SISTEM PEMBAYARAN BANK INDONESIA

Sistem Pembayaran merupakan sistem yang berkaitan dengan pemindahan sejumlah nilai uang dari satu pihak ke pihak lain. Media yang digunakan untuk pemindahan nilai uang tersebut sangat beragam, mulai dari penggunaan alat pembayaran yang sederhana sampai pada penggunaan sistem yang kompleks dan melibatkan berbagai lembaga berikut aturan mainnya. Kewenangan mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran di Indonesia dilaksanakan oleh Bank Indonesia yang dituangkan dalam Undang Undang Bank Indonesia. Dalam menjalankan mandat tersebut, BI mengacu pada empat prinsip kebijakan sistem pembayaran, yakni keamanan, efisiensi, kesetaraan akses dan perlindungan konsumen. Aman berarti segala risiko dalam sistem pembayaran seperti risiko likuiditas, risiko kredit, risiko fraud harus dapat dikelola dan dimitigasi dengan baik oleh setiap penyelenggaraan sistem pembayaran. Prinsip efisiensi menekankan bahwa penyelanggaran sistem pembayaran harus dapat digunakan secara luas sehingga biaya yang ditanggung masyarakat akan lebih murah karena meningkatnya skala ekonomi. Kemudian prinsip kesetaraan akses yang mengandung arti bahwa BI tidak menginginkan adanya praktek monopoli pada penyelenggaraan suatu sistem yang dapat menghambat pemain lain untuk masuk. Terakhir adalah kewajiban seluruh penyelenggara sistem pembayaran untuk memperhatikan aspek-aspek perlindungan konsumen. Sementara itu dalam kaitannya sebagai lembaga yang melakukan pengedaran uang, kelancaran sistem pembayaran diejawantahkan dengan terjaganya jumlah uang tunai yang beredar di masyarakat dan dalam kondisi yang layak edar atau biasa disebut clean money policy. :: Ikhtisar Sistem Pembayaran Instrumen Pembayaran Nontunai yang berlaku di Indonesia (Kartu, Cek, Bilyet Giro, dan Nota Debet)

Instrumen Pembayaran Tunai yang berlaku di Indonesia (Gambar Uang, Data Uang, Fitur Keamanan, Uang yang Dicabut, dan Uang Khusus)

KARAKTERISTIK KARTU YANG DITERBITKAN PERBANKAN : : Karakteristik Kartu Kredit : : Tampak Depan

: : Tampak Belakang

. 2. Masa berlaku kartu kredit. 5. Alamat Bank penerbit kartu kredit. Nama penerbit kartu kredit. 3. 3. 4. 6. Nomor verifikasi yang terdiri atas tiga digit. 2. 5. Nomor kartu yang terdiri atas 16 digit. Nama / Logo penerbit kartu kredit. Logo Jaringan Kartu kredit.1 Magnetic stripe yang masih dapat digunakan jika kartu kredit tersebut digunakan untuk bertransaksi di luar negeri. 4. Tampak Belakang : .DETAIL FITUR KARTU KREDIT DENGAN CHIP Tampak Depan : 1. Nama pemegang kartu. Chip pada kartu kredit yang selalu diletakkan di bagian depan sisi kartu. chip ini telah ditambahkan berbagai aplikasi yang dapat mengenkripsi data sehingga data dapat tersimpan lebih aman. Signature panel adalah tempat pembubuhan tanda tangan pemilik kartu pada kartu kredit yang dimiliki.

Mekanisme yang sama mudahnya dengan teknologi sebelumnya yang dikenal dengan magnetic stripe. 3. Setelah proses verifikasi selesai. itu berarti kartu kredit dan mesin EDC belum menggunakan Chip. Segera minta penggantian kartu Anda kepada penerbit kartu yang tertera pada kartu kredit Anda.MEKANISME PENGGUNAAN KARTU KREDIT DENGAN MENGGUNAKAN CHIP Mekanisme Penggunaan Kartu Kredit dengan menggunakan chip tidak banyak mengalami perubahan dengan mekanisme sebelumnya. 2. hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan kartu kredit chip adalah: 1. jika dalam bertransaksi kartu kredit Anda masih menggunakan mekanisme yang lama yaitu digesek. (***) . kartu mengalami proses enkripsi terlebih dahulu sebelum akhirnya secara online di-link-an dan di verifikasi dengan penerbit kartu kredit yang dipakai. mesin EDC yang telah dilengkapi chip akan mengeluarkan bukti transaksi yang akan ditandatangani oleh pemegang kartu yang melakukan transaksi. transaksi tidak lagi digesek tapi di-dip. Kartu kredit yang Anda serahkan ke kasir akan diproses dengan cara memasukkan kartu ke dalam mesin EDC yang telah dilengkapi chip atau dikenal dengan istilah di-dip. Pada saat di-dip. Ketika bertransaksi. Transaksi selesai. Yang perlu diingat adalah.

BI juga peduli dengan SWIPS karena sifat sistem yang digunakan secara luas oleh masyarakat. Apabila terjadi gangguan maka kepentingan masyarakat untuk melakukan pembayaran akan terganggu pula. Hal itu belum lagi memperhitungkan inefisiensi dalam waktu pembayaran. transaksi pemerintah. baik dalam proses pengiriman dana. Sebagai informasi. ketika Anda menunggu melakukan pembayaran di loket pembayaran yang relatif memakan waktu cukup lama karena antrian yang panjang. Namun patut diketahui bahwa pemakaian uang kartal memiliki kendala dalam hal efisiensi. Perlu diketahui bahwa BI bukan semata peduli akan terciptanya efisiensi dalam sistem pembayaran. transaksi di bursa saham. :: Alat Pembayaran Nontunai Alat pembayaran nontunai sudah berkembang dan semakin lazim dipakai masyarakat. Sementara itu. Melihat pentingnya peran BI-RTGS dalam sistem pembayaran nasional. Dalam perkembangannya. BI-RTGS melakukan transaksi sedikitnya Rp182 triliun per hari. Termasuk dalam hal ini adalah bank. lembaga keuangan selain bank. mulai dikenal satuan tertentu yang memiliki nilai pembayaran yang lebih dikenal dengan uang. Sistem Kliring dan APMK termasuk dalam kategori SWIPS ini. kehandalan teknologi. transaksi valuta asing (valas) serta settlement hasil kliring dilakukan melalui sistem BI-RTGS. Uang kartal masih memainkan peran penting khususnya untuk transaksi bernilai kecil. termasuk kepercayaan terhadap sistem dan alat-alat pembayaran yang diproses dalam sistem. :: Alat Pembayaran Tunai Alat pembayaran tunai lebih banyak memakai uang kartal (uang kertas dan logam). bila melakukan transaksi dalam jumlah besar juga mengundang risiko seperti pencurian. sistem barter antarbarang yang diperjualbelikan adalah kelaziman di era pra moderen. Selanjutnya alat pembayaran terus berkembang dari alat pembayaran tunai (cash based) ke alat pembayaran nontunai (non cash) seperti alat pembayaran berbasis kertas (paper based). Untuk itulah BI sangat peduli menjaga stabilitas BI-RTGS yang dikategorikan sebagai Systemically Important Payment System (SIPS). Selain itu dikenal juga alat pembayaran paperless seperti transfer dana elektronik dan alat pembayaran memakai kartu (card-based) (ATM. Nah. Bila sesaat saja sistem BI-RTGS ini ngadat atau mengalami gangguan jelas akan sangat menganggu kelancaran dan stabilitas sistem keuangan di dalam negeri. sudah barang tentu harus dijaga kontinuitas dan stabilitasnya. perusahaan switching bahkan hingga bank sentral (lihat Perkembangan). lembaga bukan bank penyelenggara transfer dana. apa saja komponen dari SP? Sudah barang tentu harus ada alat pembayaran. Bisa dibayangkan. Sedangkan transaksi nontunai dengan alat pembayaran menggunakan kartu (APMK) nilai transaksinya hanya Rp5. Lantas. itu artinya . Pada tahun 2009. penyelenggara kliring maupun sistem penyelesaian akhir (settlement) sudah tersedia dan dapat berlangsung di Indonesia. yaitu sistem yang digunakan oleh masyarakat luas. ada mekanisme kliring hingga penyelesaian akhir (settlement). SIPS adalah sistem yang memproses transaksi pembayaran bernilai besar dan bersifat mendesak (urgent). dan mekanisme yang dipakai untuk melaksanakan pemindahan dana guna memenuhi suatu kewajiban yang timbul dari suatu kegiatan ekonomi. pemakaian alat pembayaran tunai seperti uang kartal memang cenderung lebih kecil dibanding uang giral. Kartu Debit dan Kartu Prabayar). lembaga. perampokan dan pemalsuan uang. Dalam masyarakat moderen seperti sekarang ini. desain.3 persen.34 triliun per hari yang dilakukan bank atau LSB. Transaksi pembayaran nontunai dengan nilai besar diselenggarakan Bank Indonesia melalui sistem BI-RTGS (Real Time Gross Settlement) dan Sistem Kliring. Pada tahun 2005. Yang dimaksud terciptanya sistem pembayaran. Hal itu bisa terjadi karena biaya pengadaan dan pengelolaan (cash handling) terbilang mahal. tapi juga kesetaraan akses hingga ke urusan perlindungan konsumen. perbandingan uang kartal terhadap jumlah uang beredar sebesar 43.Adalah wajar saja apabila Bank Indonesia sangat peduli menjaga kestabilan SIPS dengan mengelola risiko. Kenyataan ini memperlihatkan kepada kita bahwa jasa pembayaran nontunai yang dilakukan bank maupun lembaga selain bank (LSB). Hingga saat ini uang masih menjadi salah satu alat pembayaran utama yang berlaku di masyarakat. cek dan bilyet giro. sistem BI-RTGS adalah muara seluruh penyelesaian transaksi keuangan di Indonesia. jaringan pendukung dan aturan main dalam SIPS. Selain SIPS dikenal pula System Wide Important Payment System (SWIPS). hampir 95 persen transaksi keuangan nasional bernilai besar dan bersifat mendesak (urgent) seperti transaksi di Pasar Uang AntarBank (PUAB). Kalau kita menengok kebelakang yakni awal mula alat pembayaran itu dikenal. Misalnya. :: Evolusi Alat Pembayaran Alat pembayaran boleh dibilang berkembang sangat pesat dan maju. Kartu Kredit. selain itu juga ada komponen lain seperti lembaga yang terlibat dalam menyelenggarakan sistem pembayaran. Hal itu belum memperhitungkan dampak material dan nonmaterial dari macetnya sistem BI-RTGS tadi. Menyadari ketidak-nyamanan dan inefisien memakai uang kartal. misalnya.SISTEM PEMBAYARAN DI INDONESIA :: Apa Itu Sistem Pembayaran (SP)? Apa itu SP? SP adalah sistem yang mencakup seperangkat aturan. BI berinisiatif dan akan terus mendorong untuk membangun masyarakat yang terbiasa memakai alat pembayaran nontunai atau Less Cash Society (LCS).

memberi kemudahan bagi pengguna untuk memilih metode pembayaran yang dapat diakses ke seluruh wilayah dengan biaya serendah mungkin. antara lain kartu kredit. Alat pembayaran tunai muncul karena memang adanya kebutuhan masyarakat untuk bertransaksi yang tidak dapat dipenuhi uang tunai. Debit. kartu debet. (***) PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN DI INDONESIA Belakangan ini masyarakat perkotaan di Indonesia mulai terbiasa untuk menggunakan alat pembayaran non tunai untuk berbagai keperluan pembayaran. Misalnya alat pembayaran dalam bentuk kertas (paper based) seperti cek. Mengapa ? karena dalam kondisi tertentu pemakaian uang tunai masih terbilang lebih efisien dibandingkan dengan penggunaan instrumen non tunai. wesel. kartu ATM dan uang elektronik (e-money). BI akan memperhatikan penerapan asas kesetaraan dalam penyelenggaraan sistem pembayaran. Pemakaian uang elektronik dalam mekanisme transaksi adalah bagian dari evolusi alat pembayaran dari uang tunai sampai ke bentuk-bentuk nontunai. Namun begitu. Sedangkan aspek perlindungan konsumen dimaksudkan penyelenggara wajib mengadopsi asas-asas perlindungan konsumen secara wajar dalam penyelenggaraan sistemnya. Berikut digambarkan perkembangan terkini dari berbagai jenis sistem pembayaran dan penyelenggaranya. . pemakaian uang tunai juga tidak sepenuhnya bisa tergantikan oleh alat pembayaran non tunai. bilyet giro hingga ke elektronik seperti alat pembayaran dengan menggunakan kartu (APMK) seperti kartu ATM. misalnya untuk membayar bahan bakar di pompa bensin. Sementara yang dimaksud dengan kesetaraan akses. tiket tol. Penggunaan uang elektronik diyakini akan menjadi trend mekanisme pembayaran di masa mendatang. Institusi inilah yang nantinya menyelenggarakan jasa mulai proses pengiriman dana. dan Kredit serta uang elektronik (e-money) hingga ke wujud digital (digital cash). Semua proses aktivitas pembayaran melalui berbagai jenis alat pembayaran ini diproses oleh berbagai penyelenggara sistem pembayaran seperti bank dan nonbank. pembelian barang dan berbagai jasa-jasa lainnya. kliring hingga settlement.

maka akan semakin lancar pula transmisi kebijakan moneter yang bersifat time critical. Kelancaran SPN ini juga perlu didukung oleh infrastruktur yang handal (robust). semakin lancar dan hadal SPN. .TUGAS BANK INDONESIA DALAM SISTEM PEMBAYARAN Menjaga stabilitas nilai tukar rupiah adalah tujuan Bank Indonesia sebagaimana diamanatkan Undang-Undang No. Jadi. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Untuk menjaga stabilitas rupiah itu perlu disokong pengaturan dan pengelolaan akan kelancaran Sistem Pembayaran Nasional (SPN). Bila kebijakan moneter berjalan lancar maka muaranya adalah stabilitas nilai tukar.

alat pembayaran apa yang boleh dipergunakan di Indonesia. Terkait dengan peran BI dalam mengeluarkan dan mengedarkan uang. keperluan pembayaran. kegiatan pengelolaan uang Rupiah yang dilakukan Bank Indonesia adalah pencabutan uang terhadap suatu pecahan dengan tahun emisi tertentu yang tidak lagi berlaku sebagai alat pembayaran yang sah. pencabutan dan penarikan uang sampai dengan pemusnahan uang. baik suatu sistem utuh atau hanya bagian dari sistem saja. sistem kliring atau transfer dana. Misalnya. penukaran dan penggantian uang selama jangka waktu tertentu. Untuk menjamin keamanan jalur distribusi senantiasa dilakukan baik melalui pengawalan yang memadai maupun dengan peningkatan sarana sistem monitoring. BI juga memiliki kewenangan memeberikan persetujuan dan perizinan serta melakukan pengawasan (oversight) atas SPN. tepat waktu. Bank sentral juga memiliki kewenangan menunjuk lembaga yang bisa menyelenggarakan sistem settlement. Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan dan mengedarkan uang Rupiah serta mencabut. bank sentral berhak menetapkan dan memberlakukan kebijakan SPN. Ambil contoh. laut dan udara. Sedangkan kepada masyarakat dilakukan melalui penukaran secara langsung melalui loket-loket penukaran di seluruh kantor Bank Indonesia atau melalui kerjasama dengan perusahaan yang menyediakan jasa penukaran uang kecil. menarik dan memusnahkan uang dari peredaran. Di sisi alat pembayaran tunai. Bank Indonesia melakukan kegiatan pemusnahan uang. nilai intrinsik serta masa edar uang. menarik hingga memusnahkan uang rupiah yang sudah tak berlaku dari peredaran. BI juga berhak menetapkan lembagalembaga yang dapat menyelenggarakan sistem pembayaran. Kegiatan pengedaran uang juga dilakukan melalui pelayanan kas kepada bank umum maupun masyarakat umum. Kegitan distribusi dilakukan melalui sarana angkutan darat. efisiensi serta tata kelola (governance) SPN. Sebelum melakukan pengeluaran uang Rupiah. Sementara itu untuk menjaga menjaga kualitas uang Rupiah dalam kondisi yang layak edar di masyarakat. Menyadari kelancaran SPN yang bersifat penting secara sistem (systemically important). peran sebagai penyelenggara sistem kliring antarbank untuk jenis alat-alat pembayaran tertentu. Lebih lanjut. uang hasil cetak kurang sempurna dan uang yang sudah tidak layak edar. Berbekal kewenangan itu. Kebutuhan uang Rupiah di setiap kantor Bank Indonesia didasarkan pada jumlah persediaan. Berdasarkan perencanaan tersebut kemudian dilakukan pengadaan uang baik untuk pengeluaran uang emisi baru maupun pencetakan rutin terhadap uang emisi lama yang telah dikeluarkan. Uang yang dimusnahkan tersebut adalah uang yang sudah dicabut dan ditarik dari peredaran. Layanan kas kepada bank umum dilakukan melalui penerimaan setoran dan pembayaran uang Rupiah. dan dalam kondisi yang layak edar (clean money policy). Selain itu masih ada tugas BI dalam SPN. Sebagai otoritas moneter. terlebih dahulu dilakukan perencanaan agar uang yang dikeluarkan memiliki kualitas yang baik sehingga kepercayaan masyarakat tetap terjaga. jenis pecahan yang sesuai. Perencanaan yang dilakukan Bank Indonesia meliputi perencanaan pengeluaran emisi baru dengan mempertimbangkan tingkat pemalsuan. BI juga berhak mencabut. pengelolaan pengedaran uang yang dilakukan oleh Bank Indonesia dilakukan mulai dari pengeluaran uang. Selain itu. Uang Rupiah yang dicabut tersebut dapat ditarik dengan cara menukarkan ke Bank Indonesia atau pihak lain yang telah ditunjuk oleh Bank Indonesia. Bank Indonesia senantiasa berupaya untuk dapat memenuhi kebutuhan uang kartal di masyarakat baik dalam nominal yang cukup. Kegiatan pemusnahan uang diatur melalui prosedur dan dilaksanakan oleh jasa pihak ketiga yang dengan pengawasan oleh tim Bank Indonesia (BI). Uang Rupiah yang telah dikeluarkan tadi kemudian didistribusikan atau diedarkan di seluruh wilayah melalui Kantor Bank Indonesia. misalnya. Pada akhirnya BI juga mesti menetapkan kebijakan terkait pengendalian resiko.BI adalah lembaga yang mengatur dan menjaga kelancaran SPN. Selain itu dilakukan pula perencanaan terhadap jumlah serta komposisi pecahan uang yang akan dicetak selama satu tahun kedepan. Untuk mewujudkan clean money policy tersebut. BI pun menetapkan sejumlah kebijakan dari komponen SPN ini. Pencabutan uang dari peredaran dimaksudkan untuk mencegah dan meminimalisasi peredaran uang palsu serta menyederhanakan komposisi dan emisi pecahan. Bank sentral juga adalah satu-satunya lembaga yang berhak mengeluarkan dan mengedarkan alat pembayaran tunai seperti uang rupiah. pengedaran uang. bank sentral memandang perlu menyelenggarakan sistem settlement antar bank melalui infrastruktur BI-Real Time Gross Settlement (BI-RTGS). BI juga menentukan standar alat-alat pembayaran tadi serta pihak-pihak yang dapat menerbitkan dan/atau memproses alat-alat pembayaran tersebut. Berbagai tugas Bank Indonesia di bidang Sistem Pembayaran dilaksanakan dalam satu struktur organisasi sistem pembayaran yang menangani sistem pembayaran dan pengedaran uang sebagai berikut : .

dan rusak) dengan uang yang masih layak edar dalam pecahan yang sama atau pecahan lain serta penukaran uang yang telah dicabut dan ditarik dari peredaran yang masih berlaku masa penukarannya. kas titipan dan kerjasama penukaran dengan pihak ketiga. Saat ini telah terdapat layanan kas titipan di 10 Kantor Bank Indonesia yaitu: . Pelayanan penukaran uang Rupiah dilakukan di seluruh satuan kerja kas Bank Indonesia yaitu di Kantor Pusat dan 37 Kantor Bank Indonesia.PELAYANAN KAS YANG DISELENGGARAKAN OLEH BANK INDONESIA Sesuai dengan Undang-undang No. Sementara itu. Waktu pelayanan penukaran uang oleh Bank Indonesia pada umumnya ditentukan jadwalnya pada hari-hari tertentu yang dimulai dari pukul 09. serta pelayanan penukaran uang kepada masyarakat dan perbankan.30 waktu setempat. sedangkan untuk memenuhi kebutuhan uang tunai terutama di daerah terpencil dilayani oleh kegiatan kas titipan. Selain itu BI memberikan pelayanan kas di luar kantor berupa kas keliling.00 sampai pukul 11. Pada periode menjelang hari raya keagamaan. BI menyelenggarakan pelayanan perkasan di setiap satuan kerja kas berupa penerimaan setoran dan bayaran bank-bank umum dan bendaharawan proyek pemerintah yang memiliki rekening di BI. cacat. Bank Indonesia melakukan pelayanan penukaran setiap hari kerja.3 Tahun 2004. 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. Layanan penukaran uang meliputi penukaran uang layak edar atau uang tidak layak edar (lusuh. pelayanan kas keliling dilakukan oleh hampir seluruh Kantor Bank Indonesia.

Transaksi dapat masuk dalam sistem antrian apabila pada saat dikirimkan. Penyelesaian transaksi BI RTGS dilakukan per transaksi secara seketika dan tidak dapat dibatalkan. Sejak dioperasikan oleh Bank Indonesia pada tanggal 17 November 2000.100 juta keatas dan bersifat segera (urgent).SISTEM SETELMEN Dalam rangka mitigasi risiko dalam pembayaran nasional. BI-RTGS juga dilengkapi dengan mekanisme Gridlock Resolution. Sistem BI-RTGS memberikan banyak manfaat. real time. Mekanisme ini bertujuan untuk mencegah kemacetan (gridlock) yaitu kondisi dimana sejumlah peserta tidak mampu menyelesaikan kewajibannya karena masih . khususnya untuk memproses transaksi pembayaran yang termasuk High Value Payment System (HVPS) atau transaksi bernilai besar yaitu transaksi Rp. BI RTGS juga menjadi sarana transfer dana antar-bank yang praktis. BI-SSSS merupakan sarana transaksi dengan Bank Indonesia termasuk penatausahaannya dan penatausahaan surat berharga secara elektronik. Bank Indonesia Scripless Securities Settlement System (BI-SSSS) dan Sistem Kliring Nasional (SKN). BI-SSSS terhubung langsung dengan BI-RTGS secara seamless. Disamping itu BI-RTGS yang dilengkapi dengan mekanisme sentralisasi rekening giro menjadi sarana yang dapat diandalkan untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan dana (management fund) baik bagi peserta maupun pihak otoritas moneter dan perbankan. aman dan handal. Bank Indonesia telah mengembangkan sistem setelmen (sistem penyelesaian transaksi) yaitu Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS). Kondisi ini terjadi antara lain karena peserta masih menunggu transaksi masuk dari peserta lain. Bilyet Giro. nota debet lainnya dan transfer kredit antar bank. Penerapan antrian ini mengharuskan peserta untuk mengelola likuiditasnya secara bijaksana. BI-RTGS berperan penting dalam pemrosesan aktivitas transaksi pembayaran. Penyelesaian real time terbatas pada proses pengiriman transaksi dari peserta pengirim kepada Bank Indonesia untuk diteruskan kepada peserta penerima. final dan irrevocable. Sementara SKN merupakan sistem kliring antarbank untuk alat pembayaran cek. Sementara itu waktu penyelesaian akhir transaksi transfer nasabah pada rekeningnya tergantung dengan kondisi dan standar sistem pemrosesan pengiriman dan penerimaan transaksi di internal peserta. Transaksi yang telah masuk dalam antrian dapat diselesaikan segera setelah peserta menerima transaksi masuk atau menyetorkan tambahan dana. cepat. agar seluruh transaksinya dapat terselesaikan dengan baik di akhir hari. sehingga dapat saja terjadi perbedaan waktu antara penyelesaian akhir pada BI-RTGS dengan penerimaan transfer dana pada rekening nasabah. BI-RTGS merupakan sistem transfer dana elektronik antar Peserta dalam mata uang rupiah yang penyelesaiannya dilakukan secara seketika per transaksi secara individual. BI-RTGS didisain untuk memastikan penyelesaian akhir dapat dilakukan secara gross settlement. Transaksi HPVS saat ini mencapai 90% dari seluruh transaksi pembayaran di Indonesia sehingga dapat dikategorikan sebagai sistem pembayaran nasional yang memiliki peranan signifikan (Systemically Important Payment System). selain berfungsi meningkatkan kepastian penyelesaian akhir (settlement finality) setiap transaksi pembayaran. Dalam kegiatan setelmen. Sistem Antrian (Queue) transaksi diterapkan dalam BI-RTGS. peserta belum memiliki dana yang cukup. efisien. Transaksi pada BI-RTGS hanya dapat diproses penyelesaian akhirnya apabila peserta memiliki dana yang cukup (prinsip no money no game). Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) BI-RTGS adalah sistem transfer dana elektronik yang penyelesaian setiap transaksinya dilakukan dalam waktu seketika. yang berarti mengurangi risiko penyelesaian akhir (minimizing settlement risk) . Bagi otoritas informasi mengenai pengelolaan dana perbankan menjadi informasi pendukung dalam menjalankan kegiatan operasi moneter dan early warning system pengawasan bank.

Salah satu bentuk kegiatan pengawasan yang dilakukan adalah mewajibkan penyelenggara dan peserta memiliki standar pengamanan yang memadai. yang hanya dapat digunakan dalam hari satu hari. BI menetapkan landasan hukum yang kuat untuk penerapan Sistem BI-RTGS dan menentukan peran dan tanggung jawab penyelenggara dan peserta Sistem BI-RTGS. Untuk menilai keamanan penyelenggaraan BI-RTGS. Selain transaksi pembayaran ritel. sehingga diperlukan likuiditas yang tinggi.3/2004 jo No. BI-RTGS menjadi sarana penyelesaian akhir bagi transaksi pembayaran ritel. Dalam menjalankan peran sebagai regulator. Sebagai settlement processor. penyelenggara juga menyediakan fasilitas guest bank kepada peserta sebagai sarana back up pada lokasi penyelenggara dalam rangka gangguan dan atau keadaan darurat untuk mencegah kegagalan peserta dalam menggunakan sarana RTGS terminal untuk proses setelmen melalui sistem BI-RTGS. cepat. Bank Indonesia sebagai Otoritas Sesuai UU Bank Indonesia No. Dalam rangka menjalankan tugas yang diembannya. termasuk menerima laporan internal audit terkait penyelenggaraan BI-RTGS oleh peserta. BI-RTGS juga menjadi sarana pelimpahan penyelesaian akhir transaksi serah dana dari perdagangan sekuritas. disamping pemenuhan kewajiban untuk melaporkan hasil pemeriksaan internal terhadap operasional RTGS di sisi peserta. Gridlock Resolution dijalankan secara otomatis pada BI-RTGS pada setiap waktu tertentu. BI memastikan bahwa penyelenggaraan BI-RTGS memenuhi prinsip pada 10 Core principles for Systematically Important Payment System (CP-SIPS) dari Bank for International Settlement seperti yang diatur dalam peraturan Sistem BI-RTGS untuk mendukung stabilitas sistem keuangan dengan memperhatikan prinsip perlindungan konsumen.Throughput Guidellines merupakan suatu target prosentase tertentu dari total transaksi yang dilakukannya selama 1 hari. . dan menetapkan penggunaan alat pembayaran (pasal 15). Untuk memperlancar proses penyelesaian akhir transaksi pada BI-RTGS. Dalam menjalankan peran sebagai pengawas (Overseer). Fungsi Bank Indonesia sebagai otoritas Sistem Pembayaran termasuk berperan sebagai pembuat ketentuan (Regulator) dan pengawas (Overseer) BI-RTGS. dan Business Continuity Plan (BCP). FLI/FLIS dapat dimanfaatkan oleh peserta untuk mengatasi kesulitan likuiditas peserta yang bersifat sementara atau mengalami intraday gap. Intraday gap mungkin saja terjadi karena pemrosesan transaksi BI-RTGS yang bersifat gross settlement menyebabkan penyelesaian per transaksi dilakukan secara terus-menerus sepanjang hari. Pemanfaatan FLI/FLIS oleh peserta tetap mensyaratkan jaminan yang berkualitas. meliputi pembukuan hasil kliring yang diselenggarakan oleh BI (SKNBI) dan hasil kliring ATM/kartu debit/kartu kredit. fasilitas back up. Pemenuhan persyaratan sebagai peserta dan kepatuhan peserta terhadap ketentuan yang ditetapkan oleh Penyelenggara RTGS juga menjadi satu perhatian dalam kegiatan pengawasan. 3. pertemuan konsultasi dengan penyelenggara. BI-RTGS juga merupakan Settlement Processor. Fasilitas Likuiditas Intrahari (FLI) dan Fasilitas Likuiditas Intrahari Syariah (FLIS) adalah fasilitas cadangan pendanaan likuiditas yang disediakan oleh penyelenggara. transaksi perdagangan valas antar-bank. Selain itu Bank Indonesia juga mewajibkan penyelenggara dan seluruh peserta untuk melakukan ujicoba terhadap back up dan rencana penanggulangan kondisi darurat secara periodik. monitoring dan assessment. Bank Indonesia sebagai Penyelenggara (Operator) Sistem BI-RTGS Dalam menjalankan peran sebagai Penyelenggara (Operator) memiliki tanggung jawab antara lain: 1. memastikan kepatuhan peserta terhadap ketentuan yang telah ditetapkan. menyelenggarakan BI-RTGS dengan menerapkan prinsip efisien. Sistem BI-RTGS memiliki prosedur penanganan dalam kondisi gangguan dan/atau keadaan darurat. tujuannya adalah untuk mendapatkan keyakinan bahwa Sistem BI-RTGS yang diselenggarakan telah aman dan handal. memberikan penjelasan kepada Peserta mengenai risiko finansial sehubungan keikutsertaannya dalam Sistem BI-RTGS dan peserta harus mengelola risiko tersebut. baik penyelenggara maupun peserta. aman dan handal. mewajibkan Penyelenggara sistem pembayaran untuk menyampaikan laporan kepada BI. biasanya dalam bentuk SBI atau SWBI dan wajib diselesaikan pada hari yang sama. antara lain prosedur penanganan keadaan darurat (Contingency Plan). Kepatuhan peserta terhadap Throughput Guidellines akan mengurangi kemungkinan penumpukan transaksi di akhir hari. 23/1999 jo No. Bank Indonesia dapat meminta auditor/pemeriksa Teknologi Informasi Independen untuk melakukan kegiatan security audit. BI berwenang dalam melaksanakan dan memberi ijin penyelenggaraan jasa sistem pembayaran. 2. Selain itu. transaksi pembayaran pemerintah dan transaksi surat berharga. setelmen dana dari operasi moneter/operasi pasar terbuka (OPT). penyelenggara menghimbau peserta agar mematuhi Throughput Guidellines.6/2009 pasal 8 dinyatakan bahwa salah satu tugas BI mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. Fungsi pengawasan dilakukan melalui pembuatan ketentuan. Kegiatan audit ini dilakukan terhadap aplikasi maupun network/jaringan yang digunakan dalam sistem BI-RTGS.menunggu tagihannya diselesaikan. Dalam rangka memastikan Sistem BI-RTGS diselenggarakan dengan tingkat keamanan yang tinggi dan ketersediaan sepanjang jam operasional yang ditetapkan.

Selain biaya tersebut. Bank Indonesia Scripless Securities Settlement System (BI-SSSS) . Biaya dalam Penggunaan Sistem BI . memiliki prosedur penanganan kondisi gangguan/darurat (Disaster Recovery Plan-DRP dan Business Continuity Plan-BCP) dan melakukan uji coba secara berkala dengan melibatkan peserta. 3. Peserta BI-RTGS Peserta BI-RTGS terdiri dari seluruh bank dan lembaga selain bank. antara lain perangkat keras. Bank Indonesia mewajibkan setiap bank mengumumkan tarif biaya Sistem BI-RTGS. dan fasilitas pendukung lainnya. pemeliharaan aplikasi. Dalam pengisian instruksi transfer. 2. maupun biaya yang dikenakan peserta kepada nasabahnya di setiap kantor peserta pada tempat yang mudah terlihat oleh nasabah. Bank Indonesia dapat pula mengenakan biaya atas pengiriman administrative message. mengadakan pertemuan rutin dengan kelompok pengguna (user group). Infrastruktur dan fasilitas untuk penyelenggaraan Sistem BI-RTGS. biaya personil dan biaya lainnya. identitas mengenai data nasabah pengirim dan penerima transfer melalui BI-RTGS harus diisi secara lengkap dan benar. 5. Disamping ketentuan dan perjanjian antar peserta dan penyelenggara yang menjadi landasan penyelenggaraan keseharian BI-RTGS. aplikasi RCC (software). baik yang dibebankan oleh Bank Indonesia kepada peserta. kewajiban dan tanggung jawab antara peserta dan penyelenggara Sistem BI-RTGS. penyelenggara menyediakan infrastruktur dan pelayanan kepada peserta antara lain meliputi: 1. Untuk itu. Dalam perjanjian tersebut diatur berbagai klausula mengenai hak. Biaya pengiriman transaksi dibedakan berdasarkan periode pagi hari dan sore. Kebijakan pembedaan ini bertujuan untuk mendorong peserta agar mengirimkan transaksi lebih awal sehingga distribusi pengiriman transaksi dapat terjaga dengan baik sepanjang jam operasional RTGS. 4. Keanggotaan peserta BI-RTGS dibedakan menjadi Peserta Langsung dan Peserta Tidak Langsung. help-desk untuk membantu peserta dalam menghadapi kesulitan operasional. Peserta Langsung adalah peserta yang dapat mengirimkan transaksi RTGS dengan menggunakan identitas sendiri.Dalam penyelenggaraan Sistem BI-RTGS. memberi pelatihan kepada peserta. Namun demikian peserta tetap diharapkan mengenakan biaya secara wajar kepada nasabahnya. Biaya Transaksi Multiple Credit adalah biaya yang dikenakan untuk pengiriman transaksi yang bersifat bundel untuk dua transaksi atau lebih sampai dengan sepuluh transaksi.RTGS Bank Indonesia menetapkan biaya transaksi Sistem BI-RTGS yang seragam kepada seluruh peserta Sistem BI-RTGS sebagaimana tabel di bawah ini: Biaya Transaki Single Credit adalah biaya yang dikenakan untuk pengiriman satu kali transaksi. penggunaan Guest Bank dan biaya lainnya. Hubungan hukum antara peserta dengan Bank Indonesia sebagai Penyelenggara Sistem BI-RTGS tertuang dalam perjanjian penggunaan Sistem BI-RTGS. Sedangkan Peserta Tidak Langsung dapat mengirimkan transaksi RTGS dengan menggunakan identitas peserta langsung. terdapat pula hal-hal teknis yang diatur dengan menggunakan Bye Laws BI-RTGS. Ketentuan dalam Bye Laws merupakan kesepakatan teknis antar peserta yang belum diatur dalam ketentuan BI ataupun dalam perjanjian. antara lain biaya investasi. jaringan komunikasi data (leased line). peserta wajib memenuhi ketentuan mengenai prinsip pengenalan nasabah (know your customer princeples) dan aturan mengenai tindak pidana pencucian uang (anti money laundering). fasilitas dial up. Pengenaan biaya RTGS oleh peserta kepada nasabah dapat berbeda-beda sesuai kebijakan masing-masing peserta BIRTGS untuk memproses transaksi nasabah melalui BI-RTGS.

Perusahaan Pialang Pasar Uang dan Perusahaan Efek.BI-SSSS merupakan sarana transaksi dengan Bank Indonesia termasuk penatausahaannya dan penatausahaan Surat Berharga secara elektronik dan terhubung langsung antara Peserta. bank.Real Time Gross Settlement (Sistem BI-RTGS). (i) peserta penerbit yaitu Bank Indonesia dan Departemen Keuangan. bank dan Sub-Registry. Kegiatan transaksi dan penatausahaan dilakukan dalam satu sistem yang terintegrasi dan terhubung langsung (on-line) antara Bank Indonesia dengan para pelaku pasar. dan (iii) pelaksanaan transaksi Surat Berharga Negara (SBN) untuk dan atas nama Pemerintah. serta Lembaga lain yang disetujui oleh Bank Indonesia seperti Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Setelmen Surat Berharga melalui BI-SSSS dilakukan secara seamless dengan sistem setelmen dana Peserta melalui Sistem Sistem BI-RTGS yang memungkinkan Peserta BI-SSSS memanfaatkan fasilitas setelmen secara Delivery Versus Payment (DVP) yang dapat dilakukan secara cepat dan seketika sehingga risiko setelmen Surat Berharga dapat diminimalkan. sistem setelmen surat berharga dan sistem penatausahaan surat berharga. Kegiatan transaksi Bank Indonesia. (ii) peserta transaksi yaitu Bank Indonesia. BI-SSSS menggabungkan sistem transaksi Bank Indonesia dengan sistem penatausahaan Surat Berharga. dan (iii) pembayaran kupon/pelunasan Surat Berharga. dan (iii) peserta transaksi dan sekaligus sebagai pemilik rekening surat berharga yaitu Bank Indonesia. . Pengembangan BI-SSSS mengacu pada standar internasional yaitu Recommendations for securities settlement systems dari Committee of Payment and Settlement System (CPSS) dan The International Organization of Securities Commissions (IOSCO ). peserta BI-SSSS terdiri dari. (ii) pemberian fasilitas pendanaan Bank Indonesia kepada Bank. BI-SSSS mencakup juga sistem informasi antar peserta dan penyelenggara BI-SSSS. Selain itu. Penyelenggara dan Sistem Bank Indonesia . Sesuai dengan fungsinya. (ii) registrasi kepemilikan. BI-SSSS selalu melakukan penyesuaian dan pengembangan terhadap aplikasi-aplikasinya untuk mengakomodasi kebutuhan perkembangan pasar keuangan domestik. Sementara kegiatan penatausahaan Surat Berharga mencakup kegiatan (i) setelmen. mencakup (i) pelaksanaan Operasi Pasar Terbuka (OPT).

nilai tukar. • ITF bersifat forward looking sesuai dengan dampak kebijakan pada inflasi yang memerlukan time lag. Mengapa kebijakan moneter memerlukan jangkar nominal? Karena tanpa adanya jangkar nominal. Jika sasaran inflasi tidak tercapai maka diperlukan penjelasan kepada publik dan langkah-langkah yang akan diambil untuk mengembalikan inflasi sesuai dengan sasarannya. atau uang beredar) yang ditargetkan secara eksplisit oleh bank sentral sebagai dasar/patokan bagi pembentukan harga lainnya. Proyeksi ini dilakukan dengan sejumlah model dan sejumlah informasi yang dapat menggambarkan kondisi inflasi ke depan. Bank Indonesia mengumumkan sasaran inflasi ke depan pada periode tertentu. • ITF meningkatkan trasparansi dan akuntabilitas kebijakan moneter mendorong kredibilitas kebijakan moneter. Bank Indonesia memerlukan jangkar nominal (nominal anchor) baru dalam rangka menjalankan kebijakan moneter. Secara reguler. Ibarat kapal yang mengapung di lautan tanpa kejelasan kearah mana kapal dilabuhkan. Jika proyeksi inflasi sudah tidak kompatibel dengan sasaran. Sebaliknya. Aspek transparansi dan akuntabilitas serta kejelasan akan tujuan ini merupakan aspek-aspek good governance dari sebuah bank yang telah diberikan independensi. Jangkar nominal adalah variabel nominal (seperti indeks harga. • ITF tidak memerlukan asumsi kestabilan hubungan antara uang beredar. Misalnya jika proyeksi inflasi telah melampaui sasaran. • ITF lebih mudah dipahami oleh masyarakat. Ada sejumlah alasan mengapa menggunakan jangkar nominal dengan ITF. Sebaliknya. Bank Indonesia menjelaskan kepada publik mengenai asesmen terhadap kondisi inflasi dan outlook ke depan serta keputusan yang diambil. Bank Indonesia melakukan respon dengan menggunakan instrumen yang dimiliki. dengan adanya jangkar nominal masyarakat akan membuat ekspektasi inflasi yang diperlukan dalam kalkulasi usahanya sesuai dengan jangkar nominal tersebut. maka inflasi luar negeri akan menjadi inflasi domestik. Dengan sasaran inflasi secara eksplisit masyarakat akan memahami arah inflasi. Setiap periode Bank Indonesia mengevaluasi apakah proyeksi inflasi ke depan masih sesuai dengan sasaran yang ditetapkan. maka Bank Indonesia akan cenderung melakukan pengetatan moneter. . tidak ada kejelasan kemana kebijakan moneter akan diarahkan sehingga masyarakat tidak memiliki pedoman dalam membuat ekspektasi inflasi. Misalnya kalau nilai tukar dijadikan target. Bagaimana Dalam kerangka ITF. apalagi jika hubungannya dengan inflasi tidak jelas.Mengapa Dengan telah dilepaskannya sistem nilai tukar dengan band intervensi nilai tukar (crawling band) di tahun 1997. • ITF yang memfokuskan pada inflasi sebagai prioritas kebijakan moneter sesuai dengan mandat yang diberikan kepada Bank Indonesia. output dan inflasi. Dengan mengumumkan sasaran inflasi dan Bank Indonesia secara konsisten dapat mencapainya akan meningkatkan kredibilitas kebijaan moneter yang pada gilirannya ekspektasi inflasi masyarakat sesuai dengan sasaran yang ditetapkan BI. ITF merupakan pendekatan yang lebih komprehensif dengan mempertimbangkan sejumlah variabel informasi tentang kondisi perekonomian. Sebaliknya dengan sasaran base money. masyarakat lebih sulit mengetahui arah inflasi kedepan.

Sistem bunga atau Riba sangat meresahkan nasabah karena sistem ini dinilai terlalu menguntungkan pihak bank. perkembangan syariah berkembang luas dan menjadi tren tahun 2004. yaitu system perbankan syariah. dan amerika. sehingga bukannya hutang negara cepat terlunas. Tantangan Perbankan Syariah di Tahun 2010 Banyaknya kekurangan dan masalah yang dihadapi hingga tahun 2009. sinkronisasi masalah perpajakan. Paradigma bisnis perbankan syariah. Sehingga. yaitu: 1. Perkembangan Perbankan syariah masa lalu Dampak yang telah dirasakan oleh Indonesia dari sistem Riba ini yaitu kondisi krisis ekonomi pada tahun 1997. Hal ini terlihat dari pangsa pasar perbankan syariah nasional masih saja beringsut-ingsut di angka 2. yaitu dengan cara optimalisasi fungsi office chanelling melalui pelayanan pembiayaan yang dapat dilaksanakan oleh staf pembiayaan dari UUS atau staf dari bank umum induk yang telah mendapatkan pendidikan syariah. Perkembangan Perbankan Syariah tahun 2009 Perkembangan syariah Indonesia di tahun 2009 bisa dibilang ‘kita tidak kemana-kemana’ yang berarti tidak adanya kemajuan dari tahun sebelumnya. bukan emosional. pangsa pasar perbankan syariah semakin meluas serta mampu untuk menuju persaingan perbankan internasional. dimana hutang negara meningkat dari beban bunga yang semakin meningkat dari waktu ke waktu.Kita harus yakin bahwa pintu ke arah itu masih terbuka lebar asalkan semua pihak yang terlibat dalam perbankan syariah benar-benar serius memperbaiki keadaan yang terjadi saat ini serta selalu Istiqomah di Allah yang menuntun kebahagian dunia dan akhirat.. persaingan sehat antar bank syariah maupun bank konvensional dimana dijadikan sebagai mitra bisnis. dan kesetaraan). yaitu perlu adanya peningkatan dalam sumber daya manusia yang lebih kompeten dan profesional. dengan meningkatkan orientasi syariah. dimana menjadikan perbankan syariah bersifat universal untuk semua umat namun tetap berprinsip syariah. keadilan.40 % saat yang lain telah melesat jauh diatas angka 10%. Memaksimalkan sosialisasi perbankan syariah di masyarakat. disiplin pasar serta GCG (sidiq. Tetapi perkembangan perbankan syariah sudah sangat berubah. Dari sistem riba inilah yang merugikan peminjam dana. maka banyak pula tantangan yang harus dihadapi untuk menjadikan perrbankan syariah menjadi lebih baik di tahun 2010. Selain itu menciptakan tawaran-tawaran produk dan layanan yang kreatif dan inovatif. mengembangkan carier path yang terarah. amanah dan fatonah) 4. tatapi isu yang bersifat profesionalosme dan pelayanan. yaitu meningkatkan pengetahuan syariah bagi karyawan sehingga peluang terjadinya pelanggaran syariah berkurang. Mendorong perbaikan regulasi perbakan syariah yang lebih komprehensif. Dari perkembangan perbankan syariah yang telah dihadapi. Sebuah sistem yang berorientasi pada dunia dan akhirat. Adapun beberapa tantangan dan solusi untuk perbankan syariah . mendorong aturan pembiayaan berbagi hasil. dan menciptakan sistem perbankan yang rasional. Bank Muamalat Indonesia. terutama bank menjalankan perannya sebagai kreditur. menerapkan Islamic Banking Culture dan prinsip syariah (transparan. Office Chanelling. eropa. pelayanan dan profesionalisme. tabligh. Eksistensi perbankan syariah di Indonesia diawali oleh terbentuknya PT. Hanya saja disamping manfaat yang telah masyrakat rasakan. maka masyarakat tidak perlu ragu terhadap kinerja perbankan syariah. Berdasarkan dari data Bank Indonesia tentang Pangsa Perbankan Syariah Terhadap Total bank bahwa kebijakan Akselerasi Pengembangan Perbankan Syariah sebaga upaya pensapain target market share perbankan syariah 5% dari perbankan nasional tahun 2008 dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan kepatuhan terhadap prinsip syariah. 6. malah sebaliknya semakin membengkak. dimana bunga kredit yang dikenakan akan memberatkan nasabah untuk membayar hutang. Islam sebagai agama yang sempurna memberikan solusi atas permasalahan-permasalahan yang timbul akibat penggunaan instrument bunga dalam perbankan. Sumber daya insani. Seiring dengan berjalannya waktu bank telah menjadi sebuah kebutuhan hidup bagi manusia. Potensi pasar perbankan syariah perlu lebih dikembangkan. Sisi negatif tersebut berupa sistem riba yang berbentuk dan dikenal sebagai BUNGA. Syariah Compliance. Tbk pada tahun 1991 yang diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia. . seperti halnya malaysia. dimana isu yang diangakat tidak lagi hanya Riba. 7. Dengan mempersiapkan langkah-langkah dan solusi untuk menghadapi tantangan yang akan terjadi. diharapkan perbankan syariah akan menjadi lebih berkembang dan lebih baik. bank juga memiliki sisi negatif. tata kelola. namun tetap patuh pada aspek syariah. tidak lagi mengangkat isu riba.Bagaimana perbankan syariah di era 2010 Perbankan merupakan lembaga yang berfungsi sebagai intermediasi yang menyimpan dana dari pihak yang kelebihan dana dan menyalurkan dan untuk dipinjam oleh pihak yang kekurangan dana. afrika utara. dan mendorong sinergi perbankan syariah melalui linked program 2. Dengan masyarakat sudah memiliki pengetahuan serta pemahaman yang baik mengenai perbankan syariah dan ekonomi Indonesia. masih perlu adanya peningkatan dalam mengahadapi tantangan di tahun 2010. Dalam Fiqh muamalah. permasalahan di atas dapat dicegah dan diatasi dengan adanya BankBank berbasis sistem ekonomi Islam atau dikenal dengan ekonomi syariah yang tidak mengenal sistem bunga atau riba. 5. timur tengah. Konsep Ekonomi Syariah diyakini menjadi ”sistem imun” yang efektif bagi bank Muamalat Indonesia sehingga tidak terpengaruh oleh gejolak krisis ekonomi dan ternyata menarik minat pihak perbankan konvensional untuk mendirikan Bank yang menggunakan sistem syariah. market share bank syariah akan lebih meningkat. ciri khas syariah dan peningkatan anggaran sosialisasi akan produk-produk perbankan syariah. Pada tahun 1999. 3.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.