1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Permasalahan Sejak diberlakukannya Undang Undang No. 22 Tahun 1999 dan kemudian dirubah menjadi Undang Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagai penganti Undang Undang No. 5 Tahun 1974, diskusi tentang efektivitas pelayanan publik dalam otonomi daerah menjadi semakin menarik untuk dibicarakan. Permasalahannya karena sudah 2 (dua) kali perubahan undang-undang tersebut dilakukan, namun peningkatan pelayanan publik publik sebagai sasarannya selalu dipertanyakan, bahkan ada diskusi yang membahas bahwa Undang Undang No. 32 Tahun 2004 perlu lagi perubahan. Undang-undang ini merupakan implimentasi pasal 18 ayat (1) UUD 1945 yang mengatakan bahwa Negara Republik Indonesia merupakan negara kesatuan yang dibagi atas daerah-daerah propinsi dan propinsi terdiri dari daerah kabupaten dan kota yang mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dalam undang-undang. Selanjutnya, pasal 2 ayat (2) menyebutkan bahwa pemerintah daerah propinsi, daerah kabupaten dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut azas otonomi dan tugas perbantuan. Dalam menjalankan otonomi dan tugas perbantuan, kecuali urusan pemerintah pusat, pemerintah daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan lain sesuai dengan ketentuan berlaku. Pada dasarnya, maksud pasal 18 UUD 1945 tersebut adalah mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan,

2 pemberdayaan dan peran serta masyarakat. 1 Selanjutnya dijelaskan bahwa pemerintahan penyelenggaraan daerah dalam meningkatkan perlu efisiensi dan antar efektivitas susunan

otonomi

daerah,

memperhatikan

pemerintahan antar pemerintahan daerah, potensi dan keanekaragaman daerah dalam sistem Negara Kesatuan RI. Dalam berbagai aspek UU No. 32 Tahun 2004 mengatur hubungan keuangan pusat dan daerah, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya secara adil dan selaras. Di samping itu, dalam menjalankan perannya, daerah diberikan

kewenangan yang seluas-luasnya disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan Otonomi Daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara.2 Masalah pelayanan publik di Indonesia masih sangat memprihatinkan, karenanya pemerintah masih perlu membuat strategi dan kebijakan agar dapat memenuhi hak azazi warga negara dan membutuhkan solusi menyeluruh untuk membuat pelayanan publik yang baik. 3 Sebagai gambaran dan fenomena pelayanan publik di Provinsi Sumatera Barat saat ini seperti terlihat rendahnya tingkat kinerja aparatur penyelenggara pemerintahan di daerah. Indikasi menunjukan bahwa Pemerintah Daerah melalui Peraturan Gubenur Sumatera Barat Nomor 74 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2006 - 2010 menempatkan hal ini sebagai skala prioritas utama. Dalam bagian IV, (Agenda penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baik dan bersih Bab II diatur

Penjelasan Umum, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Publik CV. Jaya Jakarta, Cetakan Pertama, 2004. hal. 125. 22 Ibid, hal. 123, 124 3 Wacana HAM, Pandangan Publik yang memprihatinkan Edisi 17, Tahun III, 15 Oktober 2005, hal. 1

11

3 tentang Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik)4 yang menerangkan bahwa

berdasarkan hasil identifikasi dalam pembinaan pelayanan publik masih banyak permasalahan yang perlu ditindaklanjuti dan diselesaikan seperti : belum kompetitif, transfaran dan akuntabilitas proses pelayanan publik, rendahnya etos kerja aparatur, pelayanan publik belum didukung oleh teknologi informasi serta belum ada instrumen yang jelas untuk mengevaluasi kualitas pelayanan. Sasaran yang hendak dicapai dalam peningkatan kualitas pelayanan publik tahun 2006-2010 ke depan adalah : 1. Terlaksananya pelayanan publik kepada masyarakat sesuai dengan standar layanan yang ditetapkan. 2. Tercapainya transparansi dalam proses pelayanan publik. 3. Meningkatnya etos kerja, profesionalisme dan kompetensi aparatur. 4. Meningkatnya kemandirian masyarakat dalam mendapatkan pelayanan publik. 5. Meningkatnya pengguna teknologi informasi dalam pemberian pelayanan publik. 6. Meningkatnya peran masyarakat terhadap penilaian kinerja aparatur pelayanan publik. Dalam RPJMD tersebut ditetapkan arah kebijakan, program pengembangan pelayanan publik dan pengembangan partisipasi publik (masyarakat) yang berada dalam agenda penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih bersamaan dengan sub-sub agenda lainnya, yaitu : peningkatan kemampuan pemerintah daerah, peningkatan kualitas pelayanan publik, pemberantasan korupsi, kolusi dan
4

Naskah Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 74 Tahun 2005, hal. 121

pencapaian hasil relatif masih dibawah target. Fakta lain menjelaskan. Bertitik tolak dari fakta dan kenyataan di atas. melalui Kantor Bersama SAMSAT. pembangunan hukum dan perlindungan hak azazi manusia. Pelaksanaan pelayanan publik yang diselenggarakan oleh unit pelayanan Kantor Bersama SAMSAT ini terdapat 3 unit kerja yang terkait dan berhubungan. walaupun jumlah penerimaan daerah yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) cenderung menunjukan peningkatan dan memberikan kontribusi yang besar terhadap penerimaan daerah. Dengan demikian "masalah" Pelayanan publik sudah diakomodir dalam suatu konsepsi dan strategi kebijakan untuk kurun waktu 2006-2010 mendatang yakni dengan isu bagaimana meningkatkan kualitas pelayanan publik tersebut dari tahun ke tahun yang disinyalir seakan-akan berjalan di tempat. peningkatan keamanan dan ketertiban.4 nepotisme. . Berdasarkan fakta dalam RPJMD Propinsi Sumatera Barat. maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan penulisan ilmiah dengan menyingkap dan menganalisanya secara mendalam dengan penekanan yang diarahkan kepada peningkatan pelayanan publik terutama terhadap sub sektor pajak daerah yang berasal dari pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor melalui Dinas Pendapatan Daerah Cq. Khususnya pencapaian target (realisasi) penerimaan pajak daerah dari sub-sektor Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB). betapa rendahnya kualitas pelayanan publik tersebut. salah satu diantaranya terdapat pada Perangkat Daerah/Dinas (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yaitu Dinas Pendapatan Daerah. UPTD Pelayanan Pendapatan Provinsi Sumatera Barat di Padang.

Dinas Pendapatan Daerah. . Dengan adanya 3 unit kerja masalah yang ditemukan dalam pelayanan adalah bertemunya 3 (tiga) kepentingan yang berbeda yang saling membutuhkan dan saling berhubungan. penulis tertarik untuk melakukan kajian karena sepengatahuan penulis belum ada yang menelaahnya. Penulisan dan penganalisaan mempedomani teori-teori menurut Ilmu Hukum Administrasi Negara. Polri c.q. sedangkan di pihak lain Polda lebih berkepentingan dalam masalah pengidentifikasian kepemilikan dan keamanan.5 yaitu pihak Pemerintah Provinsi c. Ketiga unit kerja ini sama-sama bertujuan memberikan pelayanan publik secara prima kepada masyarakat. Oleh karena itu. Pengelolaan kebijakan melalui Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT) sudah sesuai dengan maksud Undang Undang 32 Tahun 2004. namun efektivitas keberadaan pola dan sistem SAMSAT masih perlu penyempurnaan. Pihak Pemda dalam memberikan pelayanan bertujuan untuk peningkatan penerimaan daerah yang diperlukan bagi keperluan dana pembangunan yang berasal dari sumber-sumber PAD. AK Jasa Raharja. dikaitkan dengan aspek normatif dari berbagai ketentuan peraturan perundangan dengan judul : Efektivitas Pelayanan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor pada Dinas Pendapatan Daerah Propinsi Sumatera Barat (Suatu Kajian Dalam Perspektif Hukum Administrasi Negara). namun menyatu dan saling berkaitan (Simbiose Mutualistis). terutama bila dikaitkan dengan suasana dan nuansa tuntutan tatanan Pemerintahan yang Baik dan Bersih (Good Governance and Clean Government). Kepolisian Daerah dan PT.q.

akan ditinjau dari perspektif Hukum Administrasi Negara yakni : a. Tujuan Penelitian Mengetahui efektivitas pelayanan umum yang diberikan oleh instansi Pemerintah Provinsi Sumatera Barat Cq. Faktor-faktor dominan apa saja yang mempengaruhi efektivitas pelayanan sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) kepada wajib pajak agar sejalan dengan peningkatan pemasukan pendapatan daerah (pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor) baik secara intensifikasi maupun ekstensifikasi? C.6 B. Mengetahui peranan dan fungsi UPTD PPP di Padang dalam mengelola kewenangannya dalam mengelola sumber pendapatan daerah yang menjadi tugas dan urusan sesuai dengan kewenangan dalam kompetensi wilayah administratifnya sesuai ketentuan perundang-undangan. Dinas Pendapatan Daerah cq. melalui kantor bersama SAMSAT kepada wajib pajak (masyarakat pemilik kendaraan bermotor). Sumbar di Padang melalui Kantor Bersama Samsat terhadap Pengelolaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (PKB dan BBN-KB) efektivitasnya (efektif dan efisien) mewujudkan "Pemerintahan Yang Baik dan Bersih (Good Governance and Glean Government)? b. Rumusan Permasalahan Adapun pokok bahasan penelitian ini. . Sejauh mana pelayanan publik di bidang perpajakan pada Dispenda cq. UPTD Pelayanan Pendapatan Prop. UPTD PPP di Padang.

maju dan sejahtera. Manfaat Praktis Manfaat praktis. Filosofi Otonomi Daerah Dikaitkan dengan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. nyaman. hasil penelitian diharapkan sebagai kontribusi sumbangan pemikiran dalam upaya meningkatkan kinerja SKPD serta kualitas kerja aparat pemerintahan daerah dalam memberikan pelayanan publiknya kepada wajib pajak/masyarakat. Baik pemerintahan daerah.7 D. setiap orang bias hidup tenang. serta Hukum Perpajakan/Pajak Daerah pada khususnya. 1. Makalah Falsafah Sains (Pps 720) Program Pascasarjana/S3 Institut Pertanian Bogor. Kerangka Teoritis dan Konseptual 1 Kerangka Teoritis 1) Otonomi Daerah Pengertian otonomi daerah yang melekat dalam keberadaan pemerintah daerah. hal.5 Parjoko. Februari. desentralisasi maupun otonomi daerah. Nomor 25 Tahun 1999. E. adalah bagian dari suatu kebijakan dan praktek penyelenggaraan pemerintahan. tujuannya adalah demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang tertib. juga sangat berkaitan dengan desentralisasi. 5 kemudahan dalam segala hal di bidang pelayanan . wajar oleh karena memperoleh masyarakat. Manfaat Penelitian Manfaat Teoritis Manfaat teoritis dari hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi dan sumbangan pemikiran untuk pengembangan Hukum Administrasi Negara di Bidang Tata Pemerintahan Daerah pada umumnya. makalah. 2002.

Penerapan prinsip ini melahirkan model pemerintahan daerah yang menghendaki adanya otonomi dalam penyelenggaraannya. Secara normatif.8 Oleh karena itu keperluan otonomi di tingkat lokal pada hakekatnya adalah untuk memperkecil intevensi pemerintah pusat kepada daerah. 7 Soetijo. kewenangan pemerintah baik di pusat maupun di daerah. penyerahan kewenangan pemerintah pusat kepada pihak lain (pemerintah daerah) untuk dilaksanakan disebut dengan desentralisasi. dipusatkan dalam tangan pemerintahan pusat. antara negara yang Sarundajang. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. 1990. membagi kewenangan kepada pemerintah daerah bawahan dalam bentuk penyerahan kewenangan.6 Berbeda halnya dengan otonomi daerah di Negara federal. Jakarta. kekuasaan negara terbagi antara pemerintah pusat di satu pihak dan pemerintah daerah di lain pihak. sedangkan pemerintah daerah hanya menerima penyerahan dari pemerintah pusat. Jakarta. Juli. Desentralisasi sebagai suatu system yang dipakai dalam system pemerintahan merupakan kebalikan sentralisasi. 6 . Cetakan 1. PT Rineka Ripta. Penerapan pembagian kekuasaan dalam rangka penyerahan kewenangan otonomi daerah. Pustaka SInar Harapan. Dalam Negara Kesatuan (unitarisme) otonomi daerah itu diberikan oleh pemerintah pusat (central government).7 Dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara yang menganut prinsip pemencaran kekuasaan secara vertikal. Dalam sistem ini. dimana otonomi daerah sudah melekat pada negara-negara bagian. Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah. 1999. Dalam system sentralisasi.

8 Philip Mawhood menyatakan desentralisasi adalah pembagian dari sebagian kekuasaan pemerintah oleh kelompok yang berkuasa di pusat terhadap kelompok-kelompok lain yang masing-masing memiliki otorisasi dalam wilayah tertentu suatu negara. 10 Ibid.9 satu dengan negara yang lain tidak sama. tujuan desentralisasi antara lain untuk memperkuat pemerintah daerah.10 Tujuan desentralisasi secara umum oleh Smith dibedakan atas 2 (dua) tujuan utama. Hukum Pemerintahan Daerah di Indonesia. Secara politis. 8 .11 Bambang Yudoyono. untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan politik para penyelenggara pemerintah dan masyarakat.9 Sementara itu. dan untuk mempertahankan integritas nasional. yakni tujuan politik dan ekonomis. antara lain adalah untuk meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dalam menyediakan public good and service. serta untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembangunan ekonomi di daerah. 2004. termasuk Indonesia yang menganut negara kesatuan. Upaya Mencegah Desintegrasi Bangsa. Kegamangan Otonomi Daerah? Pustaka Quantum. Jakarta. disampaikan pada seminar dalam rangka kongres ISMAHI di Bengkulu. Sedangkan secara ekonomi. Smith mendefenisikan desentralisasi sebagai proses melakukan pendekatan kepada pemerintah daerah yang mensyaratkan terdapatnya pendelagasian kekuasaan (power) kepada pemerintah bawahan dan pembagian kekuasaan kepada daerah. 9 Siswanto Sunarno. Pemerintah pusat diisyaratkan untuk menyerahkan kekuasaan kepada Pemerintah Daerahseagai wujud pelaksanaan desentralisasi. Sinar Grafika. 22/1999.C. tujuan desentralisasi. 2006. 11 Syarif Hidayat (editor). makalah Telaah Kritis Implementasi UU NO. 22 Mei 2000. B. Jakarta.

Gagasan da Praksis. Juliantara. bukan karena kebaikan hati pemerintah pusat. dkk memberikan pengertian desentralisasi dengan merujuk pada asal katanya. de artinya lepas dan centrum artinya pusat. dalam studi Pemerintahan Daerah. 12 D. Lebih spesifik. Juliantara. Ibid. interchange”. bahwa desentralisasi akan melahirkan otonomi daerah dan bahkan kadangkala sulit untuk membedakan pengertian diantara keduanya secara terpisah. Dengan kata lain. bahwa konstek negara-negara demokrasi modern. “Desentralisasi dan otonomi daerah bagaikan dua sisi mata uang yang saling memberi makna satu sama lainnya. Desentralisasi Kerakyatan. 2006. kekuasaan politik diperoleh melalui pemilihan umum yang diselenggarakan secara regular dan serentak di setiap daerah untuk memberikan legitimasi terhadap tugas dan wewenang lembaga-lembaga politik di tingkat nasional dan juga di tingkat local sendiri. bahwa istilah desentralisasi berasal dari bahasa latin. para analis sering menggunakan istilah desentralisasi dan otonomi daerah secara bersamaan.10 Sedangkan D. Pondok Edukasi.13 Dengan demikian jelaslah. dkk. 13 .12 Lebih jauh ia menyebutkan desentralisasi yang dimaknai dalam konteks yang lebih luas. Itulah sebabnya. Bantul. ungkin tidak berlebihan ila dikatakan ada atau tidaknya otonomi daerah sangat ditentukan oleh beberapa jauh wewenang yang telah didesentralisasikan oleh Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah. kekuasaan pemerintah daerahlah yang memintah dan menarik kembali sebagian kewenangan yang telah diberikan kepada pemerintah pusat.

Dalam hubungan ini negara menginginkan otonomi untuk memperkecil intervensi dan bahkan menghilangkan pengaruh-pengaruh ataupun kaum-kaum kapitalis dan sosialis. Reuter. Kondisi ini kemudian melahirkan konsep Marxis tentang Instrumental State. 14 Sarundajang. sedangkan pemerintah daerah hanya menerima penyerahan dari pemerintah pusat. mengemukakan. yaitu untuk memperbesar kewenangan mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. dilatarbelakangi oleh pengalaman masa lalu dimana keberadaan negara hanya dianggap sebagai instrument oleh kaum kapitalis. Demikian halnya paham Sosialis yang menghendaki adanya otonomi dari pengaruh partai politik (partai komunis) yang cenderung mengintervensikan kehidupan negara. Berbeda halnya dengan otonomi daerah di negara federal. keperluan otonomi di tingkat local pada hakikatnya adalah untuk memperkecil intervensi pemerintah pusat kepada daerah. op cit. Dalam negara kesatuan (unitarisme) otonomi daerah itu diberikan oleh pemerintah pusat (central government). desentralisasi adalah sebagian pengakuan atas penyerahan wewenang oleh badan-badan umum yang lebih tinggi kepada badan-badan umum yang lebih rendah untuk secara mandiri dan berdasarkan pertimbangan kepentingan sendiri mengambil keputusan pengaturan dalam pemerintahan.11 Adanya otonomi daerah dalam negara.14 Oleh karena itu. di mana otonomi daerah sudah melekat pada negara-negara bagian. . Berbeda halnya dengan pemberian otonomi dengan pemerintah local. serta struktur wewenang yang terjadi.

memilih alternatif dan mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan daerahnya. Jakarta. Samitra Media Utama. bila kita cermati prinsip-prinsip hukum dalam pengelolaan masalah-masalah bangsa (nation affairs) ke depan governance dikatakan baik (good atau sound) apabila sumber daya dan masalahmasalah publik dikelola secara efektif dan efisien serta aspiratif yang didasarkan kepada transparansi. maupun pelaksanaan sepenuhnya diserahkan kepada daerah. mengemukakan. perencanaan. akuntabilitas dan partisipasi masyarakat serta rule of law. ekonomi dan administrasi dalam mengelola masalah-masalah layanan tersebut perlu memperhatikan prinsip-prinsip hukum pengelolaan sumber daya yang 15 Oentara Sm. Oleh karena itu pelaksanaan kewenangan politik. baik dalam hal menentukan kebijaksanaan.16 Prakarsa untuk menemukan prioritas. 2004. sebagian diserahkan kepada badan/lembaga pemerintahan di daerah. mengatakn bahwa desentralisasi dari arti luas mencakup setiap penyerahan kewenangan dari pemerintah pusat baik kepada daerah maupun kepada pejabat pemerintah pusat yang ditugaskan di daerah. . Badan Pendidikan dan Latihan Departemen Dalam Negeri. Prospek Pengembangan desentralisasi dan Otonomi Daerah dengan Titik Berat pada Daerah Tingkat II. 1996.15 Koeswara. dkk. Lebih dalam lagi.12 Dalam hal itu Rondineli. Menggagas Format Otonomi Daerah Masa Depan. bahwa pengertian desentralisasi pada dasarnya mempunyai makan bahwa melalui proses desentralisasi urusanurusan pemerintahan yang semua termasuk wewenang dan tanggung jawab pemerintah pusat. 16 Koeswara.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan pemerintah provinsi dalam menjalankan urusan otonomi daerahnya di bidang perpajakan including/ termasuk di dalamnya pemberian pelayanan publik yang baik terhadap wajib pajak sektor tertentu jelas akan menjadi ukuran tingkat kemampuan yang realistas bagi suatu pemerintah provinsi tersebut. equity. prier appropriation (first in time. Artinya bila pemerintah provinsi ternyata tidak mampu mengelola kewenangan dan administrasi pengelolaannya dengan baik. good sustainable development govermance dan participatory development. kewenangan (urusan/administrasi)-nya sebagai mana .13 dimiliki. sustainable development. maka pemerintah pusat memiliki otoritas penuh untuk menarik kembali penyerahan/pemberian kewenangan untuk mengelola urusan seperti kewenangan mengelola/memungut pajak daerah tertentu. subsidiarity. first in right). karena menurut teori subsidiarity secara lugas dan tegas dikatakan bahwa kewenangan yang telah diberikan oleh pemerintah tingkat lebih atas (pusat) kepada pemerintah tingkat lebih rendah (seperti provinsi dan atau kabupaten/kota) akan dapat ditarik kembali oleh tingkat lebih atas bila ternyata tingkat lebih rendah yang menerimanya tidak dapat melaksanakan mestinya. Menurut peneliti prinsip subsidiarity dalam pelaksanaan otonomi daerah dalam koridor Negara Kesatuan Republik Indonesia sangat relevan dan tepat dipedomani dan diterapkan dalam pengelolaan sumber daya pendapatan daerah. seperti prinsip good governance. privaty use.

28. Kertergantungan daerah terhadap pusat dalam pengambilan berbagai keputusan publik diminimalkan.17 Kemandirian daerah ini adalah dimaksudkan untuk tujuan pemberian pelayanan yang efisien. Keputusan publik yang cermat.14 Berdasarkan penjelasan di atas. Laporan penelitian Iris Indonesia dan Pusat Studi Kependudukan UNAND Padang. Pelayanan pemerintah dengan sistem sentralistik. Pendirian sebuah sekolah dikatakan efisien bila daya tampungnya terpenuhi. tepat dan cepat itu adalah merupakan cerminan dari efisiensi pelayanan. partisipatif dan akhirnya peningkatan daya saing daerah. Begitu juga halnya dengan pendirian rumah sakit pada lokasi tertentu. Diharapkan keputusan publik yang dibuat oleh daerah bagi kepentingan masyarakatnya akan lebih cermat. Syahruddin dan Werry Darta Taifur. sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tahun 2002. hal. 17 . diharapkan akan lebih baik dan aspiratif. lebih tepat dan lebih cepat atau dengan kata lain pelayanan akan lebih berdaya guna dan berhasil guna. Keputusan pembuatan jalan raya efisien bila jalan tersebut bermanfaat oleh masyarakat yang ada di sekitarnya. Sasaran dari kemandirian daerah adalah agar daerah dapat mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. kita dapat memahami bahwa salah satu tujuan otonomi yaitu peningkatan pelayanan dan kesejahteraan yang semakin baik. Peranan DPRD untuk Mencapai Tujuan Desentralisasi dan Perspektif tentang Pelaksanaan Desentralisasi. Untuk itu dengan desentralisasi diharapkan daerah akan memberikan pelayanan yang lebih baik dibandingkan dengan sistem sentralistik. Pelayanan pemerintah di era otonomi.

19 Baca David Osborne dan Ted Gaebler. Untuk mencapai pelaksanaan pelayanan umum tersebut dibutuhkan oaparatur yang berkualitas.19 Dengan desentralisasi pemerintahan maka pemerintahan Ryaas Rasyid. memenuhi memuaskan. 18 . Mengingat tujuan utama dibentuknya pemerintahan adalah untuk menjaga sistem ketertiban di dalam masyarakat. perangkat hukum yang berfungsi sebagai acuan dalam pengendalian. PT. kebutuhan. 1993. menanggapi keluhan masyarakat secara sesuai dengan ekspektasi (harapan) mereka melalui kebijaksanaan. memiliki kemampuan dalam melayani. hal. sehingga bisa menjalani kehidupannya secara wajar. Yarsif Watampone. sehingga rakyat di daerah dapat mengekspresikan kepentingan dan kehendaknya. Reinventing Government. Untuk itu pemerintah daerah perlu menyusun kerangka kerja yang memungkinkan terserapnya berbagai potensi dan aspirasi rakyat terutama prinsip pelayanan. Teori mewujudkan pemerintahan good modern mengajarkan dijalankan bahwa untuk governance perlu desentralisasi pemerintahan. Jakarta. Pemerintah diadakan tidaklah untuk melayani dirinya sendiri tetapi juga untuk melayani masyarakat. 250 dst.15 Dalam rangka itu reposisi daerah hendaknya dipahami sebgai upaya mengaktualisasikan berbagai potensi dan aspirasi masyarakat daerah. 1997. pengaturan agar kekuatan sosial dan aktivitas masyarakat tidak membahayakan negara dan bangsa. Makna Pemerintahan : Tinjauan dari Segi Etika dan Kepemimpinan.18 dalam mengembangkan kemampuan dan kreatifitasnya demi mencapai tujuan bersama.

waktu itu Wakil Presiden Sudarmono.16 akan semakin dekat dengan rakyat. Ryaas Rasyid. hemat. the better it service”. LP3ES. Hal itu jika pusat menyadari secara filosofis dan sosiologis otonomi yang dibangun bikan linear atau simetris tetapi suatu asymmetric decentralization. Desentralisasi dalam Rangka Menunjang Pembangunan Daerah. 1997. ia ibarat dua sisi mata uang yang satu dan yang lain saling memberi nilai. Kasus Pemilihan Gubernur Riau tanggal 2 September 1985 di mana Ismail Suko yang memperoleh dukungan DPRD dengan 19 suara. dan juga tidak sesuai dengan ajaran rumah tangga riil. akibatnya kemandirian dan otoaktivitas daerah menjadi tersumbat. Dalam sejarah otonomi di Indonesia sejak kemerdekaan memang sarat dengan kebohongan.20 Dalam desentralisasi terkandung makna otonomi dan demokratisasi. maka pelayanan yang diberikan menjadi lebih cepat. Ryaas Rasyid mengatakan ”the closer givernment. Imam Munandar yang memperoleh dukungan 17 suara. Adanya otonomi kebijakan otonomi khusus bagi Propinsi Aceh dan Irian Jaya memang lahir di tengah derasnya tuntutan disintegrasi. Tesis. hal. responsif. Asumsinya pemerintahan yang dekat denagn rakyat. dalam Administrasi Pembangunan Indonesia. 1998. 140.22 M. inovatif. Hal itulah yang kemudian melahirkan resistensi daerah terhadap pusat yang sangat menguras energi menyelesaikannya. Titik Berat Otonomi pada Daerah Tingkat II. karena kuatnya arus sentralisasi Ismail Siko menyatakan mundur dari pencalonan Gubernur setelah diminta menghadap Ketua Golkar. tetapi dalam implementasinya terjadi pemasungan-pemasungan melalui filter-filter yuridis peraturan pelaksanaan undang-undang tersebut. Pascasarjana Unpad. 20 . murah. akomodatif dan produktif. 21 Yuslim. sementara H. Yuridis formal dalam undang-undang pemerintahan daerah otonomi diakui. 22 Kebijakan otonomi yang uniformitas tidak sesuai dengan esensi kebhinekaan di Indonesia. Dua kata tersebut yakni otonomi dan demokrasi tidak mungkin dipisahkan. Otonomi tanpa demokratisasi merupakan suatu keniscayaan21 dan sebaliknya demokratisasi tanpa otonomi adalah kebohongan.

Pelayanan kepada masyarakat tersebut terintegrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. 2) melakukan pembangunan fasilitas ekonomi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi (development for economic growth). dan ketertiban. 24 . yaitu memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pelayanan tersebut dilakukan oleh pemerintah pusat. maka pemerintah akan dapat mewujudkan tujuan negara yaitu menciptakan kesejahteraan masyarakat. dan 3) memberikan perlindungan (protective) 23 Hanif Nurcholish.23 Pelayanan publik berhubungan dengan pelayanan yang masuk kategori sektor publik. Ketiga komponen yang menangani sektor publik tersebut menyediakan layanan publik. 176. Grasindo. pendidikan. 175. keamanan. Pemerintah baik pusat maupun daerah mempunyai tiga fungsi utama : 1) memberikan pelayanan (service) baik pelayanan perorangan maupun pelayanan publik/khalayak. seperti kesehatan. PT. Dengan pemberian pelayanan yang baik kepada masyarakat. Hal ini berkaitan dengan fungsi dan tugas pemerintahan secara umum. bukan sektor privat. pemerintah daerah dan BUMN/BUMD. 2005. Teori dan Pratek Pemerintahan dan Otonomi Daerah.24 Dengan demikian yang dimaksud pelayanan publik adalah pelayanan yang diberikan oleh negara/daerah dan perusahaan milik negara kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dalam rangka menciptakan kesejahteraan masyarakat. Ibid. hal.17 2) Pelayanan Umum Pelayanan pemerintahan daerah merupakan tugas dan fungsi utama pemerintah daerah. hal. bantuan sosial dan penyiaran.

IMB. Untuk mengetahui sejauh mana kualitas pelayanan yang diberikan oleh pemerintah daerah bisa diukur dengan indikator-indikator : mudah. paspor. hal. Pemerintah Daerah tidak boleh menganakemaskan atau menganaktirikan kelompok masyarakat tertentu. 182. 27 Ibid. harus mendapatkan pelayanan yang sama. Pelayanan untuk orang perorangan misalnya pemberian KTP. taman nasional.27 Dengan demikian pelayanan publik oleh pemerintah daerah harus dapat memuaskan publik. panti anak yatim/jompo/cacat/miskin. orang biasa. petugasnya 25 26 Ibid. SIM. tidak berbelit. Tidak boleh dibeda-bedakan baik dengan sikap. orang desa atau kota. Sertifikat tanah. hutan lindung.18 masyarakat. sehingga yang satu diberi lebih dan yang lain diberi sedikit. Semua orang tanpa kecuali baik kaya. Pelayanan publik misalnya pembuatan lapangan sepakbola. pemerintah wajib memberikan pelayanan publik secara perorangan maupun khalayak/publik. 178. Disamping itu juga harus diperlakukan oleh petugas dengan sikap yang sopan dan ramah. miskin.26 Oleh karena itu pemerintah daerah wajib memberikan pelayanan perorangan dengan biaya murah. Ibid. harus diperlakukan sama. tempat pedagang kaki lima dan lain-lain. biaya maupun waktu penyelesaian. cepat dan baik. waduk. surat izin dan keterangan. murah. pejabat.25 Sebagai fungsi public services. trotoar. cepat. hal. taman kota. . Pelayanan pemerintah daerah kepada khalayak juga harus adil dan merata.

tempat parkir. berkaitan dengan prilaku orang-orang yang berintegrasi langsung kepada pelanggan eksternal. berkaitan dengan penerimaan pesanan dan penanganan keluhan pelanggan eksternal (masyarakat). dan lain-lain. Kesopanan dan keramahan dalam memberikan pelayanan. Kemudahan mendapatkan pelayanan. fasilitas musik. AC. berkaitan dengan lokasi. . berkaitan dengan keakuratan pelayanan dan bebas dari kesalahan-kesalahan. petugasnya membantu jika ada kesulitan. Vincent Gesperz juga mengemukakan manajemen perbaikan kualitas yang dikenal dengan konsep Vincent. Tanggung jawab. ketersediaan informasi dan petunjuk panduan lainnya. meliputi dimensi-dimensi berikut :28 Ketaatan waktu pelayanan. berkaitan dengan banyaknya petugas yang melayani dan fasilitas pendukung. Atribut pendukung lainnya. op. 28 Ditjen Pemerintahan Umum.cit. seperti lingkungan. adil dan merata serta memuaskan. mengemukakan bahwa kualitas pelayanan. ruang tunggu. Kenyamanan mendapat pelayanan. kebersihan. ruangan tempat pelayanan. berkaitan dengan waktu tunggu dan waktu proses Akurasi pelayanan.19 murah senyum. 3) Kualitas Pelayanan Vincent Gesperz.

Ada yang menterjemahkan menjadi ”tata pemerintahan”. 27. Perubahannya akan mencakup tiga dimensi yaitu dimensi struktural.20 Konsep ini terdiri dari strategi perbaikan kualitas yaitu : 4) Visionary transformation (tranformasi misi) Infrastructure (infrastruktur) Need for Improvement (kebutuhan untuk perbaikan) Customer Focus (Fokus Pelanggan) Empowerment (Pemberdayaan) NewViews of Quality (pandangan baru tentang kualitas) Top Management ( Komitmen manajemen puncak) Prinsip Good Governance Word Bank maupun UNDP mengembangkan istilah baru yaitu ”governace” sebagai pendamping kata ”government”. Alqprint Jatinangor. ada pula yang menterjemahkan menjadi ”kepemerintahan”. Istilah tersebut sekarang sedang sangat populer digunakan dikalangan akademisi maupun masyarakat luas. Bandung. termasuk di Indonesia. 29 .29 Perubahan penggunaan istilah dengan pengertiannya akan mengubah secara mendasar pratek-pratek penyelenggaraan pemerintahan di seluruh dunia. Perubahan struktural menyangkut struktur hubungan antara pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah. hal. Kapita Selekta Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Kata ”governace” kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dalam berbagai kata. struktur hubungan antara eksekutif dan legislatif maupun struktur hubungan antara pemerintah Sadu Wasistiono. dimensi fungsional serta dimensi kultural.

Governance berarti pelaksanaan pemerintahan. sedangkan (good governance) adalah pelaksanaan pemerintahan yang baik (penyelenggaraannya).30 United Nation Development Programe (UNDP). Tentu saja pengelolaan yang efektif dan efisien dan responsive terhadap kebutuhan rakyat menuntut iklim demokrasi dalam pemerintahan. pengelolaan sumber daya alam dan pengelolaan masalah-masalah publik yang didasarkan pada keterlibatan masyarakat. Ini berarti good governance adalah pemerintahan yang baik (lembaga). memberikan batasan pada kata governance sebagai “pelaksanaan kewenangan politik.21 dengan masyarakat. Sedangkan perubahan kultural menyangkut perubahan pada tata nilai dan budaya-budaya yang melandasi hubungan kerja intraorganisasi. ekonomi. Perubahan fungsional menyangkut perubahan fungsifungsi yang dijalankan pemerintah pusat. Clean government mengandung arti pemerintahan yang bersih (lembaga). dan administrasi dalam mengelola masalah-masalah bangsa”. akuntabilitas. 30 Ibid. pemerintah daerah maupun masyarakat. . antarorganisasi maupun eksraorganisasi. yang merupakan respon terhadap kebutuhan masyarakat. sedangkan Clean government berarti pelaksanaan pemerintahan yang bersih. Governance dikatakan baik (good atau sound) apabila sumber daya publik dan masalah-masalah publik dikelola secara efektif dan efisien. serta transparan.

Partisipasi rakyat warga negara dilakukan tidak hanya pada tahapan implementasi. Salah satu syarat kehidupan demokratisasi adalah adanya penegakan hukum yang adil dan Sadu Wasistiono. nazar Suhendar (eds). Alqaprint Jatinangor.31 Partisipasi (Participation) Sebagai pemilik kedaulatan rakyat. berpemerintahan serta bermasyarakat. yaitu : Ada rasa kesukarelaan (tanpa paksaan) Ada keterlibatan secara emosional Memperoleh manfaat secara langsung maupun tidak langsung dari keterlibatannya. bernegara dan berpemerintahan. Bandung. hal 2-3. 27. hal. Syarat utama warga negara disebut transparansi dalam kegiatan berbangsa. Penegakan Hukum (Rule of Law) Good governance dilaksanakan dalam rangka demokratisasi kehidupan berbangsa dan bernegara. LSM dan lain sebagainya. Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI). setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban untuk mengambil bagian dalam bernegara. lihat juga dalam Agung Hendarto. 2002. 31 . Partisipasi tersebut dapat dilakukan secara langsung maupun melalui institusi intermediasi seperti DPRD. Good government dan Penguatan Institusi Daerah. evaluasi serta pemanfaatan hasil-hasilnya. pelaksanaan.22 Baik buruknya suatu pemerintahan bisa dinilai bila ia telah bersinggungan dengan semua unsur prinsip-prinsip good governance sebagaimana tersebut di bawah ini. tetapi secara menyeluruh mulai dari tahapan penyusunan kebijakan. Kapita Selekta Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.

orang secara bebas berupaya mencapai tujuannya sendiri tanpa mengindahkan kepentingan orang lain. Untuk mengetahui kepuasan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan . langkah awal penciptaan good governance adalah membangu sistem hukum yang sehat.23 dilaksanakan tanpa pandang bulu. tidak akan tercipta kehidupan yang demokratis. maka setiap komponen yang terlibat dalam proses pembangunan good governance perlu memiliki daya tanggap terhadap keinginan maupun keluhan para pemegang saham (satake holder). Karakteristik ini sesuai dengan semangat zaman yang serba terbuka akibat adanya revolusi informasi. Tanpa penegakan hukum yang tegas. Daya Tanggap (Responsiveness) Sebagai konsekwensi logis dari keterbukaan. Keterbukaan tersebut mencakup semua aspek aktivitas yang menyangkut kepentingan publik mulai dari proses pengambilan keputusan. melainkan anarki. Upaya peningkatan daya tanggap tersebut terutama ditujukan pada sektor publik yang selama ini cendrung tertutup. Oleh karena itu. Transparansi (Transparancy) Salah satu karakteristik good governance adalah keterbukaan. penggunaan dana-dana publik sampai pada tahap evaluasi. arogan serta berorientasi pada kekuasaan. baik perangkat lunak (software). perangkat keras (hardware) maupun sumber daya manusia yang menjalankan sistemnya (human ware). termasuk menghalalkan segala cara. Tanpa penegakan hukum.

yang berisi dua hal utama yaitu konflik dan konsensus. Tekanan perlunya efektivitas dan efisiensi terutama ditujukan pada sektor publik karena sektor ini . yang dilanjutkan dengan kesedian untuk konsisten melaksanakan konsensus yang telah diputuskan bersama. Berorientasi pada Konsenseus (Consensus Orientation) Kegiatan bernegara. kegiatan domain dalam governance perlu mengutamakan efektivitas dan efisiensi dalam setiap kegiatan. secara periodik perlu dilakukan survey tingkat kepuasan konsumen (custumer satisfaction). berpemerintahan dan bermasyarakat pada dasarnya adalah kreatifitas politik. setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh kesejahteraan. Konsensus bagi bangsa Indonesia sebenarnya bukanlah hal baru. pengambilan keputusan maupun pemecahan masalah bersama lebih diutamakan berdasarkan konsensus.24 oleh sektor publik. Keadilan (Equity) Melalui prinsip good governance. maka sektor publik perlu memainkan peranan agar kesejahteraan dan keadilan dapat berjalan seiring sejalan. Di dalam good governance. Akan tetapi karena kemampuan masing-masing warga negara berbeda-beda. Keefektifan dan Efisiensi (Effectiveness and Efficiency) Agar mampu berkompetisi secara sehat dalam percaturan dunia. karena nilai dasar kita dalam memecahkan persoalan bangsa adalah melalui “musyawarah”.

setiap domain dalam good governance perlu memiliki visi yang strategis. maka suatu bangsa dan negara akan mengalami ketertinggalan. akuntabilitas itu sendiri dapat dibedakan menjadi lima macam yaitu sebagai berikut : Akuntabilitas Organisasional / administratif. yakni masyarakat luas.25 menjalankan aktivitasnya secara monopolistik. Tanggung gugat dan tanggung jawab tidak hanya diberikan kepada atasan saja melainkan juga pada para pemegang saham (stake holder). Visi itu sendiri dapat dibedakan antara visi jangka panjang (long term vision) antara 20 sampai 25 tahun (satu generasi) serta visi jangka pendek (short term vision) sekitar 5 tahun. 2 Kerangka Konseptual 1) Pengeseran kewenangan Administrasi Negara . Akuntabilitas legal Akuntabilitas politik Akuntabilitas profesional Akuntabilitas moral Visi Strategis (Strategic Vision) Dalam era yang berubah secara dinamis seperti sekarang ini. Secara teoritis. Tanpa adanya kompetensi tidak akan tercapai efisiensi. Akuntabilitas (Accountability) Setiap aktivitas yang berkaitan dengan kepentingan publik perlu mempertanggungjawabkan kepada publik. Tanpa adanya visi semacam itu.

bila dicermati pengertian Pasal 7 ayat (2) UndangUndang Nomor 22 Tahun 2004 diterangkan bahwa kewenangan bidang lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro. Bila pergeseran kewenangan termasuk kewenangan yang bertalian dalam menerbitkan berbagai bentuk tata usaha negara atau administrasi negara yang semula terpusat/terkonsentrasi (dikuasai) oleh pemerintah pusat tentu pergesaran tersebut akan termasuk berbagai kewenangan tata usaha negara atau administrasi negara yang selama ini ditangani pusat akan menjadi kewenangan dan tanggung jawab daerah. dengan pengertian tidak lagi bertindak sebagai menetapkan setiap kebutuhan daerah. pemberdayaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis. Artinya kewenangan –kewenangan yang semua diatur dan ditentukan oleh Pemerintah Pusat otonotis berpindah dan telah menjadi kewenangan dan tanggung jawab Daerah. Dalam pada itu. disebutkan bahwa posisi pemerintah pusat hanya sebatas menyiapkan dan berbuat yang bersifat kebijakan-kebijakan saja. . dana perimbangan keuangan. konservasi dan standardisasi nasional.26 Sejak diundangkannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan saat ini telah diperlakukannya UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 telah membawa berbagai implikasi sebagai akibat adanya pergeseran kewenangan yang semua bersifat sentralistik menjadi desentralistik. sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara. pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia.

daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi. tanggal 11 November 1994. Menurut Bagir Manan. penghapusan. keistimewaan dan kekhususan serta potensi dari Daerah dalam sistem Negara Kesatuan RI inilah prinsip dari otonomi seluas-luasnya itu yaitu berdasarkan asas otonomi dan urusan pembantuan. penetapan dan berbagai kewenangan lain bergeser/berpindah menjadi hak dan kewenangan Daerah Propinsi.27 Selain itu. persetujuan. Begitupun dalam pengertian otonomi luas vide Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. pengembangan kehidupan demokrasi. akan terlepasnya hak dan kewenangan pusat berupa ijin yang meliputi pengesahan. dalam Undang-Undang Pemerintaha Daerah disebutkan pula bahwa otonomi yang bertanggung jawab adalah berupa perwujudan pertanggungjawaban sebagai konsekuensi pemberian hak dan kewenangan kepada Daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang harus dipikul oleh Daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi tersebut berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik. Kabupaten/Kota. 2) Efektivitas Reformasi Perpajakan 32 Bagir Manan. keadilan. keadilan dan pemerataan.32 ketentuan ini memberikan gambaran bahwa otonomi daerah itu merupakan wewenang dari daerah. Fungsi dan Materi Peraturan Perundang-undangan. hal 2 . Makna pengertian Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan pengertian otonomi bertanggung jawab. makalah disampaikan pada Penataran Dosen Pendidikan dan Latihan Kemahiran Hukum BKS-PTN bidang Hukum seWilayah Barat. pemerataan. Fakultas Hukum Universitas Lampung di Bandar Lampung.

Dengan harapan dapat meningkatkan kinerja yang dapat diukur berdasarkan produktivitas. Perubahan sistem perpajakan didikuti dengan penyempurnaan administrasi perpajakan melalui perubahan struktur organisasi melalui reorganisasi. : Target Akhir administrasi perpajakan adalah untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak. responsivitas dan akuntabilitas. Sasaran Administrasi perpajakan adalah untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak (Toshiyuki). menjadi sistem self assesment.28 Upaya pemerintah untuk meningkatkan penerimaan pajak salah satunya melalui: Reformasi perpajakan (1983) dengan perubahan sistem perpajakan yaitu dari sistem official assesment. bahwa dalam sistem self assesment aktifitas utama administrasi perpajakan adalah untuk mengawasi kepatuhan dan meyakinkan bahwa wajib pajak menjalankan kewajiban perpajakannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam hal: Pendaftaran wajib pajak Penilaian Menjalankan Prosedur pemungutan Pelaporan penghindaran dan penggelapan pajak Menurut Bird dan Jantscher terdapat hubungan antara administrasi perpajakan dengan kepatuhan wajib pajak yang dapat memperkecil angka . harus terus dilakukan secara berkesinambungan.

Berdasarkan hal tersebut di atas dapat dikatakan bahwa kepatuhan wajib pajak saat ini masih rendah.583. Reformasi Administrasi Publik Teori dan Praktek.33 Administrasi pajak yang baik pada dasarnya tidak mampu mengumpulkan penerimaan pajak sebesar-besarnya. Pengukuran lebih akurat untuk mengetahui efektivitas administrasi perpajakan adalah berapa besarnya jurang kepatuhan.960 wajib pajak. Artinya Sistem Perpajakan Nasional belum dapat meningkatkan pembayaran beban pajak 33 Chaizi Nasuha. pelaporan SPT dan pelunasan pajak terhutang. yaitu selisih antara penerimaan pajak yang sesungguhnya dengan penerimaan pajak potensial dengan tingkat kepatuhan dari masingmasing sektor perpajakan. hal. Hal ini dapat dilihat dari aspek pemenuhan kewajiban perpajakan. pendaftaran. 8-9 . 2004. Bukan hanya melihat dari aspek peningkatan penerimaan saja. jadi penerimaan pajak bukan merupakan ukuran yang tepat atas efektivitas administrasi perpajakan. pendeknya kepatuhan WP dapat diidentifikasikan sebagai berikut: Pertama : Kepatuhan wajib pajak dalam mendaftarkan diri. khususnya yang berkaitan dengan kewajiban. Jakarta.29 ketidak patuhan. seperti gaji pegawai. Grasindo. tetapi tidak mampu untuk menagih pajak dari perusahaan-perusahaan dan profesional. jumlah wajib pajak yang terdaftar pada administrasi pajak masih sangat rendah (pada tahun 2002 dari 210 juta jumlah penduduk wajib pajak orang pribadi dan badan yang terdaftar hanya 2. Administrasi perpajakan yang mudah ditagih.

demografi (jenis kelamin dan umur). Ketiga : Kepatuhan wajib pajak dalam perhitungan dan pembayaran pajak terhutang masih rendah (1. penawaran tenaga kerja. Kedua : Kepatuhan wajib pajak untuk menyetor kembali Surat Pemberitahuan (SPT).30 yang terdistribusi secara merata. kondisi sosial . Keempat : Kepatuhan dalam pembayaran tunggakan pajak. 17. kebijakan dan keuangan publik.35% dari keseluruhan wajib pajak efektif yaitu 2. besarnya jumlah tunggakan dan rendahnya pencapaian penagihan pajak tiap tahun menunjukkan bahwa penegakkan hukum melalui penagihan aktif belum dilaksanakan secara optimal sesuai dengan ketentuan. akumulasi jumlah nominal tunggakan pajak cukup besar (sampai tahun 2000 Rp. moral wajib pajak.960 wajib pajak). Kepatuhan wajib pajak dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain: Pelayanan Publik. Dengan demikian menurut Chaizi Naruha tersebut terlihat bahwa ada hubungan/korelasi antara reformasi perpajakan dengan tingkat kepatuhan wajib pajak. Menurut Andreoni et.583. bentuk organisasi. al. tarif pajak.068.467 WP atau 41. karena hanya 10 % lebih wajib pajak yang menanggung beban pajak (Tax Corverage Ratio). jenis pekerjaan.3 Triliun.

strategi organisasi. (SAMSAT/UPTD) dalam meningkatkan kepatuhan wajib pajak. hal 28-29 . dan budaya organisasi. Mengingat banyaknya faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak. prosedur organisasi. 3) Kinerja Sektor Publik 34 Ibid. Permasalahan pokok yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah apakah reformasi administrasi perpajakan yang telah dilakukan selama ini sudah atau belum secara menyeluruh mencakup perubahan dari aspek struktur organisasi. prosedur. kompleksitas dan amnesti pajak. untuk membatasi permasalahan penelitian ini hanya difokuskan pada pengaruh efektivitas reformasi administrasi perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak yang meliputi reformasi organisasi. strategi organisasi dan budaya organisasi. sehingga berpengaruh terhadap akuntabilitas organisasi. penegakan hukum (audit dan penalti). prosedur organisasi.31 masyarakat. baik yang menyangkut aspek struktur organisasi. strategi organisasi maupun budaya organisasi dapat menyebabkan akuntabilitas organisasi dan tingkat kepatuhan wajib pajak rendah dan ini berdampak juga pada rendahnya kinerja perpajakan. Berdasarkan gambaran di atas. terlihat bahwa tingkat kepatuhan wajib pajak dipengaruhi oleh bagaimana administrasi perpajakan dijalanka.34 Administrasi perpajakan yang lemah.

responsivitas. (Interplant. Lima indikator untuk mengukur kinerja sektor publik. responsibilitas. hal.35 Di samping itu ada pula pendapat yang menyamakan pengertian kinerja dengan efisiensi dan efektivitas. 1969 : 15)36 Atmo Sudirjo.37 a. produktifitas. 35 36 Ibid.32 Kinerja merupakan tingkat pencapaian tujuan organisasi menurut. kualitas pelayanan. Levine. 77-78). kinerja adalah tingkat pencapaian (the degree of accomplishment). dari segi efisiensi dan efektivitas. Berbagai pendapat menyamakan kinerja (performance) dengan prestasi kualitas pelaksanaan tugas atau aktivitas pencapaian tujuan dan misinya. Produktivitas adalah ukuran seberapa pelayanan publik itu menghasilkan yang diharapkan. b. hal 24 37 Loc cit . 24 Opcid. prestasi penyelenggaraan sesuatu. dan akuntabilitas. Rue dan Bryan. Kualitas pelayanan adalah ukuran-ukuran citra yang diakui masyarakat mengenai pelayanan yang diberikan yaitu masyarakat merasa puas atau tidak puas. (Miles dan Snow 1978. Kinerja bagi setiap organisasi sangat penting terutama penilaian ukuran keberhasilan suatu organisasi dalam batas waktu tertentu. berpendapat bahwa kinerja dapat berarti prestasi kerja.

kewajiban dan seterusnya yang diuraikan di bawah ini. Responsibilitas adalah ukuran apakah pelaksanaan kegiatan sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar. tata kerja. Akuntabilitas adalah ukuran seberapa besar kebijakan dan kegiatan organisasi publik dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat atau konsisten dengan kehendak rakyat. terkait beberapa istilah dalam administrasi Negara. Responsivitas adalah ukuran kemampuan organisasi untuk mengenali kebutuhan masyarakat.39 38 39 Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum Departemen Dalam Negeri. Dari pengertian tentang pelayanan umu di atas. tata laksana. menyusun agenda dan prioritas pelayanan publik sesuai kebutuhan dan aspirasi masyarakat. 81 Tahun 1993 adalah segala bentuk pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah di pusat. seperti instansi pemerintah.33 c. sistem kerja.38 Sedangkan pelayanan umum menurut Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara ( Men-Pan ) No. e.3 . Ibid. hal. bai dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan. 4) Pelayanan Publik dalam Administrasi Negara Pengertian pelayanan adalah suatu proses bantuan kepada orang lain dengan cara-cara tertentu yang memerlukan kepekaan dan hubungan interpersonal agar terciptanya kepuasan dan keberhasilan. di daerah dan lingkungan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dalam bentuk barang dan atau jasa. prosedur kerja. d.

prosedur dan sistem kerja dalam melaksanakan kegiatan yang berkenaan dengan penyelenggaraan tugas dan fungsi pemerintah dan pembangunan pelayanan di bidang umum. 2. fasilitas. Sistem Kerja . ruang. Tata Laksana Yang dimaksud dengan tata laksana adalah segala aturan yang ditetapkan oleh pimpinan instansi pemerintah yang menyangkut tata cara. Prosedur Kerja Yang dimaksud dengan prosedur kerja adalah rangkaian tata kerja yang berkaitan satu sama lain. Instansi Pemerintah Yang dimaksud dengan instansi pemerintah di sini adalah sebutan kolektif yang meliputi satuan kerja atau satuan organisasi suatu departemen. termasuk BUMN dan BUMD.34 1. sehingga menunjukkan adanya urutan secara jelas dan pasti serta cara-cara yang harus ditempuh dalam rangka penyelesaian suatu bidang tugas. 4. Tata Kerja Tata kerja dimaksudkan sebagai cara-cara pelaksanaan kerja yang efisien mengenai satu atau serangkaian tugas dengan memperhatikan segisegi tujuan. 3. peralatan. tenaga waktu. 5. biaya yang tersedia. instansi pemerintah lainnya. lembaga pemerintah bukan departemen. baik instansi pemerintah di tingkat pusat maupun instansi pemerintah di tingkat daerah.

6. kewajiban bukan hanya melekat pada pejabat. tetapi setiap aparatur dalam lingkungan kerja ketika bertemu dengan pelanggan. Yang diukur dari standar waktu dan biaya berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM). Penelitian . F Metode Penelitian a. Dalam hal ini secara normatif apakah telah berhasil atau gagal menciptakan kinerja (pencapaian target penerimaan/ pemungutan pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor) secara bersamaan yang ditilik dari aspek kepatuhan wajib pajak (kesadaran hukum masyarakat) dan pemahaman aparat perpajakan dalam memberikan pelayanan saat mengemban tugasnya sehari-hari. Kewajiban Kewajiban di sini diartikan sebagai aparatur penyelenggaraan pelayanan umum untuk mengambil tindakan dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Artinya harus proaktif dalam menyambut kedatangan pelanggan. Dalam rangka memuaskan masyarakat sebagai pelanggan. Misalnya wajib untuk menanyakan apa yang diinginkan pelanggan yang hadir pada waktu itu.35 Sistem kerja di sini diartikan dengan rangkaian tata kerja dan prosedur kerja yang membentuk suatu kebulatan pola kerja tertentu dalam rangka mencapai hasil kerja yang diharapkan. Pendekatan Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan empiris menurut penelitian hukum sosiologis untuk mengetahui efektivitas dan dampak hukum dari adanya kebijaksanaan publik pelayanan di bidang perpajakan.

Hukum Pajak Daerah.36 ini menggunakan data kuantitatif dan kualitatif yang diperdapat saat survey deskriptif. . Padang Utara. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada Kantor Bersama SAMSAT/ UPTD Pelayanan Pendapatan Provinsi Sumatera Barat di Padang dengan wilayah kerja meliputi wilayah otonom dan Administratif Kota Padang yang terdiri dari sebelas Kecamatan. Kuranji. Metode dan Alat Pengumpulan bahan hukum. Padang Barat. data statistik berupa PDRB. Padang Selatan. Pengambilan sampel penelitian diambil dari lima kecamatan tertentu yang padat penduduknya di Kota Padang. Lubuk Kilangan dan Pauh dengan 103 kelurahannya. Teknik pengumpulan data yang digunakan tergantung kepada data dan sumber data yang dibutuhkan. yang disampaikan dalam bentuk deskripsi kualitatif. b. sedangkan kecamatan lain (6 kecamatan) hanya 2 kecamatan (diambil/dipilih) secara acak. Koto Tangah. untuk mengumpulkan data primer dan sekunder. untuk memperoteh informasi serta gambaran empirik tentang data-data yang diperlukan dengan mengadakan pengamatan langsung pada obyek penelitian. 2) Observasi. laporan-laparan dan lain-lain yang berkaitan dengan tujuan penelitian. antara lain adalah : 1) Dokumentasi. penulis menganalisa dokumen-dokumen dalam bentuk tulisan. Pendapatan Asli Daerah. Lubuk Begalung. Data yang dikumpulkan antara lain tentang APBD. Teluk Kabung. data kepegawaian. sesuai dengan kompetensi keperluan situasi dan kondisi sampel. Nanggalo. yaitu Kecamatan Padang Timur. c.

adalah percakapan langsung dengan maksud untuk memperkuat data sekunder yang diperlukan dalam penelitian. yang ada pada Kantor Bersama SAMSAT/UPTD Pelayanan Pendapatan Provinsi Sumatera Barat di . juga ditetapkan para fungsionaris pejabat terkait yang berkompeten mengambil kebijakan terhadap kinerja Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Barat dan UPTD Samsat Padang yakni pejabat yang menempati tingkatan (top management. Tehnik wawancara yang digunakan adalah wawancara terbuka (open interview) dengan maksud agar responden tahu bahwa mereka sedang diwawancarai dan mengetahui pula maksud wawancara tersebut. diambil sebagai sampel sebanyak 42 orang (10%). middle management. dan lower rrranagement' serta staf) serta para penentu kebijakan pada Pemerintah Propinsi Sumatera Barat dan Jajaran Polda Sumatera Barat. Populasi dan Sampel Dari populasi 420 yang didapatkan dari jumlah rata-rata wajib pajak dan aparat perpajakan terkait setiap harinya. Untuk itu instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman wawancara (indepth interview) yang merupakan penuntun bagi peneliti dalam mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka sehingga memberikan kebebasan yang seluas-luasnya bagi responden untuk menyampaikan pendapatnya. 4) Untuk melengkapi sumber data primer dalam penelitian ini.37 3) Wawancara. Percakapan itu dilakukan aleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (responden). d.

yaitu orang-orang yang relevan dianggap mengetahui masalah objek penelitian dengan melakukan wawancara. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari responden (wajib pajak) dan petugas pajak serta pejabat yang berwenang/ terkait. Kecamatan Padang Barat 8 orang. Ditlantas Polda Sumatera Barat. PT. Untuk melengkapi data yang diperoleh secara langsung dari responden tersebut. Teknik yang dipakai dalam pengambilan sampel adalah Stratified random sampling. Data yang diperoleh antara lain yang berkaitan dengan situasi dan Kondisi . Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Kecamatan Koto Tangah 8 orang. Sedangkan Data Sekunder merupakan data yang diperoleh dari buku referensi dan data yang ada di Dispenda Provinsi Sumatera Barat. karena dcngan cara ini sub kelompok yang spesifik akan memiliki jumlah yang cukup terwakili dalam sampel.38 Padang. Kecamatan Lubuk Begalung 8 orang dan Kecamatan Bungus 28 orang dan 2 orang dari aparat pajak yang berdomisili di luar Kota Padang. Dalam strategi ini populasi dikategorikan dalam kelompok-kelompok yang memiliki strata yang sama sesuai karakteristik masing-masing responden. dari para wajib pajak dipilih sampelnya sebanyak 42 orang yang berasal dari masyarakat Kota Padang dalam wilayah 5 kecamatan sampel/terpilih yaitu Kecamatan Padang Timur 8 orang. serta menyediakan jumlah sampel sebagai sub analisis dari anggota kelompok tersebut. data juga diperoleh dari beberapa informan tertentu. Jasa Raharja (Persero) Cabang Sumatera Barat dan Kantor Bersama Samsat Sumatera Barat di Padang.

d. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2006 tentang Standarisasi Sarana dan Prasarana Kerja Pemerintah Daerah. antara lain : Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal. 63/KEP/ M. f. e. g. c.39 Samsat. .PAN/2/2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah. meliputi manusia (kualitas dan kuantitas) dan prasarana serta wajib pajak yang dilayani. a. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Instruktur Presiden No. Instruksi Presiden No. h. 1 Tahun 1995 tentang Perbaikan Mutu Pelayanan Aparatur Pemerintahan Kepada Masyarakat. b.PAN/2003 tentang Pedoman Umum Penyeleng-garaan Pelayanan Publik. seperti sumber daya yang tersedia. Data Sekunder ini diperoleh melalui penelitian kepustakaan yang bersumber dari : 1. Selain itu. Daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Bahan Hukum Primer. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara : Kep/25/M.

Kep/26/M. Komando Daerah Kepolisian dan Aparat Departemen Keuangan dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat serta peningkatan Pendapatan Daerah khususrya mengenai Pajak Kendaraan Bermotor. Surat Keputusan Bersama Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima ABRI. . Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor PoI/KEP/13/XII/1976. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. n. k. Nomor KEP. Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2002 tentang Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan. m. Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2003 tentang Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air. Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air. Surat Keputusan Gubernur Sumatera Barat Nomor 22 Tahun 2001 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Provinsi Sumatera Barat.40 i.PAN/2/2004 tentang Petunjuk Teknis Transparansi dan Akuntabilitas dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 1973 tentang Pembentukan Dinas Pendapatan Daerah. l. o. j. tentang Peningkatan Kerjasama antara Pemerintah Daerah Tingkat I.1693/MK/TU/12/1976 dan Nomor 311 Tahun 1976.

41 p. q. tentang Standar Pelayanan Minimal Penerbit STNK. Bahan Hukum Sekunder Dihimpun melalui kegiatan penelitian dengan memanfaatkan media cetak dan elektronik berupa buku-buku. dan Sumbangan Wajib dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan ( SWDKLLJ ). Keputusan Gubernur Sumatera Barat Nomor 57 Tahun 2004 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. tesis. tanggal 24 Januari 2006. Bea Balik Nama Kendaraan Bermtor ( BBNKB ). Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor ( PKB ). Surat Edaran Kepala Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 065/181/Dipenda-2006. 3. internet dan sebagainya. r. Bahan Hukum Tertier . Produk hukum yang berlaku dan relevan lainnya. 2. Pada Kantor Bersama SAMSAT Di Sumatera Barat. surat kabar. 28 Februari Tahun 2006 tentang Standar Pelayanan Minimal ”Penerbitan Naskah Dinas dalam bentuk surat yang berkaitan dengan Pelayanan Umum yang diberikan oleh Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Barat. majalah. s. Surat Keputusan Bersama Direktur Lalu Lintas Kepolisian Daerah Sumatera Barat dan Kepala Dinas Pendapatan Daerah Propinsi Sumatera Barat dan Kepala Cabang Jasa Raharja ( Persero ) Sumatera Barat Nomor : B/24/I/2006/DITLANTAS per Nomor: 973/043/ PAJAK-2006/ Nomor: P/1/SPP/2006.

Langkah yang dilakukan untuk menganalisi data yaitu melakukan penyederhanaan informasi yang diperoleh dengan memilah-milah informasi berdasarkan kategori yang telah disiapkan dalam blanko tanggapan dan daftar wawancara dengan menggunakan aturan positif yang ada dan teori-teori maupun pendapat yang disinggung dalam tinjauan pustaka. Pada tahap ini analisis data dilakukan setelah semua informasi dianggap cukup memadai oleh peneliti. Analisis data dimaksudkan adalah untuk menyederhana-kan data agar menjadi informasi yang dapat digunakan dalam menjelaskan permasalahan penelitian.42 Yaitu bahan hukum yang memberi penjelasan terhadap bahan hukum sekunder. Pelayanan Publik . Setelah itu data dianalisis. dan lain-lain d. sehingga dapat ditafsirkan untuk merumuskan kesimpulan penelitian. Teknik Analisis Bahan Hukum (Kualitatif) Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif. dilakukan pengelompokan data dan pengeditan guna mengidentifikasi data yang relevan dengan pokok permasalahan penelitian. Setelah data primer terkumpul. BAB II PELAYANAN PUBLIK DIBIDANG PERPAJAKAN A. seperti ensiklopedi. kamus.

Dengan demikian pelayanan publik dapat diartikan sebagai suatu proses pemenuhan kebutuhan masyarakat terutama yang berkaitan dengan kepentingan umum dan kepentingan golongan atau individu dalam bentuk barang dan jasa. Dalam pengertian pelayanan tersebut terkandung suatu kondisi bahwa yang melayani memiliki suatu keterampilan. mengurus dan menyelesaikan keperluan kebutuhan mayarakat. organisasi ataupun sekelompok anggota organisasi. . keahlian dibidang tertentu. Pengertian Pelayanan menurut Sianipar dalam Manajemen Pelayanan Masyarakat adalah suatu cara melayani.43 1. termasuk pelaku bisnis. 2) Obyek yang dilayani : masyarakat (publik) 3) Bentuk pelayanan itu berupa barang dan jasa yang sesuai dengan kepentingan kebutuhan masyarakat dan peraturan perundang- undangan yang berlaku. baik secara perorangan. kebutuhan individu atau organisasi. membantu menyiapkan. kelompok dan atau golongan. sehingga mampu memberikan bantuan dalam menyelesaikan suatu keperluan. Berdasarkan keterampilan dan keahlian tersebut pihak aparat yang melayani mempunyai posisi atau nilai lebih dalam kecakapan tertentu. Dalam pengertian pelayanan tersebut secara konkrit diutarakan : 1) Pelayanan merupakan salah satu tugas utama aparatur pemerintah.

dan harapan masyarakat yang mempunyai nilai yang tinggi dan bermutu (berkualitas). Zeithaml et el. Menurut Tamaruddin dalam kamus besar bahasa Indonesia dinyatakan bahwa pelayanan publik adalah suatu usaha untuk membantu menyiapkan (mengurus) apa yang diperlukan orang lain. Dalam pelaksanaannya pelayanan dilakukan secara pelayanan profesional. khusus. Konsepsi Pelayanan . Tamaruddin dalam Pengembangan Pelaksanaan Pelayanan Prima menyebutkan Tujuan dari pelayanan prima adalah memuaskan dan atau sesuai dengan keinginan pelanggan. Selanjutnya. istimewa) orang lain agar mereka puas. yaitu kesesuaian antara harapan dan atau keinginan dengan kenyataan. diperlukan kualitas pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan atau keinginan pelanggan. Pelayanan prima merupakan pelayanan yang memenuhi standar pelayanan terhadap permintaan. keinginan. 2. Drs. dan Loh (1998) menyatakan bahwa mutu pelayanan didefinisikan oleh pelanggan. (1990) seperti dikutip Yun. H.44 Pelayanan adalah suatu bentuk kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah baik di pusat dan daerah maupun BUMN dan BUMD dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk mencapai hal itu. Yong. dan prima artinya dilakukan secara konkrit bahwa yang melayani harus memiliki suatu kemampuan dalam melayani. menanggapi kebutuhan khas (unik.

yakni menawarkan secara agresif produk-produk yang dihasilkan berupa kebijaksanaan. maju atau mundurnya suatu pemerintah ditentukan dukungan rakyat. Opcid hal 14 Sianipar. loyalitas masyarakat. lengkap dan tuntas. kepentingan masyarakat.45 Kekuasaan dan wewenang pemerintah bersumber dari rakyat. prosedur kerja. J.41 Selanjutnya Sianipar menyebutkan bahwa sejalan dengan konsepsi pelayanan yang berwawasan masyarakat. peraturan. program yang belum tentu kondusif dengan kebutuhan masyarakat yang berubah cepat.P. kepercayaan. Manajemen Pelayanan Masyarakat. Untuk mempertahankan dan meningkatkan pelayanan diperlukan dukungan..G. Aparat harus cepat tanggap terhadap tuntutan dan perubahan kebutuhan masyarakat. program yang ditetapkan hendaknya berorientasi kepada kepuasan masyarakat. Oleh karena itu. lebih mempercepat proses penyelesaian urusan masyarakat. kebijakan. seyogyanya aparat pemerintah pada semua bidang dan tingkat menerapkan suatu konsep pelayanan berwawasan pada pemenuhan kebutuhan. peraturan. peraturan. Melakukan berbagai perbaikan. memberikan yang lebih berkualitas. perubahan atas berbagai cara. maka timbul cara pandang baru yakni merubah posisi masyarakat yang dilayani dari di bawah manajemen 40 419 Sianipar. lebih cepat. keperluan. 40 Menurut Sianipar aparatur pemerintah hendaknya selalu lebih mengutamakan kepentingan masyarakat. Aparat pemerintah hendaknya sudah meninggalkan konsep menjual. program pada semua bidang kehidupan. keinginan dan kepuasan masyarakat. Segala kebijakan. Opcid . lebih murah. lebih baik.

disiplin. Adanya pengakuan terhadap hak-asasi setiap warganegara atas pemerintahan. merubah paradigma. wawasan berfikir. esensi dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang perlu disadari adalah masalah pelayanan publik bersumber pada : Adanya kewajiban pada pihak administrasi negara untuk menjalankan fungsi dan wewenangnya berdasarkan prinsip-prinsip pemerintahan yang baik dan bersih. Konsepsi ini juga merupakan pencerminan pemikiran bahwa pelanggan adalah raja. lebih efektif. disempurnakan. tepat pada setiap level dibidang masing-masing sesuai dengan tugas pokok dan fungsi. menerapkan peraturan. lebih efisien. 3. dikaji. inovatif. . tepat. direformasi menjadi pemikir yang kreatif. Konsepsi memposisikan masyarakat pada puncak manajemen. perilaku administratif. Peraturan kebijakan yang kurang kondusif terhadap tuntutan masyarakat. Cara-cara berfikir yang kurang terbuka.46 garis depan menjadi diatas manajemen. Sistem Pelayanan Nasional Sebagai titik tolak. dan kualitas hasil pelayanan yang baik. dan adaptif terhadap perubahan. dan -prilaku mereka dari dilayani menjadi melayani. Cara kerja lama yang terkesan lamban diubah. dirancang menjadi pelayanan yang cepat. yang kaku dalam mengartikan. Semua aparatur pemerintah mereformasi konsepsi. merupakan suatu cara pengaktualisasian fungsi aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakat. Melayani dengan cepat. atau diganti.

Terlepas dari perbedaan jenis dan bidang pelayanan di atas. beberapa hal pokok yang selalu melekat sebagai ciri dari Pelayanan Publik dan Penyelenggaraan Pelayanan Publik (public servants) adalah : a. di mana semua tugas yang harus diselenggarakan dalam rangka merealisasikan kebijakan umum (public policies) pemerintah harus dapat didelegasikan pada pihak-pihak atau institusi tertentu yang memiliki kewenangan (authority). Diselenggarakan oleh petugas-petugas atau instansi yang berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan diberi kewenangan serta diwajibkan untuk memenuhi kualifikasi tertentu dalam memberikan pelayanan. b.47 Adanya keanekaragaman jenis serta bidang pelayanan publik di Indonesia sebagai akibat dari adanya keragaman urusan dan kepentingan masyarakat yang harus dipenuhi. dan sumber-sumber daya (resources) untuk menyelenggarakan pelayanan publik. aktivitas pelayanan publik hampir selalu berkaitan dengan pelaksanaan tugas-tugas penyelenggaraan pemerintahan. kompetensi (competensi). . Sejalan dengan itu. Umumnya diselenggarakan sebagai pengejawantahan dari dan untuk dalam rangka realisasi kebijaksanaan negara yang ditujukan masyarakat umum (dalam wujud penetapan hak dan kewajiban bagi warga masyarakat) yang ditetapkan melalui aturan-aturan dan perundangundangan.

48 c. penyediaan barang. yaitu pelayanan untuk penegakan hukum dan ketertiban di dalam masyarakat. latar belakang Bahkan apabila sebagian dari tugas-tugas kepolisian hendak dikategorikan sebagai pelayanan publik. Tingkat keberhasilannya diukur dari tingkat kepuasan masyarakat penerima pelayanan. Selalu harus diselenggarakan berdasarkan standar kualitas hasil terhadap keluhan-keluhan yang disampaikan oleh kerja tertentu yang mengikat para penyelenggara pelayanan publik sehingga dapat dijamin pencapaian tingkat kepuasan masyarakat penerima pelayanan publik yang minimal seragam secara nasional dan atau seragam di pelbagai sektor pelayanan publik yang ada. penyediaan jasa bagi masyarakat42 atau gabungan dari jenis-jenis pelayanan itu. baik dari segi kualitas pelayanan. Menyangkut pelbagai urusan dan kepentingan masyarakat pada berbagai bidang kehidupan pemenuhannya menjadi tanggung jawab negara. praktikabilitas. Menyangkut penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat yang dijalankan berdasarkan kerangka prosedural tertentu yang telah distandarisasi dari segi kinerja maupun kualitasnya. tingkat responsitivitas terhadap keanekaragaman kepentingan dan kebutuhan masyarakat. e. g. tingkat biaya pelayanan yang harus dikeluarkan. kebutuhan (necessities). Selalu berhadapan dengan pluralitas di dalam masyarakat. maka tugas-tugas ini dapat dilihat sebagai pelayanan publik yang khusus. baik dari segi kepentingan (interest). 4210 . kualitas produk (barang/jasa/status). serta tingkat responsivitas masyarakat. dan penyelenggaraannya dapat berkenaan dengan pelayanan administratif. d. f.

Peter. proporsional. politik. Ethics and the Changing Natur of Public Service.43 Artinya. Standar semacam itu menjadi pedoman perilaku bagi para petugas/pejabat dan pedoman penilaian terhadap pemenuhan hak-hak masyarakat untuk memperoleh pelayanan prima. dan bahkan lebih dari sekedar mengupayakan efisiensi demi kepentingan para pembayar pajak. budaya dan sebagainya. adanya standar perilaku yang mencakup standar etik maupun manajerial dalam wujud code of good conduct menjadi keharusan. di dalam wacana tentang Pelayanan Publik di luar Indonesia. bukan sekedar memberikan layanan konsultasi pada pihak-pihak yang berkepentingan. Faktor-faktor penentu meliputi : a) Regulasi tentang Pelayanan Publik Regulasi pelayanan publik berwujud seperangkat peraturan perundangundangan. makalah pada The Fifth International Conferences on Public Sector Ethics – Between Past and Future. obyektif dan imparsial. yang memberikan dasar hukum dari beroperasinya Sebagai perbandingan. sosial. tanpa melihat pribadi-pribadi atau kelompok-kelompok kepentingan yang berada di belakangnya. Disarikan dari : Shergold. 1996. dikenal konsep ”citizenry” yang mengandung makna bahwa pelayanan publik lebih dari sekedar menyediakan pelayanan pada pelanggan atau kline.49 ekonomi. Karena pada tingkat realisasinya dilaksanakan oleh petugas atau pejabat publik tertentu. Aurtralia. 43 . dapat disimpulkan bahwa Sistem Penyelenggaraan Pelayanan Publik Indonesia perlu bersinergi dan saling mengisi dalam mendukung bekerjanya keseluruhan sistem itu secara optimal. apabila terdapat penyimpangan hanya dapat dibenarkan bila terdapat justifikasinya di dalam hukum. yang sebagian besar merupakan kaidah-kaidah hukum administrasi negara. sehingga dalam penyelenggaraannya tercakup pula adanya jaminan untuk bersifat nondiskriminatif. Pelayanan publik menyediakan pelayanan kepada masyarakat secara keseluruhan. Dari gambaran di atas. h.

serta pedoman penilaian kerja bagi setiap lembaga penyelenggara pelayanan publik. kewenangan dan hak-hak penyelenggaraan pelayanan publik. kewajiban. b) Asas-asas Penyelenggaraan Pelayanan Publik Dimaksud dengan asas-asas penyelenggaraan pelayanan publik adalah prinsip-prinsip dasar yang menjadi acuan dalam pengorganisasian. 4) Pengakuan kedudukan. 5) Penetapan berlakunya proses/prosedur penyelenggaraan pelayanan jasa publik serta standar minimum pelayanan (tolok ukur kinerja/hasil kerja kualitas produk) termasuk indeks kepuasan masyarakat dan proses/prosedur pengajuan dan pelayanan keluhan publik (publik complaint/public grievance). tanggung jawab. Peraturan-peraturan hukum yang menjadi dasar keabsahan adalah : 1) Keberadaan hukum (legal existence) institusi-institusi administrasi negara penyelenggara pelayanan publik. 2) Bekerjanya struktur organisasi. 6) Berlakunya standar perilaku (standard of conduct) para penjabat penyelenggara pelayanan publik. acuan kerja. pengisian jabatan dan fungsi penyelenggara pelayanan publik dengan pejabat dengan kualifikasi dan kompetensi tertentu. Asas-asas penyelenggaraan dikategorikan .50 sistem palayanan publik. dan penegakan hak. 3) Penetapan dan pelaksanaan tugas. serta tanggung jawab warga masyarakat pengguna pelayanan jasa publik.

dengan asas-asas Administrasi yang Baik (General Principles of Good Administration) yang ditetapkan oleh European Commission dalam : Code of Good Administrative Behavior: Relations ewith the Public. stakeholders pada dasarnya adalah warga masyarakat pengguna jasa layanan publik.51 sebagai asas-asas umum administrasi publik yang baik (general principles of good administra-tion) dan azas bersifat adaptif. serta pengelolaan sumber daya manusia dalam melaksanakan pelayanan publik. 44 . karena asas-asas ini secara tidak langsung bersentuhan dengan pemberian pelayanan kepada masyarakat umum. tindakan-tindakan oleh institusi publik. baik di bidang pelayanan administratif.20. pelayanan barang. masyarakat pembayar pajak. yang melekat secara inherent pada esensi Pelayanan Publik adalah :44 1) Asas Keterbukaan (openness) Keterbukaan menjadi salah satu asas utama untuk menjamin bahwa para stakeholders45 yang mengandalkan proses pengambilan keputusan. Official Journal of the European Communities: OJ L 267. pengelolaan aktivitas. 20. Keterbukaan (mungkin setara dengan asas transparansi) yang diwujudkan melalui pembinaan komunikasi secara penuh. Bersifat adaptif.2000. 45 Dalam konteks penelitian ini. terinci dan Asas-asas ini merupakan hasil modifikasi dari asas-asas yang dikembangkan oleh: Lihat :”Report of the Committee on the Financial Aspects of Corporate Governance”. Menurut Cadbury Committee di Inggris ( 1992) Asas-asas utama. ataupun kombinasi dari pelayanan-pelayanan tersebut. pelayanan jasa. Bersifat umum karena asas ini secara langsung menyentuh hakekat pelayanan publik sebagai wujud dari upaya melaksanakan tugas pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat banyak dan/atau tugas pelaksanaan perintah peraturan perundang-undangan.

. serta tanggung jawab atas penggunaan dana-dana dan sumber daya publik. Asas moral yang mendasari asas integritas ini terutama adalah kejujuran. serta pelaksanaan fungsi suatu institusi pelayanan publik harus sejalan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. setiap tindakan. 2) Asas Integritas Integritas mengandung makna ”berurusan secara langsung” (straightforward dealings) dan ketuntasan (completeness) dalam pelaksanaan fungsi-fungsi pelayanan publik.52 jelas dengan para stakeholders yang menjadi salah satu prinsip utama dari suatu good governance. obyektivitas dan standar kesantunan yang tinggi. Singkatnya. 4) Asas Legalitas Berdasarkan asas lawfulness ini. 6) Institusi Asas Non-Diskriminasi dan Perlakuan yang Sama penyelenggara pelayanan publik harus bekerja atas dasar yang ditetapkan prinsip pemberian pelayanan yang sama dan setara kepada masyarakat. 3) Asas Akuntabilitas Asas ini berkenaan dengan proses di mana unit-unit pelayanan publik dan orang-orang yang berfungsi di dalamnya harus bertanggung jawab atas keputusan dan tindakan yang dibuatnya. akuntabilitas melahirkan kewajiban untuk bertanggung jawab atas fungsi dan kewenangan yang secara sah dipercayakan kepada setiap public servant. pengambilan keputusan. dan dijalankan sesuai dengan aturan dan prosedur berdasarkan peraturan perundang-undangan.

biaya dan waktu pelayanan yang harus ditanggung oleh masyarakat apabila mereka hendak memperoleh pelayanan publik. . ras. perlakuan khusus. 8) Asas Konsistensi Berdasarkan asas ini. warga masyarakat dan/atau stakeholders layanan publik pada umumnya memperoleh jaminan bahwa institusi pelayanan publik akan bekerja secara konsisten sesuai pola kerjanya yang normal dalam perilaku administratifnya. dan sebagainya. 7) Asas Proporsionalitas Asas ini meletakkan kewajiban pada setiap penyeleng. Penyimpangan terhadap asas ini (dispensasi. agama/kepercayaan.53 tanpa membedakan gender. dan sebagainya) harus memperoleh pembenarannya secara sah (duly justified). kemampuan fisik. Asas ini berkaitan erat dengan beban administratif.gara pelayanan publik untuk menjamin bahwa beban yang harus ditanggung oleh masyarakat pengguna jasa layanan publik akibat tindakan-tindakan yang diambil institusi pelayanan publik berbanding proporsional dengan tujuan dan manfaat yang hendak diperoleh masyarakat. aspirasi politik.

III tjukai. kewadjiban membajar atau wang jg wadjib dibajarkan kpd pemerintah (kotapradja. E. bagian (dipasar). Kamus Indonesia Ketjik (Bandung. mentoeakoe berpen-tjaharian nasi dikedai (lepau nasi ). wajib --. 46 Sedangkan dalam Kamus Indonesia Katjik-nya : PADJAK.-setahoen. sem. oktober 2602.54 B. kena --.orang jang wadjib membajar padjak. berpadjak nasi. Soetan. G. Soetan Harahap dalam Kamoes Indonesia menjelaskan : Padjak I. E. lih. 1 membajar --.. Perpajakan Daerah Pengertian Pajak Pajak merupakan kata yang dipergunakan dalam bahasa Indonesia dengan berbagai pengertian seperti tempat. warung nasi.196.para-para (pemidangan) tempat mendje-moer ikan. 47 W. 47 Harahap. E. anak-anak. mentoeakoe mendjoeal II.-setahoen. mis. pendjemuran ikan.Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia : Padjak : 1. Zoerriat. pentjarian). Kamoos lndonosia (Djakarta-Bandung: Gunseikandu Kanri Insatu Kodjo Tjetakan ketdedjoeh). membajar padjak tanah f 10. 1. --pendapatan 46 (-penghasilan. 3 + los. beban dan sebagainya.hal mengusahakan sesuatu dgn membajar pak (sewa) kpd pemerintah. padjak nasi. IV. Provinsi dsb) 2 pak. padjak. kedai nasi. III. roba-roba. I PADJAK.S. 254.Kalff & C0. 1950). bia.J.St. jang Harahap. ia membajar bia tanah f 1C. II PADJAK. lihat bia dan tjoekai. .

sajur (ikan dsb) los atau tempat mendjual sajur (-ikan dsb) dipasar. 774. 49 Hassan Shadili et al. padjak jang dikenakan pada pemilik tanah. pendjualan tjandu.J. karenanya lebih lanjut akan lebih menekankan "pajak" sebagai sumber pendapatan. Ensiklopedia Umum (Yogyakarta: Yayasan Kanisius. dan K).49 Dari keempat sumber di atas terlihat keanekaan penggunaan kata "pajak". Adriani memberikan batasan : Pajak adalah iuran kepada Negara (yang dapat di paksakan) yang terhutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturanperaturan dengan tidak mendapat prestasi-kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai Purwadarminta. Dr. -. Pengertian ini relevan dengan inti pokok penguraian.tjandu. 48 . 48 Pajak merupakan salah satu sumber penghasilan negara yang penting. 1977).rumah gadai. 3 . P.P. WIS. 2 rumah --. Kewajiban membayar pajak dapat dipaksakan. Pajak merupakan peralihan kekayaan dari sektor swasta ke sektor Pemerintah. namun salah satunya berkaitan pengertiannya dengan kewajiban terhadap Negara.55 dikenakan pada pendapatan (penghasilan) orang.A. Prof.. Pajak ialah iuran rakyat kepada kas negara yang diwajibkan berdasarkan undang-undang tanpa rnendapat balas jasa (tegenprestatie) secara langsung. Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Kementerian P. -.tanah -bumi. -gadai. pegadaian.

perlengkapan.. dibayarkan oleh wajib membayar. Jenis Pajak dan Dasar Hukum Negara dalam menyelenggarakan fungsinya melakukan berbagai kegiatan. Dalam definisi tersebut titik berat diletakkan pada fungsi budgetair dari pajak. Penyatar Ilmu Hukum Pajak (BandungJakarta. Pen. Eresco NV. dapat dipaksakan menurut peraturan-peraturan.) Dari batasan tersebut dapat disimpulkan unsur-unsurnya : pajak merupakan iuran menurut peraturan. bahwa pajak sebagai pengertian yang dianggap.56 pengeluaran-pengeluaran umum berhubungan dengan tugas Negara untuk menyelenggarakan Pemerintahan 50 (dengan ejaan baru. yaitu agar kesejahteraan rakyat dapat dicapai.SH. sedangkan pajak masih mempunyai fungsi lain yang tidak kalah penting. sebagai suatu species ke dalam genus pungutan (jadi. 50 . Dan pada akhirnya akan menyerap pembiayaan. pungutan adalah lebih luas). mengatur. penunjang dan sebagainya. 1971). Semua kegiatan tersebut dimaksudkan untuk bagaimana tugas dan tanggung jawab yang dilimpahkan (dimandatkan) kepada Pemerintah (Presiden) agar dapat dilaksanakan. membiayai tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan Kesimpulan yang dapat ditarik dari definisi tersebut diatas. R. 2. yaitu fungsi Brotodihardjo. Kegiatan-kegiatan tersebut melibatkan sejumlah besar manusia. tanpa prestasi kembali. Santoso.

denda dan perampasan untuk kepentingan umum. bahwa biaya-biaya yang dikeluarkan untuk prestasi pemerintah tertentu. Dari keseluruhan sumber pendapatan di atas. hasil dari penyertaan modal milik Pemerintah. hasil dari perusahaan-perusahaan Negara. Sedang retribusi pada umumya hubungan dengan prestasi-kembalinya adalah langsung. Sumber-sumber tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut : yang dipungut langsung dari masyarakat. hak-hak waris atas harta peninggalan yang terlantar. retribusi dan sumbangan. pungutan dilakukan baik dengan memberikan prestasi kembali (imbalan) maupun tidak. dimana Pemerintah dapat memperoleh. hibah wasiat dan hibah lainnya.57 Dalam rangka pengadaan dana yang diperlukan untuk membiayai kegiatan yang dilakukan. Pajak merupakan iuran kepada Negara yang dapat dipaksakan sesuai aturan yang berlaku tanpa adanya kontraprestasi yang gunanya untuk membiayai pengeluaran umum pemerintah. mengurus dan membelanjakan Uangnya yang diperlukan untuk menunaikan tugasnya. Semua sumber tersebut termasuk kedalam public finance. maka yang diperdapat melalui pemungutan langsung adalah pajak. tidak boleh dikeluarkan dari . maka berbagai sumber dipergunakan sebagai sumber pendapatan. Di samping itu Pemerintah juga mencetak dan mengedarkan uang sebagai alat pembayaran yang sah. Sedangkan Sumbangan mengandung pikiran.

tetapi berkaitan dengan hukum lainnya yang terdapat dalam kehidupan bernegara. karena dia berkaitan dengan kepentingan orang banyak.58 kas umum. 1. karena prestasi itu tidak ditujukan kepada penduduk seluruhnya. Pajak merupakan salah satu sumber pendapatan negara. Pada bahagian diatas dikemukan pengertian pajak yang secara bebas dapat dikatakan dengan : pungutan yang dilakukan oleh Negara (dapat dengan paksaan) kepada warga negaranya (wajib pajak) tanpa memberikan imbalan yang langsung. . Disini akan disinggung pembicaraan menyangkut antara hubungan hukum pajak dengan hukum pidana dan hukum perdata. Hukum pajak pada dasarnya "mencari 51 Ibid. sedangkan dengan perorangan sebagai wajib pajak. Terlihat di sini bahwa terdapat hubungan yang sangat erat diantara hukum pajak dengan hukum perdata. Hukum pajak diartikan "adalah keseluruhan dari peraturan-peraturan yang meliputi wewenang Pemerintah untuk mengambil kekayaan seseorang dan menyerahkannya kembali kepada masyarakat dengan melalui Kas Negara"51 Hukum perdata merupakan bahagian dari hukum yang mengatur hubungan di antara orang-orang hukum pribadi pajak sebagai diantara pendukung Negara hak (rechtspersoon). Perpajakan diatur dalam undang-undang perpajakan yang merupakan bahagian dari hukum publik. Hukum perpajakan bukanlah merupakan hukum yang berdiri sendiri. melainkan hanya terhadap golongan tertentu penduduk saja. dimana hasil pungutan itu dipergunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Pemerintah.

Pajak sebagai Sumber Pendapatan Daerah Sebagaimana diatur dalam pasal 157 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah menyebutkan bahwa Sumber Pendapatan Daerah terdiri atas: 52 Ibid. Jadi dasar hukum setiap pajak adalah undang-undang bagi pajak yang bersifat nasional dan dilaksanakan di daerah melalui Peraturan Daerah. Pajak Daerah merupakan sumber pendapatan Daerah yang berasal dari pajak yang diserahkan Pemerintah pusat kepada Daerah untuk menjadi sumber pendapatan Daerah. pemindahan hak karena warisan dan sebagainya". jenis dan dasar hukum masih banyak yang perlu diuraikan. Mengenai pajak. diberlakukan Pajak Daerah. keadaan-keadaan dan perbuatan-perbuatan hukum yang bergerak dalam lingkungan perdata seperti pendapatan.59 dasar kemungkinan pemungutan atas kejadian-kejadian. Untuk dapat berlakunya Pajak Daerah. kekayaan. penyerahan. . dan setelah di sahkan oleh Pejabat yang berwenang. namun mengingat dengan relevansi penulisan. maka pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah.52 Terlihat bahwa sasaran hukum pajak adalah peristiwa-peristiwa perdata. maka diundangkan dalam Lembaran Daerah. terlebih dahulu ditetapkan dalam Peraturan Daerah. 3. perjanjian. maka penguraian dibatasi sampai di sini. 5. Selanjutnya dengan dibaginya wilayah negara atas wilayah Daerah.

dan lain-lain PAD yang sah. Pajak sebagai sumber pendapatan terbagi atas dua bahagian. Sebagai contoh jenis pajak ini adalah Pajak Izin Menangkap Ikan (Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 1972). yaitu : hasil pajak daerah. hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan.60 1) PAD. Dinas Pendapatan Daerah selaku instansi yang diberi tugas untuk mengelola seluruh pendapatan daerah dihadapkan kepada wilayah yang luas yaitu melipti wilayah Provinsi Sumatera Barat. yaitu : 1) Pajak yang diserahkan Pemerintah kepada Daerah untuk pendapatan asli daerah yang selanjutnya disebut dikelolanya sebagai Sumber Pendapatan Daerah. hasil retribusi daerah. Dalam pemungutan dari sumber-sumber pendapatan tersebut. dan lain-lain pendapatan daerah yang sah. pemungutannva dilakukan secara langsung kepada masyarakat wajib pajak melalui Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pelayanan Pendapatan Provinsi Sumatera Barat sebagai perpanjangan tangan dari Dinas Pendapatan Daerah. 2) Pajak yang diatur sendiri oleh Daerah atas sumber pendapatan yang berhasil digali oleh Daerah di wilayahnya. Dinas Pendapatan Daerah sebagai instansi pemungut pendapatan Daerah. 2) 3) dana perimbangan. Pembentukan UPTD dibentuk melalui Surat Keputusan .

3) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan. 4) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (disingkat PBBKB). Sehubungan dengan lokus dan fokus penelitian ini. 6) Pajak Kendaraan Diatas Air diatur berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air Bea Balik Nama Kendaraan Diatas Air diatur berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2003 tentang Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air. diatur berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2002. penulis hanya akan menjelaskan kebenaran sub sektor pajak daerah yang berasal dari . Sejalan dengan pembentukan UPTD. maka sekaligus diserahkanlah sumber-sumber Pendapatan Daerah menjadi tugas dan kewenangannya. 5) Pajak Alat-alat Berat dan Alat-Alat Besar. Adapun sumber pendapatan yang menjadi tugas dan kewenangannya dari UPTD adalah : 1) Pajak Kendaraan Bermotor (disingkat PKB) diatur berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air. 2) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (disingkat BBN.61 Gubernur Sumatera Barat nomor 22 Tahun 2001 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Provinsi Sumatera Barat.KB) diatur berdasarkan Pertauran Daerah Nomor 5 Tahun 2003 tentang Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air.

1. Opcit. Dipungut dari pemegangpemegang kendaraan bermotor yang a) dihidupkan dengan generator gas arang atau b) memakai bahan baker minyak tanah atau campuran minyak tanah dan c) bensin atau juga d)yang tidak semata-mata menggunakan bensin sebagai bahan baker. yang digerakkan dangan motor yang dihidupkan dengan generator gas arang atau oleh yang memakai bahan baker minyak tanah atau campuran minyak tanah 53 Hassan Shadily. C.62 Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB ). Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) Pengertian Dari sejumlah besar pajak yang berlaku dan dipungut bagi Daerah. sistim pengelolaan penerimaannya dilakukan dalam sistem administrasi manunggal satu atap ( SAMSAT ). Mengenai Pajak Kendaraan Bermotor dapat dikemukakan sebagai berikut : Pajak Kendaraan Bermotor. dipungut pajak karena memegang : (1) Kendaraan bermotor. termasuk golongan pajak langsung dan merupakan pajak lokal (daerah). salah satu diantaranya Pajak Kendaraan Bermotor (sering disingkat dengan PKB). 53 Selanjutnya dalam Ordonansi Pajak Kendaraan Bermotor Tahun 1934 pasal 1 dikutipkan : Dengan nama Pajak Kendaraan Bermotor. .) juga dikenakan pajak ini. Kereta gandengan aanhangwagen (pada truk mis.

. terlepas dari hal apakah motor itu khusus diperuntukkan guna dipakai dengan minyak tanah atau dengan campuran minyak tanah dan bensin. atau lebih.. (2) Segala kendaraan bermotor lainnya. kecuali yang telah dikenakan pajak rumah tangga atau yang dibebaskan dari pajak rumah tangga.kendaraan bermotor yang digerakkan oleh motor dengan semata-mata menggunakan bensin sebagai bahan pembakar. Memperhatikan tentang Pajak Kendaraan Bermotor sebagaimana dijelaskan oleh kedua kutipan diatas.. antara lain : (1) pajak ini ditimbulkan oleh adanya kendaraan bermotor yang dimiliki. .63 dan bensin.. maka dapat ditarik beberapa patokan pokok. (4) Kereta tambahan (kereta gandengan) dari kendaraan bermotor.500 kg. yang mempunyai berat total yang diizinkan 3.500 kg. yang tidak digerakkan oleh motor yang semata-mata memakai bensin sebagai bahan pembakar.... (3) Kendaraan bermotor yang digerakkan oleh motor yang semata-mata memakai bensin sebagai bahan pembakar tetapi mempunyai berat total yang diizinkan 5. (5) Kendaraan bermotor seperti dimaksudkan dibawah c yang mempunyai berat total yang diperkenankan kurang dari 3. .. atau lebih.500 kg.

termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang bergerak (pasal 1 angka 7). 2.64 (2) pajak dipungut dari pemilik kendaraan bermotor sebagai wajib pajak. (pasal 8 ayat 1) Dalam pasal 1 angka (6) Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air menyebutkan bahwa Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air yang selanjutnya disebut pajak adalah pajak atas kepemilikan dan / atau penguasaan kendaraan bermotor dan kendaraan di atas air. (3) penentuan besarnya beban pajak didasarkan kepada ukuran yang digariskan. Dasar Hukum Republik Indonesia sebagai negara hukum menekankan ketentuan tentang keharusan adanya dasar hukum yang mengatur setiap tindakan kebijaksanaan yang berhubungan kehidupan . Kendaraan Bermotor adalah semua kendaraan beroda dua atau lebih beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan. (4) kendaraan bermotor dipandang sebagai suatu kesatuan yang bulan dan utuh. (5) tahun pajak ialah tahun takwim.

Pemerintah Indonesia yang menganut otonomi. b. Dalam semua ketentuan diatas penyempurnaan terhadap pajak ini telah dilakukan. .65 bernegara. f. menyebabkan dalam penyerahan urusan yang akan diselenggarakan oleh Daerah diiringi dengan pemberian sumber pendapatan yang diperlukan dalam pembiayaan. Begitupun dengan bidang pengetahuan dan teknologi bertumbuh dengan pesat. (Staatsblad tahun 1934 Nomor 718). c. Pengaturan tentang Pajak Kendaraan Bermotor diadakan untuk pertama kali dengan Ordonansi Pajak Kendaraan Bermotor Tahun 1934. Staatsblad Tahun 1949'Nomor 376. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1959 dalam Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 101. Ordonansi Pajak Kendaraan Bermotor Tahun 1934 sebagai peraturan mengalami perundang-undangan peninjauan-peninjauan semenjak berupa ditetapkan penambahan telah dan perubahan sebagai berikut : a. Staatsblad Tahun 1940 Nomor 226. Staatsblad Tahun 1937 Nomor 33. d. Peninjauanpeninjauan dan penyernpurnaan haruslah selalu dilakukan terhadap setiap peraturan perundang-undangan. Staatsblad Tahun 1935 Nomor 551. Langkah tersebut perlu dilakukan mengingat bahwa ketentuan-ketentuan itu berhadapan dengan masa dan manusia yang selalu berkembang. e. Staatsblad Tahun 1939 Nomor 603.

selain atas ril. Pajak Kendaraan Bermotor sebagai pajak mempunyai obyek berupa kendaraan bermotor yang terdaftar. Dalam pasal 1 ayat (2) huruf a Ordonansi Pajak Kendaraan Bermotor 1934 dikutip sebagai berikut : Kendaraan bermotor. Keberadaan kendaraan bermotor sebagai obyek yang terdaftar. Penyerahan ini dilakukan dengan Poraturan Pcmerintah Nomor 3 Tahun 1957 tentang Penyerahan Pajak Negara kepada Daerah. 3. . Obyek Pajak Pelaksanaan pajak didasarkan pada adanya obyek yang dikenakan beban pajak. Untuk berlakunya suatu pajak yang diserahkan kepada Daerah diterbitkanlah Peraturan Daerah. begitu pula kereta-kereta tambahan dari kendaraankendafaan itu. yang diperuntukkan guna semata-mata digerakkan atau juga turut digerakkan. Adapun dasar hukum pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor saat ini berdasar kepada Peraturan Daerah Nornor 4 Tahun 2003 tentang Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air. oleh suatu kekuatan mekanik yang ada di atau pada kendaraan itu. setiap kendaraan (elkrij of Voertig).66 Pajak Kendaraan Bermotor yang selama ini dikelola oleh pemerintah sebagai pajak negara termasuk dalam sumber pendapatan yang diserahkan pada daerah. adalah melalui proses yang akan dibicarakan tersendiri.

Dalam pasal 5 angka 1.67 Sedangkan di dalam Peraturan paerah Nomor 4 Tahun 2003 Pasal 3 angka (1) menyebutkan : Objek Pajak Kendaraan Bermotor adalah kepemilikan dan / atau penguasaan kendaraan bermotor. 4. Jadi subyek tanggung pajak adalah pemilik kendaraan orang seorang dan badan hukum. "Pajak terhutang oleh orang yang memegang kendaraan bermotor". termasuk kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar yang bergerak. menyebutkan bahwa Subjek pajak adalah orang pribadi atau badan yang memiliki dan/atau menguasai kendaraan bermotor dan atau kendaraan di atas air. Setiap wajib pajak akan dikenakan penagihan sebesar beban pajak yang ditentukan terhadap pemilikan atas kendaraan bermotor. Beban pajak akan dapat diketahui melalui surat penagihan yang . Subyek Tanggung Pajak dan Beban Pajak Pengenaan beban pajak didasarkan kepada adanya kendaraan bermotor. Pengertian "yang memegang" adalah dikaitkan kepada siapa yang memiliki dan atau yang berhak penuh atas kendaraan tersebut. Keberadaannya secara sah dibuktikan oleh berbagai hal yang harus dipenuhi dan terutama bukti bahwa kendaraan sudah terdaftar sesuai dengan ketentuan administrasi yang ditentukan. Jadi tertanggung beban pajak adalah pemilik kendaraan. yaitu orang seorang atau kelembagaan/badan hukum.

Jenis kendaraan bermotor. Bobot yang mencerminkan secara relatif kadar kerusakan jalan dan pencemar lingkungan akibat penggunaan kndaraan bermotor. Tahun pembuatan kendaraan banyaknya penumpang yang diizinkan. Dalam pasal 6 Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2003 ditentukan Dasar Pengenaan. Dalam hal harga pasaran umum atas suatu kendaraan bermotor tidak diketahui. Penggunaan kendaraan bermotor. Tarif dan Penghitungan Pajak adalah : a. (6) Berat total kendaraan bermotor dan Isi silinder dan/atau satuan daya. b. Nilai jual kendaraan bermotor diperoleh berdasarkan harga pasaran umum atas suatu kendaraan bermotor. Merek kendaraan bermotor. . Dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor dihitung sebagai perkalian dari 2 (dua) unsur pokok (1) (2) Nilai jual kendaraan bermotor. c. nilai jual kendaraan bermotor ditentukan berdasarkan faktor-faktor : (1) (2) (3) (4) (5) bermotor.68 dicantumkan berdasarkan penentuan beban yang ditetapkan dengan peraturan perundangan.

ayat (5). ayat (3). 3) Jenis.5 % (satu koma lima persen) untuk kendaraan bermotor bukan umum. tahun pembuatan. Bobot sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b dihitung berdasarkan faktor-faktor : 1) Tekanan ganda. e. bermotor Dalam yang hal dasar pengenaan dalam pajak table kendaraan belum tercantum sebagaimana dimaksud pada ayat (6). dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor ditetapkan dengan Keputusan Gubernur dan diberitahukan kepada DPRD dan Menteri Dalam Negeri. penggunaan. . g. d. 2) Jenis bahan baker kendaraan bermotor. ayat (4). Tabel sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) ditinjau kembali setiap tahun. f. ayat (2). Pasal 7 menyebutkan : 1) Tarif pajak kendaraan bermotor ditetapkan sebesar : 1. dan ciri-ciri mesin dari kendaraan bermotor. dinyatakan dalam suatu table yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. Penghitungan dasar pengenaan pajak kendaraan Dokumen impor untuk jenis bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1).69 (7) kendaraan bermotor.

Pengecualian dan atau Pembebasan Walaupun dalam ketentuan mengenai perpajakan umurnnya dinyatakan bahwa pemungutan pajak harus dilakukan dengan memperhatikan sifat umum dan merata. Terhadap pemilikan kendaraan bermotor yang berada dalam tahun yang sedang berjalan. Beban pajak ditetapkan untuk masa satu tahun yang mempedomani tahun takwim. Pasal 8 menyebutkan : Besarnya pajak terutang dihitung dengan cara mengalikan tariff sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 dengan dasar pengenaan pajak sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (7) dan ayat (8). Dalam hal penghitungan beban pajak diberlakukan pembulatan ke atas. 0. namun Pajak Kendaraan . Berdasarkan patokan-patokan diatas ditetapkan-lah beban pajak atas kendaraan bermotor yang dimiliki oleh wajib pajak. b) Pajak kendaraan bermotor dibayar sekaligus di muka.70 2) 1 % (satu persen) untuk kendaraan bermotor umum. 5. maka beban pajak yang dikenakan kepada wajib pajak adalah dengan memperhatikan sisa waktu tahun yang tersisa.5 % (nol koma lima persen) untuk kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar. Selanjutnya pasal 9 menyebutkan : a) Pajak kendaraan bermotor dikenakan untuk masa pajak 12 (dua belas) bulan berturut-turut dihitung mulai saat pendaftaran kendaraan bermotor.

bermotor. dikenakan pajak karena memegang kendaraan . d) kendaraan bermotor oleh para konsul dan lain-lain skill Negara Asing oleh orang-orang yang diperbantukan dan yang bekerja serta bertempat tinggal padanya selanjutnya tidak melakukan perusahaan atau pekerjaan bebas dan dengan syarat timbale balik. 121 dan 123 IS. Pasal 2 mengatur tentang pengecualian atau pembebasan terhadap beban pajak atas kendaraan bermotor dilakukan atas : a) kendaraan bermotor oleh Negara atau Daerah yang dimaksud. Pengenaan beban pajak dilaksanakan dengan mengadakan pengecualian dan atau pembebasan. b) kendaraan bermotor yang menurut atau berdasarkan peraturan-peraturan Ordonansi Lalu Lintas yang diizinkan berjalan dengan nomor percobaan. e) kendaraan bermotor pemadam kebakaran. dalam pasal-pasal 119.71 Bermotor tidaklah dapat dilaksanakan sepenuhnya demikian. jika oleh Negara yang wakil-wakilnya diizinkan. Kebijaksanaan ini dilatar belakangi dan didasarkan kepada peranan atau pemanfaatannya. Inipun jika kendaraan itu sematamata dipergunakan untuk dinas umum. c) kendaraan bermotor yang menurut sifatnya semata-mata diperuntukkan guna dipakai dilain tempat dari pada dijalanan.

e) Penguasaan kendaraan bermotor yang disegel atau disita oleh Negara.72 f) kendaraan bermotor oleh para pelancong dan lain-lain orang yang berada di Indonesia untuk waktu yang tidak lebih lama dari sembilan puluh hari berturut-turut. dan Perwakilan Lembaga-lembaga Internasional dengan azas timbal balik. Konsutat. g) Orang Pribadi atau Badan atas kendaraan di atas air yang digunakan untuk keperluan keselamatan seperti kapal pandu dan kapal tunda. d) Wisatawan asing yang berada di daerah untuk jangka waktu sampai dengan 60 (enam puluh) hari. b) Kedutaan. Perwakilan Negara P. Pada pasal 4 Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2003 menyebutkan : Dikecualikan dari objek pajak adalah kepemilikan dan/ atau penguasaan kendaraan bermotor dan/atau kendara-an diatas air oleh : a) Pemerintah Pusat. f) Orang Pribadi atau Badan atas kendaraan di atas air perintis. Pemerintah Provinsi. Pemerintah Kabupaten/ Kota dan Pemerintah Desa/Nagari.sing. . untuk dijual dan tidak semata-mata dipergunakan dalam lalu lintas bebas. c) Pabrikan atau importer kendaraan bermotor baru yang untuk dipamerkan.

73 h) Orang Pribadi atau Badan atas Kendaraan di atas air yang khusus digunakan untuk penelitian. Jenis sumber pendapatan ini dalam bentuk pajak juga yang dipungut atas dasar pengalihan hak milik atas kendaraan bermotor sebagai akibat perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau keadaan yang terjadi jual beli. . SAR. kendaraan yang berada dalam status percobaan. tukar menukar. 6. Sumber pendapatan tersebut disebut Bea Balik Nama Kendaraan Berrnotor yang popular disingkat dengan BBN. kendaraan yang bukan dipergunakan dijalanan. hibah termasuk hibah wasiat dan hadiah. Dari ketentuan di atas terlihat bahwa kendaraan bermotor yang dibebaskan dari pajak adalah kendaraan dinas. warisan atau pemasukan kedalam badan usaha.KB. kendaraan pemadam kebakaran dan kendaraan yang dibawa sendiri oleh wisatawan untuk waktu yang terbatas. kepentingan social dan keagamaan. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) Di samping Pajak Kendaraan Bermotor terdapat sumber pendapatan yang berkaitan dengan kendaraan bermotor. kendaraan bermotor yang disegel atau disita Negara. kendaraan yang dipergunakan oleh perwakilan asing dan tenaga kerja diperbantukan dalam kerja sama dansebagainya. kapal pandu dan kapal tunda yang digunakan untuk keperluan keselamatan serta kendaran penelitian SAR.

Orang pribadi atau badan atas kendaraan di atas air perintis.KB). termasuk penyerahan kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar yang bergerak. Perwakilan Asing. Dasar hukum tersebut oleh Daerah dilanjutkan pengaturannya dengan menerbitkan Peraturan Daerah. Pabrikan atau importer kendaraan bermotor baru yang untuk dipamerkan. Konsulat. Dalam Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2003 pasal 3 menyebutkan Obyek daripada Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah penyerahan Kendaraan Berrnotor. Dalam pasal 6 diatur subyek pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor .74 Dasar hukum dari Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah Undang Undang Nomor 10 Tahun 1968 tentang Penyerahan Pajak Negara Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN. Pemerintah Provinsi . . dan Lembaga- lembaga Internasional dengan azaz timbal balik. Pemerintah Kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa/Nagari. Dalam pasal 4 diatur tentang pengecualian dalam pemungutan pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor yang diserahkan kepada : Pemerintah Pusat. Kedutaan. Pajak Bangsa Asing dan Pajak Radio kepada Daerah. untuk dijual dan tidak semata-mata dipergunakan dalam lalu lintas bebas.

3) Y ang bertanggung jawab atas pembayaran Bea Balik Nama adalah: (a) untuk orang pribadi adalah orang yang bersangkutan. (b) Untuk badan adalah pengurusnya. 2) W ajib Pajak Bea Balik Nama adalah orang pribadi atau badan yang menerima penyerahan kendaraan bermotor dan atau kendaraan di atas air. 2) Nilai Jual Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah Nilai Jual Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air yang tercantum dalam ketetapan Menteri Dalam Negeri atau Gubernur. Dasar Pengenaan Bea Balik Nama diatur dalam pasal 7 : 1) Dasar pengenaan pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air adalah Nilai Jual Kendaraan Bermotor dan Nilai Jual Kendaraan di Atas Air. kuasanya atau ahli warisnya.75 1) S ubyek pajak Bea Balik Nama adalah orang pribadi atau badan yang dapat menerima penyerahan kendaraan bermotor dan atau kendaraan di atas air. Dalam hal dasar pengenaan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air belum tercantum dalam tabel .

76 yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri, dasar pengenaan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air dimaksud ditetapkan dengan Keputusan Gubernur, dan

diberitahukan kepada DPRD dan Menteri Dalam Negeri. Pemungutan kedua sumber pendapatan tersebut diatas (Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor), pelaksanaan operaionalnya bergabung dengan instansi lain Kepolisian Republik Indonesia melalui Direktorat Lalu Lintas dan PT (Persero) A.K. Jasaraharja melalui mekanisme Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap, yang lebih populer disebut SAMSAT. Ketentuan pendukung tentang mekanisme ini diatur dalam Surat Keputusan Bersama Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Direktur Jenderal Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah, dan Direktur Utama PT. Jasa Raharja (Persero) Nomor :

Skep/06/X/1999, Nomor : 973 - 1228, Nomor : SKEP/02/X/1999 tentang Pedoman Tata laksana Sistem Administrasi Manunggal Di Bawah Satu Atap dalam Penerbitan Surat Tanda Nomor

Kendaraan Bermotor, Surat Tanda Coba Kendaraan Bermotor, Tanda Nomor Kendaraan Bermotor, Tanda Coba Kendaraan Bermotor, dan Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor sera Sumbangan Wajib Dana

Kecelakaan Lalu Lintas Jalan.

77 Dalam Surat Keputusan Bersama tersebut ditegaskan bahwa dalam pelaksanaan tugas, seluruh instansi tersebut harus bekerja sama, mempunyai otonomi masing-masing instansi dan saling hormat menghormati serta bertanggung jawab kepada atasan masing-masing. D. 1. Kebijaksanaan Nasional Untuk Efektivitas Pelayanan Kebijakan Pemerintah Terhadap Pelayanan Dalam rangka penyelenggaraan peningkatan Pelayanan

Publik 54 peran pemerintah sebagai konsekuensi logis dari adanya kepentingan publik, maka pemerintah secara nasional telah menetapkan kebijakan yang mengarah pada kepuasan masyarakat terhadap

pelayanan public yang diselenggarakan oleh pemerintah. Pemerintah dalam hal ini Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara menerbitkan berbagai landasan peraturan perundang-undangan, pedoman, dan surat edaran dibidang pelayanan publik antara lain : Keputusan Men PAN Nomor : 63lKEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum

Penyelenggaraan Pelayanan Publik, Keputusan Men PAN Nomor KEP/25/M.PAN/2/2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat pada Unit PelayananInstansi Pemerintah dan KEP/26/ M.PAN/2/2004 tentang Petunjuk Teknis Transparansi dan Akuntabilitas dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Upaya pemerintah untuk memberikan pelayanan publik yang optimal menjadi sangat penting untuk dilakukan. Pelayanan publik
Komisi Hukum Indonesia, Hasil Penelitian Normatif Sistem Penyelenggaraan Pelayanan Publik Indonesia, 2006, hal. 19-35.
54

78 harus memperoleh perhatian dan penanganan yang sungguh-sungguh, karena merupakan tugas dan fungsi yang melekat pada setiap aparatur pemerintah. Tingkat kualitas kinerja pelayanan publik memiliki implikasi yang luas dalam berbagai aspek kehidupan, terutama untuk mencapai tingkat kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu upaya penyempurnaan pelayanan publik harus dilakukan secara terus menerus, berkelanjutan dan dilaksanakan oleh jajaran aparatur pemerintah daerah.55 Menurut Progo Nurdjaman Pelayanan Publik sebagai berikut : a). Kesederhanaan Prinsip kesederhanaan ini mengandung arti bahwa prosedur/tata cara pelayanan diselenggarakan secara mudah, lancar, cepat, tepat, tidak berbelit-belit, mudah dipahami dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat yang meminta pelayanan. b). Kejelasan dan kepastian Prinsip ini mengandung arti adanya kejelasan dan kepastian mengenai : 1) Prosedur tatacara pelayanan, baik persyaratan teknis maupun administrative; 2) Unit kerja dan atau pejabat yang berwenang dan ada 8 prinsip-prinsip Pokok

bertanggungjawab dalam memberikan pelayanan; 3) Rincian biaya/tarif pelayanan dan tata cara pembayarannya;
Progo Nurdjaman., Penyelenggaran Departemen Dalam Negeri RI)., 2004. ha1. 33
55

Pemarintahan

Umum,

(Jakarta;

persyaratan satuan kerja/pejabat penanggungjawab pemberi pelayanan. waktu penyelesaian. e). kenyamanan dan dapat memberikan kepastian hukum bagi masyarakat. dalam hal proses pelayanan masyarakat yang bersangkutan memper-syaratkan adanya kelengkapan persyaratan dari satuan kerja/instansi pemerintah lain yang terkait. d). Keamanan Prinsip ini mengandung arti proses serta hasil pelayanan dapat memberikan keamanan. Mencegah adanya pengulangan pernenuhan persyaratan. f). c). Efisiensi Prinsip ini mengandung arti : Persyaratan pelayanan hanya dibatasi pada hal-hal yang berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan dengan tetap memperhatikan keterpaduan antara persyaratan dengan produk pelayanan yang diberikan. baik diminta maupun tidak diminta. Keterbukaan Prinsip ini mengandung arti bahwa prosedur/tatacara. Ekonomis Prinsip ini mengandung arti pengenaan biaya dalam penyelenggaraan pelayanan harus ditetapkan secara wajar dengan memperhatikan : .79 4) Jadwal waktu penyelesaian pelayanan. rincian biaya/tariff serta hal-hal lain yang berkaitan dengan proses pelayanan wajib diinformasikan secara terbuka agar mudah diketahui dan dipahami oleh masyarakat.

(3) Ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. pelayanan publik bagi kepolisian tercantum dalam TRI BRATA yang .80 (1) Nilai barang dan atau jasa pelayanan masyarakat dan tidak menuntut biaya yang terlalu tinggi di luar kewajaran. dalam rangka mewujudkan filosofi POLRI ”Rastra Sewakottama” yang berarti abdi utama nusa dan bangsa (masyarakat). SH. kepolisian juga memiliki fungsi sebagai instansi yang memberikan pelayanan administrasi kepada masyarakat.. Pelayanan publik (yang di lingkungan kepolisian dikenal dengan istilah pelayanan masyarakat/YANMAS) sebenarnya merupakan esensi pekerjaan polisi. Peranan Pelayanan Administrasi Kepolisian Di samping berfungsi sebagai salah satu lembaga penegak hukum dan penjaga keamanan masyarakat. Abdi utama di sini dimaksudkan sebagai pelayanan prima yang kemudian menjiwai kode etik POLRI baru. 2. g). Chaeruddin Ismail. Ketepatan Waktu Prinsip ini mengandung arti pelaksanaan pelayanan masyarakat dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang ditentukan. (2) Kondisi dan kemampuan masyarakat untuk membayar. Keadilan yang Merata Prinsip ini mengandung arti cakupan/jangkauan pelayanan harus diusahakan seluas mungkin dengan distribusi yang merata dan diberlakukan secara adil bagi seluruh lapisan masyarakat. h). Menurut Jenderal Polisi (Purn) Drs.

SH. memberikan pelayanan kepada masyarakat secara ikhlas dengan prosedur cvepat. halaman 9-10. Pelayanan SIM dilakukan oleh Kepolisian Resor atau Kepolisian Wilayah Kota Besar. apatis. Selanjutnya dalam Kode Etik POLRI berdasarkan Keputusan Kapolri No. Chaeruddin Ismail. [i] tidak mengeluarkan kata-kata atau gerakan tubuh yang mengisyaratkan minta imbalan atas jasa pelayanan yang diberikan”. 56 . sedang ijin keramaian diberikan oleh seluruh tingkat Jenderal Polisi (Purn) Drs. [e] mengutamakan kemudahan dan tidak mempersulit. [g] tidak meminta biaya kecuali diatur oleh undang-undang.81 merupakan filosofi POLRI yang kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian khususnya pasal 13 huruf c ”memberikan perlindungan.. sederhana.KEP/32/VII/ 2003 ditegaskan dalam pasal 5 bahwa ”memberikan pelayanan terbaik. dan pelayanan kepada masyarakat” dan pasal 14 huruf k ”memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai kepentingannya di dalam lingkup tugas kepolisian”. mendiamkan adanya harapan masyarakat”. Secara lebih rinci diatur beberapa tindakan atau perilaku yang harus dan dilarang untuk dilakukan dalam rangka pelayanan publik tersebut. Makalah pada Lokakarya Penelitian ini. serta tidak bermasa bodoh. Bandung. “Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Pelayanan Publik”. pengayoman. [e] tida membedabedakan (diskrimiasi cara pemberian pelayanan. Pol. 30 Oktober 2004.56 Pelaksanaan pelayanan publik oleh kepolisian berupa pelayanan administratif antara lain adalah penerbitan ijin seperti Surat Ijin Mengemudi (SIM) dan Ijin Keramaian.

Pada dimensi eksternal. Semangat demokratisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan akan menjadi peluang bagi peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. yang dengan demikian suara masyarakat diletakkan pada derajat yang paling tinggi. penyelenggaraan pelayanan publik yang terdesentralisasi akan meningkatkan responsifitas (daya tanggap) terhadap kebutuhan lokal dan membantu Pemerintah Daerah (lembaga penyedia layanan) mengidentifikasi dan memhami karekteristik khas masyarakat setempat. Dimensi Kebijakan Pelayanan Publik Progo Nurdjaman menyebutkan pelayanan publik dapat ditinjau dari dua dimensi. Paling tidak tantangan globalisasi tersebut memerlukan jawaban dalam hal .82 kepolisian dari Kepolisian Sektor sampai Mabes POLRI tergantung cakupan kegiatan atau keramaian yang dimintakan ijin. pelayanan publik merupakan salah satu isu utama sejalan dengan tuntutan demokratisasi dan desentralisasi Demokratisasi pada hakekatnya menyuarakan pentingnya partisipasi masyarakat dan akuntabilitas pemegang kekuasaan. Pada dimensi internal. pelayanan publik akan memainkan peranan kunci dalam menghadapi tantangan globalisasi. yaitu dimensi internal dan eksternal. 3. Pada sisi perencanaan. Sementara itu penyelenggaraan pelayanan publik yang terdesentralisasi akan mendekatkan penyelenggaraan fungsi pelayanan publik kepada masyarakat dan memungkinkan untuk menyelesaikan komplain (bila ada) dengan lebih cepat karena masyarakat bisa lebih mudah bertemu dengan pihak penyelenggara pelayanan.

Faktor . 2) Kelembagaan Berbagai tantangan yang dihadapi oleh pemerintah dalam era globalisasi akan semakin berat. sehingga permintaan masyarakat terhadap peningkatan kualitas pelayanan publik akan menjadi hal yang penting. baik ditingkat regional maupun internasional.faktor yang mempengaruhi Pelayanan Selanjutnya Progo Nurdjaman menjelaskan bahwa. Pembagian kewenangan daerah tersebut telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 serta Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 130-67 Tahun 2002 yang merupakan referensi pembagian tupoksi dan mekanisme kerja pada unitunit kerja daerah serta Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2001 tanggal 9 Mei 2001 tentang kedudukan Tupoksi dan Susunan Organisasi Dinas Pendapatan Daerah Sumatera Barat. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. . 4. kualitas pelayanan publik secara umum ditentukan oleh beberapa aspek yaitu : 1) Sistem Yaitu kewenangan Daerah untuk mengatur struktur. yang pengaturannya berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2003 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah sebagai pengganti Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000.83 peningkatan daya saing (competitiveness) dan daya tarik (attractiveness). tugas fungsi serta mekanisme kerja unit-unit kerja Daerah diatur dalam Peraturan Daerah. menjadikan masyarakat semakin tinggi tingkat pengetahuan dan pendidikannya.

efektif dan efisien. tugas.84 Oleh sebab itu organ isasi/kelembagaan pemerintah yang ada saat ini harus mampu menata diri menjadi organisasi yang dapat mengantisipasi perubahan kondisi yang datang begitu cepat dan tuntutan masyarakat yang semakin meningkat dan kompleks. yang pada akhirnya dapat meningkatkan pelayanan publik. sehingga dapat diciptakan efisiensi. Penataan organisasi dapat diartikan sebagai upaya untuk menciptakan postur organisasi yang lebih proporsional sesuai dengan visi dan misi yang diembannya. Pembenahan kualitas sumber daya manusia (PNS) sebagai aparatur Negara pada dewasa ini menjadi semakin penting karena fungsinya yang strategis. melainkan juga untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan dunia usaha tumbuh lebih sehat dan efisien agar investor dari dalam dan luar negeri terdorong untuk meningkatkan investasinya di Indonesia. dan tanggung jawabnya masing-masing. efektivitas. Pemerintahan yang bersih dan efisien sangat penting bukan hanya agar masyarakat dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari pelayanan publik . 3) Sumber Daya Manusia ( SDM ) Sumber daya manusia di lingkungan pemerintahan. Kebutuhan akan terciptanya aparatur yang bersih dan efisien semakin dirasakan sejalan dengan . dan produktivitas aparatur. merupakan salah satu penentu terciptanya pemerintahan yang bersih. Disamping itu dengan penataan organisasi dapat memperjelas wewenang.

dan bukan sebaliknya pada belanja aparatur. Dalam kaitan itu semua maka sangat strategis posisi belanja daerah. menyelenggarakan pelayanan publik dengan optimal dan menjalankan tugas dan fungsi pelayanannya berasarkan kebijakan kebijakan publik secara proporsional. terbuka. 4) Keuangan Daerah Kinerja penyelenggaraan pelayanan publik sangat dipengaruhi oleh kinerja dalam pengelolaan keuangan daerah. apakah mengedepankan belanja untuk aparatur atau untuk belanja publik. Mengingat pentingnya kebijakan pengalokasian dana dari APBD untuk kepentingan publik dalam rangka mengedepankan peleyanan publik tersebut. . terampil. inovatif. Dalam arti bahwa keberhasilan pemerintah menyelenggarakan pelayanan publik dapat dilihat dari besarnya dana APBD yang dialokasikan kepada belanja publik. berakhlak dan amanah. Untuk itu PNS harus lebih mengedepankan kepentingan publik.85 perubahan-perubahan yang terjadi sebagai hasil dari pembangunan dan dari akibat perubahan eksternal pada tingkat regional dan global. maka sudah sewajarnya Pemerintah Daerah Komitmen Dukungan Terhadap memperhatikan pola perencanaan dan penyusunan APBD yang lebih bersifat akuntabel. Dengan demikian diharapkan penyelenggaraan pelayanan publik dapat menjadi lebih baik lagi. peduli. Hal ini tentunya menuntut pegawai negeri menjadi lebih professional.

Adapun lembaga yang mengelola system ini biasa disebut dengan Lembaga Pelayanan Terpadu Satu Atap (LPTSA). yang kemudian diumumkan/ diinformasi-kan melalui media masa kepada masyarakat. salah satunya adalah system pelayanan umum satu atap. telah dilaksanakan sosialisasi program peningkatan pelayanan publik dalam bentuk Bimbingan Teknis di Daerah berupa : a) Pengembangan Lembaga Pelayanan Terpadu Satu Atap (LPTSA). yang berdampak pada alokasi kegiatan dan dana kurang proporsional terhadap kepentingan publik dibandingkan dengan belanja aparatur atau kegiatan-kegiatan yang tidak berdarnpak langsung pada kepentingan publik.86 Oleh karena itu perlu adanya analisis pola/ perilaku belanja daerah. Sistem ini diyakini sebagai salah satu cikal bakal terjadinya proses transparansi dalam pemberian pelayanan umum oleh pemerintah kepada masyarakat. . 5) Kebijakan Fasilitas Pelayanan Publik Dalam rangka mendorong Pemerintah Daerah menye-lenggarakan pelayanan publik secara optimal. Apalagi dalam kondisi yang multi partai seperti saat ini. Pemerintah menaruh perhatian besar terhadap upaya-upaya reformasi di bidang pelayanan publik. agar masyarakat dapat mengkritisi kebijakan publik secara langsung. tidak menutup kemungkinan terjadinya trade-off dalam pembahasan Rancangan APBD. Sistem pelayanan satu atap pada hakekatnya adalah penyeleng-garaan pelayanan dalam satu gedung (satu atap).

Sebaliknya apabila pemimpin daerah kurang komitmen maka biasanya masing-masing unit kerja enggan melepaskan fungsi-fungsi yang berkitan dengan pelayanan. (2) LPTSA memberikan kesempatan kepada aparatur pemerintah untuk belajar dari sektor swasta terutama dalam mengembangkan pola manajemen yang berorientasi kepada masyarakat (what public want). lebih murah (cheaper). Hal ini akan memberikan dorongan dan insentif kepada birokrasi pemerintah untuk menjadi lebih responsive dan efisien.87 b) Peningkatan transparansi dan akuntabilitas akan berdampak pada pelayanan yang lebih baik (better). Sedangkan aspek-aspek dominan yang mempengaruhi optimalisasi LPTSA antara lain : Dari hasil monitoring dan evaluasi bahwa aspek komitmen pimpinan daerah terhadap LPTSA sangat dominan terhadap optimalnya LPTSA. . Peran penting dan strategis dari LPTSA dimaksud adalah : (1) LPTSA bisa mendorong aparat pemerintah untuk menjadi lebih responsive dan efisien melalui standar-standar yang telah ditentukan. maka LPTSA di daerah menjadi amat penting dan strategis peranannya. dan lebih cepat (faster) menjadi tujuan utarna reformasi manajeman pelayanan publik daerah. maka akan mampu menggerakkan unit-unit kerja terkait untuk mendukung LPTSA. Apabila pimpinan daerah mempunyai komitmen yang tinggi.

Pendekatan ini memberi cara bagaimana menyederhanakan persyaratan. 2) mengefektifkan system dan Mendorong tatalaksana pelayanan. sungguh-sungguh dan ikhlas. Lebih jauh hakekat dari pelayanan prima adalah berupa upaya-upaya sebagai berikut : 1) Meningkatkan mutu dan produktifitas pelaksanaan tugas dan fungsi instansi pemerintah di bidang pelayanan umum.88 Pemahaman pendekatan ACSD yaitu Abolish (Penghapu-san).persyaratan yang diperlukan dalam suatu proses pelayanan. keinginan. Combine (Penggabungan). Simplified (Penyederha-naan) dan Decentralized (Pelimpahan). 6) Prima Pelayanan prima dilaksanakan untuk memenuhi standar Aspek Proses Pelaksanaan Pelayanan pelayanan terhadap permintaan. dan harapan masyarakat yang mempunyai nilai yang tinggi dan bermutu (berkualitas). tanpa memikirkan dan mendapat income tambahan atau tidak. Pemahaman makna kehidupan bagi para penyelenggara pelayanan publik dan aparatur yang terkait. Pemahaman terhadap beban pekerjaan melayani masyarakat akan berubah menjadi bekal perjalanan di alam berikutnya akan menjadi spirit kerja dengan baik. upaya sehingga .

dan tepat waktu. d) Tepat. artinya pemberian pelayanan dapat dilakukan secara tepat arah dan sasarannya. prosedurnya dipenuhi. b) Terbuka. Untuk mendukung terselenggaranya pelayanan prima tersebut harus dilaksanakan dalam suatu rangkaian kegiatan terpadu yang mencakup aspek-aspek sebagai berikut : a) Sederhana. artinya petugas pelayanan harus bekerja secara ikhlas dan sepenuh hati. c) Lancar. artinya masyatakat ingin dilayani secara jujur. tepat jumlahnya tidak lebih dan tidak kurang. dan apa adanya sesuai dengan peraturan perundangan yang mengaturnya. artinya apa yang diharapkan dan diinginkan masyarakat terhadap suatu pelayanan tertentu dapat tersedia secara lengkap. 3) Mendorong tumbuhnya kreatifitas. dan persyaratannya mudah karena itu aparat yang bertugas melayani harus memberikan penjelasan sejujur-jujurnya.89 pelayanan umum dapat diselenggarakan secara lebih berdaya guna dan berhasil guna (efektif dan efisien). e) Lengkap. dengan didukung sarana dan prasarana yang menunjang kecepatan pelayanan itu sendiri. Oleh tidak berbelit-belit. . prakarsa dan peranserta masyarakat secara luas. artinya dalam pelaksanaan tidak menyulitkan.

artinya biaya pelayanan tersebut dapat dijangkau oleh masyarakat. yang pada akhirnya nanti dapat dibangun hubungan yang harmonis antara pemerintah dan masyarakat. g) Terjangkau. sehingga dengan demikian persepsi masyarakat terhadap kinerja birokrasi pemerintah akan menjadi lebih baik lagi.90 f) Wajar. Setelah dilakukan hal-hal sebagaimana diuraikan diatas. namun belum berjalan efektif terhadap upaya peningkatan kinerja pelayanan publik. Pada satu sisi pemerintah akan memiliki legitimasi yang kuat dihadapan masyarakat dan pada sisi yang lain masyarakat akan mendapat pelayanan yang baik dan prima dari pemerintah. diharapkan pemerintah dapat memberikan kepada masyarakat suatu pelayanan publik yang prima. Dewasa ini ada berbagai media yang digunakan masyarakat untuk menyampaikan keluhan mengenai . artinya pelayanan dilakukan sebagaimana mestinya dan tidak dibuat-buat. Sistem penampungan keluhan yang berkembang di daerah saat relatif bervariasi. 7) Masyarakat Dalam rangka menciptakan good governance khususnya dalam hal pelayanan publik serta untuk memicu kinerja Pemerintah Daerah dalam menyelenggarakan pelayanan publik bagi masyarakatnya Lembaga Penampungan Pengaduan diperlukan suatu lembaga pengawas eksternal yang bersifat independent dan non struktural.

radio TV. Namun jumlah keluhan yang masuk relatif sedikit karena msyarakat cenderung : a) b) Tidak mengetahui kemana masyarakat harus mengadu.91 pelayanan publik. f) penampungan Sebagai keluhan upaya pengoptimalan maka mekanisme perlu untuk masyarakat . antara lain : a) munikasi Untuk antara mencairkan dan kebekuan pemerintah informasi/miskokarena kurang masyarakat berfungsinya lembaga yang sudah ada. atau Merasa pesimis bahwa keluhan masyarakat tersebut akan ditindaklanjuti. d) Untuk melakukan penilaian yang obyektif terhadap masalah yang timbul antara eksekutif. Alasan perlunya pembentukan lembaga khusus tersebut bervariasi. e) Sebagai alat kontrol bagi Pemerintah Daerah dalam menetapkan berbagai kebijakan publik. ataupun menemui langsung instansi terkait. antara lain. Seluruh Pemerintah Daerah yang pernah disurvei menyatakan setuju jika lembaga khusus penampungan aspirasi/keluhan masyarakat dibentuk didaerah. legislatif dan masyarakat. c) Untuk memperbaiki kinerja pelayanan publik pada khususnya dan Pemerintah Daerah pada umumnya. b) Untuk menampung keluhan dan aspirasi masyarakat digunakan untuk masukan dalam penyusunan program. melalui mass-medya cetak dan elektronik seperti koran.

.92 mengembangkan Lembaga Penampungan Pengaduan Masyarakat Daerah sesuai dengan situasi dan kondisi daerah masing-masing.

Disamping itu. Solok Selatan dan Kota Solok dan. sehingga efektivitas proses pembangunan masing-masing daerah sangat dipengaruhi oleh kecenderungan arus penduduk yang pindah dan pergi ke kota (urbanisasi) serata menetap tinggal di kota. Solok. Mentawai. Diskripsi Wilayah Propinsi Sumatera Barat terletak di sebelah Barat pulau Sumatera. Pasaman Barat.2 ribu Km2 (2. sedangkan . Padang Panjang. Masalah umum kependudukan di Propinsi Sumatera Barat sama seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia. Secara administratif Propinsi Sumatera Barat terbagi dalam 12 (dua belas) kabupaten dan 7 (tujuh) kota yaitu : Kabupaten Pesisir Selatan. Kota adalah Padang. faktor mobilitas penduduk (migrasi) antar daerah cukup tinggi. Padang Pariaman. Solok. Dharmasraya. Sawahlunto. Pasaman.17 persen dari luas Indonesia). Tanah Datar.632.93 BAB III PELAKSANAAN PELAYANAN PKB DAN BBN-KB A. Sawahlunto/Sijunjung. yaitu terdapat penyebaran yang tidak merata antar wilayah menurut kabupaten dan kota. Berdasarkan perkiraan Sensus Penduduk (SP) Tahun 2000 dan Survey Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Tahun 2005. jumlah penduduk Propinsi Sumatera Barat pada tahun 2006 adalah sekitar 4. Penyebaran tidak merata ini disebabkan perbedaan karakteristik dan potensi daerah serta pengaruh demografi yang dimiliki masing-masing daerah.87% per tahun. Agam.152 jiwa dengam laju pertumbuhan ratarata sekitar 1. 50 Kota. Bukittinggi. Urbanisasi disebabkan daerah perkotaan lebih menarik (pull factors). Payakumbuh dan Pariaman. Propinsi ini memiliki luas wilayah 42.

yaitu sekitar 819.767 jiwa. Kemudian diikuti Kabupaten Pesisir Selatan sebanyak 429. Faktor urbanisasi ini membawa kecenderungan kepadatan penduduk kota lebih tinggi di bandingkan daerah kabupaten. Ekspetasi kehidupan penduduk ( expectation of life ) kota. dimana sebanyak 72.647 jiwa dan Agam sebanyak 426. Untuk jelasnya distribusi dapat dilihat Tabel 1 berikut : . kemudian diikuti oleh Sawahlunto sebanyak 53. Apabila diperhatikan distribusi antar daerah kabupaten dan kota. Faktor pull and push faktor didasarkan kepada ekspetasi penduduk kehidupan di kota jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan daerah kabupaten. Sedangkan daerah yang relatif sedikit jumlah penduduknya adalah terdapat pada beberapa daerah perkotaan.784 jiwa.89% tinggal di 12 kabupaten dan sisanya sekitar 27.765 jiwa.327 jiwa dan Solok sebanyak 55.152 jiwa tersebut.94 di daerah kabupaten yang mempunyai ciri pedesaan dianggap kurang tertarik (push factors). yaitu ada harapan untuk memperoleh pekerjaan dan peluang mendapatkan pendapatan.11 % di 7 daerah kota. seperti Padang Pajang sebanyak 49.632.779 jiwa. jumlah penduduk Kota Padang merupakan jumlah terbanyak. Dari jumlah penduduk Propinsi Sumatera Barat tahun 2006 sekitar 4.

8.779 102. .515 104. 16.784 53.369 47.512 101.9 %.610 819.203 248.258 381.837 44. 4.347 322.327 49.084 70.949.406 4. 7.7 %.789 324. 2000.740 55.309.95 milyar.486 67. 2.224.103 91. 15.376. 12.844 310.765 55.997 334.810 2006 3. 3.95 Tabel 1 : Jumlah Penduduk Sumatera Barat.375 ---1.208 424.425 306. pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat tahun 2006 mengalami kenaikan sekitar 5.540 126.699 100.592 --4.767 327.576 378.614 170.433 324.542 429. 14.538 428. 10.528.318 2004 3.616 40.819 70.186. Dengan laju pertumbuhan sekitar 5.034. I.874 495.736 54.152 Catatan : * Angka SP 2000 ** Angka SUPAS 2005 -. 18.254 104.049 53.709 53.632.Sebelum pemekaran Sumber : BPS.216 375. jumlah Produk Domestik Regional (PDRB) menurut harga konstan tahun dasar 2000) mencapai Rp 30.73% dan tahun 2004 sekitar 5.757 414.803 426.311 388. Pertumbuhan ekonomi tahun 2007 diperkirakan lebih tinggi sekitar 6.255. II 13. 17.242 2005 3.153 434.819 339. 11.332 128.331.883 48.439 100.258 555..032 4.093 342. 2004-2006 ( Dalam orang ) No.817 326.217 331.708 457.220 417.356 1. Kabupaten/Kota KABUPATEN Pesisir Selatan Solok Swl/Sijunjung Tanah Datar Pdg Pariaman Agam Lim Puluh Kota Pasaman Mentawai Solok Selatan Dhamasraya Pasaman Barat KOTA Padang Solok Swhlunto Padang Panjang Bukittinggi Payakumbuh Pariaman Jumlah 2000 3. 19.007 708.554 64.081 45. Keadaan Ekonomi Berdasarkan laporan Kantor Statistik Daerah (BPS. 1.142 423.389 343.194 316.555.201 244.918 508.444 97.37%.928 1.812 165.523 ----1.022 784.930 66.647 347.668 799. 5. 2007) Propinsi Sumatera Barat.220.377 75. Kantor Statistik Sumbar B.2 % dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2005 sekitar 5.930 188.356 4.286 192. 6. 9.219.

96 sedangkan pada tahun 2005 baru mencapai Rp 29.159,48 milyar dan tahun 2004 sebanyak Rp.27.578,14 milyar. Perkembangan yang cukup mengembirakan ini terjadi akibat pertumbuhan 4 (empat) sektor dominan, seperti sektor pertanian, pengangkutan dan perdagangan, hotel dan restoran. Pada tahun 2006 sektor pertanian memberi sumbangan terhadap pembentukan PDRB Sumatera Barat sekitar 25,30%, sektor perdagangan, hotel dan restoran sekitar 17,62%. sektor industri dan pengolahan sekitar 14,30% dan sektor pengangkutan dan komunikasi sekitar 14,02%. Apabila diperhatikan perkembangan ke empat sektor dominan tersebut, pada tahun 2006 sektor pertanian naik sekitar 6,70%, sektor industri dan pengolahan naik sekitar 4,0%, sektor perdagangan, hotel dan restoran naik sekitar 5,99% dan sektor pengangkutan dan komunikasi naik sekitar 9,84%. Diantara ke empat sektor dominan diatas, khusus sektor pengangkutan dan komunikasi sangat potesial dan relevan apabila dikaitkan dengan topik pemahasan ini, karena indikator yang digunakan dalam perhitungan PDRB adalah jumlah kendaraan bermotor.

97
Tabel 2 : Produk Domestk Regionl Bruto Propinsi Sumatera Barat atas Harga Konstan Tahun 2000, Menurut Lapangan Usaha Tahun 2002-2006 ( Dalam Rp. Juta )
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Lapangan Usaha Pertanian. Pertambangan dan penggalian Industri pengolahan. Listrik,gas,air bersih Bangunan Perdagangan,hotel dan restoran Pengangkutan dan komunikasi. Keuangan,persewaan,j asa perusahaan Jasa-jasa. Jumlah 2002 6.091.915,6 884.878,7 3.404.309,8 271.084,9 1.194.839,2 4.543.977,6 2.928.943,5 1.230.509,4 4.289.729,1 24.840.187,7 2003 6.557.510,7 894.245,3 3.472.186,0 284.294,0 1.278.358,4 4.755.166,3 3.165.005,3 1.294.725,5 4.445.290,3 26.146.781,6 2004 6.937.172,9 923.379,1 3.629..455,7 301.070,7 1.375.769,3 5.006.640,3 3.419.244,7 1.376.937,7 4.608.466,1 27.578.136,6 2005 7.293.205,7 951.882,6 3.808.287,0 338.722,9 1.440.337,6 5.305.757,2 3.754.819,8 1.464.102,8 4.802.365,0 29.159.480,5 2006 7.658.394,8 980.826,8 3.978.641,1 368.981,7 1.544.889,6 5.662.879,4 4.140.569,9 1.579.347,5 5.035.414,3 30.949.945,1

Sumber : Kantor Sensus dan Statistk Propinsi Sumatera Barat Struktur perekonomian daerah dalam satu dekade terakhir masih didominasi oleh tiga sektor utama yaitu sektor peranan sektor pertanian dalam tahun 2003 sebesar 24,18% dan mengalami peningkatan pada tahun 2004 menjadi 24,40%, sedangkan dalam tahun 2005 mencapai 25,06%. Dari perkembangan tersebut menandakan sektor pertanian semakin dominan dan masih tetap menjadi penggerak perekonomian untuk beberapa tahun ke depan. Oleh sebab itu pembangunan sektor pertanian tahun 2007 tetap menjadi prioritas pembangunan dalam kerangka pengembangan perekonomian daerah dan peningkatan pendapatan penduduk yang sebahagian besar masih mengandalkan lapangan kerja pada sektor pertanian ini. Sektor perdagangan, hotel dan restoran yang merupakan penyumbang kedua terbesar dalam pembentukan PDRB daerah dengan kontribusi sebesar 18,79% dalam tahun 2003 dan pada tahun 2004 mengalami penurunan menjadi 18,71%, selanjutnya pada tahun 2005 juga mengalami penurunan menjadi 18,18%. Hal ini disebabkan

98 semakin menurunnya kontribusi sektor pertambangan dan penggalian serta sektor industri pengolahan yang sangat mempengaruhi sektor perdagangan ini. Sedangkan sektor jasa-jasa sebagai penyumbang ketiga dalam pembentukan PDRB juga mengalami penurunan sejak tahun 2002 sehingga menjadi dibawah 17%, hal ini berlangsung sampai dengan tahun 2004. Pertumbuhan ekonomi daerah pada tahun 2005 sebesar 5,53% yang berarti lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi yang dicapai pada tahun 2004 sebesar 5,46%. Diharapkan perekonomian daerah terus membaik dengan pertumbuhan sebesar 6,00% pada tahun 2006 dan pada tahun 2007 diharapkan lebih tinggi lagi yaitu sebesar 6,20%. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2005 dari sisi permintaan, didukung oleh konsumsi masyarakat yang mengalami pertumbuhan sebesar 3,5% dan konsumsi pemerintah sebesar 4,0%, sedangkan ekspor mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu sebesar 15,0%. Diharapkan ekspor ini terus mengalami peningkatan sehingga dapat lebih mendorong gerak perekonomian daerah. Dari sisi penawaran, sektor pertanian mengalami pertumbuhan sebesar 6,96% sementara sektor industri pengolahan hanya mengalami pertumbuhan sebesar 3,56% yang berarti berada dibawah sektor pertanian. Diharapkan untuk masa yang akan datang pertumbuhan sektor industri dapat lebih tinggi dari sektor pertanian sehingga terjadi kegiatan ekonomi yang memberikan nilai tambah bagi daerah. Untuk langkah-langkah yang dapat meningkatkan industri pengolahan terutama yang berbasis pertanian akan terus diupayakan, baik melalui pemberdayaan usaha yang sudah ada maupun dengan mendorong investor mengembangkan industri pengolahan dimaksud. Untuk merealisasikan pertumbuhan ekonomi daerah sebesar 5,9 % pada tahun 2006 dibutuhkan investasi sebesar Rp. 6.234 milyar menurut harga konstan tahun

241 orang atau sebanyak 233.104 milyar menurut harga konstan tahun 2000. Pada tahun 2005 berdasarkan hasil pendataan Susenas. Investasi masyarakat dan dunia usaha akan berperan lebih besar dibandingkan investasi pemerintah. khususnya penerimaan pajak daerah yang berasal dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea balik Nama (BBN). 2006. Jumlah ini diperkirakan sebanyak 22. dimana tingkat kemiskinan dan pengangguran mempunyai efek tidak langsung kepada efektivitas penerimaan daerah. 7. Dengan terjadinya peningkatan perekonomian daerah melalui berbagai kebijakan dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi telah terjadi peningkatan diberbagai sektor. untuk itu program kerja pemerintah akan lebih diarahkan kepada penyiapan kerangka kebijakan dan peningkatan pelayanan serta menyediakan sarana prasarana yang dapat mendorong aktivitas penanaman modal. Di samping itu.20 % pada tahun 2007 dibutuhkan investasi sebesar Rp.99 2000. sedangkan untuk merealisasikan pertumbuhan sebesar 6. terutama pada sektor dominan yang diharapkan meningkat seperti digambarlan diatas. Investasi tersebut berasal dari pemerintah. kondisi sosial ekonomi masyarakat. yaitu sekitar 30.07% dari jumlah penduduk Sumatera Barat. Diharapkan peningkatan pertumbuhan ekonomi tersebut membawa pengaruh terhadap penurunan jumlah penduduk miskin dan jumlah pengangguran. Pada tahun 2006 jumlah ini diperkirakan mengalami peningkatan.825 Kepala Keluarga. dalam temuan dan hasil wawancara dalam penelitian ini. termasuk peningkatan investasi daerah sangat besar artinya terhadap efektifitas penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD).079. jumlah penduduk miskin di Propinsi Sumatera Barat tercatat sebanyak 1. Perkembangan kondisi perekonomian Sumatera Barat.0% dari jumlah penduduk tahun . masyarakat dan dunia usaha.

Namun dalam tahun 2007 dengan berbagai program penanggulangan kemiskinan diantara adalah penanggulangan kemiskinan yang berbasis nagari. . Demikian halnya dengan angka pengganguran terbuka. (Under . Kelompok orang yang bekerja tidak pada tempatnya dan tidak sesuai dengan latar belakang serta keahliannya.950 orang diperkirakan tingkat pengangguran terbuka sekitar 16. Jumlah pengangguran terbuka di Propinsi Sumatera adalah cukup tinggi.09%. tetapi yang lebih penting dan erat kaitannya dengan efektivitas pembayaran PKB dan BBN adalah tenaga yang bekerja yang dikelompokan kedalam setengah penganggur. masalah pengangguran bukan terletak kepada penanganan penurunan tingkat pengangguran terbuka menjadi 13. Berdsarkan data Kantor Sensus dan Statistik Sumatera Barat. yaitu sekitar 14.53%.40% dan awal tahun berikutnya akan mengalami penurunan lagi menjadi 13. dimana dari jumlah pencari kerja sebanyak 2. sehingga bekerja tidak seperti yang diharapkan. pengangguran tersebut adalah : Kelompok orang yang bekerja dibawah jam kerja yang sudah ditentukan (Under – Employment). salah satu diantanya adalah Penerimaan yang bersumber dari pajak daerah. Peningkatan jumlah penduduk miskin dalam temuan penelitian sangat mempengaruhi efektivitas pemasukan penerimaan yang berasal dari PAD. diharapkan angka kemiskinan tahun 2007 menjadi 17.100 2006.10%.Utilized). Namun. khususnya Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama (BBN).026. sedeangkan pada tahun 2004 jumlah tersenbut diperkirakan akan terjadi penurunan.10% tersebut.

belum lagi termasuk pertambahan kelompok pencari dari anak sekolah/mahasiswa yang menamatkan pendidikan. Kedua faktor penyebab tenaga kerja setengah penganggur tersebut akan mempengaruhi efektivitas pelayanan sumber daya bagi pusat-pusat pelayanan. perizinan.101 Bekerja tidak sepantasnya bekerja. Dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah ( RKPD ) Propinsi Sumatera Barat Tahun 2007. hubungan keluarga. khususnya penerimaan daerah yang bersumber dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama (BBN). Efektivitas Pajak Daerah Dalam membahas efektivitas pajak daerah terhadap penerimaan daerah. seperti anak-anak. seperti pada kasus pelayanan publik pembayaran pembayaran melalui calo dalam pengurusan pajak daerah. . C. Penyebab tingginya angka orang bekerja yang disebut setengah penganggur tersebut disebabkan rendah kualitas sumberdaya manusia seperti pendidikan. teman dan saudara serta bentuk KKN lainnya (Disquised Un-Employment). Untuk menjelaskan efektivitas pemungutan pajak daerah ini. pada tahun 2004 jumlah sekitar 44. kemampuan untuk merealisasikan target yang telah ditetapkan di awal tahun anggaran berjalan dengan realisasi pemungutan yang dilakukan pada tahun bersangkutan. kesehatan. Ketiga bentuk pengangguran ini jumlahnya cukup besar. adanya parkir liar yang mengganggu tata tertib pelayanan.0 % dan tahun 2005 sekitar 44.5 %. gizi dan tekanan urbanisasi. Kemudian secara alamiah kenaikan jumlah penduduk satu dekade sebelumnya menjadi pencari dan menyebabkan tingginya jumlah pencari kerja. penulis menguraikan kemampuan daerah dalam pemungutan pajak daerah.

606.163 93.96 33.26 8.574. Pendapatan Asli Daerah merupakan salah satu sumber utama keuangan daerah untuk membiayai biaya administrasi umum dan biaya operasi pemeliharaan disamping penerimaan lainnya berupa bagi hasil pajak/bukan pajak.649. Tabel 3 Pertumbuhan PAD Propinsi Sumatera Barat Selama Tahun Anggaran 2002 . akan tetapi persentase pertumbuhannya berfluktuatif.256. Keuangan daerah merupakan salah satu faktor terpenting dalam menganalisa potensi dan kebutuhan daerah.42 12.624.4 berikut : .102 Kemampuan daerah dalam memajukan perekonomian daerahnya terlihat dari perkembangan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang positif disisi penerimaan dan peranannya dari tahun ketahun yang semakin meningkat.166.44 Sumber : Dinas Pendapatan Prop.065 Kenaikan Rp 72.00 31.450.236 457.2006 (dalam Rp.346 68.888 406. 000) No.284. Perkembangan Pendapatan Asli Daerah Sumatera Barat dari tahun ketahun terus mengalami peningkatan rata-rata 32.521.546 281.69% pertahun. 1 2 3 4 5 Tahun Anggaran 2002 2003 2004 2005 2006 Realisasi PAD 213.829 % 34. Sumbar Tahun 2006.348 50. Besarnya kontribusi Pendapatan Asli Daerah terhadap Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) menunjukkan tingkat ketergantungan daerah terhadap Pemerintah Pusat.074.179 31. bantuan pembangunan serta pinjaman daerah. Kontribusi PAD Sumatera Barat Tahun Anggaran 2002 sampai dengan 2006 dapat dilihat pada tabel IV.709 375.

383 704. Rendahnya konstribusi perimaan ini sebagai . Sumbar. konstribusi PAD terhadap APBD Sumatera adalah sebanyak 46.57 %.Tahun 2006.165 % 37.074.284.641.236 985. 12 % sampai 80.41 Sumber : .149.383 724.809.41%.409. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan tahun 2005 sekitar 55.40 %. Menurut undang-undang nomor 34 tahun 2000 jenis-jenis pajak daerah propinsi meliputi : Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan kendaraan di atas air Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) dan kendaraan di atas air Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Permukaan Kontribusi PKB dan BBN KB terhadap PAD dan APBD Propinsi Sumatera Barat Tahun Anggaran 2002-2006 rata-rata sekitar 61.96 39.755 738. sedangkan dibandingkan dengan jumlah PDRB Propinsi Sumatera Barat adalah ratarata sekitar 23.Dinas Pendapatan Prop.103 Tabel 4 Kontribusi PAD terhadap APBD Propinsi Sumbar Dalam Tahun Anggaran 2002 – 2006 (Dalam Rp.20 % sampai 37. Pada tahun 2006.546 281.256.236 457.888 406.96 51.709 375.649. Dari data di atas terlihat bahwa kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) mengalam fluktuasi.431. namun apapabila dilihat perkembangan selama 5 tahun terakhir jumlahnya menunjukan peningkatan.50 46.450. ribuan) Tahun Anggaran 2002 2003 2004 2005 2006 Realisasi PAD 213.065 APBD 561.78 55.50 %.

90 37. Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa kontribusi pajak daerah (PKB dan BBNKB) Propinsi Sumatera Barat terhadap Pendapatan Asli Daerah setiap tahunnya masih berluktuatif dengan rata – rata kontribusinya selama lima tahun terakhir sebesar 61.216 174.074.0 2 108.500.236 457.000 327.20 24.16 72.065 Kontr.57%.546 281.000.48 80. thd PAD (%) 61.12 61. thd APBD (%) 23. Sumbar.945 368.000 ( Rp.256.365.931 % 129.7 1 145.95 65.975.800.40 Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Prop. 000 ) 213.980 294.74 39.197 244.500.6 8 PAD ( Rp.95%.356.000 119.12%.763. Sedangkan kontribusinya terhadap APBD adalah sebesar 23.000) 130. Pada tahun 2003 konstribusinya terhadap PAD adalah sekitar 61.104 sumber PAD utama adalah disebabkan penerimaan daerah yang terbesar adalah berasal dari dana perimbangan keuangan yang bersumber dari APBN seperti DAU. DBH dari pajak dan bukan pajak serta DAK.284.649.709 375. sedangkan pada tahun 2006 adalah sekitar 80.75 33.404. Sedangkan konstribusinya . Untuk mengetahui kontribusi pajak daerah terhadap penerimaan asli daerah dan penerimaan total daerah (APBD) di Propinsi Sumatera Barat selama tahun 2002 sampai dengan tahun 2006 dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5 Kontribusi PKB dan BBN KB terhadap PAD dan APBD Propinsi Sumatera Barat Tahun Anggaran 2002-2006 Realisasi Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 Target PKB dan BBNKB 100.40%.000 272.888 406.20% sampai dengan 37.5 5 130.000 187.450.Tahun 2006.57 Kontr.454.1 7 112.

69 138.000 59. 4. D.162 80.575.245.Sumbar 2006.869.237 52.586. dimana fakta yang dikemukakan Tabel 6 terlihat bahwa realisasi telah melampaui target yang ditetapkan.000 74.000 125.000 70.400.000. 000) N o Tahun Pajak Kendaraan Bermotor % Bea Balik Nama KendaraanBermotor % Target 2002 2003 2004 2005 2006 Realisasi 123.000. 5.159.20% dan pada tahun 2006 naik menjadi 37. 3.21 118.800.105 terhadap APBD.88 101. jumlah personil yang terdapat di Kantor Bersama Samsat Sumatera Barat adalah sebagai berikut : Dit. Hasil Penelitian dan Analisis Keadaan Personil Kantor Bersama Samsat Berdasarkan situasi kantor per akhir Januari 2006.496.345.033 166. pada tahun 2003 adalah sekitar 23.557 56. Lantas Polda Dispenda Jasa Raharja Jumlah : : : : 30 orang 33 orang 2 orang 65 orang .892.500.000 169.200.000 192. 48.70 132. 2.034 107.588 127. Dilihat dari segi penerimaan daerah pencapaian target telah kinerja memuaskan.300.500.40%. Secara terinci kinerja dari aspek penerimaan tersebut dapat dilihat tabel berikut: Tabel 6 Target dan Realisasi PKB dan BBNKB Selama tahun anggaran 2002 s/d 2006 (Dalam Rp.469 Target Realisasi 135.32 151.000 264.000 99.828 Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Prop.000 95.98 118.418.946 106.03 156.669.658 63.43 1.500.88 132.463.000 149. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.358 199. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal.

Rata-rata wajib pajak yang datang setiap hari ke Loket I lebih banyak jika dibandingkan dengan Loket II. Jumlah wajib pajak yang dilayani memang dapat berbeda. Adapun jumlah wajib pajak yang dilayani rata-rata per hari adalah sebagaimana dapat dilihat pada tabel 8. karena . Jumlah WP 650 orang 200 orang 400 orang 650 orang 200 orang Rata-rata setiap loket melayani 420 orang wajib pajak. yang jumlahnya paling sedikit (rata-rata 200 orang wajib pajak perhari).106 Distribusi petugas yang terdapat pada setiap pokja/loket yang langsung berhubungan dengan masyarakat wajib pajak dapat dilihat pada tabel 7 berikut : Tabel 7 Distribusi Jumlah Petugas Samsat Pada Setiap Loket Pelayanan Pokja/ Loket Polda Dispenda 2 0 9 3 1 15 Jasa Raharja 0 0 1 1 1 3 Jumlah 5 4 16 4 4 33 Loket I 3 Loket II 4 Loket III 6 Loket IV 0 Loket V 2 Jumlah 15 Sumber : Ditlantas Polda Sumatera Barat. Dari tabel 8 terlihat bahwa jumlah wajib pajak yang dilayani pada setiap loket tidak sama. Tabel 8 Jumlah Rata-rata Wajib Pajak yang Dilayani Per hari Pokja/ Loket Loket I Loket II Loket III Loket IV Loket V Sumber : Ditlantas Polda Sumatera Barat.

diperoleh data sebagaimana dijelaskan .107 sifat pekerjaan di setiap loket mempunyai spesifikasi yang berbeda. Data Primer Data primer diperoleh dari wawancara dan kuesioner. dijelaskan sebagai berikut : Terhadap Karakteristik Responden Berdasarkan hasil berikut ini : Pada tabel 9 dapat dilihat profil responden berdasarkan pekerjaan. Kebanyakan wajib pajak baru datang kembali ke Kantor Bersama Samsat pada keesokan harinya. Umumnya wajib pajak setelah mengambil formulir di Loket I. tidak semua kendaraan bermotor wajib melakukan cek phisik (khususnya untuk mengesahkan STNK setiap tahun). yaitu sebanyak 19 responden atau sebesar penelitian. tetapi yang terdaftar hanya yang sesuai dengan ketentuan. Setelah selesai di Loket III kebanyakan wajib pajak pergi meninggalkan Kantor Samsat. Umumnya responden bekerja sebagai wiraswastawan. Masyarakat yang hendak membayar PKB atau memperpanjang STNK diperkenankan untuk melakukannya sebulan sebelum tanggal jatuh tempo. BBN-KB dan SWDKLLJ. lalu melakukan pendaftaran di Loket III. di samping adanya wajib pajak yang belum mempersiapkan dana untuk melakukan pembayaran pada saat itu. BBN-KB dan SWDKLLJ wajib mengambil formulir di Loket I. Menurut pedoman tata laksana Sistim Administrasi Manunggal Dibawah Satu Atas (Samsat). karena untuk membayar PKB. petugas memerlukan waktu untuk menghitung besarnya PKB. walaupun dalam prakteknya semua kendaraan bermotor diharuskan untuk melakukan cek phisik. melanjutkan cek phisik kendaraan bermotor di Loket II. Semua kendaraan bermotor yang hendak membayar PKB.

108 45,24%, sebagai pegawai sebanyak 15 responden atau 35,71% dan sebanyak 8 orang atau 19,05% memiliki pekerjaan selain wiraswasta dan pegawai.

Tabel 9 Profil Responden Berdasarkan Pekerjaan Responden Pekerjaan Wiraswasta Pegawai Pengemudi Lainnya Jumlah Jumlah Sampel (n) 19 15 5 3 42 Prosentase (%) 45,24 35,71 11,91 7,14 100

Berdasarkan umur responden, usia 15-30 tahun sebanyak 6 responden atau 14,29%, umur 31-40 tahun sebanyak 17 responden atau 40,48% dan yang berumur 4150 tahun sebanyak 15 responden atau 35,71%. Sisanya berumur di atas 51 tahun, yaitu 4 responden atau 9,52%. Variasi umur wajib pajak yang menjadi responden dianggap bisa mewakili seluruh usia wajib pajak. Profil umur responden dapat dilihat pada tabel 10. Tabel 10. Profil Responden Berdasarkan Umur Responden Umur (Tahun) 15 – 30 31 – 40 41 – 50 51 ke atas Jumlah Jumlah Sampel (n) 6 17 15 4 42 Prosentase (%) 14,29 40,48 35,71 9,52 100

Umumnya responden mempunyai pendidikan SLTA yaitu sebanyak 18 responden atau 42,86%, Perguruan Tinggai (PT) 14 responden atau 33,33%.

109 Responden yang berpendidikan dasar (SD dan SLTP) ada 8 responden atau 19,05%. Berarti tingkat pendidikan responden cukup baik. Profil responden berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 11.

Tabel 11. Profil Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pendidikan SD SLTP SLTA PT Lainnya Jumlah Responden Jumlah Sampel (n) 2 6 18 14 2 42 Prosentase (%) 4,76 14,29 42,86 33,33 4,76 100

Hasil penelitian yang diperoleh dari kuesioner yang diedarkan dengan menanyakan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan urusan pada setiap loket pelayanan, mulai dari Loket I hingga Loket V, dapat diuraikan berikut ini. Loket I (Penyediaan Formulir dan Penerangan) Hasil angket yang disebarkan kepada 42 responden wajib pajak yang berurusan ke Samsat mengenai waktu yang digunakan untuk pelayanan pada Loket I adalah sebagai mana yang dapat dilihat pada tabel 12. Dari sebaran kuesioner diperoleh hasil 29 orang atau 69,05% responden menjawab waktu yang diperlukan di Loket I kurang dari 15 menit, 12 orang atau 28,57% responden mengatakan waktu yang diperluken antara 15 menit – 30 menit dan 1 orang atau 2,38% responden mengatakan lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 60 menit.

110

Tabel 12. Profil Responden Berdasarkan Waktu Yang Digunakan Pada Loket I Waktu Kurang dari 15 menit 15 menit – 30 menit 31 menit – 60 menit Lebih dari 60 menit Jumlah Responden Jumlah Sampel Prosentase (n) (%) 29 69,05 12 28,57 1 2,38 0 0 42 100

Rata-rata seorang wajib pajak menghabiskan waktu 12,68 menit di Loket I (lihat tabel 13). Loket II (Cek Phisik Kendaraan Bermotor) Loket II melayani pekerjaan cek phisik kendaraan bermotor meliputi pengecekan nomor rangka, nomor mesin, warna, merek serta tahun pembuatan kendaraan bermotor. Hasil yang diperoleh dari sebaran kuesioner adalah sebagaimana yang dapat dilihat pada tabel 13. Dari jawaban kuesioner yang diberikan kepada 42 responden wajib pajak menunjukkan bahwa banyak waktu yang digunakan pada Loket II, yang dimulai dari menyerahkan formulir cek phisik, lalu petugas lapangan melaksanakan tugasnya dengan menggesek nomor rangka dan nomor mesin kendaraan bermotor, sampai pengesahan yang dilakukan oleh petugas yang berwenang yaitu Perwira Urusan Cek

86% responden mengatakan kurang dari 15 menit. Sedangkan kegiatan yang dilakukan oleh Dispenda meliputi penelitian pajak. Tabel 13. 21 orang atau 50% responden mengatakan antara 15 menit – 30 menit. diperoleh komposisi sebagaimana dapat dilihat pada tabel 14.111 Phisik menunjukkan 18 orang atau 42. Selanjutnya kegiatan Jasa Raharja menetapkan SWDKLLJ untuk asuransi kendaraan bermotor. BPKB atau identitas lainnya. Loket III (Pendaftaran.14 0 100 Rata-rata seorang wajib pajak menghabiskan waktu 17. Sedangkan 3 orang atau 7. Dari hasil sebaran kuesioner yang dilakukan. merekam data STNK dan melakukan order TNKB (Tanda Nomor Kendaraan Bermotor). Penelitian dan Penetapan) Pada Loket III dilaksanakan pendaftaran. .14% responden mengatakan antara 31 menit – 60 menit dan yang mengatakan lebih dari 60 menit nihil.68 menit di Loket II (lihat tabel 13). KTP. penetapan PKB dan print notice untuk diteruskan ke loket berikutnya. selanjutnya menyerahkan notice.86 50 7. penelitian berkas dan hasil cek phisik. Profil Responden Berdasarkan Waktu Yang Digunakan Pada Loket II Responden Waktu Kurang dari 15 menit 15 menit – 30 menit 31 menit – 60 menit Lebih dari 60 menit Jumlah Jumlah Sampel (n) 18 21 3 0 42 Prosentase (%) 42. di mana kegiatan ini dilakukan oleh petugas Polri.

8 orang atau 19. validasi dan menyerahkan notice 1 dan 2 yang dilakukan oleh Kas Daerah (Dispenda).14% responden mengatakan . Loket IV (Pemeriksaan.76 100 Komposisi hasil penelitian yang diperoleh adalah 27 orang atau 64.29 11. Hasil sebaran kuesioner pada Loket IV. dilakukan pembayaran. di dalam penggunaan waktu adalah 24 orang atau 57.05 64.90% responden mengatakan lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 60 menit dan 2 orang atau 4. Rata-rata pelayanan seorang wajib pajak pada Loket III adalah 24.05% responden mengatakan kurang dari 15 menit. Profil Responden Berdasarkan Waktu Yang Digunakan Pada Loket III Waktu Kurang dari 15 menit 15 menit – 30 menit 31 menit – 60 menit Lebih dari 60 menit Jumlah Responden Jumlah Sampel (n) 8 27 5 2 42 Prosentase (%) 19. BBN-KB.112 Tabel 14.29% responden mengatakan lebih dari 15 menit tetapi kurang dari 30 menit. 5 orang atau 11. Pembayaran PKB. Administrasi STNK.11 menit (lihat tabel 13).90 4. TNKB dan SWDKLLJ) Pada Loket IV.76% responden yang mengatakan lebih dari 60 menit.

53% responden memerlukan waktu 31 menit – 60 menit. Dispenda dan Jasa Raharja. Profil Responden Berdasarkan Waktu Yang Digunakan Pada Loket IV Waktu Kurang dari 15 menit 15 menit – 30 menit 31 menit – 60 menit Lebih dari 60 menit Jumlah Responden Jumlah Sampel (n) 24 14 4 0 42 Prosentase (%) 57. Rata-rata seorang wajib pajak menghabiskan waktu 16. Pekerjaan Polri mencetak STNK dan validasi. .53 0 100 Loket V (Pengesahan dan Penyerahan) Loket V bertugas memberikan pelayanan pengesahan dan penyerahan berkas yang dikirim dari Loket IV.33 9. sedangkan Dispenda dan Jasa Raharja menerbitkan Penning PKB dan mencetak KTL.113 diperlukan waktu kurang dari 15 menit. 14 orang atau 33. melakukan pencetakan STNK. dengan melakukan kegiatan untuk pekerjaan verifikasi.07 menit untuk berurusan di Loket IV (lihat tabel 15). Tabel 15. Dari kuesioner yang diisi responden hasilnya dapat dilihat pada tabel 16. Pada Loket V petugas yang melayani terdiri dari instansi Polri.33% responden mengatakan lebih dari 15 menit tetapi tidak lebih dari 30 menit. menerbitkan Penning PKB dan validasi dengan mencetak KTL (PKB dan SWDKLLJ). Untuk lengkapnya dapat dilihat pada tabel 15.4 33. 4 orang atau 9.

57% responden atau 12 orang mengatakan pelayanan sangat mudah. 7 orang atau 16.76% responden mengatakan lebih dari 60 menit. pada umumnya yaitu 57.67 Lebih dari 60 menit 2 4. Hasil penilaian terhadap kriteria ini dapat dilihat pada tabel 18 sampai dengan tabel 23.05 15 menit – 30 menit 25 59.38% responden atau 1 orang mengatakan pengurusan sangat tidak mudah atau sulit. . Tabel 16. 25 orang atau 59.114 Komposisi yang diperoleh dari hasil penelitian adalah 8 orang atau 19.52 31 menit – 60 menit 7 16. Dari tabel 8 dapat diketahui.76 Jumlah 42 100 Rata-rata pelayanan untuk seorang wajib pajak di Loket V adalah 25. dan 2 orang atau 4.18 menit (lihat tabel 17).67% responden mengatakan diperlukan waktu lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 60 menit.52% responden mengatakan diperlukan waktu antara 15 menit sampai dengan 30 menit.05% responden mengatakan kurang dari 15 menit.14% responden atau 24 orang mengatakan pelayanan mudah. Sebesar 11. Penilaian Terhadap Kriteria Pelayanan Penilaian terhadap 8 (delapan) kriteria pelayanan adalah untuk mengetahui kepuasan wajib pajak terhadap pelayanan yang diberikan oleh petugas Samsat.91% responden atau 5 orang mengatakan pelayanan tidak mudah dan hanya 2. bahkan 28. Profil Responden Berdasarkan Waktu Yang Digunakan Pada Loket V Responden Waktu Jumlah Sampel Prosentase (n) (%) Kurang dari 15 menit 8 19.

52% responden atau 4 orang tidak menjawab atau tidak melingkari salah satu nomor pilihan yang telah disediakan.29 28.62 9. 28.57% responden atau 12 orang mengatakan efisien. Profil Responden Berdasarkan Efisiensi dan Kesederhanaan Dalam Pembuatan STNK Responden Kategori Sangat Efisien Efisien Tidak Efisien Tidak Menjawab Jumlah Jumlah Sampel (n) 6 12 20 4 42 Prosentase (%) 14. Tabel 18.57 57.38 100 Tabel 19.14 11.115 Untuk efisiensi dan kesederhanaan dalam pelayanan.91 2. prosesnya diselenggarakan dengan mudah.62 % responden atau 20 orang dan 9.52 100 . tidak berbelit-belit dan dapat dipahami serta efisien. Sebanyak 14.57 47. cepat. Profil Responden Berdasarkan Kemudahan Kejelasan Dalam Pelayanan Responden Kategori Sangat Mudah Mudah Tidak Mudah Sangat Tidak Mudah / Sulit Jumlah Jumlah Sampel (n) 12 24 5 1 42 Prosentase (%) 28. Sedangkan yang menjawab tidak efisien ada 47.29 % responden atau 6 orang mengatakan bahwa pembuatan STNK dilakukan dengan sangat efisien. Tabel 19 memperlihatkan hasil sebaran kuesioner yang telah diolah.

05 % responden atau 8 orang dan 2. jawaban responden dapat dilihat pada tabel 20.81 % responden atau 10 orang menjawab sangat aman. baik dari segi dokumen maupun lingkungan dan dalam pemerosesan berkas wajib pajak.91 % responden atau 5 orang rnemilih tidak menjawab. 23. 61. 8. sarana . 54. Tabel 20 Profil Responden Berdasarkan Keamanan dan Kenyamanan Selama Penyelesaian STNK Responden Kategori Sangat Aman Aman Tidak Aman Tidak Menjawab Jumlah Jumlah Sampel (n) 10 25 2 5 42 Prosentase (%) 23. Mengenai ketersediaan prasarana.116 Mengenai keamanan dan kenyamanan.76 11. 59. Sedangkan yang menjawab tidak aman ada 4.52 % responden atau 25 orang mengatakan aman. Dari hasil kuesioner terlihat bahwa tarnyata petugas di dalam memberikan pelayanan tidak membeda-bedakan antara calo dan yang bukan ca1o.76 % responden atau 23 orang mengatakan adil.76 % responden atau 2 orang dan 11.52 4.81 59.38 % responden atau 1 orang mengatakan sangat tidak adil.81% responden atau 10 orang menjawab sangat adil.43% responden atau 9 orang menjawab bahwa prasarana.91 100 Sebaran responden berdasarkan rasa keadilan dalam pelayanan yang diberikan oleh petugas Samsat sebagaimana yang dapat dilihat pada tabel 21 adalah.90% responden 26 orang mengatakan prasarana. sarana dan fasilitas yang ada dapat dilihat. Sedangkan responden yang mengatakan tidak adil ada 19. sarana dan fasilitas yang tersedia sangat memadai. Dari tabel 20 tersebut terlihat 23.

90 14. 30.38% responden atau 22 orang mengatakan . kantin dan lain-lain.95% responden atau 13 orang mengatakan cukup baik.38 % responden atau 1 orang mengatakan tidak memadai.29 % responden atau 6 orang mengatakan kurang memadai dan 2. dan 52. sarana serta fasilitas yang tersedia.38 100 Prasarana. ruangan yang tersedia untuk pelayanan. Tabel 21 Profil Responden Berdasarkan Keadlan Dalam Pelayanan yang Diberikan oleh Petugas Samsat Kategori Sangat Adil Adil Tidak Adil Sangat Tidak Adil Jumlah Responden Jumlah Sampel (n) 10 23 8 1 42 Tabel 22 Profil Responden Berdasarkan Prasarana Sarana dan Fasilitas yang Tersedia Kategori Sangat Memadai Cukup Memadai Kukrang Memadai Tidak Memadai Jumlah Responden Jumlah Sampel (n) 9 26 6 1 42 Prosentase (%) 21. 11.81 54. sedangkan 14.117 dan fasilitas yang ada cukup memadai. Berdasarkan pelayanan secara keseiuruhan yang diberikan oleh petugas. fasilitas umum seperti mushalla.29 2.91% responden atau 5 orang mengatakan sangat balk.76 19.38 100 Prosentase (%) 23. toilet.43 61. Selengkapnya dapat dilihat pada label 22.05 2. misalnya peralatan kerja.

86 %) dan Perguruan Tinggi (33.76% responden atau 2 orang mengatakan tidak baik. tersedianya mushalla. sarana dan fasilitas yang disediakan diantaranya ruang tunggu dan kursi tamu yang mencukupi.91 30. Tabel 23 Profil Responden Berdasarkan Kualitas Pelayanan Secara Keseluruhan Responden Kategori Sangat Baik Cukup Baik Kurang Baik Tidak Baik Jumlah Jumlah Sampel (n) 5 13 22 2 42 Prosentase (%) 11.118 kurang baik dan 4. sarana dan fasilitas yang ada di Kantor Bersama Samsat Sumatera Barat di Padang.38 4. Ketersediaan Prasana. tempat parkir yang cukup luas. Sarana dan Fasilitas Ketersediaan prasarana. Hasil sebaran kuesioner mengenai kualitas pelayanan yang diberikan oleh petugas secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel 23. Pekerjaan responden sebagian besar adalah Wiraswasta (45.71 %). telepon umum dan warung atau kantin. secara umum cukup baik. Prasarana.95 52.33 %).71%) dengan tingkat pendidikan cukup dominan SLTA (42. peralatan kerja seperti komputer dan ruangan kerja petugas yang memadai. .76 100 Terhadap Identitas Pribadi Responden Umumnya responden masih berusia niuda yaitu 31-40 tahun (40.24 %) dan Pegawai (35.48%) dan 4150 tahun (35.

bahwa salah satu fungsi dari sarana pelayanan adalah menimbulkan perasaan puas dan nyaman pada orang yang berkepentingan. 9 Mei 2001 tentang Kedudukan. sarana dan fasilitas di Kantor Bersama Samsat dengan kepuasan dalam pelayanan. sarana dan fasilitas yang disediakan di kantor tersebut. dan juga berfungsi sosial dalam rangka memenuhi kebutuhan orang-orang yang sedang berhubungan dengan orang kerja. dan Susunan Organisasi Dinas Pendapatan Daerah Sumatera Barat. Mekanisme Pelayanan Kantor Bersama SAMSAT Secara kelembagaan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) pelayanan pendapatan daerah berada dibawah Dinas Pendapatan Daerah Propinsi Sumatera Barat yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah Nomor : 5 Tahun 2001 tanggal. perlengkapan kerja dan fasilitas lain yang berfungsi sebagai alat utama atau pendukung di dalam pelaksanaan pekerjaan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik pelayanan dan ketersediaan prasarana. maka akan semakin besar pula kepuasan yang dirasakan oleh masyarakat pemohon STNK. Sesuai dengan apa yang dikatakan Moenir (1998). .119 Menurut Moenir (1998). maka akan diperoleh hubungan antara dua variabel dengan nilai yang cukup baik. E. Bila dilakukan analisis untuk melihat kaitan antara ketersediaan prasarana. sarana dan fasifitas dengan kepuasan pelayanan. Tugas Pokok dan Fungsi. sarana pelayanan adalah segala jenis peralatan peralatan. sehingga pelayanan satu hari selesai (one day service) diharapkan dapat dilaksanakan atau diwujudkan. sehingga dapat mengurangi sifat emosional mereka yang berlebihan. yang berarti bahwa kaitan yang sangat nyata antara ketersediaan prasarana.

BBN-KB. penagihan dan pelaporan pendapatan daerah. Dalam pelaksanaan operasional mempunyai fungsi : a. BBN-KB dan SWDKLLJ maupun pengurusan STNK. Jasa Raharja (Persero) Cabang Sumatera Barat. Pelaksanaan pelayanan terhadap PKB dan BBN-KB yang dilkelola pada UPTD dilaksanakan melalui Simtim Administrasi Manunggal Dibawah Satu Atap yang dikenal dikenal dengan SAMSAT. Melakukan pendaftaran dan penetapan. SWDKLLJ serta STNK. Dengan adanya Perda No. Jasa Raharja. dan PT. Memberikan pelayanan kepada masyarakat. sebelum adanya SAMSAT pembayaran PKB. Karena masing-masing instansi berada di lokasi yang berjauhan menyebabkan masyarakat sangat terbebani. dilakukan di tempat masing-masing instansi. SWDKLLJ serta pengurusan STNK melibatkan 3 (tiga) instansi yang terpisah yaitu Dispenda. b. yang sangat melelahkan. Ditlantas Polda. Dengan demikian. Masyarakat yang mengurus atau membayar pajak . 3 Tahun 1973 tentang Dinas Pendapatan Daerah pengurusan PKB dan BBN-KB dilaksanakan oleh Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Barat yang dipusatkan di Padang. c. membebani dan tidak efisien bagi masyarakat. karena memerlukan waktu yang lama. BBN-KB. Melakukan penatausahaan pemungutan pendapatan daerah. dan biaya yang relatif besar untuk mengurus PKB. Sebelum adanya Samsat pembayaran PKB. STNK oleh Ditlantas Polda Sumatera Barat dan Asuransi (SWDKLLJ) oleh PT.120 Pada UPTD Pelayanan Pendapatan Daerah mempunyai tugas pokok melaksanakan pemungutan pendapatan daerah sesuai dengan bidang teknisnya.

Dengan adanya Samsat. sehingga masyarakat hanya cukup datang kesatu tempat. Pengurusan dan pembayaran pajak berkenaan dengan pemilikan dan penguasaan kendaraan bermotor pada waktu itu bisa menghabiskan waktu sekitar 10 (sepuluh) hari kerja. kini bernaung dalam satu atap atau satu kantor. tentang pembentukan Samsat.121 atas pemilihan atau penguasaan kendaraan bermotor harus dan pergi ke Padang untuk mengunjungi ketiga instansi tersebut di lokasi yang berjauhan. Melihat kerepotan yang dialami oleh masyarakat dan rendahnya penerimaan pembayaran atas pemilikan atau penguasaan kendaraan bermotor. karena yang selalu melakukan razia kendaraan bermotor di jalan raya hanya Ditlantas Polda Sumatera Barat. SWDKLLJ maupun pengurusan STNK bernaung di dalam satu kantor atau satu atap. Masyarakat pemilik kendaraan bermotor melihat lebih penting membayar STNK dan plat nomor polisi kendaraan bermotor dari pada membayar PKB dan SWDKLLJ. Jadi Samsat bukanlah suatu institusi atau organisasi baru. Di dalam Samsat ketiga instansi tetap melakukan tugas masing-masing seperti sebelumnya. Dimana ketiga instansi yang terkait dengan pembayaran PKB. Masing lamanya waktu yang diperlukan karena pembayaran PKB maupun BBN-KB untuk Provinsi Sumatera Barat masih dipusatkan di Kota Padang. pada tahun 1976 diadakan instruksi bersama antara Menteri Dalam Negeri. Hanya pekerjaan yang tadinya dilakukan di tempat atau di kantor masing-masing. . pada waktu itu pengurusan PKB atau BBN-KB bisa dipersingkat menjadi sekitar 6 (enam) hari kerja. sehingga sangat memudahkan bagi masyarakat dan dapat meningkatkan penerimaan. Menteri Keuangan dan Menteri Pertahanan dan Keamanan. BBN-KB. Akibat pembayaran yang terpisah-pisah jumlah penerimaan dari pemilikan atau penguasaan kendaraan bermotor sangat rendah.

122 Selanjutnya. dibentuk cabang-cabang Samsat sehingga masyarakat tidak perlu lagi harus datang ke Padang. Dalam era otonomi daerah dimana tujuan penyelenggaraan pemerintah daerah adalah memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. . Di tiap-tiap kabupaten dan kota dibentuk cabang Samsat sehingga sangat membantu masyarakat. SWDKLLJ dan atau perpanjangan STNK dilaksanakan dengan motto ”one day service”. Penerimaan rendah. BBN-KB. Dengan dilaksanakan one day services masyakat merasa diuntungkan karena : Sangat meringankan masyarakat dari sisi waktu dan biaya pengurusan karena pembayarannya dilakukan di satu tempat atau kantor. SWDKLLJ maupun pengurusan STNK bisa ditekan menjadi 2-3 hari kerja. Maksud dilaksanakan one day servises adalah untuk peningkatan efisiensi dan efektivitas pelayanan dalam pembayaran PKB dan BBN-KB karena : Menghabiskan banyak waktu dan biaya karena pembayaran atau pengurusannya dilakukan di masing-masing instansi yang letaknya berjauhan Biaya pengurusan ( social cost ) yang dikeluarkan masyarakat cukup besar. BBN-KB. BBN-KB dan SWDKLLJ dilakukan sekaligus atau bersamaan. untuk lebih mempermudah masyarakat di daerah. Jangka waktu pengurusan PKB. Artinya dalam pengurusan atau pembayaran PKB. karena adakalanya masyarakat hanya membayar di satu instansi sesuai dengan kepentingannya. maka pelayanan pada Samsat untuk membayar PKB. Penerimaan PKB. BBN-KB dan SWDKLLJ diharapkan bisa diselesaikan dalam 1 (satu) hari kerja.

merupakan pendaftaran Surat Tanda Coba Kendaraan (STCK). dan kendaraan bermotor pindah keluarga daerah. kendaraan bermotor tukar identitas pemilik dan atau kendaraan bermotor. berfungsi melaksanakan kegiatan pelayanan beberapa persyaratan meliputi blokir. yaitu : Pokja I/Loket I. penerangan KTL (PKB dan SWDKLLJ) Pokja II/Loket II. Pokja VI/Loket VI. Pokja II/Loket II. melayani pengarsipan. . BBN-KB. melayani pendaftaran.123 Prosedur pelayanan pada Kantor Bersama SAMSAT pada dasarnya dilakukan melalui kelompok kerja (pokja) atau loket. melayani penerimaan pembayaran PKB. kendaraan bermotor khusus. melayani penyediaan formulir. melayani pengarsipan. melayani pengesahan dan penyerahan. kuasa wajib pajak dan ektra cover. dilayani melalui 3 (tiga) pokja atau loket pelayanan. Loket khusus. melayani penyediaan formulir dan penerangan. penelitian. Golongan ini dilakukan melalui 6 (enam) pokja/loket pelayanan. dibentuk berdasarkan tuntutan kebutuhan pelayanan di luar mekanisme Pokja I hingga Pokja VI. meliputi pendaftaran kendaraan bermotor baru. Pokja III/Loket III. biaya administrasi STNK. TNKB dan SWDKLLJ. penelitian dan penetapan. yaitu : Pokja I/Loket I. Pokja IV/Loket IV. yang terbagi atas 3 (tiga) golongan : Golongan I. Pokja III/Loket III. melayani pendaftaran. Golongan II. registrasi dan penyerahan. kendaraan bermotor setelah 5 tahun. Pokja V/Loket V. melayani cek phisik kendaraan bermotor.

Jasa Raharja (Persero). memberikan paraf dan resi pada pemohon. bertugas memberikan penerangakan SWDKLLJ dan premi asuransi. Dispenda. menerima biaya administrasi STNK. TNKB. Jasa Raharja (Persero). memberikan penerangan tentang syarat-syarat pendaftaran. bertugas menerima dan meneliti kelengkapan dan keabsahan berkas. pemeriksaan premi asuransi Jasa Raharja. mengaman-kan dan menugaskan tim pemeriksa. dan nota cepat phisik. Pokja II/Loket III (Polri) Polri. memberikan paraf pada formulir. Dispenda. PT. dilihat dari kewajib mereka melayani permohonan pembuatan STNK menurut masing-masing pokja/loket adalah sebagai berikut : Pokja I/Loket I (Polri. Polri dan PT. bertugas melakukan cek phisik lengkap. melayani pendaftaran pengesahan STNK setiap 1 (satu) tahun. Pol. membubuhkan paraf pada lembar cek phisik dan registrasi kendaraan bermotor yang telah melakukan cek phisik. di mana pelayanannya hampir sama dengan pelayanan pada Golongan II. Jasa Raharga (Persero)) Polri. Dilakukan melalui 5 (lima) pokja/loket pelayanan. yaitu Dispenda. . Rincian kegiatan ke 3 (tiga) unsur. Dispenda. PT. membukukan keluar/masuk suatu formulir. bertugas menyediakan dan menyerahkan formulir.124 Golongan III. PT. Jasa Raharja (Persero)) Polri. terima dan ganti formulir. Pokja III/Loket III (Polri. bertugas memberikan penerangan tentang kewajiban membayar pajak. memberikan dan menetapkan No.

Jasa Raharja (Persero)) Polri. Pokja VI/Loket VI (Polri) Polri. bertugas menetapkan besarnya PKB dan BBN-KB. Jasa Raharja (Persero). PT. meneruskan berkas ke sub pokja SWDKLLJ dan menerima kembali berkas tersebut. bertugas melayani penerimaan pembayaran PKB. . PT. menyerahkan lembar asli nota/notice. menyerahkan pening PKB ke pokja penyerahan STNK (Pokja V). meneruskan berkas ke sub pokok pengetikan notice/STNK dan mengorder TNKB ke pabrik TNKB. menerima dan mengadminis-trasikan SWDKLLJ Pokja V/Loket V (Polri. Pokja IV/Loket IV (Dispenda. memberikan pengesahan pada STNK. Jasa Raharja (Persero). Dispenda. mendistribusikan tindasan nota ke Dispenda dan Jasa Raharja. BBN-KB. Polri dan PT. PT. BBN-KB dan SWDKLLJ. Jasa Raharja (Persero) memberikan pengesahan pada STNK. Pkja VI menyiapkan dan mencari berkas yang diminta pokja pendaftaran. Dispenda dan PT. bertugas menetapkan SWDKLLJ atau denda serta paraf pada nota pajak. bertugas menerima berkas dari Pokja V dan meneruskannya ke petugas Pokja VI. mengembalikan berkas ke sub pokja penetapan PKB dan BBN-KB. SWDKLLJ dan administrasi STNK.125 serta menuliskannya dalam formulir. Jasa Raharja (Persero)) Dispenda. PT. Ketiga pimpinan instansi (Dispenda. Jasa Raharja (Persero). memberikan pengesahan pada STNK. Skum pada nota pajak atau notice. Dispenda. menyerahkan STNK ke pokja penyerahan. bukti pembayaran pajak dan asuransi (Surat Ketetapan Pajak Daerah-SKPD) PKB. bertugas melaksanakan penyerahan STNK yang akan diketik. memberi No.

Penilaian terhadap keberhasilan pelayanan satu hari selesai (one day serice) yang dilakukan oleh Samsat. Pol. Berdasarkan hasil penelitian masih ditemui beberapa kelemahan antara lain : a. Dalam pelaksanaan di lapangan. menandai dan menyisihkan berkas yang diblokir. Berdasarkan penelitian ditemukan faktor penyebabnya adalah masih adanya kelalaian oknum aparat. dapat diukur melalui ketepatan waktu penyelesaian berkas. Masih panjangnya proses birokrasi karena diharuskan dan pokja-pokja yang telah ditetapkan di atas. hanya sebahagian kecil masyarakat yang dapat menikmati pelayanan one day sevice.126 menatausahakan berkas untuk memudahkan pencarian. Hal ini disebabkan masih terdapat pengurusan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor penyelesaiannya dalam dua atau tidak tiga hari kerja. melalui loket-loket masalah prosedur admintrasi baik pada petugas maupun pada masyarakat wajib pajak yang ingin serba cepat dan melalui jalan pintas. b. Walaupun bekerja dalam satu atap atau kantor sulit menyatukan ego masingmasing instansi. keamanan dan keterbukaan serta memperhitungkan efisiensi. membukukan dan mencatat berkas yang diterima dan yang keluar. ekonomis dan keadilan yang merata bagi setiap wajib pajak. : Skep/1320/VIII/ 1998 sebagai berikut : . Standar kualitas waktu pelayanan setiap pajak pada setiap loket diupayakan mendekati Surat Keputusan Kapolri yaitu Skep No. dihitung mulai saat wajib pajak memasukkan berkas pada Loket I dan berakhir pada Loket V. kejelasan. Standar pelayanan one day service (1 x 24 jam). Selain itu kriteria lain yang dapat mendukung terwujudnya one day service adalah faktor kesederhanaan. c.

Yang perlu kita ketahui adalah apakah dengan jumlah petugas yang ada dan jumlah wajib pajak yang dilayani setiap hari. jumlah waktu pelayanan seluruhnya dari Loket I sampai dengan Loket V adalah 35 menit dan jumlah petugas operasional yang langsung berhubungan dengan wajib pajak 33 orang. Berdasarkan Visi Kantor Bersama SAMSAT : Terwujudnya Pendapatan Daerah Yang Optimal Untuk Mendukung Keberhasilan Pembangunan Daerah. sehingga kurang relevan untuk mengukur berapa jumlah petugas yang ideal dalam penelitian ini. maka perlu dilaksanakan Misi yang telah ditetapkan : . seandainya perpindahan dari satu loket ke loket lainnya diperlukan waktu seluruhnya sekitar 60 menit. one day service dapat terwujud atau apakah masyarakat telah dapat menikmati pelayanan selesai dalam satu hari dan bagaimana fungsi-fungsi manajemen dijalankan. Dari sini dapat diambil kesimpulan jumlah petugas telah cukup memadai untuk melayani masyarakat yang datang berurusan setiap hari. berarti total waktu yang diperlukan dalam berurusan di Kantor Bersama Samsat berdasarkan Skep Kapolri tersebut. seharusnya dapat diselesaikan dalam waktu paling lama 2 jam.127 • • • • • Loket I Loket II : 3 menit : 5 menit Loket III : 6 menit Loket IV : 4 menit Loket V : 4 menit Jika dihitung total waktu yang diperlukan dari Loket I sampai dengan Loket V memerlukan 22 menit. Berdasarkan keterangan dari staf Ditlantas Polda Sumatera Barat di Kantor Bersama Samsat Padang.

Dalam memberikan keamanan dan keselamatan kepada pemilik kendaraan bermotor. c. Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) Berdasarkan strategi dan kebijakan diatas. Meningkat sistem koordinasi dengan instansi terkait. Memberikan Pelayanan Yang Prima Kepada Masyarakat Melalui Peningkatan Kinerja Aparatur Pemerintahan Secara berkesinambungan. 2. b. Untuk menjadikan Pendapatan Asli Daerah Sebagai Tulang Punggung Pendapatan Daerah. . Maka untuk melaksanakan Visi dan Misi tersebut perlu dilakukan strategi dan kebijakan Kantor SAMSAT sebagai berikut : Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat Memberikan keamanan dan keselamatan kepada pemilik kenderaan bermotor. Kemudahan. a. Melaksanakan tertib administrasi dan tertib pungutan. 3. Menerapkan pelayanan prima 2. b. Penyederhanaan sistim prosedur. Dalam peningkatan pelayanan kepada masyarakat perlu dilakukan : a. kepastian dan kecepatan pelayanan. c. Memberikan pelayanan tepat waktu Mengurangi kasus dan penyimbangan sistem prosedur Meningkatkan PAD dilakukan : a.128 1. maka hasil penelitian ini merekomendasikan pengelolaan PKB dan BBN-KB pada Kantor SAMSAT sebagai berikut : 1. Melaksanakan pemungutan secara efektif dan efisien’ b.

profil pelayanan secara keseluruhan yang diberikan oleh petugas.95% responden atau 13 orang mengatakan cukup baik. Hasil sebaran kuesioner mengenai kualitas pelayanan yang diberikan oleh petugas secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel 24. dan 52. 11. Loket Pendaftaran dan Penetapan Loket Pembayaran dan Penyerahan BAB IV ANALISIS PROSEDUR DAN MEKANISME PELAYANAN PKB / BBN-KB A.38% responden atau 22 orang mengatakan kurang baik dan 4. Tabel . 30.76% responden atau 2 orang mengatakan tidak baik. dalam pelayanan pembayaran PKB dan BBN-KB terhadap wajib pajak sesuai dengan makna otonomi daerah untuk meningkatkan pelayanan ke depan sebetulnya dapat dilakukan pelayanan PKB dan BBN-KB melalui mekanisme dua loket atau dilayani dua pintu saja yakni : 1. Prosedur Pelayanan ke dalam dan keluar Berdasarkan hasil penelitian terhadap responden diatas diperoleh gambaran bahwa.91% responden atau 5 orang mengatakan sangat baik.129 Oleh karena itu.24 Profil Responden Berdasarkan Kualitas Pelayanan Secara Keseluruhan Responden Kategori Jumlah Sampel (n) Prosentase (%) . 2.

Pada dasarnya pelayanan dilakukan melalui kelompok kerja (pokja) atau loket. meliputi pendaftaran kendaraan bermotor baru.95 52. merupakan pendaftaran Surat Tanda Coba Kendaraan (STCK). Kelompok kerja atau loket terdiri dari golongan merupakan prosedur pembayaran pajak kendaraan seperti berikut : Golongan I. kendaraan bermotor khusus. registrasi dan penyerahan. kendaraan bermotor setelah 5 tahun. yaitu : • Pokja I/Loket I. dilayani melalui 3 (tiga) pokja atau loket pelayanan. penerangan KTL (PKB dan SWDKLLJ) • Pokja II/Loket II. yaitu pelayanan kedalam (intern) dan pelayanan keluar (ekstern). Pelayanan Kedalam (Intern) Menurut petugas untuk peningkatan pelayanan Polri dalam sistem dan prosedur SAMSAT senantiasa mempedomani standar kualitas pelayanan untuk setiap wajib pajak (pemohon pembuatan STNK). melayani pendaftaran. dan kendaraan bermotor pindah keluarga daerah.38 4.91 30. . kendaraan bermotor tukar identitas pemilik dan atau kendaraan bermotor. 1. Golongan II. melayani penyediaan formulir.76 100 Pelayanan terhadap responden dapat dikelompokkan dalam 2 bentuk. penelitian.130 Sangat Baik Cukup Baik Kurang Baik Tidak Baik Jumlah 5 13 22 2 42 11. melayani pengarsipan. • Pokja III/Loket III. yang terbagi atas 3 (tiga) golongan seperti diuraikan diatas.

Bila dilakukan analisis dengan menggunakan frekuensi yang muncul untuk melihat dominasi antara variabel lamanya waktu (alokasi waktu yang digunakan pada Loket I) dengan efisiensi dan kesederhanaan dalam pembuatan STNK. Berdasarkan hasil penelitian ternyata pembentukan Pokja dan Loket diatas tidak berjalan sebagai mana mestinya.131 Golongan ini dilakukan melalui 6 (enam) pokja/loket pelayanan. di mana pelayanannya hampir sama dengan pelayanan pada Golongan II.05% responden atau 29 orang) menyatakan bahwa lamanya waktu yang diperlukan pada Loket I adalah kurang dari 15 menit. Selain itu peneliti melihat melihat nilai kepuasan pelayanan . Dilakukan melalui 6 (enam) pokja/ loket pelayanan. tidak ada kaitan dengan tingkat kepuasan pemohon STMK (wajib pajak) terhadap pelayanan yang diberikan. sehingga proses pembayaran pajak berjalan panjang dan lama. ternyata tidak terdapat hubungan yang paralel antara kedua variabel tersebut. Loket I Setelah dilakukan penelitian. serti rinciannya diuraikan diatas.95% responden atau 13 orang) menyatakan bahwa lamanya waktu yang digunakan pada Loket I lebih dari 15 menit. karena masalah birokrasi dan panjangnya prosedur pada masing instansi. Permasalahan terlihat pada : a. Golongan III. tetapi sebagian responden yang lain (30. melayani pendaftaran pengesahan STNK setiap 1 (satu) tahun. ternyata berdasarkan banyaknya waktu yang digunakan responden pada Loket I. Hal ini berarti bahwa semakin sedikit waktu yang digunakan pada Loket I. seperti diuraikan pada bagian diatas. sebagian besar (69.

dimana setiap satu kendaraan yang di cek phisik memerlukan waktu lebih kurang 20 menit dan setiap hari kendaraan yang dicek phisik sekitar 50 unit (menurut petugas. ternyata dari sebaran kuesioner sebagian besar responden (57. membubuhkan paraf pada lembar cek phisik dan registrasi kendaraan bermotor yang telah dicek phisik. pada tingkat sedang atau 01. b. Berarti pada Loket II. lamanya waktu yang digunakan tidak sesuai dengan petunjuk lapangan yang telah ditetapkan yaitu hanya 5 menit. menyatakan bahwa standar kualitas pelayanan setiap wajib pajak (pemohon perbitan STNK) pada Loket II diupayakan waktu selama 5 menit. Loket II Di pelayanan yang diberikan pada Loket II adalah melaksanakan cek phisik lengkap. Setelah dilakukan penelitian. Pada Loket II yang nelayani adalah petugas dari Polri.92 %. walaupun . sehingga dapat dikatakan bahwa semakin baik kualitas kerja petugas semakin besar kepuasan yang dirasakan masyarakat yang berurusan ke Kantor Bersama Samsat. mengamankan dan menugaskan tim pemeriksa.86 % responden atau 18 orang) mengatakan lamanya waktu yang digunakan kurang dari 15 menit. diantaranya adalah karena pada Loket II merupakan pelayanan cek phisik terhadap kendaraan bermotor. Sebagian responden yang lain (42. Menurut petunjuk lapangan peningkatan pelayanan dalam era reformasi.132 dengan kualitas kerja petugas dalam melayani masyarakat yang ingin membuat atau memperpanjang STNK. Banyak faktor yang mempengaruhi tidak sesuainya alokasi waktu yang disediakan dengan kenyataan.14 % responden atau sebanyak 24 orang) mengatakan banyaknya waktu yang digunakan pada Loket lI lebih dari 15 menit.

133 dalam prakteknya semua kendaraan bermotor harus di cek phisik), dengan jumlah petugas 4 (empat) orang. Bila dilakukan analisis data untuk melihat hubungan antara variabel lamanya waktu (alokasi waktu) yang digunakan pada Loket II dengan kesederhanaan dan efisiensi pelayanan masyarakat pemohon penerbitan STNK (wajib pajak), ternyata terdapat hubungan yang positif antara kedua variabel tersebut dengan kategori tidak efisien diperoleh sebesar 47,62%. Ini berarti terdapat hubungan yang paralel antara ketidak kepuasan dalam pelayanan dengan alokasi waktu atau lamanya waktu yang digunakan pada loket tersebut. Selain itu peneliti membuat prosentase terhadap variabel kepuasan pelayanan dengan variabel kualitas pelayanan petugas dalam melayani masyarakat yang ingin membuat atau memperpanjang STNK pada Loket II, ternyata hubunganan antara kedua variabel tersebut dengan nilai sangat baik dan cukup baik 42,86%, sedangkan kurang baik dan tidak baik 57,14%, sehingga dapat dikatakan bahwa kualitas kerja petugas yang ada di Loket II belum sesuai dengan harapan masyarakat. Jika dianalisa secara mendalam terdapat keluhan wajib pajak, akibat adanya pungutan liar yang dilakukan oleh petugas (92%) dan adanya keharusan untuk melakukan cek phisik setiap tahun bagi seluruh kendaraan bermotor (81%). Bila alokasi waktu dan pelayanan dikaitkan dengan adanya pungutan liar dan keharusan untuk melakukan cek phisik, terdapat hubungan yang positif, yang berarti secara keseluruhan masyarakat tidak puas terhadap pelayanan pada Loket II. c. Loket III Sebagian besar responden mengatakan banyaknya waktu yang digunakan pada Loket III lebih dari 15 menit (80,95% responden atau 34 orang). Berarti pada

134 Loket III waktu yang diperlukan tidak sesuai dengan juklak. Faktor yang dapat mempengaruhi lamanya pelayanan adalah karena kurangnya petugas yang melayani pemohon pembuatan STNK (wajib pajak) yang cukup banyak setiap harinya. Jika dilakukan analisis data menggunakan prosentase dengan melihat hubungan variabel lamanya waktu yang digunakan pada Loket III terhadap kualitas pelayanan masyarakat pemohon penerbita STNK (wajib paJak), ternyata ada hubungan yang positif antara kedua variabel tersebut dengan nilai yang diperoleh pada kategori kurang baik (52,38%). Hal ini berarti bahwa semakin banyak waktu yang digunakan pada Loket III, akan semakin tidak puas masyarakat pemohon STNK (wajib pajak) terhadap pelayanan yang diberikan. d. Loket IV Setelah dilakukan penelitian, ternyata dari sebaran responden, berdasarkan banyaknya waktu yang digunakan pada Loket IV, lebih dari setengah responden (57,14% responden atau 24 orang) menyatakan bahwa lamanya waktu yang digunakan pada Loket IV adalah kurang dari 15 menit. Sebagian responden lainnya menyatakan lamanya waktu yang digunakan pada Loket IV lebih dari 15 menit, yaitu sebanyak 18 orang atau sebesar 42,86% responden. Bila dilakukan analisis dengan menggunakan metode prosentase untuk melihat variabel alokasi waktu yang digunakan pada Loket IV dengan kepuasan pelayanan masyarakat pemohon penerbitan STNK (wajib pajak), ternyata terdapat hubungan antara kedua variabel tersubut pada kondisi cukup memuaskan, dengan nilai prosentase sebesar 14% responden atau 24 orang. Hal ini berarti bahwa

135 semakin sedikit waktu yang digunakan pada Loket IV, maka akan semakin puas masyarakat pemohon STNK (wajib pajak terhadap pelayanan yang diberikan. e. Loket V Berdasarkan banyaknya waktu yang digunakan pada Loket V, 19,05% responder atau sebanyak 8 orang yang menyatakan lamanya waktu yang digunakan pada Loket V adalah kurang dari 15 menit, sebagian besar responden yaitu 80,95% responden atau 34 orang menyatakan waktu yang diperlukan lebih dari 15 menit. Pada Loket V ini wajib pajak menerima STNK yang telah selesai. Bila dilakukan analisis data dengan menggunakan metode prosentase untuk melihat hubungan antara variabel lamanya waktu (alokasi waktu) yang digunakan pada Loket V, dengan variabel kepuasan pelayanan masyarakat pemohon penerbitan STNK (wajib pajak), ternyata dapat dilihat hubungan antara kedua variabel tersebut dengan nilai prosentase yang diperoleh sebesar 80,95% memerlukan waktu di atas 15 menit. Hal ini berarti bahwa semakin banyak waktu yang digunakan pada Loket V, maka semakin tidak puas masyarakat pemohon STNK (wajib pajak) terhadap pelayanan yang diberikan. 2. Pelayanan Keluar (Ekstern) Dari hasil penelitian umumnya responden merasa mudah dan jelas dalam mengikuti aturan-aturan atau ketentuan yang ada di Kantor Bersama Samsat. Peraturan tersebut berupa prosedur atau tata cara pemohon (wajib pajak) untuk membuat atau memperpanjang STNK. Sebanyak 28,57% responden atau 12 orang menyatakan sangat mudah dalam mengikuti peraturan pelayanan yang ada di kantor tersebut, dan sebesar 67,14% responden atau 24 orang menyatakan mudah.

Sebanyak 28. tidak berbelit-belit.136 Hal ini berarti pada kantor Samsat. karena akan merugikan wajib pajak sendiri. Untuk mencegah agar masyarakat jangan sampai mengurus lewat calo. Walaupun ada sebagian kecil responden yang mengatakan mengurus lewat biro jasa atau calo. maupun STNK wajib pajak. cepat. karena tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tidak ekonomis mengandung arti biaya pelayanan adalah tidak wajar. tetapi salahnya tidak terdata dan di Kantor Bersama Samsat tidak satupun biro jasa yang daftar atau melakukan kerja sama dalam pengurusan PKB. Sedangkan . Sebagian responden menjawab bahwa biaya dalam pembuatan STNK tidak ekonomis dan tidak efisien. BBN-KB. tanpa melalui biro jasa atau calo. Sedangkan kejelasan dan kepastian artinya kejelasan mengenai penetapan dan penanganan hak dan kewajiban yang dilayani dan yang melayani. Umumnya wajib pajak datang ke Kantor Bersama Samsat untuk mengurus sendiri hak kendaraan yang harus dibayar. setiap sudut telaih dicantumkan beberapa tulisan yang menghimbau agar masyarakat jangan berurusan lewat calo. Kesederhanaan mengandung arti prosedur atau tata cara pelayanan yang diselenggarakan mudah. Hal ini berarti sesuai dengan ketentuan berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh pemohon pembuatan STNK (wajib pajak). mudah dipahami dan dilaksanakan oleh masyarakat yang berurusan. Keterbukaan berkaitan dengan proses pelayanan yang wajib diinformasikan secara terbuka. bahwa biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan STNK adalah ekonomis dan efisien. kriteria kesederhanaan terhadap pelayanan yang diberikan pada wajib pajak telah dapat dirasakan oleh wajib pajak. tepat.57% responder atau 12 orang menyatakan. yaitu 4762 % responden atau 20 orang.

berarti kriteria pelayanan yang harus adil terhadap para pemohon yang datang ke Kantor Bersama Samsat.05% responden atau 8 orang yang menyatakan bahwa pelayanan yang diberikan tidak adil dan 2. Begitu pun hasil penelitian dapat menggambarkan bahwa responden merasa aman dan nyaman selama pengurusan STNK di kantor Samsat. Hal ini menunjukkan bahwa Kantor Bersama Samsat memenuhi 8 (delapan) kriteria pelayanan yang baik dalam hal kenyamanan yang harus diberikan kepada pemohon pembuatan atau penerbitan STNK (wajib pajak). Dari penjelasan di atas. Berarti dalam pengurusan STNK responden tidak merasa takut akan kehilangan barang atau uang karena kondisinya cukup aman dan nyaman. Pengertian nyaman adalah pelayanan di Kantor Bersama Samsat harus memberikan rasa aman serta kepastian hukum. Dalam pada itu juga dapat dilihat sebaran responden berdasarkan keadilan dalam pelayanan yang diberikan oleh petugas Samsat. Terdapat sehanyak 54. Sedangkan keadilan yang merata artinya adalah pelayanan yang diberikan.76% responden atau 23 orang yang menyatakan bahwa pelayanan yang diberikan cukup adil terhadap masyarakat pemohon pembuatan STNK. tanpa memandang apa dan siapapun. di dalam permohonan penerbitan STNK. dilakukan secara merata dan adil . harus dilayani secara keseluruhan. hanya 19. dimana ternyata mereka tidak membeda-bedakan pelayanan antara calo dengan yang bukan calo.137 efisien mengandung arti bahwa persyaratan dan pelayanan prosesnya tidak berbelit-belit. dimana 59.38% responden atau 1 orang menyatakan sangat tidak adil.52% responden atau 25 orang menyatakan hal tersebut.

B. BBN-KB dan SWDKLLJ telah diatur dan ditetapkan dalam petunjuk pelaksanaan Keputusan Bersama Kepolisian RI. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) yang wajib ditaati oleh aparatur Kantor Bersama Samsat di Padang sebagai pemberi pelayanan maupun pemilik kendaraan bermotor sebagai penerima pelayanan. Prosedur Pelayanan Prosedur Pelayanan penerbitan STNK. Nomor : 9731228 dan Nomor : SKEP/02/X/1999 tanggal 15 Gktober 1999. Prosedur pelayanan diumumkan secara terbuka pada ruangan pelayanan atau loket-loket pelayanan Kantor Bersama . Implementasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) Berdasarkan Surat Keputusan Bersama Direktur Lalu Lintas Kepolisian Daerah Sumatera Barat dan Kepala Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Barat serta Kepala Cabang PT. pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Tepat waktu mengandung arti bahwa pelayanan yang diberikan dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Jasa Raharja (Persero) Sumatera Barat No.B/24/I/2006 DITLANTAS per Nomor : 973/043/PAJAK-2006 per Nomor : P/1/SPP/I/2006 24 Januari 2006.138 hagi selruh lapisan masyarakat. Standar Pelayanan Minimal ( SPM ) tersebut dalam penerbitan STNK. Jasa Raharja (Persero) Nomor : SKEP/06/10/1999. Dirjen PUOD dan Direktur Utama PT. pembayaran PKB. bahwa Standar Pelayanan Minimal adalah ukuran yang dibakukan dalam penyelenggaraan pelayanan penertiban Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). pembayaran PKB. BBN-KB dan SWDKLLJ adalah sebagai berikut : a.

Persyaratan Administratif Dalam penyelenggaraan pelayanan Penerbitan STNK.139 Samsat. b. Dirjen PUOD dan Direktur Utama PT. . tetapi masih dengan gambaran sistem 5 Loket dan belum sistem 2 Loket. 2) Perpanjangan STNK dan TNKB setelah 5 tahun. Hal ini telah didapatkan pamflet dipajangkan pada Loket Pelayanan. BBN-KB dan SWDKLLJ telah ditetapkan dalam Keputusan Bersama Kepclisian RI. Jasa Raharja (Persero) Nomor : SKEP/06/10/1999. pembayaran PKB dan SWDKLLJ setiap tahun selesai dalam waktu 1 (satu) hari kerja. Persyaratan Administratif telah diumumkan secara terbuka pada ruangan pelayanan pada loket . Dalam penyelenggaraannya belum terlaksana sebagaimana mestinya. Nomor : 973-1228 dan Nomor : SKEP/02/X/1999 tanggal 15 Oktober 1999. 5) Pengurusan kendaraan bermotor yang masuk dari dalam Daerah dan luar Daerah selesai dalam waktu 2 (dua) hari kerja. pembayaran PKB dan SWDKLLJ selesai dalam waktu 1 (satu) hari kerja. penggantian STNK dan TNKB selesai dalam waktu 2 (dua) hari kerja.loket pelayanan yang tersedia di Kantor Bersama Samsat. c. Pembayaran PKB. 3) Pembayaran BBN-KB. 4) Pengurusan kendaraan bermotor yang pindah dalam Daerah dan Luar Daerah selesai dalam waktu 1 (satu) hari kerja. Waktu Penyelesaian 1) Pengesahan STNK.

dipungut Premi Asuransi Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang (termasuk kru angkutan) besarnya sesuai dengan yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia tentang Penetapan Santunan dan lyuran Wajib Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penurnpang Umum di Uarat.140 d. Ferry/ Penyeberangan. b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor sebesar tercantum dalam SKPD sesuai dengan Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Barat tentang Pajak Kendaraan Bermotor dan Keputusan Menteri Dalam Negeri tentang Perhitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor. Laut dan Udara. Sungai/Danau. . c) Biaya SWDKLLJ sebesar tercantum dalam SKPD sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia tentang Penetapan Santunan dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan. d) Khusus Angkutan Penumpang Umum. Biaya Pelayanan 1) Biaya pelayanan adalah beberapa jenis biaya yang dipungut oleh Aparatur Kantor Bersama Samsat berdasarkan Ketentuan Perundangundangan yang berlaku yaitu sebagai berikut : a) Pajak Kendaraan Bermotor terhutang sebesar tercantum dalam SKPD sesuai dengan Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Barat tentang Pajak Kendaraan Bernnotor dan Keputusan Menteri Dalam Negeri tentang Perhitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor.

BPKB dan SKPD dilakukan melalui loket penyerahan. diwajibkan terlebih dahulu melampirkan Asli Bukti Pelunasan Premi Asuransi Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang (termasuk kru angkutan) untuk beberapa bulan kedepan sesuai masa jatuh tempo pengesahan STNK tahun berikutnya. Penyerahan STNK. g) Semua pernbayaran oleh pemilik kendaraan bermotor harus mempunyai tanda bukti penerimaan yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan. TNKB. Khusus penyerahan STNK bagi Kendaraan Angutan Umum.141 e) Biaya Administrasi STNKITNKB/BPKB besarnya sesuai dengan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Kepolisian Negara Republik Indonesia. Buku Pemilik Kendaraan Bermotor. Produk Pelayanan 1) Hasil pelayanan yang akan diterima oleh pemilik kendaraan bermotor sebagai penerima pelayanan adalah: a) b) c) d) 2) Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNK) Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). e. f. f) Semua biaya pelayanan terbuka untuk masyarakat dan diumumkan melalui ruangan pelayanan dan diketahui secara jelas oleh masyarakat. . Sarana dan Prasarana.

g. 2) Sarana pelayanan juga dilengkapi fasilitas pendukung dan sistim komputer dalam rangka mempercepat penyelesaian produk pelayanan. Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan dan Surat Tanda Nomor Kendaraan dilaksanakan melalui : . h. Pengawasan Pelayanan Pengawasan pelayanan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor. wanita hamil dan penyandang cacat. Kompetensi Petugas Pemberi Pelayanan Kompetensi petugas ditetapkan berdasarkan keteram-pilan sikap dan prilaku. ramah tamah dan kejujuran dalam pemberian pelayanan. Petugas harus bekerja menurut waktu yang telah ditetapkan dalam jam kerja pada Kantor Samsat. kecuali bagi orang lanjut usia. sehingga batas waktu pelayanan yang dijanjikan dapat dipenuhi. Petugas harus menjaga kesopanan. 2) Pemilik kendaraan yang mengurus sendiri diutamakan daripada pengurusan melalui perantara atau pihak ketiga.142 1) Prasarana pelayanan pernbayaran Pajak Kendaraan Bermotor. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor. Kesamaan Hak 1) Dalam pemberian pelayanan tidak bersifat diskriminatif. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan serta penerbitan Surat Tanda Nomor Kendaraan yaitu berupa Kantor Bersama Samsat yang sekaligus berupa Kantor Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pelayanan Pendapatan Propinsi Sumatera Barat di Padang. namun tidak tertutup kemungkinan jam kerja ditambah sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. i.

143 1) 2) 3) 4) Pengawasan melekat oleh atasan langsung. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). j. Dengan demikian bila ditijau dari aspek hukum Adminstrasi Negara khususnya Pemerintahan Daerah dilihat dari sisi Azas legalitas. kewenangan pengelolaan PKB dan BBN-KB oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sudah sesuia dengan ketentuan aturan yang lebih tinggi dan berlaku dimana PKB. Pengawasan oleh masyarakat melalui Kotak Saran dan keluhan masyarakat. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) serta Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) diselesaikan oleh masing-masing unit kerja yang berada pada Kantor Bersama Samsat. 2) Saran dan keluhan dari masyarakat yang sifatnya non teknis diselesaikan dan di koordinir Kantor Samsat bersama Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pelayanan Pendapatan Propinsi Sumatera Barat di Padang serta Petugas Jasa Raharja. Tanda Nomor kendaraan (TNKB). Pengawasan oleh Tim Pembina Samsat. 3) Saran dan keluhan masyarakat yang bersifat teknis seperti Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Pengawasan Fungsional oleh masing-masing instansi.dan BBN-KB ini dilaksanakan berdasarkan Perda No. Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB). 41 Tahun 2003 dan Perda No. Penanganan Saran dan Keluhan Masyarakat 1) Saran dan keluhan masyarakat dapat disampaikan secara tertulis dengan mencantumkan identitas yang bersangkutan dengan jelas. 5 Tahun 2003 yang di serahkan secara atributif dan delegatif / distributif dari pusat .

Hukum Administrasi Negara. 3 Tahun 1957 dan undang – undang No. 10 Tahun 1968 sebagaimana penulis terangkan pada hal. Oleh sebab itu menurut Prajudi Atmosudirjo 57 menyebutkan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam penyelenggaraan pemerintah yaitu sebagai berikut : 1) Efektivitas artinya kegiatanya harus mengenai sasaran yang telah ditetapkan 2) Legimitas artinya kegiatan administrasi negara jangan sampai menimbulkan heboh oleh karena tidak dapat diterima oleh masyarakat setempat atau lingkungan yang bersangkutan 3) Yuridikitas artinya syarat yang menentukan bahwa perbuatan para pejabat administrasi negara tidak boleh melanggar hukum dalam arti luas. namun disisi lain secara teoritis azar legalitas menemui kesulitan dalam penerapannya ditengah masyarakat sebagaimana di katakan Bagir Manan bahwa adanya kelemahan penerapan azas legalitas. Dengan demikian secara hakekatnya dengan adanya regulasi tersebut diatas akan terdapat jaminan adanya kepastian hukum dan kesamaan perlakuan ( keadilan ) sebab secara tertulis telah dapat dipedomani semua pihak secara transparan.144 kepada daerah sesuai Peraturan Pemerintah RI No. 87 dimuka. Raja Grafindo. 80 dan hal. C. a) Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Pelayanan SDM Kantor Bersama Samsat Berdasarkan situasi pada akhir Januari 2006. Lantas Polda : 30 orang Ridwan HR. Jakarta. jumlah personil yang terdapat di UPTD Pelayanan Pendapatan yang sekaligus juga berada pada Kantor Bersama Samsat Sumatera Barat di Padang adalah sebagai berikut : 57 Dit. 2006 hal. PT. 99 .

tidak semua kendaraan bermotor wajib melakukan cek phisik (khususnya untuk mengesahkan STNK setiap tahun). yang jumlahnya paling sedikit (rata-rata 50 orang wajib pajak per hari). tetapi yang terdaftar hanya yang sesuai dengan ketentuan. Rata-rata wajib pajak yang datang setiap hari ke Loket I lebih banyak jika dibandingkan dengan Loket II. walaupun dalam prakteknya semua kendaraan bermotor diharuskan untuk melakukan cek phisik. Namun dari tabel 8 terlihat bahwa jumlah wajib pajak yang dilayani pada setiap loket tidak sama.145 - Dispenda Jasa Raharja Jumlah : : : 33 orang 2 orang 65 orang Sedangkan Distribusi petugas yang terdapat pada setiap pokja/loket praktis yang langsung berhubungan dengan masyarakat wajib pajak dapat dilihat pada tabel 7 terdahulu. Menurut pedoman tata laksana Sistim Administrasi Manunggal Dibawah Satu Atas (Samsat). BBN-KB dan SWDKLLJ wajib mengambil formulir di Loket I. Umumnya wajib pajak setelah mengambil formulir di Loket I. lalu melakukan pendaftaran di Loket III. melanjutkan cek phisik kendaraan bermotor di Loket II. Adapun jumlah wajib pajak yang dilayani rata-rata per hari adalah sebagaimana dapat dilihat pada tabel 8 terdahulu yaitu sebanyak 420 wajib pajak per hari. karena sifat pekerjaan di setiap loket mempunyai spesifikasi yang berbeda. Semua kendaraan bermotor yang hendak membayar PKB. Jumlah wajib pajak yang dilayani memang dapat berbeda. Setelah selesai .

68 17. karena untuk membayar PKB.50 27 607.50 8 60.50 45.00 2 120.50 22. di samping adanya wajib pajak yang belum mempersiapkan dana untuk melakukan pembayaran pada saat itu. Kebanyakan wajib pajak baru datang kembali ke Kantor Bersama Samsat pada keesokan harinya.00 22.50 45.00 60.00 0 0 Jumlah 42 532.50 24 180.50 21 472.012.00 0 0 Jumlah 42 742. Dengan demikian Akibat dari sistem dan prosedur tersebut terlihat waktu pelayanan pada Kantor Bersama SAMSAT adalah sebagaimana terlihat pada tabel 23 berikut ini: Tabel.00 22. BBN-KB dan SWDKLLJ. petugas memerlukan waktu untuk menghitung besarnya PKB. Masyarakat yang hendak membayar PKB atau memperpanjang STNK diperkenankan untuk melakukan-ya sebulan sebelum tanggal jatuh tempo.50 29 217.50 Loket II 7.00 60.50 Loket IV 7.11 .00 Jumlah 42 1.00 Rata-rata Waktu (Menit) 12.00 1 45 60.50 Loket III 7.50 18 135.146 di Loket III kebanyakan wajib pajak pergi meninggalkan Kantor Samsat.68 24.00 5 225.50 12 270 45. 23 Perhitungan Alokasi Waktu Rata-rata Pengurusan Di setiap Loket Pelayanan (Loket Is/d Loket V) Untuk Setiap Wajib Pajak Rata-Rata Waktu Jumlah Jumlah Waktu Loket Pelayanan Responden (n) (Menit) (Menit) Loket I 7.00 3 135.

00 7 315 60.00 22. maka akan diperoleh hubungan antara dua variabel dengan nilai yang cukup baik. yang berarti bahwa kaitan yang sangat nyata antara ketersediaan prasarana. fasilitas umum seperti mushalla. tempat parkir yang cukup luas. Ketersediaan prasarana.00 Jumlah 42 675.147 14 315.50 8 60. tersedianya mushalla.72 b) Prasarana dan sarana Kantor Bersama SAMSAT Prasarana. misalnya peralatan kerja.00 60. secara umum cukup baik.50 25 562. toilet. telepon umum dan warung atau kantin.00 16.00 2 120 Jumlah 42 1. sarana dan fasifitas dengan kepuasan pelayanan. sarana dan fasilitas yang disediakan diantaranya ruang tunggu dan kursi tamu yang mencukupi.00 4 180.057.50 45. sarana serta fasilitas yang tersedia.07 25.00 0 0. Bila dilakukan analisis untuk melihat kaitan antara ketersediaan prasarana. sarana dan fasilitas yang disediakan di kantor tersebut.18 95. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik pelayanan dan ketersediaan prasarana.50 Jumlah Waktu Pelayanan dari Loket I s/d Loket V 22. sarana dan fasilitas di Kantor Bersama Samsat dengan kepuasan dalam pelayanan. sarana dan fasilitas yang ada di Kantor Bersama Samsat Sumatera Barat di Padang. ruangan yang tersedia untuk pelayanan. maka akan semakin besar pula kepuasan yang dirasakan oleh . peralatan kerja seperti komputer dan ruangan kerja petugas yang memadai.50 45. kantin dan lain-lain.00 Loket V 7. Prasarana.

sehingga dapat memberkan pelayanan yang memuaskan masyarakat adalah : a. 1) Menciptakan budaya pelayanan. b. 4) Menyelenggarakan proses dimana setiap petugas pelaksana memahami standar pelayanan dalam praktek sehari-hari. sehingga pelayanan satu hari selesai (one day service) diharapkan dapat dilaksanakan atau diwujudkan. Menciptakan budaya kerja . 3) Menetapkan dan menyepakati standar dan tingkat pelayanan secara terukur yang hanrs diberikan setiap loket. . 2) Secara terus menerus melakukan penelitian tentang harapan-harapan masyarakat dan kritik yang dilontarkan terhadap pelayanan yang diberikan. agar : Setiap loket atau kelompok kerja mengenali dimana dan siapa-siapa yang menjadi pelanggannya. sehingga dapat mengurangi sifat emosional mereka yang berlebihan. Sesuai dengan apa yang dikatakan Moenir (1998). c) Rekomendasi kebijakan terhadap Pelayanan Upaya yang harus dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas kerja petugas. bahwa salah satu fungsi dari sarana pelayanan adalah menimbulkan perasaan puas dan nyaman pada orang yang berkepentingan.148 masyarakat pemohon STNK. 5) Terus menerus melakukan evaluasi terhadap kualitas pelayanan dan berupaya untuk selalu meningkatkannya.

.149 1) Setiap petugas pelaksana menetapkan bersama dengan supervisornya. tentang tugas yang halus dilaksanakan dan sasaran yang harus dicapai secara periodik. 3) Meningkatkan peranan pengawas atau supervisor secara nyata dalam mendukung keberhasilan pelayanan tersebut. 2) Mengadakan pertemuan secara rutin dengan supervisor untuk mengetahui kendala-kendala di lapangan serta mendorong kemampuan untuk pengambilan keputusan. 4) Menggunakan sumber daya yang. yang didukung dengan sistim pertanggungjawaban sesuai dengan tingkatan-ya. 4) Memperhatikan secara khusus pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memperoleh hasil yang sebesar-besarnya. 2) Merumuskan pembagian tugas (job description) pada setiap loket. c. 3) Setiap suvervisor selalu berupaya meningkatkan keteram- pilan yang dimiliki oleh setiap petugas pelaksana. selanjutnya digunakan sebagai dasar penilaian dan pertanggungjawaban tugas secara berlanjut. unit pelayanan 1) Meningkatkan pengawasan secara Meningkatkan pengawasan dan memperkuat unit- berjenjang. ada secara maksimal untuk mencapai keberhasilan petugas pelayanan.

Penyelenggaraan pelayanan publik yang berkwalitas sudah merupakan kebutuhan organisasi untuk merespon tuntutan dan harapan masyarakat yang terus meningkat. agar termotivasi dan tetap pada sasaran. 4) Ramah. artinya pelayanan atas hubungan antara aparat dengan masyarakat dilakukan dengan sopan dan bersahabat. artinya pemenuhan kebutuhan dengan cepat. dimana masyarakat memperoleh apa yang diinginkan itu dengan biaya murah.150 5) Supervisor memberikan kesempatan dan mendorong setiap anggota untuk bekerja secara maksimal dan membina mereka untuk Inenjadi yang terbaik sesuai kemampuan masing-masing. tidak melalui birokrasi yang berbelit. Melaksanakan Stándar Pelayanan Minimal (SPM). 2) Tepat. d. Pelayanan yang berkwalitas harus memenuhi beberapa unsur yaitu sebagai berikut : 1) Cepat. 6) Secara terus menerus mengadakan evaluasi kualitas supevisor. kerja sama antar kelompok kerja atau loket dan petugas polaksana. 3) Murah. e. 1) Peningkatan Sumber Daya Aparatur Aparatur Pelayanan di SAMSAT belum mempunyai persepsi yang sama dalam pemberian pelayanan yang . artinya apa yang diberikan atau dilakukan sesuai menurut apa yang dibutuhkan.

3) yang terkait. penyederhanaan pengurusan prosedur dalam dan STNK/TNKB pembayaran SWDKLLJ. dan keamanan bagi Wajib Pajak. 4) Peningkatan sarana dan prasarana pendukung Meningkatkan koordinasi antar kelembagaan Mengurangi egoisme sektoral kelembagaan pada Kantor Bersama SAMSAT 5) Anggaran biaya untuk memperbaiki tata ruang pelayanan masih terbatas. 3) Melakukan koordinasi yang baik dengan mitra kerja guna mengatasi adanya kendala dalam percepatan pelayanan di Kantor SAMSAT. 2) proses Melakukan pembayaran Pajak. f.151 baik kepada masyarakat Wajib Pajak. ketenangan. 4) Melakukan pembenahan ruang kantor sehingga terdapat kenyamanan. . maka perlu penyamaan persepsi tentang pelayanan. 1) Memperbanyak informasi dan pengumuman kepada Wajib Pajak. Langkah antisipasi untuk mengatasi adanya pendapat bahwa birokrasi di Kantor SAMSAT masih agak berbelit. 2) dalam pelayanan.

2) Struktur organisasi UPTD yang ada saat ini membingung-kan karena dari 3 (tiga) unit kerja yang ada.152 g. Sehubungan dengan hal tersebut perlu hal sebagai berikut : 1) Memperbaharui struktur organisai UPTD dan sekaligus ada penegasan Unit Kerja UPTD yang akan bertugas di SAMSAT dalam memungut PKB/BBN KB. seharusnya ada pemisahan yang jelas. Beberapa faktor yang menyebabkan adanya kelemahan disebabkan lain : 1) Belum adanya pemisahan Personil UPTD yang bekerja di antara SAMSAT dengan bertugas di UPTD karena sistim rekruitmen personil yang bertugas di SAMSAT tidak ada kejelasan. Hal ini terjadi karena terbatasnya pembiayaan untuk pembangunan/ revisi gedung kantor. Untuk itu idealnya struktur UPTD tersebut salah satu seksinya adalah Seksi PKB/BBN KB yang langsung bertugas di SAMSAT sedangkan Kasubag Tata Usaha dan seksi lainnya bertugas di UPTD. yang mana yang bertugas di SAMSAT dan yang mana bertugas di UPTD tidak ada penegasan yang jelas. Atau ada Pejabat Fungsional yang . 3) Ruang Kantor UPTD menyatu dengan Kantor SAMSAT. UPTD berada langsung di bawah Dipenda Propinsi Sumatera Barat sementara Kantor Bersama SAMSAT yang dilaksanakan secara sinergis hal ini dapat berjalan tanpa pengabaian tupoksi UPTD. sedangkan Unit Kerja yang lain hanya bertugas di UPTD tidak di SAMSAT.

Karena Pembentukan UPTD dimaksud juga untuk pengelolaan pemungutan Pajak dan Retribusi Daerah lainnya. . Dalam artian bahwa jajaran aparatur dan Kepala UPTD tidak lagi fokus pada kerja di SAMSAT akan tetapi tugas utamanya lebih banyak koordinasi. 2) Pemisahan ruang kerja UPTD dengan SAMSAT. dan hubungan kerja antara satu dengan lainnya berjalan harmonis. penyusunan rencana kerja / /kegiatan dan lain-lain.153 bertugas memonitor proses pembayaran PKB/BBN KB di SAMSAT dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala UPTD. 3) Perlunya adanya penetapan atau produk hukum yang disepakati oleh ketiga instansi di Kantor SAMSAT tentang tata cara penunjukan personil masing-masing yang akan bertugas di SAMSAT sehingga diharapkan jumlah personil yang bertugas di SAMSAT sebanding dengan beban kerja yang ada. pengawasan. melahirkan kebijakan.

154 BAB V PENUTUP A. 1. sehingga pemerintah daerah perlu memberikan pelayanan yang baik kepada Masyarakat yang berurusan ke Kantor Bersama Samsat. Dina Pendapatan Daerah (Dispenda). BBN-KB dan SWDKLLJ merupakan pajak provinsi yang sangat berperan untukpenyelenggaraan pemerintah dan pembangunan di daerah. Sebelum ada nya samsat. sehingga membutuhkan waktu biaya dan tenaga dan hal ini sangat dirasakan tidak efesien serta memberatkan masyarakat. karena belum dibentuknya cabangcabang samsat di daerah kabupaten atau kota. BBN-KB dan SWDKLLJ oleh masyarakat pada awalnya dilakukan di ibu kota provinsi. . Ketiga instansi ini bekerja sama melayani masyarakat dan bernaung dibawah satu atap atau satu kantor yang disebut dengan sistim Administrasi Manunggal Dibawah Satu Atap (Samsat). Kesimpulan Pelayanan Kantor Bersama Samsat melibatkan 3 (tiga) instansi yaitu. PKB. Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah (Ditlantas Polda) dan PT Jasa Raharja (Persero). masyarakat harus mendatangi ketiga instansi tersebut di tempat yang berbeda. Pengurusan PKB. Sedemikian besarnyaperanan pajak tersebut.

UPTD Pelayanan Pendapatan Propinsi Sumatera Barat di Padang melalui Kantor Bersama Samsatnya belum efektif dan efisien mampu memberikan pelayanan seperti apa yang diharapkan oleh masyarakat. Hal ini dapat dilihat masih banyaknya wajib pajak yang tidak membayar pajak serta masih banyaknya potensi yang menjadi sumber pendapatan daerah yang belum terdata. Walaupun UPTD Pelayanan Pendapatan Propinsi Sumatera Barat di Padang berhasil merealisir sumber pendapatan daerah yang menjadi kewenangannya dengan melampaui sejumlah beban target yang ditetapkan oleh instansi induknya (Dinas Pendapatan Daerah Propinsi Sumatera Barat). Keluhan-keluhan masyarakat masih dijumpai baik dari pelayanan yang diberikan oleh aparat itu sendiri. 63 Tahun 2003. Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat wajib pajak. maupun terhadap sarana dan prasarana yang tersedia sehingga secara umum dapaat dikatakan bahwa efektivitas pelayanan pengelolaan PKB dan BBN-KB belum sesuai dengan SPM dan Kepmen PAN No.155 Unit Pelaksana Teknis Dinas ( UPTD ) Pelayanan Pendapatan Propinsi Sumatera Barat di Padang merupakan instansi teknis pemerintah daerah yang diberi kewenangan urituk menggali dan memungut pajak daerah sebagai sumber pendapatan daerah yang berada dalam wilayah kerjanya melalui SAMSAT pada Kantor Bersama SAMSAT Padang. . harus mampu merealisir sesuai dengan potensi yang ada sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. namun UPTD Padang belum dapat dikatakan berhasil dalam melaksanakan tugasnya.

sarana. yang dikeluarkan oleh kapolri melalui Petunjuk Pelaksanaan. Sorotan dilakukan karena lambatnya proses pelayanan pengurusan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). serta masih adanya pungutan-pungutan yang tidak resmi atau pungutan liar. terutama yang berurusan dengan kantor tersebut. maupun Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Kantor Bersama Samsat Khusunya di Provinsi Sumatera Barat bertekat untuk memberikan pelayanan yang lebih baik. yaitu selama 22 (dua puluh dua) menit untuk setiap wajib pajak. sikap petugas yang kurang simpatik dalam melayani masyarakat sampai kepada tidak terampilnya petugas dalam melaksanakan pekerjaannya.156 Pelayanan Kantor bersama samsat selama ini sering mendapat sorotan tajam dari masyarakat. diperlukan pengawasan dari atasan. . Agar jangka waktu yang telah ditentukan dapat terealisir. Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ).terutama oleh Pembina SAMSAT di tingkat Provinsi Sumatera Barat ( Gubernur dan Kapolda ). Karena adanya kritikan. Kantor Bersama Samsat telah memiliki acuan lamanya pelayanan disetiap loket. banyaknya calo. terutama pelayanan dalam pengurusan pembayaran pajak berkaitan dengan pemilikan atau penguasaan kendaraan bermotor oleh masyarakat. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB). dengan mencanangkan pelayanan satu hari selesai atau yang dikenal dengan One day Service dan bahkan diwacanakan denga pelayanan cepat One Hour Service ( Pelayanan 1 Jam ). prasarana dan fasilitas yang tidak memadai.

2. masih dalam kategori harus ditingkatkan. maka ego sektoral masih terasa cukup kental. cukup baik. Artinya pilihan responden adalah baik. efisien. dan PT. sehingga tidak sesuai dengan waktu pelayanan menurut juklak. seperti efisiensi dan kesederhaan prosedur yang kurang lengkap serta pemahaman wajib pajak terhadap mekanisme prosedur pelayanan yang masih relatif rendah. Sedangkan kriteria pelayanan mengenai ketepatan waktu yang sesuai dengan standar pelayanan. Disamping itu karena SAMSAT adalah kantor kerja bersama. Jasa Raharja / Persero ) kurang cepat dan delapan kriteria pelayanan yang belum terpenuhi dengan baik. Koordinasi antar tiga instansi yang berada pada SAMSAT ( Dispenda. Kondisi ini masih . cukup adil dan aman. walaupun belum pada tingkatan sangat baik. Penilaian terhaap delapan kriteria standar pelayanan yang dilaksanakan SAMSAT Provinsi Sumatera Barat pada tingkatan cukup baik. artinya berdasarkan hasil analisis data. Polri. Faktor – faktor yang mempengaruhi belum tercapainya kepuasan pelayanan dan waktu penyelesaian dalam pembuatan STNK adalah karena kurangnya pengawasan petugas oleh atasan.157 Dengan dioperasikannya sistim 2 (dua) loket di Samsat Padang dan Samsat-Samsat di seluruh Propinsi Sumatera Barat berarti pelayanan kepada Pemilik kendaraan bermotor dalam membayar pajak kendaraan bermotornya sudah sesuai dengan INBERS tahun 1999 berarti tercermin bahwa pelayanan Samsat lebih cepat dan mudah serta akan tercipta team works yang solid. sedang. dimana masig – masing membawa nama instansi. prosentase dominan memilih kategori mudah. efektif dan efisien.

Berarti fungsi pengawasan tidak berjalan dengan baik. berusaha menciptakan budaya kinerja melalui pemahaman tugas masing – masing. Upaya yang dilakukan untuk peningkatan one day service. B. karena mayoritas responden menyatakan bahwa pelaksanaan one day service belum berjalan dan belum dapat dirasakan oleh wajib pajak. Regulasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebagai acuan bagi aparatur Dinas Pendapatan Daerah dalam memberikan Pelayanan PKB dan BBN-KB bagui Wajib Pajak dan untuk menerbitkan surat dinas yang dibutuhkan oleh penerima pelayanan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah waktu yang diperlukan oleh masyarakat untuk berurusan pada setiap loket pelayanan yang masih relatif lama dibandingkan dengan juklak yang telah ditetapkan. UPTD Pelayanan Pendapatan Propinsi Sumatera Barat di Padang dapat lebih berperan aktif lagi dalam . meliputi aktivitas meciptakan budaya pelayanan yang tinggi. Begitu juga adanya pungutan tidak resmi yang dilakukan oleh petugas di Loket II. Dalam rangka rneningkatkan pendapatan Daerah. Fungsi manajemen pada Kantor Bersama SAMSAT belum dapat berjalan sebagaimana seharusnya untuk suatu organisasi yang baik. 2. agar dapat dievaluasi oleh Gubernur Sumatera Barat selaku unsur Pembina SAMSAT dan atau bahkan ditinjau kembali.158 dapat diterima. menghidupkan paengawasan dan memperkuat unit – unit pelayanan dengan melihat kendala dan peluang yang ada melalui supervisi dan evaluasi pelayanan yang optimal. Saran -Saran 1. sesuai dengan kebutuhan masyarakat sebagai penerima pelayanan sesuai dengan yang diharapkannya.

karena masih banyak tunggakan kendaraan bermotor yang tidak membayar pajak dan BBN–KB. Untuk itu disarankan agar system pelayanan yang ada sekarang ini masih memakai sistem 5 (lima) Loket harus dirobah menjadi Sistem 2 (dua) loket dan system pelayanan lainnya harus ditingkatkan terus sehingga samsat yang ada di Propinsi Sumatera Barat tidak jauh tertinggal dari daerah lainnya di Wilayah Indonesia serta peningkatan pelayanan tersebut diharapkan sebagai cikal untuk mempersiapkan diri meraih pelayanan prima yang berstandar lnternasional seperti yang diprogramkan oleh Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara. penyusunan rencana kerja/kegiatan. Kantor Bersama SAMSAT melalui Pemerintah Daerah perlu memperbaharui struktur organisai UPTD dan sekaligus ada penegasan Unit Kerja UPTD. Idealnya struktur UPTD tersebut salah satu seksinya adalah Seksi PKB/BBN KB yang langsung bertugas di SAMSAT sedangkan Kasubag Tata Usaha dan seksi lainnya bertugas di UPTD. yaitu Kepala UPTD tidak lagi fokus pada kerja di SAMSAT akan tetapi tugas utamanya lebih banyak koordinasi. 5. Aparat UPTD dapat lebih jeli dalam memantau. . Pemisahan ruang kerja UPTD dengan SAMSAT. 4. Apabila dilakukan perbandingan antara Samsat-Samsat yang ada di Propinsi Sumatera Barat khususnya Samsat di Padang dengan Samsat-Samsat Propinsi lainnya di Indonesia yang sudah mendapatkan penilaian pelayanan yang berstandar Internasional (ISO 1999-2001). mendata dan sekaligus menagih terhadap objek pajak yang masih menunggak dan belum terpantau dan terdata. maka Samsat yang ada di Sumatera Barat perlu berbenah diri dalam beberapa sisi pelayanan. melahirkan kebijakan. pengawasan.159 rnengelola sumber pendapatan Daerah yang ada dalam wilayah kerjanya. 3. Sehubungan dengan hal tersebut. penentuan kebijakan dan lain-lain yang bersifat strategis.

.160 6. dan hubungan kerja antara satu dengan lainnya berjalan harmonis. Perlunya adanya penetapan atau produk hukum yang disepakati oleh ketiga instansi di Kantor SAMSAT tentang tata cara penunjukan personil masing-masing yang akan bertugas di SAMSAT sehingga diharapkan jumlah personil yang bertugas di SAMSAT sebanding dengan beban kerja yang ada.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful