HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN OLEH: CELINA TRI SIWI KRISTIYANTI, S.H., M.Hum.

DOSEN: H. ZULKARNAIN IBRAHIM, S.H., M.Hum.

OLEH:
YOPI PEBRI (hlm 1-32) 02091401012 FARID AKBAR (hlm 33-68) 02091401089 INDAH PERMATA (hlm 69-100) 02091401043 FIRANDHIKA (hlm 101-134) 02091401073 BUNGA SUKMAWATI (hlm 135-170) 02091401049 LANIARI RIZKI (hlm 171-202) 02091401193

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SRIWIJAYA KAMPUS PALEMBANG TAHUN AJARAN 2010/2011

BAB 1 LATAR BELAKANG HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN

A.PENGANTAR Hukum perlindungan konsumen dewasa ini mendapat cukup perhatian karena menyangkut aturan-aturan guna mensejahterakan masyarakat, bukan saja masyarakat selaku konsumen saja yang mendapat perlindungan, namun pelaku usaha juga mempunyai hak yang sama untuk mendapat perlindungan, masing-masing ada hak dan kewajiban. Pemerintah berperan mengatur, mengawasi dan mengontrol, sehingga tercipta sistem yang kondusif saling berkaitan satu dengn yang lain dengan demikian tujuan menyejahterakan masyarakat secara luas dapat tercapai. Perhatian terhada perlindungan konsumen, terutama di amerika serikat (19601970-an) mengalami perkembangan yang sangat signifikan dan menjadi objek kajian bidang ekonomi, sosial, politik, dan hukum. Banyak sekali artikel dan buku yang ditulis berkenaan dengan gerakan ini. Di Amerika Serikat bahkan pada era tahuntahun tersebut berhasil diundangkan banyak peraturan dan dijatuhkan putusan-putusan hakim yang memperkuat kedudukan konsumen. Fokus gerakan perlindungan konsumen (konsumerisme) dewasa ini sebenar nya masih paralel dengan gerakan pertengahan abad ke-20. Di indonesia, gerakan perlindungan konsumen menggema dari gerakan serupa di Amerika Serikat. YLKI yang secara populer di pandang sebagai perintis advokasi konsumen di indonesia berdiri pada kurun waktu itu, yakni 11 mei 1973. Gerakan di indonesia ini termasuk cukup responsif terhadap keadaan, bahkan mendahului Resolusi Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC) No. 2111 Tahun 1978 tentang Perlindungan Konsumen. Sekali pun demikian, tidak berarti sebelum ada YLKI perhatian terhadap konsumen di Indonesia sama sekali terabaikan. Beberapa produk hukum yang ada, bahkan yang diberlakukan sejak zaman kolonial menyinggung sendi-sendi penting perlindungan konsumen. Dilihat dari kuantitas dan materi muatan produk huum itu dibanding kan dengan keadaan di negara-negara maju (terutama Amerika Serikat), kondisi di indonesia masih jauh menggembirakan. Walaupun begitu, keberadaan peraturan hukum bukan satu-satunya ukuran untuk menilai keberhasilan gerakan perlindungan konsumen. Gerakan ini seharusnya bersifat massal dan membutuhkan kemauan politik yang besar untuk mengapliksikannya. Secara umum,sejarah gerakan perlindungan konsumen dapat dibagi dalam empt tahapan. 1. Tahapan I(1881-1914) Kurun waktu ini titik awal munculnya kesadaran masrayakat untuk melakukan gerakan perlindungan konsumen. Pemicunya, histeria massal akibat novel karya Upton Sinclair berjudul The jungel, yang menggambarkan cara kerja pabrik pengolahan daging di Amerika Serikat yang sangat tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan. 2. Tahapan II (1920-1940) Pada kurun waktu ini muncul pula buku berjudul Your Money’s Worth karya chase dan schlink. Karya ini mampu menggugah konsumen atas hak-hak mereka dalam jual beli. Pada kurun waktu ini muncul slogan: fair deal, best buy. 3. Tahapan III (1950-1960) Pada dekade 1950-an ini muncul keinginan untuk mempersatukan gerakan perlindungan konsumen dalam lingkup internasional. Dengan diprakarsai oleh

wakil-wakil gerakan konsumen dari amerika Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Australia, dan Belgia, pada 1 april 1960 berdirilah internasional Organisasi of Consumer Union. Semula organisasi ini berpusat di den haag, Belanda, lalu pindah ke Londen, Inggris, pada 1993. dua tahun kemudian IOCU mengubah namanya menjadi Consumen Internasional (CI). 4. Tahapan IV (pasca-1965) Pasca 1965 sebagai masa pemantapan gerakan perlindungan konsumen, baik di tingkat regional maupun internasional. Sampai saat ini dibentuk lima kantor regional, yakni Amerika Latin dan karibia berpusat di Cile, Asia pasifik berpusat di malaysia, Afrika berpusat di Zimbabwe, Eropa Timur dan Tengah berpusat di Inggris dan negara-negara maju juga berpusat di London, Inggris. B.LATAR BELAKANG HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN 1. Globalisasi Ekonomi dan Perdagangan Bebas Negri-negri yang sekarang ini disebut negara-negara maju telah menumpuh pembangunannya melalui tiga tingkat: unifikasi, industrialisasi, dan negara kesejaheraan. Pada tingkat pertama yang menjadi masalah berat adalah bagaimana mencapai integrasi politik untuk menciptakan persatuan dan kesatuan nasional. Tingkat kedua, perjuangan untuk pembangunan ekonomi dan modernisasi politik. Akhirnya pada tingkat ketiga tugas negara yang terutama adalah melindungi rakyat dari sisi negatif industrialisasi, membetulkan kesalahan-kesalahan pada tahap-tahap sebelumnya dengan menekankan kesejahteraan masyarakat. Tingkat-tingkat tersebut dilalui secara berurutan (consecutive) dan memakan waktu yang relatife lama. Persatuan nasional adalah persyaratan untuk memasuki tahap industrialisasi. Industrialisasi merupakan jalan untuk mencapai Negara kesejahteraan. Revolusi industri di Inggris yang dimulai pada abad ke-18 kiranya dapat dianggap sebagai awal proses perubahan pola kehidupan masyarakat yang semula merupakan masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Berkembang dan semakin majunya teknologi kemudian mendorong pula peningkatan volume produksi barang dan jasa. Perkembangan ini juga mengubah hubungan antara penyedia produk dan pemakai produk yang semakin beranjak. Produk barang dan jasa yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia semakin lama semakin canggih, sehingga timbul kesenjangan terhadap kebenaran informasi dan daya tanggap konsumen. Kondisi tersebut kemdian menempatkan konsumen dalam posisi yang lemah. Sejak dua dasawarsa terakhir ini perhatian dunia terhadap masalah perlindungan konsumen semakin meningkat. Gerakan perlindungan konsumen sejak lama dikenal di dunia Barat. Negara-negara di Eropa dan Amerika juga telah lama memiliki peraturan tentang Perlindungan Konsumen. Organisasi Dunia seperti PBB tidak kurang perhatiannya terhadap masalah ini. Hal ini terbukti dengan dikeluarkannya Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa No.39/249 Tahun 1985. Dalam resolusi ini kepentingan konsumen yang harus dilindungi meliputi. a. perlindungan konsumen dari bahaya-bahaya terhadap kesehatan dan keamanannya; b. promosi dan perlindungan kepentingan sosial ekonomi konsumen; c. tersedianya informasi yang memadai bagi konsumen untuk memberikan kemampuan mereka dalam melakukan pilihan yang tepat sesuai dengan kehendak dan kebutuhan pribadi; d. pendidikan konsumen;

dalam posisi tunggal/sendiri maupun berkelompok bersama orang lain. Dalam rangka mengejar dan mencapai kedua hal tersebut. Gejala ini dipercepat oleh kemajuan komunikasi dan transportasi teknologi.e. informasi yang tidak jelas bahkan menyesatkan pemalsuan dan sebagainya. seperti kontrak pembuatan barang. Tiadanya perlindungan konsumen adalah sebagian dari gejala negri yang kalah dalam perdagangan bebas. upaya-upaya untuk memberikan perlindungan yang memadai terhadap kepentingan konsumen merupakan suatu hal yamg penting dan mendesak untuk segera dicari solusinya. pada suatu waktu. tersedianya upaya ganti rugi yang efektif. Globalisasi adalah gerakan perluasan pasar. Konsumen yang keberadaannya sangat tidak terbatas dengan strata yang sangat bervariasi menyebabkan produsen melakukan kegiatan pemasaran dan distribusi produk barang atau jasa dengan cara seefektif mungkin agar dapat mencapai mencapai konsumen yang sangat majemuk tersebut. imbal beli. terutama di indonesia. mengingat sedemikian kompleksnya permasalahan yang menyangkut perlindungan konsumen. f. Dampak buruk yang lazim terjadi. Perdagangan bebas juga menambah kesenjangan antara negara maju dan negara pinggiran (periphery). dimana ekonomi indonesia juga telah berkait dengan ekonomi dunia. Globalisasi menyebabkan berkembangnya saling ketergantungan pelaku ekonomi dunia. Keadaan yang universal ini pada beberapa sisi menunjukkan adanya beberapa kelemahan pada konsumen sehingga konsumen tidak mempunyai kedudukan yang “aman’’. lebih-lebih menyongsong era perdagangan bebas yang akan datang. dan lain-lain. alih teknologi. aliansi strategis internasional. Kini transaksi menjadi beraneka ragam dan rumit. Pada masa lalu bisnis internasional hanya dalam bentuk ekspor-impor dan penanaman modal. maka pembahasan perlindungan konsumen akan terasa aktual dan selalu penting untuk dikaji ulang. Oleh karena itu. Mengingat lemahnya kedudukan konsumen pada umumnya dibandingkan dengan kedudukan produsen yang relatif lebih kuat dalam banyak hal. termasuk keadaan yang menjuruspada tindakan yang bersifat negatf bahkan tidak terpujiyang berawal dari iktikad buruk. Persaingan perdagangan internasional dapat membawa implikasi negatif bagi perlindungan konsumen. investasi melewati batas-batas negara. konsumen lah yang pada umumnya merasakan dampaknya. secara mendasar konsumen juga membutuhkan perlindungan hukum yang sifatnya universal. turnkey project. akhirnya baik langsung maupun tidak langsung. meningkatkan intensitas persaingan. Perlindungan terhadap konsumen dipandang secara material maupun formal makin terasa sangat penting. mengingat makin lajunya ilmu pengetahuan dan teknologiyang merupakan motor penggerak bagi produktivitas dan efisiensi produsen atas barang dan jasa yang dihasilkan dalam rangka mencapai sasaran usaha. Dengan demikian. dan disemua pasar yang berdasarkan persaingan.antara lain menyangkut kualitas. Manufaktur. kebebasan untuk membentuk organisasi konsumen. waralaba. . atau mutu barang. selalu ada yang menang dan kalah. perdagangan. perlindungan konsumen harus mendapat perhatian yang lebih. Setiap orang. Untuk itu semua cara pendekatan diupayakan sehingga mungkin menimbulkan berbagai dampak. aktivitas finansial. yang akan membawa akibat pada komposisi masyarakat dan kondisi kehidupan mereka. karena investasi asing telah menjadi bagian pembangunan ekonomi indonesia. dalam keadaan apapun pasti menjadi konsumen untuk suatu produk barang atau jasa tertentu.

Indonesia menjadi salah satu pelaku dalam era pedagangan bebas. sehingga tidaklah dapat dikaji dari aspek hukum semata-mata. promosi dan saluran distribusi. Persaingan yang makin ketat ini juga dapat memberikan dampak negatif terhadap konsumen pada umumnya. ekonomi. promotion. dengan menjual atau membujuk pelanggan potensial untuk menukar uangnya dengan produk perusahaan. Pemikiran konsep secara luas dan kajian dari aspek hukum pun juga membutuhkan wawasan hukum yang luas. and place) produk. sebagaimana tahapan berikut: Pertama.manajemen. Era perdagangan bebas merupakan suatu era kemana pemasaran merupakan suatu disiplin universal.Pada situasi ekonomi global dan menuju eraperdagangan bebas. price. AFTA (Asean Free Trade Area) dan lain-lain. sebagai konsep baru pemasaran. Saat ini sasaran setiap negara. Ketiga. dengan pembaruan dari konsep pemasaran menjadi konsep strategi. Hubungan antara Produsen dan Konsumen Sudah menjadi komitmen Pemerintah Indonesia. masyarakat dan negara). sosial. pada dekade enam puluhan fokus pemasaran dialihkan dari produk kepada pelanggan. yaitu dari laba menjadi keuntungan pihak yang berkepentingan (yaitu orang perorangan atau kelompok yang mempunyai kepentingan dalam kegiatan perusahaan termasuk di dalamnya karyawan. setiap perusahaan (setiap produsen) adalah menuju pada pemasaran global. Untuk itu harus memanfaatkan pelanggan yang ada termasuk pesaing. Disamping itu juga terjadi perubahan pada tujuan pemasaran. cara pandang dan cara pendekatan mengenai banyak hal termasuk strategi pemasaran. Sasaran masih tetap pada laba. Bertolak dari rangkaian perubahan konsep pemasaran tersebut. Perlindungan konsumen dalam era pasar global menjadi sangat penting. Dibandingkan pemerintah dan . sangat tergantung pada kesiapan pemerintah. konsep pemasaran pada awalnya adalah memfokuskan pada produk yang lebih baik yang berdasarkan pada standar dan nilai internal. yaitu dengan pembaruan pemasaran marketing mix atau 4p ( product. Kedua. karena pertama konsumen disamping mempunyai hak-hak yang bersifat universal juga mempunyai hak-hak yang bersifat sangat spesifik (baik situasi maupun kondisi). merupakan dambaan bagi setiap produsen. 2. Berhasil tidaknya Indonesia memanfaatkan era perdagangan bebas. perlindungan terhadap konsumen juga membutuhkan pemikiran yang luas pula. tetapi cara pencapaian mejadi luas. melalui bebagai kesepakatan internasional seperti GATT (General Ageement on Trade and Tarif). Hal ini sangat penting mengingat kepentingan konsumen pada dasar nya sudah ada sejak awal sebelum barang/jasa diproduksi selama dalam proses produksi sampai pada saat distribusi sehingga sampai ditangan konsumen untuk dimanfaatkan secara maksimal. politik secara luas. Hal ini dilakukan dengan tujuan memperoleh laba. mengingat makin ketatnya persaingan untuk berusaha. peraturan pemerintah serta kekuatan makro. harga. pelanggan. Perubahan pemasaran tersebut membawa pengaruh pula pada konsep perlindungan konsumen secara global. Konsep-konsep dipandang dari strategi pemasaran global telah berubah dari waktu ke waktu. WTO (World Trade Organization). Orientasi pemasaran global pada dasarnya dapat mengubah berbagai konsep. dunia usaha dan masyarakat konsumen Indonesia. Konsep strategi pemasaran pada dasrnya mengubah fokus pemasaran dari pelanggan atau produk kepada pelanggan dalam konteks lingkungan eksternal yang lebih luas. kebijakan yang berlaku. upaya mempertahankan pelanggan/konsumen atau mempertahankan pasar atau memperoleh kawasan pasar baru yang lebih luas.

posisi konsumen khususnya di negara berkembang dirugikan. (2) Resale price maintenance: penjual merancang harga yang dapat dibebankan kepada konsumen. Alasannya. Kedua. dengan adanya liberalisasi perdagangan arus keluar masuk barang menjadi semakin lancar. Contoh kasus buah impor. persekongkolan diantara perusahaan yang bersaing untuk mengembangkan produk atau penelitian. Ada dua asumsi dalam melihat posisi konsumen di era pasar bebas. Pertama. c) kartel domestik. b) kartel impor. lemahnya produk perundang-undangan.(b) kartel internasional. sementara di negara bekembang bebas masuk karena belum ada standardisasi mutu buah impor. (4) Reciprokal exclusiveity: penjual menyetujui hanya menjual barang dan jasa dari pemasok saja. praktis belum ada pihak yang menyentuh bagaimana mempersiapkan konsumen Indonesia menghadapi pasar bebas. satu tanggapan defensif oleh perusahaanperusahaan yang membeli barang dari kartel ekspor. bukan sebaliknya justru menjadi musibah. banyak sekali peraturanperaturan yang justru bernuansa anti persaingan. 1) Cross border business agreement.satu perusahaan atau lebih bergerak untuk menciptakan monopoli di luar batas yurisdiksi satu Negara. Anggapan dasar dalam pasar bebas adalah adanya arus informasi yang sempurna yang memberi kemungkinan pada pembeli dan penjual untuk memilih barang dan jasa secara rasional. (5) Refusal to deal: satu pemasok memaksa seseorang pembeli untuk menaati satu mandat tertentu dibawah ancaman penarikan barang dan jasa. persyaratan-persyaratan apa yang harus ada dalam pranata hukum Indonesia. Di negara maju buah impor ditolak karena kandungan/residu pestisida di atas ambang batas yang membahayakan kesehatan. baik berupa barang dan jasa. . b) penetapan target impor.dunia usaha. posisi konsumen diuntungkan. agar era perdagangan bebas bagi konsumen benar-benar menjadi anugrah. a) undang-undang anti dumping. konsumen lebih banyak pilihan dalam menentukan berbagai kebutuhan. maupun harga. satu cara dari perusahaan untuk membatasi akses pasar bagi perusahaan asing. Dalam kenyataan.menurut Customers Internasional (CI) anggapan dasar ini tidak selalu menjadi kenyataan. akan menjadikan konsumen negara dunia ketiga menjadi sampah berbagai produk yang di negara maju tidak memenuhi persyaratan untuk dipasarkan. Oleh karena itu. (7) Predatory pricing: penjual menentukan perbedaan harga dengan tujuan untuk mendorong pesaing keluar dari bisnis. masih lemah nya pengawasan dibidang standardisasi mutu barang. a) merger dan akuisisi. Logika gagasan ini adalah. persetujuan di antara perusahaan atas harga ekspor. c) penetapan kouta ekspor. mutu. 3) Trade policy. Seperti (1) Tied selling: penjual memaksa pembeli untuk membeli barang dan jasa lebih daripada yang dibutuhkan pembeli. (c) persekongkolan bisnis strategis.satu tindakan bersama dari babaraa perusahaan dari berbagai negara untuk membagi pasar dan menetapkan harga. satu cara untuk menangkal purusahaan asing membanjiri barang dan jasa yang lebih murah dari pada harga yang ditetapkan oleh perusahaan di dalam negri. serta adanya kemudahan keluar masuk barang ke dalam pasar tanpa halangan. dari segi jenis/macam barang. (6) Differential pricing: pemasok menentukan harga berbeda kepada pembeli yang berbeda atas dasar selain mutu dan jumlah yang dilepas. Permasalahannya. (3) exclusive dealing: dua penjual atau lebih menciptakan monopoli lokal dengan persetujuan untuk berbagai pasarke dalam wilayah-wilayah. 2) Industrial policy: a) kartel ekspor. mengingat dalam praktik.

dan sebagainya. perlu dipenuhi beberapa persyaratan minimal. maka peran negara sangat dibutuhkandalam rangka melindungi kepentingan konsumen pada umumnya. karna sifatnya yang massal. . yakni adanya permintaan yang meningkat dari masyarakat sehingga produsen dituntut untuk meningkatkan produktivitasnya. cara prosedur produksi. (3) Peningkatan kesadaran konsumen akan hak-haknya. hubungan antara produsen (perusahaan penghasilan barang dan/atau jasa) dengan konsumen (pemakai akhir dari barang dan/atau jasa untuk dari sendiri ataukeluarganya) merupakan hubungan yang terus-menerus dan berkesinambungan. jadi tidak membebani produsen dengan tanggung jawab. yakni adanya permintaan yang meningkat dari masyarakat sehingga produsen dituntut untuk meningkatkan produktifitasnya. Secara umum dan mendasar. Hubungan tersebut terjadi karena keduanya memang saling menghendaki dan mempunyai tingkat ketergantungan yang cukup tinggi antara yang satu dengan yang lain. konsumen kebutuhannya sangat bergantung dari hasil produksi produsen. Namun. hukum ini juga akan mendorong produsen untuk melakukan usaha dengan penuh tanggung jawab. antara lain: (1) hukum perlindungan konsumen harus adil bagi konsumen maupun produsen. Karena sifatnya yang masal tersebut. Secara tidak langsung. semua tujuan tersebut hanya dapat dicapai bila hukum perlindungan konsumen dapat diterapkan secara konsekuen. Untuk mewujutkan harapan tersebut. Tanpa dukungan konsumen. tidak mungkin produsen dapat terjamin kelangsungan usahanya. Hubungan antara produsen dan konsumen yang berkelanjutan sejak proses produksi. Saling ketergantungan karena kebutuhan tersebut dapat menciptakan suatu hubungan yang terus-menerus dan berkesinambungan sepanjang masa. Proses sampai hasil produksi barang atau jasa dilakukan tanpa campur tangan konsumen sedikit pun. Produsen sangat membutuhkan dan sangat bergantung atas dukungan konsumen sebagai pelanggan. syarat lingkungan. Sapai pada tahapan hubungan penyaluran atau distribusi tersebut menghasilkan suatu hubungan yang sifatnya massal. syarat kesehatan. dengan jelas terlihat bahwa kedudukan konsumendi dalam era perdagangan babas sangat lemah.Dari apa yang telah dipaparkan CI diatas. Tujuan hukum pelindungan konsmen secara langsung adalah untuk meningketkan martabat dan kesadaran konsumen. sesuai dengan tingkat ketergantungan akan kebutuhan yang tidak terputus-putus. Untuk itu perlu diatur perlidungan konsumen berdasarkan undang-undang antara lain menyangkut mutu barang. Hal tersebut secara sistematis dimanpaatkan oleh produsen dalam suatu sistem distribusi dan pemasaran produk barang guna mencapai tingkat produktivitas dan efektivitas dalam rangka mencapai sasaran usaha. syarat pengemasan. tetapi juga melindungi hak-haknya untuk melakukan usaha dengan jujur: (2) aparat pelaksa hukumnya harus dibekali dengan sarana yang memadai dan disertai dengan tanggung jawab. Sebaliknya. distribusi pada pemasaran dan penawaran. (4) mengubah sistem nilai dalam masyarakat ke arah sikap tindak yang mendukung pelaksanaan perlindungan konsumen. Perlunya undang-undang perlindungan konsumen tidak lain karena lemahnya posisi konsumen dibandingkan posisi produsen. Rangkaian kegiatan tersebut merupakan rangkaian perbuatan dan perbuatan hukum yang tidak mempunyai akibat hukum dan yang mempunyai akibat hukum baik terhadap semua pihak maupun hanya terhadap pihak tertentu saja.

4. konsumen dan sistem perlindungan konsumen. Campur tangan negara. tetapi juga adanya persepsi yang salah dikalangan sebagian besar produsen bahwa perlindungan terhadap konsumen akan menimbulkan kerugian terhadap rodusen. koprasi. Paa era pasar bebas dimana hubungan produsen dan konsumen menjadi makin dekat dan makin terbuka. Hal ini sangat penting mengingat konflik antara negara dan pihak berkepentingan di dalam era perdagangan bebas makin luas. (3) kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan usaha bagi produsen yang bertanggung jawab dapat diwujudkan tidak dengan jalan merugikan kepentingan . dan makin bervariasi. (2) bahwa ada produsen yang melakukan kecurangan dalam melakukan kegiatan usahanya. 2. kondisi. maka untuk melindungi konsumen sebagai pemakai akhir dari produk barang atau jasa. Hubungan hukum yang spesifik ini sangat bervariasi. Keadaan-keadaan seperti di atas. harga dari satu jenis komoditas tertentu. tetapi juga akan merugikan produsen yang jujur dan bertanggung jawab. pada dasarnya akan sangat mempengaruhi dan menciptakan kondisi perjanjian yang juga sangat bervariasi. yang syarat-syaratnya secara sepihak ditentukan pula oleh produsen atau jaringan distributornya. dan sebagainya.Dipenghuninya persyaratan diatas akan mengangkat harkat Dan martabat konsumen. yang sangat dipengaruhi oleh berbagai keadaan antara lain: 1. Hubungan antara produsen dan konsumen yang bersifat massal tersebut menciptakan hubungan secara individual/personal sebagai hubungan hukum yang spesifik. Diawali dengan sistem pengawasan tarhadap mutu dan kesehatan serta ketepatan pemanfaatan bahan untuk sasaran produk. yaitu antarnegara asosiasi produsen sejenis. tetapi membutuhkan pula perangkat hukum internasional dalam jaringan kerja sama antar negara dan kerja sama internasional. kerja sama antarnegara. 3. yaitu guna mengatur pola hubungan rodusen. penawaran dan syarat perjanjian.Bertolak dari luas dan komleksnya hubungan antara produsen dan konsumen serta banyaknya mata rantai penghubung keduanya. dibutuhkan berbagai aspek hukum agar konsumen dapat dilindungi dengan adil sejak awal produksi. antar kawasan ekonomi. terbuka. Sistem perlindungan tersebut tidak dapat hanya memanfaatkan perangkat hukum nasional saja. Dalam praktik nya. (1) bahwa konsumen dan produsen adalah pasangan yang saling membutuhkan. sebelum dan purna jual. dan usaha swasta. dan kerja sama internasional sangat dibutuhkan. Setelah hubungan bersifat personal. fasilitas yang ada. Persepsi yang keliru di kalangan pengusaha ini akan dengan mudah diluruskan apabila disadari beberapa pertimbangan berikut ini. dan bahkan antarpara pihak yang mempunyai pengaruh untuk produk tertentu dalam rangka memperebutkan pasar. Kedala yang dihadapi dalam upaya perlindungan konsumen di indonesia tidak terbatas pada rendahnya kesadaran konsumen akan hak. usaha produsen tidak akan dapt berkembang dengan baik bila konsumen berada pada kondisi yang tidak sehat akibat banyaknya produk yang cacat. hubungan hokum seringkali melemahkan posisi konsumen karena secara sepihak para produsen/distributor sudah menyiapkan satu kondisi perjanjian dengan adanya perjanjian baku. sehingga mereka juga dapat diakui sebagai salah satu subjek dalam sistem perekonomian nasional di samping BUMN. hukum perdata lah yang lebih dominan dalam rangka melindungi masing-masing pihak. Untuk itu aspek hukum publik sangat dominan. kebutuhan para pihak pada rentang waktu tertentu. Kecurangan ini tidak hanya merugikan konsumen saja.

Adapun yang masih belum jelas dari pernyataan Az. (4) bahwa beban kompensasi atas kerugian konsumen akibat pemakaian produk cacat telah diperhitungkan dalam komonen produksi.konsumen. asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah konsumen itu tersebar dalam berbagai bidang hukum. sekaligus tujuan hukum itu adalah memberikan perlindungan (pengayoman) kepada masyarakat. dan juga mengandung sifat yang melindungi kepentingan konsumen. seorang penjual yang berbuat crang terhadap pembeli: (1) karena sengaja menberikan barang lain daripada yang ditunjuk untuk dibeli. misalnya berpendapat bahwa hukum konsumen yang memuat asas-asas atau kaidah-kaidah bersifat mengatur. Nasution berkaitan dengan kaidah-kaidah hukum perlindungan konsumen yang senantiasa bersifat mengatur. Az. Ia menyebutkan. baik tertulis maupun tidak tertulis. perlindungan hukum terhadap hak konsumen tidak dapat diberikan oleh satu aspek hukum saja. Namun.Leder menyatakan: In a sense there is not such creature as consumer law. (2) mengenai jenis keadaan atau banyaknya barang yang diserahkan dengan menggunakan tipu muslihat. tetapi ditanggung bersama oleh seluruh konsumen yang memakai produk yang cacat. Nasution mengakui. apakah kedua“cabang’’ hukum itu identik. Juga.J. hukum dagang.HUKUM KONSUMEN DAN HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN Istilah“hukum konsumen’’dan“hukum perlindungan konsumen’’sudah sangat sering terdengar. hukum pidana. Ada juga yang berpedapat. Adapun hukum konsumen diartikan sebagai keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan hubungan dan masalah antara berbagai pihak satu sama lain berkaitan dengan barang dan/jasa konsumen. Nasution. tetapi memberikan perlindungan terhadap konsumen tidak termasuk dalam hukum perlindungan konsumen? Untuk itu jelasnya dapat dilihat ketentuan Pasal 383 KUHP berikut ini. Az. Artinya. Bentrok dari keadaan yang demikian. Jadi. melainkan oleh sistem perangkat hukum yang mampu memberikan perlindungan yang simultan dan komperehensif sehingga terjadi persaingan yang jujur yang secara langsung atau tidak langsung akan menguntungkan konsumen.rules of law which recognize the bargaining weakness of the individual consumer and which ensure that weakness is not unfairly exploited. di dalam pergaulan hidup. Karena posisi konsumen yang lemah maka ia harus dilindungi oleh hukum. Diancam dengan pidana paling lama satu tahun empat bulan. tetai dapat dicapai melalui penindakan terhadap produsen yang melakukan kecurangan dalam melakukan kegiatan usahanya. secara hokum sebenarnya hukum konsumen dan hukum perlindungan konsumen ini seperti yang dinyatakan oleh Lowe yakni: …. belum jelas benar apa yang masuk kedalam materi keduanya. Apakah kaidah yang sifatnya memaksa. Salah satu sifat. . Seharusnya ketentuan memaksa dalam pasal 383 KUHP juga memenuhi syarat untuk dimasukkan kedalam wilayah hukum perlindungan konsumen. seperti hukum perdata. M. hukum administrasi (negara) dan hukum internasional terutama konvensi-konvensi yang berkaitan dengan kepentingan-kepentingan konsumen. hukum perlindungan konsumen merupakan bagian dari hukum konsumen yang lebih luas itu. C. Sekalipun demikian. sebenarnya hukum konsumen dan hukum perlindungan konsumen adalah dua bidang hukum yang sulit dipisahkan dan ditarik batasnya. inti persoalannya bukan terletak pada kaedah yang harus “mengatur“ dan “memaksa“.

yang mampu menjaga integrasi dan persatuan nasional. kesejahteraan manusia.S Loemban Tobing. pembagian yang adil atas hak dan keistimewaan. Filipina. Sebagaimana pernah disinyalir oleh ketua internasional organization of consumers union (IOCU. Kata aspek hukum ini sangat bergantung pada kemauan kita mengartikan. perlindungan konsumen di Indonesia masih tertinggal. seperti Malaysia. Kartina Sujono Prawirabisma bahwa YLKI bertujuan melindungi konsumen. kemudian muncul beberapa organisasi serupa. budaya hokum di Indonesia harus dapat mengakomodasi tujuan-tujuan yang demikian itu. Apabila kita ingin tiga tingkat pembangunan di jalani secara serentak. . Dilihat dari sejarahnya gerakan perlindungan konsumen di Indinesia baru benarbenar dipopulerkan sekitar 20 tahun lalu. Keduanya tidak dalam kondisi yang berlawanan dan dengan demikian pembangunan akan menarik partisipasi masyarakat. yang semula bertujuan mempromosikan hasil produk Indonesia.H. Pembangunan yang komperhensif harus memperhatikan hak-hak manusia. seperti yayasan lembaga bina konsumen Indonesia (YLBKI) di Bandung dan perwakilan YLKI di berbagai provinsi di tanah air. menjaga martabat produsen dan membantu pemerintah.H. Thailand.GERAKAN PERLINDUNGAN KONSUMEN DI INDONESIA Jika melihat kemajuan perkembangan konsumen di Amerika Serikat. 11 mei 1973. tugas dan beban.Dengan demikian. hukum konsumen berkala lebih luas meliputi berbagai aspek hukum yang terdapat kepentingan pihak konsumen di dalamnya. 26. institusi hukum dan profesi hukum. dapat mendorong pertumbuhan perdagangan dan industri. atinya harus bersaing dengan bangsa-bangsa lain. dan singapura. S. Dalam suasana kerja sama ini kemudian lahir motto yang dicetuskan oleh Ny. Ajang promosi yang diberi nama pekan swakarya ini menimbulkan ide bagi mereka untuk mendirikan wadah bagi gerakan perlindungan konsumen di Indonesia. sekarang CI) Erna Witoelar. Dalam sambutan guru besar UI. Kita harus memiliki hukum. Diluar itu. seyogyanya dikatakan. Yayasan ini sejak semula tidak ingin berkonfrontasi dengan produsen (pelaku usaha) apalagi dengan pemerintah. dengan akta No. Persatuan nasional. pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan social mesti dapat tercermin dalam setiap pengambilan keputusan. yakni dengan menyelenggarakan pekan promosi swakarya II dan III yang benar-benar dimanfaatkan oleh kalangan produsen dalam negeri. serta berfungsi memajukan keadialan social. Setelah YLKI. tentu Indonesia masih harus “belajar“ banyak. antara lain lembaga pembinaan dan perlindungan konsumen (LP2K) di semarang yang berdiri sejak Februari 1988 dan pada 1990 bergabung sebagai anggota consumers international (CI). Hal ini dibuktikan benar oleh YLKI. dewasa ini cukup banyak lembaga swadaya masyarakat serupa berorientasi pada kepentingan pelayanan konsumen. Hal ini menjadi tambah penting karena bangsa kita berada dalam era globalisasi. YLKI muncul dari sekelompok kecil anggota masyarakat yang diketuai oleh lasmidjah hardi. D. Erman rajagukguk menjelaskan bahwa di Indonesia untuk pertumbuhan ekonomi dan pemerataan dapat dilaksanakan dalam waktu bersamaan. Ketertinggalan itu tidak hanya dibandingkan dengan Negara-negara sekitar Indonesia. yakni dengan berdirinya lembaga swadayamasyarakat (nongovernmental organization) yang bernama yayasan lembaga konsumen Indonesia (YLKI). institusi hukum dan profesi hukum. Dalam mencapai tujuan tersebut diperlukan pembauran hukum. Ide ini dituangkan dalam anggaran dasar yayasan di hadapan Notaris G.

(5) metrology dan tera. (7) pengawasan mutu barang. instruksi dirjen. Metode kerja YLKI baru pada penelitian terhadap sejumlah produk barang/jasa dan mempublikasikan hasilnya kepada masyarakat. keputusan ketua pelaksana bursa komoditi. instruksi presiden. YLKI cukup beruntung karena tidak harus memulainya dari nol sama sekali. walaupun ada preseden yang mengakui eksistensi gugatan kelompok tersebut. (4) kendaraan bermotor. (3) alat-alat elektronik. keputusan bersama dari beberapa mentri. gugatan massal yang mewakili masyarakat luas. banyak hakim yang masih ragu-ragu untuk menerimanya. Lembaga ini tidak sekedar melakukan penelitian atau pengujian. Selama ini upaya hukum individual dari konsumen untuk menggugat produsen baik pemerintah maupun swasta. Jenis peraturan perundangundangannya pun bervariasi. . tidak banyak membuahkan hasil. Selanjut nya rancangannya di sahkan menjadi undang-undang. YLKI mampu berperan besar khususnya dalam gerakan menyadarkan konsumen akan hak-haknya. Perhatian produsen terhadap publikasi demikian juga terlihat dari reaksi-reaksi yang diberikan. Dari inventarisasi sampai 1991. pengaturan yang memuat unsur perlindungan konsumen tersebar pada delapan bidang. termasuk yang di prakarsai YLKI mencatat prestasi besar setelah naskah akademik UUPK berhasil di bawa ke DPR. Keberadaan YLKI juga sangat membantu dalam upaya peningkatan kesadaran atas hak-hak konsumen. Untuk mewakili gugatan-gugatan di msyarakat. dan keputusan gubernur (d. Demikian pula dengan kasus-kasus kegagalan advokasi konsumen. sampai saat ini masih sangat minim. Alasan yang utama tentu karena YLKI sendiri bukan badan pemerintah seperti FDA di Amerika Serikat dan tidak memiliki kekuasaan public untuk menerapkan suatu peraturan atau menjatuhkan suatu sanksi. peraturan mentri. Namun. masih belum dikenal dengan baik oleh para penegak hukum di Indonesia. peraturan pemerintah atau yang sederajat. keputusan dirjen. Jika dibangdingkan dengan perjalanan panjang gerakan konsumen diluar negeri khususnya di Amerika Serikat. (2) makanan dan minuman. tetapi sekaligus juga mengadakan upaya advoksasi melalui jalur pengadilan. (6) industri. dan (8) lingkungan hidup. Pengalaman menangani kasus-kasus yang merugikan konsumen di negara-negara yang lebih maju dapat dijadikan studi yang bermanfaat sehingga Indonesia tidak perlu lagi harus mengulang keslahan yang serupa. Gerakan ini belum mempunyai kekuatan lobi untuk memberlakukan atau mencabut suatu peraturan.i gubernur KDH DKI Jakarta). Hal ini menunjukan dalam perjalanan memasuki dasawarsa ketiga. yaitu (1) obat-obatan dan bahan berbahaya. Hasil-hasil penelitian YLKI yang dipublikasikan di media massa juga membawa dampak terhadap konsumen. seperti media Indonesia dan Kompas. daik dilihat dari kualitas peraturannya maupun kedalaman materi yang dicakupnya. keputusan mentri. Demikian juga dalam berbagai pertemuan ilmiah dan pembahasan peraturan perundang-undangan. YLKI juga tidak sepenuhnya dapat mandiri seperti food and drug administration (FDA). penerbitan dan menerima pengaduan. Beberapa harian besar Nasional.h. Ditinjau dari kemajuan peraturan perundang-undangan di Indonesia dibidang perlindungan konsumen. mulai dari ordonansi dan undang-undang. Gerakan konsumen di Indonesia. baik berupa koreksi maupun bantahan.YLKI memiliki cabang-cabang di berbagai provinsi dan mempunyai pengaruh yang cukup besar karena didukung oleh media massa. Sementara itu. YLKI dianggap mitra yang representatif. secara rutin menyediakan kolom khusus untuk membahas keluhan-keluhan konsumen. YLKI dapat menggunakan lembaga hukum gugatan kelompok (class action).

Setiap 15 maret CI memperingati “hari hak konsumen sedunia“ dan memberi tema berbeda-beda tiap tahun. fairness. Gerakan konsumen sejak 1960 memiliki wadah yang cukup berwibawa. Setelah pemerintah RI mengesahkan undang-undang No. Aspek keadilan (fairness) seperti persamaan didepan hukum. Stabilitas juga berarti hukum berpotensi untuk menjaga keseimbangan dan mengakomodasi kepentingankepentingan yang saling bersaing. yang disebut intenational organization of comsumers unions (IOCU).Terlepas dari kondisi ini. Misalnya pada tahun 1994 dikumandangkan tema sentral hak konsumen untuk memperoleh kebutuhan pokok. Perkembangan baru dibidang perlindungan konsumen terjadi setelah penggantian tampuk kekuasaan di Indonsia. standard sikap pemerintah. 2111 tahun 1978. maka ada kewajiban bagi Indonesia untuk mengikuti standard-standar hukum yang berlaku dan diterima luas oleh Negara-negara anggota WTO. 1966. Tanpa mengurangi penghargaan terhadap upaya terus menerus yang dilakukan oleh YLKI. Sementara Malaysia dan fhilipina memiliki lima organisasi dan Indonesia ada dua organisasi (YLKI Jakarta dan LP2K di semarang). E. UUPK ini masih memerlukan waktu satu tahun untuk berlaku efektif. kemudian pada 16 April 1985 dengan resolusinya No. Hukum yang kondusif bagi pembangunan sedikitnya mengandung lima kualitas. A/RES/39/248 juga disuarakan seruan penghormatan terhadap hak-hak konsumen. Australia. yang notabene hak itu tidak pernah sejak orde baru berkuasa pada 1966. yaitu stability. Salah satu diantaranya adalah perlunya eksistensi UUPK. misalnya mempunyai 15 organisasi anggota CI. Namun. predictability. Anggota CI mencapai 203 organisasi konsumen berasal dari 90 negara di seluruh dunia. Kemudian sejak 1995 berubah nama menjadi cnsumers international (CI). PROSPEK GERAKAN KONSUMEN Perhatian terhadap gerakan perlindungan hak-hak konsumen (konsumerisme) mendapat pengakuan dan dukungan dari dewan ekonomi dan social PBB. Yaitu tatkala undang-undang No. adalah perlu untuk memelihara mekanisme pasar dan untuk mencegah birokrasi yang berlebihan. dengan resolusinya No. Tidak adanya standar yang adil dan apa yang tidak adil adalah masalah besar yang dihadapi Negaranegara berkembang. YLKI mencoba mengajukan gugatan kelompok kepada pemerintah dalam berbagai kasus. dari perkara yang dibawa ke pengadilan itu belum mampu menghasilkan dampak sebesar seperti yang pernah dilakukan Ralph Nader terhadap General Motors. Perlunya predictability sangat besar di Negara-negara di mana masyarakatnya untuk pertama kali memasuki hubunganhubungan ekonomi melampaui lingkungan tradisional mereka. UUPK ini dihasilkan atas inisiatif DPR. Dalam jangka panjang ketiadaan standar tersebut menjadi sebab utama hilangnya ligitimilasi pemerintah. Dalam satu Negara dapat saja ada lebih dari satu organisasi konsumen yang terdaftar sebagai anggota CI. andil terbesar yang “memaksa“ kehadiran UUPK ini adalah juga karena cukup kuatnya tekanan dari dunia internasional. . 7 tahun 1994 tentang agreement establishing the world trade organization (persetujuan pembentukan organisasi perdagangan dunia). 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen (UUPK) disahkan dan diundangkan pada 20 April 1999. antara lain terhadap PT Persero Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Telkom. education dan kemampuan meramalkan adanya prasyarat untuk berfungsinya system ekonomi.

Toyota. konsumen mempunyai banyak pilihan terhadap produk barang/jasa yang dikonsumsinya. Bagaimanapun juga karakteristik dan hambatannya. sehingga gerakan konsumen di dunia internasioanal mau tak mau menembus batas-batas Negara. Menurut Emil Salim. perdagangan. Hal ini berarti. national treatment. obat-obatan. Konsumen kita menjadi konsumen global. air minum. sandang. Teknologi dibidang pengemasan yang diterapkan di Amerika Serikat. . Gejala-gejala itu memberi pengaruh pada gerakan konsumen didunia dan di indonesia. pos dan telekomunikasi. dan jasa prinsip-prinsip non-discrimination. dan papan. Keempat. globalisasi ekonomi menimbulkan akibat yang besar sekali pada bidang hukum. Globalisasi menyebabkan berkembangnya saling ketergantungan pelaku-pelaku ekonomi dunia. antara lain melalui perjanjian-perjanjian internasional. Globalisasi juga menyebabkan terjadi globalisasi hukum. yakni mulai beralihnya isu-isu konsumen dari sekedar mempersoalkan mutu menuju kearah yang lebih berskala makro dan universal. bahkan saat ini sertifikasi itu sudah berjalan. tetapi pada kebutuhan listrik. hak milik intelektual. Pertama. gejala ini dipercepat oleh kemajuan komunikasi dan transportasi teknologi. Manufaktur. dan segera mengubah pola dibidang terkait. tidak ada produk yang hanya dibuat di satu negara. Uang tidak lagi mengenal bendera. Globalisasi keempat ini membawa konsekuensi makin tergesernya alat-alat produksi tradissional mengarah kepada modernisasi dan mekanisasi. Konsumen Indonesia merupakan bagian dari konsumen global. globalisasi finansial. Hal ini tampak dari dihilangkannya dinding-dinding tarif sehingga dunia menjadi satu pasar. globalisasi perdagangan. dan mempengaruhi kesadaran konsumen lokal untuk berbuat hal yang sama. Tentu mereka memilih yang terbaik diantara produk barang/jasa yang tersedia. Jika tidak. Faktor kedua. most favored nation. Perhatian konsumen di dalam negeri sama dengan perhatian konsumen di berbagai negara. gerakan konsumen global ditandai oleh globalisasi diberbagai bidang. termasuk masyarakat indonesia. General agreement on tariff and trade (GATT) misalnya. Dalam hal ini berarti. transparency kemudian menjadi substansi peraturan-peraturan nasional Negaranegara anggota. maka dewasa ini tuntutan itu demikian kuat bergema. globalisasi produksi. sebagian komponennya dibuat diberbagai negara di luar jepang. Disamping itu. tampak makin kritis. tuntutan-tuntutan masyarakat dunia internasional. Modal seperti air yang mencari tempat yang sesuai. globalisasi hukum tersebut tidak hanya didasrkan pada kesepakatan internasional antarbangsa tetapi juga pemahaman tradisi hukum dan budaya antara barat dan timur. mencantumkan beberapa ketentuan yang harus di penuhi di Negara-negara anggota berkaitan dengan penanaman modal. Itu berarti masalah mutu barang dari jumlah ketersediaannya dipasaran tidak lagi menjadi keprihatinan utama karena produsen dengan sendirinya berlomba-lomba untuk memenuhinya.Hak atas kebutuhan pokok ini tidak terbatas pada pangan. Globalisasi hukum terjadi melalui usaha-usaha standardinasi hukum. Jika dulu masih banyak yang belum berani menyuarakan agar di Indonesia dilakukan sertifikasi “halal” untuk produkproduk tertentu. misalnya cepat diadopsi kenegara lain. dan kosmetika majelis ulama Indonesia (LP POM MUI). investasi melewati batas-batas negara meningkatkan intensitas persaingan. produsen demikian akan kalah dalam persaingan. Persaingan antar produsen saat ini semakin ketat dan dan yang dihadapi bukan lagi competitor dalam negeri. Ketiga. misalnya. antara ain dengan terbenuknya lembaga pengkajian pangan. globalisasi teknologi.

Secara harafiah arti kata consumer adalah (lawan dari produsen) setiap orang yang menggunakan barang. telah pula berdiri organisasi konsumen internasional. Istilah konsumen berasal dari alih bahasa dari kata consumer (inggris-amerika). posisi atau kedudukan bahkan kepentingan-kepentingan. baik yang bersifat akademis. “konsumen“ telah diperkenalkan beberapa puluh tahun lalu diberbagai negara dan sampai saat ini sudah puluhan negara memiliki undang-undang atau peraturan khusus yang memberikan perlindungan kepada konsumen termasuk sarana penyediaan peradilannya. Alhasil. jasa-jasa dan bidang-bidang ekonomi lainnya mendekati Negara-negara maju (converagence). perdagangan. tidak ada jaminan peraturan-peraturan tersebut memberikan hasil yang sama disemua tempat. Sejalan dengan perkembangannya itu. Hal mana yang dikarenakan perbedaan sitem politik. HAK. yaitu international organiztion of consumers unions (IOCU). Yogyakarta. berbagai negara telah pula menetapkan hak-hak konsumen yang digunakan sebagai landasan pengaturan perlindungan konsumen konsumen. maupun untuk tujuan mempersiapkan dasar-dasar penerbitan suatu peraturan perundang-undangan tentang perlindungan konsumen. Check and balance hanya bisa dicapai dengan parlemen yang kuat. DAN KEWAJIBANNYA Sebagai suatu konsep. baik di dunia internasional maupun di Indonesia. Pengertian dari consumer atau consument itu tergantung dalam posisi mana ia berada. Di indonesia telah banyak diselenggarakan studi. ekonomi dan budaya. dan organisasi konsumen lain di bandung. Di samping itu. Tetapi terlebih-lebih bagi pemerintahnya. Apa yang disebut hukum itu tergantung pada persepsi masyarakat. pengadilan yang mandiri dan partisipasi masyarakat melalui lembaga-lembaganya. Surabaya. Namun. atau consument/konsument (belanda). mengatakan bahwa tegaknya peraturan-peraturan hukum tergantung pada budaya hukum anggotaanggotanya yang dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan. BAB 2 PENGERTIAN HAK DAN KEWAJIBAN KONSUMEN SERTA PELAKU USAHA A. Dalam naskah akademik .Globalisasi hukum akan menyebabkan peraturan-peraturan Negara-negara berkembang mengenai investasi. Friedman. lingkungan. dan sebagainya. Kesiapan tersebut tidak sekedar dalam arti “siap bersaing dan berinovasi”. gerakan konsumen. Arus tuntutan konsumen melalui gerakan-gerakan tadi makin lama makin deras. Begitu pula kamus indonesia-inggris memberi arti kata consumer sebagai pemakai atau konsumen. Dalam hal menghadapi hal yang demikian itu perlu check and balance dalam bernegara. sehingga tidak mustahil menimbulkan instabilitas bagi negara-negara yang produsen dan pemerintahnya belum siap benar. budaya. PENGERTIAN KONSUMEN. adalah siap dengan pembangunan unsur-unsur system hukumnya. pada masa-masa mendatang menghadapi suasana yang jauh lebih kompleks. Tujuan penggunaan barang atau jasa nanti menentukan termasuk konsumen kelompok mana pengguna tersebut. Di Indonesia telah pula berdiri berbagai organisasi konsumen seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) di Jakarta.

bukan pembeli tapi pemakai. memberikan berbagai perbandingan. ada pula yang termuat dalam pasal tertentu bersamasama dengan pengaturan sesuatu bentuk hubungan hukum. Upaya perlindungan terhadap konsumen dari pemakaian produk-produk yang cacat di negara-negara anggota European Economic Community (EC/MEE) dilakukan dengan cara menyusun product liability directive yang nantinya harus diintegrasikan kedalam instruktur hukum masing-masing negara anggota EC. sedangkan statutory orders dapat langsung berlaku bagi semua warga negara dari negara-negara anggota EC. menyusun batasan tentang konsumen akhir. dan tidak untuk diperjualbelikan. provided that the item of property: (i) is a type ordinarily for private use or consumption. Sedang dalam naskah akademis yang dipersiapkan fakultas hukum Universitas Indonesia (FH-UI) bekerja sama dengan departemen perdagangan RI. Pengertian “konsumen” (consumers) tidak dijabarkan secara rinci dalam directive. (b) damage to. Peraturan perundang-undangan negara lain. b. yaitu pemakai akhir dari barang. karna perlindungan hukum dapat dinikmati pula bahkan oleh korban yang bukan pemakai. c. Pengertian “konsumen“ di Amerika Serikat dan MEE. antara lain: a. Batasan konsumen dari yayasan lembaga konsumen indonesia: pemakai barang atau jasa yang tersedia dalam masyarakat bagi kepentingan diri sendiri. kata “konsumen“ yang berasal dari consumer sebenarnya berarti “pemakai“. keluarga atau orang lain dan tidak untuk diperdagangkan kembali. maupun melalui statutory orders yang berlaku terhadap warga negara seluruh anggota EC. “damage” means: (a) damage caused by death or by personal injuries. cukup banyak dibahas dan dibicarakan tentang berbagai peristilahan yang termasuk dalam lingkup perlindungan konsumen. Directive ini mengedepankan konsep liability without fault. Badan pembinaan hukum nasional-departemen kehakiman (BPHN). digunakan untuk keperluan diri sendiri atau orang lain. Umumny dibedakan antara konsumen antara dan konsumen akhir. berbunyi: Konsumen adalah setiap orang atau keluarga yang mendapatkan barang untuk dipakai dan tidak untuk diperdagangkan. baik korban tersebut pembeli. ada yang secara tegas mendefenisikannya dalam ketentuan umum perundang-undangan tertentu. Article 9 For the purepos of article 1. Dalam merumuskannya.dan/atau berbagai naskah pembahasan berbagai rancangan peraturan perundangundangan. di Amerika Serikat kata ini dapat diartikan lebih luas lagi sebagai “korban pemakaian produk yang cacat“. Namun. any item of property other than the detective product it self. with a lower threshold of 500 ECU. Dari naskah-naskah akademik itu yang patut mendapat perhatian. bahkan juga korban yang bukan pemakai. and . Untuk memahaminya dapat dilakukan dengan menelaah pasal 1 dikaji bersama-sama dengan pasal 9 directive yang isinya sebagai berikut: Article 1 The producer shall be liable for damage caused by a defect in his product. or destruction of. Ketentuanketentuan dalam directive harus diimplementasikan ke dalam hukum nasional dulu sebelum dapat diterapkan.

keluarga atau rumah tangganya. yang penggunanya bagi konsumen akhir adalah untuk dirinya sendiri. Konsumen antara ini mendapatkan barang/jasa itu dipasar industri atau pasar produsen. dan terdiri dari barang/jasa yang umumnya digunakan di rumah tangga masyarakat. keluaga atau rumah tangganya (produk konsumen). kepentingan mereka dalam menjalankan usaha atau profesi mereka tidak “tergangu” oleh perbuatan persaingan-persaingan yang tidak wajar. merupakan pertimbangan tentang perlunya pembedaan dari konsumen itu. dan yang sejenis dengan itu. bahan penolong atau komponen dari produk lain yang akan diproduksinya (produsen). keluarga dan atau rumah tangga dan tidak untuk diperdagangkan kembali (nonkomersial). barang/jasa itu adalah barang/jasa konsumen.was used by the injured person mainly for his own private use or consumtion. b. Unsur untuk membuat barang/jasa lain dan/atau diperdagangkan kembali merupakan pembeda pokok. mereka memerlukan produk konsumen (barang/jasa konsumen) yang aman bagi kesehatan tubuh atau (ii) . Perumusan ini sedikit lebih sempit dibandingkan dengan pengertian serupa di Amerika Serikat. perbuatan penguasaan pasar secara monopoli atau oligopi. This article shall be without prejudice to national provisions relating to non material damage. antara lain konsumen antara (produk kapital) dan konsumen akhir (produk konsumen). Sedang bagi konsumen akhir. konsumen adalah setiap orang yang mendapatkan barang atau jasa digunakan untuk tujuan tertentu. Konsumen akhir adalah setiap orang alami yang mendapatkan dan menggunakan barang/jasa untuk tujuan memenuhi kebutuhan hidupnya pribadi. Tampaknya perlakuan hukum yang lebih bersifat mengatur dan/atau mengatur dengan diimbuhi perlindungan. penggunaan suatu produk untuk keperluan atau tujuan tertentu yang menjadi tolak ukur dalam menentukan perlindungan yang diperlukan. Bagi konsumen akhir (selanjutnya disebut konsumen). Konsumen antara adalah setiap orang yang mendapatkan barang dan/atau jasa untuk digunakan dengan tujuan membuat barang/jasa lain atau untuk diperdagangkan (tujuan komersial) c. dapat disimpulkan bahwa konsumen berdasarkan directive adalah pribadi yang menderita kerugian (jiwa. yakni: a. Jadi. maupun benda) akibat pemakaian produk yang cacat untuk keperluan pribadinya. Unsur inilah. Kalau itu distributor atau pedagang berupa barang setengah jadi atau barang jadi yang menjadi mata dagangannya. Mereka memerlukan kaedah-kaedah hukum yang mencegah perbuatan-perbuatan yang tidak jujur dalam bisnis. Az Nasution menegaskan beberapa batasan konsumen. yang pada dasarnya merupakan beda kepentingan masing-masing konsumen yaitu. berupa bahan baku. konsumen yang dapat memperoleh kompensasi atas kerugian yang dideritanya adalah “pemakaian produk yang cacat untuk keperluan pribadi”. bagi konsumen antara yang sebenarnya adalah pengusaha atau pelaku usaha. Bagi konsumen antara. Sebagaimana disinggung sebelumnya. dominasi pasar dengan berbagai praktik bisnis yang menghambat masuknya perusahaan baru atau merugikan perusahaan lain dengan cara-cara yang tidak wajar. barang/jasa itu adalah barang/jasa kapital. Barang/jasa konsumen ini umumnya diperoleh dipasar-pasar konsumen. yaitu barang/jasa yang biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi. kesehatan.

dan bertanggung jawab. dengan siapa mereka saling berhubungan dan saling memebutuhkan. serta pada umumnya untuk kesejahteraan keluarga atau rumah tangganya. dasar hubungan hukum antara konsumen dan pelaku usaha tidak perlu harus kontraktual (the privity of contract). 1. konsumen adalah konsumen akhir (ultimate consumer). bagaimana proses pembuatannya serta strategi pasar apa yang dijalankan untuk mendistribusikannya. pelaku usaha ini juga mencakup perusahaan media. maka diperlukan kaedah hukum yang dapat melindungi. dan terminologi lain yang lazim diberikan. Hal ini berbeda dengan pengertian yang diberikan untuk “pelaku usaha” dalam pasal 1 angka (3). dalam kehidupan manusia Indonesia sebagaimana dikehendaki oleh falsafah bangsa dan negara ini. penjual. tidak sekedar formil. Keadaan seimbang diantara para pihak yang saling berhubungan. sekaligus menunjukan. Namun konsumen harus juga mencakup juga badan usaha dengan makna usaha yang lebih luas daripada badan hukum. 8 tahun 1999 tentang hukum perlindungan konsumen dalam pasal 1 ayat (2) yakni: Konsumen adalah setiap orang pemakai barang/jasa yang tersedia dalam masyarakat. barang/jasa yang dipakai tidak serta merta hasil dari transaksi jual beli. penyalur. Untuk itu. keluarga. dengan menyebutkan kata-kata: “orang perseorangan atau badan usaha“. b. baik bagi kepentingan diri sendiri. pemakai sesuai dengan penjelasan pasal 1 angka (2) UUPK. Bahkan. tempat iklan ditayangkan. Artinya. Unsur-unsur defenisi konsumen: a. apakah hanya orang individual yang lazim disebut natuurlijke persoon atau termasuk juga badan hukum (rechtpersoon). Karena itu yang diperlukan adalah kaedah-kaedah hukum yang menjamin syarat-syarat aman setiap produk konsumen bagi konsumsi manusia. Perlindungan itu sesungguhnya berfungsi menyeimbangkan kedudukan konsumen dan pengusaha. produsen. Pengertian konsumen dalam UU No. Dengan kata lain. Istilah “pemakai” dalam hal ini tepat digunakan dalam rumusan ketentuan tersebut. orang lain.keamanan jiwa. dilengkapi dengan informasi yang benar. UUPK tampaknya berusaha menhindari penggunaan kata “produsen“ sebagai lawan kata “konsumen“. Istilah terakhir ini dipilih untuk memberi arti sekaligus bagi kreditur (penyedia dana). yang secara eksplisit membedakan kedua pengertian persoon diatas. akan lebih menerbitkan keserasian dan keselarasan matriil. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen Penegrtin konsumen menurut UU No. sebagai konsumen tidak selalu harus memberikan prestasinya dengan cara membayar uang untuk memperoleh barang/jasa itu. setiap orang subjek yang disebut sebagai konsumen adalah setiap orang yang berstatus sebagai pemakai barang/jasa. Karena pada umumnya konsumen tidak mengetahui dari bahan apa suatu produk itu dibuat. jujur. untuk kasus-kasus yang spesifik seperti dalam kasus periklanan. Istilah “orang” sebetulnya menimbulkan keraguan. digunakan kata “pelaku usaha” yang bermakna lebih luas. . maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Tentu yang paling tepat tidak membatasi pengertian konsumen itu sebatas pada orang perseorangan. kata “pemakai“ menekankan.

Dengan demikian. baik dapat dihabiskan maupun tidak dapat dihabiskan. Semula kata produk hanya mengacu pada pengertian barang. Orang yang mengonsumsi produk sampel juga merupakan konsumen. termasuk peralihan kenikmatan dalam menggunakannya. Saat ini “produk“ sudah berkonotasi barang/jasa. dipakai. tetapi termasuk bukan pemakai langsung. Artinya. Istilahnya product knowladge. apakah ada dasar gugatan yang cukup kuat baginya? Hal ini patut dipertanyakan. c. Di Amerika Serikat cara pandang seperti itu telah lama ditinggalkan. layanan yang bersifat khusus (tertutup)ndan individual. terlebih dahulu dilakukan pengenalan produk kepada konsumen. Jika demikian halnya. Isi paketnya makanan dan minuman yang dibeli si pembeli di pasar swalayan. barang dan/atau jasa berkaitan dengan istialah barang/jasa. atau dimanfaatkan oleh konsumen. tidak tercakup dalam pengertian tersebut. Transaksi konsumen memiliki banyak sekali metode. Si pembeli tidak dapat dikategorikan sebagai “konsumen” menurut UUPK. yang dapat untuk diperdagangkan. sebagai pengganti terminologi tersebut digunakan kata produk. misalnya istilah produk dipakai juga untuk menamakan jenis-jenis layanan perbankan.Sebagai ilustrasi dari uraian itu dapat diberikan contoh berikut. seperti hanya sebagai orang yang mempunyai hubungan kontraktual pribadi (in privity of contract) dengan produsen atau penjual adalah cara pendefinisian konsumen yang paling sederhana. yang paling penting terjadinya transaksi konsumen (consumer transaction) berupa peralihan barang/jasa. harus lebih dari 1 orang. UUPK tidak menjelaskan perbedaan istilah-istilah “dipakai. UUPK mengganti barang sebagai setiap benda. baik berwujud maupun tidak berwujud. Oleh karena itu wajib dilindungi hakhaknya. Pertanyaannya. yang tersedia dalam masyarakat . d. jika menggunakan prinsip the privity of contract tentu tidak ada hubungan kontraktual antara penerima hadiah dan pihak pasar swalayan karena pembeli parsel adalah orang lain. jasa itu harus ditawarkan kepada masyarakat. atau dimanfaatkan”. walau baru dilakukan pada awal abad ke-20. UUPK sedah selayaknya meninggalkan prinsip yang sangat merugikan konsumen. Untuk itu. konsumen tidak lagi diartikan sebagai pembeli dari suatu barang/jasa. Artinya. dibagikan sampel yang diproduksi khusus dan sengaja tidak diperjualbelikan. apakah penerima paket seorang konsumen juga? Jika ia menggugat pasar swalayan itu. asalkan memang dirugikan akibat penggunaan suatu produk. dipergunakan. Dewasa ini. seseorang memperoleh paket hadiah atau parsel (parcel) pada hari ulang tahunnya. Jadi. Dalam dunia perbankan. dipergunakan. sudah lazim terjadi sebelum suatu produk dipasarkan. Sementara itu jasa diartikan sebagai setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang disediakan bagi masyarakat menunjukan. baik bergerak maupun tidak bergerak. seseorang yang karena kebutuhan mendadak lalu menjual rumahnya kepada orang lain. tidak dapat perbuatannya itu sebagai transaksi konsumen. Konsumen memang tidak sekedar pembeli (buyer atau koper) tetapi semua orang (perseorangan atau badan usaha) yang mengonsumsi barang/jasa. Mengartikan konsumen secara sempit. Kata-kata “ditawarkan kepada masyarakat” itu harus ditafsirkan sebagai bagian dari transaksi konsumen.

Empat hak dasar ini diakui secara internasinaol. hak untuk didengar ( the right to be heard). penguraian unsur itu tidak menambah makna apa-apa karena pada dasarnya tindakan memakai suatu barang/jasa (terlepas ditujukan untuk siapa dan makhluk hidup lain). keluarga. organisasi-organisasi konsumen yang tergabung dalam the international organization of consumers unions (IOCU) menambahkan lagi beberapa hak. walaupun dalam kenyataannya. syarat itu tidak mutlak lagi dituntut oleh masyarakat konsumen. Oleh karena itu. misalnya. misalnya. yakni hanya konsumen akhir. hak untuk mendapatkan keamanan (the right to safety). untuk jenis-jenis transaksi konsumen tertentu. Misalnya. 2. Dalam perdagangan yang makin kompleks dewasa ini. juga tidak terlepas dari kepentingan pribadi. Namun. perlindungan konsumen mengandung aspek hukum. Dalam perkembangannya. Secara umum dienal ada 4 (empat) hak dasar konsumen. barang dan/atau jasa itu tidak untuk diperdagangkan pengertian konsumen dalam UUPK ini dipertegas. Adapun materi yang mendapatkan perlindungan itu bukan sekadar fisik. orang lain. 3. keluarga. Mereka bebas untuk menerima semua atau sebagian. yaitu 1. YLKI. e. yaitu hak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat sehingga keseluruhannya dikenal sebagai panca hak konsumen. orang lain dan makhluk hidup lain. berkaitan dengan kepentingan pribadi orang itu untuk memiliki kucing yang sehat. tetapi juga barang/jasa itu diperuntukan bagi orang lain (diluar diri sendiri dan keluarganya). 2. melaikan terlebih-lebih hakhaknya yang bersifat abstrak. sulit menetapkan batas-batas seperti itu. Seseorang yang membeli makanan untuk kucing peliharaannya. setiap tindakan manusia adalah bagian dari kepentingannya. Secara teoritis hal demikian terasa cukup baik untuk mempersempit ruang lingkup pengertian konsumen. Bahkan. memutuskan untuk menambah 1 hak lagi sebagi pelengkap hak dasar konsumen. hak mendapatkan gati kerugian. keberadaan barang yang diperjualbelikan bukan sesuatu yang diutamakan. . Oleh sebab itu. tidak semua organisasi konsumen menerima penambahan hak-hak tersebut. dan hak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. hak-hak konsumen istilah “perlindungan konsumen” berkaitan dengan perlindungan hukum. f. hak untuk memilih ( the right to choose). perlindungan konsumen identik dengan perlindungan yang diberikan hukum tentang hak-hak konsumen. hak untuk mendapatkan informasi ( the right to be informed). Dari sisi teori kepentingan. seperti futures trading.barang/jasa yang ditawarkan dalam masyarakat sudah harus tersedia di pasaran (lihat juga bunyi pasal 9 ayat 1 huruf e UUPK). bahkan untuk makhluk hidup lain. bagi kepentingan diri sendiri. makhluk hidup lain transaksi konsumen ditujukan untuk kepentingan diri sendiri. Dengan kata lain. seperti hak mendapatkan pendidikan konsumen. Unsure yang diletakkan dalam defenisi itu mencoba untuk memperluas pengertian kepentingan. perusahaan pengembang (develover) perumahan sudah biasa mengadakan transaksi terlebih dahulu sebelum bangunannya jadi. 4. Batasan itu sudah biasa dipakai dalam peraturan perlindungan konsumen di berbagai negara. seperti hewan dan tumbuhan. Kepentingan ini tidak sekedar ditujukan untuk diri sendiri dan keluaga.

pelanduk mati di tengah-tengah“. c. Hak konsumen sebagaimana tertuang dalam pasal 4 UU No. hak atas kenyamanan dan keselamatan dalam mengonsumsi barang/jasa. Disini letak arti penting mengapa hak ini perlu dikemukakan. hak untuk memilih barang/jasa serta mendapatkan barang/jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya. akan diperoleh urutan sebagai berikut: a. Tidak jelas kenapa kedua bidang hukum ini yang di kecualikan secara khusus. Hak konsumen Mendapatkan Keamanan . Selain hak yang dibutuhkan itu. e.Dalam UUPK. b. jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang/jasa d. hak untuk mendapatkan advokasi perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. Hak konsumen untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen. tidak bagi konsumen langsung. tidak dimasukkan dalam UUPK ini karena UUPK secara khusus mengecualikan hak-hak atas kekayaan intelektual (HAKI) dan dibidang pengolaan lingkungan. khususnya dalam pasal 7 yang mengatur tentang kewajiban pelaku usaha. hak atas informasi yang benar. hak untuk mendapatkan konpensasi ganti rugi/ penggantian. mengingat sebagai undang-undang paying (umberella act). Kendati demikian. 8 tahun 1999 adalah sebagi berikut: a. Kewajiban dan hak merupakan antinomi dalam hukum. Akhirnya. Ketentuan-ketentuan ini sesungguhnya diperuntukan bagi sesama pelaku usaha. kegiatan bisnis yang dilakukan tidak secara jujur. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang/jasa yang digunakan. Langkah untuk meningkatkan martabat dan kesadaran konsumen harus diawali dengan upaya untuk memahami hak-hak pokok konsumen. masalah persaingan curang (dalam bisnis) ini diatur secara khusus pada pasal 382 bis kitab undang-undang hukum pidana. kompetisi tidak sehat diantara mereka pada jangka panjang pasti berdampak negatif bagi konsumen karena pihak yang dijadikan sasaran rebutan adalah konsumen itu sendiri. h. ada juga hak untuk dilindungi dari akibat negatif persaingan curang. g. jika semua hak-hak yang disebutkan itu disusun kembali secara sistematis (mulai dari yang diasumsikan paling mendasar). UUPK seharusnya dapat mengatur hak-hak konsumen itu secara komprehensif. sejak 5 maret 2000 diberlakukan juga UU No. empat hak dasar yang dikemukakan oleh John F. juga terdapat hak-hak konsumen yang dirumuskan dalam pasal berikutnya. apabila barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. agar tidak berlaku pepatah: “dua gajah berkelahi. Selanjutnya. Disamping hak-hak dalam pasal 4. Dalam hukum positif indonesia. f. Kennedy tersebut juga di akomodasi. yang dapat dijadikan sebagai landasan perjuangan untuk mewujudkan hak-hak tersebut. Hal ini berangkat dari pertimbangan. yang dalam hukum dikenal dengan terminologi “persaingan curang“ (unfair competition). sehingga kewajiban pelaku usaha dapat dilihat sebagai hak konsumen. 5 tahun 1999 tentang larangan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

Konsumen berhak mendapatkan keamanan dari barang dan jasa yang ditawarkan kepadanya. Produk barang dan jasa itu tidak boleh membahayakan jika dikonsumsi sehingga konsumen tidak dirugikan baik secara jasmani dan rohani. Hak untuk memperoleh keamanan ini penting ditempatkan pada kedudukan utama karena berabad-abad berkembang suatu falsafah berpikir bahwa konsumen (terutama pembeli) adalah pihak yang wajib berhati-hati, bukan pelaku usaha. Falsafah yang disebut caveat emptor (let the buyer beware) ini mencapai puncaknya pada abad ke-19 seiring berkembangnya paham rasional individualisme di Amerika Serikat. Dalam perkembangannya kemudian, prisip yang merugikan konsumen ini telah ditinggalkan. Dalam barang dan/atau jasa yang dihasilkan dan dipasarkan oleh pelaku usaha berisiko sangat tinggi terhadap keamanan konsumen, Pemerintah selayaknya mengadakan pengawasan secara ketat. Misalnya zat atau obat yang tergolong narkotika dan psikotropika. Undang-undang No.5 Tahun 1997 tentang psikotropika dan Undang-undang No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika menetapkan psikotopika dan narkotika golongan I hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, tidak dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan.Restriksi demikian perlu dilakukan semata-mata demi menjaga keamanan masyarakat atas akibat negatif dari produk tersebut. Satu hal juga seiring dilupakan dalam kaitan dengan hak untuk mendapatkan keamanan adalah penyediaan fasilitas umum yang memenuhi syarat yang ditetapkan. Di Indonesia, sebagian besar fasilitas umum, seperti pusat perbelanjaan, hiburan, rumah sakit,dan perpustakaan belum cukup akomodatif untuk menopang keselamatan pengunjungnya. Hal ini tidak saja bagi pengguna produk barang atau jasa (konsumen) yang berfisik normal pada umumnya, tetapi juga tidak berlebih-lebih mereka yang cacat fisik dan lanjut usia. Akibatnya, besar kemungkinan mereka ini tidak dapat leluasa berajalan dan naik tangga di tempattempat umum karena tingkat resiko yang sangat tinggi. b. Hak untuk Mendapatkan Informasi yang Benar Setiap produk yang diperkenalkan kepada konsumen harus disertai informasi yang benar. Informasi ini diperlukan agar konsumen tidak sampai mempunyai gambaran yang keliru atas produk barang dan jasa. Informasi ini dapat

disampaikan dengan berbagai cara, seperti lisan kepada konsumen, melalui iklan di berbagai media, atau mencantumkan dalam kemasan produk (barang). Jika dikaitkan dengan hak konsumen atas keamanan, maka setiap produk yang mengandung risiko terhadap keamanan konsumen, wajib disrtai informasi berupa petunjuk pemakaian yang jelas. Sebagai contoh, iklan yang secara ideal diartikan sebagai sarana pemberi informasi kepada konsumen, seharusnya terbebas dari mani pulasi data. Jika iklan memuat informasi yang tidak benar, maka perbuatan itu memenuhi kriteria kejahatan yang lazim disebut fraudulent misrepresentation. Bentuk kejahatan ini ditandai oleh (1)pemakaian pernyataan yang jelas-jelas salah (false statement), seperti menyebutkan diri terbaik tanpa indikator yang jelas, dan (2) pernyataan yang menyesatkan (mislead), misalnya menyebutkan adanya khasiat tertentu padahal tidak. Menurut Troelstup, konsumen pada saat ini membutuhkan banyak informasi yang lebih relavan dibandingkan dengan saat sekitar 50 tahun lalu. Alasannya, saat ini: (1) terdapat lebih banyak produk, merek, dan tentu saja penjualnya, (2) daya beli konsumen makin meningkat, (3) lebih banyak variasi merek yang beredar di pasaran, sehingga belum banyak diketahui semua orang, (4) modelmodel produk lebih cepat berubah, (5) kemudahan transportasi dan komunikasi sehingga mem buka akses yang lebih besar kepada bermacam-macam produsen atau penjual. Hak untuk mendapatkan informasi menurut Prof.Hans W.Micklitz, seorang ahli hukum konsumen dari jerman, dalam ceramah di Jakarta, 26-30 Oktober1998 membedakan konsumen berdasarkan hak ini. Ia menyatakan, sebeum kita melangkah lebih detail dalam perlindungan konsumen, terlebih dulu harus ada persamaan persepsi tentang tipe konsumen yang akan mendapatkan perlindungan. Menurutnya, secara garis besar dapat dibedakan dua tipe konsumen, yaitu a. konsumen yang terinformasi (well-informed) b. konsumen yang tidak terinformasi. Ciri-ciri konsumen yang terinformasi sebagai tipe pertama adalah: Memiliki tingkat pendidikan tertentu ; • • mempunyai sumberdaya ekonomi yang cukup, sehingga dapat berperan dalam ekonom pasar, dan lancer berkomunikasi.

Dengan memiliki tiga potensi, konsumen jenis ini mampu bertanggung jawab dan relative tidak memerlukan perlindungan. Ciri-ciri konsumen yang tidak terinformasi sebagai tipe kedua memiliki ciriciri antara lain : • • • kurang berpendidikan ; termasuk kategori kelas menengah ke bawah ; tidak lancar berkomunikasi.

Konsumen jenis ini perlu dilindungi, dan khususnya menjadi tanggung jawab Negara untuk memberikan perlindungan. Selain ciri-ciri konsumen yang tidak terinformasikan, karena hal-hal khusus dapat juga dimasukkan kelompok anak-anak, orang tua, dan orng asin (yang tidak dapat berkomunikasi dengan bahasa setempat) sbagai konsumen yang wajib dilindungi oleh negara. Informasi ini harus diberikan secara sama bagi semua konsumen (tidak diskriminatif). Dalam perdagangan yang sangat mengandalkan informasi, akses kepada infoasi yang tertutup misalnya dalam praktik insider trading di bursa efek, dianggap sebagai bentuk kejahatan yang serius. Penggunaan teknologi tinggi dalam mekanisme produksi barang dan/atau jasa akan menyebabkan makin banyaknya infomasi yang harus dikuasai oleh masyarakat konsumen. Di sisi lain mustahil mengharapkan sebagian besar konsumen memiliki kemampuan dan akse informasi secara sama besarnya. Apa yang dikenal dengan consumer ignorance, yaitu ketidakmampuan konsumen menerima infomasi akibat kemajuan teknologi dan keragaman produk yang dipasarkan dapat saja dimanfaatkan secara tidak sewajarnya oleh pelaku usaha. Itulah sebabnya, hukum perlindungan konsumen memberikan hak konsumen atas informasi yang benar, yang didalam nya tercakup juga hak atas infomasi dan diberikan secara tidak diskriminatif. c. Hak untuk Didengar Hak yang erat kaitannya dengan hak untuk mendapatkan informasi adalah hak untuk didengar. Ini disebabkan oleh informasi dari pihak yang berkepentingan atau berkompeten erring tidak cukup memuaskan konsumen. Untuk itu konsumen berhak mengajukan permitaan infomasi lebih lanjut.

harus bersedia memberikan penjelasan mengenai suatu iklan tertentu. Penyanggah berita ini mungkin adalah konsumen dari produk tertentu. Ketentuan dalam Undang-Undang penyiaran itu jelas-jelas menunjukkan hak untuk didengar. maupun pengiklan.Dalam tata karma dan tata cara periklanan Indonesia disebutkan. media. yang dalam doctrin hukum dapat diidentikkan dengan hak untuk membela diri. d. Undang-Undang No. bila diminta oleh konsumen. Dalam pasal 44 UU No. Jika seseorang atau suatu golongan diberikan hak monopoli untuk memproduksi dan memasarkan barang atau jasa. Seandainya ia jadi membeli. akhirnya konsumen pasti didikte untuk mengonsumsi . maka baik perusahaan periklanan. Ia tidak boleh mendapat tekanan dari pihak luar sehingga ia tidak lagi bebas untuk membeli atau tidak membeli. konsumen berhak menentukan pilihannya.5 Tahun 1999 tentang Praktik Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat mengartikan monopoli sebagai penguasaan atas produksi dan /atau pemasaran dan/atau atas penggunaan jasa tertentu oleh salah satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha. ia juga bebas menentukan produk mana yang akan dibeli. Dampak dari praktik monopoli ini adalah adanya persaingan usaha tidak sehat (unfair competition) yang merugikan jepentingan umum (konsumen). Hak untuk Memilih Dalam mengonsumsi suatu produk. Ralat atau pembetulan wajib dilakukan dalam waktu selambat-lambatnya satu kali 24 jam berikutnya atau pada kesempatan pertama pada ruang mata acara yang sama. Jika monopoli itu diberikan kepada perusahaan yang tidak berorientasi pada kepentingan konsumen. Hak untuk memilih ini erat kaitannya dengan ituasi pasar. maka besar kemungkinan konsumen kehilangan hak untuk memilih produk yang satu dengan produk lain. Pengaturan demikian. dan dalam bentuk serta cara yang sama dengan penyampaian isi siaran dan/atau berita yang disanggah. sekalipun masih berbentuk kode etik (self regulation) akan mengarah kepada langkah positif menuju penghormatan hak konsumen untuk didengar.32 Tahun 2002 tentang penyiaran dinyatakan lembaga penyiaran wajib meralatisi siaran dan/atau berita.

kuantitas dan kualitas barang dan/atau jasa di konsumsi harus sesuai dengan nilai uang yang dibayar sebagai penggantinya. dalam ketakbebasan pasar. Jika setuju silakan beli. e. quota agreement. Akibat tidak berimbangnya posisi tawar-menawar antara pelaku usaha dan konsumen. Pratik yang tidak terpuji ini lazim dikenal dengan istilah externalities. Dalam dunia perdagangan dikenal apa yang disebut market sharing agreements. Hak untuk Mendapatkan Produk Barang dan/atau Jasa Sesuai dengan Nilai Tukar yang Diberikan Dengan hak ini berarti konsumen harus dilindungi dari permainan harga yang tidak wajar. Dengan kata lain. Dalam keadaan seperti itu. maka pihak pertama dapat saja mambebankan biaya tertentu yang sewajarnya tidak ditanggung konsumen. Untuk menghindar dari kewajiban memberikan ganti kerugian. sering terjadi pelaku usaha mencantumkan klausul-klausul eksonerasi di dalam hubungan hukum antara produsen/penyalur produk dan konsumennya. pelaku usaha dapat saja mendikte pasar dengan menaikkan harga. yang boleh jadi kualitasnya malahan lebih buruk. dan konsumen menjadi korban dari ketiadaan pilihan. kuantitas dan kualitas barang dan/atau yang dikonsumsinya tidak sesuai dengan nilai tukar yang di berikannya. Namun. pelaku usaha dapat secara sepihak mempermainkan mutu barang dan harga jual. resale price maintenance. f. Dalam situasi demikian. price fixing agreements. Hak untuk Mendapatkan Ganti Kerugian Jika konsumen merasakan. jika tidak silakan mencari tempat yang lain (padahal di tempat lain pun pasar sudah dikuasainya).barang atau jasa itu tanpa dapat berbuat lain. dan sebagainya (dalam sejarah perdagangan dikenal sejak 1870-an). Konsumen dihadapkan pada kondisi : take it or leave it. maintenance. biasanya konsumen terpaksa mencari produk alternatif (bila masih ada). Jenis dan jumlah ganti rugi itu tentu saja harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau atas kesepakatan masing-masing pihak. Klausul seperti . ia berhak mendapatkan ganti rugi yang pantas. Monopoli juga dapat timbul akibat perjanjian antar pelaku usaha yang bersifat membatasi konsumen untuk memilih.

Dalam uraian tentang hak untuk didengar dikatakan. Jika penyanggah isi siaran itu konsumen. konsumen berhak menuntut pertanggungjawaban hukum dari pihak-pihak yang dipandang merugikan karena mengonsumsi produk itu. Jika permintaan yang diajukan konsumen dirasakan tidak mendapat tanggapan yang layak dari pihak-pihak terkait dalam hubungan hukum dengannya.32 Tahun 2002 tentang penyiaran mewajibkan lembaga penyiaran wajib mencantumkan ralat isi siaran dan/atau berita yang disanggah pihak lain. walaupun ralat dimuat. Undang-Undang No. Tentu ada beberapa karateristik tuntutan yang tidak memperbolehkan tuntutan ganti kerugian ini. Lembaga penyiaran tidak terbebas dari tanggung jawab atas tuntutan hukum yang tuntutan hukum yang diajukan oleh pihak yang merasa dirugikan. termasuk advokasi. Hak untuk Mendapatkan Lingkungan Hidup yang Baik dan Sehat Hak konsumen atas lingkungan yang baik dan sehat merupakan hak yang diterima sebagai salah satu hak dasar konsumen oleh berbagai organisasi konsumen di dunia. setiap upaya hukum pada hakikatnya berisikan tuntutan memperoleh ganti kerugian oleh salah satu pihak. Sebaliknya. hak konsumen tidak berarti dengan sendirinya hilang. Pencantuman secara sepihak demikian tetap tidak dapat menghilangkan hak konsumen untuk mendapatkan ganti kerugian. Hak untuk mndapatkan penyelesaian hukum ini sebenarnya meliputi juga hak untuk mendapatkan ganti kerugaian. dan setiap . Lingkungan hidup yang baik dan sehat berate sangat luas. Hak untuk Mendapatkan Penyelesaian Hukum Hak untuk mendapatkan ganti kerugian harus ditempatkan lebih tinggi daripada hak pelaku usaha (produsen/penyalur produk) untuk membuat klausul eksonerasi secara sepihak. seperti dalam upaya legal stnding LSM yang dibuka kemungkinannya dalam Pasal 46 ayat (1) Huruf c UUPK. h. g. Untuk memperoleh ganti kerugian. tetapi kedua hak tersebut tidak berarti identik. Dengan kata lain. konsumen tidak selalu harus menempuh upaya hukum terlebih dahulu.maka konsumen berhak mendapatkan penyelesaian hukum.“barng yang dibeli tidak dapat dikembalikan” merupakan hal yanglazim ditemukan pada toko-toko.

. Misalnya munculnya gerakan konsumerisme hijau (green consumerism) yang sangat peduli pada kelestarian lingkungan. konsumen pula yang dirugikan. Dalam posisi demikian.5 Tahun 1999 disebut dengan “persaingan usaha tidak sehat” dapat terjadi jika seorang pengusaha berusaha menarik langganan atau klien pengusaha lain untuk memajukan usahanya atau memperluas penjualan atau pemasrannya dengan menggunakan alat atau sarana yang bertentangan dengan iktikad baik dankejujuran dalam pergaulan perekonomian. Sementara itu. karena praktis pangsa pasar terbesarnya adalah Negara-negara anggota ITTO.23 Tahun 1992 tentang kesehatan dan pasal 5 ayat (1) UU No. jika telah memperoleh ecolabeling certificate. Tujuannya untuk merebut pasar. Untuk itu lembaga Ekolabeling Indonesia (LEI) pada tahun 1998 mulai melakukan audit atas sejumlah perusahaan perkayuan Indonesia agar dapat diberkan sertifikat ekolabeling yang disebut SNI 5000. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Satu produsen yang kuat mencoba mendesak produsen saingannya yang lebih lemah dengan cara membanting harga produk. Pada kesempatan berikutnya. Dalam pasal 22 Undang-undang No. khususnya bagi produsen hasil hutan tropis.makhluk hidup adalah konsumen atas lingkungan hidupnya. Contoh bentuk yang kerap terjadi dalam persaingan curang adalah permainan harga (dumping). baru dapat menjual produknya di Negara-negara yang bergabung dalam The International Tropical Timber Organazation (ITTO). Desakan pemenuhan hak konsumen atas lingkungan hidup yang baik dan sehat makin mengemuka akhir-akhir ini. seperti Indonesia. dalam pasar yang monopolistic itulah harga kembali dikendalikan oleh si produsen yang curng ini. Lingkungan hidup meliputi lingkungan hidup dalam arti fisik dan lingkungan nonfisik. mulai tahun 2000 semua perusahaan yang berkaitan dengan hasil hutan. i. Hak untuk Dilindungi dari Akibat Negatif Persaingan Curang Persaingan curang atau dalam Undang-Undang No. hak untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat ini diyatakan dengan tegas. dan produsen saingannya akan berhenti berproduksi.Ketentuan demikian sangat penting artinya.

bertanggung jawab atas barang tersebut.5 tahun 1999 disebutkan adanya (1) perjanjian dilarang. dan perjanjian dengan pihak luar negeri yang mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan/atau persaingan tidak sehat. Mereka ini bertanggung jawab atas segala kerugian yang timbul dari barang yang mereka edarkan ke masyarakat. Ketentuan ini mengharuskan importir yang mengimpor barang dari eksportir negara ketiga mendapatkan jaminan melalui suatu perjanjian yang menyatakan bahwa pihak eksportir bertanggung jawab sepenuhnya atas barang yang dimasukkan EC. khususnya oleh pemerintah guna mencegah munculnya akibat-akibat langsung yang merugikan konsumen. Oleh karena itu. perjanjian tertutup. Selanjutnya Pasal 3 ayat (2) Directive menyebutkan bahwa: siapa pun yang mengimpor suatu produk ke lingkungan EC adalah produsen. pedagang/penyalur yang mengedarkan barang yang tidak jelas identitas produsennya. merek. antara lain dalam pasal 17 sampai dengan pasal 24. Hak untuk Mendapatkan Pendidikan Konsumen Masalah perlindungan konsumen di Indonesia termasuk masalah yang baru. trust. Ketentuan ini sengaja dicantumkan untuk melindungi konsumen dari kemungkinan harus menggugat produsen asing (yang pusat kegiatannya) di luar lingkungan EC. termasuk bila kerugian timbul akibat cacatnya barang yang merupakan komponen dalam proses produksinya. yang dengan membubuhkan nama. J. integrasi vertical. termasuk dalam bentuk perjanjian yang dilarang adalah oligopoli. kartel. oligopsoni. pemboikotan. dan (2) kegiatan yang dilarang. Lebih lanjut lagi. Dalam Undang-undang No. wajar bila masih banyak konsumen (1) Pihak yang menghasilkan produk akhir berupa barang-barang manufaktur. Siapa saja. (2) (3) Produsen bahan mentah atau komponen suatu produk. pembagian wilayah. Demikian pula tanggung jawab .Hak konsumen untuk dihindari dari akibat negatif persaingan curng dapat dikatakan sebagai upaya pre-emptive yang harus dilakukan. penetapan harga. ataupun tanda- tanda lain pada produk menampakkan dirinya sebagai produsen dari suatu barang.

meskipun kerusakan timbul akibat cacat pada produk. Sebagian besar negara anggota EC telah meratifikasi Konvensi tentang Jurisdiksi. Hak-hak produsen dapat ditemukan antara lain pada faktor-faktor yang membebaskan produsen dari tanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh konsumen. 4) barang yang diproduksi secara individual tidak untuk keperluan produksi. 4) produk pesanan pemerintah pusat (federal). yaitu apabila: 1) produk tersebut sebenarnya tidak diedarkan. faktor-faktor yang membebaskan produsen dari tanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh konsumen meliputi: 1) kelalaian si konsumen penderita. 2) penyalahgunaan produk yang. b. tidak terduga pada saat produk dibuat (unforseeable misuse). hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan. 2) cacat timbul di kemudian hari. 3) lewatnya jangka waktu penuntutan (daluarsa). Dalam Pasal 6 UU No. 3) cacat timbul setelah produk berada di luar kontrol produsen. gugatan atas produk liability dapat diajukan ke pengadilan yang jurisdiksinya meliputi tempat timbulnya kerugian. tapi tidak jelas importimya. atau 10 tahun sejak barang diproduksi. sehingga berdasar Pasal 5 ayat (3) konvensi ini. . hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beriktikad tidak baik. Di Amerika Serikat. 8 Tahun 1999 Produsen disebut sebagai pelaku usaha yang mempunyai hak sebagai berikut: a. 5) cacat timbul akibat ditaatinya ketentuan yang ditetapkan oleh penguasa.penyalur/pedagang ini timbul atas barang yang diimpor dari negara ketiga. 5) kerugian yang timbul (sebagian) akibat kelalaian yang dilakukan oleh produsen lain dalam kerja sama produksi (di beberapa negara bagian yang mengakui joint and several liability). yaitu 6 (enam) tahun setelah pembelian.

c. memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan. memberi kompensasi ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/ jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian. sehingga dapat diartikan bahwa kewajiban pelaku usaha untuk beriktikad baik dimulai sejak barang dirancang/diproduksi sampai pada tahap puma penjualan. perbaikan. c. pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan. hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan. b. sebaliknya konsumen hanya diwajibkan beriktikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau . jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum sengketa konsumen. ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan. dan pemeliharaan. d. Dalam UUPK tampak bahwa iktikad baik lebih ditekankan pada pelaku usaha. d. memberi kompensasi. e. karena meliputi semua tahapan dalam melakukan kegiatan usahanya. Dalam UUPK pelaku usaha diwajibkan beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya. f. e. memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriniinatif. menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku. sedangkan bagi konsumen diwajibkan beriktikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa. memberikan informasi yang benar. g. beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya. sebagai berikut: a. Adapun dalam Pasal 7 diatur kewajiban pelaku usaha.

sedangkan bagi konsumen. sedangkan Man atau brosur tersebut tidak selamanya memuat informasi yang benar karena pada umumnya hanya menonjolkan kelebihan produk Peringatan ini sama pentingnya dengan instruksi penggunaan suatu produk yang merupakan informasi bagi konsumen. Peringatan yang diberikan kepada konsumen ini memegang peranan penting dalam kaftan dengan keamanan suatu produk. peringatan. Hal ini tentu saja disebabkan oleh kemungkinan terjadinya kerugian bagi konsumen dimulai sejak barang dirancang/diproduksi oleh produsen (pelaku usaha). yang akan sangat merugikan konsumen. kemungkinan untuk dapat merugikan produsen mulai pada saat melakukan transaksi dengan produsen) Tentang kewajiban kedua pelaku usaha yaitu memberikan informasi yang benar. Hal ini berlaku bagi . Kerugian yang dialami oleh konsumen di Indonesia dalam kaitannya dengan misrepresentasi banyak disebabkan karena tergiur oleh iklan-iklan atau brosur-brosur produk tertentu.jasa. Peringatan yang merupakan bagian dari pemberian informasi kepada konsumen ini merupakan pelengkap dari proses produksi. Produk yang dibawa ke pasar tanpa petunjuk cars pemakaian dan peringatan atau petunjuk dan peringatan yang sangat kurang/tidak memadai menyebabkan suatu produk dikategorikan sebagai produk yang cacat instruksi. Hal ini berarti bahwa tugas produsen pembuat tersebut tidak berakhir hanya dengan nienempatkan suatu produk dalam sirkulasi. disebabkan karena informasi di samping merupakan hak konsumen. Dengan demikian pabrikan (produsen pembuat wajib menyampaikan peringatan kepada konsumen). walaupun keduanya memiliki fungsi yang berbeda yaitu instruksi terutama telah diperhitungkan untuk menjamin efisiensi penggunaan produk. Diperlukan representasi yang benar terhadap suatu produk. jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan. Penyampaian informasi terhadap konsumen tersebut dapat berupa representasi. maupun yang berupa instruksi. dan pemeliharaan. Pentingnya penyampaian informasi yang benar terhadap konsumen mengenai suatu produk. juga karena ketiadaan informasi yang tidak memadai dari pelaku usaha merupakan salah satu jenis cacat produk (cacat informasi). agar konsumen tidak salah terhadap gambaran mengenai suatu produk tertentu. karena salah satu penyebab terjadinya kerugian terhadap konsumen adalah terjadinya misrepresentasi terhadap produk tertentu. perbaikan. sedangkan peringatan dirancang untuk menjamin keamanan penggunaan produk.

peringatan sederhana, misalnya "simpan di luar jangkauan anak-anak" dan berlaku pula terhadap peringatan mengenai efek samping setelah pemakaian suatu produk tertentu. Peringatan demikian maupun petunjuk-petunjuk pemakaian harus disesuaikan dengan sifat produk dan kelompok pemakai. Selain peringatan, instruksi yang ditujukan untuk menjamin efisiensi penggunaan produk juga penting untuk mencegah timbulnya kerugian bagi konsumen. Pencantuman informasi bagi konsumen yang berupa instruksi atau petunjuk prosedur pemakaian suatu produk merupakan kewajiban bagi produsen agar produknya tidak dianggap cacat (karena ketiadaan informasi atau informasi yang tidak memadai). Sebaliknya, konsumen berkewajiban untuk membaca, atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselarnatan. Daftar Pertanyaan 1. Apakah terdapat perbedaan konsumen antara dan konsumen akhir? Jelaskan disertai contoh! 2. Sebut dan jelaskan secara singkat unsur-unsur definisi konsumen! 3. Mengapa tingkat pendidikan konsumen menjadi sangat berpengaruh pada penyampaian informasi, dan siapa yang paling berhak untuk dilindungi, konsumen yang terinformasi atau konsumen yang tidak terinformasi? Jelaskan disertai contoh! 4. Apa yang menjadi alasan sehingga lingkungan hidup yang baik dan sehat juga mendapat perhatian dan merupakan hak konsumen untuk mendapatkannya, jelaskan secara singkat! 5. Mengapa pengusaha dalam Pasal 7 UU No. 8 Tahun 1999 diwajibkan untuk beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya?

BAB 3 PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAMPERATURAN PERUNDANGUNDANGAN A. PENDAHULUAN Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 memiliki ketentuan yang menyatakan bahwa kesemua undang-undang yang ada dan berkaitan dengan perlindungan konsumen tetap berlaku, sepanjang tidak bertentangan atau telah diatur khusus oleh undangundang. Oleh karena itu, tidak dapat lain haruslah dipelajari juga peraturan perundang-undangan tentang konsumen dan/atau perlindungan konsumen ini dalam kaidah-kaidah hukum peraturan perundang-undangan umum yang mungkin atau dapat mengatur dan/atau melindungi hubungan dan/atau masalah konsumen dengan penyedia barang atau jasa. Sebagai akibat dari penggunaan peraturan perundangundangan umum ini, dengan sendirinya berlaku pulalah asas-asas hukum yang terkandung di dalamnya pada berbagai pengaturan dan/atau perlindungan konsumen tersebut. Padahal, nanti akan nyata, di antara asas hukum tersebut tidak cocok untuk memenuhi fungsi pengaturan dan/atau perlindungan pada konsumen, tanpa setidaktidaknya dilengkapi/diadakan pembatasan berlakunya asas-asas hukum tertentu itu. Pembatasan dimaksudkan dengan tujuan "menyeimbangkan kedudukan" di antara para pihak pelaku usaha dan/atau konsumen bersangkutan. Yang dimaksudkan dengan peraturan perundang-undangan umum adalah semua peraturan perundangan tertulis yang diterbitkan oleh badan-badan yang berwenang untuk itu, baik di pusat maupun di daerah-daerah. Peraturan perundangundangan itu antara lain adalah (di Pusat) Undang-Undang Dasar 1945, UndangUndang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang

Peraturan Presiden, dan seterusnya, dan (di daerah-daerah) Peraturan Daerah (Peraturan Daerah Provinsi atau Kabupaten/Kota serta peraturan Desa dan sebagainya). Purnadi2) dalam bukunya menyebut perundang-undangan umum ini sebagai undang-undang dalam arti materiil. Az. Nasution menjelaskan3) konsekuensi dari upaya menyusun rancangan undang-undang tentang perlindungan konsumen yang sekarang sudah diberlakukan dapat disebut sebagai membangun tata hukum konsumen secara tersendiri yang berada dalam Sistem Hukum Indonesia. Sungguh ini pekedaan yang bukan sederhana sebagai contoh dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama, apabila kits mengkaji peraturan yang berkaitan dengan masalah standar, seperti yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan, Menteri Perindustrian dan Perdagangan dan berbagai Menteri lain, dapat dikatakan bahwa standar yang ditetapkan itu selain dimaksud untuk memberi perlindungan kepada konsumen juga melindungi konsumen yang berstatus pengusaha, ataupun masyarakat umum lainnya. Demikian pula pengaturan mengenai ukuran, timbangan, takaran atau ketentuan mengenai label, ketentuan daluwarsa, dan sebagainya. Kedua, ketentuan dalam hukum pidana yang berkaitan dengan penipuan, pemalsuan, penjualan barang dapat membahayakan jiwa manusia (Pasal 383, 263, 202, 382, 383). Ketentuan ini termasuk sebagai delik pidana, yaitu perbuatan yang bersifat melawan hukum yang dilarang dan diancam dengan pidana. Ketentuan ini termasuk pula melindungi konsumen, namun juga melindungi masyarakat pada umumnya. Ketiga, ketentuan dalam hukum perdata yang berkaitan dengan perikatan (Pasal 1233, 1234, 1313, 1351) mengatur hubungan perjanjian pars pihak baik yang berstatus konsumen maupun status pengusaha sebagai produsen barang atau jasa. Keempat, Ketentuan tentang bidang peradilan, Undang-Undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman mengatur mengenai peradilan umum yang disebut Pengadilan Negeri. Pengadilan ini selanjutnya merupakan lembaga peradilan yang mengadili perkara pidana dan perdata yang bagi perkara yang menyangkut masyarakat umum termasuk konsumen. Dari keempat catatan tersebut, ada upaya membangun tata hukum yang diperuntukkan bagi konsumen Indonesia dalam sistem Hukum Indonesia yang sudah berlaku dewasa ini.

karena dalam suatu hubungan hukum dengan penjual.Alasan yang dapat dikemukakan untuk menerbitkan peraturan perundangundangan yang secara khusus mengatur dan melindungi kepentingan konsumen dapat disebutkan sebagai berikut. konsumen merupakan pengguna barang dan jasa untuk kepentingan diri sendiri dan tidak untuk diproduksi ataupun diperdagangkan. masih harus dipelajari semua peraturan perundang-undangan umum yang berlaku. sampai saat ini orang bertumpu pada kata "segenap bangsa" sehingga ia diambil sebagai asas tentang persatuan seluruh bangsa Indonesia (asas persatuan bangsa). hukum konsumen "ditemukan" di dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sebelumnya. telah diuraikan bahwa Undang-Undang Perlindungan Konsumen berlaku setahun sejak disahkannya (tanggal 20 April 2000). terutama Hukum Perlindungan Konsumen mendapatkan landasan hukumnya pada Undang-Undang Dasar 1945. Pembukaan. Sekalipun peraturan perundang-undangan itu tidak khusus diterbitkan untuk konsumen atau perlindungan konsumen. Tetapi peraturan perundangundangan umum yang berlaku memuat juga berbagai kaidah menyangkut hubungan dan masalah konsumen. di samping itu. Umumnya. setidaktidaknya is merupakan cumber juga dari hukum konsumen dan/atau hukum perlindungan konsumen. dari kata "melindungi" menurut Az.1) 1. SUMBER-SUMBER HUKUM KONSUMEN Di samping Undang-Undang Perlindungan Konsumen. a. Akan tetapi. Alinea ke-4 berbunyi: Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia. Undang-Undang Dasar dan Ketetapan MPR Hukum Konsumen. Konsumen memerlukan sarana atau acara hukum tersendiri sebagai upaya guns melindungi atau memperoleh haknya. b. B. Dengan demikian dan ditambah dengan ketentuan Pasal 64 (Ketentuan Peralihan) undang-undang ini. . Beberapa di antaranya akan diuraikan berikut ini. berarti untuk "membela" kepentingan konsumen. Konsumen memerlukan pengaturan tersendiri.

untuk melaksanakan perintah UUD 1945 melindungi segenap bangsa. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) telah menetapkan berbagai ketetapan MPR. Sesungguhnya. pasal-pasal ini mengenal hak-hak warga negara. baik diminta atau tidak. Ketentuan tersebut berbunyi: Tiap warga Negara berhak atas penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. orang asli atau keturunan dan pengusaha/pelaku usaha atau konsumen. Kalau pada TAP-MPR 1978 digunakan istilah "menguntungkan" konsumen. dalam hal ini khususnya melindungi konsumen. maka pada tahun 1993 digunakan istilah "melindungi kepentingan konsumen". Baik ia laki-laki atau perempuan. Selanjutnya. TAP-MPR 1988 "menjamin" kepentingan konsumen. meningkatkan pendapatan produsen dan melindungi kepentingan konsumen". Salah satu yang menarik dari TAP-MPR 1993 ini adalah disusunnya dalam satu napas. orang kota atau orang desa. orang kaya atau orang miskin. Perlindungan hukum pada segenap bangsa itu tentulah bagi segenap bangsa tanpa kecuali. Landasan hukum lainnya terdapat pada ketentuan termuat dalam Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Penjelasan autentik Pasal 27 ayat (2) ini berbunyi: Telah jelas. khususnya sejak tahun 1978. sekalipun dengan kualifikasi yang berbeda-beda pada masing-masing ketetapan. Susunan kalimat tersebut berbunyi: “…………. dalam satu baris kalimat. Sayangnya.Nasution di dalamnya terkandung pula asas perlindungan (hukum) pada segenap bangsa tersebut. tentang kaftan produsen dan konsumen. untuk melindungi dan atau mencegah terjadinya gangguan tersebut. Dengan ketetapan terakhir Majelis Permusyawaratan Rakyat Tahun 1993 (TAPMPR) makin jelas kehendak rakyat atau adanya perlindungan konsumen. Penghidupan yang layak. apalagi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan merupakan hak dari warga negara dan hak semua orang. dalam masingmasing TAP-MPR tersebut tidak terdapat penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan menguntungkan. la merupakan hak dasar bagi rakyat secara menyeluruh. maka alai-alai negara akan turun Langan. . apabila kehidupan seseorang terganggu atau diganggu oleh pihak/pihak lain. menjamin atau melindungi kepentingan konsumen tersebut.

Dengan susunan kalimat demikian. bermanfaat bagi . Adanya praktik-praktik niaga tertentu yang menghambat atau menyingkirkan pars pengusaha dari pasar. Dalam hubungannya dengan pars konsumen. adalah agar barang/jasa konsumen yang mereka peroleh. nyata bahwa konsumen tidak sematamata menggunakan ukuran-ukuran komersial sebagaimana yang menjadi ukuran pelaku usaha dalam penggunaan barang dan/atau jasa yang mereka konsumsi. tetapi semata-mata untuk memenuhi kebutuhan raga dan jiwa konsumen. kegiatan usaha pengusaha adalah dalam rangka memproduksi. bahan penolong. Nilai barang atau jasa yang digunakan konsumen dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka tidak diukur atas dasar untung rugi secara ekonomis belaka. seperti praktik persaingan melawan hukum. atau bahan pelengkap. penguasaan pasar yang dominan. Sebelumnya. Kepentingan peningkatan pendapatan atau penghasilan pelaku usaha adalah dalam rangka pelaksanaan kegiatan usaha mereka. dan/atau mengedarkan produk hasil usaha mereka. Perlindungan hukum yang mereka perlukan adalah agar penghasilan dalam berusaha dapat meningkat. tidak merosot atau bahkan hilang sama sekah baik karena: a. menawarkan. sebagai pribadi penggunaan barang dan/jasa itu adalah untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. Kepentingan mereka dalam menggunakan barang atau jasa adalah untuk kegiatan usaha memproduksi dan/atau berdagang itu. Terdapat kelemahan dalam menjalankan usaha tertentu atau tidak efisien dalam menjalankan manajemen usaha (perlu ketentuan-ketentuan tentang pembinaan) atau b. dan lain-lain (memerlukan ketentuanketentuan pengawasan). Oleh karena itu. telah diterangkan bahwa pengusaha dalam menjalankan kegiatan memproduksi atau berdagang menggunakan barang atau jasa sebagai bahan baku. bahan tambahan. Sifat kepentingan khas produsen (lebih tepat pelaku usaha atau pengusaha) telah ditunjukkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. Adapun bagi konsumen akhir. Kepentingan konsumen dalam kaftan dengan penggunaan barang dan/atau jasa. terlihat lebih jelas arahan Majelis Permusyawaratan Rakyat tentang kekhususan kepentingan produsen (dan semua pihak yang dipersamakan dengannya) dan kepentingan konsumen. adalah untuk meningkatkan pendapatan atau penghasilan mereka (tujuan komersial). keluarga atau rumah tangganya (kepentingan nonkomersial).

2. memproduksinya. tetapi persaingan antarkalangan usaha itu haruslah sehat dan terkendali. lebih banyak menimbulkan kerancuan dan kesulitan daripada kemanfaatan. termasuk di dalamnya bagaimana menghadapi persaingan usaha. Persaingan haruslah berjalan secara wajar dan tidak terjadi kecurangan-kecurangan yang mengakibatkan kalangan pelaku usaha tidak saja tidak meningkat pendapatannya. kepentingan nonkomersial mereka yang harus diperhatikan adalah akibat-akibat kegiatan usaha dan persaingan di kalangan pelaku usaha terhadap jiwa. kesehatan. yang menonjol dalam perlindungan kepentingan konsumen ini adalah perlindungan pada jiwa. Bagi kalangan pelaku usaha perlindungan itu adalah untuk kepentingan komersial mereka bahan dalam bake. dan selaras dalam kehidupan di antara keduanya. haruslah diciptakan keadaan yang seimbang. diri. Sekalipun diakui bahwa persaingan merupakan suatu yang biasa dalam dunia usaha. dan konsumen adalah konsumen. Oleh karena itu. mengangkutnya dan memasarkannya. harta dan/atau kepentingan kekeluargaan konsumen. serasi. hukum dagang serta kaidah-kaidah keperdataan yang termuat dalam berbagai . tetap harus dijaga keseimbangan. dalam penyusunan peraturan perundang-undangan haruslah jelas siapa yang dimaksudkan dengan pelaku usaha dan siapa pula konsumen. seperti pemikiran sementara orang pada saat ini.kesehatan/keselamatan tubuh. Bagi konsumen. Haruslah ada peraturan perundangundangan yang mengatur tentang usaha dan mekanisme persaingan itu. Jadi. dan seperti bagaimana bagaimana mendapatkan tambahan penolong. Hukum Konsumen dalam Hukum Perdata Dengan hukum perdata dimaksudkan hukum perdata dalam arti lugs. bahkan coati usahanya. keselarasan. keluarga dan/atau rumah tangganya (tidak membahayakan atau merugikan mereka). keamanan jiwa dan harta benda. dan keserasian di antara keduanya. termasuk hukum perdata. Perbedaan prinsipil dari kepentingan-kepentingan dalam penggunaan barang/ jasa dan pelaksanaan kegiatan antara pelaku usaha dan konsumen dengan sendirinya memerlukan jenis pengaturan perlindungan dan dukungan yang berbeda pula. Pelaku usaha adalah pelaku usaha. Pencampuradukan keduanya. Dalam keadaan bagaimanapun. spa hak-hak dan/atau kewajiban yang sesuai kepentingan masing-masing pihak. menjalankan bahan kegiatan usaha. tubuh atau harta benda mereka.

Selanjutnya menganggap tidak berlaku beberapa pasal dari KUH Perdata. memuat pula berbagai ketentuan hukum perdata bagi konsumen. Kesemuanya itu baik hukum perdata tertulis maupun hukum perdata tidak tertulis (hukum adat). buku ketiga. KUH Perdata bahkan tampak seperti lebih dominan berlakunya dibandingkan dengan kaidah-kaidah hukum adat atau kaidah-kaidah hukum tidak tertulis dan putusan-putusan pengadilan negeri maupun pengadilan-pengadilan luar negeri yang berkaitan. Adapun hubungan-hubungan hukum atau masalah antara penyedia barang atau jasa dan konsumen dari berbagai negara yang berbeda. untuk selebihnya dalam pengalaman di pengadilan sepanjang kemerdekaan sampai waktu ini. KUH Perdata memuat berbagai kaidah hukum berkaitan dengan hubungan hukum dan masalah antarpelaku usaha penyedia barang dan/atau jasa dan konsumen pengguna barang-barang atau jasa tersebut. atau tidak bersamaan hukum yang berlaku bagi mereka. dalam berbagai peraturan perundang-undangan lain. dan buku keempat memuat berbagai kaidah hukum yang mengatur hubungan konsumen dan penyedia barang atau jasa konsumen tersebut. Di samping itu. tampaknya termuat puts kaidah-kaidah hukum yang mempengaruhi dan/ atau termasuk dalam bidang hukum perdata. Patut kiranya diperhatikan kenyataan yang ada dalam pemberlakuan berbagai kaidah hukum perdata tersebut. sekalipun sudah amat berkurang. khususnya Hukum Perdata Internasional. Pada tahun 1963. Mahkamah Agung menganggap Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (13W) tidak'sebagai undang-undang tetapi sebagai dokumen yang hanya menggambarkan suatu kelompok hukum tidak tertulis. Akan tetapi di samping itu. masih tampak hidup dan terlihat dalam berbagai putusan pengadilan. Terutama buku kedua. maupun buku kedua. Beberapa putusan pengadilan tentang masalah keperdataan berkaitan dengan perlindungan konsumen masih terlihat. khususnya (jasa) perasuransian dan pelayaran. Begitu pula dalam KURD. yang tidak tertulis tetapi ditunjuk oleh pengadilan dalam perkara-perkara tertentu. Kaidah-kaidah hukum perdata umumnya termuat dalam Kitab UndangUndang Hukum Perdata (KUH Perdata). Antara lain tentang siapa yang dimaksudkan . mengatur tentang hak-hak dan kewajiban yang terbit dari. baik buku pertama.peraturan perundang-undangan lainnya. Akan tetapi. dapat diberlakukan Hukum Internasional dan asasasas hukum internasional. Hubungan hukum perdata dan masalahnya dalam lingkungan berlaku Hukum Adat. tentu saja jugs kaidahkaidah hukum perdata adat.

14 Tahun 1992). Undang-Undang tentang Lalu Lintas danAngkutan Jalan (Undang-Undang No. Lembaran Negara Tahun 1999 No. 23 Tahun 1992). 16 Tahun 1985). 42). 7 Tahun 1996). Undang-Undang tentang Lingkungan Hidup (Undang-Undang No. KURD. hubungan hukum dan masalah antara penyedia barang atau penyelenggara jasa tertentu dan konsumen. Berta tats cars penyelesaian masalah yang ter adi dalam Sengketa antara konsumen dan penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa yang diatur dalam peraturan perundang-undangan bersangkutan. 21 Tahun 1982). Buku Kesatu dan Buku Kedua. Perbuatan Melawan Hukum (Pasal 1365 KUH Perdata) Dalam Sengketa Antara Konsumen dan Pelaku Usaha Perbuatan melawan hukum di Indonesia secara normatif selalu merujuk pada ketentuan Pasal 1365 KUH Perdata. substansi ketentuan Pasal 1365 KUH Perdata senantiasa memerlukan . Oleh karena itu. dan keempat. Berbagai peraturan perundang-undangan lain yang memuat kaidah-kaidah hukum bersifat perdata tentang subjek-subjek hukum. 4 Tahun 1982). Undang-Undang tentang Kesehatan ( Undang-Undang No. Beberapa di antaranya (yang terbaru) adalah Undang-Undang tentang Metrologi Legal (Undang-Undang No. 5 Tahun 1984). Undang-Undang tentang Rumah Susun (Undang-Undang No. Jadi. dan terakhir UndangUndang Perlindungan Konsumen (UndangUndang No. Undang-Undang tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers (Undang-Undang No. ketiga.sebagai subjek hukum dalam suatu hubungan hukum konsumen. terutama dalam buku kedua. UndangUndang tentang Perindustrian (Undang-Undang No. 2 Tahun 1981). kalau dirangkum keseluruhanriya. UndangUndang tentang Pangan ( Undang-Undang No. hak-hak dan kewajiban masing-masing. terlihat bahwa kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah hukum antara pelaku usaha penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa dengan konsumennya masing-masing terlihat termuat dalam:    KUH Perdata. 8 Tahun 1999. Rumusan norma dalam pasal ini unik tidak seperti ketentuan pasal lainnya. Perumusan norma Pasal 1365 KUH Perdata lebih merupakan struktur norma daripada substansi ketentuan hukum yang sudah lengkap.

ganti rugi dalam bentuk uang atas kerugian yang ditimbulkan. seperti kiasan yang sudah kits kenal bahwa Pasal 1365 KUH Perdata ini "Tak lekang kena pangs. sesuai dengan kedudukan dan keadaan pars pihak. Pasal 1372 menyatakan bahwa tuntutan terhadap penghinaan adalah bertujuan untuk mendapat ganti rugi dan pemulihan nama baik. berhak untuk menuntut ganti rugi yang harus dinilai menurut keadaan dan kekayaan kedua belah pihak.materialisasi di luar KUH Perdata. . Dengan kata lain. Perbuatan Melawan Hukum terhadap tubuh dan jiwa manusia. Kedua. Perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) sama dengan perbuatan melawan undang-undang (on wetmatigedaad). Perbuatan Melawan Hukum Indonesia yang berasal dari Eropa Kontinental diatur dalam Pasal 1365 KUH Perdata sampai dengan Pasal 1380 KUH Perdata. Dilihat dari dimensi waktu. ketentuan ini akan "abadi" karena hanya merupakan struktur. Pasal 1367 ayat (1) KUH Perdata menyatakan: Seseorang tidak hanya bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya sendiri tetapi juga disebabkan karena perbuatan orangorang yang menjadi tanggungannya. tak lapuk kena hujan". Perbuatan Melawan Hukum terhadap nama baik. orang tug korban yang lazimnya mendapat nafkah dari pekerjaan korban. melarang dilakukannya perbuatan tertentu. 4. atau disebabkan oleh barang-barang yang berada di bawah pengawasannya. Ketiga. ganti rugi dalam bentuk natura atau dikembalikan dalam keadaan semula. 2. pernyataan bahwa perbuatan yang dilakukan adalah melawan hukum. 3. Pasal 1370 KUH Perdata menyatakan bahwa dalam hal tedadi pembunuhan dengan sengaja atau kelalaiannya maka suami atau istri. Masalah penghinaan diatur dalam Pasal 1372 sampai dengan Pasal 1380 KUH Perdata. anak. Pasal-pasal tersebut mengatur bentuk tanggung jawab atas Perbuatan Melawan Hukum yang terbagi atas: Pertama. tanggung jawab tidak hanya karena perbuatan melawan hukum yang dilakukan diri sendiri tetapi juga berkenaan dengan perbuatan melawan hukum orang lain dan barang-barang di bawah pengawasannya. Beberapa tuntutan yang dapat diajukan karena perbuatan melawan hukum ialah: 1.

Pada suatu hari penggugat pergi mengantarkan istri penggugat untuk mengurut kakinya ke suatu tempat dengan mengendarai mobil BMW. Namun dengan lahirnya undang-undang yang secara khusus mengatur mengenai tuntutan ganti kerugian maka telah terjadi perubahan dalam penerapan Pasal 1365 KUH Perdata. Akhimya. misalnya undangundang tentang perlindungan konsumen. istri penggugat berteriak sekeras-kerasnya dengan harapan ada yang mendengarkan dan bisa membantu keluar dari mobil. penggugat tidak bisa menahan buang air kecil karena menderita suatu penyakit sehingga terburu-buru masuk ke toilet yang terletak di dalam rumah sambil menutup pintu mobil yang menggunakan remote control. hubungan dengan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha. Sebelum undang-undang tersebut lahir. Istri penggugat langsung menekan tombol klakson mobil BMW untuk mints pertolongan. dan kunci elektroniknya tidak mungkin dipalsukan. gugatan yang berkenaan dengan ganti rugi berkaitan dengan materi yang kemudian diatur dalam undang-undang tersebut didasarkan pada Pasal 1365 KUH Perdata. Harapan istri penggugat temyata jugs sic-sic karena tidak seorang pun mendengarkan teriakannya karena ia berada dalam ruangan kedap . menurut Tergugat salah sate kecanggihan mobil BMW adalah sistem elektroniknya akan memberi keamanan dan kenyamanan. istri penggugat lalu membuka pintu mobil dari dalam namun tidak berhasil sehingga merasa ketakutan karena terperangkap di dalam mobil. Perkara berikut ini menunjukkan perubahan penerapan Pasal 1365 KUH Perdata dalam. penumpang yang masih berada di dalam mobil tetap bisa keluar dari mobil dengan cara membuka pintu dari dalam. Sesampainya di rumah. Karena kondisi kaki istri penggugat masih terasa nyeri maka tidak bisa keluar mobil bersamaan dengan penggugat dan ketika hendak keluar.Penerapan Pasal 1365 KUH Perdata mengalami perubahan melalui putusan pengadilan dan undang-undang. tetapi klakson tidak berfungsi karena seluruh sistem elektroniknya coati. Berbagai undang-undang telah secara khusus mengatur tentang gaud rugi karena perbuatan melawan hukum. lalu ia berusaha mencopot panel yang ada di dalam mobil namun tidak berhasil memecahkannya. Sebagaimana yang wring dilakukan oleh penggugat ketika mengendarai jenis mobil yang lainnya karena sekalipun dikunci dari luar. perkara bermula dari pembelian mobil jenis BMW 318i yang dilakukan oleh Penggugat.

BMW Group Indonesia sebagai tergugat II dan PT Astrea International Tbk sebagai tergugat III dengan dalil Perbuatan Melawan Hukum. dan hampir merenggut nyawa serta menimbulkan kerugian yang besar bagi penggugat. serta tindakan Tergugat III yang tidak memberikan informasi yang jelas tentang kondisi mobil serta cara pemakaiannya kepada penggugat. Setelah empat puluh menit berjuang akhirnya istri penggugat berhasil meretakkan kaca mobil dengan sebuah bends yang berhasil ditemukan di dalam mobil BMW. Istri penggugat kembali berteriak untuk meminta tolong yang temyata dapat didengar oleh penggugat yang sebelumnya beranggapan bahwa istri penggugat sudah masuk ke dalam rumah. hukum yang berlaku dalam perkara ini adalah Undang-Undang No. Menurut penggugat. sangat berakibat fatal. dan menurut penggugat hal ini jelas merupakan perbuatan melawan hukum. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Setelah itu barulah ia dapat menghirup udara segar yang masuk dari lubang kaca mobil. Berdasarkan kejadian tersebut. Tergugat dalam jawabannya mendalilkan bahwa karena penggugat telah mengajukan tuntutan pelanggaran Undang-Undang No. tindakan Tergugat I dan Tergugat II memproduksi mobil BMW dengan menggunakan sistem double lock. sistem penguncian double lock yang diprodilksi tergugat I dan tergugat 11 tidak menjamin keamanan dan keselamatan konsumen di dalam memakai produk tersebut.suara (dalam mobil BMW yang terkunci) sehingga pada saat itu kondisi istri penggugat sangat lemah dan mengenaskan akibat banyaknya mengeluarkan tenaga serta kehabisan oksigen. Menurut penggugat. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen di samping Perbuatan Melawan Hukum (Pasal 1365 KUH Perdata) maka sesuai dengan asas hukum lex specialis derogat lex generalis dan asas hukum lex posteriori derogat legi priori. penggugat menggugat BMW AG yang berkedudukan di Jerman sebagai Tergugat I. Tanga pikir panjang istri penggugat merobek kaca mobil yang sudah retak dengan tangannya dan berhasil membentuk lubang angin. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. . Lebih lanjut penggugat juga mendalilkan bahwa pars tergugat yang telah memproduksi mobil BMW dengan sistem penguncian double lock tersebut juga telah melanggar Undang-Undang No. tanpa disadari tangan istri penggugat terluka dan berlumuran darah. Akhimya jiwa istri penggugat dapat diselamatkan meskipun dalam keadaan yang sangat menyedihkan.

gugatan harus diajukan ke pengadilan negeri di mana konsumen/penggugat bertempat tinggal. 210/ Pdt. Menurut Majelis Hakim dalam hal gugatan mengenai tanggung jawab dari pelaku usaha terhadap konsumennya yang berlaku adalah Undang-Undang Perlindungan Konsumen sebagai aturan khusus/specialis (lex specialis derogat legi generali). Putusan ini diperkuat oleh Pengadilan Tinggi Jakarta sebagai Peradilan Banding melalui Putusan No. adalah hukum administrasi negara. 3. Berdasarkan Pasal 23 Undang-Undang Perlindungan Konsumen. ketentuan- . 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen adalah merupakan suatu aturan khusus yang mengatur mengenai tanggung jawab dari pelaku usaha terhadap konsumen bila tedadi suatu kesalahan atau suatu Perbuatan Melawan Hukum dari pelaku usaha tersebut terhadap konsumennya. bukan ke Pengadilan Negeri di mana salah satu Tergugat bertempat tinggal sebagaimana diatur dalam Pasal 118 (2) HIR. dapat pula diberlakukan.DKI. Jadi.Pst berpendapat bahwa Pasal 1365 adalah suatu aturan umum/generalis dalam hal mengajukan gugatan terhadap suatu Perbuatan Melawan Hukum yang dilakukan oleh tergugat sedangkan Undang-Undang No. Dalam amar putusannya./2004/PT. Hukum Konsumen dalam Hukum Publik Dengan hukum publik dimaksudkan hukum yang mengatur hubungan antara negara dan alai-alai perlengkapannya atau hubungan antara negara dengan perorangan. segala kaidah hukum maupun asas-asas hukum ke semua cabangcabang hukum publik itu sepanjang berkaitan dengan hubungan hukum konsumen dan/atau masalahnya dengan penyedia barang atau penyelenggara jasa.Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat melalui Putusan No. 385/ Pdt. hal tersebut karena adanya aturan khusus (Pasal 23 Undang-Undang Perlindungan Konsumen) yang didahulukan dari aturan umum (Pasal 118 ayat (2) HIR) lex specialis derogat legi generali. hukum acara perdata dan/ataii hukum acara pidana dan hukum internasional khususnya hukum perdata internasional. hukum pidana. Dalam kaftan ini antara lain ketentuan perizinan usaha.Jkt. Termasuk hukum publik dan terutama dalam kerangka hukum konsumen dan/atau hukum perlindungan konsumen. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan tidak berwenang mengadili perkara ini.G/2002/PN.

Pasal 73 ditentukan: Pemerintah melakukan pembinaan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan. Diantara kesemua hukum publik tersebut. selanjutnya disebut hukum administrasi. Dari peraturan perundang-undangan di atas terlihat beberapa departemen dan atau lembaga pemerintah tertentu menj alankan tindakan administratif berupa pengawasan dan pembinaan terhadap pelaku usaha dengan perilaku tertentu dalam melaksanakan perundang-undangan tersebut. Selanjutnya dalam Undang-Undang Kesehatan. Ketentuan hukum administrasi. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan). tampaknya hukum administrasi negara. Penjelasan pasal ini menentukan: tindakan administratif dalam pasal ini dapat berupa pencabutan izin usaha. 23 Tahun 1992. sedang Pasal 77 menegaskan wewenang pemerintah untuk mengambil berbagai tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan/atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap undangundang ini.ketentuan pidana tertentu. Pasal 77 itu berbunyi: Pemerintah berwenang mengambil tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan/atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan ini. hukum pidana. Dalam Pasal 76 undang-undang itu dijelaskan pula peran pengawasan yang dijalankan oleh pemerintah. misalnya menentukan bahwa Pemerintah melakukan pengaturan dan pembinaan rumah susun dan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang (termuat dalam Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang tentang Rumah Susun. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 LN Tahun 1985 No. izin praktik atau izin lain yang diberikan Berta penjatuhan hukum disiplin berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan yang . 75). ketentuan-ketentuan hukum acara dan berbagai konvensi dan/atau ketentuan hukum perdata internasional. Undang-Undang No. Misalnya tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan/atau sarana kesehatan yang melanggar undang-undang (Pasal 77 UU No. hukum internasional khususnya hukum perdata internasional dan hukum acara perdata Berta hukum acara pidana paling banyak pengaruhnya dalam pembentukan hukum konsumen.

kualitas aset. Begitu pula dengan tindakan administratif Menteri Kehakiman dalam mengesahkan Anggaran Dasar suatu Perseroan Terbatas atau Perubahannya sebagaimana termuat dalam Undang-Undang No. ditetapkan bahwa Bank Indonesia dapat menetapkan sanksi administratif kepada bank yang tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana ditentukan pertimbangan kepada Menteri Keuangan untuk mencabut izin usaha bank bersangkutan. Pasal 52 dan -Pasal 53 (Ketentuan Pidana dan sanksi administratif). kualitas manajemen. Secara skematis. Tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dilakukan setelah mendengar pertimbangan Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan.berlaku. Selanjutnya. Struktur Hukum Perlindungan Konsumen Hukum Konsumen / Hukum Perlindungan Konsumen Hukum Perdata (dalam Arti Luas) Hukum Publik Hukum Perdata Hukum Administrasi Hukum Dagang Hukum Pidana Hukum Perdata Internasional . Juga berdasarkan Undang-Undang No. likuiditas. Ayat (2) pasal ini menentukan bahwa Bank Indonesia menetapkan ketentuan tentang kesehatan bank dengan memperhatikan aspek permodalan. solvabilitas dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank. rentabilitas. hukum konsumen dan/atau hukum perlindungan konsumen itu berbentuk sebagai berikut. Pasal 29 menegaskan bahwa tugas pembinaan dan pengawasan bank-bank di Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.

Peraturan perundangan umum ini sebagaimana telah diuraikan di atas. Adapun hak-hak dan kewajiban pelaku usaha (istilah digunakan untuk penglisaha) diatur dalam Pasal 6 dan 7. . Di dalam undang-undang ini secara tegas ditentukan hak-hak konsumen (Pasal 4) dan kewajiban-kewajibannya (Pasal 5). Pasal 1694 dan seterusnya). peminjam (verbruiklener. C. terlepas dari apakah perundang-undangan yang telah ada. dalam KUH Perdata kits menemukan istilahistilah pembeli (koper. Misalnya. 1. tidak dikenal istilah consumers atau consument (istilah Inggris dan Belanda). tetapi hukum umum ini ternyata mengandung berbagai kelemahan tertentu dan menjadi kendala bagi konsumen atau perlindungan konsumen. Oleh karena itu. penyewa (harder. tidak menetapkan terpisah pelaku usaha atau konsumen. sebagai pengguna jasa angkutan (UU No. Keduanya diatur bersamaan. Pasal 1548 dan seterusnya). Tentunya. baik hukum perdata maupun hukum publik dapat digunakan untuk menyelesaikan hubungan dan/atau masalah konsumen dengan penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa. MASALAH YANG DIHADAPI Sekalipun berbagai instrumen hukum umum (peraturan perundang-undangan yang berlaku umum). Pasal 1457 dan seterusnya KUH Perdata). apakah pelaku usaha atau konsumen. penitip barang (bewaargever. dilakukan oleh siapa. KUH Perdata dan KUHD tidak Mengenal Istilah Konsumen Hal ini mudah dipahami karena pada saat undang-undang itu diterbitkan dan diberlakukan di Indonesia. 14 Tahun 1992) yang dapat dilakukan oleh pelaku usaha atau oleh konsumen. memenuhi persyaratan dan/atau cukup untuk melindungi kepentingan-kepentingan konsumen.Dari skema ini terlihat bahwa pembagian berdasarkan hukum perdata dalam arti lugs dan hukum publik memberikan gambaran yang menyeluruh tentang struktur dan permasalahan perlindungan konsumen. Di Negeri Belanda istilah koper atau huurder (istilah Belanda yang berarti pembeli atau penyewa) digunakan dalam perundangundangannya. Yang harus mendapatkan perhatian adalah pelanggaran perundang-undangan itu. Keadaannya agak berbeda dengan pengaturan yang ditentukan dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen.

2. Sistemnya Terbuka dan Merupakan Hukum Pelengkap Asas kebebasan berkontrak memberikan pada setiap orang hak untuk dapat mengadakan berbagai kesepakatan sesuai kehendak dan persyaratan yang disepakati kedua pihak. Hukum Perjanjian (Buku ke-3 KUH Perdata) Menganut Asas Hukum Kebebasan Berkontrak. sistem terbuka dan bahwa hukum perjanjian itu merupakan hukum pelengkap saja. Pasal 246 dan seterusnya Buku Kesatu) dan penumpang (opvarende. Subjek hukum pembeli. dan sebagainya. tingkat pendidikan dan/atau kemampuan days saingnya. bahkan dengan bentuk-bentuk perjanjian lain dari apa yang termuat dalam KUH Perdata (berbeda dengan sistem tertutup yang dianut Buku Ke-2 KUH Perdata). 3. Demikian pula dengan konsumen akhir. termasuk perjanjian yang dipaksakan kepadanya. jadi setiap orang dapat saja mengadakan persetujuan dalam bentukbentuk lain dari yang disediakan oleh KUH Perdata. is menimbulkan kepincangan tertentu dalam hubungan hukum atau masalah mereka satu sama lain. Para pengusaha yang disebut juga sebagai konsumen antara mempunyai tujuan dan kepentingan tersendiri. Kalau yang mengadakan perjanjian adalah mereka yang seimbang kedudukan ekonomi. tetapi secara materiil akan terlihat.Pasal 1754 dan seterusnya). lengkaplah sudah kebebasan setiap orang untuk mengadakan perjanjian. Keadaan mempersamakan formal memang memikat. Pengguna Barang dan/atau Jasa Sebagaimana telah diuraikan dalam bab pertama. Dengan asas kebebasan berkontrak. Pasal 341 dan seterusnya Buku Kedua). Keadaan ini kemudian diimbuhi pula dengan catatan bahwa hukum perjanjian itu merupakan hukum pelengkap. Dengan sistem terbuka. Semua Subjek Hukum tersebut Adalah Konsumen. Adapun Kitab Undang-Undang Hukum Dagang ditemukan istilah tertanggung (verzekerde. mungkin . tidak membedakan apakah mereka itu sebagai konsumen akhir atau konsumen antara. konsumen itu terdiri dari dua jenis yang berbeda kepentingan dan tujuan dalam penggunaan barang atau jasanya. tertanggung atau penumpang terdapat dalam KUH Perdata dan KUHD. tanpa pemberdayaan (empowering) pihak yang historis lemah. penyewa. dengan syarat-syarat subjektif dan objektif tentang sahnya suatu persetujuan tetap dipenuhi (Pasal 1320). setiap orang dapat mengadakan sembarang perjanjian.

Man dan yang sejenis dengan itu. Pengalaman nyata memang menunjuk pada keadaan itu. . yang kemudian dijadikan dasar dari keputusan Sidang Umum PBB pada tahun 1985 tentang Perlindungan Konsumen. Dilengkapi dengan penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia dan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. pihak yang lebih kuat akan dapat memaksakan kehendaknya atas pihak yang lebih lemah. ternyata pihak konsumenlah. alat-alat transportasi. Perkembangan Pesat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) Perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi sangat mempengaruhi kegiatan bisnis di mans pun di dunia. dan sebagainya. Antara lain mengenai pembelian rumah. 4. terutama konsumen dari negara-negara berkembang yang merupakan pihak yang lemah tersebut. kini sudah menjadi pengalaman kita. Berbagai penelitian termasuk penelitian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 19731985. Apa yang dimaksudkan Kessler. promosipromosi dagang. la mengatakan bahwa hukum perjanjian itu adalah pelindung dari pembagian kekuasaan yang tidak merata dalam masyarakat sehingga memungkinkan pemaksaan kehendak pihak yang kuat atas pihak-pihak yang lemah. tidak terakomodasi secara sangat sumir dalam perundangundangan itu.masalahnya menjadi lain. tidak terkecuali di Indonesia. alat-alat elektronik. jasa perbankan. Dalam keadaan sebaliknya. Pedanjian dengan syarat-syarat baku ini telah sangat mendalam merasuk ke dalam kehidupan masyarakat. Beberapa hal pokok tentang subjek hukum dari suatu perikatan. Berta berbagai praktik niaga lainnya yang tumbuh karena kebutuhan atau kegiatan ekonomi. alat-alat rumah tangga. Berbagai produk konsumen. Kessler bahkan lebih tajam lagi tinjauannya. bentuk perjanjian baku. nanti akan terlihat dalam bentuk-bentuk perjanjian dengan syarat-syarat baku (perjanjian baku/klausul baku). yaitu pars pihak tidak seimbang. bentuk usaha dan praktik bisnis yang pada masa diterbitkannya KUH Perdata dan KUHD belum dikenal. jasa asuransi. perikatan beli sews. kedudukan hukum berbagai cars pemasaran produk konsumen seperti penjualan dari rumah ke rumah.

dan/atau proses peninjauan kembali. karena kebutuhan telah pula dipraktikkan dan kadang-kadang tanpa persyaratan dan pembatasan yang menurut hukum berlaku bagi perikatan di negeri asalnya.000.500. lamanya masa proses sampai didapatkan putusan yang efektif. kerahasiaan perusahaan dan tanggung jawab perusahaan yang hanya pada pemegang sahamnya saja.000. Mahkamah Agung. Mahkamah Agung dan kemungkinan Peninjauan kembali di Mahkamah Agung). Hal ini terutama karena tidak pahamnya konsumen atas pembuatan produk. . yaitu konsumen yang jumlah pembeliannya tidak melebihi suatu jumlah tertentu. memperbesar jarak antara konsumen dengan produk konsumen yang is gunakan di samping hal-hal yang dikemukakan di atas. tetapi juga memakan tenaga dan biaya. Beban ini lebih banyak tidakdapat dipenuhi dalam hubungan antara konsumen dan penyedia barang atau penyelenggara jasa pada masa kini. tenaga dan hal-hal lain berkaitan dengan pembelian itu. sistem pemasaran yang digunakan.00 (dua juta lima ratus ribu rupiah). Apalagi bagi konsumen kecil. berapa besar biaya. Bayangkan saj a berapa banyak waktu. Pengadilan Tmggi.00 (dua juta lima ratus ribu rupiah). Pengadilan Tinggi. yang tidak saja makan waktu berlarutlarut. ditambah dengan beban pembuktian merupakan kendala bagi konsumen dan perlindungannya. yang hams dikeluarkan oleh konsumen bersangkutan dalam mempertahankan haknya di pengadilan-pengadilan Indonesia. Hukum Acara Hukum acara yang dipergunakan dalam proses perkara perdata pun tidak membantu konsumen dalam mencari keadilan. menyebabkan KUH Perdata dan KUHD tertinggal di belakang. Contoh konkret adalah pembelian 1 (satu) unit televisi berwama dengan harga kurang lebih Rp 2.Begitu pula bentuk-bentuk perikatan yang tampaknya berasal dari negaranegara yang menggunakan sistem hukum berbeda (Anglo Saxon). Pencampuradukan sistem hukum yang melanda masyarakat karena kebutuhannya itu. Pasal 1865 KUH Perdata menentukan pembuktian hak seseorang atau kesalahan orang lain dibebankan pada pihak yang mengajukan gugatan tersebut. 5. maupun jaminan puma jual yang digunakan oleh pelaku usaha. misalnya pembelian barang atau jasa yang tidak melebihi jumlah Rp 2. Bayangkan pula proses persidangan di Pengadilan Negeri. Proses produksi dan pemasaran produk yang makin canggih. Tingkat-tingkat peradilan (Pengadilan Negeri.500.

serasi. Dengan cara menggunakan Surat keputusan suatu tindakan administratif atau putusanputusan pengadilan yang berkaitan dengan kasus kerugiannya. melindungi konsumen dan pengusaha yang jujur dan beriktikad baik dari perilaku pelaku usaha yang menyimpang atau melanggar hukum dan dapat menimbulkan kerugian pada mereka. Tindakan administratif yang dijalankan oleh instansi berwenang terhadap mereka yang melanggar ketentuan dari peraturan perundang-undangan (administratif). mempunyai peran yang sangat membantu upaya perlindungan konsumen. beban beracara yang terberat bagi konsumen dalam mengajukan kasus kerugiannya ke pengadilan yaitu beban pembuktian adanya sesuatu hak dan/atau peristiwa yang melanggar hukum (Pasal 1865 KUH Perdata dan Pasal 163 HIR) serta hal-hal lain tampak menjadi ringan. Bahkan dengan ketentuan-ketentuan termuat . Kemanfaatan instrumen hukum publik terlihat antara lain:  Semua pelaksanaan kegiatan pengawasan dan/atau penyelidikan. atas setiap perilaku usaha yang memenuhi unsur-unsur pidana dan pelaksanaannya dijalankan oleh pejabat yang berwenang untuk itu. Begitu pula halnya dengan penerapan peraturan perundang-undangan. 7. dan selaras.6. Hukum Publik Sesuai fungsinya menurut hukum. penyidikan dan penuntutan diselenggarakan oleh (aparat) pemerintah. Doktrin yang dianut KUH Perdata/KUHD adalah liberalisme. Yang Sangat Penting Pula Adalah Dasar Pemikiran Filsafat Dianut dari KUH Perdata/KUHD dan falsafah hukum yang sekarang hams dijadikan pangkal tolak pernikiran hukum kita yang sama sekali sudah tidak sejalan lagi.  Pengumpulan bukti-bukti serta semua proses untuk tindakan administratif dan/atau peradilan atas pelaku dijalankan oleh pemerintah. Adapun doktrin. falsafah Indonesia adalah Pancasila yang pemikiran politik ekonominya adalah kesejahteraan rakyat dengan perikehidupan yang seimbang. seperti juga bagi pengusaha yang jujur dan beriktikad baik.  Semua biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan pengawasan dan peradilan dipikul oleh pemerintah. Dengan demikian. pidana (yang termuat dalam KUHP atau di luar KUHP).

Putusan pengadilan dan/atau tindakan administratif (larangan mengedarkan. Bagi konsumen Indonesia tampaknya tiga peraturan perundangundangan yang sangat dibutuhkan. 3. memberikan dampak negatif lainnya pada konsumen. Pada sementara kasus. yaitu siapa yang harus dipertanggungjawabkan tentang sesuatu perilaku kegiatan perusahaan atau produknya yang menimbulkan kerugian pada konsumen. oleh instansi yang berwenang. Kalau diperhatikan falsafah bangsa dan negara Pancasila temyata bahwa banyak hal belum cukup diatur dalam perundang-undangan yang pada saat ini. suatu tindakan administratif tidak dijalankan atau dijalankan dengan kualifikasi "akan ditindak tegas" tetapi tanpa kelanjutan karena satu dan lain alasan. Konsumen masih harus menjalankan acara lainnya lebih lanjut. Peralihan pemilikan suatu badan usaha berkali-kali terjadi tanpa ada pengawasan. antara lain: UndangUndang tentang Pangan. Alasan yang paling banyak dikemukakan pada waktu ini adalah karena industri/bisnis kita masih termasuk "industri bagi" (infant-industry) sehingga memerlukan waktu agar mereka menjadi mapan dan kuat bersaing. . terlihat pula berbagai kelemahannya. dan/atau juga sulit pengawasannya. juga menjadi pengalaman. sayangnya. Dari hal-hal terurai di atas terlihat bahwa peraturan-peraturan umum. Dianutnya pendirian kalangan usaha bahwa tanggung jawab (direksi) perusahaan hanya pada pemegang sahamnya saja. Di samping itu. Juga tidak dalam kasus kematian karena peristiwa biscuit beracun. 2. tetapi mempunyai berbagai kendala bahkan juga tentang substansinya. yang secara perdata juga merugikan kepentingan konsumen. Akan tetapi. Terhadap konsumen is menjadi masalah besar.dalam Kitab Undang-Undang HukumAcara Pidana (KUHAP) proses beracara ini dapat dipermudah lagi. sekalipun dapat dimanfaatkan oleh (hukum) konsumen. antara lain: 1. Sampai saat ini belum pernah terjadi penggunaan acara penggabungan perkara sesuai KUHAP dalam suatu perkara pidana. pencabutan izin usaha dan sebagainya) terhadap perilaku pelaku usaha yang menyimpang dan merugikan konsumen. tidak sertamerta diketahui dan/atau memberikan ganti rugi atau sesuatu penyelesaian tertentu bagi konsumen. penarikan nomor daftar produk. kesemuanya itu masih harus diuji di dalam masyarakat dan pengadilan-pengadilan kita.

bagi seluruh rakyat Indonesia. Bagi masyarakat Indonesia. Mengapa dalam penerapan peraturan-peraturan hukum ada kendalakendala? Jelaskan dan berikan contohnya! . seperti perilaku usaha monopoli. seperti jugs bagi Para konsumen. pengaturan atau penetapan harga (price fixing). Daftar Pertanyaan 1. Peraturan perundang-undangan tentang Pangan mengatur tentang makanan dan minuman (pangan) baik yang telah diolah maupun tidak. serta segala sesuatu berkaitan dengan itu. persediaan dan penggunaan serta segala sesuatu yang berkaitan dengan itu. termasuk pengadaan. karena dalam undang-undang ini diatur berbagai perbuatan pelaku usaha yang dilarang. Undang-Undang Persaingan Usaha mengatur tentang perilaku yang harus diialankan oleh para pelaku usaha penyedia barang dan/atau jasa. Sedangkan UndangUndang Perlindungan Konsumen mengatur tentang siapa konsumen. Apakah yang dimaksud dengan asas kebebasan berkontrak dan apa kaitannya dengan hukum perlindungan konsumen? Jelaskan! 5. khususnya konsumen Indonesia agaknya dari sudut kepentingan konsumen pemecahan masalah perlindungan konsumen tidak lain adalah diterbitkannya suatu Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen. dan Undang-Undang tentang Persaingan Usaha. Mengapa dalam KUH Perdata dan KUHD tidak mengenai istilah konsumen? Jelaskan! 4. bagaimana mereka berhubungan dengan para penyedia barang atau jasa kebutuhan mereka. hak dan kewajibannya. tata cara peradilan bagi konsumen keeil. Sebutkan tindakan administratif dari pemerintah di bidang tertentu apabila ada pihak yang merugikan konsumen (barang/jasa) dan berikan dasar hukumnya! 3. sehingga mereka tidak merusak diri sendiri dan/atau merugikan konsumennya. oligopoli.Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen. Apakah dalam UUD 1945 diatur mengenai perlindungan bagi warga negara (konsumen)? Jelaskan disertai pasalnya! 2. persaingan yang mengganggu perdagangan dan industri dan sebagainya. Kalau Undang-Undang Persaingan Usaha sangat dibutuhkan oleh Para usahawan beriktikad baik di Indonesia.

Berbagai peraturan perundang-undangan lain yang memuat kaidah-kaidah hukum bersifat perdata tentang subjek-subjek hukum. KUH Perdata. ASPEK-ASPEK KEPERDATAAN Yang dimaksudkan hukum perdata yakni dalam arti lugs. Kesemuanya itu baik hukum perdata tertulis maupun hukum perdata tidak tertulis (hukum adat). Buku kesatu dan Buku kedua.BAB 4 BERBAGAI ASPEK HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN A. tentu saja juga kaidahkaidah hukum perdata adat. tetapi ditunjuk oleh pengadilanpengadilan dalam perkara-perkara tertentu. dan keempat. KUHD. hukum dagang Berta kaidah-kaidah keperdataan yang termuat dalam berbagai peraturan perundang-undangan lainnya. termasuk hukum perdata. terutama dalam Buku kedua. ketiga. Bab 4 . Beberapa hal yang dinilai penting dalam hubungan konsumen dan penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa (pelaku usaha) antara lain sebagai berikut. hubungan hukum dan masalah antara penyedia barang atau penyelenggara jasa tertentu dan konsumen. Di samping itu. Kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah hukum antara pelaku usaha penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa dengan konsumennya masing-masing termuat dalam: 1. 2. 3. yang tidak tertulis. Kaidah-kaidah hukum perdata umumnya termuat dalam Kitab UndangUndang Hukum Perdata (KUH Perdata).

sewa-menyewa.upah. atau standar lain yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang. persediaan suku cadang. Kesemuanya itu baik hukum perdata tertulis maupun hukum perdata tidak tertulis (hukum adat). Dengan transasi konsumen dimaksudkan diadakannya hubungan hokum (jual beli. informasi tentang produk itu terdapat dalam bentuk standar yang ditetapkan oleh pemerintah.atau apa pun nama lainnya) untuk mengadakan transaksi konsumen tentang barang/jasa tersebut. ditetapkan harus dibuat. standar internasional. dan sebagainya) tentang produk konsumen dengan pelaku usaha itu. informasi tentang barang/jasa merupakan kebutuhan pokok. Sedang untuk produk hasil industri lainnya. dan Keempat 2. dan lain-lain yang berkaitan dengan itu. pinjam-meminjam.Berbagai aspek hukum perlindungan konsumen 1. KUP Perdata. tentang berbagai persyaratan / cara memperolehnya. keterangan. yang tidak tertulis. Hal-hal yang berkaitan dengan informasi Bagi konsumen.honor. tentu saja juga kaidah-kaidah hokum perdata adat. Dari sudut penyusunan peraturan perundang-undangan terlihat informasi itu termuat sebagai suatu keharusan. Informasi-informasi tersebut meliputi tentang ketersediaan barang/jasa yang dibutuhkan masyarakat konsumen. tentang jaminan atau garansi produk. beli-sewa. Kaidah-kaidah hokum yang mengatur hubungan dan masalah hokum antara pelaku usaha penyedia barang/penyelenggara jasa dengan konsumennya masingmasing termuat dalam : 1. Kaidah-kaidah hokum perdata umumnya termuat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata). . siaran. Buku kesatu dan Buku kedua 3. tetapi ditunjuk oleh pengadilan-pengadilan dalam perkara-perkara tertentu.Aspek-aspek keperdataan Yang dimaksudkan hukum perdata yakni dalam arti luas. hubungan hokum dan masalah antara penyedia barang atau penyelenggara jasa tertentu dan konsumen/ Beberapa hal yang dinilai penting dalam hubungan konsumen dan penyedia barang/penyelenggara jasa (pelaku usaha) antara lain sebagai berikut : 1. Informasi dari kalangan pemerintah dapat diserap dari berbagai penjelasan. terutama dalam Buku Kedua. Ketiga. harga. Beberapa di antaranya. keamanannya. KUHD. penyusun peraturan perundang-undangan secara umum atau dalam rangka deregulasi. tentang kualitas produk. dan tindakan pemerintah pada umumnya atau tentang sesuatu produk konsumen. sebelum ia menggunakan sumber dananya (gaji. hukum dagang serta kaidah-kaidah keperdataan yang termuat dalam berbagai peraturan perundang-undangan lainnya. Di samping itu. tersediannya pelayanan jasa jurnal-jual. termasuk hukum perata. Berbagai peraturan perundang-undangan lain yang memuat kaidah-kaidah hokum bersifat perdata tentang subjek-subjek hokum. baik secara dicantumkan maupun dimuat didalam wadah atau pembungkusnya (antara lain label dari produk makanan dalam kemasan).

tanggapan atau protes organisasi konsumen. pasal 16. catalog. Yang terdapat dalam perundang-undangan ini hanyalah berbagai larangan dan suruhan berkaitan dengan periklanan saja. dan seterusnya). mempromosikan. dan lainlain sejenis dengan itu. sekalipun pada akhir – akhir ini termasuk juga yang diatur didalam Undang – Undang tentang Perlindungkan Konsumen (Pasal 9. Bahan-bahan informasi ini pada umumnya disediakan atau di buat oleh kalangan usaha dengan tujuan memperkenalkan produknya. dapat ditemukan pada harian-harian umum. `Beberapa bentuk informasi Diantara berbagai informasi tentang barang atau jasa konsumen yang diperlukan konsumen.163 c.17 dan Pasal 20) a. Pasal 9 ayat (1) berbunyi: “pelaku usaha dilarang menawarkan. tampaknya yang paling berpengaruh pada saat ini adalah informasi yang bersumber dari kalangan pelaku usaha. Satu – satunya ketentuan termuat dalam KUH Perdata yang tampaknya dapat digunakan adalah ketentuan tentang perbuatan melanggar atau melawan hokum (Pasal 1365 KUH Perdata). tanpa mengurangi pengaruh dari berbagai bentuk informasi pengusaha lainnya. diketahui sumber-sumber informasi itu umumnya terdiri dari berbagai bentuk iklan baik melalui media nonelektronik atau elektronik. surat-surat pembaca pada media massa. atau lain-lain pihak yang berkepentingan).Informasi dari konsumen atau organisasi konsumen tampak pada pembicaraan dari mulut ke mulut tentang suatu prosuk konsumen.23 dengan segala tambahan dan/atau memuat kaidah – kaidah tentang periklanan. Menurut ketentuan dari UU No. seperti brosur. mempertahankan dan meningkatkan pangsa pasar produk yang telah atau ingin lebih lanjut di raih. khusus menyangkut prilaku pengumuman iklan keputusan pengadilan tentang pernyataan pailit dan segala akibatakibatnya dari seseorang atau suatu badan usaha (pasal 13 jjs. . importer. label termasuk pembuatan berbagai selebaran.13. 2. berbagai siaran kelompok tertentu. Dari kalangan usaha (penyedia dana. yaitu Warta Konsumen (WK). Adapun dalam undang-undang kepailitan.12. keduanya diumumkan pada tanggal 30 April 1847 dalam Staatsblad No. meng-iklankan suatu barang dan jasa secara tidak benar dan seolah-olah dan seterusnya. Tentang Iklan KUH Perdata (Kitab Undang – Undang Hukum Perdata) dan/atau KUHD (Kitab Undang – Undang Hukum Dagang). Iklan adalah bentuk informasi yang umumnya bersifat sukarela.105.” Sayangnya dalam undang-undang ini tidak dicantumkan apa yang dimaksud dengan iklan. Terutama dalam bentuk iklan atau label. terlepas untuk siapa perundang-undangan itu berlaku. majalah dan berita resmi YLKI. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tentang hasil-hasil penelitian dan riset produk konsumen tertentu. Adapun label merupakan informasi yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan tertentu.10. yaitu sepanjang iklan tertentu menimbulkan kerugian pada pihak lain. produsen. pamphlet.

informasi produk konsumen sangat menentukan shingga haruslah informasi itu memuat keterangan yang benar. Bagi konsumen. atau tidak tepat mengenai barang dan jasa . baik secara langsung maupun tidak langsung”. Kedua batasan iklan tersebut berjalan bersama masing-masing untuk bidang masing-masing. kuantitas. setidak-tidaknya terdapat dua batasan iklan. Sampai saat ini tidak terdapat gangguan apa pun baik terhadap masyarakat pembuat maupun pengguna produk konsumen yang diiklankan berdasarkan masing-masing rumusan yang bersangkutan. seimbang. adalah sebagai berikut: 1) Pelaku usaha periklanan dilarang memproduksi iklan yang: a. Keberadaan Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang penyiaran) Pasal 1 butir (5) merumuskan siaran iklan adalah siaran informasi yang bersifat komersial dan layanan masyarakat tentang tersedianya jasa. barang atau jasa kepada khalayak sasaran untuk memengaruhi konsumen agar menggunakan produk yang ditawarkan. salah. Tentu saja terlepas dari mana yang baik dan tepat. Memuat informasi yang keliru. Departemen Kesehatan (Peraturan Menteri Kesehatan No. dan mempromosikan. 32 Tahun 2002 tentang penyiaran diarahkan antara lain untuk memberikan informasi yang benar. dan bertanggung jawab (Pasal 5 butir (1)). dan gagasan yang dapat dimanfaatkan oleh khalayak dengan atau tanpa imbalan kepada lembaga penyiaran yang bersangkutan. jelas. barang.Dari hal-hal terurai diatas tentang kedudukan periklananini dalam masyarakat usaha. jujur. Mengelabui konsumen mengenai kualitas. Pasal 1 Butir 13) menetapkan sebagai “iklan adalah usaha dengan cara apa pun untuk meningkatkan penjualan. memasyarakatkan. Mengenai prilaku periklanan yang lengkap diatur dalam Pasal 17 UndangUndang No. Pasal 1 butir (6) menyatakan siaran iklan niaga adalah siaran iklan komersial yang disiarkan melalui penyiaran radio atau televisi dengan tujuan memperkenalkan. Adapun sistem penyiaran nasional (Undang-Undang No. dan bertanggung jawab. Kebenaran isi dari pernyataan atau label tersebut merupakan tanggung jawab dari pihak yang membuat dan menyiarkan. Mengelabui jaminan/garansi tergadap barang atau jasa c. bahan. kegunaan dan harga barang atau tariff jasa serta ketepata waktu penerimaan barang atau jasa b. 329 Tahun 1976. yang satu ditetapkan oleh Departmen Kesehatan dan yang lainnya oleh sistem penyiaran nasional. 7 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Tidak memuat informasi mengenai resiko pemakaian barang dan jasa e. padahal kegunaannya sangat baik sebagai upaya pencegah “gegabahnya” para pelaku usaha periklanan. Undang-undang Perlindungan Konsumen tidak memuat tindakan administratif tersebut. berkaitan dengan tanggung jawab pelaku usaha periklanan ini diatur dalam Pasal 20. Pengiklan.? Dari sudut pelaku usaha periklanan menurut Azm Nasution terdapat tiga jenis pelaku usaha. yang menyiarkan atau menayangkan iklan-iklan tersebut. dapat dipertanggungjawabkanm tetapi secara tepatnya pelaku usaha manakah yang harus bertanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam pasal 20 tersebut? Menurut Az. Mengeksploitasi kejadian dan seseorang tanpa izin yang berwenang atau persetujuan yang bersangkutan f. yaitu perusahaan yang memesan iklan untuk mempromosikan. adalah perusahaan atau biro yang bidang usahanya adalah mendesain atau membuat iklan untuk para pemesannya 3. Apabila dengan etika itu dimaksudkan kode etik periklanan. sebagai berikut. Ketiga pelaku usaha di atas. Satu hal yang menarik dari Undang-undang Perlindungan Konsumen berkaitan dengan periklanan ini yakni dalam Pasal 17 ayat (1) huruf f. 1. Pelaku usaha periklanan bertanggung jawab atas iklan yang diproduksi dan segala akibat yang ditimbulkan oleh iklan tersebut. Melanggar etika dan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai periklanan 2) Pelaku usaha periklanan dilarang melanjutkan peredaran iklan yang telah melanggar ketentuan pada ayat (1) Selanjutnya. media elektronik atau nonelektronik atau bentuk media lain. dan menawarkan produk yang mereka edarkan 2. terdapat timdakan administratif yang dapat dijatuhkan pada pelaku usaha periklanan yang menyiarkan iklan menyesatkan. Apakah yang dimaksud denagn etika periklanan? Penjelasan pasal ini memuat kalimat “cukup jelas”. Media.d. . yaitu. Nasution tergantung bagaimana hakim pengadilan negeri mengambil putusannya. Perusahaan iklan. Berkaitan dengan perilaku periklanan yang dilarang dan tentang tanggung jawabnya itu. Ketiga jenis pelaku usaha tersebut dalam undang-undang ini termasuk pelaku usaha. Sekiranya tanda tangan pengiklan (tanda acc) terdapat pada konsep iklan itu. maka berarti Undang-Undang ini telah membeikan “status hokum” pada kode etik periklanan yang di Indonesia disebut sebagai tata karma dan tata cara periklanan Indonesia. menipu atau mengakibatkan cedera pada konsumen untuk memasang iklan perbaikannya (corrective advertisement) di surat kabar atau televisi iklan koreksi seperti ini telah tumbuh dan menjadi hokum di Negara-negara lain. memasarkan. maka dialah yang mempertanggung jawabkan. undang-undang ini berbunyi : melanggar etika atau ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai periklanan. Kemudian.

Nama atau tanda-tanda itu memuat asal. Pemberian nama atau tanda-tanda menunjuk pada label dari barang bersangkutan. 1. Pengaturan tentang informasi yang disebut dengan berbagai istilah seperti penandaan. Selanjutnya keterangan yang harus dimuat pada label/etiket tersebut ditetapkan (Pasal 7 ayat (1) dan (2) terdiri atas :  Nama makanan atau merk dagang  Komposisi. bahan. susunan. Pasal 2 ayat (4) UU ini menentukan: Pemberian nama dan tanda-tanda yang menunjukkan asal. bentuk banyaknya dan kegunaan barang-barang yang baik diharuskan maupun tidak diperbolehkan dibubuhkan atau dilekatkan pada barang pengbungkusnya. dicetak. 2. susunan bahan. dan banyaknya serta kegunaannya. tempat barang-barang itu diperdagangkan dan alat-alat reklame. Label. pun cara pembubuhan atau melekatkan nama dan tandatanda itu. 79 Tahun 1978 tentang Label dan periklanan Makanan. 10 Tahun 1961. Tentang Label Informasi produk konsumen yang bersifat wajib ini. sifat. UU No. UU Barang. dapat dinyatakan sebagai tindak pidana ekonomi (Pasal 9). atau etiket. sifat. Dengan demikian setiap perilaku pengusaha yang melanggar ketentuan dalam peraturan perundangundangan ini. menyebutkan : Etiket adalah label yang dilekatkan. Perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan atau melanggar ketentuan tersebut di atas. bentuk. ditetapkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan.memberikan informasi tentang barang. Permenkes No. diukir. atau dicantumkan dengan jalan apa pun pada wadah atau pembungkus. maupun obat diwajibkan mencantumkan label pada wadah atau pembungkusnya. Nama dan tanda-tanda itu harus dibubuhkan atau dilekatkan pada pembungkusnya tempat barang itu di perdagangkan dan pada alat-alat reklame. Baik produk makanan. dapat dikenakan ketentuan pidana ekonomi.b. kecuali makanan yang cukup diketahui komposisinya secara umum  Isi netto . Pasal 1 dan 2. Ketentuan tersebut terdapat dalam berbagai peraturan perundang-undangan.

ketentuan tentang pelabelan makanan ditegaskan lebih lanjut. dan tahun kadaluarsa Ketentuan lainnya Dalam penjelasan Pasal ini (huruf d) dinyatakan bahwa ketentuan lainnya misalnya pencantuman kata atau tanda halal menjamin bahwa makanan dan minuman dimaksud diproduksi dan diproses sesuai persyaratan makanan halal. b. Adapun dalam Pasal 3 SK Mentei Kesehatan tersebut ditentukan : . 193 Tahun 1971 tentang Pembungkusan dan Penandaan obat. nilai gizi. Sebagai akibatnya kemudian dalam perundang-undangan yang lebih baru.   Nama dan alamat perusahaan yang memproduksi atau mengedarkan Nomor pendaftaran Kode produksi  Untuk jenis makanan tertentu yang ditetapkan oleh menteri kesehatan.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. etiket atau brosur yang diikutsertakan pada penyerahan atau penjualan sesuatu obat. tetapi penandaan. d. c. Bahan yang dipakai Komposisi setiap bahan Tanggal. (pasal 41-45) Ketentuan tentang sanksi-sanksi atas pelanggaran kewajiban memesang label pada makanan (dalam kemasan) tersebut memang tidak begitu jelas. Setiap makanan yang dikemas wajib diberi tanda atau label (Pasal 21 ayat (2)) yang memuat tentang : a. Perbuatan mengedarkan makanan tanpa label dinyatakan sebagai tindak pidana pelanggaran dengan ancaman pidana kurungan maksimum satu tahun dan denda maksimum Rp15.000. harus dicantumkan tanggal kadaluarsa.00 (Pasal 84 jo.000. bulan. Perbuatan mengedarkan makanan tanpa label sebagaimana dimaksudkan dalam peraturan Menteri Kesehatan tersebut dinyatakan dilarang dan dapat diancam dengan sanksi-sanksi sebagaimana termuat dalam KUHP dan tindakan administratif berupa penarikan nomor daftar produk itu dan tindakan lain berdasarkan perundangundangan yang berlaku. baik yang diberikan bersama obat itu maupun yang diberikan sesudah atau sebelum penyerahan obat yang bersangkutan. petunjuk penggunaan dan cara penyimpanannya. yang berbunyi : Tulisan-tulisan dan pernyataan-pernyataan pada pembungkus. Pasal 85) SK Menteri Menteri Kesehatan tanggal 21 Agustus 1971 No. tidak menggunakan istilah label atau etiket. Undang-undang No. Pengertian tentang penandaan termuat dalam Pasal 1 angka 4.

Dalam UU Kesehatan. Adapun Pasal 12 Surat Keputusan Menteri Kesehatan ini menetapkan bahwa pelanggaran atas ketentuan-ketentuan antara lain. Perikatan yang terjadi karena undang-undang. dan lain-lain). Hal ini berkaitan dengan bahan informasi yang selalu mengusik adalah mengapa suatu hasil uji laboratoris produk konsumen (antara lain oleh instansi pemerintah) tidak disiarkan kepada masyarakat agar mereka mengetahui bermutu atau bergizi tidaknya sesuatu produk konsumen (pangan. sandang papan. label atau etiket pemuatan informasi yang bersifat wajib dilakukan dengan sanksi-sanksi administratif dan pidana tertentu apabila tidak dipenuhi persyaratan-persyaratan etiket dan label tersebut. dapat timbul karena undangundang. tetapi dengan batas-batas minimum sehingga tidak menyesatkan atau menipu (iklan melawan hokum). bobot netto atau volume obat. syaratsyarat perikatan. Pada penandaan. Dari uraian diatas tampak bahwa informasi produk konsumen itu dapat ditemukan dalam penandaan atau informasi lain. ketentuan-ketentuan diatas mendapatkan “porsi” baru. nomor pendaftaran. Hal-hal yang Berkaitan dengan Perikatan Dalam KUH Perdata Buku ke-III.indikasi sebagaimana disetujui pada pendaftaran. c. . khususnya tentang pelabelan tersebut. nama pabrik dan alamatnya (sedikitnya nama kota dan negaranya). tentang Perikatan (van Verbintenissen). kontra indikasi yang ditetapkan pemerintah untuk dicantumkan. cara penyimpanan. baik karena undang-undang maupun sebagai akibat perbuatan seseorang. seperti iklan dalam segala bentuk kreativitasnya.Pada bungkus luar dan wadah obat jadi atau obat paten dan bahan kontras harus dicantumkan tanda atau etiket yang menyebutkan nama jenis atau nama barang obat. Selanjutnya. dosis. Pasal 41 ayat (2) memuat ketentuan tentang penandaan dan informasi sebagai berikut: Penandaan dan informasi sediaan farmasi dan alat kesehatan harus memenuhi persyaratan objektivitas dan kelengkapan serta tidak menyesatkan. nomor batch. angkutan. cara penggunaan. tentang resiko jenis-jenis perikatan tertentu. komposisi obat dan susunan kuantitatif zat-zat berkhasiat. Pasal 1233 menyebutkan jenis-jenis perjanjian (prestasi)yang dapat diadakan terdiri atas memberikan sesuatu. batas daluarsa dan tanda-tanda lain yang dianggap perlu Ketentuan berikut dalam pasal itu dan pasal 4-6 memuat rincian berbagai keharusan tata cara tentang permuatan isi label atau etiket tersebut. termuat ketentuan-ketentuan tentang subjek-subjek hokum dari perikatan. Selain mengakibatkan hukuman di bidang pidana dan penyitaan obat. dan berbagai bentuk perikatan yang dapat diadakan (Pasal 1233). syarat-syarat pembatalannya. akan mengakibatkan hukuman di lapangan administratif. berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu.

sedang diantara mereka itu tidak terdapat suatu perjanjian (hubunganhukum perjanjian). Perbuatan cedera janji ini memberikan hak pada pihak yang dicederai janji untuk menggugat ganti rugi berupa biaya. kerugian yang dialami. kerugian. hak-hak pribadi perseorangan (persoonlijkrechten) seperti hak-hak atas integritas (harga diri). dan Pasal 1242 dalam hal perjanjian berbuat atau tidak berbuat sesuatu. dapat mengakibatkan terjadinya cedera janji (wanprestatie). tidak dipenuhi atau dilanggarnya butir-butir perjanjian itu.Perbuatan itu dapat berupa perbuatan yang diperbolehkan (halal) atau perbuatan yang melanggar hokum (Pasal 1352. juga termasuk keuntungan (winstderving) yang diharapkan yang tidak diterima karena perbuatan ingkar janji tertentu. Dalam perikatan yang timbul karena perjanjian. . dan seterusnya. mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu. Perikatan juga dapat terjadi tanpa adanya perjanjian. kehormatan dan nama baik seseorang. Yang dimaksudkan adalah hak-hak subjektif orang lain. setelah dipenuhinya syarat tertentu. Kerugian-kerugian itu selain dari biaya-biaya yang sungguh-sungguh telah dikeluarkan. oktroi. Kedalamnya termasuk hak-hak kebendaan dan lain-lain hak yang bersifat mutlak (seperti hak milik. Unsur-unsur Perbuatan Melawan Hukum: 1) Unsur pelanggaran atas hak-hak orang lain. Pasal 1243. Antara lain. Pasal 1365 KUH Perdata berbunyi : Setiap perbuatan melanggar hokum yang membawa kerugian pada orang lain. dan bunga (Pasal 1236 dalam hal perjanjian memberikan sesuatu. Apabila seseorang dirugikan karena perbuatan orang lain.1353m dan seterusnya). dan hak merk). Pasal 1239.1244. maka berdasarkan undang-undang dapat juga timbul atau terjadi hubungan hokum antara orang tersebut dan orang yang menimbulkan kerugian itu. yang terpenting terlihat pada perikatan karena terjadinya perbuatan atau kealpaan yang melanggar atau melawan hokum (selanjutnya disebut PMH). mengganti kerugian tersebut.1246).

2) Unsur bertentangan dengan kewajiban hukum pelaku Yang dimaksudkan adalah kewajiban hokum yang diletakkan perundangundangan dalam arti materiil. melalui Undang-Undang No. hokum acara perdata. 2. 3) Unsur bertentangan dengan kehati-hatian yang hidup atau harus diindahkan dalam kehidupan masyarakat. yang dapat digunakan dengan berdiri sendiri. adalah hokum administrasi Negara. yakni sejak pertama kali diberlakukan wetboek van strfrecht voor Nederlandsch-indie. penerapan kitab di atas diunifikasikan sejak 1918. hokum pidana. Sejak tahun 1919. Ia menunjuk pada kebiasaan tidak tertulis. baik secara terlepas dari atau bersama-sama unsure-unsur lainnya. Baru kemudian dengan Undang-Undang No. Mengenai penerapannya harus dilihat kasus per kasus. Setelah Indonesia merdeka. 1 Tahun 1946. Pada pokoknya orang haruslah memperhatikan perilaku yang dianggap patut (behoorlijk) dalam masyarakat dikaitkan dengan kepentingan perorangan satu sama lain. 1. Kitab UndangUndang itu lalu diadopsi secara total. Jadi. unsur ini tampaknya merupakan unsur yang terpenting dalam penenruan tolok ukur perbuatan melawan hukum. dan hokum acara pidana dan hokum internasional khususnya hokum perdata internasional. Karena perkembangan poliik. tidak mencapai tujuannya. baik bersifat perdata maupun public (misalnya perbuatan pelanggaran atau kejahatan seperti termuat dalm KUHP). Di Indonesia. 73 Tahun 1958. adopsi undang-undang yang semula bertujuan untuk unifikasi itu. Dualisme hokum tetap terjaddi karena perbedaan penafsiran terhadap perubahan-perubahan yang di buat pada masa penjajahan belanda dan Jepang. Termasuk hokum publik dalam rangka hokum konsumen dan hokum perlindungan konsumen. berbeda dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang masih bersifat pluralistis. Aspek hukum publik Dengan hukum publik dimaksudkan hukum yang mengatur hubungan antara Negara dan alat-alatnya perlengkapannya atau hubungan Negara dengan peroranagan. tujuan unifikasi . Hukum Pidana Pengaturan hokum positif dalam lapangan hokum pidana secara umum terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. kodifikasi hokum pidana teersebut jauh-jauh hari berlaku untuk semua golongan penduduk. ditetapkan oleh lembaga yang berwenang.

Kendati demikian. Kitab ini diberlakukan diseluruh Indonesia dengan nama resmi Wetboek van Strafrecht atau dapat disebut juga Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama stau tahun empat bulan atau kurungan paling lama satu tahun. tanpa diketahui sifat berbahayanya oleh yang membeli atau yang memperoleh. Adapun terjemahan yang dipakai saat ini masih merupakan karya individual atau institusi tertentu. 4. diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan atau . Pasal 204: Barang siapa menjual..yang diinginkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1946 itu dapat dicapai.menawarkan. antara lain : 1. Di antara semua aspek hokum public itu. yang bersalah dikenakan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama waktu tertentu paling lam dua puluh tahun. diserahkan atau dibagi-bagikan. diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan atau kurungan paling lama enam bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. secara implicit dapat ditarik beberapa pasal yang memberikan perlindungan hokum bagi konsumen. Belum ada satu pun terjemahan yang dinyatakan resmi. Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian rupa sehingga timbul penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian selama waktu tertentu. Hokum pidana sendiri termasuk dalam kategori hokum publik. dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. diancam. Jadi.dalam kategori ini termasuk pula hokum administrasi Negara. Moeljanto.hokum acara.H. Pasal 360: Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain mendapat luka-luka berat.menyerahkan atau membagi-bagikan barang. 1). antara lain (yang paling luas dipakai) adalah karya Alm. Prof. 3. Pasal 205: Barang siapa karena kealpaannya bahwa barang-barang yang berbahaya bagi nyawa atau kesehatan orang dijual.S. 2. Jika perbuatan mengakibatkan matinya orang. Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. diancam dengan pidana penjara lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun. yang paling banyak menyangkut perlindungan konsumen adalah hokum pidana dan hokum administrasi Negara. Pasal 359: Barang siapa karenakealpaannya menyebabkan matinya orang lain. dan hokum internasional. berarti secara resmi sebenarnya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang berlaku di Indonesia itu masih berbahasa Belanda. yang diketahui bahwa membahayakan nyawa atau kesehatan orang. padahal sifat berbahaya itu tidak diberitahukan. diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun (LN 1906 No. Jika perbuatan mengakibatkan matinya orang. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tidak disebut kata “konsumen”. Barang-barang itu dapat disita.

Ketentuanketentuan dilapangan hokum kesehatan dapat dikatakan merupakan instrumen hokum yang paling luas namun tidak berarti memadai dalam mengatur hak-hak konsumen dibandingkan dengan lapangan huukum lainnya. 1) 5. karena persaingan curang. jika karenanya dapat timbul kerugian bagi konkuren-konkurrennya atau orang lain itu. Bahan makanan. Lapangan pengaturan yang paling luas kaitannya dengan hokum perlindungan konsumen terdapat pada bidang kesehatan. Sayangnya. diancam dengan pidnaan penjara paling lama empat tahun. dana-dana atau surat-surat berharga menjadi turun atau naik.kurungan paling lama enam bulan atau denda paling tinggi tiga ratuus rupiah (LN 1960 No.menyerahkan atau menyerahkan makanan. dengan menggunakan tipu muslihat. melangsungkan atau memperluas debit perdagangan atau perusahaan kepunyaan sendiri atau orang lain. Pasal 383: Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan. Di luar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana terdapat banyak sekali ketentuan pidana yang beraspekkan perlindungan konsumen. Tindak pidana berupa pembajakan hak cipta. dewasa ini diberi perhatian yang cukup besar. 8. dan menyembunyikan hal itu.jika nilainya atau faedahnya menjadi kurang karena dicampur dengan sesuatu bahan lain. khususnya dari sudut penerapan sanksi pidananya. ternyata belum secara intens mengarahkan perhatiannya kepada kepentingan tersebut.minuman atau obat-obatan itu dipalsu.minuman atau obat-obatan yang diketahui bahwa itu palsu. 7 Tahun 1996 tentang Pangan. dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau denda paling banyak Sembilan ratus rupiah. 6. Selain itu juga dalam pengaturan hak-hak atas kekayaan intelekual. menawarkan. dan hak atas merk. Pasal 382 bis: barang siapa untuk mendapatkan. (2) mengenai jenis keadaan atau banyaknya barang yang diserahkan. Pasal 382: Barang siapa mejual. diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan. peraturan-peraturan di bidang hak aras kekayaan intelektual yang sebenarnya bersinggungan erat dengan kepentingan konsumen. Pasal 390: Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hokum. seorang penjual yang berbuat curang teerhadap pembeli: (1) karena sengaja menyerahkan barang lain daripada yang ditunjuk untuk dibeli. dengan menyiarkan kabar bohong yang menyebabkan harga barang-barang dagangan. misalnya sekarang diubah dari deliik aduan menjadi delik biasa. Perlindungan yang diberikan porsi terbanyak justru kepada individual atau badan yang menjadi .yang berlaku sejak 4 November 1996. 7. seperti hak cipta. melakukan perbuatan curang untuk menyesatkan khalayak umum atau seorang tertentu diancam. Termasuk dalam kelompok ini adalah Undang-Undang No. paten.

Pemerintah RI kepada pengusaha/penyalur tersebut. . Jonkers. menganut pemikiran agar dalam hokum pidana pun unsur perbuatan melawan hokum ini dapat ditafsirkan secara luas. hokum administrasi Negara adalah instrumen hokum publik yang penting dalam perlindungan konsumen. makna suatu rumusan diberi pengertian menurut kebutuhan masyarakat saat itu. Sanksi administratif berkaitan dengan perizinan yang diberikan. Rupanya para ahli hokum lain seperti Simmons. yang berbeda dengan makna tatkala rumusan ittu di buat oleh pembentuk undang-undang. dan Langemeyers. izin-izin itu dapat dicabut secara sepihak oleh pemerintah. masih memepertahankan cara berpikir formal. hanya ada perbedaan gradual. Sebaliknya. Pengakomodasian ini penting. ini berarti bertentangan dengan asas legalitas. sehinggga menjadi perbuatan yang oleh masyarakat tidak diperbolehkan.pemegang hak-hak di atas. Pada hakikatnya penafsiran ekstensi dan analogi itu sama. baik itu produsen maupun para penyalur hasil-hasil produknya. Dalam penafsiran ekstensi. Suatu rumusan tindak pidana dapat kehilangan sifat melawan hukumnya hanya jika ada peraturan (minimal) setingkat dengan itu (misalnya sama-sama undang-undang) yang mengecualikan. Tentu saja konsekuensi lain adalah dalam mengartikan perbuatan melawan hokum (wederrechtelijke daad) dilapangan hokum pidana tidak seleluasa dilapangan hokum perdata. Seandainya tidak tertampung dalam undang-undang yang bersifat khusus dan sektoral seperti diatas. Jika dilakukan. Vost misalnya. Putusan-putusan pengadilan berkaitan dengan perluasan penafsiran tentang perbuatan melawan hokum memang juga mempengaruhi pemikiran para ahli hukum pidana.tetap ada sandaran peraturannya. Cara berpikir Vost ini disebut dengan pendirian material. pada analogi sudah tidak lagi bersandar pada suatu rumusan peraturan. tidak sekadar yang oleh undang-undang dilarang. karena berbeda dengan lapangan hokum perdata. Jadi. 2. Sanksi-sanksi hokum secara perdata dan pidana seringkali kurang efektif jika tidak disertai sanksi administratif. dapat diakomodasikan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang menurut rencana akkan segera diperbaharui. Akibatnya. aparat penegek hokum (dalam hal ini khususnya hakim) tidak dapat dengan leluasa menetapkan tindak pidana yang baru diluar rumusan undangundang. Kecenderungan seperti yang terjadi dalam hukum bidang hak atas kekayaan intelektual ini seharusnya mulai di antisipasi. tetapi justru kepada pengusaha. bukan pada konsumen sebagai bagian terbesar masyarakat Indonesia. Hukum Administrasi Negara Seperti halnya hokum pidana. Jika terjadi pelanggaran. dalam hokum pidana dikenal larangan melakukan analogi-analogi berbeda pengertiannya dengan penafsiran ekstensi. sebagai lawan dari pendirian yang formal. Hanya inti (rasio) dari aturan itu yang masih dipertahankan. Cuma dibari penafsiran yang lebih luas. Sanksi administratif tidak ditujukan pada konsumen pada umumnya.

Pertama. diawasi secara ketat. Produksi disini harus diartikan secara luas. sehingga berlaku efektif. Untuk gugatan secara perdata. Tentuu saja. Snksi administratif terhadap perusahaan-perusahaan yang mencemari lingkungan masih teramat jarang dilkukan. Itulah sebabnya. Belum lagi mekanisme penjatuhan putusan itu yang biasanya berbelit-belit dan membutuhkan proses yang lama. . Memang. seperti pencemaran oleh PT Inti Indorayon di Sumatera Utara. Syarat-syarat pendirian perusahaan yang bergerak dibidang tersebut dan pengawasan terhadap proses produksinya dilakukan ekstra hati-hati. Contohnya adalah ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. Peraturanperaturan masa kolonial itu bahkan cukup banyak yang masih berlaku sampai seekarang. Persetujuan. Hak-hak konsumen yang dirugikan dapat dituntut dengan bantuan hokum perdata atau pidana. Walaupun secara teoretis instrument hokum administrasi negara ini cukup efektif. dapat berua barang atau jasa. Ada beberapa alasan untuk mendukung pernyataan ini.obat-obatan dan zat-zat kimia. Sanksi administratif ini sering lebih efektif dibandingkan dengan sanksi perdata atau pidana. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Campur tangan administrator Negara idealnya harus dilatarbelakangi iktikad melindungi masyarakat luas dari bahaya.sanksi administratif dapat diterapkan secara langsung dan sepihak. dampaknya secara tidak langsung berarti melindungi konsumen pula. kedua pertimbangan tersebut seharusnya tidak menjadi alasan pemaaf bagi pengusaha yang merugikan konsumen tersebut. sanksi perdata atau pidana acapkali tidak membawa efek “jera” bagi pelakunya. karena dikaitkan dengan pertimbangan tenaga kerja dan perpajakan. Pengertian bahaya disini terutama berkenaan dengan kesehatan daan jiwa. Dikatakan demikian karena penguasa sebagai pihak pemberi izin tidak perlu meminta persetujuan terlebih dahulu dari pihak manapun.Pencabutan izin hanya bertujuan menghentikan proses produksi dai produsen/penyalur. kalaupun ini dibutuhkan. Pemerintah tampaknya menjadikan sanksi administratif ini sebagai ultimum remedium. sejak prakemerdekaan. antara lain mengajukan kasus tersebut ke pengadilan tata usaha Negara. tetap ada kendala dalam penerapannya. bagi pihak yang terkena sanksi ini dibuka kesempatan untuk “membela diri”. konsumen juga dihadapkan pada posisi tawar-menawar yang tidak selalu menguntungkan disbanding dengan produsen. sehingga konsumen sering menjadi tidak sabar. untuk kasus-kasus teertentu. Dengan demikian. Pemerintah masih mengandalkan inisiatif konsumen untuk mempersalahkannnya. mungkin dari instansi-instansi Pemerintah terkait. Nilai ganti rugi dan pidana yang dijatuhkan mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan keuntungan yang diraih dari perbuatan negative produsen. yakni mencegah jatuhnya lebih banyak korban. tetapi sanksi itu sendiri dijatuhkan terlebih dulu.sanksi administrati jug tidak perlu melaui proses pengadilan. Kedua. Adapun pemulihan hak-hak korban (konsumen) yang dirugikan bukan lagi tugas instrument hokum administrasi Negara. Bahkan. peraturan-peraturan tentang produk makanan. sepanjang memang didukung oleh bukti-bukti yang cukup.

likuiditas. Pasal 29 menegaskan tugas pembinaan dan pengawasan bank-bank di Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia. ditetapkan bahwa Bank Inndonesia dapat menetapkan sanksi administrative kepada bank yang tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana ditentukan dalam undang-undang ini atau menyampaikan peritmbangan kepada Menteri Keuangan untuk mencabut izin usaha bank bersangkutan.solvabilitas. Undang-Undang No. dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan). Tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dilakukan setelah mendengar pertimbangan Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan. Misalnya tindakan administratif terhadap tenag kesehatan atau sarana kesehatan yang melanggar undang-undang (Pasal 77 UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. 75) Selanjutnya dalam Undang-Undang Kesehatan. misalnya menentukan bahwa: Pemerintah melakukan pengaturan dan pembinaan rumah susun dan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang (termuat dalam Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 20 Ayat (1) Undang-Undang tentang Rumah Susun. sedang Pasal 77 menegaskan wewenang pemerntah untuk mengambil berbagai tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap undang-undang ini. Undang-Undang No.rentabilitas.Ketentuan hokum administrasi. Juga berdasarkan UU No. Dalam Pasal 76 undang-undang itu dijelaskan pula peran pengawasan yang dijalankan oleh pemerintah. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Penjelasan pasal ini menentukan tindakan administratif dalam pasal ini dapat berupa pencabutan izin usaha. Ayat (2) pasal ini menentukan bahwa Bank Indonesia menetapkan ketentuan tentang kesehatan bank dengan memperhatikan aspek permodalan. serta penjatuhan hokum disiplin berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. izin prakti atau izin lain yang diberikan. 23 Tahun 1992. Pasal 73 ditentukan: Pemerntah melakukan pembinaan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan. Dari peraturan perundang-undanagan diatas terlihat beberapa departemen atau lembaga pemerintah tertentu yang menjalankan tindakan administratif berupa pengawasan dan pembinaan terhadap pelaku usaha dengan perilaku tertentu dalam melaksanakan perundang-undangan tesebut. Selanjutnya. . Pasal 52 dan 53 (Ketentuan Pidana dan sanksi administratif). Pasal 77 itu berbunyi : Pemerintah berwenang mengambil tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan ini. kualitas aset. 16 Tahun 1985 LN Tahun 1985 No. kualitas manajemen. Begitu pula dengan tindakan administratif Menteri Kehakiman dalam mengeshkan Anggaran Dasar suatu Perseroan Terbatas atau Perubahannya sebagaimana termuat dalam Undang-Undang No.

melainkan bagian dari hukum perdata nasional. yang notabene tanpa ratifikasi pun harrusnya berlaku secara serta-merta terhadap semua Negara anggota badan dunia itu. . Kedua. Kepentingan nasional masing-masing Negara kerapkali membuatnya harus menjadi “macan kertas” yang dengan sendirinya tidak bergigi dan tidak mempunyai kekuatan memaksa. yang biasanya dikenal sebagai hukum internasional publik. maka yang seharusnya terjadi adalah persaingan jujur. pola perlindungan konsumen perlu diiarahkan pada pola kerja sama antarnegara. hukum transnasional yang berdimensi perdata. Gerakan ini memang berkembang pesat diberbagai penjuru dunia.3. Oleh karena itu. hukum internasional yang berdimensi public. antarsemua pihak yang berkepentingan agar terciptanya suatu model perlindungan yang harmonis berdasarkan atas persaingan jujur. Sumber terpenting dari hukum internasional adalah perjanjian antarnegara dan konvensi-konvensi internasional. Kondisi suatu Negara sangat dominan menentukan seberapa jauh gerakan ini mendapat tempat di masyarakat. Demikian pula halnya dengan resolusi-resolusi yang di buat oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. yang lazim disebut hukkum perdata Internasional. Walaupun begitu. Hukum Transnasional Sebutan “hukum transnasional” mempunyai dua konotasi. namun intensitas gerakan tersebut tidak selalu sama pada tiap-tiap Negara. keberadaan sumber-sumber hukum internasional iu tetap tidak banyak artinya jika belum diartifikasi oleh Negara yang bersangkutan. Pertama. Melalui petunjuk inilah lalu ditentukan hukum atau pengadilan mana yang akan menyelesaikan perselisihan hukum tersebut. DALAM Pada era perdagangan bebas dimana arus barang dan jasa dapat masuk ke semua Negara dengan bebas. Persaingan jujur adalah suatu persaingan dimana konsumen dapat memiliki barang atau jasa karena jaminan kualitas dengan harga yang wajar. Hukum perdata internasional hanya berisi petunjuk tentang hukum nasional mana yang akan diberlakukan jika tedapat kaitan lebih dari satu kepentingan hukkum nasional. Hukum perdata internasional sesungguhnya bukan hukum yang berdiri sendiri. Hukum internasonal sering dinilai sebagai instrument yang “mandul” daalm menangani banyak kasus hukum yang berdimensi lintas Negara. Masalh perlindungan konsumen merupakan salah satu bukti diantaranya. PERANAN HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN C.

pemerintahan instansi yang mempunyai peran dan kemenangan untuk melindungi konsumen. Kemenangan dan peran tersebut dapat diwujudkan mulai dari :  Politic will/ kemauan politik untuk melindungi kepentingan konsumen domestic didalam persaingan globlal dan atas persaingan tidak sehat local. 2.Sampai saat ini secara universal diakui adanya hak-hak konsumen yang harus dilindungi dan dihormati. 4. Keduanya harus diawali dan sejak barang dan jasa diproduksi.  Birokrasi dengan sadar dan senang hati menciptakan kondisi dengan berbisnis jujur dalam mewujudkan persaingan sehat. yaitu: 1. Aspek hukum public berperan dan dapat dimanfaatkan oleh Negara. pada dasarnya negara dapat diketahui bahwa aspek hukum public dan aspek hukum perdata mempunyai peran dan kesempatan yang sama untuk melindungi kepentingan konsumen. yang sudah mengandung unsure melindungi kepentingan konsumen antara lain :       Undang-undang kesehatan Undang-undang barang Undang-undang hygiene untuk usaha Undang-undang pengawasan atau edar barang Peraturan tentang wajib daftar obat Peratutan tentang produksi dan peredaran produk tertentu . 5. Bertolak dari pemikiran diatas. Hak keamanan dan keselamatan Hak atas informasi Hak untuk memilih Hak untuk didengar dan Hak atas lingkungn hidup Aspek-aspek hukum terhadap perlindungan konsumen didalam era pasar bebas. pada dasarnya dapat dikaji dari dua pendekatan. 3. yakni dari sisi pasar domestic dan dari sisi pasar globlal.  Di dalam hukum positif. didistribusikan/dipasarkan dan diedarkan sampai barang dan jasa tersebut dikonsumsi oleh konsumen.

termasuk didalamnya hukum administrasi Negara. BAB 5 PRINSIP-PRINSIP HUKU PERLINDUNGAN KONSUMEN . distributor. Dari aspek hkum public. diharapkan diikuti dengan pengawasan. Sumbangan yang terbesar pada hukum public disini adalah kemampuan untuk mengawasi. Meskipun demikian mengingat hubungan hukum para pihak terjadi karena berbagai alasan dan factor kebutuhan. membina dan mencabut izin sesuai dengan ketentuan apabila terbukti :   Melanggar ketentuan undang-undang Merugikan kepentingan umum/konsumen Aspek hukum perdata secara umum hanya dapat dimanfaatkan oleh pihak untuk kepentingan-kepentingan subjektif. Keadaan yang demikian mendorong para pihak produsen. Untuk mengurangi ketidakseimbangan tersebut. Hal inilah yang menyebabkan tidak seimbangnya hubungan hukum para pihak.\ Syarat-syarat baku minimal antara lain mengenai :   Waktu atau batas waktu untuk mengajukan keberatan Syarat atas pemenuhan janji  Syarat kesanggupan untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan promosi. Peraturan tentang perizinan. Fakta selalu menunjukkan bahwa posisi calon konsumen dalam keadaan lebih karena factor ekonomi dan kebutuhan. mempunyai sumbangan terbesar dalam rangka melindungi kepentingan konsumen. maka sudah waktunya apabila disiapkan adanya syarat-syarat bahkan yang harus dipenuhi apabila ada pihak berniat menyiapkan perjanjian baku bagi calon konsumennya. memperkuat posisinya dengan menyiapkan dokumen yang ditentukan secara sepihak. dan sebagainya. pembinaan dan pemberian sanksi yang pasti dan tegas apabila terjadi pelanggaran mengenai syarat dan operasional dari perusahaan produsen.

2. 1366. Beberapa sumber formal hukum. Kesalahan Praduga selalu bertanggung jawab Praduga selalu tidak bertanggung jawab Tanggung jawab mutlak Pembatasan tanggung jawab 1. 4. Secara umum. Pasal 1365 KUH Perdata. seperti peraturan perundang-undangan dan perjanjian standar di lapangan hukum keperdataan kerap memberikan pembatasanpembatasan terhadap tanggungjawab yang dipikul oleh sipelanggar hak konsumen. dan 1367. yaitu : 1. 2. mengharuskan terpenuhinya empat unsure pokok.dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.A. seseorang baru dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum jika ada unsure kesalahan yang dilakukannya. PRINSIP-PRINSIP TANGGUnG JAWAB Prinsip tentang tanggung jawab merupakan perihal yang sangat penting dalam hukum perlindungan konsumen. 4. Prinsip Tanggung Jawab Berdasarkan Unsur Kesalahan Prinsip tanggungjawab berdasarkan unsure kesalahan adalah prinsip yang cukup umum berlaku dalam hukum pidana dan perdata. prinsip ini di pegang secara teguh. 3. 5. tetapi juga kepatutan dan kesusilaan dalam masyarakat. Adanya perbuatan Adanya unsure kesalahan Adanya kerugian yang diderita Adanya hubungan kausalitas antara kesalahan dan kealpaan Yang dimaksud kesalahan adalah unsure yang bertentangan dengan hukum. yang lazim dikenal sebagai pasal tentang perbuatan melawan hukum. Pengertian “hukum” tidak hanya bertentangan dengan undang-undang. 3. Dalam kasus-kasus pelanggaran hak konsumen. . khususnya Pasal 1365. prinsip-prinsip tanggungjawab dalam hukum dapat dibedakan sebagai berikut: 1. diberlakukan keberhati-hatian daalm menganalisis siapa yang harus bertanggung jawab dan seberapa jauh tanggung jawab dapat dibebankan kepada pihak-pihak terkait. Prinsip ini menyatakan.

Ketentuan diatas juga sejalan dengan teori umum dalam hukum acara. Jadi. semua tanggung jawab atas pekerjaan tenaga medic dan paramedic dokter adalah menjadi beban tanggung jawab rumah sakit tempat mereka bekerja. let the master answer. harus membuktikan adanya hak atau peristiwa itu. Jika karyawan itu dipinjamkan kepihak lain. Prinsip ini diterapkan tidak saja untuk karyawan organiknya (digaji oleh runah sakit).18 Ayat .dan lain-lain) adalah karyawan yang tunduk dibawah perintah korporasi tersebut. Perkara yang perlu diperjelas dalam prinsip ini. Di situ dikatakan. asas ini mengikuti ketentuan Pasal 163 (HIR) atau Pasal 283 (Rbg) dan Pasal 1865 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.Secara common sense. Maksudnya. Doktrin yang terakhir ini disebut ostensible agency. 2. Dalam doktrin hukum dikenal asas vicarious liability dan corporate liability. tetapi untuk karyawan nonorganic (misalnay dokter yang dikontrak kerja dengan pembagian hasil). khususnya pengangkutan udara. tergugat selalu dianggap bertanggung jawab. mengandung pengertian majikan bertanggung jawab atas kerugian pihak lain yang ditimbulkan oleh orang-orang atau karyawan yang berada dibawah pengawasannya.perawat. Vicarious liability atau disebut juga respondeat superior. jika suatu korporasi (misalnya rumah sakit) memberi kesan kepada masyarakat (pasien). maka sudah cukup syarat bagi korporasi itu untuk wajib bertanggung jawab secara vicarious terhadap konsumen. sampai ia dapat membuktikan ia tidak bersalah. tidak adil jika orang yang tidak bersalah harus mengganti kerugian yang diderita orang lain. Ia tidak dapat membedakan mana yang berhubungan secara organic dengan korporasi dan mana yang tidak. Di sini hakim harus memberi para pihak beban yang seimbang dan patut sehingga masing-masing memiliki kesempatan yang sama untuk memenangkan perkara tersebut.maka tanggung jawabnya beralih pada si pemakai karyawan tadi. Dengan kata lain. barangsiapa yang mengakui mempunyai suatu hak. yakni asas kedudukan yang sama antara semua pihak yang berperkara. beban pembuktian ada pada si tergugat. Corporate liability pada prinsipnya memiliki pengertian yang sama dengan vicarious liability. Latar belakang penerapan prinsip ini adalah konsumen hanya melihat semua dibalik dinding suatu korporasi itu sebagai sati kesatuan. prinsip tanggung jawab ini pernah diakui. Sebagai contoh. Prinsip Praduga untuk Selalu Bertanggung Jawab Prinsip ini menyatakan. sebagaimana dapat dilihat dalam Pasal 17. asas tanggung jawab ini dapat diterima karena adalah adil bagi orang yang berbuat salah untuk mengganti kerugian bagi pihak korban. yang sebenarnya juga berlaku umum untuk prinsip-prinsip lainnya adalah definisi tentang subjek pelaku kesalahan (lihay Pasal 1367 KUP Perdata). Mengenai pembagian beban pembuktiannya. Dalam hukum pengangkutan. dalam hubungsn hukum antara rumah sakit dan pasien. lembaga yang menaungi suatu kelompok pekerja mempunyai tanggung jawab terhadap tenaga-tenaga yang dipekerjakannya. Menurut doktrin ini. orang yang bekerja disitu (dokter.

28 jo. tepatnya pada Pasal 17 dan 18. ia mengambil suatu tindakan yang diperlukan untuk menghindari timbulnya kerugian. Tergugat ini yang haus menghadirkan bukti-bukti dirinya tidak bersalah. Berkaitan dengan prinsip tanggung jawab ini. Contoh dalam penerapan prinsip ini adalah dalam hukum pengangkutan. Prinsip Praduga untuk Tidak Selalu Bertanggung Jawab Prinsip ini adalah kebalikan dari prinsip kedua. Pasal 29 Ordonansi Pengangkutan udara No. Dasar pemikiran dari teori Pembalikan Beban Pembuktian adalah seseorang dianggpa bersalah. dan pembatasan demikian biasanya secara common sense dapat dibenarkan. Posisi konsumen sebagai penggugat selalu terbuka untuk digugat balik oleh pelaku usaha. Pasal 20 Konvensi Warsawa 1929 atau Pasal 24. kemudian dalam perkembangannya dihapuskan dengan Protokol Guatemala 1971. dan 23 (lihat ketentuan Pasal 28 UUPK). kerugian yang timbul bukan karena kesalahannya d) Pengangkut tidak bertanggung jawab jika kerugian itu ditimbulkan oleh kesalahan/kelalaian penumpang atau karena kualitas/mutu barang yang diangkut tidak baik Tampak beban pembuktian terbalik (omkering van bewijslast) diterima dalam prinsip tersebut. Prinsip Praduga untuk tidak selalu bertanggung jawab hanya dikenal dalamlingkup transaksi konsumen yang sangat terbatas. kerugian ditimbulkan oleh hal-hal diluar kekuasannya. Tentu saja konsumen tidak lalu berarti dapat sekehendak hati mengajukan gugatan.22. jika ia gagal menunjukkan kesalahan si tergugat. b) Pengangkut dapat membebaskan diri dari tanggung jawab jika ia dapat membuktikan.25. dikenal empat variasi: a) Pengangkut dapat membebaskan diri dari tanggung jawab kalau ia dapat membuktikan. Jika digunakan teori ini. Dalam konteks hukum pidana di Indonesia. Hal ini tentu bertentangan dengan asas hukum praduga tidak bersalah yang lazim dikenal dalam hukum. Namun. dalam doktrin hukum pengangkutan khususnya. yang biasanya dibawa . maka yang berkewajiban untuk membuktikan kesalahan itu ada di pihak pelaku usaha yang digugat. 3. asas demikian cukup relevan. Kehilangan atau kerusakan pada bagasi kabin/bagasi tangan. c) Pengangkut dapat membebaskan diri dari tanggng jawab jika ia dapat membuktikan.(1). sampai yang bersangkutan dapat membuktikan sebaliknya. ssebagaimana ditegaskan dalam pasal 19. 100 Tahun 1939. jika diterapkan dalam kasus konsumen akan tampak. Namun. dalam praktiknya pihak kejaksaan RI sampai saat ini masih keberatan untuk menggunakan kesempatan yang diberikan prinsip beban pembuktian terbalik. omkering van bewijslast juga diperkenalkan dalam Undang-Undang tentang Tindak Pidana Korupsi. UUPK pun mengadopsi system pembuktian terbalik ini. Pasal 19 jo.

Prinsip tanggung jawab mutlak dalam hukum perlindungan konsumen secara umum digunakan untuk “menjerat” pelaku usaha. Sebaliknya. Artinya. walaupun tidak sebesar si tergugat. Pada tanggung jawab mutlak . Ada unsure kelalaaiaan. yaitu produsen lalai memenuhi standar pembuatan oba yang baik C. kewajiban mengganti rugi dibebankan kepada pihak yang menimbulkan resikoadanya kerugian itu. Menerapkan tanggung jawab mutlak Variasi yang sedikit berbeda dalam penerapan tanggung jawab mutlak terletak pada risk liability. ada pandangan yang agak mirip. Gugatan product liability dapat dilakukan berdasarkan tiga hal : A. 40 Tahun 1995 tentang Angkutan Udara. konsumen tetap diberikan beban pembuktian. Namun. Dalam hal ini. ada pengecualian-pengecualian yang memungkinkan untuk dibebaskan dari tanggung jawab. pelaku usaha tidak dapat diminta pertanggungjawaban Sekalipun demikian. Prinsip Tanggung Jawab Mutlak Prinsip tanggung jawab mutlak sering diidentikkan dengan prinsip tanggung jawab absolut. Melanggar jaminan. Menurut asas ini. tanggung jawab mutlak adalah prinsip tanggung jawab yang menetapkan kesalahan tidak sebagai factor yang menentukan. ada penegasan. Ada pendapat yang mengatakan. yang memasarkan produknya yang merugikan konsumen. misalnya keadaan force majeur. misalnya khasiat yang timbul tidak sesuai dengan janji yang tertera dalam kemasan produk B. dan mengarah kepada prinsip tanggung jawab dengan pembatasan uang ganti rugi (setinggitingginya satu juta rupiah). Sementara pada tanggung jawab absolute hubungan itu tidak selalu ada. ia hanna perlu membuktikan adanya hubungan kausalitas antara perbuatan pelaku usaha . Kendati demikian ada pula para ahli yang membedakan kedua terminology di atas. khususnya produsen barang. Pihak yang dibebankan untuk membuktikan kesalahan itu ada pada si penumpang. bagasi kabin/bagasi tangan tetap dapat dimintakan pertanggungjawaban sepanjang bukti kesalahan pihak pengangkut (pelaku usaha) dapat ditunjukkan. Dalam risk liability. Asas tanggungjawab itu dikenal dengan nama product liability. Dalam hal ini. produsen wajib bertanggung jawab atas kerugian yang diderita konsumen atas penggunaan produk yang dipasarkannya. dalam Pasal 44 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. yang mengaitkan perbedaaan keduanya pada ada atau tidak adanya hubungan kausalitas antara subjek yang bertanggungjawab dan kesalahannya. 4. “prinsip praduga untuk tidak selalu bertanggungjawab” ini tidak lagi diterapkan secara mutlak. tanggung jawab absolute adalah prinsip tanggung jawab tanpa kesalahan dan tidak ada pengecualiannya.hubungan itu harus ada. Namun. Selain itu.dan diawasi oleh sipenumpang (konsumen) adalah tanggung jawab dari penumpang.

Jika ada pembatasan mutlak harus berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang jelas. Secara historis. \ Prinsip tanggung jawab ini sangat merugikan konsumen bila ditetapkan secara sepihak oleh pelaku usaha. tujuan utama dari dunia memperkenalkan product liability adalah : a. Menurut Johannes Gunawan. Dengan lembaga ini produsen yang pada awalnya menerapkan strategi prosuct oriented dalam pemasaran produknya harus mengubah strateginya menjaddi consumer oriented. Produsen harus berhai-hati denagn produknya. Apalagi dalam era globlalisasi seperti sekarang ini. Agar terdapat pembebanan resiko yang adil antara produsen dan konsumen . khususnya hukum ekonomi dalam perkembangan dewasa ini sangatlah mendesak. Dalam UU No. product liability Kebutuhan-kebutuhan akan reformasi hukum. Memberi perlindungan kepada konsumen b. maka konsumen hanya dibatasi ganti kerugiannya sebesar sepuluh kali harga saru rol film baru. 5. b. termasuk membatasi maksimal tanggung jawabnya. Indonesia dituntut memebentuk hukum nasional yang harus mampu berperan dalam memperlancar lalu lintas hukum ditingkat international. prodct liability lahir karena ketidakseimbangan tanggung jawab antara produsen dan konsumen. Selebihnya dapat digunakan prinsip strict liability. ditentukan bila film yang ingin dicetak itu hilang atau rusak (termasuk akibat kesalahan petugas). Prinsip Tanggung Jawab denagn Pembatasan Prinsip tanggung jawab dengan pembatasan sangat disenangi oleh pelaku usaha untuk dicantumkan sebagai klausul eksonerasi dalam perjanjian standar yang dibuatnya. 8 Tahun 1999 seharusnya pelaku usaha tidak boleh secara sepihak menentukan klausul yang merugikan konsumen. Salah satu lembaga hukum yang berdimensi internasional yang perlu diperhatikan dalam revisi maupun pembentukan hukum ekonomi nasional adalah tanggung jawab produk ( product liability). pembentukan hukum nasional yang baru perlu memperhatikan dimensi internasional. Adalah fakta bahwa terdapat ketentuan-ketentuan yang baik yang berasal dari legal culture bangsa lain ataupun konvensi-konvensi internasional yang dapat dimanfaatkan dalam rangka modernisasi hukum nasional. karena tanggung jawab dalam product.(produsen) dan kerugian yang dideritanya. Dalam perjanjian cuci cetak film misalnya. yang ditandai dengan saling ketergantungan antara Negara satu dengan Negara lainny.

Pengertian product liability dapat ditemukan pada beberapa sumber berikut. sementara capital output ratio ditekan serendah-rendahnya. dan optimalisasi penumpukan dan pemanfaatan capital. users. Product liability adalah suatu tanggung jawab secara hukum dari orang atau badan yang menghasilkan suatu produk atau dari badan yang bergerak dalam suatu proses untuk menghasilkan suatu produk atau badan yang menjual produk tersebut. for damages or injuries suffered because of defect in good purchase. Orientasi kegiatan terarah kepada mekanisme pasar. termasuk para pengusaha bengkel dan pergudangan. Zile: Product liability denotes the civil liability of developers. Adapun cirri-ciri dari product liability dengan mengambil pengalaman dari masyarakat eropa dan terutama Negeri Belanda.1.Toar memberikan pengertian product liability sebagai : Tanggung jawab para produsen untuk produk yang telah dibawanya kedalam peredaran yang menimbulkan/menyebabkan kerugian karena cacat yang melekat pada produk tersebut. Adapun Agnes M. Bahkan dilihat dari konvensi tentang product liability diperluas terhadap orang/badan yang terlibat dalam rangkaian komersial tentang persiapan atau penyebaran dari produk. Pengertian Product Liability Istilah product liability diterjemahkan secara bervariasi kedalam bahasa Indonesia seperti “tanggung gugat produk” atau juga “tanggung jawab produk”.dengan memperbesar saving.    Yang dapat dikualifikasikan sebagai produsen adalah Pembuat produk jadi Penghasil bahan baku Pembuat suku cadang . Pengertian lain dikemukakan oleh zigurds L. dapat dikrmukakan secara singkat sebagai berikut: 1. makers and distributors of products for harm the products have caused to other. and even bystanders. Henry Campbell dalam Black’s Law Dictionary mendefinisikan prouct liability sebaagi berikut : Refers to the legal liability of manufacturers and sellers to compensate buyers.

selain dari produk yang bersangkutan 5. . antara lain: a. Yang dapat dikualifikasikan sebagai kerugian adalah kerugian pada manusia dan keugian pada harta benda. Yang dapat dikualifikasikan sebagai produk adalah benda bergerak. Definisi produk cacat menurut Emma Suratman. disewagunakan. c. Apakah yang dimaksud dengan produk cacat di Indonesia?. atau bentuk distribusi lain dalam transaksi perdagangan  Pemasok. Produk dikualifikasi sebagai menganduung kerusakan apabila produk itu tidak memenuhi keamanan yang dapat diharapkan oleh seseorang dengan mempertimbangkan semua aspek. 4. dengan pengecualian produk-produk pertanian dan perburuan. dalam hal identitas dari produsen atau importer tidak dapat ditentukan 2. disewakan. sebagaimana diharpkan orang. atau tidak menyediakan syarat-syarat keamanan bagi manusia atau harta benda dalam penggunaannya. listrik. baik kerugian badaniah. adalah: Setiap produk yang tidak dapat memenuhi tujuan pemuatannya baik karena kesengajaan atau kealpaan dalam proses produksinya maupun disebabkan hal-hal lainyang terjadi dalam peredarannya. Penampilan produk Maksud penggunaan produk Saat ketika produk ditempatkan dipasaran Tangggung jawab tersebut sehubungan dengan produk yang cacat/rusak sehingga menyebabkan atau turut menyebabkan kerugian bagi pihak lain (konsumen). tanda pengenal tertentu. pada produk tertentu  Importer suatu produk dengan maksud untuk diperjualbelikan. sekalipun benda bergerak tersebut telah menjadi komponen/bagian dari benda bergerak atau benda tetap lain. atau tanda lain yang membedakan dengan produk asli. b. Setiap orang yang menampakkan dirinya sebagai produsen dengan jalan mencantumkan namanya. kematian atau harta benda. 3. Yang dapat dikualifikasikan sebagai konsumen adalah konsumen akhir.

cacat (tidak dapat memenuhi tujuan Cacat produk atau manufaktur Cacat desain Cacat peringatan atau cacat 1). yaitu: a. yang tanggung jawabnya secara tegas dibebankan pada produsen dari produk yang bersangkutan. seperti importir produk. dan sebagainya. dengan syarat-syarat tertentu. Akan tetapi disamping produsen. Cacat-cacat demikian dapat pula termasuk cacat desain. 2. Cacat peringatan atau intruksi Cacat peringatan ini adalah cacat produk karena tidak dilengkapi dengan peringatan-peringatan tertentu atau intruksi penggunaan tertentu. Atau dapat pula peringatan agar dalam penggunaannya harus menggunakan voltase listrik tertentu. atau pengguna yang biasa meminum minuman keras melebihi ukuran tertentu harus meminta nasehat dokter. seperti juga tepung gandum tidak berisi potongan-potongan kecil besi. Misalnya peringatan produk harus disimpan pada suhu kamar atau suhu lemari pendingin (makanan dalam kemasan). atau pedagang pengecernya. saus tomat tidak terbuat dari labu siam sitambah dengan zat pewarna. bermotor selama menggunakannya. tidaklah kejadian merugikan konsumen tersebut dapat terjadi. Suatu produk dapat disebut pembuatannya) karena: 1. termasuk produk cacat. 3. Atau dapat pula cacat itu demikian rupa sehingga dapat membahayakan harta bendanya. larangan memakai kendaraan. 2). Misalnya. Perkembangan ini sebenarnya dipicu juga oleh tujuan yang ingin dicapai doktrin ini. Menekan lebih rendah tingkat kecelakaan karena produk cacat tersebut. Menyediakan sarana hukum ganti rugi bagi (korban) produk cacat yang tidak dapat dihindari. Produk yang tidak memuat peringatan tertentu sebagaimana diutarakan diatas. b. tanpa kesalah dari pihaknya. beban tanggung jawab itu dapat pula diletakkan diatas pundak pelaku usaha lainnya. sebab kalau desain produk itu dipenuhi sebagaimana mestinya. Jadi. distributor. Cacat produk Cacat produk adalah keadaan produk yang umumnya berada dibawah tingkat harapan konsumen. setiap orang mengharapkan air minum dalam botol tidak berisi butir-butir pasir. kesehatan tubuh atau jiwa konsumen.Dari batasan ini terlihat bahwa pihak yang bertanggung jawab adalah pelaku usaha pembuat produk tersebut (produsen). Tanggung jawab produk cacat terletak pada tanggung . tanggung jawab produk cacat ini berbeda dari tanggung jawab pelaku usaha produk pada umumnya.

konsumen jelas sangat diringankan dari beban untuk membuktikan kesalahan produsen. Bahwa produk tersebut tidak dibuat oleh produsen baik untuk dijual atau diedarkan untuk tujuan ekonomis maupun dibuat atau diedarkan dalam rangka bisnis.baik untuk seluruhnya atau untuk sebagian.sehingga didalamnya dianut prinsip praduga bersalah (presumption of fault) berbeda dengan praduga tidak bersalah (presumption of no fault)yang dianut oleh tort. b.yaitu perbuatan produsen adalah perbuatan melawan hukum dengan kerugian dan hubungan kausal antara perbuatan melawan hukum dengan kerugian yang timbul.jenis tanggung jawab (liability) semacam ini disebut no fault liability atau strict liability. Namun demikian. dapat dikemukakan bahwa product liability merupakan lembaga hukum yang tetap menggunakan kontruksi hukum tort (perbuatan melawan hukum).maka konsumen yang menjadi korban tidak perlu lagi membuktikan unsure kesalahan produsen.pihak produsen dapat membebaskan diri dari tanggung jawabnya.jawab cacatnya produk berakibat pada orang. Sedang tanggung jawab pelaku usaha karena perbuatan melawan hukum adalah tanggung jawab atas rusaknya atau tidak berfungsinya produk itu sendiri. Bahwa terjadinya cacat pada produk tersebut akibat keharusan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Karena produsen dianggap bersalah.seperti yang dianut didalam tort.Hal-hal yang dapat membebaskan tanggung jawab produsen tersebut adalah a.yang relative sangat sukar. Jika produsen tidak mengedarkan produknya (put into circulation).karena karakter dasar dari product liability adalah tort. c. 3. Cacat yang menyebabkan kerugian tersebut tidak ada pada saat produk diedarkan oleh produsen. Dengan beberapa modifikasi. orang lain atau barang lain.konsumen menjadi korban masih harus membuktikan ketiga unsure lainnya. 2.atau terjadinya cacat tersebut baru timbul kemudian. Karena produsen sudah dianngap bersalah.konsenkuensinya ia harus bertanggung jawab (liable) untuk memberi ganti rugi secara langsung kepada pihak konsumen yang menderita kerugian. Meskipun system tanggung jawab dalam product liability berlaku prinsip strict liability. .Dalam hal ini beban pembuktian justru dialihkan (shifting the burden of proof) kepada pihak produsen .Dilihat dari segi ini. d. Dari perkembangan product liability di berbagai Negara.untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan kesalahan yang menimbulkan kerugian kepada konsumen. 1. Modifikasi tersebuut adalah : Produsen langsung dianggap bersalah jika terjadi kasus product liability.

pencemaran . 2. .e.Inti masalahnya terletak pada kulitas produk yang dihasilkan. Dari cakupan product liability tesebut.dapat terlindungan karena dapat diketahui apa yang dapat dituntut dan kepada siapa tuntutan itu harus ditunjukkan.Produuk-produk yang dihasilkan industry itu ditunjukkan baik untuk memenuhi keperluan dalam negeri maupun untuk keperluan ekspor.Masalah produk liability ini erat kaitannya dengan masalah persaingan dalam era perdagangan bebas maupun dengan makin meningkatnya perhatian terhadap perlindungan konsumen. 3. Undang-undang No.Produk Liability di Indonesia Seperti telah dikemukakan pada pendahuluan.menunjukkan luuasnya kepentingan konsumen yang dapat dijangkau oleh lembaga hukum ini.persaingan yang lebih ketat baik didalam maupun diluar negeri dari sebagai akibat globasasi dan perdagangan bebas dan sebagainya.mulai dari penyediaan sumber daya manusia yang berkualitas. 2.penguasaan ilmu dan teknologi.Dari pengertian produk dan produsen yang begitu luas.dan atau kerugian konsumen akibat mengonsumsi barang dan atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan. persaingan yang lebih berkualitas.state of art defense) pada saat produk tersebut diedarkan tidak mungkin terjadi cacat.khususnya tentang produk liability atau tanggung jawab produsen. Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal transaksi.Hal penting lain yang perlu mendapat perhatian serius dalam era industrialisasi adalah bidang hukum.Indonesia sedang menuju era industrialisasi. Dalam memasuki era industrialisasi tersebut berbagai hal perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh. 1. 4.Devisa yang dihasilkan sangat diperlukan bagi keperluan impor produk-produk yang tidak dapat dihasilkan didalam negeri.mengatisipasi tuntutan akan barang dan jasa yang lebih berkualitas.8 Tahun 1999 telah menggunakan prinsip semi-strict liability sebagaimana yang diatur dalam pasal 19 Bab IV tentang Tanggung Jawab Pelaku Usaha.dijelaskan sebagai berikut : Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan. Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud ada ayat pada ayat (1) dan ayat (2) tidak mengharuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasarkan pembuktian lebih jelas mengenai adanya unsure kesalahan. Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang atau penggantian barang dan jasa yang sejenis atau setara nilainya atau perawatan kesehatan dan atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bahwa secara ilmiah dan teknis (state of scientic and technical knowledge.

5. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku apabila pelaku usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen. Dalam juga,pasal 20 yang berbunyi bahwa pelaku usaha periklanan bertanggung jawab atas iklan yang diproduksi dan segala akibat yang ditimbulkan oleh iklan tersebut.Disamping itu,tanggung gugat juga diberlakukan bagi importir barang atau jasa sebagai pembuat barang yang diimpor atau sebagia penyedia jasa asing jika importasi barang tersebut atau penyediaan jasa asing tersebut tidak dilakukan oleh agen atau perwakilan produsen luar negeri atau perwakilan produsen luar negeri atau perwakilan penyedia jasa asing. Selain itu,dalam pasal 28 dinyatakan bahwa pembuktian terhadap ada tidaknya unsure kesalahan dalam gugatan ganti rugi merupakan beban dan tanggung jawab pelaku usaha.Hal ini berarti berlaku system pembuktian terbalik,baik dalam perkara pidana maupun perkara perdata,sesuatu yang menyimpang dari hukum acara biasa.Didalam hukum acara pidana,beban pembuktian terletak pada jaksa (penuntut umum),sedangkan didalam hukum acara perdata baik berdasarkan pasal 163 Herziene Inlands Reglement (HIR),pasal 383 Reglement buitengewesten (RBg),maupun pasal 1865 BW,beban pembuktian diletakkan pada penguggat. Berdasarkan system hukum yang ada kedudukan konsumen sangat lemah dibanding produsen.Salah satu usaha untuk melindungi dan menibgkatkan kedududkan konsumen adalah dengan menerapkan prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability ) dalam hukum tentang tanggung jawab produsen.Dengan diberlakukannya prinsip tanggung jawab mutlak diharpkan pula para produsen/industrawan Indonesia menyadari betapa pentingnya menjaga kwlaitas produk – produk yangt telah dihasilkannya,sebab bil tidak selain akan merugikan konsumen juga akan sangat besar resiko yang harus ditanngungnya.Para produsen akan llebih berhati-hati dalam memproduksi sebelum dilempar ke pasaran sehinnga para konsumen,baik dalam maupun luar negeri tidak akan ragu-ragu membeli barang produksi Indonesia.Demlian juga bila kesadaran oara produsen /industriawan terhadap hukum tentang tanggung jawab produsen tidak ada,dikhawatirkan akan berakibat tidak baik terhadap perkembangan/eksitensi dunia industry nasional maupun ada daya saing produk nasional terutama diluar negeri. Penerapan prinsip tanggung jawab mutlak di Indonesia meliputi 3 bagian penting.Pertama factor-faktor eksternal hukum yang mempengaruhi perkenbangan dan pembaharuan hukum perlindungan konsumen teramsuk penerapan prinsip tanggung jawab mutlak.Kedua,factor internal system hukum yaitu elemen struktur dan budaya hukum ddalam rangka penerapan prinsip tanggung jawab mutlak di Indonesia.Ketiga,adalah ruang lingkup materi atau substansi dari prinsip tanggung jawab mutlak yang perlu diatur dalam undang-undang. Namun demikian,dengan memberlakukan prinsip strict liability dalam hukum tentang product liability tidak berarti pihak produsen tidak mendapat perlindungan.Pihak produsen masih diberi kesempatan untuk membebaskan diri dari tanggung jawabnya dalam hal – hal tertentu yang dinyatakan dalam undngundang.Disamping itu,pihak produsen juga dapat mengasuransikan tanggung jawabnya sehingga secara ekonomis dia tida mengalami kerugian yang berarti.

Konsekuensinya dari pembalikan beban pembuktian adalah tergugat wajib membuktikan ketidaksalahannya.Apabila tergugat tidak dapat membuktikan ketidaksalahanya,maka tergugat harus dikalahkan karena apa yang didalihkan oleh penggugat terbukti.Dalam perkara pidana,juga berlaku hal sama,bahwa apabila tersangka tidak dapat membuktikan ketidaksalahannya,ia harus dintakan terbukti melakukan tindak pidana yang disangkakan kepadanya.Akan tetapi,Undang-undang No.8 Tahun 1999 tentangg perlindungan Konsumen juga membebaskan pelaku usaha untuk memberikan ganti rugi apabila pelaku usaha dapat membuktikan kalau kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen(pasal 19 ayat (5)).Selain itu,pelaku usaha yang memproduksi barang dibebaskan dari tanggung jawab atas kerugian yang diderita konsumen apabila : a. Barang tersebut terbukti seharusnya tidak diedarkan atau tidak dimaksudkan untuk diedarkan; b. c. d. Cacat barang timbul pada kemudian hari; Cacat timbul akibat ditaatinya ketentuan mengenai kulifikasi barang; Kelalaianyang diperjanjikan yang diakibatkan oleh konsumen; 4 tahun sejak barang dibeli\ atau

e. Lewatnya waktu pennututan lewatnya jangka waktu (pasal 27).

Adapun system beban pembuktian terbalik juga digunakan jika kasus perlindungan konsumen diangkat sebagai kasus pidana.Hali ini berarti meskipun ganti rugi telah diberikan namun tidak menghapus kemungkinan adanya tuntutan piadana berdasrkan pembuktian lebih lanjut mengenai adanya unsure kesalahan ini digunakan system beban pembutian terbalik.Pasal 22,menegaskan bahwa pembuktian terhadap ada tidaknya unsure kesalahan dalam kasus pidana merupakan beban dan tanggung jawab pelaku usaha tanpa menutup kemungkinan bagi jaksa untuk melakukan pembuktian.

c. PENYALAHGUNAAN KEADAAN VAN OMSTANDIGHEDEN)

(MISBRUIK

“penyalahgunaan keadaan” menguraikan penerapan lembaga ini dalam sengketa transaksi konsumen yang akan direkomendsikan untuk diterima menjadi salah satu prinsip penting dalam hukum Indonesia. Perkjanjian merupakan salah satu sumber perkitan yang dapat dikatakan sebagai sumber formal hukum yang utama dalam transaksi konsumen.Salah satu isu pokok dalam transakssi konsumen misalnya terkait dengan keberadaan perjanjian standar (baku) yang oleh banyak pihak dinilai menggerototi hak kebebasan berkontrak dari pihak konsumen. Secara klasik sebagiamana dimuat dalam kitab undang-undang Hukum Perdata,salah satu asas penting dalam perjanjian adalah prinsip kebebasan

berkonrak.Asas ini pertama kali dapat disimpulkan dari pasal 1320 Kitab UndangUndang Hukum Perdata,yang menetapkan empat syarat sah suatu perjanjian, yakni : 1. 2. 3. 4. Kesepakatan kedua belah pihak Kecakapan Suatu pokok persoalan tertentu Suatu sebab yang halal dengan syarat subjektif, sedangkan dua objektif. Menurut Subekti, pelanggaran itu terancam untuk dapat dimintakan objektif tidak dipenuhi, perjanjian itu

Dua syarat yang pertama berkaitan syarat terakhir berhubungan dengan syarat syarat subjektif menyebabkan perjanjian pembatalannya. Di sisi lain, bila syarat terancam batal demi hukum.

Pasal 1321 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menebutkan tiga alas an untuk melakukan pembatalan perjanjian, yakni : 1. 2. 3. Kekhilafan atau kesesatan Paksaaan Penipuan

Tiga alasan warisan hukum colonial belanda itu tetap berlaku sampai sekarang, sekalipun di negeri Belanda terjadi satu perkembangan yang sangant berarti, khususnya dipandang dari sudut hukum perlindungan konsumen. Kemajuan dimaksud adalah dimasukkannya alasan keempat, yaitu penyalahgunaan keadaan. Keempat alasan itu dicantumkan dalam Buku III Pasal 44 ayat (1) Kitab UndangUndang Hukum Perdata belanda yang baru. Penyalahgunaan keadaan berkaitan dengan kondisi yang ada pada saat kesepakatan terjadi. Kondisi itu membuat ada salah satu pihak berada dalam keadaan tidak bebas untuk menyatakan kehendaknya. Itu sebabnya, ada ahli yang berpendapat penyalahgunaan keadaan ini sebagai salah satu bentuk dari cacat kehendak juga. Satu hal yang harus diingat, penyalahgunaan keadaan sejak semula tidak dapat dianggap sebagai hal yang dapat dibenarkan oleh hukum. Sebenarnya, penyalahgunaan keadaan sejak dulu dimasukkan sebagai keadaan yang bertentangan dengan ketertiban umum atau kebiasaan yang baik. atas dasar itu, suatu perjanjian dapat dinyatakan tidak berlaku, baik seluruhnya maupun bagian tertentu saja. Dengan demikian, ada anggapan “sebab” yang terlarang sama dengan “isi” perjanjian yang tidak di benarkan. Padahal, penyalahgunaan tidak semata-mata berkaitan dengan “isi” perjanjian. Isinya mungkin tidak terlarang, tetapi ada sesuatu yang lain, yang terjadi pada saat lahirnya perjanjian, yang menimbulkan kerugian pada salah satu pihak. Inilah yang dinamakan “penyalahgunaan keadaan”. Menurut Van Dunne, penyalahgunaan keadaan terjadi karena ada dua unsur, yaiitu kerugian bagi salah satu pihak dan penyalahgunaan kesempatan oleh pihak lain.

Karena hubungan atasan-bawahan. Pada waktu menutup perjanjian. gegabah. tetapi salah satu pihak mendominasi secara kejiwaan. Karena keadaan ekonomis.Satrio menambahkan lagi enam factor yang dapat dianggap sebagai cirri dari penyalahgunaan keadaan. yang bersifat ekonomis/psikologis.”penyalahgunaan keadaan” ini sanagat relevan untuk disinggung dalam kaitannay dengan persengketaan transaksi konsumen. dan 2. ketiadaan pengaturan itu tidak . memang belum diadopsi ke dalam Kitab undang-Undang Hukum Perdata (eks Kolonial Belanda) yang tetap berlaku di Indonesia. Adanya ketergantungan relatif (misalnya antara orang tua dan anak. Di lain pihak. pendeta dan jemaatnya). sering pelaku usaha secara sistematis memasang iklan di media massa untuk menggiring psikologi konsumen agar berperilaku konsumtif. keunggulan ekonomis pada salah satu pihak. Keadaan yang dimaksud disebabkan. pembebasan majikan dari resiko dan menggesernya menjadi tanggungan si buruh 6. misalnya yang bersangkutan belum berpengalaman. dokter dan pasien. Kerugian yang sangat besar dari salah satu pihak. hubungan majikan-buruh.Dari unsure yang kedua itu. kesulitan keuangan yang mendesak 3. salah satu pihak ada dalam keadaan terjepit 2. kurang jelas. Factor kerugian disini tidak harus berwujud kerugian materiil. Keunggulan ekonomis terjadi bila posisi kemampuan ekonomi kedua belah pihak tidak seimbang sehingga salah satu tergantung pada yang lain. Melengkapi pandangan Dunne. Salah satu pihak menyalahgunakan keadaan pihak lain untuk kepentingannya. Kondisi ini tercipta karena : 1. Keunggulan ekonomis dan psikologis dari si pelaku usaha sering sangat dominan sehingga mempengaruhi konsumen untuk memutuskan kehendaknya secara rasional. dan kurang informasi.timbul sifat perbuatan. Perjanjian itu mengandung hubungan yang timpang dalam kewajiban timbale balik antara para pihak (prestasi yang tak seimbang). orang tua/wali-anak belum dewasa 4. konsumen perumahan sering terdesak nutuk menyetujui suatu perjanjian kredit dengan bank berdasarkan system bunga fluktuatif yang sangat tidak menguntungkan. seperti pasien membutuhkan pertolongan dokter ahli 5. boleh jadi ketergantungan ekonomis itu tidak ada. karena ia sudah sangat membutuhkan rumah tinggal yang layak dan pemerintah tidak menyediakan fasilitas perbankan yang lebih ringan daripada itu.J. sebagai berikut : 1. Persoalannya “ penyalahgunaan keadaan”. Pada keunggulan psikologis. seperti segala sesuatu yang menyebabkan orang pada posisi tidak menguntungkan. Walaupun demikian. suami dan istri. yaitu ada keunggulan pada salah satu pihak. Karena keadaan. tetapi dapat meliputi kerugian”subjektif”. Jelas sekali. Sebagai contoh.

sebaiknya penerapan ajaran “penyalahgunaan keadaan” ini tidak sepenuhnya diserahkan pada hakim. daerah. Artinya. salah satu hak konsumen adalah hak untuk diperlakukan atatu dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif. Pasal 15 UUPK bahkan secara tegas mengatakan. pelaku usaha dalam menawarkan barang atau jasa dilarang melakukan dengan cara pemksaan atau cara lain yang dapat menimbulkan gangguan baik fisik maupun psikis terhadap konsumen. agama. Van Dunne melihat. Manfaat Keadilan Keseimbangan Keamanan dan keselamatan Kepastian hukum Pada asas keadilan. dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak dua miliar rupiah. 4. Pasal 18 UUPK meletakkan hak-hak yang setara antara konsumen dan pelaku usaha bedasarkan prinsip kebebasan berkontrak. seluruh rakyat diupayakan agar dapat berpartisipasi semaksimal mungkin dan agar diberi kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannnya secara adil. 1904K/Sip 1982. setiap konsumen memiliki hak untuk dilakukan atau di layani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif berdasarkan suku. Selanjutnya dalam hubungannya dengan perjanjian standar. Henry P.”penyalahgunaan keadaan” tidak dapat diterapkan dalam penyelesaian kasuskasus perdata di Indonesia. 5. budaya. Penjelasan Pasal 2 UUPK menyebutkan adanya lima asas perlindungan konsumen. dalam asas keseimbangan disebutkan. Penjelasan dari ketentuan tersebut secara jelas dapat ditafsirkan sebagai keterkaitan dengan larangan “penyalahgunaan keadaan”. Putusan itu termuat dalam putusan MA No.berarti. Pasal 4 huruf g UUPK menyebutkan pula. yaitu asas : 1. kaya. 2. misalnya menyebutkan ada putusan hakim yang dapat dianggap sebagai yuris-prudensi. Dalam ketentuan itu dikatakan. pendidikan. pelaku usaha. Pesan ini tampaknya perlu juga diperhatikan oleh lembaga legislatif kita. 3. . dan status social lainnya. perlu diberi keseimbangan antara kepentingan konsumen. Pelanggaran terhadap kedua paasl di atas merupakan tindak pidana menurut ketentuan Pasal 62 UUPK. dijelaskan. miskin. UUPK sendiri secara umum membuka kemungkinan pengajuan gugatan oleh konsumen kepada pelaku usaha berdasarkan factor penyalahgunaan keadaan ini. dan pemerintah dalam arti materiil dan spiritual. yang dalam konsiderannya memuat pertimbangan “penyalahgunaan keadaan” oleh salah satu pihak. Kemudian. dalam kaitannya dengan perjanjian standar yang banyak sekali dibuat oleh para pelaku usaha dewasa ini. 3431K/Pdt/1985. 4 Maret 1987 dan Putusan No. Pangabean. 28 Januari 1984. perlu “campur tangan” pembentuk undang-undang untuk melindungi kepentingan konsumen.

“keengganan” ini akan sangat berbeda jka dibandingkan dengan konsumen-konsumen di Negara-negara peserta perdagangan bebas lainnya. Kalaupun hukum digunakan untuk menjangkaunya itu pum hanya sebatas kepada mereka yang menjadi tumbal space-goal tarik-menarik kepentingan tersebut. . kalau perlu penyelesaian melalui jalur hukum. Masih banyak makanan impor yang diketahui dengan jelas siapa distributornya di Indonesia. Pertama. karena tidak konsistennya badan peradilan kita atas putusanputusannya. dan lain-lain. tetapi pada tataran paktik dan kenyataannya tidak mudah dilakukan karena berbagai sebab yang bersifat yuris-politis-sosiologis. Inggris. Secara yuridis muncul pula masalah benturan system hukum antara Indonesia dengan Negara-negara lain. Bagaimana dengan kasus-kasus konsumen pada era perdagangan bebas yang bersuasana internasional. cepat. hal ini berada diluar jangkauan hukum. juga lebih banyak didasarkan pada : a.secara sosiologis. Sikap menghindari konflik meskipun hak-haknya sebagai konsumen dilanggar pengusaha. seperti Amerika Serikat. Paling tidak ada 3 penyebab yang dapat dikategorikan sabagai hambatan-hambatan dalam perdagangan bebas. sebagian besar konsumen Indonesia enggan berperkara ke pengadilan. yang relative masih baru. Secara teoritis itu dapat saja diselesaikan. dalam hal ini Undang-Undang No. Keengganan konsumen Indonesia ini disamping disebabkan oleh ketidak kritisan mereka. dan biaya ringan c. padahal telah sangat dirugikan oleh pengusaha. Permasalahan muncul jika ada pengaduan konsumen atas barang dan jasa impor tersebut. bila tidak distigma antiworld trade organization (WTO). 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Mereka telah terbiasa mempertanyakan produk-produk yang dikonsumsinya. Yaitu. Belum dapat diterapkannya norma-norma perlindungan di Indonesia. Sering terjadi perbedaan-perbedaan putusan pengadilan dalam kasus serupa. tarik-menarik berbagai kepentingan diantara para pelaku ekonomi yang memiliki akses kuat diberbagai bidang. bila perundang-undangan Indonesia bertentangan dengan ketentuan (WTO). Kedua. sehingga diperlukan waktu sosialisasi pemberlakuannya selama 1 tahun b. Praktik peradilan kita yang tidak sederhana.d. Dalam kasu berskala nasional saja pengadilan belum mampu bessikap konsisten. Ketiga. Norma-norma perlindungan konsumen Era perdagangan bebas menghendaki bahwa semua barang dan jasa yang berasal dari Negara lain harus dapat masuk ke Indonesia. bagaimana mekanisme penyelesaiannya yang sederhana. termasuk akses kepada pengambil keputusan. cepat dan biaya ringan. Masuk nya barang dan jasa impor ke Indonesia bukannya tanpa permasalahan. Ketidakjelasan ini menyulitkan konsumen bila ia mengalami kerugian akibat produk barang atau jasa tersebut.

Indonesia sebagai salah satu Negara terkemuka di ASEAN. e. Pendidikan konsumen Tersedianya upaya ganti rugi yang efektif f. Yakni. Adapun kepentingan konsumen menurut Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen) dalam tata hukum kita. dituangkan dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Kekhawatiran adanya UndangUndang Perlindungan Konsumen bias menghancurkan perkembangan industry. sebagai berikut : a. Pengusaha kecil yang sudah ada pada awal munculnya isu perlindungan konsumen di Indonesia hamper ¼ abad yang lalu. hendaknya dapat memprakarsai harmonisasi hukum di kawasan ASEAN. Adanya Undang-Undang Perlindungan Konsumen memberikan dampak ekonomi yang positif bagi dunia usaha. bahkan tergilas sepak terjang konglomerat yang menggurita. hukum positif yang ada tidak jelas arah dan tujuannya bila digunakan sebagai instrument hukum dalam melindungi kepentingan (hukum) konsumen. Idealnya doktrin product liability sebagai salah satu norma perlindungan konsumen. hakikat perlindungan konsumen menyiratkan keberpihakan kepada kepentingan-kepentingan (hukum) konsumen. meskipun pembangunan hukum dan ekonominya masih tertinggal jika dibandingkan dengan Negara-negara ASEAN lainnya. dalam perspektif perlindungan konsumen. khususnya menyangkut product liability.Terlampau dini bagi kita untuk memberikan penilaian efektif tidaknya normanorma perlindungan konsumen yang integral (Undang-Undang No. Promosi dan perlindungan kepentingan social ekonomi konsumen c. b. Dari pada itu. karena norma-norma ini masih dalam taraf sosialisasi selama setahun sejak diundangkan pada tanggal 20 April 1999 yang lalu. dan pengusaha kecil tidak masuk akal. Apa yang telah dilakukan EEC (Masyarakat Ekonomi Eropa/MEE) pada \bulan juli 1985 dengan . sampai saat ini tidak bangkit. Kebebasan untuk membentuk organisasi konsumen atau organisasi lainnya yang relevan dan memberikan kesempatan kepada organisasi tersebut untuk menyuarakan pendapatnya dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan mereka. Sementara itu. Perlindungan konsumen dari bahaya-bahaya terhadap kesehatan dan keamanannya. 39/248 tentang Guidelines for Consumer Protection. dunia usaha dipacu untuk meningkatkan kualitas produk barang dan jasa sehingga produknya memilki keunggulan kompetitif di dalam dan diluar negeri. Butir (a) kepentingan konsumen tersebut dapat direalisasi melalui penerapan doktrin product liability kedalam doktrin perbuatan melawan hukum (tort). Tersedianya informasi yang memadai bagi konsumen untuk memberikan kemampuan mereka melakukan pilihan yang tepat sesuai kehendak dan kebutuhan pribadi d. perdagangan.

maka Pemerintah harus menangani kesenjangan ekonomi antarpelaku ekonomi. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan Konsumen masih dalam taraf sosialisasi.)Pemerintah.8 tahun 1999 tentang Hukum Perlindungan Konsumen disebutkan adanya Badan Perlindungan Konsumen Nasional. Dalam perspektif kebijakan pemerintah pada awalnya Pembangunan Jangka Panjang Kedua (PJP II) yang menekankan pada pemerataan pembangunan dan hasilhasilnya. Berusia sekurang – kurangnya 30 tahun. Memiliki pengetahuan dan pengalaman dibidang perlindungan konsumen 6. sementara itu UndangUndang No. Mereka siap menghadapi produk-produk impor terutama dari Negara-negara berrkembang. kita baru memulai sosialisasi norma-norma perlindungan konsumen itu. Badan ini terdiri atas 15 orang sampai dengan 25 orang anggota yang mewakili unsure : (1. Sebaliknya. (4. BADAN PERLINDUNGAN KONSUMEN NASIONAL Dalam undang – undang No. Syarat – syarat keanggotaannya menurut pasal 37 UUPK adalah : 1.) tenaga ahli. Berbadan sehat 3. Kesenjangan tersebut tercipta dalam bentuk berbagai kenaikan harga barang dan jasa konsumen tanpa diikuti dengan daya beli dan kualitas produk yang memadai. (2.) akademisi dan (5.) lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat.memberlakukan Directive Nomor 85/374/EEC on strict Product Liability di seluruh kawasan Eropa dapat dianggap sebagai salah satu tindakan harmonisasi hukum yang dilakukan Dewan Menteri Eropa. dan dapat di amanat kembali untuk satu kali masa jabatan berikutnya. Keanggotaan badan perlindungan konsumen nasional / BPKN ini di angkat oleh presiden atas usulan menteri (bidang perdagangan) setelah dikonsultasikan kepada dewan perwakilan rakyat. BAB 6 PERANNYA LEMBAGA/INSTANSI KONSUMEN DAN DALAM PERLINDUNGAN A. Berkelakuan baik 4. Warga Negara Indonesia 2. Masa jabatan mereka adalah 3 tahun. Tidak pernah dihukum karena kejahatan 5.) pelaku usaha. (3. Syarat diatas persis seperti yang juga berlaku untuk menjadi anggota badan penyelesaian . Sebagai bahan perbandingan pada era perdagangan bebas Negara-negara peratifikasi keputusann-keputusan (WTO) sudah cukup lama memiliki perangkat Undang-Undaang Perlindungan Konsumen. dalam hal ini antara pengusaha dan konsumen.

keanggotaan BPKN dicantumkan secara tegas batas masa jabatannya dan kapan yang bersangkutan dapat berhenti sebagai anggota. 2. atau pelaku usaha 7. Anturan demikian tidak disebutkan untuk keanggotaan badan penyelesaian sengketa konsumen. Mendorong berkembang nya lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat 5. Untuk menjalankan fungsi tersebut. BPKN berkedudukan di Jakarta dan bertanggung jawab langsung kepada presiden/ jika diperlukan. keanggotaan BPKN berhenti karena : 1. pemerintah c. menteri yang membidangi perdagangan ditugasi juga untuk mengkoordinasikan pembinaan dan pengawasan perlindungan konsumen secara . Melakukan penelitian terhadap barang dan jasa yang menyangkut keselamatan konsumen 4. dan (5) kerja sama internasional. pengkajian dan pengembangan. yaitu (1) administrasi dan keuangan. (2) penelitian. Meninggal dunia. Fungsi BPKN ini hanya memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah dalam upaya mengembangkan perlindungan konsumen di Indonesia. 3. BPKN dapat membentuk perwakilan di Ibukota provonsi. (3) pengaduan.q. 4. Menurut pasal 38 UUPK. Untuk melaksanakan tugas – tugasnya. Menerima pengaduan tentang perlindungan konsumen dari masyarakat.Konsumen (pasal 49 UUPK). Bertempat tinggal diluar wilayah Negara Republik Indonesia. Berakhir masa jabatan sebagai anggota. Bedanya adalah dalam UUPK. Mengundurkan diri atas permintaan sendiri. dalam pasal 29 dan 30 UUPK diamanatkan. Melakukan survei yang menyangkut kebutuhan konsumen Diluar BPKN yang independen. Memberikan saran dan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka penyusunan kebijaksanaan di bidang perlindungan konsumen 2. Menyebarluaskan informasi melalui media mengenai perlindungan konsumen dan memasyarakatkan sikap keberpihakan kepada konsumen 6. lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. 5. atau 6. Sekretariat ini paling tidak terdiri atas lima bidang. (4) pelayanan informasi. BPKN dibantu oleh suatu secretariat yang dipimpin oleh seorang secretariat yang diangkat oleh Ketua BPKN. Sakit secara terus – menerus. badan ini mempunyai tugas (pasal 34 UUPK) : 1. Diberhentikan. Melakukan penelitiaan dan pengkajian terhadap peraturan perundangundangan yang berlaku dibidang perlindungan konsumen 3.

misalkan makanan kaleng. Oleh karena itu. Dengan demikian. Hal ini disebabkan oleh masih banyaknya produk tidak bermutu yang palsu yang beredar bebas dimasyarakat. B. LPKSM diharapkan sering melakukan advokasi melalui media masa agar masyarakat selektif serta hati – hati dalam membeli produk barang yang muncul deras dipasaran. sementara tim koordinasi yang di bentuk oleh menteri itu berfungsi memberikan rekomendasi berupa tindakan konkret atas setiap permasalahan yang timbul di lapangan. ia diperlukan untuk memberikan jaminan accountability lembaga – lembaga konsumen tersebut. dan masih banyak lagi. Menteri yang membidangi perdagangan iu berwenang membenuk tim koordinasi pengawasan barang dan jasa yang beredar di pasar. masyarakat pedesaan yang belum memahami efek atau indikasi dari produk barang yang digunakan. ada perbedaan antara BPKN dan tim di atas. Tim ini terdiri atas wakil instansi terkait. Selain itu. sehingga kehadiran LPKSM ini betul – betul dirasakan manfaatnya pleh masyarakat. obat – obatan. apalagi. Ada pandangan kehadiran LPKSM bentuk intervensi Negara terhadap kebebasan berserikat dan berkumpul dari kelompok masyarakat. Pembinaan dan pengawasan yang lebih khusus dilakukan oleh menterimenteri teknis sesuai bidang tugas mereka. masyarakat. Hasil temuan LPKSM yang disampaikan masyarakat juga harus mendapat tindak lanjut dan . namun di sisi lain. seperti penghentian produksi atau peredaran barang/jasa yang dinilai melanggar peraturan yang berlaku. BPKN berfungsi memberikan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka penyusunan kebijakan di bidang perlindungan konsumen. unit pengaduan masyarakat perlu dibentuk sebagai sarana pengaduan masyarakat yang dirugikan dari produk barang yang digunakan. maka perlu keseriusan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) perlu memantau secara serius pelaku usaha/penjual yang hanya mengejar profit semata dengan mengabaikan kualitas produk barang.nasional. minuman botol. Problematika yang muncul dengan kehadiran LPKSM adalah dari fungsi serupa yang selama ini telah dijalankan oleh lembaga – lembaga konsumen sebelum berlakunya UUPK. Ketidaktahuan masyarakat dapat memberi peluang pelaku usaha atau penjual untuk membodohi masyarakat dengan produk yang tidak memenuhi standar. LPKSM dan cabangnya di daerah harus mengontrol dengan sungguh – sungguh kelayakan produk barang yang dipasarkan melalui penyuluhan kepada masyarakat tentang tertib niaga dan hokum perlindungan konsumen agar mereka tidak terjebak tindakan pelaku usaha yang hanya memproriotaskan keuntungan dan mengorbakan masyarakat. Fungsi tim pun hanya sebatas memberikan rekomendasi kepada menteri untuk melakukan tindakan konkret. PENGERTIAN DAN PERAN LPKSM (LEMBAGA PERLINDUNGAN KONSUMEN SWADAYA MASYARAKAT) Kian ketatnya persaingan dalam merebut pangsa pasar melalui bermacam – macam produk barang. dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat (LPKSM).

yakni sebagai berikut : (1). dan masyarakat terhadap PERAN SERTA YLKI (YAYASAN LEMBAGA KONSUMEN INDONESIA) DALAM PERLINDUNGAN KONSUMEN. termasuk menerima keluhan atau pengaduan konsumen. Undang – Undang No. baik jasa pelayanan yang disediakan oleh industry maupun pelayanan umum yang disediakan oleh pemerintah. (2). b. memberikan nasihat kepada konsumen yang memerlukannya . C. membantu konsumen dalam memperjuangkan haknya. e. Pengukuhan ini timbul atas desakan konsumen di Amerika pada tahun 1930-an yang sudah mulai mempertanyakan adanya ketidakadilan dalam memperoleh pelayanan. Pemerintah mengakui lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat. Diharapkan pula kehadiran PLKSM bukan justru berpihak kepada pelaku usaha atau penjual dengan mengorbankan konsumen. melakukan pengawasan bersama pemerintah pelaksanaan perlindungan konsumen. Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam mewujudkan perlindungan konsumen.penyelesaian secara tuntas. d. Pemasaran barang dan jasa secara bebas dan canggih di Negara liberal itu telah menimbulakan mekanisme defensive di kalangan konsumen dan mulai terdapat ketidak percayaan akan informasi sepihak yang disampaikan para produsen. Tugas lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat meliputi kegiatan : a. (3). Berkaitan dengan implementasi perlindungan konsumen. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengatur tugas dan wewenang LPKSM sebagaimana tertuang dalam Pasal 44. c. Munculnya gerakan “konsumerisme” dalam segala permasalahnnya kepermukaan masih relative baru. Kennedy pada tahun 1962 mengukuhkan adanya hak – hak konsumen. Kepopuleran dan paham konsumerisme ini baru mulai mendapat perhatian dunia bisnis maupun birokrasi sejak Presiden Amerika Serikat. Konsumen mulai mempermaslahkan adanya ketidaksesuaian harga dengan mutu barang atau jasa serta keselamatan penggunaanya. bekerja sama dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan perlindungan konsumen. menyebarkan informasi dalam rangka meningkatkan kesadaran atas hak dan kewajiban dan kehati – hatian konsumen dalam mengonsumsi barang dan/atau jasa. . Pemasaran barang dan jasa serta keselamatan penggunaannya.

Dengan bangkitnya kesadaran konsumen ini tampaknya aparat pemerintah belum siap menerima tuntutan dan masyarakat baik dalam segi dana maupun SDMnya. Pada dasarnya para aparatlah yang tahu apakah suatu pengurusan KTP misalnya. malah akan merugikan dirinya sendiri baik dari segi waktu dan tenaga. catatan sipil. dimana dinyatakan dalam paragraph pertama bahwa pemerintah – pemerintah berbagai Negara sepakat untuk memfasilitasi/mendukung pengembangan kelompok – kelompok konsumen (guidelines 1e). Mereka sudah membayarnya melalui pajak. listrik. dan angkutan transportasi.misalnya PLN dan pelayanan yang bersifat nonprofit seperti KTP. angkutan. Satu hal yang diperjuangkan guidelines itu adalah struktur kelompok – kelompok konsumen yang independen. pelayanan yang bersifat monopoli. cepat atau lambat. telepon. Pada hakikatnya kelompok konsumen lebih merupakan pengelompokan . hal ini merupakan kemajuan yang sangat berarti di bidang perlindungan konsumen. Hanya saja. Keberadaan kelompok konsumen tentu saja berbeda dengan organisasi konsumen. Berhubungan dengan hamper segala bentuk pelayanan yang disediakan oleh birokrasi pemerintah dalam kehidupan sehari – hari seperti PAM. pelayanan yang bersifat profit misanya jasa telekomunikasi. Masyarakat hanya bisa pasrah. sampai saat ini kenyataannya masih banyak konsumen yang belum memperoleh kepuasan dalam menggunakan pelayanan public meskipun pemerintah telah berubah status menjadi penyedia jasa monopoli. Segala kemudahan akan segala diperoleh masyarakat jika uang pelicin tersedia. IMB. Merekalah satu system bekerjanya. jauh sebelum upaya perlindungan konsumen ini ada. Keadaan ini mungkin akan diperburuk lagi dengan adanya pernyataan pemerintah sehingga siapa yang punya uang dialah yang mendapatkan pelayanan. air minum. Misalnya fasilitas kereta api. tetapi sebenarnya konsumen dalam menggunakan pelayanan tersebut. The UN Guidelines for Consumer Protection yang diterima dengan suara bulat oleh Majelis Umum Perserikatan – Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) melalui Resolusi PBB No. Semua ini dilakukan untuk memberikan pelayanan kepada konsumen dan memastikan konsumen dapat menggunakan fasilitas umum tersebut dengan biaya yang murah dan bahkan tanpa bayar.Di sisi lain Pemerintah dengan inisiatifnya sendiri memang sudah menyediakan pelayanan umum kepada masyarakat atau konsumen. dan lain – lain. jalan raya. A/RES/39/248 tanggal 16 April 1985 tentang Perlindungan Konsumen. pelayanan rumah sakit umum. IMBm imigrasi. Ada berbagai jenis layanan yang disediakan oleh Pemerintah. Sebagai anggota masyarakat yang telah membayar pajak yang mencoba untuk melawan dengan pelayanan yang diberikan. dan lain – lain sering berakhir dengan kekecewaan. KTP. mengandung pemahaman umum dan luas mengenai perangkat perlindungan konsumen yang asasi dan adil. tidaklah gratis.

konsumen pada berbagai sector. Mereka harus nonprofit making dalam profil aktivitasnya. Pada tataran kebijakan (policy) ketika menangani pengaduan – pengaduan konsumen. mengenai karateristik ini terdapat 6 (enam) kualifikasi kebebasan yang harus memiliki organisasi konsumen dan kelompok konsumen. kelompok komsumen barang – barang elektronik. Adapun organisasi – organisasi konsumen merupakan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang perlindungan konsumen. Artinya. sulit rasanya bagi Indonesia untuk dapat bersaing di Abad XXI. baik atas prakasa produsen dan asosiasinya maupun prakasa pemerintah. Mereka tidak boleh mengizinkan kebebasan tindakan dan komentar mereka dipengaruhi atau dibatasi pesan – pesan sponsor/pesan – pesan tambahan. Pada beberapa tulisan yang ada di media massa disebutkan bahwa jika pelayanan birokrasi masih seperti sekarang. Indah sukmaningsih berpendapat bahwa bertahun – tahun Yayan Lembaga Konsumen Indonesia berusaha bekerja untuk membuat keadaan sedikit lebih menguntungkan kondisi konsumen. Mereka tidak boleh menerima iklan – iklan untuk alasan – alasan komersial apa pun dalam publikasi – publikasi mereka. keduanya memiliki tujuan yang sama. Walaupun demikian. Kemajuan perdagangan akan tidak adanya artinya jika diperoleh dengan cara – cara yang merugikan konsumen. tapi lebih banyak yang tak terselesaikan. 5. yaitu melayani dan meningkatkan martabat dan kepentingan konsumen. Mereka tidak boleh mengizinkan eksploitasi atas informasi dan advis yang mereka tidak mereka berikan kepada konsumen untuk kepentingan perdagangan. Hasilnya. mencoba untuk mengubah keadaan melalui dialog dengan para pengambil keputusan dan juga membantu konsumen untuk memecahkan masalhnya dalam berhadapan dengan birokrasi pemerintah. baik bagi organisasi konsumen maupun kelompok konsumen. Apabila dikatakan bahwa kelompok konsumen bertindak dalam kapasitasnya selaku konsumen. dengan hasil – hasil survey dan penelitian yang dilakukan. 6. 2.? Sebagian dapat tercapai. Mereka harus secara ekskusif mewakili kepentingan – kepentingan konsumen. 1. 3. . Prinsip kebebasan (idependence) merupaskan karateristik penting. dan sebagainya. misalkan kelompok konsumen pemengang kartu kredit. organisasi konsumen seperti YKLI bertindak mewakili kepetingan – kepentingan dan pandangan – pandangan konsumen dalam suatu kelembagaan yang dibentuk. Didalam segala aktivitasnya tentu saja organisasi konsumen seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia(YLKI) bertindak dalam kapasitasnya selaku perwakilan konsumen (consumer representation). 4. organisasi konsumen sering dihadapkan pada konstruksi perwakilan.

Keamanan dan Kenyamanan Hasil produksi pelayanan memenuhi kualitas tekhnis (aman) dan dilengkapi dengan jaminan purna pelayanan secara administrasi (pencatat/dokumentasi. Dari segi etika keramahan dan sopan santun juga perlu diperhatikan. yang dilengkapi dengan alur proses. . biaya pelayanan. 6. 2. kotak saran.tagihan) maupun jaminan purna pelayanan secara teknis. Adapun persyaratan pelayanan adalah administrasi yang jelas. seorang petugas haruslah tanggap dan peduli dalam memberikan pelayanan. yang dapat berupa loket informasi yang dimiliki dan terpampang jelas. dan petugas pelayanan. Selain itu dilengkapi dengan sarana/prasarana pelayanan ( misalnya peralatannya ada) dan digunakan secara optimal. Kepastian Artinya.Ada beberapa indicator pelayanan umum yang baik. Penataan ruangan dan lingkungan kantor terasa fungsional. Keterbukaan Artinya. Keadilan Artinya.. merata dalam memberikan subjek pelayanan tidak diskriminatif. Kantor pelayanan hendaknya mencantumkan jam kerja kantor untuk pelayanan masyarakat. rapi. dan layanan pengaduan. 4. dan nyaman. laki atau perempuan. yakni sebagai berikut : 1. Perilaku petugas pelayanan Pengabdian. pengaturan tarif dan penerapannya harus sesuai dengan ketentuas yang berlaku. Prosedur pelayanan meliputi pengaturan yang jelas terhadap prosedur yang harus dilalui oleh masyarakat yang akan menggunakan pelayanan. tidak membedakan si kaya dan si miskin. adanya informasi pelayanan. Untuk biaya pelayanan. ada terpampang dengan jelas waktu pelayanan. jadwal pelayanan dan pelaksanaannya. keterampilan dan etika petugas. 3. termasuk disiplin dan kemampuan melaksanakan tugas. Adanya pegaturan tugas dan penunjukkan petugas haruslah pasti dan sesuai dengan keahlian. mencakup upaya publikasi. Dilengkapi juga dengan petunjuk pelayanan. bersih. Kesedehanaan Artinya. mencakup proses pelayanan dan persyaratan pelayanan. Dalam keterbukaan. artinya penyebaran informasi yang dilakukan melalui media atau benruk penyuluhan tentang adanya pelayanan yang dimaksud. 5. Artinya.

PENGERTIAN DAN PERAN BPSK (BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN). Berdasarkan Pasal 45 UUPK setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum. Kenggotaan Badan terditi atas ketua merangkap anggota. Selama ini sengketa konsumen diselesaikan melalui gugatan dipengadilan. yang semuanya diangkat dan diberhentikan oleh Menteri (Perindustrian dan Perdagangan). c. yaitu Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). 51). Pemeriksaan dilakukan oleh hakim tunggal dan kehadiran penuh pihak ketiga (pengacara) sebagai wakil pihak yang bersengketa tidak diperkenankan. sederhana dan murah. dan anggota dengan dibantu oleh sebuah sekertariat (Pasal 50 jo. arbitrasi atau konsliasi. namun pada kenyataannya yang tidak dapat dipungkiri bahwa lembaga pengadilan pun tidak akomodatif untuk menampung sengketa konsumen karena proses perkara yang berlaku lama dan sangat birokratis. d. konsumen dan pelaku usaha. dengan cara melalui mediasi. b. Pengawasan klausul baku. sedangkan gugatan secara kelompok (class action) dilakukan melalui peradilan umum. Badan ini penuh di setiap daerah tingkat II (Pasal 49) BPSK di bentuk untuk penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan (Pasal 49 ayat 1). Putusan dari BPSK tidak dapat disbanding kecuali bertentangan dengan hokum yang berlaku. Memberikan konsultasi perlindungan konsumen. Setiap unsure tersebut berjumlah 3 (tiga)orang atau sebanyak – banyaknya 5 (lima) orang. D. wakil ketua meranggkap anggota. Hubungan hokum antara pelaku usaha/pejualan dengan konsumen tidak tertutup kemungkinan timbulnya perselisihan/sengketa konsumen. Mekanisme gugatan dilakukan secara suka rela dari kedua belah pihak yang bersengketa. Dengan demikian. Dilingkungan peradilan umum UUPK membuat trobosan dengan menfasilitasi para konsumen yang merasa dirugikan dengan mengajukan gugatan kepada pelaku usaha di luar pengadilan. Hal ini berlaku untuk gugatan secara perorangan. menjaga martabat produsen dan membantu pemerintah. . BPSK adalah pengadilan khusus konsumen (small claim court) yang sangat diharapkan dapat menjawab tuntutan masyarakat agar proses bepekara berjalan cepat. BPSK hanya menerima perkara yang nilai kerugiannya kecil. Melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen.Yayasan sejak semula tidak ingin berkonfrontasi dengan produsen (pelaku usaha). dan badan ini mempunyai anggota – anggota dari unsure pemerintah. Melapor kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran undang – undang ini. apalagi dengan pemerintah karena YLKI bertujuan melindungi konsumen. Tugas dan wewenang BPSK (Pasal 52) meliputi: a.

dokumen atau alat – alat bukti lain guna penyelidikan dan/atau pemeriksaan. Keputusan Mahkamah Agung wajib dikeluarkan dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak permohonan kasasi (Pasal 58). Memberitahukan keputusan kepada pelaku usaha pelanggaran undang – undang. Menghadirkan saksi. m. Menjatuhkan sangsi administrasi kepada pelaku usaha pelanggar undang – undang. Dari uraian di atas dapat dibuat skema proses penyelesaian sengketa melalui BPSK sebagai berikut. Memanggil pelaku usaha pelanggar. Keputusan BPSK itu wajib dilaksanakan pelaku usaha dalam jangka 7 (tujuh) hari setelah diterimanya. . j.e. Meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan mereka tersebut huruf g apabila tidak mau memenuhi panggilan. g. maksimum 100 (seratus) hari (total dari proses pertama sampai terakhir). Melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa konsumen. Mendapatkan. Memutuskan dan menetapkan ada tidaknya kerugian konsumen. BPSK wajib menjatuhkan putusan selama – lamanya 21 (dua puluh satu) hari sejak dijatuhkan gugatan diterima (Pasal 55). meneliti dan/atau menilai surat. Dalam menyelesaikan sengketa konsumen dibentuk majelis yang tediri atas sedikitnya 3 (tiga) anggota dibantu oleh seorang panitera (Pasal 54 ayat (1) dan (2)). i. h. lisan atau tertulis. Dari keseluruhan proses persidangan berdasarkan ketentuan Undang – Undang No. Putusan yang dijatuhkan Majelis BPSK bersifat final dan mengikat (Pasal 54 ayat (3)). atau apabila ia keberatan dapat mengajukannya kepada Pengadilan Negeri dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari. Menerima pengaduan dari konsumen. saksi ahli dan/atau setiap orang yang dianggap melakukan pelanggaran itu. k. f. l. Pengadilan Negeri yang menerima keberatan pelaku usaha memutuskan perkara tersebut dalam jangka waktu 21 hari sejak diterimanya keberatan tersebut (Pasal 58).8 Tahun 1999 terlihat setidak – tidaknya dari sudut biaya dan waktu penyelenggaraan keadilan itu pihak konsumen dan pelaku usaha yang jujur dan bertanggung jawab dimudahkan dan dipercepat (putusan yang mempunyai kekuatan hokum pasti dapat dijatuhkan dalam jangka waktu relative pendek.tentang dilanggarnya perlindungan konsumen. Selanjutnya kasasi pada putusan pengadilan negeri ini diberi luang waktu 14 hari untuk mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung.

gainnya h.Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Dati II (Pasal 49 ayat 1) Pemerintah/Pelaku Usaha/Konsumen 3-5 per Unsur Nonmasa Kerja Tugas Wewenang Pasal 52 a. j. Menjatuhkan administratif .meriksaan Sanksi administrasi Final dan Mengikat 14 Hari. Menerima penga. do-kumen alat bukti i. Meneliti surat. Penelitian dan pe. Konsultasi P.K c.duan f.25 Maksimum 200 juta g. Memanggil pihak. sanksi dan seba. arbitrasi. Melapor penyidik e.Pasal 55 Mediasi. Keberatan Pasal 56 ayat (2) Pelanggaran atas Pasal 19 ayat (2) Pasal 20.sul baku d. Penyelesaian: dan Bentuk Keputusan 21 Hari. konsiliasi b. Pengawasan klau. Memutus dan meadanya kerugian Memberitahu putusan hukuman netapkan Esekusi PN di tempat Konsumen Pasal 57 Pengadila Negeri Putusan 21 Hari Pasal 52 ayat (2) Makamah Agung putusan 30 Hari Pasal 58 ayat (3) k.

tetapi langsung kepada pihak principal. Proses untuk menghasilkan iklan itu disebut dengan periklanan. yang biasanya dilakukan oleh produsen sebagai principal dengan sipedagang antara. Mengigat salah satu tolok ukur dari majunya suatu Negara adalah nilai dari pelayanan terhadap masyarakat oleh aparatur Negara. konsumen mengharapkan pelayanan birokrasi menjadi lebih baik. dalam pelunasan harga barang atau jasa. Konsumen antara dapat berupa distributor atau agen.Dalam menghadapi Abad XXI. yang . Transaksi konsumen merupakan suatu perikatan. paling tidak berperan indicator atau criteria yang ditawarkan diatas semaksimal mungkin dipenuhi. Itulah sebabnya. Pihak yang disebutkan terakhir inilah yang menjebatani antara produsen dan konsumen akhir. Perikatan konsumen merupakan pelaksanaan dari perikatan sebelumnnya. Berikut ini dikemukakan 3 isu pokok dari sekuen – sekuen transaksi konsumen. Transaksi konsumen adalah peralihan barang atau jasa termasuk didalamnya peralihan kenikmatan dalam menggunakannya. masih ada perikatan lain yang harus dipenuhi kedua belah pihak. Diluar transaksi konsumen dikenal juga transaksi komersial. Ada prolog yang mendahuluinya. Hal ini tidak terjadi pada distributor karena produk yang diperjual belikan menjadi miliknya. PENGANTAR Sebagian besar predikat konsumen diperoleh sebagai konsekuensi mengonsumsi barang dan jasa melalui suatu transaksii konsumen. BAB 7 ISU – ISU HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN A. Dalam kacamata hokum perdata. yang dapat disebut pratransaksi konsumen. Kedua istilah ini memiliki sejumlah perbedaan. pembeli dapat saja tidak membayar melalui perantaraan si agen. Kemasan penawaran demikian disebut dengan iklan. perikatan transaksi konsumen itu tidak serta merta terjadi begitu saja. sementara melakukan transaksi atas nama prinsipalnya. Pada saat ini penawaran lazimnya dilakukan melalui media masa yang dikemas secara menarik. Distributor bertindak atas namanya. Setelah transaksi konsumen dilaksanakan. Tahapan pratransaksi konsumen biasanya ditandai oleh penawaran dari penjual kepada calon pembelinya. Kareteristik yang berbeda ini tentu mempengaruhi konstruksi hokum dalam transaksi konsumen di antara para pihak terkait. yang terutama bersangkut paut dengan perikatan keperdataan. UUPK tidak menkatagorikan “konsumen antara” ini sebagai konsumen yang dilindungi oleh UUPK. yang dapat disebut pska transaksi konsumen. para perantara ini disebut juga dengan intermediate consumer. Dengan demikian. Abdi Negara sudah harusnya melayani kepentingan masyarakat dan bukan dilayani oleh masyarakat.

semua iklan itu menyesatkan. Tahapan berikutnya adalah pelaksanaan dari transkasi konsumen itu. tidak satupun yang memberikan informasi yang jujur. Tahapan ketiga dari proses transaksi konsumen ini adalah perikatan setelah peralihan barang atau jasa yang pokok dilakukan. Menteri Kesehatan RI pernah melontarkan kritikan yang sangat tajam terhadap iklan obat – obatan yang beredar dimasyarakat. Menteri Kesehatan berkewajiban mengawasi menteri periklanan sesuai dengan criteria teknis medis dan etis. Selama jangka waktu itu. Biasanya konsumen tidak punya pilihan lain. Sering terjadi. B. Departemen Kesehatan sebenarnya memiliki rambu – rambu pengaman yang relative lebih lengkap dalam melindungi konsumen. PERIKLANAN DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN (IKLAN OBAT) Diantara sekian banyak sector. baik sendiri – sendiri maupun bersama – sama memiliki potensi untuk melanggar hak – hak konsumen. Minuman. kosmetika. Tugas demikian dibebankan kepada Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (Ditjen POM). khususnya yang ditayangkan ditelevisi. khususnya yang berkaitan dengan periklanan diterbitkan Surat Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Penerangan (NO. Namun keluhan – keluhan demikian biasanya tidak mendapat publikasi yang luas karena berbagai pertimbangan komersial. misalnya tiga tahun.melibatkan 3 unsur utama masyarakat periklanan. pada akhir 1992. Menurut Surat Keputusan Bersama itu. setiap keluhan konsumen atas barang tersebut.122/Kep/Menpen/1980) tentang Pengendalian dan Pengawasan Iklan Obat. sedangakan konsumen tinggal memutuskan : menerima atau menolaknya. dan alat kesehatan. sebab dimanapun ia pergi. Dibandingkan dengan instansi – instansi lainnya. belum di media lainnya. Sesungguhnya apa yang di ungkapkan Menteri Kesehatan sejak lama menjadi keluhan pengamat dan aktivis perlindungan konsumen. disini terkait pada perlindungan hokum bagi konsumen. Untuk melakukan pengawasan demikian. sedangkan Menteri Penerangan melakukan pengawasan materi secara umum. yang keanggotaannya berasal .lainnya.252/Menkes/SKB/VIII/80 dan NO. khusus mengenai periklanan. dan media masa. dan Alat Kesehatan (OMKA). perusahaan periklanan. kecuali menerima alternative yang pertama. seperti media audio dan media cetak yang tersebar di seluruh Indonesia. yaitu pengiklan. Isu yang banyak dipermasalahkan pada tahap ini adalah existensi dari perjanjian standar atau perjanjian baku. Dapat dibayangkan jika sinyalemen Menteri Kesehatan itu benar. makanan. Kosmetika. Ketiga unsure ini. sepanjang bukan disebabkan kesalah pemakaian. Sekalipun demikian. Inilah yang biasanya disebut layanan purna jual. Disini selalu dipertanyakan apakah dalam perjanjian baku itu masih tedapat kebebasan kontrak? Hal ini terjadi karena perjanjian standar itu di tentukan secara sepihak oleh produsen atau penyalur produknya (penjual). dapat diajukan kepada produsen atau penyalur produk. Departemen ini mempunyai lembaga tersendiri yang mengawasi peredaran dan penggunaan obat (termasuk obat tradisional). Frekuensi keluhan itu terus meningkat. ia akan disodorkan perjanjian baku dengan subtansi yang hampir sama oleh produsen atau penyalur produk (penjual)lainnya. berarti dari iklan obat – obatan yang disiarkan ditelevisi. terutama sejak diperolehnya kembali siaran iklan ditelevisi. untuk itu selanjutnya dibentuk panitia khusus/ bersama. Itu baru disatu media. untuk pembelian barang – barang tertentu produsen atau penyalur produk memberikan garansi dalam jangka waktu terbatas. bidang kesehatan merupakan sector yang relative lebih lengkap pengaturannya dalam melindungi konsumen dibandingkan bidang – bidang lain. Menurutnya. Makanan.

Jenis obat yang boleh diiklankan hanya jenis obat bebas dan terbatas. Panitia yang dimaksud tidak pernah dibentuk dan kosekuensinya. Tidak adil rasanya bila segala beban penyimpangan harus dipersalahkan sepenuhnya ke pihak produsen obat – obatan. Saat ini dapat dipastikan semua iklan obat di televise yang pernah dipersoalkan oleh Menteri Kesehatan diserahkan pembuatannya kepada perusahaan periklanan (production house). dengan penandatangan oleh tujuh instansi pada 19 Agustus 1996. Dalam praktiknnya. Tata Cara dan Tata Periklanan Indonesia ini selalu disempurnakan. ternyata banyak sekali iklan yang sitayangkan diberbagai media yang melenceng jauh dari naskah yang diserahkan ked an disetujui oleh Direktorat Jederal POM. Dalam memproduksi iklan. Untuk obat – obatan tradisional.dari dua departemen serta kalangan periklanan dan anggota masyarakat lainnya. dalam melakukan pengawasan Direktorat Jenderal POM samapai sekarang masih mendasarkan diri pada Ordonansi Pemeriksaan Bahan – Bahan Farmasi (Staatsblad 1936 No. Kelengkapan Permohonan dan Tata Laksana Pendaftaran Obat Jadi. 6. ancaman sangsi yang diberikan Departemen Kesehatan mulai dari teguran. Dalam ketentuan yang disebutkan terakhiran disyaratkan bahwa setiap iklan obat harus memuat informasi sesuai dengan persetujuan yang diberikan Departemen Kesehatan pada saat obat itu didaftarkan. sebelum akhirnya disebarluaskan ke media yang diingini. 0282 – 3/A/SK/XI/90 tentang Kriteria Terperinci. Masalah iklan obat. dan . Selain itu sejak 1989 naskah iklan obat – obatan harus diserahkan pula kepada Direktorat Jenderal POM untuk mendapatkan persetujuan. surat keputusan itu tidak dapat dijadikan dasar peganganpenerbit periklanan OMKA. Pembatalan pendaftaran. bukan obat keras. Asosiasi Perusahaan Media Luar Ruang Indonesia (AMLI) 2. ide yang di amanatkan SuratKeputusan Bersama tersebut tidak ditindaklanjuti. ordonansi tersebut tidak secara khusus mengatur masalah periklanan. Dengan dihapusnya instansi Departemen Penerangan dalam struktur pemerintah saat ini. misalnya antara lain diatur dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. Ketujuh instansi tersebut adalah:\ 1. sama sekali tidak membuat “kecut” pelakunya. Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) 4. Ironisnya. Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS). Sesuai namanya.23 Tahun 1992 tentang kesehatan. Ordonansi itu memerlukan penjabaran itu lebih lanjut dalam peraturan perundang – undangan yang lebih rendah tingkaatannya. sampai dengan pencabutan izin usaha industry obat yang bersangkutan.246/Menkes/Per/V/1990). pihak perusahaan periklanan dikawal ketat oleh kode etik yang ditanda tangani oleh lima asosiasi (termasuk Perusahaan Periklanan Indonesia) pada 17 September 1981.660). Asosiasi Pemrakarsa dan Penyantun Iklan Indonesia (Aspindo) 3. Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI). Ditempat inilah iklan itu diproduksi. Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) 5. tampaknya amanat tersebut tinggal menjadi kenangan. Selain mengacu kepada ketentuan Undang – Undang No. Namun. tidak diperkenankan untuk diiklankan selama belum didaftarkan di Departemen Kesehatan (Pasal 3 Peraturan Menteri Kesehatan No. Dalam peraturan itu juga ditegaskan bahwa iklan yang diberikan tidak boleh menyimpang dari apa yang disetujui dalam pendaftaran.

Sebagai mana diuraikan diatas surat keputusan bersama dari dua menteri (1980) menyatakan pengawasan periklanandi bidang OMKA dilakukan oleh panitia tersendiri. Yayasan Televisi Republik Indonesia.7. Dalam hokum pembentukan panitia bersama di atas tentu akan lebih baik jika tidak berbentuk surat keputusan bersama. Posisi yang tidak berimbang antara produsen dan konsumen akan mudah disalahgunakan (machtpositie) oleh pihak yang lebih kuat. perawat. Juga tidak boleh mencantumkan kata – kata “aman”. atau “bebas resiko” tanpa keterangan lengkap yang menyertainya. Bentuk peraturan demikian tidak dikenal dalam tata urutan peraturan perundang – undangan di Indonesia. Apalagi jika pihak produsen yang lebih kuat itu didukung oleh fasilitas yang memungkinkannya bertindak secara monopolitis. Selain itu. sangat riskan kiranya bilatidak diadakan pengawasan yang memadai dan konsumen dibiarkan menimbang – nimbang serta memutuskan sendiri iklan apa yang pantas untuk dipercaya. Kendati demikian. Ini berarti dibuka kesempatan untuk membentuk suatu badan pengawasan yang lebih bergigi. atau atribut – atribut profesi medis lainnya juga dilarang. Untuk obat – obatan.. rumah sakit. iklan obat – obat ) membuktikan. ahli farmasi. Iklan obat yang “tidak sehat” seperti itu tentu saja merugikan perusahaan obat sejenis. juga dibentuk berdasarkan undang – undang. seperti dokter. sesungguhnya ditegaskan bahwa Pemerintah berwenang untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan upaya penyelenggaraan kesehatan. mekanisme pengawasannya masih berjalan dengan baik. Keberadaan panitia itu kiranya cukup urgen untk di wujudkan karena memudahkan dalam melakukan koordinasi. Sebagai perbandingan di Amerika Serikat badan yang mengawasi masalah makan dan obat (The Food and Drug Administration) dibentuk atas produk hokum setingakt undang – undang. Dalam Bab Undang – Undang VII No. Mayoritas konsumen di Indonesia masih terlalu rentan dalam menyerap informasi iklan yang “tidak sehat”. Oleh karena itu. terlebih dahulu perlu dijabarkan secara jelas batas kewenangan panitia tersebut. “tidak berbahaya”. (The Federal Trade Commission). Cara berfikir yang dalam hokum dikenal sebagai caveat emtor (let the buyer beware) demikian hanya cocok untuk Negara kapasitas abad ke – 19. tapi (lebih – lebih) merugikan konsumen yang tidak berhati – hati. agar tidak tumpang tindih dengan mikanisme pengwasan serupa yang dimiliki instansi dijajar departemen lain. Dari sebagian kecil rumus kode etik itu saja tampak banyak iklan obat yang tidak memnuhi persyaratan. iklan tidak boleh memuat kata – kata yang berisi janji penyembuhan penyakit. Pemakaian tenaga professional kesehatan sebagai model iklan. dan keputusan setingkat menteri seperti itu tidak berwenang mencantumkan sanksi. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Selanjutnya dinyatakan bahwa pembinaan dan pengwasan tersebut akan ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Lolosnya penayangan iklan yang menyesatkan (dalam hal ini. . kode etik periklanan juga mensyaratkan iklan harus sesuai dengan indikasi jenis produk yang disetujui oleh Departemen Kesehatan. tapi hanya boleh menyatakan membantu menghilangkan gejala penyakit. yang dinegara asalnya (Inggris dan Amerika Serikat) sudah pula ditinggalkan. Demikina juga badan yang kewenangannya antara lain yang mengawasi masalah periklanan.

Sampel – sampel tersebut tentu tidak untuk diperdagangkan. setiap label dan/atau iklan tentang pangan yang diperdagangkan harus memuat keterangan mengenai pangan dengan benar dan tidak menyesatkan. produk pangan dengan merek baru yang masih dalam masa perkeenalan kepada konsumen. jika label (dan iklan) itu diserahkan sepenuhnya kepada produsen. ia akan dikenakan sangsi hokum. Polemic ini sesungguhnya tidak akan dapat dituntaskan jika akar permasalahan. jika produsen melanggar. Departemen Kesehatan dan Agama menginginkan agar label ini dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan setelah mendapat rekomendari dari Majelis Ulama Indonesia. tentu akan dipertanyakan. tepatnya ke sasaran konsumen yang dinilai paling potensial. biasanya diiklankan terlebih dahulu oleh si produsen. Selain sarana pengawasan di tingkat aparatur Negara. dan sejauh mana pula Pemerintah mampu mencegah dan menindakk tindakan produsen yang tidak bertangguang jawab. C. Dengan demikian. Sebaliknya. apa yang dilakukan YLKI ini seyogyanya disambut dengan positif. Sebagaimana diatur dalam Pasal 71 dan 72 Undang – Undang Kesehatan. Sementara itu. Dan ketetuan Undang – Undang Pangan ini sebenarnya tidak mempunyai aspek konstitutif yang berarti banyak karena masih harus menunggu peraturan pelaksanaannya. Iklan adalah produk kreativitas dan komersial. Informasi yang diberikannya paling tidak dapat dijadikan bahan perbandingan bagi masyarakat. mengawasi dan melakukan tindakan yang diperlukan agar iklan tentang pangan yang diperdagangkan tidak memuat keterangan yang dapat menyesatkan. PERJANJIAN STANDAR DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN . sejauh mana konsumen akan merasa aman dan yakin kebenaran isinya. bahwa setiap orang yang menyatakan dalam table atau iklan bahwa pangan yang diperdagangkan adalah sesuai dengan persyaratan agama tau kepercayaan tertentu bertangguang jawab atas kebenaran pernyataan berdasarkan agama atau kepercayaan tersebut. Dalam Undang – Undang No. Di situ dinyatakan. Kantor Menteri Urusan Pangan dulu ingin menyerahkan kepada masing – masing produsen. Artinya.7 Tahun 1996 tentang Pangan disebut secara jelas mengenai iklan pangan.Khusunya hal periklanan di bidang OMKA dengan dasar hokum yang lebih sesuai. Rumusan pasal ini mengacu kepada pencantuman label “halal” yang sesuai dengan syariah Islam. Hal ini menimbulakan pertanyaan : bagaimana untuk “pangan yag tidak diperdagangkan”? dalam kenyataannya dapat dilihat. pengawasannya tidak boleh sampai mematikan dua ciri di atas. Pasal 34 dari Undang – Undang Pangan juga membawa polemic yang tidak kalah menariknya. Untuk itu pemerintah mengatur. Konsekuensinya. Peranan YLKI antara lain secara berkala melakukan pengujian suatu produk tertentu dan mempublikasikannya. Yakni “memberi rasa nyaman pada konsumen” tidak ditempatkan pada proritas utama. sampel – sampel produk itu di bagikan secara ngratis kepada masyarakat. dan rasa tidak adil jika dikecualikan dari ketentuan Pasal 33 UU Pangan. peranan yang tidak kalah pentingnya juga harus darang dari masyarakat seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YKLI). Pasal 33 dari undang – undang ini menyatakan. Juga masih samar – samar tentang pengertian “pangan yang diperdagangkan”. disamping informasi yang sehari – hari mereka dapatkan dari iklan.

Jadi. Perjanjian standar tidak perlu selalu dituangkan dalam bentuk formulir walaupun memang lazim dibuat tertulis. tidak lagi sekadar masalah harga. Mariam Darus Badrulzaman lalu mendefenisikan perjanjian standar sebagai perjanjian yang isinya dibakukan dan dituangkan dalam bentuk formulir. Artinya. perjanjian standar adalah perjanjian yang ditetapkan secara sepihak. misalnya pernah memaparkan praktik penjualan makanan yang harganya ditentukan secara sepihak oleh penjual. Sebenarnya. Sjahdeini menekankan. jumlah. klausul yang ada di dalamnya biasanya . Dalam perkembangannya. di sisi yang lain bentuk perjanjian seperti ini tentu saja menempatkan pihak yang tidak ikut membuat klausul – klausul di dalam perjanjian itu sebagai pihak yang baik yang langsung maupun tidak sebagai pihak dalam perjanjian itu memiliki hak memiliki kedudukan seimbang dalam menjalakan perjanjian tersebut. tanpa memperhatikan perbedaan mutu makanan tersebut. tentu saja penentuan secara sepihak oleh produsen/penyalur produk (penjual). Akan tetapi. bagaimana pihak konsumen masih diberi hak untuk menyetujui (take it) atau menolak perjanjian yang diajukan kepadanya (leave it). Itu sebabnya. bidang – bidang yang diatur dengan perjanjian standar pun makin bertambah luas. sehingga pihak yang lain (konsumen) hanya memiliki dua pilihan : menyetujui atau menolaknya. Karena lahir dari kebutuhan akan kebutuhan efisiensi serta efektivitas kerja. Tujuan dibuatnya perjanjian standar untuk memberikan kemudahan (kepraktisan) bagi para pihak yang bersangkutan. Selain itu.Perjanjian standar (baku). Sutan Remi Sjahdeini mengartikan perjanjian standar sebagai perjanjian yang hampir seluruh klausul – klausulnya dibakukan oleh pemakaiannya dan pihak lain pada dasarnya tidak mempunyai peluang untuk merundingkan atau meminta perubahan. jika dilihat dari beberapa banyak waktu. perjanjian standar ini kemudian dikenal dengan nama take it or leave it contract. bentuk perjanjian seperti ini sangat menguntungkan. yakni oleh produsen/penyalur produk (penjual). disisi yang lain ia harus menurut terhadap isi perjanjian yang disodorkan kepadanya.99 persen perjanjian yang dibuat di Amerika Serikat berbentuk perjanjian standar. antara lain perjanjian baku dibuat oleh salah satu pihak saja dan tidak melalui suatu bentuk perundingan. tempat. dan beberapa hal yang spesifik dari objek yang diperjanjikan. bertolak dari tujuan itu. Tentu saja fenomena demikian tidak selamanya berkonotasi negative. Plato (423 – 347 SM). yang dibakukan bukan formulir perjanjian tersebut. Oleh karena itu. harga. Di Indonesia. misalnya yang menyangkut jenis. tetapi mencakup syarat – syarat yang lebih detail. Misalnya. tenaga dan biaya yang dapat dihemat. isi perjanjian yang telah distandarisasi. Menurut sebuah laporan dalam Harvard Law Review pada 1971. maka bentuk perjanjian baku ini pun memiliki karateristik yang khas yang tidak dimiliki oleh perjanjian yang lain pada umumnya. waktu. Adapun yang belum dibakukan ada beberapa hal. Adanya unsure pilihan ini oleh sementara pihak dikatakan perjanjian standar tidaklah melanggar atas kebebasan berkontak (Pasal 1320 jo. sebenarnya dikenalkan sejak zaman Yunani Kuno. perjanjian standar bahkan merambah ke sector property dengan cara – cara yang secara yuridis masih kontrovesial. Di satu sisi. melainkan klausal – klausalnya. 1338 KUH Perdata). Contohnya dapat dibuat dalam bentuk pengumuman yang ditempelkan tempat penjual menjalankan usahanya. dan mengandung ketentuan yang berlaku umum (massal). diperbolehkan system pembelian satuan rumah susun (strata title) secara inden dalam bentuk perjanjian standar. warna.

Kewajiban – kewajiban diciptakan (syarat – syarat pembebasan oleh salah satu pihak dibebankan dengan memikulkan tanggung jawab pihak yang lain yang mungkin ada untuk kerugian yang diderita pihak ketiga. Perjanjian baku banyak memberikan keuntungan dalam penggunaannya. memberikan defenisi terhadap klausul tersebut sebagai klausul yang berisi pembatasan pertanggung jawaban dari kreditor. A clause in a contract or a term in a notice which appears to exclude or restrict a liability or legal duty that would otherwise arise. Jika ada yang perlu dikuatirkan dengan kehadiran perjanjian standar. Dalam pengertiannya yang lebih luas David Yates menunjuk pada yurisprudensi pada kasus Bensten v. Sons & Co (1893) dab Bahama International Trust Co. karena kurang baik dalam melaksanakan kewajiban – kewajiban perjanjian. yaitu sisi kelemahannya dalam mengakomodasikan posisi yang seimbang bagi para pihaknya. Perjanjian eksonerasi yang membebaskan tanggung jawab seseorang pada akibat – akibat hokum yang terjadi karena kuraang pelaksanaan kewajiban - . Ketiga bentuyk yuridis tersebut terdiri atas: a. Taylor. membebaskan atau merekayasa ganti rugi atau tanggung jawab yang timbul dari pelanggaran terhadap suatu perjanjian. exluding and modifying aremedy or a ability arising out of breech of a contractual obligation yang diterjemahkan secara bebassebagai setiap bagian dari suatu perjanjian yang membatasi.V Threadgold (1974) yang mengemukakan bahwa exemption clause di artikan sebagai …. Kelemahan – kelemahan perjanjian baku ini bersumber dari karateristik perjanjian baku yang dalam wujudnya merupakan suatu perjanjian yang dibuat oleh salah satu pihak dan suatu perjanjian terstandarisasi yang menyisakan sedikit atau bahkan tidak sama sekali ruang bagi pihak lain untuk menegosiasikan isi perjanjian itu.merupakan klausul yang telah menjadi kebiasaan secara luas dan berlaku secara terus menerus dalam waktu yang lama. Mariam Darus Badrulzaman. b. Tanggung jawab untuk akibat – akibat hokum. Kewajiban – kewajiban sendiri yang biasanya dibebankan kepada pihak untuk mana syarat dibuat. tidak lain karena dicantumkannya klausul eksonerasi (exemption clause) dalam perjanjian tersebut. c. dengan istil ahnya klausul eksonerasi. perjanjian keadaan darurat). tetapi dari berbagai keuntungan yang ada tersebut terdapat sisi lain dari pengunaan serta perkembangan perjanjian baku yang banyak mendapat sorotan kritis dari para ahli hokum. terhadap resiko dan kelalaian yang semestinya ditanggungnya. yang lebih memilih mengunakan istilah exclusion clause. Demikian juga David Yates. memberikan defenisi any term in a contract restricting. Sorotan para ahli hokum dari berlakunya perjanjian baku selain dari segi keabsahannya adalah adanya klausul – klausul yang tidak adil dan sangat memberatkan salah satu pihak. yang diterjemahkan secara bebas adalh klausul yang kehadirannya untuk membebaskan atau membatasi tanggung jawab yang mungkin saja muncul. dibatasi atau dihapuskan (misalnya. Menurut Engels menyebut adannya tiga bentuk yuridis dari perjanjian dengan syarat – syarat eksonerasi. Klausul eksonerasi adalah klausul yang mengandung kondisi membatasi atau bahkan menghapus sama sekali tanggung jawab yang semestinya dibebankan kepada pihak produsen/penyalur produk (penjual).

Contoh dari klausul tersebut adalah : Adanya pembebasan tanggung jawab pihak pengembangan dalam perjanjian pembelian rumah. Adanya pembatasan terhadap tanggung jawab terhadap kecelakaan jasmani yang diderita oleh penumpang. Ahli Hukum Indonesia. kebutuhan masyarakat berjalan dalam arah yang berlawanan dengan keinginan hokum. di mana kepentingan masyarkatlah yang didahulukan. kedudukan pengusaha dalam perjanjian ini adalah seperti pembentuk undang – undang swasta (legio particuliere wetgever). dalam hal pengembangan tidak dapat memenuhi janjinya untuk melaksanakan penyelesaian pembangunan atas rumah yang dibeli. bukan perjanjian! Pitlo mengatakannya sebagai perjanjian paksa (dwang contract).kewajiban yang diharuskan oleh perundang – undangan. Adanya pembatasan tanggung jawab ganti rugi bagi perusahaan pengangkutan berkaitan dengan kehilangan barang bawaan penumpang. tepat pada waktunya. berarti ia secara sukarela setuju pada isi perjanjian tersebut. posisi yang didominasi oleh pihak pelaku usaha. bahwa perjanjian standar dapat diterima sebagai perjanjian berdasarkab fiksi adanya kemauan dan kepercayaan yang mengakibatkan keyakian. Dari berbagai defenisi yang ada tersebut maka dapat disimpulkan bahwa klausul pembebasan adalah klausul yang memberikan pembatasan atau pembebasan tanggung jawab hokum salah satu pihak atas segala bentuk ketidak terpenuhinya kewajiban atas perjanjian tersebut. yang dalam disertasinya menyatakan bahwa perjanjian standar itu mengikat berdasarkan kebiasaan (gebruik) yang berlaku dilingkungan masyarakat dan lalu lintas perdagangan. Pendapat Pitlo ini mengingatkan kita pada pendapat Hondius. dapat disebutkan pedapat yang lebih tegas dari Asser Rutten. Namun dalam kenyataanya. para pihak mengikatkan diri pada perjanjian itu. Syarat – syarat yang ditentukan pengusaha didalam perjanjian itu adalah undang – undang. perjanjian ini tidak memnuhi ketentuan undang – undang dan ditolak oleh beberapa ahli hokum. Pelaku usaha hanya mengatur hak – haknya dan tidak kewajibannya. Kemudian Stein mencoba memecahkan masalah ini dengan mengemukakan pendapat. membuka peluang luas baginya untuk menyalah gunakan kedudukannya.? Ada beberapa pendapat yang menegaskan kontroversi di dalamnya. antara lain tentang maslah ganti rugi dalam hal perbuatan ingkar – janji. Mariam Darus Badrulzaman menyimpulkan bahawa perjanjian standar itu bertentang dengan asas kiebebasan kontrak yang bertanggung jawab. Sehubungan dengan pertanyaan : apakah ada kebebasan berkontrak dalam perjanjian standar ini. - Disini dilihat betapa tidak adanya keseimbangan posisi tawar menawar antara produsen/penyalur produk (penjual) yang lazim tersebut kreditor dan konsumen (debitur) di lain pihak. kedudukan pelaku usaha dan konsumen tidak seiumbang. yang mengatakan perjanjian standar itu mengikuti karena setiap orang yang menandatangani suatu perjanjian harus dianggap mengetahui dan menyetujui sepenuhnya isi kontrak tersebut. Pendapat pertama dating dari Sluijter. yang menyatakan perjanjian standar bukan perjanjian. Dalam perjanjian standar. Alasannya. Ganti rugi tidak dijalankan apabila dala persyaratan eksonerasi tercantum hal ini. . Jika debitur menerima perjanjian itu. Akhirnya. walaupun secara teoritis yuridis. terlebih – lebih lagi ditinjau dari asas – asas hokum nasional.

Pasal 18 ayat (1) huruf (a) UUPK menyatakan pelaku usaha dalam menawwarka barang dan/atau jasa yang ditunjukkan untuk diperdagangkan dilarang membuat atau mencantumkan klausul baku pada setiap dokumen dan/ atau perjanjian jika menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha. terdapat ketetuan yang mengatakan. yang ada adalah “klausul baku”. Perjanjian – perjanjian yang disebutkan berakhir ini tumbuh melalui kebiasaan dan permintaan masyarakat sendiri. walaupun tidak sepenuhnya bersifat public seperti dibidang perburuhan dan agrarian. campur tangan yang disarankan ini dapat dilakukan oleh pemerintah.Menurutnya. Campur tangan pemerintah lebih diharapkan pada perjanjian – perjanjian yang berskala luas. bukan mengenai isinya. Tentu Darus Barulzaman. Ketiga alas an ini dimaksudkan oleh undang – undang sebagai pembatasan terhadap belakunya asas kebebasan berkontrak. Dalam hokum perburuhan . Pasal 1 angka 10 mendefinisikan klausul baku sebagai setiap aturan atau ketentuan dan syarat – syarat yang dipersiapkan dan ditetapkan terih dahulu secara sepihakoleh pelaku usaha yang dituangkan dalam usaha dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen. istilah klausul eksonerasi sendiri tidak ditemukan. KUHP Perdata juga meyebutkan tiga alasan yang dapat menyebabkan suatu perjanjian. agar tidak terjadi penyalahgunaan terhadap asas kebebasan berkontrak ini oleh pihak yang berkedudukan lebih kuat. dikhawatirkan akan dibuat banyak klausul eksonerasi yang merugikan masyarakat. Campur tangan pengadilan dapat dijumpai dalam penyebab putusnya perjanjian yang dikenal dengan penyalahgunaan keadaan (misbruik van omstanddigheden). Dengan demikian. Jadi yang ditekankan oleh prosedur pembuatannya yang berifat sepihak. kiranya tidak semua perjanjian standar dapat diperlakukan demikian. Materi perjanjian yang terjadi di masyarakat sedemikian luasnya dan heterogennya. penyalahgunaan keadaan ini dikukuhkan sebagai alasan keempat dari cacat kehendak. dank arena itu jika diserahkan sepenuhnya pembuatannya secara sepihak kepada pelaku usaha. Misanya. Akan tetapi. yakni paksaan (dwang). Sutan Remy Sjahdeini berpendapat dalam kenyataanya KUH Perdata sendiri memberikan pembatasan – pembatasan terhadap asas kebebasan berkontrak itu. ada pembatasan – pembatasan dalam kontrak kerja. sangat banyak dilakukan standarisasi perjanjian. Menurut Remy Sjahdeini. Padahal. untuk perjanjian – perjanjian keperdataan yang dibuat oleh notaries. jika asas kebebasan berkontrak ingin ditegakkan. Perjanjian berskala luas yang dimaksud berkaitan dengan keputusan berkaitan dengan kepentingan missal. pengertian “klausul eksonerasi” tidak sekedar mempersoalkan prosedur pembuatannya. Misalnya saja dalam lapangan perburuhan agrarian. dan penipuan (bedrog). melainkan juga isisnya yang bersifat pengalihan kewajiban atau tanggung jawab pelaku usaha. perjanjian standar ini tidak boleh dibiarkan tumbuh secara liar dab karena itu perlu ditertibkan. harus ada campur tangan pemerintah. misalnya. maka diperlukan campur tangan melalui undang – undang dan pengadilan. dan kepentingan dunia perdagangan tidak pula dirugikan. Dalam kenyataannya. Ketentuan huruf (b) dan seterusnya sebenarnya memberikan contoh bentuk – bentuk pengalihan tanggung . kekhilafan (dwaling). suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan kata sepakat kedua belah pihak atau karena alasan lain yang dinyatakan dengan undang – undang. satu – satunya cara adalah dengan membatasi pihak pelaku usaha dalam klausul eksenorasi. Dalam UUPK. Dalam KUHP Perdata Baru Negeri Belanda. tentu tidak harus distandarisasi.

yang menyatakan suatu perjanjian tidak boleh dibuat bertentangan dengan undang – undang. kekuatan yurisprudensi dalam sisitem hokum Indonesia tidak berlaku seperti di Negara – Negara Anglo saxon/Anglo Amerika. Jika ada konsumen yang meeras dirugikan. dapat diperoleh jawaban sementara bahwa kedua istilah itu berbeda. Pasal 18 ayat (2) mempertegas pengertian tersebut. Padahal. perubahan. huruf c. perjanjian standar dimasukkan pengaturannya dalam Kitab Undang – Undang Hukum Perdata yang baru. Tidak disitu saja pengaturan tentang klausul baku ini berhenti karena terhadap pelanggaran yang dilakukan berkaitan dengan tidak dipenuhinya ketentuan pada Pasal 18 ini juga diberikan ancaman sanksi pidana sebagaimana diatur pada Pasal 62 UUPK ayat (1) : Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimasudkan dalam Pasal 8. Pasal 9. sekalipun demikian. berdasarkan Uniform Commercial Code 1978. dan sebagainya. ketentuan lainnya menyatakan bahwa perjanjian standar ini dapat pula dibatalkan. huruf e. memang dapat ditunjukkan beberapa pasal yang ada dalam Kitab Undang – Undang Hukum Perdata. ia dapat mengajukan gugatan kepengadilan. Secara umum. dan pasal 18 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp2. Di belanda. atau pencabutan itu baru memperoleh kekuatan hokum setelah mendapat persetujuan Raja/Ratu yang dituangkan dalam Berita Negara. Pasal 10. perlu diperoses melalui gugatan pengadilan.00 (dua miliar rupiah). tetapi isinya tidak boleh mengarah kepada klausul eksonerasi.000. atau ketertiban umum. atau di cabut setelah mendapat persetujuan Menteri Kehakiman. dan ayat (2). untuk menguji sejauh mana perjanjian itu bertentangan. Artinya. Pasal 13 ayat (2). dengan mengatakan bahwa klausul baku harus diletakkan pada tempat yang mudah terlihat dan dapat jelas dibaca dan mudah dimengerti. termasuk sejauh mana Pemerintah dapat campur tangan dalam penyusunan kontrak. huruf b. Salah satunya adalah pasal 1337. Pasal 15. Apakah dengan demikian. Bagi kita di Indonesia. Pasal 17 ayat (1) huruf a. jika pihak produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor mengetahui atau seharusnya mengetahui bahwa pihak konsumen tidak akan menerima perjanjian tersebut jika ia mengetahuinya isinya. maka klausul baku itu menjadi batal hokum.000. misalnya pembatasan kewenangan pelaku usaha untuk membuat klausul eksenorasi lebih banyak diserahkan kepada inisiatif konsumen. walaupun di situ digunakan istilah “klausul baku” yang ternyata berbeda pengertiannya dengan “klausul eksonerasi”. seperti pelaku usaha dapat menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen. klausul baku sama dengan klausul eksonerasi? Jika melihat kepada ketentuan pasal 18 ayat (1) UUPK. kesusilaan. Jika hal – hal yang disebutkan dalam ayat (1) dan (2) itu tidak dipenuhi. Di Amerika Serikat. atau menolak penyerahan kembali uang yang dibayar. klausul baku adalah klausul yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha. Kemudian penetapan. Putusan – putusan pengadilan inilah yang kemudian dijadikan masukan perbaikan legislasi yang telah ada. Di situ dinyatakan bahwa bidang – bidang usaha yang boleh meberapkan perjanjian standar harus ditentukan dengan peraturan dan perjanjian itu baru dapat ditetapkan. diubah. Loangkah yang . ketentuan yang membatasi kewenangan pembuatan klausul eksonerasi ini belum diatur secara tegas di dalam undang – undang.jawab itu. Dengan demikian.000. Ketentuan satu – satunya beru ditemukan dalam UUPK.

Meski demikian penggunaan perjanjian baku atau jika dapat dikatakan lebih luas ketidakseimbangan daya tawar para pihak merupakan suatu hal yang sangat sulit untuk diawasi atau dikendalikan. sering konsumen tentu menghadapi kendala memperbaiki barangnya karena ketiadaan suku cadang. yang bisa kita hindari. Dengan adanya pengaturan terhadap Perlindungan Konsumen terutama pada peraturan yang berkaitan dengan klausul baku sedikit menyadarkan masyarakat bahwa mereka sebagai pihak dalam perjanjian memiliki hak yang (semestinya) sejajar dengan pihak lainnya dalam perjanjian baku. LAYANAN PURNAJUAL DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN Layanan purnajual (after sales service) merupakan kepentingan konsumen yang sangat vital dewasa ini. Perkembangan teknologi yang sangat cepat misalnya pada tegnologi perangkat computer. dengan adanya pengaturan terhadap pemakaian perjanjian baku ini adalah adanya eksploitasi atau keadaan yang sedemikian merugikan bagi puhak yang lemah akibat adanya pengunaan paksaan maupun penyalahgunaan keadaan oleh pihak yang lebih kuat. kiranya dapat di pertimbangkan untuk ditiru. serta adanya kebutuhan dari pihak yang berdaya tawar lebih rendah untuk menerima isi dari perjanjian itu. jika ada kerusakan dari suatu tipe produk. sering membuat produsen harus mengubah tipe – tipe produknya mengikuti selera dan kebutuhan konsumen harus mengubah tipe – tipe produknya mengikuti selera dan kebutuhan konsumen yang terus berganti dalam waktu singkat. padahal kenyamanannya tidak demikian. Kertas tisu yang dikemas dalam kotak yang dinyatakan beratnya 10 ons. Di mana pengaturan ini merupakan tonggak awal baginya keseimbangan dalam penempatan pihak pada suatu perjanjian. padahal hanya essence dari bahan – bahan kimia. Masalah lainnya yang menyangkut layanan purnajual adalah soal garansi dalam jangka waktu tertentu yang memberikan produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor pada konsumennya. yakni dengan membuat ketentuan khususus mengenai tata cara pembuatan perjanjian standar. Selain dengan mencantumkannya dalam Kitab Undang – Undang – Undang Hukum Perdata. Konsumen tidak boleh ditipu memperoleh barang dengan kualitas tertentu. Misalnya. Secara sederhana dapat kita katakana bahwa yang kuat adalah yang menang masih berlaku.ditempuh oleh Belanda. terutama hak untuk memiliki barang/jasa yang sesuai dengan nilai tukar yang diberikan. karena hal ini berkaitan dengan adanya unsure perlindungan dan kepentingan sepihak yang lebih besar daya tawarnya untuk melindungi kepentingannya. Selain paling tidak memberikan gambaran bahwa perlu adanya suatu sarana bagi peningkatan perlindungan terhadap penggunaan perjanjian baku dan segala atributnya. Akibatnya. dikatakan jus yang dijual adalah sari jeruk asli. . yang tentu saja merugikan salah satu pihak pada perjanjian. D. juga dapat dimuat dalam undang – undang yang mengatur mengenai perlindungan konsumen. ternyata hanya 9 ons. Demikian pula dengan tanggung jawab produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor dalam memenuhi hak konsumen. dan sebagainya.

menjadi kewajiban produsen untuk menjamin barang yang dijualnya bebas dari cacat tersembunyi. sehingga dapat mencapai tujuan peruntukan dan penggunaanny. tanggung jawab produk adalah tanggung jawab dari pembuatan produk cacat yang bersangkutan. . 2. Memberikan perlindungan kepada masyaraka terhadap penggunaan produk farmasi yang cacat.Tampak masalah layanan purnajual adalah masalah perlindungan konsumen yang tidak dapat dipisahkan dengan tahapan – tahapan transaksi konsumen lainnya. Produsen dari bahan – bahan mentah atau komponen dari produk itu. Pengaturan tentang tanggung jawab produk ini belum ada pengaturannya di Indonesia. Membatasi tanggung jawab produk hanya pada pergantian atas produk yang cacat berarti tidak member banyak kemajuan bagi perlindungan konsumen. namun baru untuk bidang farmasi. Memudahkan proses pembuktian akibat penggunaan produk farmasi yang cacat. atau memberikan tanda khusus untuk membedakan produknya dengan produk orang lain. atau dipasarkan (tanpa mengurangi tanggung jawab si pemilik produk). 4. Setiap orang yang memasang nama. Tanggung jawab dari si produsen dan pihak – pihak yang menyalurkan produknya secara tanggungan renteng seluruhnya bersifat tanggung jawab mutlak (strict liability) atau tanggung jawab tanpa kesalahan (liability without fault). Meningkatkan mutu produk farmasi yang beredar. 4. Perluasan subjek yang dapat dimintai tanggung jawabnya telah pula diterapkan diberbagai Negara. tetapi mengimpornya tidak diketahui. 1. Setiap pemasok produk. yakni: 1. Seharusnya tanggung jawab produk ini jangan dibatasi hanya pertanggung jawaban atas produk yang cacat. Tanggung jawab produk adalah bagian dari transaksi konsumen. Tim Kerja Naskah Akademis Badan Pembinaan Hukum Nasional pernah menyarakan agar dikembangkan system baru pertanggung jawaban hokum atau produk. tetapi caveat venditor (produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditorlah yang bertanggung jawab. 3. jika pembuatnya tidak diketahui atau pembuat produknya diketahui. Di lingkungan Uni Eropa. Setiap orang yang mengimpor produk untuk dijual. 3. yang lazim disebut tanggung jawab produk. merek perusahaan. yang berlaku bukan lagi prinsip caveat emptor. disewakan. Jaminan ini merupakan perikatan yang otomatis dibebankan kepada produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor. Mengembalikan kesimbangan masyarakat akibat penggunaan dan beredarnya proguk cacat. misalnya dinyatakan dalam Pasal 3 Pedoman Masyarakat Eropa. Tujuannya dari pengembangan itu adalah untuk : 1. 2. yaitu tahapan ketiga ( pasca transaksi konsumen). Sejak dahulu.

Ketentuan dalam pasal yang disebutkan terakhir ini memberikan tenggang waktu pelayanan kepada konsumen sampai pada akhir masa garansi. Suku cadang selalu tersedia dalam jumlah cukup dan tersebar luas dalam jangka waktu yang relative lama setelah transaksi konsumen dilakukan. 2. untuk garansi perbaikan alat – alat elektronika ditetapkan lamanya selam satu tahun sejak barang diserahkan kembali. 3. walaupun besar kemungkinan secara sosiologis masih digunakan secara luas oleh produsen. dan diberi jangka waktu & hari setelah tanggal transaksi. dan/atau kerugian yang diderita konsumen akibat mengonsumsi barang dan/atau jasa. juga jika ia tidak memenuhi atau gagal memenuhi jaminan atau garansi yang diperjanjikan. Jelaslah. bahwa pelaku usaha yang memproduksi barang yang pemanfaatannya berkelanjutan dalam batas waktu sekurang – kurangnya satu tahun. ketentuan ini agak berbeda dengan ketentuan tentang masa garansi dalam Pasal 27 UUPK. jika mengalami kerusakan tertentu. Dalam UUPK tampaknya klausull eksenorasi demikian akan dihilangkan. Ganti rugi ini bersifat serta merta. Pelaku usaha tersebut wajib bertanggung jawab atas tuntutan ganti rugi dan/atau gugatan konsumen jika pelaku usaha itu tidak menyediakan atau lalai menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas perbaikan. Ganti rugi jika barang/jasa yang diberikan tidak sesuai dengan perjanjian semula. Di sinilah diperlukan sosialisasi UUPK dan upaya gencar pendidikan konsumen. wajib menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas penjualan dan wajib memenuhi jaminan atau garansi sesuai dengan yang diperjanjikan. masa garansi itu . Layanan purnajual sebenarnya meliputi permasalahan yang lebih luas. Dalam Pasal 19 UUPK secara jelas diatur. seperti “barang yang telah dibeli tidak dapat dikembalikan). Dalam UUPK. dan terutama mencakup masalah kepastian atas : 1. Untuk itu. Pasal 25 UUPK menyatakan. pencemaran.Jaminan dalam undang – undang ini pun dalam praktik dicoba untuk diminimalisasi dengan menyatakan sepihak ( klausul eksenorasi). walaupun hanya dalam beberapa rumusan yang umum. Waktu yang demikian pendek sangat mungkin tidak mencukupi bagi konsumen utnuk meneliti kembali hasil perbaikkan itu secara keseluruhan. Namun. Pasal 27 huruf e UUPK bahkan memberi batas waktu kadaluarsa untuk melakukan penuntutan atau gugatan ini selama empat tahun sejak barang dibeli atau setelah lewat masa garansi. penyelesaian kasus purnajual seperti dinyatakan dalam Pasal 25 UUPK itu masih memerlukan upaya penuntutan ganti rugi dan/atau gugatan konsumen. Barang yang digunakan. layanan purnajual diakomodasikan pula. Persoalannya adalah pelaku usaha sering secara sepihak mencantumkan masa garansi secara tidak proposional. Misalnya. dapat diperbaiki secara Cuma – Cuma selama jangka waktu garansi. pelaku usaha wajib mengganti kerugian atas kerusakan.

608/MPP/Kep/10/1991 tentang petun juk penggunaan (manual) dan kartu jaminan/garansi dalam bahasa Indonesia bagi produk elektronika.Ditjen Pajak. Pelaku usaha yang menurut tim pemeriksa melakukan pelanggaran. dan (11) microwave oven. Khusus untuk produk elektronika. (10) pompa air listrik untuk rumah tangga. (8) mesin cuci.p.7/MPP/Kep/1/2000. Tata cara pendaftaran diatur dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan Pedagangan No. bergantung pada klasifikasi (jenis) barang atau jasa yang diberikan oleh pelaku usaha itu. hanya sebelas jenis produk elektronika yang wajibkan pendaftaran. Dalam peraturan yang disebutkan di atas. dalam keputusan itu disebutkan bahwa manual dan kartu jaminan/garansi produk elektronika tertentu perlu dilakukan pendaftaran. Permohonan tanda pendaftaran diajukan ke Direktorat Jenderal Industri Logam Mesin Elektronika dan Aneka u. Jika ada perubahan terhadap isi manual dan/atau kartu jaminan/garansinya sebagai akibat pergantian atau penambahan model (tipe) produk. Dalam keputusan ini tidak jelas alasannya mengapa produk elektronika yang diwajibkan hanya dibatasi pada sebelas jenis tersebut. yaitu (1) radio cassette/mini compo. (3) pesawat televise. kejaksaan. Pelaku usaha dapat melakukan permohonan tanda pendaftaran manual dan kartu jaminan/garansi baik secara individual maupun melalui asosiasi usaha terkait.perlu ditetapkan batas minimalnya oleh pembentuk undang – undang. Kartu jaminan/garansi itu berlaku sekurang – kurangnya 1 tahun. (5) monitor computer. Dalam peredarannya. Sebelum jenis produk yang beredar di Indonesia juga wajib dilengkapi kartu jaminan/garansi dalam bahasa Indonesia. produk elektronika yang mendapatkan tanda pendaftaran itu wajib mencantumkan nomor surat tanda pendaftaran tersebut secara manual dan kartu jaminan/garansi yang dikeluarkan oleh produsen atau inportir tadi. Untuk kepentingan perlindungan konsumen. Ditjen Bea dan cukai. Bagi importer yang melanggar. serta masyarakat konsumen pada umumnya. (9) kompor gas. yakni pencabutan izin usaha industry (IUI) atau tanda daftar industry (TDI). dab Ditjen Perdagangan Dalam Negeri. pemerintah pembentuk tim pemerintah yang terdiri ats unsure kepolisian. E. (7) mesin pengatur suhu udara (AC). Permohonan juga dapat dilakukan memalui jasa pos. pengaturan tentang layanan purnajual dicantumkan dalam keputusan menteri perindustrian dan perdagangan no. Pelaku usaha dapat melakukan permohonan tanda pendaftaran manual dan kartu jaminan/garansi ini baik secara individual maupun melalui asosiasi usaha atas perubahan itu ke instansi yang sama. (2) alat perekam atau reproduksi. Direktur Industri Elektronika (untuk produk dalam negeri) atau ke Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negara u. maka yang bersangkutan harus mengajukan pendaftaran atas perubahan itu ke instansi yang sama. Tim ini akan bekerja sam dengan asosiasi pelaku usaha terkait dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. (4) printer. (6) lemari es (refrigerator). HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL . Kewajiban ini berlaku selama yang bersangkutan menjalankan kegiatan usahanya di Indonesia.p Direktur Bina Pasar (untuk produk asal impor). sanksinya berupa pencabutan angka mengenal omportir (API) atau angka pengenal importer terbatas (APIT). Ditjen Industri Logam Mesin Elektronika dan Aneka. dapat dikenakan sanksi administrative. yang antara lain wajib memuat informasi mengenai ongkos perbaikkan gratis selama garansi dan jaminan ketersediaan suku cadang.

Dilihat dari kacamata konsumen. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Ketiga undang-undang tersebut dilengkapi pula dengan peraturan pelaksanaannya. dan paten yang diterapkan untuk suatu barang atau jasa adalah benar-benar seperti apa yang ditampilkan. Undang – Undang No. merek dagang. dan desai produk industry. yakni: 1. yang memaksa Negara anggota untuk lebih terbuka dalam ketentuan perundang-undangan dan pelaksanaan anturan nasional dalam bidang perlindungan HAKI. Tiga jenis hak yang terakhr dikenal juga sebagai hak milik industry (industrial property rights). dinyatakan bahwa larangan monopoli itu tidak berlaku untuk perjanjian yang berkaitan dengan hak atas kekayaan intelektual.14 Tahun 2001 tentang Paten 2. Undang – Undang No. Konsumen akan dirugikan jika ciptaan. Prinsipprinsip itu antara lain adalah prinsip. dan sebagainya. Hokum dibidang HAKI ini termasuk subtansi hokum yang sangat pesat perkembangannya. kkhususnya yang ada di luar negeri. dan paten itu ternyata tidak seperti yang dibayangkan karena dipalsukan oleh pelaku usaha. 1. sebenarnya konsumen hanya berkepentingan agar ciptaan. oleh karena itu. tidak mengherankan jika dalam Pasal 50 Undang – Undang No. untuk mengetahui hak – hak konsumen bidang tersebut. . serta perjanjian yang berkaitan dengan waralaba. Di luar itu. Hak atas kekayaan intelektual adalah hak – hak yang diberikan kepada pelaku usaha untuk monopoli. 15 Tahun 2001 tentang Merek 3. paten.5 Tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. seperti lisensi. National treatment. perkembangan ini bukan karena pertimbangan untuk melindungi konsumen. UUPK secara khusus mengecualikan pengaturan hak – hak konsumen yang muncul dalam bidang HAKI. yakni pemilik hak atas kekayaan intelektual (HAKI) asing harus diberi perlindungan yang sama dengan warga Negara dari Negara yang bersangkutan. Undang – Undang No. merek.merek. UUPK tidak mengatur lagi bidang hak atas kekayaan intelektual (HAKI) ini. Ironisnya. seperti layout design. Maksudnya. Most favoured-nation atau nondiskriminasi antara pemilik HAKI asing dari suatu Negara dibandingkan dengan pemilik HAKI asing dari Negara lain 3. Ini berarti. kita perlu melihat pengaturannya dalam undang – undang yang lain. tetapi terlebih—lebih untuk melindungi produsen. 2. Oktober 1994 (Undang-Undang No. 7 Tahun 1994). hak cipta. Karena perjanjian putaran Uruguay ini diadakan dalam kerangka pembentukan Badan Perdagangan Dunia (Word Trade Organization) yang menjadi pengganti GATT. rangkaiaan elektronika terpadu. paten. Transparancy. sering juga disebutkan jenis lain dari hak atas kekayaan intelektual. Hal ini secara jelas tampak dari dimasukkannya perjanjian mengenai Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) sebagai salah satu perjanjian utama yang dihasilkan oleh perundingan Putaran Uruguay itu setelah diadakan ratifikasi.Hak atas kekayaan intelektual (intellectual property rights) dalam garis besarnya mencakup hak cipta. Sementara untuk desain produk industri sampai sekarang belum diatur secara khusus dalam suatu undang-undang. undisclosed information (trade secret). desain produk indutri. dan rahasia dagang. maka prinsip-prinsip GATT dalam bidang HAKI ini juga diterapkan. merek.

seharusnya istilah “pemegang hak” tidak digunakan karena memang hak atas indikasi asal itu. walaupun boleh jadi penerapannya tidak sesederhana yang dibayangkan. huruf atau kombinasi dari unsureunsur tersebut. ASURANSI Yusuf Shofie mengutamakan bahwa bisnis perasuransian di Indonesia hampir sama tuanya dengan bisnis perbankan. dan 2. Untuk kondisi di Indonesia. melainkan tanda. Tanda teresbut dapat berupa nama. 15 Tahun 2001 juga di ajukan oleh kelompok konsumen dari barang – barang tersebut. dan sangat erat kaitannya dengan perlindungan konsumen adalah tentang indikasi geografi dan indikasi asal. tetapi harus melalui putusannya pengadilan. atau kombinasi dari kedua factor tersebut memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan. F. daerah atau wilayah. Sangat menarik. 15 Tahun 2001 adalah tentang Indikasi asal. Nama – nama perusahaan asuransi jiwa seperti. Produsen dan pelaku usaha anggur manapun diluar daerah itu tidak diperkenalkan memakai label “anggur Champaigne” dalam produk mereka. Indikasi asal tidak didaftarkan. Dari Pasal 59. gambar. indikasi asal tidak perlu didaftarkan karena secara otomatis akan dilindungi. tempat. Di Indonesia memang belum lazim terbentuk asosiasi atau kelompok konsumen dari barang – barang tertentu. yang artinya diproduksi oleh produsen anggur dari daerah Champaigne. Indikasi geografis ini bukan termasuk merek. ia dapat mengehentikan kegiatan usaha dari pelaku usaha lainnya. Undang – Undang No. sekalipun memenuhi semua unsure untuk disebutkan sebagai indikasi geografis. Oleh karena itu. Pemakai hak atas indikasi asal dapat saja meningkatkan haknya menjadi pemegang hak. Mengenai hal ini UUPK mencantumkannya dalam Pasal 9 ayat (1) huruf h. Istilah lain yang diatur dalam Undang – Undang No. dapat disimpulkan ada dua factor pembedaanya dengan indikasi geogarfis. 15 Tahun 2001 memberikan pengertian tentang indikasi geografis sebagai : “tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang yang karena factor lingkungan geografis termasuk alam. Indikasi asal itu meliputi produk baik berupa barang maupun jasa. Kesalahan ini tentu cukup fundamental dan sangat berpengaruh terhadap upaya perlindungan hak – hak konsumen.Salah satu ketentuan yang barangkali termasuk baru dalam masalah HAKI ini. Dimasa mendatang aka nada kelompok konsumen yang menyebut dirinya sebagai “pencinta dodol Garut” atau “ konsumen tembakau Deli” yang secara sepihak bersedia mengajukan permintaan perlindungan indikasi geografis atas produk yang mereka konsumsi. factor manusia. Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 tergolong perusahaan asuransi yang cukup .15 Tahun 2001 menyebutkan indikasi itu hanya untuk produk barang. Catatan lain tehadap indikasi asal ini adalah penggunaan kata barang dan jasa. Undang-undang No. bahwa dalam indifikasi geografis menurut pasal 56 ayat (2) Undang – Undang No. Padahal dalam indikasi geografis. Berbekal putusan itu. kata. Akan lebih tepat jika digunakan istilah “pemakai hak”. mungkin kita juga dapat menggunakan prinsip yang sama untuk produk seperti “dodol Garut” atau “ martabak Bangka”. Contoh dari barang yang berindikasi geografis adalah anggur Champaigne. Factor pertama memberikan petunjuk. misalnya berupa eitket atau label yang dilekatkan pada barang yang dihasilkan. Prancis. yaitu: 1.

33 tahun 1964). Asuransi Cigna Indonesia. industry perasuransian kurang banyak dapat perhatian konsumen.dikenal masyarakat. tradisi berasuransi masih dianggap hal baru oleh sebagian masyarakat konsumen. Kedua.33 tahun 1964). Konsumen masih sering merasakan bahwa asuransi tak melindungi aktivitasnya.67 tahun 1991). asuransi kendaraan bermotor. asuransi abri ( dikelola berdasarkan peraturan pemerintah No. Setelah dikeluarkannya paket ketentuan itu. Persaingan mendapatkan konsumen memang terjadi dikalangan perusahaan asuransi. asuransi yang bersifat suka rela.taspen berdasarkan peraturan pemerintah No. sehingga produk itu tidak marketable. yaitu kemampuan untuk membayar polis kelak akibatnya klaim asuransi konsumen ditolak tanpa alas an yang benar dan patut. maka resiko ini dapat di alihkan kepada perusahaan asuransi kerugian dalam bentuk pembayaran klaim asuransi. didalamnya terdapat dua unsure. yaitu ketidak pastian dan kerugian. Ansuransi Astra Buana. tak mau kalah dalam persaingan bisnis ini. padahal sejalan dengan semakin konpleksnya aktifitas pelaku ekonomi (pemerintah. asuransi jiwa. dan konsumen). Koprasi. Pada tahun 1991 pernah terjadi persaingan premi perusahaan asuransi telah membuat suatu pilihan untuk mendapatkan konsumen sebanyak – banyaknya tanpa memperhitungkan apakah penetapan besarnya premi yang tidak proporsional tersebut dapat dipertanggung jawabkan dari sisi underwriting. Karena besarnya resiko ini dapat diukur dengan nilai barang yang mengalami peristiwa diluar kesalahan pemiliknya. Pertama. asuransi social pegawai negeri (dikelola PT. Dalam . Ansuransi Jiwa Buana Putra.M. tak tanggung – tanggung pemerintah telah mengeluarkan paket kebijakan 20 Desember 1988. terdapat sekitar 130 perusahaan asuransi. berbagai resiko senantiasa mengincar konsumen setiap saat. New Hamshire Agung. perusahaan swasta. asuransi yang bersifat wajib berdasarkan ketentuan undang – undang misalnya pertanggungan wajib kecelakaan penumpang ( Undang . Tidak mudah mencari tahu seberapa jauh pemahaman konsumen pada umumnya tehadap produk – produk asuransi. petanggungan jawab kecelakaan lalulintas jalan (Undang – Undang No. Dalam pada itu. misalnya asuransi kerbakaran.Purwo sudjibto memberikan pengertian resiko tidak lain adalah beban kerugian yang diakibatkan karena suatu peristiwa diluar kesalahannya. bahkan cenderung merugikannya. Untuk mendorong kegiatan perarsuransian di Indonesia. asuransi dibedakan menjadi dua jenis. Sebagian konsumen cenderung memisahkan sebagian penghasilannya untuk disimpan dibank dari pada digunakan untuk asuransi. Keikut sertaan konsumen dalam berbagai program dan jenis asuransi sangat pergantung pada pemahaman konsumen terhadap produk yang ditawarkan. misalnya rumah seseorang tebakar sehingga pemiliknya mengalami kerugian. Menurut sementara pejabat departemen keuangan RI.33 tahun 1964). Pengalihan resiko ini di imbangi dalam bentuk pembayaran premi kepada perusahaan asuransi kerugian setiap bualan atau tahun bergantung pada perjanjian yang tetuang dalam polis. Inilah resiko yang harus ditanggung pemiliknya. dan lain – lain. manfaat peralihan resiko inilah yang diperoleh konsumen. asuransi jiwa. H. Nama – nama terkenal lain seperti Dharmala Manulife. apalagi dalam era perdagangan. Resiko diartikan pula sebagai kerugianyang tidak pasti. reasuransi. Dibandingkan industry perbankan. meliputi asuransi kerugian.undang No. produk – produk asuransi tergolong rumit dan sukar dipahami. BUMN.25 tahun 1981). meskipun kesan itu tak semuanya benar. Ditinjau dari sudut sifat dan berlakunya. Lippo Life. dan sebagainya. Sewu New York Life. jaminan social tenaga kerja (diselenggarakan astek berdasarkan Undang – Undang No. dan asuransi social.

nasabah hanya membaca sekilas perjanjian tersebut. taka ada perlindungan resiko yang dialami konsumen sebaliknya perusahaan asuransi sudah mendapatkan premi yang dibayarkan konsumen.8 tahun1999 antara lain : 1. Hubungan antara perusahaan asuransi dan nasabahnya diatur dalam perjanjian yang mengikat dan disepakati oleh kedua belah pihak. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen. Sebagai pihak yang berjanji tertangguang dan penanggung memiliki posisi yang setara dan tidak ada yang dibawah dan di atas. Masih banyak hak – hak yang diatur dalam UU sehingga posisi konsumen semakin kuat. Permasalahan asuransi adalah permalahan jamak yang penyelesaian akhirnya seringkali membuat konsumen diposisi yang lemah. Namun. yang membuat para asuransi sering tidak tahu apa yang menjadi haknya. Asuransi termasuk jasa yang bisa dinikmati konsumen dengan terlebih dahulu menandatangani polis sebagai bentuk persetujuan keikut sertaan dengan memenuhi kewajiab membayar premi setiap bulan atau tahunnya. 3. Terbitnya undang – undang No. . Bedasarkan undang – undang ini konsumen berhak meminta keterangan segala sesuatu yang akan diperjanjikan dalam asuransi dan selaku pihak penjual produk. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mempunyai hak untuk mendapatkan kompensasi. Hak – hak yang diatur dalam ketentuan – ketentuan peraturan perundang – undangan lain.8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen memberi jaminan supaya hak – hak tertanggung lebih diperhatikan. Dalam undang – undang ini ditegaskan juga hak konsumen untuk memperoleh informasi yang benar jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang atau jasa yang dibelinya serta hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang atau jasa yang digunakan. 4. Hak – hak lainnya yang ditegaskan dalam Undang – undang No. 2. Keluhan – keluhan konsumen sekarang sudah terjawab dengan hadirnya undang – undang perlindungan konsumen. Hak untuk mendapatkan advokasi. dalam pelaksaannya posisi antara nasabah dan perusahan asuransi eringkali timpang. Hak untuk diberlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminasi.keadaan seperti ini. Hak untuk memilih barang atau jasa serta mendapatkan barang atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kodis serta jaminan yang dijanjikan. Padahal konsumen asuransi sebagaimana tertuang daam UU No. Hak atas kenyamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang atau jasa. juga menatapkan mereka dalam posisi tawar yang lebih kuat. dimana isi perjanjian dibuat dengan kata-kata yang sulit dipahami dan dibuat dalam tulisan kecil-kecil(klausul baku) sehingga kesepakatan tersebut terjadi pada saat nasabah hanya memahami sebagaian kecil dari perjanjian tersebut. pelindungan dan upaya penyelesaian sengketa secara patuh. yang dibuat dalam semangat reformasi selain memberi perlindungan kepada konsumen. 6. Artinya. perusahaan asuransi harus bersedia menjelaskan isi dan makna kontrak dalam polis hingga konsumen benar –benar memahaminya terhadap konsumen apakah pemakai produk atau pengguna jasa yang merasa dirugikan karena diperjanjikan atau sebagaiman mestinya undang – undang ini menjamin agar meraka mendapat konpensasi atau ganti rugi. tanpa dipahami secara mendalam konsekuensi yuridisnya. 5.

atatu yang pengungkapannya sulit dimengerti. dalam hal ini klaim uang pertanggungan setelah masa pertanggungan berakhir (dalam praktik disebut pula “klaim habis kontrak”) diminta untuk memperbarui polis asuransinya dengan alas an petugas penagih premi belum menyerahkan premi asuransi si konsumem kepada perusahaan. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengenai klausal baku. Petugas penagih premi memberikan bukti pembayaran premi asuransi yang sah bersamaan atau pada saat konsumen menyerahkan pembayaran uang premi. Apabila ada klausul yang mengatur tentang pembatasan obat yang harus diterima. apabila barang atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. klaim dapat diterima. Kasus lain seperti yang diuraikan Yusuf Shofie dimana terkadang konsumen pemegang polis asuransi jiwa yang belum waktunya mengajukan klaim asuransi. Saran dari YLKI adalah melihat kembali perjanjian antara PT Askes dengan Bapak Imron selaku konsumen dari perusahaan asuransi. Ini membuktikan bahwa perusahaan asuransi tidak dibenarkan mengelak dari tanggung jawabnya. segala tindakannya menjadi tanggung jawab perusahaan asuransi. Sebab kelalaian petugas penagih premi ( agen asuransi) dalam bentuk tidak disetorkannya premi kepada perusahaan asuransi. sehingga PT ASKES dapat dituntut seperti apa yang tertuang dalam Pasal 18 ayat (2) UU No. konsekuensinya pengeluaran konsumen akan bertambah perbulan atau pertahunnya.ganti rugi / penggantian. Konsekuensinya sepanjang petugas tersebut telah diberi kuasa untuk itu. dan ia akan berada pada posisi yang sangat dirugikan. dibebankan kepada konsumen. baik secara perorangan ataupun badan hokum.6 juta hanya dikabulkan sebesar Rp 590 ribuan saja dengan alas an obat-obatan yang dipakai bukan yang termasuk dalam daftar PT ASKES. Dalam hal petugas premi tidak menyerahkan uang premi konsumen kepada . Apabila konsumen menurut saja. Dalam hal ini harusbagaimana bersikap. petugas penagih premi. atau pengungkapannya sulit dimengerti. Padahal konsumen sudah membayar preminya. bertindak untuk dan atas nama perusahaan asuransi. Pembaruan polis itu membawa akibat jumlah premi yang harus dibayarkan meningkat. diterima atau ada jalan lain. dari klaim Rp7. Padahal menurut Undang-Undang No. Bahwa pelaku usaha yang memperdagangkan jasa wajib memenuhi jaminan atau garansi yang disepakati / yang diperjanjikan. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen bahwa kewajiban pelaku usaha adalah beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya. 2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian. jelas dan jujur mengenai jaminan barang/jasa serta member penjelasan penggunaan perbaikan dan pemeliharaan. Keluhan dari konsumen berkaitan dengan klaim asuransi dapat kita lihat dari contoh kasus yang ditujukan pada YLKI yakni sebagai berikut : Bapak Imron saat ini sedang mengajukan klaim asuransi kepada PT ASKES atas perawat di salah satu RS Swasta. masalahnya adalah obat-obatan tersebut yang memilihkan dokter yang merawat. Pelaku usaha dilarang mencantukan klausul baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas. memberikan informasi yang benar. apabila setelah dicermati tidak ada aturan tentang pembatasan obat yang harus digunakan maka Bapak Imron dapat meminta kompensasi sesuai apa yang menjadi kewajiban dari PT ASKES. Akan tetapi. perlu dilihat apakah dibuat dalam bentuknya yang sulit terlihat. Karena masuk RS melalui Gawat Darurat. Dalam hal ini pelaku usaha dapat diminta tanggung jawab atas kewajibannya sesuai Pasal 7 UU No.

semakin kecil besarnya premi. konsumen diharapkan tidak mudah tergiur terhadap berbagai manfaat mengikuti asuransi tersebut. Secara umum inilah yang disebut sebagai perjanjian konsensual. Tak jarang petugas itu ternyata masih relasi konsumen sehingga mudah bagi konsumen untuk mengiyakannya. 2 Tahun 1992. Keterikatan hubungan konsumen dengan pihak perusahaan asuransi muncul sejak adanya kata sepakat dari pihak konsumen kepada perusahaan asuransi. Semakin besar uang pertanggungan. Sedangkan kegiatan perusahaan asuransi tunduk pada Undang-Undang No. di mata hokum tidak ada lagi kawan dan bukan kawan atau relasi dan bukan relasi. nilai tunai selama masa pertanggungan. semakin muda usia konsumen. yaitu perjanjian asuransi bertujuan memberikan ganti rugi terhadap kerugian yang diderita oleh tertanggung yang disebabkan oleh bahaya sebagaimana ditentuka dalam polis. tidak boleh merugikan konsumen serta tidak mengancam kelangsungan perusahaan asuransi. serta syarat-syarat umum polis. Seringkali dengan terbitnya polis itu berarti secara serta merta konsumen tunduk pada syarat-syarat umum polis yang dibuat secara sepihak oleh perusahaan asuransi. sebagian perusahaan asuransi enggan menjelaskan system perhitungan besarnya premi yang harus dibayarkan. menghindarkan konsumen dari tertunggaknya pembayaran premi. dalam hal ini Pasal 302-308 KUHD. dalam hal ini Menteri Keuangan Republik Indonesia. Terutama dalam penetapan besarnya premi. Semestinya ketentuan yang tertuang. Disamping itu terdapat keharusan menyelesaikan klaim asuransi denagn sebaik-baiknya. Apabila sudah menjumpai masalah. Secara umum prinsip-prinsip yang berlaku dalam perjanjian asuransi. Apabila tidak diminta atas desakan konsumen. lebih baik konsumen tunda dulu kebutuhan berasuransi. . serta ketentuan-ketentuan instansi Pembina perasuransian.5 niliar berdasarka UndangUndang Usaha Perasuransian. Karenanya bila konsumen didatangi petugas sales promotion perusahaan asuransi jiwa. asuransi menjadi lapse atau perlindungan tak lagi dijamin. Prinsip Indemnity. semakin besar pula premi yang harus dibayarkan. petugas itu patut diduga melakukan penggelapan asuransi yang dapat diancam hukkuman maksimal 15 tahun dan denda maksimal Rp 2. daftar atau table nilai tunai ini pada prinsipnya wajib diinformasikan kepada konsumen. ketika petugas sales promotion menawarkan produk asuransi. Keterikatan itu dibuktikan dengn diterbitkan polis. yaitu: 1. baik dalam polis maupun syarat-syarat umum polis dibuat secara berimbang dan tidak merugikan konsumen dan perusahaan asuransi. Demikian pula. Selaanjutnya perusahaan asuransi akan membayarkan nilai tunainya sesuai masa pertanggungan yang telah dijalani konsumen. Dianjurkan agar konsumen tidak mudah tertarik dengan besarnya uang pertanggungan. Padahal kedekatan petugas dengan konsumen tidak akan berpengaruh terhadap berbagai konsekuensi hokum keikutsertaan konsumen dalam asuransi. Kecermatan menghitung besar nya premi dan membandingkannya dengan penghasilan perbulan. Alasan yang dicari-cari untuk menolak klaim konsumen seharusnya dihindarkan asas iktikad baik harus diutamakan dalam pelaksanaan perjanjian asuransi. Besarnya nilai tunai itu tercantum dalam daftar atau table yang dilampirkan atau merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari polis asuransi. Dalam hal pembayaran premi menunggak. baik dengan menggunakan mata uang dalam negeri maupun luar negeri.perusahaan asuransi sekalipun telah diperingatkan atau bahkan malah menghilang. Subtansi polis tunduk pada ketentuan-ketentuan tentang pertanggungan yang diatutr dalam KItab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD). Apabila besarnya premi yang ditawarkan sangat mempengaruhi pengeluaran konsumen dalam sebulan atau setahun.

Pihak-pihak yang terikat dalam perjanjian. yaitu pihak yang bermaksud akan mengasuransikan sesuatu harus mempunyai kepentingan dengan objek yang diasuransikan. maka tertanggung tidak berhak menerimanya.pertanggungan jiwa yang diikuti konsumen. Penetapan lamanya masa pertanggungan atas dasar kesepakatan kedua belah pihak. 2.017/1993 tentang Penyelenggaraan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan reasuransi. 225/KMK. dan hak itu beralih kepada penanggung Agar is polis tidak merugikan tertanggung. meliputi: penanggung. Sebagai contoh mengenai isi perjanjian asuransi. Dalam polis dilarang pencantuman klausul yang dapat ditafsirkan bahwa tertanggung tidak dapat melakukan upaya hokum. Prinsip subrogasi. Jenis asuransi. yaitu bila tertanggung telah menerima ganti rugi ternyata mempunyai tagihan kepada pihak lain. yakni sejumlah pembayaran dan kompensasi yang menjadi hak konsumen atau pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran. Jumlah uang pertanggungan sesuai kesepakatan kedua belah pihak. Besarnya jumlah uang pertanggungan ini akan berpengaruh pula terhadap besarnya premi yang dibayarkan 4. pemegang polis. Besarnya manfaat yang diperoleh tertanggung / pihak yang ditunjuk bergantung pada . Dalam hal dicantumkan klausul pengecualian tentang resiko yang ditutup. apabila konsumen meninggal dunia dalam masa pertanggungan.15 atau 20 tahun.2. klausul itu harus dicetak sedemikian rupa supaya mudah diketahui. 4. kepentingan mana dinilai dengan uang. 3. Manfaat asuransi. anak konsumen akan tetap menerima beasiswa pada waktu yang telah ditentukan dalam polis 3. Untuk ini diperlukan pemahaman konsumen terhadap produk-produk asuransi jiwa yang ditawarkan. Masa berlakunya polis berkisar 10. Besarnya premi yang dibayarkan hendaknya dihitung dan dipahami secara teliti oleh konsumen sesuai dengan kemampuan keuangan konsumen. Prinsip kejujuran sempurna yaitu kewajiban tertanggung menginformasikan segala sesuattu yang diketahuinya mengenai objek yang dipertanggungkan secara benar. sehingga harus menolak pembayaran klaim. Terlalu mudah menurut besarnya premi yang ditawarkan petugas asuransi akan membuat kesulitan bagi konsumen dikemudian hari. pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan Indonesia No. misalnya akan terjadi penunggakan pembayaran premi asuransi 5. Jenis asuransi ini memberikan beasiswa untuk anak konsumen pada waktu yang telah ditentukan selama masa pertanggungan. terdapat pula produk asuransi jiwa yang dikemas dengan program beasiswa berencana. dengn sendirinya sama dengan masa pembayaran premi asuransi jiwa yang diikuti konsumen 6. baik Karena terjadinya resiko kematian pada tertanggung atau berakhirnya masa pertanggungan. pihak yang ditunjuk untuk menerima uang pertanggungan. Prinsip kepentingan. disamping menerima uang pertanggungan. menguraikan mengenai hal-hal yang biasanya dituangkan dalam polis asuransi jiwa dan ketentuan umum polis dan harus diperhatikan adalah sebagai berikut: 1. Janagn heran.

Bila argumentasi konsumen merujuk pada kelalaian petugas. persoalan muncul bila petugas penagih premi membawa lari uang premi tertanggung. meskipun tertanggung masih hidup.jenis asuransi jiwa yang diikuti. pada hakikatnya salah satu bentuk pemasaran asuransi. [pemberian keterangan/ pernyataan tersebut diberikan sebelum diterbitkannya polis (perjanjian) asuransi. Dalam syarat – syarat umum polis yang tertuang dalam rumusan kalimat yang kecil – kecil (sering kali sulit dibaca saking kecilnya).dan bukti identitas yang bersangkutan kepada perusahaan asuransi. 7. Tata cara penagihan/pembayaran premi asuransi. atas berbagai bentuk pelayanan pembayaran premi yang ditawarkan perusahaan asuransi. bukti pembayaran premi terakhir. Untuk kepentingan hokum konsumen. 9. hendaknya konsumen membiasakan tertib adminisdtrasi dengan meminta bahkan mendesak perusahaan asuransi untuk memberikan bukti pengajuan pembayaran pancairan klaim manfaat asuransi. sebaiknya konsumen tetap mewaspadai. tidak membebaskan pemengang polis dari kewajibannya untuk selalu melunasi premi asuransi”. penagian premi lewat kartu kredit. bukti identitas yang bersangkutan d. bukti pembayaran premi terakhir c. pengajuan klaim dilengkapi persyaratan : a. konsumen sering disudutkan solah –olah menunggak pembayaran premi. 8. . Tata cara pembayaran manfaat asuransi. Perusahaan asuransi mematahkan argumentasi konsumen dengan rumusan pasal :” penagihan premi asuransi di alamat penagihan atau melalui cara penagihan lainnya yang diselenggarakan perusahaan asuransi. maka pihak yang ditunjuk untuk menerima manfaat asuransi segera mengajukan klaim pembayaran manfaat asuransi. pemengang polis memeberikan keterangan atau persyaratan tidak jujur atau sengaja dipalsukan pada waktu mengisi formulir – formulir yang disi0terlebih dahulu oleh perusahaan asuransi. Sebelum menerima pembayaran itu. b. Pembatalan polis sering dilakukan secara sepihak oleh perusahaan asuransi dalam hal terpenuhinya satu atau lebih syarat. seperti penagihan premi ke alamat rumah/kantor konsumen. tertanggung menyerahkan polis asuransi jiwa. sebagai berikut: a. Pemahaman konsumen terhadap produk asuransi jiwa mutlak sangat diperlukan. Dalam hal tertanggungmeninggal dunia. Polis konsumen dapat saja terancam batal dengan alas an pembayaran premi tertunggak. Kemudahan pelayanan pembayaran premi. polis asuransi jiwa b. surat keterangan dokter/ pejabat yang berwenang menerangkan sebab-sebab meninggalnya tertanggung berakhirnya masa pertanggungan dengan sendirinya mewajibkan perusahaan asuransi membayarkan manfaat asuransi. Selambat – lambatnya dalam masa leluasa (biasanya kurang lebih 3 bulan) sejak tertunggaknya pembayaran premi tertanggung belum juga melunasi pembayarannya. dan sebagainya.

Walaupun perusahaan asuransi menolak pembayarannya berdasarkan salah satu alas an itu. polis menentukan bahwa pembayaran premi asuransi atau klaim asuransi . Apabila ini sering terjadi. masyarakat konsumen akan semakin jauh dari asuransi jiwa. tertanggung meninggal dunia karena kejahatan yang dilakukannya c. Ketidak adilan subtansi syarat – syarat umum polis. ternyata klaimnya ditunda sampai memakan waktu 3 minggu atau bahkan lebih dengan alas an berkasnya tidak lengkap. Pastikan pula informasi nilai tunai yang diinformasikan itu tidak berbeda dengan yang dilampirkan pada polis asuransi. Tidak hanya itu. 3. tidak memberikan hak apa pun kepada konsumen untuk menuntut pembayaran. alas an – alas an sebagai mana disebut pada butir 9 a dan b diatas digunakan perusahaan asuransi dengan iktikad baik. tertanggung meninggal dunia karena perkelahian. yaitu menolak klaim yyang seharusnya dibayarkan. memberi hak kepada konsumenatas pembayaran nilai tunai bila polisnya telah mempunyai nilai tunai. Penetapan atau pematokan curve secara sepihak terhadap klaim nilai tunai dan jatuh tempo pada polis asuransi jiwa yang dippertanggungkan dengan mata uang asing. 2. terdapat phenomena untuk mempersulit pengajuan klaim manfaat asuransi jiwa. Premi yang akan dibayarkan menjadi lebih tinggi dari sebelm dilakukan pemutihan. kecuali consumen dapat membuktikan keterangan atau pernyataannya deiberikan secara jujur dan benar. terutama dolar amerika serikat padahal polis dan ketentuan umum. yaitu bila tertanggung mengalami kecelakaan yang berakibat cacat tetap sebagian diberikan santunan sesuai persentase dalam table polis sebaliknya bila berakibat cacat total tetap tidak diberikan santunan apapun. Sebaliknya.Konsekuensi pembatalan polis berdasarkan alas an butir a. maka pihak perusahaan asuransi dibebaskan untuk tidak membayar apapun kepada pihak ketiga itu. bila tertanggung terbukti meninggal dunia akibat kejahatan yang dilakukan pihak ketiga. Sebaliknya pembatalan polis pada butir b. yaitu pihak yang ditunjuk untuk menerima uang pertanggung. Sangat dianjurkan kepada konsumen untuk meminta penjelasan secara terperinci mengenai peritungan nilai tunai itu sebelum konsumen menyutujui mengikuti asuransi jiwa. Lebih baik menyimpan dibank yang sewaktu – waktu bisa diambil kembali ketika diperlukan. Dalamperaktik peransuransian. Pada tahun 1996 – 1998 YLKI menerima beberapa pengaduan asuransi yang dapat diringkas sebagai berikut : 1. perincian besarnya nilai tunai itu sesuai dengan daftar yang dilampirkan pada polis. perusahaan asuransi tetap berkewajiban membayar nilai tunainya atas polis yang telah memiliki nilai tunai. Penolakan pembayaran klaim manfaat asuransi terjadi dalam hal : a. penyelewengan uang pembayaran premi konsumen oleh petugas asuransi yang berakibat dilakukannya “pemutihan” polis asuransi konsumen dengan kondisi yang baru. Berkas pengajuan klaim sudah dipenuhi pihak yang ditunujuk untuk menerima manfaat asuransi. kecuali sebagai pihak yang membela diri. 10. tertanggung meninggal dunia karena bunuh diri b.

bukan dengan melakukan pembatalan polisnya untuk kemudian diikuti dengan pembaruan polis. kurang kompeten. uang premi yang dibayarkan oleh konsumen menjadi semakin tinggi: apalagi semakin tua usia konsumen. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen belum cukup untuk melindungi konsumen. tata cara perhitungan premi dan nilai tunai. Hendaknya petugas asuransi tidak mendesak konsumen untuk segera mengikuti perjanjian asuransi sebelum calon konsumen mempelajari dasn mengalami betul seluk beluk produk asuransi yang ditawarkan informasi yang disampaiikan secara tidak jujur dan proposioanal kepada calon konsumen sebenarnya menunujukan adanya dugaan kejahatan penipuan terhadap konsumen. efesiensi birokrasi dalam pencairan klaim. premi dari tertanggung (konsumen) berupa emas. konsumen harus tetap was pada. Laily memperjelaskan dengan memberikan contoh mengenai perusahaan asuransi swasta. semakin besar premi yang harus dibayarkannya. dari isi perjanjian memang menjanjikan bagi konsumen karena masing – masing perusahaan asuransi mempunyai aturan – aturan sendiri. serta ada pelayanan optimal bagi konsumen. Mengenai perjanjian asuransi terkadang terjadi karena rotasi petugas asuransi maka polis tersebut hilang dalam kerangka hokum perusahaan asuransi harus melakukan pengawasan terhadap petugasnya yang ada dilapangan sebagai bentuk tanggung jawab dan perlindungan hokum bagi konsumen dengan memberikan informasi yang benar dalam polis perusahaan asuransi dikelola lebih proposional. lebih teliti dan menyerap informasi produk dari perusahaan asuransi tersebut. Pembatalan polis seperti ini tentunya sangat merugikan konsumen dengan melakukan pembaruan polis. namun konsumen harus hati – hati. baik perorangan atau pun badan hokum. Namun domisili perusahaan asuransi tersebut tidak tetap. Ibarat berjalan di atas buih air. tidak ada perebutan nasabah di lapangan. dalam kasus ini konsumen jelas dirugikan karena terikat dengan perjanjian yang tidak jelas dan dalam pelaksanaannya tidak ada iktikad baik dari pelaku usaha. bahkan Undang – undang No. Apabila konsumen ragu – ragu supaya tidak memberi harapan pada pihak pemasaran. tindakan pembatalan polis ini sama saja dengan sikap mengelakn dari tanggung jawab yang dibebakan hokum kepada perusahaan asuransi. Menyikapi hak konsumen atas informasi produk asuransi. modal tidak jelas akhirnya waktu jatuh tempo premi yang berupa emas tersebut dilarikan. seharusnya pihak asuransi tidak hanya membekali petugas pemsarannya dengan berbagai keunggulan produk asuransinya tetapi mengenai juga ketentuan umum polis. Perusahaan asuransi seharunya melayani dan melindungi sebaik –baiknya konsumen yang mengalami kejadian ini. Menurut Laily Zuriah selaku sekretaris BPSK Kota malang untuk kasus asuransi. Yang terakhir ini wajib pula diinformasikan kepada calon konsumen secara jujur da proposional.? konsekuensinya. tindakkan petugas itu menjadi tanggung jawab perusahaan asuransi. . Iklim deregulasi hokum. Semartono selaku kepala disperindag sekaligus ketua BPSK kota malang memberikan masukan agar konsumen lebih berhati – hati serta teliti dalam membeli produk asuransi. tempat kedudukan tidak jelas. melakukan praktik dengan benar. bertindak untuk dan atas nama perusahaan asuransi.bukan kah petugas premi. karena terkadang informasi awal dari suatu produk asuransi belum belum tentu sesuai dengan yang dijanjikan dalam pelksanaannya sebaliknya meminta bukti otentik sebagai dokumen tertulis pasda waktu pembayaran premi..diperhitungkan menurut kurs Bank Indonesia atau kurs yang berlaku sesuai pengumuman otoritas moneter pada saat jatuh tempo.

PENYELESAIAN SENGEKETA DIPERADILAN UMUM Sengketa konsumen dibatasi pada sengketa perdata. pelanggan dan lain – lain tidak dapat berbuat sesuatu kecuali terpaksa menerima persyaratan yang disodorkan embel – embel take it or leave it baru menyadari kalau dia berada dalam posisi yang lemah kalau mengalami kerugian. 3. . Aspek negatifnya pihak yang berminat. Setiap konsumen yang dirugikan dapat mengugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui pradilan yang berada di lingkungan umum. memakai jasa konsumen. larangan yang ditentukan oleh kepatutan. Pasal 45 ayat 1 UUPK menyatakan : 1. melainkan karena inisiatif dari pihak yang sengketa dalam hal ini pengugat baik itu produsen atau pun konsumen pengadilan yang memberikan pemecahan atas hokum perdata yang tidak dapat bekerja di antara para pihak secara suka rela. Pasal 1339 BW menentukan : perjanjian – perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal – hal yang dengan tegas dinyatakan didalamnya tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat dari persetujuan itu diharuskan oleh kepatutan. Sebelumnya itu berarti surat gugatan harus sudah dipersiapkan terlebih dahulu secara teliti dan cermat. Istilah produsen berperkara didahului dengan pendaftaran surat gugatan dikepanitraan perkara perdata dipengadilan negeri. Pasal 1338 ayat (3) BW menentukan semua perjanjian yang dibuat pihak – pihak harus dilaksanakan dengan iktikad baik. pasal ini ditafsirkan bahwa isi atau klausul – klausul suatu perjanjian tidak boleh bertentangan dengan undang – undang. apabila kausa itu dilarang oleh undang – undang atau bertentangan dengan modal atau dengan ketertiban umum. dan/atau ketertiban umum. kebiasaan dan undang – undang merupakan juga syarat – syarat dari satu perjanjian. kebiasaan. Oleh karena itu perjanjian baku dalam hal ini termasuk polis asuransi mengandung aspek positif dan asfek negative. atau undang – undang. Masuknya suatu sengketa kedepan pengadilan bukanlah karena kegiatan sang hakim. 2. Pasal 1337 BW menentukan: suatu kausa adalah terlarang. Terhadap syarat – syarat baku terhadap masyarakat kita belum memperhatikan kecuali mereka yang pernah mengajukan klaim ganti rugi.Menurut Aloysius R. Entah salah satu pakar hokum perjanjian dan akademisi di malang menjelaskan bahwa dengan pelaksanaan “asas kebebasan berkontrak” yang melahirkan perjanjian baku termasuk asuransi polis asuransi secara umum terbatasi atau dikendalikan oleh ketentuan – ketentuan sebagi berikut: 1. Aspek positifnya ialah perjanjian baku yang dibuat sepihak oleh penangguh mengurangi biaya pembuatan dan waktu berunding di antara para pihak. Dengan kata lain. BAB 8 PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN A. modal. Pasal ini haruslah ditafsirkan bahwa bukan hanya ketentuan kebiasaan dan undang – undang yang membolehkan atau berisi suruhan saja yang mengikat atau berlaku bagi suatu perjanjian tetapi juga ketentuan yang melarang mengikat atau berlaku bagi perjanjian itu.

.2. 3. sehingga sengketa konsumen ini pun dapat bersifat trans nasional. yaitu berbentuk badan hokum atau yayasan yang dalam anggaran dasarnya menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan yang didirikannya organisasi itu ialah untuk kepentingan perlindungan konsumen dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggran dasar. Seorang konsumen yang dirugikan yang bersangkutan 2. Sekelompok konsumen yang mempunyai yang sama 3. misalnya dibidang administrasi Negara. tidak hanya diwakilkan oleh jaksa dalam penuntutan peradilan umum untuk kasus pidana tetapi ia sendiri dapat juga mengugat pihak lain lingkungan peradilan tata usaha Negara jika terdapat sengeketa administrasi didalamnya. mengingat makin banyaknya perusahaan multinasional yang beroprasi di Indonesia juga tidak menutup kemungkinan ada konsumen yang menggugat pelaku usaha diperadilan Negara lain. 4. Pemerintah terkait jika barang dan jasa yang konsumsi mengakibatkan kerugian materi yang besar dan korban yang tidak sedikit. konsumen yang dirugikan haknya. Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat. pihak konsumen yang diberikan hak konsumen mengajukan gugatan menurut pasal 46 UUPK adalah : 1. Hal yang dikemukan terakhir ini dapat terjadi. Penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau diluar pengadilan berdasarkan pilihan suka rela para pihak yang bersengketa. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 tidak menghilangkan tanggung jawab pidana sebagai mana diatur dalam undang – undang. Dalam kasus perdata diperadilan negeri . Dari pernyataan pasal 45 ayat 3 jelas seharusnya bukan hanya tanggung jawab pidana yang tetap dibuka kesempatannya untuk diperkarakan melainkan juga tanggung jawab lainnya. 4. misalnya dalam kaitannya dengan kebijakan aparat pemerintah yang ternyata dipandang merugikan konsumen secara individual bahkan. Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu pihak atau oleh pihak yang bersengketa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful