HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN OLEH: CELINA TRI SIWI KRISTIYANTI, S.H., M.Hum.

DOSEN: H. ZULKARNAIN IBRAHIM, S.H., M.Hum.

OLEH:
YOPI PEBRI (hlm 1-32) 02091401012 FARID AKBAR (hlm 33-68) 02091401089 INDAH PERMATA (hlm 69-100) 02091401043 FIRANDHIKA (hlm 101-134) 02091401073 BUNGA SUKMAWATI (hlm 135-170) 02091401049 LANIARI RIZKI (hlm 171-202) 02091401193

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SRIWIJAYA KAMPUS PALEMBANG TAHUN AJARAN 2010/2011

BAB 1 LATAR BELAKANG HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN

A.PENGANTAR Hukum perlindungan konsumen dewasa ini mendapat cukup perhatian karena menyangkut aturan-aturan guna mensejahterakan masyarakat, bukan saja masyarakat selaku konsumen saja yang mendapat perlindungan, namun pelaku usaha juga mempunyai hak yang sama untuk mendapat perlindungan, masing-masing ada hak dan kewajiban. Pemerintah berperan mengatur, mengawasi dan mengontrol, sehingga tercipta sistem yang kondusif saling berkaitan satu dengn yang lain dengan demikian tujuan menyejahterakan masyarakat secara luas dapat tercapai. Perhatian terhada perlindungan konsumen, terutama di amerika serikat (19601970-an) mengalami perkembangan yang sangat signifikan dan menjadi objek kajian bidang ekonomi, sosial, politik, dan hukum. Banyak sekali artikel dan buku yang ditulis berkenaan dengan gerakan ini. Di Amerika Serikat bahkan pada era tahuntahun tersebut berhasil diundangkan banyak peraturan dan dijatuhkan putusan-putusan hakim yang memperkuat kedudukan konsumen. Fokus gerakan perlindungan konsumen (konsumerisme) dewasa ini sebenar nya masih paralel dengan gerakan pertengahan abad ke-20. Di indonesia, gerakan perlindungan konsumen menggema dari gerakan serupa di Amerika Serikat. YLKI yang secara populer di pandang sebagai perintis advokasi konsumen di indonesia berdiri pada kurun waktu itu, yakni 11 mei 1973. Gerakan di indonesia ini termasuk cukup responsif terhadap keadaan, bahkan mendahului Resolusi Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC) No. 2111 Tahun 1978 tentang Perlindungan Konsumen. Sekali pun demikian, tidak berarti sebelum ada YLKI perhatian terhadap konsumen di Indonesia sama sekali terabaikan. Beberapa produk hukum yang ada, bahkan yang diberlakukan sejak zaman kolonial menyinggung sendi-sendi penting perlindungan konsumen. Dilihat dari kuantitas dan materi muatan produk huum itu dibanding kan dengan keadaan di negara-negara maju (terutama Amerika Serikat), kondisi di indonesia masih jauh menggembirakan. Walaupun begitu, keberadaan peraturan hukum bukan satu-satunya ukuran untuk menilai keberhasilan gerakan perlindungan konsumen. Gerakan ini seharusnya bersifat massal dan membutuhkan kemauan politik yang besar untuk mengapliksikannya. Secara umum,sejarah gerakan perlindungan konsumen dapat dibagi dalam empt tahapan. 1. Tahapan I(1881-1914) Kurun waktu ini titik awal munculnya kesadaran masrayakat untuk melakukan gerakan perlindungan konsumen. Pemicunya, histeria massal akibat novel karya Upton Sinclair berjudul The jungel, yang menggambarkan cara kerja pabrik pengolahan daging di Amerika Serikat yang sangat tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan. 2. Tahapan II (1920-1940) Pada kurun waktu ini muncul pula buku berjudul Your Money’s Worth karya chase dan schlink. Karya ini mampu menggugah konsumen atas hak-hak mereka dalam jual beli. Pada kurun waktu ini muncul slogan: fair deal, best buy. 3. Tahapan III (1950-1960) Pada dekade 1950-an ini muncul keinginan untuk mempersatukan gerakan perlindungan konsumen dalam lingkup internasional. Dengan diprakarsai oleh

wakil-wakil gerakan konsumen dari amerika Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Australia, dan Belgia, pada 1 april 1960 berdirilah internasional Organisasi of Consumer Union. Semula organisasi ini berpusat di den haag, Belanda, lalu pindah ke Londen, Inggris, pada 1993. dua tahun kemudian IOCU mengubah namanya menjadi Consumen Internasional (CI). 4. Tahapan IV (pasca-1965) Pasca 1965 sebagai masa pemantapan gerakan perlindungan konsumen, baik di tingkat regional maupun internasional. Sampai saat ini dibentuk lima kantor regional, yakni Amerika Latin dan karibia berpusat di Cile, Asia pasifik berpusat di malaysia, Afrika berpusat di Zimbabwe, Eropa Timur dan Tengah berpusat di Inggris dan negara-negara maju juga berpusat di London, Inggris. B.LATAR BELAKANG HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN 1. Globalisasi Ekonomi dan Perdagangan Bebas Negri-negri yang sekarang ini disebut negara-negara maju telah menumpuh pembangunannya melalui tiga tingkat: unifikasi, industrialisasi, dan negara kesejaheraan. Pada tingkat pertama yang menjadi masalah berat adalah bagaimana mencapai integrasi politik untuk menciptakan persatuan dan kesatuan nasional. Tingkat kedua, perjuangan untuk pembangunan ekonomi dan modernisasi politik. Akhirnya pada tingkat ketiga tugas negara yang terutama adalah melindungi rakyat dari sisi negatif industrialisasi, membetulkan kesalahan-kesalahan pada tahap-tahap sebelumnya dengan menekankan kesejahteraan masyarakat. Tingkat-tingkat tersebut dilalui secara berurutan (consecutive) dan memakan waktu yang relatife lama. Persatuan nasional adalah persyaratan untuk memasuki tahap industrialisasi. Industrialisasi merupakan jalan untuk mencapai Negara kesejahteraan. Revolusi industri di Inggris yang dimulai pada abad ke-18 kiranya dapat dianggap sebagai awal proses perubahan pola kehidupan masyarakat yang semula merupakan masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Berkembang dan semakin majunya teknologi kemudian mendorong pula peningkatan volume produksi barang dan jasa. Perkembangan ini juga mengubah hubungan antara penyedia produk dan pemakai produk yang semakin beranjak. Produk barang dan jasa yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia semakin lama semakin canggih, sehingga timbul kesenjangan terhadap kebenaran informasi dan daya tanggap konsumen. Kondisi tersebut kemdian menempatkan konsumen dalam posisi yang lemah. Sejak dua dasawarsa terakhir ini perhatian dunia terhadap masalah perlindungan konsumen semakin meningkat. Gerakan perlindungan konsumen sejak lama dikenal di dunia Barat. Negara-negara di Eropa dan Amerika juga telah lama memiliki peraturan tentang Perlindungan Konsumen. Organisasi Dunia seperti PBB tidak kurang perhatiannya terhadap masalah ini. Hal ini terbukti dengan dikeluarkannya Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa No.39/249 Tahun 1985. Dalam resolusi ini kepentingan konsumen yang harus dilindungi meliputi. a. perlindungan konsumen dari bahaya-bahaya terhadap kesehatan dan keamanannya; b. promosi dan perlindungan kepentingan sosial ekonomi konsumen; c. tersedianya informasi yang memadai bagi konsumen untuk memberikan kemampuan mereka dalam melakukan pilihan yang tepat sesuai dengan kehendak dan kebutuhan pribadi; d. pendidikan konsumen;

maka pembahasan perlindungan konsumen akan terasa aktual dan selalu penting untuk dikaji ulang. Globalisasi menyebabkan berkembangnya saling ketergantungan pelaku ekonomi dunia. dalam keadaan apapun pasti menjadi konsumen untuk suatu produk barang atau jasa tertentu. Dampak buruk yang lazim terjadi. Manufaktur. Dalam rangka mengejar dan mencapai kedua hal tersebut. selalu ada yang menang dan kalah.antara lain menyangkut kualitas. Setiap orang. Dengan demikian. terutama di indonesia. tersedianya upaya ganti rugi yang efektif.e. aliansi strategis internasional. investasi melewati batas-batas negara. waralaba. Konsumen yang keberadaannya sangat tidak terbatas dengan strata yang sangat bervariasi menyebabkan produsen melakukan kegiatan pemasaran dan distribusi produk barang atau jasa dengan cara seefektif mungkin agar dapat mencapai mencapai konsumen yang sangat majemuk tersebut. Tiadanya perlindungan konsumen adalah sebagian dari gejala negri yang kalah dalam perdagangan bebas. kebebasan untuk membentuk organisasi konsumen. akhirnya baik langsung maupun tidak langsung. upaya-upaya untuk memberikan perlindungan yang memadai terhadap kepentingan konsumen merupakan suatu hal yamg penting dan mendesak untuk segera dicari solusinya. f. Perlindungan terhadap konsumen dipandang secara material maupun formal makin terasa sangat penting. turnkey project. konsumen lah yang pada umumnya merasakan dampaknya. dan lain-lain. informasi yang tidak jelas bahkan menyesatkan pemalsuan dan sebagainya. secara mendasar konsumen juga membutuhkan perlindungan hukum yang sifatnya universal. Persaingan perdagangan internasional dapat membawa implikasi negatif bagi perlindungan konsumen. mengingat sedemikian kompleksnya permasalahan yang menyangkut perlindungan konsumen. Untuk itu semua cara pendekatan diupayakan sehingga mungkin menimbulkan berbagai dampak. perdagangan. atau mutu barang. mengingat makin lajunya ilmu pengetahuan dan teknologiyang merupakan motor penggerak bagi produktivitas dan efisiensi produsen atas barang dan jasa yang dihasilkan dalam rangka mencapai sasaran usaha. Pada masa lalu bisnis internasional hanya dalam bentuk ekspor-impor dan penanaman modal. dan disemua pasar yang berdasarkan persaingan. aktivitas finansial. termasuk keadaan yang menjuruspada tindakan yang bersifat negatf bahkan tidak terpujiyang berawal dari iktikad buruk. Perdagangan bebas juga menambah kesenjangan antara negara maju dan negara pinggiran (periphery). Gejala ini dipercepat oleh kemajuan komunikasi dan transportasi teknologi. pada suatu waktu. yang akan membawa akibat pada komposisi masyarakat dan kondisi kehidupan mereka. Keadaan yang universal ini pada beberapa sisi menunjukkan adanya beberapa kelemahan pada konsumen sehingga konsumen tidak mempunyai kedudukan yang “aman’’. alih teknologi. dalam posisi tunggal/sendiri maupun berkelompok bersama orang lain. Mengingat lemahnya kedudukan konsumen pada umumnya dibandingkan dengan kedudukan produsen yang relatif lebih kuat dalam banyak hal. karena investasi asing telah menjadi bagian pembangunan ekonomi indonesia. imbal beli. perlindungan konsumen harus mendapat perhatian yang lebih. Kini transaksi menjadi beraneka ragam dan rumit. Oleh karena itu. lebih-lebih menyongsong era perdagangan bebas yang akan datang. . seperti kontrak pembuatan barang. dimana ekonomi indonesia juga telah berkait dengan ekonomi dunia. meningkatkan intensitas persaingan. Globalisasi adalah gerakan perluasan pasar.

konsep pemasaran pada awalnya adalah memfokuskan pada produk yang lebih baik yang berdasarkan pada standar dan nilai internal.Pada situasi ekonomi global dan menuju eraperdagangan bebas. Untuk itu harus memanfaatkan pelanggan yang ada termasuk pesaing. Konsep-konsep dipandang dari strategi pemasaran global telah berubah dari waktu ke waktu. Indonesia menjadi salah satu pelaku dalam era pedagangan bebas. mengingat makin ketatnya persaingan untuk berusaha. Hal ini dilakukan dengan tujuan memperoleh laba. sebagai konsep baru pemasaran. sosial. Dibandingkan pemerintah dan . karena pertama konsumen disamping mempunyai hak-hak yang bersifat universal juga mempunyai hak-hak yang bersifat sangat spesifik (baik situasi maupun kondisi). Era perdagangan bebas merupakan suatu era kemana pemasaran merupakan suatu disiplin universal. Hal ini sangat penting mengingat kepentingan konsumen pada dasar nya sudah ada sejak awal sebelum barang/jasa diproduksi selama dalam proses produksi sampai pada saat distribusi sehingga sampai ditangan konsumen untuk dimanfaatkan secara maksimal. promotion. yaitu dengan pembaruan pemasaran marketing mix atau 4p ( product. kebijakan yang berlaku. perlindungan terhadap konsumen juga membutuhkan pemikiran yang luas pula. 2. setiap perusahaan (setiap produsen) adalah menuju pada pemasaran global. dengan pembaruan dari konsep pemasaran menjadi konsep strategi. harga. and place) produk. Pemikiran konsep secara luas dan kajian dari aspek hukum pun juga membutuhkan wawasan hukum yang luas. WTO (World Trade Organization). masyarakat dan negara). Orientasi pemasaran global pada dasarnya dapat mengubah berbagai konsep. Persaingan yang makin ketat ini juga dapat memberikan dampak negatif terhadap konsumen pada umumnya. merupakan dambaan bagi setiap produsen.manajemen. sebagaimana tahapan berikut: Pertama. politik secara luas. ekonomi. melalui bebagai kesepakatan internasional seperti GATT (General Ageement on Trade and Tarif). Kedua. Disamping itu juga terjadi perubahan pada tujuan pemasaran. dunia usaha dan masyarakat konsumen Indonesia. promosi dan saluran distribusi. sehingga tidaklah dapat dikaji dari aspek hukum semata-mata. pelanggan. Ketiga. Sasaran masih tetap pada laba. price. Saat ini sasaran setiap negara. Perlindungan konsumen dalam era pasar global menjadi sangat penting. dengan menjual atau membujuk pelanggan potensial untuk menukar uangnya dengan produk perusahaan. upaya mempertahankan pelanggan/konsumen atau mempertahankan pasar atau memperoleh kawasan pasar baru yang lebih luas. Hubungan antara Produsen dan Konsumen Sudah menjadi komitmen Pemerintah Indonesia. tetapi cara pencapaian mejadi luas. Bertolak dari rangkaian perubahan konsep pemasaran tersebut. yaitu dari laba menjadi keuntungan pihak yang berkepentingan (yaitu orang perorangan atau kelompok yang mempunyai kepentingan dalam kegiatan perusahaan termasuk di dalamnya karyawan. cara pandang dan cara pendekatan mengenai banyak hal termasuk strategi pemasaran. AFTA (Asean Free Trade Area) dan lain-lain. Perubahan pemasaran tersebut membawa pengaruh pula pada konsep perlindungan konsumen secara global. peraturan pemerintah serta kekuatan makro. Berhasil tidaknya Indonesia memanfaatkan era perdagangan bebas. Konsep strategi pemasaran pada dasrnya mengubah fokus pemasaran dari pelanggan atau produk kepada pelanggan dalam konteks lingkungan eksternal yang lebih luas. sangat tergantung pada kesiapan pemerintah. pada dekade enam puluhan fokus pemasaran dialihkan dari produk kepada pelanggan.

dari segi jenis/macam barang. persekongkolan diantara perusahaan yang bersaing untuk mengembangkan produk atau penelitian.menurut Customers Internasional (CI) anggapan dasar ini tidak selalu menjadi kenyataan. b) penetapan target impor. posisi konsumen khususnya di negara berkembang dirugikan. c) penetapan kouta ekspor. (4) Reciprokal exclusiveity: penjual menyetujui hanya menjual barang dan jasa dari pemasok saja. akan menjadikan konsumen negara dunia ketiga menjadi sampah berbagai produk yang di negara maju tidak memenuhi persyaratan untuk dipasarkan. (6) Differential pricing: pemasok menentukan harga berbeda kepada pembeli yang berbeda atas dasar selain mutu dan jumlah yang dilepas.dunia usaha. Permasalahannya. c) kartel domestik. . (7) Predatory pricing: penjual menentukan perbedaan harga dengan tujuan untuk mendorong pesaing keluar dari bisnis. dengan adanya liberalisasi perdagangan arus keluar masuk barang menjadi semakin lancar. Contoh kasus buah impor. sementara di negara bekembang bebas masuk karena belum ada standardisasi mutu buah impor. persyaratan-persyaratan apa yang harus ada dalam pranata hukum Indonesia. Alasannya. Seperti (1) Tied selling: penjual memaksa pembeli untuk membeli barang dan jasa lebih daripada yang dibutuhkan pembeli. (5) Refusal to deal: satu pemasok memaksa seseorang pembeli untuk menaati satu mandat tertentu dibawah ancaman penarikan barang dan jasa. Di negara maju buah impor ditolak karena kandungan/residu pestisida di atas ambang batas yang membahayakan kesehatan. Logika gagasan ini adalah. praktis belum ada pihak yang menyentuh bagaimana mempersiapkan konsumen Indonesia menghadapi pasar bebas. Pertama. bukan sebaliknya justru menjadi musibah. (3) exclusive dealing: dua penjual atau lebih menciptakan monopoli lokal dengan persetujuan untuk berbagai pasarke dalam wilayah-wilayah. satu cara dari perusahaan untuk membatasi akses pasar bagi perusahaan asing. mengingat dalam praktik. banyak sekali peraturanperaturan yang justru bernuansa anti persaingan. Kedua. posisi konsumen diuntungkan. a) merger dan akuisisi. (c) persekongkolan bisnis strategis. mutu. Dalam kenyataan.satu tindakan bersama dari babaraa perusahaan dari berbagai negara untuk membagi pasar dan menetapkan harga. satu cara untuk menangkal purusahaan asing membanjiri barang dan jasa yang lebih murah dari pada harga yang ditetapkan oleh perusahaan di dalam negri. serta adanya kemudahan keluar masuk barang ke dalam pasar tanpa halangan. Anggapan dasar dalam pasar bebas adalah adanya arus informasi yang sempurna yang memberi kemungkinan pada pembeli dan penjual untuk memilih barang dan jasa secara rasional. agar era perdagangan bebas bagi konsumen benar-benar menjadi anugrah. 1) Cross border business agreement. masih lemah nya pengawasan dibidang standardisasi mutu barang. maupun harga. a) undang-undang anti dumping. lemahnya produk perundang-undangan. Oleh karena itu. 3) Trade policy. 2) Industrial policy: a) kartel ekspor. b) kartel impor. (2) Resale price maintenance: penjual merancang harga yang dapat dibebankan kepada konsumen.(b) kartel internasional.satu perusahaan atau lebih bergerak untuk menciptakan monopoli di luar batas yurisdiksi satu Negara. satu tanggapan defensif oleh perusahaanperusahaan yang membeli barang dari kartel ekspor. Ada dua asumsi dalam melihat posisi konsumen di era pasar bebas. konsumen lebih banyak pilihan dalam menentukan berbagai kebutuhan. persetujuan di antara perusahaan atas harga ekspor. baik berupa barang dan jasa.

Sapai pada tahapan hubungan penyaluran atau distribusi tersebut menghasilkan suatu hubungan yang sifatnya massal. Hubungan antara produsen dan konsumen yang berkelanjutan sejak proses produksi. Perlunya undang-undang perlindungan konsumen tidak lain karena lemahnya posisi konsumen dibandingkan posisi produsen. (3) Peningkatan kesadaran konsumen akan hak-haknya. Tanpa dukungan konsumen. Hal tersebut secara sistematis dimanpaatkan oleh produsen dalam suatu sistem distribusi dan pemasaran produk barang guna mencapai tingkat produktivitas dan efektivitas dalam rangka mencapai sasaran usaha. Rangkaian kegiatan tersebut merupakan rangkaian perbuatan dan perbuatan hukum yang tidak mempunyai akibat hukum dan yang mempunyai akibat hukum baik terhadap semua pihak maupun hanya terhadap pihak tertentu saja. maka peran negara sangat dibutuhkandalam rangka melindungi kepentingan konsumen pada umumnya. Saling ketergantungan karena kebutuhan tersebut dapat menciptakan suatu hubungan yang terus-menerus dan berkesinambungan sepanjang masa. perlu dipenuhi beberapa persyaratan minimal. hubungan antara produsen (perusahaan penghasilan barang dan/atau jasa) dengan konsumen (pemakai akhir dari barang dan/atau jasa untuk dari sendiri ataukeluarganya) merupakan hubungan yang terus-menerus dan berkesinambungan. tetapi juga melindungi hak-haknya untuk melakukan usaha dengan jujur: (2) aparat pelaksa hukumnya harus dibekali dengan sarana yang memadai dan disertai dengan tanggung jawab. yakni adanya permintaan yang meningkat dari masyarakat sehingga produsen dituntut untuk meningkatkan produktivitasnya. sesuai dengan tingkat ketergantungan akan kebutuhan yang tidak terputus-putus. syarat lingkungan. Proses sampai hasil produksi barang atau jasa dilakukan tanpa campur tangan konsumen sedikit pun. Produsen sangat membutuhkan dan sangat bergantung atas dukungan konsumen sebagai pelanggan. distribusi pada pemasaran dan penawaran. hukum ini juga akan mendorong produsen untuk melakukan usaha dengan penuh tanggung jawab.Dari apa yang telah dipaparkan CI diatas. Sebaliknya. syarat pengemasan. (4) mengubah sistem nilai dalam masyarakat ke arah sikap tindak yang mendukung pelaksanaan perlindungan konsumen. Secara umum dan mendasar. cara prosedur produksi. dan sebagainya. Namun. tidak mungkin produsen dapat terjamin kelangsungan usahanya. yakni adanya permintaan yang meningkat dari masyarakat sehingga produsen dituntut untuk meningkatkan produktifitasnya. Untuk mewujutkan harapan tersebut. dengan jelas terlihat bahwa kedudukan konsumendi dalam era perdagangan babas sangat lemah. karna sifatnya yang massal. jadi tidak membebani produsen dengan tanggung jawab. semua tujuan tersebut hanya dapat dicapai bila hukum perlindungan konsumen dapat diterapkan secara konsekuen. Secara tidak langsung. Tujuan hukum pelindungan konsmen secara langsung adalah untuk meningketkan martabat dan kesadaran konsumen. syarat kesehatan. Hubungan tersebut terjadi karena keduanya memang saling menghendaki dan mempunyai tingkat ketergantungan yang cukup tinggi antara yang satu dengan yang lain. antara lain: (1) hukum perlindungan konsumen harus adil bagi konsumen maupun produsen. Karena sifatnya yang masal tersebut. Untuk itu perlu diatur perlidungan konsumen berdasarkan undang-undang antara lain menyangkut mutu barang. konsumen kebutuhannya sangat bergantung dari hasil produksi produsen. .

Hubungan hukum yang spesifik ini sangat bervariasi. Diawali dengan sistem pengawasan tarhadap mutu dan kesehatan serta ketepatan pemanfaatan bahan untuk sasaran produk.Bertolak dari luas dan komleksnya hubungan antara produsen dan konsumen serta banyaknya mata rantai penghubung keduanya. maka untuk melindungi konsumen sebagai pemakai akhir dari produk barang atau jasa. koprasi. Untuk itu aspek hukum publik sangat dominan. tetapi membutuhkan pula perangkat hukum internasional dalam jaringan kerja sama antar negara dan kerja sama internasional. yaitu guna mengatur pola hubungan rodusen. Kecurangan ini tidak hanya merugikan konsumen saja. antar kawasan ekonomi. (2) bahwa ada produsen yang melakukan kecurangan dalam melakukan kegiatan usahanya. harga dari satu jenis komoditas tertentu. 4. hukum perdata lah yang lebih dominan dalam rangka melindungi masing-masing pihak. (3) kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan usaha bagi produsen yang bertanggung jawab dapat diwujudkan tidak dengan jalan merugikan kepentingan . terbuka. pada dasarnya akan sangat mempengaruhi dan menciptakan kondisi perjanjian yang juga sangat bervariasi. tetapi juga adanya persepsi yang salah dikalangan sebagian besar produsen bahwa perlindungan terhadap konsumen akan menimbulkan kerugian terhadap rodusen. Kedala yang dihadapi dalam upaya perlindungan konsumen di indonesia tidak terbatas pada rendahnya kesadaran konsumen akan hak. Setelah hubungan bersifat personal. (1) bahwa konsumen dan produsen adalah pasangan yang saling membutuhkan. penawaran dan syarat perjanjian. usaha produsen tidak akan dapt berkembang dengan baik bila konsumen berada pada kondisi yang tidak sehat akibat banyaknya produk yang cacat. fasilitas yang ada. sebelum dan purna jual. Hal ini sangat penting mengingat konflik antara negara dan pihak berkepentingan di dalam era perdagangan bebas makin luas. Campur tangan negara. tetapi juga akan merugikan produsen yang jujur dan bertanggung jawab. yang syarat-syaratnya secara sepihak ditentukan pula oleh produsen atau jaringan distributornya. hubungan hokum seringkali melemahkan posisi konsumen karena secara sepihak para produsen/distributor sudah menyiapkan satu kondisi perjanjian dengan adanya perjanjian baku. 3. dan bahkan antarpara pihak yang mempunyai pengaruh untuk produk tertentu dalam rangka memperebutkan pasar. Sistem perlindungan tersebut tidak dapat hanya memanfaatkan perangkat hukum nasional saja. dan sebagainya. yang sangat dipengaruhi oleh berbagai keadaan antara lain: 1. sehingga mereka juga dapat diakui sebagai salah satu subjek dalam sistem perekonomian nasional di samping BUMN. dan kerja sama internasional sangat dibutuhkan. dibutuhkan berbagai aspek hukum agar konsumen dapat dilindungi dengan adil sejak awal produksi. dan usaha swasta. dan makin bervariasi. 2. konsumen dan sistem perlindungan konsumen. Persepsi yang keliru di kalangan pengusaha ini akan dengan mudah diluruskan apabila disadari beberapa pertimbangan berikut ini. kondisi. kebutuhan para pihak pada rentang waktu tertentu. yaitu antarnegara asosiasi produsen sejenis. Hubungan antara produsen dan konsumen yang bersifat massal tersebut menciptakan hubungan secara individual/personal sebagai hubungan hukum yang spesifik. Dalam praktik nya. Keadaan-keadaan seperti di atas. Paa era pasar bebas dimana hubungan produsen dan konsumen menjadi makin dekat dan makin terbuka. kerja sama antarnegara.Dipenghuninya persyaratan diatas akan mengangkat harkat Dan martabat konsumen.

sebenarnya hukum konsumen dan hukum perlindungan konsumen adalah dua bidang hukum yang sulit dipisahkan dan ditarik batasnya. Nasution berkaitan dengan kaidah-kaidah hukum perlindungan konsumen yang senantiasa bersifat mengatur. tetapi memberikan perlindungan terhadap konsumen tidak termasuk dalam hukum perlindungan konsumen? Untuk itu jelasnya dapat dilihat ketentuan Pasal 383 KUHP berikut ini.J. (2) mengenai jenis keadaan atau banyaknya barang yang diserahkan dengan menggunakan tipu muslihat.Leder menyatakan: In a sense there is not such creature as consumer law. Karena posisi konsumen yang lemah maka ia harus dilindungi oleh hukum. inti persoalannya bukan terletak pada kaedah yang harus “mengatur“ dan “memaksa“. C. secara hokum sebenarnya hukum konsumen dan hukum perlindungan konsumen ini seperti yang dinyatakan oleh Lowe yakni: …. hukum perlindungan konsumen merupakan bagian dari hukum konsumen yang lebih luas itu. Bentrok dari keadaan yang demikian. Adapun yang masih belum jelas dari pernyataan Az. (4) bahwa beban kompensasi atas kerugian konsumen akibat pemakaian produk cacat telah diperhitungkan dalam komonen produksi.konsumen. Seharusnya ketentuan memaksa dalam pasal 383 KUHP juga memenuhi syarat untuk dimasukkan kedalam wilayah hukum perlindungan konsumen. Az. Salah satu sifat. hukum administrasi (negara) dan hukum internasional terutama konvensi-konvensi yang berkaitan dengan kepentingan-kepentingan konsumen. Jadi. Namun. seorang penjual yang berbuat crang terhadap pembeli: (1) karena sengaja menberikan barang lain daripada yang ditunjuk untuk dibeli. misalnya berpendapat bahwa hukum konsumen yang memuat asas-asas atau kaidah-kaidah bersifat mengatur. hukum dagang. melainkan oleh sistem perangkat hukum yang mampu memberikan perlindungan yang simultan dan komperehensif sehingga terjadi persaingan yang jujur yang secara langsung atau tidak langsung akan menguntungkan konsumen. M. Artinya. . di dalam pergaulan hidup. Juga. perlindungan hukum terhadap hak konsumen tidak dapat diberikan oleh satu aspek hukum saja. Ia menyebutkan.HUKUM KONSUMEN DAN HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN Istilah“hukum konsumen’’dan“hukum perlindungan konsumen’’sudah sangat sering terdengar. Sekalipun demikian. Adapun hukum konsumen diartikan sebagai keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan hubungan dan masalah antara berbagai pihak satu sama lain berkaitan dengan barang dan/jasa konsumen. baik tertulis maupun tidak tertulis. hukum pidana. tetapi ditanggung bersama oleh seluruh konsumen yang memakai produk yang cacat. tetai dapat dicapai melalui penindakan terhadap produsen yang melakukan kecurangan dalam melakukan kegiatan usahanya. Nasution.rules of law which recognize the bargaining weakness of the individual consumer and which ensure that weakness is not unfairly exploited. sekaligus tujuan hukum itu adalah memberikan perlindungan (pengayoman) kepada masyarakat. seperti hukum perdata. apakah kedua“cabang’’ hukum itu identik. belum jelas benar apa yang masuk kedalam materi keduanya. Apakah kaidah yang sifatnya memaksa. Az. Diancam dengan pidana paling lama satu tahun empat bulan. asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah konsumen itu tersebar dalam berbagai bidang hukum. dan juga mengandung sifat yang melindungi kepentingan konsumen. Ada juga yang berpedapat. Nasution mengakui.

S.H. Dalam sambutan guru besar UI. YLKI muncul dari sekelompok kecil anggota masyarakat yang diketuai oleh lasmidjah hardi. Dilihat dari sejarahnya gerakan perlindungan konsumen di Indinesia baru benarbenar dipopulerkan sekitar 20 tahun lalu.H. hukum konsumen berkala lebih luas meliputi berbagai aspek hukum yang terdapat kepentingan pihak konsumen di dalamnya. seyogyanya dikatakan. yakni dengan menyelenggarakan pekan promosi swakarya II dan III yang benar-benar dimanfaatkan oleh kalangan produsen dalam negeri. Thailand. kemudian muncul beberapa organisasi serupa. Hal ini dibuktikan benar oleh YLKI. seperti yayasan lembaga bina konsumen Indonesia (YLBKI) di Bandung dan perwakilan YLKI di berbagai provinsi di tanah air. Persatuan nasional. institusi hukum dan profesi hukum. sekarang CI) Erna Witoelar. kesejahteraan manusia. yakni dengan berdirinya lembaga swadayamasyarakat (nongovernmental organization) yang bernama yayasan lembaga konsumen Indonesia (YLKI). D. Erman rajagukguk menjelaskan bahwa di Indonesia untuk pertumbuhan ekonomi dan pemerataan dapat dilaksanakan dalam waktu bersamaan. dewasa ini cukup banyak lembaga swadaya masyarakat serupa berorientasi pada kepentingan pelayanan konsumen. Filipina. institusi hukum dan profesi hukum. Keduanya tidak dalam kondisi yang berlawanan dan dengan demikian pembangunan akan menarik partisipasi masyarakat. antara lain lembaga pembinaan dan perlindungan konsumen (LP2K) di semarang yang berdiri sejak Februari 1988 dan pada 1990 bergabung sebagai anggota consumers international (CI). 26.S Loemban Tobing. yang mampu menjaga integrasi dan persatuan nasional. dengan akta No. Kita harus memiliki hukum. perlindungan konsumen di Indonesia masih tertinggal. Yayasan ini sejak semula tidak ingin berkonfrontasi dengan produsen (pelaku usaha) apalagi dengan pemerintah. dapat mendorong pertumbuhan perdagangan dan industri. Hal ini menjadi tambah penting karena bangsa kita berada dalam era globalisasi. seperti Malaysia. tentu Indonesia masih harus “belajar“ banyak. tugas dan beban. Setelah YLKI. Dalam suasana kerja sama ini kemudian lahir motto yang dicetuskan oleh Ny. Kartina Sujono Prawirabisma bahwa YLKI bertujuan melindungi konsumen. dan singapura.Dengan demikian. Dalam mencapai tujuan tersebut diperlukan pembauran hukum. serta berfungsi memajukan keadialan social. menjaga martabat produsen dan membantu pemerintah. pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan social mesti dapat tercermin dalam setiap pengambilan keputusan. pembagian yang adil atas hak dan keistimewaan.GERAKAN PERLINDUNGAN KONSUMEN DI INDONESIA Jika melihat kemajuan perkembangan konsumen di Amerika Serikat. Sebagaimana pernah disinyalir oleh ketua internasional organization of consumers union (IOCU. Ketertinggalan itu tidak hanya dibandingkan dengan Negara-negara sekitar Indonesia. . Kata aspek hukum ini sangat bergantung pada kemauan kita mengartikan. Ide ini dituangkan dalam anggaran dasar yayasan di hadapan Notaris G. Diluar itu. budaya hokum di Indonesia harus dapat mengakomodasi tujuan-tujuan yang demikian itu. Apabila kita ingin tiga tingkat pembangunan di jalani secara serentak. 11 mei 1973. atinya harus bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Ajang promosi yang diberi nama pekan swakarya ini menimbulkan ide bagi mereka untuk mendirikan wadah bagi gerakan perlindungan konsumen di Indonesia. yang semula bertujuan mempromosikan hasil produk Indonesia. Pembangunan yang komperhensif harus memperhatikan hak-hak manusia.

keputusan ketua pelaksana bursa komoditi. Selama ini upaya hukum individual dari konsumen untuk menggugat produsen baik pemerintah maupun swasta. tidak banyak membuahkan hasil. pengaturan yang memuat unsur perlindungan konsumen tersebar pada delapan bidang. YLKI dapat menggunakan lembaga hukum gugatan kelompok (class action).h. Hal ini menunjukan dalam perjalanan memasuki dasawarsa ketiga. baik berupa koreksi maupun bantahan. Keberadaan YLKI juga sangat membantu dalam upaya peningkatan kesadaran atas hak-hak konsumen. instruksi dirjen. YLKI mampu berperan besar khususnya dalam gerakan menyadarkan konsumen akan hak-haknya. keputusan mentri. seperti media Indonesia dan Kompas. Metode kerja YLKI baru pada penelitian terhadap sejumlah produk barang/jasa dan mempublikasikan hasilnya kepada masyarakat. yaitu (1) obat-obatan dan bahan berbahaya. Beberapa harian besar Nasional. (5) metrology dan tera. (3) alat-alat elektronik. mulai dari ordonansi dan undang-undang. (2) makanan dan minuman. banyak hakim yang masih ragu-ragu untuk menerimanya. Sementara itu. (6) industri. walaupun ada preseden yang mengakui eksistensi gugatan kelompok tersebut. sampai saat ini masih sangat minim. Namun. keputusan bersama dari beberapa mentri.YLKI memiliki cabang-cabang di berbagai provinsi dan mempunyai pengaruh yang cukup besar karena didukung oleh media massa. masih belum dikenal dengan baik oleh para penegak hukum di Indonesia. penerbitan dan menerima pengaduan. (7) pengawasan mutu barang. Untuk mewakili gugatan-gugatan di msyarakat. instruksi presiden. YLKI cukup beruntung karena tidak harus memulainya dari nol sama sekali. . termasuk yang di prakarsai YLKI mencatat prestasi besar setelah naskah akademik UUPK berhasil di bawa ke DPR. gugatan massal yang mewakili masyarakat luas. keputusan dirjen. Gerakan ini belum mempunyai kekuatan lobi untuk memberlakukan atau mencabut suatu peraturan. Dari inventarisasi sampai 1991. Demikian juga dalam berbagai pertemuan ilmiah dan pembahasan peraturan perundang-undangan. Hasil-hasil penelitian YLKI yang dipublikasikan di media massa juga membawa dampak terhadap konsumen. Gerakan konsumen di Indonesia. YLKI dianggap mitra yang representatif. peraturan pemerintah atau yang sederajat. secara rutin menyediakan kolom khusus untuk membahas keluhan-keluhan konsumen. YLKI juga tidak sepenuhnya dapat mandiri seperti food and drug administration (FDA). Alasan yang utama tentu karena YLKI sendiri bukan badan pemerintah seperti FDA di Amerika Serikat dan tidak memiliki kekuasaan public untuk menerapkan suatu peraturan atau menjatuhkan suatu sanksi. Perhatian produsen terhadap publikasi demikian juga terlihat dari reaksi-reaksi yang diberikan. Jenis peraturan perundangundangannya pun bervariasi.i gubernur KDH DKI Jakarta). Ditinjau dari kemajuan peraturan perundang-undangan di Indonesia dibidang perlindungan konsumen. dan keputusan gubernur (d. Pengalaman menangani kasus-kasus yang merugikan konsumen di negara-negara yang lebih maju dapat dijadikan studi yang bermanfaat sehingga Indonesia tidak perlu lagi harus mengulang keslahan yang serupa. Lembaga ini tidak sekedar melakukan penelitian atau pengujian. peraturan mentri. Selanjut nya rancangannya di sahkan menjadi undang-undang. Jika dibangdingkan dengan perjalanan panjang gerakan konsumen diluar negeri khususnya di Amerika Serikat. tetapi sekaligus juga mengadakan upaya advoksasi melalui jalur pengadilan. Demikian pula dengan kasus-kasus kegagalan advokasi konsumen. dan (8) lingkungan hidup. daik dilihat dari kualitas peraturannya maupun kedalaman materi yang dicakupnya. (4) kendaraan bermotor.

UUPK ini dihasilkan atas inisiatif DPR. A/RES/39/248 juga disuarakan seruan penghormatan terhadap hak-hak konsumen. Misalnya pada tahun 1994 dikumandangkan tema sentral hak konsumen untuk memperoleh kebutuhan pokok. Perlunya predictability sangat besar di Negara-negara di mana masyarakatnya untuk pertama kali memasuki hubunganhubungan ekonomi melampaui lingkungan tradisional mereka. 7 tahun 1994 tentang agreement establishing the world trade organization (persetujuan pembentukan organisasi perdagangan dunia). Namun. Tidak adanya standar yang adil dan apa yang tidak adil adalah masalah besar yang dihadapi Negaranegara berkembang. Hukum yang kondusif bagi pembangunan sedikitnya mengandung lima kualitas. UUPK ini masih memerlukan waktu satu tahun untuk berlaku efektif. Kemudian sejak 1995 berubah nama menjadi cnsumers international (CI). Dalam jangka panjang ketiadaan standar tersebut menjadi sebab utama hilangnya ligitimilasi pemerintah. 2111 tahun 1978. Gerakan konsumen sejak 1960 memiliki wadah yang cukup berwibawa. education dan kemampuan meramalkan adanya prasyarat untuk berfungsinya system ekonomi. Australia. yang disebut intenational organization of comsumers unions (IOCU). dari perkara yang dibawa ke pengadilan itu belum mampu menghasilkan dampak sebesar seperti yang pernah dilakukan Ralph Nader terhadap General Motors. Setelah pemerintah RI mengesahkan undang-undang No. Stabilitas juga berarti hukum berpotensi untuk menjaga keseimbangan dan mengakomodasi kepentingankepentingan yang saling bersaing. fairness. Salah satu diantaranya adalah perlunya eksistensi UUPK. Setiap 15 maret CI memperingati “hari hak konsumen sedunia“ dan memberi tema berbeda-beda tiap tahun. dengan resolusinya No. adalah perlu untuk memelihara mekanisme pasar dan untuk mencegah birokrasi yang berlebihan. YLKI mencoba mengajukan gugatan kelompok kepada pemerintah dalam berbagai kasus. standard sikap pemerintah. antara lain terhadap PT Persero Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Telkom. misalnya mempunyai 15 organisasi anggota CI. PROSPEK GERAKAN KONSUMEN Perhatian terhadap gerakan perlindungan hak-hak konsumen (konsumerisme) mendapat pengakuan dan dukungan dari dewan ekonomi dan social PBB.Terlepas dari kondisi ini. kemudian pada 16 April 1985 dengan resolusinya No. andil terbesar yang “memaksa“ kehadiran UUPK ini adalah juga karena cukup kuatnya tekanan dari dunia internasional. Sementara Malaysia dan fhilipina memiliki lima organisasi dan Indonesia ada dua organisasi (YLKI Jakarta dan LP2K di semarang). predictability. yaitu stability. Yaitu tatkala undang-undang No. Dalam satu Negara dapat saja ada lebih dari satu organisasi konsumen yang terdaftar sebagai anggota CI. 1966. Aspek keadilan (fairness) seperti persamaan didepan hukum. E. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen (UUPK) disahkan dan diundangkan pada 20 April 1999. Tanpa mengurangi penghargaan terhadap upaya terus menerus yang dilakukan oleh YLKI. yang notabene hak itu tidak pernah sejak orde baru berkuasa pada 1966. Perkembangan baru dibidang perlindungan konsumen terjadi setelah penggantian tampuk kekuasaan di Indonsia. maka ada kewajiban bagi Indonesia untuk mengikuti standard-standar hukum yang berlaku dan diterima luas oleh Negara-negara anggota WTO. . Anggota CI mencapai 203 organisasi konsumen berasal dari 90 negara di seluruh dunia.

dan segera mengubah pola dibidang terkait. sebagian komponennya dibuat diberbagai negara di luar jepang. dan papan. Globalisasi keempat ini membawa konsekuensi makin tergesernya alat-alat produksi tradissional mengarah kepada modernisasi dan mekanisasi. dan jasa prinsip-prinsip non-discrimination. Manufaktur. Persaingan antar produsen saat ini semakin ketat dan dan yang dihadapi bukan lagi competitor dalam negeri. national treatment. Faktor kedua. tetapi pada kebutuhan listrik. Tentu mereka memilih yang terbaik diantara produk barang/jasa yang tersedia. yakni mulai beralihnya isu-isu konsumen dari sekedar mempersoalkan mutu menuju kearah yang lebih berskala makro dan universal. Hal ini tampak dari dihilangkannya dinding-dinding tarif sehingga dunia menjadi satu pasar. misalnya cepat diadopsi kenegara lain. air minum.Hak atas kebutuhan pokok ini tidak terbatas pada pangan. pos dan telekomunikasi. Modal seperti air yang mencari tempat yang sesuai. globalisasi produksi. bahkan saat ini sertifikasi itu sudah berjalan. investasi melewati batas-batas negara meningkatkan intensitas persaingan. . termasuk masyarakat indonesia. Ketiga. Perhatian konsumen di dalam negeri sama dengan perhatian konsumen di berbagai negara. gejala ini dipercepat oleh kemajuan komunikasi dan transportasi teknologi. Gejala-gejala itu memberi pengaruh pada gerakan konsumen didunia dan di indonesia. Keempat. gerakan konsumen global ditandai oleh globalisasi diberbagai bidang. most favored nation. Menurut Emil Salim. sandang. globalisasi teknologi. obat-obatan. hak milik intelektual. Bagaimanapun juga karakteristik dan hambatannya. Globalisasi juga menyebabkan terjadi globalisasi hukum. antara ain dengan terbenuknya lembaga pengkajian pangan. mencantumkan beberapa ketentuan yang harus di penuhi di Negara-negara anggota berkaitan dengan penanaman modal. globalisasi perdagangan. Toyota. produsen demikian akan kalah dalam persaingan. Jika tidak. Hal ini berarti. General agreement on tariff and trade (GATT) misalnya. dan mempengaruhi kesadaran konsumen lokal untuk berbuat hal yang sama. tuntutan-tuntutan masyarakat dunia internasional. sehingga gerakan konsumen di dunia internasioanal mau tak mau menembus batas-batas Negara. dan kosmetika majelis ulama Indonesia (LP POM MUI). Konsumen Indonesia merupakan bagian dari konsumen global. Dalam hal ini berarti. tidak ada produk yang hanya dibuat di satu negara. Disamping itu. antara lain melalui perjanjian-perjanjian internasional. Pertama. transparency kemudian menjadi substansi peraturan-peraturan nasional Negaranegara anggota. tampak makin kritis. Konsumen kita menjadi konsumen global. perdagangan. maka dewasa ini tuntutan itu demikian kuat bergema. globalisasi ekonomi menimbulkan akibat yang besar sekali pada bidang hukum. misalnya. Teknologi dibidang pengemasan yang diterapkan di Amerika Serikat. Jika dulu masih banyak yang belum berani menyuarakan agar di Indonesia dilakukan sertifikasi “halal” untuk produkproduk tertentu. Itu berarti masalah mutu barang dari jumlah ketersediaannya dipasaran tidak lagi menjadi keprihatinan utama karena produsen dengan sendirinya berlomba-lomba untuk memenuhinya. globalisasi finansial. Globalisasi menyebabkan berkembangnya saling ketergantungan pelaku-pelaku ekonomi dunia. Globalisasi hukum terjadi melalui usaha-usaha standardinasi hukum. Uang tidak lagi mengenal bendera. konsumen mempunyai banyak pilihan terhadap produk barang/jasa yang dikonsumsinya. globalisasi hukum tersebut tidak hanya didasrkan pada kesepakatan internasional antarbangsa tetapi juga pemahaman tradisi hukum dan budaya antara barat dan timur.

yaitu international organiztion of consumers unions (IOCU). Tujuan penggunaan barang atau jasa nanti menentukan termasuk konsumen kelompok mana pengguna tersebut. PENGERTIAN KONSUMEN. pengadilan yang mandiri dan partisipasi masyarakat melalui lembaga-lembaganya. Surabaya. tidak ada jaminan peraturan-peraturan tersebut memberikan hasil yang sama disemua tempat. Begitu pula kamus indonesia-inggris memberi arti kata consumer sebagai pemakai atau konsumen. baik yang bersifat akademis. Pengertian dari consumer atau consument itu tergantung dalam posisi mana ia berada. jasa-jasa dan bidang-bidang ekonomi lainnya mendekati Negara-negara maju (converagence). maupun untuk tujuan mempersiapkan dasar-dasar penerbitan suatu peraturan perundang-undangan tentang perlindungan konsumen. Di samping itu. budaya. pada masa-masa mendatang menghadapi suasana yang jauh lebih kompleks. BAB 2 PENGERTIAN HAK DAN KEWAJIBAN KONSUMEN SERTA PELAKU USAHA A. Secara harafiah arti kata consumer adalah (lawan dari produsen) setiap orang yang menggunakan barang. Hal mana yang dikarenakan perbedaan sitem politik. Apa yang disebut hukum itu tergantung pada persepsi masyarakat. baik di dunia internasional maupun di Indonesia. perdagangan. Namun. posisi atau kedudukan bahkan kepentingan-kepentingan. Sejalan dengan perkembangannya itu. Arus tuntutan konsumen melalui gerakan-gerakan tadi makin lama makin deras. telah pula berdiri organisasi konsumen internasional. Check and balance hanya bisa dicapai dengan parlemen yang kuat. Friedman. Alhasil.Globalisasi hukum akan menyebabkan peraturan-peraturan Negara-negara berkembang mengenai investasi. Istilah konsumen berasal dari alih bahasa dari kata consumer (inggris-amerika). gerakan konsumen. DAN KEWAJIBANNYA Sebagai suatu konsep. Dalam hal menghadapi hal yang demikian itu perlu check and balance dalam bernegara. dan organisasi konsumen lain di bandung. dan sebagainya. ekonomi dan budaya. Yogyakarta. HAK. berbagai negara telah pula menetapkan hak-hak konsumen yang digunakan sebagai landasan pengaturan perlindungan konsumen konsumen. Tetapi terlebih-lebih bagi pemerintahnya. Kesiapan tersebut tidak sekedar dalam arti “siap bersaing dan berinovasi”. mengatakan bahwa tegaknya peraturan-peraturan hukum tergantung pada budaya hukum anggotaanggotanya yang dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan. Di indonesia telah banyak diselenggarakan studi. lingkungan. “konsumen“ telah diperkenalkan beberapa puluh tahun lalu diberbagai negara dan sampai saat ini sudah puluhan negara memiliki undang-undang atau peraturan khusus yang memberikan perlindungan kepada konsumen termasuk sarana penyediaan peradilannya. Di Indonesia telah pula berdiri berbagai organisasi konsumen seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) di Jakarta. adalah siap dengan pembangunan unsur-unsur system hukumnya. Dalam naskah akademik . sehingga tidak mustahil menimbulkan instabilitas bagi negara-negara yang produsen dan pemerintahnya belum siap benar. atau consument/konsument (belanda).

dan tidak untuk diperjualbelikan. (b) damage to. b. any item of property other than the detective product it self. Sedang dalam naskah akademis yang dipersiapkan fakultas hukum Universitas Indonesia (FH-UI) bekerja sama dengan departemen perdagangan RI. Peraturan perundang-undangan negara lain. sedangkan statutory orders dapat langsung berlaku bagi semua warga negara dari negara-negara anggota EC. Dari naskah-naskah akademik itu yang patut mendapat perhatian. Pengertian “konsumen“ di Amerika Serikat dan MEE. “damage” means: (a) damage caused by death or by personal injuries. antara lain: a. with a lower threshold of 500 ECU. Directive ini mengedepankan konsep liability without fault. Umumny dibedakan antara konsumen antara dan konsumen akhir.dan/atau berbagai naskah pembahasan berbagai rancangan peraturan perundangundangan. di Amerika Serikat kata ini dapat diartikan lebih luas lagi sebagai “korban pemakaian produk yang cacat“. Upaya perlindungan terhadap konsumen dari pemakaian produk-produk yang cacat di negara-negara anggota European Economic Community (EC/MEE) dilakukan dengan cara menyusun product liability directive yang nantinya harus diintegrasikan kedalam instruktur hukum masing-masing negara anggota EC. ada pula yang termuat dalam pasal tertentu bersamasama dengan pengaturan sesuatu bentuk hubungan hukum. bukan pembeli tapi pemakai. or destruction of. Batasan konsumen dari yayasan lembaga konsumen indonesia: pemakai barang atau jasa yang tersedia dalam masyarakat bagi kepentingan diri sendiri. cukup banyak dibahas dan dibicarakan tentang berbagai peristilahan yang termasuk dalam lingkup perlindungan konsumen. bahkan juga korban yang bukan pemakai. Pengertian “konsumen” (consumers) tidak dijabarkan secara rinci dalam directive. memberikan berbagai perbandingan. kata “konsumen“ yang berasal dari consumer sebenarnya berarti “pemakai“. ada yang secara tegas mendefenisikannya dalam ketentuan umum perundang-undangan tertentu. Dalam merumuskannya. and . baik korban tersebut pembeli. Namun. berbunyi: Konsumen adalah setiap orang atau keluarga yang mendapatkan barang untuk dipakai dan tidak untuk diperdagangkan. karna perlindungan hukum dapat dinikmati pula bahkan oleh korban yang bukan pemakai. maupun melalui statutory orders yang berlaku terhadap warga negara seluruh anggota EC. yaitu pemakai akhir dari barang. c. Ketentuanketentuan dalam directive harus diimplementasikan ke dalam hukum nasional dulu sebelum dapat diterapkan. Badan pembinaan hukum nasional-departemen kehakiman (BPHN). provided that the item of property: (i) is a type ordinarily for private use or consumption. keluarga atau orang lain dan tidak untuk diperdagangkan kembali. digunakan untuk keperluan diri sendiri atau orang lain. menyusun batasan tentang konsumen akhir. Untuk memahaminya dapat dilakukan dengan menelaah pasal 1 dikaji bersama-sama dengan pasal 9 directive yang isinya sebagai berikut: Article 1 The producer shall be liable for damage caused by a defect in his product. Article 9 For the purepos of article 1.

Kalau itu distributor atau pedagang berupa barang setengah jadi atau barang jadi yang menjadi mata dagangannya. merupakan pertimbangan tentang perlunya pembedaan dari konsumen itu. Sedang bagi konsumen akhir. Perumusan ini sedikit lebih sempit dibandingkan dengan pengertian serupa di Amerika Serikat. keluarga atau rumah tangganya. Bagi konsumen antara. Mereka memerlukan kaedah-kaedah hukum yang mencegah perbuatan-perbuatan yang tidak jujur dalam bisnis. Tampaknya perlakuan hukum yang lebih bersifat mengatur dan/atau mengatur dengan diimbuhi perlindungan.was used by the injured person mainly for his own private use or consumtion. maupun benda) akibat pemakaian produk yang cacat untuk keperluan pribadinya. dan yang sejenis dengan itu. dapat disimpulkan bahwa konsumen berdasarkan directive adalah pribadi yang menderita kerugian (jiwa. yaitu barang/jasa yang biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi. keluaga atau rumah tangganya (produk konsumen). Konsumen akhir adalah setiap orang alami yang mendapatkan dan menggunakan barang/jasa untuk tujuan memenuhi kebutuhan hidupnya pribadi. Barang/jasa konsumen ini umumnya diperoleh dipasar-pasar konsumen. Jadi. bahan penolong atau komponen dari produk lain yang akan diproduksinya (produsen). Unsur untuk membuat barang/jasa lain dan/atau diperdagangkan kembali merupakan pembeda pokok. kesehatan. Konsumen antara ini mendapatkan barang/jasa itu dipasar industri atau pasar produsen. berupa bahan baku. barang/jasa itu adalah barang/jasa kapital. antara lain konsumen antara (produk kapital) dan konsumen akhir (produk konsumen). This article shall be without prejudice to national provisions relating to non material damage. b. bagi konsumen antara yang sebenarnya adalah pengusaha atau pelaku usaha. kepentingan mereka dalam menjalankan usaha atau profesi mereka tidak “tergangu” oleh perbuatan persaingan-persaingan yang tidak wajar. yakni: a. keluarga dan atau rumah tangga dan tidak untuk diperdagangkan kembali (nonkomersial). konsumen yang dapat memperoleh kompensasi atas kerugian yang dideritanya adalah “pemakaian produk yang cacat untuk keperluan pribadi”. barang/jasa itu adalah barang/jasa konsumen. yang pada dasarnya merupakan beda kepentingan masing-masing konsumen yaitu. Konsumen antara adalah setiap orang yang mendapatkan barang dan/atau jasa untuk digunakan dengan tujuan membuat barang/jasa lain atau untuk diperdagangkan (tujuan komersial) c. Bagi konsumen akhir (selanjutnya disebut konsumen). Unsur inilah. Az Nasution menegaskan beberapa batasan konsumen. dan terdiri dari barang/jasa yang umumnya digunakan di rumah tangga masyarakat. Sebagaimana disinggung sebelumnya. dominasi pasar dengan berbagai praktik bisnis yang menghambat masuknya perusahaan baru atau merugikan perusahaan lain dengan cara-cara yang tidak wajar. perbuatan penguasaan pasar secara monopoli atau oligopi. konsumen adalah setiap orang yang mendapatkan barang atau jasa digunakan untuk tujuan tertentu. mereka memerlukan produk konsumen (barang/jasa konsumen) yang aman bagi kesehatan tubuh atau (ii) . yang penggunanya bagi konsumen akhir adalah untuk dirinya sendiri. penggunaan suatu produk untuk keperluan atau tujuan tertentu yang menjadi tolak ukur dalam menentukan perlindungan yang diperlukan.

yang secara eksplisit membedakan kedua pengertian persoon diatas. tempat iklan ditayangkan. Untuk itu. apakah hanya orang individual yang lazim disebut natuurlijke persoon atau termasuk juga badan hukum (rechtpersoon). baik bagi kepentingan diri sendiri. dan bertanggung jawab. Istilah terakhir ini dipilih untuk memberi arti sekaligus bagi kreditur (penyedia dana). Karena pada umumnya konsumen tidak mengetahui dari bahan apa suatu produk itu dibuat. barang/jasa yang dipakai tidak serta merta hasil dari transaksi jual beli. dalam kehidupan manusia Indonesia sebagaimana dikehendaki oleh falsafah bangsa dan negara ini. sekaligus menunjukan. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen Penegrtin konsumen menurut UU No. dilengkapi dengan informasi yang benar. Artinya. dan terminologi lain yang lazim diberikan. setiap orang subjek yang disebut sebagai konsumen adalah setiap orang yang berstatus sebagai pemakai barang/jasa. Karena itu yang diperlukan adalah kaedah-kaedah hukum yang menjamin syarat-syarat aman setiap produk konsumen bagi konsumsi manusia. Istilah “orang” sebetulnya menimbulkan keraguan. b. Keadaan seimbang diantara para pihak yang saling berhubungan. dengan menyebutkan kata-kata: “orang perseorangan atau badan usaha“. penjual. konsumen adalah konsumen akhir (ultimate consumer). tidak sekedar formil. Tentu yang paling tepat tidak membatasi pengertian konsumen itu sebatas pada orang perseorangan. orang lain. jujur. keluarga. Namun konsumen harus juga mencakup juga badan usaha dengan makna usaha yang lebih luas daripada badan hukum. Perlindungan itu sesungguhnya berfungsi menyeimbangkan kedudukan konsumen dan pengusaha. pelaku usaha ini juga mencakup perusahaan media. penyalur. sebagai konsumen tidak selalu harus memberikan prestasinya dengan cara membayar uang untuk memperoleh barang/jasa itu.keamanan jiwa. Unsur-unsur defenisi konsumen: a. serta pada umumnya untuk kesejahteraan keluarga atau rumah tangganya. pemakai sesuai dengan penjelasan pasal 1 angka (2) UUPK. UUPK tampaknya berusaha menhindari penggunaan kata “produsen“ sebagai lawan kata “konsumen“. produsen. Hal ini berbeda dengan pengertian yang diberikan untuk “pelaku usaha” dalam pasal 1 angka (3). dengan siapa mereka saling berhubungan dan saling memebutuhkan. akan lebih menerbitkan keserasian dan keselarasan matriil. . 1. maka diperlukan kaedah hukum yang dapat melindungi. Dengan kata lain. untuk kasus-kasus yang spesifik seperti dalam kasus periklanan. Pengertian konsumen dalam UU No. dasar hubungan hukum antara konsumen dan pelaku usaha tidak perlu harus kontraktual (the privity of contract). Istilah “pemakai” dalam hal ini tepat digunakan dalam rumusan ketentuan tersebut. maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. bagaimana proses pembuatannya serta strategi pasar apa yang dijalankan untuk mendistribusikannya. Bahkan. digunakan kata “pelaku usaha” yang bermakna lebih luas. kata “pemakai“ menekankan. 8 tahun 1999 tentang hukum perlindungan konsumen dalam pasal 1 ayat (2) yakni: Konsumen adalah setiap orang pemakai barang/jasa yang tersedia dalam masyarakat.

Dalam dunia perbankan. dipergunakan. Transaksi konsumen memiliki banyak sekali metode. c. yang paling penting terjadinya transaksi konsumen (consumer transaction) berupa peralihan barang/jasa. Oleh karena itu wajib dilindungi hakhaknya. UUPK mengganti barang sebagai setiap benda. konsumen tidak lagi diartikan sebagai pembeli dari suatu barang/jasa. Sementara itu jasa diartikan sebagai setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang disediakan bagi masyarakat menunjukan.Sebagai ilustrasi dari uraian itu dapat diberikan contoh berikut. dipakai. tetapi termasuk bukan pemakai langsung. Orang yang mengonsumsi produk sampel juga merupakan konsumen. Dengan demikian. apakah ada dasar gugatan yang cukup kuat baginya? Hal ini patut dipertanyakan. dibagikan sampel yang diproduksi khusus dan sengaja tidak diperjualbelikan. Artinya. baik bergerak maupun tidak bergerak. seseorang yang karena kebutuhan mendadak lalu menjual rumahnya kepada orang lain. atau dimanfaatkan”. Jadi. walau baru dilakukan pada awal abad ke-20. seseorang memperoleh paket hadiah atau parsel (parcel) pada hari ulang tahunnya. tidak tercakup dalam pengertian tersebut. Konsumen memang tidak sekedar pembeli (buyer atau koper) tetapi semua orang (perseorangan atau badan usaha) yang mengonsumsi barang/jasa. Dewasa ini. jika menggunakan prinsip the privity of contract tentu tidak ada hubungan kontraktual antara penerima hadiah dan pihak pasar swalayan karena pembeli parsel adalah orang lain. UUPK sedah selayaknya meninggalkan prinsip yang sangat merugikan konsumen. Si pembeli tidak dapat dikategorikan sebagai “konsumen” menurut UUPK. Kata-kata “ditawarkan kepada masyarakat” itu harus ditafsirkan sebagai bagian dari transaksi konsumen. termasuk peralihan kenikmatan dalam menggunakannya. harus lebih dari 1 orang. Saat ini “produk“ sudah berkonotasi barang/jasa. Jika demikian halnya. d. sebagai pengganti terminologi tersebut digunakan kata produk. Di Amerika Serikat cara pandang seperti itu telah lama ditinggalkan. seperti hanya sebagai orang yang mempunyai hubungan kontraktual pribadi (in privity of contract) dengan produsen atau penjual adalah cara pendefinisian konsumen yang paling sederhana. Istilahnya product knowladge. sudah lazim terjadi sebelum suatu produk dipasarkan. layanan yang bersifat khusus (tertutup)ndan individual. yang tersedia dalam masyarakat . Mengartikan konsumen secara sempit. Artinya. barang dan/atau jasa berkaitan dengan istialah barang/jasa. misalnya istilah produk dipakai juga untuk menamakan jenis-jenis layanan perbankan. Semula kata produk hanya mengacu pada pengertian barang. baik dapat dihabiskan maupun tidak dapat dihabiskan. atau dimanfaatkan oleh konsumen. tidak dapat perbuatannya itu sebagai transaksi konsumen. yang dapat untuk diperdagangkan. asalkan memang dirugikan akibat penggunaan suatu produk. baik berwujud maupun tidak berwujud. jasa itu harus ditawarkan kepada masyarakat. dipergunakan. Pertanyaannya. terlebih dahulu dilakukan pengenalan produk kepada konsumen. apakah penerima paket seorang konsumen juga? Jika ia menggugat pasar swalayan itu. UUPK tidak menjelaskan perbedaan istilah-istilah “dipakai. Isi paketnya makanan dan minuman yang dibeli si pembeli di pasar swalayan. Untuk itu.

Kepentingan ini tidak sekedar ditujukan untuk diri sendiri dan keluaga. Dari sisi teori kepentingan. Dengan kata lain. hak mendapatkan gati kerugian. keluarga. perlindungan konsumen identik dengan perlindungan yang diberikan hukum tentang hak-hak konsumen. orang lain. Batasan itu sudah biasa dipakai dalam peraturan perlindungan konsumen di berbagai negara. Unsure yang diletakkan dalam defenisi itu mencoba untuk memperluas pengertian kepentingan. hak untuk mendapatkan informasi ( the right to be informed). yakni hanya konsumen akhir. bahkan untuk makhluk hidup lain. seperti hewan dan tumbuhan. keberadaan barang yang diperjualbelikan bukan sesuatu yang diutamakan. Mereka bebas untuk menerima semua atau sebagian. Namun. dan hak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. setiap tindakan manusia adalah bagian dari kepentingannya. barang dan/atau jasa itu tidak untuk diperdagangkan pengertian konsumen dalam UUPK ini dipertegas. bagi kepentingan diri sendiri. Dalam perkembangannya. Secara teoritis hal demikian terasa cukup baik untuk mempersempit ruang lingkup pengertian konsumen. berkaitan dengan kepentingan pribadi orang itu untuk memiliki kucing yang sehat. hak untuk memilih ( the right to choose). seperti hak mendapatkan pendidikan konsumen. walaupun dalam kenyataannya. perlindungan konsumen mengandung aspek hukum. 2. syarat itu tidak mutlak lagi dituntut oleh masyarakat konsumen. penguraian unsur itu tidak menambah makna apa-apa karena pada dasarnya tindakan memakai suatu barang/jasa (terlepas ditujukan untuk siapa dan makhluk hidup lain). 3. Seseorang yang membeli makanan untuk kucing peliharaannya. juga tidak terlepas dari kepentingan pribadi. orang lain dan makhluk hidup lain. Oleh karena itu. untuk jenis-jenis transaksi konsumen tertentu. tetapi juga barang/jasa itu diperuntukan bagi orang lain (diluar diri sendiri dan keluarganya). Secara umum dienal ada 4 (empat) hak dasar konsumen. hak untuk mendapatkan keamanan (the right to safety). organisasi-organisasi konsumen yang tergabung dalam the international organization of consumers unions (IOCU) menambahkan lagi beberapa hak. Bahkan. Oleh sebab itu. 4. tidak semua organisasi konsumen menerima penambahan hak-hak tersebut. Empat hak dasar ini diakui secara internasinaol. sulit menetapkan batas-batas seperti itu. YLKI. memutuskan untuk menambah 1 hak lagi sebagi pelengkap hak dasar konsumen. misalnya. yaitu 1. e. Misalnya. melaikan terlebih-lebih hakhaknya yang bersifat abstrak. Dalam perdagangan yang makin kompleks dewasa ini. hak untuk didengar ( the right to be heard). seperti futures trading. yaitu hak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat sehingga keseluruhannya dikenal sebagai panca hak konsumen. f. misalnya. hak-hak konsumen istilah “perlindungan konsumen” berkaitan dengan perlindungan hukum. .barang/jasa yang ditawarkan dalam masyarakat sudah harus tersedia di pasaran (lihat juga bunyi pasal 9 ayat 1 huruf e UUPK). perusahaan pengembang (develover) perumahan sudah biasa mengadakan transaksi terlebih dahulu sebelum bangunannya jadi. 2. Adapun materi yang mendapatkan perlindungan itu bukan sekadar fisik. keluarga. makhluk hidup lain transaksi konsumen ditujukan untuk kepentingan diri sendiri.

pelanduk mati di tengah-tengah“. Hal ini berangkat dari pertimbangan. 5 tahun 1999 tentang larangan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. sehingga kewajiban pelaku usaha dapat dilihat sebagai hak konsumen. Dalam hukum positif indonesia. empat hak dasar yang dikemukakan oleh John F. hak untuk mendapatkan advokasi perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. Ketentuan-ketentuan ini sesungguhnya diperuntukan bagi sesama pelaku usaha. ada juga hak untuk dilindungi dari akibat negatif persaingan curang. hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen. hak untuk memilih barang/jasa serta mendapatkan barang/jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.Dalam UUPK. UUPK seharusnya dapat mengatur hak-hak konsumen itu secara komprehensif. Kewajiban dan hak merupakan antinomi dalam hukum. apabila barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. Langkah untuk meningkatkan martabat dan kesadaran konsumen harus diawali dengan upaya untuk memahami hak-hak pokok konsumen. yang dalam hukum dikenal dengan terminologi “persaingan curang“ (unfair competition). c. hak atas informasi yang benar. kompetisi tidak sehat diantara mereka pada jangka panjang pasti berdampak negatif bagi konsumen karena pihak yang dijadikan sasaran rebutan adalah konsumen itu sendiri. tidak bagi konsumen langsung. Hak konsumen Mendapatkan Keamanan . masalah persaingan curang (dalam bisnis) ini diatur secara khusus pada pasal 382 bis kitab undang-undang hukum pidana. hak atas kenyamanan dan keselamatan dalam mengonsumsi barang/jasa. Disini letak arti penting mengapa hak ini perlu dikemukakan. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang/jasa yang digunakan. Selanjutnya. Kendati demikian. jika semua hak-hak yang disebutkan itu disusun kembali secara sistematis (mulai dari yang diasumsikan paling mendasar). e. agar tidak berlaku pepatah: “dua gajah berkelahi. yang dapat dijadikan sebagai landasan perjuangan untuk mewujudkan hak-hak tersebut. b. mengingat sebagai undang-undang paying (umberella act). Disamping hak-hak dalam pasal 4. akan diperoleh urutan sebagai berikut: a. sejak 5 maret 2000 diberlakukan juga UU No. Hak konsumen untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. kegiatan bisnis yang dilakukan tidak secara jujur. Tidak jelas kenapa kedua bidang hukum ini yang di kecualikan secara khusus. hak untuk mendapatkan konpensasi ganti rugi/ penggantian. g. khususnya dalam pasal 7 yang mengatur tentang kewajiban pelaku usaha. jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang/jasa d. Selain hak yang dibutuhkan itu. tidak dimasukkan dalam UUPK ini karena UUPK secara khusus mengecualikan hak-hak atas kekayaan intelektual (HAKI) dan dibidang pengolaan lingkungan. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya. Kennedy tersebut juga di akomodasi. 8 tahun 1999 adalah sebagi berikut: a. juga terdapat hak-hak konsumen yang dirumuskan dalam pasal berikutnya. f. h. Akhirnya. Hak konsumen sebagaimana tertuang dalam pasal 4 UU No.

Konsumen berhak mendapatkan keamanan dari barang dan jasa yang ditawarkan kepadanya. Produk barang dan jasa itu tidak boleh membahayakan jika dikonsumsi sehingga konsumen tidak dirugikan baik secara jasmani dan rohani. Hak untuk memperoleh keamanan ini penting ditempatkan pada kedudukan utama karena berabad-abad berkembang suatu falsafah berpikir bahwa konsumen (terutama pembeli) adalah pihak yang wajib berhati-hati, bukan pelaku usaha. Falsafah yang disebut caveat emptor (let the buyer beware) ini mencapai puncaknya pada abad ke-19 seiring berkembangnya paham rasional individualisme di Amerika Serikat. Dalam perkembangannya kemudian, prisip yang merugikan konsumen ini telah ditinggalkan. Dalam barang dan/atau jasa yang dihasilkan dan dipasarkan oleh pelaku usaha berisiko sangat tinggi terhadap keamanan konsumen, Pemerintah selayaknya mengadakan pengawasan secara ketat. Misalnya zat atau obat yang tergolong narkotika dan psikotropika. Undang-undang No.5 Tahun 1997 tentang psikotropika dan Undang-undang No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika menetapkan psikotopika dan narkotika golongan I hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, tidak dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan.Restriksi demikian perlu dilakukan semata-mata demi menjaga keamanan masyarakat atas akibat negatif dari produk tersebut. Satu hal juga seiring dilupakan dalam kaitan dengan hak untuk mendapatkan keamanan adalah penyediaan fasilitas umum yang memenuhi syarat yang ditetapkan. Di Indonesia, sebagian besar fasilitas umum, seperti pusat perbelanjaan, hiburan, rumah sakit,dan perpustakaan belum cukup akomodatif untuk menopang keselamatan pengunjungnya. Hal ini tidak saja bagi pengguna produk barang atau jasa (konsumen) yang berfisik normal pada umumnya, tetapi juga tidak berlebih-lebih mereka yang cacat fisik dan lanjut usia. Akibatnya, besar kemungkinan mereka ini tidak dapat leluasa berajalan dan naik tangga di tempattempat umum karena tingkat resiko yang sangat tinggi. b. Hak untuk Mendapatkan Informasi yang Benar Setiap produk yang diperkenalkan kepada konsumen harus disertai informasi yang benar. Informasi ini diperlukan agar konsumen tidak sampai mempunyai gambaran yang keliru atas produk barang dan jasa. Informasi ini dapat

disampaikan dengan berbagai cara, seperti lisan kepada konsumen, melalui iklan di berbagai media, atau mencantumkan dalam kemasan produk (barang). Jika dikaitkan dengan hak konsumen atas keamanan, maka setiap produk yang mengandung risiko terhadap keamanan konsumen, wajib disrtai informasi berupa petunjuk pemakaian yang jelas. Sebagai contoh, iklan yang secara ideal diartikan sebagai sarana pemberi informasi kepada konsumen, seharusnya terbebas dari mani pulasi data. Jika iklan memuat informasi yang tidak benar, maka perbuatan itu memenuhi kriteria kejahatan yang lazim disebut fraudulent misrepresentation. Bentuk kejahatan ini ditandai oleh (1)pemakaian pernyataan yang jelas-jelas salah (false statement), seperti menyebutkan diri terbaik tanpa indikator yang jelas, dan (2) pernyataan yang menyesatkan (mislead), misalnya menyebutkan adanya khasiat tertentu padahal tidak. Menurut Troelstup, konsumen pada saat ini membutuhkan banyak informasi yang lebih relavan dibandingkan dengan saat sekitar 50 tahun lalu. Alasannya, saat ini: (1) terdapat lebih banyak produk, merek, dan tentu saja penjualnya, (2) daya beli konsumen makin meningkat, (3) lebih banyak variasi merek yang beredar di pasaran, sehingga belum banyak diketahui semua orang, (4) modelmodel produk lebih cepat berubah, (5) kemudahan transportasi dan komunikasi sehingga mem buka akses yang lebih besar kepada bermacam-macam produsen atau penjual. Hak untuk mendapatkan informasi menurut Prof.Hans W.Micklitz, seorang ahli hukum konsumen dari jerman, dalam ceramah di Jakarta, 26-30 Oktober1998 membedakan konsumen berdasarkan hak ini. Ia menyatakan, sebeum kita melangkah lebih detail dalam perlindungan konsumen, terlebih dulu harus ada persamaan persepsi tentang tipe konsumen yang akan mendapatkan perlindungan. Menurutnya, secara garis besar dapat dibedakan dua tipe konsumen, yaitu a. konsumen yang terinformasi (well-informed) b. konsumen yang tidak terinformasi. Ciri-ciri konsumen yang terinformasi sebagai tipe pertama adalah: Memiliki tingkat pendidikan tertentu ; • • mempunyai sumberdaya ekonomi yang cukup, sehingga dapat berperan dalam ekonom pasar, dan lancer berkomunikasi.

Dengan memiliki tiga potensi, konsumen jenis ini mampu bertanggung jawab dan relative tidak memerlukan perlindungan. Ciri-ciri konsumen yang tidak terinformasi sebagai tipe kedua memiliki ciriciri antara lain : • • • kurang berpendidikan ; termasuk kategori kelas menengah ke bawah ; tidak lancar berkomunikasi.

Konsumen jenis ini perlu dilindungi, dan khususnya menjadi tanggung jawab Negara untuk memberikan perlindungan. Selain ciri-ciri konsumen yang tidak terinformasikan, karena hal-hal khusus dapat juga dimasukkan kelompok anak-anak, orang tua, dan orng asin (yang tidak dapat berkomunikasi dengan bahasa setempat) sbagai konsumen yang wajib dilindungi oleh negara. Informasi ini harus diberikan secara sama bagi semua konsumen (tidak diskriminatif). Dalam perdagangan yang sangat mengandalkan informasi, akses kepada infoasi yang tertutup misalnya dalam praktik insider trading di bursa efek, dianggap sebagai bentuk kejahatan yang serius. Penggunaan teknologi tinggi dalam mekanisme produksi barang dan/atau jasa akan menyebabkan makin banyaknya infomasi yang harus dikuasai oleh masyarakat konsumen. Di sisi lain mustahil mengharapkan sebagian besar konsumen memiliki kemampuan dan akse informasi secara sama besarnya. Apa yang dikenal dengan consumer ignorance, yaitu ketidakmampuan konsumen menerima infomasi akibat kemajuan teknologi dan keragaman produk yang dipasarkan dapat saja dimanfaatkan secara tidak sewajarnya oleh pelaku usaha. Itulah sebabnya, hukum perlindungan konsumen memberikan hak konsumen atas informasi yang benar, yang didalam nya tercakup juga hak atas infomasi dan diberikan secara tidak diskriminatif. c. Hak untuk Didengar Hak yang erat kaitannya dengan hak untuk mendapatkan informasi adalah hak untuk didengar. Ini disebabkan oleh informasi dari pihak yang berkepentingan atau berkompeten erring tidak cukup memuaskan konsumen. Untuk itu konsumen berhak mengajukan permitaan infomasi lebih lanjut.

5 Tahun 1999 tentang Praktik Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat mengartikan monopoli sebagai penguasaan atas produksi dan /atau pemasaran dan/atau atas penggunaan jasa tertentu oleh salah satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha. konsumen berhak menentukan pilihannya. maka besar kemungkinan konsumen kehilangan hak untuk memilih produk yang satu dengan produk lain. dan dalam bentuk serta cara yang sama dengan penyampaian isi siaran dan/atau berita yang disanggah. akhirnya konsumen pasti didikte untuk mengonsumsi . d. Ia tidak boleh mendapat tekanan dari pihak luar sehingga ia tidak lagi bebas untuk membeli atau tidak membeli. bila diminta oleh konsumen. Ralat atau pembetulan wajib dilakukan dalam waktu selambat-lambatnya satu kali 24 jam berikutnya atau pada kesempatan pertama pada ruang mata acara yang sama. yang dalam doctrin hukum dapat diidentikkan dengan hak untuk membela diri. harus bersedia memberikan penjelasan mengenai suatu iklan tertentu. Seandainya ia jadi membeli. Dalam pasal 44 UU No. Pengaturan demikian. Undang-Undang No. Ketentuan dalam Undang-Undang penyiaran itu jelas-jelas menunjukkan hak untuk didengar. Hak untuk Memilih Dalam mengonsumsi suatu produk. maka baik perusahaan periklanan. media. Jika seseorang atau suatu golongan diberikan hak monopoli untuk memproduksi dan memasarkan barang atau jasa. maupun pengiklan. sekalipun masih berbentuk kode etik (self regulation) akan mengarah kepada langkah positif menuju penghormatan hak konsumen untuk didengar. Penyanggah berita ini mungkin adalah konsumen dari produk tertentu.32 Tahun 2002 tentang penyiaran dinyatakan lembaga penyiaran wajib meralatisi siaran dan/atau berita.Dalam tata karma dan tata cara periklanan Indonesia disebutkan. Hak untuk memilih ini erat kaitannya dengan ituasi pasar. Jika monopoli itu diberikan kepada perusahaan yang tidak berorientasi pada kepentingan konsumen. ia juga bebas menentukan produk mana yang akan dibeli. Dampak dari praktik monopoli ini adalah adanya persaingan usaha tidak sehat (unfair competition) yang merugikan jepentingan umum (konsumen).

yang boleh jadi kualitasnya malahan lebih buruk. Jenis dan jumlah ganti rugi itu tentu saja harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau atas kesepakatan masing-masing pihak. Dengan kata lain. resale price maintenance.barang atau jasa itu tanpa dapat berbuat lain. f. dan konsumen menjadi korban dari ketiadaan pilihan. price fixing agreements. pelaku usaha dapat secara sepihak mempermainkan mutu barang dan harga jual. Pratik yang tidak terpuji ini lazim dikenal dengan istilah externalities. Hak untuk Mendapatkan Ganti Kerugian Jika konsumen merasakan. maintenance. pelaku usaha dapat saja mendikte pasar dengan menaikkan harga. jika tidak silakan mencari tempat yang lain (padahal di tempat lain pun pasar sudah dikuasainya). sering terjadi pelaku usaha mencantumkan klausul-klausul eksonerasi di dalam hubungan hukum antara produsen/penyalur produk dan konsumennya. Hak untuk Mendapatkan Produk Barang dan/atau Jasa Sesuai dengan Nilai Tukar yang Diberikan Dengan hak ini berarti konsumen harus dilindungi dari permainan harga yang tidak wajar. e. Klausul seperti . kuantitas dan kualitas barang dan/atau yang dikonsumsinya tidak sesuai dengan nilai tukar yang di berikannya. Untuk menghindar dari kewajiban memberikan ganti kerugian. dalam ketakbebasan pasar. Konsumen dihadapkan pada kondisi : take it or leave it. maka pihak pertama dapat saja mambebankan biaya tertentu yang sewajarnya tidak ditanggung konsumen. Dalam situasi demikian. Dalam dunia perdagangan dikenal apa yang disebut market sharing agreements. Akibat tidak berimbangnya posisi tawar-menawar antara pelaku usaha dan konsumen. dan sebagainya (dalam sejarah perdagangan dikenal sejak 1870-an). Jika setuju silakan beli. Namun. Monopoli juga dapat timbul akibat perjanjian antar pelaku usaha yang bersifat membatasi konsumen untuk memilih. biasanya konsumen terpaksa mencari produk alternatif (bila masih ada). kuantitas dan kualitas barang dan/atau jasa di konsumsi harus sesuai dengan nilai uang yang dibayar sebagai penggantinya. Dalam keadaan seperti itu. ia berhak mendapatkan ganti rugi yang pantas. quota agreement.

seperti dalam upaya legal stnding LSM yang dibuka kemungkinannya dalam Pasal 46 ayat (1) Huruf c UUPK. hak konsumen tidak berarti dengan sendirinya hilang.32 Tahun 2002 tentang penyiaran mewajibkan lembaga penyiaran wajib mencantumkan ralat isi siaran dan/atau berita yang disanggah pihak lain. walaupun ralat dimuat. Lingkungan hidup yang baik dan sehat berate sangat luas. termasuk advokasi. Untuk memperoleh ganti kerugian. setiap upaya hukum pada hakikatnya berisikan tuntutan memperoleh ganti kerugian oleh salah satu pihak. Dalam uraian tentang hak untuk didengar dikatakan. Jika penyanggah isi siaran itu konsumen. Sebaliknya. Undang-Undang No. tetapi kedua hak tersebut tidak berarti identik.“barng yang dibeli tidak dapat dikembalikan” merupakan hal yanglazim ditemukan pada toko-toko. konsumen tidak selalu harus menempuh upaya hukum terlebih dahulu. h. Lembaga penyiaran tidak terbebas dari tanggung jawab atas tuntutan hukum yang tuntutan hukum yang diajukan oleh pihak yang merasa dirugikan. Dengan kata lain. Pencantuman secara sepihak demikian tetap tidak dapat menghilangkan hak konsumen untuk mendapatkan ganti kerugian. konsumen berhak menuntut pertanggungjawaban hukum dari pihak-pihak yang dipandang merugikan karena mengonsumsi produk itu.maka konsumen berhak mendapatkan penyelesaian hukum. g. Tentu ada beberapa karateristik tuntutan yang tidak memperbolehkan tuntutan ganti kerugian ini. Jika permintaan yang diajukan konsumen dirasakan tidak mendapat tanggapan yang layak dari pihak-pihak terkait dalam hubungan hukum dengannya. Hak untuk Mendapatkan Lingkungan Hidup yang Baik dan Sehat Hak konsumen atas lingkungan yang baik dan sehat merupakan hak yang diterima sebagai salah satu hak dasar konsumen oleh berbagai organisasi konsumen di dunia. Hak untuk Mendapatkan Penyelesaian Hukum Hak untuk mendapatkan ganti kerugian harus ditempatkan lebih tinggi daripada hak pelaku usaha (produsen/penyalur produk) untuk membuat klausul eksonerasi secara sepihak. Hak untuk mndapatkan penyelesaian hukum ini sebenarnya meliputi juga hak untuk mendapatkan ganti kerugaian. dan setiap .

Contoh bentuk yang kerap terjadi dalam persaingan curang adalah permainan harga (dumping). dan produsen saingannya akan berhenti berproduksi. Desakan pemenuhan hak konsumen atas lingkungan hidup yang baik dan sehat makin mengemuka akhir-akhir ini. i. hak untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat ini diyatakan dengan tegas. Satu produsen yang kuat mencoba mendesak produsen saingannya yang lebih lemah dengan cara membanting harga produk.Ketentuan demikian sangat penting artinya. dalam pasar yang monopolistic itulah harga kembali dikendalikan oleh si produsen yang curng ini. Sementara itu. Lingkungan hidup meliputi lingkungan hidup dalam arti fisik dan lingkungan nonfisik. Pada kesempatan berikutnya. karena praktis pangsa pasar terbesarnya adalah Negara-negara anggota ITTO. . baru dapat menjual produknya di Negara-negara yang bergabung dalam The International Tropical Timber Organazation (ITTO). konsumen pula yang dirugikan. jika telah memperoleh ecolabeling certificate. mulai tahun 2000 semua perusahaan yang berkaitan dengan hasil hutan. Dalam pasal 22 Undang-undang No. Misalnya munculnya gerakan konsumerisme hijau (green consumerism) yang sangat peduli pada kelestarian lingkungan. Hak untuk Dilindungi dari Akibat Negatif Persaingan Curang Persaingan curang atau dalam Undang-Undang No. khususnya bagi produsen hasil hutan tropis.5 Tahun 1999 disebut dengan “persaingan usaha tidak sehat” dapat terjadi jika seorang pengusaha berusaha menarik langganan atau klien pengusaha lain untuk memajukan usahanya atau memperluas penjualan atau pemasrannya dengan menggunakan alat atau sarana yang bertentangan dengan iktikad baik dankejujuran dalam pergaulan perekonomian. seperti Indonesia. Untuk itu lembaga Ekolabeling Indonesia (LEI) pada tahun 1998 mulai melakukan audit atas sejumlah perusahaan perkayuan Indonesia agar dapat diberkan sertifikat ekolabeling yang disebut SNI 5000. Dalam posisi demikian.makhluk hidup adalah konsumen atas lingkungan hidupnya. Tujuannya untuk merebut pasar.23 Tahun 1992 tentang kesehatan dan pasal 5 ayat (1) UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

5 tahun 1999 disebutkan adanya (1) perjanjian dilarang. merek. khususnya oleh pemerintah guna mencegah munculnya akibat-akibat langsung yang merugikan konsumen. pemboikotan. Oleh karena itu. Ketentuan ini mengharuskan importir yang mengimpor barang dari eksportir negara ketiga mendapatkan jaminan melalui suatu perjanjian yang menyatakan bahwa pihak eksportir bertanggung jawab sepenuhnya atas barang yang dimasukkan EC. dan perjanjian dengan pihak luar negeri yang mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan/atau persaingan tidak sehat. perjanjian tertutup. Selanjutnya Pasal 3 ayat (2) Directive menyebutkan bahwa: siapa pun yang mengimpor suatu produk ke lingkungan EC adalah produsen. wajar bila masih banyak konsumen (1) Pihak yang menghasilkan produk akhir berupa barang-barang manufaktur. antara lain dalam pasal 17 sampai dengan pasal 24. kartel. Mereka ini bertanggung jawab atas segala kerugian yang timbul dari barang yang mereka edarkan ke masyarakat. Lebih lanjut lagi. penetapan harga. dan (2) kegiatan yang dilarang. termasuk dalam bentuk perjanjian yang dilarang adalah oligopoli. Siapa saja. pedagang/penyalur yang mengedarkan barang yang tidak jelas identitas produsennya. pembagian wilayah. oligopsoni. bertanggung jawab atas barang tersebut. trust. Dalam Undang-undang No. Hak untuk Mendapatkan Pendidikan Konsumen Masalah perlindungan konsumen di Indonesia termasuk masalah yang baru. J.Hak konsumen untuk dihindari dari akibat negatif persaingan curng dapat dikatakan sebagai upaya pre-emptive yang harus dilakukan. ataupun tanda- tanda lain pada produk menampakkan dirinya sebagai produsen dari suatu barang. Demikian pula tanggung jawab . integrasi vertical. termasuk bila kerugian timbul akibat cacatnya barang yang merupakan komponen dalam proses produksinya. (2) (3) Produsen bahan mentah atau komponen suatu produk. yang dengan membubuhkan nama. Ketentuan ini sengaja dicantumkan untuk melindungi konsumen dari kemungkinan harus menggugat produsen asing (yang pusat kegiatannya) di luar lingkungan EC.

yaitu apabila: 1) produk tersebut sebenarnya tidak diedarkan. 4) barang yang diproduksi secara individual tidak untuk keperluan produksi. tapi tidak jelas importimya. hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan. 5) kerugian yang timbul (sebagian) akibat kelalaian yang dilakukan oleh produsen lain dalam kerja sama produksi (di beberapa negara bagian yang mengakui joint and several liability). 2) penyalahgunaan produk yang. Di Amerika Serikat. faktor-faktor yang membebaskan produsen dari tanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh konsumen meliputi: 1) kelalaian si konsumen penderita. 2) cacat timbul di kemudian hari. yaitu 6 (enam) tahun setelah pembelian. gugatan atas produk liability dapat diajukan ke pengadilan yang jurisdiksinya meliputi tempat timbulnya kerugian. 3) lewatnya jangka waktu penuntutan (daluarsa). 5) cacat timbul akibat ditaatinya ketentuan yang ditetapkan oleh penguasa. tidak terduga pada saat produk dibuat (unforseeable misuse). atau 10 tahun sejak barang diproduksi.penyalur/pedagang ini timbul atas barang yang diimpor dari negara ketiga. Dalam Pasal 6 UU No. Hak-hak produsen dapat ditemukan antara lain pada faktor-faktor yang membebaskan produsen dari tanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh konsumen. hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beriktikad tidak baik. Sebagian besar negara anggota EC telah meratifikasi Konvensi tentang Jurisdiksi. b. 8 Tahun 1999 Produsen disebut sebagai pelaku usaha yang mempunyai hak sebagai berikut: a. 4) produk pesanan pemerintah pusat (federal). meskipun kerusakan timbul akibat cacat pada produk. . sehingga berdasar Pasal 5 ayat (3) konvensi ini. 3) cacat timbul setelah produk berada di luar kontrol produsen.

memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriniinatif. f. perbaikan. Dalam UUPK tampak bahwa iktikad baik lebih ditekankan pada pelaku usaha. g. Dalam UUPK pelaku usaha diwajibkan beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya. beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya. karena meliputi semua tahapan dalam melakukan kegiatan usahanya. sehingga dapat diartikan bahwa kewajiban pelaku usaha untuk beriktikad baik dimulai sejak barang dirancang/diproduksi sampai pada tahap puma penjualan. menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku. c. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. d. sedangkan bagi konsumen diwajibkan beriktikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa. memberikan informasi yang benar. dan pemeliharaan. e. memberi kompensasi. Adapun dalam Pasal 7 diatur kewajiban pelaku usaha. d. sebagai berikut: a. pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan.c. memberi kompensasi ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/ jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian. hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum sengketa konsumen. sebaliknya konsumen hanya diwajibkan beriktikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau . jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan. e. ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan. memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan. hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan. b.

peringatan. juga karena ketiadaan informasi yang tidak memadai dari pelaku usaha merupakan salah satu jenis cacat produk (cacat informasi). sedangkan bagi konsumen. yang akan sangat merugikan konsumen. Hal ini berarti bahwa tugas produsen pembuat tersebut tidak berakhir hanya dengan nienempatkan suatu produk dalam sirkulasi. Dengan demikian pabrikan (produsen pembuat wajib menyampaikan peringatan kepada konsumen). Diperlukan representasi yang benar terhadap suatu produk. Produk yang dibawa ke pasar tanpa petunjuk cars pemakaian dan peringatan atau petunjuk dan peringatan yang sangat kurang/tidak memadai menyebabkan suatu produk dikategorikan sebagai produk yang cacat instruksi. Penyampaian informasi terhadap konsumen tersebut dapat berupa representasi. perbaikan. Hal ini tentu saja disebabkan oleh kemungkinan terjadinya kerugian bagi konsumen dimulai sejak barang dirancang/diproduksi oleh produsen (pelaku usaha). sedangkan peringatan dirancang untuk menjamin keamanan penggunaan produk. kemungkinan untuk dapat merugikan produsen mulai pada saat melakukan transaksi dengan produsen) Tentang kewajiban kedua pelaku usaha yaitu memberikan informasi yang benar. jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan. agar konsumen tidak salah terhadap gambaran mengenai suatu produk tertentu. disebabkan karena informasi di samping merupakan hak konsumen. walaupun keduanya memiliki fungsi yang berbeda yaitu instruksi terutama telah diperhitungkan untuk menjamin efisiensi penggunaan produk. Kerugian yang dialami oleh konsumen di Indonesia dalam kaitannya dengan misrepresentasi banyak disebabkan karena tergiur oleh iklan-iklan atau brosur-brosur produk tertentu. maupun yang berupa instruksi. karena salah satu penyebab terjadinya kerugian terhadap konsumen adalah terjadinya misrepresentasi terhadap produk tertentu. sedangkan Man atau brosur tersebut tidak selamanya memuat informasi yang benar karena pada umumnya hanya menonjolkan kelebihan produk Peringatan ini sama pentingnya dengan instruksi penggunaan suatu produk yang merupakan informasi bagi konsumen. Peringatan yang diberikan kepada konsumen ini memegang peranan penting dalam kaftan dengan keamanan suatu produk.jasa. Pentingnya penyampaian informasi yang benar terhadap konsumen mengenai suatu produk. Hal ini berlaku bagi . dan pemeliharaan. Peringatan yang merupakan bagian dari pemberian informasi kepada konsumen ini merupakan pelengkap dari proses produksi.

peringatan sederhana, misalnya "simpan di luar jangkauan anak-anak" dan berlaku pula terhadap peringatan mengenai efek samping setelah pemakaian suatu produk tertentu. Peringatan demikian maupun petunjuk-petunjuk pemakaian harus disesuaikan dengan sifat produk dan kelompok pemakai. Selain peringatan, instruksi yang ditujukan untuk menjamin efisiensi penggunaan produk juga penting untuk mencegah timbulnya kerugian bagi konsumen. Pencantuman informasi bagi konsumen yang berupa instruksi atau petunjuk prosedur pemakaian suatu produk merupakan kewajiban bagi produsen agar produknya tidak dianggap cacat (karena ketiadaan informasi atau informasi yang tidak memadai). Sebaliknya, konsumen berkewajiban untuk membaca, atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselarnatan. Daftar Pertanyaan 1. Apakah terdapat perbedaan konsumen antara dan konsumen akhir? Jelaskan disertai contoh! 2. Sebut dan jelaskan secara singkat unsur-unsur definisi konsumen! 3. Mengapa tingkat pendidikan konsumen menjadi sangat berpengaruh pada penyampaian informasi, dan siapa yang paling berhak untuk dilindungi, konsumen yang terinformasi atau konsumen yang tidak terinformasi? Jelaskan disertai contoh! 4. Apa yang menjadi alasan sehingga lingkungan hidup yang baik dan sehat juga mendapat perhatian dan merupakan hak konsumen untuk mendapatkannya, jelaskan secara singkat! 5. Mengapa pengusaha dalam Pasal 7 UU No. 8 Tahun 1999 diwajibkan untuk beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya?

BAB 3 PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAMPERATURAN PERUNDANGUNDANGAN A. PENDAHULUAN Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 memiliki ketentuan yang menyatakan bahwa kesemua undang-undang yang ada dan berkaitan dengan perlindungan konsumen tetap berlaku, sepanjang tidak bertentangan atau telah diatur khusus oleh undangundang. Oleh karena itu, tidak dapat lain haruslah dipelajari juga peraturan perundang-undangan tentang konsumen dan/atau perlindungan konsumen ini dalam kaidah-kaidah hukum peraturan perundang-undangan umum yang mungkin atau dapat mengatur dan/atau melindungi hubungan dan/atau masalah konsumen dengan penyedia barang atau jasa. Sebagai akibat dari penggunaan peraturan perundangundangan umum ini, dengan sendirinya berlaku pulalah asas-asas hukum yang terkandung di dalamnya pada berbagai pengaturan dan/atau perlindungan konsumen tersebut. Padahal, nanti akan nyata, di antara asas hukum tersebut tidak cocok untuk memenuhi fungsi pengaturan dan/atau perlindungan pada konsumen, tanpa setidaktidaknya dilengkapi/diadakan pembatasan berlakunya asas-asas hukum tertentu itu. Pembatasan dimaksudkan dengan tujuan "menyeimbangkan kedudukan" di antara para pihak pelaku usaha dan/atau konsumen bersangkutan. Yang dimaksudkan dengan peraturan perundang-undangan umum adalah semua peraturan perundangan tertulis yang diterbitkan oleh badan-badan yang berwenang untuk itu, baik di pusat maupun di daerah-daerah. Peraturan perundangundangan itu antara lain adalah (di Pusat) Undang-Undang Dasar 1945, UndangUndang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang

Peraturan Presiden, dan seterusnya, dan (di daerah-daerah) Peraturan Daerah (Peraturan Daerah Provinsi atau Kabupaten/Kota serta peraturan Desa dan sebagainya). Purnadi2) dalam bukunya menyebut perundang-undangan umum ini sebagai undang-undang dalam arti materiil. Az. Nasution menjelaskan3) konsekuensi dari upaya menyusun rancangan undang-undang tentang perlindungan konsumen yang sekarang sudah diberlakukan dapat disebut sebagai membangun tata hukum konsumen secara tersendiri yang berada dalam Sistem Hukum Indonesia. Sungguh ini pekedaan yang bukan sederhana sebagai contoh dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama, apabila kits mengkaji peraturan yang berkaitan dengan masalah standar, seperti yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan, Menteri Perindustrian dan Perdagangan dan berbagai Menteri lain, dapat dikatakan bahwa standar yang ditetapkan itu selain dimaksud untuk memberi perlindungan kepada konsumen juga melindungi konsumen yang berstatus pengusaha, ataupun masyarakat umum lainnya. Demikian pula pengaturan mengenai ukuran, timbangan, takaran atau ketentuan mengenai label, ketentuan daluwarsa, dan sebagainya. Kedua, ketentuan dalam hukum pidana yang berkaitan dengan penipuan, pemalsuan, penjualan barang dapat membahayakan jiwa manusia (Pasal 383, 263, 202, 382, 383). Ketentuan ini termasuk sebagai delik pidana, yaitu perbuatan yang bersifat melawan hukum yang dilarang dan diancam dengan pidana. Ketentuan ini termasuk pula melindungi konsumen, namun juga melindungi masyarakat pada umumnya. Ketiga, ketentuan dalam hukum perdata yang berkaitan dengan perikatan (Pasal 1233, 1234, 1313, 1351) mengatur hubungan perjanjian pars pihak baik yang berstatus konsumen maupun status pengusaha sebagai produsen barang atau jasa. Keempat, Ketentuan tentang bidang peradilan, Undang-Undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman mengatur mengenai peradilan umum yang disebut Pengadilan Negeri. Pengadilan ini selanjutnya merupakan lembaga peradilan yang mengadili perkara pidana dan perdata yang bagi perkara yang menyangkut masyarakat umum termasuk konsumen. Dari keempat catatan tersebut, ada upaya membangun tata hukum yang diperuntukkan bagi konsumen Indonesia dalam sistem Hukum Indonesia yang sudah berlaku dewasa ini.

masih harus dipelajari semua peraturan perundang-undangan umum yang berlaku. Akan tetapi. di samping itu. sampai saat ini orang bertumpu pada kata "segenap bangsa" sehingga ia diambil sebagai asas tentang persatuan seluruh bangsa Indonesia (asas persatuan bangsa). berarti untuk "membela" kepentingan konsumen. Pembukaan. telah diuraikan bahwa Undang-Undang Perlindungan Konsumen berlaku setahun sejak disahkannya (tanggal 20 April 2000). setidaktidaknya is merupakan cumber juga dari hukum konsumen dan/atau hukum perlindungan konsumen. a. karena dalam suatu hubungan hukum dengan penjual. dari kata "melindungi" menurut Az. konsumen merupakan pengguna barang dan jasa untuk kepentingan diri sendiri dan tidak untuk diproduksi ataupun diperdagangkan. SUMBER-SUMBER HUKUM KONSUMEN Di samping Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Alinea ke-4 berbunyi: Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia.1) 1. b. Undang-Undang Dasar dan Ketetapan MPR Hukum Konsumen. Sebelumnya. Tetapi peraturan perundangundangan umum yang berlaku memuat juga berbagai kaidah menyangkut hubungan dan masalah konsumen.Alasan yang dapat dikemukakan untuk menerbitkan peraturan perundangundangan yang secara khusus mengatur dan melindungi kepentingan konsumen dapat disebutkan sebagai berikut. Beberapa di antaranya akan diuraikan berikut ini. B. . terutama Hukum Perlindungan Konsumen mendapatkan landasan hukumnya pada Undang-Undang Dasar 1945. Konsumen memerlukan pengaturan tersendiri. Umumnya. Dengan demikian dan ditambah dengan ketentuan Pasal 64 (Ketentuan Peralihan) undang-undang ini. hukum konsumen "ditemukan" di dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sekalipun peraturan perundang-undangan itu tidak khusus diterbitkan untuk konsumen atau perlindungan konsumen. Konsumen memerlukan sarana atau acara hukum tersendiri sebagai upaya guns melindungi atau memperoleh haknya.

Sesungguhnya. Perlindungan hukum pada segenap bangsa itu tentulah bagi segenap bangsa tanpa kecuali. Penghidupan yang layak. Penjelasan autentik Pasal 27 ayat (2) ini berbunyi: Telah jelas. dalam hal ini khususnya melindungi konsumen. apabila kehidupan seseorang terganggu atau diganggu oleh pihak/pihak lain. baik diminta atau tidak. Dengan ketetapan terakhir Majelis Permusyawaratan Rakyat Tahun 1993 (TAPMPR) makin jelas kehendak rakyat atau adanya perlindungan konsumen. Salah satu yang menarik dari TAP-MPR 1993 ini adalah disusunnya dalam satu napas. maka alai-alai negara akan turun Langan. la merupakan hak dasar bagi rakyat secara menyeluruh. untuk melaksanakan perintah UUD 1945 melindungi segenap bangsa. . Susunan kalimat tersebut berbunyi: “…………. untuk melindungi dan atau mencegah terjadinya gangguan tersebut. apalagi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan merupakan hak dari warga negara dan hak semua orang. sekalipun dengan kualifikasi yang berbeda-beda pada masing-masing ketetapan. meningkatkan pendapatan produsen dan melindungi kepentingan konsumen". tentang kaftan produsen dan konsumen.Nasution di dalamnya terkandung pula asas perlindungan (hukum) pada segenap bangsa tersebut. maka pada tahun 1993 digunakan istilah "melindungi kepentingan konsumen". khususnya sejak tahun 1978. Baik ia laki-laki atau perempuan. Kalau pada TAP-MPR 1978 digunakan istilah "menguntungkan" konsumen. Sayangnya. Ketentuan tersebut berbunyi: Tiap warga Negara berhak atas penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) telah menetapkan berbagai ketetapan MPR. menjamin atau melindungi kepentingan konsumen tersebut. dalam masingmasing TAP-MPR tersebut tidak terdapat penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan menguntungkan. TAP-MPR 1988 "menjamin" kepentingan konsumen. orang kaya atau orang miskin. Selanjutnya. orang kota atau orang desa. Landasan hukum lainnya terdapat pada ketentuan termuat dalam Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). dalam satu baris kalimat. orang asli atau keturunan dan pengusaha/pelaku usaha atau konsumen. pasal-pasal ini mengenal hak-hak warga negara.

dan/atau mengedarkan produk hasil usaha mereka. Kepentingan konsumen dalam kaftan dengan penggunaan barang dan/atau jasa. nyata bahwa konsumen tidak sematamata menggunakan ukuran-ukuran komersial sebagaimana yang menjadi ukuran pelaku usaha dalam penggunaan barang dan/atau jasa yang mereka konsumsi. Perlindungan hukum yang mereka perlukan adalah agar penghasilan dalam berusaha dapat meningkat. terlihat lebih jelas arahan Majelis Permusyawaratan Rakyat tentang kekhususan kepentingan produsen (dan semua pihak yang dipersamakan dengannya) dan kepentingan konsumen. tidak merosot atau bahkan hilang sama sekah baik karena: a. Sifat kepentingan khas produsen (lebih tepat pelaku usaha atau pengusaha) telah ditunjukkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. adalah untuk meningkatkan pendapatan atau penghasilan mereka (tujuan komersial). adalah agar barang/jasa konsumen yang mereka peroleh. Adapun bagi konsumen akhir. bermanfaat bagi . Kepentingan mereka dalam menggunakan barang atau jasa adalah untuk kegiatan usaha memproduksi dan/atau berdagang itu. bahan penolong. telah diterangkan bahwa pengusaha dalam menjalankan kegiatan memproduksi atau berdagang menggunakan barang atau jasa sebagai bahan baku. penguasaan pasar yang dominan. Dalam hubungannya dengan pars konsumen. seperti praktik persaingan melawan hukum.Dengan susunan kalimat demikian. Sebelumnya. Nilai barang atau jasa yang digunakan konsumen dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka tidak diukur atas dasar untung rugi secara ekonomis belaka. bahan tambahan. Kepentingan peningkatan pendapatan atau penghasilan pelaku usaha adalah dalam rangka pelaksanaan kegiatan usaha mereka. menawarkan. atau bahan pelengkap. sebagai pribadi penggunaan barang dan/jasa itu adalah untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. kegiatan usaha pengusaha adalah dalam rangka memproduksi. Oleh karena itu. tetapi semata-mata untuk memenuhi kebutuhan raga dan jiwa konsumen. dan lain-lain (memerlukan ketentuanketentuan pengawasan). Adanya praktik-praktik niaga tertentu yang menghambat atau menyingkirkan pars pengusaha dari pasar. Terdapat kelemahan dalam menjalankan usaha tertentu atau tidak efisien dalam menjalankan manajemen usaha (perlu ketentuan-ketentuan tentang pembinaan) atau b. keluarga atau rumah tangganya (kepentingan nonkomersial).

Bagi kalangan pelaku usaha perlindungan itu adalah untuk kepentingan komersial mereka bahan dalam bake. harta dan/atau kepentingan kekeluargaan konsumen. dan keserasian di antara keduanya. serasi. spa hak-hak dan/atau kewajiban yang sesuai kepentingan masing-masing pihak. memproduksinya. Sekalipun diakui bahwa persaingan merupakan suatu yang biasa dalam dunia usaha. mengangkutnya dan memasarkannya. tetap harus dijaga keseimbangan. lebih banyak menimbulkan kerancuan dan kesulitan daripada kemanfaatan. dalam penyusunan peraturan perundang-undangan haruslah jelas siapa yang dimaksudkan dengan pelaku usaha dan siapa pula konsumen. Dalam keadaan bagaimanapun. menjalankan bahan kegiatan usaha. tetapi persaingan antarkalangan usaha itu haruslah sehat dan terkendali. Perbedaan prinsipil dari kepentingan-kepentingan dalam penggunaan barang/ jasa dan pelaksanaan kegiatan antara pelaku usaha dan konsumen dengan sendirinya memerlukan jenis pengaturan perlindungan dan dukungan yang berbeda pula. termasuk di dalamnya bagaimana menghadapi persaingan usaha. yang menonjol dalam perlindungan kepentingan konsumen ini adalah perlindungan pada jiwa. keselarasan.kesehatan/keselamatan tubuh. tubuh atau harta benda mereka. keamanan jiwa dan harta benda. Oleh karena itu. Pelaku usaha adalah pelaku usaha. Pencampuradukan keduanya. 2. Haruslah ada peraturan perundangundangan yang mengatur tentang usaha dan mekanisme persaingan itu. Persaingan haruslah berjalan secara wajar dan tidak terjadi kecurangan-kecurangan yang mengakibatkan kalangan pelaku usaha tidak saja tidak meningkat pendapatannya. Bagi konsumen. seperti pemikiran sementara orang pada saat ini. dan konsumen adalah konsumen. hukum dagang serta kaidah-kaidah keperdataan yang termuat dalam berbagai . haruslah diciptakan keadaan yang seimbang. diri. Hukum Konsumen dalam Hukum Perdata Dengan hukum perdata dimaksudkan hukum perdata dalam arti lugs. kesehatan. dan selaras dalam kehidupan di antara keduanya. keluarga dan/atau rumah tangganya (tidak membahayakan atau merugikan mereka). dan seperti bagaimana bagaimana mendapatkan tambahan penolong. bahkan coati usahanya. termasuk hukum perdata. kepentingan nonkomersial mereka yang harus diperhatikan adalah akibat-akibat kegiatan usaha dan persaingan di kalangan pelaku usaha terhadap jiwa. Jadi.

yang tidak tertulis tetapi ditunjuk oleh pengadilan dalam perkara-perkara tertentu. Akan tetapi. untuk selebihnya dalam pengalaman di pengadilan sepanjang kemerdekaan sampai waktu ini. Kaidah-kaidah hukum perdata umumnya termuat dalam Kitab UndangUndang Hukum Perdata (KUH Perdata). masih tampak hidup dan terlihat dalam berbagai putusan pengadilan. Mahkamah Agung menganggap Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (13W) tidak'sebagai undang-undang tetapi sebagai dokumen yang hanya menggambarkan suatu kelompok hukum tidak tertulis. Beberapa putusan pengadilan tentang masalah keperdataan berkaitan dengan perlindungan konsumen masih terlihat. sekalipun sudah amat berkurang. buku ketiga. dapat diberlakukan Hukum Internasional dan asasasas hukum internasional. mengatur tentang hak-hak dan kewajiban yang terbit dari. tentu saja jugs kaidahkaidah hukum perdata adat. tampaknya termuat puts kaidah-kaidah hukum yang mempengaruhi dan/ atau termasuk dalam bidang hukum perdata. memuat pula berbagai ketentuan hukum perdata bagi konsumen. atau tidak bersamaan hukum yang berlaku bagi mereka. dalam berbagai peraturan perundang-undangan lain. Di samping itu. Patut kiranya diperhatikan kenyataan yang ada dalam pemberlakuan berbagai kaidah hukum perdata tersebut. Terutama buku kedua. KUH Perdata bahkan tampak seperti lebih dominan berlakunya dibandingkan dengan kaidah-kaidah hukum adat atau kaidah-kaidah hukum tidak tertulis dan putusan-putusan pengadilan negeri maupun pengadilan-pengadilan luar negeri yang berkaitan. dan buku keempat memuat berbagai kaidah hukum yang mengatur hubungan konsumen dan penyedia barang atau jasa konsumen tersebut. khususnya (jasa) perasuransian dan pelayaran. KUH Perdata memuat berbagai kaidah hukum berkaitan dengan hubungan hukum dan masalah antarpelaku usaha penyedia barang dan/atau jasa dan konsumen pengguna barang-barang atau jasa tersebut. khususnya Hukum Perdata Internasional. Akan tetapi di samping itu.peraturan perundang-undangan lainnya. Begitu pula dalam KURD. Kesemuanya itu baik hukum perdata tertulis maupun hukum perdata tidak tertulis (hukum adat). Hubungan hukum perdata dan masalahnya dalam lingkungan berlaku Hukum Adat. baik buku pertama. Selanjutnya menganggap tidak berlaku beberapa pasal dari KUH Perdata. maupun buku kedua. Adapun hubungan-hubungan hukum atau masalah antara penyedia barang atau jasa dan konsumen dari berbagai negara yang berbeda. Antara lain tentang siapa yang dimaksudkan . Pada tahun 1963.

Buku Kesatu dan Buku Kedua. Berta tats cars penyelesaian masalah yang ter adi dalam Sengketa antara konsumen dan penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa yang diatur dalam peraturan perundang-undangan bersangkutan. terlihat bahwa kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah hukum antara pelaku usaha penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa dengan konsumennya masing-masing terlihat termuat dalam:    KUH Perdata. terutama dalam buku kedua. Undang-Undang tentang Rumah Susun (Undang-Undang No. Undang-Undang tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers (Undang-Undang No. 14 Tahun 1992). 42). dan terakhir UndangUndang Perlindungan Konsumen (UndangUndang No. UndangUndang tentang Perindustrian (Undang-Undang No. 5 Tahun 1984). Jadi. ketiga. 16 Tahun 1985). Perbuatan Melawan Hukum (Pasal 1365 KUH Perdata) Dalam Sengketa Antara Konsumen dan Pelaku Usaha Perbuatan melawan hukum di Indonesia secara normatif selalu merujuk pada ketentuan Pasal 1365 KUH Perdata. Perumusan norma Pasal 1365 KUH Perdata lebih merupakan struktur norma daripada substansi ketentuan hukum yang sudah lengkap.sebagai subjek hukum dalam suatu hubungan hukum konsumen. 2 Tahun 1981). 7 Tahun 1996). Oleh karena itu. hubungan hukum dan masalah antara penyedia barang atau penyelenggara jasa tertentu dan konsumen. substansi ketentuan Pasal 1365 KUH Perdata senantiasa memerlukan . 21 Tahun 1982). Beberapa di antaranya (yang terbaru) adalah Undang-Undang tentang Metrologi Legal (Undang-Undang No. dan keempat. KURD. UndangUndang tentang Pangan ( Undang-Undang No. Undang-Undang tentang Lalu Lintas danAngkutan Jalan (Undang-Undang No. Undang-Undang tentang Kesehatan ( Undang-Undang No. Undang-Undang tentang Lingkungan Hidup (Undang-Undang No. kalau dirangkum keseluruhanriya. 23 Tahun 1992). Lembaran Negara Tahun 1999 No. hak-hak dan kewajiban masing-masing. Rumusan norma dalam pasal ini unik tidak seperti ketentuan pasal lainnya. 8 Tahun 1999. Berbagai peraturan perundang-undangan lain yang memuat kaidah-kaidah hukum bersifat perdata tentang subjek-subjek hukum. 4 Tahun 1982).

ketentuan ini akan "abadi" karena hanya merupakan struktur.materialisasi di luar KUH Perdata. ganti rugi dalam bentuk natura atau dikembalikan dalam keadaan semula. Perbuatan Melawan Hukum terhadap nama baik. orang tug korban yang lazimnya mendapat nafkah dari pekerjaan korban. seperti kiasan yang sudah kits kenal bahwa Pasal 1365 KUH Perdata ini "Tak lekang kena pangs. sesuai dengan kedudukan dan keadaan pars pihak. Pasal-pasal tersebut mengatur bentuk tanggung jawab atas Perbuatan Melawan Hukum yang terbagi atas: Pertama. tak lapuk kena hujan". anak. Ketiga. Pasal 1367 ayat (1) KUH Perdata menyatakan: Seseorang tidak hanya bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya sendiri tetapi juga disebabkan karena perbuatan orangorang yang menjadi tanggungannya. . melarang dilakukannya perbuatan tertentu. Perbuatan Melawan Hukum terhadap tubuh dan jiwa manusia. 4. Perbuatan Melawan Hukum Indonesia yang berasal dari Eropa Kontinental diatur dalam Pasal 1365 KUH Perdata sampai dengan Pasal 1380 KUH Perdata. 2. pernyataan bahwa perbuatan yang dilakukan adalah melawan hukum. Masalah penghinaan diatur dalam Pasal 1372 sampai dengan Pasal 1380 KUH Perdata. Pasal 1370 KUH Perdata menyatakan bahwa dalam hal tedadi pembunuhan dengan sengaja atau kelalaiannya maka suami atau istri. 3. Dengan kata lain. ganti rugi dalam bentuk uang atas kerugian yang ditimbulkan. Beberapa tuntutan yang dapat diajukan karena perbuatan melawan hukum ialah: 1. Pasal 1372 menyatakan bahwa tuntutan terhadap penghinaan adalah bertujuan untuk mendapat ganti rugi dan pemulihan nama baik. tanggung jawab tidak hanya karena perbuatan melawan hukum yang dilakukan diri sendiri tetapi juga berkenaan dengan perbuatan melawan hukum orang lain dan barang-barang di bawah pengawasannya. Perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) sama dengan perbuatan melawan undang-undang (on wetmatigedaad). atau disebabkan oleh barang-barang yang berada di bawah pengawasannya. berhak untuk menuntut ganti rugi yang harus dinilai menurut keadaan dan kekayaan kedua belah pihak. Kedua. Dilihat dari dimensi waktu.

tetapi klakson tidak berfungsi karena seluruh sistem elektroniknya coati. Namun dengan lahirnya undang-undang yang secara khusus mengatur mengenai tuntutan ganti kerugian maka telah terjadi perubahan dalam penerapan Pasal 1365 KUH Perdata. Perkara berikut ini menunjukkan perubahan penerapan Pasal 1365 KUH Perdata dalam. istri penggugat lalu membuka pintu mobil dari dalam namun tidak berhasil sehingga merasa ketakutan karena terperangkap di dalam mobil. Istri penggugat langsung menekan tombol klakson mobil BMW untuk mints pertolongan.Penerapan Pasal 1365 KUH Perdata mengalami perubahan melalui putusan pengadilan dan undang-undang. dan kunci elektroniknya tidak mungkin dipalsukan. Sesampainya di rumah. perkara bermula dari pembelian mobil jenis BMW 318i yang dilakukan oleh Penggugat. Berbagai undang-undang telah secara khusus mengatur tentang gaud rugi karena perbuatan melawan hukum. penumpang yang masih berada di dalam mobil tetap bisa keluar dari mobil dengan cara membuka pintu dari dalam. gugatan yang berkenaan dengan ganti rugi berkaitan dengan materi yang kemudian diatur dalam undang-undang tersebut didasarkan pada Pasal 1365 KUH Perdata. menurut Tergugat salah sate kecanggihan mobil BMW adalah sistem elektroniknya akan memberi keamanan dan kenyamanan. misalnya undangundang tentang perlindungan konsumen. Harapan istri penggugat temyata jugs sic-sic karena tidak seorang pun mendengarkan teriakannya karena ia berada dalam ruangan kedap . istri penggugat berteriak sekeras-kerasnya dengan harapan ada yang mendengarkan dan bisa membantu keluar dari mobil. Akhimya. Karena kondisi kaki istri penggugat masih terasa nyeri maka tidak bisa keluar mobil bersamaan dengan penggugat dan ketika hendak keluar. Pada suatu hari penggugat pergi mengantarkan istri penggugat untuk mengurut kakinya ke suatu tempat dengan mengendarai mobil BMW. Sebagaimana yang wring dilakukan oleh penggugat ketika mengendarai jenis mobil yang lainnya karena sekalipun dikunci dari luar. penggugat tidak bisa menahan buang air kecil karena menderita suatu penyakit sehingga terburu-buru masuk ke toilet yang terletak di dalam rumah sambil menutup pintu mobil yang menggunakan remote control. lalu ia berusaha mencopot panel yang ada di dalam mobil namun tidak berhasil memecahkannya. hubungan dengan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha. Sebelum undang-undang tersebut lahir.

Berdasarkan kejadian tersebut. Menurut penggugat. Lebih lanjut penggugat juga mendalilkan bahwa pars tergugat yang telah memproduksi mobil BMW dengan sistem penguncian double lock tersebut juga telah melanggar Undang-Undang No. penggugat menggugat BMW AG yang berkedudukan di Jerman sebagai Tergugat I. Istri penggugat kembali berteriak untuk meminta tolong yang temyata dapat didengar oleh penggugat yang sebelumnya beranggapan bahwa istri penggugat sudah masuk ke dalam rumah. serta tindakan Tergugat III yang tidak memberikan informasi yang jelas tentang kondisi mobil serta cara pemakaiannya kepada penggugat. tanpa disadari tangan istri penggugat terluka dan berlumuran darah. Menurut penggugat. Setelah empat puluh menit berjuang akhirnya istri penggugat berhasil meretakkan kaca mobil dengan sebuah bends yang berhasil ditemukan di dalam mobil BMW. BMW Group Indonesia sebagai tergugat II dan PT Astrea International Tbk sebagai tergugat III dengan dalil Perbuatan Melawan Hukum.suara (dalam mobil BMW yang terkunci) sehingga pada saat itu kondisi istri penggugat sangat lemah dan mengenaskan akibat banyaknya mengeluarkan tenaga serta kehabisan oksigen. dan hampir merenggut nyawa serta menimbulkan kerugian yang besar bagi penggugat. . dan menurut penggugat hal ini jelas merupakan perbuatan melawan hukum. sangat berakibat fatal. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen di samping Perbuatan Melawan Hukum (Pasal 1365 KUH Perdata) maka sesuai dengan asas hukum lex specialis derogat lex generalis dan asas hukum lex posteriori derogat legi priori. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Setelah itu barulah ia dapat menghirup udara segar yang masuk dari lubang kaca mobil. Akhimya jiwa istri penggugat dapat diselamatkan meskipun dalam keadaan yang sangat menyedihkan. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. hukum yang berlaku dalam perkara ini adalah Undang-Undang No. Tergugat dalam jawabannya mendalilkan bahwa karena penggugat telah mengajukan tuntutan pelanggaran Undang-Undang No. tindakan Tergugat I dan Tergugat II memproduksi mobil BMW dengan menggunakan sistem double lock. sistem penguncian double lock yang diprodilksi tergugat I dan tergugat 11 tidak menjamin keamanan dan keselamatan konsumen di dalam memakai produk tersebut. Tanga pikir panjang istri penggugat merobek kaca mobil yang sudah retak dengan tangannya dan berhasil membentuk lubang angin.

Termasuk hukum publik dan terutama dalam kerangka hukum konsumen dan/atau hukum perlindungan konsumen. bukan ke Pengadilan Negeri di mana salah satu Tergugat bertempat tinggal sebagaimana diatur dalam Pasal 118 (2) HIR. hukum pidana. Hukum Konsumen dalam Hukum Publik Dengan hukum publik dimaksudkan hukum yang mengatur hubungan antara negara dan alai-alai perlengkapannya atau hubungan antara negara dengan perorangan. adalah hukum administrasi negara. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen adalah merupakan suatu aturan khusus yang mengatur mengenai tanggung jawab dari pelaku usaha terhadap konsumen bila tedadi suatu kesalahan atau suatu Perbuatan Melawan Hukum dari pelaku usaha tersebut terhadap konsumennya.Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat melalui Putusan No.G/2002/PN. hukum acara perdata dan/ataii hukum acara pidana dan hukum internasional khususnya hukum perdata internasional. ketentuan- .DKI. dapat pula diberlakukan. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan tidak berwenang mengadili perkara ini.Jkt. Putusan ini diperkuat oleh Pengadilan Tinggi Jakarta sebagai Peradilan Banding melalui Putusan No. Menurut Majelis Hakim dalam hal gugatan mengenai tanggung jawab dari pelaku usaha terhadap konsumennya yang berlaku adalah Undang-Undang Perlindungan Konsumen sebagai aturan khusus/specialis (lex specialis derogat legi generali).Pst berpendapat bahwa Pasal 1365 adalah suatu aturan umum/generalis dalam hal mengajukan gugatan terhadap suatu Perbuatan Melawan Hukum yang dilakukan oleh tergugat sedangkan Undang-Undang No. segala kaidah hukum maupun asas-asas hukum ke semua cabangcabang hukum publik itu sepanjang berkaitan dengan hubungan hukum konsumen dan/atau masalahnya dengan penyedia barang atau penyelenggara jasa. Berdasarkan Pasal 23 Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Jadi. hal tersebut karena adanya aturan khusus (Pasal 23 Undang-Undang Perlindungan Konsumen) yang didahulukan dari aturan umum (Pasal 118 ayat (2) HIR) lex specialis derogat legi generali. Dalam amar putusannya. gugatan harus diajukan ke pengadilan negeri di mana konsumen/penggugat bertempat tinggal. 3. Dalam kaftan ini antara lain ketentuan perizinan usaha. 385/ Pdt./2004/PT. 210/ Pdt.

23 Tahun 1992. tampaknya hukum administrasi negara. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 LN Tahun 1985 No. Undang-Undang No. hukum pidana. sedang Pasal 77 menegaskan wewenang pemerintah untuk mengambil berbagai tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan/atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap undangundang ini. izin praktik atau izin lain yang diberikan Berta penjatuhan hukum disiplin berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan yang . Pasal 77 itu berbunyi: Pemerintah berwenang mengambil tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan/atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan ini. Misalnya tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan/atau sarana kesehatan yang melanggar undang-undang (Pasal 77 UU No. Dalam Pasal 76 undang-undang itu dijelaskan pula peran pengawasan yang dijalankan oleh pemerintah. Dari peraturan perundang-undangan di atas terlihat beberapa departemen dan atau lembaga pemerintah tertentu menj alankan tindakan administratif berupa pengawasan dan pembinaan terhadap pelaku usaha dengan perilaku tertentu dalam melaksanakan perundang-undangan tersebut. Penjelasan pasal ini menentukan: tindakan administratif dalam pasal ini dapat berupa pencabutan izin usaha. Ketentuan hukum administrasi. 75). Pasal 73 ditentukan: Pemerintah melakukan pembinaan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan).ketentuan pidana tertentu. hukum internasional khususnya hukum perdata internasional dan hukum acara perdata Berta hukum acara pidana paling banyak pengaruhnya dalam pembentukan hukum konsumen. misalnya menentukan bahwa Pemerintah melakukan pengaturan dan pembinaan rumah susun dan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang (termuat dalam Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang tentang Rumah Susun. Diantara kesemua hukum publik tersebut. selanjutnya disebut hukum administrasi. ketentuan-ketentuan hukum acara dan berbagai konvensi dan/atau ketentuan hukum perdata internasional. Selanjutnya dalam Undang-Undang Kesehatan.

Struktur Hukum Perlindungan Konsumen Hukum Konsumen / Hukum Perlindungan Konsumen Hukum Perdata (dalam Arti Luas) Hukum Publik Hukum Perdata Hukum Administrasi Hukum Dagang Hukum Pidana Hukum Perdata Internasional . kualitas manajemen. Ayat (2) pasal ini menentukan bahwa Bank Indonesia menetapkan ketentuan tentang kesehatan bank dengan memperhatikan aspek permodalan. solvabilitas dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank.berlaku. kualitas aset. Pasal 52 dan -Pasal 53 (Ketentuan Pidana dan sanksi administratif). Juga berdasarkan Undang-Undang No. Begitu pula dengan tindakan administratif Menteri Kehakiman dalam mengesahkan Anggaran Dasar suatu Perseroan Terbatas atau Perubahannya sebagaimana termuat dalam Undang-Undang No. Pasal 29 menegaskan bahwa tugas pembinaan dan pengawasan bank-bank di Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia. likuiditas. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Secara skematis. rentabilitas. ditetapkan bahwa Bank Indonesia dapat menetapkan sanksi administratif kepada bank yang tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana ditentukan pertimbangan kepada Menteri Keuangan untuk mencabut izin usaha bank bersangkutan. Tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dilakukan setelah mendengar pertimbangan Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan. hukum konsumen dan/atau hukum perlindungan konsumen itu berbentuk sebagai berikut. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Selanjutnya.

Pasal 1457 dan seterusnya KUH Perdata). C. Oleh karena itu. Misalnya. baik hukum perdata maupun hukum publik dapat digunakan untuk menyelesaikan hubungan dan/atau masalah konsumen dengan penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa. Pasal 1694 dan seterusnya). Yang harus mendapatkan perhatian adalah pelanggaran perundang-undangan itu. Pasal 1548 dan seterusnya). Di Negeri Belanda istilah koper atau huurder (istilah Belanda yang berarti pembeli atau penyewa) digunakan dalam perundangundangannya. MASALAH YANG DIHADAPI Sekalipun berbagai instrumen hukum umum (peraturan perundang-undangan yang berlaku umum). terlepas dari apakah perundang-undangan yang telah ada. apakah pelaku usaha atau konsumen. Keduanya diatur bersamaan. peminjam (verbruiklener. Peraturan perundangan umum ini sebagaimana telah diuraikan di atas. . penyewa (harder.Dari skema ini terlihat bahwa pembagian berdasarkan hukum perdata dalam arti lugs dan hukum publik memberikan gambaran yang menyeluruh tentang struktur dan permasalahan perlindungan konsumen. memenuhi persyaratan dan/atau cukup untuk melindungi kepentingan-kepentingan konsumen. KUH Perdata dan KUHD tidak Mengenal Istilah Konsumen Hal ini mudah dipahami karena pada saat undang-undang itu diterbitkan dan diberlakukan di Indonesia. dalam KUH Perdata kits menemukan istilahistilah pembeli (koper. tidak menetapkan terpisah pelaku usaha atau konsumen. dilakukan oleh siapa. 14 Tahun 1992) yang dapat dilakukan oleh pelaku usaha atau oleh konsumen. Keadaannya agak berbeda dengan pengaturan yang ditentukan dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen. 1. tetapi hukum umum ini ternyata mengandung berbagai kelemahan tertentu dan menjadi kendala bagi konsumen atau perlindungan konsumen. sebagai pengguna jasa angkutan (UU No. penitip barang (bewaargever. Tentunya. Adapun hak-hak dan kewajiban pelaku usaha (istilah digunakan untuk penglisaha) diatur dalam Pasal 6 dan 7. Di dalam undang-undang ini secara tegas ditentukan hak-hak konsumen (Pasal 4) dan kewajiban-kewajibannya (Pasal 5). tidak dikenal istilah consumers atau consument (istilah Inggris dan Belanda).

Dengan asas kebebasan berkontrak. 3. 2. lengkaplah sudah kebebasan setiap orang untuk mengadakan perjanjian. Hukum Perjanjian (Buku ke-3 KUH Perdata) Menganut Asas Hukum Kebebasan Berkontrak. Pasal 341 dan seterusnya Buku Kedua). tidak membedakan apakah mereka itu sebagai konsumen akhir atau konsumen antara. konsumen itu terdiri dari dua jenis yang berbeda kepentingan dan tujuan dalam penggunaan barang atau jasanya. Subjek hukum pembeli. Pasal 246 dan seterusnya Buku Kesatu) dan penumpang (opvarende. tanpa pemberdayaan (empowering) pihak yang historis lemah. Keadaan mempersamakan formal memang memikat. sistem terbuka dan bahwa hukum perjanjian itu merupakan hukum pelengkap saja. tingkat pendidikan dan/atau kemampuan days saingnya. Keadaan ini kemudian diimbuhi pula dengan catatan bahwa hukum perjanjian itu merupakan hukum pelengkap. mungkin . dengan syarat-syarat subjektif dan objektif tentang sahnya suatu persetujuan tetap dipenuhi (Pasal 1320). bahkan dengan bentuk-bentuk perjanjian lain dari apa yang termuat dalam KUH Perdata (berbeda dengan sistem tertutup yang dianut Buku Ke-2 KUH Perdata). is menimbulkan kepincangan tertentu dalam hubungan hukum atau masalah mereka satu sama lain. Adapun Kitab Undang-Undang Hukum Dagang ditemukan istilah tertanggung (verzekerde. dan sebagainya. termasuk perjanjian yang dipaksakan kepadanya.Pasal 1754 dan seterusnya). tetapi secara materiil akan terlihat. Dengan sistem terbuka. tertanggung atau penumpang terdapat dalam KUH Perdata dan KUHD. Pengguna Barang dan/atau Jasa Sebagaimana telah diuraikan dalam bab pertama. setiap orang dapat mengadakan sembarang perjanjian. Kalau yang mengadakan perjanjian adalah mereka yang seimbang kedudukan ekonomi. Demikian pula dengan konsumen akhir. Semua Subjek Hukum tersebut Adalah Konsumen. jadi setiap orang dapat saja mengadakan persetujuan dalam bentukbentuk lain dari yang disediakan oleh KUH Perdata. Para pengusaha yang disebut juga sebagai konsumen antara mempunyai tujuan dan kepentingan tersendiri. Sistemnya Terbuka dan Merupakan Hukum Pelengkap Asas kebebasan berkontrak memberikan pada setiap orang hak untuk dapat mengadakan berbagai kesepakatan sesuai kehendak dan persyaratan yang disepakati kedua pihak. penyewa.

Beberapa hal pokok tentang subjek hukum dari suatu perikatan. bentuk usaha dan praktik bisnis yang pada masa diterbitkannya KUH Perdata dan KUHD belum dikenal. Perkembangan Pesat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) Perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi sangat mempengaruhi kegiatan bisnis di mans pun di dunia. Dilengkapi dengan penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia dan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Kessler bahkan lebih tajam lagi tinjauannya. la mengatakan bahwa hukum perjanjian itu adalah pelindung dari pembagian kekuasaan yang tidak merata dalam masyarakat sehingga memungkinkan pemaksaan kehendak pihak yang kuat atas pihak-pihak yang lemah. Pengalaman nyata memang menunjuk pada keadaan itu. jasa perbankan. yaitu pars pihak tidak seimbang. pihak yang lebih kuat akan dapat memaksakan kehendaknya atas pihak yang lebih lemah. yang kemudian dijadikan dasar dari keputusan Sidang Umum PBB pada tahun 1985 tentang Perlindungan Konsumen. kini sudah menjadi pengalaman kita. Berbagai penelitian termasuk penelitian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 19731985. Pedanjian dengan syarat-syarat baku ini telah sangat mendalam merasuk ke dalam kehidupan masyarakat. . Dalam keadaan sebaliknya. promosipromosi dagang. perikatan beli sews. tidak terakomodasi secara sangat sumir dalam perundangundangan itu. tidak terkecuali di Indonesia. alat-alat transportasi.masalahnya menjadi lain. 4. jasa asuransi. Berta berbagai praktik niaga lainnya yang tumbuh karena kebutuhan atau kegiatan ekonomi. terutama konsumen dari negara-negara berkembang yang merupakan pihak yang lemah tersebut. Apa yang dimaksudkan Kessler. Man dan yang sejenis dengan itu. nanti akan terlihat dalam bentuk-bentuk perjanjian dengan syarat-syarat baku (perjanjian baku/klausul baku). alat-alat elektronik. Berbagai produk konsumen. ternyata pihak konsumenlah. bentuk perjanjian baku. dan sebagainya. Antara lain mengenai pembelian rumah. alat-alat rumah tangga. kedudukan hukum berbagai cars pemasaran produk konsumen seperti penjualan dari rumah ke rumah.

500. Proses produksi dan pemasaran produk yang makin canggih. karena kebutuhan telah pula dipraktikkan dan kadang-kadang tanpa persyaratan dan pembatasan yang menurut hukum berlaku bagi perikatan di negeri asalnya. Pencampuradukan sistem hukum yang melanda masyarakat karena kebutuhannya itu. Contoh konkret adalah pembelian 1 (satu) unit televisi berwama dengan harga kurang lebih Rp 2.000. Pengadilan Tmggi. Hukum Acara Hukum acara yang dipergunakan dalam proses perkara perdata pun tidak membantu konsumen dalam mencari keadilan. sistem pemasaran yang digunakan. yaitu konsumen yang jumlah pembeliannya tidak melebihi suatu jumlah tertentu.000. Beban ini lebih banyak tidakdapat dipenuhi dalam hubungan antara konsumen dan penyedia barang atau penyelenggara jasa pada masa kini. Tingkat-tingkat peradilan (Pengadilan Negeri. Hal ini terutama karena tidak pahamnya konsumen atas pembuatan produk. kerahasiaan perusahaan dan tanggung jawab perusahaan yang hanya pada pemegang sahamnya saja. lamanya masa proses sampai didapatkan putusan yang efektif. tenaga dan hal-hal lain berkaitan dengan pembelian itu. Pengadilan Tinggi. misalnya pembelian barang atau jasa yang tidak melebihi jumlah Rp 2. menyebabkan KUH Perdata dan KUHD tertinggal di belakang. memperbesar jarak antara konsumen dengan produk konsumen yang is gunakan di samping hal-hal yang dikemukakan di atas. dan/atau proses peninjauan kembali.500. ditambah dengan beban pembuktian merupakan kendala bagi konsumen dan perlindungannya.00 (dua juta lima ratus ribu rupiah). berapa besar biaya. maupun jaminan puma jual yang digunakan oleh pelaku usaha. Pasal 1865 KUH Perdata menentukan pembuktian hak seseorang atau kesalahan orang lain dibebankan pada pihak yang mengajukan gugatan tersebut. Apalagi bagi konsumen kecil. yang tidak saja makan waktu berlarutlarut. 5.Begitu pula bentuk-bentuk perikatan yang tampaknya berasal dari negaranegara yang menggunakan sistem hukum berbeda (Anglo Saxon).00 (dua juta lima ratus ribu rupiah). yang hams dikeluarkan oleh konsumen bersangkutan dalam mempertahankan haknya di pengadilan-pengadilan Indonesia. Bayangkan pula proses persidangan di Pengadilan Negeri. Mahkamah Agung. . Bayangkan saj a berapa banyak waktu. tetapi juga memakan tenaga dan biaya. Mahkamah Agung dan kemungkinan Peninjauan kembali di Mahkamah Agung).

seperti juga bagi pengusaha yang jujur dan beriktikad baik. Begitu pula halnya dengan penerapan peraturan perundang-undangan. falsafah Indonesia adalah Pancasila yang pemikiran politik ekonominya adalah kesejahteraan rakyat dengan perikehidupan yang seimbang. melindungi konsumen dan pengusaha yang jujur dan beriktikad baik dari perilaku pelaku usaha yang menyimpang atau melanggar hukum dan dapat menimbulkan kerugian pada mereka. Tindakan administratif yang dijalankan oleh instansi berwenang terhadap mereka yang melanggar ketentuan dari peraturan perundang-undangan (administratif).  Pengumpulan bukti-bukti serta semua proses untuk tindakan administratif dan/atau peradilan atas pelaku dijalankan oleh pemerintah. Hukum Publik Sesuai fungsinya menurut hukum. mempunyai peran yang sangat membantu upaya perlindungan konsumen. Dengan demikian. Yang Sangat Penting Pula Adalah Dasar Pemikiran Filsafat Dianut dari KUH Perdata/KUHD dan falsafah hukum yang sekarang hams dijadikan pangkal tolak pernikiran hukum kita yang sama sekali sudah tidak sejalan lagi. penyidikan dan penuntutan diselenggarakan oleh (aparat) pemerintah. dan selaras. serasi. Kemanfaatan instrumen hukum publik terlihat antara lain:  Semua pelaksanaan kegiatan pengawasan dan/atau penyelidikan. 7. Dengan cara menggunakan Surat keputusan suatu tindakan administratif atau putusanputusan pengadilan yang berkaitan dengan kasus kerugiannya. pidana (yang termuat dalam KUHP atau di luar KUHP). Doktrin yang dianut KUH Perdata/KUHD adalah liberalisme. beban beracara yang terberat bagi konsumen dalam mengajukan kasus kerugiannya ke pengadilan yaitu beban pembuktian adanya sesuatu hak dan/atau peristiwa yang melanggar hukum (Pasal 1865 KUH Perdata dan Pasal 163 HIR) serta hal-hal lain tampak menjadi ringan.6. Adapun doktrin. Bahkan dengan ketentuan-ketentuan termuat .  Semua biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan pengawasan dan peradilan dipikul oleh pemerintah. atas setiap perilaku usaha yang memenuhi unsur-unsur pidana dan pelaksanaannya dijalankan oleh pejabat yang berwenang untuk itu.

Bagi konsumen Indonesia tampaknya tiga peraturan perundangundangan yang sangat dibutuhkan. antara lain: UndangUndang tentang Pangan. yaitu siapa yang harus dipertanggungjawabkan tentang sesuatu perilaku kegiatan perusahaan atau produknya yang menimbulkan kerugian pada konsumen. sayangnya. Juga tidak dalam kasus kematian karena peristiwa biscuit beracun. . memberikan dampak negatif lainnya pada konsumen. Putusan pengadilan dan/atau tindakan administratif (larangan mengedarkan. Peralihan pemilikan suatu badan usaha berkali-kali terjadi tanpa ada pengawasan. Di samping itu. Dari hal-hal terurai di atas terlihat bahwa peraturan-peraturan umum. oleh instansi yang berwenang. yang secara perdata juga merugikan kepentingan konsumen. tetapi mempunyai berbagai kendala bahkan juga tentang substansinya. kesemuanya itu masih harus diuji di dalam masyarakat dan pengadilan-pengadilan kita. terlihat pula berbagai kelemahannya. 3. dan/atau juga sulit pengawasannya. Kalau diperhatikan falsafah bangsa dan negara Pancasila temyata bahwa banyak hal belum cukup diatur dalam perundang-undangan yang pada saat ini. Terhadap konsumen is menjadi masalah besar. Akan tetapi. suatu tindakan administratif tidak dijalankan atau dijalankan dengan kualifikasi "akan ditindak tegas" tetapi tanpa kelanjutan karena satu dan lain alasan. Konsumen masih harus menjalankan acara lainnya lebih lanjut. penarikan nomor daftar produk. Sampai saat ini belum pernah terjadi penggunaan acara penggabungan perkara sesuai KUHAP dalam suatu perkara pidana. sekalipun dapat dimanfaatkan oleh (hukum) konsumen. pencabutan izin usaha dan sebagainya) terhadap perilaku pelaku usaha yang menyimpang dan merugikan konsumen. tidak sertamerta diketahui dan/atau memberikan ganti rugi atau sesuatu penyelesaian tertentu bagi konsumen. Pada sementara kasus. 2. Alasan yang paling banyak dikemukakan pada waktu ini adalah karena industri/bisnis kita masih termasuk "industri bagi" (infant-industry) sehingga memerlukan waktu agar mereka menjadi mapan dan kuat bersaing. Dianutnya pendirian kalangan usaha bahwa tanggung jawab (direksi) perusahaan hanya pada pemegang sahamnya saja.dalam Kitab Undang-Undang HukumAcara Pidana (KUHAP) proses beracara ini dapat dipermudah lagi. juga menjadi pengalaman. antara lain: 1.

dan Undang-Undang tentang Persaingan Usaha. Apakah yang dimaksud dengan asas kebebasan berkontrak dan apa kaitannya dengan hukum perlindungan konsumen? Jelaskan! 5. Kalau Undang-Undang Persaingan Usaha sangat dibutuhkan oleh Para usahawan beriktikad baik di Indonesia. bagi seluruh rakyat Indonesia. Undang-Undang Persaingan Usaha mengatur tentang perilaku yang harus diialankan oleh para pelaku usaha penyedia barang dan/atau jasa. termasuk pengadaan. sehingga mereka tidak merusak diri sendiri dan/atau merugikan konsumennya. Mengapa dalam penerapan peraturan-peraturan hukum ada kendalakendala? Jelaskan dan berikan contohnya! . seperti jugs bagi Para konsumen. Bagi masyarakat Indonesia. persediaan dan penggunaan serta segala sesuatu yang berkaitan dengan itu. hak dan kewajibannya. Apakah dalam UUD 1945 diatur mengenai perlindungan bagi warga negara (konsumen)? Jelaskan disertai pasalnya! 2. khususnya konsumen Indonesia agaknya dari sudut kepentingan konsumen pemecahan masalah perlindungan konsumen tidak lain adalah diterbitkannya suatu Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen. oligopoli.Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen. Daftar Pertanyaan 1. seperti perilaku usaha monopoli. bagaimana mereka berhubungan dengan para penyedia barang atau jasa kebutuhan mereka. pengaturan atau penetapan harga (price fixing). Sedangkan UndangUndang Perlindungan Konsumen mengatur tentang siapa konsumen. karena dalam undang-undang ini diatur berbagai perbuatan pelaku usaha yang dilarang. Peraturan perundang-undangan tentang Pangan mengatur tentang makanan dan minuman (pangan) baik yang telah diolah maupun tidak. Sebutkan tindakan administratif dari pemerintah di bidang tertentu apabila ada pihak yang merugikan konsumen (barang/jasa) dan berikan dasar hukumnya! 3. serta segala sesuatu berkaitan dengan itu. persaingan yang mengganggu perdagangan dan industri dan sebagainya. Mengapa dalam KUH Perdata dan KUHD tidak mengenai istilah konsumen? Jelaskan! 4. tata cara peradilan bagi konsumen keeil.

Di samping itu. hubungan hukum dan masalah antara penyedia barang atau penyelenggara jasa tertentu dan konsumen. ASPEK-ASPEK KEPERDATAAN Yang dimaksudkan hukum perdata yakni dalam arti lugs. Berbagai peraturan perundang-undangan lain yang memuat kaidah-kaidah hukum bersifat perdata tentang subjek-subjek hukum. 3. Kesemuanya itu baik hukum perdata tertulis maupun hukum perdata tidak tertulis (hukum adat). termasuk hukum perdata. tetapi ditunjuk oleh pengadilanpengadilan dalam perkara-perkara tertentu. hukum dagang Berta kaidah-kaidah keperdataan yang termuat dalam berbagai peraturan perundang-undangan lainnya. Beberapa hal yang dinilai penting dalam hubungan konsumen dan penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa (pelaku usaha) antara lain sebagai berikut. Kaidah-kaidah hukum perdata umumnya termuat dalam Kitab UndangUndang Hukum Perdata (KUH Perdata). Bab 4 . Kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah hukum antara pelaku usaha penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa dengan konsumennya masing-masing termuat dalam: 1. tentu saja juga kaidahkaidah hukum perdata adat. terutama dalam Buku kedua.BAB 4 BERBAGAI ASPEK HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN A. 2. KUH Perdata. ketiga. yang tidak tertulis. Buku kesatu dan Buku kedua. KUHD. dan keempat.

hukum dagang serta kaidah-kaidah keperdataan yang termuat dalam berbagai peraturan perundang-undangan lainnya. Kaidah-kaidah hokum perdata umumnya termuat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata). dan lain-lain yang berkaitan dengan itu. terutama dalam Buku Kedua. . keamanannya. pinjam-meminjam. keterangan. Dari sudut penyusunan peraturan perundang-undangan terlihat informasi itu termuat sebagai suatu keharusan. tentang berbagai persyaratan / cara memperolehnya. Berbagai peraturan perundang-undangan lain yang memuat kaidah-kaidah hokum bersifat perdata tentang subjek-subjek hokum. atau standar lain yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang. beli-sewa. dan Keempat 2. Informasi-informasi tersebut meliputi tentang ketersediaan barang/jasa yang dibutuhkan masyarakat konsumen. sewa-menyewa. harga. tersediannya pelayanan jasa jurnal-jual. Kesemuanya itu baik hukum perdata tertulis maupun hukum perdata tidak tertulis (hukum adat). Hal-hal yang berkaitan dengan informasi Bagi konsumen. Kaidah-kaidah hokum yang mengatur hubungan dan masalah hokum antara pelaku usaha penyedia barang/penyelenggara jasa dengan konsumennya masingmasing termuat dalam : 1. termasuk hukum perata. Beberapa di antaranya.honor. hubungan hokum dan masalah antara penyedia barang atau penyelenggara jasa tertentu dan konsumen/ Beberapa hal yang dinilai penting dalam hubungan konsumen dan penyedia barang/penyelenggara jasa (pelaku usaha) antara lain sebagai berikut : 1. ditetapkan harus dibuat. siaran. sebelum ia menggunakan sumber dananya (gaji. Informasi dari kalangan pemerintah dapat diserap dari berbagai penjelasan. dan sebagainya) tentang produk konsumen dengan pelaku usaha itu. dan tindakan pemerintah pada umumnya atau tentang sesuatu produk konsumen. Sedang untuk produk hasil industri lainnya.atau apa pun nama lainnya) untuk mengadakan transaksi konsumen tentang barang/jasa tersebut. informasi tentang barang/jasa merupakan kebutuhan pokok. persediaan suku cadang. tetapi ditunjuk oleh pengadilan-pengadilan dalam perkara-perkara tertentu. Buku kesatu dan Buku kedua 3. standar internasional. penyusun peraturan perundang-undangan secara umum atau dalam rangka deregulasi. yang tidak tertulis. informasi tentang produk itu terdapat dalam bentuk standar yang ditetapkan oleh pemerintah. KUHD. tentang kualitas produk. tentu saja juga kaidah-kaidah hokum perdata adat. tentang jaminan atau garansi produk. baik secara dicantumkan maupun dimuat didalam wadah atau pembungkusnya (antara lain label dari produk makanan dalam kemasan). Dengan transasi konsumen dimaksudkan diadakannya hubungan hokum (jual beli. Ketiga. KUP Perdata.upah.Berbagai aspek hukum perlindungan konsumen 1. Di samping itu.Aspek-aspek keperdataan Yang dimaksudkan hukum perdata yakni dalam arti luas.

Tentang Iklan KUH Perdata (Kitab Undang – Undang Hukum Perdata) dan/atau KUHD (Kitab Undang – Undang Hukum Dagang). khusus menyangkut prilaku pengumuman iklan keputusan pengadilan tentang pernyataan pailit dan segala akibatakibatnya dari seseorang atau suatu badan usaha (pasal 13 jjs.Informasi dari konsumen atau organisasi konsumen tampak pada pembicaraan dari mulut ke mulut tentang suatu prosuk konsumen. keduanya diumumkan pada tanggal 30 April 1847 dalam Staatsblad No. dan lainlain sejenis dengan itu. meng-iklankan suatu barang dan jasa secara tidak benar dan seolah-olah dan seterusnya. Pasal 9 ayat (1) berbunyi: “pelaku usaha dilarang menawarkan. pamphlet. berbagai siaran kelompok tertentu. produsen. Dari kalangan usaha (penyedia dana. 2.10. tampaknya yang paling berpengaruh pada saat ini adalah informasi yang bersumber dari kalangan pelaku usaha. `Beberapa bentuk informasi Diantara berbagai informasi tentang barang atau jasa konsumen yang diperlukan konsumen. atau lain-lain pihak yang berkepentingan).23 dengan segala tambahan dan/atau memuat kaidah – kaidah tentang periklanan. importer.17 dan Pasal 20) a.163 c. Iklan adalah bentuk informasi yang umumnya bersifat sukarela. tanggapan atau protes organisasi konsumen. mempromosikan.105. Terutama dalam bentuk iklan atau label. yaitu Warta Konsumen (WK). terlepas untuk siapa perundang-undangan itu berlaku. mempertahankan dan meningkatkan pangsa pasar produk yang telah atau ingin lebih lanjut di raih. Adapun dalam undang-undang kepailitan. label termasuk pembuatan berbagai selebaran. catalog. sekalipun pada akhir – akhir ini termasuk juga yang diatur didalam Undang – Undang tentang Perlindungkan Konsumen (Pasal 9. Bahan-bahan informasi ini pada umumnya disediakan atau di buat oleh kalangan usaha dengan tujuan memperkenalkan produknya. Satu – satunya ketentuan termuat dalam KUH Perdata yang tampaknya dapat digunakan adalah ketentuan tentang perbuatan melanggar atau melawan hokum (Pasal 1365 KUH Perdata). Adapun label merupakan informasi yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan tertentu.12.” Sayangnya dalam undang-undang ini tidak dicantumkan apa yang dimaksud dengan iklan. majalah dan berita resmi YLKI. . tanpa mengurangi pengaruh dari berbagai bentuk informasi pengusaha lainnya. Yang terdapat dalam perundang-undangan ini hanyalah berbagai larangan dan suruhan berkaitan dengan periklanan saja.13. surat-surat pembaca pada media massa. diketahui sumber-sumber informasi itu umumnya terdiri dari berbagai bentuk iklan baik melalui media nonelektronik atau elektronik. dan seterusnya). seperti brosur. yaitu sepanjang iklan tertentu menimbulkan kerugian pada pihak lain. seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tentang hasil-hasil penelitian dan riset produk konsumen tertentu. Menurut ketentuan dari UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. pasal 16. dapat ditemukan pada harian-harian umum.

atau tidak tepat mengenai barang dan jasa . Mengelabui konsumen mengenai kualitas. jelas. Departemen Kesehatan (Peraturan Menteri Kesehatan No. Mengenai prilaku periklanan yang lengkap diatur dalam Pasal 17 UndangUndang No. dan gagasan yang dapat dimanfaatkan oleh khalayak dengan atau tanpa imbalan kepada lembaga penyiaran yang bersangkutan. baik secara langsung maupun tidak langsung”. yang satu ditetapkan oleh Departmen Kesehatan dan yang lainnya oleh sistem penyiaran nasional. Pasal 1 butir (6) menyatakan siaran iklan niaga adalah siaran iklan komersial yang disiarkan melalui penyiaran radio atau televisi dengan tujuan memperkenalkan. dan bertanggung jawab (Pasal 5 butir (1)). jujur. Sampai saat ini tidak terdapat gangguan apa pun baik terhadap masyarakat pembuat maupun pengguna produk konsumen yang diiklankan berdasarkan masing-masing rumusan yang bersangkutan. informasi produk konsumen sangat menentukan shingga haruslah informasi itu memuat keterangan yang benar. Adapun sistem penyiaran nasional (Undang-Undang No. Keberadaan Undang-Undang No. Pasal 1 Butir 13) menetapkan sebagai “iklan adalah usaha dengan cara apa pun untuk meningkatkan penjualan. Memuat informasi yang keliru. kuantitas. dan bertanggung jawab. adalah sebagai berikut: 1) Pelaku usaha periklanan dilarang memproduksi iklan yang: a. 32 Tahun 2002 tentang penyiaran diarahkan antara lain untuk memberikan informasi yang benar. kegunaan dan harga barang atau tariff jasa serta ketepata waktu penerimaan barang atau jasa b. Kebenaran isi dari pernyataan atau label tersebut merupakan tanggung jawab dari pihak yang membuat dan menyiarkan. seimbang.Dari hal-hal terurai diatas tentang kedudukan periklananini dalam masyarakat usaha. Bagi konsumen. barang atau jasa kepada khalayak sasaran untuk memengaruhi konsumen agar menggunakan produk yang ditawarkan. setidak-tidaknya terdapat dua batasan iklan. Mengelabui jaminan/garansi tergadap barang atau jasa c. 329 Tahun 1976. 32 Tahun 2002 tentang penyiaran) Pasal 1 butir (5) merumuskan siaran iklan adalah siaran informasi yang bersifat komersial dan layanan masyarakat tentang tersedianya jasa. bahan. memasyarakatkan. Tentu saja terlepas dari mana yang baik dan tepat. dan mempromosikan. barang. Kedua batasan iklan tersebut berjalan bersama masing-masing untuk bidang masing-masing. 7 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. salah.

sebagai berikut. Ketiga pelaku usaha di atas. Mengeksploitasi kejadian dan seseorang tanpa izin yang berwenang atau persetujuan yang bersangkutan f. undang-undang ini berbunyi : melanggar etika atau ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai periklanan. Ketiga jenis pelaku usaha tersebut dalam undang-undang ini termasuk pelaku usaha. Undang-undang Perlindungan Konsumen tidak memuat tindakan administratif tersebut. menipu atau mengakibatkan cedera pada konsumen untuk memasang iklan perbaikannya (corrective advertisement) di surat kabar atau televisi iklan koreksi seperti ini telah tumbuh dan menjadi hokum di Negara-negara lain.d. yaitu perusahaan yang memesan iklan untuk mempromosikan. yaitu. . Apabila dengan etika itu dimaksudkan kode etik periklanan. 1. Media. Tidak memuat informasi mengenai resiko pemakaian barang dan jasa e. Melanggar etika dan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai periklanan 2) Pelaku usaha periklanan dilarang melanjutkan peredaran iklan yang telah melanggar ketentuan pada ayat (1) Selanjutnya. Perusahaan iklan. Pelaku usaha periklanan bertanggung jawab atas iklan yang diproduksi dan segala akibat yang ditimbulkan oleh iklan tersebut.? Dari sudut pelaku usaha periklanan menurut Azm Nasution terdapat tiga jenis pelaku usaha. memasarkan. dan menawarkan produk yang mereka edarkan 2. maka dialah yang mempertanggung jawabkan. dapat dipertanggungjawabkanm tetapi secara tepatnya pelaku usaha manakah yang harus bertanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam pasal 20 tersebut? Menurut Az. media elektronik atau nonelektronik atau bentuk media lain. Sekiranya tanda tangan pengiklan (tanda acc) terdapat pada konsep iklan itu. yang menyiarkan atau menayangkan iklan-iklan tersebut. padahal kegunaannya sangat baik sebagai upaya pencegah “gegabahnya” para pelaku usaha periklanan. Apakah yang dimaksud denagn etika periklanan? Penjelasan pasal ini memuat kalimat “cukup jelas”. maka berarti Undang-Undang ini telah membeikan “status hokum” pada kode etik periklanan yang di Indonesia disebut sebagai tata karma dan tata cara periklanan Indonesia. Satu hal yang menarik dari Undang-undang Perlindungan Konsumen berkaitan dengan periklanan ini yakni dalam Pasal 17 ayat (1) huruf f. adalah perusahaan atau biro yang bidang usahanya adalah mendesain atau membuat iklan untuk para pemesannya 3. Kemudian. berkaitan dengan tanggung jawab pelaku usaha periklanan ini diatur dalam Pasal 20. Berkaitan dengan perilaku periklanan yang dilarang dan tentang tanggung jawabnya itu. Pengiklan. terdapat timdakan administratif yang dapat dijatuhkan pada pelaku usaha periklanan yang menyiarkan iklan menyesatkan. Nasution tergantung bagaimana hakim pengadilan negeri mengambil putusannya.

Selanjutnya keterangan yang harus dimuat pada label/etiket tersebut ditetapkan (Pasal 7 ayat (1) dan (2) terdiri atas :  Nama makanan atau merk dagang  Komposisi. Pemberian nama atau tanda-tanda menunjuk pada label dari barang bersangkutan. dicetak.b. susunan. bentuk banyaknya dan kegunaan barang-barang yang baik diharuskan maupun tidak diperbolehkan dibubuhkan atau dilekatkan pada barang pengbungkusnya. sifat. 10 Tahun 1961. 79 Tahun 1978 tentang Label dan periklanan Makanan. 1. Tentang Label Informasi produk konsumen yang bersifat wajib ini. atau etiket. atau dicantumkan dengan jalan apa pun pada wadah atau pembungkus. maupun obat diwajibkan mencantumkan label pada wadah atau pembungkusnya. diukir. dapat dikenakan ketentuan pidana ekonomi. 2. sifat. bahan. pun cara pembubuhan atau melekatkan nama dan tandatanda itu. Nama atau tanda-tanda itu memuat asal.memberikan informasi tentang barang. menyebutkan : Etiket adalah label yang dilekatkan. kecuali makanan yang cukup diketahui komposisinya secara umum  Isi netto . Dengan demikian setiap perilaku pengusaha yang melanggar ketentuan dalam peraturan perundangundangan ini. susunan bahan. Ketentuan tersebut terdapat dalam berbagai peraturan perundang-undangan. UU No. Pasal 1 dan 2. Perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan atau melanggar ketentuan tersebut di atas. Pasal 2 ayat (4) UU ini menentukan: Pemberian nama dan tanda-tanda yang menunjukkan asal. tempat barang-barang itu diperdagangkan dan alat-alat reklame. Baik produk makanan. bentuk. dan banyaknya serta kegunaannya. UU Barang. Pengaturan tentang informasi yang disebut dengan berbagai istilah seperti penandaan. Label. dapat dinyatakan sebagai tindak pidana ekonomi (Pasal 9). ditetapkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan. Permenkes No. Nama dan tanda-tanda itu harus dibubuhkan atau dilekatkan pada pembungkusnya tempat barang itu di perdagangkan dan pada alat-alat reklame.

Pengertian tentang penandaan termuat dalam Pasal 1 angka 4. tetapi penandaan. nilai gizi. yang berbunyi : Tulisan-tulisan dan pernyataan-pernyataan pada pembungkus. tidak menggunakan istilah label atau etiket.00 (Pasal 84 jo.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Sebagai akibatnya kemudian dalam perundang-undangan yang lebih baru. bulan.   Nama dan alamat perusahaan yang memproduksi atau mengedarkan Nomor pendaftaran Kode produksi  Untuk jenis makanan tertentu yang ditetapkan oleh menteri kesehatan. Perbuatan mengedarkan makanan tanpa label dinyatakan sebagai tindak pidana pelanggaran dengan ancaman pidana kurungan maksimum satu tahun dan denda maksimum Rp15. Bahan yang dipakai Komposisi setiap bahan Tanggal. dan tahun kadaluarsa Ketentuan lainnya Dalam penjelasan Pasal ini (huruf d) dinyatakan bahwa ketentuan lainnya misalnya pencantuman kata atau tanda halal menjamin bahwa makanan dan minuman dimaksud diproduksi dan diproses sesuai persyaratan makanan halal. c. Pasal 85) SK Menteri Menteri Kesehatan tanggal 21 Agustus 1971 No. Adapun dalam Pasal 3 SK Mentei Kesehatan tersebut ditentukan : . Undang-undang No. harus dicantumkan tanggal kadaluarsa. b. etiket atau brosur yang diikutsertakan pada penyerahan atau penjualan sesuatu obat. 193 Tahun 1971 tentang Pembungkusan dan Penandaan obat. (pasal 41-45) Ketentuan tentang sanksi-sanksi atas pelanggaran kewajiban memesang label pada makanan (dalam kemasan) tersebut memang tidak begitu jelas. d. ketentuan tentang pelabelan makanan ditegaskan lebih lanjut. Setiap makanan yang dikemas wajib diberi tanda atau label (Pasal 21 ayat (2)) yang memuat tentang : a. petunjuk penggunaan dan cara penyimpanannya. Perbuatan mengedarkan makanan tanpa label sebagaimana dimaksudkan dalam peraturan Menteri Kesehatan tersebut dinyatakan dilarang dan dapat diancam dengan sanksi-sanksi sebagaimana termuat dalam KUHP dan tindakan administratif berupa penarikan nomor daftar produk itu dan tindakan lain berdasarkan perundangundangan yang berlaku. baik yang diberikan bersama obat itu maupun yang diberikan sesudah atau sebelum penyerahan obat yang bersangkutan.000.000.

khususnya tentang pelabelan tersebut. Adapun Pasal 12 Surat Keputusan Menteri Kesehatan ini menetapkan bahwa pelanggaran atas ketentuan-ketentuan antara lain. c. Pasal 1233 menyebutkan jenis-jenis perjanjian (prestasi)yang dapat diadakan terdiri atas memberikan sesuatu. nama pabrik dan alamatnya (sedikitnya nama kota dan negaranya).Pada bungkus luar dan wadah obat jadi atau obat paten dan bahan kontras harus dicantumkan tanda atau etiket yang menyebutkan nama jenis atau nama barang obat. Hal-hal yang Berkaitan dengan Perikatan Dalam KUH Perdata Buku ke-III. nomor pendaftaran. Pasal 41 ayat (2) memuat ketentuan tentang penandaan dan informasi sebagai berikut: Penandaan dan informasi sediaan farmasi dan alat kesehatan harus memenuhi persyaratan objektivitas dan kelengkapan serta tidak menyesatkan. kontra indikasi yang ditetapkan pemerintah untuk dicantumkan. angkutan. tetapi dengan batas-batas minimum sehingga tidak menyesatkan atau menipu (iklan melawan hokum). tentang Perikatan (van Verbintenissen). dapat timbul karena undangundang. nomor batch. Hal ini berkaitan dengan bahan informasi yang selalu mengusik adalah mengapa suatu hasil uji laboratoris produk konsumen (antara lain oleh instansi pemerintah) tidak disiarkan kepada masyarakat agar mereka mengetahui bermutu atau bergizi tidaknya sesuatu produk konsumen (pangan. akan mengakibatkan hukuman di lapangan administratif. dosis. tentang resiko jenis-jenis perikatan tertentu. seperti iklan dalam segala bentuk kreativitasnya. label atau etiket pemuatan informasi yang bersifat wajib dilakukan dengan sanksi-sanksi administratif dan pidana tertentu apabila tidak dipenuhi persyaratan-persyaratan etiket dan label tersebut. ketentuan-ketentuan diatas mendapatkan “porsi” baru. dan lain-lain).indikasi sebagaimana disetujui pada pendaftaran. termuat ketentuan-ketentuan tentang subjek-subjek hokum dari perikatan. cara penggunaan. baik karena undang-undang maupun sebagai akibat perbuatan seseorang. Perikatan yang terjadi karena undang-undang. Selain mengakibatkan hukuman di bidang pidana dan penyitaan obat. batas daluarsa dan tanda-tanda lain yang dianggap perlu Ketentuan berikut dalam pasal itu dan pasal 4-6 memuat rincian berbagai keharusan tata cara tentang permuatan isi label atau etiket tersebut. syaratsyarat perikatan. sandang papan. syarat-syarat pembatalannya. komposisi obat dan susunan kuantitatif zat-zat berkhasiat. . Dalam UU Kesehatan. berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu. cara penyimpanan. dan berbagai bentuk perikatan yang dapat diadakan (Pasal 1233). Dari uraian diatas tampak bahwa informasi produk konsumen itu dapat ditemukan dalam penandaan atau informasi lain. Pada penandaan. bobot netto atau volume obat. Selanjutnya.

Kerugian-kerugian itu selain dari biaya-biaya yang sungguh-sungguh telah dikeluarkan.1353m dan seterusnya). setelah dipenuhinya syarat tertentu. mengganti kerugian tersebut. Pasal 1243. dan bunga (Pasal 1236 dalam hal perjanjian memberikan sesuatu. kehormatan dan nama baik seseorang. dan hak merk). Yang dimaksudkan adalah hak-hak subjektif orang lain. oktroi. dan Pasal 1242 dalam hal perjanjian berbuat atau tidak berbuat sesuatu. yang terpenting terlihat pada perikatan karena terjadinya perbuatan atau kealpaan yang melanggar atau melawan hokum (selanjutnya disebut PMH). Dalam perikatan yang timbul karena perjanjian.1244. sedang diantara mereka itu tidak terdapat suatu perjanjian (hubunganhukum perjanjian). Unsur-unsur Perbuatan Melawan Hukum: 1) Unsur pelanggaran atas hak-hak orang lain. maka berdasarkan undang-undang dapat juga timbul atau terjadi hubungan hokum antara orang tersebut dan orang yang menimbulkan kerugian itu. mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu. kerugian yang dialami. tidak dipenuhi atau dilanggarnya butir-butir perjanjian itu. Apabila seseorang dirugikan karena perbuatan orang lain. Antara lain. juga termasuk keuntungan (winstderving) yang diharapkan yang tidak diterima karena perbuatan ingkar janji tertentu. hak-hak pribadi perseorangan (persoonlijkrechten) seperti hak-hak atas integritas (harga diri).Perbuatan itu dapat berupa perbuatan yang diperbolehkan (halal) atau perbuatan yang melanggar hokum (Pasal 1352. Pasal 1365 KUH Perdata berbunyi : Setiap perbuatan melanggar hokum yang membawa kerugian pada orang lain. dapat mengakibatkan terjadinya cedera janji (wanprestatie). dan seterusnya. kerugian. Perbuatan cedera janji ini memberikan hak pada pihak yang dicederai janji untuk menggugat ganti rugi berupa biaya. Perikatan juga dapat terjadi tanpa adanya perjanjian. Kedalamnya termasuk hak-hak kebendaan dan lain-lain hak yang bersifat mutlak (seperti hak milik. Pasal 1239. .1246).

Termasuk hokum publik dalam rangka hokum konsumen dan hokum perlindungan konsumen. Dualisme hokum tetap terjaddi karena perbedaan penafsiran terhadap perubahan-perubahan yang di buat pada masa penjajahan belanda dan Jepang. ditetapkan oleh lembaga yang berwenang. Baru kemudian dengan Undang-Undang No. Aspek hukum publik Dengan hukum publik dimaksudkan hukum yang mengatur hubungan antara Negara dan alat-alatnya perlengkapannya atau hubungan Negara dengan peroranagan. Pada pokoknya orang haruslah memperhatikan perilaku yang dianggap patut (behoorlijk) dalam masyarakat dikaitkan dengan kepentingan perorangan satu sama lain. 3) Unsur bertentangan dengan kehati-hatian yang hidup atau harus diindahkan dalam kehidupan masyarakat. 2. Jadi. 1 Tahun 1946. kodifikasi hokum pidana teersebut jauh-jauh hari berlaku untuk semua golongan penduduk. Setelah Indonesia merdeka. adalah hokum administrasi Negara. Karena perkembangan poliik. adopsi undang-undang yang semula bertujuan untuk unifikasi itu. baik bersifat perdata maupun public (misalnya perbuatan pelanggaran atau kejahatan seperti termuat dalm KUHP). Kitab UndangUndang itu lalu diadopsi secara total. melalui Undang-Undang No. Sejak tahun 1919. berbeda dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang masih bersifat pluralistis. yang dapat digunakan dengan berdiri sendiri. Di Indonesia. dan hokum acara pidana dan hokum internasional khususnya hokum perdata internasional.2) Unsur bertentangan dengan kewajiban hukum pelaku Yang dimaksudkan adalah kewajiban hokum yang diletakkan perundangundangan dalam arti materiil. Hukum Pidana Pengaturan hokum positif dalam lapangan hokum pidana secara umum terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Ia menunjuk pada kebiasaan tidak tertulis. unsur ini tampaknya merupakan unsur yang terpenting dalam penenruan tolok ukur perbuatan melawan hukum. Mengenai penerapannya harus dilihat kasus per kasus. hokum acara perdata. 1. 73 Tahun 1958. yakni sejak pertama kali diberlakukan wetboek van strfrecht voor Nederlandsch-indie. tujuan unifikasi . baik secara terlepas dari atau bersama-sama unsure-unsur lainnya. hokum pidana. penerapan kitab di atas diunifikasikan sejak 1918. tidak mencapai tujuannya.

Barang-barang itu dapat disita. Jadi. 2. padahal sifat berbahaya itu tidak diberitahukan. diancam dengan pidana penjara lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun.. yang bersalah dikenakan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama waktu tertentu paling lam dua puluh tahun. Pasal 359: Barang siapa karenakealpaannya menyebabkan matinya orang lain. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tidak disebut kata “konsumen”. Kendati demikian. tanpa diketahui sifat berbahayanya oleh yang membeli atau yang memperoleh. 1 Tahun 1946 itu dapat dicapai. Jika perbuatan mengakibatkan matinya orang. yang paling banyak menyangkut perlindungan konsumen adalah hokum pidana dan hokum administrasi Negara. Prof. Moeljanto. diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan atau . Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. yang diketahui bahwa membahayakan nyawa atau kesehatan orang. Hokum pidana sendiri termasuk dalam kategori hokum publik. antara lain : 1.hokum acara. Jika perbuatan mengakibatkan matinya orang.S. 4. diancam.dalam kategori ini termasuk pula hokum administrasi Negara.H. 3.yang diinginkan Undang-Undang No. dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Pasal 360: Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain mendapat luka-luka berat. secara implicit dapat ditarik beberapa pasal yang memberikan perlindungan hokum bagi konsumen. dan hokum internasional. Belum ada satu pun terjemahan yang dinyatakan resmi.menyerahkan atau membagi-bagikan barang. Adapun terjemahan yang dipakai saat ini masih merupakan karya individual atau institusi tertentu.menawarkan. Kitab ini diberlakukan diseluruh Indonesia dengan nama resmi Wetboek van Strafrecht atau dapat disebut juga Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama stau tahun empat bulan atau kurungan paling lama satu tahun. Pasal 205: Barang siapa karena kealpaannya bahwa barang-barang yang berbahaya bagi nyawa atau kesehatan orang dijual. Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian rupa sehingga timbul penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian selama waktu tertentu. Pasal 204: Barang siapa menjual. berarti secara resmi sebenarnya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang berlaku di Indonesia itu masih berbahasa Belanda. 1). diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan atau kurungan paling lama enam bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. diserahkan atau dibagi-bagikan. Di antara semua aspek hokum public itu. antara lain (yang paling luas dipakai) adalah karya Alm. diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun (LN 1906 No.

seorang penjual yang berbuat curang teerhadap pembeli: (1) karena sengaja menyerahkan barang lain daripada yang ditunjuk untuk dibeli. misalnya sekarang diubah dari deliik aduan menjadi delik biasa. Pasal 390: Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hokum. 6. Tindak pidana berupa pembajakan hak cipta.minuman atau obat-obatan itu dipalsu. dengan menggunakan tipu muslihat.yang berlaku sejak 4 November 1996. Pasal 382 bis: barang siapa untuk mendapatkan. peraturan-peraturan di bidang hak aras kekayaan intelektual yang sebenarnya bersinggungan erat dengan kepentingan konsumen. Pasal 383: Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan. dan hak atas merk. dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau denda paling banyak Sembilan ratus rupiah. dana-dana atau surat-surat berharga menjadi turun atau naik. Lapangan pengaturan yang paling luas kaitannya dengan hokum perlindungan konsumen terdapat pada bidang kesehatan. Selain itu juga dalam pengaturan hak-hak atas kekayaan intelekual. Bahan makanan. melakukan perbuatan curang untuk menyesatkan khalayak umum atau seorang tertentu diancam. Ketentuanketentuan dilapangan hokum kesehatan dapat dikatakan merupakan instrumen hokum yang paling luas namun tidak berarti memadai dalam mengatur hak-hak konsumen dibandingkan dengan lapangan huukum lainnya. Perlindungan yang diberikan porsi terbanyak justru kepada individual atau badan yang menjadi . paten. karena persaingan curang. ternyata belum secara intens mengarahkan perhatiannya kepada kepentingan tersebut.jika nilainya atau faedahnya menjadi kurang karena dicampur dengan sesuatu bahan lain. (2) mengenai jenis keadaan atau banyaknya barang yang diserahkan. Termasuk dalam kelompok ini adalah Undang-Undang No. jika karenanya dapat timbul kerugian bagi konkuren-konkurrennya atau orang lain itu. 1) 5.minuman atau obat-obatan yang diketahui bahwa itu palsu.kurungan paling lama enam bulan atau denda paling tinggi tiga ratuus rupiah (LN 1960 No. khususnya dari sudut penerapan sanksi pidananya. dewasa ini diberi perhatian yang cukup besar.menyerahkan atau menyerahkan makanan. Sayangnya. 7 Tahun 1996 tentang Pangan. 8. Di luar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana terdapat banyak sekali ketentuan pidana yang beraspekkan perlindungan konsumen. seperti hak cipta. 7. melangsungkan atau memperluas debit perdagangan atau perusahaan kepunyaan sendiri atau orang lain. diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan. dengan menyiarkan kabar bohong yang menyebabkan harga barang-barang dagangan. Pasal 382: Barang siapa mejual. diancam dengan pidnaan penjara paling lama empat tahun. menawarkan. dan menyembunyikan hal itu.

hanya ada perbedaan gradual.tetap ada sandaran peraturannya. bukan pada konsumen sebagai bagian terbesar masyarakat Indonesia. Jadi. baik itu produsen maupun para penyalur hasil-hasil produknya. karena berbeda dengan lapangan hokum perdata. Seandainya tidak tertampung dalam undang-undang yang bersifat khusus dan sektoral seperti diatas. Pada hakikatnya penafsiran ekstensi dan analogi itu sama. Cara berpikir Vost ini disebut dengan pendirian material. Pengakomodasian ini penting. dan Langemeyers. Jika terjadi pelanggaran. tidak sekadar yang oleh undang-undang dilarang. Kecenderungan seperti yang terjadi dalam hukum bidang hak atas kekayaan intelektual ini seharusnya mulai di antisipasi. izin-izin itu dapat dicabut secara sepihak oleh pemerintah. Tentu saja konsekuensi lain adalah dalam mengartikan perbuatan melawan hokum (wederrechtelijke daad) dilapangan hokum pidana tidak seleluasa dilapangan hokum perdata. menganut pemikiran agar dalam hokum pidana pun unsur perbuatan melawan hokum ini dapat ditafsirkan secara luas. Cuma dibari penafsiran yang lebih luas. Sebaliknya. 2. Sanksi administratif tidak ditujukan pada konsumen pada umumnya. . dalam hokum pidana dikenal larangan melakukan analogi-analogi berbeda pengertiannya dengan penafsiran ekstensi. ini berarti bertentangan dengan asas legalitas. Suatu rumusan tindak pidana dapat kehilangan sifat melawan hukumnya hanya jika ada peraturan (minimal) setingkat dengan itu (misalnya sama-sama undang-undang) yang mengecualikan. dapat diakomodasikan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang menurut rencana akkan segera diperbaharui. hokum administrasi Negara adalah instrumen hokum publik yang penting dalam perlindungan konsumen.pemegang hak-hak di atas. Hanya inti (rasio) dari aturan itu yang masih dipertahankan. Pemerintah RI kepada pengusaha/penyalur tersebut. pada analogi sudah tidak lagi bersandar pada suatu rumusan peraturan. yang berbeda dengan makna tatkala rumusan ittu di buat oleh pembentuk undang-undang. aparat penegek hokum (dalam hal ini khususnya hakim) tidak dapat dengan leluasa menetapkan tindak pidana yang baru diluar rumusan undangundang. makna suatu rumusan diberi pengertian menurut kebutuhan masyarakat saat itu. Rupanya para ahli hokum lain seperti Simmons. Putusan-putusan pengadilan berkaitan dengan perluasan penafsiran tentang perbuatan melawan hokum memang juga mempengaruhi pemikiran para ahli hukum pidana. Hukum Administrasi Negara Seperti halnya hokum pidana. Dalam penafsiran ekstensi. Vost misalnya. Sanksi-sanksi hokum secara perdata dan pidana seringkali kurang efektif jika tidak disertai sanksi administratif. Jika dilakukan. sebagai lawan dari pendirian yang formal. masih memepertahankan cara berpikir formal. sehinggga menjadi perbuatan yang oleh masyarakat tidak diperbolehkan. Sanksi administratif berkaitan dengan perizinan yang diberikan. Jonkers. tetapi justru kepada pengusaha. Akibatnya.

kalaupun ini dibutuhkan. Syarat-syarat pendirian perusahaan yang bergerak dibidang tersebut dan pengawasan terhadap proses produksinya dilakukan ekstra hati-hati.obat-obatan dan zat-zat kimia.sanksi administratif dapat diterapkan secara langsung dan sepihak. Persetujuan. Sanksi administratif ini sering lebih efektif dibandingkan dengan sanksi perdata atau pidana. . mungkin dari instansi-instansi Pemerintah terkait. tetap ada kendala dalam penerapannya. Pertama. Adapun pemulihan hak-hak korban (konsumen) yang dirugikan bukan lagi tugas instrument hokum administrasi Negara. tetapi sanksi itu sendiri dijatuhkan terlebih dulu. bagi pihak yang terkena sanksi ini dibuka kesempatan untuk “membela diri”. karena dikaitkan dengan pertimbangan tenaga kerja dan perpajakan. dampaknya secara tidak langsung berarti melindungi konsumen pula. seperti pencemaran oleh PT Inti Indorayon di Sumatera Utara. Nilai ganti rugi dan pidana yang dijatuhkan mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan keuntungan yang diraih dari perbuatan negative produsen. Hak-hak konsumen yang dirugikan dapat dituntut dengan bantuan hokum perdata atau pidana. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. dapat berua barang atau jasa. Produksi disini harus diartikan secara luas. peraturan-peraturan tentang produk makanan. Kedua.Pencabutan izin hanya bertujuan menghentikan proses produksi dai produsen/penyalur. Ada beberapa alasan untuk mendukung pernyataan ini. Tentuu saja. antara lain mengajukan kasus tersebut ke pengadilan tata usaha Negara. Memang. Pemerintah tampaknya menjadikan sanksi administratif ini sebagai ultimum remedium. Dikatakan demikian karena penguasa sebagai pihak pemberi izin tidak perlu meminta persetujuan terlebih dahulu dari pihak manapun. Pengertian bahaya disini terutama berkenaan dengan kesehatan daan jiwa. yakni mencegah jatuhnya lebih banyak korban. Bahkan. sejak prakemerdekaan. Contohnya adalah ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. Walaupun secara teoretis instrument hokum administrasi negara ini cukup efektif. Belum lagi mekanisme penjatuhan putusan itu yang biasanya berbelit-belit dan membutuhkan proses yang lama. Dengan demikian. Pemerintah masih mengandalkan inisiatif konsumen untuk mempersalahkannnya.sanksi administrati jug tidak perlu melaui proses pengadilan. sehingga konsumen sering menjadi tidak sabar. Snksi administratif terhadap perusahaan-perusahaan yang mencemari lingkungan masih teramat jarang dilkukan. Itulah sebabnya. kedua pertimbangan tersebut seharusnya tidak menjadi alasan pemaaf bagi pengusaha yang merugikan konsumen tersebut. diawasi secara ketat. Campur tangan administrator Negara idealnya harus dilatarbelakangi iktikad melindungi masyarakat luas dari bahaya. sehingga berlaku efektif. sanksi perdata atau pidana acapkali tidak membawa efek “jera” bagi pelakunya. konsumen juga dihadapkan pada posisi tawar-menawar yang tidak selalu menguntungkan disbanding dengan produsen. Untuk gugatan secara perdata. Peraturanperaturan masa kolonial itu bahkan cukup banyak yang masih berlaku sampai seekarang. sepanjang memang didukung oleh bukti-bukti yang cukup. untuk kasus-kasus teertentu.

16 Tahun 1985 LN Tahun 1985 No. Undang-Undang No. likuiditas. Tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dilakukan setelah mendengar pertimbangan Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan. izin prakti atau izin lain yang diberikan. sedang Pasal 77 menegaskan wewenang pemerntah untuk mengambil berbagai tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap undang-undang ini.rentabilitas. serta penjatuhan hokum disiplin berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penjelasan pasal ini menentukan tindakan administratif dalam pasal ini dapat berupa pencabutan izin usaha. Misalnya tindakan administratif terhadap tenag kesehatan atau sarana kesehatan yang melanggar undang-undang (Pasal 77 UU No. Pasal 73 ditentukan: Pemerntah melakukan pembinaan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan. Pasal 52 dan 53 (Ketentuan Pidana dan sanksi administratif). Ayat (2) pasal ini menentukan bahwa Bank Indonesia menetapkan ketentuan tentang kesehatan bank dengan memperhatikan aspek permodalan. Pasal 29 menegaskan tugas pembinaan dan pengawasan bank-bank di Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia. Undang-Undang No. Begitu pula dengan tindakan administratif Menteri Kehakiman dalam mengeshkan Anggaran Dasar suatu Perseroan Terbatas atau Perubahannya sebagaimana termuat dalam Undang-Undang No.Ketentuan hokum administrasi.solvabilitas. Juga berdasarkan UU No. kualitas aset. misalnya menentukan bahwa: Pemerintah melakukan pengaturan dan pembinaan rumah susun dan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang (termuat dalam Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 20 Ayat (1) Undang-Undang tentang Rumah Susun. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Selanjutnya. Dalam Pasal 76 undang-undang itu dijelaskan pula peran pengawasan yang dijalankan oleh pemerintah. Dari peraturan perundang-undanagan diatas terlihat beberapa departemen atau lembaga pemerintah tertentu yang menjalankan tindakan administratif berupa pengawasan dan pembinaan terhadap pelaku usaha dengan perilaku tertentu dalam melaksanakan perundang-undangan tesebut. kualitas manajemen. 75) Selanjutnya dalam Undang-Undang Kesehatan. 23 Tahun 1992. ditetapkan bahwa Bank Inndonesia dapat menetapkan sanksi administrative kepada bank yang tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana ditentukan dalam undang-undang ini atau menyampaikan peritmbangan kepada Menteri Keuangan untuk mencabut izin usaha bank bersangkutan. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan). Pasal 77 itu berbunyi : Pemerintah berwenang mengambil tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan ini. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank. .

3. maka yang seharusnya terjadi adalah persaingan jujur. . Melalui petunjuk inilah lalu ditentukan hukum atau pengadilan mana yang akan menyelesaikan perselisihan hukum tersebut. hukum internasional yang berdimensi public. Kepentingan nasional masing-masing Negara kerapkali membuatnya harus menjadi “macan kertas” yang dengan sendirinya tidak bergigi dan tidak mempunyai kekuatan memaksa. yang lazim disebut hukkum perdata Internasional. Kondisi suatu Negara sangat dominan menentukan seberapa jauh gerakan ini mendapat tempat di masyarakat. Masalh perlindungan konsumen merupakan salah satu bukti diantaranya. Hukum perdata internasional hanya berisi petunjuk tentang hukum nasional mana yang akan diberlakukan jika tedapat kaitan lebih dari satu kepentingan hukkum nasional. Demikian pula halnya dengan resolusi-resolusi yang di buat oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hukum internasonal sering dinilai sebagai instrument yang “mandul” daalm menangani banyak kasus hukum yang berdimensi lintas Negara. Kedua. PERANAN HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN C. Pertama. yang notabene tanpa ratifikasi pun harrusnya berlaku secara serta-merta terhadap semua Negara anggota badan dunia itu. yang biasanya dikenal sebagai hukum internasional publik. hukum transnasional yang berdimensi perdata. Oleh karena itu. Walaupun begitu. Persaingan jujur adalah suatu persaingan dimana konsumen dapat memiliki barang atau jasa karena jaminan kualitas dengan harga yang wajar. Hukum Transnasional Sebutan “hukum transnasional” mempunyai dua konotasi. keberadaan sumber-sumber hukum internasional iu tetap tidak banyak artinya jika belum diartifikasi oleh Negara yang bersangkutan. DALAM Pada era perdagangan bebas dimana arus barang dan jasa dapat masuk ke semua Negara dengan bebas. pola perlindungan konsumen perlu diiarahkan pada pola kerja sama antarnegara. Hukum perdata internasional sesungguhnya bukan hukum yang berdiri sendiri. Sumber terpenting dari hukum internasional adalah perjanjian antarnegara dan konvensi-konvensi internasional. Gerakan ini memang berkembang pesat diberbagai penjuru dunia. namun intensitas gerakan tersebut tidak selalu sama pada tiap-tiap Negara. antarsemua pihak yang berkepentingan agar terciptanya suatu model perlindungan yang harmonis berdasarkan atas persaingan jujur. melainkan bagian dari hukum perdata nasional.

 Di dalam hukum positif. pada dasarnya negara dapat diketahui bahwa aspek hukum public dan aspek hukum perdata mempunyai peran dan kesempatan yang sama untuk melindungi kepentingan konsumen. yakni dari sisi pasar domestic dan dari sisi pasar globlal. yang sudah mengandung unsure melindungi kepentingan konsumen antara lain :       Undang-undang kesehatan Undang-undang barang Undang-undang hygiene untuk usaha Undang-undang pengawasan atau edar barang Peraturan tentang wajib daftar obat Peratutan tentang produksi dan peredaran produk tertentu . Aspek hukum public berperan dan dapat dimanfaatkan oleh Negara. 4. didistribusikan/dipasarkan dan diedarkan sampai barang dan jasa tersebut dikonsumsi oleh konsumen. 2. pemerintahan instansi yang mempunyai peran dan kemenangan untuk melindungi konsumen. Kemenangan dan peran tersebut dapat diwujudkan mulai dari :  Politic will/ kemauan politik untuk melindungi kepentingan konsumen domestic didalam persaingan globlal dan atas persaingan tidak sehat local. Keduanya harus diawali dan sejak barang dan jasa diproduksi. Bertolak dari pemikiran diatas. Hak keamanan dan keselamatan Hak atas informasi Hak untuk memilih Hak untuk didengar dan Hak atas lingkungn hidup Aspek-aspek hukum terhadap perlindungan konsumen didalam era pasar bebas. 3. 5.  Birokrasi dengan sadar dan senang hati menciptakan kondisi dengan berbisnis jujur dalam mewujudkan persaingan sehat.Sampai saat ini secara universal diakui adanya hak-hak konsumen yang harus dilindungi dan dihormati. yaitu: 1. pada dasarnya dapat dikaji dari dua pendekatan.

mempunyai sumbangan terbesar dalam rangka melindungi kepentingan konsumen. termasuk didalamnya hukum administrasi Negara. distributor. Untuk mengurangi ketidakseimbangan tersebut. dan sebagainya. Peraturan tentang perizinan. Dari aspek hkum public. Fakta selalu menunjukkan bahwa posisi calon konsumen dalam keadaan lebih karena factor ekonomi dan kebutuhan. Hal inilah yang menyebabkan tidak seimbangnya hubungan hukum para pihak. Sumbangan yang terbesar pada hukum public disini adalah kemampuan untuk mengawasi. diharapkan diikuti dengan pengawasan. membina dan mencabut izin sesuai dengan ketentuan apabila terbukti :   Melanggar ketentuan undang-undang Merugikan kepentingan umum/konsumen Aspek hukum perdata secara umum hanya dapat dimanfaatkan oleh pihak untuk kepentingan-kepentingan subjektif. Meskipun demikian mengingat hubungan hukum para pihak terjadi karena berbagai alasan dan factor kebutuhan. pembinaan dan pemberian sanksi yang pasti dan tegas apabila terjadi pelanggaran mengenai syarat dan operasional dari perusahaan produsen. BAB 5 PRINSIP-PRINSIP HUKU PERLINDUNGAN KONSUMEN . memperkuat posisinya dengan menyiapkan dokumen yang ditentukan secara sepihak. maka sudah waktunya apabila disiapkan adanya syarat-syarat bahkan yang harus dipenuhi apabila ada pihak berniat menyiapkan perjanjian baku bagi calon konsumennya.\ Syarat-syarat baku minimal antara lain mengenai :   Waktu atau batas waktu untuk mengajukan keberatan Syarat atas pemenuhan janji  Syarat kesanggupan untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan promosi. Keadaan yang demikian mendorong para pihak produsen.

A. dan 1367. 1366. prinsip ini di pegang secara teguh. Prinsip Tanggung Jawab Berdasarkan Unsur Kesalahan Prinsip tanggungjawab berdasarkan unsure kesalahan adalah prinsip yang cukup umum berlaku dalam hukum pidana dan perdata. mengharuskan terpenuhinya empat unsure pokok. Pengertian “hukum” tidak hanya bertentangan dengan undang-undang. 5. yaitu : 1. Kesalahan Praduga selalu bertanggung jawab Praduga selalu tidak bertanggung jawab Tanggung jawab mutlak Pembatasan tanggung jawab 1. . 3. seseorang baru dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum jika ada unsure kesalahan yang dilakukannya. Beberapa sumber formal hukum. tetapi juga kepatutan dan kesusilaan dalam masyarakat. 2. 3. khususnya Pasal 1365. seperti peraturan perundang-undangan dan perjanjian standar di lapangan hukum keperdataan kerap memberikan pembatasanpembatasan terhadap tanggungjawab yang dipikul oleh sipelanggar hak konsumen. yang lazim dikenal sebagai pasal tentang perbuatan melawan hukum.dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. 4. diberlakukan keberhati-hatian daalm menganalisis siapa yang harus bertanggung jawab dan seberapa jauh tanggung jawab dapat dibebankan kepada pihak-pihak terkait. Dalam kasus-kasus pelanggaran hak konsumen. Pasal 1365 KUH Perdata. Adanya perbuatan Adanya unsure kesalahan Adanya kerugian yang diderita Adanya hubungan kausalitas antara kesalahan dan kealpaan Yang dimaksud kesalahan adalah unsure yang bertentangan dengan hukum. 2. prinsip-prinsip tanggungjawab dalam hukum dapat dibedakan sebagai berikut: 1. 4. PRINSIP-PRINSIP TANGGUnG JAWAB Prinsip tentang tanggung jawab merupakan perihal yang sangat penting dalam hukum perlindungan konsumen. Prinsip ini menyatakan. Secara umum.

Mengenai pembagian beban pembuktiannya. sampai ia dapat membuktikan ia tidak bersalah. maka sudah cukup syarat bagi korporasi itu untuk wajib bertanggung jawab secara vicarious terhadap konsumen. Maksudnya. yakni asas kedudukan yang sama antara semua pihak yang berperkara. sebagaimana dapat dilihat dalam Pasal 17.perawat.Secara common sense. asas tanggung jawab ini dapat diterima karena adalah adil bagi orang yang berbuat salah untuk mengganti kerugian bagi pihak korban. barangsiapa yang mengakui mempunyai suatu hak. tidak adil jika orang yang tidak bersalah harus mengganti kerugian yang diderita orang lain. Di situ dikatakan.maka tanggung jawabnya beralih pada si pemakai karyawan tadi. let the master answer. mengandung pengertian majikan bertanggung jawab atas kerugian pihak lain yang ditimbulkan oleh orang-orang atau karyawan yang berada dibawah pengawasannya. asas ini mengikuti ketentuan Pasal 163 (HIR) atau Pasal 283 (Rbg) dan Pasal 1865 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Latar belakang penerapan prinsip ini adalah konsumen hanya melihat semua dibalik dinding suatu korporasi itu sebagai sati kesatuan. Ketentuan diatas juga sejalan dengan teori umum dalam hukum acara. Jika karyawan itu dipinjamkan kepihak lain. harus membuktikan adanya hak atau peristiwa itu. Perkara yang perlu diperjelas dalam prinsip ini.18 Ayat . Prinsip ini diterapkan tidak saja untuk karyawan organiknya (digaji oleh runah sakit). Corporate liability pada prinsipnya memiliki pengertian yang sama dengan vicarious liability. Doktrin yang terakhir ini disebut ostensible agency. Dengan kata lain. Dalam doktrin hukum dikenal asas vicarious liability dan corporate liability. tetapi untuk karyawan nonorganic (misalnay dokter yang dikontrak kerja dengan pembagian hasil).dan lain-lain) adalah karyawan yang tunduk dibawah perintah korporasi tersebut. Menurut doktrin ini. Dalam hukum pengangkutan. lembaga yang menaungi suatu kelompok pekerja mempunyai tanggung jawab terhadap tenaga-tenaga yang dipekerjakannya. 2. Prinsip Praduga untuk Selalu Bertanggung Jawab Prinsip ini menyatakan. jika suatu korporasi (misalnya rumah sakit) memberi kesan kepada masyarakat (pasien). yang sebenarnya juga berlaku umum untuk prinsip-prinsip lainnya adalah definisi tentang subjek pelaku kesalahan (lihay Pasal 1367 KUP Perdata). dalam hubungsn hukum antara rumah sakit dan pasien. semua tanggung jawab atas pekerjaan tenaga medic dan paramedic dokter adalah menjadi beban tanggung jawab rumah sakit tempat mereka bekerja. tergugat selalu dianggap bertanggung jawab. Di sini hakim harus memberi para pihak beban yang seimbang dan patut sehingga masing-masing memiliki kesempatan yang sama untuk memenangkan perkara tersebut. Jadi. Sebagai contoh. Ia tidak dapat membedakan mana yang berhubungan secara organic dengan korporasi dan mana yang tidak. khususnya pengangkutan udara. orang yang bekerja disitu (dokter. Vicarious liability atau disebut juga respondeat superior. beban pembuktian ada pada si tergugat. prinsip tanggung jawab ini pernah diakui.

Namun. Hal ini tentu bertentangan dengan asas hukum praduga tidak bersalah yang lazim dikenal dalam hukum. kemudian dalam perkembangannya dihapuskan dengan Protokol Guatemala 1971. 3. Pasal 20 Konvensi Warsawa 1929 atau Pasal 24. tepatnya pada Pasal 17 dan 18. Kehilangan atau kerusakan pada bagasi kabin/bagasi tangan. jika ia gagal menunjukkan kesalahan si tergugat. Pasal 19 jo. ssebagaimana ditegaskan dalam pasal 19. dan 23 (lihat ketentuan Pasal 28 UUPK). Berkaitan dengan prinsip tanggung jawab ini. Posisi konsumen sebagai penggugat selalu terbuka untuk digugat balik oleh pelaku usaha.28 jo. UUPK pun mengadopsi system pembuktian terbalik ini. asas demikian cukup relevan. Prinsip Praduga untuk tidak selalu bertanggung jawab hanya dikenal dalamlingkup transaksi konsumen yang sangat terbatas. maka yang berkewajiban untuk membuktikan kesalahan itu ada di pihak pelaku usaha yang digugat. jika diterapkan dalam kasus konsumen akan tampak. kerugian yang timbul bukan karena kesalahannya d) Pengangkut tidak bertanggung jawab jika kerugian itu ditimbulkan oleh kesalahan/kelalaian penumpang atau karena kualitas/mutu barang yang diangkut tidak baik Tampak beban pembuktian terbalik (omkering van bewijslast) diterima dalam prinsip tersebut. sampai yang bersangkutan dapat membuktikan sebaliknya. omkering van bewijslast juga diperkenalkan dalam Undang-Undang tentang Tindak Pidana Korupsi.22. Dalam konteks hukum pidana di Indonesia. Namun. Jika digunakan teori ini. 100 Tahun 1939. b) Pengangkut dapat membebaskan diri dari tanggung jawab jika ia dapat membuktikan. Prinsip Praduga untuk Tidak Selalu Bertanggung Jawab Prinsip ini adalah kebalikan dari prinsip kedua. yang biasanya dibawa . dikenal empat variasi: a) Pengangkut dapat membebaskan diri dari tanggung jawab kalau ia dapat membuktikan. kerugian ditimbulkan oleh hal-hal diluar kekuasannya. dalam praktiknya pihak kejaksaan RI sampai saat ini masih keberatan untuk menggunakan kesempatan yang diberikan prinsip beban pembuktian terbalik.(1). Tergugat ini yang haus menghadirkan bukti-bukti dirinya tidak bersalah. Tentu saja konsumen tidak lalu berarti dapat sekehendak hati mengajukan gugatan. Pasal 29 Ordonansi Pengangkutan udara No.25. dalam doktrin hukum pengangkutan khususnya. ia mengambil suatu tindakan yang diperlukan untuk menghindari timbulnya kerugian. Dasar pemikiran dari teori Pembalikan Beban Pembuktian adalah seseorang dianggpa bersalah. dan pembatasan demikian biasanya secara common sense dapat dibenarkan. Contoh dalam penerapan prinsip ini adalah dalam hukum pengangkutan. c) Pengangkut dapat membebaskan diri dari tanggng jawab jika ia dapat membuktikan.

pelaku usaha tidak dapat diminta pertanggungjawaban Sekalipun demikian. Asas tanggungjawab itu dikenal dengan nama product liability. yang mengaitkan perbedaaan keduanya pada ada atau tidak adanya hubungan kausalitas antara subjek yang bertanggungjawab dan kesalahannya. dan mengarah kepada prinsip tanggung jawab dengan pembatasan uang ganti rugi (setinggitingginya satu juta rupiah). kewajiban mengganti rugi dibebankan kepada pihak yang menimbulkan resikoadanya kerugian itu. walaupun tidak sebesar si tergugat. Dalam risk liability. Sebaliknya. konsumen tetap diberikan beban pembuktian. Ada pendapat yang mengatakan. Namun. ia hanna perlu membuktikan adanya hubungan kausalitas antara perbuatan pelaku usaha . yaitu produsen lalai memenuhi standar pembuatan oba yang baik C. Sementara pada tanggung jawab absolute hubungan itu tidak selalu ada. produsen wajib bertanggung jawab atas kerugian yang diderita konsumen atas penggunaan produk yang dipasarkannya. Artinya. ada penegasan.hubungan itu harus ada. Melanggar jaminan. tanggung jawab mutlak adalah prinsip tanggung jawab yang menetapkan kesalahan tidak sebagai factor yang menentukan. Dalam hal ini. tanggung jawab absolute adalah prinsip tanggung jawab tanpa kesalahan dan tidak ada pengecualiannya.dan diawasi oleh sipenumpang (konsumen) adalah tanggung jawab dari penumpang. Namun. ada pengecualian-pengecualian yang memungkinkan untuk dibebaskan dari tanggung jawab. Kendati demikian ada pula para ahli yang membedakan kedua terminology di atas. Pihak yang dibebankan untuk membuktikan kesalahan itu ada pada si penumpang. ada pandangan yang agak mirip. 40 Tahun 1995 tentang Angkutan Udara. Pada tanggung jawab mutlak . dalam Pasal 44 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. Selain itu. Dalam hal ini. khususnya produsen barang. “prinsip praduga untuk tidak selalu bertanggungjawab” ini tidak lagi diterapkan secara mutlak. Menerapkan tanggung jawab mutlak Variasi yang sedikit berbeda dalam penerapan tanggung jawab mutlak terletak pada risk liability. Prinsip tanggung jawab mutlak dalam hukum perlindungan konsumen secara umum digunakan untuk “menjerat” pelaku usaha. yang memasarkan produknya yang merugikan konsumen. misalnya keadaan force majeur. 4. Ada unsure kelalaaiaan. bagasi kabin/bagasi tangan tetap dapat dimintakan pertanggungjawaban sepanjang bukti kesalahan pihak pengangkut (pelaku usaha) dapat ditunjukkan. misalnya khasiat yang timbul tidak sesuai dengan janji yang tertera dalam kemasan produk B. Menurut asas ini. Gugatan product liability dapat dilakukan berdasarkan tiga hal : A. Prinsip Tanggung Jawab Mutlak Prinsip tanggung jawab mutlak sering diidentikkan dengan prinsip tanggung jawab absolut.

8 Tahun 1999 seharusnya pelaku usaha tidak boleh secara sepihak menentukan klausul yang merugikan konsumen. ditentukan bila film yang ingin dicetak itu hilang atau rusak (termasuk akibat kesalahan petugas). Selebihnya dapat digunakan prinsip strict liability. pembentukan hukum nasional yang baru perlu memperhatikan dimensi internasional. Dalam UU No. tujuan utama dari dunia memperkenalkan product liability adalah : a. \ Prinsip tanggung jawab ini sangat merugikan konsumen bila ditetapkan secara sepihak oleh pelaku usaha. 5.(produsen) dan kerugian yang dideritanya. Agar terdapat pembebanan resiko yang adil antara produsen dan konsumen . Dengan lembaga ini produsen yang pada awalnya menerapkan strategi prosuct oriented dalam pemasaran produknya harus mengubah strateginya menjaddi consumer oriented. yang ditandai dengan saling ketergantungan antara Negara satu dengan Negara lainny. prodct liability lahir karena ketidakseimbangan tanggung jawab antara produsen dan konsumen. Salah satu lembaga hukum yang berdimensi internasional yang perlu diperhatikan dalam revisi maupun pembentukan hukum ekonomi nasional adalah tanggung jawab produk ( product liability). b. maka konsumen hanya dibatasi ganti kerugiannya sebesar sepuluh kali harga saru rol film baru. Apalagi dalam era globlalisasi seperti sekarang ini. Menurut Johannes Gunawan. Secara historis. Memberi perlindungan kepada konsumen b. Dalam perjanjian cuci cetak film misalnya. khususnya hukum ekonomi dalam perkembangan dewasa ini sangatlah mendesak. Prinsip Tanggung Jawab denagn Pembatasan Prinsip tanggung jawab dengan pembatasan sangat disenangi oleh pelaku usaha untuk dicantumkan sebagai klausul eksonerasi dalam perjanjian standar yang dibuatnya. termasuk membatasi maksimal tanggung jawabnya. Produsen harus berhai-hati denagn produknya. karena tanggung jawab dalam product. Jika ada pembatasan mutlak harus berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang jelas. Adalah fakta bahwa terdapat ketentuan-ketentuan yang baik yang berasal dari legal culture bangsa lain ataupun konvensi-konvensi internasional yang dapat dimanfaatkan dalam rangka modernisasi hukum nasional. Indonesia dituntut memebentuk hukum nasional yang harus mampu berperan dalam memperlancar lalu lintas hukum ditingkat international. product liability Kebutuhan-kebutuhan akan reformasi hukum.

Zile: Product liability denotes the civil liability of developers. Pengertian product liability dapat ditemukan pada beberapa sumber berikut. Pengertian Product Liability Istilah product liability diterjemahkan secara bervariasi kedalam bahasa Indonesia seperti “tanggung gugat produk” atau juga “tanggung jawab produk”. and even bystanders. termasuk para pengusaha bengkel dan pergudangan. Henry Campbell dalam Black’s Law Dictionary mendefinisikan prouct liability sebaagi berikut : Refers to the legal liability of manufacturers and sellers to compensate buyers.1. dapat dikrmukakan secara singkat sebagai berikut: 1.dengan memperbesar saving. Adapun cirri-ciri dari product liability dengan mengambil pengalaman dari masyarakat eropa dan terutama Negeri Belanda. Pengertian lain dikemukakan oleh zigurds L. Bahkan dilihat dari konvensi tentang product liability diperluas terhadap orang/badan yang terlibat dalam rangkaian komersial tentang persiapan atau penyebaran dari produk.    Yang dapat dikualifikasikan sebagai produsen adalah Pembuat produk jadi Penghasil bahan baku Pembuat suku cadang . dan optimalisasi penumpukan dan pemanfaatan capital. for damages or injuries suffered because of defect in good purchase.Toar memberikan pengertian product liability sebagai : Tanggung jawab para produsen untuk produk yang telah dibawanya kedalam peredaran yang menimbulkan/menyebabkan kerugian karena cacat yang melekat pada produk tersebut. users. sementara capital output ratio ditekan serendah-rendahnya. makers and distributors of products for harm the products have caused to other. Orientasi kegiatan terarah kepada mekanisme pasar. Product liability adalah suatu tanggung jawab secara hukum dari orang atau badan yang menghasilkan suatu produk atau dari badan yang bergerak dalam suatu proses untuk menghasilkan suatu produk atau badan yang menjual produk tersebut. Adapun Agnes M.

Yang dapat dikualifikasikan sebagai konsumen adalah konsumen akhir. 4. Produk dikualifikasi sebagai menganduung kerusakan apabila produk itu tidak memenuhi keamanan yang dapat diharapkan oleh seseorang dengan mempertimbangkan semua aspek. pada produk tertentu  Importer suatu produk dengan maksud untuk diperjualbelikan. dengan pengecualian produk-produk pertanian dan perburuan. baik kerugian badaniah. Setiap orang yang menampakkan dirinya sebagai produsen dengan jalan mencantumkan namanya. kematian atau harta benda. sekalipun benda bergerak tersebut telah menjadi komponen/bagian dari benda bergerak atau benda tetap lain. c. 3. adalah: Setiap produk yang tidak dapat memenuhi tujuan pemuatannya baik karena kesengajaan atau kealpaan dalam proses produksinya maupun disebabkan hal-hal lainyang terjadi dalam peredarannya. Yang dapat dikualifikasikan sebagai produk adalah benda bergerak. listrik. Apakah yang dimaksud dengan produk cacat di Indonesia?. b. . dalam hal identitas dari produsen atau importer tidak dapat ditentukan 2. tanda pengenal tertentu. sebagaimana diharpkan orang. Penampilan produk Maksud penggunaan produk Saat ketika produk ditempatkan dipasaran Tangggung jawab tersebut sehubungan dengan produk yang cacat/rusak sehingga menyebabkan atau turut menyebabkan kerugian bagi pihak lain (konsumen). Definisi produk cacat menurut Emma Suratman. atau bentuk distribusi lain dalam transaksi perdagangan  Pemasok. disewagunakan. Yang dapat dikualifikasikan sebagai kerugian adalah kerugian pada manusia dan keugian pada harta benda. atau tidak menyediakan syarat-syarat keamanan bagi manusia atau harta benda dalam penggunaannya. antara lain: a. selain dari produk yang bersangkutan 5. atau tanda lain yang membedakan dengan produk asli. disewakan.

3. sebab kalau desain produk itu dipenuhi sebagaimana mestinya. 2). seperti importir produk. tidaklah kejadian merugikan konsumen tersebut dapat terjadi. Produk yang tidak memuat peringatan tertentu sebagaimana diutarakan diatas. 2. Cacat-cacat demikian dapat pula termasuk cacat desain. Atau dapat pula peringatan agar dalam penggunaannya harus menggunakan voltase listrik tertentu. Jadi. larangan memakai kendaraan. atau pedagang pengecernya. atau pengguna yang biasa meminum minuman keras melebihi ukuran tertentu harus meminta nasehat dokter. saus tomat tidak terbuat dari labu siam sitambah dengan zat pewarna. tanpa kesalah dari pihaknya. Perkembangan ini sebenarnya dipicu juga oleh tujuan yang ingin dicapai doktrin ini. b. Akan tetapi disamping produsen. yaitu: a. yang tanggung jawabnya secara tegas dibebankan pada produsen dari produk yang bersangkutan. tanggung jawab produk cacat ini berbeda dari tanggung jawab pelaku usaha produk pada umumnya.Dari batasan ini terlihat bahwa pihak yang bertanggung jawab adalah pelaku usaha pembuat produk tersebut (produsen). Atau dapat pula cacat itu demikian rupa sehingga dapat membahayakan harta bendanya. beban tanggung jawab itu dapat pula diletakkan diatas pundak pelaku usaha lainnya. Suatu produk dapat disebut pembuatannya) karena: 1. Cacat peringatan atau intruksi Cacat peringatan ini adalah cacat produk karena tidak dilengkapi dengan peringatan-peringatan tertentu atau intruksi penggunaan tertentu. seperti juga tepung gandum tidak berisi potongan-potongan kecil besi. Misalnya peringatan produk harus disimpan pada suhu kamar atau suhu lemari pendingin (makanan dalam kemasan). distributor. bermotor selama menggunakannya. Misalnya. Tanggung jawab produk cacat terletak pada tanggung . kesehatan tubuh atau jiwa konsumen. termasuk produk cacat. dan sebagainya. dengan syarat-syarat tertentu. Menyediakan sarana hukum ganti rugi bagi (korban) produk cacat yang tidak dapat dihindari. Cacat produk Cacat produk adalah keadaan produk yang umumnya berada dibawah tingkat harapan konsumen. Menekan lebih rendah tingkat kecelakaan karena produk cacat tersebut. cacat (tidak dapat memenuhi tujuan Cacat produk atau manufaktur Cacat desain Cacat peringatan atau cacat 1). setiap orang mengharapkan air minum dalam botol tidak berisi butir-butir pasir.

konsumen menjadi korban masih harus membuktikan ketiga unsure lainnya. Dari perkembangan product liability di berbagai Negara.baik untuk seluruhnya atau untuk sebagian. Namun demikian. Karena produsen dianggap bersalah.konsumen jelas sangat diringankan dari beban untuk membuktikan kesalahan produsen. Jika produsen tidak mengedarkan produknya (put into circulation). dapat dikemukakan bahwa product liability merupakan lembaga hukum yang tetap menggunakan kontruksi hukum tort (perbuatan melawan hukum).yaitu perbuatan produsen adalah perbuatan melawan hukum dengan kerugian dan hubungan kausal antara perbuatan melawan hukum dengan kerugian yang timbul.yang relative sangat sukar.pihak produsen dapat membebaskan diri dari tanggung jawabnya. b. Karena produsen sudah dianngap bersalah.seperti yang dianut didalam tort.maka konsumen yang menjadi korban tidak perlu lagi membuktikan unsure kesalahan produsen. c.Dalam hal ini beban pembuktian justru dialihkan (shifting the burden of proof) kepada pihak produsen . Modifikasi tersebuut adalah : Produsen langsung dianggap bersalah jika terjadi kasus product liability.atau terjadinya cacat tersebut baru timbul kemudian. Cacat yang menyebabkan kerugian tersebut tidak ada pada saat produk diedarkan oleh produsen. 1.konsenkuensinya ia harus bertanggung jawab (liable) untuk memberi ganti rugi secara langsung kepada pihak konsumen yang menderita kerugian.jenis tanggung jawab (liability) semacam ini disebut no fault liability atau strict liability. orang lain atau barang lain. Bahwa terjadinya cacat pada produk tersebut akibat keharusan yang dikeluarkan oleh pemerintah. 2. .karena karakter dasar dari product liability adalah tort.jawab cacatnya produk berakibat pada orang. Sedang tanggung jawab pelaku usaha karena perbuatan melawan hukum adalah tanggung jawab atas rusaknya atau tidak berfungsinya produk itu sendiri. Dengan beberapa modifikasi.sehingga didalamnya dianut prinsip praduga bersalah (presumption of fault) berbeda dengan praduga tidak bersalah (presumption of no fault)yang dianut oleh tort. Bahwa produk tersebut tidak dibuat oleh produsen baik untuk dijual atau diedarkan untuk tujuan ekonomis maupun dibuat atau diedarkan dalam rangka bisnis. Meskipun system tanggung jawab dalam product liability berlaku prinsip strict liability. d.untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan kesalahan yang menimbulkan kerugian kepada konsumen. 3.Dilihat dari segi ini.Hal-hal yang dapat membebaskan tanggung jawab produsen tersebut adalah a.

Produk Liability di Indonesia Seperti telah dikemukakan pada pendahuluan.e.Produuk-produk yang dihasilkan industry itu ditunjukkan baik untuk memenuhi keperluan dalam negeri maupun untuk keperluan ekspor.penguasaan ilmu dan teknologi.state of art defense) pada saat produk tersebut diedarkan tidak mungkin terjadi cacat. 3. Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud ada ayat pada ayat (1) dan ayat (2) tidak mengharuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasarkan pembuktian lebih jelas mengenai adanya unsure kesalahan. 1. Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang atau penggantian barang dan jasa yang sejenis atau setara nilainya atau perawatan kesehatan dan atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Indonesia sedang menuju era industrialisasi.menunjukkan luuasnya kepentingan konsumen yang dapat dijangkau oleh lembaga hukum ini.dan atau kerugian konsumen akibat mengonsumsi barang dan atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan. Dari cakupan product liability tesebut. Bahwa secara ilmiah dan teknis (state of scientic and technical knowledge. .pencemaran .Devisa yang dihasilkan sangat diperlukan bagi keperluan impor produk-produk yang tidak dapat dihasilkan didalam negeri.khususnya tentang produk liability atau tanggung jawab produsen. persaingan yang lebih berkualitas.dapat terlindungan karena dapat diketahui apa yang dapat dituntut dan kepada siapa tuntutan itu harus ditunjukkan.Dari pengertian produk dan produsen yang begitu luas. 2.dijelaskan sebagai berikut : Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan. 4.Masalah produk liability ini erat kaitannya dengan masalah persaingan dalam era perdagangan bebas maupun dengan makin meningkatnya perhatian terhadap perlindungan konsumen.mengatisipasi tuntutan akan barang dan jasa yang lebih berkualitas.mulai dari penyediaan sumber daya manusia yang berkualitas. 2. Dalam memasuki era industrialisasi tersebut berbagai hal perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh. Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal transaksi. Undang-undang No.persaingan yang lebih ketat baik didalam maupun diluar negeri dari sebagai akibat globasasi dan perdagangan bebas dan sebagainya.8 Tahun 1999 telah menggunakan prinsip semi-strict liability sebagaimana yang diatur dalam pasal 19 Bab IV tentang Tanggung Jawab Pelaku Usaha.Inti masalahnya terletak pada kulitas produk yang dihasilkan.Hal penting lain yang perlu mendapat perhatian serius dalam era industrialisasi adalah bidang hukum.

5. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku apabila pelaku usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen. Dalam juga,pasal 20 yang berbunyi bahwa pelaku usaha periklanan bertanggung jawab atas iklan yang diproduksi dan segala akibat yang ditimbulkan oleh iklan tersebut.Disamping itu,tanggung gugat juga diberlakukan bagi importir barang atau jasa sebagai pembuat barang yang diimpor atau sebagia penyedia jasa asing jika importasi barang tersebut atau penyediaan jasa asing tersebut tidak dilakukan oleh agen atau perwakilan produsen luar negeri atau perwakilan produsen luar negeri atau perwakilan penyedia jasa asing. Selain itu,dalam pasal 28 dinyatakan bahwa pembuktian terhadap ada tidaknya unsure kesalahan dalam gugatan ganti rugi merupakan beban dan tanggung jawab pelaku usaha.Hal ini berarti berlaku system pembuktian terbalik,baik dalam perkara pidana maupun perkara perdata,sesuatu yang menyimpang dari hukum acara biasa.Didalam hukum acara pidana,beban pembuktian terletak pada jaksa (penuntut umum),sedangkan didalam hukum acara perdata baik berdasarkan pasal 163 Herziene Inlands Reglement (HIR),pasal 383 Reglement buitengewesten (RBg),maupun pasal 1865 BW,beban pembuktian diletakkan pada penguggat. Berdasarkan system hukum yang ada kedudukan konsumen sangat lemah dibanding produsen.Salah satu usaha untuk melindungi dan menibgkatkan kedududkan konsumen adalah dengan menerapkan prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability ) dalam hukum tentang tanggung jawab produsen.Dengan diberlakukannya prinsip tanggung jawab mutlak diharpkan pula para produsen/industrawan Indonesia menyadari betapa pentingnya menjaga kwlaitas produk – produk yangt telah dihasilkannya,sebab bil tidak selain akan merugikan konsumen juga akan sangat besar resiko yang harus ditanngungnya.Para produsen akan llebih berhati-hati dalam memproduksi sebelum dilempar ke pasaran sehinnga para konsumen,baik dalam maupun luar negeri tidak akan ragu-ragu membeli barang produksi Indonesia.Demlian juga bila kesadaran oara produsen /industriawan terhadap hukum tentang tanggung jawab produsen tidak ada,dikhawatirkan akan berakibat tidak baik terhadap perkembangan/eksitensi dunia industry nasional maupun ada daya saing produk nasional terutama diluar negeri. Penerapan prinsip tanggung jawab mutlak di Indonesia meliputi 3 bagian penting.Pertama factor-faktor eksternal hukum yang mempengaruhi perkenbangan dan pembaharuan hukum perlindungan konsumen teramsuk penerapan prinsip tanggung jawab mutlak.Kedua,factor internal system hukum yaitu elemen struktur dan budaya hukum ddalam rangka penerapan prinsip tanggung jawab mutlak di Indonesia.Ketiga,adalah ruang lingkup materi atau substansi dari prinsip tanggung jawab mutlak yang perlu diatur dalam undang-undang. Namun demikian,dengan memberlakukan prinsip strict liability dalam hukum tentang product liability tidak berarti pihak produsen tidak mendapat perlindungan.Pihak produsen masih diberi kesempatan untuk membebaskan diri dari tanggung jawabnya dalam hal – hal tertentu yang dinyatakan dalam undngundang.Disamping itu,pihak produsen juga dapat mengasuransikan tanggung jawabnya sehingga secara ekonomis dia tida mengalami kerugian yang berarti.

Konsekuensinya dari pembalikan beban pembuktian adalah tergugat wajib membuktikan ketidaksalahannya.Apabila tergugat tidak dapat membuktikan ketidaksalahanya,maka tergugat harus dikalahkan karena apa yang didalihkan oleh penggugat terbukti.Dalam perkara pidana,juga berlaku hal sama,bahwa apabila tersangka tidak dapat membuktikan ketidaksalahannya,ia harus dintakan terbukti melakukan tindak pidana yang disangkakan kepadanya.Akan tetapi,Undang-undang No.8 Tahun 1999 tentangg perlindungan Konsumen juga membebaskan pelaku usaha untuk memberikan ganti rugi apabila pelaku usaha dapat membuktikan kalau kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen(pasal 19 ayat (5)).Selain itu,pelaku usaha yang memproduksi barang dibebaskan dari tanggung jawab atas kerugian yang diderita konsumen apabila : a. Barang tersebut terbukti seharusnya tidak diedarkan atau tidak dimaksudkan untuk diedarkan; b. c. d. Cacat barang timbul pada kemudian hari; Cacat timbul akibat ditaatinya ketentuan mengenai kulifikasi barang; Kelalaianyang diperjanjikan yang diakibatkan oleh konsumen; 4 tahun sejak barang dibeli\ atau

e. Lewatnya waktu pennututan lewatnya jangka waktu (pasal 27).

Adapun system beban pembuktian terbalik juga digunakan jika kasus perlindungan konsumen diangkat sebagai kasus pidana.Hali ini berarti meskipun ganti rugi telah diberikan namun tidak menghapus kemungkinan adanya tuntutan piadana berdasrkan pembuktian lebih lanjut mengenai adanya unsure kesalahan ini digunakan system beban pembutian terbalik.Pasal 22,menegaskan bahwa pembuktian terhadap ada tidaknya unsure kesalahan dalam kasus pidana merupakan beban dan tanggung jawab pelaku usaha tanpa menutup kemungkinan bagi jaksa untuk melakukan pembuktian.

c. PENYALAHGUNAAN KEADAAN VAN OMSTANDIGHEDEN)

(MISBRUIK

“penyalahgunaan keadaan” menguraikan penerapan lembaga ini dalam sengketa transaksi konsumen yang akan direkomendsikan untuk diterima menjadi salah satu prinsip penting dalam hukum Indonesia. Perkjanjian merupakan salah satu sumber perkitan yang dapat dikatakan sebagai sumber formal hukum yang utama dalam transaksi konsumen.Salah satu isu pokok dalam transakssi konsumen misalnya terkait dengan keberadaan perjanjian standar (baku) yang oleh banyak pihak dinilai menggerototi hak kebebasan berkontrak dari pihak konsumen. Secara klasik sebagiamana dimuat dalam kitab undang-undang Hukum Perdata,salah satu asas penting dalam perjanjian adalah prinsip kebebasan

berkonrak.Asas ini pertama kali dapat disimpulkan dari pasal 1320 Kitab UndangUndang Hukum Perdata,yang menetapkan empat syarat sah suatu perjanjian, yakni : 1. 2. 3. 4. Kesepakatan kedua belah pihak Kecakapan Suatu pokok persoalan tertentu Suatu sebab yang halal dengan syarat subjektif, sedangkan dua objektif. Menurut Subekti, pelanggaran itu terancam untuk dapat dimintakan objektif tidak dipenuhi, perjanjian itu

Dua syarat yang pertama berkaitan syarat terakhir berhubungan dengan syarat syarat subjektif menyebabkan perjanjian pembatalannya. Di sisi lain, bila syarat terancam batal demi hukum.

Pasal 1321 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menebutkan tiga alas an untuk melakukan pembatalan perjanjian, yakni : 1. 2. 3. Kekhilafan atau kesesatan Paksaaan Penipuan

Tiga alasan warisan hukum colonial belanda itu tetap berlaku sampai sekarang, sekalipun di negeri Belanda terjadi satu perkembangan yang sangant berarti, khususnya dipandang dari sudut hukum perlindungan konsumen. Kemajuan dimaksud adalah dimasukkannya alasan keempat, yaitu penyalahgunaan keadaan. Keempat alasan itu dicantumkan dalam Buku III Pasal 44 ayat (1) Kitab UndangUndang Hukum Perdata belanda yang baru. Penyalahgunaan keadaan berkaitan dengan kondisi yang ada pada saat kesepakatan terjadi. Kondisi itu membuat ada salah satu pihak berada dalam keadaan tidak bebas untuk menyatakan kehendaknya. Itu sebabnya, ada ahli yang berpendapat penyalahgunaan keadaan ini sebagai salah satu bentuk dari cacat kehendak juga. Satu hal yang harus diingat, penyalahgunaan keadaan sejak semula tidak dapat dianggap sebagai hal yang dapat dibenarkan oleh hukum. Sebenarnya, penyalahgunaan keadaan sejak dulu dimasukkan sebagai keadaan yang bertentangan dengan ketertiban umum atau kebiasaan yang baik. atas dasar itu, suatu perjanjian dapat dinyatakan tidak berlaku, baik seluruhnya maupun bagian tertentu saja. Dengan demikian, ada anggapan “sebab” yang terlarang sama dengan “isi” perjanjian yang tidak di benarkan. Padahal, penyalahgunaan tidak semata-mata berkaitan dengan “isi” perjanjian. Isinya mungkin tidak terlarang, tetapi ada sesuatu yang lain, yang terjadi pada saat lahirnya perjanjian, yang menimbulkan kerugian pada salah satu pihak. Inilah yang dinamakan “penyalahgunaan keadaan”. Menurut Van Dunne, penyalahgunaan keadaan terjadi karena ada dua unsur, yaiitu kerugian bagi salah satu pihak dan penyalahgunaan kesempatan oleh pihak lain.

Kerugian yang sangat besar dari salah satu pihak. pembebasan majikan dari resiko dan menggesernya menjadi tanggungan si buruh 6. suami dan istri. Sebagai contoh. kesulitan keuangan yang mendesak 3. memang belum diadopsi ke dalam Kitab undang-Undang Hukum Perdata (eks Kolonial Belanda) yang tetap berlaku di Indonesia. yaitu ada keunggulan pada salah satu pihak. seperti segala sesuatu yang menyebabkan orang pada posisi tidak menguntungkan. Pada keunggulan psikologis. dan 2. Salah satu pihak menyalahgunakan keadaan pihak lain untuk kepentingannya. Di lain pihak.Dari unsure yang kedua itu. Karena keadaan. misalnya yang bersangkutan belum berpengalaman. sering pelaku usaha secara sistematis memasang iklan di media massa untuk menggiring psikologi konsumen agar berperilaku konsumtif. boleh jadi ketergantungan ekonomis itu tidak ada. Jelas sekali. Pada waktu menutup perjanjian. karena ia sudah sangat membutuhkan rumah tinggal yang layak dan pemerintah tidak menyediakan fasilitas perbankan yang lebih ringan daripada itu. keunggulan ekonomis pada salah satu pihak. konsumen perumahan sering terdesak nutuk menyetujui suatu perjanjian kredit dengan bank berdasarkan system bunga fluktuatif yang sangat tidak menguntungkan. Walaupun demikian. Factor kerugian disini tidak harus berwujud kerugian materiil. tetapi salah satu pihak mendominasi secara kejiwaan. dan kurang informasi. kurang jelas.”penyalahgunaan keadaan” ini sanagat relevan untuk disinggung dalam kaitannay dengan persengketaan transaksi konsumen. seperti pasien membutuhkan pertolongan dokter ahli 5. Adanya ketergantungan relatif (misalnya antara orang tua dan anak. tetapi dapat meliputi kerugian”subjektif”. Kondisi ini tercipta karena : 1. gegabah.timbul sifat perbuatan. orang tua/wali-anak belum dewasa 4. Melengkapi pandangan Dunne. hubungan majikan-buruh. Keunggulan ekonomis dan psikologis dari si pelaku usaha sering sangat dominan sehingga mempengaruhi konsumen untuk memutuskan kehendaknya secara rasional. dokter dan pasien. sebagai berikut : 1. Keadaan yang dimaksud disebabkan. Karena keadaan ekonomis.J.Satrio menambahkan lagi enam factor yang dapat dianggap sebagai cirri dari penyalahgunaan keadaan. yang bersifat ekonomis/psikologis. ketiadaan pengaturan itu tidak . Perjanjian itu mengandung hubungan yang timpang dalam kewajiban timbale balik antara para pihak (prestasi yang tak seimbang). salah satu pihak ada dalam keadaan terjepit 2. pendeta dan jemaatnya). Keunggulan ekonomis terjadi bila posisi kemampuan ekonomi kedua belah pihak tidak seimbang sehingga salah satu tergantung pada yang lain. Persoalannya “ penyalahgunaan keadaan”. Karena hubungan atasan-bawahan.

daerah.”penyalahgunaan keadaan” tidak dapat diterapkan dalam penyelesaian kasuskasus perdata di Indonesia. dijelaskan. yaitu asas : 1. 3431K/Pdt/1985.berarti. Henry P. . 4. dalam asas keseimbangan disebutkan. 2. dalam kaitannya dengan perjanjian standar yang banyak sekali dibuat oleh para pelaku usaha dewasa ini. salah satu hak konsumen adalah hak untuk diperlakukan atatu dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif. kaya. Pesan ini tampaknya perlu juga diperhatikan oleh lembaga legislatif kita. pelaku usaha. agama. dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak dua miliar rupiah. budaya. Van Dunne melihat. Putusan itu termuat dalam putusan MA No. Selanjutnya dalam hubungannya dengan perjanjian standar. Penjelasan Pasal 2 UUPK menyebutkan adanya lima asas perlindungan konsumen. UUPK sendiri secara umum membuka kemungkinan pengajuan gugatan oleh konsumen kepada pelaku usaha berdasarkan factor penyalahgunaan keadaan ini. perlu “campur tangan” pembentuk undang-undang untuk melindungi kepentingan konsumen. yang dalam konsiderannya memuat pertimbangan “penyalahgunaan keadaan” oleh salah satu pihak. Pasal 4 huruf g UUPK menyebutkan pula. setiap konsumen memiliki hak untuk dilakukan atau di layani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif berdasarkan suku. 3. Kemudian. pendidikan. Penjelasan dari ketentuan tersebut secara jelas dapat ditafsirkan sebagai keterkaitan dengan larangan “penyalahgunaan keadaan”. Manfaat Keadilan Keseimbangan Keamanan dan keselamatan Kepastian hukum Pada asas keadilan. Pangabean. seluruh rakyat diupayakan agar dapat berpartisipasi semaksimal mungkin dan agar diberi kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannnya secara adil. Pasal 15 UUPK bahkan secara tegas mengatakan. pelaku usaha dalam menawarkan barang atau jasa dilarang melakukan dengan cara pemksaan atau cara lain yang dapat menimbulkan gangguan baik fisik maupun psikis terhadap konsumen. dan pemerintah dalam arti materiil dan spiritual. dan status social lainnya. 28 Januari 1984. 1904K/Sip 1982. Dalam ketentuan itu dikatakan. sebaiknya penerapan ajaran “penyalahgunaan keadaan” ini tidak sepenuhnya diserahkan pada hakim. Pelanggaran terhadap kedua paasl di atas merupakan tindak pidana menurut ketentuan Pasal 62 UUPK. Artinya. perlu diberi keseimbangan antara kepentingan konsumen. miskin. Pasal 18 UUPK meletakkan hak-hak yang setara antara konsumen dan pelaku usaha bedasarkan prinsip kebebasan berkontrak. 4 Maret 1987 dan Putusan No. 5. misalnya menyebutkan ada putusan hakim yang dapat dianggap sebagai yuris-prudensi.

Praktik peradilan kita yang tidak sederhana. cepat. kalau perlu penyelesaian melalui jalur hukum.secara sosiologis. karena tidak konsistennya badan peradilan kita atas putusanputusannya. sebagian besar konsumen Indonesia enggan berperkara ke pengadilan. Keengganan konsumen Indonesia ini disamping disebabkan oleh ketidak kritisan mereka.d. Mereka telah terbiasa mempertanyakan produk-produk yang dikonsumsinya. Kedua. Masuk nya barang dan jasa impor ke Indonesia bukannya tanpa permasalahan. Belum dapat diterapkannya norma-norma perlindungan di Indonesia. Paling tidak ada 3 penyebab yang dapat dikategorikan sabagai hambatan-hambatan dalam perdagangan bebas. bagaimana mekanisme penyelesaiannya yang sederhana. “keengganan” ini akan sangat berbeda jka dibandingkan dengan konsumen-konsumen di Negara-negara peserta perdagangan bebas lainnya. Sering terjadi perbedaan-perbedaan putusan pengadilan dalam kasus serupa. tetapi pada tataran paktik dan kenyataannya tidak mudah dilakukan karena berbagai sebab yang bersifat yuris-politis-sosiologis. bila tidak distigma antiworld trade organization (WTO). juga lebih banyak didasarkan pada : a. Secara yuridis muncul pula masalah benturan system hukum antara Indonesia dengan Negara-negara lain. seperti Amerika Serikat. Bagaimana dengan kasus-kasus konsumen pada era perdagangan bebas yang bersuasana internasional. padahal telah sangat dirugikan oleh pengusaha. Secara teoritis itu dapat saja diselesaikan. Kalaupun hukum digunakan untuk menjangkaunya itu pum hanya sebatas kepada mereka yang menjadi tumbal space-goal tarik-menarik kepentingan tersebut. bila perundang-undangan Indonesia bertentangan dengan ketentuan (WTO). Masih banyak makanan impor yang diketahui dengan jelas siapa distributornya di Indonesia. termasuk akses kepada pengambil keputusan. . dan biaya ringan c. Permasalahan muncul jika ada pengaduan konsumen atas barang dan jasa impor tersebut. dalam hal ini Undang-Undang No. sehingga diperlukan waktu sosialisasi pemberlakuannya selama 1 tahun b. Dalam kasu berskala nasional saja pengadilan belum mampu bessikap konsisten. Pertama. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Sikap menghindari konflik meskipun hak-haknya sebagai konsumen dilanggar pengusaha. Norma-norma perlindungan konsumen Era perdagangan bebas menghendaki bahwa semua barang dan jasa yang berasal dari Negara lain harus dapat masuk ke Indonesia. hal ini berada diluar jangkauan hukum. Yaitu. Ketiga. Inggris. dan lain-lain. yang relative masih baru. Ketidakjelasan ini menyulitkan konsumen bila ia mengalami kerugian akibat produk barang atau jasa tersebut. tarik-menarik berbagai kepentingan diantara para pelaku ekonomi yang memiliki akses kuat diberbagai bidang. cepat dan biaya ringan.

meskipun pembangunan hukum dan ekonominya masih tertinggal jika dibandingkan dengan Negara-negara ASEAN lainnya. e. dunia usaha dipacu untuk meningkatkan kualitas produk barang dan jasa sehingga produknya memilki keunggulan kompetitif di dalam dan diluar negeri. perdagangan. dan pengusaha kecil tidak masuk akal. Adapun kepentingan konsumen menurut Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa No. sebagai berikut : a. Sementara itu. Pendidikan konsumen Tersedianya upaya ganti rugi yang efektif f. hendaknya dapat memprakarsai harmonisasi hukum di kawasan ASEAN. b. Kekhawatiran adanya UndangUndang Perlindungan Konsumen bias menghancurkan perkembangan industry. 39/248 tentang Guidelines for Consumer Protection. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen) dalam tata hukum kita. Adanya Undang-Undang Perlindungan Konsumen memberikan dampak ekonomi yang positif bagi dunia usaha. Idealnya doktrin product liability sebagai salah satu norma perlindungan konsumen. Kebebasan untuk membentuk organisasi konsumen atau organisasi lainnya yang relevan dan memberikan kesempatan kepada organisasi tersebut untuk menyuarakan pendapatnya dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan mereka. hakikat perlindungan konsumen menyiratkan keberpihakan kepada kepentingan-kepentingan (hukum) konsumen. sampai saat ini tidak bangkit. Apa yang telah dilakukan EEC (Masyarakat Ekonomi Eropa/MEE) pada \bulan juli 1985 dengan . dituangkan dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen. dalam perspektif perlindungan konsumen. Promosi dan perlindungan kepentingan social ekonomi konsumen c. Perlindungan konsumen dari bahaya-bahaya terhadap kesehatan dan keamanannya. Indonesia sebagai salah satu Negara terkemuka di ASEAN. bahkan tergilas sepak terjang konglomerat yang menggurita. Dari pada itu. hukum positif yang ada tidak jelas arah dan tujuannya bila digunakan sebagai instrument hukum dalam melindungi kepentingan (hukum) konsumen.Terlampau dini bagi kita untuk memberikan penilaian efektif tidaknya normanorma perlindungan konsumen yang integral (Undang-Undang No. karena norma-norma ini masih dalam taraf sosialisasi selama setahun sejak diundangkan pada tanggal 20 April 1999 yang lalu. Tersedianya informasi yang memadai bagi konsumen untuk memberikan kemampuan mereka melakukan pilihan yang tepat sesuai kehendak dan kebutuhan pribadi d. Yakni. Butir (a) kepentingan konsumen tersebut dapat direalisasi melalui penerapan doktrin product liability kedalam doktrin perbuatan melawan hukum (tort). khususnya menyangkut product liability. Pengusaha kecil yang sudah ada pada awal munculnya isu perlindungan konsumen di Indonesia hamper ¼ abad yang lalu.

) tenaga ahli. Syarat diatas persis seperti yang juga berlaku untuk menjadi anggota badan penyelesaian . Sebaliknya.) akademisi dan (5. (3. dalam hal ini antara pengusaha dan konsumen. Berkelakuan baik 4. Mereka siap menghadapi produk-produk impor terutama dari Negara-negara berrkembang. Syarat – syarat keanggotaannya menurut pasal 37 UUPK adalah : 1. (4. sementara itu UndangUndang No. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan Konsumen masih dalam taraf sosialisasi. Berbadan sehat 3. BAB 6 PERANNYA LEMBAGA/INSTANSI KONSUMEN DAN DALAM PERLINDUNGAN A. kita baru memulai sosialisasi norma-norma perlindungan konsumen itu.) lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat.memberlakukan Directive Nomor 85/374/EEC on strict Product Liability di seluruh kawasan Eropa dapat dianggap sebagai salah satu tindakan harmonisasi hukum yang dilakukan Dewan Menteri Eropa. Dalam perspektif kebijakan pemerintah pada awalnya Pembangunan Jangka Panjang Kedua (PJP II) yang menekankan pada pemerataan pembangunan dan hasilhasilnya. Memiliki pengetahuan dan pengalaman dibidang perlindungan konsumen 6. Badan ini terdiri atas 15 orang sampai dengan 25 orang anggota yang mewakili unsure : (1. Masa jabatan mereka adalah 3 tahun. (2. Sebagai bahan perbandingan pada era perdagangan bebas Negara-negara peratifikasi keputusann-keputusan (WTO) sudah cukup lama memiliki perangkat Undang-Undaang Perlindungan Konsumen. BADAN PERLINDUNGAN KONSUMEN NASIONAL Dalam undang – undang No.) pelaku usaha. dan dapat di amanat kembali untuk satu kali masa jabatan berikutnya. Tidak pernah dihukum karena kejahatan 5.)Pemerintah. Keanggotaan badan perlindungan konsumen nasional / BPKN ini di angkat oleh presiden atas usulan menteri (bidang perdagangan) setelah dikonsultasikan kepada dewan perwakilan rakyat. Warga Negara Indonesia 2. Berusia sekurang – kurangnya 30 tahun.8 tahun 1999 tentang Hukum Perlindungan Konsumen disebutkan adanya Badan Perlindungan Konsumen Nasional. maka Pemerintah harus menangani kesenjangan ekonomi antarpelaku ekonomi. Kesenjangan tersebut tercipta dalam bentuk berbagai kenaikan harga barang dan jasa konsumen tanpa diikuti dengan daya beli dan kualitas produk yang memadai.

Menyebarluaskan informasi melalui media mengenai perlindungan konsumen dan memasyarakatkan sikap keberpihakan kepada konsumen 6. Menurut pasal 38 UUPK. Melakukan survei yang menyangkut kebutuhan konsumen Diluar BPKN yang independen. Bedanya adalah dalam UUPK. keanggotaan BPKN berhenti karena : 1. keanggotaan BPKN dicantumkan secara tegas batas masa jabatannya dan kapan yang bersangkutan dapat berhenti sebagai anggota. Sakit secara terus – menerus. Menerima pengaduan tentang perlindungan konsumen dari masyarakat. Berakhir masa jabatan sebagai anggota. Melakukan penelitiaan dan pengkajian terhadap peraturan perundangundangan yang berlaku dibidang perlindungan konsumen 3. Mengundurkan diri atas permintaan sendiri. (2) penelitian. pengkajian dan pengembangan. BPKN dapat membentuk perwakilan di Ibukota provonsi. Memberikan saran dan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka penyusunan kebijaksanaan di bidang perlindungan konsumen 2.Konsumen (pasal 49 UUPK). pemerintah c. dan (5) kerja sama internasional. 3. (4) pelayanan informasi. 5. dalam pasal 29 dan 30 UUPK diamanatkan. yaitu (1) administrasi dan keuangan. Bertempat tinggal diluar wilayah Negara Republik Indonesia. atau 6. lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. Fungsi BPKN ini hanya memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah dalam upaya mengembangkan perlindungan konsumen di Indonesia.q. Sekretariat ini paling tidak terdiri atas lima bidang. Diberhentikan. Melakukan penelitian terhadap barang dan jasa yang menyangkut keselamatan konsumen 4. Mendorong berkembang nya lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat 5. badan ini mempunyai tugas (pasal 34 UUPK) : 1. Untuk menjalankan fungsi tersebut. BPKN dibantu oleh suatu secretariat yang dipimpin oleh seorang secretariat yang diangkat oleh Ketua BPKN. Untuk melaksanakan tugas – tugasnya. Anturan demikian tidak disebutkan untuk keanggotaan badan penyelesaian sengketa konsumen. (3) pengaduan. BPKN berkedudukan di Jakarta dan bertanggung jawab langsung kepada presiden/ jika diperlukan. 4. 2. atau pelaku usaha 7. Meninggal dunia. menteri yang membidangi perdagangan ditugasi juga untuk mengkoordinasikan pembinaan dan pengawasan perlindungan konsumen secara .

LPKSM dan cabangnya di daerah harus mengontrol dengan sungguh – sungguh kelayakan produk barang yang dipasarkan melalui penyuluhan kepada masyarakat tentang tertib niaga dan hokum perlindungan konsumen agar mereka tidak terjebak tindakan pelaku usaha yang hanya memproriotaskan keuntungan dan mengorbakan masyarakat. sementara tim koordinasi yang di bentuk oleh menteri itu berfungsi memberikan rekomendasi berupa tindakan konkret atas setiap permasalahan yang timbul di lapangan. Pembinaan dan pengawasan yang lebih khusus dilakukan oleh menterimenteri teknis sesuai bidang tugas mereka. Hasil temuan LPKSM yang disampaikan masyarakat juga harus mendapat tindak lanjut dan . dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat (LPKSM). maka perlu keseriusan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) perlu memantau secara serius pelaku usaha/penjual yang hanya mengejar profit semata dengan mengabaikan kualitas produk barang. PENGERTIAN DAN PERAN LPKSM (LEMBAGA PERLINDUNGAN KONSUMEN SWADAYA MASYARAKAT) Kian ketatnya persaingan dalam merebut pangsa pasar melalui bermacam – macam produk barang. Oleh karena itu. minuman botol. Ketidaktahuan masyarakat dapat memberi peluang pelaku usaha atau penjual untuk membodohi masyarakat dengan produk yang tidak memenuhi standar. obat – obatan. ada perbedaan antara BPKN dan tim di atas. Menteri yang membidangi perdagangan iu berwenang membenuk tim koordinasi pengawasan barang dan jasa yang beredar di pasar. misalkan makanan kaleng. Dengan demikian. apalagi. unit pengaduan masyarakat perlu dibentuk sebagai sarana pengaduan masyarakat yang dirugikan dari produk barang yang digunakan. Hal ini disebabkan oleh masih banyaknya produk tidak bermutu yang palsu yang beredar bebas dimasyarakat. BPKN berfungsi memberikan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka penyusunan kebijakan di bidang perlindungan konsumen. seperti penghentian produksi atau peredaran barang/jasa yang dinilai melanggar peraturan yang berlaku. Problematika yang muncul dengan kehadiran LPKSM adalah dari fungsi serupa yang selama ini telah dijalankan oleh lembaga – lembaga konsumen sebelum berlakunya UUPK. Ada pandangan kehadiran LPKSM bentuk intervensi Negara terhadap kebebasan berserikat dan berkumpul dari kelompok masyarakat. Tim ini terdiri atas wakil instansi terkait. namun di sisi lain. ia diperlukan untuk memberikan jaminan accountability lembaga – lembaga konsumen tersebut.nasional. masyarakat. dan masih banyak lagi. B. masyarakat pedesaan yang belum memahami efek atau indikasi dari produk barang yang digunakan. sehingga kehadiran LPKSM ini betul – betul dirasakan manfaatnya pleh masyarakat. Selain itu. Fungsi tim pun hanya sebatas memberikan rekomendasi kepada menteri untuk melakukan tindakan konkret. LPKSM diharapkan sering melakukan advokasi melalui media masa agar masyarakat selektif serta hati – hati dalam membeli produk barang yang muncul deras dipasaran.

8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengatur tugas dan wewenang LPKSM sebagaimana tertuang dalam Pasal 44. Pengukuhan ini timbul atas desakan konsumen di Amerika pada tahun 1930-an yang sudah mulai mempertanyakan adanya ketidakadilan dalam memperoleh pelayanan. d. Konsumen mulai mempermaslahkan adanya ketidaksesuaian harga dengan mutu barang atau jasa serta keselamatan penggunaanya. c. Pemasaran barang dan jasa serta keselamatan penggunaannya. (3). bekerja sama dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan perlindungan konsumen. Berkaitan dengan implementasi perlindungan konsumen. Tugas lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat meliputi kegiatan : a. (2). Pemerintah mengakui lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat. C. yakni sebagai berikut : (1). Undang – Undang No. menyebarkan informasi dalam rangka meningkatkan kesadaran atas hak dan kewajiban dan kehati – hatian konsumen dalam mengonsumsi barang dan/atau jasa. termasuk menerima keluhan atau pengaduan konsumen. . Kennedy pada tahun 1962 mengukuhkan adanya hak – hak konsumen.penyelesaian secara tuntas. dan masyarakat terhadap PERAN SERTA YLKI (YAYASAN LEMBAGA KONSUMEN INDONESIA) DALAM PERLINDUNGAN KONSUMEN. Diharapkan pula kehadiran PLKSM bukan justru berpihak kepada pelaku usaha atau penjual dengan mengorbankan konsumen. melakukan pengawasan bersama pemerintah pelaksanaan perlindungan konsumen. baik jasa pelayanan yang disediakan oleh industry maupun pelayanan umum yang disediakan oleh pemerintah. membantu konsumen dalam memperjuangkan haknya. memberikan nasihat kepada konsumen yang memerlukannya . Munculnya gerakan “konsumerisme” dalam segala permasalahnnya kepermukaan masih relative baru. Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam mewujudkan perlindungan konsumen. Pemasaran barang dan jasa secara bebas dan canggih di Negara liberal itu telah menimbulakan mekanisme defensive di kalangan konsumen dan mulai terdapat ketidak percayaan akan informasi sepihak yang disampaikan para produsen. e. b. Kepopuleran dan paham konsumerisme ini baru mulai mendapat perhatian dunia bisnis maupun birokrasi sejak Presiden Amerika Serikat.

Keberadaan kelompok konsumen tentu saja berbeda dengan organisasi konsumen. dan lain – lain sering berakhir dengan kekecewaan. IMB. angkutan. Merekalah satu system bekerjanya. Pada dasarnya para aparatlah yang tahu apakah suatu pengurusan KTP misalnya. catatan sipil. Satu hal yang diperjuangkan guidelines itu adalah struktur kelompok – kelompok konsumen yang independen. mengandung pemahaman umum dan luas mengenai perangkat perlindungan konsumen yang asasi dan adil. Ada berbagai jenis layanan yang disediakan oleh Pemerintah. Keadaan ini mungkin akan diperburuk lagi dengan adanya pernyataan pemerintah sehingga siapa yang punya uang dialah yang mendapatkan pelayanan. Pada hakikatnya kelompok konsumen lebih merupakan pengelompokan .misalnya PLN dan pelayanan yang bersifat nonprofit seperti KTP. pelayanan yang bersifat profit misanya jasa telekomunikasi. dan angkutan transportasi. Semua ini dilakukan untuk memberikan pelayanan kepada konsumen dan memastikan konsumen dapat menggunakan fasilitas umum tersebut dengan biaya yang murah dan bahkan tanpa bayar. sampai saat ini kenyataannya masih banyak konsumen yang belum memperoleh kepuasan dalam menggunakan pelayanan public meskipun pemerintah telah berubah status menjadi penyedia jasa monopoli. tidaklah gratis. pelayanan yang bersifat monopoli. dan lain – lain. listrik. hal ini merupakan kemajuan yang sangat berarti di bidang perlindungan konsumen. jalan raya. Mereka sudah membayarnya melalui pajak. telepon. A/RES/39/248 tanggal 16 April 1985 tentang Perlindungan Konsumen. air minum. malah akan merugikan dirinya sendiri baik dari segi waktu dan tenaga.Di sisi lain Pemerintah dengan inisiatifnya sendiri memang sudah menyediakan pelayanan umum kepada masyarakat atau konsumen. pelayanan rumah sakit umum. Misalnya fasilitas kereta api. Hanya saja. dimana dinyatakan dalam paragraph pertama bahwa pemerintah – pemerintah berbagai Negara sepakat untuk memfasilitasi/mendukung pengembangan kelompok – kelompok konsumen (guidelines 1e). jauh sebelum upaya perlindungan konsumen ini ada. KTP. Dengan bangkitnya kesadaran konsumen ini tampaknya aparat pemerintah belum siap menerima tuntutan dan masyarakat baik dalam segi dana maupun SDMnya. Segala kemudahan akan segala diperoleh masyarakat jika uang pelicin tersedia. IMBm imigrasi. Sebagai anggota masyarakat yang telah membayar pajak yang mencoba untuk melawan dengan pelayanan yang diberikan. Berhubungan dengan hamper segala bentuk pelayanan yang disediakan oleh birokrasi pemerintah dalam kehidupan sehari – hari seperti PAM. The UN Guidelines for Consumer Protection yang diterima dengan suara bulat oleh Majelis Umum Perserikatan – Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) melalui Resolusi PBB No. Masyarakat hanya bisa pasrah. cepat atau lambat. tetapi sebenarnya konsumen dalam menggunakan pelayanan tersebut.

tapi lebih banyak yang tak terselesaikan. dengan hasil – hasil survey dan penelitian yang dilakukan. Pada beberapa tulisan yang ada di media massa disebutkan bahwa jika pelayanan birokrasi masih seperti sekarang. 1.konsumen pada berbagai sector. misalkan kelompok konsumen pemengang kartu kredit. 2. Walaupun demikian. Hasilnya. Artinya.? Sebagian dapat tercapai. Mereka tidak boleh menerima iklan – iklan untuk alasan – alasan komersial apa pun dalam publikasi – publikasi mereka. Indah sukmaningsih berpendapat bahwa bertahun – tahun Yayan Lembaga Konsumen Indonesia berusaha bekerja untuk membuat keadaan sedikit lebih menguntungkan kondisi konsumen. mengenai karateristik ini terdapat 6 (enam) kualifikasi kebebasan yang harus memiliki organisasi konsumen dan kelompok konsumen. . kelompok komsumen barang – barang elektronik. 6. Kemajuan perdagangan akan tidak adanya artinya jika diperoleh dengan cara – cara yang merugikan konsumen. Mereka harus nonprofit making dalam profil aktivitasnya. 3. keduanya memiliki tujuan yang sama. yaitu melayani dan meningkatkan martabat dan kepentingan konsumen. dan sebagainya. mencoba untuk mengubah keadaan melalui dialog dengan para pengambil keputusan dan juga membantu konsumen untuk memecahkan masalhnya dalam berhadapan dengan birokrasi pemerintah. 4. organisasi konsumen sering dihadapkan pada konstruksi perwakilan. Prinsip kebebasan (idependence) merupaskan karateristik penting. sulit rasanya bagi Indonesia untuk dapat bersaing di Abad XXI. baik atas prakasa produsen dan asosiasinya maupun prakasa pemerintah. Didalam segala aktivitasnya tentu saja organisasi konsumen seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia(YLKI) bertindak dalam kapasitasnya selaku perwakilan konsumen (consumer representation). 5. Mereka harus secara ekskusif mewakili kepentingan – kepentingan konsumen. Adapun organisasi – organisasi konsumen merupakan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang perlindungan konsumen. Apabila dikatakan bahwa kelompok konsumen bertindak dalam kapasitasnya selaku konsumen. baik bagi organisasi konsumen maupun kelompok konsumen. Pada tataran kebijakan (policy) ketika menangani pengaduan – pengaduan konsumen. organisasi konsumen seperti YKLI bertindak mewakili kepetingan – kepentingan dan pandangan – pandangan konsumen dalam suatu kelembagaan yang dibentuk. Mereka tidak boleh mengizinkan kebebasan tindakan dan komentar mereka dipengaruhi atau dibatasi pesan – pesan sponsor/pesan – pesan tambahan. Mereka tidak boleh mengizinkan eksploitasi atas informasi dan advis yang mereka tidak mereka berikan kepada konsumen untuk kepentingan perdagangan.

. Artinya. tidak membedakan si kaya dan si miskin. Adanya pegaturan tugas dan penunjukkan petugas haruslah pasti dan sesuai dengan keahlian. Dilengkapi juga dengan petunjuk pelayanan. Dari segi etika keramahan dan sopan santun juga perlu diperhatikan. Kepastian Artinya. jadwal pelayanan dan pelaksanaannya. bersih. 5. yakni sebagai berikut : 1..tagihan) maupun jaminan purna pelayanan secara teknis.Ada beberapa indicator pelayanan umum yang baik. Kesedehanaan Artinya. biaya pelayanan. Prosedur pelayanan meliputi pengaturan yang jelas terhadap prosedur yang harus dilalui oleh masyarakat yang akan menggunakan pelayanan. keterampilan dan etika petugas. merata dalam memberikan subjek pelayanan tidak diskriminatif. Selain itu dilengkapi dengan sarana/prasarana pelayanan ( misalnya peralatannya ada) dan digunakan secara optimal. yang dapat berupa loket informasi yang dimiliki dan terpampang jelas. 3. Keamanan dan Kenyamanan Hasil produksi pelayanan memenuhi kualitas tekhnis (aman) dan dilengkapi dengan jaminan purna pelayanan secara administrasi (pencatat/dokumentasi. 6. pengaturan tarif dan penerapannya harus sesuai dengan ketentuas yang berlaku. Dalam keterbukaan. termasuk disiplin dan kemampuan melaksanakan tugas. artinya penyebaran informasi yang dilakukan melalui media atau benruk penyuluhan tentang adanya pelayanan yang dimaksud. Adapun persyaratan pelayanan adalah administrasi yang jelas. mencakup proses pelayanan dan persyaratan pelayanan. dan layanan pengaduan. 2. yang dilengkapi dengan alur proses. Untuk biaya pelayanan. Keterbukaan Artinya. Kantor pelayanan hendaknya mencantumkan jam kerja kantor untuk pelayanan masyarakat. ada terpampang dengan jelas waktu pelayanan. Keadilan Artinya. Penataan ruangan dan lingkungan kantor terasa fungsional. dan petugas pelayanan. 4. kotak saran. Perilaku petugas pelayanan Pengabdian. dan nyaman. seorang petugas haruslah tanggap dan peduli dalam memberikan pelayanan. adanya informasi pelayanan. laki atau perempuan. rapi. mencakup upaya publikasi.

Pengawasan klausul baku. arbitrasi atau konsliasi. Dilingkungan peradilan umum UUPK membuat trobosan dengan menfasilitasi para konsumen yang merasa dirugikan dengan mengajukan gugatan kepada pelaku usaha di luar pengadilan. Hal ini berlaku untuk gugatan secara perorangan. Tugas dan wewenang BPSK (Pasal 52) meliputi: a. menjaga martabat produsen dan membantu pemerintah. Pemeriksaan dilakukan oleh hakim tunggal dan kehadiran penuh pihak ketiga (pengacara) sebagai wakil pihak yang bersengketa tidak diperkenankan. 51). Memberikan konsultasi perlindungan konsumen. dan anggota dengan dibantu oleh sebuah sekertariat (Pasal 50 jo. Putusan dari BPSK tidak dapat disbanding kecuali bertentangan dengan hokum yang berlaku. Badan ini penuh di setiap daerah tingkat II (Pasal 49) BPSK di bentuk untuk penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan (Pasal 49 ayat 1). c. Melapor kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran undang – undang ini. d. yaitu Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). Setiap unsure tersebut berjumlah 3 (tiga)orang atau sebanyak – banyaknya 5 (lima) orang. sederhana dan murah. wakil ketua meranggkap anggota. PENGERTIAN DAN PERAN BPSK (BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN). BPSK hanya menerima perkara yang nilai kerugiannya kecil. Melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen. Mekanisme gugatan dilakukan secara suka rela dari kedua belah pihak yang bersengketa. Selama ini sengketa konsumen diselesaikan melalui gugatan dipengadilan. . Kenggotaan Badan terditi atas ketua merangkap anggota.Yayasan sejak semula tidak ingin berkonfrontasi dengan produsen (pelaku usaha). konsumen dan pelaku usaha. sedangkan gugatan secara kelompok (class action) dilakukan melalui peradilan umum. dengan cara melalui mediasi. Dengan demikian. yang semuanya diangkat dan diberhentikan oleh Menteri (Perindustrian dan Perdagangan). b. Berdasarkan Pasal 45 UUPK setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum. D. Hubungan hokum antara pelaku usaha/pejualan dengan konsumen tidak tertutup kemungkinan timbulnya perselisihan/sengketa konsumen. dan badan ini mempunyai anggota – anggota dari unsure pemerintah. namun pada kenyataannya yang tidak dapat dipungkiri bahwa lembaga pengadilan pun tidak akomodatif untuk menampung sengketa konsumen karena proses perkara yang berlaku lama dan sangat birokratis. BPSK adalah pengadilan khusus konsumen (small claim court) yang sangat diharapkan dapat menjawab tuntutan masyarakat agar proses bepekara berjalan cepat. apalagi dengan pemerintah karena YLKI bertujuan melindungi konsumen.

i. Dalam menyelesaikan sengketa konsumen dibentuk majelis yang tediri atas sedikitnya 3 (tiga) anggota dibantu oleh seorang panitera (Pasal 54 ayat (1) dan (2)). Memanggil pelaku usaha pelanggar. k.tentang dilanggarnya perlindungan konsumen. Melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa konsumen. Keputusan Mahkamah Agung wajib dikeluarkan dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak permohonan kasasi (Pasal 58). m. dokumen atau alat – alat bukti lain guna penyelidikan dan/atau pemeriksaan. l. Memberitahukan keputusan kepada pelaku usaha pelanggaran undang – undang. lisan atau tertulis. Keputusan BPSK itu wajib dilaksanakan pelaku usaha dalam jangka 7 (tujuh) hari setelah diterimanya. BPSK wajib menjatuhkan putusan selama – lamanya 21 (dua puluh satu) hari sejak dijatuhkan gugatan diterima (Pasal 55).8 Tahun 1999 terlihat setidak – tidaknya dari sudut biaya dan waktu penyelenggaraan keadilan itu pihak konsumen dan pelaku usaha yang jujur dan bertanggung jawab dimudahkan dan dipercepat (putusan yang mempunyai kekuatan hokum pasti dapat dijatuhkan dalam jangka waktu relative pendek. saksi ahli dan/atau setiap orang yang dianggap melakukan pelanggaran itu. meneliti dan/atau menilai surat. Putusan yang dijatuhkan Majelis BPSK bersifat final dan mengikat (Pasal 54 ayat (3)).e. Memutuskan dan menetapkan ada tidaknya kerugian konsumen. maksimum 100 (seratus) hari (total dari proses pertama sampai terakhir). Pengadilan Negeri yang menerima keberatan pelaku usaha memutuskan perkara tersebut dalam jangka waktu 21 hari sejak diterimanya keberatan tersebut (Pasal 58). atau apabila ia keberatan dapat mengajukannya kepada Pengadilan Negeri dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari. h. f. Menghadirkan saksi. . Mendapatkan. Dari uraian di atas dapat dibuat skema proses penyelesaian sengketa melalui BPSK sebagai berikut. g. Meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan mereka tersebut huruf g apabila tidak mau memenuhi panggilan. Menjatuhkan sangsi administrasi kepada pelaku usaha pelanggar undang – undang. Selanjutnya kasasi pada putusan pengadilan negeri ini diberi luang waktu 14 hari untuk mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung. j. Dari keseluruhan proses persidangan berdasarkan ketentuan Undang – Undang No. Menerima pengaduan dari konsumen.

Memutus dan meadanya kerugian Memberitahu putusan hukuman netapkan Esekusi PN di tempat Konsumen Pasal 57 Pengadila Negeri Putusan 21 Hari Pasal 52 ayat (2) Makamah Agung putusan 30 Hari Pasal 58 ayat (3) k. Penyelesaian: dan Bentuk Keputusan 21 Hari.sul baku d. Keberatan Pasal 56 ayat (2) Pelanggaran atas Pasal 19 ayat (2) Pasal 20.Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Dati II (Pasal 49 ayat 1) Pemerintah/Pelaku Usaha/Konsumen 3-5 per Unsur Nonmasa Kerja Tugas Wewenang Pasal 52 a.duan f. do-kumen alat bukti i. arbitrasi. Menerima penga.meriksaan Sanksi administrasi Final dan Mengikat 14 Hari.K c. sanksi dan seba. Meneliti surat. Pengawasan klau. Melapor penyidik e. Penelitian dan pe.gainnya h. konsiliasi b. j.25 Maksimum 200 juta g. Memanggil pihak. Menjatuhkan administratif .Pasal 55 Mediasi. Konsultasi P.

yang dapat disebut pratransaksi konsumen. Mengigat salah satu tolok ukur dari majunya suatu Negara adalah nilai dari pelayanan terhadap masyarakat oleh aparatur Negara. Kedua istilah ini memiliki sejumlah perbedaan. para perantara ini disebut juga dengan intermediate consumer. Perikatan konsumen merupakan pelaksanaan dari perikatan sebelumnnya. yang dapat disebut pska transaksi konsumen. masih ada perikatan lain yang harus dipenuhi kedua belah pihak. Transaksi konsumen adalah peralihan barang atau jasa termasuk didalamnya peralihan kenikmatan dalam menggunakannya. yang biasanya dilakukan oleh produsen sebagai principal dengan sipedagang antara. Kemasan penawaran demikian disebut dengan iklan. Abdi Negara sudah harusnya melayani kepentingan masyarakat dan bukan dilayani oleh masyarakat. Setelah transaksi konsumen dilaksanakan. perikatan transaksi konsumen itu tidak serta merta terjadi begitu saja. Diluar transaksi konsumen dikenal juga transaksi komersial. paling tidak berperan indicator atau criteria yang ditawarkan diatas semaksimal mungkin dipenuhi. Dengan demikian. yang terutama bersangkut paut dengan perikatan keperdataan. yang . Pihak yang disebutkan terakhir inilah yang menjebatani antara produsen dan konsumen akhir. pembeli dapat saja tidak membayar melalui perantaraan si agen. Dalam kacamata hokum perdata. Distributor bertindak atas namanya. Kareteristik yang berbeda ini tentu mempengaruhi konstruksi hokum dalam transaksi konsumen di antara para pihak terkait. Ada prolog yang mendahuluinya. Berikut ini dikemukakan 3 isu pokok dari sekuen – sekuen transaksi konsumen. Pada saat ini penawaran lazimnya dilakukan melalui media masa yang dikemas secara menarik. dalam pelunasan harga barang atau jasa. Itulah sebabnya. konsumen mengharapkan pelayanan birokrasi menjadi lebih baik. Konsumen antara dapat berupa distributor atau agen. BAB 7 ISU – ISU HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN A. Hal ini tidak terjadi pada distributor karena produk yang diperjual belikan menjadi miliknya.Dalam menghadapi Abad XXI. PENGANTAR Sebagian besar predikat konsumen diperoleh sebagai konsekuensi mengonsumsi barang dan jasa melalui suatu transaksii konsumen. Proses untuk menghasilkan iklan itu disebut dengan periklanan. Transaksi konsumen merupakan suatu perikatan. tetapi langsung kepada pihak principal. Tahapan pratransaksi konsumen biasanya ditandai oleh penawaran dari penjual kepada calon pembelinya. UUPK tidak menkatagorikan “konsumen antara” ini sebagai konsumen yang dilindungi oleh UUPK. sementara melakukan transaksi atas nama prinsipalnya.

Menteri Kesehatan berkewajiban mengawasi menteri periklanan sesuai dengan criteria teknis medis dan etis. Menurut Surat Keputusan Bersama itu. Tahapan ketiga dari proses transaksi konsumen ini adalah perikatan setelah peralihan barang atau jasa yang pokok dilakukan. seperti media audio dan media cetak yang tersebar di seluruh Indonesia. kecuali menerima alternative yang pertama. Sering terjadi. Untuk melakukan pengawasan demikian. setiap keluhan konsumen atas barang tersebut. makanan. dan media masa. khususnya yang ditayangkan ditelevisi. khusus mengenai periklanan. dapat diajukan kepada produsen atau penyalur produk. Selama jangka waktu itu. sedangkan Menteri Penerangan melakukan pengawasan materi secara umum. Sesungguhnya apa yang di ungkapkan Menteri Kesehatan sejak lama menjadi keluhan pengamat dan aktivis perlindungan konsumen. perusahaan periklanan. Dapat dibayangkan jika sinyalemen Menteri Kesehatan itu benar. bidang kesehatan merupakan sector yang relative lebih lengkap pengaturannya dalam melindungi konsumen dibandingkan bidang – bidang lain. yang keanggotaannya berasal . Sekalipun demikian. Tugas demikian dibebankan kepada Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (Ditjen POM). pada akhir 1992. Dibandingkan dengan instansi – instansi lainnya. Itu baru disatu media. semua iklan itu menyesatkan. dan alat kesehatan.122/Kep/Menpen/1980) tentang Pengendalian dan Pengawasan Iklan Obat. Makanan. Departemen Kesehatan sebenarnya memiliki rambu – rambu pengaman yang relative lebih lengkap dalam melindungi konsumen. sepanjang bukan disebabkan kesalah pemakaian. Isu yang banyak dipermasalahkan pada tahap ini adalah existensi dari perjanjian standar atau perjanjian baku. tidak satupun yang memberikan informasi yang jujur.252/Menkes/SKB/VIII/80 dan NO. Ketiga unsure ini. Frekuensi keluhan itu terus meningkat. PERIKLANAN DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN (IKLAN OBAT) Diantara sekian banyak sector. Menurutnya. Tahapan berikutnya adalah pelaksanaan dari transkasi konsumen itu. Kosmetika. baik sendiri – sendiri maupun bersama – sama memiliki potensi untuk melanggar hak – hak konsumen. disini terkait pada perlindungan hokum bagi konsumen. Minuman. yaitu pengiklan. belum di media lainnya. sebab dimanapun ia pergi. Menteri Kesehatan RI pernah melontarkan kritikan yang sangat tajam terhadap iklan obat – obatan yang beredar dimasyarakat. khususnya yang berkaitan dengan periklanan diterbitkan Surat Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Penerangan (NO. Inilah yang biasanya disebut layanan purna jual. untuk pembelian barang – barang tertentu produsen atau penyalur produk memberikan garansi dalam jangka waktu terbatas. sedangakan konsumen tinggal memutuskan : menerima atau menolaknya. B. Departemen ini mempunyai lembaga tersendiri yang mengawasi peredaran dan penggunaan obat (termasuk obat tradisional). Biasanya konsumen tidak punya pilihan lain. untuk itu selanjutnya dibentuk panitia khusus/ bersama.lainnya. kosmetika. Namun keluhan – keluhan demikian biasanya tidak mendapat publikasi yang luas karena berbagai pertimbangan komersial. dan Alat Kesehatan (OMKA). ia akan disodorkan perjanjian baku dengan subtansi yang hampir sama oleh produsen atau penyalur produk (penjual)lainnya. Disini selalu dipertanyakan apakah dalam perjanjian baku itu masih tedapat kebebasan kontrak? Hal ini terjadi karena perjanjian standar itu di tentukan secara sepihak oleh produsen atau penyalur produknya (penjual).melibatkan 3 unsur utama masyarakat periklanan. terutama sejak diperolehnya kembali siaran iklan ditelevisi. misalnya tiga tahun. berarti dari iklan obat – obatan yang disiarkan ditelevisi.

ancaman sangsi yang diberikan Departemen Kesehatan mulai dari teguran. Asosiasi Perusahaan Media Luar Ruang Indonesia (AMLI) 2. sama sekali tidak membuat “kecut” pelakunya. Ditempat inilah iklan itu diproduksi. ordonansi tersebut tidak secara khusus mengatur masalah periklanan. Pembatalan pendaftaran. Dalam memproduksi iklan.23 Tahun 1992 tentang kesehatan. ternyata banyak sekali iklan yang sitayangkan diberbagai media yang melenceng jauh dari naskah yang diserahkan ked an disetujui oleh Direktorat Jederal POM. Dalam peraturan itu juga ditegaskan bahwa iklan yang diberikan tidak boleh menyimpang dari apa yang disetujui dalam pendaftaran. Tidak adil rasanya bila segala beban penyimpangan harus dipersalahkan sepenuhnya ke pihak produsen obat – obatan. Jenis obat yang boleh diiklankan hanya jenis obat bebas dan terbatas. Sesuai namanya. misalnya antara lain diatur dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. Saat ini dapat dipastikan semua iklan obat di televise yang pernah dipersoalkan oleh Menteri Kesehatan diserahkan pembuatannya kepada perusahaan periklanan (production house). Kelengkapan Permohonan dan Tata Laksana Pendaftaran Obat Jadi. Ketujuh instansi tersebut adalah:\ 1. Tata Cara dan Tata Periklanan Indonesia ini selalu disempurnakan. Selain mengacu kepada ketentuan Undang – Undang No. tampaknya amanat tersebut tinggal menjadi kenangan. Masalah iklan obat. pihak perusahaan periklanan dikawal ketat oleh kode etik yang ditanda tangani oleh lima asosiasi (termasuk Perusahaan Periklanan Indonesia) pada 17 September 1981. Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS). Asosiasi Pemrakarsa dan Penyantun Iklan Indonesia (Aspindo) 3. sampai dengan pencabutan izin usaha industry obat yang bersangkutan. sebelum akhirnya disebarluaskan ke media yang diingini. Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) 4. Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI). ide yang di amanatkan SuratKeputusan Bersama tersebut tidak ditindaklanjuti. bukan obat keras.660). Untuk obat – obatan tradisional. tidak diperkenankan untuk diiklankan selama belum didaftarkan di Departemen Kesehatan (Pasal 3 Peraturan Menteri Kesehatan No. dalam melakukan pengawasan Direktorat Jenderal POM samapai sekarang masih mendasarkan diri pada Ordonansi Pemeriksaan Bahan – Bahan Farmasi (Staatsblad 1936 No. Namun.dari dua departemen serta kalangan periklanan dan anggota masyarakat lainnya. dan . Ordonansi itu memerlukan penjabaran itu lebih lanjut dalam peraturan perundang – undangan yang lebih rendah tingkaatannya. Panitia yang dimaksud tidak pernah dibentuk dan kosekuensinya. Selain itu sejak 1989 naskah iklan obat – obatan harus diserahkan pula kepada Direktorat Jenderal POM untuk mendapatkan persetujuan.246/Menkes/Per/V/1990). Dalam praktiknnya. surat keputusan itu tidak dapat dijadikan dasar peganganpenerbit periklanan OMKA. Ironisnya. 0282 – 3/A/SK/XI/90 tentang Kriteria Terperinci. Dalam ketentuan yang disebutkan terakhiran disyaratkan bahwa setiap iklan obat harus memuat informasi sesuai dengan persetujuan yang diberikan Departemen Kesehatan pada saat obat itu didaftarkan. 6. dengan penandatangan oleh tujuh instansi pada 19 Agustus 1996. Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) 5. Dengan dihapusnya instansi Departemen Penerangan dalam struktur pemerintah saat ini.

juga dibentuk berdasarkan undang – undang. dan keputusan setingkat menteri seperti itu tidak berwenang mencantumkan sanksi. iklan tidak boleh memuat kata – kata yang berisi janji penyembuhan penyakit. Lolosnya penayangan iklan yang menyesatkan (dalam hal ini. Ini berarti dibuka kesempatan untuk membentuk suatu badan pengawasan yang lebih bergigi. Cara berfikir yang dalam hokum dikenal sebagai caveat emtor (let the buyer beware) demikian hanya cocok untuk Negara kapasitas abad ke – 19. sesungguhnya ditegaskan bahwa Pemerintah berwenang untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan upaya penyelenggaraan kesehatan. kode etik periklanan juga mensyaratkan iklan harus sesuai dengan indikasi jenis produk yang disetujui oleh Departemen Kesehatan. Dalam hokum pembentukan panitia bersama di atas tentu akan lebih baik jika tidak berbentuk surat keputusan bersama. Kendati demikian. Selain itu. Bentuk peraturan demikian tidak dikenal dalam tata urutan peraturan perundang – undangan di Indonesia. Sebagai mana diuraikan diatas surat keputusan bersama dari dua menteri (1980) menyatakan pengawasan periklanandi bidang OMKA dilakukan oleh panitia tersendiri. Dari sebagian kecil rumus kode etik itu saja tampak banyak iklan obat yang tidak memnuhi persyaratan. Sebagai perbandingan di Amerika Serikat badan yang mengawasi masalah makan dan obat (The Food and Drug Administration) dibentuk atas produk hokum setingakt undang – undang. Dalam Bab Undang – Undang VII No. Keberadaan panitia itu kiranya cukup urgen untk di wujudkan karena memudahkan dalam melakukan koordinasi. agar tidak tumpang tindih dengan mikanisme pengwasan serupa yang dimiliki instansi dijajar departemen lain. Oleh karena itu. Posisi yang tidak berimbang antara produsen dan konsumen akan mudah disalahgunakan (machtpositie) oleh pihak yang lebih kuat. “tidak berbahaya”. yang dinegara asalnya (Inggris dan Amerika Serikat) sudah pula ditinggalkan.. ahli farmasi. tapi hanya boleh menyatakan membantu menghilangkan gejala penyakit. . rumah sakit. Apalagi jika pihak produsen yang lebih kuat itu didukung oleh fasilitas yang memungkinkannya bertindak secara monopolitis. tapi (lebih – lebih) merugikan konsumen yang tidak berhati – hati. mekanisme pengawasannya masih berjalan dengan baik. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Mayoritas konsumen di Indonesia masih terlalu rentan dalam menyerap informasi iklan yang “tidak sehat”. (The Federal Trade Commission). atau “bebas resiko” tanpa keterangan lengkap yang menyertainya.7. sangat riskan kiranya bilatidak diadakan pengawasan yang memadai dan konsumen dibiarkan menimbang – nimbang serta memutuskan sendiri iklan apa yang pantas untuk dipercaya. Untuk obat – obatan. perawat. Iklan obat yang “tidak sehat” seperti itu tentu saja merugikan perusahaan obat sejenis. Pemakaian tenaga professional kesehatan sebagai model iklan. Demikina juga badan yang kewenangannya antara lain yang mengawasi masalah periklanan. iklan obat – obat ) membuktikan. Juga tidak boleh mencantumkan kata – kata “aman”. seperti dokter. Selanjutnya dinyatakan bahwa pembinaan dan pengwasan tersebut akan ditetapkan dengan peraturan pemerintah. atau atribut – atribut profesi medis lainnya juga dilarang. terlebih dahulu perlu dijabarkan secara jelas batas kewenangan panitia tersebut. Yayasan Televisi Republik Indonesia.

produk pangan dengan merek baru yang masih dalam masa perkeenalan kepada konsumen. setiap label dan/atau iklan tentang pangan yang diperdagangkan harus memuat keterangan mengenai pangan dengan benar dan tidak menyesatkan. dan sejauh mana pula Pemerintah mampu mencegah dan menindakk tindakan produsen yang tidak bertangguang jawab. Sampel – sampel tersebut tentu tidak untuk diperdagangkan. Iklan adalah produk kreativitas dan komersial. Dan ketetuan Undang – Undang Pangan ini sebenarnya tidak mempunyai aspek konstitutif yang berarti banyak karena masih harus menunggu peraturan pelaksanaannya. peranan yang tidak kalah pentingnya juga harus darang dari masyarakat seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YKLI). Rumusan pasal ini mengacu kepada pencantuman label “halal” yang sesuai dengan syariah Islam. Dengan demikian. C. Pasal 33 dari undang – undang ini menyatakan. biasanya diiklankan terlebih dahulu oleh si produsen. Selain sarana pengawasan di tingkat aparatur Negara. Departemen Kesehatan dan Agama menginginkan agar label ini dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan setelah mendapat rekomendari dari Majelis Ulama Indonesia. tentu akan dipertanyakan. Informasi yang diberikannya paling tidak dapat dijadikan bahan perbandingan bagi masyarakat. apa yang dilakukan YLKI ini seyogyanya disambut dengan positif. ia akan dikenakan sangsi hokum. bahwa setiap orang yang menyatakan dalam table atau iklan bahwa pangan yang diperdagangkan adalah sesuai dengan persyaratan agama tau kepercayaan tertentu bertangguang jawab atas kebenaran pernyataan berdasarkan agama atau kepercayaan tersebut. sampel – sampel produk itu di bagikan secara ngratis kepada masyarakat.7 Tahun 1996 tentang Pangan disebut secara jelas mengenai iklan pangan. Dalam Undang – Undang No. Kantor Menteri Urusan Pangan dulu ingin menyerahkan kepada masing – masing produsen. Di situ dinyatakan. disamping informasi yang sehari – hari mereka dapatkan dari iklan. Peranan YLKI antara lain secara berkala melakukan pengujian suatu produk tertentu dan mempublikasikannya. pengawasannya tidak boleh sampai mematikan dua ciri di atas. sejauh mana konsumen akan merasa aman dan yakin kebenaran isinya. mengawasi dan melakukan tindakan yang diperlukan agar iklan tentang pangan yang diperdagangkan tidak memuat keterangan yang dapat menyesatkan. Sementara itu. Polemic ini sesungguhnya tidak akan dapat dituntaskan jika akar permasalahan. Konsekuensinya. PERJANJIAN STANDAR DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN . jika label (dan iklan) itu diserahkan sepenuhnya kepada produsen. Sebaliknya. tepatnya ke sasaran konsumen yang dinilai paling potensial. Yakni “memberi rasa nyaman pada konsumen” tidak ditempatkan pada proritas utama.Khusunya hal periklanan di bidang OMKA dengan dasar hokum yang lebih sesuai. Artinya. Juga masih samar – samar tentang pengertian “pangan yang diperdagangkan”. Hal ini menimbulakan pertanyaan : bagaimana untuk “pangan yag tidak diperdagangkan”? dalam kenyataannya dapat dilihat. jika produsen melanggar. Pasal 34 dari Undang – Undang Pangan juga membawa polemic yang tidak kalah menariknya. Sebagaimana diatur dalam Pasal 71 dan 72 Undang – Undang Kesehatan. Untuk itu pemerintah mengatur. dan rasa tidak adil jika dikecualikan dari ketentuan Pasal 33 UU Pangan.

1338 KUH Perdata). harga. Plato (423 – 347 SM). warna. Oleh karena itu. Itu sebabnya. diperbolehkan system pembelian satuan rumah susun (strata title) secara inden dalam bentuk perjanjian standar.Perjanjian standar (baku). tentu saja penentuan secara sepihak oleh produsen/penyalur produk (penjual). maka bentuk perjanjian baku ini pun memiliki karateristik yang khas yang tidak dimiliki oleh perjanjian yang lain pada umumnya. melainkan klausal – klausalnya. sebenarnya dikenalkan sejak zaman Yunani Kuno. bidang – bidang yang diatur dengan perjanjian standar pun makin bertambah luas. misalnya pernah memaparkan praktik penjualan makanan yang harganya ditentukan secara sepihak oleh penjual. bentuk perjanjian seperti ini sangat menguntungkan. tempat. Artinya. Adapun yang belum dibakukan ada beberapa hal. Menurut sebuah laporan dalam Harvard Law Review pada 1971. Sebenarnya. perjanjian standar adalah perjanjian yang ditetapkan secara sepihak. jumlah. Di Indonesia. Dalam perkembangannya. yang dibakukan bukan formulir perjanjian tersebut. tidak lagi sekadar masalah harga. Tujuan dibuatnya perjanjian standar untuk memberikan kemudahan (kepraktisan) bagi para pihak yang bersangkutan. dan mengandung ketentuan yang berlaku umum (massal). Akan tetapi. Perjanjian standar tidak perlu selalu dituangkan dalam bentuk formulir walaupun memang lazim dibuat tertulis. disisi yang lain ia harus menurut terhadap isi perjanjian yang disodorkan kepadanya. tenaga dan biaya yang dapat dihemat. Jadi. Misalnya. Sjahdeini menekankan. Di satu sisi. tetapi mencakup syarat – syarat yang lebih detail. jika dilihat dari beberapa banyak waktu. bagaimana pihak konsumen masih diberi hak untuk menyetujui (take it) atau menolak perjanjian yang diajukan kepadanya (leave it). klausul yang ada di dalamnya biasanya . antara lain perjanjian baku dibuat oleh salah satu pihak saja dan tidak melalui suatu bentuk perundingan. misalnya yang menyangkut jenis. Adanya unsure pilihan ini oleh sementara pihak dikatakan perjanjian standar tidaklah melanggar atas kebebasan berkontak (Pasal 1320 jo.99 persen perjanjian yang dibuat di Amerika Serikat berbentuk perjanjian standar. tanpa memperhatikan perbedaan mutu makanan tersebut. di sisi yang lain bentuk perjanjian seperti ini tentu saja menempatkan pihak yang tidak ikut membuat klausul – klausul di dalam perjanjian itu sebagai pihak yang baik yang langsung maupun tidak sebagai pihak dalam perjanjian itu memiliki hak memiliki kedudukan seimbang dalam menjalakan perjanjian tersebut. Tentu saja fenomena demikian tidak selamanya berkonotasi negative. perjanjian standar ini kemudian dikenal dengan nama take it or leave it contract. Sutan Remi Sjahdeini mengartikan perjanjian standar sebagai perjanjian yang hampir seluruh klausul – klausulnya dibakukan oleh pemakaiannya dan pihak lain pada dasarnya tidak mempunyai peluang untuk merundingkan atau meminta perubahan. yakni oleh produsen/penyalur produk (penjual). dan beberapa hal yang spesifik dari objek yang diperjanjikan. waktu. perjanjian standar bahkan merambah ke sector property dengan cara – cara yang secara yuridis masih kontrovesial. Contohnya dapat dibuat dalam bentuk pengumuman yang ditempelkan tempat penjual menjalankan usahanya. sehingga pihak yang lain (konsumen) hanya memiliki dua pilihan : menyetujui atau menolaknya. Mariam Darus Badrulzaman lalu mendefenisikan perjanjian standar sebagai perjanjian yang isinya dibakukan dan dituangkan dalam bentuk formulir. bertolak dari tujuan itu. Karena lahir dari kebutuhan akan kebutuhan efisiensi serta efektivitas kerja. Selain itu. isi perjanjian yang telah distandarisasi.

tetapi dari berbagai keuntungan yang ada tersebut terdapat sisi lain dari pengunaan serta perkembangan perjanjian baku yang banyak mendapat sorotan kritis dari para ahli hokum. Perjanjian eksonerasi yang membebaskan tanggung jawab seseorang pada akibat – akibat hokum yang terjadi karena kuraang pelaksanaan kewajiban - . memberikan defenisi any term in a contract restricting.merupakan klausul yang telah menjadi kebiasaan secara luas dan berlaku secara terus menerus dalam waktu yang lama. Ketiga bentuyk yuridis tersebut terdiri atas: a. Kelemahan – kelemahan perjanjian baku ini bersumber dari karateristik perjanjian baku yang dalam wujudnya merupakan suatu perjanjian yang dibuat oleh salah satu pihak dan suatu perjanjian terstandarisasi yang menyisakan sedikit atau bahkan tidak sama sekali ruang bagi pihak lain untuk menegosiasikan isi perjanjian itu. Kewajiban – kewajiban sendiri yang biasanya dibebankan kepada pihak untuk mana syarat dibuat. yang diterjemahkan secara bebas adalh klausul yang kehadirannya untuk membebaskan atau membatasi tanggung jawab yang mungkin saja muncul. karena kurang baik dalam melaksanakan kewajiban – kewajiban perjanjian. Sons & Co (1893) dab Bahama International Trust Co. yang lebih memilih mengunakan istilah exclusion clause. b. Demikian juga David Yates. A clause in a contract or a term in a notice which appears to exclude or restrict a liability or legal duty that would otherwise arise. dengan istil ahnya klausul eksonerasi. memberikan defenisi terhadap klausul tersebut sebagai klausul yang berisi pembatasan pertanggung jawaban dari kreditor. yaitu sisi kelemahannya dalam mengakomodasikan posisi yang seimbang bagi para pihaknya.V Threadgold (1974) yang mengemukakan bahwa exemption clause di artikan sebagai …. Perjanjian baku banyak memberikan keuntungan dalam penggunaannya. membebaskan atau merekayasa ganti rugi atau tanggung jawab yang timbul dari pelanggaran terhadap suatu perjanjian. Dalam pengertiannya yang lebih luas David Yates menunjuk pada yurisprudensi pada kasus Bensten v. exluding and modifying aremedy or a ability arising out of breech of a contractual obligation yang diterjemahkan secara bebassebagai setiap bagian dari suatu perjanjian yang membatasi. Sorotan para ahli hokum dari berlakunya perjanjian baku selain dari segi keabsahannya adalah adanya klausul – klausul yang tidak adil dan sangat memberatkan salah satu pihak. dibatasi atau dihapuskan (misalnya. Taylor. Jika ada yang perlu dikuatirkan dengan kehadiran perjanjian standar. Tanggung jawab untuk akibat – akibat hokum. Menurut Engels menyebut adannya tiga bentuk yuridis dari perjanjian dengan syarat – syarat eksonerasi. Klausul eksonerasi adalah klausul yang mengandung kondisi membatasi atau bahkan menghapus sama sekali tanggung jawab yang semestinya dibebankan kepada pihak produsen/penyalur produk (penjual). Kewajiban – kewajiban diciptakan (syarat – syarat pembebasan oleh salah satu pihak dibebankan dengan memikulkan tanggung jawab pihak yang lain yang mungkin ada untuk kerugian yang diderita pihak ketiga. tidak lain karena dicantumkannya klausul eksonerasi (exemption clause) dalam perjanjian tersebut. Mariam Darus Badrulzaman. c. terhadap resiko dan kelalaian yang semestinya ditanggungnya. perjanjian keadaan darurat).

. berarti ia secara sukarela setuju pada isi perjanjian tersebut. Dalam perjanjian standar. Pendapat pertama dating dari Sluijter. posisi yang didominasi oleh pihak pelaku usaha. walaupun secara teoritis yuridis. Alasannya. Akhirnya. Jika debitur menerima perjanjian itu. dalam hal pengembangan tidak dapat memenuhi janjinya untuk melaksanakan penyelesaian pembangunan atas rumah yang dibeli. di mana kepentingan masyarkatlah yang didahulukan.kewajiban yang diharuskan oleh perundang – undangan. Syarat – syarat yang ditentukan pengusaha didalam perjanjian itu adalah undang – undang. para pihak mengikatkan diri pada perjanjian itu. kedudukan pengusaha dalam perjanjian ini adalah seperti pembentuk undang – undang swasta (legio particuliere wetgever). Contoh dari klausul tersebut adalah : Adanya pembebasan tanggung jawab pihak pengembangan dalam perjanjian pembelian rumah. Sehubungan dengan pertanyaan : apakah ada kebebasan berkontrak dalam perjanjian standar ini. yang mengatakan perjanjian standar itu mengikuti karena setiap orang yang menandatangani suatu perjanjian harus dianggap mengetahui dan menyetujui sepenuhnya isi kontrak tersebut. dapat disebutkan pedapat yang lebih tegas dari Asser Rutten. Adanya pembatasan tanggung jawab ganti rugi bagi perusahaan pengangkutan berkaitan dengan kehilangan barang bawaan penumpang. Kemudian Stein mencoba memecahkan masalah ini dengan mengemukakan pendapat. Mariam Darus Badrulzaman menyimpulkan bahawa perjanjian standar itu bertentang dengan asas kiebebasan kontrak yang bertanggung jawab. perjanjian ini tidak memnuhi ketentuan undang – undang dan ditolak oleh beberapa ahli hokum.? Ada beberapa pendapat yang menegaskan kontroversi di dalamnya. Ahli Hukum Indonesia. Pelaku usaha hanya mengatur hak – haknya dan tidak kewajibannya. yang menyatakan perjanjian standar bukan perjanjian. Adanya pembatasan terhadap tanggung jawab terhadap kecelakaan jasmani yang diderita oleh penumpang. bahwa perjanjian standar dapat diterima sebagai perjanjian berdasarkab fiksi adanya kemauan dan kepercayaan yang mengakibatkan keyakian. kedudukan pelaku usaha dan konsumen tidak seiumbang. Namun dalam kenyataanya. membuka peluang luas baginya untuk menyalah gunakan kedudukannya. Dari berbagai defenisi yang ada tersebut maka dapat disimpulkan bahwa klausul pembebasan adalah klausul yang memberikan pembatasan atau pembebasan tanggung jawab hokum salah satu pihak atas segala bentuk ketidak terpenuhinya kewajiban atas perjanjian tersebut. tepat pada waktunya. Pendapat Pitlo ini mengingatkan kita pada pendapat Hondius. - Disini dilihat betapa tidak adanya keseimbangan posisi tawar menawar antara produsen/penyalur produk (penjual) yang lazim tersebut kreditor dan konsumen (debitur) di lain pihak. kebutuhan masyarakat berjalan dalam arah yang berlawanan dengan keinginan hokum. yang dalam disertasinya menyatakan bahwa perjanjian standar itu mengikat berdasarkan kebiasaan (gebruik) yang berlaku dilingkungan masyarakat dan lalu lintas perdagangan. terlebih – lebih lagi ditinjau dari asas – asas hokum nasional. antara lain tentang maslah ganti rugi dalam hal perbuatan ingkar – janji. bukan perjanjian! Pitlo mengatakannya sebagai perjanjian paksa (dwang contract). Ganti rugi tidak dijalankan apabila dala persyaratan eksonerasi tercantum hal ini.

satu – satunya cara adalah dengan membatasi pihak pelaku usaha dalam klausul eksenorasi. penyalahgunaan keadaan ini dikukuhkan sebagai alasan keempat dari cacat kehendak. Dalam KUHP Perdata Baru Negeri Belanda. misalnya. KUHP Perdata juga meyebutkan tiga alasan yang dapat menyebabkan suatu perjanjian. Pasal 18 ayat (1) huruf (a) UUPK menyatakan pelaku usaha dalam menawwarka barang dan/atau jasa yang ditunjukkan untuk diperdagangkan dilarang membuat atau mencantumkan klausul baku pada setiap dokumen dan/ atau perjanjian jika menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha. yakni paksaan (dwang). dank arena itu jika diserahkan sepenuhnya pembuatannya secara sepihak kepada pelaku usaha. Dalam UUPK. Akan tetapi. walaupun tidak sepenuhnya bersifat public seperti dibidang perburuhan dan agrarian. Tentu Darus Barulzaman. Menurut Remy Sjahdeini. melainkan juga isisnya yang bersifat pengalihan kewajiban atau tanggung jawab pelaku usaha. terdapat ketetuan yang mengatakan. pengertian “klausul eksonerasi” tidak sekedar mempersoalkan prosedur pembuatannya. Misalnya saja dalam lapangan perburuhan agrarian. ada pembatasan – pembatasan dalam kontrak kerja. campur tangan yang disarankan ini dapat dilakukan oleh pemerintah. Perjanjian – perjanjian yang disebutkan berakhir ini tumbuh melalui kebiasaan dan permintaan masyarakat sendiri. dan kepentingan dunia perdagangan tidak pula dirugikan. Sutan Remy Sjahdeini berpendapat dalam kenyataanya KUH Perdata sendiri memberikan pembatasan – pembatasan terhadap asas kebebasan berkontrak itu. Ketentuan huruf (b) dan seterusnya sebenarnya memberikan contoh bentuk – bentuk pengalihan tanggung . Perjanjian berskala luas yang dimaksud berkaitan dengan keputusan berkaitan dengan kepentingan missal. Dalam kenyataannya. Campur tangan pemerintah lebih diharapkan pada perjanjian – perjanjian yang berskala luas. dan penipuan (bedrog). perjanjian standar ini tidak boleh dibiarkan tumbuh secara liar dab karena itu perlu ditertibkan. tentu tidak harus distandarisasi. Jadi yang ditekankan oleh prosedur pembuatannya yang berifat sepihak. Misanya. Campur tangan pengadilan dapat dijumpai dalam penyebab putusnya perjanjian yang dikenal dengan penyalahgunaan keadaan (misbruik van omstanddigheden). yang ada adalah “klausul baku”. kiranya tidak semua perjanjian standar dapat diperlakukan demikian. jika asas kebebasan berkontrak ingin ditegakkan. Ketiga alas an ini dimaksudkan oleh undang – undang sebagai pembatasan terhadap belakunya asas kebebasan berkontrak. istilah klausul eksonerasi sendiri tidak ditemukan. maka diperlukan campur tangan melalui undang – undang dan pengadilan. harus ada campur tangan pemerintah.Menurutnya. bukan mengenai isinya. agar tidak terjadi penyalahgunaan terhadap asas kebebasan berkontrak ini oleh pihak yang berkedudukan lebih kuat. Padahal. kekhilafan (dwaling). untuk perjanjian – perjanjian keperdataan yang dibuat oleh notaries. dikhawatirkan akan dibuat banyak klausul eksonerasi yang merugikan masyarakat. suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan kata sepakat kedua belah pihak atau karena alasan lain yang dinyatakan dengan undang – undang. sangat banyak dilakukan standarisasi perjanjian. Pasal 1 angka 10 mendefinisikan klausul baku sebagai setiap aturan atau ketentuan dan syarat – syarat yang dipersiapkan dan ditetapkan terih dahulu secara sepihakoleh pelaku usaha yang dituangkan dalam usaha dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen. Materi perjanjian yang terjadi di masyarakat sedemikian luasnya dan heterogennya. Dengan demikian. Dalam hokum perburuhan .

Ketentuan satu – satunya beru ditemukan dalam UUPK.000. kesusilaan. Jika ada konsumen yang meeras dirugikan. perjanjian standar dimasukkan pengaturannya dalam Kitab Undang – Undang Hukum Perdata yang baru. misalnya pembatasan kewenangan pelaku usaha untuk membuat klausul eksenorasi lebih banyak diserahkan kepada inisiatif konsumen. yang menyatakan suatu perjanjian tidak boleh dibuat bertentangan dengan undang – undang. Padahal. huruf b. perubahan. diubah.jawab itu. Di Amerika Serikat. Di belanda. maka klausul baku itu menjadi batal hokum. atau ketertiban umum. atau menolak penyerahan kembali uang yang dibayar. Salah satunya adalah pasal 1337. walaupun di situ digunakan istilah “klausul baku” yang ternyata berbeda pengertiannya dengan “klausul eksonerasi”. atau pencabutan itu baru memperoleh kekuatan hokum setelah mendapat persetujuan Raja/Ratu yang dituangkan dalam Berita Negara. perlu diperoses melalui gugatan pengadilan. dengan mengatakan bahwa klausul baku harus diletakkan pada tempat yang mudah terlihat dan dapat jelas dibaca dan mudah dimengerti. Jika hal – hal yang disebutkan dalam ayat (1) dan (2) itu tidak dipenuhi. Pasal 17 ayat (1) huruf a. ketentuan lainnya menyatakan bahwa perjanjian standar ini dapat pula dibatalkan. Loangkah yang . ia dapat mengajukan gugatan kepengadilan. Apakah dengan demikian. Tidak disitu saja pengaturan tentang klausul baku ini berhenti karena terhadap pelanggaran yang dilakukan berkaitan dengan tidak dipenuhinya ketentuan pada Pasal 18 ini juga diberikan ancaman sanksi pidana sebagaimana diatur pada Pasal 62 UUPK ayat (1) : Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimasudkan dalam Pasal 8. tetapi isinya tidak boleh mengarah kepada klausul eksonerasi. huruf c. sekalipun demikian. berdasarkan Uniform Commercial Code 1978. jika pihak produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor mengetahui atau seharusnya mengetahui bahwa pihak konsumen tidak akan menerima perjanjian tersebut jika ia mengetahuinya isinya. kekuatan yurisprudensi dalam sisitem hokum Indonesia tidak berlaku seperti di Negara – Negara Anglo saxon/Anglo Amerika. dan pasal 18 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp2.00 (dua miliar rupiah). Artinya.000. dapat diperoleh jawaban sementara bahwa kedua istilah itu berbeda. Dengan demikian. atau di cabut setelah mendapat persetujuan Menteri Kehakiman. huruf e. klausul baku sama dengan klausul eksonerasi? Jika melihat kepada ketentuan pasal 18 ayat (1) UUPK. Di situ dinyatakan bahwa bidang – bidang usaha yang boleh meberapkan perjanjian standar harus ditentukan dengan peraturan dan perjanjian itu baru dapat ditetapkan. Secara umum. ketentuan yang membatasi kewenangan pembuatan klausul eksonerasi ini belum diatur secara tegas di dalam undang – undang. Pasal 10. Pasal 9. untuk menguji sejauh mana perjanjian itu bertentangan. dan sebagainya. termasuk sejauh mana Pemerintah dapat campur tangan dalam penyusunan kontrak. Putusan – putusan pengadilan inilah yang kemudian dijadikan masukan perbaikan legislasi yang telah ada. Bagi kita di Indonesia. Pasal 15. Pasal 18 ayat (2) mempertegas pengertian tersebut.000. Kemudian penetapan. memang dapat ditunjukkan beberapa pasal yang ada dalam Kitab Undang – Undang Hukum Perdata. klausul baku adalah klausul yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha. dan ayat (2). seperti pelaku usaha dapat menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen. Pasal 13 ayat (2).

Akibatnya. dengan adanya pengaturan terhadap pemakaian perjanjian baku ini adalah adanya eksploitasi atau keadaan yang sedemikian merugikan bagi puhak yang lemah akibat adanya pengunaan paksaan maupun penyalahgunaan keadaan oleh pihak yang lebih kuat. sering konsumen tentu menghadapi kendala memperbaiki barangnya karena ketiadaan suku cadang. Konsumen tidak boleh ditipu memperoleh barang dengan kualitas tertentu. Selain paling tidak memberikan gambaran bahwa perlu adanya suatu sarana bagi peningkatan perlindungan terhadap penggunaan perjanjian baku dan segala atributnya. sering membuat produsen harus mengubah tipe – tipe produknya mengikuti selera dan kebutuhan konsumen harus mengubah tipe – tipe produknya mengikuti selera dan kebutuhan konsumen yang terus berganti dalam waktu singkat. Meski demikian penggunaan perjanjian baku atau jika dapat dikatakan lebih luas ketidakseimbangan daya tawar para pihak merupakan suatu hal yang sangat sulit untuk diawasi atau dikendalikan. serta adanya kebutuhan dari pihak yang berdaya tawar lebih rendah untuk menerima isi dari perjanjian itu. . D. Perkembangan teknologi yang sangat cepat misalnya pada tegnologi perangkat computer. yang bisa kita hindari. jika ada kerusakan dari suatu tipe produk. Masalah lainnya yang menyangkut layanan purnajual adalah soal garansi dalam jangka waktu tertentu yang memberikan produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor pada konsumennya. ternyata hanya 9 ons. LAYANAN PURNAJUAL DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN Layanan purnajual (after sales service) merupakan kepentingan konsumen yang sangat vital dewasa ini. Kertas tisu yang dikemas dalam kotak yang dinyatakan beratnya 10 ons. yang tentu saja merugikan salah satu pihak pada perjanjian. Selain dengan mencantumkannya dalam Kitab Undang – Undang – Undang Hukum Perdata.ditempuh oleh Belanda. Secara sederhana dapat kita katakana bahwa yang kuat adalah yang menang masih berlaku. juga dapat dimuat dalam undang – undang yang mengatur mengenai perlindungan konsumen. Dengan adanya pengaturan terhadap Perlindungan Konsumen terutama pada peraturan yang berkaitan dengan klausul baku sedikit menyadarkan masyarakat bahwa mereka sebagai pihak dalam perjanjian memiliki hak yang (semestinya) sejajar dengan pihak lainnya dalam perjanjian baku. Misalnya. Demikian pula dengan tanggung jawab produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor dalam memenuhi hak konsumen. karena hal ini berkaitan dengan adanya unsure perlindungan dan kepentingan sepihak yang lebih besar daya tawarnya untuk melindungi kepentingannya. Di mana pengaturan ini merupakan tonggak awal baginya keseimbangan dalam penempatan pihak pada suatu perjanjian. kiranya dapat di pertimbangkan untuk ditiru. padahal hanya essence dari bahan – bahan kimia. padahal kenyamanannya tidak demikian. dan sebagainya. yakni dengan membuat ketentuan khususus mengenai tata cara pembuatan perjanjian standar. terutama hak untuk memiliki barang/jasa yang sesuai dengan nilai tukar yang diberikan. dikatakan jus yang dijual adalah sari jeruk asli.

Seharusnya tanggung jawab produk ini jangan dibatasi hanya pertanggung jawaban atas produk yang cacat. Produsen dari bahan – bahan mentah atau komponen dari produk itu. sehingga dapat mencapai tujuan peruntukan dan penggunaanny. disewakan. Di lingkungan Uni Eropa. 2. . yaitu tahapan ketiga ( pasca transaksi konsumen). menjadi kewajiban produsen untuk menjamin barang yang dijualnya bebas dari cacat tersembunyi. yakni: 1. namun baru untuk bidang farmasi. atau dipasarkan (tanpa mengurangi tanggung jawab si pemilik produk). Setiap pemasok produk. Sejak dahulu. Perluasan subjek yang dapat dimintai tanggung jawabnya telah pula diterapkan diberbagai Negara. Tanggung jawab produk adalah bagian dari transaksi konsumen. 1. 4. yang berlaku bukan lagi prinsip caveat emptor. Tanggung jawab dari si produsen dan pihak – pihak yang menyalurkan produknya secara tanggungan renteng seluruhnya bersifat tanggung jawab mutlak (strict liability) atau tanggung jawab tanpa kesalahan (liability without fault). Mengembalikan kesimbangan masyarakat akibat penggunaan dan beredarnya proguk cacat. yang lazim disebut tanggung jawab produk. 3. 2. Memudahkan proses pembuktian akibat penggunaan produk farmasi yang cacat. Meningkatkan mutu produk farmasi yang beredar. Jaminan ini merupakan perikatan yang otomatis dibebankan kepada produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor. atau memberikan tanda khusus untuk membedakan produknya dengan produk orang lain. Pengaturan tentang tanggung jawab produk ini belum ada pengaturannya di Indonesia. merek perusahaan. tanggung jawab produk adalah tanggung jawab dari pembuatan produk cacat yang bersangkutan. tetapi mengimpornya tidak diketahui. Setiap orang yang mengimpor produk untuk dijual. Membatasi tanggung jawab produk hanya pada pergantian atas produk yang cacat berarti tidak member banyak kemajuan bagi perlindungan konsumen. 3.Tampak masalah layanan purnajual adalah masalah perlindungan konsumen yang tidak dapat dipisahkan dengan tahapan – tahapan transaksi konsumen lainnya. Tujuannya dari pengembangan itu adalah untuk : 1. jika pembuatnya tidak diketahui atau pembuat produknya diketahui. Tim Kerja Naskah Akademis Badan Pembinaan Hukum Nasional pernah menyarakan agar dikembangkan system baru pertanggung jawaban hokum atau produk. misalnya dinyatakan dalam Pasal 3 Pedoman Masyarakat Eropa. Memberikan perlindungan kepada masyaraka terhadap penggunaan produk farmasi yang cacat. tetapi caveat venditor (produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditorlah yang bertanggung jawab. Setiap orang yang memasang nama. 4.

layanan purnajual diakomodasikan pula. Pasal 25 UUPK menyatakan. Pasal 27 huruf e UUPK bahkan memberi batas waktu kadaluarsa untuk melakukan penuntutan atau gugatan ini selama empat tahun sejak barang dibeli atau setelah lewat masa garansi. Waktu yang demikian pendek sangat mungkin tidak mencukupi bagi konsumen utnuk meneliti kembali hasil perbaikkan itu secara keseluruhan. Jelaslah. penyelesaian kasus purnajual seperti dinyatakan dalam Pasal 25 UUPK itu masih memerlukan upaya penuntutan ganti rugi dan/atau gugatan konsumen. masa garansi itu . Dalam UUPK. pelaku usaha wajib mengganti kerugian atas kerusakan. Suku cadang selalu tersedia dalam jumlah cukup dan tersebar luas dalam jangka waktu yang relative lama setelah transaksi konsumen dilakukan. Layanan purnajual sebenarnya meliputi permasalahan yang lebih luas. Ganti rugi jika barang/jasa yang diberikan tidak sesuai dengan perjanjian semula. Di sinilah diperlukan sosialisasi UUPK dan upaya gencar pendidikan konsumen. pencemaran. walaupun hanya dalam beberapa rumusan yang umum. untuk garansi perbaikan alat – alat elektronika ditetapkan lamanya selam satu tahun sejak barang diserahkan kembali. Ganti rugi ini bersifat serta merta. juga jika ia tidak memenuhi atau gagal memenuhi jaminan atau garansi yang diperjanjikan. Persoalannya adalah pelaku usaha sering secara sepihak mencantumkan masa garansi secara tidak proposional. seperti “barang yang telah dibeli tidak dapat dikembalikan). Barang yang digunakan. ketentuan ini agak berbeda dengan ketentuan tentang masa garansi dalam Pasal 27 UUPK. 2. Dalam Pasal 19 UUPK secara jelas diatur. Namun. dapat diperbaiki secara Cuma – Cuma selama jangka waktu garansi. Ketentuan dalam pasal yang disebutkan terakhir ini memberikan tenggang waktu pelayanan kepada konsumen sampai pada akhir masa garansi. jika mengalami kerusakan tertentu. Pelaku usaha tersebut wajib bertanggung jawab atas tuntutan ganti rugi dan/atau gugatan konsumen jika pelaku usaha itu tidak menyediakan atau lalai menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas perbaikan. 3. walaupun besar kemungkinan secara sosiologis masih digunakan secara luas oleh produsen.Jaminan dalam undang – undang ini pun dalam praktik dicoba untuk diminimalisasi dengan menyatakan sepihak ( klausul eksenorasi). dan/atau kerugian yang diderita konsumen akibat mengonsumsi barang dan/atau jasa. Untuk itu. Dalam UUPK tampaknya klausull eksenorasi demikian akan dihilangkan. dan terutama mencakup masalah kepastian atas : 1. Misalnya. wajib menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas penjualan dan wajib memenuhi jaminan atau garansi sesuai dengan yang diperjanjikan. bahwa pelaku usaha yang memproduksi barang yang pemanfaatannya berkelanjutan dalam batas waktu sekurang – kurangnya satu tahun. dan diberi jangka waktu & hari setelah tanggal transaksi.

Bagi importer yang melanggar. dalam keputusan itu disebutkan bahwa manual dan kartu jaminan/garansi produk elektronika tertentu perlu dilakukan pendaftaran. yang antara lain wajib memuat informasi mengenai ongkos perbaikkan gratis selama garansi dan jaminan ketersediaan suku cadang. Kartu jaminan/garansi itu berlaku sekurang – kurangnya 1 tahun. dan (11) microwave oven. dapat dikenakan sanksi administrative. Dalam peredarannya. (2) alat perekam atau reproduksi. yaitu (1) radio cassette/mini compo. maka yang bersangkutan harus mengajukan pendaftaran atas perubahan itu ke instansi yang sama. (9) kompor gas. Jika ada perubahan terhadap isi manual dan/atau kartu jaminan/garansinya sebagai akibat pergantian atau penambahan model (tipe) produk. Tim ini akan bekerja sam dengan asosiasi pelaku usaha terkait dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. Pelaku usaha yang menurut tim pemeriksa melakukan pelanggaran. Pelaku usaha dapat melakukan permohonan tanda pendaftaran manual dan kartu jaminan/garansi ini baik secara individual maupun melalui asosiasi usaha atas perubahan itu ke instansi yang sama. (6) lemari es (refrigerator). (5) monitor computer. serta masyarakat konsumen pada umumnya. (10) pompa air listrik untuk rumah tangga. Dalam peraturan yang disebutkan di atas. produk elektronika yang mendapatkan tanda pendaftaran itu wajib mencantumkan nomor surat tanda pendaftaran tersebut secara manual dan kartu jaminan/garansi yang dikeluarkan oleh produsen atau inportir tadi. dab Ditjen Perdagangan Dalam Negeri. (7) mesin pengatur suhu udara (AC).p. yakni pencabutan izin usaha industry (IUI) atau tanda daftar industry (TDI). sanksinya berupa pencabutan angka mengenal omportir (API) atau angka pengenal importer terbatas (APIT). Permohonan tanda pendaftaran diajukan ke Direktorat Jenderal Industri Logam Mesin Elektronika dan Aneka u. (4) printer. Pelaku usaha dapat melakukan permohonan tanda pendaftaran manual dan kartu jaminan/garansi baik secara individual maupun melalui asosiasi usaha terkait. bergantung pada klasifikasi (jenis) barang atau jasa yang diberikan oleh pelaku usaha itu. E. Khusus untuk produk elektronika. hanya sebelas jenis produk elektronika yang wajibkan pendaftaran. Dalam keputusan ini tidak jelas alasannya mengapa produk elektronika yang diwajibkan hanya dibatasi pada sebelas jenis tersebut. Tata cara pendaftaran diatur dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan Pedagangan No. Untuk kepentingan perlindungan konsumen. Ditjen Industri Logam Mesin Elektronika dan Aneka. (8) mesin cuci. Permohonan juga dapat dilakukan memalui jasa pos.Ditjen Pajak. pemerintah pembentuk tim pemerintah yang terdiri ats unsure kepolisian. Sebelum jenis produk yang beredar di Indonesia juga wajib dilengkapi kartu jaminan/garansi dalam bahasa Indonesia. Ditjen Bea dan cukai. Direktur Industri Elektronika (untuk produk dalam negeri) atau ke Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negara u.p Direktur Bina Pasar (untuk produk asal impor). kejaksaan.7/MPP/Kep/1/2000. pengaturan tentang layanan purnajual dicantumkan dalam keputusan menteri perindustrian dan perdagangan no. Kewajiban ini berlaku selama yang bersangkutan menjalankan kegiatan usahanya di Indonesia. HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL .608/MPP/Kep/10/1991 tentang petun juk penggunaan (manual) dan kartu jaminan/garansi dalam bahasa Indonesia bagi produk elektronika. (3) pesawat televise.perlu ditetapkan batas minimalnya oleh pembentuk undang – undang.

dan paten yang diterapkan untuk suatu barang atau jasa adalah benar-benar seperti apa yang ditampilkan. tetapi terlebih—lebih untuk melindungi produsen. Karena perjanjian putaran Uruguay ini diadakan dalam kerangka pembentukan Badan Perdagangan Dunia (Word Trade Organization) yang menjadi pengganti GATT. Ini berarti. Ironisnya. merek. maka prinsip-prinsip GATT dalam bidang HAKI ini juga diterapkan. dan desai produk industry. Hokum dibidang HAKI ini termasuk subtansi hokum yang sangat pesat perkembangannya. serta perjanjian yang berkaitan dengan waralaba. Tiga jenis hak yang terakhr dikenal juga sebagai hak milik industry (industrial property rights).merek.5 Tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. 15 Tahun 2001 tentang Merek 3. seperti layout design. yang memaksa Negara anggota untuk lebih terbuka dalam ketentuan perundang-undangan dan pelaksanaan anturan nasional dalam bidang perlindungan HAKI. tidak mengherankan jika dalam Pasal 50 Undang – Undang No. kkhususnya yang ada di luar negeri. Most favoured-nation atau nondiskriminasi antara pemilik HAKI asing dari suatu Negara dibandingkan dengan pemilik HAKI asing dari Negara lain 3. Undang – Undang No. undisclosed information (trade secret).14 Tahun 2001 tentang Paten 2. desain produk indutri. yakni pemilik hak atas kekayaan intelektual (HAKI) asing harus diberi perlindungan yang sama dengan warga Negara dari Negara yang bersangkutan. oleh karena itu. sebenarnya konsumen hanya berkepentingan agar ciptaan. Hak atas kekayaan intelektual adalah hak – hak yang diberikan kepada pelaku usaha untuk monopoli.Hak atas kekayaan intelektual (intellectual property rights) dalam garis besarnya mencakup hak cipta. dinyatakan bahwa larangan monopoli itu tidak berlaku untuk perjanjian yang berkaitan dengan hak atas kekayaan intelektual. Transparancy. paten. paten. Maksudnya. . Konsumen akan dirugikan jika ciptaan. Dilihat dari kacamata konsumen. rangkaiaan elektronika terpadu. Undang – Undang No. Hal ini secara jelas tampak dari dimasukkannya perjanjian mengenai Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) sebagai salah satu perjanjian utama yang dihasilkan oleh perundingan Putaran Uruguay itu setelah diadakan ratifikasi. Undang – Undang No. sering juga disebutkan jenis lain dari hak atas kekayaan intelektual. Sementara untuk desain produk industri sampai sekarang belum diatur secara khusus dalam suatu undang-undang. 7 Tahun 1994). merek dagang. merek. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Ketiga undang-undang tersebut dilengkapi pula dengan peraturan pelaksanaannya. dan paten itu ternyata tidak seperti yang dibayangkan karena dipalsukan oleh pelaku usaha. untuk mengetahui hak – hak konsumen bidang tersebut. 2. Di luar itu. dan sebagainya. perkembangan ini bukan karena pertimbangan untuk melindungi konsumen. yakni: 1. UUPK secara khusus mengecualikan pengaturan hak – hak konsumen yang muncul dalam bidang HAKI. Oktober 1994 (Undang-Undang No. seperti lisensi. kita perlu melihat pengaturannya dalam undang – undang yang lain. dan rahasia dagang. 1. Prinsipprinsip itu antara lain adalah prinsip. UUPK tidak mengatur lagi bidang hak atas kekayaan intelektual (HAKI) ini. National treatment. hak cipta.

Dimasa mendatang aka nada kelompok konsumen yang menyebut dirinya sebagai “pencinta dodol Garut” atau “ konsumen tembakau Deli” yang secara sepihak bersedia mengajukan permintaan perlindungan indikasi geografis atas produk yang mereka konsumsi. atau kombinasi dari kedua factor tersebut memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan. Tanda teresbut dapat berupa nama. kata. Di Indonesia memang belum lazim terbentuk asosiasi atau kelompok konsumen dari barang – barang tertentu. tempat. Pemakai hak atas indikasi asal dapat saja meningkatkan haknya menjadi pemegang hak. Akan lebih tepat jika digunakan istilah “pemakai hak”. ASURANSI Yusuf Shofie mengutamakan bahwa bisnis perasuransian di Indonesia hampir sama tuanya dengan bisnis perbankan. dan 2. seharusnya istilah “pemegang hak” tidak digunakan karena memang hak atas indikasi asal itu. dan sangat erat kaitannya dengan perlindungan konsumen adalah tentang indikasi geografi dan indikasi asal. dapat disimpulkan ada dua factor pembedaanya dengan indikasi geogarfis. Untuk kondisi di Indonesia. melainkan tanda. Istilah lain yang diatur dalam Undang – Undang No. 15 Tahun 2001 memberikan pengertian tentang indikasi geografis sebagai : “tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang yang karena factor lingkungan geografis termasuk alam. tetapi harus melalui putusannya pengadilan. Oleh karena itu. gambar. misalnya berupa eitket atau label yang dilekatkan pada barang yang dihasilkan. Factor pertama memberikan petunjuk. Berbekal putusan itu. Dari Pasal 59. Contoh dari barang yang berindikasi geografis adalah anggur Champaigne. sekalipun memenuhi semua unsure untuk disebutkan sebagai indikasi geografis.15 Tahun 2001 menyebutkan indikasi itu hanya untuk produk barang. Padahal dalam indikasi geografis. Sangat menarik. huruf atau kombinasi dari unsureunsur tersebut. Indikasi geografis ini bukan termasuk merek. Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 tergolong perusahaan asuransi yang cukup . Produsen dan pelaku usaha anggur manapun diluar daerah itu tidak diperkenalkan memakai label “anggur Champaigne” dalam produk mereka. ia dapat mengehentikan kegiatan usaha dari pelaku usaha lainnya. Kesalahan ini tentu cukup fundamental dan sangat berpengaruh terhadap upaya perlindungan hak – hak konsumen. factor manusia. Undang-undang No. Indikasi asal tidak didaftarkan. Nama – nama perusahaan asuransi jiwa seperti. Catatan lain tehadap indikasi asal ini adalah penggunaan kata barang dan jasa. Mengenai hal ini UUPK mencantumkannya dalam Pasal 9 ayat (1) huruf h. 15 Tahun 2001 juga di ajukan oleh kelompok konsumen dari barang – barang tersebut.Salah satu ketentuan yang barangkali termasuk baru dalam masalah HAKI ini. indikasi asal tidak perlu didaftarkan karena secara otomatis akan dilindungi. mungkin kita juga dapat menggunakan prinsip yang sama untuk produk seperti “dodol Garut” atau “ martabak Bangka”. 15 Tahun 2001 adalah tentang Indikasi asal. Undang – Undang No. F. bahwa dalam indifikasi geografis menurut pasal 56 ayat (2) Undang – Undang No. yaitu: 1. daerah atau wilayah. yang artinya diproduksi oleh produsen anggur dari daerah Champaigne. walaupun boleh jadi penerapannya tidak sesederhana yang dibayangkan. Indikasi asal itu meliputi produk baik berupa barang maupun jasa. Prancis.

Keikut sertaan konsumen dalam berbagai program dan jenis asuransi sangat pergantung pada pemahaman konsumen terhadap produk yang ditawarkan. Untuk mendorong kegiatan perarsuransian di Indonesia. asuransi dibedakan menjadi dua jenis. Dibandingkan industry perbankan.33 tahun 1964). Lippo Life. Pengalihan resiko ini di imbangi dalam bentuk pembayaran premi kepada perusahaan asuransi kerugian setiap bualan atau tahun bergantung pada perjanjian yang tetuang dalam polis. industry perasuransian kurang banyak dapat perhatian konsumen. misalnya rumah seseorang tebakar sehingga pemiliknya mengalami kerugian. terdapat sekitar 130 perusahaan asuransi. dan asuransi social. Setelah dikeluarkannya paket ketentuan itu. sehingga produk itu tidak marketable. didalamnya terdapat dua unsure. asuransi jiwa. asuransi social pegawai negeri (dikelola PT. Ansuransi Astra Buana. meliputi asuransi kerugian. produk – produk asuransi tergolong rumit dan sukar dipahami. H. Kedua.25 tahun 1981).undang No. Menurut sementara pejabat departemen keuangan RI. misalnya asuransi kerbakaran. reasuransi. dan lain – lain. 33 tahun 1964). Pertama. petanggungan jawab kecelakaan lalulintas jalan (Undang – Undang No. asuransi yang bersifat suka rela. bahkan cenderung merugikannya. BUMN.M.67 tahun 1991). manfaat peralihan resiko inilah yang diperoleh konsumen. Pada tahun 1991 pernah terjadi persaingan premi perusahaan asuransi telah membuat suatu pilihan untuk mendapatkan konsumen sebanyak – banyaknya tanpa memperhitungkan apakah penetapan besarnya premi yang tidak proporsional tersebut dapat dipertanggung jawabkan dari sisi underwriting.Purwo sudjibto memberikan pengertian resiko tidak lain adalah beban kerugian yang diakibatkan karena suatu peristiwa diluar kesalahannya. tak mau kalah dalam persaingan bisnis ini. jaminan social tenaga kerja (diselenggarakan astek berdasarkan Undang – Undang No. Persaingan mendapatkan konsumen memang terjadi dikalangan perusahaan asuransi. Sewu New York Life. Asuransi Cigna Indonesia. asuransi jiwa. tradisi berasuransi masih dianggap hal baru oleh sebagian masyarakat konsumen. Koprasi. Resiko diartikan pula sebagai kerugianyang tidak pasti. tak tanggung – tanggung pemerintah telah mengeluarkan paket kebijakan 20 Desember 1988. berbagai resiko senantiasa mengincar konsumen setiap saat.33 tahun 1964). dan konsumen). Sebagian konsumen cenderung memisahkan sebagian penghasilannya untuk disimpan dibank dari pada digunakan untuk asuransi. maka resiko ini dapat di alihkan kepada perusahaan asuransi kerugian dalam bentuk pembayaran klaim asuransi. New Hamshire Agung. yaitu ketidak pastian dan kerugian. Tidak mudah mencari tahu seberapa jauh pemahaman konsumen pada umumnya tehadap produk – produk asuransi. yaitu kemampuan untuk membayar polis kelak akibatnya klaim asuransi konsumen ditolak tanpa alas an yang benar dan patut. asuransi kendaraan bermotor. Dalam pada itu.taspen berdasarkan peraturan pemerintah No. Konsumen masih sering merasakan bahwa asuransi tak melindungi aktivitasnya. padahal sejalan dengan semakin konpleksnya aktifitas pelaku ekonomi (pemerintah. Dalam . asuransi yang bersifat wajib berdasarkan ketentuan undang – undang misalnya pertanggungan wajib kecelakaan penumpang ( Undang . Karena besarnya resiko ini dapat diukur dengan nilai barang yang mengalami peristiwa diluar kesalahan pemiliknya. meskipun kesan itu tak semuanya benar. Inilah resiko yang harus ditanggung pemiliknya. asuransi abri ( dikelola berdasarkan peraturan pemerintah No. apalagi dalam era perdagangan. Nama – nama terkenal lain seperti Dharmala Manulife.dikenal masyarakat. perusahaan swasta. Ansuransi Jiwa Buana Putra. Ditinjau dari sudut sifat dan berlakunya. dan sebagainya.

Dalam undang – undang ini ditegaskan juga hak konsumen untuk memperoleh informasi yang benar jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang atau jasa yang dibelinya serta hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang atau jasa yang digunakan. nasabah hanya membaca sekilas perjanjian tersebut. Permasalahan asuransi adalah permalahan jamak yang penyelesaian akhirnya seringkali membuat konsumen diposisi yang lemah. Masih banyak hak – hak yang diatur dalam UU sehingga posisi konsumen semakin kuat.8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen memberi jaminan supaya hak – hak tertanggung lebih diperhatikan. yang membuat para asuransi sering tidak tahu apa yang menjadi haknya. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen. Bedasarkan undang – undang ini konsumen berhak meminta keterangan segala sesuatu yang akan diperjanjikan dalam asuransi dan selaku pihak penjual produk.8 tahun1999 antara lain : 1. Terbitnya undang – undang No. Sebagai pihak yang berjanji tertangguang dan penanggung memiliki posisi yang setara dan tidak ada yang dibawah dan di atas. dimana isi perjanjian dibuat dengan kata-kata yang sulit dipahami dan dibuat dalam tulisan kecil-kecil(klausul baku) sehingga kesepakatan tersebut terjadi pada saat nasabah hanya memahami sebagaian kecil dari perjanjian tersebut. Hak atas kenyamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang atau jasa. 3. 4. tanpa dipahami secara mendalam konsekuensi yuridisnya. 2. Hak – hak lainnya yang ditegaskan dalam Undang – undang No. juga menatapkan mereka dalam posisi tawar yang lebih kuat. Keluhan – keluhan konsumen sekarang sudah terjawab dengan hadirnya undang – undang perlindungan konsumen. 6. Hak untuk memilih barang atau jasa serta mendapatkan barang atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kodis serta jaminan yang dijanjikan. Artinya. Namun. taka ada perlindungan resiko yang dialami konsumen sebaliknya perusahaan asuransi sudah mendapatkan premi yang dibayarkan konsumen. Hak – hak yang diatur dalam ketentuan – ketentuan peraturan perundang – undangan lain. dalam pelaksaannya posisi antara nasabah dan perusahan asuransi eringkali timpang. Hubungan antara perusahaan asuransi dan nasabahnya diatur dalam perjanjian yang mengikat dan disepakati oleh kedua belah pihak. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mempunyai hak untuk mendapatkan kompensasi. Padahal konsumen asuransi sebagaimana tertuang daam UU No. Asuransi termasuk jasa yang bisa dinikmati konsumen dengan terlebih dahulu menandatangani polis sebagai bentuk persetujuan keikut sertaan dengan memenuhi kewajiab membayar premi setiap bulan atau tahunnya. . perusahaan asuransi harus bersedia menjelaskan isi dan makna kontrak dalam polis hingga konsumen benar –benar memahaminya terhadap konsumen apakah pemakai produk atau pengguna jasa yang merasa dirugikan karena diperjanjikan atau sebagaiman mestinya undang – undang ini menjamin agar meraka mendapat konpensasi atau ganti rugi. pelindungan dan upaya penyelesaian sengketa secara patuh.keadaan seperti ini. 5. yang dibuat dalam semangat reformasi selain memberi perlindungan kepada konsumen. Hak untuk mendapatkan advokasi. Hak untuk diberlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminasi.

diterima atau ada jalan lain. perlu dilihat apakah dibuat dalam bentuknya yang sulit terlihat. Bahwa pelaku usaha yang memperdagangkan jasa wajib memenuhi jaminan atau garansi yang disepakati / yang diperjanjikan. Dalam hal petugas premi tidak menyerahkan uang premi konsumen kepada . Dalam hal ini pelaku usaha dapat diminta tanggung jawab atas kewajibannya sesuai Pasal 7 UU No. Apabila konsumen menurut saja. Kasus lain seperti yang diuraikan Yusuf Shofie dimana terkadang konsumen pemegang polis asuransi jiwa yang belum waktunya mengajukan klaim asuransi.6 juta hanya dikabulkan sebesar Rp 590 ribuan saja dengan alas an obat-obatan yang dipakai bukan yang termasuk dalam daftar PT ASKES. Konsekuensinya sepanjang petugas tersebut telah diberi kuasa untuk itu. Pelaku usaha dilarang mencantukan klausul baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas. Akan tetapi. klaim dapat diterima. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengenai klausal baku. Pembaruan polis itu membawa akibat jumlah premi yang harus dibayarkan meningkat. jelas dan jujur mengenai jaminan barang/jasa serta member penjelasan penggunaan perbaikan dan pemeliharaan. dan ia akan berada pada posisi yang sangat dirugikan. dari klaim Rp7. dibebankan kepada konsumen. apabila barang atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. atau pengungkapannya sulit dimengerti. baik secara perorangan ataupun badan hokum. sehingga PT ASKES dapat dituntut seperti apa yang tertuang dalam Pasal 18 ayat (2) UU No. Sebab kelalaian petugas penagih premi ( agen asuransi) dalam bentuk tidak disetorkannya premi kepada perusahaan asuransi. Keluhan dari konsumen berkaitan dengan klaim asuransi dapat kita lihat dari contoh kasus yang ditujukan pada YLKI yakni sebagai berikut : Bapak Imron saat ini sedang mengajukan klaim asuransi kepada PT ASKES atas perawat di salah satu RS Swasta. atatu yang pengungkapannya sulit dimengerti. petugas penagih premi.ganti rugi / penggantian. 2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian. Saran dari YLKI adalah melihat kembali perjanjian antara PT Askes dengan Bapak Imron selaku konsumen dari perusahaan asuransi. Apabila ada klausul yang mengatur tentang pembatasan obat yang harus diterima. dalam hal ini klaim uang pertanggungan setelah masa pertanggungan berakhir (dalam praktik disebut pula “klaim habis kontrak”) diminta untuk memperbarui polis asuransinya dengan alas an petugas penagih premi belum menyerahkan premi asuransi si konsumem kepada perusahaan. Ini membuktikan bahwa perusahaan asuransi tidak dibenarkan mengelak dari tanggung jawabnya. masalahnya adalah obat-obatan tersebut yang memilihkan dokter yang merawat. Dalam hal ini harusbagaimana bersikap. Karena masuk RS melalui Gawat Darurat. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen bahwa kewajiban pelaku usaha adalah beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya. Petugas penagih premi memberikan bukti pembayaran premi asuransi yang sah bersamaan atau pada saat konsumen menyerahkan pembayaran uang premi. konsekuensinya pengeluaran konsumen akan bertambah perbulan atau pertahunnya. apabila setelah dicermati tidak ada aturan tentang pembatasan obat yang harus digunakan maka Bapak Imron dapat meminta kompensasi sesuai apa yang menjadi kewajiban dari PT ASKES. Padahal menurut Undang-Undang No. Padahal konsumen sudah membayar preminya. segala tindakannya menjadi tanggung jawab perusahaan asuransi. bertindak untuk dan atas nama perusahaan asuransi. memberikan informasi yang benar.

baik dalam polis maupun syarat-syarat umum polis dibuat secara berimbang dan tidak merugikan konsumen dan perusahaan asuransi. asuransi menjadi lapse atau perlindungan tak lagi dijamin. semakin muda usia konsumen. Keterikatan itu dibuktikan dengn diterbitkan polis. Apabila tidak diminta atas desakan konsumen. Prinsip Indemnity. Alasan yang dicari-cari untuk menolak klaim konsumen seharusnya dihindarkan asas iktikad baik harus diutamakan dalam pelaksanaan perjanjian asuransi. Subtansi polis tunduk pada ketentuan-ketentuan tentang pertanggungan yang diatutr dalam KItab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD). lebih baik konsumen tunda dulu kebutuhan berasuransi. semakin kecil besarnya premi. Apabila besarnya premi yang ditawarkan sangat mempengaruhi pengeluaran konsumen dalam sebulan atau setahun. .perusahaan asuransi sekalipun telah diperingatkan atau bahkan malah menghilang. Sedangkan kegiatan perusahaan asuransi tunduk pada Undang-Undang No. sebagian perusahaan asuransi enggan menjelaskan system perhitungan besarnya premi yang harus dibayarkan. nilai tunai selama masa pertanggungan. yaitu perjanjian asuransi bertujuan memberikan ganti rugi terhadap kerugian yang diderita oleh tertanggung yang disebabkan oleh bahaya sebagaimana ditentuka dalam polis.5 niliar berdasarka UndangUndang Usaha Perasuransian. dalam hal ini Menteri Keuangan Republik Indonesia. Terutama dalam penetapan besarnya premi. Secara umum inilah yang disebut sebagai perjanjian konsensual. petugas itu patut diduga melakukan penggelapan asuransi yang dapat diancam hukkuman maksimal 15 tahun dan denda maksimal Rp 2. baik dengan menggunakan mata uang dalam negeri maupun luar negeri. Apabila sudah menjumpai masalah. Secara umum prinsip-prinsip yang berlaku dalam perjanjian asuransi. yaitu: 1. Dianjurkan agar konsumen tidak mudah tertarik dengan besarnya uang pertanggungan. Keterikatan hubungan konsumen dengan pihak perusahaan asuransi muncul sejak adanya kata sepakat dari pihak konsumen kepada perusahaan asuransi. menghindarkan konsumen dari tertunggaknya pembayaran premi. Padahal kedekatan petugas dengan konsumen tidak akan berpengaruh terhadap berbagai konsekuensi hokum keikutsertaan konsumen dalam asuransi. serta syarat-syarat umum polis. daftar atau table nilai tunai ini pada prinsipnya wajib diinformasikan kepada konsumen. Besarnya nilai tunai itu tercantum dalam daftar atau table yang dilampirkan atau merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari polis asuransi. Dalam hal pembayaran premi menunggak. semakin besar pula premi yang harus dibayarkan. Semestinya ketentuan yang tertuang. ketika petugas sales promotion menawarkan produk asuransi. Tak jarang petugas itu ternyata masih relasi konsumen sehingga mudah bagi konsumen untuk mengiyakannya. Selaanjutnya perusahaan asuransi akan membayarkan nilai tunainya sesuai masa pertanggungan yang telah dijalani konsumen. dalam hal ini Pasal 302-308 KUHD. Semakin besar uang pertanggungan. serta ketentuan-ketentuan instansi Pembina perasuransian. 2 Tahun 1992. Kecermatan menghitung besar nya premi dan membandingkannya dengan penghasilan perbulan. tidak boleh merugikan konsumen serta tidak mengancam kelangsungan perusahaan asuransi. Seringkali dengan terbitnya polis itu berarti secara serta merta konsumen tunduk pada syarat-syarat umum polis yang dibuat secara sepihak oleh perusahaan asuransi. Demikian pula. Karenanya bila konsumen didatangi petugas sales promotion perusahaan asuransi jiwa. konsumen diharapkan tidak mudah tergiur terhadap berbagai manfaat mengikuti asuransi tersebut. di mata hokum tidak ada lagi kawan dan bukan kawan atau relasi dan bukan relasi. Disamping itu terdapat keharusan menyelesaikan klaim asuransi denagn sebaik-baiknya.

Besarnya premi yang dibayarkan hendaknya dihitung dan dipahami secara teliti oleh konsumen sesuai dengan kemampuan keuangan konsumen. Penetapan lamanya masa pertanggungan atas dasar kesepakatan kedua belah pihak. terdapat pula produk asuransi jiwa yang dikemas dengan program beasiswa berencana. Jenis asuransi ini memberikan beasiswa untuk anak konsumen pada waktu yang telah ditentukan selama masa pertanggungan. yaitu pihak yang bermaksud akan mengasuransikan sesuatu harus mempunyai kepentingan dengan objek yang diasuransikan. Untuk ini diperlukan pemahaman konsumen terhadap produk-produk asuransi jiwa yang ditawarkan. Prinsip subrogasi. disamping menerima uang pertanggungan. Dalam polis dilarang pencantuman klausul yang dapat ditafsirkan bahwa tertanggung tidak dapat melakukan upaya hokum. Prinsip kejujuran sempurna yaitu kewajiban tertanggung menginformasikan segala sesuattu yang diketahuinya mengenai objek yang dipertanggungkan secara benar. Terlalu mudah menurut besarnya premi yang ditawarkan petugas asuransi akan membuat kesulitan bagi konsumen dikemudian hari.017/1993 tentang Penyelenggaraan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan reasuransi. Besarnya jumlah uang pertanggungan ini akan berpengaruh pula terhadap besarnya premi yang dibayarkan 4. Manfaat asuransi. Jenis asuransi. Besarnya manfaat yang diperoleh tertanggung / pihak yang ditunjuk bergantung pada . Dalam hal dicantumkan klausul pengecualian tentang resiko yang ditutup. Sebagai contoh mengenai isi perjanjian asuransi. Janagn heran. Pihak-pihak yang terikat dalam perjanjian. 2. apabila konsumen meninggal dunia dalam masa pertanggungan. yakni sejumlah pembayaran dan kompensasi yang menjadi hak konsumen atau pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran.15 atau 20 tahun. sehingga harus menolak pembayaran klaim. misalnya akan terjadi penunggakan pembayaran premi asuransi 5. yaitu bila tertanggung telah menerima ganti rugi ternyata mempunyai tagihan kepada pihak lain. maka tertanggung tidak berhak menerimanya. meliputi: penanggung. Prinsip kepentingan. pihak yang ditunjuk untuk menerima uang pertanggungan. anak konsumen akan tetap menerima beasiswa pada waktu yang telah ditentukan dalam polis 3.pertanggungan jiwa yang diikuti konsumen.2. menguraikan mengenai hal-hal yang biasanya dituangkan dalam polis asuransi jiwa dan ketentuan umum polis dan harus diperhatikan adalah sebagai berikut: 1. dengn sendirinya sama dengan masa pembayaran premi asuransi jiwa yang diikuti konsumen 6. pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan Indonesia No. dan hak itu beralih kepada penanggung Agar is polis tidak merugikan tertanggung. klausul itu harus dicetak sedemikian rupa supaya mudah diketahui. 225/KMK. 3. Masa berlakunya polis berkisar 10. Jumlah uang pertanggungan sesuai kesepakatan kedua belah pihak. 4. kepentingan mana dinilai dengan uang. baik Karena terjadinya resiko kematian pada tertanggung atau berakhirnya masa pertanggungan. pemegang polis.

tertanggung menyerahkan polis asuransi jiwa. bukti pembayaran premi terakhir c. 8. Pembatalan polis sering dilakukan secara sepihak oleh perusahaan asuransi dalam hal terpenuhinya satu atau lebih syarat. Polis konsumen dapat saja terancam batal dengan alas an pembayaran premi tertunggak. sebagai berikut: a. surat keterangan dokter/ pejabat yang berwenang menerangkan sebab-sebab meninggalnya tertanggung berakhirnya masa pertanggungan dengan sendirinya mewajibkan perusahaan asuransi membayarkan manfaat asuransi. Tata cara pembayaran manfaat asuransi. meskipun tertanggung masih hidup. polis asuransi jiwa b. bukti identitas yang bersangkutan d. b. pengajuan klaim dilengkapi persyaratan : a. seperti penagihan premi ke alamat rumah/kantor konsumen. pada hakikatnya salah satu bentuk pemasaran asuransi. tidak membebaskan pemengang polis dari kewajibannya untuk selalu melunasi premi asuransi”.jenis asuransi jiwa yang diikuti. Perusahaan asuransi mematahkan argumentasi konsumen dengan rumusan pasal :” penagihan premi asuransi di alamat penagihan atau melalui cara penagihan lainnya yang diselenggarakan perusahaan asuransi. penagian premi lewat kartu kredit. pemengang polis memeberikan keterangan atau persyaratan tidak jujur atau sengaja dipalsukan pada waktu mengisi formulir – formulir yang disi0terlebih dahulu oleh perusahaan asuransi. Pemahaman konsumen terhadap produk asuransi jiwa mutlak sangat diperlukan. Selambat – lambatnya dalam masa leluasa (biasanya kurang lebih 3 bulan) sejak tertunggaknya pembayaran premi tertanggung belum juga melunasi pembayarannya. hendaknya konsumen membiasakan tertib adminisdtrasi dengan meminta bahkan mendesak perusahaan asuransi untuk memberikan bukti pengajuan pembayaran pancairan klaim manfaat asuransi. Sebelum menerima pembayaran itu. 9. Bila argumentasi konsumen merujuk pada kelalaian petugas. konsumen sering disudutkan solah –olah menunggak pembayaran premi. Tata cara penagihan/pembayaran premi asuransi. Kemudahan pelayanan pembayaran premi. dan sebagainya. maka pihak yang ditunjuk untuk menerima manfaat asuransi segera mengajukan klaim pembayaran manfaat asuransi.dan bukti identitas yang bersangkutan kepada perusahaan asuransi. sebaiknya konsumen tetap mewaspadai. . 7. atas berbagai bentuk pelayanan pembayaran premi yang ditawarkan perusahaan asuransi. Dalam syarat – syarat umum polis yang tertuang dalam rumusan kalimat yang kecil – kecil (sering kali sulit dibaca saking kecilnya). bukti pembayaran premi terakhir. [pemberian keterangan/ pernyataan tersebut diberikan sebelum diterbitkannya polis (perjanjian) asuransi. Untuk kepentingan hokum konsumen. Dalam hal tertanggungmeninggal dunia. persoalan muncul bila petugas penagih premi membawa lari uang premi tertanggung.

alas an – alas an sebagai mana disebut pada butir 9 a dan b diatas digunakan perusahaan asuransi dengan iktikad baik. 3. tertanggung meninggal dunia karena bunuh diri b. Premi yang akan dibayarkan menjadi lebih tinggi dari sebelm dilakukan pemutihan. Sebaliknya. memberi hak kepada konsumenatas pembayaran nilai tunai bila polisnya telah mempunyai nilai tunai. Penolakan pembayaran klaim manfaat asuransi terjadi dalam hal : a. Sebaliknya pembatalan polis pada butir b. perincian besarnya nilai tunai itu sesuai dengan daftar yang dilampirkan pada polis. Walaupun perusahaan asuransi menolak pembayarannya berdasarkan salah satu alas an itu. terutama dolar amerika serikat padahal polis dan ketentuan umum. Berkas pengajuan klaim sudah dipenuhi pihak yang ditunujuk untuk menerima manfaat asuransi. tertanggung meninggal dunia karena perkelahian. yaitu menolak klaim yyang seharusnya dibayarkan. tidak memberikan hak apa pun kepada konsumen untuk menuntut pembayaran. Dalamperaktik peransuransian.Konsekuensi pembatalan polis berdasarkan alas an butir a. Ketidak adilan subtansi syarat – syarat umum polis. terdapat phenomena untuk mempersulit pengajuan klaim manfaat asuransi jiwa. perusahaan asuransi tetap berkewajiban membayar nilai tunainya atas polis yang telah memiliki nilai tunai. Pada tahun 1996 – 1998 YLKI menerima beberapa pengaduan asuransi yang dapat diringkas sebagai berikut : 1. Tidak hanya itu. Sangat dianjurkan kepada konsumen untuk meminta penjelasan secara terperinci mengenai peritungan nilai tunai itu sebelum konsumen menyutujui mengikuti asuransi jiwa. penyelewengan uang pembayaran premi konsumen oleh petugas asuransi yang berakibat dilakukannya “pemutihan” polis asuransi konsumen dengan kondisi yang baru. Pastikan pula informasi nilai tunai yang diinformasikan itu tidak berbeda dengan yang dilampirkan pada polis asuransi. masyarakat konsumen akan semakin jauh dari asuransi jiwa. 10. kecuali consumen dapat membuktikan keterangan atau pernyataannya deiberikan secara jujur dan benar. kecuali sebagai pihak yang membela diri. tertanggung meninggal dunia karena kejahatan yang dilakukannya c. 2. yaitu pihak yang ditunjuk untuk menerima uang pertanggung. maka pihak perusahaan asuransi dibebaskan untuk tidak membayar apapun kepada pihak ketiga itu. Penetapan atau pematokan curve secara sepihak terhadap klaim nilai tunai dan jatuh tempo pada polis asuransi jiwa yang dippertanggungkan dengan mata uang asing. Lebih baik menyimpan dibank yang sewaktu – waktu bisa diambil kembali ketika diperlukan. yaitu bila tertanggung mengalami kecelakaan yang berakibat cacat tetap sebagian diberikan santunan sesuai persentase dalam table polis sebaliknya bila berakibat cacat total tetap tidak diberikan santunan apapun. polis menentukan bahwa pembayaran premi asuransi atau klaim asuransi . ternyata klaimnya ditunda sampai memakan waktu 3 minggu atau bahkan lebih dengan alas an berkasnya tidak lengkap. Apabila ini sering terjadi. bila tertanggung terbukti meninggal dunia akibat kejahatan yang dilakukan pihak ketiga.

Apabila konsumen ragu – ragu supaya tidak memberi harapan pada pihak pemasaran. bertindak untuk dan atas nama perusahaan asuransi. tidak ada perebutan nasabah di lapangan. bukan dengan melakukan pembatalan polisnya untuk kemudian diikuti dengan pembaruan polis. konsumen harus tetap was pada. karena terkadang informasi awal dari suatu produk asuransi belum belum tentu sesuai dengan yang dijanjikan dalam pelksanaannya sebaliknya meminta bukti otentik sebagai dokumen tertulis pasda waktu pembayaran premi.diperhitungkan menurut kurs Bank Indonesia atau kurs yang berlaku sesuai pengumuman otoritas moneter pada saat jatuh tempo. serta ada pelayanan optimal bagi konsumen. dari isi perjanjian memang menjanjikan bagi konsumen karena masing – masing perusahaan asuransi mempunyai aturan – aturan sendiri. tindakan pembatalan polis ini sama saja dengan sikap mengelakn dari tanggung jawab yang dibebakan hokum kepada perusahaan asuransi. seharusnya pihak asuransi tidak hanya membekali petugas pemsarannya dengan berbagai keunggulan produk asuransinya tetapi mengenai juga ketentuan umum polis. semakin besar premi yang harus dibayarkannya. baik perorangan atau pun badan hokum. namun konsumen harus hati – hati. Iklim deregulasi hokum. Menyikapi hak konsumen atas informasi produk asuransi. Ibarat berjalan di atas buih air. Menurut Laily Zuriah selaku sekretaris BPSK Kota malang untuk kasus asuransi. Perusahaan asuransi seharunya melayani dan melindungi sebaik –baiknya konsumen yang mengalami kejadian ini. melakukan praktik dengan benar.bukan kah petugas premi. uang premi yang dibayarkan oleh konsumen menjadi semakin tinggi: apalagi semakin tua usia konsumen. . efesiensi birokrasi dalam pencairan klaim.? konsekuensinya. Yang terakhir ini wajib pula diinformasikan kepada calon konsumen secara jujur da proposional. lebih teliti dan menyerap informasi produk dari perusahaan asuransi tersebut. Semartono selaku kepala disperindag sekaligus ketua BPSK kota malang memberikan masukan agar konsumen lebih berhati – hati serta teliti dalam membeli produk asuransi. tindakkan petugas itu menjadi tanggung jawab perusahaan asuransi. tempat kedudukan tidak jelas. Laily memperjelaskan dengan memberikan contoh mengenai perusahaan asuransi swasta. premi dari tertanggung (konsumen) berupa emas. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen belum cukup untuk melindungi konsumen. bahkan Undang – undang No. dalam kasus ini konsumen jelas dirugikan karena terikat dengan perjanjian yang tidak jelas dan dalam pelaksanaannya tidak ada iktikad baik dari pelaku usaha. kurang kompeten. tata cara perhitungan premi dan nilai tunai.. Mengenai perjanjian asuransi terkadang terjadi karena rotasi petugas asuransi maka polis tersebut hilang dalam kerangka hokum perusahaan asuransi harus melakukan pengawasan terhadap petugasnya yang ada dilapangan sebagai bentuk tanggung jawab dan perlindungan hokum bagi konsumen dengan memberikan informasi yang benar dalam polis perusahaan asuransi dikelola lebih proposional. Pembatalan polis seperti ini tentunya sangat merugikan konsumen dengan melakukan pembaruan polis. Namun domisili perusahaan asuransi tersebut tidak tetap. modal tidak jelas akhirnya waktu jatuh tempo premi yang berupa emas tersebut dilarikan. Hendaknya petugas asuransi tidak mendesak konsumen untuk segera mengikuti perjanjian asuransi sebelum calon konsumen mempelajari dasn mengalami betul seluk beluk produk asuransi yang ditawarkan informasi yang disampaiikan secara tidak jujur dan proposioanal kepada calon konsumen sebenarnya menunujukan adanya dugaan kejahatan penipuan terhadap konsumen.

Aspek negatifnya pihak yang berminat. larangan yang ditentukan oleh kepatutan. melainkan karena inisiatif dari pihak yang sengketa dalam hal ini pengugat baik itu produsen atau pun konsumen pengadilan yang memberikan pemecahan atas hokum perdata yang tidak dapat bekerja di antara para pihak secara suka rela. Sebelumnya itu berarti surat gugatan harus sudah dipersiapkan terlebih dahulu secara teliti dan cermat. Pasal 1338 ayat (3) BW menentukan semua perjanjian yang dibuat pihak – pihak harus dilaksanakan dengan iktikad baik. Terhadap syarat – syarat baku terhadap masyarakat kita belum memperhatikan kecuali mereka yang pernah mengajukan klaim ganti rugi. memakai jasa konsumen. BAB 8 PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN A. modal. Pasal ini haruslah ditafsirkan bahwa bukan hanya ketentuan kebiasaan dan undang – undang yang membolehkan atau berisi suruhan saja yang mengikat atau berlaku bagi suatu perjanjian tetapi juga ketentuan yang melarang mengikat atau berlaku bagi perjanjian itu. kebiasaan. Masuknya suatu sengketa kedepan pengadilan bukanlah karena kegiatan sang hakim. kebiasaan dan undang – undang merupakan juga syarat – syarat dari satu perjanjian. pelanggan dan lain – lain tidak dapat berbuat sesuatu kecuali terpaksa menerima persyaratan yang disodorkan embel – embel take it or leave it baru menyadari kalau dia berada dalam posisi yang lemah kalau mengalami kerugian. PENYELESAIAN SENGEKETA DIPERADILAN UMUM Sengketa konsumen dibatasi pada sengketa perdata. Dengan kata lain.Menurut Aloysius R. Entah salah satu pakar hokum perjanjian dan akademisi di malang menjelaskan bahwa dengan pelaksanaan “asas kebebasan berkontrak” yang melahirkan perjanjian baku termasuk asuransi polis asuransi secara umum terbatasi atau dikendalikan oleh ketentuan – ketentuan sebagi berikut: 1. pasal ini ditafsirkan bahwa isi atau klausul – klausul suatu perjanjian tidak boleh bertentangan dengan undang – undang. Aspek positifnya ialah perjanjian baku yang dibuat sepihak oleh penangguh mengurangi biaya pembuatan dan waktu berunding di antara para pihak. 2. apabila kausa itu dilarang oleh undang – undang atau bertentangan dengan modal atau dengan ketertiban umum. . Pasal 1339 BW menentukan : perjanjian – perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal – hal yang dengan tegas dinyatakan didalamnya tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat dari persetujuan itu diharuskan oleh kepatutan. dan/atau ketertiban umum. atau undang – undang. Oleh karena itu perjanjian baku dalam hal ini termasuk polis asuransi mengandung aspek positif dan asfek negative. Istilah produsen berperkara didahului dengan pendaftaran surat gugatan dikepanitraan perkara perdata dipengadilan negeri. Pasal 45 ayat 1 UUPK menyatakan : 1. Setiap konsumen yang dirugikan dapat mengugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui pradilan yang berada di lingkungan umum. 3. Pasal 1337 BW menentukan: suatu kausa adalah terlarang.

sehingga sengketa konsumen ini pun dapat bersifat trans nasional. 3. . misalnya dalam kaitannya dengan kebijakan aparat pemerintah yang ternyata dipandang merugikan konsumen secara individual bahkan. Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat. konsumen yang dirugikan haknya. Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu pihak atau oleh pihak yang bersengketa. 4. pihak konsumen yang diberikan hak konsumen mengajukan gugatan menurut pasal 46 UUPK adalah : 1. Pemerintah terkait jika barang dan jasa yang konsumsi mengakibatkan kerugian materi yang besar dan korban yang tidak sedikit. yaitu berbentuk badan hokum atau yayasan yang dalam anggaran dasarnya menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan yang didirikannya organisasi itu ialah untuk kepentingan perlindungan konsumen dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggran dasar. Dalam kasus perdata diperadilan negeri . Sekelompok konsumen yang mempunyai yang sama 3. Hal yang dikemukan terakhir ini dapat terjadi. Dari pernyataan pasal 45 ayat 3 jelas seharusnya bukan hanya tanggung jawab pidana yang tetap dibuka kesempatannya untuk diperkarakan melainkan juga tanggung jawab lainnya.2. tidak hanya diwakilkan oleh jaksa dalam penuntutan peradilan umum untuk kasus pidana tetapi ia sendiri dapat juga mengugat pihak lain lingkungan peradilan tata usaha Negara jika terdapat sengeketa administrasi didalamnya. Penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau diluar pengadilan berdasarkan pilihan suka rela para pihak yang bersengketa. Seorang konsumen yang dirugikan yang bersangkutan 2. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 tidak menghilangkan tanggung jawab pidana sebagai mana diatur dalam undang – undang. 4. misalnya dibidang administrasi Negara. mengingat makin banyaknya perusahaan multinasional yang beroprasi di Indonesia juga tidak menutup kemungkinan ada konsumen yang menggugat pelaku usaha diperadilan Negara lain.