HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN OLEH: CELINA TRI SIWI KRISTIYANTI, S.H., M.Hum.

DOSEN: H. ZULKARNAIN IBRAHIM, S.H., M.Hum.

OLEH:
YOPI PEBRI (hlm 1-32) 02091401012 FARID AKBAR (hlm 33-68) 02091401089 INDAH PERMATA (hlm 69-100) 02091401043 FIRANDHIKA (hlm 101-134) 02091401073 BUNGA SUKMAWATI (hlm 135-170) 02091401049 LANIARI RIZKI (hlm 171-202) 02091401193

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SRIWIJAYA KAMPUS PALEMBANG TAHUN AJARAN 2010/2011

BAB 1 LATAR BELAKANG HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN

A.PENGANTAR Hukum perlindungan konsumen dewasa ini mendapat cukup perhatian karena menyangkut aturan-aturan guna mensejahterakan masyarakat, bukan saja masyarakat selaku konsumen saja yang mendapat perlindungan, namun pelaku usaha juga mempunyai hak yang sama untuk mendapat perlindungan, masing-masing ada hak dan kewajiban. Pemerintah berperan mengatur, mengawasi dan mengontrol, sehingga tercipta sistem yang kondusif saling berkaitan satu dengn yang lain dengan demikian tujuan menyejahterakan masyarakat secara luas dapat tercapai. Perhatian terhada perlindungan konsumen, terutama di amerika serikat (19601970-an) mengalami perkembangan yang sangat signifikan dan menjadi objek kajian bidang ekonomi, sosial, politik, dan hukum. Banyak sekali artikel dan buku yang ditulis berkenaan dengan gerakan ini. Di Amerika Serikat bahkan pada era tahuntahun tersebut berhasil diundangkan banyak peraturan dan dijatuhkan putusan-putusan hakim yang memperkuat kedudukan konsumen. Fokus gerakan perlindungan konsumen (konsumerisme) dewasa ini sebenar nya masih paralel dengan gerakan pertengahan abad ke-20. Di indonesia, gerakan perlindungan konsumen menggema dari gerakan serupa di Amerika Serikat. YLKI yang secara populer di pandang sebagai perintis advokasi konsumen di indonesia berdiri pada kurun waktu itu, yakni 11 mei 1973. Gerakan di indonesia ini termasuk cukup responsif terhadap keadaan, bahkan mendahului Resolusi Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC) No. 2111 Tahun 1978 tentang Perlindungan Konsumen. Sekali pun demikian, tidak berarti sebelum ada YLKI perhatian terhadap konsumen di Indonesia sama sekali terabaikan. Beberapa produk hukum yang ada, bahkan yang diberlakukan sejak zaman kolonial menyinggung sendi-sendi penting perlindungan konsumen. Dilihat dari kuantitas dan materi muatan produk huum itu dibanding kan dengan keadaan di negara-negara maju (terutama Amerika Serikat), kondisi di indonesia masih jauh menggembirakan. Walaupun begitu, keberadaan peraturan hukum bukan satu-satunya ukuran untuk menilai keberhasilan gerakan perlindungan konsumen. Gerakan ini seharusnya bersifat massal dan membutuhkan kemauan politik yang besar untuk mengapliksikannya. Secara umum,sejarah gerakan perlindungan konsumen dapat dibagi dalam empt tahapan. 1. Tahapan I(1881-1914) Kurun waktu ini titik awal munculnya kesadaran masrayakat untuk melakukan gerakan perlindungan konsumen. Pemicunya, histeria massal akibat novel karya Upton Sinclair berjudul The jungel, yang menggambarkan cara kerja pabrik pengolahan daging di Amerika Serikat yang sangat tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan. 2. Tahapan II (1920-1940) Pada kurun waktu ini muncul pula buku berjudul Your Money’s Worth karya chase dan schlink. Karya ini mampu menggugah konsumen atas hak-hak mereka dalam jual beli. Pada kurun waktu ini muncul slogan: fair deal, best buy. 3. Tahapan III (1950-1960) Pada dekade 1950-an ini muncul keinginan untuk mempersatukan gerakan perlindungan konsumen dalam lingkup internasional. Dengan diprakarsai oleh

wakil-wakil gerakan konsumen dari amerika Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Australia, dan Belgia, pada 1 april 1960 berdirilah internasional Organisasi of Consumer Union. Semula organisasi ini berpusat di den haag, Belanda, lalu pindah ke Londen, Inggris, pada 1993. dua tahun kemudian IOCU mengubah namanya menjadi Consumen Internasional (CI). 4. Tahapan IV (pasca-1965) Pasca 1965 sebagai masa pemantapan gerakan perlindungan konsumen, baik di tingkat regional maupun internasional. Sampai saat ini dibentuk lima kantor regional, yakni Amerika Latin dan karibia berpusat di Cile, Asia pasifik berpusat di malaysia, Afrika berpusat di Zimbabwe, Eropa Timur dan Tengah berpusat di Inggris dan negara-negara maju juga berpusat di London, Inggris. B.LATAR BELAKANG HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN 1. Globalisasi Ekonomi dan Perdagangan Bebas Negri-negri yang sekarang ini disebut negara-negara maju telah menumpuh pembangunannya melalui tiga tingkat: unifikasi, industrialisasi, dan negara kesejaheraan. Pada tingkat pertama yang menjadi masalah berat adalah bagaimana mencapai integrasi politik untuk menciptakan persatuan dan kesatuan nasional. Tingkat kedua, perjuangan untuk pembangunan ekonomi dan modernisasi politik. Akhirnya pada tingkat ketiga tugas negara yang terutama adalah melindungi rakyat dari sisi negatif industrialisasi, membetulkan kesalahan-kesalahan pada tahap-tahap sebelumnya dengan menekankan kesejahteraan masyarakat. Tingkat-tingkat tersebut dilalui secara berurutan (consecutive) dan memakan waktu yang relatife lama. Persatuan nasional adalah persyaratan untuk memasuki tahap industrialisasi. Industrialisasi merupakan jalan untuk mencapai Negara kesejahteraan. Revolusi industri di Inggris yang dimulai pada abad ke-18 kiranya dapat dianggap sebagai awal proses perubahan pola kehidupan masyarakat yang semula merupakan masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Berkembang dan semakin majunya teknologi kemudian mendorong pula peningkatan volume produksi barang dan jasa. Perkembangan ini juga mengubah hubungan antara penyedia produk dan pemakai produk yang semakin beranjak. Produk barang dan jasa yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia semakin lama semakin canggih, sehingga timbul kesenjangan terhadap kebenaran informasi dan daya tanggap konsumen. Kondisi tersebut kemdian menempatkan konsumen dalam posisi yang lemah. Sejak dua dasawarsa terakhir ini perhatian dunia terhadap masalah perlindungan konsumen semakin meningkat. Gerakan perlindungan konsumen sejak lama dikenal di dunia Barat. Negara-negara di Eropa dan Amerika juga telah lama memiliki peraturan tentang Perlindungan Konsumen. Organisasi Dunia seperti PBB tidak kurang perhatiannya terhadap masalah ini. Hal ini terbukti dengan dikeluarkannya Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa No.39/249 Tahun 1985. Dalam resolusi ini kepentingan konsumen yang harus dilindungi meliputi. a. perlindungan konsumen dari bahaya-bahaya terhadap kesehatan dan keamanannya; b. promosi dan perlindungan kepentingan sosial ekonomi konsumen; c. tersedianya informasi yang memadai bagi konsumen untuk memberikan kemampuan mereka dalam melakukan pilihan yang tepat sesuai dengan kehendak dan kebutuhan pribadi; d. pendidikan konsumen;

aktivitas finansial. Globalisasi adalah gerakan perluasan pasar. dalam posisi tunggal/sendiri maupun berkelompok bersama orang lain. dan lain-lain. perdagangan. tersedianya upaya ganti rugi yang efektif. meningkatkan intensitas persaingan. waralaba. Setiap orang. dan disemua pasar yang berdasarkan persaingan. perlindungan konsumen harus mendapat perhatian yang lebih. Persaingan perdagangan internasional dapat membawa implikasi negatif bagi perlindungan konsumen. mengingat sedemikian kompleksnya permasalahan yang menyangkut perlindungan konsumen. f. yang akan membawa akibat pada komposisi masyarakat dan kondisi kehidupan mereka. Globalisasi menyebabkan berkembangnya saling ketergantungan pelaku ekonomi dunia.e. aliansi strategis internasional. kebebasan untuk membentuk organisasi konsumen. Kini transaksi menjadi beraneka ragam dan rumit. Perlindungan terhadap konsumen dipandang secara material maupun formal makin terasa sangat penting. selalu ada yang menang dan kalah. Dalam rangka mengejar dan mencapai kedua hal tersebut. Pada masa lalu bisnis internasional hanya dalam bentuk ekspor-impor dan penanaman modal. investasi melewati batas-batas negara. Perdagangan bebas juga menambah kesenjangan antara negara maju dan negara pinggiran (periphery). turnkey project. Manufaktur. . Mengingat lemahnya kedudukan konsumen pada umumnya dibandingkan dengan kedudukan produsen yang relatif lebih kuat dalam banyak hal. dimana ekonomi indonesia juga telah berkait dengan ekonomi dunia. Untuk itu semua cara pendekatan diupayakan sehingga mungkin menimbulkan berbagai dampak. akhirnya baik langsung maupun tidak langsung. alih teknologi. lebih-lebih menyongsong era perdagangan bebas yang akan datang. upaya-upaya untuk memberikan perlindungan yang memadai terhadap kepentingan konsumen merupakan suatu hal yamg penting dan mendesak untuk segera dicari solusinya. informasi yang tidak jelas bahkan menyesatkan pemalsuan dan sebagainya. Keadaan yang universal ini pada beberapa sisi menunjukkan adanya beberapa kelemahan pada konsumen sehingga konsumen tidak mempunyai kedudukan yang “aman’’. Konsumen yang keberadaannya sangat tidak terbatas dengan strata yang sangat bervariasi menyebabkan produsen melakukan kegiatan pemasaran dan distribusi produk barang atau jasa dengan cara seefektif mungkin agar dapat mencapai mencapai konsumen yang sangat majemuk tersebut. maka pembahasan perlindungan konsumen akan terasa aktual dan selalu penting untuk dikaji ulang. mengingat makin lajunya ilmu pengetahuan dan teknologiyang merupakan motor penggerak bagi produktivitas dan efisiensi produsen atas barang dan jasa yang dihasilkan dalam rangka mencapai sasaran usaha. termasuk keadaan yang menjuruspada tindakan yang bersifat negatf bahkan tidak terpujiyang berawal dari iktikad buruk. Tiadanya perlindungan konsumen adalah sebagian dari gejala negri yang kalah dalam perdagangan bebas. imbal beli. Dampak buruk yang lazim terjadi. terutama di indonesia. Oleh karena itu. konsumen lah yang pada umumnya merasakan dampaknya. Gejala ini dipercepat oleh kemajuan komunikasi dan transportasi teknologi.antara lain menyangkut kualitas. Dengan demikian. secara mendasar konsumen juga membutuhkan perlindungan hukum yang sifatnya universal. pada suatu waktu. dalam keadaan apapun pasti menjadi konsumen untuk suatu produk barang atau jasa tertentu. atau mutu barang. seperti kontrak pembuatan barang. karena investasi asing telah menjadi bagian pembangunan ekonomi indonesia.

Perubahan pemasaran tersebut membawa pengaruh pula pada konsep perlindungan konsumen secara global. peraturan pemerintah serta kekuatan makro. promotion. ekonomi. karena pertama konsumen disamping mempunyai hak-hak yang bersifat universal juga mempunyai hak-hak yang bersifat sangat spesifik (baik situasi maupun kondisi). dengan pembaruan dari konsep pemasaran menjadi konsep strategi. Hal ini dilakukan dengan tujuan memperoleh laba. promosi dan saluran distribusi. Hal ini sangat penting mengingat kepentingan konsumen pada dasar nya sudah ada sejak awal sebelum barang/jasa diproduksi selama dalam proses produksi sampai pada saat distribusi sehingga sampai ditangan konsumen untuk dimanfaatkan secara maksimal. Konsep strategi pemasaran pada dasrnya mengubah fokus pemasaran dari pelanggan atau produk kepada pelanggan dalam konteks lingkungan eksternal yang lebih luas. dunia usaha dan masyarakat konsumen Indonesia. Konsep-konsep dipandang dari strategi pemasaran global telah berubah dari waktu ke waktu. sehingga tidaklah dapat dikaji dari aspek hukum semata-mata. price. Ketiga. masyarakat dan negara). melalui bebagai kesepakatan internasional seperti GATT (General Ageement on Trade and Tarif). Pemikiran konsep secara luas dan kajian dari aspek hukum pun juga membutuhkan wawasan hukum yang luas. AFTA (Asean Free Trade Area) dan lain-lain. merupakan dambaan bagi setiap produsen. Indonesia menjadi salah satu pelaku dalam era pedagangan bebas. politik secara luas. yaitu dari laba menjadi keuntungan pihak yang berkepentingan (yaitu orang perorangan atau kelompok yang mempunyai kepentingan dalam kegiatan perusahaan termasuk di dalamnya karyawan. yaitu dengan pembaruan pemasaran marketing mix atau 4p ( product. Perlindungan konsumen dalam era pasar global menjadi sangat penting. Orientasi pemasaran global pada dasarnya dapat mengubah berbagai konsep. setiap perusahaan (setiap produsen) adalah menuju pada pemasaran global. Sasaran masih tetap pada laba. Untuk itu harus memanfaatkan pelanggan yang ada termasuk pesaing. perlindungan terhadap konsumen juga membutuhkan pemikiran yang luas pula. sebagaimana tahapan berikut: Pertama. harga. mengingat makin ketatnya persaingan untuk berusaha. Kedua.Pada situasi ekonomi global dan menuju eraperdagangan bebas. cara pandang dan cara pendekatan mengenai banyak hal termasuk strategi pemasaran. Disamping itu juga terjadi perubahan pada tujuan pemasaran. tetapi cara pencapaian mejadi luas. WTO (World Trade Organization). 2. pelanggan. and place) produk. dengan menjual atau membujuk pelanggan potensial untuk menukar uangnya dengan produk perusahaan. kebijakan yang berlaku. Dibandingkan pemerintah dan . sangat tergantung pada kesiapan pemerintah. Saat ini sasaran setiap negara.manajemen. sosial. Berhasil tidaknya Indonesia memanfaatkan era perdagangan bebas. konsep pemasaran pada awalnya adalah memfokuskan pada produk yang lebih baik yang berdasarkan pada standar dan nilai internal. Persaingan yang makin ketat ini juga dapat memberikan dampak negatif terhadap konsumen pada umumnya. pada dekade enam puluhan fokus pemasaran dialihkan dari produk kepada pelanggan. Bertolak dari rangkaian perubahan konsep pemasaran tersebut. Era perdagangan bebas merupakan suatu era kemana pemasaran merupakan suatu disiplin universal. Hubungan antara Produsen dan Konsumen Sudah menjadi komitmen Pemerintah Indonesia. upaya mempertahankan pelanggan/konsumen atau mempertahankan pasar atau memperoleh kawasan pasar baru yang lebih luas. sebagai konsep baru pemasaran.

c) penetapan kouta ekspor. Kedua. dari segi jenis/macam barang. konsumen lebih banyak pilihan dalam menentukan berbagai kebutuhan. posisi konsumen khususnya di negara berkembang dirugikan. bukan sebaliknya justru menjadi musibah. Ada dua asumsi dalam melihat posisi konsumen di era pasar bebas. (2) Resale price maintenance: penjual merancang harga yang dapat dibebankan kepada konsumen. (3) exclusive dealing: dua penjual atau lebih menciptakan monopoli lokal dengan persetujuan untuk berbagai pasarke dalam wilayah-wilayah. (6) Differential pricing: pemasok menentukan harga berbeda kepada pembeli yang berbeda atas dasar selain mutu dan jumlah yang dilepas. satu cara untuk menangkal purusahaan asing membanjiri barang dan jasa yang lebih murah dari pada harga yang ditetapkan oleh perusahaan di dalam negri. persetujuan di antara perusahaan atas harga ekspor. mutu. praktis belum ada pihak yang menyentuh bagaimana mempersiapkan konsumen Indonesia menghadapi pasar bebas. baik berupa barang dan jasa. serta adanya kemudahan keluar masuk barang ke dalam pasar tanpa halangan.satu perusahaan atau lebih bergerak untuk menciptakan monopoli di luar batas yurisdiksi satu Negara. (c) persekongkolan bisnis strategis. Contoh kasus buah impor. Seperti (1) Tied selling: penjual memaksa pembeli untuk membeli barang dan jasa lebih daripada yang dibutuhkan pembeli. agar era perdagangan bebas bagi konsumen benar-benar menjadi anugrah. 3) Trade policy. (5) Refusal to deal: satu pemasok memaksa seseorang pembeli untuk menaati satu mandat tertentu dibawah ancaman penarikan barang dan jasa. b) penetapan target impor. Alasannya. akan menjadikan konsumen negara dunia ketiga menjadi sampah berbagai produk yang di negara maju tidak memenuhi persyaratan untuk dipasarkan. maupun harga. mengingat dalam praktik. c) kartel domestik. (4) Reciprokal exclusiveity: penjual menyetujui hanya menjual barang dan jasa dari pemasok saja. banyak sekali peraturanperaturan yang justru bernuansa anti persaingan.dunia usaha. persekongkolan diantara perusahaan yang bersaing untuk mengembangkan produk atau penelitian. 2) Industrial policy: a) kartel ekspor. Dalam kenyataan. b) kartel impor. Oleh karena itu.satu tindakan bersama dari babaraa perusahaan dari berbagai negara untuk membagi pasar dan menetapkan harga. satu cara dari perusahaan untuk membatasi akses pasar bagi perusahaan asing. a) merger dan akuisisi. a) undang-undang anti dumping. 1) Cross border business agreement. Di negara maju buah impor ditolak karena kandungan/residu pestisida di atas ambang batas yang membahayakan kesehatan.menurut Customers Internasional (CI) anggapan dasar ini tidak selalu menjadi kenyataan. sementara di negara bekembang bebas masuk karena belum ada standardisasi mutu buah impor. (7) Predatory pricing: penjual menentukan perbedaan harga dengan tujuan untuk mendorong pesaing keluar dari bisnis. Logika gagasan ini adalah. dengan adanya liberalisasi perdagangan arus keluar masuk barang menjadi semakin lancar.(b) kartel internasional. posisi konsumen diuntungkan. satu tanggapan defensif oleh perusahaanperusahaan yang membeli barang dari kartel ekspor. Pertama. lemahnya produk perundang-undangan. . masih lemah nya pengawasan dibidang standardisasi mutu barang. Anggapan dasar dalam pasar bebas adalah adanya arus informasi yang sempurna yang memberi kemungkinan pada pembeli dan penjual untuk memilih barang dan jasa secara rasional. Permasalahannya. persyaratan-persyaratan apa yang harus ada dalam pranata hukum Indonesia.

Rangkaian kegiatan tersebut merupakan rangkaian perbuatan dan perbuatan hukum yang tidak mempunyai akibat hukum dan yang mempunyai akibat hukum baik terhadap semua pihak maupun hanya terhadap pihak tertentu saja. Hal tersebut secara sistematis dimanpaatkan oleh produsen dalam suatu sistem distribusi dan pemasaran produk barang guna mencapai tingkat produktivitas dan efektivitas dalam rangka mencapai sasaran usaha. hukum ini juga akan mendorong produsen untuk melakukan usaha dengan penuh tanggung jawab. Proses sampai hasil produksi barang atau jasa dilakukan tanpa campur tangan konsumen sedikit pun. jadi tidak membebani produsen dengan tanggung jawab. tidak mungkin produsen dapat terjamin kelangsungan usahanya. distribusi pada pemasaran dan penawaran. Karena sifatnya yang masal tersebut. dengan jelas terlihat bahwa kedudukan konsumendi dalam era perdagangan babas sangat lemah. yakni adanya permintaan yang meningkat dari masyarakat sehingga produsen dituntut untuk meningkatkan produktifitasnya. (3) Peningkatan kesadaran konsumen akan hak-haknya. tetapi juga melindungi hak-haknya untuk melakukan usaha dengan jujur: (2) aparat pelaksa hukumnya harus dibekali dengan sarana yang memadai dan disertai dengan tanggung jawab. (4) mengubah sistem nilai dalam masyarakat ke arah sikap tindak yang mendukung pelaksanaan perlindungan konsumen. semua tujuan tersebut hanya dapat dicapai bila hukum perlindungan konsumen dapat diterapkan secara konsekuen. konsumen kebutuhannya sangat bergantung dari hasil produksi produsen. syarat kesehatan. Secara tidak langsung. Secara umum dan mendasar. karna sifatnya yang massal. Produsen sangat membutuhkan dan sangat bergantung atas dukungan konsumen sebagai pelanggan. Untuk itu perlu diatur perlidungan konsumen berdasarkan undang-undang antara lain menyangkut mutu barang. . Namun. syarat lingkungan. Sapai pada tahapan hubungan penyaluran atau distribusi tersebut menghasilkan suatu hubungan yang sifatnya massal. Tujuan hukum pelindungan konsmen secara langsung adalah untuk meningketkan martabat dan kesadaran konsumen. Untuk mewujutkan harapan tersebut. Perlunya undang-undang perlindungan konsumen tidak lain karena lemahnya posisi konsumen dibandingkan posisi produsen. Sebaliknya. maka peran negara sangat dibutuhkandalam rangka melindungi kepentingan konsumen pada umumnya. cara prosedur produksi.Dari apa yang telah dipaparkan CI diatas. syarat pengemasan. perlu dipenuhi beberapa persyaratan minimal. Hubungan antara produsen dan konsumen yang berkelanjutan sejak proses produksi. Saling ketergantungan karena kebutuhan tersebut dapat menciptakan suatu hubungan yang terus-menerus dan berkesinambungan sepanjang masa. Hubungan tersebut terjadi karena keduanya memang saling menghendaki dan mempunyai tingkat ketergantungan yang cukup tinggi antara yang satu dengan yang lain. dan sebagainya. Tanpa dukungan konsumen. antara lain: (1) hukum perlindungan konsumen harus adil bagi konsumen maupun produsen. yakni adanya permintaan yang meningkat dari masyarakat sehingga produsen dituntut untuk meningkatkan produktivitasnya. sesuai dengan tingkat ketergantungan akan kebutuhan yang tidak terputus-putus. hubungan antara produsen (perusahaan penghasilan barang dan/atau jasa) dengan konsumen (pemakai akhir dari barang dan/atau jasa untuk dari sendiri ataukeluarganya) merupakan hubungan yang terus-menerus dan berkesinambungan.

Dalam praktik nya. tetapi juga akan merugikan produsen yang jujur dan bertanggung jawab. Kedala yang dihadapi dalam upaya perlindungan konsumen di indonesia tidak terbatas pada rendahnya kesadaran konsumen akan hak. antar kawasan ekonomi. usaha produsen tidak akan dapt berkembang dengan baik bila konsumen berada pada kondisi yang tidak sehat akibat banyaknya produk yang cacat. pada dasarnya akan sangat mempengaruhi dan menciptakan kondisi perjanjian yang juga sangat bervariasi. fasilitas yang ada. Untuk itu aspek hukum publik sangat dominan. dan makin bervariasi. (2) bahwa ada produsen yang melakukan kecurangan dalam melakukan kegiatan usahanya. kebutuhan para pihak pada rentang waktu tertentu. dibutuhkan berbagai aspek hukum agar konsumen dapat dilindungi dengan adil sejak awal produksi. Keadaan-keadaan seperti di atas. dan sebagainya. Hubungan antara produsen dan konsumen yang bersifat massal tersebut menciptakan hubungan secara individual/personal sebagai hubungan hukum yang spesifik. Setelah hubungan bersifat personal. maka untuk melindungi konsumen sebagai pemakai akhir dari produk barang atau jasa. (3) kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan usaha bagi produsen yang bertanggung jawab dapat diwujudkan tidak dengan jalan merugikan kepentingan . yang syarat-syaratnya secara sepihak ditentukan pula oleh produsen atau jaringan distributornya. dan bahkan antarpara pihak yang mempunyai pengaruh untuk produk tertentu dalam rangka memperebutkan pasar. sehingga mereka juga dapat diakui sebagai salah satu subjek dalam sistem perekonomian nasional di samping BUMN. hukum perdata lah yang lebih dominan dalam rangka melindungi masing-masing pihak.Bertolak dari luas dan komleksnya hubungan antara produsen dan konsumen serta banyaknya mata rantai penghubung keduanya. tetapi juga adanya persepsi yang salah dikalangan sebagian besar produsen bahwa perlindungan terhadap konsumen akan menimbulkan kerugian terhadap rodusen. tetapi membutuhkan pula perangkat hukum internasional dalam jaringan kerja sama antar negara dan kerja sama internasional. Campur tangan negara. 3. Hubungan hukum yang spesifik ini sangat bervariasi. hubungan hokum seringkali melemahkan posisi konsumen karena secara sepihak para produsen/distributor sudah menyiapkan satu kondisi perjanjian dengan adanya perjanjian baku. Persepsi yang keliru di kalangan pengusaha ini akan dengan mudah diluruskan apabila disadari beberapa pertimbangan berikut ini. yaitu guna mengatur pola hubungan rodusen. 2. (1) bahwa konsumen dan produsen adalah pasangan yang saling membutuhkan.Dipenghuninya persyaratan diatas akan mengangkat harkat Dan martabat konsumen. 4. dan usaha swasta. terbuka. yaitu antarnegara asosiasi produsen sejenis. konsumen dan sistem perlindungan konsumen. kondisi. koprasi. harga dari satu jenis komoditas tertentu. Sistem perlindungan tersebut tidak dapat hanya memanfaatkan perangkat hukum nasional saja. Kecurangan ini tidak hanya merugikan konsumen saja. sebelum dan purna jual. penawaran dan syarat perjanjian. dan kerja sama internasional sangat dibutuhkan. Diawali dengan sistem pengawasan tarhadap mutu dan kesehatan serta ketepatan pemanfaatan bahan untuk sasaran produk. Paa era pasar bebas dimana hubungan produsen dan konsumen menjadi makin dekat dan makin terbuka. yang sangat dipengaruhi oleh berbagai keadaan antara lain: 1. Hal ini sangat penting mengingat konflik antara negara dan pihak berkepentingan di dalam era perdagangan bebas makin luas. kerja sama antarnegara.

Leder menyatakan: In a sense there is not such creature as consumer law. Apakah kaidah yang sifatnya memaksa. Az. tetapi ditanggung bersama oleh seluruh konsumen yang memakai produk yang cacat. Sekalipun demikian. tetai dapat dicapai melalui penindakan terhadap produsen yang melakukan kecurangan dalam melakukan kegiatan usahanya. di dalam pergaulan hidup.HUKUM KONSUMEN DAN HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN Istilah“hukum konsumen’’dan“hukum perlindungan konsumen’’sudah sangat sering terdengar. Nasution berkaitan dengan kaidah-kaidah hukum perlindungan konsumen yang senantiasa bersifat mengatur. Seharusnya ketentuan memaksa dalam pasal 383 KUHP juga memenuhi syarat untuk dimasukkan kedalam wilayah hukum perlindungan konsumen. belum jelas benar apa yang masuk kedalam materi keduanya. Juga. Ia menyebutkan. apakah kedua“cabang’’ hukum itu identik. M. seperti hukum perdata. Nasution mengakui. Bentrok dari keadaan yang demikian. dan juga mengandung sifat yang melindungi kepentingan konsumen. Karena posisi konsumen yang lemah maka ia harus dilindungi oleh hukum. Artinya. perlindungan hukum terhadap hak konsumen tidak dapat diberikan oleh satu aspek hukum saja. asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah konsumen itu tersebar dalam berbagai bidang hukum. baik tertulis maupun tidak tertulis. hukum dagang. . Diancam dengan pidana paling lama satu tahun empat bulan. inti persoalannya bukan terletak pada kaedah yang harus “mengatur“ dan “memaksa“. (2) mengenai jenis keadaan atau banyaknya barang yang diserahkan dengan menggunakan tipu muslihat. Namun. Jadi.konsumen. sekaligus tujuan hukum itu adalah memberikan perlindungan (pengayoman) kepada masyarakat. C. seorang penjual yang berbuat crang terhadap pembeli: (1) karena sengaja menberikan barang lain daripada yang ditunjuk untuk dibeli. Adapun yang masih belum jelas dari pernyataan Az. hukum administrasi (negara) dan hukum internasional terutama konvensi-konvensi yang berkaitan dengan kepentingan-kepentingan konsumen. Adapun hukum konsumen diartikan sebagai keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan hubungan dan masalah antara berbagai pihak satu sama lain berkaitan dengan barang dan/jasa konsumen. melainkan oleh sistem perangkat hukum yang mampu memberikan perlindungan yang simultan dan komperehensif sehingga terjadi persaingan yang jujur yang secara langsung atau tidak langsung akan menguntungkan konsumen. (4) bahwa beban kompensasi atas kerugian konsumen akibat pemakaian produk cacat telah diperhitungkan dalam komonen produksi. Nasution. Az. Salah satu sifat. sebenarnya hukum konsumen dan hukum perlindungan konsumen adalah dua bidang hukum yang sulit dipisahkan dan ditarik batasnya.rules of law which recognize the bargaining weakness of the individual consumer and which ensure that weakness is not unfairly exploited. hukum perlindungan konsumen merupakan bagian dari hukum konsumen yang lebih luas itu. misalnya berpendapat bahwa hukum konsumen yang memuat asas-asas atau kaidah-kaidah bersifat mengatur. hukum pidana. Ada juga yang berpedapat. secara hokum sebenarnya hukum konsumen dan hukum perlindungan konsumen ini seperti yang dinyatakan oleh Lowe yakni: …. tetapi memberikan perlindungan terhadap konsumen tidak termasuk dalam hukum perlindungan konsumen? Untuk itu jelasnya dapat dilihat ketentuan Pasal 383 KUHP berikut ini.J.

institusi hukum dan profesi hukum. yakni dengan berdirinya lembaga swadayamasyarakat (nongovernmental organization) yang bernama yayasan lembaga konsumen Indonesia (YLKI). Sebagaimana pernah disinyalir oleh ketua internasional organization of consumers union (IOCU. antara lain lembaga pembinaan dan perlindungan konsumen (LP2K) di semarang yang berdiri sejak Februari 1988 dan pada 1990 bergabung sebagai anggota consumers international (CI).S Loemban Tobing. Pembangunan yang komperhensif harus memperhatikan hak-hak manusia. menjaga martabat produsen dan membantu pemerintah. tugas dan beban. yakni dengan menyelenggarakan pekan promosi swakarya II dan III yang benar-benar dimanfaatkan oleh kalangan produsen dalam negeri. Diluar itu. yang mampu menjaga integrasi dan persatuan nasional.Dengan demikian. dan singapura. YLKI muncul dari sekelompok kecil anggota masyarakat yang diketuai oleh lasmidjah hardi. dengan akta No. Kata aspek hukum ini sangat bergantung pada kemauan kita mengartikan. serta berfungsi memajukan keadialan social. Dilihat dari sejarahnya gerakan perlindungan konsumen di Indinesia baru benarbenar dipopulerkan sekitar 20 tahun lalu. atinya harus bersaing dengan bangsa-bangsa lain. institusi hukum dan profesi hukum.H. Kartina Sujono Prawirabisma bahwa YLKI bertujuan melindungi konsumen. 11 mei 1973.GERAKAN PERLINDUNGAN KONSUMEN DI INDONESIA Jika melihat kemajuan perkembangan konsumen di Amerika Serikat. Ketertinggalan itu tidak hanya dibandingkan dengan Negara-negara sekitar Indonesia. tentu Indonesia masih harus “belajar“ banyak. Thailand. Hal ini dibuktikan benar oleh YLKI. S. Ide ini dituangkan dalam anggaran dasar yayasan di hadapan Notaris G. Keduanya tidak dalam kondisi yang berlawanan dan dengan demikian pembangunan akan menarik partisipasi masyarakat. seyogyanya dikatakan. Dalam sambutan guru besar UI. pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan social mesti dapat tercermin dalam setiap pengambilan keputusan. seperti yayasan lembaga bina konsumen Indonesia (YLBKI) di Bandung dan perwakilan YLKI di berbagai provinsi di tanah air. pembagian yang adil atas hak dan keistimewaan. dapat mendorong pertumbuhan perdagangan dan industri. Persatuan nasional. yang semula bertujuan mempromosikan hasil produk Indonesia. sekarang CI) Erna Witoelar. Hal ini menjadi tambah penting karena bangsa kita berada dalam era globalisasi. . perlindungan konsumen di Indonesia masih tertinggal. Kita harus memiliki hukum. 26. Yayasan ini sejak semula tidak ingin berkonfrontasi dengan produsen (pelaku usaha) apalagi dengan pemerintah. D. budaya hokum di Indonesia harus dapat mengakomodasi tujuan-tujuan yang demikian itu. kemudian muncul beberapa organisasi serupa. Ajang promosi yang diberi nama pekan swakarya ini menimbulkan ide bagi mereka untuk mendirikan wadah bagi gerakan perlindungan konsumen di Indonesia. hukum konsumen berkala lebih luas meliputi berbagai aspek hukum yang terdapat kepentingan pihak konsumen di dalamnya.H. Apabila kita ingin tiga tingkat pembangunan di jalani secara serentak. Filipina. Erman rajagukguk menjelaskan bahwa di Indonesia untuk pertumbuhan ekonomi dan pemerataan dapat dilaksanakan dalam waktu bersamaan. dewasa ini cukup banyak lembaga swadaya masyarakat serupa berorientasi pada kepentingan pelayanan konsumen. Setelah YLKI. Dalam mencapai tujuan tersebut diperlukan pembauran hukum. seperti Malaysia. kesejahteraan manusia. Dalam suasana kerja sama ini kemudian lahir motto yang dicetuskan oleh Ny.

Gerakan konsumen di Indonesia. (2) makanan dan minuman. masih belum dikenal dengan baik oleh para penegak hukum di Indonesia. Hasil-hasil penelitian YLKI yang dipublikasikan di media massa juga membawa dampak terhadap konsumen. penerbitan dan menerima pengaduan. . keputusan mentri. Beberapa harian besar Nasional. walaupun ada preseden yang mengakui eksistensi gugatan kelompok tersebut. instruksi dirjen. Namun. Metode kerja YLKI baru pada penelitian terhadap sejumlah produk barang/jasa dan mempublikasikan hasilnya kepada masyarakat. Perhatian produsen terhadap publikasi demikian juga terlihat dari reaksi-reaksi yang diberikan. dan keputusan gubernur (d. (7) pengawasan mutu barang. keputusan dirjen. YLKI dapat menggunakan lembaga hukum gugatan kelompok (class action). Untuk mewakili gugatan-gugatan di msyarakat. Alasan yang utama tentu karena YLKI sendiri bukan badan pemerintah seperti FDA di Amerika Serikat dan tidak memiliki kekuasaan public untuk menerapkan suatu peraturan atau menjatuhkan suatu sanksi. Ditinjau dari kemajuan peraturan perundang-undangan di Indonesia dibidang perlindungan konsumen. Selama ini upaya hukum individual dari konsumen untuk menggugat produsen baik pemerintah maupun swasta. Lembaga ini tidak sekedar melakukan penelitian atau pengujian. termasuk yang di prakarsai YLKI mencatat prestasi besar setelah naskah akademik UUPK berhasil di bawa ke DPR. keputusan bersama dari beberapa mentri. Hal ini menunjukan dalam perjalanan memasuki dasawarsa ketiga. YLKI dianggap mitra yang representatif. Gerakan ini belum mempunyai kekuatan lobi untuk memberlakukan atau mencabut suatu peraturan. Dari inventarisasi sampai 1991. pengaturan yang memuat unsur perlindungan konsumen tersebar pada delapan bidang. Demikian juga dalam berbagai pertemuan ilmiah dan pembahasan peraturan perundang-undangan. dan (8) lingkungan hidup. (3) alat-alat elektronik. yaitu (1) obat-obatan dan bahan berbahaya. Demikian pula dengan kasus-kasus kegagalan advokasi konsumen. Pengalaman menangani kasus-kasus yang merugikan konsumen di negara-negara yang lebih maju dapat dijadikan studi yang bermanfaat sehingga Indonesia tidak perlu lagi harus mengulang keslahan yang serupa. tidak banyak membuahkan hasil. (5) metrology dan tera. YLKI juga tidak sepenuhnya dapat mandiri seperti food and drug administration (FDA). seperti media Indonesia dan Kompas.h. peraturan mentri. daik dilihat dari kualitas peraturannya maupun kedalaman materi yang dicakupnya. Sementara itu. secara rutin menyediakan kolom khusus untuk membahas keluhan-keluhan konsumen. Jika dibangdingkan dengan perjalanan panjang gerakan konsumen diluar negeri khususnya di Amerika Serikat. Jenis peraturan perundangundangannya pun bervariasi. sampai saat ini masih sangat minim. baik berupa koreksi maupun bantahan. Keberadaan YLKI juga sangat membantu dalam upaya peningkatan kesadaran atas hak-hak konsumen. gugatan massal yang mewakili masyarakat luas. instruksi presiden. YLKI cukup beruntung karena tidak harus memulainya dari nol sama sekali. banyak hakim yang masih ragu-ragu untuk menerimanya. peraturan pemerintah atau yang sederajat. YLKI mampu berperan besar khususnya dalam gerakan menyadarkan konsumen akan hak-haknya. keputusan ketua pelaksana bursa komoditi. (6) industri. Selanjut nya rancangannya di sahkan menjadi undang-undang. mulai dari ordonansi dan undang-undang.YLKI memiliki cabang-cabang di berbagai provinsi dan mempunyai pengaruh yang cukup besar karena didukung oleh media massa. tetapi sekaligus juga mengadakan upaya advoksasi melalui jalur pengadilan. (4) kendaraan bermotor.i gubernur KDH DKI Jakarta).

education dan kemampuan meramalkan adanya prasyarat untuk berfungsinya system ekonomi. Dalam satu Negara dapat saja ada lebih dari satu organisasi konsumen yang terdaftar sebagai anggota CI. Australia. yang disebut intenational organization of comsumers unions (IOCU). Salah satu diantaranya adalah perlunya eksistensi UUPK. adalah perlu untuk memelihara mekanisme pasar dan untuk mencegah birokrasi yang berlebihan. . andil terbesar yang “memaksa“ kehadiran UUPK ini adalah juga karena cukup kuatnya tekanan dari dunia internasional. kemudian pada 16 April 1985 dengan resolusinya No. fairness. A/RES/39/248 juga disuarakan seruan penghormatan terhadap hak-hak konsumen. 7 tahun 1994 tentang agreement establishing the world trade organization (persetujuan pembentukan organisasi perdagangan dunia). Aspek keadilan (fairness) seperti persamaan didepan hukum. yang notabene hak itu tidak pernah sejak orde baru berkuasa pada 1966. Yaitu tatkala undang-undang No. dari perkara yang dibawa ke pengadilan itu belum mampu menghasilkan dampak sebesar seperti yang pernah dilakukan Ralph Nader terhadap General Motors. Perkembangan baru dibidang perlindungan konsumen terjadi setelah penggantian tampuk kekuasaan di Indonsia. Setiap 15 maret CI memperingati “hari hak konsumen sedunia“ dan memberi tema berbeda-beda tiap tahun. Namun. maka ada kewajiban bagi Indonesia untuk mengikuti standard-standar hukum yang berlaku dan diterima luas oleh Negara-negara anggota WTO. YLKI mencoba mengajukan gugatan kelompok kepada pemerintah dalam berbagai kasus. Setelah pemerintah RI mengesahkan undang-undang No. antara lain terhadap PT Persero Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Telkom. UUPK ini masih memerlukan waktu satu tahun untuk berlaku efektif. Anggota CI mencapai 203 organisasi konsumen berasal dari 90 negara di seluruh dunia. E.Terlepas dari kondisi ini. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen (UUPK) disahkan dan diundangkan pada 20 April 1999. Stabilitas juga berarti hukum berpotensi untuk menjaga keseimbangan dan mengakomodasi kepentingankepentingan yang saling bersaing. Perlunya predictability sangat besar di Negara-negara di mana masyarakatnya untuk pertama kali memasuki hubunganhubungan ekonomi melampaui lingkungan tradisional mereka. misalnya mempunyai 15 organisasi anggota CI. Tanpa mengurangi penghargaan terhadap upaya terus menerus yang dilakukan oleh YLKI. Sementara Malaysia dan fhilipina memiliki lima organisasi dan Indonesia ada dua organisasi (YLKI Jakarta dan LP2K di semarang). yaitu stability. dengan resolusinya No. Kemudian sejak 1995 berubah nama menjadi cnsumers international (CI). Tidak adanya standar yang adil dan apa yang tidak adil adalah masalah besar yang dihadapi Negaranegara berkembang. Hukum yang kondusif bagi pembangunan sedikitnya mengandung lima kualitas. Misalnya pada tahun 1994 dikumandangkan tema sentral hak konsumen untuk memperoleh kebutuhan pokok. predictability. PROSPEK GERAKAN KONSUMEN Perhatian terhadap gerakan perlindungan hak-hak konsumen (konsumerisme) mendapat pengakuan dan dukungan dari dewan ekonomi dan social PBB. standard sikap pemerintah. Dalam jangka panjang ketiadaan standar tersebut menjadi sebab utama hilangnya ligitimilasi pemerintah. 2111 tahun 1978. Gerakan konsumen sejak 1960 memiliki wadah yang cukup berwibawa. 1966. UUPK ini dihasilkan atas inisiatif DPR.

konsumen mempunyai banyak pilihan terhadap produk barang/jasa yang dikonsumsinya. Disamping itu. misalnya cepat diadopsi kenegara lain. Keempat. sebagian komponennya dibuat diberbagai negara di luar jepang. Globalisasi hukum terjadi melalui usaha-usaha standardinasi hukum. Persaingan antar produsen saat ini semakin ketat dan dan yang dihadapi bukan lagi competitor dalam negeri. Perhatian konsumen di dalam negeri sama dengan perhatian konsumen di berbagai negara. tetapi pada kebutuhan listrik. globalisasi ekonomi menimbulkan akibat yang besar sekali pada bidang hukum. sehingga gerakan konsumen di dunia internasioanal mau tak mau menembus batas-batas Negara. globalisasi teknologi. Gejala-gejala itu memberi pengaruh pada gerakan konsumen didunia dan di indonesia. Bagaimanapun juga karakteristik dan hambatannya. Hal ini berarti. investasi melewati batas-batas negara meningkatkan intensitas persaingan. Konsumen Indonesia merupakan bagian dari konsumen global. most favored nation. Modal seperti air yang mencari tempat yang sesuai. Manufaktur.Hak atas kebutuhan pokok ini tidak terbatas pada pangan. perdagangan. misalnya. Ketiga. gejala ini dipercepat oleh kemajuan komunikasi dan transportasi teknologi. Jika tidak. Toyota. gerakan konsumen global ditandai oleh globalisasi diberbagai bidang. pos dan telekomunikasi. Konsumen kita menjadi konsumen global. globalisasi produksi. national treatment. Menurut Emil Salim. antara lain melalui perjanjian-perjanjian internasional. Uang tidak lagi mengenal bendera. Globalisasi menyebabkan berkembangnya saling ketergantungan pelaku-pelaku ekonomi dunia. Pertama. Hal ini tampak dari dihilangkannya dinding-dinding tarif sehingga dunia menjadi satu pasar. Globalisasi keempat ini membawa konsekuensi makin tergesernya alat-alat produksi tradissional mengarah kepada modernisasi dan mekanisasi. . Tentu mereka memilih yang terbaik diantara produk barang/jasa yang tersedia. globalisasi hukum tersebut tidak hanya didasrkan pada kesepakatan internasional antarbangsa tetapi juga pemahaman tradisi hukum dan budaya antara barat dan timur. globalisasi finansial. sandang. transparency kemudian menjadi substansi peraturan-peraturan nasional Negaranegara anggota. mencantumkan beberapa ketentuan yang harus di penuhi di Negara-negara anggota berkaitan dengan penanaman modal. dan mempengaruhi kesadaran konsumen lokal untuk berbuat hal yang sama. hak milik intelektual. termasuk masyarakat indonesia. air minum. tampak makin kritis. dan papan. dan jasa prinsip-prinsip non-discrimination. dan segera mengubah pola dibidang terkait. bahkan saat ini sertifikasi itu sudah berjalan. antara ain dengan terbenuknya lembaga pengkajian pangan. Globalisasi juga menyebabkan terjadi globalisasi hukum. produsen demikian akan kalah dalam persaingan. tidak ada produk yang hanya dibuat di satu negara. obat-obatan. dan kosmetika majelis ulama Indonesia (LP POM MUI). General agreement on tariff and trade (GATT) misalnya. Teknologi dibidang pengemasan yang diterapkan di Amerika Serikat. Dalam hal ini berarti. Faktor kedua. globalisasi perdagangan. Itu berarti masalah mutu barang dari jumlah ketersediaannya dipasaran tidak lagi menjadi keprihatinan utama karena produsen dengan sendirinya berlomba-lomba untuk memenuhinya. maka dewasa ini tuntutan itu demikian kuat bergema. Jika dulu masih banyak yang belum berani menyuarakan agar di Indonesia dilakukan sertifikasi “halal” untuk produkproduk tertentu. tuntutan-tuntutan masyarakat dunia internasional. yakni mulai beralihnya isu-isu konsumen dari sekedar mempersoalkan mutu menuju kearah yang lebih berskala makro dan universal.

pengadilan yang mandiri dan partisipasi masyarakat melalui lembaga-lembaganya. PENGERTIAN KONSUMEN. dan organisasi konsumen lain di bandung. maupun untuk tujuan mempersiapkan dasar-dasar penerbitan suatu peraturan perundang-undangan tentang perlindungan konsumen. Yogyakarta. Dalam hal menghadapi hal yang demikian itu perlu check and balance dalam bernegara. HAK. Kesiapan tersebut tidak sekedar dalam arti “siap bersaing dan berinovasi”. jasa-jasa dan bidang-bidang ekonomi lainnya mendekati Negara-negara maju (converagence). atau consument/konsument (belanda). Pengertian dari consumer atau consument itu tergantung dalam posisi mana ia berada. Arus tuntutan konsumen melalui gerakan-gerakan tadi makin lama makin deras. mengatakan bahwa tegaknya peraturan-peraturan hukum tergantung pada budaya hukum anggotaanggotanya yang dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan. DAN KEWAJIBANNYA Sebagai suatu konsep. posisi atau kedudukan bahkan kepentingan-kepentingan. Apa yang disebut hukum itu tergantung pada persepsi masyarakat. Begitu pula kamus indonesia-inggris memberi arti kata consumer sebagai pemakai atau konsumen. telah pula berdiri organisasi konsumen internasional. Sejalan dengan perkembangannya itu. baik yang bersifat akademis. Check and balance hanya bisa dicapai dengan parlemen yang kuat. baik di dunia internasional maupun di Indonesia. Di indonesia telah banyak diselenggarakan studi. lingkungan. gerakan konsumen. BAB 2 PENGERTIAN HAK DAN KEWAJIBAN KONSUMEN SERTA PELAKU USAHA A. Alhasil.Globalisasi hukum akan menyebabkan peraturan-peraturan Negara-negara berkembang mengenai investasi. Di samping itu. perdagangan. tidak ada jaminan peraturan-peraturan tersebut memberikan hasil yang sama disemua tempat. Di Indonesia telah pula berdiri berbagai organisasi konsumen seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) di Jakarta. Istilah konsumen berasal dari alih bahasa dari kata consumer (inggris-amerika). pada masa-masa mendatang menghadapi suasana yang jauh lebih kompleks. dan sebagainya. yaitu international organiztion of consumers unions (IOCU). berbagai negara telah pula menetapkan hak-hak konsumen yang digunakan sebagai landasan pengaturan perlindungan konsumen konsumen. Tetapi terlebih-lebih bagi pemerintahnya. Hal mana yang dikarenakan perbedaan sitem politik. Surabaya. Dalam naskah akademik . adalah siap dengan pembangunan unsur-unsur system hukumnya. ekonomi dan budaya. Namun. sehingga tidak mustahil menimbulkan instabilitas bagi negara-negara yang produsen dan pemerintahnya belum siap benar. Friedman. budaya. “konsumen“ telah diperkenalkan beberapa puluh tahun lalu diberbagai negara dan sampai saat ini sudah puluhan negara memiliki undang-undang atau peraturan khusus yang memberikan perlindungan kepada konsumen termasuk sarana penyediaan peradilannya. Tujuan penggunaan barang atau jasa nanti menentukan termasuk konsumen kelompok mana pengguna tersebut. Secara harafiah arti kata consumer adalah (lawan dari produsen) setiap orang yang menggunakan barang.

keluarga atau orang lain dan tidak untuk diperdagangkan kembali. bukan pembeli tapi pemakai. b. memberikan berbagai perbandingan. dan tidak untuk diperjualbelikan. Umumny dibedakan antara konsumen antara dan konsumen akhir. bahkan juga korban yang bukan pemakai. sedangkan statutory orders dapat langsung berlaku bagi semua warga negara dari negara-negara anggota EC. (b) damage to. yaitu pemakai akhir dari barang. Upaya perlindungan terhadap konsumen dari pemakaian produk-produk yang cacat di negara-negara anggota European Economic Community (EC/MEE) dilakukan dengan cara menyusun product liability directive yang nantinya harus diintegrasikan kedalam instruktur hukum masing-masing negara anggota EC. Dalam merumuskannya. Namun. c. maupun melalui statutory orders yang berlaku terhadap warga negara seluruh anggota EC. provided that the item of property: (i) is a type ordinarily for private use or consumption. berbunyi: Konsumen adalah setiap orang atau keluarga yang mendapatkan barang untuk dipakai dan tidak untuk diperdagangkan. Ketentuanketentuan dalam directive harus diimplementasikan ke dalam hukum nasional dulu sebelum dapat diterapkan. Sedang dalam naskah akademis yang dipersiapkan fakultas hukum Universitas Indonesia (FH-UI) bekerja sama dengan departemen perdagangan RI. Pengertian “konsumen“ di Amerika Serikat dan MEE. karna perlindungan hukum dapat dinikmati pula bahkan oleh korban yang bukan pemakai. or destruction of. antara lain: a. any item of property other than the detective product it self. digunakan untuk keperluan diri sendiri atau orang lain. di Amerika Serikat kata ini dapat diartikan lebih luas lagi sebagai “korban pemakaian produk yang cacat“. Peraturan perundang-undangan negara lain. Directive ini mengedepankan konsep liability without fault. kata “konsumen“ yang berasal dari consumer sebenarnya berarti “pemakai“. ada yang secara tegas mendefenisikannya dalam ketentuan umum perundang-undangan tertentu.dan/atau berbagai naskah pembahasan berbagai rancangan peraturan perundangundangan. ada pula yang termuat dalam pasal tertentu bersamasama dengan pengaturan sesuatu bentuk hubungan hukum. and . with a lower threshold of 500 ECU. Dari naskah-naskah akademik itu yang patut mendapat perhatian. Batasan konsumen dari yayasan lembaga konsumen indonesia: pemakai barang atau jasa yang tersedia dalam masyarakat bagi kepentingan diri sendiri. Untuk memahaminya dapat dilakukan dengan menelaah pasal 1 dikaji bersama-sama dengan pasal 9 directive yang isinya sebagai berikut: Article 1 The producer shall be liable for damage caused by a defect in his product. Article 9 For the purepos of article 1. “damage” means: (a) damage caused by death or by personal injuries. baik korban tersebut pembeli. menyusun batasan tentang konsumen akhir. Badan pembinaan hukum nasional-departemen kehakiman (BPHN). cukup banyak dibahas dan dibicarakan tentang berbagai peristilahan yang termasuk dalam lingkup perlindungan konsumen. Pengertian “konsumen” (consumers) tidak dijabarkan secara rinci dalam directive.

Jadi. This article shall be without prejudice to national provisions relating to non material damage. keluaga atau rumah tangganya (produk konsumen). Unsur untuk membuat barang/jasa lain dan/atau diperdagangkan kembali merupakan pembeda pokok. bahan penolong atau komponen dari produk lain yang akan diproduksinya (produsen). mereka memerlukan produk konsumen (barang/jasa konsumen) yang aman bagi kesehatan tubuh atau (ii) . yang penggunanya bagi konsumen akhir adalah untuk dirinya sendiri. merupakan pertimbangan tentang perlunya pembedaan dari konsumen itu. penggunaan suatu produk untuk keperluan atau tujuan tertentu yang menjadi tolak ukur dalam menentukan perlindungan yang diperlukan. antara lain konsumen antara (produk kapital) dan konsumen akhir (produk konsumen). dominasi pasar dengan berbagai praktik bisnis yang menghambat masuknya perusahaan baru atau merugikan perusahaan lain dengan cara-cara yang tidak wajar. Perumusan ini sedikit lebih sempit dibandingkan dengan pengertian serupa di Amerika Serikat. Bagi konsumen akhir (selanjutnya disebut konsumen). barang/jasa itu adalah barang/jasa kapital. Az Nasution menegaskan beberapa batasan konsumen. Tampaknya perlakuan hukum yang lebih bersifat mengatur dan/atau mengatur dengan diimbuhi perlindungan. Kalau itu distributor atau pedagang berupa barang setengah jadi atau barang jadi yang menjadi mata dagangannya. keluarga dan atau rumah tangga dan tidak untuk diperdagangkan kembali (nonkomersial). perbuatan penguasaan pasar secara monopoli atau oligopi. dan yang sejenis dengan itu. keluarga atau rumah tangganya. dapat disimpulkan bahwa konsumen berdasarkan directive adalah pribadi yang menderita kerugian (jiwa. berupa bahan baku. Konsumen akhir adalah setiap orang alami yang mendapatkan dan menggunakan barang/jasa untuk tujuan memenuhi kebutuhan hidupnya pribadi.was used by the injured person mainly for his own private use or consumtion. Bagi konsumen antara. Konsumen antara ini mendapatkan barang/jasa itu dipasar industri atau pasar produsen. Sedang bagi konsumen akhir. dan terdiri dari barang/jasa yang umumnya digunakan di rumah tangga masyarakat. Mereka memerlukan kaedah-kaedah hukum yang mencegah perbuatan-perbuatan yang tidak jujur dalam bisnis. Unsur inilah. yaitu barang/jasa yang biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi. konsumen yang dapat memperoleh kompensasi atas kerugian yang dideritanya adalah “pemakaian produk yang cacat untuk keperluan pribadi”. Barang/jasa konsumen ini umumnya diperoleh dipasar-pasar konsumen. konsumen adalah setiap orang yang mendapatkan barang atau jasa digunakan untuk tujuan tertentu. yang pada dasarnya merupakan beda kepentingan masing-masing konsumen yaitu. b. Konsumen antara adalah setiap orang yang mendapatkan barang dan/atau jasa untuk digunakan dengan tujuan membuat barang/jasa lain atau untuk diperdagangkan (tujuan komersial) c. kepentingan mereka dalam menjalankan usaha atau profesi mereka tidak “tergangu” oleh perbuatan persaingan-persaingan yang tidak wajar. kesehatan. yakni: a. bagi konsumen antara yang sebenarnya adalah pengusaha atau pelaku usaha. maupun benda) akibat pemakaian produk yang cacat untuk keperluan pribadinya. barang/jasa itu adalah barang/jasa konsumen. Sebagaimana disinggung sebelumnya.

baik bagi kepentingan diri sendiri. Istilah “orang” sebetulnya menimbulkan keraguan. UUPK tampaknya berusaha menhindari penggunaan kata “produsen“ sebagai lawan kata “konsumen“. dan terminologi lain yang lazim diberikan. sekaligus menunjukan. yang secara eksplisit membedakan kedua pengertian persoon diatas. dalam kehidupan manusia Indonesia sebagaimana dikehendaki oleh falsafah bangsa dan negara ini. .keamanan jiwa. Pengertian konsumen dalam UU No. tidak sekedar formil. Dengan kata lain. Karena pada umumnya konsumen tidak mengetahui dari bahan apa suatu produk itu dibuat. Karena itu yang diperlukan adalah kaedah-kaedah hukum yang menjamin syarat-syarat aman setiap produk konsumen bagi konsumsi manusia. setiap orang subjek yang disebut sebagai konsumen adalah setiap orang yang berstatus sebagai pemakai barang/jasa. produsen. dan bertanggung jawab. penjual. dengan siapa mereka saling berhubungan dan saling memebutuhkan. kata “pemakai“ menekankan. Artinya. Keadaan seimbang diantara para pihak yang saling berhubungan. b. dasar hubungan hukum antara konsumen dan pelaku usaha tidak perlu harus kontraktual (the privity of contract). untuk kasus-kasus yang spesifik seperti dalam kasus periklanan. Unsur-unsur defenisi konsumen: a. orang lain. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen Penegrtin konsumen menurut UU No. 1. penyalur. Hal ini berbeda dengan pengertian yang diberikan untuk “pelaku usaha” dalam pasal 1 angka (3). 8 tahun 1999 tentang hukum perlindungan konsumen dalam pasal 1 ayat (2) yakni: Konsumen adalah setiap orang pemakai barang/jasa yang tersedia dalam masyarakat. akan lebih menerbitkan keserasian dan keselarasan matriil. maka diperlukan kaedah hukum yang dapat melindungi. tempat iklan ditayangkan. Istilah “pemakai” dalam hal ini tepat digunakan dalam rumusan ketentuan tersebut. Untuk itu. barang/jasa yang dipakai tidak serta merta hasil dari transaksi jual beli. pemakai sesuai dengan penjelasan pasal 1 angka (2) UUPK. sebagai konsumen tidak selalu harus memberikan prestasinya dengan cara membayar uang untuk memperoleh barang/jasa itu. jujur. dengan menyebutkan kata-kata: “orang perseorangan atau badan usaha“. pelaku usaha ini juga mencakup perusahaan media. Tentu yang paling tepat tidak membatasi pengertian konsumen itu sebatas pada orang perseorangan. bagaimana proses pembuatannya serta strategi pasar apa yang dijalankan untuk mendistribusikannya. Bahkan. konsumen adalah konsumen akhir (ultimate consumer). apakah hanya orang individual yang lazim disebut natuurlijke persoon atau termasuk juga badan hukum (rechtpersoon). maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. serta pada umumnya untuk kesejahteraan keluarga atau rumah tangganya. digunakan kata “pelaku usaha” yang bermakna lebih luas. keluarga. Namun konsumen harus juga mencakup juga badan usaha dengan makna usaha yang lebih luas daripada badan hukum. Istilah terakhir ini dipilih untuk memberi arti sekaligus bagi kreditur (penyedia dana). Perlindungan itu sesungguhnya berfungsi menyeimbangkan kedudukan konsumen dan pengusaha. dilengkapi dengan informasi yang benar.

UUPK tidak menjelaskan perbedaan istilah-istilah “dipakai. Dengan demikian.Sebagai ilustrasi dari uraian itu dapat diberikan contoh berikut. asalkan memang dirugikan akibat penggunaan suatu produk. Si pembeli tidak dapat dikategorikan sebagai “konsumen” menurut UUPK. Artinya. dipergunakan. Semula kata produk hanya mengacu pada pengertian barang. dipergunakan. Transaksi konsumen memiliki banyak sekali metode. termasuk peralihan kenikmatan dalam menggunakannya. Pertanyaannya. Artinya. baik bergerak maupun tidak bergerak. Jadi. baik berwujud maupun tidak berwujud. Kata-kata “ditawarkan kepada masyarakat” itu harus ditafsirkan sebagai bagian dari transaksi konsumen. UUPK mengganti barang sebagai setiap benda. sebagai pengganti terminologi tersebut digunakan kata produk. Untuk itu. d. walau baru dilakukan pada awal abad ke-20. Dewasa ini. Oleh karena itu wajib dilindungi hakhaknya. Sementara itu jasa diartikan sebagai setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang disediakan bagi masyarakat menunjukan. Mengartikan konsumen secara sempit. tidak tercakup dalam pengertian tersebut. yang dapat untuk diperdagangkan. Konsumen memang tidak sekedar pembeli (buyer atau koper) tetapi semua orang (perseorangan atau badan usaha) yang mengonsumsi barang/jasa. barang dan/atau jasa berkaitan dengan istialah barang/jasa. Isi paketnya makanan dan minuman yang dibeli si pembeli di pasar swalayan. UUPK sedah selayaknya meninggalkan prinsip yang sangat merugikan konsumen. tetapi termasuk bukan pemakai langsung. Di Amerika Serikat cara pandang seperti itu telah lama ditinggalkan. layanan yang bersifat khusus (tertutup)ndan individual. dibagikan sampel yang diproduksi khusus dan sengaja tidak diperjualbelikan. c. atau dimanfaatkan”. Orang yang mengonsumsi produk sampel juga merupakan konsumen. tidak dapat perbuatannya itu sebagai transaksi konsumen. yang tersedia dalam masyarakat . misalnya istilah produk dipakai juga untuk menamakan jenis-jenis layanan perbankan. sudah lazim terjadi sebelum suatu produk dipasarkan. jasa itu harus ditawarkan kepada masyarakat. harus lebih dari 1 orang. apakah penerima paket seorang konsumen juga? Jika ia menggugat pasar swalayan itu. seseorang memperoleh paket hadiah atau parsel (parcel) pada hari ulang tahunnya. baik dapat dihabiskan maupun tidak dapat dihabiskan. seperti hanya sebagai orang yang mempunyai hubungan kontraktual pribadi (in privity of contract) dengan produsen atau penjual adalah cara pendefinisian konsumen yang paling sederhana. yang paling penting terjadinya transaksi konsumen (consumer transaction) berupa peralihan barang/jasa. konsumen tidak lagi diartikan sebagai pembeli dari suatu barang/jasa. Dalam dunia perbankan. atau dimanfaatkan oleh konsumen. apakah ada dasar gugatan yang cukup kuat baginya? Hal ini patut dipertanyakan. Istilahnya product knowladge. terlebih dahulu dilakukan pengenalan produk kepada konsumen. jika menggunakan prinsip the privity of contract tentu tidak ada hubungan kontraktual antara penerima hadiah dan pihak pasar swalayan karena pembeli parsel adalah orang lain. Saat ini “produk“ sudah berkonotasi barang/jasa. seseorang yang karena kebutuhan mendadak lalu menjual rumahnya kepada orang lain. Jika demikian halnya. dipakai.

Namun. perlindungan konsumen mengandung aspek hukum. 4. Oleh sebab itu. organisasi-organisasi konsumen yang tergabung dalam the international organization of consumers unions (IOCU) menambahkan lagi beberapa hak. Bahkan. keluarga. Unsure yang diletakkan dalam defenisi itu mencoba untuk memperluas pengertian kepentingan. misalnya. e. hak untuk mendapatkan keamanan (the right to safety). Batasan itu sudah biasa dipakai dalam peraturan perlindungan konsumen di berbagai negara. bagi kepentingan diri sendiri. Seseorang yang membeli makanan untuk kucing peliharaannya. untuk jenis-jenis transaksi konsumen tertentu. Adapun materi yang mendapatkan perlindungan itu bukan sekadar fisik. perusahaan pengembang (develover) perumahan sudah biasa mengadakan transaksi terlebih dahulu sebelum bangunannya jadi. hak-hak konsumen istilah “perlindungan konsumen” berkaitan dengan perlindungan hukum. Kepentingan ini tidak sekedar ditujukan untuk diri sendiri dan keluaga. hak mendapatkan gati kerugian. tetapi juga barang/jasa itu diperuntukan bagi orang lain (diluar diri sendiri dan keluarganya). setiap tindakan manusia adalah bagian dari kepentingannya. seperti hak mendapatkan pendidikan konsumen. keluarga. Mereka bebas untuk menerima semua atau sebagian. yakni hanya konsumen akhir. penguraian unsur itu tidak menambah makna apa-apa karena pada dasarnya tindakan memakai suatu barang/jasa (terlepas ditujukan untuk siapa dan makhluk hidup lain). f. Dalam perdagangan yang makin kompleks dewasa ini. tidak semua organisasi konsumen menerima penambahan hak-hak tersebut. hak untuk mendapatkan informasi ( the right to be informed). makhluk hidup lain transaksi konsumen ditujukan untuk kepentingan diri sendiri. yaitu 1. orang lain. dan hak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. yaitu hak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat sehingga keseluruhannya dikenal sebagai panca hak konsumen. Dengan kata lain. hak untuk memilih ( the right to choose). orang lain dan makhluk hidup lain. Secara teoritis hal demikian terasa cukup baik untuk mempersempit ruang lingkup pengertian konsumen. memutuskan untuk menambah 1 hak lagi sebagi pelengkap hak dasar konsumen. seperti hewan dan tumbuhan. hak untuk didengar ( the right to be heard). berkaitan dengan kepentingan pribadi orang itu untuk memiliki kucing yang sehat. 2. Dari sisi teori kepentingan. syarat itu tidak mutlak lagi dituntut oleh masyarakat konsumen. sulit menetapkan batas-batas seperti itu. Dalam perkembangannya.barang/jasa yang ditawarkan dalam masyarakat sudah harus tersedia di pasaran (lihat juga bunyi pasal 9 ayat 1 huruf e UUPK). seperti futures trading. barang dan/atau jasa itu tidak untuk diperdagangkan pengertian konsumen dalam UUPK ini dipertegas. misalnya. Empat hak dasar ini diakui secara internasinaol. juga tidak terlepas dari kepentingan pribadi. Oleh karena itu. Misalnya. melaikan terlebih-lebih hakhaknya yang bersifat abstrak. perlindungan konsumen identik dengan perlindungan yang diberikan hukum tentang hak-hak konsumen. . walaupun dalam kenyataannya. bahkan untuk makhluk hidup lain. YLKI. Secara umum dienal ada 4 (empat) hak dasar konsumen. 3. keberadaan barang yang diperjualbelikan bukan sesuatu yang diutamakan. 2.

h. jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang/jasa d. hak untuk mendapatkan konpensasi ganti rugi/ penggantian. Langkah untuk meningkatkan martabat dan kesadaran konsumen harus diawali dengan upaya untuk memahami hak-hak pokok konsumen. e. Disamping hak-hak dalam pasal 4. hak atas kenyamanan dan keselamatan dalam mengonsumsi barang/jasa. hak untuk memilih barang/jasa serta mendapatkan barang/jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan. Hak konsumen sebagaimana tertuang dalam pasal 4 UU No. Kennedy tersebut juga di akomodasi. f. Disini letak arti penting mengapa hak ini perlu dikemukakan. empat hak dasar yang dikemukakan oleh John F. masalah persaingan curang (dalam bisnis) ini diatur secara khusus pada pasal 382 bis kitab undang-undang hukum pidana. pelanduk mati di tengah-tengah“. juga terdapat hak-hak konsumen yang dirumuskan dalam pasal berikutnya. jika semua hak-hak yang disebutkan itu disusun kembali secara sistematis (mulai dari yang diasumsikan paling mendasar). ada juga hak untuk dilindungi dari akibat negatif persaingan curang. mengingat sebagai undang-undang paying (umberella act). Kewajiban dan hak merupakan antinomi dalam hukum. UUPK seharusnya dapat mengatur hak-hak konsumen itu secara komprehensif. Kendati demikian. Hal ini berangkat dari pertimbangan. Hak konsumen Mendapatkan Keamanan . kegiatan bisnis yang dilakukan tidak secara jujur. sehingga kewajiban pelaku usaha dapat dilihat sebagai hak konsumen. g. hak untuk mendapatkan advokasi perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang/jasa yang digunakan. sejak 5 maret 2000 diberlakukan juga UU No. Selain hak yang dibutuhkan itu. tidak dimasukkan dalam UUPK ini karena UUPK secara khusus mengecualikan hak-hak atas kekayaan intelektual (HAKI) dan dibidang pengolaan lingkungan. b. Tidak jelas kenapa kedua bidang hukum ini yang di kecualikan secara khusus. yang dalam hukum dikenal dengan terminologi “persaingan curang“ (unfair competition). Akhirnya. 8 tahun 1999 adalah sebagi berikut: a. Selanjutnya. kompetisi tidak sehat diantara mereka pada jangka panjang pasti berdampak negatif bagi konsumen karena pihak yang dijadikan sasaran rebutan adalah konsumen itu sendiri. c. yang dapat dijadikan sebagai landasan perjuangan untuk mewujudkan hak-hak tersebut. apabila barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya. tidak bagi konsumen langsung.Dalam UUPK. akan diperoleh urutan sebagai berikut: a. Ketentuan-ketentuan ini sesungguhnya diperuntukan bagi sesama pelaku usaha. hak atas informasi yang benar. khususnya dalam pasal 7 yang mengatur tentang kewajiban pelaku usaha. 5 tahun 1999 tentang larangan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen. agar tidak berlaku pepatah: “dua gajah berkelahi. Hak konsumen untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Dalam hukum positif indonesia.

Konsumen berhak mendapatkan keamanan dari barang dan jasa yang ditawarkan kepadanya. Produk barang dan jasa itu tidak boleh membahayakan jika dikonsumsi sehingga konsumen tidak dirugikan baik secara jasmani dan rohani. Hak untuk memperoleh keamanan ini penting ditempatkan pada kedudukan utama karena berabad-abad berkembang suatu falsafah berpikir bahwa konsumen (terutama pembeli) adalah pihak yang wajib berhati-hati, bukan pelaku usaha. Falsafah yang disebut caveat emptor (let the buyer beware) ini mencapai puncaknya pada abad ke-19 seiring berkembangnya paham rasional individualisme di Amerika Serikat. Dalam perkembangannya kemudian, prisip yang merugikan konsumen ini telah ditinggalkan. Dalam barang dan/atau jasa yang dihasilkan dan dipasarkan oleh pelaku usaha berisiko sangat tinggi terhadap keamanan konsumen, Pemerintah selayaknya mengadakan pengawasan secara ketat. Misalnya zat atau obat yang tergolong narkotika dan psikotropika. Undang-undang No.5 Tahun 1997 tentang psikotropika dan Undang-undang No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika menetapkan psikotopika dan narkotika golongan I hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, tidak dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan.Restriksi demikian perlu dilakukan semata-mata demi menjaga keamanan masyarakat atas akibat negatif dari produk tersebut. Satu hal juga seiring dilupakan dalam kaitan dengan hak untuk mendapatkan keamanan adalah penyediaan fasilitas umum yang memenuhi syarat yang ditetapkan. Di Indonesia, sebagian besar fasilitas umum, seperti pusat perbelanjaan, hiburan, rumah sakit,dan perpustakaan belum cukup akomodatif untuk menopang keselamatan pengunjungnya. Hal ini tidak saja bagi pengguna produk barang atau jasa (konsumen) yang berfisik normal pada umumnya, tetapi juga tidak berlebih-lebih mereka yang cacat fisik dan lanjut usia. Akibatnya, besar kemungkinan mereka ini tidak dapat leluasa berajalan dan naik tangga di tempattempat umum karena tingkat resiko yang sangat tinggi. b. Hak untuk Mendapatkan Informasi yang Benar Setiap produk yang diperkenalkan kepada konsumen harus disertai informasi yang benar. Informasi ini diperlukan agar konsumen tidak sampai mempunyai gambaran yang keliru atas produk barang dan jasa. Informasi ini dapat

disampaikan dengan berbagai cara, seperti lisan kepada konsumen, melalui iklan di berbagai media, atau mencantumkan dalam kemasan produk (barang). Jika dikaitkan dengan hak konsumen atas keamanan, maka setiap produk yang mengandung risiko terhadap keamanan konsumen, wajib disrtai informasi berupa petunjuk pemakaian yang jelas. Sebagai contoh, iklan yang secara ideal diartikan sebagai sarana pemberi informasi kepada konsumen, seharusnya terbebas dari mani pulasi data. Jika iklan memuat informasi yang tidak benar, maka perbuatan itu memenuhi kriteria kejahatan yang lazim disebut fraudulent misrepresentation. Bentuk kejahatan ini ditandai oleh (1)pemakaian pernyataan yang jelas-jelas salah (false statement), seperti menyebutkan diri terbaik tanpa indikator yang jelas, dan (2) pernyataan yang menyesatkan (mislead), misalnya menyebutkan adanya khasiat tertentu padahal tidak. Menurut Troelstup, konsumen pada saat ini membutuhkan banyak informasi yang lebih relavan dibandingkan dengan saat sekitar 50 tahun lalu. Alasannya, saat ini: (1) terdapat lebih banyak produk, merek, dan tentu saja penjualnya, (2) daya beli konsumen makin meningkat, (3) lebih banyak variasi merek yang beredar di pasaran, sehingga belum banyak diketahui semua orang, (4) modelmodel produk lebih cepat berubah, (5) kemudahan transportasi dan komunikasi sehingga mem buka akses yang lebih besar kepada bermacam-macam produsen atau penjual. Hak untuk mendapatkan informasi menurut Prof.Hans W.Micklitz, seorang ahli hukum konsumen dari jerman, dalam ceramah di Jakarta, 26-30 Oktober1998 membedakan konsumen berdasarkan hak ini. Ia menyatakan, sebeum kita melangkah lebih detail dalam perlindungan konsumen, terlebih dulu harus ada persamaan persepsi tentang tipe konsumen yang akan mendapatkan perlindungan. Menurutnya, secara garis besar dapat dibedakan dua tipe konsumen, yaitu a. konsumen yang terinformasi (well-informed) b. konsumen yang tidak terinformasi. Ciri-ciri konsumen yang terinformasi sebagai tipe pertama adalah: Memiliki tingkat pendidikan tertentu ; • • mempunyai sumberdaya ekonomi yang cukup, sehingga dapat berperan dalam ekonom pasar, dan lancer berkomunikasi.

Dengan memiliki tiga potensi, konsumen jenis ini mampu bertanggung jawab dan relative tidak memerlukan perlindungan. Ciri-ciri konsumen yang tidak terinformasi sebagai tipe kedua memiliki ciriciri antara lain : • • • kurang berpendidikan ; termasuk kategori kelas menengah ke bawah ; tidak lancar berkomunikasi.

Konsumen jenis ini perlu dilindungi, dan khususnya menjadi tanggung jawab Negara untuk memberikan perlindungan. Selain ciri-ciri konsumen yang tidak terinformasikan, karena hal-hal khusus dapat juga dimasukkan kelompok anak-anak, orang tua, dan orng asin (yang tidak dapat berkomunikasi dengan bahasa setempat) sbagai konsumen yang wajib dilindungi oleh negara. Informasi ini harus diberikan secara sama bagi semua konsumen (tidak diskriminatif). Dalam perdagangan yang sangat mengandalkan informasi, akses kepada infoasi yang tertutup misalnya dalam praktik insider trading di bursa efek, dianggap sebagai bentuk kejahatan yang serius. Penggunaan teknologi tinggi dalam mekanisme produksi barang dan/atau jasa akan menyebabkan makin banyaknya infomasi yang harus dikuasai oleh masyarakat konsumen. Di sisi lain mustahil mengharapkan sebagian besar konsumen memiliki kemampuan dan akse informasi secara sama besarnya. Apa yang dikenal dengan consumer ignorance, yaitu ketidakmampuan konsumen menerima infomasi akibat kemajuan teknologi dan keragaman produk yang dipasarkan dapat saja dimanfaatkan secara tidak sewajarnya oleh pelaku usaha. Itulah sebabnya, hukum perlindungan konsumen memberikan hak konsumen atas informasi yang benar, yang didalam nya tercakup juga hak atas infomasi dan diberikan secara tidak diskriminatif. c. Hak untuk Didengar Hak yang erat kaitannya dengan hak untuk mendapatkan informasi adalah hak untuk didengar. Ini disebabkan oleh informasi dari pihak yang berkepentingan atau berkompeten erring tidak cukup memuaskan konsumen. Untuk itu konsumen berhak mengajukan permitaan infomasi lebih lanjut.

konsumen berhak menentukan pilihannya. media. Undang-Undang No. ia juga bebas menentukan produk mana yang akan dibeli. sekalipun masih berbentuk kode etik (self regulation) akan mengarah kepada langkah positif menuju penghormatan hak konsumen untuk didengar. Ralat atau pembetulan wajib dilakukan dalam waktu selambat-lambatnya satu kali 24 jam berikutnya atau pada kesempatan pertama pada ruang mata acara yang sama. Hak untuk memilih ini erat kaitannya dengan ituasi pasar. harus bersedia memberikan penjelasan mengenai suatu iklan tertentu.Dalam tata karma dan tata cara periklanan Indonesia disebutkan. Dampak dari praktik monopoli ini adalah adanya persaingan usaha tidak sehat (unfair competition) yang merugikan jepentingan umum (konsumen).5 Tahun 1999 tentang Praktik Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat mengartikan monopoli sebagai penguasaan atas produksi dan /atau pemasaran dan/atau atas penggunaan jasa tertentu oleh salah satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha. Penyanggah berita ini mungkin adalah konsumen dari produk tertentu. akhirnya konsumen pasti didikte untuk mengonsumsi .32 Tahun 2002 tentang penyiaran dinyatakan lembaga penyiaran wajib meralatisi siaran dan/atau berita. Jika seseorang atau suatu golongan diberikan hak monopoli untuk memproduksi dan memasarkan barang atau jasa. bila diminta oleh konsumen. Ketentuan dalam Undang-Undang penyiaran itu jelas-jelas menunjukkan hak untuk didengar. yang dalam doctrin hukum dapat diidentikkan dengan hak untuk membela diri. dan dalam bentuk serta cara yang sama dengan penyampaian isi siaran dan/atau berita yang disanggah. maka baik perusahaan periklanan. Dalam pasal 44 UU No. Seandainya ia jadi membeli. maka besar kemungkinan konsumen kehilangan hak untuk memilih produk yang satu dengan produk lain. Ia tidak boleh mendapat tekanan dari pihak luar sehingga ia tidak lagi bebas untuk membeli atau tidak membeli. Hak untuk Memilih Dalam mengonsumsi suatu produk. d. Pengaturan demikian. maupun pengiklan. Jika monopoli itu diberikan kepada perusahaan yang tidak berorientasi pada kepentingan konsumen.

Klausul seperti . kuantitas dan kualitas barang dan/atau jasa di konsumsi harus sesuai dengan nilai uang yang dibayar sebagai penggantinya. biasanya konsumen terpaksa mencari produk alternatif (bila masih ada). Namun. jika tidak silakan mencari tempat yang lain (padahal di tempat lain pun pasar sudah dikuasainya). Jenis dan jumlah ganti rugi itu tentu saja harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau atas kesepakatan masing-masing pihak. Hak untuk Mendapatkan Produk Barang dan/atau Jasa Sesuai dengan Nilai Tukar yang Diberikan Dengan hak ini berarti konsumen harus dilindungi dari permainan harga yang tidak wajar. Jika setuju silakan beli. dan sebagainya (dalam sejarah perdagangan dikenal sejak 1870-an).barang atau jasa itu tanpa dapat berbuat lain. ia berhak mendapatkan ganti rugi yang pantas. yang boleh jadi kualitasnya malahan lebih buruk. pelaku usaha dapat saja mendikte pasar dengan menaikkan harga. Dalam keadaan seperti itu. Konsumen dihadapkan pada kondisi : take it or leave it. maka pihak pertama dapat saja mambebankan biaya tertentu yang sewajarnya tidak ditanggung konsumen. Dengan kata lain. f. sering terjadi pelaku usaha mencantumkan klausul-klausul eksonerasi di dalam hubungan hukum antara produsen/penyalur produk dan konsumennya. kuantitas dan kualitas barang dan/atau yang dikonsumsinya tidak sesuai dengan nilai tukar yang di berikannya. quota agreement. Untuk menghindar dari kewajiban memberikan ganti kerugian. Hak untuk Mendapatkan Ganti Kerugian Jika konsumen merasakan. Dalam dunia perdagangan dikenal apa yang disebut market sharing agreements. Akibat tidak berimbangnya posisi tawar-menawar antara pelaku usaha dan konsumen. pelaku usaha dapat secara sepihak mempermainkan mutu barang dan harga jual. maintenance. Pratik yang tidak terpuji ini lazim dikenal dengan istilah externalities. Dalam situasi demikian. dan konsumen menjadi korban dari ketiadaan pilihan. resale price maintenance. Monopoli juga dapat timbul akibat perjanjian antar pelaku usaha yang bersifat membatasi konsumen untuk memilih. dalam ketakbebasan pasar. e. price fixing agreements.

konsumen tidak selalu harus menempuh upaya hukum terlebih dahulu. hak konsumen tidak berarti dengan sendirinya hilang. Tentu ada beberapa karateristik tuntutan yang tidak memperbolehkan tuntutan ganti kerugian ini.maka konsumen berhak mendapatkan penyelesaian hukum. Pencantuman secara sepihak demikian tetap tidak dapat menghilangkan hak konsumen untuk mendapatkan ganti kerugian. Undang-Undang No. Jika permintaan yang diajukan konsumen dirasakan tidak mendapat tanggapan yang layak dari pihak-pihak terkait dalam hubungan hukum dengannya. Hak untuk mndapatkan penyelesaian hukum ini sebenarnya meliputi juga hak untuk mendapatkan ganti kerugaian.32 Tahun 2002 tentang penyiaran mewajibkan lembaga penyiaran wajib mencantumkan ralat isi siaran dan/atau berita yang disanggah pihak lain. Hak untuk Mendapatkan Penyelesaian Hukum Hak untuk mendapatkan ganti kerugian harus ditempatkan lebih tinggi daripada hak pelaku usaha (produsen/penyalur produk) untuk membuat klausul eksonerasi secara sepihak. Dengan kata lain. konsumen berhak menuntut pertanggungjawaban hukum dari pihak-pihak yang dipandang merugikan karena mengonsumsi produk itu. Lingkungan hidup yang baik dan sehat berate sangat luas. Jika penyanggah isi siaran itu konsumen. Sebaliknya. h. dan setiap . g. Lembaga penyiaran tidak terbebas dari tanggung jawab atas tuntutan hukum yang tuntutan hukum yang diajukan oleh pihak yang merasa dirugikan. Untuk memperoleh ganti kerugian. seperti dalam upaya legal stnding LSM yang dibuka kemungkinannya dalam Pasal 46 ayat (1) Huruf c UUPK. Hak untuk Mendapatkan Lingkungan Hidup yang Baik dan Sehat Hak konsumen atas lingkungan yang baik dan sehat merupakan hak yang diterima sebagai salah satu hak dasar konsumen oleh berbagai organisasi konsumen di dunia. setiap upaya hukum pada hakikatnya berisikan tuntutan memperoleh ganti kerugian oleh salah satu pihak.“barng yang dibeli tidak dapat dikembalikan” merupakan hal yanglazim ditemukan pada toko-toko. tetapi kedua hak tersebut tidak berarti identik. walaupun ralat dimuat. termasuk advokasi. Dalam uraian tentang hak untuk didengar dikatakan.

Hak untuk Dilindungi dari Akibat Negatif Persaingan Curang Persaingan curang atau dalam Undang-Undang No. baru dapat menjual produknya di Negara-negara yang bergabung dalam The International Tropical Timber Organazation (ITTO). Lingkungan hidup meliputi lingkungan hidup dalam arti fisik dan lingkungan nonfisik. seperti Indonesia. Sementara itu.5 Tahun 1999 disebut dengan “persaingan usaha tidak sehat” dapat terjadi jika seorang pengusaha berusaha menarik langganan atau klien pengusaha lain untuk memajukan usahanya atau memperluas penjualan atau pemasrannya dengan menggunakan alat atau sarana yang bertentangan dengan iktikad baik dankejujuran dalam pergaulan perekonomian. karena praktis pangsa pasar terbesarnya adalah Negara-negara anggota ITTO. dalam pasar yang monopolistic itulah harga kembali dikendalikan oleh si produsen yang curng ini. Tujuannya untuk merebut pasar.makhluk hidup adalah konsumen atas lingkungan hidupnya. mulai tahun 2000 semua perusahaan yang berkaitan dengan hasil hutan. Contoh bentuk yang kerap terjadi dalam persaingan curang adalah permainan harga (dumping). Dalam pasal 22 Undang-undang No. Pada kesempatan berikutnya. Satu produsen yang kuat mencoba mendesak produsen saingannya yang lebih lemah dengan cara membanting harga produk. Misalnya munculnya gerakan konsumerisme hijau (green consumerism) yang sangat peduli pada kelestarian lingkungan. dan produsen saingannya akan berhenti berproduksi. . 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Desakan pemenuhan hak konsumen atas lingkungan hidup yang baik dan sehat makin mengemuka akhir-akhir ini.23 Tahun 1992 tentang kesehatan dan pasal 5 ayat (1) UU No. Dalam posisi demikian. Untuk itu lembaga Ekolabeling Indonesia (LEI) pada tahun 1998 mulai melakukan audit atas sejumlah perusahaan perkayuan Indonesia agar dapat diberkan sertifikat ekolabeling yang disebut SNI 5000. konsumen pula yang dirugikan.Ketentuan demikian sangat penting artinya. i. jika telah memperoleh ecolabeling certificate. khususnya bagi produsen hasil hutan tropis. hak untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat ini diyatakan dengan tegas.

trust. termasuk bila kerugian timbul akibat cacatnya barang yang merupakan komponen dalam proses produksinya. Siapa saja. penetapan harga. Ketentuan ini mengharuskan importir yang mengimpor barang dari eksportir negara ketiga mendapatkan jaminan melalui suatu perjanjian yang menyatakan bahwa pihak eksportir bertanggung jawab sepenuhnya atas barang yang dimasukkan EC.Hak konsumen untuk dihindari dari akibat negatif persaingan curng dapat dikatakan sebagai upaya pre-emptive yang harus dilakukan. Demikian pula tanggung jawab . J. (2) (3) Produsen bahan mentah atau komponen suatu produk. Ketentuan ini sengaja dicantumkan untuk melindungi konsumen dari kemungkinan harus menggugat produsen asing (yang pusat kegiatannya) di luar lingkungan EC. pemboikotan. integrasi vertical. termasuk dalam bentuk perjanjian yang dilarang adalah oligopoli. oligopsoni. yang dengan membubuhkan nama. perjanjian tertutup. pedagang/penyalur yang mengedarkan barang yang tidak jelas identitas produsennya. Selanjutnya Pasal 3 ayat (2) Directive menyebutkan bahwa: siapa pun yang mengimpor suatu produk ke lingkungan EC adalah produsen. khususnya oleh pemerintah guna mencegah munculnya akibat-akibat langsung yang merugikan konsumen.5 tahun 1999 disebutkan adanya (1) perjanjian dilarang. wajar bila masih banyak konsumen (1) Pihak yang menghasilkan produk akhir berupa barang-barang manufaktur. bertanggung jawab atas barang tersebut. Mereka ini bertanggung jawab atas segala kerugian yang timbul dari barang yang mereka edarkan ke masyarakat. Oleh karena itu. Dalam Undang-undang No. dan perjanjian dengan pihak luar negeri yang mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan/atau persaingan tidak sehat. pembagian wilayah. Hak untuk Mendapatkan Pendidikan Konsumen Masalah perlindungan konsumen di Indonesia termasuk masalah yang baru. dan (2) kegiatan yang dilarang. kartel. ataupun tanda- tanda lain pada produk menampakkan dirinya sebagai produsen dari suatu barang. antara lain dalam pasal 17 sampai dengan pasal 24. merek. Lebih lanjut lagi.

sehingga berdasar Pasal 5 ayat (3) konvensi ini. b. 3) cacat timbul setelah produk berada di luar kontrol produsen. Di Amerika Serikat. faktor-faktor yang membebaskan produsen dari tanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh konsumen meliputi: 1) kelalaian si konsumen penderita. 2) penyalahgunaan produk yang. yaitu 6 (enam) tahun setelah pembelian. 4) barang yang diproduksi secara individual tidak untuk keperluan produksi. hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beriktikad tidak baik. meskipun kerusakan timbul akibat cacat pada produk. 5) kerugian yang timbul (sebagian) akibat kelalaian yang dilakukan oleh produsen lain dalam kerja sama produksi (di beberapa negara bagian yang mengakui joint and several liability). 5) cacat timbul akibat ditaatinya ketentuan yang ditetapkan oleh penguasa. . Dalam Pasal 6 UU No. tidak terduga pada saat produk dibuat (unforseeable misuse). hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan. 3) lewatnya jangka waktu penuntutan (daluarsa).penyalur/pedagang ini timbul atas barang yang diimpor dari negara ketiga. 8 Tahun 1999 Produsen disebut sebagai pelaku usaha yang mempunyai hak sebagai berikut: a. tapi tidak jelas importimya. yaitu apabila: 1) produk tersebut sebenarnya tidak diedarkan. atau 10 tahun sejak barang diproduksi. 4) produk pesanan pemerintah pusat (federal). gugatan atas produk liability dapat diajukan ke pengadilan yang jurisdiksinya meliputi tempat timbulnya kerugian. Hak-hak produsen dapat ditemukan antara lain pada faktor-faktor yang membebaskan produsen dari tanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh konsumen. 2) cacat timbul di kemudian hari. Sebagian besar negara anggota EC telah meratifikasi Konvensi tentang Jurisdiksi.

e. b. sehingga dapat diartikan bahwa kewajiban pelaku usaha untuk beriktikad baik dimulai sejak barang dirancang/diproduksi sampai pada tahap puma penjualan. e. f.c. ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan. Dalam UUPK pelaku usaha diwajibkan beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya. memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan. memberikan informasi yang benar. memberi kompensasi. Dalam UUPK tampak bahwa iktikad baik lebih ditekankan pada pelaku usaha. jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan. sebagai berikut: a. dan pemeliharaan. karena meliputi semua tahapan dalam melakukan kegiatan usahanya. hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan. pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan. sedangkan bagi konsumen diwajibkan beriktikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa. g. beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya. hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum sengketa konsumen. menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku. Adapun dalam Pasal 7 diatur kewajiban pelaku usaha. c. perbaikan. memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriniinatif. memberi kompensasi ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/ jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian. d. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. sebaliknya konsumen hanya diwajibkan beriktikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau . d.

Penyampaian informasi terhadap konsumen tersebut dapat berupa representasi. sedangkan peringatan dirancang untuk menjamin keamanan penggunaan produk. Dengan demikian pabrikan (produsen pembuat wajib menyampaikan peringatan kepada konsumen). agar konsumen tidak salah terhadap gambaran mengenai suatu produk tertentu. yang akan sangat merugikan konsumen. disebabkan karena informasi di samping merupakan hak konsumen. Produk yang dibawa ke pasar tanpa petunjuk cars pemakaian dan peringatan atau petunjuk dan peringatan yang sangat kurang/tidak memadai menyebabkan suatu produk dikategorikan sebagai produk yang cacat instruksi. perbaikan. Pentingnya penyampaian informasi yang benar terhadap konsumen mengenai suatu produk. Hal ini berlaku bagi . sedangkan Man atau brosur tersebut tidak selamanya memuat informasi yang benar karena pada umumnya hanya menonjolkan kelebihan produk Peringatan ini sama pentingnya dengan instruksi penggunaan suatu produk yang merupakan informasi bagi konsumen. walaupun keduanya memiliki fungsi yang berbeda yaitu instruksi terutama telah diperhitungkan untuk menjamin efisiensi penggunaan produk. Peringatan yang merupakan bagian dari pemberian informasi kepada konsumen ini merupakan pelengkap dari proses produksi. maupun yang berupa instruksi. peringatan. dan pemeliharaan. juga karena ketiadaan informasi yang tidak memadai dari pelaku usaha merupakan salah satu jenis cacat produk (cacat informasi). kemungkinan untuk dapat merugikan produsen mulai pada saat melakukan transaksi dengan produsen) Tentang kewajiban kedua pelaku usaha yaitu memberikan informasi yang benar. Kerugian yang dialami oleh konsumen di Indonesia dalam kaitannya dengan misrepresentasi banyak disebabkan karena tergiur oleh iklan-iklan atau brosur-brosur produk tertentu. jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan. sedangkan bagi konsumen. karena salah satu penyebab terjadinya kerugian terhadap konsumen adalah terjadinya misrepresentasi terhadap produk tertentu. Peringatan yang diberikan kepada konsumen ini memegang peranan penting dalam kaftan dengan keamanan suatu produk.jasa. Diperlukan representasi yang benar terhadap suatu produk. Hal ini berarti bahwa tugas produsen pembuat tersebut tidak berakhir hanya dengan nienempatkan suatu produk dalam sirkulasi. Hal ini tentu saja disebabkan oleh kemungkinan terjadinya kerugian bagi konsumen dimulai sejak barang dirancang/diproduksi oleh produsen (pelaku usaha).

peringatan sederhana, misalnya "simpan di luar jangkauan anak-anak" dan berlaku pula terhadap peringatan mengenai efek samping setelah pemakaian suatu produk tertentu. Peringatan demikian maupun petunjuk-petunjuk pemakaian harus disesuaikan dengan sifat produk dan kelompok pemakai. Selain peringatan, instruksi yang ditujukan untuk menjamin efisiensi penggunaan produk juga penting untuk mencegah timbulnya kerugian bagi konsumen. Pencantuman informasi bagi konsumen yang berupa instruksi atau petunjuk prosedur pemakaian suatu produk merupakan kewajiban bagi produsen agar produknya tidak dianggap cacat (karena ketiadaan informasi atau informasi yang tidak memadai). Sebaliknya, konsumen berkewajiban untuk membaca, atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselarnatan. Daftar Pertanyaan 1. Apakah terdapat perbedaan konsumen antara dan konsumen akhir? Jelaskan disertai contoh! 2. Sebut dan jelaskan secara singkat unsur-unsur definisi konsumen! 3. Mengapa tingkat pendidikan konsumen menjadi sangat berpengaruh pada penyampaian informasi, dan siapa yang paling berhak untuk dilindungi, konsumen yang terinformasi atau konsumen yang tidak terinformasi? Jelaskan disertai contoh! 4. Apa yang menjadi alasan sehingga lingkungan hidup yang baik dan sehat juga mendapat perhatian dan merupakan hak konsumen untuk mendapatkannya, jelaskan secara singkat! 5. Mengapa pengusaha dalam Pasal 7 UU No. 8 Tahun 1999 diwajibkan untuk beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya?

BAB 3 PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAMPERATURAN PERUNDANGUNDANGAN A. PENDAHULUAN Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 memiliki ketentuan yang menyatakan bahwa kesemua undang-undang yang ada dan berkaitan dengan perlindungan konsumen tetap berlaku, sepanjang tidak bertentangan atau telah diatur khusus oleh undangundang. Oleh karena itu, tidak dapat lain haruslah dipelajari juga peraturan perundang-undangan tentang konsumen dan/atau perlindungan konsumen ini dalam kaidah-kaidah hukum peraturan perundang-undangan umum yang mungkin atau dapat mengatur dan/atau melindungi hubungan dan/atau masalah konsumen dengan penyedia barang atau jasa. Sebagai akibat dari penggunaan peraturan perundangundangan umum ini, dengan sendirinya berlaku pulalah asas-asas hukum yang terkandung di dalamnya pada berbagai pengaturan dan/atau perlindungan konsumen tersebut. Padahal, nanti akan nyata, di antara asas hukum tersebut tidak cocok untuk memenuhi fungsi pengaturan dan/atau perlindungan pada konsumen, tanpa setidaktidaknya dilengkapi/diadakan pembatasan berlakunya asas-asas hukum tertentu itu. Pembatasan dimaksudkan dengan tujuan "menyeimbangkan kedudukan" di antara para pihak pelaku usaha dan/atau konsumen bersangkutan. Yang dimaksudkan dengan peraturan perundang-undangan umum adalah semua peraturan perundangan tertulis yang diterbitkan oleh badan-badan yang berwenang untuk itu, baik di pusat maupun di daerah-daerah. Peraturan perundangundangan itu antara lain adalah (di Pusat) Undang-Undang Dasar 1945, UndangUndang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang

Peraturan Presiden, dan seterusnya, dan (di daerah-daerah) Peraturan Daerah (Peraturan Daerah Provinsi atau Kabupaten/Kota serta peraturan Desa dan sebagainya). Purnadi2) dalam bukunya menyebut perundang-undangan umum ini sebagai undang-undang dalam arti materiil. Az. Nasution menjelaskan3) konsekuensi dari upaya menyusun rancangan undang-undang tentang perlindungan konsumen yang sekarang sudah diberlakukan dapat disebut sebagai membangun tata hukum konsumen secara tersendiri yang berada dalam Sistem Hukum Indonesia. Sungguh ini pekedaan yang bukan sederhana sebagai contoh dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama, apabila kits mengkaji peraturan yang berkaitan dengan masalah standar, seperti yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan, Menteri Perindustrian dan Perdagangan dan berbagai Menteri lain, dapat dikatakan bahwa standar yang ditetapkan itu selain dimaksud untuk memberi perlindungan kepada konsumen juga melindungi konsumen yang berstatus pengusaha, ataupun masyarakat umum lainnya. Demikian pula pengaturan mengenai ukuran, timbangan, takaran atau ketentuan mengenai label, ketentuan daluwarsa, dan sebagainya. Kedua, ketentuan dalam hukum pidana yang berkaitan dengan penipuan, pemalsuan, penjualan barang dapat membahayakan jiwa manusia (Pasal 383, 263, 202, 382, 383). Ketentuan ini termasuk sebagai delik pidana, yaitu perbuatan yang bersifat melawan hukum yang dilarang dan diancam dengan pidana. Ketentuan ini termasuk pula melindungi konsumen, namun juga melindungi masyarakat pada umumnya. Ketiga, ketentuan dalam hukum perdata yang berkaitan dengan perikatan (Pasal 1233, 1234, 1313, 1351) mengatur hubungan perjanjian pars pihak baik yang berstatus konsumen maupun status pengusaha sebagai produsen barang atau jasa. Keempat, Ketentuan tentang bidang peradilan, Undang-Undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman mengatur mengenai peradilan umum yang disebut Pengadilan Negeri. Pengadilan ini selanjutnya merupakan lembaga peradilan yang mengadili perkara pidana dan perdata yang bagi perkara yang menyangkut masyarakat umum termasuk konsumen. Dari keempat catatan tersebut, ada upaya membangun tata hukum yang diperuntukkan bagi konsumen Indonesia dalam sistem Hukum Indonesia yang sudah berlaku dewasa ini.

terutama Hukum Perlindungan Konsumen mendapatkan landasan hukumnya pada Undang-Undang Dasar 1945. dari kata "melindungi" menurut Az. Pembukaan. Dengan demikian dan ditambah dengan ketentuan Pasal 64 (Ketentuan Peralihan) undang-undang ini. Tetapi peraturan perundangundangan umum yang berlaku memuat juga berbagai kaidah menyangkut hubungan dan masalah konsumen. . SUMBER-SUMBER HUKUM KONSUMEN Di samping Undang-Undang Perlindungan Konsumen. telah diuraikan bahwa Undang-Undang Perlindungan Konsumen berlaku setahun sejak disahkannya (tanggal 20 April 2000). hukum konsumen "ditemukan" di dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku. berarti untuk "membela" kepentingan konsumen. a.Alasan yang dapat dikemukakan untuk menerbitkan peraturan perundangundangan yang secara khusus mengatur dan melindungi kepentingan konsumen dapat disebutkan sebagai berikut. Sebelumnya. Umumnya. B. masih harus dipelajari semua peraturan perundang-undangan umum yang berlaku. sampai saat ini orang bertumpu pada kata "segenap bangsa" sehingga ia diambil sebagai asas tentang persatuan seluruh bangsa Indonesia (asas persatuan bangsa). konsumen merupakan pengguna barang dan jasa untuk kepentingan diri sendiri dan tidak untuk diproduksi ataupun diperdagangkan. setidaktidaknya is merupakan cumber juga dari hukum konsumen dan/atau hukum perlindungan konsumen. Konsumen memerlukan pengaturan tersendiri. Undang-Undang Dasar dan Ketetapan MPR Hukum Konsumen. b. Akan tetapi. Sekalipun peraturan perundang-undangan itu tidak khusus diterbitkan untuk konsumen atau perlindungan konsumen.1) 1. Alinea ke-4 berbunyi: Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia. Beberapa di antaranya akan diuraikan berikut ini. di samping itu. karena dalam suatu hubungan hukum dengan penjual. Konsumen memerlukan sarana atau acara hukum tersendiri sebagai upaya guns melindungi atau memperoleh haknya.

orang kota atau orang desa. Susunan kalimat tersebut berbunyi: “…………. Penghidupan yang layak. Salah satu yang menarik dari TAP-MPR 1993 ini adalah disusunnya dalam satu napas. Penjelasan autentik Pasal 27 ayat (2) ini berbunyi: Telah jelas. Dengan ketetapan terakhir Majelis Permusyawaratan Rakyat Tahun 1993 (TAPMPR) makin jelas kehendak rakyat atau adanya perlindungan konsumen. Baik ia laki-laki atau perempuan. maka alai-alai negara akan turun Langan. Perlindungan hukum pada segenap bangsa itu tentulah bagi segenap bangsa tanpa kecuali. dalam satu baris kalimat. . Ketentuan tersebut berbunyi: Tiap warga Negara berhak atas penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. untuk melindungi dan atau mencegah terjadinya gangguan tersebut. untuk melaksanakan perintah UUD 1945 melindungi segenap bangsa. meningkatkan pendapatan produsen dan melindungi kepentingan konsumen". orang kaya atau orang miskin. Sesungguhnya. Kalau pada TAP-MPR 1978 digunakan istilah "menguntungkan" konsumen. TAP-MPR 1988 "menjamin" kepentingan konsumen. pasal-pasal ini mengenal hak-hak warga negara. Landasan hukum lainnya terdapat pada ketentuan termuat dalam Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). dalam masingmasing TAP-MPR tersebut tidak terdapat penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan menguntungkan. dalam hal ini khususnya melindungi konsumen. Selanjutnya. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) telah menetapkan berbagai ketetapan MPR. menjamin atau melindungi kepentingan konsumen tersebut. baik diminta atau tidak. la merupakan hak dasar bagi rakyat secara menyeluruh. orang asli atau keturunan dan pengusaha/pelaku usaha atau konsumen. apabila kehidupan seseorang terganggu atau diganggu oleh pihak/pihak lain. tentang kaftan produsen dan konsumen.Nasution di dalamnya terkandung pula asas perlindungan (hukum) pada segenap bangsa tersebut. khususnya sejak tahun 1978. maka pada tahun 1993 digunakan istilah "melindungi kepentingan konsumen". apalagi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan merupakan hak dari warga negara dan hak semua orang. sekalipun dengan kualifikasi yang berbeda-beda pada masing-masing ketetapan. Sayangnya.

bahan tambahan. Sebelumnya. Kepentingan peningkatan pendapatan atau penghasilan pelaku usaha adalah dalam rangka pelaksanaan kegiatan usaha mereka. dan/atau mengedarkan produk hasil usaha mereka. Kepentingan konsumen dalam kaftan dengan penggunaan barang dan/atau jasa. Oleh karena itu. Perlindungan hukum yang mereka perlukan adalah agar penghasilan dalam berusaha dapat meningkat. adalah agar barang/jasa konsumen yang mereka peroleh. menawarkan. keluarga atau rumah tangganya (kepentingan nonkomersial). Adanya praktik-praktik niaga tertentu yang menghambat atau menyingkirkan pars pengusaha dari pasar. atau bahan pelengkap. tetapi semata-mata untuk memenuhi kebutuhan raga dan jiwa konsumen. bahan penolong. Kepentingan mereka dalam menggunakan barang atau jasa adalah untuk kegiatan usaha memproduksi dan/atau berdagang itu. terlihat lebih jelas arahan Majelis Permusyawaratan Rakyat tentang kekhususan kepentingan produsen (dan semua pihak yang dipersamakan dengannya) dan kepentingan konsumen. Terdapat kelemahan dalam menjalankan usaha tertentu atau tidak efisien dalam menjalankan manajemen usaha (perlu ketentuan-ketentuan tentang pembinaan) atau b. Dalam hubungannya dengan pars konsumen. seperti praktik persaingan melawan hukum. adalah untuk meningkatkan pendapatan atau penghasilan mereka (tujuan komersial). penguasaan pasar yang dominan. tidak merosot atau bahkan hilang sama sekah baik karena: a. nyata bahwa konsumen tidak sematamata menggunakan ukuran-ukuran komersial sebagaimana yang menjadi ukuran pelaku usaha dalam penggunaan barang dan/atau jasa yang mereka konsumsi. Sifat kepentingan khas produsen (lebih tepat pelaku usaha atau pengusaha) telah ditunjukkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. kegiatan usaha pengusaha adalah dalam rangka memproduksi. telah diterangkan bahwa pengusaha dalam menjalankan kegiatan memproduksi atau berdagang menggunakan barang atau jasa sebagai bahan baku. Nilai barang atau jasa yang digunakan konsumen dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka tidak diukur atas dasar untung rugi secara ekonomis belaka. bermanfaat bagi . Adapun bagi konsumen akhir. sebagai pribadi penggunaan barang dan/jasa itu adalah untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. dan lain-lain (memerlukan ketentuanketentuan pengawasan).Dengan susunan kalimat demikian.

Jadi. Sekalipun diakui bahwa persaingan merupakan suatu yang biasa dalam dunia usaha. Pencampuradukan keduanya. diri. Hukum Konsumen dalam Hukum Perdata Dengan hukum perdata dimaksudkan hukum perdata dalam arti lugs. kepentingan nonkomersial mereka yang harus diperhatikan adalah akibat-akibat kegiatan usaha dan persaingan di kalangan pelaku usaha terhadap jiwa. dalam penyusunan peraturan perundang-undangan haruslah jelas siapa yang dimaksudkan dengan pelaku usaha dan siapa pula konsumen. keselarasan. tetap harus dijaga keseimbangan. 2. dan seperti bagaimana bagaimana mendapatkan tambahan penolong. mengangkutnya dan memasarkannya. dan konsumen adalah konsumen. Bagi kalangan pelaku usaha perlindungan itu adalah untuk kepentingan komersial mereka bahan dalam bake. tubuh atau harta benda mereka. memproduksinya. tetapi persaingan antarkalangan usaha itu haruslah sehat dan terkendali. Bagi konsumen. haruslah diciptakan keadaan yang seimbang. keluarga dan/atau rumah tangganya (tidak membahayakan atau merugikan mereka). Haruslah ada peraturan perundangundangan yang mengatur tentang usaha dan mekanisme persaingan itu. yang menonjol dalam perlindungan kepentingan konsumen ini adalah perlindungan pada jiwa. serasi. spa hak-hak dan/atau kewajiban yang sesuai kepentingan masing-masing pihak.kesehatan/keselamatan tubuh. bahkan coati usahanya. dan selaras dalam kehidupan di antara keduanya. lebih banyak menimbulkan kerancuan dan kesulitan daripada kemanfaatan. Perbedaan prinsipil dari kepentingan-kepentingan dalam penggunaan barang/ jasa dan pelaksanaan kegiatan antara pelaku usaha dan konsumen dengan sendirinya memerlukan jenis pengaturan perlindungan dan dukungan yang berbeda pula. menjalankan bahan kegiatan usaha. kesehatan. termasuk di dalamnya bagaimana menghadapi persaingan usaha. harta dan/atau kepentingan kekeluargaan konsumen. Dalam keadaan bagaimanapun. keamanan jiwa dan harta benda. hukum dagang serta kaidah-kaidah keperdataan yang termuat dalam berbagai . dan keserasian di antara keduanya. termasuk hukum perdata. Oleh karena itu. Persaingan haruslah berjalan secara wajar dan tidak terjadi kecurangan-kecurangan yang mengakibatkan kalangan pelaku usaha tidak saja tidak meningkat pendapatannya. Pelaku usaha adalah pelaku usaha. seperti pemikiran sementara orang pada saat ini.

Di samping itu. Antara lain tentang siapa yang dimaksudkan . Selanjutnya menganggap tidak berlaku beberapa pasal dari KUH Perdata.peraturan perundang-undangan lainnya. Adapun hubungan-hubungan hukum atau masalah antara penyedia barang atau jasa dan konsumen dari berbagai negara yang berbeda. KUH Perdata memuat berbagai kaidah hukum berkaitan dengan hubungan hukum dan masalah antarpelaku usaha penyedia barang dan/atau jasa dan konsumen pengguna barang-barang atau jasa tersebut. Patut kiranya diperhatikan kenyataan yang ada dalam pemberlakuan berbagai kaidah hukum perdata tersebut. tentu saja jugs kaidahkaidah hukum perdata adat. khususnya (jasa) perasuransian dan pelayaran. yang tidak tertulis tetapi ditunjuk oleh pengadilan dalam perkara-perkara tertentu. dalam berbagai peraturan perundang-undangan lain. Kaidah-kaidah hukum perdata umumnya termuat dalam Kitab UndangUndang Hukum Perdata (KUH Perdata). sekalipun sudah amat berkurang. Akan tetapi. Kesemuanya itu baik hukum perdata tertulis maupun hukum perdata tidak tertulis (hukum adat). KUH Perdata bahkan tampak seperti lebih dominan berlakunya dibandingkan dengan kaidah-kaidah hukum adat atau kaidah-kaidah hukum tidak tertulis dan putusan-putusan pengadilan negeri maupun pengadilan-pengadilan luar negeri yang berkaitan. Hubungan hukum perdata dan masalahnya dalam lingkungan berlaku Hukum Adat. Mahkamah Agung menganggap Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (13W) tidak'sebagai undang-undang tetapi sebagai dokumen yang hanya menggambarkan suatu kelompok hukum tidak tertulis. dapat diberlakukan Hukum Internasional dan asasasas hukum internasional. baik buku pertama. masih tampak hidup dan terlihat dalam berbagai putusan pengadilan. buku ketiga. untuk selebihnya dalam pengalaman di pengadilan sepanjang kemerdekaan sampai waktu ini. Begitu pula dalam KURD. Akan tetapi di samping itu. maupun buku kedua. khususnya Hukum Perdata Internasional. atau tidak bersamaan hukum yang berlaku bagi mereka. tampaknya termuat puts kaidah-kaidah hukum yang mempengaruhi dan/ atau termasuk dalam bidang hukum perdata. Terutama buku kedua. Beberapa putusan pengadilan tentang masalah keperdataan berkaitan dengan perlindungan konsumen masih terlihat. Pada tahun 1963. dan buku keempat memuat berbagai kaidah hukum yang mengatur hubungan konsumen dan penyedia barang atau jasa konsumen tersebut. memuat pula berbagai ketentuan hukum perdata bagi konsumen. mengatur tentang hak-hak dan kewajiban yang terbit dari.

hak-hak dan kewajiban masing-masing. Buku Kesatu dan Buku Kedua. Berbagai peraturan perundang-undangan lain yang memuat kaidah-kaidah hukum bersifat perdata tentang subjek-subjek hukum. Oleh karena itu. Rumusan norma dalam pasal ini unik tidak seperti ketentuan pasal lainnya. Perumusan norma Pasal 1365 KUH Perdata lebih merupakan struktur norma daripada substansi ketentuan hukum yang sudah lengkap. Jadi. UndangUndang tentang Perindustrian (Undang-Undang No. 2 Tahun 1981). Undang-Undang tentang Rumah Susun (Undang-Undang No. terlihat bahwa kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah hukum antara pelaku usaha penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa dengan konsumennya masing-masing terlihat termuat dalam:    KUH Perdata. Undang-Undang tentang Lingkungan Hidup (Undang-Undang No. terutama dalam buku kedua. Lembaran Negara Tahun 1999 No. Perbuatan Melawan Hukum (Pasal 1365 KUH Perdata) Dalam Sengketa Antara Konsumen dan Pelaku Usaha Perbuatan melawan hukum di Indonesia secara normatif selalu merujuk pada ketentuan Pasal 1365 KUH Perdata. Berta tats cars penyelesaian masalah yang ter adi dalam Sengketa antara konsumen dan penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa yang diatur dalam peraturan perundang-undangan bersangkutan. ketiga. dan terakhir UndangUndang Perlindungan Konsumen (UndangUndang No. 7 Tahun 1996). 14 Tahun 1992). 4 Tahun 1982). 21 Tahun 1982). hubungan hukum dan masalah antara penyedia barang atau penyelenggara jasa tertentu dan konsumen. Undang-Undang tentang Lalu Lintas danAngkutan Jalan (Undang-Undang No. kalau dirangkum keseluruhanriya. 16 Tahun 1985). KURD. 23 Tahun 1992). 42). Undang-Undang tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers (Undang-Undang No. substansi ketentuan Pasal 1365 KUH Perdata senantiasa memerlukan . UndangUndang tentang Pangan ( Undang-Undang No. Undang-Undang tentang Kesehatan ( Undang-Undang No. 8 Tahun 1999.sebagai subjek hukum dalam suatu hubungan hukum konsumen. dan keempat. 5 Tahun 1984). Beberapa di antaranya (yang terbaru) adalah Undang-Undang tentang Metrologi Legal (Undang-Undang No.

melarang dilakukannya perbuatan tertentu. Beberapa tuntutan yang dapat diajukan karena perbuatan melawan hukum ialah: 1. Dengan kata lain. orang tug korban yang lazimnya mendapat nafkah dari pekerjaan korban. Perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) sama dengan perbuatan melawan undang-undang (on wetmatigedaad). Perbuatan Melawan Hukum terhadap tubuh dan jiwa manusia. Dilihat dari dimensi waktu. atau disebabkan oleh barang-barang yang berada di bawah pengawasannya. Masalah penghinaan diatur dalam Pasal 1372 sampai dengan Pasal 1380 KUH Perdata. 2. pernyataan bahwa perbuatan yang dilakukan adalah melawan hukum. 4. Pasal 1370 KUH Perdata menyatakan bahwa dalam hal tedadi pembunuhan dengan sengaja atau kelalaiannya maka suami atau istri. Kedua. tanggung jawab tidak hanya karena perbuatan melawan hukum yang dilakukan diri sendiri tetapi juga berkenaan dengan perbuatan melawan hukum orang lain dan barang-barang di bawah pengawasannya. seperti kiasan yang sudah kits kenal bahwa Pasal 1365 KUH Perdata ini "Tak lekang kena pangs. ganti rugi dalam bentuk uang atas kerugian yang ditimbulkan. berhak untuk menuntut ganti rugi yang harus dinilai menurut keadaan dan kekayaan kedua belah pihak. Pasal 1372 menyatakan bahwa tuntutan terhadap penghinaan adalah bertujuan untuk mendapat ganti rugi dan pemulihan nama baik. Pasal 1367 ayat (1) KUH Perdata menyatakan: Seseorang tidak hanya bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya sendiri tetapi juga disebabkan karena perbuatan orangorang yang menjadi tanggungannya. sesuai dengan kedudukan dan keadaan pars pihak. Perbuatan Melawan Hukum Indonesia yang berasal dari Eropa Kontinental diatur dalam Pasal 1365 KUH Perdata sampai dengan Pasal 1380 KUH Perdata. anak. Perbuatan Melawan Hukum terhadap nama baik. 3. Pasal-pasal tersebut mengatur bentuk tanggung jawab atas Perbuatan Melawan Hukum yang terbagi atas: Pertama. tak lapuk kena hujan". Ketiga.materialisasi di luar KUH Perdata. . ganti rugi dalam bentuk natura atau dikembalikan dalam keadaan semula. ketentuan ini akan "abadi" karena hanya merupakan struktur.

istri penggugat lalu membuka pintu mobil dari dalam namun tidak berhasil sehingga merasa ketakutan karena terperangkap di dalam mobil. penggugat tidak bisa menahan buang air kecil karena menderita suatu penyakit sehingga terburu-buru masuk ke toilet yang terletak di dalam rumah sambil menutup pintu mobil yang menggunakan remote control. Namun dengan lahirnya undang-undang yang secara khusus mengatur mengenai tuntutan ganti kerugian maka telah terjadi perubahan dalam penerapan Pasal 1365 KUH Perdata. gugatan yang berkenaan dengan ganti rugi berkaitan dengan materi yang kemudian diatur dalam undang-undang tersebut didasarkan pada Pasal 1365 KUH Perdata. Pada suatu hari penggugat pergi mengantarkan istri penggugat untuk mengurut kakinya ke suatu tempat dengan mengendarai mobil BMW. Harapan istri penggugat temyata jugs sic-sic karena tidak seorang pun mendengarkan teriakannya karena ia berada dalam ruangan kedap . penumpang yang masih berada di dalam mobil tetap bisa keluar dari mobil dengan cara membuka pintu dari dalam.Penerapan Pasal 1365 KUH Perdata mengalami perubahan melalui putusan pengadilan dan undang-undang. perkara bermula dari pembelian mobil jenis BMW 318i yang dilakukan oleh Penggugat. hubungan dengan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha. misalnya undangundang tentang perlindungan konsumen. Perkara berikut ini menunjukkan perubahan penerapan Pasal 1365 KUH Perdata dalam. menurut Tergugat salah sate kecanggihan mobil BMW adalah sistem elektroniknya akan memberi keamanan dan kenyamanan. Berbagai undang-undang telah secara khusus mengatur tentang gaud rugi karena perbuatan melawan hukum. Akhimya. istri penggugat berteriak sekeras-kerasnya dengan harapan ada yang mendengarkan dan bisa membantu keluar dari mobil. Sebagaimana yang wring dilakukan oleh penggugat ketika mengendarai jenis mobil yang lainnya karena sekalipun dikunci dari luar. Sebelum undang-undang tersebut lahir. Karena kondisi kaki istri penggugat masih terasa nyeri maka tidak bisa keluar mobil bersamaan dengan penggugat dan ketika hendak keluar. Sesampainya di rumah. lalu ia berusaha mencopot panel yang ada di dalam mobil namun tidak berhasil memecahkannya. Istri penggugat langsung menekan tombol klakson mobil BMW untuk mints pertolongan. dan kunci elektroniknya tidak mungkin dipalsukan. tetapi klakson tidak berfungsi karena seluruh sistem elektroniknya coati.

8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Setelah itu barulah ia dapat menghirup udara segar yang masuk dari lubang kaca mobil. Berdasarkan kejadian tersebut. Setelah empat puluh menit berjuang akhirnya istri penggugat berhasil meretakkan kaca mobil dengan sebuah bends yang berhasil ditemukan di dalam mobil BMW. Tergugat dalam jawabannya mendalilkan bahwa karena penggugat telah mengajukan tuntutan pelanggaran Undang-Undang No. dan menurut penggugat hal ini jelas merupakan perbuatan melawan hukum. sangat berakibat fatal. tindakan Tergugat I dan Tergugat II memproduksi mobil BMW dengan menggunakan sistem double lock. tanpa disadari tangan istri penggugat terluka dan berlumuran darah. serta tindakan Tergugat III yang tidak memberikan informasi yang jelas tentang kondisi mobil serta cara pemakaiannya kepada penggugat. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen di samping Perbuatan Melawan Hukum (Pasal 1365 KUH Perdata) maka sesuai dengan asas hukum lex specialis derogat lex generalis dan asas hukum lex posteriori derogat legi priori. Akhimya jiwa istri penggugat dapat diselamatkan meskipun dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Lebih lanjut penggugat juga mendalilkan bahwa pars tergugat yang telah memproduksi mobil BMW dengan sistem penguncian double lock tersebut juga telah melanggar Undang-Undang No. Menurut penggugat. BMW Group Indonesia sebagai tergugat II dan PT Astrea International Tbk sebagai tergugat III dengan dalil Perbuatan Melawan Hukum. Istri penggugat kembali berteriak untuk meminta tolong yang temyata dapat didengar oleh penggugat yang sebelumnya beranggapan bahwa istri penggugat sudah masuk ke dalam rumah. penggugat menggugat BMW AG yang berkedudukan di Jerman sebagai Tergugat I. sistem penguncian double lock yang diprodilksi tergugat I dan tergugat 11 tidak menjamin keamanan dan keselamatan konsumen di dalam memakai produk tersebut. . Menurut penggugat. Tanga pikir panjang istri penggugat merobek kaca mobil yang sudah retak dengan tangannya dan berhasil membentuk lubang angin. dan hampir merenggut nyawa serta menimbulkan kerugian yang besar bagi penggugat.suara (dalam mobil BMW yang terkunci) sehingga pada saat itu kondisi istri penggugat sangat lemah dan mengenaskan akibat banyaknya mengeluarkan tenaga serta kehabisan oksigen. hukum yang berlaku dalam perkara ini adalah Undang-Undang No.

Dalam kaftan ini antara lain ketentuan perizinan usaha. segala kaidah hukum maupun asas-asas hukum ke semua cabangcabang hukum publik itu sepanjang berkaitan dengan hubungan hukum konsumen dan/atau masalahnya dengan penyedia barang atau penyelenggara jasa.DKI.Jkt. Menurut Majelis Hakim dalam hal gugatan mengenai tanggung jawab dari pelaku usaha terhadap konsumennya yang berlaku adalah Undang-Undang Perlindungan Konsumen sebagai aturan khusus/specialis (lex specialis derogat legi generali)./2004/PT. hukum pidana. 210/ Pdt. hal tersebut karena adanya aturan khusus (Pasal 23 Undang-Undang Perlindungan Konsumen) yang didahulukan dari aturan umum (Pasal 118 ayat (2) HIR) lex specialis derogat legi generali. adalah hukum administrasi negara. Termasuk hukum publik dan terutama dalam kerangka hukum konsumen dan/atau hukum perlindungan konsumen. gugatan harus diajukan ke pengadilan negeri di mana konsumen/penggugat bertempat tinggal.G/2002/PN. Hukum Konsumen dalam Hukum Publik Dengan hukum publik dimaksudkan hukum yang mengatur hubungan antara negara dan alai-alai perlengkapannya atau hubungan antara negara dengan perorangan. hukum acara perdata dan/ataii hukum acara pidana dan hukum internasional khususnya hukum perdata internasional. Dalam amar putusannya. 3. ketentuan- . Jadi. bukan ke Pengadilan Negeri di mana salah satu Tergugat bertempat tinggal sebagaimana diatur dalam Pasal 118 (2) HIR. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen adalah merupakan suatu aturan khusus yang mengatur mengenai tanggung jawab dari pelaku usaha terhadap konsumen bila tedadi suatu kesalahan atau suatu Perbuatan Melawan Hukum dari pelaku usaha tersebut terhadap konsumennya.Pst berpendapat bahwa Pasal 1365 adalah suatu aturan umum/generalis dalam hal mengajukan gugatan terhadap suatu Perbuatan Melawan Hukum yang dilakukan oleh tergugat sedangkan Undang-Undang No. dapat pula diberlakukan. 385/ Pdt. Putusan ini diperkuat oleh Pengadilan Tinggi Jakarta sebagai Peradilan Banding melalui Putusan No. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan tidak berwenang mengadili perkara ini.Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat melalui Putusan No. Berdasarkan Pasal 23 Undang-Undang Perlindungan Konsumen.

misalnya menentukan bahwa Pemerintah melakukan pengaturan dan pembinaan rumah susun dan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang (termuat dalam Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang tentang Rumah Susun. Ketentuan hukum administrasi. hukum pidana. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan). tampaknya hukum administrasi negara. Selanjutnya dalam Undang-Undang Kesehatan. Penjelasan pasal ini menentukan: tindakan administratif dalam pasal ini dapat berupa pencabutan izin usaha.ketentuan pidana tertentu. Pasal 77 itu berbunyi: Pemerintah berwenang mengambil tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan/atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan ini. izin praktik atau izin lain yang diberikan Berta penjatuhan hukum disiplin berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan yang . Undang-Undang No. selanjutnya disebut hukum administrasi. 75). sedang Pasal 77 menegaskan wewenang pemerintah untuk mengambil berbagai tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan/atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap undangundang ini. 23 Tahun 1992. Dalam Pasal 76 undang-undang itu dijelaskan pula peran pengawasan yang dijalankan oleh pemerintah. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 LN Tahun 1985 No. Dari peraturan perundang-undangan di atas terlihat beberapa departemen dan atau lembaga pemerintah tertentu menj alankan tindakan administratif berupa pengawasan dan pembinaan terhadap pelaku usaha dengan perilaku tertentu dalam melaksanakan perundang-undangan tersebut. hukum internasional khususnya hukum perdata internasional dan hukum acara perdata Berta hukum acara pidana paling banyak pengaruhnya dalam pembentukan hukum konsumen. ketentuan-ketentuan hukum acara dan berbagai konvensi dan/atau ketentuan hukum perdata internasional. Pasal 73 ditentukan: Pemerintah melakukan pembinaan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan. Misalnya tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan/atau sarana kesehatan yang melanggar undang-undang (Pasal 77 UU No. Diantara kesemua hukum publik tersebut.

Secara skematis. Tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dilakukan setelah mendengar pertimbangan Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan. likuiditas. solvabilitas dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank. Begitu pula dengan tindakan administratif Menteri Kehakiman dalam mengesahkan Anggaran Dasar suatu Perseroan Terbatas atau Perubahannya sebagaimana termuat dalam Undang-Undang No. Struktur Hukum Perlindungan Konsumen Hukum Konsumen / Hukum Perlindungan Konsumen Hukum Perdata (dalam Arti Luas) Hukum Publik Hukum Perdata Hukum Administrasi Hukum Dagang Hukum Pidana Hukum Perdata Internasional . Pasal 29 menegaskan bahwa tugas pembinaan dan pengawasan bank-bank di Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia. kualitas aset. Pasal 52 dan -Pasal 53 (Ketentuan Pidana dan sanksi administratif). hukum konsumen dan/atau hukum perlindungan konsumen itu berbentuk sebagai berikut. rentabilitas. ditetapkan bahwa Bank Indonesia dapat menetapkan sanksi administratif kepada bank yang tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana ditentukan pertimbangan kepada Menteri Keuangan untuk mencabut izin usaha bank bersangkutan. Selanjutnya.berlaku. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. kualitas manajemen. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Juga berdasarkan Undang-Undang No. Ayat (2) pasal ini menentukan bahwa Bank Indonesia menetapkan ketentuan tentang kesehatan bank dengan memperhatikan aspek permodalan.

penyewa (harder. Keadaannya agak berbeda dengan pengaturan yang ditentukan dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen. dilakukan oleh siapa. penitip barang (bewaargever. Yang harus mendapatkan perhatian adalah pelanggaran perundang-undangan itu. Peraturan perundangan umum ini sebagaimana telah diuraikan di atas. Tentunya. KUH Perdata dan KUHD tidak Mengenal Istilah Konsumen Hal ini mudah dipahami karena pada saat undang-undang itu diterbitkan dan diberlakukan di Indonesia. Pasal 1548 dan seterusnya). Keduanya diatur bersamaan. Pasal 1457 dan seterusnya KUH Perdata). sebagai pengguna jasa angkutan (UU No. 1. baik hukum perdata maupun hukum publik dapat digunakan untuk menyelesaikan hubungan dan/atau masalah konsumen dengan penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa. apakah pelaku usaha atau konsumen. C. Oleh karena itu. Di dalam undang-undang ini secara tegas ditentukan hak-hak konsumen (Pasal 4) dan kewajiban-kewajibannya (Pasal 5). . Misalnya. tidak dikenal istilah consumers atau consument (istilah Inggris dan Belanda). terlepas dari apakah perundang-undangan yang telah ada. Pasal 1694 dan seterusnya). tidak menetapkan terpisah pelaku usaha atau konsumen.Dari skema ini terlihat bahwa pembagian berdasarkan hukum perdata dalam arti lugs dan hukum publik memberikan gambaran yang menyeluruh tentang struktur dan permasalahan perlindungan konsumen. Di Negeri Belanda istilah koper atau huurder (istilah Belanda yang berarti pembeli atau penyewa) digunakan dalam perundangundangannya. 14 Tahun 1992) yang dapat dilakukan oleh pelaku usaha atau oleh konsumen. tetapi hukum umum ini ternyata mengandung berbagai kelemahan tertentu dan menjadi kendala bagi konsumen atau perlindungan konsumen. Adapun hak-hak dan kewajiban pelaku usaha (istilah digunakan untuk penglisaha) diatur dalam Pasal 6 dan 7. peminjam (verbruiklener. memenuhi persyaratan dan/atau cukup untuk melindungi kepentingan-kepentingan konsumen. MASALAH YANG DIHADAPI Sekalipun berbagai instrumen hukum umum (peraturan perundang-undangan yang berlaku umum). dalam KUH Perdata kits menemukan istilahistilah pembeli (koper.

Keadaan ini kemudian diimbuhi pula dengan catatan bahwa hukum perjanjian itu merupakan hukum pelengkap. bahkan dengan bentuk-bentuk perjanjian lain dari apa yang termuat dalam KUH Perdata (berbeda dengan sistem tertutup yang dianut Buku Ke-2 KUH Perdata). tingkat pendidikan dan/atau kemampuan days saingnya. Semua Subjek Hukum tersebut Adalah Konsumen. Hukum Perjanjian (Buku ke-3 KUH Perdata) Menganut Asas Hukum Kebebasan Berkontrak. Keadaan mempersamakan formal memang memikat. Kalau yang mengadakan perjanjian adalah mereka yang seimbang kedudukan ekonomi. termasuk perjanjian yang dipaksakan kepadanya. Sistemnya Terbuka dan Merupakan Hukum Pelengkap Asas kebebasan berkontrak memberikan pada setiap orang hak untuk dapat mengadakan berbagai kesepakatan sesuai kehendak dan persyaratan yang disepakati kedua pihak. Para pengusaha yang disebut juga sebagai konsumen antara mempunyai tujuan dan kepentingan tersendiri. lengkaplah sudah kebebasan setiap orang untuk mengadakan perjanjian. Subjek hukum pembeli. is menimbulkan kepincangan tertentu dalam hubungan hukum atau masalah mereka satu sama lain. sistem terbuka dan bahwa hukum perjanjian itu merupakan hukum pelengkap saja. 2. penyewa. mungkin . jadi setiap orang dapat saja mengadakan persetujuan dalam bentukbentuk lain dari yang disediakan oleh KUH Perdata. setiap orang dapat mengadakan sembarang perjanjian. Pasal 341 dan seterusnya Buku Kedua). tidak membedakan apakah mereka itu sebagai konsumen akhir atau konsumen antara. Demikian pula dengan konsumen akhir. dan sebagainya. tertanggung atau penumpang terdapat dalam KUH Perdata dan KUHD. Adapun Kitab Undang-Undang Hukum Dagang ditemukan istilah tertanggung (verzekerde. Pengguna Barang dan/atau Jasa Sebagaimana telah diuraikan dalam bab pertama. tetapi secara materiil akan terlihat. Dengan asas kebebasan berkontrak. 3. konsumen itu terdiri dari dua jenis yang berbeda kepentingan dan tujuan dalam penggunaan barang atau jasanya. Dengan sistem terbuka. dengan syarat-syarat subjektif dan objektif tentang sahnya suatu persetujuan tetap dipenuhi (Pasal 1320). Pasal 246 dan seterusnya Buku Kesatu) dan penumpang (opvarende. tanpa pemberdayaan (empowering) pihak yang historis lemah.Pasal 1754 dan seterusnya).

ternyata pihak konsumenlah. dan sebagainya. Dilengkapi dengan penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia dan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. tidak terkecuali di Indonesia. tidak terakomodasi secara sangat sumir dalam perundangundangan itu. alat-alat rumah tangga. terutama konsumen dari negara-negara berkembang yang merupakan pihak yang lemah tersebut. . Beberapa hal pokok tentang subjek hukum dari suatu perikatan. Dalam keadaan sebaliknya. 4. promosipromosi dagang. Antara lain mengenai pembelian rumah. la mengatakan bahwa hukum perjanjian itu adalah pelindung dari pembagian kekuasaan yang tidak merata dalam masyarakat sehingga memungkinkan pemaksaan kehendak pihak yang kuat atas pihak-pihak yang lemah. pihak yang lebih kuat akan dapat memaksakan kehendaknya atas pihak yang lebih lemah. Apa yang dimaksudkan Kessler. Kessler bahkan lebih tajam lagi tinjauannya. Berbagai produk konsumen. perikatan beli sews. kini sudah menjadi pengalaman kita. yang kemudian dijadikan dasar dari keputusan Sidang Umum PBB pada tahun 1985 tentang Perlindungan Konsumen. Pedanjian dengan syarat-syarat baku ini telah sangat mendalam merasuk ke dalam kehidupan masyarakat. jasa perbankan.masalahnya menjadi lain. kedudukan hukum berbagai cars pemasaran produk konsumen seperti penjualan dari rumah ke rumah. alat-alat transportasi. bentuk perjanjian baku. alat-alat elektronik. Berbagai penelitian termasuk penelitian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 19731985. bentuk usaha dan praktik bisnis yang pada masa diterbitkannya KUH Perdata dan KUHD belum dikenal. Man dan yang sejenis dengan itu. Pengalaman nyata memang menunjuk pada keadaan itu. Berta berbagai praktik niaga lainnya yang tumbuh karena kebutuhan atau kegiatan ekonomi. yaitu pars pihak tidak seimbang. Perkembangan Pesat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) Perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi sangat mempengaruhi kegiatan bisnis di mans pun di dunia. jasa asuransi. nanti akan terlihat dalam bentuk-bentuk perjanjian dengan syarat-syarat baku (perjanjian baku/klausul baku).

Apalagi bagi konsumen kecil. Pengadilan Tmggi. misalnya pembelian barang atau jasa yang tidak melebihi jumlah Rp 2.000. tenaga dan hal-hal lain berkaitan dengan pembelian itu.500. lamanya masa proses sampai didapatkan putusan yang efektif. 5. yaitu konsumen yang jumlah pembeliannya tidak melebihi suatu jumlah tertentu. .00 (dua juta lima ratus ribu rupiah). kerahasiaan perusahaan dan tanggung jawab perusahaan yang hanya pada pemegang sahamnya saja. Beban ini lebih banyak tidakdapat dipenuhi dalam hubungan antara konsumen dan penyedia barang atau penyelenggara jasa pada masa kini.Begitu pula bentuk-bentuk perikatan yang tampaknya berasal dari negaranegara yang menggunakan sistem hukum berbeda (Anglo Saxon). yang tidak saja makan waktu berlarutlarut. memperbesar jarak antara konsumen dengan produk konsumen yang is gunakan di samping hal-hal yang dikemukakan di atas. tetapi juga memakan tenaga dan biaya. Mahkamah Agung dan kemungkinan Peninjauan kembali di Mahkamah Agung). Tingkat-tingkat peradilan (Pengadilan Negeri. Contoh konkret adalah pembelian 1 (satu) unit televisi berwama dengan harga kurang lebih Rp 2. maupun jaminan puma jual yang digunakan oleh pelaku usaha.000. ditambah dengan beban pembuktian merupakan kendala bagi konsumen dan perlindungannya. berapa besar biaya. Pengadilan Tinggi. menyebabkan KUH Perdata dan KUHD tertinggal di belakang. Proses produksi dan pemasaran produk yang makin canggih. Bayangkan pula proses persidangan di Pengadilan Negeri. Hal ini terutama karena tidak pahamnya konsumen atas pembuatan produk. Bayangkan saj a berapa banyak waktu.00 (dua juta lima ratus ribu rupiah). Pencampuradukan sistem hukum yang melanda masyarakat karena kebutuhannya itu. Pasal 1865 KUH Perdata menentukan pembuktian hak seseorang atau kesalahan orang lain dibebankan pada pihak yang mengajukan gugatan tersebut. sistem pemasaran yang digunakan. karena kebutuhan telah pula dipraktikkan dan kadang-kadang tanpa persyaratan dan pembatasan yang menurut hukum berlaku bagi perikatan di negeri asalnya. dan/atau proses peninjauan kembali. Hukum Acara Hukum acara yang dipergunakan dalam proses perkara perdata pun tidak membantu konsumen dalam mencari keadilan. yang hams dikeluarkan oleh konsumen bersangkutan dalam mempertahankan haknya di pengadilan-pengadilan Indonesia.500. Mahkamah Agung.

Dengan cara menggunakan Surat keputusan suatu tindakan administratif atau putusanputusan pengadilan yang berkaitan dengan kasus kerugiannya. Hukum Publik Sesuai fungsinya menurut hukum. dan selaras. Bahkan dengan ketentuan-ketentuan termuat .  Pengumpulan bukti-bukti serta semua proses untuk tindakan administratif dan/atau peradilan atas pelaku dijalankan oleh pemerintah.6. melindungi konsumen dan pengusaha yang jujur dan beriktikad baik dari perilaku pelaku usaha yang menyimpang atau melanggar hukum dan dapat menimbulkan kerugian pada mereka. beban beracara yang terberat bagi konsumen dalam mengajukan kasus kerugiannya ke pengadilan yaitu beban pembuktian adanya sesuatu hak dan/atau peristiwa yang melanggar hukum (Pasal 1865 KUH Perdata dan Pasal 163 HIR) serta hal-hal lain tampak menjadi ringan. Adapun doktrin. pidana (yang termuat dalam KUHP atau di luar KUHP). Kemanfaatan instrumen hukum publik terlihat antara lain:  Semua pelaksanaan kegiatan pengawasan dan/atau penyelidikan. 7. Yang Sangat Penting Pula Adalah Dasar Pemikiran Filsafat Dianut dari KUH Perdata/KUHD dan falsafah hukum yang sekarang hams dijadikan pangkal tolak pernikiran hukum kita yang sama sekali sudah tidak sejalan lagi. penyidikan dan penuntutan diselenggarakan oleh (aparat) pemerintah. serasi. Tindakan administratif yang dijalankan oleh instansi berwenang terhadap mereka yang melanggar ketentuan dari peraturan perundang-undangan (administratif). Doktrin yang dianut KUH Perdata/KUHD adalah liberalisme. Dengan demikian. atas setiap perilaku usaha yang memenuhi unsur-unsur pidana dan pelaksanaannya dijalankan oleh pejabat yang berwenang untuk itu. Begitu pula halnya dengan penerapan peraturan perundang-undangan.  Semua biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan pengawasan dan peradilan dipikul oleh pemerintah. mempunyai peran yang sangat membantu upaya perlindungan konsumen. seperti juga bagi pengusaha yang jujur dan beriktikad baik. falsafah Indonesia adalah Pancasila yang pemikiran politik ekonominya adalah kesejahteraan rakyat dengan perikehidupan yang seimbang.

Akan tetapi. Pada sementara kasus. Di samping itu. yaitu siapa yang harus dipertanggungjawabkan tentang sesuatu perilaku kegiatan perusahaan atau produknya yang menimbulkan kerugian pada konsumen. juga menjadi pengalaman. tetapi mempunyai berbagai kendala bahkan juga tentang substansinya. sekalipun dapat dimanfaatkan oleh (hukum) konsumen. yang secara perdata juga merugikan kepentingan konsumen. suatu tindakan administratif tidak dijalankan atau dijalankan dengan kualifikasi "akan ditindak tegas" tetapi tanpa kelanjutan karena satu dan lain alasan. Juga tidak dalam kasus kematian karena peristiwa biscuit beracun. penarikan nomor daftar produk. oleh instansi yang berwenang. terlihat pula berbagai kelemahannya. tidak sertamerta diketahui dan/atau memberikan ganti rugi atau sesuatu penyelesaian tertentu bagi konsumen. antara lain: UndangUndang tentang Pangan. Dianutnya pendirian kalangan usaha bahwa tanggung jawab (direksi) perusahaan hanya pada pemegang sahamnya saja. Sampai saat ini belum pernah terjadi penggunaan acara penggabungan perkara sesuai KUHAP dalam suatu perkara pidana. 3. Dari hal-hal terurai di atas terlihat bahwa peraturan-peraturan umum. sayangnya. Peralihan pemilikan suatu badan usaha berkali-kali terjadi tanpa ada pengawasan.dalam Kitab Undang-Undang HukumAcara Pidana (KUHAP) proses beracara ini dapat dipermudah lagi. Konsumen masih harus menjalankan acara lainnya lebih lanjut. memberikan dampak negatif lainnya pada konsumen. Terhadap konsumen is menjadi masalah besar. . Alasan yang paling banyak dikemukakan pada waktu ini adalah karena industri/bisnis kita masih termasuk "industri bagi" (infant-industry) sehingga memerlukan waktu agar mereka menjadi mapan dan kuat bersaing. antara lain: 1. Kalau diperhatikan falsafah bangsa dan negara Pancasila temyata bahwa banyak hal belum cukup diatur dalam perundang-undangan yang pada saat ini. kesemuanya itu masih harus diuji di dalam masyarakat dan pengadilan-pengadilan kita. dan/atau juga sulit pengawasannya. Putusan pengadilan dan/atau tindakan administratif (larangan mengedarkan. 2. Bagi konsumen Indonesia tampaknya tiga peraturan perundangundangan yang sangat dibutuhkan. pencabutan izin usaha dan sebagainya) terhadap perilaku pelaku usaha yang menyimpang dan merugikan konsumen.

oligopoli. sehingga mereka tidak merusak diri sendiri dan/atau merugikan konsumennya. Kalau Undang-Undang Persaingan Usaha sangat dibutuhkan oleh Para usahawan beriktikad baik di Indonesia. serta segala sesuatu berkaitan dengan itu. bagaimana mereka berhubungan dengan para penyedia barang atau jasa kebutuhan mereka. karena dalam undang-undang ini diatur berbagai perbuatan pelaku usaha yang dilarang. persediaan dan penggunaan serta segala sesuatu yang berkaitan dengan itu. bagi seluruh rakyat Indonesia. hak dan kewajibannya. seperti jugs bagi Para konsumen. Mengapa dalam KUH Perdata dan KUHD tidak mengenai istilah konsumen? Jelaskan! 4. Mengapa dalam penerapan peraturan-peraturan hukum ada kendalakendala? Jelaskan dan berikan contohnya! . seperti perilaku usaha monopoli. Peraturan perundang-undangan tentang Pangan mengatur tentang makanan dan minuman (pangan) baik yang telah diolah maupun tidak. persaingan yang mengganggu perdagangan dan industri dan sebagainya. termasuk pengadaan. tata cara peradilan bagi konsumen keeil. khususnya konsumen Indonesia agaknya dari sudut kepentingan konsumen pemecahan masalah perlindungan konsumen tidak lain adalah diterbitkannya suatu Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen. dan Undang-Undang tentang Persaingan Usaha. Daftar Pertanyaan 1. Undang-Undang Persaingan Usaha mengatur tentang perilaku yang harus diialankan oleh para pelaku usaha penyedia barang dan/atau jasa. Sebutkan tindakan administratif dari pemerintah di bidang tertentu apabila ada pihak yang merugikan konsumen (barang/jasa) dan berikan dasar hukumnya! 3. Sedangkan UndangUndang Perlindungan Konsumen mengatur tentang siapa konsumen. Apakah yang dimaksud dengan asas kebebasan berkontrak dan apa kaitannya dengan hukum perlindungan konsumen? Jelaskan! 5.Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen. Apakah dalam UUD 1945 diatur mengenai perlindungan bagi warga negara (konsumen)? Jelaskan disertai pasalnya! 2. pengaturan atau penetapan harga (price fixing). Bagi masyarakat Indonesia.

termasuk hukum perdata. tetapi ditunjuk oleh pengadilanpengadilan dalam perkara-perkara tertentu. Beberapa hal yang dinilai penting dalam hubungan konsumen dan penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa (pelaku usaha) antara lain sebagai berikut. Kaidah-kaidah hukum perdata umumnya termuat dalam Kitab UndangUndang Hukum Perdata (KUH Perdata).BAB 4 BERBAGAI ASPEK HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN A. terutama dalam Buku kedua. hukum dagang Berta kaidah-kaidah keperdataan yang termuat dalam berbagai peraturan perundang-undangan lainnya. Di samping itu. 3. tentu saja juga kaidahkaidah hukum perdata adat. KUHD. Buku kesatu dan Buku kedua. dan keempat. Berbagai peraturan perundang-undangan lain yang memuat kaidah-kaidah hukum bersifat perdata tentang subjek-subjek hukum. 2. Kesemuanya itu baik hukum perdata tertulis maupun hukum perdata tidak tertulis (hukum adat). Kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah hukum antara pelaku usaha penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa dengan konsumennya masing-masing termuat dalam: 1. ASPEK-ASPEK KEPERDATAAN Yang dimaksudkan hukum perdata yakni dalam arti lugs. KUH Perdata. ketiga. yang tidak tertulis. Bab 4 . hubungan hukum dan masalah antara penyedia barang atau penyelenggara jasa tertentu dan konsumen.

Buku kesatu dan Buku kedua 3. penyusun peraturan perundang-undangan secara umum atau dalam rangka deregulasi. informasi tentang barang/jasa merupakan kebutuhan pokok. persediaan suku cadang. Beberapa di antaranya. termasuk hukum perata. keamanannya. atau standar lain yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang. keterangan. tentang kualitas produk. Sedang untuk produk hasil industri lainnya. dan Keempat 2. dan lain-lain yang berkaitan dengan itu. yang tidak tertulis. terutama dalam Buku Kedua. Dari sudut penyusunan peraturan perundang-undangan terlihat informasi itu termuat sebagai suatu keharusan. tersediannya pelayanan jasa jurnal-jual. tentu saja juga kaidah-kaidah hokum perdata adat. informasi tentang produk itu terdapat dalam bentuk standar yang ditetapkan oleh pemerintah. dan sebagainya) tentang produk konsumen dengan pelaku usaha itu. Hal-hal yang berkaitan dengan informasi Bagi konsumen. . Kaidah-kaidah hokum perdata umumnya termuat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata). standar internasional. Dengan transasi konsumen dimaksudkan diadakannya hubungan hokum (jual beli. Informasi-informasi tersebut meliputi tentang ketersediaan barang/jasa yang dibutuhkan masyarakat konsumen.atau apa pun nama lainnya) untuk mengadakan transaksi konsumen tentang barang/jasa tersebut. sebelum ia menggunakan sumber dananya (gaji. baik secara dicantumkan maupun dimuat didalam wadah atau pembungkusnya (antara lain label dari produk makanan dalam kemasan). siaran. sewa-menyewa.upah. Informasi dari kalangan pemerintah dapat diserap dari berbagai penjelasan. tentang berbagai persyaratan / cara memperolehnya. hukum dagang serta kaidah-kaidah keperdataan yang termuat dalam berbagai peraturan perundang-undangan lainnya. tentang jaminan atau garansi produk. Kesemuanya itu baik hukum perdata tertulis maupun hukum perdata tidak tertulis (hukum adat). KUP Perdata. tetapi ditunjuk oleh pengadilan-pengadilan dalam perkara-perkara tertentu. Di samping itu. Berbagai peraturan perundang-undangan lain yang memuat kaidah-kaidah hokum bersifat perdata tentang subjek-subjek hokum. Kaidah-kaidah hokum yang mengatur hubungan dan masalah hokum antara pelaku usaha penyedia barang/penyelenggara jasa dengan konsumennya masingmasing termuat dalam : 1.Aspek-aspek keperdataan Yang dimaksudkan hukum perdata yakni dalam arti luas. ditetapkan harus dibuat. harga.Berbagai aspek hukum perlindungan konsumen 1.honor. pinjam-meminjam. dan tindakan pemerintah pada umumnya atau tentang sesuatu produk konsumen. Ketiga. beli-sewa. hubungan hokum dan masalah antara penyedia barang atau penyelenggara jasa tertentu dan konsumen/ Beberapa hal yang dinilai penting dalam hubungan konsumen dan penyedia barang/penyelenggara jasa (pelaku usaha) antara lain sebagai berikut : 1. KUHD.

mempertahankan dan meningkatkan pangsa pasar produk yang telah atau ingin lebih lanjut di raih. mempromosikan. tampaknya yang paling berpengaruh pada saat ini adalah informasi yang bersumber dari kalangan pelaku usaha. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. khusus menyangkut prilaku pengumuman iklan keputusan pengadilan tentang pernyataan pailit dan segala akibatakibatnya dari seseorang atau suatu badan usaha (pasal 13 jjs. Pasal 9 ayat (1) berbunyi: “pelaku usaha dilarang menawarkan. . seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tentang hasil-hasil penelitian dan riset produk konsumen tertentu.” Sayangnya dalam undang-undang ini tidak dicantumkan apa yang dimaksud dengan iklan. diketahui sumber-sumber informasi itu umumnya terdiri dari berbagai bentuk iklan baik melalui media nonelektronik atau elektronik. dan lainlain sejenis dengan itu. Iklan adalah bentuk informasi yang umumnya bersifat sukarela. 2. importer. meng-iklankan suatu barang dan jasa secara tidak benar dan seolah-olah dan seterusnya. yaitu Warta Konsumen (WK). Satu – satunya ketentuan termuat dalam KUH Perdata yang tampaknya dapat digunakan adalah ketentuan tentang perbuatan melanggar atau melawan hokum (Pasal 1365 KUH Perdata). sekalipun pada akhir – akhir ini termasuk juga yang diatur didalam Undang – Undang tentang Perlindungkan Konsumen (Pasal 9. `Beberapa bentuk informasi Diantara berbagai informasi tentang barang atau jasa konsumen yang diperlukan konsumen. pamphlet. terlepas untuk siapa perundang-undangan itu berlaku. Dari kalangan usaha (penyedia dana. Adapun dalam undang-undang kepailitan. tanpa mengurangi pengaruh dari berbagai bentuk informasi pengusaha lainnya. keduanya diumumkan pada tanggal 30 April 1847 dalam Staatsblad No.105.17 dan Pasal 20) a.13. atau lain-lain pihak yang berkepentingan).12. majalah dan berita resmi YLKI. surat-surat pembaca pada media massa. Bahan-bahan informasi ini pada umumnya disediakan atau di buat oleh kalangan usaha dengan tujuan memperkenalkan produknya. yaitu sepanjang iklan tertentu menimbulkan kerugian pada pihak lain. catalog. produsen. dapat ditemukan pada harian-harian umum.Informasi dari konsumen atau organisasi konsumen tampak pada pembicaraan dari mulut ke mulut tentang suatu prosuk konsumen. Tentang Iklan KUH Perdata (Kitab Undang – Undang Hukum Perdata) dan/atau KUHD (Kitab Undang – Undang Hukum Dagang). seperti brosur. Menurut ketentuan dari UU No.163 c. dan seterusnya).23 dengan segala tambahan dan/atau memuat kaidah – kaidah tentang periklanan. label termasuk pembuatan berbagai selebaran. Yang terdapat dalam perundang-undangan ini hanyalah berbagai larangan dan suruhan berkaitan dengan periklanan saja. Terutama dalam bentuk iklan atau label. pasal 16. tanggapan atau protes organisasi konsumen. Adapun label merupakan informasi yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan tertentu. berbagai siaran kelompok tertentu.10.

jelas. kegunaan dan harga barang atau tariff jasa serta ketepata waktu penerimaan barang atau jasa b. 7 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Tentu saja terlepas dari mana yang baik dan tepat. dan bertanggung jawab. adalah sebagai berikut: 1) Pelaku usaha periklanan dilarang memproduksi iklan yang: a. Mengenai prilaku periklanan yang lengkap diatur dalam Pasal 17 UndangUndang No.Dari hal-hal terurai diatas tentang kedudukan periklananini dalam masyarakat usaha. informasi produk konsumen sangat menentukan shingga haruslah informasi itu memuat keterangan yang benar. 32 Tahun 2002 tentang penyiaran diarahkan antara lain untuk memberikan informasi yang benar. Kebenaran isi dari pernyataan atau label tersebut merupakan tanggung jawab dari pihak yang membuat dan menyiarkan. dan mempromosikan. salah. dan bertanggung jawab (Pasal 5 butir (1)). Pasal 1 Butir 13) menetapkan sebagai “iklan adalah usaha dengan cara apa pun untuk meningkatkan penjualan. setidak-tidaknya terdapat dua batasan iklan. Keberadaan Undang-Undang No. Mengelabui konsumen mengenai kualitas. atau tidak tepat mengenai barang dan jasa . barang atau jasa kepada khalayak sasaran untuk memengaruhi konsumen agar menggunakan produk yang ditawarkan. seimbang. Memuat informasi yang keliru. Sampai saat ini tidak terdapat gangguan apa pun baik terhadap masyarakat pembuat maupun pengguna produk konsumen yang diiklankan berdasarkan masing-masing rumusan yang bersangkutan. bahan. 32 Tahun 2002 tentang penyiaran) Pasal 1 butir (5) merumuskan siaran iklan adalah siaran informasi yang bersifat komersial dan layanan masyarakat tentang tersedianya jasa. Kedua batasan iklan tersebut berjalan bersama masing-masing untuk bidang masing-masing. Pasal 1 butir (6) menyatakan siaran iklan niaga adalah siaran iklan komersial yang disiarkan melalui penyiaran radio atau televisi dengan tujuan memperkenalkan. 329 Tahun 1976. kuantitas. barang. Departemen Kesehatan (Peraturan Menteri Kesehatan No. baik secara langsung maupun tidak langsung”. Bagi konsumen. dan gagasan yang dapat dimanfaatkan oleh khalayak dengan atau tanpa imbalan kepada lembaga penyiaran yang bersangkutan. yang satu ditetapkan oleh Departmen Kesehatan dan yang lainnya oleh sistem penyiaran nasional. Adapun sistem penyiaran nasional (Undang-Undang No. jujur. memasyarakatkan. Mengelabui jaminan/garansi tergadap barang atau jasa c.

undang-undang ini berbunyi : melanggar etika atau ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai periklanan. terdapat timdakan administratif yang dapat dijatuhkan pada pelaku usaha periklanan yang menyiarkan iklan menyesatkan. Kemudian. media elektronik atau nonelektronik atau bentuk media lain. . Undang-undang Perlindungan Konsumen tidak memuat tindakan administratif tersebut. Apabila dengan etika itu dimaksudkan kode etik periklanan. Melanggar etika dan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai periklanan 2) Pelaku usaha periklanan dilarang melanjutkan peredaran iklan yang telah melanggar ketentuan pada ayat (1) Selanjutnya. Berkaitan dengan perilaku periklanan yang dilarang dan tentang tanggung jawabnya itu. Media. Ketiga jenis pelaku usaha tersebut dalam undang-undang ini termasuk pelaku usaha. maka dialah yang mempertanggung jawabkan. dapat dipertanggungjawabkanm tetapi secara tepatnya pelaku usaha manakah yang harus bertanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam pasal 20 tersebut? Menurut Az. Mengeksploitasi kejadian dan seseorang tanpa izin yang berwenang atau persetujuan yang bersangkutan f. Apakah yang dimaksud denagn etika periklanan? Penjelasan pasal ini memuat kalimat “cukup jelas”.d. Ketiga pelaku usaha di atas. padahal kegunaannya sangat baik sebagai upaya pencegah “gegabahnya” para pelaku usaha periklanan. Pelaku usaha periklanan bertanggung jawab atas iklan yang diproduksi dan segala akibat yang ditimbulkan oleh iklan tersebut.? Dari sudut pelaku usaha periklanan menurut Azm Nasution terdapat tiga jenis pelaku usaha. menipu atau mengakibatkan cedera pada konsumen untuk memasang iklan perbaikannya (corrective advertisement) di surat kabar atau televisi iklan koreksi seperti ini telah tumbuh dan menjadi hokum di Negara-negara lain. berkaitan dengan tanggung jawab pelaku usaha periklanan ini diatur dalam Pasal 20. yaitu. yaitu perusahaan yang memesan iklan untuk mempromosikan. yang menyiarkan atau menayangkan iklan-iklan tersebut. memasarkan. Satu hal yang menarik dari Undang-undang Perlindungan Konsumen berkaitan dengan periklanan ini yakni dalam Pasal 17 ayat (1) huruf f. Nasution tergantung bagaimana hakim pengadilan negeri mengambil putusannya. adalah perusahaan atau biro yang bidang usahanya adalah mendesain atau membuat iklan untuk para pemesannya 3. Perusahaan iklan. 1. Pengiklan. maka berarti Undang-Undang ini telah membeikan “status hokum” pada kode etik periklanan yang di Indonesia disebut sebagai tata karma dan tata cara periklanan Indonesia. Tidak memuat informasi mengenai resiko pemakaian barang dan jasa e. dan menawarkan produk yang mereka edarkan 2. sebagai berikut. Sekiranya tanda tangan pengiklan (tanda acc) terdapat pada konsep iklan itu.

dapat dinyatakan sebagai tindak pidana ekonomi (Pasal 9).memberikan informasi tentang barang. susunan. bentuk banyaknya dan kegunaan barang-barang yang baik diharuskan maupun tidak diperbolehkan dibubuhkan atau dilekatkan pada barang pengbungkusnya. diukir. 10 Tahun 1961. ditetapkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan. Ketentuan tersebut terdapat dalam berbagai peraturan perundang-undangan. Pengaturan tentang informasi yang disebut dengan berbagai istilah seperti penandaan. Label. Perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan atau melanggar ketentuan tersebut di atas. dan banyaknya serta kegunaannya. Dengan demikian setiap perilaku pengusaha yang melanggar ketentuan dalam peraturan perundangundangan ini. UU Barang. Baik produk makanan. pun cara pembubuhan atau melekatkan nama dan tandatanda itu. susunan bahan. Tentang Label Informasi produk konsumen yang bersifat wajib ini. Permenkes No. 79 Tahun 1978 tentang Label dan periklanan Makanan. Pasal 2 ayat (4) UU ini menentukan: Pemberian nama dan tanda-tanda yang menunjukkan asal. UU No.b. bentuk. Nama dan tanda-tanda itu harus dibubuhkan atau dilekatkan pada pembungkusnya tempat barang itu di perdagangkan dan pada alat-alat reklame. sifat. Nama atau tanda-tanda itu memuat asal. Pasal 1 dan 2. tempat barang-barang itu diperdagangkan dan alat-alat reklame. maupun obat diwajibkan mencantumkan label pada wadah atau pembungkusnya. menyebutkan : Etiket adalah label yang dilekatkan. dapat dikenakan ketentuan pidana ekonomi. 1. atau dicantumkan dengan jalan apa pun pada wadah atau pembungkus. sifat. atau etiket. Pemberian nama atau tanda-tanda menunjuk pada label dari barang bersangkutan. Selanjutnya keterangan yang harus dimuat pada label/etiket tersebut ditetapkan (Pasal 7 ayat (1) dan (2) terdiri atas :  Nama makanan atau merk dagang  Komposisi. dicetak. kecuali makanan yang cukup diketahui komposisinya secara umum  Isi netto . bahan. 2.

   Nama dan alamat perusahaan yang memproduksi atau mengedarkan Nomor pendaftaran Kode produksi  Untuk jenis makanan tertentu yang ditetapkan oleh menteri kesehatan. Pengertian tentang penandaan termuat dalam Pasal 1 angka 4. (pasal 41-45) Ketentuan tentang sanksi-sanksi atas pelanggaran kewajiban memesang label pada makanan (dalam kemasan) tersebut memang tidak begitu jelas. b.000. nilai gizi.00 (Pasal 84 jo.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. baik yang diberikan bersama obat itu maupun yang diberikan sesudah atau sebelum penyerahan obat yang bersangkutan. tidak menggunakan istilah label atau etiket. ketentuan tentang pelabelan makanan ditegaskan lebih lanjut.000. Pasal 85) SK Menteri Menteri Kesehatan tanggal 21 Agustus 1971 No. c. etiket atau brosur yang diikutsertakan pada penyerahan atau penjualan sesuatu obat. Adapun dalam Pasal 3 SK Mentei Kesehatan tersebut ditentukan : . bulan. Sebagai akibatnya kemudian dalam perundang-undangan yang lebih baru. dan tahun kadaluarsa Ketentuan lainnya Dalam penjelasan Pasal ini (huruf d) dinyatakan bahwa ketentuan lainnya misalnya pencantuman kata atau tanda halal menjamin bahwa makanan dan minuman dimaksud diproduksi dan diproses sesuai persyaratan makanan halal. tetapi penandaan. Undang-undang No. yang berbunyi : Tulisan-tulisan dan pernyataan-pernyataan pada pembungkus. Setiap makanan yang dikemas wajib diberi tanda atau label (Pasal 21 ayat (2)) yang memuat tentang : a. 193 Tahun 1971 tentang Pembungkusan dan Penandaan obat. harus dicantumkan tanggal kadaluarsa. Perbuatan mengedarkan makanan tanpa label dinyatakan sebagai tindak pidana pelanggaran dengan ancaman pidana kurungan maksimum satu tahun dan denda maksimum Rp15. Bahan yang dipakai Komposisi setiap bahan Tanggal. d. petunjuk penggunaan dan cara penyimpanannya. Perbuatan mengedarkan makanan tanpa label sebagaimana dimaksudkan dalam peraturan Menteri Kesehatan tersebut dinyatakan dilarang dan dapat diancam dengan sanksi-sanksi sebagaimana termuat dalam KUHP dan tindakan administratif berupa penarikan nomor daftar produk itu dan tindakan lain berdasarkan perundangundangan yang berlaku.

syarat-syarat pembatalannya. Dari uraian diatas tampak bahwa informasi produk konsumen itu dapat ditemukan dalam penandaan atau informasi lain. label atau etiket pemuatan informasi yang bersifat wajib dilakukan dengan sanksi-sanksi administratif dan pidana tertentu apabila tidak dipenuhi persyaratan-persyaratan etiket dan label tersebut. nomor batch. Hal-hal yang Berkaitan dengan Perikatan Dalam KUH Perdata Buku ke-III. c. ketentuan-ketentuan diatas mendapatkan “porsi” baru. tentang Perikatan (van Verbintenissen). Hal ini berkaitan dengan bahan informasi yang selalu mengusik adalah mengapa suatu hasil uji laboratoris produk konsumen (antara lain oleh instansi pemerintah) tidak disiarkan kepada masyarakat agar mereka mengetahui bermutu atau bergizi tidaknya sesuatu produk konsumen (pangan.indikasi sebagaimana disetujui pada pendaftaran. komposisi obat dan susunan kuantitatif zat-zat berkhasiat. Pasal 41 ayat (2) memuat ketentuan tentang penandaan dan informasi sebagai berikut: Penandaan dan informasi sediaan farmasi dan alat kesehatan harus memenuhi persyaratan objektivitas dan kelengkapan serta tidak menyesatkan. syaratsyarat perikatan. Selanjutnya. tetapi dengan batas-batas minimum sehingga tidak menyesatkan atau menipu (iklan melawan hokum). Perikatan yang terjadi karena undang-undang. nama pabrik dan alamatnya (sedikitnya nama kota dan negaranya). bobot netto atau volume obat. Pasal 1233 menyebutkan jenis-jenis perjanjian (prestasi)yang dapat diadakan terdiri atas memberikan sesuatu. Selain mengakibatkan hukuman di bidang pidana dan penyitaan obat. tentang resiko jenis-jenis perikatan tertentu.Pada bungkus luar dan wadah obat jadi atau obat paten dan bahan kontras harus dicantumkan tanda atau etiket yang menyebutkan nama jenis atau nama barang obat. khususnya tentang pelabelan tersebut. dosis. Dalam UU Kesehatan. cara penyimpanan. seperti iklan dalam segala bentuk kreativitasnya. batas daluarsa dan tanda-tanda lain yang dianggap perlu Ketentuan berikut dalam pasal itu dan pasal 4-6 memuat rincian berbagai keharusan tata cara tentang permuatan isi label atau etiket tersebut. Adapun Pasal 12 Surat Keputusan Menteri Kesehatan ini menetapkan bahwa pelanggaran atas ketentuan-ketentuan antara lain. sandang papan. dan lain-lain). baik karena undang-undang maupun sebagai akibat perbuatan seseorang. angkutan. kontra indikasi yang ditetapkan pemerintah untuk dicantumkan. berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu. akan mengakibatkan hukuman di lapangan administratif. . cara penggunaan. dapat timbul karena undangundang. dan berbagai bentuk perikatan yang dapat diadakan (Pasal 1233). Pada penandaan. nomor pendaftaran. termuat ketentuan-ketentuan tentang subjek-subjek hokum dari perikatan.

tidak dipenuhi atau dilanggarnya butir-butir perjanjian itu. kehormatan dan nama baik seseorang. dapat mengakibatkan terjadinya cedera janji (wanprestatie). maka berdasarkan undang-undang dapat juga timbul atau terjadi hubungan hokum antara orang tersebut dan orang yang menimbulkan kerugian itu. dan bunga (Pasal 1236 dalam hal perjanjian memberikan sesuatu. Yang dimaksudkan adalah hak-hak subjektif orang lain. yang terpenting terlihat pada perikatan karena terjadinya perbuatan atau kealpaan yang melanggar atau melawan hokum (selanjutnya disebut PMH). mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu. dan seterusnya. Kerugian-kerugian itu selain dari biaya-biaya yang sungguh-sungguh telah dikeluarkan. Apabila seseorang dirugikan karena perbuatan orang lain.1244. Pasal 1243. Perbuatan cedera janji ini memberikan hak pada pihak yang dicederai janji untuk menggugat ganti rugi berupa biaya. kerugian yang dialami. Kedalamnya termasuk hak-hak kebendaan dan lain-lain hak yang bersifat mutlak (seperti hak milik. dan hak merk).1246). dan Pasal 1242 dalam hal perjanjian berbuat atau tidak berbuat sesuatu. hak-hak pribadi perseorangan (persoonlijkrechten) seperti hak-hak atas integritas (harga diri). Dalam perikatan yang timbul karena perjanjian. sedang diantara mereka itu tidak terdapat suatu perjanjian (hubunganhukum perjanjian). Pasal 1239. oktroi.Perbuatan itu dapat berupa perbuatan yang diperbolehkan (halal) atau perbuatan yang melanggar hokum (Pasal 1352. Antara lain. kerugian. . setelah dipenuhinya syarat tertentu. Pasal 1365 KUH Perdata berbunyi : Setiap perbuatan melanggar hokum yang membawa kerugian pada orang lain. juga termasuk keuntungan (winstderving) yang diharapkan yang tidak diterima karena perbuatan ingkar janji tertentu. mengganti kerugian tersebut. Perikatan juga dapat terjadi tanpa adanya perjanjian.1353m dan seterusnya). Unsur-unsur Perbuatan Melawan Hukum: 1) Unsur pelanggaran atas hak-hak orang lain.

hokum pidana. 1 Tahun 1946. kodifikasi hokum pidana teersebut jauh-jauh hari berlaku untuk semua golongan penduduk. yakni sejak pertama kali diberlakukan wetboek van strfrecht voor Nederlandsch-indie. penerapan kitab di atas diunifikasikan sejak 1918. dan hokum acara pidana dan hokum internasional khususnya hokum perdata internasional. Sejak tahun 1919. Setelah Indonesia merdeka. baik secara terlepas dari atau bersama-sama unsure-unsur lainnya. adalah hokum administrasi Negara. Termasuk hokum publik dalam rangka hokum konsumen dan hokum perlindungan konsumen. melalui Undang-Undang No. tidak mencapai tujuannya. Baru kemudian dengan Undang-Undang No. 3) Unsur bertentangan dengan kehati-hatian yang hidup atau harus diindahkan dalam kehidupan masyarakat. ditetapkan oleh lembaga yang berwenang. tujuan unifikasi . unsur ini tampaknya merupakan unsur yang terpenting dalam penenruan tolok ukur perbuatan melawan hukum.2) Unsur bertentangan dengan kewajiban hukum pelaku Yang dimaksudkan adalah kewajiban hokum yang diletakkan perundangundangan dalam arti materiil. Ia menunjuk pada kebiasaan tidak tertulis. yang dapat digunakan dengan berdiri sendiri. Dualisme hokum tetap terjaddi karena perbedaan penafsiran terhadap perubahan-perubahan yang di buat pada masa penjajahan belanda dan Jepang. Pada pokoknya orang haruslah memperhatikan perilaku yang dianggap patut (behoorlijk) dalam masyarakat dikaitkan dengan kepentingan perorangan satu sama lain. 2. Mengenai penerapannya harus dilihat kasus per kasus. 73 Tahun 1958. hokum acara perdata. baik bersifat perdata maupun public (misalnya perbuatan pelanggaran atau kejahatan seperti termuat dalm KUHP). 1. Kitab UndangUndang itu lalu diadopsi secara total. berbeda dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang masih bersifat pluralistis. Di Indonesia. Jadi. Aspek hukum publik Dengan hukum publik dimaksudkan hukum yang mengatur hubungan antara Negara dan alat-alatnya perlengkapannya atau hubungan Negara dengan peroranagan. Karena perkembangan poliik. Hukum Pidana Pengaturan hokum positif dalam lapangan hokum pidana secara umum terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. adopsi undang-undang yang semula bertujuan untuk unifikasi itu.

Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.hokum acara. yang diketahui bahwa membahayakan nyawa atau kesehatan orang. Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian rupa sehingga timbul penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian selama waktu tertentu. Di antara semua aspek hokum public itu. 2. Pasal 360: Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain mendapat luka-luka berat. Jadi. Pasal 205: Barang siapa karena kealpaannya bahwa barang-barang yang berbahaya bagi nyawa atau kesehatan orang dijual. Prof. 3.yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama stau tahun empat bulan atau kurungan paling lama satu tahun. diancam. 4. secara implicit dapat ditarik beberapa pasal yang memberikan perlindungan hokum bagi konsumen. Hokum pidana sendiri termasuk dalam kategori hokum publik. Pasal 204: Barang siapa menjual.H. yang paling banyak menyangkut perlindungan konsumen adalah hokum pidana dan hokum administrasi Negara. diserahkan atau dibagi-bagikan. Kendati demikian.dalam kategori ini termasuk pula hokum administrasi Negara. antara lain : 1. Kitab ini diberlakukan diseluruh Indonesia dengan nama resmi Wetboek van Strafrecht atau dapat disebut juga Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. antara lain (yang paling luas dipakai) adalah karya Alm. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tidak disebut kata “konsumen”. Belum ada satu pun terjemahan yang dinyatakan resmi.S. yang bersalah dikenakan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama waktu tertentu paling lam dua puluh tahun. tanpa diketahui sifat berbahayanya oleh yang membeli atau yang memperoleh. 1). Adapun terjemahan yang dipakai saat ini masih merupakan karya individual atau institusi tertentu. diancam dengan pidana penjara lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun. diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan atau kurungan paling lama enam bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. 1 Tahun 1946 itu dapat dicapai.yang diinginkan Undang-Undang No. dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Jika perbuatan mengakibatkan matinya orang. dan hokum internasional. Jika perbuatan mengakibatkan matinya orang.menyerahkan atau membagi-bagikan barang. Moeljanto. diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun (LN 1906 No. Barang-barang itu dapat disita. diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan atau . Pasal 359: Barang siapa karenakealpaannya menyebabkan matinya orang lain. berarti secara resmi sebenarnya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang berlaku di Indonesia itu masih berbahasa Belanda.menawarkan.. padahal sifat berbahaya itu tidak diberitahukan.

melakukan perbuatan curang untuk menyesatkan khalayak umum atau seorang tertentu diancam. seorang penjual yang berbuat curang teerhadap pembeli: (1) karena sengaja menyerahkan barang lain daripada yang ditunjuk untuk dibeli. seperti hak cipta. Bahan makanan. karena persaingan curang.minuman atau obat-obatan yang diketahui bahwa itu palsu. menawarkan. diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan. Pasal 390: Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hokum. Perlindungan yang diberikan porsi terbanyak justru kepada individual atau badan yang menjadi . Termasuk dalam kelompok ini adalah Undang-Undang No. Sayangnya. dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau denda paling banyak Sembilan ratus rupiah. 1) 5.minuman atau obat-obatan itu dipalsu.menyerahkan atau menyerahkan makanan.yang berlaku sejak 4 November 1996. dewasa ini diberi perhatian yang cukup besar. ternyata belum secara intens mengarahkan perhatiannya kepada kepentingan tersebut. dan hak atas merk. dana-dana atau surat-surat berharga menjadi turun atau naik. paten. khususnya dari sudut penerapan sanksi pidananya. Pasal 383: Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan.kurungan paling lama enam bulan atau denda paling tinggi tiga ratuus rupiah (LN 1960 No. jika karenanya dapat timbul kerugian bagi konkuren-konkurrennya atau orang lain itu. 8. melangsungkan atau memperluas debit perdagangan atau perusahaan kepunyaan sendiri atau orang lain. peraturan-peraturan di bidang hak aras kekayaan intelektual yang sebenarnya bersinggungan erat dengan kepentingan konsumen. Pasal 382 bis: barang siapa untuk mendapatkan. Pasal 382: Barang siapa mejual. Selain itu juga dalam pengaturan hak-hak atas kekayaan intelekual. Di luar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana terdapat banyak sekali ketentuan pidana yang beraspekkan perlindungan konsumen. Ketentuanketentuan dilapangan hokum kesehatan dapat dikatakan merupakan instrumen hokum yang paling luas namun tidak berarti memadai dalam mengatur hak-hak konsumen dibandingkan dengan lapangan huukum lainnya. diancam dengan pidnaan penjara paling lama empat tahun. (2) mengenai jenis keadaan atau banyaknya barang yang diserahkan. 7. dengan menggunakan tipu muslihat. Tindak pidana berupa pembajakan hak cipta. 6. Lapangan pengaturan yang paling luas kaitannya dengan hokum perlindungan konsumen terdapat pada bidang kesehatan.jika nilainya atau faedahnya menjadi kurang karena dicampur dengan sesuatu bahan lain. dengan menyiarkan kabar bohong yang menyebabkan harga barang-barang dagangan. 7 Tahun 1996 tentang Pangan. misalnya sekarang diubah dari deliik aduan menjadi delik biasa. dan menyembunyikan hal itu.

dalam hokum pidana dikenal larangan melakukan analogi-analogi berbeda pengertiannya dengan penafsiran ekstensi. Pemerintah RI kepada pengusaha/penyalur tersebut.tetap ada sandaran peraturannya. bukan pada konsumen sebagai bagian terbesar masyarakat Indonesia. makna suatu rumusan diberi pengertian menurut kebutuhan masyarakat saat itu. hanya ada perbedaan gradual.pemegang hak-hak di atas. yang berbeda dengan makna tatkala rumusan ittu di buat oleh pembentuk undang-undang. aparat penegek hokum (dalam hal ini khususnya hakim) tidak dapat dengan leluasa menetapkan tindak pidana yang baru diluar rumusan undangundang. Jonkers. Putusan-putusan pengadilan berkaitan dengan perluasan penafsiran tentang perbuatan melawan hokum memang juga mempengaruhi pemikiran para ahli hukum pidana. Dalam penafsiran ekstensi. baik itu produsen maupun para penyalur hasil-hasil produknya. dapat diakomodasikan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang menurut rencana akkan segera diperbaharui. Seandainya tidak tertampung dalam undang-undang yang bersifat khusus dan sektoral seperti diatas. Sebaliknya. Akibatnya. Sanksi-sanksi hokum secara perdata dan pidana seringkali kurang efektif jika tidak disertai sanksi administratif. Cara berpikir Vost ini disebut dengan pendirian material. ini berarti bertentangan dengan asas legalitas. . pada analogi sudah tidak lagi bersandar pada suatu rumusan peraturan. izin-izin itu dapat dicabut secara sepihak oleh pemerintah. tetapi justru kepada pengusaha. Vost misalnya. Sanksi administratif berkaitan dengan perizinan yang diberikan. sehinggga menjadi perbuatan yang oleh masyarakat tidak diperbolehkan. Hukum Administrasi Negara Seperti halnya hokum pidana. menganut pemikiran agar dalam hokum pidana pun unsur perbuatan melawan hokum ini dapat ditafsirkan secara luas. Sanksi administratif tidak ditujukan pada konsumen pada umumnya. Kecenderungan seperti yang terjadi dalam hukum bidang hak atas kekayaan intelektual ini seharusnya mulai di antisipasi. karena berbeda dengan lapangan hokum perdata. 2. Jadi. dan Langemeyers. Suatu rumusan tindak pidana dapat kehilangan sifat melawan hukumnya hanya jika ada peraturan (minimal) setingkat dengan itu (misalnya sama-sama undang-undang) yang mengecualikan. Pengakomodasian ini penting. tidak sekadar yang oleh undang-undang dilarang. Jika terjadi pelanggaran. Rupanya para ahli hokum lain seperti Simmons. Tentu saja konsekuensi lain adalah dalam mengartikan perbuatan melawan hokum (wederrechtelijke daad) dilapangan hokum pidana tidak seleluasa dilapangan hokum perdata. Cuma dibari penafsiran yang lebih luas. hokum administrasi Negara adalah instrumen hokum publik yang penting dalam perlindungan konsumen. Pada hakikatnya penafsiran ekstensi dan analogi itu sama. Jika dilakukan. masih memepertahankan cara berpikir formal. sebagai lawan dari pendirian yang formal. Hanya inti (rasio) dari aturan itu yang masih dipertahankan.

antara lain mengajukan kasus tersebut ke pengadilan tata usaha Negara. Dengan demikian. Memang. Pengertian bahaya disini terutama berkenaan dengan kesehatan daan jiwa. yakni mencegah jatuhnya lebih banyak korban. mungkin dari instansi-instansi Pemerintah terkait. Pemerintah tampaknya menjadikan sanksi administratif ini sebagai ultimum remedium. dampaknya secara tidak langsung berarti melindungi konsumen pula. dapat berua barang atau jasa. tetap ada kendala dalam penerapannya. Contohnya adalah ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. diawasi secara ketat. Dikatakan demikian karena penguasa sebagai pihak pemberi izin tidak perlu meminta persetujuan terlebih dahulu dari pihak manapun. seperti pencemaran oleh PT Inti Indorayon di Sumatera Utara. Pemerintah masih mengandalkan inisiatif konsumen untuk mempersalahkannnya. Produksi disini harus diartikan secara luas. Sanksi administratif ini sering lebih efektif dibandingkan dengan sanksi perdata atau pidana. kedua pertimbangan tersebut seharusnya tidak menjadi alasan pemaaf bagi pengusaha yang merugikan konsumen tersebut. Hak-hak konsumen yang dirugikan dapat dituntut dengan bantuan hokum perdata atau pidana. tetapi sanksi itu sendiri dijatuhkan terlebih dulu. sehingga berlaku efektif.sanksi administrati jug tidak perlu melaui proses pengadilan. Kedua. karena dikaitkan dengan pertimbangan tenaga kerja dan perpajakan. peraturan-peraturan tentang produk makanan. Snksi administratif terhadap perusahaan-perusahaan yang mencemari lingkungan masih teramat jarang dilkukan. Belum lagi mekanisme penjatuhan putusan itu yang biasanya berbelit-belit dan membutuhkan proses yang lama. sejak prakemerdekaan.sanksi administratif dapat diterapkan secara langsung dan sepihak. Campur tangan administrator Negara idealnya harus dilatarbelakangi iktikad melindungi masyarakat luas dari bahaya. Syarat-syarat pendirian perusahaan yang bergerak dibidang tersebut dan pengawasan terhadap proses produksinya dilakukan ekstra hati-hati. Adapun pemulihan hak-hak korban (konsumen) yang dirugikan bukan lagi tugas instrument hokum administrasi Negara. untuk kasus-kasus teertentu. sehingga konsumen sering menjadi tidak sabar.Pencabutan izin hanya bertujuan menghentikan proses produksi dai produsen/penyalur. konsumen juga dihadapkan pada posisi tawar-menawar yang tidak selalu menguntungkan disbanding dengan produsen. Itulah sebabnya. Untuk gugatan secara perdata. kalaupun ini dibutuhkan. sanksi perdata atau pidana acapkali tidak membawa efek “jera” bagi pelakunya. Bahkan. Peraturanperaturan masa kolonial itu bahkan cukup banyak yang masih berlaku sampai seekarang. Tentuu saja. Pertama. . Ada beberapa alasan untuk mendukung pernyataan ini.obat-obatan dan zat-zat kimia. Nilai ganti rugi dan pidana yang dijatuhkan mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan keuntungan yang diraih dari perbuatan negative produsen. bagi pihak yang terkena sanksi ini dibuka kesempatan untuk “membela diri”. Walaupun secara teoretis instrument hokum administrasi negara ini cukup efektif. Persetujuan. sepanjang memang didukung oleh bukti-bukti yang cukup.

dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank. izin prakti atau izin lain yang diberikan. Pasal 73 ditentukan: Pemerntah melakukan pembinaan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan. likuiditas. sedang Pasal 77 menegaskan wewenang pemerntah untuk mengambil berbagai tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap undang-undang ini. misalnya menentukan bahwa: Pemerintah melakukan pengaturan dan pembinaan rumah susun dan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang (termuat dalam Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 20 Ayat (1) Undang-Undang tentang Rumah Susun. 16 Tahun 1985 LN Tahun 1985 No. Dalam Pasal 76 undang-undang itu dijelaskan pula peran pengawasan yang dijalankan oleh pemerintah. Pasal 77 itu berbunyi : Pemerintah berwenang mengambil tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan ini. Misalnya tindakan administratif terhadap tenag kesehatan atau sarana kesehatan yang melanggar undang-undang (Pasal 77 UU No. kualitas aset. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan). 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Ayat (2) pasal ini menentukan bahwa Bank Indonesia menetapkan ketentuan tentang kesehatan bank dengan memperhatikan aspek permodalan. 23 Tahun 1992. Tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dilakukan setelah mendengar pertimbangan Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan. kualitas manajemen. Pasal 29 menegaskan tugas pembinaan dan pengawasan bank-bank di Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia. . Undang-Undang No. Penjelasan pasal ini menentukan tindakan administratif dalam pasal ini dapat berupa pencabutan izin usaha. Selanjutnya. Begitu pula dengan tindakan administratif Menteri Kehakiman dalam mengeshkan Anggaran Dasar suatu Perseroan Terbatas atau Perubahannya sebagaimana termuat dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. ditetapkan bahwa Bank Inndonesia dapat menetapkan sanksi administrative kepada bank yang tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana ditentukan dalam undang-undang ini atau menyampaikan peritmbangan kepada Menteri Keuangan untuk mencabut izin usaha bank bersangkutan.Ketentuan hokum administrasi. Dari peraturan perundang-undanagan diatas terlihat beberapa departemen atau lembaga pemerintah tertentu yang menjalankan tindakan administratif berupa pengawasan dan pembinaan terhadap pelaku usaha dengan perilaku tertentu dalam melaksanakan perundang-undangan tesebut.solvabilitas. 75) Selanjutnya dalam Undang-Undang Kesehatan. Undang-Undang No.rentabilitas. Juga berdasarkan UU No. serta penjatuhan hokum disiplin berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 52 dan 53 (Ketentuan Pidana dan sanksi administratif).

3. antarsemua pihak yang berkepentingan agar terciptanya suatu model perlindungan yang harmonis berdasarkan atas persaingan jujur. Hukum Transnasional Sebutan “hukum transnasional” mempunyai dua konotasi. pola perlindungan konsumen perlu diiarahkan pada pola kerja sama antarnegara. Kondisi suatu Negara sangat dominan menentukan seberapa jauh gerakan ini mendapat tempat di masyarakat. Demikian pula halnya dengan resolusi-resolusi yang di buat oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sumber terpenting dari hukum internasional adalah perjanjian antarnegara dan konvensi-konvensi internasional. yang notabene tanpa ratifikasi pun harrusnya berlaku secara serta-merta terhadap semua Negara anggota badan dunia itu. namun intensitas gerakan tersebut tidak selalu sama pada tiap-tiap Negara. Pertama. Hukum perdata internasional sesungguhnya bukan hukum yang berdiri sendiri. PERANAN HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN C. Masalh perlindungan konsumen merupakan salah satu bukti diantaranya. Walaupun begitu. Kedua. hukum transnasional yang berdimensi perdata. maka yang seharusnya terjadi adalah persaingan jujur. Melalui petunjuk inilah lalu ditentukan hukum atau pengadilan mana yang akan menyelesaikan perselisihan hukum tersebut. melainkan bagian dari hukum perdata nasional. Oleh karena itu. Gerakan ini memang berkembang pesat diberbagai penjuru dunia. yang biasanya dikenal sebagai hukum internasional publik. Hukum internasonal sering dinilai sebagai instrument yang “mandul” daalm menangani banyak kasus hukum yang berdimensi lintas Negara. Persaingan jujur adalah suatu persaingan dimana konsumen dapat memiliki barang atau jasa karena jaminan kualitas dengan harga yang wajar. keberadaan sumber-sumber hukum internasional iu tetap tidak banyak artinya jika belum diartifikasi oleh Negara yang bersangkutan. yang lazim disebut hukkum perdata Internasional. hukum internasional yang berdimensi public. . Kepentingan nasional masing-masing Negara kerapkali membuatnya harus menjadi “macan kertas” yang dengan sendirinya tidak bergigi dan tidak mempunyai kekuatan memaksa. DALAM Pada era perdagangan bebas dimana arus barang dan jasa dapat masuk ke semua Negara dengan bebas. Hukum perdata internasional hanya berisi petunjuk tentang hukum nasional mana yang akan diberlakukan jika tedapat kaitan lebih dari satu kepentingan hukkum nasional.

Hak keamanan dan keselamatan Hak atas informasi Hak untuk memilih Hak untuk didengar dan Hak atas lingkungn hidup Aspek-aspek hukum terhadap perlindungan konsumen didalam era pasar bebas. yaitu: 1. Bertolak dari pemikiran diatas. yakni dari sisi pasar domestic dan dari sisi pasar globlal. Aspek hukum public berperan dan dapat dimanfaatkan oleh Negara. pemerintahan instansi yang mempunyai peran dan kemenangan untuk melindungi konsumen. didistribusikan/dipasarkan dan diedarkan sampai barang dan jasa tersebut dikonsumsi oleh konsumen. 4. pada dasarnya negara dapat diketahui bahwa aspek hukum public dan aspek hukum perdata mempunyai peran dan kesempatan yang sama untuk melindungi kepentingan konsumen. 5. 3.Sampai saat ini secara universal diakui adanya hak-hak konsumen yang harus dilindungi dan dihormati.  Birokrasi dengan sadar dan senang hati menciptakan kondisi dengan berbisnis jujur dalam mewujudkan persaingan sehat. yang sudah mengandung unsure melindungi kepentingan konsumen antara lain :       Undang-undang kesehatan Undang-undang barang Undang-undang hygiene untuk usaha Undang-undang pengawasan atau edar barang Peraturan tentang wajib daftar obat Peratutan tentang produksi dan peredaran produk tertentu . pada dasarnya dapat dikaji dari dua pendekatan. 2. Keduanya harus diawali dan sejak barang dan jasa diproduksi. Kemenangan dan peran tersebut dapat diwujudkan mulai dari :  Politic will/ kemauan politik untuk melindungi kepentingan konsumen domestic didalam persaingan globlal dan atas persaingan tidak sehat local.  Di dalam hukum positif.

membina dan mencabut izin sesuai dengan ketentuan apabila terbukti :   Melanggar ketentuan undang-undang Merugikan kepentingan umum/konsumen Aspek hukum perdata secara umum hanya dapat dimanfaatkan oleh pihak untuk kepentingan-kepentingan subjektif. distributor. diharapkan diikuti dengan pengawasan. mempunyai sumbangan terbesar dalam rangka melindungi kepentingan konsumen. BAB 5 PRINSIP-PRINSIP HUKU PERLINDUNGAN KONSUMEN . memperkuat posisinya dengan menyiapkan dokumen yang ditentukan secara sepihak. termasuk didalamnya hukum administrasi Negara. Sumbangan yang terbesar pada hukum public disini adalah kemampuan untuk mengawasi. Peraturan tentang perizinan. pembinaan dan pemberian sanksi yang pasti dan tegas apabila terjadi pelanggaran mengenai syarat dan operasional dari perusahaan produsen. Hal inilah yang menyebabkan tidak seimbangnya hubungan hukum para pihak. dan sebagainya.\ Syarat-syarat baku minimal antara lain mengenai :   Waktu atau batas waktu untuk mengajukan keberatan Syarat atas pemenuhan janji  Syarat kesanggupan untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan promosi. Untuk mengurangi ketidakseimbangan tersebut. Meskipun demikian mengingat hubungan hukum para pihak terjadi karena berbagai alasan dan factor kebutuhan. maka sudah waktunya apabila disiapkan adanya syarat-syarat bahkan yang harus dipenuhi apabila ada pihak berniat menyiapkan perjanjian baku bagi calon konsumennya. Keadaan yang demikian mendorong para pihak produsen. Dari aspek hkum public. Fakta selalu menunjukkan bahwa posisi calon konsumen dalam keadaan lebih karena factor ekonomi dan kebutuhan.

Prinsip ini menyatakan. yaitu : 1. prinsip ini di pegang secara teguh. yang lazim dikenal sebagai pasal tentang perbuatan melawan hukum.A. diberlakukan keberhati-hatian daalm menganalisis siapa yang harus bertanggung jawab dan seberapa jauh tanggung jawab dapat dibebankan kepada pihak-pihak terkait. dan 1367. Adanya perbuatan Adanya unsure kesalahan Adanya kerugian yang diderita Adanya hubungan kausalitas antara kesalahan dan kealpaan Yang dimaksud kesalahan adalah unsure yang bertentangan dengan hukum. PRINSIP-PRINSIP TANGGUnG JAWAB Prinsip tentang tanggung jawab merupakan perihal yang sangat penting dalam hukum perlindungan konsumen. tetapi juga kepatutan dan kesusilaan dalam masyarakat. Dalam kasus-kasus pelanggaran hak konsumen. prinsip-prinsip tanggungjawab dalam hukum dapat dibedakan sebagai berikut: 1. Secara umum. . seseorang baru dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum jika ada unsure kesalahan yang dilakukannya. 5. mengharuskan terpenuhinya empat unsure pokok. 4. 2. seperti peraturan perundang-undangan dan perjanjian standar di lapangan hukum keperdataan kerap memberikan pembatasanpembatasan terhadap tanggungjawab yang dipikul oleh sipelanggar hak konsumen. Kesalahan Praduga selalu bertanggung jawab Praduga selalu tidak bertanggung jawab Tanggung jawab mutlak Pembatasan tanggung jawab 1. Pasal 1365 KUH Perdata. 3. 4. Beberapa sumber formal hukum. 2. 3. Prinsip Tanggung Jawab Berdasarkan Unsur Kesalahan Prinsip tanggungjawab berdasarkan unsure kesalahan adalah prinsip yang cukup umum berlaku dalam hukum pidana dan perdata. 1366. Pengertian “hukum” tidak hanya bertentangan dengan undang-undang. khususnya Pasal 1365.dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Ia tidak dapat membedakan mana yang berhubungan secara organic dengan korporasi dan mana yang tidak. orang yang bekerja disitu (dokter. harus membuktikan adanya hak atau peristiwa itu. sebagaimana dapat dilihat dalam Pasal 17. maka sudah cukup syarat bagi korporasi itu untuk wajib bertanggung jawab secara vicarious terhadap konsumen. sampai ia dapat membuktikan ia tidak bersalah. Maksudnya.18 Ayat . Mengenai pembagian beban pembuktiannya. 2. Jadi. Perkara yang perlu diperjelas dalam prinsip ini. tergugat selalu dianggap bertanggung jawab. Ketentuan diatas juga sejalan dengan teori umum dalam hukum acara. Di sini hakim harus memberi para pihak beban yang seimbang dan patut sehingga masing-masing memiliki kesempatan yang sama untuk memenangkan perkara tersebut. lembaga yang menaungi suatu kelompok pekerja mempunyai tanggung jawab terhadap tenaga-tenaga yang dipekerjakannya. Di situ dikatakan.dan lain-lain) adalah karyawan yang tunduk dibawah perintah korporasi tersebut. Dalam hukum pengangkutan. Doktrin yang terakhir ini disebut ostensible agency. asas tanggung jawab ini dapat diterima karena adalah adil bagi orang yang berbuat salah untuk mengganti kerugian bagi pihak korban. Sebagai contoh. tidak adil jika orang yang tidak bersalah harus mengganti kerugian yang diderita orang lain. Vicarious liability atau disebut juga respondeat superior.perawat.maka tanggung jawabnya beralih pada si pemakai karyawan tadi. Prinsip ini diterapkan tidak saja untuk karyawan organiknya (digaji oleh runah sakit).Secara common sense. yang sebenarnya juga berlaku umum untuk prinsip-prinsip lainnya adalah definisi tentang subjek pelaku kesalahan (lihay Pasal 1367 KUP Perdata). Dengan kata lain. Menurut doktrin ini. Prinsip Praduga untuk Selalu Bertanggung Jawab Prinsip ini menyatakan. Dalam doktrin hukum dikenal asas vicarious liability dan corporate liability. prinsip tanggung jawab ini pernah diakui. Corporate liability pada prinsipnya memiliki pengertian yang sama dengan vicarious liability. dalam hubungsn hukum antara rumah sakit dan pasien. beban pembuktian ada pada si tergugat. asas ini mengikuti ketentuan Pasal 163 (HIR) atau Pasal 283 (Rbg) dan Pasal 1865 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. let the master answer. semua tanggung jawab atas pekerjaan tenaga medic dan paramedic dokter adalah menjadi beban tanggung jawab rumah sakit tempat mereka bekerja. jika suatu korporasi (misalnya rumah sakit) memberi kesan kepada masyarakat (pasien). Latar belakang penerapan prinsip ini adalah konsumen hanya melihat semua dibalik dinding suatu korporasi itu sebagai sati kesatuan. barangsiapa yang mengakui mempunyai suatu hak. mengandung pengertian majikan bertanggung jawab atas kerugian pihak lain yang ditimbulkan oleh orang-orang atau karyawan yang berada dibawah pengawasannya. tetapi untuk karyawan nonorganic (misalnay dokter yang dikontrak kerja dengan pembagian hasil). khususnya pengangkutan udara. yakni asas kedudukan yang sama antara semua pihak yang berperkara. Jika karyawan itu dipinjamkan kepihak lain.

ssebagaimana ditegaskan dalam pasal 19. Pasal 29 Ordonansi Pengangkutan udara No. dan pembatasan demikian biasanya secara common sense dapat dibenarkan. ia mengambil suatu tindakan yang diperlukan untuk menghindari timbulnya kerugian. sampai yang bersangkutan dapat membuktikan sebaliknya. Dasar pemikiran dari teori Pembalikan Beban Pembuktian adalah seseorang dianggpa bersalah. tepatnya pada Pasal 17 dan 18. Prinsip Praduga untuk Tidak Selalu Bertanggung Jawab Prinsip ini adalah kebalikan dari prinsip kedua. dalam praktiknya pihak kejaksaan RI sampai saat ini masih keberatan untuk menggunakan kesempatan yang diberikan prinsip beban pembuktian terbalik. b) Pengangkut dapat membebaskan diri dari tanggung jawab jika ia dapat membuktikan. c) Pengangkut dapat membebaskan diri dari tanggng jawab jika ia dapat membuktikan. jika diterapkan dalam kasus konsumen akan tampak. Kehilangan atau kerusakan pada bagasi kabin/bagasi tangan. kemudian dalam perkembangannya dihapuskan dengan Protokol Guatemala 1971. maka yang berkewajiban untuk membuktikan kesalahan itu ada di pihak pelaku usaha yang digugat. kerugian ditimbulkan oleh hal-hal diluar kekuasannya. Pasal 19 jo. dan 23 (lihat ketentuan Pasal 28 UUPK). Tentu saja konsumen tidak lalu berarti dapat sekehendak hati mengajukan gugatan. Jika digunakan teori ini. dikenal empat variasi: a) Pengangkut dapat membebaskan diri dari tanggung jawab kalau ia dapat membuktikan. Pasal 20 Konvensi Warsawa 1929 atau Pasal 24. Namun. asas demikian cukup relevan. yang biasanya dibawa . jika ia gagal menunjukkan kesalahan si tergugat. dalam doktrin hukum pengangkutan khususnya.(1). 3. Prinsip Praduga untuk tidak selalu bertanggung jawab hanya dikenal dalamlingkup transaksi konsumen yang sangat terbatas. kerugian yang timbul bukan karena kesalahannya d) Pengangkut tidak bertanggung jawab jika kerugian itu ditimbulkan oleh kesalahan/kelalaian penumpang atau karena kualitas/mutu barang yang diangkut tidak baik Tampak beban pembuktian terbalik (omkering van bewijslast) diterima dalam prinsip tersebut. Namun.25. Posisi konsumen sebagai penggugat selalu terbuka untuk digugat balik oleh pelaku usaha. omkering van bewijslast juga diperkenalkan dalam Undang-Undang tentang Tindak Pidana Korupsi. Tergugat ini yang haus menghadirkan bukti-bukti dirinya tidak bersalah. Hal ini tentu bertentangan dengan asas hukum praduga tidak bersalah yang lazim dikenal dalam hukum.22.28 jo. 100 Tahun 1939. UUPK pun mengadopsi system pembuktian terbalik ini. Dalam konteks hukum pidana di Indonesia. Contoh dalam penerapan prinsip ini adalah dalam hukum pengangkutan. Berkaitan dengan prinsip tanggung jawab ini.

ada pandangan yang agak mirip. tanggung jawab absolute adalah prinsip tanggung jawab tanpa kesalahan dan tidak ada pengecualiannya. produsen wajib bertanggung jawab atas kerugian yang diderita konsumen atas penggunaan produk yang dipasarkannya. ada penegasan. dan mengarah kepada prinsip tanggung jawab dengan pembatasan uang ganti rugi (setinggitingginya satu juta rupiah). misalnya khasiat yang timbul tidak sesuai dengan janji yang tertera dalam kemasan produk B. Ada unsure kelalaaiaan. Menurut asas ini. konsumen tetap diberikan beban pembuktian. Dalam hal ini. Prinsip tanggung jawab mutlak dalam hukum perlindungan konsumen secara umum digunakan untuk “menjerat” pelaku usaha. ada pengecualian-pengecualian yang memungkinkan untuk dibebaskan dari tanggung jawab.hubungan itu harus ada. Namun. pelaku usaha tidak dapat diminta pertanggungjawaban Sekalipun demikian. walaupun tidak sebesar si tergugat. “prinsip praduga untuk tidak selalu bertanggungjawab” ini tidak lagi diterapkan secara mutlak. Melanggar jaminan. bagasi kabin/bagasi tangan tetap dapat dimintakan pertanggungjawaban sepanjang bukti kesalahan pihak pengangkut (pelaku usaha) dapat ditunjukkan. Gugatan product liability dapat dilakukan berdasarkan tiga hal : A. ia hanna perlu membuktikan adanya hubungan kausalitas antara perbuatan pelaku usaha . kewajiban mengganti rugi dibebankan kepada pihak yang menimbulkan resikoadanya kerugian itu. misalnya keadaan force majeur. Dalam risk liability. Pihak yang dibebankan untuk membuktikan kesalahan itu ada pada si penumpang. yaitu produsen lalai memenuhi standar pembuatan oba yang baik C. 40 Tahun 1995 tentang Angkutan Udara. yang memasarkan produknya yang merugikan konsumen. 4.dan diawasi oleh sipenumpang (konsumen) adalah tanggung jawab dari penumpang. yang mengaitkan perbedaaan keduanya pada ada atau tidak adanya hubungan kausalitas antara subjek yang bertanggungjawab dan kesalahannya. Prinsip Tanggung Jawab Mutlak Prinsip tanggung jawab mutlak sering diidentikkan dengan prinsip tanggung jawab absolut. Asas tanggungjawab itu dikenal dengan nama product liability. Kendati demikian ada pula para ahli yang membedakan kedua terminology di atas. Ada pendapat yang mengatakan. Selain itu. Namun. tanggung jawab mutlak adalah prinsip tanggung jawab yang menetapkan kesalahan tidak sebagai factor yang menentukan. Menerapkan tanggung jawab mutlak Variasi yang sedikit berbeda dalam penerapan tanggung jawab mutlak terletak pada risk liability. dalam Pasal 44 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. Sebaliknya. khususnya produsen barang. Pada tanggung jawab mutlak . Dalam hal ini. Sementara pada tanggung jawab absolute hubungan itu tidak selalu ada. Artinya.

Memberi perlindungan kepada konsumen b. Salah satu lembaga hukum yang berdimensi internasional yang perlu diperhatikan dalam revisi maupun pembentukan hukum ekonomi nasional adalah tanggung jawab produk ( product liability). Dalam perjanjian cuci cetak film misalnya. Dalam UU No. karena tanggung jawab dalam product. Selebihnya dapat digunakan prinsip strict liability. Jika ada pembatasan mutlak harus berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang jelas. Menurut Johannes Gunawan. Apalagi dalam era globlalisasi seperti sekarang ini. Prinsip Tanggung Jawab denagn Pembatasan Prinsip tanggung jawab dengan pembatasan sangat disenangi oleh pelaku usaha untuk dicantumkan sebagai klausul eksonerasi dalam perjanjian standar yang dibuatnya. maka konsumen hanya dibatasi ganti kerugiannya sebesar sepuluh kali harga saru rol film baru. Secara historis. Produsen harus berhai-hati denagn produknya. product liability Kebutuhan-kebutuhan akan reformasi hukum. ditentukan bila film yang ingin dicetak itu hilang atau rusak (termasuk akibat kesalahan petugas). Adalah fakta bahwa terdapat ketentuan-ketentuan yang baik yang berasal dari legal culture bangsa lain ataupun konvensi-konvensi internasional yang dapat dimanfaatkan dalam rangka modernisasi hukum nasional. Dengan lembaga ini produsen yang pada awalnya menerapkan strategi prosuct oriented dalam pemasaran produknya harus mengubah strateginya menjaddi consumer oriented. 5. termasuk membatasi maksimal tanggung jawabnya. Agar terdapat pembebanan resiko yang adil antara produsen dan konsumen . khususnya hukum ekonomi dalam perkembangan dewasa ini sangatlah mendesak. pembentukan hukum nasional yang baru perlu memperhatikan dimensi internasional. prodct liability lahir karena ketidakseimbangan tanggung jawab antara produsen dan konsumen. tujuan utama dari dunia memperkenalkan product liability adalah : a. \ Prinsip tanggung jawab ini sangat merugikan konsumen bila ditetapkan secara sepihak oleh pelaku usaha. Indonesia dituntut memebentuk hukum nasional yang harus mampu berperan dalam memperlancar lalu lintas hukum ditingkat international. b.(produsen) dan kerugian yang dideritanya. 8 Tahun 1999 seharusnya pelaku usaha tidak boleh secara sepihak menentukan klausul yang merugikan konsumen. yang ditandai dengan saling ketergantungan antara Negara satu dengan Negara lainny.

1. sementara capital output ratio ditekan serendah-rendahnya. termasuk para pengusaha bengkel dan pergudangan. for damages or injuries suffered because of defect in good purchase. Adapun cirri-ciri dari product liability dengan mengambil pengalaman dari masyarakat eropa dan terutama Negeri Belanda. Orientasi kegiatan terarah kepada mekanisme pasar. dan optimalisasi penumpukan dan pemanfaatan capital. Product liability adalah suatu tanggung jawab secara hukum dari orang atau badan yang menghasilkan suatu produk atau dari badan yang bergerak dalam suatu proses untuk menghasilkan suatu produk atau badan yang menjual produk tersebut. Pengertian product liability dapat ditemukan pada beberapa sumber berikut.Toar memberikan pengertian product liability sebagai : Tanggung jawab para produsen untuk produk yang telah dibawanya kedalam peredaran yang menimbulkan/menyebabkan kerugian karena cacat yang melekat pada produk tersebut. Henry Campbell dalam Black’s Law Dictionary mendefinisikan prouct liability sebaagi berikut : Refers to the legal liability of manufacturers and sellers to compensate buyers.    Yang dapat dikualifikasikan sebagai produsen adalah Pembuat produk jadi Penghasil bahan baku Pembuat suku cadang . makers and distributors of products for harm the products have caused to other. users. Zile: Product liability denotes the civil liability of developers. Adapun Agnes M. Pengertian lain dikemukakan oleh zigurds L. dapat dikrmukakan secara singkat sebagai berikut: 1. Pengertian Product Liability Istilah product liability diterjemahkan secara bervariasi kedalam bahasa Indonesia seperti “tanggung gugat produk” atau juga “tanggung jawab produk”. and even bystanders. Bahkan dilihat dari konvensi tentang product liability diperluas terhadap orang/badan yang terlibat dalam rangkaian komersial tentang persiapan atau penyebaran dari produk.dengan memperbesar saving.

Definisi produk cacat menurut Emma Suratman. Yang dapat dikualifikasikan sebagai produk adalah benda bergerak. disewakan. c. dengan pengecualian produk-produk pertanian dan perburuan. selain dari produk yang bersangkutan 5. Setiap orang yang menampakkan dirinya sebagai produsen dengan jalan mencantumkan namanya. Penampilan produk Maksud penggunaan produk Saat ketika produk ditempatkan dipasaran Tangggung jawab tersebut sehubungan dengan produk yang cacat/rusak sehingga menyebabkan atau turut menyebabkan kerugian bagi pihak lain (konsumen). . 3. Yang dapat dikualifikasikan sebagai konsumen adalah konsumen akhir. Apakah yang dimaksud dengan produk cacat di Indonesia?. antara lain: a. b. kematian atau harta benda. disewagunakan. dalam hal identitas dari produsen atau importer tidak dapat ditentukan 2. pada produk tertentu  Importer suatu produk dengan maksud untuk diperjualbelikan. tanda pengenal tertentu. atau tidak menyediakan syarat-syarat keamanan bagi manusia atau harta benda dalam penggunaannya. sekalipun benda bergerak tersebut telah menjadi komponen/bagian dari benda bergerak atau benda tetap lain. sebagaimana diharpkan orang. adalah: Setiap produk yang tidak dapat memenuhi tujuan pemuatannya baik karena kesengajaan atau kealpaan dalam proses produksinya maupun disebabkan hal-hal lainyang terjadi dalam peredarannya. 4. Yang dapat dikualifikasikan sebagai kerugian adalah kerugian pada manusia dan keugian pada harta benda. baik kerugian badaniah. Produk dikualifikasi sebagai menganduung kerusakan apabila produk itu tidak memenuhi keamanan yang dapat diharapkan oleh seseorang dengan mempertimbangkan semua aspek. atau tanda lain yang membedakan dengan produk asli. atau bentuk distribusi lain dalam transaksi perdagangan  Pemasok. listrik.

Cacat produk Cacat produk adalah keadaan produk yang umumnya berada dibawah tingkat harapan konsumen. setiap orang mengharapkan air minum dalam botol tidak berisi butir-butir pasir. atau pengguna yang biasa meminum minuman keras melebihi ukuran tertentu harus meminta nasehat dokter. Misalnya peringatan produk harus disimpan pada suhu kamar atau suhu lemari pendingin (makanan dalam kemasan). yaitu: a. Jadi. yang tanggung jawabnya secara tegas dibebankan pada produsen dari produk yang bersangkutan. 2). dengan syarat-syarat tertentu. beban tanggung jawab itu dapat pula diletakkan diatas pundak pelaku usaha lainnya. dan sebagainya. 3. Menyediakan sarana hukum ganti rugi bagi (korban) produk cacat yang tidak dapat dihindari. Suatu produk dapat disebut pembuatannya) karena: 1. sebab kalau desain produk itu dipenuhi sebagaimana mestinya. atau pedagang pengecernya. tanpa kesalah dari pihaknya. Produk yang tidak memuat peringatan tertentu sebagaimana diutarakan diatas. tanggung jawab produk cacat ini berbeda dari tanggung jawab pelaku usaha produk pada umumnya. larangan memakai kendaraan. Atau dapat pula cacat itu demikian rupa sehingga dapat membahayakan harta bendanya. Cacat peringatan atau intruksi Cacat peringatan ini adalah cacat produk karena tidak dilengkapi dengan peringatan-peringatan tertentu atau intruksi penggunaan tertentu. Cacat-cacat demikian dapat pula termasuk cacat desain. Misalnya. Menekan lebih rendah tingkat kecelakaan karena produk cacat tersebut. saus tomat tidak terbuat dari labu siam sitambah dengan zat pewarna. distributor. tidaklah kejadian merugikan konsumen tersebut dapat terjadi. Tanggung jawab produk cacat terletak pada tanggung . Perkembangan ini sebenarnya dipicu juga oleh tujuan yang ingin dicapai doktrin ini. termasuk produk cacat. kesehatan tubuh atau jiwa konsumen.Dari batasan ini terlihat bahwa pihak yang bertanggung jawab adalah pelaku usaha pembuat produk tersebut (produsen). seperti importir produk. 2. bermotor selama menggunakannya. b. Akan tetapi disamping produsen. seperti juga tepung gandum tidak berisi potongan-potongan kecil besi. Atau dapat pula peringatan agar dalam penggunaannya harus menggunakan voltase listrik tertentu. cacat (tidak dapat memenuhi tujuan Cacat produk atau manufaktur Cacat desain Cacat peringatan atau cacat 1).

sehingga didalamnya dianut prinsip praduga bersalah (presumption of fault) berbeda dengan praduga tidak bersalah (presumption of no fault)yang dianut oleh tort.konsumen menjadi korban masih harus membuktikan ketiga unsure lainnya.yang relative sangat sukar.jawab cacatnya produk berakibat pada orang. Bahwa terjadinya cacat pada produk tersebut akibat keharusan yang dikeluarkan oleh pemerintah.konsenkuensinya ia harus bertanggung jawab (liable) untuk memberi ganti rugi secara langsung kepada pihak konsumen yang menderita kerugian. 2. . Meskipun system tanggung jawab dalam product liability berlaku prinsip strict liability.untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan kesalahan yang menimbulkan kerugian kepada konsumen. Jika produsen tidak mengedarkan produknya (put into circulation). Karena produsen sudah dianngap bersalah. Namun demikian. Cacat yang menyebabkan kerugian tersebut tidak ada pada saat produk diedarkan oleh produsen. Dengan beberapa modifikasi. orang lain atau barang lain. b. 1. Bahwa produk tersebut tidak dibuat oleh produsen baik untuk dijual atau diedarkan untuk tujuan ekonomis maupun dibuat atau diedarkan dalam rangka bisnis. Modifikasi tersebuut adalah : Produsen langsung dianggap bersalah jika terjadi kasus product liability. dapat dikemukakan bahwa product liability merupakan lembaga hukum yang tetap menggunakan kontruksi hukum tort (perbuatan melawan hukum). d.jenis tanggung jawab (liability) semacam ini disebut no fault liability atau strict liability.pihak produsen dapat membebaskan diri dari tanggung jawabnya.karena karakter dasar dari product liability adalah tort.konsumen jelas sangat diringankan dari beban untuk membuktikan kesalahan produsen.yaitu perbuatan produsen adalah perbuatan melawan hukum dengan kerugian dan hubungan kausal antara perbuatan melawan hukum dengan kerugian yang timbul. c. Karena produsen dianggap bersalah. Sedang tanggung jawab pelaku usaha karena perbuatan melawan hukum adalah tanggung jawab atas rusaknya atau tidak berfungsinya produk itu sendiri.maka konsumen yang menjadi korban tidak perlu lagi membuktikan unsure kesalahan produsen. Dari perkembangan product liability di berbagai Negara.Dilihat dari segi ini.baik untuk seluruhnya atau untuk sebagian.atau terjadinya cacat tersebut baru timbul kemudian. 3.Hal-hal yang dapat membebaskan tanggung jawab produsen tersebut adalah a.Dalam hal ini beban pembuktian justru dialihkan (shifting the burden of proof) kepada pihak produsen .seperti yang dianut didalam tort.

Inti masalahnya terletak pada kulitas produk yang dihasilkan. persaingan yang lebih berkualitas.state of art defense) pada saat produk tersebut diedarkan tidak mungkin terjadi cacat. Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang atau penggantian barang dan jasa yang sejenis atau setara nilainya atau perawatan kesehatan dan atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.dijelaskan sebagai berikut : Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan. 4.e.Masalah produk liability ini erat kaitannya dengan masalah persaingan dalam era perdagangan bebas maupun dengan makin meningkatnya perhatian terhadap perlindungan konsumen.mulai dari penyediaan sumber daya manusia yang berkualitas.dapat terlindungan karena dapat diketahui apa yang dapat dituntut dan kepada siapa tuntutan itu harus ditunjukkan. Undang-undang No.khususnya tentang produk liability atau tanggung jawab produsen. 1.8 Tahun 1999 telah menggunakan prinsip semi-strict liability sebagaimana yang diatur dalam pasal 19 Bab IV tentang Tanggung Jawab Pelaku Usaha. Dari cakupan product liability tesebut.Devisa yang dihasilkan sangat diperlukan bagi keperluan impor produk-produk yang tidak dapat dihasilkan didalam negeri. 2. Dalam memasuki era industrialisasi tersebut berbagai hal perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh.Dari pengertian produk dan produsen yang begitu luas. 2.menunjukkan luuasnya kepentingan konsumen yang dapat dijangkau oleh lembaga hukum ini.Indonesia sedang menuju era industrialisasi.Produk Liability di Indonesia Seperti telah dikemukakan pada pendahuluan. . Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal transaksi. 3.Produuk-produk yang dihasilkan industry itu ditunjukkan baik untuk memenuhi keperluan dalam negeri maupun untuk keperluan ekspor.Hal penting lain yang perlu mendapat perhatian serius dalam era industrialisasi adalah bidang hukum.penguasaan ilmu dan teknologi.mengatisipasi tuntutan akan barang dan jasa yang lebih berkualitas.pencemaran . Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud ada ayat pada ayat (1) dan ayat (2) tidak mengharuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasarkan pembuktian lebih jelas mengenai adanya unsure kesalahan.dan atau kerugian konsumen akibat mengonsumsi barang dan atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan.persaingan yang lebih ketat baik didalam maupun diluar negeri dari sebagai akibat globasasi dan perdagangan bebas dan sebagainya. Bahwa secara ilmiah dan teknis (state of scientic and technical knowledge.

5. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku apabila pelaku usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen. Dalam juga,pasal 20 yang berbunyi bahwa pelaku usaha periklanan bertanggung jawab atas iklan yang diproduksi dan segala akibat yang ditimbulkan oleh iklan tersebut.Disamping itu,tanggung gugat juga diberlakukan bagi importir barang atau jasa sebagai pembuat barang yang diimpor atau sebagia penyedia jasa asing jika importasi barang tersebut atau penyediaan jasa asing tersebut tidak dilakukan oleh agen atau perwakilan produsen luar negeri atau perwakilan produsen luar negeri atau perwakilan penyedia jasa asing. Selain itu,dalam pasal 28 dinyatakan bahwa pembuktian terhadap ada tidaknya unsure kesalahan dalam gugatan ganti rugi merupakan beban dan tanggung jawab pelaku usaha.Hal ini berarti berlaku system pembuktian terbalik,baik dalam perkara pidana maupun perkara perdata,sesuatu yang menyimpang dari hukum acara biasa.Didalam hukum acara pidana,beban pembuktian terletak pada jaksa (penuntut umum),sedangkan didalam hukum acara perdata baik berdasarkan pasal 163 Herziene Inlands Reglement (HIR),pasal 383 Reglement buitengewesten (RBg),maupun pasal 1865 BW,beban pembuktian diletakkan pada penguggat. Berdasarkan system hukum yang ada kedudukan konsumen sangat lemah dibanding produsen.Salah satu usaha untuk melindungi dan menibgkatkan kedududkan konsumen adalah dengan menerapkan prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability ) dalam hukum tentang tanggung jawab produsen.Dengan diberlakukannya prinsip tanggung jawab mutlak diharpkan pula para produsen/industrawan Indonesia menyadari betapa pentingnya menjaga kwlaitas produk – produk yangt telah dihasilkannya,sebab bil tidak selain akan merugikan konsumen juga akan sangat besar resiko yang harus ditanngungnya.Para produsen akan llebih berhati-hati dalam memproduksi sebelum dilempar ke pasaran sehinnga para konsumen,baik dalam maupun luar negeri tidak akan ragu-ragu membeli barang produksi Indonesia.Demlian juga bila kesadaran oara produsen /industriawan terhadap hukum tentang tanggung jawab produsen tidak ada,dikhawatirkan akan berakibat tidak baik terhadap perkembangan/eksitensi dunia industry nasional maupun ada daya saing produk nasional terutama diluar negeri. Penerapan prinsip tanggung jawab mutlak di Indonesia meliputi 3 bagian penting.Pertama factor-faktor eksternal hukum yang mempengaruhi perkenbangan dan pembaharuan hukum perlindungan konsumen teramsuk penerapan prinsip tanggung jawab mutlak.Kedua,factor internal system hukum yaitu elemen struktur dan budaya hukum ddalam rangka penerapan prinsip tanggung jawab mutlak di Indonesia.Ketiga,adalah ruang lingkup materi atau substansi dari prinsip tanggung jawab mutlak yang perlu diatur dalam undang-undang. Namun demikian,dengan memberlakukan prinsip strict liability dalam hukum tentang product liability tidak berarti pihak produsen tidak mendapat perlindungan.Pihak produsen masih diberi kesempatan untuk membebaskan diri dari tanggung jawabnya dalam hal – hal tertentu yang dinyatakan dalam undngundang.Disamping itu,pihak produsen juga dapat mengasuransikan tanggung jawabnya sehingga secara ekonomis dia tida mengalami kerugian yang berarti.

Konsekuensinya dari pembalikan beban pembuktian adalah tergugat wajib membuktikan ketidaksalahannya.Apabila tergugat tidak dapat membuktikan ketidaksalahanya,maka tergugat harus dikalahkan karena apa yang didalihkan oleh penggugat terbukti.Dalam perkara pidana,juga berlaku hal sama,bahwa apabila tersangka tidak dapat membuktikan ketidaksalahannya,ia harus dintakan terbukti melakukan tindak pidana yang disangkakan kepadanya.Akan tetapi,Undang-undang No.8 Tahun 1999 tentangg perlindungan Konsumen juga membebaskan pelaku usaha untuk memberikan ganti rugi apabila pelaku usaha dapat membuktikan kalau kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen(pasal 19 ayat (5)).Selain itu,pelaku usaha yang memproduksi barang dibebaskan dari tanggung jawab atas kerugian yang diderita konsumen apabila : a. Barang tersebut terbukti seharusnya tidak diedarkan atau tidak dimaksudkan untuk diedarkan; b. c. d. Cacat barang timbul pada kemudian hari; Cacat timbul akibat ditaatinya ketentuan mengenai kulifikasi barang; Kelalaianyang diperjanjikan yang diakibatkan oleh konsumen; 4 tahun sejak barang dibeli\ atau

e. Lewatnya waktu pennututan lewatnya jangka waktu (pasal 27).

Adapun system beban pembuktian terbalik juga digunakan jika kasus perlindungan konsumen diangkat sebagai kasus pidana.Hali ini berarti meskipun ganti rugi telah diberikan namun tidak menghapus kemungkinan adanya tuntutan piadana berdasrkan pembuktian lebih lanjut mengenai adanya unsure kesalahan ini digunakan system beban pembutian terbalik.Pasal 22,menegaskan bahwa pembuktian terhadap ada tidaknya unsure kesalahan dalam kasus pidana merupakan beban dan tanggung jawab pelaku usaha tanpa menutup kemungkinan bagi jaksa untuk melakukan pembuktian.

c. PENYALAHGUNAAN KEADAAN VAN OMSTANDIGHEDEN)

(MISBRUIK

“penyalahgunaan keadaan” menguraikan penerapan lembaga ini dalam sengketa transaksi konsumen yang akan direkomendsikan untuk diterima menjadi salah satu prinsip penting dalam hukum Indonesia. Perkjanjian merupakan salah satu sumber perkitan yang dapat dikatakan sebagai sumber formal hukum yang utama dalam transaksi konsumen.Salah satu isu pokok dalam transakssi konsumen misalnya terkait dengan keberadaan perjanjian standar (baku) yang oleh banyak pihak dinilai menggerototi hak kebebasan berkontrak dari pihak konsumen. Secara klasik sebagiamana dimuat dalam kitab undang-undang Hukum Perdata,salah satu asas penting dalam perjanjian adalah prinsip kebebasan

berkonrak.Asas ini pertama kali dapat disimpulkan dari pasal 1320 Kitab UndangUndang Hukum Perdata,yang menetapkan empat syarat sah suatu perjanjian, yakni : 1. 2. 3. 4. Kesepakatan kedua belah pihak Kecakapan Suatu pokok persoalan tertentu Suatu sebab yang halal dengan syarat subjektif, sedangkan dua objektif. Menurut Subekti, pelanggaran itu terancam untuk dapat dimintakan objektif tidak dipenuhi, perjanjian itu

Dua syarat yang pertama berkaitan syarat terakhir berhubungan dengan syarat syarat subjektif menyebabkan perjanjian pembatalannya. Di sisi lain, bila syarat terancam batal demi hukum.

Pasal 1321 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menebutkan tiga alas an untuk melakukan pembatalan perjanjian, yakni : 1. 2. 3. Kekhilafan atau kesesatan Paksaaan Penipuan

Tiga alasan warisan hukum colonial belanda itu tetap berlaku sampai sekarang, sekalipun di negeri Belanda terjadi satu perkembangan yang sangant berarti, khususnya dipandang dari sudut hukum perlindungan konsumen. Kemajuan dimaksud adalah dimasukkannya alasan keempat, yaitu penyalahgunaan keadaan. Keempat alasan itu dicantumkan dalam Buku III Pasal 44 ayat (1) Kitab UndangUndang Hukum Perdata belanda yang baru. Penyalahgunaan keadaan berkaitan dengan kondisi yang ada pada saat kesepakatan terjadi. Kondisi itu membuat ada salah satu pihak berada dalam keadaan tidak bebas untuk menyatakan kehendaknya. Itu sebabnya, ada ahli yang berpendapat penyalahgunaan keadaan ini sebagai salah satu bentuk dari cacat kehendak juga. Satu hal yang harus diingat, penyalahgunaan keadaan sejak semula tidak dapat dianggap sebagai hal yang dapat dibenarkan oleh hukum. Sebenarnya, penyalahgunaan keadaan sejak dulu dimasukkan sebagai keadaan yang bertentangan dengan ketertiban umum atau kebiasaan yang baik. atas dasar itu, suatu perjanjian dapat dinyatakan tidak berlaku, baik seluruhnya maupun bagian tertentu saja. Dengan demikian, ada anggapan “sebab” yang terlarang sama dengan “isi” perjanjian yang tidak di benarkan. Padahal, penyalahgunaan tidak semata-mata berkaitan dengan “isi” perjanjian. Isinya mungkin tidak terlarang, tetapi ada sesuatu yang lain, yang terjadi pada saat lahirnya perjanjian, yang menimbulkan kerugian pada salah satu pihak. Inilah yang dinamakan “penyalahgunaan keadaan”. Menurut Van Dunne, penyalahgunaan keadaan terjadi karena ada dua unsur, yaiitu kerugian bagi salah satu pihak dan penyalahgunaan kesempatan oleh pihak lain.

Factor kerugian disini tidak harus berwujud kerugian materiil. kesulitan keuangan yang mendesak 3.J. Adanya ketergantungan relatif (misalnya antara orang tua dan anak. misalnya yang bersangkutan belum berpengalaman. memang belum diadopsi ke dalam Kitab undang-Undang Hukum Perdata (eks Kolonial Belanda) yang tetap berlaku di Indonesia.”penyalahgunaan keadaan” ini sanagat relevan untuk disinggung dalam kaitannay dengan persengketaan transaksi konsumen. orang tua/wali-anak belum dewasa 4. seperti pasien membutuhkan pertolongan dokter ahli 5. konsumen perumahan sering terdesak nutuk menyetujui suatu perjanjian kredit dengan bank berdasarkan system bunga fluktuatif yang sangat tidak menguntungkan. hubungan majikan-buruh. Karena keadaan. Di lain pihak. Sebagai contoh. seperti segala sesuatu yang menyebabkan orang pada posisi tidak menguntungkan. Kerugian yang sangat besar dari salah satu pihak. Persoalannya “ penyalahgunaan keadaan”. Salah satu pihak menyalahgunakan keadaan pihak lain untuk kepentingannya. salah satu pihak ada dalam keadaan terjepit 2. dokter dan pasien.timbul sifat perbuatan.Satrio menambahkan lagi enam factor yang dapat dianggap sebagai cirri dari penyalahgunaan keadaan. yaitu ada keunggulan pada salah satu pihak. Keunggulan ekonomis terjadi bila posisi kemampuan ekonomi kedua belah pihak tidak seimbang sehingga salah satu tergantung pada yang lain. sering pelaku usaha secara sistematis memasang iklan di media massa untuk menggiring psikologi konsumen agar berperilaku konsumtif. tetapi dapat meliputi kerugian”subjektif”. yang bersifat ekonomis/psikologis. Kondisi ini tercipta karena : 1. Melengkapi pandangan Dunne. keunggulan ekonomis pada salah satu pihak. Keunggulan ekonomis dan psikologis dari si pelaku usaha sering sangat dominan sehingga mempengaruhi konsumen untuk memutuskan kehendaknya secara rasional. Walaupun demikian. tetapi salah satu pihak mendominasi secara kejiwaan. Pada keunggulan psikologis. dan 2. pembebasan majikan dari resiko dan menggesernya menjadi tanggungan si buruh 6. Karena keadaan ekonomis. gegabah. ketiadaan pengaturan itu tidak . Pada waktu menutup perjanjian. pendeta dan jemaatnya). Perjanjian itu mengandung hubungan yang timpang dalam kewajiban timbale balik antara para pihak (prestasi yang tak seimbang). Jelas sekali. suami dan istri. boleh jadi ketergantungan ekonomis itu tidak ada. kurang jelas. Karena hubungan atasan-bawahan. sebagai berikut : 1.Dari unsure yang kedua itu. karena ia sudah sangat membutuhkan rumah tinggal yang layak dan pemerintah tidak menyediakan fasilitas perbankan yang lebih ringan daripada itu. dan kurang informasi. Keadaan yang dimaksud disebabkan.

2. Pesan ini tampaknya perlu juga diperhatikan oleh lembaga legislatif kita. agama. yang dalam konsiderannya memuat pertimbangan “penyalahgunaan keadaan” oleh salah satu pihak. miskin. 4 Maret 1987 dan Putusan No. Kemudian. . kaya. salah satu hak konsumen adalah hak untuk diperlakukan atatu dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif. Penjelasan dari ketentuan tersebut secara jelas dapat ditafsirkan sebagai keterkaitan dengan larangan “penyalahgunaan keadaan”.berarti. Putusan itu termuat dalam putusan MA No. dijelaskan. 5. Dalam ketentuan itu dikatakan. daerah. 28 Januari 1984. pendidikan.”penyalahgunaan keadaan” tidak dapat diterapkan dalam penyelesaian kasuskasus perdata di Indonesia. Pangabean. perlu diberi keseimbangan antara kepentingan konsumen. sebaiknya penerapan ajaran “penyalahgunaan keadaan” ini tidak sepenuhnya diserahkan pada hakim. Pasal 4 huruf g UUPK menyebutkan pula. setiap konsumen memiliki hak untuk dilakukan atau di layani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif berdasarkan suku. perlu “campur tangan” pembentuk undang-undang untuk melindungi kepentingan konsumen. Manfaat Keadilan Keseimbangan Keamanan dan keselamatan Kepastian hukum Pada asas keadilan. Van Dunne melihat. 1904K/Sip 1982. pelaku usaha dalam menawarkan barang atau jasa dilarang melakukan dengan cara pemksaan atau cara lain yang dapat menimbulkan gangguan baik fisik maupun psikis terhadap konsumen. seluruh rakyat diupayakan agar dapat berpartisipasi semaksimal mungkin dan agar diberi kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannnya secara adil. dan status social lainnya. Pasal 15 UUPK bahkan secara tegas mengatakan. misalnya menyebutkan ada putusan hakim yang dapat dianggap sebagai yuris-prudensi. 3431K/Pdt/1985. Selanjutnya dalam hubungannya dengan perjanjian standar. dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak dua miliar rupiah. budaya. dalam asas keseimbangan disebutkan. Pasal 18 UUPK meletakkan hak-hak yang setara antara konsumen dan pelaku usaha bedasarkan prinsip kebebasan berkontrak. UUPK sendiri secara umum membuka kemungkinan pengajuan gugatan oleh konsumen kepada pelaku usaha berdasarkan factor penyalahgunaan keadaan ini. yaitu asas : 1. dalam kaitannya dengan perjanjian standar yang banyak sekali dibuat oleh para pelaku usaha dewasa ini. Artinya. Penjelasan Pasal 2 UUPK menyebutkan adanya lima asas perlindungan konsumen. 4. pelaku usaha. dan pemerintah dalam arti materiil dan spiritual. Pelanggaran terhadap kedua paasl di atas merupakan tindak pidana menurut ketentuan Pasal 62 UUPK. Henry P. 3.

termasuk akses kepada pengambil keputusan. Ketiga. Keengganan konsumen Indonesia ini disamping disebabkan oleh ketidak kritisan mereka. sebagian besar konsumen Indonesia enggan berperkara ke pengadilan.d. tetapi pada tataran paktik dan kenyataannya tidak mudah dilakukan karena berbagai sebab yang bersifat yuris-politis-sosiologis. Paling tidak ada 3 penyebab yang dapat dikategorikan sabagai hambatan-hambatan dalam perdagangan bebas. sehingga diperlukan waktu sosialisasi pemberlakuannya selama 1 tahun b. Belum dapat diterapkannya norma-norma perlindungan di Indonesia. Permasalahan muncul jika ada pengaduan konsumen atas barang dan jasa impor tersebut. Bagaimana dengan kasus-kasus konsumen pada era perdagangan bebas yang bersuasana internasional. Pertama. dalam hal ini Undang-Undang No. Yaitu. Secara teoritis itu dapat saja diselesaikan. Mereka telah terbiasa mempertanyakan produk-produk yang dikonsumsinya. Masuk nya barang dan jasa impor ke Indonesia bukannya tanpa permasalahan. hal ini berada diluar jangkauan hukum. Masih banyak makanan impor yang diketahui dengan jelas siapa distributornya di Indonesia. yang relative masih baru.secara sosiologis. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Praktik peradilan kita yang tidak sederhana. juga lebih banyak didasarkan pada : a. dan lain-lain. Kalaupun hukum digunakan untuk menjangkaunya itu pum hanya sebatas kepada mereka yang menjadi tumbal space-goal tarik-menarik kepentingan tersebut. bila perundang-undangan Indonesia bertentangan dengan ketentuan (WTO). karena tidak konsistennya badan peradilan kita atas putusanputusannya. cepat dan biaya ringan. bila tidak distigma antiworld trade organization (WTO). . kalau perlu penyelesaian melalui jalur hukum. Ketidakjelasan ini menyulitkan konsumen bila ia mengalami kerugian akibat produk barang atau jasa tersebut. padahal telah sangat dirugikan oleh pengusaha. “keengganan” ini akan sangat berbeda jka dibandingkan dengan konsumen-konsumen di Negara-negara peserta perdagangan bebas lainnya. bagaimana mekanisme penyelesaiannya yang sederhana. Dalam kasu berskala nasional saja pengadilan belum mampu bessikap konsisten. seperti Amerika Serikat. Sikap menghindari konflik meskipun hak-haknya sebagai konsumen dilanggar pengusaha. Secara yuridis muncul pula masalah benturan system hukum antara Indonesia dengan Negara-negara lain. Norma-norma perlindungan konsumen Era perdagangan bebas menghendaki bahwa semua barang dan jasa yang berasal dari Negara lain harus dapat masuk ke Indonesia. Inggris. dan biaya ringan c. cepat. tarik-menarik berbagai kepentingan diantara para pelaku ekonomi yang memiliki akses kuat diberbagai bidang. Sering terjadi perbedaan-perbedaan putusan pengadilan dalam kasus serupa. Kedua.

sampai saat ini tidak bangkit. sebagai berikut : a. Yakni. Perlindungan konsumen dari bahaya-bahaya terhadap kesehatan dan keamanannya. Adapun kepentingan konsumen menurut Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa No. dituangkan dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen. 39/248 tentang Guidelines for Consumer Protection. hukum positif yang ada tidak jelas arah dan tujuannya bila digunakan sebagai instrument hukum dalam melindungi kepentingan (hukum) konsumen. b. dan pengusaha kecil tidak masuk akal. Dari pada itu. karena norma-norma ini masih dalam taraf sosialisasi selama setahun sejak diundangkan pada tanggal 20 April 1999 yang lalu. Kekhawatiran adanya UndangUndang Perlindungan Konsumen bias menghancurkan perkembangan industry. Tersedianya informasi yang memadai bagi konsumen untuk memberikan kemampuan mereka melakukan pilihan yang tepat sesuai kehendak dan kebutuhan pribadi d. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen) dalam tata hukum kita. Indonesia sebagai salah satu Negara terkemuka di ASEAN. Idealnya doktrin product liability sebagai salah satu norma perlindungan konsumen. bahkan tergilas sepak terjang konglomerat yang menggurita. dalam perspektif perlindungan konsumen. dunia usaha dipacu untuk meningkatkan kualitas produk barang dan jasa sehingga produknya memilki keunggulan kompetitif di dalam dan diluar negeri. Promosi dan perlindungan kepentingan social ekonomi konsumen c. hakikat perlindungan konsumen menyiratkan keberpihakan kepada kepentingan-kepentingan (hukum) konsumen. e. Pendidikan konsumen Tersedianya upaya ganti rugi yang efektif f. Apa yang telah dilakukan EEC (Masyarakat Ekonomi Eropa/MEE) pada \bulan juli 1985 dengan . Adanya Undang-Undang Perlindungan Konsumen memberikan dampak ekonomi yang positif bagi dunia usaha. meskipun pembangunan hukum dan ekonominya masih tertinggal jika dibandingkan dengan Negara-negara ASEAN lainnya. Butir (a) kepentingan konsumen tersebut dapat direalisasi melalui penerapan doktrin product liability kedalam doktrin perbuatan melawan hukum (tort). khususnya menyangkut product liability. perdagangan. Sementara itu.Terlampau dini bagi kita untuk memberikan penilaian efektif tidaknya normanorma perlindungan konsumen yang integral (Undang-Undang No. Pengusaha kecil yang sudah ada pada awal munculnya isu perlindungan konsumen di Indonesia hamper ¼ abad yang lalu. hendaknya dapat memprakarsai harmonisasi hukum di kawasan ASEAN. Kebebasan untuk membentuk organisasi konsumen atau organisasi lainnya yang relevan dan memberikan kesempatan kepada organisasi tersebut untuk menyuarakan pendapatnya dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan mereka.

sementara itu UndangUndang No. dalam hal ini antara pengusaha dan konsumen. dan dapat di amanat kembali untuk satu kali masa jabatan berikutnya. Masa jabatan mereka adalah 3 tahun.) lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat.8 tahun 1999 tentang Hukum Perlindungan Konsumen disebutkan adanya Badan Perlindungan Konsumen Nasional. Dalam perspektif kebijakan pemerintah pada awalnya Pembangunan Jangka Panjang Kedua (PJP II) yang menekankan pada pemerataan pembangunan dan hasilhasilnya. Berkelakuan baik 4. BAB 6 PERANNYA LEMBAGA/INSTANSI KONSUMEN DAN DALAM PERLINDUNGAN A. Tidak pernah dihukum karena kejahatan 5. (3.) pelaku usaha. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan Konsumen masih dalam taraf sosialisasi. Syarat diatas persis seperti yang juga berlaku untuk menjadi anggota badan penyelesaian . Badan ini terdiri atas 15 orang sampai dengan 25 orang anggota yang mewakili unsure : (1. maka Pemerintah harus menangani kesenjangan ekonomi antarpelaku ekonomi. Memiliki pengetahuan dan pengalaman dibidang perlindungan konsumen 6. Sebagai bahan perbandingan pada era perdagangan bebas Negara-negara peratifikasi keputusann-keputusan (WTO) sudah cukup lama memiliki perangkat Undang-Undaang Perlindungan Konsumen. Warga Negara Indonesia 2. kita baru memulai sosialisasi norma-norma perlindungan konsumen itu.) akademisi dan (5.) tenaga ahli. (4. Keanggotaan badan perlindungan konsumen nasional / BPKN ini di angkat oleh presiden atas usulan menteri (bidang perdagangan) setelah dikonsultasikan kepada dewan perwakilan rakyat. Berbadan sehat 3. BADAN PERLINDUNGAN KONSUMEN NASIONAL Dalam undang – undang No.memberlakukan Directive Nomor 85/374/EEC on strict Product Liability di seluruh kawasan Eropa dapat dianggap sebagai salah satu tindakan harmonisasi hukum yang dilakukan Dewan Menteri Eropa. Berusia sekurang – kurangnya 30 tahun. Syarat – syarat keanggotaannya menurut pasal 37 UUPK adalah : 1. Mereka siap menghadapi produk-produk impor terutama dari Negara-negara berrkembang.)Pemerintah. Kesenjangan tersebut tercipta dalam bentuk berbagai kenaikan harga barang dan jasa konsumen tanpa diikuti dengan daya beli dan kualitas produk yang memadai. (2. Sebaliknya.

2. Sakit secara terus – menerus. Meninggal dunia. yaitu (1) administrasi dan keuangan. Mengundurkan diri atas permintaan sendiri. BPKN berkedudukan di Jakarta dan bertanggung jawab langsung kepada presiden/ jika diperlukan. Sekretariat ini paling tidak terdiri atas lima bidang. Untuk melaksanakan tugas – tugasnya. (3) pengaduan. dalam pasal 29 dan 30 UUPK diamanatkan.Konsumen (pasal 49 UUPK). Bertempat tinggal diluar wilayah Negara Republik Indonesia. Memberikan saran dan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka penyusunan kebijaksanaan di bidang perlindungan konsumen 2. atau pelaku usaha 7. menteri yang membidangi perdagangan ditugasi juga untuk mengkoordinasikan pembinaan dan pengawasan perlindungan konsumen secara . badan ini mempunyai tugas (pasal 34 UUPK) : 1. Melakukan penelitiaan dan pengkajian terhadap peraturan perundangundangan yang berlaku dibidang perlindungan konsumen 3. pengkajian dan pengembangan. keanggotaan BPKN berhenti karena : 1. 4. lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. keanggotaan BPKN dicantumkan secara tegas batas masa jabatannya dan kapan yang bersangkutan dapat berhenti sebagai anggota. Fungsi BPKN ini hanya memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah dalam upaya mengembangkan perlindungan konsumen di Indonesia. 5. Melakukan survei yang menyangkut kebutuhan konsumen Diluar BPKN yang independen. atau 6. BPKN dibantu oleh suatu secretariat yang dipimpin oleh seorang secretariat yang diangkat oleh Ketua BPKN. Melakukan penelitian terhadap barang dan jasa yang menyangkut keselamatan konsumen 4. BPKN dapat membentuk perwakilan di Ibukota provonsi. Diberhentikan. Untuk menjalankan fungsi tersebut. Mendorong berkembang nya lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat 5.q. 3. Bedanya adalah dalam UUPK. (4) pelayanan informasi. Menyebarluaskan informasi melalui media mengenai perlindungan konsumen dan memasyarakatkan sikap keberpihakan kepada konsumen 6. Anturan demikian tidak disebutkan untuk keanggotaan badan penyelesaian sengketa konsumen. Menurut pasal 38 UUPK. dan (5) kerja sama internasional. pemerintah c. Berakhir masa jabatan sebagai anggota. Menerima pengaduan tentang perlindungan konsumen dari masyarakat. (2) penelitian.

Fungsi tim pun hanya sebatas memberikan rekomendasi kepada menteri untuk melakukan tindakan konkret. Tim ini terdiri atas wakil instansi terkait.nasional. B. maka perlu keseriusan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) perlu memantau secara serius pelaku usaha/penjual yang hanya mengejar profit semata dengan mengabaikan kualitas produk barang. LPKSM dan cabangnya di daerah harus mengontrol dengan sungguh – sungguh kelayakan produk barang yang dipasarkan melalui penyuluhan kepada masyarakat tentang tertib niaga dan hokum perlindungan konsumen agar mereka tidak terjebak tindakan pelaku usaha yang hanya memproriotaskan keuntungan dan mengorbakan masyarakat. masyarakat. masyarakat pedesaan yang belum memahami efek atau indikasi dari produk barang yang digunakan. misalkan makanan kaleng. Selain itu. Hasil temuan LPKSM yang disampaikan masyarakat juga harus mendapat tindak lanjut dan . unit pengaduan masyarakat perlu dibentuk sebagai sarana pengaduan masyarakat yang dirugikan dari produk barang yang digunakan. Dengan demikian. BPKN berfungsi memberikan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka penyusunan kebijakan di bidang perlindungan konsumen. LPKSM diharapkan sering melakukan advokasi melalui media masa agar masyarakat selektif serta hati – hati dalam membeli produk barang yang muncul deras dipasaran. Oleh karena itu. ia diperlukan untuk memberikan jaminan accountability lembaga – lembaga konsumen tersebut. dan masih banyak lagi. obat – obatan. Ketidaktahuan masyarakat dapat memberi peluang pelaku usaha atau penjual untuk membodohi masyarakat dengan produk yang tidak memenuhi standar. sehingga kehadiran LPKSM ini betul – betul dirasakan manfaatnya pleh masyarakat. namun di sisi lain. Menteri yang membidangi perdagangan iu berwenang membenuk tim koordinasi pengawasan barang dan jasa yang beredar di pasar. seperti penghentian produksi atau peredaran barang/jasa yang dinilai melanggar peraturan yang berlaku. apalagi. Pembinaan dan pengawasan yang lebih khusus dilakukan oleh menterimenteri teknis sesuai bidang tugas mereka. ada perbedaan antara BPKN dan tim di atas. PENGERTIAN DAN PERAN LPKSM (LEMBAGA PERLINDUNGAN KONSUMEN SWADAYA MASYARAKAT) Kian ketatnya persaingan dalam merebut pangsa pasar melalui bermacam – macam produk barang. Hal ini disebabkan oleh masih banyaknya produk tidak bermutu yang palsu yang beredar bebas dimasyarakat. Ada pandangan kehadiran LPKSM bentuk intervensi Negara terhadap kebebasan berserikat dan berkumpul dari kelompok masyarakat. dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat (LPKSM). minuman botol. sementara tim koordinasi yang di bentuk oleh menteri itu berfungsi memberikan rekomendasi berupa tindakan konkret atas setiap permasalahan yang timbul di lapangan. Problematika yang muncul dengan kehadiran LPKSM adalah dari fungsi serupa yang selama ini telah dijalankan oleh lembaga – lembaga konsumen sebelum berlakunya UUPK.

dan masyarakat terhadap PERAN SERTA YLKI (YAYASAN LEMBAGA KONSUMEN INDONESIA) DALAM PERLINDUNGAN KONSUMEN. e. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengatur tugas dan wewenang LPKSM sebagaimana tertuang dalam Pasal 44. Diharapkan pula kehadiran PLKSM bukan justru berpihak kepada pelaku usaha atau penjual dengan mengorbankan konsumen. Pengukuhan ini timbul atas desakan konsumen di Amerika pada tahun 1930-an yang sudah mulai mempertanyakan adanya ketidakadilan dalam memperoleh pelayanan. memberikan nasihat kepada konsumen yang memerlukannya . Konsumen mulai mempermaslahkan adanya ketidaksesuaian harga dengan mutu barang atau jasa serta keselamatan penggunaanya. Undang – Undang No. C. Kepopuleran dan paham konsumerisme ini baru mulai mendapat perhatian dunia bisnis maupun birokrasi sejak Presiden Amerika Serikat. Pemerintah mengakui lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat. Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam mewujudkan perlindungan konsumen. (2). Berkaitan dengan implementasi perlindungan konsumen. Pemasaran barang dan jasa secara bebas dan canggih di Negara liberal itu telah menimbulakan mekanisme defensive di kalangan konsumen dan mulai terdapat ketidak percayaan akan informasi sepihak yang disampaikan para produsen.penyelesaian secara tuntas. b. . Munculnya gerakan “konsumerisme” dalam segala permasalahnnya kepermukaan masih relative baru. c. termasuk menerima keluhan atau pengaduan konsumen. membantu konsumen dalam memperjuangkan haknya. Tugas lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat meliputi kegiatan : a. menyebarkan informasi dalam rangka meningkatkan kesadaran atas hak dan kewajiban dan kehati – hatian konsumen dalam mengonsumsi barang dan/atau jasa. d. yakni sebagai berikut : (1). melakukan pengawasan bersama pemerintah pelaksanaan perlindungan konsumen. bekerja sama dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan perlindungan konsumen. baik jasa pelayanan yang disediakan oleh industry maupun pelayanan umum yang disediakan oleh pemerintah. Pemasaran barang dan jasa serta keselamatan penggunaannya. (3). Kennedy pada tahun 1962 mengukuhkan adanya hak – hak konsumen.

Berhubungan dengan hamper segala bentuk pelayanan yang disediakan oleh birokrasi pemerintah dalam kehidupan sehari – hari seperti PAM. pelayanan rumah sakit umum. sampai saat ini kenyataannya masih banyak konsumen yang belum memperoleh kepuasan dalam menggunakan pelayanan public meskipun pemerintah telah berubah status menjadi penyedia jasa monopoli. A/RES/39/248 tanggal 16 April 1985 tentang Perlindungan Konsumen. dimana dinyatakan dalam paragraph pertama bahwa pemerintah – pemerintah berbagai Negara sepakat untuk memfasilitasi/mendukung pengembangan kelompok – kelompok konsumen (guidelines 1e). Sebagai anggota masyarakat yang telah membayar pajak yang mencoba untuk melawan dengan pelayanan yang diberikan. dan angkutan transportasi. pelayanan yang bersifat monopoli.misalnya PLN dan pelayanan yang bersifat nonprofit seperti KTP. KTP. tetapi sebenarnya konsumen dalam menggunakan pelayanan tersebut. Satu hal yang diperjuangkan guidelines itu adalah struktur kelompok – kelompok konsumen yang independen. tidaklah gratis. dan lain – lain. pelayanan yang bersifat profit misanya jasa telekomunikasi. IMBm imigrasi. Pada hakikatnya kelompok konsumen lebih merupakan pengelompokan . Dengan bangkitnya kesadaran konsumen ini tampaknya aparat pemerintah belum siap menerima tuntutan dan masyarakat baik dalam segi dana maupun SDMnya. cepat atau lambat. The UN Guidelines for Consumer Protection yang diterima dengan suara bulat oleh Majelis Umum Perserikatan – Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) melalui Resolusi PBB No. listrik. IMB. Merekalah satu system bekerjanya. catatan sipil. Ada berbagai jenis layanan yang disediakan oleh Pemerintah. hal ini merupakan kemajuan yang sangat berarti di bidang perlindungan konsumen. Misalnya fasilitas kereta api. mengandung pemahaman umum dan luas mengenai perangkat perlindungan konsumen yang asasi dan adil.Di sisi lain Pemerintah dengan inisiatifnya sendiri memang sudah menyediakan pelayanan umum kepada masyarakat atau konsumen. Keadaan ini mungkin akan diperburuk lagi dengan adanya pernyataan pemerintah sehingga siapa yang punya uang dialah yang mendapatkan pelayanan. telepon. jalan raya. Mereka sudah membayarnya melalui pajak. Keberadaan kelompok konsumen tentu saja berbeda dengan organisasi konsumen. Semua ini dilakukan untuk memberikan pelayanan kepada konsumen dan memastikan konsumen dapat menggunakan fasilitas umum tersebut dengan biaya yang murah dan bahkan tanpa bayar. dan lain – lain sering berakhir dengan kekecewaan. jauh sebelum upaya perlindungan konsumen ini ada. Masyarakat hanya bisa pasrah. malah akan merugikan dirinya sendiri baik dari segi waktu dan tenaga. angkutan. air minum. Hanya saja. Pada dasarnya para aparatlah yang tahu apakah suatu pengurusan KTP misalnya. Segala kemudahan akan segala diperoleh masyarakat jika uang pelicin tersedia.

misalkan kelompok konsumen pemengang kartu kredit. dengan hasil – hasil survey dan penelitian yang dilakukan. dan sebagainya. Apabila dikatakan bahwa kelompok konsumen bertindak dalam kapasitasnya selaku konsumen.? Sebagian dapat tercapai. organisasi konsumen sering dihadapkan pada konstruksi perwakilan. Mereka tidak boleh mengizinkan kebebasan tindakan dan komentar mereka dipengaruhi atau dibatasi pesan – pesan sponsor/pesan – pesan tambahan.konsumen pada berbagai sector. Indah sukmaningsih berpendapat bahwa bertahun – tahun Yayan Lembaga Konsumen Indonesia berusaha bekerja untuk membuat keadaan sedikit lebih menguntungkan kondisi konsumen. kelompok komsumen barang – barang elektronik. 3. yaitu melayani dan meningkatkan martabat dan kepentingan konsumen. tapi lebih banyak yang tak terselesaikan. 1. Prinsip kebebasan (idependence) merupaskan karateristik penting. . baik bagi organisasi konsumen maupun kelompok konsumen. Didalam segala aktivitasnya tentu saja organisasi konsumen seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia(YLKI) bertindak dalam kapasitasnya selaku perwakilan konsumen (consumer representation). Pada tataran kebijakan (policy) ketika menangani pengaduan – pengaduan konsumen. organisasi konsumen seperti YKLI bertindak mewakili kepetingan – kepentingan dan pandangan – pandangan konsumen dalam suatu kelembagaan yang dibentuk. mengenai karateristik ini terdapat 6 (enam) kualifikasi kebebasan yang harus memiliki organisasi konsumen dan kelompok konsumen. Mereka harus nonprofit making dalam profil aktivitasnya. baik atas prakasa produsen dan asosiasinya maupun prakasa pemerintah. sulit rasanya bagi Indonesia untuk dapat bersaing di Abad XXI. 2. Pada beberapa tulisan yang ada di media massa disebutkan bahwa jika pelayanan birokrasi masih seperti sekarang. Hasilnya. Mereka tidak boleh menerima iklan – iklan untuk alasan – alasan komersial apa pun dalam publikasi – publikasi mereka. 5. 6. 4. Mereka tidak boleh mengizinkan eksploitasi atas informasi dan advis yang mereka tidak mereka berikan kepada konsumen untuk kepentingan perdagangan. mencoba untuk mengubah keadaan melalui dialog dengan para pengambil keputusan dan juga membantu konsumen untuk memecahkan masalhnya dalam berhadapan dengan birokrasi pemerintah. Kemajuan perdagangan akan tidak adanya artinya jika diperoleh dengan cara – cara yang merugikan konsumen. keduanya memiliki tujuan yang sama. Adapun organisasi – organisasi konsumen merupakan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang perlindungan konsumen. Walaupun demikian. Mereka harus secara ekskusif mewakili kepentingan – kepentingan konsumen. Artinya.

Selain itu dilengkapi dengan sarana/prasarana pelayanan ( misalnya peralatannya ada) dan digunakan secara optimal. Keadilan Artinya. seorang petugas haruslah tanggap dan peduli dalam memberikan pelayanan. ada terpampang dengan jelas waktu pelayanan. bersih. 4. Kepastian Artinya. Kesedehanaan Artinya. Dari segi etika keramahan dan sopan santun juga perlu diperhatikan. laki atau perempuan. 2. dan layanan pengaduan. 5. yang dilengkapi dengan alur proses. mencakup proses pelayanan dan persyaratan pelayanan. 3. Penataan ruangan dan lingkungan kantor terasa fungsional. Prosedur pelayanan meliputi pengaturan yang jelas terhadap prosedur yang harus dilalui oleh masyarakat yang akan menggunakan pelayanan. Adanya pegaturan tugas dan penunjukkan petugas haruslah pasti dan sesuai dengan keahlian.Ada beberapa indicator pelayanan umum yang baik. Adapun persyaratan pelayanan adalah administrasi yang jelas. yakni sebagai berikut : 1. pengaturan tarif dan penerapannya harus sesuai dengan ketentuas yang berlaku.tagihan) maupun jaminan purna pelayanan secara teknis. artinya penyebaran informasi yang dilakukan melalui media atau benruk penyuluhan tentang adanya pelayanan yang dimaksud. kotak saran. Keamanan dan Kenyamanan Hasil produksi pelayanan memenuhi kualitas tekhnis (aman) dan dilengkapi dengan jaminan purna pelayanan secara administrasi (pencatat/dokumentasi. . keterampilan dan etika petugas. Keterbukaan Artinya. dan petugas pelayanan. Artinya. Dilengkapi juga dengan petunjuk pelayanan. biaya pelayanan. Kantor pelayanan hendaknya mencantumkan jam kerja kantor untuk pelayanan masyarakat. mencakup upaya publikasi. merata dalam memberikan subjek pelayanan tidak diskriminatif. jadwal pelayanan dan pelaksanaannya. Dalam keterbukaan. termasuk disiplin dan kemampuan melaksanakan tugas. Perilaku petugas pelayanan Pengabdian. dan nyaman. adanya informasi pelayanan. tidak membedakan si kaya dan si miskin. 6.. yang dapat berupa loket informasi yang dimiliki dan terpampang jelas. Untuk biaya pelayanan. rapi.

sederhana dan murah. 51). Dengan demikian. Hubungan hokum antara pelaku usaha/pejualan dengan konsumen tidak tertutup kemungkinan timbulnya perselisihan/sengketa konsumen. Pemeriksaan dilakukan oleh hakim tunggal dan kehadiran penuh pihak ketiga (pengacara) sebagai wakil pihak yang bersengketa tidak diperkenankan. sedangkan gugatan secara kelompok (class action) dilakukan melalui peradilan umum. yang semuanya diangkat dan diberhentikan oleh Menteri (Perindustrian dan Perdagangan). Berdasarkan Pasal 45 UUPK setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum. dan badan ini mempunyai anggota – anggota dari unsure pemerintah. apalagi dengan pemerintah karena YLKI bertujuan melindungi konsumen. yaitu Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). Badan ini penuh di setiap daerah tingkat II (Pasal 49) BPSK di bentuk untuk penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan (Pasal 49 ayat 1). BPSK hanya menerima perkara yang nilai kerugiannya kecil. d. dan anggota dengan dibantu oleh sebuah sekertariat (Pasal 50 jo. namun pada kenyataannya yang tidak dapat dipungkiri bahwa lembaga pengadilan pun tidak akomodatif untuk menampung sengketa konsumen karena proses perkara yang berlaku lama dan sangat birokratis. wakil ketua meranggkap anggota. BPSK adalah pengadilan khusus konsumen (small claim court) yang sangat diharapkan dapat menjawab tuntutan masyarakat agar proses bepekara berjalan cepat. Setiap unsure tersebut berjumlah 3 (tiga)orang atau sebanyak – banyaknya 5 (lima) orang. Kenggotaan Badan terditi atas ketua merangkap anggota. Mekanisme gugatan dilakukan secara suka rela dari kedua belah pihak yang bersengketa. Putusan dari BPSK tidak dapat disbanding kecuali bertentangan dengan hokum yang berlaku. b. PENGERTIAN DAN PERAN BPSK (BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN). c. Tugas dan wewenang BPSK (Pasal 52) meliputi: a. menjaga martabat produsen dan membantu pemerintah. Pengawasan klausul baku. Hal ini berlaku untuk gugatan secara perorangan.Yayasan sejak semula tidak ingin berkonfrontasi dengan produsen (pelaku usaha). Dilingkungan peradilan umum UUPK membuat trobosan dengan menfasilitasi para konsumen yang merasa dirugikan dengan mengajukan gugatan kepada pelaku usaha di luar pengadilan. Melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen. arbitrasi atau konsliasi. D. Memberikan konsultasi perlindungan konsumen. Selama ini sengketa konsumen diselesaikan melalui gugatan dipengadilan. . konsumen dan pelaku usaha. Melapor kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran undang – undang ini. dengan cara melalui mediasi.

Selanjutnya kasasi pada putusan pengadilan negeri ini diberi luang waktu 14 hari untuk mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung. Mendapatkan. Keputusan Mahkamah Agung wajib dikeluarkan dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak permohonan kasasi (Pasal 58). h.e. dokumen atau alat – alat bukti lain guna penyelidikan dan/atau pemeriksaan. g. Menjatuhkan sangsi administrasi kepada pelaku usaha pelanggar undang – undang. Dalam menyelesaikan sengketa konsumen dibentuk majelis yang tediri atas sedikitnya 3 (tiga) anggota dibantu oleh seorang panitera (Pasal 54 ayat (1) dan (2)). Keputusan BPSK itu wajib dilaksanakan pelaku usaha dalam jangka 7 (tujuh) hari setelah diterimanya. saksi ahli dan/atau setiap orang yang dianggap melakukan pelanggaran itu. k. meneliti dan/atau menilai surat. l. Memanggil pelaku usaha pelanggar. i. Menerima pengaduan dari konsumen. maksimum 100 (seratus) hari (total dari proses pertama sampai terakhir). m. j. Memutuskan dan menetapkan ada tidaknya kerugian konsumen.8 Tahun 1999 terlihat setidak – tidaknya dari sudut biaya dan waktu penyelenggaraan keadilan itu pihak konsumen dan pelaku usaha yang jujur dan bertanggung jawab dimudahkan dan dipercepat (putusan yang mempunyai kekuatan hokum pasti dapat dijatuhkan dalam jangka waktu relative pendek. atau apabila ia keberatan dapat mengajukannya kepada Pengadilan Negeri dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari. . Dari keseluruhan proses persidangan berdasarkan ketentuan Undang – Undang No. Menghadirkan saksi. Putusan yang dijatuhkan Majelis BPSK bersifat final dan mengikat (Pasal 54 ayat (3)). Melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa konsumen. lisan atau tertulis. Dari uraian di atas dapat dibuat skema proses penyelesaian sengketa melalui BPSK sebagai berikut. Pengadilan Negeri yang menerima keberatan pelaku usaha memutuskan perkara tersebut dalam jangka waktu 21 hari sejak diterimanya keberatan tersebut (Pasal 58). Memberitahukan keputusan kepada pelaku usaha pelanggaran undang – undang.tentang dilanggarnya perlindungan konsumen. Meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan mereka tersebut huruf g apabila tidak mau memenuhi panggilan. f. BPSK wajib menjatuhkan putusan selama – lamanya 21 (dua puluh satu) hari sejak dijatuhkan gugatan diterima (Pasal 55).

Menjatuhkan administratif .duan f. arbitrasi. Pengawasan klau. Memanggil pihak.Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Dati II (Pasal 49 ayat 1) Pemerintah/Pelaku Usaha/Konsumen 3-5 per Unsur Nonmasa Kerja Tugas Wewenang Pasal 52 a.meriksaan Sanksi administrasi Final dan Mengikat 14 Hari. Konsultasi P. Menerima penga. Keberatan Pasal 56 ayat (2) Pelanggaran atas Pasal 19 ayat (2) Pasal 20.Pasal 55 Mediasi. Meneliti surat.gainnya h. Memutus dan meadanya kerugian Memberitahu putusan hukuman netapkan Esekusi PN di tempat Konsumen Pasal 57 Pengadila Negeri Putusan 21 Hari Pasal 52 ayat (2) Makamah Agung putusan 30 Hari Pasal 58 ayat (3) k. Melapor penyidik e.K c. sanksi dan seba.25 Maksimum 200 juta g. j. konsiliasi b.sul baku d. Penyelesaian: dan Bentuk Keputusan 21 Hari. Penelitian dan pe. do-kumen alat bukti i.

Kemasan penawaran demikian disebut dengan iklan. BAB 7 ISU – ISU HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN A. tetapi langsung kepada pihak principal. paling tidak berperan indicator atau criteria yang ditawarkan diatas semaksimal mungkin dipenuhi. para perantara ini disebut juga dengan intermediate consumer. Dengan demikian. Proses untuk menghasilkan iklan itu disebut dengan periklanan. Perikatan konsumen merupakan pelaksanaan dari perikatan sebelumnnya. Abdi Negara sudah harusnya melayani kepentingan masyarakat dan bukan dilayani oleh masyarakat. Pihak yang disebutkan terakhir inilah yang menjebatani antara produsen dan konsumen akhir. sementara melakukan transaksi atas nama prinsipalnya. Distributor bertindak atas namanya. yang terutama bersangkut paut dengan perikatan keperdataan. Setelah transaksi konsumen dilaksanakan. Dalam kacamata hokum perdata.Dalam menghadapi Abad XXI. perikatan transaksi konsumen itu tidak serta merta terjadi begitu saja. Pada saat ini penawaran lazimnya dilakukan melalui media masa yang dikemas secara menarik. Tahapan pratransaksi konsumen biasanya ditandai oleh penawaran dari penjual kepada calon pembelinya. yang dapat disebut pska transaksi konsumen. pembeli dapat saja tidak membayar melalui perantaraan si agen. masih ada perikatan lain yang harus dipenuhi kedua belah pihak. Mengigat salah satu tolok ukur dari majunya suatu Negara adalah nilai dari pelayanan terhadap masyarakat oleh aparatur Negara. UUPK tidak menkatagorikan “konsumen antara” ini sebagai konsumen yang dilindungi oleh UUPK. yang dapat disebut pratransaksi konsumen. Hal ini tidak terjadi pada distributor karena produk yang diperjual belikan menjadi miliknya. dalam pelunasan harga barang atau jasa. Transaksi konsumen adalah peralihan barang atau jasa termasuk didalamnya peralihan kenikmatan dalam menggunakannya. Itulah sebabnya. Konsumen antara dapat berupa distributor atau agen. Diluar transaksi konsumen dikenal juga transaksi komersial. Transaksi konsumen merupakan suatu perikatan. yang . konsumen mengharapkan pelayanan birokrasi menjadi lebih baik. Ada prolog yang mendahuluinya. Kedua istilah ini memiliki sejumlah perbedaan. Kareteristik yang berbeda ini tentu mempengaruhi konstruksi hokum dalam transaksi konsumen di antara para pihak terkait. yang biasanya dilakukan oleh produsen sebagai principal dengan sipedagang antara. Berikut ini dikemukakan 3 isu pokok dari sekuen – sekuen transaksi konsumen. PENGANTAR Sebagian besar predikat konsumen diperoleh sebagai konsekuensi mengonsumsi barang dan jasa melalui suatu transaksii konsumen.

Dibandingkan dengan instansi – instansi lainnya. khususnya yang berkaitan dengan periklanan diterbitkan Surat Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Penerangan (NO. makanan. dan media masa. Departemen Kesehatan sebenarnya memiliki rambu – rambu pengaman yang relative lebih lengkap dalam melindungi konsumen. belum di media lainnya. terutama sejak diperolehnya kembali siaran iklan ditelevisi. disini terkait pada perlindungan hokum bagi konsumen. tidak satupun yang memberikan informasi yang jujur. pada akhir 1992. ia akan disodorkan perjanjian baku dengan subtansi yang hampir sama oleh produsen atau penyalur produk (penjual)lainnya. Tahapan ketiga dari proses transaksi konsumen ini adalah perikatan setelah peralihan barang atau jasa yang pokok dilakukan. seperti media audio dan media cetak yang tersebar di seluruh Indonesia. sedangkan Menteri Penerangan melakukan pengawasan materi secara umum. Namun keluhan – keluhan demikian biasanya tidak mendapat publikasi yang luas karena berbagai pertimbangan komersial. yaitu pengiklan. berarti dari iklan obat – obatan yang disiarkan ditelevisi. dan alat kesehatan. Ketiga unsure ini. sepanjang bukan disebabkan kesalah pemakaian. perusahaan periklanan. B. Minuman. Sesungguhnya apa yang di ungkapkan Menteri Kesehatan sejak lama menjadi keluhan pengamat dan aktivis perlindungan konsumen. semua iklan itu menyesatkan. Kosmetika. sebab dimanapun ia pergi. Itu baru disatu media. Frekuensi keluhan itu terus meningkat. bidang kesehatan merupakan sector yang relative lebih lengkap pengaturannya dalam melindungi konsumen dibandingkan bidang – bidang lain. kosmetika. Biasanya konsumen tidak punya pilihan lain. Menteri Kesehatan RI pernah melontarkan kritikan yang sangat tajam terhadap iklan obat – obatan yang beredar dimasyarakat. PERIKLANAN DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN (IKLAN OBAT) Diantara sekian banyak sector. untuk itu selanjutnya dibentuk panitia khusus/ bersama. Menurut Surat Keputusan Bersama itu. Tahapan berikutnya adalah pelaksanaan dari transkasi konsumen itu. Departemen ini mempunyai lembaga tersendiri yang mengawasi peredaran dan penggunaan obat (termasuk obat tradisional).lainnya.122/Kep/Menpen/1980) tentang Pengendalian dan Pengawasan Iklan Obat. baik sendiri – sendiri maupun bersama – sama memiliki potensi untuk melanggar hak – hak konsumen.melibatkan 3 unsur utama masyarakat periklanan.252/Menkes/SKB/VIII/80 dan NO. Inilah yang biasanya disebut layanan purna jual. Selama jangka waktu itu. dan Alat Kesehatan (OMKA). Untuk melakukan pengawasan demikian. Makanan. sedangakan konsumen tinggal memutuskan : menerima atau menolaknya. khusus mengenai periklanan. misalnya tiga tahun. untuk pembelian barang – barang tertentu produsen atau penyalur produk memberikan garansi dalam jangka waktu terbatas. yang keanggotaannya berasal . Dapat dibayangkan jika sinyalemen Menteri Kesehatan itu benar. Menurutnya. setiap keluhan konsumen atas barang tersebut. Sering terjadi. Menteri Kesehatan berkewajiban mengawasi menteri periklanan sesuai dengan criteria teknis medis dan etis. Disini selalu dipertanyakan apakah dalam perjanjian baku itu masih tedapat kebebasan kontrak? Hal ini terjadi karena perjanjian standar itu di tentukan secara sepihak oleh produsen atau penyalur produknya (penjual). dapat diajukan kepada produsen atau penyalur produk. Isu yang banyak dipermasalahkan pada tahap ini adalah existensi dari perjanjian standar atau perjanjian baku. kecuali menerima alternative yang pertama. Sekalipun demikian. Tugas demikian dibebankan kepada Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (Ditjen POM). khususnya yang ditayangkan ditelevisi.

dan . Dalam memproduksi iklan.246/Menkes/Per/V/1990). Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) 4. Asosiasi Pemrakarsa dan Penyantun Iklan Indonesia (Aspindo) 3. Selain itu sejak 1989 naskah iklan obat – obatan harus diserahkan pula kepada Direktorat Jenderal POM untuk mendapatkan persetujuan. tampaknya amanat tersebut tinggal menjadi kenangan.660). 0282 – 3/A/SK/XI/90 tentang Kriteria Terperinci. Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS). Dengan dihapusnya instansi Departemen Penerangan dalam struktur pemerintah saat ini. Masalah iklan obat. Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI). Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) 5. Tidak adil rasanya bila segala beban penyimpangan harus dipersalahkan sepenuhnya ke pihak produsen obat – obatan. Namun. Saat ini dapat dipastikan semua iklan obat di televise yang pernah dipersoalkan oleh Menteri Kesehatan diserahkan pembuatannya kepada perusahaan periklanan (production house). sama sekali tidak membuat “kecut” pelakunya. surat keputusan itu tidak dapat dijadikan dasar peganganpenerbit periklanan OMKA. Dalam peraturan itu juga ditegaskan bahwa iklan yang diberikan tidak boleh menyimpang dari apa yang disetujui dalam pendaftaran.dari dua departemen serta kalangan periklanan dan anggota masyarakat lainnya. ternyata banyak sekali iklan yang sitayangkan diberbagai media yang melenceng jauh dari naskah yang diserahkan ked an disetujui oleh Direktorat Jederal POM. 6. Dalam praktiknnya. dalam melakukan pengawasan Direktorat Jenderal POM samapai sekarang masih mendasarkan diri pada Ordonansi Pemeriksaan Bahan – Bahan Farmasi (Staatsblad 1936 No.23 Tahun 1992 tentang kesehatan. Ironisnya. ordonansi tersebut tidak secara khusus mengatur masalah periklanan. Asosiasi Perusahaan Media Luar Ruang Indonesia (AMLI) 2. Selain mengacu kepada ketentuan Undang – Undang No. Dalam ketentuan yang disebutkan terakhiran disyaratkan bahwa setiap iklan obat harus memuat informasi sesuai dengan persetujuan yang diberikan Departemen Kesehatan pada saat obat itu didaftarkan. sampai dengan pencabutan izin usaha industry obat yang bersangkutan. Ketujuh instansi tersebut adalah:\ 1. ancaman sangsi yang diberikan Departemen Kesehatan mulai dari teguran. bukan obat keras. Jenis obat yang boleh diiklankan hanya jenis obat bebas dan terbatas. Kelengkapan Permohonan dan Tata Laksana Pendaftaran Obat Jadi. dengan penandatangan oleh tujuh instansi pada 19 Agustus 1996. Ditempat inilah iklan itu diproduksi. Pembatalan pendaftaran. Sesuai namanya. ide yang di amanatkan SuratKeputusan Bersama tersebut tidak ditindaklanjuti. tidak diperkenankan untuk diiklankan selama belum didaftarkan di Departemen Kesehatan (Pasal 3 Peraturan Menteri Kesehatan No. Panitia yang dimaksud tidak pernah dibentuk dan kosekuensinya. Tata Cara dan Tata Periklanan Indonesia ini selalu disempurnakan. Untuk obat – obatan tradisional. Ordonansi itu memerlukan penjabaran itu lebih lanjut dalam peraturan perundang – undangan yang lebih rendah tingkaatannya. misalnya antara lain diatur dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. sebelum akhirnya disebarluaskan ke media yang diingini. pihak perusahaan periklanan dikawal ketat oleh kode etik yang ditanda tangani oleh lima asosiasi (termasuk Perusahaan Periklanan Indonesia) pada 17 September 1981.

dan keputusan setingkat menteri seperti itu tidak berwenang mencantumkan sanksi. Lolosnya penayangan iklan yang menyesatkan (dalam hal ini. Selanjutnya dinyatakan bahwa pembinaan dan pengwasan tersebut akan ditetapkan dengan peraturan pemerintah. terlebih dahulu perlu dijabarkan secara jelas batas kewenangan panitia tersebut. Apalagi jika pihak produsen yang lebih kuat itu didukung oleh fasilitas yang memungkinkannya bertindak secara monopolitis.. agar tidak tumpang tindih dengan mikanisme pengwasan serupa yang dimiliki instansi dijajar departemen lain. rumah sakit.7. Dari sebagian kecil rumus kode etik itu saja tampak banyak iklan obat yang tidak memnuhi persyaratan. iklan tidak boleh memuat kata – kata yang berisi janji penyembuhan penyakit. Iklan obat yang “tidak sehat” seperti itu tentu saja merugikan perusahaan obat sejenis. Yayasan Televisi Republik Indonesia. Keberadaan panitia itu kiranya cukup urgen untk di wujudkan karena memudahkan dalam melakukan koordinasi. seperti dokter. sesungguhnya ditegaskan bahwa Pemerintah berwenang untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan upaya penyelenggaraan kesehatan. Ini berarti dibuka kesempatan untuk membentuk suatu badan pengawasan yang lebih bergigi. Untuk obat – obatan. “tidak berbahaya”. Sebagai mana diuraikan diatas surat keputusan bersama dari dua menteri (1980) menyatakan pengawasan periklanandi bidang OMKA dilakukan oleh panitia tersendiri. Oleh karena itu. Demikina juga badan yang kewenangannya antara lain yang mengawasi masalah periklanan. tapi hanya boleh menyatakan membantu menghilangkan gejala penyakit. yang dinegara asalnya (Inggris dan Amerika Serikat) sudah pula ditinggalkan. Juga tidak boleh mencantumkan kata – kata “aman”. Dalam Bab Undang – Undang VII No. Sebagai perbandingan di Amerika Serikat badan yang mengawasi masalah makan dan obat (The Food and Drug Administration) dibentuk atas produk hokum setingakt undang – undang. kode etik periklanan juga mensyaratkan iklan harus sesuai dengan indikasi jenis produk yang disetujui oleh Departemen Kesehatan. Kendati demikian. Selain itu. atau “bebas resiko” tanpa keterangan lengkap yang menyertainya. juga dibentuk berdasarkan undang – undang. sangat riskan kiranya bilatidak diadakan pengawasan yang memadai dan konsumen dibiarkan menimbang – nimbang serta memutuskan sendiri iklan apa yang pantas untuk dipercaya. Dalam hokum pembentukan panitia bersama di atas tentu akan lebih baik jika tidak berbentuk surat keputusan bersama. mekanisme pengawasannya masih berjalan dengan baik. (The Federal Trade Commission). iklan obat – obat ) membuktikan. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. ahli farmasi. Bentuk peraturan demikian tidak dikenal dalam tata urutan peraturan perundang – undangan di Indonesia. Posisi yang tidak berimbang antara produsen dan konsumen akan mudah disalahgunakan (machtpositie) oleh pihak yang lebih kuat. . atau atribut – atribut profesi medis lainnya juga dilarang. Cara berfikir yang dalam hokum dikenal sebagai caveat emtor (let the buyer beware) demikian hanya cocok untuk Negara kapasitas abad ke – 19. perawat. Mayoritas konsumen di Indonesia masih terlalu rentan dalam menyerap informasi iklan yang “tidak sehat”. Pemakaian tenaga professional kesehatan sebagai model iklan. tapi (lebih – lebih) merugikan konsumen yang tidak berhati – hati.

dan sejauh mana pula Pemerintah mampu mencegah dan menindakk tindakan produsen yang tidak bertangguang jawab. setiap label dan/atau iklan tentang pangan yang diperdagangkan harus memuat keterangan mengenai pangan dengan benar dan tidak menyesatkan. Kantor Menteri Urusan Pangan dulu ingin menyerahkan kepada masing – masing produsen. jika produsen melanggar. Sementara itu. ia akan dikenakan sangsi hokum. Iklan adalah produk kreativitas dan komersial. Yakni “memberi rasa nyaman pada konsumen” tidak ditempatkan pada proritas utama. bahwa setiap orang yang menyatakan dalam table atau iklan bahwa pangan yang diperdagangkan adalah sesuai dengan persyaratan agama tau kepercayaan tertentu bertangguang jawab atas kebenaran pernyataan berdasarkan agama atau kepercayaan tersebut. Selain sarana pengawasan di tingkat aparatur Negara. Rumusan pasal ini mengacu kepada pencantuman label “halal” yang sesuai dengan syariah Islam. Dalam Undang – Undang No. peranan yang tidak kalah pentingnya juga harus darang dari masyarakat seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YKLI). jika label (dan iklan) itu diserahkan sepenuhnya kepada produsen.7 Tahun 1996 tentang Pangan disebut secara jelas mengenai iklan pangan. tepatnya ke sasaran konsumen yang dinilai paling potensial. Hal ini menimbulakan pertanyaan : bagaimana untuk “pangan yag tidak diperdagangkan”? dalam kenyataannya dapat dilihat. mengawasi dan melakukan tindakan yang diperlukan agar iklan tentang pangan yang diperdagangkan tidak memuat keterangan yang dapat menyesatkan. sejauh mana konsumen akan merasa aman dan yakin kebenaran isinya. Peranan YLKI antara lain secara berkala melakukan pengujian suatu produk tertentu dan mempublikasikannya. Informasi yang diberikannya paling tidak dapat dijadikan bahan perbandingan bagi masyarakat. Pasal 33 dari undang – undang ini menyatakan. biasanya diiklankan terlebih dahulu oleh si produsen. Sampel – sampel tersebut tentu tidak untuk diperdagangkan. Dan ketetuan Undang – Undang Pangan ini sebenarnya tidak mempunyai aspek konstitutif yang berarti banyak karena masih harus menunggu peraturan pelaksanaannya. dan rasa tidak adil jika dikecualikan dari ketentuan Pasal 33 UU Pangan. Sebaliknya. tentu akan dipertanyakan. disamping informasi yang sehari – hari mereka dapatkan dari iklan. Departemen Kesehatan dan Agama menginginkan agar label ini dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan setelah mendapat rekomendari dari Majelis Ulama Indonesia. produk pangan dengan merek baru yang masih dalam masa perkeenalan kepada konsumen.Khusunya hal periklanan di bidang OMKA dengan dasar hokum yang lebih sesuai. Untuk itu pemerintah mengatur. Juga masih samar – samar tentang pengertian “pangan yang diperdagangkan”. PERJANJIAN STANDAR DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN . Di situ dinyatakan. Sebagaimana diatur dalam Pasal 71 dan 72 Undang – Undang Kesehatan. apa yang dilakukan YLKI ini seyogyanya disambut dengan positif. Dengan demikian. Polemic ini sesungguhnya tidak akan dapat dituntaskan jika akar permasalahan. sampel – sampel produk itu di bagikan secara ngratis kepada masyarakat. Artinya. Pasal 34 dari Undang – Undang Pangan juga membawa polemic yang tidak kalah menariknya. Konsekuensinya. pengawasannya tidak boleh sampai mematikan dua ciri di atas. C.

misalnya yang menyangkut jenis. Menurut sebuah laporan dalam Harvard Law Review pada 1971. 1338 KUH Perdata). Misalnya. Sjahdeini menekankan. perjanjian standar ini kemudian dikenal dengan nama take it or leave it contract. bagaimana pihak konsumen masih diberi hak untuk menyetujui (take it) atau menolak perjanjian yang diajukan kepadanya (leave it). yang dibakukan bukan formulir perjanjian tersebut. Adanya unsure pilihan ini oleh sementara pihak dikatakan perjanjian standar tidaklah melanggar atas kebebasan berkontak (Pasal 1320 jo. Tentu saja fenomena demikian tidak selamanya berkonotasi negative.99 persen perjanjian yang dibuat di Amerika Serikat berbentuk perjanjian standar. Tujuan dibuatnya perjanjian standar untuk memberikan kemudahan (kepraktisan) bagi para pihak yang bersangkutan. Karena lahir dari kebutuhan akan kebutuhan efisiensi serta efektivitas kerja. perjanjian standar adalah perjanjian yang ditetapkan secara sepihak. Di Indonesia. dan mengandung ketentuan yang berlaku umum (massal). dan beberapa hal yang spesifik dari objek yang diperjanjikan. Artinya. tenaga dan biaya yang dapat dihemat. Plato (423 – 347 SM). Contohnya dapat dibuat dalam bentuk pengumuman yang ditempelkan tempat penjual menjalankan usahanya. tetapi mencakup syarat – syarat yang lebih detail. Sutan Remi Sjahdeini mengartikan perjanjian standar sebagai perjanjian yang hampir seluruh klausul – klausulnya dibakukan oleh pemakaiannya dan pihak lain pada dasarnya tidak mempunyai peluang untuk merundingkan atau meminta perubahan. disisi yang lain ia harus menurut terhadap isi perjanjian yang disodorkan kepadanya. bentuk perjanjian seperti ini sangat menguntungkan. bidang – bidang yang diatur dengan perjanjian standar pun makin bertambah luas. misalnya pernah memaparkan praktik penjualan makanan yang harganya ditentukan secara sepihak oleh penjual. tidak lagi sekadar masalah harga. melainkan klausal – klausalnya. di sisi yang lain bentuk perjanjian seperti ini tentu saja menempatkan pihak yang tidak ikut membuat klausul – klausul di dalam perjanjian itu sebagai pihak yang baik yang langsung maupun tidak sebagai pihak dalam perjanjian itu memiliki hak memiliki kedudukan seimbang dalam menjalakan perjanjian tersebut. jika dilihat dari beberapa banyak waktu. isi perjanjian yang telah distandarisasi. Adapun yang belum dibakukan ada beberapa hal. tanpa memperhatikan perbedaan mutu makanan tersebut. jumlah. diperbolehkan system pembelian satuan rumah susun (strata title) secara inden dalam bentuk perjanjian standar. maka bentuk perjanjian baku ini pun memiliki karateristik yang khas yang tidak dimiliki oleh perjanjian yang lain pada umumnya. Dalam perkembangannya. Selain itu. warna. Jadi. waktu. tentu saja penentuan secara sepihak oleh produsen/penyalur produk (penjual). perjanjian standar bahkan merambah ke sector property dengan cara – cara yang secara yuridis masih kontrovesial. klausul yang ada di dalamnya biasanya . harga. sehingga pihak yang lain (konsumen) hanya memiliki dua pilihan : menyetujui atau menolaknya. Itu sebabnya. Mariam Darus Badrulzaman lalu mendefenisikan perjanjian standar sebagai perjanjian yang isinya dibakukan dan dituangkan dalam bentuk formulir. Akan tetapi. Perjanjian standar tidak perlu selalu dituangkan dalam bentuk formulir walaupun memang lazim dibuat tertulis. Oleh karena itu. Di satu sisi. yakni oleh produsen/penyalur produk (penjual). Sebenarnya. antara lain perjanjian baku dibuat oleh salah satu pihak saja dan tidak melalui suatu bentuk perundingan. tempat. bertolak dari tujuan itu.Perjanjian standar (baku). sebenarnya dikenalkan sejak zaman Yunani Kuno.

A clause in a contract or a term in a notice which appears to exclude or restrict a liability or legal duty that would otherwise arise. yang lebih memilih mengunakan istilah exclusion clause. Taylor. Dalam pengertiannya yang lebih luas David Yates menunjuk pada yurisprudensi pada kasus Bensten v. dengan istil ahnya klausul eksonerasi. karena kurang baik dalam melaksanakan kewajiban – kewajiban perjanjian. Sons & Co (1893) dab Bahama International Trust Co. yaitu sisi kelemahannya dalam mengakomodasikan posisi yang seimbang bagi para pihaknya. tetapi dari berbagai keuntungan yang ada tersebut terdapat sisi lain dari pengunaan serta perkembangan perjanjian baku yang banyak mendapat sorotan kritis dari para ahli hokum.merupakan klausul yang telah menjadi kebiasaan secara luas dan berlaku secara terus menerus dalam waktu yang lama. Perjanjian baku banyak memberikan keuntungan dalam penggunaannya.V Threadgold (1974) yang mengemukakan bahwa exemption clause di artikan sebagai …. Sorotan para ahli hokum dari berlakunya perjanjian baku selain dari segi keabsahannya adalah adanya klausul – klausul yang tidak adil dan sangat memberatkan salah satu pihak. membebaskan atau merekayasa ganti rugi atau tanggung jawab yang timbul dari pelanggaran terhadap suatu perjanjian. memberikan defenisi terhadap klausul tersebut sebagai klausul yang berisi pembatasan pertanggung jawaban dari kreditor. Perjanjian eksonerasi yang membebaskan tanggung jawab seseorang pada akibat – akibat hokum yang terjadi karena kuraang pelaksanaan kewajiban - . Klausul eksonerasi adalah klausul yang mengandung kondisi membatasi atau bahkan menghapus sama sekali tanggung jawab yang semestinya dibebankan kepada pihak produsen/penyalur produk (penjual). Tanggung jawab untuk akibat – akibat hokum. Mariam Darus Badrulzaman. Kewajiban – kewajiban sendiri yang biasanya dibebankan kepada pihak untuk mana syarat dibuat. Demikian juga David Yates. Ketiga bentuyk yuridis tersebut terdiri atas: a. exluding and modifying aremedy or a ability arising out of breech of a contractual obligation yang diterjemahkan secara bebassebagai setiap bagian dari suatu perjanjian yang membatasi. terhadap resiko dan kelalaian yang semestinya ditanggungnya. Kewajiban – kewajiban diciptakan (syarat – syarat pembebasan oleh salah satu pihak dibebankan dengan memikulkan tanggung jawab pihak yang lain yang mungkin ada untuk kerugian yang diderita pihak ketiga. memberikan defenisi any term in a contract restricting. yang diterjemahkan secara bebas adalh klausul yang kehadirannya untuk membebaskan atau membatasi tanggung jawab yang mungkin saja muncul. tidak lain karena dicantumkannya klausul eksonerasi (exemption clause) dalam perjanjian tersebut. Jika ada yang perlu dikuatirkan dengan kehadiran perjanjian standar. perjanjian keadaan darurat). b. c. dibatasi atau dihapuskan (misalnya. Kelemahan – kelemahan perjanjian baku ini bersumber dari karateristik perjanjian baku yang dalam wujudnya merupakan suatu perjanjian yang dibuat oleh salah satu pihak dan suatu perjanjian terstandarisasi yang menyisakan sedikit atau bahkan tidak sama sekali ruang bagi pihak lain untuk menegosiasikan isi perjanjian itu. Menurut Engels menyebut adannya tiga bentuk yuridis dari perjanjian dengan syarat – syarat eksonerasi.

berarti ia secara sukarela setuju pada isi perjanjian tersebut. Kemudian Stein mencoba memecahkan masalah ini dengan mengemukakan pendapat. Sehubungan dengan pertanyaan : apakah ada kebebasan berkontrak dalam perjanjian standar ini.kewajiban yang diharuskan oleh perundang – undangan. posisi yang didominasi oleh pihak pelaku usaha. Pendapat Pitlo ini mengingatkan kita pada pendapat Hondius. Pelaku usaha hanya mengatur hak – haknya dan tidak kewajibannya. kebutuhan masyarakat berjalan dalam arah yang berlawanan dengan keinginan hokum. dapat disebutkan pedapat yang lebih tegas dari Asser Rutten. kedudukan pengusaha dalam perjanjian ini adalah seperti pembentuk undang – undang swasta (legio particuliere wetgever). Ahli Hukum Indonesia. tepat pada waktunya. bahwa perjanjian standar dapat diterima sebagai perjanjian berdasarkab fiksi adanya kemauan dan kepercayaan yang mengakibatkan keyakian. Akhirnya. yang dalam disertasinya menyatakan bahwa perjanjian standar itu mengikat berdasarkan kebiasaan (gebruik) yang berlaku dilingkungan masyarakat dan lalu lintas perdagangan. Syarat – syarat yang ditentukan pengusaha didalam perjanjian itu adalah undang – undang. Jika debitur menerima perjanjian itu. Adanya pembatasan tanggung jawab ganti rugi bagi perusahaan pengangkutan berkaitan dengan kehilangan barang bawaan penumpang. yang mengatakan perjanjian standar itu mengikuti karena setiap orang yang menandatangani suatu perjanjian harus dianggap mengetahui dan menyetujui sepenuhnya isi kontrak tersebut. para pihak mengikatkan diri pada perjanjian itu. Mariam Darus Badrulzaman menyimpulkan bahawa perjanjian standar itu bertentang dengan asas kiebebasan kontrak yang bertanggung jawab. Alasannya. walaupun secara teoritis yuridis. di mana kepentingan masyarkatlah yang didahulukan.? Ada beberapa pendapat yang menegaskan kontroversi di dalamnya. perjanjian ini tidak memnuhi ketentuan undang – undang dan ditolak oleh beberapa ahli hokum. kedudukan pelaku usaha dan konsumen tidak seiumbang. bukan perjanjian! Pitlo mengatakannya sebagai perjanjian paksa (dwang contract). Dalam perjanjian standar. - Disini dilihat betapa tidak adanya keseimbangan posisi tawar menawar antara produsen/penyalur produk (penjual) yang lazim tersebut kreditor dan konsumen (debitur) di lain pihak. Adanya pembatasan terhadap tanggung jawab terhadap kecelakaan jasmani yang diderita oleh penumpang. Pendapat pertama dating dari Sluijter. Ganti rugi tidak dijalankan apabila dala persyaratan eksonerasi tercantum hal ini. yang menyatakan perjanjian standar bukan perjanjian. dalam hal pengembangan tidak dapat memenuhi janjinya untuk melaksanakan penyelesaian pembangunan atas rumah yang dibeli. terlebih – lebih lagi ditinjau dari asas – asas hokum nasional. membuka peluang luas baginya untuk menyalah gunakan kedudukannya. antara lain tentang maslah ganti rugi dalam hal perbuatan ingkar – janji. Contoh dari klausul tersebut adalah : Adanya pembebasan tanggung jawab pihak pengembangan dalam perjanjian pembelian rumah. Dari berbagai defenisi yang ada tersebut maka dapat disimpulkan bahwa klausul pembebasan adalah klausul yang memberikan pembatasan atau pembebasan tanggung jawab hokum salah satu pihak atas segala bentuk ketidak terpenuhinya kewajiban atas perjanjian tersebut. Namun dalam kenyataanya. .

Materi perjanjian yang terjadi di masyarakat sedemikian luasnya dan heterogennya. harus ada campur tangan pemerintah. kiranya tidak semua perjanjian standar dapat diperlakukan demikian. Jadi yang ditekankan oleh prosedur pembuatannya yang berifat sepihak. Pasal 1 angka 10 mendefinisikan klausul baku sebagai setiap aturan atau ketentuan dan syarat – syarat yang dipersiapkan dan ditetapkan terih dahulu secara sepihakoleh pelaku usaha yang dituangkan dalam usaha dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen. Ketiga alas an ini dimaksudkan oleh undang – undang sebagai pembatasan terhadap belakunya asas kebebasan berkontrak. walaupun tidak sepenuhnya bersifat public seperti dibidang perburuhan dan agrarian. Dalam UUPK. Tentu Darus Barulzaman. penyalahgunaan keadaan ini dikukuhkan sebagai alasan keempat dari cacat kehendak. melainkan juga isisnya yang bersifat pengalihan kewajiban atau tanggung jawab pelaku usaha. agar tidak terjadi penyalahgunaan terhadap asas kebebasan berkontrak ini oleh pihak yang berkedudukan lebih kuat. Campur tangan pemerintah lebih diharapkan pada perjanjian – perjanjian yang berskala luas. Perjanjian – perjanjian yang disebutkan berakhir ini tumbuh melalui kebiasaan dan permintaan masyarakat sendiri. Misalnya saja dalam lapangan perburuhan agrarian. istilah klausul eksonerasi sendiri tidak ditemukan. yakni paksaan (dwang). Padahal. misalnya. bukan mengenai isinya. perjanjian standar ini tidak boleh dibiarkan tumbuh secara liar dab karena itu perlu ditertibkan. Campur tangan pengadilan dapat dijumpai dalam penyebab putusnya perjanjian yang dikenal dengan penyalahgunaan keadaan (misbruik van omstanddigheden). dank arena itu jika diserahkan sepenuhnya pembuatannya secara sepihak kepada pelaku usaha. dan kepentingan dunia perdagangan tidak pula dirugikan. Menurut Remy Sjahdeini. yang ada adalah “klausul baku”. Dalam kenyataannya. Dalam KUHP Perdata Baru Negeri Belanda. KUHP Perdata juga meyebutkan tiga alasan yang dapat menyebabkan suatu perjanjian. satu – satunya cara adalah dengan membatasi pihak pelaku usaha dalam klausul eksenorasi. untuk perjanjian – perjanjian keperdataan yang dibuat oleh notaries. dikhawatirkan akan dibuat banyak klausul eksonerasi yang merugikan masyarakat. campur tangan yang disarankan ini dapat dilakukan oleh pemerintah. Perjanjian berskala luas yang dimaksud berkaitan dengan keputusan berkaitan dengan kepentingan missal. Dalam hokum perburuhan . Pasal 18 ayat (1) huruf (a) UUPK menyatakan pelaku usaha dalam menawwarka barang dan/atau jasa yang ditunjukkan untuk diperdagangkan dilarang membuat atau mencantumkan klausul baku pada setiap dokumen dan/ atau perjanjian jika menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha. Ketentuan huruf (b) dan seterusnya sebenarnya memberikan contoh bentuk – bentuk pengalihan tanggung . tentu tidak harus distandarisasi. Misanya. terdapat ketetuan yang mengatakan. ada pembatasan – pembatasan dalam kontrak kerja. maka diperlukan campur tangan melalui undang – undang dan pengadilan. Sutan Remy Sjahdeini berpendapat dalam kenyataanya KUH Perdata sendiri memberikan pembatasan – pembatasan terhadap asas kebebasan berkontrak itu. Dengan demikian. jika asas kebebasan berkontrak ingin ditegakkan. kekhilafan (dwaling). dan penipuan (bedrog). Akan tetapi.Menurutnya. suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan kata sepakat kedua belah pihak atau karena alasan lain yang dinyatakan dengan undang – undang. sangat banyak dilakukan standarisasi perjanjian. pengertian “klausul eksonerasi” tidak sekedar mempersoalkan prosedur pembuatannya.

Secara umum. perjanjian standar dimasukkan pengaturannya dalam Kitab Undang – Undang Hukum Perdata yang baru.000. Di situ dinyatakan bahwa bidang – bidang usaha yang boleh meberapkan perjanjian standar harus ditentukan dengan peraturan dan perjanjian itu baru dapat ditetapkan. huruf b. Tidak disitu saja pengaturan tentang klausul baku ini berhenti karena terhadap pelanggaran yang dilakukan berkaitan dengan tidak dipenuhinya ketentuan pada Pasal 18 ini juga diberikan ancaman sanksi pidana sebagaimana diatur pada Pasal 62 UUPK ayat (1) : Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimasudkan dalam Pasal 8. atau di cabut setelah mendapat persetujuan Menteri Kehakiman. misalnya pembatasan kewenangan pelaku usaha untuk membuat klausul eksenorasi lebih banyak diserahkan kepada inisiatif konsumen.00 (dua miliar rupiah). sekalipun demikian. Apakah dengan demikian. huruf e. atau ketertiban umum. atau menolak penyerahan kembali uang yang dibayar. Pasal 17 ayat (1) huruf a.000. Pasal 15. berdasarkan Uniform Commercial Code 1978. Pasal 9. dan sebagainya. Putusan – putusan pengadilan inilah yang kemudian dijadikan masukan perbaikan legislasi yang telah ada. perlu diperoses melalui gugatan pengadilan. ketentuan yang membatasi kewenangan pembuatan klausul eksonerasi ini belum diatur secara tegas di dalam undang – undang. atau pencabutan itu baru memperoleh kekuatan hokum setelah mendapat persetujuan Raja/Ratu yang dituangkan dalam Berita Negara. walaupun di situ digunakan istilah “klausul baku” yang ternyata berbeda pengertiannya dengan “klausul eksonerasi”. Pasal 18 ayat (2) mempertegas pengertian tersebut. klausul baku adalah klausul yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha. Padahal. tetapi isinya tidak boleh mengarah kepada klausul eksonerasi. klausul baku sama dengan klausul eksonerasi? Jika melihat kepada ketentuan pasal 18 ayat (1) UUPK. Dengan demikian. dapat diperoleh jawaban sementara bahwa kedua istilah itu berbeda. Pasal 13 ayat (2). Pasal 10.jawab itu. memang dapat ditunjukkan beberapa pasal yang ada dalam Kitab Undang – Undang Hukum Perdata. ia dapat mengajukan gugatan kepengadilan. ketentuan lainnya menyatakan bahwa perjanjian standar ini dapat pula dibatalkan. Kemudian penetapan. dengan mengatakan bahwa klausul baku harus diletakkan pada tempat yang mudah terlihat dan dapat jelas dibaca dan mudah dimengerti. Ketentuan satu – satunya beru ditemukan dalam UUPK. huruf c. maka klausul baku itu menjadi batal hokum. Di Amerika Serikat. Jika ada konsumen yang meeras dirugikan. termasuk sejauh mana Pemerintah dapat campur tangan dalam penyusunan kontrak. Bagi kita di Indonesia. dan ayat (2). untuk menguji sejauh mana perjanjian itu bertentangan.000. kesusilaan. Di belanda. perubahan. Jika hal – hal yang disebutkan dalam ayat (1) dan (2) itu tidak dipenuhi. kekuatan yurisprudensi dalam sisitem hokum Indonesia tidak berlaku seperti di Negara – Negara Anglo saxon/Anglo Amerika. Loangkah yang . Artinya. dan pasal 18 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp2. jika pihak produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor mengetahui atau seharusnya mengetahui bahwa pihak konsumen tidak akan menerima perjanjian tersebut jika ia mengetahuinya isinya. Salah satunya adalah pasal 1337. yang menyatakan suatu perjanjian tidak boleh dibuat bertentangan dengan undang – undang. seperti pelaku usaha dapat menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen. diubah.

terutama hak untuk memiliki barang/jasa yang sesuai dengan nilai tukar yang diberikan. sering membuat produsen harus mengubah tipe – tipe produknya mengikuti selera dan kebutuhan konsumen harus mengubah tipe – tipe produknya mengikuti selera dan kebutuhan konsumen yang terus berganti dalam waktu singkat.ditempuh oleh Belanda. padahal kenyamanannya tidak demikian. . yang tentu saja merugikan salah satu pihak pada perjanjian. Dengan adanya pengaturan terhadap Perlindungan Konsumen terutama pada peraturan yang berkaitan dengan klausul baku sedikit menyadarkan masyarakat bahwa mereka sebagai pihak dalam perjanjian memiliki hak yang (semestinya) sejajar dengan pihak lainnya dalam perjanjian baku. yang bisa kita hindari. Konsumen tidak boleh ditipu memperoleh barang dengan kualitas tertentu. ternyata hanya 9 ons. Kertas tisu yang dikemas dalam kotak yang dinyatakan beratnya 10 ons. dikatakan jus yang dijual adalah sari jeruk asli. serta adanya kebutuhan dari pihak yang berdaya tawar lebih rendah untuk menerima isi dari perjanjian itu. jika ada kerusakan dari suatu tipe produk. Akibatnya. Misalnya. D. yakni dengan membuat ketentuan khususus mengenai tata cara pembuatan perjanjian standar. Meski demikian penggunaan perjanjian baku atau jika dapat dikatakan lebih luas ketidakseimbangan daya tawar para pihak merupakan suatu hal yang sangat sulit untuk diawasi atau dikendalikan. Masalah lainnya yang menyangkut layanan purnajual adalah soal garansi dalam jangka waktu tertentu yang memberikan produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor pada konsumennya. kiranya dapat di pertimbangkan untuk ditiru. Perkembangan teknologi yang sangat cepat misalnya pada tegnologi perangkat computer. karena hal ini berkaitan dengan adanya unsure perlindungan dan kepentingan sepihak yang lebih besar daya tawarnya untuk melindungi kepentingannya. LAYANAN PURNAJUAL DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN Layanan purnajual (after sales service) merupakan kepentingan konsumen yang sangat vital dewasa ini. dengan adanya pengaturan terhadap pemakaian perjanjian baku ini adalah adanya eksploitasi atau keadaan yang sedemikian merugikan bagi puhak yang lemah akibat adanya pengunaan paksaan maupun penyalahgunaan keadaan oleh pihak yang lebih kuat. Secara sederhana dapat kita katakana bahwa yang kuat adalah yang menang masih berlaku. Selain paling tidak memberikan gambaran bahwa perlu adanya suatu sarana bagi peningkatan perlindungan terhadap penggunaan perjanjian baku dan segala atributnya. dan sebagainya. juga dapat dimuat dalam undang – undang yang mengatur mengenai perlindungan konsumen. Demikian pula dengan tanggung jawab produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor dalam memenuhi hak konsumen. Selain dengan mencantumkannya dalam Kitab Undang – Undang – Undang Hukum Perdata. Di mana pengaturan ini merupakan tonggak awal baginya keseimbangan dalam penempatan pihak pada suatu perjanjian. padahal hanya essence dari bahan – bahan kimia. sering konsumen tentu menghadapi kendala memperbaiki barangnya karena ketiadaan suku cadang.

2. Di lingkungan Uni Eropa. atau dipasarkan (tanpa mengurangi tanggung jawab si pemilik produk). 3. Produsen dari bahan – bahan mentah atau komponen dari produk itu. misalnya dinyatakan dalam Pasal 3 Pedoman Masyarakat Eropa. Jaminan ini merupakan perikatan yang otomatis dibebankan kepada produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor. Memberikan perlindungan kepada masyaraka terhadap penggunaan produk farmasi yang cacat. atau memberikan tanda khusus untuk membedakan produknya dengan produk orang lain. 3. Setiap pemasok produk. Setiap orang yang mengimpor produk untuk dijual. Setiap orang yang memasang nama. disewakan. yang lazim disebut tanggung jawab produk. Perluasan subjek yang dapat dimintai tanggung jawabnya telah pula diterapkan diberbagai Negara. Seharusnya tanggung jawab produk ini jangan dibatasi hanya pertanggung jawaban atas produk yang cacat. tanggung jawab produk adalah tanggung jawab dari pembuatan produk cacat yang bersangkutan. Tanggung jawab produk adalah bagian dari transaksi konsumen. yaitu tahapan ketiga ( pasca transaksi konsumen). jika pembuatnya tidak diketahui atau pembuat produknya diketahui. Membatasi tanggung jawab produk hanya pada pergantian atas produk yang cacat berarti tidak member banyak kemajuan bagi perlindungan konsumen. Tanggung jawab dari si produsen dan pihak – pihak yang menyalurkan produknya secara tanggungan renteng seluruhnya bersifat tanggung jawab mutlak (strict liability) atau tanggung jawab tanpa kesalahan (liability without fault). namun baru untuk bidang farmasi. merek perusahaan. 2. menjadi kewajiban produsen untuk menjamin barang yang dijualnya bebas dari cacat tersembunyi. . 1. 4. Sejak dahulu. Tim Kerja Naskah Akademis Badan Pembinaan Hukum Nasional pernah menyarakan agar dikembangkan system baru pertanggung jawaban hokum atau produk.Tampak masalah layanan purnajual adalah masalah perlindungan konsumen yang tidak dapat dipisahkan dengan tahapan – tahapan transaksi konsumen lainnya. 4. Tujuannya dari pengembangan itu adalah untuk : 1. Mengembalikan kesimbangan masyarakat akibat penggunaan dan beredarnya proguk cacat. yang berlaku bukan lagi prinsip caveat emptor. tetapi caveat venditor (produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditorlah yang bertanggung jawab. Memudahkan proses pembuktian akibat penggunaan produk farmasi yang cacat. Meningkatkan mutu produk farmasi yang beredar. sehingga dapat mencapai tujuan peruntukan dan penggunaanny. yakni: 1. tetapi mengimpornya tidak diketahui. Pengaturan tentang tanggung jawab produk ini belum ada pengaturannya di Indonesia.

Dalam UUPK. Untuk itu. masa garansi itu . Ganti rugi jika barang/jasa yang diberikan tidak sesuai dengan perjanjian semula. Misalnya. dapat diperbaiki secara Cuma – Cuma selama jangka waktu garansi. Barang yang digunakan. Pasal 27 huruf e UUPK bahkan memberi batas waktu kadaluarsa untuk melakukan penuntutan atau gugatan ini selama empat tahun sejak barang dibeli atau setelah lewat masa garansi. walaupun besar kemungkinan secara sosiologis masih digunakan secara luas oleh produsen. Layanan purnajual sebenarnya meliputi permasalahan yang lebih luas. juga jika ia tidak memenuhi atau gagal memenuhi jaminan atau garansi yang diperjanjikan. dan/atau kerugian yang diderita konsumen akibat mengonsumsi barang dan/atau jasa. seperti “barang yang telah dibeli tidak dapat dikembalikan). Persoalannya adalah pelaku usaha sering secara sepihak mencantumkan masa garansi secara tidak proposional. Jelaslah. 3. Di sinilah diperlukan sosialisasi UUPK dan upaya gencar pendidikan konsumen. Pelaku usaha tersebut wajib bertanggung jawab atas tuntutan ganti rugi dan/atau gugatan konsumen jika pelaku usaha itu tidak menyediakan atau lalai menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas perbaikan. dan diberi jangka waktu & hari setelah tanggal transaksi. Dalam UUPK tampaknya klausull eksenorasi demikian akan dihilangkan. bahwa pelaku usaha yang memproduksi barang yang pemanfaatannya berkelanjutan dalam batas waktu sekurang – kurangnya satu tahun. untuk garansi perbaikan alat – alat elektronika ditetapkan lamanya selam satu tahun sejak barang diserahkan kembali. walaupun hanya dalam beberapa rumusan yang umum. Waktu yang demikian pendek sangat mungkin tidak mencukupi bagi konsumen utnuk meneliti kembali hasil perbaikkan itu secara keseluruhan. jika mengalami kerusakan tertentu. 2. layanan purnajual diakomodasikan pula.Jaminan dalam undang – undang ini pun dalam praktik dicoba untuk diminimalisasi dengan menyatakan sepihak ( klausul eksenorasi). wajib menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas penjualan dan wajib memenuhi jaminan atau garansi sesuai dengan yang diperjanjikan. ketentuan ini agak berbeda dengan ketentuan tentang masa garansi dalam Pasal 27 UUPK. Dalam Pasal 19 UUPK secara jelas diatur. penyelesaian kasus purnajual seperti dinyatakan dalam Pasal 25 UUPK itu masih memerlukan upaya penuntutan ganti rugi dan/atau gugatan konsumen. Ketentuan dalam pasal yang disebutkan terakhir ini memberikan tenggang waktu pelayanan kepada konsumen sampai pada akhir masa garansi. pelaku usaha wajib mengganti kerugian atas kerusakan. Namun. dan terutama mencakup masalah kepastian atas : 1. pencemaran. Pasal 25 UUPK menyatakan. Suku cadang selalu tersedia dalam jumlah cukup dan tersebar luas dalam jangka waktu yang relative lama setelah transaksi konsumen dilakukan. Ganti rugi ini bersifat serta merta.

Khusus untuk produk elektronika.p. Ditjen Industri Logam Mesin Elektronika dan Aneka. E. serta masyarakat konsumen pada umumnya. Jika ada perubahan terhadap isi manual dan/atau kartu jaminan/garansinya sebagai akibat pergantian atau penambahan model (tipe) produk. dalam keputusan itu disebutkan bahwa manual dan kartu jaminan/garansi produk elektronika tertentu perlu dilakukan pendaftaran. sanksinya berupa pencabutan angka mengenal omportir (API) atau angka pengenal importer terbatas (APIT).perlu ditetapkan batas minimalnya oleh pembentuk undang – undang. Kewajiban ini berlaku selama yang bersangkutan menjalankan kegiatan usahanya di Indonesia. (8) mesin cuci. Sebelum jenis produk yang beredar di Indonesia juga wajib dilengkapi kartu jaminan/garansi dalam bahasa Indonesia. Tata cara pendaftaran diatur dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan Pedagangan No. kejaksaan. HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL .p Direktur Bina Pasar (untuk produk asal impor). Pelaku usaha dapat melakukan permohonan tanda pendaftaran manual dan kartu jaminan/garansi baik secara individual maupun melalui asosiasi usaha terkait. Dalam peredarannya. (2) alat perekam atau reproduksi.608/MPP/Kep/10/1991 tentang petun juk penggunaan (manual) dan kartu jaminan/garansi dalam bahasa Indonesia bagi produk elektronika. Direktur Industri Elektronika (untuk produk dalam negeri) atau ke Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negara u. Permohonan juga dapat dilakukan memalui jasa pos. Dalam keputusan ini tidak jelas alasannya mengapa produk elektronika yang diwajibkan hanya dibatasi pada sebelas jenis tersebut. Untuk kepentingan perlindungan konsumen. Bagi importer yang melanggar. yaitu (1) radio cassette/mini compo. hanya sebelas jenis produk elektronika yang wajibkan pendaftaran. (3) pesawat televise. Ditjen Bea dan cukai. bergantung pada klasifikasi (jenis) barang atau jasa yang diberikan oleh pelaku usaha itu. pengaturan tentang layanan purnajual dicantumkan dalam keputusan menteri perindustrian dan perdagangan no. Dalam peraturan yang disebutkan di atas. pemerintah pembentuk tim pemerintah yang terdiri ats unsure kepolisian.Ditjen Pajak. maka yang bersangkutan harus mengajukan pendaftaran atas perubahan itu ke instansi yang sama. Kartu jaminan/garansi itu berlaku sekurang – kurangnya 1 tahun. (4) printer. (5) monitor computer. yakni pencabutan izin usaha industry (IUI) atau tanda daftar industry (TDI). dab Ditjen Perdagangan Dalam Negeri. Permohonan tanda pendaftaran diajukan ke Direktorat Jenderal Industri Logam Mesin Elektronika dan Aneka u. dan (11) microwave oven. Tim ini akan bekerja sam dengan asosiasi pelaku usaha terkait dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. yang antara lain wajib memuat informasi mengenai ongkos perbaikkan gratis selama garansi dan jaminan ketersediaan suku cadang. Pelaku usaha yang menurut tim pemeriksa melakukan pelanggaran. produk elektronika yang mendapatkan tanda pendaftaran itu wajib mencantumkan nomor surat tanda pendaftaran tersebut secara manual dan kartu jaminan/garansi yang dikeluarkan oleh produsen atau inportir tadi. (9) kompor gas.7/MPP/Kep/1/2000. (7) mesin pengatur suhu udara (AC). dapat dikenakan sanksi administrative. (6) lemari es (refrigerator). Pelaku usaha dapat melakukan permohonan tanda pendaftaran manual dan kartu jaminan/garansi ini baik secara individual maupun melalui asosiasi usaha atas perubahan itu ke instansi yang sama. (10) pompa air listrik untuk rumah tangga.

seperti layout design. Hak atas kekayaan intelektual adalah hak – hak yang diberikan kepada pelaku usaha untuk monopoli. sebenarnya konsumen hanya berkepentingan agar ciptaan. Ini berarti. Karena perjanjian putaran Uruguay ini diadakan dalam kerangka pembentukan Badan Perdagangan Dunia (Word Trade Organization) yang menjadi pengganti GATT. .5 Tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Ketiga undang-undang tersebut dilengkapi pula dengan peraturan pelaksanaannya. perkembangan ini bukan karena pertimbangan untuk melindungi konsumen. 2. sering juga disebutkan jenis lain dari hak atas kekayaan intelektual. dan paten itu ternyata tidak seperti yang dibayangkan karena dipalsukan oleh pelaku usaha. Undang – Undang No. yakni: 1. maka prinsip-prinsip GATT dalam bidang HAKI ini juga diterapkan. Dilihat dari kacamata konsumen. untuk mengetahui hak – hak konsumen bidang tersebut. Di luar itu. tidak mengherankan jika dalam Pasal 50 Undang – Undang No. Ironisnya. Most favoured-nation atau nondiskriminasi antara pemilik HAKI asing dari suatu Negara dibandingkan dengan pemilik HAKI asing dari Negara lain 3. paten. paten.merek. desain produk indutri. Tiga jenis hak yang terakhr dikenal juga sebagai hak milik industry (industrial property rights). oleh karena itu. UUPK secara khusus mengecualikan pengaturan hak – hak konsumen yang muncul dalam bidang HAKI. National treatment. Prinsipprinsip itu antara lain adalah prinsip. Transparancy. Oktober 1994 (Undang-Undang No. Hal ini secara jelas tampak dari dimasukkannya perjanjian mengenai Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) sebagai salah satu perjanjian utama yang dihasilkan oleh perundingan Putaran Uruguay itu setelah diadakan ratifikasi. seperti lisensi.Hak atas kekayaan intelektual (intellectual property rights) dalam garis besarnya mencakup hak cipta.14 Tahun 2001 tentang Paten 2. yakni pemilik hak atas kekayaan intelektual (HAKI) asing harus diberi perlindungan yang sama dengan warga Negara dari Negara yang bersangkutan. merek. kkhususnya yang ada di luar negeri. merek. dan desai produk industry. Konsumen akan dirugikan jika ciptaan. Hokum dibidang HAKI ini termasuk subtansi hokum yang sangat pesat perkembangannya. serta perjanjian yang berkaitan dengan waralaba. merek dagang. hak cipta. Sementara untuk desain produk industri sampai sekarang belum diatur secara khusus dalam suatu undang-undang. undisclosed information (trade secret). dan sebagainya. tetapi terlebih—lebih untuk melindungi produsen. 15 Tahun 2001 tentang Merek 3. Maksudnya. 1. yang memaksa Negara anggota untuk lebih terbuka dalam ketentuan perundang-undangan dan pelaksanaan anturan nasional dalam bidang perlindungan HAKI. Undang – Undang No. dinyatakan bahwa larangan monopoli itu tidak berlaku untuk perjanjian yang berkaitan dengan hak atas kekayaan intelektual. 7 Tahun 1994). dan rahasia dagang. dan paten yang diterapkan untuk suatu barang atau jasa adalah benar-benar seperti apa yang ditampilkan. kita perlu melihat pengaturannya dalam undang – undang yang lain. rangkaiaan elektronika terpadu. UUPK tidak mengatur lagi bidang hak atas kekayaan intelektual (HAKI) ini. Undang – Undang No.

Padahal dalam indikasi geografis. dapat disimpulkan ada dua factor pembedaanya dengan indikasi geogarfis. Undang – Undang No. melainkan tanda. Kesalahan ini tentu cukup fundamental dan sangat berpengaruh terhadap upaya perlindungan hak – hak konsumen. tempat. Pemakai hak atas indikasi asal dapat saja meningkatkan haknya menjadi pemegang hak. 15 Tahun 2001 juga di ajukan oleh kelompok konsumen dari barang – barang tersebut. Tanda teresbut dapat berupa nama. Indikasi asal tidak didaftarkan. Akan lebih tepat jika digunakan istilah “pemakai hak”. F. Istilah lain yang diatur dalam Undang – Undang No. Mengenai hal ini UUPK mencantumkannya dalam Pasal 9 ayat (1) huruf h. Undang-undang No.15 Tahun 2001 menyebutkan indikasi itu hanya untuk produk barang. Catatan lain tehadap indikasi asal ini adalah penggunaan kata barang dan jasa. Berbekal putusan itu. Produsen dan pelaku usaha anggur manapun diluar daerah itu tidak diperkenalkan memakai label “anggur Champaigne” dalam produk mereka. Dimasa mendatang aka nada kelompok konsumen yang menyebut dirinya sebagai “pencinta dodol Garut” atau “ konsumen tembakau Deli” yang secara sepihak bersedia mengajukan permintaan perlindungan indikasi geografis atas produk yang mereka konsumsi. Di Indonesia memang belum lazim terbentuk asosiasi atau kelompok konsumen dari barang – barang tertentu. walaupun boleh jadi penerapannya tidak sesederhana yang dibayangkan. Indikasi geografis ini bukan termasuk merek. indikasi asal tidak perlu didaftarkan karena secara otomatis akan dilindungi. daerah atau wilayah. factor manusia. Dari Pasal 59. 15 Tahun 2001 adalah tentang Indikasi asal. yang artinya diproduksi oleh produsen anggur dari daerah Champaigne. seharusnya istilah “pemegang hak” tidak digunakan karena memang hak atas indikasi asal itu. Untuk kondisi di Indonesia. huruf atau kombinasi dari unsureunsur tersebut. Sangat menarik. sekalipun memenuhi semua unsure untuk disebutkan sebagai indikasi geografis. Nama – nama perusahaan asuransi jiwa seperti. Oleh karena itu. bahwa dalam indifikasi geografis menurut pasal 56 ayat (2) Undang – Undang No. yaitu: 1. ASURANSI Yusuf Shofie mengutamakan bahwa bisnis perasuransian di Indonesia hampir sama tuanya dengan bisnis perbankan. Factor pertama memberikan petunjuk. dan 2. dan sangat erat kaitannya dengan perlindungan konsumen adalah tentang indikasi geografi dan indikasi asal. 15 Tahun 2001 memberikan pengertian tentang indikasi geografis sebagai : “tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang yang karena factor lingkungan geografis termasuk alam. mungkin kita juga dapat menggunakan prinsip yang sama untuk produk seperti “dodol Garut” atau “ martabak Bangka”. Prancis.Salah satu ketentuan yang barangkali termasuk baru dalam masalah HAKI ini. atau kombinasi dari kedua factor tersebut memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan. tetapi harus melalui putusannya pengadilan. ia dapat mengehentikan kegiatan usaha dari pelaku usaha lainnya. misalnya berupa eitket atau label yang dilekatkan pada barang yang dihasilkan. Contoh dari barang yang berindikasi geografis adalah anggur Champaigne. kata. Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 tergolong perusahaan asuransi yang cukup . Indikasi asal itu meliputi produk baik berupa barang maupun jasa. gambar.

asuransi dibedakan menjadi dua jenis. Konsumen masih sering merasakan bahwa asuransi tak melindungi aktivitasnya. didalamnya terdapat dua unsure. H. Pengalihan resiko ini di imbangi dalam bentuk pembayaran premi kepada perusahaan asuransi kerugian setiap bualan atau tahun bergantung pada perjanjian yang tetuang dalam polis. Kedua. Keikut sertaan konsumen dalam berbagai program dan jenis asuransi sangat pergantung pada pemahaman konsumen terhadap produk yang ditawarkan. produk – produk asuransi tergolong rumit dan sukar dipahami. terdapat sekitar 130 perusahaan asuransi. Lippo Life.25 tahun 1981). meskipun kesan itu tak semuanya benar.M. asuransi kendaraan bermotor.33 tahun 1964). maka resiko ini dapat di alihkan kepada perusahaan asuransi kerugian dalam bentuk pembayaran klaim asuransi. dan sebagainya. Koprasi. Sebagian konsumen cenderung memisahkan sebagian penghasilannya untuk disimpan dibank dari pada digunakan untuk asuransi. manfaat peralihan resiko inilah yang diperoleh konsumen. Dalam pada itu. tak mau kalah dalam persaingan bisnis ini. Tidak mudah mencari tahu seberapa jauh pemahaman konsumen pada umumnya tehadap produk – produk asuransi.dikenal masyarakat. jaminan social tenaga kerja (diselenggarakan astek berdasarkan Undang – Undang No. Pertama.undang No. BUMN. Sewu New York Life. dan konsumen). bahkan cenderung merugikannya. Inilah resiko yang harus ditanggung pemiliknya. industry perasuransian kurang banyak dapat perhatian konsumen. Ditinjau dari sudut sifat dan berlakunya. asuransi jiwa. reasuransi. asuransi jiwa. Untuk mendorong kegiatan perarsuransian di Indonesia. Setelah dikeluarkannya paket ketentuan itu. yaitu kemampuan untuk membayar polis kelak akibatnya klaim asuransi konsumen ditolak tanpa alas an yang benar dan patut.taspen berdasarkan peraturan pemerintah No. petanggungan jawab kecelakaan lalulintas jalan (Undang – Undang No. asuransi yang bersifat wajib berdasarkan ketentuan undang – undang misalnya pertanggungan wajib kecelakaan penumpang ( Undang . dan asuransi social. Persaingan mendapatkan konsumen memang terjadi dikalangan perusahaan asuransi. asuransi yang bersifat suka rela. tradisi berasuransi masih dianggap hal baru oleh sebagian masyarakat konsumen. asuransi social pegawai negeri (dikelola PT. berbagai resiko senantiasa mengincar konsumen setiap saat. misalnya asuransi kerbakaran. misalnya rumah seseorang tebakar sehingga pemiliknya mengalami kerugian. New Hamshire Agung.67 tahun 1991). Dalam . meliputi asuransi kerugian. Pada tahun 1991 pernah terjadi persaingan premi perusahaan asuransi telah membuat suatu pilihan untuk mendapatkan konsumen sebanyak – banyaknya tanpa memperhitungkan apakah penetapan besarnya premi yang tidak proporsional tersebut dapat dipertanggung jawabkan dari sisi underwriting. asuransi abri ( dikelola berdasarkan peraturan pemerintah No. Ansuransi Astra Buana. tak tanggung – tanggung pemerintah telah mengeluarkan paket kebijakan 20 Desember 1988. perusahaan swasta. Resiko diartikan pula sebagai kerugianyang tidak pasti. apalagi dalam era perdagangan. Asuransi Cigna Indonesia. dan lain – lain. Menurut sementara pejabat departemen keuangan RI. sehingga produk itu tidak marketable.Purwo sudjibto memberikan pengertian resiko tidak lain adalah beban kerugian yang diakibatkan karena suatu peristiwa diluar kesalahannya. 33 tahun 1964). Karena besarnya resiko ini dapat diukur dengan nilai barang yang mengalami peristiwa diluar kesalahan pemiliknya. yaitu ketidak pastian dan kerugian.33 tahun 1964). Dibandingkan industry perbankan. padahal sejalan dengan semakin konpleksnya aktifitas pelaku ekonomi (pemerintah. Ansuransi Jiwa Buana Putra. Nama – nama terkenal lain seperti Dharmala Manulife.

8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen memberi jaminan supaya hak – hak tertanggung lebih diperhatikan. pelindungan dan upaya penyelesaian sengketa secara patuh. Keluhan – keluhan konsumen sekarang sudah terjawab dengan hadirnya undang – undang perlindungan konsumen. Dalam undang – undang ini ditegaskan juga hak konsumen untuk memperoleh informasi yang benar jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang atau jasa yang dibelinya serta hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang atau jasa yang digunakan. . Terbitnya undang – undang No. Bedasarkan undang – undang ini konsumen berhak meminta keterangan segala sesuatu yang akan diperjanjikan dalam asuransi dan selaku pihak penjual produk. Hak – hak lainnya yang ditegaskan dalam Undang – undang No. 3. Namun. yang membuat para asuransi sering tidak tahu apa yang menjadi haknya. dimana isi perjanjian dibuat dengan kata-kata yang sulit dipahami dan dibuat dalam tulisan kecil-kecil(klausul baku) sehingga kesepakatan tersebut terjadi pada saat nasabah hanya memahami sebagaian kecil dari perjanjian tersebut. Asuransi termasuk jasa yang bisa dinikmati konsumen dengan terlebih dahulu menandatangani polis sebagai bentuk persetujuan keikut sertaan dengan memenuhi kewajiab membayar premi setiap bulan atau tahunnya. nasabah hanya membaca sekilas perjanjian tersebut. Hak atas kenyamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang atau jasa. dalam pelaksaannya posisi antara nasabah dan perusahan asuransi eringkali timpang.keadaan seperti ini. Sebagai pihak yang berjanji tertangguang dan penanggung memiliki posisi yang setara dan tidak ada yang dibawah dan di atas. tanpa dipahami secara mendalam konsekuensi yuridisnya. Artinya. Hubungan antara perusahaan asuransi dan nasabahnya diatur dalam perjanjian yang mengikat dan disepakati oleh kedua belah pihak. 6. Permasalahan asuransi adalah permalahan jamak yang penyelesaian akhirnya seringkali membuat konsumen diposisi yang lemah. Hak – hak yang diatur dalam ketentuan – ketentuan peraturan perundang – undangan lain. Hak untuk diberlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminasi. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mempunyai hak untuk mendapatkan kompensasi. taka ada perlindungan resiko yang dialami konsumen sebaliknya perusahaan asuransi sudah mendapatkan premi yang dibayarkan konsumen. perusahaan asuransi harus bersedia menjelaskan isi dan makna kontrak dalam polis hingga konsumen benar –benar memahaminya terhadap konsumen apakah pemakai produk atau pengguna jasa yang merasa dirugikan karena diperjanjikan atau sebagaiman mestinya undang – undang ini menjamin agar meraka mendapat konpensasi atau ganti rugi. 2. Hak untuk mendapatkan advokasi. Padahal konsumen asuransi sebagaimana tertuang daam UU No. Hak untuk memilih barang atau jasa serta mendapatkan barang atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kodis serta jaminan yang dijanjikan. 5. 4. Masih banyak hak – hak yang diatur dalam UU sehingga posisi konsumen semakin kuat. yang dibuat dalam semangat reformasi selain memberi perlindungan kepada konsumen. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen. juga menatapkan mereka dalam posisi tawar yang lebih kuat.8 tahun1999 antara lain : 1.

baik secara perorangan ataupun badan hokum. Dalam hal petugas premi tidak menyerahkan uang premi konsumen kepada . Keluhan dari konsumen berkaitan dengan klaim asuransi dapat kita lihat dari contoh kasus yang ditujukan pada YLKI yakni sebagai berikut : Bapak Imron saat ini sedang mengajukan klaim asuransi kepada PT ASKES atas perawat di salah satu RS Swasta. Saran dari YLKI adalah melihat kembali perjanjian antara PT Askes dengan Bapak Imron selaku konsumen dari perusahaan asuransi. dibebankan kepada konsumen. Dalam hal ini harusbagaimana bersikap. dari klaim Rp7. apabila barang atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. 2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian. klaim dapat diterima. Akan tetapi. Sebab kelalaian petugas penagih premi ( agen asuransi) dalam bentuk tidak disetorkannya premi kepada perusahaan asuransi. Dalam hal ini pelaku usaha dapat diminta tanggung jawab atas kewajibannya sesuai Pasal 7 UU No. Pelaku usaha dilarang mencantukan klausul baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas. sehingga PT ASKES dapat dituntut seperti apa yang tertuang dalam Pasal 18 ayat (2) UU No. memberikan informasi yang benar. Padahal menurut Undang-Undang No.6 juta hanya dikabulkan sebesar Rp 590 ribuan saja dengan alas an obat-obatan yang dipakai bukan yang termasuk dalam daftar PT ASKES. Padahal konsumen sudah membayar preminya. dalam hal ini klaim uang pertanggungan setelah masa pertanggungan berakhir (dalam praktik disebut pula “klaim habis kontrak”) diminta untuk memperbarui polis asuransinya dengan alas an petugas penagih premi belum menyerahkan premi asuransi si konsumem kepada perusahaan. masalahnya adalah obat-obatan tersebut yang memilihkan dokter yang merawat. Kasus lain seperti yang diuraikan Yusuf Shofie dimana terkadang konsumen pemegang polis asuransi jiwa yang belum waktunya mengajukan klaim asuransi. jelas dan jujur mengenai jaminan barang/jasa serta member penjelasan penggunaan perbaikan dan pemeliharaan. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengenai klausal baku. diterima atau ada jalan lain. Pembaruan polis itu membawa akibat jumlah premi yang harus dibayarkan meningkat. petugas penagih premi. Apabila ada klausul yang mengatur tentang pembatasan obat yang harus diterima. konsekuensinya pengeluaran konsumen akan bertambah perbulan atau pertahunnya. Petugas penagih premi memberikan bukti pembayaran premi asuransi yang sah bersamaan atau pada saat konsumen menyerahkan pembayaran uang premi. Apabila konsumen menurut saja. Konsekuensinya sepanjang petugas tersebut telah diberi kuasa untuk itu. perlu dilihat apakah dibuat dalam bentuknya yang sulit terlihat.ganti rugi / penggantian. dan ia akan berada pada posisi yang sangat dirugikan. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen bahwa kewajiban pelaku usaha adalah beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya. Bahwa pelaku usaha yang memperdagangkan jasa wajib memenuhi jaminan atau garansi yang disepakati / yang diperjanjikan. apabila setelah dicermati tidak ada aturan tentang pembatasan obat yang harus digunakan maka Bapak Imron dapat meminta kompensasi sesuai apa yang menjadi kewajiban dari PT ASKES. atau pengungkapannya sulit dimengerti. atatu yang pengungkapannya sulit dimengerti. bertindak untuk dan atas nama perusahaan asuransi. Ini membuktikan bahwa perusahaan asuransi tidak dibenarkan mengelak dari tanggung jawabnya. segala tindakannya menjadi tanggung jawab perusahaan asuransi. Karena masuk RS melalui Gawat Darurat.

baik dalam polis maupun syarat-syarat umum polis dibuat secara berimbang dan tidak merugikan konsumen dan perusahaan asuransi. dalam hal ini Menteri Keuangan Republik Indonesia.5 niliar berdasarka UndangUndang Usaha Perasuransian. Karenanya bila konsumen didatangi petugas sales promotion perusahaan asuransi jiwa. Padahal kedekatan petugas dengan konsumen tidak akan berpengaruh terhadap berbagai konsekuensi hokum keikutsertaan konsumen dalam asuransi. petugas itu patut diduga melakukan penggelapan asuransi yang dapat diancam hukkuman maksimal 15 tahun dan denda maksimal Rp 2. lebih baik konsumen tunda dulu kebutuhan berasuransi. serta syarat-syarat umum polis. Apabila sudah menjumpai masalah. daftar atau table nilai tunai ini pada prinsipnya wajib diinformasikan kepada konsumen. Apabila tidak diminta atas desakan konsumen. semakin besar pula premi yang harus dibayarkan. Semakin besar uang pertanggungan. yaitu perjanjian asuransi bertujuan memberikan ganti rugi terhadap kerugian yang diderita oleh tertanggung yang disebabkan oleh bahaya sebagaimana ditentuka dalam polis.perusahaan asuransi sekalipun telah diperingatkan atau bahkan malah menghilang. Tak jarang petugas itu ternyata masih relasi konsumen sehingga mudah bagi konsumen untuk mengiyakannya. sebagian perusahaan asuransi enggan menjelaskan system perhitungan besarnya premi yang harus dibayarkan. Prinsip Indemnity. Seringkali dengan terbitnya polis itu berarti secara serta merta konsumen tunduk pada syarat-syarat umum polis yang dibuat secara sepihak oleh perusahaan asuransi. Disamping itu terdapat keharusan menyelesaikan klaim asuransi denagn sebaik-baiknya. Dalam hal pembayaran premi menunggak. dalam hal ini Pasal 302-308 KUHD. Selaanjutnya perusahaan asuransi akan membayarkan nilai tunainya sesuai masa pertanggungan yang telah dijalani konsumen. Besarnya nilai tunai itu tercantum dalam daftar atau table yang dilampirkan atau merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari polis asuransi. Semestinya ketentuan yang tertuang. baik dengan menggunakan mata uang dalam negeri maupun luar negeri. Secara umum inilah yang disebut sebagai perjanjian konsensual. ketika petugas sales promotion menawarkan produk asuransi. Kecermatan menghitung besar nya premi dan membandingkannya dengan penghasilan perbulan. Subtansi polis tunduk pada ketentuan-ketentuan tentang pertanggungan yang diatutr dalam KItab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD). tidak boleh merugikan konsumen serta tidak mengancam kelangsungan perusahaan asuransi. semakin kecil besarnya premi. Alasan yang dicari-cari untuk menolak klaim konsumen seharusnya dihindarkan asas iktikad baik harus diutamakan dalam pelaksanaan perjanjian asuransi. di mata hokum tidak ada lagi kawan dan bukan kawan atau relasi dan bukan relasi. Secara umum prinsip-prinsip yang berlaku dalam perjanjian asuransi. Terutama dalam penetapan besarnya premi. Demikian pula. 2 Tahun 1992. nilai tunai selama masa pertanggungan. . Dianjurkan agar konsumen tidak mudah tertarik dengan besarnya uang pertanggungan. Keterikatan hubungan konsumen dengan pihak perusahaan asuransi muncul sejak adanya kata sepakat dari pihak konsumen kepada perusahaan asuransi. menghindarkan konsumen dari tertunggaknya pembayaran premi. yaitu: 1. semakin muda usia konsumen. konsumen diharapkan tidak mudah tergiur terhadap berbagai manfaat mengikuti asuransi tersebut. serta ketentuan-ketentuan instansi Pembina perasuransian. Apabila besarnya premi yang ditawarkan sangat mempengaruhi pengeluaran konsumen dalam sebulan atau setahun. Keterikatan itu dibuktikan dengn diterbitkan polis. Sedangkan kegiatan perusahaan asuransi tunduk pada Undang-Undang No. asuransi menjadi lapse atau perlindungan tak lagi dijamin.

yaitu pihak yang bermaksud akan mengasuransikan sesuatu harus mempunyai kepentingan dengan objek yang diasuransikan. Masa berlakunya polis berkisar 10. Sebagai contoh mengenai isi perjanjian asuransi. pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan Indonesia No. 2.2. Prinsip subrogasi. Manfaat asuransi. Janagn heran. Jumlah uang pertanggungan sesuai kesepakatan kedua belah pihak. anak konsumen akan tetap menerima beasiswa pada waktu yang telah ditentukan dalam polis 3. meliputi: penanggung. pemegang polis. Prinsip kejujuran sempurna yaitu kewajiban tertanggung menginformasikan segala sesuattu yang diketahuinya mengenai objek yang dipertanggungkan secara benar. kepentingan mana dinilai dengan uang. Penetapan lamanya masa pertanggungan atas dasar kesepakatan kedua belah pihak. Besarnya manfaat yang diperoleh tertanggung / pihak yang ditunjuk bergantung pada .15 atau 20 tahun. terdapat pula produk asuransi jiwa yang dikemas dengan program beasiswa berencana. maka tertanggung tidak berhak menerimanya. 225/KMK. Jenis asuransi. menguraikan mengenai hal-hal yang biasanya dituangkan dalam polis asuransi jiwa dan ketentuan umum polis dan harus diperhatikan adalah sebagai berikut: 1. klausul itu harus dicetak sedemikian rupa supaya mudah diketahui. yakni sejumlah pembayaran dan kompensasi yang menjadi hak konsumen atau pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran. Terlalu mudah menurut besarnya premi yang ditawarkan petugas asuransi akan membuat kesulitan bagi konsumen dikemudian hari. dengn sendirinya sama dengan masa pembayaran premi asuransi jiwa yang diikuti konsumen 6. sehingga harus menolak pembayaran klaim. yaitu bila tertanggung telah menerima ganti rugi ternyata mempunyai tagihan kepada pihak lain. dan hak itu beralih kepada penanggung Agar is polis tidak merugikan tertanggung. apabila konsumen meninggal dunia dalam masa pertanggungan. Untuk ini diperlukan pemahaman konsumen terhadap produk-produk asuransi jiwa yang ditawarkan. misalnya akan terjadi penunggakan pembayaran premi asuransi 5. Pihak-pihak yang terikat dalam perjanjian. disamping menerima uang pertanggungan. pihak yang ditunjuk untuk menerima uang pertanggungan. Jenis asuransi ini memberikan beasiswa untuk anak konsumen pada waktu yang telah ditentukan selama masa pertanggungan. Besarnya premi yang dibayarkan hendaknya dihitung dan dipahami secara teliti oleh konsumen sesuai dengan kemampuan keuangan konsumen. 4. Dalam polis dilarang pencantuman klausul yang dapat ditafsirkan bahwa tertanggung tidak dapat melakukan upaya hokum. Besarnya jumlah uang pertanggungan ini akan berpengaruh pula terhadap besarnya premi yang dibayarkan 4. 3. Dalam hal dicantumkan klausul pengecualian tentang resiko yang ditutup. Prinsip kepentingan.017/1993 tentang Penyelenggaraan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan reasuransi. baik Karena terjadinya resiko kematian pada tertanggung atau berakhirnya masa pertanggungan.pertanggungan jiwa yang diikuti konsumen.

Dalam syarat – syarat umum polis yang tertuang dalam rumusan kalimat yang kecil – kecil (sering kali sulit dibaca saking kecilnya). Dalam hal tertanggungmeninggal dunia. atas berbagai bentuk pelayanan pembayaran premi yang ditawarkan perusahaan asuransi. persoalan muncul bila petugas penagih premi membawa lari uang premi tertanggung. Kemudahan pelayanan pembayaran premi. 7. Tata cara pembayaran manfaat asuransi. Selambat – lambatnya dalam masa leluasa (biasanya kurang lebih 3 bulan) sejak tertunggaknya pembayaran premi tertanggung belum juga melunasi pembayarannya. konsumen sering disudutkan solah –olah menunggak pembayaran premi. 8. Pembatalan polis sering dilakukan secara sepihak oleh perusahaan asuransi dalam hal terpenuhinya satu atau lebih syarat. penagian premi lewat kartu kredit. hendaknya konsumen membiasakan tertib adminisdtrasi dengan meminta bahkan mendesak perusahaan asuransi untuk memberikan bukti pengajuan pembayaran pancairan klaim manfaat asuransi.jenis asuransi jiwa yang diikuti. bukti identitas yang bersangkutan d. surat keterangan dokter/ pejabat yang berwenang menerangkan sebab-sebab meninggalnya tertanggung berakhirnya masa pertanggungan dengan sendirinya mewajibkan perusahaan asuransi membayarkan manfaat asuransi. sebaiknya konsumen tetap mewaspadai. seperti penagihan premi ke alamat rumah/kantor konsumen. dan sebagainya. Sebelum menerima pembayaran itu. 9. Perusahaan asuransi mematahkan argumentasi konsumen dengan rumusan pasal :” penagihan premi asuransi di alamat penagihan atau melalui cara penagihan lainnya yang diselenggarakan perusahaan asuransi. [pemberian keterangan/ pernyataan tersebut diberikan sebelum diterbitkannya polis (perjanjian) asuransi. Bila argumentasi konsumen merujuk pada kelalaian petugas. b. Untuk kepentingan hokum konsumen. Polis konsumen dapat saja terancam batal dengan alas an pembayaran premi tertunggak. polis asuransi jiwa b. pemengang polis memeberikan keterangan atau persyaratan tidak jujur atau sengaja dipalsukan pada waktu mengisi formulir – formulir yang disi0terlebih dahulu oleh perusahaan asuransi. Tata cara penagihan/pembayaran premi asuransi. Pemahaman konsumen terhadap produk asuransi jiwa mutlak sangat diperlukan. pada hakikatnya salah satu bentuk pemasaran asuransi. bukti pembayaran premi terakhir c.dan bukti identitas yang bersangkutan kepada perusahaan asuransi. tertanggung menyerahkan polis asuransi jiwa. tidak membebaskan pemengang polis dari kewajibannya untuk selalu melunasi premi asuransi”. . meskipun tertanggung masih hidup. bukti pembayaran premi terakhir. maka pihak yang ditunjuk untuk menerima manfaat asuransi segera mengajukan klaim pembayaran manfaat asuransi. pengajuan klaim dilengkapi persyaratan : a. sebagai berikut: a.

tertanggung meninggal dunia karena bunuh diri b. tidak memberikan hak apa pun kepada konsumen untuk menuntut pembayaran. Dalamperaktik peransuransian. 2. penyelewengan uang pembayaran premi konsumen oleh petugas asuransi yang berakibat dilakukannya “pemutihan” polis asuransi konsumen dengan kondisi yang baru. masyarakat konsumen akan semakin jauh dari asuransi jiwa. kecuali consumen dapat membuktikan keterangan atau pernyataannya deiberikan secara jujur dan benar.Konsekuensi pembatalan polis berdasarkan alas an butir a. Sebaliknya pembatalan polis pada butir b. 10. Penolakan pembayaran klaim manfaat asuransi terjadi dalam hal : a. Pastikan pula informasi nilai tunai yang diinformasikan itu tidak berbeda dengan yang dilampirkan pada polis asuransi. polis menentukan bahwa pembayaran premi asuransi atau klaim asuransi . Tidak hanya itu. alas an – alas an sebagai mana disebut pada butir 9 a dan b diatas digunakan perusahaan asuransi dengan iktikad baik. Walaupun perusahaan asuransi menolak pembayarannya berdasarkan salah satu alas an itu. bila tertanggung terbukti meninggal dunia akibat kejahatan yang dilakukan pihak ketiga. perusahaan asuransi tetap berkewajiban membayar nilai tunainya atas polis yang telah memiliki nilai tunai. terdapat phenomena untuk mempersulit pengajuan klaim manfaat asuransi jiwa. Berkas pengajuan klaim sudah dipenuhi pihak yang ditunujuk untuk menerima manfaat asuransi. Apabila ini sering terjadi. tertanggung meninggal dunia karena kejahatan yang dilakukannya c. Sangat dianjurkan kepada konsumen untuk meminta penjelasan secara terperinci mengenai peritungan nilai tunai itu sebelum konsumen menyutujui mengikuti asuransi jiwa. terutama dolar amerika serikat padahal polis dan ketentuan umum. Sebaliknya. yaitu pihak yang ditunjuk untuk menerima uang pertanggung. Ketidak adilan subtansi syarat – syarat umum polis. yaitu bila tertanggung mengalami kecelakaan yang berakibat cacat tetap sebagian diberikan santunan sesuai persentase dalam table polis sebaliknya bila berakibat cacat total tetap tidak diberikan santunan apapun. Pada tahun 1996 – 1998 YLKI menerima beberapa pengaduan asuransi yang dapat diringkas sebagai berikut : 1. yaitu menolak klaim yyang seharusnya dibayarkan. perincian besarnya nilai tunai itu sesuai dengan daftar yang dilampirkan pada polis. Penetapan atau pematokan curve secara sepihak terhadap klaim nilai tunai dan jatuh tempo pada polis asuransi jiwa yang dippertanggungkan dengan mata uang asing. memberi hak kepada konsumenatas pembayaran nilai tunai bila polisnya telah mempunyai nilai tunai. maka pihak perusahaan asuransi dibebaskan untuk tidak membayar apapun kepada pihak ketiga itu. kecuali sebagai pihak yang membela diri. Premi yang akan dibayarkan menjadi lebih tinggi dari sebelm dilakukan pemutihan. Lebih baik menyimpan dibank yang sewaktu – waktu bisa diambil kembali ketika diperlukan. ternyata klaimnya ditunda sampai memakan waktu 3 minggu atau bahkan lebih dengan alas an berkasnya tidak lengkap. tertanggung meninggal dunia karena perkelahian. 3.

Pembatalan polis seperti ini tentunya sangat merugikan konsumen dengan melakukan pembaruan polis. Mengenai perjanjian asuransi terkadang terjadi karena rotasi petugas asuransi maka polis tersebut hilang dalam kerangka hokum perusahaan asuransi harus melakukan pengawasan terhadap petugasnya yang ada dilapangan sebagai bentuk tanggung jawab dan perlindungan hokum bagi konsumen dengan memberikan informasi yang benar dalam polis perusahaan asuransi dikelola lebih proposional. Semartono selaku kepala disperindag sekaligus ketua BPSK kota malang memberikan masukan agar konsumen lebih berhati – hati serta teliti dalam membeli produk asuransi.. tempat kedudukan tidak jelas. dalam kasus ini konsumen jelas dirugikan karena terikat dengan perjanjian yang tidak jelas dan dalam pelaksanaannya tidak ada iktikad baik dari pelaku usaha. lebih teliti dan menyerap informasi produk dari perusahaan asuransi tersebut. premi dari tertanggung (konsumen) berupa emas. Menurut Laily Zuriah selaku sekretaris BPSK Kota malang untuk kasus asuransi. konsumen harus tetap was pada.bukan kah petugas premi. Iklim deregulasi hokum. seharusnya pihak asuransi tidak hanya membekali petugas pemsarannya dengan berbagai keunggulan produk asuransinya tetapi mengenai juga ketentuan umum polis. tindakkan petugas itu menjadi tanggung jawab perusahaan asuransi. karena terkadang informasi awal dari suatu produk asuransi belum belum tentu sesuai dengan yang dijanjikan dalam pelksanaannya sebaliknya meminta bukti otentik sebagai dokumen tertulis pasda waktu pembayaran premi. Laily memperjelaskan dengan memberikan contoh mengenai perusahaan asuransi swasta. Ibarat berjalan di atas buih air. efesiensi birokrasi dalam pencairan klaim. Yang terakhir ini wajib pula diinformasikan kepada calon konsumen secara jujur da proposional. Namun domisili perusahaan asuransi tersebut tidak tetap. baik perorangan atau pun badan hokum. modal tidak jelas akhirnya waktu jatuh tempo premi yang berupa emas tersebut dilarikan. . uang premi yang dibayarkan oleh konsumen menjadi semakin tinggi: apalagi semakin tua usia konsumen. namun konsumen harus hati – hati. dari isi perjanjian memang menjanjikan bagi konsumen karena masing – masing perusahaan asuransi mempunyai aturan – aturan sendiri. Hendaknya petugas asuransi tidak mendesak konsumen untuk segera mengikuti perjanjian asuransi sebelum calon konsumen mempelajari dasn mengalami betul seluk beluk produk asuransi yang ditawarkan informasi yang disampaiikan secara tidak jujur dan proposioanal kepada calon konsumen sebenarnya menunujukan adanya dugaan kejahatan penipuan terhadap konsumen. Perusahaan asuransi seharunya melayani dan melindungi sebaik –baiknya konsumen yang mengalami kejadian ini. tata cara perhitungan premi dan nilai tunai. kurang kompeten. Apabila konsumen ragu – ragu supaya tidak memberi harapan pada pihak pemasaran. semakin besar premi yang harus dibayarkannya. serta ada pelayanan optimal bagi konsumen. tidak ada perebutan nasabah di lapangan. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen belum cukup untuk melindungi konsumen. melakukan praktik dengan benar. bukan dengan melakukan pembatalan polisnya untuk kemudian diikuti dengan pembaruan polis. bahkan Undang – undang No. tindakan pembatalan polis ini sama saja dengan sikap mengelakn dari tanggung jawab yang dibebakan hokum kepada perusahaan asuransi.? konsekuensinya. Menyikapi hak konsumen atas informasi produk asuransi.diperhitungkan menurut kurs Bank Indonesia atau kurs yang berlaku sesuai pengumuman otoritas moneter pada saat jatuh tempo. bertindak untuk dan atas nama perusahaan asuransi.

PENYELESAIAN SENGEKETA DIPERADILAN UMUM Sengketa konsumen dibatasi pada sengketa perdata. Pasal 1338 ayat (3) BW menentukan semua perjanjian yang dibuat pihak – pihak harus dilaksanakan dengan iktikad baik. pelanggan dan lain – lain tidak dapat berbuat sesuatu kecuali terpaksa menerima persyaratan yang disodorkan embel – embel take it or leave it baru menyadari kalau dia berada dalam posisi yang lemah kalau mengalami kerugian. kebiasaan. Dengan kata lain. Pasal 1339 BW menentukan : perjanjian – perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal – hal yang dengan tegas dinyatakan didalamnya tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat dari persetujuan itu diharuskan oleh kepatutan. melainkan karena inisiatif dari pihak yang sengketa dalam hal ini pengugat baik itu produsen atau pun konsumen pengadilan yang memberikan pemecahan atas hokum perdata yang tidak dapat bekerja di antara para pihak secara suka rela. Masuknya suatu sengketa kedepan pengadilan bukanlah karena kegiatan sang hakim. modal. Sebelumnya itu berarti surat gugatan harus sudah dipersiapkan terlebih dahulu secara teliti dan cermat.Menurut Aloysius R. BAB 8 PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN A. Terhadap syarat – syarat baku terhadap masyarakat kita belum memperhatikan kecuali mereka yang pernah mengajukan klaim ganti rugi. kebiasaan dan undang – undang merupakan juga syarat – syarat dari satu perjanjian. Istilah produsen berperkara didahului dengan pendaftaran surat gugatan dikepanitraan perkara perdata dipengadilan negeri. Pasal 45 ayat 1 UUPK menyatakan : 1. Entah salah satu pakar hokum perjanjian dan akademisi di malang menjelaskan bahwa dengan pelaksanaan “asas kebebasan berkontrak” yang melahirkan perjanjian baku termasuk asuransi polis asuransi secara umum terbatasi atau dikendalikan oleh ketentuan – ketentuan sebagi berikut: 1. 2. pasal ini ditafsirkan bahwa isi atau klausul – klausul suatu perjanjian tidak boleh bertentangan dengan undang – undang. atau undang – undang. Setiap konsumen yang dirugikan dapat mengugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui pradilan yang berada di lingkungan umum. . apabila kausa itu dilarang oleh undang – undang atau bertentangan dengan modal atau dengan ketertiban umum. Pasal ini haruslah ditafsirkan bahwa bukan hanya ketentuan kebiasaan dan undang – undang yang membolehkan atau berisi suruhan saja yang mengikat atau berlaku bagi suatu perjanjian tetapi juga ketentuan yang melarang mengikat atau berlaku bagi perjanjian itu. 3. Aspek positifnya ialah perjanjian baku yang dibuat sepihak oleh penangguh mengurangi biaya pembuatan dan waktu berunding di antara para pihak. larangan yang ditentukan oleh kepatutan. Oleh karena itu perjanjian baku dalam hal ini termasuk polis asuransi mengandung aspek positif dan asfek negative. Pasal 1337 BW menentukan: suatu kausa adalah terlarang. memakai jasa konsumen. dan/atau ketertiban umum. Aspek negatifnya pihak yang berminat.

Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu pihak atau oleh pihak yang bersengketa. Penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau diluar pengadilan berdasarkan pilihan suka rela para pihak yang bersengketa. Dari pernyataan pasal 45 ayat 3 jelas seharusnya bukan hanya tanggung jawab pidana yang tetap dibuka kesempatannya untuk diperkarakan melainkan juga tanggung jawab lainnya. Dalam kasus perdata diperadilan negeri . . mengingat makin banyaknya perusahaan multinasional yang beroprasi di Indonesia juga tidak menutup kemungkinan ada konsumen yang menggugat pelaku usaha diperadilan Negara lain. Hal yang dikemukan terakhir ini dapat terjadi. konsumen yang dirugikan haknya. Sekelompok konsumen yang mempunyai yang sama 3. misalnya dalam kaitannya dengan kebijakan aparat pemerintah yang ternyata dipandang merugikan konsumen secara individual bahkan. 4. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 tidak menghilangkan tanggung jawab pidana sebagai mana diatur dalam undang – undang. Seorang konsumen yang dirugikan yang bersangkutan 2. misalnya dibidang administrasi Negara. Pemerintah terkait jika barang dan jasa yang konsumsi mengakibatkan kerugian materi yang besar dan korban yang tidak sedikit.2. yaitu berbentuk badan hokum atau yayasan yang dalam anggaran dasarnya menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan yang didirikannya organisasi itu ialah untuk kepentingan perlindungan konsumen dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggran dasar. sehingga sengketa konsumen ini pun dapat bersifat trans nasional. tidak hanya diwakilkan oleh jaksa dalam penuntutan peradilan umum untuk kasus pidana tetapi ia sendiri dapat juga mengugat pihak lain lingkungan peradilan tata usaha Negara jika terdapat sengeketa administrasi didalamnya. 3. pihak konsumen yang diberikan hak konsumen mengajukan gugatan menurut pasal 46 UUPK adalah : 1. 4. Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful