P. 1
Hubungan Antara IPM Dengan Pertanian Provinsi Gorontalo

Hubungan Antara IPM Dengan Pertanian Provinsi Gorontalo

|Views: 892|Likes:
Published by Endih Herawandih
The unpublished paper.
The unpublished paper.

More info:

Published by: Endih Herawandih on Nov 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/29/2013

pdf

text

original

Membangun Agribisnis Untuk Meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Gorontalo

Pengantar
Tulisan ini merupakan tulisan original yang sepenuhnya disusun oleh Penulis (Endih Herawandih) dalam tahun 2007-2008. Proses penulisan sepenuhnya dilakukan berdasarkan metode partisipatif yang melibatkan berbagai stakeholder dari tingkat kecamatan, kabupaten/kota dan provinsi. Pembahasan pada tingkat nasional pernah dilakukan beberapa kali, namun ditolak dengan alasan bahwa “tulisan ini tidak memenuhi kualitas dan standar penulisan internasional, sehingga dianggap sebagai garbage (begitu kata pak Hasbullah Tabrani dan Leonard Simanjuntak)”. Menyadari rendahnya kualitas penulisan dan kapasitas saya sebagai orang yang berpendidikan rendah, saya mematuhi apa yang telah dikatakan para ahli tersebut. Saya menghormati keputusan yang telah diambil.

Namun demikian, upaya yang telah dilakukan oleh berbagai pihak untuk membangun agribisnis terpadu di Provinsi Gorontalo yang bertujuan untuk meningkatkan angka indeks pembangunan manusia masih memerlukan sumbangan saran agar tujuan tersebut berhasil sampai pada tingkat operasional. Harapan Gubernur Provinsi Gorontalo untuk menyusun perencanaan pembangunan sampai pada tingkat kecamatan harus didukung dengan sebuah konsep yang bersifat komprehensif dan terintegrasi. Oleh karena ini saya ingin mempersembahkan tulisan yang telah dianggap sampah ini bagi siapa saja yang berpikir praktis dan strategis agar tidak mubazir. Tulisan ini merupakan ringkasan dari dokumen lengkap yang telah saya susun. Bagi yang memerlukan tulisan lengkap dengan lampirannya yang mencakup rincian rencana program sampai dengan activities menurut sub sector dan komponen dapat diperoleh dari saya sendiri. Please feel free to contact me on herawandi@gmail.com dan endihherawandih@gmail.com. Susunan bab memang terasa aneh karena konsep ini merupakan bagian dari tulisan yang berhubungan dengan tulisan orang lain. Saya tidak berhak untuk mencantumkan tulisan tersebut. Anggaplah tulisan ini sebagai sampah yang dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan pupuk organic. Pupuk organic dapat digunakan untuk memupuk tanaman……. Terima Kasih Endih Herawandih

3.1.

Membangun Agribisnis Terpadu Melalui Pengelolaan Sumberdaya, Penguatan Modal Masyarakat dan Penguatan Kelembagaan

3.1.1.Ketersediaan Pangan Ketersediaan pangan Provinsi Gorontalo selama lima tahun terakhir (2002-2006) tidak menghadapi masalah karena daerah ini merupakan penghasil beras. Surplus produksi beras rata-rata selama periode tersebut adalah sebesar 20 % per tahun. Produksi beras selama periode tersebut berkisar antara 96.842 ton yang terjadi pada tahun 2002 dan tertinggi sebesar 108.528 ton pada tahun 2006. Kondumsi beras selama periode tersebut berkisar antara 83.085 ton sampai dengan 87.287 ton. Dengan tingkat produksi dan konsumsi tersebut, ketersediaan pangan mencukupi untuk periode waktu tersebut. Gambar 3.1. memperlihatkan surplus beras yang cukup signifikan dan menunjang status ketahanan pangan. Adanya surplus produksi memungkinkan Provinsi Gorontalo untuk mengirim beras ke luar wilayah, antara lain ke Ke Provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara. Gambar 3.1. Produksi dan Konsumsi Beras di Provinsi Gorontalo Dengan rata-rata pertumbuhan konsumsi hanya sebesar 0,99 % dan peningkatan produksi sebesar 1,61 % pertahun, maka tidak ada alasan kuat untuk mengkhawatirkan ketahanan pangan di Provinsi Gorontalo kecuali terjadi bencana alam hebat yang menghancurkan sistem produksi beras atau kegagalan panen yang merata di seluruh wilayah. Selain kondisi surplus beras, diversifikasi konsumsi pangan yang terjadi secara alamiah, sangat mendukung status ketahanan pangan karena secara tradisional, masyarakat Provinsi Gorontalo mengkonsumsi jagung sebagai makanan pokok selain beras. Gambar 3.2 memperlihatkan bahwa kecenderungan peningkatan produksi yang lebih besar dari peningkatan konsumsi. Namun demikian, dalam jangka panjang perlu diwaspadai adanya fluktuasi yang sangat lebar pada balance stock setiap akhir tahun. Kondisi

demikian dikarenakan adanya spektrum pola tanam yang sangat semppit untuk komoditas padi sawah dan padi lahan kering. Kurangnya sarana dan prasarana pengairan di beberapa wilayah sentra produksi beras menyebabkan musim tanam hanya dapat dilakukan sekali dalam setahun karena tergantung pada ketersediaan air hujan. Kondisi ketersediaan pangan yang cukup terjamin selama beberapa dekade di Provinsi Gorontalo nampaknya menjadi salahsatu dasar pertimbangan ditetapkannya kebijakan pembangunan pertanian bertema Agropolitan Jagung. Pertimbangan tersebut sangat rasional karena komoditas jagung merupakan salahsatu bahan makanan prokok masyarakat dan untuk mengembangkan produksi sampai batas tertentu tidak memerlukan sarana dan prasarana sebesar yang diperlukan untuk pengembangan padi sawah. Dengan jumlah yang sama, biaya yang diperlukan untuk mengembangkan sarana dan prasarara pendukung produksi selanjutnya dapat dialokasikan untuk membangun sistem agribisnis jagung yang menghasilkan manfaat ekonomi lebih besar. Dampak berganda yang dihasilkan secara agregat akan menggerakkan perekonomian sehingga sektor lain yang berhubungan dan tidak berhubungan bergerak dengan sendirinya. Konsep strategis yang cukup sederhana ini tidak terlalu banyak dipahami oleh sebagian ahli karena jika dianalisis secara sektoral dan dalam jangka pendek tidak terlihat signifikan dalam pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Tetapi jika dilakukan analisis manfaat ekonomi mutisektor akan terasa bahwa kebijakan agropolitan jagung merupakan langkah awal yang tepat bagi provinsi yang berusia relatif muda ini. Gambar 3.2. Balance Stock, Laju Konsumsi dan Laju Produksi Beras Provinsi Gorontalo1
Provinsi Sulaw Selatan esi Provinsi Sulaw Tenggara esi Provinsi Sulaw Tengah esi Provinsi Sulaw Utara esi Provinsi Gorontalo Kota Gorontalo 2.596 3.957 2.887 2.726 2.883 3.631

3.1.2.Pengeluaran Per Kapita dan Hubungannya dengan IPM Provinsi Gorontalo merupakan Provinsi yang masih relatif muda

Kab Bone Bolango . Kab Pohuw . ato Kab Gorontalo . Kab Boalemo .

1 Sumber data: Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, BAPPEDA, BPS Provinsi Gorontalo, Diolah.
2.307 2.572 2.314 2.122

Pengeluaran Per Kapita 2006 (Rp 000/tahun)

usianya di kawasan Pulau Sulawesi. Pengeluaran per kapita per tahun di Provinsi Gorontalo relatif lebih rendah dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang sudah lebih lama berdiri, terlebih lagi jika dibandingkan dengan “saudara tua” yakni Provinsi Sulawesi Utara yang memperlihatkan tingkat pengeluaran tertinggi dibandingkan dengan Provinsi lainnya di Kawasan Sulawesi. Pengeluaran rata-rata seluruh kabupaten yang ada di Provinsi Gorontalo masih lebih rendah jika dibandingkan dengan pengeluaran rata-rata tingkat Provinsi. Hanya Kota Gorontalo yang memiliki tingkat pengeluaran jauh berbeda jika dibandingkan dengan tingkat provinsi. Gambar 3.3. memperlihatkan perbandingan tingkat pengeluaran masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo dengan tingkat pendapatan per kapita masing-masing provinsi di kawasan Pulau Sulawesi Gambar 3.3. Tingkat Pengeluaran Rata-rata Per Kapita Per Tahun Pengeluaran per kapita berhubungan dengan pendapatan per kapita yang selanjutnya berhubungan dengan IPM suatu wilayah. Gambar 3.4. menunjukkan hubungan antara pengeluaran per kapita dengan IPM dan Indeks pendapatan. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa ada korelasi positif antara ketiga faktor tersebut. Kondisi seperti yang diperlihatkan pada gambar tersebut menyiratkan perlunya intervensi dalam bentuk upaya peningkatan pendapatan pada level provinsi dan kabupaten/kota yang bertujuan untuk meningkatkan level IPM. 3.1.3. Hubungan Antara Indeks Pembangunan Manusia dengan Perencanaan Pembangunan Pertanian Indeks pembangunan manusia 6 ,6 8 merupakan indicator penting 6 ,0 8 6 ,4 7 6 ,2 7 6 ,4 6 7 0 untuk mengukur keberhasilan 5 9 6 0 5 6 5 6 5 5 5 4 sinergi pembangunan 5 3 5 0 multisektor yang telah 4 0 4 0 dilaksanakan suatu wilayah. 2 6 2 6 Dalam Bab 1 telah diuraikan 3 0 2 3 2 3 2 1 bahwa sektor pertanian 2 0 merupakan economic prime 1 0 mover di Provinsi Gorontalo. Sebagai economic prime mover Ka b. Ka b. Ka b. Ka Bone Kota b. Provinsi Boa m G le o oronta Pohuw to Bola lo a ngo G oronta G lo oronta lo maka sektor pertanian menjadi R t -raaPe g lu ra ( Rp1 0 0 /Ka it /Ta u ) dominan dalam mempengaruhi aa t n e a n x 000 p a h n IPM tingkat pendapatan masyarakat. In e s Pe d p t n d k n a aa Pendapatan masyarakat menentukan indeks daya beli, sehingga indeks daya beli sangat erat hubungannya dengan kondisi petani sebagai pelaku utama. Dengan demikian, peningkatan IPM dari
8 0

7 ,3 1

sisi indeks daya beli akan sangat ditentukan oleh keberhasilan peningkatan pendapatan petani. Dalam seksi ini akan diuraikan faktorfaktor yang menentukan keberhasilan sektor pertanian dalam hubungannya dengan peningkatan indeks daya beli sebagai dasar untuk merencanakan pembangunan pertanian berbasis IPM. IPM seluruh provinsi Gorontalo adalah sebesar 68. Mengacu pada hasil perhitungan, terdapat 15 kecamatan yang memiliki IPM yang lebih rendah dari IPM Provinsi. Untuk mengejar ketertinggalan kecamatan-kecamatan tersebut diperlukan intervensi yang bersifat kuratif dalam bentuk redesign perencanaan pertanian, perencanaan sektor kesehatan dan perencanaan sektor pendidikan. Sedangkan untuk kecamatan-kecamatan yang telah mencapai IPM sama dengan atau lebih dari IPM provinsi, dapat tetap digunakan perencanaan pembangunan yang telah ada dengan menitikberatkan pada pemantapan sistem pelaksanaan untuk meningkatkan efektititas output dan outcome diiringi dengan design perencanaan preventif untuk mengantisipasi berbagai faktor yang memungkinkan terjadinya penurunan nilai IPM. Dengan demikian perlu penguatan kombinasi mekanisme perencanaan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi dan feedback yang bersifat bottom-up planning dengan top-down planning untuk meningkatkan efektitifitas dan efisiensi penggunaan biaya pembangunan. Mengapa Pertanian Menjadi Tema Sentral Peningkatan IPM Gorontalo? Komponen daya beli, merupakan salahsatu penentu rendahnya IPM Provinsi Gorontalo. Dihubungkan dengan sumber pendapatan masyarakat pada 12 kecamatan tersebut, sektor pertanian merupakan sumber pendapatan masyarakat dengan persentase penduduk yang bekerja pada sektor pertanian seperti terlihat pada Gambar 3.4.

Gambar Persentase Pertanian Kabupaten2

3.4. KK Menurut

Berdasarkan Gambar 3.4 diketahui bahwa hampir seluruh masyarakat di seluruh kabupaten menggantungkan hidupnya pada sector pertanian, dengan kisaran antara 76 % sampai dengan 87 % kecuali di Kota Gorontalo. Persentase keluarga yang bekerja pada sector pertanian di Kabupaten Gorontalo Utara adalah yang tertinggi, yaitu sebesar 87 % sedangkan di Kota Gorontalo hanya sebesar 24 %. Sumber pendapatan masyarakat Kota Gorontalo berasal dari luar sector pertanian karena sebagai sebuah wilayah bertipologi perkotaan dan sebagai ibukota provinsi lebih banyak kesempatan berusaha dan bekerja di luar sektor pertanian. Selain hal tersebut, kebijakan pemerintah Kota Gorontalo mengarahkan kota tersebut sebagai pusat pelayanan perekonomian yang bertitik tumpu pada sektor jasa, perdagangan, pendidikan dan konstruksi di masa depan. Peran sektor pertanian yang akan semakin dikurangi seiring dengan meningkatnya alokasi sumberdaya lahan untuk sektor perdagangan, jasa, dan perumahan sehingga di masa depan tidak ada kesempatan untuk mengembangkan sektor 2. pertanian di Kota Gorontalo. 3. Indust ri Pert bangan am 1. Pert anian Fakta yang ditemukan Pengolahan dan Penggalian 5% bahwa sektor pertanian 8% 1% 9. J asa-J asa sangat kecil perannya di 4. List Gas rik, 28% Kota Gorontalo seperti dan Air Bersih terlihat pada Gambar 3.5. 3% Gambar 3.5. Peran Sektor Ekonomi dalam PDRB Kota Gorontalo Dari Gambar 3.5. bahwa peran pertanian terlihat sektor dalam
5. Bangunan 7% 7. Pengangkut an dan Kom unikasi 15% 6. Perdagangan Besar, Eceran, Rum Makan ah dan Hot el 20%

8. Keuangan, Persewaan dan J asa Perusahaan 13%

2 Sumber: Master Plan Kemiskinan Provinsi Gorontalo, BAPPEDA Provinsi Gorontalo Bekerjasama dengan Universitas Gajah Mada, 2007.

perekonomian Kota Gorontalo pada tahun 2006 hanya sebesar 5 %. Dengan demikian adalah wajar bahwa kebijakan Pemerintah Kota Gorontalo yang lebih mengarahkan pembangunan ekonomi wilayahnya pada sektor perdagangan, jasa dan keuangan. Karena; (1) struktur perekonomian Kota Gorontalo yang tidak bertumpu pada sektor pertanian; (2) semakin menurunnya sumberdaya lahan yang tersedia untuk usaha pertanian; (3) kebijakan pemerintah kota yang mengarahkan sistem perekonomiannya ke sektor perdagangan, jasa, telekomunikasi dan keuangan; dan (4) tidak ada kecamatan di Kota Gorontalo yang memiliki IPM lebih rendah dari IPM Provinsi maka arah perencanaan pembangunan manusia untuk meningkatkan IPM tidak mengikutsertakan Kota Gorontalo. Disisi lain, sebagai pusat pelayanan dan Ibukota Provinsi diyakini Kota Gorontalo akan mampu mengembangkan dirinya sendiri sebagai kota terdepan di Provinsi Gorontalo dalam hal pembangunan manusia. Hal tersebut bukanlah tanpa alasan, karena IPM yang dicapai oleh Kota Gorontalo sudah lebih tinggi dibandingkan dengan Kabupaten yang ada. Rendahnya daya beli masyarakat yang cukup merata di Provinsi Gorontalo adalah resultan kekeliruan dalam paradigma penetapan sasaran pencapaian pembangunan di Indonesia pada masa lalu, yaitu orientasi hanya kepada pertumbuhan ekonomi dan mengesampingkan perbaikan kualitas manusia dari segi pendapatan. Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia sebelum krisis terus menerus mencapai 6-7 persen, tetap saja daya beli masyarakatnya tidak mengalami perbaikan. Demikian juga halnya dengan Provinsi Gorontalo yang menikmati pertumbuhan PDRB perkapita sebesar 14 persen per tahun (atas dasar harga berlaku ) dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2006 seperti ditunjukkan dengan peningkatan siginifikan PDRB per Kapita pada Gambar 3.6. Kenyataan tersebut memerlukan orientasi ulang dan desain ulang prioritas pembangunan dengan menerapkan suatu paradigma baru yang lebih menekankan pemerataan agar hasil pertumbuhan ekonomi juga menghasilkan manfaat dalam bentuk pemerataan ekonomi. Gambar 3.6. Peningkatan Signifikan PDRB per Kapita Provinsi Gorontalo Pertumbuhan ekonomi sebagai aspek terpenting dan tujuan pembangunan dalam paradigma pembangunan lama, dalam hal ini adalah
P RB P r Ka ita D e p
5 0 .0 0 .0 0 0 4 0 .0 0 .5 0 0 4 0 .0 0 .0 0 0 3 0 .0 0 .5 0 0 3 0 .0 0 .0 0 0 2 0 .0 0 .5 0 0 2 0 .0 0 .0 0 0 1 0 .0 0 .5 0 0 1 0 .0 0 .0 0 0 50 0 0 .0 0 0 20 00 20 01 20 02 20 03 20 04 20 05 20 06

Aa D sa H r aB r k t s a r a g ela u

pertumbuhan ekonomi per kapita nampaknya sudah dapat direvisi oleh Provinsi Gorontalo. Mengacu pada keadaan IPM di atas, mulai dari sekarang harus dipikirkan pertumbuhan ekonomi yang dapat dinikmati secara merata dengan menggunakan setiap sumberdaya yang dimiliki oleh masing-masing wilayah. Reorientasi tersebut diperlukan karena pertumbuhan per kapita yang tinggi, tidak akan memberikan arti dan manfaat jika setiap penduduk tidak menikmati dan memperoleh manfaat dari hasil pembangunan secara merata. Dalam paradigma baru pembangunan ekonomi, orientasi pembangunan adalah pertumbuhan dan distribusi nilai manfat ekonomi bagi seluruh rakyat. Dalam lima tahun terakhir (terutama sejak tahun 2004), Provinsi Gorontalo telah berupaya merubah paradigma pembangunan lama menjadi paradigma pembangunan baru dengan berprinsip pada pendayagunaan sumberdaya yang tersedia dan pembukaan akses ekonomi seluas-luasnya kepada masyarakat. Keberhasilan yang ditunjukkan dengan semakin meningkatnya IPM Gorontalo. Peningkatan IPM Provinsi Gorontalo dari 64,8 pada tahun 2002 menjadi 68 pada tahun 2006 merupakan prestasi yang cukup membanggakan sebab kebijakan pembangunan ekonomi selama decade awal hanya berpijak pada satu sector ekonomi, yaitu pada sector pertanian. Kebijakan yang rasional tersebut tetap dijalankan secara konsisten meskipun mendapat banyak yang menentang dengan berbagai argument. Meskipun tidak disambut gembira secara nasional, masyarakat Provinsi Gorontalo menikmati manfaat kebijakan pembangunan pertanian berbasis jagung. Penggerak ekonomi Provinsi Gorontalo adalah sektor pertanian, dengan demikian, pembahasan terhadap upaya peningkatan daya beli sebagai salahsatu komponen pembentuk IPM harus difokuskan pada upaya membangun pertanian. Kepemimpinan Fadel Muhammad sebagai gubernur, telah mampu membawa mimpi ke alam kenyataan, dalam jangka waktu relatif singkat, yaitu hanya dua tahun, Gorontalo berhasil menunjukkan eksistensi sebagai salah satu produsen jagung yang diperhitungkan. Sejak Februari 2003, Gorontalo sudah mampu menjual jagung ke luar daerah, bahkan, dua bulan kemudian Gorontalo sudah mulai mengekspor jagung Meskipun dirasa tidak terjadi perubahan dramatis dalam berbagai aspek kehidupan, perubahan cukup berarti sangat dirasakan oleh petani dan pelaku usaha hilir pada industri primer berbasis jagung. Semakin meluasnya agribisnis jagung mengakibatkan peningkatan diseminasi informasi mengenai nilai manfaat ekonomi dan dampak positif sehingga mayoritas petani tertarik untuk menjadi pelaku usaha budidaya jagung. Terlebih lagi, jagung merupakan komoditas tradisional Provinsi Gorontalo dan sebagai salah satu bahan makanan pokok.

Peningkatan kesejahteraan petani jagung terlihat semakin meningkat pada triwulan akhir tahun 2007 seiring dengan; (1) meningkatnya produktivitas; (2) meningkatnya permintaan jagung dunia; (3) menurunnya pasokan jagung Amerika Serikat di pasar dunia karena konversi energi fosil menjadi bio-fuel; dan (4) masih rendahnya daya tarik komoditas jagung di provinsi lain di Indonesia menyebabkan pasokan jagung dunia cenderung stagnan dengan permintaan yang cenderung meningkat. Konsekuensi alamiah peningkatan permintaan terhadap pasar adalah peningkatan harga. Akibat dari system perdagangan global yang memungkinkan distribusi informasi secara merata sangat menguntungkan pelaku agribisnis jagung dari hulu ke hilir. PT BISI International Tbk, sebagai contoh adalah perusahaan yang meraup untung luar biasa dari adanya kondisi pasar seperti tersebut. PT BISI International Tbk., menikmati peningkatan harga saham di BEJ secara signifikan karena adanya permintaan benih jagung yang selalu meningkat. Kebijakan produksi diiringi oleh kebijakan penetapan harga sehingga dapat melindungi petani agar tidak mudah dipermainkan oleh semua pihak. Pada tahun 2003, harga jagung di tingkat petani ditetapkan Rp 700/kg dan pada pertengahan tahun 2007 sudah mencapai Rp 1700. Namun demikian mekanisme pasar telah melampaui harga jagung yang ditetapkan sehingga produsen memperoleh manfaat bersih yang lebih besar. Pada akhir 2007 dan awal 2008, akibat permintaan jagung yang semakin tinggi mengakibatkan harga terus bergerak naik mencapai Rp 2200/kg pipilan kering kadar air 19 %. Meskipun masih mengalami; (1) lemahnya iklim investasi, (2) rendahnya daya dukung infrastruktur. dan (3) persoalan inefisiensi birokrasi masih menjadi bagian permasalahan yang mempengaruhi persepsi pelaku ekonomi terhadap kondisi dunia usaha, Gubernur menawarkan sebuah model pemerintahan dalam bentuk innovative government yang meliputi 1) Inovasi dalam struktur dan perilaku orgnisasi, 2) Inovasi untuk mengurangi hambatan birokrasi. 3) inovasi dalam pembuatan keputusan. Ide tersebut terbukti efektif dalam mendongkrak kegiatan perekonomian Provinsi Gorontalo. Transformasi sistem agribisnis yang pada saat ini masih difokuskan pada produk pertanian primer menjadi produk olahan berdaya saing kuat tentu saja harus menjadi perhatian pemerintah Provinsi Gorontalo. Spektrum tersebut sebenarnya telah dikemas dalam bingkai reformasi pertanian yang telah dibuat dengan judul agropolitan jagung sejak beberapa waktu lalu, meski hingga kini masih terbatas pada komoditas jagung. Diperlukan sejumlah perangkat kebijakan utama dan pendukung yang mendasari berjalannya program dimaksud, antara lain reformasi agraria, tersedianya teknologi, agroinputs, modal kerja, akses

pemasaran, dan pengembangan produk derivat secara terintegrasi. Selain itu perlu juga dikembangkan sumber pendapatan alternatif bagi petani, peternak dan nelayan yang tidak menguasai sumberdaya yang cukup untuk melangsungkan proses income generating activities. Disisi lain, kendala birokratis yang dibuat oleh pemerintah pusat harus dinegosiasikan kembali untuk semakin mempermudah pembangunan pertanian dengan berbagai terobosan yang berimplikasi pada perbedaan penerapan peraturan dan perundang-undangan. Dalam jangka pendek, kendala aturan dan birokratis yang harus segera dinegosiasikan adalah mengenai tatanan investasi. Kelemahan yang ditimbulkan oleh adanya kebiasaan yang menimbulkan biaya tinggi dan cenderung menakutkan bagi para investor harus sepenuhnya dihapuskan tanpa basa-basi dan tanpa pandang bulu. Masalah yang selama ini sering menimbulkan kejengkelan bagi para investor adalah kondisi politik lokal yang menimbulkan keengganan bagi para investor untuk memasuki suatu wilayah baru. Pertentangan politis dan keterlibatan tokoh cenderung menghalangi kedatangan investor baru justru akan berakibat pada kesulitan teknis dalam melakukan analisis manfaat dan biaya bagi masuknya suatu investasi baru sehinga kelayakannya menjadi sulit diprediksi. Jika investasi sudah berjalan, seringkali menjadi alasan bagi investor tersebut untuk melakukan praktek melawan hukum, misalnya dalam bentuk penetapan upah yang tidak rasional, mempermainkan system kontrak dengan karyawan, atau melakukan perusakan lingkunan dan sumberdaya alam. Pada saat terjadi pelanggaran oleh investor, seringkali pemeintah menutup mata karena ada oknum yang terlibat didalam polemik tersebut sehingga investor nakal berada di atas angin. Perubahan kesejahteran secara bertahap mulai terlihat dan mulai berpengaruh pada sector lain di luar sector pertanian. Tumbuhnya sector jasa dan industri manufaktur merupakan dampak positif dari semakin membaiknya iklim investasi yang dibangkitkan oleh sector pertanian. Namun demikian upaya tersebut di atas masih harus terus ditingkatkan melalui peningkatan produktivitas dan diversifikasi produk pertanian sehingga terjadi optimalisasi pemanfaatan sumberdaya. Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya diyakini akan membentuk sistem produksi barang dan jasa secara lebih efisien. Peningkatan efisiensi diyakini akan secara simultan meningkatkan pendapatan pelaku usaha sehingga pada akhirnya akan meningkatkan daya beli. Fokus perhatian yang harus menjadi kebijakan utama adalah upaya peningkatan pendapatan petani sebagai pelaku usaha pada tingkat primer. Dari uraian diatas, sangatlah jelas bahwa masih banyak yang harus dilakukan oleh Provinsi Gorontalo untuk meningkatkan pendapatan

petani sebagai langkah untuk meningkatkan daya beli. Berbagai sisi dalam sektor pertanian harus dibenahi melalui berbagai kebijakan, program dan kegiatan yang difokuskan pada peningkatan pendapatan petani sebagai tulangpunggung ekonomi wilayah. Untuk melangkah pada upayan yang harus dilakukan lebih lanjut, diperlukan pemahaman yang mendalam terhadap permasalahan dan issue pokok sektor pertanian yang secara signifikan berpengaruh rendahnya pendapatan petani. Tabel 3.1 menyajikan beberapa issue dan permasalahan pokok dalam sektor pertanian yang mendesak untuk ditangani. Tabel 3.1. Issue dan permasalaah pokok sektor pertanian Provinsi Gorontalo3
Issue dan Permasalahan Pokok 1. Sumberdaya manusia 2. Degradasi sumberdaya alam 3. Pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat 4. Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya 5. Penguasaan sumberdaya 6. Kapasitas permodalan financial 7. Ketersediaan sarana produksi 8. Pemasaran 9. Ketersediaan Pengolahan dan Industri Hilir 10. Aspek Produksi, termasuk Sistem dan Teknologinya 11. Lingkungan dan perubahan iklim global 12. Institusi 13. Informasi dan komunikasi Tanaman Hortikul Peterna Perkebu Perikana Pangan tura kan nan n üü ü ü ü üü ü ü ü ü ü ü üü üü üü ü ü ü ü ü

üü ü ü ü ü ü ü ü üüü ü ü ü ü ü ü ü ü ü ü ü ü üü ü ü ü ü ü ü ü üü üüüü üü üü ü ü ü ü ü üü üü ü ü üü ü ü ü ü ü ü üü ü ü ü ü ü ü ü ü ü ü üü üü ü

üü ü ü ü ü ü ü üü ü ü üü ü ü ü ü ü ü üü ü ü ü ü ü ü üü ü ü ü

üü üü ü ü ü üü ü ü ü üü ü ü ü ü ü

üü ü ü ü ü ü ü

ü ü ü üü ü ü üü ü ü ü ü ü ü ü ü üü üü üü üü üü ü ü ü ü üü

Sumber: Data primer, hasil observasi lapangan, hasil diskusi dengan berbagai stakeholder

PersentasePem anfaatan Pendapatan

Permasalahan pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat, kapasitas permodalan finansial dan perubahan iklim global merupakan permasalahan terbesar yang dihadapi oleh sektor pertanian secara umum. Kondisi pengelolaan sumberdaya (terutama sumberdaya alam, sumberdaya

100% 80% 60% 40% 20% 0%

3 Setiap tanda chek (ü) menunjukkan tingkat permasalahan. Semakin banyak tanda tersebut semakin tinggi permasalahan yang dihadapi

Tanam an Pangan

Peternakan

Perikanan

Modal Konsumsi Cicilan Tabungan Lainnya

Perkebunan

Kehutanan

institusi, sumberdaya informasi dan sumberdaya manusia) yang menghadapi berbagai kendala tersebut dirasakan oleh semua sub-sektor dalam sektor pertanian. Lemahnya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya dipastikan akan menurunkan peran dan rasa memiliki terhadap sumberdaya. Lemahnya peran dan keterlibatan masyarakat akan mengakibatkan lemahnya pengawasan dan pengendalian dalam pemanfaatan sumberdaya sehingga pada akhirnya berakibat pada penurunan dayaguna sumberdaya. Akibat terjadinya penurunan dayaguna sumberdaya yang berhubungan erat dengan proses produksi, industri hilir, informasi dan pemasaran akan berujung pada penurunan pendapatan. Gambar 3.7. Porsi penggunaan pendapatan menurut kepentingan penggunaan Lemahnya kapasitas masyarakat dalam pembentukan dan penyediaan modal secara mandiri menyebabkan sebagian besar masyarakat terpuruk meskipun pemerintah telah berupaya sekuat tenaga melakukan berbagai program penguatan modal masyarakat. Kegagalan klasik yang selalu terjadi dalam program pembentukan dan penguatan modal petani adalah karena beberapa faktor sebagai berikut; (1) lemahnya tatanan institusi yang dibentuk untuk melaksanakan pengelolaan program; (2) kuatnya faktor distorsi atas upaya penguatan modal masyarakat yang ditimbulkan oleh individu atau institusi yang sudah meraup keuntungan dari kelemahan modal masyarakat (misalnya rentenir); (3) lemahnya upaya pengendalian dan pengawasan terhadap pelaksanaan mekanisme pengelolaan program penguatan modal; (4) masih lemahnya kapasitas manajemen keuangan keluarga masyarakat (terutama petani); (5) ketidakjelasan keberlanjutan program karena program berjalan hanya sebatas umur proyek, dan setelah proyek berakhir maka semua tatanan dan mekanisme yang telah dibangun menjadi bubar; (6) Respek dan respon individu penerima manfaat yang tidak memiliki visi untuk menjunjung tinggi target keberhasilan program; (7) Rata-rata pola pemanfaatan pendapatan yang cenderung untuk kebutuhan konsumtif jauh lebih besar daripada untuk kepentingan pemupukan modal seperti terlihat pada Gambar 3.7.. Keberhasilan program monokultur agropolitan jagung memang membawa dampak positif dalam bentuk peningkatan kesejahteraan petani jagung. Namun demikian patut disadari bahwa semakin meningkatnya harga jagung memicu daya tarik para spekulan tanah dan money lender untuk beroperasi di sentra produksi jagung. Pihak yang cenderung merusak tatanan kepemilikan asset petani ini sudah mulai merebak sehingga tidak dapat dihindarkan lagi konversi kepemilikan lahan sebagai akibat dari distribusi modal finansial oleh beberapa orang yang bertujuan untuk menguasai seluruh asset petani. Prospek agribisnis

jagung yang sangat cerah direspons oleh mereka dalam bentuk pengikatan dan penjeratan petani dengan iming-iming kemudahan proses peminjaman dan kemudahan akses pemasaran. Petani yang tidak memiliki wawasan pengetahuan dan kepercayaan diri yang tinggi akan dengan mudah terjerat oleh kelompok rentenir dan pengijon ini. Dalam satu proses produksi biasanya tidak terasa beban hutang petani, tetapi apabila proses berlangsung dalam beberapa periode akan terjadi pengalihan asset petani secara bertahap. Para rentenir dan pengijon sudah barang tentu memperoleh keuntungan berlipat dari operasi bisnis berbasis financial capital ini. Jeratan hutang petani semakin membesar jika terjadi kegagalan panen atau turunnya harga jual produk. Kondisi ini berlangsung terus sehingga menjadi sebuah dilemma akibat tumbuhnya perekonomian agropolitan dan terjadi di beberapa sentra produksi misalnya di Patilanggio dan Paguat. Ironisnya, sebagian besar rentenir dan pengijon memperoleh bantuan kredit lunak dari pemerintah melalui program LUEP. Di masa datang, kebijakan ini harus direvisi kembali dan bantuan permodalan seharusnya dikelola oleh petani sendiri dalam bentuk lembaga keuangan mikro yang seluruhnya ditujukan untuk kemandirian modal petani. Bantuan modal bagi pedagang harus segera dihentikan dan lebih baik mereka memperoleh pinjaman komersial dari perbankan. Masalah yang sangat berat ini sudah tentu harus menjadi prioritas dalam perencanaan pembangunan pertanian yang diimplementasikan dalam bentuk kebijakan yang lebih berpihak pada petani sekala kecil dengan tidak mengesampingkan peran pihak lain untuk secara bersama membangun sistem agribisnis dalam arti yang sesungguhnya. Perubahan iklim global secara signifikan mulai terasa dampaknya terhadap ketidakpastian musim. Sektor pertanian yang sangat tergantung pada musim tentunya sangat berkepentingan terhadap respon untuk mengantisipasi dan mengelola sumberdaya agar dampak negatifnya tidak signifikan terhadap proses produksi. Dihubungkan dengan degradasi sumberdaya lahan yang semakin memprihatinkan dan lemahnya pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat dikhawatirkan akan menurunkan manfaat ekonomi program pertanian dalam jangka menengah dan jangka panjang. Tanpa sistem antisipasi dan prediksi yang kuat terhadap damapk negatif perubahan iklim global, sektor pertanian akan terpuruk. Keterpurukan tersebut tidak perlu terjadi seandainya kebijakan dan program pertanian sudah dipersiapkan sejak dini untuk mengantisipasi terjadinya perubahan iklim global. Seluruh Dinas Teknis dalam sektor pertanian dan BAPPEDA harus mempersiapkan kajian yang mendalam dan komprehensif menyangkut berbagai aspek yang berhubungan dengan dampak negatif perubahan iklim yang dramatis. Setelah hasil kajian diperoleh maka diperlukan kebijakan, sistem dan manajemen pertanian yang berorientasi dan responsif terhadap perubahan iklim.

Degradasi sumberdaya lahan telah mencapai titik yang membahayakan sebagai akibat dari tidak terkendalinya sistem pemanfaatan hasil hutan. Operasi perusahaan hak pengusahaan hutan yang tidak dikelola dengan baik terbukti telah berdampak negatif dalam bentuk gundulnya hutan dan terjadinya banjir setiap tahun. Erosi yang terjadi pada wilayah hulu telah menurunkan kapasitasnya sebagai daerah tangkapan air. Selain membawa banjir yang selalu terjadi, pencucian unsur hara yang tidak terkendali pada daerah hulu mengakibatkan menurunnya daya dukung lahan bagi usaha pertanian tanaman pangan, perkebunan dan peternakan. Berbagai kejadian yang menimbulkan dampak negatif seharusnya sudah diantisipasi oleh pemerintah. Langkah penghapusan hak pengusahaan hutan merupakan langkah dramatis yang mau tidak mau harus dilakukan karena manfaat ekonomi yang dihasilkan oleh beroperasinya hak pengusahaan hutan bagi Provinsi Gorontalo jauh lebih kecil dari kerusakan alam yang ditimbulkannya. Disisi lain, kesengsaraan masyarakat sebagai akibat kerusakan hutan akan semakin meningkat jika hak pengusahaan hutan dibiarkan terus beroperasi. Ketersediaan sarana dan prasarana produksi menjadi salahsatu issu dan permasalahan yang cukup penting setelah issue di atas. Permasalahan dan issue yang sudah sedikit terjawab dengan adanya berbagai program yang dikonsentrasikan di sub-sektor pertanian tanaman pangan. Subsektor peternakan, perikanan, dan perkebunan belum mendapat perhatian yang sama karena kebijakan pemerintah Provinsi Gorontalo memang masih difokuskan pada peningkatan produksi pertanian tanaman pangan. Dari uraian diatas dapat dipahami mengapa pembangunan pertanian menjadi tema sentral dalam upaya peningkatan IPM di Provinsi Gorontalo. Dengan demikian penyusunan laporan pembangunan manusia Provinsi Gorontalo menyajikan bukan hanya angka pencapaian indeks pembangunan manusia tetapi juga menyajikan upaya bagaimana meningkatkan indeks pembangunan manusia tersebut melalui perencanaan pembangunan yang sistematis dengan mempertimbangkan kondisi sumberdaya dan biaya yang tersedia. Disisi lain, cakupan satuan wilayah perencanaan pada dokumen ini adalah pada tingkat kecamatan sehingga perencanaan bersifat sangat spesifik dan sangat detail. Perencanaan yang bersifat sangat spesifik dan detail sampai dengan tingkat kecamatan ditujukan untuk menjamin akuntabilitas publik dan efektifitas pelaksanaan pembangunan yang lebih baik. Bagaimana menjadikan pembangunan? IPM sebagai dasar perencanaan

Menghitung indeks pembangunan manusia adalah hal mudah, tetapi untuk meningkatkan indeks tersebut perlu upaya yang lebih keras disertai pengorbanan biaya dan keterlibatan stakeholder yang lebih luas. Menggunakan IPM sebagai dasar perencanaan pembangunan secara rinci dan komprehensif dengan satuan wilayah perencanaan pada tingkat kecamatan adalah suatu hal yang baru dan akan menjadi model penyusunan laporan pembangunan manusia pada tingkat provinsi. Umumnya penyusunan laporan pembangunan manusia yang telah disusun selama ini hanya berakhir pada rekomendasi yang bersifat global yang tidak dapat digunakan secara mudah oleh para pengambil keputusan. Agar laporan pembangunan manusia mudah diadopsi sebagai dokumen publik oleh para pengambil keputusan, maka metode yang digunakan dalam penyusunan IPM Provinsi Gorontalo bersifat sangat komprehensif dan menggabungkan berbagai metode klasik statistik, metode perencanaan partisipatif dan metode perencanaan tersentralisasi. Seluruh metode tersebut digabungkan sehingga menghasilkan suatu sistem baru perencanaan pembagunan berbasis IPM. Kompleksitas permasalahan yang berhubungan dengan pembangunan manusia dihadapi oleh semua provinsi di Indonesia, demikian juga halnya dengan Provinsi Gorontalo. Rumitnya kegiatan yang harus dilakukan dan upaya mengintegrasikan semua kebijakan, semua kepentingan dan semua kebutuhan adalah hal yang lumrah dalam penyusunan kebijakan, program dan kegiatan yang bersifat multidimensi. Kondisi demikian seringkali menyebabkan para perencana enggan untuk menyusun perencanaan komprehensif yang dilandasi bukti empiris dan dapat digunakan oleh pengambil keputusan secara mudah. Kelemahan yang biasanya ditemui dalam perencanaan multidimensi yang terintegrasi lebih banyak disebabkan oleh kemampuan dan pengalaman tenaga ahli dalam melakukan pekerjaan perencanaan sejenis. Oleh karena itu banyak pihak yang menyangsikan keberhasilan penyusunan dokumen seperti ini. Partisipasi aktif dan dukungan seluruh stakeholder disertai kerja keras Team PHDR Gorontalo telah menghasilkan model perencanaan mikro dan makro disertai dengan rencana alokasi dan strategi pembiayaan yang diperlukan untuk melaksanakan semua upaya yang diperlukan untuk meningkatkan IPM Provinsi Gorontalo. Perencanaan pembangunan berbasis IPM di Provinsi Gorotalo dilakukan melalui 27 langkah sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 3.8. Langkah nomor 1 sampai dengan langkah 22 disusun secara bersama oleh Team ahli dengan melibatkan stakeholder masyarakat, Perguruan Tinggi, LSM, Dinas Teknis, BAPPEDA (Provinsi dan Kabupaten), Badan Keuangan Daerah, DPRD, BAPPENAS, dan stakeholder lainnya melalui serangkaian observasi, focused group discussion, focused group interview dan stakeholder workshop.

Penyusunan tulisan ini sepenuhnya dilakukan oleh saya sendiri. Pada tahap ini selain dilakukan perhitungan IPM juga dilaksanakan serangkaian stakeholder training mengenai metode perhitungan dan analisis IPM untuk menyusun perencanaan pembangunan pada tingkat Kabupaten dan Provinsi. Langkah 23 sampai dengan 27 dilaksanakan setelah pekerjaan analisis dan perencaaan strategis berakhir sehingga proses ini dapat dianggap sebagai proses implementasi alih pengetahuan antara Team ahli dengan team gabungan yang dibentuk oleh Provinsi Gorontalo dalam bentuk wadah Kelompok Kerja. Tujuan dibentuknya team tersebut adalah untuk menghitung IPM, menyusun laporan, merencanakan pembangunan berbasis IPM, menyusun dan melakukan strategi monitoring, evaluasi, dan supervisi.

23

4

8

10

Gambar 3.8. Langkah Penyusunan IPM Sebagai Dasar Perencanaan Pembangunan di Provinsi Gorontalo

3.1.4. Kondisi IPM Kecamatan Terpilih Seperti telah diuraikan di atas, IPM masing-masing kecamatan di Provinsi Gorontalo digunakan sebagai dasar untuk merencanakan pembangunan dalam jangka menengah yang selanjutnya akan diadopsi menjadi model perencanaan berbasis IPM di seluruh Kabupaten dan Kota di Provinsi Gorontalo. Kecamatan yang dipilih merupakan ketentuan yang diperoleh dari kesepakatan antara Team PHDR Gorontalo dengan stakeholder, termasuk didalamnya Gubernur dan Para Bupati se-Provinsi Gorontalo. Jumlah kecamatan yang terpilih berdasarkan kesepakatan tersebut ditentukan berdasarkan garis batas nilai tengah IPM. Nilai tengah IPM Provinsi Gorontalo selanjutnya ditetapkan sebagai critical treshold sehingga kecamatan yang memiliki nilai IPM dibawah angka tersebut ditetapkan sebagai kecamatan kritis yang harus memperoleh intervensi komprehensif yang bertujuan untuk meningkatkan nilai IPM. Dengan demikian maka kecamatan yang terpilih adalah kecamatan yang berada di bawah nilai IPM Provinsi Gorontalo, yaitu dibawah angka 68. Selanjutnya jika metode ini berhasil meningkatkan nilai IPM, maka sistem perencanaan pembenagunan jangka panjang di Provinsi Gorontalo akan mengacu pada indeks pembangunan manusia. Jumlah kecamatan yang berada di bawah critical treshold terdiri dari 15 kecamatan, dengan sebaran sebagai berikut; (1) Kabupaten Grorontalo (sebagai kabupaten tertua ternyata merupakan yang terbanyak), yaitu sebanyak lima kecamatan terdiri dari Pulubala, Tibawa, Mootilanggo, Boliyohuto, dan Telaga Biru; (2) Kabupaten Gorontalo Utara (sebagai Kabupaten yang baru saja 75,0 terbentuk) menempati tempat kedua dengan empat kecamatan yaitu 70,0 Tolinggula, Anggrek, Kwandang dan Atinggola; 65,0 (3) Kabupaten Pohuwato menempati urutan ketiga dengan tiga kecamatan 60,0 yaitu Patilanggio, Taluditi dan Paguat; (4) Kabupaten Bone Bolango 55,0 adalah Kabupaten yang tergolong masih muda, tetapi jumlah kecamatan 50,0 yang memiliki IPM lebih rendah dari IPM Provinsi
65,2 66,6 65,1 65,9 65,7 66,9 64,4 67,1 64,0 65,8 66,9 66,8 66,6
PAGUAT KW ANDANG ANGGREK

57,0 58,1

62,3

45,0

51,6 53,1 50,4 50,0 48,6 51,3 53,5 49,3 50,8
W ONOSARI TAPA TALUDITI PATILANGGIO TOLINGGULA

51,0 50,8

49,3

58,0

63,4

PULUBALA

TIBAW A

M OOTILANGO

BOLIYOHUTO

TELAGA BIRU

BOTUM OITO

ATINGGOLA

hanya satu, yaitu Kecamatan Tapa. Seluruh kecamatan di Kota Gorontalo sebagai Ibukota Provinsi berada pada tingkat yang lebih tinggi sehingga tidak ada kecamatan yang termasuk dalam rencana intervensi khusus. Gambar 3.9. memperlihatkan kecamatan terpilih sebagai pilot project perencanaan pembangunan berbasis IPM. Gambar 3.9. Kecamatan yang terpilih untuk intervensi khusus program perencanaan pembangunan berbasis IPM Berdasarkan fakta pada Gambar 3.9., dapat dikatakan bahwa Kabupaten Bone Bolango merupakan kabupaten yang lebih berhasil dalam mencapai nilai IPM yang lebih tinggi dibandingkan dengan kabupaten lain. Terbukti hanya satu kecamatan yang berada di bawah critical treshold yaitu Kecamatan Tapa4. Kondisi geografis, ketersediaan sarana dan prasarana, aksesibilitas dan tipologi wilayah Kabupaten Bone-Bolango memungkinkan untuk mencapai nilai IPM yang lebih tinggi dibandingkan dengan kabupaten lain. Kota Gorontalo sebagai ibukota provinsi mencapai nilai IPM yang lebih tinggi dibandingkan dengan seluruh kabupaten yang ada dan lebih tinggi pula dibandingkan dengan IPM Provinsi. Keadaan tersebut merupakan kejadian umum dimana wilayah perkotaan selalu memliliki keunggulan dalam hal pelayanan public, akses terhadap prasarana dan sarana, dan kesempatan kerja sehingga secara signifikan factor-faktor tersebut berpengaruh langsung terhadap pencapaian IPM. Kabupaten Gorontalo sebagai kabupaten tertua nampaknya masih menghadapi kendala besar untuk mengangkat derajat IPM sehingga masih tertinggal dibandingkan dengan Kabupaten Bone-Bolango yang merupakan kabupaten pecahan dari Kabupaten Gorontalo Diantara 15 kecamatan tersebut di atas, terdapat beberapa Kecamatan yang memiliki nilai IPM lebih rendah dari IPM Provinsi, tetapi nilai indeks pendapatannya lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai indeks pendapatan Provinsi. Indeks pendapatan Provinsi adalah sebesar 54,8 sehingga terdapat kecamatan yang memiliki IPM rendah namun indeks pendapatannya lebih tinggi dari indeks pendapatan Provinsi. Umumnya kecamatan tersebut berada di sekitar wilayah Kota Gorontalo yaitu; Kecamatan Mootilango, Boliyohuto, dan Telaga Biru di Kabupaten Gorontalo. Kecamatan lainnya memiliki nilai IPM dan indeks pendapatan yang lebih rendah dari nilai rata-rata indeks Provinsi.

4 Kondisi pada tahun 2006 Kecamatan Tapa belum dipecah kedalam beberapa kecamatan, sehingga jika dilakukan evaluasi berdasarkan data pada tahun 2008 akan diperoleh nlai IPM yang lebih tinggi karena pada tahun 2007 Kecamatan Tapa telah dipecah menjadi beberapa kecamatan. Kecamatan baru hasil pemecahan merupakan kecamatan yang secara signifikan berpengaruh tehadap rendahnya nilai IPM di Kecamatan Tapa.

Kondisi di atas menunjukkan bahwa factor yang menyebabkan rendahnya nilai IPM Kecamatan Mootilango, Boliyohuto, dan Telaga Biru bukan disebabkan oleh rendahnya pendapatan atau daya beli masyarakat tetapi lebih disebabkan oleh factor lain, yaitu status pendidikan dan atau status kesehatan. IPM terendah dicapai oleh Kecamatan Patilanggio di Kabupaten Pohuwato, yaitu sebesar 58. Seluruh factor (daya beli, kesehatan dan pendidikan) secara simultan menjadi penyebab rendahnya IPM di Kecamatan Patilanggio. Atas dasar kondisi IPM pada 15 kecamatan tersebut di atas, maka penyusunan rencana intervensi yang difokuskan pada peningkatan IPM disusun berdasarkan kondisi sektor pertanian pada masing-masing wilayah kabupaten. Dari uraian pada bagian terdahulu dapat diketahui bahwa masalah pokok yang ditemukan pada sektor pertanian dapat dikelompokkan pada empat kelompok besar, yaitu; (1) masalah yang berhubungan dengan pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat; (2) masalah yang berhubungan dengan ketergantungan terhadap sumberdaya yang semakin meningkat dan kesempatan berusaha/bekerja untuk mengurangi kemiskinan; (3) masalah yang berhubungan dengan institusi; (4) masalah yang berhubungan dengan kelangkaan modal dan kemampuan untuk pemupukan modal.

Gambar 3.10. Hubungan antara Rendahnya IPM dan Pentingnya Peningkatan Daya Beli Hubungan antara IPM, masalah dalam sektor pertanian dan pentingnya intervensi peningkatan pendapatan digambarkan oleh siklus sebab-akibat kemiskinan seperti digambarkan pada Gambar 3.10. Untuk memperbaiki siklus tersebut sehingga diperoleh peningkatan signifikan pada pendapatan masyarakat maka intervensi yang harus dilakukan difokuskan pada empat komponen pokok yang pada akhirnya akan mencakup semua kebutuhan masyarakat terhadap peningkatan pendapatan. Berpijak pada siklus kemiskinan, upaya peningkatan pendapatan di Provinsi Gorontalo sebagai titik tolak peningkatan daya beli harus dilakukan melalui sektor pertanian. Perencanaan pembangunan dilakukan melalui intervensi yang dititikberatkan pada peningkatan pendapatan. Tujuannya adalah untuk secara signifikan membangkitkan kekuatan ekonomi yang terdistribusi secara merata pada tingkat masyarakat dengan sebaran utama pada wilayah pedesaan sebagai sentra produksi dan sumber pendapatan wilayah pada tataran mikro. Pada tataran makro, meratanya peningkatan pendapatan petani akan secara signifikan membangkitkan daya ekonomi wilayah sehingga PDRB sektor pertanian meningkat.

3.2.

Gagasan Mengenai Pembangunan Pertanian dan Strategi pengembangan Pertanian (Paradigma Pembangunan Pertanian Secara Terpadu berbasis Masyarakat Melalui Penguatan Modal)

Paradigma pembangunan pertanian masa lalu merupakan model produksi klasik yang diilhami oleh teori ekonomi kapitalis. Pada sistem dengan paradigma lama petani merupakan objek produksi dan hanya merupakan salahsatu faktor produksi. Oleh karena itu petani tidak pernah diposisikan sebagai pengelola dan pemilik sumberdaya utama. Berlakunya teori ekonomi kapitalis pada sektor pertanian tidak hanya pada sub-sektor pertanian tanaman pangan tetapi juga dilanjutkan dengan sub-sektor perkebunan, peternakan, dan perikanan. Bukti bahwa proses tersebut masih berjalan saat ini adalah, seluruh perusahaan pertanian pada seluruh sub-sektor merupakan perusahaan besar yang memiliki modal besar. Kemanakah perginya petani kita yang identik dengan petani gurem? Mereka diusir oleh mesin kapitalis yang menggunakan tangan pemerintah dengan berbagai dalih dan alasan. Model pembangunan kapitalis sektor pertanian Indonesia yang dibungkus atas nama pertumbuhan ekonomi merupakan salahsatu proses penjajahan yang melanjutkan sistem kultuurstelsel pada zaman penjajahan Belanda. Perbedaannya terletak pada komoditas yang diusahakan, pada zaman penjajahan Belanda, komoditas yang diusahakan adalah komoditas perkebunan, sedangkan pada zaman sekarang seluruh komoditas pertanian (tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan perikanan) seluruhnya dikuasai oleh pemodal besar. Ironisnya lagi, pemilik modal besar di dalam negeri hanya dikuasai oleh segelintir orang yang menurut data yang tidak resmi adalah sekitar 10 % dari seluruh populasi Indonesia. Jika hal tersebut dibiarkan berlanjut, maka pada dua dekade lagi, berbagai suku bangsa pribumi Indonesia akan menjadi buruh yang menyewa tempat tinggal dan tempat usaha di negerinya sendiri. Karena posisinya yang hanya sebatas pada faktor produksi maka nilai tambah dan manfaat finansial usahatani yang dilakukan tidak dinikmati oleh petani tetapi oleh pemilik modal besar terutama pedagang. Proses historis menunjukkan bahwa pada akhirnya kelas petani pribumi hanya menjadi buruh yang tidak menguasai sumberdaya, baik sumberdaya lahan, sumberdaya finansial, sumberdaya informasi dan sumberdaya institusi. Kelas buruh hanya akan memiliki sumberdaya manusia yang tidak trampil dan tidak terdidik terlebih lagi jika dihubungkan dengan rendahnya nilai rata-rata lama sekolah pada sektor pendidikan dalam IPM. Kondisi di Provinsi Gorontalo nampaknya mulai mengarah pada pengalihan sumberdaya (terutama sumberdaya lahan dan diikuti oleh sumberdaya modal finansial) dari pemiliknya (yaitu masyarakat pribumi Gorontalo) kepada pihak luar. Kondisi demikian jelas terlihat di Kecamatan

Patilanggio yang merupakan sentra produksi jagung terbesar di Provinsi Gorontalo (bahkan di Indonesia) tetapi memiliki nilai IPM yang terrendah. Rendahnya nilai IPM Kecamatan Patilanggio di Kabupaten Pohuwato bukan hanya dikarenakan rendahnya daya beli, tetapi juga rendahnya nilai indeks pendidikan dan indeks kesehatan. Hampir tidak ada yang menyadari dan peduli bahwa proses pemiskinan income di Kecamatan Patilanggio berlangsung dengan sistematis dan melalui tahapan yang jelas dalam jangka panjang. Secara ringkas, proses tersebut dimulai pada (1) saat petani kekuarangan modal; (2) pada saat kekurangan modal petani tidak mampu melangsungkan proses produksi pada musim tanam berikutnya; (3) tengkulak mendekati petani untuk menawarkan jasa peminjaman uang atau bantuan pinjaman modal baik dalam bentuk natura maupun finansial untuk keperluan proses produksi; (4) karena sudah meminjam uang maka petani harus mengembalikan jumlah yang dipinjamnya dengan cara menjual hasil panennya sebelum waktu panen berlangsung, jika demikian maka nilai hasil panen yang diperoleh akan lebih rendah dari harga pasar, harga hasil panen semakin murah jika petani telah memutuskan untuk menyerahkan hasil panen pada saat komoditas yang diusahakan petani masih memerlukan waktu yang panjang untuk mencapai musim panen. 3.3. Analisis dasar mengenai opsi dan prioritas pembangunan pertanian untuk menggerakan ekonomi lokal dan untuk meningkatkan IPM Provinsi Gorontalo dalam jangka pendek, menengah dan jangka panjang

3.3.1. Sumberdaya Lahan Sumberdaya lahan merupakan salahsatu faktor terpenting dalam proses produksi disamping sumberdaya manusia, modal, institusi, dan informasi. Luas areal Pekarangan/ Penggem balaan/ Ladang/H a; um Lain-lain; 9 9 1 78; Provinsi Gorontalo Bangunan & Padang Rum ; put 712 6 03; % 9 % H alam 3 6 0 an; 1 9 ; adalah 12.215,445 1811 06; % 2 3 % Raw a-raw tidak km atau 1.221.544 a Tegal/Kebun; Perke bunan; 9 3 2 91; dit anam Padi; i 1 3 0 ;9 073 % ha. lahan bukan 9 % 9 1 ;1 61 % sawah mencakup Tam bak; 2 8 ; 0 75 % areal seluas 1.142.713 ha dengan rincian Kolam /Tebat/ seperti terlihat pada Em pang; 2 1 0 7; % Sem entara Tidak Gambar 3.11.
H utan N egara; 5 0 4 ;5 % 706 0 H utan Rakyat; 340 3 90; % diUsahakan; 1 6 2 ;9 091 %

Gambar 3.11. Luas

Lahan Menurut Penggunaan di Provinsi Gorontalo Sebagian besar wilayah daratan Provinsi Gorontalo sudah digunakan untuk kegiatan menggerakkan ekonomi berbasis produksi karena 50 % wilayah daratan sudah merupakan kawasan bukan hutan. Dari Gambar 3.10 dapat dilihat bahwa pada tahun 2006, areal perkebunan, tegalan/kebun, lahan yang sementara tidak diusahakan, dan penggunaan lain-lain, masing-masing menggunakan areal seluas 9 % dari Pekarangan/Bang unan & Halaman seluruh areal non sawah. Lahan yang Tegal/Kebun sementara tidak diusahakan ternyata Ladang/Huma sangat luas yaitu 107 ribu hektar atau 9 % dari seluruh daratan non-sawah. Penggembalaan/P adang Rumput Gambar 3.12. Sebaran Luas Penggunaan Rawa-rawa tidakLahan Menurut Kabupaten/Kota
ditanami Padi Tambak Kolam/Tebat/Emp Areal terlantar yang dicerminkan oleh ang adanya lahan yang sementara tidak Sementara Tidak diusahakan tersebut mengindikasikan diUsahakan Hutan Rakyat adanya lemahnya investasi yang bergerak Hutan Negara Boalemo Perkebunan lain-lain 0% 20% 40% 60% 80% 100%

Kota Gorontalo

Bone-Bolango

Pohuwato

Gorontalo

pada sektor pertanian. Kegagalan investasi terutama disebabkan oleh pengusaha perkebunan oportunis yang mengajukan izin usaha perkebunan yang ternyata tidak merealisasikan investainya sehingga lahan yang sudah dicadangkan menjadi lahan

5 Provinsi Gorontalo Dalam Angka, BPS Provinsi Gorontalo, 2007

terlantar. Umumnya perusahaan tersebut hanya mengejar izin pemanfaatan kayu (IPK), dan setelah hutan dibabat habis, lahan tersebut menjadi lahan kritis yang gundul. Setelah lahan terlantar terbentuk maka pengusaha tersebut menjual areal yang telah dicadangkan untuknya kepada pihak ketiga. Demikian seterusnya terjadi secara berantai dan pihak ketiga menggunakan lahan pencadangan tersebut untuk mengajukan kredit investasi, stelah kredit diperoleh mereka menjual hak guna usaha kepada pihak keempat. Akhirnya investasi-pun tidak kunjung tiba, dan pihak keempat menggunakan hak guna usaha yang telah dipegangnya untuk tujuan spekulatif. Pada akhirnya terbentuklah lahan terlantar yang sangat kritis yang sangat membahayakan lingkungan. Fakta tersebut dapat terlihat nyata di lapangan dan telah mengakibatkan menyurutnya cadangan air permukaan dan air tanah pada beberapa wilayah. Lahan terlantar seperti tersebut banyak ditemukan di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo dan Boalemo. Gambar 3.12 memperihatkan proporsi komposisi penggunaan lahan menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Gorotnalo pada tahun 2006. Dari gambar tersebut terlihat adanya areal sementara tidak diusahakan yang tersebar di seluruh Kabupaten yang luasnya cukup besar. Adanya lahan terlantar yang sementara tidak diusahakan menjadi dilema jika dihubungkan dengan masih banyaknya petani miskin yang tidak memiliki lahan. Kondisi demikian tentunya merupakan kesalahan masa lalu yang tidak boleh terulang lagi. Kebijakan pemerintah Provinsi Gorontalo dan Pemerintah Kabupaten sangat diperlukan untuk mencegah degradasi sumberdaya alam dalam jangka panjang. Jika lahan terlantar tersebut masih memiliki daya dukung dan sesuai bagi pembangunan pertanian, maka akan lebih bermanfaat secara ekonomi dan sosial jika lahan tersebut dibagikan kepada petani miskin yang tidak memiliki lahan atau petani yang memiliki lahan yang luasnya kurang dari atau sama dengan satu pantango6. Intervensi pemerintah tersebut dapat menjadi salahsatu bentuk reformasi pertanian yang sangat bermanfaat bagi masyarakat pertanian, tentunya harus diawali dengan kajian yang mendalam tentang keberadaan lahan terlantar tersebut. Penggunaan lahan untuk ladang/huma tersebar di seluruh kabupaten/kota yang umumnya merupakan areal produksi padi ladang dan jagung. Komoditas jagung lokal Hut n Produksi a yang merupakan ya Da t ng pa Hut n Lindung; a Hut n Produk a si cultivar spesifik Dik onve rsi; 1 5 5 ,0 ; 1 % 6 .0 2 0 9 T t p; ea memiliki cita rasa yang 2 .1 3 0 2 0 7 ,0 ; % 1 0 8 ,0 ; 1 % 2 .6 4 0 4 baik. Jagung lokal tersebut dikenal dengan sebutan
6 Satu pantango adalah ukuran luas local spesifik Provinsi Gorontalo. Tidak ada ukuran yang tepat, umumnya berkisar antara 2000 – 2500 m2 per pantango.
Huta Produk n si T rba s; e ta 3 2 7 ,0 ; 4 % 4 .4 7 0 0 Hut n Ba a a k u; 2 .1 3 0 2 0 7 ,0 ; % Hut n PPA; a 1 7 8 ,0 ; 2 % 9 .5 4 0 3

jagung “pulo” yang artinya jagung pulut yang memiliki citarasa seperti beras ketan. Cultivar jagung lokal tersebut sudah tidak dibudidayakan secara massal untuk tujuan komersial karena memiliki produktivitas yang rendah dan jangka waktu produksi yang relatif lebih lama dari jagung hibrida atau jagung komposit. Meskipun demikian karena cita rasa spesifik dan bentuknya yang menarik, dapat digunakan sebagai komoditas andalan untuk tujuan wisata dan menuspesifik di rumah makan. Data dan informasi mengenai cultivar jagung lokal tidak tersedia karena sudah tidak menjadi andalan dalam sistem produksi jagung Provinsi Gorontalo. Kebijakan dan program pelestarian plasma nutfah jagung cultivar lokal diperlukan untuk menjamin keanekaragaman hayati species jagung yang sudah didominasi oleh jagung hibrida dan jagung komposit. Gambar 3.13. Luas Hutan Menurut Status Tataguna Hutan Pada tahun 2006 (Gambar 3.13), luas lahan terbesar merupakan hutan negara yang mencakup 570.046 ha (50 %) dari seluruh wilayah Provinsi Gorontalo. Wilayah hutan negara yang cukup dominan luasnya sebagian besar digunakan untuk tujuan produksi dalam bentuk hak pengusahaan hutan dan perkebunan pada kawasan yang ditetapkan sebagai hutan produksi tetap (14 %), hutan produksi terbatas (40%) dan hutan produksi yang dapat dikonversi (2 %). Keberadaan hak pengusahaan hutan (terutama di Kabupaten Pohuwato dan Boalemo) perlu ditinjau kembali dengan mempertimbangkan aspek manfaat dan kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh hak pengusahaan hutan (HPH). Jika ternyata hasil perhitungan manfaat ekonomi lebih besar daripada nilai ekonomi kerusakan lingkungan dalam jangkan panjang maka keberadaan HPH dapat dipertahankan. Namun demikian pembelajaran dari berbagai tempat di wilayah Negara Republik Indonesia menunjukkan bahwa keberadaan HPH lebih banyak menimbulkan kerusakan lebih besar daripada manfaat yang diperoleh bagi masyarakat dan perekonomian yang tidak dapat di-recovery sepanjang masa. Fakta dari pembelajaran menunjukkan bahwa kontribusi sub-sektor kehutanan dalam bentuk nilai ekonomi jauh 140.000 lebih kecil 115.684 dibandingkan 120.000 dengan kerusakan 100.000 lingkungan 80.000 menuntut 60.000 pemerintah untuk meninjau kembali 23.564 40.000 22.886 20.594 18.863 47.188 keberadaan HPH.
Nilai Produksi (Rp juta) 20.000 15.888 2002 19.586 2003 Rotan 7.219 2004 14.613 2005 2006

Logs + Kayu Gergajian

Kerusakan lingkungan semakin besar ditunjukkan dengan meningkatnya signifikan produksi kayu logs dalam periode 2005-2006. Peningkatan produksi kayu logs yang cukup dramatis tersebut memberikan indikasi luasnya areal hutan yang terdegradasi. Jika setiap hektar hutan produksi tetap menghasilkan Gambar 3.14. Perkembangan Nilai Produksi Hasil Hutan7 Gambar 3.14, menunjukkan nilai produksi kayu logs dan kayu olahan dalam bentuk sawn timber (kayu gergajian) dibandingkan dengan nilai produksi rotan. Meskipun nilai produksi kayu logs dan sawn timber cukup besar jika dibandingkan dengan nilai produksi rotan, dampak positif dan manfaat ekonomi yang ditimbulkan akan jauh lebih kecil dibandingkan dengan proses ekstraksi sampai ke pemasaran untuk komoditas rotan. Sperti diketahui, konsesi HPH hanya dimiliki oleh beberapa perusahaan yang umumnya mempekerjakan karyawan dengan jumlah terbatas sedangkan proses ekstraksi rotan beserta proses hilirnya akan melibatkan banyak tenaga kerja. Disisi lain, metode yang dilakukan untuk memungut hasil hutan rotan tidak akan menimbulkan kerusakan lingkungan karena tidak pernah dilakukan secara mekanik dan tidak merusak vegetasi hutan secara dramatis. Kondisi tegakan hutan pada areal hutan produksi di Provinsi Gorontalo yang sebagian besar sudah menjadi hutan sekunder karena seluruhnya pernah menjadi kawasan konsesi HPH hanya memiliki tingkat produktivitas maksimum kayu komersil per hektar sebesar 97 m3/ha. Dengan tingkat produktivitas tersebut maka laju kerusakan lingkungan akan semakin besar karena perusahaan HPH tidak ingin memperoleh kerugian finansial. Atas dasar asumsi produktivitas sebesar angka tersebut diprediksikan laju kerusakan lingkungan yang akan terjadi semakin besar selama periode 2008-2014. Gambar 3.15, memperlihatkan prediksi laju degradasi hutan selama periode tersebut. Diperkirakan pada tahun 2012 akan terjadi penggundulan hutan seluas 4500 ha. Kondisi demikian akan mengantarkan Provinsi Gorontalo sebagai Provinsi tanpa hutan pada tahun 2014. Jika hal demikian dibiarkan terjadi tanpa adanya pengendalian melalui mekanisme aturan dan kebijakan yang bersifat refresif maka akan terjadi bencana lingkungan yang secara bertahap akan mengakibatkan peningkatan jumlah penduduk miskin terutama pada wilayah pertanian tanaman pangan di sekitar wilayah hutan.Terjadinya pemiskinan ekosistem dan pemiskinan masyarakat secaa signifikan akan mempengaruhi bentang alam karena keterbatasan sumberdaya air akan mengakibatkan seluruh masyarakat petani menyerobot lahan hutan yang masih menyediakan sumberdaya air yang tersisa untuk
7 Sumber data BPS 2006, diolah

kegiatan budidaya. Pada daerah pesisir sebagai daerah hilir dampak akan terjadi sedimentasi yang luas terutama pada DAS Paguyaman dan DAS Randangan. Selain itu, kawasan Taman Nasional Nani Wartabone akan dirambah sehingga berpengaruh signifikan pada DAS Bolango-Bone.
Pre si La De da Hut n dik ju gra si a 5 0 .0 0 4 0 .5 0 4 0 .0 0 3 0 .5 0 3 0 .0 0 2 0 .5 0 2 0 .0 0 1 0 .5 0

y=6 8 e 328x E-2 8 0,3

Gambar 3.15. Prediksi Laju Degradasi Hutan8

Tanpa adanya intervensi dalam bentuk kebijakan yang melarang seluruh kegiatan 1 0 .0 0 HPH secara 50 0 komersial dan dalam skala yang 20 00 20 02 20 04 20 06 20 08 21 00 21 02 21 04 besar dan Lua Are l Huta T rde da s a n e gra si Expon. (Lua Are l H a T rde da penegakan hukum s a ut n e gra si) yang konsisten, maka kerusakan lingkungan yang diiringi dengan pemanasan global akan mengakibatkan dampak kerusakan terhadap ekosistem secara berantai. Dampak negatif yang paling mudah dirasakan adalah meningkatnya suhu rata-rata harian yang diakibatkan oleh menurunnya cadangan oksigen karena laju konsumsi oksigen lebih rendah dari yang dihasilkan yang diakibatkan oleh menurunya penutupan vegetasi.
236 243

Kawasan konservasi yang sangat penting bagi kelestarian sumberdaya alam ditetapkan lebih sedikit yaitu hutan PPA (23 %) dan hutan lindung (19%). Selain klasifikasi kawasan hutan tersebut terdapat areal hutan mangrove yang tersebar di kawasan pesisir seluruh kabupaten seluas 20173 ha (2%). Kondisi hutan bakau saat ini sudah sangat terdegradasi dan data yang sebenarnya diprediksikan jauh lebih kecil dari yang dilaporkan secara formal karena sebagian besar hutan bakau telah dikonversi menjadi areal tambak. Namun demikian diperlukan inventarisasi kembali kawasan hutan bakau agar dapat diukur tingkat ancaman kerusakan ekosistem dan kerusakan struktur kawasan pesisir. Degradasi sumberdaya hutan bakau yang merupakan struktur pelindung kawasan pesisir dan tempat berpijahnya sebagian besar species ikan sudah menjadi ancaman yang sangat serius yang akan membahayakan kelestaian sumberdaya pesisir dalam arti luas. Ancaman yang paling serius akan dihadapi oleh sub-sektor perikanan
8 Sumber data BPS diolah dengan metode prediksi regresi eksponensial

194

212

1.193

yang merupakan pemanfaat utama budidaya ikan dengan metode tambak tradisional yang tidak memperhatikan aspek kelestarian lingkungan. Diperlukan kebijakan, program dan tindakan nyata dari pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten untuk meredam laju kerusakan ekosistem melalui pengelolaan hutan mangrove, rehabilitasi dan penghutanan kembali kawasan hutan mangrove. Tindakan tegas perlu diterapkan kepada para pelanggar ketentuan tersebut dengan menyediakan payung hukum yang cukup berat bagi pelaku kerusakan lingkungan. Provinsi Gorontalo hanya memiliki satu Taman Nasional, yaitu Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, terletak di Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango. Menurut Dinas Kehutanan Provinsi Gorontalo, luas taman nasional ini adalah sekitar 110.000 ha. Keberadaan Taman Nasional Nani Wartabone ini sangat penting karena selain berfungsi sebagai sebagai taman nasional, kawasan ini merupakan daerah tangkapan air Sungai Bone yang keberadaan dan kelestariannya menentukan kualitas lingkungan dan potensi pengembangan daerah sekitarnya, terutama wilayah bagian hilirnya. Sungai (dan DAS) Bone sangat berpotensi besar bila dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik, irigasi, obyek wisata, pendidikan, dan lain-lain, sekaligus merupakan kawasan yang memberikan perlindungan kawasan di hilirnya. Jikka DAS Bone mengalami degradasi, maka kawasan akan terjadi ancaman serius terhadap daerah hilir, terutama Kota Gorontalo. Bentuk ancaman serius yang sudah terasa saat ini adalah terjadinya banjir besar yang hampir terjadi secara rutin. Kawasan cagar alam yang telah ditetapkan di Propinsi Gorontalo adalah kawasan Cagar Alam Tangale, Cagar Alam Pulau Mas, Pulau Popaya, dan Pulau Raja. Kawasan Cagar Alam Tangale terletak di Desa Labanu, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo. Sedangkan Cagar Alam Pulau Mas, Popaya, dan Raja terletak di bagian Utara, yaitu sekitar Teluk Kwandang. Cagar Alam Panua yang berlokasi di Desa Libuo, Kecamatan Paguat dapat ditempuh selama 30 menit dari ibukota Kecamatan Paguat memiliki luas 45.557 ha. Cagar alam ini dibangun untuk tujuan konservasi burung Maleo, perlindungan terhadap Burung Tahun serta Babi Rusa yang merupakan fauna endemik Sulwesi. Kawasan ini mempunyai topografi mulai dari dataran rendah hingga berbukit dengan ketinggian mencapai 1.420 m dpl dengn kondisi daratan berpasir putih dan cukup jauh dari pemukiman penduduk. Flora yang dapat ditemui di kawasan ini antara lain: Beringin (Ficus sp), Cempaka, Lunggua, Nantu, Kayu Damar, Cemara Laut, Kayu Bayur, Gopasa, Bombongan, Bolangitang, Kayu arang, Aras, Nibong, Bintangor, Coro,

Kayu raja, Tembawa dan serta mangrove, pohon Cemara, anggrek dan kantong semar yang tumbuh di pesisir pantai. Jenis fauna yang dapat ditemui di sekitar kawasan Cagar Alam Panua ini adalah Maleo (Macrocephalon maleo), Anoa (Buballus depresicornis), Babi rusa (Babyrousa babirusa), Burung Rangkong (Rhyticerox casidix), itik liar, Kakaktua Putih, Raja Udang, Rusa, Biawak, Kus kus, Kera Hitam, Tarsius, Ular Sawah, Nuri Sulawesi, Srindit, Kesturi, Sesap madu, Kum kum, ayam Hutan dan lain-lain. Kawasan suaka marga satwa di Provinsi Gorontalo yang telah dikukuhkan adalah hutan suaka marga satwa Nantu, yang merupakan bagian dari hutan suaka alam Nantu. Kawasan ini berada di Desa Mohiolo dan Desa Pangea, Kecamatan Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo. Sejumlah satwa dan fauna di hutan suaka itu, antara lain Babi Rusa, Anoa, Nuri, Rangkong serta Tarsius yang merupakan satwa sangat unik dan hanya ditemukan di wilayah tersebut. Provinsi Gorontalo memiliki areal persawahan seluas 29034 ha yang tersebar di lima kabupaten dan Kota Gorontalo. Luas lahan sawah yang memiliki pengairan teknis hanya mencakup 9481 ha atau 33 % sedangkan yang terluas adalah sawah tadah hujan dengan luas 11570 ha atau 40 % dari seluruh areal persawahan yang ada di Provinsi Gorontalo. Kabupaten Gorontalo mendominasi areal sawah seluas 11933 ha atau 41 % dari seluruh areal persawahan yang ada di Provinsi Gorontalo, sedangkan di Kota Gorontalo, jumlah areal sawah yang tersedia semakin berkurang seiring dengan semakin meningkatnya intensitas pembangunan di luar sektor pertanian. Gambar 3.10 memperlihatkan sebaran luas areal sawah menurut kabupaten/kota dan jenis irigasi.

Gambar 3.16. Sebaran Areal Sawah Menurut Kabupaten di Provinsi Gorontalo, 2006

Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Gorontalo dan BPS Provinsi Gorontalo, 2006

RPJM Provinsi Gorontalo telah menetapkan indikator kinerja sub-sektor pertanian tanaman pangan untuk produksi sustainable yield padi yang akan dicapai pada tahun 2012 sebesar 300.000 ton. Kondisi lahan sawah yang sekarang dimiliki masih didominasi oleh sawah tadah hujan dengan cakupan yang lebih luas dari sawah beririgasi teknis seperti terlihat pada Gambar 3.10, kondisi demikian tidak memungkinkan cropping intensity (CI) untuk komoditas padi sawah terutama untuk sawah tadah hujan sulit untuk mencapai lebih dari 100%. Kondisi produktivitas lahan, teknologi yang digunakan dan CI riil saat ini hanya menghasilkan produktivitas maksimum sebesar 6,1 - 6,5 ton/ha pada daerah beririgasi teknis yakni di Kota Gorontalo, Kecamatan Tapa dan Tilongkabila (Kabupaten Bone-Bolango), dan Kecamatan Limboto (Kabupaten Gorontalo). Untuk mencapai CI lebih dari 200 % hanya dapat diperoleh dari areal sawah yang memiliki irigasi teknis atau setengah teknis yang memiliki pasokan air sepanjang tahun. Untuk mencapai target 300.000 ton sustainable yield akan diperlukan upaya dan kerja keras luar biasa karena produktivitas rata-rata per satuan luas per tahun yang harus dicapai adalah sebesar 10,33 ton/ha sedangkan produktivitas rata-rata pada saat ini adalah sebesar 4,38 ton/ha/tahun. Dengan demikian diperlukan upaya sebesar 236 % dari upaya yang saat ini dilakukan, artinya, dengan menggunakan teknologi dan sistem produksi yang ada saat ini tidak mungkin dicapai target sebesar tersebut tanpa adanya perluasan areal sawah. Kendala

lain berikutnya adalah, sulitnya mengkonversi seluruh areal sawah tadah hujan menjadi sawah berigasi teknis karena alasan besarnya biaya yang harus dikeluarkan dan terbatasnya ketersediaan sumberdaya air pada seluruh wilayah persawahan. Target realistik yang mungkin dicapai melalui intervensi dan investasi yang sangat tinggi adalah sebesar 8,764 ton per ha per tahun dengan CI sebesar 200 % pada sawah beririgasi teknis dan 5,0 ton per ha per tahun pada sawah tadah hujan, yang berarti akan menggeser kepentingan target produksi agropolitan. Dengan pencapaian target tersebut maka produksi padi maksimum sustainable yield pada tahun 2012 sebesar 210.904 ton, jadi, masih lebih rendah dari target 300.000 ton. Fakta tersebut menunjukkan bahwa adalah lebih baik konsep produksi agropolitan jagung tetap dipertahankan karena target produksi sebesar satu juta ton dapat dicapai tanpa harus meningkatkan upaya dan pembiayaan yang sangat dramatis. Disisi lain, produksi jagung tidak memerlukan teknologi yang tinggi dan tidak memerlukan ketersediaan air irigasi yang sama besarnya dengan produksi padi sawah. 3.3.2. Sumberdaya Air9 Sumberdaya air merupakan salahsatu faktor penting dalam pembangunan suatu wilayah. Tidak banyak pihak yang menyadari hubungan antara tingkat IPM dengan kondisi sumberdaya air dalam satu wilayah. Kondisi sumberdaya air yang dapat dilihat secara visual merupakan indikasi sederhana dari buruknya kualitas sumberdaya manusia. Jika kerusakan lingkungan semakin meluas dan didukung oleh pola pembangunan yang bersifat eksploitatif terhadap sumberdaya alam, maka sudah dapat dipastikan kualitas dan daya dukung sumberdaya air akan menurun dan semakin tidak dapat memberikan manfaat ekonomi. Kerusakan lingkungan di daerah hulu sungai merupakan indikasi tingkat kepedulian masyarakat dan pemerintah yang rendah terhadap pengelolaan sumberdaya air. Akibat kerusakan ekosistem di daerah hulu, sudah dipastikan bahwa akan menimbulkan bencana di daerah hilir yang berarti akan menimbulkan kerusakan ekonomi, prasarana dan sarana. Akibat kerusakan ekonomi, prasarana dan sarana sudah dapat dipastikan akan menurunkan porsi biaya untuk membangun kesehatan dan pendidikan karena secara naluriah dan alamiah kepentingan kesehatan dan pendidikan akan dikesampingkan jika timbul kepentingan untuk merehabilitasi atau memperbaiki prasarana, sarana dan sistem ekonomi.

9 Seluruh data dan informasi mengenai sumberdaya air diperoleh dari BAPPEDA Provinsi Gorontalo

Indikasi kemajuan perencanaan suatu wilayah diperlihatkan dari metode dan sistem pengelolaan daerah aliran sungai (DAS). Semakin tinggi kemajuan suatu wilayah maka seluruh aspek perencanaan sedapat mungkin akan mempertahankan kelestarian lingkungan di sepanjang DAS karena jika DAS rusak maka dampak ekonomi negatif yang ditimbulkannya akan jauh lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan untuk mengelolanya. Provinsi Gorontalo memiliki tiga DAS utama, masing-masing DAS Randangan, DAS Paguyaman dan DAS Bone-Bolango. Air dari ketiga DAS utama ini bermuara di Teluk Tomini. Di luar dari ketiga DAS utama tersebut, juga ditemukan banyak DAS- DAS kecil Iainnya yang umumnya terdapat di hampir seluruh wilayah pegunungan di pinggiran kawasan pantai. Air dari DAS-DAS kecil ini bermuara di Teluk Tomini (untuk DAS di bagian Selatan propinsi) dan di Laut Sulawesi (untuk DAS di bagian Utara propinsi). Sungai-sungai kecil yang bermuara di Utara antara lain S. Bulontio, S, Boliohuto, S. Sumalata, S. Dulakapa, S. Buluto, S. Buluoka, S. Monano, S. Tolongio, S. Ilangata, S. Kwandang dan S. Bubode. Sungai-sungai yang bermuara di selatan antara lain S. Tamboo, S. Tombulilato, S. Sogisadaa, S. Taludaa, S. Sinabayuga, S. Potoila, S. Bobaa, S. Tumbihe dan Sungai Tilamuta. Dua sungai kecil lainnya, yaitu S. Taluhubongo dan S. Dutula Dua bermuara di Danau Limboto alirannya bermuara di Teluk Tomini. Sungai-sungai kecil tersebut berasal dari jajaran Pegunungan Tilong Kabila, Perantanan, Bone, dan Loba serta jajaran gunung-gunung lain yang tingginya bervariasi dari 520 m (G. Pobolu) sampai 2.065 m (G. Daerah Aliran Sungai Randangan DAS ini melintasi Kecamatan Popayato, Marisa dan Paguat dan bermuara di pantai Ibukota Kabupaten Pohuwato (Kecamatan Marisa). Luas DAS ini adalah sekitar 290.000 ha dengan panjang sungai utama sekitar 115 km. Mayoritas (sekitar 80 %) dari wilayah DAS ini berada pada daerah dengan topografi berbukit dan bergunung dengan kemiringan lereng >40 %, sehingga seyogianya harus diperuntukkan sebagai kawasan lindung. Pola aliran sungai DAS ini adalah dendritik dan pararel, air yang dialirkan dengan cepat mencapai hilir. Akibatnya, wilayah hilir DAS menjadi rentan banjir. Dan, kerusakan lahan dan erosi di wilayah hulu, misalnya karena kegiatan penambangan atau pertanian, akan menghasilkan tingkat sedirnentasi yang tinggi di wilayah hilir. Karena itu, pengelolaan lahan dan kegiatan usaha di wilayah hulu perlu

dilakukan melalui program yang disusun berdasarkan perencanaan yang tepat dan dilaksanakan dengan konsekuen. Daerah Aliran Sungai Paguyaman DAS ini melintasi wilayah Kecamatan Tilamuta dan Paguyaman di Kabupaten Boalemo, Kecamatan Tibawa di Kabupaten Gorontalo, bermuara di Teluk Paguyaman. DAS dengan luas sekitar 250.000 ha ini merupakan DAS yang terbesar di Provinsi Gorontalo. Sungai utama DAS ini yang panjangnya sekitar 70 km, seolah membagi dua provinsi ini, di bagian baratnya adalah wilayah kabupaten Boalemo. Sedikitnya 70% dari wilayah DAS mempunyai topografi bergunung sampai berbukit dengan kemiringan lereng > 40 %. Dengan topografi berbukit dan pegunungan, sungai utama DAS Paguyaman berbentuk lembah dalam, sehingga mampu menarnpung debit aliran air tinggi. Tidak diperoleh data debit sungai di provinsi ini, tetapi berdasarkan hasil pengukuran oleh PLN (1985) dan DPU (1987) Provinsi Sulawesi Utara, Sungai Paguyaman yanq tertinggi kecepatan arusnya (23,4 sampai sampai 63,4 m/detik) dengan kedalaman sungai mencapai 76. Dengan potensi seperti itu, Sungai Paguyaman dinilai memiliki produktivitas air yang besar, sehingga dapat memenuhi kebutuhan air untuk pertanian dan kebutuhan lainnya. Namun, yang merisaukan adalah ada indikasi bahwa fluktuasi debit tahunannya terus menjadi lebih besar, mengindikasikan proses degradasi lahan di wilayah DAS ini yang terus berlangsung. Potensi kerusakan DAS memang besar karena beberapa alasan. Pertama, karena luas DAS yang besar, mencakup kawasan budidaya yang besar. Kedua, topograpi wilayah hulu DAS yang kondusif bagi proses erosi. Ketiga, konflik pengelolaan di masa depan, karena wilayah DAS ini melintasi dua kabupaten berbeda, walaupun mayoritas berada di Kabupaten Boalemo. Dengan demikian, model pengelolaan DAS yang singkron dengan program pengembangan wilayah lintas kabupaten perlu dirumuskan dengan baik. Daerah Aliran Sungai (DAS) Bolango-Bone DAS Bolango-Bone sesungguhnya dibangun oleh dua DAS berbeda, DAS Bolango dan DAS Bone, keduanya bermuara di Teluk Gorontalo. DAS Bone jauh lebih besar dari pada DAS Bolango. Secara bersamasama, DAS Bolango-Bone mempunyai luas sekltar 265.000 ha dengan panjang sungai utama sekitar 100 km. Yang menggembirakan adalah, kualitas air Sungai Bone yang masih tampak jernih pada daerah hulu karena kegiatan pertanian belum terlalu sampai pada tahap eksploitatif. Meskipun demikian, dari berbagai sumber, termasuk dari

interpretasi gambar citra landsat, diketahui bahwa sebagian dari kawasan DAS ini telah mulai terbuka. DAS Bolango-Bone didominasi (80%) oleh wilayah dengan kemiringan lereng >40%. Artinya, DAS ini juga rentan terhadap proses degradasi yang cepat jika kawasan hulu dari catchment areanya dikelola secara tidak tepat. DAS ini sangat rentan terhadap banjir ini terlihat jelas pada frekuensi banjir yang terjadi di Kota Gorontalo. DAS Bolango-Bone (terutama DAS Bolango) memberi kontribusi besar terhadap sedimentasi Danau Limboto yang saat ini lebih banyak berbentuk daratan dari pada perairan, karena sebagian besar dari mangkuk danau telah berubah menjadi daratan. Rusaknya lingkungan DAS Bolango dan daerah tangkapan di pinggiran danau di kota Gorontalo merupakan penyebab utama pendangkalan dan penciutan areal danau. Berdasarkan kenampakan fisik sungaisungai yang bermuara ke danau, maka sungai-sungai di bagian selatan (dengan topografi curam, lebih terganggu dan berhubungan langsung dengan danau) diperkirakan memiliki sumbangan sedimentasi lebih tinggi dibandingkan sungai-sungai bagian barat dan tengah. Penyuburan perairan danau turut yang mendorong tumbuhnya gulma air mempercepat proses pendangkalan danau. Pencemaran Lingkungan Sumberdaya Air Pencemaran air di Gorontalo pada umumnya bersumber dari aktifitas masyarakat yang kurang peduli dengan lingkungan yang bersih, misalnya membuang sampah di saluran drainase dan sungai sehingga mengakibatkan pembusukan dan air menjadi kotor. Perubahan kualitas air sungai juga berasal dari limbah domestik dan limbah industri yang berasal dari industri pengolahan batu pecah, pengolah garam beryodium, pengolahan kayu, pengolahan ikan, pengolahan tepung pengolahan tapioca, pengolahan tepung sagu, pengolahan minyak kelapa segar, pengolah tahu tempe, industri tenun ikat, pengawetan kulit, pengolah rotan dan industri kecap.

3.3.3. Issue dan Permasalahan Pertanian Pada 15 Kecamatan Terpilih 3.3.3.1.Periode Produksi Padi Secara tradisional, di Provinsi Gorontalo dikenal dua musim tanam yaitu musim “tahuwa” dan “hulita”. Musim tahuwa artinya musim tanam besar yang bisanya dilakukan pada saat curah hujan cukup yaitu antara bulan Nopember 10000 sampai dengan bulan Januari. Musim tanam “hulita” 8000 biasanya dilakukan pada 6000 bulan April sampai dengan Juni. Pola musim tanam pada 4000 tahun 2006 dan 2007 sangat 2000 berhubungan dengan kondisi curah hujan. Seperti telah 0 J an Feb Mar Apr Mei J un J uli Agst Sept Okt Nov Des diuraikan pada bagian bahwa 1397 2305 958 8995 8257 884 2096 95 483 312 1796 7555 terdahulu, 2006 ketersediaan air pada 8986 2936 2019 2185 6774 8732 2540 1175 1133 2398 7553 6691 2007 jaringan irigasi di Provinsi Sasaran 20086015303617256477870755712686 736 936 157054168253 Gorontalo sangat terbatas dan tidak merata di seluruh Provinsi sehingga pola tanam seperti terlihat pada Gambar 3.17. Gambar 3.17. Pola Luas tanam Padi Sawah Provinsi Gorontalo 2006, 2007 dan target 200810 Puncak musim panen padi sawah di Provinsi Gorontalo berada pada bulan Maret dan Bulan Agustus. Terdapat perbedaan yang cukup signfikan antara luas panen musim tanam tahuwa pada 100 00 tahun 2006 dengan 2007 80 00 dimana terdapat pergeseran 60 00 puncak musim panen dari bulan 40 00 Maret pada tahun 2006 menjadi 20 00 bulan April pada tahun 2007. 0 J an Feb Mar Ap Mei J u J uli Ag Sep Okt Nov Des r n st t Prediksi puncak musim panen 1 02 5 8 9 4 19 6 17 7 1 2 7 2 9 8 9 5 2 6 3 6 94 82 2 8 0 5 5 1 35 7 1 3 26 3 6 0 20 6 0 pada tahun 2008 diperkirakan 4 8 2 3 5 6 64 1 40 1 1 6 9 5 8 9 7 2 2 2 1 4 4 5 4 75 90 8 4 2 8 7 55 4 9 9 5 7 4 6 20 7 0 akan sama dengan tahun 2006. Sasaran 2 0 11 3 4 9 8 0 4 5 3 3 1 3 4 7 9 43 4 2 2 3 11 4 4 5 0 8 0 6 3 5 5 52 1 7 2 4 5 3 6 5 3 7 8 1 1 Gambar 3.18 memperlihatkan pola sebaran musim panen pada tahun 2006,2007 dan target luas panen tahun 2008.
10 Sumber data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Gorontalo, 2008
LU PAN ( a) AS EN H

LUAS TANAM(Ha)

Gambar 3.18. Realisasi Luas Panen tahun 2006 dan 2007 dan Target tahun 200811 3.3.3.2.Sumberdaya Lahan Peningkatan produksi pertanian tanaman pangan di Provinsi Gorontalo yang bertujuan untuk meningkatkan IPM dapat ditempuh melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. Fokus peningkatan pada pola intensifikasi adalah dengan meningkatkan produktivitas yang masih dimungkinkan pada beberapa kecamatan. Peningkatan produksi melalui ekstensifikasi dapat difokuskan pada peningkatan optimalisasi pemanfaatan lahan. Upaya ekstensifikasi hanya dapat dilakukan melalui pencetakan areal pertanian baru atau melalui pemanfaatan tanah terlantar yang sesuai untuk komodtas tanaman pangan. Disisi lain, upaya ekstensifikasi hanya dapat dilakukan jika upaya peningkatan produktivitas melalui intensifikasi sudah tidak mungkin lagi dilakukan, artinya upaya ekstensfikasi merupakan langkah terakhir dalam jangka panjang jika tujuan produksi hanya untuk mempertahankan swasembada beras. Namun demikian jika peningkatan produksi ditujukan untuk memperbesar peran sektor pertanian dan memperluas peluang usaha dan peluang kerja maka upaya ekstensifikasi juga dapat dilakukan sebagai program jangka pendek dan menengah. Potensi pengembangan ekstensifikasi pertanian tanaman pangan sangat tergantung pada ketersediaan sumberdaya lahan yang sesuai dan dapat dikonversi menjadi areal tanaman pangan terutama sawah dan palawija. Luas lahan bukan sawah menurut penggunaan di 15 kecamatan ber-IPM rendah disajikan dalam Tabel 3.2. Tabel 3.2. Luas Lahan Menurut Penggunaan di 15 Kecamatan
Pekar angan /Bang unan & Halam an Pen gge mba laan / Pad ang Ru mpu t 0 0 Raw araw a tida k dita nam i Padi 0 0 Sem ent ara Tida k diUs aha kan 0

Kecamata n

Teg al/ Keb un

Lad ang/ Hu ma

Tam bak

Kola m/ Teb at/ Emp ang

Hut an Rak yat

Hut an Neg ara

Perk ebun an

lainlain

Juml ah

TAPA BOTUMOIT O KWANDANG ANGGREK TIBAWA

1070 1127

271

0 0 211 83 0

0

541 5495 2760 513 4852 0

0 1782 2 3946 0 3333 0 0

0 4060 1309 4068 35 2 1065 645

302 15

8139 52375 15439 30455 19533

94 1118 31 0 0 0

270 4500 1400 1389 6506 2883

0 3532 526 1535 650 5 2093 2740 0 0 3231 5524

11 Sumber data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Gorontalo, 2008

TOLINGGUL A BOLIYOHUT O PAGUAT TELAGA BIRU PULUBALA MOOTILAN GO WONOSARI TALUDITI ATINGGOLA PATILANGGI O

482

786 2726 1605 0 0 109 582 0 0 0 300

793 0 500 54 25 12 0 268 178 50

2 0 50 0 0 0 0 0 0 10

2 1492 9508 0 153 0

1301 5 1245 1929

33585 3758 79852 10062 20554 15111 49443 44132 25354 29674

735 1365 309

715 2399 506 0

0 1462 43 6249 25 6511 1500 4 3911 1329 5 212 1420 2052 2412 0 31

1448 1340 2098 3995 1191 2366

2 6903 2 0 0 0 0

0 3075 4456 1383 1268 2675 595 15 450

703 1370 900 1075 0 985 863 1630

776 2340 150 8684

892 1897 450 10

15 2677 5494 2725 3155 668 5 2927 8649 1115 7 1155 408 1301 9 1129 6191 1050 9

3875 2128 1272 508

Sumber: BAPPEDA Provinsi Gorontalo, 2007

Lahan yang tersedia untuk ekstensifikasi masih terbuka lebar terutama pada kecamatan Botumoito, Kwandang, Anggrek, Tolinggula, Paguat, Pulubala, Wonosari, Taluditi, dan Patilanggio. Pada kecamatan tersebut areal yang tersedia tetapi belum dimanfaatkan secara optimal adalah seluas 20.981 ha12. Luas lahan yang masih potensial untuk dikembangkan menjadi areal pertanian tanaman pangan di 15 Kecamatan tersebut disajikan pada Gambar 3.19. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa distribusi potensi pengembangan lahan pertanian terbesar secara berturut-turut berada pada Kecamatan Taluditi (20%), Pulubala (16%), Paguat (16%) dan Patilanggio (15%).
Lu s Pot n a e si PA TILA GGIO N ; 3 9 ;1 % .0 6 5 B TU O ; O M ITO 8 1; 4 9 %

Gambar 3.19. Potensi K ADN W N A G; Pengembangan Lahan 1 7 ;9 .9 3 % Tanaman AG N GREK Pertanian ; Pangan di 15 1 6 ;8 .6 7 % Kecamatan

Pengembangan lahan pertanian tanaman pangan di masa TO GG LA LIN U mendatang ; harus 7 6; 4 4 % dilaksanakan sebagai TA D 4 2 LU ITI; .3 5 ;2 % 0 upaya untuk PU BA ; LU LA PA A 3 5 GU T; .2 6 W N SA I; OO R menyediakan lahan 3 5 ;1 % .4 2 6 ;1 % 6 1 7 ;8 .5 8 % pertanian abadi dan tidak terpisah dengan petani sebagai owners and managers. Oleh karena itu, untuk mengembangkan lahan pertanian tanaman pangan sebagai primary resource reserve dan menciptakan kondisi dimana lahan pertanian tidak dapat dengan mudah untuk
12 Angka tersebut diperoleh dari konversi lahan sementara tidak diusahakan dengan asumsi kapasitas daya dukung dan kesesuaian lahan untuk komoditas tanaman pangan sebesar 50%, penggunaan teknologi mekanisasi dan ketersediaan petani.

dikonvesi menjadi lahan non pertanian diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dalam bentuk penetapan aturan yang dengan tegas melarang konversi lahan. Disisi lain upaya mempertahankan status lahan pertanian tanaman pangan harus diiringi dengan aturan yang melarang konversi kepemilikan lahan dari petani ke bukan petani. Kondisi tersebut sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kemubaziran investasi yang seharusnya digunakan untuk mendukung pembangunan pertanian menjadi tidak termanfaatkan karena lahan dikonversi bukan untuk pertanian. Pelajaran yang sangat berharga yang diperoleh dari kejadian di Pulau Jawa dimana sebagian besar lahan pertanian dikonversi menjadi kawasan industri, perumahan dan penggunaan lain adalah karena ketidaktegasan pemerintah untuk mempertahankan status lahan pertanian. Akibatnya para investor dengan mudah mengkonversi lahan pertanian tanaman pangan (terutama lahan sawah terbaik) dan merusak seluruh sistem jaringan irigasi dan prasarana pendukung lainnya yang telah dibangun dengan biaya yang sangat mahal dan dalam waktu yang lama. Provinsi Gorontalo sebagai wilayah yang sangat tergantung pada sektor pertanian harus menentukan langkah antisipatif untuk mencegah terjadinya konversi lahan pertanian ke non pertanian dan konversi kepemilikan lahan pertanian dari petani ke bukan petani13. Penerbitan aturan mengenai kepemilikan lahan dan pencegahan konsentrasi kepemilikan pada beberapa orang tertentu (terutama etnis tertentu) merupakan salahsatu inti reformasi pertanian di Provinsi Gorontalo. Jika aturan tersebut tidak dibuat sejak dini dan penegakan hukum atas aturan tersebut tidak dijalankan sebagaimana mestinya maka dipastikan pada suatu saat nanti lahan pertanian tanaman pangan di Provinsi Gorontalo hanya akan dimiliki oleh segelintir orang dan petani kecil yang saat ini masih memiliki lahan, hanya akan menjadi buruh tani. Jika prediksi tersebut benar-benar terjadi maka siasia lah segala upaya untuk meningkatkan pendapatan petani yang bertujuan untuk meningkatkan daya beli. Konsekuensi logis dari hal tersebut adalah bahwa tidak mungkin IPM Provinsi Gorontalo meningkat secara signfikan karena sebagian besar penduduknya yang berada di sektor pertanian tetap tidak berdaya (dan bahkan mungkin lebih terpuruk). 3.3.3.3.Sawah dan Jaringan Irigasi Sawah yang didukung oleh ketersediaan prasarana pengairan yang lengkap dengan jaringan irigasi merupakan syarat mutlak bagi terselenggaranya produksi pertanian tanaman pangan terutama untuk
13 Upaya yang harus dicegah dalam jangka pendek terutama konversi kepemilikan lahan dari petani kepada pemilik modal karena akan terjadi akumulasi konsentrasi asset lahan pertanian oleh sejumlah kecil pemilik modal terutama oleh etnis tertentu.

komoditas padi sawah. Dengan adanya jaringan irigasi maka produktivitas padi sawah yang dihasilkan dapat lebih mudah diatur untuk mencapai tujuan produksi. Sebagai wilayah sentra produksi padi yang berada pada kondisi surplus dalam jangka panjang Provinsi Gorontalo hanya memilki areal sawah berpengairan teknis seluas 11.645 ha (41%) dari 28.251 ha sawah yang ada. Sawah yang dilengkapi irigasi setengah teknis mencakup 21 %, irigasi sederhana 2%, irigasi desa/non PU 5%, sisanya merupakan sawah tadah hujan seluas 7935 ha (28%) dan lebak/folder seluas 433 ha. Tabel 3.2. memperlihatkan luas areal sawah menurut jenis pengairan pada 15 kecamatan. Tabel 3.2. Sebaran Areal Sawah di 15 Kecamatan ber-IPM Rendah
Irigas i tekni s 54 7 5 0 1.26 9 1.12 3 28 8 5 0 1.23 9 4.537 Irigas i Desa/ Non PU 75 146 286 60 113 30 70 92 872 Iriga si Tada h Huja n 25 4 19 0 18 8 48 8 6 7 1 0 4 4 20 0 32 8 2.60 7 78 0 16 2 6 6 5.38 4 Lebak/ Folder / Lainny a 250 50 300

Kecamatan

Seten gah Teknis 425 180 699 255 15 1.574

Irigasi Sederh ana 75 102 3 480 660

Jumlah

TAPA BOTUMOITO KWANDANG ANGGREK TIBAWA TOLINGGULA BOLIYOHUTO PAGUAT TELAGA BIRU PULUBALA MOOTILANGO WONOSARI TALUDITI ATINGGOLA PATILANGGIO Jumlah 15 Kecamatan

54 7 50 67 9 44 5 1.03 3 2.36 8 1.25 0 48 0 33 2 29 8 1.56 7 2.60 7 85 0 64 2 20 8 13.32 7

Jumlah Luas Sawah 11.6 1.53 7.93 28.25 6.040 660 433 Provinsi 45 8 5 1 Gorontalo Persentase Terhadap Luas Sawah 39% 26% 100% 57% 68% 69% 47% Di Provinsi Gorontalo Sumber: Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi dan masing-masing Kabupaten, BAPPEDA Provinsi dan Kabupaten, dan BPS.

Diantara 15 kecamatan yang ber-IPM rendah, hanya tujuh kecamatan memiliki sawah berpengairan teknis, yaitu Kecamatan Tapa, Botumoito, Tolinggula, Boliohuto, Telaga Biru, Pulubala dan Kecamatan Mootilanggo. Diantara kecamatan tersebut, hanya lima kecamatan yang memiliki sawah berpengairan teknis dalam luasan yang relatif besar yaitu, Kecamatan Tapa (547 ha), Tolinggula (1269ha), Boliyohuto (1123 ha), Telaga Biru (288 ha), dan Mootilanggo (1239 ha). Dari angka tersebut menunjukkan bahwa kecamatan tersebut merupakan sentra produksi padi sawah. Sawah berpengairan setengah teknis berada pada Kecamatan Kwandang (425 ha), Anggrek (180ha), Tibawa (699 ha), Paguat (255 ha) dan Pulubala (15 ha). . Jumlah areal sawah tadah hujan di 15 Kecamatan lebih luas dari sawah berpengairan teknis dan berada di 13 Kecamatan. Kecamatan Wonosari sebagai daerah pemukiman transmigrasi sekaligus sebagai lumbung padi Kabupaten Boalemo tidak memiliki sawah beririgasi teknis. Seluruh areal persawahan di Kecamatan Wonosari (2607 ha) merupakan sawah tadah hujan. Meskipun demikian, pada tahun 2007 dan 2008 dibangun sistem pengairan yang ditujukan untuk mengairi areal sawah seluas 800 ha sehingga masih ada 1407 ha sawah di Kecamatan Wonosari belum memiliki prasarana pengairan teknis. Pembangunan jaringan irigasi di Kecamatan Wonosari dirasakan sangat mendesak karena petani padi sawah umumnya mengharapkan frekuens penanaman padi lebih dari satu kali dalam setahun. 3.3.3.4.Produksi dan Produktivitas Tanaman Hubungannya dengan Peningkatan IPM Pangan dan

Terbatasnya areal sawah berpengairan teknis menjadi kendala terbesar dalam mengatur pola tanam dan jadwal tanam karena ketersediaan air tidak seluruhnya dapat diatur dengan mudah untuk memenuhi kebutuhan sumberdaya air pada masing-masing fase pertumbuhan padi sawah. Kondisi tersebut mengakibatkan tingkat produktivitas padi sawah di Provinsi Gorontalo masih relatif rendah. Luas panen padi sawah pada tahun 2006 adalah 42.815 hektar

menghasilkan 190.125 ton dengan rata-rata produksinya 4,44 ton per hektar. Seperti halnya kondisi umum di Provinsi Gorontalo, kecamatankecamatan terpilih yang memiliki IPM rendah merupakan sentra produksi padi dan jagung. Luas areal sawah pada 15 kecamatan tersebut adalah 13.327 ha atau sebesar 47 % dari seluruh sawah di Provinsi Gorontalo. Seperti terlihat pada Tabel 3.2, sebaran lahan sawah terbesar terdapat di Kecamatan Wonosari (Kabupaten Boalemo) dengan luasan 2294 ha. Namun demikian, seluruh lahan sawah di kecamatan tersebut merupakan sawah tadah hujan sehingga produktivitasnya masih rendah (4,9 ton/ha/tahun). Kebijakan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Boalemo yang akan menjadikan Kecamatan Wonosari dan Kecamatan Paguyaman sebagai Kota Mandiri Terpadu (KTM) PAWONSARI diwujudkan secara terintegrasi dengan upaya menjadikannya sentra produksi pangan Provinsi Gorontalo. Upaya pemerintah untuk meningkatkan produktivitas padi sawah di Kecamatan Wonosari dilakukan melalui pembangunan bendungan lengkap dengan saluran irigasi yang sampai sekarang masih berlagsung. Upaya pembangunan sistem irigasi tersebut diiringi dengan pencetakan sawah baru yang disediakan bagi transmigran yang sudah dilakukan pada tahun 2007. Jika dihubungkan dengan tujuan dan sasaran produksi padi yang ditetapkan dalam RPJM Provinsi Gorontalo, maka kondisi pengairan sawah pada 15 kecamatan tidak akan mampu mendukungnya. Tanpa upaya peningkatan produktivitas melalui berbagai intervensi dalam bentuk penyediaan sarana produksi, prasarana pengairan, penyuluhan, intervensi aplikasi pemupukan, peningkatan kemampuan dan kapasitas petani dalam pengelolaan usahatani, sasaran produksi sebesar 300.000 ton sustainable yield tersebut tidak akan mungkin tercapai pada tahun 2012. Oleh karena itu diperlukan optimalisasi pemanfaatan lahan sawah yang dilengkapi dengan seluruh sarana dan prasarana produksi yang dibutuhkan. Penyediaan sarana dan prasarana produksi tersebut dikelola melalui lembaga yang menangani sistem agrbisnis tanaman pangan. Dengan teknologi, sarana, prasarana yang ada saat ini disertai kemampuan petani yang serba terbatas dalam segi kapasitas permodalan, produksi maksimum yang dihasilkan oleh lahan seluas 13356 ha dengan cropping intensity 1,3 dan produktivitas lahan sebesar 5,2 ton/ha adalah sebesar 89.873 ton. Oleh karena itu diperlukan upaya peningkatan teknologi produksi, penyediaan sarana produksi dan prasarana untuk mendukung pencapaian sasaran produksi RPJMD. Disisi lain diperlukan reorientasi pencapaian produksi yang bukan hanya ditekankan pada aspek produksi semata, tetapi

fokus perhatian lebih ditekankan pada peningkatan produktivitas. Pertimbangan tersebut sangat penting mengingat peningkatan pendapatan masyarakat secara luas hanya akan tercipta jika terjadi peningkatan produktivitas secara signifikan. Tabel 3.3. Sawah Analisis Potensi Produksi dan Produktivitas Padi
Ka pa sit as Da ya Du ku ng Riil Ta np a Int erv en si Ta mb ah an Jari ng an Iri ga si 0,7 1,5 0,9 1,0 1,0 1,1 1,3 1,5 0,9 1,2 1,0 2,2 1,7 1,2 1,4

Kecamatan

Lua s Bak u Selu ruh Jeni s Saw ah

Lua s Are al Tan am

Lua s Are al Pan en

Pr o d u kt iv it a s (t o n/ h a/ ta h u n)

Pro dusi

CI Ri il

Ind eks Max imu m Cro ppi ng Inte nsit y Teo ritis

P ot en si Pr od uk ti vi ta s Te or iti s (h a/ ta h u n)

Pot ensi Pro duk si Lah an Teo ritis (ha/ th)

Ra sio Pr od uk si Te ori tis Te rh ad ap Pr od uk si Rii l

TAPA BOTUMOITO KWANDANG ANGGREK TIBAWA TOLINGGULA BOLIYOHUTO PAGUAT TELAGA BIRU PULUBALA MOOTILANG O WONOSARI TALUDITI ATINGGOLA PATILANGGI O

547 50 679 445 1033 2368 1250 480 332 298 1567 2607 850 642 208

1.48 2 11 7 1.11 4 21 7 1.13 8 3.13 4 1.24 7 55 8 74 6 9 6 1.88 1 1.73 3 46 7 96 6 17 5

1.08 5 17 0 97 8 20 9 1.12 7 3.37 3 1.65 7 82 4 65 8 11 2 1.83 4 3.80 6 80 9 1.19 5 25 0

6,5 5,2 5,3 5,6 6,9 4,0 4,6 5,1 7,3 3,8 4,8 4,9 4,8 3,8 5,1

7.05 3 89 2 5.18 4 1.17 4 7.77 6 13.65 6 7.58 6 4.18 3 4.83 5 42 2 8.80 1 18.64 9 3.90 0 4.50 0 1.26 3

2,7 2,3 1,6 0,5 1,1 1,3 1,0 1,2 2,2 0,3 1,2 0,7 0,5 1,5 0,8

2,0 2,0 1,6 1,4 1,8 1,6 2,0 1,8 2,0 1,1 2,0 1,9 1,5 2,0 1,4

13, 0 10, 5 8,6 7,9 12, 6 6,6 9,2 9,4 14, 7 4,2 9,4 9,4 7,2 7,5 7,3

14.2 30 1.0 49 9.5 15 4.9 31 23.5 82 25.6 46 22.8 91 8.2 70 9.7 57 1.3 58 28.8 91 46.9 88 9.2 47 9.6 70 2.1 85

2,0 1,2 1,8 4,2 3,0 1,9 3,0 2,0 2,0 3,2 3,3 2,5 2,4 2,1 1,7

Sumber: Diolah dari berbagai sumber, basis data tahun 2006

Jumlah 15 Kecamatan Rata-rata 15 Kecamatan

1335 6

15.0 70

18. 086

5, 2

89.8 73

1, 3

1,7

9, 2

218. 211 1,2 2,4

Penerapan berbagai intervensi yang dilakukan secara komprehensif dan dipadukan dengan pemanfaatan lahan secara optimal, maka sesugguhnya, secara teoritis, 15 Kecamatan yang ber-IPM rendah mampu menghasilkan padi sebesar 218.211 ton. Artinya dengan hanya 15 kecamatan saja mampu menghasilkan sebanyak lebih dari 60% produksi padi yang ditetapkan oleh RPJM. Namun demikian untuk mencapai sasaran tersebut diperlukan peningkatan secara signfikan frekunesi penanaman dalam setahun sehingga meningkatkan cropping intensity dari sebesar 1,3 menjadi 1,7. Disisi lain, diperlukan intervensi teknologi untuk meningkatkan produktivitas dari sebesar 5,2 ton/ha menjadi 9,2 ton/ha. Artinya diperlukan introduksi teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas melalui perbaikan daya dukung lahan sehingga mencapai angka 120%. Tabel 3.3, memperlihatkan secara lengkap analisis potensi produksi dan produktivitas optimal yang mampu dihasilkan oleh 15 kecamatan ber-IPM rendah. Rendahnya produktivitas padi sawah di Kecamatan Tolinggula disebabkan oleh sistem irigasi yang digunakan. Meskipun luas areal sawah beririgasi teknis sangat luas yaitu 2368 ha, sebagian besar merupakan irigasi air tanah yaitu 1929 ha (81%) dengan jumlah jaringan irigasi sebanyak empat jaringan. Karena sebagian besar jaringan tersebut mengalami masalah, maka diperlukan rehabilitasi dan rekonstruksi pada sebagian jaringannya untuk meningkatkan produktivitas lahan sawah secara keseluruhan. Masalah yang dihadapi selain terbatasnya cakupan areal pelayanan irigasi teknis adalah belum lengkapnya penyediaan sarana dan keberadaan prasarana pendukung produksi yang merata pada seluruh sentra produksi. Disisi lain, meskipun tersedia sarana dan prasarana irigasi, masih terdapat permaslahan dalam pengelolaan dan fungsi jaringan irigasi yang tidak optimal seprti di Kecamatan Tolinggula. Di kecamatan tersebut produktivitas padi sawah sangat rendah, yaitu hanya 4 ton/ha. Sarana dan prasarana pendukung produksi biasanya hanya tersedia secara lengkap di sekitar ibukota Kabupaten atau dekat dengan Kota Gorontalo. Sehingga dapat dilihat dari capaian produktivitas yang cenderung lebih besar pada kecamatan yang berada di sekitar Kota Gorontalo. Ketersediaan Faktor Produksi Faktor produksi menjadi kendala utama dalam ketersediaannya terutama pada kecamatan yang terletak jauh dari kota. Benih, pupuk, dan pestisida biasanya sulit didapat terutama pada musim tanam dan pada saat

dibutuhkan. Penyediaan faktor produksi yang dilakukan oleh pemerintah sangat membantu petani, tetapi seringkali terjadi kelambatan dalam penyediaannya. Keterlambatan penyediaan faktor produksi seringkali membuat petani terjebak oleh jeratan sebagian tengkulak yang seringkali memanfatkan situasi untuk memperoleh keuntungan. Tengkulak datang kepada petani untuk menyediakan faktor produksi tetapi dengan perjanjian bahwa seluruh hasil panen harus dijual kepada tengkulak yang menyeiakan benih, pupuk dan pestisida. Akibatnya adalah, harga jual faktor produksi menjadi mahal dan harga jual produk petani menjadi rendah karena berlaku praktek hedging (ijon). Praktek ijon yang seringkali terjadi di hampir seluruh kecamatan di Provinsi Gorontalo menjadi penyebab rendahnya kekuatan petani dalam pemupukan modal. Rendahnya kemampuan untuk pemupukan modal disebabkan oleh karena petani tidak memiliki cadangan finansial hasil panen. Cadangan finansial yang diperoleh dari hasil panen tidak tersedia karena petani memperoleh keuntungan yang sangat sedikit dari hasil panennya. Rendahnya keuntungan disebabkan oleh rendahnya harga jual produk yang dihasilkan.

3.3.3.5.Kapasitas Permodalan Berlakunya praktek hedging pada sistem agribisnis padi sawah memerlukan perhatian serius untuk dicarikan solusinya. Akibat luasnya praktek tersebut petani tidak akan pernah beranjak dari kemiskinan sehingga akan hampir mustahil meningkatkan pendapatan dan memberdayakan petani jika berbagai upaya yang dilakukan tidak disertai dengan upaya menghapus praktek hedging tersebut. Praktek hedging akan sangat sulit jika dihapus secara drastis dan dalam skala yang sangat luas. Upaya harus dilakukan secara bertahap dan dimulai dengan kamanye penyadaran petani mengenai pentingnya manajemen kuangan rumahtangga usahatani dan pentingnya pemupukan modal secara mandiri. Pengaruh praktek hedging terhadap struktur penerimaan dan peluang untuk menabung menjadi sangat penting untuk dikaji. Adanya praktek hedging sangat berpengaruh terhadap struktur biaya produksi sehingga pada akhirnya berpengaruh terhadap pendapatan bersih petani. Komponen pendapatan petani merupakan sumberdaya 8000000 finansal yang selanjutnya akan 7000000 digunakan untuk konsumsi dan 6000000 modal yang akan dijadikan biaya untuk melakukan proses 5000000 produksi pada musim tanam 4000000 pada tahun berikutnya. 3000000 Kemampuan memupuk modal tergantung pada besarnya 2000000 pendapatan bersih yang 1000000 diperoleh dari usahataninya. 0 Hasil analisis pendapatan dengan empat model pengaruh -1000000 ada tidaknya hedging pada proses pengadaan faktor produksi dan hubungannya dengan peluang menabung M in im u m Net S aving O p p o rtu n ityM axim u m Net S aving O p p o rtu nity disajikan pada Gambar 3.20. Cash S elling C ash Co st Cash S elling Hedg ed Co st
(03 TIBAW 0) A (01 TAPA 0) (04 TALUDITI 1) (0 PAGUAT 50) (03 PULUBALA 1) (04 BO O 2) TUM ITO (05 W NO 1) O SARI (06 KW 0) ANDANG (06 ANGGREK 1) (041 M OTILANGO ) O (04 BO HUTO 0) LIYO (03 PATILANGGIO 1) (08 TELAGA BIRU 1) Hed g e S ellin g Cash Co st Hed g e S ellin g Hed ged Co st

Gambar 3.20. Kecamatan

Akibat Praktek Hedging dan Peluang Menabung di 15

Pelaku usahatani di Kecamatan Botumoito, Wonosari, Taluditi, Patilanggio, Kwandang, Anggrek, Tolinggula dan Atinggola menderita akibat rendahnya peluang untuk menabung yang diakibatkan oleh adanya praktek hedging dalam penyediaan faktor produksi dan pemasaran hasil

(0 TOLINGGULA 51)

(09 ATINGGOLA 0)

panennya. Nilai pendapatan bersih usahatani yang diterima petani tertinggi di Kecamatan Pulubala, yang diperoleh dari hasil penjualan secara tunai dan penyediaan faktor produksi secara tunai pula. Kondisi Net saving opportunity juga secara otomatis terjadi pada kecamatan Pulubala. Secara umum, kecamatan-kecamatan yang berada di sekitar Kota Gorontalo memperoleh keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan kecamatan yang berada jauh dari kota tersebut. Kondisi jarak dan aksesibilitas nampaknya berpengaruh sangat signifikan terhadap pendapatan bersih yang diterima oleh petani demikian juga halnya dengan kondisi terjadinya praktek hedging. Kondisi jarak dan aksesibilitas pada kecamatan yang memiliki net saving opportunity rendah memang memungkinkan terjadinya praktek hedging yang berpengaruh terhadap tingginya harga jual faktor produksi dan rendahnya nilai jual hasil panen. Secara siklikal kondisi demikian akan menurunkan kemampuan pelaku usahatani (terutama pemilik lahan sempit dan terjadinya budel) untuk memperoleh pendapatan yang layak sehingga dalam jangka panjang jumlah petani miskin akan semakin meningkat. Peran pemerintah Provinsi Gorontalo sangat dibutuhkan untuk menangani permasalahan siklikal (lingkaran setan) ini. Upaya dalam bentuk program penguatan modal berkelanjutan yang dikelola secara transparan dan akuntabel diharapkan dapat berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan petani miskin. Dihubungkan dengan upaya peningkatan IPM, program dan kegiatan yang harus dilakukan dalam jangka pendek lebih ditekankan pada peningkatan kapasitas permodalan dan peningkatan kemampuan kewirausahaan pada masing-masing petani, baik secara individu maupun kelompok. Program penguatan modal harus dilakukan dengan cara meningkatkan kesadaran dan kepedulian petani dalam mengelola asset yang dimiliki untuk selanjutnya digunakan sebagai jaminan untuk meminjam kepada bank atau lembaga keuangan. Program pemberdayaan dalam bentuk penguatan permodalan tidak boleh dilakukan, jika metode pelaksanaanya hanya menciptakan ketergantungan pada bantuan seperti yang selama ini dilakukan. Petani harus dididik untuk mampu memperoleh modal finansial dalam bentuk pinjaman dengan jaminan lahan yang dimilikinya. Upaya pendampingan oleh lembaga atau LSM yang telah berpengalaman dan profesional diperlukan untuk membimbing petani dalam memperoleh sertifikat bagi petani yang belum memiliki sertifikat. Bagi petani yang telah memiliki sertifikat dibimbing dan dididik untuk mampu mengajukan pinjaman sampai memperoleh modal yang diperlukan untuk menjalankan usahataninya. Setelah pinjaman diperoleh dari bank atau lembaga keuangan lain, petani tidak boleh dilepas sendiri sehingga tidak melakukan kesalahan dalam mengelola dan menggunakan uang pinjaman. Diperlukan program

pendampingan berkelanjutan untuk melatih dan membentuk kemampuan petani sampai seluruh petani memiliki kemampuan nyata dalam membentuk permodalan. Diharapkan setelah kemampuan membentuk modal secara mandiri, setiap petani akan mampu membiayai seluruh biaya usahatani tanpa harus tergantung pada tengkulak dengan sistem hedgingnya dan demikian pula hanlnya tidak perlu lagi bantuan pemerintah yang bersifat cuma-cuma. Bantuan pemerintah di masa depan hanyalah bersifat stimulan dalam arti yang sebenarnya. Tidak boleh lagi ada bentuk bantuan permodalan yang bersifat tidak mendidik dalam skala luas dan menciptakan perilaku petani yang hanya menunggu bantuan. Meskipun masih diperlukan bantuan cumacuma, selanjutnya bantuan tersebut harus dapat digulirkan sehingga menjadi milik semua petani yang tergabung dalam kelompok. Setelah terjadi akumulasi permodalan mandiri, petani dapat menggabungkan seluruh kekuatan modal yang dimilikinya sehingga pada akhirnya dapat dijadikan sebagai modal jangka panjang untuk membentuk lembaga keuangan mandiri milik petani.

250,0

200,0

Gambar 3.21. Individual Capacity for Capital Formation di 15 Kecamatan Program penguatan modal petani sangat penting dilakukan karena selama ini petani pertanian tanaman pangan berada dalam kondisi yang tidak berdaya. Ketidakberdayaan tersebut disebabkan oleh adanya ketergantungan pada modal yang diperoleh dari tengkulak yang sebenarnya merugikan. Terdapat kebiasaan yang sangat memperlemah kekuatan petani ditinjau dari sudut pembentukan modal mandiri. Ketergantungan terhadap tengkulak dan bantuan pemerintah pada 15 kecamatan menunjukkan bahwa sebagian besar petani tidak mampu membiayai kembali usahataninya meskipun untuk satu periode produksi. Indikator lemahnya kemampuan pemupukan modal ditunjukkan oleh kapasitas pembentukan modal mandiri (Individual

150,0

100,0

8 3

6 8

6 7

50,0

6 0 6 ,9 5 6 ,7 5

14 0

6 ,6 6

6 ,2 5

6 ,1 5

Capacity for Capital Formation)14 yang lebih rendah dari 100% seperti ditunjukkan pada Gambar 3.21. Program penguatan modal mandiri sangat mendesak untuk dilaksanakan terutama pada kecamatan yang memiliki nilai maximum net saving opportunity dibawah 100%, 160,0 yaitu Kecamatan Mootilanggo, 140,0 Boliyohuto, Telaga Biru, 120,0 Botumoito, Wonosari, Taluditi, 100,0 Patilanggio, Paguat, 80,0 Kwandang, Anggrek, 60,0 Tolinggula dan Atinggola.
40,0 20,0 TOLINGGULA BOLIYOHUTO TELAGA BIRU ANGGREK MOOTILANGO PATILANGGIO KWANDANG BOTUMOITO ATINGGOLA WONOSARI PULUBALA TALUDITI PAGUAT TIBAWA TAPA -

Gambar 3.22. Resiko dan Ketidakpastian Usahatani di 15 Kecamatan

Perlunya peningkatan IPM Indeks Pendapatan kapasitan pembentukan modal Highest ICCF Lowest ICCF selain ditujukan untuk membangun peningkatan kapasitas petani, juga sangat diperlukan untuk menghindari resiko dan ketidakpastian finansial pada rumahtangga usahatani. Resiko dan ketidakpastian finansial merupakan indikator keberlanjutan usahatani yang merupakan dampak akhir dari terjadinya ketidakmampuan petani untuk melakukan pembentukan modal. Artinya jika rumahtangga usahatani tidak mampu melakukan pemupukan modal untuk proses produksi pada musim tanam berikutnya disertai adanya resiko yang tinggi maka sudah dapat dipastikan rumahtangga tersebut tidak akan mampu melestarikan kegiatan usahataninya dalam jangka panjang. Permasalahan yang disebabkan oleh terjadinya kelangkaan dan mahalnya faktor produksi, ketidaktersediaan tenaga penyuluh, aksesibilitas terhadap pasar dan pusat perekonomian, prasarana produksi dan prasarana jalan berakumulasi untuk menimbulkan resiko dan ketidakpastian yang semakin tinggi. Gambar 3.22 menunjukkan tingkat resiko dan ketidakpastian usahatani pada 15 kecamatan. Pada gambar tersebut dapat dilihat bahwa seluruh kecamatan mengalami resiko dan ketidakpastian usahatani di atas 50%, artinya seluruh petani pada 15 kecamatan tersebut menghadapi kemungkinan resiko kegagalan melestarikan usahataninya. Resiko yang sangat tinggi terutama pada
14 Konsep Individual Capacity for Capital Formation merupakan konsep premature yang dikembangkan oleh penulis dengan tujuan untuk mengembangkan kapasitas permodalan pada kelompok masyarakat yang tidak memiliki sumberdaya finansial yang mencukupi untuk membangun usahanya. Selain untuk tujuan tersebut, konsep ini juga pernah diterapkan oleh Penulis untuk membangun kekuatan pembentukan modal mandiri pada lembaga keuangan masyarakat pantai di beberapa propinsi sebagai cikal bakal bagi terbentuknya lembaga keuangan berbasis masyarakat seperti yang banyak berkembang sekarang ini.

kecamatan Telaga Biru, Kwandang, Anggrek ditunjukkan oleh angka resiko di atas 100%. 3.3.4. Penyuluhan

dan Atinggola

yang

Era reformasi telah merubah paradigma pembangunan pertanian Indonesia dari paradigma lama yang lebih berorientasi kepada peningkatan produksi pertanian, kepada paradigma baru yang lebih berorientasi kepada peningkatan pendapatan dengan menerapkan sistem agribisnis. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dalam pembangunan pertanian mempunyai mandat untuk menyelenggarakan pendidikan non formal bagi petani – nelayan, keluarga tani dan masyarakat luas khususnya di pedesaan. Namun pada kenyataannya, pelaksanaan pembangunan pertanian telah berubah arah dari paradigma lama yang lebih mensejahterakan petani kepada paradigma baru yang lebih menyengsarakan petani, karena petani menjadi komoditas politik sehingga seringkali dijual untuk kepentingan kampanye dan kepentingan akumulasi korupsi oleh sebagian birokrat. PPL yang dahulu menjadi mesin politik partai penguasa, sekarang telah menjadi komoditas politik beberapa partai. Akibat adanya reformasi yang salah arah, Provinsi Gorontalo menghadapi tantangan besar dan dilematis dalam pengembangan mekanisme pelaksanaan penyuluhan yang efektif dalam disemanasi informasi sistem agribisnis yang sesuai bagi petani yang umumnya berskala kecil. Dampak reformasi politik dan desentralisasi ternyata telah berpengaruh buruk terhadap pelaksanaan penyuluhan. Pelaksanaan penyuluhan berbasis komoditas dan terkotak-kotak menurut kabupaten telah menimbulkan masalah besar terutama pada keberhasilan diseminasi informasi. Restrukturisasi pemerintahan telah menimbulkan rendahnya efektfitas penyuluh dalam melaksanakan pekerjaannya. Masalah baru semakin banyak terlebih lagi dengan ditetapkannya penyuluh sebagai “buruh harian lepas” alias “buruh kontrak”. Diangkatnya tenaga penyuluh sebagai buruh kontrak menimbulkan apatisme berkarya dan keseriusan para penyuluh untuk memantapkan posisinya karena tidak ada jaminan karir dalam jangka panjang. Ini adalah suatu langkah pengambilan keputusan yang keliru karena penyuluh seharusnya merupakan agen pembangunan pertanian. Karena sifatnya sebagai agen pembangunan pertanian maka seluruh penyuluh secara psikologis harus memiliki ketenangan dalam berkarir. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa penyuluh buruh harian lepas tidak memiliki harapan masa depan karena tidak ada jaminan dari pemerintah kabupaten maupun provinsi untuk mengangkat mereka sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Status sebagai PNS sangat penting

bagi penyuluh karena status tersebut memberikan ketenangan dalam berkarya. Akibat tidak adanya jaminan sebagai PNS maka sebagian penyuluh tidak mau tinggal di desa yang bukan tempat tinggal asalnya. Masalah besar lain yang dihadapi oleh penyuluhan adalah rendahnya biaya operasional yang tidak sebanding dengan kegiatan yang harus dilakukan oleh penyuluh dan terbatasnya sarana dan prasarana pendukung kegiatan. Akibat dari hal tersebut adalah, penyuluh tidak mau melakukan kegiatan penyuluhan dan cenderung berada di belakang meja, sehingga program diseminasi informasi yang harusnya dilakukan secara rutin tidak dilakukan. Hasil diskusi dengan 400 orang petani yang dilakukan pada kecamatan Tapa, Patilanggio, Paguyaman, Kwandang, Botumoito dan Tilamuta menunjukkan bahwa hanya 50% penyuluh yang melakukan kegiatannya secara rutin. Seharusnya program penyuluhan pertanian menjadi sistem pendidikan luar sekolah untuk petani sebagai orang dewasa guna menumbuhkembangkan kemampuan (pengetahuan, sikap dan keterampilan) petani, peternak dan nelayan sehingga secara mandiri dapat mengelola unit usaha taninya lebih baik dan menguntungkan sehingga dapat memperbaiki pola hidup yang lebih layak dan sejahtera bagi keluarganya. Dari peningkatan pendapatan, sudah dipastikan bahwa daya beli meningkat sehingga berpengaruh terhadap peningkatan IPM. Kegiatan penyuluhan pertanian sebagai proses belajar bagi petani, peternak nelayan melalui pendekatan kelompok dan diarahkan untuk terwujudnya kemampuan kerja sama yang lebih efektif sehingga mampu menerapkan inovasi, mengatasi berbagai resiko kegagalan usaha, menerapkan skala usaha yang ekonomis untuk memperoleh pendapatan yang melebihi kebutuhan modal yang diperlukan untuk proses produksi. Disisi lain, penyuluhan harus berperan dalam memberikan pemahaman mendasar, bahwa petani memiliki peran serta tanggung jawab sebagai pelaku pembangunan pertanian. Dengan demikian PPL haruslah menjadi agen pembangunan, agen pembaharuan dan agen inovasi bagi petani. Peran PPL sebagai agen pembangunan pertanian di tengah-tengah masyarakat tani di Provinsi Gorontalo sangat dibutuhkan untuk meningkatkan sumber daya manusia (petani) sehingga mampu mengelola sumberdaya alam yang ada secara intensif demi tercapainya peningkatan produktifitas dan pendapatan. Memberdayakan petani, peternak, dan nelayan dan keluarganya melalui penyelenggaraan penyuluh pertanian, bertujuan untuk mencapai petani, peternak dan nelayan yang tangguh sebagai salah satu komponen untuk membangun pertanian yang maju, efisien dan tangguh sehingga mencapai tujuan untuk meningkatkan IPM Provinsi

Gorontalo. Penyuluhan secara sistematis adalah suatu proses yang (1). Membantu petani, peternak, dan nelayan untuk menganalisis permasalahan, kendala, keberhasilan dan tujun yang sedang dihadapi dan melakukan perkiraan ke depan; (2). Membantu petani, peternak, nelayan memiliki kepedulian terhadap kemungkinan timbulnya masalah dari usaha yang dilakukan; (3). Meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan wawasan terhadap suatu masalah dan resiko; (4) Membantu menyusun kerangka berpikir berdasarkan pengetahuan yang dimiliki petani; (4). Membantu memperoleh pengetahuan yang khusus berkaitan dengan cara pemecahan masalah yang dihadapi dan akibat yang ditimbulkannya sehingga mempunyai berbagai alternatif tindakan; (5). Membantu memutuskan pilihan tepat yang menurut pendapat mereka sudah optimal; (6). Meningkatkan motivasi untuk dapat menerapkan pilihannya ; dan (7). Membantu mengevaluasi dan meningkatkan keterampilan mereka dalam membentuk pendapat dan mengambil keputusan. Secara teoritis, konsep penyuluhan swakarsa dalam era otonomi daerah adalah sistem penyuluhan pertanian yang digerakkan oleh petani dengan demikian petani harus ditingkatkan kemampuannya, diberdayakan, sehingga petani memiliki keahlian-keahlian yang dapat menyumbangkan kegiatannya ke arah usahatani yang moderen dan mampu bersaing, mampu menjalin jaringan kerja sama diantara sesama petani maupun dengan kelembagaan sumber ilmu/teknologi, serta mata rantai sistem agribisnis yang peluangnya tersedia. Pada akhirnya petani akan menyelenggarakan sendiri kegiatan penyuluhan pertanian, dari petani, oleh petani dan untuk petani. Hasil observasi menunjukkan adanya kecenderungan petani, peternak dan nelayan tidak mempunyai pengetahuan serta wawasan yang memadai untuk dapat memahami permasalahan, memikirkan permasalahannya, memilih pemecahan masalah yang paling tepat untuk mencapai tujuan. Seringkali terjadi pengetahuan yang diperoleh berdasarkan informasi yang keliru karena kurangnya pengalaman, pendidikan, atau faktor budaya lainnya. Terbatasnya pengetahuan, sikap dan keterampilan petani, sangat berpengaruh terhadap kemampuan untuk melakukan usaha yang lebih efektif, efisien dan produktif sehingga kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan tidak memberikan keuntungan yang cukup untuk mensejahterakan dan melestarikan usahanya. Disisi lain orientasi agribisnis masih terbatas hanya pada segelintir petani yang bermodal besar dan memiliki asset yang besar. Kondisi demikian ditandai dengan rendahnya produktifitas usaha sehingga belum mencapai keuntungan yang rasional. Peranan penyuluh di Provinsi Gorontalo sebagai fasilitator, motivator dan sebagai pendukung gerak usaha petani merupakan titik sentral

dalam memberikan penyuluhan kepada petani, peternak dan nelayan akan pentingnya berusaha secara komersial dengan memperhatikan kelestarian dari sumber daya alam. Kesalahan dalam memberikan penyuluhan kepada petani, peternak dan nelayan akan menimbulkan dampak negatif dan merusak lingkungan. Proses penyelenggaraan penyuluhan pertanian dapat berjalan dengan baik dan benar apabila didukung dengan tenaga penyuluh yang profesional, kelembagaan penyuluh yang handal, materi penyuluhan yang terus-menerus mengalir, sistem penyelenggaraan penyuluhan yang benar serta metode penyuluhan yang tepat dan manajemen penyuluhan yang bersifat polivalen. Penyuluhan pertanian sangat penting artinya dalam memberikan modal sumberdaya manusia bagi petani dan keluargannya, sehingga memiliki kemampuan menolong dirinya sendiri untuk mencapai tujuan dalam memperbaiki kesejahteraan hidup petani dan keluarganya, tanpa harus merusak lingkungan di sekitarnya. Tugas seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) adalah meniadakan hambatan yang dihadapi seorang petani dengan cara menyediakan informasi dan memberikan pandangan mengenai masalah yang dihadapi. Informasi tentang pengelolaan sumber daya alam dengan teknologi yang baik dan benar sesuai dengan kondisi lahan sangat bermanfaat bagi petani, peternak dan nelayan untuk meningkatkan hasil produksinya tanpa harus merusak lingkungan usahanya sehingga dapat meminimalisir degradasi sumberdaya alam dan kerusakan lingkungan. 3.3.5. Kondisi Sub-sektor Perkebunan Potensi areal perkebunan di Provinsi Gorontalo di seluas 191.765,96 ha, sampai tahun 2006 baru termanfaatkan seluas 91.064,11ha. Dengan demikian masih terdapat areal yang belum termanfaatkan seluas 100.701,85ha (52.51%)15. Komoditas perkebunan andalan terdiri dari kelapa, kakao, tebu, cengkeh. Selain komoditas tersebut, untuk mendukung pengembangan bio-fuel, komoditas jarak pagar ditetapkan sebagai komoditas unggulan dengan tujuan untuk merangsang pertumbuhan dan pemerataan ekonomi Provinsi Gorontalo. Komoditas lainnya seperti jambu mete, kopi, pala, vanili, kapuk, aren, diusahakan oleh masyarakat dalam skala yang masih relatif kecil. Meskipun demikian, komoditas non-unggulan tersebut akan menjadi komoditas unggulan jika dikembangkan dengan serius dan dalam skala wilayah yang tersentralisasi. Seperti diketahu, pasar untuk komoditas vanili dan pala memiliki permintaan pasar yang cukup prospektif dan selalu meningkat dari tahun ke tahun. Komoditas lada belum dikenal secara luas di Provinsi Gorontalo, padahal dari segi kesesuaian lahannya
15 Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Gorontalo, 2007.

komoditas tersebut sesuai. Oleh karena itu perlu disusun program percontohan pengembangan komoditas vanili dan lada. Industri pengolahan Tebu telah dikelola oleh sebuah perusahaan besar swasta (PBS) PT. Tolangohula yang secara riil telah mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di Provinsi Gorontalo. Pada tahun 2006, dengan luas areal 8.216,96ha telah menghasilkan tebu 465.019ton dengan produktivitas 56,59 ton/ha serta memproduksi hablur/gula sebanyak 30.729 ton16. Rendahnya kualitas sumberdaya petani perkebunan merupakan kendala serius yang selalu menjadi kambing htam dalam pembangunan sub sektor perkebunan. Tingkat pendidikan dan keterampilan rendah menjadi sasaran para pemilik modal untuk menjerat petani perkebunan yang memiliki areal dan tanaman untuk menjadi buruh dan bahkan menjadi budak dalam jangka panjang. Sungguh ironis dan menyakitkan karena beberapa pemodal tersebut dianggap “pahlawan” dan memperoleh pinjaman dari bank. Dalam pemasaran produk, petani perkebunan selalu berada pada posisi lemah (baik sebagai individu maupun sebagai kelompok/kelembagaan) dalam berinteraksi dengan mitra bisnisnya karena kurangnya kemampuan untuk bernegosiasi. Implikasinya adalah tidak proporsionalnya perolehan harga penjualan untuk setiap produk yang dihasilkan petani dan pada giliranya akan menghambat upaya pemupukan modal. kurangnya keterampilan petani perkebunan dalam mengolah hasil usahataninya masih rendah hal ini bisa dicirikan dengan penjualan hasil perkebunan belum diolah lebih lanjut, masih bersifat bahan mentah, sehingga petani perkebunan tidak memiliki nilai tambah dari usahataninya. disamping itu, terbatasnya pengetahuan petani perkebunan dalam menggunakan bibit tanaman unggul ataupun pemahaman dalam berusaha tani, seperti penggunaan pupuk yang berimbang dan pengendalian organisme pengganggu tanaman, maupun manajemen pengelolaan panen dan pascapanen. Kesalahan fatal terjadi pada sebagian besar petani perkebunan kelapa dengan adanya kebiasaan “budel” seperti telah dibahas pada bagian terdahulu. Praktek budel telah menghancurkan kesempatan petani kebun untuk memperoleh pendapatan yang layak, memperluas skala usaha dan mengembangkan permodalan dari hasil usahanya. Tidak adanya kontrol pemerintah dan disisi lain beberapa oknum pemerintah menjadi pelindung permasalahan ini mengakibatkan praktek budel semakin meluas terutama di Kecamatan Patilanggio, Paguat dan Paguyaman.

16 Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Gorontalo, 2007.

Nampaknya sub-sektor perkebunan semakin menjadi anak tiri dan tidak menjadi primadona. Kondisi demikian sangat terasa dalam setiap workshop, dimana sub-sektor perkebunan jarang diangkat sebagai bahan pembicaraan utama. Padahal potensi perkebunan Provinsi Gorontalo yang memiliki posisi geografis sangat dekat dengan pasar ekspor memungkinkan pengembangan komoditas yang memiliki nilai jual produk mentah dan nilai tambah tinggi untuk produk jadi. Harapan yang cerah akan mulai tumbuh seiring dengan meningkatnya harga kelapa di pasar dunia. Namun demikian Provinsi Gorontalo dihadapkan pada kondisi dimana sebagian besar tanaman kelapa sudah berumur tua. Oleh karena itu diperlukan program revitalisasi bagi pengembangan kembali sentra produksi kelapa pada beberapa daerah yang memiliki produktivitas tinggi. Keberadaan kelembagaan petani sangat lemah, kelompok tani kurang terkontrol dengan baik karena keterbatasan dana dan fasilitas, sehingga intensitas dan kualitas pembinaan terhadap petani pasca otonomi daerah jauh berkurang, karena sistem penyuluhan kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Berkaitan dengan hal ini, revitalisasi sistem penyuluhan perlu dilaksanakan agar fungsi penyuluhan dapat berjalan dengan baik. Di samping itu, kelembagaan petani perlu ditata dengan baik, koordinasi perlu ditingkatkan agar kegiatan yang melibatkan petani tidak tumpang tindih dan perlunya peran aktif pemerintah desa dan kecamatan17. 3.3.6.Kondisi perikanan tangkap Agenda pembangunan kelautan dan perikanan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional/RPJMN 2004-2009 (menurut PP No. 7/2005) adalah; (1) revitalisasi perikanan; dan (2) penanggulangan kemiskinan. Agenda tersebut dijabarkan secara operasional dalam Program Pengembangan Sumberdaya Perikanan mempunyai tujuan untuk: mengelola, mengembangkan, dan memanfaatkan sumber daya perikanan secara optimal, adil, dan berkelanjutan dalam rangka peningkatan nilai tambah hasil perikanan serta pendapatan nelayan, pembudidaya ikan, dan masyarakat pesisir lainnya. Misi pembangunan kelautan dan perikanan yang tercantum pada Renstra Departemen Kelautan dan Perikanan 2005-2009 meliputi: (1) Meningkatkan kesejahteraan nelayan, pembudidaya ikan, dan masyarakat perikanan lainnya; dan (2) Meningkatkan peran sektor kelautan dan perikanan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi.
17 Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Gorontalo, 2007

Tujuan pengelolaan perikanan (dalam UU No. 31/2004 tentang Perikanan): (1) Meningkatkan taraf hidup nelayan kecil dan pembudidaya ikan skala kecil; (2) Meningkatkan penerimaan dan devisa negara; (3) Mendorong perluasan dan kesempatan kerja; (4) Meningkatkan ketersediaan dan konsumsi sumber protein hewani; (5) Mengoptimalkan pengelolaan sumber daya ikan; (6) Meningkatkan produktivitas, mutu, nilai tambah, dan daya saing; (7) Meningkatkan ketersediaan bahan baku untuk industri pengolahan ikan; (8) Mencapai pemanfaatan sumber daya ikan, lahan pembudidayaan ikan, dan lingkungan sumber daya ikan secara optimal; dan (9) Menjamin kelestarian sumber daya ikan, lahan pembudidayaan ikan, dan tata ruang. Visi pembangunan perikanan tangkap (menurut Konsep Renstra DJPT 2005-2009): ”Industri perikanan tangkap Indonesia yang lestari, kokoh, dan mandiri pada tahun 2020”. Sedangkan Misi pembangunan perikanan tangkap (menurut Konsep Renstra DJPT 2005-2009): (1) Memanfaatkan sumber daya ikan secara bertanggung jawab; (2) Mendorong dan mengembangkan kualitas kelembagaan dan sumber daya manusia perikanan tangkap; (3) Mendorong dan mengembangkan fasilitas pelabuhan perikanan, kapal perikanan, alat tangkap serta sarana pendukung lainnya; dan (4) Mendorong dan memfasilitasi pengembangan industri perikanan tangkap Tujuan pembangunan perikanan tangkap (menurut Konsep Renstra DJPT 2005-2009): (1) Optimalisasi pemanfataan sumberdaya ikan secara berkelanjutan guna menyediakan ikan untuk konsumsi dalam negeri dan bahan baku industri; (2) Meningkatkan peran perikanan tangkap terhadap pembangunan perekonomian nasional; (3) Meningkatkan lapangan pekerjaan; dan (4) Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan nelayan. 3.3.6.1. Kondisi Umum Perikanan Tangkap Provinsi Gorontalo Gorontalo memiliki garis pantai yang cukup panjang, garis pantai Utara dan pantai Selatan masing-masing memiliki panjang + 230 km dan 330 km. Provinsi Gorontalo dikembangkan sebagai wilayah agropolitan dimana Pertanian dan Perikanan akan menjadi Sektor Pengembangan Ekonomi Unggulan Provinsi. Luas perairan Provinsi Gorontalo termasuk cukup besar yakni di Utara sepanjang 230 km menghadap ke laut Sulawesi terdapat areal Zone Economic Exclusive (ZEE) yang kaya dengan hasil laut bernilai ekonomi tinggi. Jenis ikan di zona tersebut

antara lain adalah palangis besar, palangis kecil dan jenis demersal serta crustacea dan moluska. Di sebelah Selatan, dibatasi oleh Teluk Gorontalo dengan panjang pantai + 330 km dengan potensi yang dikandung berupa ikan laut jenis palangis besar, palangis kecil, ikan karang, dan lain-lain yang mempunyai nilai jual sangat tinggi. Luas perairan di Teluk Gorontalo mencapai 7.400 km2 dan di Laut Sulawesi mencapai 43.100 km2. Dengan luas perairan yang demikian besar yang dikelola dan dimanfaatkan menurut kaidah kelestarian lingkungan, dengan teknik budidaya dan penangkapan yang ramah lingkungan, melalui sistem agribisnis terpadu berbasis masyarakat diharapkan akan dapat membantu meningkatkan PAD Provinsi Gorontalo. Dalam jangka panjang dan pendek, sub-sektor perikanan dan kelautan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan dengan budidaya dan penangkapan ikan dengan tetap memperhatikan potensi lestari tangkapan. Dalam jangka panjang, pengembangan budidaya laut akan menjadi alternatif terbaik yang ditujukan terutama untuk pengembangan ikan karang yang mempunyai nilai jual tinggi dan berorientasi ekspor dan untuk mencegah terjadinya perusakan terumbu karang karena penangkapan yang bersifat destruktif. Secara nasional, produksi penangkapan di laut 60.000 berperan penting dalam 50.219 menyumbang produksi 50.000 perikanan tangkap nasional. Data yang ada menunjukkan, 8.987 39.041 perkembangan produksi 37.001 40.000 34.173 35.171 perikanan tangkap 7.842 mengalami peningkatan rata10.984 30.000 11.121 rata 4,53%, yaitu dari 11.792 10.502 4.276.720 ton pada tahun 2.467 14.920 3.774 2001 menjadi 4.881.810 ton 20.000 7.184 4.245 pada tahun 2003. Dalam 6.853 10.574 4.153 periode 2001-2003 tersebut, 8.811 8.974 10.000 produksi penangkapan di laut 7.167 7.769 meningkat rata-rata sebesar 10.308 8.440 7.427 5.810 5.479 4,87%/tahun yaitu dari 3.966.480 ton pada tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2001 menjadi 4.383.103 ton Boalemo Kab. Gorontalo pada tahun 2003, sedangkan Pohuwato Bone Bolango produksi penangkapan di Kota Gorontalo Jumlah Provinsi perairan umum hanya mengalami peningkatan 0,01% yaitu dari 310.240 ton pada tahun
Produksi (ton)

2001 menjadi 308.093 ton pada tahun 2003 (Renstra DJPT, 20032009). Gambar 3.23. Perkembangan Produksi Perikanan Tangkap Provinsi Gorontalo, 2002-2006 Kinerja perikanan tangkap di Provinsi Gorontalo menunjukkan peningkatan yang signifikan dari sisi produksi. Jumlah produksi pada tahun 2001 sebesar 34173 ton telah meningkat menjadi 50219 ton pada tahun 2006 artinya telah terjadi peningkatan rata-rata sebesar 11 % per tahun dalam peiode lima tahun terakhir. Peningkatan produksi yang signifikan terjadi antara tahun 2005 dengan tahun 2006 dimana terjadi peningkatan sebesar 29 % (lihat Gambar 3.23.). Saat ini, perikanan tangkap skala kecil masih merupakan ciri dominan perikanan tangkap Provinsi Gorontalo. Berdasarkan 8 000 data statistik perikanan, 6 979 dalam kurun waktu enam 7 000 tahun terakhir, jumlah 6 067 6 039 5 929 armada perikanan tangkap 5 821 5 555 6 000 di Provinsi Gorontalo mengalami peningkatan 5 000 sekitar 4,8% per tahun dan 4 419 3 204 3 359 pada tahun 2006 mencapai 3 122 3 006 2 728 4 000 jumlah lebih dari 6679 unit (lihat Gambar 3.24.). 3 000 Pertambahan jumlah armada tersebut secara 2 000 umum tidak secara 2 666 2 704 2 683 signifikan mengubah 2 751 2 527 2 395 1 000 komposisi ukuran armada, yaitu sekitar 34% perahu 169 181 165 124 76 111 tanpa motor, 63% motor 2001 2002 2003 2004 2005 2006 tempel dan 2% kapal motor.
Kapal Motor Perahu Tanpa Motor Perahu Motor Tempel Jumlah Gambar 3.24. Perkembangan Armada Perikanan Tangkap di Provinsi Gorontalo

Dari 2% kapal motor yang ada, sebagian besar merupakan kapal motor berukuran kecil, yaitu kurang dari 10 GT. Proporsi armada berukuran kurang dari 10 GT tersebut memberikan gambaran bahwa perikanan skala kecil berperan besar dalam perikanan nasional. Armada perahu tanpa motor dan perahu motor tempel merupakan armada perikanan

tangkap yang menggantungkan kegiatan penangkapan pada daerah pesisir. Semakin banyaknya jumlah armada tangkap pada ukuran tersebut sangat membahayakan kelestarian lingkungan karena semakin tingginya tekanan terhadap sumberdaya pesisir yang diakibatkan oleh jarak operasi penangkapan yang hanya sejauh kurang dari 12 mil laut. Disisi lain upaya peningkatan pendapatan nelayan akan sia-sia jika fokus perhatian hanya dilakukan pada peningkatan jumlah armada skala kecil karena semakin meningkatnya armada skala kecil akan semakin meningkatkan frekuensi penangkapan pada daerah yang sama sehingga ukuran ikan yang diperoleh dan produktivitas per tripnya akan menurun. Di masa mendatang, Provinsi Gorontalo harus menjadi pelopor usaha perikanan tangkap yang dilakukan pada daerah tangkapan yang lebih jauh, terutama pada kawasan lepas pantai lebih dari 12 mil laut sampai dengan batas ZEE. Kawasan pesisir akan dikonsentrasikan untuk kawasan konservasi, tempat pemijahan ikan, dan kawasan budidaya yang ramah lingkungan. Dengan demikian diharapkan akan terjadi peningkatan sumberdaya secara signifikan yang selanjutnya akan meningkatkan cadangan sumberdaya ikan pelagis dan demersal karena terjaminnya kualitas sumberdaya perairan pesisir. Pergeseran daerah tangkapan ke arah yang semakin jauh sudah mulai terjadi karena, meningkatnya produktivitas yang disebabkan oleh peningkatan jumlah sarana tangkap kapal motor, meningkatnya jumlah nelayan dan meningkatnya penggunaan alat tangkap yang lebih produktif dan disisi lain, karena keterpaksaan akibat penurunan sumberdaya pesisir. Kebijakan pemerintah provinsi yang mendukung terjadinya peningkatan produksi telah berhasil mendorong peningkatan jumlah armada tangkap kapal motor. Dengan meningkatnya sarana tangkap kapal motor diharapkan akan terjadi peningkatan produktivitas pada daerah tangkapan di luar kawasan pesisir, tentunya 8 000 7 098 kebijakan tersebut harus 7 000 6 333 6 357 6 319 6 218 diiringi dengan kebijakan 5 715 yang mendorong terjadinya 6 000 pergeseran wilayah 5 000 4 349 3 056 2 950 3 209 tangkapan ke daerah yang 3 314 2 526 lebih jauh. 4 000
3 000 2 000 1 000 17 513 2001 74 502 2002 96 490 2003 155 409 2004 169 347 2005 129 329 2006 2 659 2 692 2 677 2 560 2 527

2 291

Gambar 3.25. Perkembangan RTP Nelayan Menurut Sarana Tangkap Dari sisi sumber daya manusia yang terjun ke bidang ini pada periode 20012006, jumlah RTP18 perikanan

Tanpa Pe rahu Jum lah RTP

Kapal M otor

Pe rahu tanpa m otor Perahu 18 RTP = Rumah Tangga Perikanan M otor Tem pe l

tangkap di Provinsi Gorontalo mengalami peningkatan. Jika pada tahun 2001 jumlah RTP sebanyak 5175 RTP, maka pada 2006 menjadi 7098 RTP. Dengan demikian, terjadi kenaikan jumlah RTP rata-rata 4,05%/tahun dalam kurun waktu tersebut. Telah terjadi peningkatan yang cukup berarti pada RTP yang mengoperasikan motor tempel dan penurunan pada RTP yang menggunakan perahu tanpa motor dan RTP tanpa perahu. Fakta yang disampaikan pada uraian di atas menunjukkan bahwa usaha perikanan tangkap memegang peranan cukup penting. Secara sosial dan ekonomi, kegiatan perikanan tangkap melibatkan lebih dari 17.538 penduduk Provinsi Gorontalo yang bekerja pada kegiatan usaha perikanan tangkap, meskpiun 40 % diantaranya merupakan nelayan musiman. Namun demikian kontribusi usaha perikanan tangkap telah memberikan harapan dan menjadi tempat bergantung secara langsung maupun tidak langsung melalui usaha ikutan, serta telah memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pembangunan ekonomi Provinsi Gorontalo yang dibuktikan dengan nilai produksi pada tahun sebesar Rp 327 milyar dan tempat bergantung lebih dari 74 ribu penduduk Provinsi Gorontalo. Provinsi Gorontalo yang memiliki potensi perikanan tangkap di dua Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP), yaitu WPP Teluk Tominii dan WPP Laut Sulawesi. Potensi lestari Perikanan Tangkap berdasarkan di WPP Teluk Tomini sampai dengan Laut Seram dan WPP Laut Sulawesi sampai dengan Samudra Pasifik, berdasarkan data Komisi Nasional Stock Assesement Tahun 2002 sebesar 1.226.090 ton/tahun19 dengan tingkat pemanfaatan pada tahun 2006 mencapai 50.219 ton atau sebesar 4,85% %. Sedangkan di perairan Umum mencapai 821,6 ton dari potensi sebesar 90 % dengan luas perairan Umum sebesar 3.000 ha. Dengan demikian masih diperlukanupaya strategis untuk memanfaatkan potensi perikanan laut secara optimal. Oleh sebab itu pengembangan investasi akan menjadi prioritas pemerintah terutama dengan mengundang para investor untuk menanamkan modalnya di bidang ini. Namun demikian, seleksi atas investor yang mesuk harus secara ketat dilakukan untuk menghindari adanya pengurasan sumberdaya laut dengan cara yang merusak lingkungan, ilegal, tanpa aturan dan tidak dilaporkan sehingga manfaat ekonomi pemanfaatan sumberdaya laut benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat gorontalo. Dalam hal perikanan budidaya payau dan perikanan tangkap di perairan umum, meskipun potensi produksi masih belum dimanfaatkan sepenuhnya disarankan untuk tidak menambah upaya peningkatan produksi lagi karena dikhawatirkan akan menimbulkan kerusakan yang besar pada lingkungan. Upaya yang masih dapat
19 Sumber: RPJM Provinsi Gorontalo 2007-2012

dilakukan untuk perikanan budidaya air payau adalah melalui peningkatan produktivitas dengan menggunakan teknologi yang bersifat ramah lingkungan. Dengan demikian nilai manfaat ekonomi yang diperoleh akan semakin besar tanpa menimbulkan kerusakan yang lebih besar. 3.6.6.2.Overview Perikanan Tangkap Nasional Perbandingan Bagi Kondisi di Provinsi Gorontalo Sebagai

Berdasarkan angka produksi perikanan tangkap di laut terlihat bahwa dengan kemampuan yang ada, meski belum memadai, namun hal itu bukanlah kendala dalam mengoptimalkan kegiatan pemanfaatan potensi sumber daya perikanan. Demikian halnya dengan peningkatan jumlah nelayan yang cukup menggembirakan karena menunjukkan bahwa subsektor perikanan tangkap terus membuka lapangan kerja. Namun pada sisi lain, fakta ini patut menjadi perhatian bersama, karena jika dibandingkan dengan produktivitas perikanan, maka perbandingan antara jumlah nelayan dengan produksinya tergolong kecil. Sebagai contoh, produktivitas nelayan tingkat nasional pada tahun 2003 hanya 1,36 ton/orang/tahun. Dengan asumsi 200 hari melaut, maka jumlah tangkapan nelayan hanya 6,8 kg/hari. Berdasarkan angka JTB sebesar 5,12 juta ton/tahun, maka produktivitas nelayan pada tahun 2003 seharusnya 1,47 ton/orang/tahun atau ekivalen dengan 7.36 kg/orang/hari trip penangkapan. Artinya bahwa produktivitas nelayan pada tingkat nasional tahun 2003 tersebut lebih rendah dari peluang produktivitas yang seharusnya. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan terlebih lagi jika melihat konsentrasi pusat penangkapan ikan saat ini bertumpu pada wilayah laut yang terdekat dengan konsentrasi penduduk. Pola demikian terjadi karena armada nelayan skala kecil hanya mampu melakukan perjalanan kurang dari dua hari sehingga daya jangkaunya terbatas di wilayah pantai. Ketidakseimbangan daya dukung sumberdaya perikanan pantai dengan daya dukung nelayan kecil menyebabkan hasil tangkapannya sedikit dan bahkan lebih rendah daripada rata-rata produktivitas nelayan tersebut di atas. Kenyataan lain menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara jumlah penduduk dan potensi sumberdaya kelautan/perikanan yang ada di banyak wilayah, yang mengakibatkan eksploitasi berlebih di wilayah-wilayah tersebut. Sementara di wilayah lain potensi sumber daya kelautan dan perikanannya belum dimanfaatkan secara optimal. Akibat langsung dari adanya fenomena tersebut adalah terjadinya gejala tangkap lebih dan munculnya kemiskinan di kawasan pesisir tersebut. Data yang ada menunjukkan beberapa wilayah pengelolaan perikanan (WPP) telah mengalami tangkap-lebih, yaitu WPP Selat Malaka dan WPP Laut Jawa. Indikasi adanya tengkap lebih ditunjukkan

dengan semakin menurunnya hasil tangkap per satuan upaya (CPUE) dan semakin kecilnya rata-rata ukuran hasil tangkapan. Selain itu gejala tangkap lebih juga dapat terlihat dalam hal jumlah nelayan yang tidak sebanding dengan daya dukungnya. Gejala tangkap-lebih yang cukup mencolok adalah di WPP Laut Jawa. Berdasarkan jumlah nelayan, jumlah nelayan yang ada saat ini sebanyak 795.932 orang padahal jumlah optimal seharusnya 244.465 orang (31%-nya). Disamping mengalami tangkap-lebih, WPP Laut Jawa juga mengalami tekanan terhadap lingkungan yang cukup berat, sebagai akibat dari pesatnya pertambahan 5 .2 9 0 1 10 0 0 .0 0 3 .0 1 9 4 3 .0 1 7 0 3 .1 1 5 7 3 .1 3 4 7 penduduk dan pembangunan yang terjadi di Pulau Jawa. Demikian pula yang terjadi di 1 .0 0 0 0 1 07 5 7 1 15 5 2 1 25 5 8 1 35 5 6 1 47 5 0 perairan pantai pada umumnya. Kecenderungan 3 5 ,5 .2 9 2 4 ,9 .5 0 2 2 ,7 .4 0 1 0 .0 0 2 2 ,3 .3 5 2 6 ,5 .2 6 peningkatan jumlah nelayan disertai dengan menurunnya persediaan sumberdaya 10 0 perikanan serta tekanan lingkungan menyebabkan 3 ,5 2 9 2 ,4 5 1 1 0 2 ,2 3 5 2 ,2 4 1 2 ,6 2 7 semakin sulitnya peningkatan produktivitas usaha perikanan tangkap skala kecil. 1 Pengembangan usaha 20 2 0 20 3 0 20 4 0 20 5 0 20 6 0 perikanan tangkap skala kecil ini antara lain terkendala oleh Produksi (t on/tahun) J um Nelayan lah keterbatasan kemampuan Produktivitas kg/tahun Produkt as kg/hari ivit akses nelayan terhadap modal, sehingga menyebabkan terbatasnya akses nelayan terhadap sumberdaya, teknologi dan pasar. Gambar 3.26. Produktivitas Nelayan Provinsi Gorontalo Keadaan di Provinsi Gorontalo sedikit lebih baik karena lebih tinggi dari rata-rata produktivitas nelayan tingkat nasional pada tahun yang sama. Pada tahun 2003 produktivitas nelayan Provonsi Gorontalo 2,3 ton per tahun atau setara dengan 23,25 kg per hari. dan terus meningkat sehingga pada tahun 2006 produktivitasnya menjadi 3,3 ton per tahun atau setara dengan 32,59 per nelayan per hari. Meskipun cukup lebih bai dari kondisi nelayan secara nasional, produktivitas nelayan Provinsi Gorontalo masih tergolong rendah yang antara lain disebabkan sebagian besar usaha perikanan tangkap merupakan skala kecil dengan tingkat produktivitas dan efisiensi usaha yang relatif rendah . Sementara itu, seperti halnya di Provinsi Gorontalo, keadaan di WPP lain masih terdapat potensi sumberdaya ikan yang belum dimanfaatkan secara optimal karena: (1)

keterbatasan sarana dan prasarana perikanan yang tersedia, (2) keterbatasan jumlah sumberdaya manusia, dan (3) kegiatan usaha perikanan tangkap dilakukan oleh nelayan kecil yang terbatas modalnya sehingga sulit mencapai daerah tangkapan yang jauh. Melihat keadaan dan permasalahan tersebut di atas, diperlukan upaya pengembangan usaha perikanan tangkap yang mampu mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumberdaya melalui pendekatan yang bersifat menyeluruh dan terpadu melalui perencanaan strategis yang dapat memuaskan kepentingan: (1) nelayan, (2) perekonomian nasional, (3) kelestarian sumberdaya perikanan, dan (4) keseimbangan dan kelestarian lingkungan. Strategi yang akan diterapkan diupayakan dapat meningkatkan kemampuan nelayan untuk mengakses sumberdaya modal, teknologi maupun pasar yang diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahanya sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan. Pada sisi lain, kebijakan yang ditempuh perlu disertai dengan peningkatan ketersediaan dan kecukupan sarana dan prasarana pendukung, baik langsung maupun tidak langsung, yang diarahkan untuk menekan biaya hidup sekaligus mempermudah akses nelayan dalam hal pengadaan sarana produksi dan pemasaran hasil. Upaya tersebut perlu disusun dalam bentuk Master Plan yang memuat strategi dalam pengembangan usaha perikanan tangkap skala kecil bagi pemerintah pusat dan daerah. Master Plan dan strategi yang disusun sesuai dengan sasaran tercapainya visi pembangunan perikanan tangkap lestari, kokoh dan mandiri pada tahun 2020. 3.1.1.1.Permasalahan dan Analisis SWOT Usaha Tangkap Skala Kecil di Provinsi Gorontalo Perikanan

Permasalahan pada usaha perikanan tangkap skala kecil yang mengakibatkan rendahnya tingkat pendapatan nelayan antara lain (menurut Strategi PUPTSK 2005-2009): a. Terjadinya degradasi dan kerusakan sumberdaya perikanan dan lingkungan yang diakibatkan oleh kegiatan perikanan yang merusak maupun kegiatan non-perikanan (penambangan karang, pencemaran, penebangan mangrove, dan sebagainya). b. Semakin meningkatnya kasus pelanggaran jalur penangkapan ikan oleh kapal ikan berukuran besar yang secara langsung merugikan nelayan kecil. c. Timbulnya konflik nelayan antardaerah dalam pemanfaatan daerah tangkapan, terutama akibat dari pemahaman otonomi daerah yang berlebihan. d. Terbatasnya prasarana pendukung sehingga menghambat kelancaran usaha nelayan.

e. Belum berkembangnya pola kemitraan usaha yang saling menguntungkan. f. Produktivitas dan efisiensi usaha yang cukup rendah, terutama akibat dari skala usaha yang kecil maupun posisi marginal nelayan dalam pengadaan sarana produksi dan pemasaran hasil. Setidaknya terdapat enam kekuatan yang dapat mendorong pengembangan usaha perikanan tangkap skala kecil, antara lain : a. Jumlah nelayan cukup besar, yang tersebar di seluruh wilayah pantai, terutama di daerah yang mempunyai akses pemasaran hasil. Jumlah nelayan yang cukup besar tersebut dapat dioptimalkan untuk mengembangkan usaha perikanan tangkap maupun usaha pendukungnya. b. Nelayan cukup berpengalaman dalam melakukan proses produksi, yang memberi peluang yang baik untuk meningkatkan dan mengembangkan usahanya. c. Semakin meningkatnya perhatian Pemerintah terhadap sektor kelautan dan perikanan sehingga memberikan peluang semakin meningkatnya alokasi dana untuk pembangunan prasarana pendukung maupun kegiatan pembinaan. d. Komoditas perikanan dapat didiversifikasikan dalam berbagai produk lanjutan sehingga memberikan peluang pengembangan jenis maupun skala usaha, yang memungkinkan untuk memberikan kesempatan kerja maupun peluang peningkatan pendapatan bagi nelayan. e. Ikan telah dinilai oleh masyarakat sebagai makanan sehat (dan bergengsi), yang telah memberikan dampak terhadap meningkatnya permintaan terhadap produk perikanan, baik langsung maupun tidak langsung. f. Usaha perikanan pada umumnya padat karya sehingga pengembangan usaha pada sektor ini akan menjadi salah satu andalan pengembangan dalam mengatasi masalah pengangguran di Indonesia. Beberapa kelemahan yang dinilai dapat menghambat upaya pengembangan usaha perikanan tangkap skala kecil: a Pendidikan dan wawasan pengetahuan nelayan tentang bisnis masih cukup rendah sehingga pada umumnya usaha yang dilakukan masih bersifat subsisten dan kurang efisien. b Keterampilan teknis dan manajerial untuk pengoperasian teknologi maju masih rendah. Hal ini berkaitan dengan status pendidikan yang rendah dan masih banyaknya nelayan yang mengandalkan teknologi tradisional (walaupun sudah tidak produktif lagi). c Lemahnya kemampuan nelayan dalam mengakses modal, teknologi maupun pemasaran hasil. Secara umum usaha yang dilakukan oleh nelayan dinilai kurang layak oleh bank (bankable), menerapkan

teknologi yang kurang produktif, dan mengalami kesulitan dalam pemasaran hasil. d Terbatasnya tenaga pembina perikanan di tingkat lapangan sehingga telah menyebabkan lambannya transfer (inovasi) teknologi, yang berdampak lanjut pada rendahnya tingkat produktivitas usaha. Secara umum usaha perikanan tangkap skala kecil masih memungkinkan untuk dikembangkan dengan memanfaatkan berbagai peluang yang ada, antara lain: a. Masih tersedianya sumberdaya ikan pada beberapa wilayah, terutama perikanan lepas pantai maupun daerah yang terdapat di kawasan timur Indonesia, telah memberikan peluang pengembangan dan relokasi usaha nelayan ke daerah tersebut. b. Semakin meningkatnya permintaan ikan, baik untuk pasar lokal maupun ekspor, telah memberikan dorongan untuk memacu peningkatan produksi perikanan melalui pengembangan usaha. c. Tersedianya alokasi kredit dari berbagai lembaga keuangan dalam jumlah yang cukup besar yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan usaha perikanan tangkap, misalnya, Kredit Mina Mandiri dari Bank Mandiri dan sebagainya. d. Masih banyaknya daerah yang memungkinkan untuk pengembangan industri perikanan, dengan tersedianya lahan dan dukungan kebijakan (dari sebagian) daerah. e. Tersedianya pelabuhan perikanan yang tersebar di berbagai daerah dalam berbagai tipe, telah memberikan dukungan untuk kemudahan dalam pengembangan usaha perikanan tangkap di daerah yang bersangkutan. Pelabuhan perikanan juga dapat dijadikan sebagai sentra pengembangan bisnis perikanan tangkap dengan mengintegrasikan berbagai usaha yang dapat saling mendukung. f. Terdapat kemungkinan pengembangan kemitraan usaha perikanan tangkap, antara skala usaha kecil/menengah dengan usaha skala besar. Ancaman yang dihadapi dalam pengembangan usaha perikanan tangkap skala kecil antara lain dapat diidentifikasikan sebagai berikut: a. Lembaga keuangan masih menerapkan persyaratan kredit secara ketat. Hal ini menyulitkan nelayan skala kecil dalam mengakses modal sehingga skim kredit yang tersedia belum dapat dimanfaatkan untuk pengembangan usaha perikanan skala kecil. b. Masih maraknya kegiatan penangkapan yang melanggar aturan, yang telah menimbulkan tekanan yang cukup besar terhadap sumberdaya ikan sehingga berdampak pada semakin menurunnya tingkat produktivitas usaha penangkapan ikan skala kecil tersebut.

c. Semakin meluasnya wilayah perairan yang terindikasi mengalami degradasi lingkungan, yang secara langsung juga menurunkan tingkat produktivitas usaha penangkapan ikan. d. Euforia otonomi pada sebagian daerah, telah mengakibatkan terbatasnya akses nelayan terhadap sumberdaya ikan di luar wilayah administratif tempat tinggal mereka. Kondisi tersebut menyebabkan semakin kecilnya tingkat efisiensi dan produktivitas usaha nelayan. e. Semakin luasnya wilayah penangkapan ikan yang terindikasi mengalami gejala tangkap lebih, yang telah mengakibatkan nelayan makin jauh untuk melakukan usaha penangkapan ikan sehingga tingkat keuntungan yang diperoleh juga makin menurun. f. Ikan telah menjadi milik dunia sehingga dalam memanfaatkannya harus tunduk pada aturan pembatasan yang dilakukan oleh berbagai organisasi dunia, yang terkadang merugikan nelayan skala kecil. g. Semakin menguatnya hambatan pasar internasional (terutama hambatan non-tarif) dari negara tujuan ekspor, antara lain akibat isu dumping, isu antibiotik, isu perlindungan biota tertentu, dan sebagainya. Secara langsung, hal ini telah menghambat pengembangan pasar ekspor berbagai produk perikanan ke beberapa negara. 3.1.1.1.Fokus Kebijakan Pembangunan Perikanan Tangkap Perikanan tangkap merupakan suatu kegiatan usaha yang rumit mulai dari pengadaan sarana dan prasarana penangkapan, identifikasi dan estimasi sumberdaya ikan, usaha penangkapan, penanganan hasil tangkap, pemasaran hingga kelembagaannya. Dengan demikian, pengembangan perikanan tangkap harus didekati dengan pendekatan komprehensif yang menyangkut aspek ekologi (tingkat eksploitasi, keragaan rekruitmen, perubahan ukuran tangkap, dan sebagainya), ekonomi (kontribusi perikanan terhadap GDP, penyerapan tenaga kerja, tingkat subsidi, dan sebagainya), sosial (pertumbuhan komunitas, status konflik, tingkat pendidikan, dan sebagainya), teknologi (produktivitas alat, selektivitas alat, ukuran kapal, dan sebagainya), dan etik (illegal fishing, mitigasi terhadap habitat dan ekosistem, sikap terhadap limbah dan bycatch, dan sebagainya). Prasyarat penting yang menjadi fokus dalam pengelolaan perikanan tangkap adalah aspek keberlanjutan usaha, karena hal tersebut merupakan kunci utama dalam pembangunan perikanan yang diharapkan dapat memperbaiki kondisi sumberdaya dan masyarakat perikanan itu sendiri. Pembangunan perikanan yang berkelanjutan harus dapat mengakomodasi aspek ecological sustainability,

socioeconomic sustainability, institutional sustainability

community

sustainability

dan

Keseluruhan komponen di atas diperlukan sebagai prasyarat terpenuhinya pembangunan perikanan yang berkelanjutan, sebagaimana diamanatkan dalam FAO Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF). Apabila kaidah-kaidah pembangunan perikanan tangkap berkelanjutan ini tidak dipenuhi, maka pembangunan perikanan akan mengarah ke degradasi lingkungan, over-exploited, dan destructive fishing practice. Hal ini dipicu karena keinginan untuk memenuhi kepentingan sesaat atau masa kini, sehingga tingkat eksploitasi sumberdaya perikanan diarahkan sedemikian rupa untuk memperoleh keuntungan yang sebesarbesarnya dalam waktu yang singkat. Akibatnya, kepentingan lingkungan diabaikan dan penggunaan teknologi ”quick yielding” yang sering bersifat destructive dapat terjadi. Oleh karena itu, pengembangan perikanan tangkap harus mengacu pada pola pembangunan berkelanjutan. Sebagai salahsatu bentuk sistem agribisnis, faktor-faktor yang berperan dalam sistem agribisnis perikanan tangkap adalah masyarakat, sarana produksi, proses produksi, prasarana pelabuhan, sumberdaya ikan, pengolahan, pemasaran dan aspek legal. Masyarakat merupakan salah satu faktor penting yang dapat menunjang keberhasilan suatu sistem pengembangan perikanan tangkap, khususnya dalam upaya pengembangan perikanan tangkap yang modern yang berorientasi bisnis. Jumlah penduduk yang besar dapat menjadi sumber ketersediaan konsumen yang potensial dan bila tersedianya konsumen pengguna maka akan menarik minat bagi para investor dalam menanamkan modal investasinya, karena mereka menganggap sektor perikanan dapat memberikan nilai keuntungan yang menjanjikan (profitable). Disamping itu agar dapat terciptanya iklim investasi yang kondusif, diperlukan peran serta dari pemerintah terkait (government) dalam melakukan pembinaan mengenai bisnis perikanan tangkap. Masuknya para investor diharapkan dapat menimbulkan multiplier effect dan menumbuhkan sektor lain yang terkait dengan perikanan tangkap, terutama pengembangan sarana produksi seperti: fasilitas penyediaan mesin dan bahan alat perikanan, penyediaan fasilitas docking dan perbengkelan, alat bantu penangkapan. Demikian dengan sendirinya akan menciptakan lapangan kerja baru dan menyerap tenaga kerja. Untuk mendukung keberhasilan pembangunan bisnis perikanan tangkap dalam era globalisasi saat ini, perlu dilakukan pengembangan sumberdaya manusia di bidang penangkapan ikan agar siap pakai, yang dalam pelaksanaannya akan

didukung dengan upaya peningkatan kemampuan dan ketrampilan melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan bagi para tenaga kerja, dalam hal ini sumberdaya manusia dibidang penangkapan ikan terutama awak kapal yang meliputi nakhoda, mualim, kepala kamar mesin (KKM), fishing master, dan anak buah kapal (ABK). Sumberdaya ikan yang cukup melimpah di WPP Teluk Tomini dan WPP Laut Sulwesi tidak mempunyai arti dari sisi ekonomi apabila tidak ada upaya yang sungguh-sungguh dan sistematis untuk mendayagunakannya sehingga mampu memberikan manfaat secara berkelanjutan. Salah satu sarana penting dalam rangka memanfaatkan sumberdaya ikan di laut adalah armada penangkapan ikan berupa kapal dan alat penangkap ikan. Selanjutnya untuk meningkatkan produktivitas usaha penangkapan ikan, perlu diperhatikan sejumlah faktor, antara lain (1) kelimpahan sumberdaya ikan, (2) tingkat persaingan dalam menangkap ikan, dan (3) kemampuan sumberdaya dalam memanfaatkan teknologi penangkapan ikan yang digunakan. Untuk mewujudkan sebuah sistem usaha perikanan tangkap nasional, maka perlu kebijakan dan program yang bersifat terobosan (breakthrough) yaitu berdasarkan pendekatan sistem industri perikanan tangkap. Berdasarkan pada pendekatan sistem tersebut, untuk merealisasikan tujuan industri perikanan tangkap Provinsi Gorontalo perlu dilakukan upaya meliputi: (1) Upaya optimalisasi antara ketersediaan sumberdaya (stock) ikan dengan tingkat penangkapan (effort) pada setiap wilayah penangkapan ikan. Hal ini sangat penting untuk menjamin sistem usaha perikanan tangkap yang efisien dan menguntungkan (profitable) secara berkelanjutan. Apabila tingkat penangkapan ikan di suatu wilayah penangkapan melebihi potensi lestarinya (Maximum Suistainable Yield, MSY), maka akan terjadi fenoma tangkap lebih (overfishing) yang berakibat pada menurunnya hasil tangkapan persatuan upaya (catch per unit effort), yang pada akhirnya mengakibatkan penurunan pendapatan nelayan; (2) Pengembangan teknologi penangkapan yang bersifat selektif, efisien dan ramah lingkungan (eco-friendly), yang disainnya disesuaikan dengan kondisi oseanografis fishing ground, sifat biologis ikan sasaran, serta siklus hidup dan dinamika populasi ikan; (3) Kapal penangkap ikan yang disain sesuai dengan kondisi oseanografis fishing ground, sifat biologis ikan sasaran, serta siklus hidup dan dinamika populasi ikan. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi teknis penangkapan ikan; (4) Disamping penerapan manajemen perikanan yang baik, pemerintah perlu menerapkan suatu regulasi mengenai pengelolaan perikanan yang bertanggung jawab sebagaimana yang tertuang FAO-Code of Conduct for Responsible Fisheries, yang dewasa ini bergaung di dunia internasional. Commitee

on Fisheries FAO juga telah menyepakati tentang International Plan of Action on Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing yang mengatur mengenai praktek ilegal seperti pencurian ikan, praktek perikanan yang yang tidak dilaporkan, dan praktek perikanan yang tidak diatur sehingga mengancam kelestarian stok ikan global; dan (5) Pemeliharaan habitat sumberdaya ikan, sehingga rekruitmen dan pertumbuhan individu ikan terus membaik sekaligus menekan kematian alamiah ikan. Hal ini penting karena habitat yang sehat dan produktif akan mendukung produktivitas dan sumberdaya ikan yang mendiaminya. Terdapat beberapa kebijakan yang dapat digunakan sebagai regulasi dalam memelihara kelangsungan sumberdaya hayati laut diantaranya berupa penerapan MPA (Marine Protected Area), close season dan lain-lain. Prasarana yang ada di pelabuhan seperti kapasitas tambat labuh, ketersediaan air bersih, fasilitas pabrik es, cold storage, dockyard, bengkel motor kapal dan lain-lain, dapat menumbuhkan gairah dalam berinvestasi. Karena ketersediaan infrastruktur tersebut merupakan faktor penunjang keberhasilan dalam operasi penangkapan ikan dan pasca operasinya atau pendaratan ikan. Perikanan tangkap yang berorientasi bisnis menuntut ketersediaan stock species ikan yang memenuhi persyaratan, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Ikan hasil tangkapan perlu segera mendapat perlakuan (handling) yang cepat dan tepat diatas kapal pasca penangkapannya untuk menghindari penurunan kualitas, agar komoditas ikan tersebut tetap mempunyai nilai lebih yaitu mutu yang tinggi, yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai jualnya. Penanganan diatas kapal dapat berupa pemberian es curah, garam atau dimasukan dalam palkah pendingin dengan suhu yang sangat rendah. Setelah tiba di pelabuhan komoditas ikan hasil tangkapan tersebut diproses untuk menghindari penurunan mutu akibat terbentuknya bakteri, seperti: pencucian dengan air bersih yang ditambah larutan kaporit, buang sisik, buang isi perut dan insang. Tahap akhir pada subsistem unit pengolahan adalah proses pengepakan (packaging) agar komoditas tersebut terlindungi dan tahan lama. Produk perikanan yang dihasilkan dari subsistem unit pengolahan ini juga harus mampu memenuhi standar kualitas baku internasional, seperti ISO 9000. Peningkatan akses pasar dapat dilakukan dengan jalan memfasilitasi pemasaran langsung melalui: kerjasama bilateral dengan belajar dari pengalaman negara lain, melakukan peningkatan mutu ikan hasil tangkapan dan diversifikasi produk olahan sesuai dengan permintaan pasar, mendorong dunia usaha untuk promosi ke berbagai negara, meningkatkan mutu dan keamanan pangan dengan penerapan sistem

manajemen mutu terpadu, seperti: HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point), mengusulkan keringanan bea masuk impor bahan baku atau bahan penolong untuk industri pengolahan hasil perikanan (seperti: tin plate, pouch, soybean oil) yang pada akhirnya dapat meningkatkan devisa bagi negara. Sebagai langkah untuk mengintegrasikan sistem usaha perikanan tangkap nasional dengan Provinsi Gorontalo diperlukan program yang mendukung kerjasama antar wilayah dalam penyediaan tenaga kerja perikanan tangkap. Upaya peningkatan jumlah nelayan di Provinsi Gorontalo sebagai daerah yang memiliki daerah tangkapan dalam kondisi under-fishing dapat ditempuh melalui program kerjasama kemitraan antar wilayah dengan Provinsi yang berada pada WPP yang mengalami over-fishing dan high density fishers workers seperti Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali. Salahsatu bentuk kerjasama tersebut adalah melalui program pengerahan trasnmigrasi khusus nelayan. Upaya awal telah dilakukan oleh Kabupaten Boalemo yang bekerjasama dengan beberapa kabupaten di kawasan Pantai Utara Pulau Jawa. Upaya tersebut seyogyanya diiringi dengan pembinaan teknis dan manajerial yang berkelanjutan sehingga nelayan peserta transmigrasi khusus tersebut mampu melakukan operasi penangkapan ikan secara profesional dengan tingkat produktivitas tinggi dan menggunakan alat tangkap (fishing gear) ramah lingkungan. Disisi lain, langkah penyiapan sosial di daerah penerima harus secara serius dilakukan untuk menghindari konflik setelah transmigran datang di lokasi tujuan. 3.1.2.Kondisi Perikanan budidaya Perikanan budidaya yang sudah dikembangkan di Provinsi Gorontalo terdiri dari budidaya laut, air payau dan air tawar. Potensi produksi terbesar adalah budidaya laut sebesar 25.050 ton per tahun dengan tingkat pemanfaatan pada tahun 6.662,2 7.00 0,0 2006 sebesar 6124 ton atau mencapai 10 % (Gambar 3.27.). 5.754,8 6.00 0,0 Semakin meningkatnya produksi budidaya laut (mariculture/marine 4.556,8 5.00 0,0 4.279,0 4.117,4 aquaculture) merupakan 4.00 0,0 perkembangan yang 3.148,0 4.407,5 6.124,0 menggembirakan karena ditinjau 3.00 0,0 dari segi permintaan pasar, 3.025,4 3.267,1 3.210,0 dampak ekonomi yang dihasilkan 2.00 0,0 2.366,8 dan kesesuaiannya dengan prinsip kelestarian lingkungan. Tercatat 1.00 0,0 537,7 532,5 583,2 350,0
Product (M ion T) 433,0
2 001

429,2 312,3

669,8
2 003

531,6

418,7
2 005

324,3 106,2
2 006

2 002

2 004

Freshwater pond aquaculture Cage aquaculture Marine aquaculture

Brackishwater pond aquaculture Floating cage net Aquaculture Paddy field aquaculture

pertumbuhan produksi rata-rata sebesar 27,42 % selama periode 2001-2006. Gambar 3.27. Perkembangan Produksi Budidaya Perairan di Provinsi Gorontalo Komoditas utama yang sudah dikembangkan adalah budidaya rumput laut dengan produksi sebesar 6111 ton pada tahun 2006 dan tingkat pertumbuhan produksi rata-rata per tahunnya sebesar 27,37%. Komoditas lain yang sudah semakin berkembang adalah ikan kerapu dan ikan kuwe yang dibudidayakan dalam karamba jaring apung. Meskipun produksi karamba jaring apung tidak meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun, berkembangnya budidaya dengan teknologi tersebut dan komoditas ikan karang merupakan upaya yang patut disambut positif dan harus direspon lebih baik lagi oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten. Berkembangnya teknologi produksi karamba jaring apung pada perairan pesisir memberikan manfaat yang lebih besar ditinjau dari beberapa sisi yaitu; (1) dampak positif bagi kelestarian sumberdaya alam karena akan mengurangi tekanan terhadap eksploitasi berlebih terhadap terumbu karang dan eksploitasi berlebih terhadap sumberdaya perikanan pesisir karena daya tarik ekonomi yang dihasilkan jauh lebih besar dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dari perikanan tankap; (2) manfaat finansial bagi pelaku usaha jauh lebih tinggi dibandinkan dengan usaha perikanan tangkap; (3) mengurangi kerusakan lingkungan akibat destructive fishing practices karena di Provinsi Gorontalo masih banyak terjadi praktek penangkapan ikan karang dengan menggunakan bom ikan; (4) meningkatkan semangat mencari pengetahuan dan teknologi budidaya sehingga terbentuk masyarkaat pengusaha yang lebih menyadari pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem perairan. Selain manfaat tersebut di atas, manfaat terhadap penyerapan tenaga kerja yang produktif menjadi alasan yang tepat bagi pemerintah untuk membantu mendorong berkembangnya budidaya laut. Perkembangan keluarga pembudidaya selalu meingkat dari tahun ke tahun dengan tingkat pertumbuhan rata-rata selama periode 2001-2006 sebesar 13,85 %. Jumlah rumah tangga pembudidaya
4 000 3 500 N berof AquacultureH um ouseholds 3 000 2 500 2 000 1 500 1 000 500 1 997 2 259 2 506 2 607 3 006 3 761

666 785 438 681 1 141
2 006

666 654 143 261 756 785
2 004

315 29 469 706 472
2 001

350 29 469 756 647
2 002

354 92 555 756 741
2 003

568 261 691 795
2 005

Marine aquaculture

Brackishwater pond aquaculture

Freshwater pond aquaculture Cage aquaculture Floating cage net Aquaculture Paddy field aquaculture

pada tahun 2001 hanya sebanyak 1997 RTP menjadi 3761 RTP pada tahun 2006. Hal tersebut menunjukkan terjadi peningkatan daya tarik yang alamiah bagi masyarakat pesisir untuk melibatkan diri dalam usaha budidaya (Gambar 3.28.). Gambar 3.28. Perkembangan Jumlah Rumah Tangga Pembudidaya di Provinsi Gorontalo Perkembangan budidaya laut harus disambut gembira dan didukung dengan kebijakan pemerintah untuk lebih mendorong masayarakat dalam memperluas usaha dengan berbagai dukungan yang berorientasi pada peningkatan produksi dan peningkatan skala usaha. Kebijakan mengenai budidaya laut harus diselaraskan dengan upaya pengembangan sistem agribisnis terpadu dengan sistem budidaya lain sehingga dicapai sinergi dan efisiensi usaha. Manfaat budidaya perikanan dalam penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan harus dikedepankan mengingat tingginya daya serap tenaga kerja dalam usaha budidaya. Oleh karena itu, kebijakan dan program pengembangan budidaya ini bukan hanya dikhususkan bagi dinas teknis yang langsung menanganinya tetapi menyangkut dinas teknis lain misalnya Dinas Tenaga Kerja. Jumlah tenaga kerja yang terserap dalam kegiatan budidaya tercatat meningkat dari sebesar 3110 pada tahun 2001 menjadi 5398 orang pada tahun 2006. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan penyerapan tenaga kerja sebesar 11,54 % per tahun (Gambar 3.29.)
6 000 5 000 Num of Fish Farm ber er 4 000 3 110 3 519 3 844 531 138 555 4 132 981 4 335 999 5 398 999 1 178

Gambar 3.29. Peningkatan Jumlah Petani Pembudidaya

Potensi produksi budidaya air payau 59.770 ton per 525 215 3 000 44 438 tahun 852 473 dengan tingkat 261 469 44 469 261 1 022 pemanfaatan pada tahun 2 000 1 512 1 512 1 512 1 037 2006 sebesar 106 ton atau 1 412 1 000 1 712 0,2 % sedangkan potensi 1 155 1 161 1 100 961 budidaya air tawar 707 sebesar 5.041 ton per 2 001 2 002 2 003 2 004 2 005 2 006 tahun dengan tingkat pemanfaatan pada tahun Marine aquaculture Brackishwater pond aquaculture 2006 sebesar 65,8 ton atau 1,3 %. Rendahnya tingkat Freshwater pond aquaculture Cage aquaculture pemanfaatan budidaya air Floating cage net Paddy field aquaculture payau disebabkan oleh
Total

teknologi produksi yang digunakan sebagian besar masih merupakan teknologi tradisional tanpa menggunakan manajemen air dan penggunaan input faktor secara intensif. Dengan hanya menggantungkan kesuburan lahan secara alami, maka secara alamiah tingkat produktivitas semakin menurun seiring dengan menurunnya ketersediaan sumberdaya alam yang menjadi faktor produksi. Karena sifatnya yang cenderung merusak kondisi ekosistem perairan pesisir, maka budidaya air payau disarankan untuk tidak dikembangkan lagi secara ekstensif dan bahkan diperlukan tindakan untuk menghutankan kembali areal hutan bakau yang telah menjadi tambak pada daerah yang tingkat produktivitasnya sudah sangat rendah. Intensifikasi tambak selanjutnya diarahkan pada daerah yang bukan merupakan cadangan penyangga plasma nutfah laut dengan penggunaan teknologi budidaya yang ramah lingkungan. Ditinjau dari segi distribusi pelaku usaha budidaya laut, Kabupaten Gorontalo menempati urutan teratas dengan Distribusi Rumah Tangga Pembudidaya jumlah pelaku sebanyak 676 RTP atau sebanyak Kabupaten 59% dari seluruh pelaku Bone Kabupaten Bolango; usaha di Provinsi Gorontalo Pohuwato; 43 ; 4% sedangkan Kabupaten 164 ; 14% Bone Bolango menempati tempat terendah dengan 43 RTP (4%). Gambar 3.30. Distribusi Rumah Tangga Pembudidaya Laut Upaya peningkatan pendapatan masyarakat terutama di kawasan pesisir pada akhirnya akan bertumpu pada budidaya kelautan karena selain meningkatkan pendapatan juga berpengaruh terhadap kelestarian sumberdaya perikanan pesisir. Sebagaimana tercantum dalam RPJMD Provinsi Gorontalo, untuk mencapai misi Gorontalo Mandiri dan Gorontalo Produktif telah ditetapkan indikator sasaran kinerja Tercapainya produksi rumput laut yang sustainable pada level 50.000 ton. Pencapaian sasaran kinerja sebesar tersebut di atas merupakan sebuah rencana yang rasional dan dapat dilaksanakan dengan mengacu pada produktivitas rata-rata seperti yang telah dihasilkan oleh RTP di Kabupaten Bone-Bolango. Tingkat pencapaian pendapatan
Kabupaten Boalemo; 258 ; 23% Kabupaten Gorontalo; 676 ; 59%

pembudidaya rumput laut tertinggi dicapai oleh Kabupaten BoneBolango dengan pendapatan rata-rata sebesar Rp 4,9 juta/RTP per tahun. Tingginya produktivititas menentukan pendapatan rata-rata yang diperoleh. Pencapaian produktivitas RTP Pembudidaya di Kabupaten Bone-Bolango pada tahun 2006 adalah sebesar 9,83 ton per tahun. Dengan demikian model teknologi, kesesuaian areal dan sistem produksi di Kabupaten Bone Bolango dapat dijadikan sebagai acuan pengembangan budidaya rumput laut di Provinsi Gorontalo, lihat Gambar 3.31. Gambar Produktivitas Rumput Laut 3.31. Budidaya
Produksi Rum Laut (Ton/RTP) put

Terdapat dua opsi Gorontalo 5,3 ; 6 Kabupaten Bone pengembangan budidaya, Bolango 9 ; ,83 yaitu pencapaian target dengan model yang telah dicapai oleh Kabupaten Boalemo atau dengan Kabupaten model yang telah Gorontalo 5,29 ; Kabupaten dikembangkan oleh Kabupaten Pohuwato 2 ; ,29 Kabupaten Bone-Bolango. Boalemo 6,73 ; Target sebesar 50.000 ton dapat dicapai jika menggunakan acuan Kabupaten Bone Bolango akan diperlukan sebanyak 5085 RTP. Dengan produksi rata-rata menggunakan acuan Kabupaten Bone-Bolango maka akan diperlukan tamabahan jumlah RTP sebanyak 2059 RTP. Kabupaten Boalemo mencapai produksi rata-rata sebesar 6,73 ton/RTP, sehingga jika akan dijadikan acuan maka jumlah RTP yang harus terlibat dalam budidaya rumput laut di seluruh Provinsi Gorontalo adalah sebanyak 7427 RTP sehingga dengan demikian masih diperlukan tambahan sebanyak 4400 RTP yang akan dilibatkan dalam program pengembangan budidaya rumput laut. 3.1.2.1.Potensi Pengembangan Budidaya Laut di Provinsi Gorontalo Dihubungkan dengan target produksi yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo, luas areal yang tersedia masih mencukupi untuk melakukan usaha budidaya karena efektifitas penggunaan wilayah laut yang telah digunakan untuk kegiatan budidaya untuk semua jenis komoditas baru mencapai 46 % (lihat Gambar 3.32.). Bahkan untuk budidaya karamba jaring apung baru mencapai efektifitas penggunaan lahan potensial sebesar 1% sedangkan untuk budidaya mutiara dan rumput laut, masing-masing sudah mencapai efektifitas 50

Provinsi

%. Kondisi demikian masih memungkinkan untuk mengembangkan program peningkatan produksi melalui metode ekstensifikasi. Program ekstensfikasi budidaya laut tentunya harus diiringi dengan program intensifikasi yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas. Program intensifikasi budidaya laut tentunya dapat dicapai setelah semua permasalahan umum yang ditemukan pada kegiatan budidaya laut diatasi secara bertahap sehingga target produksi yang telah ditetapkan dapat dicapai dalam waktu yang relatif lebih singkat. Gambar 3.32. Luas Potensi dan Luas Efektif Areal Budidaya Laut Permasalahan umum yang ditemukan dalam hubungannya dengan kegiatan usaha budidaya laut di Provinsi Gorontalo adalah sebagai berikut:
20.659 45.177 10.309 20.622 10.311 20.621 39 3.934

Jumlah

Mutiara

Rumput Laut

(1) Masih lemahnya Luas Potensi dan Luas Efektif (ha) orientasi dorongan permintaan pasar Luas Indikatif Luas Efektif (market driven oriented) bagi pelaku usaha budidaya skala rumah tanga. Umumnya program intensifikasi budidaya laut yang telah dilaksanakan selama ini berjalan tanpa persiapan yang matang dan didorong oleh kepastian permintaan pasar dengan kuantitas dan kualitas yang telah ditetapkan. Keadaan ini sering mematahkan semangat pelaku usaha budidaya laut terutama untuk komoditas ikan kerapu yang dibudidayakan dalam karamba jaring apung yang ditemui di seluruh pesisir utara dan selatan. Di masa datang, pemilihan komoditas seharusnya bertitik tolak dari keunggulan komparatif dari potensi sumberdaya masing-masing daerah, serta berorientasi pada permintaan pasar dan memperhatikan aspek-aspek pemasaran lainnya. (2) Belum tercapainya skala usaha ekonomis sehingga mengakibatkan kesulitan dalam pencapaian target keuntungan yang rasional. Agar dapat dikelola secara ekonomis (managable), besarnya skala usaha kawasan budidaya diarahkan untuk secara ekonomis mampu mengintegrasikan pemenuhan kebutuhan sarana produksi, pelaksanaan proses produksi, pengolahan, pemasaran hasil dan pengelolaan lingkungan dalam suatu sistem yang mapan, sehingga menghasilkan sistem usaha yang berdaya saing dan berkelanjutan. (3) Masih rendahnya partisipasi masyarakat pembudidaya (participatory): Kawasan budidaya harus dibangun atas dasar

Keramba Jaring Apung

kebersamaan ekonomi dan kerjasama antar pembudidaya dalam kelompok/koperasi yang dikelola secara transparan, dapat dipertanggungjawabkan dan adil, sehingga menghasilkan sistem usaha budidaya yang berkeadilan. (4) Belum ada keterpaduan sistem usaha budidaya (integrated culture system): Pengembangan kawasan budidaya pada dasarnya dibangun melalui pendekatan agribisnis secara utuh, terpadu dan berkelanjutan, baik pada intra maupun inter subsistem dalam sistem usaha budidaya. (5) Belum tersedianya kelengkapan sarana dan prasarana (infrastructure capacity): Ketersediaan sarana prasarana pendukung, seperti jalan penghubung, pelabuhan ekspor/pasar, listrik, telepon, dan fasilitas air bersih sangat mempengaruhi tingkat efisiensi dan efektivitas kawasan usaha budidaya yang dibangun. (6) Belum tertatanya pengembangan wilayah potensial yang didukung dengan data akurat mengenai posisi spesifik wilayah pengembangan budidaya. Seperti diketahui, pengembangan budidaya laut harus mengikuti kaidah kesesuaian lingkungan dan informasi mengenai kesesuaian wilayah perairan karena jika dilakukan kesalahan dalam penetapan wilayah budidaya akan mengakibatkan kerugian yang besar akibat kegagalan dalam produksi. Data dan informasi tersebut harus diperoleh dari kajian komprehensif yang menghasilkan rekomendasi wilayah spesifik. Dengan adanya data dan informasi spesifik diharapkan terjadinya kelestarian dan manfaat ekonomi dalam jangka pendek dan jangka panjang. Tabel 3.4. memperlihatkan estimasi lokasi dan luas indikatif kawasan potensial budidaya laut. Tabel 3.4. Estimasi Lokasi dan Luas Indikatif Kawasan Potensial Budidaya Laut di Provinsi Gorontalo
Lokasi Kecamatan Koordinat 122o29'24" BT/ o 0 05'70" LU 121o36'00" BT/ o 0 36'00" LU 122o23'24" BT/ 0o35'24" LU Kode KJA-1 KJA-2 KJA-3 RL-1 KJA-4 RL-2 MTR-1 KJA-5 RL-3 RL-4 MTR-2 Kesesuaia n Komoditas KJA KJA KJA RL KJA RL MTR KJA RL RL MTR Luas Potensial (Ha) Indikatif 126 270 102 11,075 1,522 3,443 16,296 1,914 2,674 3,429 4,326 Efektif 1.26 2.70 1.02 5,537.50 15.22 1,721.50 8,148.00 19.14 1,337.00 1,714.50 2,163.00

Sumalata

Lemito

Tilamuta

Lokasi Kesesuaia Luas Potensial (Ha) Kode n Kecamatan Koordinat Indikatif Efektif Komoditas Total luas kawasan potensial Budidaya Keramba Jaring 3,934 39.34 Apung Total luas kawasan potensial Budidaya Keramba Tancap 0 0.00 Total luas kawasan potensial Budidaya Rumput Laut 20,621 10,310.50 Total luas kawasan potensial Budidaya Teripang 0 0.00 Total luas kawasan potensial Budidaya Kerang-kerangan 0 0.00 Total luas kawasan potensial Budidaya Mutiara 20,622 10,311.00 Sumber: Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan, 2006

Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa untuk meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir melalui pengembangan budidaya laut dapat ditempuh melalui intensifikasi budidaya ikan.Guna menghadapi tantangan global, implementasi kebijakan pembangunan perikanan budidaya dilaksanakan melalui 5 (lima) program utama, yaitu: (1) Pengembangan intensifikasi pembudidayaan ikan (INBUDKAN); (2) Pengembangan kawasan budidaya terintegrasi dengan sektor lain; (3) Pengembangan budidaya di pedesaan; (4) Pengembangan perikanan berbasis budidaya dan (5) Peningkatan produktivitas berwawasan lingkungan. Agar prioritas pembangunan perikanan budidaya tercapai, maka program pengembangan dan penguatan budidaya laut di Provinsi Gorontalo dapat dilakukan melalui program ekstensifikasi dan Intensifikasi Pembudidayaan Ikan (INBUDKAN) untuk komoditas rumput laut dan kerapu, dan program Non-INBUDKAN untuk komoditas unggulan lainnya seperti bandeng, kakap, jambal, rajungan, mutiara dan ikan hias. Kegiatan budidaya kerapu, mutiara dan rumput laut dapat dijadikan embrio pengembangan kawasan budidaya laut. Hal tersebut ditunjang dengan pengembangan program penyuluhan budidaya laut diantaranya melalui pendampingan teknologi, pembangunan/operasional balai atau loka budidaya laut dan Balai Budidaya Ikan Pantai (BBIP), pembinaan Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT) ikan laut, pembinaan pengelolaan kesehatan ikan dan lingkungan budidaya laut, serta didukung dengan pengembangan suaka perikanan (reservat) dan restocking. Program INBUDKAN dibuat dengan tujuan untuk; (1) Memfasilitasi peningkatan pendapatan dan taraf hidup pembudidaya ikan; (2) Mendorong peningkatan mutu produksi dan produktivitas usaha perikanan budidaya untuk meningkatkan periolehan devisa; dan (3) Mendorong pembangunan ekonomi daerah melalui pemberdayan pembudidaya ikan dalam kelembagaan yang kuat, penguatan modal usaha dan hubungan kemitraan. Sasaran Program INBUDKAN, adalah; (1) Berkembangnya kawasan pembudidayaan untuk komoditas, diantaranya yaitu kerapu dan rumput laut; (2) Menguatnya kelembagaan kelompok

pemudidaya ikan (POKDAKAN) yang terintegrasi dengan kelompok tani, nelayan, peternak dan kelompok petani perkebunan; dan (3) Terjalinnya jaringan kerjasama antar kelompok dalam rangka mengangkat posisi tawar Rekomendasi umum mengenai pokok-pokok kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh Provinsi Gorontalo dalam Program INBUDKAN, terdiri dari: (1) Forum koordinasi perencanaan, sinkronisasi dan pengendalian di tingkat pusat, propinsi, kabupaten dan kecamatan; (2) Pendampingan, pembinaan, penyuluhan, pelatihan/magang, dan pengembangan kelembagaan secara terpadu dalam rangka penerapan teknologi anjuran dalam proses produksi, pasca panen, dan pemasaran hasil; (3) Pengadaan dan penyaluran modal kerja, sarana produksi, pengendalian hama penyakit dan lingkungan; (4) Pengaturan pemanfaatan dan pemeliharaan prasarana budidaya; (5) Pelaksanaan percontohan, temu lapang, dan temu usaha; (6) Pembangunan/rehabilitasi sarana dan prasarana INBUD, seperti BBIP untuk INBUD Kerapu, dan tempat penjemuran rumput laut untuk INBUD Rumput Laut; (7) Operasional petugas penyuluh pendamping lapangan. 3.1.2.2.Kriteria Pengembangan Kawasan Budidaya Laut Provinsi Gorontalo memiliki wilayah perairan laut yang luas dan sangat potensial untuk kegiatan budidaya laut. Luas perairan yang potensial untuk budidaya laut menurut Departemen Kelautan dan Perikanan adalah 20.622 hektar. Namun demikian, tidak berarti seluruh luasan lahan tersebut potensial dan sesuai untuk budidaya laut, karena masih banyak kriteria-kriteria dan parameter lainnya yang harus dipenuhi oleh suatu lokasi perairan agar dapat dimanfaatkan untuk budidaya laut. Kriteria umum lokasi perairan yang dapat digunakan untuk budidaya laut harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu sebagai berikut: (1) Perairan tenang serta terlindung dari arus dan gelombang yang cukup kuat; (2) Kedalaman dan kelandaian dasar perairan. Kedalaman perairan optimum untuk budidaya keramba jaring apung 7 – 30 meter. Kedalaman perairan kurang dari 7 meter akan menimbulkan masalah lingkungan (kualitas air dari sisa pakan dan kotoran ikan). Sedangkan untuk keramba tancap 1 - 4 meter; (3) Dasar perairan (karang, pasir, pasir berlumpur). Dasar perairan sebaiknya sesuai dengan habitat asal komoditas yang akan dibudidayakan. (4) Pengaruh air tawar dari daratan; (5) Ada tidaknya terumbu karang; (6) Tidak menimbulkan gangguan terhadap alur pelayaran; (7) Bebas dari bahan pencemaran, sehingga lokasi budidaya harus jauh dari kawasan industri maupun pemukiman yang padat; (8) Dapat dicapai dari darat

dan dari tempat pemasok sarana produksi budidaya; (9) Memenuhi syarat baku mutu perairan untuk biota laut, sebagaimana tertuang dalam SK Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004, seperti yang tercantum dalam Tabel 3.5.

Tabel 3.5. Baku Mutu Perairan Untuk Biota Laut.
No. Parameter Satuan Baku Mutu >3 Alami <5 20 – 80 Nihil 28 – 32 Nihil 7 – 8,5 33 – 34 >5 20 0,3 0,015 0,008 0,5 0,01 0,003 0,002 0,01 1 1 0,01 0,01 0,001 0,005 0,012 0,001 0,008 0,008 0,05 0,05 1000(g) Nihil Tidak Bloom 4

A. Fisika 1 Kecerahan 2 Kebauan 3 Kekeruhan 4 Padatan Tersuspensi Total 5 Sampah 6 Suhu 7 Lapisan Minyak B. Kimia 1 PH 2 Salinitas 3 Oksigen Terlarut (DO) 4 BOD5 5 Amonia Total (NH3-N) 6 Posfat (PO4-P) 7 Nitrat (NO3-N) 8 Sianida (CN) 9 Sulfida (H2S) 10 PAH (Poliaromatik Hidrokarbon) 11 Senyawa Fenol Total 12 PCB Total (Poliklor Bifenil) 13 Surfaktan (Deterjen) 14 Minyak dan Lemak 15 Pestisida 16 TBT (Tributil Tin) 17 Raksa (Hg) 18 Kromium Heksavalen (Cr(IV)) 19 Arsen (As) 20 Kadmium (Cd) 21 Tembaga (Cu) 22 Timbal (Pb) 23 Seng (Zn) 24 Nikel (Ni) C. Biologi 1 Coliform (total) 2 3 D. 1 Patogen Plankton Radio Nuklida Komposisi yang Tidak Diketahui

Meter NTU Mg/l °C ‰ ‰ Mg/l Mg/l Mg/l Mg/l Mg/l Mg/l Mg/l Mg/l Mg/l µg/l Mg/l MBAS Mg/l µg/l µg/l Mg/l Mg/l Mg/l Mg/l Mg/l Mg/l Mg/l Mg/l MPN/100 ml Sel/100 ml Sel/100 ml

Bq/l

Sumber: SK Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004

Kriteria kondisi optimum perairan untuk budidaya beberapa jenis komoditas/biota laut, dapat dilihat pada Tabel 3.6.

Tabel 3.6. Kriteria Kondisi Optimum Perairan Budidaya Beberapa Jenis Komoditas
Parameter Kondisi Perairan

Untuk

Kondisi Perairan (Optimum) Untuk Lokasi Budidaya Beberapa Jenis Komoditas/Biota Laut Ikan Kakap Rumput T. Mutiara Teripang Kerapu Putih Laut A. Kondisi Bio-Fisik Suhu (oC) 28 – 31 28 – 30 28 – 30 27 – 30 28 – 32 PH 8 – 8,5 8 – 8,5 7,8 – 8,6 8,0 – 8,5 8 – 8,5 Salinitas (‰) 30 – 33 30 – 33 29 – 31 32 – 34 29 – 32 DO (ppm) 6 – 8,5 6 – 8,5 6 – 8,5 6 – 8,5 – NH3 (ppm) < 0,1 < 0,1 < 0,1 < 0,1 – NO2 (ppm) < 0,1 < 0,1 < 0,1 < 0,1 – H2S < 0,1 < 0,1 < 0,1 < 0,1 – Bahan Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Pencemar B. Kondisi Oseanografi Kedalaman 10 – 80 7 – 30 7 – 30 2–3 1–7 (m) Arus Kecil Kecil Kecil Kecil Kecil Gelombang Kecil Kecil Kecil Kecil Kecil Angin Kecil Kecil Kecil Kecil Kecil Air Tawar Tidak Perlu Tidak Sedikit Tidak Perlu Tidak Perlu Perlu Substrat Karang Karang Karang Pasir/Pasir- Pasir/PasirDasar berlumpur berlumpur Posisi Tempat Terlindung Terlindun Terlindun Terlindung Terlindung Budidaya g g Kecerahan 70 – 100 60 – 100 60 – 100 60 – 100 70 – 100 (%)

Sumber: Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan, 2006

3.1.2.3.Teknologi Produksi Pemilihan teknologi/metoda produksi memperhatikan kondisi lahan dan perairan dan perlu memperhitungkan persediaan material yang akan digunakan dalam pembangunan persiapan pembangunan dan konstruksi, seperti jaring, bambu, kayu, tali, dan lain-lain. Dalam pembudidayaan kerapu, ada 2 (dua) macam teknologi/metoda yang sering dilakukan, yaitu Metoda Karamba Jaring Apung (KJA) dan Metoda Karamba Tancap (KT). Terdapat beberapa metoda Budidaya rumput laut, tetapi hanya beberapa yang masih dipraktekan di masyarakat. Hal ini berkaitan dengan bahan-bahan yang tersedia dan kemudahan pelaksanaan di lapangan. Metoda yang banyak dilakukan orang adalah metoda long line atau tali rentang, metoda rakit bamboo, dan kombinasi antara kedua metoda tersebut. Metoda kantong jaring yang dikenal dengan

sebutan metoda Cidaun merupakan metoda yang baru tetapi masih belum teruji di masyarakat. Teknologi/metoda untuk budidaya teripang pada dasarnya adalah menangani/ membatasi areal di laut untuk luasan tertentu agar teripang yang dipelihara terkurung didalamnya, tidak dapat meloloskan diri, dan tidak mendapat serangan hama dari luar. Teknologi/metoda budidaya teripang tidak jauh berbeda dengan metoda budidaya kerang-kerangan, seperti kerang darah atau kerang bulu, yang dikenal dengan Metoda Pen-Culture, yaitu Kurungan Pagar. Berdasarkan bahan kurungan pagar yang digunakan, desain dan konstruksi kurungan pagar dibedakan menjadi 2, yaitu Kurungan Pagar dari Bambu dan Pagar dari Jaring. Budidaya tiram mengenal dua jenis kegiatan utama yang perlu dilakukan, yaitu pengumpulan spat dan pembesaran. Teknologi/metoda yang biasa digunakan dalam pengumpulan spat tiram ada 4 (empat) macam, yaitu: (1) Metoda Tebar; (2) Metoda Kolektor Tancap; (3) Metoda Rak dan Kolektor Gantung; dan (4) Metoda Payung. Sedangkan teknologi/metoda yang seringkali digunakan untuk pembesaran tiram ada 3 (tiga) macam, yaitu Metoda Tonggak, dan Metoda Rakit. 3.1.2.4.Rekomendasi Implementasi Budidaya Laut (1) Penetapan Komoditas yang Akan dikembangkan. Komoditas budidaya laut yang harus dikembangkan adalah yang mempunyai prospek pasar dan prospek yang berhubungan dengan resiko ytang tidak terlalu tinggi (setidaknya dalam jangka waktu 5 tahun ke depan), yaitu yang mempunyai harga tinggi, dengan tingkat permintaan yang tinggi pula. Jenis-jenis komoditas tersebut adalah Ikan Kerapu Tikus/Bebek (Cromileptes altivelis), Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscogottatus), Rumput Laut dan Mutiara. Penyiapan Teknologi Budidaya. Pemerintah dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo, BAPPEDA Provinsi Gorontalo dengan institusi-institusi penghasil teknologi, perlu segera menyiapkan teknologi budidaya laut yang efisien, baik teknologi pembenihan maupun pembesaran, khususnya untuk jenis-jenis komoditas yang diperkirakan prospektif seperti Ikan Kerapu Sunu (Plectropomus maculates), Ikan Kerapu Lodi (Plectropomus leopardus), Ikan Napoleon (Cheilinus undulatus), Lobster (Panulirus spp), abalone dan biota lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan secara komersial dapat meningkatkan produksi untuk pasar internasional. Pengembangan pemasaran. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo beserta Dinas Perikanan dan Kelautan masing-masing Kabupaten harus proaktif mencari pasar-pasar baru yang potensial melalui program promosi dan roadshow. Pangsa pasar dan

(2)

(3)

spesifikasi produk budidaya laut yang dibutuhkan pasar harus diketahui dengan pasti. Hal ini sangat penting untuk menentukan volume produksi yang akan dicapai, kebutuhan benih dan pakan, kebutuhan sumberdaya manusia, sarana dan prasarana yang dibutuhkan, dan besarnya modal investasi yang diperlukan. (4) Diseminasi Informasi. Penyampaian informasi pasar kepada para pembudidaya harus ccepat dan akurat. Informasi yang sifatnya posistif (mempunyai prospek yang bagus) akan mempercepat pengembangan budidaya laut. (5) Monitoring dan evaluasi harga. Agar pembudidaya bergairah, para penampung dan eksportir hasil budidaya laut harus mau membeli produk pembudidaya dengan harga yang rasional sehingga pelaku budidaya memperoleh keuntungan yang layak dan mampu membangun individual capacity for capital formation. (6) Penataan kawasan budidaya. Untuk mempercepat pengembangan budidaya laut, pemerintah perlu segera melakukan penataan kawasan melalui penerapan RUTR wilayah, khususnya yang mengakomodir tata kawasan untuk budidaya laut, sehingga tidak terjadi tumpang tindih dan konflik kepentingan pada lahan yang sama. RUTR Wilayah ini juga merupakan jaminan hukum bagi para pengusaha perikanan. (7) Fasilitasi Kemudahan perizinan. Pemerintah daerah dalam hal ini instansi perikanan di tingkat propinsi dan kabupaten/kota perlu mengupayakan kemudahan-kemudahan khususnya dalam pemberian ijin usaha budidaya laut dan atau pemberian rekomendasi untuk keperluan kredit perbankan, baik untuk perorangan, koperasi maupun untuk perusahaan swasta yang berniat membuka usaha budidaya laut. (8) Promosi Program Kemitraan terpadu. Dinas Perikanan dan Kelautan, BAPPEDA, BKPMD, Dinas Perdagangan, bersama-sama dengan pihak perbankan, perlu mensosialisasikan secara lebih luas dan berkelanjutan mengenai pelaksanaan program kemitraan terpadu (sistem inti plasma) untuk usaha budidaya laut. (9) Penyediaan benih. Untuk mencukupi kebutuhan benih untuk budidaya laut, kapasitas produksi benih pada balai benih pemerintah dan swasta masih harus ditingkatkan. Disamping itu, produksi benih alami juga harus mendapat perhatian. (10) Untuk melestarikan sumberdaya benih ikan, perlu dibuat peraturan daerah mengenai areal konservasi induk yang dinyatakan tertutup bagi semua usaha penangkapan. Penangkapan benih ikan hanya boleh dilakukan dengan ijin khusus yang diatur dalam peraturan/undang-undang. Komoditas-komoditas prioritas yang perlu segera dibuat konservasinya, antara lain adalah lobster, abalone, teripang, ikan napoleon, dan tiram mutiara.

(11) Dalam rangka menciptakan tenaga terampil siap pakai, pengembangan sumberdaya manusia melalui pendidikan formal dan informal harus terus dilakukan dan ditingkatkan. (12) Forum komunikasi dan partnership building antara pemerintah, pembudidaya ikan, peneliti, penyuluh, dan pengusaha harus lebih sering, baik melalui media cetak, media elektronik, lokakarya, seminar, dan lain-lain. Lembaga-lembaga profesi perlu dijadikan mitra pemerintah dalam mensosialisasikan program-program pengembangan perikanan budidaya, dan sekaligus dijadikan sebagai salah satu forum pertukaran pemikiran dan strategi pemerintah. (13) Untuk mencegah kerusakan habitat/lingkungan budidaya laut di sepanjang perairan pantai, Dinas Kelautan dan Perikanan harus secara proaktif mengajak (menjalin kerjasama) dengan dinas Perhubungan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinsa Pertambangan, Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian tanaman Pangan, Dinas Perkebunan dan Dinas Perindustrian, untuk menjaga/mencegah terjadinya kerusakan dilingkungan masing-masing dalam mengelola sumberdaya alamnya. (14) Mengingat bahwa masa pembudidayaan (pembesaran) ikan kerapu dari ukuran benih 2-3 cm menjadi ukuran konsumsi terkecil (500 g/ekor) memerlukan waktu paling sedikit 12 bulan, maka sebaiknya pembudidaya ikan dibagi dalam beberapa segmen sehingga setiap pembudidaya hanya membesarkan ikan kerapu sampai ukuran tertentu saja. Kriteria segmen didasarkan pada ukuran ikan (i) 2-3 cm, (ii) 5-7 cm, (iii) 10-15 cm, (iv) 40-60 g/ekor, (v) 100-150 g/ekor, (vi) 250-300 g/ekor, dan (vii) lebih besar dari 500 g/ekor. (15) Produk perikanan budidaya yang dihasilkan oleh Provinsi Gorontalo disarankan mengikuti Standar Nasional Indonesia sebagai jaminan mutu bagi produk yang diperdagangkan di pasar internasional. 3.1.1.Membangun Peternakan Rakyat 3.1.1.1.Kondisi Peternakan rakyat Mata rantai pemasaran ternak sapi di Provinsi Gorontalo di waktu lalu begitu panjangnya yang diawali dari penjualan ternak oleh peternak sampai kepada konsumen akhir, terlebih lagi jika ternak tersebut ditujukan untuk pemasaran ekspor. Hasil observasi menunjukkan bahwa di pedesaan para peternak umumnya menjual ternaknya kepada pedagang pengumpul di tingkat desa, selanjutnya dijual ke pasar hewan atau ke pedagang lainnya di tingkat kecamatan. Di pasar hewan pedagang ternak dari kota datang membeli ternak potong untuk selanjutnya dijual kepada penjagal di RPH atau kepada agen penjual daging, yang seterusnya didistribusikan kepada penjual daging di pasar, yang kemudian dibeli oleh konsumen akhir. Rantai terakhir lain adalah

eksportir atau pedagang antar pulau. Ternak sapi Provinsi Gorontalo memiliki pasar tradisional yaitu Kota Tarakan di Kalimantan Timur. Sejak beberapa tahun belakangan ini, ternak sapi Gorontalo telah menjadi komoditas ekspor dengan negara tujuan Malaysia. Gambar 3.33. menunjkkan peningkatan yang cukup signifikan menyangkut jumlah ternak sapi yang diperdagangkan antar pulau dan ekspor.
1 .0 0 8 0 1 .0 0 6 0 1 .0 0 4 0 1 .0 0 2 0 1 .0 0 0 0 1 .2 3 4 9 1 .3 4 3 0 1 .5 2 1 9 1 .8 3 5 4 1 .7 2 6 9

Gambar 3.33. Perkembangan Jumlah Pemotongan dan Perdagangan Antar Pulau

1 0 .0 0 .2 0 0 1 0 .0 0 .0 0 0 Popula (Ek si or) 80 0 0 .0 0 60 0 0 .0 0 40 0 0 .0 0 20 0 0 .0 0 -

Sejak berdiri menjadi Provinsi, perdagangan antar 1 .3 5 0 0 9 4 .9 8 9 0 .8 3 8 0 .0 0 pulau dan ekspor tumbuh semakin pesat yang ditandai 6 0 .0 0 dengan meningkatnya 4 0 .0 0 5 0 .4 0 5 3 .1 8 4 8 .6 0 permintaan sapi bali 3 6 .9 0 2 0 .0 0 sehingga berkonsekuensi terhadap tingginya harga 2 0 .0 1 2 0 .0 2 2 0 .0 3 2 0 .0 4 2 0 .0 5 2 0 .0 6 sapi pada tingkat peternak. Daya tarik pengembangan Jum h Pe ot la m onga Pe t hun n ra Pe ngirim n Ant r Pula (Ek a a u spor) sapi untuk tujuan ekspor rupanya meningkatkan minat peternak skala kecil dengan mengembangkan sapi secara tradisional tanpa menggunakan perencanaan teknis budidaya ternak dan pemeliharaan yang efisien sehingga produk daging sapi dalam karkas yang dihasilkan per 1 2 .2 8 bentuk .1 4 6 satuan ekor ternak relatif lebih rendah 93 6 8 .0 9 83 7 7 .0 4 dibandingkan dengan rata-rata di 71 4 83 1 72 8 7 .6 4 0 .3 9 9 .4 2 daerah sentra produksi di Provinsi Lain. Gambar 3.34. Perkembangan Populasi Ternak di Provinsi Gorontalo 2001-2006
2 0 .0 1 2 0 .0 2 2 0 .0 3 2 0 .0 4 2 0 .0 5 2 0 .0 6

Biasanya pengusaha ternak kuat dengan skala usaha besar biasanya Sa i Pe a in p dg g Ka b g m in mudah mendominasi pasar dan lebih Ba i b Ay mBu s a ra diperparah lagi dengan mempersulit Ay mRa Pee r a s t lu Ay mRa Pe a in a s dg g keberlangsungan usaha peternakan It ik rakyat yang umumnya berskala kecil. Pengusaha besar dengan mudah untuk menyediakan ternak dengan mengimpor dari luar negeri atau mendatangkannya dari daerah lain, tetapi sebagai akibatnya peternakan rakyat menjadi terdistorsi. Jika

kita menjadi sangat tergantung dengan pasokan ternak impor untuk memenuhi permintaan konsumen, maka dapat dipastikan harganya akan menjadi sangat tinggi pada saatnya, sementara peternak rakyat tidak akan mampu bangkit. Kondisi sub-sektor peternakan di Provinsi Gorontalo cukup menggembirakan dengan peningkatan populasi ternak yang cukup signifikan terutama ternak sapi dilihat dari produksi daging yang dihasilkan sebagaimana terlihat pada Gambar 3.35.
Produksi Daging dan Telur

4.500 44 .1 0 4.000 32 .6 0 3.500 31 .2 5 3.000

Daging Sapi Daging Kambing Daging Ayam Buras

Gambar 3.35. Perkembangan Produksi Daging Sapi di Provinsi Gorontalo

Menurut data yang bersumber dari Dinas 2.500 Daging Ayam ras Pedaging Peternakan Provinsi 2.000 Gorontalo, produksi Daging itik daging sapi selama tahun 1.500 Telur Ayam Buras 2001-2006 cenderung 1.000 Telur Ayam Ras mengalami peningkatan meskipun pada tahun 500 Telur itik 2006 menurun cukup signifikan. Pada kurun 2.001 2.002 2.003 2.004 2.005 2.006 waktu tahun 2001-2005 yang lalu perdagangan ternak rakyat masih normal yang indikasinya dapat terlihat dari transaksi jual beli ternak kualifikasi potong di Pasar Hewan cukup marak dan pedagang Pasar Hewan cukup ramai. Namun demikian pada tahun 2006 ini dimana jumlah ternak import dari Australia secara nasional semakin meningkat jumlahnya, berakibat perdagangan ternak lokal menunjukkan kelesuan dan harga juga ikut menurun. Peternak dan pedagang ikut mensinyalir bahwa keadaan itu akibat dari pemasukan ternak yang terlalu banyak.
Daging Ayam ras petelur

25 .9 8

Produksi (ton)

Kenyataan diatas menuntut upaya segera melakukan perlindungan terhadap peternakan rakyat dibidang usaha ternak potong. Untuk itu salah satu upaya yang mungkin dapat dilakukan untuk menjaga kesinambungan usaha peternakan rakyat, adalah melalui sentuhan perbaikan sistem pemasaran ternak potong, yang paling tidak dapat dilakukan 2 pendekatan : (f) Peternakan rakyat mendirikan wadah yang solid dan bersatu untuk menggalang sumberdaya yang dimiliki untuk diarahkan pada keberlangsungan peternakan rakyat dibidang usaha ternak potong secara agribisnis terpadu dengan komoditas lain, dengan pengertian, melalui wadah tersebut mampu mengendalikan

24 .8 1

21 .9 8

kegiatan-kegiatan hulu sampai dengan hilir sub sistem agribisnis usaha ternak potong termasuk didalamnya pemasaran. (g) Pemerintah atau pengusaha yang peduli terhadap pembangunan peternakan rakyat mempelopori pendirian usaha pembelian ternak rakyat secara langsung, menjamin pembelian dengan harga memadai, memiliki cabang-cabang pada sentra pengembangan ternak potong, tanpa perantara, dan menggunakan cara penentuan harga per ekor ternak berdasarkan timbangan berat hidup ternak. Selanjutnya jika yang menjadi pelopor tersebut adalah pemerintah dan usaha dimaksud telah berjalan lancar dan menguntungkan, dapat dijual ke pihak swasta melalui kebijakan privatisasi. (h) Peternak dengan peluang perolehan yang tinggi akan bergairah dalam pengembangan usahanya dan selanjutnya akan muncul pendatang baru sebagai investor untuk menanamkan modalnya dalam usaha pengembangan ternak potong tersebut.

3.1.1.1.Penyediaan Pakan Bagi Ruminansia Besar Rumput atau pohon jagung dapat digunakan untuk pakan ternak sapi dan sebagian kecil untuk ternak kambing dan domba. Gambaran tersebut mengindikasikan bahwa penyediaan pakan dalam memelihara ternak ruminansia tidaklah mudah dan biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Luasan pemilikan tanah oleh umumnya para peternak tidak memadai, sehingga penyediaan pakan melalui budidaya tanaman pakan hampir tidak mungkin dilakukan. Pada akhirnya peternak mengandalkan rumput dari areal pertapakan rumah yang belum digunakan di sekitar pemukiman, pinggaran jalan dan pinggiran kebun serta dengan pemanfaatan limbah pertanian. Pada musim penghujan pertumbuhan rumput sangat cepat, tetapi hujan sekaligus menjadi kendala yang menyebabkan tenaga kerja pemotong rumput tidak mampu melakukan tugasnya dengan optimal. Sedangkan pada musim kemarau pertumbuhan rumput menjadi lambat bahkan sampai sebagian rumput mati pada waktu kemarau yang sangat kering dan menyebabkan sukar untuk memperoleh jumlah sesuai kebutuhan, belum lagi mutunyapun rendah. Sebagai akibatnya peternakan rakyat yang umumnya berskala usaha ternak secara kecil-kecilan sukar untuk memperbesar skala usaha. Sering ditemui di wilayah kecamatan Wonosari seorang peternak yang memelihara 1-2 ekor sapi, terlihat pertumbuhan ternaknya sangat baik dan hal ini tercermin dari kondisi ternak yang gemuk dan bersih serta bulu mengkilat. Tetapi peternak tersebut tidak mampu mempertahankan kondisi pemeliharaan setelah skala usahanya meningkat. Kondisi demikian banyak dipengaruhi oleh pemberian pakan baik dilihat dari jumlah maupun mutunya tidak sebaik pada saat skala usahanya lebih kecil. Teknologi produksi dan penyediaan pakan ternak sebenarnya telah banyak ditemukan oleh balai penelitian maupun oleh perguruan tinggi, namun peternak terlalu lemah untuk memanfaatkannya karena lemahnya sistem diseminasi informasi. Disisi lain berbagai bentuk pakan yang dapat dihasilkan melalui penerapan teknologi, antara lain: silase, rumput kering, tepung daun legum, perlakuan terhadap jerami padi, jerami jagung, jerami kacang, limbah perkebunan tebu dan kelapa sawit, merupakan hal yang sulit dipahami dan disentih oleh peternak secara umum. Banyak faktor yang berperan sebagai penyebab ketidakberdayaan peternak ruminansia melakukan penerapan tehnologi dalam hal penyediaan pakan, faktor tersebut berperan secara sendiri atau interaksi satu sama lain, diantaranya : skala usaha pemilikan ternak oleh umumnya peternakan rakyat sangat rendah, permodalan sangat terbatas, pemilikan akan peralatan dan

fasilitas pendukung sangat minim, pengetahuan dan ketrampilan sering sekali kurang memadai berkaitan dengan penerapan teknologi pakan dimaksud. Pada kondisi peternakan saat ini, peternakan rakyat mampu berkembang seiring sejajar dengan laju permintaan konsumen akan daging dan susu sebagai produk ternak ruminansia jika tidak hanya mengandalkan rumput alami dengan ketergantungan penuh terhadap musim untuk penyediaan pakan. Penyediaan pakan ternak dengan memanfaatkan berbagai sumberdaya yang tersedia secara lokal dapat meningkatkan keberdayaan peternak sehingga ketergantungan terhadap rumput alami dapat dieliminir sehingga sudah waktunya untuk menjadi pemikiran yang serius oleh semua pihak / stakeholder peternakan ruminansia guna menemukan akar permasalahan dan alternatif solusi tentang penyediaan pakan, sedemikian murah dan mudah, sehingga mampu menggerakkan percepatan laju pertumbuhan peternakan ruminansia. Katakanlah dengan mendirikan pabrik pakan ruminansia, yang menggunakan bahan baku lokal secara 100 %, atau menggunakan limbah pertanian sebagai bahan pakan hijauan ternak ruminansia. Pakan ruminansia secara umum terdiri dari hijauan dan konsentrat. Jika ternak diberi pakan hijauan saja maka pertumbuhannya akan sedikit rendah. Sedangkan jika diberikan konsentrat saja mungkin tercapai produksi tinggi tetapi biayanya akan mahal. Kombinasi keduanya akan memberikan peluang terpenuhinya zat gizi sesuai kebutuhan ternak dan pertumbuhannya tinggi, tetapi dengan harga memadai. Hijauan pakan dapat diartikan sebagai pakan yang mengandung serat kasar, atau bahan yang tak tercena cukup tinggi, sebagai contohnya adalah rumput, rumput kering, silase, kacangkacangan. Sedangkan konsentrat adalah pakan dengan kandungan serat kasar atau bahan tak tercerna rendah, sebagai contoh : dedak padi, bungkil kelapa, bungkil kelapa sawit, ampas tahu, bungkil kedelai , gaplek. Berdasarkan bahan kering kebutuhan pakan oleh seekor ternak adalah sebesar 3 % dari berat badan, atau jika berat sapi 300 kg akan membutuhkan sekitar 10 kg. Untuk memenuhi kebutuhan pakan di Kabupaten Gorontalo, yang merupakan kabupaten yang memiliki populasi ternak sapi terbesar, yaitu 115.539 ekor, dengan asumsi 10 % dari jumlah populasi tersebut memanfaatkan pakan pabrikan maka dibutuhkan pasokan pakan sekitar 12 ton per hari. Bahan untuk hijauan dan konsentrat terdapat banyak di Provinsi Gorontalo. Masalahnya adalah keberadaan bahan tersebut sebagian besar menyebar dan jauh dengan peternak. Untuk itu diperlukan

investor apakah dari kalangan swasta atau pemerintah untuk memanfaatkan peluang pengolahan pakan tersebut. Peternak dengan tingkat kemudahan penyediaan pakan yang relatif sangat mudah akan memberikan peluang kepadanya untuk mengelola pemeliharaan ternak beskala usaha lebih besar. Peternak yang semula menempatkan kegiatan memelihara ternak secara sambilan dapat meningkat menjadi usaha pokok. Pendapatan dan kesejahteraan peternak semakin meningkat, gairah beternak semakin meningkat yang pada akhirnya bisnis ikutannya dari usaha peternakan akan akan meningkat pula. Pada kondisi gairah beternak tinggi seperti itu layak bagi pemerintah dan masyarakat menaruh angan-angan akan swasembada daging. Diperlukan upaya pendekatan melalui kegiatan pembangunan peternakan yang berangkat dari permasalahan utama penyebab kurang bergairahnya usaha peternakan. Salah satu diantaranya yang amat menonjol adalah tingkat kesulitan penyediaan pakan dan resiko tinggi akan kerugian. Disisi lain dapat kita lihat bahwa bahan baku untuk pembuatan pakan sangatlah berlimpah. Provinsi Gorontalo memiliki areal produksi jagung yang sangat luas dengan limbah daun dan batang jagung, kebun tebu dengan limbahnya berupa pucuk tebu cukup banyak jumlahnya dan limbah olahan tebu, dan limbah olahan kelapa, limbah usaha pertanian sawah serta pembudidayaan tanaman pakan pada areal-areal yang belum digunakan untuk sesuatu keperluan terutama di bawah pohon kelapa. Upaya yang dapat dilakukan terhadap bahan baku pakan dengan tingkat ketersediaan tinggi adalah sangat sederhana, formulasi dengan menggunakan bahan baku yang ada disusun dengan kandungan nutrisi sesuai kebutuhan ternak berdasarkan statusnya : anak, ternak muda dan ternak dewasa serta dewasa sedang menyusui. Kemudian dilakukan pengurangan kadar air sedemikian rupa agar ransum tidak mudah busuk, gampang dikemas dan mudah penyimpanan serta distrubusinya. Jika pakan seperti ini tersedia dan dengan harga murah dengan pengertian bahwa peternak masih berpeluang tinggi untuk memperoleh keuntungan dari pemanfaatannya dalam usaha beternak ruminansia, maka memelihara ternak akan menjadi semakin mudah. Peternak dapat menyediakan pakan sebagaimana peternak memelihara ternak ayam. Pakan ditumpuk di gudang dan diberikan kepada ternak secara harian. Masalahnya sekarang adalah kesiapan pengusaha yang berminat menekuni bisnis pakan ternak ruminansia tersebut dan pemerintah sebagai agen pembangunan yang harus bertekad untuk melakukan investasi kearah tersebut. 3.1.1.2.Pengembangan Kawasan Agribisnis Peternakan

Indikasi kelemahan dan kekurang-berdayaan peternak sebagai produsen hasil ternak di Propinsi Gorontalo tercermin dari kondisi berbagai aspek penting dalam usaha peternakan yang dilakukan peternak kecil, antara lain: aspek usaha, aspek permodalan, aspek inovasi teknologi, aspek diversifikasi produk, aspek pemasaran dan aspek sumber daya manusia. Aspek inovasi teknologi. Pada saat ini peternak masih bersifat sebagai penerima teknologi belum sebagai pengguna teknologi peternakan, misalnya teknologi: pakan, pembibitan, penanganan panen, pengolahan pasca panen, teknologi pengolahan kompos, pengobatan ternak, vaksinasi ternak. Peternak baik secara individu maupun sebagai kelompok, masih melaksanakan pendekatan pemeliharaan ternak secara tradisional atau cara pendekatan pemeliharaan ternak sebagaimana yang diperoleh secara turunmenurun serta ketergantungan pada kemurahan alam. Kalaupun ada sentuhan teknologi hanya dilakukan segelintir peternak dan itupun alakadarnya. Aspek usaha. Kondisi peternak sebagain besar ditinjau dari aspek usaha memperlihatkan pengusahaan ternak masih dalam skala kecil dan bersifat sambilan, sulit memperoleh informasi, kurang sarana dan lokasi tersebar luas, sehingga manajemen peternak tidak efesien, biaya tinggi, tidak terpola dan kurang memiliki daya saing. Bidang usaha yang digeluti peternak dikaitkan dengan sistem agribisnis umumnya bergerak pada kegiatan budidaya (on-farm) saja. Sementara kegiatan hulu dan hilir ditangani oleh pedagang dan segelintir perusahaan. Peternak kurang mampu menjalin kerjasama atau kemitraan usaha dengan peternak lain, koperasi atau dengan perusahaan. Aspek permodalan. Peternak sebagaimana cerminan dari usaha sambilan secara umum lemah dalam permodalan dan akses kepada lembaga keuangan juga kurang. Disisi lain sering kita lihat bahwa keberpihakan lembaga keuangan juga rendah terhadap usaha sambilan tersebut. Peternak tidak memiliki agunan untuk perolehan kredit sebagaimana yang dipersyaratkan serta dinilai usaha ternak beresiko tinggi oleh lembaga keuangan. Bagi pihak lembaga keuangan mengurusi peternak – peternak kecil yang tersebar meluas dan kemungkinan kredit kecil-kecilan akan mengakibatkan kebutuhan tenaga pekerja, kerepotan dan biaya administrasi dan operasional lembaga keuangan menjadi tinggi. Aspek diversifikasi produk. Hampir keseluruhan peternak tidak memiliki kemampuan untuk melakukan diversifikasi produk dari usaha ternak yang digelutinya, sehingga tidak memiliki nilai tambah.

Peternak cenderung menjualkan ternak ke pasar jika kebutuhan mendesak untuk perolehan uang tunai, sekalipun harga yang diajukan pembeli tidak sebagaimana kewajarannya. Aspek Pemasaran. Peternak baik secara individu maupun secara kelompok belum mampu mempengaruhi pasar ternak, bahkan sangat tergantung terhadap peran pedagang pengumpul atau pedagang perantara. Keberadaan pasar hewan hanya terbatas pada lokasi-lokasi tertentu dan itupun dengan fasilitas yang sangat minim, menyebabkan cara penentuan harga dengan sistem taksiran. Peternak tidak memiliki posisi tawar yang tinggi dan rantai pemasaran yang panjang serta fluktuasi harga yang tidak menentu. Ujung-ujungnya kesemua itu seringkali merugikan peternak sebagai produsen ternak. Aspek Sumber Daya Manusia. Peternak umumnya tinggal di pedesaan dengan segala keterbatasannya terutama usianya rata-rata telah lanjut dan tingkat pendidikan relatif rendah. Sedangkan angkatan muda yang rata-rata pendidikan lebih tinggi, kurang menaruh minat menekuni usaha pemeliharaan ternak. Kondisi peternakan tersebut diatas cukup memperihatinkan karena kegiatan pembangunan dibidang peternakan yang dilaksanakan oleh pemerintah selama puluhan tahun dengan alokasi pembiayaan yang cukup besar masih belum membuahkan hasil optimal. Beranjak dari kenyataan ini, berarti kita masih perlu mengembangkan inovasiinovasi praktis dan relevan dalam konsep pembangunan peternakan kedepan. Konsep tersebut haruslah mampu memberikan sentuhan perbaikan atas penyebab masih munculnya kelemahan-kelemahan yang tercermin dari berbagai aspek diatas. Menarik untuk dikaji dan diterapkan dalam kondisi ini adalah konsep pembangunan peternakan melalui pengembangan kawasan agribisnis berbasis peternakan, yang diartikan sebagai suatu proses pembangunan dalam suatu besaran/satuan wilayah tertentu dengan menerapkan pendekatan kelompok dengan komoditas unggulan yang dikelola secara agribisnis berkelanjutan yang berakses ke industri peternakan hulu sampai hilir. Dengan konsep tersebut mengarahkan usaha ternak pada kondisi yang lebih berpeluang kepada peningkatan keuntungan dan daya saing, sebagai hasil dari kemudahan penyelenggaran berbagai kegiatan yang berpengaruh penting terhadap usaha ternak dan berada pada satu lokasi yang terjangkau, pemerintah berpeluang lebih mudah meningkatkan pelayanan teknis, penyediaan fasilitas secara efisien efektif, sehingga dapat menekan biaya transportasi, lebih menjamin terwujudnya keterkaitan agribisnis hulu-hilir, memudahkan pelaksanaan koordinasi dan pembinaan serta terwujudnya pola

kemitraan peternak dengan pengusaha, peternak lebih cepat menjadi mandiri dengan skala usaha ekonomis. Kawasan peternakan dapat diterapkan pada wilayah pertanian tertentu terutama di Kabupaten Pohuwato dan Boalemo dengan penyesuaian komoditi ternak dan pertanian yang dikembangkan atau diusahakan mesyarakatnya, maka akan berpeluang lebih besar mewujudkan zero waste farming system atau usaha pertanian tanpa limbah. Melalui penerapan system tersebut akan memberikan nilai tambah bagi petani dan peternak. 3.1.1.3.Pemanfaatan Limbah Perkebunan dan Pertanian Sebagai Pakan Hasil sampingan perkebunan yang berpotensi dipergunakan sebagai pakan ternak dari tanaman kelapa sawit (Orbignya cohune) berupa bungkil inti sawit (PKC) , Lumpur sawit, sabut sawit, daun dan pelepah.. Bungkil inti sawit (PKC), sebagian besar di ekspor sebagai bahan mentah untuk industri peternakan negara maju. Sabut sawit sebagian dipakai sebagai bahan bakar sedangkan lumpur sawit sebagian besar masih merupakan sumber pencemaran lingkungan. Dilihat dari komposisinya sabut sawit lebih rendah kandungan metabolisme energi/ MEnya dari pada rumput gajah (7.6 vs 8.2 Mj/kgBK) dan kandungan protein kasar/ PKnya juga lebih rendah (5.9 vs 8.7%), dengan sedikit suplementasi urea, sabut sawit dapat dibuat isokalori dan isonitrogen dengan rumput-rumputan. Kandungan PK lumpur sawit setara dengan dedak padi (13.3% vs 13%) sedangkan kandungan MEnya lebih tinggi. Dari hasil penelitian dilapangan bahwa rumput lapangan dapat digantikan sebanyak 50% oleh sabut sawit sedangkan dedak padi dapat digantikan seluruhnya dengan lumpur sawit (12%). Percobaan pada sapi perah ternyata kecernaan in vitro lumpur sawit dan laju degradasinya dalam rumen sapi lebih tinggi dibandingkan dedak padi. Pelepah daun kelapa sawit sampai saat ini belum diolah, dan terbuang begitu saja dan sebagian kecil dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Akan tetapi di Malaysia pelepah daun sawit telah diolah menjadi pellet dan diekspor kenegara maju sebagai bahan mentah industri peternakan yang disebut oil palm frod (OPF). Dari tanaman Kakao (Theobroma cacao) yang dapat dimanfaatkan oleh ternak adalah: Pod Kakao sangat tinggi kandungan airnya (83%) maka mudah membusuk. Penyebaran pod disekitar tanaman dapat mengembalikan unsur hara kedalam tanah akan tetapi dapat berdampak dan mengundang infeksi jamur phytophtora palmivora pada buah yang dikenal dengan nama black pod disease. Untuk

mencegah kejadian itu seyogyanya pod kakao dijauhkan dari tanaman dan akan efisien sekali jika dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Keberadaan pod kakao pada ransum dapat menggantikan seluruhnya posisi rumput gajah. Bahkan 40 – 70% jagung yang biasa dipakai dalam ransum penggemukan dapat diganti oleh pod kakao. Lumpur kakao sampai saat ini belum dipergunakan dan perannya sekarang sebagai sumber polusi. Kalau dilihat dari nilai gizinya dapat dipergunakan sebagai bahan pakan sumber protein disamping itu juga kandungan energinya lebih tinggi dari jagung dan bungkil kedelai. Kulit biji kakao kandungan zat gizi dan energinya lebih baik dari dedak padi. Dari hasil pengolahan tebu (Sacharum officinarum) menjadi gula diperoleh hasil samping berupa : Ampas tebu, tetes/ molases, blotong dan baggase. Bagasse dan tetes untuk ternak sapi perah dan potong dapat digunakan sampai level 25% dan 15%. 3.1.1.4.Dimensi Pembangunan Peternakan Kegiatan perbaikan dan peningkatan mutu sumberdaya manusia peternak perlu mendapat perhatian yang khusus. SDM peternak yang dimaksud disini adalah seluruh stakeholder primer peternakan meliputi peternak/kelompok peternak, pengusaha/asosiasi peternakan, instansi pemerintah, lembaga penelitian, perguruan tinggi dan masyarakat pemerhati perlu diwujudkan dalam satu wadah konsorsium/ forum untuk melahirkan konsep-konsep/ model serta bersepakat pada suatu komitmen/ tekad bersama mengambil langkahlangkah mendasar dalam pembangunan sektor peternakan yaitu bersikap transparan, saling mengisi, bersinergi, sikronisasi kegiatan, meninggalkan sikap penonjolan diri/ kepentingan pribadi/ kelompok/ sektor, berbagi informasi sebagai kontribusi untuk menghasilkan peternakan yang lebih produktif. Penguatan dan pengembangan organisasi peternak dan sektor ini perlu di rativikasi kembali dengan baik. Peran peternak melalui kelompok atau asosiasi dalam setiap tahapan alur agribisnis peternakan perlu ditingkatkan, sehingga nilai tambah dari aktifitas setiap tahap alur agribisnis peternakan menjadi milik peternak sepenuhnya. Dukungan kepada kelompok hendaknya lebih serius dan tepat sasaran, yang diawali dengan penetapan baseline karakter kelompok apakah pemula, madya atau advance, untuk diikuti tindakan melakukan pembinaan berkesinambungan berdasarkan suatu program yang terencana secara cermat dan terlaksana secara baik dalam artian seperti tekad bersama sebagaimana uraian diatas. Keseluruhan peternak dinaungi oleh organisasi peternak seperti assosiasi peternak kambing, assosiasi peternak sapi dan kerbau, assosiasi peternak unggas, assosiasi peternak babi dll. Assosiasi-assosiasi tersebut bertanggungjawab untuk merubah kondisi yang semula predikatnya

sebagai usaha sambilan berubah menjadi usaha utama yang berskala usaha kecil dan menengah. Kegiatan pengadaan bahan pakan ternak perlu mendapat perhatian serius. Perihal ketersediaan pakan ternak, cukup menjadi masalah besar dalam pengembangan peternakan ruminansia. Semua praktisi usaha peternakan menyetujui bahwa pakan merupakan faktor kunci utama terhadap keberhasilan usaha peternakan dan sampai saat ini masih menyedot porsi terbesar dari biaya produksi yang kisarannya 70 – 80 % dan perolehannya susah-susah gampang. Disatu sisi bahan pakan berlimpah seperti bahan pakan yang berasal dari limbah pertanian dan perkebunan tetapi sejauh ini sangat sulit untuk pemanfaatannya. Disamping tidak terlalu mudah dalam perolehannya, teknologi pengolahannya pun tidak tersentuh dan tidak gampang dapat diakses oleh peternak. Kegiatan perbibitan dan mutu genetik ternak. Jenis/bangsa ternak yang perlu mendapat perhatian besar adalah jenis ternak lokal dengan pertimbangan bahwa ternak tersebut telah beradaptasi dengan lingkungan serta peternak telah memiliki pengalaman dan kepahaman serta mengenal lebih dekat ternak tersebut. Untuk ternak unggas seperti ayam kampung baik untuk petelur maupun untuk pedaging. Untuk ternak sapi seperti sapi aceh, hisar, sapi peranakan ongole/ po merupakan jenis-jenis yang telah mendapat tempat di hati masyarakat. Demikian juga halnya dengan ternak kambing, babi dan domba. Permasalahannya adalah seberapa jauh telah dilakukan perbaikan genetik terhadap ternak tersebut. Upaya up grading terhadap jenis ternak lokal sangat penting diwujudkan dalam bentuk kegiatan yang terencana secara cermat dan terlaksana secara berkesinambungan misalnya dengan membuat sentra-sentra bibit ditiap kabupaten menjadi sumber bibit dengan kualitas genetik yang baik dan terjamin. Kegiatan peningkatan mutu budidaya ternak: permasalahan utama dengan pemeliharaan ternak oleh petani adalah kurang banyak sentuhan teknologi, bahkan kandang sekalipun sering tidak terlihat pada peternak yang memelihara ternak sapi dan kerbau, didesa-desa terkadang hanya memanfaatkan kolong rumah terutama untuk ternak kambing dan domba demikian juga halnya dengan ternak babi. Sedangkan untuk ternak ayam tidak jauh berbeda. Apalagi tentang tindakan vaksinasi hampir tidak dilakukan dan pengobatan ternak hanya mengandalkan obat-obat tradisional. Pemeliharaan ternak secara menyebar luas di sebaran pedesaan, pada akhirnya sulit menerapkan teknologi. Untuk itu wajar pengembangan ternak secara kawasan didorong tumbuh kembangnya serta diikuti dengan pembinaan dan dukungan lainnya dalam perwujudannya. Kawasan

tersebut dapat dilihat kaitannya dengan komoditi lainnya dapat pula sebagai usaha pokok/ utama di peternak-peternak tersebut. Kegiatan Pengolahan Pasca Panen: Tehnologi pasca panen masih jauh dari wawasan peternak kita dan boleh kita katakan belum menjadi fokus, sasaran/ target sebagai usaha kecil atau menengah dan peternak umumnya hanya menjualkan ternak hidup sebagaimana dia pelihara tanpa ada upaya untuk melakukan diversifikasi seperti telur menjadi telur asin dan seterusnya sehingga tidak ada perolehan nilai tambah. Kegiatan peningkatan kondisi pemasaran ternak. Secara individu peternak tidak memiliki posisi tawar yang melindungi peternak pada transaksi jual ternak di pasar hewan. Banyak kejadian peternak memasarkan ternaknya memiliki kelemahan terutama tentang penentuan harga transaksi, kelemahan yang ditemui dalam penaksiran bobot badan dan berat daging bersih oleh pedagang perantara selalu merugikan peternak dan peternak berada pada posisi yang kuarng berdaya. Dukungan dan perhatian dari assosiasi ternak belum ada, begitu juga dukungan oleh pemerintah belum optimal dan organisasi khusus yang bertanggungjawab dalam pelelangan ternak di pasar hewan belum ada. Sistem dan mekanisme pemasaran yang berlangsung saat ini belum ada perubahan dari sebelumnya sebagai bukti dari tidak adanya perhatian pemerintah tersebut disamping itu assosiasi peternak pun tidak pernah mengalokasikan pemikirannya. Perlu dilakukan terobosan dibidang sistem pemasaran ternak baik kelengkapan sarana, prasarana maupun organisasi dan mekanisme pasar hewan. Solusinya di setiap kabupaten perlu ada pasar hewan yang reprensentatif.
3.1.1.5.

Peluang Pengembangan Ternak Ayam Kampung

Ayam kampung (ayam buras), merupakan salah satu jenis ternak yang sangat dekat dengan masyarakat dan para petani-peternak di pedesaan. Meskipun produktivitasnya rendah sebagai penghasil daging dan telur, namun ayam kampung memiliki berbagai keunggulan, antara lain telah menyebar dan populer di tengah kehidupan masyarakat sampai di berbagai pelosok Indonesia, bahkan disebagian suku di Indonesia peran ayam kampung menjadi teramat penting sebagai salah satu persyaratan keabsahan berbagai penyelenggaraan adat istiadat. Daya adaptasinya cukup tinggi, sekalipun terhadap lingkungan yang jelek serta pengembangannya tidak menuntut biaya tinggi dan areal/ lahan luas. Dagingnya tidak amis, bercitarasa sedap dan telurnya diyakini mengandung hormon untuk vitalitas sehingga sangat diminati oleh konsumen, tidak mengherankan jika harganya relatif lebih mahal dibanding dengan daging dan telur dari jenis unggas

lainnya termasuk ayam ras dan itik. Pada saat ini harga ayam kampung Rp. 25.000, per kg sementara ayam ras Rp. 14.000 per kg. Telur ayam kampung Rp 2.000, per butir sementara telur ayam ras Rp. 800 per butir
1.200.000 1.000.000 Populasi (ekor) 800.000 600.000 400.000

Gambar 3.36. Perkembangan Populasi Ayam Kampung di Provinsi Gorontalo

Populasi ayam kampung dari tahun ketahun 200.000 mengalami peningkatan, dari hanya sebesar 0 2001 2002 2003 2004 2005 2006 771644 ekor pada tahun 771.644 803.319 760.040 873.074 983.069 1.124.268 2001 AyamKam pung menjadi 1,1 juta 35.798 53.775 197.974 438.468 379.497 384.219 ekor Ayamras Pet elur pada tahun 2006 3.36). Telah AyamRas Pedaging 137.933 156.954 178.594 123.646 112.127 120.826 (Gambar peningkatan 69.361 80.646 46.814 55.821 40.307 58.711 terjadi It ik populasi peningkatan Ayam Kam pung Ayam ras Petelur rata-rata tahunan sebesar Ayam Ras Pedaging Itik 8,1 %. Pertumbuhan populasi yang cukup signifikan tersebut pada mampu diimbangi oleh laju populasi ayam ras petelur, namun demikian, sejak tahun 2004 laju populasi ayam ras peterlur tidak mengalami peningkatan. Keunggulan ternak unggas di Provinsi Gorontalo adalah masih terisolasi dari wabah penyakit flu burung sehingga hal tersebut menjadi keunggulan komparatif, baik sebagai provinsi produsen maupun sebagai konsumen. Populasi ayam kampung diProvisni Gorontalo masih lebih banyak dibandingkan dengan populasi ternak unggas lainnya. Pemerintah telah melakukan banyak upaya untuk peningkatan produktivitas dan pengembangannya, yang terlihat dari pelaksanaan berbagai kegiatan program yang telah dilakukan pemerintah berkenaan dengan ayam kampung secara berkesinambungan. Kegiatan pengembangan ayam kampung ditengah masyarakat petanipeternak, antara lain : peningkatan mutu genetik melalui grading up ayam kampung dengan melakukan penyilangan ayam kampung betina dengan ayam pejantan unggul, Intensifikasi ayam buras/ Intab dengan pendekatan perbaikan pengelolaan dan bantuan permodalan dalam pengusahaan ayam kampung; Intensifikasi vacsinasi/ Invac sebagai pendekatan terhadap pengendalian penyakit tetelo/ new castle disease yang merupakan penyakit paling merugikan bagi ayam kampung; demikian pula halnya dengan Bimas ayam dan terakhir RRMC dengan pendekatan penyediaan dukungan secara utuh berbagai fasilitas pendukung dan saprodi dalam sentra pengembangan ternak ayam

kampung. Namun pada kenyataannya upaya perbaikan tersebut belum sepenuhnya dapat dirasakan manfaatnya. Hal ini berkemungkinan sebagai akibat dari rendahnya kesadaran, perhatian dan pengelolaan berkesinambungan semua yang berkepentingan serta belum tercapainya kesepakatan berkomitmen bahwa potensi ayam kampung sebagai kekayaan spesifik patut menjadi andalan sebagai sumber pangan bangsa secara mandiri. Pemeliharaan ayam kampung oleh peternak di pedesaan wilayah Provinsi Gorontalo umumnya terlaksana secara ekstensif dan sambilan dengan skala 5 – 45 ekor, dengan pakan berasal dari sisa –sisa makanan manusia dan pakan lain hasil buruan ayam di halaman rumah, areal rerumputan/perladangan/ persawahan. Sejumlah kecil petani-peternak di pinggiran kota dan di desa sentra pengembangan ayam kampung telah mulai dengan pemeliharaan ternak ayam kampung secara intensif berskala menengah 200 – 1000 ekor utamanya untuk memproduksi telur. Ayam kampung yang dipelihara secara tradisional dalam setahun bertelur sebanyak 4 kali periode dengan jumlah telur 11 – 15 butir per periodenya atau 44 – 60 butir per tahun. Sedangkan dengan pemeliharaan intensif mampu menghasilkan 120 – 140 butir per tahun atau 35%. Konsumsi pakan per ekor ayam per hari adalah 100 g, jika harga pakan Rp. 1.800 per kg (Rp. 180 per 100 g pakan) maka biaya pakan per butir telur adalah 100/35 x 180 = Rp. 515. Pakan merupakan porsi terbesar dari total biaya produksi yakni dapat mencapai 80%. Dengan demikian biaya produksi per butir telur adalah 100/80 x Rp. 515 = Rp. 645 termasuk biaya tenaga kerja didalamnya. Harga telur di tingkat petani Rp. 1000 s/d Rp 1200, sehingga petani dapat memperoleh keuntungan sebesar Rp. 355 – Rp 555,- per butir. Dengan pemeliharaan 500 ekor peternak dapat menghasilkan 35/100 x 500 ekor = 175 butir dengan nilai keuntungan sebesar 175 x Rp. 455 = Rp. 79.625 per hari atau Rp. 2.388.750 per bulan. Bobot badan jantan 2,25 kg dan betina 1,90 kg per ekor dewasa. Konversi pakan 5 kg untuk menghasilkan 1 kg ayam atau Rp 9000 per kg, total biaya produksi adalah 100/80 x Rp. 9000 = Rp. 11.250. Padahal harga ayam kampung adalah Rp. 20.000 per kg, sehingga peternak dapat peroleh keuntungan sebesar Rp. 20.000 – Rp, 11.250 = Rp. 8.750 per kg berat hidup ayam. Sampai saat ini ayam kampung diusahakan para petani-peternak untuk tujuan sebagai penghasil daging dan telur. Gangguan penyakit yang paling tinggi dan mengakibatkan kerugian terbesar adalah Penyakit Tetelo/ New castle desease yang selalu datang menyerang ternak ayam kampung dengan pemeliharaan tradisional pada awal musim hujan. Kendala dalam pengendalian penyakit ini adalah keterbatasan petani-peternak memperoleh vaksin di daerah pedesaan dan skala pemeliharaan ternak terlalu kecil.

Penyakit lain yang tercatat juga menyerang adalah penyakit berak darah, cacingan dan cacar, namun dalam pemeliharaan ekstensif penyakit-penyakit tersebut tidak banyak mengakibatkan kerugian dibandingkan dengan penyakit Tetelo. Ayam kampung memiliki peluang pasar yang cukup baik, karena sangat digemari oleh masyarakat menengah sampai atas. Upaya pengelolaan ayam kampung secara komersil sangat berpeluang baik, konsumen sangat yakin bahwa ayam kampung tidak membawa bibit penyakit yang membahayakan kesehatan, pandangan ini dapat terlihat jelas dari kasus wabah flu burung yang meledak baru-baru ini tidak membawa dampak berarti terhadap daya serap ayam kampung di masyarakat. Permasalahan yang sering timbul dengan pengembangan ayam kampung di Provinsi Gorontalo adalah terjadinya seleksi negatif, ayam yang menunjukkan tampilan terbagus, memiliki harga yang lebih tinggi sehingga oleh peternak sering menjadikannya sebagai urutan pertama penjualannya. Pada akhirnya ternak yang dikembangbiakkan selanjutnya adalah yang tidak berpenampilan terbaik. Tingkat kematian ayam cukup tinggi yakni 30% dari umur 0 – 16 minggu dan 10% untuk dewasa. Disamping itu permasalahan lainnya adalah rendahnya skala pemeliharaannya. Ayam kampung di Provinsi Gorontalo belum mencerminkan ciri dan spesifikasi khusus seperti halnya ayam pelung di Cianjur - Jawa Barat, ayam kedu di Temanggung - Jawa Tengah dan Ayam nunukan di daerah Kalimantan Timur. 3.1.1.6.Pengembangan Ternak Sapi Dibawah Kebun Kelapa Ternak ruminansia memerlukan rerumputan sebagai makanan utamanya, dan jenis tanaman rumput yang ditemui di sekitar pemukiman dan ladang para petani-peternak tidak jarang adalah rumput alam yang tergolong pada jenis-jenis unggul, yang mengandung nutrisi yang cukup tinggi dan baik bagi ternak untuk pertumbuhan dan penggemukan, namun tidak dikelola secara intensif sehingga produksinya rendah. Dengan demikian apabila peternak memanfaatkan dan mengelola secara baik tanaman hijauan pakan tersebut serta memelihara ternak sesuai dengan daya dukung pakan yang tersedia, maka peternak akan menerima pendapatan yang memadai dari bidang usahatani-ternak.

Gambar. 3.37. Kondisi Ternak Sapi Di Bawah Pohon Kelapa di Kecamatan Wonosari Dilokasi penyebaran ternak proyek PUTKATI, misalnya di Kecamatan Wonosari masih banyak ditemui kebun-kebun kelapa yang (sebagian diantaranya) dibawahnya hanya ditumbuhi oleh semak-semak belukar yang tidak bernilai ekonomis. Faktor tersebut mendorong petani peserta proyek yang menerima paket ternak, untuk melakukan tindakan pengembangan tanaman hijauan pakan pada lahan usahataninya misalnya dengan cara menanam di bawah pohon kelapa. Faktor-faktor penting yang berpengaruh dan perlu diperhatikan untuk keberhasilan pengembangan ternak ruminansia sapi dibawah pohon kelapa, antara lain : 1. Modifikasi sistem usahatani yang sekarang dilakukan oleh petani. Modifikasi usahatani dimaksud adalah dengan memanfaatkan secara bijaksana areal lahan dibawah pohon kelapa dengan komoditi usahatani lainnya yang memiliki nilai ekonomis dan secara teknis dapat dilaksanakan. 2. Peningkatan mutu ternak. Peningkatan mutu ternak diartikan adalah dengan menyebarkan ternak bibit sesuai standart yang telah ditetapkan, baik secara eksterior maupun secara genetik, sehingga dapat memberikan tampilan produksi yang maksimal. 3. Peningkatan mutu pengelolaan ternak dan padang rumput. Pengelolaan tanaman hijauan pakan dibawah pohon kelapa, haruslah seimbang baik ditinjau dari segi produksi maupun kesinambungan produksinya. Apabila ternaknya lebih sedikit dari daya tampung areal menyebabkan tanaman pakan menjadi tidak termanfaatkan keseluruhannya sehingga perlu pemotongan secara reguler dengan tujuan untuk menjaga kualitas hijauan sebagai pakan. Sedangkan apabila ternaknya terlalu banyak akan menyebabkan pemotongan tanaman hijauan pakan yang terlalu banyak dan dapat merusak tanaman pakan tersebut. 4. Peningkatan mutu dan produksi padang rumput. Keberhasilan usaha dibidang peternakan sangat tergantung kepada ketersedian pakan sepanjang waktu, untuk itu dalam upaya penyediaan pakan tersebut maka peningkatan produksi tanaman hijauan pakan dari areal tersebut menjadi sangat penting untuk dilakukan, yang antara lain dapat

dilakukan dengan pemilihan jenis tanaman yang dapat berproduksi tinggi pada areal kebun kelapa yang sangat rendah penyinaran matahari (banyak naungan). 5. Meningkatkan efesiensi penggunaan padang rumput dan penggunaan sisa pertanian, pengawetan pakan yang berlebih. Salah satu ciri dari daerah tropis adalah terdapatnya 2 musim yang berbeda yakni musim kemarau dan musim penghujan. Pada musim hujan dapat meningkatkan produksi hijauan dari tanaman hijauan pakan dan pakan musim kemarau sebaliknya, dimana produksi pakan sangat rendah. Dengan demikian perlu dilakukan upaya untuk pengawetan kelebihan hijauan pakan pada musim penghujan untuk dimanfaatkan pada musim kemarau Salah satu dari usaha modifikasi yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan lahan dibawah pohon kelapa yang selama ini oleh sebagain petani hanya dibiarkan ditumbuhi oleh semak-semak belukar yang tidak produktif, dengan menanaminya tanaman hijauan pakan yang tahan naungan. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru, negara tetangga kita seperti Philipina telah lama melakukannya dengan memberi istilah “Coconut Beef” untuk system usaha tani tersebut. Untuk pengembangan dan peningkatan hasil dan mutu tanaman hijauan pakan dibawah areal tersebut, ditempuh dengan pengembangan tanaman rumput dan leguminose yang tahan naungan yang cukup berat. Sehubungan dengan hal tersebut untuk lebih mendukung kearah usahatani dengan penambahan komoditi peternakan ke dalam usahatani yang telah dikembangkan , perlu ditempuh secara terpadu dan intensif. Dengan demikian maka salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan pengembangan tanaman pakan dibawah pohon kelapa. Hambatan Lingkungan. Temperatur lingkungan di Provinsi Gorontalo yang tinggi, merupakan salah faktor yang berpengaruh terhadap rendahnya feed intake dan periode perumputan yang singkat, terutama yang dialami oleh sapi-sapi yang didatangkan dari daerah temperate. Dari beberapa studi yang dilakukan di Australia memberikan gambaran bahwa Jenis ternak sapi Jersey dan Holstein akan turun konsumsinya dari total nutrisi dapat dicerna pada temperatur 24 - 27 derajat celcius. Sedangkan pada sapi Zebu pada temperatur 32-35 derajat celsius. Temperatur berpengaruh terhadap produksi peternakan, dimana penurunan intake pakan akan menurunkan pertambahan berat badan dengan perkataan lain akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai berat potong yang ideal. Pengaruh tempertaur tersebut akan menurun apabila ternak merumput dibawah pohon

kelapa. Suatu studi memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan sebesar 6 derajat C antara dibawah pohon kelapa dengan diluar kebun kelapa, pada waktu jam 09.00 - 13.00 pagi. Selanjutnya dari penelitian yang sama memperlihatkan bahwa intensitas sinar matahari juga lebih rendah sekitar 50 % pada sore hari dan 60 % pada siang hari dibawah pohon kelapa dibandingkan dengan diluar kebun kelapa. Faktor utama sebagai penghambat pertumbuhan tanaman hijauan pakan dibawah kebun kelapa adalah rendahnya sinar matahari yang masuk kebawah kebun kelapa, walaupun diberikan pemupukan yang seimbang. Tingkat intensitas sinar matahari masuk kebawah kebun kelapa bervariasi antara satu kebun dengan kebun lainnya tergantung pada: umur tanaman, jarak tanam, sistem penanaman, tingkat kesuburan tanah. Pada umur tanaman masih muda (sampai umur kelapa 20 tahun), banyak sinar matahari yang dapat masuk kebawah tanaman kelapa dan seiring dengan penambahan umur kelapa tersebut cendrung pula menurunkan masuknya sinar matahai kebawah kebun kelapa. Dengan pengertian setelah umur kelapa lebih dari 20 tahun, maka telah sesuai untuk pengembangan tanaman hijauan pakan terutama dengan memilih jenis-jenis yang tahan terhadap naungan. Padahal di lokasi proyek PUTKATI (khususnya di Kecamatan Wonosari), banyak ditemkan pohon kelapa yang umurnya telah melebihi 20 Tahun. Bentuk lain pemanfatan lahan dibawah pohon kelapa adalah dengan menanaminya dengan tanaman pangan yang berumur pendek seperti kacang tanah, kedelai, kacang hijau, jagung, dan padi gogo seperti banyak ditemukan di Kecamatan Patilanggio. Upaya menambahkan komoditi peternakan dimaksud bukan mengganti tanaman tersebut tetapi pada kondisi yang tersebut perlu upaya pemanfaatan limbah tanaman pangan semusim tersebut sebagai bahan pakan ternak. Tujuan yang hendak dicapai adalah peningkatan efisiensi manfaat sumberdaya lahan dan peningkatan pendapatan petani dari sebidang lahan yang dikuasi dan dikelola oleh petani peserta proyek kegiatan coconut-beef. Pemanfaatan Lahan Dibawah Kebun Kelapa untuk Penanaman Bahan Pakan Ternak Sapi Jenis hijauan tanaman pakan yang sesuai dikembangkan dibawah kebun kelapa adalah tanaman hijauan pakan yang tahan dan dapat tumbuh dengan baik dibawah naungan dan tentunya tanaman yang tahan berkompetisi dengan tanaman kelapa serta mudah untuk mendapatkan bibitnya. Tanaman hijauan pakan tersebut antara lain : (1) Rerumputan: Dari sejumlah jenis rumput tanaman pakan yang dapat tumbuh, berkembang dan berproduksi di bawah kebun kelapa,

diantaranya adalah Guinea grass (Panicum maximum), Para grass ( Brachiaria mutica), Setaria splendida ( Setaria Lampung / Timothy emas lampung ), (2) Leguminosa ( Kacang-kacangan ) terdiri dari Peuraria phaseloides dan Centosema pubescens, Rumput Panicum maksimum ini juga dikenal dengan nama rumput Benggala atau Guninea grass. Di Kabupaten Bolaang Mongondow rumput ini telah berkembang dengan suburnya, mulai dari pinggirpinggir jalan utama sampai dengan ke bukit - bukit yang ditumbuhi tanaman kelapa, kayu-kayuan atau tidak digunakan masyarakat untuk areal pertanian. Salah satu lokasi proyek PUTKATI, memiliki tanaman rumput benggala dalam jumlah banyak, dan terlihat kondisi ternak amat sangat baik dengan tingkat reproduksi yang tinggi. Pengembangan rumput ini sangat direkomendasikan ke seluruh lokasi pengembangan ternak sapi di bawah pohon kelapa di Provinsi Gorontalo. Rumput Para grass dikenal dengan nama rumput Kolonjono/ Para grass/Panicum muticum/ Panicum purpurascens. Rumput ini kaku, merayap, perennial/tahunan, berakar pada tiap nodus batang yang menyinggung tanah, tingginya dapat mencapai 2,5 m. Aasal rumput Afrika dan Amerika Selatan (Tropis), Tahan genangan air yang lama, berkembang dengan biji, Tiap kilogram biji = 300.000 butir, juga dapat dikembangkan dengan potongan batang, Tiap potongan batang = 3 ruas ( 4 buku ) dengan jarak tanam 1.8 x 1.8 m. Pemotongan (panen) setiap 6 - 9 minggu sekali, dengan tingi pemotongan dari permukaan tanah 7 - 20 cm, Produksi bahan kering (BK) hijauan : 20 ton / Ha / Th, Komposisi nutrisi : Abu 13.3 %, Serat Kasar 29.5 % Protein Kasar 10.5 %, BETN Rumput Setaria splendida berasal dari afrika tropik, berkembang di Kenya dan Senegal. Sifatnya perennial, tumbuh di ketinggian samapi lebih 4000 kaki dengan hujan lebih 25 inchi, didaerah pantai dengan hujan 40 - 50 inchi ( 1 kaki = 0.3 m, 1 inchi = 2.56 cm ). Tinggi tanaman lebih dari 180 cm bila tak dipotong. Membentuk rumpun, jarang memproduksi biji, bila ada untuk penyebaran kembalimembutuhkan 4 -10 kg tiap Ha, satu kilogram biji = 1.2 - 1.8 juta butir. Ditanam berbaris jarak 120 cm dengan jarak tanam 90 cm. Biasa dikembangkan dengan sobekan. Hijauan dimanfaatkan dengan segar, sebagai hay dan silase ( kalau memungkinkan). Pemotongan tiap 48-54 hari sekali. Dipotong samapi 15 cm dari atas tanah, menghasilakn 20 ton Bahan Kering/ Ha / tahun. Pemupukan : 100 - 200 kg N, 50 kg P dan 100 kg K. Lebih baik sebelum diberikan kepada ternak dilayukan selama 24 jam untuk mengurangi diarrhae. Komposisi nutrisi : Abu 11.1 %, Ekstrak ether 2.5 %, Serat Kasar 31.7 %, BETN 45.2 %, Protein kasar 9.5 %, TDN 54.8 %.

Peuraria phaseloides. Sering juga disebut dengan Puero / Kudzu tropik. Puero termasuk familia leguminosae, sub familia papilionoideae. Berbunga putih keungu-unguan merah muda, Polongan bulat seperti pedang. Tiap Kilogram biji mengadung 40.000 butir biji. Penanaman tiap Ha memerlukan 5 - 10 kg biji, dengan jarak tanam 1 m. Sebelum di tanam biji direndam air panas 30 menit. Kadang-kadang ditanam dengan batang yang mengandung 4 ruas buku batang yang keluar akarnya. Setelah 4-6 bulan pertanaman dengan cukup air sudah menutup tanah dan kanopinya setinggi 15 - 20 cm. Rumput campurannya, daun Puero lebih lebar dibanding Calopo dan Centro. Hasil produksi Bhan Kering (BK) 5 - 10 ton / Ha, Umur > 4 bulan tinggi tanaman 60 - 80 cm. Pemotongan setiap 3-5 kali per tahun tergantung musim kering atau basah. Komposisi nutrisi daun Puero : Abu 8.7 %, Ekstrak ether 2.5 %, Serat kasar 31.3 %, BETN 38.2 %, Protein kasar 19.3 %, TDN 61.7 %. Centosema pubescens. Legum ini termasuk sub familia Papilionoideae, asal dari Amerika Selatan , tumbuh baik di daerak tropik san sub tropik. Daunnya trifoliat , lebih runcing dibandingkan calopo dan puero. Bunganya warna ungu merah muda. Polong seperti pedang, biji bergaris. Satu kilogram biji mengandung 36.000 butir. Penanaman dengan biji memerlukan 4-5 kg biji. Biji ditanam sedalam 3-5 cm, jarak baris tanam 1 m, sebelum ditanam direndam air panas 30 menit. Batang centro menjalar menutup tanah setelah umur 4-6 bulan, belu berkayu pada umur 18 bulan. Biji centro masak tidak srentak, mulai masak setelah centro umur 9-12 bulan. Centro dapat hidup didaerah dengan hujan 1500 - 2500 mm, dengan ketinggian rata-rata 600 mpl. Tanaman rumput campurannya yang baik adalah Melinis dan Cynodon. Sifat tumbuh centro adalah perennial. Pada tanah dengan PH 6.0 fiksasi N baik, hasil fiksasi N = 75 kg N / Ha, sesudah centro berumur 4-6 bulan dapat menghasilkan 100 kg protein kasar tiap Ha. Pemupukan P205 = 100 - 200 kg / Ha. Hasil bahan kering (BK) centro = 3 - 7.5 ton/ ha/th. Komposisi nutrisi daun cenro : Abu 8.8 %, Ekstrak ether 3.6 %, Serat kasar 31.2 %, BETN : 34.4 % Protein Kasar 22.0 % TDN 60.7 %. 3.2. Pola, Strategi dan Program Pembangunan Sistem Agribisnis Terpadu 3.7.1 Pola Pengembangan Produksi dan Budidaya Pengembangan sistem produksi dan budidaya dalam kerangka agribisnis selayaknya dilaksanakan secara bertahap dengan memprioritaskan pengembangan jenis-jenis komoditas yang telah mempunyai pangsa pasar yang besar, teknologi budidaya massal, dan

teknologi pembenihan/pembibitan massal yang telah dikuasai oleh Provinsi Gorontalo. Komoditas hasil introduksi yang baru dikembangkan perlu melalui proses adopsi paket teknologi produksi dan teknologi budidaya terlebih dulu disamping menyiapkan ketersediaan benih/bibitnya. Semua data dan informasi yang berkaitan dengan kepastian pengembangan budidaya laut, yang terdiri dari potensi, teknologi, sumberdaya manusia, aspek finansial, aspek hukum dan informasi pendukung lainnya perlu dikemas dan disiapkan dalam suatu jaringan sistem informasi yang mudah dan dapat diterima dan diakses oleh masyarakat. Dengan demikian setiap stakeholder yang berminat menanamkan modalnya pada usaha budidaya laut akan mudah dan cepat mendapatkan informasi yang diperlukan. Pelaksanaan pengembangan budidaya laut, harus didahului dengan kajian komprehensif pada lokasi yang tepat. Faktor-faktor pendukung, seperti ketersediaan prasarana, kondisi sosial ekonomi masyarakat, pelayanan perbankan, kepastian hukum, dan RUTR Kabupaten dan Provinsi harus diperhatikan demi suksesnya pengembangan produksi dan budidaya. Pemilihan jenis komoditas yang ditetapkan dan kesesuaian wilayah harus disesuaikan dengan volume dan kualitas permintaan pasar sehingga cakupan wilayah produksi dalam jangka panjang dapat memasok permintaan pasar secara sustainable. Pelaksanaan pengembangan sistem produksi agribisnis tentunya akan melibatkan berbagai pihak terkait, antara lain pemerintah, investor, pengusaha, kelompok petani/peternak/ pembudidaya/ nelayan, produsen benih, perbankan, koperasi, pedagang (local dan eksportir), serta pemasok sarana produksi. Pemerintah harus berperan sebagai fasilitator dengan melakukan upaya pembinaan teknologi, penyediaan prasarana dan menciptakan iklim usaha yang kondusif sehingga sistem agribisnis yang dibangun mampu bertahan dalam jangka panjang. Kelestarian sistem agribisnis yang produktif tentunya akan meningkatkan manfaat ekonomi sistem tersebut. Pembinaan teknologi diarahkan pada penerapan teknologi adaptif yang efisien namun ramah lingkungan. Unit Pelaksana Teknis Nasional (Balai Besar, Balai dan Loka) bertugas melakukan riset, kajian dan penyiapan paket teknologi dan melakukan pelatihan-pelatihan atau magang bagi petani/peternak/pembudidaya/nelayan. Penyediaan prasarana produksi yang memerlukan dana besar, akan menjadi tanggung jawab pemerintah, namun pemeliharaannya secara bertahap dapat dialihkan menjadi tanggung jawab masyarakat dan pengusaha. Penciptaan iklim usaha yang baik bagi pengembangan sistem produksi

agribisnis dapat dilakukan melalui upaya memudahkan melancarkan birokrasi pelayanan pemerintah dan perbankan.

dan

Setiap usaha produksi komersial harus mempunyai ijin usaha. Ijin usaha ini diberikan oleh pemerintah provinsi/kabupaten setempat ataupun pusat, sesuai dengan tingkat skala usahanya dalam penentuan lokasi dan tata letak setiap teknologi yang diimplementasikan di setiap kawasan pengembangan. Ijin usaha agribisnis ditentukan periode waktunya sesuai dengan siklus produksi dan kesesuaian lingkungan dan ijin tersebut dapat diperpanjang sepanjang wilayah tersebut masih memenuhi persyaratan teknis, ekonomis dan lingkungan untuk pengembangan. Pengendalian dan pengawasan sistem produksi agribisnis oleh pemerintah dilakukan secara periodik, baik pada daerah yang sudah berkembang maupun kawasan yang akan dikembangkan. Tahapan ini dapat dilakukan melalui 4 (empat) tahapan, yaitu: (1) Comprehensive Site assessment pengembangan wilayah produksi sesuai persyaratan teknis, ekonomis, laingkungan, kesesuaian lahan, penerimaan masyarakat dan kelestarian usaha yang dilakukan secara bersama oleh BAPPEDA (Provinsi dan Kabupaten) dan Dinas Teknis di Sektor Pertanian. (2) Penunjukkan kawasan pengembangan produksi harus memperhatikan jumlah unit usaha yang akan dikembangkan, dan tata letak sarana yang akan digunakan. Persyaratan teknis tersebut harus disesuaikan dengan peraturan dan perundangan yang berlaku. (3) Pada wilayah yang sistem produksinya sudah berkembang dan melampaui batas maksimum yang dapat dikembangkan, maka rasionalisasi jumlah unit dapat dilakukan pada waktu perpanjangan ijin. (4) Untuk menghindari terjadinya dampak negatif terutama pengaruh buruk terhadap lingkungan, maka pembinaan dan pengawasan harus dilakukan secara periodik (misalnya setiap triwulan). Dengan demikian bila terjadi penyimpangan teknis dan non teknis yang dapat menimbulkan kerusakan kualitas sumberdaya dan pencemaran dapat dicegah secara dini. 3.1.1.Strategi Pengembangan Produksi Pengembangan produksi dan budidaya dapat dilakukan dengan menggunakan strategi yang tidak hanya sekedar memecahkan berbagai permasalahan yang telah dikemukakan sebelumnya, tetapi juga mampu menimbulkan peluang dan insentif bagi pembangunan

yang sedang dilakukan, terutama untuk mengatasi berbagai permasalahan Provinsi Gorontalo sebagaimana yang secara nasional yang sedang dihadapi Bangsa Indonesia dewasa ini, seperti masalah ketenagakerjaan dalam hubungannya dengan peningkatan pendapatan dan indeks pembangunan manusia. Strategi dasar yang dapat ditempuh untuk mencapai maksud tersebut, antara lain: (1) Pengembangan pasar dan pemasaran. (2) Peningkatan Produktivitas. (3) Penguatan modal dan penguatan kapasitas pembentukan modal mandiri bagi petani, peternak dan nelayan (4) Rasionalisasi, Penguatan dan Pengembangan teknologi produksi bagi Budidaya Tanaman pangan, perkebunan, peternakan, budidaya perairan dan perikanan tangkap. (5) Pemberdayaan dan Penguatan Kelembagaan. (6) Pengembangan Sumberdaya Manusia. (7) Pengembangan Agribisnisn Berbasis Masyarakat Secara Partisipatif, Kerjasama dan Kemitraan. (8) Pengembangan produksi Berbasis Wilayah dan Komoditas Unggulan. (9) Penerapan Teknologi produksi Sesuai Daya Dukung Lingkungan. (10) Penguatan dan Pengembangan Unsur Dasar Usaha agribisnis terpadu. (11) Pembangunan Prasarana dan sarana pokok dan pendukung bagi terlaksananya proses dalam sistem agribisnis terpadu. (12) Peningkatan peran perempuan dalam seluruh proses sistem agribisnis. (13) Penerapan Sistem agribisnis Secara Terpadu. 3.1.1.1.Peningkatan Produksi dan Produktivitas Program peningkatan produksi dan budidaya harus selalu mempertimbangkan kemampuan daya serap pasar. Hanya komoditas perikanan yang diminta pasar saja yang boleh diproduksi. Volume produksi dibatasi dengan bijak agar tidak terjadi overproduction. Untuk mendukung proses produksi sarana dan prasarana penunjang, seperti pembangunan jalan baru, fasilitas komunikasi, dan kelistrikan harus disediakan oleh pemerintah. Pengembangan sistem pemantauan dini untuk mengantisipasi terjadinya bencana terhadap sistem produksi yang dilakukan, baik yang disebabkan oleh bencana alam (gema bumi, banjir, tsunami, angin topan dan penyebaran penyakit) maupun bencana yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia (penyebaran limbah sebagai akibat adanya kegiatan produksi di darat maupun di laut). Pembangunan kawasan produksi dan budidaya terpadu yang terdiri dari unit pembenihan/pembibitan,

penanaman/pembudidayaan, pasca panen dan industri pendukung (terutama pakan), di wilayah yang tidak tercemar sangatlah ideal. Tujuan pengembangan produksi pada kerangka agribisnis terpadu adalah peningkatan produktivitas sehingga setiap pelaku usaha memperoleh keuntungan secara teknis dan ekonomis disamping tentunya harus menimbulkan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat secara umum. 3.1.1.2.Pengembangan Pasar Perdagangan global yang telah dimulai menuntut persaingan ekspor produk perikanan yang semakin ketat disertai adanya trik-trik nakal yang dilakukan oleh negara besar yang memiliki kemapanan ekonomi. Indonesia sebagai salahsatu negara produsen hasil perikanan harus berusaha meningkatkan produksinya, sehingga meningkatkan supply produk perikanan. Sementara itu, permintaannya cenderung stagnan akibat kondisi resesi ekonomi global yang pada akhirnya akan berujung pada excess supply di pasar global. Karena adanya ketidakseimbangan supply-demand maka diperlukan penguatan dan pengembangan manajemen pasar sebagai prasyarat mutlak harus dilakukan untuk pengembangan budidaya laut secara keseluruhan. Provinsi Gorontalo sebagai bagian dari Republik Indonesia harus selalu mengikuti kondisi pasar produk pertanian, peternakan, perkebunan dan perikanan sebagai acuan dasar bagi peningkatan produksi. Selain tantangan pasar global, pasar domestik merupakan sasaran kedua dengan diferensiasi produk yang disesuaikan dengan permintaan dan pola konsumsi dalam negeri. Penguatan dan pengembangan pasar, baik pasar domestik maupun ekspor, dapat dilakukan dengan melaksanakan program yang berorientasi pada peningkatan permintan pasar, antara lain yaitu sebagai berikut: (1) Pengembangan market intelligence guna memahami dinamika selera (preference) negara-negara pengimpor dan kekuatankelemahan negara-negara pesaing. Dukungan dari Dep. Perindustrian dan Perdagangan, sangat diperlukan untuk memperkuat pasar ekspor produk pertanian/peternakan/ perikanan di pasaran dunia. (2) Pembentukan atase pertanian di berbagai negara pengimpor. (3) Peningkatan promosi dagang dan pemasaran provinsi Gorontalo sebagai Provinsi inovatif ke berbagai negara. (4) Menjadi trend setter dalam setiap perundingan dagang dan konvensi, agar kepentingan nasional Indonesia dan Kepentingan Provinsi Gorontalo dapat terakomodir. (5) Pembangunan industri hilir untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian seperti, produk kelapa, industri hilir jagung, pengalengan ikan, pabrik tepung ikan, industri hilir ikan tuna

segar dan lain-lain, sehingga meningkatkan efisiensi, berdaya saing tinggi dan bernilai tambah tinggi. (6) Pengembangan dan diversifikasi produk perikanan tangkap, produk perikanan budidaya, produk peternakan, produk perkebunan dan pertanian tanaman pangan (7) Mendorong pembentukan Agribusiness Management Board sebagai langkah awal menuju integrasi semua sistem agribisnis dengan sistem pelayanan satu atap. (8) Kampanye dan sosialisasi pemasaran produk secara terpadu dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya untuk mengembangkan pasar dalam negeri. (9) Memperpendek rantai tata-niaga dari produsen ke konsumen, sehingga produsen memperoleh keuntungan yang lebih rasional. (10) Pembangunan dan operasionalisasi pasar higienis terutama untuk produk perikanan budidaya, perikanan tangkap dan peternakan. (11) Pengadaan sarana pengangkutan produk terutama untuk produk perikanan dan peternakan lokasi produsen ke konsumen ikan (pasar), seperti mobil box berpendingin, angkutan laut dan dan angkutan udara. (12) Pembangunan jaring sistem informasi terpadu antara lokasi produsen dan pasar ikan, sehingga penyebaran informasi dapat berlangsung secara cepat. 3.1.1.3.Rasionalisasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Peningkatan variabilitas dan frekuensi penelitian dan pengembangan harus diarahkan untuk mendapatkan teknologi yang utuh, efisien dan tepat guna khususnya teknologi pemuliaan, pembenihan, pembesaran dan manajemen kesehatan ikan. IPTEK yang digunakan dalam perakitan teknologi diutamakan yang mengarah kepada teknologi yang berbasis sumberdaya lokal. Dalam hal diseminasi, pemerintah masih memegang peranan penting. Untuk itu pemerintah harus proaktif dan peran utamanya bukan lagi untuk intervensi ekonomi, melainkan untuk pengaturan dan pelayanan publik termasuk pembinaan/pemberian bimbingan dan pengawasan. Upaya diseminasi yang dapat dilakukan adalah dengan penyediaan informasi sebanyakbanyaknya dengan harga murah dan mudah dipahami, mendorong pembudidaya ikan untuk proaktif mencari teknologi, menata pasar input dan output, mendorong partisipasi LSM lokal, serta membangun sistem informasi teknologi yang berbasis daerah (spesifik lokal). Kegiatan diseminasi hasil penelitian dan pengkajian hendaknya dilakukan secara berkelanjutan dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari program penelitian dan pengembangan. Pengembangan IPTEK dan diseminasinya di daerah perlu didukung oleh peraturan yang memadai dan kesediaan pembudidaya menerima

dan menerapkan metoda-metoda baru yang lebih efektif dan efisien. Diseminasi teknologi budidaya laut yang selama ini dilakukan di lapangan melalui ekspose hasil penelitian, aplikasi teknologi, demplot, pelatihan, temu lapang, lokakarya dan lain-lain, hendaknya terus dilaksanakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan setempat. Di samping itu yang lebih penting adalah adanya pendampingan secara terus menerus di lapangan oleh tenaga ahli (penyuluh) yang telah mendapatkan pendidikan dan latihan secara khusus dan benar-benar menguasai teknologi. Pengembangan kawasan terpadu untuk kegiatan utama budidaya tanaman pangan, peternakan, perkebunan, perikanan, dengan dukungan teknologi yang tersedia dari lembaga penelitian dan pengembangan maupun perguruan tinggi, serta dukungan dana dari lembaga keuangan, hendaknya segera dilaksanakan. Proyek-proyek percontohan perlu lebih diperbanyak terutama di kawasan budidaya pertanian tanaman pangan dan budidaya laut yang sedang dikembangkan dengan inisiatif dari pihak pemerintah, bekerjasama dengan swasta ataupun dengan donor. Selain berfungsi dalam sarana diseminasi, proyek-proyek percontohan dapat pula menarik investasi dan menambah keyakinan pengusaha dan petani/peternak/pembudidaya. 3.1.1.4.Pemberdayaan dan Penguatan Kelembagaan Pemberdayaan dan penguatan kelembagaan ditujukan untuk menghapus sistem pelaksanaan program dan pelayanan yang terkotak-kotak karena tidak efisien dan cenderung merugikan petani/peternak/pembudidaya dan nelayan. Pelaksanaan program pada sektor pertanian sudah saatnya berorientasi pada kepentingan target beneficiaries (sasaran penerima manfaat). Kegiatan atau program yang bersifat lintas sektoral lebih baik dilaksanakan oleh kepala daerah (Gubernur/Bupati/Walikota) dan tidak lagi dilaksanakan di bawah satker dinas tertentu. Langkah tersebut merupakan perubahan besar yang sangat mendasar dan harus diambil meskipun akan menimbulkan penentangan dari berbagai dinas karena merasa “jatahnya diambil”. Meskipun akan ditentang, pelaksanaan program terpusat dibawah kepala daerah harus dilaksanakan dengan pertimbangan bahwa program yang bersifat lintas sektoral memerlukan koordinasi dan kerjasama yang akan sulit dibangun jika dilaksanakan oleh masing-masing dinas teknis atau sebuah badan. Penghapusan badan penyuluhan yang bersifat parsial dan cenderung menumbuhkan ego-sektoral perlu dilakukan agar terjadi revitaslisasi sistem secara keseluruhan. Revitalisasi penyuluhan sangat diperlukan

untuk meningkatkan produktitivas dan keberdayaan petani, peternak, pembudidaya ikan dan nelayan. Saat ini penyuluhan sudah ditangani oleh Badan Penyuluhan, namun dalam pelaksanannya kegiatan penyuluhan masih berdasarkan sub-sektor dan cenderung mengacu pada kepentingan sub-sektor tersebut dan bukan untuk tujuan meningkatkan kesejahteraan dan keberdayaan pelaku usaha pada skala kecil. Penyuluhan sebagai satu sub-sistem dan sistem agribisnis seharusnya menjadi lembaga yang dimiliki oleh petani dan bukan oleh Dinas atau Departemen sehingga seluruh aktivitas penyuluhan diarahkan untuk memenuhi kepentingan dan melayani petani dalam arti yang sesungguhnya. Pemberdayaan, penguatan kelembagaan dan koordinasi antar lembaga perlu mendapat perhatian khusus dalam pengembangan agribisnis terpadu di Provinsi Gorontalo. Keterlibatan berbagai pihak perlu diidentifikasi dan direvitalisasi untuk mengetahui tanggung jawab masing-masing dan penyempurnaan yang harus dilakukan. Kelembagaan yang ada perlu direvitalisasi untuk menunjang pengembangan sistem produksi dan pemasaran, meliputi lembaga penyuluhan, kelompok petani terpadu dan lembaga keuangan. Revitalisasi lembaga penyuluhan sangat diperlukan untuk meningkatkan kesempatan kepada petani peternak nelayan dan pembudidaya ikan untuk memperoleh layanan penyuluhan sesuai dengan kebutuhannya dan taraf pengetahuannya. Para penyuluh harus memiliki pengetahuan teknis dan metode komunikasi yang memadai dilengkapi dengan sarana transportasi yang mencukupi untuk menjangkau seluruh audiensnya. Revitalisasi kelompok produsen dan revitalisasi penyuluhan dilakukan untuk mendorong produsen membentuk kelompok dan meningkatkan kualitas kelompok melalui pemberdayaan anggota kelompok. Langkah ini dilakukan guna memperkuat bargaining position petani/peternak/ pembudidaya ikan/ nelayan. Revitalisasi ini harus mampu merencanakan dan mengatur produksi, penguatan modal kelompok dan peningkatan penguasaan teknologi budidaya secara cepat dan tepat sasaran. Pengembangan lembaga keuangan dilakukan guna mempermudah petani, peternak, pembudidaya dan nelayan mengakses modal dari perbankan dalam rangka pengembangan usaha. Seperti halnya bagi petani, peternak dan nelayan, pembudidaya ikan memerlukan akses permodalan yang merupakan hal yang sangat penting dalam melestarikan proses produksinya. Disisi lain, hal yang juga tidak kalah pentingnya lagi adalah adanya lembaga pendampingan dalam pengelolaan produksi dan pemasaran serta pengelolaan keuangannya. Kegiatan pendampingan merupakan suatu kegiatan penyediaan informasi, komunikasi dan penyuluhan perikanan oleh tenaga

profesional bagi pembudidaya ikan dan keluarganya. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, produksi dalam rangka peningkatan pendapatan, perbaikan usaha, manajemen keuangan keluarga, pemupukan modal dan secara umum kesejahteraan. Pelaksana diseminasi dan pendampingan teknologi perikanan budidaya menjadi tugas dan kewajiban Pemerintah melaui unit pelaksana teknis yang sekarang sudah ada. Disamping itu, Dunia Usaha, dan Perguruan Tinggi juga harus berpartisipasi aktif di tingkat produsen, pembentukan koperasi dan kelompok produsenyang terbukti banyak membantu proses diseminasi. Sistem informasi agribisnis terpadu, juga akan sangat membantu percepatan diseminasi maupun penyampaian umpan balik. Disamping itu perlu disusun kurikulum dengan muatan sistem agribisnis sebagai muatan lokal secara proporsional di lembaga-lembaga pendidikan formal, DIKLAT dan lembaga penyuluhan perikanan, peternakan, perkebunan dan pertanian. Lembaga-lembaga yang mempunyai tugas dan fungsi diseminasi perlu lebih diberdayakan, karena selain menjadi pemegang peranan penting dalam percepatan transfer teknologi dan informasi, juga dapat mengidentifikasi kebutuhan serta merakit paket teknologi spesifik lokal berdasarkan sumberdaya yang tersedia untuk mendukung pembangunan wilayah. 3.1.1.5.Pengembangan Sumberdaya Manusia Sumberdaya manusia merupakan unsur utama yang mewadahi dan menggerakkan pembangunan sehingga menjadi sangat penting untuk diperhatikan dalam kegiatan diseminasi budidaya laut, di samping sumberdaya lain. Posisi sumberdaya manusia berada pada dua sisi; (1) sumberdaya manusia sebagai penghasil teknologi (peneliti/perekayasa); (2) sumberdaya manusia sebagai pengguna teknologi (pembudidaya ikan, pengusaha); dan (3) sumberdaya manusia sebagai pelaku proses diseminasi teknologi. Peningkatan kemampuan sumberdaya manusia, baik kuantitas maupun kualitasnya, dilakukan terhadap sumberdaya manusia penghasil teknologi maupun sumberdaya manusia pengguna teknologi. Posisi sumberdaya manusia yang diharapkan sebagai penghasil dan pengembang teknologi dapat ditafsirkan sebagai individu atau institusi yang melakukan kegiatan penelitian, percobaan, serta pengembangan teknologi agar bermanfaat secara nyata bagi kebutuhan manusia atau teknologi itu sendiri. Pengembagan teknologi produksi dapat dilakukan oleh pemerintah melalui Lembaga Riset dan Pengembangan, Balai/Loka Perikanan, Balai Benih, Sekolah-sekolah Pertanian dan Perikanan, Perguruan Tinggi, dan Dunia Usaha. Teknologi budidaya

dan penangkapan merupakan bidang yang memberikan harapan besar bagi pembangunan sektor pertanian, meskipun masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, terkait dengan sumberdaya manusia penghasil dan pengembang teknologi, antara lain adalah; (1) Penciptaan teknologi terapan budidaya dan penangkapan; (2) Pemahaman secara mendalam kebutuhan masyarakat dan pasar bisnis akan komoditas yang dipilih untuk dikaji, dikembangkan dan didiseminasikan; dan (3) Terwujudnya komunikasi yang akrab, terbuka dan dinamis dengan segenap unsur pelaku kegiatan sektror pertanian. Keberhasilan proses diseminasi teknologi dipengaruhi oleh hal-hal, sebagai berikut: (1) Tidak terdapat kesenjangan lokasi yang luas antara penghasil teknologi dan penggunanya; (2) Tidak terdapat kesenjangan kognitif yang tinggi antara penghasil teknologi dengan penggunanya; dan (3) Terdapat sistem komunikasi yang baik untuk menghubungkan antara penghasil dan pengguna teknologi. 3.1.1.6.Pendekatan Pengembangan Agribisnis Berbasis Masyarakat Secara Partisipatif Melalui Kerjasama dan Kemitraan Pengembangan agribisnis berbasis masyarakat (PABM) dapat diartikan sebagai suatu proses pemberian wewenang, tanggung jawab, dan kesempatan kepada masyarakat untuk mengembangkan kegiatan sistem produksi dengan terlebih dahulu mendefinisikan kebutuhan, keinginan, tujuan, serta aspirasinya. PABM menyangkut pula pemberian tanggung jawab kepada masyarakat dalam mengambil keputusan, yang pada akhirnya menentukan dan berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat sendiri. Maksud dikembangkannya PABM adalah untuk merangsang pengembangan usaha kecil dan menengah, sekaligus sebagai upaya diseminasi. Salah satu sistem PABM yang dapat dikembangkan adalah sistem kemitraan yang saling menguntungkan dalam budidaya tanaman pangan, perkebunan, peternakan, budidaya laut dan perikanan tangkap dengan menyerahkan sebagian kegiatan usaha kepada pengusaha kecil dan menengah. Upaya pengembangan agribisnis sangat relevan dikembangkan dengan pola kemitraan terpadu, atau dengan kata lain pola produksi berbasis masyarakat. Pola kemitraan terpadu adalah suatu pola usaha berupa kerjasama kemitraan yang melibatkan usaha besar sebagai penggerak utama, usaha kecil sebagai satelit dan mitra produksi, dan bank sebagai Pemberi Kredit. Pola ini dimaksudkan untuk meningkatkan kelayakan taraf hidup masyarakat, meningkatkan keterkaitan dan kerjasama yang saling menguntungkan, serta

membantu bank dalam meningkatkan kredit usaha kecil secara lebih aman dan efisien. Dari pola kemitraan ini diharapkan dapat terbentuk sinergi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat secara luas sehingga mampu mengerakkan roda perekonomian. Implikasi bergeraknya roda perekonomian dipastikan akan berpengaruh terhadap daya beli yang pada akhirnya meningkatkan indeks pembangunan manusia. Pelaksanaan pola kemitraan terpadu memerlukan beberapa persyaratan yang harus sudah ada dan disiapkan, antara lain yaitu; (1) Sumberdaya manusia sebagai pelaku usaha pertanian tanaman pangan, peternakan, perkebunan, budidaya ikan dan nelayan yang usahanya sudah berjalan, dan akan ditingkatkan produktivitasnya. Pelaku usaha tersebut perlu menghimpun diri dalam suatu kelompok sebagai kelompok produsen. Selanjutnya berdasarkan persetujuan bersama, kelompok produsen bersedia dan berkeinginan untuk bekerja sama dengan perusahaan di bidang usaha sejenis, dan bersedia mengajukan permohonan kredit untuk keperluan peningkatan usaha; (2) Adanya perusahaan yang bersedia menjadi mitra produsen, dan bersedia membantu memberikan pembinaan teknik budidaya/produksi, serta proses pemasarannya; (3) Adanya kesepakatan untuk bermitra antara kelompok produsen dengan perusahaan; (4) Adanya rekomendasi tentang pengembangan pola kemitraan terpadu dari pihak instansi pemerintah setempat yang berkompeten, dalam hal ini adalah Pemkab setempat dan Dinas Teknis Terkait; dan (5) Adanya area yang jelas, yang akan digunakan untuk usaha dalam pola kemitraan terpadu ini. Mekanisme pelaksanaan pola kemitraan terpadu, dapat dibentuk dengan cara sebagai berikut: (1) Bank Pelaksana akan menilai kelayakan usaha sesuai dengan prinsip-prinsip teknis perbankan. Jika proyek layak untuk dikembangkan, maka akan dibuat suatu nota kesepakatan (Memorandum of Understanding/MoU) yang mengikat hak dan kewajiban masing-masing pihak yang bermitra (Perusahaan, Kelompok Produsen, dan Bank); (2) Sesuai dengan nota kesepakatan, atas kuasa Kelompok Produsen, kredit perbankan diserahkan kepada rekening Kelompok produsen dan ke rekening perusahaan mitra produsen. Penyaluran kredit kepada Kelompok produsen dalam bentuk sarana produksi, dana pekerjaan fisik, dan lain-lain. Dengan demikian Kelompok produsen Ikan tidak akan menerima seluruh uang tunai dari Perbankan, tetapi yang diterima adalah sarana produksi yang penyalurannya dilakukan secara langsung dan secara etrbuka; dan (3) Produsen melaksanakan proses produksi dan hasilnya dijual ke Perusahaan mitra produsen dengan harga yang telah disepakati dalam MoU. Perusahaan dan kelompok produsen akan menyerhakan

sebagian hasil penjualan produksi untuk diserahkan kepada Bank sebagai angsuran pinjaman. 3.1.1.7.Pendekatan Pengembangan Produksi Berbasis Wilayah dan Komoditas Unggulan Keragaman kondisi bio-fisik wilayah Provinsi Gorontalo yang tidak terlalu berbeda secara signifikan, berimplikasi pada kesesuaian untuk budidaya pertanian, peternakan, budidaya laut dan penangkapan. Komoditas pertanian, peternakan dan biota laut, yang cukup mudah diseragamkan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Oleh karena itu, pembangunan produksidi Provinsi Gorontalo memungkinkan dilakukan seragam dan akan lebih tepat apabila didasarkan pada pendekatan wilayah, sesuai dengan komoditas unggulan yang dapat dikembangkan di wilayah yang bersangkutan. Komoditas pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan perikanan yang dihasilkan oleh Provinsi Gorontalo, tidak hanya dimaksudkan untuk pasar internasioanl guna memperoleh devisa, tetapi juga dalam rangka memenuhi kebutuhan permintaan pasar dalam negeri. Oleh karena itu, yang dimaksudkan dengan komoditas unggulan adalah komoditas yang permintaan pasarnya tinggi (baik domestik maupun ekspor), berkelanjutan dan atau harga jualnya tinggi. Komoditas unggulan yang memiliki nilai jual tinggi yang dihasilkan oleh budidaya laut, antara lain mencakup beberapa jenis kerapu, baronang, kakap, kerang mutiara, rumput laut (Eucheuma sp), dan beberapa jenis kerang-kerangan sedangkan komoditas perikanan tangkap meliputi jenis tuna, beberapa jenis kerapu dan baronang. Komoditas pertanian tanaman pangan yang saat ini telah menjadi leading commodity adalag jagung sedangakan komoditas tembakau merupakan komoditas potensial untuk menjadi unggulan, terutama di Kabupaten Gorontalo. Sesuai dengan tuntutan otonomi daerah dan desentralisasi, maka setiap kabupaten/kota perlu melakukan pemetaan wilayah komoditas unggulan yang dimilikinya. Atas dasar peta tersebut, dapat disusun rencana pembangunan wilayah dengan salah satu sektor produktif unggulan (leading sector), yang meliputi 3 (tiga) langkah sebagai berikut: (1) Setiap Pemkab melakukan inventarisasi dan pemetaan mengenai karakteristik bio-fisik, potensi budidaya dan penangkapan, aspek kelembagaan, serta karakteristik dan dinamika sosio kultural masyarakat; (2) Atas dasar informasi dari langkah pertama, selanjutnya disusun peta tata ruang berkelanjutan, yang terdiri atas kawasan preservasi, kawasan konservasi, kawasan rehabilitasi dan kawasan pengembangan budidaya dna penangkapan ikan; dan (3)

Menyusun rencana investasi dan pembangunan sistem agribisnis, atas dasar peta tata ruang yang dihasilkan pada langkah kedua. 3.1.1.8.Penerapan Teknologi Budidaya dan Penangkapan Ikan Sesuai Daya Dukung Lingkungan dan Masyarakat Pengembangan sistem agribisnis perlu memprediksi dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat melalui proses mitigasi. Diperlukan mitigasi dan antisipasi yang lebih besar bagi sistem budidaya laut, perikanan tangkap dan pertanian tanaman pangan yang berada pada wilayah perbukitan karena kemungkinan menimbulkan degradasi kondisi dan daya dukung lingkungan di kawasan produksi. Oleh karena itu, langkah antisipatif harus dipersiapkan di setiap Kecamatan di masa mendatang, yang disebabkan kegiatan eksploitasi sumberdaya alam yang tidak peduli lingkungan, seperti penggundulan hutan, pencemaran sungai, pembabatan hutan mangrove, dan lainlain. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan terutama disebabkan oleh tidak adanya kepedulian dari masyarakat dan pemerintah setempat terhadap fungsi penting dari lingkungan. Proses pengrusakkan berjalan terus tanpa adanya pengawasan dari pemerintah, Lembaga internasional dan LSM yang serius menangani permasalahan kerusakan lingkungan. Upaya pencegahan kerusakan lingkungan yang perlu dilakukan, antara lain melalui: (1) Pertemuan antara jajaran pemerintah daerah setempat dengan pemerintah pusat untuk menyamakan visi dan misi mengenai penyelamatan lingkungan serta menyusun program rehabilitasi lingkungan dengan sepenuhnya melibatkan masyarakat, perguruan tinggi, lembaga internasional dan LSM; (2) Mensosialisasikan dampak kerusakan lingkungan secara terus menerus kepada masyarakat umum diiringi dengan langkah nyata melalui upaya rehabilitasi dan peremajaan kembali; (3) Mengikutsertakan peran masyarakat dalam gerakan pencegahan kerusakan lingkungan, upaya pengendalian dan pendayagunaan sistem komunikasi dan informasi sebagai langkah nyata untuk menangani permasalahan kerusakan lingkungan secara dini; dan (4) Penetapan kawasan produksi dan tingkat teknologinya, harus mempertimbangkan kondisi daya dukung lingkungan dan daya dukung sumberdaya alam yang berhubungan. Penerapan teknologi produksi pada wilayah-wilayah pengembangan yang telah ditetapkan harus disesuaikan dengan daya dukung lingkungan setempat dan kesiapan masyarakatnya di dalam mengadopsi dan menerapkan teknologi termaksud. Untuk itu sangat dibutuhkan peran dari para penyuluh (PPL) dan pendamping di lapangan untuk mensosialisasikan teknologi yang akan diterapkan.

3.1.1.9.Penguatan dan Pengembangan Teknologi Secara umum, pengembagan agribisnis (dalam sistem budidaya) masih dihadapkan terutama pada kemampuan pasokan sarana produksi secara berkesinambungan, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Disamping masalah pasokan benih dan bibit, masalah hama dan penyakit adalah masalah terbesar yang dihadapi oleh masyarakat. Sejalan dengan akselerasi pembangunan aribisnis, dimana pengembangan teknologi adaptif juga menjadi kunci keberhasilannya, maka dukungan riset untuk menghasilkan inovasi ilmu dan teknologi produksi dan pemeliharaan yang bersifat adaptif sangat diperlukan, utamanya adalah: (1) Selective Breeding (misalnya untuk komoditas kerapu, rumput laut, dan jenis lainnya), sehingga diperoleh benih yang SPF; (2) Pengembangan pupuk dan atau pakan murah, efisien, dan ramah lingkungan; (3) Biosecurity, kontrol limbah, dan pengendalian penyakit; dan (4) Pengembangan GIS dan tata ruang kawasan produksi. 3.1.1.10.Penguatan dan Pengembangan Unsur Dasar Agibisnis Terpadu Secara bio-teknis, keberhasilan usaha budidaya ditentukan oleh penguasaan dan penerapan unsur-unsur dasar usaha budidaya secara tepat dan benar. Beberapa unsur dasar usaha budidaya, diantaranya yaitu: (1) Perbenihan dan atau pengadan bibit/benih. (2) Pupuk, Pakan, nutrisi atau zat pengatur tumbuh. (3) Pengendalian mutu lingkungan, hama dan penyakit. (4) Manajemen kualitas lahan dan perairan untuk budidaya. (5) Engineering dan sarana produksi. 3.1.1.11.Pembangunan Prasarana Potensi manfaat ekonomi yang dihasilkan oleh Sistem Agribisnis di Provinsi Gorontalo sesungguhnya sangat besar, tetapi sampai dengan tahun 2006 realisasinya masih sangat kecil dan belum banyak berperan dalam menggerakkan perekonomian Provinsi. Hal tersebut ditunjukkan dengan porsi kontribusi seluruh sektor pertanian yang hanya 30 % sedangkan porsi jumlah tenaga kerja yang terlibat sudah mencapai 50 %. Pengembangan sistem agribisnis terpadu diharapkan akan mampu memacu pertumbuhan dan pemerataan sehingga mampu memberikan kontribusi sebesar proporsi jumlah tenaga kerja yang terlibat.

Kondisi lemahnya sektor pertanian antara lain disebabkan terbatasnya prasarana, seperti akses jalan, penerangan, gudang, pelabuhan, tempat pengeringan, pabrik es, dan lain-lain. Model pengembangan budidaya yang dilaksanakan saat ini maih terkesan sebagai proyek yang dipaksanakan kepada pelaku usaha tanpa memliki manajemen program yang diarahkan pada kelestarian proses bisnis dalam jangka panjang. Prasarana perikanan budidaya laut yang meliputi prasarana untuk menunjang kegiatan peningkatan produksi dan prasarana yang menunjang pasca panen mempunyai peranan dan fungsi sangat penting dalam usaha meningkatkan produksi perikanan budidaya laut sampai sejauh ini belum pernah dibangun di Provinsi Gorontalo. Padahal jika ditinjau dari salahsatu program unggulan Provinsi Gorontalo melalui etalase perikanan Indonesia Timur sungguh-sungguh telah menetapkan Budidaya Perikanan sebagai salahsatu program unggulan. Keberadaan prasarana akan sangat mendukung dalam pengembangan usaha perikanan budidaya laut. Jalan akses untuk lahan usahatani masih belum sepenuhnya terpenuhi dan hanya sebagian kecil wilayah yang sudah memenuhi kriteria sistem agribisnis yang efektif. Namun demikian keberadaan prasarana jalan yang sudah sedemikian baik pada daerah pertanian yang produktif seringkali menjadi daerah yang diarahkan untuk tujuan pertanian. Sebagai contoh, Kecamatan Tapa di Kabupaten BoneBolango merupakan daerah pertanian terbaik dengan prasarana terbaik, produktivitas terbaik namun karena kebijakan pemerintah Kabupaten menjadikan pertanian tanaman pangan di Kecamatan Tapa semakin terdesak untuk kepentingan lain. 3.1.1.12.Penerapan Sistem Agribisnis Terpadu Pembangunan pertanian hendaknya dilakukan berdasarkan pendekatan sistem agribisnis secara terpadu (integrated system), sehingga arah dan kebijakan pembangunan pertanian merefleksikan kegiatan dari seluruh fungsi sub-sistem agribisnis dan bukan fungsi sistem komoditas. Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah ketidakterpaduan antar sub-sistem karena basis kebijakan ditetapkan atas dasar komoditas dan sub-sektor. Pengembangan agribisnis terpadu menuntut pengembangan seluruh subsistem, yang meliputi sub-sistem perbenihan/bibit, sub-sistem sarana produksi, sub-sistem produksi, sub-sistem pasca panen dan pemasaran yang ditunjang oleh pembangunan sub-sistem hama, penyakit dan lingkungan produksi, keseluruhan subsistem tersebut memerlukan sub-sistem prasarana sebagai faktor penentu efektifitas dan efisiensi produksi. Disisi lain

keterpaduan sistem agribisnis harus diintegrasikan dengan sistem penunjang. Keterpaduan sistem agribisnis sangat diperlukan untuk meningkatkan efisiensi pemasaran, efisiensi produksi, efisiensi diseminasi informasi dan efisiensi program pembangunan pemerintah. Pencapaian efisiensi ditandai dengan meningkatnya indikator daya beli pembudidaya sebagaimana meningkatnya daya beli petani, peternak dan nelayan. Penerapan pendekatan integrated system ini sebaiknya dilakukan antar instansi (horizontal) yang terkait dengan keperluan pengembangan kawasan, misalnya antar Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Perkebunan, Peternakan, Perikanan dengan instansi penentu RUTR, dengan instansi pengembang prasarana wilayah, dan lain-lain, bahkan jika memungkinkan dibuat suatu kawasan pengembangan ekonomi yang terpadu berbasis sistem agribisnis, usaha perikanan budidaya, usaha perikanan tangkap, usaha pertanian tanaman pangan, usaha perkebunan dan usaha peternakan. Titik tumpu keterpaduan dan efisiensi akan berada pada pembangunan sarana dan prasarana pendukung, sehingga seluruh pelaku usaha di sektor pertanian akan memanfaatkan keterpaduan sistem sarana dan prasarana tersebut dan menimbulkan dampak positif dan manfaat ekonomi secara bersama sehingga secara akumulatif akan menghasilkan manfaat integrasi ekonomi. Kondisi pasar sangat berpengaruh terhadap kuantitas kegiatan produksi yang dilakukan oleh masyarakat. Permintaan pasar yang tinggi terhadap suatu komoditas akan merangsang masyarakat untuk mencari dan mengembangkan teknologi tepat guna yang efektif dan efisien. Teknologi dan sistem berbeda-beda untuk setiap komoditas dan sifat produksi. Dalam hal ini pemerintah harus bertanggungjawab untuk menjadi fasilitator dan dinamisator pengembangan teknologi yang dihubungkan dengan trend permintaan pasar dan kapasitas daya dukung produksi yang dimiliki oleh produsen. Selain keterpaduan prasarana, pemasaran dan pengembangan teknologi, sangat penting untuk diingat bahwa sistem agribisnis sangat bergantung pada kekuatan penyuluhan yang pada masa sekarang ini sudah semakin dilupakan. Keterpaduan dalam implementasi penyuluhan sangat diperlukan karena pada dasarnya budaya sistem produksi di Provinsi Gorontalo seperti halnya di tempat lain di Indonesia adalah sistem produksi skala kecil. Dengan demikian pelaku usaha satu komoditas biasanya merupakan produsen untuk komoditas lain yang berbeda sub-sektor dan bahkan berbeda sektor. Budaya sistem produksi tersebut tidak dapat diubah sedemikian cepat dan tidak ada manfaatnya untuk merubahnya sehingga diperlukan penyatuan seluruh kegiatan penyuluhan. Atas dasar tersebut, dan

mengingat cakupan wilayah Provinsi Gorontalo yang tidak terlalu luas, maka upaya pelaksanaan penyuluhan dilakukan berdasarkan wilayah dan bukan berdasarkan komoditas. Artinya sub-sistem penyuluhan harus dilakukan berdasarkan wilayah dan kelompok produsen yang berada dalam wilayah tersebut. Keterpaduan sub-sistem penyuluhan dijamin akan meningkatkan efesiensi biaya dan efektifitas diseminasi informasi karena rantai koordinasi yang perlu dilakukan tidak memerlukan birokrasi yang berbelit seperti sekarang. Keterpaduan sub-sistem penyuluhan pada era otonomi daerah merupakan upaya yang mudah dilakukan karena sangat berhubungan erat dengan kepentingan wilayah. Keterkaitan sub-sistem penyuluhan dalam satu kabupaten dengan kabupaten lainnya akan dikoordinasikan oleh lembaga pnyuluhan tingkat provinsi. Kelemahan yang ada sekarang ini adalah bahwa lembaga penyuluhan pada tingkat provinsi belum ada. Keterpaduan Sarana dan Prasarana Pendukung. Sarana produksi yang sangat dominan dalam budidaya laut antara lain benih dan pakan (khusus untuk komoditas ikan). Dalam mengatasi kebutuhan benih untuk budidaya laut pemerintah telah membangun panti pembenihan yang tersebar di seluruh nusantara. Walaupun benih yang dihasilkan belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat namun dapat membantu mengisi kekurangan benih yang diperoleh dari alam. Sarana pendukung produksi pertanian tanaman pangan adalah penyedia benih dan bibit untuk perkebunan sedangkan untuk peternakan adalah penyedia induk ternak. Sarana pendukung produksi perikanan tangkap meliputi penyedia sarana tangkap, penyedia alat tangkap dan sistem informasi sumberdaya perikanan tangkap. Keterpaduan sub-sistem sarana pendukung produksi terletak pada sistem informasi dan keterpaduan lembaga. Lembaga penyedia sarana produksi seharusnya dapat menangani seluruh kebutuhan sarana produksi bagi berbagai komoditas yang dikembangkan di wilayahnya.Selain keterpaduan penyedia sarana produksi, diperlukan keterpaduan dalam penelitian dan pengembangan sistem agribisnis. Penelitian dan pengembangan agribisnis harus didukung oleh keberadaan sistem diseminasi informasi yang tentunya harus dilakukan oleh lembaga penyuluhan.

3.2. Land Reform di Gorontalo Pilihan reformasi pertanian yang reliable, feasible, acceptable dan viable untuk diterapkan di Gorontalo. Mengajukan land reform sebagai salahsatu bentuk reformasi pertanian. Munculnya beragam perangkap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pusat seringkali kontraproduktif terhadap harapan dan manfaat yang besar di balik reformasi pertanian. Koheren dengan pemahaman tersebut, apapun yang dilakukan pemerintah pusat untuk mengatasi permasalahan sektor pertanian seringkali hanya bersifat pemadam kebakaran, artinya kebijakan yang dibuat hanya bersifat untuk mengatasi permasalahan sesaat tanpa dipikirkan kebijakan atau tindakan yang bersifat permanen dalam jangka panjang akan memperbaiki seluruh sistem agribisnis. Kebijakan yang dibuat cenderung meminggirkan antusiasme petani dalam meningkatkan produksi melalui inovasi bibit unggul dan teknologi anjuran sehingga bila pelaksanaannya tidak tepat waktu, pasti menimbulkan demotivasi, perlawanan, dan ketidakpercayaan terhadap lembaga-lembaga formal kenegaraan. Sudah saatnya pemerintah pusat mengkaji ulang kebijakan-kebijakan yang berpotensi menyengsarakan masyarakat kelas bawah seperti petani. Kebijakan yang bersifat netral saja tidaklah memadai pada kondisi masyarakat yang sarat ketimpangan dan dualisme ekonomi. Artinya, kita masih memerlukan kebijakan publik sepenuhnya berpihak kepada rakyat banyak agar manfaat akhirnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Selama proses transisi menuju liberalisasi perdagangan secara menyeluruh, kebijakan semacam tersebut sangat diperlukan dan kita tidak perlu menutup mata terhadap pentingnya subsidi. Negara-negara industri maju yang dikenal penganut mazhab liberal dan merkantilisme tidak membiarkan pasar bekerja secara liberal jika ternyata kebebasan yang ditimbulkan menggoncang sendisendi kehidupan ekonomi massa bawah. Mari kita lihat keengganan Uni Eropa mereduksi dan mencabut subsidi, baik subsidi langsung kepada para petaninya maupun subsidi ekspor terhadap negaranegara bekas koloninya yang tergabung dalam Afro-Carribean Pacific, dapat dijadikan pelajaran di sini bahwa selama arahnya untuk penguatan basis ketahanan ekonomi masyarakat, subsidi atau tindakan sejenis lain tidak perlu ditabukan. Reformasi pertanian hanyalah satu dari sekian banyak agenda yang diusung pemerintah di balik komitmen besarnya untuk mengangkat kehidupan petani dan pamor pertanian sebagai salahsatu solusi atas permasalahan yang

dihadapi oleh bangsa Indonesia. Tentu saja dalam desain implementasinya haruslah mengacu pada kondisi nyata yang berkembang dan harapan-harapan yang timbul dalam masyarakat. Reformasi lahan (land-reform) harus disegerakan karena tingkat kesejahteraan petani yang terus menurun. Petunjuk itu bisa dilihat dari nilai tukar petani (NTP)20 yang dalam satu dekade terakhir ini terus menurun. Data BPS dari Januari 1994 hingga Mei 2006 yang memotret perkembangan NTP tahun 1994–2006 dengan amat jelas menunjukkan NTP yang kian menurun, khususnya sejak tahun 1999. NTP sempat melonjak cukup tajam tahun 1997-1999 sebagai temporary shock respons atas terjadinya krisis ekonomi. Namun, situasi itu tidak bertahan lama sehingga sejak tahun 1999 NTP menuju lereng negatif hingga kini (Berita Resmi Statistik, No 39/IX/1 Agustus 2006). Kenyataan tersebut dengan sendirinya terus menguatkan sinyalemen bahwa pemerintah tidak benar-benar serius memikirkan pembangunan sektor pertanian. Berbeda dengan masa Orde Baru dimana sektor pertanian mendapat perhatian serius dan sudah mulai mengarah pada modernisasi pertanian. Namun demikian, upaya tersebut tidak mencapai cita-cita keadilan distribusi pendapatan keluarga petani dan terhenti di tengah jalan. Dalam 10 tahun terakhir ini, sejarah pertanian diwarnai berbagai perubahan sosial yang tidak terencana (unplanned social changed). Hasilnya ada pihak yang amat menikmati menguatnya komoditas pertanian yang berorientasi ekspor, seperti kelapa sawit tetapi disisi lain petani yang memproduksi komoditas pangan dan hortikultura tidak memperoleh manfaat dari peningkatan nilai tukar US $ terhadap rupiah karena keran ekspor sepertinya mati suri. Rusaknya prasarana pertanian serta hancurnya kelembagaan pertanian, melemahnya peran koperasi unit desa (KUD), melemahnya fungsi petugas penyuluh lapangan (PPL) pertanian, hingga semakin pudarnya karisma kelompok-kelompok tani yang awalnya sangat berperan, aturan main di sektor pertanian mengalami perubahan dengan semakin menguatnya pemodal kuat dalam proses produksi. Kondisi demikian mengindikasikan bahwa petani miskin yang tidak memiliki sumberdaya menjadi semakin tersisih dan berakhir pada malapetaka dalam bentuk kerusakan lingkungan sosial ekonomi yang ditunjukkan dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk miskin dan pengangguran. Tanpa membenahi aturan main antar pelaku ekonomi, yang selalu terbentuk hanyalah pola ekonomi eksploitatif, yang pada gilirannya hanya akan melemahkan ekonomi pertanian secara luas pada saat berkompetisi dengan produk luar. Intervensi IMF dan Bank Dunia yang mensyaratkan self-cost-recovery terhadap
20 NTP adalah instrumen yang mengukur rasio antara indeks harga yang diterima petani dan indeks harga yang dibayar petani

proyek pembangunan prasarana pertanian merupakan hantaman bagi wajah negara Republik Indonesia. Karena syarat tersebut, sudah pasti sektor pertanian akan sulit berkembang karena pembiayaan pembangunan prasarana harus bersifat cost-recovery yang diperoleh dari long-term economic benefit bukan dari commercial financial benefit. Sulitnya mengembangkan prasarana pendukung sistem agribisnis di Provinsi Gorontalo terjadi karena paradigma pembangunan prasarana pendukung sistem agribisnis disalahartikan oleh pemerintah pusat karena mengacu pada platform IMF meskipun Indonesia sudah tidak berhubungan secara formal dengan IMF. Tambahan pembangunan prasarana dan sarana irigasi merupakan keharusan untuk meningkatkan produktivitas sistem agribisnis dan efisiensi penggunaan sumberdaya lahan melalui manajemen penggunaan sumberdaya lahan dikombinasikan dengan teknologi yang lebih maju. Sudah saatnya pemerintah Provinsi Gorontalo beserta seluruh kabupatennya untuk mempelopori reformasi pertanian termasuk reformasi paradigma pembangunan prasarana dan sarana karena manfaat ekonomi yang dihasilkan akan lebih besar dan akan dirasakan bukan hanya oleh sektor pertanian. Reformasi lahan (land reform) bagi petani merupakan bagian esensial perubahan sosial di sektor hulu dan hilir dalam sistem agribisnis, yang hanya akan bermakna jika kebijakan dan tindakan di sektor hulu dan hilir direformasi sepenuhnya. Reformasi di sektor hilir tidak lain adalah reformasi pertanian (agrarian reform). Berbagai kajian yang telah dilakukan selama ini secara telanjang menunjukkan kekalahan petani merupakan suatu proses struktural yang amat sistematis sehingga tidak mungkin perubahan tersebut dibebankan kepada komunitas petani itu sendiri. Reformasi sektor hulu dapat diartikan kebijakan atau tindakan pemerintah terhadap penguasaan sumberdaya lahan, modal finansial dan penguasaan input faktor (sarana produksi). Permasalahan pemiskinan petani secara sistematis antara lain disebabkan oleh ketidakberdayaan petani menghadapi pelaku ekonomi di sektor hulu dan hilir yang berkuasa absolut untuk menentukan harga dan waktu pembelian/penjualan faktor produksi dan komoditas-komoditas pertanian. Faktor tersebut di atas yang kemudian melonjakkan biaya transaksi (transaction costs) yang harus ditanggung petani. Ketidakberdayaan petani atas penguasaan sumberdaya pada akhirnya akan berujung pada pemiskinan absolut dari sisi pendapatan. Kemiskinan absolut dari sisi pendapatan akan berpengaruh secara signifikan pada kemampuan petani yang artinya daya beli petani semakin rendah sehingga tidak mampu untuk membayar biaya kesehatan dan biaya pendidikan bagi anak-anaknya.

Masalah pemiskinan petani tentu tidak akan tampak jika didekati dari perspektif teori klasik/neoklasik karena yang menjadi acuan hanya biaya produksi. Kebutuhan terhadap pentingnya reformasi pertanian baru akan timbul dan menguat apabila dikaji lebih lanjut dengan analisis (ekonomi) kelembagaan, kapasitas pembentukan modal oleh petani secara mandiri dan analisis SWOT atas pelaku usaha pertanian secara umum. Kenyataan yang terjadi dilapangan adalah kelembagaan yang tidak dapat disembunyikan adalah jaringan distribusi dan pemasaran produk pertanian sepenuhnya dikuasai pelaku di sektor hilir sehingga peningkatan harga (seperti terjadi dalam komoditas beras) tidak pernah dinikmati petani karena semuanya sudah ada di tangan tengkulak/distributor. Demikian pula hanlnya dengan kapasitas pembentukan modal secara individu petani tidak akan terjadi karena proses pemiskinan yang disebabkan oleh konsentrasi pemilikan modal finansial hanya berada pada pemilik modal besar sedangkan kapasitas permodalan petani skala kecil tidak pernah terbangun. Akses modal finansial belum pernah terbuka secara lebar dan bebas bagi petani skala kecil dikarenakan kekuasaan tengkulak yang mennutup akses tersebut. Disisi lain, pemerintah seolah-olah menutup mata terhadap kenyataan ini. Esensi reformasi lain yang menjadi kebutuhan mendesak dalam meningkatkan kesejahteraan petani adalah akses informasi dan penguasaan teknologi oleh petani. Rendahnya penguasaan informasi dan teknologi budidaya, penanganan hasil, pemasaran dan sistem agribisnis secara holistik menyebabkan terbelenggunya petani pada kondisi kemiskinan yang seolah-olah tidak terputuskan. Penentuan pilihan apakah harus dilakukan land-reform atau agriculture reform secara utuh sangat ditentukan oleh niat baik pemerintah Provinsi Gorontalo, Pemerintah semua kabupaten, Kantor Dinas Teknis yang berhubungan erat dengan hajat-hidup petani, parlemen lokal (provinsi dan kabupaten), LSM, Perguruan Tinggi dan lembaga internasional yang memihak pada kepentingan dan peduli pada nasib petani. Tanpa adanya niat baik, agriculture reform tidak akan pernah terwujud, terlebih lagi land-reform yang pasti mendapat tentangan keras dari para tuan tanah yang sudah sangat kuat posisinya. Pentingnya pelaksanaan agriculture reform dan land-reform harus dilihat sebagai kepentingan bersama dan semua pihak berada pada visi dan misi yang sama. Untuk menentukan pilihan langkah landreform atau agriculture reform harus dipersiapkan langkah awal dengan melakukan kajian pilihan reformasi pertanian yang reliable, feasible, acceptable dan viable untuk diterapkan di Gorontalo. Mengajukan land-reform sebagai salahsatu bentuk reformasi pertanian merupakan tahap kedua jika agriculture reform telah sepenuhnya difahami oleh seluruh stakeholder.

Secara nasional, Indonesia belum memiliki pengalaman keberhasilan pelaksanaan land-reform dalam bentuk redistribusi lahan dari tuan tanah kepada petani kecil. Meskipun tuan tanah akan memperoleh insentif jika bersedia membagi lahannya kepada petani miskin, tidak dapat dijamin bahwa mereka bersedia menyerahkan lahannya. Preposisi ini diajukan berdasarkan pengalaman nyata bahwa di Indonesia berlaku hukum terbalik dengan redistribusi oleh pihak nonpemerintah. Umumnya yang terjadi adalah penguasaan lahan petani miskin oleh para pemilik modal sehingga terjadi penguasaan modal secara kumulatif oleh beberapa gelintir orang. Kejadian yang sangat parah akan terjadi pada saat seluruh lahan pertanian subur yang tersedia dikuasai oleh beberapa orang etnis non-pribumi. Biasanya penguasaan lahan akan berujung pada sertifikasi lahan tersebut sebagai bahan kolateral untuk persyaratan peminjaman kepada bank dengan tentunya sebelum diajukan pinjaman telah dilakukan mark-up nilai jual objek pajak (NJOP) sehingga pinjaman yang diperoleh dari bank akan sangat besar nilainya, jauh lebih besar dibandingkan dengan harga jual yang sebenarnya. Langkah berikut yang biasanya terjadi adalah bahwa setelah pinjaman dari bank dicairkan, maka dalam beberapa bulan terjadi kredit macet. Setelah itu semua pihak baru menyadari bahwa terjadi kekeliruan dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Sebelum kondisi di Provinsi Grorontalo mengarah pada kerusakan tatanan sosial ekonomi masyarakat, pemerintah provinsi dan kabupaten harus cepat mengambil tindakan dalam bentuk kebijakan reformasi pertanian dan reformasi lahan yang lebih memihak pada kepentingan petani. Aspek yang harus secara cepat direformasi pemerintah hampir mencakup seluruh tatanan sistem agribisnis. Secara kelembagaan, empat agenda reformasi berikut dapat dilakukan pemerintah: 1. Pertama, rekayasa status hubungan antarpelaku ekonomi yang lebih menjanjikan kesetaraan dan lebih memihak pada petani (misalnya, petani dengan tengkulak atau petani dengan koperasi). 2. Kedua, memperluas basis kegiatan produksi dan distribusi melalui penguatan organisasi ekonomi petani sehingga mengurangi kekuasaan pelaku di sektor hilir untuk mengontrol seluruh sirkulasi kegiatan ekonomi, termasuk penentuan harga. Dengan jalan inilah, reformasi tanah akan lebih bermakna terhadap perbaikan tingkat kesejahteraan petani. 3. Ketiga, memperluas akses informasi kepada seluruh petani dengan memanfaatkan seluruh saluran dan media informasi yang tersedia untuk membuka kesempatan seluas-luasnya kepada petani dalam menguasai informasi.

4. Keempat; memperkuat kapasitas permodalan financial dalam rangka mengurangi atau bahkan menghapuskan ketergantungan pada pemodal/tengkulak, Land-reform yang diperlukan di Provinsi Gorontalo adalah dalam bentuk optimalisasi pemanfaatan sumberdaya lahan, terutama lahan sawah dan lahan kering untuk tanaman pangan. Kepemilikan dan pengusahaan lahan saat ini masih relatif kecil untuk petani pemilik. Pemilikan yang sempit mengakibatkan tingkat penerimaan petani dari lahan yang diusahakannya sangat kecil dan seringkali tidak mencukupi untuk pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari, terlebih lagi jika untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan dan pendidikan. Akibatnya adalah sebagian besar petani tidak memiliki kemampuan untuk memperoleh pendapatan yang memadai sehingga kondisi mereka tetap berada dalam kemiskinan. Pentingnya pemilikan asset lahan sebagai kekuatan mendasar bagi petani pemilik merupakan keharusan yang cukup mendesak terutama di wilayah kecamatan yang menjadi sentra produksi seperti Patilanggio (Kabupaten Pohuwato), Paguyaman dan Wonosari (Kabupaten Boalemo). Reformasi pertanian dalam bentuk land-reform nampaknya perlu menjadi program strategis demi meningkatkan kapasitas petani dalam meningkatkan produksi dan akhirnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan melalui peningkatan pendapatan. Meskipun pengusahaan dan pemilikan lahan kering untuk komoditas perkebunan masih relatif luas, sebagian pemilik lahan tidak berdaya karena penguasaan komoditas tanaman keras yang berada pada areal yang dimilikinya merupakan milik orang lain. Kejadian tersebut banyak terjadi di Kecamatan Patilanggio, Marisa, Taluditi, dan Paguat di Kabupaten Pohuwato; Paguyaman Pantai, Dulupi, Paguyaman, Mootilanggo, dan Botumoito, di Kabupaten Boalemo; dan hampir di seluruh Kecamatan di Kabupaten Gorontalo dan Gorontalo Utara. Pemilikan dan penguasaan tanaman kelapa yang berbeda dengan kepemilikan lahan disebabkan oleh desakan kebutuhan finansial yang tidak mampu dipenuhi oleh petani pemilik lahan. Hampir sebagian besar masyarakat petani kelapa di Kecamatan Marissa, Patilanggio, dan Dulupi telah menjual tanaman kelapa kepada etnis China sehingga mereka hanya menjadi buruh di lahannya sendiri. Di sisi lain selain pohon kelapa, kelompok etnis China tersebut juga sudah membeli dan menguasai hampir 90 % areal perkebunan kelapa di Patilanggio dan Kecamatan lain di Kabupaten Pohuwato. Kejadian penjualan pohon kelapa pada awalnya hanya dilakukan oleh satu dua orang karena himpitan kebutuhan ekonomi keluarga tetapi semakin meluas sejak tahun 1990an.

Akibat kepemilikan tanaman yang berbeda dengan kepemilikan lahan adalah petani pemilik menjadi tidak berdaya karena tidak dapat menjadi pengelola dan penerima manfaat dari lahan yang dimilikinya. Akibatnya adalah berpengaruh besar pada tingkat pendapatan mereka. Petani pemilik yang telah menjual tanaman kelapa kepada pihak lain yang tidak memiliki lahan pertanian tanaman pangan hanya memperoleh pendapatan dari upah buruh yang mereka terima dari pemilik tanaman. Data dan informasi kuantitatif yang dapat dipercaya mengenai praktek penjualan tanaman kepada pihak lain oleh pemilik lahan tidak tersedia dan cenderung ditutup-tutupi. Disisi lain literatur mengenai praktek tersebut belum tersedia. Kondisi tersebut mungkin karena kekhawatiran akan terjadi konflik yang diakibatkan oleh terganggunya kepentingan pihak pemilik modal. Program redesign bagi pemilikan dan pengelolaan lahan tersebut memerlukan langkah terpadu yang diharapkan melibatkan berbagai stakeholder yang mencakup; Dinas Teknis Terkait; BPN, Pemilik Lahan; dan Pemilik Tanaman. Langkah yang harus ditempuh oleh Pemerintah Provinsi beserta jajarannya untuk mengatasi kemelut tersebut adalah dengan tahapan sebagai berikut: 1. Inventarisasi pola kepemilikan dan luas penguasaan lahan menurut pemilik lahan dan kajian untuk mengatasi manfaat, dampak dan permasalahan yang timbul; 2. Penguatan modal bagi pemilik lahan agar mampu membeli kembali asset yang telah dijualnya. 3. Program pemanfaatan lahan bagi petani dengan tujuan untuk menghilangkan ketergantungan petani kepada pemilik modal. 4. Pelaksanaan need assessment bagi kemungkinan melaksanakan land-reform. 5. Pelaksanaan program land-reform dalam arti yang sesungguhnya, yaitu redistribusi lahan bagi petani miskin dengan kepemilikan lahan dibawah 0,5 ha dan atau petani yang tidak memiliki lahan. Opsi pada program ini dapat dibuat dengan tiga jenis pilihan sesuai dengan kebutuhan dan hasil yang diperoleh dari kesepakatan antara berbagai stakeholder yang dilaksanakan melalui serangkaian diskusi kelompok terfokus menurut masing-masing desa. 3.1. Melihat Kedepan: Perspektif Strategi Reformasi Pertanian

Mewujudkan pembangunan pertanian dan menjadikan sektor pertanian sebagai sektor andalan (leading sector) memerlukan tiga syarat atau tolok ukur mutlak yang harus terpenuhi. Pertama, sektor pertanian harus memberikan dampak ekonomi yang signifikan secara makro

(seperti peningkatan perolehan devisa dan peningkatan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto). Kedua, sektor pertanian dapat memberikan keuntungan secara signifikan terhadap semua pelaku usaha di dalamnya dan mampu meningkatkan kesejahteraan para pelaku pertanian yang pada saat ini masih sangat tertinggal dibandingkan dengan sektor-sektor lain. Ini berarti juga sektor pertanian dapat memberikan pemerataan (equity in equality) kesejahteraan bagi semua pelaku usaha. Ketiga, pembangunan pertanian yang dilaksanakan harus berkesinambungan, tidak hanya secara ekonomi tetapi juga secara ekologis. Agar pemanfaatan sumberdaya pertanian sesuai dengan yang diharapkan, maka langkah pertama yang harus kita lakukan adalah menyatukan kesamaan visi pembangunan pertanian, visi pembangunan pertanian adalah "suatu pembangunan yang dapat memanfaatkan sumberdaya alam beserta ekosistemnya secara optimal bagi kesejahteraan dan kemajuan masyarakat Provinsi Gorontalo, terutama petani, nelayan, peternak, dan petani ikan secara berkelanjutan". Untuk menjawab tantangan tersebut, strategi pembangunan pertanian Provinsi Gorontalo adalah dengan menggalakkan pengembangan kegiatan ekonomi yang berbasis pada potensi pertanian yang didukung oleh keinginan kuat dari pelaku pembangunan pertanian untuk mencapai hasil yang lebih baik dari apa yang selama ini diperoleh. Betapapun terasa berat, namun mengingat tuntutan kebutuhan di masa mendatang, pemerintah harus sudah memberikan perhatian secara maksimal pada aspek pengembangan industri pertanian yang berwawasan masa depan, menggerakkan industri hulu dan hilir dengan menggunakan sumberdaya lokal, penguatan pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat untuk mendukung industri secara terpadu dan melakukan inovasi teknologi sesuai dengan kaidah kelestarian lingkungan. Karena itu, industri pertanian mau tidak mau harus bersifat padat modal, padat teknologi tetapi juga sekaligus padat karya. Pentingnya sifat padat karya, karena dengan karakteristik industri seperti itu terbuka peluang bagi masyarakat untuk mengikuti pemagangan secara leluasa sehingga pada saatnya, segenap elemen industri strategis tersebut seluruhnya dapat dikelola oleh bangsa Indonesia. Disisi lain, sektor pertanian di Indonesia merupakan agregasi dari sistem agribisnis skala kecil yang melibatkan banyak pelaku ekonomi pada berbagai level, sehingga, tentu perlu dikembangkan pula berbagai institusi pertanian baik yang bergerak dalam bidang penelitian, pengembangan, pendidikan, penyuluhan dan sistem diseminasi informasi multiarah.

Guna merangsang minat para pengusaha nasional untuk mau ikut berpartisipasi dalam pengembangan pertanian nasional (sekaligus ekonomi nasional), sudah saatnya format penyelenggaraan pembangunan yang tersentralisir diubah dengan memberikan rangsangan bagi yang mau menanamkan investasi di daerah-daerah terpencil. Bahkan perlu membangun beberapa kawasan di Indonesia Bagian Timur menjadi kawasan Free Bounded Area berbasis sumberdaya pertanian. Namun yang paling fundamental dari semua itu adalah perlu adanya perubahan dalam kultur serta etos hidup masyarakat, agar lebih berorientasi pada dunia pertanian sebab di sinilah letak kunci keberhasilan pembangunan potensi pertanian nasional sebagai wujud dari pembangunan agribisnis terpadu yang mendukung bangkitnya pertanian Provinsi Gorontalo. Untuk itu, diperlukan serangkaian upaya rekayasa sosial secara sistematis dijalankan sebagai bagian esensial dalam strategi pembangunan. Mengingat semua kerangka pemecahan ini bersifat multi aspek dan multi dimensi serta memiliki hubungan interdependensi dengan berbagai aspek pembangunan, maka sudah saatnya Indonesia memiliki satu institusi yang menjalankan fungsi koordinasi terhadap berbagai kegiatan pembangunan di sektor pertanian. Selain perlu kesadaran yang dalam, visi memandang yang tajam dalam menatap masa depan, yang paling diperlukan adalah kemauan politik untuk memecahkan masalah-masalah ini secara fundamental. Kelengahan dalam mengantisipasi tuntutan kebutuhan masa mendatang akan membawa efek berantai bagi pembangunan pada sektor lain, bahkan bagi kelangsungan hidup bangsa dan negara ini. Karenanya sangat tepat bila langkah antisipasi yang kongkrit dapat dimulai dari sekarang agar kita sebagai bangsa tidak akan menyesal di kemudian hari. Pembangunan pertanian di Provinsi Gorontalo yang mengakomodir seluruh sistem agribisnis sudah saatnya dikembangkan berdasarkan konteks pembangunan regional. Produksi produk pangan yang berasal dari serealia, kacang-kacangan, ternak, hasil perkebunan dan produk perikanan harus diorientasikan untuk kebutuhan ekspor selain untuk memenuhi kebutuhan domestik. Orientasi pasar internasional sudah saatnya dikembangkan dan menjadi stimulan bagi produsen. Oleh karena itu, untuk mendukung berhasilnya sistem agribisnis secara utuh sangat penting untuk membangun; (1) penggunaan teknologi produksi yang efisien, tepat guna, ramah lingkungan dan dikuasai oleh petani/peternak/pembudidaya dan nelayan; (2) teknologi penanganan pasca panen on-site; (3) teknologi pengolahan produk primer menjadi produk sekunder dan produk jadi; (4) diseminasi informasi yang didukung oleh sistem informasi dan komunikasi dengan kekuatan sumberdaya inovatif; (5) lembaga diseminasi informasi dan komunikasi

yang didukung oleh kekuatan penyuluh yang memiliki motivasi tinggi dan memiliki latarbelakang teknis; (6) penguatan kelembagaan produksi, pemasaran dan industri hulu; (7) industri hilir yang menghasilkan nilai tambah; (8) penguatan sistem distribusi, transportasi yang didukung oleh kapasitas dan kualitas prasarana; (9) kelembagaan pemerintah sebagai fasilitator, dinamisator, legislator dan pelindung sistem; sehingga seluruhnya menghasilkan sinergi yang secara otomatis menumbuhkembangkan kapasitas dan kapabilitas ekonomi Provinsi Gorontalo. Disisi lain, konsep pemerataan pendapatan dan pertumbuhan ekonomi harus dilaksanakan secara bersama dan konsisten sehingga dimasa depan tidak terjadi lagi kesenjangan ekonomi yang mengakibatkan terpuruknya perekonomian regional. Provinsi Gorontalo yang memiliki keunggulan komparatif dalam bentuk posisi geografis yang berhadapan langsung dengan negara tetangga yang memiliki potensi pasar yang sangat besar harus menjadi leading region. Keunggulan komparatif tersebut dapat dikembangkan dengan membangun sarana dan prasarana yang memadai untuk mengembangkan pasar ekspor bukan hanya untuk Provinsi Gorontalo tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh provinsi tetanganya dan bahkan provinsi lain yang berada jauh secara geografis, misalnya dari Pulau Jawa, Nusatenggara dan Maluku. Jika pembangunan sistem agribisnis berhasil menciptakan Provinsi Gorontalo sebagai center for regional export and marketing, maka secara dramatis akan menghasilkan kekuatan dan daya tarik investasi pada industri lain sebagai dampak berganda. Pentingnya membangun pusat pemasaran dan ekspor untuk komoditas pertanian di Provinsi Gorontalo bertujuan untuk membangkitkan gairah industri primer pertanian yang saat ini sudah mulai pudar. Perhatian pemerintah pusat yang selama ini terkesan hanyut dalam eforia politik, perebutan kekuasaan dan egosentris komoditas maupun egosentris kelompok tidak perlu diikuti oleh Pemerintah dan masyarakat Provinsi Gorontalo sehingga mampu menjadi leading region untuk mendukung sistem agribisnis di Indonesia. Besarnya peluang dan tantangan tersebut dapat dimanfaatkan oleh Provinsi Gorontalo untuk secara cepat merubah peta kekuatan 3.2. Pengelolaan Sumberdaya Pertanian Pengelolaan sumberdaya pertanian dilaksankan dengan visi dasar sebagai berikut; (1) Peningkatan kinerja sumberdaya pertanian dalam upaya mendapatkan devisa negara, (2) Meningkatkan upaya pelestarian ekosistem sumberdaya pertanian (termasuk wilayah

pesisir dan lautan), dan (3) Membuat kebijakan ekonomi (moneter dan fiskal) yang menunjang terlaksananya pembangunan pertanian. Peningkatan kinerja pembangunan sumberdaya pertanian dalam upaya mendapatkan devisa negara. Dalam situasi krisis moneter dan ekonomi seperti saat ini, salah satu visi penting yang sebaiknya diterapkan adalah bagaimana mendapatkan dana segar dalam bentuk mata uang asing (khususnya US dollar) melalui peningkatan kinerja ekonomi beberapa bidang usaha di sektor pertanian. Dari beberapa bidang usaha di sektor pertanian, usaha budidaya merupakan usaha yang sangat potensial dan mampu meraup devisa dalam jangka pendek serta dalam jumlah besar dengan mempertimbangkan sisi penciptaan pendapatan (income generating) baik bagi negara dan pelaku usaha pertanian (kecil maupun besar). Peningkatan upaya pelestarian ekosistem sumberdaya alam. Dalam kaitannya dengan strategi pembangunan pertanian yang berkelanjutan, maka visi penting lainnya adalah menjamin kelestarian ekosistem sumberdaya hutan, lahan, air, pesisir dan lautan. Tanpa visi ini, maka langkah pertama tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Dalam konteks ini, maka pemerintah dan seluruh pelaku pembangunan pertanian harus memiliki visi dan tujuan yang sama dalam rangka melestarikan sumberdaya alam pertanian. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah diterapkannya pengelolaan lingkungan yang ketat dan bijaksana di setiap kegiatan pembangunan. Masing-masing pihak, pemerintah dan pelaku pembangunan, harus menghormati fungsinya masing-masing, dimana pemerintah memberikan kebijakan yang kondusif dalam pengelolaan lingkungan, sedangkan pelaku pembangunan dengan sungguh-sungguh melaksanakan program pengelolaan lingkungan yang disarankan. Menetapkan kebijakan ekonomi (moneter dan fiskal) yang menunjang terlaksananya pembangunan pertanian Mengingat kebijakan ekonomi dan politik dapat mempengaruhi terlaksananya visi pertama dan kedua. Seperti yang telah dijelaskan di atas, salah satu kendala pembangunan pertanian antara lain adalah tingginya biaya investasi bagi beberapa kegiatan ekonomi di sektor pertanian. Untuk itu diperlukan mekanisme insentif ekonomi dan moneter yang mendorong tumbuhnya pembangunan sektor pertanian. Menurut pengertian ekonomi, insentif berarti rangsangan yang diberikan Pemerintah kepada investor atau pengusaha agar mau menanamkan modalnya di kawasan tertentu atau bekerja lebih keras lagi. Untuk memacu peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan dan petani ikan, maka pemerintah sudah sewajarnya memberikan perlakuan khusus secara ekonomis kepada pembangunan pertanian mulai dari aspek perencanaan

sampai pada pemanfaatan sumberdaya pertanian yang optimal. Pada konteks ini, variabel penyediaan infrastruktur yang memadai adalah salah satu solusinya. Infrastruktur merupakan penyediaan fasilitas atau pelayanan Pemerintah kepada masyarakat dalam skala besar seperti pengadaan air bersih, jalan raya, kereta api, sistem penerbangan, telepon, teleks, komunikasi radio, pelabuhan, darmaga, fasilitas pendidikan dan lain-lain. Semua pelayanan kepada masyarakat tersebut dipergunakan untuk mendukung aktifitas perekonomian terutama dalam sektor pertanian. Dalam kondisi yang demikian diperlukan modal yang besar dan biasanya dilaksanakan oleh Pemerintah. Berbagai insentif investasi yang diidentifikasi untuk merangsang kegiatan ekonomi di sektor pertanian, antara lain meliputi: (1)Program sertifikasi lahan bagi petani, peternak, nelayan dan pembudidaya ikan untuk mempersiapkan peningkatan kapasitas pemupukan modalmandiri. (2)Insentif akses kredit bagi petani, peternak, nelayan dan pembudidaya ikan (3)Insentif untuk pengusaha/investor yang menanamkan modalnya di Provinsi Gorontalo; (4)Insentif dalam proses penyederhanaan administarsi dan perizinan investasi dengan cara, misalnya memberikan sistem pelayanan terpadu di PEMKAB/PEMKOT yang semakin kondusif dengan adanya undang-undang otonomi daerah; (5)Insentif berupa adanya kompensasi kerugian bagi usaha pertanian, peternakan, perkebunan dan perikanan rakyat yang terkena dampak beroperasinya pengusaha besar di wilayah sentra produksi pertanian, perikanan, peternakan dan perkebunan rakyat sekala kecil; (6)Keringanan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan sampai lima tahun bagi pengusaha besar yang mematuhi kaidah pelestarian lingkungan dan membangun kemitraan penuh serta memberikan manfaat positif bagi masyarakat sekitar; (7)Insentif penangguhan bea masuk dan bea masuk tambahan untuk barang-barang modal yang terkait dengan produksi sektor pertanian; (8)Insentif pada Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah serta Pajak Penghasilan Pasal 22, misalnya untuk penggalakan ekspor non migas, fasilitas perpajakan di bidang PPN dan Ppn BM berupa pajak yang terutang tidak dipungut dan penangguhan pembayaran PPN untuk impor barang modal serta peralatan mesin yang akan digunakan untuk kegiatan menghasilkan barang ekspor, seperti komoditi pertanian; (9) Perlunya identifikasi terhadap insentif khusus bagi SDM yang berkualitas, misalnya melalui land grant university di beberapa

pusat-pusat pembangunan pertanian, berupa pemberian hak mengelola sumberdaya alam pada pihak universitas, antara lain dapat berupa pemberian Hak Pengusahaan Pertanian kepada masyarakat lokal; (10)Insentif suku bunga perkreditan bagi investor, misalnya suku bunga pinjaman yang dipatok untuk kredit investasi di sektor pertanian, yang biasanya tingkat bunga rata-rata berkisar 21-23% menjadi sekitar 4%; (11)Insentif tax holiday, misalnya dikenakan pada usaha-usaha pertanian yang umumnya mempunyai jangka waktu tanam yang lama dan bersifat slow yielding (tidak cepat menghasilkan) dan penuh tingkat resiko dan ketidakpastian yang tinggi. 3.1. Rekomendasi Umum Agenda Reformasi Pertanian Bagi Pembangunan IPM Provinsi Gorontalo Bertitik tolak pada potensi sector pertanian tanaman pangan, perikanan, peternakan dan perkebunan secara umum di Provinsi Gorontalo, arah dan sasaran pembangunan pertanian, permasalahan dan kendala visi dan misi pembangunan pertanian seperti yang telah diuraikan di atas, maka untuk meningkatkan IPM pada 15 Kecamatan terpilih diusulkan agenda pembangunan pertanian Provinsi Gorontalo 2009 - 2014 sebagai berikut: (1) Pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat. Arah kebijakan pada aspek ini adalah menjadikan masayarakat sebagai subjek dan pelaku pembangunan pertanian. Keterlibatan masyaarakat bukan hanya sebagai olbjek peningkatan produksi dan penggerak roda ekonomi pada level terendah tetapi juga menjadikannya sebagai penggerak utama pada berbagai level sistem agribisnis. (2) Pemberian insentif bagi masyarakat yang mengelola sumberdaya dengan baik yang dapat dijadikan modal usaha dalam kegiatannya mengembangkan usahanya. Pemberian insentif yang termudah adalah dengan membentuk sumberdaya inovasi melalui seleksi dan peresmian inovator tingkat kecamatan. Inovator tingkat kecamatan bertugas untuk mendamingi dan memfasilitasi penyuluh, membagi keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki dan membangun semangat petani dalam meningkatkan kinerja usaha pertanian. (3) Reformasi kepemilikan lahan. Sebagai upaya untuk menyiapkan kemampuan masyarakat dalam memupuk modal dan mengembangkan sumberdaya yang dimiliki. Arah kebijakan reformasi kepemilikan lahan dititikberatkan pada redistribusi lahan sebagai opsi pertama. Opsi kedua (yang paling reliable) adalah distribusi lahan yang tidak diusahakan kepada petani kecil (yang tidak memiliki lahan dan yang memiliki lahan yang luasnya kurang dari satu pantango)

(4) Pengembangan industri hilir untuk komoditas pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan, dan peternakan dengan tujuan untuk meningkatkan nilai tambah dan mengurangi pengangguran secara dramatis. (5) Menyediakan sistem agribiisnis terpadu yang memiliki sistem pengelolaan profesional dengan mereformasi kelembagaan pertanian. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah membangun kelembagaan pertanian terpadu (misalnya Agribusiness Management Board) yang pada akhirnya akan melebur seluruh sistem pelayanan agribisnis yang bersifat sector-ego-centric menjadi sebuah wadah yang melayani seluruh sistem. (6) Pembatasan armada penangkapan skala kecil pada perairan pesisir. Pembatasan armada penangkapan tersebut untuk menghindari menurunnya produktivitas nelayan dan menghindari overeksploitasi sumberdaya perikanan pesisir. Arah kebijakannya adalah dengan mengembangkan perikanan tangkap skala kecil dan menengah secara terpadu dengan teknologi penangkapan yang lebih baik, sarana tangkap yang mampu mencapai fishing ground yang lebih jauh dan alat tangkap yang ramah lingkungan dilengkapi dengan (7) Penambahan armada penangkapan yang ramah lingkungan, utamanya untuk pemanfaatan sumberdaya pertanian di perairan ZEEI terutama di Laut Sulawesi. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi agar sumberdaya pertanian di perairan ZEEI tidak dieksploitasi oleh nelayan asing dan mengurangi tekanan terhadap sumberdaya pesisir Teluk Tomini dan sepanjang pesisir Kabupaten Gorontalo Utara. (8) Rasionalisasi dengan menggalakkan program transmigrasi nelayan dari kawasan yang produktivitas perairannya sudah jenuh ke kawasan dengan perairan yang produktivitasnya masih tinggi. Rasionalisasi tersebut harus disertai dengan pemberian insentif untuk meningkatkan produktivitas nelayan. Upaya yang telah dilakukan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Boalemo harus disambut dengan dikembangkannya program transmigrasi nelayan. (9) Pengawasan terhadap sumberdaya perikanan laut, baik melalui patroli laut maupun intensifikasi pemanfaatan sumberdaya pertanian oleh kapal pertanian nasional. Pengawasan perairan perlu dilakukan, dengan harapan adanya pengawasan perairan ini, maka keamanan perairan dari kegiatan penangkapan maupun kegiatan lain yang merugikan dan mengancam potensi yang ada di perairan Indonesia dapat diketahui dan diantisipasi dengan segera. Pengawasan perairan ini harus dibarengi pula dengan upaya penegakan hukum, artinya jika ada nelayan yang melakukan pelanggaran harus diproses secara hukum sehingga

mereka menjadi jera dan tidak mengulangi lagi melakukan kegiatan penangkapan yang melanggar hukum. (10) Penyuluhan dan peningkatan ketrampilan petani, peternak, nelayan, petani ikan dan masyarakat secara umum. Penyuluhan dan peningkatan ketrampilan ini bertujuan agar petani, peternak, nelayan, petani ikan dan masyarakat mau mengadopsi teknologi yang lebih maju dan meningkatkan kemampuan teknis mereka (misalnya dalam mengembangkan benih/bibit hibrida baru, menjalankan armada penangkapan, pemeliharaan dan perbaikan mesin). Jadi penyuluhan dan peningkatan ketrampilan nelayan, petani ikan dan masyarakat sangat diperlukan dalam rangka peningkatan kemampuan terutama dalam operasi kegiatan usahanya. Dalam penyuluhan ini perlu juga disampaikan tentang pentingnya menjaga kelestarian sumberdaya. Lembaga yang melayani haruslah badan penyuluhan pertanian terpadu yang hadir di setiap level wilayah admisnistraitf. Penyuluhan yang bersifat sektoral dan kaku harus dihapuskan dan diganti sepenuhnya oleh sistem pelayanan penyuluhan terpadu. (11) Pembangunan desa terpencil, desa pesisir dan pulau-pulau kecil yang tertinggal. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kemiskinan masyarakat pada daerah terpencil, daerah pesisir dan pemanfaatan potensi sumberdaya pertanian yang dimiliki oleh masing-masing wilayah secara optimal. (12) Meningkatkan kualitas sumberdaya pertanian pelaku pembangunan pertanian mulai dari tingkat petani, nelayan dan peternak sampai pada pengambil dan penentu kebijakan pembangunan pertanian pada tingkat Bupati dan Gubernur. (13) Penyusunan sistem informasi dan data pertanian yang efektif dan efisien, yang meliputi perangkat sistem informasi terpadu seperti software, hardware dan kelembagaan. Seluruh data dan informasi yang telah diperoleh perlu disusun dalam suatu sistem pengumpulan, pengolahan dan pengelolaan data yang dilanjutkan oleh sistem komunikasi dan diseminasi informasi yang efektif dan efisien dengan menggunakan perangkat yang telah disusun sehingga memudahkan untuk diakses oleh setiap pelaku pembangunan pertanian yang membutuhkannya. (14) Peningkatan kinerja industri pengolahan berbasis sumberdaya pertanian, sehingga mampu menghasilkan produk-produk yang berkualitas dan berdaya saing baik pada pasaran lokal maupun ekspor. (15) Penguatan dan pengembangan pemasaran produk. Penguatan dan pengembangan pasar produk bertujuan untuk penguatan posisi tawar produsen dan perluasan pasar. Cara yang dapat ditempuh yaitu melalui kerjasama dengan koperasi, swasta dan promosi (mengikuti kegiatan pameran dan lain-lain).

(16) Pengadaan modal kerja/kredit dengan persyaratan yang mudah dan bunga ringan untuk membantu permodalan karena sebagian besar petani, peternak, nelayan dan petani ikan berada dalam kekurangan modal untuk mengembangkan usahanya. (17) Pengembangan kelembagaan agribisnis dalam bentuk badan usaha milik rakyat yang sesuai dengan potensi dan karakteristik usaha dalam upaya peningkatan dan pengembangan kegiatan usaha. (18) Penggalian, pengembangan, penerapan teknologi dan rekayasa pertanian yang tepat dan berwawasan lingkungan, baik untuk kegiatan eksplorasi, produksi dan eksploitasi sumberdaya pertanian maupun teknologi produksi. (19) Penetapan zonasi atau peta operasional untuk setiap system usaha pertanian berdasarkan kemampuan operasi (pertanian rakyat dan industri), yang dilengkapi pula dengan aspek hukumnya, termasuk pengaturan dan sanksi. (20) Pembangunan prasarana dan sarana pertanian seperti jalan, pasar, sentra pergudangan, pelabuhan, tempat pendaratan ikan yang dilengkapi dengan sarana penunjang. 3.1. Rekomendasi Implementasi Agenda Reformasi Untuk Peningkatan IPM Peningkatan nilai IPM merupakan suatu proses yang terintegrasi dan bukan hanya kegiatan yang bersifat sektoral yang berjalan secara sendiri-sendiri. Sektor pertanian dalam arti luas sebagai sektor yang menggerakkan ekonomi masih dipercaya untuk memberikan kontribusinya dalam meningkatkan pendapatan masyarakat yang selanjutnya akan meningkatkan daya beli. Sebagai sektor andalan, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memperbaiki sektor pertanian dari segala sisi. Upaya memperbaiki pendapatan harus dimulai dengan membangun pertanian secara utuh sebagai suatu sistem agribisnis yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, lembaga riset dan pengembangan, perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat. Upaya membangun sistem agribisnis terpadu secara utuh telah dimulai oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo dengan agenda utama yang menjadi Provinsi Gorontalo sebagai Provinsi Agropolitan. Untuk melengkapi agenda tersebut diperlukan perbaikan pada berbagai aspek yang dituangkan dalam rekomendasi kebijakan, program dan kegiatan yang akan diintegrasikan dengan program yang sudah disusun oleh Provinsi Gorontalo seperti dituangkan dalam RPJM. Dengan diintegrasikannya program yang diusulkan ke dalam RPJM Provinsi Gorontalo diharapkan akan meningkatkan nilai IPM Provinsi Gorontalo seperti telah ditetapkan.

Tema sentral Reformasi Pertanian di Provinsi Gorontalo adalah: Membangun Agribisnis Terpadu Melalui Pengelolaan Sumberdaya, Penguatan Modal Masyarakat dan Penguatan Kelembagaan. Tema tersebut selanjutnya dijabarkan dalam tiga program utama seperti terlihat dalam Box 1.
Subprorgam 1.2: Memperbaiki Kembali & Penciptaan Kapasitas Subprogram 1.1: Peningkatandan Membangun Kembali 3.3: 3.2: Meningkatkan Kapasitas 3.1: PembentukanKondisi Sumberdaya 2.4: Penguatan 2.3: RevitalisasiKoordinasi Menguatkan 2.1: Membangun Pengelolaan Sistem 1.3: Pengorganisasian Peresmian Sistem 3.4: dan dan PROGRAM 1:2.2:Perencanaan Kapasitas Seluruh Dinas/ 2: 3: Pelayanan Terpadu Informasi Masyarakat Lembaga/Instansi Instansi Pemerintah Perkebunan INSTITUSI Pendapatan Masyarakat Permodalan Rakyat Penyiapan Penyuluhan Alam untuk meningkatkan produktivitas dan Box 1 Masyarakat Agribisnis AgribisnisAMB PEMBERDAYAAN REFORMASIBagi Pemerintah PEMBANGUNAN Masyarakat kesejahteraan dalam jangka panjang MASYARAKAT MELALUI DAN CAPACITY SISTEM PENGELOLAAN

KEWIRAUSAHAAN BUILDING AGRIBISNIS TERPADU

Implementasi Agenda Reformasi Pertanian

Rekomendasi yang telah disusun untuk reformasi pertanian mencakup tiga program utama yaitu; a) Pembangunan Sistem Pengelolaan Agribisnis Terpadu b) Pemberdayaan Masyarakat Melalui Kewirausahaan c) Reformasi Institusi Dan Capacity Building Program Pembangunan Sistem Pengelolaan Agribisnis Terpadu dijabarkan dalam tiga sub program yaitu Perencanaan Pengelolaan Sistem Agribisnis Terpadu, Peningkatan Kapasitas Masyarakat Agribisnis, dan Memperbaiki Kondisi Sumberdaya Alam untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan dalam jangka panjang Program Pemberdayaan Masyarakat Melalui Kewirausahaan dijabarkan dalam empat subprogram yaitu; Pengorganisasian dan Penyiapan Masyarakat, Meningkatkan Kapasitas Permodalan Bagi Masyarakat,

Membangun Kapasitas Penciptaan Revitalisasi Perkebunan Rakyat

Pendapatan

Masyarakat

dan

Program Reformasi Institusi Dan Capacity Building mencakup empat sub-program sebagai berikut; Membangun Kembali & Menguatkan Kapasitas Instansi Pemerintah; Penguatan Koordinasi Seluruh Dinas/ Lembaga/Instansi Pemerintah; Pembentukan dan Peresmian Sistem Informasi AMB; dan Revitalisasi dan Membangun Kembali Pelayanan Penyuluhan. Seluruh program dan kegiatan yang diusulkan dalam laporan pembangunan manusia ini merupakan hasil kajian komprehensif yang melibatkan semua stakeholder di tingkat Nasional, Provinsi dan beberapa kecamatan terpilih. Telah disepakati pada stakeholder workshop di Provinsi Gorontalo bahwa seluruh usulan yang dibuat akan merupakan terms of reference bagi penyusunan perencanaan pembangunan partisipatif dan menjadi usulan dalam Musrenbang tinkat Kabupaten dan Provinsi untuk perencanaan pembangunan tahun anggaran 2009. 3.14.1. Program Pembangunan Sistem Pengelolaan Agribisnis Terpadu 3.14.1.1.Perencanaan Pengelolaan Sistem Agribisnis Terpadu Terdapat 10 kegiatan yang diusulkan sebagai bagian dari perencanaan pengelolaan sistem agribisnis terpadu sebagai berikut: (1) Kampanye, informasi dan edukasi pembangunan sistem agribisnis terpadu dan berkelanjutan; (2) Penyusunan Kerangka Kerja Pengelolaan Sistem Agribisnis Terpadu; (3) Kajian Komprehensif daya dukung sumberdaya alam dan lingkungan untuk membangun sistem agribisnis terpadu dan berkelanjutan; (4) Membangun sistem informasi agribisnis terpadu; (5) Pencanangan SIM dan SIG Sumberdaya Agribisnis; (6) Menyusun Perencanaan Tata Ruang Agribisnis Terpadu; (7) Membangun perencanaan Industri Hilir Bagi Sistem Agribisnis Terpadu dan berkelanjutan; (8) Promosi dan Pemasaran Sistem Agribisnis Provinsi Gorontalo; (9) Membangun prasarana dan sarana pendukung untuk menunjang kegiatan GIAD dilengkapi dengan sarana yang diperlukan; dan (10) Membangun Prasarana Transportasi untuk memperlancar sistem pengangkutan dan menurunkan biaya transportasi 1. Kampanye, informasi dan edukasi pembangunan sistem agribisnis terpadu dan berkelanjutan/ Integrated sustainable agribusiness development system campaign, information and education

Dasar pertimbangan:

Tujuan: Sasaran:

Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi:

Untuk mendukung pembangunan sistem agribisnis terpadu yang selama ini telah dikembangkan melalui agropolitan jagung, yang mencakup industri hulu dan hilir dan melibatkan seluruh stakeholder diperlukan tatanan komprehensif yang akan menjadi kekuatan untuk meraih seluruh peluang yang ada dengan megatasi hambatan dan kelemahan yang dimiliki. Saat ini dasar pembangunan agribisnis telah secara massive dikembangkan dan merata di seluruh wilayah provinsi, namun demikian masih diperlukan kemudahan untuk membangun pengembangan investasi hulu dan hilir dengan tetap memperhatikan; (a) daya dukung sumberdaya (lahan, air, hutan, laut), (b) kaidah kelestarian lingkungan, (c) keseimbangan ekologi dan (d) pemerataan pendapatan bagi pelaku usaha. Untuk mencapai keberlanjutan dan peningkatan pendapatan seluruh pelaku agribisnis diperlukan dukungan dan sinergi dari seluruh stakeholder. Untuk memperoleh dukungan dan sinergi diperlukan kampanye yang intensif melalui berbagai workshop, edukasi terpadu, diseminasi informasi dan pameran. Memperoleh dukungan dan sinergi dari seluruh stakeholder Seluruh stakeholder terutama pelaku usaha agribisnis, calon investor, investor, pemerhati lingkungan, LSM, Perguruan tinggi, dan pejabat pemerintah Timbulnya pemahaman yang mendalam dan komprehensif mengenai sistem agribisnis terpadu dan berkelanjutan Information, Education, and Campaign Seluruh Wilayah Provinsi, Workshop pameran dilaksanakan di Ibukota Provinsi dan

2. Penyusunan Kerangka Kerja Pengelolaan Sistem Agribisnis Terpadu/Framework Formulation on Integrated Agribusiness System Dasar Untuk membangun sistem agribisnis terpadu

pertimbangan:

Tujuan: Sasaran: Keluaran;

Bentuk Kegiatan; Lokasi:

dan berkelanjutan diperlukan kerangka kerja yang dapat mengakomodir kepentingan seluruh stakeholder, memberikan kemudahan kepada seluruh pelaku agribisnis, pembagian tugas dan pembagian segmen usaha dan industri, pembangunan kesepakatan dan penyiapan kemitraan Menyiapkan lahndasan yang kokoh bagi sistem pengelolaan agribisnis berbasis sumberdaya, wilayah dan masyarakat Pelaku usaha masyarakat, investor yang telah beroperasi, calon investor, pejabat pemerintah Terbangunnya kerangka kerja yang bersifat komprehensif, mengikat dan memiliki landasan hukum yang mencakup; (1) acuan investasi; (2) syarat-syarat dan mekanisme kerja; (3) Prosedur dan proses investasi; (4) Hubungan antar stakeholder; (5) Desain kajian pengembangan; (6) penyiapan sistem Workshop, meeting and extension Kota Gorontalo

3. Kajian Komprehensif daya dukung sumberdaya alam dan lingkungan untuk membangun sistem agribisnis terpadu dan berkelanjutan/Integrated Sustainable Agribusiness Development Resource and Environment Capacity Assessment Dasar pertimbangan: Setelah memperoleh pemahaman, dukungan dan kesepakatan stakeholder diperlukan informasi dan data yang komprehensif dan akurat mengenai daya dukung dan kondisi sumberdaya dan lingkungan untuk mempersiapkan investasi yang sesuai dengan mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarkat, kebutuhan sumberdaya pendukung, kebutuhan dan kepentingan masyarakat yang berada di lokasi pengembangan dan kesesuaian dengan pasokan sumberdaya yang tersedia. Adanya dampak gobal climate change akan menjadi salahsatu pertimbangan pokok dalam pengembangan agribisnis karena kegiatan agribisnis sangat tergantung pada kondisi iklim mikro dan iklim makro Memperoleh gambaran yang komprehensif dan

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi:

mudah digunakan untuk pengambilan keputusan, baik oleh masyarakat, calon investor maupun pemerintah. Memperoleh gambaran mengenai antisipasi dampak global climate change terhadap keberhasilan agribisnis. Mempersiapkan dan membekali seluruh pelaku usaha dalam menyesuaikan usahanya dengan perubahan iklim global Seluruh stakeholder terutama pelaku usaha agribisnis, calon investor, investor, pemerhati lingkungan, LSM, Perguruan tinggi, dan pejabat pemerintah. Sasaran wilayah adalah wilayah potensial untuk dikembangkan yang memiliki sumberdaya dan daya dukung lingkungan yang diperkirakan sesuai. Dokumen perencanaan sistem agribisnis tepadu Resource Assessment, Socioeconomic Assessment, Report preparation, Documenting Result, Information dissemination, Socialization workshop Kajian dilaksanakan di Seluruh Wilayah Provinsi, Workshop dilaksanakan di Ibukota Kabupaten dan Ibukota Provinsi

4. Membangun sistem informasi agribisnis terpadu/Develop an integrated agribusiness information system Dasar pertimbangan: Ketersediaan data dan informasi mengenai kondisi sumberdaya, SDM, sosial ekonomi dan berbagai data dan informasi pendukung lainnya sangat terbatas dan sulit untuk diperoleh. Oleh karena itu diperlukan sebuah sistem informasi yang mudah diakses dan mudah dimanfaatkan oleh semua pihak yang memerlukan untuk berbagai keperluan yang ditujukan bagi pembangunan agribisnis Provinsi Gorontalo Menyediakan sistem informasi dan database yang dikelola dengan baik dan berkelanjutan serta bersifat online sehingga mempermudah dan mempercepat pengambilan keputusan Seluruh stakeholder terutama pelaku usaha agribisnis, calon investor, investor, pemerhati lingkungan, LSM, Perguruan tinggi, dan pejabat pemerintah. Sistem informasi sumberdaya (alam, manusia,

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran;

Bentuk Kegiatan;

Lokasi:

sosial dan ekonomi) online dalam bentuk MIS dan GIS yang dapat diakses oleh semua stakeholder terutama pengambil keputusan dan penentu kebijakan Penyedian sarana berupa; (1) 90 unit PC (komputer) lengkap dengan software dan SDM untuk ditempatkan di setiap badan pengelola agribisnis pada level kecamatan, kabupaten dan provinsi; (2) Melaksanakan pelatihan terpadu dan berkelanjutan bagi pengelola MIS dan GIS Kota Gorontalo

5. Pencanangan SIM dan SIG Sumberdaya Agribisnis/Establish Agribusiness Resources MIS and GIS Dasar pertimbangan: Selama ini perencanaan pembangunan berbasis sumberdaya sulit dilakukan karena perbedaan kepentingan sektoral dan kesulitan memadukan perencanaan karena perbedaan visi dan misi masing-masing stakeholders. Menyediakan sistem informasi dan database yang dikelola dengan baik dan berkelanjutan serta bersifat online sehingga mempermudah dan mempercepat pengambilan keputusan Peningkatan kualitas perencanaan agribisnis berbasis sumberdaya untuk menghindari kemungkinan salah sasaran dan tumpangtindih antar sub-sektor dan pertentangan pemanfaatan sumberdaya. Sistem informasi sumberdaya (alam, manusia, sosial dan ekonomi) online yang dapat diakses oleh semua stakeholder terutama pengambil keputusan dan penentu kebijakan Workshop, meeting and extension Kota Gorontalo

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran;

Bentuk Kegiatan; Lokasi:

6. Menyusun Perencanaan Tata Ruang Agribisnis Terpadu/Develop Integrated Aribusiness Spatial Plan Dasar pertimbangan: Pemerintah provinsi Gorontalo (BAPPEDA) beserta seluruh BAPPEDA Kabupaten telah memiliki perencanaan tata ruang, namun belum mengakomodir kepentingan alokasi sumberdaya dan pemanfaatannya

Tujuan:

Sasaran: Keluaran;

Bentuk Kegiatan; Lokasi:

pengembangan agribisnis terpadu berbasis sumberdaya lokal Menyediakan dokumen perencanaan spatial yang bersifat komprehensif dan mengakomodir semua kepentingan stakeholder dalam pemanfaatan ruang wilayah agribisnis. Sifat keterpaduan dicerminkan oleh metode perencanaan spatial yang bersifat partisipatif dengan melibatkan semua unsur stakeholder. mempermudah proses perencanaan di tingkat yang lebih detail, misalnya kecamatan dan desa sebagai satuan analisis Dokumen dan sistem informasi mengenai kebijakan pemanfaatan sumberdaya yang tercakup dalam penataan ruang wilayah agribisnis Spatial Assessment, Socioeconomic Assessment, Report preparation, Documenting Result, Information dissemination, Socialization workshop Kota Gorontalo

7. Membangun perencanaan Industri Hilir Bagi Sistem Agribisnis Terpadu dan berkelanjutan/ Develop Downstream Industry to Support Integrated Sustainable Agribusiness Dasar pertimbangan: Sebagai tindak lanjut dari Pembangunan industri agribisnis terpadu dibutuhkan industri hilir sebagai upaya untuk memacu produktivitas pelaku usaha industri pimer dan meningkatkan nilai tambah bagi peningkatan kapasitas ekonomi lokal Tersedianya dokumen komprehensif mengenai rencana pembangunan industri hilir sistem agribisnis yang memuat sistem komoditas, komoditas unggulan yang tersedia, prospek pengembangan insdutri hilir, ketersediaan bahan baku, ketersediaan SDM, ketersediaan sarana dan prasarana pendukung, lembaga keuangan, daya listrik, dll. Calon investor bagi industri hilir komoditas unggulan Dokumen Prospek Industri Hilir Provinsi Gorontalo (1) Integrated business development plan, dan

Tujuan:

Sasaran: Keluaran; Bentuk

Kegiatan; Lokasi:

(2) Business opportunities in Gorontalo Kota Gorontalo

8. Promosi dan Pemasaran Sistem Agribisnis Provinsi Gorontalo/Promoting and marketing the Gorontalo Integrated Agribusiness Development (GIAD) Dasar pertimbangan: Untuk memperkenalkan Provinsi Gorontalo beserta potensi dan keunggulannya di dunia bisnis perlu promosi dan pemasaran prospek bisnis di Provinsi Gorontalo yang ditujukan bagi peningkatan daya saing, nilai tambah dan pertumbuhan ekonomi lokal yang dibangun oleh kekuatan lokal. Membangun brand image Provinsi Gorontalo sebagai wilayah yang memiliki keunggulan komparatif dan potensi pengembangan industri berbasis pertanian dalam arti luas Investor lokal, nasional, dan investor asing yang memiliki inovasi teknologi, mampu mengembangkan bisnis ramah lingkungan, meningkatkan nilai tambah ekonomi Provinsi Gorontalo, menyerap tenaga kerja yang tersedia, dan memperhatikan kaidah-kaidah yang berlaku di masyarakat. Terbangunnya brand image Provinsi Gorontalo sebagai wilayah yang memiliki keunggulan komparatif dan potensi pengembangan industri berbasis pertanian dalam arti luas Pameran bertaraf internasional, workshop, seminar, roadshow, penerbitan booklet, leaflet, brosur untuk disebarkan kepada pelaku usaha (Calon investor). Kota Gorontalo, Seluruh Kabupaten di Provinsi Gorontalo, Kota-kota besar utama dan tempat lain yang secara teknis dan ekonomis layak untuk dilaksanakan

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran;

Bentuk Kegiatan; Lokasi:

9. Membangun prasarana dan sarana pendukung untuk menunjang kegiatan GIAD dilengkapi dengan sarana yang diperlukan Dasar Membangun sistem baru bagi pengembangan pertimbangan: agribisnis memerlukan proses promosi yang berkelanjutan. Oleh karena itu diperlukan prasarna pendukung yang memadai untuk menampung seluruh kegiatan tersebut. Selain pembangunan prasarana yang dilengkapi

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran;

Bentuk Kegiatan; Lokasi:

dengan sarana, perlengkapan dan peralatan, juga diperlukan sumberdaya manusia yang direkruit dari tenaga profesional yang berpengalaman dan memiliki jiwa inovatif dan progresif dalam memasarkan potensi dan peluang bisnis di Provinsi Gorontalo ke seluruh dunia. Kegiatan promosi itu sendiri akan dilaksanakan oleh lembaga baru yang merupakan pengelola sistem GIAD yang berbentuk Agribusiness Management Board. Menyediakan kemudahan bagi terselenggaranya kegiatan promosi dan menarik investasi baru di bidang industri hilir pertanian Investor lokal, nasional, dan investor asing yang memiliki inovasi teknologi, mampu mengembangkan bisnis ramah lingkungan, meningkatkan nilai tambah ekonomi Provinsi Gorontalo, menyerap tenaga kerja yang tersedia, dan memperhatikan kaidah-kaidah yang berlaku di masyarakat. Meningkatnya daya tarik bagi pengembangan peluangbisnis dan masuknya investor lokal, nasional, dan investor asing yang memiliki inovasi teknologi, mampu mengembangkan bisnis ramah lingkungan, meningkatkan nilai tambah ekonomi Provinsi Gorontalo, menyerap tenaga kerja yang tersedia, dan memperhatikan kaidah-kaidah yang berlaku di masyarakat. Pembangunan prasarana gedung kantor pusat GIAD di Ibukota Provinsi (Kota Gorontalo) dan di masing-masing ibukota kabupaten Kota Gorontalo dan Masing-masing Ibukota Kabupaten

10. Membangun Prasarana Transportasi untuk memperlancar sistem pengangkutan dan menurunkan biaya transportasi. Kegiatan ini merupakan bagian dari program yang juga dilakukan oleh sektor pendidikan dan kesehatan sehingga merupakan salahsatu solusi untuk mengatasi cross-cutting issues pada ketiga sektor. Dasar pertimbangan: Kondisi jalan kolektor dan jalan usahatani belum seluruhnya memadai untuk proses pengangkutan dari dan ke pusat produksi dan pusat pemasaran. Terdapat jalan kolektor

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran;

Bentuk Kegiatan; Lokasi:

sepanjang 39,5km dan jalan usahatani (farm road) sepanjang (169,8km) yang tersebar di kecamatan; Patilanggio, Paguat , Taluditi, Wonosari, Botumoito, Tolinggula, Anggrek, Kwandang, Atinggola, Tapa, Telaga Biru, Tibawa, Mootilanggo, Pulubala, dan Boliyohuto Dalam kondisi rusak ringan sampai dengan rusak berat. Oleh karena itu sangat diperlukan peningkatan kondisi jalan pada ruas yang sangat berhubungan dengan sentra produksi. Meningkatkan/merehabilitas jalan kolektor di kecamatan Patilanggio, Paguat , Taluditi, Wonosari, Botumoito, Tolinggula, Anggrek, Kwandang, Atinggola, Tapa, Telaga Biru, Tibawa, Mootilanggo, Pulubala, dan Boliyohuto (1) Kab. Pohuwato; Patilanggio (kolektor 5000m; farm road; 25000m), Paguat (kolektor; 2000m; farm road; 5000m, Taluditi (kolektor 2000m; farm road; 15000m), (2) Kab Boalemo; Wonosari (kolektor 12000m; farm road; 35000m), Botumoito (kolektor 2000m; farm road; 15000m), (3) Kab GORUT; Tolinggula (kolektor 2000m; farm road; 2500m), Anggrek (kolektor 1500m; farm road; 15000m), Kwandang (kolektor 2000m; farm road; 15000m), Atinggola (kolektor 2000m; farm road; 10000m), (4) Kab Bone-Bolango; Tapa ( farm road; 7500m), (5) Kab Gorontalo; Telaga Biru (kolektor 5000m; farm road; 15000m), Tibawa (farm road; 5000m), Mootilanggo (kolektor 1000m; farm road; 1500m), Pulubala(kolektor 1000m; farm road; 5000m), dan Boliyohuto (kolektor 2000m; farm road; 3300m). (1) Meningkatnya kualitas jalan kolektor sepanjang 39,5km dan jalan usahatani (farm road) sepanjang 169,8km; (2) Meningkatnya kelancaran arus pengangkutan Perbaikan dan atau peningkatan ruas jalan tersebut Patilanggio, Paguat , Taluditi, Wonosari, Botumoito, Tolinggula, Anggrek, Kwandang, Atinggola, Tapa, Telaga Biru, Tibawa, Mootilanggo, Pulubala, dan Boliyohuto

3.14.1.1.Peningkatan Kapasitas Masyarakat Agribisnis, Diusulkan rekomendasi kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat agribisnis dengan fokus kegiatan pada beberapa aspek yang menyangkut capacity building. Luasnya cakupan kegiatan menjadikan sub-program ini dilakukan dengan skala yang lebih luas. Uraian kegiatan yang diusulkan meliputi dua kegiatan pokok yaitu; (1) Membangun Sistem Agribisnis Terpadu oleh Masyarakat melalui peningkatan produktivitas sumberdaya pertanian; dan (2) Penguatan Perencanaan, koordinasi dan penegakan sistem Pengelolaan Agribisnis Terpadu Berbasis Masyarakat/Strengthening Community Planning, Coordination and Enforcement of Community-based integrated agribusiness development. Kegiatan pokok (1) diuraikan menjadi empat kegiatan yang terdiri dari (1.a) Sosialisasi program kepada kelompok tani terpadu yang sudah terbentuk; (1.b) Menyediakan faktor produksi pertanian tanaman pangan untuk wilayah yang tidak terlayani dengan baik dalam penyediaan faktor produksi oleh swasta dan daerah yang pengadaan faktor produksinya dikuasai oleh tengkulak; (1.c). Pendidikan manajemen keuangan keluarga bagi petani; dan (1.d) Pengadan dukungan logistik bagi kegiatan 1.b dan 1.c./Provision of Logistical Support (e.g., office equipment/computers). Sedangkan kegiatan kedua yaitu Penguatan Perencanaan, koordinasi dan penegakan sistem Pengelolaan Agribisnis Terpadu Berbasis Masyarakat/Strengthening Community Planning, Coordination and Enforcement of Community-based integrated agribusiness development diuraikan menjadi empat kegiatan yang terdiri dari; (2.a) Pelatihan jangka pendek mengenai inovasi teknologi budidaya tepat guna yang lebih maju bagi inovator terpilih pada tingkat kecamatan/Short-term Training on advanced production technology innovation for sub-district level selected innovator; (2.b). Penerapan teknologi budidaya dengan menggunakan teknologi tepat guna yang lebih maju/Application of advanced agricultural production technology; (2.c). Bantuan operasional bagi inovator teknologi tingkat kecamatan; dan (2.d) Karyawisata Bagi petani yang berhasil meningkatkan produktivitas ke daerah yang melakukan pemanfaatan sumberdaya lahan secara optimal/Exchange Visits/Tours Kegiatan pokok pertama: Membangun Sistem Agribisnis Terpadu oleh Masyarakat melalui peningkatan produktivitas sumberdaya pertanian (1.a) Sosialisasi program kepada kelompok tani terpadu yang sudah terbentuk; Dasar Program pembangunan agribisnis terpadu pertimbangan: harus didukung oleh kemampuan petani

Tujuan: Sasaran: Keluaran;

Bentuk Kegiatan; Lokasi:

dalam merespon perkembangan baru sehingga membentuk jiwa dan semangat untuk meningkatkan produktivitas. Respon petani hanya dapat dibangkitkan melalui diseminasi informasi yang dilakukan secara profesional dan mempertimbangkan aspek kemampuan petani dalam menyerap informasi. Oleh karena itu diperlukan proses sosialisasi yang ditujukan bagi terbentuknya pengetahuan dan wawasan yang mengarah pada terbentuknya semangat produksi. Membangun respon dan semangat petani untuk meningkatkan produksi melalui peningkatan produktivitas. Kelompok tani terpadu yang sudah terbentuk Diterimanya program pembangunan agribisnis terpadu oleh seluruh petani dan diserapnya informasi mengenai langkahlangkah terobosan yang akan dibangun Penyuluhan terpadu, diskusi interaktif dan diskusi kelompok terfokus bagi seluruh anggota kelompok tani terpadu Kecamatan Patilanggio, Paguat, Taluditi, Wonosari, Botumoito, Tolinggula, Anggrek, Kwandang ,Atinggola, Tapa, Telaga Biru, Tibawa, Mootilanggo, dan Kecamatan Boliohuto gorontalo

(1.b) Menyediakan faktor produksi pertanian tanaman pangan untuk wilayah yang tidak terlayani dengan baik dalam penyediaan faktor produksi oleh swasta dan daerah yang pengadaan faktor produksinya dikuasai oleh tengkulak; Dasar pertimbangan: Membangun kekuatan modal finansial petani harus merupakan dasar dari seluruh kegiatan yang dilakukan. Pemberian modal yang diprogramkan harus disertai dengan pendidikan petani berkelanjutan dengan pertimbangan bahwa setiap pemberian bantuan modal tidak akan pernah menghasilkan wujud pertumbuhan modal karena salah sasaran atau karena salah pengelolaan. Keberhasilan pemupukan modal oleh petani pada pokoknya merupakan hasil nyata dari adanya

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran;

Bentuk Kegiatan;

manajemen keuangan keluarga dan metode petani untuk mengelola pengeluaran sesuai dengan prioritas kebutuhan. (1) Mengurangi ketergantungan petani terhadap tengkulak dan bantuan pemerintah dalam penyediaan faktor produksi; (2) Meningkatkan kapasitas pembentukan modal bagi petani; (3) Mengoptimalkan lahan kebun kelapa; (4) Membentuk petani yang memiliki kapasitas manajemen keuangan. Petani miskin yang tidak memeroleh akses permodalan dan sumberdaya lahannya tergadai (atau lahan pertanian yang ditanami kelapa tidak dapat dimanfaatkan karena pohon kelapanya dikuasai oleh pihak lain) yang mecakup: 58 % dari seluruh petani miskin di Kecamatan Patilanggio = 757 KK; Kecamatan Paguat 1492 KK (35%), Taluditi 556 KK (36%), Wonosari 1135 (23,8%), Botumoito 1218 KK (43%), Tolinggula 720KK (24%), Anggrek 973KK (24%), Kwandang 1361 KK (20%), Atinggola 952 KK (25%), Tapa 2700 KK (43%), Telaga Biru 2868 KK (61%), Tibawa 2745 KK, Mootilanggo 1566 KK (42 %), dan Boliohuto 1807 KK (42 %) sehingga jumlah seluruhnya adalah 20850 KK. (1) Terbentuknya kekuatan kapasitas permodalan individu sehingga ICCF meningkat dari semula menjadi; (2) Tersedianya ternak sapi bali sebanyak 62550 ekor yang selanjutnya didistribusikan pada 20850 KK Penyediaan Sarana produksi bagi setiap KK sebesar Rp 2,5 juta dalam bentuk natura, ditambah dengan satu ekor anak sapi jantan dan dua ekor anak sapi betina. Sifat bantuan adalah pinjaman lunak dari pemerintah kepada kelompok penerima manfaat. Dengan demikian proyek ini bertujuan untuk memberi pelajaran berharga bagi penyiapan terbentuknya kelompok usaha bersama yang dikembangkan lebih lanjut melalui program pemberdayaan masyarakat dan penguatan permodalan. Kelompok

Lokasi:

peminjam harus mampu mengelola keuangan dalam bentuk usaha produktif sehingga pada akhirnya mampu menggulirkan modal kepada kelompok lain yang memerlukan. Metode pendampingan dan pembimbingan harus mengikuti kaidah manajemen pinjaman komersial sehingga meningkatkan semangat meningkatkan produktivitas bagi masing-masing kelompok. Mekanisme perguliran diatur melalui kesepakatan bersama antara anggota dengan pengurus kelompok melalui supervisi dinas terkait, monitoring dan evaluasi harus melibatkan lembaga yang peduli terhadap peningkatan kapasitas permodalan masyarakat, misalnya perguruan tinggi. (1) Kabupaten Pohuwato: Kecamatan Patilanggio, Taluditi dan Paguat , (2) Kabupaten Gorontalo; Kecamatan Telaga Biru bagian perbukitan, (3) Kabupaten Boalemo: Kecamatan Botumoito , (4) KabupatenGorontalo Utara: Kecamatan Tolinggula, Anggrek dan Atinggola, (5) Kabupaten Bone-Bolango; Kecamatan Tapa

(1.c). Pendidikan manajemen keuangan keluarga bagi petani; Dasar pertimbangan: Proses menciptakan pendapatan melalui produktivitas sumberdaya lahan yang dikuasai/dimiliki petani terkendala oleh lemahnya penguasaan petani atas hak yang dimilikinya. Kelemahan tersebut timbul karena ketidakberdayaan petani dalam menguasai sumberdaya lahan yang dimiliki sebagai asset utama agribisnis sehingga modal finansial yang diperoleh dari proses produksi pada satu periode/musim tidak dapat dipenuhi untuk melanjutkan proses produksi pada periode/musim selanjutnya karena adanya ketergantungan pada tengkulak sebagai pemilik modal atau tergantung pada bantuan faktor produksi yang disediakan oleh pemerintah. Dalam kegiatan ini petani diharapkan menjadi berdaya dalam mengelola usahatani yang

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran;

dimilikinya melalui peningkatan produktivitas lahan kering dengan komoditas yang sesuai untuk tanaman pangan ditanami tanaman pangan dengan introduksi teknologi yang berimbang. Lahan kering yang saat ini dalam bentuk kebun kelapa ditingkatkan produktivitasnya melalui kegiatan pemeliharaan sapi (coconut beef development). Melakukan pendidikan berkelanjutan bagi petani dalam mengelola keuangan keluarga, merencanakan usahatani, menyusun strategi pengembangan usahatani terpadu dan berkelanjutan melalui optimalisasi pemanfaatan lahan. Meningkatkan kapasitas manajemen petani secara nyata dan meningkat secara bertahap, melakukan onsite sustainable training, dan melakukan review, monitoring dan evaluasi secara periodik atas sitem yang telah terbentuk. Petani miskin yang tidak memeroleh akses permodalan dan sumberdaya lahannya tergadai (atau lahan pertanian yang ditanami kelapa tidak dapat dimanfaatkan karena pohon kelapanya dikuasai oleh pihak lain) yang mecakup: 58 % dari seluruh petani miskin di Kecamatan Patilanggio = 757 KK; Kecamatan Paguat 1492 KK (35%), Taluditi 556 KK (36%), Wonosari 1135 (23,8%), Botumoito 1218 KK (43%), Tolinggula 720KK (24%), Anggrek 973KK (24%), Kwandang 1361 KK (20%), Atinggola 952 KK (25%), Tapa 2700 KK (43%), Telaga Biru 2868 KK (61%), Tibawa 2745 KK, Mootilanggo 1566 KK (42 %), dan Boliohuto 1807 KK (42 %) sehingga jumlah seluruhnya adalah 20850 KK. Meningkatknya pengetahuan, wawasan, keterampilan dan inovasi dalam bentuk peningkatan produktivitas sumberdaya terutama sumberdaya lahan sejalan dengan peningkatan kekuatan pembentukan modal individu keluarga petani. Meningkatnya kapasitas manajemen petani. Terbentuknya budaya menabung melalui perubahan image terhadap dan manajemen keuangan

Bentuk Kegiatan;

Lokasi:

keluarga Pendampingan berkelanjutan untuk monitoring, evaluasi, capacity building petani, melakukan pendidikan petani bagi manajemen keuangan keluarga, melakukan pelatihan teknis terapan on site, melakukan perbaikan program berkesinambungan sambil berjalan yang bertujuan Kecamatan Patilanggio, Paguat, Taluditi, Wonosari, Botumoito, Tolinggula, Anggrek, Kwandang ,Atinggola, Tapa, Telaga Biru, Tibawa, Mootilanggo, dan Kecamatan Boliohuto gorontalo

(1.d) Pengadan dukungan logistik bagi kegiatan 1.b dan 1.c./Provision of Logistical Support (e.g., office equipment/computers). Dasar pertimbangan: Untuk memperlancar operasional dan proses pelaksanaan kegiatan diperlukan dukugan bagi manajemen proyek. Bentuk dukungan logistik yang diperlukan mencakup kendaraan operasional roda empat, kendaraan operasional roda dua, perangkat keras komputer, perangkat lunak komputer, peralatan dan perlengkapan kantor, peralatan dan perlengkapan komunikasi, kantor operasional dan pimpinan dan staf pengalola proyek. Memperlancar pelaksanaan kegiatan untuk mencapai efektifitas, efisiensi, efikasi dan akuntabilitas yang sesuai dengan peraturan dan perundag-undangan. Satu kantor pusat manajemen organisasi proyek di Kota Gorontalo dan lima kantor pelaksana proyek di masing-masing kabupaten. Kelancaran operasional proyek Pengadaan barang dan jasa, pengelolaan proyek dan pengadaan dukungan logistik Kota Gorontalo

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi:

Kegiatan pokok kedua: Penguatan Perencanaan, koordinasi dan penegakan sistem Pengelolaan Agribisnis Terpadu Berbasis Masyarakat/Strengthening Community Planning, Coordination and Enforcement of Community-based integrated agribusiness development

(2.a) Pelatihan jangka pendek mengenai inovasi teknologi budidaya tepat guna yang lebih maju bagi inovator terpilih pada tingkat kecamatan/Short-term Training on advanced production technology innovation for sub-district level selected innovator; Dasar pertimbangan: Kekurangan tenaga penyuluh yang memiliki kealian dan profesionalisme yang memadai menjadi kendala dalam proses produksi usahatani sehingga mengakibatkan kelemahan dalam peningkatan produkivitas. Disisi lain pengetahuan petani yang sangat terbatas dan sangat lambat dalam peyesuaikan diri dengan introduksi teknologi memerlukan daya dorong dan semangat yang kuat. Untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi dalam peningkatan produksi diperlukan tenaga inovatoryang berasal dari petani yang sudah lebih maju dari rekan seprofesinya sehingga dapat menjadi tenaga tambahan selain PPL yang sudah tersedia. Meningkatkan difusi teknolgi oleh petani yang pada akhirnya akan mningkatkan produktivitas. Peningkatan produktivitas akan menghasilkan peningkatan keuntungan per satuan luas sehingga sejalan dengan upaya yang ditempuh melalui program Sistem Agribisnis Terpadu. Diperkirakan sebanyak 150 orang inovator teknologi yang akan mencakup 15 kecamatan yang termasuk dalam target peningkatan pendapatan. (1) Tersedianya inovator teknolog produksi yang mampu menggerakkan dan memberi semangat dan memberi contoh kepada seluruh petani mengenai penerapan teknologi produksi yang efisien dan mengntungkan; (2) terlatihnya inovator teknologi sebagaii pendamping penyuluh (PPL) 1) Memilih inovator tingkat kecamatan yang berasal dari petani yang paling berhasil dalam program pengembangan agribisnis terpadu pada tahun pertama, dengan indikator keberhasilan adalah pencapaian

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran;

Bentuk Kegiatan;

Lokasi: (2.b).

produktivitas tertinggi untuk tanaman pangan, banyak melakukan inovasi untuk mengatasi permsalahan keterbatasan sumberdaya dan faktor produksi; (2) melakukan need assessment dan inventarisasi produksi per kelompok tani; (3) melakukan pelatihan jangka pendek selama satu bulan; (4) Melantik, mengukuhkan dan meresmikan keberadaan inovator teknologi pertanian. Seluruh Wilayah Provinsi Gorontalo

Penerapan teknologi budidaya dengan menggunakan teknologi tepat guna yang lebih maju/Application of advanced agricultural production technology; Dasar Petani tanaman pangan yang berada di pertimbangan: daerah pertanian tanpa irigasi (irigasi tadah hujan dan lahan kering) memerlukan introduksi teknologi tepat guna dalam melaksanakan usahatani untuk meningkatkan produktivitas per satuan luas lahan dalam setiap musim tanam. Kendala yang dihadapi pada saat pengolahan tanah dan selama pemeliharaan memerlukan introduksi teknologi yang diutamakan untuk memertahankan dan atau meningkatkan kesuburan lahan. Salah satu contoh aplikasi teknologi untuk meningktatkan produktivitas dan optimlalisasi lahan adalah pemanfaatan pupuk kandang sebagai komplemen pupuk kimia untuk memperbaiki struktur tanah sehingga pada saat pengolahan musim tanam berikutnya lebih mudah diolah. Dihubungkan dengan pengembangan agribisnis terpadu, limbah tanaman jagung dimanfaatkan untuk diolah menjadi suber bahan pakan hijauan makanan ternak ruminansia besar. Dari sinergi tersebut diharapkan selain akan terbentuk keseimbangan sumberdaya hayati juga terbentuk ketersediaan pakan dalam jangka panjang sehingga produktivitas ternak meningkat. Tujuan: Membentuk budaya efisiensi usahatani dengan cara mengintegrasikan berbagai sumberdaya yang tersedia dengan mudah di

Sasaran:

Keluaran;

Bentuk Kegiatan;

Lokasi:

daerah yang tidak memiliki sumberdaya air yang cukup dan produktivitas komoditas tanaman pangan yang masih rendah. Dari peningkatan efisiensi yang terbentuk diharapkan akan terjadi peningkatan pendapatan secara simultan. Sebanyak 4171 KK yang memiliki lahan pertanian terbatas dengan kondisi lahan yang tidak berisigasi dan lahan kering yang tercakup dalam program pengembangan usahatani terpadu (1) Patilanggio ; 80%; 606KK; (2) Paguat ; 25%; 746KK; (3) Taluditi ; 30%; 167KK; (4) Wonosari ; 10%; 114KK; (5) Botumoito ; 20%; 244KK; (6) Tolinggula ; 20%; 144KK; (7) Anggrek ; 20%; 195KK; (8) Kwandang ; 20%; 272KK; (9) Atinggola ; 20%; 190KK; (10) Tapa ; 10%; 270KK; (11) Telaga Biru ; 15%; 430KK; (12) Tibawa ; 10%; 275KK; (13) Mootilanggo ; 10%; 157KK; (14) Boliohuto ; 20%; 361KK Meningkatnya produktivitas usahatani melalui peningkatan pemahaman dan pengalaman dalam menerapkan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kondisi kesuburan lahan. Pelaksanaanproyek percontohan pengembangan tanaman panganperkebunan-peternakan terpadu bagi 4171 KK petani miskin yang berada di daerah yang memiliki produktivitas rendah karena tidak beririgasi dan lahan kering. Proyek percontohan dilaksanakan di setiap desa. Patilanggio, Paguat , Taluditi, Wonosari, Botumoito, Tolinggula, Anggrek, Kwandang, Atinggola, Tapa, Telaga Biru, Tibawa, Mootilanggo, dan Boliohuto

(2.c).

Bantuan operasional bagi inovator teknologi tingkat kecamatan; Dasar Untuk melakukan kegiatan motivasi dan pertimbangan: diseminasi informasi kepada seluruh petani peserta pengembangan agribisnis terpadu diperlukan biaya untuk melakukan kegiatan rutin. Perlunya biaya untuk transportasi dan perbekalan. Tujuan: Membrikan kemudahan bagi motivator

Sasaran: Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi: (2.d) Karyawisata produktivitas ke sumberdaya lahan Dasar pertimbangan:

untuk melaksanakan kegiatan rutinnya. Inovator melaksanakan seluruh kegiatan memotivasi sesuai jadwal. Tersedianya biaya operasional bagi 150 inovator setiap bulannya selama empat tahun Penyediaan dana rutin operasional Seluruh Wilayah Provinsi pada 15 kecamatan terpilih Bagi petani yang berhasil meningkatkan daerah yang melakukan pemanfaatan secara optimal/Exchange Visits/Tours Peningkatan pengetahuan dan pemahaman terhadap optimalisasi sumberdaya lahan memerlukan peningkatan wawasan melalui contoh yang baik dari daerah lain yang telah lebih maju. Untuk itu diperlukan peninjauan bagi petani ke daerah lain sebagai perbandingan dan dalam rangka memperoleh pelajaran yang berharga dari tempat lain untuk lebih memacu semangat dan peningkatan daya serap informasi.. Peningkatan pengetahuan dan wawasan teknologi tepat guna dan inovasi metode pemanfaatan lahan secara optimal dalam rangka meningkatkan pendapatan petani. Selanjutnya diharapkan, pengetahun yang lebih baik yang diperoleh dari studi banding akan dimanfaatkan untuk meningkatkan inoasi yang telah terbangun Inovator terpilih dari 150 inovator yang telah berhasil mengaplikasikan teknologi tepat guna secara lebih lanjut sebanyak 30 orang. (1) Terbangunnya image positif terhadap inovator teknologi tepat guna; (2) Meningkatnya pengetahuan dan wawasan inovator; (3) Meningkatnya hubungan inovator dengan petani yang telah lebih maju dalam optimalisasi pemanfaatan sumberdaya lahan Studi banding ke daerah yang telah lebih maju dalam optimalisasi pemanfaatan lahan Ditentukan kemudian

Tujuan:

Sasaran: Keluaran;

Bentuk Kegiatan; Lokasi:

3.14.1.2.Memperbaiki Kondisi Sumberdaya Alam untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan dalam jangka panjang Melestarikan sumberdaya alam yang dimiliki oleh Provinsi Gorontalo merupakan kewajiban mutlak yang harus dilaksanakan agar nilai manfaat ekonomi dan manfaat terhadap daya dukung wilayah dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Seperti telah diuraikan pada bagian terdahulu, sebagian kondisi sumberdaya alam telah megalami degradasi yang diakibatkan oleh kesalahan manajemen dan kesalahan kebijakan di masa lalu yang lebih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi tanpa mempertimbankan aspek kelestarian lingkungan. Untuk mengantisipasi terjadinya degradasi sumberdaya lahan yang lebih lanjut, diperlukan langkah strategis melalui program dan kegiatan yang bersifat rehabilitatif dan kuratif sebelum terjadinya bencana yang lebih besar. Sebagai bagian dari program upaya mitigasi untuk memperbaiki kondisi sumberdaya alam untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan dalam jangka panjang, diusulkan lima kegiatan pokok sebagai berikut: (1) Menetapkan dan Mengelola Kawasan Lindung Laut/Establish and Manage Marine Protected Areas - Protection of Fish Spawning Aggregation Sites; (2) Penetapan Kawasan lindung laut untuk Tuna Nursery Ground/Establish Marine Protected Areas (for tuna nursery ground); (3) Rehabilitasi/pengelolaan hutan mangrove yang telah rusak Rehabilitate/Manage Degraded Mangrove Area(s); (4) Optimalisasi Pemanfaatan Sumberdaya Laut Untuk Meningkatkan Pendapatan Nelayan; dan (5) Penataan Pemanfaatan dan Konservasi Sumberdaya Lahan Untuk Meningkatkan Produktivitas dan Mencegah Kerusakan Lingkungan. (1) Menetapkan dan Mengelola Kawasan Lindung Laut/Establish and Manage Marine Protected Areas - Protection of Fish Spawning Aggregation Sites; Dasar Beberapa kawasan pesisir yang berada di pertimbangan: sepanjang pantai Kabupaten Gorontalo Utara, Kabupaten Pohuwato, Kabupaten Boalemo, Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango merupakan tempat berpijah ikan (nursery and spawning ground), terutama ikan karang. Hasil interview dan observasi yang telah dilakukan menunjukkan terjadinya degradasi ukuran dan stok ikan karang dibandingkan dengan kondisi lima tahun lalu. Kondisi tersebut diakibatkan oleh metode

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran;

Bentuk Kegiatan;

Lokasi:

penangkapan yang merusak lingkungan, diantaranya dengan menggunakan potasium. Selain rusaknya terumbu karang, eksploitasi hutan bakau sebagai tempat berpijah ikan juga telah beralih fungsi menjadi tambak tradisionil yang umumnya tidak dikelola secara baik dan tidak ramah lingkungan. Akibat dari kedua keadaan tersebut adalah menurunnya daya dukung kawasan pesisir terutama pada ekosistem terumbu karang dan hutan mangrove. Untuk mempertahankan kelestarian stok ikan diperlukan adanya kawasan yang dilindungi untuk memberi peluang pada ikan untuk berpijah. Menetapkan kawasan lindung laut pada kawasan pesisir Kecamatan Tolinggula, Kecamatan Anggrek, Kecamatan Kwandang, Kecamatan Atinggola, Kecamatan Paguat, Kecamatan Patilanggio, Kecamatan Botumoito dan Kecamatan Boliyohuto. Kawasan pesisir Kecamatan Tolinggula, Anggrek, Kwandang, Atinggola, Paguat, Patilanggio, Botumoito dan Kecamatan Boliyohuto. Peraturan daaerah mengenai penetapan kawasan lindung di beberapa tempat yang akan ditentukan luasan dan jenis pengelolaan kawasannya setelah diperoleh data akurat mengenai manfaat, dampak dan luasan yang akan dikelola. (1) Kajian kawasan yang perlu ditetapkan sebagai kawasan lindung, (2) Penyusunan Peraturan Daerah, (3) Pelatihan mengenai penetapan dan Pengelolaan; (4) Sosialisasi, (5) Penegakan hukum. Kajian dilaksanakan di Kawasan pesisir Kecamatan Tolinggula, Anggrek, Kwandang, Atinggola, Paguat, Patilanggio, Botumoito dan Kecamatan Boliyohuto, Workshop dilaksanakan di Kota Gorontalo

(2)

Penetapan Kawasan lindung laut untuk Tuna Nursery Ground/Establish Marine Protected Areas (for tuna nursery ground);

Dasar pertimbangan:

Tujuan:

Sasaran: Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi: (3)

Menurut hasil observasi, kawasan pesisir pantai ilomata merupakan daerah pengasuhan tuna (tuna nursery ground). Kekhawatiran terhadap hilangnyad daerah pengasuhan tersebut terjadi karena semakin banyaknya praktek penangkapan baby tuna. Jika kejadian penangkapan baby tuna dilakukan secara terus menerus dan tanpa kendali dikhawatirkan akan semakin mengurangi stok tuna di perairan yang tercakup dalam kewenangan Provinsi Gorontalo. Mengurnagi kegiatan penangkapan pada daerah pengasuhan tuna, jika perlu diterbitkan larangan dan pemberian sanksi bagi nelayan yang tidak mematuhi aturan. Seluruh nelayan yang beroperasi di kawasan nursery ground. Terbentuknya kawasan lindung bagi daerah pengasuhan tuna. (1) Penyusunan rancangan penetapan dan pengelolaan; (2) menyusun kerangka acuan kerja; (3) Melakukan sosialisasi berkesinambungan. pantai ilomata

Rehabilitasi/pengelolaan hutan mangrove yang telah rusak Rehabilitate/Manage Degraded Mangrove Area(s); Terdiri dari empat sub kegiatan sebagai berikut: 3.a Penyusunan rencana rinci rehabilitasi/reforestasi hutan mangrove/ Detailed Planning for Mangrove Reforestation/Management Dasar Sebelum melakukan penghutanan pertimbangan: kembali/peremajaan/rehabilitasi hutan mangrove yang telah rusak diperlukan informasi dan rencana rinci mengenai kegiatan spesifik yang akan dilaksanakan. Dengan demikian diperlukan kegiatan pendahuluan dalam bentuk inventarisasi, penilaian dan perhitungan mengenai lokasi yang akan direhabilitasi/ditanam kembali/dikelola sehingga diperoleh gambaran spesifik dan terinci untuk memeudahkan kegiatan fisik dan pengelolaan. Rencana rinci dituangkan dalam bentuk grand design rehabilitasi dan

Tujuan:

Sasaran: Keluaran;

Bentuk Kegiatan;

Lokasi: 3.b

pengelolaan hutan mangrove menurut kawasan yang telah ditentukan berdasarkan kajian yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. Menyusun rancangan rinci mengenai luas, lokasi, jenis species, metoda penanaman, pihak yang akan dilibatkan, jumlah bibit yang harus disediakan, biaya yang diperlukan, jadual pelaksanaan, dan sistem monitoring dan evaluasi. Selain tujuan tersebut juga harus dilakukan evaluasi terhadap konfisi hutan mangrove yang telah beralih fungsi menjadi tambak dan kemungkinan/peluang untuk merehabilitasi kembali menjadihutanmangrove atau apakah harus melakukan desain ulang tambak menjadi tambak ramah lingkungan. kawasan hutan mangrove yang telah rusak dan beralih fungsi di seluruh wilayah pesisir Provinsi Gorontalo. Laporan hasil rancangan rinci termasuk di dalamnya peta rencana rehabilitasi, penghutanan kembali, rancang ulang tambak dan rencana pengelolaannya. Survey, investigasi dan perancangan atas kawasan hutan mangrove. Pelaksanaan kegiatan harus dilakukan oleh konsultan berpengalaman yang menguasai benar pokok permasalahan dan sistem kerja pada penyusunan rancangan rinci. Provinsi Gorontalo

Pelatihan pembibitan, penanaman dan pengelolaan hutan mangrove/Training on Mangrove Nursery, Planting and Management Techniques Dasar Rancangan rinci yang telah dilaksanakan pertimbangan: akan menghasilkan rincian mengenai luasan hutan mangrove yang telah rusak/beralih fungsi yang harus ditanami kembali. Untuk memenuhi rencana pengelolaan/ rehabilitasi/penanaman kembali diperlukan Pengetahuan, kemampuan dan pengalaman mengenai pembibitan, penanaman dan pengelolaan kawasan mangrove. Pengetahuan mengenai teknologi pembibitan, pemeliharaan dan pengelolaan

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi:

hutan mangrove diperlukan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang memadai bagi masyarakat yang akan dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Oleh karena itu diperlukan pelatihan yang tepat sasaran bagi masyarakat yang akan dilibatkan Memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan bagi masyarakat yang akan dilibatkan dalam penyediaan boibit, penanaman kembali, dan pengelolaan hutan mangrove. Masyarakat yang bermukim di sekitar hutan mangrove dan pemilik tambak yang kemungkinan tambaknya akan direhabilitasi atau dirancang ulang sesuai kaidah tambak ramahh lingkungan Tersedianya bibit species mangrove dalam jumlah yang mencukupi dan berkesinambungan. Melaksanakan pelatihan terpadu Tolinggula, Kwandang, Anggrek, Atinggola, Boliohuto, Botumoito, Patilanggio, dan Paguat

3.c

Pembangunan pusat pembibitan mangrove/Establish Mangrove Nursery Dasar Rancangan rinci yang telah dilaksanakan pertimbangan: akan menghasilkan rincian mengenai luasan hutan mangrove yang telah rusak/beralih fungsi yang harus ditanami kembali. Dari luasan yang telah dianalisis akan diketahui jumlah bibit yang harus disediakan oleh pemerintah dan stakeholder terkait. Oleh karena itu diperlukan pembibitan dalam jumlah yang mencukupi jika pasokan bibit yang tersedia dan dapat diperoleh dengan mudah tidak mencukupi untuk menghutankan kembali. Tujuan: Menyediakan bibit species tanaman yang sesuai untuk kawasan mangrove yang akan direhabilitasi/ditanam kembali Sasaran: Masyarakat yang bermukim di sekitar hutan mangrove dan pemilik tambak yang

Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi:

kemungkinan tambaknya akan direhabilitasi atau dirancang ulang sesuai kaidah tambak ramahh lingkungan Tersedianya bibit species mangrove dalam jumlah yang mencukupi dan berkesinambungan. Membangun pusat pembibitan untuk menyediakan pasokan species mangrove yang sesuai. Tolinggula, Kwandang, Anggrek, Atinggola, Boliohuto, Botumoito, Patilanggio, dan Paguat

3.d

Melakukan penghutanan kembali dan pengelolaan hutan mangrove/Reforest and Manage Mangrove Areas Setelah tersedia data dan informasi yang akurat disertai rancangan rinci maka kegiatan penanaman kembali hutan mangrove dapat dilakukan. Melakukan penanaman kembali/mengelola kawasan hutan mangrove yang telah rusak. Kawasan mangrove yang memerlukan rehabilitasi/pengelolaan berdasarkan hasil kegiatan 3.a. Seluas 1423 ha (disesuaikan dengan hasil rancangan rinci) Rehabilitasi dan pengelolaan hutan mangrove yang menyediakan tempat bagi pemijahan ikan. Kegiatan penanaman, rehabilitasi dan pengelolaan. Tentaif: Tolinggula (400 ha), Kwandang(320 ha), anggrek (410 ha), Atinggola (27ha), Boliohuto (6 ha), Botumoito (50 ha), dan Paguat (210 ha)

Dasar pertimbangan: Tujuan: Sasaran:

Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi:

(4)

Optimalisasi Pemanfaatan Sumberdaya Laut Untuk Meningkatkan Pendapatan Nelayan, teridri dari lima sub-kegiatan sebagai berikut: 4.a Kampanye Pemanfaatan Sumberdaya Laut Secara Optimal dan Lestari dengan Menggunakan Teknologi Penangkapan yang Tepat Guna dan Ramah Lingkungan/Training on Appropriate and Environment-friendly Fishing Methods Dasar pertimbangan: Menurunnya cadangan sumberdaya ikan pada kawasan pesisir akan terus terjadi

Tujuan:

seiring dengan degradasi kondisi habitat ikan di kawasan pesisir. Sumberdaya ikan yang rtersedia dengan cadangan yang cukup besar beada jauh di kawasan lepas pantai. Eksploitasi yang semakin meningkat diiringi oleh kerusakan habitat ikan di kawasan pesisir semakin diperparah oleh kemampuan nelayan dalam pemupukan modal sehingga operasi yang dilakukan oleh nelayan hanya sebatas pada kawasan yang dekat dengan permukiman semakin memperburuk kondisi kesejahteraan nelayan. Untuk menyeimbangkan habitat dan mengembalikan kondisi sumberdaya perikanan di kawasan pessir memerlukan waktu yang lama dan tidak dapat dilakukan hanya dengan sebatas program yang berisi slogan untuk melakukan kegiatan yang tidak merusak lingkungan. Kegiatan nyata yang harus dilakukan adalah mengalihkan secara bertahap daerah operasi ke daerah tangkapan yang masih memiliki cadangan sumberdaya ikan lebih banyak. Wilayah penangkapan ikan Teluk Tomini dan Laut Sulawesi pada daerah lepas pantai di luar garis batas kontinen sampai dengan batas ZEE masih memiliki cadangan yang cukup besar bagi operasi perikanan tangkap skala kecil. Permasalahannya adalah; harus dilakukan upaya untuk meningkatkan kemampuan nelayan agar beroperasi di daerah penangkapan yang lebih jauh seraya memperbaiki teknologi dengan alat tangkap dan metode ramah lingkungan. (1) Meningkatkan kesadarandan kepedulian nelayan mengenai arti pentingnya pengelolaan sumberdaya laut secara lestari dan memberikan pemahaman bahwa kawasan pesisir mengalami tekanan terhadap sumberdaya yang semakin hebat dan semakin rusak. (2) Meningkatkan peran nelayan dan masyarakat pesisir lainnya dalam memperlambat laju degradasi dan merehabilitasi sumberdaya perikanan pesisir; (3) Membuka wawasan berpikir dan memberikan gambaran mengenai cadangan

Sasaran: Keluaran;

Bentuk Kegiatan; Lokasi: 4.b

sumberdaya perikanan tangkap di kawasan pengelolaan perikanan Teluk Tomini dan Laut Sulawesi sehingga terjadi pemahaman yang komprehensif bagi nelayan untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan usaha perikanan tangkap yang produktif dengan menggunakan teknologi ramah lingkungan pada daerah tangkapan yang memiliki cadangan ikan yang masih mlimpah. Seluruh masyarakat pesisir di Provinsi Gorontalo Peningkatan pemahaman dan kepedulian pelaku usaha perikanan tangkap mengenai pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap yang lestari dan efisien. Pelaksnaan Kampanye, Diseminasi Informasi dan Edukasi Seluruh kawasan pesisir Provinsi Gorontalo

Training Menggunakan Alat Tangkap Selektif dan Produktif untuk mendukung penangkapan pada daerah Tangkapan Lepas Pantai/Training on Selective and Productive fishing gear to Support offshore fishing Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan usaha perikanan tangkap seperti diuraikan pada kegiatan 4.a, diperlukan pelatihan terpadu dan berkelanjutan bagi nelayan yang tidak memiliki alat dan sarana tangkap, nelayan yang menggunakan perahu tanpa motor dan nelayan yang menggunakan alat tangkap yang merusak lingkungan. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bagi nelayan terpilih pada delapan kecamatan, yaitu Kecmaatan; Tolinggula, Kwandang, Anggrek, Atinggola, Boliohuto, Botumoito, dan Paguat sehingga mampu melakukan kegiatan produksi dengan metode dan alat yang sesuai dengan kegiatan 4.a. Sebanyak 1383 Nelayan di Kecamatan; Tolinggula (231 KK), Kwandang (524 KK), Anggrek (413KK) , Atinggola (215 KK), Boliohuto (173KK) , Botumoito (114 KK), dan Paguat (239 KK)

Dasar pertimbangan:

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi: 4.c.

Terlatihnya 1383 RTP Nelayan Pelatihan terpadu in-site selama dua minggu dengan frekuensi dua kali Tolinggula, Kwandang, Anggrek, Atinggola, Boliohuto, Botumoito, dan Paguat

Penetapan Peraturan Daerah Mengenai Pemasaran produk Perikanan Tangkap Selektif/Establish Regional Regulation on Marketing of Selective Capture Fisheries Product Untuk mengendalikan terjadinya penangkapan baby tuna, diperlukan aturan yang melarang pembelian baby tuna. Melarang perdagangan baby tuna Seluruh pelaku usaha perikanan tangkap di Provinsi Gorontalo Penangkapan ikan selektif Penyusunan PERDA mengenai pelarangan penangkapan dan perdagangan baby tuna Kota Gorontalo

Dasar pertimbangan: Tujuan: Sasaran: Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi: 4.d.

Pengadaan sarana dan alat tangkap untuk menunjang perikanan tangkap lepas pantai/Provision of Off-shore fishing gear and fishing vessel Untuk mendukung kegiatan 4.a., diperlukan sarana dan alat tangkap ramah lingkungan sehingga prinsip produktivitas usaha dan kelestarian lingkungan dapat terjamin dalam jangka panjang bagi 1383 RTP yang menjadi pengelola usaha perikanan tangkap dengan Kapal yang lebih besar dengan alat tangkap yang sesuai dengan kaidah ramah lingkungan. Setiap 10 RTP akan menangani satu unit kapal lengkap dengan alat tangkap dan alat navigasi. Meningkatkan pendapatan nelayan Sebanyak 1383 Nelayan di Kecamatan; Tolinggula (231 KK), Kwandang (524 KK), Anggrek (413KK) , Atinggola (215 KK), Boliohuto (173KK) , Botumoito (114 KK), dan Paguat (239 KK) Berdayanya dan meningkatnya pendapatan 1383 nelayan Pengadaan kapal ukuran 21 GT dengan alat tangkap pole and line dan pancing tonda

Dasar pertimbangan:

Tujuan: Sasaran:

Keluaran; Bentuk Kegiatan;

Lokasi: 4.e.

secara bertahap selama dua tahun sebanyak 139 unit. Tahun 2010 diadakan 40 %, tahun 2011 60%. Tolinggula, Kwandang, Anggrek, Atinggola, Boliohuto, Botumoito, dan Paguat

Pengadaan Sarana Pendukung Perikanan Tangkap Lepas Pantai Bagi Nelayan Skala Kecil/Provision of Supporting Facilities for Small-sclae fishermen in implementing Offshore Fishing Untuk mendukung kegiatan 4a, 4b, 4c dan 4d diperlukan penyediaan sarana pendukung bagi penangkapan ikan. Sarana pendukung tersebut merupakan peralatan dan perelngkapan yang diperlukan bagi usaha penangkapan dengan periode waktu 3 - 10 hari per trip. Perlengkapan utama ini diperlukan untuk mempertahankan kualitas ikan hasil tangkapan sehingga on-board fish handling dapat dilakukan sesuai kaidah cold chain dan HACCP. Meningkatkan pendapatan nelayan Sebanyak 1383 Nelayan di Kecamatan; Tolinggula (231 KK), Kwandang (524 KK), Anggrek (413KK) , Atinggola (215 KK), Boliohuto (173KK) , Botumoito (114 KK), dan Paguat (239 KK) Berdayanya dan meningkatnya pendapatan 1383 nelayan Pengadaan sarana pendukung berupa insulated cool box dan kelengapan lainnya secara bertahap selama dua tahun sebanyak 139 unit. Tahun 2010 diadakan 40 %, tahun 2011 60%. Tolinggula, Kwandang, Anggrek, Atinggola, Boliohuto, Botumoito, dan Paguat

Dasar pertimbangan:

Tujuan: Sasaran:

Keluaran; Bentuk Kegiatan;

Lokasi:

(5)

Penataan Pemanfaatan dan Konservasi Sumberdaya Lahan Untuk Meningkatkan Produktivitas dan Mencegah Kerusakan Lingkungan, terdiri dari tiga sub-kegiatan sebagai berikut: 5.a. Perencanaan Ulang tataruang dan tataguna lahan untuk optimalisasi penggunaan lahan dan konservasi sumberdaya lahan.

Dasar pertimbangan:

Tujuan:

Sasaran: Keluaran;

Bentuk Kegiatan; Lokasi:

Produksi pertanian (terutama tanaman pangan, dalam hal ini komoditas jagung) sudah menjadi image positif Provinsi Gorontalo. Peningkatan produksi jagung dari tahun ke tahun selalu meningkat yang membawa konsekuensi pada semakin tinginya kebutuhan penggunaan lahan secara ekstensif. Untuk menjamin keberlanjutan usahatani, kelestarian sumberdaya alam, kelestarian keanekaragaman hayati diperlukan suatu sistem alokasi, penatagunaan dan alokasi lahan untuk komoditas tanaman pangan. Melaksanakan penyusunan ulang rencana tataruang dan tataguna lahan untuk memperoleh alokasi lahan yang ideal dalam rangka optimalisasi sumberdaya lahan sehingga keberlanjutan usahatani dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Seluruh wilayah kabupaten.dengan satuan analisis wilayah administratif terkecil adalah kecamatan. Tersusunnya rencana alokasi dan tataguna lahan secara optimal dengan mempertimbangkan daya dukung dan manfaat konservasi. Kegiatan penyusunan rencana yang terdiri dari; survey, investigasi, desain ulang, pemetaan dan kuantifikasi sumberdaya lahan. Kabupaten Pohuwato, Boalemo, Gorontalo, Gorontalo Utara, Bone Bolango dan Provinsi Gorontalo

5.b.

Konservasi sumberdaya lahan di kawasan kritis Kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh penggundulan hutan telah mencapai titik kritis sehingga mengakibatkan dampak negatif secara merata pada daerah yang memiliki topografi berbukit dengan kemiringan lebih dari 15 %. Kerusakan leingkungan tersebut telah terbukti mengurangi kapasitas menahan cadangan air tanah dan air permukaan terutama pada

Dasar pertimbangan:

Tujuan:

Sasaran: Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi:

musim kemarau dan terjadinya banjir pada musim hujan. Untuk mengantisipasi kelanjutan kerusakan lingkungan dan mengurangi dampak negatif dalam jangka panjang diperlukan upaya konservasi dalam bentuk penanaman kembali lahan kritis (reboisasi). Upaya tersebut harus dilakukan dalam sebuah pilot project jangka menengah yang melibatkan rakyat secara penuh. Meningkatkan daya dukung lahan dalam bentuk peningkatan tangkapan air pada daerah hulu, mempertahankan kesuburan lahan, mengurangi laju kerusakan ekosistem. Daerah tangkapan air pada DAS kritis di Kabupaten Boalemo, Pohuwato dan Gorontalo Utara. Terlaksananya pilot project konservasi dan meningkatnya daya dukung lahan Penanaman kembali daerah kritis yang memiliki kemiringan lebih dari 15 %. Daerah tangkapan air pada DAS kritis di Kabupaten Boalemo, Pohuwato dan Gorontalo Utara.

5.c.

Pengembangan hutan rakyat Semakin meluasnya areal kritis dikhawatirkan akan mengancam kerusakan ekosistem dan daya dukung sumberdaya lahan. Penurunan daya dukung sumberdaya lahan sudah pasti akan mengakibatkan penurunan produktivitas lahan karena terjadinya pemiskinan hara dan ketersediaan air menurun secara signifikan berbanding lurus dengan penurunan jumlah tegakan dan meningkatnya epavotranspirasi. Disisi lain run-off yang timbul akan mengakibatkan tercucinya hara pada topsoil sehingga secara kumulatif akan menurunkan kualitas lahan. Penurunan kualitas lahan secara agregat terbukti telah menurunkan produktivitas usahatani sehingga dalam jangka panjang akan terjadi pemiskinan bagi pelaku usahatani.

Dasar pertimbangan:

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran;

Peningkatan run-off akan membawa sedimen sehingga mengakibatkan sedimentasi di daerah hilir. Terjadinya sedimentasi akan merusak ekosistem laut dan terjadinya banjir di daerah pesisir. Sedimentasi dan banjir pada daerah pesisir akan mengakibatkan terjadinya degradasi sumberdaya pesisir dan laut yang ditunjukkan oleh menurunnya cadangan ikan demersal. Pada jangka panjang kerusakan ekosistem daerah pesisir akan menurunkan kapasitas daerah tersebut sebagai spawning ground ikan pelagis sehingga pada akhirnya cadangan ikan pelagis pun menurun sehingga dalam jangka panjang terjadi penrunan secara drastis biodiversity. Secara agregat penurunan sumberdaya tersebut akan menurunkan kemiskinan seluruh masyarakat sehingga terjadi kemiskinan permanen. Peningkatan pendapatan masyarakat melalui usahatani berbasis lahan dengan tetap mempertahankan kelestarian sumberdaya alam. Upaya konservasi yang dipadukan dengan kegiatan usahatani (wanatani) bertujuan untuk mempetahankan kondisi fisik, kimia dan biologis lahan yang sudah berada pada ambang kritis. Petani yang melakukan usahatani di lahan kritis terutama di daerah tangkapan air (DAS Kritis bagian hulu) di Kecamatan Tolinggula (75KK= 75ha), Anggrek (125KK = 125 ha), Kwandang (75KK = 75 ha), Atinggola (150KK=150ha), Pulubala (80KK=80ha), Boliohuto (80KK=80ha), Mootilanggo (80KK = 80ha), Telaga Biru (125KK=125ha), Botumoito (225KK=225ha), Wonosari (250KK=250ha), Paguat (125KK=125ha), Patilanggio (75KK=75ha), dan Dulupi (125KK=125ha). Luas Lahan keseluruhan mencakup 1590 ha. Meningkatnya pendapatan dan meningkatnya kesadaran untuk berusahatani secara berkelanjutan.

Kegiatan;

Lokasi:

kering terpadu dengan komoditas Jati, jagung dan ternak sapi. Kegiatan berbentuk pemberdayaan masyarakat melalui pendampingan oleh LSM yang sangat berpegalaman secara teknis dan manajemen. Keahlian di bidang pengorganisasian masyarakat, membangun karakter dan budidaya pertanian dan peternakan merupakan keharusan mutlak bagi LSM pelaksana. Kelompok dibangun dengan jumlah anggota 5 KK per kelompo. Paket permodalan dalam bentuk natura untuk bibit jati sebanyak 330 pohon per KK (densitas tanam 330 pohon/ha), Anak sapi (bakalan) 12 ekor (10 ekor betina dan 2 ekor jantan) per 5 kelompok. Dalam 5 tahun sudah harus terjadi perguliran dari hasil ternak sapi kepada kelompok lain yang baru. Perguliran di masing-masing kelompok hanyalah dalam bentuk anak sapi sehingga pada masa akhir perguliran masing-masing KK sudah memiliki sekurangnya satu ekor sapi. Lahan kritis terutama di daerah tangkapan air (DAS Kritis bagian hulu) di Kecamatan Tolinggula, Anggrek, Kwandang, Atinggola, Pulubala, Boliohuto, Mootilanggo, Telaga Biru, Botumoito, Wonosari, Paguat, Patilanggio, dan Dulupi.

3.14.1. Program Pemberdayaan Masyarakat Melalui Kewirausahaan Tabungan (simpanan) dan kredit (pinjaman) merupakan dua sisi yang saling berhubungan. Jika kedua sisi tersebut akan dikembangkan, pertanyaan yang timbul adalah; Mana yang akan dikembangkan terlebih dahulu? Ini bagaikan dilemma telur dan ayam. Jika kita hubungkan dengan konteks pembangunan agribisnis yang lebih menekankan pada peningkatan pendapatan dan pengentasan kemiskinan, maka tabungan akan timbul setelah disediakan kredit yang akan menggerakkan roda kegiatan ekonomi. Kondisi demikian terjadi karena tabungan akan tumbuh jika ada aktivitas ekonomi. Aktivitas ekonomi ini harus diciptakan melalui kredit. Kredit tersebut dapat berbentuk uang atau barang. Dengan adanya kredit maka masyarakat pantai memiliki kesempatan untuk menggerakkan roda

ekonomi produktif. Selanjutnya diharapkan timbul dampak positif dalam bentuk peningkatan kesejahteraan. Untuk menjamin ketersediaan kredit untuk masyarakat masyarakat petani, maka diperlukan lembaga yang secara sungguh-sungguh bertanggungjawab dalam menyediakan kemudahan bagi masyarakat pantai untuk memperoleh kredit bagi pengembangan usahanya. Salahsatu skenario pemecahan masalah yang telah dilakukan oleh program Pemberdayaan Masyarakat Melalui Kewirausahaan adalah dengan mempersiapkan keluarga petani, peternak, nelayan dan pembudidaya ikan untuk menghadapi ancaman degradasi sumberdaya. Kegiatan nyata yang harus dilakukan adalah dengan memberdayakan keluarga nelayan melalui berbagai program pengembangan produktivitas dan matapencaharian alternatif. Secara umum, tujuan dilaksanakannya program ini adalah; (1) menyediakan kekuatan modal dan kapasitas permodalan sehingga meningkatkan pendapatan keluarga; (2) menyediakan kesempatan kerja bagi kelompok usia produktif yang belum memperoleh pekerjaan; (3) meningkatkan nilai tambah produk; (4) mengentaskan kemiskinan dan pada akhirnya akan (5) menggerakkan perekonomian lokal berbasis masyarakat untuk meningkatkan daya beli. Pelaksanaan program tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap kredit berbunga tinggi, tengkulak atau kepasrahan pada nasib, artinya dengan tersedianya kekuatan modal sumber matapencaharian alternatif maka semakin banyak pilihan kegiatan usaha untuk memperoleh atau meningkatkan pendapatan keluarga. Dengan demikian, dalam jangka panjang memungkinkan masyarakat melakukan kegiatan produktif. Pada akhirnya akan terjadi kekuatan permodalan yang kuat di tingkat masyarakat. Permodalan yang kuat hanya akan tercipta jika masyarakat sendiri yang mengembangkan sistem permodalan tersebut. Seluruh program dan kegiatan yang tercantum dalam program 2 ini merupakan metode yang termudah untuk dilaksanakan sehingga terbangun kapasitas pembentukan modal oleh masyarakat. Untuk membangun kekuatan permodalan pada tingkat petani, nelayan, peternak dan pembudidaya diusulkan empat subprogram dengan beberapa kegiatan yakni; Subprogram 2.1: Pengorganisasian dan Penyiapan Masyarakat/Community Organizing and Social Preparation Subprogram 2.2: Meningkatkan Kapasitas Permodalan Bagi Masyarakat/Improving Community Financial Capital Capacity.

Subprogram 2.3: Membangun Kapasitas Penciptaan Pendapatan Bagi Masyarakat/Increasing Income-generating Capacity of Communities Subprogram 2.4: Revitalisasi Perkebunan Rakyat/Revitalize Smallholder Estate Crops. Uraian masing-masing sub-program dan kegiatan yang telah disusun untuk meningkatkan kapasitas permodalan adalah sebagai berikut; 3.14.1.1.Subprogram 2.1: Pengorganisasian dan Penyiapan Masyarakat/Community Organizing and Social Preparation. Kegiatan utama yang akan dilaksanakan dibawah subprogram 2.1. terdiri dari; (1) Membentuk Keberdayaan Masyarakat/Community Empowerment Mobilization; dan (2) Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pengembangan Matapencaharian Alteriatif/Community Empowerment Through Alternative Livelihood Development; Kegiatan utama kesatu Membentuk Keberdayaan Masyarakat dilaksanakan melalui lima kegiatan sebagai berikut; (1.a) Konsultasi Tingkat Masyarakat Community-level Consultations; (1.b) Kampanye Kepedulian untuk membangun aset dan menumbuhkan kewirausahaan/Campaigns for Community Awareness Buiilding on Assets and Enterpreunership Development; (1.c) Identifikasi dan Pelatihan Penilaian Peluang Bisnis Bagi Masyarakat /Identification and Training of Community Business Opportunities Assessment; (1.d) Training Pengelolaan Organisasi Berbasis Masyarakat/ Training on Community-base Organization Management; dan (1.e) Pelatihan Pembangunan Kepemimpinan Tingkat Lanjut Bagi Inovator/Training on Advance Leadership Skills Development for Innovator (1a) Uraian Kegiatan Konsultasi Tingkat Masyarakat/Community-level Consultations; Dasar pertimbangan: Perencanaan pemberdayaan masyarakat terpadu yang melibatkan semua sub-sektor dalam sektor pertanian memerlukan persiapan yang matang karena merupakan kegiatan yang berkelanjutan. Prasyarat yang harus ditempuh pada awal pelaksanaan kegiatan sebelum memulai rencana kegiatan pokok adalah terlaksananya kegiatan persiapan masyarakat yang diawali dengan konsultasi publik. Kegiatan tersebut harus dimulai dengan konsultasi tingkat masyarakat dengan bentuk saresehan untuk

Tujuan:

Sasaran: Keluaran;

Bentuk Kegiatan;

Lokasi:

mengidentifikasi kebutuhan dan kapasitas masyarakat yang akan menjadi penerima manfaat. (1) Memperoleh gambaran yang nyata dan menyeluruh mengenai kebutuhan, kapasitas dan kondisi yang diperlukan untuk menyusun kegiatan pokok; (2) Mengumpulkan danmengolah informasi pendukung yang diperlukan untuk melakukan kegiatan pokok; (3) Menyiapkan bahan dan melakukan seleksi bagi terselenggaranya kampanye dan training bagi masyarakat. Seluruh kelompok tani yang sudah terbentuk di 15 kecamatan terpilih. (1) Tersedianya gambaran yang nyata dan menyeluruh mengenai kebutuhan, kapasitas dan kondisi yang diperlukan untuk menyusun kegiatan pokok; (2) Tersedianya informasi pendukung yang diperlukan untuk melakukan kegiatan pokok; (3) Tersedianya bahan dan daftar calon peserta training bagi terselenggaranya kampanye dan training bagi masyarakat. (1) Need assessment pada level desa; (2) Identifikasi dan inventarisasi kebutuhan menurut hasil need assessment; (3) inventasisi dan seleksi calon peserta training; (4) Penyusunan rencana materi kampanye dan materi pelatihan yang telah sesuai dengan hasil need assessment; (5) Menyusun rencana kegiatan rinci untuk kegiatan kampanye dan pelatihan. Pulubala ; Tibawa ; Mootilango ; Boliyohuto ; Telaga Biru ; Botumoito ; Wonosari ; Tapa ; Taluditi ; Patilanggio ; Paguat ; Kwandang ; Anggrek ; Tolinggula ; Atinggola

1.b

Kampanye Kepedulian untuk membangun aset dan menumbuhkan kewirausahaan/Campaigns for Community Awareness Buiilding on Assets and Enterpreunership Development Dasar pertimbangan: Hasil yang telah diperoleh pada kegiatan 1.a memerlukan tindak lanjut dalam bentuk

Tujuan:

Sasaran: Keluaran;

Bentuk Kegiatan; Lokasi:

kampanye kepedulian untuk membangun asset dan menumbuhkan kewirausahaan. Menumbuhkan kesadaran dan kepedulian masing-masing anggota masyarakat yang tergabung dalam kelompok untuk terlibat dalam kegiatan pengembangan kewirausahaan. Pada kegiatan kampanye tersebut dilakukan diseminasi informasi yang meperlihtakanproses pementukan karakter wirausaha yang akan menjadikan masyarakat tergugah dan tertatirk untuk mengembangkan kapasitas dan keterampilannya. Seluruh kelompok tani yang sudah terbentuk di 15 kecamatan terpilih. Terbangunnya kepedulian dan kesadaran masyarakat untuk memulai meningkatkan produktivitas, kapasitas dan kapabilitas yang dibentuk dari paduan antara sumberdaya manusia, suberdaya alam dan sumberdaya finansial. Kapmpanye, diseminasi informasi, edukasi dan presentasi contoh keberhasilan. Pulubala ; Tibawa ; Mootilango ; Boliyohuto ; Telaga Biru ; Botumoito ; Wonosari ; Tapa ; Taluditi ; Patilanggio ; Paguat ; Kwandang ; Anggrek ; Tolinggula ; Atinggola

1.c

Identifikasi dan Pelatihan Penilaian Peluang Bisnis Bagi Masyarakat /Identification and Training of Community Business Opportunities Assessment Dasar pertimbangan: Peluang bisnis yang timbul sebagai dampak bergulirnya program pengembangan sistem agribisnis terpadu harus dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Kelemahan yang terjadi saat ini adalah pengetahuan mengenai peluang bisnis yang dapat dikembangkan oleh masyarakat belum sepenuhnya dikuasai. Meskipun masyarakat sudah mengetahui adanya peluang bisnis, cara memanfaatkan peluang sehingga menumbuhkan kemampuan untuk berusaha belum sepenuhnya dikuasai sehingga resiko dan ketidakpastian seringkali menjadikan

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran; Bentuk Kegiatan;

masyarakat tidak dapat mengambil keputusan yang mudah dan cepat. Permasalahan tersebut harus diatasi dengan peningkatan kemampuan dalam mengkaji peluang bisnis dengan metode sederhana dan tepat sasaran. Oleh karena itu diperlukan adanya pelatihan mendasar dan tepat guna mengenai cara mengkaji dan melaksanakan bisnis untuk memanfaatkan peluang menjadi kekuatan. Meningkatkan kapasitas dan respon masyarakat untuk memanfaatkan peluang bisnis melalui pemberdayaan kelompok. Anggota yang mengikuti pelatihan selanjutnya harus mampu menularkan kemampuannya kepada anggota kelompok lainnya. Kelompok Tani yang sudah terbentuk, setidaknya 386 orang atau 2,0 % per tahun anggota kelompok mengikuti pelatihan sehingga memperoleh pemahaman dan memiliki kemampuan dalam mengkaji peluang bisnis untuk dilaksanakan bersama anggota kelompoknya. Sehingga dalam lima tahun terdapat 10 % anggota kelompok yang mengikuti pelatihan dengan rincian menurut kecamatan; Pulubala 33; Tibawa 40 ; Mootilango 19; Boliyohuto 17; Telaga Biru 19; Botumoito 33; Wonosari 58; Tapa 20; Taluditi 30; Patilanggio 22; Paguat 26; Kwandang 17; Anggrek 12; Tolinggula 16; Atinggola 24 Terbangunnya kemauan dan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan peluang bisnis Pelatihan Jangka Pendek selama 5 hari (onsite short term training). Pelaksana kegiatan pelatihan haruslah lembaga yang berpengalaman praktisi dan tidak hanya teori sehingga seluruh hasil pelatihan benarbenar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Materi Training yang disarankan adalah; (1) Pengetahuan bisnis, (2) Metode/cara mengkaji peluang bisnis; (3) Merencanakan memulai usaha; (4) Merencanakan biaya dan pengeluaran; (5) Teknik negosiasi

Lokasi:

bisnis; (6) Memasarkan produk; (7) Melakukan kajian resiko dan ketidakpastian. Pulubala ; Tibawa ; Mootilango ; Boliyohuto ; Telaga Biru ; Botumoito ; Wonosari ; Tapa ; Taluditi ; Patilanggio ; Paguat ; Kwandang ; Anggrek ; Tolinggula ; Atinggola

1.d

Training Pengelolaan Organisasi Berbasis Masyarakat/ Training on Community-base Organization Management Dasar pertimbangan: Kelemahan dalam membangun organisasi masyarakat yang sering dilakukan oleh LSM maupun universitas pada masa sekarang ini adalah materi pelatihan lebih dititikberatkan pada aspek politik sehingga setelah organisasi terbentuk, peserta tidak memahami aspek teknis yang berubungan dengan metode dan cara mengatasi permasalahan dalam kehidupan dan meningkatkan kesejahteraan. Keterlanjuran demokrasi lebih mewarnai materi pelatihan sehingga peserta tidak memperoleh manfaat yang dapat diaplikasikan dalam membangkitkan proses ekonomi di keluarga atau wilayahnya. Untuk menghindari kondisi demikian diperlukan pelatihan untuk membangkitkan semangat berorganisasi dan semangat kepemimpinan dalam mengelola organisasi yang berorientasi pada peningkatan pendapatan. (1) Membangkitkan semangat berorganiasai pada masyarakat yang berorientasi pada peningkatan pendapatan dan penciptaan lapangan kerja/usaha secara mandiri; (2) Membangun kepemimpinan lokal yang mampu mengatasi permasalahan teknis secara sederhana dan aplikatif; (3) Menciptakan kader penggerak semangat dan kreatif dalam menciptakan inovasi baru dalam teknik dan manajemen usahatani terpadu; (4) Membangun landasan berpikir kreatif dan inovatif bagi kader yang terpilih. Sebanyak 75 orang pemuda/pemudi tani yang benar-benar terjun dalam kegiatan usahatani namun memiliki jiwa kreatif dan

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran;

Bentuk Kegiatan;

Lokasi: 1.e

inovatif yang dipilih berdasarkan aspek kemamupan komunikasi, kemampuan teknis usahatani dan kemampuan negosiasi. Masing-masing kecamatan diwakili oleh lima orang sehingga keseluruhan jumlah untuk 15 kecamatan adalah 75 orang. Terbentuknya kelompok pemuda tani inovator yang mampu mengatasi berbagai permasalahan teknis dan manajemen dengan cara prakis dan cepat; Tersedianya tenaga inovator yang mampu membantu petani dalam mengatasi permasalahan usahatani. Pelatihan Jangka Pendek selama 12 hari. Pelaksana kegiatan pelatihan haruslah lembaga yang berpengalaman praktisi dan tidak hanya teori sehingga seluruh hasil pelatihan benar-benar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Materi Training yang disarankan adalah; (1) Basic leadership skill; (2) Metode/cara mengkaji dan mengatasi permasalahan; (3) Manajemen organisasi; (4) Kewirausahaan; (5) Teknik negosiasi. Gorontalo

Pelatihan Pembangunan Kepemimpinan Tingkat Lanjut Bagi Inovator/Training on Advance Leadership Skills Development for Innovator Dasar pertimbangan: Tujuan: Sasaran: Keluaran; Sebagai tindak lanjut dari pelatihan pada kegiatan 1.d, diperlukan adanya pelatihan kepemimpinan dan pengorganisasian masyarkat bagi inovator yang telah ditunjuk. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan memimpin dan mengelola organisasi berbasis masyarakat. Inovator yang telah ditunjuk Terbentuknya jiwa kepemimpinan yang kuat dan tangguh dalam menghadapi berbagai permasalahan teknis dan permaslahan sosial kemasyarakatan Pelatihan Jangka Pendek selama 12 hari. Pelaksana kegiatan pelatihan haruslah lembaga yang berpengalaman praktisi dan tidak hanya teori sehingga seluruh hasil pelatihan benar-benar dapat dimanfaatkan

Bentuk Kegiatan;

Lokasi:

oleh masyarakat. Materi Training yang disarankan adalah; (1) Advance leadership skill; (2) Metode/cara mengkaji dan mengatasi permasalahan tingkat lanjut; (3) Teknik memotivasi; (4) Teknik kajian sosial sederhana; (5) Teknik monitoring dan evaluasi program. Gorontalo

Kegiatan utama kedua yaitu Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pengembangan Matapencaharian Alterinatif/Community Empowerment Through Alternative Livelihood Development; dilaksanakan melalui empat kegiatan yang terdiri dari; (2.a) Pelatihan Pengelolaan Usaha Bersama/Training on Mutual Microbusiness Group Management; (2.b) Proyek percontohan Usaha Bersama/Demonstration Project on Mutual Business Group Development; (2.c) Bantuan Modal untuk Proyek Percontohan/Financial Assistance for Mutual Business Group; dan (2.d) Membuka Pemasaran Bagi Produk Kelompok Usaha Bersama/ Microbusiness Marketing Assistance (2.a) Pelatihan Pengelolaan Usaha Bersama/Training Microbusiness Group Management; Dasar pertimbangan: on Mutual

Tujuan: Sasaran: Keluaran;

Setelah terbentuknya Kelompok Usaha Bersama (KUB), akan dibutuhkan kemampuan anggota dan pengurus untuk mengelola kelompok tersebut. Peningkatan kapasitas dan keterampilan pengurus dan anggota harus dibangun melalui kegiatan pelatihan mengenai pengelolaan kelompok dari sisi bisnis. Materi yang disampaikan dalam pelatihan ini sebaiknya terdiri dari (1) Pengantar manajemen bisnis; (2) Pemasaran produk; (3) Manajemen keuangan; (4) Manajemen produksi; (5) Motivasi dan kewirausahaan. Membentuk, meningkatkan dan memotivasi kemampuan dan keterampilan mengelola usaha. Seluruh kelompok tani yang sudah terbentuk di 15 kecamatan terpilih. Terbentuknya jiwa kewirausahaan yang kuat dan tangguh dalam menghadapi berbagai permasalahan teknis dan permaslahan usaha bersama.

Bentuk Kegiatan;

Lokasi:

(a) Pelatihan kelompok usaha bersama; (b) Materi yang disampaikan dalam pelatihan ini sebaiknya terdiri dari (1) Pengantar manajemen bisnis; (2) Pemasaran produk; (3) Manajemen keuangan; (4) Manajemen produksi; (5) Motivasi dan kewirausahaan; © Pelatih seharusnya merupakan komposisi praktisi bisnis dengan jumlah yang lebih besar, bukan hanya pengamat atau dosen. Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru; Botumoito; Wonosari; Tapa; Taluditi; Patilanggio; Paguat; Kwandang; Anggrek; Tolinggula; dan Atinggola

(2.b) Proyek percontohan Usaha Bersama/Demonstration Project on Mutual Business Group Development; Dasar pertimbangan: Penciptaan kemampuan untuk membangun permodalan di tingkat masyarakat tidak dapat berjalan dengan sendirinya. Oleh karena itu, pemerintah berkewajiban untuk membangun sistem yang memungkinkan masyarakat dalam membangun sistem permodalannya sendiri. Bangunan permodalan itu sendiri tidak akan terwujud jika masyarakat tidak melakukan usaha yang bersifat produktif. Langkah percontohan merupakan langkah dasar untuk membangkitkan kemampuan masyarakat dalam menciptakan usaha produktif. Membentuk, meningkatkan dan memotivasi kemampuan dan keterampilan membangun usaha produktif. Seluruh kelompok tani yang sudah terbentuk di 15 kecamatan terpilih. Terbentuknya jiwa kewirausahaan yang kuat dan tangguh dalam menghadapi berbagai permasalahan teknis dan permaslahan usaha bersama. Proyek pembangunan percontohan usaha produktif berbasis kelompok Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru; Botumoito; Wonosari; Tapa; Taluditi; Patilanggio; Paguat; Kwandang; Anggrek; Tolinggula; dan Atinggola

Tujuan: Sasaran: Keluaran;

Bentuk Kegiatan; Lokasi:

(2.c) Bantuan Modal untuk Proyek Percontohan/Financial Assistance for Mutual Business Group; dan Dasar Sebagai tindak lanjut dari upaya pertimbangan: pembangunan kemampuan permodalan, pemerintah diwajibkan memberikan stimulan dalam bentuk kemudahan perolehan kredit dari perbankan/lembaga keuangan. Selanjutnya kredit yang telah diberikan dapat digunakan untuk digulirkan kepada anggota kelompok lain yang memerlukan Tujuan: Membangun kapasitas permodalan Sasaran: Seluruh kelompok tani yang sudah terbentuk di 15 kecamatan terpilih. Keluaran; Terbentuknya jiwa kewirausahaan yang kuat dan tangguh dalam menghadapi berbagai permasalahan teknis dan permaslahan usaha bersama. Bentuk Proyek percontohan dalam bentuk bantuan Kegiatan; akses modal Lokasi: Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru; Botumoito; Wonosari; Tapa; Taluditi; Patilanggio; Paguat; Kwandang; Anggrek; Tolinggula; dan Atinggola (2.d) Membuka Pemasaran Bagi Produk Kelompok Usaha Bersama/ Microbusiness Marketing Assistance Dasar pertimbangan: Pembangunan sistem agribisnis terpadu tidak akan memberikan hasil optimal jika pelaku usaha hanya mampu melakukan proses produksi tanpa memiliki kemampuan memasarkan produk yang dihasilkannnya. Oleh karena itu diperlukan pembekalan praktis dan pendampingan berkelanjutan bagi pelaku usaha dalam memasarkan produk yang dihasilkannya secara mandiri. Memberikan pemahaman dan kemampuan proses pemasaran smpai pelaku usaha mampu memasarkan produknya secara mandiri Seluruh kelompok tani yang sudah terbentuk di 15 kecamatan terpilih. Terbentuknya kemampuan memasarkan

Tujuan:

Sasaran: Keluaran;

Bentuk Kegiatan; Lokasi:

Pelatihan dan pembinaan teknis dan praktek memasarkan yang dibimbing oleh pelaku usaha yang sudah berhasil Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru; Botumoito; Wonosari; Tapa; Taluditi; Patilanggio; Paguat; Kwandang; Anggrek; Tolinggula; dan Atinggola

3.14.1.2.Subprogram 2.2: Meningkatkan Kapasitas Permodalan Bagi Masyarakat/Improving Community Financial Capital Capacity. Kegiatan pokok yang akan dilaksanakan dibawah subprogram 2.2. terdiri dari; (1) Membangun Tatanan Permodalan Berbasis Kelompok / Develop Group Base Financial Capital Framework; dan (2) Membangun Hubungan Kemitraan dan Menjembatani KUB dengan Lembaga Keuangan, Pengusaha dan Pemerintah/ Establish Lingkage and Partnership Between Microenterprise, Financial Institutions, Private Investor and Local Government; Kegiatan utama pertama yaitu; Membangun Tatanan Permodalan Berbasis Kelompok / Develop Group Base Financial Capital Framework terdiri dari empat kegiatan yang dirinci sebagai berikut; 1.a Membantu Masyarakat Melalui Program Sertifikasi Lahan (PRODA/PRONA)/ Assist the Community in Land/Properties Certification Program (PRODA/PRONA) Dasar Pengaruh penguasaan tanaman tahunan pertimbangan: bukan oleh pemilik lahan (tanaman kelapa dimiliki oleh orang lain sementara tanahnya tetap dimiliki) sangat signifikan terhadap kapasitas pemupukan modal. Lahan yang dipertahankan hanyalah lahan sawah. Praktek ijon banyak ditemukan di hampir semua kecamatan (14) kecamatan kecuali Kecamatan Tapa karena luas pemilikan dan pengusahaan lahan sangat kecil. Umumnya ijon kurang ditemukan pada daerah dengan produktivitas tinggi dan pada saat panen berhasil. Praktek ijon terjadi karena petani tidak mampu untuk membeli faktor produksi sehingga petani tidak bebas menjual kepada pasar yang lebih luas. Disisi lain permasalahan timbul karena pemerintah memberikan bantuan input faktor produksi dalam bentuk benih dan pupuk sehingga

Tujuan:

petani tidak berpikir untuk mengembangkan modalnya karena tidak ada program berkelanjutan bimbingan teknis manajemen keuangan secara berkelanjutan. Akibatnya adalah memperlemah semangat dan daya juang untuk melakukan pemupukan modal. Permasalahan ini terjadi hampir di seluruh desa sentra produksi pangan. Pada saat pemerintah tidak menyediakan faktor produksi secara cuma-cuma, petani kembali tergantung pada tengkulak sehingga praktek ijon kembali terulang dan menjadi benang kusut yang tidak pernah berakhir. Untuk mengatasi permasalahan kompleks tersebut diperlukan program yang mengikat dan pemberian bantuan modal dalam bentuk kredit. Kredit hanya dapat diperoleh jika petani memiliki agunan dalam bentuk sertifikat. Permasalahan kedua timbul yaitu bahwa hampir 80 % lahan usahatani yang dimiliki petani tidak bersertifikat dan bahkan masih ada lahan yang berstatus lahan hutan. Upaya untuk meningkatkan pendapatan dan meningkatkan kapasitas pemupukan modal petani akan selalu gagal tanpa adanya gerakan reformasi pertanian yang dalam program ini diartikan sebagai penyediaan bantuan pemerintah dalam bentuk sertifikasi lahan bagi petani yang memiliki lahan tetapi belum bersertifikat dan pemberian hak atas pemilikian/penguasaan lahan bagi petani yang belum memiliki lahan. (1) Mengurangi ketergantungan petani terhadap pihak pemodal (tengkulak); (2) Meningkatkan status kepemilikan/penguasaan lahan bagi petani yang sudah memiliki lahan tetapi belum bersertifikat; (3) Memberikan hak kepemilikan/penguasaan lahan secara bertahap bagi petani yang memiliki lahan dengan luasan di bawah satu hektar dan bagi petani yang belum memiliki lahan ; (4) Meningkatkan kapasitas pemupukan modal bagi petani melalui pemberian kredit lunak dalam jangka panjang

Keluaran; Bentuk Kegiatan;

Lokasi:

2.800; Boliyohuto 3.239; Telaga Biru 3.268; Botumoito 2.124; Wonosari 1.192; Tapa 3.149; Taluditi 1.158; Patilanggio 979; Paguat 3.197; Kwandang 3.402; Anggrek 2.839; Tolinggula 2.101; Atinggola 2.664, Jumlah 40.597 KK Terlaksananya program sertifikasi lahan untuk penerima manfaat sebanyak 40597 KK (tentatif).. Identifikasi jumlah KK yang akan dilibatkan dalam program sertifikasi untuk menetapkan jumlah definitif; (2) Melaksanakan sosialisasi kegiatan kepada seluruh stakeholder terkait; (3) Melakukan pengukuran dan pemetaan luas areal dan jumlah persil yang akan disertifikasi. Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru; Botumoito; Wonosari; Tapa; Taluditi; Patilanggio; Paguat; Kwandang; Anggrek; Tolinggula; dan Atinggola

1.b Pembentukan dan PenguatanKelompok Usaha Bersama (KUB)/ Establish and Strengthen Mutual Business Group Dasar pertimbangan: Upaya peningkatan pendapatan dapat ditempuh melalui penyediaan kesempatan berusaha sebagai matapencaharian alternatif. Pemanfaatan waktu luang yang tersedia bagi tenaga kerja di sektor pertanian dan pemanfaatan waktu bagi tenaga kerja perempuan merupakan suatu kesempatan untuk merubah peluang menjadi kekuatan. Kenyataan yang dihadapi oleh petani, peternak dan nelayan adalah bahwa kelangkaan modal yang diakibatkan oleh akses yang rendah dan mahalnya biaya modal. Disisi lain, upaya pemerintah yang telah dilakukan dalam bentuk pemberian sarana produksi mengakibatkan ketergantungan dan tidak membangkitkan semangat dalam mengembangkan permodalan. Dari permasalahan tersebut diperlukan adanya solusi dengan cara pembentukan kelompok usaha bersama. Namun demikian diperlukan upaya penguatan kelompok tersebut sehingga

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran; Bentuk Kegiatan;

Lokasi:

mampu menjadi kelompok usaha yang benar-benar melakukan usahanya. Kelompok yang terbentu tidak lagi berorientasi sektoral tetapiberorientasi wilayah, sehingga menurut konsep ini tidak dikenal kelompok pertanian, kelompok perikanan atau kelompok peternakan. (1) Penyediaan kesempatan berusaha bagi masyarakat melalui pembentukan kelompok usaha bersama (KUB). Pembentukan KUB merupakan salah satu cara untuk memperkuat keberdayaan petani, peternak, pembubidaya ikan dan nelayan sehingga memeliki kesempatan untuk meningkatkan pendapatan. hasil akhir yang ingin dicapai adalah bahwa pada akhir masa program jangka menengah terjadi peningkatan pendapatan sebesar 20 % dalam tahun pertama bagi KUB yang paling berhasil. (2) Terbentuknya KUB yang tidak berorientasi sektoral tetapi berorientasi wilayah sehingga semua kelompok tani, kelompok ternak, kelompok nelayan dapat dileburkan menjadi satu untuk meningkatkan efisiensi dalam pembiayaan dan mempermudah koordinasi, dan memperkuat organisasi berbasis wilayah. Pembentukan sebanyak 694 kelompok usaha bersama berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan sebagai pendahuluan. (Data ini tentatif dan masih perlu direidentifikasi) Sebanyak 694 kelompok terbentuk dalam empat tahun. (1) Identifikasi dan Inventarisasi jumlah kelompok yang akan dibentuk; (2) Identifikasi jenis usaha yang sesuai untuk dilaksanakan di masing-masing wilayah; (3) Pembentukan KUB; (4) Pelatihan singkat mengenai pengelolaan KUB. Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru; Botumoito; Wonosari; Tapa; Taluditi; Patilanggio; Paguat; Kwandang; Anggrek; Tolinggula; dan Atinggola

1.c

Membantu dan Membimbing KUB dalam Mengajukan dan Mengelola Dana Pinjaman/Assist and Advise KUB in Credit and Registration Requirements Preparation and Fund management Dasar pertimbangan: Pembentukan kelompok usaha bersama biasanya berakhir dengan kegagalan karena tidak pernah didampingi dan dibimbing dengan baik sesuai dengan kemampuan dan ketrampilan anggota dan pengurus dalam mengelola kelompok dan menghasilkan produk yang sesuai dengan permintaan pasar atau memasarkan produk sehingga mampu diterima oleh konsumen dan berkembang menjadi usaha yang berskala menguntungkan bagi seluruh anggotanya. Kegagalam dimasa lalu sebaiknya menjadi pelajaran bahwa setiap pembentukan kelompok usaha harus selalu diiringi dengan pendampingan dan pembinaan yang berkelanjutan dan komprehensif dan pembinaan tersebut dilakukan oleh profesional yang benar-benar mampu membtnuk, menumbuhkembangkan dan memberikan manfaat bagi anggota dan kelompok yang dibentuknya. Kelemahan dalam pembentukan modal biasanya menjadi kendala utama dalam memulai aktivitas berusaha sehingga seringkali kelompok tidak mampu memulai kegiatannya tanpa ada kelanjutan sehingga kelompok tersebut hanya tinggal sebuah nama. Mengatasi permasalahan pengajuan pinjaman tidak dapat dilakukan hanya dengan upaya singkat sehingga diperlukan adanya pendampingan dan bimbingan dari seorang prfesional sehingga kolateral yang telah dimiliki dalam bentuk sertfikat dapat dimanfatkan dengan baik dan tidak berujung pada masalah baru. Selain diperlukan bimbingan dalam peyiapan persyaratan dan proses pengajuan, juga dibutuhkan bimbingan dalam mengajukan, menerima dan mengelola dana yang sudah diperoleh. Setelah itu diperlukan proses monitoring dan evaluasi berkelanjutan untuk menjamin

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran;

Bentuk Kegiatan;

kelancaran pengebalian dan perolehan manfaat bagi pembentukan modal. (1) Membantu kelompok usaha bersama (anggota dan pengurus) dalam menyiapkan syarat-syarat dan kebutuhan yang diperlukan dalam pengajuan kredit; (2) Menyiapkan anggota dankelompok dalam memahami dan melaksanakan proses pengajuan kredit dengan benar sesuai dengan prosedur yang ditetapkan lembaga keuangan/bank; (3) memberikan bekal yang nyata bagi peningkatan kemampuan masyarakat secara umum; (4) Membimbing dalam penggunaan dana yang diperoleh dari pinjaman; (5) Melakukan Monitoring dan evaluasi; (6) Mengembangkan usaha KUB. Sebanyak 694 kelompok usaha bersama berdasarkan hasil identifikasi yang telah dilakukan pada kegiatan 1.b. (Data ini tentatif dan masih perlu direidentifikasi) (1) Sebanyak 694 kelompok dalam empat tahun, terbina dan mampu mengajukan kredit secara resmi dan sesuai prosedur lembaga keuangan/bank; (2) Seluruh kelompok yang memperoleh pinjaman dapat mengelola dananya dengan baik dan berhasil mengembangkan usahanya sehingga seluruh kelompok dapat memperoleh predikat kredit lancar dari lembaga keuangan/bank; (3) Setidaknya 80 % dari seluruh KUB yang terbentuk berhasil dalam mengembangkan usahanya melalui pembentukan meodal mandiri. (1) Identifikasi dan inventarisasi persyaratan yang dibutuhkan untuk mengajukan kredit; (2) Menyampaikan informasi mengenai persyaratan yang diperlukan dalam pengajuan kredit; (3) Membimbing anggota dan pengurus dalam menyiapkan persyaratan kredit; (4) Mendampingi kelompk dalam proses pengajuan kredit; (5) Mendampingi dan membimbing kelompok dalam menggunakan dana yang diperoleh dari fasiliatas kredit; (6) Melakukan bombingan manajemen dana kredit dan proses pengembaliannya; (7) Melakukan

Lokasi:

monitoring dan evaluasi secara bersama. Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru; Botumoito; Wonosari; Tapa; Taluditi; Patilanggio; Paguat; Kwandang; Anggrek; Tolinggula; dan Atinggola

1.d. Melembagakan Pertemuan Reguler dengan KUB untuk Memonitor dan Mengevaluasi Perkembangan Usaha dan Pengelolaan Dana Pinjaman dan Mengembangkan Usaha/ Institutionalize regular meetings with KUB to monitor business activities, loan fund Management, Evaluating Debtor Performance and Develop their Business. Dasar pertimbangan: Permasalahan yang sering ditemukan dalam mengembangkan usaha bersama dan mengelola pinjaman adalah saling ketidak percayaan yang timbul sebagai akibat ketidakterbukaan antara anggota dan pengurus. Disisi lain, kegagalan juga sering disebabkan oleh lemahnya kemampuan dan keterampilam anggota dan pengurus kelompok dalam mengelola pinjaman. Permasalahan tersebut harus diatasi dengan adanya keterbukaan yang dipastikan terjadi jika dilakukan pertemuan rutin untuk membahas seluruh aspek dalam organisasi kelompok dan aspek usaha. Untuk menjamin keberhasilan dan mengurangi resiko kegagalan diperlukan monitoring, evaluasi dan pengembangan bagi sebuah sistem yang telah dibentuk. Seluruh KUB Terbangunnya kesadaran, kepedulian, semangat dan kapasitas koordinasi dan komunikasi bagi seluruh anggota KUB. Pertemuan reguler setiap bulan antara pendamping dan pembimbing dalam bentuk sub-district workshop yang diadakan pada tingkat kecamatan yang dihadiri oleh seluruh anggota KUB. Acara workshop sebaiknya terdiri dari pembahasan permasalahan dan keberhasilan masingmasing KUB. Tindak lanjut permaslahan yang dihadapi harus ditanggapi dan diselesaikan secara bersama untuk memperoleh solusi. Tindak lanjut

Tujuan:

Sasaran: Keluaran; Bentuk Kegiatan;

Lokasi:

keberhasilan dilakukan dalam bentuk presentasi keberhasilan yang diperoleh pada tingkat yang lebih tinggi yaitu pertemuan tingkat kabupaten dan provinsi yang dilakukan enam bulan sekali. Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru; Botumoito; Wonosari; Tapa; Taluditi; Patilanggio; Paguat; Kwandang; Anggrek; Tolinggula; dan Atinggola

Kegiatan utama kedua yaitu Membangun Hubungan Kemitraan dan Menjembatani KUB dengan Lembaga Keuangan, Pengusaha dan Pemerintah/ Establish Lingkage and Partnership Between Microenterprise, Financial Institutions, Private Investor and Local Government; 2.a Seminar dan workshop untukmembangun komitmen bersama antar stakeholder (KUB, Pemerintah, Lembaga Keuangan/Bank, Pengusaha)/Seminar and workshops on building a partnership commitment amongs stakeholders. Dasar Untuk membentuk sinergi antara pelaku pertimbangan: kelompok usaha bersama dengan pengusaha, pemerintah, lembaga keuangan dan stakeholder lain diperlukan pembangunan komitmen yang akan menjamin keberhasilan program pembangunan agribisnis dalam jangka panjang. Komitmen lisan saja tidak mencukupi untuk menjadi jaminan keberhasilan. Diperlukan komitmen tertulis yang akan menjadi acuan bagi terlaksananya keberhailan dan sinergi pada setiap lini. Tujuan: Membangun komitmen untuk membentuk sinergi antara pelaku kelompok usaha bersama dengan pengusaha, pemerintah, lembaga keuangan dan stakeholder lain Sasaran: Seluruh KUB, Pelaku usaha yang terlibat, Pemerintah, Lembaga Keuangan/Bank, BUMN/BUMD. Keluaran; Terbangunnya komitmen tertulis antara semua stakeholder Bentuk Pertemuan reguler setiap enam bulan yang Kegiatan; melibatkan semua stakeholder terkait. Lokasi: Gorontalo

.2.b

Workshop berkelanjutan untuk monitoring dan evaluasi perkembangan kemitraan Dasar Untuk menjamin keberhasilan pelaksanaan pertimbangan: dan melakukan pengambilan keputusan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi KUB diperlukan adanya workshop terpadu untuk memonitor dan mengevaluasi perkembangan setiap KUB. Selain itu dalam workshop tersebut dilakukan langkah antisiatif atas permasalahan yang mungkin terjadi dan menyusun strategi bagi penyelesaian permasalahan yang terjadi. Feed back dan solusi selanjutnya akan dijadikan sebagai lesson learned bagi KUB. Tujuan: Monitoring, evaluasi dan feedback management. Sasaran: Seluruh KUB, Pemerintah, Lembaga Keuangan/Bank, dan stakeholder lain. Keluaran; Terlaksananya proses monitoring, evaluasi dan feedback management. Bentuk Pertemuan reguler setiap enam bulan yang Kegiatan; melibatkan semua stakeholder terkait. Lokasi: Gorontalo

3.14.1.3.Subprogram 2.3: Membangun Kapasitas Penciptaan Pendapatan Bagi Masyarakat/Increasing Income-generating Capacity of Communities. Kegiatan utama yang akan dilaksanakan dibawah program 2.3. meliputi; (1) Pelatihan Teknis Bagi Petani Tanaman Pangan, Perkebunan, Peternakan, Perikanan, Nelayan; (2) Menyediakan Paket Pilot Project/ Establish Pilot Project; Kegiatan Utama 2.3.1. yaitu Pelatihan Teknis Bagi Petani Tanaman Pangan, Perkebunan, Peternakan, Perikanan, Nelayan terdiri dari kegiatan sebagai berikut 1.a. Pelatihan Teknis Industri Primer Berbasis Pertania/Technical Training on Agriculture Primary Industries: (i) Pelatihan Teknis Sistem Agribisnis bagi masyarakat (Petani, Peternak, Pembudidaya, KUB dan Nelayan) /Community (Farmer Groups, Fishermen, KUB) Technical Training on Agribusiness System; (ii) Pelatihan Teknis Agronomi/Training on Agronomy Techniques (10 days); (iii) Pelatihan Teknis Budidaya Laut/Training on

Mariculture Techniques (10 days); (iv) Pelatihan Teknis Peternakan di Bawah Pohon Kelapa/Training on Integrated Coconut-Cattle Growing Techniques; (v) Pelatihan Teknis Usahatani Hortikultura/Training on Horticulture Farming Techniques; (vi) Pelatihan Usaha Tanaman Perkebunan Rakyat/ Training on Small-scale Estate Crops Development 1.b.. Pelatihan Mambangun Jaringan Pemasaran / Training on marketing linkages and network building 1.c. Pelatihan Pengembangan Matapencaharian Alternatif/ Training on Alternative Livelihood Development Kegiatan Pelatihan Teknis Industri Primer Berbasis Pertania/Technical Training on Agriculture Primary Industries: meliputi enam sub-kegiatan yang terdiri dari; (i) Pelatihan Teknis Sistem Agribisnis bagi masyarakat (Petani, Peternak, Pembudidaya, KUB dan Nelayan) /Community (Farmer Groups, Fishermen, KUB) Technical Training on Agribusiness System; Dasar pertimbangan: Pengetahuan umum dan teknis mengenai sistem agribisnis sangat diperlukan untuk membangun kerangka pengembangan dan menggerakkan agribisnis terpadu sebagai bekal bagi pateni, peternak dan nelayan dalam mengembangkan usahanya. Aspek penyediaan faktor input (sarana produksi), teknik produksi, pemanenan, penanganan pasca panen, packaging, pemasaran, sistem informasi dan kelembagaan haruslah menjadi kegiatan yang tidak terpisahkan untuk mencapai efisiensi dan keuntungan yang rasional sehingga kelestarian usaha dapat terjadi dengan sendirinya. Untuk meletakkan dasar-dasar pemahaman dan pengetahuan teknis umum tersebut diperlukan suatu pelatihan yang bersifat onsite training dengan pelatih dan sarana pelatihan yang mumpuni. Memberikan pemahaman yang mendasar bagi petani dalam aspek penyediaan faktor input (sarana produksi), teknik produksi, pemanenan, penanganan pasca panen, packaging, pemasaran, sistem informasi dan kelembagaan. Sebanyak 150 orang petani, peternak dan nelayan setiap tahun memperoleh pelatihan.

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran; Bentuk Kegiatan;

Lokasi:

Terbentuknya wawasan pengetahuan dasar menenai teknis agribisnis bagi 750 orang petani yang mewakili kelompoknya Pelatihan dasar Agribisnis yang mencakup aspek penyediaan faktor input (sarana produksi), teknik produksi, pemanenan, penanganan pasca panen, packaging, pemasaran, sistem informasi dan kelembagaan. Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru; Botumoito; Wonosari; Tapa; Taluditi; Patilanggio; Paguat; Kwandang; Anggrek; Tolinggula; dan Atinggola

(ii) Pelatihan Teknis Agronomi/Training on Agronomy Techniques (10 days); Dasar pertimbangan: Pengetahuan teknis budidaya pertanian tanaman pangan merupakan aspek yang mutlak untuk dikuasai sepenuhnya oleh petani sehingga produksi yang dihasilkan mencapai tingkat yang optimum, efisien dan menguntungkan dalam jangka panjang dengan menggunakan sarana produksi yang tersedia. Kenyataan menunjukkan bahwa di Kecamatan Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru; Botumoito; Wonosari; Tapa; Taluditi; Patilanggio; Paguat; Kwandang; Anggrek; Tolinggula; dan Atinggola, sistem produksi belum mencapai tingkat produksi optimal yang diperlihatkan dari produktivitas per satuan lahan yang masih lebih rendah dari rata-rata produksi optimum. Dari pertimbangan tersebut diperlukan adanya terobosan nyata dalam teknis budidaya pertanian melalui pelatihan yang mendalam bagi jenis komoditas yang prospektif dan potensial untuk dikembangkan. Membangun kapasitas teknis petani dalam aspek produksi dan meningkatkan kreatifitas petani dalam memanfaatkan sarana produksi yang tersedia. Tujuan pokoknya adalah membentuk keterampilan petani dalam manajemen produksi sehingga pengambilan keputusan manajemen

Tujuan:

Sasaran: Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi:

usahatani dapat secara optimal berpengaruh nyata terhadap tingkat produktivitas. Sebanyak 150 orang petani tanaman pangan setiap tahun memperoleh pelatihan selama 5 tahun. Terbentuknya pengetahuan dan kemampuan teknis produksi bagi 750 orang petani yang mewakili kelompoknya. Pelatihan teknis budidaya pertanian tanaman pangan. Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru; Botumoito; Wonosari; Tapa; Taluditi; Patilanggio; Paguat; Kwandang; Anggrek; Tolinggula; dan Atinggola

(iii) Pelatihan Teknis Budidaya Laut/Training on Mariculture Techniques (10 days); Dasar pertimbangan: Potensi perairan pantai di Kecamatan Boliyohuto, Botumoito, Paguat, Kwandang, Anggrek, Tolinggula dan Atinggola sudah mulai dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya laut dengan jenis komoditas ikan karang (misalnya kerapu dan kakap) dan rumput laut. Namun demikian teknik budidaya bagi jenis komoditas tersebut belum sepenuhnya mengacu pada teknik budidaya yang mempertimbangkan aspek kelestarian produksi, kelestarian lingkungan dan produktivitas. Manajemen produksi masih sangat lemah terutama dalam tahap pemeliharaan. Diperlukan pemahaman teknis produksi bagi pembudidaya sehingga usaha budidaya laut memberikan jaminan hasil yang optimal, efisien dan berkelanjutan. Peningkatan pemahaman teknik nudidaya laut bagi masyarakat pesisisr. Masyarakat peissir di Kecamatan Boliyohuto, Botumoito, Paguat, Kwandang, Anggrek, Tolinggula dan Atinggola Terbentuknya pemahaman dan penguasaan teknis budidaya rumput laut dan karamba jaring apung bagi 405 orang masyarakat di kecamatan Kecamatan Boliyohuto,

Tujuan: Sasaran: Keluaran;

Bentuk Kegiatan; Lokasi:

Botumoito, Paguat, Kwandang, Anggrek, Tolinggula dan Atinggola. Pelatihan bagi 135 orang pada tahun 2009, 135 orang pada tahun 2112 dan 135 orang pada tahun 2114. Boliyohuto; Botumoito; Paguat; Kwandang; Anggrek; Tolinggula; dan Atinggola

(iv) Pelatihan Teknis Peternakan di Bawah Pohon Kelapa/Training on Integrated Coconut-Cattle Growing Techniques; Dasar pertimbangan: Pengaruh penguasaan tanaman tahunan bukan oleh pemilik lahan (tanaman kelapa dimiliki oleh orang lain sementara tanahnya tetap dimiliki) sangat signifikan terhadap kapasitas pemupukan modal. Lahan yang dipertahankan hanyalah lahan sawah. Praktek ijon banyak ditemukan di hampir semua kecamatan (14) kecamatan kecuali Kecamatan Tapa karena luas pemilikan dan pengusahaan lahan sangat kecil. Umumnya ijon kurang ditemukan pada daerah dengan produktivitas tinggi dan pada saat panen berhasil. Praktek ijon terjadi karena petani tidak mampu untuk membeli faktor produksi sehingga petani tidak bebas menjual kepada pasar yang lebih luas. Disisi lain permasalahan timbul karena pemerintah memberikan bantuan input faktor produksi dalam bentuk benih dan pupuk sehingga petani tidak berpikir untuk mengembangkan modalnya karena tidak ada program berkelanjutan bimbingan teknis manajemen keuangan secara berkelanjutan. Akibatnya adalah memperlemah semangat dan daya juang untuk melakukan pemupukan modal. Permasalahan ini terjadi hampir di seluruh desa sentra produksi pangan sehingga mereka tidak memiliki kemampuan untuk melakukan proses produksi. Peningkatan pemahaman teknik budidaya sapi di bawah pohon kelapa sehingga terjadi peningkatan pendapatan. Masyarakat yang memiliki lahan perkebunan kelapa skala kecil di kecamatan Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru;

Tujuan: Sasaran:

Keluaran;

Bentuk Kegiatan; Lokasi:

Botumoito; Wonosari; Tapa; Taluditi; Patilanggio; Paguat; Kwandang; Anggrek; Tolinggula; dan Atinggola Terbentuknya pemahaman dan penguasaan teknis budidaya sapi di bawah pohon kelapa di Kecamatan Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru; Botumoito; Wonosari; Tapa; Taluditi; Patilanggio; Paguat; Kwandang; Anggrek; Tolinggula; dan Atinggola Pelatihan teknis seluruh aspek budidaya sapi di bawah pohon kelapa bagi 540 orang selama tahun 209-2014, masing-masing 90 orang setiap tahun. Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru; Botumoito; Wonosari; Tapa; Taluditi; Patilanggio; Paguat; Kwandang; Anggrek; Tolinggula; dan Atinggola

(v) Pelatihan Teknis Usahatani Hortikultura/Training on Horticulture Farming Techniques; Dasar pertimbangan: Pengembangan budidaya hortikultura dengan teknologi tepatguna dan efisien dilakukan sebagai upaya diversifikasi produksi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan pangan pada periode musim yang tidak sesuai untuk komoditas pangan. Disisi lain diperlukan tambahan penghasilan bagi petani skala kecil sehingga mereka berdaya untuk melakukan proses produksi dan mencukupi seluruh kebutuhan konsumsi secara sustainable. Peningkatan intensitas tanam dan efisiensi sumberdaya lahan untuk meningkatkan pendapatan Sebanyak 675 KK petani di Kecamatan Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru; Botumoito; Wonosari; Tapa; Wonosari Peningkatan efisiensi pemanfaatan sumberdaya lahan dan meningkatnya pendapatan keluarga petani. Pelatihan teknis seluruh aspek budidaya hortikultura di bagi 675 orang selama tahun 209-2014, masing-masing 225 orang pada

Tujuan: Sasaran:

Keluaran; Bentuk Kegiatan;

Lokasi:

tahun 2009, 2012, 2014. Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru; Botumoito; Wonosari; Tapa; Wonosari

(vi) Pelatihan Usaha Tanaman Perkebunan Rakyat/ Training on Smallscale Estate Crops Development Dasar pertimbangan: Pengembangan budidaya tanaman perkebunan dengan teknologi tepatguna dan efisien dilakukan sebagai upaya diversifikasi produksi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan yang sesuai untuk komoditas perkebunan. Disisi lain diperlukan tambahan penghasilan bagi petani skala kecil sehingga mereka berdaya untuk melakukan proses produksi dan mencukupi seluruh kebutuhan konsumsi secara sustainable. Peningkatan pemahaman dan pengetahun praktis untuk memulai budidaya tanaman perkebunan Sebanyak 450 orang dari Kecamatan Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru; Botumoito; Wonosari; Tapa; Taluditi; Patilanggio; Paguat; Kwandang; Anggrek; Tolinggula; dan Atinggola terbentuknya usaha tanaman perkebunan skala kecil Pelatihan teknis seluruh aspek budidaya perkebunan bagi 450 orang selama tahun 209-2011, masing-masing 225 orang pada tahun 2009 dan 2011. Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru; Botumoito; Wonosari; Tapa; Taluditi; Patilanggio; Paguat; Kwandang; Anggrek; Tolinggula; dan Atinggola

Tujuan: Sasaran:

Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi:

1.b. Pelatihan Mambangun Jaringan Pemasaran / Training on marketing linkages and network building Dasar pertimbangan: Timbulnya tantangan pasar global dan pasar domestik merupakan sasaran dengan diferensiasi produk yang disesuaikan dengan permintaan dan pola konsumsi .

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran; Bentuk Kegiatan;

Lokasi:

Penguatan masyarakat pelaku usaha perlu dilakukan untuk pengembangan pasar, baik pasar domestik maupun ekspor, utnutk itu diperlukanpeningkatan pemahaman dan pengetahun tentang sistem pasar dan cara menguasai pasar secara praktis. Peningkatan pemahaman, pengetahuan dan keterampilan pelaku usaha untuk menguasai sistem pasar dan pemasaran sehingga terbentuk kemampuan membentuk jaringan pasar. Sebanyak 675 orang pelaku usaha sektor pertanian skala kecil di Kecamatan Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru; Botumoito; Wonosari; Tapa; Taluditi; Patilanggio; Paguat; Kwandang; Anggrek; Tolinggula; dan Atinggola Terbangunnya pemahaman, pengetahuan, kemampuan untuk membentuk jaringan pemasaran. Pelatihan teknis seluruh aspek pasar, pemasaran dan jaringan pemasaran bagi 675 orang selama tahun 209-2014, masingmasing 225 orang pada tahun 2009, 2011, 2013. Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru; Botumoito; Wonosari; Tapa; Taluditi; Patilanggio; Paguat; Kwandang; Anggrek; Tolinggula; dan Atinggola

1.c. Pelatihan Pengembangan Matapencaharian Alternatif/ Training on Alternative Livelihood Development Dasar pertimbangan: Salahsatu skenario pemecahan masalah yang harus dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Gorntalo adalah dengan mempersiapkan masyarakat yang tidak memiliki sumberdaya untuk menghadapi ancaman degradasi sumberdaya dengan memberdayakan keluarga petani, peternak, nelayan dan pembudidaya melalui berbagai program pengembangan matapencaharian alternatif (MPA). (1) menyediakan lapangan usaha baru sehingga meningkatkan pendapatan

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran; Bentuk Kegiatan;

Lokasi:

keluarga petani, peternak, nelayan dan pembudidaya; (2) menyediakan kesempatan kerja bagi kelompok usia produktif yang belum memperoleh pekerjaan; (3) meningkatkan nilai tambah bagi produk pertanian; (4) mengentaskan kemiskinan masyarakat dan pada akhirnya menggerakkan perekonomian lokal berbasis masyarakat. Sasaran pertama bagi 675 orang anggota keluarga petani/peternak/nelayan/pembudidaya Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru; Botumoito; Wonosari; Tapa; Taluditi; Patilanggio; Paguat; Kwandang; Anggrek; Tolinggula; dan Atinggola Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan pengembangan usaha Pelatihan bagi 675 orang anggota keluarga petani/peternak/nelayan/pembudidaya Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru; Botumoito; Wonosari; Tapa; Taluditi; Patilanggio; Paguat; Kwandang; Anggrek; Tolinggula; dan Atinggola Pulubala; Tibawa; Mootilango; Boliyohuto; Telaga Biru; Botumoito; Wonosari; Tapa; Taluditi; Patilanggio; Paguat; Kwandang; Anggrek; Tolinggula; dan Atinggola Perkebunan

3.14.1.4.Subprogram 2.4: Revitalisasi Rakyat/Revitalize Small-holder Estate Crops.

Kegiatan utama yang akan dilaksanakan dibawah sub-program 2.4. meliputi; (1) Revitalisasi Perkebunan Kelapa; (2) Revitalisasi dan Rehabilitasi Cengkeh Rakyat; (3) Pengembangan Komoditas Kakao; (4) Pengembangan Komoditas Lada 4.1. Revitalisasi Perkebunan Kelapa 1.a. Workshop Revitalisasi dan Reformasi Kepemilikan pohon Kelapa Dasar Perkebunan kelapa rakyat saat ini seolahpertimbangan: olah sudah mati suri. Tidak banyak program yang secara sungguh-sungguh membangun perkebunan rakyat yang mencakup seluruh

aspek agribisnis. Hanya kegiatan perdagangan yang dilakukan oleh pihak swasta dan penguasaan tanaman kelapa oleh pihak pemodal pada saat harga kelapa jatuh. Akibat semakin besarnya penguasaan pohon kelapa oleh pemilik modal, kekuatan petani kelapa semakin melemah yang pada akhirnya penguasaan lahan pun terjadi. Kasus di Kecamatan Patilanggio, Paguat, Botumoito dan Kecamatan-kecamatan lain membuktikan penguasaan tanaman kelapa mengakibatkan melemahnya kekuatan petani pemilik lahan skala kecil. Meningkatnya harga kopra di Pasar Dunia Mengakibatkan petani yang ingin kembali memiliki pohon kelapa yang ada pada lahan mereka tidak mampu melakukannya karena harga pohon-pun telah melambung tinggi. Pemerintah harus bertindak tegas untuk menyelesaikan masalah tersebut mengingat lebih dari 30% areal pertanaman kelapa di Seluruh Provinsi Gorontalo sudah dimiliki oleh bukan pemilik lahannya. Pembiayaan untuk membeli kembali pohon kelapa oleh petani pemilik lahan jelas sulit dilakukan karena kekuatan pemilik modal (umumnya etnis China) jauh lebih besar daripada kekuatan petani dan tidak ada satupun pihak yang membela petani. Para pejabat di semua lokasi selalu menutupi kenyataan ini dan belum pernah memunculkan permasalahan ini dalam forum workshop maupun pada saat diskusi. Data hanya diperoleh dari berbagai wawancara dengan petani pemilik lahan yang pohonnya ditandai dengan kata sandi, misalnya LAE, berarti pemilik pohon kelapa tersebut adalah Ishak Katili, dsb. Biasanya pejabat pemerintah (dari tingkat yang paling rendah) menyatakan bahwa urusan jual-beli pohon kelapa adalah urusan pribadi yang tidak dapat diintervensi. Praktek pemilikan pohon kelapa oleh pihak selain pemili lahan disebut BUDEL. Sudah saatnya pemerintah bertindak untuk membela rakyat, minimal dengan

Tujuan: Sasaran: Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi:

menjembatani pemilik lahan dengan pemilik pohon untuk mengatur pengembalian pohon kepada pemilik lahan. Issue strategis ini jelas tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena terbukti bahwa pemilik lahan yang pohon kelapanya dimiliki orang lain dan tidak memiliki lahan tanaman pengan, kapasitas pemupukan modal keluarganya sangat rendah (bernilai negatif). Kapasitas pemupukan modal yang bernilai negatif tersebut memberikan indikasi bahwa daya beli mereka sangat rendah karena penghasilan keluarganya hanya bersumber dari berburuh pada pemilik pohon kelapa. Sungguh sangat ironis dan dilematis karena pemilik lahan menjadi buruh di lahannya sendiri. Salahsatu upaya awal yang harus dilakukan adalah membahas permasalahan tersebut pada workshop yang terbuka yang juga dihadiri oleh beberapa perwakilan pemilik lahan dan pemilik pohon kelapa. Pada workshop tersebut harus dibahas permasalahan yang sesungguhnya untuk mencari jalan pemecahan. Bukti bahwa Kecamatan Patilanggio sebagai sentra produksi jagung terbesar di Seluruh Provinsi Gorontalo adalah Benar tetapi IPM Kecamatan ini adalah terrendah. Salahsatu penyebab rendahnya IPM Patilanggio disebabkan oleh adanya praktek Budel tersebut. Mencari solusi atas permasalahan yang timbul akibat praktek BUDEL. Pemilik lahan yang pohon kelapanya dimiliki pihak lain Ditemukannya titik temu untuk penyelesaian permalahasan BUDEL Workshop Tahap pertama di Masing-masing Ibukota Kabupaten, Kemudian di Ibukota Provinsi Gorontalo

1.b. Upaya Penguatan Modal Petani Korban Praktek Budel

Dasar pertimbangan:

Tujuan: Sasaran: Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi:

Petani termiskin yang tidak memiliki lahan pertanian tanaman semusin mencakup sekitar 20 % dari jumlah seluruh petani di Kecamatan Patilanggio, Taluditi, dan Paguat. Perkiraan yang diperoleh dari hasil observasi menunjukkan bahwa 50% petani dari kelompok tersebut bekerja sebagai buruh tani pada lahannya sendiri. Kondisi tersebut terjadi karena (1) jarak tanam kelapa yang cukup rapat sehingga tidak dapat menanam tanaman semusim di bawah kanopi kelapa; (2) tidak memiliki modal untuk beternak sapi. Dari pertimbangan tersebut diperkirakan terdapat 711 KK petani sangat miskin yang harus diberi bantuan permodalan yang dilengkapi dengan pelatihan dan penyediaan lahan pertanian tanaman pangan. Meningkatkan Kapasitas pemupukan modal dan meningkatkan produktivitas kerja. 711 KK petani sangat miskin Pemilik lahan kelapa korban Budel di Kecamatan Patilanggio, Paguat dan Taluditi. Tersedianya lahan untuk usahatani tanaman pangan dan menguatnya kemampuan permodalan dalam tahun ketiga. Pelatihan Teknis, Penyedian bantuan permodalan, pengadaan lahan pertanian tanaman pangan. Kecamatan Patilanggio, Taluditi dan Paguat

1.c. Peremajaan Areal Penanaman Kelapa Dasar pertimbangan: Terdapat sekitar 2760 ha tanaman Kelapa yang rusak dan atau tidak menghasilkan. Luas areal tanaman rusak di masing-masing kecamatan (13 Kecamatan) mencakup; Pulubala; 21,5ha, Tibawa; 55ha, Mootilango; 155,9ha, Boliyohuto; 146,2ha, Telaga Biru; 129,7ha, Botumoito; 530ha, Tapa; 155ha, Patilanggio; 135ha, Paguat; 97ha, Kwandang; 182,55ha, Anggrek; 182,55ha, Tolinggulaha; 154,5ha dan Atinggola; 816,3ha. Prospek kelapa di masa depan diperkirakan akan lebih baik dengan semakin meningkatnya permintaan

Tujuan:

Sasaran: Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi:

terhadap minyak sawit dan minyak jagung. Disisi lain, menurunnya cadangan bahan bakar fosil yang berasal dari minyak bumi secara signifikan meningkatkan permintaan terhadap minyak nabati sebagai komplemen minyak bumi dan bahkan sebagai substitusi. Peningkatan tersebut bersifat permanen mengingat bahan bakar fosil merupakan sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui. Bantuan pemerintah sebagai stimulan dapat berbentuk penyediaan bibit kelapa dalam varietas unggul. Masing-masing hektar mendapat bantuan sebanyak 50 % bibit kelapa (42 pohon). Meningkatkan semangat petani untuk menanam pohon kelapa, meningkatkan semangat dan daya tarik petani kelapa dalam meningkatkan produksinya perlu dilakukan rehabilitasi/ peremajaan terhadap tanaman yang rusak tersebut. Menyediakan cadangan bahan baku minyak goreng pada periode delapan tahun yang akan datang. 2760 ha tanaman kelapa rusak/tidak menghasilkan. Terehabilitasinya areal tanaman kelapa rusak. Pelatihan Teknis, Penyediaan bibit, distribusi bibit Pulubala, Tibawa, Mootilango, Boliyohuto, Telaga Biru, Botumoito, Tapa, Patilanggio, Paguat, Kwandang, Anggrek, Tolinggula dan Atinggola Revitalisasi dan dan Rehabilitasi Cengkeh Lahan

4.2. Rakyat

2.a. Reinventarisasi Cengkeh Dasar pertimbangan:

Identifikasi

Kesesuaian

Secara tradisional, cengkeh merupakan komoditas primadona yang pernah dibudidayakan secara luas di seluruh Provinsi Gorontalo. Sejak beroperasinya BPPC harga jual cengkeh pada tingkat petani sangat rendah sehingga merugikan petani. Sejak sistem monopoli dan

Tujuan:

Sasaran: Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi:

monopsoni cengkeh oleh BPPC, harga komoditas tidak pernah meningkat lagi dan pembentukan harga tidak sesuai dengan mekanisme pasar sehingga petani tidak memperoleh harga yang layak, akhirnya petani tidak memperoleh keuntungan yang rasional. Akibat berlanjutnya sistem yang menghancurkan sistem pasar, petani tidak tertarik lagi untuk memelihara tanaman cengkeh miliknya. Konsekuensi terakhir adalah hampir seluruh tanaman cengkeh dihancurkan oleh petani sendiri. Sejak berakhirnya monopoli, prospek komoditas cengkeh kembali membaik yang ditandai dengan meningkatnya harga. Untuk meningkatkan pendapatan petani di masa datang, diperlukan intervensi melalui revitalisasi dan rehabilitasi areal pertanaman cengkeh sebagai langkah awal untuk membangun kembali perkebunan rakyat. Mengumpulkan data dan informasi mengenai luas areal tanaman cengkeh rakyat, kesesuaian lahan, tingkat produksi dan sistem usahatani cengkeh. Sentra produksi cengkeh di Kabupaten Gorontalo, Pohuwato, Boalemo, BoneBolango dan Gorontalo Utara Laporan hasil inventarisasi dan identifikasi. Survey, investigasi, desain dan perencanaan Kabupaten Gorontalo (1392ha), Pohuwato (30ha), Boalemo (10ha), Bone-Bolango (1376ha) dan Gorontalo Utara (267ha)

2.b. Penyediaan Bibit Cengkeh dan Penanaman Kembali oleh Petani Dasar pertimbangan: Lahkah kedua proses revitalisasi dan rehabilitasi adalah dengan disediakannya bibit cengkeh sebagai stimulan dari pemerintah untuk merangsang daya tarik bagi petani. Memberikan stimulan sebagai daya tarik kepada petani cengkeh untuk menanam dan mengembangkan komoditas cengkeh. Selain

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi:

itu diharapkan tanaman yang rusak dan sudah tidak menghasilkan direhabilitasi dan dipelihara dengan baik sesuai dengan teknik budidaya yang baik. Petani yang pernah menanam cengkeh tetapi tanamannya rusak dan perlu di rehabilitasi di Sentra produksi Kabupaten Gorontalo (Kec. Telaga Biru: 264 ha), dan Gorontalo Utara (Tolinggula; 66ha, Atinggola; 152ha)) Tersedianya dan terdistibusinya bibit cengkeh varietas unggul kepada setiap petani sasaran. Pengadaan Bibit Kabupaten Gorontalo (Kec. Telaga Biru: 264 ha), dan Gorontalo Utara (Tolinggula; 66ha, Atinggola; 152ha))

4.3. Pengembangan Komoditas Kakao 3.a. Kajian kesesuaian lahan dan identifikasi wilayah potensial untuk tanaman kakao Dasar pertimbangan: Kakao merupakan komoditas perkebunan yang memiliki prospek pasar yang cerah dan ditunjukkan dengan semakin meningkatnya permintaan, terutama permintaan dari pasar internasional. Seiring dengan peningkatan kuantitas permintaan pasar, harga kakao di pasar internasional semakin meningkat. Sebagai komoditas yang masih dianggap relatif baru bagi masyarakat petani di Provinsi Gorontalo, diperlukan adanya upaya untuk mengembangkan produksi kakao. Upaya tersebut ditujukan untuk memberikan pilihan yang lebih luas bagi masyarakat dalam membangun sumber pendapatan yang lebih beragam. Perkebunan kakao rakyat skala kecil lebih sesuai untuk Provinsi Grorontalo dibandingkan dengan mengembangkan perkebunan besar karena manfaat dan dampak ekonomi yang dihasilkan akan lebih dirasakan oleh masyarakat. Untuk membangun perkebunan skala kecil diperlukan identifikasi dan

Tujuan: Sasaran:

Keluaran;

Bentuk Kegiatan; Lokasi:

analisis kesesuaian lahan di beberapa kecamatan yang secara tradisional sudah mengembangkan kakao. Memperoleh gambaran definitif mengenai wilayah yang sesuai untuk pengembangan perkebunan kakao rakyat. Wilayah Kecamatan Botumoito, Taluditi, Patilanggio, Paguat, Tibawa, Telaga Biru, Atinggola, Tolinggula, Kwandang, dan Anggrek Tersedianya informasi dan data akurat mengenai kesesuaian lahan dan wilayah potensial untuk pengembangan komoditas kakao skala kecil. Survey, investigasi, desain dan perencanaan kesesuaian lahan Kabupaten Gorontalo, Pohuwato, Boalemo, dan Gorontalo Utara

3.b. Workshop dan Pelatihan Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman kakao Dasar pertimbangan: Sosialisasi dan pemahaman terhadap diversifikasi usahatani tanaman perkebunan sangat diperlukan untuk membangun tatanan yang lengkap dan serasi diantara seluruh stakeholder yang akan terlibat dalam pengembangan usaha perkebunan skala kecil. Untuk tujuan tersebut diperlukan adanya worshop dan pelatihan bagi petani perkebunan yang sudah melaksanakan usahatani kakao. Mengingat komoditas kakao memerlukan penanganan khusus dalam pemeliharan dan penanganan pasca panen maka diperlukan juga pembekalan metode pemeliharaan dan penanganan pasca panen. Sosialisasi dan pembekalan teknis usaha perkebunan rkayat skala kecil untuk komoditas kakao Petani yang sudah mengusahakan komoditas kakao secara tradisional, belum menerapkan teknis budidaya, pemeliharaan dan penanganan hasil (pasca panen) Terbentuknya pemahaman mengenai berbagai aspek budidaya, pemeliharaan dan

Tujuan: Sasaran:

Keluaran;

Bentuk Kegiatan; Lokasi:

pasca panen komoditas kakao. Workshop dan pelatihan singkat Kabupaten Gorontalo, Pohuwato, Boalemo, dan Gorontalo Utara calon petani peserta pengembangan

3.c. Identifikasi komoditas kakao Dasar pertimbangan:

Tujuan: Sasaran:

Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi:

Pengembangan komoditas kakao sebagai alternatif diversifikasi memerlukan pelaksana usaha yang memiliki dedikasi dan ketekunan dalam berusaha. Siffat komoditas kakao yang memerlukan pemeliharaan dan penanganan pasca panen yang intensif dan berkelanjutan harus dilakukan oleh petani yang memiliki keterampilan dan kemampuan teknis selain memiliki ketekunan dalam bekerja. Untuk menjamin keberhasilan proyek percontohan diperlukan seleksi bagi calon petani yang akan menerima paket demonstrasi. Melakukan seleksi calon petani penerima paket demonstrasi. Petani yang sudah mengusahakan komoditas kakao secara tradisional, belum menerapkan teknis budidaya, pemeliharaan dan penanganan hasil (pasca panen) Terpilihnya petani calon penerima manfaat. Kegiatan identidikasi, inventarisasi dan seleksi calon petani. Kabupaten Gorontalo, Pohuwato, Boalemo, dan Gorontalo Utara

3.d. Penyediaan Bibit kakao varietas unggul Dasar pertimbangan: Impelementasi pelaksanaan pengembangan komoditas kakao skala kecil dilakukan dengan penyediaan paket demostrasi berupa bibit kakao varietas unggul. Bibit unggul sebaiknya didatangkan dari sentra produksi bibit yang sudah memiliki sertifikat dan diakui keberadaannya oleh Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian. Menyediakan bibit kakao varietas unggul 663 ha.

Tujuan:

Sasaran:

Keluaran;

Bentuk Kegiatan; Lokasi:

Petani yang sudah mengusahakan komoditas kakao secara tradisional, belum menerapkan teknis budidaya, pemeliharaan dan penanganan hasil (pasca panen) Tersedianya bibit kakao varietas unggul untuk ditanaman pada areal seluas 597 ha. Jumlah bibit kakao yang disediakan adalah sebanyak 663000 bibit. Pengadaan Bibit kakao varietas unggul Botumoito 312 ha, Taluditi 35 ha, Patilanggio 35 ha, Paguat 35 ha, Tibawa 17 ha, Telaga Biru 25 ha, Atinggola 35 ha, Tolinggula 35 ga, Kwandang 34 ha, Anggrek 35 ha

4.4. Pengembangan Komoditas Lada 4.a. Kajian kesesuaian lahan dan identifikasi wilayah potensial untuk tanaman lada Dasar pertimbangan: Lada merupakan komoditas perkebunan yang memiliki prospek pasar yang cerah dan ditunjukkan dengan semakin meningkatnya permintaan, terutama permintaan dari pasar internasional. Seiring dengan peningkatan kuantitas permintaan pasar, harga lada di pasar internasional semakin meningkat. Sebagai komoditas yang masih dianggap relatif baru bagi masyarakat petani di Provinsi Gorontalo, diperlukan adanya upaya untuk mengembangkan produksi Upaya tersebut ditujukan untuk memberikan pilihan yang lebih luas bagi masyarakat dalam membangun sumber pendapatan yang lebih beragam. Perkebunan vanili rakyat skala kecil lebih sesuai untuk Provinsi Grorontalo dibandingkan dengan mengembangkan perkebunan besar karena manfaat dan dampak ekonomi yang dihasilkan akan lebih dirasakan oleh masyarakat. Untuk membangun perkebunan lada skala kecil diperlukan identifikasi dan analisis kesesuaian lahan di beberapa kecamatan yang dianggap potensial untuk

Tujuan: Sasaran: Keluaran;

Bentuk Kegiatan; Lokasi:

dijadikan sentra produksi. Memperoleh gambaran definitif mengenai wilayah yang sesuai untuk pengembangan perkebunan lada rakyat. Kabupaten Gorontalo, Pohuwato, Boalemo, dan Gorontalo Utara Tersedianya informasi dan data akurat mengenai kesesuaian lahan dan wilayah potensial untuk pengembangan komoditas lada. Survey, investigasi, desain dan perencanaan kesesuaian lahan untuk komoditas lada Kabupaten Gorontalo, Pohuwato, Boalemo, dan Gorontalo Utara

4.b. Workshop dan Pelatihan Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman lada Dasar pertimbangan: Sosialisasi dan pemahaman terhadap diversifikasi usahatani tanaman perkebunan sangat diperlukan untuk membangun tatanan yang lengkap dan serasi diantara seluruh stakeholder yang akan terlibat dalam pengembangan usaha perkebunan skala kecil. Untuk tujuan tersebut diperlukan adanya worshop dan pelatihan bagi petani perkebunan yang sudah melaksanakan usahatani lada. Mengingat komoditas lada memerlukan penanganan khusus dalam penanaman, pemeliharan, panen dan penanganan pasca panen maka diperlukan pembekalan metode pemeliharaan dan penanganan pasca panen. Sosialisasi dan pembekalan teknis usaha perkebunan rakyat skala kecil untuk komoditas lada Petani yang sudah mengusahakan komoditas lada secara tradisional, belum menerapkan teknis budidaya, pemeliharaan dan penanganan hasil (pasca panen) dan petani yang potensial untuk mengikuti program Terbentuknya pemahaman mengenai berbagai aspek budidaya, pemeliharaan, pasca panen dan pemasaran komoditas lada.

Tujuan: Sasaran:

Keluaran;

Bentuk Kegiatan; Lokasi:

Workshop dan pelatihan singkat Kabupaten Gorontalo, Pohuwato, Boalemo, dan Gorontalo Utara calon petani peserta pengembangan

4.c. Identifikasi komoditas lada Dasar pertimbangan:

Tujuan: Sasaran:

Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi:

Pengembangan komoditas lada sebagai alternatif diversifikasi usaha yang menunjang ekspor memerlukan pelaksana usaha yang memiliki dedikasi dan ketekunan dalam berusaha. Siffat komoditas lada yang memerlukan keterampilan dalam penanaman, pemeliharaan dan penanganan pasca panen yang intensif dan berkelanjutan harus dilakukan oleh petani yang memiliki keterampilan dan kemampuan teknis selain memiliki ketekunan dalam bekerja. Untuk menjamin keberhasilan proyek percontohan diperlukan seleksi bagi calon petani yang akan menerima paket demonstrasi. Melakukan seleksi calon petani penerima paket demonstrasi. Petani yang sudah mengusahakan komoditas lada secara tradisional, belum menerapkan teknis budidaya, pemeliharaan dan penanganan hasil (pasca panen) dan petani yang potensial untuk mengikuti program Terpilihnya petani calon penerima manfaat. Kegiatan identidikasi, inventarisasi dan seleksi calon petani. Kabupaten Gorontalo, Pohuwato, Boalemo, dan Gorontalo Utara

4.d. Penyediaan Bibit lada varietas unggul Dasar pertimbangan: Implementasi pelaksanaan pengembangan komoditas lada skala kecil dilakukan dengan penyediaan paket demostrasi berupa bibit lada varietas unggul. Bibit unggul sebaiknya didatangkan dari sentra produksi bibit yang sudah memiliki sertifikat dan diakui keberadaannya oleh Direktorat Jenderal

Tujuan: Sasaran:

Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi:

Perkebunan Departemen Pertanian. Menyediakan lada varietas unggul untuk lahan seluas 50 ha. Petani yang sudah mengusahakan komoditas lada secara tradisional, belum menerapkan teknis budidaya, pemeliharaan dan penanganan hasil (pasca panen) dan petani yang potensial untuk mengikuti program Tersedianya bibit lada varietas unggul untuk lahan seluas 50 ha Pengadaan Bibit lada varietas unggul Botumoito 5 ha, Taluditi 5 ha, Patilanggio 5 ha, Paguat 5 ha, Tibawa 5 ha, Telaga Biru 5 ha, Atinggola 5 ha, Tolinggula 5 ga, Kwandang 5 ha, Anggrek 5 ha

4.5. Pengembangan Komoditas Vanili 5.a. Kajian kesesuaian lahan dan identifikasi wilayah potensial untuk tanaman vanili Dasar pertimbangan: Vanili merupakan komoditas perkebunan yang memiliki prospek pasar yang cerah dan ditunjukkan dengan semakin meningkatnya permintaan, terutama permintaan dari pasar internasional. Seiring dengan peningkatan kuantitas permintaan pasar, harga vanili di pasar internasional semakin meningkat. Sebagai komoditas yang masih dianggap relatif baru bagi masyarakat petani di Provinsi Gorontalo, diperlukan adanya upaya untuk mengembangkan produksi Upaya tersebut ditujukan untuk memberikan pilihan yang lebih luas bagi masyarakat dalam membangun sumber pendapatan yang lebih beragam. Perkebunan vanili rakyat skala kecil lebih sesuai untuk Provinsi Grorontalo dibandingkan dengan mengembangkan perkebunan besar karena manfaat dan dampak ekonomi yang dihasilkan akan lebih dirasakan oleh masyarakat. Untuk membangun perkebunan skala kecil diperlukan identifikasi dan analisis kesesuaian lahan di beberapa kecamatan yang secara tradisional sudah mengembangkan vanili dan beberapa kecamatan yang dianggap potensial untuk dijadikan sentra produksi. Memperoleh gambaran definitif mengenai wilayah yang sesuai untuk pengembangan perkebunan vanili skala kecil. Wilayah Kabupaten Boalemo dan Pohuwato Tersedianya informasi dan data akurat mengenai kesesuaian lahan dan wilayah potensial untuk pengembangan komoditas vanili skala kecil. Survey, investigasi, desain dan perencanaan kesesuaian lahan Kabupaten Pohuwato, dan Boalemo

Tujuan: Sasaran: Keluaran;

Bentuk Kegiatan; Lokasi:

5.b. Workshop dan Pelatihan Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman vanili Dasar pertimbangan: Sosialisasi dan pemahaman terhadap diversifikasi usahatani tanaman perkebunan sangat diperlukan untuk membangun tatanan yang lengkap dan serasi diantara seluruh stakeholder yang akan terlibat dalam pengembangan usaha perkebunan skala kecil. Untuk tujuan tersebut diperlukan adanya worshop dan pelatihan bagi petani perkebunan yang sudah melaksanakan usahatani vanili. Mengingat komoditas vanili memerlukan penanganan khusus dalam penanaman, pemeliharan, panen dan penanganan pasca panen maka diperlukan pembekalan metode pemeliharaan dan penanganan pasca panen. Sosialisasi dan pembekalan teknis usaha perkebunan rkayat skala kecil untuk komoditas vanili Petani yang sudah mengusahakan komoditas vanili , belum menerapkan teknis budidaya, pemeliharaan dan penanganan hasil (pasca panen) dan calon petani pada daerah yang menurut hasil kajian potensial untuk budidaya vanili. Terbentuknya pemahaman mengenai berbagai aspek budidaya, pemeliharaan dan pasca panen komoditas vanili. Workshop dan pelatihan singkat Kabupaten Pohuwato, dan Boalemo

Tujuan: Sasaran:

Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi:

5.c. Identifikasi calon petani peserta pengembangan komoditas vanili Dasar pertimbangan: Pengembangan komoditas vanili sebagai alternatif diversifikasi usaha yang menunjang ekspor memerlukan pelaksana usaha yang memiliki dedikasi dan ketekunan dalam berusaha. Siffat komoditas vanili yang sangat memerlukan keterampilan dalam penanaman, pemeliharaan dan penanganan pasca panen yang intensif dan berkelanjutan harus

Tujuan: Sasaran:

Keluaran; Bentuk Kegiatan; Lokasi:

dilakukan oleh petani yang memiliki keterampilan dan kemampuan teknis selain memiliki ketekunan dalam bekerja. Untuk menjamin keberhasilan proyek percontohan diperlukan seleksi bagi calon petani yang akan menerima paket demonstrasi. Melakukan seleksi calon petani penerima paket demonstrasi. Petani yang sudah mengusahakan komoditas vanilisecara tradisional, belum menerapkan teknis budidaya, pemeliharaan dan penanganan hasil (pasca panen) Terpilihnya petani calon penerima manfaat. Kegiatan identidikasi, inventarisasi dan seleksi calon petani. Kecamatan Paguat dan Kecamatan Wonosari

5.d. Penyediaan Bibit vanili varietas unggul Dasar pertimbangan: Impelementasi pelaksanaan pengembangan komoditas vanili skala kecil dilakukan dengan penyediaan paket demostrasi berupa bibit vanili varietas unggul. Bibit unggul sebaiknya didatangkan dari sentra produksi bibit yang sudah memiliki sertifikat dan diakui keberadaannya oleh Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian. Menyediakan bibit vanili varietas unggul untuk 100 ha. Petani yang sudah mengusahakan komoditas vanilisecara tradisional, belum menerapkan teknis budidaya, pemeliharaan dan penanganan hasil (pasca panen) Tersedianya bibit vanili varietas unggul untuk ditanaman pada areal seluas 100 ha. Jumlah bibit kakao yang disediakan adalah sebanyak 100000 bibit. Pengadaan Bibit vanili varietas unggul Kecamatan Paguat dan Kecamatan Wonosari

Tujuan: Sasaran:

Keluaran;

Bentuk Kegiatan; Lokasi:

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->