P. 1
Hukum Perdata (Hukum an Konsumen)

Hukum Perdata (Hukum an Konsumen)

|Views: 1,339|Likes:
Published by Yopi Pebri

More info:

Published by: Yopi Pebri on Nov 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/18/2012

pdf

text

original

HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN OLEH: CELINA TRI SIWI KRISTIYANTI, S.H., M.Hum.

DOSEN: H. ZULKARNAIN IBRAHIM, S.H., M.Hum.

OLEH:
YOPI PEBRI (hlm 1-32) 02091401012 FARID AKBAR (hlm 33-68) 02091401089 INDAH PERMATA (hlm 69-100) 02091401043 FIRANDHIKA (hlm 101-134) 02091401073 BUNGA SUKMAWATI (hlm 135-170) 02091401049 LANIARI RIZKI (hlm 171-202) 02091401193

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SRIWIJAYA KAMPUS PALEMBANG TAHUN AJARAN 2010/2011

BAB 1 LATAR BELAKANG HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN

A.PENGANTAR Hukum perlindungan konsumen dewasa ini mendapat cukup perhatian karena menyangkut aturan-aturan guna mensejahterakan masyarakat, bukan saja masyarakat selaku konsumen saja yang mendapat perlindungan, namun pelaku usaha juga mempunyai hak yang sama untuk mendapat perlindungan, masing-masing ada hak dan kewajiban. Pemerintah berperan mengatur, mengawasi dan mengontrol, sehingga tercipta sistem yang kondusif saling berkaitan satu dengn yang lain dengan demikian tujuan menyejahterakan masyarakat secara luas dapat tercapai. Perhatian terhada perlindungan konsumen, terutama di amerika serikat (19601970-an) mengalami perkembangan yang sangat signifikan dan menjadi objek kajian bidang ekonomi, sosial, politik, dan hukum. Banyak sekali artikel dan buku yang ditulis berkenaan dengan gerakan ini. Di Amerika Serikat bahkan pada era tahuntahun tersebut berhasil diundangkan banyak peraturan dan dijatuhkan putusan-putusan hakim yang memperkuat kedudukan konsumen. Fokus gerakan perlindungan konsumen (konsumerisme) dewasa ini sebenar nya masih paralel dengan gerakan pertengahan abad ke-20. Di indonesia, gerakan perlindungan konsumen menggema dari gerakan serupa di Amerika Serikat. YLKI yang secara populer di pandang sebagai perintis advokasi konsumen di indonesia berdiri pada kurun waktu itu, yakni 11 mei 1973. Gerakan di indonesia ini termasuk cukup responsif terhadap keadaan, bahkan mendahului Resolusi Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC) No. 2111 Tahun 1978 tentang Perlindungan Konsumen. Sekali pun demikian, tidak berarti sebelum ada YLKI perhatian terhadap konsumen di Indonesia sama sekali terabaikan. Beberapa produk hukum yang ada, bahkan yang diberlakukan sejak zaman kolonial menyinggung sendi-sendi penting perlindungan konsumen. Dilihat dari kuantitas dan materi muatan produk huum itu dibanding kan dengan keadaan di negara-negara maju (terutama Amerika Serikat), kondisi di indonesia masih jauh menggembirakan. Walaupun begitu, keberadaan peraturan hukum bukan satu-satunya ukuran untuk menilai keberhasilan gerakan perlindungan konsumen. Gerakan ini seharusnya bersifat massal dan membutuhkan kemauan politik yang besar untuk mengapliksikannya. Secara umum,sejarah gerakan perlindungan konsumen dapat dibagi dalam empt tahapan. 1. Tahapan I(1881-1914) Kurun waktu ini titik awal munculnya kesadaran masrayakat untuk melakukan gerakan perlindungan konsumen. Pemicunya, histeria massal akibat novel karya Upton Sinclair berjudul The jungel, yang menggambarkan cara kerja pabrik pengolahan daging di Amerika Serikat yang sangat tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan. 2. Tahapan II (1920-1940) Pada kurun waktu ini muncul pula buku berjudul Your Money’s Worth karya chase dan schlink. Karya ini mampu menggugah konsumen atas hak-hak mereka dalam jual beli. Pada kurun waktu ini muncul slogan: fair deal, best buy. 3. Tahapan III (1950-1960) Pada dekade 1950-an ini muncul keinginan untuk mempersatukan gerakan perlindungan konsumen dalam lingkup internasional. Dengan diprakarsai oleh

wakil-wakil gerakan konsumen dari amerika Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Australia, dan Belgia, pada 1 april 1960 berdirilah internasional Organisasi of Consumer Union. Semula organisasi ini berpusat di den haag, Belanda, lalu pindah ke Londen, Inggris, pada 1993. dua tahun kemudian IOCU mengubah namanya menjadi Consumen Internasional (CI). 4. Tahapan IV (pasca-1965) Pasca 1965 sebagai masa pemantapan gerakan perlindungan konsumen, baik di tingkat regional maupun internasional. Sampai saat ini dibentuk lima kantor regional, yakni Amerika Latin dan karibia berpusat di Cile, Asia pasifik berpusat di malaysia, Afrika berpusat di Zimbabwe, Eropa Timur dan Tengah berpusat di Inggris dan negara-negara maju juga berpusat di London, Inggris. B.LATAR BELAKANG HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN 1. Globalisasi Ekonomi dan Perdagangan Bebas Negri-negri yang sekarang ini disebut negara-negara maju telah menumpuh pembangunannya melalui tiga tingkat: unifikasi, industrialisasi, dan negara kesejaheraan. Pada tingkat pertama yang menjadi masalah berat adalah bagaimana mencapai integrasi politik untuk menciptakan persatuan dan kesatuan nasional. Tingkat kedua, perjuangan untuk pembangunan ekonomi dan modernisasi politik. Akhirnya pada tingkat ketiga tugas negara yang terutama adalah melindungi rakyat dari sisi negatif industrialisasi, membetulkan kesalahan-kesalahan pada tahap-tahap sebelumnya dengan menekankan kesejahteraan masyarakat. Tingkat-tingkat tersebut dilalui secara berurutan (consecutive) dan memakan waktu yang relatife lama. Persatuan nasional adalah persyaratan untuk memasuki tahap industrialisasi. Industrialisasi merupakan jalan untuk mencapai Negara kesejahteraan. Revolusi industri di Inggris yang dimulai pada abad ke-18 kiranya dapat dianggap sebagai awal proses perubahan pola kehidupan masyarakat yang semula merupakan masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Berkembang dan semakin majunya teknologi kemudian mendorong pula peningkatan volume produksi barang dan jasa. Perkembangan ini juga mengubah hubungan antara penyedia produk dan pemakai produk yang semakin beranjak. Produk barang dan jasa yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia semakin lama semakin canggih, sehingga timbul kesenjangan terhadap kebenaran informasi dan daya tanggap konsumen. Kondisi tersebut kemdian menempatkan konsumen dalam posisi yang lemah. Sejak dua dasawarsa terakhir ini perhatian dunia terhadap masalah perlindungan konsumen semakin meningkat. Gerakan perlindungan konsumen sejak lama dikenal di dunia Barat. Negara-negara di Eropa dan Amerika juga telah lama memiliki peraturan tentang Perlindungan Konsumen. Organisasi Dunia seperti PBB tidak kurang perhatiannya terhadap masalah ini. Hal ini terbukti dengan dikeluarkannya Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa No.39/249 Tahun 1985. Dalam resolusi ini kepentingan konsumen yang harus dilindungi meliputi. a. perlindungan konsumen dari bahaya-bahaya terhadap kesehatan dan keamanannya; b. promosi dan perlindungan kepentingan sosial ekonomi konsumen; c. tersedianya informasi yang memadai bagi konsumen untuk memberikan kemampuan mereka dalam melakukan pilihan yang tepat sesuai dengan kehendak dan kebutuhan pribadi; d. pendidikan konsumen;

selalu ada yang menang dan kalah. waralaba. Dampak buruk yang lazim terjadi. Keadaan yang universal ini pada beberapa sisi menunjukkan adanya beberapa kelemahan pada konsumen sehingga konsumen tidak mempunyai kedudukan yang “aman’’. pada suatu waktu. dan disemua pasar yang berdasarkan persaingan. Konsumen yang keberadaannya sangat tidak terbatas dengan strata yang sangat bervariasi menyebabkan produsen melakukan kegiatan pemasaran dan distribusi produk barang atau jasa dengan cara seefektif mungkin agar dapat mencapai mencapai konsumen yang sangat majemuk tersebut. aliansi strategis internasional. dalam posisi tunggal/sendiri maupun berkelompok bersama orang lain. dalam keadaan apapun pasti menjadi konsumen untuk suatu produk barang atau jasa tertentu. perdagangan. Manufaktur. Dengan demikian. perlindungan konsumen harus mendapat perhatian yang lebih. Setiap orang. secara mendasar konsumen juga membutuhkan perlindungan hukum yang sifatnya universal. Oleh karena itu. maka pembahasan perlindungan konsumen akan terasa aktual dan selalu penting untuk dikaji ulang. Globalisasi adalah gerakan perluasan pasar. akhirnya baik langsung maupun tidak langsung.antara lain menyangkut kualitas. Persaingan perdagangan internasional dapat membawa implikasi negatif bagi perlindungan konsumen. tersedianya upaya ganti rugi yang efektif. karena investasi asing telah menjadi bagian pembangunan ekonomi indonesia. alih teknologi. Perlindungan terhadap konsumen dipandang secara material maupun formal makin terasa sangat penting. Dalam rangka mengejar dan mencapai kedua hal tersebut. investasi melewati batas-batas negara. mengingat sedemikian kompleksnya permasalahan yang menyangkut perlindungan konsumen. yang akan membawa akibat pada komposisi masyarakat dan kondisi kehidupan mereka. f. turnkey project. upaya-upaya untuk memberikan perlindungan yang memadai terhadap kepentingan konsumen merupakan suatu hal yamg penting dan mendesak untuk segera dicari solusinya. konsumen lah yang pada umumnya merasakan dampaknya. aktivitas finansial. Untuk itu semua cara pendekatan diupayakan sehingga mungkin menimbulkan berbagai dampak. Kini transaksi menjadi beraneka ragam dan rumit. termasuk keadaan yang menjuruspada tindakan yang bersifat negatf bahkan tidak terpujiyang berawal dari iktikad buruk. Globalisasi menyebabkan berkembangnya saling ketergantungan pelaku ekonomi dunia. kebebasan untuk membentuk organisasi konsumen. Tiadanya perlindungan konsumen adalah sebagian dari gejala negri yang kalah dalam perdagangan bebas. dimana ekonomi indonesia juga telah berkait dengan ekonomi dunia. terutama di indonesia. Pada masa lalu bisnis internasional hanya dalam bentuk ekspor-impor dan penanaman modal. informasi yang tidak jelas bahkan menyesatkan pemalsuan dan sebagainya. Perdagangan bebas juga menambah kesenjangan antara negara maju dan negara pinggiran (periphery). dan lain-lain. seperti kontrak pembuatan barang.e. . meningkatkan intensitas persaingan. Gejala ini dipercepat oleh kemajuan komunikasi dan transportasi teknologi. imbal beli. mengingat makin lajunya ilmu pengetahuan dan teknologiyang merupakan motor penggerak bagi produktivitas dan efisiensi produsen atas barang dan jasa yang dihasilkan dalam rangka mencapai sasaran usaha. atau mutu barang. Mengingat lemahnya kedudukan konsumen pada umumnya dibandingkan dengan kedudukan produsen yang relatif lebih kuat dalam banyak hal. lebih-lebih menyongsong era perdagangan bebas yang akan datang.

manajemen. promosi dan saluran distribusi. Hubungan antara Produsen dan Konsumen Sudah menjadi komitmen Pemerintah Indonesia. Perubahan pemasaran tersebut membawa pengaruh pula pada konsep perlindungan konsumen secara global. dengan menjual atau membujuk pelanggan potensial untuk menukar uangnya dengan produk perusahaan. price. sebagai konsep baru pemasaran. Untuk itu harus memanfaatkan pelanggan yang ada termasuk pesaing. Persaingan yang makin ketat ini juga dapat memberikan dampak negatif terhadap konsumen pada umumnya. pelanggan. Era perdagangan bebas merupakan suatu era kemana pemasaran merupakan suatu disiplin universal. Dibandingkan pemerintah dan . tetapi cara pencapaian mejadi luas. konsep pemasaran pada awalnya adalah memfokuskan pada produk yang lebih baik yang berdasarkan pada standar dan nilai internal. promotion. politik secara luas. sebagaimana tahapan berikut: Pertama. sangat tergantung pada kesiapan pemerintah. Saat ini sasaran setiap negara. Pemikiran konsep secara luas dan kajian dari aspek hukum pun juga membutuhkan wawasan hukum yang luas. mengingat makin ketatnya persaingan untuk berusaha. dunia usaha dan masyarakat konsumen Indonesia. Orientasi pemasaran global pada dasarnya dapat mengubah berbagai konsep. Hal ini sangat penting mengingat kepentingan konsumen pada dasar nya sudah ada sejak awal sebelum barang/jasa diproduksi selama dalam proses produksi sampai pada saat distribusi sehingga sampai ditangan konsumen untuk dimanfaatkan secara maksimal. Disamping itu juga terjadi perubahan pada tujuan pemasaran. dengan pembaruan dari konsep pemasaran menjadi konsep strategi. WTO (World Trade Organization). yaitu dengan pembaruan pemasaran marketing mix atau 4p ( product. upaya mempertahankan pelanggan/konsumen atau mempertahankan pasar atau memperoleh kawasan pasar baru yang lebih luas. Berhasil tidaknya Indonesia memanfaatkan era perdagangan bebas.Pada situasi ekonomi global dan menuju eraperdagangan bebas. perlindungan terhadap konsumen juga membutuhkan pemikiran yang luas pula. Bertolak dari rangkaian perubahan konsep pemasaran tersebut. melalui bebagai kesepakatan internasional seperti GATT (General Ageement on Trade and Tarif). sosial. pada dekade enam puluhan fokus pemasaran dialihkan dari produk kepada pelanggan. Ketiga. merupakan dambaan bagi setiap produsen. cara pandang dan cara pendekatan mengenai banyak hal termasuk strategi pemasaran. Perlindungan konsumen dalam era pasar global menjadi sangat penting. Sasaran masih tetap pada laba. peraturan pemerintah serta kekuatan makro. 2. Konsep strategi pemasaran pada dasrnya mengubah fokus pemasaran dari pelanggan atau produk kepada pelanggan dalam konteks lingkungan eksternal yang lebih luas. AFTA (Asean Free Trade Area) dan lain-lain. Kedua. Indonesia menjadi salah satu pelaku dalam era pedagangan bebas. kebijakan yang berlaku. karena pertama konsumen disamping mempunyai hak-hak yang bersifat universal juga mempunyai hak-hak yang bersifat sangat spesifik (baik situasi maupun kondisi). setiap perusahaan (setiap produsen) adalah menuju pada pemasaran global. harga. Hal ini dilakukan dengan tujuan memperoleh laba. and place) produk. sehingga tidaklah dapat dikaji dari aspek hukum semata-mata. ekonomi. yaitu dari laba menjadi keuntungan pihak yang berkepentingan (yaitu orang perorangan atau kelompok yang mempunyai kepentingan dalam kegiatan perusahaan termasuk di dalamnya karyawan. masyarakat dan negara). Konsep-konsep dipandang dari strategi pemasaran global telah berubah dari waktu ke waktu.

serta adanya kemudahan keluar masuk barang ke dalam pasar tanpa halangan. posisi konsumen diuntungkan. baik berupa barang dan jasa. sementara di negara bekembang bebas masuk karena belum ada standardisasi mutu buah impor. Anggapan dasar dalam pasar bebas adalah adanya arus informasi yang sempurna yang memberi kemungkinan pada pembeli dan penjual untuk memilih barang dan jasa secara rasional. posisi konsumen khususnya di negara berkembang dirugikan. lemahnya produk perundang-undangan. banyak sekali peraturanperaturan yang justru bernuansa anti persaingan. agar era perdagangan bebas bagi konsumen benar-benar menjadi anugrah. persekongkolan diantara perusahaan yang bersaing untuk mengembangkan produk atau penelitian. (2) Resale price maintenance: penjual merancang harga yang dapat dibebankan kepada konsumen. (5) Refusal to deal: satu pemasok memaksa seseorang pembeli untuk menaati satu mandat tertentu dibawah ancaman penarikan barang dan jasa. mutu.satu perusahaan atau lebih bergerak untuk menciptakan monopoli di luar batas yurisdiksi satu Negara. 1) Cross border business agreement. Ada dua asumsi dalam melihat posisi konsumen di era pasar bebas. (c) persekongkolan bisnis strategis. a) undang-undang anti dumping. a) merger dan akuisisi. konsumen lebih banyak pilihan dalam menentukan berbagai kebutuhan. Oleh karena itu. Contoh kasus buah impor. praktis belum ada pihak yang menyentuh bagaimana mempersiapkan konsumen Indonesia menghadapi pasar bebas. satu cara untuk menangkal purusahaan asing membanjiri barang dan jasa yang lebih murah dari pada harga yang ditetapkan oleh perusahaan di dalam negri. b) penetapan target impor. dengan adanya liberalisasi perdagangan arus keluar masuk barang menjadi semakin lancar. Di negara maju buah impor ditolak karena kandungan/residu pestisida di atas ambang batas yang membahayakan kesehatan. (3) exclusive dealing: dua penjual atau lebih menciptakan monopoli lokal dengan persetujuan untuk berbagai pasarke dalam wilayah-wilayah. maupun harga. bukan sebaliknya justru menjadi musibah. 3) Trade policy. Dalam kenyataan. c) kartel domestik. mengingat dalam praktik. Logika gagasan ini adalah. (4) Reciprokal exclusiveity: penjual menyetujui hanya menjual barang dan jasa dari pemasok saja. Kedua. c) penetapan kouta ekspor.satu tindakan bersama dari babaraa perusahaan dari berbagai negara untuk membagi pasar dan menetapkan harga. .dunia usaha. satu tanggapan defensif oleh perusahaanperusahaan yang membeli barang dari kartel ekspor. 2) Industrial policy: a) kartel ekspor. dari segi jenis/macam barang. Permasalahannya. masih lemah nya pengawasan dibidang standardisasi mutu barang. (6) Differential pricing: pemasok menentukan harga berbeda kepada pembeli yang berbeda atas dasar selain mutu dan jumlah yang dilepas. akan menjadikan konsumen negara dunia ketiga menjadi sampah berbagai produk yang di negara maju tidak memenuhi persyaratan untuk dipasarkan. b) kartel impor. Seperti (1) Tied selling: penjual memaksa pembeli untuk membeli barang dan jasa lebih daripada yang dibutuhkan pembeli.(b) kartel internasional.menurut Customers Internasional (CI) anggapan dasar ini tidak selalu menjadi kenyataan. Pertama. persyaratan-persyaratan apa yang harus ada dalam pranata hukum Indonesia. satu cara dari perusahaan untuk membatasi akses pasar bagi perusahaan asing. (7) Predatory pricing: penjual menentukan perbedaan harga dengan tujuan untuk mendorong pesaing keluar dari bisnis. persetujuan di antara perusahaan atas harga ekspor. Alasannya.

Sapai pada tahapan hubungan penyaluran atau distribusi tersebut menghasilkan suatu hubungan yang sifatnya massal. perlu dipenuhi beberapa persyaratan minimal. dan sebagainya. antara lain: (1) hukum perlindungan konsumen harus adil bagi konsumen maupun produsen. hubungan antara produsen (perusahaan penghasilan barang dan/atau jasa) dengan konsumen (pemakai akhir dari barang dan/atau jasa untuk dari sendiri ataukeluarganya) merupakan hubungan yang terus-menerus dan berkesinambungan. yakni adanya permintaan yang meningkat dari masyarakat sehingga produsen dituntut untuk meningkatkan produktifitasnya. Rangkaian kegiatan tersebut merupakan rangkaian perbuatan dan perbuatan hukum yang tidak mempunyai akibat hukum dan yang mempunyai akibat hukum baik terhadap semua pihak maupun hanya terhadap pihak tertentu saja. Karena sifatnya yang masal tersebut. (4) mengubah sistem nilai dalam masyarakat ke arah sikap tindak yang mendukung pelaksanaan perlindungan konsumen. Tanpa dukungan konsumen. syarat pengemasan. konsumen kebutuhannya sangat bergantung dari hasil produksi produsen. Produsen sangat membutuhkan dan sangat bergantung atas dukungan konsumen sebagai pelanggan. jadi tidak membebani produsen dengan tanggung jawab.Dari apa yang telah dipaparkan CI diatas. Secara umum dan mendasar. syarat kesehatan. semua tujuan tersebut hanya dapat dicapai bila hukum perlindungan konsumen dapat diterapkan secara konsekuen. Hubungan tersebut terjadi karena keduanya memang saling menghendaki dan mempunyai tingkat ketergantungan yang cukup tinggi antara yang satu dengan yang lain. distribusi pada pemasaran dan penawaran. (3) Peningkatan kesadaran konsumen akan hak-haknya. dengan jelas terlihat bahwa kedudukan konsumendi dalam era perdagangan babas sangat lemah. hukum ini juga akan mendorong produsen untuk melakukan usaha dengan penuh tanggung jawab. Hubungan antara produsen dan konsumen yang berkelanjutan sejak proses produksi. syarat lingkungan. Tujuan hukum pelindungan konsmen secara langsung adalah untuk meningketkan martabat dan kesadaran konsumen. tidak mungkin produsen dapat terjamin kelangsungan usahanya. Proses sampai hasil produksi barang atau jasa dilakukan tanpa campur tangan konsumen sedikit pun. Hal tersebut secara sistematis dimanpaatkan oleh produsen dalam suatu sistem distribusi dan pemasaran produk barang guna mencapai tingkat produktivitas dan efektivitas dalam rangka mencapai sasaran usaha. Namun. . karna sifatnya yang massal. yakni adanya permintaan yang meningkat dari masyarakat sehingga produsen dituntut untuk meningkatkan produktivitasnya. sesuai dengan tingkat ketergantungan akan kebutuhan yang tidak terputus-putus. Saling ketergantungan karena kebutuhan tersebut dapat menciptakan suatu hubungan yang terus-menerus dan berkesinambungan sepanjang masa. Untuk itu perlu diatur perlidungan konsumen berdasarkan undang-undang antara lain menyangkut mutu barang. cara prosedur produksi. Untuk mewujutkan harapan tersebut. maka peran negara sangat dibutuhkandalam rangka melindungi kepentingan konsumen pada umumnya. Perlunya undang-undang perlindungan konsumen tidak lain karena lemahnya posisi konsumen dibandingkan posisi produsen. Secara tidak langsung. Sebaliknya. tetapi juga melindungi hak-haknya untuk melakukan usaha dengan jujur: (2) aparat pelaksa hukumnya harus dibekali dengan sarana yang memadai dan disertai dengan tanggung jawab.

dan bahkan antarpara pihak yang mempunyai pengaruh untuk produk tertentu dalam rangka memperebutkan pasar. yang sangat dipengaruhi oleh berbagai keadaan antara lain: 1. Setelah hubungan bersifat personal. dibutuhkan berbagai aspek hukum agar konsumen dapat dilindungi dengan adil sejak awal produksi. Kedala yang dihadapi dalam upaya perlindungan konsumen di indonesia tidak terbatas pada rendahnya kesadaran konsumen akan hak. penawaran dan syarat perjanjian. tetapi juga adanya persepsi yang salah dikalangan sebagian besar produsen bahwa perlindungan terhadap konsumen akan menimbulkan kerugian terhadap rodusen. fasilitas yang ada. maka untuk melindungi konsumen sebagai pemakai akhir dari produk barang atau jasa. Hal ini sangat penting mengingat konflik antara negara dan pihak berkepentingan di dalam era perdagangan bebas makin luas. Sistem perlindungan tersebut tidak dapat hanya memanfaatkan perangkat hukum nasional saja. Paa era pasar bebas dimana hubungan produsen dan konsumen menjadi makin dekat dan makin terbuka. antar kawasan ekonomi. tetapi membutuhkan pula perangkat hukum internasional dalam jaringan kerja sama antar negara dan kerja sama internasional. tetapi juga akan merugikan produsen yang jujur dan bertanggung jawab. dan makin bervariasi. harga dari satu jenis komoditas tertentu. kondisi. dan kerja sama internasional sangat dibutuhkan. hukum perdata lah yang lebih dominan dalam rangka melindungi masing-masing pihak. Hubungan hukum yang spesifik ini sangat bervariasi. Persepsi yang keliru di kalangan pengusaha ini akan dengan mudah diluruskan apabila disadari beberapa pertimbangan berikut ini. pada dasarnya akan sangat mempengaruhi dan menciptakan kondisi perjanjian yang juga sangat bervariasi. yaitu antarnegara asosiasi produsen sejenis. terbuka. (1) bahwa konsumen dan produsen adalah pasangan yang saling membutuhkan. dan usaha swasta. dan sebagainya.Dipenghuninya persyaratan diatas akan mengangkat harkat Dan martabat konsumen. koprasi. yaitu guna mengatur pola hubungan rodusen. Untuk itu aspek hukum publik sangat dominan. Kecurangan ini tidak hanya merugikan konsumen saja. Keadaan-keadaan seperti di atas. kebutuhan para pihak pada rentang waktu tertentu. Hubungan antara produsen dan konsumen yang bersifat massal tersebut menciptakan hubungan secara individual/personal sebagai hubungan hukum yang spesifik. Dalam praktik nya. (2) bahwa ada produsen yang melakukan kecurangan dalam melakukan kegiatan usahanya. 3. 2. Diawali dengan sistem pengawasan tarhadap mutu dan kesehatan serta ketepatan pemanfaatan bahan untuk sasaran produk.Bertolak dari luas dan komleksnya hubungan antara produsen dan konsumen serta banyaknya mata rantai penghubung keduanya. 4. usaha produsen tidak akan dapt berkembang dengan baik bila konsumen berada pada kondisi yang tidak sehat akibat banyaknya produk yang cacat. (3) kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan usaha bagi produsen yang bertanggung jawab dapat diwujudkan tidak dengan jalan merugikan kepentingan . kerja sama antarnegara. yang syarat-syaratnya secara sepihak ditentukan pula oleh produsen atau jaringan distributornya. Campur tangan negara. sehingga mereka juga dapat diakui sebagai salah satu subjek dalam sistem perekonomian nasional di samping BUMN. hubungan hokum seringkali melemahkan posisi konsumen karena secara sepihak para produsen/distributor sudah menyiapkan satu kondisi perjanjian dengan adanya perjanjian baku. sebelum dan purna jual. konsumen dan sistem perlindungan konsumen.

dan juga mengandung sifat yang melindungi kepentingan konsumen. seorang penjual yang berbuat crang terhadap pembeli: (1) karena sengaja menberikan barang lain daripada yang ditunjuk untuk dibeli. Adapun hukum konsumen diartikan sebagai keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan hubungan dan masalah antara berbagai pihak satu sama lain berkaitan dengan barang dan/jasa konsumen. (4) bahwa beban kompensasi atas kerugian konsumen akibat pemakaian produk cacat telah diperhitungkan dalam komonen produksi. inti persoalannya bukan terletak pada kaedah yang harus “mengatur“ dan “memaksa“. Nasution.konsumen. secara hokum sebenarnya hukum konsumen dan hukum perlindungan konsumen ini seperti yang dinyatakan oleh Lowe yakni: …. Karena posisi konsumen yang lemah maka ia harus dilindungi oleh hukum. Salah satu sifat. belum jelas benar apa yang masuk kedalam materi keduanya. Apakah kaidah yang sifatnya memaksa. Namun. . Az. Bentrok dari keadaan yang demikian. Juga. seperti hukum perdata. Seharusnya ketentuan memaksa dalam pasal 383 KUHP juga memenuhi syarat untuk dimasukkan kedalam wilayah hukum perlindungan konsumen. apakah kedua“cabang’’ hukum itu identik. perlindungan hukum terhadap hak konsumen tidak dapat diberikan oleh satu aspek hukum saja. Adapun yang masih belum jelas dari pernyataan Az. hukum administrasi (negara) dan hukum internasional terutama konvensi-konvensi yang berkaitan dengan kepentingan-kepentingan konsumen. Ada juga yang berpedapat. Diancam dengan pidana paling lama satu tahun empat bulan. hukum dagang. baik tertulis maupun tidak tertulis.HUKUM KONSUMEN DAN HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN Istilah“hukum konsumen’’dan“hukum perlindungan konsumen’’sudah sangat sering terdengar. Jadi. tetai dapat dicapai melalui penindakan terhadap produsen yang melakukan kecurangan dalam melakukan kegiatan usahanya. Ia menyebutkan. Artinya.Leder menyatakan: In a sense there is not such creature as consumer law. sekaligus tujuan hukum itu adalah memberikan perlindungan (pengayoman) kepada masyarakat. sebenarnya hukum konsumen dan hukum perlindungan konsumen adalah dua bidang hukum yang sulit dipisahkan dan ditarik batasnya. asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah konsumen itu tersebar dalam berbagai bidang hukum. tetapi memberikan perlindungan terhadap konsumen tidak termasuk dalam hukum perlindungan konsumen? Untuk itu jelasnya dapat dilihat ketentuan Pasal 383 KUHP berikut ini. Nasution berkaitan dengan kaidah-kaidah hukum perlindungan konsumen yang senantiasa bersifat mengatur.J. Az. hukum pidana. Nasution mengakui. Sekalipun demikian. M.rules of law which recognize the bargaining weakness of the individual consumer and which ensure that weakness is not unfairly exploited. (2) mengenai jenis keadaan atau banyaknya barang yang diserahkan dengan menggunakan tipu muslihat. hukum perlindungan konsumen merupakan bagian dari hukum konsumen yang lebih luas itu. C. misalnya berpendapat bahwa hukum konsumen yang memuat asas-asas atau kaidah-kaidah bersifat mengatur. di dalam pergaulan hidup. tetapi ditanggung bersama oleh seluruh konsumen yang memakai produk yang cacat. melainkan oleh sistem perangkat hukum yang mampu memberikan perlindungan yang simultan dan komperehensif sehingga terjadi persaingan yang jujur yang secara langsung atau tidak langsung akan menguntungkan konsumen.

Erman rajagukguk menjelaskan bahwa di Indonesia untuk pertumbuhan ekonomi dan pemerataan dapat dilaksanakan dalam waktu bersamaan. institusi hukum dan profesi hukum. dapat mendorong pertumbuhan perdagangan dan industri. 11 mei 1973. 26. dan singapura. seperti yayasan lembaga bina konsumen Indonesia (YLBKI) di Bandung dan perwakilan YLKI di berbagai provinsi di tanah air. seyogyanya dikatakan. yakni dengan berdirinya lembaga swadayamasyarakat (nongovernmental organization) yang bernama yayasan lembaga konsumen Indonesia (YLKI). D. Filipina. Ajang promosi yang diberi nama pekan swakarya ini menimbulkan ide bagi mereka untuk mendirikan wadah bagi gerakan perlindungan konsumen di Indonesia. Diluar itu. tugas dan beban. Yayasan ini sejak semula tidak ingin berkonfrontasi dengan produsen (pelaku usaha) apalagi dengan pemerintah. antara lain lembaga pembinaan dan perlindungan konsumen (LP2K) di semarang yang berdiri sejak Februari 1988 dan pada 1990 bergabung sebagai anggota consumers international (CI). Pembangunan yang komperhensif harus memperhatikan hak-hak manusia. Dalam sambutan guru besar UI. Dalam suasana kerja sama ini kemudian lahir motto yang dicetuskan oleh Ny. Kata aspek hukum ini sangat bergantung pada kemauan kita mengartikan. Keduanya tidak dalam kondisi yang berlawanan dan dengan demikian pembangunan akan menarik partisipasi masyarakat. dewasa ini cukup banyak lembaga swadaya masyarakat serupa berorientasi pada kepentingan pelayanan konsumen.H. YLKI muncul dari sekelompok kecil anggota masyarakat yang diketuai oleh lasmidjah hardi. institusi hukum dan profesi hukum. serta berfungsi memajukan keadialan social. yang mampu menjaga integrasi dan persatuan nasional. Dilihat dari sejarahnya gerakan perlindungan konsumen di Indinesia baru benarbenar dipopulerkan sekitar 20 tahun lalu. Thailand. Setelah YLKI. Sebagaimana pernah disinyalir oleh ketua internasional organization of consumers union (IOCU. Kita harus memiliki hukum. kesejahteraan manusia. Persatuan nasional.S Loemban Tobing. Kartina Sujono Prawirabisma bahwa YLKI bertujuan melindungi konsumen. perlindungan konsumen di Indonesia masih tertinggal. Apabila kita ingin tiga tingkat pembangunan di jalani secara serentak. sekarang CI) Erna Witoelar.Dengan demikian. S. yakni dengan menyelenggarakan pekan promosi swakarya II dan III yang benar-benar dimanfaatkan oleh kalangan produsen dalam negeri. Ide ini dituangkan dalam anggaran dasar yayasan di hadapan Notaris G. seperti Malaysia. yang semula bertujuan mempromosikan hasil produk Indonesia. budaya hokum di Indonesia harus dapat mengakomodasi tujuan-tujuan yang demikian itu. atinya harus bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Hal ini dibuktikan benar oleh YLKI. Hal ini menjadi tambah penting karena bangsa kita berada dalam era globalisasi. hukum konsumen berkala lebih luas meliputi berbagai aspek hukum yang terdapat kepentingan pihak konsumen di dalamnya. tentu Indonesia masih harus “belajar“ banyak.GERAKAN PERLINDUNGAN KONSUMEN DI INDONESIA Jika melihat kemajuan perkembangan konsumen di Amerika Serikat. Ketertinggalan itu tidak hanya dibandingkan dengan Negara-negara sekitar Indonesia. Dalam mencapai tujuan tersebut diperlukan pembauran hukum. dengan akta No. kemudian muncul beberapa organisasi serupa. pembagian yang adil atas hak dan keistimewaan. . menjaga martabat produsen dan membantu pemerintah.H. pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan social mesti dapat tercermin dalam setiap pengambilan keputusan.

Lembaga ini tidak sekedar melakukan penelitian atau pengujian. instruksi presiden. (2) makanan dan minuman. Jika dibangdingkan dengan perjalanan panjang gerakan konsumen diluar negeri khususnya di Amerika Serikat. YLKI dapat menggunakan lembaga hukum gugatan kelompok (class action). Pengalaman menangani kasus-kasus yang merugikan konsumen di negara-negara yang lebih maju dapat dijadikan studi yang bermanfaat sehingga Indonesia tidak perlu lagi harus mengulang keslahan yang serupa. (5) metrology dan tera. Jenis peraturan perundangundangannya pun bervariasi. dan (8) lingkungan hidup. YLKI cukup beruntung karena tidak harus memulainya dari nol sama sekali. Selanjut nya rancangannya di sahkan menjadi undang-undang. penerbitan dan menerima pengaduan. Dari inventarisasi sampai 1991. Alasan yang utama tentu karena YLKI sendiri bukan badan pemerintah seperti FDA di Amerika Serikat dan tidak memiliki kekuasaan public untuk menerapkan suatu peraturan atau menjatuhkan suatu sanksi. keputusan ketua pelaksana bursa komoditi. Sementara itu. keputusan dirjen. masih belum dikenal dengan baik oleh para penegak hukum di Indonesia. Beberapa harian besar Nasional. Hal ini menunjukan dalam perjalanan memasuki dasawarsa ketiga. walaupun ada preseden yang mengakui eksistensi gugatan kelompok tersebut.h.YLKI memiliki cabang-cabang di berbagai provinsi dan mempunyai pengaruh yang cukup besar karena didukung oleh media massa. (4) kendaraan bermotor. peraturan mentri. . sampai saat ini masih sangat minim. (3) alat-alat elektronik. baik berupa koreksi maupun bantahan. Selama ini upaya hukum individual dari konsumen untuk menggugat produsen baik pemerintah maupun swasta. Ditinjau dari kemajuan peraturan perundang-undangan di Indonesia dibidang perlindungan konsumen. tidak banyak membuahkan hasil. YLKI mampu berperan besar khususnya dalam gerakan menyadarkan konsumen akan hak-haknya. pengaturan yang memuat unsur perlindungan konsumen tersebar pada delapan bidang. termasuk yang di prakarsai YLKI mencatat prestasi besar setelah naskah akademik UUPK berhasil di bawa ke DPR. seperti media Indonesia dan Kompas. (7) pengawasan mutu barang. gugatan massal yang mewakili masyarakat luas. Gerakan ini belum mempunyai kekuatan lobi untuk memberlakukan atau mencabut suatu peraturan. Perhatian produsen terhadap publikasi demikian juga terlihat dari reaksi-reaksi yang diberikan. banyak hakim yang masih ragu-ragu untuk menerimanya. YLKI dianggap mitra yang representatif. mulai dari ordonansi dan undang-undang. dan keputusan gubernur (d. Demikian juga dalam berbagai pertemuan ilmiah dan pembahasan peraturan perundang-undangan. keputusan bersama dari beberapa mentri. Namun. Untuk mewakili gugatan-gugatan di msyarakat. Hasil-hasil penelitian YLKI yang dipublikasikan di media massa juga membawa dampak terhadap konsumen. (6) industri. Metode kerja YLKI baru pada penelitian terhadap sejumlah produk barang/jasa dan mempublikasikan hasilnya kepada masyarakat. keputusan mentri. Keberadaan YLKI juga sangat membantu dalam upaya peningkatan kesadaran atas hak-hak konsumen. peraturan pemerintah atau yang sederajat. secara rutin menyediakan kolom khusus untuk membahas keluhan-keluhan konsumen. instruksi dirjen. Gerakan konsumen di Indonesia. yaitu (1) obat-obatan dan bahan berbahaya. Demikian pula dengan kasus-kasus kegagalan advokasi konsumen. YLKI juga tidak sepenuhnya dapat mandiri seperti food and drug administration (FDA). daik dilihat dari kualitas peraturannya maupun kedalaman materi yang dicakupnya. tetapi sekaligus juga mengadakan upaya advoksasi melalui jalur pengadilan.i gubernur KDH DKI Jakarta).

Dalam satu Negara dapat saja ada lebih dari satu organisasi konsumen yang terdaftar sebagai anggota CI. dengan resolusinya No. misalnya mempunyai 15 organisasi anggota CI. YLKI mencoba mengajukan gugatan kelompok kepada pemerintah dalam berbagai kasus. PROSPEK GERAKAN KONSUMEN Perhatian terhadap gerakan perlindungan hak-hak konsumen (konsumerisme) mendapat pengakuan dan dukungan dari dewan ekonomi dan social PBB. maka ada kewajiban bagi Indonesia untuk mengikuti standard-standar hukum yang berlaku dan diterima luas oleh Negara-negara anggota WTO. antara lain terhadap PT Persero Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Telkom. yang disebut intenational organization of comsumers unions (IOCU). Gerakan konsumen sejak 1960 memiliki wadah yang cukup berwibawa. 1966. Kemudian sejak 1995 berubah nama menjadi cnsumers international (CI). predictability. Aspek keadilan (fairness) seperti persamaan didepan hukum.Terlepas dari kondisi ini. A/RES/39/248 juga disuarakan seruan penghormatan terhadap hak-hak konsumen. Namun. Perkembangan baru dibidang perlindungan konsumen terjadi setelah penggantian tampuk kekuasaan di Indonsia. dari perkara yang dibawa ke pengadilan itu belum mampu menghasilkan dampak sebesar seperti yang pernah dilakukan Ralph Nader terhadap General Motors. standard sikap pemerintah. education dan kemampuan meramalkan adanya prasyarat untuk berfungsinya system ekonomi. 7 tahun 1994 tentang agreement establishing the world trade organization (persetujuan pembentukan organisasi perdagangan dunia). UUPK ini masih memerlukan waktu satu tahun untuk berlaku efektif. Tanpa mengurangi penghargaan terhadap upaya terus menerus yang dilakukan oleh YLKI. andil terbesar yang “memaksa“ kehadiran UUPK ini adalah juga karena cukup kuatnya tekanan dari dunia internasional. Tidak adanya standar yang adil dan apa yang tidak adil adalah masalah besar yang dihadapi Negaranegara berkembang. yaitu stability. adalah perlu untuk memelihara mekanisme pasar dan untuk mencegah birokrasi yang berlebihan. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen (UUPK) disahkan dan diundangkan pada 20 April 1999. E. Misalnya pada tahun 1994 dikumandangkan tema sentral hak konsumen untuk memperoleh kebutuhan pokok. Yaitu tatkala undang-undang No. Australia. Perlunya predictability sangat besar di Negara-negara di mana masyarakatnya untuk pertama kali memasuki hubunganhubungan ekonomi melampaui lingkungan tradisional mereka. Anggota CI mencapai 203 organisasi konsumen berasal dari 90 negara di seluruh dunia. Stabilitas juga berarti hukum berpotensi untuk menjaga keseimbangan dan mengakomodasi kepentingankepentingan yang saling bersaing. Setelah pemerintah RI mengesahkan undang-undang No. . yang notabene hak itu tidak pernah sejak orde baru berkuasa pada 1966. Hukum yang kondusif bagi pembangunan sedikitnya mengandung lima kualitas. kemudian pada 16 April 1985 dengan resolusinya No. Salah satu diantaranya adalah perlunya eksistensi UUPK. Dalam jangka panjang ketiadaan standar tersebut menjadi sebab utama hilangnya ligitimilasi pemerintah. fairness. 2111 tahun 1978. UUPK ini dihasilkan atas inisiatif DPR. Sementara Malaysia dan fhilipina memiliki lima organisasi dan Indonesia ada dua organisasi (YLKI Jakarta dan LP2K di semarang). Setiap 15 maret CI memperingati “hari hak konsumen sedunia“ dan memberi tema berbeda-beda tiap tahun.

globalisasi produksi. transparency kemudian menjadi substansi peraturan-peraturan nasional Negaranegara anggota. Dalam hal ini berarti. globalisasi hukum tersebut tidak hanya didasrkan pada kesepakatan internasional antarbangsa tetapi juga pemahaman tradisi hukum dan budaya antara barat dan timur. investasi melewati batas-batas negara meningkatkan intensitas persaingan. Bagaimanapun juga karakteristik dan hambatannya. Uang tidak lagi mengenal bendera. tampak makin kritis. globalisasi perdagangan. pos dan telekomunikasi. gejala ini dipercepat oleh kemajuan komunikasi dan transportasi teknologi. air minum. Jika dulu masih banyak yang belum berani menyuarakan agar di Indonesia dilakukan sertifikasi “halal” untuk produkproduk tertentu. Globalisasi juga menyebabkan terjadi globalisasi hukum. Hal ini tampak dari dihilangkannya dinding-dinding tarif sehingga dunia menjadi satu pasar. Globalisasi keempat ini membawa konsekuensi makin tergesernya alat-alat produksi tradissional mengarah kepada modernisasi dan mekanisasi. konsumen mempunyai banyak pilihan terhadap produk barang/jasa yang dikonsumsinya. gerakan konsumen global ditandai oleh globalisasi diberbagai bidang. globalisasi ekonomi menimbulkan akibat yang besar sekali pada bidang hukum. antara ain dengan terbenuknya lembaga pengkajian pangan. Manufaktur. Disamping itu. sandang. globalisasi finansial. dan jasa prinsip-prinsip non-discrimination. perdagangan. Konsumen kita menjadi konsumen global. dan mempengaruhi kesadaran konsumen lokal untuk berbuat hal yang sama. Konsumen Indonesia merupakan bagian dari konsumen global. most favored nation. Menurut Emil Salim. Toyota. tuntutan-tuntutan masyarakat dunia internasional. yakni mulai beralihnya isu-isu konsumen dari sekedar mempersoalkan mutu menuju kearah yang lebih berskala makro dan universal. national treatment. dan papan. Jika tidak. Gejala-gejala itu memberi pengaruh pada gerakan konsumen didunia dan di indonesia. . dan kosmetika majelis ulama Indonesia (LP POM MUI). termasuk masyarakat indonesia. Itu berarti masalah mutu barang dari jumlah ketersediaannya dipasaran tidak lagi menjadi keprihatinan utama karena produsen dengan sendirinya berlomba-lomba untuk memenuhinya. Pertama. hak milik intelektual. Persaingan antar produsen saat ini semakin ketat dan dan yang dihadapi bukan lagi competitor dalam negeri. dan segera mengubah pola dibidang terkait. obat-obatan. Ketiga. produsen demikian akan kalah dalam persaingan. Globalisasi menyebabkan berkembangnya saling ketergantungan pelaku-pelaku ekonomi dunia. maka dewasa ini tuntutan itu demikian kuat bergema. bahkan saat ini sertifikasi itu sudah berjalan. tetapi pada kebutuhan listrik. Teknologi dibidang pengemasan yang diterapkan di Amerika Serikat. Keempat. Faktor kedua. Modal seperti air yang mencari tempat yang sesuai. Perhatian konsumen di dalam negeri sama dengan perhatian konsumen di berbagai negara. misalnya cepat diadopsi kenegara lain. General agreement on tariff and trade (GATT) misalnya. Tentu mereka memilih yang terbaik diantara produk barang/jasa yang tersedia. misalnya. sehingga gerakan konsumen di dunia internasioanal mau tak mau menembus batas-batas Negara.Hak atas kebutuhan pokok ini tidak terbatas pada pangan. Globalisasi hukum terjadi melalui usaha-usaha standardinasi hukum. globalisasi teknologi. mencantumkan beberapa ketentuan yang harus di penuhi di Negara-negara anggota berkaitan dengan penanaman modal. antara lain melalui perjanjian-perjanjian internasional. Hal ini berarti. sebagian komponennya dibuat diberbagai negara di luar jepang. tidak ada produk yang hanya dibuat di satu negara.

Dalam hal menghadapi hal yang demikian itu perlu check and balance dalam bernegara. ekonomi dan budaya. Arus tuntutan konsumen melalui gerakan-gerakan tadi makin lama makin deras. Check and balance hanya bisa dicapai dengan parlemen yang kuat. berbagai negara telah pula menetapkan hak-hak konsumen yang digunakan sebagai landasan pengaturan perlindungan konsumen konsumen. baik yang bersifat akademis. maupun untuk tujuan mempersiapkan dasar-dasar penerbitan suatu peraturan perundang-undangan tentang perlindungan konsumen. lingkungan. yaitu international organiztion of consumers unions (IOCU). atau consument/konsument (belanda). mengatakan bahwa tegaknya peraturan-peraturan hukum tergantung pada budaya hukum anggotaanggotanya yang dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan. DAN KEWAJIBANNYA Sebagai suatu konsep. Yogyakarta.Globalisasi hukum akan menyebabkan peraturan-peraturan Negara-negara berkembang mengenai investasi. budaya. Namun. Alhasil. Secara harafiah arti kata consumer adalah (lawan dari produsen) setiap orang yang menggunakan barang. Di Indonesia telah pula berdiri berbagai organisasi konsumen seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) di Jakarta. Pengertian dari consumer atau consument itu tergantung dalam posisi mana ia berada. Friedman. Sejalan dengan perkembangannya itu. dan organisasi konsumen lain di bandung. Istilah konsumen berasal dari alih bahasa dari kata consumer (inggris-amerika). jasa-jasa dan bidang-bidang ekonomi lainnya mendekati Negara-negara maju (converagence). pada masa-masa mendatang menghadapi suasana yang jauh lebih kompleks. baik di dunia internasional maupun di Indonesia. Begitu pula kamus indonesia-inggris memberi arti kata consumer sebagai pemakai atau konsumen. telah pula berdiri organisasi konsumen internasional. Dalam naskah akademik . “konsumen“ telah diperkenalkan beberapa puluh tahun lalu diberbagai negara dan sampai saat ini sudah puluhan negara memiliki undang-undang atau peraturan khusus yang memberikan perlindungan kepada konsumen termasuk sarana penyediaan peradilannya. posisi atau kedudukan bahkan kepentingan-kepentingan. gerakan konsumen. adalah siap dengan pembangunan unsur-unsur system hukumnya. Kesiapan tersebut tidak sekedar dalam arti “siap bersaing dan berinovasi”. Tetapi terlebih-lebih bagi pemerintahnya. BAB 2 PENGERTIAN HAK DAN KEWAJIBAN KONSUMEN SERTA PELAKU USAHA A. Di indonesia telah banyak diselenggarakan studi. HAK. dan sebagainya. Tujuan penggunaan barang atau jasa nanti menentukan termasuk konsumen kelompok mana pengguna tersebut. pengadilan yang mandiri dan partisipasi masyarakat melalui lembaga-lembaganya. sehingga tidak mustahil menimbulkan instabilitas bagi negara-negara yang produsen dan pemerintahnya belum siap benar. Apa yang disebut hukum itu tergantung pada persepsi masyarakat. PENGERTIAN KONSUMEN. Hal mana yang dikarenakan perbedaan sitem politik. Di samping itu. tidak ada jaminan peraturan-peraturan tersebut memberikan hasil yang sama disemua tempat. Surabaya. perdagangan.

c. maupun melalui statutory orders yang berlaku terhadap warga negara seluruh anggota EC. memberikan berbagai perbandingan. sedangkan statutory orders dapat langsung berlaku bagi semua warga negara dari negara-negara anggota EC. and . Badan pembinaan hukum nasional-departemen kehakiman (BPHN). b.dan/atau berbagai naskah pembahasan berbagai rancangan peraturan perundangundangan. Pengertian “konsumen“ di Amerika Serikat dan MEE. di Amerika Serikat kata ini dapat diartikan lebih luas lagi sebagai “korban pemakaian produk yang cacat“. Namun. (b) damage to. Directive ini mengedepankan konsep liability without fault. yaitu pemakai akhir dari barang. bukan pembeli tapi pemakai. Article 9 For the purepos of article 1. berbunyi: Konsumen adalah setiap orang atau keluarga yang mendapatkan barang untuk dipakai dan tidak untuk diperdagangkan. Umumny dibedakan antara konsumen antara dan konsumen akhir. ada yang secara tegas mendefenisikannya dalam ketentuan umum perundang-undangan tertentu. with a lower threshold of 500 ECU. or destruction of. Batasan konsumen dari yayasan lembaga konsumen indonesia: pemakai barang atau jasa yang tersedia dalam masyarakat bagi kepentingan diri sendiri. menyusun batasan tentang konsumen akhir. Peraturan perundang-undangan negara lain. Sedang dalam naskah akademis yang dipersiapkan fakultas hukum Universitas Indonesia (FH-UI) bekerja sama dengan departemen perdagangan RI. bahkan juga korban yang bukan pemakai. dan tidak untuk diperjualbelikan. cukup banyak dibahas dan dibicarakan tentang berbagai peristilahan yang termasuk dalam lingkup perlindungan konsumen. provided that the item of property: (i) is a type ordinarily for private use or consumption. ada pula yang termuat dalam pasal tertentu bersamasama dengan pengaturan sesuatu bentuk hubungan hukum. keluarga atau orang lain dan tidak untuk diperdagangkan kembali. Upaya perlindungan terhadap konsumen dari pemakaian produk-produk yang cacat di negara-negara anggota European Economic Community (EC/MEE) dilakukan dengan cara menyusun product liability directive yang nantinya harus diintegrasikan kedalam instruktur hukum masing-masing negara anggota EC. baik korban tersebut pembeli. Ketentuanketentuan dalam directive harus diimplementasikan ke dalam hukum nasional dulu sebelum dapat diterapkan. digunakan untuk keperluan diri sendiri atau orang lain. karna perlindungan hukum dapat dinikmati pula bahkan oleh korban yang bukan pemakai. Dalam merumuskannya. Pengertian “konsumen” (consumers) tidak dijabarkan secara rinci dalam directive. any item of property other than the detective product it self. “damage” means: (a) damage caused by death or by personal injuries. Dari naskah-naskah akademik itu yang patut mendapat perhatian. Untuk memahaminya dapat dilakukan dengan menelaah pasal 1 dikaji bersama-sama dengan pasal 9 directive yang isinya sebagai berikut: Article 1 The producer shall be liable for damage caused by a defect in his product. antara lain: a. kata “konsumen“ yang berasal dari consumer sebenarnya berarti “pemakai“.

Konsumen akhir adalah setiap orang alami yang mendapatkan dan menggunakan barang/jasa untuk tujuan memenuhi kebutuhan hidupnya pribadi. maupun benda) akibat pemakaian produk yang cacat untuk keperluan pribadinya. mereka memerlukan produk konsumen (barang/jasa konsumen) yang aman bagi kesehatan tubuh atau (ii) . kepentingan mereka dalam menjalankan usaha atau profesi mereka tidak “tergangu” oleh perbuatan persaingan-persaingan yang tidak wajar. barang/jasa itu adalah barang/jasa konsumen. dapat disimpulkan bahwa konsumen berdasarkan directive adalah pribadi yang menderita kerugian (jiwa. kesehatan. Unsur untuk membuat barang/jasa lain dan/atau diperdagangkan kembali merupakan pembeda pokok. konsumen yang dapat memperoleh kompensasi atas kerugian yang dideritanya adalah “pemakaian produk yang cacat untuk keperluan pribadi”. Tampaknya perlakuan hukum yang lebih bersifat mengatur dan/atau mengatur dengan diimbuhi perlindungan. barang/jasa itu adalah barang/jasa kapital. Az Nasution menegaskan beberapa batasan konsumen. Konsumen antara adalah setiap orang yang mendapatkan barang dan/atau jasa untuk digunakan dengan tujuan membuat barang/jasa lain atau untuk diperdagangkan (tujuan komersial) c. dan yang sejenis dengan itu. berupa bahan baku. Perumusan ini sedikit lebih sempit dibandingkan dengan pengertian serupa di Amerika Serikat. Barang/jasa konsumen ini umumnya diperoleh dipasar-pasar konsumen. keluaga atau rumah tangganya (produk konsumen). yakni: a.was used by the injured person mainly for his own private use or consumtion. merupakan pertimbangan tentang perlunya pembedaan dari konsumen itu. Konsumen antara ini mendapatkan barang/jasa itu dipasar industri atau pasar produsen. Sedang bagi konsumen akhir. Bagi konsumen akhir (selanjutnya disebut konsumen). Unsur inilah. yang pada dasarnya merupakan beda kepentingan masing-masing konsumen yaitu. Mereka memerlukan kaedah-kaedah hukum yang mencegah perbuatan-perbuatan yang tidak jujur dalam bisnis. dominasi pasar dengan berbagai praktik bisnis yang menghambat masuknya perusahaan baru atau merugikan perusahaan lain dengan cara-cara yang tidak wajar. dan terdiri dari barang/jasa yang umumnya digunakan di rumah tangga masyarakat. Jadi. Bagi konsumen antara. keluarga dan atau rumah tangga dan tidak untuk diperdagangkan kembali (nonkomersial). yaitu barang/jasa yang biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi. konsumen adalah setiap orang yang mendapatkan barang atau jasa digunakan untuk tujuan tertentu. This article shall be without prejudice to national provisions relating to non material damage. antara lain konsumen antara (produk kapital) dan konsumen akhir (produk konsumen). keluarga atau rumah tangganya. Kalau itu distributor atau pedagang berupa barang setengah jadi atau barang jadi yang menjadi mata dagangannya. Sebagaimana disinggung sebelumnya. perbuatan penguasaan pasar secara monopoli atau oligopi. b. bagi konsumen antara yang sebenarnya adalah pengusaha atau pelaku usaha. penggunaan suatu produk untuk keperluan atau tujuan tertentu yang menjadi tolak ukur dalam menentukan perlindungan yang diperlukan. bahan penolong atau komponen dari produk lain yang akan diproduksinya (produsen). yang penggunanya bagi konsumen akhir adalah untuk dirinya sendiri.

sekaligus menunjukan. maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. untuk kasus-kasus yang spesifik seperti dalam kasus periklanan. orang lain. pemakai sesuai dengan penjelasan pasal 1 angka (2) UUPK. kata “pemakai“ menekankan. dan terminologi lain yang lazim diberikan. Istilah “pemakai” dalam hal ini tepat digunakan dalam rumusan ketentuan tersebut. Karena itu yang diperlukan adalah kaedah-kaedah hukum yang menjamin syarat-syarat aman setiap produk konsumen bagi konsumsi manusia. barang/jasa yang dipakai tidak serta merta hasil dari transaksi jual beli. maka diperlukan kaedah hukum yang dapat melindungi. Dengan kata lain. dan bertanggung jawab. dalam kehidupan manusia Indonesia sebagaimana dikehendaki oleh falsafah bangsa dan negara ini. Istilah “orang” sebetulnya menimbulkan keraguan. tempat iklan ditayangkan. Keadaan seimbang diantara para pihak yang saling berhubungan. b. dasar hubungan hukum antara konsumen dan pelaku usaha tidak perlu harus kontraktual (the privity of contract). dengan menyebutkan kata-kata: “orang perseorangan atau badan usaha“. setiap orang subjek yang disebut sebagai konsumen adalah setiap orang yang berstatus sebagai pemakai barang/jasa. Perlindungan itu sesungguhnya berfungsi menyeimbangkan kedudukan konsumen dan pengusaha. 1. Bahkan. Hal ini berbeda dengan pengertian yang diberikan untuk “pelaku usaha” dalam pasal 1 angka (3). Unsur-unsur defenisi konsumen: a. pelaku usaha ini juga mencakup perusahaan media. produsen. serta pada umumnya untuk kesejahteraan keluarga atau rumah tangganya. digunakan kata “pelaku usaha” yang bermakna lebih luas. konsumen adalah konsumen akhir (ultimate consumer). akan lebih menerbitkan keserasian dan keselarasan matriil. Tentu yang paling tepat tidak membatasi pengertian konsumen itu sebatas pada orang perseorangan.keamanan jiwa. dengan siapa mereka saling berhubungan dan saling memebutuhkan. sebagai konsumen tidak selalu harus memberikan prestasinya dengan cara membayar uang untuk memperoleh barang/jasa itu. Namun konsumen harus juga mencakup juga badan usaha dengan makna usaha yang lebih luas daripada badan hukum. bagaimana proses pembuatannya serta strategi pasar apa yang dijalankan untuk mendistribusikannya. Istilah terakhir ini dipilih untuk memberi arti sekaligus bagi kreditur (penyedia dana). Pengertian konsumen dalam UU No. tidak sekedar formil. apakah hanya orang individual yang lazim disebut natuurlijke persoon atau termasuk juga badan hukum (rechtpersoon). keluarga. Karena pada umumnya konsumen tidak mengetahui dari bahan apa suatu produk itu dibuat. Artinya. yang secara eksplisit membedakan kedua pengertian persoon diatas. Untuk itu. 8 tahun 1999 tentang hukum perlindungan konsumen dalam pasal 1 ayat (2) yakni: Konsumen adalah setiap orang pemakai barang/jasa yang tersedia dalam masyarakat. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen Penegrtin konsumen menurut UU No. baik bagi kepentingan diri sendiri. penyalur. penjual. jujur. . UUPK tampaknya berusaha menhindari penggunaan kata “produsen“ sebagai lawan kata “konsumen“. dilengkapi dengan informasi yang benar.

Orang yang mengonsumsi produk sampel juga merupakan konsumen. sudah lazim terjadi sebelum suatu produk dipasarkan. apakah ada dasar gugatan yang cukup kuat baginya? Hal ini patut dipertanyakan.Sebagai ilustrasi dari uraian itu dapat diberikan contoh berikut. Mengartikan konsumen secara sempit. Saat ini “produk“ sudah berkonotasi barang/jasa. layanan yang bersifat khusus (tertutup)ndan individual. yang tersedia dalam masyarakat . konsumen tidak lagi diartikan sebagai pembeli dari suatu barang/jasa. seperti hanya sebagai orang yang mempunyai hubungan kontraktual pribadi (in privity of contract) dengan produsen atau penjual adalah cara pendefinisian konsumen yang paling sederhana. c. UUPK sedah selayaknya meninggalkan prinsip yang sangat merugikan konsumen. UUPK mengganti barang sebagai setiap benda. seseorang yang karena kebutuhan mendadak lalu menjual rumahnya kepada orang lain. terlebih dahulu dilakukan pengenalan produk kepada konsumen. tetapi termasuk bukan pemakai langsung. Isi paketnya makanan dan minuman yang dibeli si pembeli di pasar swalayan. baik bergerak maupun tidak bergerak. Konsumen memang tidak sekedar pembeli (buyer atau koper) tetapi semua orang (perseorangan atau badan usaha) yang mengonsumsi barang/jasa. barang dan/atau jasa berkaitan dengan istialah barang/jasa. Sementara itu jasa diartikan sebagai setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang disediakan bagi masyarakat menunjukan. jika menggunakan prinsip the privity of contract tentu tidak ada hubungan kontraktual antara penerima hadiah dan pihak pasar swalayan karena pembeli parsel adalah orang lain. tidak tercakup dalam pengertian tersebut. termasuk peralihan kenikmatan dalam menggunakannya. Kata-kata “ditawarkan kepada masyarakat” itu harus ditafsirkan sebagai bagian dari transaksi konsumen. dibagikan sampel yang diproduksi khusus dan sengaja tidak diperjualbelikan. atau dimanfaatkan oleh konsumen. harus lebih dari 1 orang. asalkan memang dirugikan akibat penggunaan suatu produk. Dewasa ini. jasa itu harus ditawarkan kepada masyarakat. dipergunakan. d. UUPK tidak menjelaskan perbedaan istilah-istilah “dipakai. apakah penerima paket seorang konsumen juga? Jika ia menggugat pasar swalayan itu. Semula kata produk hanya mengacu pada pengertian barang. yang paling penting terjadinya transaksi konsumen (consumer transaction) berupa peralihan barang/jasa. sebagai pengganti terminologi tersebut digunakan kata produk. Transaksi konsumen memiliki banyak sekali metode. seseorang memperoleh paket hadiah atau parsel (parcel) pada hari ulang tahunnya. Artinya. tidak dapat perbuatannya itu sebagai transaksi konsumen. Istilahnya product knowladge. Si pembeli tidak dapat dikategorikan sebagai “konsumen” menurut UUPK. misalnya istilah produk dipakai juga untuk menamakan jenis-jenis layanan perbankan. Dalam dunia perbankan. Oleh karena itu wajib dilindungi hakhaknya. Artinya. Untuk itu. Pertanyaannya. yang dapat untuk diperdagangkan. baik dapat dihabiskan maupun tidak dapat dihabiskan. atau dimanfaatkan”. dipakai. baik berwujud maupun tidak berwujud. Jika demikian halnya. walau baru dilakukan pada awal abad ke-20. dipergunakan. Di Amerika Serikat cara pandang seperti itu telah lama ditinggalkan. Jadi. Dengan demikian.

Dalam perkembangannya. Oleh karena itu. yakni hanya konsumen akhir. misalnya. Dalam perdagangan yang makin kompleks dewasa ini. bahkan untuk makhluk hidup lain. Empat hak dasar ini diakui secara internasinaol. 2. tidak semua organisasi konsumen menerima penambahan hak-hak tersebut. . 2. keluarga. Bahkan. walaupun dalam kenyataannya. barang dan/atau jasa itu tidak untuk diperdagangkan pengertian konsumen dalam UUPK ini dipertegas. Adapun materi yang mendapatkan perlindungan itu bukan sekadar fisik. seperti futures trading. Batasan itu sudah biasa dipakai dalam peraturan perlindungan konsumen di berbagai negara. berkaitan dengan kepentingan pribadi orang itu untuk memiliki kucing yang sehat. Namun. memutuskan untuk menambah 1 hak lagi sebagi pelengkap hak dasar konsumen. hak untuk mendapatkan keamanan (the right to safety). hak untuk memilih ( the right to choose). YLKI. hak mendapatkan gati kerugian. perlindungan konsumen mengandung aspek hukum. 4. setiap tindakan manusia adalah bagian dari kepentingannya. Dari sisi teori kepentingan. Secara umum dienal ada 4 (empat) hak dasar konsumen. syarat itu tidak mutlak lagi dituntut oleh masyarakat konsumen. f. bagi kepentingan diri sendiri. seperti hewan dan tumbuhan. Dengan kata lain. tetapi juga barang/jasa itu diperuntukan bagi orang lain (diluar diri sendiri dan keluarganya). makhluk hidup lain transaksi konsumen ditujukan untuk kepentingan diri sendiri. organisasi-organisasi konsumen yang tergabung dalam the international organization of consumers unions (IOCU) menambahkan lagi beberapa hak. 3. e. Kepentingan ini tidak sekedar ditujukan untuk diri sendiri dan keluaga. hak untuk mendapatkan informasi ( the right to be informed). perusahaan pengembang (develover) perumahan sudah biasa mengadakan transaksi terlebih dahulu sebelum bangunannya jadi. keluarga. Mereka bebas untuk menerima semua atau sebagian. juga tidak terlepas dari kepentingan pribadi. Unsure yang diletakkan dalam defenisi itu mencoba untuk memperluas pengertian kepentingan. hak untuk didengar ( the right to be heard). Seseorang yang membeli makanan untuk kucing peliharaannya.barang/jasa yang ditawarkan dalam masyarakat sudah harus tersedia di pasaran (lihat juga bunyi pasal 9 ayat 1 huruf e UUPK). perlindungan konsumen identik dengan perlindungan yang diberikan hukum tentang hak-hak konsumen. Secara teoritis hal demikian terasa cukup baik untuk mempersempit ruang lingkup pengertian konsumen. Oleh sebab itu. yaitu 1. yaitu hak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat sehingga keseluruhannya dikenal sebagai panca hak konsumen. seperti hak mendapatkan pendidikan konsumen. sulit menetapkan batas-batas seperti itu. orang lain dan makhluk hidup lain. untuk jenis-jenis transaksi konsumen tertentu. dan hak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. hak-hak konsumen istilah “perlindungan konsumen” berkaitan dengan perlindungan hukum. keberadaan barang yang diperjualbelikan bukan sesuatu yang diutamakan. orang lain. melaikan terlebih-lebih hakhaknya yang bersifat abstrak. Misalnya. misalnya. penguraian unsur itu tidak menambah makna apa-apa karena pada dasarnya tindakan memakai suatu barang/jasa (terlepas ditujukan untuk siapa dan makhluk hidup lain).

kegiatan bisnis yang dilakukan tidak secara jujur. 5 tahun 1999 tentang larangan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. masalah persaingan curang (dalam bisnis) ini diatur secara khusus pada pasal 382 bis kitab undang-undang hukum pidana. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang/jasa yang digunakan.Dalam UUPK. Hal ini berangkat dari pertimbangan. g. yang dalam hukum dikenal dengan terminologi “persaingan curang“ (unfair competition). h. juga terdapat hak-hak konsumen yang dirumuskan dalam pasal berikutnya. yang dapat dijadikan sebagai landasan perjuangan untuk mewujudkan hak-hak tersebut. Disini letak arti penting mengapa hak ini perlu dikemukakan. empat hak dasar yang dikemukakan oleh John F. Disamping hak-hak dalam pasal 4. Hak konsumen sebagaimana tertuang dalam pasal 4 UU No. Kewajiban dan hak merupakan antinomi dalam hukum. sejak 5 maret 2000 diberlakukan juga UU No. Ketentuan-ketentuan ini sesungguhnya diperuntukan bagi sesama pelaku usaha. Akhirnya. Tidak jelas kenapa kedua bidang hukum ini yang di kecualikan secara khusus. Dalam hukum positif indonesia. hak untuk mendapatkan advokasi perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. Selain hak yang dibutuhkan itu. Selanjutnya. 8 tahun 1999 adalah sebagi berikut: a. ada juga hak untuk dilindungi dari akibat negatif persaingan curang. mengingat sebagai undang-undang paying (umberella act). tidak dimasukkan dalam UUPK ini karena UUPK secara khusus mengecualikan hak-hak atas kekayaan intelektual (HAKI) dan dibidang pengolaan lingkungan. e. f. UUPK seharusnya dapat mengatur hak-hak konsumen itu secara komprehensif. Hak konsumen untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. khususnya dalam pasal 7 yang mengatur tentang kewajiban pelaku usaha. Kennedy tersebut juga di akomodasi. Langkah untuk meningkatkan martabat dan kesadaran konsumen harus diawali dengan upaya untuk memahami hak-hak pokok konsumen. hak untuk memilih barang/jasa serta mendapatkan barang/jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan. apabila barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. Kendati demikian. c. pelanduk mati di tengah-tengah“. hak untuk mendapatkan konpensasi ganti rugi/ penggantian. tidak bagi konsumen langsung. hak atas informasi yang benar. kompetisi tidak sehat diantara mereka pada jangka panjang pasti berdampak negatif bagi konsumen karena pihak yang dijadikan sasaran rebutan adalah konsumen itu sendiri. hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen. b. jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang/jasa d. jika semua hak-hak yang disebutkan itu disusun kembali secara sistematis (mulai dari yang diasumsikan paling mendasar). hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya. Hak konsumen Mendapatkan Keamanan . sehingga kewajiban pelaku usaha dapat dilihat sebagai hak konsumen. akan diperoleh urutan sebagai berikut: a. hak atas kenyamanan dan keselamatan dalam mengonsumsi barang/jasa. agar tidak berlaku pepatah: “dua gajah berkelahi.

Konsumen berhak mendapatkan keamanan dari barang dan jasa yang ditawarkan kepadanya. Produk barang dan jasa itu tidak boleh membahayakan jika dikonsumsi sehingga konsumen tidak dirugikan baik secara jasmani dan rohani. Hak untuk memperoleh keamanan ini penting ditempatkan pada kedudukan utama karena berabad-abad berkembang suatu falsafah berpikir bahwa konsumen (terutama pembeli) adalah pihak yang wajib berhati-hati, bukan pelaku usaha. Falsafah yang disebut caveat emptor (let the buyer beware) ini mencapai puncaknya pada abad ke-19 seiring berkembangnya paham rasional individualisme di Amerika Serikat. Dalam perkembangannya kemudian, prisip yang merugikan konsumen ini telah ditinggalkan. Dalam barang dan/atau jasa yang dihasilkan dan dipasarkan oleh pelaku usaha berisiko sangat tinggi terhadap keamanan konsumen, Pemerintah selayaknya mengadakan pengawasan secara ketat. Misalnya zat atau obat yang tergolong narkotika dan psikotropika. Undang-undang No.5 Tahun 1997 tentang psikotropika dan Undang-undang No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika menetapkan psikotopika dan narkotika golongan I hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, tidak dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan.Restriksi demikian perlu dilakukan semata-mata demi menjaga keamanan masyarakat atas akibat negatif dari produk tersebut. Satu hal juga seiring dilupakan dalam kaitan dengan hak untuk mendapatkan keamanan adalah penyediaan fasilitas umum yang memenuhi syarat yang ditetapkan. Di Indonesia, sebagian besar fasilitas umum, seperti pusat perbelanjaan, hiburan, rumah sakit,dan perpustakaan belum cukup akomodatif untuk menopang keselamatan pengunjungnya. Hal ini tidak saja bagi pengguna produk barang atau jasa (konsumen) yang berfisik normal pada umumnya, tetapi juga tidak berlebih-lebih mereka yang cacat fisik dan lanjut usia. Akibatnya, besar kemungkinan mereka ini tidak dapat leluasa berajalan dan naik tangga di tempattempat umum karena tingkat resiko yang sangat tinggi. b. Hak untuk Mendapatkan Informasi yang Benar Setiap produk yang diperkenalkan kepada konsumen harus disertai informasi yang benar. Informasi ini diperlukan agar konsumen tidak sampai mempunyai gambaran yang keliru atas produk barang dan jasa. Informasi ini dapat

disampaikan dengan berbagai cara, seperti lisan kepada konsumen, melalui iklan di berbagai media, atau mencantumkan dalam kemasan produk (barang). Jika dikaitkan dengan hak konsumen atas keamanan, maka setiap produk yang mengandung risiko terhadap keamanan konsumen, wajib disrtai informasi berupa petunjuk pemakaian yang jelas. Sebagai contoh, iklan yang secara ideal diartikan sebagai sarana pemberi informasi kepada konsumen, seharusnya terbebas dari mani pulasi data. Jika iklan memuat informasi yang tidak benar, maka perbuatan itu memenuhi kriteria kejahatan yang lazim disebut fraudulent misrepresentation. Bentuk kejahatan ini ditandai oleh (1)pemakaian pernyataan yang jelas-jelas salah (false statement), seperti menyebutkan diri terbaik tanpa indikator yang jelas, dan (2) pernyataan yang menyesatkan (mislead), misalnya menyebutkan adanya khasiat tertentu padahal tidak. Menurut Troelstup, konsumen pada saat ini membutuhkan banyak informasi yang lebih relavan dibandingkan dengan saat sekitar 50 tahun lalu. Alasannya, saat ini: (1) terdapat lebih banyak produk, merek, dan tentu saja penjualnya, (2) daya beli konsumen makin meningkat, (3) lebih banyak variasi merek yang beredar di pasaran, sehingga belum banyak diketahui semua orang, (4) modelmodel produk lebih cepat berubah, (5) kemudahan transportasi dan komunikasi sehingga mem buka akses yang lebih besar kepada bermacam-macam produsen atau penjual. Hak untuk mendapatkan informasi menurut Prof.Hans W.Micklitz, seorang ahli hukum konsumen dari jerman, dalam ceramah di Jakarta, 26-30 Oktober1998 membedakan konsumen berdasarkan hak ini. Ia menyatakan, sebeum kita melangkah lebih detail dalam perlindungan konsumen, terlebih dulu harus ada persamaan persepsi tentang tipe konsumen yang akan mendapatkan perlindungan. Menurutnya, secara garis besar dapat dibedakan dua tipe konsumen, yaitu a. konsumen yang terinformasi (well-informed) b. konsumen yang tidak terinformasi. Ciri-ciri konsumen yang terinformasi sebagai tipe pertama adalah: Memiliki tingkat pendidikan tertentu ; • • mempunyai sumberdaya ekonomi yang cukup, sehingga dapat berperan dalam ekonom pasar, dan lancer berkomunikasi.

Dengan memiliki tiga potensi, konsumen jenis ini mampu bertanggung jawab dan relative tidak memerlukan perlindungan. Ciri-ciri konsumen yang tidak terinformasi sebagai tipe kedua memiliki ciriciri antara lain : • • • kurang berpendidikan ; termasuk kategori kelas menengah ke bawah ; tidak lancar berkomunikasi.

Konsumen jenis ini perlu dilindungi, dan khususnya menjadi tanggung jawab Negara untuk memberikan perlindungan. Selain ciri-ciri konsumen yang tidak terinformasikan, karena hal-hal khusus dapat juga dimasukkan kelompok anak-anak, orang tua, dan orng asin (yang tidak dapat berkomunikasi dengan bahasa setempat) sbagai konsumen yang wajib dilindungi oleh negara. Informasi ini harus diberikan secara sama bagi semua konsumen (tidak diskriminatif). Dalam perdagangan yang sangat mengandalkan informasi, akses kepada infoasi yang tertutup misalnya dalam praktik insider trading di bursa efek, dianggap sebagai bentuk kejahatan yang serius. Penggunaan teknologi tinggi dalam mekanisme produksi barang dan/atau jasa akan menyebabkan makin banyaknya infomasi yang harus dikuasai oleh masyarakat konsumen. Di sisi lain mustahil mengharapkan sebagian besar konsumen memiliki kemampuan dan akse informasi secara sama besarnya. Apa yang dikenal dengan consumer ignorance, yaitu ketidakmampuan konsumen menerima infomasi akibat kemajuan teknologi dan keragaman produk yang dipasarkan dapat saja dimanfaatkan secara tidak sewajarnya oleh pelaku usaha. Itulah sebabnya, hukum perlindungan konsumen memberikan hak konsumen atas informasi yang benar, yang didalam nya tercakup juga hak atas infomasi dan diberikan secara tidak diskriminatif. c. Hak untuk Didengar Hak yang erat kaitannya dengan hak untuk mendapatkan informasi adalah hak untuk didengar. Ini disebabkan oleh informasi dari pihak yang berkepentingan atau berkompeten erring tidak cukup memuaskan konsumen. Untuk itu konsumen berhak mengajukan permitaan infomasi lebih lanjut.

harus bersedia memberikan penjelasan mengenai suatu iklan tertentu. Dalam pasal 44 UU No. d. Dampak dari praktik monopoli ini adalah adanya persaingan usaha tidak sehat (unfair competition) yang merugikan jepentingan umum (konsumen). konsumen berhak menentukan pilihannya.32 Tahun 2002 tentang penyiaran dinyatakan lembaga penyiaran wajib meralatisi siaran dan/atau berita. media. Pengaturan demikian. Seandainya ia jadi membeli. dan dalam bentuk serta cara yang sama dengan penyampaian isi siaran dan/atau berita yang disanggah.Dalam tata karma dan tata cara periklanan Indonesia disebutkan. sekalipun masih berbentuk kode etik (self regulation) akan mengarah kepada langkah positif menuju penghormatan hak konsumen untuk didengar. Jika seseorang atau suatu golongan diberikan hak monopoli untuk memproduksi dan memasarkan barang atau jasa. maupun pengiklan. bila diminta oleh konsumen. akhirnya konsumen pasti didikte untuk mengonsumsi . Undang-Undang No. Penyanggah berita ini mungkin adalah konsumen dari produk tertentu. maka baik perusahaan periklanan. Hak untuk Memilih Dalam mengonsumsi suatu produk.5 Tahun 1999 tentang Praktik Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat mengartikan monopoli sebagai penguasaan atas produksi dan /atau pemasaran dan/atau atas penggunaan jasa tertentu oleh salah satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha. Ralat atau pembetulan wajib dilakukan dalam waktu selambat-lambatnya satu kali 24 jam berikutnya atau pada kesempatan pertama pada ruang mata acara yang sama. ia juga bebas menentukan produk mana yang akan dibeli. maka besar kemungkinan konsumen kehilangan hak untuk memilih produk yang satu dengan produk lain. Hak untuk memilih ini erat kaitannya dengan ituasi pasar. Jika monopoli itu diberikan kepada perusahaan yang tidak berorientasi pada kepentingan konsumen. Ia tidak boleh mendapat tekanan dari pihak luar sehingga ia tidak lagi bebas untuk membeli atau tidak membeli. Ketentuan dalam Undang-Undang penyiaran itu jelas-jelas menunjukkan hak untuk didengar. yang dalam doctrin hukum dapat diidentikkan dengan hak untuk membela diri.

e. kuantitas dan kualitas barang dan/atau yang dikonsumsinya tidak sesuai dengan nilai tukar yang di berikannya. sering terjadi pelaku usaha mencantumkan klausul-klausul eksonerasi di dalam hubungan hukum antara produsen/penyalur produk dan konsumennya. Hak untuk Mendapatkan Produk Barang dan/atau Jasa Sesuai dengan Nilai Tukar yang Diberikan Dengan hak ini berarti konsumen harus dilindungi dari permainan harga yang tidak wajar. ia berhak mendapatkan ganti rugi yang pantas. yang boleh jadi kualitasnya malahan lebih buruk. Dalam dunia perdagangan dikenal apa yang disebut market sharing agreements. Pratik yang tidak terpuji ini lazim dikenal dengan istilah externalities. pelaku usaha dapat saja mendikte pasar dengan menaikkan harga. Klausul seperti . biasanya konsumen terpaksa mencari produk alternatif (bila masih ada). Hak untuk Mendapatkan Ganti Kerugian Jika konsumen merasakan. dalam ketakbebasan pasar. Dalam situasi demikian.barang atau jasa itu tanpa dapat berbuat lain. maka pihak pertama dapat saja mambebankan biaya tertentu yang sewajarnya tidak ditanggung konsumen. jika tidak silakan mencari tempat yang lain (padahal di tempat lain pun pasar sudah dikuasainya). Konsumen dihadapkan pada kondisi : take it or leave it. dan konsumen menjadi korban dari ketiadaan pilihan. price fixing agreements. kuantitas dan kualitas barang dan/atau jasa di konsumsi harus sesuai dengan nilai uang yang dibayar sebagai penggantinya. maintenance. resale price maintenance. Akibat tidak berimbangnya posisi tawar-menawar antara pelaku usaha dan konsumen. Dengan kata lain. dan sebagainya (dalam sejarah perdagangan dikenal sejak 1870-an). quota agreement. Jenis dan jumlah ganti rugi itu tentu saja harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau atas kesepakatan masing-masing pihak. Dalam keadaan seperti itu. Monopoli juga dapat timbul akibat perjanjian antar pelaku usaha yang bersifat membatasi konsumen untuk memilih. f. Namun. pelaku usaha dapat secara sepihak mempermainkan mutu barang dan harga jual. Jika setuju silakan beli. Untuk menghindar dari kewajiban memberikan ganti kerugian.

walaupun ralat dimuat. Lembaga penyiaran tidak terbebas dari tanggung jawab atas tuntutan hukum yang tuntutan hukum yang diajukan oleh pihak yang merasa dirugikan. Lingkungan hidup yang baik dan sehat berate sangat luas. setiap upaya hukum pada hakikatnya berisikan tuntutan memperoleh ganti kerugian oleh salah satu pihak. Hak untuk mndapatkan penyelesaian hukum ini sebenarnya meliputi juga hak untuk mendapatkan ganti kerugaian. Dalam uraian tentang hak untuk didengar dikatakan. Undang-Undang No. konsumen berhak menuntut pertanggungjawaban hukum dari pihak-pihak yang dipandang merugikan karena mengonsumsi produk itu. seperti dalam upaya legal stnding LSM yang dibuka kemungkinannya dalam Pasal 46 ayat (1) Huruf c UUPK. konsumen tidak selalu harus menempuh upaya hukum terlebih dahulu. Tentu ada beberapa karateristik tuntutan yang tidak memperbolehkan tuntutan ganti kerugian ini. Untuk memperoleh ganti kerugian. tetapi kedua hak tersebut tidak berarti identik. Hak untuk Mendapatkan Lingkungan Hidup yang Baik dan Sehat Hak konsumen atas lingkungan yang baik dan sehat merupakan hak yang diterima sebagai salah satu hak dasar konsumen oleh berbagai organisasi konsumen di dunia. termasuk advokasi.maka konsumen berhak mendapatkan penyelesaian hukum. Jika permintaan yang diajukan konsumen dirasakan tidak mendapat tanggapan yang layak dari pihak-pihak terkait dalam hubungan hukum dengannya. Jika penyanggah isi siaran itu konsumen. Pencantuman secara sepihak demikian tetap tidak dapat menghilangkan hak konsumen untuk mendapatkan ganti kerugian.“barng yang dibeli tidak dapat dikembalikan” merupakan hal yanglazim ditemukan pada toko-toko. g. h. Dengan kata lain. Sebaliknya. Hak untuk Mendapatkan Penyelesaian Hukum Hak untuk mendapatkan ganti kerugian harus ditempatkan lebih tinggi daripada hak pelaku usaha (produsen/penyalur produk) untuk membuat klausul eksonerasi secara sepihak. dan setiap . hak konsumen tidak berarti dengan sendirinya hilang.32 Tahun 2002 tentang penyiaran mewajibkan lembaga penyiaran wajib mencantumkan ralat isi siaran dan/atau berita yang disanggah pihak lain.

. mulai tahun 2000 semua perusahaan yang berkaitan dengan hasil hutan.23 Tahun 1992 tentang kesehatan dan pasal 5 ayat (1) UU No. Contoh bentuk yang kerap terjadi dalam persaingan curang adalah permainan harga (dumping).5 Tahun 1999 disebut dengan “persaingan usaha tidak sehat” dapat terjadi jika seorang pengusaha berusaha menarik langganan atau klien pengusaha lain untuk memajukan usahanya atau memperluas penjualan atau pemasrannya dengan menggunakan alat atau sarana yang bertentangan dengan iktikad baik dankejujuran dalam pergaulan perekonomian. Tujuannya untuk merebut pasar. baru dapat menjual produknya di Negara-negara yang bergabung dalam The International Tropical Timber Organazation (ITTO). jika telah memperoleh ecolabeling certificate. Lingkungan hidup meliputi lingkungan hidup dalam arti fisik dan lingkungan nonfisik. karena praktis pangsa pasar terbesarnya adalah Negara-negara anggota ITTO. Hak untuk Dilindungi dari Akibat Negatif Persaingan Curang Persaingan curang atau dalam Undang-Undang No. Pada kesempatan berikutnya. Dalam pasal 22 Undang-undang No. dalam pasar yang monopolistic itulah harga kembali dikendalikan oleh si produsen yang curng ini. konsumen pula yang dirugikan. Desakan pemenuhan hak konsumen atas lingkungan hidup yang baik dan sehat makin mengemuka akhir-akhir ini. Misalnya munculnya gerakan konsumerisme hijau (green consumerism) yang sangat peduli pada kelestarian lingkungan. seperti Indonesia. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. i. Sementara itu. Untuk itu lembaga Ekolabeling Indonesia (LEI) pada tahun 1998 mulai melakukan audit atas sejumlah perusahaan perkayuan Indonesia agar dapat diberkan sertifikat ekolabeling yang disebut SNI 5000. Satu produsen yang kuat mencoba mendesak produsen saingannya yang lebih lemah dengan cara membanting harga produk. Dalam posisi demikian. hak untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat ini diyatakan dengan tegas.makhluk hidup adalah konsumen atas lingkungan hidupnya. khususnya bagi produsen hasil hutan tropis. dan produsen saingannya akan berhenti berproduksi.Ketentuan demikian sangat penting artinya.

termasuk dalam bentuk perjanjian yang dilarang adalah oligopoli. wajar bila masih banyak konsumen (1) Pihak yang menghasilkan produk akhir berupa barang-barang manufaktur. trust. antara lain dalam pasal 17 sampai dengan pasal 24. Mereka ini bertanggung jawab atas segala kerugian yang timbul dari barang yang mereka edarkan ke masyarakat. Ketentuan ini mengharuskan importir yang mengimpor barang dari eksportir negara ketiga mendapatkan jaminan melalui suatu perjanjian yang menyatakan bahwa pihak eksportir bertanggung jawab sepenuhnya atas barang yang dimasukkan EC. dan (2) kegiatan yang dilarang. J. (2) (3) Produsen bahan mentah atau komponen suatu produk. Ketentuan ini sengaja dicantumkan untuk melindungi konsumen dari kemungkinan harus menggugat produsen asing (yang pusat kegiatannya) di luar lingkungan EC. ataupun tanda- tanda lain pada produk menampakkan dirinya sebagai produsen dari suatu barang. Selanjutnya Pasal 3 ayat (2) Directive menyebutkan bahwa: siapa pun yang mengimpor suatu produk ke lingkungan EC adalah produsen. pemboikotan. Siapa saja. dan perjanjian dengan pihak luar negeri yang mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan/atau persaingan tidak sehat. termasuk bila kerugian timbul akibat cacatnya barang yang merupakan komponen dalam proses produksinya. pembagian wilayah. yang dengan membubuhkan nama. Lebih lanjut lagi. merek. pedagang/penyalur yang mengedarkan barang yang tidak jelas identitas produsennya. perjanjian tertutup. bertanggung jawab atas barang tersebut. penetapan harga.Hak konsumen untuk dihindari dari akibat negatif persaingan curng dapat dikatakan sebagai upaya pre-emptive yang harus dilakukan. integrasi vertical. Oleh karena itu. khususnya oleh pemerintah guna mencegah munculnya akibat-akibat langsung yang merugikan konsumen.5 tahun 1999 disebutkan adanya (1) perjanjian dilarang. Hak untuk Mendapatkan Pendidikan Konsumen Masalah perlindungan konsumen di Indonesia termasuk masalah yang baru. Demikian pula tanggung jawab . kartel. Dalam Undang-undang No. oligopsoni.

Hak-hak produsen dapat ditemukan antara lain pada faktor-faktor yang membebaskan produsen dari tanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh konsumen. 2) cacat timbul di kemudian hari. 2) penyalahgunaan produk yang. meskipun kerusakan timbul akibat cacat pada produk. tapi tidak jelas importimya.penyalur/pedagang ini timbul atas barang yang diimpor dari negara ketiga. yaitu apabila: 1) produk tersebut sebenarnya tidak diedarkan. 8 Tahun 1999 Produsen disebut sebagai pelaku usaha yang mempunyai hak sebagai berikut: a. gugatan atas produk liability dapat diajukan ke pengadilan yang jurisdiksinya meliputi tempat timbulnya kerugian. yaitu 6 (enam) tahun setelah pembelian. 3) lewatnya jangka waktu penuntutan (daluarsa). 5) kerugian yang timbul (sebagian) akibat kelalaian yang dilakukan oleh produsen lain dalam kerja sama produksi (di beberapa negara bagian yang mengakui joint and several liability). Sebagian besar negara anggota EC telah meratifikasi Konvensi tentang Jurisdiksi. 5) cacat timbul akibat ditaatinya ketentuan yang ditetapkan oleh penguasa. hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beriktikad tidak baik. sehingga berdasar Pasal 5 ayat (3) konvensi ini. 4) produk pesanan pemerintah pusat (federal). Di Amerika Serikat. faktor-faktor yang membebaskan produsen dari tanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh konsumen meliputi: 1) kelalaian si konsumen penderita. b. 4) barang yang diproduksi secara individual tidak untuk keperluan produksi. atau 10 tahun sejak barang diproduksi. hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan. tidak terduga pada saat produk dibuat (unforseeable misuse). . 3) cacat timbul setelah produk berada di luar kontrol produsen. Dalam Pasal 6 UU No.

f. karena meliputi semua tahapan dalam melakukan kegiatan usahanya. c. hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan. Dalam UUPK pelaku usaha diwajibkan beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya. d. jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan. Adapun dalam Pasal 7 diatur kewajiban pelaku usaha. g. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. e. sehingga dapat diartikan bahwa kewajiban pelaku usaha untuk beriktikad baik dimulai sejak barang dirancang/diproduksi sampai pada tahap puma penjualan. sebagai berikut: a. memberikan informasi yang benar. memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan. e. d. pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan. Dalam UUPK tampak bahwa iktikad baik lebih ditekankan pada pelaku usaha. hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum sengketa konsumen. memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriniinatif. menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku. memberi kompensasi. sebaliknya konsumen hanya diwajibkan beriktikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau . sedangkan bagi konsumen diwajibkan beriktikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa. memberi kompensasi ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/ jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian. perbaikan. dan pemeliharaan. b. ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan.c. beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya.

jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan. Hal ini berarti bahwa tugas produsen pembuat tersebut tidak berakhir hanya dengan nienempatkan suatu produk dalam sirkulasi. sedangkan bagi konsumen. Produk yang dibawa ke pasar tanpa petunjuk cars pemakaian dan peringatan atau petunjuk dan peringatan yang sangat kurang/tidak memadai menyebabkan suatu produk dikategorikan sebagai produk yang cacat instruksi. Dengan demikian pabrikan (produsen pembuat wajib menyampaikan peringatan kepada konsumen). sedangkan peringatan dirancang untuk menjamin keamanan penggunaan produk. juga karena ketiadaan informasi yang tidak memadai dari pelaku usaha merupakan salah satu jenis cacat produk (cacat informasi). Penyampaian informasi terhadap konsumen tersebut dapat berupa representasi. Peringatan yang merupakan bagian dari pemberian informasi kepada konsumen ini merupakan pelengkap dari proses produksi. Hal ini tentu saja disebabkan oleh kemungkinan terjadinya kerugian bagi konsumen dimulai sejak barang dirancang/diproduksi oleh produsen (pelaku usaha). kemungkinan untuk dapat merugikan produsen mulai pada saat melakukan transaksi dengan produsen) Tentang kewajiban kedua pelaku usaha yaitu memberikan informasi yang benar. walaupun keduanya memiliki fungsi yang berbeda yaitu instruksi terutama telah diperhitungkan untuk menjamin efisiensi penggunaan produk.jasa. Peringatan yang diberikan kepada konsumen ini memegang peranan penting dalam kaftan dengan keamanan suatu produk. Kerugian yang dialami oleh konsumen di Indonesia dalam kaitannya dengan misrepresentasi banyak disebabkan karena tergiur oleh iklan-iklan atau brosur-brosur produk tertentu. yang akan sangat merugikan konsumen. maupun yang berupa instruksi. sedangkan Man atau brosur tersebut tidak selamanya memuat informasi yang benar karena pada umumnya hanya menonjolkan kelebihan produk Peringatan ini sama pentingnya dengan instruksi penggunaan suatu produk yang merupakan informasi bagi konsumen. agar konsumen tidak salah terhadap gambaran mengenai suatu produk tertentu. Diperlukan representasi yang benar terhadap suatu produk. disebabkan karena informasi di samping merupakan hak konsumen. perbaikan. karena salah satu penyebab terjadinya kerugian terhadap konsumen adalah terjadinya misrepresentasi terhadap produk tertentu. dan pemeliharaan. Pentingnya penyampaian informasi yang benar terhadap konsumen mengenai suatu produk. peringatan. Hal ini berlaku bagi .

peringatan sederhana, misalnya "simpan di luar jangkauan anak-anak" dan berlaku pula terhadap peringatan mengenai efek samping setelah pemakaian suatu produk tertentu. Peringatan demikian maupun petunjuk-petunjuk pemakaian harus disesuaikan dengan sifat produk dan kelompok pemakai. Selain peringatan, instruksi yang ditujukan untuk menjamin efisiensi penggunaan produk juga penting untuk mencegah timbulnya kerugian bagi konsumen. Pencantuman informasi bagi konsumen yang berupa instruksi atau petunjuk prosedur pemakaian suatu produk merupakan kewajiban bagi produsen agar produknya tidak dianggap cacat (karena ketiadaan informasi atau informasi yang tidak memadai). Sebaliknya, konsumen berkewajiban untuk membaca, atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselarnatan. Daftar Pertanyaan 1. Apakah terdapat perbedaan konsumen antara dan konsumen akhir? Jelaskan disertai contoh! 2. Sebut dan jelaskan secara singkat unsur-unsur definisi konsumen! 3. Mengapa tingkat pendidikan konsumen menjadi sangat berpengaruh pada penyampaian informasi, dan siapa yang paling berhak untuk dilindungi, konsumen yang terinformasi atau konsumen yang tidak terinformasi? Jelaskan disertai contoh! 4. Apa yang menjadi alasan sehingga lingkungan hidup yang baik dan sehat juga mendapat perhatian dan merupakan hak konsumen untuk mendapatkannya, jelaskan secara singkat! 5. Mengapa pengusaha dalam Pasal 7 UU No. 8 Tahun 1999 diwajibkan untuk beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya?

BAB 3 PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAMPERATURAN PERUNDANGUNDANGAN A. PENDAHULUAN Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 memiliki ketentuan yang menyatakan bahwa kesemua undang-undang yang ada dan berkaitan dengan perlindungan konsumen tetap berlaku, sepanjang tidak bertentangan atau telah diatur khusus oleh undangundang. Oleh karena itu, tidak dapat lain haruslah dipelajari juga peraturan perundang-undangan tentang konsumen dan/atau perlindungan konsumen ini dalam kaidah-kaidah hukum peraturan perundang-undangan umum yang mungkin atau dapat mengatur dan/atau melindungi hubungan dan/atau masalah konsumen dengan penyedia barang atau jasa. Sebagai akibat dari penggunaan peraturan perundangundangan umum ini, dengan sendirinya berlaku pulalah asas-asas hukum yang terkandung di dalamnya pada berbagai pengaturan dan/atau perlindungan konsumen tersebut. Padahal, nanti akan nyata, di antara asas hukum tersebut tidak cocok untuk memenuhi fungsi pengaturan dan/atau perlindungan pada konsumen, tanpa setidaktidaknya dilengkapi/diadakan pembatasan berlakunya asas-asas hukum tertentu itu. Pembatasan dimaksudkan dengan tujuan "menyeimbangkan kedudukan" di antara para pihak pelaku usaha dan/atau konsumen bersangkutan. Yang dimaksudkan dengan peraturan perundang-undangan umum adalah semua peraturan perundangan tertulis yang diterbitkan oleh badan-badan yang berwenang untuk itu, baik di pusat maupun di daerah-daerah. Peraturan perundangundangan itu antara lain adalah (di Pusat) Undang-Undang Dasar 1945, UndangUndang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang

Peraturan Presiden, dan seterusnya, dan (di daerah-daerah) Peraturan Daerah (Peraturan Daerah Provinsi atau Kabupaten/Kota serta peraturan Desa dan sebagainya). Purnadi2) dalam bukunya menyebut perundang-undangan umum ini sebagai undang-undang dalam arti materiil. Az. Nasution menjelaskan3) konsekuensi dari upaya menyusun rancangan undang-undang tentang perlindungan konsumen yang sekarang sudah diberlakukan dapat disebut sebagai membangun tata hukum konsumen secara tersendiri yang berada dalam Sistem Hukum Indonesia. Sungguh ini pekedaan yang bukan sederhana sebagai contoh dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama, apabila kits mengkaji peraturan yang berkaitan dengan masalah standar, seperti yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan, Menteri Perindustrian dan Perdagangan dan berbagai Menteri lain, dapat dikatakan bahwa standar yang ditetapkan itu selain dimaksud untuk memberi perlindungan kepada konsumen juga melindungi konsumen yang berstatus pengusaha, ataupun masyarakat umum lainnya. Demikian pula pengaturan mengenai ukuran, timbangan, takaran atau ketentuan mengenai label, ketentuan daluwarsa, dan sebagainya. Kedua, ketentuan dalam hukum pidana yang berkaitan dengan penipuan, pemalsuan, penjualan barang dapat membahayakan jiwa manusia (Pasal 383, 263, 202, 382, 383). Ketentuan ini termasuk sebagai delik pidana, yaitu perbuatan yang bersifat melawan hukum yang dilarang dan diancam dengan pidana. Ketentuan ini termasuk pula melindungi konsumen, namun juga melindungi masyarakat pada umumnya. Ketiga, ketentuan dalam hukum perdata yang berkaitan dengan perikatan (Pasal 1233, 1234, 1313, 1351) mengatur hubungan perjanjian pars pihak baik yang berstatus konsumen maupun status pengusaha sebagai produsen barang atau jasa. Keempat, Ketentuan tentang bidang peradilan, Undang-Undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman mengatur mengenai peradilan umum yang disebut Pengadilan Negeri. Pengadilan ini selanjutnya merupakan lembaga peradilan yang mengadili perkara pidana dan perdata yang bagi perkara yang menyangkut masyarakat umum termasuk konsumen. Dari keempat catatan tersebut, ada upaya membangun tata hukum yang diperuntukkan bagi konsumen Indonesia dalam sistem Hukum Indonesia yang sudah berlaku dewasa ini.

SUMBER-SUMBER HUKUM KONSUMEN Di samping Undang-Undang Perlindungan Konsumen. setidaktidaknya is merupakan cumber juga dari hukum konsumen dan/atau hukum perlindungan konsumen. a.Alasan yang dapat dikemukakan untuk menerbitkan peraturan perundangundangan yang secara khusus mengatur dan melindungi kepentingan konsumen dapat disebutkan sebagai berikut. B. Konsumen memerlukan sarana atau acara hukum tersendiri sebagai upaya guns melindungi atau memperoleh haknya. Sebelumnya.1) 1. konsumen merupakan pengguna barang dan jasa untuk kepentingan diri sendiri dan tidak untuk diproduksi ataupun diperdagangkan. Beberapa di antaranya akan diuraikan berikut ini. terutama Hukum Perlindungan Konsumen mendapatkan landasan hukumnya pada Undang-Undang Dasar 1945. karena dalam suatu hubungan hukum dengan penjual. dari kata "melindungi" menurut Az. Umumnya. Pembukaan. masih harus dipelajari semua peraturan perundang-undangan umum yang berlaku. b. Tetapi peraturan perundangundangan umum yang berlaku memuat juga berbagai kaidah menyangkut hubungan dan masalah konsumen. telah diuraikan bahwa Undang-Undang Perlindungan Konsumen berlaku setahun sejak disahkannya (tanggal 20 April 2000). Sekalipun peraturan perundang-undangan itu tidak khusus diterbitkan untuk konsumen atau perlindungan konsumen. di samping itu. Akan tetapi. Dengan demikian dan ditambah dengan ketentuan Pasal 64 (Ketentuan Peralihan) undang-undang ini. sampai saat ini orang bertumpu pada kata "segenap bangsa" sehingga ia diambil sebagai asas tentang persatuan seluruh bangsa Indonesia (asas persatuan bangsa). Konsumen memerlukan pengaturan tersendiri. Alinea ke-4 berbunyi: Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia. . berarti untuk "membela" kepentingan konsumen. Undang-Undang Dasar dan Ketetapan MPR Hukum Konsumen. hukum konsumen "ditemukan" di dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

apalagi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan merupakan hak dari warga negara dan hak semua orang. la merupakan hak dasar bagi rakyat secara menyeluruh. tentang kaftan produsen dan konsumen. baik diminta atau tidak. TAP-MPR 1988 "menjamin" kepentingan konsumen. Perlindungan hukum pada segenap bangsa itu tentulah bagi segenap bangsa tanpa kecuali.Nasution di dalamnya terkandung pula asas perlindungan (hukum) pada segenap bangsa tersebut. orang asli atau keturunan dan pengusaha/pelaku usaha atau konsumen. orang kaya atau orang miskin. pasal-pasal ini mengenal hak-hak warga negara. Baik ia laki-laki atau perempuan. Susunan kalimat tersebut berbunyi: “…………. Salah satu yang menarik dari TAP-MPR 1993 ini adalah disusunnya dalam satu napas. apabila kehidupan seseorang terganggu atau diganggu oleh pihak/pihak lain. maka pada tahun 1993 digunakan istilah "melindungi kepentingan konsumen". dalam satu baris kalimat. Penjelasan autentik Pasal 27 ayat (2) ini berbunyi: Telah jelas. sekalipun dengan kualifikasi yang berbeda-beda pada masing-masing ketetapan. Landasan hukum lainnya terdapat pada ketentuan termuat dalam Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) telah menetapkan berbagai ketetapan MPR. Dengan ketetapan terakhir Majelis Permusyawaratan Rakyat Tahun 1993 (TAPMPR) makin jelas kehendak rakyat atau adanya perlindungan konsumen. Sayangnya. Penghidupan yang layak. . orang kota atau orang desa. dalam hal ini khususnya melindungi konsumen. Selanjutnya. untuk melaksanakan perintah UUD 1945 melindungi segenap bangsa. dalam masingmasing TAP-MPR tersebut tidak terdapat penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan menguntungkan. Sesungguhnya. meningkatkan pendapatan produsen dan melindungi kepentingan konsumen". maka alai-alai negara akan turun Langan. untuk melindungi dan atau mencegah terjadinya gangguan tersebut. khususnya sejak tahun 1978. Ketentuan tersebut berbunyi: Tiap warga Negara berhak atas penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Kalau pada TAP-MPR 1978 digunakan istilah "menguntungkan" konsumen. menjamin atau melindungi kepentingan konsumen tersebut.

penguasaan pasar yang dominan. Kepentingan peningkatan pendapatan atau penghasilan pelaku usaha adalah dalam rangka pelaksanaan kegiatan usaha mereka. Dalam hubungannya dengan pars konsumen. sebagai pribadi penggunaan barang dan/jasa itu adalah untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. nyata bahwa konsumen tidak sematamata menggunakan ukuran-ukuran komersial sebagaimana yang menjadi ukuran pelaku usaha dalam penggunaan barang dan/atau jasa yang mereka konsumsi. dan lain-lain (memerlukan ketentuanketentuan pengawasan). dan/atau mengedarkan produk hasil usaha mereka. adalah agar barang/jasa konsumen yang mereka peroleh. keluarga atau rumah tangganya (kepentingan nonkomersial). bahan penolong. Sifat kepentingan khas produsen (lebih tepat pelaku usaha atau pengusaha) telah ditunjukkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. telah diterangkan bahwa pengusaha dalam menjalankan kegiatan memproduksi atau berdagang menggunakan barang atau jasa sebagai bahan baku. menawarkan. adalah untuk meningkatkan pendapatan atau penghasilan mereka (tujuan komersial). tetapi semata-mata untuk memenuhi kebutuhan raga dan jiwa konsumen. seperti praktik persaingan melawan hukum.Dengan susunan kalimat demikian. Kepentingan konsumen dalam kaftan dengan penggunaan barang dan/atau jasa. Sebelumnya. atau bahan pelengkap. tidak merosot atau bahkan hilang sama sekah baik karena: a. Oleh karena itu. bermanfaat bagi . Nilai barang atau jasa yang digunakan konsumen dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka tidak diukur atas dasar untung rugi secara ekonomis belaka. bahan tambahan. Adapun bagi konsumen akhir. Kepentingan mereka dalam menggunakan barang atau jasa adalah untuk kegiatan usaha memproduksi dan/atau berdagang itu. terlihat lebih jelas arahan Majelis Permusyawaratan Rakyat tentang kekhususan kepentingan produsen (dan semua pihak yang dipersamakan dengannya) dan kepentingan konsumen. kegiatan usaha pengusaha adalah dalam rangka memproduksi. Adanya praktik-praktik niaga tertentu yang menghambat atau menyingkirkan pars pengusaha dari pasar. Perlindungan hukum yang mereka perlukan adalah agar penghasilan dalam berusaha dapat meningkat. Terdapat kelemahan dalam menjalankan usaha tertentu atau tidak efisien dalam menjalankan manajemen usaha (perlu ketentuan-ketentuan tentang pembinaan) atau b.

seperti pemikiran sementara orang pada saat ini. tetapi persaingan antarkalangan usaha itu haruslah sehat dan terkendali. Pencampuradukan keduanya. memproduksinya. termasuk hukum perdata. mengangkutnya dan memasarkannya. keselarasan. hukum dagang serta kaidah-kaidah keperdataan yang termuat dalam berbagai . Perbedaan prinsipil dari kepentingan-kepentingan dalam penggunaan barang/ jasa dan pelaksanaan kegiatan antara pelaku usaha dan konsumen dengan sendirinya memerlukan jenis pengaturan perlindungan dan dukungan yang berbeda pula. bahkan coati usahanya. Pelaku usaha adalah pelaku usaha. Oleh karena itu. kepentingan nonkomersial mereka yang harus diperhatikan adalah akibat-akibat kegiatan usaha dan persaingan di kalangan pelaku usaha terhadap jiwa. Haruslah ada peraturan perundangundangan yang mengatur tentang usaha dan mekanisme persaingan itu. spa hak-hak dan/atau kewajiban yang sesuai kepentingan masing-masing pihak. Persaingan haruslah berjalan secara wajar dan tidak terjadi kecurangan-kecurangan yang mengakibatkan kalangan pelaku usaha tidak saja tidak meningkat pendapatannya. 2. Hukum Konsumen dalam Hukum Perdata Dengan hukum perdata dimaksudkan hukum perdata dalam arti lugs. tubuh atau harta benda mereka. kesehatan. dan seperti bagaimana bagaimana mendapatkan tambahan penolong. lebih banyak menimbulkan kerancuan dan kesulitan daripada kemanfaatan. yang menonjol dalam perlindungan kepentingan konsumen ini adalah perlindungan pada jiwa. Bagi kalangan pelaku usaha perlindungan itu adalah untuk kepentingan komersial mereka bahan dalam bake. serasi. dan selaras dalam kehidupan di antara keduanya. tetap harus dijaga keseimbangan. dan keserasian di antara keduanya. Dalam keadaan bagaimanapun. harta dan/atau kepentingan kekeluargaan konsumen. haruslah diciptakan keadaan yang seimbang. keamanan jiwa dan harta benda. diri.kesehatan/keselamatan tubuh. dan konsumen adalah konsumen. Bagi konsumen. Sekalipun diakui bahwa persaingan merupakan suatu yang biasa dalam dunia usaha. dalam penyusunan peraturan perundang-undangan haruslah jelas siapa yang dimaksudkan dengan pelaku usaha dan siapa pula konsumen. menjalankan bahan kegiatan usaha. termasuk di dalamnya bagaimana menghadapi persaingan usaha. Jadi. keluarga dan/atau rumah tangganya (tidak membahayakan atau merugikan mereka).

KUH Perdata bahkan tampak seperti lebih dominan berlakunya dibandingkan dengan kaidah-kaidah hukum adat atau kaidah-kaidah hukum tidak tertulis dan putusan-putusan pengadilan negeri maupun pengadilan-pengadilan luar negeri yang berkaitan. baik buku pertama. masih tampak hidup dan terlihat dalam berbagai putusan pengadilan. Akan tetapi. Beberapa putusan pengadilan tentang masalah keperdataan berkaitan dengan perlindungan konsumen masih terlihat. buku ketiga. yang tidak tertulis tetapi ditunjuk oleh pengadilan dalam perkara-perkara tertentu. tentu saja jugs kaidahkaidah hukum perdata adat. khususnya (jasa) perasuransian dan pelayaran. KUH Perdata memuat berbagai kaidah hukum berkaitan dengan hubungan hukum dan masalah antarpelaku usaha penyedia barang dan/atau jasa dan konsumen pengguna barang-barang atau jasa tersebut. Kesemuanya itu baik hukum perdata tertulis maupun hukum perdata tidak tertulis (hukum adat). khususnya Hukum Perdata Internasional. Antara lain tentang siapa yang dimaksudkan . dapat diberlakukan Hukum Internasional dan asasasas hukum internasional. Patut kiranya diperhatikan kenyataan yang ada dalam pemberlakuan berbagai kaidah hukum perdata tersebut. sekalipun sudah amat berkurang. Adapun hubungan-hubungan hukum atau masalah antara penyedia barang atau jasa dan konsumen dari berbagai negara yang berbeda. atau tidak bersamaan hukum yang berlaku bagi mereka. dalam berbagai peraturan perundang-undangan lain. memuat pula berbagai ketentuan hukum perdata bagi konsumen.peraturan perundang-undangan lainnya. untuk selebihnya dalam pengalaman di pengadilan sepanjang kemerdekaan sampai waktu ini. Selanjutnya menganggap tidak berlaku beberapa pasal dari KUH Perdata. dan buku keempat memuat berbagai kaidah hukum yang mengatur hubungan konsumen dan penyedia barang atau jasa konsumen tersebut. Begitu pula dalam KURD. Akan tetapi di samping itu. Terutama buku kedua. tampaknya termuat puts kaidah-kaidah hukum yang mempengaruhi dan/ atau termasuk dalam bidang hukum perdata. Pada tahun 1963. Mahkamah Agung menganggap Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (13W) tidak'sebagai undang-undang tetapi sebagai dokumen yang hanya menggambarkan suatu kelompok hukum tidak tertulis. mengatur tentang hak-hak dan kewajiban yang terbit dari. Kaidah-kaidah hukum perdata umumnya termuat dalam Kitab UndangUndang Hukum Perdata (KUH Perdata). Hubungan hukum perdata dan masalahnya dalam lingkungan berlaku Hukum Adat. Di samping itu. maupun buku kedua.

dan terakhir UndangUndang Perlindungan Konsumen (UndangUndang No. Rumusan norma dalam pasal ini unik tidak seperti ketentuan pasal lainnya. Perbuatan Melawan Hukum (Pasal 1365 KUH Perdata) Dalam Sengketa Antara Konsumen dan Pelaku Usaha Perbuatan melawan hukum di Indonesia secara normatif selalu merujuk pada ketentuan Pasal 1365 KUH Perdata. Lembaran Negara Tahun 1999 No. 8 Tahun 1999. Perumusan norma Pasal 1365 KUH Perdata lebih merupakan struktur norma daripada substansi ketentuan hukum yang sudah lengkap. 2 Tahun 1981).sebagai subjek hukum dalam suatu hubungan hukum konsumen. 14 Tahun 1992). Undang-Undang tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers (Undang-Undang No. Undang-Undang tentang Lingkungan Hidup (Undang-Undang No. dan keempat. ketiga. Undang-Undang tentang Lalu Lintas danAngkutan Jalan (Undang-Undang No. substansi ketentuan Pasal 1365 KUH Perdata senantiasa memerlukan . Buku Kesatu dan Buku Kedua. terlihat bahwa kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah hukum antara pelaku usaha penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa dengan konsumennya masing-masing terlihat termuat dalam:    KUH Perdata. kalau dirangkum keseluruhanriya. UndangUndang tentang Perindustrian (Undang-Undang No. Undang-Undang tentang Rumah Susun (Undang-Undang No. Undang-Undang tentang Kesehatan ( Undang-Undang No. 23 Tahun 1992). Jadi. 5 Tahun 1984). Berta tats cars penyelesaian masalah yang ter adi dalam Sengketa antara konsumen dan penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa yang diatur dalam peraturan perundang-undangan bersangkutan. UndangUndang tentang Pangan ( Undang-Undang No. KURD. 42). Berbagai peraturan perundang-undangan lain yang memuat kaidah-kaidah hukum bersifat perdata tentang subjek-subjek hukum. terutama dalam buku kedua. 16 Tahun 1985). 4 Tahun 1982). 7 Tahun 1996). Oleh karena itu. hubungan hukum dan masalah antara penyedia barang atau penyelenggara jasa tertentu dan konsumen. Beberapa di antaranya (yang terbaru) adalah Undang-Undang tentang Metrologi Legal (Undang-Undang No. hak-hak dan kewajiban masing-masing. 21 Tahun 1982).

Pasal 1370 KUH Perdata menyatakan bahwa dalam hal tedadi pembunuhan dengan sengaja atau kelalaiannya maka suami atau istri. sesuai dengan kedudukan dan keadaan pars pihak. Dilihat dari dimensi waktu. Beberapa tuntutan yang dapat diajukan karena perbuatan melawan hukum ialah: 1. tak lapuk kena hujan". Perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) sama dengan perbuatan melawan undang-undang (on wetmatigedaad). Masalah penghinaan diatur dalam Pasal 1372 sampai dengan Pasal 1380 KUH Perdata. seperti kiasan yang sudah kits kenal bahwa Pasal 1365 KUH Perdata ini "Tak lekang kena pangs. Pasal 1367 ayat (1) KUH Perdata menyatakan: Seseorang tidak hanya bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya sendiri tetapi juga disebabkan karena perbuatan orangorang yang menjadi tanggungannya. atau disebabkan oleh barang-barang yang berada di bawah pengawasannya. 2. melarang dilakukannya perbuatan tertentu. 3. Pasal 1372 menyatakan bahwa tuntutan terhadap penghinaan adalah bertujuan untuk mendapat ganti rugi dan pemulihan nama baik. tanggung jawab tidak hanya karena perbuatan melawan hukum yang dilakukan diri sendiri tetapi juga berkenaan dengan perbuatan melawan hukum orang lain dan barang-barang di bawah pengawasannya. ketentuan ini akan "abadi" karena hanya merupakan struktur. berhak untuk menuntut ganti rugi yang harus dinilai menurut keadaan dan kekayaan kedua belah pihak. anak. Dengan kata lain. . ganti rugi dalam bentuk uang atas kerugian yang ditimbulkan. pernyataan bahwa perbuatan yang dilakukan adalah melawan hukum. Perbuatan Melawan Hukum terhadap tubuh dan jiwa manusia. 4. Perbuatan Melawan Hukum Indonesia yang berasal dari Eropa Kontinental diatur dalam Pasal 1365 KUH Perdata sampai dengan Pasal 1380 KUH Perdata. orang tug korban yang lazimnya mendapat nafkah dari pekerjaan korban. Perbuatan Melawan Hukum terhadap nama baik.materialisasi di luar KUH Perdata. Kedua. Pasal-pasal tersebut mengatur bentuk tanggung jawab atas Perbuatan Melawan Hukum yang terbagi atas: Pertama. ganti rugi dalam bentuk natura atau dikembalikan dalam keadaan semula. Ketiga.

lalu ia berusaha mencopot panel yang ada di dalam mobil namun tidak berhasil memecahkannya. istri penggugat lalu membuka pintu mobil dari dalam namun tidak berhasil sehingga merasa ketakutan karena terperangkap di dalam mobil. Sebelum undang-undang tersebut lahir. menurut Tergugat salah sate kecanggihan mobil BMW adalah sistem elektroniknya akan memberi keamanan dan kenyamanan. Harapan istri penggugat temyata jugs sic-sic karena tidak seorang pun mendengarkan teriakannya karena ia berada dalam ruangan kedap . hubungan dengan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha. Sebagaimana yang wring dilakukan oleh penggugat ketika mengendarai jenis mobil yang lainnya karena sekalipun dikunci dari luar. Pada suatu hari penggugat pergi mengantarkan istri penggugat untuk mengurut kakinya ke suatu tempat dengan mengendarai mobil BMW. Istri penggugat langsung menekan tombol klakson mobil BMW untuk mints pertolongan. penggugat tidak bisa menahan buang air kecil karena menderita suatu penyakit sehingga terburu-buru masuk ke toilet yang terletak di dalam rumah sambil menutup pintu mobil yang menggunakan remote control. Karena kondisi kaki istri penggugat masih terasa nyeri maka tidak bisa keluar mobil bersamaan dengan penggugat dan ketika hendak keluar. dan kunci elektroniknya tidak mungkin dipalsukan. Namun dengan lahirnya undang-undang yang secara khusus mengatur mengenai tuntutan ganti kerugian maka telah terjadi perubahan dalam penerapan Pasal 1365 KUH Perdata. Akhimya.Penerapan Pasal 1365 KUH Perdata mengalami perubahan melalui putusan pengadilan dan undang-undang. perkara bermula dari pembelian mobil jenis BMW 318i yang dilakukan oleh Penggugat. Berbagai undang-undang telah secara khusus mengatur tentang gaud rugi karena perbuatan melawan hukum. Perkara berikut ini menunjukkan perubahan penerapan Pasal 1365 KUH Perdata dalam. istri penggugat berteriak sekeras-kerasnya dengan harapan ada yang mendengarkan dan bisa membantu keluar dari mobil. misalnya undangundang tentang perlindungan konsumen. penumpang yang masih berada di dalam mobil tetap bisa keluar dari mobil dengan cara membuka pintu dari dalam. tetapi klakson tidak berfungsi karena seluruh sistem elektroniknya coati. Sesampainya di rumah. gugatan yang berkenaan dengan ganti rugi berkaitan dengan materi yang kemudian diatur dalam undang-undang tersebut didasarkan pada Pasal 1365 KUH Perdata.

Setelah empat puluh menit berjuang akhirnya istri penggugat berhasil meretakkan kaca mobil dengan sebuah bends yang berhasil ditemukan di dalam mobil BMW. Akhimya jiwa istri penggugat dapat diselamatkan meskipun dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Menurut penggugat. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.suara (dalam mobil BMW yang terkunci) sehingga pada saat itu kondisi istri penggugat sangat lemah dan mengenaskan akibat banyaknya mengeluarkan tenaga serta kehabisan oksigen. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen di samping Perbuatan Melawan Hukum (Pasal 1365 KUH Perdata) maka sesuai dengan asas hukum lex specialis derogat lex generalis dan asas hukum lex posteriori derogat legi priori. . serta tindakan Tergugat III yang tidak memberikan informasi yang jelas tentang kondisi mobil serta cara pemakaiannya kepada penggugat. Tanga pikir panjang istri penggugat merobek kaca mobil yang sudah retak dengan tangannya dan berhasil membentuk lubang angin. Istri penggugat kembali berteriak untuk meminta tolong yang temyata dapat didengar oleh penggugat yang sebelumnya beranggapan bahwa istri penggugat sudah masuk ke dalam rumah. sangat berakibat fatal. Setelah itu barulah ia dapat menghirup udara segar yang masuk dari lubang kaca mobil. tanpa disadari tangan istri penggugat terluka dan berlumuran darah. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. hukum yang berlaku dalam perkara ini adalah Undang-Undang No. Berdasarkan kejadian tersebut. Menurut penggugat. penggugat menggugat BMW AG yang berkedudukan di Jerman sebagai Tergugat I. sistem penguncian double lock yang diprodilksi tergugat I dan tergugat 11 tidak menjamin keamanan dan keselamatan konsumen di dalam memakai produk tersebut. Lebih lanjut penggugat juga mendalilkan bahwa pars tergugat yang telah memproduksi mobil BMW dengan sistem penguncian double lock tersebut juga telah melanggar Undang-Undang No. Tergugat dalam jawabannya mendalilkan bahwa karena penggugat telah mengajukan tuntutan pelanggaran Undang-Undang No. dan hampir merenggut nyawa serta menimbulkan kerugian yang besar bagi penggugat. tindakan Tergugat I dan Tergugat II memproduksi mobil BMW dengan menggunakan sistem double lock. BMW Group Indonesia sebagai tergugat II dan PT Astrea International Tbk sebagai tergugat III dengan dalil Perbuatan Melawan Hukum. dan menurut penggugat hal ini jelas merupakan perbuatan melawan hukum.

DKI. dapat pula diberlakukan. Jadi. hukum pidana. bukan ke Pengadilan Negeri di mana salah satu Tergugat bertempat tinggal sebagaimana diatur dalam Pasal 118 (2) HIR. Putusan ini diperkuat oleh Pengadilan Tinggi Jakarta sebagai Peradilan Banding melalui Putusan No. Berdasarkan Pasal 23 Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Termasuk hukum publik dan terutama dalam kerangka hukum konsumen dan/atau hukum perlindungan konsumen.Jkt. hukum acara perdata dan/ataii hukum acara pidana dan hukum internasional khususnya hukum perdata internasional.Pst berpendapat bahwa Pasal 1365 adalah suatu aturan umum/generalis dalam hal mengajukan gugatan terhadap suatu Perbuatan Melawan Hukum yang dilakukan oleh tergugat sedangkan Undang-Undang No. 210/ Pdt. adalah hukum administrasi negara. segala kaidah hukum maupun asas-asas hukum ke semua cabangcabang hukum publik itu sepanjang berkaitan dengan hubungan hukum konsumen dan/atau masalahnya dengan penyedia barang atau penyelenggara jasa. hal tersebut karena adanya aturan khusus (Pasal 23 Undang-Undang Perlindungan Konsumen) yang didahulukan dari aturan umum (Pasal 118 ayat (2) HIR) lex specialis derogat legi generali. 385/ Pdt. Dalam kaftan ini antara lain ketentuan perizinan usaha.Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat melalui Putusan No. Menurut Majelis Hakim dalam hal gugatan mengenai tanggung jawab dari pelaku usaha terhadap konsumennya yang berlaku adalah Undang-Undang Perlindungan Konsumen sebagai aturan khusus/specialis (lex specialis derogat legi generali). gugatan harus diajukan ke pengadilan negeri di mana konsumen/penggugat bertempat tinggal. ketentuan- . 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen adalah merupakan suatu aturan khusus yang mengatur mengenai tanggung jawab dari pelaku usaha terhadap konsumen bila tedadi suatu kesalahan atau suatu Perbuatan Melawan Hukum dari pelaku usaha tersebut terhadap konsumennya. Hukum Konsumen dalam Hukum Publik Dengan hukum publik dimaksudkan hukum yang mengatur hubungan antara negara dan alai-alai perlengkapannya atau hubungan antara negara dengan perorangan./2004/PT. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan tidak berwenang mengadili perkara ini.G/2002/PN. 3. Dalam amar putusannya.

Pasal 77 itu berbunyi: Pemerintah berwenang mengambil tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan/atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan ini. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan). 75). Selanjutnya dalam Undang-Undang Kesehatan. selanjutnya disebut hukum administrasi. 23 Tahun 1992. hukum pidana. Misalnya tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan/atau sarana kesehatan yang melanggar undang-undang (Pasal 77 UU No. Diantara kesemua hukum publik tersebut. Ketentuan hukum administrasi. Dalam Pasal 76 undang-undang itu dijelaskan pula peran pengawasan yang dijalankan oleh pemerintah. hukum internasional khususnya hukum perdata internasional dan hukum acara perdata Berta hukum acara pidana paling banyak pengaruhnya dalam pembentukan hukum konsumen. misalnya menentukan bahwa Pemerintah melakukan pengaturan dan pembinaan rumah susun dan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang (termuat dalam Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang tentang Rumah Susun. Pasal 73 ditentukan: Pemerintah melakukan pembinaan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan. Dari peraturan perundang-undangan di atas terlihat beberapa departemen dan atau lembaga pemerintah tertentu menj alankan tindakan administratif berupa pengawasan dan pembinaan terhadap pelaku usaha dengan perilaku tertentu dalam melaksanakan perundang-undangan tersebut. sedang Pasal 77 menegaskan wewenang pemerintah untuk mengambil berbagai tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan/atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap undangundang ini.ketentuan pidana tertentu. tampaknya hukum administrasi negara. Undang-Undang No. izin praktik atau izin lain yang diberikan Berta penjatuhan hukum disiplin berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan yang . ketentuan-ketentuan hukum acara dan berbagai konvensi dan/atau ketentuan hukum perdata internasional. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 LN Tahun 1985 No. Penjelasan pasal ini menentukan: tindakan administratif dalam pasal ini dapat berupa pencabutan izin usaha.

40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. hukum konsumen dan/atau hukum perlindungan konsumen itu berbentuk sebagai berikut. rentabilitas. solvabilitas dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank.berlaku. likuiditas. Ayat (2) pasal ini menentukan bahwa Bank Indonesia menetapkan ketentuan tentang kesehatan bank dengan memperhatikan aspek permodalan. Selanjutnya. Tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dilakukan setelah mendengar pertimbangan Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan. Juga berdasarkan Undang-Undang No. Struktur Hukum Perlindungan Konsumen Hukum Konsumen / Hukum Perlindungan Konsumen Hukum Perdata (dalam Arti Luas) Hukum Publik Hukum Perdata Hukum Administrasi Hukum Dagang Hukum Pidana Hukum Perdata Internasional . 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Pasal 52 dan -Pasal 53 (Ketentuan Pidana dan sanksi administratif). Pasal 29 menegaskan bahwa tugas pembinaan dan pengawasan bank-bank di Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia. kualitas manajemen. Secara skematis. ditetapkan bahwa Bank Indonesia dapat menetapkan sanksi administratif kepada bank yang tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana ditentukan pertimbangan kepada Menteri Keuangan untuk mencabut izin usaha bank bersangkutan. kualitas aset. Begitu pula dengan tindakan administratif Menteri Kehakiman dalam mengesahkan Anggaran Dasar suatu Perseroan Terbatas atau Perubahannya sebagaimana termuat dalam Undang-Undang No.

memenuhi persyaratan dan/atau cukup untuk melindungi kepentingan-kepentingan konsumen. Tentunya. 14 Tahun 1992) yang dapat dilakukan oleh pelaku usaha atau oleh konsumen. peminjam (verbruiklener. Misalnya. terlepas dari apakah perundang-undangan yang telah ada. Yang harus mendapatkan perhatian adalah pelanggaran perundang-undangan itu. tidak dikenal istilah consumers atau consument (istilah Inggris dan Belanda). sebagai pengguna jasa angkutan (UU No. apakah pelaku usaha atau konsumen. Keduanya diatur bersamaan. Pasal 1457 dan seterusnya KUH Perdata). dilakukan oleh siapa. Di Negeri Belanda istilah koper atau huurder (istilah Belanda yang berarti pembeli atau penyewa) digunakan dalam perundangundangannya. penyewa (harder. Keadaannya agak berbeda dengan pengaturan yang ditentukan dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen. 1. . C. baik hukum perdata maupun hukum publik dapat digunakan untuk menyelesaikan hubungan dan/atau masalah konsumen dengan penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa. MASALAH YANG DIHADAPI Sekalipun berbagai instrumen hukum umum (peraturan perundang-undangan yang berlaku umum). Pasal 1548 dan seterusnya). Pasal 1694 dan seterusnya). KUH Perdata dan KUHD tidak Mengenal Istilah Konsumen Hal ini mudah dipahami karena pada saat undang-undang itu diterbitkan dan diberlakukan di Indonesia. dalam KUH Perdata kits menemukan istilahistilah pembeli (koper. Di dalam undang-undang ini secara tegas ditentukan hak-hak konsumen (Pasal 4) dan kewajiban-kewajibannya (Pasal 5). tetapi hukum umum ini ternyata mengandung berbagai kelemahan tertentu dan menjadi kendala bagi konsumen atau perlindungan konsumen. penitip barang (bewaargever. Oleh karena itu. tidak menetapkan terpisah pelaku usaha atau konsumen.Dari skema ini terlihat bahwa pembagian berdasarkan hukum perdata dalam arti lugs dan hukum publik memberikan gambaran yang menyeluruh tentang struktur dan permasalahan perlindungan konsumen. Peraturan perundangan umum ini sebagaimana telah diuraikan di atas. Adapun hak-hak dan kewajiban pelaku usaha (istilah digunakan untuk penglisaha) diatur dalam Pasal 6 dan 7.

konsumen itu terdiri dari dua jenis yang berbeda kepentingan dan tujuan dalam penggunaan barang atau jasanya. setiap orang dapat mengadakan sembarang perjanjian. bahkan dengan bentuk-bentuk perjanjian lain dari apa yang termuat dalam KUH Perdata (berbeda dengan sistem tertutup yang dianut Buku Ke-2 KUH Perdata). mungkin . Demikian pula dengan konsumen akhir. tetapi secara materiil akan terlihat. Dengan asas kebebasan berkontrak. Pasal 341 dan seterusnya Buku Kedua). Keadaan ini kemudian diimbuhi pula dengan catatan bahwa hukum perjanjian itu merupakan hukum pelengkap. penyewa. Semua Subjek Hukum tersebut Adalah Konsumen. 3. Keadaan mempersamakan formal memang memikat. jadi setiap orang dapat saja mengadakan persetujuan dalam bentukbentuk lain dari yang disediakan oleh KUH Perdata. Sistemnya Terbuka dan Merupakan Hukum Pelengkap Asas kebebasan berkontrak memberikan pada setiap orang hak untuk dapat mengadakan berbagai kesepakatan sesuai kehendak dan persyaratan yang disepakati kedua pihak. Dengan sistem terbuka. sistem terbuka dan bahwa hukum perjanjian itu merupakan hukum pelengkap saja. Para pengusaha yang disebut juga sebagai konsumen antara mempunyai tujuan dan kepentingan tersendiri. Pasal 246 dan seterusnya Buku Kesatu) dan penumpang (opvarende. termasuk perjanjian yang dipaksakan kepadanya. tertanggung atau penumpang terdapat dalam KUH Perdata dan KUHD. Kalau yang mengadakan perjanjian adalah mereka yang seimbang kedudukan ekonomi. tanpa pemberdayaan (empowering) pihak yang historis lemah. 2. Pengguna Barang dan/atau Jasa Sebagaimana telah diuraikan dalam bab pertama. dan sebagainya. tidak membedakan apakah mereka itu sebagai konsumen akhir atau konsumen antara. is menimbulkan kepincangan tertentu dalam hubungan hukum atau masalah mereka satu sama lain. tingkat pendidikan dan/atau kemampuan days saingnya.Pasal 1754 dan seterusnya). dengan syarat-syarat subjektif dan objektif tentang sahnya suatu persetujuan tetap dipenuhi (Pasal 1320). Hukum Perjanjian (Buku ke-3 KUH Perdata) Menganut Asas Hukum Kebebasan Berkontrak. Adapun Kitab Undang-Undang Hukum Dagang ditemukan istilah tertanggung (verzekerde. lengkaplah sudah kebebasan setiap orang untuk mengadakan perjanjian. Subjek hukum pembeli.

kini sudah menjadi pengalaman kita. kedudukan hukum berbagai cars pemasaran produk konsumen seperti penjualan dari rumah ke rumah. tidak terakomodasi secara sangat sumir dalam perundangundangan itu. Perkembangan Pesat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) Perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi sangat mempengaruhi kegiatan bisnis di mans pun di dunia. Dalam keadaan sebaliknya. yaitu pars pihak tidak seimbang. promosipromosi dagang. pihak yang lebih kuat akan dapat memaksakan kehendaknya atas pihak yang lebih lemah. Antara lain mengenai pembelian rumah. tidak terkecuali di Indonesia. jasa perbankan. la mengatakan bahwa hukum perjanjian itu adalah pelindung dari pembagian kekuasaan yang tidak merata dalam masyarakat sehingga memungkinkan pemaksaan kehendak pihak yang kuat atas pihak-pihak yang lemah. Pedanjian dengan syarat-syarat baku ini telah sangat mendalam merasuk ke dalam kehidupan masyarakat. Pengalaman nyata memang menunjuk pada keadaan itu. Apa yang dimaksudkan Kessler. alat-alat transportasi. Man dan yang sejenis dengan itu. Berbagai penelitian termasuk penelitian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 19731985. Beberapa hal pokok tentang subjek hukum dari suatu perikatan. bentuk perjanjian baku. terutama konsumen dari negara-negara berkembang yang merupakan pihak yang lemah tersebut. perikatan beli sews. . ternyata pihak konsumenlah. bentuk usaha dan praktik bisnis yang pada masa diterbitkannya KUH Perdata dan KUHD belum dikenal.masalahnya menjadi lain. yang kemudian dijadikan dasar dari keputusan Sidang Umum PBB pada tahun 1985 tentang Perlindungan Konsumen. nanti akan terlihat dalam bentuk-bentuk perjanjian dengan syarat-syarat baku (perjanjian baku/klausul baku). Berta berbagai praktik niaga lainnya yang tumbuh karena kebutuhan atau kegiatan ekonomi. alat-alat rumah tangga. Berbagai produk konsumen. 4. alat-alat elektronik. Kessler bahkan lebih tajam lagi tinjauannya. Dilengkapi dengan penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia dan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. jasa asuransi. dan sebagainya.

00 (dua juta lima ratus ribu rupiah). Bayangkan saj a berapa banyak waktu.500. Mahkamah Agung dan kemungkinan Peninjauan kembali di Mahkamah Agung). kerahasiaan perusahaan dan tanggung jawab perusahaan yang hanya pada pemegang sahamnya saja. . Mahkamah Agung. karena kebutuhan telah pula dipraktikkan dan kadang-kadang tanpa persyaratan dan pembatasan yang menurut hukum berlaku bagi perikatan di negeri asalnya. Beban ini lebih banyak tidakdapat dipenuhi dalam hubungan antara konsumen dan penyedia barang atau penyelenggara jasa pada masa kini. dan/atau proses peninjauan kembali. 5. yang tidak saja makan waktu berlarutlarut. yaitu konsumen yang jumlah pembeliannya tidak melebihi suatu jumlah tertentu.500. Pasal 1865 KUH Perdata menentukan pembuktian hak seseorang atau kesalahan orang lain dibebankan pada pihak yang mengajukan gugatan tersebut.00 (dua juta lima ratus ribu rupiah). tetapi juga memakan tenaga dan biaya. sistem pemasaran yang digunakan. Pencampuradukan sistem hukum yang melanda masyarakat karena kebutuhannya itu. Hukum Acara Hukum acara yang dipergunakan dalam proses perkara perdata pun tidak membantu konsumen dalam mencari keadilan. Proses produksi dan pemasaran produk yang makin canggih. Bayangkan pula proses persidangan di Pengadilan Negeri.Begitu pula bentuk-bentuk perikatan yang tampaknya berasal dari negaranegara yang menggunakan sistem hukum berbeda (Anglo Saxon). yang hams dikeluarkan oleh konsumen bersangkutan dalam mempertahankan haknya di pengadilan-pengadilan Indonesia. berapa besar biaya. Tingkat-tingkat peradilan (Pengadilan Negeri. Pengadilan Tinggi. Pengadilan Tmggi. Hal ini terutama karena tidak pahamnya konsumen atas pembuatan produk. Apalagi bagi konsumen kecil. Contoh konkret adalah pembelian 1 (satu) unit televisi berwama dengan harga kurang lebih Rp 2.000. misalnya pembelian barang atau jasa yang tidak melebihi jumlah Rp 2.000. menyebabkan KUH Perdata dan KUHD tertinggal di belakang. ditambah dengan beban pembuktian merupakan kendala bagi konsumen dan perlindungannya. lamanya masa proses sampai didapatkan putusan yang efektif. tenaga dan hal-hal lain berkaitan dengan pembelian itu. maupun jaminan puma jual yang digunakan oleh pelaku usaha. memperbesar jarak antara konsumen dengan produk konsumen yang is gunakan di samping hal-hal yang dikemukakan di atas.

dan selaras. Hukum Publik Sesuai fungsinya menurut hukum. serasi. 7. Yang Sangat Penting Pula Adalah Dasar Pemikiran Filsafat Dianut dari KUH Perdata/KUHD dan falsafah hukum yang sekarang hams dijadikan pangkal tolak pernikiran hukum kita yang sama sekali sudah tidak sejalan lagi. mempunyai peran yang sangat membantu upaya perlindungan konsumen.  Pengumpulan bukti-bukti serta semua proses untuk tindakan administratif dan/atau peradilan atas pelaku dijalankan oleh pemerintah.6. Kemanfaatan instrumen hukum publik terlihat antara lain:  Semua pelaksanaan kegiatan pengawasan dan/atau penyelidikan. penyidikan dan penuntutan diselenggarakan oleh (aparat) pemerintah. melindungi konsumen dan pengusaha yang jujur dan beriktikad baik dari perilaku pelaku usaha yang menyimpang atau melanggar hukum dan dapat menimbulkan kerugian pada mereka. falsafah Indonesia adalah Pancasila yang pemikiran politik ekonominya adalah kesejahteraan rakyat dengan perikehidupan yang seimbang. Begitu pula halnya dengan penerapan peraturan perundang-undangan. Bahkan dengan ketentuan-ketentuan termuat . seperti juga bagi pengusaha yang jujur dan beriktikad baik. Dengan demikian. Tindakan administratif yang dijalankan oleh instansi berwenang terhadap mereka yang melanggar ketentuan dari peraturan perundang-undangan (administratif).  Semua biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan pengawasan dan peradilan dipikul oleh pemerintah. pidana (yang termuat dalam KUHP atau di luar KUHP). Dengan cara menggunakan Surat keputusan suatu tindakan administratif atau putusanputusan pengadilan yang berkaitan dengan kasus kerugiannya. Doktrin yang dianut KUH Perdata/KUHD adalah liberalisme. atas setiap perilaku usaha yang memenuhi unsur-unsur pidana dan pelaksanaannya dijalankan oleh pejabat yang berwenang untuk itu. Adapun doktrin. beban beracara yang terberat bagi konsumen dalam mengajukan kasus kerugiannya ke pengadilan yaitu beban pembuktian adanya sesuatu hak dan/atau peristiwa yang melanggar hukum (Pasal 1865 KUH Perdata dan Pasal 163 HIR) serta hal-hal lain tampak menjadi ringan.

Terhadap konsumen is menjadi masalah besar. tetapi mempunyai berbagai kendala bahkan juga tentang substansinya. Dianutnya pendirian kalangan usaha bahwa tanggung jawab (direksi) perusahaan hanya pada pemegang sahamnya saja. penarikan nomor daftar produk. Bagi konsumen Indonesia tampaknya tiga peraturan perundangundangan yang sangat dibutuhkan. Alasan yang paling banyak dikemukakan pada waktu ini adalah karena industri/bisnis kita masih termasuk "industri bagi" (infant-industry) sehingga memerlukan waktu agar mereka menjadi mapan dan kuat bersaing. antara lain: UndangUndang tentang Pangan. Di samping itu. dan/atau juga sulit pengawasannya. 3. antara lain: 1. 2. Pada sementara kasus. Putusan pengadilan dan/atau tindakan administratif (larangan mengedarkan. Akan tetapi. Kalau diperhatikan falsafah bangsa dan negara Pancasila temyata bahwa banyak hal belum cukup diatur dalam perundang-undangan yang pada saat ini. terlihat pula berbagai kelemahannya. pencabutan izin usaha dan sebagainya) terhadap perilaku pelaku usaha yang menyimpang dan merugikan konsumen. kesemuanya itu masih harus diuji di dalam masyarakat dan pengadilan-pengadilan kita. memberikan dampak negatif lainnya pada konsumen. suatu tindakan administratif tidak dijalankan atau dijalankan dengan kualifikasi "akan ditindak tegas" tetapi tanpa kelanjutan karena satu dan lain alasan. Peralihan pemilikan suatu badan usaha berkali-kali terjadi tanpa ada pengawasan. Dari hal-hal terurai di atas terlihat bahwa peraturan-peraturan umum. tidak sertamerta diketahui dan/atau memberikan ganti rugi atau sesuatu penyelesaian tertentu bagi konsumen. Sampai saat ini belum pernah terjadi penggunaan acara penggabungan perkara sesuai KUHAP dalam suatu perkara pidana. . Konsumen masih harus menjalankan acara lainnya lebih lanjut. Juga tidak dalam kasus kematian karena peristiwa biscuit beracun. yang secara perdata juga merugikan kepentingan konsumen. sayangnya.dalam Kitab Undang-Undang HukumAcara Pidana (KUHAP) proses beracara ini dapat dipermudah lagi. yaitu siapa yang harus dipertanggungjawabkan tentang sesuatu perilaku kegiatan perusahaan atau produknya yang menimbulkan kerugian pada konsumen. sekalipun dapat dimanfaatkan oleh (hukum) konsumen. oleh instansi yang berwenang. juga menjadi pengalaman.

persediaan dan penggunaan serta segala sesuatu yang berkaitan dengan itu. tata cara peradilan bagi konsumen keeil. bagi seluruh rakyat Indonesia. sehingga mereka tidak merusak diri sendiri dan/atau merugikan konsumennya. hak dan kewajibannya. Sedangkan UndangUndang Perlindungan Konsumen mengatur tentang siapa konsumen. oligopoli. Sebutkan tindakan administratif dari pemerintah di bidang tertentu apabila ada pihak yang merugikan konsumen (barang/jasa) dan berikan dasar hukumnya! 3. Apakah dalam UUD 1945 diatur mengenai perlindungan bagi warga negara (konsumen)? Jelaskan disertai pasalnya! 2. Kalau Undang-Undang Persaingan Usaha sangat dibutuhkan oleh Para usahawan beriktikad baik di Indonesia. dan Undang-Undang tentang Persaingan Usaha. seperti perilaku usaha monopoli.Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen. persaingan yang mengganggu perdagangan dan industri dan sebagainya. termasuk pengadaan. karena dalam undang-undang ini diatur berbagai perbuatan pelaku usaha yang dilarang. pengaturan atau penetapan harga (price fixing). Peraturan perundang-undangan tentang Pangan mengatur tentang makanan dan minuman (pangan) baik yang telah diolah maupun tidak. serta segala sesuatu berkaitan dengan itu. Daftar Pertanyaan 1. Bagi masyarakat Indonesia. Mengapa dalam KUH Perdata dan KUHD tidak mengenai istilah konsumen? Jelaskan! 4. Apakah yang dimaksud dengan asas kebebasan berkontrak dan apa kaitannya dengan hukum perlindungan konsumen? Jelaskan! 5. Undang-Undang Persaingan Usaha mengatur tentang perilaku yang harus diialankan oleh para pelaku usaha penyedia barang dan/atau jasa. seperti jugs bagi Para konsumen. khususnya konsumen Indonesia agaknya dari sudut kepentingan konsumen pemecahan masalah perlindungan konsumen tidak lain adalah diterbitkannya suatu Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen. Mengapa dalam penerapan peraturan-peraturan hukum ada kendalakendala? Jelaskan dan berikan contohnya! . bagaimana mereka berhubungan dengan para penyedia barang atau jasa kebutuhan mereka.

KUH Perdata. hukum dagang Berta kaidah-kaidah keperdataan yang termuat dalam berbagai peraturan perundang-undangan lainnya. 3. dan keempat. hubungan hukum dan masalah antara penyedia barang atau penyelenggara jasa tertentu dan konsumen. termasuk hukum perdata. ASPEK-ASPEK KEPERDATAAN Yang dimaksudkan hukum perdata yakni dalam arti lugs. Bab 4 . yang tidak tertulis. Di samping itu. Kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah hukum antara pelaku usaha penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa dengan konsumennya masing-masing termuat dalam: 1. tetapi ditunjuk oleh pengadilanpengadilan dalam perkara-perkara tertentu. terutama dalam Buku kedua. Kaidah-kaidah hukum perdata umumnya termuat dalam Kitab UndangUndang Hukum Perdata (KUH Perdata). KUHD. Buku kesatu dan Buku kedua. Kesemuanya itu baik hukum perdata tertulis maupun hukum perdata tidak tertulis (hukum adat). ketiga. Beberapa hal yang dinilai penting dalam hubungan konsumen dan penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa (pelaku usaha) antara lain sebagai berikut.BAB 4 BERBAGAI ASPEK HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN A. Berbagai peraturan perundang-undangan lain yang memuat kaidah-kaidah hukum bersifat perdata tentang subjek-subjek hukum. tentu saja juga kaidahkaidah hukum perdata adat. 2.

Berbagai peraturan perundang-undangan lain yang memuat kaidah-kaidah hokum bersifat perdata tentang subjek-subjek hokum. Kaidah-kaidah hokum perdata umumnya termuat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata). harga. Dengan transasi konsumen dimaksudkan diadakannya hubungan hokum (jual beli. sebelum ia menggunakan sumber dananya (gaji. Di samping itu. persediaan suku cadang. ditetapkan harus dibuat. standar internasional. Dari sudut penyusunan peraturan perundang-undangan terlihat informasi itu termuat sebagai suatu keharusan. Beberapa di antaranya. dan Keempat 2. tersediannya pelayanan jasa jurnal-jual. hukum dagang serta kaidah-kaidah keperdataan yang termuat dalam berbagai peraturan perundang-undangan lainnya. . Hal-hal yang berkaitan dengan informasi Bagi konsumen. penyusun peraturan perundang-undangan secara umum atau dalam rangka deregulasi. Buku kesatu dan Buku kedua 3. tetapi ditunjuk oleh pengadilan-pengadilan dalam perkara-perkara tertentu. Sedang untuk produk hasil industri lainnya. termasuk hukum perata.upah. Ketiga. dan lain-lain yang berkaitan dengan itu. Informasi dari kalangan pemerintah dapat diserap dari berbagai penjelasan. keterangan.atau apa pun nama lainnya) untuk mengadakan transaksi konsumen tentang barang/jasa tersebut.honor. baik secara dicantumkan maupun dimuat didalam wadah atau pembungkusnya (antara lain label dari produk makanan dalam kemasan). terutama dalam Buku Kedua. keamanannya. beli-sewa. KUHD. hubungan hokum dan masalah antara penyedia barang atau penyelenggara jasa tertentu dan konsumen/ Beberapa hal yang dinilai penting dalam hubungan konsumen dan penyedia barang/penyelenggara jasa (pelaku usaha) antara lain sebagai berikut : 1. dan sebagainya) tentang produk konsumen dengan pelaku usaha itu.Berbagai aspek hukum perlindungan konsumen 1. KUP Perdata. atau standar lain yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang. pinjam-meminjam. tentu saja juga kaidah-kaidah hokum perdata adat. Kaidah-kaidah hokum yang mengatur hubungan dan masalah hokum antara pelaku usaha penyedia barang/penyelenggara jasa dengan konsumennya masingmasing termuat dalam : 1.Aspek-aspek keperdataan Yang dimaksudkan hukum perdata yakni dalam arti luas. yang tidak tertulis. sewa-menyewa. informasi tentang produk itu terdapat dalam bentuk standar yang ditetapkan oleh pemerintah. informasi tentang barang/jasa merupakan kebutuhan pokok. dan tindakan pemerintah pada umumnya atau tentang sesuatu produk konsumen. tentang jaminan atau garansi produk. Kesemuanya itu baik hukum perdata tertulis maupun hukum perdata tidak tertulis (hukum adat). tentang kualitas produk. Informasi-informasi tersebut meliputi tentang ketersediaan barang/jasa yang dibutuhkan masyarakat konsumen. tentang berbagai persyaratan / cara memperolehnya. siaran.

meng-iklankan suatu barang dan jasa secara tidak benar dan seolah-olah dan seterusnya. atau lain-lain pihak yang berkepentingan). tanggapan atau protes organisasi konsumen. Tentang Iklan KUH Perdata (Kitab Undang – Undang Hukum Perdata) dan/atau KUHD (Kitab Undang – Undang Hukum Dagang). catalog. keduanya diumumkan pada tanggal 30 April 1847 dalam Staatsblad No. Iklan adalah bentuk informasi yang umumnya bersifat sukarela. seperti brosur. .163 c. pamphlet. dan lainlain sejenis dengan itu. yaitu Warta Konsumen (WK).” Sayangnya dalam undang-undang ini tidak dicantumkan apa yang dimaksud dengan iklan. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Dari kalangan usaha (penyedia dana. Adapun dalam undang-undang kepailitan. berbagai siaran kelompok tertentu. surat-surat pembaca pada media massa.12. Yang terdapat dalam perundang-undangan ini hanyalah berbagai larangan dan suruhan berkaitan dengan periklanan saja. diketahui sumber-sumber informasi itu umumnya terdiri dari berbagai bentuk iklan baik melalui media nonelektronik atau elektronik. 2. dapat ditemukan pada harian-harian umum. mempromosikan.10.17 dan Pasal 20) a.13. yaitu sepanjang iklan tertentu menimbulkan kerugian pada pihak lain. produsen. importer. pasal 16.Informasi dari konsumen atau organisasi konsumen tampak pada pembicaraan dari mulut ke mulut tentang suatu prosuk konsumen. Terutama dalam bentuk iklan atau label. Pasal 9 ayat (1) berbunyi: “pelaku usaha dilarang menawarkan. tanpa mengurangi pengaruh dari berbagai bentuk informasi pengusaha lainnya. tampaknya yang paling berpengaruh pada saat ini adalah informasi yang bersumber dari kalangan pelaku usaha. Bahan-bahan informasi ini pada umumnya disediakan atau di buat oleh kalangan usaha dengan tujuan memperkenalkan produknya. Menurut ketentuan dari UU No. terlepas untuk siapa perundang-undangan itu berlaku. sekalipun pada akhir – akhir ini termasuk juga yang diatur didalam Undang – Undang tentang Perlindungkan Konsumen (Pasal 9. mempertahankan dan meningkatkan pangsa pasar produk yang telah atau ingin lebih lanjut di raih. khusus menyangkut prilaku pengumuman iklan keputusan pengadilan tentang pernyataan pailit dan segala akibatakibatnya dari seseorang atau suatu badan usaha (pasal 13 jjs.23 dengan segala tambahan dan/atau memuat kaidah – kaidah tentang periklanan. `Beberapa bentuk informasi Diantara berbagai informasi tentang barang atau jasa konsumen yang diperlukan konsumen. Satu – satunya ketentuan termuat dalam KUH Perdata yang tampaknya dapat digunakan adalah ketentuan tentang perbuatan melanggar atau melawan hokum (Pasal 1365 KUH Perdata). majalah dan berita resmi YLKI. seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tentang hasil-hasil penelitian dan riset produk konsumen tertentu.105. Adapun label merupakan informasi yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan tertentu. dan seterusnya). label termasuk pembuatan berbagai selebaran.

Tentu saja terlepas dari mana yang baik dan tepat. Departemen Kesehatan (Peraturan Menteri Kesehatan No. kegunaan dan harga barang atau tariff jasa serta ketepata waktu penerimaan barang atau jasa b. memasyarakatkan. dan bertanggung jawab (Pasal 5 butir (1)). bahan. jujur.Dari hal-hal terurai diatas tentang kedudukan periklananini dalam masyarakat usaha. Bagi konsumen. Mengelabui konsumen mengenai kualitas. jelas. 7 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. 32 Tahun 2002 tentang penyiaran diarahkan antara lain untuk memberikan informasi yang benar. dan mempromosikan. dan gagasan yang dapat dimanfaatkan oleh khalayak dengan atau tanpa imbalan kepada lembaga penyiaran yang bersangkutan. Mengenai prilaku periklanan yang lengkap diatur dalam Pasal 17 UndangUndang No. 329 Tahun 1976. setidak-tidaknya terdapat dua batasan iklan. dan bertanggung jawab. barang. Pasal 1 butir (6) menyatakan siaran iklan niaga adalah siaran iklan komersial yang disiarkan melalui penyiaran radio atau televisi dengan tujuan memperkenalkan. Pasal 1 Butir 13) menetapkan sebagai “iklan adalah usaha dengan cara apa pun untuk meningkatkan penjualan. Kedua batasan iklan tersebut berjalan bersama masing-masing untuk bidang masing-masing. atau tidak tepat mengenai barang dan jasa . salah. informasi produk konsumen sangat menentukan shingga haruslah informasi itu memuat keterangan yang benar. Memuat informasi yang keliru. baik secara langsung maupun tidak langsung”. adalah sebagai berikut: 1) Pelaku usaha periklanan dilarang memproduksi iklan yang: a. Mengelabui jaminan/garansi tergadap barang atau jasa c. kuantitas. 32 Tahun 2002 tentang penyiaran) Pasal 1 butir (5) merumuskan siaran iklan adalah siaran informasi yang bersifat komersial dan layanan masyarakat tentang tersedianya jasa. Sampai saat ini tidak terdapat gangguan apa pun baik terhadap masyarakat pembuat maupun pengguna produk konsumen yang diiklankan berdasarkan masing-masing rumusan yang bersangkutan. Kebenaran isi dari pernyataan atau label tersebut merupakan tanggung jawab dari pihak yang membuat dan menyiarkan. Adapun sistem penyiaran nasional (Undang-Undang No. Keberadaan Undang-Undang No. seimbang. barang atau jasa kepada khalayak sasaran untuk memengaruhi konsumen agar menggunakan produk yang ditawarkan. yang satu ditetapkan oleh Departmen Kesehatan dan yang lainnya oleh sistem penyiaran nasional.

maka dialah yang mempertanggung jawabkan. Berkaitan dengan perilaku periklanan yang dilarang dan tentang tanggung jawabnya itu. Ketiga pelaku usaha di atas. Sekiranya tanda tangan pengiklan (tanda acc) terdapat pada konsep iklan itu. Perusahaan iklan. sebagai berikut. Pengiklan. 1. Mengeksploitasi kejadian dan seseorang tanpa izin yang berwenang atau persetujuan yang bersangkutan f. padahal kegunaannya sangat baik sebagai upaya pencegah “gegabahnya” para pelaku usaha periklanan. dapat dipertanggungjawabkanm tetapi secara tepatnya pelaku usaha manakah yang harus bertanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam pasal 20 tersebut? Menurut Az. memasarkan. Satu hal yang menarik dari Undang-undang Perlindungan Konsumen berkaitan dengan periklanan ini yakni dalam Pasal 17 ayat (1) huruf f. Melanggar etika dan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai periklanan 2) Pelaku usaha periklanan dilarang melanjutkan peredaran iklan yang telah melanggar ketentuan pada ayat (1) Selanjutnya. Media. Ketiga jenis pelaku usaha tersebut dalam undang-undang ini termasuk pelaku usaha. Undang-undang Perlindungan Konsumen tidak memuat tindakan administratif tersebut. yaitu perusahaan yang memesan iklan untuk mempromosikan. maka berarti Undang-Undang ini telah membeikan “status hokum” pada kode etik periklanan yang di Indonesia disebut sebagai tata karma dan tata cara periklanan Indonesia.d. media elektronik atau nonelektronik atau bentuk media lain. yaitu.? Dari sudut pelaku usaha periklanan menurut Azm Nasution terdapat tiga jenis pelaku usaha. yang menyiarkan atau menayangkan iklan-iklan tersebut. adalah perusahaan atau biro yang bidang usahanya adalah mendesain atau membuat iklan untuk para pemesannya 3. dan menawarkan produk yang mereka edarkan 2. berkaitan dengan tanggung jawab pelaku usaha periklanan ini diatur dalam Pasal 20. Apakah yang dimaksud denagn etika periklanan? Penjelasan pasal ini memuat kalimat “cukup jelas”. terdapat timdakan administratif yang dapat dijatuhkan pada pelaku usaha periklanan yang menyiarkan iklan menyesatkan. Apabila dengan etika itu dimaksudkan kode etik periklanan. menipu atau mengakibatkan cedera pada konsumen untuk memasang iklan perbaikannya (corrective advertisement) di surat kabar atau televisi iklan koreksi seperti ini telah tumbuh dan menjadi hokum di Negara-negara lain. Tidak memuat informasi mengenai resiko pemakaian barang dan jasa e. Nasution tergantung bagaimana hakim pengadilan negeri mengambil putusannya. . Kemudian. undang-undang ini berbunyi : melanggar etika atau ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai periklanan. Pelaku usaha periklanan bertanggung jawab atas iklan yang diproduksi dan segala akibat yang ditimbulkan oleh iklan tersebut.

Nama dan tanda-tanda itu harus dibubuhkan atau dilekatkan pada pembungkusnya tempat barang itu di perdagangkan dan pada alat-alat reklame. Permenkes No. Pasal 1 dan 2. Label.memberikan informasi tentang barang. ditetapkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan. Pengaturan tentang informasi yang disebut dengan berbagai istilah seperti penandaan. dapat dinyatakan sebagai tindak pidana ekonomi (Pasal 9). dan banyaknya serta kegunaannya. Baik produk makanan. Ketentuan tersebut terdapat dalam berbagai peraturan perundang-undangan. bentuk banyaknya dan kegunaan barang-barang yang baik diharuskan maupun tidak diperbolehkan dibubuhkan atau dilekatkan pada barang pengbungkusnya. Selanjutnya keterangan yang harus dimuat pada label/etiket tersebut ditetapkan (Pasal 7 ayat (1) dan (2) terdiri atas :  Nama makanan atau merk dagang  Komposisi. dapat dikenakan ketentuan pidana ekonomi. pun cara pembubuhan atau melekatkan nama dan tandatanda itu. Perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan atau melanggar ketentuan tersebut di atas.b. kecuali makanan yang cukup diketahui komposisinya secara umum  Isi netto . 10 Tahun 1961. Pasal 2 ayat (4) UU ini menentukan: Pemberian nama dan tanda-tanda yang menunjukkan asal. 79 Tahun 1978 tentang Label dan periklanan Makanan. Tentang Label Informasi produk konsumen yang bersifat wajib ini. bahan. bentuk. sifat. tempat barang-barang itu diperdagangkan dan alat-alat reklame. sifat. atau dicantumkan dengan jalan apa pun pada wadah atau pembungkus. Dengan demikian setiap perilaku pengusaha yang melanggar ketentuan dalam peraturan perundangundangan ini. Nama atau tanda-tanda itu memuat asal. menyebutkan : Etiket adalah label yang dilekatkan. diukir. atau etiket. UU No. susunan bahan. 1. UU Barang. maupun obat diwajibkan mencantumkan label pada wadah atau pembungkusnya. dicetak. 2. susunan. Pemberian nama atau tanda-tanda menunjuk pada label dari barang bersangkutan.

dan tahun kadaluarsa Ketentuan lainnya Dalam penjelasan Pasal ini (huruf d) dinyatakan bahwa ketentuan lainnya misalnya pencantuman kata atau tanda halal menjamin bahwa makanan dan minuman dimaksud diproduksi dan diproses sesuai persyaratan makanan halal.000. Bahan yang dipakai Komposisi setiap bahan Tanggal. Perbuatan mengedarkan makanan tanpa label dinyatakan sebagai tindak pidana pelanggaran dengan ancaman pidana kurungan maksimum satu tahun dan denda maksimum Rp15. d. Adapun dalam Pasal 3 SK Mentei Kesehatan tersebut ditentukan : . harus dicantumkan tanggal kadaluarsa.00 (Pasal 84 jo. tetapi penandaan. b.   Nama dan alamat perusahaan yang memproduksi atau mengedarkan Nomor pendaftaran Kode produksi  Untuk jenis makanan tertentu yang ditetapkan oleh menteri kesehatan. 193 Tahun 1971 tentang Pembungkusan dan Penandaan obat. Pengertian tentang penandaan termuat dalam Pasal 1 angka 4. baik yang diberikan bersama obat itu maupun yang diberikan sesudah atau sebelum penyerahan obat yang bersangkutan. c. petunjuk penggunaan dan cara penyimpanannya.000. etiket atau brosur yang diikutsertakan pada penyerahan atau penjualan sesuatu obat. tidak menggunakan istilah label atau etiket.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Setiap makanan yang dikemas wajib diberi tanda atau label (Pasal 21 ayat (2)) yang memuat tentang : a. bulan. Sebagai akibatnya kemudian dalam perundang-undangan yang lebih baru. Perbuatan mengedarkan makanan tanpa label sebagaimana dimaksudkan dalam peraturan Menteri Kesehatan tersebut dinyatakan dilarang dan dapat diancam dengan sanksi-sanksi sebagaimana termuat dalam KUHP dan tindakan administratif berupa penarikan nomor daftar produk itu dan tindakan lain berdasarkan perundangundangan yang berlaku. yang berbunyi : Tulisan-tulisan dan pernyataan-pernyataan pada pembungkus. ketentuan tentang pelabelan makanan ditegaskan lebih lanjut. (pasal 41-45) Ketentuan tentang sanksi-sanksi atas pelanggaran kewajiban memesang label pada makanan (dalam kemasan) tersebut memang tidak begitu jelas. Undang-undang No. Pasal 85) SK Menteri Menteri Kesehatan tanggal 21 Agustus 1971 No. nilai gizi.

nomor pendaftaran. berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu. angkutan. label atau etiket pemuatan informasi yang bersifat wajib dilakukan dengan sanksi-sanksi administratif dan pidana tertentu apabila tidak dipenuhi persyaratan-persyaratan etiket dan label tersebut. Selanjutnya. nomor batch. Hal-hal yang Berkaitan dengan Perikatan Dalam KUH Perdata Buku ke-III. Selain mengakibatkan hukuman di bidang pidana dan penyitaan obat. akan mengakibatkan hukuman di lapangan administratif. dan berbagai bentuk perikatan yang dapat diadakan (Pasal 1233). cara penggunaan. kontra indikasi yang ditetapkan pemerintah untuk dicantumkan. Dalam UU Kesehatan. dapat timbul karena undangundang. tentang Perikatan (van Verbintenissen). Perikatan yang terjadi karena undang-undang. .indikasi sebagaimana disetujui pada pendaftaran. sandang papan. tetapi dengan batas-batas minimum sehingga tidak menyesatkan atau menipu (iklan melawan hokum). dan lain-lain). Adapun Pasal 12 Surat Keputusan Menteri Kesehatan ini menetapkan bahwa pelanggaran atas ketentuan-ketentuan antara lain. syarat-syarat pembatalannya. cara penyimpanan. Hal ini berkaitan dengan bahan informasi yang selalu mengusik adalah mengapa suatu hasil uji laboratoris produk konsumen (antara lain oleh instansi pemerintah) tidak disiarkan kepada masyarakat agar mereka mengetahui bermutu atau bergizi tidaknya sesuatu produk konsumen (pangan. Pasal 1233 menyebutkan jenis-jenis perjanjian (prestasi)yang dapat diadakan terdiri atas memberikan sesuatu. Pada penandaan. ketentuan-ketentuan diatas mendapatkan “porsi” baru. seperti iklan dalam segala bentuk kreativitasnya. baik karena undang-undang maupun sebagai akibat perbuatan seseorang. dosis. nama pabrik dan alamatnya (sedikitnya nama kota dan negaranya). batas daluarsa dan tanda-tanda lain yang dianggap perlu Ketentuan berikut dalam pasal itu dan pasal 4-6 memuat rincian berbagai keharusan tata cara tentang permuatan isi label atau etiket tersebut. syaratsyarat perikatan.Pada bungkus luar dan wadah obat jadi atau obat paten dan bahan kontras harus dicantumkan tanda atau etiket yang menyebutkan nama jenis atau nama barang obat. Pasal 41 ayat (2) memuat ketentuan tentang penandaan dan informasi sebagai berikut: Penandaan dan informasi sediaan farmasi dan alat kesehatan harus memenuhi persyaratan objektivitas dan kelengkapan serta tidak menyesatkan. komposisi obat dan susunan kuantitatif zat-zat berkhasiat. khususnya tentang pelabelan tersebut. tentang resiko jenis-jenis perikatan tertentu. c. termuat ketentuan-ketentuan tentang subjek-subjek hokum dari perikatan. Dari uraian diatas tampak bahwa informasi produk konsumen itu dapat ditemukan dalam penandaan atau informasi lain. bobot netto atau volume obat.

Pasal 1243. dan Pasal 1242 dalam hal perjanjian berbuat atau tidak berbuat sesuatu. setelah dipenuhinya syarat tertentu. kerugian yang dialami. Perikatan juga dapat terjadi tanpa adanya perjanjian. dan seterusnya. kerugian. sedang diantara mereka itu tidak terdapat suatu perjanjian (hubunganhukum perjanjian). juga termasuk keuntungan (winstderving) yang diharapkan yang tidak diterima karena perbuatan ingkar janji tertentu. oktroi. maka berdasarkan undang-undang dapat juga timbul atau terjadi hubungan hokum antara orang tersebut dan orang yang menimbulkan kerugian itu. Kerugian-kerugian itu selain dari biaya-biaya yang sungguh-sungguh telah dikeluarkan. Dalam perikatan yang timbul karena perjanjian. Antara lain. hak-hak pribadi perseorangan (persoonlijkrechten) seperti hak-hak atas integritas (harga diri). mengganti kerugian tersebut. Pasal 1365 KUH Perdata berbunyi : Setiap perbuatan melanggar hokum yang membawa kerugian pada orang lain. yang terpenting terlihat pada perikatan karena terjadinya perbuatan atau kealpaan yang melanggar atau melawan hokum (selanjutnya disebut PMH). dan bunga (Pasal 1236 dalam hal perjanjian memberikan sesuatu. kehormatan dan nama baik seseorang. tidak dipenuhi atau dilanggarnya butir-butir perjanjian itu.1244. Kedalamnya termasuk hak-hak kebendaan dan lain-lain hak yang bersifat mutlak (seperti hak milik. mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu. Pasal 1239. dan hak merk). Apabila seseorang dirugikan karena perbuatan orang lain. Unsur-unsur Perbuatan Melawan Hukum: 1) Unsur pelanggaran atas hak-hak orang lain.1246). dapat mengakibatkan terjadinya cedera janji (wanprestatie). Yang dimaksudkan adalah hak-hak subjektif orang lain. Perbuatan cedera janji ini memberikan hak pada pihak yang dicederai janji untuk menggugat ganti rugi berupa biaya.1353m dan seterusnya). .Perbuatan itu dapat berupa perbuatan yang diperbolehkan (halal) atau perbuatan yang melanggar hokum (Pasal 1352.

Baru kemudian dengan Undang-Undang No.2) Unsur bertentangan dengan kewajiban hukum pelaku Yang dimaksudkan adalah kewajiban hokum yang diletakkan perundangundangan dalam arti materiil. Dualisme hokum tetap terjaddi karena perbedaan penafsiran terhadap perubahan-perubahan yang di buat pada masa penjajahan belanda dan Jepang. 1 Tahun 1946. Sejak tahun 1919. adopsi undang-undang yang semula bertujuan untuk unifikasi itu. 3) Unsur bertentangan dengan kehati-hatian yang hidup atau harus diindahkan dalam kehidupan masyarakat. penerapan kitab di atas diunifikasikan sejak 1918. Karena perkembangan poliik. yang dapat digunakan dengan berdiri sendiri. hokum pidana. 73 Tahun 1958. Aspek hukum publik Dengan hukum publik dimaksudkan hukum yang mengatur hubungan antara Negara dan alat-alatnya perlengkapannya atau hubungan Negara dengan peroranagan. Ia menunjuk pada kebiasaan tidak tertulis. Mengenai penerapannya harus dilihat kasus per kasus. 1. ditetapkan oleh lembaga yang berwenang. unsur ini tampaknya merupakan unsur yang terpenting dalam penenruan tolok ukur perbuatan melawan hukum. kodifikasi hokum pidana teersebut jauh-jauh hari berlaku untuk semua golongan penduduk. yakni sejak pertama kali diberlakukan wetboek van strfrecht voor Nederlandsch-indie. baik bersifat perdata maupun public (misalnya perbuatan pelanggaran atau kejahatan seperti termuat dalm KUHP). hokum acara perdata. Hukum Pidana Pengaturan hokum positif dalam lapangan hokum pidana secara umum terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Di Indonesia. baik secara terlepas dari atau bersama-sama unsure-unsur lainnya. Pada pokoknya orang haruslah memperhatikan perilaku yang dianggap patut (behoorlijk) dalam masyarakat dikaitkan dengan kepentingan perorangan satu sama lain. tujuan unifikasi . melalui Undang-Undang No. dan hokum acara pidana dan hokum internasional khususnya hokum perdata internasional. Kitab UndangUndang itu lalu diadopsi secara total. 2. Setelah Indonesia merdeka. adalah hokum administrasi Negara. Jadi. tidak mencapai tujuannya. Termasuk hokum publik dalam rangka hokum konsumen dan hokum perlindungan konsumen. berbeda dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang masih bersifat pluralistis.

secara implicit dapat ditarik beberapa pasal yang memberikan perlindungan hokum bagi konsumen. Pasal 359: Barang siapa karenakealpaannya menyebabkan matinya orang lain. Di antara semua aspek hokum public itu. 4.yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama stau tahun empat bulan atau kurungan paling lama satu tahun. yang diketahui bahwa membahayakan nyawa atau kesehatan orang. Moeljanto.dalam kategori ini termasuk pula hokum administrasi Negara. 1).H. antara lain : 1. 2. Pasal 360: Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain mendapat luka-luka berat. diancam.S. Prof. padahal sifat berbahaya itu tidak diberitahukan.hokum acara. Jika perbuatan mengakibatkan matinya orang. Jadi. 1 Tahun 1946 itu dapat dicapai. Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Belum ada satu pun terjemahan yang dinyatakan resmi. berarti secara resmi sebenarnya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang berlaku di Indonesia itu masih berbahasa Belanda. Barang-barang itu dapat disita. diserahkan atau dibagi-bagikan. yang bersalah dikenakan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama waktu tertentu paling lam dua puluh tahun. dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.menyerahkan atau membagi-bagikan barang. dan hokum internasional. 3. Pasal 204: Barang siapa menjual. yang paling banyak menyangkut perlindungan konsumen adalah hokum pidana dan hokum administrasi Negara. tanpa diketahui sifat berbahayanya oleh yang membeli atau yang memperoleh. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tidak disebut kata “konsumen”.yang diinginkan Undang-Undang No. Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian rupa sehingga timbul penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian selama waktu tertentu. Kitab ini diberlakukan diseluruh Indonesia dengan nama resmi Wetboek van Strafrecht atau dapat disebut juga Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Hokum pidana sendiri termasuk dalam kategori hokum publik. diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan atau . Kendati demikian. Adapun terjemahan yang dipakai saat ini masih merupakan karya individual atau institusi tertentu. Pasal 205: Barang siapa karena kealpaannya bahwa barang-barang yang berbahaya bagi nyawa atau kesehatan orang dijual. Jika perbuatan mengakibatkan matinya orang. diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun (LN 1906 No. antara lain (yang paling luas dipakai) adalah karya Alm. diancam dengan pidana penjara lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun. diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan atau kurungan paling lama enam bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah..menawarkan.

kurungan paling lama enam bulan atau denda paling tinggi tiga ratuus rupiah (LN 1960 No.jika nilainya atau faedahnya menjadi kurang karena dicampur dengan sesuatu bahan lain. 1) 5. Pasal 382 bis: barang siapa untuk mendapatkan. seperti hak cipta. ternyata belum secara intens mengarahkan perhatiannya kepada kepentingan tersebut. Perlindungan yang diberikan porsi terbanyak justru kepada individual atau badan yang menjadi . diancam dengan pidnaan penjara paling lama empat tahun. Pasal 390: Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hokum. (2) mengenai jenis keadaan atau banyaknya barang yang diserahkan. 7 Tahun 1996 tentang Pangan. dewasa ini diberi perhatian yang cukup besar. 6. Lapangan pengaturan yang paling luas kaitannya dengan hokum perlindungan konsumen terdapat pada bidang kesehatan. 8. 7. melakukan perbuatan curang untuk menyesatkan khalayak umum atau seorang tertentu diancam.yang berlaku sejak 4 November 1996. jika karenanya dapat timbul kerugian bagi konkuren-konkurrennya atau orang lain itu. dengan menggunakan tipu muslihat. misalnya sekarang diubah dari deliik aduan menjadi delik biasa. dana-dana atau surat-surat berharga menjadi turun atau naik. dengan menyiarkan kabar bohong yang menyebabkan harga barang-barang dagangan. paten. Pasal 383: Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan. diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan.menyerahkan atau menyerahkan makanan.minuman atau obat-obatan itu dipalsu. seorang penjual yang berbuat curang teerhadap pembeli: (1) karena sengaja menyerahkan barang lain daripada yang ditunjuk untuk dibeli. menawarkan.minuman atau obat-obatan yang diketahui bahwa itu palsu. Selain itu juga dalam pengaturan hak-hak atas kekayaan intelekual. Sayangnya. Di luar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana terdapat banyak sekali ketentuan pidana yang beraspekkan perlindungan konsumen. Ketentuanketentuan dilapangan hokum kesehatan dapat dikatakan merupakan instrumen hokum yang paling luas namun tidak berarti memadai dalam mengatur hak-hak konsumen dibandingkan dengan lapangan huukum lainnya. peraturan-peraturan di bidang hak aras kekayaan intelektual yang sebenarnya bersinggungan erat dengan kepentingan konsumen. khususnya dari sudut penerapan sanksi pidananya. melangsungkan atau memperluas debit perdagangan atau perusahaan kepunyaan sendiri atau orang lain. Tindak pidana berupa pembajakan hak cipta. Termasuk dalam kelompok ini adalah Undang-Undang No. dan hak atas merk. Bahan makanan. dan menyembunyikan hal itu. dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau denda paling banyak Sembilan ratus rupiah. karena persaingan curang. Pasal 382: Barang siapa mejual.

Jonkers. sehinggga menjadi perbuatan yang oleh masyarakat tidak diperbolehkan. izin-izin itu dapat dicabut secara sepihak oleh pemerintah. Pada hakikatnya penafsiran ekstensi dan analogi itu sama. Hanya inti (rasio) dari aturan itu yang masih dipertahankan. sebagai lawan dari pendirian yang formal. Vost misalnya.tetap ada sandaran peraturannya.pemegang hak-hak di atas. Seandainya tidak tertampung dalam undang-undang yang bersifat khusus dan sektoral seperti diatas. Sanksi-sanksi hokum secara perdata dan pidana seringkali kurang efektif jika tidak disertai sanksi administratif. Dalam penafsiran ekstensi. ini berarti bertentangan dengan asas legalitas. bukan pada konsumen sebagai bagian terbesar masyarakat Indonesia. menganut pemikiran agar dalam hokum pidana pun unsur perbuatan melawan hokum ini dapat ditafsirkan secara luas. Sebaliknya. Tentu saja konsekuensi lain adalah dalam mengartikan perbuatan melawan hokum (wederrechtelijke daad) dilapangan hokum pidana tidak seleluasa dilapangan hokum perdata. Cara berpikir Vost ini disebut dengan pendirian material. karena berbeda dengan lapangan hokum perdata. Jadi. makna suatu rumusan diberi pengertian menurut kebutuhan masyarakat saat itu. Jika terjadi pelanggaran. baik itu produsen maupun para penyalur hasil-hasil produknya. Suatu rumusan tindak pidana dapat kehilangan sifat melawan hukumnya hanya jika ada peraturan (minimal) setingkat dengan itu (misalnya sama-sama undang-undang) yang mengecualikan. hanya ada perbedaan gradual. dan Langemeyers. tetapi justru kepada pengusaha. masih memepertahankan cara berpikir formal. Pengakomodasian ini penting. Kecenderungan seperti yang terjadi dalam hukum bidang hak atas kekayaan intelektual ini seharusnya mulai di antisipasi. Hukum Administrasi Negara Seperti halnya hokum pidana. Sanksi administratif tidak ditujukan pada konsumen pada umumnya. Sanksi administratif berkaitan dengan perizinan yang diberikan. 2. . Pemerintah RI kepada pengusaha/penyalur tersebut. aparat penegek hokum (dalam hal ini khususnya hakim) tidak dapat dengan leluasa menetapkan tindak pidana yang baru diluar rumusan undangundang. dalam hokum pidana dikenal larangan melakukan analogi-analogi berbeda pengertiannya dengan penafsiran ekstensi. Cuma dibari penafsiran yang lebih luas. Rupanya para ahli hokum lain seperti Simmons. tidak sekadar yang oleh undang-undang dilarang. Putusan-putusan pengadilan berkaitan dengan perluasan penafsiran tentang perbuatan melawan hokum memang juga mempengaruhi pemikiran para ahli hukum pidana. dapat diakomodasikan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang menurut rencana akkan segera diperbaharui. Jika dilakukan. pada analogi sudah tidak lagi bersandar pada suatu rumusan peraturan. Akibatnya. yang berbeda dengan makna tatkala rumusan ittu di buat oleh pembentuk undang-undang. hokum administrasi Negara adalah instrumen hokum publik yang penting dalam perlindungan konsumen.

karena dikaitkan dengan pertimbangan tenaga kerja dan perpajakan. dapat berua barang atau jasa. sanksi perdata atau pidana acapkali tidak membawa efek “jera” bagi pelakunya. sepanjang memang didukung oleh bukti-bukti yang cukup. Belum lagi mekanisme penjatuhan putusan itu yang biasanya berbelit-belit dan membutuhkan proses yang lama. Sanksi administratif ini sering lebih efektif dibandingkan dengan sanksi perdata atau pidana. kalaupun ini dibutuhkan. kedua pertimbangan tersebut seharusnya tidak menjadi alasan pemaaf bagi pengusaha yang merugikan konsumen tersebut. Snksi administratif terhadap perusahaan-perusahaan yang mencemari lingkungan masih teramat jarang dilkukan. Persetujuan. Syarat-syarat pendirian perusahaan yang bergerak dibidang tersebut dan pengawasan terhadap proses produksinya dilakukan ekstra hati-hati. Ada beberapa alasan untuk mendukung pernyataan ini. sehingga berlaku efektif. peraturan-peraturan tentang produk makanan. Kedua. tetap ada kendala dalam penerapannya. Untuk gugatan secara perdata. Pertama. tetapi sanksi itu sendiri dijatuhkan terlebih dulu. mungkin dari instansi-instansi Pemerintah terkait. Tentuu saja. yakni mencegah jatuhnya lebih banyak korban. Nilai ganti rugi dan pidana yang dijatuhkan mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan keuntungan yang diraih dari perbuatan negative produsen. . Memang. Itulah sebabnya.sanksi administrati jug tidak perlu melaui proses pengadilan. sehingga konsumen sering menjadi tidak sabar. Bahkan. Peraturanperaturan masa kolonial itu bahkan cukup banyak yang masih berlaku sampai seekarang. sejak prakemerdekaan. Contohnya adalah ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. bagi pihak yang terkena sanksi ini dibuka kesempatan untuk “membela diri”.sanksi administratif dapat diterapkan secara langsung dan sepihak. dampaknya secara tidak langsung berarti melindungi konsumen pula. seperti pencemaran oleh PT Inti Indorayon di Sumatera Utara. Pengertian bahaya disini terutama berkenaan dengan kesehatan daan jiwa.obat-obatan dan zat-zat kimia. Pemerintah masih mengandalkan inisiatif konsumen untuk mempersalahkannnya. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. konsumen juga dihadapkan pada posisi tawar-menawar yang tidak selalu menguntungkan disbanding dengan produsen. untuk kasus-kasus teertentu. Campur tangan administrator Negara idealnya harus dilatarbelakangi iktikad melindungi masyarakat luas dari bahaya. Produksi disini harus diartikan secara luas. Hak-hak konsumen yang dirugikan dapat dituntut dengan bantuan hokum perdata atau pidana. Walaupun secara teoretis instrument hokum administrasi negara ini cukup efektif.Pencabutan izin hanya bertujuan menghentikan proses produksi dai produsen/penyalur. Dikatakan demikian karena penguasa sebagai pihak pemberi izin tidak perlu meminta persetujuan terlebih dahulu dari pihak manapun. antara lain mengajukan kasus tersebut ke pengadilan tata usaha Negara. Dengan demikian. Adapun pemulihan hak-hak korban (konsumen) yang dirugikan bukan lagi tugas instrument hokum administrasi Negara. diawasi secara ketat. Pemerintah tampaknya menjadikan sanksi administratif ini sebagai ultimum remedium.

Misalnya tindakan administratif terhadap tenag kesehatan atau sarana kesehatan yang melanggar undang-undang (Pasal 77 UU No. kualitas aset. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan). izin prakti atau izin lain yang diberikan. Dalam Pasal 76 undang-undang itu dijelaskan pula peran pengawasan yang dijalankan oleh pemerintah. 16 Tahun 1985 LN Tahun 1985 No.Ketentuan hokum administrasi. sedang Pasal 77 menegaskan wewenang pemerntah untuk mengambil berbagai tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap undang-undang ini. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. ditetapkan bahwa Bank Inndonesia dapat menetapkan sanksi administrative kepada bank yang tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana ditentukan dalam undang-undang ini atau menyampaikan peritmbangan kepada Menteri Keuangan untuk mencabut izin usaha bank bersangkutan. Tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dilakukan setelah mendengar pertimbangan Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan. . Pasal 52 dan 53 (Ketentuan Pidana dan sanksi administratif). Ayat (2) pasal ini menentukan bahwa Bank Indonesia menetapkan ketentuan tentang kesehatan bank dengan memperhatikan aspek permodalan. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Dari peraturan perundang-undanagan diatas terlihat beberapa departemen atau lembaga pemerintah tertentu yang menjalankan tindakan administratif berupa pengawasan dan pembinaan terhadap pelaku usaha dengan perilaku tertentu dalam melaksanakan perundang-undangan tesebut. 23 Tahun 1992. Undang-Undang No. likuiditas. Undang-Undang No. Penjelasan pasal ini menentukan tindakan administratif dalam pasal ini dapat berupa pencabutan izin usaha. Begitu pula dengan tindakan administratif Menteri Kehakiman dalam mengeshkan Anggaran Dasar suatu Perseroan Terbatas atau Perubahannya sebagaimana termuat dalam Undang-Undang No. serta penjatuhan hokum disiplin berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Juga berdasarkan UU No. kualitas manajemen. Pasal 29 menegaskan tugas pembinaan dan pengawasan bank-bank di Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia. 75) Selanjutnya dalam Undang-Undang Kesehatan. Selanjutnya.rentabilitas. misalnya menentukan bahwa: Pemerintah melakukan pengaturan dan pembinaan rumah susun dan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang (termuat dalam Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 20 Ayat (1) Undang-Undang tentang Rumah Susun. Pasal 73 ditentukan: Pemerntah melakukan pembinaan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan. dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank. Pasal 77 itu berbunyi : Pemerintah berwenang mengambil tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan ini.solvabilitas.

Melalui petunjuk inilah lalu ditentukan hukum atau pengadilan mana yang akan menyelesaikan perselisihan hukum tersebut. melainkan bagian dari hukum perdata nasional. yang biasanya dikenal sebagai hukum internasional publik. pola perlindungan konsumen perlu diiarahkan pada pola kerja sama antarnegara. Kepentingan nasional masing-masing Negara kerapkali membuatnya harus menjadi “macan kertas” yang dengan sendirinya tidak bergigi dan tidak mempunyai kekuatan memaksa. Sumber terpenting dari hukum internasional adalah perjanjian antarnegara dan konvensi-konvensi internasional. DALAM Pada era perdagangan bebas dimana arus barang dan jasa dapat masuk ke semua Negara dengan bebas. Kedua. Oleh karena itu. Gerakan ini memang berkembang pesat diberbagai penjuru dunia. . Masalh perlindungan konsumen merupakan salah satu bukti diantaranya. PERANAN HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN C. yang notabene tanpa ratifikasi pun harrusnya berlaku secara serta-merta terhadap semua Negara anggota badan dunia itu. Kondisi suatu Negara sangat dominan menentukan seberapa jauh gerakan ini mendapat tempat di masyarakat. Hukum internasonal sering dinilai sebagai instrument yang “mandul” daalm menangani banyak kasus hukum yang berdimensi lintas Negara. Pertama. keberadaan sumber-sumber hukum internasional iu tetap tidak banyak artinya jika belum diartifikasi oleh Negara yang bersangkutan. hukum transnasional yang berdimensi perdata. Persaingan jujur adalah suatu persaingan dimana konsumen dapat memiliki barang atau jasa karena jaminan kualitas dengan harga yang wajar.3. Hukum perdata internasional hanya berisi petunjuk tentang hukum nasional mana yang akan diberlakukan jika tedapat kaitan lebih dari satu kepentingan hukkum nasional. Demikian pula halnya dengan resolusi-resolusi yang di buat oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. yang lazim disebut hukkum perdata Internasional. Hukum Transnasional Sebutan “hukum transnasional” mempunyai dua konotasi. hukum internasional yang berdimensi public. antarsemua pihak yang berkepentingan agar terciptanya suatu model perlindungan yang harmonis berdasarkan atas persaingan jujur. maka yang seharusnya terjadi adalah persaingan jujur. Walaupun begitu. namun intensitas gerakan tersebut tidak selalu sama pada tiap-tiap Negara. Hukum perdata internasional sesungguhnya bukan hukum yang berdiri sendiri.

yakni dari sisi pasar domestic dan dari sisi pasar globlal. 5. Hak keamanan dan keselamatan Hak atas informasi Hak untuk memilih Hak untuk didengar dan Hak atas lingkungn hidup Aspek-aspek hukum terhadap perlindungan konsumen didalam era pasar bebas.  Di dalam hukum positif. pada dasarnya negara dapat diketahui bahwa aspek hukum public dan aspek hukum perdata mempunyai peran dan kesempatan yang sama untuk melindungi kepentingan konsumen. 3. didistribusikan/dipasarkan dan diedarkan sampai barang dan jasa tersebut dikonsumsi oleh konsumen. pada dasarnya dapat dikaji dari dua pendekatan.Sampai saat ini secara universal diakui adanya hak-hak konsumen yang harus dilindungi dan dihormati. yaitu: 1. Keduanya harus diawali dan sejak barang dan jasa diproduksi. 4. Kemenangan dan peran tersebut dapat diwujudkan mulai dari :  Politic will/ kemauan politik untuk melindungi kepentingan konsumen domestic didalam persaingan globlal dan atas persaingan tidak sehat local. Aspek hukum public berperan dan dapat dimanfaatkan oleh Negara. Bertolak dari pemikiran diatas. yang sudah mengandung unsure melindungi kepentingan konsumen antara lain :       Undang-undang kesehatan Undang-undang barang Undang-undang hygiene untuk usaha Undang-undang pengawasan atau edar barang Peraturan tentang wajib daftar obat Peratutan tentang produksi dan peredaran produk tertentu . 2. pemerintahan instansi yang mempunyai peran dan kemenangan untuk melindungi konsumen.  Birokrasi dengan sadar dan senang hati menciptakan kondisi dengan berbisnis jujur dalam mewujudkan persaingan sehat.

membina dan mencabut izin sesuai dengan ketentuan apabila terbukti :   Melanggar ketentuan undang-undang Merugikan kepentingan umum/konsumen Aspek hukum perdata secara umum hanya dapat dimanfaatkan oleh pihak untuk kepentingan-kepentingan subjektif. mempunyai sumbangan terbesar dalam rangka melindungi kepentingan konsumen. memperkuat posisinya dengan menyiapkan dokumen yang ditentukan secara sepihak. Keadaan yang demikian mendorong para pihak produsen. BAB 5 PRINSIP-PRINSIP HUKU PERLINDUNGAN KONSUMEN . termasuk didalamnya hukum administrasi Negara. Peraturan tentang perizinan. Dari aspek hkum public. dan sebagainya. distributor. Fakta selalu menunjukkan bahwa posisi calon konsumen dalam keadaan lebih karena factor ekonomi dan kebutuhan. maka sudah waktunya apabila disiapkan adanya syarat-syarat bahkan yang harus dipenuhi apabila ada pihak berniat menyiapkan perjanjian baku bagi calon konsumennya. Meskipun demikian mengingat hubungan hukum para pihak terjadi karena berbagai alasan dan factor kebutuhan. pembinaan dan pemberian sanksi yang pasti dan tegas apabila terjadi pelanggaran mengenai syarat dan operasional dari perusahaan produsen. diharapkan diikuti dengan pengawasan. Untuk mengurangi ketidakseimbangan tersebut.\ Syarat-syarat baku minimal antara lain mengenai :   Waktu atau batas waktu untuk mengajukan keberatan Syarat atas pemenuhan janji  Syarat kesanggupan untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan promosi. Hal inilah yang menyebabkan tidak seimbangnya hubungan hukum para pihak. Sumbangan yang terbesar pada hukum public disini adalah kemampuan untuk mengawasi.

dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Prinsip Tanggung Jawab Berdasarkan Unsur Kesalahan Prinsip tanggungjawab berdasarkan unsure kesalahan adalah prinsip yang cukup umum berlaku dalam hukum pidana dan perdata. prinsip-prinsip tanggungjawab dalam hukum dapat dibedakan sebagai berikut: 1. 3. 3. Pengertian “hukum” tidak hanya bertentangan dengan undang-undang. Dalam kasus-kasus pelanggaran hak konsumen. Secara umum. . Pasal 1365 KUH Perdata. 5. khususnya Pasal 1365. Beberapa sumber formal hukum. 2. Prinsip ini menyatakan. seseorang baru dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum jika ada unsure kesalahan yang dilakukannya. seperti peraturan perundang-undangan dan perjanjian standar di lapangan hukum keperdataan kerap memberikan pembatasanpembatasan terhadap tanggungjawab yang dipikul oleh sipelanggar hak konsumen. yaitu : 1. mengharuskan terpenuhinya empat unsure pokok.A. 1366. tetapi juga kepatutan dan kesusilaan dalam masyarakat. diberlakukan keberhati-hatian daalm menganalisis siapa yang harus bertanggung jawab dan seberapa jauh tanggung jawab dapat dibebankan kepada pihak-pihak terkait. prinsip ini di pegang secara teguh. 4. 2. 4. yang lazim dikenal sebagai pasal tentang perbuatan melawan hukum. Adanya perbuatan Adanya unsure kesalahan Adanya kerugian yang diderita Adanya hubungan kausalitas antara kesalahan dan kealpaan Yang dimaksud kesalahan adalah unsure yang bertentangan dengan hukum. PRINSIP-PRINSIP TANGGUnG JAWAB Prinsip tentang tanggung jawab merupakan perihal yang sangat penting dalam hukum perlindungan konsumen. Kesalahan Praduga selalu bertanggung jawab Praduga selalu tidak bertanggung jawab Tanggung jawab mutlak Pembatasan tanggung jawab 1. dan 1367.

let the master answer. Maksudnya.18 Ayat . sebagaimana dapat dilihat dalam Pasal 17. Sebagai contoh.Secara common sense. barangsiapa yang mengakui mempunyai suatu hak. Dengan kata lain. Corporate liability pada prinsipnya memiliki pengertian yang sama dengan vicarious liability. Di sini hakim harus memberi para pihak beban yang seimbang dan patut sehingga masing-masing memiliki kesempatan yang sama untuk memenangkan perkara tersebut.maka tanggung jawabnya beralih pada si pemakai karyawan tadi. Prinsip Praduga untuk Selalu Bertanggung Jawab Prinsip ini menyatakan. prinsip tanggung jawab ini pernah diakui. khususnya pengangkutan udara. asas tanggung jawab ini dapat diterima karena adalah adil bagi orang yang berbuat salah untuk mengganti kerugian bagi pihak korban. Ketentuan diatas juga sejalan dengan teori umum dalam hukum acara. Dalam doktrin hukum dikenal asas vicarious liability dan corporate liability. dalam hubungsn hukum antara rumah sakit dan pasien. Jadi. orang yang bekerja disitu (dokter. Prinsip ini diterapkan tidak saja untuk karyawan organiknya (digaji oleh runah sakit). Vicarious liability atau disebut juga respondeat superior. yang sebenarnya juga berlaku umum untuk prinsip-prinsip lainnya adalah definisi tentang subjek pelaku kesalahan (lihay Pasal 1367 KUP Perdata). tergugat selalu dianggap bertanggung jawab. Latar belakang penerapan prinsip ini adalah konsumen hanya melihat semua dibalik dinding suatu korporasi itu sebagai sati kesatuan. Doktrin yang terakhir ini disebut ostensible agency. beban pembuktian ada pada si tergugat. sampai ia dapat membuktikan ia tidak bersalah. tetapi untuk karyawan nonorganic (misalnay dokter yang dikontrak kerja dengan pembagian hasil). harus membuktikan adanya hak atau peristiwa itu. asas ini mengikuti ketentuan Pasal 163 (HIR) atau Pasal 283 (Rbg) dan Pasal 1865 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Perkara yang perlu diperjelas dalam prinsip ini.perawat. Jika karyawan itu dipinjamkan kepihak lain. maka sudah cukup syarat bagi korporasi itu untuk wajib bertanggung jawab secara vicarious terhadap konsumen. mengandung pengertian majikan bertanggung jawab atas kerugian pihak lain yang ditimbulkan oleh orang-orang atau karyawan yang berada dibawah pengawasannya. tidak adil jika orang yang tidak bersalah harus mengganti kerugian yang diderita orang lain. jika suatu korporasi (misalnya rumah sakit) memberi kesan kepada masyarakat (pasien). yakni asas kedudukan yang sama antara semua pihak yang berperkara. lembaga yang menaungi suatu kelompok pekerja mempunyai tanggung jawab terhadap tenaga-tenaga yang dipekerjakannya. semua tanggung jawab atas pekerjaan tenaga medic dan paramedic dokter adalah menjadi beban tanggung jawab rumah sakit tempat mereka bekerja. Mengenai pembagian beban pembuktiannya. Dalam hukum pengangkutan. 2.dan lain-lain) adalah karyawan yang tunduk dibawah perintah korporasi tersebut. Menurut doktrin ini. Di situ dikatakan. Ia tidak dapat membedakan mana yang berhubungan secara organic dengan korporasi dan mana yang tidak.

Berkaitan dengan prinsip tanggung jawab ini.25. asas demikian cukup relevan. Contoh dalam penerapan prinsip ini adalah dalam hukum pengangkutan. dan pembatasan demikian biasanya secara common sense dapat dibenarkan. b) Pengangkut dapat membebaskan diri dari tanggung jawab jika ia dapat membuktikan. kemudian dalam perkembangannya dihapuskan dengan Protokol Guatemala 1971. Pasal 29 Ordonansi Pengangkutan udara No. ssebagaimana ditegaskan dalam pasal 19.(1).22. kerugian ditimbulkan oleh hal-hal diluar kekuasannya. Pasal 20 Konvensi Warsawa 1929 atau Pasal 24. Tergugat ini yang haus menghadirkan bukti-bukti dirinya tidak bersalah. Dasar pemikiran dari teori Pembalikan Beban Pembuktian adalah seseorang dianggpa bersalah. dalam praktiknya pihak kejaksaan RI sampai saat ini masih keberatan untuk menggunakan kesempatan yang diberikan prinsip beban pembuktian terbalik. Hal ini tentu bertentangan dengan asas hukum praduga tidak bersalah yang lazim dikenal dalam hukum. Dalam konteks hukum pidana di Indonesia. ia mengambil suatu tindakan yang diperlukan untuk menghindari timbulnya kerugian. dalam doktrin hukum pengangkutan khususnya. UUPK pun mengadopsi system pembuktian terbalik ini. maka yang berkewajiban untuk membuktikan kesalahan itu ada di pihak pelaku usaha yang digugat. jika ia gagal menunjukkan kesalahan si tergugat. Kehilangan atau kerusakan pada bagasi kabin/bagasi tangan. 3. dan 23 (lihat ketentuan Pasal 28 UUPK). Prinsip Praduga untuk tidak selalu bertanggung jawab hanya dikenal dalamlingkup transaksi konsumen yang sangat terbatas. Posisi konsumen sebagai penggugat selalu terbuka untuk digugat balik oleh pelaku usaha. sampai yang bersangkutan dapat membuktikan sebaliknya. Prinsip Praduga untuk Tidak Selalu Bertanggung Jawab Prinsip ini adalah kebalikan dari prinsip kedua. yang biasanya dibawa . omkering van bewijslast juga diperkenalkan dalam Undang-Undang tentang Tindak Pidana Korupsi. 100 Tahun 1939.28 jo. Jika digunakan teori ini. jika diterapkan dalam kasus konsumen akan tampak. tepatnya pada Pasal 17 dan 18. Namun. Pasal 19 jo. Namun. c) Pengangkut dapat membebaskan diri dari tanggng jawab jika ia dapat membuktikan. kerugian yang timbul bukan karena kesalahannya d) Pengangkut tidak bertanggung jawab jika kerugian itu ditimbulkan oleh kesalahan/kelalaian penumpang atau karena kualitas/mutu barang yang diangkut tidak baik Tampak beban pembuktian terbalik (omkering van bewijslast) diterima dalam prinsip tersebut. dikenal empat variasi: a) Pengangkut dapat membebaskan diri dari tanggung jawab kalau ia dapat membuktikan. Tentu saja konsumen tidak lalu berarti dapat sekehendak hati mengajukan gugatan.

yaitu produsen lalai memenuhi standar pembuatan oba yang baik C. Pihak yang dibebankan untuk membuktikan kesalahan itu ada pada si penumpang. Menurut asas ini. misalnya keadaan force majeur. misalnya khasiat yang timbul tidak sesuai dengan janji yang tertera dalam kemasan produk B. kewajiban mengganti rugi dibebankan kepada pihak yang menimbulkan resikoadanya kerugian itu. ada pengecualian-pengecualian yang memungkinkan untuk dibebaskan dari tanggung jawab.dan diawasi oleh sipenumpang (konsumen) adalah tanggung jawab dari penumpang. 40 Tahun 1995 tentang Angkutan Udara. pelaku usaha tidak dapat diminta pertanggungjawaban Sekalipun demikian. walaupun tidak sebesar si tergugat. Sebaliknya. Namun. tanggung jawab mutlak adalah prinsip tanggung jawab yang menetapkan kesalahan tidak sebagai factor yang menentukan. Pada tanggung jawab mutlak . Dalam hal ini. Melanggar jaminan. Prinsip Tanggung Jawab Mutlak Prinsip tanggung jawab mutlak sering diidentikkan dengan prinsip tanggung jawab absolut. Ada pendapat yang mengatakan. konsumen tetap diberikan beban pembuktian. Sementara pada tanggung jawab absolute hubungan itu tidak selalu ada. Kendati demikian ada pula para ahli yang membedakan kedua terminology di atas. Dalam risk liability. Namun. Prinsip tanggung jawab mutlak dalam hukum perlindungan konsumen secara umum digunakan untuk “menjerat” pelaku usaha. ada penegasan. “prinsip praduga untuk tidak selalu bertanggungjawab” ini tidak lagi diterapkan secara mutlak. bagasi kabin/bagasi tangan tetap dapat dimintakan pertanggungjawaban sepanjang bukti kesalahan pihak pengangkut (pelaku usaha) dapat ditunjukkan. Dalam hal ini. Artinya. khususnya produsen barang. Menerapkan tanggung jawab mutlak Variasi yang sedikit berbeda dalam penerapan tanggung jawab mutlak terletak pada risk liability. ia hanna perlu membuktikan adanya hubungan kausalitas antara perbuatan pelaku usaha . tanggung jawab absolute adalah prinsip tanggung jawab tanpa kesalahan dan tidak ada pengecualiannya. 4.hubungan itu harus ada. Ada unsure kelalaaiaan. yang mengaitkan perbedaaan keduanya pada ada atau tidak adanya hubungan kausalitas antara subjek yang bertanggungjawab dan kesalahannya. ada pandangan yang agak mirip. dalam Pasal 44 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. dan mengarah kepada prinsip tanggung jawab dengan pembatasan uang ganti rugi (setinggitingginya satu juta rupiah). Gugatan product liability dapat dilakukan berdasarkan tiga hal : A. yang memasarkan produknya yang merugikan konsumen. produsen wajib bertanggung jawab atas kerugian yang diderita konsumen atas penggunaan produk yang dipasarkannya. Asas tanggungjawab itu dikenal dengan nama product liability. Selain itu.

khususnya hukum ekonomi dalam perkembangan dewasa ini sangatlah mendesak. b. Prinsip Tanggung Jawab denagn Pembatasan Prinsip tanggung jawab dengan pembatasan sangat disenangi oleh pelaku usaha untuk dicantumkan sebagai klausul eksonerasi dalam perjanjian standar yang dibuatnya. product liability Kebutuhan-kebutuhan akan reformasi hukum. Menurut Johannes Gunawan. Produsen harus berhai-hati denagn produknya. \ Prinsip tanggung jawab ini sangat merugikan konsumen bila ditetapkan secara sepihak oleh pelaku usaha. Dengan lembaga ini produsen yang pada awalnya menerapkan strategi prosuct oriented dalam pemasaran produknya harus mengubah strateginya menjaddi consumer oriented. Apalagi dalam era globlalisasi seperti sekarang ini. Indonesia dituntut memebentuk hukum nasional yang harus mampu berperan dalam memperlancar lalu lintas hukum ditingkat international. 5. termasuk membatasi maksimal tanggung jawabnya.(produsen) dan kerugian yang dideritanya. Selebihnya dapat digunakan prinsip strict liability. Secara historis. Agar terdapat pembebanan resiko yang adil antara produsen dan konsumen . Dalam UU No. Memberi perlindungan kepada konsumen b. prodct liability lahir karena ketidakseimbangan tanggung jawab antara produsen dan konsumen. Adalah fakta bahwa terdapat ketentuan-ketentuan yang baik yang berasal dari legal culture bangsa lain ataupun konvensi-konvensi internasional yang dapat dimanfaatkan dalam rangka modernisasi hukum nasional. ditentukan bila film yang ingin dicetak itu hilang atau rusak (termasuk akibat kesalahan petugas). Dalam perjanjian cuci cetak film misalnya. maka konsumen hanya dibatasi ganti kerugiannya sebesar sepuluh kali harga saru rol film baru. karena tanggung jawab dalam product. tujuan utama dari dunia memperkenalkan product liability adalah : a. yang ditandai dengan saling ketergantungan antara Negara satu dengan Negara lainny. Salah satu lembaga hukum yang berdimensi internasional yang perlu diperhatikan dalam revisi maupun pembentukan hukum ekonomi nasional adalah tanggung jawab produk ( product liability). Jika ada pembatasan mutlak harus berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang jelas. 8 Tahun 1999 seharusnya pelaku usaha tidak boleh secara sepihak menentukan klausul yang merugikan konsumen. pembentukan hukum nasional yang baru perlu memperhatikan dimensi internasional.

Bahkan dilihat dari konvensi tentang product liability diperluas terhadap orang/badan yang terlibat dalam rangkaian komersial tentang persiapan atau penyebaran dari produk. users. Adapun cirri-ciri dari product liability dengan mengambil pengalaman dari masyarakat eropa dan terutama Negeri Belanda. and even bystanders. Henry Campbell dalam Black’s Law Dictionary mendefinisikan prouct liability sebaagi berikut : Refers to the legal liability of manufacturers and sellers to compensate buyers. Orientasi kegiatan terarah kepada mekanisme pasar. Adapun Agnes M. dapat dikrmukakan secara singkat sebagai berikut: 1. Product liability adalah suatu tanggung jawab secara hukum dari orang atau badan yang menghasilkan suatu produk atau dari badan yang bergerak dalam suatu proses untuk menghasilkan suatu produk atau badan yang menjual produk tersebut. Pengertian product liability dapat ditemukan pada beberapa sumber berikut. Pengertian lain dikemukakan oleh zigurds L.Toar memberikan pengertian product liability sebagai : Tanggung jawab para produsen untuk produk yang telah dibawanya kedalam peredaran yang menimbulkan/menyebabkan kerugian karena cacat yang melekat pada produk tersebut. Zile: Product liability denotes the civil liability of developers. dan optimalisasi penumpukan dan pemanfaatan capital. termasuk para pengusaha bengkel dan pergudangan.1.    Yang dapat dikualifikasikan sebagai produsen adalah Pembuat produk jadi Penghasil bahan baku Pembuat suku cadang . for damages or injuries suffered because of defect in good purchase. makers and distributors of products for harm the products have caused to other. Pengertian Product Liability Istilah product liability diterjemahkan secara bervariasi kedalam bahasa Indonesia seperti “tanggung gugat produk” atau juga “tanggung jawab produk”. sementara capital output ratio ditekan serendah-rendahnya.dengan memperbesar saving.

b. tanda pengenal tertentu. sekalipun benda bergerak tersebut telah menjadi komponen/bagian dari benda bergerak atau benda tetap lain. pada produk tertentu  Importer suatu produk dengan maksud untuk diperjualbelikan. Yang dapat dikualifikasikan sebagai kerugian adalah kerugian pada manusia dan keugian pada harta benda. Yang dapat dikualifikasikan sebagai produk adalah benda bergerak. Penampilan produk Maksud penggunaan produk Saat ketika produk ditempatkan dipasaran Tangggung jawab tersebut sehubungan dengan produk yang cacat/rusak sehingga menyebabkan atau turut menyebabkan kerugian bagi pihak lain (konsumen). Yang dapat dikualifikasikan sebagai konsumen adalah konsumen akhir. baik kerugian badaniah. listrik. . atau tidak menyediakan syarat-syarat keamanan bagi manusia atau harta benda dalam penggunaannya. dengan pengecualian produk-produk pertanian dan perburuan. sebagaimana diharpkan orang. kematian atau harta benda. Apakah yang dimaksud dengan produk cacat di Indonesia?. antara lain: a. 4. Definisi produk cacat menurut Emma Suratman. 3. atau bentuk distribusi lain dalam transaksi perdagangan  Pemasok. adalah: Setiap produk yang tidak dapat memenuhi tujuan pemuatannya baik karena kesengajaan atau kealpaan dalam proses produksinya maupun disebabkan hal-hal lainyang terjadi dalam peredarannya. atau tanda lain yang membedakan dengan produk asli. selain dari produk yang bersangkutan 5. disewagunakan. Produk dikualifikasi sebagai menganduung kerusakan apabila produk itu tidak memenuhi keamanan yang dapat diharapkan oleh seseorang dengan mempertimbangkan semua aspek. c. Setiap orang yang menampakkan dirinya sebagai produsen dengan jalan mencantumkan namanya. dalam hal identitas dari produsen atau importer tidak dapat ditentukan 2. disewakan.

sebab kalau desain produk itu dipenuhi sebagaimana mestinya. bermotor selama menggunakannya. b. Produk yang tidak memuat peringatan tertentu sebagaimana diutarakan diatas. Misalnya. Menyediakan sarana hukum ganti rugi bagi (korban) produk cacat yang tidak dapat dihindari. termasuk produk cacat. dan sebagainya. distributor. Misalnya peringatan produk harus disimpan pada suhu kamar atau suhu lemari pendingin (makanan dalam kemasan). setiap orang mengharapkan air minum dalam botol tidak berisi butir-butir pasir. yang tanggung jawabnya secara tegas dibebankan pada produsen dari produk yang bersangkutan. Atau dapat pula peringatan agar dalam penggunaannya harus menggunakan voltase listrik tertentu. dengan syarat-syarat tertentu. Cacat produk Cacat produk adalah keadaan produk yang umumnya berada dibawah tingkat harapan konsumen.Dari batasan ini terlihat bahwa pihak yang bertanggung jawab adalah pelaku usaha pembuat produk tersebut (produsen). yaitu: a. Suatu produk dapat disebut pembuatannya) karena: 1. Cacat-cacat demikian dapat pula termasuk cacat desain. Perkembangan ini sebenarnya dipicu juga oleh tujuan yang ingin dicapai doktrin ini. tanggung jawab produk cacat ini berbeda dari tanggung jawab pelaku usaha produk pada umumnya. beban tanggung jawab itu dapat pula diletakkan diatas pundak pelaku usaha lainnya. Cacat peringatan atau intruksi Cacat peringatan ini adalah cacat produk karena tidak dilengkapi dengan peringatan-peringatan tertentu atau intruksi penggunaan tertentu. 3. tanpa kesalah dari pihaknya. 2. seperti importir produk. Akan tetapi disamping produsen. atau pengguna yang biasa meminum minuman keras melebihi ukuran tertentu harus meminta nasehat dokter. seperti juga tepung gandum tidak berisi potongan-potongan kecil besi. atau pedagang pengecernya. tidaklah kejadian merugikan konsumen tersebut dapat terjadi. Atau dapat pula cacat itu demikian rupa sehingga dapat membahayakan harta bendanya. Menekan lebih rendah tingkat kecelakaan karena produk cacat tersebut. larangan memakai kendaraan. Tanggung jawab produk cacat terletak pada tanggung . 2). kesehatan tubuh atau jiwa konsumen. cacat (tidak dapat memenuhi tujuan Cacat produk atau manufaktur Cacat desain Cacat peringatan atau cacat 1). Jadi. saus tomat tidak terbuat dari labu siam sitambah dengan zat pewarna.

yang relative sangat sukar.Hal-hal yang dapat membebaskan tanggung jawab produsen tersebut adalah a. d. 1. c.konsenkuensinya ia harus bertanggung jawab (liable) untuk memberi ganti rugi secara langsung kepada pihak konsumen yang menderita kerugian. 2.Dalam hal ini beban pembuktian justru dialihkan (shifting the burden of proof) kepada pihak produsen . Meskipun system tanggung jawab dalam product liability berlaku prinsip strict liability. Dari perkembangan product liability di berbagai Negara. Bahwa produk tersebut tidak dibuat oleh produsen baik untuk dijual atau diedarkan untuk tujuan ekonomis maupun dibuat atau diedarkan dalam rangka bisnis. b. dapat dikemukakan bahwa product liability merupakan lembaga hukum yang tetap menggunakan kontruksi hukum tort (perbuatan melawan hukum).sehingga didalamnya dianut prinsip praduga bersalah (presumption of fault) berbeda dengan praduga tidak bersalah (presumption of no fault)yang dianut oleh tort. Sedang tanggung jawab pelaku usaha karena perbuatan melawan hukum adalah tanggung jawab atas rusaknya atau tidak berfungsinya produk itu sendiri.karena karakter dasar dari product liability adalah tort. orang lain atau barang lain. Bahwa terjadinya cacat pada produk tersebut akibat keharusan yang dikeluarkan oleh pemerintah. 3.seperti yang dianut didalam tort.jenis tanggung jawab (liability) semacam ini disebut no fault liability atau strict liability.baik untuk seluruhnya atau untuk sebagian.yaitu perbuatan produsen adalah perbuatan melawan hukum dengan kerugian dan hubungan kausal antara perbuatan melawan hukum dengan kerugian yang timbul. Modifikasi tersebuut adalah : Produsen langsung dianggap bersalah jika terjadi kasus product liability. Karena produsen dianggap bersalah.konsumen menjadi korban masih harus membuktikan ketiga unsure lainnya. Dengan beberapa modifikasi.atau terjadinya cacat tersebut baru timbul kemudian. Karena produsen sudah dianngap bersalah. Cacat yang menyebabkan kerugian tersebut tidak ada pada saat produk diedarkan oleh produsen.jawab cacatnya produk berakibat pada orang.untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan kesalahan yang menimbulkan kerugian kepada konsumen.pihak produsen dapat membebaskan diri dari tanggung jawabnya. Namun demikian. . Jika produsen tidak mengedarkan produknya (put into circulation).konsumen jelas sangat diringankan dari beban untuk membuktikan kesalahan produsen.Dilihat dari segi ini.maka konsumen yang menjadi korban tidak perlu lagi membuktikan unsure kesalahan produsen.

khususnya tentang produk liability atau tanggung jawab produsen. Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud ada ayat pada ayat (1) dan ayat (2) tidak mengharuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasarkan pembuktian lebih jelas mengenai adanya unsure kesalahan. 4.menunjukkan luuasnya kepentingan konsumen yang dapat dijangkau oleh lembaga hukum ini. persaingan yang lebih berkualitas.pencemaran . 2. Undang-undang No.Indonesia sedang menuju era industrialisasi. Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal transaksi. Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang atau penggantian barang dan jasa yang sejenis atau setara nilainya atau perawatan kesehatan dan atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.persaingan yang lebih ketat baik didalam maupun diluar negeri dari sebagai akibat globasasi dan perdagangan bebas dan sebagainya.Dari pengertian produk dan produsen yang begitu luas.dapat terlindungan karena dapat diketahui apa yang dapat dituntut dan kepada siapa tuntutan itu harus ditunjukkan. Dari cakupan product liability tesebut. 1.Inti masalahnya terletak pada kulitas produk yang dihasilkan. 3.Hal penting lain yang perlu mendapat perhatian serius dalam era industrialisasi adalah bidang hukum.e. Dalam memasuki era industrialisasi tersebut berbagai hal perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh.8 Tahun 1999 telah menggunakan prinsip semi-strict liability sebagaimana yang diatur dalam pasal 19 Bab IV tentang Tanggung Jawab Pelaku Usaha.Produuk-produk yang dihasilkan industry itu ditunjukkan baik untuk memenuhi keperluan dalam negeri maupun untuk keperluan ekspor.mulai dari penyediaan sumber daya manusia yang berkualitas. . Bahwa secara ilmiah dan teknis (state of scientic and technical knowledge.penguasaan ilmu dan teknologi.dijelaskan sebagai berikut : Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan.mengatisipasi tuntutan akan barang dan jasa yang lebih berkualitas.Devisa yang dihasilkan sangat diperlukan bagi keperluan impor produk-produk yang tidak dapat dihasilkan didalam negeri.Produk Liability di Indonesia Seperti telah dikemukakan pada pendahuluan. 2.state of art defense) pada saat produk tersebut diedarkan tidak mungkin terjadi cacat.dan atau kerugian konsumen akibat mengonsumsi barang dan atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan.Masalah produk liability ini erat kaitannya dengan masalah persaingan dalam era perdagangan bebas maupun dengan makin meningkatnya perhatian terhadap perlindungan konsumen.

5. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku apabila pelaku usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen. Dalam juga,pasal 20 yang berbunyi bahwa pelaku usaha periklanan bertanggung jawab atas iklan yang diproduksi dan segala akibat yang ditimbulkan oleh iklan tersebut.Disamping itu,tanggung gugat juga diberlakukan bagi importir barang atau jasa sebagai pembuat barang yang diimpor atau sebagia penyedia jasa asing jika importasi barang tersebut atau penyediaan jasa asing tersebut tidak dilakukan oleh agen atau perwakilan produsen luar negeri atau perwakilan produsen luar negeri atau perwakilan penyedia jasa asing. Selain itu,dalam pasal 28 dinyatakan bahwa pembuktian terhadap ada tidaknya unsure kesalahan dalam gugatan ganti rugi merupakan beban dan tanggung jawab pelaku usaha.Hal ini berarti berlaku system pembuktian terbalik,baik dalam perkara pidana maupun perkara perdata,sesuatu yang menyimpang dari hukum acara biasa.Didalam hukum acara pidana,beban pembuktian terletak pada jaksa (penuntut umum),sedangkan didalam hukum acara perdata baik berdasarkan pasal 163 Herziene Inlands Reglement (HIR),pasal 383 Reglement buitengewesten (RBg),maupun pasal 1865 BW,beban pembuktian diletakkan pada penguggat. Berdasarkan system hukum yang ada kedudukan konsumen sangat lemah dibanding produsen.Salah satu usaha untuk melindungi dan menibgkatkan kedududkan konsumen adalah dengan menerapkan prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability ) dalam hukum tentang tanggung jawab produsen.Dengan diberlakukannya prinsip tanggung jawab mutlak diharpkan pula para produsen/industrawan Indonesia menyadari betapa pentingnya menjaga kwlaitas produk – produk yangt telah dihasilkannya,sebab bil tidak selain akan merugikan konsumen juga akan sangat besar resiko yang harus ditanngungnya.Para produsen akan llebih berhati-hati dalam memproduksi sebelum dilempar ke pasaran sehinnga para konsumen,baik dalam maupun luar negeri tidak akan ragu-ragu membeli barang produksi Indonesia.Demlian juga bila kesadaran oara produsen /industriawan terhadap hukum tentang tanggung jawab produsen tidak ada,dikhawatirkan akan berakibat tidak baik terhadap perkembangan/eksitensi dunia industry nasional maupun ada daya saing produk nasional terutama diluar negeri. Penerapan prinsip tanggung jawab mutlak di Indonesia meliputi 3 bagian penting.Pertama factor-faktor eksternal hukum yang mempengaruhi perkenbangan dan pembaharuan hukum perlindungan konsumen teramsuk penerapan prinsip tanggung jawab mutlak.Kedua,factor internal system hukum yaitu elemen struktur dan budaya hukum ddalam rangka penerapan prinsip tanggung jawab mutlak di Indonesia.Ketiga,adalah ruang lingkup materi atau substansi dari prinsip tanggung jawab mutlak yang perlu diatur dalam undang-undang. Namun demikian,dengan memberlakukan prinsip strict liability dalam hukum tentang product liability tidak berarti pihak produsen tidak mendapat perlindungan.Pihak produsen masih diberi kesempatan untuk membebaskan diri dari tanggung jawabnya dalam hal – hal tertentu yang dinyatakan dalam undngundang.Disamping itu,pihak produsen juga dapat mengasuransikan tanggung jawabnya sehingga secara ekonomis dia tida mengalami kerugian yang berarti.

Konsekuensinya dari pembalikan beban pembuktian adalah tergugat wajib membuktikan ketidaksalahannya.Apabila tergugat tidak dapat membuktikan ketidaksalahanya,maka tergugat harus dikalahkan karena apa yang didalihkan oleh penggugat terbukti.Dalam perkara pidana,juga berlaku hal sama,bahwa apabila tersangka tidak dapat membuktikan ketidaksalahannya,ia harus dintakan terbukti melakukan tindak pidana yang disangkakan kepadanya.Akan tetapi,Undang-undang No.8 Tahun 1999 tentangg perlindungan Konsumen juga membebaskan pelaku usaha untuk memberikan ganti rugi apabila pelaku usaha dapat membuktikan kalau kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen(pasal 19 ayat (5)).Selain itu,pelaku usaha yang memproduksi barang dibebaskan dari tanggung jawab atas kerugian yang diderita konsumen apabila : a. Barang tersebut terbukti seharusnya tidak diedarkan atau tidak dimaksudkan untuk diedarkan; b. c. d. Cacat barang timbul pada kemudian hari; Cacat timbul akibat ditaatinya ketentuan mengenai kulifikasi barang; Kelalaianyang diperjanjikan yang diakibatkan oleh konsumen; 4 tahun sejak barang dibeli\ atau

e. Lewatnya waktu pennututan lewatnya jangka waktu (pasal 27).

Adapun system beban pembuktian terbalik juga digunakan jika kasus perlindungan konsumen diangkat sebagai kasus pidana.Hali ini berarti meskipun ganti rugi telah diberikan namun tidak menghapus kemungkinan adanya tuntutan piadana berdasrkan pembuktian lebih lanjut mengenai adanya unsure kesalahan ini digunakan system beban pembutian terbalik.Pasal 22,menegaskan bahwa pembuktian terhadap ada tidaknya unsure kesalahan dalam kasus pidana merupakan beban dan tanggung jawab pelaku usaha tanpa menutup kemungkinan bagi jaksa untuk melakukan pembuktian.

c. PENYALAHGUNAAN KEADAAN VAN OMSTANDIGHEDEN)

(MISBRUIK

“penyalahgunaan keadaan” menguraikan penerapan lembaga ini dalam sengketa transaksi konsumen yang akan direkomendsikan untuk diterima menjadi salah satu prinsip penting dalam hukum Indonesia. Perkjanjian merupakan salah satu sumber perkitan yang dapat dikatakan sebagai sumber formal hukum yang utama dalam transaksi konsumen.Salah satu isu pokok dalam transakssi konsumen misalnya terkait dengan keberadaan perjanjian standar (baku) yang oleh banyak pihak dinilai menggerototi hak kebebasan berkontrak dari pihak konsumen. Secara klasik sebagiamana dimuat dalam kitab undang-undang Hukum Perdata,salah satu asas penting dalam perjanjian adalah prinsip kebebasan

berkonrak.Asas ini pertama kali dapat disimpulkan dari pasal 1320 Kitab UndangUndang Hukum Perdata,yang menetapkan empat syarat sah suatu perjanjian, yakni : 1. 2. 3. 4. Kesepakatan kedua belah pihak Kecakapan Suatu pokok persoalan tertentu Suatu sebab yang halal dengan syarat subjektif, sedangkan dua objektif. Menurut Subekti, pelanggaran itu terancam untuk dapat dimintakan objektif tidak dipenuhi, perjanjian itu

Dua syarat yang pertama berkaitan syarat terakhir berhubungan dengan syarat syarat subjektif menyebabkan perjanjian pembatalannya. Di sisi lain, bila syarat terancam batal demi hukum.

Pasal 1321 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menebutkan tiga alas an untuk melakukan pembatalan perjanjian, yakni : 1. 2. 3. Kekhilafan atau kesesatan Paksaaan Penipuan

Tiga alasan warisan hukum colonial belanda itu tetap berlaku sampai sekarang, sekalipun di negeri Belanda terjadi satu perkembangan yang sangant berarti, khususnya dipandang dari sudut hukum perlindungan konsumen. Kemajuan dimaksud adalah dimasukkannya alasan keempat, yaitu penyalahgunaan keadaan. Keempat alasan itu dicantumkan dalam Buku III Pasal 44 ayat (1) Kitab UndangUndang Hukum Perdata belanda yang baru. Penyalahgunaan keadaan berkaitan dengan kondisi yang ada pada saat kesepakatan terjadi. Kondisi itu membuat ada salah satu pihak berada dalam keadaan tidak bebas untuk menyatakan kehendaknya. Itu sebabnya, ada ahli yang berpendapat penyalahgunaan keadaan ini sebagai salah satu bentuk dari cacat kehendak juga. Satu hal yang harus diingat, penyalahgunaan keadaan sejak semula tidak dapat dianggap sebagai hal yang dapat dibenarkan oleh hukum. Sebenarnya, penyalahgunaan keadaan sejak dulu dimasukkan sebagai keadaan yang bertentangan dengan ketertiban umum atau kebiasaan yang baik. atas dasar itu, suatu perjanjian dapat dinyatakan tidak berlaku, baik seluruhnya maupun bagian tertentu saja. Dengan demikian, ada anggapan “sebab” yang terlarang sama dengan “isi” perjanjian yang tidak di benarkan. Padahal, penyalahgunaan tidak semata-mata berkaitan dengan “isi” perjanjian. Isinya mungkin tidak terlarang, tetapi ada sesuatu yang lain, yang terjadi pada saat lahirnya perjanjian, yang menimbulkan kerugian pada salah satu pihak. Inilah yang dinamakan “penyalahgunaan keadaan”. Menurut Van Dunne, penyalahgunaan keadaan terjadi karena ada dua unsur, yaiitu kerugian bagi salah satu pihak dan penyalahgunaan kesempatan oleh pihak lain.

kurang jelas. pembebasan majikan dari resiko dan menggesernya menjadi tanggungan si buruh 6. Karena keadaan. Pada keunggulan psikologis.Satrio menambahkan lagi enam factor yang dapat dianggap sebagai cirri dari penyalahgunaan keadaan. Persoalannya “ penyalahgunaan keadaan”. boleh jadi ketergantungan ekonomis itu tidak ada. tetapi salah satu pihak mendominasi secara kejiwaan. orang tua/wali-anak belum dewasa 4. konsumen perumahan sering terdesak nutuk menyetujui suatu perjanjian kredit dengan bank berdasarkan system bunga fluktuatif yang sangat tidak menguntungkan. Keadaan yang dimaksud disebabkan. Keunggulan ekonomis dan psikologis dari si pelaku usaha sering sangat dominan sehingga mempengaruhi konsumen untuk memutuskan kehendaknya secara rasional.Dari unsure yang kedua itu. yang bersifat ekonomis/psikologis. karena ia sudah sangat membutuhkan rumah tinggal yang layak dan pemerintah tidak menyediakan fasilitas perbankan yang lebih ringan daripada itu. seperti pasien membutuhkan pertolongan dokter ahli 5. dan kurang informasi. Kondisi ini tercipta karena : 1. pendeta dan jemaatnya). salah satu pihak ada dalam keadaan terjepit 2. tetapi dapat meliputi kerugian”subjektif”. Sebagai contoh. Walaupun demikian. yaitu ada keunggulan pada salah satu pihak. memang belum diadopsi ke dalam Kitab undang-Undang Hukum Perdata (eks Kolonial Belanda) yang tetap berlaku di Indonesia. suami dan istri. Perjanjian itu mengandung hubungan yang timpang dalam kewajiban timbale balik antara para pihak (prestasi yang tak seimbang). Di lain pihak.timbul sifat perbuatan. Adanya ketergantungan relatif (misalnya antara orang tua dan anak. Factor kerugian disini tidak harus berwujud kerugian materiil. ketiadaan pengaturan itu tidak . seperti segala sesuatu yang menyebabkan orang pada posisi tidak menguntungkan.”penyalahgunaan keadaan” ini sanagat relevan untuk disinggung dalam kaitannay dengan persengketaan transaksi konsumen. keunggulan ekonomis pada salah satu pihak.J. Kerugian yang sangat besar dari salah satu pihak. kesulitan keuangan yang mendesak 3. Keunggulan ekonomis terjadi bila posisi kemampuan ekonomi kedua belah pihak tidak seimbang sehingga salah satu tergantung pada yang lain. Salah satu pihak menyalahgunakan keadaan pihak lain untuk kepentingannya. dan 2. gegabah. sebagai berikut : 1. hubungan majikan-buruh. sering pelaku usaha secara sistematis memasang iklan di media massa untuk menggiring psikologi konsumen agar berperilaku konsumtif. Jelas sekali. Karena keadaan ekonomis. Melengkapi pandangan Dunne. Pada waktu menutup perjanjian. dokter dan pasien. Karena hubungan atasan-bawahan. misalnya yang bersangkutan belum berpengalaman.

yang dalam konsiderannya memuat pertimbangan “penyalahgunaan keadaan” oleh salah satu pihak. agama. 2. miskin.berarti. Artinya. Manfaat Keadilan Keseimbangan Keamanan dan keselamatan Kepastian hukum Pada asas keadilan. daerah. kaya. pelaku usaha. 5. Pelanggaran terhadap kedua paasl di atas merupakan tindak pidana menurut ketentuan Pasal 62 UUPK. 4. Pangabean. pendidikan. Pasal 18 UUPK meletakkan hak-hak yang setara antara konsumen dan pelaku usaha bedasarkan prinsip kebebasan berkontrak. dan status social lainnya. budaya. salah satu hak konsumen adalah hak untuk diperlakukan atatu dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif. 28 Januari 1984. Pasal 15 UUPK bahkan secara tegas mengatakan. Dalam ketentuan itu dikatakan. yaitu asas : 1. misalnya menyebutkan ada putusan hakim yang dapat dianggap sebagai yuris-prudensi. dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak dua miliar rupiah. Selanjutnya dalam hubungannya dengan perjanjian standar.”penyalahgunaan keadaan” tidak dapat diterapkan dalam penyelesaian kasuskasus perdata di Indonesia. sebaiknya penerapan ajaran “penyalahgunaan keadaan” ini tidak sepenuhnya diserahkan pada hakim. Kemudian. pelaku usaha dalam menawarkan barang atau jasa dilarang melakukan dengan cara pemksaan atau cara lain yang dapat menimbulkan gangguan baik fisik maupun psikis terhadap konsumen. Henry P. Van Dunne melihat. . Pasal 4 huruf g UUPK menyebutkan pula. 3431K/Pdt/1985. dijelaskan. 4 Maret 1987 dan Putusan No. 1904K/Sip 1982. dalam kaitannya dengan perjanjian standar yang banyak sekali dibuat oleh para pelaku usaha dewasa ini. seluruh rakyat diupayakan agar dapat berpartisipasi semaksimal mungkin dan agar diberi kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannnya secara adil. Pesan ini tampaknya perlu juga diperhatikan oleh lembaga legislatif kita. UUPK sendiri secara umum membuka kemungkinan pengajuan gugatan oleh konsumen kepada pelaku usaha berdasarkan factor penyalahgunaan keadaan ini. dan pemerintah dalam arti materiil dan spiritual. Penjelasan Pasal 2 UUPK menyebutkan adanya lima asas perlindungan konsumen. Penjelasan dari ketentuan tersebut secara jelas dapat ditafsirkan sebagai keterkaitan dengan larangan “penyalahgunaan keadaan”. setiap konsumen memiliki hak untuk dilakukan atau di layani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif berdasarkan suku. perlu diberi keseimbangan antara kepentingan konsumen. perlu “campur tangan” pembentuk undang-undang untuk melindungi kepentingan konsumen. 3. Putusan itu termuat dalam putusan MA No. dalam asas keseimbangan disebutkan.

bagaimana mekanisme penyelesaiannya yang sederhana. . Masuk nya barang dan jasa impor ke Indonesia bukannya tanpa permasalahan. termasuk akses kepada pengambil keputusan.secara sosiologis. Belum dapat diterapkannya norma-norma perlindungan di Indonesia. Mereka telah terbiasa mempertanyakan produk-produk yang dikonsumsinya. Dalam kasu berskala nasional saja pengadilan belum mampu bessikap konsisten. Kalaupun hukum digunakan untuk menjangkaunya itu pum hanya sebatas kepada mereka yang menjadi tumbal space-goal tarik-menarik kepentingan tersebut. Norma-norma perlindungan konsumen Era perdagangan bebas menghendaki bahwa semua barang dan jasa yang berasal dari Negara lain harus dapat masuk ke Indonesia. juga lebih banyak didasarkan pada : a. kalau perlu penyelesaian melalui jalur hukum. Secara yuridis muncul pula masalah benturan system hukum antara Indonesia dengan Negara-negara lain. hal ini berada diluar jangkauan hukum. sebagian besar konsumen Indonesia enggan berperkara ke pengadilan. Inggris. Keengganan konsumen Indonesia ini disamping disebabkan oleh ketidak kritisan mereka. Sikap menghindari konflik meskipun hak-haknya sebagai konsumen dilanggar pengusaha. “keengganan” ini akan sangat berbeda jka dibandingkan dengan konsumen-konsumen di Negara-negara peserta perdagangan bebas lainnya. cepat. tetapi pada tataran paktik dan kenyataannya tidak mudah dilakukan karena berbagai sebab yang bersifat yuris-politis-sosiologis. dan biaya ringan c. Yaitu. padahal telah sangat dirugikan oleh pengusaha. yang relative masih baru. karena tidak konsistennya badan peradilan kita atas putusanputusannya. tarik-menarik berbagai kepentingan diantara para pelaku ekonomi yang memiliki akses kuat diberbagai bidang. Bagaimana dengan kasus-kasus konsumen pada era perdagangan bebas yang bersuasana internasional. Pertama. Ketiga. Paling tidak ada 3 penyebab yang dapat dikategorikan sabagai hambatan-hambatan dalam perdagangan bebas. bila tidak distigma antiworld trade organization (WTO). dan lain-lain. Kedua. seperti Amerika Serikat. Ketidakjelasan ini menyulitkan konsumen bila ia mengalami kerugian akibat produk barang atau jasa tersebut. Praktik peradilan kita yang tidak sederhana. Masih banyak makanan impor yang diketahui dengan jelas siapa distributornya di Indonesia. dalam hal ini Undang-Undang No. cepat dan biaya ringan. sehingga diperlukan waktu sosialisasi pemberlakuannya selama 1 tahun b. Sering terjadi perbedaan-perbedaan putusan pengadilan dalam kasus serupa. bila perundang-undangan Indonesia bertentangan dengan ketentuan (WTO). Permasalahan muncul jika ada pengaduan konsumen atas barang dan jasa impor tersebut.d. Secara teoritis itu dapat saja diselesaikan. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

dalam perspektif perlindungan konsumen. Tersedianya informasi yang memadai bagi konsumen untuk memberikan kemampuan mereka melakukan pilihan yang tepat sesuai kehendak dan kebutuhan pribadi d. Indonesia sebagai salah satu Negara terkemuka di ASEAN. Kebebasan untuk membentuk organisasi konsumen atau organisasi lainnya yang relevan dan memberikan kesempatan kepada organisasi tersebut untuk menyuarakan pendapatnya dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan mereka. perdagangan. hakikat perlindungan konsumen menyiratkan keberpihakan kepada kepentingan-kepentingan (hukum) konsumen. sebagai berikut : a. hukum positif yang ada tidak jelas arah dan tujuannya bila digunakan sebagai instrument hukum dalam melindungi kepentingan (hukum) konsumen. Idealnya doktrin product liability sebagai salah satu norma perlindungan konsumen. Pengusaha kecil yang sudah ada pada awal munculnya isu perlindungan konsumen di Indonesia hamper ¼ abad yang lalu. karena norma-norma ini masih dalam taraf sosialisasi selama setahun sejak diundangkan pada tanggal 20 April 1999 yang lalu. meskipun pembangunan hukum dan ekonominya masih tertinggal jika dibandingkan dengan Negara-negara ASEAN lainnya. Pendidikan konsumen Tersedianya upaya ganti rugi yang efektif f. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen) dalam tata hukum kita. Adanya Undang-Undang Perlindungan Konsumen memberikan dampak ekonomi yang positif bagi dunia usaha. Yakni. Dari pada itu. dituangkan dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Perlindungan konsumen dari bahaya-bahaya terhadap kesehatan dan keamanannya. bahkan tergilas sepak terjang konglomerat yang menggurita. Butir (a) kepentingan konsumen tersebut dapat direalisasi melalui penerapan doktrin product liability kedalam doktrin perbuatan melawan hukum (tort). hendaknya dapat memprakarsai harmonisasi hukum di kawasan ASEAN. b. Adapun kepentingan konsumen menurut Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa No. Sementara itu. khususnya menyangkut product liability. dan pengusaha kecil tidak masuk akal. 39/248 tentang Guidelines for Consumer Protection. sampai saat ini tidak bangkit. Apa yang telah dilakukan EEC (Masyarakat Ekonomi Eropa/MEE) pada \bulan juli 1985 dengan .Terlampau dini bagi kita untuk memberikan penilaian efektif tidaknya normanorma perlindungan konsumen yang integral (Undang-Undang No. Promosi dan perlindungan kepentingan social ekonomi konsumen c. e. Kekhawatiran adanya UndangUndang Perlindungan Konsumen bias menghancurkan perkembangan industry. dunia usaha dipacu untuk meningkatkan kualitas produk barang dan jasa sehingga produknya memilki keunggulan kompetitif di dalam dan diluar negeri.

Berusia sekurang – kurangnya 30 tahun.) lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan Konsumen masih dalam taraf sosialisasi. maka Pemerintah harus menangani kesenjangan ekonomi antarpelaku ekonomi. (2. Warga Negara Indonesia 2. Badan ini terdiri atas 15 orang sampai dengan 25 orang anggota yang mewakili unsure : (1. (4. BAB 6 PERANNYA LEMBAGA/INSTANSI KONSUMEN DAN DALAM PERLINDUNGAN A. Mereka siap menghadapi produk-produk impor terutama dari Negara-negara berrkembang. Sebagai bahan perbandingan pada era perdagangan bebas Negara-negara peratifikasi keputusann-keputusan (WTO) sudah cukup lama memiliki perangkat Undang-Undaang Perlindungan Konsumen. Syarat – syarat keanggotaannya menurut pasal 37 UUPK adalah : 1. Kesenjangan tersebut tercipta dalam bentuk berbagai kenaikan harga barang dan jasa konsumen tanpa diikuti dengan daya beli dan kualitas produk yang memadai. Berbadan sehat 3.) tenaga ahli.) pelaku usaha. Dalam perspektif kebijakan pemerintah pada awalnya Pembangunan Jangka Panjang Kedua (PJP II) yang menekankan pada pemerataan pembangunan dan hasilhasilnya. Keanggotaan badan perlindungan konsumen nasional / BPKN ini di angkat oleh presiden atas usulan menteri (bidang perdagangan) setelah dikonsultasikan kepada dewan perwakilan rakyat. Tidak pernah dihukum karena kejahatan 5. dalam hal ini antara pengusaha dan konsumen. Berkelakuan baik 4.memberlakukan Directive Nomor 85/374/EEC on strict Product Liability di seluruh kawasan Eropa dapat dianggap sebagai salah satu tindakan harmonisasi hukum yang dilakukan Dewan Menteri Eropa. sementara itu UndangUndang No.)Pemerintah. BADAN PERLINDUNGAN KONSUMEN NASIONAL Dalam undang – undang No.8 tahun 1999 tentang Hukum Perlindungan Konsumen disebutkan adanya Badan Perlindungan Konsumen Nasional. Masa jabatan mereka adalah 3 tahun. Memiliki pengetahuan dan pengalaman dibidang perlindungan konsumen 6. Syarat diatas persis seperti yang juga berlaku untuk menjadi anggota badan penyelesaian . kita baru memulai sosialisasi norma-norma perlindungan konsumen itu. dan dapat di amanat kembali untuk satu kali masa jabatan berikutnya.) akademisi dan (5. Sebaliknya. (3.

badan ini mempunyai tugas (pasal 34 UUPK) : 1. Untuk menjalankan fungsi tersebut. yaitu (1) administrasi dan keuangan. Melakukan penelitian terhadap barang dan jasa yang menyangkut keselamatan konsumen 4. Menerima pengaduan tentang perlindungan konsumen dari masyarakat. Fungsi BPKN ini hanya memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah dalam upaya mengembangkan perlindungan konsumen di Indonesia. Melakukan survei yang menyangkut kebutuhan konsumen Diluar BPKN yang independen. atau pelaku usaha 7. atau 6. Berakhir masa jabatan sebagai anggota. Menyebarluaskan informasi melalui media mengenai perlindungan konsumen dan memasyarakatkan sikap keberpihakan kepada konsumen 6. lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. BPKN berkedudukan di Jakarta dan bertanggung jawab langsung kepada presiden/ jika diperlukan.q. Meninggal dunia. (3) pengaduan. 5. BPKN dapat membentuk perwakilan di Ibukota provonsi. Sakit secara terus – menerus. dan (5) kerja sama internasional. menteri yang membidangi perdagangan ditugasi juga untuk mengkoordinasikan pembinaan dan pengawasan perlindungan konsumen secara .Konsumen (pasal 49 UUPK). (2) penelitian. 3. Bedanya adalah dalam UUPK. Mendorong berkembang nya lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat 5. 4. Diberhentikan. keanggotaan BPKN dicantumkan secara tegas batas masa jabatannya dan kapan yang bersangkutan dapat berhenti sebagai anggota. Anturan demikian tidak disebutkan untuk keanggotaan badan penyelesaian sengketa konsumen. Memberikan saran dan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka penyusunan kebijaksanaan di bidang perlindungan konsumen 2. Sekretariat ini paling tidak terdiri atas lima bidang. Mengundurkan diri atas permintaan sendiri. Untuk melaksanakan tugas – tugasnya. pengkajian dan pengembangan. (4) pelayanan informasi. pemerintah c. Menurut pasal 38 UUPK. Bertempat tinggal diluar wilayah Negara Republik Indonesia. BPKN dibantu oleh suatu secretariat yang dipimpin oleh seorang secretariat yang diangkat oleh Ketua BPKN. keanggotaan BPKN berhenti karena : 1. dalam pasal 29 dan 30 UUPK diamanatkan. Melakukan penelitiaan dan pengkajian terhadap peraturan perundangundangan yang berlaku dibidang perlindungan konsumen 3. 2.

apalagi. maka perlu keseriusan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) perlu memantau secara serius pelaku usaha/penjual yang hanya mengejar profit semata dengan mengabaikan kualitas produk barang. masyarakat. sementara tim koordinasi yang di bentuk oleh menteri itu berfungsi memberikan rekomendasi berupa tindakan konkret atas setiap permasalahan yang timbul di lapangan. B. LPKSM dan cabangnya di daerah harus mengontrol dengan sungguh – sungguh kelayakan produk barang yang dipasarkan melalui penyuluhan kepada masyarakat tentang tertib niaga dan hokum perlindungan konsumen agar mereka tidak terjebak tindakan pelaku usaha yang hanya memproriotaskan keuntungan dan mengorbakan masyarakat. PENGERTIAN DAN PERAN LPKSM (LEMBAGA PERLINDUNGAN KONSUMEN SWADAYA MASYARAKAT) Kian ketatnya persaingan dalam merebut pangsa pasar melalui bermacam – macam produk barang. Dengan demikian. ada perbedaan antara BPKN dan tim di atas. Menteri yang membidangi perdagangan iu berwenang membenuk tim koordinasi pengawasan barang dan jasa yang beredar di pasar. dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat (LPKSM). sehingga kehadiran LPKSM ini betul – betul dirasakan manfaatnya pleh masyarakat. minuman botol. Problematika yang muncul dengan kehadiran LPKSM adalah dari fungsi serupa yang selama ini telah dijalankan oleh lembaga – lembaga konsumen sebelum berlakunya UUPK. namun di sisi lain. masyarakat pedesaan yang belum memahami efek atau indikasi dari produk barang yang digunakan. Tim ini terdiri atas wakil instansi terkait. BPKN berfungsi memberikan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka penyusunan kebijakan di bidang perlindungan konsumen. LPKSM diharapkan sering melakukan advokasi melalui media masa agar masyarakat selektif serta hati – hati dalam membeli produk barang yang muncul deras dipasaran. Selain itu. Hal ini disebabkan oleh masih banyaknya produk tidak bermutu yang palsu yang beredar bebas dimasyarakat. seperti penghentian produksi atau peredaran barang/jasa yang dinilai melanggar peraturan yang berlaku. unit pengaduan masyarakat perlu dibentuk sebagai sarana pengaduan masyarakat yang dirugikan dari produk barang yang digunakan. Fungsi tim pun hanya sebatas memberikan rekomendasi kepada menteri untuk melakukan tindakan konkret. Ketidaktahuan masyarakat dapat memberi peluang pelaku usaha atau penjual untuk membodohi masyarakat dengan produk yang tidak memenuhi standar. dan masih banyak lagi. ia diperlukan untuk memberikan jaminan accountability lembaga – lembaga konsumen tersebut.nasional. Ada pandangan kehadiran LPKSM bentuk intervensi Negara terhadap kebebasan berserikat dan berkumpul dari kelompok masyarakat. Pembinaan dan pengawasan yang lebih khusus dilakukan oleh menterimenteri teknis sesuai bidang tugas mereka. obat – obatan. misalkan makanan kaleng. Oleh karena itu. Hasil temuan LPKSM yang disampaikan masyarakat juga harus mendapat tindak lanjut dan .

Undang – Undang No. (3). (2). Diharapkan pula kehadiran PLKSM bukan justru berpihak kepada pelaku usaha atau penjual dengan mengorbankan konsumen. Pemasaran barang dan jasa secara bebas dan canggih di Negara liberal itu telah menimbulakan mekanisme defensive di kalangan konsumen dan mulai terdapat ketidak percayaan akan informasi sepihak yang disampaikan para produsen. Munculnya gerakan “konsumerisme” dalam segala permasalahnnya kepermukaan masih relative baru. c. Pemerintah mengakui lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat. Kepopuleran dan paham konsumerisme ini baru mulai mendapat perhatian dunia bisnis maupun birokrasi sejak Presiden Amerika Serikat. Tugas lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat meliputi kegiatan : a. Berkaitan dengan implementasi perlindungan konsumen. memberikan nasihat kepada konsumen yang memerlukannya . Kennedy pada tahun 1962 mengukuhkan adanya hak – hak konsumen. menyebarkan informasi dalam rangka meningkatkan kesadaran atas hak dan kewajiban dan kehati – hatian konsumen dalam mengonsumsi barang dan/atau jasa. melakukan pengawasan bersama pemerintah pelaksanaan perlindungan konsumen. Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam mewujudkan perlindungan konsumen. bekerja sama dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan perlindungan konsumen. C. yakni sebagai berikut : (1). e. . d. b. baik jasa pelayanan yang disediakan oleh industry maupun pelayanan umum yang disediakan oleh pemerintah. termasuk menerima keluhan atau pengaduan konsumen. Konsumen mulai mempermaslahkan adanya ketidaksesuaian harga dengan mutu barang atau jasa serta keselamatan penggunaanya. membantu konsumen dalam memperjuangkan haknya. dan masyarakat terhadap PERAN SERTA YLKI (YAYASAN LEMBAGA KONSUMEN INDONESIA) DALAM PERLINDUNGAN KONSUMEN.penyelesaian secara tuntas. Pemasaran barang dan jasa serta keselamatan penggunaannya. Pengukuhan ini timbul atas desakan konsumen di Amerika pada tahun 1930-an yang sudah mulai mempertanyakan adanya ketidakadilan dalam memperoleh pelayanan. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengatur tugas dan wewenang LPKSM sebagaimana tertuang dalam Pasal 44.

Misalnya fasilitas kereta api. pelayanan yang bersifat monopoli. pelayanan yang bersifat profit misanya jasa telekomunikasi. dan lain – lain sering berakhir dengan kekecewaan. angkutan. Merekalah satu system bekerjanya. cepat atau lambat. Mereka sudah membayarnya melalui pajak. catatan sipil. Pada hakikatnya kelompok konsumen lebih merupakan pengelompokan . Semua ini dilakukan untuk memberikan pelayanan kepada konsumen dan memastikan konsumen dapat menggunakan fasilitas umum tersebut dengan biaya yang murah dan bahkan tanpa bayar. IMB. A/RES/39/248 tanggal 16 April 1985 tentang Perlindungan Konsumen. telepon.Di sisi lain Pemerintah dengan inisiatifnya sendiri memang sudah menyediakan pelayanan umum kepada masyarakat atau konsumen. Keadaan ini mungkin akan diperburuk lagi dengan adanya pernyataan pemerintah sehingga siapa yang punya uang dialah yang mendapatkan pelayanan. sampai saat ini kenyataannya masih banyak konsumen yang belum memperoleh kepuasan dalam menggunakan pelayanan public meskipun pemerintah telah berubah status menjadi penyedia jasa monopoli. air minum. Segala kemudahan akan segala diperoleh masyarakat jika uang pelicin tersedia. dimana dinyatakan dalam paragraph pertama bahwa pemerintah – pemerintah berbagai Negara sepakat untuk memfasilitasi/mendukung pengembangan kelompok – kelompok konsumen (guidelines 1e). Keberadaan kelompok konsumen tentu saja berbeda dengan organisasi konsumen. jalan raya. Sebagai anggota masyarakat yang telah membayar pajak yang mencoba untuk melawan dengan pelayanan yang diberikan. Ada berbagai jenis layanan yang disediakan oleh Pemerintah. tidaklah gratis. Hanya saja. KTP. hal ini merupakan kemajuan yang sangat berarti di bidang perlindungan konsumen. malah akan merugikan dirinya sendiri baik dari segi waktu dan tenaga. mengandung pemahaman umum dan luas mengenai perangkat perlindungan konsumen yang asasi dan adil. tetapi sebenarnya konsumen dalam menggunakan pelayanan tersebut. Berhubungan dengan hamper segala bentuk pelayanan yang disediakan oleh birokrasi pemerintah dalam kehidupan sehari – hari seperti PAM. pelayanan rumah sakit umum. jauh sebelum upaya perlindungan konsumen ini ada. Dengan bangkitnya kesadaran konsumen ini tampaknya aparat pemerintah belum siap menerima tuntutan dan masyarakat baik dalam segi dana maupun SDMnya. The UN Guidelines for Consumer Protection yang diterima dengan suara bulat oleh Majelis Umum Perserikatan – Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) melalui Resolusi PBB No. listrik.misalnya PLN dan pelayanan yang bersifat nonprofit seperti KTP. dan lain – lain. IMBm imigrasi. Pada dasarnya para aparatlah yang tahu apakah suatu pengurusan KTP misalnya. Satu hal yang diperjuangkan guidelines itu adalah struktur kelompok – kelompok konsumen yang independen. Masyarakat hanya bisa pasrah. dan angkutan transportasi.

Apabila dikatakan bahwa kelompok konsumen bertindak dalam kapasitasnya selaku konsumen. Pada tataran kebijakan (policy) ketika menangani pengaduan – pengaduan konsumen. Kemajuan perdagangan akan tidak adanya artinya jika diperoleh dengan cara – cara yang merugikan konsumen. organisasi konsumen seperti YKLI bertindak mewakili kepetingan – kepentingan dan pandangan – pandangan konsumen dalam suatu kelembagaan yang dibentuk. Mereka harus secara ekskusif mewakili kepentingan – kepentingan konsumen. Prinsip kebebasan (idependence) merupaskan karateristik penting. . misalkan kelompok konsumen pemengang kartu kredit. 4. Walaupun demikian. mengenai karateristik ini terdapat 6 (enam) kualifikasi kebebasan yang harus memiliki organisasi konsumen dan kelompok konsumen. baik bagi organisasi konsumen maupun kelompok konsumen. Mereka harus nonprofit making dalam profil aktivitasnya. mencoba untuk mengubah keadaan melalui dialog dengan para pengambil keputusan dan juga membantu konsumen untuk memecahkan masalhnya dalam berhadapan dengan birokrasi pemerintah. dengan hasil – hasil survey dan penelitian yang dilakukan. Pada beberapa tulisan yang ada di media massa disebutkan bahwa jika pelayanan birokrasi masih seperti sekarang. 6. Indah sukmaningsih berpendapat bahwa bertahun – tahun Yayan Lembaga Konsumen Indonesia berusaha bekerja untuk membuat keadaan sedikit lebih menguntungkan kondisi konsumen. Adapun organisasi – organisasi konsumen merupakan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang perlindungan konsumen. Hasilnya. Didalam segala aktivitasnya tentu saja organisasi konsumen seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia(YLKI) bertindak dalam kapasitasnya selaku perwakilan konsumen (consumer representation). Mereka tidak boleh mengizinkan kebebasan tindakan dan komentar mereka dipengaruhi atau dibatasi pesan – pesan sponsor/pesan – pesan tambahan. tapi lebih banyak yang tak terselesaikan. keduanya memiliki tujuan yang sama. 3. 1. Mereka tidak boleh mengizinkan eksploitasi atas informasi dan advis yang mereka tidak mereka berikan kepada konsumen untuk kepentingan perdagangan.konsumen pada berbagai sector. sulit rasanya bagi Indonesia untuk dapat bersaing di Abad XXI. kelompok komsumen barang – barang elektronik.? Sebagian dapat tercapai. Mereka tidak boleh menerima iklan – iklan untuk alasan – alasan komersial apa pun dalam publikasi – publikasi mereka. Artinya. yaitu melayani dan meningkatkan martabat dan kepentingan konsumen. dan sebagainya. 2. baik atas prakasa produsen dan asosiasinya maupun prakasa pemerintah. 5. organisasi konsumen sering dihadapkan pada konstruksi perwakilan.

bersih. biaya pelayanan. adanya informasi pelayanan. Dilengkapi juga dengan petunjuk pelayanan. Keterbukaan Artinya. Dari segi etika keramahan dan sopan santun juga perlu diperhatikan. tidak membedakan si kaya dan si miskin. Penataan ruangan dan lingkungan kantor terasa fungsional. 4. Adapun persyaratan pelayanan adalah administrasi yang jelas. Adanya pegaturan tugas dan penunjukkan petugas haruslah pasti dan sesuai dengan keahlian. merata dalam memberikan subjek pelayanan tidak diskriminatif. yakni sebagai berikut : 1. artinya penyebaran informasi yang dilakukan melalui media atau benruk penyuluhan tentang adanya pelayanan yang dimaksud. 6. keterampilan dan etika petugas. dan nyaman. Keamanan dan Kenyamanan Hasil produksi pelayanan memenuhi kualitas tekhnis (aman) dan dilengkapi dengan jaminan purna pelayanan secara administrasi (pencatat/dokumentasi. Keadilan Artinya. Kantor pelayanan hendaknya mencantumkan jam kerja kantor untuk pelayanan masyarakat. jadwal pelayanan dan pelaksanaannya. seorang petugas haruslah tanggap dan peduli dalam memberikan pelayanan. 2. Artinya. Kesedehanaan Artinya.Ada beberapa indicator pelayanan umum yang baik.tagihan) maupun jaminan purna pelayanan secara teknis. rapi. Selain itu dilengkapi dengan sarana/prasarana pelayanan ( misalnya peralatannya ada) dan digunakan secara optimal.. Dalam keterbukaan. Perilaku petugas pelayanan Pengabdian. yang dilengkapi dengan alur proses. laki atau perempuan. kotak saran. dan petugas pelayanan. ada terpampang dengan jelas waktu pelayanan. mencakup proses pelayanan dan persyaratan pelayanan. yang dapat berupa loket informasi yang dimiliki dan terpampang jelas. 3. pengaturan tarif dan penerapannya harus sesuai dengan ketentuas yang berlaku. Prosedur pelayanan meliputi pengaturan yang jelas terhadap prosedur yang harus dilalui oleh masyarakat yang akan menggunakan pelayanan. . termasuk disiplin dan kemampuan melaksanakan tugas. mencakup upaya publikasi. 5. Kepastian Artinya. dan layanan pengaduan. Untuk biaya pelayanan.

Melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen. . Setiap unsure tersebut berjumlah 3 (tiga)orang atau sebanyak – banyaknya 5 (lima) orang. Hubungan hokum antara pelaku usaha/pejualan dengan konsumen tidak tertutup kemungkinan timbulnya perselisihan/sengketa konsumen. Pengawasan klausul baku. Dengan demikian. Melapor kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran undang – undang ini. b. dan badan ini mempunyai anggota – anggota dari unsure pemerintah. BPSK adalah pengadilan khusus konsumen (small claim court) yang sangat diharapkan dapat menjawab tuntutan masyarakat agar proses bepekara berjalan cepat. dengan cara melalui mediasi. d. yang semuanya diangkat dan diberhentikan oleh Menteri (Perindustrian dan Perdagangan). namun pada kenyataannya yang tidak dapat dipungkiri bahwa lembaga pengadilan pun tidak akomodatif untuk menampung sengketa konsumen karena proses perkara yang berlaku lama dan sangat birokratis. yaitu Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). Tugas dan wewenang BPSK (Pasal 52) meliputi: a. Hal ini berlaku untuk gugatan secara perorangan. sedangkan gugatan secara kelompok (class action) dilakukan melalui peradilan umum. BPSK hanya menerima perkara yang nilai kerugiannya kecil. Pemeriksaan dilakukan oleh hakim tunggal dan kehadiran penuh pihak ketiga (pengacara) sebagai wakil pihak yang bersengketa tidak diperkenankan. Mekanisme gugatan dilakukan secara suka rela dari kedua belah pihak yang bersengketa. arbitrasi atau konsliasi. Badan ini penuh di setiap daerah tingkat II (Pasal 49) BPSK di bentuk untuk penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan (Pasal 49 ayat 1). dan anggota dengan dibantu oleh sebuah sekertariat (Pasal 50 jo.Yayasan sejak semula tidak ingin berkonfrontasi dengan produsen (pelaku usaha). Memberikan konsultasi perlindungan konsumen. Selama ini sengketa konsumen diselesaikan melalui gugatan dipengadilan. Putusan dari BPSK tidak dapat disbanding kecuali bertentangan dengan hokum yang berlaku. Dilingkungan peradilan umum UUPK membuat trobosan dengan menfasilitasi para konsumen yang merasa dirugikan dengan mengajukan gugatan kepada pelaku usaha di luar pengadilan. PENGERTIAN DAN PERAN BPSK (BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN). menjaga martabat produsen dan membantu pemerintah. wakil ketua meranggkap anggota. sederhana dan murah. c. konsumen dan pelaku usaha. 51). Kenggotaan Badan terditi atas ketua merangkap anggota. apalagi dengan pemerintah karena YLKI bertujuan melindungi konsumen. Berdasarkan Pasal 45 UUPK setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum. D.

Mendapatkan. Meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan mereka tersebut huruf g apabila tidak mau memenuhi panggilan. lisan atau tertulis. m. f. Dari keseluruhan proses persidangan berdasarkan ketentuan Undang – Undang No. . Pengadilan Negeri yang menerima keberatan pelaku usaha memutuskan perkara tersebut dalam jangka waktu 21 hari sejak diterimanya keberatan tersebut (Pasal 58). Menghadirkan saksi. saksi ahli dan/atau setiap orang yang dianggap melakukan pelanggaran itu. Dari uraian di atas dapat dibuat skema proses penyelesaian sengketa melalui BPSK sebagai berikut. atau apabila ia keberatan dapat mengajukannya kepada Pengadilan Negeri dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari. Putusan yang dijatuhkan Majelis BPSK bersifat final dan mengikat (Pasal 54 ayat (3)). meneliti dan/atau menilai surat. BPSK wajib menjatuhkan putusan selama – lamanya 21 (dua puluh satu) hari sejak dijatuhkan gugatan diterima (Pasal 55). h. k. Dalam menyelesaikan sengketa konsumen dibentuk majelis yang tediri atas sedikitnya 3 (tiga) anggota dibantu oleh seorang panitera (Pasal 54 ayat (1) dan (2)). Selanjutnya kasasi pada putusan pengadilan negeri ini diberi luang waktu 14 hari untuk mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung. Menerima pengaduan dari konsumen.e.tentang dilanggarnya perlindungan konsumen. Menjatuhkan sangsi administrasi kepada pelaku usaha pelanggar undang – undang. Memutuskan dan menetapkan ada tidaknya kerugian konsumen. Melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa konsumen. maksimum 100 (seratus) hari (total dari proses pertama sampai terakhir). Memberitahukan keputusan kepada pelaku usaha pelanggaran undang – undang. i. l. Keputusan BPSK itu wajib dilaksanakan pelaku usaha dalam jangka 7 (tujuh) hari setelah diterimanya.8 Tahun 1999 terlihat setidak – tidaknya dari sudut biaya dan waktu penyelenggaraan keadilan itu pihak konsumen dan pelaku usaha yang jujur dan bertanggung jawab dimudahkan dan dipercepat (putusan yang mempunyai kekuatan hokum pasti dapat dijatuhkan dalam jangka waktu relative pendek. j. Memanggil pelaku usaha pelanggar. dokumen atau alat – alat bukti lain guna penyelidikan dan/atau pemeriksaan. Keputusan Mahkamah Agung wajib dikeluarkan dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak permohonan kasasi (Pasal 58). g.

Keberatan Pasal 56 ayat (2) Pelanggaran atas Pasal 19 ayat (2) Pasal 20.duan f.gainnya h. Meneliti surat. Penelitian dan pe. arbitrasi. Penyelesaian: dan Bentuk Keputusan 21 Hari. Memanggil pihak. Memutus dan meadanya kerugian Memberitahu putusan hukuman netapkan Esekusi PN di tempat Konsumen Pasal 57 Pengadila Negeri Putusan 21 Hari Pasal 52 ayat (2) Makamah Agung putusan 30 Hari Pasal 58 ayat (3) k.meriksaan Sanksi administrasi Final dan Mengikat 14 Hari.Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Dati II (Pasal 49 ayat 1) Pemerintah/Pelaku Usaha/Konsumen 3-5 per Unsur Nonmasa Kerja Tugas Wewenang Pasal 52 a. Melapor penyidik e.sul baku d.25 Maksimum 200 juta g. j. do-kumen alat bukti i.Pasal 55 Mediasi. Menerima penga. sanksi dan seba. Menjatuhkan administratif . Pengawasan klau. Konsultasi P. konsiliasi b.K c.

Perikatan konsumen merupakan pelaksanaan dari perikatan sebelumnnya.Dalam menghadapi Abad XXI. dalam pelunasan harga barang atau jasa. Setelah transaksi konsumen dilaksanakan. Pihak yang disebutkan terakhir inilah yang menjebatani antara produsen dan konsumen akhir. Proses untuk menghasilkan iklan itu disebut dengan periklanan. perikatan transaksi konsumen itu tidak serta merta terjadi begitu saja. yang dapat disebut pska transaksi konsumen. Ada prolog yang mendahuluinya. Hal ini tidak terjadi pada distributor karena produk yang diperjual belikan menjadi miliknya. tetapi langsung kepada pihak principal. yang biasanya dilakukan oleh produsen sebagai principal dengan sipedagang antara. Dengan demikian. Diluar transaksi konsumen dikenal juga transaksi komersial. Transaksi konsumen adalah peralihan barang atau jasa termasuk didalamnya peralihan kenikmatan dalam menggunakannya. Konsumen antara dapat berupa distributor atau agen. PENGANTAR Sebagian besar predikat konsumen diperoleh sebagai konsekuensi mengonsumsi barang dan jasa melalui suatu transaksii konsumen. BAB 7 ISU – ISU HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN A. para perantara ini disebut juga dengan intermediate consumer. Abdi Negara sudah harusnya melayani kepentingan masyarakat dan bukan dilayani oleh masyarakat. Kedua istilah ini memiliki sejumlah perbedaan. Itulah sebabnya. sementara melakukan transaksi atas nama prinsipalnya. pembeli dapat saja tidak membayar melalui perantaraan si agen. Transaksi konsumen merupakan suatu perikatan. Tahapan pratransaksi konsumen biasanya ditandai oleh penawaran dari penjual kepada calon pembelinya. yang terutama bersangkut paut dengan perikatan keperdataan. Pada saat ini penawaran lazimnya dilakukan melalui media masa yang dikemas secara menarik. yang . Kareteristik yang berbeda ini tentu mempengaruhi konstruksi hokum dalam transaksi konsumen di antara para pihak terkait. Berikut ini dikemukakan 3 isu pokok dari sekuen – sekuen transaksi konsumen. Mengigat salah satu tolok ukur dari majunya suatu Negara adalah nilai dari pelayanan terhadap masyarakat oleh aparatur Negara. UUPK tidak menkatagorikan “konsumen antara” ini sebagai konsumen yang dilindungi oleh UUPK. Kemasan penawaran demikian disebut dengan iklan. yang dapat disebut pratransaksi konsumen. Dalam kacamata hokum perdata. masih ada perikatan lain yang harus dipenuhi kedua belah pihak. Distributor bertindak atas namanya. paling tidak berperan indicator atau criteria yang ditawarkan diatas semaksimal mungkin dipenuhi. konsumen mengharapkan pelayanan birokrasi menjadi lebih baik.

belum di media lainnya. Makanan.252/Menkes/SKB/VIII/80 dan NO. Disini selalu dipertanyakan apakah dalam perjanjian baku itu masih tedapat kebebasan kontrak? Hal ini terjadi karena perjanjian standar itu di tentukan secara sepihak oleh produsen atau penyalur produknya (penjual). tidak satupun yang memberikan informasi yang jujur. khususnya yang ditayangkan ditelevisi. terutama sejak diperolehnya kembali siaran iklan ditelevisi. Menteri Kesehatan RI pernah melontarkan kritikan yang sangat tajam terhadap iklan obat – obatan yang beredar dimasyarakat. Namun keluhan – keluhan demikian biasanya tidak mendapat publikasi yang luas karena berbagai pertimbangan komersial. semua iklan itu menyesatkan. dapat diajukan kepada produsen atau penyalur produk. disini terkait pada perlindungan hokum bagi konsumen. dan media masa. Biasanya konsumen tidak punya pilihan lain. Isu yang banyak dipermasalahkan pada tahap ini adalah existensi dari perjanjian standar atau perjanjian baku. Menurutnya. Tahapan berikutnya adalah pelaksanaan dari transkasi konsumen itu. Menteri Kesehatan berkewajiban mengawasi menteri periklanan sesuai dengan criteria teknis medis dan etis. B. Ketiga unsure ini. seperti media audio dan media cetak yang tersebar di seluruh Indonesia. khusus mengenai periklanan. untuk itu selanjutnya dibentuk panitia khusus/ bersama. ia akan disodorkan perjanjian baku dengan subtansi yang hampir sama oleh produsen atau penyalur produk (penjual)lainnya. Menurut Surat Keputusan Bersama itu. Sekalipun demikian. Tugas demikian dibebankan kepada Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (Ditjen POM). Sesungguhnya apa yang di ungkapkan Menteri Kesehatan sejak lama menjadi keluhan pengamat dan aktivis perlindungan konsumen.lainnya. misalnya tiga tahun. Sering terjadi. Minuman. Kosmetika. Departemen ini mempunyai lembaga tersendiri yang mengawasi peredaran dan penggunaan obat (termasuk obat tradisional). khususnya yang berkaitan dengan periklanan diterbitkan Surat Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Penerangan (NO. perusahaan periklanan. sepanjang bukan disebabkan kesalah pemakaian. yang keanggotaannya berasal . kecuali menerima alternative yang pertama. Itu baru disatu media. Selama jangka waktu itu. Untuk melakukan pengawasan demikian. yaitu pengiklan. berarti dari iklan obat – obatan yang disiarkan ditelevisi. PERIKLANAN DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN (IKLAN OBAT) Diantara sekian banyak sector. sedangkan Menteri Penerangan melakukan pengawasan materi secara umum.melibatkan 3 unsur utama masyarakat periklanan.122/Kep/Menpen/1980) tentang Pengendalian dan Pengawasan Iklan Obat. kosmetika. Inilah yang biasanya disebut layanan purna jual. makanan. sedangakan konsumen tinggal memutuskan : menerima atau menolaknya. dan alat kesehatan. baik sendiri – sendiri maupun bersama – sama memiliki potensi untuk melanggar hak – hak konsumen. setiap keluhan konsumen atas barang tersebut. Dibandingkan dengan instansi – instansi lainnya. sebab dimanapun ia pergi. Dapat dibayangkan jika sinyalemen Menteri Kesehatan itu benar. untuk pembelian barang – barang tertentu produsen atau penyalur produk memberikan garansi dalam jangka waktu terbatas. dan Alat Kesehatan (OMKA). Frekuensi keluhan itu terus meningkat. Tahapan ketiga dari proses transaksi konsumen ini adalah perikatan setelah peralihan barang atau jasa yang pokok dilakukan. pada akhir 1992. bidang kesehatan merupakan sector yang relative lebih lengkap pengaturannya dalam melindungi konsumen dibandingkan bidang – bidang lain. Departemen Kesehatan sebenarnya memiliki rambu – rambu pengaman yang relative lebih lengkap dalam melindungi konsumen.

pihak perusahaan periklanan dikawal ketat oleh kode etik yang ditanda tangani oleh lima asosiasi (termasuk Perusahaan Periklanan Indonesia) pada 17 September 1981. Ditempat inilah iklan itu diproduksi. ternyata banyak sekali iklan yang sitayangkan diberbagai media yang melenceng jauh dari naskah yang diserahkan ked an disetujui oleh Direktorat Jederal POM. sampai dengan pencabutan izin usaha industry obat yang bersangkutan. Ironisnya. ordonansi tersebut tidak secara khusus mengatur masalah periklanan. Tata Cara dan Tata Periklanan Indonesia ini selalu disempurnakan. Tidak adil rasanya bila segala beban penyimpangan harus dipersalahkan sepenuhnya ke pihak produsen obat – obatan. Sesuai namanya. Dalam memproduksi iklan. Dengan dihapusnya instansi Departemen Penerangan dalam struktur pemerintah saat ini.23 Tahun 1992 tentang kesehatan. misalnya antara lain diatur dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. dalam melakukan pengawasan Direktorat Jenderal POM samapai sekarang masih mendasarkan diri pada Ordonansi Pemeriksaan Bahan – Bahan Farmasi (Staatsblad 1936 No. Masalah iklan obat.660). Dalam peraturan itu juga ditegaskan bahwa iklan yang diberikan tidak boleh menyimpang dari apa yang disetujui dalam pendaftaran. tidak diperkenankan untuk diiklankan selama belum didaftarkan di Departemen Kesehatan (Pasal 3 Peraturan Menteri Kesehatan No. Asosiasi Perusahaan Media Luar Ruang Indonesia (AMLI) 2. Dalam praktiknnya. Kelengkapan Permohonan dan Tata Laksana Pendaftaran Obat Jadi. 6. sama sekali tidak membuat “kecut” pelakunya. Panitia yang dimaksud tidak pernah dibentuk dan kosekuensinya. Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) 4. Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS). Jenis obat yang boleh diiklankan hanya jenis obat bebas dan terbatas. Ordonansi itu memerlukan penjabaran itu lebih lanjut dalam peraturan perundang – undangan yang lebih rendah tingkaatannya. Selain mengacu kepada ketentuan Undang – Undang No.dari dua departemen serta kalangan periklanan dan anggota masyarakat lainnya. Namun.246/Menkes/Per/V/1990). surat keputusan itu tidak dapat dijadikan dasar peganganpenerbit periklanan OMKA. ancaman sangsi yang diberikan Departemen Kesehatan mulai dari teguran. bukan obat keras. dengan penandatangan oleh tujuh instansi pada 19 Agustus 1996. 0282 – 3/A/SK/XI/90 tentang Kriteria Terperinci. Untuk obat – obatan tradisional. Pembatalan pendaftaran. Selain itu sejak 1989 naskah iklan obat – obatan harus diserahkan pula kepada Direktorat Jenderal POM untuk mendapatkan persetujuan. Dalam ketentuan yang disebutkan terakhiran disyaratkan bahwa setiap iklan obat harus memuat informasi sesuai dengan persetujuan yang diberikan Departemen Kesehatan pada saat obat itu didaftarkan. ide yang di amanatkan SuratKeputusan Bersama tersebut tidak ditindaklanjuti. sebelum akhirnya disebarluaskan ke media yang diingini. Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) 5. Saat ini dapat dipastikan semua iklan obat di televise yang pernah dipersoalkan oleh Menteri Kesehatan diserahkan pembuatannya kepada perusahaan periklanan (production house). tampaknya amanat tersebut tinggal menjadi kenangan. Asosiasi Pemrakarsa dan Penyantun Iklan Indonesia (Aspindo) 3. Ketujuh instansi tersebut adalah:\ 1. dan . Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI).

agar tidak tumpang tindih dengan mikanisme pengwasan serupa yang dimiliki instansi dijajar departemen lain. Dalam hokum pembentukan panitia bersama di atas tentu akan lebih baik jika tidak berbentuk surat keputusan bersama. rumah sakit. Demikina juga badan yang kewenangannya antara lain yang mengawasi masalah periklanan. dan keputusan setingkat menteri seperti itu tidak berwenang mencantumkan sanksi. terlebih dahulu perlu dijabarkan secara jelas batas kewenangan panitia tersebut.7. mekanisme pengawasannya masih berjalan dengan baik. Sebagai perbandingan di Amerika Serikat badan yang mengawasi masalah makan dan obat (The Food and Drug Administration) dibentuk atas produk hokum setingakt undang – undang. Pemakaian tenaga professional kesehatan sebagai model iklan. Selain itu. Iklan obat yang “tidak sehat” seperti itu tentu saja merugikan perusahaan obat sejenis. tapi hanya boleh menyatakan membantu menghilangkan gejala penyakit. kode etik periklanan juga mensyaratkan iklan harus sesuai dengan indikasi jenis produk yang disetujui oleh Departemen Kesehatan. (The Federal Trade Commission). juga dibentuk berdasarkan undang – undang. Lolosnya penayangan iklan yang menyesatkan (dalam hal ini. Keberadaan panitia itu kiranya cukup urgen untk di wujudkan karena memudahkan dalam melakukan koordinasi. Dalam Bab Undang – Undang VII No. atau “bebas resiko” tanpa keterangan lengkap yang menyertainya. seperti dokter. Juga tidak boleh mencantumkan kata – kata “aman”. Oleh karena itu. “tidak berbahaya”. Bentuk peraturan demikian tidak dikenal dalam tata urutan peraturan perundang – undangan di Indonesia. iklan tidak boleh memuat kata – kata yang berisi janji penyembuhan penyakit. sangat riskan kiranya bilatidak diadakan pengawasan yang memadai dan konsumen dibiarkan menimbang – nimbang serta memutuskan sendiri iklan apa yang pantas untuk dipercaya. atau atribut – atribut profesi medis lainnya juga dilarang. Kendati demikian. . perawat. Ini berarti dibuka kesempatan untuk membentuk suatu badan pengawasan yang lebih bergigi. Dari sebagian kecil rumus kode etik itu saja tampak banyak iklan obat yang tidak memnuhi persyaratan. Apalagi jika pihak produsen yang lebih kuat itu didukung oleh fasilitas yang memungkinkannya bertindak secara monopolitis. ahli farmasi. sesungguhnya ditegaskan bahwa Pemerintah berwenang untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan upaya penyelenggaraan kesehatan. Untuk obat – obatan. tapi (lebih – lebih) merugikan konsumen yang tidak berhati – hati. iklan obat – obat ) membuktikan. Mayoritas konsumen di Indonesia masih terlalu rentan dalam menyerap informasi iklan yang “tidak sehat”. yang dinegara asalnya (Inggris dan Amerika Serikat) sudah pula ditinggalkan. Selanjutnya dinyatakan bahwa pembinaan dan pengwasan tersebut akan ditetapkan dengan peraturan pemerintah. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Posisi yang tidak berimbang antara produsen dan konsumen akan mudah disalahgunakan (machtpositie) oleh pihak yang lebih kuat. Sebagai mana diuraikan diatas surat keputusan bersama dari dua menteri (1980) menyatakan pengawasan periklanandi bidang OMKA dilakukan oleh panitia tersendiri. Yayasan Televisi Republik Indonesia.. Cara berfikir yang dalam hokum dikenal sebagai caveat emtor (let the buyer beware) demikian hanya cocok untuk Negara kapasitas abad ke – 19.

Informasi yang diberikannya paling tidak dapat dijadikan bahan perbandingan bagi masyarakat. Polemic ini sesungguhnya tidak akan dapat dituntaskan jika akar permasalahan. disamping informasi yang sehari – hari mereka dapatkan dari iklan. Hal ini menimbulakan pertanyaan : bagaimana untuk “pangan yag tidak diperdagangkan”? dalam kenyataannya dapat dilihat. sampel – sampel produk itu di bagikan secara ngratis kepada masyarakat. mengawasi dan melakukan tindakan yang diperlukan agar iklan tentang pangan yang diperdagangkan tidak memuat keterangan yang dapat menyesatkan. Pasal 33 dari undang – undang ini menyatakan. biasanya diiklankan terlebih dahulu oleh si produsen. setiap label dan/atau iklan tentang pangan yang diperdagangkan harus memuat keterangan mengenai pangan dengan benar dan tidak menyesatkan. Konsekuensinya. produk pangan dengan merek baru yang masih dalam masa perkeenalan kepada konsumen. tepatnya ke sasaran konsumen yang dinilai paling potensial. Sebagaimana diatur dalam Pasal 71 dan 72 Undang – Undang Kesehatan. Sampel – sampel tersebut tentu tidak untuk diperdagangkan. Sebaliknya. jika produsen melanggar. Kantor Menteri Urusan Pangan dulu ingin menyerahkan kepada masing – masing produsen. apa yang dilakukan YLKI ini seyogyanya disambut dengan positif. Dalam Undang – Undang No. Juga masih samar – samar tentang pengertian “pangan yang diperdagangkan”. tentu akan dipertanyakan. pengawasannya tidak boleh sampai mematikan dua ciri di atas. C. dan rasa tidak adil jika dikecualikan dari ketentuan Pasal 33 UU Pangan. Selain sarana pengawasan di tingkat aparatur Negara. Departemen Kesehatan dan Agama menginginkan agar label ini dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan setelah mendapat rekomendari dari Majelis Ulama Indonesia.Khusunya hal periklanan di bidang OMKA dengan dasar hokum yang lebih sesuai. Peranan YLKI antara lain secara berkala melakukan pengujian suatu produk tertentu dan mempublikasikannya. bahwa setiap orang yang menyatakan dalam table atau iklan bahwa pangan yang diperdagangkan adalah sesuai dengan persyaratan agama tau kepercayaan tertentu bertangguang jawab atas kebenaran pernyataan berdasarkan agama atau kepercayaan tersebut. Rumusan pasal ini mengacu kepada pencantuman label “halal” yang sesuai dengan syariah Islam.7 Tahun 1996 tentang Pangan disebut secara jelas mengenai iklan pangan. Di situ dinyatakan. Sementara itu. Iklan adalah produk kreativitas dan komersial. Untuk itu pemerintah mengatur. PERJANJIAN STANDAR DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN . Dan ketetuan Undang – Undang Pangan ini sebenarnya tidak mempunyai aspek konstitutif yang berarti banyak karena masih harus menunggu peraturan pelaksanaannya. sejauh mana konsumen akan merasa aman dan yakin kebenaran isinya. Artinya. Dengan demikian. dan sejauh mana pula Pemerintah mampu mencegah dan menindakk tindakan produsen yang tidak bertangguang jawab. Pasal 34 dari Undang – Undang Pangan juga membawa polemic yang tidak kalah menariknya. jika label (dan iklan) itu diserahkan sepenuhnya kepada produsen. ia akan dikenakan sangsi hokum. peranan yang tidak kalah pentingnya juga harus darang dari masyarakat seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YKLI). Yakni “memberi rasa nyaman pada konsumen” tidak ditempatkan pada proritas utama.

sebenarnya dikenalkan sejak zaman Yunani Kuno. 1338 KUH Perdata). perjanjian standar ini kemudian dikenal dengan nama take it or leave it contract. Mariam Darus Badrulzaman lalu mendefenisikan perjanjian standar sebagai perjanjian yang isinya dibakukan dan dituangkan dalam bentuk formulir. harga. Adanya unsure pilihan ini oleh sementara pihak dikatakan perjanjian standar tidaklah melanggar atas kebebasan berkontak (Pasal 1320 jo. klausul yang ada di dalamnya biasanya . Menurut sebuah laporan dalam Harvard Law Review pada 1971. dan mengandung ketentuan yang berlaku umum (massal). perjanjian standar adalah perjanjian yang ditetapkan secara sepihak. waktu. Tujuan dibuatnya perjanjian standar untuk memberikan kemudahan (kepraktisan) bagi para pihak yang bersangkutan. yakni oleh produsen/penyalur produk (penjual). jika dilihat dari beberapa banyak waktu. Akan tetapi. Di Indonesia.Perjanjian standar (baku). Misalnya. Sjahdeini menekankan. tempat. Dalam perkembangannya. misalnya yang menyangkut jenis. Di satu sisi. sehingga pihak yang lain (konsumen) hanya memiliki dua pilihan : menyetujui atau menolaknya. di sisi yang lain bentuk perjanjian seperti ini tentu saja menempatkan pihak yang tidak ikut membuat klausul – klausul di dalam perjanjian itu sebagai pihak yang baik yang langsung maupun tidak sebagai pihak dalam perjanjian itu memiliki hak memiliki kedudukan seimbang dalam menjalakan perjanjian tersebut. dan beberapa hal yang spesifik dari objek yang diperjanjikan. maka bentuk perjanjian baku ini pun memiliki karateristik yang khas yang tidak dimiliki oleh perjanjian yang lain pada umumnya. warna. tidak lagi sekadar masalah harga. tentu saja penentuan secara sepihak oleh produsen/penyalur produk (penjual). Oleh karena itu. misalnya pernah memaparkan praktik penjualan makanan yang harganya ditentukan secara sepihak oleh penjual. bidang – bidang yang diatur dengan perjanjian standar pun makin bertambah luas. Sutan Remi Sjahdeini mengartikan perjanjian standar sebagai perjanjian yang hampir seluruh klausul – klausulnya dibakukan oleh pemakaiannya dan pihak lain pada dasarnya tidak mempunyai peluang untuk merundingkan atau meminta perubahan. tanpa memperhatikan perbedaan mutu makanan tersebut. bertolak dari tujuan itu.99 persen perjanjian yang dibuat di Amerika Serikat berbentuk perjanjian standar. isi perjanjian yang telah distandarisasi. jumlah. Selain itu. Sebenarnya. Jadi. Perjanjian standar tidak perlu selalu dituangkan dalam bentuk formulir walaupun memang lazim dibuat tertulis. Contohnya dapat dibuat dalam bentuk pengumuman yang ditempelkan tempat penjual menjalankan usahanya. Plato (423 – 347 SM). bagaimana pihak konsumen masih diberi hak untuk menyetujui (take it) atau menolak perjanjian yang diajukan kepadanya (leave it). tenaga dan biaya yang dapat dihemat. melainkan klausal – klausalnya. disisi yang lain ia harus menurut terhadap isi perjanjian yang disodorkan kepadanya. Itu sebabnya. Adapun yang belum dibakukan ada beberapa hal. perjanjian standar bahkan merambah ke sector property dengan cara – cara yang secara yuridis masih kontrovesial. Tentu saja fenomena demikian tidak selamanya berkonotasi negative. diperbolehkan system pembelian satuan rumah susun (strata title) secara inden dalam bentuk perjanjian standar. antara lain perjanjian baku dibuat oleh salah satu pihak saja dan tidak melalui suatu bentuk perundingan. tetapi mencakup syarat – syarat yang lebih detail. Karena lahir dari kebutuhan akan kebutuhan efisiensi serta efektivitas kerja. Artinya. yang dibakukan bukan formulir perjanjian tersebut. bentuk perjanjian seperti ini sangat menguntungkan.

Mariam Darus Badrulzaman. Klausul eksonerasi adalah klausul yang mengandung kondisi membatasi atau bahkan menghapus sama sekali tanggung jawab yang semestinya dibebankan kepada pihak produsen/penyalur produk (penjual). terhadap resiko dan kelalaian yang semestinya ditanggungnya. memberikan defenisi any term in a contract restricting. Taylor. Dalam pengertiannya yang lebih luas David Yates menunjuk pada yurisprudensi pada kasus Bensten v. Sons & Co (1893) dab Bahama International Trust Co. Tanggung jawab untuk akibat – akibat hokum. exluding and modifying aremedy or a ability arising out of breech of a contractual obligation yang diterjemahkan secara bebassebagai setiap bagian dari suatu perjanjian yang membatasi. dengan istil ahnya klausul eksonerasi. b. Sorotan para ahli hokum dari berlakunya perjanjian baku selain dari segi keabsahannya adalah adanya klausul – klausul yang tidak adil dan sangat memberatkan salah satu pihak. Kewajiban – kewajiban sendiri yang biasanya dibebankan kepada pihak untuk mana syarat dibuat. tidak lain karena dicantumkannya klausul eksonerasi (exemption clause) dalam perjanjian tersebut. Menurut Engels menyebut adannya tiga bentuk yuridis dari perjanjian dengan syarat – syarat eksonerasi. tetapi dari berbagai keuntungan yang ada tersebut terdapat sisi lain dari pengunaan serta perkembangan perjanjian baku yang banyak mendapat sorotan kritis dari para ahli hokum. yang diterjemahkan secara bebas adalh klausul yang kehadirannya untuk membebaskan atau membatasi tanggung jawab yang mungkin saja muncul. A clause in a contract or a term in a notice which appears to exclude or restrict a liability or legal duty that would otherwise arise. dibatasi atau dihapuskan (misalnya. karena kurang baik dalam melaksanakan kewajiban – kewajiban perjanjian. c. Kewajiban – kewajiban diciptakan (syarat – syarat pembebasan oleh salah satu pihak dibebankan dengan memikulkan tanggung jawab pihak yang lain yang mungkin ada untuk kerugian yang diderita pihak ketiga. yang lebih memilih mengunakan istilah exclusion clause. yaitu sisi kelemahannya dalam mengakomodasikan posisi yang seimbang bagi para pihaknya. Kelemahan – kelemahan perjanjian baku ini bersumber dari karateristik perjanjian baku yang dalam wujudnya merupakan suatu perjanjian yang dibuat oleh salah satu pihak dan suatu perjanjian terstandarisasi yang menyisakan sedikit atau bahkan tidak sama sekali ruang bagi pihak lain untuk menegosiasikan isi perjanjian itu. Ketiga bentuyk yuridis tersebut terdiri atas: a. memberikan defenisi terhadap klausul tersebut sebagai klausul yang berisi pembatasan pertanggung jawaban dari kreditor.merupakan klausul yang telah menjadi kebiasaan secara luas dan berlaku secara terus menerus dalam waktu yang lama. Demikian juga David Yates. Perjanjian baku banyak memberikan keuntungan dalam penggunaannya.V Threadgold (1974) yang mengemukakan bahwa exemption clause di artikan sebagai …. perjanjian keadaan darurat). Perjanjian eksonerasi yang membebaskan tanggung jawab seseorang pada akibat – akibat hokum yang terjadi karena kuraang pelaksanaan kewajiban - . membebaskan atau merekayasa ganti rugi atau tanggung jawab yang timbul dari pelanggaran terhadap suatu perjanjian. Jika ada yang perlu dikuatirkan dengan kehadiran perjanjian standar.

antara lain tentang maslah ganti rugi dalam hal perbuatan ingkar – janji. Jika debitur menerima perjanjian itu. Namun dalam kenyataanya. walaupun secara teoritis yuridis. yang dalam disertasinya menyatakan bahwa perjanjian standar itu mengikat berdasarkan kebiasaan (gebruik) yang berlaku dilingkungan masyarakat dan lalu lintas perdagangan. kebutuhan masyarakat berjalan dalam arah yang berlawanan dengan keinginan hokum. kedudukan pengusaha dalam perjanjian ini adalah seperti pembentuk undang – undang swasta (legio particuliere wetgever). Contoh dari klausul tersebut adalah : Adanya pembebasan tanggung jawab pihak pengembangan dalam perjanjian pembelian rumah. . Kemudian Stein mencoba memecahkan masalah ini dengan mengemukakan pendapat. Adanya pembatasan terhadap tanggung jawab terhadap kecelakaan jasmani yang diderita oleh penumpang.? Ada beberapa pendapat yang menegaskan kontroversi di dalamnya. Alasannya. Adanya pembatasan tanggung jawab ganti rugi bagi perusahaan pengangkutan berkaitan dengan kehilangan barang bawaan penumpang.kewajiban yang diharuskan oleh perundang – undangan. para pihak mengikatkan diri pada perjanjian itu. Dalam perjanjian standar. bahwa perjanjian standar dapat diterima sebagai perjanjian berdasarkab fiksi adanya kemauan dan kepercayaan yang mengakibatkan keyakian. membuka peluang luas baginya untuk menyalah gunakan kedudukannya. yang mengatakan perjanjian standar itu mengikuti karena setiap orang yang menandatangani suatu perjanjian harus dianggap mengetahui dan menyetujui sepenuhnya isi kontrak tersebut. Pelaku usaha hanya mengatur hak – haknya dan tidak kewajibannya. Pendapat Pitlo ini mengingatkan kita pada pendapat Hondius. terlebih – lebih lagi ditinjau dari asas – asas hokum nasional. tepat pada waktunya. dapat disebutkan pedapat yang lebih tegas dari Asser Rutten. Sehubungan dengan pertanyaan : apakah ada kebebasan berkontrak dalam perjanjian standar ini. Akhirnya. Pendapat pertama dating dari Sluijter. yang menyatakan perjanjian standar bukan perjanjian. berarti ia secara sukarela setuju pada isi perjanjian tersebut. Ganti rugi tidak dijalankan apabila dala persyaratan eksonerasi tercantum hal ini. Syarat – syarat yang ditentukan pengusaha didalam perjanjian itu adalah undang – undang. Mariam Darus Badrulzaman menyimpulkan bahawa perjanjian standar itu bertentang dengan asas kiebebasan kontrak yang bertanggung jawab. kedudukan pelaku usaha dan konsumen tidak seiumbang. - Disini dilihat betapa tidak adanya keseimbangan posisi tawar menawar antara produsen/penyalur produk (penjual) yang lazim tersebut kreditor dan konsumen (debitur) di lain pihak. di mana kepentingan masyarkatlah yang didahulukan. Dari berbagai defenisi yang ada tersebut maka dapat disimpulkan bahwa klausul pembebasan adalah klausul yang memberikan pembatasan atau pembebasan tanggung jawab hokum salah satu pihak atas segala bentuk ketidak terpenuhinya kewajiban atas perjanjian tersebut. dalam hal pengembangan tidak dapat memenuhi janjinya untuk melaksanakan penyelesaian pembangunan atas rumah yang dibeli. posisi yang didominasi oleh pihak pelaku usaha. perjanjian ini tidak memnuhi ketentuan undang – undang dan ditolak oleh beberapa ahli hokum. bukan perjanjian! Pitlo mengatakannya sebagai perjanjian paksa (dwang contract). Ahli Hukum Indonesia.

Ketentuan huruf (b) dan seterusnya sebenarnya memberikan contoh bentuk – bentuk pengalihan tanggung . Dalam KUHP Perdata Baru Negeri Belanda. Padahal. dikhawatirkan akan dibuat banyak klausul eksonerasi yang merugikan masyarakat. dan kepentingan dunia perdagangan tidak pula dirugikan. walaupun tidak sepenuhnya bersifat public seperti dibidang perburuhan dan agrarian. pengertian “klausul eksonerasi” tidak sekedar mempersoalkan prosedur pembuatannya. Dalam UUPK. kekhilafan (dwaling). kiranya tidak semua perjanjian standar dapat diperlakukan demikian.Menurutnya. Dalam kenyataannya. istilah klausul eksonerasi sendiri tidak ditemukan. Pasal 1 angka 10 mendefinisikan klausul baku sebagai setiap aturan atau ketentuan dan syarat – syarat yang dipersiapkan dan ditetapkan terih dahulu secara sepihakoleh pelaku usaha yang dituangkan dalam usaha dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen. Materi perjanjian yang terjadi di masyarakat sedemikian luasnya dan heterogennya. maka diperlukan campur tangan melalui undang – undang dan pengadilan. Misalnya saja dalam lapangan perburuhan agrarian. terdapat ketetuan yang mengatakan. Dengan demikian. KUHP Perdata juga meyebutkan tiga alasan yang dapat menyebabkan suatu perjanjian. Dalam hokum perburuhan . Campur tangan pemerintah lebih diharapkan pada perjanjian – perjanjian yang berskala luas. yang ada adalah “klausul baku”. satu – satunya cara adalah dengan membatasi pihak pelaku usaha dalam klausul eksenorasi. agar tidak terjadi penyalahgunaan terhadap asas kebebasan berkontrak ini oleh pihak yang berkedudukan lebih kuat. Misanya. penyalahgunaan keadaan ini dikukuhkan sebagai alasan keempat dari cacat kehendak. Sutan Remy Sjahdeini berpendapat dalam kenyataanya KUH Perdata sendiri memberikan pembatasan – pembatasan terhadap asas kebebasan berkontrak itu. tentu tidak harus distandarisasi. Jadi yang ditekankan oleh prosedur pembuatannya yang berifat sepihak. sangat banyak dilakukan standarisasi perjanjian. Tentu Darus Barulzaman. Akan tetapi. Menurut Remy Sjahdeini. jika asas kebebasan berkontrak ingin ditegakkan. Perjanjian – perjanjian yang disebutkan berakhir ini tumbuh melalui kebiasaan dan permintaan masyarakat sendiri. untuk perjanjian – perjanjian keperdataan yang dibuat oleh notaries. melainkan juga isisnya yang bersifat pengalihan kewajiban atau tanggung jawab pelaku usaha. yakni paksaan (dwang). perjanjian standar ini tidak boleh dibiarkan tumbuh secara liar dab karena itu perlu ditertibkan. harus ada campur tangan pemerintah. ada pembatasan – pembatasan dalam kontrak kerja. Campur tangan pengadilan dapat dijumpai dalam penyebab putusnya perjanjian yang dikenal dengan penyalahgunaan keadaan (misbruik van omstanddigheden). misalnya. suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan kata sepakat kedua belah pihak atau karena alasan lain yang dinyatakan dengan undang – undang. Pasal 18 ayat (1) huruf (a) UUPK menyatakan pelaku usaha dalam menawwarka barang dan/atau jasa yang ditunjukkan untuk diperdagangkan dilarang membuat atau mencantumkan klausul baku pada setiap dokumen dan/ atau perjanjian jika menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha. Perjanjian berskala luas yang dimaksud berkaitan dengan keputusan berkaitan dengan kepentingan missal. campur tangan yang disarankan ini dapat dilakukan oleh pemerintah. bukan mengenai isinya. dank arena itu jika diserahkan sepenuhnya pembuatannya secara sepihak kepada pelaku usaha. dan penipuan (bedrog). Ketiga alas an ini dimaksudkan oleh undang – undang sebagai pembatasan terhadap belakunya asas kebebasan berkontrak.

Pasal 18 ayat (2) mempertegas pengertian tersebut.00 (dua miliar rupiah). Secara umum. Jika ada konsumen yang meeras dirugikan. atau di cabut setelah mendapat persetujuan Menteri Kehakiman. tetapi isinya tidak boleh mengarah kepada klausul eksonerasi. misalnya pembatasan kewenangan pelaku usaha untuk membuat klausul eksenorasi lebih banyak diserahkan kepada inisiatif konsumen. huruf b. klausul baku adalah klausul yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha. atau pencabutan itu baru memperoleh kekuatan hokum setelah mendapat persetujuan Raja/Ratu yang dituangkan dalam Berita Negara. huruf c. Kemudian penetapan. kekuatan yurisprudensi dalam sisitem hokum Indonesia tidak berlaku seperti di Negara – Negara Anglo saxon/Anglo Amerika. dengan mengatakan bahwa klausul baku harus diletakkan pada tempat yang mudah terlihat dan dapat jelas dibaca dan mudah dimengerti. dan sebagainya. Loangkah yang . atau menolak penyerahan kembali uang yang dibayar. Dengan demikian. Salah satunya adalah pasal 1337. Artinya. dan pasal 18 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp2. Pasal 17 ayat (1) huruf a. Ketentuan satu – satunya beru ditemukan dalam UUPK. Di belanda. memang dapat ditunjukkan beberapa pasal yang ada dalam Kitab Undang – Undang Hukum Perdata. Putusan – putusan pengadilan inilah yang kemudian dijadikan masukan perbaikan legislasi yang telah ada. klausul baku sama dengan klausul eksonerasi? Jika melihat kepada ketentuan pasal 18 ayat (1) UUPK. Di Amerika Serikat. Apakah dengan demikian.jawab itu. perjanjian standar dimasukkan pengaturannya dalam Kitab Undang – Undang Hukum Perdata yang baru. termasuk sejauh mana Pemerintah dapat campur tangan dalam penyusunan kontrak. seperti pelaku usaha dapat menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen. Bagi kita di Indonesia. atau ketertiban umum. Di situ dinyatakan bahwa bidang – bidang usaha yang boleh meberapkan perjanjian standar harus ditentukan dengan peraturan dan perjanjian itu baru dapat ditetapkan. dan ayat (2). Padahal. ketentuan yang membatasi kewenangan pembuatan klausul eksonerasi ini belum diatur secara tegas di dalam undang – undang. Pasal 10. huruf e. ia dapat mengajukan gugatan kepengadilan. Pasal 13 ayat (2). walaupun di situ digunakan istilah “klausul baku” yang ternyata berbeda pengertiannya dengan “klausul eksonerasi”. Tidak disitu saja pengaturan tentang klausul baku ini berhenti karena terhadap pelanggaran yang dilakukan berkaitan dengan tidak dipenuhinya ketentuan pada Pasal 18 ini juga diberikan ancaman sanksi pidana sebagaimana diatur pada Pasal 62 UUPK ayat (1) : Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimasudkan dalam Pasal 8. Pasal 15. perlu diperoses melalui gugatan pengadilan. yang menyatakan suatu perjanjian tidak boleh dibuat bertentangan dengan undang – undang. perubahan. Pasal 9.000. berdasarkan Uniform Commercial Code 1978. sekalipun demikian. dapat diperoleh jawaban sementara bahwa kedua istilah itu berbeda. jika pihak produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor mengetahui atau seharusnya mengetahui bahwa pihak konsumen tidak akan menerima perjanjian tersebut jika ia mengetahuinya isinya.000. Jika hal – hal yang disebutkan dalam ayat (1) dan (2) itu tidak dipenuhi. ketentuan lainnya menyatakan bahwa perjanjian standar ini dapat pula dibatalkan.000. maka klausul baku itu menjadi batal hokum. kesusilaan. diubah. untuk menguji sejauh mana perjanjian itu bertentangan.

sering konsumen tentu menghadapi kendala memperbaiki barangnya karena ketiadaan suku cadang. Secara sederhana dapat kita katakana bahwa yang kuat adalah yang menang masih berlaku. Perkembangan teknologi yang sangat cepat misalnya pada tegnologi perangkat computer. Konsumen tidak boleh ditipu memperoleh barang dengan kualitas tertentu. dan sebagainya. D. padahal kenyamanannya tidak demikian. Selain paling tidak memberikan gambaran bahwa perlu adanya suatu sarana bagi peningkatan perlindungan terhadap penggunaan perjanjian baku dan segala atributnya. Selain dengan mencantumkannya dalam Kitab Undang – Undang – Undang Hukum Perdata. LAYANAN PURNAJUAL DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN Layanan purnajual (after sales service) merupakan kepentingan konsumen yang sangat vital dewasa ini. Masalah lainnya yang menyangkut layanan purnajual adalah soal garansi dalam jangka waktu tertentu yang memberikan produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor pada konsumennya. yang bisa kita hindari. dikatakan jus yang dijual adalah sari jeruk asli. Demikian pula dengan tanggung jawab produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor dalam memenuhi hak konsumen. dengan adanya pengaturan terhadap pemakaian perjanjian baku ini adalah adanya eksploitasi atau keadaan yang sedemikian merugikan bagi puhak yang lemah akibat adanya pengunaan paksaan maupun penyalahgunaan keadaan oleh pihak yang lebih kuat. terutama hak untuk memiliki barang/jasa yang sesuai dengan nilai tukar yang diberikan. yakni dengan membuat ketentuan khususus mengenai tata cara pembuatan perjanjian standar. Misalnya. sering membuat produsen harus mengubah tipe – tipe produknya mengikuti selera dan kebutuhan konsumen harus mengubah tipe – tipe produknya mengikuti selera dan kebutuhan konsumen yang terus berganti dalam waktu singkat. Akibatnya. serta adanya kebutuhan dari pihak yang berdaya tawar lebih rendah untuk menerima isi dari perjanjian itu. karena hal ini berkaitan dengan adanya unsure perlindungan dan kepentingan sepihak yang lebih besar daya tawarnya untuk melindungi kepentingannya. yang tentu saja merugikan salah satu pihak pada perjanjian. juga dapat dimuat dalam undang – undang yang mengatur mengenai perlindungan konsumen. Dengan adanya pengaturan terhadap Perlindungan Konsumen terutama pada peraturan yang berkaitan dengan klausul baku sedikit menyadarkan masyarakat bahwa mereka sebagai pihak dalam perjanjian memiliki hak yang (semestinya) sejajar dengan pihak lainnya dalam perjanjian baku. padahal hanya essence dari bahan – bahan kimia. Di mana pengaturan ini merupakan tonggak awal baginya keseimbangan dalam penempatan pihak pada suatu perjanjian. jika ada kerusakan dari suatu tipe produk. ternyata hanya 9 ons. kiranya dapat di pertimbangkan untuk ditiru.ditempuh oleh Belanda. Kertas tisu yang dikemas dalam kotak yang dinyatakan beratnya 10 ons. . Meski demikian penggunaan perjanjian baku atau jika dapat dikatakan lebih luas ketidakseimbangan daya tawar para pihak merupakan suatu hal yang sangat sulit untuk diawasi atau dikendalikan.

Membatasi tanggung jawab produk hanya pada pergantian atas produk yang cacat berarti tidak member banyak kemajuan bagi perlindungan konsumen. Setiap pemasok produk. tetapi mengimpornya tidak diketahui.Tampak masalah layanan purnajual adalah masalah perlindungan konsumen yang tidak dapat dipisahkan dengan tahapan – tahapan transaksi konsumen lainnya. Memberikan perlindungan kepada masyaraka terhadap penggunaan produk farmasi yang cacat. Seharusnya tanggung jawab produk ini jangan dibatasi hanya pertanggung jawaban atas produk yang cacat. Meningkatkan mutu produk farmasi yang beredar. Tanggung jawab produk adalah bagian dari transaksi konsumen. namun baru untuk bidang farmasi. 2. Mengembalikan kesimbangan masyarakat akibat penggunaan dan beredarnya proguk cacat. Tujuannya dari pengembangan itu adalah untuk : 1. atau memberikan tanda khusus untuk membedakan produknya dengan produk orang lain. menjadi kewajiban produsen untuk menjamin barang yang dijualnya bebas dari cacat tersembunyi. Sejak dahulu. jika pembuatnya tidak diketahui atau pembuat produknya diketahui. Jaminan ini merupakan perikatan yang otomatis dibebankan kepada produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor. yang lazim disebut tanggung jawab produk. . yaitu tahapan ketiga ( pasca transaksi konsumen). Setiap orang yang memasang nama. merek perusahaan. Di lingkungan Uni Eropa. misalnya dinyatakan dalam Pasal 3 Pedoman Masyarakat Eropa. 3. yakni: 1. 2. atau dipasarkan (tanpa mengurangi tanggung jawab si pemilik produk). tetapi caveat venditor (produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditorlah yang bertanggung jawab. Tim Kerja Naskah Akademis Badan Pembinaan Hukum Nasional pernah menyarakan agar dikembangkan system baru pertanggung jawaban hokum atau produk. Memudahkan proses pembuktian akibat penggunaan produk farmasi yang cacat. Perluasan subjek yang dapat dimintai tanggung jawabnya telah pula diterapkan diberbagai Negara. yang berlaku bukan lagi prinsip caveat emptor. Tanggung jawab dari si produsen dan pihak – pihak yang menyalurkan produknya secara tanggungan renteng seluruhnya bersifat tanggung jawab mutlak (strict liability) atau tanggung jawab tanpa kesalahan (liability without fault). tanggung jawab produk adalah tanggung jawab dari pembuatan produk cacat yang bersangkutan. Produsen dari bahan – bahan mentah atau komponen dari produk itu. 4. sehingga dapat mencapai tujuan peruntukan dan penggunaanny. Setiap orang yang mengimpor produk untuk dijual. 3. disewakan. 4. Pengaturan tentang tanggung jawab produk ini belum ada pengaturannya di Indonesia. 1.

3. wajib menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas penjualan dan wajib memenuhi jaminan atau garansi sesuai dengan yang diperjanjikan. Persoalannya adalah pelaku usaha sering secara sepihak mencantumkan masa garansi secara tidak proposional. Pasal 27 huruf e UUPK bahkan memberi batas waktu kadaluarsa untuk melakukan penuntutan atau gugatan ini selama empat tahun sejak barang dibeli atau setelah lewat masa garansi. Di sinilah diperlukan sosialisasi UUPK dan upaya gencar pendidikan konsumen. walaupun besar kemungkinan secara sosiologis masih digunakan secara luas oleh produsen. dan diberi jangka waktu & hari setelah tanggal transaksi. Waktu yang demikian pendek sangat mungkin tidak mencukupi bagi konsumen utnuk meneliti kembali hasil perbaikkan itu secara keseluruhan. masa garansi itu . Pelaku usaha tersebut wajib bertanggung jawab atas tuntutan ganti rugi dan/atau gugatan konsumen jika pelaku usaha itu tidak menyediakan atau lalai menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas perbaikan. Ganti rugi jika barang/jasa yang diberikan tidak sesuai dengan perjanjian semula. 2. Untuk itu. Ganti rugi ini bersifat serta merta. layanan purnajual diakomodasikan pula. Pasal 25 UUPK menyatakan. bahwa pelaku usaha yang memproduksi barang yang pemanfaatannya berkelanjutan dalam batas waktu sekurang – kurangnya satu tahun. Layanan purnajual sebenarnya meliputi permasalahan yang lebih luas. penyelesaian kasus purnajual seperti dinyatakan dalam Pasal 25 UUPK itu masih memerlukan upaya penuntutan ganti rugi dan/atau gugatan konsumen. Dalam UUPK. Jelaslah. juga jika ia tidak memenuhi atau gagal memenuhi jaminan atau garansi yang diperjanjikan. pelaku usaha wajib mengganti kerugian atas kerusakan. jika mengalami kerusakan tertentu. dan terutama mencakup masalah kepastian atas : 1. Misalnya. Namun. Barang yang digunakan. Dalam Pasal 19 UUPK secara jelas diatur. pencemaran. untuk garansi perbaikan alat – alat elektronika ditetapkan lamanya selam satu tahun sejak barang diserahkan kembali. Ketentuan dalam pasal yang disebutkan terakhir ini memberikan tenggang waktu pelayanan kepada konsumen sampai pada akhir masa garansi. Dalam UUPK tampaknya klausull eksenorasi demikian akan dihilangkan. dapat diperbaiki secara Cuma – Cuma selama jangka waktu garansi.Jaminan dalam undang – undang ini pun dalam praktik dicoba untuk diminimalisasi dengan menyatakan sepihak ( klausul eksenorasi). dan/atau kerugian yang diderita konsumen akibat mengonsumsi barang dan/atau jasa. walaupun hanya dalam beberapa rumusan yang umum. ketentuan ini agak berbeda dengan ketentuan tentang masa garansi dalam Pasal 27 UUPK. seperti “barang yang telah dibeli tidak dapat dikembalikan). Suku cadang selalu tersedia dalam jumlah cukup dan tersebar luas dalam jangka waktu yang relative lama setelah transaksi konsumen dilakukan.

yang antara lain wajib memuat informasi mengenai ongkos perbaikkan gratis selama garansi dan jaminan ketersediaan suku cadang. Pelaku usaha dapat melakukan permohonan tanda pendaftaran manual dan kartu jaminan/garansi ini baik secara individual maupun melalui asosiasi usaha atas perubahan itu ke instansi yang sama. Ditjen Industri Logam Mesin Elektronika dan Aneka. Permohonan juga dapat dilakukan memalui jasa pos. yaitu (1) radio cassette/mini compo. bergantung pada klasifikasi (jenis) barang atau jasa yang diberikan oleh pelaku usaha itu. dab Ditjen Perdagangan Dalam Negeri. Bagi importer yang melanggar.7/MPP/Kep/1/2000. HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL .perlu ditetapkan batas minimalnya oleh pembentuk undang – undang. (6) lemari es (refrigerator). (3) pesawat televise. dalam keputusan itu disebutkan bahwa manual dan kartu jaminan/garansi produk elektronika tertentu perlu dilakukan pendaftaran. Sebelum jenis produk yang beredar di Indonesia juga wajib dilengkapi kartu jaminan/garansi dalam bahasa Indonesia. pemerintah pembentuk tim pemerintah yang terdiri ats unsure kepolisian. Pelaku usaha dapat melakukan permohonan tanda pendaftaran manual dan kartu jaminan/garansi baik secara individual maupun melalui asosiasi usaha terkait. (8) mesin cuci. Permohonan tanda pendaftaran diajukan ke Direktorat Jenderal Industri Logam Mesin Elektronika dan Aneka u. (7) mesin pengatur suhu udara (AC). maka yang bersangkutan harus mengajukan pendaftaran atas perubahan itu ke instansi yang sama. (4) printer. dan (11) microwave oven. Tim ini akan bekerja sam dengan asosiasi pelaku usaha terkait dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. produk elektronika yang mendapatkan tanda pendaftaran itu wajib mencantumkan nomor surat tanda pendaftaran tersebut secara manual dan kartu jaminan/garansi yang dikeluarkan oleh produsen atau inportir tadi. (5) monitor computer. Kartu jaminan/garansi itu berlaku sekurang – kurangnya 1 tahun. sanksinya berupa pencabutan angka mengenal omportir (API) atau angka pengenal importer terbatas (APIT). Direktur Industri Elektronika (untuk produk dalam negeri) atau ke Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negara u. Dalam peraturan yang disebutkan di atas. Pelaku usaha yang menurut tim pemeriksa melakukan pelanggaran. hanya sebelas jenis produk elektronika yang wajibkan pendaftaran. Kewajiban ini berlaku selama yang bersangkutan menjalankan kegiatan usahanya di Indonesia. pengaturan tentang layanan purnajual dicantumkan dalam keputusan menteri perindustrian dan perdagangan no. Ditjen Bea dan cukai. Khusus untuk produk elektronika. (2) alat perekam atau reproduksi. dapat dikenakan sanksi administrative. Tata cara pendaftaran diatur dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan Pedagangan No. (10) pompa air listrik untuk rumah tangga.p Direktur Bina Pasar (untuk produk asal impor). Dalam peredarannya.p. (9) kompor gas.Ditjen Pajak. kejaksaan. Dalam keputusan ini tidak jelas alasannya mengapa produk elektronika yang diwajibkan hanya dibatasi pada sebelas jenis tersebut. yakni pencabutan izin usaha industry (IUI) atau tanda daftar industry (TDI).608/MPP/Kep/10/1991 tentang petun juk penggunaan (manual) dan kartu jaminan/garansi dalam bahasa Indonesia bagi produk elektronika. Jika ada perubahan terhadap isi manual dan/atau kartu jaminan/garansinya sebagai akibat pergantian atau penambahan model (tipe) produk. serta masyarakat konsumen pada umumnya. Untuk kepentingan perlindungan konsumen. E.

perkembangan ini bukan karena pertimbangan untuk melindungi konsumen.14 Tahun 2001 tentang Paten 2. hak cipta. Ini berarti. maka prinsip-prinsip GATT dalam bidang HAKI ini juga diterapkan. yakni: 1. Dilihat dari kacamata konsumen. 2. National treatment. dan rahasia dagang. 15 Tahun 2001 tentang Merek 3. Konsumen akan dirugikan jika ciptaan. Maksudnya. oleh karena itu. sering juga disebutkan jenis lain dari hak atas kekayaan intelektual. dan sebagainya.Hak atas kekayaan intelektual (intellectual property rights) dalam garis besarnya mencakup hak cipta. Di luar itu. Sementara untuk desain produk industri sampai sekarang belum diatur secara khusus dalam suatu undang-undang. merek. Prinsipprinsip itu antara lain adalah prinsip. yang memaksa Negara anggota untuk lebih terbuka dalam ketentuan perundang-undangan dan pelaksanaan anturan nasional dalam bidang perlindungan HAKI. Karena perjanjian putaran Uruguay ini diadakan dalam kerangka pembentukan Badan Perdagangan Dunia (Word Trade Organization) yang menjadi pengganti GATT. undisclosed information (trade secret). merek. UUPK tidak mengatur lagi bidang hak atas kekayaan intelektual (HAKI) ini. dan paten yang diterapkan untuk suatu barang atau jasa adalah benar-benar seperti apa yang ditampilkan. Most favoured-nation atau nondiskriminasi antara pemilik HAKI asing dari suatu Negara dibandingkan dengan pemilik HAKI asing dari Negara lain 3. UUPK secara khusus mengecualikan pengaturan hak – hak konsumen yang muncul dalam bidang HAKI. kkhususnya yang ada di luar negeri.merek.5 Tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Hak atas kekayaan intelektual adalah hak – hak yang diberikan kepada pelaku usaha untuk monopoli. Hokum dibidang HAKI ini termasuk subtansi hokum yang sangat pesat perkembangannya. serta perjanjian yang berkaitan dengan waralaba. Undang – Undang No. Hal ini secara jelas tampak dari dimasukkannya perjanjian mengenai Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) sebagai salah satu perjanjian utama yang dihasilkan oleh perundingan Putaran Uruguay itu setelah diadakan ratifikasi. paten. dinyatakan bahwa larangan monopoli itu tidak berlaku untuk perjanjian yang berkaitan dengan hak atas kekayaan intelektual. sebenarnya konsumen hanya berkepentingan agar ciptaan. Transparancy. . Undang – Undang No. rangkaiaan elektronika terpadu. Oktober 1994 (Undang-Undang No. dan desai produk industry. 1. desain produk indutri. dan paten itu ternyata tidak seperti yang dibayangkan karena dipalsukan oleh pelaku usaha. seperti lisensi. merek dagang. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Ketiga undang-undang tersebut dilengkapi pula dengan peraturan pelaksanaannya. 7 Tahun 1994). untuk mengetahui hak – hak konsumen bidang tersebut. yakni pemilik hak atas kekayaan intelektual (HAKI) asing harus diberi perlindungan yang sama dengan warga Negara dari Negara yang bersangkutan. tidak mengherankan jika dalam Pasal 50 Undang – Undang No. seperti layout design. Tiga jenis hak yang terakhr dikenal juga sebagai hak milik industry (industrial property rights). Ironisnya. kita perlu melihat pengaturannya dalam undang – undang yang lain. paten. Undang – Undang No. tetapi terlebih—lebih untuk melindungi produsen.

Indikasi asal tidak didaftarkan. Indikasi geografis ini bukan termasuk merek. huruf atau kombinasi dari unsureunsur tersebut. Tanda teresbut dapat berupa nama. dan sangat erat kaitannya dengan perlindungan konsumen adalah tentang indikasi geografi dan indikasi asal.15 Tahun 2001 menyebutkan indikasi itu hanya untuk produk barang. misalnya berupa eitket atau label yang dilekatkan pada barang yang dihasilkan. Dari Pasal 59. Undang-undang No. walaupun boleh jadi penerapannya tidak sesederhana yang dibayangkan. 15 Tahun 2001 adalah tentang Indikasi asal. indikasi asal tidak perlu didaftarkan karena secara otomatis akan dilindungi. Undang – Undang No. Nama – nama perusahaan asuransi jiwa seperti. atau kombinasi dari kedua factor tersebut memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan. Prancis. 15 Tahun 2001 juga di ajukan oleh kelompok konsumen dari barang – barang tersebut. Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 tergolong perusahaan asuransi yang cukup . Contoh dari barang yang berindikasi geografis adalah anggur Champaigne. mungkin kita juga dapat menggunakan prinsip yang sama untuk produk seperti “dodol Garut” atau “ martabak Bangka”.Salah satu ketentuan yang barangkali termasuk baru dalam masalah HAKI ini. Di Indonesia memang belum lazim terbentuk asosiasi atau kelompok konsumen dari barang – barang tertentu. Berbekal putusan itu. Dimasa mendatang aka nada kelompok konsumen yang menyebut dirinya sebagai “pencinta dodol Garut” atau “ konsumen tembakau Deli” yang secara sepihak bersedia mengajukan permintaan perlindungan indikasi geografis atas produk yang mereka konsumsi. tetapi harus melalui putusannya pengadilan. Pemakai hak atas indikasi asal dapat saja meningkatkan haknya menjadi pemegang hak. sekalipun memenuhi semua unsure untuk disebutkan sebagai indikasi geografis. seharusnya istilah “pemegang hak” tidak digunakan karena memang hak atas indikasi asal itu. Factor pertama memberikan petunjuk. Padahal dalam indikasi geografis. Oleh karena itu. Catatan lain tehadap indikasi asal ini adalah penggunaan kata barang dan jasa. Sangat menarik. dapat disimpulkan ada dua factor pembedaanya dengan indikasi geogarfis. Produsen dan pelaku usaha anggur manapun diluar daerah itu tidak diperkenalkan memakai label “anggur Champaigne” dalam produk mereka. dan 2. tempat. F. ia dapat mengehentikan kegiatan usaha dari pelaku usaha lainnya. Mengenai hal ini UUPK mencantumkannya dalam Pasal 9 ayat (1) huruf h. Untuk kondisi di Indonesia. 15 Tahun 2001 memberikan pengertian tentang indikasi geografis sebagai : “tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang yang karena factor lingkungan geografis termasuk alam. kata. ASURANSI Yusuf Shofie mengutamakan bahwa bisnis perasuransian di Indonesia hampir sama tuanya dengan bisnis perbankan. yaitu: 1. melainkan tanda. daerah atau wilayah. yang artinya diproduksi oleh produsen anggur dari daerah Champaigne. gambar. bahwa dalam indifikasi geografis menurut pasal 56 ayat (2) Undang – Undang No. Akan lebih tepat jika digunakan istilah “pemakai hak”. Istilah lain yang diatur dalam Undang – Undang No. factor manusia. Kesalahan ini tentu cukup fundamental dan sangat berpengaruh terhadap upaya perlindungan hak – hak konsumen. Indikasi asal itu meliputi produk baik berupa barang maupun jasa.

Persaingan mendapatkan konsumen memang terjadi dikalangan perusahaan asuransi. padahal sejalan dengan semakin konpleksnya aktifitas pelaku ekonomi (pemerintah. asuransi dibedakan menjadi dua jenis. Karena besarnya resiko ini dapat diukur dengan nilai barang yang mengalami peristiwa diluar kesalahan pemiliknya. Dalam .M. industry perasuransian kurang banyak dapat perhatian konsumen. jaminan social tenaga kerja (diselenggarakan astek berdasarkan Undang – Undang No. dan lain – lain. perusahaan swasta. meskipun kesan itu tak semuanya benar. tak mau kalah dalam persaingan bisnis ini. Sewu New York Life. Dalam pada itu. bahkan cenderung merugikannya.taspen berdasarkan peraturan pemerintah No. apalagi dalam era perdagangan. manfaat peralihan resiko inilah yang diperoleh konsumen. tradisi berasuransi masih dianggap hal baru oleh sebagian masyarakat konsumen. Asuransi Cigna Indonesia. yaitu ketidak pastian dan kerugian. H. misalnya asuransi kerbakaran. asuransi yang bersifat suka rela. maka resiko ini dapat di alihkan kepada perusahaan asuransi kerugian dalam bentuk pembayaran klaim asuransi. tak tanggung – tanggung pemerintah telah mengeluarkan paket kebijakan 20 Desember 1988.25 tahun 1981). Pada tahun 1991 pernah terjadi persaingan premi perusahaan asuransi telah membuat suatu pilihan untuk mendapatkan konsumen sebanyak – banyaknya tanpa memperhitungkan apakah penetapan besarnya premi yang tidak proporsional tersebut dapat dipertanggung jawabkan dari sisi underwriting. asuransi jiwa. dan sebagainya. Dibandingkan industry perbankan.undang No. Tidak mudah mencari tahu seberapa jauh pemahaman konsumen pada umumnya tehadap produk – produk asuransi. Sebagian konsumen cenderung memisahkan sebagian penghasilannya untuk disimpan dibank dari pada digunakan untuk asuransi. berbagai resiko senantiasa mengincar konsumen setiap saat. reasuransi. sehingga produk itu tidak marketable. Kedua. Untuk mendorong kegiatan perarsuransian di Indonesia. asuransi kendaraan bermotor. asuransi abri ( dikelola berdasarkan peraturan pemerintah No. asuransi yang bersifat wajib berdasarkan ketentuan undang – undang misalnya pertanggungan wajib kecelakaan penumpang ( Undang . 33 tahun 1964). Ansuransi Jiwa Buana Putra. Lippo Life. Ansuransi Astra Buana. petanggungan jawab kecelakaan lalulintas jalan (Undang – Undang No. Konsumen masih sering merasakan bahwa asuransi tak melindungi aktivitasnya. Resiko diartikan pula sebagai kerugianyang tidak pasti. produk – produk asuransi tergolong rumit dan sukar dipahami.Purwo sudjibto memberikan pengertian resiko tidak lain adalah beban kerugian yang diakibatkan karena suatu peristiwa diluar kesalahannya.67 tahun 1991). New Hamshire Agung. didalamnya terdapat dua unsure. dan konsumen). misalnya rumah seseorang tebakar sehingga pemiliknya mengalami kerugian.33 tahun 1964). meliputi asuransi kerugian. Inilah resiko yang harus ditanggung pemiliknya.dikenal masyarakat. Koprasi. terdapat sekitar 130 perusahaan asuransi. Setelah dikeluarkannya paket ketentuan itu. dan asuransi social. Menurut sementara pejabat departemen keuangan RI. asuransi social pegawai negeri (dikelola PT. Pertama. Ditinjau dari sudut sifat dan berlakunya. Pengalihan resiko ini di imbangi dalam bentuk pembayaran premi kepada perusahaan asuransi kerugian setiap bualan atau tahun bergantung pada perjanjian yang tetuang dalam polis.33 tahun 1964). asuransi jiwa. yaitu kemampuan untuk membayar polis kelak akibatnya klaim asuransi konsumen ditolak tanpa alas an yang benar dan patut. Nama – nama terkenal lain seperti Dharmala Manulife. Keikut sertaan konsumen dalam berbagai program dan jenis asuransi sangat pergantung pada pemahaman konsumen terhadap produk yang ditawarkan. BUMN.

Hak untuk mendapatkan advokasi. Hubungan antara perusahaan asuransi dan nasabahnya diatur dalam perjanjian yang mengikat dan disepakati oleh kedua belah pihak. Keluhan – keluhan konsumen sekarang sudah terjawab dengan hadirnya undang – undang perlindungan konsumen. pelindungan dan upaya penyelesaian sengketa secara patuh. 6. perusahaan asuransi harus bersedia menjelaskan isi dan makna kontrak dalam polis hingga konsumen benar –benar memahaminya terhadap konsumen apakah pemakai produk atau pengguna jasa yang merasa dirugikan karena diperjanjikan atau sebagaiman mestinya undang – undang ini menjamin agar meraka mendapat konpensasi atau ganti rugi. tanpa dipahami secara mendalam konsekuensi yuridisnya. Asuransi termasuk jasa yang bisa dinikmati konsumen dengan terlebih dahulu menandatangani polis sebagai bentuk persetujuan keikut sertaan dengan memenuhi kewajiab membayar premi setiap bulan atau tahunnya. Sebagai pihak yang berjanji tertangguang dan penanggung memiliki posisi yang setara dan tidak ada yang dibawah dan di atas. Hak – hak yang diatur dalam ketentuan – ketentuan peraturan perundang – undangan lain.keadaan seperti ini. Artinya. Hak untuk diberlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminasi. Dalam undang – undang ini ditegaskan juga hak konsumen untuk memperoleh informasi yang benar jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang atau jasa yang dibelinya serta hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang atau jasa yang digunakan. Padahal konsumen asuransi sebagaimana tertuang daam UU No. dimana isi perjanjian dibuat dengan kata-kata yang sulit dipahami dan dibuat dalam tulisan kecil-kecil(klausul baku) sehingga kesepakatan tersebut terjadi pada saat nasabah hanya memahami sebagaian kecil dari perjanjian tersebut. nasabah hanya membaca sekilas perjanjian tersebut. Hak untuk memilih barang atau jasa serta mendapatkan barang atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kodis serta jaminan yang dijanjikan. 4. 3. 5. . Masih banyak hak – hak yang diatur dalam UU sehingga posisi konsumen semakin kuat. Permasalahan asuransi adalah permalahan jamak yang penyelesaian akhirnya seringkali membuat konsumen diposisi yang lemah. Namun. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen.8 tahun1999 antara lain : 1. 2. yang membuat para asuransi sering tidak tahu apa yang menjadi haknya. Bedasarkan undang – undang ini konsumen berhak meminta keterangan segala sesuatu yang akan diperjanjikan dalam asuransi dan selaku pihak penjual produk. dalam pelaksaannya posisi antara nasabah dan perusahan asuransi eringkali timpang. Hak atas kenyamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang atau jasa. juga menatapkan mereka dalam posisi tawar yang lebih kuat. yang dibuat dalam semangat reformasi selain memberi perlindungan kepada konsumen. Terbitnya undang – undang No. taka ada perlindungan resiko yang dialami konsumen sebaliknya perusahaan asuransi sudah mendapatkan premi yang dibayarkan konsumen.8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen memberi jaminan supaya hak – hak tertanggung lebih diperhatikan. Hak – hak lainnya yang ditegaskan dalam Undang – undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mempunyai hak untuk mendapatkan kompensasi.

dari klaim Rp7. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen bahwa kewajiban pelaku usaha adalah beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya. apabila barang atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. Bahwa pelaku usaha yang memperdagangkan jasa wajib memenuhi jaminan atau garansi yang disepakati / yang diperjanjikan. Sebab kelalaian petugas penagih premi ( agen asuransi) dalam bentuk tidak disetorkannya premi kepada perusahaan asuransi. konsekuensinya pengeluaran konsumen akan bertambah perbulan atau pertahunnya.6 juta hanya dikabulkan sebesar Rp 590 ribuan saja dengan alas an obat-obatan yang dipakai bukan yang termasuk dalam daftar PT ASKES. dalam hal ini klaim uang pertanggungan setelah masa pertanggungan berakhir (dalam praktik disebut pula “klaim habis kontrak”) diminta untuk memperbarui polis asuransinya dengan alas an petugas penagih premi belum menyerahkan premi asuransi si konsumem kepada perusahaan. Dalam hal petugas premi tidak menyerahkan uang premi konsumen kepada . Keluhan dari konsumen berkaitan dengan klaim asuransi dapat kita lihat dari contoh kasus yang ditujukan pada YLKI yakni sebagai berikut : Bapak Imron saat ini sedang mengajukan klaim asuransi kepada PT ASKES atas perawat di salah satu RS Swasta. Apabila ada klausul yang mengatur tentang pembatasan obat yang harus diterima. Ini membuktikan bahwa perusahaan asuransi tidak dibenarkan mengelak dari tanggung jawabnya. Padahal menurut Undang-Undang No. apabila setelah dicermati tidak ada aturan tentang pembatasan obat yang harus digunakan maka Bapak Imron dapat meminta kompensasi sesuai apa yang menjadi kewajiban dari PT ASKES. Konsekuensinya sepanjang petugas tersebut telah diberi kuasa untuk itu. memberikan informasi yang benar. perlu dilihat apakah dibuat dalam bentuknya yang sulit terlihat. sehingga PT ASKES dapat dituntut seperti apa yang tertuang dalam Pasal 18 ayat (2) UU No. Karena masuk RS melalui Gawat Darurat. Akan tetapi. Apabila konsumen menurut saja. dibebankan kepada konsumen. klaim dapat diterima. Petugas penagih premi memberikan bukti pembayaran premi asuransi yang sah bersamaan atau pada saat konsumen menyerahkan pembayaran uang premi. jelas dan jujur mengenai jaminan barang/jasa serta member penjelasan penggunaan perbaikan dan pemeliharaan.ganti rugi / penggantian. Kasus lain seperti yang diuraikan Yusuf Shofie dimana terkadang konsumen pemegang polis asuransi jiwa yang belum waktunya mengajukan klaim asuransi. atau pengungkapannya sulit dimengerti. diterima atau ada jalan lain. masalahnya adalah obat-obatan tersebut yang memilihkan dokter yang merawat. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengenai klausal baku. Saran dari YLKI adalah melihat kembali perjanjian antara PT Askes dengan Bapak Imron selaku konsumen dari perusahaan asuransi. bertindak untuk dan atas nama perusahaan asuransi. dan ia akan berada pada posisi yang sangat dirugikan. Pembaruan polis itu membawa akibat jumlah premi yang harus dibayarkan meningkat. atatu yang pengungkapannya sulit dimengerti. Dalam hal ini harusbagaimana bersikap. Padahal konsumen sudah membayar preminya. baik secara perorangan ataupun badan hokum. segala tindakannya menjadi tanggung jawab perusahaan asuransi. 2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian. petugas penagih premi. Dalam hal ini pelaku usaha dapat diminta tanggung jawab atas kewajibannya sesuai Pasal 7 UU No. Pelaku usaha dilarang mencantukan klausul baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas.

Alasan yang dicari-cari untuk menolak klaim konsumen seharusnya dihindarkan asas iktikad baik harus diutamakan dalam pelaksanaan perjanjian asuransi. asuransi menjadi lapse atau perlindungan tak lagi dijamin. daftar atau table nilai tunai ini pada prinsipnya wajib diinformasikan kepada konsumen. lebih baik konsumen tunda dulu kebutuhan berasuransi. Apabila besarnya premi yang ditawarkan sangat mempengaruhi pengeluaran konsumen dalam sebulan atau setahun. dalam hal ini Pasal 302-308 KUHD. baik dalam polis maupun syarat-syarat umum polis dibuat secara berimbang dan tidak merugikan konsumen dan perusahaan asuransi. nilai tunai selama masa pertanggungan. konsumen diharapkan tidak mudah tergiur terhadap berbagai manfaat mengikuti asuransi tersebut. tidak boleh merugikan konsumen serta tidak mengancam kelangsungan perusahaan asuransi. di mata hokum tidak ada lagi kawan dan bukan kawan atau relasi dan bukan relasi. serta syarat-syarat umum polis. Dianjurkan agar konsumen tidak mudah tertarik dengan besarnya uang pertanggungan. Semakin besar uang pertanggungan. serta ketentuan-ketentuan instansi Pembina perasuransian. baik dengan menggunakan mata uang dalam negeri maupun luar negeri. Secara umum inilah yang disebut sebagai perjanjian konsensual. ketika petugas sales promotion menawarkan produk asuransi. yaitu perjanjian asuransi bertujuan memberikan ganti rugi terhadap kerugian yang diderita oleh tertanggung yang disebabkan oleh bahaya sebagaimana ditentuka dalam polis. . Karenanya bila konsumen didatangi petugas sales promotion perusahaan asuransi jiwa.5 niliar berdasarka UndangUndang Usaha Perasuransian. semakin kecil besarnya premi. Selaanjutnya perusahaan asuransi akan membayarkan nilai tunainya sesuai masa pertanggungan yang telah dijalani konsumen. semakin muda usia konsumen.perusahaan asuransi sekalipun telah diperingatkan atau bahkan malah menghilang. yaitu: 1. Keterikatan hubungan konsumen dengan pihak perusahaan asuransi muncul sejak adanya kata sepakat dari pihak konsumen kepada perusahaan asuransi. Apabila tidak diminta atas desakan konsumen. Terutama dalam penetapan besarnya premi. Subtansi polis tunduk pada ketentuan-ketentuan tentang pertanggungan yang diatutr dalam KItab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD). Seringkali dengan terbitnya polis itu berarti secara serta merta konsumen tunduk pada syarat-syarat umum polis yang dibuat secara sepihak oleh perusahaan asuransi. 2 Tahun 1992. sebagian perusahaan asuransi enggan menjelaskan system perhitungan besarnya premi yang harus dibayarkan. Disamping itu terdapat keharusan menyelesaikan klaim asuransi denagn sebaik-baiknya. Prinsip Indemnity. semakin besar pula premi yang harus dibayarkan. Besarnya nilai tunai itu tercantum dalam daftar atau table yang dilampirkan atau merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari polis asuransi. Demikian pula. Keterikatan itu dibuktikan dengn diterbitkan polis. Sedangkan kegiatan perusahaan asuransi tunduk pada Undang-Undang No. Secara umum prinsip-prinsip yang berlaku dalam perjanjian asuransi. Tak jarang petugas itu ternyata masih relasi konsumen sehingga mudah bagi konsumen untuk mengiyakannya. petugas itu patut diduga melakukan penggelapan asuransi yang dapat diancam hukkuman maksimal 15 tahun dan denda maksimal Rp 2. dalam hal ini Menteri Keuangan Republik Indonesia. Apabila sudah menjumpai masalah. Semestinya ketentuan yang tertuang. Kecermatan menghitung besar nya premi dan membandingkannya dengan penghasilan perbulan. Padahal kedekatan petugas dengan konsumen tidak akan berpengaruh terhadap berbagai konsekuensi hokum keikutsertaan konsumen dalam asuransi. Dalam hal pembayaran premi menunggak. menghindarkan konsumen dari tertunggaknya pembayaran premi.

Masa berlakunya polis berkisar 10. yaitu bila tertanggung telah menerima ganti rugi ternyata mempunyai tagihan kepada pihak lain. Penetapan lamanya masa pertanggungan atas dasar kesepakatan kedua belah pihak. klausul itu harus dicetak sedemikian rupa supaya mudah diketahui. Jenis asuransi ini memberikan beasiswa untuk anak konsumen pada waktu yang telah ditentukan selama masa pertanggungan. Jenis asuransi. dengn sendirinya sama dengan masa pembayaran premi asuransi jiwa yang diikuti konsumen 6. Untuk ini diperlukan pemahaman konsumen terhadap produk-produk asuransi jiwa yang ditawarkan. Besarnya manfaat yang diperoleh tertanggung / pihak yang ditunjuk bergantung pada . meliputi: penanggung. apabila konsumen meninggal dunia dalam masa pertanggungan. menguraikan mengenai hal-hal yang biasanya dituangkan dalam polis asuransi jiwa dan ketentuan umum polis dan harus diperhatikan adalah sebagai berikut: 1. yaitu pihak yang bermaksud akan mengasuransikan sesuatu harus mempunyai kepentingan dengan objek yang diasuransikan. Manfaat asuransi. Prinsip subrogasi. kepentingan mana dinilai dengan uang. 225/KMK. Sebagai contoh mengenai isi perjanjian asuransi. disamping menerima uang pertanggungan. 4. Dalam hal dicantumkan klausul pengecualian tentang resiko yang ditutup.017/1993 tentang Penyelenggaraan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan reasuransi. Janagn heran. Pihak-pihak yang terikat dalam perjanjian. Besarnya premi yang dibayarkan hendaknya dihitung dan dipahami secara teliti oleh konsumen sesuai dengan kemampuan keuangan konsumen. dan hak itu beralih kepada penanggung Agar is polis tidak merugikan tertanggung. anak konsumen akan tetap menerima beasiswa pada waktu yang telah ditentukan dalam polis 3. Jumlah uang pertanggungan sesuai kesepakatan kedua belah pihak. sehingga harus menolak pembayaran klaim. Terlalu mudah menurut besarnya premi yang ditawarkan petugas asuransi akan membuat kesulitan bagi konsumen dikemudian hari. Prinsip kejujuran sempurna yaitu kewajiban tertanggung menginformasikan segala sesuattu yang diketahuinya mengenai objek yang dipertanggungkan secara benar. misalnya akan terjadi penunggakan pembayaran premi asuransi 5. pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan Indonesia No.2.15 atau 20 tahun. baik Karena terjadinya resiko kematian pada tertanggung atau berakhirnya masa pertanggungan. maka tertanggung tidak berhak menerimanya. Besarnya jumlah uang pertanggungan ini akan berpengaruh pula terhadap besarnya premi yang dibayarkan 4.pertanggungan jiwa yang diikuti konsumen. Dalam polis dilarang pencantuman klausul yang dapat ditafsirkan bahwa tertanggung tidak dapat melakukan upaya hokum. 3. terdapat pula produk asuransi jiwa yang dikemas dengan program beasiswa berencana. 2. yakni sejumlah pembayaran dan kompensasi yang menjadi hak konsumen atau pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran. Prinsip kepentingan. pihak yang ditunjuk untuk menerima uang pertanggungan. pemegang polis.

[pemberian keterangan/ pernyataan tersebut diberikan sebelum diterbitkannya polis (perjanjian) asuransi. tidak membebaskan pemengang polis dari kewajibannya untuk selalu melunasi premi asuransi”. Polis konsumen dapat saja terancam batal dengan alas an pembayaran premi tertunggak. bukti pembayaran premi terakhir. seperti penagihan premi ke alamat rumah/kantor konsumen. persoalan muncul bila petugas penagih premi membawa lari uang premi tertanggung.jenis asuransi jiwa yang diikuti. bukti pembayaran premi terakhir c. pada hakikatnya salah satu bentuk pemasaran asuransi.dan bukti identitas yang bersangkutan kepada perusahaan asuransi. 7. Kemudahan pelayanan pembayaran premi. Untuk kepentingan hokum konsumen. Perusahaan asuransi mematahkan argumentasi konsumen dengan rumusan pasal :” penagihan premi asuransi di alamat penagihan atau melalui cara penagihan lainnya yang diselenggarakan perusahaan asuransi. bukti identitas yang bersangkutan d. tertanggung menyerahkan polis asuransi jiwa. Pemahaman konsumen terhadap produk asuransi jiwa mutlak sangat diperlukan. atas berbagai bentuk pelayanan pembayaran premi yang ditawarkan perusahaan asuransi. hendaknya konsumen membiasakan tertib adminisdtrasi dengan meminta bahkan mendesak perusahaan asuransi untuk memberikan bukti pengajuan pembayaran pancairan klaim manfaat asuransi. Sebelum menerima pembayaran itu. pemengang polis memeberikan keterangan atau persyaratan tidak jujur atau sengaja dipalsukan pada waktu mengisi formulir – formulir yang disi0terlebih dahulu oleh perusahaan asuransi. penagian premi lewat kartu kredit. b. sebagai berikut: a. 9. pengajuan klaim dilengkapi persyaratan : a. Pembatalan polis sering dilakukan secara sepihak oleh perusahaan asuransi dalam hal terpenuhinya satu atau lebih syarat. Selambat – lambatnya dalam masa leluasa (biasanya kurang lebih 3 bulan) sejak tertunggaknya pembayaran premi tertanggung belum juga melunasi pembayarannya. . sebaiknya konsumen tetap mewaspadai. 8. meskipun tertanggung masih hidup. konsumen sering disudutkan solah –olah menunggak pembayaran premi. dan sebagainya. Tata cara pembayaran manfaat asuransi. Dalam hal tertanggungmeninggal dunia. Tata cara penagihan/pembayaran premi asuransi. Dalam syarat – syarat umum polis yang tertuang dalam rumusan kalimat yang kecil – kecil (sering kali sulit dibaca saking kecilnya). maka pihak yang ditunjuk untuk menerima manfaat asuransi segera mengajukan klaim pembayaran manfaat asuransi. polis asuransi jiwa b. Bila argumentasi konsumen merujuk pada kelalaian petugas. surat keterangan dokter/ pejabat yang berwenang menerangkan sebab-sebab meninggalnya tertanggung berakhirnya masa pertanggungan dengan sendirinya mewajibkan perusahaan asuransi membayarkan manfaat asuransi.

tertanggung meninggal dunia karena perkelahian. yaitu pihak yang ditunjuk untuk menerima uang pertanggung. Ketidak adilan subtansi syarat – syarat umum polis. terdapat phenomena untuk mempersulit pengajuan klaim manfaat asuransi jiwa. Penetapan atau pematokan curve secara sepihak terhadap klaim nilai tunai dan jatuh tempo pada polis asuransi jiwa yang dippertanggungkan dengan mata uang asing. penyelewengan uang pembayaran premi konsumen oleh petugas asuransi yang berakibat dilakukannya “pemutihan” polis asuransi konsumen dengan kondisi yang baru. kecuali sebagai pihak yang membela diri. yaitu menolak klaim yyang seharusnya dibayarkan. 10. polis menentukan bahwa pembayaran premi asuransi atau klaim asuransi . Tidak hanya itu. Apabila ini sering terjadi. memberi hak kepada konsumenatas pembayaran nilai tunai bila polisnya telah mempunyai nilai tunai. alas an – alas an sebagai mana disebut pada butir 9 a dan b diatas digunakan perusahaan asuransi dengan iktikad baik. Berkas pengajuan klaim sudah dipenuhi pihak yang ditunujuk untuk menerima manfaat asuransi. terutama dolar amerika serikat padahal polis dan ketentuan umum. Sangat dianjurkan kepada konsumen untuk meminta penjelasan secara terperinci mengenai peritungan nilai tunai itu sebelum konsumen menyutujui mengikuti asuransi jiwa. tidak memberikan hak apa pun kepada konsumen untuk menuntut pembayaran. perincian besarnya nilai tunai itu sesuai dengan daftar yang dilampirkan pada polis. Penolakan pembayaran klaim manfaat asuransi terjadi dalam hal : a. tertanggung meninggal dunia karena kejahatan yang dilakukannya c. maka pihak perusahaan asuransi dibebaskan untuk tidak membayar apapun kepada pihak ketiga itu. Sebaliknya pembatalan polis pada butir b. ternyata klaimnya ditunda sampai memakan waktu 3 minggu atau bahkan lebih dengan alas an berkasnya tidak lengkap. masyarakat konsumen akan semakin jauh dari asuransi jiwa. 2. Walaupun perusahaan asuransi menolak pembayarannya berdasarkan salah satu alas an itu. tertanggung meninggal dunia karena bunuh diri b. Sebaliknya. bila tertanggung terbukti meninggal dunia akibat kejahatan yang dilakukan pihak ketiga. Premi yang akan dibayarkan menjadi lebih tinggi dari sebelm dilakukan pemutihan. perusahaan asuransi tetap berkewajiban membayar nilai tunainya atas polis yang telah memiliki nilai tunai. Lebih baik menyimpan dibank yang sewaktu – waktu bisa diambil kembali ketika diperlukan. yaitu bila tertanggung mengalami kecelakaan yang berakibat cacat tetap sebagian diberikan santunan sesuai persentase dalam table polis sebaliknya bila berakibat cacat total tetap tidak diberikan santunan apapun. Dalamperaktik peransuransian. 3. Pastikan pula informasi nilai tunai yang diinformasikan itu tidak berbeda dengan yang dilampirkan pada polis asuransi. Pada tahun 1996 – 1998 YLKI menerima beberapa pengaduan asuransi yang dapat diringkas sebagai berikut : 1.Konsekuensi pembatalan polis berdasarkan alas an butir a. kecuali consumen dapat membuktikan keterangan atau pernyataannya deiberikan secara jujur dan benar.

tindakkan petugas itu menjadi tanggung jawab perusahaan asuransi. bertindak untuk dan atas nama perusahaan asuransi. melakukan praktik dengan benar. uang premi yang dibayarkan oleh konsumen menjadi semakin tinggi: apalagi semakin tua usia konsumen. efesiensi birokrasi dalam pencairan klaim. Namun domisili perusahaan asuransi tersebut tidak tetap. Perusahaan asuransi seharunya melayani dan melindungi sebaik –baiknya konsumen yang mengalami kejadian ini. lebih teliti dan menyerap informasi produk dari perusahaan asuransi tersebut. semakin besar premi yang harus dibayarkannya. Ibarat berjalan di atas buih air.. . tindakan pembatalan polis ini sama saja dengan sikap mengelakn dari tanggung jawab yang dibebakan hokum kepada perusahaan asuransi. Menyikapi hak konsumen atas informasi produk asuransi. premi dari tertanggung (konsumen) berupa emas. dalam kasus ini konsumen jelas dirugikan karena terikat dengan perjanjian yang tidak jelas dan dalam pelaksanaannya tidak ada iktikad baik dari pelaku usaha. bukan dengan melakukan pembatalan polisnya untuk kemudian diikuti dengan pembaruan polis. Hendaknya petugas asuransi tidak mendesak konsumen untuk segera mengikuti perjanjian asuransi sebelum calon konsumen mempelajari dasn mengalami betul seluk beluk produk asuransi yang ditawarkan informasi yang disampaiikan secara tidak jujur dan proposioanal kepada calon konsumen sebenarnya menunujukan adanya dugaan kejahatan penipuan terhadap konsumen. baik perorangan atau pun badan hokum. namun konsumen harus hati – hati. bahkan Undang – undang No. tata cara perhitungan premi dan nilai tunai. modal tidak jelas akhirnya waktu jatuh tempo premi yang berupa emas tersebut dilarikan. kurang kompeten. konsumen harus tetap was pada. Semartono selaku kepala disperindag sekaligus ketua BPSK kota malang memberikan masukan agar konsumen lebih berhati – hati serta teliti dalam membeli produk asuransi. dari isi perjanjian memang menjanjikan bagi konsumen karena masing – masing perusahaan asuransi mempunyai aturan – aturan sendiri. tidak ada perebutan nasabah di lapangan. serta ada pelayanan optimal bagi konsumen. Menurut Laily Zuriah selaku sekretaris BPSK Kota malang untuk kasus asuransi.bukan kah petugas premi. seharusnya pihak asuransi tidak hanya membekali petugas pemsarannya dengan berbagai keunggulan produk asuransinya tetapi mengenai juga ketentuan umum polis. Pembatalan polis seperti ini tentunya sangat merugikan konsumen dengan melakukan pembaruan polis. Iklim deregulasi hokum. karena terkadang informasi awal dari suatu produk asuransi belum belum tentu sesuai dengan yang dijanjikan dalam pelksanaannya sebaliknya meminta bukti otentik sebagai dokumen tertulis pasda waktu pembayaran premi. tempat kedudukan tidak jelas. Laily memperjelaskan dengan memberikan contoh mengenai perusahaan asuransi swasta. Mengenai perjanjian asuransi terkadang terjadi karena rotasi petugas asuransi maka polis tersebut hilang dalam kerangka hokum perusahaan asuransi harus melakukan pengawasan terhadap petugasnya yang ada dilapangan sebagai bentuk tanggung jawab dan perlindungan hokum bagi konsumen dengan memberikan informasi yang benar dalam polis perusahaan asuransi dikelola lebih proposional. Yang terakhir ini wajib pula diinformasikan kepada calon konsumen secara jujur da proposional.diperhitungkan menurut kurs Bank Indonesia atau kurs yang berlaku sesuai pengumuman otoritas moneter pada saat jatuh tempo.? konsekuensinya. Apabila konsumen ragu – ragu supaya tidak memberi harapan pada pihak pemasaran. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen belum cukup untuk melindungi konsumen.

larangan yang ditentukan oleh kepatutan. melainkan karena inisiatif dari pihak yang sengketa dalam hal ini pengugat baik itu produsen atau pun konsumen pengadilan yang memberikan pemecahan atas hokum perdata yang tidak dapat bekerja di antara para pihak secara suka rela. Pasal ini haruslah ditafsirkan bahwa bukan hanya ketentuan kebiasaan dan undang – undang yang membolehkan atau berisi suruhan saja yang mengikat atau berlaku bagi suatu perjanjian tetapi juga ketentuan yang melarang mengikat atau berlaku bagi perjanjian itu. kebiasaan dan undang – undang merupakan juga syarat – syarat dari satu perjanjian. Oleh karena itu perjanjian baku dalam hal ini termasuk polis asuransi mengandung aspek positif dan asfek negative. . Pasal 1337 BW menentukan: suatu kausa adalah terlarang. Dengan kata lain. atau undang – undang. Masuknya suatu sengketa kedepan pengadilan bukanlah karena kegiatan sang hakim. dan/atau ketertiban umum. BAB 8 PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN A. Pasal 45 ayat 1 UUPK menyatakan : 1. Aspek negatifnya pihak yang berminat. memakai jasa konsumen. Entah salah satu pakar hokum perjanjian dan akademisi di malang menjelaskan bahwa dengan pelaksanaan “asas kebebasan berkontrak” yang melahirkan perjanjian baku termasuk asuransi polis asuransi secara umum terbatasi atau dikendalikan oleh ketentuan – ketentuan sebagi berikut: 1. pelanggan dan lain – lain tidak dapat berbuat sesuatu kecuali terpaksa menerima persyaratan yang disodorkan embel – embel take it or leave it baru menyadari kalau dia berada dalam posisi yang lemah kalau mengalami kerugian. apabila kausa itu dilarang oleh undang – undang atau bertentangan dengan modal atau dengan ketertiban umum. Terhadap syarat – syarat baku terhadap masyarakat kita belum memperhatikan kecuali mereka yang pernah mengajukan klaim ganti rugi. PENYELESAIAN SENGEKETA DIPERADILAN UMUM Sengketa konsumen dibatasi pada sengketa perdata. kebiasaan. Pasal 1339 BW menentukan : perjanjian – perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal – hal yang dengan tegas dinyatakan didalamnya tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat dari persetujuan itu diharuskan oleh kepatutan. modal. Setiap konsumen yang dirugikan dapat mengugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui pradilan yang berada di lingkungan umum. 3. Istilah produsen berperkara didahului dengan pendaftaran surat gugatan dikepanitraan perkara perdata dipengadilan negeri. Aspek positifnya ialah perjanjian baku yang dibuat sepihak oleh penangguh mengurangi biaya pembuatan dan waktu berunding di antara para pihak. 2. pasal ini ditafsirkan bahwa isi atau klausul – klausul suatu perjanjian tidak boleh bertentangan dengan undang – undang.Menurut Aloysius R. Pasal 1338 ayat (3) BW menentukan semua perjanjian yang dibuat pihak – pihak harus dilaksanakan dengan iktikad baik. Sebelumnya itu berarti surat gugatan harus sudah dipersiapkan terlebih dahulu secara teliti dan cermat.

Sekelompok konsumen yang mempunyai yang sama 3. Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu pihak atau oleh pihak yang bersengketa. Hal yang dikemukan terakhir ini dapat terjadi. misalnya dibidang administrasi Negara. konsumen yang dirugikan haknya. . tidak hanya diwakilkan oleh jaksa dalam penuntutan peradilan umum untuk kasus pidana tetapi ia sendiri dapat juga mengugat pihak lain lingkungan peradilan tata usaha Negara jika terdapat sengeketa administrasi didalamnya. sehingga sengketa konsumen ini pun dapat bersifat trans nasional. mengingat makin banyaknya perusahaan multinasional yang beroprasi di Indonesia juga tidak menutup kemungkinan ada konsumen yang menggugat pelaku usaha diperadilan Negara lain. Penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau diluar pengadilan berdasarkan pilihan suka rela para pihak yang bersengketa. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 tidak menghilangkan tanggung jawab pidana sebagai mana diatur dalam undang – undang. Seorang konsumen yang dirugikan yang bersangkutan 2. pihak konsumen yang diberikan hak konsumen mengajukan gugatan menurut pasal 46 UUPK adalah : 1. Pemerintah terkait jika barang dan jasa yang konsumsi mengakibatkan kerugian materi yang besar dan korban yang tidak sedikit.2. 4. 3. Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat. 4. Dalam kasus perdata diperadilan negeri . yaitu berbentuk badan hokum atau yayasan yang dalam anggaran dasarnya menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan yang didirikannya organisasi itu ialah untuk kepentingan perlindungan konsumen dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggran dasar. Dari pernyataan pasal 45 ayat 3 jelas seharusnya bukan hanya tanggung jawab pidana yang tetap dibuka kesempatannya untuk diperkarakan melainkan juga tanggung jawab lainnya. misalnya dalam kaitannya dengan kebijakan aparat pemerintah yang ternyata dipandang merugikan konsumen secara individual bahkan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->