P. 1
ENDAPAN SUNGAI

ENDAPAN SUNGAI

|Views: 2,854|Likes:
Published by Rifai Geologiest

More info:

Published by: Rifai Geologiest on Nov 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/07/2014

pdf

text

original

ENDAPAN SUNGAI

PENDAHULUAN

Berdasarkan morfologinya sistem sungai dikelompokan menjadi 4 tipe sungai,
straight river, braided river, anastomasing river, dan meandering river. (gambar-1).
Straight River adalah sungai yang lurus, sungai yang belum berkelok-kelok.
Bentuk lurus ini disebabkan energi aliran sungai kuat atau deras yang berdampak pada
kurangnya sedimentasi. Untuk tipe straight river ini biasanya terjadi pada daerah
pegunungan dengan kemiringan lereng yang terjal.
Anastomasing River terjadi karena adanya dua aliran sungai yang bercabang-
cabang, dimana cabang yang satu dengan cabang yang lain bertemu pada titik tertentu
dan kemudian bersatu pada titik tertentu membentuk satu aliran pada sungai tersebut.
Energi alir sungai tipe ini adalah rendah (Gambar ).
Meandering River adalah sungai yang berkelok-kelok. Hal ini mengindikasikan
tipe sungai tua yang energi alirannya sedemikian lemah. Meander ini terjadi karena
adanya pnegikisan tepi sungai oleh aliran air utama yang pada daerah kelokan sungai
pinggir luar dan pengendapan pada kelokan tepi dalam (Gambar ). Kalau proses ini
berlangsung lama akan mengakibatkan aliran sungai semakin berkelok-kelok. Pada
kondisi tertentu adakan kelokan-kelokan yang terputus, sehingga terjadinya danau atau
tapal kuda atau oxbow lake (Gambar ).
Braided River, tipe sungai ini terjadi pada daerah datar dengan energi arus alir
yang lemah dengan batuan sekitarnya lunak, pengendapan besar debit air besar. Daerah
yang rata menyebabkan aliran dengan mudah belok karena adanya longsoran atau kayu
yang merintangi aliran sungai utama.

Gambar - 1. Sketsa Empat Tipe dari Sungai - sungai (5-P307)

Study pada laboratorium alam memperlihatkan bahwa lekukan banyak didominasi
oleh tipe sungai meander, sedangkan untuk tipe sungai straight dan braided cenderung
untuk tidak berkelok. Sedangkan untuk kemiringan lereng yang tinggi lebih didominasi
oleh tipe sungai straight. Untuk tipe sungai meander, kemiringan terjadi dengan energi
erosi kesamping kanan kiri sungai yang dominan. Pada sungai braided slope/kemiringan
ini relatif datar (gambar-1), dengan energi sungai yang lemah menyebabkan terjadinya
banyak pengendapan sungai berupa batuan pasir umumnya sortasi atau pemilihannya
bagus. Pasir diendapkan pada active braided channles dan juga lumpur terendapkan pada
abandoned sungai dengan debit aliran air sungai yang relatif sedikit. Biasanya tipe sungai
Braided ini diapit oleh bukit di kanan kirinya. Pengendapan pada sungai Braided selain

bersal dari material sungai itu juga terjadi adanya erosi pada bukit-bukit yang mengapit
dan limbah erosi ini terbawa masuk kedalam sungai Braide. Pengendapan pada sungai
tipe braided ini baiasanya bagus sekali untuk reservoar dengan permeabilitas tinggi dan
jenis pasir yang bersih (gambar-3).

Gambar - 2. Grafik hubungan antara kemiringan dan lekuk sungai (1-P143)

Gambar - 3. Phusiography dan Facies pengendapan sungai Braided. (6)

SYSTEM SUNGAI BRAIDED

Transport dan pengendapan sedimen dari daerah sumber ke daerah
pengendapannya tidaklah dikuasai oleh jenis-jenis mekanisme transport tertentu,
misalnya aurs traksi saja, suspensi saja dan sebagainya, tetapi selalu merupakan suatu
sistem dari berbagai mekanisme, malahan bukan saja bersifat mekanis tetapi juga
kimiawi.

Umumnya tipe sungai braided didominasi oleh pulau-pulau kecil (gosong-gosong)
di atanya dengan berbagai ukuran yang dominasi batuan pasir dan krikil. Pola aliran
sungan braided terkonsentrasi pada zona aliran utama. Jika sedang banjir sungai ini
banyak material yang terbawa menjadi terhambat pada tengah sungai baik berupa batang
pepohonan ataupun ranting-ranting pepohonan. Akibat sering terjadinya banjir maka di
sepanjang bantaran sungai terdapat lumpur (floodplain) yang mendominasi hampir
disempanjang bantaran sungai (gambar-4).
Struktur sedimen yang umum terjadi adalah cross-bedding, ripplers dan ripple
cross-lamination. Pada struktur skala besar perkembangan awal dari bar memperlihatkan
rendahnya pola pembentukan. Pada saat air surut pada sungai braided terjadi cross
bedding dengan perkembangan pada ripples dan laminasi hal ini terjadi pula pada
permukaan bar. (gambar- ).

Pola pengendapan batuan pada braided stream pada skala kecil tidak terlihat pada
beberapa pembacaan well, karena saluran dan bar dapat berubah-ubah, pengendapan akan
terlihat dengan secara acak dalam ukuran yang besar dan distribusi lateral isi dari
fragmen bar dan salluran tersebut.

Gambar - 4. Pandangan sungai Braided dikala air susut, manpang batuan kerikitl
dan pasir pada bagian atas sungai (2-P22)

Gamar - 5. Data arah aliran dari dua area sungai braided berbatuan (2-P24)

Jika sungai sedang tidak dalam keadaan banjir maka yang terednapkan adalah
butiran-butiran halus dengan laminasi dibagian atas dari batuan kerikil. Sedangkan
lempung banyak terbentuk pada bagian tanggul dari sungai. Diagram alir dari sungai
braided seperti terlihat dalam gambar- , yang memperlihatkan jika semakin rendah
energi arus alir maka terbentuklah ripple-ripple halus dari batuan pasir yang melaminasi
pada bagian atas.

Gambar - 6. Hubungan antara arus alir pada pembentukan endapan sungai

SYSTEM PENGENDAPAN SUNGAI BRAIDED

Ada dua arti dalam penggunaan kata “Braided” dan “Anastomasing” untuk
applikasi pola sungai. Untuk beberapa penulis mengatakan tentang sysnonim kata
tersebut, tapi schumm (1971a) mengatakan Sungai Braided adalah sungai dengan alir
menyebar (diverges) dan aliran sungai kembali menyatu dalam lebar sungai tersebut.
Sedangkan untuk sungai Anastomasing adalah beberapa sungai yang terbagi menjadi
beberapa cabang sungai kecil bertemu kembali pada induk sungai pada jarak tertentu. (2-
P20)

Periode terbentuknya sungai Braided dan Meandering secara bertahap atau
gradual dari proses pengendapan sekitar 102

- 103

tahun (1-P146). Tipe sungai Braided
dapat dibedakan dari sungai Meander dengan sedikit lengkungan sungai, dan terdapatnya
pulau-pulau kecil. Batu krikil pada sungai Braided terjadi pada area yang kering dan luas.
Batu pasir lebih banyak dari batuan krikil pada lingkungan pengendapan sungai braided
ini (5).

Sungai Braided memperlihatkan perkembangan dari Distal bagian dari Alluvial
fans. Pada area ini biasanya banyak diendapkan endapan tumbuh-tumbuhan dari
pegunungan yang terbawa oleh aliran sungai tersebut. Dengan kondisi seperti ini
umumnya sungai tersebut kaya akan endapan yang menuju pada alir pengendapan.
Karena seringnya menghayutkan tumbuhan maka sering pula terjadi banjir akibat sampah
tumbuhan tersebut menghalangi aliran sungai tersebut yang menyebabkan banjir pada
hampir seluruh punggung-punggung sungai. (5-P308). Krakterristik istimewa dari sungai
Braided oleh besarnya bed-forms atau beds, dapat dikelompokan menjadi tiga :
1. Longitudinal Bars
2. Linguoid
3. Tranvese Bars
Longitudinal Bars / gosong-gosong adalah pulau ditengah sungai, berorientasi
pada letaknya pulau pada tengah sungai mengakibatkan banyak partikel-partikel yang
terjebak pada daerah ini dan selanjutnya terendapkan pada sungai tersebut. Konsentrasi
material pada sepanjang tengah dan bawah pada bar, dan kecenderungan berkurang
ukurannya butir. Karakteristik struktur Intrenal Longitudinal Bars oleh crude horizontal
bedding hal ini mengindikasikan adanya alur pengendapan dibawah. (gambar-7)
Linguiod dan Tranverse bars berada pada sudut garis potong ke arah alur sungai,
keistimewaan karakteristik pasir pada aliran braided. Bentuk lobate atau rhombic
Llinguoid bars, dengan penurunan ketinggian paras muka sungai. Untuk transverse bars
muncul akibat adanya riak air sungai yang besar sehingga dapat mengakibatkan banjir.
(gambar-7)

Lateral bars, terdapat pada beberapa panjang tepi sungai, karena proses
pengendapan dan erosi dan banjir pada setiap kali musim banjir yang ditimbulkan oleh
air sungai berulang kali maka terjadilah Lateral bars. (gambar-7)

Gambar - 7. Struktur bar pada sungai braided. (5-P309)

Pada umumnya yang endapan batuan sedimen yang terdapat pada sungai Braided
adalah batu pasir dan batuan kasr / krikil. Lumpur terendapkan pada bagian bawah aliran
sungai. Pada Longitudinal bar cenderung mengubah besaran krikil menjadi besaran
pasir. Linguoid, transvese, and lateral bars pada umumnya mengandung batuan berpasir.
Endapan dari sungai braided bervaiasi atas besarnya beban pengendapan yang terkirim,
kedalaman dari air sungai dan variasi pembelokan aliran sungai. Umumnya proses
pengendapan rangkaian vertical facies juga tidak menunjukan pervedaan khusus. Empat
model penampang tegak dengan perbedaan kondisi pengendapan. (gambar-8)
Scott-type
, umumnya terdiri dari batuan kasar, krikil-krikil dan sedikit adanya
sisipan batuan pasir pada sepanjang section vertical dari type ini. Model ini menunjukan
sedikitnya perkembangan dari pengendapan batuan krikil.
Donjek-type, model ini teridi dari variasi lapisan pengendapan pada sungai
braided dengan campuran beban pasir dan kekrikil. Batuan berpasir banyak mendominasi
pada Linguoid dan transverse bars. Pada penampang vertical section ini terlihat variasi
dari ketebalan pembentukan lapisan.
Platte-type, pengendapan tidak begitu nampak, sekalipun terindikasi adanya
rangkaian pengendapan pada sebagian longitudinal bar dan superiposes linguoid bars dan
ada sedit mark berupa coal.

Bijou Creek-type, karakteristik proses pengendapan oleh pengendapan
superimposes flood sejak akumulasi arus air pada setiap kali terjadinya banjir.

Gambar -8. Stratigraphic umum untuk batuan berpasir pada Braided
system (5-P310)

Bila terjadi banjir akan menyebabkan pengendapan fining-upward dan
Pengendapan aliran Braided dengan perubahan batas. Catatan geologi dari karakteristik
pengendapan pada sungai braided adalah ukuran butir yang halus pada proses
pengendapan. Sekalipun pada sungai Braided modern proses pengendapan agak mirip.
Penampang vertikal dari batuan berpasir untuk arus Braided seperti ditunjukan
pada gambar-9. Rangkaian penampang ini berawal dari endapan yang menggosok
permukaan lantai bawah (bed SS) mernumpuk pada cross-bedding (bed A). Batuan pasir
terlihat menumpuk pada lapisan diatas (bed B) dan adanya ketebalan besarnya planar
tabular (bed C). Endapan memenuhi secara baik pada bagian atas saluran (bed D) dengan
adanya isolasi (bed E) menumpuk pada lapisan tegak siltstone interbeded dengan batuan
lumpur (bed F) dan yang terakhir batuan berpasir (bed G)

Gambar - 9. Penampang vertikal dari batuan berpasir untuk arus Braided (5-P312)

Pada sungai Braided cenderung membentuk variasi kedalaman dari lebar sungai
dan karena arah aliran dan energi sungai membentuk Lag Deposit pada lantari dasar
sungai, pasir teralirkan pada system bedload. Kedalaman sungai Braided berkisar 3 meter
atau lebih dengan membentuk adanya crossbedding. Pengendapan sungai dengan adanya
Flood stage dapat membentuk channels beds, preserving flood stage sedimentary structur.
Pada muka arus penampang sungai terjadi ripple lapisan pasir dengan gradasi mendatar
pada lapisan atas sungai. Karena kaya akan mineral makanan maka pada sebagian

bantaran sungai dan juga bekas luapan-luapan banjir maka akan tumbuh-tumbuhan akibat
biji-bijinan tumbuhan itu terbawa banjir oleh sungai dan mengendap pada bantaran
sungai. (gambar-10) (3-P27)

Gambar - 10. Block Diagram sungai Braided, terbentuknya beberapa lapisan
pengendapan dan arah arus alir dalam sungai.

SYSTEM PENGENDAPAN SUNGAI MEANDER

Pada sistem Meander proses pengendapan terakumulasi pada 5 (lima) daerah yang

berbeda yaitu :

1. .Pada saluran Pokok (Main Channal),
2. Point Bars,
3. Natural Levee,
4. Floodbasin,
5. Oxbow Lakes
Sedimen yang diendapkan pada saluran induk (Main Channal) adalah terdiri dari
material dengan butiran - butiran kasar yang dapat berpindah hanya oleh aliran sungai
dengan kecepatan maximum. Endapan ini juga terdiri dari runtuhan dinding aliran yang
runtuh akibat pengikisan oleh arus aliran (Walker dan Cant, 1979). Karena saluran induk
ini selalu bergerak dan pada dasar selalu diendapkan butiran yang lebih kasar maka dasar
dari point bar terdiri dari butiran-butiran kasar.
Pada bagian Point Bar, endapan yang terbentuk sangat dipengaruhi oleh aliran
Helical (Helical Flow) dan gaya gravitasi yang bekerja pada butiran-butiran batuan,
sehingga endapan yang terbentuk dari bawah ke atas pada point Bar butiran semakin
halus. Endapan ini mempunyai struktur ripple sebagi akibar adanya gelombang dan
“dunes” yang terbentuk karena adanya pengaruh helicol flow. Pada meander yang sudah
tua kadang - kadang point bar yang terbentuk terpotong kembali oleh aliran karena
lekukan - lekukan alirannya yang sangat besar. Pemotongan point bar juga bisa terjadi
pada saat terjadi banjir. Hal ini bisa pada point bar mempunyai slop yang tidak terlalu
besar dan mempunyai tingkat kelokan yang tinggi.
Natural Levee adalah kedua tanggul yang membatasi saluran yang terbentuk
bersamaan dengan terbentuknya saluran itu sendiri. Endapan yang terjadi diatas natural
levee pada saat banjir yang membentuk tanggul baru yang lebih tinngi dari floodbasin
disebut “levee”

Pada saat banjir sehinnga air meluap hingga daerah floodbasin akan menyebabkan
terbentuknya endapan pada tepi aliran yang lebih tinggi dari floodbasin yang disebut
“levee”, terdiri dari butiran-butiran halus. Juga akan menyebabkan terkikisannya endapan

yang telah terbentuk pada point bar, seperti terlihat pada gambar 9 (sembilan) yang
ditandai oleh garis putus-putus.

Floodabsin adalah dataran sekitar aliran yang terdapat dibelakang natural levee.
Akibat proses pengikisan dan pengendapan yang terjadi mengakibatkan suatu saat dua
buah kelokan aliran Meander saling bertemu. Akibat dari peristiwa ini menyebabkan
terjadinya aliran yang mati menyerupai dnau yang disebut “Oxbow” . Jika musim
kemarau tiba sehingga Oxbow menjadi kering dan menyebabkan rekahan-rekahan pada
permukaan danau yang kita sebut “desicatin”.

Gambar 10. Bagian-bagian Morfologi dari sistem aliran Meander (Walker 1979)

Pada gambar 11 diperlihatkan arsitektur elemen lingkungan pengendapan bidang

banjir.

Gambar 11. Arsitektur elemen lingkungan pengendapan bidang banjir
(Platt and Keller 1992)

LACUSTRIN

1.0 Pendahuluan

Lacustrin adalah suatu lingkungan tempat berkumpulnya air yang tidak
berhubungan dengan laut (danau). Lingkungan ini bervariasi dalam kedalaman, lebar dan
salinitas yang berkisar dari air tawar hingga hipersaline. Pada lingkungan ini juga
dijumpai adanya delta, barried island hingga submarine fans yang dendapkan dengan
arus turbidite. Danau juga mengendapkan terrigenous dan endapan karbonat termasuk
oolite shoals dan juga terumbu dari algae. Pada daerah dengan iklim kering akan

diendapkan evaporite. Endapan danau ini dibedakan dari endapan laut dari kandungan
fosilnya dan juga dari aspek geokimianya.

2.0. Model lingkungan lacustrin
Danau dapat terbentuk melalui beberapa mekanisme, yaitu berupa pergerakan
tektonik sebagai pensesaran dan pemekaran; proses glasiasi seperti ice scouring, ice
damming dan moraine damming (penyumbatan oleh batu); pergerakan tanah atau hasil
dari aktifitas volkanik sebagai penyumbatan lava atau danau kawah hasil peledakan.
Visher (1965) dan Kukal (1971) membagi lingkungan lacustrin menjadi 2 yaitu
danau permanen dan danau ephemeral (Gb.1). Danau permanen mempunyai 4 model dan
danau ephemeral mempunyai 2 model seperti yang terlihat pada gambar tersebut.

2.1. Danau permanen

Danau permanen model pertama adalah danau yang terisi oleh endapan
terrigenous yang terletak di daerah pegunungan. Danau ini mempunyai hubungan dengan
lingkungan fluvial deltaik yang prograd ke danau mengendapkan pasir dan sedimen
suspensi berukuran halus. Ciri dari endapan danau ini dan juga endapan model lalinnya
adalah berupa varve yaitu laminasi lempung yang reguler (Gb. 2). Pada endapan danau
periglasial, varves berbentuk perselingan antara lempung dan lanau. Lanau diendapkan
pada saat mencairnya es, sedangkan lempung diendapkan pada musim dingin dimana
tidak ada air sungai yang mengallir ke danau. Contoh danau ini adalah Danau Costance
dan Danau Zug di Pegunungan Alpen.
Danau permanen model kedua adalah danau yang terletak di dataran rendah
dengan iklim yang hangat. Material yang dibawa oleh sungai dalam jumlah yang sedikit.
Endapan karbonat terbentuk pada daerah yang jauh dari mulut sungai disekitar pantai.
Cangkang-cangkang molluska dijumpai pada endapan pantai, yang dapat membentuk
kalkarenit jika energi gelombang cukup besar. Kearah dalam dijumpai adanya ganggang
merah berkomposisi gampingan. Contoh danau ini adalah Danau Schonau di Jerman dan
Danau Great Ploner di Kanada Selatan.
Danau permanen model ketiga adalah danau dengan endapan sapropelite
(lempung kaya akan organik) pada bagian dalam yang dikelilingi oleh karbonat di daerah
dangkal. Endapan pantai berupa ganggang dan molluska.
Danau permanen model ke empat dicirikan oleh adanya marsh pada daerah
dangkal yang kearah dalam menjadi sapropelite. Contoh dari danau ini adalah Danau
Gytta di Utara Kanada.

2.2. Danau Ephemeral

Danau ephemeral adalah danau yang terbentuk dalam jangka waktu yang pendek
di daerah gurun dengan iklim yang panas. Hujan hanya terjadi sesekali dalam setahun.
Danau playa intermontane pada bagian dekat pegunungan berupa fan alluvial
piedmont
yang kearah luar berubah menjadi pasir dan lempung. Ciri dari danau playa ini
adalah lempung berwarna merah-coklat yang setempat disisipi oleh lanau dan gamping.
Contoh danau ini adalah Danau Qa Saleb dan Qa Disi di Jordania.

Karena adanya pengaruh evaporasi, danau ephemeral ini dapat membentuk
endapan evaporite pada lingkungan sabkha. Contoh dari danau ini adalah Danau Soda di
Amerika Utara dan di Gurun Sahara dan Arab.

3.0. Karakteristik endapan lacustrin
Litologi dari endapan lacustrine dapat berupa batulumpur, batupasir, konglomerat;
kimiawi-biokimiawi evaporit, karbonat, phosphorite, dan endapan yang terbentuk dari
kehidupan seperti skeletal karbonate dan gambut.
Endapan danau purba ditemukan dengan luas beberapa ratus km2

hingga 130.000

km2, sedangkan danau moderen yang dijumpai, mempunyai luas puluhan km2

hingga

436.000 km2

. Ketebalan sedimen endapan lacustrin berkisar dari beberapa mete hingga
lebih dari 1000 m, namun pada umumnya kurang dari 300 m. Geometri endapan tersebut
umumnya membentuk lingkaran dengan penampang vertikal berbentuk lensa.
Fosil yang umum dijumpai pada endapan danau dengan kedalaman kurang dari 10
m adalah cangkang-cangkang bivalves, ostracoda, gastropoda, diatome, chloropites dan
algae. Keberadaan fosil tersebut akan berkurang dengan bertambahnya kedalaman.

4.0. Kajian keekonomian dari endapan danau
Sapropelite dapat membentuk “oil-shales” yang mempunyai potensi sebagai
source rock yang dapat menghasilkan minyak dan gas. Danau yang terletak pada
temperatur sedang dapat membentuk batubara, sedangkan danau hipersaline membentuk
endapan evaporites dalam jumlah yang cukup potensial.
Proses terbentuknya “oil-shales” ini seperti yang telihat pada Gambar 3. Air
danau dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu epilimnion dan hypolimnion, Epilimnion
terdapat pada bagian atas dengan berat jenis rendah, terjadi photosintesa dari ganggang
yang membentuk oksigen. Kombinasi dengan tumbuhan sebagai makanan dan oksigen
membuat banyaknya kehidupan. Organisme yang mati jatuh ke hypolimnion yang anoxic,
terawekan membentuk lapisan lumpur yang kaya akan zat organik. Setelah melalui proses
pematangan, mateial organik tersebut dapat berubah menjadi kerogen sebagai bahan
penghasil minyak. Contoh endapan ini adalah lempung endapan danau Formasi Green
River berumur Eocene di Daerah Utah dan Wyoming. Formasi tersebut selain
menghasilkan oil shales, juga menghasilkan minyak yang bermigrasi ke pasir peripheral
dan juga ke formasi yang lebih tua.

5.0. Daftar Pustaka
Goggs, S.Jr., Principles of Sedimentary and Stratigraphy.
Reineck, H.E. & Singh, I.B. (1973) Depositional Sedimentary Environments-With
Reference to Terrigenous Clastic, 2123-224, Springer-Verlag, Berlin.
Selley, R.C. (1988) Applied Sedimentology, 190-195, Academic Press-Harcourt Brace
Jovanovich, London.
Tucker, M.E. (1981) Sedimentary Petrologyy-An Introduction, Vol 3 Geoscience Text,
67, Blackwell Scienctific Publications, LTD, London.

Gb. 1. Model pengendapan lacustrin menurut Visher (1965) dan Kukal (1971)

Gb. 2. Penampang varves dari endapan Danau periglasial Irish

Gb. 3. Proses pembentukan lempung yang kaya akan zat organik (sapropelite).

DELTA

1. PENDAHULUAN

Kata Delta digunakan pertama kali oleh Filosof Yunani yang bernama Herodotus
pada tahun 490 SM, dalam penelitiannya pada suatu bidang segitiga yang dibentuk oleh
oleh alluvial pada muara sungai nil.
Sebagian besar Delta modern saat ini berbentuk segitiga dan sebagian besar
bentuknya tidak beraturan (Bogg, 1995). Untuk jelasnya lihat lampiran Gambar 1. Bila
dibandingkan dengan Delta yang pertama kali dinyatakan oleh Herodotus pada sungai nil.
Ada istilah lain dari Delta adalah seperti yang dikemukakan oleh Elliot dan Bhatacharya
(Allen, 1994) adalah “Discrette shoreline proturberance formed when a river enters an
ocean or other large body of water”.
Proses pembentukan delta adalah akibat akumulasi dari sedimen fluvial (sungai)
pada “locustrine” atau “marine coasline”. Deposit (endapan) pada delta purba telah

diteliti (identifikasi) dalam urutan umur stratigrafi, dan sedimen yang ada di delta sangat
penting dalam pencarian minyak, gas, batubara dan uranium.
Delta - delta modern saat ini berada pada semua kontinen kecuali Antartica.
Bentuk delta yang besar diakibatkan oleh sistem drainase yang aktif dengan kandungan
sedimen yang tinggi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->