وَي ُقي ْموا الصل َةَ وَي ُؤْت ُوا الزكاة‬ ّ َ َ ّ َ َ ْ ُ ْ ِ ْ ُ َ ّ ْ ْ ُ ِ ْ َ ‫فَإذا فَعل ُوا ذ َل ِك عَصموا مني دِماءهُم وأ‬ َ ْ َ َِ ِ‫َ َ ْ َ موال َهُم إ ِل ّ ب ِحقّ ا ْل ِسل َم ِ وَحساب ُهُم عَلى الل ّه‬ ّ ِ ْ ُ َ َ َ ِ ْ ْ َ ْ ْ َ “Aku diperintah (oleh Allah) untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan sampai mereka menegakkan shalat, serta membayar zakat. Jika mereka telah melakukan itu, maka mereka telah mencegah darah dan harta mereka dariku kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka pada tanggungan Allah.”[4] Pada hadits lain disebutkan dengan lafazh, ‫… أ ُمرت أ َن أ ُقات ِل الناس حتى ي َقول ُوا ل َ إ ِل َه إ ِل ّ الل ّه‬ ّ َ َ ّ َ َ ْ ُ ْ ِ ُ َ ْ ُ “Aku diperintah (oleh Allah) untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan “Lâ ilâha illallâh”….[5] Ketiga: Perbuatan hati, yaitu gerakan dan kehendak hati, seperti ikhlas, tawakal, mencintai Allah Ta’ala , mencintai apa yang dicintai oleh Allah Ta’ala , rajâ’ (berharap rahmat/ampunan Allah Ta’ala), takut kepada siksa Allah Ta’ala , ketundukan hati kepada Allah Ta’ala, dan lain-lain yang mengikutinya. Allah Ta’ala berfirman, ُ ْ ِ ُ َ َ َ ِ ‫إ ِن ّما ال ْمؤْمنون ال ّذين إ ِذا ذ ُك ِر الل ّه وَجل َت قُلوب ُهُم وَإ ِذا ت ُل ِي َت عَل َي ْهِم آ َيات ُه زاد َت ْهُم إيمانا وَعَلى رب ّهِم ي َت َوَك ّلون‬ ً َ ِ ْ َ ُ َ ُ َ ْ َ ُ ِ ُ ْ َ َ ْ ْ َ َ “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka gemetar, dan apabila dibacakan kepada mereka ayatayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabbnya mereka bertawakkal” (QS al-Anfâl: 2). Dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan amalanamalan hati termasuk iman. Keempat: Perbuatan lisan/lidah, yaitu amalan yang tidak dilakukan kecuali dengan lidah. Seperti membaca al-Qur’ân, dzikir kepada Allah Ta’ala, doa, istighfâr, dan lainnya. Allah Ta’ala berfirman, ُ َ ‫وات ْل ما أوحي إ ِل َي ْك من ك ِتاب رب ّك ل مب َد ّل ل ِك َل ِمات ِهِ وَل َن ت َجد َ من دون ِهِ مل ْت َحدا‬ ً َ ُ ُ ْ ِ ِ ْ َ ُ َ َ َ ِ َ ْ ِ َ َ ُ َ َ ِ “Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Rabb-mu (al-Qur’ân). Tidak ada (seorang pun) yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya.” (QS al-Kahfi: 27). Dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan amalan-amalan lisan termasuk iman. Kelima: Perbuatan anggota badan, yaitu amalan yang tidak dilakukan kecuali dengan anggota badan. Seperti: berdiri shalat, rukû’, sujud, haji, puasa, jihad, membuang barang mengganggu dari jalan, dan lain-lain. Allah Ta’ala berfirman,

ُ ‫يا أ َي ّها ال ّذين آ َمنوا ارك َعوا واسجدوا واعْب ُدوا رب ّك ُم وافْعَلوا ال ْخي ْر ل َعَل ّك ُم ت ُفْل ِحون‬ ُ َ َ ِ َ ُ ُ ُ ْ َ ُ ْ َ ْ َ َ َ َ ْ َ ُ َ “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah, sujudlah, sembahlah Rabbmu dan berbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS al-Hajj: 77) Rukun-Rukun Iman Sesungguhnya iman memiliki bagian-bagian yang harus ada, yang disebut dengan rukun-rukun (tiang; tonggak) iman. Ahlus sunnah wal jamâ’ah meyakini bahwa rukun iman ada enam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata pada permulaan kitab beliau, ‘Aqîdah al-Wâsithiyah’, “Ini adalah aqîdah Firqah an-Nâjiyah al-Manshûrah (golongan yang selamat, yang ditolong) sampai hari kiamat, Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Yaitu: beriman kepada Allah Ta’ala, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, kebangkitan setelah kematian, dan beriman kepada qadar, yang baik dan yang buruk”.[6] Dalil rukun iman yang enam ini adalah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada malaikat Jibrîl ‘alaihis salam, ketika menjelaskan tentang iman, ‫أ َن ت ُؤْمن بالل ّهِ وَمل َئ ِك َت ِهِ وَك ُت ُب ِهِ وَرسل ِهِ وال ْي َوْم ِ الخرِ وَت ُؤْمن بال ْقد َرِ خي ْرِهِ وَشره‬ َ ِ َ ِ َ ِ ْ ِ ّ َ ْ ُ ُ َ ِ َ ِ َ Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada qadar, yang baik dan yang buruk.”[7] Rukun iman ini wajib diyakini oleh setiap Mukmin. Barangsiapa mengingkari salah satunya, maka dia kafir. Syaikh Muhammad Khalîl Harrâs berkata, “Enam perkara ini adalah rukun-rukun iman. Iman seseorang tidak sempurna kecuali jika dia beriman kepada semuanya dengan bentuk yang benar sebagaimana ditunjukkan oleh al-Kitab dan Sunnah. Barangsiapa mengingkari sesuatu darinya, atau beriman kepadanya dengan bentuk yang tidak benar, maka dia telah kafir.” [8] Iman Bertambah dan Berkurang Sudah dimaklumi banyak terdapat nash-nash al-Qur`an dan as-Sunnah yang menjelaskan pertambahan iman dan pengurangannya. Menjelaskan pemilik iman yang bertingkat-tingkat sebagiannya lebih sempurna imannya dari yang lainnya. Ada di antara mereka yang disebut assaabiq bil khoiraat (terdepan dalam kebaikan) [9], al-Muqtashid (pertengahan)[10] dan zholim linafsihi (menzholimi diri sendiri). Ada juga al-Muhsin, al-Mukmin dan al-Muslim. Semua ini menunjukkan mereka tidak berada dalam satu martabat. Ini menandakan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang. Bukti dari Al Qur’an dan As Sunnah Bahwa Iman Bisa Bertambah dan Berkurang

Pertama: Firman Allah Ta’ala , ُ َ ُ ِ َ َ َ ِ َ ْ َ ْ ‫ال ّذين قال ل َهُم الناس إ ِن الناس قَد ْ جمعوا ل َك ُم فاخشوْهُم فَزاد َهُم إيمانا وَقالوا حسب ُنا الل ّه وَن ِعْم ال ْوَكيل‬ َ ْ َ ً َ ِ ْ َ ْ ُ َ َ َ ُ َ ّ ّ ُ ّ ُ “(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung“.” (QS Alimron: 173). Para ulama Ahlus Sunnah menjadikan ayat ini sebagai dasar adanya pertambahan dan pengurangan iman, sebagaimana pernah ditanyakan kepada imam Sufyaan bin ‘Uyainah rahimahullah, “Apakah iman itu bertambah atau berkurang?” Beliau rahimahullah menjawab, “Tidakkah kalian mendengar firman Allah Ta’ala, ‫فزادهم إيمانا‬ ً َ ِ ُْ َ َ َ “Maka perkataan itu menambah keimanan mereka”. (QS Alimron: 173) dan firman Allah Ta’ala, ‫وَزِد ْناهُم هُدى‬ ً ْ َ “Dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk”.(QS al-Kahfi: 13) dan beberapa ayat lainnya”. Ada yang bertanya, “Bagaimana iman bisa dikatakan berkurang?” Beliau rahimahullah menjawab, “Jika sesuatu bisa bertambah, pasti ia juga bisa berkurang”.[11] Kedua: Firman Allah Ta’ala, ‫وَي َزيد ُ الل ّه ال ّذين اهْت َد َوا هُدى وال ْباقِيات الصال ِحات خي ْر عن ْد َ رب ّك ث َوابا وَخي ْر مردا‬ ِ ٌ َ ُ َ ّ ّ َ َ ٌ َ ً َ َ َ ً ُ َ َ َ ْ َ ِ ُ ِ “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya.” (QS Maryam: 76). Syeikh Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan tafsir ayat ini dengan menyatakan, “Terdapat dalil yang menunjukkan pertambahan iman dan pengurangannya, sebagaimana pendapat para as-Salaf ash-Shaalih. Hal ini dikuatkan juga dengan firman Allah Ta’ala, ‫وَي َزداد َ ال ّذين آ َمنوا إيمانا‬ ً َ ِ ُ َ َ ِ َ ْ “Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (QS al-Mudatstsir: 31) dan firman Allah Ta’ala,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya).” (QS al-Anfaal:8/2) Juga dikuatkan dengan kenyataan bahwa iman itu adalah perkataan qolbu (hati) dan lisan, amalan qolbu, lisan dan anggota tubuh. Juga kaum mukminin sangat bertingkat-tingkat dalam hal ini.[12] Ketiga: Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, َ ٌ ِ ُ ‫ل ي َزني الزاني حين ي َزني وَهُوَ مؤْمن وَل ي َشرب ال ْخمر حين ي َشرب وَهُوَ مؤْمن وَل ي َسرِقُ حين ي َسرِقُ وَهُو‬ ِ ْ َ ِ ِ ّ ِ ْ َ ُ َ ْ َ ِ َ ْ َ ُ َ ْ َ ٌ ِ ُ ْ َ ِ ْ َ ‫مؤْمن‬ ٌ ِ ُ “Tidaklah seorang pezina berzina dalam keadaan mukmin dan tidaklah minum minuman keras ketika minumnya dalam keadaan mukmin serta tidaklah mencuri ketika mencuri dalam keadaan mukmin”.[13] Ishaaq bin Ibraahim an-Naisaaburi berkata, “Abu Abdillah (Imam Ahmad) pernah ditanya tentang iman dan berkurangnya iman. Beliau rahimahullah menjawab, “Dalil mengenai berkurangnya iman terdapat pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah seorang pezina berzina dalam keadaan mukmin dan tidaklah mencuri dalam keadaan mukmin.” [14] Keempat: Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ّ َ َ ُ َ ْ ُ ‫اليمان ب ِضعٌ وَسب ْعون أ َوْ ب ِضعٌ وَستون شعْب َة فَأ َفْضل ُها قَوْل ل إ ِل َه إ ِل الل ّه وَأ َد ْناها إ ِماط َة ال َذى عَن الط ّريق‬ ً ُ َ ّ ِ ْ َ ُ َ ْ ُ َ ِْ َ َ َ ُ َ َ ْ ِ ِ ‫وال ْحياء شعْب َة من اليمان‬ ِ َ ِْ ْ ِ ٌ ُ ُ َ َ َ “Iman itu lebih dari tujuh puluh atau lebih dari enampuluh. Yang paling utama adalah perkataan: “Laa Ilaaha Illa Allah” dan yang terendah adalah membersihkan gangguan dari jalanan dan rasa malu adalah satu cabang dari iman.”[15] Hadits yang mulia ini menjelaskan bahwa iman memiliki cabang-cabang, ada yang tertinggi dan ada yang terendah . Cabang-cabang iman ini bertingkat-tingkat dan tidak berada dalam satu derajat dalam keutamaannya, bahkan sebagiannya lebih utama dari lainnya. Oleh karena itu Imam At-Tirmidzi memuat bab dalam sunannya: “Bab Kesempurnaan, bertambah dan berkurangnya iman”. Syeikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas menyatakan, Ini jelas sekali menunjukkan iman itu bertambah dan berkurang sesuai dengan pertambahan aturan syariat dan cabang-cabang iman serta amalan hamba tersebut atau tidak mengamalkannya. Sudah dimaklumi bersama bahwa manusia sangat bertingkat-tingkat dalam hal ini. Siapa yang berpendapat bahwa iman itu tidak bertambah dan berkurang, sungguh ia telah menyelisihi realita yang nyata di samping menyelisihi nash-nash syariat sebagaimana telah diketahui.[16] Pendapat Ulama Salaf Bahwa Iman Bisa Bertambah dan Berkurang

Sedangkan pendapat dan atsar as-Salaf ash-Shaalih sangat banyak sekali dalam menetapkan keyakinan bahwa iman itu bertambah dan berkurang, diantaranya: Pertama: Dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya : Satu ketika Kholifah ar-Rsyid Umar bin al-Khathaab rahimahullah pernah berkata kepada para sahabatnya, ‫هَل ُموا ن َزداد ُ إ ِي ْمانا‬ ً َ َ ْ ْ ّ “Marilah kita menambah iman kita.”[17] Sahabat Abu ad-Darda` Uwaimir al-Anshaari rahimahullah berkata, ‫ال ِي ْمان ي َزداد ُ وَ ي َن ْقُص‬ َ ْ ُ ِ ُ “Iman itu bertambah dan berkurang.”[18] Kedua: Dari kalangan Tabi’in, di antaranya: Abu al-Hajjaaj Mujaahid bin Jabr al-Makki (wafat tahun 104 H) menyatakan, ٌ َ ‫ال ِي ْمان قَول وَ عَمل ي َزِي ْد ُ وَ ي َن ْقُص‬ ُ ْ ُ ِ “Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.”[19] Abu Syibl ‘Alqamah bin Qais an-Nakhaa’i (wafat setelah tahun 60 H) berkata kepada para sahabatnya, ‫امشوا ب ِنا ن َزد َد ُ إ ِي ْمانا‬ ً َ ْ َ ْ ُ ْ “Mari kita berangkat untuk menambah iman.”[20] Ketiga: Kalangan tabi’ut Tabi’in, di antaranya: Abdurrahman bin ‘Amru al-‘Auzaa’i (wafat tahun 157 H) menyatakan, ٌ َ ٌ‫ال ِي ْمان قَول وَ عَمل ي َزِي ْد ُ وَ ي َن ْقص فَمن زعَم أ َن ال ِي ْمان ل َ ي َزِي ْد ُ وَ ل َ ي َن ْقص فاحذ َروه فَإ ِن ّه مب ْت َدِع‬ َ ِ ّ َ َ ْ َ ُ ُ ُ ُ ْ ُ ْ َ ُ ُ ْ ُ ِ “Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang. Siapa yang meyakini iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang maka berhati-hatilah terhadapnya karena ia adalah seorang ahli bid’ah.”[21] Beliau juga ditanya tentang iman, “Apakah bisa bertambah?” Beliau menjawab, “Iya, hingga menjadi seperti gunung.” Beliau ditanya lagi, “Apakah bisa berkurang?” Beliau rahimahullah menjawab, “Iya, hingga tidak tersisa sedikitpun darinya”.[22] Ketiga: Empat imam madzhab (Aimmah arba’ah), di antaranya:

Muhammad bin Idris asy-Syaafi’i rahimahullah menyatakan, ٌ َ ‫ال ِي ْمان قَول وَ عَمل ي َزِي ْد ُ وَ ي َن ْقُص‬ ُ ْ ُ ِ “Iman itu adalah perkataan dan perbuatan bertambah dan berkurang.”[23] Ahmad bin Hambal rahimahullah menyatakan, “Iman itu sebagiannya lebih unggul dari yang lainnya, bertambah dan berkurang. Bertambahnya iman adalah dengan beramal. Sedangkan berkurangnya iman dengan tidak beramal. Dan perkataan adalah yang mengakuinya.”[24] Demikianlah pernyataan dan pendapat para ulama ahlus sunnah seluruhnya, sebagaimana dijelaskan syeikh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam pernyataan beliau, “Para Salaf telah berijma’ (bersepakat) bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang”. -bersambung insya Allah pada pembahasan “Sebab Bertambah dan Berkurangnya Iman”Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc Artikel www.muslim.or.id [1] al-Fawaaid hal. 191. [2] Majmû’ Fatâwa 7/638 [3] Syarh Aqîdah Wâsithiyah, hlm. 231, karya Syaikh Muhammad Khalîl Harrâs, takhrîj: ‘Alwi bin Abdul Qadir as-Saqqâf [4] HR. al-Bukhâri, no: 25, dari `Abdullâh bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. [5] HR. al-Bukhâri, no: 392, dari Anas bin Mâlik radhiyallahu ‘anhu. [6] Syarh Aqîdah Wâsithiyah, hlm: 60-61, karya Syaikh Muhammad Khalîl Harrâs, takhrîj: ‘Alwi bin Abdul Qadir as-Saqqâf [7] HR. al-Bukhâri, no.50; Muslim, no. 9. [8] Syarh Aqîdah Wâsithiyah, hlm: 61-62, karya Syaikh Muhammad Khalîl Harrâs, takhrîj: ‘Alwi bin Abdul Qadir as-Saqqâf [9] As saabiq bil khoiraat adalah yang mengerjakan amalan wajib dan melengkapi dengan amalan sunnah, menjauhi yang haram dan juga yang makruh. Lihat keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitan Al Furqon. (ed) [10] Al Muqtashid adalah yang hanya mencukupkan diri dengan mengerjakan yang wajib dan menjauhi yang haram. (ed)

[11] Diriwayatkan kisah ini oleh al-Aajuriy dalam kitab asy-Syari’at hlm 117 [12] Tafsir as-Sa’di 5/33 [13] Muttafaqun ‘Alaihi, Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. [14] Diriwayatkan oleh al-Kholaal dalam kitab as-Sunnah no. 1045 [15] Muttafaqun ‘alaihi, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. [16] At-Taudhih wa al-Bayaan Lisyajarat al-Imaan hlm 14. [17] Diriwayatkan ibnu Abi Syaibah dalam al- Mushannaf 11/26 dengan sanad shahih [18] Diriwayatkan Abdullah bin Ahmad dalam kitab as-Sunnah 1/314 [19] Diriwayatkan Abdullah bin Ahmad dalam kitab as-Sunnah 1/335 [20] Diriwayatkan ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf 11/25 dan dinilai hasan oleh al-Albani dalam komentar beliau terhadap kitab al-Iman karya ibnu Abi Syaibah. [21] Diriwayatkan al-Aajuuri dalam kitab asy-Syari’at hlm 117. [22] Diriwayatkan al-Laalakai dalam Ushul I’tiqaad 5/959. [23] Diriwayatkan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 10/115 [24] Diriwayatkan al-Khalaal dalam kitab as-Sunnah 2/678

Al Qur’an, Hadits dan Ijtihad 24 Des 2009 Tinggalkan sebuah Komentar by tafany in PAI I ¨ Pengertian al-Qur’an menurut bahasa Al-qur’an itu merupakan himpunan huruf-huruf dan kata-kata yang dapat dibaca. ¨ Pengertian al-Qur’an secara istilah Firman allah SWT yang menjadi mu’jizat abadi kepada rasulullah yg tidak mungkin bisa ditandingi oleh manusia, diturunkan kedalam hati rasulullah SAW, diturunkan ke generasi berikutnya secara mutwatir, ketika dibaca bernilai ibadah dan berpahala besar.

¨ Nama-Nama al-Qur’an : Al-Qur’an, Al-kitab , Al-huda , Rahmah , Nur, Ruh, Syifa’, Al-haq, Bayan, Maiuzhoh, Dzikr , Naba’ ¨ Fungsi al-Qur’an : Kitab berita , Kitab hukum dan aturan , Kitab berjuang , Kitab pendidikan , Kitab ilmu pengetahuan ¨ Pokok ajaran dan isi kandungan al-Qur’an : Tauhid , Ibadah , Akhlak , Hukum , Hubungan masyarakat , Janji dan ancaman , Sejarah ¨ Keistimewaan dan keutamaan al-Qur’an Memberi petunjuk lengkap disertai hukumnya, Susunan ayat yg mengagumkan dan mempengaruhi jiwa pendengarnya, Menghilangkan ketidakbebasan berfikir yg melemahkan daya upaya dan kretifitas manusia, Memberi penjelasan ilmu pengetahuan, Memuliakan akal sebagai dasar memahami urusan manusia dan hukum-hukumnya, Menghilangkan perbedaan antar manusia dari sisi kelas dan fisik.m ¨ Pengertian Hadits Segala perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari nabi Muhammad SAW yg dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama islam. ¨ Macam-Macam Hadits Hadits ditinjau dari segi kualitasnya Hadits ditinjau dari segi bentuknya Hadits ditinjau dari diterima atau ditolaknya Ditinjau dari segi siapa yang berperan Hadits ditinjau dari segi jumlah IJTIHAD ¨ Ijtihad secara istilah adalah mengerahkan kesungguhan untuk menemukan hukum syar’I atau sebuah usaha yg sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yg sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yg tidak dibahas dalam al-quran maupun hadits dgn syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang.

¨ Syarat-Syarat seseorang yang boleh melakukan ijtihad Mengetahui dalil-dalil syar’I, Mengetahui hal-hal yg berkaitan dgn keshahihan hadits, Mengetahui nasikh- mansukh dan perkara-perkara yg telah menjadi ijma’, Mengetahui dalil-dalil yg sifatnya takhsis, Mengetahui ilmu bahasa, ushul fikih, dalildalil yg mempunyai hubungan umum-khusus, Mempunya kemampuan beristimbat ¨ Tujuan ijtihad Untuk memenuhi keperluan umat manusia akan pegangan hidup dalam beribadah kepada allah SWT disuatu tempat tertentu atau pad suatu waktu tertentu ¨ Fungsi Ijtihad Meski al-quran sudah diturunkan secara sempurna dan lengkap, tidak berarti semua hal dalam kehidupan manusia diatur secara detil oleh al-quran maupun al-hadits. Jika terjadi persoalan baru bagi kalangan umat islam disuatu tampat tertentu atau disuatu masa waktu tertentu maka persoalan tersebut dikaji apakah perkara yg dipersoalkan itu sudahh ada dalam al-quran atau al-hadist.

Tulisan ini adalah pemahaman penulis tentang alquran, tafsir, hadits. jika ada koreksi, silahkan dikomentari. Q: alquran & hadits itu apa? A: alquran dan hadits adalah sumber hukum dalam agama islam. Q: maksudnya? A: yah, jika memeluk agama tertentu, maka pastilah ada aturan2 dalam agama tersebut kan? nah di dalam agama islam, sumber aturannya berasal dari alquran dan hadists ini. Q: apakah ada sumber lain? A: ada. namanya ijtihad. biasanya dituangkan dalam bentuk fatwa dari ulama. Q: diantara sumber aturan diatas, apakah ada tingkatannya? ada analoginya? A: ada. urutannya: alquran, hadits, kemudian ijtihad. mirip seperti undangundang: ada undang-undang dasar yang menjadi dasar dari semua aturan, ada undang-undang perbankan yang berbicara lebih detil tentang perbankan, kemudian ada peraturan lagi yang lebih detil. Begitu juga dengan aturan dalam islam, tidak semua aturan islam ada di alquran. alquran adalah layaknya seperti undang-undang dasar yang memuat prinsip2 dasar dalam islam. aturan ini kemudian diperjelas lagi dalam hadits atau fatwa

Q: aturan apa saja yang dicover sumber-sumber hukum islam diatas? A: islam adalah the way of life. jadi aturannya mencakup perilaku keseharian kita, bukan hanya aturan berdoa saja, ada juga aturan jual beli, memakai baju, sampai buang air. Q: apa itu alquran? seperti apa isinya? apakah sudah pernah direvisi seperti UUD? apakah semua isi alquran harus diikuti? kenapa? A: alquran adalah kumpulan wahyu dari Allah SWT (tuhannya orang islam). Alquran ditulis dalam bentuk buku, dan bentuk ayat-ayat dan surat, dengan menggunakan bahasa aslinya (arab). isi alquran kebanyakan berupa cerita (kisah adam & eve, faraoh, musa, isa, surga, neraka, dll), nasihat, larangan, serta lainnya. karena merupakan perkataan Allah, maka dilarang untuk dimodifikasi sedikitpun. pada jaman dimana belum ada teknologi buku seperti sekarang, isi alquran kudu dihafal. tradisi ini masih berlanjut sampai sekarang. sehingga alquran adalah kitab suci yang orisinalitasnya sangat terjaga. Semua aturan alquran wajib diikuti karena merupakan perintah langsung dari Allah SWT. Q: apa itu hadits? apakah seperti alquran juga? A: hadits adalah perbuatan, perkataan, serta persetujuan nabi muhammad (nabinya orang islam). nabi muhammad ini adalah contoh teladan untuk umat manusia, sehingga perilaku beliau menjadi acuan orang islam untuk bertindak. hadits tidak didokumentasikan ketat seperti alquran sehingga ada perbedaan pendapat tentang hadits ini. namanya juga produk manusia pasti ada kurang lebihnya. Q: apakah hadits ada klasifikasinya? A: tentu saja ada. berdasarkan tingkatan keasliannya:
• • • •

sahih (asli dari nabi, referensinya banyak), hasan (good, referensinya dibawah sahih) daif (lemah, referensinya sedikit) maudu (palsu, artinya bohong, analoginya seperti HOAX)

Q: apakah ada dokumentasi hadits? A: ada. ada beberapa ulama yang melakukan dokumentasi hadits. yang sering dipakai adalah bukhari dan muslim.
• • • •

Sahih Bukhari Sahih Muslim Sunan Abi Da’ud Sunan al-Tirmidhi

• •

Sunan al-Sughra (al-Nasa’i) Sunan Ibn Majah

Q: bagaimana dengan hukum islam? A: dari sumber2 diatas, maka dibuatlah hukum islam yang mengatur perbuatan manusia. seperti:
• •

wajib, perbuatan yang harus dilakukan. misal: shalat sunnah, perbuatan yang tidak wajib dilakukan, namun jika dilakukan mendapat pahala. misal: senyum kepada orang lain makruh, perbuatan yang sebaiknya tidak dilakukan, jika dilakukan tidak mendapat apa2. misal: main game berlebihan haram, perbuatan yang tidak boleh dilakukan, jika dilakukan mendapat dosa. misal: berjudi

Q: lalu apa itu mazhab? fiqh? dan apa hubungannya dengan hadits? A: mazhab definisinya adalah paham/aliran yang merupakan hasil pemikiran dari seseorang. kebetulan orang2 ini adalah ahli hadits dan banyak orang yang bertanya ke mereka tentang sebuah kasus/perkara/situasi, kemudian didokumentasikan. fiqh adalah ilmu & proses untuk menentukan status hukum sebuah kasus/perkara/situasi. nama mazhab (disebut juga mazhab fiqh) diambil dari nama ulama tersebut. beberapa mazhab besar yang menjadi rujukan:
• • • •

hanafi. dari imam abu hanifah maliki. dari imam maliki syafie. dari imam syafie hambali. dari imam ahmad bin hambali

Q: apakah mazhab juga sebagai sumber hukum? A: tidak. yang menjadi sumber hukum utama adalah alquran dan hadits. yang dijadikan referensi orang islam adalah perbuatan nabi, bukan perbuatan para imam tersebut. namun pendapat mazhab bisa menjadi starting point karena kita orang awam dan mereka orang ahli. Q: apakah semua hadits harus diikuti? contohnya? kenapa? A: tidak semua hadits harus diikuti. contoh: mempunyai istri yang berjumlah seperti nabi. tidak perlu diikuti karena dalam alquran ditulis bahwa maksimum 4 orang dengan persyaratan ketat. aturan dalam alquran ini keluar setelah nabi telah beristri lebih dari 4. contoh lain: makan dengan tangan, celana digulung, memelihara jenggot, dll. alasannya karena ini adalah bukan wajib. bagi yang mengerjakan dapat pahala (bisa jadi tergantung mazhabnya juga).

Q: bagaimana dengan fatwa? contoh fatwa? A: fatwa adalah hasil pendapat para ulama pada daerah tertentu biasanya tentang sesuatu yang bersifat baru dimana tidak terdapat pada alquran dan hadits secara ekplisit, namun diambil prinsip dari dua sumber tersebut. misal: fatwa tentang rokok. Q: bagaimana tentang hukum di indonesia? A: indonesia adalah negara sekuler yang mengakui adanya tuhan. sehingga sumber hukum di negara indonesia bukan alquran dan hadits melainkan UUD 45 dan undang-undang dibawahnya. sehingga tidak ada kategori hukum seperti wajib, sunnah, makruh, dll. negara sekuler disini didefiniskan sebagai negara yang bukan beerdasarkan pada hukum dari agama tertentu. indonesia adalah negara sekuler yang mengakui adanya tuhan. hal ini dibuktikan dari UUDnya dan pancasila. Q: saya punya temen yang belajar fiqh, dan dia sering menyalahkan orang karena perbuatan tersebut tidak sesuai dengan dalil xyz…? A: saya harus mengakui bahwa saya dahulu adalah salah satu orang yang seperti ini, hanya melihat sesuatu dari perspektif golongan saya saja. ternyata saya salah besar. dunia tidak sebesar golongan saya saja. Islam itu universal, fleksible, ada toleransi. sehingga kita perlu berhati2 belajar fiqh agar tidak terjebak dalam situasi “saya selalu benar dan kmu salah“. belajar fiqh tanpa belajar fundamental fiqh seperti toleransi, kerukunan umat, sopan santun, ramah tamah, hanya menjadikan radikalisme. Q: wah kalo berbeda nanti ngak bisa masuk surga / dapat pahala dong? A: nabi berpesan, silahkan ikuti alquran dan hadits, insya allah akan selamat (masuk surga). so intinya belajar itu alquran, dan hadits, dan amalkan. terkait dengan perbedaan mazhab adalah manusiawi. namun sebagai manusia, perlu menjaga hubungan baik dengan tidak perlu memaksakan kehendak. Allah tidak pernah tidur, selalu ada dan melihat kita, kita juga dapat berdoa dengan bahasa lokal karena Allah tidak bodoh. Jika sudah berusaha yang terbaik, maka pasti akan diganjar dengan ganjaran yang baik pula. sekian dulu tulisannya, silahkan dikoreksi jika ada yang wassalam.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->