1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Permasalahan Sejak diberlakukannya Undang Undang No. 22 Tahun 1999 dan kemudian dirubah menjadi Undang Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagai penganti Undang Undang No. 5 Tahun 1974, diskusi tentang efektivitas pelayanan publik dalam otonomi daerah menjadi semakin menarik untuk dibicarakan. Permasalahannya karena sudah 2 (dua) kali perubahan undang-undang tersebut dilakukan, namun peningkatan pelayanan publik publik sebagai sasarannya selalu dipertanyakan, bahkan ada diskusi yang membahas bahwa Undang Undang No. 32 Tahun 2004 perlu lagi perubahan. Undang-undang ini merupakan implimentasi pasal 18 ayat (1) UUD 1945 yang mengatakan bahwa Negara Republik Indonesia merupakan negara kesatuan yang dibagi atas daerah-daerah propinsi dan propinsi terdiri dari daerah kabupaten dan kota yang mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dalam undang-undang. Selanjutnya, pasal 2 ayat (2) menyebutkan bahwa pemerintah daerah propinsi, daerah kabupaten dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut azas otonomi dan tugas perbantuan. Dalam menjalankan otonomi dan tugas perbantuan, kecuali urusan pemerintah pusat, pemerintah daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan lain sesuai dengan ketentuan berlaku. Pada dasarnya, maksud pasal 18 UUD 1945 tersebut adalah mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan,

2 pemberdayaan dan peran serta masyarakat. 1 Selanjutnya dijelaskan bahwa pemerintahan penyelenggaraan daerah dalam meningkatkan perlu efisiensi dan antar efektivitas susunan

otonomi

daerah,

memperhatikan

pemerintahan antar pemerintahan daerah, potensi dan keanekaragaman daerah dalam sistem Negara Kesatuan RI. Dalam berbagai aspek UU No. 32 Tahun 2004 mengatur hubungan keuangan pusat dan daerah, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya secara adil dan selaras. Di samping itu, dalam menjalankan perannya, daerah diberikan

kewenangan yang seluas-luasnya disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan Otonomi Daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara.2 Masalah pelayanan publik di Indonesia masih sangat memprihatinkan, karenanya pemerintah masih perlu membuat strategi dan kebijakan agar dapat memenuhi hak azazi warga negara dan membutuhkan solusi menyeluruh untuk membuat pelayanan publik yang baik. 3 Sebagai gambaran dan fenomena pelayanan publik di Provinsi Sumatera Barat saat ini seperti terlihat rendahnya tingkat kinerja aparatur penyelenggara pemerintahan di daerah. Indikasi menunjukan bahwa Pemerintah Daerah melalui Peraturan Gubenur Sumatera Barat Nomor 74 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2006 - 2010 menempatkan hal ini sebagai skala prioritas utama. Dalam bagian IV, (Agenda penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baik dan bersih Bab II diatur

Penjelasan Umum, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Publik CV. Jaya Jakarta, Cetakan Pertama, 2004. hal. 125. 22 Ibid, hal. 123, 124 3 Wacana HAM, Pandangan Publik yang memprihatinkan Edisi 17, Tahun III, 15 Oktober 2005, hal. 1

11

3 tentang Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik)4 yang menerangkan bahwa

berdasarkan hasil identifikasi dalam pembinaan pelayanan publik masih banyak permasalahan yang perlu ditindaklanjuti dan diselesaikan seperti : belum kompetitif, transfaran dan akuntabilitas proses pelayanan publik, rendahnya etos kerja aparatur, pelayanan publik belum didukung oleh teknologi informasi serta belum ada instrumen yang jelas untuk mengevaluasi kualitas pelayanan. Sasaran yang hendak dicapai dalam peningkatan kualitas pelayanan publik tahun 2006-2010 ke depan adalah : 1. Terlaksananya pelayanan publik kepada masyarakat sesuai dengan standar layanan yang ditetapkan. 2. Tercapainya transparansi dalam proses pelayanan publik. 3. Meningkatnya etos kerja, profesionalisme dan kompetensi aparatur. 4. Meningkatnya kemandirian masyarakat dalam mendapatkan pelayanan publik. 5. Meningkatnya pengguna teknologi informasi dalam pemberian pelayanan publik. 6. Meningkatnya peran masyarakat terhadap penilaian kinerja aparatur pelayanan publik. Dalam RPJMD tersebut ditetapkan arah kebijakan, program pengembangan pelayanan publik dan pengembangan partisipasi publik (masyarakat) yang berada dalam agenda penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih bersamaan dengan sub-sub agenda lainnya, yaitu : peningkatan kemampuan pemerintah daerah, peningkatan kualitas pelayanan publik, pemberantasan korupsi, kolusi dan
4

Naskah Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 74 Tahun 2005, hal. 121

pembangunan hukum dan perlindungan hak azazi manusia. walaupun jumlah penerimaan daerah yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) cenderung menunjukan peningkatan dan memberikan kontribusi yang besar terhadap penerimaan daerah. Fakta lain menjelaskan. betapa rendahnya kualitas pelayanan publik tersebut. peningkatan keamanan dan ketertiban.4 nepotisme. Bertitik tolak dari fakta dan kenyataan di atas. melalui Kantor Bersama SAMSAT. UPTD Pelayanan Pendapatan Provinsi Sumatera Barat di Padang. Pelaksanaan pelayanan publik yang diselenggarakan oleh unit pelayanan Kantor Bersama SAMSAT ini terdapat 3 unit kerja yang terkait dan berhubungan. Berdasarkan fakta dalam RPJMD Propinsi Sumatera Barat. pencapaian hasil relatif masih dibawah target. Khususnya pencapaian target (realisasi) penerimaan pajak daerah dari sub-sektor Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB). salah satu diantaranya terdapat pada Perangkat Daerah/Dinas (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yaitu Dinas Pendapatan Daerah. maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan penulisan ilmiah dengan menyingkap dan menganalisanya secara mendalam dengan penekanan yang diarahkan kepada peningkatan pelayanan publik terutama terhadap sub sektor pajak daerah yang berasal dari pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor melalui Dinas Pendapatan Daerah Cq. . Dengan demikian "masalah" Pelayanan publik sudah diakomodir dalam suatu konsepsi dan strategi kebijakan untuk kurun waktu 2006-2010 mendatang yakni dengan isu bagaimana meningkatkan kualitas pelayanan publik tersebut dari tahun ke tahun yang disinyalir seakan-akan berjalan di tempat.

Penulisan dan penganalisaan mempedomani teori-teori menurut Ilmu Hukum Administrasi Negara. Dengan adanya 3 unit kerja masalah yang ditemukan dalam pelayanan adalah bertemunya 3 (tiga) kepentingan yang berbeda yang saling membutuhkan dan saling berhubungan. Pihak Pemda dalam memberikan pelayanan bertujuan untuk peningkatan penerimaan daerah yang diperlukan bagi keperluan dana pembangunan yang berasal dari sumber-sumber PAD. terutama bila dikaitkan dengan suasana dan nuansa tuntutan tatanan Pemerintahan yang Baik dan Bersih (Good Governance and Clean Government). Oleh karena itu. Polri c. Dinas Pendapatan Daerah. AK Jasa Raharja.q. namun efektivitas keberadaan pola dan sistem SAMSAT masih perlu penyempurnaan. Kepolisian Daerah dan PT.q. penulis tertarik untuk melakukan kajian karena sepengatahuan penulis belum ada yang menelaahnya.5 yaitu pihak Pemerintah Provinsi c. . Ketiga unit kerja ini sama-sama bertujuan memberikan pelayanan publik secara prima kepada masyarakat. Pengelolaan kebijakan melalui Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT) sudah sesuai dengan maksud Undang Undang 32 Tahun 2004. dikaitkan dengan aspek normatif dari berbagai ketentuan peraturan perundangan dengan judul : Efektivitas Pelayanan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor pada Dinas Pendapatan Daerah Propinsi Sumatera Barat (Suatu Kajian Dalam Perspektif Hukum Administrasi Negara). namun menyatu dan saling berkaitan (Simbiose Mutualistis). sedangkan di pihak lain Polda lebih berkepentingan dalam masalah pengidentifikasian kepemilikan dan keamanan.

. Dinas Pendapatan Daerah cq. Faktor-faktor dominan apa saja yang mempengaruhi efektivitas pelayanan sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) kepada wajib pajak agar sejalan dengan peningkatan pemasukan pendapatan daerah (pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor) baik secara intensifikasi maupun ekstensifikasi? C. Mengetahui peranan dan fungsi UPTD PPP di Padang dalam mengelola kewenangannya dalam mengelola sumber pendapatan daerah yang menjadi tugas dan urusan sesuai dengan kewenangan dalam kompetensi wilayah administratifnya sesuai ketentuan perundang-undangan. Rumusan Permasalahan Adapun pokok bahasan penelitian ini.6 B. Tujuan Penelitian Mengetahui efektivitas pelayanan umum yang diberikan oleh instansi Pemerintah Provinsi Sumatera Barat Cq. Sejauh mana pelayanan publik di bidang perpajakan pada Dispenda cq. akan ditinjau dari perspektif Hukum Administrasi Negara yakni : a. UPTD PPP di Padang. Sumbar di Padang melalui Kantor Bersama Samsat terhadap Pengelolaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (PKB dan BBN-KB) efektivitasnya (efektif dan efisien) mewujudkan "Pemerintahan Yang Baik dan Bersih (Good Governance and Glean Government)? b. melalui kantor bersama SAMSAT kepada wajib pajak (masyarakat pemilik kendaraan bermotor). UPTD Pelayanan Pendapatan Prop.

5 Parjoko. Februari. 5 kemudahan dalam segala hal di bidang pelayanan . Kerangka Teoritis dan Konseptual 1 Kerangka Teoritis 1) Otonomi Daerah Pengertian otonomi daerah yang melekat dalam keberadaan pemerintah daerah. hal. maju dan sejahtera. wajar oleh karena memperoleh masyarakat. makalah.7 D. Nomor 25 Tahun 1999. juga sangat berkaitan dengan desentralisasi. tujuannya adalah demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang tertib. setiap orang bias hidup tenang. Baik pemerintahan daerah. Makalah Falsafah Sains (Pps 720) Program Pascasarjana/S3 Institut Pertanian Bogor. 1. Filosofi Otonomi Daerah Dikaitkan dengan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. nyaman. adalah bagian dari suatu kebijakan dan praktek penyelenggaraan pemerintahan. 2002. Manfaat Penelitian Manfaat Teoritis Manfaat teoritis dari hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi dan sumbangan pemikiran untuk pengembangan Hukum Administrasi Negara di Bidang Tata Pemerintahan Daerah pada umumnya. Manfaat Praktis Manfaat praktis. E. desentralisasi maupun otonomi daerah. serta Hukum Perpajakan/Pajak Daerah pada khususnya. hasil penelitian diharapkan sebagai kontribusi sumbangan pemikiran dalam upaya meningkatkan kinerja SKPD serta kualitas kerja aparat pemerintahan daerah dalam memberikan pelayanan publiknya kepada wajib pajak/masyarakat.

Penerapan prinsip ini melahirkan model pemerintahan daerah yang menghendaki adanya otonomi dalam penyelenggaraannya. 1990. dimana otonomi daerah sudah melekat pada negara-negara bagian. kewenangan pemerintah baik di pusat maupun di daerah. Jakarta. sedangkan pemerintah daerah hanya menerima penyerahan dari pemerintah pusat. membagi kewenangan kepada pemerintah daerah bawahan dalam bentuk penyerahan kewenangan. PT Rineka Ripta. Dalam system sentralisasi. Juli. 7 Soetijo. Secara normatif. Desentralisasi sebagai suatu system yang dipakai dalam system pemerintahan merupakan kebalikan sentralisasi. Pustaka SInar Harapan.8 Oleh karena itu keperluan otonomi di tingkat lokal pada hakekatnya adalah untuk memperkecil intevensi pemerintah pusat kepada daerah. 1999. antara negara yang Sarundajang. Cetakan 1. Dalam sistem ini. Jakarta. dipusatkan dalam tangan pemerintahan pusat. kekuasaan negara terbagi antara pemerintah pusat di satu pihak dan pemerintah daerah di lain pihak. Penerapan pembagian kekuasaan dalam rangka penyerahan kewenangan otonomi daerah.6 Berbeda halnya dengan otonomi daerah di Negara federal. penyerahan kewenangan pemerintah pusat kepada pihak lain (pemerintah daerah) untuk dilaksanakan disebut dengan desentralisasi.7 Dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara yang menganut prinsip pemencaran kekuasaan secara vertikal. Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah. Dalam Negara Kesatuan (unitarisme) otonomi daerah itu diberikan oleh pemerintah pusat (central government). Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. 6 .

tujuan desentralisasi. tujuan desentralisasi antara lain untuk memperkuat pemerintah daerah.9 satu dengan negara yang lain tidak sama. Secara politis. 2006. Smith mendefenisikan desentralisasi sebagai proses melakukan pendekatan kepada pemerintah daerah yang mensyaratkan terdapatnya pendelagasian kekuasaan (power) kepada pemerintah bawahan dan pembagian kekuasaan kepada daerah. serta untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembangunan ekonomi di daerah. Upaya Mencegah Desintegrasi Bangsa.11 Bambang Yudoyono.10 Tujuan desentralisasi secara umum oleh Smith dibedakan atas 2 (dua) tujuan utama. dan untuk mempertahankan integritas nasional. 22/1999.9 Sementara itu. 2004. Hukum Pemerintahan Daerah di Indonesia. makalah Telaah Kritis Implementasi UU NO. Sinar Grafika. termasuk Indonesia yang menganut negara kesatuan. 9 Siswanto Sunarno.8 Philip Mawhood menyatakan desentralisasi adalah pembagian dari sebagian kekuasaan pemerintah oleh kelompok yang berkuasa di pusat terhadap kelompok-kelompok lain yang masing-masing memiliki otorisasi dalam wilayah tertentu suatu negara.C. antara lain adalah untuk meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dalam menyediakan public good and service. Jakarta. disampaikan pada seminar dalam rangka kongres ISMAHI di Bengkulu. yakni tujuan politik dan ekonomis. Sedangkan secara ekonomi. 8 . B. 22 Mei 2000. untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan politik para penyelenggara pemerintah dan masyarakat. 11 Syarif Hidayat (editor). Pemerintah pusat diisyaratkan untuk menyerahkan kekuasaan kepada Pemerintah Daerahseagai wujud pelaksanaan desentralisasi. Jakarta. Kegamangan Otonomi Daerah? Pustaka Quantum. 10 Ibid.

Gagasan da Praksis.10 Sedangkan D. bahwa desentralisasi akan melahirkan otonomi daerah dan bahkan kadangkala sulit untuk membedakan pengertian diantara keduanya secara terpisah. interchange”. bukan karena kebaikan hati pemerintah pusat. Dengan kata lain. para analis sering menggunakan istilah desentralisasi dan otonomi daerah secara bersamaan. 12 D. Juliantara. ungkin tidak berlebihan ila dikatakan ada atau tidaknya otonomi daerah sangat ditentukan oleh beberapa jauh wewenang yang telah didesentralisasikan oleh Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah. Ibid. dkk memberikan pengertian desentralisasi dengan merujuk pada asal katanya. Itulah sebabnya.13 Dengan demikian jelaslah. kekuasaan politik diperoleh melalui pemilihan umum yang diselenggarakan secara regular dan serentak di setiap daerah untuk memberikan legitimasi terhadap tugas dan wewenang lembaga-lembaga politik di tingkat nasional dan juga di tingkat local sendiri.12 Lebih jauh ia menyebutkan desentralisasi yang dimaknai dalam konteks yang lebih luas. “Desentralisasi dan otonomi daerah bagaikan dua sisi mata uang yang saling memberi makna satu sama lainnya. 2006. bahwa konstek negara-negara demokrasi modern. Pondok Edukasi. Lebih spesifik. kekuasaan pemerintah daerahlah yang memintah dan menarik kembali sebagian kewenangan yang telah diberikan kepada pemerintah pusat. dalam studi Pemerintahan Daerah. de artinya lepas dan centrum artinya pusat. Bantul. bahwa istilah desentralisasi berasal dari bahasa latin. Juliantara. dkk. 13 . Desentralisasi Kerakyatan.

Berbeda halnya dengan otonomi daerah di negara federal. dilatarbelakangi oleh pengalaman masa lalu dimana keberadaan negara hanya dianggap sebagai instrument oleh kaum kapitalis. desentralisasi adalah sebagian pengakuan atas penyerahan wewenang oleh badan-badan umum yang lebih tinggi kepada badan-badan umum yang lebih rendah untuk secara mandiri dan berdasarkan pertimbangan kepentingan sendiri mengambil keputusan pengaturan dalam pemerintahan. . sedangkan pemerintah daerah hanya menerima penyerahan dari pemerintah pusat. serta struktur wewenang yang terjadi. mengemukakan. Dalam negara kesatuan (unitarisme) otonomi daerah itu diberikan oleh pemerintah pusat (central government).11 Adanya otonomi daerah dalam negara. 14 Sarundajang. di mana otonomi daerah sudah melekat pada negara-negara bagian. op cit. Reuter. Kondisi ini kemudian melahirkan konsep Marxis tentang Instrumental State.14 Oleh karena itu. yaitu untuk memperbesar kewenangan mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Dalam hubungan ini negara menginginkan otonomi untuk memperkecil intervensi dan bahkan menghilangkan pengaruh-pengaruh ataupun kaum-kaum kapitalis dan sosialis. Berbeda halnya dengan pemberian otonomi dengan pemerintah local. Demikian halnya paham Sosialis yang menghendaki adanya otonomi dari pengaruh partai politik (partai komunis) yang cenderung mengintervensikan kehidupan negara. keperluan otonomi di tingkat local pada hakikatnya adalah untuk memperkecil intervensi pemerintah pusat kepada daerah.

dkk. 2004.12 Dalam hal itu Rondineli. Oleh karena itu pelaksanaan kewenangan politik. Jakarta. 1996. maupun pelaksanaan sepenuhnya diserahkan kepada daerah. baik dalam hal menentukan kebijaksanaan. bila kita cermati prinsip-prinsip hukum dalam pengelolaan masalah-masalah bangsa (nation affairs) ke depan governance dikatakan baik (good atau sound) apabila sumber daya dan masalahmasalah publik dikelola secara efektif dan efisien serta aspiratif yang didasarkan kepada transparansi. mengemukakan.16 Prakarsa untuk menemukan prioritas. 16 Koeswara. Menggagas Format Otonomi Daerah Masa Depan. Badan Pendidikan dan Latihan Departemen Dalam Negeri. . ekonomi dan administrasi dalam mengelola masalah-masalah layanan tersebut perlu memperhatikan prinsip-prinsip hukum pengelolaan sumber daya yang 15 Oentara Sm. sebagian diserahkan kepada badan/lembaga pemerintahan di daerah. Samitra Media Utama. Prospek Pengembangan desentralisasi dan Otonomi Daerah dengan Titik Berat pada Daerah Tingkat II. mengatakn bahwa desentralisasi dari arti luas mencakup setiap penyerahan kewenangan dari pemerintah pusat baik kepada daerah maupun kepada pejabat pemerintah pusat yang ditugaskan di daerah. memilih alternatif dan mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan daerahnya. Lebih dalam lagi.15 Koeswara. bahwa pengertian desentralisasi pada dasarnya mempunyai makan bahwa melalui proses desentralisasi urusanurusan pemerintahan yang semua termasuk wewenang dan tanggung jawab pemerintah pusat. perencanaan. akuntabilitas dan partisipasi masyarakat serta rule of law.

good sustainable development govermance dan participatory development. kewenangan (urusan/administrasi)-nya sebagai mana . subsidiarity. seperti prinsip good governance. Menurut peneliti prinsip subsidiarity dalam pelaksanaan otonomi daerah dalam koridor Negara Kesatuan Republik Indonesia sangat relevan dan tepat dipedomani dan diterapkan dalam pengelolaan sumber daya pendapatan daerah. prier appropriation (first in time.13 dimiliki. Artinya bila pemerintah provinsi ternyata tidak mampu mengelola kewenangan dan administrasi pengelolaannya dengan baik. karena menurut teori subsidiarity secara lugas dan tegas dikatakan bahwa kewenangan yang telah diberikan oleh pemerintah tingkat lebih atas (pusat) kepada pemerintah tingkat lebih rendah (seperti provinsi dan atau kabupaten/kota) akan dapat ditarik kembali oleh tingkat lebih atas bila ternyata tingkat lebih rendah yang menerimanya tidak dapat melaksanakan mestinya. sustainable development. first in right). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan pemerintah provinsi dalam menjalankan urusan otonomi daerahnya di bidang perpajakan including/ termasuk di dalamnya pemberian pelayanan publik yang baik terhadap wajib pajak sektor tertentu jelas akan menjadi ukuran tingkat kemampuan yang realistas bagi suatu pemerintah provinsi tersebut. equity. maka pemerintah pusat memiliki otoritas penuh untuk menarik kembali penyerahan/pemberian kewenangan untuk mengelola urusan seperti kewenangan mengelola/memungut pajak daerah tertentu. privaty use.

kita dapat memahami bahwa salah satu tujuan otonomi yaitu peningkatan pelayanan dan kesejahteraan yang semakin baik. Pendirian sebuah sekolah dikatakan efisien bila daya tampungnya terpenuhi. diharapkan akan lebih baik dan aspiratif. Keputusan publik yang cermat. Begitu juga halnya dengan pendirian rumah sakit pada lokasi tertentu.17 Kemandirian daerah ini adalah dimaksudkan untuk tujuan pemberian pelayanan yang efisien. Kertergantungan daerah terhadap pusat dalam pengambilan berbagai keputusan publik diminimalkan. Peranan DPRD untuk Mencapai Tujuan Desentralisasi dan Perspektif tentang Pelaksanaan Desentralisasi. Laporan penelitian Iris Indonesia dan Pusat Studi Kependudukan UNAND Padang. Syahruddin dan Werry Darta Taifur. Tahun 2002. Pelayanan pemerintah dengan sistem sentralistik.14 Berdasarkan penjelasan di atas. Untuk itu dengan desentralisasi diharapkan daerah akan memberikan pelayanan yang lebih baik dibandingkan dengan sistem sentralistik. tepat dan cepat itu adalah merupakan cerminan dari efisiensi pelayanan. 17 . Pelayanan pemerintah di era otonomi. Diharapkan keputusan publik yang dibuat oleh daerah bagi kepentingan masyarakatnya akan lebih cermat. 28. lebih tepat dan lebih cepat atau dengan kata lain pelayanan akan lebih berdaya guna dan berhasil guna. Sasaran dari kemandirian daerah adalah agar daerah dapat mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Keputusan pembuatan jalan raya efisien bila jalan tersebut bermanfaat oleh masyarakat yang ada di sekitarnya. partisipatif dan akhirnya peningkatan daya saing daerah. hal.

perangkat hukum yang berfungsi sebagai acuan dalam pengendalian. Makna Pemerintahan : Tinjauan dari Segi Etika dan Kepemimpinan. Reinventing Government. 18 . Jakarta. Untuk itu pemerintah daerah perlu menyusun kerangka kerja yang memungkinkan terserapnya berbagai potensi dan aspirasi rakyat terutama prinsip pelayanan. sehingga bisa menjalani kehidupannya secara wajar. hal. 250 dst. 1997. Mengingat tujuan utama dibentuknya pemerintahan adalah untuk menjaga sistem ketertiban di dalam masyarakat. kebutuhan. Pemerintah diadakan tidaklah untuk melayani dirinya sendiri tetapi juga untuk melayani masyarakat.18 dalam mengembangkan kemampuan dan kreatifitasnya demi mencapai tujuan bersama. memiliki kemampuan dalam melayani. Untuk mencapai pelaksanaan pelayanan umum tersebut dibutuhkan oaparatur yang berkualitas.15 Dalam rangka itu reposisi daerah hendaknya dipahami sebgai upaya mengaktualisasikan berbagai potensi dan aspirasi masyarakat daerah. pengaturan agar kekuatan sosial dan aktivitas masyarakat tidak membahayakan negara dan bangsa. Yarsif Watampone. 1993. Teori mewujudkan pemerintahan good modern mengajarkan dijalankan bahwa untuk governance perlu desentralisasi pemerintahan. PT. sehingga rakyat di daerah dapat mengekspresikan kepentingan dan kehendaknya. memenuhi memuaskan.19 Dengan desentralisasi pemerintahan maka pemerintahan Ryaas Rasyid. menanggapi keluhan masyarakat secara sesuai dengan ekspektasi (harapan) mereka melalui kebijaksanaan. 19 Baca David Osborne dan Ted Gaebler.

Desentralisasi dalam Rangka Menunjang Pembangunan Daerah. maka pelayanan yang diberikan menjadi lebih cepat. murah. akibatnya kemandirian dan otoaktivitas daerah menjadi tersumbat. Adanya otonomi kebijakan otonomi khusus bagi Propinsi Aceh dan Irian Jaya memang lahir di tengah derasnya tuntutan disintegrasi. 1997. LP3ES. akomodatif dan produktif. sementara H. Hal itulah yang kemudian melahirkan resistensi daerah terhadap pusat yang sangat menguras energi menyelesaikannya.20 Dalam desentralisasi terkandung makna otonomi dan demokratisasi. Ryaas Rasyid. dalam Administrasi Pembangunan Indonesia. hemat. the better it service”. 20 . Ryaas Rasyid mengatakan ”the closer givernment. Yuridis formal dalam undang-undang pemerintahan daerah otonomi diakui. karena kuatnya arus sentralisasi Ismail Siko menyatakan mundur dari pencalonan Gubernur setelah diminta menghadap Ketua Golkar. inovatif. Pascasarjana Unpad. tetapi dalam implementasinya terjadi pemasungan-pemasungan melalui filter-filter yuridis peraturan pelaksanaan undang-undang tersebut. Imam Munandar yang memperoleh dukungan 17 suara. Asumsinya pemerintahan yang dekat denagn rakyat. Dua kata tersebut yakni otonomi dan demokrasi tidak mungkin dipisahkan.16 akan semakin dekat dengan rakyat. Kasus Pemilihan Gubernur Riau tanggal 2 September 1985 di mana Ismail Suko yang memperoleh dukungan DPRD dengan 19 suara. Dalam sejarah otonomi di Indonesia sejak kemerdekaan memang sarat dengan kebohongan.22 M. hal. 21 Yuslim. Titik Berat Otonomi pada Daerah Tingkat II. 1998. ia ibarat dua sisi mata uang yang satu dan yang lain saling memberi nilai. Hal itu jika pusat menyadari secara filosofis dan sosiologis otonomi yang dibangun bikan linear atau simetris tetapi suatu asymmetric decentralization. Otonomi tanpa demokratisasi merupakan suatu keniscayaan21 dan sebaliknya demokratisasi tanpa otonomi adalah kebohongan. Tesis. responsif. 22 Kebijakan otonomi yang uniformitas tidak sesuai dengan esensi kebhinekaan di Indonesia. waktu itu Wakil Presiden Sudarmono. dan juga tidak sesuai dengan ajaran rumah tangga riil. 140.

dan ketertiban. 2005. 176. hal. Teori dan Pratek Pemerintahan dan Otonomi Daerah. Pelayanan kepada masyarakat tersebut terintegrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. seperti kesehatan. Pemerintah baik pusat maupun daerah mempunyai tiga fungsi utama : 1) memberikan pelayanan (service) baik pelayanan perorangan maupun pelayanan publik/khalayak. pendidikan. pemerintah daerah dan BUMN/BUMD. keamanan. 24 . 175. dan 3) memberikan perlindungan (protective) 23 Hanif Nurcholish. maka pemerintah akan dapat mewujudkan tujuan negara yaitu menciptakan kesejahteraan masyarakat. Ibid.23 Pelayanan publik berhubungan dengan pelayanan yang masuk kategori sektor publik. 2) melakukan pembangunan fasilitas ekonomi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi (development for economic growth). hal. Hal ini berkaitan dengan fungsi dan tugas pemerintahan secara umum.17 2) Pelayanan Umum Pelayanan pemerintahan daerah merupakan tugas dan fungsi utama pemerintah daerah. Pelayanan tersebut dilakukan oleh pemerintah pusat. bukan sektor privat.24 Dengan demikian yang dimaksud pelayanan publik adalah pelayanan yang diberikan oleh negara/daerah dan perusahaan milik negara kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dalam rangka menciptakan kesejahteraan masyarakat. yaitu memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dengan pemberian pelayanan yang baik kepada masyarakat. Ketiga komponen yang menangani sektor publik tersebut menyediakan layanan publik. Grasindo. bantuan sosial dan penyiaran. PT.

harus diperlakukan sama. Ibid. cepat dan baik. taman kota. Disamping itu juga harus diperlakukan oleh petugas dengan sikap yang sopan dan ramah. 182. orang biasa. harus mendapatkan pelayanan yang sama. . trotoar. Pelayanan pemerintah daerah kepada khalayak juga harus adil dan merata.27 Dengan demikian pelayanan publik oleh pemerintah daerah harus dapat memuaskan publik. cepat. IMB. petugasnya 25 26 Ibid. Sertifikat tanah. Pemerintah Daerah tidak boleh menganakemaskan atau menganaktirikan kelompok masyarakat tertentu. SIM. paspor. surat izin dan keterangan. hutan lindung. Pelayanan untuk orang perorangan misalnya pemberian KTP. orang desa atau kota. Pelayanan publik misalnya pembuatan lapangan sepakbola. Untuk mengetahui sejauh mana kualitas pelayanan yang diberikan oleh pemerintah daerah bisa diukur dengan indikator-indikator : mudah.25 Sebagai fungsi public services.26 Oleh karena itu pemerintah daerah wajib memberikan pelayanan perorangan dengan biaya murah. panti anak yatim/jompo/cacat/miskin. pejabat. murah. waduk. sehingga yang satu diberi lebih dan yang lain diberi sedikit. 27 Ibid.18 masyarakat. 178. Tidak boleh dibeda-bedakan baik dengan sikap. pemerintah wajib memberikan pelayanan publik secara perorangan maupun khalayak/publik. hal. biaya maupun waktu penyelesaian. hal. taman nasional. tempat pedagang kaki lima dan lain-lain. Semua orang tanpa kecuali baik kaya. tidak berbelit. miskin.

ruang tunggu. ketersediaan informasi dan petunjuk panduan lainnya. Tanggung jawab. berkaitan dengan keakuratan pelayanan dan bebas dari kesalahan-kesalahan. berkaitan dengan penerimaan pesanan dan penanganan keluhan pelanggan eksternal (masyarakat). op.19 murah senyum. meliputi dimensi-dimensi berikut :28 Ketaatan waktu pelayanan. ruangan tempat pelayanan. Kenyamanan mendapat pelayanan. seperti lingkungan. Atribut pendukung lainnya. fasilitas musik. berkaitan dengan lokasi. tempat parkir. Kesopanan dan keramahan dalam memberikan pelayanan. dan lain-lain. Kemudahan mendapatkan pelayanan.cit. . berkaitan dengan prilaku orang-orang yang berintegrasi langsung kepada pelanggan eksternal. AC. kebersihan. petugasnya membantu jika ada kesulitan. mengemukakan bahwa kualitas pelayanan. 28 Ditjen Pemerintahan Umum. berkaitan dengan waktu tunggu dan waktu proses Akurasi pelayanan. adil dan merata serta memuaskan. Vincent Gesperz juga mengemukakan manajemen perbaikan kualitas yang dikenal dengan konsep Vincent. berkaitan dengan banyaknya petugas yang melayani dan fasilitas pendukung. 3) Kualitas Pelayanan Vincent Gesperz.

Perubahan struktural menyangkut struktur hubungan antara pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah. dimensi fungsional serta dimensi kultural. Bandung. 27. Perubahannya akan mencakup tiga dimensi yaitu dimensi struktural.29 Perubahan penggunaan istilah dengan pengertiannya akan mengubah secara mendasar pratek-pratek penyelenggaraan pemerintahan di seluruh dunia. Kapita Selekta Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. hal. Istilah tersebut sekarang sedang sangat populer digunakan dikalangan akademisi maupun masyarakat luas. Ada yang menterjemahkan menjadi ”tata pemerintahan”. termasuk di Indonesia. ada pula yang menterjemahkan menjadi ”kepemerintahan”. 29 . Alqprint Jatinangor.20 Konsep ini terdiri dari strategi perbaikan kualitas yaitu : 4) Visionary transformation (tranformasi misi) Infrastructure (infrastruktur) Need for Improvement (kebutuhan untuk perbaikan) Customer Focus (Fokus Pelanggan) Empowerment (Pemberdayaan) NewViews of Quality (pandangan baru tentang kualitas) Top Management ( Komitmen manajemen puncak) Prinsip Good Governance Word Bank maupun UNDP mengembangkan istilah baru yaitu ”governace” sebagai pendamping kata ”government”. struktur hubungan antara eksekutif dan legislatif maupun struktur hubungan antara pemerintah Sadu Wasistiono. Kata ”governace” kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dalam berbagai kata.

sedangkan (good governance) adalah pelaksanaan pemerintahan yang baik (penyelenggaraannya).21 dengan masyarakat. Ini berarti good governance adalah pemerintahan yang baik (lembaga). antarorganisasi maupun eksraorganisasi.30 United Nation Development Programe (UNDP). pengelolaan sumber daya alam dan pengelolaan masalah-masalah publik yang didasarkan pada keterlibatan masyarakat. memberikan batasan pada kata governance sebagai “pelaksanaan kewenangan politik. . 30 Ibid. akuntabilitas. sedangkan Clean government berarti pelaksanaan pemerintahan yang bersih. Sedangkan perubahan kultural menyangkut perubahan pada tata nilai dan budaya-budaya yang melandasi hubungan kerja intraorganisasi. ekonomi. Governance dikatakan baik (good atau sound) apabila sumber daya publik dan masalah-masalah publik dikelola secara efektif dan efisien. pemerintah daerah maupun masyarakat. Tentu saja pengelolaan yang efektif dan efisien dan responsive terhadap kebutuhan rakyat menuntut iklim demokrasi dalam pemerintahan. Perubahan fungsional menyangkut perubahan fungsifungsi yang dijalankan pemerintah pusat. Governance berarti pelaksanaan pemerintahan. serta transparan. Clean government mengandung arti pemerintahan yang bersih (lembaga). yang merupakan respon terhadap kebutuhan masyarakat. dan administrasi dalam mengelola masalah-masalah bangsa”.

hal. Bandung. Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI). Partisipasi tersebut dapat dilakukan secara langsung maupun melalui institusi intermediasi seperti DPRD. setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban untuk mengambil bagian dalam bernegara. tetapi secara menyeluruh mulai dari tahapan penyusunan kebijakan. Salah satu syarat kehidupan demokratisasi adalah adanya penegakan hukum yang adil dan Sadu Wasistiono. Partisipasi rakyat warga negara dilakukan tidak hanya pada tahapan implementasi.22 Baik buruknya suatu pemerintahan bisa dinilai bila ia telah bersinggungan dengan semua unsur prinsip-prinsip good governance sebagaimana tersebut di bawah ini. evaluasi serta pemanfaatan hasil-hasilnya. yaitu : Ada rasa kesukarelaan (tanpa paksaan) Ada keterlibatan secara emosional Memperoleh manfaat secara langsung maupun tidak langsung dari keterlibatannya. 31 . hal 2-3. lihat juga dalam Agung Hendarto. LSM dan lain sebagainya. Penegakan Hukum (Rule of Law) Good governance dilaksanakan dalam rangka demokratisasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Good government dan Penguatan Institusi Daerah. bernegara dan berpemerintahan.31 Partisipasi (Participation) Sebagai pemilik kedaulatan rakyat. berpemerintahan serta bermasyarakat. 27. Kapita Selekta Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. pelaksanaan. Syarat utama warga negara disebut transparansi dalam kegiatan berbangsa. Alqaprint Jatinangor. nazar Suhendar (eds). 2002.

orang secara bebas berupaya mencapai tujuannya sendiri tanpa mengindahkan kepentingan orang lain. arogan serta berorientasi pada kekuasaan. Transparansi (Transparancy) Salah satu karakteristik good governance adalah keterbukaan. termasuk menghalalkan segala cara. perangkat keras (hardware) maupun sumber daya manusia yang menjalankan sistemnya (human ware). Tanpa penegakan hukum yang tegas. Oleh karena itu. penggunaan dana-dana publik sampai pada tahap evaluasi. baik perangkat lunak (software). Untuk mengetahui kepuasan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan . langkah awal penciptaan good governance adalah membangu sistem hukum yang sehat.23 dilaksanakan tanpa pandang bulu. Karakteristik ini sesuai dengan semangat zaman yang serba terbuka akibat adanya revolusi informasi. tidak akan tercipta kehidupan yang demokratis. Daya Tanggap (Responsiveness) Sebagai konsekwensi logis dari keterbukaan. melainkan anarki. Tanpa penegakan hukum. maka setiap komponen yang terlibat dalam proses pembangunan good governance perlu memiliki daya tanggap terhadap keinginan maupun keluhan para pemegang saham (satake holder). Upaya peningkatan daya tanggap tersebut terutama ditujukan pada sektor publik yang selama ini cendrung tertutup. Keterbukaan tersebut mencakup semua aspek aktivitas yang menyangkut kepentingan publik mulai dari proses pengambilan keputusan.

karena nilai dasar kita dalam memecahkan persoalan bangsa adalah melalui “musyawarah”. Di dalam good governance. yang berisi dua hal utama yaitu konflik dan konsensus. secara periodik perlu dilakukan survey tingkat kepuasan konsumen (custumer satisfaction). Keefektifan dan Efisiensi (Effectiveness and Efficiency) Agar mampu berkompetisi secara sehat dalam percaturan dunia. maka sektor publik perlu memainkan peranan agar kesejahteraan dan keadilan dapat berjalan seiring sejalan. Keadilan (Equity) Melalui prinsip good governance. Konsensus bagi bangsa Indonesia sebenarnya bukanlah hal baru. setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh kesejahteraan. berpemerintahan dan bermasyarakat pada dasarnya adalah kreatifitas politik. Tekanan perlunya efektivitas dan efisiensi terutama ditujukan pada sektor publik karena sektor ini . kegiatan domain dalam governance perlu mengutamakan efektivitas dan efisiensi dalam setiap kegiatan. Berorientasi pada Konsenseus (Consensus Orientation) Kegiatan bernegara. pengambilan keputusan maupun pemecahan masalah bersama lebih diutamakan berdasarkan konsensus. yang dilanjutkan dengan kesedian untuk konsisten melaksanakan konsensus yang telah diputuskan bersama. Akan tetapi karena kemampuan masing-masing warga negara berbeda-beda.24 oleh sektor publik.

setiap domain dalam good governance perlu memiliki visi yang strategis. Akuntabilitas (Accountability) Setiap aktivitas yang berkaitan dengan kepentingan publik perlu mempertanggungjawabkan kepada publik. Akuntabilitas legal Akuntabilitas politik Akuntabilitas profesional Akuntabilitas moral Visi Strategis (Strategic Vision) Dalam era yang berubah secara dinamis seperti sekarang ini. yakni masyarakat luas. Visi itu sendiri dapat dibedakan antara visi jangka panjang (long term vision) antara 20 sampai 25 tahun (satu generasi) serta visi jangka pendek (short term vision) sekitar 5 tahun. Tanpa adanya kompetensi tidak akan tercapai efisiensi. 2 Kerangka Konseptual 1) Pengeseran kewenangan Administrasi Negara . Secara teoritis.25 menjalankan aktivitasnya secara monopolistik. Tanpa adanya visi semacam itu. Tanggung gugat dan tanggung jawab tidak hanya diberikan kepada atasan saja melainkan juga pada para pemegang saham (stake holder). maka suatu bangsa dan negara akan mengalami ketertinggalan. akuntabilitas itu sendiri dapat dibedakan menjadi lima macam yaitu sebagai berikut : Akuntabilitas Organisasional / administratif.

konservasi dan standardisasi nasional. dana perimbangan keuangan. bila dicermati pengertian Pasal 7 ayat (2) UndangUndang Nomor 22 Tahun 2004 diterangkan bahwa kewenangan bidang lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro.26 Sejak diundangkannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan saat ini telah diperlakukannya UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 telah membawa berbagai implikasi sebagai akibat adanya pergeseran kewenangan yang semua bersifat sentralistik menjadi desentralistik. pemberdayaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis. sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara. disebutkan bahwa posisi pemerintah pusat hanya sebatas menyiapkan dan berbuat yang bersifat kebijakan-kebijakan saja. Artinya kewenangan –kewenangan yang semua diatur dan ditentukan oleh Pemerintah Pusat otonotis berpindah dan telah menjadi kewenangan dan tanggung jawab Daerah. . Bila pergeseran kewenangan termasuk kewenangan yang bertalian dalam menerbitkan berbagai bentuk tata usaha negara atau administrasi negara yang semula terpusat/terkonsentrasi (dikuasai) oleh pemerintah pusat tentu pergesaran tersebut akan termasuk berbagai kewenangan tata usaha negara atau administrasi negara yang selama ini ditangani pusat akan menjadi kewenangan dan tanggung jawab daerah. Dalam pada itu. pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia. dengan pengertian tidak lagi bertindak sebagai menetapkan setiap kebutuhan daerah.

persetujuan. Makna pengertian Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan pengertian otonomi bertanggung jawab. pengembangan kehidupan demokrasi. 2) Efektivitas Reformasi Perpajakan 32 Bagir Manan. Menurut Bagir Manan. makalah disampaikan pada Penataran Dosen Pendidikan dan Latihan Kemahiran Hukum BKS-PTN bidang Hukum seWilayah Barat. pemerataan. Fakultas Hukum Universitas Lampung di Bandar Lampung. hal 2 . dalam Undang-Undang Pemerintaha Daerah disebutkan pula bahwa otonomi yang bertanggung jawab adalah berupa perwujudan pertanggungjawaban sebagai konsekuensi pemberian hak dan kewenangan kepada Daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang harus dipikul oleh Daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi tersebut berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik. keistimewaan dan kekhususan serta potensi dari Daerah dalam sistem Negara Kesatuan RI inilah prinsip dari otonomi seluas-luasnya itu yaitu berdasarkan asas otonomi dan urusan pembantuan. penghapusan. akan terlepasnya hak dan kewenangan pusat berupa ijin yang meliputi pengesahan. keadilan.32 ketentuan ini memberikan gambaran bahwa otonomi daerah itu merupakan wewenang dari daerah. tanggal 11 November 1994.27 Selain itu. Begitupun dalam pengertian otonomi luas vide Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. keadilan dan pemerataan. daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi. Fungsi dan Materi Peraturan Perundang-undangan. penetapan dan berbagai kewenangan lain bergeser/berpindah menjadi hak dan kewenangan Daerah Propinsi. Kabupaten/Kota.

Sasaran Administrasi perpajakan adalah untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak (Toshiyuki). bahwa dalam sistem self assesment aktifitas utama administrasi perpajakan adalah untuk mengawasi kepatuhan dan meyakinkan bahwa wajib pajak menjalankan kewajiban perpajakannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam hal: Pendaftaran wajib pajak Penilaian Menjalankan Prosedur pemungutan Pelaporan penghindaran dan penggelapan pajak Menurut Bird dan Jantscher terdapat hubungan antara administrasi perpajakan dengan kepatuhan wajib pajak yang dapat memperkecil angka . Perubahan sistem perpajakan didikuti dengan penyempurnaan administrasi perpajakan melalui perubahan struktur organisasi melalui reorganisasi. responsivitas dan akuntabilitas. : Target Akhir administrasi perpajakan adalah untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak. menjadi sistem self assesment. harus terus dilakukan secara berkesinambungan.28 Upaya pemerintah untuk meningkatkan penerimaan pajak salah satunya melalui: Reformasi perpajakan (1983) dengan perubahan sistem perpajakan yaitu dari sistem official assesment. Dengan harapan dapat meningkatkan kinerja yang dapat diukur berdasarkan produktivitas.

Grasindo. khususnya yang berkaitan dengan kewajiban. Bukan hanya melihat dari aspek peningkatan penerimaan saja. Reformasi Administrasi Publik Teori dan Praktek. pendaftaran. jumlah wajib pajak yang terdaftar pada administrasi pajak masih sangat rendah (pada tahun 2002 dari 210 juta jumlah penduduk wajib pajak orang pribadi dan badan yang terdaftar hanya 2. pendeknya kepatuhan WP dapat diidentifikasikan sebagai berikut: Pertama : Kepatuhan wajib pajak dalam mendaftarkan diri. yaitu selisih antara penerimaan pajak yang sesungguhnya dengan penerimaan pajak potensial dengan tingkat kepatuhan dari masingmasing sektor perpajakan. 8-9 . Jakarta.33 Administrasi pajak yang baik pada dasarnya tidak mampu mengumpulkan penerimaan pajak sebesar-besarnya. jadi penerimaan pajak bukan merupakan ukuran yang tepat atas efektivitas administrasi perpajakan.583. Hal ini dapat dilihat dari aspek pemenuhan kewajiban perpajakan. Berdasarkan hal tersebut di atas dapat dikatakan bahwa kepatuhan wajib pajak saat ini masih rendah.29 ketidak patuhan. hal. Administrasi perpajakan yang mudah ditagih.960 wajib pajak. seperti gaji pegawai. pelaporan SPT dan pelunasan pajak terhutang. Artinya Sistem Perpajakan Nasional belum dapat meningkatkan pembayaran beban pajak 33 Chaizi Nasuha. Pengukuran lebih akurat untuk mengetahui efektivitas administrasi perpajakan adalah berapa besarnya jurang kepatuhan. tetapi tidak mampu untuk menagih pajak dari perusahaan-perusahaan dan profesional. 2004.

kondisi sosial . bentuk organisasi.467 WP atau 41. akumulasi jumlah nominal tunggakan pajak cukup besar (sampai tahun 2000 Rp.960 wajib pajak).583. Kepatuhan wajib pajak dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain: Pelayanan Publik. Menurut Andreoni et. besarnya jumlah tunggakan dan rendahnya pencapaian penagihan pajak tiap tahun menunjukkan bahwa penegakkan hukum melalui penagihan aktif belum dilaksanakan secara optimal sesuai dengan ketentuan.3 Triliun. Dengan demikian menurut Chaizi Naruha tersebut terlihat bahwa ada hubungan/korelasi antara reformasi perpajakan dengan tingkat kepatuhan wajib pajak. al. Kedua : Kepatuhan wajib pajak untuk menyetor kembali Surat Pemberitahuan (SPT). Keempat : Kepatuhan dalam pembayaran tunggakan pajak. jenis pekerjaan. 17. tarif pajak. demografi (jenis kelamin dan umur). penawaran tenaga kerja.30 yang terdistribusi secara merata.35% dari keseluruhan wajib pajak efektif yaitu 2. kebijakan dan keuangan publik.068. moral wajib pajak. karena hanya 10 % lebih wajib pajak yang menanggung beban pajak (Tax Corverage Ratio). Ketiga : Kepatuhan wajib pajak dalam perhitungan dan pembayaran pajak terhutang masih rendah (1.

Mengingat banyaknya faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak. baik yang menyangkut aspek struktur organisasi. penegakan hukum (audit dan penalti). (SAMSAT/UPTD) dalam meningkatkan kepatuhan wajib pajak. terlihat bahwa tingkat kepatuhan wajib pajak dipengaruhi oleh bagaimana administrasi perpajakan dijalanka. sehingga berpengaruh terhadap akuntabilitas organisasi. strategi organisasi. dan budaya organisasi. strategi organisasi dan budaya organisasi. 3) Kinerja Sektor Publik 34 Ibid.31 masyarakat. prosedur organisasi. prosedur organisasi. Permasalahan pokok yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah apakah reformasi administrasi perpajakan yang telah dilakukan selama ini sudah atau belum secara menyeluruh mencakup perubahan dari aspek struktur organisasi. Berdasarkan gambaran di atas. untuk membatasi permasalahan penelitian ini hanya difokuskan pada pengaruh efektivitas reformasi administrasi perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak yang meliputi reformasi organisasi.34 Administrasi perpajakan yang lemah. kompleksitas dan amnesti pajak. prosedur. strategi organisasi maupun budaya organisasi dapat menyebabkan akuntabilitas organisasi dan tingkat kepatuhan wajib pajak rendah dan ini berdampak juga pada rendahnya kinerja perpajakan. hal 28-29 .

Levine. prestasi penyelenggaraan sesuatu. produktifitas. hal. b. dari segi efisiensi dan efektivitas. kinerja adalah tingkat pencapaian (the degree of accomplishment). dan akuntabilitas. responsibilitas. 1969 : 15)36 Atmo Sudirjo.35 Di samping itu ada pula pendapat yang menyamakan pengertian kinerja dengan efisiensi dan efektivitas. Lima indikator untuk mengukur kinerja sektor publik. 24 Opcid. 77-78). (Interplant.37 a. 35 36 Ibid. Kinerja bagi setiap organisasi sangat penting terutama penilaian ukuran keberhasilan suatu organisasi dalam batas waktu tertentu. Berbagai pendapat menyamakan kinerja (performance) dengan prestasi kualitas pelaksanaan tugas atau aktivitas pencapaian tujuan dan misinya. responsivitas. Produktivitas adalah ukuran seberapa pelayanan publik itu menghasilkan yang diharapkan. kualitas pelayanan. Kualitas pelayanan adalah ukuran-ukuran citra yang diakui masyarakat mengenai pelayanan yang diberikan yaitu masyarakat merasa puas atau tidak puas. berpendapat bahwa kinerja dapat berarti prestasi kerja. hal 24 37 Loc cit . (Miles dan Snow 1978.32 Kinerja merupakan tingkat pencapaian tujuan organisasi menurut. Rue dan Bryan.

bai dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan. menyusun agenda dan prioritas pelayanan publik sesuai kebutuhan dan aspirasi masyarakat. 81 Tahun 1993 adalah segala bentuk pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah di pusat. hal. terkait beberapa istilah dalam administrasi Negara. di daerah dan lingkungan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dalam bentuk barang dan atau jasa. 4) Pelayanan Publik dalam Administrasi Negara Pengertian pelayanan adalah suatu proses bantuan kepada orang lain dengan cara-cara tertentu yang memerlukan kepekaan dan hubungan interpersonal agar terciptanya kepuasan dan keberhasilan. e. tata kerja. tata laksana.33 c. d.39 38 39 Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum Departemen Dalam Negeri. Responsibilitas adalah ukuran apakah pelaksanaan kegiatan sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar. seperti instansi pemerintah. prosedur kerja. Responsivitas adalah ukuran kemampuan organisasi untuk mengenali kebutuhan masyarakat. sistem kerja. Ibid. Dari pengertian tentang pelayanan umu di atas. Akuntabilitas adalah ukuran seberapa besar kebijakan dan kegiatan organisasi publik dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat atau konsisten dengan kehendak rakyat.3 .38 Sedangkan pelayanan umum menurut Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara ( Men-Pan ) No. kewajiban dan seterusnya yang diuraikan di bawah ini.

Tata Kerja Tata kerja dimaksudkan sebagai cara-cara pelaksanaan kerja yang efisien mengenai satu atau serangkaian tugas dengan memperhatikan segisegi tujuan.34 1. lembaga pemerintah bukan departemen. 4. prosedur dan sistem kerja dalam melaksanakan kegiatan yang berkenaan dengan penyelenggaraan tugas dan fungsi pemerintah dan pembangunan pelayanan di bidang umum. fasilitas. Instansi Pemerintah Yang dimaksud dengan instansi pemerintah di sini adalah sebutan kolektif yang meliputi satuan kerja atau satuan organisasi suatu departemen. 2. baik instansi pemerintah di tingkat pusat maupun instansi pemerintah di tingkat daerah. Prosedur Kerja Yang dimaksud dengan prosedur kerja adalah rangkaian tata kerja yang berkaitan satu sama lain. termasuk BUMN dan BUMD. ruang. instansi pemerintah lainnya. Tata Laksana Yang dimaksud dengan tata laksana adalah segala aturan yang ditetapkan oleh pimpinan instansi pemerintah yang menyangkut tata cara. Sistem Kerja . tenaga waktu. 3. 5. biaya yang tersedia. sehingga menunjukkan adanya urutan secara jelas dan pasti serta cara-cara yang harus ditempuh dalam rangka penyelesaian suatu bidang tugas. peralatan.

6. Yang diukur dari standar waktu dan biaya berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM). Artinya harus proaktif dalam menyambut kedatangan pelanggan. F Metode Penelitian a. Pendekatan Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan empiris menurut penelitian hukum sosiologis untuk mengetahui efektivitas dan dampak hukum dari adanya kebijaksanaan publik pelayanan di bidang perpajakan.35 Sistem kerja di sini diartikan dengan rangkaian tata kerja dan prosedur kerja yang membentuk suatu kebulatan pola kerja tertentu dalam rangka mencapai hasil kerja yang diharapkan. kewajiban bukan hanya melekat pada pejabat. Dalam hal ini secara normatif apakah telah berhasil atau gagal menciptakan kinerja (pencapaian target penerimaan/ pemungutan pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor) secara bersamaan yang ditilik dari aspek kepatuhan wajib pajak (kesadaran hukum masyarakat) dan pemahaman aparat perpajakan dalam memberikan pelayanan saat mengemban tugasnya sehari-hari. Dalam rangka memuaskan masyarakat sebagai pelanggan. Misalnya wajib untuk menanyakan apa yang diinginkan pelanggan yang hadir pada waktu itu. tetapi setiap aparatur dalam lingkungan kerja ketika bertemu dengan pelanggan. Penelitian . Kewajiban Kewajiban di sini diartikan sebagai aparatur penyelenggaraan pelayanan umum untuk mengambil tindakan dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Teknik pengumpulan data yang digunakan tergantung kepada data dan sumber data yang dibutuhkan. Lubuk Begalung. Padang Barat. Koto Tangah. untuk mengumpulkan data primer dan sekunder. Metode dan Alat Pengumpulan bahan hukum. c. untuk memperoteh informasi serta gambaran empirik tentang data-data yang diperlukan dengan mengadakan pengamatan langsung pada obyek penelitian. sesuai dengan kompetensi keperluan situasi dan kondisi sampel. Teluk Kabung. Pengambilan sampel penelitian diambil dari lima kecamatan tertentu yang padat penduduknya di Kota Padang. sedangkan kecamatan lain (6 kecamatan) hanya 2 kecamatan (diambil/dipilih) secara acak. . penulis menganalisa dokumen-dokumen dalam bentuk tulisan.36 ini menggunakan data kuantitatif dan kualitatif yang diperdapat saat survey deskriptif. yaitu Kecamatan Padang Timur. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada Kantor Bersama SAMSAT/ UPTD Pelayanan Pendapatan Provinsi Sumatera Barat di Padang dengan wilayah kerja meliputi wilayah otonom dan Administratif Kota Padang yang terdiri dari sebelas Kecamatan. data kepegawaian. Lubuk Kilangan dan Pauh dengan 103 kelurahannya. 2) Observasi. data statistik berupa PDRB. Pendapatan Asli Daerah. Hukum Pajak Daerah. yang disampaikan dalam bentuk deskripsi kualitatif. laporan-laparan dan lain-lain yang berkaitan dengan tujuan penelitian. Padang Utara. Nanggalo. Data yang dikumpulkan antara lain tentang APBD. antara lain adalah : 1) Dokumentasi. Padang Selatan. Kuranji. b.

Untuk itu instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman wawancara (indepth interview) yang merupakan penuntun bagi peneliti dalam mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka sehingga memberikan kebebasan yang seluas-luasnya bagi responden untuk menyampaikan pendapatnya. juga ditetapkan para fungsionaris pejabat terkait yang berkompeten mengambil kebijakan terhadap kinerja Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Barat dan UPTD Samsat Padang yakni pejabat yang menempati tingkatan (top management. diambil sebagai sampel sebanyak 42 orang (10%). d. adalah percakapan langsung dengan maksud untuk memperkuat data sekunder yang diperlukan dalam penelitian. 4) Untuk melengkapi sumber data primer dalam penelitian ini. Tehnik wawancara yang digunakan adalah wawancara terbuka (open interview) dengan maksud agar responden tahu bahwa mereka sedang diwawancarai dan mengetahui pula maksud wawancara tersebut. dan lower rrranagement' serta staf) serta para penentu kebijakan pada Pemerintah Propinsi Sumatera Barat dan Jajaran Polda Sumatera Barat. Populasi dan Sampel Dari populasi 420 yang didapatkan dari jumlah rata-rata wajib pajak dan aparat perpajakan terkait setiap harinya. middle management. Percakapan itu dilakukan aleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (responden).37 3) Wawancara. yang ada pada Kantor Bersama SAMSAT/UPTD Pelayanan Pendapatan Provinsi Sumatera Barat di .

Kecamatan Lubuk Begalung 8 orang dan Kecamatan Bungus 28 orang dan 2 orang dari aparat pajak yang berdomisili di luar Kota Padang. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari responden (wajib pajak) dan petugas pajak serta pejabat yang berwenang/ terkait. Kecamatan Padang Barat 8 orang. Untuk melengkapi data yang diperoleh secara langsung dari responden tersebut. dari para wajib pajak dipilih sampelnya sebanyak 42 orang yang berasal dari masyarakat Kota Padang dalam wilayah 5 kecamatan sampel/terpilih yaitu Kecamatan Padang Timur 8 orang.38 Padang. PT. Jasa Raharja (Persero) Cabang Sumatera Barat dan Kantor Bersama Samsat Sumatera Barat di Padang. data juga diperoleh dari beberapa informan tertentu. Teknik yang dipakai dalam pengambilan sampel adalah Stratified random sampling. serta menyediakan jumlah sampel sebagai sub analisis dari anggota kelompok tersebut. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Ditlantas Polda Sumatera Barat. karena dcngan cara ini sub kelompok yang spesifik akan memiliki jumlah yang cukup terwakili dalam sampel. Kecamatan Koto Tangah 8 orang. yaitu orang-orang yang relevan dianggap mengetahui masalah objek penelitian dengan melakukan wawancara. Sedangkan Data Sekunder merupakan data yang diperoleh dari buku referensi dan data yang ada di Dispenda Provinsi Sumatera Barat. Dalam strategi ini populasi dikategorikan dalam kelompok-kelompok yang memiliki strata yang sama sesuai karakteristik masing-masing responden. Data yang diperoleh antara lain yang berkaitan dengan situasi dan Kondisi .

g. . meliputi manusia (kualitas dan kuantitas) dan prasarana serta wajib pajak yang dilayani. d. Daerah. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2006 tentang Standarisasi Sarana dan Prasarana Kerja Pemerintah Daerah.PAN/2/2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah. Data Sekunder ini diperoleh melalui penelitian kepustakaan yang bersumber dari : 1. 1 Tahun 1995 tentang Perbaikan Mutu Pelayanan Aparatur Pemerintahan Kepada Masyarakat. antara lain : Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal. f. a.PAN/2003 tentang Pedoman Umum Penyeleng-garaan Pelayanan Publik. 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan. Instruktur Presiden No.39 Samsat. 63/KEP/ M. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara : Kep/25/M. Instruksi Presiden No. c. h. Selain itu. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Bahan Hukum Primer. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. seperti sumber daya yang tersedia. e. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. b.

Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2002 tentang Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan. l. Komando Daerah Kepolisian dan Aparat Departemen Keuangan dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat serta peningkatan Pendapatan Daerah khususrya mengenai Pajak Kendaraan Bermotor. tentang Peningkatan Kerjasama antara Pemerintah Daerah Tingkat I. .1693/MK/TU/12/1976 dan Nomor 311 Tahun 1976.PAN/2/2004 tentang Petunjuk Teknis Transparansi dan Akuntabilitas dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik.40 i. j. Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 1973 tentang Pembentukan Dinas Pendapatan Daerah. Kep/26/M. k. o. Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor PoI/KEP/13/XII/1976. Surat Keputusan Bersama Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima ABRI. Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2003 tentang Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air. Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air. Nomor KEP. n. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. Surat Keputusan Gubernur Sumatera Barat Nomor 22 Tahun 2001 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Provinsi Sumatera Barat. m.

tanggal 24 Januari 2006. 3. Produk hukum yang berlaku dan relevan lainnya. internet dan sebagainya. r.41 p. surat kabar. Surat Edaran Kepala Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 065/181/Dipenda-2006. Bahan Hukum Tertier . Keputusan Gubernur Sumatera Barat Nomor 57 Tahun 2004 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. q. 2. Pada Kantor Bersama SAMSAT Di Sumatera Barat. tentang Standar Pelayanan Minimal Penerbit STNK. 28 Februari Tahun 2006 tentang Standar Pelayanan Minimal ”Penerbitan Naskah Dinas dalam bentuk surat yang berkaitan dengan Pelayanan Umum yang diberikan oleh Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Barat. Surat Keputusan Bersama Direktur Lalu Lintas Kepolisian Daerah Sumatera Barat dan Kepala Dinas Pendapatan Daerah Propinsi Sumatera Barat dan Kepala Cabang Jasa Raharja ( Persero ) Sumatera Barat Nomor : B/24/I/2006/DITLANTAS per Nomor: 973/043/ PAJAK-2006/ Nomor: P/1/SPP/2006. Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor ( PKB ). Bea Balik Nama Kendaraan Bermtor ( BBNKB ). majalah. dan Sumbangan Wajib dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan ( SWDKLLJ ). Bahan Hukum Sekunder Dihimpun melalui kegiatan penelitian dengan memanfaatkan media cetak dan elektronik berupa buku-buku. tesis. s.

Analisis data dimaksudkan adalah untuk menyederhana-kan data agar menjadi informasi yang dapat digunakan dalam menjelaskan permasalahan penelitian. Langkah yang dilakukan untuk menganalisi data yaitu melakukan penyederhanaan informasi yang diperoleh dengan memilah-milah informasi berdasarkan kategori yang telah disiapkan dalam blanko tanggapan dan daftar wawancara dengan menggunakan aturan positif yang ada dan teori-teori maupun pendapat yang disinggung dalam tinjauan pustaka. seperti ensiklopedi. Setelah itu data dianalisis. dilakukan pengelompokan data dan pengeditan guna mengidentifikasi data yang relevan dengan pokok permasalahan penelitian. BAB II PELAYANAN PUBLIK DIBIDANG PERPAJAKAN A. kamus.42 Yaitu bahan hukum yang memberi penjelasan terhadap bahan hukum sekunder. Setelah data primer terkumpul. Teknik Analisis Bahan Hukum (Kualitatif) Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif. sehingga dapat ditafsirkan untuk merumuskan kesimpulan penelitian. Pelayanan Publik . dan lain-lain d. Pada tahap ini analisis data dilakukan setelah semua informasi dianggap cukup memadai oleh peneliti.

membantu menyiapkan. keahlian dibidang tertentu. baik secara perorangan. kelompok dan atau golongan.43 1. . Dengan demikian pelayanan publik dapat diartikan sebagai suatu proses pemenuhan kebutuhan masyarakat terutama yang berkaitan dengan kepentingan umum dan kepentingan golongan atau individu dalam bentuk barang dan jasa. mengurus dan menyelesaikan keperluan kebutuhan mayarakat. Dalam pengertian pelayanan tersebut secara konkrit diutarakan : 1) Pelayanan merupakan salah satu tugas utama aparatur pemerintah. kebutuhan individu atau organisasi. Dalam pengertian pelayanan tersebut terkandung suatu kondisi bahwa yang melayani memiliki suatu keterampilan. Pengertian Pelayanan menurut Sianipar dalam Manajemen Pelayanan Masyarakat adalah suatu cara melayani. termasuk pelaku bisnis. 2) Obyek yang dilayani : masyarakat (publik) 3) Bentuk pelayanan itu berupa barang dan jasa yang sesuai dengan kepentingan kebutuhan masyarakat dan peraturan perundang- undangan yang berlaku. Berdasarkan keterampilan dan keahlian tersebut pihak aparat yang melayani mempunyai posisi atau nilai lebih dalam kecakapan tertentu. organisasi ataupun sekelompok anggota organisasi. sehingga mampu memberikan bantuan dalam menyelesaikan suatu keperluan.

H. dan harapan masyarakat yang mempunyai nilai yang tinggi dan bermutu (berkualitas). Selanjutnya. Tamaruddin dalam Pengembangan Pelaksanaan Pelayanan Prima menyebutkan Tujuan dari pelayanan prima adalah memuaskan dan atau sesuai dengan keinginan pelanggan. diperlukan kualitas pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan atau keinginan pelanggan. Yong. Pelayanan prima merupakan pelayanan yang memenuhi standar pelayanan terhadap permintaan. dan prima artinya dilakukan secara konkrit bahwa yang melayani harus memiliki suatu kemampuan dalam melayani. dan Loh (1998) menyatakan bahwa mutu pelayanan didefinisikan oleh pelanggan. istimewa) orang lain agar mereka puas. yaitu kesesuaian antara harapan dan atau keinginan dengan kenyataan. (1990) seperti dikutip Yun. Menurut Tamaruddin dalam kamus besar bahasa Indonesia dinyatakan bahwa pelayanan publik adalah suatu usaha untuk membantu menyiapkan (mengurus) apa yang diperlukan orang lain. 2. menanggapi kebutuhan khas (unik. keinginan. Untuk mencapai hal itu. khusus. Drs. Dalam pelaksanaannya pelayanan dilakukan secara pelayanan profesional. Zeithaml et el. Konsepsi Pelayanan .44 Pelayanan adalah suatu bentuk kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah baik di pusat dan daerah maupun BUMN dan BUMD dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

peraturan. lebih murah. Aparat harus cepat tanggap terhadap tuntutan dan perubahan kebutuhan masyarakat. lengkap dan tuntas. yakni menawarkan secara agresif produk-produk yang dihasilkan berupa kebijaksanaan. maju atau mundurnya suatu pemerintah ditentukan dukungan rakyat. Untuk mempertahankan dan meningkatkan pelayanan diperlukan dukungan. program pada semua bidang kehidupan. seyogyanya aparat pemerintah pada semua bidang dan tingkat menerapkan suatu konsep pelayanan berwawasan pada pemenuhan kebutuhan. kepentingan masyarakat. memberikan yang lebih berkualitas. Oleh karena itu. perubahan atas berbagai cara.45 Kekuasaan dan wewenang pemerintah bersumber dari rakyat.P. lebih cepat. prosedur kerja. peraturan. keinginan dan kepuasan masyarakat. Opcid . Manajemen Pelayanan Masyarakat.G. peraturan.41 Selanjutnya Sianipar menyebutkan bahwa sejalan dengan konsepsi pelayanan yang berwawasan masyarakat. Aparat pemerintah hendaknya sudah meninggalkan konsep menjual. Melakukan berbagai perbaikan. lebih baik. 40 Menurut Sianipar aparatur pemerintah hendaknya selalu lebih mengutamakan kepentingan masyarakat. lebih mempercepat proses penyelesaian urusan masyarakat. program yang ditetapkan hendaknya berorientasi kepada kepuasan masyarakat. keperluan. loyalitas masyarakat. J. kebijakan. Segala kebijakan. kepercayaan. program yang belum tentu kondusif dengan kebutuhan masyarakat yang berubah cepat. maka timbul cara pandang baru yakni merubah posisi masyarakat yang dilayani dari di bawah manajemen 40 419 Sianipar. Opcid hal 14 Sianipar..

disiplin. Melayani dengan cepat. wawasan berfikir. direformasi menjadi pemikir yang kreatif. disempurnakan. esensi dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang perlu disadari adalah masalah pelayanan publik bersumber pada : Adanya kewajiban pada pihak administrasi negara untuk menjalankan fungsi dan wewenangnya berdasarkan prinsip-prinsip pemerintahan yang baik dan bersih. atau diganti. dan -prilaku mereka dari dilayani menjadi melayani. yang kaku dalam mengartikan. Cara kerja lama yang terkesan lamban diubah. dan kualitas hasil pelayanan yang baik. dirancang menjadi pelayanan yang cepat. menerapkan peraturan. perilaku administratif. merupakan suatu cara pengaktualisasian fungsi aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakat. Konsepsi ini juga merupakan pencerminan pemikiran bahwa pelanggan adalah raja. dikaji. tepat pada setiap level dibidang masing-masing sesuai dengan tugas pokok dan fungsi. merubah paradigma. 3. Semua aparatur pemerintah mereformasi konsepsi. . Cara-cara berfikir yang kurang terbuka. dan adaptif terhadap perubahan. Peraturan kebijakan yang kurang kondusif terhadap tuntutan masyarakat. tepat. inovatif. lebih efektif. lebih efisien. Konsepsi memposisikan masyarakat pada puncak manajemen. Sistem Pelayanan Nasional Sebagai titik tolak.46 garis depan menjadi diatas manajemen. Adanya pengakuan terhadap hak-asasi setiap warganegara atas pemerintahan.

aktivitas pelayanan publik hampir selalu berkaitan dengan pelaksanaan tugas-tugas penyelenggaraan pemerintahan. dan sumber-sumber daya (resources) untuk menyelenggarakan pelayanan publik. beberapa hal pokok yang selalu melekat sebagai ciri dari Pelayanan Publik dan Penyelenggaraan Pelayanan Publik (public servants) adalah : a. b. Diselenggarakan oleh petugas-petugas atau instansi yang berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan diberi kewenangan serta diwajibkan untuk memenuhi kualifikasi tertentu dalam memberikan pelayanan. Umumnya diselenggarakan sebagai pengejawantahan dari dan untuk dalam rangka realisasi kebijaksanaan negara yang ditujukan masyarakat umum (dalam wujud penetapan hak dan kewajiban bagi warga masyarakat) yang ditetapkan melalui aturan-aturan dan perundangundangan. kompetensi (competensi).47 Adanya keanekaragaman jenis serta bidang pelayanan publik di Indonesia sebagai akibat dari adanya keragaman urusan dan kepentingan masyarakat yang harus dipenuhi. . di mana semua tugas yang harus diselenggarakan dalam rangka merealisasikan kebijakan umum (public policies) pemerintah harus dapat didelegasikan pada pihak-pihak atau institusi tertentu yang memiliki kewenangan (authority). Sejalan dengan itu. Terlepas dari perbedaan jenis dan bidang pelayanan di atas.

penyediaan jasa bagi masyarakat42 atau gabungan dari jenis-jenis pelayanan itu. g. baik dari segi kepentingan (interest). Menyangkut pelbagai urusan dan kepentingan masyarakat pada berbagai bidang kehidupan pemenuhannya menjadi tanggung jawab negara. baik dari segi kualitas pelayanan. maka tugas-tugas ini dapat dilihat sebagai pelayanan publik yang khusus. yaitu pelayanan untuk penegakan hukum dan ketertiban di dalam masyarakat. penyediaan barang.48 c. 4210 . tingkat responsitivitas terhadap keanekaragaman kepentingan dan kebutuhan masyarakat. tingkat biaya pelayanan yang harus dikeluarkan. e. f. Selalu berhadapan dengan pluralitas di dalam masyarakat. Selalu harus diselenggarakan berdasarkan standar kualitas hasil terhadap keluhan-keluhan yang disampaikan oleh kerja tertentu yang mengikat para penyelenggara pelayanan publik sehingga dapat dijamin pencapaian tingkat kepuasan masyarakat penerima pelayanan publik yang minimal seragam secara nasional dan atau seragam di pelbagai sektor pelayanan publik yang ada. kualitas produk (barang/jasa/status). serta tingkat responsivitas masyarakat. praktikabilitas. Tingkat keberhasilannya diukur dari tingkat kepuasan masyarakat penerima pelayanan. kebutuhan (necessities). d. latar belakang Bahkan apabila sebagian dari tugas-tugas kepolisian hendak dikategorikan sebagai pelayanan publik. Menyangkut penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat yang dijalankan berdasarkan kerangka prosedural tertentu yang telah distandarisasi dari segi kinerja maupun kualitasnya. dan penyelenggaraannya dapat berkenaan dengan pelayanan administratif.

apabila terdapat penyimpangan hanya dapat dibenarkan bila terdapat justifikasinya di dalam hukum. Standar semacam itu menjadi pedoman perilaku bagi para petugas/pejabat dan pedoman penilaian terhadap pemenuhan hak-hak masyarakat untuk memperoleh pelayanan prima. politik. dapat disimpulkan bahwa Sistem Penyelenggaraan Pelayanan Publik Indonesia perlu bersinergi dan saling mengisi dalam mendukung bekerjanya keseluruhan sistem itu secara optimal. Aurtralia. dikenal konsep ”citizenry” yang mengandung makna bahwa pelayanan publik lebih dari sekedar menyediakan pelayanan pada pelanggan atau kline. Pelayanan publik menyediakan pelayanan kepada masyarakat secara keseluruhan. Dari gambaran di atas. budaya dan sebagainya. yang sebagian besar merupakan kaidah-kaidah hukum administrasi negara. h. adanya standar perilaku yang mencakup standar etik maupun manajerial dalam wujud code of good conduct menjadi keharusan. Peter. yang memberikan dasar hukum dari beroperasinya Sebagai perbandingan. Ethics and the Changing Natur of Public Service. makalah pada The Fifth International Conferences on Public Sector Ethics – Between Past and Future. proporsional. Faktor-faktor penentu meliputi : a) Regulasi tentang Pelayanan Publik Regulasi pelayanan publik berwujud seperangkat peraturan perundangundangan. tanpa melihat pribadi-pribadi atau kelompok-kelompok kepentingan yang berada di belakangnya. sehingga dalam penyelenggaraannya tercakup pula adanya jaminan untuk bersifat nondiskriminatif. 1996. dan bahkan lebih dari sekedar mengupayakan efisiensi demi kepentingan para pembayar pajak. Disarikan dari : Shergold. sosial.49 ekonomi. Karena pada tingkat realisasinya dilaksanakan oleh petugas atau pejabat publik tertentu. obyektif dan imparsial. bukan sekedar memberikan layanan konsultasi pada pihak-pihak yang berkepentingan.43 Artinya. 43 . di dalam wacana tentang Pelayanan Publik di luar Indonesia.

3) Penetapan dan pelaksanaan tugas. tanggung jawab. 6) Berlakunya standar perilaku (standard of conduct) para penjabat penyelenggara pelayanan publik. Peraturan-peraturan hukum yang menjadi dasar keabsahan adalah : 1) Keberadaan hukum (legal existence) institusi-institusi administrasi negara penyelenggara pelayanan publik. pengisian jabatan dan fungsi penyelenggara pelayanan publik dengan pejabat dengan kualifikasi dan kompetensi tertentu. acuan kerja. b) Asas-asas Penyelenggaraan Pelayanan Publik Dimaksud dengan asas-asas penyelenggaraan pelayanan publik adalah prinsip-prinsip dasar yang menjadi acuan dalam pengorganisasian. 5) Penetapan berlakunya proses/prosedur penyelenggaraan pelayanan jasa publik serta standar minimum pelayanan (tolok ukur kinerja/hasil kerja kualitas produk) termasuk indeks kepuasan masyarakat dan proses/prosedur pengajuan dan pelayanan keluhan publik (publik complaint/public grievance). kewajiban. dan penegakan hak. serta tanggung jawab warga masyarakat pengguna pelayanan jasa publik. Asas-asas penyelenggaraan dikategorikan .50 sistem palayanan publik. 2) Bekerjanya struktur organisasi. kewenangan dan hak-hak penyelenggaraan pelayanan publik. 4) Pengakuan kedudukan. serta pedoman penilaian kerja bagi setiap lembaga penyelenggara pelayanan publik.

51 sebagai asas-asas umum administrasi publik yang baik (general principles of good administra-tion) dan azas bersifat adaptif.2000. baik di bidang pelayanan administratif. stakeholders pada dasarnya adalah warga masyarakat pengguna jasa layanan publik. 20. pengelolaan aktivitas. 44 . pelayanan jasa. Bersifat umum karena asas ini secara langsung menyentuh hakekat pelayanan publik sebagai wujud dari upaya melaksanakan tugas pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat banyak dan/atau tugas pelaksanaan perintah peraturan perundang-undangan. terinci dan Asas-asas ini merupakan hasil modifikasi dari asas-asas yang dikembangkan oleh: Lihat :”Report of the Committee on the Financial Aspects of Corporate Governance”.20. tindakan-tindakan oleh institusi publik. Bersifat adaptif. karena asas-asas ini secara tidak langsung bersentuhan dengan pemberian pelayanan kepada masyarakat umum. dengan asas-asas Administrasi yang Baik (General Principles of Good Administration) yang ditetapkan oleh European Commission dalam : Code of Good Administrative Behavior: Relations ewith the Public. ataupun kombinasi dari pelayanan-pelayanan tersebut. masyarakat pembayar pajak. yang melekat secara inherent pada esensi Pelayanan Publik adalah :44 1) Asas Keterbukaan (openness) Keterbukaan menjadi salah satu asas utama untuk menjamin bahwa para stakeholders45 yang mengandalkan proses pengambilan keputusan. 45 Dalam konteks penelitian ini. pelayanan barang. serta pengelolaan sumber daya manusia dalam melaksanakan pelayanan publik. Official Journal of the European Communities: OJ L 267. Menurut Cadbury Committee di Inggris ( 1992) Asas-asas utama. Keterbukaan (mungkin setara dengan asas transparansi) yang diwujudkan melalui pembinaan komunikasi secara penuh.

obyektivitas dan standar kesantunan yang tinggi. akuntabilitas melahirkan kewajiban untuk bertanggung jawab atas fungsi dan kewenangan yang secara sah dipercayakan kepada setiap public servant. dan dijalankan sesuai dengan aturan dan prosedur berdasarkan peraturan perundang-undangan. 4) Asas Legalitas Berdasarkan asas lawfulness ini. Asas moral yang mendasari asas integritas ini terutama adalah kejujuran. serta pelaksanaan fungsi suatu institusi pelayanan publik harus sejalan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 6) Institusi Asas Non-Diskriminasi dan Perlakuan yang Sama penyelenggara pelayanan publik harus bekerja atas dasar yang ditetapkan prinsip pemberian pelayanan yang sama dan setara kepada masyarakat. Singkatnya. serta tanggung jawab atas penggunaan dana-dana dan sumber daya publik.52 jelas dengan para stakeholders yang menjadi salah satu prinsip utama dari suatu good governance. . 2) Asas Integritas Integritas mengandung makna ”berurusan secara langsung” (straightforward dealings) dan ketuntasan (completeness) dalam pelaksanaan fungsi-fungsi pelayanan publik. setiap tindakan. 3) Asas Akuntabilitas Asas ini berkenaan dengan proses di mana unit-unit pelayanan publik dan orang-orang yang berfungsi di dalamnya harus bertanggung jawab atas keputusan dan tindakan yang dibuatnya. pengambilan keputusan.

agama/kepercayaan. ras. 7) Asas Proporsionalitas Asas ini meletakkan kewajiban pada setiap penyeleng. . 8) Asas Konsistensi Berdasarkan asas ini. biaya dan waktu pelayanan yang harus ditanggung oleh masyarakat apabila mereka hendak memperoleh pelayanan publik. Asas ini berkaitan erat dengan beban administratif. dan sebagainya) harus memperoleh pembenarannya secara sah (duly justified). Penyimpangan terhadap asas ini (dispensasi. kemampuan fisik. warga masyarakat dan/atau stakeholders layanan publik pada umumnya memperoleh jaminan bahwa institusi pelayanan publik akan bekerja secara konsisten sesuai pola kerjanya yang normal dalam perilaku administratifnya. dan sebagainya.53 tanpa membedakan gender.gara pelayanan publik untuk menjamin bahwa beban yang harus ditanggung oleh masyarakat pengguna jasa layanan publik akibat tindakan-tindakan yang diambil institusi pelayanan publik berbanding proporsional dengan tujuan dan manfaat yang hendak diperoleh masyarakat. perlakuan khusus. aspirasi politik.

Soetan Harahap dalam Kamoes Indonesia menjelaskan : Padjak I. kedai nasi.-setahoen.para-para (pemidangan) tempat mendje-moer ikan. mentoeakoe berpen-tjaharian nasi dikedai (lepau nasi ). warung nasi. E.54 B. padjak nasi. lih.Kalff & C0.St. 3 + los. beban dan sebagainya. Soetan. sem.orang jang wadjib membajar padjak. 1 membajar --. roba-roba. kena --. III. jang Harahap. membajar padjak tanah f 10. Kamoos lndonosia (Djakarta-Bandung: Gunseikandu Kanri Insatu Kodjo Tjetakan ketdedjoeh). II PADJAK. lihat bia dan tjoekai. pentjarian). . E.hal mengusahakan sesuatu dgn membajar pak (sewa) kpd pemerintah. Provinsi dsb) 2 pak. Perpajakan Daerah Pengertian Pajak Pajak merupakan kata yang dipergunakan dalam bahasa Indonesia dengan berbagai pengertian seperti tempat. wajib --. anak-anak. E. ia membajar bia tanah f 1C.. 254. berpadjak nasi. I PADJAK. IV. 1950). bia.Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia : Padjak : 1. bagian (dipasar). kewadjiban membajar atau wang jg wadjib dibajarkan kpd pemerintah (kotapradja. 1. G. mentoeakoe mendjoeal II. III tjukai.196.-setahoen. 47 W.S. mis. 47 Harahap. padjak. Zoerriat. oktober 2602. 46 Sedangkan dalam Kamus Indonesia Katjik-nya : PADJAK.J. pendjemuran ikan. --pendapatan 46 (-penghasilan. Kamus Indonesia Ketjik (Bandung.

-. 49 Hassan Shadili et al. Ensiklopedia Umum (Yogyakarta: Yayasan Kanisius. 3 . 774.P. dan K). pegadaian. 48 . Pajak ialah iuran rakyat kepada kas negara yang diwajibkan berdasarkan undang-undang tanpa rnendapat balas jasa (tegenprestatie) secara langsung.A. 2 rumah --. padjak jang dikenakan pada pemilik tanah.tanah -bumi. pendjualan tjandu. 48 Pajak merupakan salah satu sumber penghasilan negara yang penting.49 Dari keempat sumber di atas terlihat keanekaan penggunaan kata "pajak". Kewajiban membayar pajak dapat dipaksakan. P.sajur (ikan dsb) los atau tempat mendjual sajur (-ikan dsb) dipasar. Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Kementerian P. Adriani memberikan batasan : Pajak adalah iuran kepada Negara (yang dapat di paksakan) yang terhutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturanperaturan dengan tidak mendapat prestasi-kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai Purwadarminta. Pengertian ini relevan dengan inti pokok penguraian. -. Prof. namun salah satunya berkaitan pengertiannya dengan kewajiban terhadap Negara. karenanya lebih lanjut akan lebih menekankan "pajak" sebagai sumber pendapatan.55 dikenakan pada pendapatan (penghasilan) orang.J. Dr.tjandu. Pajak merupakan peralihan kekayaan dari sektor swasta ke sektor Pemerintah. WIS.rumah gadai.. -gadai. 1977).

pungutan adalah lebih luas). Dan pada akhirnya akan menyerap pembiayaan. Penyatar Ilmu Hukum Pajak (BandungJakarta. bahwa pajak sebagai pengertian yang dianggap. dapat dipaksakan menurut peraturan-peraturan. penunjang dan sebagainya.56 pengeluaran-pengeluaran umum berhubungan dengan tugas Negara untuk menyelenggarakan Pemerintahan 50 (dengan ejaan baru. sedangkan pajak masih mempunyai fungsi lain yang tidak kalah penting. dibayarkan oleh wajib membayar. tanpa prestasi kembali. Semua kegiatan tersebut dimaksudkan untuk bagaimana tugas dan tanggung jawab yang dilimpahkan (dimandatkan) kepada Pemerintah (Presiden) agar dapat dilaksanakan. Santoso. 1971). R.) Dari batasan tersebut dapat disimpulkan unsur-unsurnya : pajak merupakan iuran menurut peraturan. membiayai tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan Kesimpulan yang dapat ditarik dari definisi tersebut diatas. 2. yaitu agar kesejahteraan rakyat dapat dicapai. yaitu fungsi Brotodihardjo. Dalam definisi tersebut titik berat diletakkan pada fungsi budgetair dari pajak. Eresco NV. sebagai suatu species ke dalam genus pungutan (jadi. Kegiatan-kegiatan tersebut melibatkan sejumlah besar manusia.SH. Jenis Pajak dan Dasar Hukum Negara dalam menyelenggarakan fungsinya melakukan berbagai kegiatan. mengatur. perlengkapan.. 50 . Pen.

Di samping itu Pemerintah juga mencetak dan mengedarkan uang sebagai alat pembayaran yang sah. Sedangkan Sumbangan mengandung pikiran. hasil dari perusahaan-perusahaan Negara. hasil dari penyertaan modal milik Pemerintah. Sumber-sumber tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut : yang dipungut langsung dari masyarakat. maka berbagai sumber dipergunakan sebagai sumber pendapatan. maka yang diperdapat melalui pemungutan langsung adalah pajak. dimana Pemerintah dapat memperoleh. bahwa biaya-biaya yang dikeluarkan untuk prestasi pemerintah tertentu.57 Dalam rangka pengadaan dana yang diperlukan untuk membiayai kegiatan yang dilakukan. Dari keseluruhan sumber pendapatan di atas. hibah wasiat dan hibah lainnya. denda dan perampasan untuk kepentingan umum. mengurus dan membelanjakan Uangnya yang diperlukan untuk menunaikan tugasnya. pungutan dilakukan baik dengan memberikan prestasi kembali (imbalan) maupun tidak. Sedang retribusi pada umumya hubungan dengan prestasi-kembalinya adalah langsung. Pajak merupakan iuran kepada Negara yang dapat dipaksakan sesuai aturan yang berlaku tanpa adanya kontraprestasi yang gunanya untuk membiayai pengeluaran umum pemerintah. retribusi dan sumbangan. hak-hak waris atas harta peninggalan yang terlantar. Semua sumber tersebut termasuk kedalam public finance. tidak boleh dikeluarkan dari .

Hukum perpajakan bukanlah merupakan hukum yang berdiri sendiri. sedangkan dengan perorangan sebagai wajib pajak. Hukum pajak pada dasarnya "mencari 51 Ibid.58 kas umum. Pada bahagian diatas dikemukan pengertian pajak yang secara bebas dapat dikatakan dengan : pungutan yang dilakukan oleh Negara (dapat dengan paksaan) kepada warga negaranya (wajib pajak) tanpa memberikan imbalan yang langsung. tetapi berkaitan dengan hukum lainnya yang terdapat dalam kehidupan bernegara. . 1. Perpajakan diatur dalam undang-undang perpajakan yang merupakan bahagian dari hukum publik. dimana hasil pungutan itu dipergunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Pemerintah. Hukum pajak diartikan "adalah keseluruhan dari peraturan-peraturan yang meliputi wewenang Pemerintah untuk mengambil kekayaan seseorang dan menyerahkannya kembali kepada masyarakat dengan melalui Kas Negara"51 Hukum perdata merupakan bahagian dari hukum yang mengatur hubungan di antara orang-orang hukum pribadi pajak sebagai diantara pendukung Negara hak (rechtspersoon). Pajak merupakan salah satu sumber pendapatan negara. Disini akan disinggung pembicaraan menyangkut antara hubungan hukum pajak dengan hukum pidana dan hukum perdata. Terlihat di sini bahwa terdapat hubungan yang sangat erat diantara hukum pajak dengan hukum perdata. karena prestasi itu tidak ditujukan kepada penduduk seluruhnya. melainkan hanya terhadap golongan tertentu penduduk saja. karena dia berkaitan dengan kepentingan orang banyak.

perjanjian. Jadi dasar hukum setiap pajak adalah undang-undang bagi pajak yang bersifat nasional dan dilaksanakan di daerah melalui Peraturan Daerah.59 dasar kemungkinan pemungutan atas kejadian-kejadian. dan setelah di sahkan oleh Pejabat yang berwenang. maka pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah. keadaan-keadaan dan perbuatan-perbuatan hukum yang bergerak dalam lingkungan perdata seperti pendapatan. Pajak sebagai Sumber Pendapatan Daerah Sebagaimana diatur dalam pasal 157 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah menyebutkan bahwa Sumber Pendapatan Daerah terdiri atas: 52 Ibid. Mengenai pajak. pemindahan hak karena warisan dan sebagainya". terlebih dahulu ditetapkan dalam Peraturan Daerah. penyerahan. namun mengingat dengan relevansi penulisan. Untuk dapat berlakunya Pajak Daerah. diberlakukan Pajak Daerah. . jenis dan dasar hukum masih banyak yang perlu diuraikan. 3. maka penguraian dibatasi sampai di sini. Pajak Daerah merupakan sumber pendapatan Daerah yang berasal dari pajak yang diserahkan Pemerintah pusat kepada Daerah untuk menjadi sumber pendapatan Daerah. maka diundangkan dalam Lembaran Daerah. kekayaan.52 Terlihat bahwa sasaran hukum pajak adalah peristiwa-peristiwa perdata. 5. Selanjutnya dengan dibaginya wilayah negara atas wilayah Daerah.

Sebagai contoh jenis pajak ini adalah Pajak Izin Menangkap Ikan (Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 1972).60 1) PAD. pemungutannva dilakukan secara langsung kepada masyarakat wajib pajak melalui Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pelayanan Pendapatan Provinsi Sumatera Barat sebagai perpanjangan tangan dari Dinas Pendapatan Daerah. Dinas Pendapatan Daerah sebagai instansi pemungut pendapatan Daerah. yaitu : 1) Pajak yang diserahkan Pemerintah kepada Daerah untuk pendapatan asli daerah yang selanjutnya disebut dikelolanya sebagai Sumber Pendapatan Daerah. Pembentukan UPTD dibentuk melalui Surat Keputusan . yaitu : hasil pajak daerah. Dinas Pendapatan Daerah selaku instansi yang diberi tugas untuk mengelola seluruh pendapatan daerah dihadapkan kepada wilayah yang luas yaitu melipti wilayah Provinsi Sumatera Barat. hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. dan lain-lain PAD yang sah. dan lain-lain pendapatan daerah yang sah. Dalam pemungutan dari sumber-sumber pendapatan tersebut. 2) 3) dana perimbangan. 2) Pajak yang diatur sendiri oleh Daerah atas sumber pendapatan yang berhasil digali oleh Daerah di wilayahnya. Pajak sebagai sumber pendapatan terbagi atas dua bahagian. hasil retribusi daerah.

KB) diatur berdasarkan Pertauran Daerah Nomor 5 Tahun 2003 tentang Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air. 2) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (disingkat BBN. Adapun sumber pendapatan yang menjadi tugas dan kewenangannya dari UPTD adalah : 1) Pajak Kendaraan Bermotor (disingkat PKB) diatur berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air. penulis hanya akan menjelaskan kebenaran sub sektor pajak daerah yang berasal dari . 5) Pajak Alat-alat Berat dan Alat-Alat Besar. maka sekaligus diserahkanlah sumber-sumber Pendapatan Daerah menjadi tugas dan kewenangannya. 4) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (disingkat PBBKB).61 Gubernur Sumatera Barat nomor 22 Tahun 2001 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Provinsi Sumatera Barat. 3) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan. Sehubungan dengan lokus dan fokus penelitian ini. Sejalan dengan pembentukan UPTD. diatur berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2002. 6) Pajak Kendaraan Diatas Air diatur berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air Bea Balik Nama Kendaraan Diatas Air diatur berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2003 tentang Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air.

53 Selanjutnya dalam Ordonansi Pajak Kendaraan Bermotor Tahun 1934 pasal 1 dikutipkan : Dengan nama Pajak Kendaraan Bermotor. Opcit. .) juga dikenakan pajak ini. C. Dipungut dari pemegangpemegang kendaraan bermotor yang a) dihidupkan dengan generator gas arang atau b) memakai bahan baker minyak tanah atau campuran minyak tanah dan c) bensin atau juga d)yang tidak semata-mata menggunakan bensin sebagai bahan baker. yang digerakkan dangan motor yang dihidupkan dengan generator gas arang atau oleh yang memakai bahan baker minyak tanah atau campuran minyak tanah 53 Hassan Shadily. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) Pengertian Dari sejumlah besar pajak yang berlaku dan dipungut bagi Daerah. termasuk golongan pajak langsung dan merupakan pajak lokal (daerah). Mengenai Pajak Kendaraan Bermotor dapat dikemukakan sebagai berikut : Pajak Kendaraan Bermotor. Kereta gandengan aanhangwagen (pada truk mis. 1. salah satu diantaranya Pajak Kendaraan Bermotor (sering disingkat dengan PKB). sistim pengelolaan penerimaannya dilakukan dalam sistem administrasi manunggal satu atap ( SAMSAT ). dipungut pajak karena memegang : (1) Kendaraan bermotor.62 Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB ).

. (4) Kereta tambahan (kereta gandengan) dari kendaraan bermotor. (5) Kendaraan bermotor seperti dimaksudkan dibawah c yang mempunyai berat total yang diperkenankan kurang dari 3.500 kg... (2) Segala kendaraan bermotor lainnya. yang mempunyai berat total yang diizinkan 3. atau lebih.. (3) Kendaraan bermotor yang digerakkan oleh motor yang semata-mata memakai bensin sebagai bahan pembakar tetapi mempunyai berat total yang diizinkan 5. terlepas dari hal apakah motor itu khusus diperuntukkan guna dipakai dengan minyak tanah atau dengan campuran minyak tanah dan bensin. maka dapat ditarik beberapa patokan pokok. antara lain : (1) pajak ini ditimbulkan oleh adanya kendaraan bermotor yang dimiliki. atau lebih.500 kg. .. ... Memperhatikan tentang Pajak Kendaraan Bermotor sebagaimana dijelaskan oleh kedua kutipan diatas.500 kg.63 dan bensin. yang tidak digerakkan oleh motor yang semata-mata memakai bensin sebagai bahan pembakar.kendaraan bermotor yang digerakkan oleh motor dengan semata-mata menggunakan bensin sebagai bahan pembakar.. kecuali yang telah dikenakan pajak rumah tangga atau yang dibebaskan dari pajak rumah tangga.

(5) tahun pajak ialah tahun takwim. (3) penentuan besarnya beban pajak didasarkan kepada ukuran yang digariskan. (4) kendaraan bermotor dipandang sebagai suatu kesatuan yang bulan dan utuh. 2. Dasar Hukum Republik Indonesia sebagai negara hukum menekankan ketentuan tentang keharusan adanya dasar hukum yang mengatur setiap tindakan kebijaksanaan yang berhubungan kehidupan .64 (2) pajak dipungut dari pemilik kendaraan bermotor sebagai wajib pajak. Kendaraan Bermotor adalah semua kendaraan beroda dua atau lebih beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan. (pasal 8 ayat 1) Dalam pasal 1 angka (6) Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air menyebutkan bahwa Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air yang selanjutnya disebut pajak adalah pajak atas kepemilikan dan / atau penguasaan kendaraan bermotor dan kendaraan di atas air. termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang bergerak (pasal 1 angka 7).

c. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1959 dalam Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 101.65 bernegara. (Staatsblad tahun 1934 Nomor 718). Dalam semua ketentuan diatas penyempurnaan terhadap pajak ini telah dilakukan. Staatsblad Tahun 1935 Nomor 551. b. Pemerintah Indonesia yang menganut otonomi. Staatsblad Tahun 1949'Nomor 376. Staatsblad Tahun 1937 Nomor 33. f. menyebabkan dalam penyerahan urusan yang akan diselenggarakan oleh Daerah diiringi dengan pemberian sumber pendapatan yang diperlukan dalam pembiayaan. Staatsblad Tahun 1940 Nomor 226. Begitupun dengan bidang pengetahuan dan teknologi bertumbuh dengan pesat. Langkah tersebut perlu dilakukan mengingat bahwa ketentuan-ketentuan itu berhadapan dengan masa dan manusia yang selalu berkembang. . Pengaturan tentang Pajak Kendaraan Bermotor diadakan untuk pertama kali dengan Ordonansi Pajak Kendaraan Bermotor Tahun 1934. d. Peninjauanpeninjauan dan penyernpurnaan haruslah selalu dilakukan terhadap setiap peraturan perundang-undangan. Staatsblad Tahun 1939 Nomor 603. e. Ordonansi Pajak Kendaraan Bermotor Tahun 1934 sebagai peraturan mengalami perundang-undangan peninjauan-peninjauan semenjak berupa ditetapkan penambahan telah dan perubahan sebagai berikut : a.

begitu pula kereta-kereta tambahan dari kendaraankendafaan itu. Keberadaan kendaraan bermotor sebagai obyek yang terdaftar. setiap kendaraan (elkrij of Voertig). oleh suatu kekuatan mekanik yang ada di atau pada kendaraan itu. selain atas ril. Dalam pasal 1 ayat (2) huruf a Ordonansi Pajak Kendaraan Bermotor 1934 dikutip sebagai berikut : Kendaraan bermotor. Pajak Kendaraan Bermotor sebagai pajak mempunyai obyek berupa kendaraan bermotor yang terdaftar. adalah melalui proses yang akan dibicarakan tersendiri. 3. yang diperuntukkan guna semata-mata digerakkan atau juga turut digerakkan. Obyek Pajak Pelaksanaan pajak didasarkan pada adanya obyek yang dikenakan beban pajak.66 Pajak Kendaraan Bermotor yang selama ini dikelola oleh pemerintah sebagai pajak negara termasuk dalam sumber pendapatan yang diserahkan pada daerah. Adapun dasar hukum pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor saat ini berdasar kepada Peraturan Daerah Nornor 4 Tahun 2003 tentang Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air. . Penyerahan ini dilakukan dengan Poraturan Pcmerintah Nomor 3 Tahun 1957 tentang Penyerahan Pajak Negara kepada Daerah. Untuk berlakunya suatu pajak yang diserahkan kepada Daerah diterbitkanlah Peraturan Daerah.

Beban pajak akan dapat diketahui melalui surat penagihan yang . Dalam pasal 5 angka 1. Setiap wajib pajak akan dikenakan penagihan sebesar beban pajak yang ditentukan terhadap pemilikan atas kendaraan bermotor. yaitu orang seorang atau kelembagaan/badan hukum. menyebutkan bahwa Subjek pajak adalah orang pribadi atau badan yang memiliki dan/atau menguasai kendaraan bermotor dan atau kendaraan di atas air.67 Sedangkan di dalam Peraturan paerah Nomor 4 Tahun 2003 Pasal 3 angka (1) menyebutkan : Objek Pajak Kendaraan Bermotor adalah kepemilikan dan / atau penguasaan kendaraan bermotor. Subyek Tanggung Pajak dan Beban Pajak Pengenaan beban pajak didasarkan kepada adanya kendaraan bermotor. 4. "Pajak terhutang oleh orang yang memegang kendaraan bermotor". termasuk kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar yang bergerak. Jadi subyek tanggung pajak adalah pemilik kendaraan orang seorang dan badan hukum. Pengertian "yang memegang" adalah dikaitkan kepada siapa yang memiliki dan atau yang berhak penuh atas kendaraan tersebut. Jadi tertanggung beban pajak adalah pemilik kendaraan. Keberadaannya secara sah dibuktikan oleh berbagai hal yang harus dipenuhi dan terutama bukti bahwa kendaraan sudah terdaftar sesuai dengan ketentuan administrasi yang ditentukan.

c. Tarif dan Penghitungan Pajak adalah : a. b. . (6) Berat total kendaraan bermotor dan Isi silinder dan/atau satuan daya. nilai jual kendaraan bermotor ditentukan berdasarkan faktor-faktor : (1) (2) (3) (4) (5) bermotor. Dalam pasal 6 Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2003 ditentukan Dasar Pengenaan. Dalam hal harga pasaran umum atas suatu kendaraan bermotor tidak diketahui. Merek kendaraan bermotor. Dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor dihitung sebagai perkalian dari 2 (dua) unsur pokok (1) (2) Nilai jual kendaraan bermotor. Penggunaan kendaraan bermotor. Tahun pembuatan kendaraan banyaknya penumpang yang diizinkan.68 dicantumkan berdasarkan penentuan beban yang ditetapkan dengan peraturan perundangan. Bobot yang mencerminkan secara relatif kadar kerusakan jalan dan pencemar lingkungan akibat penggunaan kndaraan bermotor. Jenis kendaraan bermotor. Nilai jual kendaraan bermotor diperoleh berdasarkan harga pasaran umum atas suatu kendaraan bermotor.

penggunaan. bermotor Dalam yang hal dasar pengenaan dalam pajak table kendaraan belum tercantum sebagaimana dimaksud pada ayat (6).69 (7) kendaraan bermotor. g. ayat (4). dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor ditetapkan dengan Keputusan Gubernur dan diberitahukan kepada DPRD dan Menteri Dalam Negeri. Tabel sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) ditinjau kembali setiap tahun. dan ciri-ciri mesin dari kendaraan bermotor. . Pasal 7 menyebutkan : 1) Tarif pajak kendaraan bermotor ditetapkan sebesar : 1.5 % (satu koma lima persen) untuk kendaraan bermotor bukan umum. Penghitungan dasar pengenaan pajak kendaraan Dokumen impor untuk jenis bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1). f. ayat (3). 2) Jenis bahan baker kendaraan bermotor. 3) Jenis. Bobot sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b dihitung berdasarkan faktor-faktor : 1) Tekanan ganda. e. ayat (5). ayat (2). tahun pembuatan. d. dinyatakan dalam suatu table yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri.

Dalam hal penghitungan beban pajak diberlakukan pembulatan ke atas.70 2) 1 % (satu persen) untuk kendaraan bermotor umum. 5. Pengecualian dan atau Pembebasan Walaupun dalam ketentuan mengenai perpajakan umurnnya dinyatakan bahwa pemungutan pajak harus dilakukan dengan memperhatikan sifat umum dan merata. Berdasarkan patokan-patokan diatas ditetapkan-lah beban pajak atas kendaraan bermotor yang dimiliki oleh wajib pajak. Pasal 8 menyebutkan : Besarnya pajak terutang dihitung dengan cara mengalikan tariff sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 dengan dasar pengenaan pajak sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (7) dan ayat (8). 0. Selanjutnya pasal 9 menyebutkan : a) Pajak kendaraan bermotor dikenakan untuk masa pajak 12 (dua belas) bulan berturut-turut dihitung mulai saat pendaftaran kendaraan bermotor. Beban pajak ditetapkan untuk masa satu tahun yang mempedomani tahun takwim. maka beban pajak yang dikenakan kepada wajib pajak adalah dengan memperhatikan sisa waktu tahun yang tersisa. Terhadap pemilikan kendaraan bermotor yang berada dalam tahun yang sedang berjalan. b) Pajak kendaraan bermotor dibayar sekaligus di muka. namun Pajak Kendaraan .5 % (nol koma lima persen) untuk kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar.

Pengenaan beban pajak dilaksanakan dengan mengadakan pengecualian dan atau pembebasan. dikenakan pajak karena memegang kendaraan . Kebijaksanaan ini dilatar belakangi dan didasarkan kepada peranan atau pemanfaatannya. bermotor. dalam pasal-pasal 119. c) kendaraan bermotor yang menurut sifatnya semata-mata diperuntukkan guna dipakai dilain tempat dari pada dijalanan. Pasal 2 mengatur tentang pengecualian atau pembebasan terhadap beban pajak atas kendaraan bermotor dilakukan atas : a) kendaraan bermotor oleh Negara atau Daerah yang dimaksud. d) kendaraan bermotor oleh para konsul dan lain-lain skill Negara Asing oleh orang-orang yang diperbantukan dan yang bekerja serta bertempat tinggal padanya selanjutnya tidak melakukan perusahaan atau pekerjaan bebas dan dengan syarat timbale balik. 121 dan 123 IS. jika oleh Negara yang wakil-wakilnya diizinkan. e) kendaraan bermotor pemadam kebakaran.71 Bermotor tidaklah dapat dilaksanakan sepenuhnya demikian. Inipun jika kendaraan itu sematamata dipergunakan untuk dinas umum. b) kendaraan bermotor yang menurut atau berdasarkan peraturan-peraturan Ordonansi Lalu Lintas yang diizinkan berjalan dengan nomor percobaan.

Pemerintah Kabupaten/ Kota dan Pemerintah Desa/Nagari. c) Pabrikan atau importer kendaraan bermotor baru yang untuk dipamerkan. g) Orang Pribadi atau Badan atas kendaraan di atas air yang digunakan untuk keperluan keselamatan seperti kapal pandu dan kapal tunda. dan Perwakilan Lembaga-lembaga Internasional dengan azas timbal balik.72 f) kendaraan bermotor oleh para pelancong dan lain-lain orang yang berada di Indonesia untuk waktu yang tidak lebih lama dari sembilan puluh hari berturut-turut. .sing. Pada pasal 4 Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2003 menyebutkan : Dikecualikan dari objek pajak adalah kepemilikan dan/ atau penguasaan kendaraan bermotor dan/atau kendara-an diatas air oleh : a) Pemerintah Pusat. d) Wisatawan asing yang berada di daerah untuk jangka waktu sampai dengan 60 (enam puluh) hari. Konsutat. e) Penguasaan kendaraan bermotor yang disegel atau disita oleh Negara. f) Orang Pribadi atau Badan atas kendaraan di atas air perintis. Perwakilan Negara P. untuk dijual dan tidak semata-mata dipergunakan dalam lalu lintas bebas. Pemerintah Provinsi. b) Kedutaan.

kapal pandu dan kapal tunda yang digunakan untuk keperluan keselamatan serta kendaran penelitian SAR. kendaraan pemadam kebakaran dan kendaraan yang dibawa sendiri oleh wisatawan untuk waktu yang terbatas. kendaraan yang dipergunakan oleh perwakilan asing dan tenaga kerja diperbantukan dalam kerja sama dansebagainya. kendaraan bermotor yang disegel atau disita Negara. Sumber pendapatan tersebut disebut Bea Balik Nama Kendaraan Berrnotor yang popular disingkat dengan BBN. Dari ketentuan di atas terlihat bahwa kendaraan bermotor yang dibebaskan dari pajak adalah kendaraan dinas. warisan atau pemasukan kedalam badan usaha. Jenis sumber pendapatan ini dalam bentuk pajak juga yang dipungut atas dasar pengalihan hak milik atas kendaraan bermotor sebagai akibat perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau keadaan yang terjadi jual beli. tukar menukar. kepentingan social dan keagamaan.73 h) Orang Pribadi atau Badan atas Kendaraan di atas air yang khusus digunakan untuk penelitian. 6. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) Di samping Pajak Kendaraan Bermotor terdapat sumber pendapatan yang berkaitan dengan kendaraan bermotor.KB. kendaraan yang bukan dipergunakan dijalanan. kendaraan yang berada dalam status percobaan. SAR. . hibah termasuk hibah wasiat dan hadiah.

Perwakilan Asing. Dalam Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2003 pasal 3 menyebutkan Obyek daripada Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah penyerahan Kendaraan Berrnotor. Pabrikan atau importer kendaraan bermotor baru yang untuk dipamerkan.KB). untuk dijual dan tidak semata-mata dipergunakan dalam lalu lintas bebas. Pemerintah Kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa/Nagari. Kedutaan. termasuk penyerahan kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar yang bergerak. Dalam pasal 4 diatur tentang pengecualian dalam pemungutan pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor yang diserahkan kepada : Pemerintah Pusat. Pajak Bangsa Asing dan Pajak Radio kepada Daerah. . Konsulat. Dasar hukum tersebut oleh Daerah dilanjutkan pengaturannya dengan menerbitkan Peraturan Daerah.74 Dasar hukum dari Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah Undang Undang Nomor 10 Tahun 1968 tentang Penyerahan Pajak Negara Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN. Orang pribadi atau badan atas kendaraan di atas air perintis. Dalam pasal 6 diatur subyek pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor . dan Lembaga- lembaga Internasional dengan azaz timbal balik. Pemerintah Provinsi .

Dalam hal dasar pengenaan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air belum tercantum dalam tabel . 2) W ajib Pajak Bea Balik Nama adalah orang pribadi atau badan yang menerima penyerahan kendaraan bermotor dan atau kendaraan di atas air. 3) Y ang bertanggung jawab atas pembayaran Bea Balik Nama adalah: (a) untuk orang pribadi adalah orang yang bersangkutan.75 1) S ubyek pajak Bea Balik Nama adalah orang pribadi atau badan yang dapat menerima penyerahan kendaraan bermotor dan atau kendaraan di atas air. 2) Nilai Jual Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah Nilai Jual Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air yang tercantum dalam ketetapan Menteri Dalam Negeri atau Gubernur. Dasar Pengenaan Bea Balik Nama diatur dalam pasal 7 : 1) Dasar pengenaan pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air adalah Nilai Jual Kendaraan Bermotor dan Nilai Jual Kendaraan di Atas Air. kuasanya atau ahli warisnya. (b) Untuk badan adalah pengurusnya.

76 yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri, dasar pengenaan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air dimaksud ditetapkan dengan Keputusan Gubernur, dan

diberitahukan kepada DPRD dan Menteri Dalam Negeri. Pemungutan kedua sumber pendapatan tersebut diatas (Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor), pelaksanaan operaionalnya bergabung dengan instansi lain Kepolisian Republik Indonesia melalui Direktorat Lalu Lintas dan PT (Persero) A.K. Jasaraharja melalui mekanisme Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap, yang lebih populer disebut SAMSAT. Ketentuan pendukung tentang mekanisme ini diatur dalam Surat Keputusan Bersama Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Direktur Jenderal Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah, dan Direktur Utama PT. Jasa Raharja (Persero) Nomor :

Skep/06/X/1999, Nomor : 973 - 1228, Nomor : SKEP/02/X/1999 tentang Pedoman Tata laksana Sistem Administrasi Manunggal Di Bawah Satu Atap dalam Penerbitan Surat Tanda Nomor

Kendaraan Bermotor, Surat Tanda Coba Kendaraan Bermotor, Tanda Nomor Kendaraan Bermotor, Tanda Coba Kendaraan Bermotor, dan Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor sera Sumbangan Wajib Dana

Kecelakaan Lalu Lintas Jalan.

77 Dalam Surat Keputusan Bersama tersebut ditegaskan bahwa dalam pelaksanaan tugas, seluruh instansi tersebut harus bekerja sama, mempunyai otonomi masing-masing instansi dan saling hormat menghormati serta bertanggung jawab kepada atasan masing-masing. D. 1. Kebijaksanaan Nasional Untuk Efektivitas Pelayanan Kebijakan Pemerintah Terhadap Pelayanan Dalam rangka penyelenggaraan peningkatan Pelayanan

Publik 54 peran pemerintah sebagai konsekuensi logis dari adanya kepentingan publik, maka pemerintah secara nasional telah menetapkan kebijakan yang mengarah pada kepuasan masyarakat terhadap

pelayanan public yang diselenggarakan oleh pemerintah. Pemerintah dalam hal ini Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara menerbitkan berbagai landasan peraturan perundang-undangan, pedoman, dan surat edaran dibidang pelayanan publik antara lain : Keputusan Men PAN Nomor : 63lKEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum

Penyelenggaraan Pelayanan Publik, Keputusan Men PAN Nomor KEP/25/M.PAN/2/2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat pada Unit PelayananInstansi Pemerintah dan KEP/26/ M.PAN/2/2004 tentang Petunjuk Teknis Transparansi dan Akuntabilitas dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Upaya pemerintah untuk memberikan pelayanan publik yang optimal menjadi sangat penting untuk dilakukan. Pelayanan publik
Komisi Hukum Indonesia, Hasil Penelitian Normatif Sistem Penyelenggaraan Pelayanan Publik Indonesia, 2006, hal. 19-35.
54

78 harus memperoleh perhatian dan penanganan yang sungguh-sungguh, karena merupakan tugas dan fungsi yang melekat pada setiap aparatur pemerintah. Tingkat kualitas kinerja pelayanan publik memiliki implikasi yang luas dalam berbagai aspek kehidupan, terutama untuk mencapai tingkat kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu upaya penyempurnaan pelayanan publik harus dilakukan secara terus menerus, berkelanjutan dan dilaksanakan oleh jajaran aparatur pemerintah daerah.55 Menurut Progo Nurdjaman Pelayanan Publik sebagai berikut : a). Kesederhanaan Prinsip kesederhanaan ini mengandung arti bahwa prosedur/tata cara pelayanan diselenggarakan secara mudah, lancar, cepat, tepat, tidak berbelit-belit, mudah dipahami dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat yang meminta pelayanan. b). Kejelasan dan kepastian Prinsip ini mengandung arti adanya kejelasan dan kepastian mengenai : 1) Prosedur tatacara pelayanan, baik persyaratan teknis maupun administrative; 2) Unit kerja dan atau pejabat yang berwenang dan ada 8 prinsip-prinsip Pokok

bertanggungjawab dalam memberikan pelayanan; 3) Rincian biaya/tarif pelayanan dan tata cara pembayarannya;
Progo Nurdjaman., Penyelenggaran Departemen Dalam Negeri RI)., 2004. ha1. 33
55

Pemarintahan

Umum,

(Jakarta;

persyaratan satuan kerja/pejabat penanggungjawab pemberi pelayanan. c). Keamanan Prinsip ini mengandung arti proses serta hasil pelayanan dapat memberikan keamanan. dalam hal proses pelayanan masyarakat yang bersangkutan memper-syaratkan adanya kelengkapan persyaratan dari satuan kerja/instansi pemerintah lain yang terkait. f). e). Ekonomis Prinsip ini mengandung arti pengenaan biaya dalam penyelenggaraan pelayanan harus ditetapkan secara wajar dengan memperhatikan : . waktu penyelesaian.79 4) Jadwal waktu penyelesaian pelayanan. Keterbukaan Prinsip ini mengandung arti bahwa prosedur/tatacara. rincian biaya/tariff serta hal-hal lain yang berkaitan dengan proses pelayanan wajib diinformasikan secara terbuka agar mudah diketahui dan dipahami oleh masyarakat. Mencegah adanya pengulangan pernenuhan persyaratan. d). baik diminta maupun tidak diminta. kenyamanan dan dapat memberikan kepastian hukum bagi masyarakat. Efisiensi Prinsip ini mengandung arti : Persyaratan pelayanan hanya dibatasi pada hal-hal yang berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan dengan tetap memperhatikan keterpaduan antara persyaratan dengan produk pelayanan yang diberikan.

pelayanan publik bagi kepolisian tercantum dalam TRI BRATA yang . g). Pelayanan publik (yang di lingkungan kepolisian dikenal dengan istilah pelayanan masyarakat/YANMAS) sebenarnya merupakan esensi pekerjaan polisi. Keadilan yang Merata Prinsip ini mengandung arti cakupan/jangkauan pelayanan harus diusahakan seluas mungkin dengan distribusi yang merata dan diberlakukan secara adil bagi seluruh lapisan masyarakat. SH. Menurut Jenderal Polisi (Purn) Drs.. Peranan Pelayanan Administrasi Kepolisian Di samping berfungsi sebagai salah satu lembaga penegak hukum dan penjaga keamanan masyarakat. kepolisian juga memiliki fungsi sebagai instansi yang memberikan pelayanan administrasi kepada masyarakat. Abdi utama di sini dimaksudkan sebagai pelayanan prima yang kemudian menjiwai kode etik POLRI baru. Chaeruddin Ismail. (2) Kondisi dan kemampuan masyarakat untuk membayar.80 (1) Nilai barang dan atau jasa pelayanan masyarakat dan tidak menuntut biaya yang terlalu tinggi di luar kewajaran. (3) Ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ketepatan Waktu Prinsip ini mengandung arti pelaksanaan pelayanan masyarakat dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang ditentukan. dalam rangka mewujudkan filosofi POLRI ”Rastra Sewakottama” yang berarti abdi utama nusa dan bangsa (masyarakat). 2. h).

pengayoman. serta tidak bermasa bodoh.56 Pelaksanaan pelayanan publik oleh kepolisian berupa pelayanan administratif antara lain adalah penerbitan ijin seperti Surat Ijin Mengemudi (SIM) dan Ijin Keramaian. dan pelayanan kepada masyarakat” dan pasal 14 huruf k ”memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai kepentingannya di dalam lingkup tugas kepolisian”. Bandung. Chaeruddin Ismail. “Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Pelayanan Publik”. Secara lebih rinci diatur beberapa tindakan atau perilaku yang harus dan dilarang untuk dilakukan dalam rangka pelayanan publik tersebut. [e] mengutamakan kemudahan dan tidak mempersulit.81 merupakan filosofi POLRI yang kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian khususnya pasal 13 huruf c ”memberikan perlindungan. SH. [i] tidak mengeluarkan kata-kata atau gerakan tubuh yang mengisyaratkan minta imbalan atas jasa pelayanan yang diberikan”. 56 . Makalah pada Lokakarya Penelitian ini. halaman 9-10. apatis. sedang ijin keramaian diberikan oleh seluruh tingkat Jenderal Polisi (Purn) Drs.. [e] tida membedabedakan (diskrimiasi cara pemberian pelayanan. memberikan pelayanan kepada masyarakat secara ikhlas dengan prosedur cvepat. [g] tidak meminta biaya kecuali diatur oleh undang-undang. sederhana. mendiamkan adanya harapan masyarakat”. 30 Oktober 2004.KEP/32/VII/ 2003 ditegaskan dalam pasal 5 bahwa ”memberikan pelayanan terbaik. Pelayanan SIM dilakukan oleh Kepolisian Resor atau Kepolisian Wilayah Kota Besar. Pol. Selanjutnya dalam Kode Etik POLRI berdasarkan Keputusan Kapolri No.

82 kepolisian dari Kepolisian Sektor sampai Mabes POLRI tergantung cakupan kegiatan atau keramaian yang dimintakan ijin. Dimensi Kebijakan Pelayanan Publik Progo Nurdjaman menyebutkan pelayanan publik dapat ditinjau dari dua dimensi. yang dengan demikian suara masyarakat diletakkan pada derajat yang paling tinggi. penyelenggaraan pelayanan publik yang terdesentralisasi akan meningkatkan responsifitas (daya tanggap) terhadap kebutuhan lokal dan membantu Pemerintah Daerah (lembaga penyedia layanan) mengidentifikasi dan memhami karekteristik khas masyarakat setempat. pelayanan publik merupakan salah satu isu utama sejalan dengan tuntutan demokratisasi dan desentralisasi Demokratisasi pada hakekatnya menyuarakan pentingnya partisipasi masyarakat dan akuntabilitas pemegang kekuasaan. Pada dimensi eksternal. Pada sisi perencanaan. Pada dimensi internal. pelayanan publik akan memainkan peranan kunci dalam menghadapi tantangan globalisasi. yaitu dimensi internal dan eksternal. Paling tidak tantangan globalisasi tersebut memerlukan jawaban dalam hal . Semangat demokratisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan akan menjadi peluang bagi peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. 3. Sementara itu penyelenggaraan pelayanan publik yang terdesentralisasi akan mendekatkan penyelenggaraan fungsi pelayanan publik kepada masyarakat dan memungkinkan untuk menyelesaikan komplain (bila ada) dengan lebih cepat karena masyarakat bisa lebih mudah bertemu dengan pihak penyelenggara pelayanan.

baik ditingkat regional maupun internasional. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. yang pengaturannya berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2003 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah sebagai pengganti Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000. . Pembagian kewenangan daerah tersebut telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 serta Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 130-67 Tahun 2002 yang merupakan referensi pembagian tupoksi dan mekanisme kerja pada unitunit kerja daerah serta Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2001 tanggal 9 Mei 2001 tentang kedudukan Tupoksi dan Susunan Organisasi Dinas Pendapatan Daerah Sumatera Barat. tugas fungsi serta mekanisme kerja unit-unit kerja Daerah diatur dalam Peraturan Daerah. 2) Kelembagaan Berbagai tantangan yang dihadapi oleh pemerintah dalam era globalisasi akan semakin berat. menjadikan masyarakat semakin tinggi tingkat pengetahuan dan pendidikannya. kualitas pelayanan publik secara umum ditentukan oleh beberapa aspek yaitu : 1) Sistem Yaitu kewenangan Daerah untuk mengatur struktur. 4.faktor yang mempengaruhi Pelayanan Selanjutnya Progo Nurdjaman menjelaskan bahwa.83 peningkatan daya saing (competitiveness) dan daya tarik (attractiveness). sehingga permintaan masyarakat terhadap peningkatan kualitas pelayanan publik akan menjadi hal yang penting. Faktor .

Pembenahan kualitas sumber daya manusia (PNS) sebagai aparatur Negara pada dewasa ini menjadi semakin penting karena fungsinya yang strategis. 3) Sumber Daya Manusia ( SDM ) Sumber daya manusia di lingkungan pemerintahan.84 Oleh sebab itu organ isasi/kelembagaan pemerintah yang ada saat ini harus mampu menata diri menjadi organisasi yang dapat mengantisipasi perubahan kondisi yang datang begitu cepat dan tuntutan masyarakat yang semakin meningkat dan kompleks. tugas. dan produktivitas aparatur. efektif dan efisien. efektivitas. sehingga dapat diciptakan efisiensi. Pemerintahan yang bersih dan efisien sangat penting bukan hanya agar masyarakat dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari pelayanan publik . Kebutuhan akan terciptanya aparatur yang bersih dan efisien semakin dirasakan sejalan dengan . Disamping itu dengan penataan organisasi dapat memperjelas wewenang. yang pada akhirnya dapat meningkatkan pelayanan publik. dan tanggung jawabnya masing-masing. Penataan organisasi dapat diartikan sebagai upaya untuk menciptakan postur organisasi yang lebih proporsional sesuai dengan visi dan misi yang diembannya. melainkan juga untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan dunia usaha tumbuh lebih sehat dan efisien agar investor dari dalam dan luar negeri terdorong untuk meningkatkan investasinya di Indonesia. merupakan salah satu penentu terciptanya pemerintahan yang bersih.

terbuka. peduli. inovatif. dan bukan sebaliknya pada belanja aparatur. Mengingat pentingnya kebijakan pengalokasian dana dari APBD untuk kepentingan publik dalam rangka mengedepankan peleyanan publik tersebut. apakah mengedepankan belanja untuk aparatur atau untuk belanja publik. maka sudah sewajarnya Pemerintah Daerah Komitmen Dukungan Terhadap memperhatikan pola perencanaan dan penyusunan APBD yang lebih bersifat akuntabel. Dengan demikian diharapkan penyelenggaraan pelayanan publik dapat menjadi lebih baik lagi.85 perubahan-perubahan yang terjadi sebagai hasil dari pembangunan dan dari akibat perubahan eksternal pada tingkat regional dan global. . 4) Keuangan Daerah Kinerja penyelenggaraan pelayanan publik sangat dipengaruhi oleh kinerja dalam pengelolaan keuangan daerah. Untuk itu PNS harus lebih mengedepankan kepentingan publik. Dalam kaitan itu semua maka sangat strategis posisi belanja daerah. terampil. Dalam arti bahwa keberhasilan pemerintah menyelenggarakan pelayanan publik dapat dilihat dari besarnya dana APBD yang dialokasikan kepada belanja publik. berakhlak dan amanah. menyelenggarakan pelayanan publik dengan optimal dan menjalankan tugas dan fungsi pelayanannya berasarkan kebijakan kebijakan publik secara proporsional. Hal ini tentunya menuntut pegawai negeri menjadi lebih professional.

Adapun lembaga yang mengelola system ini biasa disebut dengan Lembaga Pelayanan Terpadu Satu Atap (LPTSA). Sistem ini diyakini sebagai salah satu cikal bakal terjadinya proses transparansi dalam pemberian pelayanan umum oleh pemerintah kepada masyarakat. 5) Kebijakan Fasilitas Pelayanan Publik Dalam rangka mendorong Pemerintah Daerah menye-lenggarakan pelayanan publik secara optimal. tidak menutup kemungkinan terjadinya trade-off dalam pembahasan Rancangan APBD. . agar masyarakat dapat mengkritisi kebijakan publik secara langsung. yang berdampak pada alokasi kegiatan dan dana kurang proporsional terhadap kepentingan publik dibandingkan dengan belanja aparatur atau kegiatan-kegiatan yang tidak berdarnpak langsung pada kepentingan publik. Pemerintah menaruh perhatian besar terhadap upaya-upaya reformasi di bidang pelayanan publik.86 Oleh karena itu perlu adanya analisis pola/ perilaku belanja daerah. yang kemudian diumumkan/ diinformasi-kan melalui media masa kepada masyarakat. telah dilaksanakan sosialisasi program peningkatan pelayanan publik dalam bentuk Bimbingan Teknis di Daerah berupa : a) Pengembangan Lembaga Pelayanan Terpadu Satu Atap (LPTSA). Sistem pelayanan satu atap pada hakekatnya adalah penyeleng-garaan pelayanan dalam satu gedung (satu atap). Apalagi dalam kondisi yang multi partai seperti saat ini. salah satunya adalah system pelayanan umum satu atap.

. maka LPTSA di daerah menjadi amat penting dan strategis peranannya.87 b) Peningkatan transparansi dan akuntabilitas akan berdampak pada pelayanan yang lebih baik (better). maka akan mampu menggerakkan unit-unit kerja terkait untuk mendukung LPTSA. Sebaliknya apabila pemimpin daerah kurang komitmen maka biasanya masing-masing unit kerja enggan melepaskan fungsi-fungsi yang berkitan dengan pelayanan. lebih murah (cheaper). dan lebih cepat (faster) menjadi tujuan utarna reformasi manajeman pelayanan publik daerah. (2) LPTSA memberikan kesempatan kepada aparatur pemerintah untuk belajar dari sektor swasta terutama dalam mengembangkan pola manajemen yang berorientasi kepada masyarakat (what public want). Apabila pimpinan daerah mempunyai komitmen yang tinggi. Sedangkan aspek-aspek dominan yang mempengaruhi optimalisasi LPTSA antara lain : Dari hasil monitoring dan evaluasi bahwa aspek komitmen pimpinan daerah terhadap LPTSA sangat dominan terhadap optimalnya LPTSA. Hal ini akan memberikan dorongan dan insentif kepada birokrasi pemerintah untuk menjadi lebih responsive dan efisien. Peran penting dan strategis dari LPTSA dimaksud adalah : (1) LPTSA bisa mendorong aparat pemerintah untuk menjadi lebih responsive dan efisien melalui standar-standar yang telah ditentukan.

Simplified (Penyederha-naan) dan Decentralized (Pelimpahan). 2) mengefektifkan system dan Mendorong tatalaksana pelayanan. Pendekatan ini memberi cara bagaimana menyederhanakan persyaratan. Lebih jauh hakekat dari pelayanan prima adalah berupa upaya-upaya sebagai berikut : 1) Meningkatkan mutu dan produktifitas pelaksanaan tugas dan fungsi instansi pemerintah di bidang pelayanan umum. dan harapan masyarakat yang mempunyai nilai yang tinggi dan bermutu (berkualitas). Combine (Penggabungan). 6) Prima Pelayanan prima dilaksanakan untuk memenuhi standar Aspek Proses Pelaksanaan Pelayanan pelayanan terhadap permintaan.88 Pemahaman pendekatan ACSD yaitu Abolish (Penghapu-san). keinginan. tanpa memikirkan dan mendapat income tambahan atau tidak. Pemahaman makna kehidupan bagi para penyelenggara pelayanan publik dan aparatur yang terkait. Pemahaman terhadap beban pekerjaan melayani masyarakat akan berubah menjadi bekal perjalanan di alam berikutnya akan menjadi spirit kerja dengan baik.persyaratan yang diperlukan dalam suatu proses pelayanan. sungguh-sungguh dan ikhlas. upaya sehingga .

artinya apa yang diharapkan dan diinginkan masyarakat terhadap suatu pelayanan tertentu dapat tersedia secara lengkap. dan tepat waktu. Untuk mendukung terselenggaranya pelayanan prima tersebut harus dilaksanakan dalam suatu rangkaian kegiatan terpadu yang mencakup aspek-aspek sebagai berikut : a) Sederhana.89 pelayanan umum dapat diselenggarakan secara lebih berdaya guna dan berhasil guna (efektif dan efisien). c) Lancar. artinya pemberian pelayanan dapat dilakukan secara tepat arah dan sasarannya. artinya masyatakat ingin dilayani secara jujur. d) Tepat. Oleh tidak berbelit-belit. artinya dalam pelaksanaan tidak menyulitkan. artinya petugas pelayanan harus bekerja secara ikhlas dan sepenuh hati. . b) Terbuka. prakarsa dan peranserta masyarakat secara luas. dan persyaratannya mudah karena itu aparat yang bertugas melayani harus memberikan penjelasan sejujur-jujurnya. 3) Mendorong tumbuhnya kreatifitas. e) Lengkap. prosedurnya dipenuhi. dengan didukung sarana dan prasarana yang menunjang kecepatan pelayanan itu sendiri. dan apa adanya sesuai dengan peraturan perundangan yang mengaturnya. tepat jumlahnya tidak lebih dan tidak kurang.

diharapkan pemerintah dapat memberikan kepada masyarakat suatu pelayanan publik yang prima. sehingga dengan demikian persepsi masyarakat terhadap kinerja birokrasi pemerintah akan menjadi lebih baik lagi. artinya pelayanan dilakukan sebagaimana mestinya dan tidak dibuat-buat. Sistem penampungan keluhan yang berkembang di daerah saat relatif bervariasi. namun belum berjalan efektif terhadap upaya peningkatan kinerja pelayanan publik. artinya biaya pelayanan tersebut dapat dijangkau oleh masyarakat. g) Terjangkau. yang pada akhirnya nanti dapat dibangun hubungan yang harmonis antara pemerintah dan masyarakat.90 f) Wajar. 7) Masyarakat Dalam rangka menciptakan good governance khususnya dalam hal pelayanan publik serta untuk memicu kinerja Pemerintah Daerah dalam menyelenggarakan pelayanan publik bagi masyarakatnya Lembaga Penampungan Pengaduan diperlukan suatu lembaga pengawas eksternal yang bersifat independent dan non struktural. Pada satu sisi pemerintah akan memiliki legitimasi yang kuat dihadapan masyarakat dan pada sisi yang lain masyarakat akan mendapat pelayanan yang baik dan prima dari pemerintah. Setelah dilakukan hal-hal sebagaimana diuraikan diatas. Dewasa ini ada berbagai media yang digunakan masyarakat untuk menyampaikan keluhan mengenai .

Namun jumlah keluhan yang masuk relatif sedikit karena msyarakat cenderung : a) b) Tidak mengetahui kemana masyarakat harus mengadu. e) Sebagai alat kontrol bagi Pemerintah Daerah dalam menetapkan berbagai kebijakan publik. ataupun menemui langsung instansi terkait. legislatif dan masyarakat.91 pelayanan publik. Seluruh Pemerintah Daerah yang pernah disurvei menyatakan setuju jika lembaga khusus penampungan aspirasi/keluhan masyarakat dibentuk didaerah. b) Untuk menampung keluhan dan aspirasi masyarakat digunakan untuk masukan dalam penyusunan program. atau Merasa pesimis bahwa keluhan masyarakat tersebut akan ditindaklanjuti. f) penampungan Sebagai keluhan upaya pengoptimalan maka mekanisme perlu untuk masyarakat . melalui mass-medya cetak dan elektronik seperti koran. antara lain : a) munikasi Untuk antara mencairkan dan kebekuan pemerintah informasi/miskokarena kurang masyarakat berfungsinya lembaga yang sudah ada. Alasan perlunya pembentukan lembaga khusus tersebut bervariasi. d) Untuk melakukan penilaian yang obyektif terhadap masalah yang timbul antara eksekutif. radio TV. antara lain. c) Untuk memperbaiki kinerja pelayanan publik pada khususnya dan Pemerintah Daerah pada umumnya.

92 mengembangkan Lembaga Penampungan Pengaduan Masyarakat Daerah sesuai dengan situasi dan kondisi daerah masing-masing. .

Berdasarkan perkiraan Sensus Penduduk (SP) Tahun 2000 dan Survey Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Tahun 2005. sehingga efektivitas proses pembangunan masing-masing daerah sangat dipengaruhi oleh kecenderungan arus penduduk yang pindah dan pergi ke kota (urbanisasi) serata menetap tinggal di kota. Mentawai.17 persen dari luas Indonesia). Padang Panjang. Padang Pariaman. Bukittinggi. Payakumbuh dan Pariaman. Urbanisasi disebabkan daerah perkotaan lebih menarik (pull factors). 50 Kota. Kota adalah Padang. yaitu terdapat penyebaran yang tidak merata antar wilayah menurut kabupaten dan kota.152 jiwa dengam laju pertumbuhan ratarata sekitar 1.93 BAB III PELAKSANAAN PELAYANAN PKB DAN BBN-KB A. Agam. Penyebaran tidak merata ini disebabkan perbedaan karakteristik dan potensi daerah serta pengaruh demografi yang dimiliki masing-masing daerah. sedangkan . Diskripsi Wilayah Propinsi Sumatera Barat terletak di sebelah Barat pulau Sumatera. faktor mobilitas penduduk (migrasi) antar daerah cukup tinggi. Propinsi ini memiliki luas wilayah 42. Solok Selatan dan Kota Solok dan. Sawahlunto. Pasaman Barat.632. Dharmasraya. Pasaman. Secara administratif Propinsi Sumatera Barat terbagi dalam 12 (dua belas) kabupaten dan 7 (tujuh) kota yaitu : Kabupaten Pesisir Selatan. Tanah Datar. jumlah penduduk Propinsi Sumatera Barat pada tahun 2006 adalah sekitar 4. Sawahlunto/Sijunjung. Solok. Solok. Disamping itu.2 ribu Km2 (2. Masalah umum kependudukan di Propinsi Sumatera Barat sama seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia.87% per tahun.

784 jiwa.767 jiwa.765 jiwa.647 jiwa dan Agam sebanyak 426. Sedangkan daerah yang relatif sedikit jumlah penduduknya adalah terdapat pada beberapa daerah perkotaan. Apabila diperhatikan distribusi antar daerah kabupaten dan kota. Untuk jelasnya distribusi dapat dilihat Tabel 1 berikut : . dimana sebanyak 72.11 % di 7 daerah kota. Kemudian diikuti Kabupaten Pesisir Selatan sebanyak 429.89% tinggal di 12 kabupaten dan sisanya sekitar 27.779 jiwa. Ekspetasi kehidupan penduduk ( expectation of life ) kota. jumlah penduduk Kota Padang merupakan jumlah terbanyak. yaitu sekitar 819.94 di daerah kabupaten yang mempunyai ciri pedesaan dianggap kurang tertarik (push factors). Faktor pull and push faktor didasarkan kepada ekspetasi penduduk kehidupan di kota jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan daerah kabupaten.632. Dari jumlah penduduk Propinsi Sumatera Barat tahun 2006 sekitar 4.152 jiwa tersebut.327 jiwa dan Solok sebanyak 55. Faktor urbanisasi ini membawa kecenderungan kepadatan penduduk kota lebih tinggi di bandingkan daerah kabupaten. seperti Padang Pajang sebanyak 49. kemudian diikuti oleh Sawahlunto sebanyak 53. yaitu ada harapan untuk memperoleh pekerjaan dan peluang mendapatkan pendapatan.

616 40.73% dan tahun 2004 sekitar 5. 17. 2000.555.668 799.217 331.2 % dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2005 sekitar 5. Kabupaten/Kota KABUPATEN Pesisir Selatan Solok Swl/Sijunjung Tanah Datar Pdg Pariaman Agam Lim Puluh Kota Pasaman Mentawai Solok Selatan Dhamasraya Pasaman Barat KOTA Padang Solok Swhlunto Padang Panjang Bukittinggi Payakumbuh Pariaman Jumlah 2000 3.997 334.819 70. 1.540 126.817 326. 6. II 13.810 2006 3.837 44.784 53.819 339.486 67.9 %.258 555. 14.258 381.220.032 4. 18.093 342.347 322.812 165.186. 2007) Propinsi Sumatera Barat. 3.523 ----1.318 2004 3. 2004-2006 ( Dalam orang ) No. 9.327 49.022 784. Keadaan Ekonomi Berdasarkan laporan Kantor Statistik Daerah (BPS. 7.949. 2.425 306. Dengan laju pertumbuhan sekitar 5. 16.844 310.7 %.153 434.699 100.874 495..406 4.332 128.709 53.610 819. .049 53.708 457.Sebelum pemekaran Sumber : BPS.757 414. 15.789 324.779 102.084 70.203 248.208 424.376.918 508.554 64.103 91.377 75.219. I. Kantor Statistik Sumbar B. 8.356 4. 4. 5.512 101. 10.369 47.930 66.632.142 423.081 45.767 327.356 1.433 324.201 244.007 708.538 428.647 347.95 Tabel 1 : Jumlah Penduduk Sumatera Barat. jumlah Produk Domestik Regional (PDRB) menurut harga konstan tahun dasar 2000) mencapai Rp 30.765 55.37%.928 1.152 Catatan : * Angka SP 2000 ** Angka SUPAS 2005 -.311 388.331.736 54.220 417.255.389 343.194 316. Pertumbuhan ekonomi tahun 2007 diperkirakan lebih tinggi sekitar 6.515 104.375 ---1.286 192.216 375. 11.95 milyar.309.528. pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat tahun 2006 mengalami kenaikan sekitar 5.614 170.803 426.444 97.034.242 2005 3.224. 12.930 188.439 100.542 429.254 104.740 55. 19.576 378.883 48.592 --4.

96 sedangkan pada tahun 2005 baru mencapai Rp 29.159,48 milyar dan tahun 2004 sebanyak Rp.27.578,14 milyar. Perkembangan yang cukup mengembirakan ini terjadi akibat pertumbuhan 4 (empat) sektor dominan, seperti sektor pertanian, pengangkutan dan perdagangan, hotel dan restoran. Pada tahun 2006 sektor pertanian memberi sumbangan terhadap pembentukan PDRB Sumatera Barat sekitar 25,30%, sektor perdagangan, hotel dan restoran sekitar 17,62%. sektor industri dan pengolahan sekitar 14,30% dan sektor pengangkutan dan komunikasi sekitar 14,02%. Apabila diperhatikan perkembangan ke empat sektor dominan tersebut, pada tahun 2006 sektor pertanian naik sekitar 6,70%, sektor industri dan pengolahan naik sekitar 4,0%, sektor perdagangan, hotel dan restoran naik sekitar 5,99% dan sektor pengangkutan dan komunikasi naik sekitar 9,84%. Diantara ke empat sektor dominan diatas, khusus sektor pengangkutan dan komunikasi sangat potesial dan relevan apabila dikaitkan dengan topik pemahasan ini, karena indikator yang digunakan dalam perhitungan PDRB adalah jumlah kendaraan bermotor.

97
Tabel 2 : Produk Domestk Regionl Bruto Propinsi Sumatera Barat atas Harga Konstan Tahun 2000, Menurut Lapangan Usaha Tahun 2002-2006 ( Dalam Rp. Juta )
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Lapangan Usaha Pertanian. Pertambangan dan penggalian Industri pengolahan. Listrik,gas,air bersih Bangunan Perdagangan,hotel dan restoran Pengangkutan dan komunikasi. Keuangan,persewaan,j asa perusahaan Jasa-jasa. Jumlah 2002 6.091.915,6 884.878,7 3.404.309,8 271.084,9 1.194.839,2 4.543.977,6 2.928.943,5 1.230.509,4 4.289.729,1 24.840.187,7 2003 6.557.510,7 894.245,3 3.472.186,0 284.294,0 1.278.358,4 4.755.166,3 3.165.005,3 1.294.725,5 4.445.290,3 26.146.781,6 2004 6.937.172,9 923.379,1 3.629..455,7 301.070,7 1.375.769,3 5.006.640,3 3.419.244,7 1.376.937,7 4.608.466,1 27.578.136,6 2005 7.293.205,7 951.882,6 3.808.287,0 338.722,9 1.440.337,6 5.305.757,2 3.754.819,8 1.464.102,8 4.802.365,0 29.159.480,5 2006 7.658.394,8 980.826,8 3.978.641,1 368.981,7 1.544.889,6 5.662.879,4 4.140.569,9 1.579.347,5 5.035.414,3 30.949.945,1

Sumber : Kantor Sensus dan Statistk Propinsi Sumatera Barat Struktur perekonomian daerah dalam satu dekade terakhir masih didominasi oleh tiga sektor utama yaitu sektor peranan sektor pertanian dalam tahun 2003 sebesar 24,18% dan mengalami peningkatan pada tahun 2004 menjadi 24,40%, sedangkan dalam tahun 2005 mencapai 25,06%. Dari perkembangan tersebut menandakan sektor pertanian semakin dominan dan masih tetap menjadi penggerak perekonomian untuk beberapa tahun ke depan. Oleh sebab itu pembangunan sektor pertanian tahun 2007 tetap menjadi prioritas pembangunan dalam kerangka pengembangan perekonomian daerah dan peningkatan pendapatan penduduk yang sebahagian besar masih mengandalkan lapangan kerja pada sektor pertanian ini. Sektor perdagangan, hotel dan restoran yang merupakan penyumbang kedua terbesar dalam pembentukan PDRB daerah dengan kontribusi sebesar 18,79% dalam tahun 2003 dan pada tahun 2004 mengalami penurunan menjadi 18,71%, selanjutnya pada tahun 2005 juga mengalami penurunan menjadi 18,18%. Hal ini disebabkan

98 semakin menurunnya kontribusi sektor pertambangan dan penggalian serta sektor industri pengolahan yang sangat mempengaruhi sektor perdagangan ini. Sedangkan sektor jasa-jasa sebagai penyumbang ketiga dalam pembentukan PDRB juga mengalami penurunan sejak tahun 2002 sehingga menjadi dibawah 17%, hal ini berlangsung sampai dengan tahun 2004. Pertumbuhan ekonomi daerah pada tahun 2005 sebesar 5,53% yang berarti lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi yang dicapai pada tahun 2004 sebesar 5,46%. Diharapkan perekonomian daerah terus membaik dengan pertumbuhan sebesar 6,00% pada tahun 2006 dan pada tahun 2007 diharapkan lebih tinggi lagi yaitu sebesar 6,20%. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2005 dari sisi permintaan, didukung oleh konsumsi masyarakat yang mengalami pertumbuhan sebesar 3,5% dan konsumsi pemerintah sebesar 4,0%, sedangkan ekspor mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu sebesar 15,0%. Diharapkan ekspor ini terus mengalami peningkatan sehingga dapat lebih mendorong gerak perekonomian daerah. Dari sisi penawaran, sektor pertanian mengalami pertumbuhan sebesar 6,96% sementara sektor industri pengolahan hanya mengalami pertumbuhan sebesar 3,56% yang berarti berada dibawah sektor pertanian. Diharapkan untuk masa yang akan datang pertumbuhan sektor industri dapat lebih tinggi dari sektor pertanian sehingga terjadi kegiatan ekonomi yang memberikan nilai tambah bagi daerah. Untuk langkah-langkah yang dapat meningkatkan industri pengolahan terutama yang berbasis pertanian akan terus diupayakan, baik melalui pemberdayaan usaha yang sudah ada maupun dengan mendorong investor mengembangkan industri pengolahan dimaksud. Untuk merealisasikan pertumbuhan ekonomi daerah sebesar 5,9 % pada tahun 2006 dibutuhkan investasi sebesar Rp. 6.234 milyar menurut harga konstan tahun

masyarakat dan dunia usaha. yaitu sekitar 30.20 % pada tahun 2007 dibutuhkan investasi sebesar Rp. kondisi sosial ekonomi masyarakat. untuk itu program kerja pemerintah akan lebih diarahkan kepada penyiapan kerangka kebijakan dan peningkatan pelayanan serta menyediakan sarana prasarana yang dapat mendorong aktivitas penanaman modal. termasuk peningkatan investasi daerah sangat besar artinya terhadap efektifitas penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD).07% dari jumlah penduduk Sumatera Barat. khususnya penerimaan pajak daerah yang berasal dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea balik Nama (BBN).825 Kepala Keluarga.079.0% dari jumlah penduduk tahun . 7. Perkembangan kondisi perekonomian Sumatera Barat. dalam temuan dan hasil wawancara dalam penelitian ini. jumlah penduduk miskin di Propinsi Sumatera Barat tercatat sebanyak 1. Investasi masyarakat dan dunia usaha akan berperan lebih besar dibandingkan investasi pemerintah. Diharapkan peningkatan pertumbuhan ekonomi tersebut membawa pengaruh terhadap penurunan jumlah penduduk miskin dan jumlah pengangguran.104 milyar menurut harga konstan tahun 2000. Pada tahun 2005 berdasarkan hasil pendataan Susenas. sedangkan untuk merealisasikan pertumbuhan sebesar 6. dimana tingkat kemiskinan dan pengangguran mempunyai efek tidak langsung kepada efektivitas penerimaan daerah. terutama pada sektor dominan yang diharapkan meningkat seperti digambarlan diatas. Dengan terjadinya peningkatan perekonomian daerah melalui berbagai kebijakan dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi telah terjadi peningkatan diberbagai sektor. Jumlah ini diperkirakan sebanyak 22. Pada tahun 2006 jumlah ini diperkirakan mengalami peningkatan.241 orang atau sebanyak 233. Di samping itu.99 2000. Investasi tersebut berasal dari pemerintah. 2006.

. sedeangkan pada tahun 2004 jumlah tersenbut diperkirakan akan terjadi penurunan. pengangguran tersebut adalah : Kelompok orang yang bekerja dibawah jam kerja yang sudah ditentukan (Under – Employment).026. Kelompok orang yang bekerja tidak pada tempatnya dan tidak sesuai dengan latar belakang serta keahliannya. tetapi yang lebih penting dan erat kaitannya dengan efektivitas pembayaran PKB dan BBN adalah tenaga yang bekerja yang dikelompokan kedalam setengah penganggur. salah satu diantanya adalah Penerimaan yang bersumber dari pajak daerah. Namun. sehingga bekerja tidak seperti yang diharapkan.53%. Namun dalam tahun 2007 dengan berbagai program penanggulangan kemiskinan diantara adalah penanggulangan kemiskinan yang berbasis nagari. Peningkatan jumlah penduduk miskin dalam temuan penelitian sangat mempengaruhi efektivitas pemasukan penerimaan yang berasal dari PAD.09%. diharapkan angka kemiskinan tahun 2007 menjadi 17. Demikian halnya dengan angka pengganguran terbuka. khususnya Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama (BBN). Berdsarkan data Kantor Sensus dan Statistik Sumatera Barat. Jumlah pengangguran terbuka di Propinsi Sumatera adalah cukup tinggi. dimana dari jumlah pencari kerja sebanyak 2.10%.10% tersebut.40% dan awal tahun berikutnya akan mengalami penurunan lagi menjadi 13.100 2006. yaitu sekitar 14.950 orang diperkirakan tingkat pengangguran terbuka sekitar 16. masalah pengangguran bukan terletak kepada penanganan penurunan tingkat pengangguran terbuka menjadi 13. (Under .Utilized).

101 Bekerja tidak sepantasnya bekerja. perizinan.5 %. Dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah ( RKPD ) Propinsi Sumatera Barat Tahun 2007. seperti anak-anak. .0 % dan tahun 2005 sekitar 44. teman dan saudara serta bentuk KKN lainnya (Disquised Un-Employment). adanya parkir liar yang mengganggu tata tertib pelayanan. khususnya penerimaan daerah yang bersumber dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama (BBN). Penyebab tingginya angka orang bekerja yang disebut setengah penganggur tersebut disebabkan rendah kualitas sumberdaya manusia seperti pendidikan. kesehatan. pada tahun 2004 jumlah sekitar 44. seperti pada kasus pelayanan publik pembayaran pembayaran melalui calo dalam pengurusan pajak daerah. penulis menguraikan kemampuan daerah dalam pemungutan pajak daerah. hubungan keluarga. C. kemampuan untuk merealisasikan target yang telah ditetapkan di awal tahun anggaran berjalan dengan realisasi pemungutan yang dilakukan pada tahun bersangkutan. Kemudian secara alamiah kenaikan jumlah penduduk satu dekade sebelumnya menjadi pencari dan menyebabkan tingginya jumlah pencari kerja. Efektivitas Pajak Daerah Dalam membahas efektivitas pajak daerah terhadap penerimaan daerah. Untuk menjelaskan efektivitas pemungutan pajak daerah ini. Ketiga bentuk pengangguran ini jumlahnya cukup besar. Kedua faktor penyebab tenaga kerja setengah penganggur tersebut akan mempengaruhi efektivitas pelayanan sumber daya bagi pusat-pusat pelayanan. gizi dan tekanan urbanisasi. belum lagi termasuk pertambahan kelompok pencari dari anak sekolah/mahasiswa yang menamatkan pendidikan.

179 31.888 406.4 berikut : .256.236 457.649.163 93.546 281. Tabel 3 Pertumbuhan PAD Propinsi Sumatera Barat Selama Tahun Anggaran 2002 .450.065 Kenaikan Rp 72.346 68.829 % 34.574.074. Keuangan daerah merupakan salah satu faktor terpenting dalam menganalisa potensi dan kebutuhan daerah.2006 (dalam Rp.521.606.96 33. Sumbar Tahun 2006. Pendapatan Asli Daerah merupakan salah satu sumber utama keuangan daerah untuk membiayai biaya administrasi umum dan biaya operasi pemeliharaan disamping penerimaan lainnya berupa bagi hasil pajak/bukan pajak.348 50.26 8. 000) No. Besarnya kontribusi Pendapatan Asli Daerah terhadap Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) menunjukkan tingkat ketergantungan daerah terhadap Pemerintah Pusat.00 31.624.284.42 12. 1 2 3 4 5 Tahun Anggaran 2002 2003 2004 2005 2006 Realisasi PAD 213. bantuan pembangunan serta pinjaman daerah. Perkembangan Pendapatan Asli Daerah Sumatera Barat dari tahun ketahun terus mengalami peningkatan rata-rata 32. akan tetapi persentase pertumbuhannya berfluktuatif. Kontribusi PAD Sumatera Barat Tahun Anggaran 2002 sampai dengan 2006 dapat dilihat pada tabel IV.44 Sumber : Dinas Pendapatan Prop.102 Kemampuan daerah dalam memajukan perekonomian daerahnya terlihat dari perkembangan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang positif disisi penerimaan dan peranannya dari tahun ketahun yang semakin meningkat.709 375.166.69% pertahun.

450.888 406. Pada tahun 2006.709 375.649.40 %. Menurut undang-undang nomor 34 tahun 2000 jenis-jenis pajak daerah propinsi meliputi : Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan kendaraan di atas air Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) dan kendaraan di atas air Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Permukaan Kontribusi PKB dan BBN KB terhadap PAD dan APBD Propinsi Sumatera Barat Tahun Anggaran 2002-2006 rata-rata sekitar 61.409.546 281.78 55.383 704.431. konstribusi PAD terhadap APBD Sumatera adalah sebanyak 46. namun apapabila dilihat perkembangan selama 5 tahun terakhir jumlahnya menunjukan peningkatan.256.103 Tabel 4 Kontribusi PAD terhadap APBD Propinsi Sumbar Dalam Tahun Anggaran 2002 – 2006 (Dalam Rp.284.Dinas Pendapatan Prop.383 724.149. Dari data di atas terlihat bahwa kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) mengalam fluktuasi.236 457. ribuan) Tahun Anggaran 2002 2003 2004 2005 2006 Realisasi PAD 213.50 %.96 51.41%.41 Sumber : .57 %.065 APBD 561. Rendahnya konstribusi perimaan ini sebagai . Sumbar.236 985.074.Tahun 2006.755 738. sedangkan dibandingkan dengan jumlah PDRB Propinsi Sumatera Barat adalah ratarata sekitar 23.50 46.165 % 37. 12 % sampai 80.641.20 % sampai 37.809.96 39. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan tahun 2005 sekitar 55.

20% sampai dengan 37.000 ( Rp.000 187.74 39.356. thd PAD (%) 61.57 Kontr.95%.75 33.216 174.709 375. 000 ) 213.40%.649.500.0 2 108.104 sumber PAD utama adalah disebabkan penerimaan daerah yang terbesar adalah berasal dari dana perimbangan keuangan yang bersumber dari APBN seperti DAU.284.945 368. DBH dari pajak dan bukan pajak serta DAK.40 Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Prop. Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa kontribusi pajak daerah (PKB dan BBNKB) Propinsi Sumatera Barat terhadap Pendapatan Asli Daerah setiap tahunnya masih berluktuatif dengan rata – rata kontribusinya selama lima tahun terakhir sebesar 61.763.256.450.000 119.000 272.1 7 112.90 37.500. Untuk mengetahui kontribusi pajak daerah terhadap penerimaan asli daerah dan penerimaan total daerah (APBD) di Propinsi Sumatera Barat selama tahun 2002 sampai dengan tahun 2006 dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5 Kontribusi PKB dan BBN KB terhadap PAD dan APBD Propinsi Sumatera Barat Tahun Anggaran 2002-2006 Realisasi Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 Target PKB dan BBNKB 100.16 72.20 24.57%.7 1 145.12 61.000) 130.236 457.48 80.065 Kontr.Tahun 2006. sedangkan pada tahun 2006 adalah sekitar 80.5 5 130.365.95 65.546 281. Sedangkan konstribusinya .12%. Sumbar.454. Sedangkan kontribusinya terhadap APBD adalah sebesar 23.197 244.931 % 129.800.074. thd APBD (%) 23.975.404.888 406.000.6 8 PAD ( Rp. Pada tahun 2003 konstribusinya terhadap PAD adalah sekitar 61.980 294.000 327.

pada tahun 2003 adalah sekitar 23.000 59.200.033 166.575.000 169.500.88 132. D.588 127. 48.40%.000 74.345.400.21 118.70 132. Hasil Penelitian dan Analisis Keadaan Personil Kantor Bersama Samsat Berdasarkan situasi kantor per akhir Januari 2006. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.358 199. Dilihat dari segi penerimaan daerah pencapaian target telah kinerja memuaskan.496.000 192.469 Target Realisasi 135.300.98 118.000.69 138.586.88 101. Lantas Polda Dispenda Jasa Raharja Jumlah : : : : 30 orang 33 orang 2 orang 65 orang .237 52.32 151.828 Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Prop.800.000.034 107.500.245.43 1. 4.000 149.463.500.892. dimana fakta yang dikemukakan Tabel 6 terlihat bahwa realisasi telah melampaui target yang ditetapkan.557 56.869.946 106.162 80. jumlah personil yang terdapat di Kantor Bersama Samsat Sumatera Barat adalah sebagai berikut : Dit.000 264. 5.658 63. 000) N o Tahun Pajak Kendaraan Bermotor % Bea Balik Nama KendaraanBermotor % Target 2002 2003 2004 2005 2006 Realisasi 123.000 99.669.418.Sumbar 2006. 2.000 95.000 70.159.03 156.105 terhadap APBD.20% dan pada tahun 2006 naik menjadi 37.000 125. 3. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal. Secara terinci kinerja dari aspek penerimaan tersebut dapat dilihat tabel berikut: Tabel 6 Target dan Realisasi PKB dan BBNKB Selama tahun anggaran 2002 s/d 2006 (Dalam Rp.

Tabel 8 Jumlah Rata-rata Wajib Pajak yang Dilayani Per hari Pokja/ Loket Loket I Loket II Loket III Loket IV Loket V Sumber : Ditlantas Polda Sumatera Barat. yang jumlahnya paling sedikit (rata-rata 200 orang wajib pajak perhari). Dari tabel 8 terlihat bahwa jumlah wajib pajak yang dilayani pada setiap loket tidak sama.106 Distribusi petugas yang terdapat pada setiap pokja/loket yang langsung berhubungan dengan masyarakat wajib pajak dapat dilihat pada tabel 7 berikut : Tabel 7 Distribusi Jumlah Petugas Samsat Pada Setiap Loket Pelayanan Pokja/ Loket Polda Dispenda 2 0 9 3 1 15 Jasa Raharja 0 0 1 1 1 3 Jumlah 5 4 16 4 4 33 Loket I 3 Loket II 4 Loket III 6 Loket IV 0 Loket V 2 Jumlah 15 Sumber : Ditlantas Polda Sumatera Barat. Jumlah wajib pajak yang dilayani memang dapat berbeda. karena . Jumlah WP 650 orang 200 orang 400 orang 650 orang 200 orang Rata-rata setiap loket melayani 420 orang wajib pajak. Adapun jumlah wajib pajak yang dilayani rata-rata per hari adalah sebagaimana dapat dilihat pada tabel 8. Rata-rata wajib pajak yang datang setiap hari ke Loket I lebih banyak jika dibandingkan dengan Loket II.

BBN-KB dan SWDKLLJ wajib mengambil formulir di Loket I. Data Primer Data primer diperoleh dari wawancara dan kuesioner. petugas memerlukan waktu untuk menghitung besarnya PKB.107 sifat pekerjaan di setiap loket mempunyai spesifikasi yang berbeda. di samping adanya wajib pajak yang belum mempersiapkan dana untuk melakukan pembayaran pada saat itu. Masyarakat yang hendak membayar PKB atau memperpanjang STNK diperkenankan untuk melakukannya sebulan sebelum tanggal jatuh tempo. melanjutkan cek phisik kendaraan bermotor di Loket II. Umumnya wajib pajak setelah mengambil formulir di Loket I. Umumnya responden bekerja sebagai wiraswastawan. BBN-KB dan SWDKLLJ. Setelah selesai di Loket III kebanyakan wajib pajak pergi meninggalkan Kantor Samsat. Semua kendaraan bermotor yang hendak membayar PKB. Kebanyakan wajib pajak baru datang kembali ke Kantor Bersama Samsat pada keesokan harinya. walaupun dalam prakteknya semua kendaraan bermotor diharuskan untuk melakukan cek phisik. dijelaskan sebagai berikut : Terhadap Karakteristik Responden Berdasarkan hasil berikut ini : Pada tabel 9 dapat dilihat profil responden berdasarkan pekerjaan. Menurut pedoman tata laksana Sistim Administrasi Manunggal Dibawah Satu Atas (Samsat). tidak semua kendaraan bermotor wajib melakukan cek phisik (khususnya untuk mengesahkan STNK setiap tahun). karena untuk membayar PKB. yaitu sebanyak 19 responden atau sebesar penelitian. diperoleh data sebagaimana dijelaskan . lalu melakukan pendaftaran di Loket III. tetapi yang terdaftar hanya yang sesuai dengan ketentuan.

108 45,24%, sebagai pegawai sebanyak 15 responden atau 35,71% dan sebanyak 8 orang atau 19,05% memiliki pekerjaan selain wiraswasta dan pegawai.

Tabel 9 Profil Responden Berdasarkan Pekerjaan Responden Pekerjaan Wiraswasta Pegawai Pengemudi Lainnya Jumlah Jumlah Sampel (n) 19 15 5 3 42 Prosentase (%) 45,24 35,71 11,91 7,14 100

Berdasarkan umur responden, usia 15-30 tahun sebanyak 6 responden atau 14,29%, umur 31-40 tahun sebanyak 17 responden atau 40,48% dan yang berumur 4150 tahun sebanyak 15 responden atau 35,71%. Sisanya berumur di atas 51 tahun, yaitu 4 responden atau 9,52%. Variasi umur wajib pajak yang menjadi responden dianggap bisa mewakili seluruh usia wajib pajak. Profil umur responden dapat dilihat pada tabel 10. Tabel 10. Profil Responden Berdasarkan Umur Responden Umur (Tahun) 15 – 30 31 – 40 41 – 50 51 ke atas Jumlah Jumlah Sampel (n) 6 17 15 4 42 Prosentase (%) 14,29 40,48 35,71 9,52 100

Umumnya responden mempunyai pendidikan SLTA yaitu sebanyak 18 responden atau 42,86%, Perguruan Tinggai (PT) 14 responden atau 33,33%.

109 Responden yang berpendidikan dasar (SD dan SLTP) ada 8 responden atau 19,05%. Berarti tingkat pendidikan responden cukup baik. Profil responden berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 11.

Tabel 11. Profil Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pendidikan SD SLTP SLTA PT Lainnya Jumlah Responden Jumlah Sampel (n) 2 6 18 14 2 42 Prosentase (%) 4,76 14,29 42,86 33,33 4,76 100

Hasil penelitian yang diperoleh dari kuesioner yang diedarkan dengan menanyakan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan urusan pada setiap loket pelayanan, mulai dari Loket I hingga Loket V, dapat diuraikan berikut ini. Loket I (Penyediaan Formulir dan Penerangan) Hasil angket yang disebarkan kepada 42 responden wajib pajak yang berurusan ke Samsat mengenai waktu yang digunakan untuk pelayanan pada Loket I adalah sebagai mana yang dapat dilihat pada tabel 12. Dari sebaran kuesioner diperoleh hasil 29 orang atau 69,05% responden menjawab waktu yang diperlukan di Loket I kurang dari 15 menit, 12 orang atau 28,57% responden mengatakan waktu yang diperluken antara 15 menit – 30 menit dan 1 orang atau 2,38% responden mengatakan lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 60 menit.

110

Tabel 12. Profil Responden Berdasarkan Waktu Yang Digunakan Pada Loket I Waktu Kurang dari 15 menit 15 menit – 30 menit 31 menit – 60 menit Lebih dari 60 menit Jumlah Responden Jumlah Sampel Prosentase (n) (%) 29 69,05 12 28,57 1 2,38 0 0 42 100

Rata-rata seorang wajib pajak menghabiskan waktu 12,68 menit di Loket I (lihat tabel 13). Loket II (Cek Phisik Kendaraan Bermotor) Loket II melayani pekerjaan cek phisik kendaraan bermotor meliputi pengecekan nomor rangka, nomor mesin, warna, merek serta tahun pembuatan kendaraan bermotor. Hasil yang diperoleh dari sebaran kuesioner adalah sebagaimana yang dapat dilihat pada tabel 13. Dari jawaban kuesioner yang diberikan kepada 42 responden wajib pajak menunjukkan bahwa banyak waktu yang digunakan pada Loket II, yang dimulai dari menyerahkan formulir cek phisik, lalu petugas lapangan melaksanakan tugasnya dengan menggesek nomor rangka dan nomor mesin kendaraan bermotor, sampai pengesahan yang dilakukan oleh petugas yang berwenang yaitu Perwira Urusan Cek

Profil Responden Berdasarkan Waktu Yang Digunakan Pada Loket II Responden Waktu Kurang dari 15 menit 15 menit – 30 menit 31 menit – 60 menit Lebih dari 60 menit Jumlah Jumlah Sampel (n) 18 21 3 0 42 Prosentase (%) 42. penelitian berkas dan hasil cek phisik. Dari hasil sebaran kuesioner yang dilakukan. KTP. Selanjutnya kegiatan Jasa Raharja menetapkan SWDKLLJ untuk asuransi kendaraan bermotor.14 0 100 Rata-rata seorang wajib pajak menghabiskan waktu 17. di mana kegiatan ini dilakukan oleh petugas Polri. .86% responden mengatakan kurang dari 15 menit.14% responden mengatakan antara 31 menit – 60 menit dan yang mengatakan lebih dari 60 menit nihil. Sedangkan kegiatan yang dilakukan oleh Dispenda meliputi penelitian pajak. Loket III (Pendaftaran. diperoleh komposisi sebagaimana dapat dilihat pada tabel 14. Penelitian dan Penetapan) Pada Loket III dilaksanakan pendaftaran.86 50 7. BPKB atau identitas lainnya. penetapan PKB dan print notice untuk diteruskan ke loket berikutnya. selanjutnya menyerahkan notice. Tabel 13. merekam data STNK dan melakukan order TNKB (Tanda Nomor Kendaraan Bermotor). Sedangkan 3 orang atau 7.111 Phisik menunjukkan 18 orang atau 42. 21 orang atau 50% responden mengatakan antara 15 menit – 30 menit.68 menit di Loket II (lihat tabel 13).

BBN-KB. 5 orang atau 11. dilakukan pembayaran. di dalam penggunaan waktu adalah 24 orang atau 57. Administrasi STNK. 8 orang atau 19. validasi dan menyerahkan notice 1 dan 2 yang dilakukan oleh Kas Daerah (Dispenda).29 11. TNKB dan SWDKLLJ) Pada Loket IV.76% responden yang mengatakan lebih dari 60 menit. Hasil sebaran kuesioner pada Loket IV.112 Tabel 14.76 100 Komposisi hasil penelitian yang diperoleh adalah 27 orang atau 64. Pembayaran PKB. Profil Responden Berdasarkan Waktu Yang Digunakan Pada Loket III Waktu Kurang dari 15 menit 15 menit – 30 menit 31 menit – 60 menit Lebih dari 60 menit Jumlah Responden Jumlah Sampel (n) 8 27 5 2 42 Prosentase (%) 19.90% responden mengatakan lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 60 menit dan 2 orang atau 4.05 64.05% responden mengatakan kurang dari 15 menit. Loket IV (Pemeriksaan.29% responden mengatakan lebih dari 15 menit tetapi kurang dari 30 menit.14% responden mengatakan . Rata-rata pelayanan seorang wajib pajak pada Loket III adalah 24.90 4.11 menit (lihat tabel 13).

Profil Responden Berdasarkan Waktu Yang Digunakan Pada Loket IV Waktu Kurang dari 15 menit 15 menit – 30 menit 31 menit – 60 menit Lebih dari 60 menit Jumlah Responden Jumlah Sampel (n) 24 14 4 0 42 Prosentase (%) 57. 14 orang atau 33. Rata-rata seorang wajib pajak menghabiskan waktu 16.113 diperlukan waktu kurang dari 15 menit.53% responden memerlukan waktu 31 menit – 60 menit. dengan melakukan kegiatan untuk pekerjaan verifikasi. sedangkan Dispenda dan Jasa Raharja menerbitkan Penning PKB dan mencetak KTL. Pada Loket V petugas yang melayani terdiri dari instansi Polri. Untuk lengkapnya dapat dilihat pada tabel 15. Tabel 15. melakukan pencetakan STNK.53 0 100 Loket V (Pengesahan dan Penyerahan) Loket V bertugas memberikan pelayanan pengesahan dan penyerahan berkas yang dikirim dari Loket IV. Dari kuesioner yang diisi responden hasilnya dapat dilihat pada tabel 16.07 menit untuk berurusan di Loket IV (lihat tabel 15). Pekerjaan Polri mencetak STNK dan validasi. . 4 orang atau 9. menerbitkan Penning PKB dan validasi dengan mencetak KTL (PKB dan SWDKLLJ).33 9. Dispenda dan Jasa Raharja.4 33.33% responden mengatakan lebih dari 15 menit tetapi tidak lebih dari 30 menit.

.114 Komposisi yang diperoleh dari hasil penelitian adalah 8 orang atau 19.52% responden mengatakan diperlukan waktu antara 15 menit sampai dengan 30 menit. Hasil penilaian terhadap kriteria ini dapat dilihat pada tabel 18 sampai dengan tabel 23. Sebesar 11. bahkan 28. pada umumnya yaitu 57.05 15 menit – 30 menit 25 59.67 Lebih dari 60 menit 2 4. 25 orang atau 59.05% responden mengatakan kurang dari 15 menit.76 Jumlah 42 100 Rata-rata pelayanan untuk seorang wajib pajak di Loket V adalah 25.91% responden atau 5 orang mengatakan pelayanan tidak mudah dan hanya 2. 7 orang atau 16.52 31 menit – 60 menit 7 16.57% responden atau 12 orang mengatakan pelayanan sangat mudah.18 menit (lihat tabel 17).14% responden atau 24 orang mengatakan pelayanan mudah.67% responden mengatakan diperlukan waktu lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 60 menit.38% responden atau 1 orang mengatakan pengurusan sangat tidak mudah atau sulit. Tabel 16. Dari tabel 8 dapat diketahui. Profil Responden Berdasarkan Waktu Yang Digunakan Pada Loket V Responden Waktu Jumlah Sampel Prosentase (n) (%) Kurang dari 15 menit 8 19.76% responden mengatakan lebih dari 60 menit. Penilaian Terhadap Kriteria Pelayanan Penilaian terhadap 8 (delapan) kriteria pelayanan adalah untuk mengetahui kepuasan wajib pajak terhadap pelayanan yang diberikan oleh petugas Samsat. dan 2 orang atau 4.

cepat.57 57.29 28.14 11.62 % responden atau 20 orang dan 9. Sebanyak 14. prosesnya diselenggarakan dengan mudah. 28. Sedangkan yang menjawab tidak efisien ada 47. tidak berbelit-belit dan dapat dipahami serta efisien.57% responden atau 12 orang mengatakan efisien.52 100 . Profil Responden Berdasarkan Efisiensi dan Kesederhanaan Dalam Pembuatan STNK Responden Kategori Sangat Efisien Efisien Tidak Efisien Tidak Menjawab Jumlah Jumlah Sampel (n) 6 12 20 4 42 Prosentase (%) 14.29 % responden atau 6 orang mengatakan bahwa pembuatan STNK dilakukan dengan sangat efisien. Profil Responden Berdasarkan Kemudahan Kejelasan Dalam Pelayanan Responden Kategori Sangat Mudah Mudah Tidak Mudah Sangat Tidak Mudah / Sulit Jumlah Jumlah Sampel (n) 12 24 5 1 42 Prosentase (%) 28.115 Untuk efisiensi dan kesederhanaan dalam pelayanan. Tabel 18. Tabel 19 memperlihatkan hasil sebaran kuesioner yang telah diolah.57 47.91 2.38 100 Tabel 19.62 9.52% responden atau 4 orang tidak menjawab atau tidak melingkari salah satu nomor pilihan yang telah disediakan.

52 4. sarana . 59.91 100 Sebaran responden berdasarkan rasa keadilan dalam pelayanan yang diberikan oleh petugas Samsat sebagaimana yang dapat dilihat pada tabel 21 adalah. Tabel 20 Profil Responden Berdasarkan Keamanan dan Kenyamanan Selama Penyelesaian STNK Responden Kategori Sangat Aman Aman Tidak Aman Tidak Menjawab Jumlah Jumlah Sampel (n) 10 25 2 5 42 Prosentase (%) 23. 8. Mengenai ketersediaan prasarana. Dari hasil kuesioner terlihat bahwa tarnyata petugas di dalam memberikan pelayanan tidak membeda-bedakan antara calo dan yang bukan ca1o. Sedangkan responden yang mengatakan tidak adil ada 19. jawaban responden dapat dilihat pada tabel 20. 54.43% responden atau 9 orang menjawab bahwa prasarana. sarana dan fasilitas yang ada dapat dilihat. 61. Sedangkan yang menjawab tidak aman ada 4.81 59. baik dari segi dokumen maupun lingkungan dan dalam pemerosesan berkas wajib pajak. Dari tabel 20 tersebut terlihat 23.81% responden atau 10 orang menjawab sangat adil.38 % responden atau 1 orang mengatakan sangat tidak adil.91 % responden atau 5 orang rnemilih tidak menjawab.05 % responden atau 8 orang dan 2.76 % responden atau 2 orang dan 11.76 % responden atau 23 orang mengatakan adil.81 % responden atau 10 orang menjawab sangat aman.76 11.90% responden 26 orang mengatakan prasarana. sarana dan fasilitas yang tersedia sangat memadai.116 Mengenai keamanan dan kenyamanan.52 % responden atau 25 orang mengatakan aman. 23.

dan 52. sarana serta fasilitas yang tersedia.38 % responden atau 1 orang mengatakan tidak memadai.29 % responden atau 6 orang mengatakan kurang memadai dan 2. misalnya peralatan kerja. Selengkapnya dapat dilihat pada label 22.29 2.95% responden atau 13 orang mengatakan cukup baik.90 14. ruangan yang tersedia untuk pelayanan.91% responden atau 5 orang mengatakan sangat balk.38 100 Prasarana.38% responden atau 22 orang mengatakan .05 2. sedangkan 14. toilet.117 dan fasilitas yang ada cukup memadai.81 54. Tabel 21 Profil Responden Berdasarkan Keadlan Dalam Pelayanan yang Diberikan oleh Petugas Samsat Kategori Sangat Adil Adil Tidak Adil Sangat Tidak Adil Jumlah Responden Jumlah Sampel (n) 10 23 8 1 42 Tabel 22 Profil Responden Berdasarkan Prasarana Sarana dan Fasilitas yang Tersedia Kategori Sangat Memadai Cukup Memadai Kukrang Memadai Tidak Memadai Jumlah Responden Jumlah Sampel (n) 9 26 6 1 42 Prosentase (%) 21. fasilitas umum seperti mushalla. 11. 30.43 61.76 19.38 100 Prosentase (%) 23. kantin dan lain-lain. Berdasarkan pelayanan secara keseiuruhan yang diberikan oleh petugas.

peralatan kerja seperti komputer dan ruangan kerja petugas yang memadai.33 %). Tabel 23 Profil Responden Berdasarkan Kualitas Pelayanan Secara Keseluruhan Responden Kategori Sangat Baik Cukup Baik Kurang Baik Tidak Baik Jumlah Jumlah Sampel (n) 5 13 22 2 42 Prosentase (%) 11. Ketersediaan Prasana.24 %) dan Pegawai (35.76 100 Terhadap Identitas Pribadi Responden Umumnya responden masih berusia niuda yaitu 31-40 tahun (40. tersedianya mushalla.38 4. Sarana dan Fasilitas Ketersediaan prasarana.76% responden atau 2 orang mengatakan tidak baik. sarana dan fasilitas yang disediakan diantaranya ruang tunggu dan kursi tamu yang mencukupi.71%) dengan tingkat pendidikan cukup dominan SLTA (42. .91 30.86 %) dan Perguruan Tinggi (33.95 52.71 %).118 kurang baik dan 4. sarana dan fasilitas yang ada di Kantor Bersama Samsat Sumatera Barat di Padang. secara umum cukup baik. tempat parkir yang cukup luas. Prasarana. telepon umum dan warung atau kantin.48%) dan 4150 tahun (35. Hasil sebaran kuesioner mengenai kualitas pelayanan yang diberikan oleh petugas secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel 23. Pekerjaan responden sebagian besar adalah Wiraswasta (45.

Tugas Pokok dan Fungsi. maka akan diperoleh hubungan antara dua variabel dengan nilai yang cukup baik. yang berarti bahwa kaitan yang sangat nyata antara ketersediaan prasarana. maka akan semakin besar pula kepuasan yang dirasakan oleh masyarakat pemohon STNK. perlengkapan kerja dan fasilitas lain yang berfungsi sebagai alat utama atau pendukung di dalam pelaksanaan pekerjaan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik pelayanan dan ketersediaan prasarana. sehingga pelayanan satu hari selesai (one day service) diharapkan dapat dilaksanakan atau diwujudkan. sarana dan fasilitas yang disediakan di kantor tersebut. dan Susunan Organisasi Dinas Pendapatan Daerah Sumatera Barat.119 Menurut Moenir (1998). 9 Mei 2001 tentang Kedudukan. bahwa salah satu fungsi dari sarana pelayanan adalah menimbulkan perasaan puas dan nyaman pada orang yang berkepentingan. Sesuai dengan apa yang dikatakan Moenir (1998). Bila dilakukan analisis untuk melihat kaitan antara ketersediaan prasarana. sarana dan fasifitas dengan kepuasan pelayanan. Mekanisme Pelayanan Kantor Bersama SAMSAT Secara kelembagaan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) pelayanan pendapatan daerah berada dibawah Dinas Pendapatan Daerah Propinsi Sumatera Barat yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah Nomor : 5 Tahun 2001 tanggal. sehingga dapat mengurangi sifat emosional mereka yang berlebihan. dan juga berfungsi sosial dalam rangka memenuhi kebutuhan orang-orang yang sedang berhubungan dengan orang kerja. . E. sarana dan fasilitas di Kantor Bersama Samsat dengan kepuasan dalam pelayanan. sarana pelayanan adalah segala jenis peralatan peralatan.

karena memerlukan waktu yang lama. sebelum adanya SAMSAT pembayaran PKB. SWDKLLJ serta STNK. Jasa Raharja (Persero) Cabang Sumatera Barat. Masyarakat yang mengurus atau membayar pajak . BBN-KB. BBN-KB. 3 Tahun 1973 tentang Dinas Pendapatan Daerah pengurusan PKB dan BBN-KB dilaksanakan oleh Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Barat yang dipusatkan di Padang. dilakukan di tempat masing-masing instansi. dan biaya yang relatif besar untuk mengurus PKB. membebani dan tidak efisien bagi masyarakat. SWDKLLJ serta pengurusan STNK melibatkan 3 (tiga) instansi yang terpisah yaitu Dispenda. c. Sebelum adanya Samsat pembayaran PKB. Melakukan penatausahaan pemungutan pendapatan daerah. Ditlantas Polda. Melakukan pendaftaran dan penetapan. STNK oleh Ditlantas Polda Sumatera Barat dan Asuransi (SWDKLLJ) oleh PT. Dalam pelaksanaan operasional mempunyai fungsi : a. Dengan demikian. Pelaksanaan pelayanan terhadap PKB dan BBN-KB yang dilkelola pada UPTD dilaksanakan melalui Simtim Administrasi Manunggal Dibawah Satu Atap yang dikenal dikenal dengan SAMSAT. yang sangat melelahkan. Jasa Raharja. BBN-KB dan SWDKLLJ maupun pengurusan STNK. Dengan adanya Perda No. Memberikan pelayanan kepada masyarakat. dan PT.120 Pada UPTD Pelayanan Pendapatan Daerah mempunyai tugas pokok melaksanakan pemungutan pendapatan daerah sesuai dengan bidang teknisnya. b. penagihan dan pelaporan pendapatan daerah. Karena masing-masing instansi berada di lokasi yang berjauhan menyebabkan masyarakat sangat terbebani.

kini bernaung dalam satu atap atau satu kantor. Jadi Samsat bukanlah suatu institusi atau organisasi baru. Menteri Keuangan dan Menteri Pertahanan dan Keamanan. SWDKLLJ maupun pengurusan STNK bernaung di dalam satu kantor atau satu atap. Melihat kerepotan yang dialami oleh masyarakat dan rendahnya penerimaan pembayaran atas pemilikan atau penguasaan kendaraan bermotor. tentang pembentukan Samsat. Hanya pekerjaan yang tadinya dilakukan di tempat atau di kantor masing-masing. pada waktu itu pengurusan PKB atau BBN-KB bisa dipersingkat menjadi sekitar 6 (enam) hari kerja. karena yang selalu melakukan razia kendaraan bermotor di jalan raya hanya Ditlantas Polda Sumatera Barat.121 atas pemilihan atau penguasaan kendaraan bermotor harus dan pergi ke Padang untuk mengunjungi ketiga instansi tersebut di lokasi yang berjauhan. . Pengurusan dan pembayaran pajak berkenaan dengan pemilikan dan penguasaan kendaraan bermotor pada waktu itu bisa menghabiskan waktu sekitar 10 (sepuluh) hari kerja. BBN-KB. pada tahun 1976 diadakan instruksi bersama antara Menteri Dalam Negeri. Akibat pembayaran yang terpisah-pisah jumlah penerimaan dari pemilikan atau penguasaan kendaraan bermotor sangat rendah. sehingga sangat memudahkan bagi masyarakat dan dapat meningkatkan penerimaan. Dengan adanya Samsat. Masyarakat pemilik kendaraan bermotor melihat lebih penting membayar STNK dan plat nomor polisi kendaraan bermotor dari pada membayar PKB dan SWDKLLJ. Di dalam Samsat ketiga instansi tetap melakukan tugas masing-masing seperti sebelumnya. sehingga masyarakat hanya cukup datang kesatu tempat. Dimana ketiga instansi yang terkait dengan pembayaran PKB. Masing lamanya waktu yang diperlukan karena pembayaran PKB maupun BBN-KB untuk Provinsi Sumatera Barat masih dipusatkan di Kota Padang.

Jangka waktu pengurusan PKB. Maksud dilaksanakan one day servises adalah untuk peningkatan efisiensi dan efektivitas pelayanan dalam pembayaran PKB dan BBN-KB karena : Menghabiskan banyak waktu dan biaya karena pembayaran atau pengurusannya dilakukan di masing-masing instansi yang letaknya berjauhan Biaya pengurusan ( social cost ) yang dikeluarkan masyarakat cukup besar. BBN-KB. Di tiap-tiap kabupaten dan kota dibentuk cabang Samsat sehingga sangat membantu masyarakat. maka pelayanan pada Samsat untuk membayar PKB. dibentuk cabang-cabang Samsat sehingga masyarakat tidak perlu lagi harus datang ke Padang. SWDKLLJ dan atau perpanjangan STNK dilaksanakan dengan motto ”one day service”. Penerimaan PKB. BBN-KB dan SWDKLLJ dilakukan sekaligus atau bersamaan. karena adakalanya masyarakat hanya membayar di satu instansi sesuai dengan kepentingannya. Dengan dilaksanakan one day services masyakat merasa diuntungkan karena : Sangat meringankan masyarakat dari sisi waktu dan biaya pengurusan karena pembayarannya dilakukan di satu tempat atau kantor. BBN-KB dan SWDKLLJ diharapkan bisa diselesaikan dalam 1 (satu) hari kerja.122 Selanjutnya. Artinya dalam pengurusan atau pembayaran PKB. BBN-KB. . SWDKLLJ maupun pengurusan STNK bisa ditekan menjadi 2-3 hari kerja. Dalam era otonomi daerah dimana tujuan penyelenggaraan pemerintah daerah adalah memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Penerimaan rendah. untuk lebih mempermudah masyarakat di daerah.

melayani cek phisik kendaraan bermotor. Golongan II. melayani penerimaan pembayaran PKB. kuasa wajib pajak dan ektra cover. kendaraan bermotor tukar identitas pemilik dan atau kendaraan bermotor. penelitian. yaitu : Pokja I/Loket I. melayani pengarsipan. Pokja V/Loket V. Loket khusus. melayani penyediaan formulir. melayani pengesahan dan penyerahan. melayani penyediaan formulir dan penerangan. penelitian dan penetapan. merupakan pendaftaran Surat Tanda Coba Kendaraan (STCK). melayani pendaftaran. Pokja IV/Loket IV. meliputi pendaftaran kendaraan bermotor baru. yaitu : Pokja I/Loket I. melayani pendaftaran. penerangan KTL (PKB dan SWDKLLJ) Pokja II/Loket II. Pokja II/Loket II. TNKB dan SWDKLLJ. Pokja III/Loket III. dibentuk berdasarkan tuntutan kebutuhan pelayanan di luar mekanisme Pokja I hingga Pokja VI. dilayani melalui 3 (tiga) pokja atau loket pelayanan. Pokja III/Loket III. Golongan ini dilakukan melalui 6 (enam) pokja/loket pelayanan. kendaraan bermotor setelah 5 tahun. dan kendaraan bermotor pindah keluarga daerah. . Pokja VI/Loket VI. melayani pengarsipan. registrasi dan penyerahan.123 Prosedur pelayanan pada Kantor Bersama SAMSAT pada dasarnya dilakukan melalui kelompok kerja (pokja) atau loket. biaya administrasi STNK. BBN-KB. berfungsi melaksanakan kegiatan pelayanan beberapa persyaratan meliputi blokir. kendaraan bermotor khusus. yang terbagi atas 3 (tiga) golongan : Golongan I.

Dilakukan melalui 5 (lima) pokja/loket pelayanan. memberikan paraf pada formulir. bertugas menyediakan dan menyerahkan formulir. menerima biaya administrasi STNK. mengaman-kan dan menugaskan tim pemeriksa. Jasa Raharga (Persero)) Polri.124 Golongan III. TNKB. Pokja II/Loket III (Polri) Polri. Jasa Raharja (Persero)) Polri. di mana pelayanannya hampir sama dengan pelayanan pada Golongan II. Pokja III/Loket III (Polri. Dispenda. melayani pendaftaran pengesahan STNK setiap 1 (satu) tahun. dilihat dari kewajib mereka melayani permohonan pembuatan STNK menurut masing-masing pokja/loket adalah sebagai berikut : Pokja I/Loket I (Polri. terima dan ganti formulir. Jasa Raharja (Persero). pemeriksaan premi asuransi Jasa Raharja. dan nota cepat phisik. memberikan paraf dan resi pada pemohon. memberikan dan menetapkan No. PT. Dispenda. membubuhkan paraf pada lembar cek phisik dan registrasi kendaraan bermotor yang telah melakukan cek phisik. yaitu Dispenda. Rincian kegiatan ke 3 (tiga) unsur. bertugas menerima dan meneliti kelengkapan dan keabsahan berkas. PT. Jasa Raharja (Persero). Polri dan PT. Pol. bertugas memberikan penerangan tentang kewajiban membayar pajak. Dispenda. memberikan penerangan tentang syarat-syarat pendaftaran. bertugas melakukan cek phisik lengkap. bertugas memberikan penerangakan SWDKLLJ dan premi asuransi. . PT. membukukan keluar/masuk suatu formulir.

meneruskan berkas ke sub pokja SWDKLLJ dan menerima kembali berkas tersebut. PT. mengembalikan berkas ke sub pokja penetapan PKB dan BBN-KB. Pokja VI/Loket VI (Polri) Polri. Jasa Raharja (Persero). bertugas menetapkan besarnya PKB dan BBN-KB. menerima dan mengadminis-trasikan SWDKLLJ Pokja V/Loket V (Polri. bertugas menetapkan SWDKLLJ atau denda serta paraf pada nota pajak. mendistribusikan tindasan nota ke Dispenda dan Jasa Raharja. memberikan pengesahan pada STNK. bertugas melaksanakan penyerahan STNK yang akan diketik. Jasa Raharja (Persero). menyerahkan lembar asli nota/notice. Pokja IV/Loket IV (Dispenda. Polri dan PT. menyerahkan pening PKB ke pokja penyerahan STNK (Pokja V). Ketiga pimpinan instansi (Dispenda. meneruskan berkas ke sub pokok pengetikan notice/STNK dan mengorder TNKB ke pabrik TNKB. Skum pada nota pajak atau notice. bukti pembayaran pajak dan asuransi (Surat Ketetapan Pajak Daerah-SKPD) PKB. Dispenda. BBN-KB. menyerahkan STNK ke pokja penyerahan. Dispenda dan PT. .125 serta menuliskannya dalam formulir. SWDKLLJ dan administrasi STNK. bertugas melayani penerimaan pembayaran PKB. PT. Pkja VI menyiapkan dan mencari berkas yang diminta pokja pendaftaran. PT. memberi No. Jasa Raharja (Persero) memberikan pengesahan pada STNK. bertugas menerima berkas dari Pokja V dan meneruskannya ke petugas Pokja VI. BBN-KB dan SWDKLLJ. PT. Jasa Raharja (Persero). memberikan pengesahan pada STNK. Dispenda. Jasa Raharja (Persero)) Polri. Jasa Raharja (Persero)) Dispenda.

Walaupun bekerja dalam satu atap atau kantor sulit menyatukan ego masingmasing instansi. Berdasarkan hasil penelitian masih ditemui beberapa kelemahan antara lain : a. c. keamanan dan keterbukaan serta memperhitungkan efisiensi. hanya sebahagian kecil masyarakat yang dapat menikmati pelayanan one day sevice. Pol. b. Penilaian terhadap keberhasilan pelayanan satu hari selesai (one day serice) yang dilakukan oleh Samsat. dihitung mulai saat wajib pajak memasukkan berkas pada Loket I dan berakhir pada Loket V. Masih panjangnya proses birokrasi karena diharuskan dan pokja-pokja yang telah ditetapkan di atas. Selain itu kriteria lain yang dapat mendukung terwujudnya one day service adalah faktor kesederhanaan.126 menatausahakan berkas untuk memudahkan pencarian. Dalam pelaksanaan di lapangan. melalui loket-loket masalah prosedur admintrasi baik pada petugas maupun pada masyarakat wajib pajak yang ingin serba cepat dan melalui jalan pintas. membukukan dan mencatat berkas yang diterima dan yang keluar. Standar pelayanan one day service (1 x 24 jam). menandai dan menyisihkan berkas yang diblokir. dapat diukur melalui ketepatan waktu penyelesaian berkas. Standar kualitas waktu pelayanan setiap pajak pada setiap loket diupayakan mendekati Surat Keputusan Kapolri yaitu Skep No. kejelasan. ekonomis dan keadilan yang merata bagi setiap wajib pajak. : Skep/1320/VIII/ 1998 sebagai berikut : . Berdasarkan penelitian ditemukan faktor penyebabnya adalah masih adanya kelalaian oknum aparat. Hal ini disebabkan masih terdapat pengurusan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor penyelesaiannya dalam dua atau tidak tiga hari kerja.

maka perlu dilaksanakan Misi yang telah ditetapkan : . Berdasarkan keterangan dari staf Ditlantas Polda Sumatera Barat di Kantor Bersama Samsat Padang.127 • • • • • Loket I Loket II : 3 menit : 5 menit Loket III : 6 menit Loket IV : 4 menit Loket V : 4 menit Jika dihitung total waktu yang diperlukan dari Loket I sampai dengan Loket V memerlukan 22 menit. seharusnya dapat diselesaikan dalam waktu paling lama 2 jam. berarti total waktu yang diperlukan dalam berurusan di Kantor Bersama Samsat berdasarkan Skep Kapolri tersebut. one day service dapat terwujud atau apakah masyarakat telah dapat menikmati pelayanan selesai dalam satu hari dan bagaimana fungsi-fungsi manajemen dijalankan. Yang perlu kita ketahui adalah apakah dengan jumlah petugas yang ada dan jumlah wajib pajak yang dilayani setiap hari. jumlah waktu pelayanan seluruhnya dari Loket I sampai dengan Loket V adalah 35 menit dan jumlah petugas operasional yang langsung berhubungan dengan wajib pajak 33 orang. Berdasarkan Visi Kantor Bersama SAMSAT : Terwujudnya Pendapatan Daerah Yang Optimal Untuk Mendukung Keberhasilan Pembangunan Daerah. sehingga kurang relevan untuk mengukur berapa jumlah petugas yang ideal dalam penelitian ini. Dari sini dapat diambil kesimpulan jumlah petugas telah cukup memadai untuk melayani masyarakat yang datang berurusan setiap hari. seandainya perpindahan dari satu loket ke loket lainnya diperlukan waktu seluruhnya sekitar 60 menit.

Memberikan Pelayanan Yang Prima Kepada Masyarakat Melalui Peningkatan Kinerja Aparatur Pemerintahan Secara berkesinambungan. a. c. Kemudahan. Memberikan pelayanan tepat waktu Mengurangi kasus dan penyimbangan sistem prosedur Meningkatkan PAD dilakukan : a. 3. Dalam peningkatan pelayanan kepada masyarakat perlu dilakukan : a. Melaksanakan pemungutan secara efektif dan efisien’ b. b. maka hasil penelitian ini merekomendasikan pengelolaan PKB dan BBN-KB pada Kantor SAMSAT sebagai berikut : 1. Dalam memberikan keamanan dan keselamatan kepada pemilik kendaraan bermotor.128 1. c. Penyederhanaan sistim prosedur. b. Meningkat sistem koordinasi dengan instansi terkait. Maka untuk melaksanakan Visi dan Misi tersebut perlu dilakukan strategi dan kebijakan Kantor SAMSAT sebagai berikut : Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat Memberikan keamanan dan keselamatan kepada pemilik kenderaan bermotor. Melaksanakan tertib administrasi dan tertib pungutan. kepastian dan kecepatan pelayanan. Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) Berdasarkan strategi dan kebijakan diatas. 2. Menerapkan pelayanan prima 2. Untuk menjadikan Pendapatan Asli Daerah Sebagai Tulang Punggung Pendapatan Daerah. .

95% responden atau 13 orang mengatakan cukup baik. dalam pelayanan pembayaran PKB dan BBN-KB terhadap wajib pajak sesuai dengan makna otonomi daerah untuk meningkatkan pelayanan ke depan sebetulnya dapat dilakukan pelayanan PKB dan BBN-KB melalui mekanisme dua loket atau dilayani dua pintu saja yakni : 1. Tabel . profil pelayanan secara keseluruhan yang diberikan oleh petugas. 30.38% responden atau 22 orang mengatakan kurang baik dan 4.24 Profil Responden Berdasarkan Kualitas Pelayanan Secara Keseluruhan Responden Kategori Jumlah Sampel (n) Prosentase (%) . Prosedur Pelayanan ke dalam dan keluar Berdasarkan hasil penelitian terhadap responden diatas diperoleh gambaran bahwa. 2.76% responden atau 2 orang mengatakan tidak baik. dan 52.91% responden atau 5 orang mengatakan sangat baik. 11.129 Oleh karena itu. Loket Pendaftaran dan Penetapan Loket Pembayaran dan Penyerahan BAB IV ANALISIS PROSEDUR DAN MEKANISME PELAYANAN PKB / BBN-KB A. Hasil sebaran kuesioner mengenai kualitas pelayanan yang diberikan oleh petugas secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel 24.

registrasi dan penyerahan. melayani penyediaan formulir.95 52.130 Sangat Baik Cukup Baik Kurang Baik Tidak Baik Jumlah 5 13 22 2 42 11. yaitu pelayanan kedalam (intern) dan pelayanan keluar (ekstern). kendaraan bermotor tukar identitas pemilik dan atau kendaraan bermotor. dilayani melalui 3 (tiga) pokja atau loket pelayanan. Pada dasarnya pelayanan dilakukan melalui kelompok kerja (pokja) atau loket. kendaraan bermotor setelah 5 tahun. melayani pendaftaran. Golongan II. 1. kendaraan bermotor khusus. Pelayanan Kedalam (Intern) Menurut petugas untuk peningkatan pelayanan Polri dalam sistem dan prosedur SAMSAT senantiasa mempedomani standar kualitas pelayanan untuk setiap wajib pajak (pemohon pembuatan STNK). . Kelompok kerja atau loket terdiri dari golongan merupakan prosedur pembayaran pajak kendaraan seperti berikut : Golongan I.76 100 Pelayanan terhadap responden dapat dikelompokkan dalam 2 bentuk. penerangan KTL (PKB dan SWDKLLJ) • Pokja II/Loket II. yang terbagi atas 3 (tiga) golongan seperti diuraikan diatas. melayani pengarsipan. dan kendaraan bermotor pindah keluarga daerah. yaitu : • Pokja I/Loket I. penelitian.38 4. merupakan pendaftaran Surat Tanda Coba Kendaraan (STCK).91 30. • Pokja III/Loket III. meliputi pendaftaran kendaraan bermotor baru.

tidak ada kaitan dengan tingkat kepuasan pemohon STMK (wajib pajak) terhadap pelayanan yang diberikan. Loket I Setelah dilakukan penelitian. di mana pelayanannya hampir sama dengan pelayanan pada Golongan II. serti rinciannya diuraikan diatas. ternyata berdasarkan banyaknya waktu yang digunakan responden pada Loket I. melayani pendaftaran pengesahan STNK setiap 1 (satu) tahun. Golongan III. sebagian besar (69. Berdasarkan hasil penelitian ternyata pembentukan Pokja dan Loket diatas tidak berjalan sebagai mana mestinya. karena masalah birokrasi dan panjangnya prosedur pada masing instansi. Selain itu peneliti melihat melihat nilai kepuasan pelayanan . Hal ini berarti bahwa semakin sedikit waktu yang digunakan pada Loket I. tetapi sebagian responden yang lain (30. seperti diuraikan pada bagian diatas.131 Golongan ini dilakukan melalui 6 (enam) pokja/loket pelayanan. Permasalahan terlihat pada : a. Dilakukan melalui 6 (enam) pokja/ loket pelayanan. sehingga proses pembayaran pajak berjalan panjang dan lama. Bila dilakukan analisis dengan menggunakan frekuensi yang muncul untuk melihat dominasi antara variabel lamanya waktu (alokasi waktu yang digunakan pada Loket I) dengan efisiensi dan kesederhanaan dalam pembuatan STNK.95% responden atau 13 orang) menyatakan bahwa lamanya waktu yang digunakan pada Loket I lebih dari 15 menit.05% responden atau 29 orang) menyatakan bahwa lamanya waktu yang diperlukan pada Loket I adalah kurang dari 15 menit. ternyata tidak terdapat hubungan yang paralel antara kedua variabel tersebut.

Setelah dilakukan penelitian.132 dengan kualitas kerja petugas dalam melayani masyarakat yang ingin membuat atau memperpanjang STNK. pada tingkat sedang atau 01. Berarti pada Loket II. Banyak faktor yang mempengaruhi tidak sesuainya alokasi waktu yang disediakan dengan kenyataan. dimana setiap satu kendaraan yang di cek phisik memerlukan waktu lebih kurang 20 menit dan setiap hari kendaraan yang dicek phisik sekitar 50 unit (menurut petugas. membubuhkan paraf pada lembar cek phisik dan registrasi kendaraan bermotor yang telah dicek phisik.86 % responden atau 18 orang) mengatakan lamanya waktu yang digunakan kurang dari 15 menit. diantaranya adalah karena pada Loket II merupakan pelayanan cek phisik terhadap kendaraan bermotor. lamanya waktu yang digunakan tidak sesuai dengan petunjuk lapangan yang telah ditetapkan yaitu hanya 5 menit. b. sehingga dapat dikatakan bahwa semakin baik kualitas kerja petugas semakin besar kepuasan yang dirasakan masyarakat yang berurusan ke Kantor Bersama Samsat.14 % responden atau sebanyak 24 orang) mengatakan banyaknya waktu yang digunakan pada Loket lI lebih dari 15 menit. mengamankan dan menugaskan tim pemeriksa. Sebagian responden yang lain (42. Menurut petunjuk lapangan peningkatan pelayanan dalam era reformasi. walaupun . ternyata dari sebaran kuesioner sebagian besar responden (57. Loket II Di pelayanan yang diberikan pada Loket II adalah melaksanakan cek phisik lengkap.92 %. menyatakan bahwa standar kualitas pelayanan setiap wajib pajak (pemohon perbitan STNK) pada Loket II diupayakan waktu selama 5 menit. Pada Loket II yang nelayani adalah petugas dari Polri.

133 dalam prakteknya semua kendaraan bermotor harus di cek phisik), dengan jumlah petugas 4 (empat) orang. Bila dilakukan analisis data untuk melihat hubungan antara variabel lamanya waktu (alokasi waktu) yang digunakan pada Loket II dengan kesederhanaan dan efisiensi pelayanan masyarakat pemohon penerbitan STNK (wajib pajak), ternyata terdapat hubungan yang positif antara kedua variabel tersebut dengan kategori tidak efisien diperoleh sebesar 47,62%. Ini berarti terdapat hubungan yang paralel antara ketidak kepuasan dalam pelayanan dengan alokasi waktu atau lamanya waktu yang digunakan pada loket tersebut. Selain itu peneliti membuat prosentase terhadap variabel kepuasan pelayanan dengan variabel kualitas pelayanan petugas dalam melayani masyarakat yang ingin membuat atau memperpanjang STNK pada Loket II, ternyata hubunganan antara kedua variabel tersebut dengan nilai sangat baik dan cukup baik 42,86%, sedangkan kurang baik dan tidak baik 57,14%, sehingga dapat dikatakan bahwa kualitas kerja petugas yang ada di Loket II belum sesuai dengan harapan masyarakat. Jika dianalisa secara mendalam terdapat keluhan wajib pajak, akibat adanya pungutan liar yang dilakukan oleh petugas (92%) dan adanya keharusan untuk melakukan cek phisik setiap tahun bagi seluruh kendaraan bermotor (81%). Bila alokasi waktu dan pelayanan dikaitkan dengan adanya pungutan liar dan keharusan untuk melakukan cek phisik, terdapat hubungan yang positif, yang berarti secara keseluruhan masyarakat tidak puas terhadap pelayanan pada Loket II. c. Loket III Sebagian besar responden mengatakan banyaknya waktu yang digunakan pada Loket III lebih dari 15 menit (80,95% responden atau 34 orang). Berarti pada

134 Loket III waktu yang diperlukan tidak sesuai dengan juklak. Faktor yang dapat mempengaruhi lamanya pelayanan adalah karena kurangnya petugas yang melayani pemohon pembuatan STNK (wajib pajak) yang cukup banyak setiap harinya. Jika dilakukan analisis data menggunakan prosentase dengan melihat hubungan variabel lamanya waktu yang digunakan pada Loket III terhadap kualitas pelayanan masyarakat pemohon penerbita STNK (wajib paJak), ternyata ada hubungan yang positif antara kedua variabel tersebut dengan nilai yang diperoleh pada kategori kurang baik (52,38%). Hal ini berarti bahwa semakin banyak waktu yang digunakan pada Loket III, akan semakin tidak puas masyarakat pemohon STNK (wajib pajak) terhadap pelayanan yang diberikan. d. Loket IV Setelah dilakukan penelitian, ternyata dari sebaran responden, berdasarkan banyaknya waktu yang digunakan pada Loket IV, lebih dari setengah responden (57,14% responden atau 24 orang) menyatakan bahwa lamanya waktu yang digunakan pada Loket IV adalah kurang dari 15 menit. Sebagian responden lainnya menyatakan lamanya waktu yang digunakan pada Loket IV lebih dari 15 menit, yaitu sebanyak 18 orang atau sebesar 42,86% responden. Bila dilakukan analisis dengan menggunakan metode prosentase untuk melihat variabel alokasi waktu yang digunakan pada Loket IV dengan kepuasan pelayanan masyarakat pemohon penerbitan STNK (wajib pajak), ternyata terdapat hubungan antara kedua variabel tersubut pada kondisi cukup memuaskan, dengan nilai prosentase sebesar 14% responden atau 24 orang. Hal ini berarti bahwa

135 semakin sedikit waktu yang digunakan pada Loket IV, maka akan semakin puas masyarakat pemohon STNK (wajib pajak terhadap pelayanan yang diberikan. e. Loket V Berdasarkan banyaknya waktu yang digunakan pada Loket V, 19,05% responder atau sebanyak 8 orang yang menyatakan lamanya waktu yang digunakan pada Loket V adalah kurang dari 15 menit, sebagian besar responden yaitu 80,95% responden atau 34 orang menyatakan waktu yang diperlukan lebih dari 15 menit. Pada Loket V ini wajib pajak menerima STNK yang telah selesai. Bila dilakukan analisis data dengan menggunakan metode prosentase untuk melihat hubungan antara variabel lamanya waktu (alokasi waktu) yang digunakan pada Loket V, dengan variabel kepuasan pelayanan masyarakat pemohon penerbitan STNK (wajib pajak), ternyata dapat dilihat hubungan antara kedua variabel tersebut dengan nilai prosentase yang diperoleh sebesar 80,95% memerlukan waktu di atas 15 menit. Hal ini berarti bahwa semakin banyak waktu yang digunakan pada Loket V, maka semakin tidak puas masyarakat pemohon STNK (wajib pajak) terhadap pelayanan yang diberikan. 2. Pelayanan Keluar (Ekstern) Dari hasil penelitian umumnya responden merasa mudah dan jelas dalam mengikuti aturan-aturan atau ketentuan yang ada di Kantor Bersama Samsat. Peraturan tersebut berupa prosedur atau tata cara pemohon (wajib pajak) untuk membuat atau memperpanjang STNK. Sebanyak 28,57% responden atau 12 orang menyatakan sangat mudah dalam mengikuti peraturan pelayanan yang ada di kantor tersebut, dan sebesar 67,14% responden atau 24 orang menyatakan mudah.

57% responder atau 12 orang menyatakan. kriteria kesederhanaan terhadap pelayanan yang diberikan pada wajib pajak telah dapat dirasakan oleh wajib pajak. Sebanyak 28. Sedangkan . karena akan merugikan wajib pajak sendiri. setiap sudut telaih dicantumkan beberapa tulisan yang menghimbau agar masyarakat jangan berurusan lewat calo. Hal ini berarti sesuai dengan ketentuan berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh pemohon pembuatan STNK (wajib pajak). Keterbukaan berkaitan dengan proses pelayanan yang wajib diinformasikan secara terbuka. cepat.136 Hal ini berarti pada kantor Samsat. Untuk mencegah agar masyarakat jangan sampai mengurus lewat calo. Sebagian responden menjawab bahwa biaya dalam pembuatan STNK tidak ekonomis dan tidak efisien. bahwa biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan STNK adalah ekonomis dan efisien. tetapi salahnya tidak terdata dan di Kantor Bersama Samsat tidak satupun biro jasa yang daftar atau melakukan kerja sama dalam pengurusan PKB. tepat. Walaupun ada sebagian kecil responden yang mengatakan mengurus lewat biro jasa atau calo. Kesederhanaan mengandung arti prosedur atau tata cara pelayanan yang diselenggarakan mudah. BBN-KB. yaitu 4762 % responden atau 20 orang. maupun STNK wajib pajak. mudah dipahami dan dilaksanakan oleh masyarakat yang berurusan. karena tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tidak ekonomis mengandung arti biaya pelayanan adalah tidak wajar. Sedangkan kejelasan dan kepastian artinya kejelasan mengenai penetapan dan penanganan hak dan kewajiban yang dilayani dan yang melayani. tanpa melalui biro jasa atau calo. Umumnya wajib pajak datang ke Kantor Bersama Samsat untuk mengurus sendiri hak kendaraan yang harus dibayar. tidak berbelit-belit.

05% responden atau 8 orang yang menyatakan bahwa pelayanan yang diberikan tidak adil dan 2. dimana 59. Berarti dalam pengurusan STNK responden tidak merasa takut akan kehilangan barang atau uang karena kondisinya cukup aman dan nyaman.76% responden atau 23 orang yang menyatakan bahwa pelayanan yang diberikan cukup adil terhadap masyarakat pemohon pembuatan STNK.38% responden atau 1 orang menyatakan sangat tidak adil. Dari penjelasan di atas.52% responden atau 25 orang menyatakan hal tersebut. Begitu pun hasil penelitian dapat menggambarkan bahwa responden merasa aman dan nyaman selama pengurusan STNK di kantor Samsat. harus dilayani secara keseluruhan.137 efisien mengandung arti bahwa persyaratan dan pelayanan prosesnya tidak berbelit-belit. Hal ini menunjukkan bahwa Kantor Bersama Samsat memenuhi 8 (delapan) kriteria pelayanan yang baik dalam hal kenyamanan yang harus diberikan kepada pemohon pembuatan atau penerbitan STNK (wajib pajak). hanya 19. berarti kriteria pelayanan yang harus adil terhadap para pemohon yang datang ke Kantor Bersama Samsat. Terdapat sehanyak 54. Pengertian nyaman adalah pelayanan di Kantor Bersama Samsat harus memberikan rasa aman serta kepastian hukum. dilakukan secara merata dan adil . dimana ternyata mereka tidak membeda-bedakan pelayanan antara calo dengan yang bukan calo. di dalam permohonan penerbitan STNK. tanpa memandang apa dan siapapun. Sedangkan keadilan yang merata artinya adalah pelayanan yang diberikan. Dalam pada itu juga dapat dilihat sebaran responden berdasarkan keadilan dalam pelayanan yang diberikan oleh petugas Samsat.

pembayaran PKB. Nomor : 9731228 dan Nomor : SKEP/02/X/1999 tanggal 15 Gktober 1999. Prosedur pelayanan diumumkan secara terbuka pada ruangan pelayanan atau loket-loket pelayanan Kantor Bersama . BBN-KB dan SWDKLLJ telah diatur dan ditetapkan dalam petunjuk pelaksanaan Keputusan Bersama Kepolisian RI. Implementasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) Berdasarkan Surat Keputusan Bersama Direktur Lalu Lintas Kepolisian Daerah Sumatera Barat dan Kepala Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Barat serta Kepala Cabang PT. bahwa Standar Pelayanan Minimal adalah ukuran yang dibakukan dalam penyelenggaraan pelayanan penertiban Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).B/24/I/2006 DITLANTAS per Nomor : 973/043/PAJAK-2006 per Nomor : P/1/SPP/I/2006 24 Januari 2006. Jasa Raharja (Persero) Sumatera Barat No. BBN-KB dan SWDKLLJ adalah sebagai berikut : a. pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Prosedur Pelayanan Prosedur Pelayanan penerbitan STNK. Dirjen PUOD dan Direktur Utama PT. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) yang wajib ditaati oleh aparatur Kantor Bersama Samsat di Padang sebagai pemberi pelayanan maupun pemilik kendaraan bermotor sebagai penerima pelayanan. B.138 hagi selruh lapisan masyarakat. pembayaran PKB. Jasa Raharja (Persero) Nomor : SKEP/06/10/1999. Tepat waktu mengandung arti bahwa pelayanan yang diberikan dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Standar Pelayanan Minimal ( SPM ) tersebut dalam penerbitan STNK.

Jasa Raharja (Persero) Nomor : SKEP/06/10/1999. Dalam penyelenggaraannya belum terlaksana sebagaimana mestinya. 4) Pengurusan kendaraan bermotor yang pindah dalam Daerah dan Luar Daerah selesai dalam waktu 1 (satu) hari kerja. Pembayaran PKB. Nomor : 973-1228 dan Nomor : SKEP/02/X/1999 tanggal 15 Oktober 1999. Hal ini telah didapatkan pamflet dipajangkan pada Loket Pelayanan. tetapi masih dengan gambaran sistem 5 Loket dan belum sistem 2 Loket. . 5) Pengurusan kendaraan bermotor yang masuk dari dalam Daerah dan luar Daerah selesai dalam waktu 2 (dua) hari kerja. 3) Pembayaran BBN-KB. Persyaratan Administratif telah diumumkan secara terbuka pada ruangan pelayanan pada loket .139 Samsat. penggantian STNK dan TNKB selesai dalam waktu 2 (dua) hari kerja. pembayaran PKB dan SWDKLLJ setiap tahun selesai dalam waktu 1 (satu) hari kerja.loket pelayanan yang tersedia di Kantor Bersama Samsat. Waktu Penyelesaian 1) Pengesahan STNK. Dirjen PUOD dan Direktur Utama PT. pembayaran PKB dan SWDKLLJ selesai dalam waktu 1 (satu) hari kerja. 2) Perpanjangan STNK dan TNKB setelah 5 tahun. BBN-KB dan SWDKLLJ telah ditetapkan dalam Keputusan Bersama Kepclisian RI. Persyaratan Administratif Dalam penyelenggaraan pelayanan Penerbitan STNK. c. b.

. dipungut Premi Asuransi Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang (termasuk kru angkutan) besarnya sesuai dengan yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia tentang Penetapan Santunan dan lyuran Wajib Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penurnpang Umum di Uarat.140 d. b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor sebesar tercantum dalam SKPD sesuai dengan Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Barat tentang Pajak Kendaraan Bermotor dan Keputusan Menteri Dalam Negeri tentang Perhitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor. Sungai/Danau. Laut dan Udara. Ferry/ Penyeberangan. Biaya Pelayanan 1) Biaya pelayanan adalah beberapa jenis biaya yang dipungut oleh Aparatur Kantor Bersama Samsat berdasarkan Ketentuan Perundangundangan yang berlaku yaitu sebagai berikut : a) Pajak Kendaraan Bermotor terhutang sebesar tercantum dalam SKPD sesuai dengan Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Barat tentang Pajak Kendaraan Bernnotor dan Keputusan Menteri Dalam Negeri tentang Perhitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor. d) Khusus Angkutan Penumpang Umum. c) Biaya SWDKLLJ sebesar tercantum dalam SKPD sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia tentang Penetapan Santunan dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan.

f. Penyerahan STNK. Buku Pemilik Kendaraan Bermotor. Produk Pelayanan 1) Hasil pelayanan yang akan diterima oleh pemilik kendaraan bermotor sebagai penerima pelayanan adalah: a) b) c) d) 2) Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNK) Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Khusus penyerahan STNK bagi Kendaraan Angutan Umum. e. g) Semua pernbayaran oleh pemilik kendaraan bermotor harus mempunyai tanda bukti penerimaan yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan. BPKB dan SKPD dilakukan melalui loket penyerahan. . Sarana dan Prasarana. TNKB. diwajibkan terlebih dahulu melampirkan Asli Bukti Pelunasan Premi Asuransi Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang (termasuk kru angkutan) untuk beberapa bulan kedepan sesuai masa jatuh tempo pengesahan STNK tahun berikutnya.141 e) Biaya Administrasi STNKITNKB/BPKB besarnya sesuai dengan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Kepolisian Negara Republik Indonesia. f) Semua biaya pelayanan terbuka untuk masyarakat dan diumumkan melalui ruangan pelayanan dan diketahui secara jelas oleh masyarakat.

g. wanita hamil dan penyandang cacat. h. 2) Sarana pelayanan juga dilengkapi fasilitas pendukung dan sistim komputer dalam rangka mempercepat penyelesaian produk pelayanan. sehingga batas waktu pelayanan yang dijanjikan dapat dipenuhi. kecuali bagi orang lanjut usia. Petugas harus menjaga kesopanan. Pengawasan Pelayanan Pengawasan pelayanan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor. Petugas harus bekerja menurut waktu yang telah ditetapkan dalam jam kerja pada Kantor Samsat. 2) Pemilik kendaraan yang mengurus sendiri diutamakan daripada pengurusan melalui perantara atau pihak ketiga.142 1) Prasarana pelayanan pernbayaran Pajak Kendaraan Bermotor. Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan dan Surat Tanda Nomor Kendaraan dilaksanakan melalui : . Kesamaan Hak 1) Dalam pemberian pelayanan tidak bersifat diskriminatif. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan serta penerbitan Surat Tanda Nomor Kendaraan yaitu berupa Kantor Bersama Samsat yang sekaligus berupa Kantor Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pelayanan Pendapatan Propinsi Sumatera Barat di Padang. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor. namun tidak tertutup kemungkinan jam kerja ditambah sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. ramah tamah dan kejujuran dalam pemberian pelayanan. Kompetensi Petugas Pemberi Pelayanan Kompetensi petugas ditetapkan berdasarkan keteram-pilan sikap dan prilaku. i.

3) Saran dan keluhan masyarakat yang bersifat teknis seperti Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). j.dan BBN-KB ini dilaksanakan berdasarkan Perda No. kewenangan pengelolaan PKB dan BBN-KB oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sudah sesuia dengan ketentuan aturan yang lebih tinggi dan berlaku dimana PKB. Dengan demikian bila ditijau dari aspek hukum Adminstrasi Negara khususnya Pemerintahan Daerah dilihat dari sisi Azas legalitas. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB).143 1) 2) 3) 4) Pengawasan melekat oleh atasan langsung. Penanganan Saran dan Keluhan Masyarakat 1) Saran dan keluhan masyarakat dapat disampaikan secara tertulis dengan mencantumkan identitas yang bersangkutan dengan jelas. 41 Tahun 2003 dan Perda No. Pengawasan Fungsional oleh masing-masing instansi. Pengawasan oleh Tim Pembina Samsat. 2) Saran dan keluhan dari masyarakat yang sifatnya non teknis diselesaikan dan di koordinir Kantor Samsat bersama Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pelayanan Pendapatan Propinsi Sumatera Barat di Padang serta Petugas Jasa Raharja. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) serta Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) diselesaikan oleh masing-masing unit kerja yang berada pada Kantor Bersama Samsat. Pengawasan oleh masyarakat melalui Kotak Saran dan keluhan masyarakat. 5 Tahun 2003 yang di serahkan secara atributif dan delegatif / distributif dari pusat . Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB). Tanda Nomor kendaraan (TNKB).

80 dan hal.144 kepada daerah sesuai Peraturan Pemerintah RI No. jumlah personil yang terdapat di UPTD Pelayanan Pendapatan yang sekaligus juga berada pada Kantor Bersama Samsat Sumatera Barat di Padang adalah sebagai berikut : 57 Dit. 2006 hal. Hukum Administrasi Negara. 87 dimuka. C. Jakarta. Oleh sebab itu menurut Prajudi Atmosudirjo 57 menyebutkan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam penyelenggaraan pemerintah yaitu sebagai berikut : 1) Efektivitas artinya kegiatanya harus mengenai sasaran yang telah ditetapkan 2) Legimitas artinya kegiatan administrasi negara jangan sampai menimbulkan heboh oleh karena tidak dapat diterima oleh masyarakat setempat atau lingkungan yang bersangkutan 3) Yuridikitas artinya syarat yang menentukan bahwa perbuatan para pejabat administrasi negara tidak boleh melanggar hukum dalam arti luas. Dengan demikian secara hakekatnya dengan adanya regulasi tersebut diatas akan terdapat jaminan adanya kepastian hukum dan kesamaan perlakuan ( keadilan ) sebab secara tertulis telah dapat dipedomani semua pihak secara transparan. a) Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Pelayanan SDM Kantor Bersama Samsat Berdasarkan situasi pada akhir Januari 2006. namun disisi lain secara teoritis azar legalitas menemui kesulitan dalam penerapannya ditengah masyarakat sebagaimana di katakan Bagir Manan bahwa adanya kelemahan penerapan azas legalitas. Raja Grafindo. 99 . PT. Lantas Polda : 30 orang Ridwan HR. 3 Tahun 1957 dan undang – undang No. 10 Tahun 1968 sebagaimana penulis terangkan pada hal.

Setelah selesai . karena sifat pekerjaan di setiap loket mempunyai spesifikasi yang berbeda.145 - Dispenda Jasa Raharja Jumlah : : : 33 orang 2 orang 65 orang Sedangkan Distribusi petugas yang terdapat pada setiap pokja/loket praktis yang langsung berhubungan dengan masyarakat wajib pajak dapat dilihat pada tabel 7 terdahulu. BBN-KB dan SWDKLLJ wajib mengambil formulir di Loket I. yang jumlahnya paling sedikit (rata-rata 50 orang wajib pajak per hari). Jumlah wajib pajak yang dilayani memang dapat berbeda. lalu melakukan pendaftaran di Loket III. Namun dari tabel 8 terlihat bahwa jumlah wajib pajak yang dilayani pada setiap loket tidak sama. Adapun jumlah wajib pajak yang dilayani rata-rata per hari adalah sebagaimana dapat dilihat pada tabel 8 terdahulu yaitu sebanyak 420 wajib pajak per hari. Menurut pedoman tata laksana Sistim Administrasi Manunggal Dibawah Satu Atas (Samsat). Rata-rata wajib pajak yang datang setiap hari ke Loket I lebih banyak jika dibandingkan dengan Loket II. Semua kendaraan bermotor yang hendak membayar PKB. Umumnya wajib pajak setelah mengambil formulir di Loket I. walaupun dalam prakteknya semua kendaraan bermotor diharuskan untuk melakukan cek phisik. tidak semua kendaraan bermotor wajib melakukan cek phisik (khususnya untuk mengesahkan STNK setiap tahun). melanjutkan cek phisik kendaraan bermotor di Loket II. tetapi yang terdaftar hanya yang sesuai dengan ketentuan.

00 60.00 Rata-rata Waktu (Menit) 12.50 18 135.50 45.11 . Masyarakat yang hendak membayar PKB atau memperpanjang STNK diperkenankan untuk melakukan-ya sebulan sebelum tanggal jatuh tempo.00 2 120.50 12 270 45.00 0 0 Jumlah 42 532.50 45.50 Loket III 7.68 24.50 Loket II 7.00 60. petugas memerlukan waktu untuk menghitung besarnya PKB.50 24 180. BBN-KB dan SWDKLLJ. di samping adanya wajib pajak yang belum mempersiapkan dana untuk melakukan pembayaran pada saat itu.50 22.146 di Loket III kebanyakan wajib pajak pergi meninggalkan Kantor Samsat. Kebanyakan wajib pajak baru datang kembali ke Kantor Bersama Samsat pada keesokan harinya.00 22.50 21 472.012.50 8 60.00 0 0 Jumlah 42 742. Dengan demikian Akibat dari sistem dan prosedur tersebut terlihat waktu pelayanan pada Kantor Bersama SAMSAT adalah sebagaimana terlihat pada tabel 23 berikut ini: Tabel.00 Jumlah 42 1.50 27 607. 23 Perhitungan Alokasi Waktu Rata-rata Pengurusan Di setiap Loket Pelayanan (Loket Is/d Loket V) Untuk Setiap Wajib Pajak Rata-Rata Waktu Jumlah Jumlah Waktu Loket Pelayanan Responden (n) (Menit) (Menit) Loket I 7.68 17. karena untuk membayar PKB.00 3 135.00 22.00 1 45 60.00 5 225.50 29 217.50 Loket IV 7.

18 95.50 25 562. telepon umum dan warung atau kantin. tersedianya mushalla. kantin dan lain-lain. sarana dan fasilitas yang disediakan diantaranya ruang tunggu dan kursi tamu yang mencukupi. maka akan semakin besar pula kepuasan yang dirasakan oleh .72 b) Prasarana dan sarana Kantor Bersama SAMSAT Prasarana. ruangan yang tersedia untuk pelayanan. Bila dilakukan analisis untuk melihat kaitan antara ketersediaan prasarana. sarana dan fasifitas dengan kepuasan pelayanan. Prasarana. peralatan kerja seperti komputer dan ruangan kerja petugas yang memadai.00 60.147 14 315.50 45.00 0 0. sarana serta fasilitas yang tersedia. maka akan diperoleh hubungan antara dua variabel dengan nilai yang cukup baik.00 Jumlah 42 675.00 16.50 8 60.50 Jumlah Waktu Pelayanan dari Loket I s/d Loket V 22.50 45. sarana dan fasilitas yang disediakan di kantor tersebut. misalnya peralatan kerja. yang berarti bahwa kaitan yang sangat nyata antara ketersediaan prasarana. tempat parkir yang cukup luas. fasilitas umum seperti mushalla. toilet.00 Loket V 7. sarana dan fasilitas yang ada di Kantor Bersama Samsat Sumatera Barat di Padang.00 2 120 Jumlah 42 1.00 7 315 60.057. secara umum cukup baik. Ketersediaan prasarana.00 22.07 25. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik pelayanan dan ketersediaan prasarana. sarana dan fasilitas di Kantor Bersama Samsat dengan kepuasan dalam pelayanan.00 4 180.

Sesuai dengan apa yang dikatakan Moenir (1998). 3) Menetapkan dan menyepakati standar dan tingkat pelayanan secara terukur yang hanrs diberikan setiap loket. Menciptakan budaya kerja . agar : Setiap loket atau kelompok kerja mengenali dimana dan siapa-siapa yang menjadi pelanggannya. 2) Secara terus menerus melakukan penelitian tentang harapan-harapan masyarakat dan kritik yang dilontarkan terhadap pelayanan yang diberikan. sehingga dapat mengurangi sifat emosional mereka yang berlebihan. 1) Menciptakan budaya pelayanan. b. bahwa salah satu fungsi dari sarana pelayanan adalah menimbulkan perasaan puas dan nyaman pada orang yang berkepentingan. sehingga pelayanan satu hari selesai (one day service) diharapkan dapat dilaksanakan atau diwujudkan. 4) Menyelenggarakan proses dimana setiap petugas pelaksana memahami standar pelayanan dalam praktek sehari-hari. . c) Rekomendasi kebijakan terhadap Pelayanan Upaya yang harus dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas kerja petugas. sehingga dapat memberkan pelayanan yang memuaskan masyarakat adalah : a. 5) Terus menerus melakukan evaluasi terhadap kualitas pelayanan dan berupaya untuk selalu meningkatkannya.148 masyarakat pemohon STNK.

4) Menggunakan sumber daya yang. . 2) Mengadakan pertemuan secara rutin dengan supervisor untuk mengetahui kendala-kendala di lapangan serta mendorong kemampuan untuk pengambilan keputusan. selanjutnya digunakan sebagai dasar penilaian dan pertanggungjawaban tugas secara berlanjut. 3) Meningkatkan peranan pengawas atau supervisor secara nyata dalam mendukung keberhasilan pelayanan tersebut. c. 3) Setiap suvervisor selalu berupaya meningkatkan keteram- pilan yang dimiliki oleh setiap petugas pelaksana. ada secara maksimal untuk mencapai keberhasilan petugas pelayanan. tentang tugas yang halus dilaksanakan dan sasaran yang harus dicapai secara periodik. 4) Memperhatikan secara khusus pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memperoleh hasil yang sebesar-besarnya. yang didukung dengan sistim pertanggungjawaban sesuai dengan tingkatan-ya. 2) Merumuskan pembagian tugas (job description) pada setiap loket. unit pelayanan 1) Meningkatkan pengawasan secara Meningkatkan pengawasan dan memperkuat unit- berjenjang.149 1) Setiap petugas pelaksana menetapkan bersama dengan supervisornya.

artinya pelayanan atas hubungan antara aparat dengan masyarakat dilakukan dengan sopan dan bersahabat. kerja sama antar kelompok kerja atau loket dan petugas polaksana. tidak melalui birokrasi yang berbelit. 1) Peningkatan Sumber Daya Aparatur Aparatur Pelayanan di SAMSAT belum mempunyai persepsi yang sama dalam pemberian pelayanan yang . artinya apa yang diberikan atau dilakukan sesuai menurut apa yang dibutuhkan. e. d. 2) Tepat. Melaksanakan Stándar Pelayanan Minimal (SPM). dimana masyarakat memperoleh apa yang diinginkan itu dengan biaya murah. 4) Ramah. 3) Murah. Penyelenggaraan pelayanan publik yang berkwalitas sudah merupakan kebutuhan organisasi untuk merespon tuntutan dan harapan masyarakat yang terus meningkat. agar termotivasi dan tetap pada sasaran. artinya pemenuhan kebutuhan dengan cepat. 6) Secara terus menerus mengadakan evaluasi kualitas supevisor. Pelayanan yang berkwalitas harus memenuhi beberapa unsur yaitu sebagai berikut : 1) Cepat.150 5) Supervisor memberikan kesempatan dan mendorong setiap anggota untuk bekerja secara maksimal dan membina mereka untuk Inenjadi yang terbaik sesuai kemampuan masing-masing.

4) Melakukan pembenahan ruang kantor sehingga terdapat kenyamanan. . Langkah antisipasi untuk mengatasi adanya pendapat bahwa birokrasi di Kantor SAMSAT masih agak berbelit. dan keamanan bagi Wajib Pajak. maka perlu penyamaan persepsi tentang pelayanan. f. 3) Melakukan koordinasi yang baik dengan mitra kerja guna mengatasi adanya kendala dalam percepatan pelayanan di Kantor SAMSAT. 1) Memperbanyak informasi dan pengumuman kepada Wajib Pajak. 2) proses Melakukan pembayaran Pajak. 3) yang terkait.151 baik kepada masyarakat Wajib Pajak. 2) dalam pelayanan. penyederhanaan pengurusan prosedur dalam dan STNK/TNKB pembayaran SWDKLLJ. ketenangan. 4) Peningkatan sarana dan prasarana pendukung Meningkatkan koordinasi antar kelembagaan Mengurangi egoisme sektoral kelembagaan pada Kantor Bersama SAMSAT 5) Anggaran biaya untuk memperbaiki tata ruang pelayanan masih terbatas.

Hal ini terjadi karena terbatasnya pembiayaan untuk pembangunan/ revisi gedung kantor. seharusnya ada pemisahan yang jelas. sedangkan Unit Kerja yang lain hanya bertugas di UPTD tidak di SAMSAT. yang mana yang bertugas di SAMSAT dan yang mana bertugas di UPTD tidak ada penegasan yang jelas. 3) Ruang Kantor UPTD menyatu dengan Kantor SAMSAT. Sehubungan dengan hal tersebut perlu hal sebagai berikut : 1) Memperbaharui struktur organisai UPTD dan sekaligus ada penegasan Unit Kerja UPTD yang akan bertugas di SAMSAT dalam memungut PKB/BBN KB. Untuk itu idealnya struktur UPTD tersebut salah satu seksinya adalah Seksi PKB/BBN KB yang langsung bertugas di SAMSAT sedangkan Kasubag Tata Usaha dan seksi lainnya bertugas di UPTD. UPTD berada langsung di bawah Dipenda Propinsi Sumatera Barat sementara Kantor Bersama SAMSAT yang dilaksanakan secara sinergis hal ini dapat berjalan tanpa pengabaian tupoksi UPTD. 2) Struktur organisasi UPTD yang ada saat ini membingung-kan karena dari 3 (tiga) unit kerja yang ada.152 g. Atau ada Pejabat Fungsional yang . Beberapa faktor yang menyebabkan adanya kelemahan disebabkan lain : 1) Belum adanya pemisahan Personil UPTD yang bekerja di antara SAMSAT dengan bertugas di UPTD karena sistim rekruitmen personil yang bertugas di SAMSAT tidak ada kejelasan.

Dalam artian bahwa jajaran aparatur dan Kepala UPTD tidak lagi fokus pada kerja di SAMSAT akan tetapi tugas utamanya lebih banyak koordinasi. penyusunan rencana kerja / /kegiatan dan lain-lain. 3) Perlunya adanya penetapan atau produk hukum yang disepakati oleh ketiga instansi di Kantor SAMSAT tentang tata cara penunjukan personil masing-masing yang akan bertugas di SAMSAT sehingga diharapkan jumlah personil yang bertugas di SAMSAT sebanding dengan beban kerja yang ada. 2) Pemisahan ruang kerja UPTD dengan SAMSAT. Karena Pembentukan UPTD dimaksud juga untuk pengelolaan pemungutan Pajak dan Retribusi Daerah lainnya.153 bertugas memonitor proses pembayaran PKB/BBN KB di SAMSAT dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala UPTD. dan hubungan kerja antara satu dengan lainnya berjalan harmonis. melahirkan kebijakan. pengawasan. .

1. Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah (Ditlantas Polda) dan PT Jasa Raharja (Persero). . BBN-KB dan SWDKLLJ merupakan pajak provinsi yang sangat berperan untukpenyelenggaraan pemerintah dan pembangunan di daerah. karena belum dibentuknya cabangcabang samsat di daerah kabupaten atau kota.154 BAB V PENUTUP A. sehingga pemerintah daerah perlu memberikan pelayanan yang baik kepada Masyarakat yang berurusan ke Kantor Bersama Samsat. BBN-KB dan SWDKLLJ oleh masyarakat pada awalnya dilakukan di ibu kota provinsi. masyarakat harus mendatangi ketiga instansi tersebut di tempat yang berbeda. Dina Pendapatan Daerah (Dispenda). Ketiga instansi ini bekerja sama melayani masyarakat dan bernaung dibawah satu atap atau satu kantor yang disebut dengan sistim Administrasi Manunggal Dibawah Satu Atap (Samsat). Pengurusan PKB. Sedemikian besarnyaperanan pajak tersebut. Sebelum ada nya samsat. Kesimpulan Pelayanan Kantor Bersama Samsat melibatkan 3 (tiga) instansi yaitu. sehingga membutuhkan waktu biaya dan tenaga dan hal ini sangat dirasakan tidak efesien serta memberatkan masyarakat. PKB.

UPTD Pelayanan Pendapatan Propinsi Sumatera Barat di Padang melalui Kantor Bersama Samsatnya belum efektif dan efisien mampu memberikan pelayanan seperti apa yang diharapkan oleh masyarakat. Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat wajib pajak. harus mampu merealisir sesuai dengan potensi yang ada sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Hal ini dapat dilihat masih banyaknya wajib pajak yang tidak membayar pajak serta masih banyaknya potensi yang menjadi sumber pendapatan daerah yang belum terdata.155 Unit Pelaksana Teknis Dinas ( UPTD ) Pelayanan Pendapatan Propinsi Sumatera Barat di Padang merupakan instansi teknis pemerintah daerah yang diberi kewenangan urituk menggali dan memungut pajak daerah sebagai sumber pendapatan daerah yang berada dalam wilayah kerjanya melalui SAMSAT pada Kantor Bersama SAMSAT Padang. namun UPTD Padang belum dapat dikatakan berhasil dalam melaksanakan tugasnya. Walaupun UPTD Pelayanan Pendapatan Propinsi Sumatera Barat di Padang berhasil merealisir sumber pendapatan daerah yang menjadi kewenangannya dengan melampaui sejumlah beban target yang ditetapkan oleh instansi induknya (Dinas Pendapatan Daerah Propinsi Sumatera Barat). 63 Tahun 2003. maupun terhadap sarana dan prasarana yang tersedia sehingga secara umum dapaat dikatakan bahwa efektivitas pelayanan pengelolaan PKB dan BBN-KB belum sesuai dengan SPM dan Kepmen PAN No. . Keluhan-keluhan masyarakat masih dijumpai baik dari pelayanan yang diberikan oleh aparat itu sendiri.

terutama pelayanan dalam pengurusan pembayaran pajak berkaitan dengan pemilikan atau penguasaan kendaraan bermotor oleh masyarakat. banyaknya calo. diperlukan pengawasan dari atasan. Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ). sarana. Sorotan dilakukan karena lambatnya proses pelayanan pengurusan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). serta masih adanya pungutan-pungutan yang tidak resmi atau pungutan liar. sikap petugas yang kurang simpatik dalam melayani masyarakat sampai kepada tidak terampilnya petugas dalam melaksanakan pekerjaannya. yaitu selama 22 (dua puluh dua) menit untuk setiap wajib pajak.156 Pelayanan Kantor bersama samsat selama ini sering mendapat sorotan tajam dari masyarakat. maupun Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Kantor Bersama Samsat telah memiliki acuan lamanya pelayanan disetiap loket. yang dikeluarkan oleh kapolri melalui Petunjuk Pelaksanaan. Kantor Bersama Samsat Khusunya di Provinsi Sumatera Barat bertekat untuk memberikan pelayanan yang lebih baik. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB). Karena adanya kritikan. terutama yang berurusan dengan kantor tersebut. Agar jangka waktu yang telah ditentukan dapat terealisir.terutama oleh Pembina SAMSAT di tingkat Provinsi Sumatera Barat ( Gubernur dan Kapolda ). . dengan mencanangkan pelayanan satu hari selesai atau yang dikenal dengan One day Service dan bahkan diwacanakan denga pelayanan cepat One Hour Service ( Pelayanan 1 Jam ). prasarana dan fasilitas yang tidak memadai.

walaupun belum pada tingkatan sangat baik. Jasa Raharja / Persero ) kurang cepat dan delapan kriteria pelayanan yang belum terpenuhi dengan baik. sedang. sehingga tidak sesuai dengan waktu pelayanan menurut juklak. Penilaian terhaap delapan kriteria standar pelayanan yang dilaksanakan SAMSAT Provinsi Sumatera Barat pada tingkatan cukup baik. dimana masig – masing membawa nama instansi. efektif dan efisien. efisien. dan PT. cukup baik. cukup adil dan aman. maka ego sektoral masih terasa cukup kental. Polri. Artinya pilihan responden adalah baik. Kondisi ini masih . 2. masih dalam kategori harus ditingkatkan. Disamping itu karena SAMSAT adalah kantor kerja bersama. Koordinasi antar tiga instansi yang berada pada SAMSAT ( Dispenda. Sedangkan kriteria pelayanan mengenai ketepatan waktu yang sesuai dengan standar pelayanan. prosentase dominan memilih kategori mudah. artinya berdasarkan hasil analisis data.157 Dengan dioperasikannya sistim 2 (dua) loket di Samsat Padang dan Samsat-Samsat di seluruh Propinsi Sumatera Barat berarti pelayanan kepada Pemilik kendaraan bermotor dalam membayar pajak kendaraan bermotornya sudah sesuai dengan INBERS tahun 1999 berarti tercermin bahwa pelayanan Samsat lebih cepat dan mudah serta akan tercipta team works yang solid. seperti efisiensi dan kesederhaan prosedur yang kurang lengkap serta pemahaman wajib pajak terhadap mekanisme prosedur pelayanan yang masih relatif rendah. Faktor – faktor yang mempengaruhi belum tercapainya kepuasan pelayanan dan waktu penyelesaian dalam pembuatan STNK adalah karena kurangnya pengawasan petugas oleh atasan.

158 dapat diterima. sesuai dengan kebutuhan masyarakat sebagai penerima pelayanan sesuai dengan yang diharapkannya. Hal ini dapat dilihat dari jumlah waktu yang diperlukan oleh masyarakat untuk berurusan pada setiap loket pelayanan yang masih relatif lama dibandingkan dengan juklak yang telah ditetapkan. berusaha menciptakan budaya kinerja melalui pemahaman tugas masing – masing. 2. Begitu juga adanya pungutan tidak resmi yang dilakukan oleh petugas di Loket II. Regulasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebagai acuan bagi aparatur Dinas Pendapatan Daerah dalam memberikan Pelayanan PKB dan BBN-KB bagui Wajib Pajak dan untuk menerbitkan surat dinas yang dibutuhkan oleh penerima pelayanan. Berarti fungsi pengawasan tidak berjalan dengan baik. Fungsi manajemen pada Kantor Bersama SAMSAT belum dapat berjalan sebagaimana seharusnya untuk suatu organisasi yang baik. UPTD Pelayanan Pendapatan Propinsi Sumatera Barat di Padang dapat lebih berperan aktif lagi dalam . Upaya yang dilakukan untuk peningkatan one day service. B. Dalam rangka rneningkatkan pendapatan Daerah. Saran -Saran 1. menghidupkan paengawasan dan memperkuat unit – unit pelayanan dengan melihat kendala dan peluang yang ada melalui supervisi dan evaluasi pelayanan yang optimal. agar dapat dievaluasi oleh Gubernur Sumatera Barat selaku unsur Pembina SAMSAT dan atau bahkan ditinjau kembali. karena mayoritas responden menyatakan bahwa pelaksanaan one day service belum berjalan dan belum dapat dirasakan oleh wajib pajak. meliputi aktivitas meciptakan budaya pelayanan yang tinggi.

penentuan kebijakan dan lain-lain yang bersifat strategis. melahirkan kebijakan. Kantor Bersama SAMSAT melalui Pemerintah Daerah perlu memperbaharui struktur organisai UPTD dan sekaligus ada penegasan Unit Kerja UPTD. Apabila dilakukan perbandingan antara Samsat-Samsat yang ada di Propinsi Sumatera Barat khususnya Samsat di Padang dengan Samsat-Samsat Propinsi lainnya di Indonesia yang sudah mendapatkan penilaian pelayanan yang berstandar Internasional (ISO 1999-2001). pengawasan. penyusunan rencana kerja/kegiatan. . 3. 4. Untuk itu disarankan agar system pelayanan yang ada sekarang ini masih memakai sistem 5 (lima) Loket harus dirobah menjadi Sistem 2 (dua) loket dan system pelayanan lainnya harus ditingkatkan terus sehingga samsat yang ada di Propinsi Sumatera Barat tidak jauh tertinggal dari daerah lainnya di Wilayah Indonesia serta peningkatan pelayanan tersebut diharapkan sebagai cikal untuk mempersiapkan diri meraih pelayanan prima yang berstandar lnternasional seperti yang diprogramkan oleh Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara. 5.159 rnengelola sumber pendapatan Daerah yang ada dalam wilayah kerjanya. yaitu Kepala UPTD tidak lagi fokus pada kerja di SAMSAT akan tetapi tugas utamanya lebih banyak koordinasi. Pemisahan ruang kerja UPTD dengan SAMSAT. Sehubungan dengan hal tersebut. Idealnya struktur UPTD tersebut salah satu seksinya adalah Seksi PKB/BBN KB yang langsung bertugas di SAMSAT sedangkan Kasubag Tata Usaha dan seksi lainnya bertugas di UPTD. karena masih banyak tunggakan kendaraan bermotor yang tidak membayar pajak dan BBN–KB. maka Samsat yang ada di Sumatera Barat perlu berbenah diri dalam beberapa sisi pelayanan. Aparat UPTD dapat lebih jeli dalam memantau. mendata dan sekaligus menagih terhadap objek pajak yang masih menunggak dan belum terpantau dan terdata.

Perlunya adanya penetapan atau produk hukum yang disepakati oleh ketiga instansi di Kantor SAMSAT tentang tata cara penunjukan personil masing-masing yang akan bertugas di SAMSAT sehingga diharapkan jumlah personil yang bertugas di SAMSAT sebanding dengan beban kerja yang ada.160 6. dan hubungan kerja antara satu dengan lainnya berjalan harmonis. .