P. 1
Pentingnya Ilmu Bagi Kehidupan Kita

Pentingnya Ilmu Bagi Kehidupan Kita

|Views: 1,920|Likes:
Published by Alfajar
Kumpulan materi
kultum
Pentingnya
Ilmu Bagi
Kehidupan Kita
Kumpulan materi
kultum
Pentingnya
Ilmu Bagi
Kehidupan Kita

More info:

Published by: Alfajar on Nov 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/06/2013

pdf

text

original

Kumpulan materi 

kultum

Pentingnya
Ilmu Bagi Kehidupan Kita
By : Al Fajar

Sesungguhnya Al lah  SWT telah mewaj ibkan atas  hartawan musl im suatu kewajiban zakat yang  dapat menanggulangi  kemiskinan. Tidaklah mungkin ter jadi  seorang faki r menderi  ta kelaparan atau kekur  angan pakaian, kecual i oleh sebab  kebakhi lan yang ada pada har tawan musl  im. Ingat lah, Al lah SWT akan melakukan  perhi tungan yang tel i ti dan meminta  pertanggungjawaban mereka dan selanjutnya  akan menyiksa mereka dengan siksaan 

yang pedih                                

November
Adalah sudah menjadi fakta, bahwa k egiatan ekonomi sekarang adalah melahi rkan kesenjangan pendapatan yang semakin lebar dan semakin besar. Misalnya, sebagaimana dikemukakan dalam Human Development Repor t 2006 yang di terbi t kan oleh UNDP (United Nations Development Programme). Berdasark an laporan tersebut , 10% k elompok k aya dunia menguasai 54% total k ekayaan dunia. Sedangkan sisanya 90% masyar ak at dunia menguasai 46% total k ekayaan dunia (Beik, 2006).

25

HR.Thabrani dalam Al  Ausath an AshShoghir 

2010

Apabila kamumelewati taman-taman surga, minumlah hingga puas. Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apa yang dimaksud tamantaman surga itu

WWW.ADABISNISHALAL.CO.CC

Pentingnya Ilmu
Nabi Muhammad SAW bersabda Apabila kamu melewati taman-taman surga, minumlah hingga puas. Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apa yang dimaksud tamantaman surga itu?" Nabi Saw menjawab, "Majelismajelis taklim." (HR. Ath-Thabrani) Begitu pentingnya ilmu sehingga tempat mncari ilmu disebut taman surga, pada hadits lainnya: Man salaka thariiqay yaltamisu fii hi ilman, Sahhallaahu thoriiqan ilal jannah yang bermakna: Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. (HR. Muslim) Namun apa yang terjadi di indonesia terkait soal ke surga, entah siapa yag mengarang sebuah pepatah, pepatah yg salah, tapi terkenal, yang bunyinya • • • Muda Foya Foya Tua Kaya Raya Mati Masuk Surga

• •

Bisa Masuk Penjara atau bisa Mati masuk neraka

naudzubillah.. Maka Islam memberi jalan apa bila kita yang ingin • • • bahagia, tua kaya raya dan mati masuk surga

bukan dengan cara Foya foya tetapi dengan iqra atau membaca atau dengan mencari Ilmunya, apakah itu • • • Ilmu dari sekolah Ilmu dari Kuliah dan Ilmu dari Masjid2 (majelis Taklim) dan sebagainya

dengan ilmu, manusia bisa berbuat sesuatu. sesuatu karya yang baik disebut amal shalih • • amal=perbuatan shalih=kebaikan

Pepatah itu adalah pepatah yang hampir mustahil terjadi, bila muda foyafoya dan tak bertobat. Kenyataanya yang sering terjadi adalah, apabila • • • Muda Foya Foya Cendrung banyak maksiyatnya Bisa terjerat Narkoba

(Jangan Baca Semua. kontak pandangan dan baca perlahan-lahan di negara2 maju, penduduknya banyak yg belum beriman tetapi mereka beramal shalih atau (berkarya), karena mereka rajin menuntut Ilmu maka mereka mampu mengasilkan alat2 teknologi yang bermanfaat, sehingga hidupnya lebih mudah bagaikan mendapat surga dunia

sesuai hadits nabi mengenai mudahnya jalan ke surga yaitu dengan Ilmu, tanpa mereka sadari mereka mengamalkan sabda nabi tersebut Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. (HR. Muslim) baik surga di dunia maupun surga di akhirat. padahal surga dunia sangat kecil bila dibandingkan Surga di Akhirat Perbandingan dunia dengan akhirat seperti seorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam laut lalu diangkatnya dan dilihatnya apa yang diperolehnya. (HR. Muslim dan Ibnu Majah) maka dari itu, hampir semua masjid menyediakan fasilitas menambah Ilmu (majlis taklim), menyediakan bacaan perpustakaan untuk dibaca agar memudahkan hambanya menuju Surga. Karena Allah perintahkan manusia untuk Iqra ! (bacalah) di surah Al Alaq 1-5 Manusia yang banyak membaca akan banyak Ilmunya, akan banyak hal yang bisa disampaikan, bagaikan teko yang selalu diisi air minum, maka akan kelebihan air akan tumpah membagi2kan ilmunya lewat lisan maupun tulisan. Sebaliknya… Orang yang malas menuntut ilmu, malas mendengarkan majelis taklim dan/atau malas membaca biasanya hidupnya akan membosankan, karena hidupnya tiada sesuatu yang baru, hanya itu itu melulu, karena ruhnya jarang diisi ilmu dan jarang diisi dengan bacaan Ayat Ayat AlQuran

maka dari itu, kita perlu ingat kembali pada pentingnya Ilmu dengan menghadiri majelis Ilmu, karena menuntut ilmu hukumnya wajib. Nabi bersabda Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah). (HR. Ibnu Majah) tanpa memandang siapa yang membagikan ilmu, apakah masih muda atau Tua yang penting apa yang disampaikannya adalah Ayat-ayat Allah, kalau ada orang yang meremehkan Ilmu, meremehkan kebenaran meremehkan orang yang membagikan Ilmu, hanya karena masih muda atau sebab lainnya, khawatir orang itu termasuk orang yang sombong seperti sabda nabi yang artinya Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan (meremehkan) manusia” . (Hadits Riwayat Muslim, at Tirmidzi dan Abu Daud). Hadirin yang disayangi Allah Alhamdulillah di bulan penuh berkah dan rahmah ini masjid AlFurqan menyediakan fasilitas Ilmu Majelis Taklim SanLat Untuk Anak-anak Lomba dan Gebyar Ramadhan untuk anak yang merupakan wujud amal shalih kita Semoga Allah membalas dengan pahala n kebaikan yang berlipat ganda bagi seluruh jamaah masjid AlFurqan.amin,

AlFurqan adalah nama lain dari AlQuran yang artinya Penyaring/Pembeda antara kebaikan dan keburukan. Orang yang memiliki Furqan akan bisa menyaring kebaikan dan menjauhi keburukan, tahu dan mengerti cara membedakan kebaikan dan keburukan. Juga berkat rajin menuntut ilmu dan beribadah penutup dan kesimpulan: Ilmu sangat penting dan sangat perlu kita perbarui setiap hari karena sebagai manusia kita tempatnya lupa maka kita perlu orang lain yang mengingatkannya yaitu dengan cara • • rajin menghadiri majelis taklim tanpa memandang usia, dengan banyak membaca,AlQuran dan terjemahannya, banyak membaca buku islamnya

Duduk bersama para ulama adalah ibadah. (HR. Ad-Dailami) 3. Mendapat taman surga dunia

Apabila kamu melewati tamantaman surga, minumlah hingga puas. Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apa yang dimaksud taman-taman surga itu?" Nabi Saw menjawab, "Majelis-majelis taklim." (HR. Ath-Thabrani). Merajut Pakaian Taqwa Pada hakekatnya, pakaian adalah segala  yang “melekat” di badan ini; entah baju,  celana, segala aksesoris yang “melekat”  lainnya, termasuk perhiasan. Selaras  dengan pengertian ini, bahkan Allah  membahasakan suami sebagai “pakaian”  dari istri; dan istri adalah “pakaian” dari  suami (Q.S. Al­Baqarah: 187: hunna   libaasul lakum wa antum libaasun   lahunna). Mungkin karena suami dan istri  pun “melekat” satu sama lain, hingga  mereka tak ubahnya seperti pakaian. Setidaknya ada 3 macam fungsi pakaian  yang disebut di dalam Al­Qur’an. Pertama,  pakaian sebagai penutup aurat (Q.S. An­ Nuur: 58 dan Al­A’raf: 26). Kedua, pakaian  sebagai perhiasan (Q.S. Al­A’raf: 26). Dan  ketiga, pakaian sebagai pelindung, yakni  dari panas dan hujan, juga dari serangan  musuh (Q.S. An­Nahl:81). Tak kurang dari 20 ayat ditemukan di  dalam Al­Qur’an yang berbicara tentang  pakaian. Entah memakai bahasa  “libaasun”, “kiswatun”, “saraabil”, maupun  “tsiyab”. Namun, semuanya berbicara  tentang pakaian lahiriah. Pakaian dunia.  Hanya ada satu yang menyebutkan tentang  pakaian ruhani.

karena Ilmu sangat penting untuk orang tua dan muda, untuk kita semua Sebagai motivasi mari kita ingat kembali manfaat dan keuntungan Keuntungan Menuntut Ilmu 1. 2. bisa membuat kita dimudahkan jalan ke surga. Duduk bersama Ulama sudah dianggap ibadah.

Pakaian ruhani adalah sebenar­benar  pakaian, yang menunjukkan baik buruknya  seseorang. Meski seseorang mengenakan  pakaian lahiriah yang mewah dan mahal,  tetapi jika pakaian ruhaninya rusak, jelek,  terhina, maka dirinya akan terhina pula.  Pakaian lahiriahnya tidak bermanfaat apa­ apa. Pakaian lahiriahnya tak bisa  melindungi kejelekannya. Mungkin ia akan  mulia dalam pandangan manusia, tetapi  tidak dalam pandangan Allah. Apakah pakaian ruhani yang dimaksud?  Al­Qur’an menyebutnya sebagai pakaian  taqwa (libaasut taqwa). Sebagaimana  firmannya, “Dan pakaian takwa itulah  yang paling baik. Yang demikian itu adalah  sebahagian dari tanda­tanda kekuasaan  Allah, mudah­mudahan mereka selalu  ingat.” (Q.S. Al­A’raf: 26). Tentang taqwa, imam Ali karramallahu   wajhah berkata: ِ ْ ِ ّ ِ ْ َ ِ ُ َ ْ ِ ْ ِ ْ َ ِ ِ ْ ْ َ ِ ُ َ َ ْ َ ِ ْ َِ َ ِ ُ ْ َ ْ َ ‫الخوف من الْجليل و العمل بالتنزيل و الستعداد ليوم الرحيل‬ (Takut kepada Zat Yang Mahaagung;   mengamalkan apa yang diturunkan (al­ Qur’an); dan menyiapkan diri untuk   menyambut datangnya hari yang kekal   [akhirat]). Ramadan adalah hari­hari dimana kita  memintal benang­benang pakaian takwa  itu. Hari demi hari kita memintalnya,  dengan harapan pada akhir Ramadan, hari  kemenangan Idul Fitri, pakaian itu telah  sempurnalah sudah dan bisa kita kenakan  di hari yang berbahagia itu. Bukan untuk  dipakai sekali, setelah itu dilepas kembali.  Bukan. Tetapi, pakaian takwa itu  seharusnya kita pakai seterusnya sampai  tiba kembali Ramadan berikutnya, dimana  kita akan memeriksa pakaian takwa itu  kembali barangkali ada lubang, kotor, 

sobek dsb yang perlu kita cuci, jahit dan  rajut kembali. Bagaimana kita merajutnya? Barangkali di  sinilah relevannya sabda Nabi Saw., “Jika  datang bulan Ramadan, maka dibuka  pintu­pintu syurga, ditutup pintu­pintu  neraka, dan dibelenggu semua syaitan.”  (muttafaq ‘alaih).  Semua tidak lain sebagai motivasi buat  kita untuk memperbanyak amal kebaikan  kita. Mumpung kesempatan itu dibuka  lebar­lebar oleh Allah. Allah sedang  membuka “Big Sale”. Obral besar­besaran.  Tarawih, tadarus, sadaqah, membayar  zakat, menolong orang, memberi ta’jil orang  berbuka puasa, menghentikan menggunjing  orang. Semuanya adalah jalan­jalan  kebaikan; jalan­jalan merajut pakaian  takwa kita. Hakikat Ramadhan Sudah berapa kali kita berjumpa  Ramadhan? Bagaimana kita memaknai  Ramadhan selama ini? Apakah kita biasa  melaluinya begitu saja? Ataukah kita  menjalaninya dengan biasa­biasa saja?  Ataukah kita benar­benar  mengistimewakan dan mengoptimalkannya  untuk mengubah diri kita menjadi lebih  baik lagi? Jika kita ingin benar­benar  mengistimewakan dan mengoptimalkan  Ramadhan, tidak bisa tidak kita harus  memahami hakikat Ramadhan. Berikut ini  beberapa makna dan hakikatnya. Bulan Ramadhan adalah Bulan  Bercermin Diri (Syahrul Muhasabah) Seberapa bersemangat dan seberapa  mampu kita memanfaatkan Ramadhan 

pada setiap menit dan detiknya,  merupakan indikasi ketaqwaan kita  kepada Allah. Dari sini kita bisa menilai  diri kita, apakah kita termasuk hamba  Allah yang dzalimun linafsihi (masih suka  menganiaya diri sendiri), atau yang  muqtashid (yang pas­pasan saja), ataukah  yang sabiqun bil khairat (yang bergegas  dalam melaksanakan berbagai kebaikan).  Disamping itu, Ramadhan juga merupakan  sarana yang sangat tepat bagi kita untuk  bercermin diri. Sebuah hadits muttafaq   ‘alaih menyatakan bahwa selama bulan  Ramadhan syetan­syetan dibelenggu. Nah,  jika syetan­syetan telah dibelenggu tetapi  kita masih saja melakukan dosa dan  kemaksiatan maka seperti itulah diri kita  yang sebenarnya. Bulan Ramadhan adalah Bulan  Limpahan Rahmat (Syahrur Rahmah) Rasulullah bersabda, “Telah datang  kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang  penuh berkah. Allah telah mewajibkan atas  kamu berpuasa di bulan ini … Barangsiapa  tidak mendapat bagian kebaikannya, maka  sungguh berarti ia telah dijauhkan dari  rahmat Allah.” Pada bulan Ramadhan, Allah mencurahkan  segenap rahmat­Nya melebihi pada bulan­ bulan lainnya. Pada bulan ini, Allah  melipatgandakan pahala amal kebaikan,  memberikan semangat ketaatan kepada  hamba­hamba­Nya, dan bahkan  memberikan bonus satu malam yang lebih  baik dari seribu bulan yaitu Lailatul Qadr.  Karena itu, rugilah kita jika selama bulan  ini kita tidak memanfaatkan limpahan  rahmat Allah yang sedemikian besar. Bulan Ramadhan adalah Bulan Taubat  (Syahrut Taubah)

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa  berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan  berharap pahala dari Allah, maka dosa­ dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  Beliau juga bersabda, “Barangsiapa berdiri  (menegakkan shalat malam, shalat  tarawih) pada bulan Ramadhan atas dasar  iman dan berharap pahala dari Allah, maka  dosa­dosanya yeng telah lalu akan  diampuni.” Beliau bahkan berkata,  “Barangsiapa berpuasa lalu tidak berkata­ kata buruk dan tidak mengumpat maka ia  akan keluar dari dosa­dosanya seperti  keadaannya pada hari ia dilahirkan oleh  ibunya.” Jadi, apa lagi yang kita tunggu.  Mari kita banyak­banyak beribadah dan  memohon ampunan kepada Allah, agar  Ramadhan ini dapat menjadi penghapus  dosa­dosa kita. Bulan Ramadhan adalah Bulan Puasa  (Syahrush Shiyam) Puasa yang sejati tidaklah cukup hanya  dengan meninggalkan makan, minum dan  hubungan suami isteri pada siang hari.  Lebih dari itu, puasa yang sejati adalah  puasa yang bersifat total, yakni  mempuasakan seluruh anggota tubuh kita:  akal pikiran, hati, mata, telinga, lidah,  tangan, kaki, dan anggota­anggota tubuh  kita yang lainnya. Semuanya harus kita  puasakan dari berbagai bentuk dosa dan  kemaksiatan. Rasulullah bersabda,  “Barangsiapa tidak meninggalkan  perkataan dan perbuatan yang keji, maka  sekali­kali Allah tidak butuh dengan  puasanya yang hanya meninggalkan  makan dan minum saja.” Bulan Ramadhan adalah Bulan Al­ Qur’an (Syahrul Qur’an) Bulan Ramadhan adalah bulan  diturunkannya Al­Qur’an. Pada setiap 

bulan ini, Rasulullah selalu melakukan  tadarrus Al­Qur’an bersama malaikat  Jibril. Beliau ingin memberikan teladan  kepada kita semua agar kita berinteraksi  seakrab mungkin dengan Al­Qur’an selama  bulan Ramadhan. Interaksi ini meliputi  banyak hal: membacanya, memahami  maknanya, mengamalkannya, dan  mendakwahkannya. Akan lebih baik lagi  jika kita juga berusaha untuk  menghafalnya sesuai dengan kemampuan  yang kita miliki. Bulan Ramadhan adalah Bulan Infaq  dan Sedekah (Syahrul Infaq wash   Shadaqah) Ramadhan bukan hanya kesempatan untuk  beribadah secara vertikal saja. Ia juga  kesempatan emas untuk beribadah secara  horisontal, melakukan berbagai kebaikan  kepada sesama. Di bulan ini kita sangat  dianjurkan untuk banyak berinfak dan  bersedekah. Kita telah merasakan  bagaimana rasanya kelaparan dan  kehausan. Sudah semestinya kita  kemudian mampu berempati kepada  mereka yang selama ini biasa kelaparan  dan kehausan, dengan cara berinfaq dan  bersedekah kepada mereka. Demikianlah  yang telah dicontohkan oleh Rasulullah.  Sebuah riwayat menyatakan bahwa  kedermawanan beliau di bulan Ramadhan  sampai menyerupai angin yang bertiup. Demikianlah beberapa makna dan hakikat  Ramadhan. Jika kita telah memahaminya  maka selanjutnya kita harus bergegas  untuk mengimplementasikannya dalam  hari­hari Ramadhan kita. Harapan kita,  keluar dari Ramadhan kita telah menjadi  pribadi yang jauh lebih bertaqwa,  la’allakum tattaqun. Materi 3

Ramadhan Bulan Jihad (Bagian  Pertama): Memahami Makna Jihad Rasulullah SAW. selalu memotivasi para  sahabat dengan kabar gembira akan  datangnya Ramadhan, sebagaimana  sabdanya, “Telah datang kepada kalian  bulan Ramadhan, rajanya bulan, sambut  dan hormatilah Ramadhan.”  Lintasan sejarah Islam berbicara, terdapat  hubungan yang penting antara jihad dan  Ramadhan. Selama kehidupan Rasulullah  saw., dua buah peperangan terjadi di bulan  Ramadhan, yang pertama adalah Perang  Badar yang terjadi di tahun kedua setelah  hijrah, dan yang kedua Penaklukan  Mekkah (futuh Makkah) sekitar 6 tahun  kemudian. Bahkan, setelah kehidupan Rasulullah  SAW, bulan Ramadhan tetap menjadi  bulan konfrontasi militer penting bagi  kaum muslimin. Beberapa kejadian penting  yang berhubungan antara bulan Ramadhan  dan jihad terus terjadi dalam kehidupan  bersejarah kaum muslimin. Tentunya,  Allah SWT yang paling mengetahui hikmah  yang besar mengapa bulan Ramadhan  begitu memiliki kaitan erat dengan jihad.  Pastinya, Allah SWT sajalah yang  mengetahui hikmah itu semua dan  memberikan indikasi dan tanda­tanda  tersebut, yakni kaitan antara Ramadhan  dan jihad kepada kaum muslimin. Untuk memahami lebih dalam hubungan  ini maka seseorang haruslah memahami  esensi jihad sebaik dia memahami esensi  shaum. Jihad adalah aktualisasi dari  ibadah seorang muslim untuk  membuktikan tidak ada kecintaan baginya  kecuali hanya Allah SWT saja, Rasulullah  SAW, dengan upaya sekuat tenaga untuk  menggapai Ridho Ilahi. Seorang Mujahid 

dengan bersungguh­sungguh memberikan  semua apa pun miliknya di dunia,  termasuk hidupnya, ini merupakan bukti  bahwa dia sungguh­sungguh ikhlas  beribadah hanya kepada Allah SWT.  semata. Dia tidak memiliki keinginan lain,  selain Allah SWT. Dia tidak menyembah  materi apa pun dalam kehidupannya,  keinginannya, dan semua semata­mata  ditujukan untuk menggapai keridloan­Nya.  Inilah tujuan seorang Mujahid dan tidak  ada selain itu.  Untuk beberapa alasan, banyak muslim  tidak mampu melakukan keikhlasan dalam  beribadah tersebut. Mereka masih  membutuhkan atau mengharapkan sesuatu  yang lain meskipun mereka tahu bahwa  mereka adalah hamba Allah SWT, mereka  masih lebih mementingkan pekerjaan,  keluarga, kesehatan, dan segala sesuatu  yang merupakan kenikmatan dunia. Salah  satu jalan untuk mencapai tingkat  ketulusan ibadah tersebut adalah taqwa,  sebagaimana firman Allah SWT. “Wahai orang­orang yang beriman  diwajibkan atas kamu berpuasa  sebagaimana orang­orang sebelum kamu  agar kamu bertaqwa.” (QS 2 : 183) Materi 4  Ramadhan Bulan Jihad (Bagian  Kedua) 1. Ramadhan Bulan Istimewa, Ramadhan adalah bulan kesempatan umat  Islam untuk membakar dosa lebih intensif  dibandingkan dengan bulan lain. Mengapa  membakar dosa? Pertama, amalan puasa  adalah ibadah istimewa dan berpahala  istimewa yang mampu meningkatkan  ketakwaan dan menepis semua bentuk  kemunkaran dan maksiat. Kedua, pada 

bulan ini umat Islam mendapatkan panen  pahala karena ada malam yang lebih baik  dari seribu bulan, yaitu lailatul qadar, dan  ketiga, dilipatgandakannya pahala semua  amalan muslim dan muslimah. Yang wajib  dilipatgandakan 70 kali dan yang sunnah  disamakan dengan pahala amalan wajib.  Dengan keistimewaan ini, dosa umat Islam  terbakar oleh banyaknya pahala amalan  kebajikan yang diraih pada bulan  Ramadhan. Barangkali, di sinilah rahasianya mengapa  Rasulullah senantiasa menanti bulan  Ramadhan, sehingga berdoa, “Allahumma  baarik lanaa fi Rajaba wa Sya’baan wa  ballighnaa Ramadlan” (Ya Allah berkati  kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban  dan antarkan kami sampai ke bulan  Ramadhan.). Selain dari pada itu, Beliau senantiasa  berkhutbah ketika menyambut awal  Ramadhan. Di antara isi khutbahnya yang  diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan An Nasa’i adalah sebagai berikut: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan,  penuh berkah. Allah mewajibkan atas  kamu puasa di bulan itu. Pada bulan itu  semua pintu neraka terbuka lebar dan  semua pintu neraka Jahim tertutup rapat  serta syetan­syetanpun dibelenggu. Di  dalamnya terdapat suatu malam yang lebih  baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang  tidak mendapatkan kebaikannya, maka  sesungguhnya orang yang tidak beramal  kebaikan pada bulan ini sungguh amat  merugi.” Konotasi “pintu­pintu surga terbuka lebar  dan pintu neraka tertutup rapat dan  syetan­syetanpun dibelenggu”, maksudnya  bahwa orang yang berpuasa berkesempatan  besar untuk masuk surga dan jauh dari 

neraka. Karena dengan puasanya ia  berpahala besar dan pasti tidak bisa digoda  oleh syetan yang terkutuk. 2. Ramadhan dan Jihad Puasa adalah ibadah yang bernuansa jihad  melawan hawa nafsu. Orang yang tidak  bisa menahan nafsu syahwatnya, nafsu  amarahnya, nafsu seksualnya, dan nafsu­ nafsu lainnya selama berpuasa, berarti  puasanya akan ditolak Rabbul Izzati.  Rasulullah pernah menegaskan dengan  sabdanya: “Barangsiapa yang tidak  meninggalkan ucapan dan perbuatan  dusta, maka Allah tidak butuh darinya  untuk meninggalkan makanan dan  minumannya.” Inilah jihad muslim yang tiada hentinya,  karena nafsu al ammarah bis suu’  senantiasa menyertainya, baik di kala jaga  atau tidur. Namun, selain jihad melawan  hawa nafsu ini, umat Islam diperintahkan  juga berjihad melawan kekafiran dan  kesyirikan. Jihad untuk mempertahankan  diri dari serangan kaum kufar ini sering  disebut dengan jihad qitali. Allah swt. telah mensyariatkan jihad  melawan kekufuran sebagai sarana ibadah  dan perjuangan untuk menyiapkan  individu muslim yang mampu membawa  beban untuk mencapai kebahagiaan dunia  dan akhirat. Ibadah puasa penuh dengan  kebaikan dan sumber pengkaderan untuk  menyiapkan generasi yang mau berkorban  lii’laai kalimatillah. Tahun demi tahun dilewati umat Islam dan  Ramadhan penuh dengan kenangan  peristiwa besar yang menggambarkan jihad  kaum muslimin. Sejak Islam datang  menembus gelapnya kekufuran dan  kesyirikan menuju cahaya Islam, umatnya 

telah menghadapi jihad besar melawan  kezhaliman dalam menegakkan keadilan. Jihad yang disyariatkan Islam bertujuan  mencapai dua sasaran: Pertama: Untuk mempertahankan diri dari  serangan asing dan mempertahankan  tanah air di mana mereka tinggal. Kedua: Mempertahankan dakwah  Islamiyah dan ajaran­ajaran Ilahi sekaligus  melindungi para pembawa panji­panjinya,  demi menebarkan ajaran Islam dengan al­ hikmah, almau’izhah al hasanah dalam  suasana penuh aman dan kedamaian.  Jihad disyariatkan Islam agar ajaran Islam  tetap tersebar ke seantero dunia. Dakwah  bagaikan air yang harus dirasakan  manfaatnya oleh seluruh umat manusia.  Bila tidak disyariatkan jihad, maka  kebatilan akan menggusur yang hak,  kerusakan akan menghantui dunia, dan  panji­panji Islam akan tumbang diserang  kekufuran. 3. Tuntutan Jihad Sekarang Lebih Luas Ketika musuh­musuh Islam menyerang  dengan berbagai macam cara untuk  memadamkan cahaya agama Allah, kondisi  ini menuntut umat Islam agar melakukan  jihad dalam berbagai aspek kehidupan.  Jihad terhadap hawa nafsu adalah jihad  setiap saat bagi setiap muslim yang masih  waras dan sehat. Jihad qitaali adalah wajib  bila umat Islam diserang dengan senjata  seperti di Palestina, Afghanistan, Irak,  Bosnia, dan belahan bumi lainnya. Selain  jihad nafsiy dan jihad qitaali, masih banyak  lagi tuntutan jihad lainnya, sebanyak  aneka ragam serangan musuh. Di antara  jihad­jihad yang dituntut sekarang adalah: a. Jihad tablighi, yaitu jihad dengan lisan  untuk menyampaikan ajaran Islam 

dengan penuh hikmah, kelembutan, dan  kesejukan. Kita diwajibkan tablighi ini  sebagai jihad bil­lisan untuk  meluruskan berbagai penyimpangan  yang terjadi dalam masyarakat. b. Jihad ta’limi, yaitu jihad melalui  pendidikan, baik formal atau Non  formal. Saat ini umat Islam sangat  dituntut untuk menekuni jihad ta’limi  ini, karena sekolah­sekolah unggulan  umat Islam masih perlu peningkatan  kualitas dan kuantitas. Apalagi sekolah­ sekolah yang dikelola pendidikan non  Islam sarat dengan unsur­unsur yang  bisa memadamkan semangat keislaman  siswa. c. Jihad Maali, yaitu jihad dengan harta  dalam rangka menebarkan Syiar Islam,  melindungi kaum fuqara’ dan masakin  dari kekufuran yang mengintai mereka.  Jihad maali ini sering disebut Al­Qur’an  lebih daripada jihad binnafsi, karen Akhlak Mulia Secara garis besar, akhlak mulia itu dapat  dikelompokkan kedalam dua kelompok  yaitu: 1. Akhlak kepada Allah, Akhlak mulia  kepada Allah berati mengikuti seluruh  perintah yang telah disampikan Allah  kepada Rasul yang Maha Mulia  Muhammad SAW. Seluruh perintah  tersebut sudah tercatat dalam Al­Quran  dan Hadist. 2. Akhlak kepada Ciptaan Allah, Akhlak  terhadap ciptaan Allah meliputi segala  prilaku, sikap, perbuatan, adab dan sopan  santun sesama ciptaan Allah yang terdiri  atas ciptaan Allah yang gaib dan ciptaan  Allah yang nyata, benda hidup dan benda  mati. Mengingat sangat luasnya cakupan akhlak  ini karena menyangkut seluruh aspek 

kehidupan manusia, maka secara garis  besar struktur akhlak mulia terhadap  seluruh ciptaan Allah itu dapat  digambarkan seperti struktur sederhana  berikut ini. Yang pertama yaitu ciptaan  Allah yang gaib, meliputi gaib dalam arti  positif dan gaib dalam arti negatif. Gaib  dalam arti positif di antaranya malaikat,  qada dan qadar, kiamat, alam kubur,  padang mashar, sorga dan neraka beserta  penghuninya, dan lain sebagainya.  Sedangkan gaib dalam arti negatif di  antaranya iblis, jin, syetan, dan benda serta  alam gaib lainnya. Yang kedua yaitu  ciptaan Allah yang nyata. Ciptaan Allah  yang nyata meliputi sesama manusia (nabi  dan rasul, diri sendiri, orang tua, kerabat  dekat, kerabat jauh, tetangga dekat dan  tetangga jauh, sesama muslim, non  muslim), selain manusia (tumbuhan dan  hewan), serta benda mati (bumi dan  segalanya serta benda angkasa).  Walau struktur yang disampaikan masih  sangat jauh dari lengkap dan sempurna,  namun diharapkan akan bisa memberikan  gambaran cakupan akhlak mulia yang  sudah dicontohkan dan diajarkan  Rasulullah Muhammad SAW. Seluruh  sikap dan perilaku serta adab sopan santun  terhadap semua ciptaan Allah sudah  termuat dan tercantum dalam Al­Quran  dan Hadist. Tinggal bagaimana kita bisa  mempelajarinya secara benar dan teliti  serta mengamalkannya. Pembahasan masalah Akhlak  adalah  pembahasan yang sangat luas, sama  luasnya dengan seluruh asoek kehidupan  manusia serta variasi ­ variasinya. Secara  garis besar fungsi dan tujuan pengamalan  akhlak mulia bagi umat manusia adalah : 1. Sebagai pengamalan syariat Islam.  Sebagai pengamalan Syariat Islam. Islam  sebagai agama rahmat bagi seluruh alam 

semeste telah ,e,berikan tuntunan prilaku  dan etika secar sempurna, sehingga dengan  niat karena Allah SWT, pengamalan  akhlak yang mulia itu insya Allah akan  menjadi ibadah bagi umat islam yang  mengamalkanya. 2. Sebagai Identitas. Sebagai Identias,  Akhlak mulia ini diperuntukkan oleh Allah  kepada manusia yang berakal budi karena  dengan tuntunan akhlak yang mulia akan  bisa membedakan antara manusia denga  hewan. 3. Pengatur tatanan Sosial. Akhlak Mulia  Sebagai Pengatur Tatanan Sosial berarti  dengan pengamalan akhlak mulia yang  sudah dicontohkan oleh yang Mulia  Saydina Muhammad SAW mengukuhkan  bahwa manusia sebagai makhluk sosial  tidak akan pernah bisa dan lepas dari  pengaruh lingkungannya. Dengan akhlak  mulia ini tatanan sosial yang terbentuk   semakin memberikan makna dan nilai yang  tidak saling merugikan. 4. Rahmat bagi seluruh alam. Akhlak Mulia  Sebagai Rahmat Bagi Seluruh Alam berarti  akhlak mulia yang diperuntukkan bagi  manusia tidak hanya mengatur tatanan  hubungan manusia dengan manusia  lainnya tetapi juga hubungan antara  manusia dengan makhluk – makluk lain  selian manusia dan alam sekitarnya. 5. Perlindungan diri dan HAM. Akhlak  Mulia Sebagai Perlindungan Diri dan Hak  Azazi Manusia ( HAM ) berarti dengan  menjalin hubungan yang baik berdasarkan  hukum dan syariat agama akan terbentuk  hubungan yang saling menghargai dan  saling menguntungkan. Tidak ada manusia di dunia ini yang  memiliki kesamaan seratus persen. Baik 

suara, bentuk tubuh, atau pun sifat dan  karakter pasti akan berbeda. Allah SWT  telah menciptakan seluruh manusia dalam  keberagaman. Hingga anak­anak yang  kembar siam pun tetap memiliki  perbedaan. Perbedaan yang khas dari  milyaran umat manusia di dunia ini  seharusnya makin menyadarkan manusia  akan Maha Agung dan Maha Besar­nya  Sang Maha Pencipta. Sebagai seorang muslim, kita adalah  makhluk sosial. Allah telah mewajibkan  kita untuk hidup berinteraksi dengan  masyarakat. Saat berinteraksi dengan  masyarakat tentu saja kita harus dapat  menempatkan diri di tengah­tengah  masyarakat dengan baik. Agar tidak terjadi  masalah yang akan membuat suasana  hubungan yang harmonis menjadi  terganggu.  Materi 6  Meraih Ampunan Di Bulan Ramadhan Siapa saja yang berpuasa pada bulan   Ramadhan dengan penuh keimanan dan   hanya mengharapkan pahala Allah semata   maka diampunilah dosanya yang telah   berlalu. (HR al­Bukhari dan Muslim).  Allah SWT Yang Maha Pemurah dan  Maha Penyayang, melalui sabda Nabi saw.  tersebut, telah menegaskan kepada kaum  Muslim tentang berita pengampunan pada  bulan Ramadhan. Sungguh, ini adalah  bentuk kebesaran dan kasih sayang Sang  Pencipta kepada makhluk­Nya. Bulan  Ramadhan merupakan bulan yang penuh  dengan pengampunan. Oleh sebab itu, pada  bulan Ramadhan umat Islam  diperintahkan untuk banyak memohon  ampunan kepada Allah Yang Maha  Pengampun. 

Dosa merupakan konsekuensi dari  perbuatan maksiat kepada Allah SWT, baik  karena mengabaikan kewajiban ataupun  melakukan keharaman. Manusia sering  berbuat dosa, siang maupun malam hari.  Di rumah, di masjid, di kantor, di angkot, di  bis, di kendaraan pribadi, di kereta api, di  terminal, di stasiun, di bandara, di sekolah,  di kampus, di pabrik dan dimana saja  seseorang sangat mungkin berbuat  kesalahan. Berbuat salah memang sudah  sunnatullah. Sebab, Rasul sendiri telah  menyatakan bahwa manusia itu tempat  salah dan lupa. Untuk itu, Allah SWT  memerintahkan hamba­Nya untuk sering  meminta ampunan kepada­Nya. Allah SWT  berfirman: Orang­orang yang apabila mengerjakan   perbuatan keji atau menganiaya diri   sendiri, mereka segera mengingat Allah,   lalu memohon ampunan atas dosa­dosa   mereka—dan siapa lagi yang dapat   mengampuni dosa selain daripada Allah?   Mereka tidak meneruskan perbuatan   kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui.  (QS Ali Imran [3]: 135). Selain itu, nash di atas juga  menggambarkan bahwa kaum Muslim  harus senantiasa memohon ampunan  kepada Allah SWT. Memang, jika Allah  SWT menghendaki, dapat saja suatu dosa  seseorang langsung Dia ampuni. Namun,  Dia sendiri memerintahkan kepada  manusia untuk sering meminta ampunan  kepada­Nya. Baru kemudian, Allah SWT  akan mengampuninya. Allah SWT sendiri  pasti akan mengampuni semua dosa  manusia, kecuali dosa syirik, tentu selama  manusia tidak mau bertobat sampai akhir  hayatnyaAllah SWT berfirman:  Sesungguhnya Allah tidak akan   mengampuni dosa syirik dan Dia   mengampuni segala dosa selain dari syirik  

itu bagi siapa yang dikehendaki­Nya. Siapa   saja yang mempersekutukan Allah, maka ia   sungguh telah berbuat dosa yang besar.  (QS an­Nisa [4]: 48). Di samping Allah SWT telah menyuruh  setiap Muslim untuk sering memohon  ampunan kepada­Nya, Rasulullah saw.  juga telah memberikan teladan kepadanya.  Dalam hadisnya, Rasul pernah  bersabda:”Demi Allah, sesungguhnya aku   benar­benar meminta ampunan kepada   Allah dan bertobat kepada­Nya lebih dari   tujuh puluh kali sehari. (HR al­Bukhari  dan Muslim)  Padahal Rasulullah saw. adalah seorang  yang maksum, atau terpelihara dari dosa.  Beliau dijamin masuk surga. Namun,  beliau tetap terus memohon ampunan  kepada Allah Yang Maha Pengampun dan  Maha Penyayang. Karena itu, Muslim yang  menjadikan Baginda Rasul sebagai suri  teladannya akan berupaya untuk sering  meminta ampunan, khususnya pada bulan  Ramadhan. Allah SWT Maha Penyayang  tidak pilih kasih dalam memberikan  ampunan kepada hamba­Nya. Apapun  dosanya, berapapun banyaknya, selama  hamba mau bertobat, Dia akan  mengampuninya.  Katakanlah, "Hai hamba­hamba­Ku yang   melampaui batas terhadap diri sendiri,   janganlah kalian berputus asa dari rahmat   Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni   dosa­dosa semuanya. Sesungguhnya Dia­ lah Yang Maha Pengampun lagi Maha   Penyayang." (QS az­Zumar [39]: 53). Untuk itu, pada kesempatan Ramadhan  yang penuh ampunan ini, seorang Muslim  sudah seharusnya banyak meminta  ampunan kepada Allah SWT. Di samping  itu, dia akan senantiasa melakukan 

muhâsabah (instrospeksi diri), dengan  mengajukan banyak pertanyaan kepada  dirinya sendiri tentang berbagai hal.  ”Berlomba­lombalah kalian mendapatkan   ampunan dari Tuhan kalian dan surga   yang luasnya seluas langit dan bumi, yang   disediakan bagi orang­orang yang beriman   kepada Allah dan Rasul­rasul­Nya. Itulah   karunia Allah, diberikannya kepada siapa   yang dikehendaki­Nya. Allah memiliki   karunia yang agung.  (QS al­Hadid [57]: 21). Materi 7  Keutamaan Qiyamullail

Seorang muslim yang kontinu mengerjakan  qiyamullail, pasti dicintai dan dekat  dengan Allah swt. Karena itu, Rasulullah  saw. menganjurkan kepada kita,  “Lazimkan dirimu untuk shalat malam  karena hal itu tradisi orang­orang shalih  sebelummu, mendekatkan diri kepada  Allah, menghapus dosa, menolak penyakit,  dan pencegah dari dosa.” (HR. Ahmad) Jika Anda ingin mendapat kemuliaan di  sisi Allah dan di mata manusia,  amalkanlah qiyamullail secara kontinu.  Dari Sahal bin Sa’ad r.a., ia berkata,  “Malaikat Jibril a.s. datang kepada Nabi  saw. lalu berkata, ‘Wahai Muhamad,  hiduplah sebebas­bebasnya, akhirnya pun  kamu akan mati. Berbuatlah semaumu,  pasti akan dapat balasan. Cintailah orang  yang engkau mau, pasti kamu akan  berpisah. Kemuliaan orang mukmin dapat  diraih dengan melakukan shalat malam,  dan harga dirinya dapat ditemukan dengan  tidak minta tolong orang lain.’” Orang yang shalat kala orang lain lelap  tertidur, diganjar dengan masuk surga.  Kabar ini sampai kepada kita dari hadits  yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari  Abdullah bin Salam dari Nabi saw., beliau  bersabda, “Wahai manusia, sebarkanlah  salam, berikanlah makanan, dan shalat  malamlah pada waktu orang­orang tidur,  kalian akan masuk surga dengan selamat.” Seorang dai yang ingin berhasil  dakwahnya, harus mennabur kasih sayang  kepada seluruh lapisan masyarakat. Hal  itu dapat digapai dengan wajah yang  berseri­seri, mengucapkan salam,  mengulurkan bantuan, silaturahim, dan  pada malam hari memohon kepada Allah  diawali dengan qiyamulail. Tapi sayang,  yang melaksanakan qiyamulail secara  kontinu sangat sedikit jumlahnya. Semoga 

  Dari Jabir r.a., ia berkata, “Aku mendengar  Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya  pada malam hari itu benar­benar ada saat  yang seorang muslim dapat menepatinya  untuk memohon kepada Allah suatu  kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah  akan memberikannya (mengabulkannya);  dan itu setiap malam.” (HR. Muslim dan  Ahmad) Qiyamullail adalah sarana berkomunikasi  seorang hamba dengan Rabbnya. Sang  hamba merasa lezat di kala munajat  dengan Penciptanya. Ia berdoa,  beristighfar, bertasbih, dan memuji Sang  Pencipta. Dan Allah Yang Maha Pengasih  lagi Maha Penyayang, sesuai dengan  janjinya, akan mencintai hamba yang  mendekat kepadanya. Kalau Allah swt.  mencintai seorang hamba, maka Ia akan  mempermudah semua aspek kehidupan  hambaNya. Dan memberi berkah atas  semua aktivitas sang hamba, baik aktivitas  di bidang dakwah, pendidikan, ekonomi,  sosial, budaya, maupun politik. Sang  hamba akan dekat dengan Rabbnya,  diampuni dosanya, dihormati oleh sesama,  dan menjadi penghuni surga yang  disediakan untuknya.

kita termasuk kelompok yang sedikit ini  dan berhak masuk surga tanpa dihisab.  Rasululah saw. bersabda, “Seluruh  manusia dikumpulkan di tanah lapang  pada hari kiamat. Tiba­tiba ada panggilan  dikumandangkan dimana orang yang  meninggalkan tempat tidurnya, maka  berdirilah mereka jumlahnya sangat  sedikit, lalu masuk surga tanpa hisab. Baru  kemudiaan seluruh manusia diperintah  untuk diperiksa.” Kiat Mudah Qiyamullail Qiyamullail memerlukan kesungguhan dan  kebulatan tekad. Jika ada tekad, akan  sangat mudah merealisasikannya dengan  izin Allah. Berikut ini kiat­kiat pendorong  meninggalkan tempat tidur untuk  bermunajat kepada Yang Maha Pengasih. (1) Programlah aktivitas Anda di hari yang  malamnya Anda rencanakan untuk  qiyamulail agar memungkinkan Anda  tidak kelelahan. Sehingga tidak  membuat Anda tidur terlalu lelap. (2) Pahamilah bahwa Anda punya  kebutuhan jasmani, aqli, dan ruhani,  serta Anda wajib memenuhinya dengan  seimbang. (3) Hindari maksiat. Sebab menurut  pengalaman Sufyan Ats­Tsauri, “Aku  sulit sekali melakukan qiyamullail  selama 5 bulan disebabkan satu dosa  yang aku lakukan.” (4) Ketahuilah fadhilah (keutamaan) dan  keistimewaan qiyamulail. Dengan  begitu Anda termotivasi untuk  melaksanakannya. (5) Tumbuhkan perasaan sangat ingin  bermunajat dengan Allah yang Maha  Pengasih lagi Maha Penyayang. (6) Makan malam jangan kekenyangan,  berdoa untuk bisa bangun malam, dan 

jangan lupa pasang alarm sebelum  tidur. (7) Baik juga jika Anda janjian dengan  beberapa teman untuk saling  membangunkan dengan miscall melalui  telepon atau handphone yang Anda  miliki. (8) Buat kesepakatan dengan istri dan  anak­anak bahwa keluarga punya  program qiyamullail bersama sekali  atau dua malam dalam sepekan. (9) Berdoalah kepada Allah swt. untuk  dipermudah dalam beribadah  kepadaNya. Materi 8  Ramadhan:Syahrut Tarbiyah Kenapa bulan Ramadhan disebut dengan  syahrut Tarbiyah (bulan pembinaan dan  pendidikan)?? Karena pada bulan ini umat Islam dididik  langsung oleh Allah SWT. dan diajarkan  oleh­Nya supaya bisa mengatur waktu  dalam kehidupan secara baik; Kapan  waktu makan, kapan waktu bekerja, kapan  waktu istirahat dan kapan waktu ibadah. Tarbiyah adalah sarana yang sangat urgen  bagi kehidupan insan dan umat, karena  dengan tarbiyah akan lahir Syakhshiyah   islamiyah mutakamilah mutawazinah  (kepribadian islami yang utuh dan  seimbang) yang siap menjawab tantangan  zaman dengan segala problematika, ujian  dan cobaannya. Dalam kontek tarbiyah itu sendiri; untuk  menghasilkan kader­kader yang memiliki  Syakhshiyah islamiyah mutakamilah   mutawazinah (kepribadian islami yang  utuh dan seimbang), maka pembinaan  dalam Islam harus mampu merealisasikan  tujuan­tujuan berikut ini:

(1) Memahami Islam sebagai manhaj atau  pedoman hidup bagi Manusia yang  bersifat syumiliyah (universal),  mutawazinah (seimbang), mutakamilah   (integral), alamiyah (global), murunah   (fleksibel) dan  waqi’iyyah (realistis) serta robbaniyyah   (bersumber dari Allah). (2) Memiliki komitmen pada Islam dalam  semua aspeknya; sosial, politik,  ekonomi, pendidikan dan lain­lainnya;  sehingga semua nazhoriyah (teori)  dapat teraplikasikan di dalam  kehidupan yang nyata. (3) Memperhatikan kondisi obyektif  masyarakat dalam hal aplikasi,  komunikasi dan interaksi dengan  prinsip­prinsip Islam. Semua itu harus  disesuaikan dengan situasi, kondisi,  waktu dan tempat. Apakah dengan  kaum muslimin ataukah dengan non  muslim dan baik dalam ta’amul da’awi   (interaksi da’wah) maupun ta’amul   siyasi (interaksi politik). Selain itu juga perlu dilihat apakah di  dalam masyarakat yang mono­loyalitas  ataukah multi­loyalitas; karena memang  tidak mungkin mengaplikasikan Islam  hanya dengan satu model. Oleh karena itu  diperlukan ta­shil syari (pengokohan  hukum syar’i’) dalam berinteraksi dengan  orang lain (fiqhu ta’amul ma’al ghoir) dan  manhaj tarbiyah haruslah dibuat di atas  landasan ini. (4) Memperhatikan tanggung jawab  pendidikan Islam. Dalam rangka  mencetak generasi sholih yang bisa  bergaul dengan masyarakat luar;  mampu mempengaruhi, menguasai dan  tidak menganggap mereka sebagai  musuh walaupun perlakuan mereka  keras, kasar dan menyakitkan. 

Dalam bulan romadhan, Allah SWT ingin  memberikan tarbiyah kepada kaum  muslimin, agar tercetak sosok yang shalih,  meningkat keimanannya, berakhlak dan  berpengetahuan yang lurus serta komitmen  di jalan da’wah untuk menggapai ridho  Allah. Istilah Ramadhan itu sendiri berasal dari  kata ramadla­yarmudlu­ramadlan artinya  panas membakar. Panas membakar ini bisa  berasal dari sinar matahari. Orang Arab  dahulu ketika memindahkan nama­nama  bulan dari bahasa lama ke bahasa Arab,  mereka menamakan bulan­bulan itu  menurut masa yang dilaluinya. Kebetulan  bulan Ramadhan masa itu sedang melalui  musim panas akibat sengatan terik  matahari apalagi bagi pejalan kaki di atas  padang pasir pada masa itu. Ramadhan bermakna panas membakar  juga di dasarkan karena perut orang­orang  yang berpuasa tengah terbakar akibat  menahan makan minum seharian. Panas  membakar bulan Ramadhan bisa juga  berarti karena bulan Ramadhan  memberikan energi untuk membakar dosa­ dosa yang dilakukan manusia. Pada bulan yang sangat istimewa ini,  terdapat sekian banyak wahana yang bisa  dimanfaatkan dalam rangka  penggemblengan dan pemanasan diri itu.  Dari yang wajib seperti puasa dan zakat  fitrah hingga yang sunaah seperti i’tikaf,  tadarus, tarawih, sedekah, dan sebagainya.  Dari yang berbentuk fisik seperti memberi  makanan berbuka kepada fakir miskin  hingga yang psikis seperti sabar, tawakal,  amanah, jujur dan sebagainya. Materi 9  Sarana­sarana Tarbiyah Ramadhan

Secara garis besar dapat kita temui bahwa  Ramadhan merupakan sarana tarbiyah  yang meliputi : 1. Ramadhan merupakan sarana  Tarbiyah Ruhiyah (pembinaan  spiritual) Pada dasarnya setiap ibadah yang Allah  perintahkan kepada hamba­hamba­Nya,  selain merupakan kewajiban dan alasan  diciptakannya manusia dan makhluk  lainnya; juga merupakan sarana untuk  membersihkan diri manusia itu sendiri dari  kotoran dan dosa yang melumuri jiwa,  sehingga tidak ada satu ibadahpun yang  lepas dari arah tersebut; shalat misalnya  merupakan sarana untuk mencegah  diri dari perbuatan keji dan mungkar.  Zakat yang dikeluarkan oleh orang kaya  merupakan sarana untuk membersihkan  diri dan hartanya dari kotoran yang  terdapat dalam hartanya, seperti yang  tersirat dalam surat At­Taubah (9) ayat 103  dan Al­Lail (92) ayat 18. Begitupun dengan  bulan ramadhan yang di dalamnya  terdapat ibadah puasa, berfungsi sebagai  sarana tazkiyatunnafs (perbersihan jiwa),  dimana orang yang berpuasa selain  menjaga diri untuk tidak makan dan  minum, juga dituntut untuk mematuhi  perintah Allah dan menjauhi larangan­Nya.  2. Ramadhan merupakan sarana  tarbiyah jasadiyah (pembinaan  jasmani) Ibadah puasa merupakan ibadah yang  tidak hanya membutuhkan pengendalian  hawa nafsu tapi juga membutuhkan  kekuatan fisik, karenanya puasa tidak  diwajibkan bagi mereka yang kesehatannya  tidak prima, seperti orang tua yang telah  renta, orang sakit, wanita yang sedang  hamil tua atau menyusui serta orang yang 

sedang musafir (dalam perjalanan); yang  mana kesemua itu merupakan keringanan  (rukhsah) bagi mereka; karena ketidak  mampuan, atau karena kesehatan janin  dan bayi dan menjaga kesehatan bagi orang  yang sedang musafir. (Lihat surat al­ baqarah ayat 184). Selain itu juga dengan  puasa dari segi kesehatan akan  membersihkan usus­usus, memperbaiki  kerja pencernaan, membersihkan tubuh  dari sisa­sisa endapan makanan,  mengurangi kegemukan dan menenangkan  kejiwaan atas aspek materil yang ada  dalam diri manusia. 3. Ramadhan merupakan sarana  tarbiyah ijtima’iyah (pembinaan  sosial) Selain melatih diri, puasa juga memiliki  sisi pendidikan sosial, apalagi dalam  kewajiban puasa ramadlan, seluruh umat  islam di dunia diwajibkan berpuasa, tanpa  terkecuali; baik yang kaya atau miskin,  pria atau wanita, kecuali bagi mereka yang  ada udzur, disinilah letak pendidikan  sosial, mereka sama dihadapan perintah  Allah, sama dalam merasakan lapar dan  dahaga, dan sama dalam ketundukan  terhadap perintah Allah.        Puasa juga dapat membiasakan umat  untuk hidup dalam kebersamaan, bersatu,  cinta keadilan dan persamaan, begitupun  juga melahirkan kasih sayang kepada  orang­orang miskin, sehingga orang­orang  yang mampu dan kaya merasakan apa  yang di derita oleh orang­orang fakir dan  miskin dan mau memberi dari rizki yang  Allah anugrahkan kepadanya. Sehingga  dari sinilah di harapkan timbul rasa  persaudaraan dan solidaritas.

4. Ramadhan merupakan sarana  tarbiyah khuluqiyah (pembinaan  akhlak) Rasulullah SAW bersabda dalam hadits  yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.: “Apabila seorang dari kamu sekalian  berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor  dan berteriak. Bila dicela orang lain atau  dimusuhi, maka katakanlah: “Aku ini  sungguh sedang puasa”. Dalam hadits lain  disebutkan: Rasulullah SAW bersabda:  “Barangsiapa yang tidak mampu  meninggalkan perkataan dusta, dan   melakukan perbuatan dusta, maka Allah  tidak membutuhkan lapar dan dahaga  mereka” (HR Bukhari dan Abu Dawud). Mengenai hadits yang terakhir, Al’Allamah  Asy­Syaukani berkata: “Menurut Ibnu  Bathal, maksud hadits di atas bukan  berarti orang itu disuruh meninggalkan  puasa, tetapi merupakan peringatan agar  jangan berkata bohong atau melakukan  perbuatan yang memuat dusta. Sedangkan  menurut Ibnu Arabi, maksud hadits ini  ialah bahwa puasa seperti itu tidak  berpahala. Dan berdasarkan hadits ini,  Ibnu ‘arabi mengatakan pula bahwa  perbuatan­perbuatan buruk tersebut di  atas dapat mengurangi pahala puasa  5. Ramadhan merupakan sarana tarbiyah  jihadiyah             Puasa juga merupakan sarana  dalam menumbuhkan semangat jihad  dalam diri umat, terutama jihad dalam  memerangi musuh yang ada dalam jiwa  setiap muslim, mengikis hawa nafsu, dan  berusaha menghilangkan dominasi jiwa  yang selalu membawanya kepada  perbuatan yang menyimpang. Sebagaimana  puasa juga menumbuhkan semangat jihad 

yang nyata, karenanya peperangan yang  terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah dan  para sahabatnya kebanyakan di bulan  puasa, dan justru dengan berpuasa mereka  dapat lebih semangat dalam berjihad.  “Barangsiapa yang bersungguh­sungguh  dijalan kami maka Kami akan tunjukkan  jalan­jalan Kami (jalan yang lurus)” (QS. 29  ayat 69) Dan puncak tarbiyah  yang dapat di raih  oleh seorang muslim pada bulan ramadhan  adalah mencapai maqam taqwa disisi Allah  SWT, sebagaimana yang telah difirmankan  Allah  dipenutup perintah­Nya untuk  berpuasa, “agar kamu bertaqwa”, karena  dengan puasa kesehatan qalb (hati) dan  jasad (jasmani) terjaga. Materi 9 Kehidupan Jahiliyah (Bagian I): Gaya  hidup Islami Vs Jahiliyah Ada dua hal yang umumnya dicari oleh manusia dalam hidup ini. Yang pertama ialah kebaikan (alkhair), dan yang kedua ialah kebahagiaan (as sa’adah). Hanya saja masing-masing orang mempunyai pandangan yang berbeda ketika memahami hakikat keduanya. Perbedaan inilah yang mendasari munculnya bermacam ragam gaya hidup manusia. Dalam pandangan Islam gaya hidup tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu: 1) gaya hidup Islami, dan 2) gaya hidup jahiliyah.  Gaya hidup Islami mempunyai landasan  yang mutlak dan kuat, yaitu Tauhid. Inilah  gaya hidup orang yang beriman. Adapun  gaya hidup jahili, landasannya bersifat  relatif dan rapuh, yaitu syirik. Inilah gaya  hidup orang kafir.      Setiap Muslim sudah  menjadi keharusan baginya untuk memilih  gaya hidup Islami dalam menjalani hidup  dan kehidupan­nya. Hal ini sejalan dengan  firman Allah: “Katakanlah: “Inilah jalan  

(agama)ku, aku dan orang­orang yang   mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah   dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah,   dan aku tiada termasuk orang­orang yang   musyrik”. (QS. Yusuf: 108).  Berdasarkan ayat tersebut jelaslah bahwa  bergaya hidup Islami hukumnya wajib atas  setiap Muslim, dan gaya hidup jahili adalah  haram baginya. Hanya saja dalam  kenyataan justru membuat kita sangat  prihatin dan sangat menyesal, sebab justru  gaya hidup jahili (yang diharamkan) itulah  yang melingkupi sebagian besar umat Islam.  Fenomena ini persis seperti yang pernah  disinyalir oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi  wa Salam . Beliau bersabda: ٍ ِ ِ ً ْ ِ َ َْ َ ِ ُ ُ ْ ِ ْ َِ ْ ِ ّ ُ َ ُ ْ َ ّ َ ُ َ ّ ُ ْ ُ َ َ ‫ل تقوم الساعة حتى تأخذ أمتي بأخذ القروْن قبلها شبرا بشبْر‬ ِ ‫َ ِ َ ً ِ ِ َ ٍ َ ِ ْ َ َ َ ُ ْ َ ِ َ َ ِ َ َ ّ ْ ِ َ َ َ َم‬ ‫وذراعا بذراع. فقيل: يا رسول ال، كفارس والروم. فقال: و َن‬ .(‫النا ُ إل أولـئك. )رواه البخاري عن أبي هريرة، صحيح‬ َ َِ ُِّ‫ّس‬ “Tidak akan terjadi kiamat sebelum   umatku mengikuti jejak umat beberapa   abad sebelumnya, sejengkal demi sejengkal   dan sehasta demi sehasta”. Ada orang yang   bertanya, “Ya Rasulullah, mengikuti orang   Persia dan Romawi?” Jawab Beliau, “Siapa   lagi kalau bukan mereka?” (HR. Al­Bukhari  dari Abu Hurairah z, shahih). ْ َ ّ َ ٍ َ ِ ِ ً َ ِ َ ٍ ْ ِ ِ ً ْ ِ ْ ُ َْ َ َ َ ْ َ َ َ َ ّ َ ِ ّ َ َ ‫لتتبعن سنن من كان قبلكم شبرا بشبر وذراعا بذراع حتى لو‬ ُ ْ ُ َ ْ َ ِ َ ْ ُ َ َ َ ْ ُ ْ ُ ْ ُ ُ ْ ِ َ ّ َ َ ْ ُ ْ َُ َ ‫دخلوا جحر ضب تبعتموهم. قلنا: يا رسول ال، اليهود‬ ،‫والنصارى. قال: فمن. )رواه البخاري عن أبي سعيد الخدري‬ ْ ََ َ َ َ َ ّ َ .(‫صحيح‬ “Sesungguhnya kamu akan mengikuti jejak   orang­orang yang sebelum kamu, sejengkal   demi sejengkal dan sehasta demi sehasta,   bahkan kalau mereka masuk ke lubang   biawak, niscaya kamu mengikuti mereka”.   Kami bertanya,”Ya Rasulullah, orang   Yahudi dan Nasrani?” Jawab Nabi, “Siapa   lagi?” (HR. Al­Bukhari dari Abu Sa’id Al­ Khudri z, shahih).

Hadits tersebut menggambarkan suatu  zaman di mana sebagian besar umat Islam  telah kehilangan kepribadian Islamnya  karena jiwa mere­ka telah terisi oleh jenis  kepribadian yang lain. Mereka kehilangan  gaya hidup yang hakiki karena telah  mengadopsi gaya hidup jenis lain. Kiranya  tak ada kehilangan yang patut ditangisi  selain dari kehilangan kepribadian dan gaya  hidup Islami.  Materi 10  Kehidupan Jahiliyah (Bagian Kedua):  Tasyabbuh (menyerupai suatu kaum) Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam  bersabda: .(‫من تشبه بقوم فهو منهم. )رواه أبو داود وأحمد عن ابن عباس‬ ْ ُ ْ ِ َ ُ َ ٍ ْ َ ِ َ َّ َ ْ َ         Artinya: “Barangsiapa menyerupai   suatu kaum, maka ia termasuk golongan   mereka” (HR. Abu Dawud dan Ahmad, dari  Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu hasan). Menurut hadits tersebut orang yang gaya hidupnya menyerupai umat yang lain (tasyabbuh) hakikatnya telah menjadi seperti mereka. Lalu dalam hal apakah tasyabbuh itu?Al-Munawi berkata: “Menyerupai suatu kaum artinya secara lahir berpakaian seperti pakaian mereka, berlaku/ berbuat mengikuti gaya mereka dalam pakaian dan adat istiadat mereka”. Satu di antara berbagai bentuk tasyabbuh  yang sudah membudaya dan mengakar di  masyarakat kita adalah pakaian Muslimah.  Mungkin kita boleh bersenang hati bila  melihat berbagai mode busana Muslimah  telah mulai bersaing dengan mode­mode  busana jahiliyah. Hanya saja masih sering  kita menjumpai busana Muslimah yang  tidak memenuhi standar seperti yang  dikehendaki syari’at. Busana­busana itu  masih mengadopsi mode ekspose aurat  sebagai ciri pakaian jahiliyah. Adapun yang  lebih memprihatinkan lagi adalah busana  wanita kita pada umumnya, yang mayoritas 

beragama Islam ini, nyaris tak kita jumpai  mode pakaian umum tersebut yang tidak  mengekspose aurat. Kalau tidak memper­ tontonkan aurat karena terbuka, maka  ekspose itu dengan menonjolkan keketatan  pakaian. Bahkan malah ada yang lengkap  dengan dua bentuk itu; mempertontonkan  dan menonjolkan aurat. Belum lagi  kejahilan ini secara otomatis dilengkapi  dengan tingkah laku yang ­kata mereka­  selaras dengan mode pakaian itu.  Na’udzubillahi min dzalik. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam  pernah bersabda:   "Dua golongan ahli   Neraka yang aku belum melihat mereka (di   masaku ini) yaitu suatu kaum yang   membawa cambuk seperti ekor sapi, mereka   memukuli manusia dengan cambuk itu.   (Yang kedua ialah) kaum wanita yang   berpakaian (tapi kenyataan­nya) telanjang   (karena mengekspose aurat), jalannya   berlenggak­lenggok (berpenampilan   menggoda), kepala mereka seolah­olah   punuk unta yang bergoyang. Mereka itu tak   akan masuk Surga bahkan tak mendapatkan   baunya, padahal baunya Surga itu tercium   dari jarak sedemikian jauh”. (HR. Muslim,  dari Abu Hurairah z, shahih).             Jika tasyabbuh dari aspek busana  wanita saja sudah sangat memporak­ porandakan kepribadian umat, maka tidak  ada alasan bagi kita untuk tinggal diam.  Sebab di luar sana sudah nyaris seluruh  aspek kehidupan umat bertasyabbuh kepada  orang­orang kafir yang jelas­jelas bergaya  hidup jahili.

Masa Jahiliyah adalah era ketika kondisi  dan situasi masyarakat belum terjamah oleh  risalah dan dakwah Islam. Periode ini sering  juga disebut dengan istilah Pra­Islam.  Seiring dengan perkembangan dan  akulturasi bahasa, istilah ini juga melekat  erat pada sifat orang­orang yang tidak taat  pada aturan agama yang telah diproyeksikan  oleh Al­Qur’an dan As­Sunnah. Kebiasaan­kebiasaan kaum jahiliyah yang  realitasnya berseberangan dengan anjuran  Rasulullah s.a.w tersebut disebabkan oleh  sifat keras kepala, apriori dan ta’assub  (fanatik yang berlebihan) terhadap  peninggalan dan tradisi para leluhur yang  mengental rekat dalam ritual yang selalu  disakralkan.  Seperti kebiasaan dahulu orang­orang  jahiliyah yang mengitari ka’bah dengan  bertelanjang tanpa busana, akhirnya  terwarisi dengan kebiasaan generasi  berikutnya yang tidak malu  mempertontonkan auratnya di depan publik,  sehingga hal seperti itu dianggap lumrah  bahkan dianggap sebagai modernisasi. Syeikh Muhammad ibn Abdul Wahab dalam  Masail Al­Jahiliyyah mengatakan, bahwa  agama mereka (orang­orang jahiliyah)  terbangun oleh beberapa pondasi yang  menjadi akar dan pijakan. Yang terbesar  diantaranya ialah “TAQLID”, yaitu sebuah  sistim yang besar yang selalu menjadi  tumpuan semua orang­orang kafir, sedari  dahulu kala hingga akhir zaman.  Sebagaimana Allah SWT berfirman di  berbagai ayat di dalam Al­Qur’an:  “Wa kadzaalika maa arsalna min qablika fi  qaryatin min nadziirin illaa qaala  mutrafuuha innaa wajadnaa aabaa­ana ‘ala  ummatin wa innaa ‘ala aatsaarihim  muqtaduun”;  “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus  sebelum kamu seorang pemberi peringatan  pun dalam suatu negeri, melainkan orang­

Materi 10  Pengertian Jahiliyah: Masa  Sebelum Islam

orang yang hidup mewah di negeri itu  berkata: “Sesungguhnya kami mendapati  bapak­bapak kami menganut suatu agama  dan sesunguhnya kami adalah pengikut  jejak­jejak mereka”(QS.Az­Zukhruf:23). “Wa idzaa qiila lahumuttabi’uu maa  anzalallahu, qaaluu bal nattabi’u maa  wajadnaa ‘alaihi aabaa’ana, awalaw  kaanasy­syaythaanu yad’uuhum ilaa  ‘adzaabis­sa’iir”; “Dan apabila dikatakan kepada mereka:  “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”.  Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami  (hanya) mengikuti apa yang kami dapat dari  bapak­bapak kami mengerjakannya.” Dan  apakah mereka (akan mengikuti bapak­ bapak mereka) walaupun syaithan itu  menyeru mereka ke dalam siksa api yang  menyala­nyala (neraka)?(QS.Luqman:21).  “Ittabi’uu maa unzila ilaikum min rabbikum  walaa tattabi’uu min duunihi awliyaa’a.  Qaliilan maa tadzakkaruun”: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu  dari Tuhanmu, dan janganlah kamu  mengikuti pemimpin­pemimpin selainnya  (pemimpin yang membawa kepada  kesesatan). Amat sedikitlah kamu  mengambil pelajaran (dari padanya)” (QS.Al­ A’raf:3).  Syeikh DR.Shalih ibn Fauzan ibn Abdillah  Al­Fauzan dalam Syarhul Masaa’il Al­ Jahiliyyah menjelaskan bahwa mereka  (orang­orang jahiliyah) tidak menegakkan  agama mereka sesuai dengan apa yang telah  para Rasul sampaikan kepada mereka,  sesunguhnya mereka mengkonstruksi agama  mereka dengan dasar­dasar yang mereka  mengada­adakannya sendiri sekehendak hati  mereka, dan mereka enggan merobah diri  serta beranjak dari kebiasaan itu. Perihal  inilah yang dalam dunia Islam disebut  sebagai “at­taqlid”, atau dalam istilah Arab  juga akrab dengan sebutan “al­muhakah”,  yaitu sebagian orang meniru cara­cara yang 

kelompok individu lain lakukan, sedangkan  objek yang ditiru itu tidak sepatutnya untuk  menjadi percontohan (maslahat).  Sebagaimana Allah SWT berfirman:  “Wakadzalika maa arsalna min qablika fi  qaryatin min nadziirin illaa mutrafuuha inna  wajadnaa aabaa­ana ‘ala ummatin, wa innaa  ‘alaa aatsaarihim muqtaduun”; Kata “mutrafuuha” dalam ayat ini adalah  “mereka (para penduduk) yang hidup mewah  sejahtera dan bergelimang harta pada  umumnya, karena mereka adalah orang­ orang yang cenderung berbuat jahat,  sombong, dan tiada keinginan menerima  kebenaran. Berbeda halnya dengan kaum  faqir dan dhuafa, yang pada umumnya  bersikap tawadhu’ dan ikhlas menerima  kebenaran. Kaum yang mengagung­agungkan harta,  tahta dan garis keturunan leluhurnya inilah,  yang dahulu ketika para Rasul memberi  peringatan dan mengajak mereka kepada  jalan yang benar, mereka selalu membantah  dengan ucapan” “Inna wajadnaa aabaa­ana  ‘ala ummatin, wa innaa ‘alaa aatsaarihim  muqtaduun”; “Sesungguhnya kami  mendapati bapak­bapak kami menganut  suatu agama dan sesungguhnya kami adalah  penganut jejak­jejak mereka.” Dengan kata  lain (secara tidak langsung) mereka  bermaksud: Kami tidak butuh peran dan  kehadiranmu wahai Rasul, kami lebih  percaya dengan apa yang telah dibudayakan  oleh leluhur kami. Hal inilah yang di dalam  literatur Islam disebut dengan istilah “at­ taqlid al­a’maa” atau dalam istilah kita:  “fanatisme buta” (blind obedience), yang  tergolong dalam salah satu perangai kaum  jahiliyah. Materi 11 Pengertian Jahiliyah (Bagian Kedua):  Tidak Mau Berpikir

Allah SWT berfirman: “Qul Innamaa  A’idzhukum biwaahidatin. An taquumuu  lillaahi matsnaa wa furaadaa tsumma  tatafakkaruu. Maa bishaahibikum min  jinnatin”; “Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak  memperingatkan kepadamu satu hal saja,  yaitu supaya kamu menghadap Allah  (dengan ikhlas) berdua­dua atau sendiri­ sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang  Muhammad), tidak ada penyakit gila  sedikitpun pada kawanmu itu” (QS.Saba’:  46). Orang­orang Jahiliyah yang mendengar ayat  ini tidak mau berpikir sejenak seraya  mempertimbangkan kandungan dan arti dari  ayat yang menarik ini. Mereka lebih memilih  untuk menjawab: “Kami telah berpegang  teguh terhadap apa yang telah dilakukan  oleh para leluhur kami. Kami tidak sudi  mematuhi orang ini, Muhammad s.a.w.” Demikianlah kaum jahiliyah, yang  senantiasa memutarbalikkan fakta,  menuding bahwa Rasulullah adalah orang  gila, pendongeng sejati, dan orang yang tidak  tahu diri, tanpa berpikir terlebih dahulu dan  membuktikan bahwa perkataannya itu  sesuai dengan realitas yang hakiki. Hal ini  diakibatkan karena diri mereka yang tidak  mau mendengar, tidak sudi berpikir dengan  akal sehatnya, dan senantiasa menyelimuti  diri mereka dengan hawa nafsu, yang  mengantarkan mereka pada kesesatan yang  nyata. Maka dari itu, hendaknya ini menjadi titik  sentral perhatian orang­orang yang beriman  agar cermat memilah dan memilih, yang  mana hidayah (petunjuk) dan yang mana  dhalalah (kesesatan), karena tidak sedikit  kesesatan yang terbungkus oleh kamuflase  hidayah. Tidak jarang orang­orang 

menyangka sesuatu itu hidayah (hal yang  benar­benar sesuai dengan apa yang  dituntunkan oleh syariat), namun  hakikatnya adalah kesesatan yang nyata. Hal inilah yang menjadi sebab mengapa  dahulu Rasulullah s.a.w melarang para  sahabat untuk berziarah kubur, sebelum  akhirnya beliau me­mansukh­kan hadits itu  dengan ucapan: “Inni kuntu nahaytukum ‘an  ziyaaratil qubuur, fazuuruhaa fa innahaa  tudzakkirukumul aakhirah”; “Sesungguhnya  dahulu aku mencegahmu untuk berziarah  kubur, (sekarang) berziarahlah kamu,  sesungguhnya hal itu akan mengingatkanmu  akan kematian (kehidupan akhirat)”  (HR.Abu Daud, Turmudzi, An­Nasa’i, Ibnu  Majah, dan Ahmad) (“Al­Ibdaa’u fi Madhaaril  Ibtidaa’ ”, As­Syaikh Ali Mahfudz, Daarul  Bayan Al­‘Arabi, Kairo). Itulah beberapa praktek jahiliyah, yang  hanya bersandar pada dugaan­dugaan dan  hawa nafsu, yang turun temurun terwarisi  dari para leluhur mereka, yang dianggap  sebagai sebuah petunjuk dan tuntunan yang  benar, padahal pada dasarnya adalah  kesesatan yang teramat nyata. Satu hal yang perlu menjadi perhatian umat  Islam, bahwa perangai Jahiliyah menganut  satu kaidah (asas): “Al­Ightirar bil Aktsar”;  “Tertipu oleh Kebanyakan” (deceived by the  most). Mereka berhujjah bahwa yang banyak  pelaku dan pengikutnya, itulah yang benar.  Mereka mengambil kesimpulan bahwa  sesuatu itu salah (batil) karena asing (aneh)  dan sedikit penganut atau pengikutnya.  Itulah prinsip dasar yang mereka pegang,  dan mereka suka memutarbalikkan fakta  yang ada di dalam Al­Qur’an dengan  menukar­nukar kandungan tafsir Al­Qur’an  sekehendak hawa nafsunya. Sudah menjadi sunnatullah, bahwa kebaikan  itu sedikit pengikutnya dan kesesatan itu 

banyak peminatnya. Sebagaimana Allah  SWT berfirman: “Wa in tuthi’ aktsara man fil ardhi  yudhilluuka ‘an sabiilillah. In yattabi’uuna  illadzh­dzhonna wa in hum illa  yakhrushuun”; “Dan jika kamu menuruti kebanyakan  orang­orang yang di muka bumi ini, niscaya  mereka akan menyesatkanmu dari jalan  Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti  persangkaan belaka, dan mereka tak lain  hanyalah berdusta (terhadap Allah) (QS.Al­ An’am:116). “Wamaa wajadnaa li aktsarihim min ‘ahdin.  Wa in wajadnaa aktsarahum lafaasiqiin” “Dan kami tidak mendapati kebanyakan  mereka berjanji. Sesungguhnya kami  mendapati kebanyakan mereka orang­orang  yang fasik”(QS.Al­An’am: 102). Nabi s.a.w bersabda: “Bada­al Islaamu   ghariiban, wa saya’uudu ghariiban kamaa   bada­a”; “Islam pada mulanya (hadir)   dianggap sebagai hal yang aneh (asing), dan   kelak ia akan kembali sebagai hal yang asing   sebagaimana dahulu ia datang”. Allahu  A’lam bishawaab. Materi 12 Mengikuti Rasul (Ittiba’ur Rasuul) Lawan dari istilah “at­taqlid al­a’maa” atau  dalam istilah kita: “fanatisme buta” (blind  obedience), yang tergolong dalam salah satu  perangai kaum jahiliyah adalah “at­taqlid fil  khair”, yakni mengikuti dalam ruang lingkup  kebaikan, dalam istilah Islam disebut Ittiba’  dan Iqtida’ yakni mengikuti dan meneladani.  Sebagaimana yang termaktub dalam  (QS.Yusuf:38), firman Allah SWT tentang  kisah Nabi Yusuf a.s:  “Dan aku mengikuti  agama bapak­bapakku Ibrahim, Ishaq dan  Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi)  mempersekutukan sesuatu apapun dengan  Allah.”(QS.Yusuf:38). Dan di dalam QS.At­Taubah:10 

“Wassaabiquunal awwaluuna minal  muhaajiriina wal anshaari walladziinat­ taba’uuhum bi ihsanin, radhiyallahu ‘anhu  wa radhuu ‘anhu. Wa a’adda lahum  jannaatin tajrii min tahtihaal anhaaru  khaalidiina fiiha abadan. Dzalikal fawzul  adhziim”; “Orang­orang yang terdahulu yang pertama­ tama (masuk Islam) diantara orang­orang  Muhajirin dan Anshar dan orang­orang yang  mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha  kepada mereka dan merekapun ridha kepada  Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka  surga­surga yang mengalir sungai­sungai di  dalamnya; mereka kekal di dalamnya  selama­lamanya. Itulah kemenangan yang  besar.”(QS.At­Taubah:100). Maka dari itu Allah berfirman dalam hal  perangai jahiliyah: “Wa idzaa qiila lahumut­tabi’uu maa  anzalallahu qaaluu bal nattabi’u maa alfayna  ‘alaihi aabaa­ana awalaw kaana aabaa­uhum  laa ya’qiluuna syai’an walaa yahtaduun.” “Dan apabila dikatakan kepada mereka:  “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,”  mereka menjawab: “(Tidak), tatapi kami  hanya mengikuti apa yang telah kami dapat  dari (perbuatan) nenek moyang kami.”  (Apakah mereka akan mengikuti juga),  walaupun nenek moyang mereka itu tidak  mengetahui suatu apapun, dan tidak  mendapat petunjuk? (QS.Al Baqarah: 170). Sesungguhnya tidak akan mendatangkan  maslahat (kebaikan), jika orang yang tidak  berpikir dan tidak pula mendapat petunjuk  (hidayah) dijadikan sebagai teladan dan  panutan. Pada dasarnya teladan itu  hanyalah tertuju pada orang yang mau  berpikir dan mendapat hidayah. Maka dari  itu, fanatisme yang berlebihan memantik  untuk menolak kebenaran yang hakiki,  karena pada dasarnya, kebenaran yang 

hakiki dan teladan yang terbaik hanya ada  pada diri Rasulullah dan para pengikutnya. Materi 13 Menjaga Diri dan Keluarga dari Api  Neraka (Bagian Pertama) Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman  dalam kitab­Nya yang mulia:  “Wahai orang­orang yang beriman, jagalah   diri kalian dan keluarga kalian dari api   neraka yang bahan bakarnya adalah   manusia dan batu, penjaganya malaikat­ malaikat yang kasar, yang keras, yang   tidak mendurhakai Allah terhadap apa   yang diperintahkan­Nya kepada mereka   dan selalu mengerjakan apa yang   diperintahkan.” (At­Tahrim: 6) Sebuah seruan dari Dzat Yang Maha  Agung kepada orang­orang yang beriman,  berisi perintah dan peringatan berikut  kabar tentang bahaya besar yang  mengancam. Seruan ini ditujukan kepada  insan beriman, karena hanya mereka yang  mau mencurahkan pendengaran kepada  ajakan Allah Subhanahu wa Ta’ala,  berpegang dengan perintah­Nya dan  mengambil manfaat dari ucapan­ucapan­ Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala  perintahkan mereka agar menyiapkan  tameng untuk diri mereka sendiri dan  untuk keluarga mereka guna menangkal  bahaya yang ada di hadapan mereka serta  kebinasaan di jalan mereka. Bahaya yang  mengerikan itu adalah api neraka yang  sangat besar, tidak sama dengan api yang  biasa kita kenal, yang dapat dinyalakan  dengan kayu bakar dan dipadamkan oleh  air. Api neraka ini bahan bakarnya adalah  tubuh­tubuh manusia dan batu­batu. Ini  berbeda sama sekali dengan api di dunia.  Bila orang terbakar dengan api dunia, ia  pun meninggal berpisah dengan kehidupan 

dan tidak lagi merasakan sakitnya  pembakaran tersebut. Beda halnya bila  seseorang dibakar dengan api neraka,  na’udzubillah. Karena Allah Subhanahu   wa Ta’ala berfirman,  “Setiap kali nyala api Jahannam itu akan   padam, Kami tambah lagi nyalanya bagi   mereka.” (Al –Isra’:97)  “Setiap kali kulit mereka hangus, Kami   ganti kulit mereka dengan kulit yang lain,   supaya mereka terus merasakan azab.” (An­ Nisa’: 56)  “Mereka tidak dibinasakan dengan siksa   yang dapat mengantarkan mereka kepada   kematian (mereka tidak mati dengan   siksaan di neraka bahkan mereka terus   hidup agar terus merasakan siksa) dan   tidak pula diringankan azabnya dari  mereka.” (Fathir: 36) [Al­Khuthab Al­ Minbariyyah fil Munasabat  Al­‘Ashriyyah, Asy­Syaikh Shalih Al­ Fauzan, dengan subjudul Fit Tahdzir   minan Nar wa Asbab Dukhuliha, 2/164­ 165] Orang yang masuk ke dalam api yang  sangat besar ini tidak mungkin dapat lari  untuk meloloskan diri, karena yang  menjaganya adalah para malaikat yang  kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai  Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap apa  yang diperintahkan­Nya kepada mereka  serta selalu mengerjakan apa yang  diperintahkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:  “Penjaganya adalah malaikat­malaikat   yang kasar, yang keras” (At­Tahrim: 6) Al­Imam Al­Qurthubi rahimahullahu   menjelaskan, “Penjaganya adalah para  malaikat Zabaniyah yang hati mereka 

keras, kaku, tidak mengasihi jika dimohon  kepada mereka agar menaruh iba… Kata ‫ دددد‬maksudnya keras tubuh  ‫د د‬ mereka. Ada yang mengatakan, para  malaikat itu kasar ucapannya dan keras  perbuatannya. Ada yang berpendapat,  malaikat tersebut sangat kasar dalam  menyiksa penduduk neraka, keras  terhadap mereka. Bila dalam bahasa Arab  dinyatakan: “Fulanun Syadiidun ‘alaa  fulaanin” maksudnya Fulan menguasainya  dengan kuat, menyiksanya dengan  berbagai macam siksaan. Ada pula yang berpendapat bahwa yang  dimaksud dengan ‫ دددد‬adalah sangat  ‫د د‬ besar tubuh mereka, sedangkan maksud  ‫ دددد‬adalah kuat. ‫د‬ Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,  “Jarak antara dua pundak salah seorang  dari malaikat tersebut adalah sejauh  perjalanan setahun. Kekuatan salah  seorang dari mereka adalah bila ia  memukul dengan alat pukul niscaya  dengan sekali pukulan tersebut tersungkur  70.000 manusia ke dalam jurang  Jahannam.” (Al­Jami’ li Ahkamil Qur’an,  18/218) Al­‘Allamah Asy­Syaikh Abdurrahman ibnu  Nashir As­Sa’di rahimahullahu berkata  menafsirkan ayat ke­6 surah At­Tahrim di  atas, “Jagalah diri kalian dan keluarga  kalian dari api neraka, yang disebutkan  dengan sifat­sifat yang mengerikan. Ayat  ini menunjukkan perintah menjaga diri  dari api neraka tersebut dengan ber­iltizam   (berpegang teguh) terhadap perintah Allah  Subhanahu wa Ta’ala, menunaikan  perintah­Nya, menjauhi larangan­Nya, dan  bertaubat dari perbuatan yang Allah  Subhanahu wa Ta’ala murkai serta  perbuatan yang menyebabkan azab­Nya. 

Sebagaimana ayat ini mengharuskan  seseorang menjaga keluarga dan anak­anak  dari api neraka dengan cara memberikan  pendidikan dan pengajaran kepada mereka,  serta memberitahu mereka tentang  perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Seorang hamba tidak dapat selamat kecuali  bila ia menegakkan apa yang Allah  Subhanahu wa Ta’ala perintahkan  terhadap dirinya dan orang­orang yang di  bawah penguasaannya, baik istri­istrinya,  anak­anaknya, dan selain mereka dari  orang­orang yang berada di bawah  kekuasaan dan pengaturannya. Dalam ayat ini pula Allah Subhanahu wa   Ta’ala menyebutkan neraka dengan sifat­ sifat yang mengerikan agar menjadi  peringatan terhadap manusia jangan  sampai meremehkan perkaranya. Allah  Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  “…yang bahan bakarnya adalah manusia   dan batu…” (At­Tahrim: 6) Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman,  “Sesungguhnya kalian dan apa yang   kalian sembah selain Allah (patung­ patung) adalah bahan bakar/kayu bakar   Jahannam, kalian sungguh akan   mendatangi Jahannam tersebut.”1 Penjaganya malaikat­malaikat yang kasar   dan keras. Yaitu akhlak mereka kasar dan  hardikan mereka keras. Mereka membuat  kaget dengan suara mereka dan membuat  ngeri dengan penampilan mereka. Mereka  melemahkan penghuni neraka dengan  kekuatan mereka dan menjalankan  perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala  terhadap penghuni neraka, di mana Allah  Subhanahu wa Ta’ala telah memastikan  azab atas penghuni neraka ini dan 

mengharuskan azab yang pedih untuk  mereka. Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap   apa yang diperintahkankan­Nya kepada   mereka dan selalu mengerjakan apa yang   diperintahkan. Di sini juga ada pujian  untuk para malaikat yang mulia dan  terikatnya mereka kepada perintah Allah  Subhanahu wa Ta’ala serta ketaatan  mereka kepada Allah Subhanahu wa   Ta’ala dalam seluruh perkara yang  diperintahkan­Nya.” (Taisir Al­Karimir  Rahman, hal. 874) Materi 14 Jagalah Dirimu dan Keluargamu dari  Api Neraka (Bagian Ketiga): Penjagaan Rasulullah SAW terhadap  Keluarganya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam   sebagai uswah hasanah bagi orang­orang  yang beriman telah memberikan arahkan  dan peringatan kepada kerabat beliau  dalam rangka menjaga mereka dari api  neraka. Tatkala turun perintah Allah  Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat: “Berilah   peringatan kepada kerabatmu yang   terdekat.” (Asy Syu’ara: 214) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  mendatangi bukit Shafa dan menaikinya,  lalu menyeru manusia untuk berkumpul.  Maka orang­orang pun berkumpul di  sekitar beliau. Sampai­sampai yang tidak  dapat hadir mengirim utusannya untuk  mendengarkan apa gerangan yang akan  disampaikan oleh Muhammad Shallallahu   ‘alaihi wasallam. Rasulullah Shallallahu   ‘alaihi wasallam kemudian memanggil  kerabat­kerabatnya, “Wahai Bani Abdil   Muththallib! Wahai Bani Fihr! Wahai Bani   Lu’ai! Apa pendapat kalian andai aku  

beritakan kepada kalian bahwa ada   pasukan berkuda dari balik bukit ini akan   menyerang kalian. Adakah kalian akan   membenarkan aku?” Mereka serempak   menjawab, “Iya.” Beliau melanjutkan,   “Sungguh aku memperingatkan kalian   sebelum datangnya azab yang pedih.” (HR  Al­Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu  ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma). Aisyah  radhiyallahu ‘anha memberitakan bahwa  ketika turun ayat di atas, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit  seraya berkata, “Wahai Fathimah putri  Muhammad! Wahai Shafiyyah putrid Abdul  Muththalib! Wahai Bani Abdil Muththalib!  Aku tidak memiliki kuasa sedikit pun di  hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala  untuk menolong kalian kelak. (Adapun di  kehidupan dunia ini) maka mintalah harta  dariku semau kalian.” (HR. Muslim) Al­Imam Muslim radhiyallahu ‘anhu  meriwayatkan dari hadits Aisyah  radhiyallahu ‘anha, istri Nabi Shallallahu   ‘alaihi wasallam, bahwa bila hendak shalat  witir, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam  membangunkan Aisyah radhiyallahu   ‘anha. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi   wasallam sendiri telah bersabda dalam  hadits yang diriwayatkan oleh Al­Imam  Ahmad rahimahullahu: “Semoga Allah   merahmati seorang lelaki yang bangun di   waktu malam lalu mengerjakan shalat dan   ia membangunkan istrinya lalu si istri   mengerjakan shalat. Bila istrinya enggan   untuk bangun, ia percikkan air di wajah   istrinya. Semoga Allah merahmati seorang   wanita yang bangun di waktu malam lalu   mengerjakan shalat dan ia membangunkan   suami lalu si suami mengerjakan shalat.   Bila suaminya enggan untuk bangun, ia   percikkan air di wajah suaminya.” (Sanad  hadits ini shahih kata Asy­Syaikh Ahmad  Syakir rahimahullahu dalam tahqiqnya 

terhadap Al­Musnad). Ummu Salamah  radhiyallahu ‘anha mengabarkan, suatu  malam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi   wasallam terbangun dari tidur beliau.  Beliau pun membangunkan istri­istri  beliau untuk mengerjakan shalat. Kata  beliau: “Bangunlah, wahai para pemilik   kamar­kamar (istri­istri beliau yang sedang   tidur di kamarnya masing­masing)!” (HR.  Al­Bukhari) Tidak luput pula putri dan  menantu beliau juga mendapatkan  perhatian beliau. Suatu malam, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi  rumah Ali dan Fathima radhiyallahu   ‘anhuma. Beliau berkata, “Tidaklah kalian  berdua mengerjakan shalat malam?” (HR.  Al­Bukhari dan Muslim dari hadits ‘Ali  radhiyallahu ‘anhu Materi 15  Jagalah Dirimu dan Keluargamu dari  Api Neraka (Bagian Ketiga): Suami  sebagai Kepala Rumah Tangga  Seorang suami sebagai kepala rumah  tangga selain menjaga dirinya sendiri dari  api neraka, ia juga bertanggung jawab  menjaga istri, anak­anaknya, dan orang­ orang yang tinggal di rumahnya. Salah  satu cara penjagaan diri dan keluarga dari  api neraka adalah bertaubat dari dosa­ dosa. Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:  “Wahai orang­orang yang beriman,   bertaubatlah kalian kepada Allah dengan   taubat nashuha. Mudah­mudahan Rabb   kalian menghapuskan kesalahan­kesalahan   kalian dan memasukkan kalian ke dalam   surga­surga yang mengalir di bawahnya   sungai­sungai, pada hari ketika Allah tidak   menghinakan Nabi dan orang­orang yang   beriman bersamanya, sedang cahaya   mereka memancar di depan dan di sebelah  

kanan mereka, seraya mereka berdoa,   ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah bagi   kami cahaya kami dan ampunilah kami,   sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas   segala sesuatu’.” (At­Tahrim: 8) Seorang suami sekaligus ayah ini bertaubat  kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan  sebenar­benarnya, taubat yang murni,  kemudian ia membimbing keluarganya  untuk bertaubat. Taubat yang dilakukan  disertai dengan meninggalkan dosa,  menyesalinya, berketetapan hati untuk  tidak mengulanginya, dan mengembalikan  hak­hak orang lain yang ada pada kita.  Taubat yang seperti itu tentunya  menggiring pelakunya untuk beramal  shalih. Buah yang dihasilkannya adalah  dihapuskannya kesalahan­kesalahan yang  diperbuat, dimasukkan ke dalam surga,  dan diselamatkan dari kerendahan serta  kehinaan yang biasa menimpa para  pendosa dan pendurhaka. Seorang kepala rumah tangga menerapkan  perkara ini dalam keluarganya, kepada  istri dan anak­anaknya. Ia punya hak  untuk memaksa mereka agar taat kepada  Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak  berbuat maksiat, karena ia adalah  pemimpin mereka yang akan dimintai  pertanggungjawaban di hadapan Allah  Subhanahu wa Ta’ala kelak dalam urusan  mereka, sebagaimana sabda Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam,  “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap  kalian akan ditanya tentang apa yang  dipimpinnya.” (HR. Al­Bukhari dan  Muslim dari hadits Ibnu Umar  radhiyallahu ‘anhuma) Ia harus memaksa anaknya mengerjakan  shalat bila telah sampai usianya, berdasar 

sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi   wasallam:  “Perintahkan anak­anak kalian untuk   mengerjakan shalat ketika mereka telah   berusia tujuh tahun dan pukullah mereka   bila enggan melakukannya ketika telah   berusia sepuluh tahun serta pisahkanlah di   antara mereka pada tempat tidurnya.” (HR.  Abu Dawud dari hadits Abdullah ibnu  ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dikatakan  oleh Al­Imam Al­Albani rahimahullahu   dalam Shahih Abi Dawud, “Hadits ini  hasan shahih.”) Allah Subhanahu wa Ta’ala telah  berfirman:  “Perintahkanlah keluargamu untuk   mengerjakan shalat dan bersabarlah dalam   mengerjakannya.” (Thaha: 132) Seorang ayah bersama seorang ibu harus  bekerja sama untuk menunaikan tanggung  jawab bersama anak, baik di dalam  maupun di luar rumah. Anak harus terus  mendapatkan pengawasan di mana saja  mereka berada, dijauhkan dari teman  duduk yang jelek dan teman yang rusak.  Anak diperintahkan untuk mengerjakan  yang ma’ruf dan dilarang dari mengerjakan  yang munkar. Orangtua harus membersihkan rumah  mereka dari sarana­sarana yang merusak  berupa video, film, musik, gambar  bernyawa, buku­buku yang menyimpang,  surat kabar, dan majalah yang merusak. Hendaknya ia tahu bahwa neraka itu dekat  dengan seorang hamba, sebagaimana surga  pun dekat. Nabi Shallallahu ‘alaihi   wasallam bersabda:

 “Surga lebih dekat kepada salah seorang   dari kalian daripada tali sandalnya dan   neraka pun semisal itu.” (HR. Al­Bukhari  dari hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu   ‘anhu) Maksud hadits di atas, siapa yang  meninggal di atas ketaatan maka ia akan  dimasukkan ke dalam surga. Sebaliknya,  siapa yang meninggal dalam keadaan  bermaksiat maka ia akan dimasukkan ke  dalam neraka. (Al­Khuthab Al­ Minbariyyah, 2/217) Bagaimana seseorang dapat menjaga  keluarganya dari api neraka sementara ia  membiarkan mereka bermaksiat kepada  Allah Subhanahu wa Ta’ala dan  meninggalkan kewajiban? Maka, marilah kita berbenah diri untuk  menjaga diri kita dan keluarga kita dari api  neraka. Bersegeralah sebelum datang akhir  hidup kita, sebelum datang jemputan dari  utusan Rabbul Izzah, sementara kita tak  cukup ‘bekal’ untuk bertameng dari api  neraka, apatah lagi meninggalkan ‘bekal’  yang memadai untuk keluarga yang  ditinggalkan. Allahumma sallim! Materi 16  Meraih Rahmat Allah  Sebagai manusia apalagi sebagai muslim,  kita tentu amat mengharapkan rahmat  dari Allah Swt sehingga kita selalu berdo’a,  baik di dalam shalat maupun di luar shalat  untuk bisa memperoleh rahmat Allah. Hal  ini karena orang yang mendapat rahmat  Allah tentu saja tergolong kedalam  kelompok orang yang beruntung 

sebagaimana firman Allah yang artinya:  Kemudian kamu berpaling setelah (adanya   perjanjian) itu, maka kalau tidak ada   karunia Allah dan rahmt­Nya atasmu,   niscaya kamu tergolong orang­orang yang   rugi (QS 2:64). Bahkan di dalam ayat lain,  keuntungan orang yang mendapat rahmat  Allah itu akan dijauhkan dari azab­Nya,  Allah berfirman yang artinya: Barangsiapa   yang diajuhkan azab daripadanya pada   hari itu, maka sungguh Allah telah   memberikan rahmat kepadanya. Dan   itulah keberuntungan yang nyata (QS 6:16). Kiat Meraih Rahmat Pertama, taat kepada Allah dan Rasul­ Nya, baik dalam keadaan susah maupun  senang, berat maupun ringan, waktu  sendiri atau bersama orang lain. Tegasnya,  kalau mau memperoleh rahmat Allah kita  harus taat kepada Allah dan rasul­Nya  dalam situasi dan kondisi yang  bagaimanapun juga, hal ini terdapat dalam  firman Allah yang artinya: Dan taatilah   Allah dan Rasul supaya kamu diberi   rahmat (3:132). Kedua, harus tolong menolong dalam  kebaikan, melaksanakan amar ma’ruf dan  nahi munkar, mendirikan shalat sehingga  memberi pengaruh yang besar dalam  bentuk menhindari perbuatan keji dan  munkar serta menunaikan zakat agar  menjadi suci jiwa kita, terjembatani  hubungan antara yang kaya dengan yang  miskin serta kemiskinan bisa diatasi secara  bertahap, hal ini difirmankan Allah yang 

artinya: Dan orang­orang yang beriman,   lelaki dan perempuan, sebagian mereka   adalah menjadi penolong bagi sebagian   yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan   yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar,   mendirikan shalat, menunaikan zakat dan   mereka taat kepada Allah dan Rasul­Nya.   Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah;   sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi   Maha Bijaksana (9:71) Ketiga, Iman yang kokoh sehingga bisa  dibuktikan dengan amal shaleh yang  sebanyak­banyak meskipun hambatan,  tantangan dan rintangan selalu  menghadang, namun dia tetap Istiqomah  dalam keimanannya sehingga dengan  keimanannya yang mantap itu, kesusahan  hidup tidak membuatnya harus berputus  asa sedang kesenangan hidup tidak  membuatnya menjadi lupa diri,  hal ini  difirmankan Allah yang artinya: Adapun   orang­orang yang beriman dan berpegang   teguh kepada (agama)­Nya, niscaya Allah   akan memasukkan mereka ke dalam   rahmat yang besar dari­Nya (syurga) dan   limpahan karunia­Nya. Dan menunjuki   mereka kepada jalan yang lurus (untuk   sampai) kepada­Nya (QS 4:175).  Disamping itu, iman dan istiqomah harus  disertai dengan hijrah, yakni meninggalkan  segala bentuk larangan Allah dan berjihad  dalam arti bersungguh­sungguh dalam  perjuangan menegakkan nilai­nilai Islam  dalam segala aspeknya, hal ini difirmankan  Allah yang artinya: Orang­orang yang   beriman, berhijrah dan berjihad adalah   lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan   itulah orang­orang yang mendapat   kemenangan. Tuhan mereka   menggembirakan mereka dengan   memberikan rahmat daripada­Ny,   keridhaan dan syurga, mereka memperoleh  

di dalamnya kesenangan yang kekal (QS   9:20­21, lihat juga QS 2:218). Keempat, mengikuti Al­Qur’an dan selalu  bertaqwa kepada Allah serta menunaikan  zakat, hal ini karena Al­Qur’an merupakan  petunjuk bagi manusia apabila ia ingin  memperolah ketaqwaan kepada Allah Swt,  karenanya untuk meraih rahmat Allah  manusia harus bertaqwa kepada­Nya,  sedang untuk bisa bertaqwa harus  mengikuti petunjuk­petunjuk yang  terdapat di dalam Al­Qur’an. Ini berarti,  amat mustahil bagi manusia untuk bisa  bertaqwa kepada Allah apabila Al­Qur’an  tidak diikutinya. Dalam kaitan ini Allah  berfirman yang artinya:  Dan Al­Qur’an itu   adalah kitab yang Kami turunkan yang   diberkati, maka ikutilah dia dan   bertakwalah agar kamu diberi rahmat (QS   6:155). Maka Aku akan tetapkan rahmat­ Ku untuk orang­orang yang bertaqwa, yang   menunaikan zakat dan orang­orang yang   beriman kepada ayat­ayat Kami QS 7:156) Keempat, berbuat baik, yakni perbuatan  apa saja yang tidak bertentangan dengan  nilai­nilai yang datang dari Allah dan  Rasul­Nya serta tidak mengganggu orang  lain, bahkan orang lain bisa merasakan  manfaat baiknya, sekecil apapun manfaat  yang bisa dirasakannya. Allah berfirman  yang artinya: Dan janganlah kamu   membuat kerusakan di muka bumi,   sesudah (Allah) memperbaikinya dan   berdo’alah kepadanya dengan rasa takut   (tidak akan diterima) dan harapan (akan   dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah   amat dekat kepada orang­orang yang   berbuat baik (QS 7:56). Kelima, mendengarkan bacaan Al­Qur’an  apabila sedang dibacakan, hal ini karena,  Al­Qur’an merupakan kalamullah atau  perkataan Allah, sebab jangankan Allah, 

pembicaraan sesama manusia saja harus  kita dengarkan atau kita perhatikan,  apalagi kalau ucapan Allah yang tentu  harus lebih kita perhatikan. Manakala  seorang muslim telah mendengarkan Al­ Qur’an bila dibacakan, maka Allah senang  pada orang tersebut sehingga Allah mau  memberi rahmat kepadanya. Allah  berfirman yang artinya: Dan apabila   dibacakan Al­Qur’an, maka dengarkanlah   baik­baik, dan perhatikanlah dengan   tenang agar kamu mendapat rahmat (QS   7:204). Keenam, taubat dari segala dosa yang  telah dilakukan, hal ini karena secara  harfiyah, taubat berarti kembali, yakni  kembali kepada Allah. Dengan taubat,  manusia berarti mau mendekati Allah lagi  dan Allah senang kepada siapa saja yang  mau bertaubat, sebanyak apapun dosa yang  sudah dilakukannya, menyadari terhadap  kesalahan yang dilakukan. Menyesali,  bertekad untuk tidak mengulanginya dan  membuktikan bahwa dia betul­betul telah  meninggalkan segala perbuatan salahnya  dengan menggantinya kepada segala  kebaikan., inilah yang membuat Allah cinta  kepadanya sehingga rahmat Allah akan  diberikan kepadanya, hal ini difirmankan  Allah yang artinya:  Dia (Nabi Shaleh)   berkata: Hai kaumku mengapa kamu minta   disegerakan keburukan sebelum (kamu   minta) kebaikan?. Hendaklah kamu minta   ampun kepada Allah, agar kamu mendapat   rahmat  (QS 27:46). Ayat yang menyebutkan kecintaan Allah  kepada orang yang bertaubat adalah yang  artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai   orang­orang yang bertaubat  dan mencintai   orang­orang yang membersihkan diri” (QS  2:222)

Materi 17 Ukhuwah Islamiyah “Tidaklah dua orang muslim berjumpa,   lalu keduanya berjabat tangan, kecuali   keduanya diampuni sebelum keduanya   bepisah.” (H.R. Abu Daud) Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al  Muwatha’ dari abi Idris Al Khaulany  rahimahullah bahwa ia berkata: “Aku  pernah masuk Masjid Damaskus. Tiba­tiba  aku jumpai seorang pemuda yang murah  senyum yang dikerumuni banyak orang.  Jika Mereka berselisih tentang sesuatu  maka mereka mengembalikan kepada  pemuda tersebut dan meminta  pendapatnya. Aku bertanya tentang dia,  lalu dikatakan oleh mereka,’Ini Muadz bin  Jabal.’ Keesokan harinya , pagi­pagi sekali  aku dating ke masjid itu lagi dan kudapati  dia telah berada di sana tengah melakukan  shalat. Kutunggu ampai dia selesai  melakukan shalat kemudian aku temui dan  kuucapkan salam kepadanya. Aku  berkata,’Demi Alloh aku mencintaimu. Lalu  ia bertanya.’Apakah Alloh tidak lebih kau  cintai?’ Aku jawab,’Ya Alloh aku cintai’.  Lalu ia memegang ujung selendangku dan  menariknya seraya berkata,’Bergembiralah  karena sesungguhnya aku pernah  mendengar Rasulullah saw, berabda,”Alloh  berfirman, cinta­Ku pasti akan mereka  peroleh bagi orang yang saling memadu  cinta karena Aku, saling mengunjungi  karena Aku, dan saling memberi karena  Aku.” Makna Ukhuwah Islamiyah Kata ukhuwah berakar dari kata kerja  akha, misalnya dalam kalimat “akha  fulanun shalihan”, (Fulan menjadikan  Shalih sebagai saudara). Makna ukhuwah  menurut Imam Hasan Al Banna: Ukhuwah 

Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa  satu sama lain dengan ikatan aqidah. Hakekat Ukhuwah Islamiyah: 1.Nikmat Allah (Q.S. 3:103)  2.Perumpamaan tali tasbih (Q.S.43:67) 3.Merupakan arahan Rabbani (Q.S. 8:63)  4.Merupakan cermin kekuatan iman  (Q.S.49:10) 

Ukhuwah Islamiyah bersifat abadi dan  universal karena berdasarkan akidah dan  syariat Islam. Ukhuwah Jahiliyah bersifat  temporer (terbatas waktu dan tempat),  yaitu ikatan selain ikatan akidah  (missal:ikatan keturunan orang tua­anak,  perkawinan, nasionalisme, kesukuan,  kebangsaan, dan kepentingan pribadi) Materi 18 Peringkat­Peringkat Ukhuwah  Peringkat­Peringkat Ukhuwah: 1. Ta’aruf adalah saling mengenal sesama  manusia. Saling mengenal antara kaum  muslimin merupakan wujud nyata  ketaatan kepada perintah Allah SWT  (Q.S. Al Hujurat: 13)  2. Tafahum adalah saling memahami.  Hendaknya seorang muslim  memperhatikan keadaan saudaranya  agar bisa bersegera memberikan  pertolongan sebelum saudaranya  meminta, karena pertolongan  merupakan salah satu hak saudaranya  yang harus ia tunaikan. Abu Hurairah  r.a., dari Nabi Muhammad saw., beliau  bersabda, “Barangsiapa menghilangkan  kesusahan seorang muslim, niscaya  Allah akan menghilangkan satu  kesusahannya di hari kiamat. Barang  siapa menutupi aib di hari kiamat. Allah  selalu menolong seorang hamba selama 

dia menolong saudaranya.” (H.R.  Muslim) 3. Ta’awun adalah saling bekerja sama  dan membantu tentu saja dalam  kebaikan dan meninggalkan  kemungkaran 4. Takaful, adalah saling menanggung  kesulitan yang dialami saudaranya Hal­hal yang menguatkan ukhuwah  islamiyah: Memberitahukan kecintaan kepada  yang kita cintai. Hadits yang  diriwayatkan oleh Anas bin Malik  bahwa Rasulullah bersabda: “ Ada  seseorang berada di samping Rasulullah  lalu salah seorang sahabat berlalu di  depannya. Orang yang disamping  Rasulullah tadi berkata: ‘Aku mencintai  dia, ya Rasullah.’ Lalu Nabi menjawab:  ‘Apakah kamu telah memberitahukan  kepadanya?’ Orang tersebut menjawab:  ‘Belum.’ Kemudian Rasulullah bersabda:  ‘Beritahukan kepadanya.’ Lalu orang  tersebut memberitahukan kepadanya  seraya berkata: ‘ Sesungguhnya aku  mencintaimu karena Allah.’ Kemudian  orang yang dicintai itu menjawab:  ‘Semoga Allah mencintaimu karena  engkau mencintaiku karena­Nya.” Memohon didoakan bila berpisah “Tidak  seorang hamba mukmin berdo’a untuk  saudaranya dari kejauhan melainkan  malaikat berkata: ‘Dan bagimu juga  seperti itu” (H.R. Muslim) Menunjukkan kegembiraan dan  senyuman bila berjumpa “Janganlah  engkau meremehkan kebaikan (apa saja  yang dating dari saudaramu), dan jika  kamu berjumpa dengan saudaramu  maka berikan dia senyum  kegembiraan.” (H.R. Muslim) Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali  non muhrim) “Tidak ada dua orang  mukmin yang berjumpa lalu berjabatan 

5. 6. 7. 8.

1.

tangan melainkan keduanya diampuni  dosanya sebelum berpisah.” (H.R Abu  Daud dari Barra’) Sering bersilaturahmi (mengunjungi  saudara) Memberikan hadiah pada waktu­waktu  tertentu Memperhatikan saudaranya dan  membantu keperluannya Memenuhi hak ukhuwah saudaranya 9. Mengucapkan selamat berkenaan  dengan saat­saat keberhasilan Materi 17 Manfaat Ukhuwah Islamiyah Manfaat Ukhuwah Islamiyah 1. Merasakan lezatnya iman 2. Mendapatkan perlindungan Allah di  hari   kiamat   (termasuk   dalam   7  golongan yang dilindungi)  3. Mendapatkan tempat khusus di  surga (Q.S. 15:45­48) Di antara unsur­unsur pokok dalam  ukhuwah adalah cinta. Tingkatan  cinta yang paling rendah adalah  husnudzon yang menggambarkan  bersihnya hati dari perasaan hasad,  benci, dengki, dan bersih dari sebab  sebab permusuhan. Al­Qur’an  menganggap permusuhan dan saling  membenci itu sebagai siksaan yang  dijatuhkan Allah atas orang0orang  yang kufur terhadap risalahNya dan  menyimpang dari ayat­ayatNya.  Sebagaiman firman Allah Swt dalam  Q.S. Al­Ma’idah:14 Ada lagi derajat (tingkatan) yang lebih  tinggi dari lapang dada (Salamatus  shadr)) dan cinta, yaitu itsar. Itsar  adalah mendahulukan kepentingan  saudaranya atas kepentingan diri  sendiri dalam segala sesuatu yang 

2.

3.

4.

dicintai. Ia rela lapar demi kenyangnya  orang lain. Ia rela haus demi puasnya  prang lain. Ia rela berjaga demi  tidurnya orang lain. Ia rela bersusah  payah demi istirahatnya orang lain. Ia  pun rela ditembus peluru dadanya demi  selamatnya orang lain. Islam  menginginkan dengan sangat agar cinta  dan persaudaraan antara sesama  manusia bisa merata di semua bangsa,  antara sebagian dengan sebagian yang  lain. Islam tidak bisa dipecah­belah  dengan perbedaan unsure, warna kulit,  bahasa, iklim, dan atau batas negara,  sehingga tidak ada kesempatan untuk  bertikai atau saling dengki, meskipun  berbeda­beda dalam harta dan  kedudukan. Materi 18  Mengatasi Kesenjangan Sosial Dalam  Islam Adalah sudah menjadi fakta, bahwa  kegiatan ekonomi sekarang adalah  melahirkan kesenjangan pendapatan yang  semakin lebar dan semakin besar.  Misalnya, sebagaimana dikemukakan  dalam Human Development Report 2006  yang diterbitkan oleh UNDP (United  Nations Development Programme).  Berdasarkan laporan tersebut, 10%  kelompok kaya dunia menguasai 54% total  kekayaan dunia. Sedangkan sisanya 90%  masyarakat dunia menguasai 46% total  kekayaan dunia (Beik, 2006). Salah satu  faktor utama yang menyebabkan besarnya  kesenjangan pendapatan tersebut adalah  karena ketiadaan mekanisme distribusi  kekayaan yang mencerminkan prinsip  keadilan dan keseimbangan, sehingga  kekayaan terkonsentrasi di tangan  segelintir kelompok. Padahal Allah SWT  sangat menentang perputaran harta di  tangan kelompok elit masyarakat saja, 

sebagaimana yang dinyatakan­Nya dalam  QS Al­Hasyr: 7: “....supaya harta itu jangan   hanya beredar di antara orang­orang kaya   saja di antara kamu...” (QS. al­Hasyr: 7). Dalam ajaran Islam, salah satu mekanisme  distribusi pendapatan dan kekayaan ini  adalah melalui instrumen zakat, infak dan  sedekah (ZIS). Rasulullah SAW, dalam  sebuah Hadits riwayat Imam al­Ashbahani  dari Imam Thabrani, menyatakan:  “Sesungguhnya Allah SWT telah   mewajibkan atas hartawan muslim suatu   kewajiban zakat yang dapat   menanggulangi kemiskinan. Tidaklah   mungkin terjadi seorang fakir menderita   kelaparan atau kekurangan pakaian,   kecuali oleh sebab kebakhilan yang ada   pada hartawan muslim. Ingatlah, Allah   SWT akan melakukan perhitungan yang   teliti dan meminta pertanggungjawaban   mereka dan selanjutnya akan menyiksa   mereka dengan siksaan yang pedih” (HR.  Thabrani dalam Al Ausath dan Ash  Shoghir).  Hadits tersebut memberikan dua isyarat.  Pertama, kemiskinan bukanlah semata­ mata disebabkan oleh kemalasan untuk  bekerja (kemiskinan kultural), akan tetapi  juga akibat dari pola kehidupan yang tidak  adil (kemiskinan struktural) dan  merosotnya kesetiakawanan sosial,  terutama antara kelompok kaya dan  kelompok miskin. Lapoe dan Colin (1978)  serta George (1981) menyatakan bahwa  penyebab utama kemiskinan adalah  ketimpangan sosial ekonomi akibat adanya  sekelompok kecil orang­orang yang hidup  mewah di atas penderitaan orang banyak,  dan bukannya disebabkan oleh semata­ mata kelebihan jumlah penduduk (over   population). Kedua, jika zakat, infak, dan  sedekah dapat dilaksanakan dengan penuh  kesadaran dan dikelola dengan baik, 

apakah dalam aspek pengumpulan ataupun  dalam aspek pendistribusian, kemiskinan  dan kefakiran ini akan dapat  ditanggulangi, paling tidak dapat diperkecil  (Hafidhuddin, 1998). Dalam Alquran dan  Hadits, zakat, infaq dan sedekah di  samping sering digandengkan dengan salat,  juga digandengkan dengan kegiatan riba,  misalnya dalam QS. Ar­Rum: 39 dan QS.  Al­Baqarah: 276. Hal ini mengisyaratkan  bahwa optimalisasi ZIS akan memperkecil  kegiatan ekonomi yang bersifat ribawi.  Karena itu, gerakan penyadaran zakat  hakikatnya adalah gerakan untuk  menghilangkan kesenjangan, baik  kesenjangan pendapatan maupun  kesenjangan sosial, yang berbahaya bagi  kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. 

membenarkan dan memperjelas  kandungan­kandungan dan hukum­hukum  yang telah dicantumkan dalam Al­qur’an.  ”Dia­lah yang menjadikan matahari   bersinar (sumber sinar) dan bulan   bercahaya (memantulkan cahaya) dan   ditetapkan­Nya manzilah­manzilah   (tempat­tempat, garis edar yang tetap) bagi   perjalanan bulan itu, supaya kamu   mengetahui bilangan tahun dan   perhitungan (waktu). Allah tidak   menciptakan yang demikian itu melainkan   dengan hak. Dia menjelaskan tanda­tanda   (kebesaran­Nya) kepada orang­orang yang   mengetahui (berilmu)”. (Surat 10: Yunus  ayat 5). Al­qur’an adalah proyek Allah berisi  tuntunan keselamatan kehidupan  universal, dan dengan keterbatasan  manusia yang hanya diberikan ilmu dan  kemampuan sedikit dan dipenuhi nafsu  serakah dan selalu dikelilingi setan  (manusia dan jin) akan menjadi tersesat  jika menafsirkan Al­qur’an dengan hawa  nafsunya. Banyak cara Allah menjaga Al­Qur’an.  Sejak zaman rosulullah, ada ribuan  penghafal­penghafal Al­qur’an sehingga  tidak akan ada kekeliruan penyalinan ayat,  dan jika ada akan langsung terbongkar.  Apalagi sekarang, ada jutaan penghafal Al­ Qur’an. Disamping itu, telah ditemukan  rumus­rumus matematika sangat  menakjubkan, jelas diluar kemampuan  manusia apalagi Muhammad yang buta  huruf, dengan temuan tersebut akan  menjadikan sangat memudahkan  “menemukan Al­Qur’an Palsu”. Setiap muslim pasti meyakini kebenaran  Quran sebagai kitab suci yang tidak ada  keraguan sedikitpun, sebagai petunjuk bagi  orang­orang yang bertaqwa. Namun  kemukjizatan Quran tidak hanya 

Materi 19 Al Qur’an Terjaga Keasliannya Walaupun terjadi penyimpangan di sana­ sini terhadap Al­qur’an, tetapi pada  akhirnya penyimpangan tersebut akan  terkalahkan dan Allah akan meluruskan  kembali. Sungguh Allah telah menentukan  hal demikian, sebagai sunatullah, agar kita  berlomba­lomba dalam beramal dan nyata  antara yang benar dan yang salah.  “Sesungguhnya Kami telah menurunkan   Al­Quran, dan Kami tentu menjaganya.”   (QS 15:9) Di satu sisi banyak umat mendustakan, di  satu sisi lain akan banyak umat yang  membenarkan. Telah dibuktikan secara  ilmiah oleh ilmuwan­ilmuwan kaliber dunia  bahwa Al­qur’an adalah ayat­ayat yang  berlaku sepanjang masa dan penemuan­ penemuan ilmiah mereka ternyata hanya 

dibuktikan lewat kesempurnaan  kandungan, keindahan bahasa, ataupun  kebenaran ilmiah yang sering mengejutkan  para ahli. Suatu kode matematik yang  terkandung di dalamnya misalnya, tak  terungkap selama berabad­abad lamanya  sampai seorang sarjana pertanian Mesir  bernama Rashad Khalifa berhasil  menyingkap tabir kerahasiaan  tersebut.  Hasil penelitiannya yang dilakukan selama  bertahun­tahun dengan bantuan komputer  ternyata sangat mencengangkan. Betapa  tidak, ternyata didapati bukti­bukti surat­ surat/ayat­ayat dalam Quran serba  berkelipatan angka 19. Penemuannya tersebut berkat  penafsirannya pada surat ke­74 ayat : 30­ 31, yang artinya :  " Di atasnya ada sembilanbelas (malaikat   penjaga). (QS. 74:30)  Materi 20 Pengertian Al Qur’an Secara Bahasa (Etimologi)  Merupakan mashdar (kata benda) dari kata  kerja Qoro­’a (‫ )قرأ‬yang bermakna Talaa (‫ )تل‬ [keduanya bererti: membaca], atau  bermakna Jama’a (mengumpulkan,  mengoleksi). Anda dapat menuturkan,  Qoro­’a Qor’an Wa Qur’aanan (‫ )قرأ قرءا وقرآنا‬ sama seperti anda menuturkan, Ghofaro  Ghafran Wa Qhufroonan (‫ .)غفر غفرا وغفرانا‬ Berdasarkan makna pertama (Yakni:  Talaa) maka ia adalah mashdar (kata  benda) yang semakna dengan Ism Maf’uul,  ertinya Matluw (yang dibaca). Sedangkan  berdasarkan makna kedua (Yakni: Jama’a)  maka ia adalah mashdar dari Ism Faa’il,  ertinya Jaami’ (Pengumpul, Pengoleksi)  kerana ia mengumpulkan/mengoleksi  berita­berita dan hukum­hukum.*

Secara Syari’at (Terminologi)  Adalah Kalam Allah ta’ala yang diturunkan  kepada Rasul dan penutup para Nabi­Nya,  Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam,  diawali dengan surat al­Fatihah dan  diakhiri dengan surat an­Naas. Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya   Kami telah menurunkan al­Qur’an   kepadamu (hai Muhammad) dengan   beransur­ansur.” (al­Insaan:23) Dan firman­Nya, “Sesungguhnya Kami   menurunkannya berupa al­Qur’an dengan   berbahasa Arab, agar kamu   memahaminya.” (Yusuf:2) Allah ta’ala telah menjaga al­Qur’an yang  agung ini dari upaya merubah, menambah,  mengurangi atau pun menggantikannya.  Dia ta’ala telah menjamin akan  menjaganya sebagaimana dalam firman­ Nya, “Sesunggunya Kami­lah yang   menurunkan al­Qur’an dan sesungguhnya   Kami benar­benar memeliharanya.” (al­ Hijr:9) Oleh kerana itu, selama berabad­abad telah  berlangsung namun tidak satu pun musuh­ musuh Allah yang berupaya untuk  merubah isinya, menambah, mengurangi  atau pun menggantinya. Allah SWT pasti  menghancurkan tabirnya dan membuka  tipudayanya. Allah ta’ala menyebut al­Qur’an dengan  sebutan yang banyak sekali, yang  menunjukkan keagungan, keberkatan,  pengaruhnya dan keuniversalannya serta  menunjukkan bahawa ia adalah pemutus  bagi kitab­kitab terdahulu sebelumnya. Allah ta’ala berfirman, “Dan sesunguhnya   Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat  

yang dibaca berulang­ulang dan al­Qur’an   yang agung.” (al­Hijr:87) Dan firman­Nya, “Qaaf, Demi al­Quran   yang sangat mulia.” (Qaaf:1) Dan firman­Nya, “Ini adalah sebuah kitab   yang Kami turunkan kepadamu penuh   dengan berkah supaya mereka   memerhatikan ayat­ayatnya dan supaya   mendapat pelajaran orang­orang yang   mempunyai fikiran.” (Shaad:29) Dan firman­Nya, “Dan al­Qur’an itu   adalah kitab yang Kami turunkan yang   diberkati, maka ikutilah dia dan   bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (al­ An’am:155) Dan firman­Nya, “Sesungguhnya al­Qur’an   ini adalah bacaan yang sangat mulia.” (al­ Waqi’ah:77) Dan firman­Nya, “Sesungguhnya al­Qur’an   ini memberikan petunjuk kepada (jalan )   yang lebih lurus dan memberi khabar   gembira kepada orang­orang Mu’min yang   menjajakan amal saleh bahawa bagi   mereka ada pahala yang benar.” (al­Isra’:9) Dan firman­Nya, “Kalau sekiranya kami   menurunkan al­Qur’an ini kepada sebuah   gunung, pasti kamu akan melihatnya   tunduk terpecah belah disebabkan takut   kepada Allah. Dan perumpamaan­ perumpamaan itu Kami buat untuk   manusia supaya mereka berfikir.” (al­ Hasyr:21) Dan firman­Nya, “Dan apabila diturunkan   suatu surah maka di antara mereka (orang­ orang munafik) ada yang berkata,   ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah   imannya dengan (turunnya) surat ini.? ‘   Adapun orang­orang yang beriman, maka  

surah ini menambah imannya sedang   mereka merasa gembira. Dan adapun   orang­orang yang di dalam hati mereka   ada penyakit, maka dengan surah ini   bertambah kekafiran mereka, di samping   kekafirannya (yang telah ada) dan mereka   mati dalam keadaan kafir.” (at­ Taubah:124­125) Dan firman­Nya, “Dan al­Qur’an ini   diwahyukan kepadaku supaya dengannya   aku memberi peringatan kepadamu dan   kepada orang­orang yang sampai al­Qur’an   (kepadanya)…” (al­An’am:19) Dan firman­Nya, “Maka janganlah kamu   mengikuti orang­orang kafir, dan   berjihadlah terhadap mereka dengan al­ Qur’an dengan jihad yang benar.” (al­ Furqan:52) Dan firman­Nya, “Dan Kami turunkan   kepadamu al­Kitab (al­Qur’an) untuk   menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk   serta rahmat dan khabar gembira bagi   orang­orang yang berserah diri.” (an­ Nahl:89) Dan firman­Nya, “Dan Kami telah   turunkan kepadamu al­Qur’an dengan   membawa kebenaran, membenarkan apa   yang sebelumnya, iaitu kitab­kitab (yang   diturunkan sebelumnya) dan batu ujian*   terhadap kitab­kitab yang lain itu; maka   putuskanlah perkara mereka menurut apa   yang Allah turunkan…” (al­Maa’idah:48) Al­Qur’an al­Karim merupakan sumber  syari’at Islam yang kerananya Muhammad  shallallaahu ‘alaihi wasallam diutus  kepada seluruh umat manusia. Allah ta’ala  berfirman, Dan firman­Nya, “Maha suci Allah yang   telah menurunkan al­Furqaan (al­Qur’an)  

kepada hamba­Nya, agar dia menjadi   pemberi peringatan kepada seluruh alam   (jin dan manusia).” (al­Furqaan:1) Sedangkan Sunnah Nabi shallallaahu  ‘alaihi wasallam juga merupakan sumber  Tasyri’ (legislasi hukum Islam)  sebagaimana yang dikukuhkan oleh al­ Qur’an. Allah ta’ala berfirman,  “Barangsiapa yang menta’ati Rasul itu,   sesungguhnya ia telah menta’ati Allah. Dan   barangsiapa yang berpaling (dari keta’atan   itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk   menjadi pemelihara bagi mereka.” (an­ Nisa’:80) Dan firman­Nya, “Dan barangsiapa yang   mendurhakai Allah dan Rasul­Nya, maka   sungguhlah dia telah sesat, sesat yang   nyata.” (al­Ahzab:36) Dan firman­Nya, “Apa yang diberikan   Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan   apa yang dilarangnya bagimu, maka   tinggalkanlah…” (al­Hasyr:7) Dan firman­Nya, “Katakanlah, ‘Jika kamu   (benar­benar) mencintai Allah, ikutilah   aku, nescaya Allah mengasihi dan   mengampuni dosa­dosamu.’ Allah Maha   Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali  ‘Imran:31) Materi 21  Manfaat Membaca Al Qur’an Sebagai wahyu yang Allah turunkan  kepada nabi­Nya, tentu al­Qur'an memiliki  keutamaan dan keistimewaan tersendiri  bagi para pembaca dan penggemarnya.  Ayat­ayat al­qur'an yang kita baca sehari­ sehari tidak lepas dari karunia Allah untuk  setiap muslim yang demikian besar.  Karena saking istimewanya al­Qur'an ini  dari kitab­kitab samawi lainnya, Allah 

memberikan tempat istimewa bagi para  pecintanya. Oleh karena bagi anda yang ingin  memaksimalkan peran al­Qur'an dalam  kehidupan, nampaknya harus lebih banyak  lagi mengetahui manfaat dan perannya,  terutama untuk kehidupan. Di antara  manfaat itu adalah: 1. Ayat­ayat al­Qur'an yang dibaca setiap  hari akan memberikan motivasi dan  penyemangat bagi si pembacanya. 2. Ketika membaca al­Qur'an, Allah  menegur diri kita pada setiap ayat­ayat  Nya. 3. Bacaan al­Qur'an yang melibatkan emosi  akan memberikan kedamaian dan  ketenangan yang tidak bisa dilukiskan,  seperti yang dialami dan dirasakan oleh  Sayyid Quthb Rahimahullah. 4. Orang yang membaca al­Qur'an akan  senantiasa ingat Allah dan kembali  kepada­Nya. 5. Orang yang membaca al­Qur'an akan  selalu berada dalam kecukupan dan nikmat  Allah meski ia merasakan serba kurang di  dunia. 6. Ayat­ayat Alloh akan menjadi  penjaganya selama ia hidup di dunia,  karena ia telah menjaga ayat­ayat­Nya. 7. Orang yang paham al­Qur'an adalah  orang yang memiliki banyak ilmu. 8. Orang yang membaca al­Qur'an bagaikan  orang yang sedang menyelami samudera  kehidupan, dan mengambil manfaat  darinya. 9. Orang yang selalu akrab dengan ayat­ ayat akan diberikan jiwa yang sejuk, hati  yang damai dan pikiran yang jernih,  sehingga membuatnya ingin selalu  beramal, kreatif, inovatif dan produktif. 10. Orang yang membaca al­Qur'an akan  selalu berada dalam kegembiraan dan  penuh harapan, di saat orang lain  merasakan kesedihan, kecemasan dan rasa 

pesimis.Karena diri mereka selalu dipompa  dengan siraman ayat­ayat­Nya yang  lembut. 11. Orang yang rajin membaca al­Qur'an  akan selalu diberikan jalan kemudahan  dan petunjuk sehingga tidak mudah untuk  menyimpang dan menyerah karena ayat­ ayat Allah akan selalu mengingatkan  dirinya ketika dirinya 'tersandung dosa dan  maksiat.' 12. Orang yang membaca dan menjaga al­ Qur'an selalu berada dalam lindungan dan  penjagaan Allah. Ayat­ayat al­Qur'an  mengajak pembacanya untuk senantiasa  berpikir, merenung dan beramal sebanyak­ banyaknya. Dan masih banyak manfaat­manfaat  lainnya yang terus update dengan kondisi  kehidupan kita...Semoga kita termasuk  orang­orang yang selalu belajar dan  meningkatkan diri untuk lebih dekat lagi  dengan al­Qur'an...Amiin Materi 22 Al Qur’an Mu’jizat (Bagian Pertama):  Membaguskan Bacaan Al Qur’an Al Qur'an Al Karim merupakan mu'jizat  Rasul yang agung termasuk mu'jizat yang  indah selain juga mu'jizat yang logis. Ia  telah membuat bangsa Arab tidak mampu  berkutik, yaitu dengan keindahan  bayannya, kerapian susunan dan uslubnya,  dan keunikan suaranya apabila dibaca,  sehingga sebagian mereka menamakannya  "Sihir." Para ulama balaghah dan para sastrawan  bangsa Arab sejak masa Abdul Qahir  sampai Ar­Raf"i dan Sayyid Quthb dan  selain mereka pada zaman kita ini telah  menjelaskan sisi I'jaz bayani (kejelasan  mu'jizat) atau sisi keindahan dalam kitab  ini. Yang dituntut di dalam membaca Al 

Qur'an adalah bertemunya antara  keindahan suara dan tajwidnya sampai  keindahan bayan dan susunannya, oleh  karena itu Allah SWT berfirman: "Dan  bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan­ lahan." (Al Muzzammil:4) Rasulullah SAW bersabda "Bukanlah  termasuk ummatku orang yang tidak  melagukan Al Qur'an." (HR. Bukhari) Tetapi dengan lagu yang khusyu' bukan  main­main atau merubah. "Hiasilah Al  Qur'an itu dengan suaramu." (HR. Muslim) Dalam riwayat lainnya disebutkan  "Sesungguhnya suara yang baik itu  menambah Al Qur'an menjadi baik." (HR.  Ahmad, Abu Dawud dan An­Nasa'i) Rasulullah SAW juga bersabda kepada Abu  Musa Al Asy'ari RA, "Seandainya kamu  melihatku, aku mendengarkan suaramu  tadi malam, sungguh kamu telah diberi  seruling dari seruling keluarga Dawud."  Abu Musa berkata, "Seandainya aku  mengetahui hal itu, maka aku akan  membacakan untukmu dengan bacaan  yang lebih baik." (HR. Muslim) Rasulullah SAW juga bersabda: "Apa yang  diizinkan Allah pada sesuatu, apa yang  dizinkan Allah kepada Nabinya (adalah)  untuk membaguskan dalam melagukan Al  Qur'an yang dia baca dengan keras." (HR.  Ahmad, Bukhari dan Muslim) Dalam Al Qur'an terkandung unsur agama,  ilmu, sastra dan seni secara bersamaan.  Dia mampu memberikan siraman ruhani,  memberikan kepuasan akal,  membangunkan perasaan, memberikan  kenikmatan pada perasaan dan  memperlancar lisan.  Materi 23

Al Qur’an Mu’jizat (Bagian Kedua):  Kalamullah Bagaimanakah kita membuktikan Al­ Quran itu adalah Kalam Allah?  Pertama, Al­Qur’an merupakan mu’jizat  ( tidak ada seorangpun yang bisa  mendatangkan sepertinya, atau seperti  surah di antara surah­surahnya ). Mu’jizat  ini hanya diberikan oleh Allah, kepada  seorang rasulNya, sebagai bukti yang  membenarkan bahwa ia benar­benar  utusan Allah. Sebagai Mu'jizat Al­Qur'an  tentu dari Allah. Dan memang sampai  sekarang tidak ada seorangpun yang bisa  mengarang sepertinya, sampai seperti  surah yang paling pendek pun masih belum  ada yang bisa mendatangkannya.  Pada waktu Al­Qur'an diturunkan, orang­ orang Arab berada di puncak kefasihan  berbahasa.Tapi ternyata tidak seorang pun  dari mereka yang bisa membuat seperti Al­ Qur'an. Berbagai usaha telah dilakukan  oleh sebagian penyair mereka. Tapi usaha  mereka gagal. Bahkan mereka sendiri  mengakui bahwa Al­Qur'an memang bukan  karangan manusia. Imam Az Zarkasyi  menyebutkan bahwa mu’jizat Al­Qur'an  nampak dari segala sisi ( lihat Al Burhan fi  ulumil Qur'an, oleh Az Zarkasyi  :Jilid:2,hal:237, Darul Ma'rifah,  Bairut1990) : dari rangkaian katanya yang  indah " balaghah ", susunan ayat­ayat dan  surah­surahnya, kebenaran isinya,  kesesuaian informasinya dengan penemuan  final ilmu pengetahuan.  Kedua, memang ada tuduhan bahwa Al­ Qur'an karangan Nabi Muhammad SAW,  namun kemudian Imam Al­Baqillani dalam  bukunya Ijazul Qur'an, mencoba  membandingkan antara hadits­hadits Nabi  dan ayat­ayat Al­Qur'an, hasilnya sebuah  kesimpulan bahwa Al­Qur'an bukan 

karangan Nabi. Al­Qur'an kalam Allah.  Sampai­sampai Al Baqillani menantang.  Kalau masih belum percaya silahkan  kumpulkan hadits­hadits Nabi â€“ ujar Al  Baqillani ­, lalu susunlah sebagaimana  susunan Al­Qur'an, anda akan menemukan  susunan yang tidak berkaitan antara satu  hadits dengan lainnya.  Bandingkan dengan Al­Qur'an, teliti  susunan ayatnya, sunan surah­surahnya,  anda akan menemukan suatu keterpaduan,  saling berkaitan dari awal sampai akhir.  Padahal ia diturunkan secara berangsur­ angsur. Para Ulama sepanjang sejarah  telah membuktikan hakikat kesatuan Al­ Qur'an dengan susunannya yang ada. Di  tambah lagi bahwa di dalam Al­Qur'an  banyak " khitab " yang ditujukan kepada  Rasulullah. Bahkan ada yang berupa  teguran seperti yang terdapat dalam surat "  Al Tahrim ", Rasulullah ditegur langsung  karena mengharamkan madu pada dirinya,  untuk menjaga perasaan istrinya yang  tidak suka bau madu yang diminumnya.  Di permulaan surat " Abasa " juga teguran  kepada Rasulullah kerena beliau bermuka  masam kepada Ibn Ummi Maktum yang  pada waktu itu minta Rasulullah untuk  mengajarkannya Al­Qur'an, sementara  Rasulullah sedang sibuk dalam sebuah  pertemuan dengan pemuka­pemuka  Quraisy. Masuk akalkah seorang menegur  dirinya senidiri dalam buku yang  dikarangnya? Kalau memang benar Al­ Qur'an karangan Muhammad SAW. Ketiga,  Al­Qur'an sendiri menyuruh Rasulullah  SAW untuk menantang siapa saja yang  dari mahluk yang ada, jin dan manusia  untuk membuat sepertinya. Dalam (QS:  Hud:13) perintah untuk Nabi agar  menantang mereka supaya mendatangkan  sepuluh surah. Dalam (QS:Yunus:38)  perintah agar menantang mereka untuk 

mendatangkan satu surah. Pada (QS:Al  Baqarah:23) juga demikian.  Bahkan dalam (QS:Al Isra':88) Al­Qur'an  menegaskan bahwa sekalipun jin dan  manusia berkumpul untuk mengarang  seperti Al­Qur'an tidak akan bisa. Dan  sampai sekarang Al­Qur'an masih terus  menantang, tapi tidak ada seorangpun  yang bisa menjawab. Kalau memang  karangan Nabi Muhammad SAW, mengapa  pakai perintah? Dan bentuk perintah  kepada Nabi Muhammad SAW, di dalam  Al­Qur'an begitu banyak. Perhatikan saja  tiga surah terkahir : Al Ikhalsh, Al Falaq  dan An Nas. Semuanya dimulai dengan  perintah " qul " ( katakan hai Muhammad ).  Ini semua menunjukkan bahwa Al­Qur'an  kalam Allah.  Dan kalau Al­Qur'an karangan manusia,  tentu tidak akan sampai sejauh ini berani  menantang. Sementara Al­Qur'an akan  terus menantang sampai hari Kiamat.  Suatu bukti bahwa ia kalam Allah yang  mu'jiz. Keempat, Silahakan anda  bandingkan antara penemuan ilmu  pengetahuan yang sudah final ( bukan teori  ), tentang alam, atau tentang tubuh  manusia dan lain sebagianya, lalu  bandingkan dengan penegasan Al­Qur'an,  anda pasti akan mendapatkan hakikat  yang sama. Mengapa, karena alam ini  ciptaan Allah, dan Al­Qur'an kalamNya.  Sudah demikian banyak para ulama  mengungkap hal ini dalam pembahasan "al  i'jazul ilmi lilqur'an".  Adakah akal manusia sejak sekian abad  silam, bisa menjangkau penemuan ilmu  yang baru saja didapatkan tanpa sebuah  penelitian? Kelima, di dalam Al­Qur'an  banyak informasi mengenai alam ghaib,  seperti adanya surga dengan segala  keindahannya, dan neraka dengan segala 

kepedihannya, adanya hari kiamat, dan  seterusnya yang semuanya ini tidak  mungkin dijangkau oleh akal manusia.  Suatu bukti bahwa yang mempunyai  informasi seperti ini hanya Dia yang  menciptakan alam, dan yang menentukan  akhir hidup manusia, yang mengatur  kehidupan setelah matinya semua mahluk,  dan yang membagi ada yang ke surga dan  yeng ke neraka.  Materi 24 Al Qur’an Membentuk Umat Mulia "Segala puji bagi Allah yang telah   menurunkan kepada hamba­Nya Al Kitab   (Al Qur'an) dan Dia tidak mengadakan   kebengkokan di dalamnya; sebagai   bimbingan yang lurus, untuk   memperingatkan akan siksaan yang sangat   pedih dari sisi Allah dan memberi berita   gembira kepada orang­orang yang beriman,   yang mengerjakan amal saleh, bahwa   mereka akan mendapat pembalasan yang   baik, mereka kekal di dalamnya untuk   selama­lamanya." ( Al Kahfi: 1­3) Rabb kita telah memberikan kemuliaan  kepada kita ­­sebagai kaum Muslimin­­  dengan menganugerahkan kitab suci yang  terbaik yang diturunkan kepada manusia.  Rabb kita juga, telah memuliakan kita  dengan mengutus nabi yang terbaik yang  pernah diutus kepada manusia. Sesuai  firman Allah SWT: "Sesungguhnya telah Kami turunkan  kepada kamu sebuah kitab yang di  dalamnya terdapat sebab­sebab kemuliaan  bagimu. Maka apakah kamu tiada  memahaminya?" (Al Anbiyaa: 10). Kitalah, kaum muslimin, satu­satunya  umat yang memeliki manuskrip langit yang  paling autentik, yang mengandung firman­

firman Allah SWT yang terakhir, yang  diberikan untuk menjadi petunjuk bagi  umat manusia. Dan anugerah itu terus  terpelihara dari perubahan dan pemalsuan  kata maupun makna. Karena Allah SWT.  telah menjamin untuk memeliharanya, dan  tidak dibebankan tugas itu kepada  siapapun dari sekalian makhluk­Nya: "Sesungguhnya Kami­lah yang  menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya  Kami benar­benar memeliharanya." (Al  Hijr: 9). Al Qur'an adalah kitab Ilahi seratus  persen: "(Inilah) suatu kitab yang ayat­ ayatnya disusun dengan rapi serta  dijelaskan secara terperinci yang  diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha  Bijaksana lagi Maha Tahu." (Huud: 1) "Dan sesungguhnya Al Qur'an itu adalah  kitab yang mulia. Yang tidak datang  kepadanya (Al Qur'an) kebatilan baik dari  depan maupun dari belakangnya, yang  diturunkan dari Tuhan Yang Maha  Bijaksana lagi Maha Terpuji." ( Fush­shilat:  41­42) Tidak ada di dunia ini, suatu kitab, baik itu  kitab agama atau kitab biasa, yang terjaga  dari perubahan dan pemalsuan, kecuali Al  Qur'an. Tidak ada seorangpun yang dapat  menambah atau mengurangi satu hurup­ pun darinya. Ayat­ayatnya dibaca, didengarkan, dihapal  dan dijelaskan, sebagaimana bentuknya  saat diturunkan oleh Allah SWT kepada  nabi Muhammad Saw, dengan perantaraan  ruh yang terpercaya (Jibril). Al Quran berisikan seratus empat belas  surah. Seluruhnya dimulai dengan  basmalah (bismillahirrahmanirrahim).  Kecuali satu surah saja, yaitu surah at 

Taubah. Ia tidak dimulai dengan basmalah.  Dan tidak ada seorang pun yang berani  untuk menambahkan basmalah ini pada  surah at Taubah, baik dengan tulisan atau  bacaan. Karena, dalam masalah Al Qur'an  ini, tidak ada tempat bagi akal untuk  campur tangan. Perhatian kaum muslimin terhadap Al  Quran sedemikian besarnya, hingga  mereka juga menghitung ayat­ayatnya  ­­bahkan kata­katanya, dan malah hurup­ hurupnya­­. Maka bagaimana mungkin  seseorang dapat menambah atau  mengurangi suatu kitab yang dihitung  kata­kata dan hurup­hurupnya itu?!  Tidak ada di dunia ini suatu kitab yang  dihapal oleh ribuan dan puluhan ribu  orang, di dalam hati mereka, kecuali Al  Qur'an ini, yang telah dimudahkan oleh  Allah SWT untuk diingat dan dihapal.  Maka tidak aneh jika kita menemukan  banyak orang, baik itu lelaki maupun  perempuan, yang menghapal Al Qur'an  dalam mereka. Ia juga dihapal oleh anak­ anak kecil kaum Muslimin, dan mereka  tidak melewati satu hurup­pun dari Al  Qur'an itu. Demikian juga dilakukan oleh  banyak orang non Arab, namun mereka  tidak melewati satu hurup­pun dari Al  Qur'an itu. Dan salah seorang dari mereka,  jika Anda tanya: "siapa namamu?" ­­dengan  bahasa Arab­­ niscaya ia tidak akan  menjawab! (Karena tidak paham bahasa  Arab!, penj.). Ia menghapal Kitab Suci  Rabbnya semata untuk beribadah dan  mendekatkan diri kepada Allah SWT,  meskipun ia tidak memahami apa yang ia  baca dan ia hapal, karena ia tertulis  dengan bukan bahasanya. Al Qur'an tidak semata dijaga makna­ makna, kalimat­kalimat serta lafazh­ lafazhnya saja, namun juga cara membaca 

dan makhraj hurup­hurupnya. Seperti kata  mana yang harus madd (panjang), mana  yang harus ghunnah (dengung), izhhar  (jelas), idgham (digabungkan), ikhfa  (disamarkan) dan iqlab (dibalik). Atau  seperti yang digarap oleh suatu ilmu  khusus yang dikenal dengan "ilmu tajwid  Al Qur'an". Hingga rasam (metode penulisan) Al  Qur'an, masih tetap tertulis dan tercetak  hingga saat ini, seperti tertulis pada era  khalifah Utsman bin Affan r.a., meskipun  metode dan kaidah penulisan telah  berkembang jauh. Hingga saat ini, tidak  ada suatu pemerintah muslim atau suatu  organisasi ilmiah pun, yang berani  merubah metode penulisan Al Qur'an itu,  dan menerapkan kaidah­kaidah penulisan  yang berlaku bagi seluruh buku, media  cetak, koran dan lainnya yang ditulis dan  dicetak, bagi Al Qur'an. Materi 25  Al Qur’an Cahaya Allah menurunkan Al Qur'an untuk  memberikan kepada manusia tujuan yang  paling mulia, dan jalan yang paling  lurus."Sesungguhnya Al Qur'an ini  memberikan petunjuk kepada (jalan) yang  lebih lurus."(Al Israa: 9)  "Sesungguhnya telah datang kepadamu  cahaya dari Allah, dan kitab yang  menerangkan. Dengan kitab itulah Allah  menunjuki orang­orang yang mengikuti  keredhaan­Nya ke jalan keselamatan, dan  (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan  orang­orang itu dari gelap gulita kepada  cahaya yang terang benderang dengan  seizin­Nya, dan menunjuki mereka ke jalan  yang lurus." ( Al Maaidah: 15­16)

Al Qur'an adalah "cahaya" yang  dianugerahkan Allah SWT kepada hamba­ hamba­Nya, di samping cahaya fithrah dan  akal: "Cahaya di atas cahaya (berlapis­ lapis)." (An Nuur: 35). Dan Al Qur'an  mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai  cahaya, dalam banyak ayat. Seperti dalam firman Allah SWT: "Hai  manusia, sesungguhnya telah datang  kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu,  (Muhammad dengan mu'jizatnya) dan telah  Kami turunkan kepadamu cahaya yang  terang benderang (Al Qur'an)." (An Nisaa:  174) "Maka berimanlah kamu kepada Allah dan  Rasul­Nya dan kepada cahaya (Al Qur'an)  yang telah Kami turunkan." (At  Taghaabun: 8). Dan berfirman kepada para sahabat  Rasulullah Saw dengan firman­Nya: "Dan  mengikuti cahaya yang terang yang  diturunkan kepadanya (Al Qur'an)." (Al  A'raaf: 157) Di antara karakteristik cahaya adalah:  Dirinya sendiri telah jelas, kemudian ia  memperjelas yang lain. Ia membuka hal­ hal yang samar, menjelaskan hakikat­ hakikat, membongkar kebatilan­kebatilan,  menolak syubhat (kesamaran),  menunjukkan jalan bagi orang­orang yang  sedang kebingungan saat mereka gamang  dalam menapaki jalan atau tidak memiliki  petunjuk jalan, serta menambah jelas dan  menambah petunjuk bagi orang yang telah  mendapatkan petunjuk. Dan jika Al Qur'an  mendeskripsikan dirinya sebagai "cahaya",  dan dia adalah "cahaya yang istimewa", ia  juga mendeskripsikan Taurat dengan kata  yang lain: "Di dalamnya (ada) petunjuk dan  cahaya (yang menerangi)."

Seperti dalam firman Allah SWT:  "Sesungguhnya Kami telah menurunkan  Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk  dan cahaya (yang menerangi)". (Al  Maaidah: 44) Demikian juga mendeskripsikan Injil  seperti itu, seperti dalam firman Allah SWT  tentang Nabi 'Isa: "Dan Kami telah  memberikan kepadanya Kitab Injil sedang  di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya  (yang menerangi) ." (Al Maidah: 46) Perbedaan dalam dua pengungkapan itu  menunjukkan perbedaan antara Al Qur'an  dengan kitab­kitab suci lainnya. Seperti  diungkapkan oleh Al Bushiry dalam  Lamiah­nya: "Maha Besar Allah,  sesungguhnya agama Muhammad Dan  kitab sucinya adalah kitab suci yang paling  lurus dan paling teguh Jangan sebut kitab­ kitab suci lainnya di depannya Karena,  saat mentari pagi telah bersinar, ia akan  memadamkan pelita­pelita". Hal itu karena Al Qur'an ini datang untuk  membenarkan kitab­kitab suci yang telah  turun sebelumnya. Yaitu yang berkaitan  dengan pokok­pokok aqidah dan akhlak,  sebelum kitab­kitab itu dipalsukan dan  diubah tangan manusia. Al Qur'an juga  mengungguli kitab­kitab suci sebelumnya,  yaitu dengan mengoreksi dan meluruskan  tambahan­tambahan dan perubahan­ perubahan yang telah disisipkan oleh  manusia dalam kitab­kitab itu. Tentang hal  ini Allah SWT berfirman: "Dan Kami telah  turunkan kepadamu Al Qur'an dengan  membawa kebenaran, membenarkan apa  yang sebelumnya, yaitu kitab­kitab (yang  diturunkan sebelumnya) dan batu ujian  terhadap kitab­kitab yang lain itu." (Al  Maaidah: 48) 

Al Qur'an juga mempunyai maksud dan  tujuan diturunkanya, di antaranya:  meluruskan kepercayaan­kepercayaan dan  pola pandang manusia tentang Tuhan,  kenabian, dan balasan atas amal  perbuatan, serta meluruskan pola  pandangan tentang manusia,  kemuliaannya dan menjaga hak­haknya,  menghubungkan manusia dengan Rabbnya,  membersihkan jiwa manusia, membentuk  keluarga, membangun umat yang saleh,  yang dianugerahkan amanah untuk  menjadi saksi bagi manusia, mengajak  untuk menciptakan dunia manusia yang  saling kenal mengenal dan tidak saling  mengisolasi diri, saling memberi maaf dan  tidak saling membenci secara fanatik, serta  untuk bekerja sama dalam kebaikan dan  ketaqwaan, bukan dalam kejahatan dan  permusuhan. Kita berkewajiban untuk memperlakukan  Al Qur'an ini secara baik: dengan  menghapal dan mengingatnya, membaca  dan mendengarkannya, serta mentadabburi  dan merenungkannya. Materi 26  Interaksi Dengan Al Qur’an Sebagai seorang Muslim kita berkewajiban  untuk berlaku baik dan benar terhadap Al  Qur’an dalam memahami dan  menafsirkannya. Tidak ada yang lebih baik  dari usaha kita untuk mengetahui  kehendak Allah SWT terhadap kita. Dan  Allah SWT menurunkan kitab­Nya agar  kita mentadabburinya, memahami rahasia­ rahasianya, serta mengeksplorasi mutiara­ mutiara terpendamnya. Dan setiap orang  berusaha sesuai dengan kadar  kemampuannya. Namun yang disayangkan, dalam bidang  ini telah terjadi kerancuan yang berbahaya, 

yaitu dalam memahami dan menafsirkan  Al Qur'an. Oleh karena itu harus dibuat  rambu­rambu dan petunjuk yang mampu  menjaga dari kekeliruan dalam usaha ini,  serta perlu diberikan peringatan tentang  ranjau­ranjau yang menghadang di jalan,  yang dapat berakibat patal jika dilanggar. Tidak selayaknya umat Al Qur'an  mengalami hal yang sama yang pernah  terjadi dengan umat Taurat, yang  diungkapkan oleh Al Qur'an dalam firman­ Nya: "Perumpamaan orang­orang yang  dipikulkan kepadanya Taurat kemudian  mereka tiada memikulnya adalah seperti  keledai yang membawa kitab­kitab yang  tebal." (Al Jumu'ah: 5). Kita juga harus berlaku baik terhadap Al  Qur'an dengan mengikuti petunjuknya,  mengerjakan ajarannya, menghukum  dengan syari'atnya serta mengajak  manusia mengikuti petunjuknya. Ia adalah  manhaj bagi kehidupan individu, undang­ undang bagi aturan politik, serta petunjuk  dalam berdakwah kepada Allah SWT. Inilah yang berusaha dilakukan buku ini  dalam empat bab utamanya, dengan  bertumpu ­­terutama­­ pada Al Qur'an itu  sendiri, karena ia adalah objek kita, namun  ia juga petunjuk itu. Umat kita pada abad­abad pertama ­­yang  merupakan abad­abad yang paling utama­­  telah berinteraksi dengan baik terhadap Al  Qur'an. Mereka berlaku baik dalam  memahaminya, mengetahui tujuan­ tujuannya, berlaku baik dalam  mengimplementasikannya secara massive  dalam kehidupan mereka, dalam bidang­ bidang kehidupan yang beragam, serta  berlaku baik pula dalam  mendakwahkannya. Contoh terbaik hal itu  adalah para sahabat. Kehidupan mereka 

telah diubah oleh Al Quran dengan amat  drastis dan revolusioner. Al Qur'an telah  merubah mereka dari perilaku­perilaku  jahiliyah menuju kesucian Islam, dan  mengeluarkan mereka dari kegelapan ke  dalam cahaya. Kemudian mereka diikuti  oleh murid­murid mereka dengan baik,  untuk selanjutnya murid­murid generasi  berikutnya mengikuti murid­murid para  sahabat itu dengan baik pula. Melalui  mereka itulah Allah SWT memberikan  petunjuk kepada manusia, membebaskan  negeri­negeri, memberikan kedudukan bagi  mereka di atas bumi, sehingga mereka  kemudian mendirikan negara yang adil dan  baik, serta peradaban ilmu dan iman. Kemudian datang generasi­generasi  berikutnya, yang menjadikan Al Qur'an  terlupakan, mereka menghapal hurup­ hurupnya, namun tidak memperhatikan  ajaran­ajarannya. Mereka tidak mampu  berinteraksi secara benar dengannya, tidak  memprioritaskan apa yang menjadi  prioritas Al Qur'an, tidak menganggap  besar apa yang dinilai besar oleh Al Qur'an  serta tidak menganggap kecil apa yang  dinilai kecil oleh Al Qur'an. Di antara  merek ada yang beriman dengan  sebagiannya, namun kafir dengan  sebagiannya lagi, seperti yang dilakukan  oleh Bani Israel sebelum mereka terhadap  kitab suci mereka. Mereka tidak mampu  berinteraksi secara baik dengan Al Qur'an,  seperti yang dikehendaki oleh Allah SWT.  Meskipun mereka mengambil berkah  dengan membawanya serta menghias  dinding­dinding rumah mereka dengan  ayat­ayat Al Qur'an, namun mereka lupa  bahwa keberkahan itu terdapat dalam  mengikut dan menjalankan hukum­ hukumnya. Seperti difirmankan oleh Allah  SWT:

"Dan Al Qur'an itu adalah kitab yang Kami  turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia  dan bertakwalah agar kamu diberi  rahmat." (Al An'aam: 155) Tidak ada jalan untuk membangkitkan  umat dari kelemahan, ketertinggalan dan  keterpecah­belahan mereka selain dari  kembali kepada Al Qur'an ini. Dengan  menjadikannya sebagai panutan dan imam  yang diikuti. Dan cukuplah Al Qur'an  sebagai petunjuk: "Dan siapakah yang lebih benar  perkataannya daripada Allah?." (An Nisaa:  122) Materi 27 Bahaya Rumor/Ghibah (Bagian  Pertama): Pengertian Ghibah Islam merupakan agama sempurna yang  Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan  kepada umat Nabi Muhammad  Shallallahu’alaihi wasallam.  Kesempurnaan Islam ini menunjukkan  bahwa syariat yang dibawa Rasulullah  Shallallahu’alaihi wasallam itu adalah  rahmatal lil’alamin. Sebagaimana Allah  Subhanahu wa Ta’ala telah  mengkhabarkan di dalam firman­Nya  (artinya): “Tidaklah Aku mengutusmu  melainkan sebagai rahmatal lil’alamin.” (Al  Anbiya’: 107) Diantara wujud kesempurnaan agama  Islam sebagai rahmatal lil’alamin, adalah  Islam benar­benar agama yang dapat  menjaga, memelihara dan menjunjung  tinggi kehormatan, harga diri, harkat dan  martabat manusia secara adil dan  sempurna. Kehormatan dan harga diri  merupakan perkara yang prinsipil bagi  setiap manusia.

Setiap orang pasti berusaha untuk menjaga  dan mengangkat harkat dan martabatnya.  Ia tidak rela untuk disingkap aib­aibnya  atau pun dibeberkan kejelekannya. Karena  hal ini dapat menjatuhkan dan merusak  harkat dan martabatnya di hadapan orang  lain. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam  bersabda:  “Setiap muslim terhadap muslim lainnya  diharamkan darahnya, kehormatannya,  dan juga hartanya.” (H.R Muslim no. 2564) Hadits di atas menjelaskan tentang eratnya  hubungan persaudaraan dan kasih sayang  sesama muslim. Bahwa setiap muslim  diharamkan menumpahkan darah  (membunuh) dan merampas harta  saudaranya seiman. Demikian pula setiap  muslim diharamkan melakukan perbuatan  yang dapat menjatuhkan, meremehkan,  atau pun merusak kehormatan saudaranya  seiman. Karena tidak ada seorang pun  yang sempurna dan ma’shum (terjaga dari  kesalahan) kecuali para Nabi dan Rasul.  Sebaliknya selain para Nabi dan Rasul  termasuk kita tidak lepas dari kekurangan  dan kelemahan. Suatu fenomena yang lumrah terjadi di  masyarakat kita dan cenderung  disepelekan, padahal akibatnya cukup  besar dan membahayakan, yaitu ghibah  (menggunjing). Karena dengan perbuatan  ini akan tersingkap dan tersebar aib  seseorang, yang akan menjatuhkan dan  merusak harkat dan martabatnya. Tahukah anda apa itu ghibah?  Sesungguhnya kata ini tidak asing lagi bagi  kita. Ghibah ini erat kaitannya dengan  perbuatan lisan, sehingga sering terjadi  dan terkadang di luar kesadaran.

Ghibah adalah menyebutkan, membuka,  dan membongkar aib saudaranya dengan  maksud jelek. Al Imam Muslim  meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari  shahabat Abu Hurairah radhiyallahu   ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah  Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:  “Apakah kalian mengetahui apa itu  ghibah? Para shahabat berkata: “Allah dan  Rasul­Nya yang lebih tahu.” Kemudian  beliau Shallallahu’alaihi wasallam  bersabda:  “Engkau menyebutkan sesuatu yang ada  pada saudaramu yang dia membecinya, jika  yang engkau sebutkan tadi benar­benar  ada pada saudaramu sungguh engkau telah  berbuat ghibah, sedangkan jika itu tidak  benar maka engkau telah membuat  kedustaan atasnya.” Di dalam Al Qur’anul Karim Allah  Subhanahu wa Ta’ala sangat mencela  perbuatan ghibah, sebagaimana firman­ Nya (artinya): “Dan janganlah kalian mencari­cari  kesalahan orang lain dan janganlah  sebagian kalian menggunjing (ghibah)  kepada sebagian yang lainnya. Apakah  kalian suka salah seorang diantara kalian  memakan daging saudaramu yang sudah  mati? Maka tentulah kalian membencinya.  Dan bertaqwalah kalian kepada Allah.  Sesungguhnya Allah Maha Penerima  taubat dan Maha Pengasih.” (Al Hujurat:  12) Al Imam Ibnu Katsir Asy Syafi’i berkata  dalam tafsirnya: “Sungguh telah  disebutkan (dalam beberapa hadits)  tentang ghibah dalam konteks celaan yang  menghinakan. Oleh karena itu Allah  Subhanahu wa Ta’ala menyerupakan orang  yang berbuat ghibah seperti orang yang 

memakan bangkai saudaranya.  Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa   Ta’ala … (pada ayat di atas). Tentunya itu  perkara yang kalian benci dalam tabi’at,  demikian pula hal itu dibenci dalam  syari’at. Sesungguhnya ancamannya lebih  dahsyat dari permisalan itu, karena ayat  ini sebagai peringatan agar menjauh/lari  (dari perbuatan yang kotor ini ­pent). ”  (Lihat Mishbahul Munir) Materi  28 Bahaya Ghibah (Bagian Kedua):  Kriteria Ghibah 1. Menggambarkan keburukan  bentuk tubuh seseorang Suatu hari Aisyah radhiyallahu’anha  pernah berkata kepada Rasulullah  Shallallahu’alaihi wasallam tentang  Shafiyyah bahwa dia adalah wanita yang  pendek. Maka beliau Shallallahu’alaihi   wasallam bersabda: “Sungguh engkau telah  berkata dengan suatu kalimat yang kalau  seandainya dicampur dengan air laut  niscaya akan merubah air laut itu.” (H.R.  Abu Dawud 4875 dan lainnya) Asy Syaikh Salim bin Ied Al Hilali berkata:  “Dapat merubah rasa dan aroma air laut,  disebabkan betapa busuk dan kotornya  perbutan ghibah. Hal ini menunjukkan  suatu peringatan keras dari perbuatan  tersebut.” (Lihat Bahjatun Nazhirin Syarah  Riyadhush Shalihin 3/25) 2. Membicarakan keburukan orang  lain Dari shahabat Anas bin Malik  radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah  Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:  “Ketika aku mi’raj (naik di langit), aku  melewati suatu kaum yang kuku­kukunya  dari tembaga dalam keadaan mencakar  wajah­wajah dan dada­dadanya. Lalu aku  bertanya: “Siapakah mereka itu wahai 

malaikat Jibril?” Malaikat Jibril menjawab:  “Mereka adalah orang­orang yang  memakan daging­daging manusia dan  merusak kehormatannya.” (H.R. Abu  Dawud no. 4878 dan lainnya). Yang  dimaksud dengan ‘memakan daging­daging  manusia’ dalam hadits ini adalah berbuat  ghibah (menggunjing), sebagaimana  permisalan pada surat Al Hujurat ayat: 12. Dari shahabat Ibnu Umar  radhiyallahu’anhu, bahwa beliau  Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:  “Wahai sekalian orang yang beriman  dengan lisannya yang belum sampai ke  dalam hatinya, janganlah kalian  mengganggu kaum muslimin, janganlah  kalian menjelek­jelekkannya, janganlah  kalian mencari­cari aibnya. Barang siapa  yang mencari­cari aib saudaranya sesama  muslim niscaya Allah akan mencari aibnya.  Barang siapa yang Allah mencari aibnya  niscaya Allah akan menyingkapnya  walaupun di dalam rumahnya.” (H.R. At  Tirmidzi dan lainnya) Dari shahabat Jabir bin Abdillah  radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Suatu  ketika kami pernah bersama Rasulullah  Shallallahu’alaihi wasallam mencium bau  bangkai yang busuk. Lalu Rasulullah  Shallallahu’alaihi wasallam berkata:  ‘Apakah kalian tahu bau apa ini?  (Ketahuilah) bau busuk ini berasal dari  orang­orang yang berbuat ghibah.” (H.R.  Ahmad 3/351) Dari shahabat Sa’id bin Zaid radhiyallahu   ‘anhu sesungguhnya Rasulullah  Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:  “Sesungguhnya termasuk riba yang paling  besar (dalam riwayat lain: termasuk dari  sebesar besarnya dosa besar) adalah  memperpanjang dalam membeberkan aib  saudaranya muslim tanpa alasan yang  benar.” (H.R. Abu Dawud no. 4866­4967)

Dari ancaman yang terkandung dalam ayat  dan hadits­hadits di atas menunjukkan  bahwa perbuatan ghibah ini termasuk  perbuatan dosa besar, yang seharusnya  setiap muslim untuk selalu berusaha  menghindar dan menjauh dari perbuatan  tersebut. Asy Syaikh Al Qahthani dalam kitab  Nuniyyah hal. 39 berkata: Janganlah kamu tersibukkan dengan aib  orang lain, justru kamu lalai Dengan aib yang ada pada dirimu,  sesungguhnya itu dua keaiban (Lihat Nashihati linnisaa’ hal. 32) 3. Membicarakan sesuatu yang  tidak disukai saudaranya Konteks dalam hadits: “Engkau  menyebutkan sesuatu pada saudaramu  yang dia membecinya.” Hadits di tersebut  secara zhahir mengandung makna yang  umum, yaitu mencakup penyebutan aib  dihadapan orang tersebut atau diluar  sepengetahuannya. Namun Al Hafizh Ibnu  Hajar menguatkan bahwa ghibah ini  khusus di luar sepengetahuannya,  sebagaimana asal kata ghibah (yaitu dari  kata ghaib yang artinya tersembunyi­pent)  yang ditegaskan oleh ahli bahasa. Kemudia  Al Hafizh berkata: “Tentunya  membeberkan aib di hadapannya itu  merupakan perbuatan yang haram, tapi hal  itu termasuk perbuatan mencela dan  menghina.” (Fathul Bari 10/470 dan  Subulus Salam hadits no. 1583, lihat  Nashihati linnisaa’ hal. 29) 4. Mendengar pembicaraan ghibah  tapi tidak melarangnya Demikian pula bagi siapa yang mendengar  dan ridha dengan perbuatan ghibah maka  hal tersebut juga dilarang. Semestinya dia  tidak ridha melihat saudaranya dibeberkan  aibnya. Dari shahabat Abu Dzar  radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah  Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Barang siapa yang mencegah terbukanya  aib saudaranya niscaya Allah akan  mencegah wajahnya dari api neraka pada  hari kiamat nanti.” (H.R. At Tirmidzi no.  1931 dan lainnya) Demikian juga semestinya ia tidak ridha  melihat saudaranya terjatuh dalam  kemaksiatan yaitu berbuat ghibah.  Semestinya ia menasehatinya, bukan  justru ikut larut dalam perbuatan tersebut.  Kalau sekiranya ia tidak mampu  menasehati atau mencegahnya dengan cara  yang baik, maka hendaknya ia pergi dan  menghindar darinya. Allah Subhanahu wa   Ta’ala berfirman (artinya): “Dan orang­orang yang beriman itu bila¬   mendengar perkataan yang tidak   bermanfaat, mereka berpaling darinya, dan   mereka berkata: “Bagi kami amal­amal   kami dan bagimu amal­amalmu, semoga   kesejahteraan atas dirimu, kami tidak   ingin bergaul dengan orang­orang jahil.”  (Al Qashash: 55) Dari shahabat Abu Sa’id Al Khudri  radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah  Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang melihat kemungkaran  hendaknya dia mengingkarinya dengan  tangan. Bila ia tidak mampu maka  cegahlah dengan lisannya. Bila ia tidak  mampu maka cegahlah dengan hatinya,  yang demikian ini selemah­lemahnya  iman.” (Muttafaqun ‘alaihi) Namun bila ia ikut larut dalam perbuatan  ghibah ini berarti ia pun ridha terhadap  kemaksiatan, tentunya hal ini pun dilarang  dalam agama. Bertaubat dari Ghibah Lalu bagaimana cara bertaubat dari  perbuatan ghibah? Apakah wajib baginya  untuk memberi tahu kepada yang  dighibahi? Sebagian para ulama’  berpendapat wajib baginya untuk memberi 

tahu kepadanya dan meminta ma’af  darinya. Pendapat ini ada sisi benarnya  jika dikaitkan dengan hak seorang  manusia. Misalnya mengambil harta orang  lain tanpa alasan yang benar maka dia pun  wajib mengembalikannya.  Tetapi dari sisi lain, justru bila ia memberi  tahu kepada yang dighibahi dikhawatirkan  akan terjadi mudharat yang lebih besar.  Bisa jadi orang yang dighibahi itu justru  marah yang bisa meruncing pada  percekcokan dan bahkan perkelahian. Oleh  karena itu sebagian para ulama lainnya  berpendapat tidak perlu ia memberi  tahukan kepada yang dighibahi tapi wajib  baginya beristighfar (memohan ampunan)  kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan  menyebutkan kebaikan­kebaikan orang  yang dighibahi itu di tempat­tempat yang  pernah ia berbuat ghibah kepadanya.  Insyaallah pendapat terakhir lebih  mendekati kebenaran. (Lihat Nashiihatii  linnisaa’: 31) Materi 29 Menggapai Keberkahan Hidup Setiap orang tentu saja ingin memperoleh  keberkahan dalam hidupnya di dunia ini.  Karena itu kita selalu berdo’a dan meminta  orang lain mendo’akan kita agar segala  sesuatu yang kita miliki dan kita upayakan  memperoleh keberkahan dari Allah Swt.  Secara harfiyah, berkah berarti an nama’  waz ziyadah yakni tumbuh dan bertambah,  ini berarti Berkah adalah kebaikan yang  bersumber dari Allah yang ditetapkan  terhadap sesuatu sebagaimana mestinya  sehingga apa yang diperoleh dan dimiliki  akan selalu berkembang dan bertambah  besar manfaat kebaikannya. Kalau sesuatu  yang kita miliki membawa pengaruh  negatif, maka kita berarti tidak  memperoleh keberkahan yang diidamkan  itu.

Namun, Allah Swt tidak sembarangan  memberikan keberkahan kepada manusia.  Ternyata, Allah SWT hanya akan memberi  keberkahan itu kepada orang yang beriman  dan bertaqwa kepada­Nya. Janji Allah SWT  untuk memberikan keberkahan kepada  orang yang beriman dan bertaqwa  dikemukakan dalam firman­Nya yang  artinya: “Jikalau sekiranya penduduk  negeri­negeri beriman dan bertaqwa,  pastilah Kami akan melimpahkan kepada  mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi  mereka mendustakan (ayat­ayat Kami) itu,  maka Kami siksa mereka disebabkan  perbuatannya” (QS 7:96). Apabila manusia, baik secara pribadi  maupun kelompok atau masyarakat memperoleh keberkahan dari Allah Swt,  maka kehidupannya akan selalu berjalan  dengan baik, rizki yang diperolehnya cukup  bahkan melimpah, sedang ilmu dan  amalnya selalu memberi manfaat yang  besar dalam kehidupan. Disilah letak  pentingnya bagi kita memahami apa  sebenarnya keberkahan itu agar kita bisa  berusaha semaksimal mungkin untuk  meraihnya. Bentuk Keberkahan Secara umum, keberkahan yang diberikan  Allah SWT kepada orang­orang yang  beriman bisa kita bagi kedalam tiga  bentuk. Pertama, berkah dalam keturunan,  yakni dengan lahirnya generasi yang  shaleh. Generasi yang shaleh adalah yang kuat  imannya, luas ilmunya dan banyak amal  shalehnya, ini merupakan sesuatu yang  amat penting, apalagi terwujudnya  generasi yang berkualitas memang  dambaan setiap manusia. Kelangsungan  Islam dan umat Islam salah satu faktornya  adalah adanya topangan dari generasi yang  shaleh. Generasi semacam itu juga memiliki  jasmani yang kuat, memiliki kemandirian 

termasuk dalam soal harta dan bisa  menjalani kehidupan dengan sebaik­ baiknya. Keberkahan semacam ini telah diperoleh  Nabi Ibrahim as dan keluarganya yang  ketika usia mereka sudah begitu tua  ternyata masih dikaruniai anak, bahkan  tidak hanya Ismail yang shaleh, sehat dan  cerdas, tapi juga Ishak dan Ya’kub. Di  dalam Al­ Qur’an keberkahan semacam ini  diceritakan oleh Allah yang artinya: “Dan  isterinya berdiri (di balik tirai) lalu dia  tersenyum. Maka Kami sampaikan  kepadanya berita gembira tentang  kelahiran Ishak dan dari Ishak (akan lahir  puteranya) Ya’kub. Isterinya berkata:  "Sungguh mengherankan, apakah aku aka  melairkan anak, padahal aku adalah  perempuan seorang perempuan tua, dan ini  suamikupun dalam keadaan yang sudah  tua pula?. Sesungguhnya ini benar­benar  suatu yang sangat aneh". Para malaikat itu  berkata: "Apakahkamu merasa heran  tentang ketetapan Allah? (itu adalah)  rahmat Allah dan keberkatan­Nya,  dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait.  Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi  Maha Pemurah" (QS 11:71­73). Kedua, keberkahan dalam soal makanan  yakni makanan yang halal dan thayyib, hal  ini karena ulama ahli tafsir, misalnya Ibnu  Katsir menjelaskan bahwa keberkahan dari  langit dan bumi sebagaimana yang  disebutkan dalam firman surat Al A’raf: 96  di atas adalah rizki yang diantara rizki itu  adalah makanan. Yang dimaksud makanan  yang halal adalah disamping halal jenisnya  juga halal dalam mendapatkannya,  sehingga bagi orang yang diberkahi Allah,  dia tidak akan menghalalkan segala cara  dalam memperoleh nafkah.  Di samping itu, makanan yang diberkahi  juga adalah yang thayyib, yakni yang sehat  dan bergizi sehingga makanan yang halal 

dan tayyib itu tidak hanya mengenyangkan  tapi juga dapat menghasilkan tenaga yang  kuat untuk selanjutnya dengan tenaga  yang kuat itu digunakan untuk  melaksanakan dan menegakkan nilai­nilai  kebaikan sebagai bukti dari ketaqwaannya  kepada Allah Swt, Allah berfirman yang  artinya: Dan makanlah makanan yang  halal lagi baik dari apa yang telah Allah  rizkikan kepadamu, dan bertaqwalah  kepada Allah yang kamu beriman kepada­ Nya (QS 5:88). Karena itu, agar apa yang dimakan juga  membawa keberkahan yang lebih banyak  lagi, meskipun sudah halal dan thayyib,  makanan itu harus dimakan sewajarnya  atau secukupnya, hal ini karena Allah  sangat melarang manusia berlebih­lebihan  dalam makan maupun minum, Allah Swt  berfirman yang artinya: “Hai anak Adam,  pakailah pakaianmu yang indak di setiap  memasuki masjid, makan dan minumlah  dan janganlah berlebih­lebihan.  Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang­ orang yang berlebih­lebihan” (7:31). Ketiga, berkah dalam soal waktu yang  cukup tersedia dan dimanfaatkannya  untuk kebaikan, baik dalam bentuk  mencari harta, memperluas ilmu maupun  memperbanyak amal yang shaleh, karena  itu Allah menganugerahi kepada kita  waktu, baik siang maupun malam dalam  jumlah yang sama, yakni 24 jam setiap  harinya, tapi bagi orang yang diberkahi  Allah maka dia bisa memanfaatkan waktu  yang 24 jam itu semaksimal mungkin  sehingga pencapaian sesuatu yang baik  ditempuh dengan penggunaan waktu yang  efisien, karena salah satu karakteristik  waktu adalah tidak akan bisa kembali lagi  bila sudah berlalu, Allah berfirman yang  artinya: “Demi masa. Sesungguhnya  manusia itu benar­benar dalam kerugian,  kecuali orang­orang yang beriman dan 

mengerjakan amal shaleh dan nasihat  menasihati supaya mentaati kebenaran  dan nasihat menasihati supaya menetapi  kesabaran” (QS 103:1­3).  Karena itu, bagi seorang muslim yang  diberkahi Allah, waktu digunakan untuk  bisa membuktikan pengabdiannya kepada  Allah Swt, meskipun dalam berbagai  bentuk usaha yang berbeda, Allah  berfirman yang artinya: “Demi malam  apabila menutupi, dan siang apabila terang  benderang, dan penciptaan laki­laki dan  perempuan. Sesungguhnya usaha kamu  memang berbeda­beda. Adapun orang yang  memberikan (harta di jalan Allah) dan  bertaqwa dan membenarkan adanya pahala  yang terbaik (syurga), maka Kami kelak  akan menyiapkan baginya jalan yang  mudah.” (92:1­7). Materi 30 Kunci Keberkahan Sebagai seorang muslim, keberkahan dari  Allah untuk kita merupakan sesuatu yang  amat penting. Karena itu, ada kunci yang  harus kita miliki dan usahakan dalam  hidup ini. Sekurang­kurangnya, ada dua  faktor yang menjadi kunci keberkahan itu. 1. Iman dan Taqwa Yang Benar Di dalam ayat di atas, sudah dikemukakan  bahwa Allah akan menganugerahkan  keberkahan kepada hamba­hambanya yang  beriman dan bertaqwa kepada­Nya.  Semakin mantap iman dan taqwa yang kita  miliki, maka semakin besar keberkahan  yang Allah berikan kepada kita. Karena itu  menjadi keharusan kita bersama untuk  terus memperkokoh iman dan taqwa  kepada Allah Swt. Salah satu ayat yang  amat menekankan peningkatan taqwa  kepada orang yang beriman adalah firman  Allah yang artinya: Hai orang­orang yang  beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah 

dengan sebenar­benar taqwa dan jangan  sampai kamu mati kecuali dalam keadaan  berserah diri/muslim (QS 3:102). Keimanan dan ketaqwaan yang benar  selalu ditunjukkan oleh seorang mu’min  dalam bentuk melaksanakan perintah  Allah dan meninggalkan larangan­Nya,  baik dalam keadaan senang maupun susah,  dalam keadaan sendiri maupun bersama  orang lain. Tegasnya keimanan dan  ketaqwaan itu dibuktikan dalam situasi  dan kondisi yang bagaimananpun juga dan  dimanapun dia berada. 2. Berpedoman kepada Al­Qur’an Al­Qur’an merupakan sumber keberkahan  sehingga apabila kita menjalankan pesan­ pesan yang terkandung di dalam Al­Qur’an  dan berpedoman kepadanya dalam  berbagai aspek kehidupan, nicaya kita  akan memperoleh keberkahan dari Allah  Swt, Allah berfirman yang artinya: Dan Al­ Qur’an ini adalah suatu kitab (peringatan)  yang mempunyai berkah yang telah kami  turunkan. Maka mengapakah kamu  mengingkarinya? (QS 21:50, lihat juga QS  38:29.6:155). Karena harus kita jalankan dan pedomani  dalam kehidupan ini, maka setiap kita  harus mengimani kebenaran Al­Qur’an  bahwa dia merupakan wahyu dari Allah  Swt sehingga tidak akan kita temukan  kelemahan dari Al­Qur’an, selanjutnya bisa  dan suka membaca serta menjalankannya  dalam kehidupan sehari­hari, baik  menyangkut aspek pribadi, keluarga,  masyarakat maupun bangsa. Akhirnya  menjadi jelas bagi kita bahwa, keberkahan  dari Allah yang kita dambakan itu,  memperolehnya harus dengan berdo’a dan  berusaha yang sungguh­sungguh, yakni  dalam bentuk memantapkan iman dan 

taqwa serta selalu menjadikan Al­ Qur’an  sebagai pedoman dalam hidup ini. Materi Tambahan Halal Bi Halal Sebenarnyalah istilah Halalbihalal tidak  dikenal oleh kalangan bangsa Arab, tidak  pula ada pada zaman Nabi saw. dan para  sahabat. Karenanya, kamus bahasa Arab  juga tak mengenal istilah itu. Justru  ‘halalbihalal’ masuk dan diserap Bahasa  Indonesia dan diartikan sebagai “hal maaf­ memaafkan setelah menunaikan ibadah  puasa Ramadhan, biasanya diadakan di  sebuah tempat (auditorium, aula, dsb) oleh  sekelompok orang dan merupakan suatu   kebiasaan khas Indonesia.”  Para ulama kita terdahulu mendasarkan  kegiatan halal bihalal tersebut pada  sebuah hadits shahih dari Imam Bukhari  seperti di bawah ini: Artinya: “Barangsiapa yang berbuat  kezhaliman (kesalahan) kepada  saudaranya sehingga merendahkan  derajatnya, maka hendaklah ia meminta  halal hal tersebut dari saudaranya itu pada  hari ini.” Ada dua hal yang perlu digarisbawahi di  sini: 1. falyatahallal, yakni meminta halal,  itu berarti bukan sekedar meminta  maaf, tetapi juga harus mengembalikan  hak saudaranya yang telah ia langgar.  Jika itu berupa barang, hendaknya  dikembalikan. Ketika orang saling  meminta halal, maka terjadilah ‘halal­ halalan’; yang kemudian di­Arab­kan  menjadi ‘halal­bi­halal’. Halal dengan   halal. Acara ini kemudian berkembang 

menjadi sangat bervariasi ragam bentuk  dan acaranya hingga saat ini. 2. al­yauma, yakni pada hari ini. ‘Hari  ini’ yang dimaksud tidak lain adalah  hari raya Idul Fitri, karena menurut  sebagian riwayat, Rasulullah saw.  mengucapkan hadits itu saat hari raya  Idul Fitri. Ada pula yang mengartikan  ‘pada hari ini (juga)’. Yakni bahwa  ketika kita membuat kesalahan pada  seseorang, hendaknya kita meminta  halal kepadanya hari ini juga, jangan   ditunda­tunda.  Mengapa halalbihalal dilaksanakan pada  Syawal selepas Ramadhan? Selain dasar hadits tersebut, bahwa al­ yauma itu tidak lain adalah hari raya Idul  Fitri, para ulama mendasarkan juga pada  QS. Al­Baqarah: 133­134, bahwa ciri orang  yang bertakwa (sebagai output dari ibadah  ramadhan) salah satunya adalah al­ kaazhimiinal gaidh, yakni ‘memaafkan  kesalahan manusia.’ Karena itu, ketika  pada ramadhan kita memperbaiki  hubungan vertikal dengan Allah (hablun   minallah), maka ketika Syawal tiba  saatnya kita melengkapinya dengan  memperbaiki hubungan horisontal dengan  sesama manusia (hablun minannas), yakni  dengan cara saling memaafkan; saling  meminta halal atas kesalahan kita masing­ masing.  Maka jadilah tradisi halalbihalal  sebagaimana berkembang seperti sekarang  ini; yang khas Indonesia. “Dan diantara mereka ada orang yang berdoa : “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan periharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah [2]: 201)

Menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat yang kita mintai pertolongan adalah sebuah keharusan. Sebab, Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Setiap kejadian, Allah-lah yang menentukannya. Dia menentukan takdir setiap urusan makhluk-Nya. Karenanya, jangan heran jika setiap muslim dianjurkan berdoa kepada Allah baik dalam keadaan sempit atau pun lapang, agar kebaikan selalu ada bersamanya.muslim dianjurkan berdoa kepada Allah baik dalam keadaan sempit atau pun lapang, agar kebaikan selalu ada bersamanya. Ada sebuah doa yang sudah menjadi favorit kaum muslimin agar memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat. Setiap berdoa, kita biasanya tidak melewatkan untuk membaca doa ini. Doa ini berbunyi, “Rabbana atina fi dunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina ‘adzabannar”. Artinya, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” Para ulama memberikan keterangan berkaitan harapan setiap muslim melalui doa itu. Berkaitan dengan kalimat “fi dunya hasanah”, setidaknya ada tujuh hal yang akan diperoleh seorang muslim jika doanya dikabulkan Allah SWT. Pertama, selalu bersyukur kepada Allah. Setiap muslim yang telah memperoleh kebaikan di dunia, akan selalu bersyukur kepada Allah SWT apapun ketentuan Allah kepadanya. Saat diberi kenikmatan ia makin bersyukur dan ketika diberi musibah ia bersabar. Orang-orang yang selalu

bersyukur kepada-Nya akan terus diberi kenikmatan hidup oleh-Nya. “Lain syakartum laazidannakum”, artinya, “Apabila kalian bersyukur niscaya akan kutambah nikmat-Ku kepadamu,” kata Allah SWT dalam Al-Quran. Kedua, memiliki Setiap pendamping muslim yang yang diberi

Kelima, tidak memiliki hutang. Memiliki hutang tidaklah dilarang dalam ajaran Islam. Hanya saja, hutang bisa menyebabkan hidup seseorang kurang nyaman dan bahagia. Biasanya, orang yang memiliki hutang kurang dihargai orang lain, terlebih oleh orang yang memberikan piutang. Setiap muslim harus berusaha untuk melunasi hutang dengan sungguh-sungguh. Sebab, hutang bisa menyebabkan ditangguhkannya masuk ke surga sebelum hutangnya dilunasi, meskipun ia mati dalam jihad fi sabilillah. Keenam, ilmunya bermanfaat. Banyak orang yang

shalih/shalihah.

kebaikan di dunia akan diberi pendamping yang baik. Seorang laki-laki akan mendapatkan istri yang shalihah. Dan begitu pula seorang wanita akan mendapatkan suami yang shalih. Ketiga, memiliki anak yang shalih dan shalihah. Memiliki anak yang shalih dan shalihah adalah harapan setiap orang tua muslim. Anak yang shalih atau shalihah adalah investasi terbaik setiap muslim. Keshalihan seorang anak akan memberikan manfaat kepada keluarga, bangsa dan agamanya. Sudah tentu, pahalanya akan mengalir deras kepada kedua orang tuanya. Keempat, memiliki harta yang berkah. Harta yang berkah bukanlah berati banyak melimpah ruah. Keberkahan harta tidak terkait dengan jumlah. Tetapi, harta yang berkah merupakan harta yang bisa memberikan manfaat bagi pemiliknya dan orang lain. harta tersebut diperoleh dengan cara halal dan digunakan untuk keperluan fi sabilillah. Harta itu akan menjadi jalan amal shalih bagi pemiliknya. Tentu saja, akan lebih baik bila kita memiliki harta yang banyak dan berkah dibandingkan sedikit tapi tidak berkah.

memiliki ilmu, namun hanya sedikit ilmunya bermanfaat. Orang-orang yang mendapatkan kebaikan di dunia (fi dunya hasanah), jika memiliki ilmu maka ilmunya akan bermanfaat bagi orang lain dan agama. Ketujuh, umurnya berkah. Usia yang berkah tidak terkait dengan usia yang panjang. Seseorang yang umurnya berkah selalu menjadikan tiap ada detik waktu yang disia-siakannya. Sepanjang usianya ia gunakan untuk beribadah, beramal dan berdakwah. Ia tebarkan manfaat kepada siapa pun. Ia bergaul dengan orang-orang shalih agar kecipratan keberkahan hidup. Baginya, tidak ada waktu kecuali beramal, beramal, dan beramal. Untuk itu, berdoalah selalu kepada Allah SWT agar diberi kebaikan dan keselamatan dalam kehidupan ini. Teruslah bersyukur atas semua nikmat-Nya dan bersabar terhadap musibah-Nya. Bekerjalah untuk memperoleh rezeki yang halal dengan cara yang halal. Didiklah putera puteri kita agar menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah. Tebarkanlah selalu kebaikan agar usia kita berkah dan bermanfaat 13 Alasan Agar Sholat Lebih Khusuk

Dari  banyak ibadah  kita  kepada Allah  SWT,  ada satu ibadah yang merupakan kunci dari  seluruh   ibadah   dan   amal   yang   lain   dimana  kalau kita berhasil melakukannya maka akan  terbuka   ibadah   atau   amal   yang   lain.   Kunci  dari segala ibadah adalah  “Amal yang pertama kali ditanyai Allah pada seorang hamba di hari kiamat nanti adalah sholat. Bila sholatnya dapat diterima, maka akan diterima seluruh amalnya, dan bila sholatnya ditolak, akan tertolah seluruh amalnya.”Pada  kenyataannya, bagaimana amalan sholat kita  pada   umumnya?   Seperti   yang   disabdakan  oleh   Rasulullah   SAW: “Akan datang satu masa atas manusia, mereka melakukan sholat namun pada hakikatnya mereka tidak sholat.” Banyak dari kita menganggap bahwa sholat adalah suatu perintah bukan suatu kebutuhan. Jadi sholat sering dianggap suatu beban dan hanya bersifat menggugurkan kewajiban. Betapa sering kita rasanya malas untuk sholat, sholat sambil memikirkan pekerjaan, sholat secepat kilat tanpa tumakninah, mengakhirkan waktu sholat atau bahkan lupa berapa rakaat yang telah dilakukan. Padahal kunci amal ibadah kita adalah sholat. Jadi, kita bisa memasang strategi dalam hidup dengan memperbaiki sholat kita terlebih dahulu sehingga amalan yang lain akan mengikuti. Dan hal ini butuh suatu kesungguhan untuk mencapainya. Tahap awal untuk mencapai kekhusukan sholat adalah mengetahui kegunaan bagi diri kita apabila kita dapat melakukan sholat dengan khusuk. Berikut adalah 13 alasan mengapa kita perlu khusuk dalam sholat: 1. Mendapatkan keberuntungan yang besar, yaitu masuk dalam surga firdaus. Hal ini tersebut dalam QS. Al Mukminun 2 dan 11: 2. Solusi terhadap permasalahan kita. “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi

orang-orang yang khusyu’” (QS. Al Baqarah 45) Bila ada problema hidup maka sholatlah, bila ada keiinginan sholatlah, bila akan marah sholatlah. Maka ketika akan bertemu dua kekuatan utama pada perang Badar, Rosululloh SAW sholat dan bermunajat kepada Allah SWT agar diberikan kemenangan dalam perang. 3. Mencegah perbuatan keji dan mungkar (QS. Al Ankabut 45) Karena sholat khusuk hanya bisa dilaksanakan dengan menghadirkan perasaan dekatnya Allah SWT, maka bila akan berbuat maksiyat akan ingat akan Allah SWT. 4. Melembutkan hati. Terkadang hati kita menjadi keras karena kesibukan dalam bekerja atau menghadapi masalah kehidupan. Dengan sholat yang khusuk, hati menjadi lebih lunak karena kita seringnya kita berserah diri dan merendah dihadapan Allah SWT. 5. Memupuk kesabaran. Dengan sholat yang dilaksanakan dengan tumakninah, maka diperlukan waktu beberapa saat untuk sholat; tidak dengan tergesa-gesa. Hal ini akan memupuk rasa kesabaran kita. 6. Menghapuskan dosa. Didalam suatu hadits disebutkan bahwa dosa-dosa kecil kita akan dihapus diantara sholat 5 waktu. Tentu saja hal ini bila kita menghayati bacaan didalam duduk diantara dua sujud rabbighfirli dan wa’fu’anni. 7. Menyembuhkan penyakit. Prof. M. Sholeh dari Universitas Airlangga Surabaya telah meneliti bahwa sholat malam bisa meningkatkan imunitas tubuh kita. halat bisa mencegah naik turunnya hormon kortisol yang berperan sebagai indikator stres. Sedangkan stres merupakan salah satu faktor utama pemicu penyakit, termasuk kanker. Yang sederhana saja, bila kita sedang pening atau sakit gigi maka sholatlah dengan khusuk maka rasa sakit tersebut akan hilang. Hal lain yang

perlu diperhatikan adalah ada pendapat bahwa sholat juga merupakan sarana terbaik untuk bermeditasi. 8. Menunggu-nunggu waktu sholat. Karena sholat adalah kesempatan untuk bermunajat, berdialog dan mencurahkan hati ke Yang Maha Kuasa, maka waktu sholat akan selalu ditunggu. Pekerjaan rumah, rapat atau aktifitas lain akan diberhentikan 10-15 menit sebelum waktu sholat sehingga memberi kesempatan untuk sholat berjamaah di masjid. Perasaan untuk menunggu waktu sholat adalah seperti seorang perjaka yang menunggu waktu untuk bertemu yang dicinta. 9. Mempersiapkan sholat dengan sebaiknya. Karena kita merasa akan bertemu dengan Yang Maha Agung, maka pakaian akan diperhatikan seperti baju koko, kopyah dan sarung digunakan yang bersih. Tidak lupa minyak wangi juga dipakai agar harum ketika bertemu dengan Yang Maha Pencipta. 10. Menangis dalam sholat. Kesejukan dalam sholat akan membawa hati untuk bersyukur dan mohon ampun kepada Allah SWT. Tidak terasa air mata akan mengalir bahkan ketika sholat Dhuhur di masjid kantor. 11. Merasa sedih ketika sholat akan selesai. Tertanam rasa ingin berlama-lama dengan Yang Maha Pengasih. Ketika tasyahud akhir rasanya tidak ingin menyelesaikan sholat. 12. Merasakan nikmatnya sholat di masjid. Akan terasa suasana sholat di masjid lebih indah dibandingkan sholat di rumah. Sehingga, keinginan untuk sholat berjamaah di masjid akan selalu ada. Maka tidak heran ketika sahabat Umar ra menjual kebunnya dikarenakan terlupa sholat jamaah di masjid karena sibuk mengurus kebunnnya. 13. Tetap khusuk dalam berzikir. Terkadang dzikir yang kita lantunkan setelah sholat

fardhu hanya mengalir sebatas di mulut saja tanpa penghayatan dalam hati kita. Setelah sholat dengan khusuk, maka kekhusukan tersebut akan berlanjut hingga kita berdzikir. Allahumma a’inni ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatika. Ya Allah, bantulah aku dalam mengingatMu dan dan bersyukur kepadaMu dan perbaiki ibadahku.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->