HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN OLEH: CELINA TRI SIWI KRISTIYANTI, S.H., M.Hum.

DOSEN: H. ZULKARNAIN IBRAHIM, S.H., M.Hum.

OLEH:
YOPI PEBRI (hlm 1-32) 02091401012 FARID AKBAR (hlm 33-68) 02091401089 INDAH PERMATA (hlm 69-100) 02091401043 FIRANDHIKA (hlm 101-134) 02091401073 BUNGA SUKMAWATI (hlm 135-170) 02091401049 LANIARI RIZKI (hlm 171-202) 02091401193

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SRIWIJAYA KAMPUS PALEMBANG TAHUN AJARAN 2010/2011

BAB 1 LATAR BELAKANG HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN

A.PENGANTAR Hukum perlindungan konsumen dewasa ini mendapat cukup perhatian karena menyangkut aturan-aturan guna mensejahterakan masyarakat, bukan saja masyarakat selaku konsumen saja yang mendapat perlindungan, namun pelaku usaha juga mempunyai hak yang sama untuk mendapat perlindungan, masing-masing ada hak dan kewajiban. Pemerintah berperan mengatur, mengawasi dan mengontrol, sehingga tercipta sistem yang kondusif saling berkaitan satu dengn yang lain dengan demikian tujuan menyejahterakan masyarakat secara luas dapat tercapai. Perhatian terhada perlindungan konsumen, terutama di amerika serikat (19601970-an) mengalami perkembangan yang sangat signifikan dan menjadi objek kajian bidang ekonomi, sosial, politik, dan hukum. Banyak sekali artikel dan buku yang ditulis berkenaan dengan gerakan ini. Di Amerika Serikat bahkan pada era tahuntahun tersebut berhasil diundangkan banyak peraturan dan dijatuhkan putusan-putusan hakim yang memperkuat kedudukan konsumen. Fokus gerakan perlindungan konsumen (konsumerisme) dewasa ini sebenar nya masih paralel dengan gerakan pertengahan abad ke-20. Di indonesia, gerakan perlindungan konsumen menggema dari gerakan serupa di Amerika Serikat. YLKI yang secara populer di pandang sebagai perintis advokasi konsumen di indonesia berdiri pada kurun waktu itu, yakni 11 mei 1973. Gerakan di indonesia ini termasuk cukup responsif terhadap keadaan, bahkan mendahului Resolusi Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC) No. 2111 Tahun 1978 tentang Perlindungan Konsumen. Sekali pun demikian, tidak berarti sebelum ada YLKI perhatian terhadap konsumen di Indonesia sama sekali terabaikan. Beberapa produk hukum yang ada, bahkan yang diberlakukan sejak zaman kolonial menyinggung sendi-sendi penting perlindungan konsumen. Dilihat dari kuantitas dan materi muatan produk huum itu dibanding kan dengan keadaan di negara-negara maju (terutama Amerika Serikat), kondisi di indonesia masih jauh menggembirakan. Walaupun begitu, keberadaan peraturan hukum bukan satu-satunya ukuran untuk menilai keberhasilan gerakan perlindungan konsumen. Gerakan ini seharusnya bersifat massal dan membutuhkan kemauan politik yang besar untuk mengapliksikannya. Secara umum,sejarah gerakan perlindungan konsumen dapat dibagi dalam empt tahapan. 1. Tahapan I(1881-1914) Kurun waktu ini titik awal munculnya kesadaran masrayakat untuk melakukan gerakan perlindungan konsumen. Pemicunya, histeria massal akibat novel karya Upton Sinclair berjudul The jungel, yang menggambarkan cara kerja pabrik pengolahan daging di Amerika Serikat yang sangat tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan. 2. Tahapan II (1920-1940) Pada kurun waktu ini muncul pula buku berjudul Your Money’s Worth karya chase dan schlink. Karya ini mampu menggugah konsumen atas hak-hak mereka dalam jual beli. Pada kurun waktu ini muncul slogan: fair deal, best buy. 3. Tahapan III (1950-1960) Pada dekade 1950-an ini muncul keinginan untuk mempersatukan gerakan perlindungan konsumen dalam lingkup internasional. Dengan diprakarsai oleh

wakil-wakil gerakan konsumen dari amerika Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Australia, dan Belgia, pada 1 april 1960 berdirilah internasional Organisasi of Consumer Union. Semula organisasi ini berpusat di den haag, Belanda, lalu pindah ke Londen, Inggris, pada 1993. dua tahun kemudian IOCU mengubah namanya menjadi Consumen Internasional (CI). 4. Tahapan IV (pasca-1965) Pasca 1965 sebagai masa pemantapan gerakan perlindungan konsumen, baik di tingkat regional maupun internasional. Sampai saat ini dibentuk lima kantor regional, yakni Amerika Latin dan karibia berpusat di Cile, Asia pasifik berpusat di malaysia, Afrika berpusat di Zimbabwe, Eropa Timur dan Tengah berpusat di Inggris dan negara-negara maju juga berpusat di London, Inggris. B.LATAR BELAKANG HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN 1. Globalisasi Ekonomi dan Perdagangan Bebas Negri-negri yang sekarang ini disebut negara-negara maju telah menumpuh pembangunannya melalui tiga tingkat: unifikasi, industrialisasi, dan negara kesejaheraan. Pada tingkat pertama yang menjadi masalah berat adalah bagaimana mencapai integrasi politik untuk menciptakan persatuan dan kesatuan nasional. Tingkat kedua, perjuangan untuk pembangunan ekonomi dan modernisasi politik. Akhirnya pada tingkat ketiga tugas negara yang terutama adalah melindungi rakyat dari sisi negatif industrialisasi, membetulkan kesalahan-kesalahan pada tahap-tahap sebelumnya dengan menekankan kesejahteraan masyarakat. Tingkat-tingkat tersebut dilalui secara berurutan (consecutive) dan memakan waktu yang relatife lama. Persatuan nasional adalah persyaratan untuk memasuki tahap industrialisasi. Industrialisasi merupakan jalan untuk mencapai Negara kesejahteraan. Revolusi industri di Inggris yang dimulai pada abad ke-18 kiranya dapat dianggap sebagai awal proses perubahan pola kehidupan masyarakat yang semula merupakan masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Berkembang dan semakin majunya teknologi kemudian mendorong pula peningkatan volume produksi barang dan jasa. Perkembangan ini juga mengubah hubungan antara penyedia produk dan pemakai produk yang semakin beranjak. Produk barang dan jasa yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia semakin lama semakin canggih, sehingga timbul kesenjangan terhadap kebenaran informasi dan daya tanggap konsumen. Kondisi tersebut kemdian menempatkan konsumen dalam posisi yang lemah. Sejak dua dasawarsa terakhir ini perhatian dunia terhadap masalah perlindungan konsumen semakin meningkat. Gerakan perlindungan konsumen sejak lama dikenal di dunia Barat. Negara-negara di Eropa dan Amerika juga telah lama memiliki peraturan tentang Perlindungan Konsumen. Organisasi Dunia seperti PBB tidak kurang perhatiannya terhadap masalah ini. Hal ini terbukti dengan dikeluarkannya Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa No.39/249 Tahun 1985. Dalam resolusi ini kepentingan konsumen yang harus dilindungi meliputi. a. perlindungan konsumen dari bahaya-bahaya terhadap kesehatan dan keamanannya; b. promosi dan perlindungan kepentingan sosial ekonomi konsumen; c. tersedianya informasi yang memadai bagi konsumen untuk memberikan kemampuan mereka dalam melakukan pilihan yang tepat sesuai dengan kehendak dan kebutuhan pribadi; d. pendidikan konsumen;

meningkatkan intensitas persaingan. Pada masa lalu bisnis internasional hanya dalam bentuk ekspor-impor dan penanaman modal. Globalisasi adalah gerakan perluasan pasar. mengingat sedemikian kompleksnya permasalahan yang menyangkut perlindungan konsumen. aktivitas finansial. Mengingat lemahnya kedudukan konsumen pada umumnya dibandingkan dengan kedudukan produsen yang relatif lebih kuat dalam banyak hal. dalam posisi tunggal/sendiri maupun berkelompok bersama orang lain. selalu ada yang menang dan kalah. turnkey project. dan lain-lain.antara lain menyangkut kualitas. imbal beli. terutama di indonesia. upaya-upaya untuk memberikan perlindungan yang memadai terhadap kepentingan konsumen merupakan suatu hal yamg penting dan mendesak untuk segera dicari solusinya. Kini transaksi menjadi beraneka ragam dan rumit. mengingat makin lajunya ilmu pengetahuan dan teknologiyang merupakan motor penggerak bagi produktivitas dan efisiensi produsen atas barang dan jasa yang dihasilkan dalam rangka mencapai sasaran usaha. yang akan membawa akibat pada komposisi masyarakat dan kondisi kehidupan mereka. konsumen lah yang pada umumnya merasakan dampaknya. Konsumen yang keberadaannya sangat tidak terbatas dengan strata yang sangat bervariasi menyebabkan produsen melakukan kegiatan pemasaran dan distribusi produk barang atau jasa dengan cara seefektif mungkin agar dapat mencapai mencapai konsumen yang sangat majemuk tersebut. Keadaan yang universal ini pada beberapa sisi menunjukkan adanya beberapa kelemahan pada konsumen sehingga konsumen tidak mempunyai kedudukan yang “aman’’. Tiadanya perlindungan konsumen adalah sebagian dari gejala negri yang kalah dalam perdagangan bebas. Dalam rangka mengejar dan mencapai kedua hal tersebut. aliansi strategis internasional. Manufaktur. perdagangan. Dampak buruk yang lazim terjadi. investasi melewati batas-batas negara. lebih-lebih menyongsong era perdagangan bebas yang akan datang. termasuk keadaan yang menjuruspada tindakan yang bersifat negatf bahkan tidak terpujiyang berawal dari iktikad buruk. alih teknologi.e. Persaingan perdagangan internasional dapat membawa implikasi negatif bagi perlindungan konsumen. perlindungan konsumen harus mendapat perhatian yang lebih. Globalisasi menyebabkan berkembangnya saling ketergantungan pelaku ekonomi dunia. dan disemua pasar yang berdasarkan persaingan. Gejala ini dipercepat oleh kemajuan komunikasi dan transportasi teknologi. seperti kontrak pembuatan barang. dalam keadaan apapun pasti menjadi konsumen untuk suatu produk barang atau jasa tertentu. Perdagangan bebas juga menambah kesenjangan antara negara maju dan negara pinggiran (periphery). waralaba. karena investasi asing telah menjadi bagian pembangunan ekonomi indonesia. f. Oleh karena itu. tersedianya upaya ganti rugi yang efektif. dimana ekonomi indonesia juga telah berkait dengan ekonomi dunia. . Perlindungan terhadap konsumen dipandang secara material maupun formal makin terasa sangat penting. secara mendasar konsumen juga membutuhkan perlindungan hukum yang sifatnya universal. atau mutu barang. informasi yang tidak jelas bahkan menyesatkan pemalsuan dan sebagainya. kebebasan untuk membentuk organisasi konsumen. Setiap orang. maka pembahasan perlindungan konsumen akan terasa aktual dan selalu penting untuk dikaji ulang. Untuk itu semua cara pendekatan diupayakan sehingga mungkin menimbulkan berbagai dampak. Dengan demikian. pada suatu waktu. akhirnya baik langsung maupun tidak langsung.

Ketiga. yaitu dengan pembaruan pemasaran marketing mix atau 4p ( product. ekonomi. Disamping itu juga terjadi perubahan pada tujuan pemasaran. Perlindungan konsumen dalam era pasar global menjadi sangat penting. cara pandang dan cara pendekatan mengenai banyak hal termasuk strategi pemasaran. dengan menjual atau membujuk pelanggan potensial untuk menukar uangnya dengan produk perusahaan. melalui bebagai kesepakatan internasional seperti GATT (General Ageement on Trade and Tarif). tetapi cara pencapaian mejadi luas. sebagai konsep baru pemasaran. masyarakat dan negara). Kedua. Persaingan yang makin ketat ini juga dapat memberikan dampak negatif terhadap konsumen pada umumnya. yaitu dari laba menjadi keuntungan pihak yang berkepentingan (yaitu orang perorangan atau kelompok yang mempunyai kepentingan dalam kegiatan perusahaan termasuk di dalamnya karyawan. karena pertama konsumen disamping mempunyai hak-hak yang bersifat universal juga mempunyai hak-hak yang bersifat sangat spesifik (baik situasi maupun kondisi). dunia usaha dan masyarakat konsumen Indonesia. sosial. Saat ini sasaran setiap negara. dengan pembaruan dari konsep pemasaran menjadi konsep strategi. konsep pemasaran pada awalnya adalah memfokuskan pada produk yang lebih baik yang berdasarkan pada standar dan nilai internal. Hubungan antara Produsen dan Konsumen Sudah menjadi komitmen Pemerintah Indonesia. Pemikiran konsep secara luas dan kajian dari aspek hukum pun juga membutuhkan wawasan hukum yang luas. Berhasil tidaknya Indonesia memanfaatkan era perdagangan bebas. sehingga tidaklah dapat dikaji dari aspek hukum semata-mata. peraturan pemerintah serta kekuatan makro. upaya mempertahankan pelanggan/konsumen atau mempertahankan pasar atau memperoleh kawasan pasar baru yang lebih luas. harga. Bertolak dari rangkaian perubahan konsep pemasaran tersebut. Hal ini sangat penting mengingat kepentingan konsumen pada dasar nya sudah ada sejak awal sebelum barang/jasa diproduksi selama dalam proses produksi sampai pada saat distribusi sehingga sampai ditangan konsumen untuk dimanfaatkan secara maksimal. Sasaran masih tetap pada laba. AFTA (Asean Free Trade Area) dan lain-lain. promotion. Hal ini dilakukan dengan tujuan memperoleh laba. Konsep-konsep dipandang dari strategi pemasaran global telah berubah dari waktu ke waktu. pelanggan. and place) produk. mengingat makin ketatnya persaingan untuk berusaha. perlindungan terhadap konsumen juga membutuhkan pemikiran yang luas pula. price. pada dekade enam puluhan fokus pemasaran dialihkan dari produk kepada pelanggan. merupakan dambaan bagi setiap produsen. promosi dan saluran distribusi. Orientasi pemasaran global pada dasarnya dapat mengubah berbagai konsep. kebijakan yang berlaku. WTO (World Trade Organization). setiap perusahaan (setiap produsen) adalah menuju pada pemasaran global. politik secara luas.manajemen. Perubahan pemasaran tersebut membawa pengaruh pula pada konsep perlindungan konsumen secara global. 2. sebagaimana tahapan berikut: Pertama. Era perdagangan bebas merupakan suatu era kemana pemasaran merupakan suatu disiplin universal.Pada situasi ekonomi global dan menuju eraperdagangan bebas. sangat tergantung pada kesiapan pemerintah. Konsep strategi pemasaran pada dasrnya mengubah fokus pemasaran dari pelanggan atau produk kepada pelanggan dalam konteks lingkungan eksternal yang lebih luas. Dibandingkan pemerintah dan . Indonesia menjadi salah satu pelaku dalam era pedagangan bebas. Untuk itu harus memanfaatkan pelanggan yang ada termasuk pesaing.

menurut Customers Internasional (CI) anggapan dasar ini tidak selalu menjadi kenyataan. Alasannya. 3) Trade policy. Logika gagasan ini adalah. Di negara maju buah impor ditolak karena kandungan/residu pestisida di atas ambang batas yang membahayakan kesehatan. satu tanggapan defensif oleh perusahaanperusahaan yang membeli barang dari kartel ekspor. (2) Resale price maintenance: penjual merancang harga yang dapat dibebankan kepada konsumen. posisi konsumen khususnya di negara berkembang dirugikan. baik berupa barang dan jasa. b) penetapan target impor. lemahnya produk perundang-undangan. Dalam kenyataan. a) undang-undang anti dumping. dari segi jenis/macam barang. konsumen lebih banyak pilihan dalam menentukan berbagai kebutuhan. Seperti (1) Tied selling: penjual memaksa pembeli untuk membeli barang dan jasa lebih daripada yang dibutuhkan pembeli. Contoh kasus buah impor.(b) kartel internasional. . Pertama. persetujuan di antara perusahaan atas harga ekspor.satu perusahaan atau lebih bergerak untuk menciptakan monopoli di luar batas yurisdiksi satu Negara. akan menjadikan konsumen negara dunia ketiga menjadi sampah berbagai produk yang di negara maju tidak memenuhi persyaratan untuk dipasarkan. c) penetapan kouta ekspor. sementara di negara bekembang bebas masuk karena belum ada standardisasi mutu buah impor. Anggapan dasar dalam pasar bebas adalah adanya arus informasi yang sempurna yang memberi kemungkinan pada pembeli dan penjual untuk memilih barang dan jasa secara rasional. Oleh karena itu. agar era perdagangan bebas bagi konsumen benar-benar menjadi anugrah. persyaratan-persyaratan apa yang harus ada dalam pranata hukum Indonesia. b) kartel impor. satu cara dari perusahaan untuk membatasi akses pasar bagi perusahaan asing. mengingat dalam praktik. 1) Cross border business agreement. banyak sekali peraturanperaturan yang justru bernuansa anti persaingan. praktis belum ada pihak yang menyentuh bagaimana mempersiapkan konsumen Indonesia menghadapi pasar bebas.satu tindakan bersama dari babaraa perusahaan dari berbagai negara untuk membagi pasar dan menetapkan harga. (6) Differential pricing: pemasok menentukan harga berbeda kepada pembeli yang berbeda atas dasar selain mutu dan jumlah yang dilepas. (5) Refusal to deal: satu pemasok memaksa seseorang pembeli untuk menaati satu mandat tertentu dibawah ancaman penarikan barang dan jasa. posisi konsumen diuntungkan. Permasalahannya. maupun harga. 2) Industrial policy: a) kartel ekspor. Ada dua asumsi dalam melihat posisi konsumen di era pasar bebas. (4) Reciprokal exclusiveity: penjual menyetujui hanya menjual barang dan jasa dari pemasok saja. masih lemah nya pengawasan dibidang standardisasi mutu barang. persekongkolan diantara perusahaan yang bersaing untuk mengembangkan produk atau penelitian. dengan adanya liberalisasi perdagangan arus keluar masuk barang menjadi semakin lancar.dunia usaha. (c) persekongkolan bisnis strategis. Kedua. satu cara untuk menangkal purusahaan asing membanjiri barang dan jasa yang lebih murah dari pada harga yang ditetapkan oleh perusahaan di dalam negri. mutu. a) merger dan akuisisi. (3) exclusive dealing: dua penjual atau lebih menciptakan monopoli lokal dengan persetujuan untuk berbagai pasarke dalam wilayah-wilayah. (7) Predatory pricing: penjual menentukan perbedaan harga dengan tujuan untuk mendorong pesaing keluar dari bisnis. bukan sebaliknya justru menjadi musibah. c) kartel domestik. serta adanya kemudahan keluar masuk barang ke dalam pasar tanpa halangan.

Rangkaian kegiatan tersebut merupakan rangkaian perbuatan dan perbuatan hukum yang tidak mempunyai akibat hukum dan yang mempunyai akibat hukum baik terhadap semua pihak maupun hanya terhadap pihak tertentu saja. yakni adanya permintaan yang meningkat dari masyarakat sehingga produsen dituntut untuk meningkatkan produktivitasnya. jadi tidak membebani produsen dengan tanggung jawab. dan sebagainya. syarat pengemasan. Perlunya undang-undang perlindungan konsumen tidak lain karena lemahnya posisi konsumen dibandingkan posisi produsen. tetapi juga melindungi hak-haknya untuk melakukan usaha dengan jujur: (2) aparat pelaksa hukumnya harus dibekali dengan sarana yang memadai dan disertai dengan tanggung jawab. Secara tidak langsung.Dari apa yang telah dipaparkan CI diatas. tidak mungkin produsen dapat terjamin kelangsungan usahanya. Hubungan tersebut terjadi karena keduanya memang saling menghendaki dan mempunyai tingkat ketergantungan yang cukup tinggi antara yang satu dengan yang lain. (3) Peningkatan kesadaran konsumen akan hak-haknya. semua tujuan tersebut hanya dapat dicapai bila hukum perlindungan konsumen dapat diterapkan secara konsekuen. (4) mengubah sistem nilai dalam masyarakat ke arah sikap tindak yang mendukung pelaksanaan perlindungan konsumen. karna sifatnya yang massal. distribusi pada pemasaran dan penawaran. Karena sifatnya yang masal tersebut. hukum ini juga akan mendorong produsen untuk melakukan usaha dengan penuh tanggung jawab. syarat kesehatan. Proses sampai hasil produksi barang atau jasa dilakukan tanpa campur tangan konsumen sedikit pun. Hal tersebut secara sistematis dimanpaatkan oleh produsen dalam suatu sistem distribusi dan pemasaran produk barang guna mencapai tingkat produktivitas dan efektivitas dalam rangka mencapai sasaran usaha. cara prosedur produksi. syarat lingkungan. Untuk itu perlu diatur perlidungan konsumen berdasarkan undang-undang antara lain menyangkut mutu barang. konsumen kebutuhannya sangat bergantung dari hasil produksi produsen. sesuai dengan tingkat ketergantungan akan kebutuhan yang tidak terputus-putus. Produsen sangat membutuhkan dan sangat bergantung atas dukungan konsumen sebagai pelanggan. . dengan jelas terlihat bahwa kedudukan konsumendi dalam era perdagangan babas sangat lemah. Namun. Untuk mewujutkan harapan tersebut. Tanpa dukungan konsumen. Sapai pada tahapan hubungan penyaluran atau distribusi tersebut menghasilkan suatu hubungan yang sifatnya massal. antara lain: (1) hukum perlindungan konsumen harus adil bagi konsumen maupun produsen. hubungan antara produsen (perusahaan penghasilan barang dan/atau jasa) dengan konsumen (pemakai akhir dari barang dan/atau jasa untuk dari sendiri ataukeluarganya) merupakan hubungan yang terus-menerus dan berkesinambungan. perlu dipenuhi beberapa persyaratan minimal. Saling ketergantungan karena kebutuhan tersebut dapat menciptakan suatu hubungan yang terus-menerus dan berkesinambungan sepanjang masa. yakni adanya permintaan yang meningkat dari masyarakat sehingga produsen dituntut untuk meningkatkan produktifitasnya. Sebaliknya. Tujuan hukum pelindungan konsmen secara langsung adalah untuk meningketkan martabat dan kesadaran konsumen. Secara umum dan mendasar. maka peran negara sangat dibutuhkandalam rangka melindungi kepentingan konsumen pada umumnya. Hubungan antara produsen dan konsumen yang berkelanjutan sejak proses produksi.

hubungan hokum seringkali melemahkan posisi konsumen karena secara sepihak para produsen/distributor sudah menyiapkan satu kondisi perjanjian dengan adanya perjanjian baku. usaha produsen tidak akan dapt berkembang dengan baik bila konsumen berada pada kondisi yang tidak sehat akibat banyaknya produk yang cacat.Dipenghuninya persyaratan diatas akan mengangkat harkat Dan martabat konsumen. Diawali dengan sistem pengawasan tarhadap mutu dan kesehatan serta ketepatan pemanfaatan bahan untuk sasaran produk. konsumen dan sistem perlindungan konsumen. Paa era pasar bebas dimana hubungan produsen dan konsumen menjadi makin dekat dan makin terbuka. harga dari satu jenis komoditas tertentu. penawaran dan syarat perjanjian. hukum perdata lah yang lebih dominan dalam rangka melindungi masing-masing pihak. Kedala yang dihadapi dalam upaya perlindungan konsumen di indonesia tidak terbatas pada rendahnya kesadaran konsumen akan hak. yaitu antarnegara asosiasi produsen sejenis. tetapi juga akan merugikan produsen yang jujur dan bertanggung jawab. yaitu guna mengatur pola hubungan rodusen. 2. kerja sama antarnegara. (3) kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan usaha bagi produsen yang bertanggung jawab dapat diwujudkan tidak dengan jalan merugikan kepentingan .Bertolak dari luas dan komleksnya hubungan antara produsen dan konsumen serta banyaknya mata rantai penghubung keduanya. dan sebagainya. Dalam praktik nya. tetapi juga adanya persepsi yang salah dikalangan sebagian besar produsen bahwa perlindungan terhadap konsumen akan menimbulkan kerugian terhadap rodusen. kebutuhan para pihak pada rentang waktu tertentu. dan makin bervariasi. 3. Keadaan-keadaan seperti di atas. Hubungan antara produsen dan konsumen yang bersifat massal tersebut menciptakan hubungan secara individual/personal sebagai hubungan hukum yang spesifik. sehingga mereka juga dapat diakui sebagai salah satu subjek dalam sistem perekonomian nasional di samping BUMN. yang sangat dipengaruhi oleh berbagai keadaan antara lain: 1. Hubungan hukum yang spesifik ini sangat bervariasi. Kecurangan ini tidak hanya merugikan konsumen saja. 4. Persepsi yang keliru di kalangan pengusaha ini akan dengan mudah diluruskan apabila disadari beberapa pertimbangan berikut ini. dan kerja sama internasional sangat dibutuhkan. maka untuk melindungi konsumen sebagai pemakai akhir dari produk barang atau jasa. (1) bahwa konsumen dan produsen adalah pasangan yang saling membutuhkan. yang syarat-syaratnya secara sepihak ditentukan pula oleh produsen atau jaringan distributornya. sebelum dan purna jual. kondisi. (2) bahwa ada produsen yang melakukan kecurangan dalam melakukan kegiatan usahanya. koprasi. Sistem perlindungan tersebut tidak dapat hanya memanfaatkan perangkat hukum nasional saja. tetapi membutuhkan pula perangkat hukum internasional dalam jaringan kerja sama antar negara dan kerja sama internasional. dibutuhkan berbagai aspek hukum agar konsumen dapat dilindungi dengan adil sejak awal produksi. terbuka. Hal ini sangat penting mengingat konflik antara negara dan pihak berkepentingan di dalam era perdagangan bebas makin luas. antar kawasan ekonomi. pada dasarnya akan sangat mempengaruhi dan menciptakan kondisi perjanjian yang juga sangat bervariasi. dan usaha swasta. dan bahkan antarpara pihak yang mempunyai pengaruh untuk produk tertentu dalam rangka memperebutkan pasar. Untuk itu aspek hukum publik sangat dominan. Campur tangan negara. fasilitas yang ada. Setelah hubungan bersifat personal.

Nasution berkaitan dengan kaidah-kaidah hukum perlindungan konsumen yang senantiasa bersifat mengatur. Ada juga yang berpedapat. hukum administrasi (negara) dan hukum internasional terutama konvensi-konvensi yang berkaitan dengan kepentingan-kepentingan konsumen.Leder menyatakan: In a sense there is not such creature as consumer law.J. tetapi ditanggung bersama oleh seluruh konsumen yang memakai produk yang cacat. Seharusnya ketentuan memaksa dalam pasal 383 KUHP juga memenuhi syarat untuk dimasukkan kedalam wilayah hukum perlindungan konsumen. (2) mengenai jenis keadaan atau banyaknya barang yang diserahkan dengan menggunakan tipu muslihat. Az. (4) bahwa beban kompensasi atas kerugian konsumen akibat pemakaian produk cacat telah diperhitungkan dalam komonen produksi. Nasution mengakui. Nasution. dan juga mengandung sifat yang melindungi kepentingan konsumen. apakah kedua“cabang’’ hukum itu identik. Diancam dengan pidana paling lama satu tahun empat bulan. seorang penjual yang berbuat crang terhadap pembeli: (1) karena sengaja menberikan barang lain daripada yang ditunjuk untuk dibeli. melainkan oleh sistem perangkat hukum yang mampu memberikan perlindungan yang simultan dan komperehensif sehingga terjadi persaingan yang jujur yang secara langsung atau tidak langsung akan menguntungkan konsumen. . belum jelas benar apa yang masuk kedalam materi keduanya. tetai dapat dicapai melalui penindakan terhadap produsen yang melakukan kecurangan dalam melakukan kegiatan usahanya. di dalam pergaulan hidup. sebenarnya hukum konsumen dan hukum perlindungan konsumen adalah dua bidang hukum yang sulit dipisahkan dan ditarik batasnya. Adapun hukum konsumen diartikan sebagai keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan hubungan dan masalah antara berbagai pihak satu sama lain berkaitan dengan barang dan/jasa konsumen. Karena posisi konsumen yang lemah maka ia harus dilindungi oleh hukum. Namun. hukum perlindungan konsumen merupakan bagian dari hukum konsumen yang lebih luas itu. secara hokum sebenarnya hukum konsumen dan hukum perlindungan konsumen ini seperti yang dinyatakan oleh Lowe yakni: …. seperti hukum perdata.konsumen.rules of law which recognize the bargaining weakness of the individual consumer and which ensure that weakness is not unfairly exploited.HUKUM KONSUMEN DAN HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN Istilah“hukum konsumen’’dan“hukum perlindungan konsumen’’sudah sangat sering terdengar. Jadi. misalnya berpendapat bahwa hukum konsumen yang memuat asas-asas atau kaidah-kaidah bersifat mengatur. asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah konsumen itu tersebar dalam berbagai bidang hukum. tetapi memberikan perlindungan terhadap konsumen tidak termasuk dalam hukum perlindungan konsumen? Untuk itu jelasnya dapat dilihat ketentuan Pasal 383 KUHP berikut ini. C. M. Juga. inti persoalannya bukan terletak pada kaedah yang harus “mengatur“ dan “memaksa“. Ia menyebutkan. Apakah kaidah yang sifatnya memaksa. hukum pidana. Az. hukum dagang. baik tertulis maupun tidak tertulis. Sekalipun demikian. Adapun yang masih belum jelas dari pernyataan Az. Bentrok dari keadaan yang demikian. Artinya. sekaligus tujuan hukum itu adalah memberikan perlindungan (pengayoman) kepada masyarakat. Salah satu sifat. perlindungan hukum terhadap hak konsumen tidak dapat diberikan oleh satu aspek hukum saja.

Keduanya tidak dalam kondisi yang berlawanan dan dengan demikian pembangunan akan menarik partisipasi masyarakat.Dengan demikian. pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan social mesti dapat tercermin dalam setiap pengambilan keputusan.GERAKAN PERLINDUNGAN KONSUMEN DI INDONESIA Jika melihat kemajuan perkembangan konsumen di Amerika Serikat. dan singapura. Persatuan nasional. institusi hukum dan profesi hukum. 26. perlindungan konsumen di Indonesia masih tertinggal. antara lain lembaga pembinaan dan perlindungan konsumen (LP2K) di semarang yang berdiri sejak Februari 1988 dan pada 1990 bergabung sebagai anggota consumers international (CI). 11 mei 1973. budaya hokum di Indonesia harus dapat mengakomodasi tujuan-tujuan yang demikian itu. Ide ini dituangkan dalam anggaran dasar yayasan di hadapan Notaris G. hukum konsumen berkala lebih luas meliputi berbagai aspek hukum yang terdapat kepentingan pihak konsumen di dalamnya. sekarang CI) Erna Witoelar. D. Filipina. pembagian yang adil atas hak dan keistimewaan. atinya harus bersaing dengan bangsa-bangsa lain. serta berfungsi memajukan keadialan social. Erman rajagukguk menjelaskan bahwa di Indonesia untuk pertumbuhan ekonomi dan pemerataan dapat dilaksanakan dalam waktu bersamaan. Ajang promosi yang diberi nama pekan swakarya ini menimbulkan ide bagi mereka untuk mendirikan wadah bagi gerakan perlindungan konsumen di Indonesia. Apabila kita ingin tiga tingkat pembangunan di jalani secara serentak. tentu Indonesia masih harus “belajar“ banyak.H. Setelah YLKI. dewasa ini cukup banyak lembaga swadaya masyarakat serupa berorientasi pada kepentingan pelayanan konsumen. yakni dengan berdirinya lembaga swadayamasyarakat (nongovernmental organization) yang bernama yayasan lembaga konsumen Indonesia (YLKI). seyogyanya dikatakan. Diluar itu. Yayasan ini sejak semula tidak ingin berkonfrontasi dengan produsen (pelaku usaha) apalagi dengan pemerintah. Hal ini menjadi tambah penting karena bangsa kita berada dalam era globalisasi. S. Kata aspek hukum ini sangat bergantung pada kemauan kita mengartikan. Dalam mencapai tujuan tersebut diperlukan pembauran hukum. Pembangunan yang komperhensif harus memperhatikan hak-hak manusia. yang mampu menjaga integrasi dan persatuan nasional. kesejahteraan manusia. Ketertinggalan itu tidak hanya dibandingkan dengan Negara-negara sekitar Indonesia. Kartina Sujono Prawirabisma bahwa YLKI bertujuan melindungi konsumen. YLKI muncul dari sekelompok kecil anggota masyarakat yang diketuai oleh lasmidjah hardi. seperti Malaysia. Hal ini dibuktikan benar oleh YLKI. Dalam sambutan guru besar UI.S Loemban Tobing. yakni dengan menyelenggarakan pekan promosi swakarya II dan III yang benar-benar dimanfaatkan oleh kalangan produsen dalam negeri. institusi hukum dan profesi hukum. dengan akta No.H. Dalam suasana kerja sama ini kemudian lahir motto yang dicetuskan oleh Ny. dapat mendorong pertumbuhan perdagangan dan industri. Kita harus memiliki hukum. . tugas dan beban. Dilihat dari sejarahnya gerakan perlindungan konsumen di Indinesia baru benarbenar dipopulerkan sekitar 20 tahun lalu. kemudian muncul beberapa organisasi serupa. menjaga martabat produsen dan membantu pemerintah. Sebagaimana pernah disinyalir oleh ketua internasional organization of consumers union (IOCU. Thailand. yang semula bertujuan mempromosikan hasil produk Indonesia. seperti yayasan lembaga bina konsumen Indonesia (YLBKI) di Bandung dan perwakilan YLKI di berbagai provinsi di tanah air.

peraturan pemerintah atau yang sederajat. Pengalaman menangani kasus-kasus yang merugikan konsumen di negara-negara yang lebih maju dapat dijadikan studi yang bermanfaat sehingga Indonesia tidak perlu lagi harus mengulang keslahan yang serupa. secara rutin menyediakan kolom khusus untuk membahas keluhan-keluhan konsumen. (6) industri. peraturan mentri. Ditinjau dari kemajuan peraturan perundang-undangan di Indonesia dibidang perlindungan konsumen. Selama ini upaya hukum individual dari konsumen untuk menggugat produsen baik pemerintah maupun swasta. tidak banyak membuahkan hasil. Metode kerja YLKI baru pada penelitian terhadap sejumlah produk barang/jasa dan mempublikasikan hasilnya kepada masyarakat. mulai dari ordonansi dan undang-undang. penerbitan dan menerima pengaduan. Demikian pula dengan kasus-kasus kegagalan advokasi konsumen. Keberadaan YLKI juga sangat membantu dalam upaya peningkatan kesadaran atas hak-hak konsumen.h. YLKI dianggap mitra yang representatif. Namun. Lembaga ini tidak sekedar melakukan penelitian atau pengujian. pengaturan yang memuat unsur perlindungan konsumen tersebar pada delapan bidang. (4) kendaraan bermotor. Perhatian produsen terhadap publikasi demikian juga terlihat dari reaksi-reaksi yang diberikan. gugatan massal yang mewakili masyarakat luas. daik dilihat dari kualitas peraturannya maupun kedalaman materi yang dicakupnya. dan (8) lingkungan hidup. keputusan ketua pelaksana bursa komoditi. Beberapa harian besar Nasional. Dari inventarisasi sampai 1991. baik berupa koreksi maupun bantahan. dan keputusan gubernur (d. termasuk yang di prakarsai YLKI mencatat prestasi besar setelah naskah akademik UUPK berhasil di bawa ke DPR. seperti media Indonesia dan Kompas. tetapi sekaligus juga mengadakan upaya advoksasi melalui jalur pengadilan. Demikian juga dalam berbagai pertemuan ilmiah dan pembahasan peraturan perundang-undangan. banyak hakim yang masih ragu-ragu untuk menerimanya. walaupun ada preseden yang mengakui eksistensi gugatan kelompok tersebut. Untuk mewakili gugatan-gugatan di msyarakat. (2) makanan dan minuman. (7) pengawasan mutu barang. Jika dibangdingkan dengan perjalanan panjang gerakan konsumen diluar negeri khususnya di Amerika Serikat. (5) metrology dan tera. masih belum dikenal dengan baik oleh para penegak hukum di Indonesia. sampai saat ini masih sangat minim. Hasil-hasil penelitian YLKI yang dipublikasikan di media massa juga membawa dampak terhadap konsumen. Selanjut nya rancangannya di sahkan menjadi undang-undang. Sementara itu. YLKI dapat menggunakan lembaga hukum gugatan kelompok (class action). keputusan mentri. keputusan dirjen. (3) alat-alat elektronik.i gubernur KDH DKI Jakarta). Gerakan konsumen di Indonesia. Hal ini menunjukan dalam perjalanan memasuki dasawarsa ketiga. YLKI juga tidak sepenuhnya dapat mandiri seperti food and drug administration (FDA). YLKI cukup beruntung karena tidak harus memulainya dari nol sama sekali.YLKI memiliki cabang-cabang di berbagai provinsi dan mempunyai pengaruh yang cukup besar karena didukung oleh media massa. . keputusan bersama dari beberapa mentri. Gerakan ini belum mempunyai kekuatan lobi untuk memberlakukan atau mencabut suatu peraturan. YLKI mampu berperan besar khususnya dalam gerakan menyadarkan konsumen akan hak-haknya. instruksi presiden. yaitu (1) obat-obatan dan bahan berbahaya. Alasan yang utama tentu karena YLKI sendiri bukan badan pemerintah seperti FDA di Amerika Serikat dan tidak memiliki kekuasaan public untuk menerapkan suatu peraturan atau menjatuhkan suatu sanksi. Jenis peraturan perundangundangannya pun bervariasi. instruksi dirjen.

Namun. Stabilitas juga berarti hukum berpotensi untuk menjaga keseimbangan dan mengakomodasi kepentingankepentingan yang saling bersaing.Terlepas dari kondisi ini. predictability. Gerakan konsumen sejak 1960 memiliki wadah yang cukup berwibawa. Perlunya predictability sangat besar di Negara-negara di mana masyarakatnya untuk pertama kali memasuki hubunganhubungan ekonomi melampaui lingkungan tradisional mereka. maka ada kewajiban bagi Indonesia untuk mengikuti standard-standar hukum yang berlaku dan diterima luas oleh Negara-negara anggota WTO. Australia. Sementara Malaysia dan fhilipina memiliki lima organisasi dan Indonesia ada dua organisasi (YLKI Jakarta dan LP2K di semarang). PROSPEK GERAKAN KONSUMEN Perhatian terhadap gerakan perlindungan hak-hak konsumen (konsumerisme) mendapat pengakuan dan dukungan dari dewan ekonomi dan social PBB. education dan kemampuan meramalkan adanya prasyarat untuk berfungsinya system ekonomi. UUPK ini dihasilkan atas inisiatif DPR. Kemudian sejak 1995 berubah nama menjadi cnsumers international (CI). Tanpa mengurangi penghargaan terhadap upaya terus menerus yang dilakukan oleh YLKI. Salah satu diantaranya adalah perlunya eksistensi UUPK. kemudian pada 16 April 1985 dengan resolusinya No. dari perkara yang dibawa ke pengadilan itu belum mampu menghasilkan dampak sebesar seperti yang pernah dilakukan Ralph Nader terhadap General Motors. Aspek keadilan (fairness) seperti persamaan didepan hukum. fairness. Perkembangan baru dibidang perlindungan konsumen terjadi setelah penggantian tampuk kekuasaan di Indonsia. A/RES/39/248 juga disuarakan seruan penghormatan terhadap hak-hak konsumen. Anggota CI mencapai 203 organisasi konsumen berasal dari 90 negara di seluruh dunia. yaitu stability. adalah perlu untuk memelihara mekanisme pasar dan untuk mencegah birokrasi yang berlebihan. Dalam satu Negara dapat saja ada lebih dari satu organisasi konsumen yang terdaftar sebagai anggota CI. 2111 tahun 1978. E. Yaitu tatkala undang-undang No. Setiap 15 maret CI memperingati “hari hak konsumen sedunia“ dan memberi tema berbeda-beda tiap tahun. UUPK ini masih memerlukan waktu satu tahun untuk berlaku efektif. Misalnya pada tahun 1994 dikumandangkan tema sentral hak konsumen untuk memperoleh kebutuhan pokok. antara lain terhadap PT Persero Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Telkom. 7 tahun 1994 tentang agreement establishing the world trade organization (persetujuan pembentukan organisasi perdagangan dunia). 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen (UUPK) disahkan dan diundangkan pada 20 April 1999. 1966. . YLKI mencoba mengajukan gugatan kelompok kepada pemerintah dalam berbagai kasus. yang notabene hak itu tidak pernah sejak orde baru berkuasa pada 1966. dengan resolusinya No. Hukum yang kondusif bagi pembangunan sedikitnya mengandung lima kualitas. yang disebut intenational organization of comsumers unions (IOCU). Setelah pemerintah RI mengesahkan undang-undang No. Tidak adanya standar yang adil dan apa yang tidak adil adalah masalah besar yang dihadapi Negaranegara berkembang. misalnya mempunyai 15 organisasi anggota CI. standard sikap pemerintah. Dalam jangka panjang ketiadaan standar tersebut menjadi sebab utama hilangnya ligitimilasi pemerintah. andil terbesar yang “memaksa“ kehadiran UUPK ini adalah juga karena cukup kuatnya tekanan dari dunia internasional.

Tentu mereka memilih yang terbaik diantara produk barang/jasa yang tersedia. antara lain melalui perjanjian-perjanjian internasional. Modal seperti air yang mencari tempat yang sesuai. Jika tidak.Hak atas kebutuhan pokok ini tidak terbatas pada pangan. globalisasi teknologi. transparency kemudian menjadi substansi peraturan-peraturan nasional Negaranegara anggota. yakni mulai beralihnya isu-isu konsumen dari sekedar mempersoalkan mutu menuju kearah yang lebih berskala makro dan universal. hak milik intelektual. dan mempengaruhi kesadaran konsumen lokal untuk berbuat hal yang sama. gerakan konsumen global ditandai oleh globalisasi diberbagai bidang. national treatment. . Globalisasi juga menyebabkan terjadi globalisasi hukum. investasi melewati batas-batas negara meningkatkan intensitas persaingan. Globalisasi menyebabkan berkembangnya saling ketergantungan pelaku-pelaku ekonomi dunia. obat-obatan. antara ain dengan terbenuknya lembaga pengkajian pangan. Hal ini tampak dari dihilangkannya dinding-dinding tarif sehingga dunia menjadi satu pasar. Ketiga. Teknologi dibidang pengemasan yang diterapkan di Amerika Serikat. bahkan saat ini sertifikasi itu sudah berjalan. globalisasi produksi. Konsumen Indonesia merupakan bagian dari konsumen global. Itu berarti masalah mutu barang dari jumlah ketersediaannya dipasaran tidak lagi menjadi keprihatinan utama karena produsen dengan sendirinya berlomba-lomba untuk memenuhinya. globalisasi ekonomi menimbulkan akibat yang besar sekali pada bidang hukum. tetapi pada kebutuhan listrik. Keempat. Menurut Emil Salim. Globalisasi hukum terjadi melalui usaha-usaha standardinasi hukum. maka dewasa ini tuntutan itu demikian kuat bergema. Persaingan antar produsen saat ini semakin ketat dan dan yang dihadapi bukan lagi competitor dalam negeri. misalnya. gejala ini dipercepat oleh kemajuan komunikasi dan transportasi teknologi. tidak ada produk yang hanya dibuat di satu negara. mencantumkan beberapa ketentuan yang harus di penuhi di Negara-negara anggota berkaitan dengan penanaman modal. produsen demikian akan kalah dalam persaingan. Konsumen kita menjadi konsumen global. tampak makin kritis. Bagaimanapun juga karakteristik dan hambatannya. sandang. misalnya cepat diadopsi kenegara lain. sebagian komponennya dibuat diberbagai negara di luar jepang. Uang tidak lagi mengenal bendera. sehingga gerakan konsumen di dunia internasioanal mau tak mau menembus batas-batas Negara. Perhatian konsumen di dalam negeri sama dengan perhatian konsumen di berbagai negara. Faktor kedua. globalisasi finansial. General agreement on tariff and trade (GATT) misalnya. Dalam hal ini berarti. Toyota. globalisasi hukum tersebut tidak hanya didasrkan pada kesepakatan internasional antarbangsa tetapi juga pemahaman tradisi hukum dan budaya antara barat dan timur. Jika dulu masih banyak yang belum berani menyuarakan agar di Indonesia dilakukan sertifikasi “halal” untuk produkproduk tertentu. konsumen mempunyai banyak pilihan terhadap produk barang/jasa yang dikonsumsinya. Globalisasi keempat ini membawa konsekuensi makin tergesernya alat-alat produksi tradissional mengarah kepada modernisasi dan mekanisasi. air minum. dan kosmetika majelis ulama Indonesia (LP POM MUI). Hal ini berarti. termasuk masyarakat indonesia. Disamping itu. Gejala-gejala itu memberi pengaruh pada gerakan konsumen didunia dan di indonesia. dan segera mengubah pola dibidang terkait. tuntutan-tuntutan masyarakat dunia internasional. perdagangan. Pertama. pos dan telekomunikasi. most favored nation. dan papan. Manufaktur. dan jasa prinsip-prinsip non-discrimination. globalisasi perdagangan.

adalah siap dengan pembangunan unsur-unsur system hukumnya. Check and balance hanya bisa dicapai dengan parlemen yang kuat. dan organisasi konsumen lain di bandung. Arus tuntutan konsumen melalui gerakan-gerakan tadi makin lama makin deras. Tujuan penggunaan barang atau jasa nanti menentukan termasuk konsumen kelompok mana pengguna tersebut. pada masa-masa mendatang menghadapi suasana yang jauh lebih kompleks. PENGERTIAN KONSUMEN. DAN KEWAJIBANNYA Sebagai suatu konsep. perdagangan. Dalam naskah akademik . Di Indonesia telah pula berdiri berbagai organisasi konsumen seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) di Jakarta. Kesiapan tersebut tidak sekedar dalam arti “siap bersaing dan berinovasi”. sehingga tidak mustahil menimbulkan instabilitas bagi negara-negara yang produsen dan pemerintahnya belum siap benar. tidak ada jaminan peraturan-peraturan tersebut memberikan hasil yang sama disemua tempat. berbagai negara telah pula menetapkan hak-hak konsumen yang digunakan sebagai landasan pengaturan perlindungan konsumen konsumen. gerakan konsumen. Di samping itu.Globalisasi hukum akan menyebabkan peraturan-peraturan Negara-negara berkembang mengenai investasi. Friedman. lingkungan. Alhasil. pengadilan yang mandiri dan partisipasi masyarakat melalui lembaga-lembaganya. Apa yang disebut hukum itu tergantung pada persepsi masyarakat. Begitu pula kamus indonesia-inggris memberi arti kata consumer sebagai pemakai atau konsumen. Namun. “konsumen“ telah diperkenalkan beberapa puluh tahun lalu diberbagai negara dan sampai saat ini sudah puluhan negara memiliki undang-undang atau peraturan khusus yang memberikan perlindungan kepada konsumen termasuk sarana penyediaan peradilannya. Istilah konsumen berasal dari alih bahasa dari kata consumer (inggris-amerika). budaya. yaitu international organiztion of consumers unions (IOCU). Sejalan dengan perkembangannya itu. Dalam hal menghadapi hal yang demikian itu perlu check and balance dalam bernegara. Yogyakarta. posisi atau kedudukan bahkan kepentingan-kepentingan. maupun untuk tujuan mempersiapkan dasar-dasar penerbitan suatu peraturan perundang-undangan tentang perlindungan konsumen. BAB 2 PENGERTIAN HAK DAN KEWAJIBAN KONSUMEN SERTA PELAKU USAHA A. Di indonesia telah banyak diselenggarakan studi. mengatakan bahwa tegaknya peraturan-peraturan hukum tergantung pada budaya hukum anggotaanggotanya yang dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan. telah pula berdiri organisasi konsumen internasional. Pengertian dari consumer atau consument itu tergantung dalam posisi mana ia berada. atau consument/konsument (belanda). baik yang bersifat akademis. baik di dunia internasional maupun di Indonesia. jasa-jasa dan bidang-bidang ekonomi lainnya mendekati Negara-negara maju (converagence). dan sebagainya. ekonomi dan budaya. Secara harafiah arti kata consumer adalah (lawan dari produsen) setiap orang yang menggunakan barang. Tetapi terlebih-lebih bagi pemerintahnya. Surabaya. HAK. Hal mana yang dikarenakan perbedaan sitem politik.

dan tidak untuk diperjualbelikan. Ketentuanketentuan dalam directive harus diimplementasikan ke dalam hukum nasional dulu sebelum dapat diterapkan. or destruction of. cukup banyak dibahas dan dibicarakan tentang berbagai peristilahan yang termasuk dalam lingkup perlindungan konsumen. “damage” means: (a) damage caused by death or by personal injuries. maupun melalui statutory orders yang berlaku terhadap warga negara seluruh anggota EC. Namun. Sedang dalam naskah akademis yang dipersiapkan fakultas hukum Universitas Indonesia (FH-UI) bekerja sama dengan departemen perdagangan RI. provided that the item of property: (i) is a type ordinarily for private use or consumption. sedangkan statutory orders dapat langsung berlaku bagi semua warga negara dari negara-negara anggota EC. b. menyusun batasan tentang konsumen akhir. and . Batasan konsumen dari yayasan lembaga konsumen indonesia: pemakai barang atau jasa yang tersedia dalam masyarakat bagi kepentingan diri sendiri. antara lain: a. ada pula yang termuat dalam pasal tertentu bersamasama dengan pengaturan sesuatu bentuk hubungan hukum. Peraturan perundang-undangan negara lain. Directive ini mengedepankan konsep liability without fault.dan/atau berbagai naskah pembahasan berbagai rancangan peraturan perundangundangan. ada yang secara tegas mendefenisikannya dalam ketentuan umum perundang-undangan tertentu. baik korban tersebut pembeli. any item of property other than the detective product it self. di Amerika Serikat kata ini dapat diartikan lebih luas lagi sebagai “korban pemakaian produk yang cacat“. kata “konsumen“ yang berasal dari consumer sebenarnya berarti “pemakai“. Pengertian “konsumen“ di Amerika Serikat dan MEE. Upaya perlindungan terhadap konsumen dari pemakaian produk-produk yang cacat di negara-negara anggota European Economic Community (EC/MEE) dilakukan dengan cara menyusun product liability directive yang nantinya harus diintegrasikan kedalam instruktur hukum masing-masing negara anggota EC. memberikan berbagai perbandingan. (b) damage to. digunakan untuk keperluan diri sendiri atau orang lain. karna perlindungan hukum dapat dinikmati pula bahkan oleh korban yang bukan pemakai. yaitu pemakai akhir dari barang. with a lower threshold of 500 ECU. bukan pembeli tapi pemakai. Article 9 For the purepos of article 1. Dalam merumuskannya. Umumny dibedakan antara konsumen antara dan konsumen akhir. Untuk memahaminya dapat dilakukan dengan menelaah pasal 1 dikaji bersama-sama dengan pasal 9 directive yang isinya sebagai berikut: Article 1 The producer shall be liable for damage caused by a defect in his product. Pengertian “konsumen” (consumers) tidak dijabarkan secara rinci dalam directive. Dari naskah-naskah akademik itu yang patut mendapat perhatian. bahkan juga korban yang bukan pemakai. berbunyi: Konsumen adalah setiap orang atau keluarga yang mendapatkan barang untuk dipakai dan tidak untuk diperdagangkan. Badan pembinaan hukum nasional-departemen kehakiman (BPHN). c. keluarga atau orang lain dan tidak untuk diperdagangkan kembali.

perbuatan penguasaan pasar secara monopoli atau oligopi. Unsur inilah. merupakan pertimbangan tentang perlunya pembedaan dari konsumen itu. Bagi konsumen akhir (selanjutnya disebut konsumen). Konsumen antara ini mendapatkan barang/jasa itu dipasar industri atau pasar produsen. This article shall be without prejudice to national provisions relating to non material damage. Az Nasution menegaskan beberapa batasan konsumen. Sedang bagi konsumen akhir. maupun benda) akibat pemakaian produk yang cacat untuk keperluan pribadinya. Tampaknya perlakuan hukum yang lebih bersifat mengatur dan/atau mengatur dengan diimbuhi perlindungan. mereka memerlukan produk konsumen (barang/jasa konsumen) yang aman bagi kesehatan tubuh atau (ii) . yang pada dasarnya merupakan beda kepentingan masing-masing konsumen yaitu. penggunaan suatu produk untuk keperluan atau tujuan tertentu yang menjadi tolak ukur dalam menentukan perlindungan yang diperlukan. konsumen yang dapat memperoleh kompensasi atas kerugian yang dideritanya adalah “pemakaian produk yang cacat untuk keperluan pribadi”. barang/jasa itu adalah barang/jasa konsumen. yakni: a. Mereka memerlukan kaedah-kaedah hukum yang mencegah perbuatan-perbuatan yang tidak jujur dalam bisnis. Unsur untuk membuat barang/jasa lain dan/atau diperdagangkan kembali merupakan pembeda pokok. dominasi pasar dengan berbagai praktik bisnis yang menghambat masuknya perusahaan baru atau merugikan perusahaan lain dengan cara-cara yang tidak wajar. keluarga atau rumah tangganya. dapat disimpulkan bahwa konsumen berdasarkan directive adalah pribadi yang menderita kerugian (jiwa. dan yang sejenis dengan itu. antara lain konsumen antara (produk kapital) dan konsumen akhir (produk konsumen). Kalau itu distributor atau pedagang berupa barang setengah jadi atau barang jadi yang menjadi mata dagangannya. berupa bahan baku. Konsumen akhir adalah setiap orang alami yang mendapatkan dan menggunakan barang/jasa untuk tujuan memenuhi kebutuhan hidupnya pribadi. kesehatan. konsumen adalah setiap orang yang mendapatkan barang atau jasa digunakan untuk tujuan tertentu. Perumusan ini sedikit lebih sempit dibandingkan dengan pengertian serupa di Amerika Serikat. dan terdiri dari barang/jasa yang umumnya digunakan di rumah tangga masyarakat. yang penggunanya bagi konsumen akhir adalah untuk dirinya sendiri. kepentingan mereka dalam menjalankan usaha atau profesi mereka tidak “tergangu” oleh perbuatan persaingan-persaingan yang tidak wajar.was used by the injured person mainly for his own private use or consumtion. yaitu barang/jasa yang biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Jadi. bagi konsumen antara yang sebenarnya adalah pengusaha atau pelaku usaha. bahan penolong atau komponen dari produk lain yang akan diproduksinya (produsen). Konsumen antara adalah setiap orang yang mendapatkan barang dan/atau jasa untuk digunakan dengan tujuan membuat barang/jasa lain atau untuk diperdagangkan (tujuan komersial) c. Sebagaimana disinggung sebelumnya. keluarga dan atau rumah tangga dan tidak untuk diperdagangkan kembali (nonkomersial). keluaga atau rumah tangganya (produk konsumen). barang/jasa itu adalah barang/jasa kapital. Bagi konsumen antara. b. Barang/jasa konsumen ini umumnya diperoleh dipasar-pasar konsumen.

jujur. dengan menyebutkan kata-kata: “orang perseorangan atau badan usaha“. dan bertanggung jawab. bagaimana proses pembuatannya serta strategi pasar apa yang dijalankan untuk mendistribusikannya. dan terminologi lain yang lazim diberikan. maka diperlukan kaedah hukum yang dapat melindungi. penyalur. Hal ini berbeda dengan pengertian yang diberikan untuk “pelaku usaha” dalam pasal 1 angka (3). Untuk itu. pemakai sesuai dengan penjelasan pasal 1 angka (2) UUPK. Pengertian konsumen dalam UU No. sebagai konsumen tidak selalu harus memberikan prestasinya dengan cara membayar uang untuk memperoleh barang/jasa itu. Istilah terakhir ini dipilih untuk memberi arti sekaligus bagi kreditur (penyedia dana). orang lain. Istilah “pemakai” dalam hal ini tepat digunakan dalam rumusan ketentuan tersebut. pelaku usaha ini juga mencakup perusahaan media. konsumen adalah konsumen akhir (ultimate consumer). Tentu yang paling tepat tidak membatasi pengertian konsumen itu sebatas pada orang perseorangan. Perlindungan itu sesungguhnya berfungsi menyeimbangkan kedudukan konsumen dan pengusaha. akan lebih menerbitkan keserasian dan keselarasan matriil. yang secara eksplisit membedakan kedua pengertian persoon diatas. Karena pada umumnya konsumen tidak mengetahui dari bahan apa suatu produk itu dibuat. kata “pemakai“ menekankan. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen Penegrtin konsumen menurut UU No. Artinya. baik bagi kepentingan diri sendiri. Bahkan. Dengan kata lain. Istilah “orang” sebetulnya menimbulkan keraguan. sekaligus menunjukan. Karena itu yang diperlukan adalah kaedah-kaedah hukum yang menjamin syarat-syarat aman setiap produk konsumen bagi konsumsi manusia. apakah hanya orang individual yang lazim disebut natuurlijke persoon atau termasuk juga badan hukum (rechtpersoon). 8 tahun 1999 tentang hukum perlindungan konsumen dalam pasal 1 ayat (2) yakni: Konsumen adalah setiap orang pemakai barang/jasa yang tersedia dalam masyarakat.keamanan jiwa. tempat iklan ditayangkan. setiap orang subjek yang disebut sebagai konsumen adalah setiap orang yang berstatus sebagai pemakai barang/jasa. maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. dalam kehidupan manusia Indonesia sebagaimana dikehendaki oleh falsafah bangsa dan negara ini. dengan siapa mereka saling berhubungan dan saling memebutuhkan. . dasar hubungan hukum antara konsumen dan pelaku usaha tidak perlu harus kontraktual (the privity of contract). UUPK tampaknya berusaha menhindari penggunaan kata “produsen“ sebagai lawan kata “konsumen“. 1. produsen. penjual. barang/jasa yang dipakai tidak serta merta hasil dari transaksi jual beli. b. Keadaan seimbang diantara para pihak yang saling berhubungan. Unsur-unsur defenisi konsumen: a. keluarga. untuk kasus-kasus yang spesifik seperti dalam kasus periklanan. Namun konsumen harus juga mencakup juga badan usaha dengan makna usaha yang lebih luas daripada badan hukum. serta pada umumnya untuk kesejahteraan keluarga atau rumah tangganya. tidak sekedar formil. dilengkapi dengan informasi yang benar. digunakan kata “pelaku usaha” yang bermakna lebih luas.

apakah penerima paket seorang konsumen juga? Jika ia menggugat pasar swalayan itu. Sementara itu jasa diartikan sebagai setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang disediakan bagi masyarakat menunjukan. barang dan/atau jasa berkaitan dengan istialah barang/jasa. atau dimanfaatkan oleh konsumen. seseorang yang karena kebutuhan mendadak lalu menjual rumahnya kepada orang lain. Artinya. Transaksi konsumen memiliki banyak sekali metode. seseorang memperoleh paket hadiah atau parsel (parcel) pada hari ulang tahunnya. Oleh karena itu wajib dilindungi hakhaknya. sebagai pengganti terminologi tersebut digunakan kata produk. dibagikan sampel yang diproduksi khusus dan sengaja tidak diperjualbelikan. Mengartikan konsumen secara sempit. baik berwujud maupun tidak berwujud. dipergunakan. apakah ada dasar gugatan yang cukup kuat baginya? Hal ini patut dipertanyakan. sudah lazim terjadi sebelum suatu produk dipasarkan. Semula kata produk hanya mengacu pada pengertian barang. layanan yang bersifat khusus (tertutup)ndan individual. UUPK mengganti barang sebagai setiap benda. Konsumen memang tidak sekedar pembeli (buyer atau koper) tetapi semua orang (perseorangan atau badan usaha) yang mengonsumsi barang/jasa. Dalam dunia perbankan. UUPK tidak menjelaskan perbedaan istilah-istilah “dipakai. Saat ini “produk“ sudah berkonotasi barang/jasa. jasa itu harus ditawarkan kepada masyarakat. termasuk peralihan kenikmatan dalam menggunakannya. Di Amerika Serikat cara pandang seperti itu telah lama ditinggalkan. dipergunakan. c. tidak tercakup dalam pengertian tersebut. yang paling penting terjadinya transaksi konsumen (consumer transaction) berupa peralihan barang/jasa. seperti hanya sebagai orang yang mempunyai hubungan kontraktual pribadi (in privity of contract) dengan produsen atau penjual adalah cara pendefinisian konsumen yang paling sederhana. Jika demikian halnya. dipakai. tidak dapat perbuatannya itu sebagai transaksi konsumen. tetapi termasuk bukan pemakai langsung. terlebih dahulu dilakukan pengenalan produk kepada konsumen. Isi paketnya makanan dan minuman yang dibeli si pembeli di pasar swalayan. Orang yang mengonsumsi produk sampel juga merupakan konsumen.Sebagai ilustrasi dari uraian itu dapat diberikan contoh berikut. yang dapat untuk diperdagangkan. misalnya istilah produk dipakai juga untuk menamakan jenis-jenis layanan perbankan. Istilahnya product knowladge. d. Dengan demikian. harus lebih dari 1 orang. Artinya. Pertanyaannya. asalkan memang dirugikan akibat penggunaan suatu produk. Kata-kata “ditawarkan kepada masyarakat” itu harus ditafsirkan sebagai bagian dari transaksi konsumen. konsumen tidak lagi diartikan sebagai pembeli dari suatu barang/jasa. Untuk itu. walau baru dilakukan pada awal abad ke-20. UUPK sedah selayaknya meninggalkan prinsip yang sangat merugikan konsumen. baik bergerak maupun tidak bergerak. atau dimanfaatkan”. baik dapat dihabiskan maupun tidak dapat dihabiskan. yang tersedia dalam masyarakat . Si pembeli tidak dapat dikategorikan sebagai “konsumen” menurut UUPK. jika menggunakan prinsip the privity of contract tentu tidak ada hubungan kontraktual antara penerima hadiah dan pihak pasar swalayan karena pembeli parsel adalah orang lain. Dewasa ini. Jadi.

yakni hanya konsumen akhir. misalnya. orang lain. perlindungan konsumen identik dengan perlindungan yang diberikan hukum tentang hak-hak konsumen. hak untuk mendapatkan keamanan (the right to safety). bagi kepentingan diri sendiri. untuk jenis-jenis transaksi konsumen tertentu. . hak mendapatkan gati kerugian. Bahkan. 3. Dalam perkembangannya. Namun. Oleh karena itu. hak untuk memilih ( the right to choose). Kepentingan ini tidak sekedar ditujukan untuk diri sendiri dan keluaga. berkaitan dengan kepentingan pribadi orang itu untuk memiliki kucing yang sehat. walaupun dalam kenyataannya. YLKI. Oleh sebab itu. Mereka bebas untuk menerima semua atau sebagian. dan hak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. tetapi juga barang/jasa itu diperuntukan bagi orang lain (diluar diri sendiri dan keluarganya). hak untuk mendapatkan informasi ( the right to be informed).barang/jasa yang ditawarkan dalam masyarakat sudah harus tersedia di pasaran (lihat juga bunyi pasal 9 ayat 1 huruf e UUPK). melaikan terlebih-lebih hakhaknya yang bersifat abstrak. perlindungan konsumen mengandung aspek hukum. Dari sisi teori kepentingan. barang dan/atau jasa itu tidak untuk diperdagangkan pengertian konsumen dalam UUPK ini dipertegas. makhluk hidup lain transaksi konsumen ditujukan untuk kepentingan diri sendiri. seperti hak mendapatkan pendidikan konsumen. Dalam perdagangan yang makin kompleks dewasa ini. syarat itu tidak mutlak lagi dituntut oleh masyarakat konsumen. juga tidak terlepas dari kepentingan pribadi. Seseorang yang membeli makanan untuk kucing peliharaannya. seperti futures trading. perusahaan pengembang (develover) perumahan sudah biasa mengadakan transaksi terlebih dahulu sebelum bangunannya jadi. Misalnya. tidak semua organisasi konsumen menerima penambahan hak-hak tersebut. 2. hak-hak konsumen istilah “perlindungan konsumen” berkaitan dengan perlindungan hukum. bahkan untuk makhluk hidup lain. yaitu hak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat sehingga keseluruhannya dikenal sebagai panca hak konsumen. yaitu 1. Dengan kata lain. memutuskan untuk menambah 1 hak lagi sebagi pelengkap hak dasar konsumen. hak untuk didengar ( the right to be heard). keluarga. keberadaan barang yang diperjualbelikan bukan sesuatu yang diutamakan. misalnya. Batasan itu sudah biasa dipakai dalam peraturan perlindungan konsumen di berbagai negara. setiap tindakan manusia adalah bagian dari kepentingannya. seperti hewan dan tumbuhan. penguraian unsur itu tidak menambah makna apa-apa karena pada dasarnya tindakan memakai suatu barang/jasa (terlepas ditujukan untuk siapa dan makhluk hidup lain). e. keluarga. Adapun materi yang mendapatkan perlindungan itu bukan sekadar fisik. 4. Secara umum dienal ada 4 (empat) hak dasar konsumen. Empat hak dasar ini diakui secara internasinaol. orang lain dan makhluk hidup lain. Unsure yang diletakkan dalam defenisi itu mencoba untuk memperluas pengertian kepentingan. f. sulit menetapkan batas-batas seperti itu. Secara teoritis hal demikian terasa cukup baik untuk mempersempit ruang lingkup pengertian konsumen. 2. organisasi-organisasi konsumen yang tergabung dalam the international organization of consumers unions (IOCU) menambahkan lagi beberapa hak.

empat hak dasar yang dikemukakan oleh John F. Selanjutnya. Hal ini berangkat dari pertimbangan. hak untuk mendapatkan advokasi perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. Tidak jelas kenapa kedua bidang hukum ini yang di kecualikan secara khusus. 8 tahun 1999 adalah sebagi berikut: a. h. jika semua hak-hak yang disebutkan itu disusun kembali secara sistematis (mulai dari yang diasumsikan paling mendasar). akan diperoleh urutan sebagai berikut: a. g. agar tidak berlaku pepatah: “dua gajah berkelahi. masalah persaingan curang (dalam bisnis) ini diatur secara khusus pada pasal 382 bis kitab undang-undang hukum pidana. Dalam hukum positif indonesia. Kewajiban dan hak merupakan antinomi dalam hukum. Akhirnya. yang dalam hukum dikenal dengan terminologi “persaingan curang“ (unfair competition). tidak dimasukkan dalam UUPK ini karena UUPK secara khusus mengecualikan hak-hak atas kekayaan intelektual (HAKI) dan dibidang pengolaan lingkungan. apabila barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. sejak 5 maret 2000 diberlakukan juga UU No. b. jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang/jasa d. Hak konsumen untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Selain hak yang dibutuhkan itu. Kendati demikian. hak untuk mendapatkan konpensasi ganti rugi/ penggantian. yang dapat dijadikan sebagai landasan perjuangan untuk mewujudkan hak-hak tersebut. UUPK seharusnya dapat mengatur hak-hak konsumen itu secara komprehensif. sehingga kewajiban pelaku usaha dapat dilihat sebagai hak konsumen. Disini letak arti penting mengapa hak ini perlu dikemukakan. tidak bagi konsumen langsung. khususnya dalam pasal 7 yang mengatur tentang kewajiban pelaku usaha. hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen. e. juga terdapat hak-hak konsumen yang dirumuskan dalam pasal berikutnya. c. ada juga hak untuk dilindungi dari akibat negatif persaingan curang. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya. hak atas informasi yang benar. Disamping hak-hak dalam pasal 4. hak atas kenyamanan dan keselamatan dalam mengonsumsi barang/jasa. Kennedy tersebut juga di akomodasi. hak untuk memilih barang/jasa serta mendapatkan barang/jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan. f. Hak konsumen sebagaimana tertuang dalam pasal 4 UU No. mengingat sebagai undang-undang paying (umberella act). 5 tahun 1999 tentang larangan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. pelanduk mati di tengah-tengah“. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang/jasa yang digunakan. kegiatan bisnis yang dilakukan tidak secara jujur. kompetisi tidak sehat diantara mereka pada jangka panjang pasti berdampak negatif bagi konsumen karena pihak yang dijadikan sasaran rebutan adalah konsumen itu sendiri.Dalam UUPK. Langkah untuk meningkatkan martabat dan kesadaran konsumen harus diawali dengan upaya untuk memahami hak-hak pokok konsumen. Hak konsumen Mendapatkan Keamanan . Ketentuan-ketentuan ini sesungguhnya diperuntukan bagi sesama pelaku usaha.

Konsumen berhak mendapatkan keamanan dari barang dan jasa yang ditawarkan kepadanya. Produk barang dan jasa itu tidak boleh membahayakan jika dikonsumsi sehingga konsumen tidak dirugikan baik secara jasmani dan rohani. Hak untuk memperoleh keamanan ini penting ditempatkan pada kedudukan utama karena berabad-abad berkembang suatu falsafah berpikir bahwa konsumen (terutama pembeli) adalah pihak yang wajib berhati-hati, bukan pelaku usaha. Falsafah yang disebut caveat emptor (let the buyer beware) ini mencapai puncaknya pada abad ke-19 seiring berkembangnya paham rasional individualisme di Amerika Serikat. Dalam perkembangannya kemudian, prisip yang merugikan konsumen ini telah ditinggalkan. Dalam barang dan/atau jasa yang dihasilkan dan dipasarkan oleh pelaku usaha berisiko sangat tinggi terhadap keamanan konsumen, Pemerintah selayaknya mengadakan pengawasan secara ketat. Misalnya zat atau obat yang tergolong narkotika dan psikotropika. Undang-undang No.5 Tahun 1997 tentang psikotropika dan Undang-undang No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika menetapkan psikotopika dan narkotika golongan I hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, tidak dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan.Restriksi demikian perlu dilakukan semata-mata demi menjaga keamanan masyarakat atas akibat negatif dari produk tersebut. Satu hal juga seiring dilupakan dalam kaitan dengan hak untuk mendapatkan keamanan adalah penyediaan fasilitas umum yang memenuhi syarat yang ditetapkan. Di Indonesia, sebagian besar fasilitas umum, seperti pusat perbelanjaan, hiburan, rumah sakit,dan perpustakaan belum cukup akomodatif untuk menopang keselamatan pengunjungnya. Hal ini tidak saja bagi pengguna produk barang atau jasa (konsumen) yang berfisik normal pada umumnya, tetapi juga tidak berlebih-lebih mereka yang cacat fisik dan lanjut usia. Akibatnya, besar kemungkinan mereka ini tidak dapat leluasa berajalan dan naik tangga di tempattempat umum karena tingkat resiko yang sangat tinggi. b. Hak untuk Mendapatkan Informasi yang Benar Setiap produk yang diperkenalkan kepada konsumen harus disertai informasi yang benar. Informasi ini diperlukan agar konsumen tidak sampai mempunyai gambaran yang keliru atas produk barang dan jasa. Informasi ini dapat

disampaikan dengan berbagai cara, seperti lisan kepada konsumen, melalui iklan di berbagai media, atau mencantumkan dalam kemasan produk (barang). Jika dikaitkan dengan hak konsumen atas keamanan, maka setiap produk yang mengandung risiko terhadap keamanan konsumen, wajib disrtai informasi berupa petunjuk pemakaian yang jelas. Sebagai contoh, iklan yang secara ideal diartikan sebagai sarana pemberi informasi kepada konsumen, seharusnya terbebas dari mani pulasi data. Jika iklan memuat informasi yang tidak benar, maka perbuatan itu memenuhi kriteria kejahatan yang lazim disebut fraudulent misrepresentation. Bentuk kejahatan ini ditandai oleh (1)pemakaian pernyataan yang jelas-jelas salah (false statement), seperti menyebutkan diri terbaik tanpa indikator yang jelas, dan (2) pernyataan yang menyesatkan (mislead), misalnya menyebutkan adanya khasiat tertentu padahal tidak. Menurut Troelstup, konsumen pada saat ini membutuhkan banyak informasi yang lebih relavan dibandingkan dengan saat sekitar 50 tahun lalu. Alasannya, saat ini: (1) terdapat lebih banyak produk, merek, dan tentu saja penjualnya, (2) daya beli konsumen makin meningkat, (3) lebih banyak variasi merek yang beredar di pasaran, sehingga belum banyak diketahui semua orang, (4) modelmodel produk lebih cepat berubah, (5) kemudahan transportasi dan komunikasi sehingga mem buka akses yang lebih besar kepada bermacam-macam produsen atau penjual. Hak untuk mendapatkan informasi menurut Prof.Hans W.Micklitz, seorang ahli hukum konsumen dari jerman, dalam ceramah di Jakarta, 26-30 Oktober1998 membedakan konsumen berdasarkan hak ini. Ia menyatakan, sebeum kita melangkah lebih detail dalam perlindungan konsumen, terlebih dulu harus ada persamaan persepsi tentang tipe konsumen yang akan mendapatkan perlindungan. Menurutnya, secara garis besar dapat dibedakan dua tipe konsumen, yaitu a. konsumen yang terinformasi (well-informed) b. konsumen yang tidak terinformasi. Ciri-ciri konsumen yang terinformasi sebagai tipe pertama adalah: Memiliki tingkat pendidikan tertentu ; • • mempunyai sumberdaya ekonomi yang cukup, sehingga dapat berperan dalam ekonom pasar, dan lancer berkomunikasi.

Dengan memiliki tiga potensi, konsumen jenis ini mampu bertanggung jawab dan relative tidak memerlukan perlindungan. Ciri-ciri konsumen yang tidak terinformasi sebagai tipe kedua memiliki ciriciri antara lain : • • • kurang berpendidikan ; termasuk kategori kelas menengah ke bawah ; tidak lancar berkomunikasi.

Konsumen jenis ini perlu dilindungi, dan khususnya menjadi tanggung jawab Negara untuk memberikan perlindungan. Selain ciri-ciri konsumen yang tidak terinformasikan, karena hal-hal khusus dapat juga dimasukkan kelompok anak-anak, orang tua, dan orng asin (yang tidak dapat berkomunikasi dengan bahasa setempat) sbagai konsumen yang wajib dilindungi oleh negara. Informasi ini harus diberikan secara sama bagi semua konsumen (tidak diskriminatif). Dalam perdagangan yang sangat mengandalkan informasi, akses kepada infoasi yang tertutup misalnya dalam praktik insider trading di bursa efek, dianggap sebagai bentuk kejahatan yang serius. Penggunaan teknologi tinggi dalam mekanisme produksi barang dan/atau jasa akan menyebabkan makin banyaknya infomasi yang harus dikuasai oleh masyarakat konsumen. Di sisi lain mustahil mengharapkan sebagian besar konsumen memiliki kemampuan dan akse informasi secara sama besarnya. Apa yang dikenal dengan consumer ignorance, yaitu ketidakmampuan konsumen menerima infomasi akibat kemajuan teknologi dan keragaman produk yang dipasarkan dapat saja dimanfaatkan secara tidak sewajarnya oleh pelaku usaha. Itulah sebabnya, hukum perlindungan konsumen memberikan hak konsumen atas informasi yang benar, yang didalam nya tercakup juga hak atas infomasi dan diberikan secara tidak diskriminatif. c. Hak untuk Didengar Hak yang erat kaitannya dengan hak untuk mendapatkan informasi adalah hak untuk didengar. Ini disebabkan oleh informasi dari pihak yang berkepentingan atau berkompeten erring tidak cukup memuaskan konsumen. Untuk itu konsumen berhak mengajukan permitaan infomasi lebih lanjut.

maka baik perusahaan periklanan. harus bersedia memberikan penjelasan mengenai suatu iklan tertentu. Undang-Undang No.32 Tahun 2002 tentang penyiaran dinyatakan lembaga penyiaran wajib meralatisi siaran dan/atau berita. Seandainya ia jadi membeli. Dampak dari praktik monopoli ini adalah adanya persaingan usaha tidak sehat (unfair competition) yang merugikan jepentingan umum (konsumen). ia juga bebas menentukan produk mana yang akan dibeli. dan dalam bentuk serta cara yang sama dengan penyampaian isi siaran dan/atau berita yang disanggah. bila diminta oleh konsumen. Ia tidak boleh mendapat tekanan dari pihak luar sehingga ia tidak lagi bebas untuk membeli atau tidak membeli. sekalipun masih berbentuk kode etik (self regulation) akan mengarah kepada langkah positif menuju penghormatan hak konsumen untuk didengar. yang dalam doctrin hukum dapat diidentikkan dengan hak untuk membela diri. maka besar kemungkinan konsumen kehilangan hak untuk memilih produk yang satu dengan produk lain.Dalam tata karma dan tata cara periklanan Indonesia disebutkan. Dalam pasal 44 UU No. Ralat atau pembetulan wajib dilakukan dalam waktu selambat-lambatnya satu kali 24 jam berikutnya atau pada kesempatan pertama pada ruang mata acara yang sama. d.5 Tahun 1999 tentang Praktik Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat mengartikan monopoli sebagai penguasaan atas produksi dan /atau pemasaran dan/atau atas penggunaan jasa tertentu oleh salah satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha. Hak untuk memilih ini erat kaitannya dengan ituasi pasar. maupun pengiklan. Jika seseorang atau suatu golongan diberikan hak monopoli untuk memproduksi dan memasarkan barang atau jasa. media. konsumen berhak menentukan pilihannya. Hak untuk Memilih Dalam mengonsumsi suatu produk. akhirnya konsumen pasti didikte untuk mengonsumsi . Penyanggah berita ini mungkin adalah konsumen dari produk tertentu. Jika monopoli itu diberikan kepada perusahaan yang tidak berorientasi pada kepentingan konsumen. Pengaturan demikian. Ketentuan dalam Undang-Undang penyiaran itu jelas-jelas menunjukkan hak untuk didengar.

f. pelaku usaha dapat saja mendikte pasar dengan menaikkan harga. resale price maintenance. kuantitas dan kualitas barang dan/atau yang dikonsumsinya tidak sesuai dengan nilai tukar yang di berikannya. Jika setuju silakan beli. dan konsumen menjadi korban dari ketiadaan pilihan. Akibat tidak berimbangnya posisi tawar-menawar antara pelaku usaha dan konsumen. ia berhak mendapatkan ganti rugi yang pantas. pelaku usaha dapat secara sepihak mempermainkan mutu barang dan harga jual.barang atau jasa itu tanpa dapat berbuat lain. kuantitas dan kualitas barang dan/atau jasa di konsumsi harus sesuai dengan nilai uang yang dibayar sebagai penggantinya. Namun. Monopoli juga dapat timbul akibat perjanjian antar pelaku usaha yang bersifat membatasi konsumen untuk memilih. Dalam dunia perdagangan dikenal apa yang disebut market sharing agreements. dan sebagainya (dalam sejarah perdagangan dikenal sejak 1870-an). Hak untuk Mendapatkan Ganti Kerugian Jika konsumen merasakan. quota agreement. price fixing agreements. maka pihak pertama dapat saja mambebankan biaya tertentu yang sewajarnya tidak ditanggung konsumen. biasanya konsumen terpaksa mencari produk alternatif (bila masih ada). dalam ketakbebasan pasar. Dengan kata lain. yang boleh jadi kualitasnya malahan lebih buruk. Jenis dan jumlah ganti rugi itu tentu saja harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau atas kesepakatan masing-masing pihak. Hak untuk Mendapatkan Produk Barang dan/atau Jasa Sesuai dengan Nilai Tukar yang Diberikan Dengan hak ini berarti konsumen harus dilindungi dari permainan harga yang tidak wajar. e. Klausul seperti . Untuk menghindar dari kewajiban memberikan ganti kerugian. jika tidak silakan mencari tempat yang lain (padahal di tempat lain pun pasar sudah dikuasainya). Dalam keadaan seperti itu. sering terjadi pelaku usaha mencantumkan klausul-klausul eksonerasi di dalam hubungan hukum antara produsen/penyalur produk dan konsumennya. maintenance. Dalam situasi demikian. Pratik yang tidak terpuji ini lazim dikenal dengan istilah externalities. Konsumen dihadapkan pada kondisi : take it or leave it.

Hak untuk Mendapatkan Penyelesaian Hukum Hak untuk mendapatkan ganti kerugian harus ditempatkan lebih tinggi daripada hak pelaku usaha (produsen/penyalur produk) untuk membuat klausul eksonerasi secara sepihak. Dengan kata lain.32 Tahun 2002 tentang penyiaran mewajibkan lembaga penyiaran wajib mencantumkan ralat isi siaran dan/atau berita yang disanggah pihak lain. Dalam uraian tentang hak untuk didengar dikatakan. dan setiap . Hak untuk mndapatkan penyelesaian hukum ini sebenarnya meliputi juga hak untuk mendapatkan ganti kerugaian.maka konsumen berhak mendapatkan penyelesaian hukum. Sebaliknya. Lembaga penyiaran tidak terbebas dari tanggung jawab atas tuntutan hukum yang tuntutan hukum yang diajukan oleh pihak yang merasa dirugikan. Lingkungan hidup yang baik dan sehat berate sangat luas. Untuk memperoleh ganti kerugian. Tentu ada beberapa karateristik tuntutan yang tidak memperbolehkan tuntutan ganti kerugian ini. termasuk advokasi. walaupun ralat dimuat. setiap upaya hukum pada hakikatnya berisikan tuntutan memperoleh ganti kerugian oleh salah satu pihak. tetapi kedua hak tersebut tidak berarti identik.“barng yang dibeli tidak dapat dikembalikan” merupakan hal yanglazim ditemukan pada toko-toko. g. konsumen tidak selalu harus menempuh upaya hukum terlebih dahulu. Jika penyanggah isi siaran itu konsumen. h. Jika permintaan yang diajukan konsumen dirasakan tidak mendapat tanggapan yang layak dari pihak-pihak terkait dalam hubungan hukum dengannya. hak konsumen tidak berarti dengan sendirinya hilang. Hak untuk Mendapatkan Lingkungan Hidup yang Baik dan Sehat Hak konsumen atas lingkungan yang baik dan sehat merupakan hak yang diterima sebagai salah satu hak dasar konsumen oleh berbagai organisasi konsumen di dunia. Undang-Undang No. konsumen berhak menuntut pertanggungjawaban hukum dari pihak-pihak yang dipandang merugikan karena mengonsumsi produk itu. Pencantuman secara sepihak demikian tetap tidak dapat menghilangkan hak konsumen untuk mendapatkan ganti kerugian. seperti dalam upaya legal stnding LSM yang dibuka kemungkinannya dalam Pasal 46 ayat (1) Huruf c UUPK.

dan produsen saingannya akan berhenti berproduksi. Sementara itu. Dalam pasal 22 Undang-undang No. seperti Indonesia. Lingkungan hidup meliputi lingkungan hidup dalam arti fisik dan lingkungan nonfisik. Untuk itu lembaga Ekolabeling Indonesia (LEI) pada tahun 1998 mulai melakukan audit atas sejumlah perusahaan perkayuan Indonesia agar dapat diberkan sertifikat ekolabeling yang disebut SNI 5000. khususnya bagi produsen hasil hutan tropis. Hak untuk Dilindungi dari Akibat Negatif Persaingan Curang Persaingan curang atau dalam Undang-Undang No.makhluk hidup adalah konsumen atas lingkungan hidupnya. Tujuannya untuk merebut pasar. Desakan pemenuhan hak konsumen atas lingkungan hidup yang baik dan sehat makin mengemuka akhir-akhir ini.5 Tahun 1999 disebut dengan “persaingan usaha tidak sehat” dapat terjadi jika seorang pengusaha berusaha menarik langganan atau klien pengusaha lain untuk memajukan usahanya atau memperluas penjualan atau pemasrannya dengan menggunakan alat atau sarana yang bertentangan dengan iktikad baik dankejujuran dalam pergaulan perekonomian.Ketentuan demikian sangat penting artinya. Satu produsen yang kuat mencoba mendesak produsen saingannya yang lebih lemah dengan cara membanting harga produk. Misalnya munculnya gerakan konsumerisme hijau (green consumerism) yang sangat peduli pada kelestarian lingkungan. i.23 Tahun 1992 tentang kesehatan dan pasal 5 ayat (1) UU No. konsumen pula yang dirugikan. mulai tahun 2000 semua perusahaan yang berkaitan dengan hasil hutan. jika telah memperoleh ecolabeling certificate. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. hak untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat ini diyatakan dengan tegas. Contoh bentuk yang kerap terjadi dalam persaingan curang adalah permainan harga (dumping). karena praktis pangsa pasar terbesarnya adalah Negara-negara anggota ITTO. dalam pasar yang monopolistic itulah harga kembali dikendalikan oleh si produsen yang curng ini. . baru dapat menjual produknya di Negara-negara yang bergabung dalam The International Tropical Timber Organazation (ITTO). Dalam posisi demikian. Pada kesempatan berikutnya.

Lebih lanjut lagi. trust. termasuk bila kerugian timbul akibat cacatnya barang yang merupakan komponen dalam proses produksinya. antara lain dalam pasal 17 sampai dengan pasal 24. khususnya oleh pemerintah guna mencegah munculnya akibat-akibat langsung yang merugikan konsumen. yang dengan membubuhkan nama. ataupun tanda- tanda lain pada produk menampakkan dirinya sebagai produsen dari suatu barang. Mereka ini bertanggung jawab atas segala kerugian yang timbul dari barang yang mereka edarkan ke masyarakat. oligopsoni. Oleh karena itu. wajar bila masih banyak konsumen (1) Pihak yang menghasilkan produk akhir berupa barang-barang manufaktur. penetapan harga. Selanjutnya Pasal 3 ayat (2) Directive menyebutkan bahwa: siapa pun yang mengimpor suatu produk ke lingkungan EC adalah produsen. pemboikotan. dan perjanjian dengan pihak luar negeri yang mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan/atau persaingan tidak sehat. termasuk dalam bentuk perjanjian yang dilarang adalah oligopoli. Siapa saja. integrasi vertical. dan (2) kegiatan yang dilarang. J. merek. Hak untuk Mendapatkan Pendidikan Konsumen Masalah perlindungan konsumen di Indonesia termasuk masalah yang baru.Hak konsumen untuk dihindari dari akibat negatif persaingan curng dapat dikatakan sebagai upaya pre-emptive yang harus dilakukan. bertanggung jawab atas barang tersebut. pedagang/penyalur yang mengedarkan barang yang tidak jelas identitas produsennya. (2) (3) Produsen bahan mentah atau komponen suatu produk. Demikian pula tanggung jawab . pembagian wilayah. Ketentuan ini sengaja dicantumkan untuk melindungi konsumen dari kemungkinan harus menggugat produsen asing (yang pusat kegiatannya) di luar lingkungan EC.5 tahun 1999 disebutkan adanya (1) perjanjian dilarang. perjanjian tertutup. Dalam Undang-undang No. Ketentuan ini mengharuskan importir yang mengimpor barang dari eksportir negara ketiga mendapatkan jaminan melalui suatu perjanjian yang menyatakan bahwa pihak eksportir bertanggung jawab sepenuhnya atas barang yang dimasukkan EC. kartel.

b. 5) cacat timbul akibat ditaatinya ketentuan yang ditetapkan oleh penguasa. Di Amerika Serikat. faktor-faktor yang membebaskan produsen dari tanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh konsumen meliputi: 1) kelalaian si konsumen penderita. atau 10 tahun sejak barang diproduksi. hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan. 4) barang yang diproduksi secara individual tidak untuk keperluan produksi. 2) cacat timbul di kemudian hari. sehingga berdasar Pasal 5 ayat (3) konvensi ini. tapi tidak jelas importimya. 3) lewatnya jangka waktu penuntutan (daluarsa). yaitu 6 (enam) tahun setelah pembelian. meskipun kerusakan timbul akibat cacat pada produk. 5) kerugian yang timbul (sebagian) akibat kelalaian yang dilakukan oleh produsen lain dalam kerja sama produksi (di beberapa negara bagian yang mengakui joint and several liability). 8 Tahun 1999 Produsen disebut sebagai pelaku usaha yang mempunyai hak sebagai berikut: a. 2) penyalahgunaan produk yang. 3) cacat timbul setelah produk berada di luar kontrol produsen.penyalur/pedagang ini timbul atas barang yang diimpor dari negara ketiga. yaitu apabila: 1) produk tersebut sebenarnya tidak diedarkan. hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beriktikad tidak baik. 4) produk pesanan pemerintah pusat (federal). gugatan atas produk liability dapat diajukan ke pengadilan yang jurisdiksinya meliputi tempat timbulnya kerugian. Dalam Pasal 6 UU No. Hak-hak produsen dapat ditemukan antara lain pada faktor-faktor yang membebaskan produsen dari tanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh konsumen. tidak terduga pada saat produk dibuat (unforseeable misuse). Sebagian besar negara anggota EC telah meratifikasi Konvensi tentang Jurisdiksi. .

memberikan informasi yang benar. Dalam UUPK tampak bahwa iktikad baik lebih ditekankan pada pelaku usaha. d. g. e. memberi kompensasi ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/ jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian. menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku. memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan. hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum sengketa konsumen. beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya. d.c. sebaliknya konsumen hanya diwajibkan beriktikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau . Adapun dalam Pasal 7 diatur kewajiban pelaku usaha. perbaikan. hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan. Dalam UUPK pelaku usaha diwajibkan beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya. memberi kompensasi. pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan. b. e. c. jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan. f. memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriniinatif. sedangkan bagi konsumen diwajibkan beriktikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa. sebagai berikut: a. karena meliputi semua tahapan dalam melakukan kegiatan usahanya. ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. dan pemeliharaan. sehingga dapat diartikan bahwa kewajiban pelaku usaha untuk beriktikad baik dimulai sejak barang dirancang/diproduksi sampai pada tahap puma penjualan.

yang akan sangat merugikan konsumen. Kerugian yang dialami oleh konsumen di Indonesia dalam kaitannya dengan misrepresentasi banyak disebabkan karena tergiur oleh iklan-iklan atau brosur-brosur produk tertentu. sedangkan Man atau brosur tersebut tidak selamanya memuat informasi yang benar karena pada umumnya hanya menonjolkan kelebihan produk Peringatan ini sama pentingnya dengan instruksi penggunaan suatu produk yang merupakan informasi bagi konsumen. Penyampaian informasi terhadap konsumen tersebut dapat berupa representasi. agar konsumen tidak salah terhadap gambaran mengenai suatu produk tertentu. disebabkan karena informasi di samping merupakan hak konsumen. Diperlukan representasi yang benar terhadap suatu produk. Hal ini berarti bahwa tugas produsen pembuat tersebut tidak berakhir hanya dengan nienempatkan suatu produk dalam sirkulasi. juga karena ketiadaan informasi yang tidak memadai dari pelaku usaha merupakan salah satu jenis cacat produk (cacat informasi). Pentingnya penyampaian informasi yang benar terhadap konsumen mengenai suatu produk. Peringatan yang diberikan kepada konsumen ini memegang peranan penting dalam kaftan dengan keamanan suatu produk. sedangkan bagi konsumen. sedangkan peringatan dirancang untuk menjamin keamanan penggunaan produk. peringatan. kemungkinan untuk dapat merugikan produsen mulai pada saat melakukan transaksi dengan produsen) Tentang kewajiban kedua pelaku usaha yaitu memberikan informasi yang benar. maupun yang berupa instruksi. walaupun keduanya memiliki fungsi yang berbeda yaitu instruksi terutama telah diperhitungkan untuk menjamin efisiensi penggunaan produk. perbaikan. karena salah satu penyebab terjadinya kerugian terhadap konsumen adalah terjadinya misrepresentasi terhadap produk tertentu. Dengan demikian pabrikan (produsen pembuat wajib menyampaikan peringatan kepada konsumen). jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan. Produk yang dibawa ke pasar tanpa petunjuk cars pemakaian dan peringatan atau petunjuk dan peringatan yang sangat kurang/tidak memadai menyebabkan suatu produk dikategorikan sebagai produk yang cacat instruksi.jasa. Hal ini tentu saja disebabkan oleh kemungkinan terjadinya kerugian bagi konsumen dimulai sejak barang dirancang/diproduksi oleh produsen (pelaku usaha). Hal ini berlaku bagi . Peringatan yang merupakan bagian dari pemberian informasi kepada konsumen ini merupakan pelengkap dari proses produksi. dan pemeliharaan.

peringatan sederhana, misalnya "simpan di luar jangkauan anak-anak" dan berlaku pula terhadap peringatan mengenai efek samping setelah pemakaian suatu produk tertentu. Peringatan demikian maupun petunjuk-petunjuk pemakaian harus disesuaikan dengan sifat produk dan kelompok pemakai. Selain peringatan, instruksi yang ditujukan untuk menjamin efisiensi penggunaan produk juga penting untuk mencegah timbulnya kerugian bagi konsumen. Pencantuman informasi bagi konsumen yang berupa instruksi atau petunjuk prosedur pemakaian suatu produk merupakan kewajiban bagi produsen agar produknya tidak dianggap cacat (karena ketiadaan informasi atau informasi yang tidak memadai). Sebaliknya, konsumen berkewajiban untuk membaca, atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselarnatan. Daftar Pertanyaan 1. Apakah terdapat perbedaan konsumen antara dan konsumen akhir? Jelaskan disertai contoh! 2. Sebut dan jelaskan secara singkat unsur-unsur definisi konsumen! 3. Mengapa tingkat pendidikan konsumen menjadi sangat berpengaruh pada penyampaian informasi, dan siapa yang paling berhak untuk dilindungi, konsumen yang terinformasi atau konsumen yang tidak terinformasi? Jelaskan disertai contoh! 4. Apa yang menjadi alasan sehingga lingkungan hidup yang baik dan sehat juga mendapat perhatian dan merupakan hak konsumen untuk mendapatkannya, jelaskan secara singkat! 5. Mengapa pengusaha dalam Pasal 7 UU No. 8 Tahun 1999 diwajibkan untuk beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya?

BAB 3 PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAMPERATURAN PERUNDANGUNDANGAN A. PENDAHULUAN Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 memiliki ketentuan yang menyatakan bahwa kesemua undang-undang yang ada dan berkaitan dengan perlindungan konsumen tetap berlaku, sepanjang tidak bertentangan atau telah diatur khusus oleh undangundang. Oleh karena itu, tidak dapat lain haruslah dipelajari juga peraturan perundang-undangan tentang konsumen dan/atau perlindungan konsumen ini dalam kaidah-kaidah hukum peraturan perundang-undangan umum yang mungkin atau dapat mengatur dan/atau melindungi hubungan dan/atau masalah konsumen dengan penyedia barang atau jasa. Sebagai akibat dari penggunaan peraturan perundangundangan umum ini, dengan sendirinya berlaku pulalah asas-asas hukum yang terkandung di dalamnya pada berbagai pengaturan dan/atau perlindungan konsumen tersebut. Padahal, nanti akan nyata, di antara asas hukum tersebut tidak cocok untuk memenuhi fungsi pengaturan dan/atau perlindungan pada konsumen, tanpa setidaktidaknya dilengkapi/diadakan pembatasan berlakunya asas-asas hukum tertentu itu. Pembatasan dimaksudkan dengan tujuan "menyeimbangkan kedudukan" di antara para pihak pelaku usaha dan/atau konsumen bersangkutan. Yang dimaksudkan dengan peraturan perundang-undangan umum adalah semua peraturan perundangan tertulis yang diterbitkan oleh badan-badan yang berwenang untuk itu, baik di pusat maupun di daerah-daerah. Peraturan perundangundangan itu antara lain adalah (di Pusat) Undang-Undang Dasar 1945, UndangUndang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang

Peraturan Presiden, dan seterusnya, dan (di daerah-daerah) Peraturan Daerah (Peraturan Daerah Provinsi atau Kabupaten/Kota serta peraturan Desa dan sebagainya). Purnadi2) dalam bukunya menyebut perundang-undangan umum ini sebagai undang-undang dalam arti materiil. Az. Nasution menjelaskan3) konsekuensi dari upaya menyusun rancangan undang-undang tentang perlindungan konsumen yang sekarang sudah diberlakukan dapat disebut sebagai membangun tata hukum konsumen secara tersendiri yang berada dalam Sistem Hukum Indonesia. Sungguh ini pekedaan yang bukan sederhana sebagai contoh dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama, apabila kits mengkaji peraturan yang berkaitan dengan masalah standar, seperti yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan, Menteri Perindustrian dan Perdagangan dan berbagai Menteri lain, dapat dikatakan bahwa standar yang ditetapkan itu selain dimaksud untuk memberi perlindungan kepada konsumen juga melindungi konsumen yang berstatus pengusaha, ataupun masyarakat umum lainnya. Demikian pula pengaturan mengenai ukuran, timbangan, takaran atau ketentuan mengenai label, ketentuan daluwarsa, dan sebagainya. Kedua, ketentuan dalam hukum pidana yang berkaitan dengan penipuan, pemalsuan, penjualan barang dapat membahayakan jiwa manusia (Pasal 383, 263, 202, 382, 383). Ketentuan ini termasuk sebagai delik pidana, yaitu perbuatan yang bersifat melawan hukum yang dilarang dan diancam dengan pidana. Ketentuan ini termasuk pula melindungi konsumen, namun juga melindungi masyarakat pada umumnya. Ketiga, ketentuan dalam hukum perdata yang berkaitan dengan perikatan (Pasal 1233, 1234, 1313, 1351) mengatur hubungan perjanjian pars pihak baik yang berstatus konsumen maupun status pengusaha sebagai produsen barang atau jasa. Keempat, Ketentuan tentang bidang peradilan, Undang-Undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman mengatur mengenai peradilan umum yang disebut Pengadilan Negeri. Pengadilan ini selanjutnya merupakan lembaga peradilan yang mengadili perkara pidana dan perdata yang bagi perkara yang menyangkut masyarakat umum termasuk konsumen. Dari keempat catatan tersebut, ada upaya membangun tata hukum yang diperuntukkan bagi konsumen Indonesia dalam sistem Hukum Indonesia yang sudah berlaku dewasa ini.

Alinea ke-4 berbunyi: Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia. Undang-Undang Dasar dan Ketetapan MPR Hukum Konsumen. Tetapi peraturan perundangundangan umum yang berlaku memuat juga berbagai kaidah menyangkut hubungan dan masalah konsumen. terutama Hukum Perlindungan Konsumen mendapatkan landasan hukumnya pada Undang-Undang Dasar 1945. masih harus dipelajari semua peraturan perundang-undangan umum yang berlaku.Alasan yang dapat dikemukakan untuk menerbitkan peraturan perundangundangan yang secara khusus mengatur dan melindungi kepentingan konsumen dapat disebutkan sebagai berikut. Sekalipun peraturan perundang-undangan itu tidak khusus diterbitkan untuk konsumen atau perlindungan konsumen. Akan tetapi. telah diuraikan bahwa Undang-Undang Perlindungan Konsumen berlaku setahun sejak disahkannya (tanggal 20 April 2000). . B. a.1) 1. setidaktidaknya is merupakan cumber juga dari hukum konsumen dan/atau hukum perlindungan konsumen. di samping itu. berarti untuk "membela" kepentingan konsumen. Beberapa di antaranya akan diuraikan berikut ini. Dengan demikian dan ditambah dengan ketentuan Pasal 64 (Ketentuan Peralihan) undang-undang ini. dari kata "melindungi" menurut Az. b. Pembukaan. karena dalam suatu hubungan hukum dengan penjual. Konsumen memerlukan pengaturan tersendiri. hukum konsumen "ditemukan" di dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku. sampai saat ini orang bertumpu pada kata "segenap bangsa" sehingga ia diambil sebagai asas tentang persatuan seluruh bangsa Indonesia (asas persatuan bangsa). Sebelumnya. SUMBER-SUMBER HUKUM KONSUMEN Di samping Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Umumnya. konsumen merupakan pengguna barang dan jasa untuk kepentingan diri sendiri dan tidak untuk diproduksi ataupun diperdagangkan. Konsumen memerlukan sarana atau acara hukum tersendiri sebagai upaya guns melindungi atau memperoleh haknya.

Ketentuan tersebut berbunyi: Tiap warga Negara berhak atas penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. menjamin atau melindungi kepentingan konsumen tersebut. sekalipun dengan kualifikasi yang berbeda-beda pada masing-masing ketetapan. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) telah menetapkan berbagai ketetapan MPR. apalagi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan merupakan hak dari warga negara dan hak semua orang. Sesungguhnya. dalam satu baris kalimat. maka alai-alai negara akan turun Langan. . Baik ia laki-laki atau perempuan. dalam masingmasing TAP-MPR tersebut tidak terdapat penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan menguntungkan. pasal-pasal ini mengenal hak-hak warga negara. Penghidupan yang layak. maka pada tahun 1993 digunakan istilah "melindungi kepentingan konsumen". Landasan hukum lainnya terdapat pada ketentuan termuat dalam Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Perlindungan hukum pada segenap bangsa itu tentulah bagi segenap bangsa tanpa kecuali. Sayangnya. dalam hal ini khususnya melindungi konsumen. orang kota atau orang desa. apabila kehidupan seseorang terganggu atau diganggu oleh pihak/pihak lain. Kalau pada TAP-MPR 1978 digunakan istilah "menguntungkan" konsumen. Salah satu yang menarik dari TAP-MPR 1993 ini adalah disusunnya dalam satu napas. untuk melaksanakan perintah UUD 1945 melindungi segenap bangsa. baik diminta atau tidak. Selanjutnya. Susunan kalimat tersebut berbunyi: “…………. khususnya sejak tahun 1978. orang kaya atau orang miskin. Dengan ketetapan terakhir Majelis Permusyawaratan Rakyat Tahun 1993 (TAPMPR) makin jelas kehendak rakyat atau adanya perlindungan konsumen. orang asli atau keturunan dan pengusaha/pelaku usaha atau konsumen.Nasution di dalamnya terkandung pula asas perlindungan (hukum) pada segenap bangsa tersebut. meningkatkan pendapatan produsen dan melindungi kepentingan konsumen". tentang kaftan produsen dan konsumen. la merupakan hak dasar bagi rakyat secara menyeluruh. TAP-MPR 1988 "menjamin" kepentingan konsumen. Penjelasan autentik Pasal 27 ayat (2) ini berbunyi: Telah jelas. untuk melindungi dan atau mencegah terjadinya gangguan tersebut.

Kepentingan mereka dalam menggunakan barang atau jasa adalah untuk kegiatan usaha memproduksi dan/atau berdagang itu. bahan penolong. Dalam hubungannya dengan pars konsumen. adalah untuk meningkatkan pendapatan atau penghasilan mereka (tujuan komersial). Kepentingan konsumen dalam kaftan dengan penggunaan barang dan/atau jasa. menawarkan. Perlindungan hukum yang mereka perlukan adalah agar penghasilan dalam berusaha dapat meningkat. telah diterangkan bahwa pengusaha dalam menjalankan kegiatan memproduksi atau berdagang menggunakan barang atau jasa sebagai bahan baku. penguasaan pasar yang dominan. kegiatan usaha pengusaha adalah dalam rangka memproduksi. Nilai barang atau jasa yang digunakan konsumen dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka tidak diukur atas dasar untung rugi secara ekonomis belaka. terlihat lebih jelas arahan Majelis Permusyawaratan Rakyat tentang kekhususan kepentingan produsen (dan semua pihak yang dipersamakan dengannya) dan kepentingan konsumen. tetapi semata-mata untuk memenuhi kebutuhan raga dan jiwa konsumen. sebagai pribadi penggunaan barang dan/jasa itu adalah untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. Kepentingan peningkatan pendapatan atau penghasilan pelaku usaha adalah dalam rangka pelaksanaan kegiatan usaha mereka. nyata bahwa konsumen tidak sematamata menggunakan ukuran-ukuran komersial sebagaimana yang menjadi ukuran pelaku usaha dalam penggunaan barang dan/atau jasa yang mereka konsumsi. dan/atau mengedarkan produk hasil usaha mereka. adalah agar barang/jasa konsumen yang mereka peroleh. Adapun bagi konsumen akhir. dan lain-lain (memerlukan ketentuanketentuan pengawasan). bahan tambahan. seperti praktik persaingan melawan hukum. Adanya praktik-praktik niaga tertentu yang menghambat atau menyingkirkan pars pengusaha dari pasar. Terdapat kelemahan dalam menjalankan usaha tertentu atau tidak efisien dalam menjalankan manajemen usaha (perlu ketentuan-ketentuan tentang pembinaan) atau b. bermanfaat bagi . Sebelumnya. Sifat kepentingan khas produsen (lebih tepat pelaku usaha atau pengusaha) telah ditunjukkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. tidak merosot atau bahkan hilang sama sekah baik karena: a.Dengan susunan kalimat demikian. keluarga atau rumah tangganya (kepentingan nonkomersial). Oleh karena itu. atau bahan pelengkap.

haruslah diciptakan keadaan yang seimbang. dan keserasian di antara keduanya. 2. mengangkutnya dan memasarkannya. spa hak-hak dan/atau kewajiban yang sesuai kepentingan masing-masing pihak. memproduksinya. diri. keluarga dan/atau rumah tangganya (tidak membahayakan atau merugikan mereka). seperti pemikiran sementara orang pada saat ini. keamanan jiwa dan harta benda. Pencampuradukan keduanya. Pelaku usaha adalah pelaku usaha. Bagi kalangan pelaku usaha perlindungan itu adalah untuk kepentingan komersial mereka bahan dalam bake. hukum dagang serta kaidah-kaidah keperdataan yang termuat dalam berbagai . serasi. termasuk hukum perdata. termasuk di dalamnya bagaimana menghadapi persaingan usaha. Jadi. dalam penyusunan peraturan perundang-undangan haruslah jelas siapa yang dimaksudkan dengan pelaku usaha dan siapa pula konsumen. bahkan coati usahanya. tubuh atau harta benda mereka. Perbedaan prinsipil dari kepentingan-kepentingan dalam penggunaan barang/ jasa dan pelaksanaan kegiatan antara pelaku usaha dan konsumen dengan sendirinya memerlukan jenis pengaturan perlindungan dan dukungan yang berbeda pula. tetapi persaingan antarkalangan usaha itu haruslah sehat dan terkendali. kepentingan nonkomersial mereka yang harus diperhatikan adalah akibat-akibat kegiatan usaha dan persaingan di kalangan pelaku usaha terhadap jiwa. menjalankan bahan kegiatan usaha. keselarasan. Persaingan haruslah berjalan secara wajar dan tidak terjadi kecurangan-kecurangan yang mengakibatkan kalangan pelaku usaha tidak saja tidak meningkat pendapatannya. kesehatan.kesehatan/keselamatan tubuh. Bagi konsumen. Sekalipun diakui bahwa persaingan merupakan suatu yang biasa dalam dunia usaha. lebih banyak menimbulkan kerancuan dan kesulitan daripada kemanfaatan. dan konsumen adalah konsumen. Dalam keadaan bagaimanapun. tetap harus dijaga keseimbangan. Haruslah ada peraturan perundangundangan yang mengatur tentang usaha dan mekanisme persaingan itu. dan selaras dalam kehidupan di antara keduanya. dan seperti bagaimana bagaimana mendapatkan tambahan penolong. Hukum Konsumen dalam Hukum Perdata Dengan hukum perdata dimaksudkan hukum perdata dalam arti lugs. yang menonjol dalam perlindungan kepentingan konsumen ini adalah perlindungan pada jiwa. harta dan/atau kepentingan kekeluargaan konsumen. Oleh karena itu.

tentu saja jugs kaidahkaidah hukum perdata adat. dalam berbagai peraturan perundang-undangan lain. Akan tetapi. Patut kiranya diperhatikan kenyataan yang ada dalam pemberlakuan berbagai kaidah hukum perdata tersebut. atau tidak bersamaan hukum yang berlaku bagi mereka. memuat pula berbagai ketentuan hukum perdata bagi konsumen. masih tampak hidup dan terlihat dalam berbagai putusan pengadilan. yang tidak tertulis tetapi ditunjuk oleh pengadilan dalam perkara-perkara tertentu. Hubungan hukum perdata dan masalahnya dalam lingkungan berlaku Hukum Adat. Selanjutnya menganggap tidak berlaku beberapa pasal dari KUH Perdata. Kesemuanya itu baik hukum perdata tertulis maupun hukum perdata tidak tertulis (hukum adat). Antara lain tentang siapa yang dimaksudkan . untuk selebihnya dalam pengalaman di pengadilan sepanjang kemerdekaan sampai waktu ini. Adapun hubungan-hubungan hukum atau masalah antara penyedia barang atau jasa dan konsumen dari berbagai negara yang berbeda.peraturan perundang-undangan lainnya. Pada tahun 1963. KUH Perdata bahkan tampak seperti lebih dominan berlakunya dibandingkan dengan kaidah-kaidah hukum adat atau kaidah-kaidah hukum tidak tertulis dan putusan-putusan pengadilan negeri maupun pengadilan-pengadilan luar negeri yang berkaitan. Mahkamah Agung menganggap Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (13W) tidak'sebagai undang-undang tetapi sebagai dokumen yang hanya menggambarkan suatu kelompok hukum tidak tertulis. Kaidah-kaidah hukum perdata umumnya termuat dalam Kitab UndangUndang Hukum Perdata (KUH Perdata). mengatur tentang hak-hak dan kewajiban yang terbit dari. maupun buku kedua. baik buku pertama. dan buku keempat memuat berbagai kaidah hukum yang mengatur hubungan konsumen dan penyedia barang atau jasa konsumen tersebut. Beberapa putusan pengadilan tentang masalah keperdataan berkaitan dengan perlindungan konsumen masih terlihat. Terutama buku kedua. Akan tetapi di samping itu. Di samping itu. dapat diberlakukan Hukum Internasional dan asasasas hukum internasional. Begitu pula dalam KURD. khususnya (jasa) perasuransian dan pelayaran. buku ketiga. sekalipun sudah amat berkurang. khususnya Hukum Perdata Internasional. KUH Perdata memuat berbagai kaidah hukum berkaitan dengan hubungan hukum dan masalah antarpelaku usaha penyedia barang dan/atau jasa dan konsumen pengguna barang-barang atau jasa tersebut. tampaknya termuat puts kaidah-kaidah hukum yang mempengaruhi dan/ atau termasuk dalam bidang hukum perdata.

terlihat bahwa kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah hukum antara pelaku usaha penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa dengan konsumennya masing-masing terlihat termuat dalam:    KUH Perdata. dan keempat. 21 Tahun 1982). Undang-Undang tentang Rumah Susun (Undang-Undang No. Beberapa di antaranya (yang terbaru) adalah Undang-Undang tentang Metrologi Legal (Undang-Undang No. 42). Undang-Undang tentang Lalu Lintas danAngkutan Jalan (Undang-Undang No. Berbagai peraturan perundang-undangan lain yang memuat kaidah-kaidah hukum bersifat perdata tentang subjek-subjek hukum. hubungan hukum dan masalah antara penyedia barang atau penyelenggara jasa tertentu dan konsumen. substansi ketentuan Pasal 1365 KUH Perdata senantiasa memerlukan . hak-hak dan kewajiban masing-masing. Perumusan norma Pasal 1365 KUH Perdata lebih merupakan struktur norma daripada substansi ketentuan hukum yang sudah lengkap. 7 Tahun 1996). dan terakhir UndangUndang Perlindungan Konsumen (UndangUndang No. 8 Tahun 1999. UndangUndang tentang Pangan ( Undang-Undang No. Undang-Undang tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers (Undang-Undang No. Rumusan norma dalam pasal ini unik tidak seperti ketentuan pasal lainnya. Perbuatan Melawan Hukum (Pasal 1365 KUH Perdata) Dalam Sengketa Antara Konsumen dan Pelaku Usaha Perbuatan melawan hukum di Indonesia secara normatif selalu merujuk pada ketentuan Pasal 1365 KUH Perdata. 14 Tahun 1992). kalau dirangkum keseluruhanriya.sebagai subjek hukum dalam suatu hubungan hukum konsumen. 5 Tahun 1984). 23 Tahun 1992). Undang-Undang tentang Kesehatan ( Undang-Undang No. 16 Tahun 1985). 2 Tahun 1981). Buku Kesatu dan Buku Kedua. UndangUndang tentang Perindustrian (Undang-Undang No. Jadi. 4 Tahun 1982). ketiga. Oleh karena itu. Lembaran Negara Tahun 1999 No. Berta tats cars penyelesaian masalah yang ter adi dalam Sengketa antara konsumen dan penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa yang diatur dalam peraturan perundang-undangan bersangkutan. KURD. terutama dalam buku kedua. Undang-Undang tentang Lingkungan Hidup (Undang-Undang No.

Pasal 1370 KUH Perdata menyatakan bahwa dalam hal tedadi pembunuhan dengan sengaja atau kelalaiannya maka suami atau istri. atau disebabkan oleh barang-barang yang berada di bawah pengawasannya. sesuai dengan kedudukan dan keadaan pars pihak. Kedua. orang tug korban yang lazimnya mendapat nafkah dari pekerjaan korban. Beberapa tuntutan yang dapat diajukan karena perbuatan melawan hukum ialah: 1. ketentuan ini akan "abadi" karena hanya merupakan struktur. seperti kiasan yang sudah kits kenal bahwa Pasal 1365 KUH Perdata ini "Tak lekang kena pangs. 4.materialisasi di luar KUH Perdata. Perbuatan Melawan Hukum terhadap tubuh dan jiwa manusia. . Perbuatan Melawan Hukum Indonesia yang berasal dari Eropa Kontinental diatur dalam Pasal 1365 KUH Perdata sampai dengan Pasal 1380 KUH Perdata. anak. pernyataan bahwa perbuatan yang dilakukan adalah melawan hukum. Ketiga. Perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) sama dengan perbuatan melawan undang-undang (on wetmatigedaad). Dengan kata lain. ganti rugi dalam bentuk natura atau dikembalikan dalam keadaan semula. Pasal-pasal tersebut mengatur bentuk tanggung jawab atas Perbuatan Melawan Hukum yang terbagi atas: Pertama. Dilihat dari dimensi waktu. berhak untuk menuntut ganti rugi yang harus dinilai menurut keadaan dan kekayaan kedua belah pihak. 2. tanggung jawab tidak hanya karena perbuatan melawan hukum yang dilakukan diri sendiri tetapi juga berkenaan dengan perbuatan melawan hukum orang lain dan barang-barang di bawah pengawasannya. Pasal 1372 menyatakan bahwa tuntutan terhadap penghinaan adalah bertujuan untuk mendapat ganti rugi dan pemulihan nama baik. Pasal 1367 ayat (1) KUH Perdata menyatakan: Seseorang tidak hanya bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya sendiri tetapi juga disebabkan karena perbuatan orangorang yang menjadi tanggungannya. Masalah penghinaan diatur dalam Pasal 1372 sampai dengan Pasal 1380 KUH Perdata. Perbuatan Melawan Hukum terhadap nama baik. melarang dilakukannya perbuatan tertentu. 3. tak lapuk kena hujan". ganti rugi dalam bentuk uang atas kerugian yang ditimbulkan.

tetapi klakson tidak berfungsi karena seluruh sistem elektroniknya coati. Namun dengan lahirnya undang-undang yang secara khusus mengatur mengenai tuntutan ganti kerugian maka telah terjadi perubahan dalam penerapan Pasal 1365 KUH Perdata. penggugat tidak bisa menahan buang air kecil karena menderita suatu penyakit sehingga terburu-buru masuk ke toilet yang terletak di dalam rumah sambil menutup pintu mobil yang menggunakan remote control. Akhimya. penumpang yang masih berada di dalam mobil tetap bisa keluar dari mobil dengan cara membuka pintu dari dalam. Harapan istri penggugat temyata jugs sic-sic karena tidak seorang pun mendengarkan teriakannya karena ia berada dalam ruangan kedap . Istri penggugat langsung menekan tombol klakson mobil BMW untuk mints pertolongan. misalnya undangundang tentang perlindungan konsumen. perkara bermula dari pembelian mobil jenis BMW 318i yang dilakukan oleh Penggugat. lalu ia berusaha mencopot panel yang ada di dalam mobil namun tidak berhasil memecahkannya. Sebagaimana yang wring dilakukan oleh penggugat ketika mengendarai jenis mobil yang lainnya karena sekalipun dikunci dari luar. Berbagai undang-undang telah secara khusus mengatur tentang gaud rugi karena perbuatan melawan hukum. Sebelum undang-undang tersebut lahir. istri penggugat lalu membuka pintu mobil dari dalam namun tidak berhasil sehingga merasa ketakutan karena terperangkap di dalam mobil. Pada suatu hari penggugat pergi mengantarkan istri penggugat untuk mengurut kakinya ke suatu tempat dengan mengendarai mobil BMW. istri penggugat berteriak sekeras-kerasnya dengan harapan ada yang mendengarkan dan bisa membantu keluar dari mobil. Perkara berikut ini menunjukkan perubahan penerapan Pasal 1365 KUH Perdata dalam. hubungan dengan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha. Sesampainya di rumah. Karena kondisi kaki istri penggugat masih terasa nyeri maka tidak bisa keluar mobil bersamaan dengan penggugat dan ketika hendak keluar.Penerapan Pasal 1365 KUH Perdata mengalami perubahan melalui putusan pengadilan dan undang-undang. gugatan yang berkenaan dengan ganti rugi berkaitan dengan materi yang kemudian diatur dalam undang-undang tersebut didasarkan pada Pasal 1365 KUH Perdata. menurut Tergugat salah sate kecanggihan mobil BMW adalah sistem elektroniknya akan memberi keamanan dan kenyamanan. dan kunci elektroniknya tidak mungkin dipalsukan.

penggugat menggugat BMW AG yang berkedudukan di Jerman sebagai Tergugat I. dan hampir merenggut nyawa serta menimbulkan kerugian yang besar bagi penggugat. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. sangat berakibat fatal. Akhimya jiwa istri penggugat dapat diselamatkan meskipun dalam keadaan yang sangat menyedihkan. tanpa disadari tangan istri penggugat terluka dan berlumuran darah. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen di samping Perbuatan Melawan Hukum (Pasal 1365 KUH Perdata) maka sesuai dengan asas hukum lex specialis derogat lex generalis dan asas hukum lex posteriori derogat legi priori. Lebih lanjut penggugat juga mendalilkan bahwa pars tergugat yang telah memproduksi mobil BMW dengan sistem penguncian double lock tersebut juga telah melanggar Undang-Undang No. Berdasarkan kejadian tersebut. dan menurut penggugat hal ini jelas merupakan perbuatan melawan hukum. . sistem penguncian double lock yang diprodilksi tergugat I dan tergugat 11 tidak menjamin keamanan dan keselamatan konsumen di dalam memakai produk tersebut. tindakan Tergugat I dan Tergugat II memproduksi mobil BMW dengan menggunakan sistem double lock.suara (dalam mobil BMW yang terkunci) sehingga pada saat itu kondisi istri penggugat sangat lemah dan mengenaskan akibat banyaknya mengeluarkan tenaga serta kehabisan oksigen. Setelah itu barulah ia dapat menghirup udara segar yang masuk dari lubang kaca mobil. Menurut penggugat. Tergugat dalam jawabannya mendalilkan bahwa karena penggugat telah mengajukan tuntutan pelanggaran Undang-Undang No. Menurut penggugat. Tanga pikir panjang istri penggugat merobek kaca mobil yang sudah retak dengan tangannya dan berhasil membentuk lubang angin. BMW Group Indonesia sebagai tergugat II dan PT Astrea International Tbk sebagai tergugat III dengan dalil Perbuatan Melawan Hukum. Istri penggugat kembali berteriak untuk meminta tolong yang temyata dapat didengar oleh penggugat yang sebelumnya beranggapan bahwa istri penggugat sudah masuk ke dalam rumah. serta tindakan Tergugat III yang tidak memberikan informasi yang jelas tentang kondisi mobil serta cara pemakaiannya kepada penggugat. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Setelah empat puluh menit berjuang akhirnya istri penggugat berhasil meretakkan kaca mobil dengan sebuah bends yang berhasil ditemukan di dalam mobil BMW. hukum yang berlaku dalam perkara ini adalah Undang-Undang No.

Berdasarkan Pasal 23 Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan tidak berwenang mengadili perkara ini. Menurut Majelis Hakim dalam hal gugatan mengenai tanggung jawab dari pelaku usaha terhadap konsumennya yang berlaku adalah Undang-Undang Perlindungan Konsumen sebagai aturan khusus/specialis (lex specialis derogat legi generali). bukan ke Pengadilan Negeri di mana salah satu Tergugat bertempat tinggal sebagaimana diatur dalam Pasal 118 (2) HIR.Jkt. 210/ Pdt. hukum acara perdata dan/ataii hukum acara pidana dan hukum internasional khususnya hukum perdata internasional. segala kaidah hukum maupun asas-asas hukum ke semua cabangcabang hukum publik itu sepanjang berkaitan dengan hubungan hukum konsumen dan/atau masalahnya dengan penyedia barang atau penyelenggara jasa. 385/ Pdt. Termasuk hukum publik dan terutama dalam kerangka hukum konsumen dan/atau hukum perlindungan konsumen. gugatan harus diajukan ke pengadilan negeri di mana konsumen/penggugat bertempat tinggal.DKI. hukum pidana. dapat pula diberlakukan.Pst berpendapat bahwa Pasal 1365 adalah suatu aturan umum/generalis dalam hal mengajukan gugatan terhadap suatu Perbuatan Melawan Hukum yang dilakukan oleh tergugat sedangkan Undang-Undang No. Jadi. Dalam kaftan ini antara lain ketentuan perizinan usaha./2004/PT. Hukum Konsumen dalam Hukum Publik Dengan hukum publik dimaksudkan hukum yang mengatur hubungan antara negara dan alai-alai perlengkapannya atau hubungan antara negara dengan perorangan. adalah hukum administrasi negara. Putusan ini diperkuat oleh Pengadilan Tinggi Jakarta sebagai Peradilan Banding melalui Putusan No. 3. hal tersebut karena adanya aturan khusus (Pasal 23 Undang-Undang Perlindungan Konsumen) yang didahulukan dari aturan umum (Pasal 118 ayat (2) HIR) lex specialis derogat legi generali.G/2002/PN. Dalam amar putusannya. ketentuan- . 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen adalah merupakan suatu aturan khusus yang mengatur mengenai tanggung jawab dari pelaku usaha terhadap konsumen bila tedadi suatu kesalahan atau suatu Perbuatan Melawan Hukum dari pelaku usaha tersebut terhadap konsumennya.Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat melalui Putusan No.

Pasal 73 ditentukan: Pemerintah melakukan pembinaan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan. tampaknya hukum administrasi negara. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan). Dari peraturan perundang-undangan di atas terlihat beberapa departemen dan atau lembaga pemerintah tertentu menj alankan tindakan administratif berupa pengawasan dan pembinaan terhadap pelaku usaha dengan perilaku tertentu dalam melaksanakan perundang-undangan tersebut. 23 Tahun 1992. Diantara kesemua hukum publik tersebut. Ketentuan hukum administrasi. Undang-Undang No. misalnya menentukan bahwa Pemerintah melakukan pengaturan dan pembinaan rumah susun dan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang (termuat dalam Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang tentang Rumah Susun. ketentuan-ketentuan hukum acara dan berbagai konvensi dan/atau ketentuan hukum perdata internasional. hukum pidana.ketentuan pidana tertentu. Misalnya tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan/atau sarana kesehatan yang melanggar undang-undang (Pasal 77 UU No. sedang Pasal 77 menegaskan wewenang pemerintah untuk mengambil berbagai tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan/atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap undangundang ini. selanjutnya disebut hukum administrasi. Penjelasan pasal ini menentukan: tindakan administratif dalam pasal ini dapat berupa pencabutan izin usaha. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 LN Tahun 1985 No. izin praktik atau izin lain yang diberikan Berta penjatuhan hukum disiplin berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan yang . Dalam Pasal 76 undang-undang itu dijelaskan pula peran pengawasan yang dijalankan oleh pemerintah. Selanjutnya dalam Undang-Undang Kesehatan. Pasal 77 itu berbunyi: Pemerintah berwenang mengambil tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan/atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan ini. 75). hukum internasional khususnya hukum perdata internasional dan hukum acara perdata Berta hukum acara pidana paling banyak pengaruhnya dalam pembentukan hukum konsumen.

7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Juga berdasarkan Undang-Undang No. solvabilitas dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank. Ayat (2) pasal ini menentukan bahwa Bank Indonesia menetapkan ketentuan tentang kesehatan bank dengan memperhatikan aspek permodalan. likuiditas. Pasal 52 dan -Pasal 53 (Ketentuan Pidana dan sanksi administratif). Pasal 29 menegaskan bahwa tugas pembinaan dan pengawasan bank-bank di Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia. Secara skematis. Selanjutnya.berlaku. Struktur Hukum Perlindungan Konsumen Hukum Konsumen / Hukum Perlindungan Konsumen Hukum Perdata (dalam Arti Luas) Hukum Publik Hukum Perdata Hukum Administrasi Hukum Dagang Hukum Pidana Hukum Perdata Internasional . Begitu pula dengan tindakan administratif Menteri Kehakiman dalam mengesahkan Anggaran Dasar suatu Perseroan Terbatas atau Perubahannya sebagaimana termuat dalam Undang-Undang No. kualitas aset. hukum konsumen dan/atau hukum perlindungan konsumen itu berbentuk sebagai berikut. kualitas manajemen. ditetapkan bahwa Bank Indonesia dapat menetapkan sanksi administratif kepada bank yang tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana ditentukan pertimbangan kepada Menteri Keuangan untuk mencabut izin usaha bank bersangkutan. Tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dilakukan setelah mendengar pertimbangan Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. rentabilitas.

. memenuhi persyaratan dan/atau cukup untuk melindungi kepentingan-kepentingan konsumen. peminjam (verbruiklener. Pasal 1694 dan seterusnya).Dari skema ini terlihat bahwa pembagian berdasarkan hukum perdata dalam arti lugs dan hukum publik memberikan gambaran yang menyeluruh tentang struktur dan permasalahan perlindungan konsumen. terlepas dari apakah perundang-undangan yang telah ada. Di Negeri Belanda istilah koper atau huurder (istilah Belanda yang berarti pembeli atau penyewa) digunakan dalam perundangundangannya. penyewa (harder. penitip barang (bewaargever. sebagai pengguna jasa angkutan (UU No. tidak menetapkan terpisah pelaku usaha atau konsumen. KUH Perdata dan KUHD tidak Mengenal Istilah Konsumen Hal ini mudah dipahami karena pada saat undang-undang itu diterbitkan dan diberlakukan di Indonesia. 14 Tahun 1992) yang dapat dilakukan oleh pelaku usaha atau oleh konsumen. Misalnya. Pasal 1548 dan seterusnya). tetapi hukum umum ini ternyata mengandung berbagai kelemahan tertentu dan menjadi kendala bagi konsumen atau perlindungan konsumen. Tentunya. MASALAH YANG DIHADAPI Sekalipun berbagai instrumen hukum umum (peraturan perundang-undangan yang berlaku umum). Keadaannya agak berbeda dengan pengaturan yang ditentukan dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen. 1. Adapun hak-hak dan kewajiban pelaku usaha (istilah digunakan untuk penglisaha) diatur dalam Pasal 6 dan 7. dalam KUH Perdata kits menemukan istilahistilah pembeli (koper. Pasal 1457 dan seterusnya KUH Perdata). tidak dikenal istilah consumers atau consument (istilah Inggris dan Belanda). dilakukan oleh siapa. Keduanya diatur bersamaan. Yang harus mendapatkan perhatian adalah pelanggaran perundang-undangan itu. Di dalam undang-undang ini secara tegas ditentukan hak-hak konsumen (Pasal 4) dan kewajiban-kewajibannya (Pasal 5). Oleh karena itu. Peraturan perundangan umum ini sebagaimana telah diuraikan di atas. C. baik hukum perdata maupun hukum publik dapat digunakan untuk menyelesaikan hubungan dan/atau masalah konsumen dengan penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa. apakah pelaku usaha atau konsumen.

sistem terbuka dan bahwa hukum perjanjian itu merupakan hukum pelengkap saja. tertanggung atau penumpang terdapat dalam KUH Perdata dan KUHD. Sistemnya Terbuka dan Merupakan Hukum Pelengkap Asas kebebasan berkontrak memberikan pada setiap orang hak untuk dapat mengadakan berbagai kesepakatan sesuai kehendak dan persyaratan yang disepakati kedua pihak. dengan syarat-syarat subjektif dan objektif tentang sahnya suatu persetujuan tetap dipenuhi (Pasal 1320). is menimbulkan kepincangan tertentu dalam hubungan hukum atau masalah mereka satu sama lain. Hukum Perjanjian (Buku ke-3 KUH Perdata) Menganut Asas Hukum Kebebasan Berkontrak. Dengan sistem terbuka. lengkaplah sudah kebebasan setiap orang untuk mengadakan perjanjian. termasuk perjanjian yang dipaksakan kepadanya.Pasal 1754 dan seterusnya). Adapun Kitab Undang-Undang Hukum Dagang ditemukan istilah tertanggung (verzekerde. tetapi secara materiil akan terlihat. Dengan asas kebebasan berkontrak. tingkat pendidikan dan/atau kemampuan days saingnya. konsumen itu terdiri dari dua jenis yang berbeda kepentingan dan tujuan dalam penggunaan barang atau jasanya. Pengguna Barang dan/atau Jasa Sebagaimana telah diuraikan dalam bab pertama. Keadaan mempersamakan formal memang memikat. Subjek hukum pembeli. Demikian pula dengan konsumen akhir. Pasal 246 dan seterusnya Buku Kesatu) dan penumpang (opvarende. Pasal 341 dan seterusnya Buku Kedua). Para pengusaha yang disebut juga sebagai konsumen antara mempunyai tujuan dan kepentingan tersendiri. mungkin . penyewa. tanpa pemberdayaan (empowering) pihak yang historis lemah. dan sebagainya. 2. Semua Subjek Hukum tersebut Adalah Konsumen. bahkan dengan bentuk-bentuk perjanjian lain dari apa yang termuat dalam KUH Perdata (berbeda dengan sistem tertutup yang dianut Buku Ke-2 KUH Perdata). setiap orang dapat mengadakan sembarang perjanjian. Kalau yang mengadakan perjanjian adalah mereka yang seimbang kedudukan ekonomi. 3. tidak membedakan apakah mereka itu sebagai konsumen akhir atau konsumen antara. jadi setiap orang dapat saja mengadakan persetujuan dalam bentukbentuk lain dari yang disediakan oleh KUH Perdata. Keadaan ini kemudian diimbuhi pula dengan catatan bahwa hukum perjanjian itu merupakan hukum pelengkap.

Antara lain mengenai pembelian rumah. alat-alat elektronik. Man dan yang sejenis dengan itu. Dalam keadaan sebaliknya. ternyata pihak konsumenlah. Kessler bahkan lebih tajam lagi tinjauannya. bentuk perjanjian baku. Berbagai produk konsumen. nanti akan terlihat dalam bentuk-bentuk perjanjian dengan syarat-syarat baku (perjanjian baku/klausul baku). kini sudah menjadi pengalaman kita. Berbagai penelitian termasuk penelitian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 19731985. perikatan beli sews. Berta berbagai praktik niaga lainnya yang tumbuh karena kebutuhan atau kegiatan ekonomi. Apa yang dimaksudkan Kessler. terutama konsumen dari negara-negara berkembang yang merupakan pihak yang lemah tersebut. tidak terakomodasi secara sangat sumir dalam perundangundangan itu. alat-alat transportasi. Dilengkapi dengan penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia dan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Pengalaman nyata memang menunjuk pada keadaan itu. kedudukan hukum berbagai cars pemasaran produk konsumen seperti penjualan dari rumah ke rumah. dan sebagainya. alat-alat rumah tangga. Beberapa hal pokok tentang subjek hukum dari suatu perikatan. Pedanjian dengan syarat-syarat baku ini telah sangat mendalam merasuk ke dalam kehidupan masyarakat. 4. yaitu pars pihak tidak seimbang. pihak yang lebih kuat akan dapat memaksakan kehendaknya atas pihak yang lebih lemah. yang kemudian dijadikan dasar dari keputusan Sidang Umum PBB pada tahun 1985 tentang Perlindungan Konsumen. . jasa asuransi.masalahnya menjadi lain. jasa perbankan. tidak terkecuali di Indonesia. Perkembangan Pesat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) Perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi sangat mempengaruhi kegiatan bisnis di mans pun di dunia. la mengatakan bahwa hukum perjanjian itu adalah pelindung dari pembagian kekuasaan yang tidak merata dalam masyarakat sehingga memungkinkan pemaksaan kehendak pihak yang kuat atas pihak-pihak yang lemah. promosipromosi dagang. bentuk usaha dan praktik bisnis yang pada masa diterbitkannya KUH Perdata dan KUHD belum dikenal.

00 (dua juta lima ratus ribu rupiah). Proses produksi dan pemasaran produk yang makin canggih. yang tidak saja makan waktu berlarutlarut. Bayangkan saj a berapa banyak waktu. lamanya masa proses sampai didapatkan putusan yang efektif. karena kebutuhan telah pula dipraktikkan dan kadang-kadang tanpa persyaratan dan pembatasan yang menurut hukum berlaku bagi perikatan di negeri asalnya. menyebabkan KUH Perdata dan KUHD tertinggal di belakang. Bayangkan pula proses persidangan di Pengadilan Negeri. dan/atau proses peninjauan kembali. Pengadilan Tmggi. sistem pemasaran yang digunakan.500. yaitu konsumen yang jumlah pembeliannya tidak melebihi suatu jumlah tertentu. Beban ini lebih banyak tidakdapat dipenuhi dalam hubungan antara konsumen dan penyedia barang atau penyelenggara jasa pada masa kini. kerahasiaan perusahaan dan tanggung jawab perusahaan yang hanya pada pemegang sahamnya saja. memperbesar jarak antara konsumen dengan produk konsumen yang is gunakan di samping hal-hal yang dikemukakan di atas. Hal ini terutama karena tidak pahamnya konsumen atas pembuatan produk. 5. tenaga dan hal-hal lain berkaitan dengan pembelian itu.000.00 (dua juta lima ratus ribu rupiah). maupun jaminan puma jual yang digunakan oleh pelaku usaha. Pengadilan Tinggi. tetapi juga memakan tenaga dan biaya. misalnya pembelian barang atau jasa yang tidak melebihi jumlah Rp 2.500. Mahkamah Agung dan kemungkinan Peninjauan kembali di Mahkamah Agung). Pasal 1865 KUH Perdata menentukan pembuktian hak seseorang atau kesalahan orang lain dibebankan pada pihak yang mengajukan gugatan tersebut. berapa besar biaya. Pencampuradukan sistem hukum yang melanda masyarakat karena kebutuhannya itu. yang hams dikeluarkan oleh konsumen bersangkutan dalam mempertahankan haknya di pengadilan-pengadilan Indonesia. ditambah dengan beban pembuktian merupakan kendala bagi konsumen dan perlindungannya.000. Tingkat-tingkat peradilan (Pengadilan Negeri.Begitu pula bentuk-bentuk perikatan yang tampaknya berasal dari negaranegara yang menggunakan sistem hukum berbeda (Anglo Saxon). Mahkamah Agung. Hukum Acara Hukum acara yang dipergunakan dalam proses perkara perdata pun tidak membantu konsumen dalam mencari keadilan. . Apalagi bagi konsumen kecil. Contoh konkret adalah pembelian 1 (satu) unit televisi berwama dengan harga kurang lebih Rp 2.

7. melindungi konsumen dan pengusaha yang jujur dan beriktikad baik dari perilaku pelaku usaha yang menyimpang atau melanggar hukum dan dapat menimbulkan kerugian pada mereka.  Pengumpulan bukti-bukti serta semua proses untuk tindakan administratif dan/atau peradilan atas pelaku dijalankan oleh pemerintah. atas setiap perilaku usaha yang memenuhi unsur-unsur pidana dan pelaksanaannya dijalankan oleh pejabat yang berwenang untuk itu. dan selaras. Adapun doktrin. Kemanfaatan instrumen hukum publik terlihat antara lain:  Semua pelaksanaan kegiatan pengawasan dan/atau penyelidikan. penyidikan dan penuntutan diselenggarakan oleh (aparat) pemerintah. Dengan cara menggunakan Surat keputusan suatu tindakan administratif atau putusanputusan pengadilan yang berkaitan dengan kasus kerugiannya.6. seperti juga bagi pengusaha yang jujur dan beriktikad baik. falsafah Indonesia adalah Pancasila yang pemikiran politik ekonominya adalah kesejahteraan rakyat dengan perikehidupan yang seimbang. Dengan demikian. Hukum Publik Sesuai fungsinya menurut hukum. Doktrin yang dianut KUH Perdata/KUHD adalah liberalisme. Yang Sangat Penting Pula Adalah Dasar Pemikiran Filsafat Dianut dari KUH Perdata/KUHD dan falsafah hukum yang sekarang hams dijadikan pangkal tolak pernikiran hukum kita yang sama sekali sudah tidak sejalan lagi. Begitu pula halnya dengan penerapan peraturan perundang-undangan. beban beracara yang terberat bagi konsumen dalam mengajukan kasus kerugiannya ke pengadilan yaitu beban pembuktian adanya sesuatu hak dan/atau peristiwa yang melanggar hukum (Pasal 1865 KUH Perdata dan Pasal 163 HIR) serta hal-hal lain tampak menjadi ringan. Bahkan dengan ketentuan-ketentuan termuat .  Semua biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan pengawasan dan peradilan dipikul oleh pemerintah. Tindakan administratif yang dijalankan oleh instansi berwenang terhadap mereka yang melanggar ketentuan dari peraturan perundang-undangan (administratif). serasi. pidana (yang termuat dalam KUHP atau di luar KUHP). mempunyai peran yang sangat membantu upaya perlindungan konsumen.

Sampai saat ini belum pernah terjadi penggunaan acara penggabungan perkara sesuai KUHAP dalam suatu perkara pidana. Putusan pengadilan dan/atau tindakan administratif (larangan mengedarkan. tidak sertamerta diketahui dan/atau memberikan ganti rugi atau sesuatu penyelesaian tertentu bagi konsumen. . antara lain: 1. penarikan nomor daftar produk. kesemuanya itu masih harus diuji di dalam masyarakat dan pengadilan-pengadilan kita. Akan tetapi. juga menjadi pengalaman. antara lain: UndangUndang tentang Pangan. Di samping itu. Juga tidak dalam kasus kematian karena peristiwa biscuit beracun. Dari hal-hal terurai di atas terlihat bahwa peraturan-peraturan umum. Kalau diperhatikan falsafah bangsa dan negara Pancasila temyata bahwa banyak hal belum cukup diatur dalam perundang-undangan yang pada saat ini. Pada sementara kasus. Alasan yang paling banyak dikemukakan pada waktu ini adalah karena industri/bisnis kita masih termasuk "industri bagi" (infant-industry) sehingga memerlukan waktu agar mereka menjadi mapan dan kuat bersaing. Terhadap konsumen is menjadi masalah besar. Bagi konsumen Indonesia tampaknya tiga peraturan perundangundangan yang sangat dibutuhkan. dan/atau juga sulit pengawasannya. sayangnya. Konsumen masih harus menjalankan acara lainnya lebih lanjut. 2. 3. Dianutnya pendirian kalangan usaha bahwa tanggung jawab (direksi) perusahaan hanya pada pemegang sahamnya saja. tetapi mempunyai berbagai kendala bahkan juga tentang substansinya. yang secara perdata juga merugikan kepentingan konsumen. Peralihan pemilikan suatu badan usaha berkali-kali terjadi tanpa ada pengawasan. terlihat pula berbagai kelemahannya. memberikan dampak negatif lainnya pada konsumen. oleh instansi yang berwenang. yaitu siapa yang harus dipertanggungjawabkan tentang sesuatu perilaku kegiatan perusahaan atau produknya yang menimbulkan kerugian pada konsumen. suatu tindakan administratif tidak dijalankan atau dijalankan dengan kualifikasi "akan ditindak tegas" tetapi tanpa kelanjutan karena satu dan lain alasan.dalam Kitab Undang-Undang HukumAcara Pidana (KUHAP) proses beracara ini dapat dipermudah lagi. pencabutan izin usaha dan sebagainya) terhadap perilaku pelaku usaha yang menyimpang dan merugikan konsumen. sekalipun dapat dimanfaatkan oleh (hukum) konsumen.

tata cara peradilan bagi konsumen keeil. Apakah yang dimaksud dengan asas kebebasan berkontrak dan apa kaitannya dengan hukum perlindungan konsumen? Jelaskan! 5. persaingan yang mengganggu perdagangan dan industri dan sebagainya. persediaan dan penggunaan serta segala sesuatu yang berkaitan dengan itu. Sedangkan UndangUndang Perlindungan Konsumen mengatur tentang siapa konsumen. hak dan kewajibannya. Undang-Undang Persaingan Usaha mengatur tentang perilaku yang harus diialankan oleh para pelaku usaha penyedia barang dan/atau jasa. Bagi masyarakat Indonesia. Sebutkan tindakan administratif dari pemerintah di bidang tertentu apabila ada pihak yang merugikan konsumen (barang/jasa) dan berikan dasar hukumnya! 3.Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen. oligopoli. sehingga mereka tidak merusak diri sendiri dan/atau merugikan konsumennya. dan Undang-Undang tentang Persaingan Usaha. bagaimana mereka berhubungan dengan para penyedia barang atau jasa kebutuhan mereka. termasuk pengadaan. Peraturan perundang-undangan tentang Pangan mengatur tentang makanan dan minuman (pangan) baik yang telah diolah maupun tidak. Mengapa dalam KUH Perdata dan KUHD tidak mengenai istilah konsumen? Jelaskan! 4. khususnya konsumen Indonesia agaknya dari sudut kepentingan konsumen pemecahan masalah perlindungan konsumen tidak lain adalah diterbitkannya suatu Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen. Apakah dalam UUD 1945 diatur mengenai perlindungan bagi warga negara (konsumen)? Jelaskan disertai pasalnya! 2. karena dalam undang-undang ini diatur berbagai perbuatan pelaku usaha yang dilarang. bagi seluruh rakyat Indonesia. serta segala sesuatu berkaitan dengan itu. Daftar Pertanyaan 1. seperti jugs bagi Para konsumen. Mengapa dalam penerapan peraturan-peraturan hukum ada kendalakendala? Jelaskan dan berikan contohnya! . Kalau Undang-Undang Persaingan Usaha sangat dibutuhkan oleh Para usahawan beriktikad baik di Indonesia. pengaturan atau penetapan harga (price fixing). seperti perilaku usaha monopoli.

Beberapa hal yang dinilai penting dalam hubungan konsumen dan penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa (pelaku usaha) antara lain sebagai berikut.BAB 4 BERBAGAI ASPEK HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN A. Kesemuanya itu baik hukum perdata tertulis maupun hukum perdata tidak tertulis (hukum adat). terutama dalam Buku kedua. tentu saja juga kaidahkaidah hukum perdata adat. Kaidah-kaidah hukum perdata umumnya termuat dalam Kitab UndangUndang Hukum Perdata (KUH Perdata). 2. Buku kesatu dan Buku kedua. KUHD. yang tidak tertulis. ketiga. tetapi ditunjuk oleh pengadilanpengadilan dalam perkara-perkara tertentu. Bab 4 . ASPEK-ASPEK KEPERDATAAN Yang dimaksudkan hukum perdata yakni dalam arti lugs. Berbagai peraturan perundang-undangan lain yang memuat kaidah-kaidah hukum bersifat perdata tentang subjek-subjek hukum. 3. Di samping itu. termasuk hukum perdata. Kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah hukum antara pelaku usaha penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa dengan konsumennya masing-masing termuat dalam: 1. hubungan hukum dan masalah antara penyedia barang atau penyelenggara jasa tertentu dan konsumen. dan keempat. hukum dagang Berta kaidah-kaidah keperdataan yang termuat dalam berbagai peraturan perundang-undangan lainnya. KUH Perdata.

Kesemuanya itu baik hukum perdata tertulis maupun hukum perdata tidak tertulis (hukum adat). sewa-menyewa. atau standar lain yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang. tersediannya pelayanan jasa jurnal-jual. tentu saja juga kaidah-kaidah hokum perdata adat. baik secara dicantumkan maupun dimuat didalam wadah atau pembungkusnya (antara lain label dari produk makanan dalam kemasan). tentang kualitas produk. hukum dagang serta kaidah-kaidah keperdataan yang termuat dalam berbagai peraturan perundang-undangan lainnya. ditetapkan harus dibuat. siaran. sebelum ia menggunakan sumber dananya (gaji. keamanannya. Sedang untuk produk hasil industri lainnya. Kaidah-kaidah hokum perdata umumnya termuat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata). Ketiga. informasi tentang barang/jasa merupakan kebutuhan pokok. penyusun peraturan perundang-undangan secara umum atau dalam rangka deregulasi. dan Keempat 2. tentang jaminan atau garansi produk. Di samping itu. hubungan hokum dan masalah antara penyedia barang atau penyelenggara jasa tertentu dan konsumen/ Beberapa hal yang dinilai penting dalam hubungan konsumen dan penyedia barang/penyelenggara jasa (pelaku usaha) antara lain sebagai berikut : 1. standar internasional. Buku kesatu dan Buku kedua 3. Hal-hal yang berkaitan dengan informasi Bagi konsumen. KUHD. pinjam-meminjam. Dari sudut penyusunan peraturan perundang-undangan terlihat informasi itu termuat sebagai suatu keharusan. dan sebagainya) tentang produk konsumen dengan pelaku usaha itu. Beberapa di antaranya. keterangan. yang tidak tertulis. Dengan transasi konsumen dimaksudkan diadakannya hubungan hokum (jual beli. beli-sewa. tentang berbagai persyaratan / cara memperolehnya. tetapi ditunjuk oleh pengadilan-pengadilan dalam perkara-perkara tertentu. dan tindakan pemerintah pada umumnya atau tentang sesuatu produk konsumen. dan lain-lain yang berkaitan dengan itu. KUP Perdata. .Aspek-aspek keperdataan Yang dimaksudkan hukum perdata yakni dalam arti luas.honor. terutama dalam Buku Kedua. harga. informasi tentang produk itu terdapat dalam bentuk standar yang ditetapkan oleh pemerintah.upah. Berbagai peraturan perundang-undangan lain yang memuat kaidah-kaidah hokum bersifat perdata tentang subjek-subjek hokum. Kaidah-kaidah hokum yang mengatur hubungan dan masalah hokum antara pelaku usaha penyedia barang/penyelenggara jasa dengan konsumennya masingmasing termuat dalam : 1. Informasi dari kalangan pemerintah dapat diserap dari berbagai penjelasan.Berbagai aspek hukum perlindungan konsumen 1.atau apa pun nama lainnya) untuk mengadakan transaksi konsumen tentang barang/jasa tersebut. termasuk hukum perata. Informasi-informasi tersebut meliputi tentang ketersediaan barang/jasa yang dibutuhkan masyarakat konsumen. persediaan suku cadang.

105. tampaknya yang paling berpengaruh pada saat ini adalah informasi yang bersumber dari kalangan pelaku usaha. yaitu sepanjang iklan tertentu menimbulkan kerugian pada pihak lain.” Sayangnya dalam undang-undang ini tidak dicantumkan apa yang dimaksud dengan iklan. meng-iklankan suatu barang dan jasa secara tidak benar dan seolah-olah dan seterusnya.Informasi dari konsumen atau organisasi konsumen tampak pada pembicaraan dari mulut ke mulut tentang suatu prosuk konsumen. catalog. yaitu Warta Konsumen (WK). Tentang Iklan KUH Perdata (Kitab Undang – Undang Hukum Perdata) dan/atau KUHD (Kitab Undang – Undang Hukum Dagang). Iklan adalah bentuk informasi yang umumnya bersifat sukarela.23 dengan segala tambahan dan/atau memuat kaidah – kaidah tentang periklanan. berbagai siaran kelompok tertentu. Dari kalangan usaha (penyedia dana. pamphlet. Terutama dalam bentuk iklan atau label. seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tentang hasil-hasil penelitian dan riset produk konsumen tertentu. Adapun dalam undang-undang kepailitan. tanpa mengurangi pengaruh dari berbagai bentuk informasi pengusaha lainnya. mempromosikan. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. produsen.10.13. Bahan-bahan informasi ini pada umumnya disediakan atau di buat oleh kalangan usaha dengan tujuan memperkenalkan produknya. Satu – satunya ketentuan termuat dalam KUH Perdata yang tampaknya dapat digunakan adalah ketentuan tentang perbuatan melanggar atau melawan hokum (Pasal 1365 KUH Perdata).163 c. Menurut ketentuan dari UU No. sekalipun pada akhir – akhir ini termasuk juga yang diatur didalam Undang – Undang tentang Perlindungkan Konsumen (Pasal 9. . Yang terdapat dalam perundang-undangan ini hanyalah berbagai larangan dan suruhan berkaitan dengan periklanan saja. pasal 16. label termasuk pembuatan berbagai selebaran. 2. terlepas untuk siapa perundang-undangan itu berlaku. importer. majalah dan berita resmi YLKI. diketahui sumber-sumber informasi itu umumnya terdiri dari berbagai bentuk iklan baik melalui media nonelektronik atau elektronik. Pasal 9 ayat (1) berbunyi: “pelaku usaha dilarang menawarkan. `Beberapa bentuk informasi Diantara berbagai informasi tentang barang atau jasa konsumen yang diperlukan konsumen. keduanya diumumkan pada tanggal 30 April 1847 dalam Staatsblad No. dan seterusnya). surat-surat pembaca pada media massa. dapat ditemukan pada harian-harian umum. Adapun label merupakan informasi yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan tertentu. seperti brosur. mempertahankan dan meningkatkan pangsa pasar produk yang telah atau ingin lebih lanjut di raih.17 dan Pasal 20) a. khusus menyangkut prilaku pengumuman iklan keputusan pengadilan tentang pernyataan pailit dan segala akibatakibatnya dari seseorang atau suatu badan usaha (pasal 13 jjs. atau lain-lain pihak yang berkepentingan). tanggapan atau protes organisasi konsumen.12. dan lainlain sejenis dengan itu.

Mengelabui konsumen mengenai kualitas. jelas. adalah sebagai berikut: 1) Pelaku usaha periklanan dilarang memproduksi iklan yang: a. Departemen Kesehatan (Peraturan Menteri Kesehatan No. Kebenaran isi dari pernyataan atau label tersebut merupakan tanggung jawab dari pihak yang membuat dan menyiarkan. 7 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Memuat informasi yang keliru. Mengelabui jaminan/garansi tergadap barang atau jasa c. salah. kuantitas. 32 Tahun 2002 tentang penyiaran diarahkan antara lain untuk memberikan informasi yang benar. Keberadaan Undang-Undang No. jujur. setidak-tidaknya terdapat dua batasan iklan. dan bertanggung jawab (Pasal 5 butir (1)). memasyarakatkan. dan gagasan yang dapat dimanfaatkan oleh khalayak dengan atau tanpa imbalan kepada lembaga penyiaran yang bersangkutan. barang.Dari hal-hal terurai diatas tentang kedudukan periklananini dalam masyarakat usaha. informasi produk konsumen sangat menentukan shingga haruslah informasi itu memuat keterangan yang benar. Adapun sistem penyiaran nasional (Undang-Undang No. barang atau jasa kepada khalayak sasaran untuk memengaruhi konsumen agar menggunakan produk yang ditawarkan. Sampai saat ini tidak terdapat gangguan apa pun baik terhadap masyarakat pembuat maupun pengguna produk konsumen yang diiklankan berdasarkan masing-masing rumusan yang bersangkutan. Pasal 1 Butir 13) menetapkan sebagai “iklan adalah usaha dengan cara apa pun untuk meningkatkan penjualan. atau tidak tepat mengenai barang dan jasa . Pasal 1 butir (6) menyatakan siaran iklan niaga adalah siaran iklan komersial yang disiarkan melalui penyiaran radio atau televisi dengan tujuan memperkenalkan. yang satu ditetapkan oleh Departmen Kesehatan dan yang lainnya oleh sistem penyiaran nasional. 32 Tahun 2002 tentang penyiaran) Pasal 1 butir (5) merumuskan siaran iklan adalah siaran informasi yang bersifat komersial dan layanan masyarakat tentang tersedianya jasa. dan mempromosikan. dan bertanggung jawab. seimbang. Kedua batasan iklan tersebut berjalan bersama masing-masing untuk bidang masing-masing. Tentu saja terlepas dari mana yang baik dan tepat. kegunaan dan harga barang atau tariff jasa serta ketepata waktu penerimaan barang atau jasa b. Mengenai prilaku periklanan yang lengkap diatur dalam Pasal 17 UndangUndang No. 329 Tahun 1976. Bagi konsumen. bahan. baik secara langsung maupun tidak langsung”.

media elektronik atau nonelektronik atau bentuk media lain. Pengiklan. Nasution tergantung bagaimana hakim pengadilan negeri mengambil putusannya. memasarkan. dapat dipertanggungjawabkanm tetapi secara tepatnya pelaku usaha manakah yang harus bertanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam pasal 20 tersebut? Menurut Az. Undang-undang Perlindungan Konsumen tidak memuat tindakan administratif tersebut. Ketiga pelaku usaha di atas. berkaitan dengan tanggung jawab pelaku usaha periklanan ini diatur dalam Pasal 20. Media. Tidak memuat informasi mengenai resiko pemakaian barang dan jasa e. Apakah yang dimaksud denagn etika periklanan? Penjelasan pasal ini memuat kalimat “cukup jelas”. Berkaitan dengan perilaku periklanan yang dilarang dan tentang tanggung jawabnya itu. sebagai berikut. Pelaku usaha periklanan bertanggung jawab atas iklan yang diproduksi dan segala akibat yang ditimbulkan oleh iklan tersebut. dan menawarkan produk yang mereka edarkan 2. yaitu perusahaan yang memesan iklan untuk mempromosikan. Sekiranya tanda tangan pengiklan (tanda acc) terdapat pada konsep iklan itu. Kemudian.? Dari sudut pelaku usaha periklanan menurut Azm Nasution terdapat tiga jenis pelaku usaha. menipu atau mengakibatkan cedera pada konsumen untuk memasang iklan perbaikannya (corrective advertisement) di surat kabar atau televisi iklan koreksi seperti ini telah tumbuh dan menjadi hokum di Negara-negara lain. Perusahaan iklan. yang menyiarkan atau menayangkan iklan-iklan tersebut. 1. Ketiga jenis pelaku usaha tersebut dalam undang-undang ini termasuk pelaku usaha. undang-undang ini berbunyi : melanggar etika atau ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai periklanan. maka dialah yang mempertanggung jawabkan. Satu hal yang menarik dari Undang-undang Perlindungan Konsumen berkaitan dengan periklanan ini yakni dalam Pasal 17 ayat (1) huruf f. padahal kegunaannya sangat baik sebagai upaya pencegah “gegabahnya” para pelaku usaha periklanan. Apabila dengan etika itu dimaksudkan kode etik periklanan. yaitu. Mengeksploitasi kejadian dan seseorang tanpa izin yang berwenang atau persetujuan yang bersangkutan f. Melanggar etika dan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai periklanan 2) Pelaku usaha periklanan dilarang melanjutkan peredaran iklan yang telah melanggar ketentuan pada ayat (1) Selanjutnya. maka berarti Undang-Undang ini telah membeikan “status hokum” pada kode etik periklanan yang di Indonesia disebut sebagai tata karma dan tata cara periklanan Indonesia. terdapat timdakan administratif yang dapat dijatuhkan pada pelaku usaha periklanan yang menyiarkan iklan menyesatkan. . adalah perusahaan atau biro yang bidang usahanya adalah mendesain atau membuat iklan untuk para pemesannya 3.d.

Nama atau tanda-tanda itu memuat asal. bentuk banyaknya dan kegunaan barang-barang yang baik diharuskan maupun tidak diperbolehkan dibubuhkan atau dilekatkan pada barang pengbungkusnya. UU No. Baik produk makanan. dapat dikenakan ketentuan pidana ekonomi. Permenkes No. dicetak. ditetapkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan. dan banyaknya serta kegunaannya. Pasal 2 ayat (4) UU ini menentukan: Pemberian nama dan tanda-tanda yang menunjukkan asal. Selanjutnya keterangan yang harus dimuat pada label/etiket tersebut ditetapkan (Pasal 7 ayat (1) dan (2) terdiri atas :  Nama makanan atau merk dagang  Komposisi. Pasal 1 dan 2.memberikan informasi tentang barang. atau dicantumkan dengan jalan apa pun pada wadah atau pembungkus. UU Barang.b. dapat dinyatakan sebagai tindak pidana ekonomi (Pasal 9). 1. bentuk. susunan. 79 Tahun 1978 tentang Label dan periklanan Makanan. pun cara pembubuhan atau melekatkan nama dan tandatanda itu. sifat. Pengaturan tentang informasi yang disebut dengan berbagai istilah seperti penandaan. maupun obat diwajibkan mencantumkan label pada wadah atau pembungkusnya. Perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan atau melanggar ketentuan tersebut di atas. Label. Ketentuan tersebut terdapat dalam berbagai peraturan perundang-undangan. Nama dan tanda-tanda itu harus dibubuhkan atau dilekatkan pada pembungkusnya tempat barang itu di perdagangkan dan pada alat-alat reklame. tempat barang-barang itu diperdagangkan dan alat-alat reklame. 2. atau etiket. Tentang Label Informasi produk konsumen yang bersifat wajib ini. diukir. 10 Tahun 1961. Pemberian nama atau tanda-tanda menunjuk pada label dari barang bersangkutan. bahan. menyebutkan : Etiket adalah label yang dilekatkan. kecuali makanan yang cukup diketahui komposisinya secara umum  Isi netto . sifat. Dengan demikian setiap perilaku pengusaha yang melanggar ketentuan dalam peraturan perundangundangan ini. susunan bahan.

000. ketentuan tentang pelabelan makanan ditegaskan lebih lanjut. c.00 (Pasal 84 jo. b. Adapun dalam Pasal 3 SK Mentei Kesehatan tersebut ditentukan : .   Nama dan alamat perusahaan yang memproduksi atau mengedarkan Nomor pendaftaran Kode produksi  Untuk jenis makanan tertentu yang ditetapkan oleh menteri kesehatan. baik yang diberikan bersama obat itu maupun yang diberikan sesudah atau sebelum penyerahan obat yang bersangkutan.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Undang-undang No. tidak menggunakan istilah label atau etiket. d. Perbuatan mengedarkan makanan tanpa label sebagaimana dimaksudkan dalam peraturan Menteri Kesehatan tersebut dinyatakan dilarang dan dapat diancam dengan sanksi-sanksi sebagaimana termuat dalam KUHP dan tindakan administratif berupa penarikan nomor daftar produk itu dan tindakan lain berdasarkan perundangundangan yang berlaku.000. nilai gizi. yang berbunyi : Tulisan-tulisan dan pernyataan-pernyataan pada pembungkus. Pengertian tentang penandaan termuat dalam Pasal 1 angka 4. dan tahun kadaluarsa Ketentuan lainnya Dalam penjelasan Pasal ini (huruf d) dinyatakan bahwa ketentuan lainnya misalnya pencantuman kata atau tanda halal menjamin bahwa makanan dan minuman dimaksud diproduksi dan diproses sesuai persyaratan makanan halal. Setiap makanan yang dikemas wajib diberi tanda atau label (Pasal 21 ayat (2)) yang memuat tentang : a. Bahan yang dipakai Komposisi setiap bahan Tanggal. (pasal 41-45) Ketentuan tentang sanksi-sanksi atas pelanggaran kewajiban memesang label pada makanan (dalam kemasan) tersebut memang tidak begitu jelas. tetapi penandaan. Sebagai akibatnya kemudian dalam perundang-undangan yang lebih baru. bulan. Perbuatan mengedarkan makanan tanpa label dinyatakan sebagai tindak pidana pelanggaran dengan ancaman pidana kurungan maksimum satu tahun dan denda maksimum Rp15. etiket atau brosur yang diikutsertakan pada penyerahan atau penjualan sesuatu obat. 193 Tahun 1971 tentang Pembungkusan dan Penandaan obat. petunjuk penggunaan dan cara penyimpanannya. harus dicantumkan tanggal kadaluarsa. Pasal 85) SK Menteri Menteri Kesehatan tanggal 21 Agustus 1971 No.

komposisi obat dan susunan kuantitatif zat-zat berkhasiat. sandang papan.indikasi sebagaimana disetujui pada pendaftaran. c. Hal ini berkaitan dengan bahan informasi yang selalu mengusik adalah mengapa suatu hasil uji laboratoris produk konsumen (antara lain oleh instansi pemerintah) tidak disiarkan kepada masyarakat agar mereka mengetahui bermutu atau bergizi tidaknya sesuatu produk konsumen (pangan. tentang Perikatan (van Verbintenissen). berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu. Pada penandaan. angkutan. seperti iklan dalam segala bentuk kreativitasnya. tentang resiko jenis-jenis perikatan tertentu. kontra indikasi yang ditetapkan pemerintah untuk dicantumkan. batas daluarsa dan tanda-tanda lain yang dianggap perlu Ketentuan berikut dalam pasal itu dan pasal 4-6 memuat rincian berbagai keharusan tata cara tentang permuatan isi label atau etiket tersebut. dapat timbul karena undangundang. Hal-hal yang Berkaitan dengan Perikatan Dalam KUH Perdata Buku ke-III. dan lain-lain). ketentuan-ketentuan diatas mendapatkan “porsi” baru. nama pabrik dan alamatnya (sedikitnya nama kota dan negaranya). Adapun Pasal 12 Surat Keputusan Menteri Kesehatan ini menetapkan bahwa pelanggaran atas ketentuan-ketentuan antara lain. Selain mengakibatkan hukuman di bidang pidana dan penyitaan obat. dan berbagai bentuk perikatan yang dapat diadakan (Pasal 1233). Perikatan yang terjadi karena undang-undang. cara penggunaan. Pasal 41 ayat (2) memuat ketentuan tentang penandaan dan informasi sebagai berikut: Penandaan dan informasi sediaan farmasi dan alat kesehatan harus memenuhi persyaratan objektivitas dan kelengkapan serta tidak menyesatkan. tetapi dengan batas-batas minimum sehingga tidak menyesatkan atau menipu (iklan melawan hokum). bobot netto atau volume obat. syarat-syarat pembatalannya. Pasal 1233 menyebutkan jenis-jenis perjanjian (prestasi)yang dapat diadakan terdiri atas memberikan sesuatu. . baik karena undang-undang maupun sebagai akibat perbuatan seseorang. Selanjutnya. dosis. Dari uraian diatas tampak bahwa informasi produk konsumen itu dapat ditemukan dalam penandaan atau informasi lain.Pada bungkus luar dan wadah obat jadi atau obat paten dan bahan kontras harus dicantumkan tanda atau etiket yang menyebutkan nama jenis atau nama barang obat. label atau etiket pemuatan informasi yang bersifat wajib dilakukan dengan sanksi-sanksi administratif dan pidana tertentu apabila tidak dipenuhi persyaratan-persyaratan etiket dan label tersebut. syaratsyarat perikatan. khususnya tentang pelabelan tersebut. Dalam UU Kesehatan. cara penyimpanan. nomor batch. termuat ketentuan-ketentuan tentang subjek-subjek hokum dari perikatan. akan mengakibatkan hukuman di lapangan administratif. nomor pendaftaran.

dan seterusnya. mengganti kerugian tersebut. oktroi. juga termasuk keuntungan (winstderving) yang diharapkan yang tidak diterima karena perbuatan ingkar janji tertentu. kerugian.1244. Pasal 1239. . kerugian yang dialami. Pasal 1365 KUH Perdata berbunyi : Setiap perbuatan melanggar hokum yang membawa kerugian pada orang lain. dan Pasal 1242 dalam hal perjanjian berbuat atau tidak berbuat sesuatu.1246). Antara lain. dan hak merk). Perbuatan cedera janji ini memberikan hak pada pihak yang dicederai janji untuk menggugat ganti rugi berupa biaya.1353m dan seterusnya). Unsur-unsur Perbuatan Melawan Hukum: 1) Unsur pelanggaran atas hak-hak orang lain. Kedalamnya termasuk hak-hak kebendaan dan lain-lain hak yang bersifat mutlak (seperti hak milik. mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu. Dalam perikatan yang timbul karena perjanjian. Pasal 1243. hak-hak pribadi perseorangan (persoonlijkrechten) seperti hak-hak atas integritas (harga diri).Perbuatan itu dapat berupa perbuatan yang diperbolehkan (halal) atau perbuatan yang melanggar hokum (Pasal 1352. setelah dipenuhinya syarat tertentu. kehormatan dan nama baik seseorang. Apabila seseorang dirugikan karena perbuatan orang lain. Yang dimaksudkan adalah hak-hak subjektif orang lain. tidak dipenuhi atau dilanggarnya butir-butir perjanjian itu. yang terpenting terlihat pada perikatan karena terjadinya perbuatan atau kealpaan yang melanggar atau melawan hokum (selanjutnya disebut PMH). Kerugian-kerugian itu selain dari biaya-biaya yang sungguh-sungguh telah dikeluarkan. sedang diantara mereka itu tidak terdapat suatu perjanjian (hubunganhukum perjanjian). Perikatan juga dapat terjadi tanpa adanya perjanjian. maka berdasarkan undang-undang dapat juga timbul atau terjadi hubungan hokum antara orang tersebut dan orang yang menimbulkan kerugian itu. dapat mengakibatkan terjadinya cedera janji (wanprestatie). dan bunga (Pasal 1236 dalam hal perjanjian memberikan sesuatu.

yakni sejak pertama kali diberlakukan wetboek van strfrecht voor Nederlandsch-indie. Baru kemudian dengan Undang-Undang No. 1. hokum acara perdata. Kitab UndangUndang itu lalu diadopsi secara total. melalui Undang-Undang No. yang dapat digunakan dengan berdiri sendiri. Sejak tahun 1919. Pada pokoknya orang haruslah memperhatikan perilaku yang dianggap patut (behoorlijk) dalam masyarakat dikaitkan dengan kepentingan perorangan satu sama lain. Jadi. kodifikasi hokum pidana teersebut jauh-jauh hari berlaku untuk semua golongan penduduk. baik bersifat perdata maupun public (misalnya perbuatan pelanggaran atau kejahatan seperti termuat dalm KUHP). unsur ini tampaknya merupakan unsur yang terpenting dalam penenruan tolok ukur perbuatan melawan hukum. 3) Unsur bertentangan dengan kehati-hatian yang hidup atau harus diindahkan dalam kehidupan masyarakat. Di Indonesia. berbeda dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang masih bersifat pluralistis. Termasuk hokum publik dalam rangka hokum konsumen dan hokum perlindungan konsumen. dan hokum acara pidana dan hokum internasional khususnya hokum perdata internasional. Ia menunjuk pada kebiasaan tidak tertulis. Hukum Pidana Pengaturan hokum positif dalam lapangan hokum pidana secara umum terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. penerapan kitab di atas diunifikasikan sejak 1918. Karena perkembangan poliik. adalah hokum administrasi Negara. 1 Tahun 1946. tidak mencapai tujuannya. Aspek hukum publik Dengan hukum publik dimaksudkan hukum yang mengatur hubungan antara Negara dan alat-alatnya perlengkapannya atau hubungan Negara dengan peroranagan. Mengenai penerapannya harus dilihat kasus per kasus. Dualisme hokum tetap terjaddi karena perbedaan penafsiran terhadap perubahan-perubahan yang di buat pada masa penjajahan belanda dan Jepang. 73 Tahun 1958. 2. tujuan unifikasi .2) Unsur bertentangan dengan kewajiban hukum pelaku Yang dimaksudkan adalah kewajiban hokum yang diletakkan perundangundangan dalam arti materiil. baik secara terlepas dari atau bersama-sama unsure-unsur lainnya. ditetapkan oleh lembaga yang berwenang. hokum pidana. adopsi undang-undang yang semula bertujuan untuk unifikasi itu. Setelah Indonesia merdeka.

diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun (LN 1906 No. Kitab ini diberlakukan diseluruh Indonesia dengan nama resmi Wetboek van Strafrecht atau dapat disebut juga Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. yang bersalah dikenakan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama waktu tertentu paling lam dua puluh tahun.menawarkan. padahal sifat berbahaya itu tidak diberitahukan. Jika perbuatan mengakibatkan matinya orang. berarti secara resmi sebenarnya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang berlaku di Indonesia itu masih berbahasa Belanda. diancam.yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama stau tahun empat bulan atau kurungan paling lama satu tahun.hokum acara. antara lain : 1. tanpa diketahui sifat berbahayanya oleh yang membeli atau yang memperoleh.menyerahkan atau membagi-bagikan barang. Belum ada satu pun terjemahan yang dinyatakan resmi. Hokum pidana sendiri termasuk dalam kategori hokum publik. dan hokum internasional. antara lain (yang paling luas dipakai) adalah karya Alm. Pasal 360: Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain mendapat luka-luka berat. Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan atau . Pasal 359: Barang siapa karenakealpaannya menyebabkan matinya orang lain. yang paling banyak menyangkut perlindungan konsumen adalah hokum pidana dan hokum administrasi Negara. Moeljanto. Adapun terjemahan yang dipakai saat ini masih merupakan karya individual atau institusi tertentu. Prof. 3. diserahkan atau dibagi-bagikan.S.. dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Di antara semua aspek hokum public itu. Barang-barang itu dapat disita. Kendati demikian. secara implicit dapat ditarik beberapa pasal yang memberikan perlindungan hokum bagi konsumen. yang diketahui bahwa membahayakan nyawa atau kesehatan orang. Jika perbuatan mengakibatkan matinya orang. 2.H.dalam kategori ini termasuk pula hokum administrasi Negara. 1 Tahun 1946 itu dapat dicapai. Pasal 205: Barang siapa karena kealpaannya bahwa barang-barang yang berbahaya bagi nyawa atau kesehatan orang dijual.yang diinginkan Undang-Undang No. Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian rupa sehingga timbul penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian selama waktu tertentu. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tidak disebut kata “konsumen”. 4. Pasal 204: Barang siapa menjual. Jadi. diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan atau kurungan paling lama enam bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. 1). diancam dengan pidana penjara lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun.

1) 5. dan hak atas merk. Sayangnya. misalnya sekarang diubah dari deliik aduan menjadi delik biasa. peraturan-peraturan di bidang hak aras kekayaan intelektual yang sebenarnya bersinggungan erat dengan kepentingan konsumen. 8. diancam dengan pidnaan penjara paling lama empat tahun. Pasal 382: Barang siapa mejual. dana-dana atau surat-surat berharga menjadi turun atau naik. karena persaingan curang. ternyata belum secara intens mengarahkan perhatiannya kepada kepentingan tersebut. dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau denda paling banyak Sembilan ratus rupiah. Lapangan pengaturan yang paling luas kaitannya dengan hokum perlindungan konsumen terdapat pada bidang kesehatan. dengan menggunakan tipu muslihat. melangsungkan atau memperluas debit perdagangan atau perusahaan kepunyaan sendiri atau orang lain. 7 Tahun 1996 tentang Pangan. 7. seorang penjual yang berbuat curang teerhadap pembeli: (1) karena sengaja menyerahkan barang lain daripada yang ditunjuk untuk dibeli.menyerahkan atau menyerahkan makanan. dewasa ini diberi perhatian yang cukup besar. khususnya dari sudut penerapan sanksi pidananya.kurungan paling lama enam bulan atau denda paling tinggi tiga ratuus rupiah (LN 1960 No. Pasal 383: Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan. Ketentuanketentuan dilapangan hokum kesehatan dapat dikatakan merupakan instrumen hokum yang paling luas namun tidak berarti memadai dalam mengatur hak-hak konsumen dibandingkan dengan lapangan huukum lainnya.yang berlaku sejak 4 November 1996. 6. dengan menyiarkan kabar bohong yang menyebabkan harga barang-barang dagangan. paten.jika nilainya atau faedahnya menjadi kurang karena dicampur dengan sesuatu bahan lain. Perlindungan yang diberikan porsi terbanyak justru kepada individual atau badan yang menjadi . Di luar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana terdapat banyak sekali ketentuan pidana yang beraspekkan perlindungan konsumen. Bahan makanan. Pasal 390: Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hokum. Pasal 382 bis: barang siapa untuk mendapatkan. seperti hak cipta. (2) mengenai jenis keadaan atau banyaknya barang yang diserahkan. dan menyembunyikan hal itu.minuman atau obat-obatan itu dipalsu. Termasuk dalam kelompok ini adalah Undang-Undang No. jika karenanya dapat timbul kerugian bagi konkuren-konkurrennya atau orang lain itu.minuman atau obat-obatan yang diketahui bahwa itu palsu. Tindak pidana berupa pembajakan hak cipta. diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan. menawarkan. Selain itu juga dalam pengaturan hak-hak atas kekayaan intelekual. melakukan perbuatan curang untuk menyesatkan khalayak umum atau seorang tertentu diancam.

tetapi justru kepada pengusaha. yang berbeda dengan makna tatkala rumusan ittu di buat oleh pembentuk undang-undang. Seandainya tidak tertampung dalam undang-undang yang bersifat khusus dan sektoral seperti diatas. hokum administrasi Negara adalah instrumen hokum publik yang penting dalam perlindungan konsumen. Sebaliknya. Jika dilakukan. baik itu produsen maupun para penyalur hasil-hasil produknya. izin-izin itu dapat dicabut secara sepihak oleh pemerintah. Putusan-putusan pengadilan berkaitan dengan perluasan penafsiran tentang perbuatan melawan hokum memang juga mempengaruhi pemikiran para ahli hukum pidana. sebagai lawan dari pendirian yang formal. Cara berpikir Vost ini disebut dengan pendirian material.tetap ada sandaran peraturannya. Rupanya para ahli hokum lain seperti Simmons. Hukum Administrasi Negara Seperti halnya hokum pidana. Pada hakikatnya penafsiran ekstensi dan analogi itu sama. Kecenderungan seperti yang terjadi dalam hukum bidang hak atas kekayaan intelektual ini seharusnya mulai di antisipasi. Pemerintah RI kepada pengusaha/penyalur tersebut. masih memepertahankan cara berpikir formal. karena berbeda dengan lapangan hokum perdata. menganut pemikiran agar dalam hokum pidana pun unsur perbuatan melawan hokum ini dapat ditafsirkan secara luas. Hanya inti (rasio) dari aturan itu yang masih dipertahankan. pada analogi sudah tidak lagi bersandar pada suatu rumusan peraturan. sehinggga menjadi perbuatan yang oleh masyarakat tidak diperbolehkan. Cuma dibari penafsiran yang lebih luas. Jadi. Sanksi administratif tidak ditujukan pada konsumen pada umumnya. Dalam penafsiran ekstensi. . ini berarti bertentangan dengan asas legalitas. Pengakomodasian ini penting. hanya ada perbedaan gradual. makna suatu rumusan diberi pengertian menurut kebutuhan masyarakat saat itu. dalam hokum pidana dikenal larangan melakukan analogi-analogi berbeda pengertiannya dengan penafsiran ekstensi. aparat penegek hokum (dalam hal ini khususnya hakim) tidak dapat dengan leluasa menetapkan tindak pidana yang baru diluar rumusan undangundang. Akibatnya. Sanksi-sanksi hokum secara perdata dan pidana seringkali kurang efektif jika tidak disertai sanksi administratif. Sanksi administratif berkaitan dengan perizinan yang diberikan. dapat diakomodasikan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang menurut rencana akkan segera diperbaharui. dan Langemeyers. Jika terjadi pelanggaran. tidak sekadar yang oleh undang-undang dilarang.pemegang hak-hak di atas. Tentu saja konsekuensi lain adalah dalam mengartikan perbuatan melawan hokum (wederrechtelijke daad) dilapangan hokum pidana tidak seleluasa dilapangan hokum perdata. Vost misalnya. bukan pada konsumen sebagai bagian terbesar masyarakat Indonesia. 2. Jonkers. Suatu rumusan tindak pidana dapat kehilangan sifat melawan hukumnya hanya jika ada peraturan (minimal) setingkat dengan itu (misalnya sama-sama undang-undang) yang mengecualikan.

sehingga berlaku efektif. Ada beberapa alasan untuk mendukung pernyataan ini. Adapun pemulihan hak-hak korban (konsumen) yang dirugikan bukan lagi tugas instrument hokum administrasi Negara. kedua pertimbangan tersebut seharusnya tidak menjadi alasan pemaaf bagi pengusaha yang merugikan konsumen tersebut. seperti pencemaran oleh PT Inti Indorayon di Sumatera Utara. sejak prakemerdekaan. Dikatakan demikian karena penguasa sebagai pihak pemberi izin tidak perlu meminta persetujuan terlebih dahulu dari pihak manapun. Persetujuan. Contohnya adalah ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. kalaupun ini dibutuhkan. Kedua. Tentuu saja. Peraturanperaturan masa kolonial itu bahkan cukup banyak yang masih berlaku sampai seekarang. . Hak-hak konsumen yang dirugikan dapat dituntut dengan bantuan hokum perdata atau pidana. konsumen juga dihadapkan pada posisi tawar-menawar yang tidak selalu menguntungkan disbanding dengan produsen. Syarat-syarat pendirian perusahaan yang bergerak dibidang tersebut dan pengawasan terhadap proses produksinya dilakukan ekstra hati-hati. tetap ada kendala dalam penerapannya. Nilai ganti rugi dan pidana yang dijatuhkan mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan keuntungan yang diraih dari perbuatan negative produsen.obat-obatan dan zat-zat kimia. Pemerintah tampaknya menjadikan sanksi administratif ini sebagai ultimum remedium. mungkin dari instansi-instansi Pemerintah terkait. karena dikaitkan dengan pertimbangan tenaga kerja dan perpajakan. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.sanksi administrati jug tidak perlu melaui proses pengadilan. sehingga konsumen sering menjadi tidak sabar. untuk kasus-kasus teertentu. Produksi disini harus diartikan secara luas.sanksi administratif dapat diterapkan secara langsung dan sepihak. Campur tangan administrator Negara idealnya harus dilatarbelakangi iktikad melindungi masyarakat luas dari bahaya. antara lain mengajukan kasus tersebut ke pengadilan tata usaha Negara.Pencabutan izin hanya bertujuan menghentikan proses produksi dai produsen/penyalur. bagi pihak yang terkena sanksi ini dibuka kesempatan untuk “membela diri”. sanksi perdata atau pidana acapkali tidak membawa efek “jera” bagi pelakunya. Belum lagi mekanisme penjatuhan putusan itu yang biasanya berbelit-belit dan membutuhkan proses yang lama. Untuk gugatan secara perdata. Memang. dampaknya secara tidak langsung berarti melindungi konsumen pula. diawasi secara ketat. Pemerintah masih mengandalkan inisiatif konsumen untuk mempersalahkannnya. yakni mencegah jatuhnya lebih banyak korban. tetapi sanksi itu sendiri dijatuhkan terlebih dulu. Sanksi administratif ini sering lebih efektif dibandingkan dengan sanksi perdata atau pidana. Dengan demikian. Pertama. dapat berua barang atau jasa. Itulah sebabnya. Bahkan. Pengertian bahaya disini terutama berkenaan dengan kesehatan daan jiwa. peraturan-peraturan tentang produk makanan. Walaupun secara teoretis instrument hokum administrasi negara ini cukup efektif. Snksi administratif terhadap perusahaan-perusahaan yang mencemari lingkungan masih teramat jarang dilkukan. sepanjang memang didukung oleh bukti-bukti yang cukup.

75) Selanjutnya dalam Undang-Undang Kesehatan. Pasal 29 menegaskan tugas pembinaan dan pengawasan bank-bank di Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia. sedang Pasal 77 menegaskan wewenang pemerntah untuk mengambil berbagai tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap undang-undang ini. serta penjatuhan hokum disiplin berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dari peraturan perundang-undanagan diatas terlihat beberapa departemen atau lembaga pemerintah tertentu yang menjalankan tindakan administratif berupa pengawasan dan pembinaan terhadap pelaku usaha dengan perilaku tertentu dalam melaksanakan perundang-undangan tesebut. Undang-Undang No. izin prakti atau izin lain yang diberikan. Tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dilakukan setelah mendengar pertimbangan Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan. Misalnya tindakan administratif terhadap tenag kesehatan atau sarana kesehatan yang melanggar undang-undang (Pasal 77 UU No. misalnya menentukan bahwa: Pemerintah melakukan pengaturan dan pembinaan rumah susun dan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang (termuat dalam Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 20 Ayat (1) Undang-Undang tentang Rumah Susun. dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. likuiditas. 23 Tahun 1992. Begitu pula dengan tindakan administratif Menteri Kehakiman dalam mengeshkan Anggaran Dasar suatu Perseroan Terbatas atau Perubahannya sebagaimana termuat dalam Undang-Undang No.solvabilitas.rentabilitas. Pasal 52 dan 53 (Ketentuan Pidana dan sanksi administratif). Ayat (2) pasal ini menentukan bahwa Bank Indonesia menetapkan ketentuan tentang kesehatan bank dengan memperhatikan aspek permodalan. Selanjutnya. 16 Tahun 1985 LN Tahun 1985 No. Penjelasan pasal ini menentukan tindakan administratif dalam pasal ini dapat berupa pencabutan izin usaha. Pasal 77 itu berbunyi : Pemerintah berwenang mengambil tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan ini. Juga berdasarkan UU No.Ketentuan hokum administrasi. ditetapkan bahwa Bank Inndonesia dapat menetapkan sanksi administrative kepada bank yang tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana ditentukan dalam undang-undang ini atau menyampaikan peritmbangan kepada Menteri Keuangan untuk mencabut izin usaha bank bersangkutan. Dalam Pasal 76 undang-undang itu dijelaskan pula peran pengawasan yang dijalankan oleh pemerintah. kualitas aset. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan). . Pasal 73 ditentukan: Pemerntah melakukan pembinaan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan. kualitas manajemen. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Undang-Undang No.

Persaingan jujur adalah suatu persaingan dimana konsumen dapat memiliki barang atau jasa karena jaminan kualitas dengan harga yang wajar. Melalui petunjuk inilah lalu ditentukan hukum atau pengadilan mana yang akan menyelesaikan perselisihan hukum tersebut. DALAM Pada era perdagangan bebas dimana arus barang dan jasa dapat masuk ke semua Negara dengan bebas. . Kepentingan nasional masing-masing Negara kerapkali membuatnya harus menjadi “macan kertas” yang dengan sendirinya tidak bergigi dan tidak mempunyai kekuatan memaksa. PERANAN HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN C. hukum transnasional yang berdimensi perdata. Hukum perdata internasional hanya berisi petunjuk tentang hukum nasional mana yang akan diberlakukan jika tedapat kaitan lebih dari satu kepentingan hukkum nasional. keberadaan sumber-sumber hukum internasional iu tetap tidak banyak artinya jika belum diartifikasi oleh Negara yang bersangkutan. Pertama. Sumber terpenting dari hukum internasional adalah perjanjian antarnegara dan konvensi-konvensi internasional. hukum internasional yang berdimensi public. melainkan bagian dari hukum perdata nasional. yang notabene tanpa ratifikasi pun harrusnya berlaku secara serta-merta terhadap semua Negara anggota badan dunia itu. Kedua. yang lazim disebut hukkum perdata Internasional. maka yang seharusnya terjadi adalah persaingan jujur. antarsemua pihak yang berkepentingan agar terciptanya suatu model perlindungan yang harmonis berdasarkan atas persaingan jujur. Oleh karena itu. Hukum internasonal sering dinilai sebagai instrument yang “mandul” daalm menangani banyak kasus hukum yang berdimensi lintas Negara. Masalh perlindungan konsumen merupakan salah satu bukti diantaranya. yang biasanya dikenal sebagai hukum internasional publik. Walaupun begitu. namun intensitas gerakan tersebut tidak selalu sama pada tiap-tiap Negara. Hukum Transnasional Sebutan “hukum transnasional” mempunyai dua konotasi. Hukum perdata internasional sesungguhnya bukan hukum yang berdiri sendiri.3. Kondisi suatu Negara sangat dominan menentukan seberapa jauh gerakan ini mendapat tempat di masyarakat. pola perlindungan konsumen perlu diiarahkan pada pola kerja sama antarnegara. Gerakan ini memang berkembang pesat diberbagai penjuru dunia. Demikian pula halnya dengan resolusi-resolusi yang di buat oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

pemerintahan instansi yang mempunyai peran dan kemenangan untuk melindungi konsumen. yaitu: 1. 3. Bertolak dari pemikiran diatas.  Birokrasi dengan sadar dan senang hati menciptakan kondisi dengan berbisnis jujur dalam mewujudkan persaingan sehat. yakni dari sisi pasar domestic dan dari sisi pasar globlal.  Di dalam hukum positif. 5. 2. pada dasarnya dapat dikaji dari dua pendekatan. yang sudah mengandung unsure melindungi kepentingan konsumen antara lain :       Undang-undang kesehatan Undang-undang barang Undang-undang hygiene untuk usaha Undang-undang pengawasan atau edar barang Peraturan tentang wajib daftar obat Peratutan tentang produksi dan peredaran produk tertentu . pada dasarnya negara dapat diketahui bahwa aspek hukum public dan aspek hukum perdata mempunyai peran dan kesempatan yang sama untuk melindungi kepentingan konsumen. Kemenangan dan peran tersebut dapat diwujudkan mulai dari :  Politic will/ kemauan politik untuk melindungi kepentingan konsumen domestic didalam persaingan globlal dan atas persaingan tidak sehat local. didistribusikan/dipasarkan dan diedarkan sampai barang dan jasa tersebut dikonsumsi oleh konsumen. Aspek hukum public berperan dan dapat dimanfaatkan oleh Negara. 4. Keduanya harus diawali dan sejak barang dan jasa diproduksi.Sampai saat ini secara universal diakui adanya hak-hak konsumen yang harus dilindungi dan dihormati. Hak keamanan dan keselamatan Hak atas informasi Hak untuk memilih Hak untuk didengar dan Hak atas lingkungn hidup Aspek-aspek hukum terhadap perlindungan konsumen didalam era pasar bebas.

Untuk mengurangi ketidakseimbangan tersebut. Dari aspek hkum public. termasuk didalamnya hukum administrasi Negara. Peraturan tentang perizinan. Fakta selalu menunjukkan bahwa posisi calon konsumen dalam keadaan lebih karena factor ekonomi dan kebutuhan. maka sudah waktunya apabila disiapkan adanya syarat-syarat bahkan yang harus dipenuhi apabila ada pihak berniat menyiapkan perjanjian baku bagi calon konsumennya.\ Syarat-syarat baku minimal antara lain mengenai :   Waktu atau batas waktu untuk mengajukan keberatan Syarat atas pemenuhan janji  Syarat kesanggupan untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan promosi. Meskipun demikian mengingat hubungan hukum para pihak terjadi karena berbagai alasan dan factor kebutuhan. membina dan mencabut izin sesuai dengan ketentuan apabila terbukti :   Melanggar ketentuan undang-undang Merugikan kepentingan umum/konsumen Aspek hukum perdata secara umum hanya dapat dimanfaatkan oleh pihak untuk kepentingan-kepentingan subjektif. diharapkan diikuti dengan pengawasan. dan sebagainya. distributor. Hal inilah yang menyebabkan tidak seimbangnya hubungan hukum para pihak. BAB 5 PRINSIP-PRINSIP HUKU PERLINDUNGAN KONSUMEN . pembinaan dan pemberian sanksi yang pasti dan tegas apabila terjadi pelanggaran mengenai syarat dan operasional dari perusahaan produsen. Sumbangan yang terbesar pada hukum public disini adalah kemampuan untuk mengawasi. memperkuat posisinya dengan menyiapkan dokumen yang ditentukan secara sepihak. Keadaan yang demikian mendorong para pihak produsen. mempunyai sumbangan terbesar dalam rangka melindungi kepentingan konsumen.

Beberapa sumber formal hukum. Dalam kasus-kasus pelanggaran hak konsumen.A. khususnya Pasal 1365. yang lazim dikenal sebagai pasal tentang perbuatan melawan hukum. tetapi juga kepatutan dan kesusilaan dalam masyarakat. mengharuskan terpenuhinya empat unsure pokok. 2. diberlakukan keberhati-hatian daalm menganalisis siapa yang harus bertanggung jawab dan seberapa jauh tanggung jawab dapat dibebankan kepada pihak-pihak terkait. seseorang baru dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum jika ada unsure kesalahan yang dilakukannya. 2. Kesalahan Praduga selalu bertanggung jawab Praduga selalu tidak bertanggung jawab Tanggung jawab mutlak Pembatasan tanggung jawab 1. yaitu : 1. Secara umum. Pengertian “hukum” tidak hanya bertentangan dengan undang-undang. 1366. Pasal 1365 KUH Perdata. prinsip ini di pegang secara teguh. Prinsip Tanggung Jawab Berdasarkan Unsur Kesalahan Prinsip tanggungjawab berdasarkan unsure kesalahan adalah prinsip yang cukup umum berlaku dalam hukum pidana dan perdata.dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. 5. seperti peraturan perundang-undangan dan perjanjian standar di lapangan hukum keperdataan kerap memberikan pembatasanpembatasan terhadap tanggungjawab yang dipikul oleh sipelanggar hak konsumen. 4. . dan 1367. prinsip-prinsip tanggungjawab dalam hukum dapat dibedakan sebagai berikut: 1. 4. Prinsip ini menyatakan. PRINSIP-PRINSIP TANGGUnG JAWAB Prinsip tentang tanggung jawab merupakan perihal yang sangat penting dalam hukum perlindungan konsumen. 3. Adanya perbuatan Adanya unsure kesalahan Adanya kerugian yang diderita Adanya hubungan kausalitas antara kesalahan dan kealpaan Yang dimaksud kesalahan adalah unsure yang bertentangan dengan hukum. 3.

yang sebenarnya juga berlaku umum untuk prinsip-prinsip lainnya adalah definisi tentang subjek pelaku kesalahan (lihay Pasal 1367 KUP Perdata). sampai ia dapat membuktikan ia tidak bersalah. asas ini mengikuti ketentuan Pasal 163 (HIR) atau Pasal 283 (Rbg) dan Pasal 1865 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. dalam hubungsn hukum antara rumah sakit dan pasien. Di sini hakim harus memberi para pihak beban yang seimbang dan patut sehingga masing-masing memiliki kesempatan yang sama untuk memenangkan perkara tersebut. jika suatu korporasi (misalnya rumah sakit) memberi kesan kepada masyarakat (pasien). yakni asas kedudukan yang sama antara semua pihak yang berperkara. mengandung pengertian majikan bertanggung jawab atas kerugian pihak lain yang ditimbulkan oleh orang-orang atau karyawan yang berada dibawah pengawasannya. Mengenai pembagian beban pembuktiannya. Di situ dikatakan. Vicarious liability atau disebut juga respondeat superior. Perkara yang perlu diperjelas dalam prinsip ini.18 Ayat . sebagaimana dapat dilihat dalam Pasal 17. Ia tidak dapat membedakan mana yang berhubungan secara organic dengan korporasi dan mana yang tidak. Jika karyawan itu dipinjamkan kepihak lain. maka sudah cukup syarat bagi korporasi itu untuk wajib bertanggung jawab secara vicarious terhadap konsumen.perawat. tergugat selalu dianggap bertanggung jawab. semua tanggung jawab atas pekerjaan tenaga medic dan paramedic dokter adalah menjadi beban tanggung jawab rumah sakit tempat mereka bekerja. Latar belakang penerapan prinsip ini adalah konsumen hanya melihat semua dibalik dinding suatu korporasi itu sebagai sati kesatuan. lembaga yang menaungi suatu kelompok pekerja mempunyai tanggung jawab terhadap tenaga-tenaga yang dipekerjakannya. Menurut doktrin ini.maka tanggung jawabnya beralih pada si pemakai karyawan tadi. khususnya pengangkutan udara. let the master answer. Doktrin yang terakhir ini disebut ostensible agency. Prinsip ini diterapkan tidak saja untuk karyawan organiknya (digaji oleh runah sakit). 2. Sebagai contoh. Prinsip Praduga untuk Selalu Bertanggung Jawab Prinsip ini menyatakan. barangsiapa yang mengakui mempunyai suatu hak. asas tanggung jawab ini dapat diterima karena adalah adil bagi orang yang berbuat salah untuk mengganti kerugian bagi pihak korban. Ketentuan diatas juga sejalan dengan teori umum dalam hukum acara. orang yang bekerja disitu (dokter. Dalam doktrin hukum dikenal asas vicarious liability dan corporate liability. harus membuktikan adanya hak atau peristiwa itu. Corporate liability pada prinsipnya memiliki pengertian yang sama dengan vicarious liability.dan lain-lain) adalah karyawan yang tunduk dibawah perintah korporasi tersebut.Secara common sense. Maksudnya. Dengan kata lain. tidak adil jika orang yang tidak bersalah harus mengganti kerugian yang diderita orang lain. beban pembuktian ada pada si tergugat. Dalam hukum pengangkutan. tetapi untuk karyawan nonorganic (misalnay dokter yang dikontrak kerja dengan pembagian hasil). Jadi. prinsip tanggung jawab ini pernah diakui.

Namun. Pasal 19 jo. 100 Tahun 1939. Prinsip Praduga untuk Tidak Selalu Bertanggung Jawab Prinsip ini adalah kebalikan dari prinsip kedua. kerugian yang timbul bukan karena kesalahannya d) Pengangkut tidak bertanggung jawab jika kerugian itu ditimbulkan oleh kesalahan/kelalaian penumpang atau karena kualitas/mutu barang yang diangkut tidak baik Tampak beban pembuktian terbalik (omkering van bewijslast) diterima dalam prinsip tersebut. Pasal 29 Ordonansi Pengangkutan udara No. jika ia gagal menunjukkan kesalahan si tergugat. ia mengambil suatu tindakan yang diperlukan untuk menghindari timbulnya kerugian. dan 23 (lihat ketentuan Pasal 28 UUPK). ssebagaimana ditegaskan dalam pasal 19. Posisi konsumen sebagai penggugat selalu terbuka untuk digugat balik oleh pelaku usaha. b) Pengangkut dapat membebaskan diri dari tanggung jawab jika ia dapat membuktikan. tepatnya pada Pasal 17 dan 18. maka yang berkewajiban untuk membuktikan kesalahan itu ada di pihak pelaku usaha yang digugat. kerugian ditimbulkan oleh hal-hal diluar kekuasannya. Prinsip Praduga untuk tidak selalu bertanggung jawab hanya dikenal dalamlingkup transaksi konsumen yang sangat terbatas. asas demikian cukup relevan. 3.22. dalam praktiknya pihak kejaksaan RI sampai saat ini masih keberatan untuk menggunakan kesempatan yang diberikan prinsip beban pembuktian terbalik.28 jo. Tergugat ini yang haus menghadirkan bukti-bukti dirinya tidak bersalah. dalam doktrin hukum pengangkutan khususnya. Contoh dalam penerapan prinsip ini adalah dalam hukum pengangkutan.25. yang biasanya dibawa .(1). dan pembatasan demikian biasanya secara common sense dapat dibenarkan. UUPK pun mengadopsi system pembuktian terbalik ini. Dasar pemikiran dari teori Pembalikan Beban Pembuktian adalah seseorang dianggpa bersalah. Berkaitan dengan prinsip tanggung jawab ini. kemudian dalam perkembangannya dihapuskan dengan Protokol Guatemala 1971. dikenal empat variasi: a) Pengangkut dapat membebaskan diri dari tanggung jawab kalau ia dapat membuktikan. Tentu saja konsumen tidak lalu berarti dapat sekehendak hati mengajukan gugatan. Pasal 20 Konvensi Warsawa 1929 atau Pasal 24. c) Pengangkut dapat membebaskan diri dari tanggng jawab jika ia dapat membuktikan. Dalam konteks hukum pidana di Indonesia. jika diterapkan dalam kasus konsumen akan tampak. Namun. Hal ini tentu bertentangan dengan asas hukum praduga tidak bersalah yang lazim dikenal dalam hukum. sampai yang bersangkutan dapat membuktikan sebaliknya. omkering van bewijslast juga diperkenalkan dalam Undang-Undang tentang Tindak Pidana Korupsi. Jika digunakan teori ini. Kehilangan atau kerusakan pada bagasi kabin/bagasi tangan.

ada pandangan yang agak mirip. Pada tanggung jawab mutlak . yang memasarkan produknya yang merugikan konsumen. Menurut asas ini. Menerapkan tanggung jawab mutlak Variasi yang sedikit berbeda dalam penerapan tanggung jawab mutlak terletak pada risk liability. Dalam hal ini. Ada unsure kelalaaiaan. produsen wajib bertanggung jawab atas kerugian yang diderita konsumen atas penggunaan produk yang dipasarkannya. 4. Dalam risk liability. Dalam hal ini. “prinsip praduga untuk tidak selalu bertanggungjawab” ini tidak lagi diterapkan secara mutlak. khususnya produsen barang. ada pengecualian-pengecualian yang memungkinkan untuk dibebaskan dari tanggung jawab. ada penegasan. Selain itu. tanggung jawab mutlak adalah prinsip tanggung jawab yang menetapkan kesalahan tidak sebagai factor yang menentukan. Sebaliknya. Melanggar jaminan. bagasi kabin/bagasi tangan tetap dapat dimintakan pertanggungjawaban sepanjang bukti kesalahan pihak pengangkut (pelaku usaha) dapat ditunjukkan. pelaku usaha tidak dapat diminta pertanggungjawaban Sekalipun demikian. Prinsip tanggung jawab mutlak dalam hukum perlindungan konsumen secara umum digunakan untuk “menjerat” pelaku usaha. walaupun tidak sebesar si tergugat. Asas tanggungjawab itu dikenal dengan nama product liability. Gugatan product liability dapat dilakukan berdasarkan tiga hal : A. kewajiban mengganti rugi dibebankan kepada pihak yang menimbulkan resikoadanya kerugian itu. Prinsip Tanggung Jawab Mutlak Prinsip tanggung jawab mutlak sering diidentikkan dengan prinsip tanggung jawab absolut. tanggung jawab absolute adalah prinsip tanggung jawab tanpa kesalahan dan tidak ada pengecualiannya.dan diawasi oleh sipenumpang (konsumen) adalah tanggung jawab dari penumpang.hubungan itu harus ada. ia hanna perlu membuktikan adanya hubungan kausalitas antara perbuatan pelaku usaha . yang mengaitkan perbedaaan keduanya pada ada atau tidak adanya hubungan kausalitas antara subjek yang bertanggungjawab dan kesalahannya. konsumen tetap diberikan beban pembuktian. dan mengarah kepada prinsip tanggung jawab dengan pembatasan uang ganti rugi (setinggitingginya satu juta rupiah). misalnya khasiat yang timbul tidak sesuai dengan janji yang tertera dalam kemasan produk B. yaitu produsen lalai memenuhi standar pembuatan oba yang baik C. misalnya keadaan force majeur. Sementara pada tanggung jawab absolute hubungan itu tidak selalu ada. Pihak yang dibebankan untuk membuktikan kesalahan itu ada pada si penumpang. Artinya. Namun. Ada pendapat yang mengatakan. dalam Pasal 44 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1995 tentang Angkutan Udara. Kendati demikian ada pula para ahli yang membedakan kedua terminology di atas. Namun.

ditentukan bila film yang ingin dicetak itu hilang atau rusak (termasuk akibat kesalahan petugas). Salah satu lembaga hukum yang berdimensi internasional yang perlu diperhatikan dalam revisi maupun pembentukan hukum ekonomi nasional adalah tanggung jawab produk ( product liability). Selebihnya dapat digunakan prinsip strict liability. Indonesia dituntut memebentuk hukum nasional yang harus mampu berperan dalam memperlancar lalu lintas hukum ditingkat international. b. prodct liability lahir karena ketidakseimbangan tanggung jawab antara produsen dan konsumen. maka konsumen hanya dibatasi ganti kerugiannya sebesar sepuluh kali harga saru rol film baru. product liability Kebutuhan-kebutuhan akan reformasi hukum. khususnya hukum ekonomi dalam perkembangan dewasa ini sangatlah mendesak. 8 Tahun 1999 seharusnya pelaku usaha tidak boleh secara sepihak menentukan klausul yang merugikan konsumen. tujuan utama dari dunia memperkenalkan product liability adalah : a. Produsen harus berhai-hati denagn produknya. Dalam UU No. Memberi perlindungan kepada konsumen b. Jika ada pembatasan mutlak harus berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang jelas. Secara historis. karena tanggung jawab dalam product. Prinsip Tanggung Jawab denagn Pembatasan Prinsip tanggung jawab dengan pembatasan sangat disenangi oleh pelaku usaha untuk dicantumkan sebagai klausul eksonerasi dalam perjanjian standar yang dibuatnya. Agar terdapat pembebanan resiko yang adil antara produsen dan konsumen . Apalagi dalam era globlalisasi seperti sekarang ini. termasuk membatasi maksimal tanggung jawabnya. Dengan lembaga ini produsen yang pada awalnya menerapkan strategi prosuct oriented dalam pemasaran produknya harus mengubah strateginya menjaddi consumer oriented. Dalam perjanjian cuci cetak film misalnya. Adalah fakta bahwa terdapat ketentuan-ketentuan yang baik yang berasal dari legal culture bangsa lain ataupun konvensi-konvensi internasional yang dapat dimanfaatkan dalam rangka modernisasi hukum nasional. Menurut Johannes Gunawan.(produsen) dan kerugian yang dideritanya. yang ditandai dengan saling ketergantungan antara Negara satu dengan Negara lainny. \ Prinsip tanggung jawab ini sangat merugikan konsumen bila ditetapkan secara sepihak oleh pelaku usaha. pembentukan hukum nasional yang baru perlu memperhatikan dimensi internasional. 5.

termasuk para pengusaha bengkel dan pergudangan.1.dengan memperbesar saving. for damages or injuries suffered because of defect in good purchase. sementara capital output ratio ditekan serendah-rendahnya. dan optimalisasi penumpukan dan pemanfaatan capital. users. Pengertian product liability dapat ditemukan pada beberapa sumber berikut. Orientasi kegiatan terarah kepada mekanisme pasar. Pengertian Product Liability Istilah product liability diterjemahkan secara bervariasi kedalam bahasa Indonesia seperti “tanggung gugat produk” atau juga “tanggung jawab produk”. Bahkan dilihat dari konvensi tentang product liability diperluas terhadap orang/badan yang terlibat dalam rangkaian komersial tentang persiapan atau penyebaran dari produk. makers and distributors of products for harm the products have caused to other. Product liability adalah suatu tanggung jawab secara hukum dari orang atau badan yang menghasilkan suatu produk atau dari badan yang bergerak dalam suatu proses untuk menghasilkan suatu produk atau badan yang menjual produk tersebut.Toar memberikan pengertian product liability sebagai : Tanggung jawab para produsen untuk produk yang telah dibawanya kedalam peredaran yang menimbulkan/menyebabkan kerugian karena cacat yang melekat pada produk tersebut. Zile: Product liability denotes the civil liability of developers. dapat dikrmukakan secara singkat sebagai berikut: 1.    Yang dapat dikualifikasikan sebagai produsen adalah Pembuat produk jadi Penghasil bahan baku Pembuat suku cadang . Adapun Agnes M. Henry Campbell dalam Black’s Law Dictionary mendefinisikan prouct liability sebaagi berikut : Refers to the legal liability of manufacturers and sellers to compensate buyers. and even bystanders. Adapun cirri-ciri dari product liability dengan mengambil pengalaman dari masyarakat eropa dan terutama Negeri Belanda. Pengertian lain dikemukakan oleh zigurds L.

listrik. dengan pengecualian produk-produk pertanian dan perburuan. 3. Yang dapat dikualifikasikan sebagai kerugian adalah kerugian pada manusia dan keugian pada harta benda. baik kerugian badaniah. atau tidak menyediakan syarat-syarat keamanan bagi manusia atau harta benda dalam penggunaannya. c. Produk dikualifikasi sebagai menganduung kerusakan apabila produk itu tidak memenuhi keamanan yang dapat diharapkan oleh seseorang dengan mempertimbangkan semua aspek. selain dari produk yang bersangkutan 5. b. pada produk tertentu  Importer suatu produk dengan maksud untuk diperjualbelikan. sebagaimana diharpkan orang. atau tanda lain yang membedakan dengan produk asli. Penampilan produk Maksud penggunaan produk Saat ketika produk ditempatkan dipasaran Tangggung jawab tersebut sehubungan dengan produk yang cacat/rusak sehingga menyebabkan atau turut menyebabkan kerugian bagi pihak lain (konsumen). kematian atau harta benda. antara lain: a. disewakan. Yang dapat dikualifikasikan sebagai konsumen adalah konsumen akhir. Yang dapat dikualifikasikan sebagai produk adalah benda bergerak. Definisi produk cacat menurut Emma Suratman. atau bentuk distribusi lain dalam transaksi perdagangan  Pemasok. dalam hal identitas dari produsen atau importer tidak dapat ditentukan 2. sekalipun benda bergerak tersebut telah menjadi komponen/bagian dari benda bergerak atau benda tetap lain. Apakah yang dimaksud dengan produk cacat di Indonesia?. adalah: Setiap produk yang tidak dapat memenuhi tujuan pemuatannya baik karena kesengajaan atau kealpaan dalam proses produksinya maupun disebabkan hal-hal lainyang terjadi dalam peredarannya. disewagunakan. tanda pengenal tertentu. . 4. Setiap orang yang menampakkan dirinya sebagai produsen dengan jalan mencantumkan namanya.

tanpa kesalah dari pihaknya. setiap orang mengharapkan air minum dalam botol tidak berisi butir-butir pasir. tanggung jawab produk cacat ini berbeda dari tanggung jawab pelaku usaha produk pada umumnya. larangan memakai kendaraan. atau pengguna yang biasa meminum minuman keras melebihi ukuran tertentu harus meminta nasehat dokter. saus tomat tidak terbuat dari labu siam sitambah dengan zat pewarna. yaitu: a. termasuk produk cacat. Akan tetapi disamping produsen. Cacat peringatan atau intruksi Cacat peringatan ini adalah cacat produk karena tidak dilengkapi dengan peringatan-peringatan tertentu atau intruksi penggunaan tertentu. Produk yang tidak memuat peringatan tertentu sebagaimana diutarakan diatas. b. Tanggung jawab produk cacat terletak pada tanggung . kesehatan tubuh atau jiwa konsumen. Suatu produk dapat disebut pembuatannya) karena: 1. Atau dapat pula cacat itu demikian rupa sehingga dapat membahayakan harta bendanya. 2). 2. seperti importir produk. Misalnya. Perkembangan ini sebenarnya dipicu juga oleh tujuan yang ingin dicapai doktrin ini. Menekan lebih rendah tingkat kecelakaan karena produk cacat tersebut. dengan syarat-syarat tertentu. bermotor selama menggunakannya. tidaklah kejadian merugikan konsumen tersebut dapat terjadi. atau pedagang pengecernya. Atau dapat pula peringatan agar dalam penggunaannya harus menggunakan voltase listrik tertentu. seperti juga tepung gandum tidak berisi potongan-potongan kecil besi. sebab kalau desain produk itu dipenuhi sebagaimana mestinya. Jadi. beban tanggung jawab itu dapat pula diletakkan diatas pundak pelaku usaha lainnya. 3. cacat (tidak dapat memenuhi tujuan Cacat produk atau manufaktur Cacat desain Cacat peringatan atau cacat 1). distributor. Menyediakan sarana hukum ganti rugi bagi (korban) produk cacat yang tidak dapat dihindari. Cacat produk Cacat produk adalah keadaan produk yang umumnya berada dibawah tingkat harapan konsumen. Misalnya peringatan produk harus disimpan pada suhu kamar atau suhu lemari pendingin (makanan dalam kemasan).Dari batasan ini terlihat bahwa pihak yang bertanggung jawab adalah pelaku usaha pembuat produk tersebut (produsen). Cacat-cacat demikian dapat pula termasuk cacat desain. yang tanggung jawabnya secara tegas dibebankan pada produsen dari produk yang bersangkutan. dan sebagainya.

Bahwa terjadinya cacat pada produk tersebut akibat keharusan yang dikeluarkan oleh pemerintah.maka konsumen yang menjadi korban tidak perlu lagi membuktikan unsure kesalahan produsen. orang lain atau barang lain.sehingga didalamnya dianut prinsip praduga bersalah (presumption of fault) berbeda dengan praduga tidak bersalah (presumption of no fault)yang dianut oleh tort. d. 3.pihak produsen dapat membebaskan diri dari tanggung jawabnya.Dilihat dari segi ini. Dari perkembangan product liability di berbagai Negara. .yaitu perbuatan produsen adalah perbuatan melawan hukum dengan kerugian dan hubungan kausal antara perbuatan melawan hukum dengan kerugian yang timbul. Namun demikian.atau terjadinya cacat tersebut baru timbul kemudian.karena karakter dasar dari product liability adalah tort. Karena produsen sudah dianngap bersalah.Dalam hal ini beban pembuktian justru dialihkan (shifting the burden of proof) kepada pihak produsen . Karena produsen dianggap bersalah. Jika produsen tidak mengedarkan produknya (put into circulation).baik untuk seluruhnya atau untuk sebagian. dapat dikemukakan bahwa product liability merupakan lembaga hukum yang tetap menggunakan kontruksi hukum tort (perbuatan melawan hukum). Dengan beberapa modifikasi. 1. b. Meskipun system tanggung jawab dalam product liability berlaku prinsip strict liability.seperti yang dianut didalam tort. Bahwa produk tersebut tidak dibuat oleh produsen baik untuk dijual atau diedarkan untuk tujuan ekonomis maupun dibuat atau diedarkan dalam rangka bisnis. c.jawab cacatnya produk berakibat pada orang.Hal-hal yang dapat membebaskan tanggung jawab produsen tersebut adalah a. Cacat yang menyebabkan kerugian tersebut tidak ada pada saat produk diedarkan oleh produsen.konsumen jelas sangat diringankan dari beban untuk membuktikan kesalahan produsen. 2.konsumen menjadi korban masih harus membuktikan ketiga unsure lainnya. Sedang tanggung jawab pelaku usaha karena perbuatan melawan hukum adalah tanggung jawab atas rusaknya atau tidak berfungsinya produk itu sendiri.yang relative sangat sukar.konsenkuensinya ia harus bertanggung jawab (liable) untuk memberi ganti rugi secara langsung kepada pihak konsumen yang menderita kerugian.jenis tanggung jawab (liability) semacam ini disebut no fault liability atau strict liability. Modifikasi tersebuut adalah : Produsen langsung dianggap bersalah jika terjadi kasus product liability.untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan kesalahan yang menimbulkan kerugian kepada konsumen.

Hal penting lain yang perlu mendapat perhatian serius dalam era industrialisasi adalah bidang hukum.Devisa yang dihasilkan sangat diperlukan bagi keperluan impor produk-produk yang tidak dapat dihasilkan didalam negeri.dan atau kerugian konsumen akibat mengonsumsi barang dan atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan. 2.Indonesia sedang menuju era industrialisasi. .Dari pengertian produk dan produsen yang begitu luas. 1. 3. Undang-undang No.persaingan yang lebih ketat baik didalam maupun diluar negeri dari sebagai akibat globasasi dan perdagangan bebas dan sebagainya.mengatisipasi tuntutan akan barang dan jasa yang lebih berkualitas.penguasaan ilmu dan teknologi. persaingan yang lebih berkualitas.Produk Liability di Indonesia Seperti telah dikemukakan pada pendahuluan.state of art defense) pada saat produk tersebut diedarkan tidak mungkin terjadi cacat. Dari cakupan product liability tesebut.Inti masalahnya terletak pada kulitas produk yang dihasilkan.Masalah produk liability ini erat kaitannya dengan masalah persaingan dalam era perdagangan bebas maupun dengan makin meningkatnya perhatian terhadap perlindungan konsumen. Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang atau penggantian barang dan jasa yang sejenis atau setara nilainya atau perawatan kesehatan dan atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam memasuki era industrialisasi tersebut berbagai hal perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh.dijelaskan sebagai berikut : Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan.mulai dari penyediaan sumber daya manusia yang berkualitas. 4.dapat terlindungan karena dapat diketahui apa yang dapat dituntut dan kepada siapa tuntutan itu harus ditunjukkan.menunjukkan luuasnya kepentingan konsumen yang dapat dijangkau oleh lembaga hukum ini. 2. Bahwa secara ilmiah dan teknis (state of scientic and technical knowledge.Produuk-produk yang dihasilkan industry itu ditunjukkan baik untuk memenuhi keperluan dalam negeri maupun untuk keperluan ekspor.khususnya tentang produk liability atau tanggung jawab produsen.pencemaran .e. Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud ada ayat pada ayat (1) dan ayat (2) tidak mengharuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasarkan pembuktian lebih jelas mengenai adanya unsure kesalahan. Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal transaksi.8 Tahun 1999 telah menggunakan prinsip semi-strict liability sebagaimana yang diatur dalam pasal 19 Bab IV tentang Tanggung Jawab Pelaku Usaha.

5. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku apabila pelaku usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen. Dalam juga,pasal 20 yang berbunyi bahwa pelaku usaha periklanan bertanggung jawab atas iklan yang diproduksi dan segala akibat yang ditimbulkan oleh iklan tersebut.Disamping itu,tanggung gugat juga diberlakukan bagi importir barang atau jasa sebagai pembuat barang yang diimpor atau sebagia penyedia jasa asing jika importasi barang tersebut atau penyediaan jasa asing tersebut tidak dilakukan oleh agen atau perwakilan produsen luar negeri atau perwakilan produsen luar negeri atau perwakilan penyedia jasa asing. Selain itu,dalam pasal 28 dinyatakan bahwa pembuktian terhadap ada tidaknya unsure kesalahan dalam gugatan ganti rugi merupakan beban dan tanggung jawab pelaku usaha.Hal ini berarti berlaku system pembuktian terbalik,baik dalam perkara pidana maupun perkara perdata,sesuatu yang menyimpang dari hukum acara biasa.Didalam hukum acara pidana,beban pembuktian terletak pada jaksa (penuntut umum),sedangkan didalam hukum acara perdata baik berdasarkan pasal 163 Herziene Inlands Reglement (HIR),pasal 383 Reglement buitengewesten (RBg),maupun pasal 1865 BW,beban pembuktian diletakkan pada penguggat. Berdasarkan system hukum yang ada kedudukan konsumen sangat lemah dibanding produsen.Salah satu usaha untuk melindungi dan menibgkatkan kedududkan konsumen adalah dengan menerapkan prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability ) dalam hukum tentang tanggung jawab produsen.Dengan diberlakukannya prinsip tanggung jawab mutlak diharpkan pula para produsen/industrawan Indonesia menyadari betapa pentingnya menjaga kwlaitas produk – produk yangt telah dihasilkannya,sebab bil tidak selain akan merugikan konsumen juga akan sangat besar resiko yang harus ditanngungnya.Para produsen akan llebih berhati-hati dalam memproduksi sebelum dilempar ke pasaran sehinnga para konsumen,baik dalam maupun luar negeri tidak akan ragu-ragu membeli barang produksi Indonesia.Demlian juga bila kesadaran oara produsen /industriawan terhadap hukum tentang tanggung jawab produsen tidak ada,dikhawatirkan akan berakibat tidak baik terhadap perkembangan/eksitensi dunia industry nasional maupun ada daya saing produk nasional terutama diluar negeri. Penerapan prinsip tanggung jawab mutlak di Indonesia meliputi 3 bagian penting.Pertama factor-faktor eksternal hukum yang mempengaruhi perkenbangan dan pembaharuan hukum perlindungan konsumen teramsuk penerapan prinsip tanggung jawab mutlak.Kedua,factor internal system hukum yaitu elemen struktur dan budaya hukum ddalam rangka penerapan prinsip tanggung jawab mutlak di Indonesia.Ketiga,adalah ruang lingkup materi atau substansi dari prinsip tanggung jawab mutlak yang perlu diatur dalam undang-undang. Namun demikian,dengan memberlakukan prinsip strict liability dalam hukum tentang product liability tidak berarti pihak produsen tidak mendapat perlindungan.Pihak produsen masih diberi kesempatan untuk membebaskan diri dari tanggung jawabnya dalam hal – hal tertentu yang dinyatakan dalam undngundang.Disamping itu,pihak produsen juga dapat mengasuransikan tanggung jawabnya sehingga secara ekonomis dia tida mengalami kerugian yang berarti.

Konsekuensinya dari pembalikan beban pembuktian adalah tergugat wajib membuktikan ketidaksalahannya.Apabila tergugat tidak dapat membuktikan ketidaksalahanya,maka tergugat harus dikalahkan karena apa yang didalihkan oleh penggugat terbukti.Dalam perkara pidana,juga berlaku hal sama,bahwa apabila tersangka tidak dapat membuktikan ketidaksalahannya,ia harus dintakan terbukti melakukan tindak pidana yang disangkakan kepadanya.Akan tetapi,Undang-undang No.8 Tahun 1999 tentangg perlindungan Konsumen juga membebaskan pelaku usaha untuk memberikan ganti rugi apabila pelaku usaha dapat membuktikan kalau kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen(pasal 19 ayat (5)).Selain itu,pelaku usaha yang memproduksi barang dibebaskan dari tanggung jawab atas kerugian yang diderita konsumen apabila : a. Barang tersebut terbukti seharusnya tidak diedarkan atau tidak dimaksudkan untuk diedarkan; b. c. d. Cacat barang timbul pada kemudian hari; Cacat timbul akibat ditaatinya ketentuan mengenai kulifikasi barang; Kelalaianyang diperjanjikan yang diakibatkan oleh konsumen; 4 tahun sejak barang dibeli\ atau

e. Lewatnya waktu pennututan lewatnya jangka waktu (pasal 27).

Adapun system beban pembuktian terbalik juga digunakan jika kasus perlindungan konsumen diangkat sebagai kasus pidana.Hali ini berarti meskipun ganti rugi telah diberikan namun tidak menghapus kemungkinan adanya tuntutan piadana berdasrkan pembuktian lebih lanjut mengenai adanya unsure kesalahan ini digunakan system beban pembutian terbalik.Pasal 22,menegaskan bahwa pembuktian terhadap ada tidaknya unsure kesalahan dalam kasus pidana merupakan beban dan tanggung jawab pelaku usaha tanpa menutup kemungkinan bagi jaksa untuk melakukan pembuktian.

c. PENYALAHGUNAAN KEADAAN VAN OMSTANDIGHEDEN)

(MISBRUIK

“penyalahgunaan keadaan” menguraikan penerapan lembaga ini dalam sengketa transaksi konsumen yang akan direkomendsikan untuk diterima menjadi salah satu prinsip penting dalam hukum Indonesia. Perkjanjian merupakan salah satu sumber perkitan yang dapat dikatakan sebagai sumber formal hukum yang utama dalam transaksi konsumen.Salah satu isu pokok dalam transakssi konsumen misalnya terkait dengan keberadaan perjanjian standar (baku) yang oleh banyak pihak dinilai menggerototi hak kebebasan berkontrak dari pihak konsumen. Secara klasik sebagiamana dimuat dalam kitab undang-undang Hukum Perdata,salah satu asas penting dalam perjanjian adalah prinsip kebebasan

berkonrak.Asas ini pertama kali dapat disimpulkan dari pasal 1320 Kitab UndangUndang Hukum Perdata,yang menetapkan empat syarat sah suatu perjanjian, yakni : 1. 2. 3. 4. Kesepakatan kedua belah pihak Kecakapan Suatu pokok persoalan tertentu Suatu sebab yang halal dengan syarat subjektif, sedangkan dua objektif. Menurut Subekti, pelanggaran itu terancam untuk dapat dimintakan objektif tidak dipenuhi, perjanjian itu

Dua syarat yang pertama berkaitan syarat terakhir berhubungan dengan syarat syarat subjektif menyebabkan perjanjian pembatalannya. Di sisi lain, bila syarat terancam batal demi hukum.

Pasal 1321 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menebutkan tiga alas an untuk melakukan pembatalan perjanjian, yakni : 1. 2. 3. Kekhilafan atau kesesatan Paksaaan Penipuan

Tiga alasan warisan hukum colonial belanda itu tetap berlaku sampai sekarang, sekalipun di negeri Belanda terjadi satu perkembangan yang sangant berarti, khususnya dipandang dari sudut hukum perlindungan konsumen. Kemajuan dimaksud adalah dimasukkannya alasan keempat, yaitu penyalahgunaan keadaan. Keempat alasan itu dicantumkan dalam Buku III Pasal 44 ayat (1) Kitab UndangUndang Hukum Perdata belanda yang baru. Penyalahgunaan keadaan berkaitan dengan kondisi yang ada pada saat kesepakatan terjadi. Kondisi itu membuat ada salah satu pihak berada dalam keadaan tidak bebas untuk menyatakan kehendaknya. Itu sebabnya, ada ahli yang berpendapat penyalahgunaan keadaan ini sebagai salah satu bentuk dari cacat kehendak juga. Satu hal yang harus diingat, penyalahgunaan keadaan sejak semula tidak dapat dianggap sebagai hal yang dapat dibenarkan oleh hukum. Sebenarnya, penyalahgunaan keadaan sejak dulu dimasukkan sebagai keadaan yang bertentangan dengan ketertiban umum atau kebiasaan yang baik. atas dasar itu, suatu perjanjian dapat dinyatakan tidak berlaku, baik seluruhnya maupun bagian tertentu saja. Dengan demikian, ada anggapan “sebab” yang terlarang sama dengan “isi” perjanjian yang tidak di benarkan. Padahal, penyalahgunaan tidak semata-mata berkaitan dengan “isi” perjanjian. Isinya mungkin tidak terlarang, tetapi ada sesuatu yang lain, yang terjadi pada saat lahirnya perjanjian, yang menimbulkan kerugian pada salah satu pihak. Inilah yang dinamakan “penyalahgunaan keadaan”. Menurut Van Dunne, penyalahgunaan keadaan terjadi karena ada dua unsur, yaiitu kerugian bagi salah satu pihak dan penyalahgunaan kesempatan oleh pihak lain.

Karena keadaan. memang belum diadopsi ke dalam Kitab undang-Undang Hukum Perdata (eks Kolonial Belanda) yang tetap berlaku di Indonesia. suami dan istri. salah satu pihak ada dalam keadaan terjepit 2. orang tua/wali-anak belum dewasa 4. Kerugian yang sangat besar dari salah satu pihak. yang bersifat ekonomis/psikologis. Perjanjian itu mengandung hubungan yang timpang dalam kewajiban timbale balik antara para pihak (prestasi yang tak seimbang). Keadaan yang dimaksud disebabkan.J. gegabah. hubungan majikan-buruh. Jelas sekali. yaitu ada keunggulan pada salah satu pihak. Factor kerugian disini tidak harus berwujud kerugian materiil.”penyalahgunaan keadaan” ini sanagat relevan untuk disinggung dalam kaitannay dengan persengketaan transaksi konsumen. dokter dan pasien. Sebagai contoh. tetapi salah satu pihak mendominasi secara kejiwaan. Persoalannya “ penyalahgunaan keadaan”. seperti pasien membutuhkan pertolongan dokter ahli 5. Keunggulan ekonomis dan psikologis dari si pelaku usaha sering sangat dominan sehingga mempengaruhi konsumen untuk memutuskan kehendaknya secara rasional. kesulitan keuangan yang mendesak 3. ketiadaan pengaturan itu tidak . dan 2. konsumen perumahan sering terdesak nutuk menyetujui suatu perjanjian kredit dengan bank berdasarkan system bunga fluktuatif yang sangat tidak menguntungkan.Dari unsure yang kedua itu. kurang jelas. Adanya ketergantungan relatif (misalnya antara orang tua dan anak. dan kurang informasi. Melengkapi pandangan Dunne. Salah satu pihak menyalahgunakan keadaan pihak lain untuk kepentingannya. sebagai berikut : 1. seperti segala sesuatu yang menyebabkan orang pada posisi tidak menguntungkan. pendeta dan jemaatnya). Di lain pihak. pembebasan majikan dari resiko dan menggesernya menjadi tanggungan si buruh 6. misalnya yang bersangkutan belum berpengalaman. sering pelaku usaha secara sistematis memasang iklan di media massa untuk menggiring psikologi konsumen agar berperilaku konsumtif. Karena hubungan atasan-bawahan. karena ia sudah sangat membutuhkan rumah tinggal yang layak dan pemerintah tidak menyediakan fasilitas perbankan yang lebih ringan daripada itu.Satrio menambahkan lagi enam factor yang dapat dianggap sebagai cirri dari penyalahgunaan keadaan. Karena keadaan ekonomis. boleh jadi ketergantungan ekonomis itu tidak ada. Walaupun demikian. keunggulan ekonomis pada salah satu pihak. Kondisi ini tercipta karena : 1. Keunggulan ekonomis terjadi bila posisi kemampuan ekonomi kedua belah pihak tidak seimbang sehingga salah satu tergantung pada yang lain. Pada waktu menutup perjanjian.timbul sifat perbuatan. tetapi dapat meliputi kerugian”subjektif”. Pada keunggulan psikologis.

Pasal 4 huruf g UUPK menyebutkan pula. pelaku usaha. UUPK sendiri secara umum membuka kemungkinan pengajuan gugatan oleh konsumen kepada pelaku usaha berdasarkan factor penyalahgunaan keadaan ini. 28 Januari 1984. Van Dunne melihat. yang dalam konsiderannya memuat pertimbangan “penyalahgunaan keadaan” oleh salah satu pihak. dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak dua miliar rupiah. Pangabean.berarti. 3431K/Pdt/1985. dan status social lainnya. Penjelasan dari ketentuan tersebut secara jelas dapat ditafsirkan sebagai keterkaitan dengan larangan “penyalahgunaan keadaan”. kaya. Pesan ini tampaknya perlu juga diperhatikan oleh lembaga legislatif kita. dan pemerintah dalam arti materiil dan spiritual. 4. daerah. seluruh rakyat diupayakan agar dapat berpartisipasi semaksimal mungkin dan agar diberi kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannnya secara adil. dalam asas keseimbangan disebutkan. dalam kaitannya dengan perjanjian standar yang banyak sekali dibuat oleh para pelaku usaha dewasa ini. 2. Pasal 15 UUPK bahkan secara tegas mengatakan. sebaiknya penerapan ajaran “penyalahgunaan keadaan” ini tidak sepenuhnya diserahkan pada hakim. pelaku usaha dalam menawarkan barang atau jasa dilarang melakukan dengan cara pemksaan atau cara lain yang dapat menimbulkan gangguan baik fisik maupun psikis terhadap konsumen. budaya. misalnya menyebutkan ada putusan hakim yang dapat dianggap sebagai yuris-prudensi. Putusan itu termuat dalam putusan MA No. setiap konsumen memiliki hak untuk dilakukan atau di layani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif berdasarkan suku. 5. 4 Maret 1987 dan Putusan No. Pasal 18 UUPK meletakkan hak-hak yang setara antara konsumen dan pelaku usaha bedasarkan prinsip kebebasan berkontrak. Artinya. yaitu asas : 1. 3. perlu diberi keseimbangan antara kepentingan konsumen. Henry P.”penyalahgunaan keadaan” tidak dapat diterapkan dalam penyelesaian kasuskasus perdata di Indonesia. Pelanggaran terhadap kedua paasl di atas merupakan tindak pidana menurut ketentuan Pasal 62 UUPK. miskin. agama. 1904K/Sip 1982. Dalam ketentuan itu dikatakan. pendidikan. Selanjutnya dalam hubungannya dengan perjanjian standar. Kemudian. Penjelasan Pasal 2 UUPK menyebutkan adanya lima asas perlindungan konsumen. perlu “campur tangan” pembentuk undang-undang untuk melindungi kepentingan konsumen. Manfaat Keadilan Keseimbangan Keamanan dan keselamatan Kepastian hukum Pada asas keadilan. . salah satu hak konsumen adalah hak untuk diperlakukan atatu dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif. dijelaskan.

hal ini berada diluar jangkauan hukum. seperti Amerika Serikat. dalam hal ini Undang-Undang No. dan biaya ringan c. termasuk akses kepada pengambil keputusan. cepat. Kedua. cepat dan biaya ringan. Bagaimana dengan kasus-kasus konsumen pada era perdagangan bebas yang bersuasana internasional. Kalaupun hukum digunakan untuk menjangkaunya itu pum hanya sebatas kepada mereka yang menjadi tumbal space-goal tarik-menarik kepentingan tersebut. sehingga diperlukan waktu sosialisasi pemberlakuannya selama 1 tahun b. Masih banyak makanan impor yang diketahui dengan jelas siapa distributornya di Indonesia. Inggris. Permasalahan muncul jika ada pengaduan konsumen atas barang dan jasa impor tersebut. tetapi pada tataran paktik dan kenyataannya tidak mudah dilakukan karena berbagai sebab yang bersifat yuris-politis-sosiologis. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. . Keengganan konsumen Indonesia ini disamping disebabkan oleh ketidak kritisan mereka. “keengganan” ini akan sangat berbeda jka dibandingkan dengan konsumen-konsumen di Negara-negara peserta perdagangan bebas lainnya. Secara yuridis muncul pula masalah benturan system hukum antara Indonesia dengan Negara-negara lain. padahal telah sangat dirugikan oleh pengusaha. bila perundang-undangan Indonesia bertentangan dengan ketentuan (WTO). Sikap menghindari konflik meskipun hak-haknya sebagai konsumen dilanggar pengusaha. Praktik peradilan kita yang tidak sederhana. Ketiga. Yaitu. tarik-menarik berbagai kepentingan diantara para pelaku ekonomi yang memiliki akses kuat diberbagai bidang. Secara teoritis itu dapat saja diselesaikan. karena tidak konsistennya badan peradilan kita atas putusanputusannya. dan lain-lain.secara sosiologis. bila tidak distigma antiworld trade organization (WTO). kalau perlu penyelesaian melalui jalur hukum. Belum dapat diterapkannya norma-norma perlindungan di Indonesia. Ketidakjelasan ini menyulitkan konsumen bila ia mengalami kerugian akibat produk barang atau jasa tersebut. yang relative masih baru. Paling tidak ada 3 penyebab yang dapat dikategorikan sabagai hambatan-hambatan dalam perdagangan bebas. sebagian besar konsumen Indonesia enggan berperkara ke pengadilan. Mereka telah terbiasa mempertanyakan produk-produk yang dikonsumsinya. Sering terjadi perbedaan-perbedaan putusan pengadilan dalam kasus serupa. bagaimana mekanisme penyelesaiannya yang sederhana.d. juga lebih banyak didasarkan pada : a. Masuk nya barang dan jasa impor ke Indonesia bukannya tanpa permasalahan. Norma-norma perlindungan konsumen Era perdagangan bebas menghendaki bahwa semua barang dan jasa yang berasal dari Negara lain harus dapat masuk ke Indonesia. Pertama. Dalam kasu berskala nasional saja pengadilan belum mampu bessikap konsisten.

Perlindungan konsumen dari bahaya-bahaya terhadap kesehatan dan keamanannya. Apa yang telah dilakukan EEC (Masyarakat Ekonomi Eropa/MEE) pada \bulan juli 1985 dengan . Adapun kepentingan konsumen menurut Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa No. Tersedianya informasi yang memadai bagi konsumen untuk memberikan kemampuan mereka melakukan pilihan yang tepat sesuai kehendak dan kebutuhan pribadi d. hendaknya dapat memprakarsai harmonisasi hukum di kawasan ASEAN. meskipun pembangunan hukum dan ekonominya masih tertinggal jika dibandingkan dengan Negara-negara ASEAN lainnya. Pengusaha kecil yang sudah ada pada awal munculnya isu perlindungan konsumen di Indonesia hamper ¼ abad yang lalu. Kebebasan untuk membentuk organisasi konsumen atau organisasi lainnya yang relevan dan memberikan kesempatan kepada organisasi tersebut untuk menyuarakan pendapatnya dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan mereka. karena norma-norma ini masih dalam taraf sosialisasi selama setahun sejak diundangkan pada tanggal 20 April 1999 yang lalu. khususnya menyangkut product liability. e. 39/248 tentang Guidelines for Consumer Protection. Yakni.Terlampau dini bagi kita untuk memberikan penilaian efektif tidaknya normanorma perlindungan konsumen yang integral (Undang-Undang No. Adanya Undang-Undang Perlindungan Konsumen memberikan dampak ekonomi yang positif bagi dunia usaha. sampai saat ini tidak bangkit. hukum positif yang ada tidak jelas arah dan tujuannya bila digunakan sebagai instrument hukum dalam melindungi kepentingan (hukum) konsumen. Idealnya doktrin product liability sebagai salah satu norma perlindungan konsumen. dalam perspektif perlindungan konsumen. dituangkan dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Sementara itu. sebagai berikut : a. dunia usaha dipacu untuk meningkatkan kualitas produk barang dan jasa sehingga produknya memilki keunggulan kompetitif di dalam dan diluar negeri. Pendidikan konsumen Tersedianya upaya ganti rugi yang efektif f. hakikat perlindungan konsumen menyiratkan keberpihakan kepada kepentingan-kepentingan (hukum) konsumen. bahkan tergilas sepak terjang konglomerat yang menggurita. b. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen) dalam tata hukum kita. Dari pada itu. perdagangan. dan pengusaha kecil tidak masuk akal. Butir (a) kepentingan konsumen tersebut dapat direalisasi melalui penerapan doktrin product liability kedalam doktrin perbuatan melawan hukum (tort). Promosi dan perlindungan kepentingan social ekonomi konsumen c. Kekhawatiran adanya UndangUndang Perlindungan Konsumen bias menghancurkan perkembangan industry. Indonesia sebagai salah satu Negara terkemuka di ASEAN.

Syarat – syarat keanggotaannya menurut pasal 37 UUPK adalah : 1. Sebagai bahan perbandingan pada era perdagangan bebas Negara-negara peratifikasi keputusann-keputusan (WTO) sudah cukup lama memiliki perangkat Undang-Undaang Perlindungan Konsumen. Kesenjangan tersebut tercipta dalam bentuk berbagai kenaikan harga barang dan jasa konsumen tanpa diikuti dengan daya beli dan kualitas produk yang memadai. Badan ini terdiri atas 15 orang sampai dengan 25 orang anggota yang mewakili unsure : (1. Sebaliknya. sementara itu UndangUndang No. (3. dan dapat di amanat kembali untuk satu kali masa jabatan berikutnya. (2. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan Konsumen masih dalam taraf sosialisasi. Tidak pernah dihukum karena kejahatan 5. maka Pemerintah harus menangani kesenjangan ekonomi antarpelaku ekonomi.) lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. kita baru memulai sosialisasi norma-norma perlindungan konsumen itu. Masa jabatan mereka adalah 3 tahun. Berusia sekurang – kurangnya 30 tahun.8 tahun 1999 tentang Hukum Perlindungan Konsumen disebutkan adanya Badan Perlindungan Konsumen Nasional. Keanggotaan badan perlindungan konsumen nasional / BPKN ini di angkat oleh presiden atas usulan menteri (bidang perdagangan) setelah dikonsultasikan kepada dewan perwakilan rakyat. dalam hal ini antara pengusaha dan konsumen. Warga Negara Indonesia 2. Dalam perspektif kebijakan pemerintah pada awalnya Pembangunan Jangka Panjang Kedua (PJP II) yang menekankan pada pemerataan pembangunan dan hasilhasilnya.) pelaku usaha.) akademisi dan (5.)Pemerintah.memberlakukan Directive Nomor 85/374/EEC on strict Product Liability di seluruh kawasan Eropa dapat dianggap sebagai salah satu tindakan harmonisasi hukum yang dilakukan Dewan Menteri Eropa. BAB 6 PERANNYA LEMBAGA/INSTANSI KONSUMEN DAN DALAM PERLINDUNGAN A. Memiliki pengetahuan dan pengalaman dibidang perlindungan konsumen 6. (4.) tenaga ahli. Berbadan sehat 3. BADAN PERLINDUNGAN KONSUMEN NASIONAL Dalam undang – undang No. Mereka siap menghadapi produk-produk impor terutama dari Negara-negara berrkembang. Syarat diatas persis seperti yang juga berlaku untuk menjadi anggota badan penyelesaian . Berkelakuan baik 4.

Sakit secara terus – menerus. atau pelaku usaha 7. Menurut pasal 38 UUPK.q. pengkajian dan pengembangan. menteri yang membidangi perdagangan ditugasi juga untuk mengkoordinasikan pembinaan dan pengawasan perlindungan konsumen secara . Fungsi BPKN ini hanya memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah dalam upaya mengembangkan perlindungan konsumen di Indonesia.Konsumen (pasal 49 UUPK). keanggotaan BPKN dicantumkan secara tegas batas masa jabatannya dan kapan yang bersangkutan dapat berhenti sebagai anggota. Berakhir masa jabatan sebagai anggota. 2. atau 6. Menerima pengaduan tentang perlindungan konsumen dari masyarakat. Anturan demikian tidak disebutkan untuk keanggotaan badan penyelesaian sengketa konsumen. Memberikan saran dan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka penyusunan kebijaksanaan di bidang perlindungan konsumen 2. Mengundurkan diri atas permintaan sendiri. Bedanya adalah dalam UUPK. dalam pasal 29 dan 30 UUPK diamanatkan. pemerintah c. Sekretariat ini paling tidak terdiri atas lima bidang. Untuk melaksanakan tugas – tugasnya. BPKN berkedudukan di Jakarta dan bertanggung jawab langsung kepada presiden/ jika diperlukan. Melakukan penelitiaan dan pengkajian terhadap peraturan perundangundangan yang berlaku dibidang perlindungan konsumen 3. Meninggal dunia. Untuk menjalankan fungsi tersebut. Diberhentikan. Menyebarluaskan informasi melalui media mengenai perlindungan konsumen dan memasyarakatkan sikap keberpihakan kepada konsumen 6. lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. keanggotaan BPKN berhenti karena : 1. Bertempat tinggal diluar wilayah Negara Republik Indonesia. BPKN dapat membentuk perwakilan di Ibukota provonsi. Mendorong berkembang nya lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat 5. Melakukan penelitian terhadap barang dan jasa yang menyangkut keselamatan konsumen 4. (4) pelayanan informasi. 3. 4. Melakukan survei yang menyangkut kebutuhan konsumen Diluar BPKN yang independen. 5. yaitu (1) administrasi dan keuangan. BPKN dibantu oleh suatu secretariat yang dipimpin oleh seorang secretariat yang diangkat oleh Ketua BPKN. (2) penelitian. dan (5) kerja sama internasional. (3) pengaduan. badan ini mempunyai tugas (pasal 34 UUPK) : 1.

nasional. Ada pandangan kehadiran LPKSM bentuk intervensi Negara terhadap kebebasan berserikat dan berkumpul dari kelompok masyarakat. Fungsi tim pun hanya sebatas memberikan rekomendasi kepada menteri untuk melakukan tindakan konkret. LPKSM dan cabangnya di daerah harus mengontrol dengan sungguh – sungguh kelayakan produk barang yang dipasarkan melalui penyuluhan kepada masyarakat tentang tertib niaga dan hokum perlindungan konsumen agar mereka tidak terjebak tindakan pelaku usaha yang hanya memproriotaskan keuntungan dan mengorbakan masyarakat. Ketidaktahuan masyarakat dapat memberi peluang pelaku usaha atau penjual untuk membodohi masyarakat dengan produk yang tidak memenuhi standar. LPKSM diharapkan sering melakukan advokasi melalui media masa agar masyarakat selektif serta hati – hati dalam membeli produk barang yang muncul deras dipasaran. sehingga kehadiran LPKSM ini betul – betul dirasakan manfaatnya pleh masyarakat. PENGERTIAN DAN PERAN LPKSM (LEMBAGA PERLINDUNGAN KONSUMEN SWADAYA MASYARAKAT) Kian ketatnya persaingan dalam merebut pangsa pasar melalui bermacam – macam produk barang. Pembinaan dan pengawasan yang lebih khusus dilakukan oleh menterimenteri teknis sesuai bidang tugas mereka. Oleh karena itu. apalagi. Selain itu. sementara tim koordinasi yang di bentuk oleh menteri itu berfungsi memberikan rekomendasi berupa tindakan konkret atas setiap permasalahan yang timbul di lapangan. Tim ini terdiri atas wakil instansi terkait. masyarakat. obat – obatan. ada perbedaan antara BPKN dan tim di atas. ia diperlukan untuk memberikan jaminan accountability lembaga – lembaga konsumen tersebut. misalkan makanan kaleng. masyarakat pedesaan yang belum memahami efek atau indikasi dari produk barang yang digunakan. maka perlu keseriusan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) perlu memantau secara serius pelaku usaha/penjual yang hanya mengejar profit semata dengan mengabaikan kualitas produk barang. Problematika yang muncul dengan kehadiran LPKSM adalah dari fungsi serupa yang selama ini telah dijalankan oleh lembaga – lembaga konsumen sebelum berlakunya UUPK. unit pengaduan masyarakat perlu dibentuk sebagai sarana pengaduan masyarakat yang dirugikan dari produk barang yang digunakan. Dengan demikian. BPKN berfungsi memberikan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka penyusunan kebijakan di bidang perlindungan konsumen. dan masih banyak lagi. Hal ini disebabkan oleh masih banyaknya produk tidak bermutu yang palsu yang beredar bebas dimasyarakat. Hasil temuan LPKSM yang disampaikan masyarakat juga harus mendapat tindak lanjut dan . minuman botol. B. Menteri yang membidangi perdagangan iu berwenang membenuk tim koordinasi pengawasan barang dan jasa yang beredar di pasar. seperti penghentian produksi atau peredaran barang/jasa yang dinilai melanggar peraturan yang berlaku. dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat (LPKSM). namun di sisi lain.

memberikan nasihat kepada konsumen yang memerlukannya . Pemasaran barang dan jasa serta keselamatan penggunaannya. d. e. Undang – Undang No. menyebarkan informasi dalam rangka meningkatkan kesadaran atas hak dan kewajiban dan kehati – hatian konsumen dalam mengonsumsi barang dan/atau jasa. melakukan pengawasan bersama pemerintah pelaksanaan perlindungan konsumen. Pemasaran barang dan jasa secara bebas dan canggih di Negara liberal itu telah menimbulakan mekanisme defensive di kalangan konsumen dan mulai terdapat ketidak percayaan akan informasi sepihak yang disampaikan para produsen. b. . termasuk menerima keluhan atau pengaduan konsumen. c. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengatur tugas dan wewenang LPKSM sebagaimana tertuang dalam Pasal 44. Munculnya gerakan “konsumerisme” dalam segala permasalahnnya kepermukaan masih relative baru.penyelesaian secara tuntas. Kennedy pada tahun 1962 mengukuhkan adanya hak – hak konsumen. (2). Konsumen mulai mempermaslahkan adanya ketidaksesuaian harga dengan mutu barang atau jasa serta keselamatan penggunaanya. Pengukuhan ini timbul atas desakan konsumen di Amerika pada tahun 1930-an yang sudah mulai mempertanyakan adanya ketidakadilan dalam memperoleh pelayanan. Tugas lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat meliputi kegiatan : a. Diharapkan pula kehadiran PLKSM bukan justru berpihak kepada pelaku usaha atau penjual dengan mengorbankan konsumen. (3). C. yakni sebagai berikut : (1). Kepopuleran dan paham konsumerisme ini baru mulai mendapat perhatian dunia bisnis maupun birokrasi sejak Presiden Amerika Serikat. baik jasa pelayanan yang disediakan oleh industry maupun pelayanan umum yang disediakan oleh pemerintah. Pemerintah mengakui lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat. Berkaitan dengan implementasi perlindungan konsumen. bekerja sama dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan perlindungan konsumen. Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam mewujudkan perlindungan konsumen. dan masyarakat terhadap PERAN SERTA YLKI (YAYASAN LEMBAGA KONSUMEN INDONESIA) DALAM PERLINDUNGAN KONSUMEN. membantu konsumen dalam memperjuangkan haknya.

catatan sipil. IMB. air minum. The UN Guidelines for Consumer Protection yang diterima dengan suara bulat oleh Majelis Umum Perserikatan – Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) melalui Resolusi PBB No. malah akan merugikan dirinya sendiri baik dari segi waktu dan tenaga. IMBm imigrasi. tetapi sebenarnya konsumen dalam menggunakan pelayanan tersebut. sampai saat ini kenyataannya masih banyak konsumen yang belum memperoleh kepuasan dalam menggunakan pelayanan public meskipun pemerintah telah berubah status menjadi penyedia jasa monopoli. Ada berbagai jenis layanan yang disediakan oleh Pemerintah. KTP. Misalnya fasilitas kereta api. Hanya saja.misalnya PLN dan pelayanan yang bersifat nonprofit seperti KTP. A/RES/39/248 tanggal 16 April 1985 tentang Perlindungan Konsumen. tidaklah gratis. jauh sebelum upaya perlindungan konsumen ini ada. hal ini merupakan kemajuan yang sangat berarti di bidang perlindungan konsumen. dan angkutan transportasi. listrik. Pada dasarnya para aparatlah yang tahu apakah suatu pengurusan KTP misalnya. Masyarakat hanya bisa pasrah. mengandung pemahaman umum dan luas mengenai perangkat perlindungan konsumen yang asasi dan adil. pelayanan yang bersifat monopoli. Mereka sudah membayarnya melalui pajak. dimana dinyatakan dalam paragraph pertama bahwa pemerintah – pemerintah berbagai Negara sepakat untuk memfasilitasi/mendukung pengembangan kelompok – kelompok konsumen (guidelines 1e). Sebagai anggota masyarakat yang telah membayar pajak yang mencoba untuk melawan dengan pelayanan yang diberikan. Dengan bangkitnya kesadaran konsumen ini tampaknya aparat pemerintah belum siap menerima tuntutan dan masyarakat baik dalam segi dana maupun SDMnya. Keadaan ini mungkin akan diperburuk lagi dengan adanya pernyataan pemerintah sehingga siapa yang punya uang dialah yang mendapatkan pelayanan. Segala kemudahan akan segala diperoleh masyarakat jika uang pelicin tersedia. cepat atau lambat. Semua ini dilakukan untuk memberikan pelayanan kepada konsumen dan memastikan konsumen dapat menggunakan fasilitas umum tersebut dengan biaya yang murah dan bahkan tanpa bayar. pelayanan rumah sakit umum. dan lain – lain sering berakhir dengan kekecewaan. angkutan. Keberadaan kelompok konsumen tentu saja berbeda dengan organisasi konsumen.Di sisi lain Pemerintah dengan inisiatifnya sendiri memang sudah menyediakan pelayanan umum kepada masyarakat atau konsumen. Berhubungan dengan hamper segala bentuk pelayanan yang disediakan oleh birokrasi pemerintah dalam kehidupan sehari – hari seperti PAM. pelayanan yang bersifat profit misanya jasa telekomunikasi. Pada hakikatnya kelompok konsumen lebih merupakan pengelompokan . telepon. Satu hal yang diperjuangkan guidelines itu adalah struktur kelompok – kelompok konsumen yang independen. dan lain – lain. jalan raya. Merekalah satu system bekerjanya.

? Sebagian dapat tercapai. Adapun organisasi – organisasi konsumen merupakan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang perlindungan konsumen. Didalam segala aktivitasnya tentu saja organisasi konsumen seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia(YLKI) bertindak dalam kapasitasnya selaku perwakilan konsumen (consumer representation). mencoba untuk mengubah keadaan melalui dialog dengan para pengambil keputusan dan juga membantu konsumen untuk memecahkan masalhnya dalam berhadapan dengan birokrasi pemerintah. Apabila dikatakan bahwa kelompok konsumen bertindak dalam kapasitasnya selaku konsumen. Mereka harus secara ekskusif mewakili kepentingan – kepentingan konsumen. Pada tataran kebijakan (policy) ketika menangani pengaduan – pengaduan konsumen. tapi lebih banyak yang tak terselesaikan. organisasi konsumen sering dihadapkan pada konstruksi perwakilan. Mereka tidak boleh mengizinkan eksploitasi atas informasi dan advis yang mereka tidak mereka berikan kepada konsumen untuk kepentingan perdagangan. sulit rasanya bagi Indonesia untuk dapat bersaing di Abad XXI. 2. Indah sukmaningsih berpendapat bahwa bertahun – tahun Yayan Lembaga Konsumen Indonesia berusaha bekerja untuk membuat keadaan sedikit lebih menguntungkan kondisi konsumen. Artinya. Kemajuan perdagangan akan tidak adanya artinya jika diperoleh dengan cara – cara yang merugikan konsumen. 3. baik bagi organisasi konsumen maupun kelompok konsumen. baik atas prakasa produsen dan asosiasinya maupun prakasa pemerintah. misalkan kelompok konsumen pemengang kartu kredit. . Walaupun demikian. kelompok komsumen barang – barang elektronik.konsumen pada berbagai sector. Mereka tidak boleh menerima iklan – iklan untuk alasan – alasan komersial apa pun dalam publikasi – publikasi mereka. dan sebagainya. Mereka tidak boleh mengizinkan kebebasan tindakan dan komentar mereka dipengaruhi atau dibatasi pesan – pesan sponsor/pesan – pesan tambahan. organisasi konsumen seperti YKLI bertindak mewakili kepetingan – kepentingan dan pandangan – pandangan konsumen dalam suatu kelembagaan yang dibentuk. 5. keduanya memiliki tujuan yang sama. Hasilnya. Prinsip kebebasan (idependence) merupaskan karateristik penting. 6. 4. Pada beberapa tulisan yang ada di media massa disebutkan bahwa jika pelayanan birokrasi masih seperti sekarang. mengenai karateristik ini terdapat 6 (enam) kualifikasi kebebasan yang harus memiliki organisasi konsumen dan kelompok konsumen. yaitu melayani dan meningkatkan martabat dan kepentingan konsumen. dengan hasil – hasil survey dan penelitian yang dilakukan. Mereka harus nonprofit making dalam profil aktivitasnya. 1.

4. Prosedur pelayanan meliputi pengaturan yang jelas terhadap prosedur yang harus dilalui oleh masyarakat yang akan menggunakan pelayanan. yang dapat berupa loket informasi yang dimiliki dan terpampang jelas. . Keterbukaan Artinya. 5. pengaturan tarif dan penerapannya harus sesuai dengan ketentuas yang berlaku. laki atau perempuan. dan layanan pengaduan. Artinya. Kepastian Artinya. Dalam keterbukaan.tagihan) maupun jaminan purna pelayanan secara teknis. ada terpampang dengan jelas waktu pelayanan. yakni sebagai berikut : 1. Kantor pelayanan hendaknya mencantumkan jam kerja kantor untuk pelayanan masyarakat. 6. Untuk biaya pelayanan. Dilengkapi juga dengan petunjuk pelayanan. Dari segi etika keramahan dan sopan santun juga perlu diperhatikan. mencakup proses pelayanan dan persyaratan pelayanan. 3. yang dilengkapi dengan alur proses. Kesedehanaan Artinya. adanya informasi pelayanan. kotak saran. Keamanan dan Kenyamanan Hasil produksi pelayanan memenuhi kualitas tekhnis (aman) dan dilengkapi dengan jaminan purna pelayanan secara administrasi (pencatat/dokumentasi. rapi. merata dalam memberikan subjek pelayanan tidak diskriminatif. keterampilan dan etika petugas. Keadilan Artinya. Perilaku petugas pelayanan Pengabdian. Adapun persyaratan pelayanan adalah administrasi yang jelas. Adanya pegaturan tugas dan penunjukkan petugas haruslah pasti dan sesuai dengan keahlian. termasuk disiplin dan kemampuan melaksanakan tugas. Penataan ruangan dan lingkungan kantor terasa fungsional. dan petugas pelayanan. mencakup upaya publikasi. biaya pelayanan. tidak membedakan si kaya dan si miskin. jadwal pelayanan dan pelaksanaannya. seorang petugas haruslah tanggap dan peduli dalam memberikan pelayanan. bersih. Selain itu dilengkapi dengan sarana/prasarana pelayanan ( misalnya peralatannya ada) dan digunakan secara optimal. artinya penyebaran informasi yang dilakukan melalui media atau benruk penyuluhan tentang adanya pelayanan yang dimaksud.Ada beberapa indicator pelayanan umum yang baik. dan nyaman. 2..

c.Yayasan sejak semula tidak ingin berkonfrontasi dengan produsen (pelaku usaha). sederhana dan murah. Badan ini penuh di setiap daerah tingkat II (Pasal 49) BPSK di bentuk untuk penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan (Pasal 49 ayat 1). D. menjaga martabat produsen dan membantu pemerintah. dengan cara melalui mediasi. 51). Putusan dari BPSK tidak dapat disbanding kecuali bertentangan dengan hokum yang berlaku. yaitu Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). BPSK adalah pengadilan khusus konsumen (small claim court) yang sangat diharapkan dapat menjawab tuntutan masyarakat agar proses bepekara berjalan cepat. Dengan demikian. Tugas dan wewenang BPSK (Pasal 52) meliputi: a. Hal ini berlaku untuk gugatan secara perorangan. b. arbitrasi atau konsliasi. Melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen. sedangkan gugatan secara kelompok (class action) dilakukan melalui peradilan umum. Memberikan konsultasi perlindungan konsumen. yang semuanya diangkat dan diberhentikan oleh Menteri (Perindustrian dan Perdagangan). namun pada kenyataannya yang tidak dapat dipungkiri bahwa lembaga pengadilan pun tidak akomodatif untuk menampung sengketa konsumen karena proses perkara yang berlaku lama dan sangat birokratis. apalagi dengan pemerintah karena YLKI bertujuan melindungi konsumen. wakil ketua meranggkap anggota. Selama ini sengketa konsumen diselesaikan melalui gugatan dipengadilan. Setiap unsure tersebut berjumlah 3 (tiga)orang atau sebanyak – banyaknya 5 (lima) orang. Pengawasan klausul baku. . Berdasarkan Pasal 45 UUPK setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum. Hubungan hokum antara pelaku usaha/pejualan dengan konsumen tidak tertutup kemungkinan timbulnya perselisihan/sengketa konsumen. Pemeriksaan dilakukan oleh hakim tunggal dan kehadiran penuh pihak ketiga (pengacara) sebagai wakil pihak yang bersengketa tidak diperkenankan. BPSK hanya menerima perkara yang nilai kerugiannya kecil. dan badan ini mempunyai anggota – anggota dari unsure pemerintah. Melapor kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran undang – undang ini. Mekanisme gugatan dilakukan secara suka rela dari kedua belah pihak yang bersengketa. Kenggotaan Badan terditi atas ketua merangkap anggota. dan anggota dengan dibantu oleh sebuah sekertariat (Pasal 50 jo. konsumen dan pelaku usaha. Dilingkungan peradilan umum UUPK membuat trobosan dengan menfasilitasi para konsumen yang merasa dirugikan dengan mengajukan gugatan kepada pelaku usaha di luar pengadilan. PENGERTIAN DAN PERAN BPSK (BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN). d.

Memutuskan dan menetapkan ada tidaknya kerugian konsumen. Memberitahukan keputusan kepada pelaku usaha pelanggaran undang – undang. Keputusan Mahkamah Agung wajib dikeluarkan dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak permohonan kasasi (Pasal 58).e. l. Meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan mereka tersebut huruf g apabila tidak mau memenuhi panggilan. Menjatuhkan sangsi administrasi kepada pelaku usaha pelanggar undang – undang. Selanjutnya kasasi pada putusan pengadilan negeri ini diberi luang waktu 14 hari untuk mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung. meneliti dan/atau menilai surat. lisan atau tertulis. m. Putusan yang dijatuhkan Majelis BPSK bersifat final dan mengikat (Pasal 54 ayat (3)). atau apabila ia keberatan dapat mengajukannya kepada Pengadilan Negeri dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari. g. . f.8 Tahun 1999 terlihat setidak – tidaknya dari sudut biaya dan waktu penyelenggaraan keadilan itu pihak konsumen dan pelaku usaha yang jujur dan bertanggung jawab dimudahkan dan dipercepat (putusan yang mempunyai kekuatan hokum pasti dapat dijatuhkan dalam jangka waktu relative pendek. saksi ahli dan/atau setiap orang yang dianggap melakukan pelanggaran itu. Menghadirkan saksi. i. Keputusan BPSK itu wajib dilaksanakan pelaku usaha dalam jangka 7 (tujuh) hari setelah diterimanya. dokumen atau alat – alat bukti lain guna penyelidikan dan/atau pemeriksaan. h. Melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa konsumen. Menerima pengaduan dari konsumen. j. Mendapatkan. Dari keseluruhan proses persidangan berdasarkan ketentuan Undang – Undang No. Memanggil pelaku usaha pelanggar. Pengadilan Negeri yang menerima keberatan pelaku usaha memutuskan perkara tersebut dalam jangka waktu 21 hari sejak diterimanya keberatan tersebut (Pasal 58). k.tentang dilanggarnya perlindungan konsumen. Dalam menyelesaikan sengketa konsumen dibentuk majelis yang tediri atas sedikitnya 3 (tiga) anggota dibantu oleh seorang panitera (Pasal 54 ayat (1) dan (2)). maksimum 100 (seratus) hari (total dari proses pertama sampai terakhir). BPSK wajib menjatuhkan putusan selama – lamanya 21 (dua puluh satu) hari sejak dijatuhkan gugatan diterima (Pasal 55). Dari uraian di atas dapat dibuat skema proses penyelesaian sengketa melalui BPSK sebagai berikut.

Melapor penyidik e. arbitrasi.Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Dati II (Pasal 49 ayat 1) Pemerintah/Pelaku Usaha/Konsumen 3-5 per Unsur Nonmasa Kerja Tugas Wewenang Pasal 52 a.duan f. Meneliti surat. Penelitian dan pe. Memutus dan meadanya kerugian Memberitahu putusan hukuman netapkan Esekusi PN di tempat Konsumen Pasal 57 Pengadila Negeri Putusan 21 Hari Pasal 52 ayat (2) Makamah Agung putusan 30 Hari Pasal 58 ayat (3) k. Konsultasi P. Penyelesaian: dan Bentuk Keputusan 21 Hari. Pengawasan klau.K c. do-kumen alat bukti i.gainnya h. konsiliasi b. j. Menerima penga. sanksi dan seba.sul baku d.Pasal 55 Mediasi. Keberatan Pasal 56 ayat (2) Pelanggaran atas Pasal 19 ayat (2) Pasal 20.meriksaan Sanksi administrasi Final dan Mengikat 14 Hari. Menjatuhkan administratif .25 Maksimum 200 juta g. Memanggil pihak.

Ada prolog yang mendahuluinya. Perikatan konsumen merupakan pelaksanaan dari perikatan sebelumnnya. dalam pelunasan harga barang atau jasa. Diluar transaksi konsumen dikenal juga transaksi komersial. Proses untuk menghasilkan iklan itu disebut dengan periklanan. Abdi Negara sudah harusnya melayani kepentingan masyarakat dan bukan dilayani oleh masyarakat. BAB 7 ISU – ISU HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN A. yang dapat disebut pratransaksi konsumen. Berikut ini dikemukakan 3 isu pokok dari sekuen – sekuen transaksi konsumen. Hal ini tidak terjadi pada distributor karena produk yang diperjual belikan menjadi miliknya. yang dapat disebut pska transaksi konsumen. tetapi langsung kepada pihak principal. yang . yang biasanya dilakukan oleh produsen sebagai principal dengan sipedagang antara. sementara melakukan transaksi atas nama prinsipalnya. konsumen mengharapkan pelayanan birokrasi menjadi lebih baik. Transaksi konsumen merupakan suatu perikatan. PENGANTAR Sebagian besar predikat konsumen diperoleh sebagai konsekuensi mengonsumsi barang dan jasa melalui suatu transaksii konsumen. Kareteristik yang berbeda ini tentu mempengaruhi konstruksi hokum dalam transaksi konsumen di antara para pihak terkait. paling tidak berperan indicator atau criteria yang ditawarkan diatas semaksimal mungkin dipenuhi. UUPK tidak menkatagorikan “konsumen antara” ini sebagai konsumen yang dilindungi oleh UUPK.Dalam menghadapi Abad XXI. pembeli dapat saja tidak membayar melalui perantaraan si agen. Tahapan pratransaksi konsumen biasanya ditandai oleh penawaran dari penjual kepada calon pembelinya. Mengigat salah satu tolok ukur dari majunya suatu Negara adalah nilai dari pelayanan terhadap masyarakat oleh aparatur Negara. Dalam kacamata hokum perdata. Setelah transaksi konsumen dilaksanakan. Kedua istilah ini memiliki sejumlah perbedaan. para perantara ini disebut juga dengan intermediate consumer. Pada saat ini penawaran lazimnya dilakukan melalui media masa yang dikemas secara menarik. Kemasan penawaran demikian disebut dengan iklan. perikatan transaksi konsumen itu tidak serta merta terjadi begitu saja. Konsumen antara dapat berupa distributor atau agen. Transaksi konsumen adalah peralihan barang atau jasa termasuk didalamnya peralihan kenikmatan dalam menggunakannya. Dengan demikian. Pihak yang disebutkan terakhir inilah yang menjebatani antara produsen dan konsumen akhir. yang terutama bersangkut paut dengan perikatan keperdataan. Itulah sebabnya. masih ada perikatan lain yang harus dipenuhi kedua belah pihak. Distributor bertindak atas namanya.

melibatkan 3 unsur utama masyarakat periklanan. Tugas demikian dibebankan kepada Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (Ditjen POM). Disini selalu dipertanyakan apakah dalam perjanjian baku itu masih tedapat kebebasan kontrak? Hal ini terjadi karena perjanjian standar itu di tentukan secara sepihak oleh produsen atau penyalur produknya (penjual). dan media masa. Sekalipun demikian. yang keanggotaannya berasal . dan alat kesehatan. sedangkan Menteri Penerangan melakukan pengawasan materi secara umum. yaitu pengiklan.122/Kep/Menpen/1980) tentang Pengendalian dan Pengawasan Iklan Obat. Selama jangka waktu itu. misalnya tiga tahun. belum di media lainnya. sedangakan konsumen tinggal memutuskan : menerima atau menolaknya. Biasanya konsumen tidak punya pilihan lain. Untuk melakukan pengawasan demikian. perusahaan periklanan. Sering terjadi. Menurutnya. untuk pembelian barang – barang tertentu produsen atau penyalur produk memberikan garansi dalam jangka waktu terbatas. bidang kesehatan merupakan sector yang relative lebih lengkap pengaturannya dalam melindungi konsumen dibandingkan bidang – bidang lain. makanan. sebab dimanapun ia pergi. terutama sejak diperolehnya kembali siaran iklan ditelevisi. pada akhir 1992. Departemen Kesehatan sebenarnya memiliki rambu – rambu pengaman yang relative lebih lengkap dalam melindungi konsumen. Frekuensi keluhan itu terus meningkat. Menurut Surat Keputusan Bersama itu.lainnya. khusus mengenai periklanan. khususnya yang ditayangkan ditelevisi. setiap keluhan konsumen atas barang tersebut. Makanan. berarti dari iklan obat – obatan yang disiarkan ditelevisi. Sesungguhnya apa yang di ungkapkan Menteri Kesehatan sejak lama menjadi keluhan pengamat dan aktivis perlindungan konsumen. baik sendiri – sendiri maupun bersama – sama memiliki potensi untuk melanggar hak – hak konsumen. Tahapan ketiga dari proses transaksi konsumen ini adalah perikatan setelah peralihan barang atau jasa yang pokok dilakukan. tidak satupun yang memberikan informasi yang jujur. Kosmetika. kecuali menerima alternative yang pertama. Minuman. Namun keluhan – keluhan demikian biasanya tidak mendapat publikasi yang luas karena berbagai pertimbangan komersial. Tahapan berikutnya adalah pelaksanaan dari transkasi konsumen itu. Menteri Kesehatan RI pernah melontarkan kritikan yang sangat tajam terhadap iklan obat – obatan yang beredar dimasyarakat. Itu baru disatu media. semua iklan itu menyesatkan. Dibandingkan dengan instansi – instansi lainnya. untuk itu selanjutnya dibentuk panitia khusus/ bersama. ia akan disodorkan perjanjian baku dengan subtansi yang hampir sama oleh produsen atau penyalur produk (penjual)lainnya. khususnya yang berkaitan dengan periklanan diterbitkan Surat Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Penerangan (NO. dapat diajukan kepada produsen atau penyalur produk. Dapat dibayangkan jika sinyalemen Menteri Kesehatan itu benar. Inilah yang biasanya disebut layanan purna jual. Ketiga unsure ini. disini terkait pada perlindungan hokum bagi konsumen. Departemen ini mempunyai lembaga tersendiri yang mengawasi peredaran dan penggunaan obat (termasuk obat tradisional). B. seperti media audio dan media cetak yang tersebar di seluruh Indonesia. sepanjang bukan disebabkan kesalah pemakaian. PERIKLANAN DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN (IKLAN OBAT) Diantara sekian banyak sector. kosmetika. Menteri Kesehatan berkewajiban mengawasi menteri periklanan sesuai dengan criteria teknis medis dan etis.252/Menkes/SKB/VIII/80 dan NO. dan Alat Kesehatan (OMKA). Isu yang banyak dipermasalahkan pada tahap ini adalah existensi dari perjanjian standar atau perjanjian baku.

ternyata banyak sekali iklan yang sitayangkan diberbagai media yang melenceng jauh dari naskah yang diserahkan ked an disetujui oleh Direktorat Jederal POM. Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS). Selain itu sejak 1989 naskah iklan obat – obatan harus diserahkan pula kepada Direktorat Jenderal POM untuk mendapatkan persetujuan. Dengan dihapusnya instansi Departemen Penerangan dalam struktur pemerintah saat ini. Tata Cara dan Tata Periklanan Indonesia ini selalu disempurnakan. Ditempat inilah iklan itu diproduksi. Masalah iklan obat. tidak diperkenankan untuk diiklankan selama belum didaftarkan di Departemen Kesehatan (Pasal 3 Peraturan Menteri Kesehatan No. pihak perusahaan periklanan dikawal ketat oleh kode etik yang ditanda tangani oleh lima asosiasi (termasuk Perusahaan Periklanan Indonesia) pada 17 September 1981. Pembatalan pendaftaran. dengan penandatangan oleh tujuh instansi pada 19 Agustus 1996. Dalam memproduksi iklan.dari dua departemen serta kalangan periklanan dan anggota masyarakat lainnya. Ketujuh instansi tersebut adalah:\ 1. Dalam praktiknnya. 6. Asosiasi Pemrakarsa dan Penyantun Iklan Indonesia (Aspindo) 3. Untuk obat – obatan tradisional. surat keputusan itu tidak dapat dijadikan dasar peganganpenerbit periklanan OMKA. sampai dengan pencabutan izin usaha industry obat yang bersangkutan. sebelum akhirnya disebarluaskan ke media yang diingini.660). Jenis obat yang boleh diiklankan hanya jenis obat bebas dan terbatas. Sesuai namanya. sama sekali tidak membuat “kecut” pelakunya. 0282 – 3/A/SK/XI/90 tentang Kriteria Terperinci. Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) 4. bukan obat keras. ancaman sangsi yang diberikan Departemen Kesehatan mulai dari teguran. Namun.23 Tahun 1992 tentang kesehatan. Asosiasi Perusahaan Media Luar Ruang Indonesia (AMLI) 2. ide yang di amanatkan SuratKeputusan Bersama tersebut tidak ditindaklanjuti. Dalam peraturan itu juga ditegaskan bahwa iklan yang diberikan tidak boleh menyimpang dari apa yang disetujui dalam pendaftaran. Ordonansi itu memerlukan penjabaran itu lebih lanjut dalam peraturan perundang – undangan yang lebih rendah tingkaatannya.246/Menkes/Per/V/1990). Kelengkapan Permohonan dan Tata Laksana Pendaftaran Obat Jadi. Panitia yang dimaksud tidak pernah dibentuk dan kosekuensinya. Ironisnya. tampaknya amanat tersebut tinggal menjadi kenangan. dan . Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) 5. Saat ini dapat dipastikan semua iklan obat di televise yang pernah dipersoalkan oleh Menteri Kesehatan diserahkan pembuatannya kepada perusahaan periklanan (production house). Selain mengacu kepada ketentuan Undang – Undang No. ordonansi tersebut tidak secara khusus mengatur masalah periklanan. Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI). Tidak adil rasanya bila segala beban penyimpangan harus dipersalahkan sepenuhnya ke pihak produsen obat – obatan. Dalam ketentuan yang disebutkan terakhiran disyaratkan bahwa setiap iklan obat harus memuat informasi sesuai dengan persetujuan yang diberikan Departemen Kesehatan pada saat obat itu didaftarkan. misalnya antara lain diatur dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. dalam melakukan pengawasan Direktorat Jenderal POM samapai sekarang masih mendasarkan diri pada Ordonansi Pemeriksaan Bahan – Bahan Farmasi (Staatsblad 1936 No.

Selain itu. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Sebagai mana diuraikan diatas surat keputusan bersama dari dua menteri (1980) menyatakan pengawasan periklanandi bidang OMKA dilakukan oleh panitia tersendiri. Iklan obat yang “tidak sehat” seperti itu tentu saja merugikan perusahaan obat sejenis. mekanisme pengawasannya masih berjalan dengan baik. Ini berarti dibuka kesempatan untuk membentuk suatu badan pengawasan yang lebih bergigi. Juga tidak boleh mencantumkan kata – kata “aman”. rumah sakit. seperti dokter. tapi hanya boleh menyatakan membantu menghilangkan gejala penyakit. Apalagi jika pihak produsen yang lebih kuat itu didukung oleh fasilitas yang memungkinkannya bertindak secara monopolitis. juga dibentuk berdasarkan undang – undang. iklan tidak boleh memuat kata – kata yang berisi janji penyembuhan penyakit. dan keputusan setingkat menteri seperti itu tidak berwenang mencantumkan sanksi. Cara berfikir yang dalam hokum dikenal sebagai caveat emtor (let the buyer beware) demikian hanya cocok untuk Negara kapasitas abad ke – 19. Dari sebagian kecil rumus kode etik itu saja tampak banyak iklan obat yang tidak memnuhi persyaratan. ahli farmasi. terlebih dahulu perlu dijabarkan secara jelas batas kewenangan panitia tersebut. (The Federal Trade Commission). Bentuk peraturan demikian tidak dikenal dalam tata urutan peraturan perundang – undangan di Indonesia. atau “bebas resiko” tanpa keterangan lengkap yang menyertainya. Kendati demikian. Yayasan Televisi Republik Indonesia. kode etik periklanan juga mensyaratkan iklan harus sesuai dengan indikasi jenis produk yang disetujui oleh Departemen Kesehatan. Keberadaan panitia itu kiranya cukup urgen untk di wujudkan karena memudahkan dalam melakukan koordinasi. . Sebagai perbandingan di Amerika Serikat badan yang mengawasi masalah makan dan obat (The Food and Drug Administration) dibentuk atas produk hokum setingakt undang – undang. Dalam hokum pembentukan panitia bersama di atas tentu akan lebih baik jika tidak berbentuk surat keputusan bersama. Pemakaian tenaga professional kesehatan sebagai model iklan. Demikina juga badan yang kewenangannya antara lain yang mengawasi masalah periklanan. atau atribut – atribut profesi medis lainnya juga dilarang. “tidak berbahaya”. sesungguhnya ditegaskan bahwa Pemerintah berwenang untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan upaya penyelenggaraan kesehatan. tapi (lebih – lebih) merugikan konsumen yang tidak berhati – hati. Dalam Bab Undang – Undang VII No. Mayoritas konsumen di Indonesia masih terlalu rentan dalam menyerap informasi iklan yang “tidak sehat”. Lolosnya penayangan iklan yang menyesatkan (dalam hal ini. Oleh karena itu. agar tidak tumpang tindih dengan mikanisme pengwasan serupa yang dimiliki instansi dijajar departemen lain. yang dinegara asalnya (Inggris dan Amerika Serikat) sudah pula ditinggalkan. perawat.. sangat riskan kiranya bilatidak diadakan pengawasan yang memadai dan konsumen dibiarkan menimbang – nimbang serta memutuskan sendiri iklan apa yang pantas untuk dipercaya. Untuk obat – obatan. iklan obat – obat ) membuktikan. Posisi yang tidak berimbang antara produsen dan konsumen akan mudah disalahgunakan (machtpositie) oleh pihak yang lebih kuat. Selanjutnya dinyatakan bahwa pembinaan dan pengwasan tersebut akan ditetapkan dengan peraturan pemerintah.7.

jika produsen melanggar. Rumusan pasal ini mengacu kepada pencantuman label “halal” yang sesuai dengan syariah Islam. Peranan YLKI antara lain secara berkala melakukan pengujian suatu produk tertentu dan mempublikasikannya. Informasi yang diberikannya paling tidak dapat dijadikan bahan perbandingan bagi masyarakat. apa yang dilakukan YLKI ini seyogyanya disambut dengan positif. ia akan dikenakan sangsi hokum. Selain sarana pengawasan di tingkat aparatur Negara. Dalam Undang – Undang No. jika label (dan iklan) itu diserahkan sepenuhnya kepada produsen. Iklan adalah produk kreativitas dan komersial. biasanya diiklankan terlebih dahulu oleh si produsen. sampel – sampel produk itu di bagikan secara ngratis kepada masyarakat. Pasal 34 dari Undang – Undang Pangan juga membawa polemic yang tidak kalah menariknya. Departemen Kesehatan dan Agama menginginkan agar label ini dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan setelah mendapat rekomendari dari Majelis Ulama Indonesia. bahwa setiap orang yang menyatakan dalam table atau iklan bahwa pangan yang diperdagangkan adalah sesuai dengan persyaratan agama tau kepercayaan tertentu bertangguang jawab atas kebenaran pernyataan berdasarkan agama atau kepercayaan tersebut. Artinya. Sampel – sampel tersebut tentu tidak untuk diperdagangkan. tepatnya ke sasaran konsumen yang dinilai paling potensial.7 Tahun 1996 tentang Pangan disebut secara jelas mengenai iklan pangan. PERJANJIAN STANDAR DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN . Sebaliknya. dan rasa tidak adil jika dikecualikan dari ketentuan Pasal 33 UU Pangan. Di situ dinyatakan. disamping informasi yang sehari – hari mereka dapatkan dari iklan. Juga masih samar – samar tentang pengertian “pangan yang diperdagangkan”. Hal ini menimbulakan pertanyaan : bagaimana untuk “pangan yag tidak diperdagangkan”? dalam kenyataannya dapat dilihat. dan sejauh mana pula Pemerintah mampu mencegah dan menindakk tindakan produsen yang tidak bertangguang jawab. Konsekuensinya. peranan yang tidak kalah pentingnya juga harus darang dari masyarakat seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YKLI). pengawasannya tidak boleh sampai mematikan dua ciri di atas. setiap label dan/atau iklan tentang pangan yang diperdagangkan harus memuat keterangan mengenai pangan dengan benar dan tidak menyesatkan. Yakni “memberi rasa nyaman pada konsumen” tidak ditempatkan pada proritas utama. Dengan demikian. sejauh mana konsumen akan merasa aman dan yakin kebenaran isinya. C. Dan ketetuan Undang – Undang Pangan ini sebenarnya tidak mempunyai aspek konstitutif yang berarti banyak karena masih harus menunggu peraturan pelaksanaannya. tentu akan dipertanyakan. Pasal 33 dari undang – undang ini menyatakan. Untuk itu pemerintah mengatur. produk pangan dengan merek baru yang masih dalam masa perkeenalan kepada konsumen. Sementara itu. Sebagaimana diatur dalam Pasal 71 dan 72 Undang – Undang Kesehatan. mengawasi dan melakukan tindakan yang diperlukan agar iklan tentang pangan yang diperdagangkan tidak memuat keterangan yang dapat menyesatkan. Kantor Menteri Urusan Pangan dulu ingin menyerahkan kepada masing – masing produsen. Polemic ini sesungguhnya tidak akan dapat dituntaskan jika akar permasalahan.Khusunya hal periklanan di bidang OMKA dengan dasar hokum yang lebih sesuai.

Tentu saja fenomena demikian tidak selamanya berkonotasi negative. diperbolehkan system pembelian satuan rumah susun (strata title) secara inden dalam bentuk perjanjian standar. Misalnya. Adanya unsure pilihan ini oleh sementara pihak dikatakan perjanjian standar tidaklah melanggar atas kebebasan berkontak (Pasal 1320 jo. sehingga pihak yang lain (konsumen) hanya memiliki dua pilihan : menyetujui atau menolaknya. bentuk perjanjian seperti ini sangat menguntungkan. bidang – bidang yang diatur dengan perjanjian standar pun makin bertambah luas. disisi yang lain ia harus menurut terhadap isi perjanjian yang disodorkan kepadanya. Tujuan dibuatnya perjanjian standar untuk memberikan kemudahan (kepraktisan) bagi para pihak yang bersangkutan. tempat. 1338 KUH Perdata). Dalam perkembangannya. Itu sebabnya. tenaga dan biaya yang dapat dihemat. klausul yang ada di dalamnya biasanya . Akan tetapi.99 persen perjanjian yang dibuat di Amerika Serikat berbentuk perjanjian standar. isi perjanjian yang telah distandarisasi. perjanjian standar ini kemudian dikenal dengan nama take it or leave it contract. perjanjian standar bahkan merambah ke sector property dengan cara – cara yang secara yuridis masih kontrovesial. yang dibakukan bukan formulir perjanjian tersebut. antara lain perjanjian baku dibuat oleh salah satu pihak saja dan tidak melalui suatu bentuk perundingan. Menurut sebuah laporan dalam Harvard Law Review pada 1971. Mariam Darus Badrulzaman lalu mendefenisikan perjanjian standar sebagai perjanjian yang isinya dibakukan dan dituangkan dalam bentuk formulir. warna. maka bentuk perjanjian baku ini pun memiliki karateristik yang khas yang tidak dimiliki oleh perjanjian yang lain pada umumnya. harga. misalnya pernah memaparkan praktik penjualan makanan yang harganya ditentukan secara sepihak oleh penjual. tidak lagi sekadar masalah harga. Sutan Remi Sjahdeini mengartikan perjanjian standar sebagai perjanjian yang hampir seluruh klausul – klausulnya dibakukan oleh pemakaiannya dan pihak lain pada dasarnya tidak mempunyai peluang untuk merundingkan atau meminta perubahan. sebenarnya dikenalkan sejak zaman Yunani Kuno. Plato (423 – 347 SM). misalnya yang menyangkut jenis. bagaimana pihak konsumen masih diberi hak untuk menyetujui (take it) atau menolak perjanjian yang diajukan kepadanya (leave it). Selain itu. di sisi yang lain bentuk perjanjian seperti ini tentu saja menempatkan pihak yang tidak ikut membuat klausul – klausul di dalam perjanjian itu sebagai pihak yang baik yang langsung maupun tidak sebagai pihak dalam perjanjian itu memiliki hak memiliki kedudukan seimbang dalam menjalakan perjanjian tersebut. perjanjian standar adalah perjanjian yang ditetapkan secara sepihak. jika dilihat dari beberapa banyak waktu. tanpa memperhatikan perbedaan mutu makanan tersebut. tentu saja penentuan secara sepihak oleh produsen/penyalur produk (penjual). tetapi mencakup syarat – syarat yang lebih detail.Perjanjian standar (baku). Artinya. jumlah. Sjahdeini menekankan. Karena lahir dari kebutuhan akan kebutuhan efisiensi serta efektivitas kerja. Di satu sisi. yakni oleh produsen/penyalur produk (penjual). Di Indonesia. Jadi. waktu. Perjanjian standar tidak perlu selalu dituangkan dalam bentuk formulir walaupun memang lazim dibuat tertulis. melainkan klausal – klausalnya. dan beberapa hal yang spesifik dari objek yang diperjanjikan. bertolak dari tujuan itu. Contohnya dapat dibuat dalam bentuk pengumuman yang ditempelkan tempat penjual menjalankan usahanya. dan mengandung ketentuan yang berlaku umum (massal). Oleh karena itu. Adapun yang belum dibakukan ada beberapa hal. Sebenarnya.

Sorotan para ahli hokum dari berlakunya perjanjian baku selain dari segi keabsahannya adalah adanya klausul – klausul yang tidak adil dan sangat memberatkan salah satu pihak. Perjanjian eksonerasi yang membebaskan tanggung jawab seseorang pada akibat – akibat hokum yang terjadi karena kuraang pelaksanaan kewajiban - .merupakan klausul yang telah menjadi kebiasaan secara luas dan berlaku secara terus menerus dalam waktu yang lama. yang diterjemahkan secara bebas adalh klausul yang kehadirannya untuk membebaskan atau membatasi tanggung jawab yang mungkin saja muncul.V Threadgold (1974) yang mengemukakan bahwa exemption clause di artikan sebagai …. Sons & Co (1893) dab Bahama International Trust Co. b. Kewajiban – kewajiban sendiri yang biasanya dibebankan kepada pihak untuk mana syarat dibuat. yaitu sisi kelemahannya dalam mengakomodasikan posisi yang seimbang bagi para pihaknya. perjanjian keadaan darurat). karena kurang baik dalam melaksanakan kewajiban – kewajiban perjanjian. Perjanjian baku banyak memberikan keuntungan dalam penggunaannya. A clause in a contract or a term in a notice which appears to exclude or restrict a liability or legal duty that would otherwise arise. tetapi dari berbagai keuntungan yang ada tersebut terdapat sisi lain dari pengunaan serta perkembangan perjanjian baku yang banyak mendapat sorotan kritis dari para ahli hokum. tidak lain karena dicantumkannya klausul eksonerasi (exemption clause) dalam perjanjian tersebut. c. Demikian juga David Yates. Menurut Engels menyebut adannya tiga bentuk yuridis dari perjanjian dengan syarat – syarat eksonerasi. Dalam pengertiannya yang lebih luas David Yates menunjuk pada yurisprudensi pada kasus Bensten v. Jika ada yang perlu dikuatirkan dengan kehadiran perjanjian standar. exluding and modifying aremedy or a ability arising out of breech of a contractual obligation yang diterjemahkan secara bebassebagai setiap bagian dari suatu perjanjian yang membatasi. memberikan defenisi any term in a contract restricting. terhadap resiko dan kelalaian yang semestinya ditanggungnya. Kewajiban – kewajiban diciptakan (syarat – syarat pembebasan oleh salah satu pihak dibebankan dengan memikulkan tanggung jawab pihak yang lain yang mungkin ada untuk kerugian yang diderita pihak ketiga. dengan istil ahnya klausul eksonerasi. Klausul eksonerasi adalah klausul yang mengandung kondisi membatasi atau bahkan menghapus sama sekali tanggung jawab yang semestinya dibebankan kepada pihak produsen/penyalur produk (penjual). Tanggung jawab untuk akibat – akibat hokum. Mariam Darus Badrulzaman. Ketiga bentuyk yuridis tersebut terdiri atas: a. memberikan defenisi terhadap klausul tersebut sebagai klausul yang berisi pembatasan pertanggung jawaban dari kreditor. membebaskan atau merekayasa ganti rugi atau tanggung jawab yang timbul dari pelanggaran terhadap suatu perjanjian. dibatasi atau dihapuskan (misalnya. Taylor. yang lebih memilih mengunakan istilah exclusion clause. Kelemahan – kelemahan perjanjian baku ini bersumber dari karateristik perjanjian baku yang dalam wujudnya merupakan suatu perjanjian yang dibuat oleh salah satu pihak dan suatu perjanjian terstandarisasi yang menyisakan sedikit atau bahkan tidak sama sekali ruang bagi pihak lain untuk menegosiasikan isi perjanjian itu.

Dalam perjanjian standar. Jika debitur menerima perjanjian itu. Contoh dari klausul tersebut adalah : Adanya pembebasan tanggung jawab pihak pengembangan dalam perjanjian pembelian rumah. Syarat – syarat yang ditentukan pengusaha didalam perjanjian itu adalah undang – undang. yang menyatakan perjanjian standar bukan perjanjian. antara lain tentang maslah ganti rugi dalam hal perbuatan ingkar – janji. Sehubungan dengan pertanyaan : apakah ada kebebasan berkontrak dalam perjanjian standar ini. Pelaku usaha hanya mengatur hak – haknya dan tidak kewajibannya. kebutuhan masyarakat berjalan dalam arah yang berlawanan dengan keinginan hokum. para pihak mengikatkan diri pada perjanjian itu. yang mengatakan perjanjian standar itu mengikuti karena setiap orang yang menandatangani suatu perjanjian harus dianggap mengetahui dan menyetujui sepenuhnya isi kontrak tersebut. bahwa perjanjian standar dapat diterima sebagai perjanjian berdasarkab fiksi adanya kemauan dan kepercayaan yang mengakibatkan keyakian. - Disini dilihat betapa tidak adanya keseimbangan posisi tawar menawar antara produsen/penyalur produk (penjual) yang lazim tersebut kreditor dan konsumen (debitur) di lain pihak. tepat pada waktunya. Ganti rugi tidak dijalankan apabila dala persyaratan eksonerasi tercantum hal ini. walaupun secara teoritis yuridis. terlebih – lebih lagi ditinjau dari asas – asas hokum nasional. bukan perjanjian! Pitlo mengatakannya sebagai perjanjian paksa (dwang contract). Kemudian Stein mencoba memecahkan masalah ini dengan mengemukakan pendapat.kewajiban yang diharuskan oleh perundang – undangan. Ahli Hukum Indonesia. kedudukan pengusaha dalam perjanjian ini adalah seperti pembentuk undang – undang swasta (legio particuliere wetgever). Adanya pembatasan tanggung jawab ganti rugi bagi perusahaan pengangkutan berkaitan dengan kehilangan barang bawaan penumpang. membuka peluang luas baginya untuk menyalah gunakan kedudukannya. Alasannya. di mana kepentingan masyarkatlah yang didahulukan. Pendapat Pitlo ini mengingatkan kita pada pendapat Hondius. berarti ia secara sukarela setuju pada isi perjanjian tersebut. posisi yang didominasi oleh pihak pelaku usaha. perjanjian ini tidak memnuhi ketentuan undang – undang dan ditolak oleh beberapa ahli hokum. dapat disebutkan pedapat yang lebih tegas dari Asser Rutten. Mariam Darus Badrulzaman menyimpulkan bahawa perjanjian standar itu bertentang dengan asas kiebebasan kontrak yang bertanggung jawab. dalam hal pengembangan tidak dapat memenuhi janjinya untuk melaksanakan penyelesaian pembangunan atas rumah yang dibeli.? Ada beberapa pendapat yang menegaskan kontroversi di dalamnya. Akhirnya. Adanya pembatasan terhadap tanggung jawab terhadap kecelakaan jasmani yang diderita oleh penumpang. kedudukan pelaku usaha dan konsumen tidak seiumbang. Pendapat pertama dating dari Sluijter. . Namun dalam kenyataanya. Dari berbagai defenisi yang ada tersebut maka dapat disimpulkan bahwa klausul pembebasan adalah klausul yang memberikan pembatasan atau pembebasan tanggung jawab hokum salah satu pihak atas segala bentuk ketidak terpenuhinya kewajiban atas perjanjian tersebut. yang dalam disertasinya menyatakan bahwa perjanjian standar itu mengikat berdasarkan kebiasaan (gebruik) yang berlaku dilingkungan masyarakat dan lalu lintas perdagangan.

istilah klausul eksonerasi sendiri tidak ditemukan. Materi perjanjian yang terjadi di masyarakat sedemikian luasnya dan heterogennya. agar tidak terjadi penyalahgunaan terhadap asas kebebasan berkontrak ini oleh pihak yang berkedudukan lebih kuat. Tentu Darus Barulzaman. Dalam kenyataannya. Misalnya saja dalam lapangan perburuhan agrarian. Misanya. yang ada adalah “klausul baku”. Perjanjian – perjanjian yang disebutkan berakhir ini tumbuh melalui kebiasaan dan permintaan masyarakat sendiri. harus ada campur tangan pemerintah. Menurut Remy Sjahdeini. jika asas kebebasan berkontrak ingin ditegakkan. kekhilafan (dwaling). Dalam KUHP Perdata Baru Negeri Belanda. Ketiga alas an ini dimaksudkan oleh undang – undang sebagai pembatasan terhadap belakunya asas kebebasan berkontrak. Campur tangan pemerintah lebih diharapkan pada perjanjian – perjanjian yang berskala luas. ada pembatasan – pembatasan dalam kontrak kerja. Ketentuan huruf (b) dan seterusnya sebenarnya memberikan contoh bentuk – bentuk pengalihan tanggung . melainkan juga isisnya yang bersifat pengalihan kewajiban atau tanggung jawab pelaku usaha. dank arena itu jika diserahkan sepenuhnya pembuatannya secara sepihak kepada pelaku usaha. suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan kata sepakat kedua belah pihak atau karena alasan lain yang dinyatakan dengan undang – undang. Dengan demikian. bukan mengenai isinya. terdapat ketetuan yang mengatakan. dan kepentingan dunia perdagangan tidak pula dirugikan.Menurutnya. penyalahgunaan keadaan ini dikukuhkan sebagai alasan keempat dari cacat kehendak. sangat banyak dilakukan standarisasi perjanjian. Campur tangan pengadilan dapat dijumpai dalam penyebab putusnya perjanjian yang dikenal dengan penyalahgunaan keadaan (misbruik van omstanddigheden). Pasal 1 angka 10 mendefinisikan klausul baku sebagai setiap aturan atau ketentuan dan syarat – syarat yang dipersiapkan dan ditetapkan terih dahulu secara sepihakoleh pelaku usaha yang dituangkan dalam usaha dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen. Dalam hokum perburuhan . campur tangan yang disarankan ini dapat dilakukan oleh pemerintah. untuk perjanjian – perjanjian keperdataan yang dibuat oleh notaries. dan penipuan (bedrog). satu – satunya cara adalah dengan membatasi pihak pelaku usaha dalam klausul eksenorasi. Padahal. maka diperlukan campur tangan melalui undang – undang dan pengadilan. Dalam UUPK. Sutan Remy Sjahdeini berpendapat dalam kenyataanya KUH Perdata sendiri memberikan pembatasan – pembatasan terhadap asas kebebasan berkontrak itu. Akan tetapi. pengertian “klausul eksonerasi” tidak sekedar mempersoalkan prosedur pembuatannya. KUHP Perdata juga meyebutkan tiga alasan yang dapat menyebabkan suatu perjanjian. misalnya. walaupun tidak sepenuhnya bersifat public seperti dibidang perburuhan dan agrarian. perjanjian standar ini tidak boleh dibiarkan tumbuh secara liar dab karena itu perlu ditertibkan. Jadi yang ditekankan oleh prosedur pembuatannya yang berifat sepihak. yakni paksaan (dwang). dikhawatirkan akan dibuat banyak klausul eksonerasi yang merugikan masyarakat. kiranya tidak semua perjanjian standar dapat diperlakukan demikian. Pasal 18 ayat (1) huruf (a) UUPK menyatakan pelaku usaha dalam menawwarka barang dan/atau jasa yang ditunjukkan untuk diperdagangkan dilarang membuat atau mencantumkan klausul baku pada setiap dokumen dan/ atau perjanjian jika menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha. tentu tidak harus distandarisasi. Perjanjian berskala luas yang dimaksud berkaitan dengan keputusan berkaitan dengan kepentingan missal.

huruf c. yang menyatakan suatu perjanjian tidak boleh dibuat bertentangan dengan undang – undang. Dengan demikian. Artinya. Di Amerika Serikat.00 (dua miliar rupiah). Apakah dengan demikian. diubah. atau menolak penyerahan kembali uang yang dibayar. perjanjian standar dimasukkan pengaturannya dalam Kitab Undang – Undang Hukum Perdata yang baru. atau di cabut setelah mendapat persetujuan Menteri Kehakiman. Pasal 18 ayat (2) mempertegas pengertian tersebut. Di belanda. perlu diperoses melalui gugatan pengadilan. Loangkah yang . Pasal 17 ayat (1) huruf a. ia dapat mengajukan gugatan kepengadilan. dapat diperoleh jawaban sementara bahwa kedua istilah itu berbeda. Bagi kita di Indonesia. kekuatan yurisprudensi dalam sisitem hokum Indonesia tidak berlaku seperti di Negara – Negara Anglo saxon/Anglo Amerika. atau ketertiban umum. dengan mengatakan bahwa klausul baku harus diletakkan pada tempat yang mudah terlihat dan dapat jelas dibaca dan mudah dimengerti. kesusilaan. Jika ada konsumen yang meeras dirugikan. Di situ dinyatakan bahwa bidang – bidang usaha yang boleh meberapkan perjanjian standar harus ditentukan dengan peraturan dan perjanjian itu baru dapat ditetapkan. berdasarkan Uniform Commercial Code 1978. untuk menguji sejauh mana perjanjian itu bertentangan.jawab itu. perubahan. huruf b.000. memang dapat ditunjukkan beberapa pasal yang ada dalam Kitab Undang – Undang Hukum Perdata. klausul baku sama dengan klausul eksonerasi? Jika melihat kepada ketentuan pasal 18 ayat (1) UUPK. Pasal 13 ayat (2). Pasal 9. seperti pelaku usaha dapat menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen. huruf e. Jika hal – hal yang disebutkan dalam ayat (1) dan (2) itu tidak dipenuhi. tetapi isinya tidak boleh mengarah kepada klausul eksonerasi. walaupun di situ digunakan istilah “klausul baku” yang ternyata berbeda pengertiannya dengan “klausul eksonerasi”. Padahal. sekalipun demikian. dan ayat (2). maka klausul baku itu menjadi batal hokum.000. klausul baku adalah klausul yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha.000. ketentuan yang membatasi kewenangan pembuatan klausul eksonerasi ini belum diatur secara tegas di dalam undang – undang. Kemudian penetapan. dan sebagainya. termasuk sejauh mana Pemerintah dapat campur tangan dalam penyusunan kontrak. Tidak disitu saja pengaturan tentang klausul baku ini berhenti karena terhadap pelanggaran yang dilakukan berkaitan dengan tidak dipenuhinya ketentuan pada Pasal 18 ini juga diberikan ancaman sanksi pidana sebagaimana diatur pada Pasal 62 UUPK ayat (1) : Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimasudkan dalam Pasal 8. Secara umum. jika pihak produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor mengetahui atau seharusnya mengetahui bahwa pihak konsumen tidak akan menerima perjanjian tersebut jika ia mengetahuinya isinya. Ketentuan satu – satunya beru ditemukan dalam UUPK. Pasal 15. ketentuan lainnya menyatakan bahwa perjanjian standar ini dapat pula dibatalkan. dan pasal 18 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp2. Salah satunya adalah pasal 1337. Pasal 10. misalnya pembatasan kewenangan pelaku usaha untuk membuat klausul eksenorasi lebih banyak diserahkan kepada inisiatif konsumen. atau pencabutan itu baru memperoleh kekuatan hokum setelah mendapat persetujuan Raja/Ratu yang dituangkan dalam Berita Negara. Putusan – putusan pengadilan inilah yang kemudian dijadikan masukan perbaikan legislasi yang telah ada.

Di mana pengaturan ini merupakan tonggak awal baginya keseimbangan dalam penempatan pihak pada suatu perjanjian. terutama hak untuk memiliki barang/jasa yang sesuai dengan nilai tukar yang diberikan. Demikian pula dengan tanggung jawab produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor dalam memenuhi hak konsumen. karena hal ini berkaitan dengan adanya unsure perlindungan dan kepentingan sepihak yang lebih besar daya tawarnya untuk melindungi kepentingannya.ditempuh oleh Belanda. Misalnya. Secara sederhana dapat kita katakana bahwa yang kuat adalah yang menang masih berlaku. serta adanya kebutuhan dari pihak yang berdaya tawar lebih rendah untuk menerima isi dari perjanjian itu. yakni dengan membuat ketentuan khususus mengenai tata cara pembuatan perjanjian standar. Selain paling tidak memberikan gambaran bahwa perlu adanya suatu sarana bagi peningkatan perlindungan terhadap penggunaan perjanjian baku dan segala atributnya. Konsumen tidak boleh ditipu memperoleh barang dengan kualitas tertentu. D. Perkembangan teknologi yang sangat cepat misalnya pada tegnologi perangkat computer. yang bisa kita hindari. dan sebagainya. padahal hanya essence dari bahan – bahan kimia. ternyata hanya 9 ons. padahal kenyamanannya tidak demikian. dikatakan jus yang dijual adalah sari jeruk asli. kiranya dapat di pertimbangkan untuk ditiru. jika ada kerusakan dari suatu tipe produk. sering konsumen tentu menghadapi kendala memperbaiki barangnya karena ketiadaan suku cadang. Meski demikian penggunaan perjanjian baku atau jika dapat dikatakan lebih luas ketidakseimbangan daya tawar para pihak merupakan suatu hal yang sangat sulit untuk diawasi atau dikendalikan. Akibatnya. Kertas tisu yang dikemas dalam kotak yang dinyatakan beratnya 10 ons. dengan adanya pengaturan terhadap pemakaian perjanjian baku ini adalah adanya eksploitasi atau keadaan yang sedemikian merugikan bagi puhak yang lemah akibat adanya pengunaan paksaan maupun penyalahgunaan keadaan oleh pihak yang lebih kuat. Dengan adanya pengaturan terhadap Perlindungan Konsumen terutama pada peraturan yang berkaitan dengan klausul baku sedikit menyadarkan masyarakat bahwa mereka sebagai pihak dalam perjanjian memiliki hak yang (semestinya) sejajar dengan pihak lainnya dalam perjanjian baku. yang tentu saja merugikan salah satu pihak pada perjanjian. LAYANAN PURNAJUAL DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN Layanan purnajual (after sales service) merupakan kepentingan konsumen yang sangat vital dewasa ini. Masalah lainnya yang menyangkut layanan purnajual adalah soal garansi dalam jangka waktu tertentu yang memberikan produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor pada konsumennya. Selain dengan mencantumkannya dalam Kitab Undang – Undang – Undang Hukum Perdata. . juga dapat dimuat dalam undang – undang yang mengatur mengenai perlindungan konsumen. sering membuat produsen harus mengubah tipe – tipe produknya mengikuti selera dan kebutuhan konsumen harus mengubah tipe – tipe produknya mengikuti selera dan kebutuhan konsumen yang terus berganti dalam waktu singkat.

Setiap orang yang mengimpor produk untuk dijual. Setiap orang yang memasang nama. 4. Tanggung jawab produk adalah bagian dari transaksi konsumen.Tampak masalah layanan purnajual adalah masalah perlindungan konsumen yang tidak dapat dipisahkan dengan tahapan – tahapan transaksi konsumen lainnya. 2. yaitu tahapan ketiga ( pasca transaksi konsumen). yang lazim disebut tanggung jawab produk. Seharusnya tanggung jawab produk ini jangan dibatasi hanya pertanggung jawaban atas produk yang cacat. merek perusahaan. Memberikan perlindungan kepada masyaraka terhadap penggunaan produk farmasi yang cacat. Perluasan subjek yang dapat dimintai tanggung jawabnya telah pula diterapkan diberbagai Negara. Setiap pemasok produk. 4. tetapi caveat venditor (produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditorlah yang bertanggung jawab. Memudahkan proses pembuktian akibat penggunaan produk farmasi yang cacat. Tujuannya dari pengembangan itu adalah untuk : 1. Pengaturan tentang tanggung jawab produk ini belum ada pengaturannya di Indonesia. 2. 3. Tanggung jawab dari si produsen dan pihak – pihak yang menyalurkan produknya secara tanggungan renteng seluruhnya bersifat tanggung jawab mutlak (strict liability) atau tanggung jawab tanpa kesalahan (liability without fault). misalnya dinyatakan dalam Pasal 3 Pedoman Masyarakat Eropa. 3. yakni: 1. jika pembuatnya tidak diketahui atau pembuat produknya diketahui. Meningkatkan mutu produk farmasi yang beredar. tetapi mengimpornya tidak diketahui. namun baru untuk bidang farmasi. atau dipasarkan (tanpa mengurangi tanggung jawab si pemilik produk). Sejak dahulu. tanggung jawab produk adalah tanggung jawab dari pembuatan produk cacat yang bersangkutan. menjadi kewajiban produsen untuk menjamin barang yang dijualnya bebas dari cacat tersembunyi. yang berlaku bukan lagi prinsip caveat emptor. Membatasi tanggung jawab produk hanya pada pergantian atas produk yang cacat berarti tidak member banyak kemajuan bagi perlindungan konsumen. atau memberikan tanda khusus untuk membedakan produknya dengan produk orang lain. Produsen dari bahan – bahan mentah atau komponen dari produk itu. . disewakan. Di lingkungan Uni Eropa. Mengembalikan kesimbangan masyarakat akibat penggunaan dan beredarnya proguk cacat. Jaminan ini merupakan perikatan yang otomatis dibebankan kepada produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor. Tim Kerja Naskah Akademis Badan Pembinaan Hukum Nasional pernah menyarakan agar dikembangkan system baru pertanggung jawaban hokum atau produk. sehingga dapat mencapai tujuan peruntukan dan penggunaanny. 1.

Dalam UUPK tampaknya klausull eksenorasi demikian akan dihilangkan.Jaminan dalam undang – undang ini pun dalam praktik dicoba untuk diminimalisasi dengan menyatakan sepihak ( klausul eksenorasi). dan terutama mencakup masalah kepastian atas : 1. Ganti rugi jika barang/jasa yang diberikan tidak sesuai dengan perjanjian semula. Layanan purnajual sebenarnya meliputi permasalahan yang lebih luas. Jelaslah. untuk garansi perbaikan alat – alat elektronika ditetapkan lamanya selam satu tahun sejak barang diserahkan kembali. Ganti rugi ini bersifat serta merta. Dalam Pasal 19 UUPK secara jelas diatur. Pelaku usaha tersebut wajib bertanggung jawab atas tuntutan ganti rugi dan/atau gugatan konsumen jika pelaku usaha itu tidak menyediakan atau lalai menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas perbaikan. Persoalannya adalah pelaku usaha sering secara sepihak mencantumkan masa garansi secara tidak proposional. Misalnya. Namun. walaupun hanya dalam beberapa rumusan yang umum. jika mengalami kerusakan tertentu. dan/atau kerugian yang diderita konsumen akibat mengonsumsi barang dan/atau jasa. Di sinilah diperlukan sosialisasi UUPK dan upaya gencar pendidikan konsumen. Untuk itu. 3. ketentuan ini agak berbeda dengan ketentuan tentang masa garansi dalam Pasal 27 UUPK. wajib menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas penjualan dan wajib memenuhi jaminan atau garansi sesuai dengan yang diperjanjikan. dan diberi jangka waktu & hari setelah tanggal transaksi. 2. Barang yang digunakan. Waktu yang demikian pendek sangat mungkin tidak mencukupi bagi konsumen utnuk meneliti kembali hasil perbaikkan itu secara keseluruhan. seperti “barang yang telah dibeli tidak dapat dikembalikan). Ketentuan dalam pasal yang disebutkan terakhir ini memberikan tenggang waktu pelayanan kepada konsumen sampai pada akhir masa garansi. juga jika ia tidak memenuhi atau gagal memenuhi jaminan atau garansi yang diperjanjikan. Pasal 27 huruf e UUPK bahkan memberi batas waktu kadaluarsa untuk melakukan penuntutan atau gugatan ini selama empat tahun sejak barang dibeli atau setelah lewat masa garansi. dapat diperbaiki secara Cuma – Cuma selama jangka waktu garansi. pencemaran. layanan purnajual diakomodasikan pula. bahwa pelaku usaha yang memproduksi barang yang pemanfaatannya berkelanjutan dalam batas waktu sekurang – kurangnya satu tahun. Suku cadang selalu tersedia dalam jumlah cukup dan tersebar luas dalam jangka waktu yang relative lama setelah transaksi konsumen dilakukan. masa garansi itu . pelaku usaha wajib mengganti kerugian atas kerusakan. penyelesaian kasus purnajual seperti dinyatakan dalam Pasal 25 UUPK itu masih memerlukan upaya penuntutan ganti rugi dan/atau gugatan konsumen. Pasal 25 UUPK menyatakan. walaupun besar kemungkinan secara sosiologis masih digunakan secara luas oleh produsen. Dalam UUPK.

HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL . Pelaku usaha dapat melakukan permohonan tanda pendaftaran manual dan kartu jaminan/garansi baik secara individual maupun melalui asosiasi usaha terkait. yang antara lain wajib memuat informasi mengenai ongkos perbaikkan gratis selama garansi dan jaminan ketersediaan suku cadang. serta masyarakat konsumen pada umumnya.608/MPP/Kep/10/1991 tentang petun juk penggunaan (manual) dan kartu jaminan/garansi dalam bahasa Indonesia bagi produk elektronika. Permohonan tanda pendaftaran diajukan ke Direktorat Jenderal Industri Logam Mesin Elektronika dan Aneka u. Kewajiban ini berlaku selama yang bersangkutan menjalankan kegiatan usahanya di Indonesia. pemerintah pembentuk tim pemerintah yang terdiri ats unsure kepolisian. Kartu jaminan/garansi itu berlaku sekurang – kurangnya 1 tahun.7/MPP/Kep/1/2000.perlu ditetapkan batas minimalnya oleh pembentuk undang – undang. dapat dikenakan sanksi administrative. Jika ada perubahan terhadap isi manual dan/atau kartu jaminan/garansinya sebagai akibat pergantian atau penambahan model (tipe) produk.p Direktur Bina Pasar (untuk produk asal impor). (3) pesawat televise. (2) alat perekam atau reproduksi. Khusus untuk produk elektronika. Ditjen Bea dan cukai. pengaturan tentang layanan purnajual dicantumkan dalam keputusan menteri perindustrian dan perdagangan no. Pelaku usaha yang menurut tim pemeriksa melakukan pelanggaran. maka yang bersangkutan harus mengajukan pendaftaran atas perubahan itu ke instansi yang sama. Tim ini akan bekerja sam dengan asosiasi pelaku usaha terkait dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. dalam keputusan itu disebutkan bahwa manual dan kartu jaminan/garansi produk elektronika tertentu perlu dilakukan pendaftaran. Tata cara pendaftaran diatur dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan Pedagangan No. Sebelum jenis produk yang beredar di Indonesia juga wajib dilengkapi kartu jaminan/garansi dalam bahasa Indonesia.p. Bagi importer yang melanggar. (7) mesin pengatur suhu udara (AC). Dalam peredarannya. (4) printer. Direktur Industri Elektronika (untuk produk dalam negeri) atau ke Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negara u. produk elektronika yang mendapatkan tanda pendaftaran itu wajib mencantumkan nomor surat tanda pendaftaran tersebut secara manual dan kartu jaminan/garansi yang dikeluarkan oleh produsen atau inportir tadi. Ditjen Industri Logam Mesin Elektronika dan Aneka. sanksinya berupa pencabutan angka mengenal omportir (API) atau angka pengenal importer terbatas (APIT). hanya sebelas jenis produk elektronika yang wajibkan pendaftaran. (5) monitor computer. Dalam peraturan yang disebutkan di atas. dan (11) microwave oven. (6) lemari es (refrigerator). (9) kompor gas. (10) pompa air listrik untuk rumah tangga. Untuk kepentingan perlindungan konsumen. E. Permohonan juga dapat dilakukan memalui jasa pos. yaitu (1) radio cassette/mini compo. yakni pencabutan izin usaha industry (IUI) atau tanda daftar industry (TDI). kejaksaan.Ditjen Pajak. dab Ditjen Perdagangan Dalam Negeri. Pelaku usaha dapat melakukan permohonan tanda pendaftaran manual dan kartu jaminan/garansi ini baik secara individual maupun melalui asosiasi usaha atas perubahan itu ke instansi yang sama. (8) mesin cuci. Dalam keputusan ini tidak jelas alasannya mengapa produk elektronika yang diwajibkan hanya dibatasi pada sebelas jenis tersebut. bergantung pada klasifikasi (jenis) barang atau jasa yang diberikan oleh pelaku usaha itu.

dan sebagainya. merek dagang. dinyatakan bahwa larangan monopoli itu tidak berlaku untuk perjanjian yang berkaitan dengan hak atas kekayaan intelektual. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Ketiga undang-undang tersebut dilengkapi pula dengan peraturan pelaksanaannya. dan desai produk industry. sebenarnya konsumen hanya berkepentingan agar ciptaan. merek. National treatment. 2. rangkaiaan elektronika terpadu. Tiga jenis hak yang terakhr dikenal juga sebagai hak milik industry (industrial property rights). paten. kkhususnya yang ada di luar negeri. Konsumen akan dirugikan jika ciptaan. Oktober 1994 (Undang-Undang No. Ini berarti. merek. untuk mengetahui hak – hak konsumen bidang tersebut. tidak mengherankan jika dalam Pasal 50 Undang – Undang No. yang memaksa Negara anggota untuk lebih terbuka dalam ketentuan perundang-undangan dan pelaksanaan anturan nasional dalam bidang perlindungan HAKI. Karena perjanjian putaran Uruguay ini diadakan dalam kerangka pembentukan Badan Perdagangan Dunia (Word Trade Organization) yang menjadi pengganti GATT. Undang – Undang No. . seperti layout design. Dilihat dari kacamata konsumen. undisclosed information (trade secret). maka prinsip-prinsip GATT dalam bidang HAKI ini juga diterapkan. Maksudnya. tetapi terlebih—lebih untuk melindungi produsen. dan paten yang diterapkan untuk suatu barang atau jasa adalah benar-benar seperti apa yang ditampilkan. UUPK tidak mengatur lagi bidang hak atas kekayaan intelektual (HAKI) ini. serta perjanjian yang berkaitan dengan waralaba.14 Tahun 2001 tentang Paten 2. perkembangan ini bukan karena pertimbangan untuk melindungi konsumen. kita perlu melihat pengaturannya dalam undang – undang yang lain. yakni pemilik hak atas kekayaan intelektual (HAKI) asing harus diberi perlindungan yang sama dengan warga Negara dari Negara yang bersangkutan. Transparancy. Hal ini secara jelas tampak dari dimasukkannya perjanjian mengenai Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) sebagai salah satu perjanjian utama yang dihasilkan oleh perundingan Putaran Uruguay itu setelah diadakan ratifikasi. Undang – Undang No. Most favoured-nation atau nondiskriminasi antara pemilik HAKI asing dari suatu Negara dibandingkan dengan pemilik HAKI asing dari Negara lain 3. Ironisnya. dan paten itu ternyata tidak seperti yang dibayangkan karena dipalsukan oleh pelaku usaha. oleh karena itu. desain produk indutri. paten. Sementara untuk desain produk industri sampai sekarang belum diatur secara khusus dalam suatu undang-undang. dan rahasia dagang. 15 Tahun 2001 tentang Merek 3. hak cipta. Di luar itu. 1. yakni: 1. sering juga disebutkan jenis lain dari hak atas kekayaan intelektual.Hak atas kekayaan intelektual (intellectual property rights) dalam garis besarnya mencakup hak cipta.merek. Undang – Undang No. UUPK secara khusus mengecualikan pengaturan hak – hak konsumen yang muncul dalam bidang HAKI.5 Tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Hak atas kekayaan intelektual adalah hak – hak yang diberikan kepada pelaku usaha untuk monopoli. seperti lisensi. Prinsipprinsip itu antara lain adalah prinsip. 7 Tahun 1994). Hokum dibidang HAKI ini termasuk subtansi hokum yang sangat pesat perkembangannya.

Mengenai hal ini UUPK mencantumkannya dalam Pasal 9 ayat (1) huruf h. misalnya berupa eitket atau label yang dilekatkan pada barang yang dihasilkan. huruf atau kombinasi dari unsureunsur tersebut. 15 Tahun 2001 adalah tentang Indikasi asal. Berbekal putusan itu. 15 Tahun 2001 juga di ajukan oleh kelompok konsumen dari barang – barang tersebut. Dari Pasal 59. Produsen dan pelaku usaha anggur manapun diluar daerah itu tidak diperkenalkan memakai label “anggur Champaigne” dalam produk mereka. Contoh dari barang yang berindikasi geografis adalah anggur Champaigne. Tanda teresbut dapat berupa nama. Dimasa mendatang aka nada kelompok konsumen yang menyebut dirinya sebagai “pencinta dodol Garut” atau “ konsumen tembakau Deli” yang secara sepihak bersedia mengajukan permintaan perlindungan indikasi geografis atas produk yang mereka konsumsi. Prancis. dan 2. tetapi harus melalui putusannya pengadilan. ia dapat mengehentikan kegiatan usaha dari pelaku usaha lainnya. mungkin kita juga dapat menggunakan prinsip yang sama untuk produk seperti “dodol Garut” atau “ martabak Bangka”. daerah atau wilayah. Undang-undang No.15 Tahun 2001 menyebutkan indikasi itu hanya untuk produk barang. sekalipun memenuhi semua unsure untuk disebutkan sebagai indikasi geografis. dapat disimpulkan ada dua factor pembedaanya dengan indikasi geogarfis. Akan lebih tepat jika digunakan istilah “pemakai hak”. Padahal dalam indikasi geografis. ASURANSI Yusuf Shofie mengutamakan bahwa bisnis perasuransian di Indonesia hampir sama tuanya dengan bisnis perbankan. Indikasi geografis ini bukan termasuk merek. Undang – Undang No. Kesalahan ini tentu cukup fundamental dan sangat berpengaruh terhadap upaya perlindungan hak – hak konsumen. Di Indonesia memang belum lazim terbentuk asosiasi atau kelompok konsumen dari barang – barang tertentu. Nama – nama perusahaan asuransi jiwa seperti. Catatan lain tehadap indikasi asal ini adalah penggunaan kata barang dan jasa. melainkan tanda. tempat. factor manusia. atau kombinasi dari kedua factor tersebut memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan. Untuk kondisi di Indonesia. dan sangat erat kaitannya dengan perlindungan konsumen adalah tentang indikasi geografi dan indikasi asal. Oleh karena itu. Sangat menarik. Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 tergolong perusahaan asuransi yang cukup . kata. indikasi asal tidak perlu didaftarkan karena secara otomatis akan dilindungi. Indikasi asal itu meliputi produk baik berupa barang maupun jasa. Indikasi asal tidak didaftarkan.Salah satu ketentuan yang barangkali termasuk baru dalam masalah HAKI ini. seharusnya istilah “pemegang hak” tidak digunakan karena memang hak atas indikasi asal itu. 15 Tahun 2001 memberikan pengertian tentang indikasi geografis sebagai : “tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang yang karena factor lingkungan geografis termasuk alam. bahwa dalam indifikasi geografis menurut pasal 56 ayat (2) Undang – Undang No. gambar. F. Istilah lain yang diatur dalam Undang – Undang No. Factor pertama memberikan petunjuk. yang artinya diproduksi oleh produsen anggur dari daerah Champaigne. Pemakai hak atas indikasi asal dapat saja meningkatkan haknya menjadi pemegang hak. walaupun boleh jadi penerapannya tidak sesederhana yang dibayangkan. yaitu: 1.

manfaat peralihan resiko inilah yang diperoleh konsumen. Ansuransi Jiwa Buana Putra. Untuk mendorong kegiatan perarsuransian di Indonesia. didalamnya terdapat dua unsure. Tidak mudah mencari tahu seberapa jauh pemahaman konsumen pada umumnya tehadap produk – produk asuransi. Karena besarnya resiko ini dapat diukur dengan nilai barang yang mengalami peristiwa diluar kesalahan pemiliknya. Konsumen masih sering merasakan bahwa asuransi tak melindungi aktivitasnya.67 tahun 1991). asuransi yang bersifat suka rela. jaminan social tenaga kerja (diselenggarakan astek berdasarkan Undang – Undang No. Koprasi. tak tanggung – tanggung pemerintah telah mengeluarkan paket kebijakan 20 Desember 1988. asuransi abri ( dikelola berdasarkan peraturan pemerintah No. Asuransi Cigna Indonesia. yaitu ketidak pastian dan kerugian. dan sebagainya. asuransi jiwa. Persaingan mendapatkan konsumen memang terjadi dikalangan perusahaan asuransi. Menurut sementara pejabat departemen keuangan RI. Setelah dikeluarkannya paket ketentuan itu. maka resiko ini dapat di alihkan kepada perusahaan asuransi kerugian dalam bentuk pembayaran klaim asuransi. Lippo Life. Ansuransi Astra Buana. produk – produk asuransi tergolong rumit dan sukar dipahami. dan asuransi social. Keikut sertaan konsumen dalam berbagai program dan jenis asuransi sangat pergantung pada pemahaman konsumen terhadap produk yang ditawarkan.Purwo sudjibto memberikan pengertian resiko tidak lain adalah beban kerugian yang diakibatkan karena suatu peristiwa diluar kesalahannya. Sebagian konsumen cenderung memisahkan sebagian penghasilannya untuk disimpan dibank dari pada digunakan untuk asuransi.dikenal masyarakat. berbagai resiko senantiasa mengincar konsumen setiap saat. Pertama. Pada tahun 1991 pernah terjadi persaingan premi perusahaan asuransi telah membuat suatu pilihan untuk mendapatkan konsumen sebanyak – banyaknya tanpa memperhitungkan apakah penetapan besarnya premi yang tidak proporsional tersebut dapat dipertanggung jawabkan dari sisi underwriting. industry perasuransian kurang banyak dapat perhatian konsumen. dan lain – lain.33 tahun 1964). misalnya rumah seseorang tebakar sehingga pemiliknya mengalami kerugian.33 tahun 1964). apalagi dalam era perdagangan. meskipun kesan itu tak semuanya benar.M. Pengalihan resiko ini di imbangi dalam bentuk pembayaran premi kepada perusahaan asuransi kerugian setiap bualan atau tahun bergantung pada perjanjian yang tetuang dalam polis.25 tahun 1981). asuransi yang bersifat wajib berdasarkan ketentuan undang – undang misalnya pertanggungan wajib kecelakaan penumpang ( Undang . dan konsumen). petanggungan jawab kecelakaan lalulintas jalan (Undang – Undang No. asuransi dibedakan menjadi dua jenis. perusahaan swasta. padahal sejalan dengan semakin konpleksnya aktifitas pelaku ekonomi (pemerintah. yaitu kemampuan untuk membayar polis kelak akibatnya klaim asuransi konsumen ditolak tanpa alas an yang benar dan patut. sehingga produk itu tidak marketable. Resiko diartikan pula sebagai kerugianyang tidak pasti. Sewu New York Life. tradisi berasuransi masih dianggap hal baru oleh sebagian masyarakat konsumen. Nama – nama terkenal lain seperti Dharmala Manulife. 33 tahun 1964). meliputi asuransi kerugian. asuransi jiwa.taspen berdasarkan peraturan pemerintah No. BUMN. terdapat sekitar 130 perusahaan asuransi. Dalam .undang No. asuransi social pegawai negeri (dikelola PT. asuransi kendaraan bermotor. New Hamshire Agung. H. Dibandingkan industry perbankan. reasuransi. Dalam pada itu. Inilah resiko yang harus ditanggung pemiliknya. Kedua. tak mau kalah dalam persaingan bisnis ini. bahkan cenderung merugikannya. misalnya asuransi kerbakaran. Ditinjau dari sudut sifat dan berlakunya.

pelindungan dan upaya penyelesaian sengketa secara patuh. yang membuat para asuransi sering tidak tahu apa yang menjadi haknya. 6. Dalam undang – undang ini ditegaskan juga hak konsumen untuk memperoleh informasi yang benar jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang atau jasa yang dibelinya serta hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang atau jasa yang digunakan. Namun. Masih banyak hak – hak yang diatur dalam UU sehingga posisi konsumen semakin kuat.8 tahun1999 antara lain : 1. yang dibuat dalam semangat reformasi selain memberi perlindungan kepada konsumen. 2. Sebagai pihak yang berjanji tertangguang dan penanggung memiliki posisi yang setara dan tidak ada yang dibawah dan di atas. Asuransi termasuk jasa yang bisa dinikmati konsumen dengan terlebih dahulu menandatangani polis sebagai bentuk persetujuan keikut sertaan dengan memenuhi kewajiab membayar premi setiap bulan atau tahunnya. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen. juga menatapkan mereka dalam posisi tawar yang lebih kuat. tanpa dipahami secara mendalam konsekuensi yuridisnya. 3. Hak untuk diberlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminasi. 4. Terbitnya undang – undang No. Artinya. Hak untuk mendapatkan advokasi. Hak – hak yang diatur dalam ketentuan – ketentuan peraturan perundang – undangan lain. Hak atas kenyamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang atau jasa. 5. Hak untuk memilih barang atau jasa serta mendapatkan barang atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kodis serta jaminan yang dijanjikan. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mempunyai hak untuk mendapatkan kompensasi. dimana isi perjanjian dibuat dengan kata-kata yang sulit dipahami dan dibuat dalam tulisan kecil-kecil(klausul baku) sehingga kesepakatan tersebut terjadi pada saat nasabah hanya memahami sebagaian kecil dari perjanjian tersebut. Permasalahan asuransi adalah permalahan jamak yang penyelesaian akhirnya seringkali membuat konsumen diposisi yang lemah. nasabah hanya membaca sekilas perjanjian tersebut. . taka ada perlindungan resiko yang dialami konsumen sebaliknya perusahaan asuransi sudah mendapatkan premi yang dibayarkan konsumen.8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen memberi jaminan supaya hak – hak tertanggung lebih diperhatikan. Bedasarkan undang – undang ini konsumen berhak meminta keterangan segala sesuatu yang akan diperjanjikan dalam asuransi dan selaku pihak penjual produk. Keluhan – keluhan konsumen sekarang sudah terjawab dengan hadirnya undang – undang perlindungan konsumen. perusahaan asuransi harus bersedia menjelaskan isi dan makna kontrak dalam polis hingga konsumen benar –benar memahaminya terhadap konsumen apakah pemakai produk atau pengguna jasa yang merasa dirugikan karena diperjanjikan atau sebagaiman mestinya undang – undang ini menjamin agar meraka mendapat konpensasi atau ganti rugi. Hubungan antara perusahaan asuransi dan nasabahnya diatur dalam perjanjian yang mengikat dan disepakati oleh kedua belah pihak. dalam pelaksaannya posisi antara nasabah dan perusahan asuransi eringkali timpang.keadaan seperti ini. Padahal konsumen asuransi sebagaimana tertuang daam UU No. Hak – hak lainnya yang ditegaskan dalam Undang – undang No.

Akan tetapi. Karena masuk RS melalui Gawat Darurat. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen bahwa kewajiban pelaku usaha adalah beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya. Kasus lain seperti yang diuraikan Yusuf Shofie dimana terkadang konsumen pemegang polis asuransi jiwa yang belum waktunya mengajukan klaim asuransi. Bahwa pelaku usaha yang memperdagangkan jasa wajib memenuhi jaminan atau garansi yang disepakati / yang diperjanjikan. Konsekuensinya sepanjang petugas tersebut telah diberi kuasa untuk itu. masalahnya adalah obat-obatan tersebut yang memilihkan dokter yang merawat. memberikan informasi yang benar. Dalam hal ini harusbagaimana bersikap. Apabila ada klausul yang mengatur tentang pembatasan obat yang harus diterima. Padahal menurut Undang-Undang No. apabila setelah dicermati tidak ada aturan tentang pembatasan obat yang harus digunakan maka Bapak Imron dapat meminta kompensasi sesuai apa yang menjadi kewajiban dari PT ASKES. Saran dari YLKI adalah melihat kembali perjanjian antara PT Askes dengan Bapak Imron selaku konsumen dari perusahaan asuransi. Dalam hal petugas premi tidak menyerahkan uang premi konsumen kepada . Dalam hal ini pelaku usaha dapat diminta tanggung jawab atas kewajibannya sesuai Pasal 7 UU No. dibebankan kepada konsumen. atau pengungkapannya sulit dimengerti. diterima atau ada jalan lain. klaim dapat diterima. Pelaku usaha dilarang mencantukan klausul baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas. dalam hal ini klaim uang pertanggungan setelah masa pertanggungan berakhir (dalam praktik disebut pula “klaim habis kontrak”) diminta untuk memperbarui polis asuransinya dengan alas an petugas penagih premi belum menyerahkan premi asuransi si konsumem kepada perusahaan. baik secara perorangan ataupun badan hokum. Ini membuktikan bahwa perusahaan asuransi tidak dibenarkan mengelak dari tanggung jawabnya. atatu yang pengungkapannya sulit dimengerti. Apabila konsumen menurut saja.6 juta hanya dikabulkan sebesar Rp 590 ribuan saja dengan alas an obat-obatan yang dipakai bukan yang termasuk dalam daftar PT ASKES. bertindak untuk dan atas nama perusahaan asuransi. dari klaim Rp7. petugas penagih premi. 2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengenai klausal baku. Pembaruan polis itu membawa akibat jumlah premi yang harus dibayarkan meningkat. sehingga PT ASKES dapat dituntut seperti apa yang tertuang dalam Pasal 18 ayat (2) UU No. perlu dilihat apakah dibuat dalam bentuknya yang sulit terlihat. jelas dan jujur mengenai jaminan barang/jasa serta member penjelasan penggunaan perbaikan dan pemeliharaan. apabila barang atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. dan ia akan berada pada posisi yang sangat dirugikan. Petugas penagih premi memberikan bukti pembayaran premi asuransi yang sah bersamaan atau pada saat konsumen menyerahkan pembayaran uang premi.ganti rugi / penggantian. Padahal konsumen sudah membayar preminya. Sebab kelalaian petugas penagih premi ( agen asuransi) dalam bentuk tidak disetorkannya premi kepada perusahaan asuransi. segala tindakannya menjadi tanggung jawab perusahaan asuransi. konsekuensinya pengeluaran konsumen akan bertambah perbulan atau pertahunnya. Keluhan dari konsumen berkaitan dengan klaim asuransi dapat kita lihat dari contoh kasus yang ditujukan pada YLKI yakni sebagai berikut : Bapak Imron saat ini sedang mengajukan klaim asuransi kepada PT ASKES atas perawat di salah satu RS Swasta.

Selaanjutnya perusahaan asuransi akan membayarkan nilai tunainya sesuai masa pertanggungan yang telah dijalani konsumen. serta ketentuan-ketentuan instansi Pembina perasuransian. . 2 Tahun 1992. Sedangkan kegiatan perusahaan asuransi tunduk pada Undang-Undang No. semakin besar pula premi yang harus dibayarkan. nilai tunai selama masa pertanggungan. ketika petugas sales promotion menawarkan produk asuransi. Demikian pula. Karenanya bila konsumen didatangi petugas sales promotion perusahaan asuransi jiwa. Padahal kedekatan petugas dengan konsumen tidak akan berpengaruh terhadap berbagai konsekuensi hokum keikutsertaan konsumen dalam asuransi.perusahaan asuransi sekalipun telah diperingatkan atau bahkan malah menghilang. konsumen diharapkan tidak mudah tergiur terhadap berbagai manfaat mengikuti asuransi tersebut. Kecermatan menghitung besar nya premi dan membandingkannya dengan penghasilan perbulan. dalam hal ini Pasal 302-308 KUHD. Disamping itu terdapat keharusan menyelesaikan klaim asuransi denagn sebaik-baiknya. Keterikatan itu dibuktikan dengn diterbitkan polis. baik dengan menggunakan mata uang dalam negeri maupun luar negeri. Subtansi polis tunduk pada ketentuan-ketentuan tentang pertanggungan yang diatutr dalam KItab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD). di mata hokum tidak ada lagi kawan dan bukan kawan atau relasi dan bukan relasi. Prinsip Indemnity. menghindarkan konsumen dari tertunggaknya pembayaran premi. petugas itu patut diduga melakukan penggelapan asuransi yang dapat diancam hukkuman maksimal 15 tahun dan denda maksimal Rp 2. Dianjurkan agar konsumen tidak mudah tertarik dengan besarnya uang pertanggungan. dalam hal ini Menteri Keuangan Republik Indonesia. Secara umum prinsip-prinsip yang berlaku dalam perjanjian asuransi. Dalam hal pembayaran premi menunggak. lebih baik konsumen tunda dulu kebutuhan berasuransi. semakin muda usia konsumen. yaitu perjanjian asuransi bertujuan memberikan ganti rugi terhadap kerugian yang diderita oleh tertanggung yang disebabkan oleh bahaya sebagaimana ditentuka dalam polis. Alasan yang dicari-cari untuk menolak klaim konsumen seharusnya dihindarkan asas iktikad baik harus diutamakan dalam pelaksanaan perjanjian asuransi. Semestinya ketentuan yang tertuang. Tak jarang petugas itu ternyata masih relasi konsumen sehingga mudah bagi konsumen untuk mengiyakannya. Secara umum inilah yang disebut sebagai perjanjian konsensual. Apabila besarnya premi yang ditawarkan sangat mempengaruhi pengeluaran konsumen dalam sebulan atau setahun. asuransi menjadi lapse atau perlindungan tak lagi dijamin. Apabila tidak diminta atas desakan konsumen. baik dalam polis maupun syarat-syarat umum polis dibuat secara berimbang dan tidak merugikan konsumen dan perusahaan asuransi. tidak boleh merugikan konsumen serta tidak mengancam kelangsungan perusahaan asuransi. Terutama dalam penetapan besarnya premi. daftar atau table nilai tunai ini pada prinsipnya wajib diinformasikan kepada konsumen.5 niliar berdasarka UndangUndang Usaha Perasuransian. yaitu: 1. serta syarat-syarat umum polis. Apabila sudah menjumpai masalah. semakin kecil besarnya premi. sebagian perusahaan asuransi enggan menjelaskan system perhitungan besarnya premi yang harus dibayarkan. Besarnya nilai tunai itu tercantum dalam daftar atau table yang dilampirkan atau merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari polis asuransi. Seringkali dengan terbitnya polis itu berarti secara serta merta konsumen tunduk pada syarat-syarat umum polis yang dibuat secara sepihak oleh perusahaan asuransi. Keterikatan hubungan konsumen dengan pihak perusahaan asuransi muncul sejak adanya kata sepakat dari pihak konsumen kepada perusahaan asuransi. Semakin besar uang pertanggungan.

Jenis asuransi. Besarnya premi yang dibayarkan hendaknya dihitung dan dipahami secara teliti oleh konsumen sesuai dengan kemampuan keuangan konsumen. Manfaat asuransi.017/1993 tentang Penyelenggaraan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan reasuransi. yakni sejumlah pembayaran dan kompensasi yang menjadi hak konsumen atau pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran. maka tertanggung tidak berhak menerimanya. Sebagai contoh mengenai isi perjanjian asuransi. yaitu pihak yang bermaksud akan mengasuransikan sesuatu harus mempunyai kepentingan dengan objek yang diasuransikan. Prinsip kejujuran sempurna yaitu kewajiban tertanggung menginformasikan segala sesuattu yang diketahuinya mengenai objek yang dipertanggungkan secara benar. 4.pertanggungan jiwa yang diikuti konsumen. Janagn heran. anak konsumen akan tetap menerima beasiswa pada waktu yang telah ditentukan dalam polis 3. sehingga harus menolak pembayaran klaim. Pihak-pihak yang terikat dalam perjanjian.15 atau 20 tahun. Untuk ini diperlukan pemahaman konsumen terhadap produk-produk asuransi jiwa yang ditawarkan. Penetapan lamanya masa pertanggungan atas dasar kesepakatan kedua belah pihak. 2. Masa berlakunya polis berkisar 10. pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan Indonesia No. dengn sendirinya sama dengan masa pembayaran premi asuransi jiwa yang diikuti konsumen 6. pemegang polis. Prinsip subrogasi. Jumlah uang pertanggungan sesuai kesepakatan kedua belah pihak.2. Dalam hal dicantumkan klausul pengecualian tentang resiko yang ditutup. kepentingan mana dinilai dengan uang. pihak yang ditunjuk untuk menerima uang pertanggungan. disamping menerima uang pertanggungan. Besarnya jumlah uang pertanggungan ini akan berpengaruh pula terhadap besarnya premi yang dibayarkan 4. 3. klausul itu harus dicetak sedemikian rupa supaya mudah diketahui. Besarnya manfaat yang diperoleh tertanggung / pihak yang ditunjuk bergantung pada . apabila konsumen meninggal dunia dalam masa pertanggungan. Terlalu mudah menurut besarnya premi yang ditawarkan petugas asuransi akan membuat kesulitan bagi konsumen dikemudian hari. Jenis asuransi ini memberikan beasiswa untuk anak konsumen pada waktu yang telah ditentukan selama masa pertanggungan. 225/KMK. baik Karena terjadinya resiko kematian pada tertanggung atau berakhirnya masa pertanggungan. meliputi: penanggung. dan hak itu beralih kepada penanggung Agar is polis tidak merugikan tertanggung. Dalam polis dilarang pencantuman klausul yang dapat ditafsirkan bahwa tertanggung tidak dapat melakukan upaya hokum. terdapat pula produk asuransi jiwa yang dikemas dengan program beasiswa berencana. Prinsip kepentingan. menguraikan mengenai hal-hal yang biasanya dituangkan dalam polis asuransi jiwa dan ketentuan umum polis dan harus diperhatikan adalah sebagai berikut: 1. yaitu bila tertanggung telah menerima ganti rugi ternyata mempunyai tagihan kepada pihak lain. misalnya akan terjadi penunggakan pembayaran premi asuransi 5.

polis asuransi jiwa b. Pemahaman konsumen terhadap produk asuransi jiwa mutlak sangat diperlukan. bukti pembayaran premi terakhir. Dalam syarat – syarat umum polis yang tertuang dalam rumusan kalimat yang kecil – kecil (sering kali sulit dibaca saking kecilnya). bukti identitas yang bersangkutan d. Tata cara penagihan/pembayaran premi asuransi. Dalam hal tertanggungmeninggal dunia. [pemberian keterangan/ pernyataan tersebut diberikan sebelum diterbitkannya polis (perjanjian) asuransi. sebaiknya konsumen tetap mewaspadai. konsumen sering disudutkan solah –olah menunggak pembayaran premi. . 9. Sebelum menerima pembayaran itu. atas berbagai bentuk pelayanan pembayaran premi yang ditawarkan perusahaan asuransi. pengajuan klaim dilengkapi persyaratan : a. 8. tidak membebaskan pemengang polis dari kewajibannya untuk selalu melunasi premi asuransi”.dan bukti identitas yang bersangkutan kepada perusahaan asuransi. surat keterangan dokter/ pejabat yang berwenang menerangkan sebab-sebab meninggalnya tertanggung berakhirnya masa pertanggungan dengan sendirinya mewajibkan perusahaan asuransi membayarkan manfaat asuransi. Pembatalan polis sering dilakukan secara sepihak oleh perusahaan asuransi dalam hal terpenuhinya satu atau lebih syarat. maka pihak yang ditunjuk untuk menerima manfaat asuransi segera mengajukan klaim pembayaran manfaat asuransi. Selambat – lambatnya dalam masa leluasa (biasanya kurang lebih 3 bulan) sejak tertunggaknya pembayaran premi tertanggung belum juga melunasi pembayarannya. sebagai berikut: a. pada hakikatnya salah satu bentuk pemasaran asuransi. Polis konsumen dapat saja terancam batal dengan alas an pembayaran premi tertunggak. dan sebagainya.jenis asuransi jiwa yang diikuti. hendaknya konsumen membiasakan tertib adminisdtrasi dengan meminta bahkan mendesak perusahaan asuransi untuk memberikan bukti pengajuan pembayaran pancairan klaim manfaat asuransi. b. pemengang polis memeberikan keterangan atau persyaratan tidak jujur atau sengaja dipalsukan pada waktu mengisi formulir – formulir yang disi0terlebih dahulu oleh perusahaan asuransi. Perusahaan asuransi mematahkan argumentasi konsumen dengan rumusan pasal :” penagihan premi asuransi di alamat penagihan atau melalui cara penagihan lainnya yang diselenggarakan perusahaan asuransi. bukti pembayaran premi terakhir c. penagian premi lewat kartu kredit. persoalan muncul bila petugas penagih premi membawa lari uang premi tertanggung. 7. Kemudahan pelayanan pembayaran premi. Untuk kepentingan hokum konsumen. Bila argumentasi konsumen merujuk pada kelalaian petugas. meskipun tertanggung masih hidup. tertanggung menyerahkan polis asuransi jiwa. seperti penagihan premi ke alamat rumah/kantor konsumen. Tata cara pembayaran manfaat asuransi.

alas an – alas an sebagai mana disebut pada butir 9 a dan b diatas digunakan perusahaan asuransi dengan iktikad baik. Sebaliknya pembatalan polis pada butir b. maka pihak perusahaan asuransi dibebaskan untuk tidak membayar apapun kepada pihak ketiga itu. 10. Sebaliknya. Pada tahun 1996 – 1998 YLKI menerima beberapa pengaduan asuransi yang dapat diringkas sebagai berikut : 1. yaitu pihak yang ditunjuk untuk menerima uang pertanggung. yaitu menolak klaim yyang seharusnya dibayarkan. Ketidak adilan subtansi syarat – syarat umum polis. kecuali sebagai pihak yang membela diri. tidak memberikan hak apa pun kepada konsumen untuk menuntut pembayaran. Tidak hanya itu. Apabila ini sering terjadi. kecuali consumen dapat membuktikan keterangan atau pernyataannya deiberikan secara jujur dan benar. Penetapan atau pematokan curve secara sepihak terhadap klaim nilai tunai dan jatuh tempo pada polis asuransi jiwa yang dippertanggungkan dengan mata uang asing. penyelewengan uang pembayaran premi konsumen oleh petugas asuransi yang berakibat dilakukannya “pemutihan” polis asuransi konsumen dengan kondisi yang baru. tertanggung meninggal dunia karena bunuh diri b. Walaupun perusahaan asuransi menolak pembayarannya berdasarkan salah satu alas an itu. 2. Premi yang akan dibayarkan menjadi lebih tinggi dari sebelm dilakukan pemutihan. tertanggung meninggal dunia karena kejahatan yang dilakukannya c.Konsekuensi pembatalan polis berdasarkan alas an butir a. tertanggung meninggal dunia karena perkelahian. 3. Berkas pengajuan klaim sudah dipenuhi pihak yang ditunujuk untuk menerima manfaat asuransi. bila tertanggung terbukti meninggal dunia akibat kejahatan yang dilakukan pihak ketiga. polis menentukan bahwa pembayaran premi asuransi atau klaim asuransi . perusahaan asuransi tetap berkewajiban membayar nilai tunainya atas polis yang telah memiliki nilai tunai. ternyata klaimnya ditunda sampai memakan waktu 3 minggu atau bahkan lebih dengan alas an berkasnya tidak lengkap. Sangat dianjurkan kepada konsumen untuk meminta penjelasan secara terperinci mengenai peritungan nilai tunai itu sebelum konsumen menyutujui mengikuti asuransi jiwa. memberi hak kepada konsumenatas pembayaran nilai tunai bila polisnya telah mempunyai nilai tunai. Dalamperaktik peransuransian. Pastikan pula informasi nilai tunai yang diinformasikan itu tidak berbeda dengan yang dilampirkan pada polis asuransi. terutama dolar amerika serikat padahal polis dan ketentuan umum. perincian besarnya nilai tunai itu sesuai dengan daftar yang dilampirkan pada polis. Lebih baik menyimpan dibank yang sewaktu – waktu bisa diambil kembali ketika diperlukan. Penolakan pembayaran klaim manfaat asuransi terjadi dalam hal : a. yaitu bila tertanggung mengalami kecelakaan yang berakibat cacat tetap sebagian diberikan santunan sesuai persentase dalam table polis sebaliknya bila berakibat cacat total tetap tidak diberikan santunan apapun. masyarakat konsumen akan semakin jauh dari asuransi jiwa. terdapat phenomena untuk mempersulit pengajuan klaim manfaat asuransi jiwa.

uang premi yang dibayarkan oleh konsumen menjadi semakin tinggi: apalagi semakin tua usia konsumen. premi dari tertanggung (konsumen) berupa emas. Yang terakhir ini wajib pula diinformasikan kepada calon konsumen secara jujur da proposional. Pembatalan polis seperti ini tentunya sangat merugikan konsumen dengan melakukan pembaruan polis. tempat kedudukan tidak jelas. Hendaknya petugas asuransi tidak mendesak konsumen untuk segera mengikuti perjanjian asuransi sebelum calon konsumen mempelajari dasn mengalami betul seluk beluk produk asuransi yang ditawarkan informasi yang disampaiikan secara tidak jujur dan proposioanal kepada calon konsumen sebenarnya menunujukan adanya dugaan kejahatan penipuan terhadap konsumen. dari isi perjanjian memang menjanjikan bagi konsumen karena masing – masing perusahaan asuransi mempunyai aturan – aturan sendiri.. tindakkan petugas itu menjadi tanggung jawab perusahaan asuransi. Semartono selaku kepala disperindag sekaligus ketua BPSK kota malang memberikan masukan agar konsumen lebih berhati – hati serta teliti dalam membeli produk asuransi. Mengenai perjanjian asuransi terkadang terjadi karena rotasi petugas asuransi maka polis tersebut hilang dalam kerangka hokum perusahaan asuransi harus melakukan pengawasan terhadap petugasnya yang ada dilapangan sebagai bentuk tanggung jawab dan perlindungan hokum bagi konsumen dengan memberikan informasi yang benar dalam polis perusahaan asuransi dikelola lebih proposional. Menyikapi hak konsumen atas informasi produk asuransi. tata cara perhitungan premi dan nilai tunai. konsumen harus tetap was pada. seharusnya pihak asuransi tidak hanya membekali petugas pemsarannya dengan berbagai keunggulan produk asuransinya tetapi mengenai juga ketentuan umum polis. Perusahaan asuransi seharunya melayani dan melindungi sebaik –baiknya konsumen yang mengalami kejadian ini. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen belum cukup untuk melindungi konsumen. modal tidak jelas akhirnya waktu jatuh tempo premi yang berupa emas tersebut dilarikan. tindakan pembatalan polis ini sama saja dengan sikap mengelakn dari tanggung jawab yang dibebakan hokum kepada perusahaan asuransi. bahkan Undang – undang No. Iklim deregulasi hokum. melakukan praktik dengan benar. tidak ada perebutan nasabah di lapangan. namun konsumen harus hati – hati. Menurut Laily Zuriah selaku sekretaris BPSK Kota malang untuk kasus asuransi. lebih teliti dan menyerap informasi produk dari perusahaan asuransi tersebut.? konsekuensinya. baik perorangan atau pun badan hokum. kurang kompeten.diperhitungkan menurut kurs Bank Indonesia atau kurs yang berlaku sesuai pengumuman otoritas moneter pada saat jatuh tempo. Ibarat berjalan di atas buih air. serta ada pelayanan optimal bagi konsumen. karena terkadang informasi awal dari suatu produk asuransi belum belum tentu sesuai dengan yang dijanjikan dalam pelksanaannya sebaliknya meminta bukti otentik sebagai dokumen tertulis pasda waktu pembayaran premi. . semakin besar premi yang harus dibayarkannya.bukan kah petugas premi. bertindak untuk dan atas nama perusahaan asuransi. dalam kasus ini konsumen jelas dirugikan karena terikat dengan perjanjian yang tidak jelas dan dalam pelaksanaannya tidak ada iktikad baik dari pelaku usaha. Apabila konsumen ragu – ragu supaya tidak memberi harapan pada pihak pemasaran. Laily memperjelaskan dengan memberikan contoh mengenai perusahaan asuransi swasta. efesiensi birokrasi dalam pencairan klaim. bukan dengan melakukan pembatalan polisnya untuk kemudian diikuti dengan pembaruan polis. Namun domisili perusahaan asuransi tersebut tidak tetap.

Dengan kata lain. memakai jasa konsumen.Menurut Aloysius R. apabila kausa itu dilarang oleh undang – undang atau bertentangan dengan modal atau dengan ketertiban umum. Sebelumnya itu berarti surat gugatan harus sudah dipersiapkan terlebih dahulu secara teliti dan cermat. pelanggan dan lain – lain tidak dapat berbuat sesuatu kecuali terpaksa menerima persyaratan yang disodorkan embel – embel take it or leave it baru menyadari kalau dia berada dalam posisi yang lemah kalau mengalami kerugian. 3. atau undang – undang. BAB 8 PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN A. dan/atau ketertiban umum. . larangan yang ditentukan oleh kepatutan. Terhadap syarat – syarat baku terhadap masyarakat kita belum memperhatikan kecuali mereka yang pernah mengajukan klaim ganti rugi. Pasal 45 ayat 1 UUPK menyatakan : 1. 2. Pasal 1339 BW menentukan : perjanjian – perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal – hal yang dengan tegas dinyatakan didalamnya tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat dari persetujuan itu diharuskan oleh kepatutan. PENYELESAIAN SENGEKETA DIPERADILAN UMUM Sengketa konsumen dibatasi pada sengketa perdata. melainkan karena inisiatif dari pihak yang sengketa dalam hal ini pengugat baik itu produsen atau pun konsumen pengadilan yang memberikan pemecahan atas hokum perdata yang tidak dapat bekerja di antara para pihak secara suka rela. Masuknya suatu sengketa kedepan pengadilan bukanlah karena kegiatan sang hakim. modal. kebiasaan dan undang – undang merupakan juga syarat – syarat dari satu perjanjian. Oleh karena itu perjanjian baku dalam hal ini termasuk polis asuransi mengandung aspek positif dan asfek negative. kebiasaan. Setiap konsumen yang dirugikan dapat mengugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui pradilan yang berada di lingkungan umum. Aspek negatifnya pihak yang berminat. Entah salah satu pakar hokum perjanjian dan akademisi di malang menjelaskan bahwa dengan pelaksanaan “asas kebebasan berkontrak” yang melahirkan perjanjian baku termasuk asuransi polis asuransi secara umum terbatasi atau dikendalikan oleh ketentuan – ketentuan sebagi berikut: 1. Pasal ini haruslah ditafsirkan bahwa bukan hanya ketentuan kebiasaan dan undang – undang yang membolehkan atau berisi suruhan saja yang mengikat atau berlaku bagi suatu perjanjian tetapi juga ketentuan yang melarang mengikat atau berlaku bagi perjanjian itu. Aspek positifnya ialah perjanjian baku yang dibuat sepihak oleh penangguh mengurangi biaya pembuatan dan waktu berunding di antara para pihak. Pasal 1337 BW menentukan: suatu kausa adalah terlarang. Istilah produsen berperkara didahului dengan pendaftaran surat gugatan dikepanitraan perkara perdata dipengadilan negeri. Pasal 1338 ayat (3) BW menentukan semua perjanjian yang dibuat pihak – pihak harus dilaksanakan dengan iktikad baik. pasal ini ditafsirkan bahwa isi atau klausul – klausul suatu perjanjian tidak boleh bertentangan dengan undang – undang.

4. Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat.2. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 tidak menghilangkan tanggung jawab pidana sebagai mana diatur dalam undang – undang. Pemerintah terkait jika barang dan jasa yang konsumsi mengakibatkan kerugian materi yang besar dan korban yang tidak sedikit. Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu pihak atau oleh pihak yang bersengketa. 4. yaitu berbentuk badan hokum atau yayasan yang dalam anggaran dasarnya menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan yang didirikannya organisasi itu ialah untuk kepentingan perlindungan konsumen dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggran dasar. Dari pernyataan pasal 45 ayat 3 jelas seharusnya bukan hanya tanggung jawab pidana yang tetap dibuka kesempatannya untuk diperkarakan melainkan juga tanggung jawab lainnya. Seorang konsumen yang dirugikan yang bersangkutan 2. pihak konsumen yang diberikan hak konsumen mengajukan gugatan menurut pasal 46 UUPK adalah : 1. sehingga sengketa konsumen ini pun dapat bersifat trans nasional. Hal yang dikemukan terakhir ini dapat terjadi. misalnya dalam kaitannya dengan kebijakan aparat pemerintah yang ternyata dipandang merugikan konsumen secara individual bahkan. konsumen yang dirugikan haknya. Penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau diluar pengadilan berdasarkan pilihan suka rela para pihak yang bersengketa. tidak hanya diwakilkan oleh jaksa dalam penuntutan peradilan umum untuk kasus pidana tetapi ia sendiri dapat juga mengugat pihak lain lingkungan peradilan tata usaha Negara jika terdapat sengeketa administrasi didalamnya. 3. misalnya dibidang administrasi Negara. mengingat makin banyaknya perusahaan multinasional yang beroprasi di Indonesia juga tidak menutup kemungkinan ada konsumen yang menggugat pelaku usaha diperadilan Negara lain. Dalam kasus perdata diperadilan negeri . . Sekelompok konsumen yang mempunyai yang sama 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful