TUGAS ASUHAN KEBIDANAN V PENCEGAHAN KECACINGAN DALAM KEHAMILAN (PKDK

)
Diampu Oleh: Ropitasari, S.SiT, M.Kes

Disusun Oleh: Deny Eka Widyastuti R0106055

PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN TRANSFER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2010

yaitu 60-80%. Trichiuris trichiura dan Hook worms. karena untuk cacing tambang lebih banyak ditemukan di daerah perkebunan dan pertambangan. Infeksi kecacingan pada manusia baik oleh cacing gelang. Hasil survei yang telah diadakan hingga saat ini memberikan prevalensi yang cukup tinggi yaitu 70-90 % untuk cacing gelang. Dari hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1992 menemukan bahwa angka prevalensi anemia gizi ibu hamil cukup tinggi yaitu . diantara ibu hamil yang menderita infeksi kecacingan terdapat 38. 80-95 % untuk cacing cambuk dan untuk cacing tambang prevalensinya lebih rendah dari kedua di atas yaitu 30-59%. Prevalensi dan intensitas infeksi kecacingan menurut golongan umur juga masih cukup tinggi. pada anak sekolah dasar lebih tinggi.8% menderita anemia. prevalensinya cukup tinggi terutama di daerah pedesaan yang kondisi lingkungannya sangat mendukung untuk perkembangan cacing yang daur hidupnya adalah di dalam tanah. dan menempatkan kecacingan seperti infeksi cacing gelang pada tempat ketiga setelah penyakit diare dan tuberkulosis. Pawlowski (1984) mengumpulkan berbagai data dari berbagai negara berkembang di Asia. Penyakit kecacingan merupakan salah satu penyakit infeksi yang paling sering ditemukan di negara-negara berkembang. Hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Banggai tahun 2006 didapatkan bahwa 88. Afrika dan Amerika Latin. yaitu antara 40-60% pada golongan semua umur. cacing cambuk maupun cacing tambang dapat menyebabkan pendarahan yang menahun yang berakibat menurunnya cadangan besi tubuh dan akhirnya menyebabkan timbulnya anemia kurang besi.PENANGANAN KECACINGAN DALAM KEHAMILAN (PKDK) Penyakit Infeksi dan parasit merupakan masalah kesehatan yang menonjol. infeksi cacing tambang pada tempat keempat dan infeksi cacing cambuk pada tempat ketujuh. sehingga pencegahan dan pemberantasannya memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh.9% ibu hamil terinfeksi kecacingan dengan jenis cacing adalah Ascaris lumbricoides. Infeksi kecacingan di Indonesia.

Jumlah cacing yang sedikit belum menunjukkan gejala klinis tetapi bila dalam jumlah yang banyak yaitu lebih dari 1000 ekor maka orang yang bersangkutan dapat menjadi anemia. Padahal. 2. Di Indonesia penyakit kecacingan masih merupakan masalah yang besar untuk kasus anemia defisiensi besi.55. Akibat gigitan sebagian darah hilang dan dikeluarkan dari dalam badan bersama tinja. cacing cambuk maupun cacing tambang dapat menyebabkan pendarahan yang menahun yang berakibat menurunnya cadangan besi tubuh dan akhirnya menyebabkan timbulnya anemia kurang besi. khususnya kalau dihubungkan dengan angka kematian ibu melahirkan (AKI) akibat anemia berkisar 70 persen dari seluruh penyebab AKI sejak 20 tahun lalu yang angkanya tidak pernah turun tiap tahunnya. anemia merupakan isu yang kritis. infeksi cacing kronis menurunkan respons imun pada ibu hamil dan bayi yang dilahirkan . Isu kesehatan seperti cacingan dan anemia tidak mendapat banyak perhatian. Secara umum. Keadaan ini menunjukkan bahwa masalah anemia pada ibu hamil belum banyak berubah dibandingkan pada akhir Pelita IV yang juga masih sekitar 55 %. Cacingan dan anemia merupakan dua hal saling terkait. Menurut Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP). kecacingan pada ibu hamil dapat menyebabkan : 1. Pada daerahdaerah tertentu anemia gizi diperberat keadaannya oleh investasi cacing terutama oleh cacing tambang.1 %. Penyakit kecacingan merupakan salah satu penyakit infeksi yang paling sering ditemukan di negara-negara berkembang. Kecacingan merupakan masalah kesehatan yang perlu penanganan serius terutama di daerah tropis karena cukup banyak penduduk menderita kecacingan. Menyebabkan anemia defisiensi zat besi Infeksi kecacingan pada manusia baik oleh cacing gelang. Cacing tambang menempel pada dinding usus dan memakan darah. 2004). karena diperkirakan cacing menghisap darah 2-100 cc setiap harinya (Nasution. termasuk Indonesia. Menurunkan efektivitas vaksin TT dan DPT pada ibu hamil Infeksi cacing merupakan masalah kesehatan di negara-negara tropis. yang terabaikan.

terhadap antigen tetanus toksoid atau TT meski telah divaksinasi. Respon imun terhadap TT pada ibu hamil yang rendah dan ditambah infeksi cacing yang menyertai. dimungkinkan akan berakibat pada bayi yang dilahirkan. Cacing berpindah tempat menghisap setiap 6 jam perdarahan ditempat yang ditinggalkan segera berhenti dan luka menutup kembali denqan cepat karena turn over sel epithel usus sangat cepat. Infeksi tetanus merupakan penyakit yang dapat dicegah. Di lain pihak. potensi vaksin rendah. vaksinasi TT di negara-negara tropis dan berkembang kurang optimal hasilnya. Di sejumlah negara maju di mana kontrol terhadap sanitasi. Menurunkan berat badan ibu hamil Kekurangan micronutrient dalam darah menyebabkan pasokan gizi ibu hamil dan janin berkurang. Keadaan ini akan mempengaruhi respons imun bayi pada antigen lain seperti vaksin. angka kasus infeksi cacing di banyak negara di Asia dan Afrika masih tinggi. pemberian vaksinasi tetanus sangat efektif untuk menurunkan angka kasus infeksi tetanus. 3. . Menyebabkan perdarahan pada usus Perdarahan terjadi akibat proses penghisapan aktif oleh cacing dan juga akibat perembesan darah disekitar tempat hisapan. Padahal. dan penyakit infeksi seperti cacing sudah berhasil. Keadaan yang demikian jika dibiarkan berlanjut selama kehamilan akan menyebabkan berat badan ibu hamil tidak bertambah bahkan bisa berkurang karena cadangan gizi ibu hamil ditujukan untuk pertumbuhan janin. Sejumlah studi membuktikan. 4. serta rendahnya respons imun ibu. seperti ketidaktepatan jadwal imunisasi. World Health Organization (WHO) melaporkan banyaknya kasus kegagalan program vaksinasi tetanus di daerah Asia dan Afrika terkait dengan beberapa faktor. antigen dari ibu hamil terinfeksi cacing dapat menembus plasenta dan menstimulasi sistem imun janin yang dikandung. higienis.

Bila didalam tinja terdapat sekitar 2000 telur/gram tinja.000 telur/gram tinja berarti ada kurang lebih 1000 ekor cacing tambang dalam perut yang dapat menyebabkan anemia berat. Bila cacing dalam jumlah besar menggumpal dalam usus dapat terjadi obstruksi usus (ileus). 2. Menyebabkan kekurangan mikronutrien ibu hamil Cacing pada usus ibu hamil selain menyebabkan perdarahan. 5. Untuk mengetahui banyaknya cacing di dalam usus dapat dilakukan dengan menghitung banyaknya telur dalam tinja. Anemia berat 3. kebutaan. . bahkan kerusakan tubuh secara signifikan yang meninggalkan kecacatan Untuk mendiagnosis apakah ibu menderita cacingan atau tidak dapat dilakukan dengan skrining uji feces pada ibu hamil. juga menyebabkan terganggunya penyerapan nutrisi makanan yang masuk. kekurangan micronutrient menyebabkan menurunnya kemampuan untuk melahirkan anak-anak yang sehat dan berotak cerdas. penyumbatan usus.Kehilangan darah yang terjadi pada infeksi kecacingan dapat disebabkan oleh adanya lesi yang terjadi pada dinding usus juga oleh karena dikonsumsi oleh cacing itu sendiri walaupun ini masih belum terjawab dengan jelas termasuk berapa besar jumlah darah yang hilang dengan infeksi cacing ini. Micronutrient dalam darah cenderung menurun. Perdarahan 4. Jika selama kehamilan tersebut cacing masih terdapat pada usus. Kecacingan berat dapat menyebabkan radang paru. Bila terdapat 20. gangguan hati. Dengan jumlah 5000 telur/gram tinja adalah berbahaya untuk kesehatan orang dewasa. maka penyerapan micronutrient akan terganggu. Komplikasi yang dapat terjadi adalah : 1. Pada ibu hamil. berarti ada kira-kira 80 ekor cacing tambang di dalam perut dan dapat menyebabkan darah yang hilang kira-kira sebanyak 2 ml per hari.

Pada kondisi hamil. Gejala-gejala cacingan antara lain: 1. . perlu adanya penapisan khusus tentang kecacingan. Cacing mati setelah sekitar enam minggu. selama sepertiga pertama kehamilan (trimester pertama) sebaiknya tidak minum obat yang membunuh cacing. 5. Gatal-gatal sekitar anus. pengobatan mungkin perlu dilakukan namun harus dibawah pengawasan dokter. cacing tampak keluar dalam feses. baik terhadap ibu maupun bayi yang dilahirkan. Dengan syarat ibu hamil tidak menelan telur baru.Tanda Kecacingan adalah ditemukan minimal 2000 telur/gram tinja. Namun. Ditambah sulfas ferrous 500 mg 2 x sehari Dalam “Draft Pedoman Asuhan Antenatal Terintegrasi 2009”. kadang bercampur lendir dan darah. 6. Mebendazol 500 mg dosis tunggal (sekali saja) atau 100 mg 2 x sehari selama tiga hari berturut-turut 3. Obat yang biasa digunakan yaitu : 1. 4. maka tidak ada cacing baru akan tumbuh. Bila dijumpai anemia yang berat tanpa tanda-tanda lain. Pirantel pamoat 10 mg/kg BB per hari selama 3 hari. Penyumbatan usus. 3. 2. Fesesnya encer. Cacing dalam kotoran. 2. Selama 6 minggu tersebut ibu hamil dianjurkan untuk menjaga kebersihan untuk mematahkan siklus cacing sehingga tidak terjadi re-infeksi. Muntah ada cacing. Anemia atau kurang darah. Albendazol 400 mg dosis tunggal (sekali saja) 4. langkahlangkah kebersihan saja dapat bekerja. Setelah trimester pertama. penanganan kecacingan dalam kehamilan terdiri dari : STANDAR: Semua wanita hamil harus terlindung dari kecacingan dan akibat yang ditimbulkannya.

Adanya kebijakan dan strategi nasional pencegahan kecacingan pada wanita hamil dan diimplementasikan dengan baik. Bila teridentifikasi suatu kasus kecacingan pada ibu hamil. Semua ibu hamil dengan gejala dan tanda anemia. terutama Hb < 8 g/dl perlu dilakukan penapisan kecacingan dengan pemeriksaan tinja/feses dan gambaran hitung jenis (eosinofilia) 3. 3. berikan ibu obat cacingan sesudah melewati trimester ke 1. 2. Terdapat fasilitas yang dibutuhkan untuk penapisan dan intervensi anemia dan kecacingan pada ibu hamil. 4. Ketersediaan pemberi pelayanan antenatal yang kompeten untuk memberikan penyuluhan/informasi tentang pencegahan. 5. 2. PENERAPAN STANDAR: 1. Terdapat informasi tentang sistim rujukan dan tempat yang menjadi rujukan pelayanan kecacingan dalam kehamilan. strategi dan kebijakan nasional terkait pencegahan kecacingan dalam kehamilan pada tempat pelayanan asuhan antenatal . Bila pemeriksaan tinja/feses menunjukkan hasil positif telur cacing atau keluar cacing pada waktu buang air besar maka perlu pengobatan 4. semua ibu hamil dilakukan penapisan terhadap kecacingan 6.TUJUAN: Mencegah kecacingan dan akibat yang ditimbulkannya (anemia) pada ibu hamil maupun bayi yang dilahirkan PERSYARATAN: 1. Pada daerah dengan prevalensi kecacingan yang tinggi. akibat dan pengendalian kecacingan dalam kehamilan. Terdapat dokumen perencanaan. Semua ibu hamil diperiksa kadar Hb pada kunjungan pertama antenatal. Memberikan penyuluhan kesehatan untuk membangkitkan kesadaran masyarakat tentang perlunya pencegahan kecacingan dalam kehamilan PEMANTAUAN DAN PENILAIAN: Indikator Input: 1.

Tersedia pemberi pelayanan kesehatan yang kompeten untuk mengidentifikasi dan mengintervensi kecacingan pada kehamilan 3. bahaya penyakit. Penyuluhan Penyuluhan dilakukan kepada sasaran untuk meningkatkan pengetahuan tentang Cacingan antara lain: tanda-tanda / gejala penyakit. Pengobatan Pengobatan Cacingan dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan tinja.2. 2. Terdapat kegiatan penyuluhan kesehatan berbasis komunitas dalam rangka meningkatkan cakupan antenatal dan pencegahan kecacingan Indikator Proses dan Output: 1. Dalam “Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 424/MENKES/SK/VI/ 2006 Tanggal : 19 Juni 2006 tentang Pedoman Pengendalian Cacingan”. Tersedia fasilitas untuk penapisan anemia dan kecacingan pada tempat pelayanan asuhan antenatal 4. Pencegahan Upaya pencegahan cacingan dapat dilakukan melalui upaya kebersihan perorangan ataupun kebersihan lingkungan. cara penularan penyakit dan cara pencegahan. Cakupan pelayanan antenatal disertai penapisan kecacingan pada kehamilan dengan anemia 2. terdapat beberapa kegiatan intervensi yang dapat dilakukan untuk mencegah cacingan. Kegiatan tersebut dapat dirinci sebagai berikut: . Cakupan ibu hamil cacingan yang mendapat obat cacing 4. Cakupan ibu hamil yang dilakukan pemeriksaan tinja/feses 3. 3. yaitu : 1. Laporan bulanan tentang kasus kecacingan dalam kehamilan dilengkapi dan dikirimkan tepat waktu Indikator Outcome: Prevalensi ibu hamil yang menderita cacingan. dengan frekuensi pengobatan dua kali dalam setahun.

2) Jangan membuang tinja. 5) Mandi dan membersihkan badan paling sedikit dua kali sehari. 7) Memakai alas kaki bila berjalan di tanah. 2) Menggunakan air bersih untuk keperluan makan. Menjaga Kebersihan Lingkungan 1) Membuang tinja di jamban agar tidak mengotori lingkungan. minum. Menjaga Kebersihan Perorangan 1) Mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar dengan menggunakan air dan sabun. sampah atau kotoran di sungai. 5) Menjaga kebersihan rumah dan lingkungannya. dan mandi : 3) Memasak air untuk minum 4) Mencuci dan memasak makanan dan minuman sebelum dimakan. b. 6) Memotong dan membersihkan kuku.a. 8) Menutup makanan dengan tutup saji untuk mencegah debu dan lalat mencemari makanan tersebut. 3) Mengusahakan pengaturan pembuangan air kotor. . 4) Membuang sampah pada tempatnya untuk menghindari lalat dan lipas. dan memakai sarung tangan bila melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan tanah.

pdf http://repository.ac.id/bitstream/123456789/20954/4/Chapter %20II.id/pdf/health1/Nutrisi%20Penting%20Ibu %20Hamil.DAFTAR PUSTAKA Draft Pedoman Asuhan Antenatal Terintegrasi 2009. http://repository.ac.usu.unair.ac.pdf http://itd.usu.unimus.id/files/disk1/103/jtptunimus-gdl-hamidahmei5109-3-bab2. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 424/MENKES/SK/VI/2006 Tanggal : 19 Juni 2006 tentang Pedoman Pengendalian Cacingan.pdf http://digilib.ac.pdf .id/bitstream/123456789/3676/1/fkmrasmaliah8.