SISTEM PEMBAYARAN BANK INDONESIA

Sistem Pembayaran merupakan sistem yang berkaitan dengan pemindahan sejumlah nilai uang dari satu pihak ke pihak lain. Media yang digunakan untuk pemindahan nilai uang tersebut sangat beragam, mulai dari penggunaan alat pembayaran yang sederhana sampai pada penggunaan sistem yang kompleks dan melibatkan berbagai lembaga berikut aturan mainnya. Kewenangan mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran di Indonesia dilaksanakan oleh Bank Indonesia yang dituangkan dalam Undang Undang Bank Indonesia. Dalam menjalankan mandat tersebut, BI mengacu pada empat prinsip kebijakan sistem pembayaran, yakni keamanan, efisiensi, kesetaraan akses dan perlindungan konsumen. Aman berarti segala risiko dalam sistem pembayaran seperti risiko likuiditas, risiko kredit, risiko fraud harus dapat dikelola dan dimitigasi dengan baik oleh setiap penyelenggaraan sistem pembayaran. Prinsip efisiensi menekankan bahwa penyelanggaran sistem pembayaran harus dapat digunakan secara luas sehingga biaya yang ditanggung masyarakat akan lebih murah karena meningkatnya skala ekonomi. Kemudian prinsip kesetaraan akses yang mengandung arti bahwa BI tidak menginginkan adanya praktek monopoli pada penyelenggaraan suatu sistem yang dapat menghambat pemain lain untuk masuk. Terakhir adalah kewajiban seluruh penyelenggara sistem pembayaran untuk memperhatikan aspek-aspek perlindungan konsumen. Sementara itu dalam kaitannya sebagai lembaga yang melakukan pengedaran uang, kelancaran sistem pembayaran diejawantahkan dengan terjaganya jumlah uang tunai yang beredar di masyarakat dan dalam kondisi yang layak edar atau biasa disebut clean money policy. :: Ikhtisar Sistem Pembayaran Instrumen Pembayaran Nontunai yang berlaku di Indonesia (Kartu, Cek, Bilyet Giro, dan Nota Debet)

Instrumen Pembayaran Tunai yang berlaku di Indonesia (Gambar Uang, Data Uang, Fitur Keamanan, Uang yang Dicabut, dan Uang Khusus)

KARAKTERISTIK KARTU YANG DITERBITKAN PERBANKAN : : Karakteristik Kartu Kredit : : Tampak Depan

: : Tampak Belakang

5. Alamat Bank penerbit kartu kredit. 3. Nama / Logo penerbit kartu kredit. 4. Nama pemegang kartu. . 4.1 Magnetic stripe yang masih dapat digunakan jika kartu kredit tersebut digunakan untuk bertransaksi di luar negeri. Signature panel adalah tempat pembubuhan tanda tangan pemilik kartu pada kartu kredit yang dimiliki. 5. Nama penerbit kartu kredit. Logo Jaringan Kartu kredit. chip ini telah ditambahkan berbagai aplikasi yang dapat mengenkripsi data sehingga data dapat tersimpan lebih aman. 3. Tampak Belakang : . Nomor kartu yang terdiri atas 16 digit. Chip pada kartu kredit yang selalu diletakkan di bagian depan sisi kartu. 2. 2. 6. Masa berlaku kartu kredit.DETAIL FITUR KARTU KREDIT DENGAN CHIP Tampak Depan : 1. Nomor verifikasi yang terdiri atas tiga digit.

Kartu kredit yang Anda serahkan ke kasir akan diproses dengan cara memasukkan kartu ke dalam mesin EDC yang telah dilengkapi chip atau dikenal dengan istilah di-dip. jika dalam bertransaksi kartu kredit Anda masih menggunakan mekanisme yang lama yaitu digesek. Segera minta penggantian kartu Anda kepada penerbit kartu yang tertera pada kartu kredit Anda. Pada saat di-dip. mesin EDC yang telah dilengkapi chip akan mengeluarkan bukti transaksi yang akan ditandatangani oleh pemegang kartu yang melakukan transaksi. Yang perlu diingat adalah. Ketika bertransaksi. 2. Transaksi selesai. kartu mengalami proses enkripsi terlebih dahulu sebelum akhirnya secara online di-link-an dan di verifikasi dengan penerbit kartu kredit yang dipakai. 3. Setelah proses verifikasi selesai. transaksi tidak lagi digesek tapi di-dip. Mekanisme yang sama mudahnya dengan teknologi sebelumnya yang dikenal dengan magnetic stripe. (***) . hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan kartu kredit chip adalah: 1. itu berarti kartu kredit dan mesin EDC belum menggunakan Chip.MEKANISME PENGGUNAAN KARTU KREDIT DENGAN MENGGUNAKAN CHIP Mekanisme Penggunaan Kartu Kredit dengan menggunakan chip tidak banyak mengalami perubahan dengan mekanisme sebelumnya.

apa saja komponen dari SP? Sudah barang tentu harus ada alat pembayaran. Perlu diketahui bahwa BI bukan semata peduli akan terciptanya efisiensi dalam sistem pembayaran. transaksi valuta asing (valas) serta settlement hasil kliring dilakukan melalui sistem BI-RTGS. SIPS adalah sistem yang memproses transaksi pembayaran bernilai besar dan bersifat mendesak (urgent). Pada tahun 2005. Hingga saat ini uang masih menjadi salah satu alat pembayaran utama yang berlaku di masyarakat. Untuk itulah BI sangat peduli menjaga stabilitas BI-RTGS yang dikategorikan sebagai Systemically Important Payment System (SIPS). mulai dikenal satuan tertentu yang memiliki nilai pembayaran yang lebih dikenal dengan uang. Misalnya. transaksi pemerintah. itu artinya . bila melakukan transaksi dalam jumlah besar juga mengundang risiko seperti pencurian. Kartu Kredit. Selain itu dikenal juga alat pembayaran paperless seperti transfer dana elektronik dan alat pembayaran memakai kartu (card-based) (ATM. Selanjutnya alat pembayaran terus berkembang dari alat pembayaran tunai (cash based) ke alat pembayaran nontunai (non cash) seperti alat pembayaran berbasis kertas (paper based). BI berinisiatif dan akan terus mendorong untuk membangun masyarakat yang terbiasa memakai alat pembayaran nontunai atau Less Cash Society (LCS). misalnya. BI-RTGS melakukan transaksi sedikitnya Rp182 triliun per hari. lembaga keuangan selain bank. Yang dimaksud terciptanya sistem pembayaran. Uang kartal masih memainkan peran penting khususnya untuk transaksi bernilai kecil. Selain SIPS dikenal pula System Wide Important Payment System (SWIPS). Kenyataan ini memperlihatkan kepada kita bahwa jasa pembayaran nontunai yang dilakukan bank maupun lembaga selain bank (LSB). Bisa dibayangkan. Termasuk dalam hal ini adalah bank. Nah. Apabila terjadi gangguan maka kepentingan masyarakat untuk melakukan pembayaran akan terganggu pula. Hal itu belum memperhitungkan dampak material dan nonmaterial dari macetnya sistem BI-RTGS tadi. lembaga. termasuk kepercayaan terhadap sistem dan alat-alat pembayaran yang diproses dalam sistem. Melihat pentingnya peran BI-RTGS dalam sistem pembayaran nasional. ada mekanisme kliring hingga penyelesaian akhir (settlement). Kalau kita menengok kebelakang yakni awal mula alat pembayaran itu dikenal. Bila sesaat saja sistem BI-RTGS ini ngadat atau mengalami gangguan jelas akan sangat menganggu kelancaran dan stabilitas sistem keuangan di dalam negeri. transaksi di bursa saham. baik dalam proses pengiriman dana. Dalam masyarakat moderen seperti sekarang ini. jaringan pendukung dan aturan main dalam SIPS. desain. hampir 95 persen transaksi keuangan nasional bernilai besar dan bersifat mendesak (urgent) seperti transaksi di Pasar Uang AntarBank (PUAB). :: Evolusi Alat Pembayaran Alat pembayaran boleh dibilang berkembang sangat pesat dan maju. ketika Anda menunggu melakukan pembayaran di loket pembayaran yang relatif memakan waktu cukup lama karena antrian yang panjang. Sistem Kliring dan APMK termasuk dalam kategori SWIPS ini. Lantas. Menyadari ketidak-nyamanan dan inefisien memakai uang kartal. Pada tahun 2009. cek dan bilyet giro.3 persen. Hal itu bisa terjadi karena biaya pengadaan dan pengelolaan (cash handling) terbilang mahal. lembaga bukan bank penyelenggara transfer dana. :: Alat Pembayaran Tunai Alat pembayaran tunai lebih banyak memakai uang kartal (uang kertas dan logam). perbandingan uang kartal terhadap jumlah uang beredar sebesar 43. Sementara itu. perusahaan switching bahkan hingga bank sentral (lihat Perkembangan). Sedangkan transaksi nontunai dengan alat pembayaran menggunakan kartu (APMK) nilai transaksinya hanya Rp5. perampokan dan pemalsuan uang.Adalah wajar saja apabila Bank Indonesia sangat peduli menjaga kestabilan SIPS dengan mengelola risiko. Transaksi pembayaran nontunai dengan nilai besar diselenggarakan Bank Indonesia melalui sistem BI-RTGS (Real Time Gross Settlement) dan Sistem Kliring. Hal itu belum lagi memperhitungkan inefisiensi dalam waktu pembayaran. sudah barang tentu harus dijaga kontinuitas dan stabilitasnya. Kartu Debit dan Kartu Prabayar). sistem BI-RTGS adalah muara seluruh penyelesaian transaksi keuangan di Indonesia. kehandalan teknologi. selain itu juga ada komponen lain seperti lembaga yang terlibat dalam menyelenggarakan sistem pembayaran. dan mekanisme yang dipakai untuk melaksanakan pemindahan dana guna memenuhi suatu kewajiban yang timbul dari suatu kegiatan ekonomi. Namun patut diketahui bahwa pemakaian uang kartal memiliki kendala dalam hal efisiensi. Sebagai informasi. BI juga peduli dengan SWIPS karena sifat sistem yang digunakan secara luas oleh masyarakat. penyelenggara kliring maupun sistem penyelesaian akhir (settlement) sudah tersedia dan dapat berlangsung di Indonesia. :: Alat Pembayaran Nontunai Alat pembayaran nontunai sudah berkembang dan semakin lazim dipakai masyarakat. pemakaian alat pembayaran tunai seperti uang kartal memang cenderung lebih kecil dibanding uang giral.34 triliun per hari yang dilakukan bank atau LSB.SISTEM PEMBAYARAN DI INDONESIA :: Apa Itu Sistem Pembayaran (SP)? Apa itu SP? SP adalah sistem yang mencakup seperangkat aturan. Dalam perkembangannya. sistem barter antarbarang yang diperjualbelikan adalah kelaziman di era pra moderen. yaitu sistem yang digunakan oleh masyarakat luas. tapi juga kesetaraan akses hingga ke urusan perlindungan konsumen.

. Pemakaian uang elektronik dalam mekanisme transaksi adalah bagian dari evolusi alat pembayaran dari uang tunai sampai ke bentuk-bentuk nontunai.memberi kemudahan bagi pengguna untuk memilih metode pembayaran yang dapat diakses ke seluruh wilayah dengan biaya serendah mungkin. kliring hingga settlement. Berikut digambarkan perkembangan terkini dari berbagai jenis sistem pembayaran dan penyelenggaranya. pembelian barang dan berbagai jasa-jasa lainnya. Namun begitu. kartu ATM dan uang elektronik (e-money). Penggunaan uang elektronik diyakini akan menjadi trend mekanisme pembayaran di masa mendatang. Semua proses aktivitas pembayaran melalui berbagai jenis alat pembayaran ini diproses oleh berbagai penyelenggara sistem pembayaran seperti bank dan nonbank. pemakaian uang tunai juga tidak sepenuhnya bisa tergantikan oleh alat pembayaran non tunai. misalnya untuk membayar bahan bakar di pompa bensin. Alat pembayaran tunai muncul karena memang adanya kebutuhan masyarakat untuk bertransaksi yang tidak dapat dipenuhi uang tunai. dan Kredit serta uang elektronik (e-money) hingga ke wujud digital (digital cash). Debit. bilyet giro hingga ke elektronik seperti alat pembayaran dengan menggunakan kartu (APMK) seperti kartu ATM. Mengapa ? karena dalam kondisi tertentu pemakaian uang tunai masih terbilang lebih efisien dibandingkan dengan penggunaan instrumen non tunai. wesel. Sementara yang dimaksud dengan kesetaraan akses. Institusi inilah yang nantinya menyelenggarakan jasa mulai proses pengiriman dana. Sedangkan aspek perlindungan konsumen dimaksudkan penyelenggara wajib mengadopsi asas-asas perlindungan konsumen secara wajar dalam penyelenggaraan sistemnya. Misalnya alat pembayaran dalam bentuk kertas (paper based) seperti cek. antara lain kartu kredit. tiket tol. (***) PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN DI INDONESIA Belakangan ini masyarakat perkotaan di Indonesia mulai terbiasa untuk menggunakan alat pembayaran non tunai untuk berbagai keperluan pembayaran. kartu debet. BI akan memperhatikan penerapan asas kesetaraan dalam penyelenggaraan sistem pembayaran.

23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia. semakin lancar dan hadal SPN.TUGAS BANK INDONESIA DALAM SISTEM PEMBAYARAN Menjaga stabilitas nilai tukar rupiah adalah tujuan Bank Indonesia sebagaimana diamanatkan Undang-Undang No. . Jadi. Kelancaran SPN ini juga perlu didukung oleh infrastruktur yang handal (robust). maka akan semakin lancar pula transmisi kebijakan moneter yang bersifat time critical. Bila kebijakan moneter berjalan lancar maka muaranya adalah stabilitas nilai tukar. Untuk menjaga stabilitas rupiah itu perlu disokong pengaturan dan pengelolaan akan kelancaran Sistem Pembayaran Nasional (SPN).

Uang Rupiah yang dicabut tersebut dapat ditarik dengan cara menukarkan ke Bank Indonesia atau pihak lain yang telah ditunjuk oleh Bank Indonesia. terlebih dahulu dilakukan perencanaan agar uang yang dikeluarkan memiliki kualitas yang baik sehingga kepercayaan masyarakat tetap terjaga. Lebih lanjut. Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan dan mengedarkan uang Rupiah serta mencabut. Ambil contoh. bank sentral memandang perlu menyelenggarakan sistem settlement antar bank melalui infrastruktur BI-Real Time Gross Settlement (BI-RTGS). Bank Indonesia melakukan kegiatan pemusnahan uang. BI pun menetapkan sejumlah kebijakan dari komponen SPN ini. menarik dan memusnahkan uang dari peredaran. Selain itu dilakukan pula perencanaan terhadap jumlah serta komposisi pecahan uang yang akan dicetak selama satu tahun kedepan. Pencabutan uang dari peredaran dimaksudkan untuk mencegah dan meminimalisasi peredaran uang palsu serta menyederhanakan komposisi dan emisi pecahan. BI juga berhak mencabut. Berbekal kewenangan itu. BI juga menentukan standar alat-alat pembayaran tadi serta pihak-pihak yang dapat menerbitkan dan/atau memproses alat-alat pembayaran tersebut. bank sentral berhak menetapkan dan memberlakukan kebijakan SPN. Menyadari kelancaran SPN yang bersifat penting secara sistem (systemically important). Kegiatan pemusnahan uang diatur melalui prosedur dan dilaksanakan oleh jasa pihak ketiga yang dengan pengawasan oleh tim Bank Indonesia (BI). uang hasil cetak kurang sempurna dan uang yang sudah tidak layak edar. jenis pecahan yang sesuai. pengedaran uang. Bank sentral juga adalah satu-satunya lembaga yang berhak mengeluarkan dan mengedarkan alat pembayaran tunai seperti uang rupiah. alat pembayaran apa yang boleh dipergunakan di Indonesia. keperluan pembayaran. Untuk menjamin keamanan jalur distribusi senantiasa dilakukan baik melalui pengawalan yang memadai maupun dengan peningkatan sarana sistem monitoring. efisiensi serta tata kelola (governance) SPN. Berdasarkan perencanaan tersebut kemudian dilakukan pengadaan uang baik untuk pengeluaran uang emisi baru maupun pencetakan rutin terhadap uang emisi lama yang telah dikeluarkan. Bank Indonesia senantiasa berupaya untuk dapat memenuhi kebutuhan uang kartal di masyarakat baik dalam nominal yang cukup. Pada akhirnya BI juga mesti menetapkan kebijakan terkait pengendalian resiko. tepat waktu. dan dalam kondisi yang layak edar (clean money policy). Selain itu masih ada tugas BI dalam SPN. Kegiatan pengedaran uang juga dilakukan melalui pelayanan kas kepada bank umum maupun masyarakat umum. baik suatu sistem utuh atau hanya bagian dari sistem saja. sistem kliring atau transfer dana. Kegitan distribusi dilakukan melalui sarana angkutan darat. Layanan kas kepada bank umum dilakukan melalui penerimaan setoran dan pembayaran uang Rupiah. Terkait dengan peran BI dalam mengeluarkan dan mengedarkan uang. Sebagai otoritas moneter. misalnya. menarik hingga memusnahkan uang rupiah yang sudah tak berlaku dari peredaran. Kebutuhan uang Rupiah di setiap kantor Bank Indonesia didasarkan pada jumlah persediaan. Uang yang dimusnahkan tersebut adalah uang yang sudah dicabut dan ditarik dari peredaran. Di sisi alat pembayaran tunai. peran sebagai penyelenggara sistem kliring antarbank untuk jenis alat-alat pembayaran tertentu. Selain itu. BI juga memiliki kewenangan memeberikan persetujuan dan perizinan serta melakukan pengawasan (oversight) atas SPN. kegiatan pengelolaan uang Rupiah yang dilakukan Bank Indonesia adalah pencabutan uang terhadap suatu pecahan dengan tahun emisi tertentu yang tidak lagi berlaku sebagai alat pembayaran yang sah. Perencanaan yang dilakukan Bank Indonesia meliputi perencanaan pengeluaran emisi baru dengan mempertimbangkan tingkat pemalsuan. penukaran dan penggantian uang selama jangka waktu tertentu.BI adalah lembaga yang mengatur dan menjaga kelancaran SPN. Sebelum melakukan pengeluaran uang Rupiah. Misalnya. laut dan udara. pengelolaan pengedaran uang yang dilakukan oleh Bank Indonesia dilakukan mulai dari pengeluaran uang. Sementara itu untuk menjaga menjaga kualitas uang Rupiah dalam kondisi yang layak edar di masyarakat. Untuk mewujudkan clean money policy tersebut. Berbagai tugas Bank Indonesia di bidang Sistem Pembayaran dilaksanakan dalam satu struktur organisasi sistem pembayaran yang menangani sistem pembayaran dan pengedaran uang sebagai berikut : . pencabutan dan penarikan uang sampai dengan pemusnahan uang. BI juga berhak menetapkan lembagalembaga yang dapat menyelenggarakan sistem pembayaran. Uang Rupiah yang telah dikeluarkan tadi kemudian didistribusikan atau diedarkan di seluruh wilayah melalui Kantor Bank Indonesia. nilai intrinsik serta masa edar uang. Bank sentral juga memiliki kewenangan menunjuk lembaga yang bisa menyelenggarakan sistem settlement. Sedangkan kepada masyarakat dilakukan melalui penukaran secara langsung melalui loket-loket penukaran di seluruh kantor Bank Indonesia atau melalui kerjasama dengan perusahaan yang menyediakan jasa penukaran uang kecil.

sedangkan untuk memenuhi kebutuhan uang tunai terutama di daerah terpencil dilayani oleh kegiatan kas titipan. cacat. Sementara itu. Pada periode menjelang hari raya keagamaan.3 Tahun 2004.00 sampai pukul 11. Layanan penukaran uang meliputi penukaran uang layak edar atau uang tidak layak edar (lusuh.30 waktu setempat. Bank Indonesia melakukan pelayanan penukaran setiap hari kerja. Waktu pelayanan penukaran uang oleh Bank Indonesia pada umumnya ditentukan jadwalnya pada hari-hari tertentu yang dimulai dari pukul 09. serta pelayanan penukaran uang kepada masyarakat dan perbankan. kas titipan dan kerjasama penukaran dengan pihak ketiga. pelayanan kas keliling dilakukan oleh hampir seluruh Kantor Bank Indonesia. Selain itu BI memberikan pelayanan kas di luar kantor berupa kas keliling. BI menyelenggarakan pelayanan perkasan di setiap satuan kerja kas berupa penerimaan setoran dan bayaran bank-bank umum dan bendaharawan proyek pemerintah yang memiliki rekening di BI. Pelayanan penukaran uang Rupiah dilakukan di seluruh satuan kerja kas Bank Indonesia yaitu di Kantor Pusat dan 37 Kantor Bank Indonesia. 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No.PELAYANAN KAS YANG DISELENGGARAKAN OLEH BANK INDONESIA Sesuai dengan Undang-undang No. dan rusak) dengan uang yang masih layak edar dalam pecahan yang sama atau pecahan lain serta penukaran uang yang telah dicabut dan ditarik dari peredaran yang masih berlaku masa penukarannya. Saat ini telah terdapat layanan kas titipan di 10 Kantor Bank Indonesia yaitu: .

Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) BI-RTGS adalah sistem transfer dana elektronik yang penyelesaian setiap transaksinya dilakukan dalam waktu seketika. Bagi otoritas informasi mengenai pengelolaan dana perbankan menjadi informasi pendukung dalam menjalankan kegiatan operasi moneter dan early warning system pengawasan bank. real time. BI-RTGS merupakan sistem transfer dana elektronik antar Peserta dalam mata uang rupiah yang penyelesaiannya dilakukan secara seketika per transaksi secara individual. cepat. Transaksi yang telah masuk dalam antrian dapat diselesaikan segera setelah peserta menerima transaksi masuk atau menyetorkan tambahan dana. efisien. Bank Indonesia Scripless Securities Settlement System (BI-SSSS) dan Sistem Kliring Nasional (SKN). BI-SSSS merupakan sarana transaksi dengan Bank Indonesia termasuk penatausahaannya dan penatausahaan surat berharga secara elektronik. selain berfungsi meningkatkan kepastian penyelesaian akhir (settlement finality) setiap transaksi pembayaran.100 juta keatas dan bersifat segera (urgent). final dan irrevocable. agar seluruh transaksinya dapat terselesaikan dengan baik di akhir hari. Penyelesaian real time terbatas pada proses pengiriman transaksi dari peserta pengirim kepada Bank Indonesia untuk diteruskan kepada peserta penerima. Sementara itu waktu penyelesaian akhir transaksi transfer nasabah pada rekeningnya tergantung dengan kondisi dan standar sistem pemrosesan pengiriman dan penerimaan transaksi di internal peserta. BI-SSSS terhubung langsung dengan BI-RTGS secara seamless. aman dan handal. Penyelesaian transaksi BI RTGS dilakukan per transaksi secara seketika dan tidak dapat dibatalkan. Kondisi ini terjadi antara lain karena peserta masih menunggu transaksi masuk dari peserta lain. BI-RTGS didisain untuk memastikan penyelesaian akhir dapat dilakukan secara gross settlement. Bank Indonesia telah mengembangkan sistem setelmen (sistem penyelesaian transaksi) yaitu Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS). peserta belum memiliki dana yang cukup. Transaksi dapat masuk dalam sistem antrian apabila pada saat dikirimkan. Sistem Antrian (Queue) transaksi diterapkan dalam BI-RTGS. nota debet lainnya dan transfer kredit antar bank. Dalam kegiatan setelmen. sehingga dapat saja terjadi perbedaan waktu antara penyelesaian akhir pada BI-RTGS dengan penerimaan transfer dana pada rekening nasabah.SISTEM SETELMEN Dalam rangka mitigasi risiko dalam pembayaran nasional. Disamping itu BI-RTGS yang dilengkapi dengan mekanisme sentralisasi rekening giro menjadi sarana yang dapat diandalkan untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan dana (management fund) baik bagi peserta maupun pihak otoritas moneter dan perbankan. Mekanisme ini bertujuan untuk mencegah kemacetan (gridlock) yaitu kondisi dimana sejumlah peserta tidak mampu menyelesaikan kewajibannya karena masih . Sejak dioperasikan oleh Bank Indonesia pada tanggal 17 November 2000. khususnya untuk memproses transaksi pembayaran yang termasuk High Value Payment System (HVPS) atau transaksi bernilai besar yaitu transaksi Rp. Sistem BI-RTGS memberikan banyak manfaat. BI-RTGS juga dilengkapi dengan mekanisme Gridlock Resolution. Transaksi HPVS saat ini mencapai 90% dari seluruh transaksi pembayaran di Indonesia sehingga dapat dikategorikan sebagai sistem pembayaran nasional yang memiliki peranan signifikan (Systemically Important Payment System). Bilyet Giro. Transaksi pada BI-RTGS hanya dapat diproses penyelesaian akhirnya apabila peserta memiliki dana yang cukup (prinsip no money no game). yang berarti mengurangi risiko penyelesaian akhir (minimizing settlement risk) . Penerapan antrian ini mengharuskan peserta untuk mengelola likuiditasnya secara bijaksana. BI-RTGS berperan penting dalam pemrosesan aktivitas transaksi pembayaran. Sementara SKN merupakan sistem kliring antarbank untuk alat pembayaran cek. BI RTGS juga menjadi sarana transfer dana antar-bank yang praktis.

Kepatuhan peserta terhadap Throughput Guidellines akan mengurangi kemungkinan penumpukan transaksi di akhir hari. Fasilitas Likuiditas Intrahari (FLI) dan Fasilitas Likuiditas Intrahari Syariah (FLIS) adalah fasilitas cadangan pendanaan likuiditas yang disediakan oleh penyelenggara. Salah satu bentuk kegiatan pengawasan yang dilakukan adalah mewajibkan penyelenggara dan peserta memiliki standar pengamanan yang memadai. Intraday gap mungkin saja terjadi karena pemrosesan transaksi BI-RTGS yang bersifat gross settlement menyebabkan penyelesaian per transaksi dilakukan secara terus-menerus sepanjang hari. monitoring dan assessment. 23/1999 jo No. yang hanya dapat digunakan dalam hari satu hari. penyelenggara juga menyediakan fasilitas guest bank kepada peserta sebagai sarana back up pada lokasi penyelenggara dalam rangka gangguan dan atau keadaan darurat untuk mencegah kegagalan peserta dalam menggunakan sarana RTGS terminal untuk proses setelmen melalui sistem BI-RTGS. sehingga diperlukan likuiditas yang tinggi. setelmen dana dari operasi moneter/operasi pasar terbuka (OPT). Selain itu Bank Indonesia juga mewajibkan penyelenggara dan seluruh peserta untuk melakukan ujicoba terhadap back up dan rencana penanggulangan kondisi darurat secara periodik. pertemuan konsultasi dengan penyelenggara. 2. transaksi pembayaran pemerintah dan transaksi surat berharga. meliputi pembukuan hasil kliring yang diselenggarakan oleh BI (SKNBI) dan hasil kliring ATM/kartu debit/kartu kredit. tujuannya adalah untuk mendapatkan keyakinan bahwa Sistem BI-RTGS yang diselenggarakan telah aman dan handal. Pemanfaatan FLI/FLIS oleh peserta tetap mensyaratkan jaminan yang berkualitas. aman dan handal. 3. Selain transaksi pembayaran ritel. transaksi perdagangan valas antar-bank. memberikan penjelasan kepada Peserta mengenai risiko finansial sehubungan keikutsertaannya dalam Sistem BI-RTGS dan peserta harus mengelola risiko tersebut. Dalam menjalankan peran sebagai pengawas (Overseer). fasilitas back up. antara lain prosedur penanganan keadaan darurat (Contingency Plan).menunggu tagihannya diselesaikan. Bank Indonesia sebagai Otoritas Sesuai UU Bank Indonesia No. disamping pemenuhan kewajiban untuk melaporkan hasil pemeriksaan internal terhadap operasional RTGS di sisi peserta. BI menetapkan landasan hukum yang kuat untuk penerapan Sistem BI-RTGS dan menentukan peran dan tanggung jawab penyelenggara dan peserta Sistem BI-RTGS.Throughput Guidellines merupakan suatu target prosentase tertentu dari total transaksi yang dilakukannya selama 1 hari. Selain itu. termasuk menerima laporan internal audit terkait penyelenggaraan BI-RTGS oleh peserta. Kegiatan audit ini dilakukan terhadap aplikasi maupun network/jaringan yang digunakan dalam sistem BI-RTGS. BI-RTGS juga merupakan Settlement Processor. Sebagai settlement processor. baik penyelenggara maupun peserta. Pemenuhan persyaratan sebagai peserta dan kepatuhan peserta terhadap ketentuan yang ditetapkan oleh Penyelenggara RTGS juga menjadi satu perhatian dalam kegiatan pengawasan. Bank Indonesia dapat meminta auditor/pemeriksa Teknologi Informasi Independen untuk melakukan kegiatan security audit. biasanya dalam bentuk SBI atau SWBI dan wajib diselesaikan pada hari yang sama. BI-RTGS menjadi sarana penyelesaian akhir bagi transaksi pembayaran ritel. Untuk memperlancar proses penyelesaian akhir transaksi pada BI-RTGS. Dalam rangka menjalankan tugas yang diembannya. Fungsi pengawasan dilakukan melalui pembuatan ketentuan. dan Business Continuity Plan (BCP). . penyelenggara menghimbau peserta agar mematuhi Throughput Guidellines. Untuk menilai keamanan penyelenggaraan BI-RTGS. dan menetapkan penggunaan alat pembayaran (pasal 15). Sistem BI-RTGS memiliki prosedur penanganan dalam kondisi gangguan dan/atau keadaan darurat. cepat. mewajibkan Penyelenggara sistem pembayaran untuk menyampaikan laporan kepada BI. Fungsi Bank Indonesia sebagai otoritas Sistem Pembayaran termasuk berperan sebagai pembuat ketentuan (Regulator) dan pengawas (Overseer) BI-RTGS. FLI/FLIS dapat dimanfaatkan oleh peserta untuk mengatasi kesulitan likuiditas peserta yang bersifat sementara atau mengalami intraday gap. menyelenggarakan BI-RTGS dengan menerapkan prinsip efisien. BI memastikan bahwa penyelenggaraan BI-RTGS memenuhi prinsip pada 10 Core principles for Systematically Important Payment System (CP-SIPS) dari Bank for International Settlement seperti yang diatur dalam peraturan Sistem BI-RTGS untuk mendukung stabilitas sistem keuangan dengan memperhatikan prinsip perlindungan konsumen. memastikan kepatuhan peserta terhadap ketentuan yang telah ditetapkan. Bank Indonesia sebagai Penyelenggara (Operator) Sistem BI-RTGS Dalam menjalankan peran sebagai Penyelenggara (Operator) memiliki tanggung jawab antara lain: 1. Dalam menjalankan peran sebagai regulator. BI berwenang dalam melaksanakan dan memberi ijin penyelenggaraan jasa sistem pembayaran.6/2009 pasal 8 dinyatakan bahwa salah satu tugas BI mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. Dalam rangka memastikan Sistem BI-RTGS diselenggarakan dengan tingkat keamanan yang tinggi dan ketersediaan sepanjang jam operasional yang ditetapkan. BI-RTGS juga menjadi sarana pelimpahan penyelesaian akhir transaksi serah dana dari perdagangan sekuritas. Gridlock Resolution dijalankan secara otomatis pada BI-RTGS pada setiap waktu tertentu.3/2004 jo No.

Keanggotaan peserta BI-RTGS dibedakan menjadi Peserta Langsung dan Peserta Tidak Langsung. Bank Indonesia mewajibkan setiap bank mengumumkan tarif biaya Sistem BI-RTGS. kewajiban dan tanggung jawab antara peserta dan penyelenggara Sistem BI-RTGS. help-desk untuk membantu peserta dalam menghadapi kesulitan operasional. antara lain biaya investasi. penyelenggara menyediakan infrastruktur dan pelayanan kepada peserta antara lain meliputi: 1. pemeliharaan aplikasi. Kebijakan pembedaan ini bertujuan untuk mendorong peserta agar mengirimkan transaksi lebih awal sehingga distribusi pengiriman transaksi dapat terjaga dengan baik sepanjang jam operasional RTGS. Dalam perjanjian tersebut diatur berbagai klausula mengenai hak. biaya personil dan biaya lainnya. Untuk itu. 5. maupun biaya yang dikenakan peserta kepada nasabahnya di setiap kantor peserta pada tempat yang mudah terlihat oleh nasabah. Bank Indonesia Scripless Securities Settlement System (BI-SSSS) . 2. Namun demikian peserta tetap diharapkan mengenakan biaya secara wajar kepada nasabahnya. Pengenaan biaya RTGS oleh peserta kepada nasabah dapat berbeda-beda sesuai kebijakan masing-masing peserta BIRTGS untuk memproses transaksi nasabah melalui BI-RTGS. antara lain perangkat keras. memiliki prosedur penanganan kondisi gangguan/darurat (Disaster Recovery Plan-DRP dan Business Continuity Plan-BCP) dan melakukan uji coba secara berkala dengan melibatkan peserta. mengadakan pertemuan rutin dengan kelompok pengguna (user group). dan fasilitas pendukung lainnya. baik yang dibebankan oleh Bank Indonesia kepada peserta. Sedangkan Peserta Tidak Langsung dapat mengirimkan transaksi RTGS dengan menggunakan identitas peserta langsung. Ketentuan dalam Bye Laws merupakan kesepakatan teknis antar peserta yang belum diatur dalam ketentuan BI ataupun dalam perjanjian. 4. penggunaan Guest Bank dan biaya lainnya.RTGS Bank Indonesia menetapkan biaya transaksi Sistem BI-RTGS yang seragam kepada seluruh peserta Sistem BI-RTGS sebagaimana tabel di bawah ini: Biaya Transaki Single Credit adalah biaya yang dikenakan untuk pengiriman satu kali transaksi. peserta wajib memenuhi ketentuan mengenai prinsip pengenalan nasabah (know your customer princeples) dan aturan mengenai tindak pidana pencucian uang (anti money laundering). identitas mengenai data nasabah pengirim dan penerima transfer melalui BI-RTGS harus diisi secara lengkap dan benar.Dalam penyelenggaraan Sistem BI-RTGS. Biaya dalam Penggunaan Sistem BI . fasilitas dial up. Hubungan hukum antara peserta dengan Bank Indonesia sebagai Penyelenggara Sistem BI-RTGS tertuang dalam perjanjian penggunaan Sistem BI-RTGS. Peserta Langsung adalah peserta yang dapat mengirimkan transaksi RTGS dengan menggunakan identitas sendiri. aplikasi RCC (software). memberi pelatihan kepada peserta. terdapat pula hal-hal teknis yang diatur dengan menggunakan Bye Laws BI-RTGS. Selain biaya tersebut. Peserta BI-RTGS Peserta BI-RTGS terdiri dari seluruh bank dan lembaga selain bank. Disamping ketentuan dan perjanjian antar peserta dan penyelenggara yang menjadi landasan penyelenggaraan keseharian BI-RTGS. Infrastruktur dan fasilitas untuk penyelenggaraan Sistem BI-RTGS. Dalam pengisian instruksi transfer. Bank Indonesia dapat pula mengenakan biaya atas pengiriman administrative message. Biaya Transaksi Multiple Credit adalah biaya yang dikenakan untuk pengiriman transaksi yang bersifat bundel untuk dua transaksi atau lebih sampai dengan sepuluh transaksi. 3. Biaya pengiriman transaksi dibedakan berdasarkan periode pagi hari dan sore. jaringan komunikasi data (leased line).

Perusahaan Pialang Pasar Uang dan Perusahaan Efek. Penyelenggara dan Sistem Bank Indonesia . dan (iii) peserta transaksi dan sekaligus sebagai pemilik rekening surat berharga yaitu Bank Indonesia. peserta BI-SSSS terdiri dari. Pengembangan BI-SSSS mengacu pada standar internasional yaitu Recommendations for securities settlement systems dari Committee of Payment and Settlement System (CPSS) dan The International Organization of Securities Commissions (IOSCO ).Real Time Gross Settlement (Sistem BI-RTGS). (ii) registrasi kepemilikan. Kegiatan transaksi dan penatausahaan dilakukan dalam satu sistem yang terintegrasi dan terhubung langsung (on-line) antara Bank Indonesia dengan para pelaku pasar. (ii) peserta transaksi yaitu Bank Indonesia. (ii) pemberian fasilitas pendanaan Bank Indonesia kepada Bank. Selain itu. bank dan Sub-Registry. . Sementara kegiatan penatausahaan Surat Berharga mencakup kegiatan (i) setelmen. (i) peserta penerbit yaitu Bank Indonesia dan Departemen Keuangan. dan (iii) pembayaran kupon/pelunasan Surat Berharga. dan (iii) pelaksanaan transaksi Surat Berharga Negara (SBN) untuk dan atas nama Pemerintah. BI-SSSS mencakup juga sistem informasi antar peserta dan penyelenggara BI-SSSS. mencakup (i) pelaksanaan Operasi Pasar Terbuka (OPT). BI-SSSS selalu melakukan penyesuaian dan pengembangan terhadap aplikasi-aplikasinya untuk mengakomodasi kebutuhan perkembangan pasar keuangan domestik.BI-SSSS merupakan sarana transaksi dengan Bank Indonesia termasuk penatausahaannya dan penatausahaan Surat Berharga secara elektronik dan terhubung langsung antara Peserta. BI-SSSS menggabungkan sistem transaksi Bank Indonesia dengan sistem penatausahaan Surat Berharga. Kegiatan transaksi Bank Indonesia. Sesuai dengan fungsinya. bank. sistem setelmen surat berharga dan sistem penatausahaan surat berharga. Setelmen Surat Berharga melalui BI-SSSS dilakukan secara seamless dengan sistem setelmen dana Peserta melalui Sistem Sistem BI-RTGS yang memungkinkan Peserta BI-SSSS memanfaatkan fasilitas setelmen secara Delivery Versus Payment (DVP) yang dapat dilakukan secara cepat dan seketika sehingga risiko setelmen Surat Berharga dapat diminimalkan. serta Lembaga lain yang disetujui oleh Bank Indonesia seperti Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Bank Indonesia melakukan respon dengan menggunakan instrumen yang dimiliki. • ITF tidak memerlukan asumsi kestabilan hubungan antara uang beredar. Proyeksi ini dilakukan dengan sejumlah model dan sejumlah informasi yang dapat menggambarkan kondisi inflasi ke depan. Jika sasaran inflasi tidak tercapai maka diperlukan penjelasan kepada publik dan langkah-langkah yang akan diambil untuk mengembalikan inflasi sesuai dengan sasarannya. Bank Indonesia mengumumkan sasaran inflasi ke depan pada periode tertentu. • ITF meningkatkan trasparansi dan akuntabilitas kebijakan moneter mendorong kredibilitas kebijakan moneter.Mengapa Dengan telah dilepaskannya sistem nilai tukar dengan band intervensi nilai tukar (crawling band) di tahun 1997. Mengapa kebijakan moneter memerlukan jangkar nominal? Karena tanpa adanya jangkar nominal. output dan inflasi. Sebaliknya. dengan adanya jangkar nominal masyarakat akan membuat ekspektasi inflasi yang diperlukan dalam kalkulasi usahanya sesuai dengan jangkar nominal tersebut. • ITF bersifat forward looking sesuai dengan dampak kebijakan pada inflasi yang memerlukan time lag. Misalnya jika proyeksi inflasi telah melampaui sasaran. Sebaliknya dengan sasaran base money. • ITF yang memfokuskan pada inflasi sebagai prioritas kebijakan moneter sesuai dengan mandat yang diberikan kepada Bank Indonesia. maka inflasi luar negeri akan menjadi inflasi domestik. maka Bank Indonesia akan cenderung melakukan pengetatan moneter. Misalnya kalau nilai tukar dijadikan target. Secara reguler. Dengan sasaran inflasi secara eksplisit masyarakat akan memahami arah inflasi. apalagi jika hubungannya dengan inflasi tidak jelas. Aspek transparansi dan akuntabilitas serta kejelasan akan tujuan ini merupakan aspek-aspek good governance dari sebuah bank yang telah diberikan independensi. Ada sejumlah alasan mengapa menggunakan jangkar nominal dengan ITF. Sebaliknya. Bank Indonesia menjelaskan kepada publik mengenai asesmen terhadap kondisi inflasi dan outlook ke depan serta keputusan yang diambil. Jika proyeksi inflasi sudah tidak kompatibel dengan sasaran. tidak ada kejelasan kemana kebijakan moneter akan diarahkan sehingga masyarakat tidak memiliki pedoman dalam membuat ekspektasi inflasi. masyarakat lebih sulit mengetahui arah inflasi kedepan. ITF merupakan pendekatan yang lebih komprehensif dengan mempertimbangkan sejumlah variabel informasi tentang kondisi perekonomian. Jangkar nominal adalah variabel nominal (seperti indeks harga. nilai tukar. Setiap periode Bank Indonesia mengevaluasi apakah proyeksi inflasi ke depan masih sesuai dengan sasaran yang ditetapkan. Dengan mengumumkan sasaran inflasi dan Bank Indonesia secara konsisten dapat mencapainya akan meningkatkan kredibilitas kebijaan moneter yang pada gilirannya ekspektasi inflasi masyarakat sesuai dengan sasaran yang ditetapkan BI. Ibarat kapal yang mengapung di lautan tanpa kejelasan kearah mana kapal dilabuhkan. atau uang beredar) yang ditargetkan secara eksplisit oleh bank sentral sebagai dasar/patokan bagi pembentukan harga lainnya. . Bagaimana Dalam kerangka ITF. • ITF lebih mudah dipahami oleh masyarakat. Bank Indonesia memerlukan jangkar nominal (nominal anchor) baru dalam rangka menjalankan kebijakan moneter.

Paradigma bisnis perbankan syariah. tatapi isu yang bersifat profesionalosme dan pelayanan. Dari sistem riba inilah yang merugikan peminjam dana. market share bank syariah akan lebih meningkat. Sehingga. yaitu meningkatkan pengetahuan syariah bagi karyawan sehingga peluang terjadinya pelanggaran syariah berkurang.. dimana hutang negara meningkat dari beban bunga yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. dan kesetaraan). Tantangan Perbankan Syariah di Tahun 2010 Banyaknya kekurangan dan masalah yang dihadapi hingga tahun 2009. dan amerika. yaitu dengan cara optimalisasi fungsi office chanelling melalui pelayanan pembiayaan yang dapat dilaksanakan oleh staf pembiayaan dari UUS atau staf dari bank umum induk yang telah mendapatkan pendidikan syariah. sehingga bukannya hutang negara cepat terlunas. Dengan masyarakat sudah memiliki pengetahuan serta pemahaman yang baik mengenai perbankan syariah dan ekonomi Indonesia. Islam sebagai agama yang sempurna memberikan solusi atas permasalahan-permasalahan yang timbul akibat penggunaan instrument bunga dalam perbankan. . dan menciptakan sistem perbankan yang rasional. Sumber daya insani. Tbk pada tahun 1991 yang diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia. Memaksimalkan sosialisasi perbankan syariah di masyarakat. sinkronisasi masalah perpajakan. Perkembangan Perbankan Syariah tahun 2009 Perkembangan syariah Indonesia di tahun 2009 bisa dibilang ‘kita tidak kemana-kemana’ yang berarti tidak adanya kemajuan dari tahun sebelumnya. yaitu system perbankan syariah. tidak lagi mengangkat isu riba. namun tetap patuh pada aspek syariah. pelayanan dan profesionalisme. Syariah Compliance. Hal ini terlihat dari pangsa pasar perbankan syariah nasional masih saja beringsut-ingsut di angka 2. Bank Muamalat Indonesia. Dengan mempersiapkan langkah-langkah dan solusi untuk menghadapi tantangan yang akan terjadi. dimana isu yang diangakat tidak lagi hanya Riba. Perkembangan Perbankan syariah masa lalu Dampak yang telah dirasakan oleh Indonesia dari sistem Riba ini yaitu kondisi krisis ekonomi pada tahun 1997. maka banyak pula tantangan yang harus dihadapi untuk menjadikan perrbankan syariah menjadi lebih baik di tahun 2010. keadilan. Dari perkembangan perbankan syariah yang telah dihadapi. Hanya saja disamping manfaat yang telah masyrakat rasakan. menerapkan Islamic Banking Culture dan prinsip syariah (transparan. Potensi pasar perbankan syariah perlu lebih dikembangkan. Tetapi perkembangan perbankan syariah sudah sangat berubah. afrika utara. mendorong aturan pembiayaan berbagi hasil.Kita harus yakin bahwa pintu ke arah itu masih terbuka lebar asalkan semua pihak yang terlibat dalam perbankan syariah benar-benar serius memperbaiki keadaan yang terjadi saat ini serta selalu Istiqomah di Allah yang menuntun kebahagian dunia dan akhirat. Seiring dengan berjalannya waktu bank telah menjadi sebuah kebutuhan hidup bagi manusia. Eksistensi perbankan syariah di Indonesia diawali oleh terbentuknya PT. 5. dimana bunga kredit yang dikenakan akan memberatkan nasabah untuk membayar hutang. 6. dengan meningkatkan orientasi syariah. terutama bank menjalankan perannya sebagai kreditur. Berdasarkan dari data Bank Indonesia tentang Pangsa Perbankan Syariah Terhadap Total bank bahwa kebijakan Akselerasi Pengembangan Perbankan Syariah sebaga upaya pensapain target market share perbankan syariah 5% dari perbankan nasional tahun 2008 dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan kepatuhan terhadap prinsip syariah. bukan emosional. pangsa pasar perbankan syariah semakin meluas serta mampu untuk menuju persaingan perbankan internasional. disiplin pasar serta GCG (sidiq. 7. dan mendorong sinergi perbankan syariah melalui linked program 2. Sebuah sistem yang berorientasi pada dunia dan akhirat. timur tengah. yaitu: 1. mengembangkan carier path yang terarah. seperti halnya malaysia. masih perlu adanya peningkatan dalam mengahadapi tantangan di tahun 2010. Mendorong perbaikan regulasi perbakan syariah yang lebih komprehensif. Selain itu menciptakan tawaran-tawaran produk dan layanan yang kreatif dan inovatif. permasalahan di atas dapat dicegah dan diatasi dengan adanya BankBank berbasis sistem ekonomi Islam atau dikenal dengan ekonomi syariah yang tidak mengenal sistem bunga atau riba.Bagaimana perbankan syariah di era 2010 Perbankan merupakan lembaga yang berfungsi sebagai intermediasi yang menyimpan dana dari pihak yang kelebihan dana dan menyalurkan dan untuk dipinjam oleh pihak yang kekurangan dana. diharapkan perbankan syariah akan menjadi lebih berkembang dan lebih baik.40 % saat yang lain telah melesat jauh diatas angka 10%. malah sebaliknya semakin membengkak. Konsep Ekonomi Syariah diyakini menjadi ”sistem imun” yang efektif bagi bank Muamalat Indonesia sehingga tidak terpengaruh oleh gejolak krisis ekonomi dan ternyata menarik minat pihak perbankan konvensional untuk mendirikan Bank yang menggunakan sistem syariah. Office Chanelling. tabligh. eropa. Dalam Fiqh muamalah. Sisi negatif tersebut berupa sistem riba yang berbentuk dan dikenal sebagai BUNGA. ciri khas syariah dan peningkatan anggaran sosialisasi akan produk-produk perbankan syariah. maka masyarakat tidak perlu ragu terhadap kinerja perbankan syariah. tata kelola. 3. perkembangan syariah berkembang luas dan menjadi tren tahun 2004. Pada tahun 1999. persaingan sehat antar bank syariah maupun bank konvensional dimana dijadikan sebagai mitra bisnis. Adapun beberapa tantangan dan solusi untuk perbankan syariah . Sistem bunga atau Riba sangat meresahkan nasabah karena sistem ini dinilai terlalu menguntungkan pihak bank. amanah dan fatonah) 4. yaitu perlu adanya peningkatan dalam sumber daya manusia yang lebih kompeten dan profesional. bank juga memiliki sisi negatif. dimana menjadikan perbankan syariah bersifat universal untuk semua umat namun tetap berprinsip syariah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful