Kajian Bulanan

EDISI 03 - Juli 2007

LINGKARAN SURVEI INDONESIA

Pilkada dan Penguasaan Partai Politik

PILKADA DAN PENGUASAAN PARTAI POLITIK Kemenangan dalam Pemilu Legislatif, tidak otomatis menjadi jaminan bagi partai politik untuk berhasil mengusung calon kepala daerah memenangkan Pilkada. Lebih dari separoh wilayah yang telah melangsungkan Pilkada ditandai kekalahan partai pemenang Pemilu. Hlm 1 SIASAT PARTAI POLITIK DAN STRATEGI PENCALONAN Tahap paling krusial dari partai politik dalam Pilkada adalah penjaringan dan pemilihan calon kepala daerah. Karena pentingnya tahap ini, partai politik membuat suatu mekanisme yang menjamin mereka bisa mendukung calon yang secara potensial bakal memenangkan Pilkada. Hlm 17

T

ULISAN ini tidak memfokuskan pada analisis atas kemenangan partai—seperti seberapa banyak partai tertentu berhasil mengantarkan kandidat menjadi kepala daerah. Atau partai mana yang paling banyak memenangkan Pilkada. Tulisan ini berfokus pada seberapa berhasil partai politik mempertahankan basis suara yang diperoleh dalam Pemilu Legislatif 2004. Apakah partai yang berhasil menjadi pemenang (peraih suara mayoritas) dalam Pemilu Legislatif di suatu daerah otomatis akan berhasil juga memenangkan calon kepala daerah. Seberapa berhasil calon kepala daerah yang didukung oleh partai terbesar di suatu wilayah, memenangkan Pilkada. Dari Pilkada yang telah lewat, sebanyak 43.1% wilayah ditandai dengan kemenangan calon yang diusung oleh pemenang Pemilu Legislatif. Pemenang Pemilu Legislatif di sini sekaligus menang dalam Pilkada. Sementara sisanya (56.9%) wilayah ditandai oleh kekalahan calon yang diusung oleh pemenang Pemilu Legislatif. Dengan kata lain, lebih dari separoh wilayah yang telah melangsungkan Pilkada ditandai oleh gejala kekalahan partai pemenang Pemilu Legislatif.Kemenangan dalam Pemilu Legislatif, tidak otomatis menjadi jaminan bagi partai politik untuk berhasil mengusung calon kepala daerah memenangkan Pilkada. Gejala ini tidak hanya dialami oleh partai besar (seperti Golkar dan PDIP). Hal ini juga dialami oleh partai-partai lain—seperti PAN, PKS, PKB dan PPP.

BARU-BARU ini, dunia politik nasional dikejutkan dengan”silaturahmi politik” antara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Golkar di Medan. Pertemuan ini ditanggapi secara beragam oleh politisi dan pengamat. Ada yang menilai pertemuan itu positif dan merupakan hal yang wajar—tidak perlu diributkan. Sementara ada yang menyesalkan adanya pertemuan itu karena seakan mengaburkan posisi masing-masing partai. Partai Golkar adalah partai pemerintah, sementara PDIP sebelum pertemuan di Medan itu dikenal mengambil posisi

www.lsi.co.id

2

LINGKARAN SURVEI INDONESIA

berseberangan (oposisi) terhadap pemerintah. Tidak ada kisahnya suatu partai yang memposisikan diri sebagai oposisi mengikat diri dengan partai yang mengambil sikap sebagai pendukung pemerintah. Media massa memberitakan pertamuan itu sebagai awal dari koalisi antara PDIP dan Golkar. Meski kemudian elit di Partai Golkar dan PDIP buru-buru membantah bahwa pertemuan itu hanya silaturahmi biasa dan belum ada rencana membentuk koalisi yang permanen. Yang pasti, dalam jangka pendek koalisi PDIP dan Partai Golkar itu akan digunakan untuk kepentingan praktis memenangkan Pilkada. Golkar dan PDIP bisa bekerjasama dengan membentuk koalisi dan mengusung calon yang sama agar bisa memenangkan Pilkada. Hal ini masuk akal mengingat kedua partai ini mempunyai kepentingan yang sama dalam Pilkada. Partai Golkar dan PDIP adalah peraih suara terbesar dalam Pemilu Legislatif. Hampir semua wilayah (provinsi, kabupaten, kotamadya) Partai Golkar dan PDIP meraih suara terbesar. Kedua partai ini menghadapi persoalan yang sama, yakni menjaga agar dominasi dalam Pemilu Legislatif dapat diteruskan dalam Pilkada.

Kegagalan Mempertahankan Basis Suara Salah satu gejala menarik dari Pilkada hingga saat ini adalah ketidakmampuan partai politik dalam mempertahankan basis suara. Dominasi partai politik di suatu wilayah ternyata bukan jaminan memenangkan Pilkada. Ini ditandai dengan banyaknya kegagalan calon yang diusung oleh partai pemenang Pemilu Legislatif di suatu wilayah dalam Pilkada. Grafik 1 memperlihatkan dengan jelas gejala ini. Hingga Desember 2006, telah dilangsungkan 296 Pilkada di seluruh Indonesia. Dari Pilkada yang telah lewat tersebut, sebanyak 43.1% wilayah ditandai dengan kemenangan calon yang diusung oleh pemenang Pemilu Legislatif. Pemenang Pemilu Legislatif di sini sekaligus menang dalam Pilkada. Sementara sisanya (56.9%) wilayah ditandai oleh kekalahan calon yang diusung oleh pemenang Pemilu Legislatif. Dengan kata lain, lebih dari separoh wilayah yang telah melangsungkan Pilkada ditandai oleh gejala kekalahan partai pemenang Pemilu Legislatif. Banyak penjelasan yang dikemukakan berkaitan dengan gejala ini. Salah satu penjelasan yang banyak dikemukakan oleh pengamat adalah karakteristik Pilkada yang berbeda

Grafik 1: Prosentase Kemenangan Partai Pemenang Pemilu Legislatif Dalam Pilkada

56.9%

43.1%

Pemenang Pemilu Legislatif Sekaligus Menang dalam Pilkada

Pemenang Pemilu Legislatif Kalah dalam Pilkada

Keterangan : Data didasarkan pada hasil Pilkada sampai Bulan Desember 2006. Hingga Desember 2006, menurut Departemen Dalam Negeri ( www.depdagri.go.id), Pilkada telah dilangsungkan di 296 wilayah di seluruh Indonesia. Data dalam tulisan ini menyertakan Pilkada di 290 wilayah yang telah melangsungkan Pilkada hingga Desember 2006. Terdapat 5 wilayah yang tidak didapat datanya. Ada 1 wilayah ( Provinsi Sulawesi Barat) yang mengalami pemekaran pasca Pemilu Legislatif 2004. Sehingga tidak bisa dibandingkan antara hasil Pilkada dengan hasil Pemilu Legislatif 2004. Sumber: Diolah dari database Lingkaran Survei Indonesia.

Demokrat. Tetapi di Kota Lhokseumawe dan Aceh Barat. PKS PPP dan PDS. Dari 55 wilayah tersebut. PPP unggul dalam perolehan suara di Kota Pekalongan. yakni Kabupaten Sumenep. Partai ini menjadi pemenang (memperoleh suara terbesar) Pemilu Legislatif di 55 wilayah—dari wilayah yang telah melangsungkan Pilkada. Aceh Utara (Ilyas A Hamid dan Syarifuddin) dan Aceh Jaya (Azhar Abdurrahman dan Zamzami A. Mojo- 1 2 3 4 5 Calon yang diusung oleh PKS berhasil menjadi pemenang Pilkada di Kota Depok (pasangan Nurmahmudi Ismail dan Yuyun Wirasaputra) dan Kota Batam (pasangan Ahmad Dahlan dan Ria Saptarika). Partai Demokrat. Pidie. PBR dan Partai Demokrat (Mawardi Nurdin dan Illiza Sa‘aduddin Djamal). PDIP hanya berhasil separoh saja (50. Basyir Ahmad dan Abu Almafachir). Di Kabupaten Poso. Kabupaten Aceh Besar. Partai ini dikenal mempunyai basis massa yang kuat terutama di Jawa Timur. calon yang diusung oleh PPP ( pasangan Timur Susilo Achmad dan Urip Sunaryo) kalah dari pasangan yang diusung oleh Partai Golkar (Moh. Aceh Barat dan Aceh Barat Daya. Sementara sisanya (43. tidak peduli berasal dari partai mana. calon PPP kalah dari calon yang disung oleh GAM. calon yang diusung oleh PAN berhasil menang di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Abdullah Hich dan M. Sementara di Banda Aceh. Dari 200 wilayah tersebut. Dari 2 wilayah itu. Hanya dibandingkan dengan partai lain.9%) mengantarkan calonnya sebagai kepala daerah. PBR (Abdillah dan Ramli). PAN berhasil menjadi peraih suara terbesar di Tanjung Jabung Timur.2 Gejala yang sama juga terjadi di Partai Damai Sejahtera (PDS). Situbondo. gejala banyaknya kekalahan calon kepala daerah yang diusung oleh partai pemenang Pemilu Legislatif ini bukan hanya terjadi di partai besar. Aceh Utara dan Aceh Jaya. Yang menarik. Gejala ini terjadi di partai besar (Partai Golkar dan PDIP). Di Kota Medan. PAN. Dalam Pemilu Legislatif. 3 Partai Persatuan Pembangunan (PPP) bahkan tidak berhasil memenangkan seorang pun calon di 5 wilayah dimana partai ini berhasil menguasai perolehan suara pada Pemilu Legislatif 2004. Kota Lhokseumawe. kandidat yang mempunyai ketokohan tinggi akan lebih dipilih. Sementara di wilayah lain. PNIM. PDS berhasil menjadi peraih suara terbesar di 2 wilayah—dari total 290 wilayah. Selama Pemilu Legislatif 2004. hanya 2 wilayah (33. PAN dalam Pilkada Tanjung Jabung Timur berkoalisi dengan sejumlah partai. kalah dari pasangan yang diusung oleh Partai Golkar (Hein Mamotemo dan Arifin Meka). Gejala ini juga terjadi di partai lain—seperti PKB. PAN. Hal yang sama juga dialami oleh PDIP. tulisan ini hanya menganalisis 290 wilayah yang hingga Desember 2006 telah melangsungkan Pilkada. Dalam Pilkada.5%) wilayah ditandai oleh kemenangan calon yang diusung oleh partai Golkar. Rani). PP Pancasila.1%) calon yang diusung oleh PDIP kalah dari calon yang diusung oleh partai lain. partai ini relatif lebih baik dalam mempertahankan dominasi penguasaan Pemilu Legislatif di Pilkada. PBB. .KAJIAN BULANAN 3 dengan Pemilu Legislatif.4 Gejala ini juga menimpa Partai Kebangkitan Bangasa (PKB). Sementara di 3 wilayah lain. Partai Golkar menjadi pemenang Pemilu Legislatif di 200 wilayah. pemilih memilih partai politik. Lamongan. yakni Kabupaten Halmahera Utara dan Kabupaten Poso. PAN. lebih dari separoh (56. Sisanya (49. Pilkada dimenangkan oleh calon yang diusung oleh GAM—masing-masing pasangan Munir Usman dan Suaidi Ya (Kota Lhokseumawe) dan pasangan Ramli MS dan Fuadi (Aceh Barat). calon yang diusung oleh PDS ( Piet Inkiriwang dan Muthalib Rimi) berhasil memenangkan Pilkada.3%) yang berhasil dimenangkan oleh PKS dalam Pilkada.5%) ditandai oleh kekalahan calon yang diusung oleh Partai Golkar. calon yang diusung oleh PKS kalah dari pasangan lain. Banyuwangi. PPP. PPDK. sementara dalam Pilkada pemilih memilih orang (kandidat). Dari 4 wilayah tersebut. Dalam Pemilu Legislatif 2004. pasangan kepala daerah dari PKS (Karyasuda dan Faqih Jarjani) kalah dari calon yang diusung oleh Golkar dan PBB (Syaiful Rasyid dan Iriansyah). PBR. Di Kota Lhokseumawe dan Aceh Barat. Gresik. Di Kabupaten Aceh Besar calon yang diusung oleh PPP kalah dari calon yang diusung oleh PAN dan PBR (Buchari Daud dan Anwar Ahmad). Misalnya yang terjadi pada Partai Keadilan Sejahtera (PKS). PDIP. Gejala banyaknya kekalahan calon yang diusung oleh partai pemenang Pemilu Legislatif ini adalah gejala umum yang terjadi di semua partai politik. Menjadi pemenang Pemilu Legislatif ternyata tidak menjadi jaminan kesuksesan ketika mengusung seorang calon kepala daerah. PKB memperoleh suara terbesar di 11 kabupaten / kota5. Di Hulu Sungai Tengah. yakni Golkar. Dalam Pemilu Legislatif 2004 lalu. PDS. Juber). Sementara di Halmahera Utara. Partai politik tidak berhasil menjaga dominasi suara seperti yang diperoleh dalam Pemilu Legislatif. Di Batam. calon yang diusung oleh PAN ( baik sendiri atau koalisi dengam partai lain) kalah dari calon lain. Dari wilayah yang telah melangsungkan Pilkada hingga Desember 2006. Kemenangan 11 wilayah ini dihitung dari 290 wilayah yang telah melangsungkan Pilkada hingga Desember 2006. Trenggalek. Dari total 6 wilayah dimana PKS menjadi peraih suara terbesar dalam Pemilu Legislatif 2004. PKS berkoalisi dengan Partai Golkar. Jember. PDS berhasil menjadi peraih suara terbesar di 2 wilayah. Pilkada dimenangkan oleh calon yang diusung oleh koalisi PPP. Dalam Pemilu Legislatif 2004. calon dari PDS (Djidon Hangewa dan Basri Amal). Di Kota Pekalongan. calon yang diusung oleh PKS (Maulan P dan Sigit PA) kalah dari pasangan calon yang didukung oleh koalisi partai Golkar.1 Kemenangan PKS dalam Pemilu Legislatif di 6 wilayah ini dihitung dari 290 wilayah yang telah melangsungkan Pilkada hingga Desember 2006. PDS hanya berhasil menang di satu wilayah selama Pilkada. Partai Amanat Nasional (PAN) hanya berhasil mengantarkan calonnya menang di 2 wilayah—dari 4 wilayah dimana PAN dalam Pemilu Legislatif 2004 lalu menjadi peraih suara terbanyak. yakni di Pidie (Mirza Ismail dan Nazir Adam). Calon dari PAN juga berhasil menang di Aceh Barat Daya (Akmal Ibrahim dan Syamsurizal). Perlu dicatat.

0 56. Pekalongan (pasangan Siti Qomariyah dan Wahyudi Ponco Nugroho). calon yang diusung oleh PKB (Abuya B. Kasrim dan Moch Ramli S) kalah dari pasangan yang diusung oleh PPP dan PPNUI (Moh.0 50.0 0. (b) Partai pemenang Pilkada yang dimaksud adalah partai yang berhasil mengantarkan calon yang diusung memenangkan Pilkada. Pasuruan.0 33. 6 7 Calon dari PKB yang menang dalam Pilkada masing-masing di Kabupaten Gresik (pasangan Robbach Maksum dan Sastro). Di sini diabaikan apakah partai itu mencalonkan kepala daerah itu sendirian ( tanpa koalisi) ataukah dengan berkoalisi dengan partai lain. Pasuruan (pasangan Aminurohman dan Pudjo Basuki). kerto. partai yang berkoalisi dengan sejumlah partai lain tetap dihitung sebagai pemenang Pilkada jikalau calon yang diusung berhasil memenangkan Pilkada. Di Kabupaten Sumenep.0 63. dan Pekalongan.0 0. Ramdlan Siraj dan Moch Dahlan). pasangan yang didukung oleh PKB (Achmad Wahyudi dan Eko Sukartono) kalah dari pasangan dari partai kecil yang tidak mempunyai kursi di DPRD (Ratna Ani Lestari dan Yusuf Nuris). Tetapi PKB kalah di 4 wilayah (36.6%)6.0 36. .0 0.0 0.1 Total 200 4 1 2 1 1 55 2 11 1 6 1 5 290 Keterangan : (a) Pemenang Pemilu Legislatif di sini adalah partai yang memperoleh suara terbesar untuk pemilihan DPRD—tanpa memperhitungkan besar suara yang diperoleh atau kursi yang didapat. PKB berhasil mengantarkan calon kepala daerah yang diusung (baik sendiri atau koalisi dengan partai lain) memenangkan Pilkada di 7 wilayah (63. Sementara di Lamongan.0 52.4 LINGKARAN SURVEI INDONESIA Tabel 1: Prosentase Kemenangan Partai Pemenang Pemilu Legislatif Dalam Pilkada Menurut Partai Politik Partai Pemenang Pemilu Legislatif 2004 di Wilayah Pilkada Golkar PAN Partai Demokrat Partai Pelopor PBB PBSD PDIP PDS PKB PKPI PKS PPDK PPP TOTAL Kalah 118 2 0 1 1 1 26 1 4 1 4 1 5 165 Persen (%) 59.7 100. Trenggalek (Suharto dan Maksum Ismail) dan Jember (MZA Djalal dan Kusen Andalas).0 100. Hal yang sama terjadi di Situbondo.0 66. Sidoarjo. Pasangan dari PKB (Aqiq Zaman dan Edi Kusnadi) kalah tipis dari pasangan yang diusung oleh PPP (Ismunarso dan Suroso).0 43. pasangan dari PKB (Taufikurrachman Saleh dan Soetarto) kalah dari calon PAN (Masfuk dan Tsalits Fahami). Di Banyuwangi.0 50. Dengan demikian.0 100. Dari 11 wilayah tersebut.6 0.0 50. Mojokerto (pasangan Achmady dan Suwandi).7 50.3 0.0 100.0 47.3 50. Sidoarjo (pasangan Win Hendrarso dan Saiful Ilah).4%) yang selama ini menjadi basis suara PKB dalam Pemilu Legislatif7.0 100. Sumber: diolah dari database Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan data perolehan suara Pemilu legislatif dari KPU.4 100.0 50.9 Menang / Kalah Dalam Pilkada? Menang 82 2 1 1 0 0 29 1 7 0 2 0 0 125 Persen (%) 41.

2 57.9 50.0 41.0 40.9 50.4 65.0 58.0 73.9 2 3 2 1 3 2 2 4 4 10 14 4 0 1 6 5 2 2 2 7 4 2 6 5 0 5 4 3 4 4 3 9 125 50.0 60.0 26. Terdapat 5 wilayah yang tidak didapat datanya.0 33.7 50.5 16. Ada 1 wilayah ( Provinsi Sulawesi Barat) yang mengalami pemekaran pasca Pemilu Legislatif 2004.0 25.0 50.3 75.0 54.0 22.3 50.7 57.5 83.0 100. .0 56.0 50.0 73.1 50. Data dalam tulisan ini menyertakan Pilkada di 290 wilayah yang telah melangsungkan Pilkada hingga Desember 2006. Hingga Desember 2006.go.0 75.7 50.3 42.7 66.0 45.0 55.0 50.0 40.8 42.0 45.KAJIAN BULANAN 5 Tabel 2: Prosentase Kemenangan Partai Pemenang Pemilu Legislatif Dalam Pilkada Menurut Provinsi PROVINSI Kalah Persen (%) Menang / Kalah Dalam Pilkada? Menang Persen (%) Total Bangka Belitung Bali Banten Bengkulu Daerah Istimewa Yogyakarta Gorontalo Irian Jaya Barat Jawa Barat Jambi Jawa Tengah Jawa Timur Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Kepulauan Riau Lampung Maluku Maluku Utara Nanggroe Aceh Darussalam Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Papua Riau Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi tenggara Sulawesi Utara Sumatera Barat Sumatera Selatan Sumatera Utara TOTAL 2 3 2 7 2 3 7 3 4 15 5 4 8 3 5 1 4 4 5 13 2 6 9 5 1 7 3 3 4 11 3 11 165 50.3 33.0 26.0 77. menurut Departemen Dalam Negeri (www.7 25.1 4 6 4 8 5 5 9 7 8 25 19 8 8 4 11 6 6 6 7 20 6 8 15 10 1 12 7 6 8 15 6 20 290 Keterangan: Data didasarkan pada hasil Pilkada sampai Bulan Desember 2006.0 60.3 50.id).0 50.1 50.depdagri. Pilkada telah dilangsungkan di 296 wilayah di seluruh Indonesia.0 100.0 0.5 60.0 40.7 66.0 43.7 71.0 60.0 0.3 28. Sehingga tidak bisa dibandingkan antara hasil Pilkada dengan hasil Pemilu Legislatif 2004. Sumber: Diolah dari database Lingkaran Survei Indonesia.0 50.0 50.0 50.5 40.0 50.0 12.0 66.3 33.0 87.6 35.

Sumenep. Wilayah di Nusa Tenggara Timur sejak lama adalah basis bagi Partai Golkar dan PDIP. PNBK dan parpol lain). Dari 8 kabupaten/kota di Provinsi NTT yang telah melangsungkan Pilkada hingga Desember 2006. Semua partai yang menjadi peraih suara terbanyak dalam Pemilu Legislatif. hanya 2 wilayah saja yang ditandai dengan kemenangan calon kepala daerah yang diusung oleh partai pemenang Pemilu Legislatif—yakni di Kabupaten Kepulauan Sula dan Kota Tidore. keempatnya adalah basis dari Partai Golkar (Provinsi Kalimantan Tengah. Pasaman Barat. Agam. Solok. hampir semua wilayah berhasil direbut oleh calon kepala daerah yang diusung oleh partai pemenang Pemilu Legislatif. Sumatera Barat11. dan PPDK 1 wilayah (Kota Ternate). Provinsi Jawa Timur adalah basis dari partai PKB dan PDIP. Ngada. Ponorogo. Gejala kekalahan partai pemenang Pemilu Legislatif dalam Pilkada dalam tarap yang besar terdapat di provinsi Irian Jaya Barat8. selama Pemilu Legislatif dikuasai oleh Partai Golkar dan PDIP. Tetapi hanya di Barito Selatan. Dari tabel tersebut terlihat. Kecuali Kabupaten Kaimana dimana dalam Pemilu Legislatif 2004 dimenangkan oleh Partai PBSD. Kecuali di Kabupaten Lingga. sebagian besar provinsi ditandai dengan kekalahan partai pemenang Pemilu Legislatif dalam Pilkada. Kediri. Sumba Timur. Di Kabupaten ini. Kepulauan Riau adalah basis dari Partai Golkar. 8 wilayah (Kabupaten Fak-Fak. Sementara ada sejumlah provinsi dimana partai pemenang Pemilu Legislatif di provinsi ini lebih banyak berhasil dalam memenangkan calon kepala daerah yang diusung. Ponorogo adalah basis dari PDIP. Ngawi. Kota Baru) dan PKS (Kabupaten Hulu Sungai Tengah). sementara partai pemenang Pilkada adalah PAN.6 LINGKARAN SURVEI INDONESIA Tabel 2 merinci keberhasilan dan kegagalan partai pemenang Pemilu Legislatif dalam Pilkada menurut provinsi. Kotawaringin Barat dan Barito Selatan). Sumenep. Dari 19 kabupaten/kota di Jawa Timur yang telah melangsungkan Pilkada hingga Desember 2006. Mojokerto. berhasil memenangkan Pilkada. Halmahera Barat dan Kota Tidore) PKS 1 wilayah (Kabupaten Halmahera Selatan). Blitar). Di Lamongan. Karimun dan Natuna). Situbondo. Dari 6 wilayah tersebut. Kekalahan hanya terjadi di 5 kabupaten/kota—masing-masing Kabupaten Lamongan.Lisa dan lrawansyah). Kota Solok dan Kabupaten Tanah Datar. Di Provinsi Maluku Utara. Tetapi dari 8 wilayah tersebut hanya di 2 wilayah (Kabupaten Lembata dan Sumba Timur). ada 4 wilayah yang saat Pemilu Legislatif dimenangkan oleh Golkar (Kabupaten Timor Tengah Utara. Partai-partai yang berada di provinsi-provinsi ini relatif gagal dalam mengusung calon dalam Pilkada. Meskipun masing-masing provinsi mempunyai derajat gradasi yang berlainan. Kabupaten Dharmasraya. Lingga. pemenang Pilkada adalah calon yang diusung oleh partai non parlemen (PAN. Tanah Bumbu. Lembata. Balangan. Kabupaten Kepulauan Riau. dan Provinsi Irian Jaya Barat) adalah basis dari Partai Golkar. mayoritas adalah basis dari PKB (Kabupaten Lamongan. sebagian besar (73. Sementara di Situbondo. Sidoarjo. Tabel 3 merinci keberhasilan dan kegagalan partai pemenang Pemilu Legislatif dalam Pilkada menurut provinsi secara lebih detil. Raja Ampat. Satu wilayah lain (Kota Batam). tetapi pemenang bukan PKB. Pesisir Selatan. Kalimantan Selatan9. Jember. Tetapi dari 7 wilayah yang telah melangsungkan Pilkada tersebut. Teluk Bintuni. Solok Selatan. Gresik. dan Kota Solok) dan PDIP di 1 wilayah (Kabupaten Mentawai). Sumba Barat). calon yang diusung oleh Partai Golkar berhasil memenangkan Pilkada (Baharudin H. Basis suara dan modal pendukung yang telah mereka raih selama Pemilu Legislatif tidak menjamin keberhasilan ketika mengusung seorang kandidat dalam Pilkada. PBR. Banyuwangi dan Situbondo. Lima Puluh Kota. Teluk Wondama. Kabupaten Solok. Tanah Datar. Tabel ini memperlihatkan di provinsi mana saja suatu partai menjadi pemenang Pemilu Legislatif dan apakah di provinsi tersebut. Provinsi Sumatera Barat. Untuk Kabupaten Banyuwangi. PDS 1 wilayah (Kabupaten Halmahera Utara). Sumenep dan Banyuwangi dan Situbondo adalah basis dari PKB. dan Kota Pasuruan) dan PDIP (Kabupaten Malang. hanya di 4 wilayah saja. Kalimantan Tengah10. adalah kabupaten basis dari Partai Demokrat (Kabupaten Pacitan) dan Golkar (Kabupaten Tuban). calon yang diusung oleh Partai Golkar (Pemenang Pemilu Legislatif) kalah dari pasangan calon yang diusung oleh partai Demokrat dan PPIB. Padang Pariaman. tidak ada yang berhasil memenangkan calon kepala daerah yang diusung partai bersangkutan. Tetapi dari 15 wilayah tersebut. pemenang Pilkada adalah PPP. Dari 19 kabupaten/kota yang telah melangsungkan Pilkada di Jawa Timur hingga Desember 2006. Calon kepala daerah yang diusung oleh partai pemenang Pemilu Legislatif berhasil mengalahkan calon lain. pemenang Pemilu Legislatif sekaligus berhasil mengantarkan kemenangan calon kepala daerah—yakni masing-masing di Kabupaten Mentawai. Partai Golkar hanya berhasil memenangkan calon kepala daerah di Kabupaten Teluk Wondama dan Manokwari. Dari 9 wilayah yang telah melangsungkan Pilkada di Irian Jaya Barat. sementara pemenang Pilkada adalah PKB. partai pemenang Pemilu Legislatif sebagian besar berhasil juga memenangkan Pilkada. Dari 15 wilayah yang melangsungkan Pilkada hingga Desember 2006. Kota Surabaya. Pemenang Pemilu Legislatif adalah PKB. yakni Golkar (Provinsi Kalimantan Selatan. Halmahera Timur. partai menang atau kalah dalam Pilkada. Maluku Utara12 dan Nusa Tenggara Timur13. Flores Timur) dan 4 wilayah lain dimenangkan oleh PDIP (Kabupaten Manggarai Barat. Kota Bukit Tinggi. Tetapi dalam Pilkada. peraih suara mayoritas dalam Pemilu Legislatif lebih beragam. Yang menarik kalau kita memperhatikan lebih 8 9 10 11 12 13 14 15 Irian Jaya Barat adalah basis dari Partai Golkar. Dari 4 wilayah yang telah melangsungkan Pilkada hingga Desember 2006. Partai Golkar meraih suara mayoritas di 5 kabupaten/kota (Provinsi Kepulauan Riau. Kota Banjarmasin. Sisanya. Partai Golkar menguasai suara mayoritas Pemilu Legislatif di 4 wilayah (Kabupaten Kepulauan Sula. calon yang diusung oleh partai peraih suara mayoritas dalam Pemilu Legislatif. Manokwari. peraih suara mayoritas dalam Pemilu Legislatif adalah PKS. Partai Golkar memperoleh suara mayoritas dalam Pemilu Legislatif di 14 wilayah (Provinsi Sumatera Barat. Kabupaten Banjar.7%) partai pemenang Pemilu Legislatif berhasil menang juga dalam Pilkada. Provinsi itu adalah Jawa Timur14 dan Kepulauan Riau. Sawahlunto Sijunjung. . Calon yang diusung oleh Partai Golkar dan PKS dikalahkan oleh calon yang diusung oleh partai lain—yang notabene bukan partai peraih suara mayoritas dalam Pemilu Legislatif. Banjarbaru. Dari 7 wilayah yang melangsungkan Pilkada hingga Desember 2006. Untuk Sumenep pemenang Pilkada adalah PPP dan PPNUI. Sorong Selatan.15 Di provinsi ini. Banyuwangi. Manggarai. Kabupaten Kabupaten Kotawaringin Timur. Dari 6 wilayah di Provinsi Kepulauan Riau yang telah melangsungkan Pilkada. Ponorogo. Pasaman. Trenggalek.

0 50.0 87.0 16.0 40.1 42.0 50.8 50.0 83.0 50.9 100.0 100.7 60.0 100.0 73.0 0.1 0.0 100.9 100.0 75.0 50.1 0.0 42.0 14.0 0.0 0.0 0.0 0.3 40.0 0.3 Total 1 1 2 4 6 6 4 4 8 8 5 5 5 5 8 1 9 6 1 7 7 1 8 2 21 1 1 25 1 1 7 10 19 6 2 8 7 1 8 4 4 9 2 11 5 1 6 Bali Banten Bengkulu Yogyakarta (DIY) Gorontalo Irian Jaya Barat Jawa Barat Jambi Jawa Tengah Jawa Timur Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Kepulauan Riau .0 0.KAJIAN BULANAN 7 Tabel 3: Prosentase Kemenangan Partai Pemenang Pemilu Legislatif Dirinci Menurut Partai dan Provinsi PROVINSI Partai Pemenang Pemilu Legislatif 2004 di Wilayah Pilkada Bangka Belitung Golkar PBB PDIP Total PDIP Total Golkar Total Golkar Total PDIP Total Golkar Total Golkar PBSD Total Golkar PKS Total Golkar PAN Total Golkar PDIP PKB PPP Total Golkar Partai Demokrat PDIP PKB Total Golkar PDIP Total Golkar PKS Total Golkar Total Golkar PDIP Total Golkar PKS Total Kalah 0 1 1 2 3 3 2 2 7 7 2 2 3 3 6 1 7 3 0 3 4 0 4 2 12 0 1 15 0 0 1 4 5 4 0 4 7 1 8 3 3 5 0 5 1 0 1 Menang / Kalah Dalam Pilkada? Persen (%) 0.0 26.0 50.3 66.0 25.7 0.0 0.0 100.0 40.5 60.3 100.2 50.0 0.5 87.0 50.0 50.0 50.5 40.0 100.4 100.7 Menang 1 0 1 2 3 3 2 2 1 1 3 3 2 2 2 0 2 3 1 4 3 1 4 0 9 1 0 10 1 1 6 6 14 2 2 4 0 0 0 1 1 4 2 6 4 1 5 Persen (%) 100.0 100.0 100.0 55.0 42.5 12.0 45.0 54.0 50.0 0.6 0.0 60.0 85.0 100.0 57.0 57.9 57.0 75.0 50.0 100.0 25.0 40.0 25.0 50.0 60.5 20.0 60.5 80.0 77.0 22.0 100.0 40.0 50.0 50.0 60.0 50.0 75.7 33.0 100.0 12.0 50.0 50.0 0.0 44.

7 50.3 0.0 33.0 50.0 50.0 100.0 53.3 25.3 0.0 0.3 33.0 71.0 66.3 50.0 0.0 100.6 50.0 100.0 57.0 50.3 50.7 50.0 100.0 50.0 33.0 66.0 26.7 41.0 100.7 33.0 53.0 46.0 2 0 2 1 1 2 2 0 0 0 2 6 1 0 0 7 4 4 2 0 2 6 0 0 6 5 5 0 0 5 5 3 1 4 3 3 3 1 4 3 1 4 3 3 8 1 0 0 9 40.0 100.0 21.8 100.7 100.0 73.0 35.2 0.0 0.0 45.9 100.7 50. Data perolehan suara Pemilu Legislatif diolah dari KPU .3 66.0 57.0 50.0 33.0 50.6 0.0 0.0 66.0 100.0 50.1 0.0 60.0 50.7 50.3 50.7 75.3 50.0 100.0 5 1 6 4 2 6 4 1 1 1 7 12 3 1 4 20 6 6 6 2 8 13 1 1 15 10 10 1 1 12 12 6 1 7 6 6 7 1 8 14 1 15 6 6 15 2 2 1 20 Sumber: Diolah dari database Lingkaran Survei Indonesia.0 46.0 55.0 0.4 100.0 100.0 42.7 66.0 0.7 100.3 58.4 50.0 41.0 100.0 100.0 25.0 28.0 65.8 LINGKARAN SURVEI INDONESIA Lampung Maluku Maluku Utara Aceh (NAD) Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Papua Riau Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Utara Sumatera Barat Sumatera Selatan Sumatera Utara Golkar PDIP Total Golkar PDIP Total Golkar PDS PKS PPDK Total Golkar PAN PKS PPP Total Golkar Total Golkar PDIP Total Golkar PDIP PKPI Total Golkar Total Golkar Total Golkar Total Golkar PDS Total Golkar Total Golkar PDIP Total Golkar PDIP Total Golkar Total Golkar Partai Pelopor PDIP PKS Total 3 1 4 3 1 4 2 1 1 1 5 6 2 1 4 13 2 2 4 2 6 7 1 1 9 5 5 1 1 7 7 3 0 3 3 3 4 0 4 11 0 11 3 3 7 1 2 1 11 60.0 33.0 0.0 42.0 0.0 75.0 0.0 66.0 50.9 50.0 0.0 78.0 50.0 50.0 40.0 50.1 50.0 58.0 0.

Persentase suara yang diperoleh partai dalam Pemilu Legislatif menunjukkan derajat dominasi suatu partai di suatu wilayah. Sumatera Selatan. Tetapi hasil Pilkada memperlihatkan. Irian Jaya Barat. ditandai oleh kecenderungan kekalahan partai pemenang Pemilu Legislatif itu ketika bertarung dalam Pilkada. Jika Pemilu Legislatif 2004 dijadikan sebagai dasar. sekaligus juga memperlihatkan mesin politik yang bekerja secara optimal di suatu wilayah. calon yang diusung oleh PDIP (baik sendiri atau koalisi dengan partai lain) mengalami kekalahan. Provinsi ini sejak lama dikenal sebagai basis dari Partai Golkar. Papua. Kabupaten Tabanan dan Kabupaten Jembrana. Di 5 kabupaten ini. di provinsiprovinsi ini tidak ada partai yang dominan. calon yang diusung oleh Partai Golkar mengalami kekalahan. Tetapi dalam Pilkada. sebagian besar partai pemenang Pemilu Legislatif di suatu wilayah memperoleh suara antara 25% hingga 50%. Kalimantan Selatan. Maluku Utara. Selayar. kerap kali dengan kemenangan telak. Bulukumba. Yang lebih banyak terjadi. PDIP berhasil menang dalam Pilkada di Kota Denpasar. semua wilayah itu adalah basis suara Partai Golkar—di mana Golkar menjadi peraih suara terbanyak dalam Pemilu Legislatif. Bukan Jaminan Hasil Pilkada yang telah lewat juga menunjukkan dominasi suara partai dalam Pemilu Legislatif ternyata bukan jaminan berhasil menang dalam Pilkada. Barru dan Luwu Timur. tidak lantas menjadi jalan kemenangan ketika mengusung calon dalam Pilkada. Partai dengan perolehan suara sangat dominan selama Pemilu Legislatif 2004 tidak otomatis membuat potensi kemenangan partai menjadi besar. Meski demikian.16 Wilayah lain yang menarik adalah provinsi Bali. dominan dan kurang dominan selama Pemilu legislatif 2004. Nusa Tenggara Timur dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Dari tabel 6 ini terlihat. Partai yang memperoleh suara besar dalam Pemilu Legislatif (dengan perolehan suara misalnya di atas 50%) menggambarkan basis massa yang kuat dari partai itu. . Hal ini karena dominasi partai menunjukkan basis massa yang kuat dan kekuatan dari mesin politik dari partai politik. Wilayah lainnya. Dari 12 wilayah yang melangsungkan Pilkada hingga Desember 2006. calon yang diusung oleh Golkar (baik sendiri atau koalisi dengan partai lain) berhasil memenangkan Pilkada.KAJIAN BULANAN 9 seksama tabel 3 ini adalah adanya wilayah-wilayah yang selama ini dikenal menjadi basis massa suatu partai dan mempunyai pendukung yang fanatik. Sementara di Kabupaten Luwu Utara. ada 11 wilayah yang ditandai dengan kemenangan telak suatu partai dalam Pemilu Legislatif 2004—partai pemenang Pemilu Legislatif memperoleh suara lebih dari 50%. Di 3 kabupaten ini. Soppeng. Tabel 5 memperlihatkan uji statistik (menggunakan chi square) yang menggambarkan tidak ada perbedaan dalam hal keberhasilan atau kegagalan partai dalam Pilkada antara partai yang sangat dominan. dominan (perolehan suara partai pemenang Pemilu Legislatif antara 25-50%) dan kurang dominan ( perolehan suara partai pemenang Pemilu Legislatif kurang dari 25%). Makin tinggi dominasi suatu partai. semua wilayah itu adalah basis PDIP— PDIP menjadi peraih suara terbanyak dalam Pemilu Legislatif. Yang menarik. justru calon yang diusung oleh Partai Golkar mengalami kekalahan. Bangli dan Badung. Tabel 6 merinci lebih detil dominasi kemenangan partai dalam Pemilu Legislatif dan tingkat keberhasilan partai dalam mengusung calon di Pilkada yang dirinci menurut provinsi. Mamuju dan Mamuju Utara. Provinsi ini sejak lama dikenal sebagai basis partai PDIP. banyak ditemukan pendukung fanatik dari Golkar. sebagian besar kemenangan partai dalam Pemilu Legislatif berada pada kategori dominan——perolehan suara partai pemenang Pemilu Legislatif antara 25-50%. Sulawesi Selatan misalnya. Irian Jaya Barat. Kalimantan Barat. Dari 6 wilayah yang telah melangsungkan Pilkada di Provinsi Bali hingga Desember 2006. PDIP hanya berhasil mengantarkan calonnya menang di 3 wilayah. Dari tabel terlihat. Banyak tokohtokoh Golkar di pusat berasal dari provinsi ini. Tanah Toraja. Sementara di Kabupaten Karang Asem. Gejala yang tampak dari tabel 6 ini adalah provinsi dengan pemenang Pemilu Legislatif yang kurang dominan. calon yang diusung oleh Golkar ( baik sendiri atau koalisi dengan partai lain) berhasil memenangkan Pilkada. Maluku. Kalimantan Selatan. Kalimantan Barat. makin besar pula peluang suatu partai dalam memenangkan Pilkada. tidak ada hubungan antara dominasi kemenangan partai dengan kemenangan atau kegagalan suatu partai dalam Pilkada. Partai ini selalu memenangkan Pilkada di berbagai kabupaten / kota di Bali. 16 17 Golkar berhasil menang di Kabupaten Gowa. Di provinsi ini. 17 Dominasi Perolehan Suara Selama Pemilu Legislatif. terdapat sejumlah partai yang mempunyai kekuatan relatif seimbang. dominasi kekuatan partai dalam Pemilu Legislatif akan menentukan tingkat kemenangan suatu partai dalam Pilkada. Secara teoritis. Yang menarik ada sejumlah provinsi yang ditandai dengan banyaknya kemenangan partai dalam Pemilu Legislatif di kategori kurang dominan—— Sumatera Utara. Partai Golkar hanya berhasil memenangkan calon di 5 wilayah. kita bisa membagi dominasi kekuatan partai di suatu wilayah ke dalam tiga kategori: sangat dominan (perolehan suara partai pemenang Pemilu Legislatif lebih dari 50%). calon yang diusung oleh PDIP mengalami kekalahan. Hal ini menggambarkan. Kalimantan Timur. Maros. Kalimantan Timur. Tabel 4 merinci dominasi kekuatan partai dalam Pemilu Legislatif 2004. Pangkep. Ini terjadi di Provinsi Papua.

1 0.0 75.0 0.0 0.0 42.6 53. tidak ada satu pun yang memenangkan Pilkada.0 100. Semua calon yang diajukan oleh partai yang menang kurang dominan dalam Pemilu Legislatif.10 LINGKARAN SURVEI INDONESIA Maluku. partai pemenang Pemilu Legislatif yang menang tipis (kurang dominan) lebih banyak yang kalah ketika mengusung calon dalam Pilkada. Tabel 4: Kategori Dominasi Partai Dalam Pemilu Legislatif 2004 PARTAI Kategori Dominasi Kemenangan Partai Dalam Pemilu Legislatif Dominan ( 25. Maluku Utara.0 0.0 0.0 25. Nusa Tenggara Timur dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).0 9.7 100.0 100.2 0. Tabel 5: Hubungan Dominasi Kekuatan Partai Dalam Pemilu Legislatif dan Kemenangan Dalam Pilkada Kategori Dominasi Kemenangan Partai Dalam Pemilu Legislatif Kalah Persen (%) Menang / Kalah Dalam Pilkada? Menang Persen (%) Total Kurang Dominan (<25%) Dominan (25-50%) Sangat dominan (>50%) Total N = 290.0 72.115/2 (tidak signifikan) 77 84 4 165 62.4 46.0 0.6 43.4 56.8 200 4 1 2 1 1 55 2 11 1 6 1 5 290 Sumber: Diolah dari database Lingkaran Survei Indonesia.0 100.0 0.9 46 72 7 125 37.0 0. Data perolehan suara Pemilu Legislatif diolah dari KPU. χ²/df =4.0 20. Gejala paling ekstrim terjadi di Provinsi Kalimantan Selatan. Di provinsi ini.4 6 0 0 0 0 0 5 0 0 0 0 0 0 11 3.0 0.0 100.0 0.0 0.50%) Jumlah Persen (%) Kurang Dominan (< 25%) Jumlah Persen (%) Sangat dominan (>50%) Jumlah Persen (%) Total Golkar PAN Partai Demokrat Partai Pelopor PBB PBSD PDIP PDS PKB PKPI PKS PPDK PPP Total 100 1 0 0 1 0 40 2 11 0 0 0 1 156 50.0 18.0 53.2 63.0 0.0 100.0 0.0 100.0 100.0 3.0 0.8 36.0 80.0 0.0 0.0 0.8 94 3 1 2 0 1 10 0 0 1 6 1 4 123 47.0 0.0 0.0 100.1 123 156 11 290 .

Tetapi dari 11 wilayah tersebut. terdapat 4 wilayah yang ditandai dengan kekalahan partai pemenang Pemilu Legislatif ketika mengusung calon kepala daerah dalam Pilkada—— masing-masing Kabupaten Badung. tanpa harus berkoalisi dengan partai lain. sementara lawannya mendapatkan suara 54.14%. Dari wilayah yang telah melangsungkan Pilkada hingga Desember 2006. di Kabupaten Bangli PDIP meraih suara mayoritas dengan suara 54. Apakah partai yang berhasil menjadi pemenang (peraih suara mayoritas) dalam Pemilu Legislatif di suatu daerah otomatis akan berhasil juga memenangkan calon kepala daerah.43%. PAN. tidak menjamin kemenangan dalam Pilkada. PDIP menang telak di kabupaten ini dengan perolehan suara 54%. Pilkada di Bangli ini menarik. Calon yang diusung oleh Partai Golkar (Sun Biki dan Rustam A) kalah cukup telak dari pasangan koalisi PPP. calon yang diusung oleh partai Golkar kalah dari pasangan yang diusung oleh PPP (Iwan Bokings dan La Ode Haimuddin). Pasangan Made Sumer dan I Gusti Ngarah Oka memperoleh suara 45. ada 11 wilayah yang ditandai dengan suara pemenang Pemilu Legislatif di atas angka 50%. PBR (David Bobihoe dan Sofyan Puhi). Golkar akan mengusung calon kepala daerah dan wakil kepala daerah dari kader Golkar sendiri. Partai Golkar misalnya. Meski dalam Pemilu Legislatif 2004. memenangkan Pilkada. Bangli.16%. Badung adalah salah satu basis kekuatan PDIP. jika di suatu wilayah kemenangan Golkar telak ( di atas 50%). Kemenangan yang telak ini tidak menjamin kemenangan PDIP ketika mengusung calon kepala daerah dalam Pilkada. tidaklah menjadi jaminan kemenangan dalam Pilkada. Wonogiri. Dari tabel ini terlihat.51%. Dalam Pemilu Legislatif 2004. dominasi kemenangan partai selama Pemilu Legislatif 2004. Gorontalo dan Boalemo. tulisan ini tidak memfokuskan pada analisis atas kemenangan partai—seperti seberapa banyak partai tertentu berhasil mengantarkan kandidat menjadi kepala daerah. Kemenangan saat Pemilu Legislatif ini tidak berjalan beriringan dalam Pilkada Kabupaten Gorontalo (27 Juni 2005). Tulisan ini berfokus pada seberapa berhasil partai politik mempertahankan basis suara yang diperoleh dalam Pemilu Legislatif 2004. PPP dan Partai Demokrat (I Nengah Arwana dan I Made Gianyar). Atau partai mana yang paling banyak memenangkan Pilada. Provinsi Gorontalo) dan PDIP (Kabupaten Tabanan. Sementara kalau dalam Pemilu Legislatif Golkar memperoleh suara kurang dari 15% atau bukan menjadi pemenang pertama. Saat Pemilu Legislatif 2004.41%. Tidak ada perbedaan yang mencolok antara dominasi kemenangan dengan keberhasilan dan kegagalan partai ketika mengusung calon dalam Pilkada. Pasangan yang diusung oleh Partai Golkar hanya memperoleh suara 36. kecenderungan yang terjadi adalah lebih banyak ditandai oleh kegagalan partai pemenang Pemilu Legislatif 2004 untuk memenangkan calon yang diusung . Hal yang sama juga terjadi di Kabupaten Bangli. Sementara pasangan calon yang diusung oleh PDIP hanya memperoleh suara 30.84%. Pasangan ini kalah dari pasangan yang dicalonkan oleh Partai Golkar dan koalisi sejumlah partai lain yakni pasangan Anak Agung Gde Agung dan I Ketut Sudikerta. Boalemo. Sama seperti Badung. Lihat tulisan “ Siasat Partai Politik dan Strategi Pencalonan” dalam Kajian Bulanan Nomor ini. Tetapi perlu dicatat. sementara lawannya mendapatkan suara 63.57%. sementara calon wakil kepala daerah dari partai lain. PDIP. Golkar hanya akan mengincar kursi wakil kepala daerah. Gorontalo. Data ini menarik karena kerap kali partai politik menggunakan dasar perolehan suara dalam Pemilu Legislatif dalam merumuskan kebijakan pencalonan dalam Pilkada.KAJIAN BULANAN 11 Dari 290 wilayah yang dianalisis dalam tulisan ini. Di Kabupaten Gorontalo. Jembrana). 69.16%. Badung. Dalam Pilkada Kabupaten Boalemo. Pasangan yang diusung oleh PDIP (I Wayan Gunawan dan I Wayan Wirata) kalah dari pasangan yang diusung oleh Partai Golkar.59%. Kebijakan yang dibuat oleh Golkar ini secara jelas menggunakan dasar dominasi kekuatan partai dalam Pemilu Legislatif sebagai strategi pencalonan dalam Pilkada Pilkada. Apabila di suatu wilayah Golkar menang dalam Pemilu Legislatif tetapi prosentase kemenangan antara 15-50%. Dalam Pilkada Kabupaten Badung (24 Juni 2005). PDIP mencalonkan pasangan I Made Sumer dan I Gusti Ngarah Oka. Golkar akan mengincar calon kepala daerah. Sangihe. Partai Golkar mendapat suara 57. PBB. Dalam kebijakan resmi yang dikeluarkan oleh Partai Golkar disebutkan. Kesebalas wilayah ini selama ini memang dikenal sebagai basis utama dari Partai Golkar (Kabupaten Barru. karena pasangan yang diusung oleh Partai Golkar ini menang dengan angka cukup telak. Seberapa berhasil calon kepala daerah yang didukung oleh partai terbesar di suatu wilayah. Sarmi. Bangli. Tabel 7 merinci lebih detil kemenangan dan kegagalan pemenang Pemilu Legislatif menurut kategori dominasi kemenangan. Anomali Tulisan ini memperlihatkan kemenangan partai dalam Pemilu Legislatif bukanlah jaminan kemenangan dalam Pilkada. Hal yang sama terjadi di Kabupaten Boalemo. Bangli (dan kabupaten lain di Provinsi Bali) adalah basis utama dari PDIP. Partai Golkar menang telak saat Pemilu Legislatif 2004 dengan perolehan suara 58. Dominasi partai yang sangat kuat di satu wilayah dan diiringi dengan kegagalan memenangkan calon yang diusung dalam Pilkada juga dialami oleh Golkar.

7 60.0 0.0 57.0 20.7 100.0 0.0 75.0 25.12 LINGKARAN SURVEI INDONESIA Tabel 6: Dominasi Kekuatan Partai Dalam Pemilu Legislatif dan Kemenangan Dalam Pilkada Dirinci Menurut Provinsi Kategori Dominasi PROVINSI Kemenangan Partai Dalam Pemilu Legislatif Bangka Belitung Bali Dominan (25-50%) Total Dominan (25.0 50.0 0.0 45.0 50.2 50.0 50.0 50.0 100.0 50.0 50.0 12.0 100.0 0.0 0.0 40.0 50.8 50.3 54.3 0.0 50.0 0.0 100.0 26.0 22.8 0.3 100.0 80.0 50.0 100.0 50.0 50.0 100.0 60.7 0.0 80.0 50.5 Menang 2 2 1 2 3 1 1 2 1 0 1 1 2 3 1 1 2 1 1 2 3 1 4 2 2 4 9 0 1 10 13 1 14 3 1 4 0 0 0 0 1 1 4 2 6 Persen (%) 50.0 50.3 40.0 20.50%) Sangat dominan (>50%) Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< 25%) Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< 25%) Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< 25%) Total Dominan (25-50%) Sangat dominan (>50%) Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< 25%) Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< 25%) Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< 25%) Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< 25%) Sangat dominan (>50%) Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< 25%) Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< 25%) Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< 25%) Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< 25%) Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< 25%) Total Kalah 2 2 1 2 3 1 1 2 4 3 7 2 0 2 1 2 3 3 4 7 3 0 3 2 2 4 11 4 0 15 5 0 5 0 4 4 2 6 8 3 0 3 1 4 5 Menang / Kalah Dalam Pilkada? Persen (%) 50.0 50.1 50.0 66.0 50.0 100.0 33.2 100.0 80.5 33.0 75.0 0.0 100.0 80.0 20.0 66.0 50.0 42.0 50.0 20.0 33.0 27.0 40.0 0.0 77.0 0.0 50.7 45.0 50.0 50.0 73.5 Total 4 4 2 4 6 2 2 4 5 3 8 3 2 5 2 3 5 4 5 9 6 1 7 4 4 8 20 4 1 25 18 1 19 3 5 8 2 6 8 3 1 4 5 6 11 Banten Bengkulu Yogyakarta (DIY) Gorontalo Irian Jaya Barat Jawa Barat Jambi Jawa Tengah Jawa Timur Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Timur .0 50.0 25.0 50.0 100.9 50.5 66.0 100.0 72.0 55.0 87.0 60.

7 66.3 20.3 33.0 60.7 66.0 33.0 26.0 50.0 50.0 75.4 66.0 60.9 33.3 50.7 65.0 66.0 57.0 6 6 3 3 6 1 5 6 3 4 7 3 17 20 3 3 6 3 5 8 5 9 1 15 6 4 10 1 1 11 1 12 5 2 7 3 3 6 6 1 1 8 11 4 15 2 4 6 7 13 20 Maluku 25%) Maluku Utara 25%) Aceh (NAD) 25%) Nusa Tenggara Barat 25%) Nusa Tenggara Timur Papua Riau Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Utara Sumatera Barat Sumatera Selatan Sumatera Utara Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< 25%) Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< 25%) Sangat dominan (>50%) Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan ( <25%) Total Dominan (25-50%) Total Dominan (25-50%) Sangat dominan (>50%) Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< 25%) Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< 25%) Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< 25%) Sangat dominan (>50%) Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< 25%) Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (25-50%) Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< 25%) Total 4 1 5 4 0 4 2 1 3 2 1 1 4 3 1 4 1 2 3 3 6 9 Sumber: Diolah dari database Lingkaran Survei Indonesia.0 50.7 66.7 50.KAJIAN BULANAN 13 Kepulauan Riau Lampung Kurang Dominan (< 25%) Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< 25%) Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< Total Dominan (25-50%) Kurang Dominan (< 1 1 2 2 4 1 3 4 2 3 5 2 11 13 1 1 2 2 4 6 3 6 0 9 3 2 5 1 1 7 0 7 1 2 3 1 2 3 4 0 0 4 8 3 11 1 2 3 4 7 11 16.3 35.3 33.3 33.0 50.0 28.1 53.0 0.7 33.0 40.3 25. .2 45.0 50.7 16.8 55.0 25.0 41.3 100.0 42.9 46.0 66.0 100.0 50.3 0.0 63.0 33.3 66.3 83.0 72.0 0.7 66.0 100.0 100.7 80.0 27.0 57.0 33.0 60.3 33.7 66.0 73.3 100.7 66.7 33.0 36.1 66.3 50.4 100.3 25.0 66.0 50.7 100.0 50.3 33.0 40.0 50.7 75.6 0.0 71.0 0.3 20.7 0.7 80.7 50.7 75.0 0.0 50.3 66.0 5 5 1 1 2 0 2 2 1 1 2 1 6 7 2 2 4 1 1 2 2 3 1 6 3 2 5 83.0 58.7 64.3 33.0 40.0 100.7 0.0 50.0 42.6 33.0 50.3 35.0 66.0 33.

0 0.7 50.3 0.0 47.0 100. Data perolehan suara Pemilu Legislatif diolah dari KPU.0 61.0 66.0 63.0 PBB Dominan (25.5 50.0 0.0 100.7 33.50%) Kurang Dominan (<25%) Total Partai Demokrat Kurang Dominan (<25%) Total Partai Pelopor Kurang Dominan (<25%) Total 1 1 1 1 1 1 19 5 2 26 1 1 4 4 1 1 4 4 1 1 1 4 5 50.0 47.6 63.0 100 94 6 200 1 3 4 1 1 2 2 1 1 1 1 40 10 5 55 2 2 11 11 1 1 6 6 1 1 1 4 5 PAN Dominan (25.14 LINGKARAN SURVEI INDONESIA Tabel 7: Prosentase Kemenangan Partai Pemenang Pemilu Legislatif Dalam Pilkada Menurut Kategori Dominasi Partai Partai Pemenang Pemilu Legislatif 2004 di Wilayah Pilkada Kategori Dominasi Kemenangan Partai Dalam Pemilu Legislatif Kalah Menang / Kalah Dalam Pilkada? Persen (%) Menang Persen (%) Total Golkar Dominan (25.4 100.0 100.0 36.0 100.0 100.7 100.0 100.0 0.50%) Total PBSD Kurang Dominan (<25%) Total PDIP Dominan (25-50%) Kurang Dominan (<25%) Sangat dominan (>50%) Total 21 5 3 29 1 1 7 7 52.3 50.0 0.0 0.7 50.7 66.0 50.50%) Kurang Dominan (<25%) Sangat dominan (>50%) Total 58 58 2 118 0 2 2 58.0 33.0 100.3 50.7 41.0 50.0 0.3 33.0 100.0 60.0 100.0 50.0 40.0 0.0 66.4 36.0 100.0 100.3 59.0 42 36 4 82 1 1 2 1 1 1 1 42.0 0.6 0.0 52.0 38.0 0.3 66.0 50.5 50.0 PPDK Kurang Dominan (<25%) Total PPP Dominan (25-50%) Kurang Dominan (<25%) Total Sumber: Diolah dari database Lingkaran Survei Indonesia.0 PDS Dominan (25-50%) Total PKB Dominan (25-50%) Total PKPI Kurang Dominan (<25%) Total PKS Kurang Dominan (<25%) Total 2 2 33.0 100.0 0.0 0.0 50. .0 0.

hal ini juga terjadi hampir secara merata di semua partai. Sualang) berhasil memenangkan Pilkada dan mengalahkan calon yang diusung oleh Golkar (A. PKB hanya menempati urutan kelima ( di bawah Golkar. Fakta lain yang juga menarik adalah adanya keberhasilan dari partai dalam memenangkan calon kepala daerah. PKB (Anthony dan Hasyim Fahmi) dan koalisi PDIP-PAN (Sigit Sumarhen Yanto dan Freddy Wijaya). Tetapi dalam Pilkada. Kota Pekalongan adalah basis bagi Partai PKB. calon yang diusung oleh koalisi PKB.9%. Sementara di Seram Bagian Timur. Badung (Anak Agung Gde Agung dan I Ketut Sudikerta). Minahasa Selatan. Demokrat dan PBB (Ujang Iskandar dan Sukirman) berhasil memenangkan Pilkada. Calon-calon yang diusung oleh Golkar (baik sendiri atau berkoalisi ) di Karangasem (I Wayan Geredeg dan I Gusti Lanang Rai). Tabel 8 memperlihatkan beberapa contoh wilayah yang ditandai dengan keberhasilan partai dalam memenangkan calon kepala daerah (baik sendiri atau berkoalisi dengan partai lain) meski partai bukanlah pemenang Pemilu Legislatif. Di Seram Bagian Timur.33%. Partai Golkar hanya mendapat 13.66%. tetapi juga meraih suara secara telak.PKPB berhasil memenangkan calon yang diusung (Asrul Syukur dan Nusiwan) dan mengalahkan calon yang diusung oleh Partai Golkar (Marion Dt Angkayo Mulie dan Tugimin). Meski demikian. Minahasa Selatan.KAJIAN BULANAN 15 dalam Pilkada. Tetapi calon yang diusung oleh PKB (Muhadi Suyono dan Amin) berhasil mengalahkan calon yang diusung oleh PDIP (Suprianto dan Handoko) sekaligus berhasil memenangkan Pilkada.19 Gejala ini juga menimpa partai menengah. Sementara di Pasaman Barat. PDIP hanya berada di peringkat ketiga peraih suara terbanyak (di bawah Golkar. Tetapi di wilayah-wilayah ini. PKB mengalami hal ini misalnya di Povinsi Kalimantan Selatan. Sementara di Provinsi Bengkulu. Dalam Pemilu Legislatif 2004. Wilayahwilayah ini bukanlah wilayah basis massa PDIP. Dalam Pemilu Legislatif 2004. Badung dan Bangli adalah basis dari PDIP. seperti PKB. calon yang diusung oleh PDIP (baik sendiri atau koalisi dengan partai lain) berhasil memenangkan Pilkada. Di Minahasa Selatan.33%. PPP dan PDIP. 40. Partai Golkar mendominasi kemenangan dengan suara 44. Sondakh dan Aryanti Baramuli Putri). Provinsi Kalimantan Tengah dan Pasaman Barat. Dalam Pemilu Legislatif 2004. pasangan Agustin Teras Narang dan Ahmad Diran dari PDIP berhasil memenangkan Pilkada. partai pemenang Pemilu Legislatif 2004 adalah PDIP. dan mengalahkan pasangan yang diusung oleh Partai Golkar (Aswani Agani dan Kahayani).19%. Calon yang diusung oleh koalisi ini (Syah Iran dan Risnawanto) berhasil memenangkan Pilkada. Bulungan dan Kota Baru. Sementara di Kotawaringin Barat. Di Kotawaringin Barat.77%. Tambuan dan Ronny Gosal). Calon yang diusung oleh PKS (sendiri atau koalisi dengan partai lain) berhasil memenangkan Pilkada. Karangasem. Tetapi calon yang diusung oleh PKB (baik sendiri maupun koalisi dengan partai lain) berhasil memenangkan Pilkada. saat Pemilu Legislatif 2004. pasangan koalisi PKS. meski partai itu bukan pemenang Pemilu Legislatif di wilayah tersebut. PBR dan PAN) dengan perolehan suara 12%. Golkar juga sukses memenangkan calon kepala daerah di Bangka Tengah. dan Bangli (Made Arnawa dan Gianyar) berhasil memenengkan Pilkada. Badung. PDIP berkoalisi dengan PBB. Solok Selatan dan Bengkulu.63%. calon yang diusung oleh Golkar (Zulkainiri DT Marajo dan Bustami Narda) justru mendapat suara paling buncit. PAN dan PKS. Calon yang diusung oleh Golkar (Abdul Razak dan Gusti Husni Syamsul) justru berada di posisi terakhir perolehan suara dalam Pilkada.J. Di Provinsi Sulawesi Utara. Syazili) berhasil memenangkan Pilkada dan mengalahkan calon yang diusung oleh PDIP (Rozali dan Djunaidi Sukinto). Keberhasilan di Dharmasraya ini diikuti oleh kemenangan lain calon yang diusung oleh PDIP (baik sendiri atau berkoalisi dengan partai lain) di Provinsi Sulawesi Utara. Dalam Pemilu Legislatif. Tetapi calon yang diusung oleh PKS dan PAN (Parhan dan Zuhri M. PDIP yang berkoalisi dengan PAN. Tetapi saat Pilkada. calon yang diusung oleh PKB justru yang menang. partai pemenang Pemilu Legislatif adalah Golkar. PKPI (Abdullah Vanath dan Siti Umuria Suruwaky) berhasil memenangkan Pilkada. PDIP 20% dan PKB 13. Partai Golkar menjadi peraih suara terbanyak (36%). Golkar menjadi peraih suara terbanyak di provinsi ini dengan suara 23. Pasangan yang diusung oleh Partai Golkar ini bukan hanya memenangkan Pilkada. PPP. calon dari koalisi PDIP dan PDS (RM Luntungan dan Ventje Tuela) mengalahkan pasangan yang didukung oleh Golkar (Jenny J. Sementara di Kota Baru. PDIP adalah partai pemenang di Ponorogo. PKPB. Calon dari Golkar (Firdaus Mansori dan Eriyansyah Basindu) memperoleh suara paling sedikit dari 5 pasangan calon yang maju dalam Pilkada. Di Sulawesi Utara. koalisi PKB dan Demokrat yang mengusung pasangan Sjachrani Mataja dan Fatizanolo Saciago berhasil memenangkan Pilkada.18 Hal yang sama juga dialami oleh PDIP di Dharmasraya. Sekaligus mengalahkan calon yang diusung oleh PDIP yang notabene adalah partai pemenang Pemilu Legislatif di wilayah ini. Pasaman Barat dan Provinsi Kalimantan Tengah. Di Bangka Barat. Di Solok Selatan. Di Bulungan. PKB yang berkoalisi dengan PPP (Rudi Arifin dan Rosehan NB) berhasil mengalahkan Golkar yang 19 20 21 Karangasem. Tetapi dalam Pilkada. dan Bangli yang notabene bukan merupakan 18 wilayah basis massa partai Golkar. PBR. Tetapi ini baru satu fakta. calon yang diusung oleh PDIP (Sinyo Sarundayang dan Freddy H. Basyir Ahmad dan Abu Almafachir) berhasil mengalahkan calon yang diusung oleh PPP (Timur Susilo Achmad dan Urip Sunaryo). calon yang diusung oleh partai Golkar (Moh. calon dari koalisi PKB. . Pelopor dan PAN (Budiman Arifin dan Liet Inggai) berhasil mengalahkan calon lain. Partai Golkar di Pekalongan misalnya. partai pemenang Pemilu Legislatif adalah Golkar. Calon yang diusung oleh Golkar (Zulkenedi Said dan Ema Yohana) hanya menempati urutan paling buncit dari perolehan suara dalam Pilkada. Pasangan yang diajukan oleh koalisi PKS dan PKPI (Syahrizal dan Nurfirmanwansyah) berhasil memenangkan Pilkada. partai pemenang Pemilu Legislatif adalah Partai Golkar. Yang menarik. pasangan koalisi PKS dan PBR (Agusrin M Najamudin dan Syamlan) memenangkan Pilkada. PDIP dan PKS) dengan suara 10. PPP mendapat suara 26. Di Provinsi Kalimantan Tengah.

PKB juga tercatat berhasil di Kabupaten Ponorogo. Ranney. untuk Pemilu Presiden memilih calon presiden dari Partai Y. PKS berhasil mengulangi kesuksesan di Bangka Barat. Presiden hingga Pilkada. Dalam Pemilu Legislatif 2004. sementara untuk Pilkada seseorang memilih calon yang diusung oleh Partai Z. . 1. New Jersey. PKS hanya menduduki peringkat keempat (di bawah Partai Golkar. yakni pasangan Taufik Nuriman dan Andy Sujadi. PPP dan PKB) dengan suara 11. PKS berhasil memenangkan calon yang diusung dalam Pilkada. 1984. Pasangan ini berhasil mengalahkan pasangan yang diusung oleh koalisi Partai Golkar dan PPNUI (Bunyamin dan Ma’mun Syahroni). 1999) dalam perilaku pemilih di Indonesia. Weisberg. Governing: An Introduction to Political Science. Vol. hal ini terjadi di Kabupaten Serang. Misalnya untuk Pemilu Legislatif. Kotawaringin Barat. No.21 Kemenangan calon yang diusung oleh bukan partai pemenang Pemilu Legislatif ini kemungkinan menunjukkan terjadinya gejala split ticket voting (Austin Ranney. Inc.1%. Bulungan dan Kota Baru—kendati di wilayah itu PKB bukan pemenang Pemilu Legislatif. Meski kalah dalam Pemilu Legislatif. Austin.16 LINGKARAN SURVEI INDONESIA Tabel 8: Contoh Anomali Hasil Pilkada Dibandingkan Dengan Hasil Pemilu Legislatif Partai Pemenang Pilkada Contoh Wilayah Dimana Partai Pemenang Pemilu Legislatif Menang Dalam Pilkada Contoh Wilayah Dimana Partai Kalah Pemilu Legislatif Tetapi Menang Dalam Pilkada Contoh Wilayah Dimana Partai Pemenang Pemilu Legislatif Kalah Dalam Pilkada Golkar Kabupaten Kutai Kertanegara Kota Cilegon Kabupaten Kapuas Hulu Kabupaten Ketapang Kabupaten Ogan Ilir Kota Pekalongan Bangka Tengah Karangasem Badung Bangli Provinsi Sulawesi Utara Minahasa Selatan Provinsi Kalimantan Tengah Dharmasraya Pasaman Barat Ponorogo Kotawaringin Barat Bulungan Provinsi Kalimantan Selatan Kota Baru Bangka Barat Kota Serang Seram Bagian Timur Solok Selatan Provinsi Bengkulu Kabupaten Nunukan Kota Balikpapan Kabupaten Kutai Timur Kabupaten Tapanuli Tengah Kabupaten Pelalawan Kabupaten Manggarai Barat Kabupaten Kendal Kabupaten Klaten Kabupaten Badung Kota Semarang Kabupaten Sumenep Kabupaten Banyuwangi Kabupaten Situbondo Kabupaten Lamongan Kabupaten Trenggalek Halmahera Selatan Kota Medan Hulu Sungai Tengah Kota Banda Aceh PDIP Kabupaten Bangka Tengah Kabupaten Ngawi Kota Denpasar Kabupaten Sleman Kota Surabaya PKB Kabupaten Mojokerto Kabupaten Jember Kabupaten Pekalongan Kota Pasuruan Kabupaten Gresik PKS Kota Batam Kota Depok mengusung Gusti Iskandar dan Hafiz A.20 Sementara untuk PKS. Yang lebih pasti dari fakta-fakta selama pelaksanaan Pilkada ini tidak ada jaminan kemenangan partai (bahkan kemenangan dominan sekalipun) dalam Pemilu Legislatif menjadi jalan menuju kemenangan dalam Pilkada (Eriyanto). Yakni suatu gejala dimana pemilih memilih partai yang berbeda untuk tingkatan pemilihan yang berbeda—mulai dari pemilihan langsung untul Legislatif. Seram Bagian Timur. dan seterusnya. 1999. Prentice-Hall. Solok Selatan dan Provinsi Bengkulu—kendati PKS bukanlah pemenang Pemilu Legislatif di wilayah ini. Daftar Pustaka Allspot. PDIP. Dee dan Herbet F. Benar tidaknya adanya gejala split ticket voting membutuhkan studi tersendiri yang lebih mendalam. seseorang memilih Partai X.” American Journal of Political Science. Englewood Cliffs. “ Measuring Change in Party Identification in an Election Campaign. 29.

Jika partai politik bisa menjaring nama yang potensial. Popularitas seringkali menjadi kekuatan terpenting bagi masing-masing partai politik untuk melapangkan jalan menuju arena Pemilu 2009 mendatang. dampak buruknya adalah pada proses pengkaderan dan pendewasaan struktur partai politik di daerah. Ada alasan khusus mengapa tulisan ini hanya memfokuskan pada Partai Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).32 2004 masing-masing Partai politik mulai dari level Dewan Pimpinan Pusat (DPP). Dari Pilkada yang telah lewat. hingga Dewan Pimpinan Cabang (DPC) nampak mulai mengatur siasat dan strategi. terutama partai-partai yang memperoleh kursi legislatif besar. . Kontestasi politik. Partai politik lebih berkepentingan memilih nama yang punya potensi menang. Jika partai politik bisa menjaring nama yang potensial. Tulisan ini akan menganalisis bagaimana strategi dua partai besar (Partai Golkar dan PDIP) dalam menjaring dan menseleksi calon. Ada kecenderungan rekruitmen calon kepala daerah yang diusung oleh partai politik dalam Pilkada lebih ditentukan oleh kepentingan pengurus partai di pusat. kemenangan dalam Pilkada. Mengapa arena Pilkada begitu memiliki makna penting bagi partai politik? Setidaknya ada beberapa alasan mendasar. Karena pentingnya tahap ini. Berbagai pertimbangan diatas. pemenangan dalam Pilkada dianggap sebagai peluang bagi partai politik dalam proses pembelajaran para kader politiknya. seperti tak mau ketinggalan dalam memperebutkan kursi kepala daerah. Pilkada juga dianggap sebagai arena untuk menjaring para kader potensial yang populer. potensi kemenangan akan semakin besar. nampaknya pilihan kedua yang lebih banyak diambil partai politik. bagi partai politik. dianggap sebagai kata kunci awal di dalam memperebutkan kekuasaan eksekutif di masing-masing daerah. Kedua pilihan itu sama-sama menyimpan dampak bagi partai politik. Dewan Pimpinan Daerah (DPD). Pertama. Jika pilihan pertama yang diambil. Tulisan ini akan membahas mengenai bagaimana strategi partai politik dalam menjaring nama yang akan dicalonkan sebagai kepala daerah. partai politik umumnya membuat suatu mekanisme yang menjamin mereka bisa mendukung calon yang secara potensial bisa memenangkan Pilkada. Partai politik menghadapi dilema—antara membuat mekanisme yang demokratis dengan memberikan kewenangan besar kepada daerah dalam memilih calon atau menciptakan sistem yang sentralistik dimana kewenangan memilih dan menentukan calon berada di tangan pengurus partai pusat. Setidaknya. potensi kemenangan akan semakin besar. berbagai strategi disiapkan. arena eksekutif inilah nantinya bisa menjadi mesin yang ampuh dalam menjalankan kebijakan dan visi-visi politik masing-masing partai politik. masing-masing partai politik pada akhirnya cenderung tidak melewatkan momentum Pilkada dengan berbagai siasat untuk mendulang kemenangan. Tahap penjaringan dan pencalonan amat menentukan. Sejak digulirkan kebijakan Pilkada langsung melalui UU No.KAJIAN BULANAN 17 Siasat Partai Politik dan Strategi Pencalonan ALAH satu tahap paling krusial dari partai politik yang terjun dalam Pilkada adalah tahap penjaringan dan pemilihan calon kepala daerah. kabupaten/kota). Tetapi jika pilihan kedua yang diambil. baik oleh masingmasing kandidat yang mau maju dalam pencalonan ataupun masing-masing partai politik yang tak mau kalah bersaing dalam arena kompetisi tersebut. S HAMPIR semua partai politik. Kedua. partai politik umumnya membuat suatu mekanisme yang menjamin mereka bisa mendukung calon yang secara potensial bisa memenangkan Pilkada. Agar tidak kecolongan. Dua partai ini hampir di semua wilayah (provinsi. yang akan dianalisis dalam tulisan ini adalah Partai Golkar dan PDIP. yang sering disederhanakan sebagai arena kekuasaan dalam era Pilkada membutuhkan para kader yang populer dan potensial. pengurus partai pusat tidak bisa mengontrol proses mekanisme pemilihan calon kepala daerah dan akibatnya bisa jadi nama yang dipilih bukanlah nama yang potensial menang. Sebagai kasus. Ketiga. Hal ini terutama bagi partai politik yang selama proses Pilkada cenderung mendorong para kadernya untuk maju sebagai kandidat. Karena pentingnya tahap ini.

Untuk daerah yang menempatkan Partai 2 Berdasarkan ketentuan UU No. maupun kota.18 LINGKARAN SURVEI INDONESIA mempunyai suara yang signifikan. 20 April 2005). Pertama. Sasaran kedua adalah memenangi Pilkada langsung minimal sebesar 50 persen di tingkat kabupaten/kota dan 30 persen di tingkat provinsi. Secara umum. Masing-masing Partai politik. kedua partai ini. 50 persen di wilayah kabupaten dengan kekuatan berimbang.1 Mengadu Strategi. Adapun tahapan proses yang dilakukan oleh masing-masing partai politik dalam menjaring dan menseleksi calon meliputi empat hal. tidak dapat dilepaskan dari perhitungan kemenangan yang diperoleh kedua partai itu ketika menguasai kursi legislatif (DPRD) di daerah. melakukan penyaringan terhadap nama-nama kandidat yang telah dinominasikan. Sementara Ketua Umum Partai Golkar. hingga Dewan Pimpinan Cabang (DPC) merumuskan strategi pada berbagai tahapan Pilkada. di Yogyakarta. Partai Golkar tak mau ketinggalan dengan langkah strategi pemenangan yang dilakukan PDIP. baik provinsi. proses penjaringan nama-nama kandidat yang akan diusung dalam Pilkada.23 tahun 2004. Juklak itu antara lain mengatur soal teknis dan mekanisme pelaksanaan Pilkada sebagai pedoman bagi kader Golkar di daerah. Dari konvensi itu dapat diukur seberapa populer calon yang bersangkutan di daerah tersebut. Target Partai Golkar dan PDIP misalnya. Kedua. 20 April 2005). Dewan Pimpinan Daerah (DPD). Juklak juga mengatur soal pasangan calon yang diajukan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang memenuhi syarat sesuai ketentuan. partai politik ingin memastikan agar calon yang diusung adalah calon yang punya potensi besar dalam memenangkan Pilkada. Bahkan partai besar seringkali mematok anggka tertentu yang diyakini mampu dicapainya dalam proses Pilkada. Pada awal pelaksanaan Pilkada. Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP. Juklak DPP Partai Golkar tentang tahapan rekruitmen pasangan calon kepala daerah menyebutkan. Untuk mencapai target tersebut. partai itu akan mengajukan kadernya sebagai calon kepala daerah dan wakil kepala daerah.1/2005 (Februari 2005) tentang Tata Cara Pemilihan Kepada Daerah. Bagaimana upaya yang dilakukan oleh partai politik untuk mencapai terget menang dalam Pilkada? Salah satu tahap yang diperhatikan oleh partai politik adalah tahapan penjaringan dan seleksi nama untuk diajukan sebagai calon kepala daerah. Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar. calon dari PDIP harus mengikuti semacam “konvensi” di rapat kerja khusus. Pada kongres ke-2 awal April 2005. Ketokohan seorang calon kepala daerah lebih menjamin kemenangan dalam Pilkada. Ketiga. 2DPP PDIP sempat menggelar rapat pimpinan. untuk membahas upaya pencapaian target memenangkan Pilkada di seluruh Indonesia (Republika. dalam Pilkada pemilih lebih memilih orang. bila Golkar pada pemilu legislatif 2004 menguasai suara di atas 50% di suatu daerah. Yang menarik. Karena itu. harus diajukan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang memenuhi persyaratan perolehan sekurang-kurangnya 15 % jumlah kursi DPRD atau 15% dari akumulasi perolehan suara sah dalam Pemilu Anggota DPRD di daerah yang bersangkutan. di hampir semua wilayah memperoleh suara di atas 15% sehingga memungkinkan untuk mencalonkan kandidat kepala daerah tanpa harus berkoalisi dengan partai lain. Merebut Peluang Diantara partai-partai besar yang bersaing ketat dalam perebutan perolehan kursi di Pilkada adalah Partai Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). melakukan verifikasi terhadap nama-nama kandidat yang dinominasikan akan maju dalam proses Pilkada. Diantaranya memenangi pemilihan kepala desa dan pemilihan kepala daerah. penentuan nama-nama kandidat yang akan diajukan pada masing-masing KPUD. Atau 30 persen kemenangan dalam Pilkada provinsi dan 50 persen dalam Pilkada kabupaten/kota. kabupaten. partai politik umumnya meyakini bahwa Pilkada berbeda dengan Pemilu Legislatif. secara khusus PDIP membuat beberapa target pencapaian. Sasaran pertama yang akan dicapai adalah memenangi pemilihan kepala desa minimal sebesar 75 persen di wilayah kabupaten yang merupakan basis partai PDIP. Sebagian besar partai politik besar menunjukkan tingkat kepercayaan yang sangat tinggi dapat memenangkan Pilkada. 17-20 April 2005. pasangan calon sebagai peserta Pemilihan Kepala Daerah. Persaingan ini dilakukan dalam rangka mengejar perolehan target dari masing-masing partai di level kabupaten maupun propinsi. Jusuf Kalla menyatakan bahwa Partai Golkar berani menargetkan 60 persen dari calon yang maju dari Partai Golkar dapat memenangi Pilkada. Berbeda dengan Pemilu Legislatif yang lebih memilih partai. mulai dari level Dewan Pimpinan Pusat (DPP). Hanya partai-partai kecil yang tidak secara terangterangan mencanangkan target pemenangan Pilkada. Partai Golkar membuat aturan mengenai penjaringan dan seleksi calon kepala daerah ini dalam Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) No. . Agung Laksono menyatakan bahwa Partai Golkar menargetkan kemenangan mayoritas di tujuh provinsi dan 148 kabupaten/kota (Suara Pembaruan. Pramono Anung menyatakan bahwa PDIP dalam Pilkada mentargetkan kemenangan seperti yang diperoleh saat Pemilu Legislatif—yakni 158 daerah. dan 25 persen di wilayah yang bukan basis PDIP. Hal ini barangkali berangkat dari asumsi kemenangan partai 1 politik di daerah selama Pemilu Legislatif 2004. Keempat. Dalam Pemilu Legislatif 2004 lalu.

Di kalangan internal Partai Golkar mulai muncul suara yang mempertanyakan rendahnya kemenangan calon dari Partai Golkar.7%) justru partai Golkar kalah di wilayah dimana saat Pemilu Legislatif 2004 menang. dari nama yang telah terjaring dapat dipastikan nama yang didukung oleh DPD Kabupaten / Kota yang akan menang dan menjadi calon resmi dari Partai Golkar. banyak kader Golkar berhasil menduduki jabatan kepala daerah atau wakil kepala daerah meski tidak diusung oleh Partai Golkar dalam pencalonannya. proses penjaringan nama-nama versi Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) No. substansi Juklak No. Wiranto yang bukan pengurus Partai Golkar keluar sebagai pemenang dalam konvensi dan menjadi calon presiden yang didukung oleh Partai Golkar. Demikian juga untuk Pilkada kabupaten. hanya 12 wilayah PDIP menang kembali dalam Pilkada. DPD Kabupaten/ Kota mempunyai suara sebanyak 65%. Pilkada dilangsungkan secara serentak di 160 wilayah di seluruh Indonesia.KAJIAN BULANAN 19 Golkar sebagai pemenang pertama dengan suara 15%50%. Pada tahap penjaringan. Secara umum. Dari 160 pemilihan di bulan Juni tersebut.3% saja yang menang dalam Pilkada. Mayoritas (61. Karena DPD (provinsi dan kabupaten) yang berperan dalam menjaring nama-nama untuk diajukan sebagai calon kepala daerah. Yang menarik dari Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) No. Sementara itu.1/2005 ini mengadopsi ide “konvensi”seperti yang pernah dilakukan oleh Partai Golkar ketika mengusung calon presiden Tahun 2004 lalu.3 Nama-nama yang masuk akan diseleksi oleh Tim Pengarah dan dipilih sebanyak tiga nama calon kepala daerah. Sebanyak 115 wilayah diantaranya dimenangkan oleh Partai Golkar pada Pemilu Legislatif 2004. 13 Oktober 2005). Hal yang sama juga dialami oleh PDIP. Rapat pimpinan untuk memilih satu calon yang didukung Golkar ini dilakukan lewat mekanisme pemilihan terbuka. Jika seseorang ingin menggunakan Golkar sebagai kendaraan politik.DPP/Golkar/IX/2005. DPD Provinsi. Dalam Rapat Pimpinan untuk memutuskan calon yang akan diusung oleh partai Golkar ini. Dengan kenyataan ini. . PK total mempunyai suara (voting block) sebanyak 65%. Salah satu yang dipandang sebagai penyebab kekalahan Golkar adalah calon-calon yang diusung oleh Partai Golkar tidak bisa bersaing dengan calon lain. Posisi suara PK (Pengurus Kecamatan) dalam menggolkan calon sangat besar. dimana masingmasing delegasi mempunyai suara (voting block) yang berbeda. untuk daerah dengan suara di bawah 15% dan bukan pemenang pertama. DPD Golkar di daerah dalam Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) No. yakni Juklak.1/2005 dengan Juklak yang baru.1/2005 ini bukan hanya menempatkan DPD Partai Golkar di daerah dalam posisi sentral ketika menjaring calon kepala daerah. Pada September 2005. Rapat pimpinan ini memang dihadiri oleh perwakilan dari DPP dan DPD Provinsi. Alih-alih mencapai target kemenangan di atas 60%. Dari wilayah dimana PDIP menang saat Pemilu Legislatif 2004 (31 wilayah). menilai mekanisme konvensi yang dijalankan pada Pilkada 2005 terlalu banyak menguras energi sehingga kerja partai kurang maksimal untuk menggolkan calon dari internal partai. Ketua Umum Golkar.1/2005 yang dipandang terlalu longgar adalah sasaran pertama untuk diperbaiki oleh Golkar. Pada Juni 2005 dilangsungkan 160 Pilkada yang meliputi 7 pemilihan gubernur. Juklak No. Juklak No.1/2005 ini adalah posisi suara DPD yang besar. Pemilihan dan penetapan satu nama calon yang akan didukung dalam Pilkada ditetapkan dalam suatu Rapat Pimpinan yang dihadiri oleh delegasi dari DPP. Jusuf Kalla ketika diwawancarai media. mau tidak mau harus mendapatkan dukungan dari DPD dan PK (Pengurus Kecamatan) yang ada di daerah.4 Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) No. DPD Kabupaten /kota dan ormas. calon-calon yang diajukan Partai Golkar justru banyak yang kalah. Golkar hanya mengajukan calon sebagai kepala daerah. hanya 38. dimana calon yang akan didukung oleh Golkar telah melewati proses pemilihan di daerah. Hasil Pilkada ini ternyata mengecewakan Partai Golkar.1/2005 ini sangat ideal dan demokratis. 129 pemilihan bupati dan 24 pemilihan walikota (Lihat Desk Pilkada Depdagri. Dengan kata lain. Partai Golkar memberi kesempatan yang luas kepada kader partai Golkar dan perorangan ( tokoh di luar Partai Golkar) untuk mencalonkan diri lewat partai Golkar.1/ 2005 menekankan prinsip desentralisasi.1/2005 ini mempunyai posisi yang sentral. Ketika itu Partai Golkar memberi kesempatan kepada semua pihak (kader dan perorangan di luar Partai Golkar) untuk mencalonkan diri. Partai Golkat melakukan revisi atas Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) No. Juklak ini mulai dipakai Partai Golkar selama pelaksanaan Pilkada Bulan Juni 2005. Rekapitulasi Proses Keppres dan keputusan menteri Dalam Negeri. Yang menarik dari 115 wilayah dimana Partai Golkar saat Pemilu Legislatif menang. Dalam Rapat Pimpinan untuk menentukan calon kepala daerah dalam Pilkada provinsi misalnya. tetapi suara ( voting block) dari DPD kabupaten lah yang paling besar dan menentukan. Kalla mengingatkan indikasi lain. Secara umum 3 4 Jika dicermati. Dengan kata lain. Hasilnya. Golkar hanya mengajukan calon wakil kepala daerah. tetapi juga saat penetapan dan penentuan calon. Partai Golkar mendominasi saat Pemilu Legislatif 2004. target pencapaian Golkar dan PDIP dalam Pilkada tidak tercapai. DPP Pusat hanya mengesahkan saja calon yang sudah terpilih lewat proses di daerah.

13 Oktober 2005. rapat dihadiri oleh wakil dari .20 LINGKARAN SURVEI INDONESIA Tabel 1: Perbandingan Kemenangan Pemilu Legislatif dan Pilkada Sejumlah Partai Periode Bulan Juni 2005 Partai Pemenang Pemilu Legislatif 2004 Kalah Menang Total Golkar Jumlah Persen PDIP Jumlah Persen PDS Jumlah Persen PKB Jumlah Persen PKS Jumlah Persen PPDK Jumlah Persen PPP Jumlah Persen 0 0 1 100 100 100 1 100 0 0 1 100 2 50 2 50 4 100 4 66. Dewan Pimpinan Daerah (DPD) kabupaten / kotamadya yang akan melangsungkan Pilkada melakukan penjaringan dengan mendata calon-calon di daerah yang potensial.7 44 38.3 115 100 Sumber : Diolah dari database Pilkada Lingkaran Survei Indonesia dan Desk Pilkada Depdagri. Rekapitulasi Proses Keppres dan keputusan menteri Dala Negeri. bisa juga kader di luar Partai Golkar. Tahap awal dari rekruitmen kandidat dimulai dari proses penjaringan yang dilakukan 6 bulan sebelum pelaksanaan Pilkada. Nama-nama ini lalu diinformasikan kepada Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar di Jakarta. DPP Partai Golkar yang akan menetapkan mana nama-nama yang potensial untuk didukung oleh partai Golkar—dengan mempertimbangkan profil dari masing-masing calon dan hasil survei lembaga profesional yang ditunjuk oleh Partai Golkar. Penetapan calon yang akan didukung Golkar dilakukan lewat sebuah Rapat Pilkada yang dihadiri oleh perwakilan dari DPP. Tetapi dalam Juklak DPP/Golkar/IX/2005. Fungsi DPD Golkar di daerah terbatas hanya pada mendata dan mengidentifikasi namanama yang dipandang potensial—bisa kader Golkar. Untuk Pilkada tingkat kabupaten / kotamadya. DPD Golkar ini yang akan mengumumkan dan membuka pendaftaran calon yang berminat mencalonkan diri dengan menggunakan kendaraan Golkar. DPD dan organisasi onderbow Golkar.7 31 100 71 61. Juklak DPP/Golkar/IX/2005.7 2 33. kewenangan DPD ini dipangkas.3 6 100 1 50 1 50 2 100 19 61. proses penjaringan nama diserahkan sepenuhnya kepada DPD Golkar di daerah.1/2005 dengan Juklak yang baru. Lima bulan menjelang Pilkada.3 12 38. Hasil dari survei ini oleh DPP Partai Golkar akan dibuat rangking kandidat yang potensial (dari urutan 1 hingga 5). Dari sini sudah terlihat adanya perbedaan yang tajam antara Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) No. Pada Juklak yang lama. Golkar akan melakukan survei ( dengan menunjuk lembaga survei yang independen) untuk mengukur popularitas dan dukungan dari masingmasing calon yang potensial tersebut. mekanisme pencalonan dari partai Golkar dilakukan sebagai berikut. Nama-nama yang punya potensi menang dalam Pilkada ini diberikan kepada DPD Partai Golkar di daerah agar dilakukan pendekatan.

Sampai tahap ini seakan terlihat mekanisme yang dibuat oleh PDIP lebih mengakomodasi suara partai di daerah dibandingkan dengan Golkar. Dalam Rakercabsus inilah nantinya akan ditelurkan sejumlah nama yang akan direkomendasikan kepada DPP PDIP untuk dipilih sebagai calon kepala daerah. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) juga mempunyai mekanisme sendiri dalam menjaring dan menetapkan calon yang akan didukung dalam Pilkada. Lebih jauh tentang perbedaan ini lihat Tabel 2. Nama-nama yang masuk (dan telah diverifikasi) disaring dalam Rakercabsus (Rapat Kerja Cabang Khusus). tidak secara otomatis ditetapkan oleh DPP PDIP sebagai calon kepala daerah. Dewan Pimpinan Cabang (DPC) adalah struktur organisasi PDIP di tingkat kabupaten / kota. nama yang mendapat dukungan tertinggi dalam Rakercabsus. Proses penetapan dan penentuan calon yang didukung oleh Golkar memang tetap diputuskan lewat sebuah rapat pimpinan. DPP PDIP punya kewenangan untuk memilih siapa dari calon-calon itu yang akan didukung. Ini setara dengan PAC (Pengurus Anak Kecamatan) di PDIP. tetapi bisa juga menetapkan calon di luar hasil Rakercabsus. 5 6 Lihat DPP PDIP. DPD Kabupaten / Kota dan ormas (onderbauw) Golkar. Rakercabsus ini memilih sekurang-kurangnya 4 bakal calon kepala daerah. Pemilihan dilakukan secara langsung (voting). penyaringan dan penetapan calon. SK ini adalah penyempurnaan dari SK sebelumnya (SK No. Karena penentuan calon dari Golkar ditentukan lewat suatu rapat yang dihadiri oleh semua delegasi dari DPP. DPP Kabupaten hingga PK (Pengurus Kecamatan)—meski masing-masing delegasi atau perwakilan itu mempunyai blok suara (voting block) yang berbeda. Dalam Juklak Golkar. Tetapi komposisi suara dari DPD Kabupaten/kota dan PK (Pengurus Kecamatan) sangat berbeda tajam. Di sini. DPC Partai melaporkan kepada DPD Partai seluruh hasil Rakercabsus dengan melampirkan hasil perolehan suara untuk semua calon yang masuk dalam Rakercabsus. DPD Partai memberi rekomendasi nama-nama yang masuk tersebut untuk diteruskan ke DPP PDIP Pusat di Jakarta.1/2005 dengan Juklak DPP/Golkar/IX/2005. delegasi pengurus kecamatan 20% dan delegasi organisasi sayap mempunyai hak suara secara keseluruhan sebesar 10%. DPP PDIP bisa menetapkan calon berdasar nama-nama calon hasil Rakercabsus. delegasi DPD Provinsi mempunyai hak suara sebesar 30%. Penyempurnaan Petunjuk Pelaksanaan Pemilihan Calon Bupati dan /Wakil Bupati.6 DPC akan menggelar Rakercabsus (Rapat Kerja Cabang Khusus) yang dihadiri oleh semua PAC (Pengurus Anak Cabang). 2005. mulai terlihat mekanisme yang dibuat oleh PDIP juga sentralistik. PK (Pengurus Kecamatan) adalah struktur organisasi Golkar di tingkat kecamatan. penjaringan nama-nama dilakukan sepenuhnya oleh DPC tanpa campur tangan dari DPP. Surat Keputusan Nomor 024/KPTS/DPP/VII/2005. Dalam Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) No. Pada tahap ini. struktur yang sama ini bernama DPD ( Dewan Pimpinan Daerah) kabupaten / kota. proses penjaringan calon dilakukan bersama-sama antara DPP dengan DPD— dimana DPD akan mendata dan mengidentifikasi namanama calon dan DPP yang menetapkan nama-nama yang potensial lewat survei.KAJIAN BULANAN 21 DPP. Tetapi pada proses selanjutnya. Yang juga perlu dicatat. DPD Provinsi. Peserta Rakercabsus ini adalah ketua dan sekretaris ranting. Pemilihan nama-nama dilakukan lewat pemungutan suara (voting). DPD Provinsi 20%. delegasi DPD Kabupaten/Kota mempunyai hak suara secara keseluruhan sebesar 20%. Karena di PDIP. Sementara di PDIP. antara DPP dan DPD saling berbagi peran. fungsi DPD hanya meneruskan saja hasil Rakercabsus ke DPP PDIP di Jakarta. Apa perbedaan mekanisme pencalonan versi Golkar dan PDIP? Dalam Juklak Partai Golkar. Proses terakhir dari penentuan calon adalah penetapan yang dilakukan oleh rapat yang dilakukan oleh DPP PDIP. Mekanisme itu diatur dalam Surat Keputusan (SK) Nomor 024/KPTS/DPP/VII/2005. DPD Kabupaten / kota 30% dan ormas sebanyak 10%.1/2005. proses penjaringan nama-nama diserahkan sepenuhnya kepada DPC (Dewan Pimpinan Cabang).5 PDIP membagi proses penentuan calon kepala daerah ke dalam tiga tahap—tahap penjaringan. Dalam menetapkan calon ini. Hal ini karena Rakercabsus hanya merekomendasikan beberapa nama dan tidak berwenang dalam memilih satu nama untuk diajukan sebagai calon. Proses penjaringan dilakukan oleh DPC (Dewan Pimpinan Cabang) dengan menampung aspirasi dan membuka pendaftaran bagi kandidat. DPD Provinsi. Ini juga perbedaan mendasar lain antara Juklak No. Sementara untuk Pilkada Provinsi. mekanisme Golkar lebih mengakomodasi suara daerah dibandingkan dengan PDIP. Untuk Golkar. Sementara dalam Juklak DPP/Golkar/IX/2005 suara yang dimiliki (voting block) hanya sebanyak 30%. seluruh pengurus PAC partai dan seluruh pengurus DPC Partai. Untuk Pilkada provinsi misalnya. suara DPD Kabupaten / kota sebanyak 65%. . dengan komposisi suara: delegasi DPP mempunyai hak suara sebesar 20%. DPP mempunyai hak suara sebesar 40%. Penentuan satu nama sebagai calon PDIP dilakukukan oleh DPP Pusat PDIP. Walikota dan / Atau Wakil Walikota dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Sementara di PDIP. penentuan satu calon kepala daerah untuk didukung oleh PDIP ditentukan lewat rapat oleh DPP Pusat dan tidak menyertakan DPD dan DPC. 429/DPP/KPTS/XII/2004). Calon yang ditetapkan DPP dikirim kembali ke DPD dan DPC untuk selanjutnya didaftarkan ke KPUD setempat.

oleh Tim Pengarah Pilkada Provinsi atau Tim Pengarah Pilkada Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Rapat Tim Pilkada Pusat diselenggarakan oleh DPP Partai Golkar. c) Selambat-lambatnya H-5 bulan sebelum pemungutan suara dilakukan survei dan pengkajian terhadap nama-nama bakal calon kepala daerah. posisi kepala daerah dan wakil kepala daerah berasal dari kader Golkar. dilaksanakan di domisili DPD Partai Golkar Provinsi terkait. partisipan Partai Golkar maupun perseorangan. 3 Mekanisme Pemilihan / Penetapan Calon Kepala Daerah Wakil Kepala Daerah Provinsi Ditetapkan lewat Rapat Pimpinan DPD Provinsi. DPD Provinsi. posisi wakil kepala daerah diusulkan berasal dari kader Golkar. a) Penjaringan pasangan bakal calon kepala daerah pada masing-masing tingkatan dilakukan secara demokratis. Juklak DPP/Golkar/IX/2005 (September 2005) Sama dengan Juklak sebelumnya. Kabupaten. dilakukan penjaringan terhadap nama-nama bakal calon kepala daerah yang dinilai potensial di daerah. Kota) kurang dari 15% atau Golkar bukan menjadi pemenang pertama. anggota. Rapat dihadiri oleh delegasi dari DPP. posisi kepala daerah diusulkan berasal dari kader Golkar. Kota) antara 15-50% atau Golkar menjadi pemenang pertama. . d) DPP Partai Golkar menyampaikan Rekomendasi terhadap posisi yang ditargetkan. DPD Kabupaten /kota dan ormas. Rapat Tim Pilkada Pusat dihadiri oleh delegasi dari DPP. maupun nama-nama bakal calon kepala daerah/wakil kepala daerah. Kabupaten. tidak ada perbedaan. Sementara posisi kepala daerah dimungkinkan berasal dari partai lain yang diperkirakan mempunyai tingkat elektabilitas tinggi. Kabupaten. c) Rapat Tim Pengarah Pilkada menetapkan 3 (tiga) pasangan bakal calon tersebut dan bersifat final. b) Penyaringan pasangan bakal calon Kepala Daerah pada masing-masing tingkatan dilakukan untuk menyeleksi nama-nama pasangan bakal calon hasil verifikasi dan dikerucutkan menjadi 3 (tiga) pasangan bakal calon. DPD Kabupaten /kota dan ormas. 1 Posisi Pencalonan 2 Tahap Penjaringan Calon a) Selambat-lambatnya H-6 bulan sebelum pemungutan suara pemilihan kepala daerah. b) DPD Partai Golkar Provinsi dan DPD Partai Golkar Kabupaten/Kota melakukan inventarisasi nama-nama bakal calon. terbuka dengan memberi kesempatan seluas-luasnya kepada kader. DPP Partai Golkar menunjuk lembaga survei independen untuk mengkaji tingkat elektibilitas namanama bakal calon yang terjaring tersebut.22 LINGKARAN SURVEI INDONESIA Tabel 2: Perbandingan Mekanisme Partai Golkar Dalam Juklak Pilkada Edisi Pebruari 2005 dan Edisi September 2005 No Aspek Juklak 01/ DPP/Golkar/II/2005 (Pebruari 2005) a) Wilayah (Provinsi. DPD Provinsi. Ditetapkan lewat Rapat Tim Pilkada Pusat. c) Apabila perolehan suara Golkar pada Pemilu Legislatif di wilayah (Provinsi. b) Apabila perolehan suara Golkar pada Pemilu Legislatif di wilayah (Provinsi. Sementara wakil kepala daerah diusulkan dari kader partai politik lain atau perseorangan. Kota) dimana pada Pemilu Legislatif Golkar memperoleh suara di atas 50%.

d. DPD Provinsi. mempunyai hak suara sebesar 20%. 6 Mekanisme Pemilihan / Penetapan Calon Kepala Daerah Wakil Kepala Daerah Provinsi Derajat kewenangan dalam mekanisme Pemilihan Calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Kabupaten/Kota. Delegasi DPD Partai Golkar Provinsi. Delegasi Ormas dan Organisasi Sayap tingkat Provinsi yang bersangkutan memiliki hak suara secara voting block jumlah keseluruhan bernilai 10%). dengan pengaturan hak suara bagi setiap delegasi sebagai berikut: a. Delegasi DPP Partai Golkar . mempunyai hak suara sebesar 40%. (Dengan jumlah DPD Partai Golkar Kabupaten/Kota lebih dari 20 ) a. Delegasi Ormas dan Organisasi Sayap tingkat Provinsi yang bersangkutan memiliki hak suara secara voting block jumlah keseluruhan bernilai 10%. PK (Pengurus Kecamatan) dan ormas. DPD Kabupaten /kota. Ditetapkan lewat Rapat Tim Pilkada Provinsi. dengan pengaturan hak suara bagi setiap delegasi sebagai berikut: a. b. b. Ditetapkan lewat Rapat Pimpinan DPD Kabupaten / Kota. Rapat dihadiri oleh delegasi dari DPP. mempunyai hak suara sebesar 20%. DPD Provinsi. Delegasi DPD Partai Golkar Provinsi. Delegasi DPD Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi yang bersangkutan memiliki hak suara secara voting block jumlah keseluruhan bernilai 70%. b. . Pemilihan calon kepala daerah/wakil kepala daerah Kabupaten/Kota dilakukan dengan cara pemungutan suara secara bebas dan rahasia untuk memilih 1 (satu) dari antara 3 (tiga) sampai dengan 5 (lima) orang nominasi bakal calon kepala daerah yang akan dipilih. Delegasi DPD Provinsi memiliki hak suara secara voting block bernilai 25%. c. DPD Kabupaten /kota Pengurus Kecamatan (PK) dan ormas. mempunyai hak suara sebesar 30%. c.Delegasi DPD Kabupaten/Kota memiliki hak suara secara voting block bernilai 25%. Delegasi DPD Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi yang bersangkutan memiliki hak suara secara voting block jumlah keseluruhan bernilai 65%.Delegasi Pengurus Kecamatan Partai Golkar di wilayah Kabupaten/Kota yang bersangkut-an memiliki hak suara secara voting block jumlah keseluruhan bernilai 65%. Delegasi DPD Provinsi memiliki hak suara secara voting block bernilai 20%. Delegasi DPD Partai Golkar Kabupaten/Kota. 5 Derajat kewenangan dalam mekanisme Pemilihan Calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Provinsi Pemilihan calon kepala daerah/wakil kepala daerah provinsi dilakukan dengan cara pemungutan suara secara bebas dan rahasia untuk memilih 1 (satu) dari antara 3 (tiga) sampai dengan 5 (lima) nominasi bakal calon kepala daerah yang akan dipilih. b. mempunyai hak suara secara keseluruhan sebesar 10%.KAJIAN BULANAN 23 4 Derajat kewenangan dalam mekanisme Pemilihan Calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Provinsi (Dengan jumlah DPD Partai Golkar Kabupaten/Kota kurang dari 20) a. c.Delegasi Ormas dan Organisasi Sayap tingkat Kabupaten/Kota yang bersangkutan memiliki hak suara secara voting block jumlah keseluruhan bernilai 10%. mempunyai hak suara secara keseluruhan sebesar 30% atau masing-masing DPD Partai Golkar Kabupaten/Kota memiliki hak suara sebesar 30% dibagi jumlah keseluruhan DPD Partai Golkar Kabupaten/Kota di Provinsi yang bersangkutan. Rapat Tim Pilkada Provinsi dihadiri oleh delegasi dari DPP. 7 (Dengan jumlah Pengurus Kecamatan Partai Golkar kurang dari 20) a. Delegasi DPD Partai Golkar Kabupaten/Kota. b. c. c. mempunyai hak suara sebesar 20%. atau nilai suara setiap Ormas atau Organisasi sayap 10% dibagi jumlah Ormas/ organisasi sayap yang ada di tingkat provinsi yang bersangkutan. Delegasi DPP Partai Golkar . Delegasi Ormas dan Organisasi sayap tingkat provinsi.

Dari tabel ini terlihat. mendorong target penguasaan untuk legislatif. Kemampuan memenangkan dan menempatkan pemimpin daerah pada akhirnya merupakan tiket untuk pemenangan pertarungan legislatif pada periode berikutnya. Dalam hal ini. tetapi yang pasti kedua partai politik ini menempatkan pengurus pusat (DPP Partai) pada posisi yang menentukan siapa calon yang akan didukung oleh partai. mekanisme atau proses yang ditentukan oleh masing-masing partai politik pada level DPP. namun kemenangan ataupun kekalahan kompetisi menjadi kenyataan politik yang harus diterima. pada akhirnya persaingan berlangsung sengit. Juklak tersebut telah direvisi yang kemudian menempatkan posisi DPP dengan kekuasaan besar. DPP dapat secara langsung . setidaknya ada tiga hal yang menjadi dasar kecenderungan masing-masing Partai politik dalam Pilkada. apakah melalui mekanisme rapat. Derajat sentralisasi di Partai Golkar dan PDIP memang berbeda. DPP lebih memiliki kontrol dan kekuasaan yang besar. Kedua. Meskipun penetapan calon tunggal yang akan diusung oleh Golkar dilakukan dalam sebuah rapat yang dihadiri oleh gabungan pengurus pusat dan daerah. DPP Pusat tidak mengikutsertakan pengurus cabang / daerah. Mekanisme ini berbeda dengan PDIP. konvensi ataukan memberikan hak prerogratif kepada Ketua Umum atau Tim Sukses Pemenangan Pilkada DPP. Dari Desentralisasi Menuju Sentralisasi Uraian di atas menegaskan bagaimana dinamika yang terjadi dalam partai politik (dalam hal ini Golkar dan PDIP) membuat partai politik mengubah pola rekruitmen calon. PDIP sejak dari semula. dari yang semula desentralisasi (menyerahkan kepada pengurus partai di daerah) menuju pola sentralisasi (penjaringan dan penentuan calon ditentukan oleh pengurus pusat). Karena mereka memiliki jaringan dan menguasai birokrasi. Partai Golkar pada mulanya lebih demokratis di dalam merespon perkembangan Pilkada. Kemungkinan ada sejumlah alasan mengapa Partai Golkar dan PDIP lebih memilih kebijakan sentralisasi dalam memilih calon kepala daerah. Delegasi PK Partai Golkar terkait mempunyai hak suara secara keseluruhan sebesar 20%. nampak cenderung mengembangkan kebijakan yang lebih sentralistis. sama-sama memberi kewenangan yang besar bagi Dewan Pimpinan Pusat (DPP). (Atau nilai suara voting block setiap PK adalah 70% dibagi jumlah seluruh PK) c. Delegasi Ormas dan Organisasi Sayap tingkat Kabupaten/Kota yang bersangkutan memiliki hak suara secara voting block jumlah keseluruhan bernilai 10%. terkait dengan asal dan prioritas dalam penentuan kandidat. atau nilai suara setiap Ormas atau Organisasi sayap adalah 10% dibagi jumlah Ormas/organisasi sayap yang ada di tingkat kabupaten/kota yang bersangkutan. Pilkada hanya memilih satu orang. Hal ini terutama nampak dalam Juklak awal yang telah dikeluarkan oleh DPP. Prioritas yang dilakukan kemudian apakah mengajukan dari kader partai ataukan non-kader. Tetapi kewenangan untuk memilih sekaligus menetapkan calon tunggal yang akan didukung oleh PDIP dilakukan oleh pengurus pusat. Sumber : Diolah dari Juklak 01/ DPP/Golkar/II/2005 (Pebruari 2005) dan Juklak DPP/Golkar/IX/2005 (September 2005) Di dalam merumuskan kebijakannya. mulai dari DPP.24 LINGKARAN SURVEI INDONESIA 8 Derajat kewenangan dalam mekanisme Pemilihan Calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Kabupaten/Kota. Delegasi Pengurus Kecamatan Partai Golkar di wilayah Kabupaten/Kota yang bersangkut-an memiliki hak suara secara voting block jumlah keseluruhan bernilai 70%. Dalam proses pemenangan Pilkada. e. Delegasi DPD Kabupaten/Kota memiliki hak suara secara voting block bernilai 20%. Sementara itu. atau masingmasing PK Partai Golkar memiliki hak suara sebesar 20% dibagi jumlah keseluruhan PK Partai Golkar di wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan. DPD dan DPC. Ketiga. Kendatipun langkah DPP nampak berupaya keras memenangkan Pilkada. meski mempunyai mekanisme yang berbeda. Di Golkar. (Dengan jumlah Pengurus Kecamatan Partai Golkar kurang dari 20) a. mempunyai hak suara secara keseluruhan sebesar 10%. Kedua. Delegasi Ormas dan Organisasi sayap tingkat kabupaten/kota. kewenangan pengurus pusat ini sudah ada sejak proses penjaringan calon kepala daerah. derajat kewenangan dari masing-masing level struktur organisasi partai. Bahkan dalam rapat penetapan calon kepala daerah ini. Tabel 3 merinci secara lebih detil perbedaan antara mekanisme penjaringan dan seleksi calon kepala daerah di Golkar dan PDIP. Namun dalam perjalanannya. Mekanisme penentuan calon di PDIP memang memberi kesempatan yang luas kepada pengurus partai di kabupaten untuk menjaring calon. DPD dan DPC. penjaringan dan seleksi calon di PDIP dan Golkar masih sentralistik. Baik mekanisme penentuan calon kepala daerah Partai Golkar—setelah Juklak revisi—ataupun PDIP. b. d. Pertama. Pertama.

tetapi bisa juga menetapkan calon di luar hasil Rakercabsus. Nama-nama yang masuk (dan telah diverifikasi) disaring dalam Rakercabsus (Rapat Kerja Cabang Khusus). 4 Derajat kewenangan DPP Pusat 5 Derajat kewenangan DPD Provinsi 6 Derajat kewenangan DPD Kabupaten / DPC Sumber : Diolah dari Juklak Juklak DPP/Golkar/IX/2005 (September 2005) dan Surat Keputusan (SK) Nomor 024/KPTS/DPP/VII/2005. Inventarisasi nama-nama dilakukan oleh DPD Partai Kabupaten/Kota dan DPD Provinsi. untuk kemudian diseleksi menjadi 3 (tiga) sampai dengan 5 (lima) orang bakal calon. Survei dan pengkajian terhadap namanama bakal calon kepala daerah/wakil kepala daerah dilakukan oleh DPP dengan menunjuk lembaga survei profesional. Mempunyai suara dalam rapat Pilkada untuk menetapkan calon kepala daerah/wakil kepala daerah yang akan diusung. Rakercabsus memilih sekurangkurangnya 4 bakal calon kepala daerah. Dalam Pilkada Provinsi. Untuk Pilkada Kabupaten/Kota. Di sini. fungsi DPD hanya meneruskan saja hasil Rakercabsus ke DPP PDIP di Jakarta. Penetapan calon dilakukan dalam Rapat Tim Pilkada Pusat (Untuk Pilkada Provinsi) dan Rapat Tim Pilkada Provinsi (untuk Pilkada Kabupaten/Kota). Proses penjaringan dilakukan oleh DPC (Dewan Pimpinan Cabang) dengan menampung aspirasi dan membuka pendaftaran bagi kandidat. Dipilih secara prerogratif dan sifatnya final oleh DPP. DPD mempunyai hak suara sebesar 20%. Mempunyai suara dalam rapat Pilkada untuk menetapkan calon kepala daerah/wakil kepala daerah yang akan diusung. Calon yang ditetapkan DPP dikirim kembali ke DPD dan DPC untuk selanjutnya didaftarkan ke KPUD setempat. Dalam menetapkan calon ini. DPD Provinsi. DPP memiliki suara 40 % dan untuk Pilkada Kabupaten/Kota. DPD Golkar Propinsi memiliki hak suara 30 %. DPP PDIP punya kewenangan untuk memilih siapa dari calon-calon itu yang akan didukung. Proses terakhir dari penentuan calon adalah penetapan yang dilakukan oleh rapat yang dilakukan oleh DPP PDIP. PDIP Surat Keputusan (SK) Nomor 024/ KPTS/DPP/VII/2005. DPP mempunyai otoritas dalam menjaring namanama calon. Untuk Pilkada Provinsi. DPD Partai memberi rekomendasi namanama yang masuk tersebut untuk diteruskan ke DPP PDIP Pusat di Jakarta. Proses verifikasi oleh DPD 1 2 Tahap Verifikasi Verifikasi dilakukan dengan penelitian berkas administrasi persyaratan seluruh bakal calon kepala daerah/wakil kepala daerah yang telah mendaftarkan diri. DPP PDIP bisa menetapkan calon berdasar nama-nama calon hasil Rakercabsus. suara DPP cukup dominan. seluruh pengurus PAC partai dan seluruh pengurus DPC Partai. dilakukan oleh Tim Pilkada Daerah masing-masing.KAJIAN BULANAN 25 Tabel 3: Perbandingan Mekanisme Penjaringan dan Seleksi Calon Kepala Daerah di Partai Golkar dan PDIP Berdasarkan Juklak Masing-Masing Partai No Golkar Juklak DPP/Golkar/IX/2005 Penjaringan Calon Proses penjaringan berupa kegiatan inventarisasi nama-nama seluruh bakal calon kepala daerah yang dinilai potensial di daerah tersebut dan survei/pengkaijan nama-nama potensial. mempunyai hak suara sebesar 20%. Untuk Pilkada Provinsi. . Dalam Pilkada Kabupaten/Kota. tidak secara otomatis ditetapkan oleh DPP PDIP sebagai calon kepala daerah. Pemilihan namanama dilakukan lewat pemungutan suara (voting). Melakukan Rakercabsus DPC Partai melaporkan kepada DPD Partai hasilnya dengan melampirkan hasil perolehan suara untuk semua calon yang masuk dalam Rakercabsus. Dalam tahap penetapan calon yang akan diusung. DPD Kabupaten/Kota. DPP memiliki suara 20 %. Peserta Rakercabsus ini adalah ketua dan sekretaris ranting. 3 Tahap Pemilihan dan Penetapan Calon Wewenang murni DPP PDI Pusat. Nama yang mendapat dukungan tertinggi dalam Rakercabsus. Penetapan calon dilakukan dengan memilih dan menetapkan 1 (satu) orang calon kepala daerah/wakil kepala daerah dari 3 (tiga) sampai dengan 5 (lima) orang bakal calon yang lulus verifikasi. PDIP yang sentralistik dalam proses penentuan nama-nama kandidat yang bertarung dalam Pilkada. mempunyai hak suara secara keseluruhan sebesar 30%.

Ada banyak contoh bagaimana kandidat yang didukung oleh DPD atau DPC suatu partai berbeda dengan kandidat pilihan DPP.Imbas pecahnya kongsi kepemimpinan PKB ini juga dapat dirasakan dalam proses pencalonan kandidat PKB di Kabupaten Banyuwangi.8 Ketiga. ketegangan karena belum adanya titik temu antara pilihan kandidat versi DPP dengan DPD atau DPC. 8 Hal ini antara lain dapat kita lihat dari aksi yang dilakukan oleh puluhan orang yang menamakan Barisan Penyelamat Partai Persatuan Pembangunan merusak sekaligus menyegel Kantor Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PPP Kabupaten Sukabumi. serta anggaran dasar/anggaran rumah tangga PD dalam menyikapi “konflik” internal partai tersebut.com. ketegangan yang terjadi dalam penentuan kandidat yang dilakukan oleh koalisi antar partai politik. diberitahukan bahwa DPP dan DPD PD merekomendasikan Totok Mintarto dan John M Manoppo sebagai calon. merembes ke daerah. diduduki massa pengurus cabang Partai Kebangkitan Bangsa kubu Muhaimin Iskandar. Pasalnya.26 LINGKARAN SURVEI INDONESIA melakukan pengelolaan kesuksesan Pilkada melalui pemilihan kandidat yang dinilainya lebih populer dan memiliki peluang kemenangan lebih besar. Kasus yang hampir serupa juga berlangsung di Kupang. Konflik ini terjadi ketika pengurus partai di pusat dan daerah mempunyai perbedaan dalam hal partai mana yang akan diajak koalisi. Konflik internal PKB mengakibatkan partai itu mendaftarkan dua paket balon ke KPUD Kota Kupang. Massa mengancam akan terus melaksanakan aksinya hingga tuntutan mereka dipenuhi (Liputan6. . Bahkan Kantor Komisi Pemilihan Umum Banyuwangi. Dalam surat yang ditandatangani Ketua DPD PD Jateng Sukawi Sutarip dan Sekretaris DPD PD Jateng Dani Sriyanto tersebut. Alasannya KPU Banyuwangi dinilai tak mematuhi keputusan PTUN Surabaya yang mencabut keabsahan pasangan calon bupati dan wakil bupati PKB kubu Alwi Shihab. Paket Adoe-Hurek diusung oleh PKB Kota Kupang yang berkoalisi dengan delapan partai politik sedangkan paket Guido-Mboeik didaftarkan ke KPUD Kota Kupang. Daniel Hurek dan Drs. Mereka tidak mengakui DPP hasil Muktamar Semarang. Mereka menduga hasil itu tak lepas dari intervensi dari Dewan Pimpinan Pusat PPP yang mengalihkan dukungan kepada calon lain. Jawa Timur. Nusa Tenggara Timur. DPC PD Salatiga mengusung nama Warsa Susilo-M Haris dalam pendaftaran calon. Hal ini memungkinkan pihak DPP untuk melakukan monitoring dan pengarahan secara langsung pada Tim Sukses Pilkada DPD dan DPC untuk melakukan berbagai strategi kebijakan pemenangan Pilkada. Jawa Timur. Karena itu partai politik lebih memilih jalan yang lebih pragmatis dengan mendukung calon yang diproyeksikan mempunyai potensi besar dalam memenangkan Pilkada. 9/6/2005). pengunjuk rasa membakar kalender yang terdapat foto Lukman Hakim. pencalonan pasangan tersebut sudah melalui mekanisme penjaringan bakal calon. Perbedaan calon pilihan ini memang bisa diselesaikan lewat mekanisme partai. proses demokrasi dalam Pilkada mestinya dilakukan dengan mekanisme yang demokratis. sehingga membuat DPD/DPW/DPC dilanda perselisihan dalam menentukan pasangan calon yang akan mewakili sebuah partai dalam pilkada di daerah tertentu. anggota DPR dari PPP yang dianggap bertanggung jawab atas kekalahan pasangan Asep-Yusuf (Liputan6. konflik internal di partai (pusat kepengurusan/DPP) secara langsung dan tak langsung. Namun kenyataanya. kita bisa mengidentifikasi sejumlah konflik yang muncul berkaitan denga pebcalonan kandidat oleh partai. bukan orang yang memilih partai politik. Konsekuensinya kebijakan DPP masing-masing partai politik menjalankan langkah desentalistis terhadap keseluruhan proses dan mekanisme dalam pengajuan kandidat dalam Pilkada. menyimpan sejumlah ekses sebagai berikut. sesuai petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis DPD PD Jawa Tengah (Suara Merdeka. Kasus lainnya juga dapat disimak dari aksi massa Partai Demokrat mendatangi Komisi Pemilihan Umum Salatiga.com. Idealnya. 4/7/2005). Dalam pemilihan umum legislatif 2004. Realitasnya. DPW PKB Jawa Timur kemudian balik melawan. 11/3/2006) Ini terjadi pada PKB. YanMboeik. 27 Maret 2007). Pertama. a) Potensi Konflik dan Ketegangan Penentuan calon kepala daerah oleh partai yang cenderung sentralistik ini punya potensi konflik. juga oleh PKB yang berkoalisi dengan PKPI dan PAN (Indomedia. Mereka menuntut KPU memperhatikan ketentuan perundang-undangan. PPP di daerah ini menduduki urutan kedua dengan perolehan sekitar 18 persen suara. Daniel Adoe-Drs. Kasus yang menarik dapat kita lihat aksi ribuan pendukung Samsul Hadi mendatangi Gedung DPRD Kabupaten Banyuwangi. Guido Fulbertus-Drs. yakni Drs. langkah ini tidak otomatis menyebabkan kemenangan partai dalam Pilkada. Dari Pilkada yang telah lewat.com.9 b) Penekanan Pada Hasil. Mereka kecewa hasil Pilkada karena calon yang didukung PPP kalah telak. Tetapi perlu disadari kebijakan sentralisasi ini meski memberikan kepastian kemenangan bagi partai politik. 3/ 6/2005). namun partai politik yang pada akhirnya berburu orang-orang yang populer dan berpeluang memenangkan Pilkada. dkk kemudian menganggap DPP Alwi Shihab-Saifullah Yusuf yang sah. Massa dari berbagai elemen masyarakat ini menuntut agar Pilkada yang akan digelar 20 Juni 2005 ditunda. Choirul Anam. Tetapi tidak jarang perbedaan ini berujung pada konflik berkepanjangan antara pengurus partai di pusat dengan pengurus partai di daerah7 Kedua. Bukan Kader Partai Upaya partai politik untuk memenuhi target kemenangan dalam Pilkada. membuat partai politik berburu kandidat yang dipandang potensial dalam memenangkan Pilkada. Hal ini menyebabkan. Dalam aksi ini. Pola sentralisasi bagi sebagian besar partai politik dinilai lebih menjamin kemenangan calon yang didukung oleh partai politik. di mana DPW PKB Jawa Timur terancam dibubarkan oleh DPP PKB di bawah kepemimpinan Muhaimin Iskandar. Dari Pilkada yang telah 7 usai. kita menyaksikan beragam anomali terkait dengan dinamika internal masing-masing partai politik dan praktek penyelenggaraan Pilkada. Mereka meminta anggota Dewan dan anggota Komisi Pemilihan Umum Banyuwangi mencabut Surat Keputusan KPUD Nomor 07 yang mengesahkan Wahyudi menjadi calon bupati dari Partai Kebangkitan Bangsa. Pilihan inilah yang lebih tampak menonjol dalam pelaksanaan Pilkada selama ini. Keputusan ini dinilai cacat karena sudah dibatalkan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya (Liputan6.

intelektual dan sebagainya. Paul S. Partai Golkar juga memenangkan Pemilu Legislatif 2004 lalu dengan perolehan suara 21%. Hal ini antara lain dapat dilihat pada kasus Pilkada Buleleng. dalam James A. Herrnson. (a) Partai politik merasa tidak ada kader partai yang menonjol.Nelson (Eds).DPP/Golkar/IX/2005. mendampingi calon dari Partai Amanat Nasional (Zulkifli Nurdin). PNIM. PKS berhasil menjadi peraih suara terbesar dengan 13. New York. Misalnya di Provinsi Jambi. Ronald A. Partai Golkar menang dengan perolehan suara sebanyak 24. pengusaha. Ini nampaknya mempunyai dua maksud sekaligus. The Non Verbal Image of Politicians and Political Parties. Sage Publications. Sementara calon walikota berasal dari Partai Golkar ( Ahmad Dahlan). Campaign Warriors : Political Consultants in Elections. Thurber. Inc. Memang. 2003. kader Golkar (Anthoni Zeidra Abidin) menempati posisi sebagai wakil kepala daerah. Surat Keputusan Nomor No. Introduction to the Study of Campaign Consultants. 2000. yakni Sinyo Sarundayang sebagai calon kepala daerah. PNBK. Partai politik cenderung mendorong para kandidat yang populer dimana mayoritas bukan dari kalangan kader selama proses Pilkada. Namun tidak berarti bahwa proses pengkaderan diabaikan oleh masing-masing partai politik. PKS hanya mengantarkan calonnya sebagai wakil walikota (Ria Saptarika). sebanyak 16 kursi (21. tetapi punya potensi menang dalam Pilkada.01/DPD/ Golkar /II/2005. Brooings Institution Press. dalam Handbook of Political Marketing. 2005.33%) dikuasai oleh Partai Golkar. (Ahmad Nyarwi) Daftar Pustaka Faucheux. yakni PPDI. Di provinsi ini. Walikota dan / Atau Wakil Walikota dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Dari total 45 kursi di DPRD Jambi. Dalam Pemilu Legislatif 2004. M. Evans and Company. 2004. Dari 75 kursi yang ada di DPRD Banten. Tetapi kemenangan dalam Pemilu Legislatif ini tidak membuat Golkar percaya diri dengan mencalonkan kadernya sebagai kepala daerah. 2003. Dalam Pilkada Provinsi Jambi. 27 Maret. Hal ini misalnya terjadi dalam Pilkada Provinsi Sulawesi Utara. Pelaksana Harian dan Pejabat Sementara Gubernur Maluku Utara. PPP. Di Legislatif (DPRD) Banten. di era pemilihan langsung.42% suara.Thurber and Candice J. 429/DPP/KPTS/XII/2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemilihan Calon Bupati dan /Wakil Bupati. Kedua. Tetapi dalam Pilkada Kota Batam. Namun tiga partai politik. Gunter dan Michaela Adami. Hal yang sama juga terjadi di Provinsi Banten. kursi Partai Golkar juga mayoritas. Sarundayang adalah seorang birokrat. hingga Inspektur Jenderal Depdagri. Februari 2005 Juklak Partai Golkar . posisi kandidat lebih dipandang penting dibandingkan partai politik. tetapi juga partai lain. PKS. Campaign Warriors : Political Consultants in Elections. 2000. dalam James A. Washington. . Ada kecenderungan partai memilih kandidat bukan dari kader. menguatnya kecenderungan pilihan kandidat yang akan diajukan adalah non kader partai politik. Partai Golkar berposisi sebagai wakil kepala daerah ( Muhammad Masduki). Tetapi dalam Pilkada Provinsi Banten. PDK. 9 Ia pernah menjadi Walikota Bitung. Brooings Institution Press. dan PNIM sebelumnya juga sudah mendaftarkan paket Gede Dharma Wijaya-IB Djodhi melalui Koalisi Udayana. September 2005 Surat Keputusan Nomor 024/KPTS/DPP/VII/2005. PNBK. (b) Merekrut calon di luar kader partai sekaligus dimaksudkan untuk memperluas basis dukungan dan menambah kader partai politik di masa mendatang. fenomena adanya partai politik yang memenangkan Pemilu Legislatif (menguasai kursi di DPRD) tetapi bersedia hanya menempati posisi sebagai wakil kepala daerah. 2007). sebanyak 11 kursi (24%) direbut oleh Golkar. Bahkan. sehingga harus mencari tokoh lain. Penyempurnaan Petunjuk Pelaksanaan Pemilihan Calon Bupati dan /Wakil Bupati.KAJIAN BULANAN 27 Pertama. Sementara kader PDIP sendiri (Freddy Harry Sualang) hanya berposisi sebagai wakil kepala daerah. Pada Pemilu Legislatif 2004 lalu. dalam Ronald A. PDS. Schweuger. Gejala ini tidak hanya terjadi di partai besar (seperti Partai Golkar dan PDIP). Jika dihitung sesuai dengan persentase perolehan suara maka jumlah totalnya adalah 15. Washington. .. mendampingi calon dari Partai PDIP (Ratut Atut Chosiyah). PAN yang diklaim ikut mendukung Koalisi Bukit Sinunggal. Dua kelompok massa yang masing-masing merupakan pendukung Koalisi Udayana dan Koalisi Bukit Sinunggal. PDIP menggandeng seorang birokrat.Thurber and Candice J. New Delhi. Juklak Partai Golkar No. Partai politik mengajukan calon kepala daerah yang bukan kader partai politik—misalnya mantan pejabat. James A. Faucheux (Eds).Nelson (Eds). birokrat.71%. Winning Elections : Political Campaign Management. Target kemenangan partai dalam hal ini nampak jauh lebih dikedepankan dibandingkan kepentingan proses pengkaderan jangka panjang di masing-masing partai politik.09%.. Introduction : Winning Elections. Kursi di DPRD Provinsi Jambi juga dikuasi oleh Partai Golkar. dan PAN agar memenuhi kuota 15 % sesuai persyaratan KPUD Buleleng. Hired Guns and House Race : Campaign Professional in House Elections. Gabungan partai politik yang mengatasnamakan diri Koalisi Bukit Sinunggal dengan mengusung paket Jero Nyoman Ray Yusha dan Luh Putu Febriantari mendaftar ke KPUD Buleleng dengan menyertakan delapan partai politik yakni PPDI. Ketegangan tak dapat dihindari ketika kedua kelompok massa tersebut datang sekaligus mendaftarkan paket kandidat kepala daerah Buleleng dengan mengklaim dukungan dari sejumlah partai yang sama. Walikota dan / Atau Wakil Walikota dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. sejumlah pengurusnya mengaku tidak pernah mendukung paket Ray Yusha-Febriantari tersebut (Bali Post. Di Batam misalnya. Strategy & Tactics.

4587336 www. bisa menghubungi Ika Pratiwi (email: pratiwiika@yahoo. lokal) maupun survei untuk kalangan bisnis. Selain riset. Kompleks Bukit Gading Mediterania Kelapa Gading. . Untuk permintaan berlangganan (gratis) kajian bulanan ini. Lingkaran Survei Indonesia (LSI) adalah perusahaan profesional yang mengkhususkan diri pada kegiatan riset opini publik—baik survei politik (nasional.co. dengan menyebut sumber tulisan. LSI juga konsultan politik bagi kepala daerah. Kajian bulanan berisi tentang analisis fenomena sosial politik di Indonesia berdasarkan database dan survei yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia.id Kajian ini diterbitkan tiap awal bulan.28 LINGKARAN SURVEI INDONESIA PEMIMPIN UMUM Denny JA REDAKSI Eriyanto (Ketua) Widdi Aswindi Eka Kusmayadi Ridwan Susanto Arman Salam Redaktur Tamu: Bagus Sartono & Ahmad Nyarwi LINGKARAN SURVEI INDONESIA (LSI) Jl. Raya Venesia EB 1. Fax (021) 45858035. partai politik ataupun politisi. Diperbolehkan memperbanyak atau mengutip bagian dari kajian bulanan ini. Jakarta Utara Telp (021) 4514701. 4514704.lsi.com).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful