P. 1
Gempa tengah malam

Gempa tengah malam

|Views: 52|Likes:
Published by Rifai Geologiest

More info:

Published by: Rifai Geologiest on Nov 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/08/2012

pdf

text

original

Gempa Yogya Dan Dinamika Palung Jawa

• sejak daerah Yogya dan sekitarnya dihantam gempa tektonik berkekuatan 6.3 skala Richter, namun hingga kini satu pertanyaan masih terus menghantui:

• Mengapa gempa sedahsyat itu terjadi di Yogya? Apakah ada hubungannya dengan Gunung Merapi yang sedang aktif?

• Rabo, June 27, 2007 jam 5:23:02 pagi terjadi gempa di selatan Jawa dengan magnitude 6.0 Mw. • Kedalaman pusat gempa sekitar 10 Km. • Lokasi tepatnya pada Lintang 10.545 Selatan, dan Bujur 108.065 Timur, atau sekitar 399 km (248 miles) sebelah selatan Yogyakarta. • Lokasi di Samodra Indonesia. Laporan BMG menyebutkan kedalaman 30 Km.

• Bahwa fault di laut selatan lebih AKTIF dr san andreas fault di amerika(hsl riset), • jadi kalau melihat frekuensi gempanya yg tendensinya akan menghasilkan magnitude yg lebih besar.

• Kalau dangkal (< 60 km), dengan kekuatan 7.0 SR, bisa dibayangkan bagaimana kerusakan yang akan terjadi

• Parameters Nst=170, Nph=170, Dmin=545.1 km, Rmss=1.18 sec, Gp= 36°, M-type=moment magnitude (Mw), Version=7 Bisa dilihat bahwa ini gempa yang kuat, untung berasal dari kedalaman menengah-dalam (hampir 300 km).

Data momen tensor solution dari NEIC USGS menunjukkan bahwa pematahan akibat gempa ini berupa strike-slip faulting dengan komponen thrust berarah strike 323 deg NE dan dip 28 dip.

Berdasarkan plate tectonic setting Jawa dan Indonesia Barat, pusat gempa ini terjadi jauh di bawah kerak kontinen Laut Jawa di wilayah astenosfer pada zone gempa miring Wadati-Benioff di kedalaman 290 km. • Berdasarkan histori kejadian gempa, episentrum2 gempa di wilayah ini akan berasal dari kedalaman sekitar 300 km atau lebih.

• Berdasarkan peta kontur kedalaman zone Wadati-Benioff, pusat2 gempa di wilayah pantura Jawa sampai ke Laut Jawa akan lebih dalam daripada 250 km, untuk dapat menimbulkan kerusakan yang besar di kota2 besar di wilayah pantura, maka gempa harus sekuat seperti yang menggoncang Aceh dan sekitarnya Desember 2004 (8.9 SR).

peta kegempaan Dunia dan Australasia

• Tim BPPT (Tempo, Edisi 5-11 Juni 2006) telah melakukan penelitian awal untuk mencoba menjawab pertanyaan di atas dan menyimpulkan bahwa gempa Yogya terjadi akibat pelepasan energi di sesar Opak yang tertekan dari dua arah sekaligus, dari utara sesar ini ditekan Merapi dan dari selatan patahan itu ditekan oleh lempeng samudera IndiaAustralia yang menunjam di palung Jawa.

• Aktifitas Merapi yang tinggi sampai saat ini dan sekaligus gempa yang terjadi merupakan akibat dari dinamika palung Jawa yang merupakan sumber terjadinya gesekan akibat lempeng India-Australia menunjam di bawah pulau Jawa yang merupakan bagian dari lempeng benua Eurasia.

Gempa akibat penunjaman lempeng umumnya merupakan gempa-dalam (kedalaman >30 km), namun yang terjadi di Yogya adalah gempadangkal dengan kedalaman sekitar 10 km.

• Kedangkalan gempa ini terbukti dari daya rusaknya yang tinggi dan memicu terjadinya sesar (patahan) ataupun mengaktifkan sesar tua yang terpendam.

Di Jawa Barat terdapat sesar aktif Cimandiri dan sesar Lembang, yang secara alamiah merupakan daerah yang lebih rentan digoncang gempa. • Namun ternyata sesar-sesar aktif ini luput dari goncangan gempa, gempa justru terjadi di Yogya yang selama ini dikenal tidak memiliki sesar aktif.

Faktor-faktor apakah yang menyebabkan gempadangkal muncul di Yogya dan bukannya di jalurjalur sesar aktif yang sudah ada?.

• kondisi dan dinamika palung Jawa yang dianggap menjadi sumber terjadinya gempa Yogya. Ulasan ditekankan pada bagian palung Jawa yang berdekatan dengan daerah Yogya, yakni di sebelah selatan Jawa Tengah dan Jawa Timur, meliputi kondisi fisiografi serta distribusi seismisitasnya (kegempaannya).

Gempa Kobe, Jepang, yang terjadi pada tahun 1995 akan dijadikan pembanding karena dianggap sebagai analogi gempa Yogya.

• Diharapkan ini dapat memberikan pemahaman yang mendasar tentang prinsip-prinsip yang berkaitan dengan terjadinya gempa Yogya.

Fisiografi Palung Jawa dan Fenomena Gunung Bawah-Laut
• Pulau Jawa merupakan bagian dari suatu busur kepulauan yang dikenal sebagai busur Sunda (Sunda arc) yang terletak di tepi Asia Tenggara dan terbentang mulai dari kepulauan Andaman-Nicobar di barat sampai busur Banda (Timor) di timur.

• Busur Sunda merupakan busur kepulauan hasil dari interaksi lempeng samudera (disini lempeng India-Australia yang bergerak ke utara dengan kecepatan 7 cm/tahun ) yang menunjam di bawah lempeng benua (disini Lempeng Eurasia).

Penunjaman lempeng terjadi di selatan busur Sunda berupa palung (trench) yang dikenal sebagai palung Jawa.

• Disamping itu, penunjaman lempeng juga menghasilkan sepasang busur volkanik dan non-volkanik.

• Busur volkanik terdiri dari rangkaian gunung berapi yang menjadi tulang punggung pulau-pulau busur Sunda,

• busur nonvolkanik merupakan rangkaian pulau-pulau yang terletak di sisi samudera busur volkaniknya.

Rangkaian pulau seperti Siberut, Simeleu, Nias di barat Sumatra merupakan bagian busur nonvolkanik yang muncul ke permukaan laut, sedangkan di selatan Jawa busur ini berada di bawah laut.

• Busur non-volkanik disusun oleh materialmaterial yang berasal dari daratan, laut dangkal, laut dalam dan kepingan lantai samudera yang terseret, tergencet dan tercampur secara tektonik ketika lempeng samudera menunjam ke palung.

Himpunan batuan yang campur aduk di dalam palung ini, disebut melange, membentuk prisma akresi (accretion prism) di sisi dalam palungnya.

• Palung Jawa, panjang total sekitar 5600 km, terentang mulai dari kepulauan Andaman-Nicobar di barat sampai ke Sumba di timur, memiliki corak yang beragam. Hal ini disebabkan oleh arah penunjaman dan kecepatan lempeng tidak seragam.

Minster dan Jordan (1978, dalam Ghose and Oike, 1988) memperkirakan kecepatan lempeng 6 cm/tahun dekat ujung utara Sumatra sampai 7,8 cm/tahun di dekat pulau Sumba. • Arah penunjaman yang hampir tegak lurus di bagian pulau Jawa ke arah timur menghasilkan ragam penunjaman lempeng yang lebih sederhana dibandingkan di bagian Sumatra dimana terbentuk sesar mendatar (sesar Semangko) karena arah penunjaman lempengnya miring dan bahkan hampir sejajar di bagian kepulauan Andaman.

Ke arah ujung timur palung Jawa, di bagian Sumba dan Timor, sistem tektonik yang lebih kompleks berkembang disini dimana yang terjadi bukan lagi penunjaman melainkan tumbukan (collision) antara busur Banda dengan tepi baratlaut kontinen Australia.

• Dimensi prisma akresi serta kedalaman palung juga beragam dari barat ke timur seiring dengan berkurangnya ketebalan sedimen pada lempeng samudera yang menunjam.

Selat Sunda, yang memisahkan Sumatra dan Jawa, merupakan batas geodinamik yang penting dimana terdapat perubahan sudut penunjaman yang menyolok antara bagian timur dan baratnya (Zen, 1983). • Disebelah barat selat Sunda, aktifitas gempa umumnya tidak melebihi kedalaman 200 km sedangkan di sebelah timurnya kedalaman aktifitas gempanya meningkat mendekati 350-500 km.

Unsur geodinamik lain yang dapat mempengaruhi dinamika palung adalah kondisi morfologi permukaan lempeng samuderanya.
• Permukaan lantai samudera bisa relatif halus atau kasar karena adanya tonjolantonjolan yang terdiri dari gunung-gunung bawah laut (seamount), pematang tengah samudera, dan plato basalt.

• Dengan demikian menjadi tidak terhindarkan lagi penunjaman lempeng samudera membawa juga seamount atau bentuk morfologi bawah-laut lainnya kedalam palung.

• Salah satu ciri palung di selatan Jawa adalah terdapatnya sejumlah seamount. Fenomena menarik ini telah diteliti oleh Tim Indonesia-Japan Deep Sea Expedition “Java Trench” 2002 (Kompas, 13 Oktober 2002) dan telah dipetakan oleh Masson dkk (1990) dengan menggunakan GLORIA long-range sidescan sonar swath yang meliputi daerah seluas 45×1300 km pada garis bujur 108° – 120° BT.

• Morfologi utama di lantai samuderanya adalah Roo Rise, suatu plato bawah-laut yang besar yang menjulang sekitar 2000 m dari dasar laut. Ujung depan dari Roo Rise ini telah memasuki palung Jawa di daerah antara garis bujur 112° – 115° BT yang ditandai oleh mendangkalnya palung di daerah tersebut.

Disamping Roo Rise yang terbesar, juga berhasil dikenali banyak gunung bawah-laut lainnya dengan diameter lebih dari 10 km dan dalam berbagai tahap penunjaman, mulai dari yang sedang menunjam sampai yang menunjam sepenuhnya ke dalam palung .

• Kedalaman palungnya berkisar antara <5600 km sampai > 7000 m dengan bagian terdalam terletak di sebelah timur 111° BT dan antara 115° dan 119° BT.

Ditunjukkan hasil pemetaan pada jalur palungnya. Sepuluh gunung bawah-laut berhasil dikenali dengan dimensi berkisar mulai dari <10 km sampai 60 km.

• Salah satu seamount menjulang 1500 m dari lantai samudera dengan sisi-sisinya memiliki kelerengan sekitar 10° dengan puncak yang rata.

• Seamount ini dalam tahapan tumbukan yang lanjut dengan prisma akresi. Akibat tumbukan ini terbentuk “parut tumbukan” (collision scar) dengan tebing curam menghadap ke sisi seamount-nya.

• Terdapatnya sesar-sesar turun dengan panjang 5 sampai 20 km pada lantai samudera yang berbatasan dengan palung terjadi akibat penekukan lempeng samudera ke dalam palung.

• Terbentuknya collision scar ini menunjukkan terdapatnya pengalihan (displacement) material prisma akresi ke arah daratan dalam bentuk perlipatan ataupun anjakan (thrusting) yang lebih intensif dan seamount yang dibawa oleh lempeng yang menunjam mengalami rekahan dengan skala yang sama dengan lantai samudera di sekitarnya.

Terdapatnya seamount di selatan palung Jawa ditunjukan secara skematis pada suatu penampang 3-dimensi.

Dinamika Palung Jawa: Distribusi spasial dan temporal seismisitas

• Palung merupakan tempat menunjamnya lempeng samudera.

Selama penunjaman berlangsung, lempeng samudera bergesekan dengan lempeng yang menumpang diatasnya.

• Gesekan antar lempeng ini menimbulkan aktifitas seismik atau gempa tektonik yang bersumber di permukaan lempeng yang menunjam.

• Kedalaman sumber gempa tergantung jarak horisontalnya terhadap sumbu palung

• makin menjauhi palung ke arah daratan sumber gempa akan semakin dalam (deep earthquke)

• mendekat ke palung gempanya merupakan gempa dangkal (shallow earthquake).

Oleh karena itu distribusi aktifitas seismik secara spasial dan temporal di suatu wilayah mencerminkan dinamika palungnya.
• Dengan menggunakan dua basis data, NOAA hypocenter data file (mulai Januari 1900 sampai Mei 1981) dan ISC data file (mulai Januari 1971 sampai Desember 1983), Ghose dan Oike (1988) mengevaluasi distribusi spasial dan temporal aktifitas seismik sepanjang busur Sunda.

Berdasarkan peta distribusi seismisitas (Gambar-3A) dapat diidentifikasi lokasilokasi yang paling sering mengalami gempa (ditunjukkan oleh kerapatan titik gempa yang tinggi).

• Lokasi-lokasi ini terdapat di ujung utara Sumatra, di utara pulau Simeuleu, tenggara Nias, ujung selatan pulau Siberut, selatan Jawa Barat, di selatan Jawa antara 107°-110° BT, dan di baratdaya Sumba. Yang menarik, di Sumatra ternyata seismisitas dangkal yang bersumber dari palung tidak banyak melampar ke daratan (inland)

• • sebaliknya di Jawa secara keseluruhan daratan pulau Jawa lebih sering mengalami gempa dangkal.

Dua faktor penyebabnya kemungkinan adalah: Pertama, sumber gempa dangkal di Sumatra lebih berasosiasi dengan aktifitas sesar-mendatar Sumatra;

• , sedangkan di Jawa tidak terdapatnya suatu sistem sesar utama mengakibatkan gempa dangkal yang terjadi berasosiasi dengan aktifitas penunjaman lempeng di palung sehingga lebih mungkin ditransmisikan ke seluruh pulaunya.

Kedua, jarak palung ke daratan di Sumatra lebih jauh dibandingkan dengan yang di Jawa.

• Hal ini menyebabkan aktifitas seismik di bagian kontinen yang dangkal lebih besar di Jawa daripada di Sumatra.

Sementara itu jalur gunung-api aktif (yang biasanya berkaitan dengan kedalaman zona subduksi sekitar 100 km)
• di Sumatra jalur gunung-api aktifnya terletak di sisi barat dekat dengan pantai Samudera India.

• di pulau Jawa terletak di bagian tengahnya,

YANG ANEH

Kenampakan lain yang menarik perhatian adalah terdapatnya “zona tenang” (silent zone) atau seismic gap di selatan Jawa di sekitar garis bujur 110° BT.

• Daerah zona tenang secara seismik ini memiliki lebar sekitar 75 km berarah utara-selatan terhadap palung Jawa.

• Aktifitas seismik kecil mungkin terjadi juga di silent zone ini, namun absennya gempa dengan magnitude >4 (bahkan di daerah sumbu palungnya) merupakan suatu fenomena yang harus dicermati.

Plot peristiwa gempa dengan magnitude >6 berdasarkan NOAA Data File. Peta ini memperlihatkan sejumlah peristiwa gempa di palung Sumatra yang secara umum jauh lebih besar kekuatannya dibandingkan dengan yang terjadi di Jawa.

• Ini menunjukkan gaya gesekan antar-lempeng lebih besar di Sumatra.

• Meskipun demikian, dua gempa besar dengan magnitude >8 terjadi juga di selatan Jawa yang menunjukkan secara lokal adanya zona tegasan kompresif yang tinggi di wilayah ini.

• Untuk mengetahui apakah yang mendominasi dinamika penunjaman lempeng di tiga wilayah, Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara, adalah faktor tektonik yang bersifat lokal atau regional, Ghose dan Oike (1988) mengevaluasi variasi temporal (menurut waktu kejadian) seismisitas di ketiga wilayah tersebut.

• . Antara tahun 1935- 1940, jumlah gempa cenderung meningkat. Kemudian dari tahun 1940 sampai sekitar 1960, dalam kurun 20 tahun, terjadi sedikit gempa besar di seluruh ketiga segment Busur Sunda.

• Selanjutnya sampai Mei 1981, aktifitas seismik meningkat lagi. Kemiripan pola temporal seismisitasnya ini membuktikan bahwa variasi tegasan tektonik (tegasan kompresif akibat penunjaman lempeng Samudera India-Australia ke bawah Asia Tenggara)

menurut waktu untuk ketiga segment busur Sunda adalah sama, dan mengontrol secara keseluruhan pola temporal jangka panjangnya.

• Dalam jangka waktu yang panjang ini dinamika subduksi menimbulkan efek lokal yang berbeda-beda tergantung dari kondisi interaksi lempeng di masingmasing segment, dalam kurun waktu yang sama, yakni dari tahun 1900 sampai 1981,

jumlah atau frekuensi gempa di Sumatra jauh lebih banyak dibandingkan yang terjadi di Jawa maupun di Nusa Tenggara.

• Dari sini dapat disimpulkan bahwa walaupun kondisi geodinamiknya berbeda secara spasial, bagi busur Sunda secara keseluruhan, periode naik-turunnya aktifitas gempa tidak dipengaruhi unsur spasialnya (atau lokasinya).

Gempa tengah malam 9 agustus 07.

• Kita tahu kan kalau zona penunjaman benioff di selatan jawa itu semakin ke utara semakin dalam. Demikian juga titik pusat gempanya juga menunjukkan kedalaman yg semakin dalam ke utara. Gempa semalam memiliki kedalaman hampir 300 kmn dan berada dibawah laut jawa, bukan dibawah samodra indonesia, seperti biasa kita dengar.

• Namun yang menarik adalah dari model benioff zona jawa semestinya kedalamannya sudah diatas 400 km. Jadi ada kemungkinan gempa ini berada pada zona patahan kerak bumi yg sangat dalam

Parameters Nst=170, Nph=170, Dmin=545.1 km, Rmss=1.18 sec, Gp= 36°, M-type=moment magnitude (Mw), Version=7

• Bisa dilihat bahwa ini gempa yang kuat, untung berasal dari kedalaman menengah-dalam (hampir 300 km). Kalau dangkal (< 60 km), dengan kekuatan 7.0 SR,

bisa dibayangkan bagaimana kerusakan yang akan terjadi di jalur pantura Jawa Barat-Jawa Tengah termasuk kota2 besar macam JakartaCirebon-Pekalongan-Semarang.

• Gempa, menurut laporan2 yang masuk ke BMG,dilaporkan dirasakan dari PadangBali. Data momen tensor solution dari NEIC USGS menunjukkan bahwa pematahan akibat gempa ini berupa strike-slip faulting dengan komponen thrust berarah strike 323 deg NE dan dip 28 dip.

• Berdasarkan plate tectonic setting Jawa dan Indonesia Barat, pusat gempa ini terjadi jauh di bawah kerak kontinen Laut Jawa di wilayah astenosfer pada zone gempa miring Wadati-Benioff di kedalaman 290 km.

• Berdasarkan histori kejadian gempa, episentrum2 gempa di wilayah ini akan berasal dari kedalaman sekitar 300 km atau lebih. Berdasarkan peta kontur kedalaman zone Wadati-Benioff, pusat2 gempa di wilayah pantura Jawa sampai ke Laut Jawa akan lebih dalam daripada 250 km, untuk dapat menimbulkan kerusakan yang besar di kota2 besar di wilayah pantura, maka gempa harus sekuat seperti yang menggoncang Aceh dan sekitarnya Desember 2004 (8.9 SR). Semoga tak akan pernah terjadi.

• . Berdasarkan plate tectonic setting Jawa dan Indonesia Barat, pusat gempa ini terjadi jauh di bawah kerak kontinen Laut Jawa di wilayah astenosfer pada zone gempa miring Wadati-Benioff di kedalaman 290 km. Berdasarkan histori kejadian gempa, episentrum2 gempa di wilayah ini akan berasal dari kedalaman sekitar 300 km atau lebih.

• Berdasarkan peta kontur kedalaman zone Wadati-Benioff, pusat2 gempa di wilayah pantura Jawa sampai ke Laut Jawa akan lebih dalam daripada 250 km, untuk dapat menimbulkan kerusakan yang besar di kota2 besar di wilayah pantura, maka gempa harus sekuat seperti yang menggoncang Aceh dan sekitarnya Desember 2004 (8.9 SR). Semoga tak akan pernah terjadi.

Gempa 6.0 Mw di selatan Jawa, Juni 27, 2007 jam 5:23:02 pagi

• Hari ini Rabo, June 27, 2007 jam 5:23:02 pagi terjadi gempa di selatan Jawa dengan magnitude 6.0 Mw. Kedalaman pusat gempa sekitar 10 Km. Lokasi tepatnya pada Lintang 10.545 Selatan, dan Bujur 108.065 Timur, atau sekitar 399 km (248 miles) sebelah selatan Yogyakarta. Lokasi di Samodra Indonesia. Laporan BMG menyebutkan kedalaman 30 Km.

• Gempa-gempa yang paling mungkin dapat menimbulkan tsunami adalah gempa yang terjadi di dasar laut, kedalaman pusat gempa kurang dari 60 km, magnitudo lebih besar dari 6,0 skala Richter, serta jenis penyesaran gempa tergolong sesar naik atau sesar turun. Nah kalau melihat gempa yang terjadi tadi pagi ini tentunya perlu hati-hati dengan kondisi pantai selatan Jawa.

• Selain itu juga harus diperhatikan patahan-patahan besar di Jawa yang dimungkinkan aktif akibat adanya plate reorganisastion atau penyusunan ulang kerak-kerak menuju ke kesetimbangan baru.

ini rangkaian “trigger” gempa di ujung selatan indoaustralia plate ,akibat stress concentration build up

• fault di laut selatan lebih AKTIF dr san andreas fault di amerika(hsl riset jaman sekolah),jadi klo melihat frekuensi gempanya yg “sedikit”…tendensinya akan menhasilkan magnitude yg lebih besar,krn energi yg direlesase tdk “sering”…

Benarkah Indonesia itu Atlantis ?
• menurut Flint and Skinner, terbentuknya samudera atlantik pada jaman triassic, kira2 255-210 juta tahun yang lalu. Pada saat itu yang ada baru conifers, cycads, mamalia primitive dan dinosaurus. Jadi seandainya kerajaan atlantis benar2 ada, kerajaan itu tidak tenggelam pada saat terbentuknya samudera atlantik.

• pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India , Sri Lanka , Sumatra , Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya.

• pada jaman es antara 1,6 juta - 100 ribu tahun yang lalu, daerah yang saat ini di namakan indonesia sudah tidak menyatu. Pada saat air laut surut, sumatera, kalimantan dan jawa menyatu dengan asia, maluku, papua menyatu dengan australia sementara sulawesi dan nusatenggara sebagai pulau2 sendiri.

• . Hal ini didukung oleh jenis2 fauna yang berbeda antara Papua dengan Jawa/Sumatera/Kalimantan, fauna2 di papua lebih mirip dengan autralia dan fauna di jawa/sumatera/kalimantan lebih mirip dengan di Asia.

• Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene) ….. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau

• Super Volcano Toba terjadi 73.000 BC tahun yang lalu, merupakan letusan terhebat dalam 2 juta tahun terakhir. Teori plato di atas jadi kurang akurat karena menyebutkan letusan Krakatau yang paling dasyat. Mengacu kepada http://mirrorh.com/timeline.html, Atlantis Kingdom(?) mungkin ada pada 23.400 B.C , jadi tidak mungkin letusan Toba menenggelamkan Atlantis, karena letusan Toba terjadi sebelumnya.

• Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua.

• : agak susah dimengerti kenapa letusan gunung berapi menyebabkan lapisan es mencair. Letusan super volcano Toba menyebabkan terjadinya penurunan suhu bumi 4-5 derajat

• letusan gunung Tambora menyebabkan tahun tanpa musim panas di Eropa. Yang mungkin terjadi akibat letusan gunung berapi adalah debu akibat letusan gunung berapi terlempar ke atas/ udara, berada di tamosfer bumi cukup lama dan menghalangi sinar matahari sehingga terjadi penurunan suhu bumi. Tekanan sedimen dan air di dasar samudera menyebabkan gempa merupakan spekulasi yang kurang akurat, mengenai penyebab gempa

Soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki.

• Bagaimana lumpur dari laut bisa meresap ke dalam tanah di daratan? Yang mungkin terjadi adalah, lumpur di endapkan pada suatu cekungan, berulang-ulang pada suatu periode tertentu. Karena perubahan muka air laut, pengangkatan dsb, maka daerah itu terekpose ke permukaan.

• Gempa 6.0 Mw di selatan Jawa, Juni 27, 2007 jam 5:23:02 pagi

• Hari ini Rabo, June 27, 2007 jam 5:23:02 pagi terjadi gempa di selatan Jawa dengan magnitude 6.0 Mw. Kedalaman pusat gempa sekitar 10 Km. Lokasi tepatnya pada Lintang 10.545 Selatan, dan Bujur 108.065 Timur, atau sekitar 399 km (248 miles) sebelah selatan Yogyakarta. Lokasi di Samodra Indonesia. Laporan BMG menyebutkan kedalaman 30 Km.

bisa menyebabkan tsunami nggak ?”
• Gempa-gempa yang paling mungkin dapat menimbulkan tsunami adalah gempa yang terjadi di dasar laut, kedalaman pusat gempa kurang dari 60 km, magnitudo lebih besar dari 6,0 skala Richter, serta jenis penyesaran gempa tergolong sesar naik atau sesar turun. Nah kalau melihat gempa yang terjadi tadi pagi ini tentunya perlu hati-hati dengan kondisi pantai selatan Jawa.

• Selain itu juga harus diperhatikan patahan-patahan besar di Jawa yang dimungkinkan aktif akibat adanya plate reorganisastion atau penyusunan ulang kerak-kerak menuju ke kesetimbangan baru.

ini masih dalam rangkaian gempa jogja kemarin bukan?
• ini rangkaian “trigger” gempa di ujung selatan indoaustralia plate ,akibat stress concentration build up(lihat comment di artikel gmpa setiap saat,..).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->