Hasil Penelitian

Studi Korelasional Antara Kecerdasan Adversity dan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Kepala Sekolah

Studi Korelasional Antara Kecerdasan Adversity Dan Motivasi Berprestasi Dengan Kinerja Kepala Sekolah Di Lingkungan Yayasan BPK PENABUR Jakarta
Imma Helianti Kusuma* )

Abstrak
enelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kecerdasan adversity dan motivasi berprestasi Kepala Sekolah dengan kinerja Kepala Sekolah. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kecerdasan adversity (X1) dan motivasi berprestasi (X2). Variabel terikat adalah kinerja Kepala Sekolah. Penelitian dilakukan di Jakarta pada tahun ajaran 2002/2003. Metode penelitian adalah survei yang bersifat korelasional dengan alat pengumpul data angket. Populasi terdiri dari Kepala TK, SD, SLTP, SMU yang seluruhnya berjumlah 44 orang. Jumlah ujicoba 10 orang diambil secara acak dengan memperhitungkan proporsi jumlah sekolah setiap jenjang. Jumlah sampel adalah 30 orang yang diambil secara acak dengan memperhitungkan proporsi jumlah sekolah setiap jenjangnya.Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi sederhana, uji signifikansi t, analisis korelasi parsial, uji signifikansi parsial dengan teknik analisis regresi ganda. Secara umum penelitian menyimpulkan bahwa kecerdasan adversity dan motivasi berprestasi Kepala Sekolah adalah berhubungan positif dan signifikan dengan kinerja Kepala Sekolah.

P

Kata kunci: Kecerdasan adversity, motivasi berprestasi, kinerja kepala sekolah

Abstract
The objective of this research is to know whether there is a relation of the headmaster’s adversity quotient and the headmaster’s achievement motivation with the headmaster’s working performance. Independent variables are headmaster’s adversity quotient (X1) and the headmaster’s achievement motivation (X2), while dependent variable is the headmaster’s work performance level (Y). This research was conducted during the academic year of 2002/2003 in Jakarta. The correlationship survey method is used in this research and data collected using questionnaire. Population consists of the headmasters of TK (kindergarten), SD (primary school), SLTP (lower secondary school), SMU (upper secondary school) with the total member of 44 head maters. The number of tryout respondents are 10 persons with proportional randomize sampling. The number of sample are 30 persons with proportional randomize sampling. The data analysis techniques used are simple correlation, significant t test, partial correlation analy*) Imma Helianti Kusuma, Kepala Bidang Evaluasi Akademis BPK PENABUR Jakarta.
Jurnal Pendidikan Penabur - No.02 / Th.III/ Maret 2004

17

dan motivasi berprestasi.III/ Maret 2004 . Kepala Sekolah tidak luput dari berbagai hambatan/tantangan/kesulitan. Dia tidak akan puas dengan apa yang didapat/ dicapainya. Kepala Sekolah tersebut akan berusaha mencari cara dan melakukan hal-hal yang dapat meningkatkan mutu sekolahnya. Latar Belakang Masalah Kedudukan Kepala Sekolah sebagai pimpinan pada sekolah yang dipimpinnya merupakan posisi sentral dan strategis dalam memainkan peranannya untuk membantu individu dan kelompok untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan berusaha meningkatkan mutu secara terus-menerus maka berarti pula meningkatkan kinerja dari Kepala Sekolah itu. Dia juga akan selalu berusaha terus untuk mendapatkan apa yang diinginkan.No. Rumusan Masalah Hal-hal yang akan diteliti dalam penelitian ini berkaitan dengan ketiga hal berikut ini. Pembatasan Masalah Mengingat betapa banyaknya masalah yang saling berkaitan dan dapat mempengaruhi kinerja Kepala Sekolah. Kepala Sekolah harus mampu menyiapkan segala sesuatu dalam meningkatkan mutu sekolahnya. C. Apakah terdapat hubungan antara kecerdasan adversity dengan kinerja Kepala Sekolah? Apakah terdapat hubungan antara motivasi berprestasi dengan kinerja Kepala Sekolah? Apakah terdapat hubungan antara kecerdasan adversity dan motivasi berprestasi secara bersama-sama dengan kinerja Kepala Sekolah? 18 Jurnal Pendidikan Penabur . Dalam dirinya ada keinginan untuk meningkatkan apa yang sudah dicapai. Dalam peningkatan kinerja Kepala Sekolah diperlukan beberapa kemampuan antara lain kemampuan mengubah hambatan menjadi peluang. Dengan demikian salah satu upaya peningkatan mutu sekolah dilakukan dengan cara peningkatan kinerja Kepala Sekolah.Studi Korelasional Antara Kecerdasan Adversity dan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Kepala Sekolah sis.02 / Th. A. Keinginan yang timbul dalam diri Kepala Sekolah untuk selalu berprestasi atau biasa disebut dengan motivasi berprestasi akan mendorong Kepala Sekolah untuk selalu memberikan yang terbaik bagi pengelolaan sekolah yang dipimpinnya. Dengan mempunyai kemampuan mengubah hambatan/tantangan/kesulitan menjadi peluang yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan mutu sekolahnya maka berarti pula Kepala Sekolah dapat meningkatkan kinerjanya. Oleh karena itu Kepala Sekolah perlu mempunyai kemampuan mengubah hambatan/tantangan/kesulitan menjadi peluang. Kepala Sekolah menjadi kekuatan penggerak kehidupan sekolah. multiple regression analysis. maka dalam penelitian ini masalah dibatasi dengan dua faktor yang mempengaruhi kinerja Kepala Sekolah yaitu Adversity Quotient (kemampuan mengubah hambatan/tantangan/kesulitan menjadi peluang) yang selanjutnya menggunakan istilah Kecerdasan Adversity dan motivasi berprestasi. partial significant test. Dalam mengelola sekolah. B. Kepala Sekolah yang mempunyai motivasi berprestasi akan dapat meningkatkan kinerjanya. In general the research shows that here is a positive significant correlation of headmaster’s adversity quotient and headmaster’s achievement motivation with headmaster’s performance. Dengan demikian Kepala Sekolah memegang kendali untuk mengarahkan segala sumber yang ada untuk mencapai tujuan tersebut.

Ini mendekati arti kinerja yang kedua sebagaimana didefinisikan oleh Whitmore adalah suatu perbuatan. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui (a) ada-tidaknya hubungan kecerdasan adversity dengan kinerja Kepala Sekolah. dan (3) kemampuan kerja. (4)sumbangan kepada kemajuan karyawan dan(5)Perilaku lain. Untuk mengetahui tinggi-rendahnya kinerja seseorang. adalah (1) sesuatu yang dicapai. 3)lingkungan kerja yang tidak mendukung. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kinerja. Seiring dengan ini. dikatakan suatu sistem yang digunakan untuk menilai Jurnal Pendidikan Penabur . (2) prestasi yang diperlihatkan. perlu dilakukan penilaian kinerja. mengemukakan bahwa ada empat faktor yang mempengaruhi kinerja. Landasan Teori 1. Dalam definisi mereka. Hal ini sesuai dengan pendapat Suprihanto (1988: 7) yang mengemukakan bahwa hasil kerja seorang karyawan selama periode tertentu dibandingkan dengan berbagai ukuran misalnya standar. suatu prestasi. suatu pameran umum keterampilan. Berbeda dengan Suprihanto (1988: 7) tentang penilaian kinerja. 2)kurangnya insentif atau tidak tepatnya insentif diberikan. tetapi itu kedengarannya seperti melakukan kebutuhan yang paling minim untuk berhasil. terbitan Balai Pustaka tahun 1993. Kinerja adalah pengalihbahasaan dari kata bahasa Inggris “performance”.III/ Maret 2004 19 . yaitu: 1)kurangnya keterampilan dan pengetahuan.Studi Korelasional Antara Kecerdasan Adversity dan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Kepala Sekolah D. kinerja menetapkan standar-standar tertinggi orang itu sendiri.02 / Th. Hakekat Kinerja Pengertian kinerja menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke 2. selalu standar-standar yang melampaui apa yang diminta atau diharapkan orang lain. E.dan 4)tidak adanya motivasi. Dari pandangan di atas maka dapat dikatakan bahwa kinerja adalah suatu hasil kerja seseorang berdasarkan standar kinerja yang telah ditentukan. (3)kerjasama. (2)inisiatif. ke 2 penulis tersebut jelas menekankan pengertian prestasi sebagai “hasil” atau “apa yang keluar” (outcomes) dari sebuah pekerjaan dan kontribusi mereka pada organisasi. Hal ini tentu saja merupakan ekspresi potensi seseorang. Dharma (1985: 1) berpendapat bahwa prestasi kerja adalah sesuatu yang dikerjakan atau produk/jasa yang dihasilkan atau diberikan oleh seorang atau sekelompok orang. (b) ada-tidaknya hubungan antara motivasi berprestasi dengan kinerja Kepala Sekolah. serta (c) ada-tidaknya hubungan antara kecerdasan adversity dan motivasi berprestasi secara bersamasama dengan kinerja Kepala Sekolah. Kinerja yang nyata jauh melampaui apa yang diharapkan. Bernardin dan Russel dalam Ruky (2001: 14-16) memberikan definisi tentang performance sebagai berikut: “performance is defined as the record of outcomes produced on a specified job function or activity during a specified time period”. target/sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama.No. Lain halnya Whitmore (1997: 104) yang mendefinisikan kinerja sebagai pelaksanaan fungsi-fungsi yang dituntut dari seseorang. Rossett dan Arwady (1987) seperti yang dikutip Haryono. Adapun dimensi meliputi: (1)pencapaian sasaran pekerjaan. Rao (1986: 120) berpendapat bahwa penilaian kinerja adalah sebuah mekanisme untuk memastikan bahwa orang-orang pada tiap tingkatan mengerjakan tugas-tugas menurut cara yang diinginkan oleh para majikan mereka.

dan inisiatif. manajer lembaga pendidikan. 2000: 2). makin kuat tekad kita meraih sukses. Hakekat Kecerdasan Adversity Dalam menjalankan tugas. kejujuran. tolok ukur. Yang ketiga. disiplin. Jalan taktis tersebut berguna untuk melakukan terobosan penting. Komponen penilaian kinerja Kepala Sekolah yang sesuai dengan tugas dan fungsinya yang meliputi Kepala Sekolah sebagai pendidik. Menurut Stoltz (2000: 8). kelompok yang suka mencari tantangan. kualitas pekerjaan. manajer. 2. (2)AQ adalah suatu ukuran untuk mengetahui respon terhadap kesulitan. Sedangkan Maxwell (2001: 36) mengatakan bahwa ketekunan membawa kepada daya tahan. (2)kewajiban. 2001:1). penyelia. suksesnya pekerjaan dan hidup terutama ditentukan oleh Adversity Quotient (AQ). Penilaian itu mencakup aspek yang tidak hanya dilihat dari segi fisiknya tetapi meliputi berbagai hal seperti kemampuan kerja. ketaatan. inovator. low-AQ dinamakan Quitters. apakah Anda terperosok dalam keadaan yang kacau.02 / Th. moderat-AQ dinamakan campers (Maragoni.No. supervisor. dan motivator. (3)ketaatan. kelompok yang melarikan diri dari tantangan. yang digambarkan melalui lima indikator yaitu: (1)kompetensi. tantangan dan ketidakpastian harian? Atau. Berbeda dengan Mortel (2000: 6) yang berpendapat bahwa makin besar harapan kita terhadap diri sendiri. Senada dengan ini Ruky (2001: 48) menetapkan sejumlah faktor untuk menentukan penilaian yaitu kuantitas pekerjaan. dan (3)AQ adalah serangkaian peralatan yang memiliki dasar ilmiah untuk memperbaiki respon terhadap kesulitan. administrator.III/ Maret 2004 . dan peralatan yang praktis merupakan sebuah kesatuan yang lengkap untuk memahami dan memperbaiki komponen dasar meraih sukses. Ada indikator yang merupakan gejala dari kesulitan menurut Stoltz (2003: 3334) yang diungkapkan dalam bentuk pertanyaan. Di saat yang krisis. (4)Kejujuran. 2000:9) yaitu: (1)AQ adalah suatu kerangka kerja konseptual yang baru untuk memahami dan meningkatkan semua segi kesuksesan. Daya tahan tersebut akan memberikan kesempatan untuk meraih sukses. ketika kesulitan menggunung. dan motivator Yang dimaksud kinerja dalam penelitian ini adalah hasil kerja berdasarkan penilaian tentang tugas dan fungsi jabatan sebagai pendidik. AQ mempunyai tiga bentuk (Stoltz. prakarsa. kepemimpinan dan hal-hal khusus sesuai dengan bidang dan level pekerjaannya. hubungan kerja. semangat menurun. agar kesuksesan menjadi nyata. Dikatakan juga bahwa AQ berakar pada bagaimana kita merasakan dan menghubungkan dengan tantangan-tantangan. seseorang sangat perlu melakukan langkah-langkah yang memungkinkan yang bersangkutan mengambil jalan yang paling taktis.dan (5)kerjasama. administrator. serta menyesuaikan nilai inti dan 20 Jurnal Pendidikan Penabur . pemimpin. Agar kesuksesan menjadi nyata maka Stoltz (2003: 9) berpendapat bahwa gabungan dari ke tiga unsur di atas yaitu pengetahuan baru. inovator.Studi Korelasional Antara Kecerdasan Adversity dan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Kepala Sekolah dan mengetahui apakah seorang karyawan telah melaksanakan pekerjaannya masingmasing secara keseluruhan. Orang yang memiliki AQ lebih tinggi tidak menyalahkan pihak lain atas kemunduran yang terjadi dan mereka bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah (Welles. Yang kedua. apakah Anda bangkit untuk menghadapi tantangan secara mendalam dan menunjukkan kebesaran? Apakah Anda tidak merasa takut terhadap gangguan. Stoltz membagi tiga kelompok manusia yang diibaratkan sedang dalam perjalanan mendaki gunung yaitu pertama. high-AQ dinamakan Climbers.

dan (4)keuletan. Oulletle dalam Stoltz (2000: 86-87) mengemukakan bahwa orang yang tahan banting tidak terlalu menderita terhadap akibat negatif yang berasal dari kesulitan. Senada dengan itu Wetner yang dikutip Stoltz (2000: 89). Terry berpendapat motivation is the desire within an individual that stimulates him or her to action. Menurut Stoltz (2000: 86-92) dalam menghadapi kesulitan maka yang diperlukan adalah tahan banting dan keuletan.Studi Korelasional Antara Kecerdasan Adversity dan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Kepala Sekolah tujuan yang sebelumnya demikian disanjung-sanjung? Menyalahkan orang lain. (3)para peraih prestasi memandang kegagalan sebagai insiden-insiden tersendiri. Stoltz (2003: 52) mengemukakan bahwa seorang yang sukses pernah mengalami hambatan yang luar biasa dalam hidupnya. Yang dimaksud dengan kecerdasan adversity dalam penelitian ini adalah sikap seseorang dalam mengubah hambatan/tantangan/kesulitan menjadi peluang. Selain itu Mortel (2000: 20) juga berpendapat bahwa kegagalan hanyalah suatu pengalaman yang akan menghantar untuk mencoba berusaha lagi dengan pendekatan yang berbeda. Orang yang mengubah kegagalannya menjadi batu loncatan mampu memandang kekeliruan atau pengalaman negatifnya sebagai bagian dari hidupnya. belajar. mengatakan bahwa anak yang ulet adalah perencana. Keadaan ini yang terus mengobarkan semangat dalam diri orang tersebut. adakalanya dihadapkan pada kegagalan. hambatan. antara lain adalah George R. belajar darinya dan kemudian maju terus. mengambil risiko. (2)para peraih prestasi memandang kegagalan sebagai sementara sifatnya. produktivitas. dan keuletan. ketekunan. dan kawan-kawannya mengutarakan bahwa motivation refers to the drive and effort Jurnal Pendidikan Penabur . Ada tujuh kemampuan yang dibutuhkan untuk mengubah kegagalan menjadi batu loncatan yaitu: (1)para peraih prestasi pantang menyerah dan tidak jemu-jemunya mencoba karena tidak mendasarkan harga dirinya pada prestasi. (5)para peraih prestasi memfokuskan perhatian pada kekuatan-kekuatannya. Mortel (2000: 5) mengemukakan kegagalan ialah suatu proses yang perlu dihargai. (4)para peraih prestasi memiliki ekspektasi yang realistik.02 / Th. (2)optimis.III/ Maret 2004 21 . namun mempunyai semacam sikap suka tantangan. mengeluh. orang yang mampu menyelesaikan masalahnya dan orang yang mampu memanfaatkan peluang. (3)ketekunan. mengelak tanggung jawab.No. Hakekat Motivasi berprestasi Beberapa pengertian mengenai motivasi seperti yang dikutip oleh Moekijat (1983: 10). 2001: 45–69). menghindari risiko dan menolak untuk berubah? Dalam melakukan suatu kegiatan tidak selamanya semuanya berjalan lancar. yang ditandai dengan empat indikator yaitu (1)penilaian diri positif. 3. Sifat tahan banting dalam diri manusia merujuk pada kemampuan menghadapi kondisi-kondisi kehidupan yang keras. kreativitas. motivasi. Harold Koontz. dan kesulitan. dan (7)para peraih prestasi mudah bangkit kembali (Maxwell. Seiring dengan itu Maxwell (2001:20) mengungkapkan bahwa perbedaan antara orang yang berprestasi biasa-biasa saja dengan orang yang prestasinya luar biasa adalah persepsi mereka tentang kegagalan serta bagaimana respon mereka terhadap kegagalan. merangkul perubahan. Menurut Stolzt (2000: 93) ada beberapa faktor yang diperlukan untuk mengubah kegagalan menjadi suatu peluang yaitu daya saing. (6)para peraih prestasi menggunakan berbagai pendekatan dalam meraih prestasinya.

dan peluang yang ada. pernyataan ketegangan (tension states). Motivasi menurut Duncan dalam Purwanto (1995: 75) berarti setiap usaha yang disadari untuk mempengaruhi perilaku seseorang agar meningkatkan kemampuannya secara maksimal untuk mencapai tujuan organisasi. kekuatan respons. Murray dalam Winardi (2001: 81) merumuskan kebutuhan akan prestasi sebagai keinginan untuk melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit.No. Teori motivasi prestasi (achievement motivation) dari McClelland mengatakan seorang pekerja memiliki energi potensial yang dapat dimanfaatkan tergantung pada dorongan motivasi. dan kegigihan tingkah laku. Pertama sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat. dan (4)berusaha melakukan sesuatu dengan cara-cara baru dan kreatif. Energi ini akan dimanfaatkan oleh karyawan karena didorong oleh kekuatan motif dan kebutuhan dasar yang terlibat. Kemudian Cambell dan kawan-kawan menambahkan rincian dalam definisi tersebut dengan mengemukakan bahwa motivasi mencakup di dalamnya arah atau tujuan tingkah laku. Kedua. adalah suatu usaha yang dapat menyebabkan seseorang tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendaki atau mendapat kepuasan atas perbuatan tersebut. Hoy dan Miskel (Purwanto. yang digambarkan melalui dua indikator yaitu internal dan eksternal. Menurut Vroom dalam Purwanto (1995: 72). Orang yang termotivasi untuk berprestasi.Studi Korelasional Antara Kecerdasan Adversity dan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Kepala Sekolah to satisfy a want or goal. situasi. dan (3)kebutuhan akan kekuatan (Hasibuan. Manifestasi dari motivasi berprestasi akan terlihat pada beberapa ciri perilaku seperti: (1)mengambil tanggung jawab pribadi atas perbuatanperbuatannya. (2)mencari umpan balik tentang perbuatannya. mengidentifikasi mereka yang berprestasi tinggi adalah bahwa mereka menginginkan lebih banyak umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah (Winardi. Sedangkan motivasi diri menurut Hidayat (2001: 2). dan nilai insentif yang terlekat pada tujuan. 22 Jurnal Pendidikan Penabur . McClelland mengelompokkan tiga kebutuhan manusia yang dapat memotivasi gairah bekerja yaitu (1)kebutuhan akan prestasi. (2) kebutuhan akan afiliasi. 2001: 111-112).III/ Maret 2004 . (3)memilih risiko yang moderat atau sedang dalam perbuatannya. Yang dimaksud dengan motivasi berprestasi dalam penelitian ini adalah dorongan seseorang untuk mengerjakan suatu tugas dengan sebaik-baiknya karena kebutuhan yang didasarkan pada kerangka acuan keberhasilan. seperti misalnya kemujuran. dorongan. orang yang berprestasi tinggi juga menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri. dan bukan karena faktor-faktor lain. motivasi mengacu pada suatu proses mempengaruhi pilihan-pilihan individu terhadap bermacam-macam bentuk kegiatan yang dikehendaki. memiliki tiga macam ciri umum sebagai berikut. harapan keberhasilan. 2001: 85). atau mekanisme-mekanisme lainnya yang memulai dan menjaga kegiatan yang diinginkan ke arah pencapaian tujuan-tujuan pribadi. kebutuhan. Teori motivasi berprestasi dikemukakan oleh David McCelland. Bagaimana energi ini dilepaskan dan digunakan tergantung pada kekuatan dorongan motivasi seseorang dan situasi serta peluang yang tersedia.02 / Th. 1995: 72) mengemukakan bahwa motivasi sebagai kekuatan yang kompleks. Ketiga. Teori ini berpendapat bahwa karyawan mempunyai cadangan energi potensial.

kemampuan mengubah hambatan menjadi peluang (kecerdasan adversity) Kepala Sekolah erat hubungannya dengan kinerja Kepala Sekolah. kesulitan dan hambatan yang sewaktu-waktu dapat muncul. Ketika Kepala Sekolah berusaha dengan segala kemampuannya dan memberikan yang terbaik untuk meraih sukses menemui hambatan/kesulitan bahkan kegagalan. Kerangka Berpikir 1. 2. 3. dan ini berarti berpengaruh pada kinerja Kepala Sekolah. berbuat atau melakukan sesuatu dalam pemenuhan kebutuhannya. Dengan demikian. Jadi dapat diduga terdapat hubungan positif antara motivasi berprestasi dengan kinerja Kepala Sekolah. Seseorang yang mempunyai kecerdasan adversity rendah dan karenanya tidak mempunyai kemampuan untuk bertahan dalam kesulitan. Semakin tinggi motivasi berprestasi Kepala Sekolah maka semakin tinggi pula kinerja Kepala Sekolah. Semakin tinggi kecerdasan adversity Kepala Sekolah maka semakin tinggi pula kinerja Kepala Sekolah. Sementara kinerja yang tinggi dari Kepala Sekolah dapat membawa berkembangnya sekolah tersebut untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. maka dimungkinkan untuk mengatasi hambatan/kesulitan dalam rangka mencapai tujuan atau meraih sukses. Jurnal Pendidikan Penabur . karena dapat mengatasi hambatan.No. Motivasi berprestasi Kepala Sekolah akan terlihat dari usaha-usaha Kepala Sekolah dalam mengemban tugasnya dan akan berupaya untuk memberikan yang terbaik dan berusaha secara maksimal. Jika Kepala Sekolah mempunyai motivasi berprestasi maka ia akan mengerahkan segala usahanya untuk meraih prestasi atau memberikan yang terbaik. potensinya akan tetap kecil untuk meraih sukses. Kepala Sekolah dituntut untuk mampu mengatasi segala permasalahan. Hubungan antara kecerdasan adversity dengan kinerja Kepala Sekolah Kecerdasan adversity adalah kemampuan seseorang mengubah hambatan menjadi peluang.Studi Korelasional Antara Kecerdasan Adversity dan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Kepala Sekolah F. Jadi dapat diduga bahwa terdapat hubungan positif antara kecerdasan adversity dengan kinerja Kepala Sekolah.III/ Maret 2004 23 . Dengan mempunyai motivasi berprestasi maka Kepala Sekolah akan selalu berupaya bekerja dengan sebaik-baiknya dan akan berusaha secara maksimal. Jika Kepala Sekolah mempunyai kecerdasan adversity tinggi. kesulitan dalam kerjanya. Hubungan antara Kecerdasan Adversity dan Motivasi Berprestasi secara bersama-sama dengan Kinerja Kepala Sekolah. Dalam lembaga pendidikan/sekolah faktor Kepala Sekolah merupakan bagian yang penting dalam menentukan keberhasilan sekolah. Hal ini tercermin dalam kinerja mereka yang tinggi. Apabila Kepala Sekolah tidak dapat mengatasi semua hambatan. Hubungan antara motivasi berprestasi dengan kinerja Kepala Sekolah Motivasi adalah dorongan yang timbul dari diri seseorang untuk bertindak. dan kesulitan yang ada maka akan mempengaruhi pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Jika motivasi seseorang untuk mencapai sesuatu tujuan semakin tinggi maka semakin tinggi pula usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Sebaliknya seseorang yang mempunyai kecerdasan adversity tinggi akan berkembang pesat. Oleh karena itu motivasi berprestasi Kepala Sekolah erat hubungannya dengan kinerja Kepala Sekolah.02 / Th.

Terdapat hubungan positif antara kecerdasan adversity dengan kinerja Kepala Sekolah. Lokasi. H. Artinya semakin tinggi motivasi berprestasi Kepala Sekolah. 1. semakin tinggi pula kinerjanya. berikut ini dirumuskan beberapa hipotesis penelitian. Hubungan Antarvariabel X1 X2 Keterangan Y = Kinerja Kepala Sekolah X1 = Kecerdasan Adversity X2 = Motivasi Berprestasi 24 Jurnal Pendidikan Penabur . Waktu. penyelia (supervisor). maka semakin tinggi juga kinerjanya. G.02 / Th.SLTP. Pengajuan Hipotesis Berdasarkan kerangka berpikir yang diajukan di atas. Artinya semakin tinggi kecerdasan adversity dan motivasi berprestasi Kepala Sekolah secara bersamasama. inovator.III/ Maret 2004 < Y < < . 3. Metodologi Penelitian 1. dan SMU.No. Terdapat hubungan positif antara kecerdasan adversity dan motivasi berprestasi secara bersama-sama dengan kinerja Kepala Sekolah. Dalam penelitian ini variabel yang diteliti adalah: Variabel terikat: Kinerja Kepala Sekolah dilambangkan dengan Y Variabel bebas: Kecerdasan Adversity dilambangkan dengan X1 dan Motivasi Berprestasi dilambangkan dengan X2 Adapun hubungan antar variabel X1 dengan Y. semakin tinggi pula kinerjanya. Sedangkan pengumpulan data dilaksanakan mulai bulan Agustus sampai dengan bulan September 2002. Metode penelitian adalah survei yang bersifat korelasional.SD. Terdapat hubungan positif antara motivasi berprestasi dengan kinerja Kepala Sekolah. X2 dengan Y maupun X1 dan X2 secara bersama-sama dengan Y dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 1. 2. motivator. administrator. Metode dan Variabel Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di 44 sekolah di bawah naungan BPK PENABUR Jakarta meliputi TK. Jadi dapat diduga terdapat hubungan positif antara kecerdasan adversity dan motivasi berprestasi secara bersama-sama dengan kinerja kepala sekolah. manajer. Artinya semakin tinggi kecerdasan adversity Kepala Sekolah.Studi Korelasional Antara Kecerdasan Adversity dan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Kepala Sekolah Kepala Sekolah yang mempunyai kemampuan mengubah hambatan menjadi peluang (kecerdasan adversity) dan mempunyai motivasi berprestasi yang tinggilah yang dapat meningkatkan kinerjanya dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik.

4)Kejujuran. Definisi Operasional Kinerja adalah hasil kerja berdasarkan penilaian terhadap seseorang tentang tugas dan fungsi jabatannya sebagai pendidik. sampel dan ujicoba instrumen dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 1. Teknik Pengumpulan Data untuk Setiap Variabel I. inovator.Studi Korelasional Antara Kecerdasan Adversity dan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Kepala Sekolah 2. manajer lembaga pendidikan. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa populasi penelitian mempunyai kesamaan dalam penilaian kinerja. supervisor. Teknik Pengumpulan Data Tabel 2. Sampel. Populasi. administrator.No. dengan rentang skornya 1-5. dan SMU BPK PENABUR Jakarta. administrator. 5)Kerjasama yang pengukurannya secara semantic deferential Sumber datanya diambil dari Kepala Jenjang. manajer lembaga pendidikan. 3)Ketaatan. dan motivator. 2)Kewajiban. inovator. yang digambarkan melalui 5 indikator yaitu: 1)Kompetensi. Jumlah dari populasi. dan motivator b. SD. Definisi Konseptual Kinerja adalah hasil kerja berdasarkan penilaian terhadap seseorang tentang tugas dan fungsi jabatannya sebagai pendidik. supervisor. Jurnal Pendidikan Penabur . Jumlah Populasi.III/ Maret 2004 25 . Sampel dan Ujicoba 3.02 / Th. dan Teknik Sampling Populasi penelitian ini adalah semua Kepala Sekolah jenjang TK. Instrumen Penelitian 1. SLTP. Variabel Kinerja a.

2)optimis. Variabel Kecerdasan Adversity a. maka dilakukan pengujian validitas dan pengujian reliabilitas.III/ Maret 2004 . 3)ketekunan.02 / Th. yang pengukurannya secara skala Likert Sumber data adalah dari Kepala Sekolah. 4)keuletan. Dari instrumen valid itu ternyata indeks reliabilitasnya adalah sebesar 0. Sedangkan validitas konstruk dilakukan dengan iterasi orthogonal. Validitas isi dilakukan dengan face validity. Kalibrasi Untuk mengetahui apakah instrumen penelitian yang digunakan benar-benar valid dan reliabel. c.05 yaitu sebesar 0.9107.9769. Uji validitas terdiri dari 2 jenis yaitu validitas isi dan validitas konstruk. Sedangkan validitas konstruk dilakukan dengan iterasi orthogonal.00.No. Kalibrasi Untuk mengetahui apakah instrumen penelitian yang digunakan benar-benar valid dan reliabel. Dari instrumen valid itu ternyata indeks reliabilitasnya sebesar 0. Definisi operasional Kecerdasan Adversity adalah sikap seseorang dalam mengubah hambatan (tantangan) menjadi peluang.Studi Korelasional Antara Kecerdasan Adversity dan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Kepala Sekolah c. Perhitungannya dilakukan dengan menggunakan alat bantu komputer dengan program SPSS (Statistical Product and Service Solution) under windows versi 10. 26 Jurnal Pendidikan Penabur . Dengan jumlah responden untuk ujicoba adalah 10 maka didapat r kriteria sebagai pedoman untuk menerima atau menolak butir instrumen dengan taraf signifikansi 0. yang pengukurannya secara skala Likert Sumber datanya dari Kepala Sekolah.632.05 yaitu sebesar 0. Definisi Konseptual Kecerdasan Adversity adalah sikap seseorang dalam mengubah hambatan (tantangan) menjadi peluang b. Validitas isi dilakukan dengan face validity.00. Definisi Konseptual Motivasi berprestasi adalah dorongan seseorang untuk mengerjakan suatu tugas dengan sebaik-baiknya karena kebutuhan yang didasarkan pada kerangka acuan keberhasilan. dengan rentang skor 1-5. Perhitungannya dilakukan dengan menggunakan alat bantu komputer dengan program SPSS (Statistical Product and Service Solution) under windows versi 10. Definisi Operasional Motivasi berprestasi adalah dorongan seseorang untuk mengerjakan suatu tugas dengan sebaik-baiknya karena kebutuhan yang didasarkan pada kerangka acuan keberhasilan yang digambarkan melalui dua indikator yaitu indikator internal dan eksternal. Dengan jumlah responden untuk ujicoba adalah 10 maka didapat r kriteria sebagai pedoman untuk menerima atau menolak butir instrumen dengan taraf signifikansi 0. 2. maka dilakukan pengujian validitas dan pengujian reliabilitas. Variabel Motivasi Berprestasi a. 3. Uji validitas terdiri dari 2 jenis yaitu validitas isi dan validitas konstruk. yang ditandai dengan 4 indikator yaitu 1)penilaian diri positif. dengan rentang skornya 1-5. b.632.

Uji Validitas terdiri dari 2 jenis yaitu validitas isi dan validitas konstruk.00. Pengujian ini dimaksudkan untuk melihat apakah persamaan regresi ganda tersebut berarti atau tidak untuk menjelaskan populasi.02 / Th. maka terlebih dahulu diuji persyaratan analisisnya yaitu dengan uji normalitas dari Lilliefors. Dari instrumen valid itu ternyata indeks reliabilitasnya sebesar 0. Analisis Korelasi Sederhana dengan Uji Signifikansi t Analisis korelasi sederhana ini dilakukan untuk menguji arah hubungan antara variabel kecerdasan adversity (X1) dengan variabel kinerja (Y). Keberartian korelasi untuk kedua hipotesis tersebut dicari dengan memakai uji signifikansi t. maka model persamaan regresi ganda yang digunakan adalah: Y = a0 + a1X1 + a2X2.Studi Korelasional Antara Kecerdasan Adversity dan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Kepala Sekolah c. K.5750 Perhitungannya dilakukan dengan menggunakan alat bantu komputer dengan program SPSS (Statistical Product and Service Solution) under windows versi 10. Hipotesis Statistik Sesuai dengan masalah yang diteliti. Pengujiannya menggunakan rumus korelasi Product Moment. Korelasi parsial yang dicari adalah 1) korelasi parsial antara variabel kecerdasan adversity (X1) dengan variabel kinerja (Y) dengan mengontrol variabel motivasi berprestasi (X2).632.III/ Maret 2004 27 . Rumus yang digunakan adalah R. Sedangkan validitas konstruk dilakukan dengan pendekatan Guttman.05 yaitu sebesar 0. Sebelum dilakukan uji hipotesis. Validitas isi dilakukan dengan face validity. Keberhasilan koefisien korelasinya diuji dengan menggunakan uji F. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis statistik yang dilakukan dengan dua jenis yaitu analisis statistik deskriptif dan inferensial. Analisis Korelasi Parsial dengan Uji Signifikansi Korelasi Parsial yaitu t dan Regresi Ganda Analisis korelasi parsial dilakukan dengan maksud mencari variabel terikat dengan mengontrol salah satu variabel bebas. Dalam uji hipotesis tersebut digunakan: a. 2) korelasi parsial antara variabel motivasi berprestasi (X2) dengan variabel (Y) dengan mengontrol variabel kecerdasan adversity (X1). dan variabel motivasi berprestasi (X 2 ) dengan variabel kinerja (Y). maka dilakukan pengujian validitas dan pengujian reliabilitas. maka hipotesis statistik dalam penelitian yang akan diuji adalah sebagai berikut : Jurnal Pendidikan Penabur .No. Korelasi ganda antara kedua variabel bebas dan variabel terikat ternyata signifikan. b. Perhitungan Korelasi Ganda dimaksudkan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan adversity (X1) dan variabel motivasi berprestasi (X2) secara bersamasama dengan variabel kinerja (Y). Kalibrasi Untuk mengetahui apakah instrumen penelitian yang digunakan benar-benar valid dan reliabel. uji linearitas dengan analisis regresi linear melalui deviation from linearity. Dengan jumlah responden untuk ujicoba adalah 10 maka didapat rkriteria sebagai pedoman untuk menerima atau menolak butir instrumen dengan taraf signifikansi 0. J.

H0: r y12 = 0 H1: r y12 > 0 Keterangan: r y1: Koefisien korelasi antara Y dan X1 r y2: Koefisien korelasi antara Y dan X2 r y12: Koefisien korelasi ganda antara Y. Rangkuman hasil uji normalitas galat taksiran regresi 28 Jurnal Pendidikan Penabur .02 / Th. Hasil Penelitian Setelah dilakukan tabulasi data hasil penelitian kemudian analisis data dengan bantuan komputer menggunakan SPSS under windows maka dapat dilihat sebagai berikut: Tabel 3. a.X1 dan X2 L. Hipotesis kedua: Ho:r y2= 0 H1:r y2> 0 c. Uji Persyaratan Analisis Sebelum dilakukan uji hipotesis.III/ Maret 2004 .No. maka terlebih dahulu diuji persyaratan analisisnya yaitu dengan uji normalitas dengan uji Lilliefors. uji linearitas dengan analisis regresi. Rangkuman statistika deskriptif 1. Uji Normalitas Tabel 4. Hipotesis pertama: Ho:r y1= 0 H1:r y1 > 0 b.Studi Korelasional Antara Kecerdasan Adversity dan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Kepala Sekolah a.

Hubungan Antara Kecerdasan Adversity dengan Kinerja Kepala Sekolah Berdasarkan uji regresi sederhana ditemukan ry1 sebesar 0. Kontribusi Kecerdasan Adversity Terhadap Kinerja X1 31.05 2. Dari data tersebut berarti determinasi varians sebesar 0.315. Uji Hipotesis a.Studi Korelasional Antara Kecerdasan Adversity dan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Kepala Sekolah Keterangan: Y: Kinerja Kepala Sekolah X1: Kecerdasan Adversity Kepala Sekolah X2: Motivasi Berprestasi Kepala Sekolah L0: Harga L Hitung L1: Harga L Tabel Liliefors b. jadi hubungan kecerdasan adversity terhadap kinerja Kepala Sekolah terbukti positif.585 pada a < 0. Gambar 2.III/ Maret 2004 29 . Rangkuman hasil uji linearitas Keterangan: ns: Non signifikan X1: Kecerdasan Adversity Kepala Sekolah X2: Motivasi Berprestasi Kepala Sekolah Y : Kinerja Kepala Sekolah F : Harga F hitung regresi linear p : Harga F tabel pada taraf signifikan 0. Artinya kinerja Kepala Sekolah dibentuk 31.5% oleh kecerdasan adversity Kepala Sekolah.5% Y Jurnal Pendidikan Penabur .561 adalah sangat signifikan dengan t sebesar 3.02 / Th. Uji Linearitas Tabel 5.No.05.

01. Kontribusi Motivasi Berprestasi Terhadap Kinerja X2 27. jadi hubungan motivasi berprestasi terhadap kinerja Kepala Sekolah terbukti positif. Hubungan Antara Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Kepala Sekolah Berdasarkan uji regresi sederhana ditemukan ry1 sebesar 0.02 / Th.618. Artinya kinerja Kepala Sekolah dibentuk 27.05 dengan t sebesar 3.8% Y 30 Jurnal Pendidikan Penabur . Rangkuman Koefisien Korelasi dan Pengujian Signifikansi Koefisien Korelasi s antara variabel X1 dengan Y Keterangan: n : Jumlah sampel ry1 : Korelasi X1 dengan y r2y1 : Koefisien determinasi ** : Sangat signifikan Jika dilakukan analisis regresi tunggal diketemukan bahwa F hitung 12.447.483 X1.527 adalah sangat signifikan dengan t sebesar 3.Studi Korelasional Antara Kecerdasan Adversity dan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Kepala Sekolah Tabel 6.278. Tabel 7. Jika hubungan dengan motivasi berprestasi (X2) dikendalikan maka terbukti hubungan kecerdasan adversity (X1) dan kinerja (Y) sangat signifikan r = 0. Artinya setiap kenaikan kecerdasan adversity (X1) akan menaikkan kinerja (Y) sebesar 128. Gambar 3. Sedangkan persamaan regresi Y = 128.135 + 0.8% oleh Motivasi Berprestasi Kepala Sekolah. Rangkuman Hasil Analisis Parsial dan Uji Signifikansinya antara X1 dengan Y Keterangan: dk : Derajat kebebasan ry1-2: Korelasi parsial X1 dengan Y dengan mengontrol X2 X1 : Kecerdasan Adversity Kepala Sekolah X2 : Motivasi Berprestasi Kepala Sekolah Y : Kinerja Kepala Sekolah b.857 adalah sangat signifikan pada a < 0.5520 pada a 0. Dari data tersebut berarti diterminasi varians sebesar 0.280 pada a < 0.III/ Maret 2004 .05.No.

Sedangkan persamaan regresi linearnya Y = 90.706. Artinya setiap kenaikan kecerdasan adversity dan motivasi berprestasi secara bersama-sama akan menaikkan kinerja sebesar 91. Jurnal Pendidikan Penabur .250 X2. Jika hubungan dengan kecerdasan adversity (X1) dikendalikan maka terbukti hubungan motivasi berprestasi (X2) dan Kinerja (Y) sangat signifikan r = 0.412 X1 + 0.097 + 0.498 yang berarti terbentuknya kinerja Kepala Sekolah ditentukan oleh kecerdasan adversity dan motivasi berprestasi sebesar 49.01.05 dengan t sebesar 2.01.302 X2. Hubungan Antara Kecerdasan Adversity dan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Kepala Sekolah Berdasarkan uji regresi ganda maka diketemukan harga R sebesar 0. Sedangkan persamaan regresi Y = 97.794 adalah sangat signifikan pada a < 0. Tabel 9.8%.No.Studi Korelasional Antara Kecerdasan Adversity dan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Kepala Sekolah Tabel 8.805.403 adalah sangat signifikan pada a < 0. Artinya setiap kenaikan motivasi berprestasi (X2) akan menaikkan kinerja (Y) sebesar 97.5175 pada a 0.985 + 0.647. Determinasi varians sebesar 0.02 / Th.399. Dari hasil regresi ganda diketemukan F sebesar 13.III/ Maret 2004 31 . Rangkuman Koefisien Korelasi dan Pengujian Signifikansi Koefisien Korelasi antara variabel X2 dengan Y Keterangan: n : Jumlah sampel ry1 : Korelasi X2 dengan Y r2y1: Koefisien determinasi ** : Sangat signifikan Jika dilakukan analisis regresi tunggal diketemukan bahwa F hitung 10. Rangkuman Hasil Analisis Parsial dan Uji Signifikansinya antara X2 dengan Y Keterangan: dk : Derajat kebebasan ry1-2: Korelasi parsial X2 dengan Y dengan mengontrol X1 X1 : Kecerdasan Adversity Kepala Sekolsah X2 : Motivasi Berprestasi Kepala Sekolah Y : Kinerja Kepala Sekolah c.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan a dversity dan motivasi berprestasi Kepala Sekolah memiliki pengaruh pada kinerja Kepala Sekolah yang dikelola oleh BPK PENABUR Jakarta. dan penilai dari Kepala Sekolah. Implikasi Implikasi langsung ditujukan kepada para Kepala Sekolah. pengawas. Kontribusi Kecerdasan Adversity dan Motivasi Berprestasi Terhadap Kinerja X1 31. Kontribusi X1 terhadap Y sebesar 0. Kesimpulan.III/ Maret 2004 . Kepala Sekolah yang memiliki kecerdasan adversity dan motivasi berprestasi yang baik akan meningkatkan kinerjanya. bahwa Kepala Sekolah yang memiliki kecerdasan adversity yang baik akan meningkatkan kinerjanya.Studi Korelasional Antara Kecerdasan Adversity dan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Kepala Sekolah Gambar 4. Implikasi. b.8% X2 27. Terdapat hubungan positif dan berarti antara motivasi berprestasi dengan kinerja Kepala Sekolah sebesar ry1 0. dan juga kepada yayasan yang mengelola secara keseluruhan sekolah-sekolah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja Kepala Sekolah dibentuk oleh kecerdasan adversity sebesar 31.5%. 2. Hal ini menunjukkan bahwa Kinerja Kepala Sekolah dibentuk oleh kecerdasan adversity dan motivasi berprestasi sebesar 49. Kontribusi X2 terhadap Y sebesar 0.561. makin tinggi pula kinerja yang dapat dicapai. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Terdapat hubungan positif dan berarti antara kecerdasan adversity dengan Kinerja Kepala Sekolah sebesar ry1 0.5% 49.315. Kepala Sekolah yang memiliki motivasi berprestasi yang baik akan meningkatkan kinerjanya.02 / Th. dengan koefisien korelasi ganda sebesar 0. c.8% Y M.8 %. Dengan demikian berarti.706. sedangkan implikasi tidak langsung ditujukan kepada Kepala Jenjang yang berperan sebagai pengarah. dan Saran 1.498.527. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja Kepala Sekolah dibentuk oleh motivasi berprestasi sebesar 27.278. a. Kecerdasan adversity dan motivasi berprestasi Kepala Sekolah secara bersamasama mempunyai hubungan yang berarti dengan kinerja Kepala Sekolah. Dengan 32 Jurnal Pendidikan Penabur .No. Dengan demikian berarti.8%. Oleh karena makin tinggi kecerdasan adversity dan motivasi berprestasi. Kedua variabel bebas tersebut memberikan kontribusi terhadap terbentuknya variabel terikat sebesar 0. Dengan demikian berarti.

Pengurus Yayasan BPK PENABUR Jakarta perlu memikirkan perencanaan yang menyeluruh terhadap pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). explore.III/ Maret 2004 33 . melalukan wawancara berkenaan dengan motivasi berprestasi.Studi Korelasional Antara Kecerdasan Adversity dan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Kepala Sekolah demikian maka peran masing-masing dan juga peran keduanya secara bersamasama dalam meningkatkan kinerja Kepala Sekolah merupakan hal yang penting. Memberikan kesempatan kepada Kepala Sekolah untuk mengembangkan segi-segi positif dalam dirinya. 3. Kepala Jenjang sebagai atasan Kepala Sekolah harus mampu mengontrol dan berusaha membantu meningkatkan kinerja Kepala Sekolah. c. Rekrutmen Kepala Sekolah perlu ditinjau kembali dengan mempertimbangkan faktor kecerdasan adversity dan motivasi berprestasi seperti yang telah dipaparkan oleh peneliti. do). Yayasan sebagai pengambil kebijakan dan keputusan sangatlah diharapkan dapat menunjang dan berupaya memberikan fasilitas-fasilitas yang dapat meningkatkan kinerja Kepala Sekolah. misalnya tentang bagaimana meningkatkan daya juang dan tahan banting. melaksanakan wawancara skenario yang berkaitan dengan mengatasi kesulitan. mencari bukti bahwa calon Kepala Sekolah telah menghadapi berbagai kesulitan dan berhasil mengatasinya. analyze. maka dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut: a. dan mengatasi kesulitan di tempat kerja. Saran-saran Dengan bertitik tolak dari hasil penelitian yang telah dipaparkan di atas. yang memungkinkan peningkatan kinerja Kepala Sekolah. kreativitas.02 / Th. d. Memberikan fasilitas untuk bertambahnya pengetahuan dan keterampilan secara terus menerus yang kemudian Kepala Sekolah dapat mengaplikasikannya dalan tugas dan tanggung jawabnya. calon Kepala Sekolah tahu apa yang menjadi potensi dirinya. Pembinaan Kepala Sekolah dilakukan secara berkala yang sebelumnya didahului dengan evaluasi sehingga pada akhirnya mampu meningkatkan kinerjanya sesuai yang diharapkan. b. Jurnal Pendidikan Penabur .No. e. bagaimana merespon kesulitan dengan teknik LEAD (listen. setiap Kepala Sekolah perlu diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri dan diberikan pelatihan dan atau pembelajaran. melaksanankan wawancara tingkah laku yang berkaitan dengan mengatasi kesulitan. Dengan kondisi demikian maka Kepala Sekolah mendapat tambahan pengetahuan dan keterampilan sehingga akan lebih baik bekerja. Yang perlu diperhatikan antara lain menilai seberapa baik calon Kepala Sekolah menangani kesulitan pada saat kesulitan itu melanda. Oleh karena itu untuk mewujudkan kinerja yang tinggi. Selain itu.

Jakarta: Remaja Rosdakarya.A. Forget IQ. (1986). Jakarta: Diklat Tenaga Kependidikan Dikdasmen. It’s the AQ. Analisis masalah kinerja dan kebutuhan pelatihan. Stoltz. trans. (2001). (1985). Failing forward. Coaching for performance.02 / Th. John. Bandung: Bumi Aksara. Mortell.( 2001). Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo. Dharma. (2001). John. Mengubah kegagalan menjadi batu loncatan. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Studi Korelasional Antara Kecerdasan Adversity dan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Kepala Sekolah Daftar Pustaka Depdikbud. Maxwell. Jakarta: Rajawali. (2000). (1999). Jakarta. Motivasi dan pemotivasian dalam manajemen. Manajemen prestasi kerja. 34 Jurnal Pendidikan Penabur . (1988). Kecerdasan emosional. trans). Inc. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Paul G. T. (Arwin Saputra. (2000). Edward. Rao. (1997). Dasar-dasar motivasi. Hidayat. (1990). Ruky. (2003). (1984). Penilaian kinerja kepala sekolah.P.Paul G. Hasibuan. (1993). Agus. (2001). Jakarta: Balai Pustaka. (2000). trans. Camper. Silocon Valley Business Ink. Purwodarminto. (Alexander Sindoro. Climber : Which One Are You?. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Winardi. mengatasi kesulitan di tempat kerja. Forget EQ. Adversity quatient a work. Bandung: Sumur Bandung. Berani menghadapi kegagalan. Adversity Quotient. Art. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.III/ Maret 2004 . Seni mengarahkan untuk mendongkrak kinerja. (Dwi Helly Purnomo. (2000). Jakarta: Jelita Akademika. Psikologi pendidikan. Interaksara Suprihanto. Penilaian pelaksanaan pekerjaan dan pengembangan karyawan. Stoltz. Malayu S.) Interaksara. mengubah hambatan menjadi peluang. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Quitter.Hermaya. J. Performance management system panduan praktis untuk merancang dan meraih kinerja prima. Maragoni. Magazine Whitmore. Haryono. Achmad S. Jakarta: Mitra Utama. Purwanto.). M Ngalim. trans). Penilaian prestasi kerja.No. John. Yogyakarta: BPFE Welles. Organisasi dan motivasi dasar peningkatan produktivitas. (2001). (T. Moekijat.( 2001). Jennifer.V.