ISLAMIC STUDIES VERSUS NON-ISLAMIC STUDIES

Analisis terhadap Munculnya Dikotomi Keilmuan dan Upaya Integrasi
Imelda Fajriati * Abstract: The dichotomy between Islamic studies and non-Islamic studies, or between religious and secular sciences, represents a long debated discourse. It emerged as a result of the misunderstanding conducted by Muslim generations of post al-Ghaza>li> of the categorisation of science into fard} „ayn and fard} kifa>yah kinds, or „ulu>m al-di>n and ul>um al-dunya>. This categorisation has given rise to the backwardness of Muslims in intellectual capability and mastery of science and technology. Attempts to reunderstand the discourse of dichotomy of science and to promote integration between sciences in light of Islamic principles appear to be the pressing need of Muslim intellectuals to fulfill. Kata kunci: Dikotomi, Islamic Studies, non-Islamic studies, Integrasi.

* Penulis adalah Dosen Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Itulah yang dalam dunia filsafat dikenal dengan dialektika keilmuan: tesis. No. kebenaran itu bersumber dari wahyu (teks). baik di dunia maupun di akhirat. dimana ilmu agama dipisahkan dari ilmu umum. Muatan nilai bukan pada alatnya. Ilmu dalam kapasitasnya sebagai ilmu pada dasarnya haruslah tidak berjenis kelamin dan terkotak-kotak. Montgomery Watt. mengeksplorasi dan mendekonstrusksi sebuah kebenaran. Ilmu pada dasarnya seharusnya kosong dari muatan nilai. Islamic Philosophy and Theology (Edinburgh University Press. anti-tesis dan sintesis. 7. Akal dengan kecanggihan dan kepekaannya bisa mengkonstruksi.42 Islamic Studies versus non-IslamicStudies Pendahuluan Semenjak ilmu umum „dikeluarkan‟ dari hegemoni pemangku gereja di Eropa. akal harus tunduk pada kebenaran wahyu. 1 PARAMEDIA. semua kebenaran besifat sementara sampai ada kebenaran baru yang membantahnya. Pertarungan menjadi pemegang kebenaran mutlak dan sejati antara pengetahuan yang dilahirkan oleh orang-orang di luar gereja (ilmu umum) dan para pemegang otoritas ketuhanan di dunia (ilmu agama) bisa dilihat dari bagaimana usaha dan upaya dari masing-masing pihak untuk mencari dukungan dan simpati dari masyarakat luas. 2 W. 2003). Sementara bagi kalangan ilmuwan. tapi Mehdi Nakosteen. kalangan non-agamawan (saintis). Ilmu hanyalah alat yang sangat bergantung pada siapa yang mempergunakan. Vol. yang dikenal dengan Renaissance dan Aufklarung. Tidak ada kebenaran yang bersifat mutlak dan abadi. sedangkan akal hanya berperan sebagai alat untuk menelusuri dan menemukan kebenaran tersebut. April 2006 . Peristiwa ini juga masyhur dengan sebutan sekularisasi ilmu pengetahuan. Bagi kalangan agamawan. dengan berbagai eksperimen intelektualnya yang kreatif dan inovatif. Sejarah panjang dikotomi keilmuan itu melahirkan keprihatinan yang cukup mendalam pada sebagian golongan. atau dengan bahasa lain. Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat: Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam (Surabaya: Risalah Gusti. pertarungan menjadi pemenang dari masing-masing semakin meruncing hingga abad duapuluh ini. Kalangan agamawan mempergunakan kekuatan sakralitas ajaran ideologinya untuk memperkokoh klaim mereka bahwa hanya ilmu agama yang bisa menyelamatkan dan memberikan kebahagiaan bagi manusia. ilmu agama hanya mengurusi persoalan manusia dengan tuhannya (private) sementara di luar wilayah itu adalah otoritas ilmu umum (public)1. senantiasa menyajikan temuantemuan baru yang secara nalar sulit dibantah sebagai sebuah kebenaran. 2. 1987). Sementara itu. dengan akal sebagai penentu dari kebenaran itu.2 Perbedaan paradigma berfikir dari kedua kubu itu melahirkan simpulan kebenaran yang berbeda. Bila terjadi pertentangan. Mereka mencoba untuk mempertautkan kembali keberadaan dua entitas yang sebenarnya „tidak bersalah‟ itu. kebenaran itu sifatnya tunggal.

Kejayaan peradaban mereka berangkat dari ajaran Islam yang menempatkan ilmu pada posisi yang tinggi. mereka tidak termotivasi untuk mengembangkannya. Rasulullah mewajibkan setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan untuk menuntut ilmu (“T{alab al-`ilm fari>d}ah `ala> kulli Muslim”). istilah `ulu>m al-di>n dan `ulu>m al-dunya> muncul di tengahtengah kehidupan umat Islam. Allah juga menjelaskan keutamaan dalam berilmu. Sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. ulama besar abad 11 M merasa perlu mengingatkan mereka terhadap pentingnya menghidupkan kembali ilmu agama dengan menulis kitab yang terkenal bernama Ih}ya>` Ulu>m al-Di>n. ijtihad olah pikir dan berbagai uji empiris. dikenal empat unsur pokok yang masuk dalam rumpun ilmu-ilmu agama.3 Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa sekarang ini meluas hingga melahirkan banyak cabang. Al Ghazali. PARAMEDIA. 7. dan aljabar. Vol. bahwa kehidupan mereka sudah terbuai oleh kenikmatan kehidupan duniawi. A History of Islamic Societies (New York: Cambridge University Press. dan fard} kifa>yah untuk `ulu>m al-dunya>. seperti Ilmu Kalam. Sementara ilmu-ilmu umum diklasifikasikan ke dalam tiga nomenklatur keilmuan. Filsafat.Imelda Fajriati 43 pada pemakainya. dan humanities (non-Islamic studies). Mantiq (atau dapat digolongkan dalam Islamic studies). Menurut Fazlur Rahman. social science. vol. Pembagian ilmu ini disertai dengan hukum mencarinya. antara lain Fiqh. Ilmu tidak perlu diperalat sebagai kendaraan ideologi tertentu dan atau berbagai kepentingan sesaat dan sempit lainnya. Lihat Abu> H{a>mid Muh}ammad al-Ghaza>li>. hingga dapat mengurangi keseriusan mereka di bidang agama. April 2006 . Mereka giat melakukan pengamatan/observasi. Kegiatan ini berjalan lama hingga menjadi sebuah tradisi. sebaliknya untuk ilmu-ilmu umum. I. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi sebagian kalangan ulama.5 Konsekuensinya. Oleh karena itulah. ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan dalam sejarah perkembangan peradabannya. 5 4 QS. cetakan ke-3 (Beirut. yaitu natural science. baik dalam ilmu agama ataupun ilmu-ilmu umum.4 Demikian inilah yang memacu dan memotivasi kalangan umat untuk senantiasa memperdalam dan mengembangkan ilmu pengetahuan. astronomi. orang-orang Islam ramairamai menuntut ilmu agama. Misalnya. Fard} `ayn hukumnya untuk menuntut `ulu>m al-di>n. Lapidus. diantaranya adalah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan memiliki ilmu pengetahuan. Ih}ya‟ `Ulu>m al-Di>n. dihasilkan kemajuan dalam berbagai ilmu. 1991). terutama bagian “Kita>b al-`Ilm”. 1991). umat mulai terbiasa dengan mendapatkan kemudahan dalam kehidupan mereka sebagai buah dari ilmu pengetahuan. Sejak itu. Tafsir-H{adi>th dan Akhlak-Tasawwuf (Islamic studies). No. al-Muja>dalah: 11. pembedaan ilmu 3 Ira M. Dalam peradaban umat Islam. Libanon: Da>r al Fikr. kedokteran (yang digolongkan dalam non-Islamic studies). Tauhid. Dalam agama Islam. 2.

2. Muncul anggapan bahwa setiap keilmuan itu memiliki wilayahnya sendiri yang khas. Di antara ulama tersebut adalah al-Ghazali. masa ini dikenal sebagai masa penanaman fondasi dasardasar keilmuan dalam Islam. America: The University of Chicago Press. Kemudian. Kemudian. Di tengah-tengan kemajuan keilmuan tersebut muncul kekhawatiran dari ulama bahwa uamt Islam dapat terbuai oleh kehidupan duniawi dengan mengabaikan kehidupan akhirat. Ih}ya‟ `Ulu>m al-Di>n. Vol. berperan besar atas munculnya dikotomi ilmu di kalangan umat Islam. 7. Dimulai sejak Muhammad SAW diutus menjadi rasul. April 2006 . dilanjutkan pada masa al-Khulafa>’ alRasyidi>n sebagai masa pertumbuhan keilmuan. pembagian ilmu ini disalahpahami oleh generasi Islam berikutnya. Tulisan ini hendak menguraikan dikotomi ilmu antara Islamic studies dan non-Islamic studies. Isu-isu yang sentral dalam pembahasan tulisan ini adalah mengapa dan bagaimana dikotomi ilmu. al-Ghazali merasa terpanggil untuk mengingatkan mereka akan pentingnya ilmu-ilmu agama. masa Dawlah Umai>yah sebagai masa perkembangan keilmuan. 7 al-Ghaza>li>. dapat muncul dalam kehidupan umat Islam. yang seolah-olah tidak membutuhkan disiplin ilmu yang lain.44 Islamic Studies versus non-IslamicStudies secara tajam antara religious sciences (`ulu>m al-shar>i‟ah) atau traditional sciences dan rational atau secular sciences (`ulu>m al-`aqli>yah atau ghayr shari>`ah) yang sikap terhadapnya sedikit demi sedikit semakin akut. 1984). Berangkat dari adanya kekhawatiran terhadap umat Islam yang dipandang lebih mementingkan duniawi daripada ukhrawi. diantaranya dengan mengingatkan mereka untuk kembali kepada ilmu-ilmu agama. serta bagaimana upaya integrasi atas dua keilmuan tersebut? Sejarah Ringkas Munculnya Islamic Studies dan non-Islamic Studies Sebagaimana diketahui dari perspektif sejarah. 6 PARAMEDIA. No. sebab utama munculnya dikotomi ilmu di kalangan umat Islam adalah adanya pembagian ilmu secara tajam antara religious scences (`ulu>m al-shari>‟ah) atau traditional sciences dan rational atau secular sciences (`ulu>m al-`aqliyah atau ghayr al-shari>`ah).6 Kurangnya memahami pemikiran ulama dalam pembedaan `ulu>m aldi>n dan `ulu>m al-dunya> serta implementasinya menjadikan dikotomi ilmu semakin meruncing. khususnya Islamic studies dan non-Islamic studies.7 Setelah itu. Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition (Chicago. muncul istilah `ulu>m fard} `ayn atau `ulu>m al-di>n dan `ulu>m fard} kifa>yah atau `ulu>m al-dunya> di tengahtengah kehidupan umat Islam. perjalanan keilmuan dalam kehidupan umat Islam telah mengalami berbagai masa. 15-54. dan masa Dawlah `Abbasi>yah sebagai masa kemajuan keilmuan dalam Islam. Menurut Fazlur Rahman. Fazlur Rahman.

Kedua. apologis.9 Dominasi teks yang demikian juga menjadi fakta dan pijakan dasar pengembangan keilmuan yang saat ini terjadi. 13-25. No. Vol. maka orang Islam harus memprioritaskan sains-sains agama yang merupakan kunci kejayaan hidup di akhirat. Alasan terakhir. 1993). 2003). sedangkan bagi filsuf atau saintis hanya tersedia lowongan kerja di istana saja. dogmatis dan polemis. 10 9Ali H}arb. PARAMEDIA. Kenyataan ini nantinya berimplikasi pada “perlakuan” terhadap ilmu-ilmu lain non-Islamic studies. Ali Harb juga Nasr Abu Zayd sampai-sampai menyatakan bahwa yang membentuk peradaban Islam adalah teks. adanya penyebaran sufisme yang pada umumnya bersikap memusuhi sains-sains rasional dan seluruh intelektualisme. M. para pemegang ijazah sains-sains keagamaan dapat memperoleh pekerjaan sebagai qadi atau mufti. Fakta keterikatan yang `sangat mendalam` dengan dunia teks ini jelas mempengaruhi konstruksi epistemologi yang dipakainya.10 yang sering diidentikkan dengan sikap mental yang ofensif. The second world menjadi obyek persoalan yang harus diselesaikan oleh the first world. 31. 33-34. Karena dominannya. Ketiga. dengan hulu dan muara akhirnya adalah teks al-Qur‟a>n dan h}adi>th yang dipandang sudah final dan `tertutup`. `A<bid al-Ja>biri>. 2. Dalam pengamatan AlJabiri. Bunyat al-„Aql al-„Arabi> (Beirut: Markaz al-Thaqa>fi> al- `Arabi>. teks menjadi nomor satu dan segala daya intelek yang dimiliki manusia hanya boleh-tepatnya diperbolehkan-bekerja untuk mendukung dan menjustifiksi teks. struktur epistemik yang ada dibalik pemikiran umat Islam yang berporos pada teks ini disebut sebagai bayani. Moh}ammed Arkoun dan yang lainnya menyatakan bahwa Islamic studies yang berkembang selama ini di dunia Islam ternyata berporos pada teks.8 Ontologi dan Epistemologi Islamic Studies Berbagai penelitian dan kajian yang dilakukan oleh para cendikiawan muslim kontemporer seperti H}asan H}anafi>. dan peradaban Islam adalah peradaban teks. `A<bid al-Ja>biri>. M. 8 Rahman. 7. Dalam epistemologi ini. sikap tokoh-tokoh Islam sekaliber al-Ghazali yang tidak saja menentang sains semata tetapi juga filsafat sebagaimana yang dikemukakan oleh al-Farabi dan Ibn-Sina. adanya pandangan yang secara terus menerus diungkapkan bahwa karena ilmu itu luas sedangkan hidup ini singkat.Imelda Fajriati 45 Rahman mengemukakan empat alasan terhadap kesimpulannya di atas. Sunarwoto Dema (Jogjakarta: LkiS. yakni teks. Dunia teks dalam Islamic studies begitu dominan. maka selain dunia teks dalam the second world yang harus dipahami dan dituntun sesuai dengan “apa maunya” teks. Karena fokus utamanya adalah teks. Pertama. terj. Hermeneutika Kebenaran. Islam and Modernity. April 2006 .

Paradigma Integrasi Islamic Studies dan non-Islamic Studies Dua Asumsi besar yang perlu diperhatikan dalam mengintegrasikan ilmuilmu keislaman dan non-keislaman adalah sebagai berikut: Secara prinsip sebenarnya umat Islam itu meyakini bahwa teks Islam itu tidak hanya qawli>yah (Kalam Allah yang dikodifikasi/al-Qur‟a>n). Cukup jelas. yang berporos pada teks. maka jelas –sebagaimana pandangan sebagian besar mufassir–perintah tersebut adalah untuk membaca teks kawni>yah. karena proses sejarah tertentu. kondisi sosial-budaya-politik yang terpapar di hadapan Nabi saat itu. 2. Lahan keilmuan yang beragam tersebut masuk dalam kelompok non-Islamic studies. April 2006 . yaitu al-Qur‟a>n. Kenyataan saling keterkaitan antara Islamic studies dan non-Islamic studies dalam menggarap dimensi realitas kehidupan manusia tersebut mengimplikasikan asumsi bahwa tidak mungkin satu disiplin keilmuan terbebas atau membebaskan diri sama sekali dari disiplin–disiplin keilmuan yang lain. dan lain sebagainya. ilmu-ilmu yang masuk katagori non-Islamic studies hanyalah pelengkap dan justifikasi dari ilmu Islamic studies. segala realitas: alam semesta. dimensi politiknya digarap oleh ilmu politik. Karena teks qawli>yah yang dimaksud belum terkodifikasi. Dimensi sosial manusia digarap oleh sosiologi. karena sama-sama teks yang berasal dari Allah. diperlukan banyak dimensi ilmu pengetahuan untuk membantu dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya. demikian pula kenyataan bahwa terdapat saling keterkaitan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Hal ini mengindikasikan bahwa. Nabi Muhammad sudah „diperintahkan‟ untuk membaca (iqra‟). Implikasinya. dimensi `hidup` manusia digarap oleh biologi. baik eksplorasi terhadap teks qawli>yah maupun kawni>yah sebenarnya memiliki derajat yang sama. bahwa dalam kehidupan umat manusia. Bahkan di awal „turun‟-nya teks qawli>yah yang kemudian dikodifikasi. Meskipun demikian. Sebagaimana kenyataan bahwa realitas kehidupan manusia itu senantiasa dinamis dan berkembang.46 Islamic Studies versus non-IslamicStudies Ilmu-ilmu non-Islamic Studies dan Hubungannya dengan Islamic Studies Corak Islamic studies adalah bayani. Yang disebut “Islam” dan sah menduduki posisi sebagai satu-satunya “firman Allah” hanyalah teks qawli>yah. Vol. sekaligus mengkerdilkan disiplin keilmuan itu sendiri. Teks-teks kawni>yah dipandang sebagai pelengkap PARAMEDIA. tetapi juga kawni>yah (realitas). ragam sisi kehidupan manusia itu diolah dan digarap oleh lahan keilmuan yang juga beragam. visi qawli>yah dan kawni>yah sebagaimana disebut di atas mulai memudar di kalangan umat Islam. dimensi psikologis manusia digarap oleh psikologi. dan segala disiplin keilmuan lain dimaksudkan sebagai jalan untuk mengukuhkan kajian-kajian Islamic studies yang dimaksud. No. Secara akademis. Mencukupkan diri dengan satu bidang keilmuan saja dan membuta sama sekali dengan bidang keilmuan yang lain hanya akan mendorong kepada sempitnya persepsi terhadap kehidupan manusia. 7.

masalah. Ini perlu bagi sarjana muslim agar dapat menguasai masing-masing disiplin ilmu tersebut. No. sebenarnya baik kesadaran agama maupun kesadaran ilmiah itu sebenarnya berada dalam kesadaran sejarah. yaitu: (1) Apa yang disumbangkan oleh pengetahuan mulai dari al-Qur‟a>n diturunkan hingga kaum modernis keseluruh persoalan yang dikemukakan oleh disiplin ilmu modern? (2) Seberapa besar sumbangan warisan Islam pada disiplin ilmu modern jika dibandingkan dengan prestasi yang dicapai ilmu-ilmu Barat? Atau sampai dimanakah tingkat pemenuhan. Warisan Islam harus dikuasai dengan cara yang sama. Segala kebenaran dan pemahaman manusia –baik pada dataran ilmiah-sains maupun pada dataran spiritual-agama– berada dalam logika sejarahnya sendiri. 11 Muzaffar Iqbal. kekurangan. Langkah kedua adalah survei disiplin ilmu. Akan tetapi. warisan Islam harus dianalisis dari perspektif masalah masa kini. Langkah keempat adalah analisis warisan Islam. Vol. “partikular” dan “human”. Hal ini dilaksanakan dengan mengemukakan tiga pertanyaan. yang diperlukan di sini adalah bunga rampai mengenai warisan Islam yang menyinggung masing-masing disiplin tersebut. Solusi Integrasi Islamic Studies dan non-Islamic Studies Solusi terhadap problem dikotomi ilmu atas Islamic studies dan non-Islamic studies yang telah lama melanda umat Islam menurut Ismail Raji Al-Faruqi dapat dilakukan melalui cara islamisasi ilmu pengetahuan. Sebagaimana pemahaman terhadap realitas dan pemahaman terhadap agama itu dinamis. maka yang pertama diperlukan adalah kesadaran untuk dinamis. Modern Culture from a Comparative Perspective (New York: State of University of New York Press. tidak akan pernah ada satu pemahaman yang bisa diterapkan untuk segala ruang dan waktu. Langkah kelima adalah menentukan relevansi khusus antara Islam dan disiplin-disiplin itu. terbuka untuk menerima perubahan. prinsip. dan lebih sering dipandang sebagai “justifikasi” bagi teks qawli>yah. Wilfred Cantwell Smith. Langkah ketiga adalah penguasaan warisan Islam. sebagaimana terbukti dari populernya jenis tafsi>r bi al-`ilm terhadap al-Qur‟a>n di titik sejarah tertentu kehidupan umat Islam. Langkah pertama adalah penguasaan disiplin ilmu modern atau yang dapat dikelompokkan ke dalam kelompok non-Islamic studies. dan tema. April 2006 .11 Mengikuti analisis W. Smith. dan kelebihan warisan Islam dibandingkan dengan visi dan jangkauan disiplin ilmu Barat modern tersebut? Dan (3) apabila ada bidang-bidang persoalan Islam and Science (Hampshire: Ashgate. Disiplin ilmu modern harus dibagi menjadi katagori.12 Implikasinya. 1997). 7.Imelda Fajriati 47 saja.C. suatu survei pengetahuan harus ditulis mengenai masing-masing disiplin ilmu itu. Begitu bungai rampai selesai dipersiapkan. Islamisasi ilmu pengetahuan dilaksanakan melalui dua belas langkah secara sistematis. 2002). metodologi. 2. Setelah katagori disiplin ilmu itu dibagi-bagi. 12 PARAMEDIA. 203. sehingga sama-sama bersifat “terbatas”. 9-17.

Dengan demikian. Langkah kedelapan adalah survey terhadap masalah-masalah utama yang dihadapi umat. sumbangan warisan Islam dalam setiap bidang aktivitas manusia harus dianalisis dan ditentukan relevansinya dengan masa kini. “Paradigma Islam”. buku teks perguruan tinggi harus ditulis untuk menyusun kembali disiplin ilmu ke dalam kerangka Islam. Suatu kajian yang serupa. menerangi dan memperkaya umat Islam. 14 Ibid. dan eksistensi humaniora dalam al-Qur‟a>n. 2. “Pengilmuan Islam adalah proses”. 88. Vol. Dari sini. yaitu “Pengilmuan Islam”.48 Islamic Studies versus non-IslamicStudies yang sedikit disentuh atau diluar jangkauan warisan Islam.. Menurut Kuntowijoyo. kearah manakah upaya Muslim selanjutnya diusahakan untuk mengisi ketidaksesuaian dalam merumuskan kembali itu dan memperluas visinya?13 Langkah keenam adalah penilaian kritis terhadap disiplin ilmu modern.. tetapi proaktif. 15 Ibid. No. Begitu keseimbangan antara warisan Islam dan disiplin ilmu modern berhasil dicapai. 88. dan “Islam sebagai ilmu” adalah proses sekaligus hasil. Langkah kesebelas adalah menyusun kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam. orang Islam harus melihat realitas melalui Islam. ekonomi. Langkah ketujuh adalah penilaian kritis terhadap warisan Islam. Karya intelektual yang dihasilkan dari langkah-langkah sebelumnya harus digunakan untuk membangunkan. sosial. gerakan intelektual umat Islam tidak lagi sebagai gerakan reaktif. PARAMEDIA. Setelah relevansi Islam dengan masing-masing disiplin ditentukan. 1984). moral dan spiritual dari masyarakat muslim. harus dinilai dan dianalisis dari sudut pandang Islam. Pada tahap ini. para sarjana Muslim sudah siap memadukan warisan Islam dengan disiplin-disiplin ilmu modern dan mendobrak kemandekan selama berabad-abad. warisan pengetahuan akan sarat dengan prestasi-prestasi ilmu modern dan mulai memindahkan perbatasan pengetahuan ke cakrawala yang lebih jauh dari yang telah digambarkan oleh disiplin-disiplin ilmu modern. Suatu kajian sistematis tentang masalah-masalah politik. al-Faruqi. dan “Islam sebagai ilmu”. Dengan kata lain dari teks ke konteks. Langkah kesembilan adalah survey masalah-masalah kemanusiaan. intelektual budaya. April 2006 . pendidikan. 7. “Paradigma Islam” adalah hasil. Begitu juga.15 Kuntowijoyo mengemukakan sebuah teori yang disebut sebagai upaya “Pengilmuan Islam”. Islam sebagai teks (al-Qur‟a>n dan al-Sunnah) dihadapkan pada realitas. 13 Ismail R. Langkah keduabelas adalah menyebarkan ilmu pengetahuan Islam.14 Langkah kesepuluh adalah analisis dan sintesis kreatif. dan untuk mendorong gerakan intelektual umat sekarang ini melangkah lebih jauh. 88. Teori ini direkomendasikan untuk mengganti teori ”Islamisasi ilmu pengetahuan”. Kuntowijoyo membedakan tiga istilah yang dapat membingungkan. tetapi lebih terpusat pada seluruh umat manusia juga harus dibuat. Islamisasi Pengetahuan (Bandung: Pustaka.

politis dan gender). Pemikiran manusia (ilmu dan filsafat) telah menjadi `petunjuk bagi orang yang percaya` mengganti kedudukan agama yang sebenarnya. Integralisasi ialah pengintegrasian kekayaan keilmuan manusia dengan wahyu (petunjuk Allah dalam al-Qur‟a>n beserta pelaksanaanya dalam Sunnah Nabi). 52-53. mengapa orang Islam harus melihat realitas melalui Islam? Menurut ilmu budaya dan sosiologi. yang mengajarkan bahwa agama (termasuk Islam) terbatas pada urusan individual.Imelda Fajriati 49 Kemudian.. karena mereka belajar dari ilmu-ilmu sekuler barat. Maka sewajarnya jika umat Islam pun berbuat sebaliknya: menjadikan Islam sebagai ilmu.. Demikian pula. Paradigma baru ilmuilmu integralistik itu kedudukannya akan mirip dengan kedudukan ilmu-ilmu sosial Marxistis terhadap ilmu-ilmu sosial barat yang dianggap kapitalis. Obyektifikasi ialah menjadikan pengilmuan Islam sebagai rahmat untuk semua orang. yaitu integralisasi dan obyektifikasi. 52. keagamaan. Lebih-lebih mereka yang belajar secara `ilmiah` melalui Marxisme yang melihat agama sebagai candu. sedangkan ilmu-ilmu integralistik adalah produk bersama seluruh manusia beriman untuk semua manusia. Dengan pengilmuan Islam dimaksudkan supaya sifat subjektif Islam itu berubah menjadi sifat obyektif ilmu. Ilmuilmu integralistik tidak ingin mengganti ilmu sekuler.18 Menurut Kuntowijoyo ilmu-ilmu sekuler sebagai normal science. tetapi sekedar ingin berada 16 Kontowijoyo. simbol. 18 Ibid.19 Dengan demikian. orang melihat raja melalui simbol-simbol: mitos Nyi Lara Kidul. 2.17 Ada dua metodologi yang dipakai dalam proses pengilmuan Islam. sifat obyektif mengemuka. mengalami kemandekan dan bias di sana-sini (filosofis. tetapi melalui tabir (kata. Sifat subjektif disembunyikan. Islam sebagai Ilmu: Epistemologi. dan larangan-larangan. Vol. 1. budaya.. Metodologi dan Etika (Jakarta: Teraju. Di daerah Kejawen. No. Ilmu-ilmu integralistik tidak memandang rendah ilmu-ilmu sekuler. Ilmu-ilmu sekuler merupakan produk bersama seluruh manusia. persetujuan masyarakat). 17 Ibid. peradaban. konsep tirai besi. sedangkan ilmu-ilmu integralistik yang sedang dirintis sebagai revolusi. Banyak orang Islam sendiri yang ragu-ragu bahwa Islam adalah sebuah sistem. konsep. Karena ilmu-ilmu sekuler sedang terjangkiti krisis. dan anti dunia merdeka. etnis.16 Menurut Kuntowijoyo ilmu-ilmu sekuler tidak semuanya obyektif. April 2006 . 7. ekonomis. PARAMEDIA. tata cara sembah. 1. upacara labuhan. ilmu-ilmu integralistik memang diperlukan demi kepentingan keberlangsungan eksistensi substansi ilmu-ilmu sekuler sendiri. sastra Babad Tanah Jawi. realitas itu tidak dilihat secara langsung oleh orang. 19 Ibid. 2004). tetapi sebaliknya ingin menghormati dengan mengkritisi dan meneruskan perjalanannya. orang Amerika melihat Sovyet Uni Komunis melalui simbol-simbol: film tentang KGB dan tentara merah.

karena jika tidak hati-hati akan mudah terbawa arus kearah radicalism-fundamentalism. H}ad}a>rat al-nas}s} (baya>ni>) memang tidak lagi bisa berdiri sendiri.50 Islamic Studies versus non-IslamicStudies bersama. April 2006 . jika tidak dipandu oleh h}ad}a>rat al-falsafah.20 Menurut Amin Abdullah.. akan tidak punya karakter yang berpihak pada kehidupan manusia dan lingkungan hidup. ”Desain Pengembangan Akademik IAIN Menuju UIN Sunan Kalijaga: Dari Pola Pendekatan Dikotomis-Atomistik ke Arah Integratif-Interdisiplinary. merupakan ilmu yang menyatukan wahyu Tuhan dan temuan pikiran manusia. 59. Ilmu-ilmu integralistik juga ingin bekerja untuk mendukung kelangsungan hidup dan masa depan manusia. terlepas sama sekali dari h}ad}a>rat al-`ilm (teknik. yaitu ilmu empiris yang menghasilkan sains dan teknologi. H}}ad}a>rat al-`ilm. 7. Vol. h}ad}a>rat alfalsafah (budaya filsafat) akan terasa kering jika tidak menjauh dari problem-problem yang ditimbulkan dan dihadapi oleh h}ad}a>rat al-`ilm. Jika diskemakan rancang bangun keilmuan baru sebagai berikut:21 H}ad}a>rat alH}ad}a>rat alNas}s} `Ilm H}ad}a>rat al-Falsafah Skema di atas dapat disederhanakan menjadi: H}ad}a>rat al-Nas}s} 20 Ibid. 21 PARAMEDIA. pikiran Barat sekuler berhasil menghasilkan ilmu ekonomi. BNI Syari`ah. Bank Mandiri Syari`ah. Begitu pula. etik yang bersifat transformatif-liberatif. Ilmu integralistik. Integralisme akan menyelesaikan konflik antara sekularisme ekstrem dan agama-agama radikal dalam banyak sektor. Sementara itu. 2. 16 Maret. Misalnya. BMT dan sebagainya. No. lalu muncul lembaga-lembaga keuangan syariah seperti Bank Mu`amalah Indonesia (BMI). integrasi keilmuan perlu memperhatikan prinsipprinsip dasar berikut.” (Makalah disampaikan dalam Diskusi Panel ”Refleksi 21 tahun Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga. kemudian dimasuki norma-norma wahyu Tuhan menjadi ilmu ekonomi syari`ah. Ilmu ini tidak akan mengucilkan Tuhan (sekularisme) atau mengucilkan manusia. 2004). h}ad}a>rat al-nas}s} dalam kombinasinya dengan h}ad}a>rat al-`ilm tanpa mengenal humaniora kontemporer sedikitpun juga berbahaya. komunikasi) dan juga tidak bisa terlepas dari h}ad}a>rat al-falsafah (etik). Untuk itu diperlukan h}ad}a>rat al-falsafah.” Yogyakarta. begitu juga sebaliknya. Amin Abdullah.

Imelda Fajriati 51 H}ad}a>rat al-`Ilm H}ad}a>rat al-Falsafah Penutup Dari berbagai uraian yang dipaparkan dimuka. problem dikotomi ilmu dalam Islam dapat diatasi dengan beberapa cara. Sebagai reaksi terhadap kenyataan ini. pengilmuan Islam (menurut Kuntowijoyo) dan pengawinan atau interkoneksitas antara h}ada>rat alnas}s}. dapat ditarik beberapa kesimpulan. Vol. atau `ulu>m al-di>n dan `ulu>m al-dunya>. h}ad}a>rat al-`ilm dan h}ad}a>rat al-falsafah (menurut Amin Abdullah). No. munculnya dikotomi ilmu dalam Islam disebabkan adanya kesalahpahaman generasi Islam setelah al-Ghazali terhadap pembagian ilmu menjadi `ulu>m fard} `ayn dan `ulu>m fard} kifa>yah. latar belakang munculnya dikotomi ilmu Islamic studies dan non-Islamic studies adalah adanya kekhawatiran para ulama atas umat yang terbuai kehidupan duniawi dengan kemajuan ilmu. Kedua. Ketiga. 7. April 2006 . atau `ulu>m al-di>n dan `ulu>m al-dunya>. yakni: Islamisasi ilmu pengetahuan (menurut Ismail Raji al-Faruqi). PARAMEDIA. Pertama. 2. maka diperlukan pembedaan pengertian ilmu menjadi `ulu>m fard} `ayn dan `ulu>m fard} kifa>yah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful