CA COLON MINGGU,28 NOVEMBER 2010

PENGERTIAN kancer colorectal, adalah suatu tumor malignan yang muncul dari jaringan epithelial dari colon atau rectum. PATOFISIOLOGI Umumnya tumor kolorektal adalah adenokarsinoma yang berkembang dari polyp adenoma. Insidensi tumor dari kolon kanan meningkat, meskipun umumnya masih terjadi di rektum dan kolon sigmoid. Pertumbuhan tumor secara tipikal tidak terdeteksi, menimbulkan beberapa gejala. Pada saat timbul gejala, penyakit mungkin sudah menyebar kedalam lapisan lebih dalam dari jaringan usus dan oragan-organ yang berdekatan. Kanker kolorektal menyebar dengan perluasan langsung ke sekeliling permukaan usus, submukosa, dan dinding luar usus. Struktur yang berdekatan, seperti hepar, kurvatura mayor lambung, duodenum, usus halus, pankreas, limpa, saluran genitourinary, dan dinding abdominal juga dapat dikenai oleh perluasan. Metastasis ke kelenjar getah bening regional sering berasal dari penyebaran tumor. Tanda ini tidak selalu terjadi, bisa saja kelenjar yang jauh sudah dikenai namun kelenjar regional masih normal (Way, 1994). Sel-sel kaner dari tumor primer dapat juga menyebar melalui sistem limpatik atau sistem sirkulasi ke area sekunder seperti hepar, paru-paru, otak, tulang, dan ginjal. “Penyemaian” dari tumor ke area lain dari rongga peritoneal dapat terjadi bila tumor meluas melalui serosa atau selama pemotongan pembedahan. Awalnya sebagai nodul, kanker usus sering tanpa gejala hingga tahap lanjut. Karena pola pertumbuhan lamban, 5 sampai 15 tahun sebelum muncul gejala (Way, 1994). Manifestasi tergantung pada lokasi, tipe dan perluasan, dan komplikasi. Perdarahan sering sebagai manifestasi yang membawa klien datang berobat. Gejala awal yang lain sering terjadi perubahan kebiasaan buang air besar, diarrhea atau konstipasi. Karekteristik lanjut adalah nyeri, anorexia, dan kehilangan berat badan. Mungkin dapat teraba massa di abdomen atau rektum. Biasanya klien tampak anemis akibat dari perdarahan Prognosis kanker kolon tergantung pada stadium penyakit saat terdeteksi dan penanganannya. sebanyak 75 % klien kanker kolorektal mampu bertahan hidup selama 5 tahun. Daya tahan hidup buruk / lebih rendah pada usia dewasa tua (Hazzard et al., 1994). Komplikasi primer dihubungkan dengan kanker kolorektal : (1) obstruksi usus diikuti dengan penyempitan lumen akibat lesi; (2) perforasi dari dinding usus oleh tumor, diikuti kontaminasi dari rongga peritoneal oleh isi usus; (3) perluasan langsung tumor ke organ-organ yang berdekatan. PERAWATAN KOLABORATIF Fokus perawatan kolaboratif bagi klien kanker kolorektal untuk membangun diagnosis yang akurat dan stadium penyakit dan menentukan penanganan. Tergantung pada adanya perluasan penyakit saat didiagnosis, penanganan pada 5 tahun pertama rata-rata dapat berhasil 80 – 100 %. Kanker kolorektal selalu ditangani dengan pembedahan, dengan kemoterapi dan terapi radiasi. TEST DIAGNOSTIK DAN LABORATORIUM Karena kanker kolorektal sering berkembang lamban dan penanganan stadium awal sangat dibutuhkan, maka organisasi kanker Amerika merekaomendasikan prosedur skreening rutin bagi

deteksi awal penyakit. Rekomendasinya sebagai berikut. 1. Pemeriksaan rektal tuse untuk semua orang usia lebih dari 40 tahun 2. Test Guaiac untuk pemeriksaan darah feces bagi usia lebih dari 50 tahun 3. Sigmoideskopi tiap 3 – 5 tahun untuk tiap orang usia lebih dari 50 tahun Klien dengan praduga kanker kolorektal dapat dilakukan prosedur diagnostik lanjut untuk pemeriksaan fisik. Test laboratorium, radiography, dan biopsy untuk memastikan. Test laboratorium yang dianjurkan sebagai berikut : 1. Jumlah sel-sel darah untuk evaluasi anemia. Anemia mikrositik, ditandai dengan sel-sel darah merah yang kecil, tanpa terlihat penyebab adalah indikasi umum untuk test diagnostik selanjutnya untuk menemukan kepastian kanker kolorektal. 2. Test Guaiac pada feces untuk mendeteksi bekuan darah di dalam feces, karena semua kanker kolorektal mengalami perdarahan intermitten. 3. CEA (carcinoembryogenic antigen) adalah ditemukannya glikoprotein di membran sel pada banyak jaringan, termasuk kanker kolorektal. Antigen ini dapat dideteksi oleh radioimmunoassay dari serum atau cairan tubuh lainnya dan sekresi. Karena test ini tidak spesifik bagi kanker kolorektal dan positif pada lebih dari separuh klien dengan lokalisasi penyakit, ini tidak termasuk dalam skreening atau test diagnostik dalam pengobatan penyakit. Ini terutama digunakan sebagai prediktor pada prognsis postoperative dan untuk deteksi kekambuhan mengikuti pemotongan pembedahan (Way, 1994). 4. Pemeriksaan kimia darah alkaline phosphatase dan kadar bilirubin dapat meninggi, indikasi telah mengenai hepar. Test laboratorium lainnya meliputi serum protein, kalsium, dan kreatinin. 5. Barium enema sering digunakan untuk deteksi atau konfirmasi ada tidaknya dan lokasi tumor. Bila medium kontras seperti barium dimasukkan kedalam usus bagian bawah, kanker tampak sebagai massa mengisi lumen usus, konstriksi, atau gangguan pengisian. Dinding usus terfiksir oleh tumor, dan pola mukosa normal hilang. Meskipun pemeriksaan ini berguna untuk tumor kolon, sinar-X tidak nyata dalam mendeteksi rektum (Way,1994). 6. X-ray dada untuk deteksi metastase tumor ke paru-paru 7. CT (computed tomography) scan, magnetic resonance imaging (MRI), atau pemeriksaan ultrasonic dapat digunakan untuk mengkaji apakah sudah mengenai organ lain melalui perluasan langsung atau dari metastase tumor. 8. Endoskopi (sigmoidoscopy atau colonoscopy) adalah test diagnostik utama digunakan untuk mendeteksi dan melihat tumor. Sekalian dilakukan biopsy jaringan. Sigmoidoskopi fleksibel dapat mendeteksi 50 % sampai 65 % dari kanker kolorektal. Pemeriksaan enndoskopi dari kolonoskopi direkomendasikan untuk mengetahui lokasi dan biopsy lesi pada klien dengan perdarahan rektum. Bila kolonoskopi dilakukan dan visualisasi sekum, barium enema mungkin tidak dibutuhkan. Tumor dapat tampak membesar, merah, ulseratif sentral, seperti penyakit divertikula, ulseratif kolitis, dan penyakit Crohn’s. PEMBEDAHAN Pemotongan bedah pada tumor, kolon yang berdekatan, dan kelenjar getah bening yang berdekatan adalah penanganan pilihan untuk kanker kolorektal. Penanganan pembedahan bervariasi dari pengrusakan tumor oleh laser photokoagulasi selama endoskopi sampai pemotongan abdominoperineal (APR = abdominoperineal resection) dengan colostomy permanen. Bila memungkinkan, spingkter anal dipertahankan dan hidari kolostomy (Way, 1994). Laser photokoagulasi digunakan sangat kecil, usus diberi sorotan sinar untuk pemanasan langsung jaringan didalamnya. Panas oleh laser umumnya dapat digunakan untuk merusak tumor kecil. Juga digunakan untuk bedah palliatif atau tumor lanjut untuk mengangkat sumbatan. Laser

Eksisi local dapat digunakan untuk mengangkat pengerasan di rectum berisi tumor kecil. Dalam prosedur emergensi digunakan untuk mengatasi sumbatan usus atau perforasi yang disebut colostomi “transverse loop”. Juga dibentuk akibat injuri traumatik pada colon. Bila colostomi double barrel. Disebut juga mukus fistula. Perawatan klien dengan bedah usus lihat di perawtan pre dan post operatif bedah usus. Prosedur ini juga dapat dilakukan selama endoskopi. Colostomi double barrel dapat diindikasikan untuk kasus trauma. dan colong sigmoid dapat dipotong. Pemotongan bedah usus dapat dikombinasi dengan kolostomy untuk pengeluaran isi usus / feses. sebagai pemeriksaan sementara untuk mendukung penyembuhan dari anastomoses. Colon bagian distal tidak diangkat. 1994). bagian distal dari colon ditempatkan di kiri dan diawasi untuk ditutup kembali. seperti pemotongan tumor atau peradangan pada usus. Kolostomi sementara dapat dibentuk bila usus istirahat atau dibutuhkan penyembuhan. stoma distal mengeluarkan mukus dari colon distal. yang differensiasi baik.photokoagulasi dapat dibentuk berupa endoskopik dan digunakan untuk klien yang tidak mampu / tidak toleransi untuk dilakukan bedah mayor. Sering tumor di bagian asending. mengalirkan feces ke dinding abdomen. trasverse kolostomi. rektum. Kolostomi sigmoid sering permanen. Bedah penyambungan kembali atau anastomosa dari bagian kolon tidak dilakukan segera karena kolonisasi bakteri berat dari luka kolon tidak dikiuti penyembuhan sempurna dari anastomosa. Dapat dibalut dengan balutan kasa 4 X 4 inci. dibentuk dua stoma yang berpisah. Stoma loop dapat dibuka pada saat bedah atau beberapa hari kemudian cukup di tempat tidur klien. Penyebaran ke kelenjar getah bening regional dibedakan untuk dipotong bila berisi lesi metastasis (Way. dan stoma dibentuk dari kolon sigmoid proximal. Stoma berlokasi di bagian bawah kuandran kiri abdomen. tumor. Pada prosedur Hartmann. rektum. Selama prosedur. seperti luka tembak. desending. Stoma distal berlokasi dekat dengan stoma ptoximal. atau peradangan. dan dapat sementara atau permanen. desending kolostomi. lesi polipoid yang mobile / bergerak bebas. dan anus melalui insisi perineal dan abdominal. atau di akhir dari bagian tengah insisi. Kolostomi loop transverse biasanya sementara / tidak permanen. Kolostomy adalah membuat ostomi di kolon. Fulguration atau elektrokoagulasi digunakan untuk mengurangi ukuran tumor yang besar bagi klien yang risiko pembedahan jelek. dan sigmoid kolostomi. dan anus diangkat melalui insisi abdominal dan insisi perineal. 1994). atau sebagai pengeluaran feces permanen bila kolon bagian distal dan rektum diangkat / dibuang. Dibentuk bila usus tersumbat oleh tumor. Banyak klien dengan kanker kolorektal dilakukan pemotongan bedah dari kolon dengan anastomosis dari sisa usus sebagai prosedur pengobatan. lokalisasi tumor termasuk pemotongan lokal dan fulguration. Prosedur ini umumnya dilakukan anesthesia umum dan dapat dilakukan bertahap (Way. yang mencegah loop terlepas dari belakang ke dalam rongga abdomen. Kolostomy sigmoid permanen dilakukan untuk memfasilitasi pengeluaran feses. Kolostomy diberi nama berdasarkan : asending kolostomi. prosedur colostomi sementara. sebagian dilakukan untuk kanker rektum. Tumor pada rektum biasanya ditangani dengan pemotongan abdominoperineal dimana kolon sigmoid. transverse. loop dari colon transverse dibawa keluar dari dinding abdominal dan didigantungkam diatas tangkai atau jembatan plastik. Prosedur ini meliputi pengangkatan kolon sigmoid. Biasanya dilakukan selama reseksi / pemotongan abdominoperineal. Jembatan dapat di buka dalam 1 – 2 minggu. Penanganan bedah lain untuk yang kecil. dengan mengeluarkan jarum untuk bedah abdomen. Stoma proximal yang fungsional. tetapi dibuat saluran bebas / bypass. Saluran anal ditutup. Berkisar 3 – 6 bulan diikuti .

Ditambah lagi. Pemeriksaan ini dapat juga dilakukan dengan analgesia . kolostomi ditutup dan dibentuk anastomosa colon. Pemeriksaan diagnostik dan preparat prosedur sering tidak nyaman. way. Leucovorin dapat juga diberikan dengan 5-FU untuk meningkatkan efek antitumor. Risiko disfungsi seksual juga sebagai prioritas bila dilakukan pembedahan untuk membentuk colostomi. NYERI Klien dengan kanker kolorectal dapat mengalami nyeri dari berbagai sumber. tetapi kemoterapi dapat digunakan untuk menolong mengurangi penyebaran ke hepar dan mencegah kekambuhan. Bagi kanker rektal yang kecil. perubahan nutrisi. Klien dengan kolostomi sementara diberikan perawatan yang sama dengan klien dengan colostomi permant. Akhirnya. Pembedahan abdomen dan kemungkinan dilakukan kolostomi dapat terjadi atau direncanakan. perawat perlu untuk memperhatikan tidak hanya perawatan fisik tetapi juga respon emosional klien untuk diagnosis. dapat jelek. intrakavitari. RADIOTERAPI Terapi radiasi sering digunakan sebagai tambahan dari pengangkatan bedah dari tumor usus. tumor yang bermetastase dapat mengenai saraf dan organ-organ lainnya. Keunggulan bagi kanker kolon adalah bersih. kontrol pemberian kemoterapi lokal dan survive bagi klien dengan stadium II dan III dengan tumor rektum. atau implantasi radiasi dapat dengan atau tanpa eksisi bedah dari tumor. 1994). Pada awal postoperatif. PERAWATAN Dalam perencanaan dan implementasi perawatan klien dengan kanker kolorektal. Diagnosa keperawatan prioritas untuk klien ini adalah nyeri. Karena kanker kolorektal sering terdiagnosa pada tahap lanjut. Bila reseksi abdominoperineal dilakukan. Bila terapi radiasi megavoltase digunakan. KEMOTERAPI Agen-agen kemoterapi. dapat diberikan secara rutin. diagnostik test dan efek kemoterapi dan terapi radiasi dapat meninggalkan ekefek kelelahan pada klien dan berkecil hati. prognosis meskipun sudah ditangani. dan kekambuhan lamban atau tidak kambuh sama sekali (Berkow & Fletcher. dan berduka antisipatori. pasien dikontrol dengan analgesia (PCA = patient control analgesia) dapat sangat efektif dalam mengurangi rasa tidak nyaman. Ketidaknyamanan ini berhubungan dengan pemutusan saraf selama eksisi di rectum. Lesi yang terfiksir luas tidak diangkat dapat ditangani dengan mengurangi pemisah / hambatan dan memperlambat berkembangnya kanker. tumor itu sendiri dan. klien dapat mengalami nyer “phantom” rektal. seperti levamisole oral dan intravenous fluorouracil (5-FU). perawatan preoperatif dan postoperatif bila indikasi pembedahan. dan instruksi perawatan kolostomi bila dibentuk stoma. juga digunakan postoperatif sebagai terapi ajuvan untuk kanker kolorektal. Bila dikombinasi dengan terapi radiasi. kemungkinan. pengajaran klien tentang prosedur diagnostik tertentu. Biasanya semua klien dengan kanker kolorektal akan mengalami prosedur pembedahan. menyebabkan nyeri.kolostomi sementara. 1992. eksternal. sering mengenai abdomen dan kemungkinan insisi perineal. Perawatan colaboratif klien dengan colostomi lihat table. karsinoma rektal berkurang ukurannya. Klien dapat mengalami perasaan denial dan marah. Radiasi preoperative diberikan bagi klien dengan tumor besar sampai lengkap pengangkatan. sel-sel jaringan limpatik regional dibunuh. Perawatan klien dengan colostomi lihat table (perawatan kolostomi pre dan post operatif). kemungkinan dalam kombinasi dengan kemoterapi. Perawatan adalah bantuan menyediakan dukungan emosional. Terapi radiasi megavoltase juga dapat digunakan postoperatif untuk mengurangi risiko kekambuhan dan untuk mengurangi nyeri.

Perhatian bagi seluruh personal perawatan dengan klien reseksi abdomminoperitoneal untuk . seperti perubahan posisi. POST OPERATIF 1.kontinue. Bila selang terlipat/sumbat. Beri instruksi apa yang diharapka selama periode postoperatif. 5. Kaji perdarahan dari insisi abdomen dan perineal. Memastikan kelancaran penting untuk rasa nyaman dan penyembuhan klien. IVFD. Persiapan adekuat juga mengurangi kebutuhan narkotik untuk analgesik dan meningkatkan pemulihan klien. persambungan suction. Klien yang dipersiapkan dengan baik selama preoperatif biasanya tidak cemas dan mampu lebih baik untuk menolong / mendukung perawatan postoperatif. perlu atau tidaknya meningkatkan analgesik. dan pertahankan integritas psikologi. Pastikan tanda-tanda valid untuk prosedur. meliputi penanganan nyeri. Monitor tanda vital dan intake dan output. Kaji pemahaman klien dan keluarga tentang prosedur. PERAWATAN KLIEN DENGAN BEDAH USUS PREOPERATIF 1. jumlah. atau bau dari drainase dapat mengindikasikan komplikasi seperti perdarahan. Penandatanganan format persetujuan khususnya untuk prosedur sebagai dokumentasi bahwa klien dan keluarga setuju untuk dilakukan prosedur. catat berbagai perubahan atau adanya bekuan atau perdarahan berwarna merah terang. atau infeksi. Adanya bising usus dan pasase flatus indikasi kembalinya peristaltik. Kaji posisi dan patensi NGT. 6. pertahankan fungsi pernafasan yang adekuat. jumlah. latihan pernafasan. menyebabkan ileus. Evaluasi komplikasi luka yang lainnya. 2. 2. Prosedur persiapan usus. Pemasangan NGT postoperatif. Antibiotik oral dan pareteral sebaiknya kathartik dan enema / ditelan dapat diberikan preoperatif untuk membersihkan usus dan mengurangi risiko kontaminasi peritoneal oleh isi usus selama pembedahan. klarifikasi dan interpretasikan sesuai kebutuhan. dan bau drainase dan kolostomi (bila ada). reintroduksi intake oral makanan dan cairan. sangga abdomen dengan selimut atau bantal untuk membantu batuk. 7. atau anus. sebaiknya alternatif untuk persiapan prosedur. Fokus perawatan pada pengkajian keadekuatan penanganan nyeri. 4. Perubahan warna. NGT digunakan postoperatif untuk dekompressi gastroinestinal dan fasilitasi penyembuhan dari anastomosa. 4. Sediakan obat pengurang nyeri dan pemeriksaan rasa nyaman. Monitor bising usus dan derajad distensi abdomen. kolostomi. pemasangan selang seperti NGT. Manipulasi pembedahan dari usus menghentikan peristaltik. Klien yang mengalami nyeri postoperatif adekuat ditangani pemulihan lebih cepat dan mengalami beberapa komplikasi. NGT dapat dipasang terpasang preoperatif untuk membuang sekresi dan mengosongkan isi lambung. Kaji status pernafasan. meliputi drainase lambung dan lainnya dari drain luka. Perawatan rutin untuk klien bedah. irigasi dengan gentle / hati-hati dengan normal saline steril. dan cegah komplikasi pembedahan. dan memastikan apakah benar-benar rasa nyeri atau rasa takut. Drainase dapat berwarna merah terang dan kemudian gelap dan akhirnya bersih atau hijau kekuningan setelah 2 – 3 hari pertama. sumbatan usus. Kaji warna. Perawatan untuk mengurangi nyeri. Meskipun sering dilakukan pemasangan di kamar bedah hanya untuk pembedahan. Ini berguna bagi pasien dan anggota keluarga untuk memahami prosedur dan kemungknan risiko dan keunggulan. 3. 3. Pemotongan kanker kolorektal dengan anastomosis usus atau kolostomi adalah bedah mayor abdominal.

dan berguna mengontrol rasa tidak nyaman klien. 8. 2. 4. Pemberian antasid. dan terapi antibiotik dianjurkan. Kecemasan berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang rutinitas perawtan colostomy. Nyeri bersifat pengalaman subjektif. Kaji luka dari tanda-tanda peradangan atau bengkak. Ajarkan klien tentang tanda-tanda dan gejala komplikasi ini dan cara pencegahannya. Pertahankan cairan intravena ketika masih dilakukan suction naso gastrik.makanan dapat berupa cairan. Sering mengkaji keadekuatan penanganan nyeri. Merangsang peristaltik 12. pernafasan cepat dan dangkal. 8. menyebabkan perdarahan. 5. Pemberian cairan dan makanan oral dianjurkan. suppositoria. peningkatan pols. Rasa takut berhubungan dengan diagnosa malignansi mendatang yang tidak pasti. meliputi 1) lokasi. 6. (2) tanda-tanda nonverbal. posisi tubuh tegang. 4. Terapi antibiotik untuk mencegah infeksi akibat dari kontaminasi rongga abdominal dengan isi dari usus.menghindari pemasangan temperatur rektal. Penyesuaian dosis mungkin dibutuhkan untuk mengatasi nyeri tanpa efek yang berbahaya. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Menanyakan dengan seksama dan mengkaji dapat memberikan informasi akurat kepada perawat tentang status nyeri klien. klien berisiko dehidrasi. peningkatan atau penurunan tekanan darah. potasium. beri penguatan pengajaran. atau gangguan penyembuhan. Persepsi dan respon klien terhadap nyeri berbeda-beda. Monitor efektifitas dan efek yang merugikan. tampak terpejam. seperti abses abdominal atau sumbatan usus. intensitas. Klien dengan suction NGT tidak mampu untuk makan dan minum peroral dan. Klien dapat berasumsi bahwa nyeri akan terjadi atau toleransi atau dapat menjadi ketakutan tergantung pengobatan analgesik. Kaji efektifitas penanganan nyeri ½ jam sesudah pemberian obat. Latar belakang keyakinan dan etnik dapat mempengaruhi respon terhadap nyeri. atau prosedur rektal lainnya. meliputi : wajah meringis. 9. 10 = nyeri sangat). infeksi. selebihnya. Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan pembedahan dan terapi radiasi 2. Konsultasikan dengan ahli diet untuk instruksi diet dan menu. Mulai pengajaran dan perencanaan pulang. ketidakseimbangan sodium. 11. Berduka Antisipasi 3. Tergantung pada prosedur yang dilakukan. Kerusakan Interaksi Sosial berhubungan dengan takut akan bau dan kebocoran drainase usus. Gunakan informasi subjektif dan objektif. antagonis histamin2-reseptor. Prosedur ini dapat merusak garis jahitan anal. 7. Oral feeding dilakukan kembali perlahan-lahan untuk meminimalkan distensi abdomen dan trauma terhadap garis jahitan. Ajarkan klien tengang kemungkinan komplikasi postoperatif. Monitor bising usus dan monitor distensi abdomen sesering mungkin selama periode ini. Risiko Disfungsi Seksual 9. Kerusakan Body Image berhubungan dengan adanya stoma di abdomen dan perubahan saluran eliminasi BAB. 10. kehilangan elektrolit dan cairan melalui NGT. Catat derajat / tingkat nyeri. kaji selang drainase dan kelancaran . Pendidikan Klien dan Keluarga INTERVENSI KEPERAWATAN DENGAN RASIONAL 1. Risiko Inefektif Koping individual berhubungan dengan sistem dukungan. 3. dan chloride. Tanyakan klien tentang skala nyeri dalam rentang 0 – 10 (0 = tanpa nyeri. dan alkalosis metabolik. Anjurkan ambulasi. dan kemudian diberikan sering dan porsi sedikit. Bila tidak dilakukan penggantian cairan dan elektrolit. dan karakter nyeri.

dan teknik relaksasi. Fluktuasi berat badan klien indikasi adekuat atau tidak adekuat intake diet. bertahap diberikan bubur. Pemberian obat-obatan nyeri diprioritaskan untuk aktifitas atau prosedur. Kurangnya kontrol nyeri atau perubahan nyeri dapat berhubungan dengan distensi organ yang terpasang NGT atau kateter urine atau dapat mengindikasikan andanya infeksi atau abses. memberi rasa nyaman saat ambulasi. adanya bising usus. 5. 4. Analgesik dapat mengurangi rasa tidak nyaman klien. Catatan intake penting untuk menentukan kebutuhan diet klien. inaginasi. klien akan puasa hingga fungsi kembali. Klien yang tidak mampu makan peroral selama lebih dari 2 atau 3 hari berikan nutrisi parenteral untuk mencegah katabolisme jaringan dan fasilitasi penyembuhan. Perubahan Nutrisi : Kurang Dari Kebutuhan Tubuh Klien yang disangka kanker kolorektal akan dilakukan prosedur-prosedur diagnostik lanjutan berisiko defisiensi nutrisi karena sering dilakukan prosedur persiapan untuk usus dan diet cairan. Penanganan nonfarmakologik. tenderness. 5. Bila intake oral telah mampu. Kaji kesiapan klien untuk makanan enteral sesudah bedah atau prosedur diagnostik gunakan data seperti. dan distensi abdomen. Peristaltic dari saluran gastrointestinal dihambat oleh manipulasi usus. metabolisme klien dapat meningkat dan selera makan berkurang. peritonitits. 3. Teknik ini berguna untuk meningkatkan efek analgesia. Sediakan diet sesuai kebutuhan klien. Dapat dilakukan endoskopi bila ada indikasi Pengkajian preoperative. PERAWATAN KOLABORATIF : KLIEN DENGAN KOLOSTOMI TEAM PERAWATAN PUSAT PERAWATAN KLIEN Gastroenterologist Bedah Umum Oncologist Terapist Enterostomal Pekerja Sosial Dietititan RN dan Perawat Kesehatan Team Komunikasi Dokter konsul utama. 7. Partisipasi klien menuruti perawat untuk kemajuan diet seperti suka atau tidak suka klien dan menemukan kebutuhan skejul dan lingkungan klien. dan ajarkan klien bagaimana melakukannya saat batuk dan bernafas dalam untuk mencegah komplikasi pernafasan berhubungan ketakutan akan rasa nyeri. berbagai aktifitas. dan bising usus. keluar flatus. Timbang berat badan klien setiap hari. Intervensi keperawatan dengan rasional : 1. Cairan dan elektrolit pengganti diberikan sepanjang memungkinkan TPN total parenteral nutrisi. Perdarahan intra-abdominal.selang. 6. Kaji distensi abdomen. Pertahankan nutrisi total parenteral dan intravena sesuai order. Nutrisi adekuat penting untuk penyembuhan sesudah pembedahan. Belat / tekan insisi dengan bantal. atau ileus paralitik dapat menyebabkan nyeri dan dapat membingungkan antara nyeri yang diakibatkan oleh bekas insisi. Ini penting untuk memastikan peristaltic bekerja atau tidak. mengangkat penyakit di usus dan membuat kolostomi. stimulus lingkungan. 8. Bila tumor tahap lanjut. rasa lapar. Postoperative. 2. Monitor dan catat intake makanan dan minuman. menangani . seperti posisi.

berikan klarifikasi dari informasi yang diperlukan. Rujuk ke kelompok ostomi sesuai kebutuhan klien. Bagi klien dengan diagnosis kanker. Banyak klien akan buang air besar tiap hari dan tidak terus menerus menggunakan kantong atau sistem drainase. tanda dan gejala perdarahan atau infeksi kepada dokter. Biasanya drainase dapat berisi lebih banyak mucus dan cairan serosangrineous dari pada material fekal. Bila perlu. Konsistensi drainase tergantung pada stoma di bagian lokasi usus. Kolostomi desending atau sigmoid dapat ditangani dengan menggunakan kantong drainable atau irigasi. 5. masukkan air ke dalam kolon sesuai prosedur irigasi kolostomi. Memberikan kantong yang dibutuhkan. monitor hasil pembedahan. Posisi kantong penampung drain diatas stoma. 3. Klien dapat melakukan irigasi kolon tiap hari. Kolaborasi dengan dietitian untuk memberikan diet yang seimbang untuk di konsumsi oleh klien. membuat rekomendasi pembedahan. 4. Membuat rekomendasi tentang terapi nutrisi seperti total nutrisi parenteral. . 3. radiasi.postoperative. Mulainya usus berfungsi. dan aplikasi dan mengosongkan kantong luar. POSTOPERATIF 1. vitamin-vitamin. dan/atau kemiterapi. Air akan merangsang pengosongan kolon. Postoperative membantu klien dan keluarga untuk menangani ostomi dan memberikan pengajaran berhubungan dengan perawatan stomal. mual atau muntah. berikan kantong kolostomi irigasi. Diskusi antisipasi kebutuhan perawatan di rumah dengan klien. Factor-faktor seperti berat badan klien. 2. Kaji lokasi dan tipe kolostomi yang dibentuk. Memberi pengajran tentang strategi untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan menghindari produk makanan yang mengandung gas. monitor respon terhadap terapi Preoperative. Berbicara dengan seseorang yang telah memakai ostomi dapat menolong klien menjadi lebih nyaman dengan kolostomi. PERAWATAN KLIEN DENGAN KOLOSTOMI PREOPERATIF 1. dan garis pinggang dipertimbangkan dalam penempatan stoma untuk memfasilitasi rasa nyaman dalam perawatan jangka panjang dan mempermudah penanganan. Melaporkan distensi abdominal. Pengkajian stoma dan kondisi kulit penting diawal periode postoperative. Lokasi stoma adalah indicator letak lokasi pemotongan usus dan predictor tipe drainasi fekal. dan mineral-mineral. Jawab pertanyaan-pertanyaan klien langsung. Perawat ET terutama yang di latih untuk bekerja dengan klien dalam merencanakan penanganan kolostomi. cara berpakaian klien. Kaji tampilan stoma dan kondisi kulit disekitarnya dengan rutin. Mensuplai kebutuhan-kebutuhan. Hubungi perawat terapist enterostomal (ET) untuk memberikan rekomendasi lokasi stoma dan pengajaran yang diperlukan. enteral feeding. Klien yang memahami perawatan preoperative dan postoperative dengan baik akan berkurang rasa cemas dan mampu bekerjasama dalam penanganan dengan lebih baik. kalau-kalau terkadi komplikasi untuk segera ditangani. 2. Merujuk klien dan keluarga ke organisasi kanker dan stoma. Pola eliminasi dari kolostomi sigmoid hampir sama dengan pola eliminasi normal klien sebelum operasi. nyeri berat. evaluasi kebutuhan klien akan ostomi untuk posisi stoma. mengajarkan perawatan kulit. fekal akan menjadi normal. Untuk lebih aman gunakan kantong transparan. Mengatur kunjungan perawat untuk membantu perawatan stoma dan balutan. Konsultasi dengan terapist enterostomal tentang kemajuan / kelanjutan klien dengan pendidikan dan perawatan mandiri ostomi.

Kadang-kadang dapat diirigasi hanya untuk membersihkan terutama reanastomosa. Lubang ini dapat ditutup dengan “Band-Aid’ an dibuka hanya bila klien mandi untuk kontrol bau. 8. beratnya dapat merusak kantong dan perekat dan menyebabkan kebocoran. irigasi stoma di bagian proksimal. klien juga harus menjalani terapi lanjut yang dapat berupa kemoterapi dan radioterapi. 11. dan “wafer” (bubuk obat) yang dibutuhkan untuk menjaga keamanan kantong ostomi.Klien yang mengalami Ca. Tantangan bagi klien dengan kolostomi loop transverse adalah untuk menjaga keamanan kantong stoma diatas jembatan plastik. Kanker kolon merupakan penyebab ke dua dari semua kematian kanker di Amerika.Klien . seperti perekat stoma (stomahesive) atau “karaya paste”. Bila dianjurkan irigasi kolostomi untuk klien dengan double-barrel atau kolostomi loop. Usus bagian distal tidak mengandung fekal dan tidak perlu diirigasi. 10. Colon ) merupakan jenis kanker yang banyak dijumpai di klinik dengan tingkat mortalitas yang cukup tinggi . Hanya sebagian kolon yang berfungsi. dan drainase fekal umumnya cair dan terus menerus. Ini kadangkadang penting bagi klien dengan kolostomi loop. bila gas terkumpul terlalu banyak APLIKASI NANDA. Pengosongan kantong drainable atau penggantian kantong kolostomi bila diperlukan atau saat telah penuh 1/3 bagian kantong. 7. Klien memerlukan tindakan laparotomi (pembukaan dinding abdomen ) dan kolostomi (pembuatan lubang melalui dinding abdomen ke dalam kolon iliaka untuk mengeluarkan feces ) dilakukan untuk mengatasi masalah eliminasi. Kantong ostomi dapat menggembung keluar.SKp.MKes PENDAHULUAN Karsinoma kolon ( Ca. Selain tindakan pembedahan. Gunakan bahan-bahan dempul. merusak integritas kulit. Klien dengan kolostomi asending atau transverse tidak dilakukan irigasi. Bila kantong kepenuhan. Berikan perawatan stoma dan kulit klien.6. Pengkajian digital / dengan jari pada usus langsung dari stoma dapat menolong membedakan yang mana stoma proksimal. Sebuah lubang pada kantong kolostomi akan menyalurkan flatus keluar. Colon membutuhkan perawatan profesional pembedahan berupa dan dukungan keluarga yang adekuat. baik pada pria maupun wanita dan hanya dilampai oleh kanker paru-paru dan mammae. Perawatan kulit dan stoma yang baik penting untuk mempertahankan integritas kulit dan fungsi untuk pertahanan utama terhadap infeksi. 9. NOC DAN NIC PADA ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN KANKER KOLON POST KOLOSTOMI Oleh : Christantie Effendy.

Dengan pemberian asuhan keperawatan secara komprehensif dan berkualitas diharapkan klien dapat beradaptasi dengan kondisi tubuhnya . GAMBARAN KLINIS KARSINOMA COLON Karsinoma pada colon menimbulkan perubahan pada kebiasaan buang air besar. penurunan berat badan dan anemia. Pelayanan keperawatan Medikal Bedah dapat berupa bantuan yang diberikan dgn alasan • Kelemahan fisik • Kelemahan mental . Identifikasi masalah keperawatan klien sangat penting. palpasi dapat mengungkapkan adanya massa yang nyeri tekan. tetapi karsinoma pada colon sebelah kiri menimbulkan konstipasi. Karsinoma pada colon sebelah kanan menyebabkan peningkatan gerakan colon.memerlukan asuhan keperawatan yang komprehensif dengan memperhatikan aspek bio-psiko-sosio-spiritual terutama karena klien harus menjalani terapi lanjut setelah pembedahan. menjalani terapi secara kooperatif dan dapat bersosialisasi kembali di masyarakat. Keduanya dapat menunjukkan gambaran klinis berupa: darah dan lendir di dalam tinja. terkait dengan intervensi dan implementasi yang akan dilakukan terhadap klien selama hospitalisasi sehingga tercapai asuhan keperawatan yang optimal. keadaan ini dapat memberikan gambaran klinis berupa obstruksi intestinum KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH Merupakan Pelayanan profesional yang didasarkan Ilmu dan teknik Keperawatan Medikal Bedah berbentuk pelayanan bio-psiko-sosiospiritual yg komprehensif ditujukan pada orang dewasa dgn atau yg cenderung mengalami gangguan fisiologi dgn atau tanpa gangguan struktur akibat trauma.

Langkah 2: Menentukan Diagnosis Keperawatan . akan dibahas secara lebih rinci tentang penggunaan Diagnosis Keperawatan NANDA.  Gunakan “ Functional Health Patterns” (Gordon) dalam melakukan pengkajian /pengumpulan data klien untuk membantu pemilihan diagnosa keperawatan yg sesuai  Lakukan pengkajian secara seksama untuk menentukan diagnosa keperawatan yang sesuai dg kondisi klien. mulai dari penerimaan klien sampai dengan klien pulang/meninggal. NOC dan NIC dalam pemberian asuhan keperawatan pada klien dengan karsinoma colon ( Rectosigmoid) post laparotomi dan kolostomi. Langkah 1: Melakukan Pengkajian Keperawatan  Lakukan pengkajian secara seksama untuk menentukan diagnosa keperawatan yang sesuai dg kondisi klien.perawat perlu melakukan berbagai langkah yang terstruktur dan sistematis. Dalam pemberian asuhan keperawatan pada klien .  Perlu diingat bahwa data yang lengkap sangat membantu perawat dalam mengidentifikasi masalah keperawatan klien. Pada kesempatan ini.• Masalah psikososial • Keterbatasan pengetahuan • Ketidakmampuan dan ketidakmauan melakukan kegiatan sehari-hari sec mandiri akibat gangguan patofisiologis(CHS. 1992) ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN KARSINOMA COLON ( RECTOSIGMOID) POST LAPAROTOMI DAN KOLOSTOMI.

perawat hendaknya telah memahami masing-masing pengertian/definisi dari pernyataan diagnosis keperawatan yang dipilih. terdapat lebih dari satu NOC. Tentukan diagnosa keperawatan sesuai dengan kondisi klien dengan menggunakan Diagnosis keperawatan NANDA taxonomy II  Yakinkan masalah keperawatan klien sesuai dengan definisi diagnosis keperawatan yg anda pilih  Untuk dapat menentukan Diagnosis keperawatan yang sesuai .  Tentukan etiologi yg sesuai dengan karakteristik /kondisi klien (mungkin perawat perlu menjabarkan lebih spesifik etiologi yang dipilih sesuai dengan kondisi klien ) Langkah 3: Menentukan Tujuan Keperawatan  Pilih Nursing Outcome ( NOC ) yang sesuai dengan diagnosis keperawatan yg telah anda tentukan ( pada satu diagnosis keperawatan . perawat dapat memilih NOC yang sesuai dengan kondisi klien )  Pilih indikator NOC yg tepat dengan masalah keperawatan yg dialami klien  Penentuan skala pencapaian indicator pada NOC Langkah 4:Menentukan Intervensi Keperawatan  Tentukan Intervensi keperawatan (NIC) yang sesuai  NIC yg dipilih hendaknya yg dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah keperawatan klien  Perawat membutuhkan beberapa intervensi untuk mengatasi masalah keperawatan klien Langkah 5: Melaksanakan Implementasi Keperawatan Langkah 6: Melakukan Evaluasi keperawatan Langkah 7: Melakukan Pendokumentasian Keperawatan KASUS .

perdarahan (-)  Mengeluh nyeri pd daerah operasi dan tidak tahu cara merawat stoma  Posisi stoma 2.5 cm dari luka laparotomi Tanda-tanda vital:  TD: 120/70 mmHg  N : 84 x/mnt  S : 37.  Dx.Riwayat masuk RS  Klien Ny. bau khas . Alb: 2. perut terasa penuh dan mual.8 . pucat dan bibir kering  Terpasang infus D5% : 20 tetes/mnt Skema infus: D5% : RL = 2 : 2  Klien mengeluh tidak nafsu makan dan hanya menghabiskan 3 sdk makan bubur & sayur  BB sebelum sakit: 62 kg  BB saat ini : 50 kg Setelah dilakukan pengkajian keperawatan pada Ny. Medis: Ca Rectosigmoid Kondisi klien saat ini  Post laparotomi dan colostomi hari 2  Luka operasi kering.warna kecoklatan. pus (-)  Produk stoma lunak. masuk RS dengan keluhan sulit defekasi dan feses berdarah dan bau busuk. SM ( 43 th) .SM maka dapat ditetapkan “Fuctional Health Patterns” yang sesuai dg Ny.2 º C  P : 20 x/mnt Terapi analgetik 3 x 100 mg (IM) antibiotika 2 x 1 gr ( IV )  Lab: Hb: 9.SM adalah: .9  Klien tampak lemah.

Diagnosis Keperawatan NANDA.Metabolic  Cognitive Perceptual  Coping /stress/tolerance  Elimination  Self – Perception/ Self . Masalah Keperawatan NANDA yg sesuai dg Ny.SM adalah:  Deficient Knowledge : Ostomy Care  Acute Pain  Disturbed Body image  Risk for infection  Imbalance  Fatigue  dll Penentuan Masalah keperawatan dapat mengalami kesulitan/hambatan dan keragu-raguan perawat terutama jika data yang diperoleh sangat minimal dan memiliki karakteristik yang sama dengan diagnosis keperawatan lain. maka Domain pada NANDA dapat digunakan sebagai alat bantu dalam penentuan Diagnosis Keperawatan.Concept  Health Perception – Health Management Berdasarkan data yang diperoleh. NOC dan NIC pd Ny. ditetapkan berbagai masalah keperawatan yang sesuai dengan kondisi klien. Nutrition .SM Knowledge defisit : Ostomy Care(Kurang pengetahuan tentang perawatan kolostomi ) definisi: mengungkapkan secara verbal masalah yg dihadapi dan menunjukkan ekspresi ambivalenEtiologi /faktor yg Nutrition : less than body requirements .

berhubungan:lack of exposure( belum pernah mengalami kolostomi) dan tidak terbiasa dgn sumber informasi Perawat menentukan NOC yang sesuai dengan kondisi klien . dan obyek . Predikat. dari beberapa NOC yang ada pada diagnosis keperawatan Knowledge defisit : Ostomy Care.keterangan waktu dan skala indikator. Ditetapkan ada 2 NOC yang sesuai dengan klien yaitu: NOC :  Knowledge: Treatment Procedure (Colostomy Care)( Pengetahuan : Prosedur perawatan kolostomi  Pengetahuan : Penanganan penyakit Regimen) (Knowledge: treatment Dalam penulisan NOC pada rekam asuhan keperawatan hendaknya dituliskan secara lengkap dengan mencantumkan Subyek. NOC 1: Pasien mampu mengetahui Prosedur perawatan kolostomi (Treatment Procedure) dalam 3 hari perawatan Indikator : pasien mampu :  Menjelaskan langkah2 prosedur perawatan kolostomi  Menjelaskan alat2 yg dibutuhkan  Menjelaskan berbagai tindakan yg dilakukan utk mencegah/mengatasi komplikasi  Mampu melakukan perawatan kolostomiSkala indikator dapat dilihat pada panduan NOC dan penentuan skala dapat disesuaikan dengan target waktu dan kondisi klien atau berdasarkan evidence /hasil penelitian NOC 2: Pengetahuan : Penanganan penyakit (treatment Regimen)Indikator:  Menjelaskan diet yg dianjurkan  Memilih makanan yg sesuai dgn anjuran diet  Menjelaskan aktifitas yg dianjurkan .

Beberapa sumber menyebutkan bahwa tindakan-tindakan yang ada pada NIC minimal 5 tindakan (aktivitas) yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah keperawatan klien Untuk mencapai NOC 1: Pengetahuan : Prosedur perawatan kolostomiDiperlukan NIC :   • • Perawatan Kolostomi Pemantauan kulit NIC – Ostomy CareActivities (NIC3 pg. as appropriate Assist patient in obtaining ostomy/ileostomy equipment Instruct patient on mechanisms to reduce odor Instruct patient/significant other in appropriate diet and expected changes in elimination function appliance. as needed • • • • • . 483) Mark the skin for stoma ileostomy/colostomy • • • • • placement the use of Instruct patient/significant other in equipment Assist patient in providing ostomy /ileostomy self-care Have patient/significant other demonstrate use of equipment Apply appropriately-fitting ostomy Monitor for incision/stoma healing Encourage patient/significantother to express feelings and concerns about changes in body image Encourage visitation to client by persons from such support groups as ileostomy/colostomy clubs Irrigate colostomy. Mampu mengontrol/monitor diri sendiri  Menjelaskan cara merawat diri sendiri pd kondisi darurat Penentuan NIC berdasarkan masing-masing NOC NIC yang tersedia harus dipilih dan disesuaikan dengan kebutuhan klien dalam mencapai tujuan/mengatasi masalah.

warmth. as appropriate Encourage participation in ostomy support groups after hospital discharge • • • NIC – Skin Surveillance Activities (NIC 3 pg. especially of edematous areas Monitor skin for rashes and abrasions Monitor skin for excessive dryness and moistness Inspect clothing for tightness Monitor skin color Monitor skin temperature Note skin or mucous membrane changes Institute measures to prevent further deterioration. as appropriate • Observe extremities for color. 601) • Inspect condition of surgical incision.• Provide and assistance. while client develops skill in caring for stoma/surrounding tissue Monitor stoma/surrounding tissue healing and adaptation to ostomy equipment Change/empty ostomy bag. swelling. texture. as needed Instruct family member/caregiver about signs f skin breakdown. or drainage Monitor skin for areas of redness and breakdown Monitor for sources of pressure and friction Monitor for infection. pulses. and ulcerations Inspect skin and mucous membranes for redness. as appropriate • • • • • • • • • • NOC 2: Pengetahuan : Penanganan penyakit (treatment Regimen) NIC:  Teaching Prescribed Diet . extreme warmth. edema.

as appropriate Instruct the patient on allowed and prohibited foods Inform the patient of possible drug/food interactions. as appropriate Assist the patient to accommodate theprescribed diet food preferences into • • • • • • Assist the patient in substituting ingredients to conform favorite recipes to the prescribed diet • Instruct the patient about how to read labels and select appropriate foods foods appropriate to diet to plan appropriate meals appropriate Observe the patient’s selection of prescribed Instruct the patient about how Provide written meal plans. as Recommend a cookbook that the diet.. 649) • Appraise the patient’s current level of knowledge about prescribed diet Determine the patient’s/significant other’s feelings/attitude toward prescribed diet and expected degree of dietary compliance • • Instruct the patient on the proper name of the prescribed diet Explain the purpose of the diet Inform the patient about how long the diet should be followed Instruct the patient about how to keep a food diary. as appropriate . Teaching Prescribed Activity /exercise NIC – Teaching: Prescribed Diet (NIC3 pg. as appropriate by other health care team • • • • includes recipes consistent with • Reinforce information provided members.

the prescribed activity/exercise Instruct the patient how to perform the prescribed activity/exercise Instruct the patient how to monitor tolerance of the activity/exercise Instruct the patient how to keep an exercise diary. as appropriate Instruct the patient how to warm up and cool down before and after activity/exercise and the so. and the benefits of. as appropriate Inform the patient what activities are appropriate based on physical condition • • • • • Instruct the patient how to safely progress activity/exercise Caution the patient on the dangers of overestimating capabilities. as appropriate Warn the patient of the effects of extreme heat and cold. as appropriate Include the family/significant others. as appropriate Observe the patient perform the prescribed activity/exercise • .648) • Appraise the patient’s current level of exercise and knowledge ofprescribed activity/exercise • Inform the patient of the purpose for. as appropriate NIC – Teaching: Prescribed Activity/Exercise(NIC 3.• Refer patient to dietitian/nutritionist. pg. as appropriate Instruct the patient on methods to conserve energy. as appropriate importance of doing • • • • • Instruct the patient on good posture and body mechanics.

Bentz. as • Reinforce information provided by members.B. Philadelphia.. as appropriate community as appropriate center.M. • • others. as groups to increase the patient’s • Refer the patient to a rehabilitation appropriate DAFTAR PUSTAKA 1.B. Black. (1993). as appropriate • Instruct the patient on the assembly. Jenice R. Lippincott Company. Bryant . Philadelphia. rd ed. Nowlis. and Ruth A. Clinical skills in Nursing Practice.• Provide information on available assistive devices that may be used to facilitate performance of required skill. 6th ed. . (2 nd). as appropriate Include the family/significant Provide information on available resources/support compliance with activity/exercise. J.. as appropriate Assist the patient to incorporate regimen into daily Assist the patient to properly and activity therapist/occupational appropriate other health care team Refer the patient to physical activity/exercise • routine/life style alternate periods of rest • • therapist/exercise physiologist. Saunder Company 2. (1993).Year Book. E. Nursing Management. J. use. Luckman & Sorensen’s : Medical Surgical Nursing: a Psychophysiologic approach. Earnest.M. 4. Mosby .. Hampton. Beverly G. Elizabeth A. Patricia M.Flue. Jacob. 3. (1992). and maintenance of assistive devices . Ostomies and Divertions. Vicki Vine. (1996). 3 Philadelphia W. Philadelphia: Llppincott. Inc. Moduls for basic Nursing Skills.

com/index. St. Bare. 3 rded. and Brenda G. (1993). Nettina. NANDA International. Smeltzer.(1996) Brunner and Suddarth’s Textbook of Medical – Surgical Nursing. Suzanne C. Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2005 – 2006. Philadelphia. Philadelphia: Lippincott. PA. Fundamental of Nursing : Concepts. Philadelphia: NANDA International.php? option=com_content&view=article&id=48:nursing-care-plan-forcolostomy-patient&catid=34:asuhan-keperawatan-pada-pasien-kanker .5.(2005). 7. Perry. Process and Practical. 6. The Lippincott Manual of Nursing Practice. Louis: Mosby Year Book 8. Lippincot – Raven Publishers.6thed. http://nursing-care-indonesia.A.G. Potter. Sandra M. (1996).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful