HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN OLEH: CELINA TRI SIWI KRISTIYANTI, S.H., M.Hum.

DOSEN: H. ZULKARNAIN IBRAHIM, S.H., M.Hum.

OLEH:
YOPI PEBRI (hlm 1-32) 02091401012 FARID AKBAR (hlm 33-68) 02091401089 INDAH PERMATA (hlm 69-100) 02091401043 FIRANDHIKA (hlm 101-134) 02091401073 BUNGA SUKMAWATI (hlm 135-170) 02091401049 LANIARI RIZKI (hlm 171-202) 02091401193

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SRIWIJAYA KAMPUS PALEMBANG TAHUN AJARAN 2010/2011

BAB 1 LATAR BELAKANG HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN

A.PENGANTAR Hukum perlindungan konsumen dewasa ini mendapat cukup perhatian karena menyangkut aturan-aturan guna mensejahterakan masyarakat, bukan saja masyarakat selaku konsumen saja yang mendapat perlindungan, namun pelaku usaha juga mempunyai hak yang sama untuk mendapat perlindungan, masing-masing ada hak dan kewajiban. Pemerintah berperan mengatur, mengawasi dan mengontrol, sehingga tercipta sistem yang kondusif saling berkaitan satu dengn yang lain dengan demikian tujuan menyejahterakan masyarakat secara luas dapat tercapai. Perhatian terhada perlindungan konsumen, terutama di amerika serikat (19601970-an) mengalami perkembangan yang sangat signifikan dan menjadi objek kajian bidang ekonomi, sosial, politik, dan hukum. Banyak sekali artikel dan buku yang ditulis berkenaan dengan gerakan ini. Di Amerika Serikat bahkan pada era tahuntahun tersebut berhasil diundangkan banyak peraturan dan dijatuhkan putusan-putusan hakim yang memperkuat kedudukan konsumen. Fokus gerakan perlindungan konsumen (konsumerisme) dewasa ini sebenar nya masih paralel dengan gerakan pertengahan abad ke-20. Di indonesia, gerakan perlindungan konsumen menggema dari gerakan serupa di Amerika Serikat. YLKI yang secara populer di pandang sebagai perintis advokasi konsumen di indonesia berdiri pada kurun waktu itu, yakni 11 mei 1973. Gerakan di indonesia ini termasuk cukup responsif terhadap keadaan, bahkan mendahului Resolusi Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC) No. 2111 Tahun 1978 tentang Perlindungan Konsumen. Sekali pun demikian, tidak berarti sebelum ada YLKI perhatian terhadap konsumen di Indonesia sama sekali terabaikan. Beberapa produk hukum yang ada, bahkan yang diberlakukan sejak zaman kolonial menyinggung sendi-sendi penting perlindungan konsumen. Dilihat dari kuantitas dan materi muatan produk huum itu dibanding kan dengan keadaan di negara-negara maju (terutama Amerika Serikat), kondisi di indonesia masih jauh menggembirakan. Walaupun begitu, keberadaan peraturan hukum bukan satu-satunya ukuran untuk menilai keberhasilan gerakan perlindungan konsumen. Gerakan ini seharusnya bersifat massal dan membutuhkan kemauan politik yang besar untuk mengapliksikannya. Secara umum,sejarah gerakan perlindungan konsumen dapat dibagi dalam empt tahapan. 1. Tahapan I(1881-1914) Kurun waktu ini titik awal munculnya kesadaran masrayakat untuk melakukan gerakan perlindungan konsumen. Pemicunya, histeria massal akibat novel karya Upton Sinclair berjudul The jungel, yang menggambarkan cara kerja pabrik pengolahan daging di Amerika Serikat yang sangat tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan. 2. Tahapan II (1920-1940) Pada kurun waktu ini muncul pula buku berjudul Your Money’s Worth karya chase dan schlink. Karya ini mampu menggugah konsumen atas hak-hak mereka dalam jual beli. Pada kurun waktu ini muncul slogan: fair deal, best buy. 3. Tahapan III (1950-1960) Pada dekade 1950-an ini muncul keinginan untuk mempersatukan gerakan perlindungan konsumen dalam lingkup internasional. Dengan diprakarsai oleh

wakil-wakil gerakan konsumen dari amerika Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Australia, dan Belgia, pada 1 april 1960 berdirilah internasional Organisasi of Consumer Union. Semula organisasi ini berpusat di den haag, Belanda, lalu pindah ke Londen, Inggris, pada 1993. dua tahun kemudian IOCU mengubah namanya menjadi Consumen Internasional (CI). 4. Tahapan IV (pasca-1965) Pasca 1965 sebagai masa pemantapan gerakan perlindungan konsumen, baik di tingkat regional maupun internasional. Sampai saat ini dibentuk lima kantor regional, yakni Amerika Latin dan karibia berpusat di Cile, Asia pasifik berpusat di malaysia, Afrika berpusat di Zimbabwe, Eropa Timur dan Tengah berpusat di Inggris dan negara-negara maju juga berpusat di London, Inggris. B.LATAR BELAKANG HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN 1. Globalisasi Ekonomi dan Perdagangan Bebas Negri-negri yang sekarang ini disebut negara-negara maju telah menumpuh pembangunannya melalui tiga tingkat: unifikasi, industrialisasi, dan negara kesejaheraan. Pada tingkat pertama yang menjadi masalah berat adalah bagaimana mencapai integrasi politik untuk menciptakan persatuan dan kesatuan nasional. Tingkat kedua, perjuangan untuk pembangunan ekonomi dan modernisasi politik. Akhirnya pada tingkat ketiga tugas negara yang terutama adalah melindungi rakyat dari sisi negatif industrialisasi, membetulkan kesalahan-kesalahan pada tahap-tahap sebelumnya dengan menekankan kesejahteraan masyarakat. Tingkat-tingkat tersebut dilalui secara berurutan (consecutive) dan memakan waktu yang relatife lama. Persatuan nasional adalah persyaratan untuk memasuki tahap industrialisasi. Industrialisasi merupakan jalan untuk mencapai Negara kesejahteraan. Revolusi industri di Inggris yang dimulai pada abad ke-18 kiranya dapat dianggap sebagai awal proses perubahan pola kehidupan masyarakat yang semula merupakan masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Berkembang dan semakin majunya teknologi kemudian mendorong pula peningkatan volume produksi barang dan jasa. Perkembangan ini juga mengubah hubungan antara penyedia produk dan pemakai produk yang semakin beranjak. Produk barang dan jasa yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia semakin lama semakin canggih, sehingga timbul kesenjangan terhadap kebenaran informasi dan daya tanggap konsumen. Kondisi tersebut kemdian menempatkan konsumen dalam posisi yang lemah. Sejak dua dasawarsa terakhir ini perhatian dunia terhadap masalah perlindungan konsumen semakin meningkat. Gerakan perlindungan konsumen sejak lama dikenal di dunia Barat. Negara-negara di Eropa dan Amerika juga telah lama memiliki peraturan tentang Perlindungan Konsumen. Organisasi Dunia seperti PBB tidak kurang perhatiannya terhadap masalah ini. Hal ini terbukti dengan dikeluarkannya Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa No.39/249 Tahun 1985. Dalam resolusi ini kepentingan konsumen yang harus dilindungi meliputi. a. perlindungan konsumen dari bahaya-bahaya terhadap kesehatan dan keamanannya; b. promosi dan perlindungan kepentingan sosial ekonomi konsumen; c. tersedianya informasi yang memadai bagi konsumen untuk memberikan kemampuan mereka dalam melakukan pilihan yang tepat sesuai dengan kehendak dan kebutuhan pribadi; d. pendidikan konsumen;

Globalisasi adalah gerakan perluasan pasar. dan disemua pasar yang berdasarkan persaingan. investasi melewati batas-batas negara. Oleh karena itu. . Konsumen yang keberadaannya sangat tidak terbatas dengan strata yang sangat bervariasi menyebabkan produsen melakukan kegiatan pemasaran dan distribusi produk barang atau jasa dengan cara seefektif mungkin agar dapat mencapai mencapai konsumen yang sangat majemuk tersebut. Dengan demikian. pada suatu waktu. dalam keadaan apapun pasti menjadi konsumen untuk suatu produk barang atau jasa tertentu. Manufaktur. aliansi strategis internasional. perdagangan. perlindungan konsumen harus mendapat perhatian yang lebih. kebebasan untuk membentuk organisasi konsumen. Perlindungan terhadap konsumen dipandang secara material maupun formal makin terasa sangat penting. Perdagangan bebas juga menambah kesenjangan antara negara maju dan negara pinggiran (periphery). mengingat sedemikian kompleksnya permasalahan yang menyangkut perlindungan konsumen. secara mendasar konsumen juga membutuhkan perlindungan hukum yang sifatnya universal. termasuk keadaan yang menjuruspada tindakan yang bersifat negatf bahkan tidak terpujiyang berawal dari iktikad buruk. meningkatkan intensitas persaingan. konsumen lah yang pada umumnya merasakan dampaknya. aktivitas finansial. seperti kontrak pembuatan barang. selalu ada yang menang dan kalah. Globalisasi menyebabkan berkembangnya saling ketergantungan pelaku ekonomi dunia. tersedianya upaya ganti rugi yang efektif. Setiap orang. Untuk itu semua cara pendekatan diupayakan sehingga mungkin menimbulkan berbagai dampak. Keadaan yang universal ini pada beberapa sisi menunjukkan adanya beberapa kelemahan pada konsumen sehingga konsumen tidak mempunyai kedudukan yang “aman’’. alih teknologi. Pada masa lalu bisnis internasional hanya dalam bentuk ekspor-impor dan penanaman modal. dalam posisi tunggal/sendiri maupun berkelompok bersama orang lain.antara lain menyangkut kualitas. mengingat makin lajunya ilmu pengetahuan dan teknologiyang merupakan motor penggerak bagi produktivitas dan efisiensi produsen atas barang dan jasa yang dihasilkan dalam rangka mencapai sasaran usaha.e. atau mutu barang. imbal beli. dan lain-lain. waralaba. turnkey project. Dalam rangka mengejar dan mencapai kedua hal tersebut. maka pembahasan perlindungan konsumen akan terasa aktual dan selalu penting untuk dikaji ulang. Dampak buruk yang lazim terjadi. upaya-upaya untuk memberikan perlindungan yang memadai terhadap kepentingan konsumen merupakan suatu hal yamg penting dan mendesak untuk segera dicari solusinya. Tiadanya perlindungan konsumen adalah sebagian dari gejala negri yang kalah dalam perdagangan bebas. Kini transaksi menjadi beraneka ragam dan rumit. informasi yang tidak jelas bahkan menyesatkan pemalsuan dan sebagainya. Mengingat lemahnya kedudukan konsumen pada umumnya dibandingkan dengan kedudukan produsen yang relatif lebih kuat dalam banyak hal. dimana ekonomi indonesia juga telah berkait dengan ekonomi dunia. terutama di indonesia. karena investasi asing telah menjadi bagian pembangunan ekonomi indonesia. lebih-lebih menyongsong era perdagangan bebas yang akan datang. yang akan membawa akibat pada komposisi masyarakat dan kondisi kehidupan mereka. Gejala ini dipercepat oleh kemajuan komunikasi dan transportasi teknologi. f. akhirnya baik langsung maupun tidak langsung. Persaingan perdagangan internasional dapat membawa implikasi negatif bagi perlindungan konsumen.

tetapi cara pencapaian mejadi luas. upaya mempertahankan pelanggan/konsumen atau mempertahankan pasar atau memperoleh kawasan pasar baru yang lebih luas. konsep pemasaran pada awalnya adalah memfokuskan pada produk yang lebih baik yang berdasarkan pada standar dan nilai internal. and place) produk. price. dengan menjual atau membujuk pelanggan potensial untuk menukar uangnya dengan produk perusahaan. Konsep strategi pemasaran pada dasrnya mengubah fokus pemasaran dari pelanggan atau produk kepada pelanggan dalam konteks lingkungan eksternal yang lebih luas. dengan pembaruan dari konsep pemasaran menjadi konsep strategi.Pada situasi ekonomi global dan menuju eraperdagangan bebas. pelanggan. melalui bebagai kesepakatan internasional seperti GATT (General Ageement on Trade and Tarif). 2. perlindungan terhadap konsumen juga membutuhkan pemikiran yang luas pula. Hal ini dilakukan dengan tujuan memperoleh laba. Hal ini sangat penting mengingat kepentingan konsumen pada dasar nya sudah ada sejak awal sebelum barang/jasa diproduksi selama dalam proses produksi sampai pada saat distribusi sehingga sampai ditangan konsumen untuk dimanfaatkan secara maksimal. Perlindungan konsumen dalam era pasar global menjadi sangat penting. sebagai konsep baru pemasaran. politik secara luas.manajemen. dunia usaha dan masyarakat konsumen Indonesia. Disamping itu juga terjadi perubahan pada tujuan pemasaran. yaitu dengan pembaruan pemasaran marketing mix atau 4p ( product. Indonesia menjadi salah satu pelaku dalam era pedagangan bebas. sangat tergantung pada kesiapan pemerintah. Saat ini sasaran setiap negara. Kedua. promosi dan saluran distribusi. Sasaran masih tetap pada laba. Persaingan yang makin ketat ini juga dapat memberikan dampak negatif terhadap konsumen pada umumnya. Ketiga. merupakan dambaan bagi setiap produsen. Konsep-konsep dipandang dari strategi pemasaran global telah berubah dari waktu ke waktu. mengingat makin ketatnya persaingan untuk berusaha. Berhasil tidaknya Indonesia memanfaatkan era perdagangan bebas. sosial. sehingga tidaklah dapat dikaji dari aspek hukum semata-mata. peraturan pemerintah serta kekuatan makro. masyarakat dan negara). Perubahan pemasaran tersebut membawa pengaruh pula pada konsep perlindungan konsumen secara global. Untuk itu harus memanfaatkan pelanggan yang ada termasuk pesaing. sebagaimana tahapan berikut: Pertama. Era perdagangan bebas merupakan suatu era kemana pemasaran merupakan suatu disiplin universal. ekonomi. karena pertama konsumen disamping mempunyai hak-hak yang bersifat universal juga mempunyai hak-hak yang bersifat sangat spesifik (baik situasi maupun kondisi). yaitu dari laba menjadi keuntungan pihak yang berkepentingan (yaitu orang perorangan atau kelompok yang mempunyai kepentingan dalam kegiatan perusahaan termasuk di dalamnya karyawan. harga. Orientasi pemasaran global pada dasarnya dapat mengubah berbagai konsep. AFTA (Asean Free Trade Area) dan lain-lain. Pemikiran konsep secara luas dan kajian dari aspek hukum pun juga membutuhkan wawasan hukum yang luas. Dibandingkan pemerintah dan . Hubungan antara Produsen dan Konsumen Sudah menjadi komitmen Pemerintah Indonesia. kebijakan yang berlaku. pada dekade enam puluhan fokus pemasaran dialihkan dari produk kepada pelanggan. setiap perusahaan (setiap produsen) adalah menuju pada pemasaran global. Bertolak dari rangkaian perubahan konsep pemasaran tersebut. cara pandang dan cara pendekatan mengenai banyak hal termasuk strategi pemasaran. WTO (World Trade Organization). promotion.

1) Cross border business agreement. persekongkolan diantara perusahaan yang bersaing untuk mengembangkan produk atau penelitian. satu cara untuk menangkal purusahaan asing membanjiri barang dan jasa yang lebih murah dari pada harga yang ditetapkan oleh perusahaan di dalam negri. satu tanggapan defensif oleh perusahaanperusahaan yang membeli barang dari kartel ekspor. bukan sebaliknya justru menjadi musibah. (5) Refusal to deal: satu pemasok memaksa seseorang pembeli untuk menaati satu mandat tertentu dibawah ancaman penarikan barang dan jasa. Pertama. Kedua. (7) Predatory pricing: penjual menentukan perbedaan harga dengan tujuan untuk mendorong pesaing keluar dari bisnis.satu perusahaan atau lebih bergerak untuk menciptakan monopoli di luar batas yurisdiksi satu Negara. Seperti (1) Tied selling: penjual memaksa pembeli untuk membeli barang dan jasa lebih daripada yang dibutuhkan pembeli. banyak sekali peraturanperaturan yang justru bernuansa anti persaingan. a) undang-undang anti dumping. Dalam kenyataan. mutu. persetujuan di antara perusahaan atas harga ekspor. (3) exclusive dealing: dua penjual atau lebih menciptakan monopoli lokal dengan persetujuan untuk berbagai pasarke dalam wilayah-wilayah. posisi konsumen diuntungkan. Permasalahannya. konsumen lebih banyak pilihan dalam menentukan berbagai kebutuhan. (c) persekongkolan bisnis strategis. praktis belum ada pihak yang menyentuh bagaimana mempersiapkan konsumen Indonesia menghadapi pasar bebas. akan menjadikan konsumen negara dunia ketiga menjadi sampah berbagai produk yang di negara maju tidak memenuhi persyaratan untuk dipasarkan. b) penetapan target impor. (4) Reciprokal exclusiveity: penjual menyetujui hanya menjual barang dan jasa dari pemasok saja.satu tindakan bersama dari babaraa perusahaan dari berbagai negara untuk membagi pasar dan menetapkan harga.menurut Customers Internasional (CI) anggapan dasar ini tidak selalu menjadi kenyataan.(b) kartel internasional. sementara di negara bekembang bebas masuk karena belum ada standardisasi mutu buah impor. serta adanya kemudahan keluar masuk barang ke dalam pasar tanpa halangan. Oleh karena itu. satu cara dari perusahaan untuk membatasi akses pasar bagi perusahaan asing. Di negara maju buah impor ditolak karena kandungan/residu pestisida di atas ambang batas yang membahayakan kesehatan.dunia usaha. Logika gagasan ini adalah. mengingat dalam praktik. 2) Industrial policy: a) kartel ekspor. baik berupa barang dan jasa. lemahnya produk perundang-undangan. agar era perdagangan bebas bagi konsumen benar-benar menjadi anugrah. Ada dua asumsi dalam melihat posisi konsumen di era pasar bebas. (6) Differential pricing: pemasok menentukan harga berbeda kepada pembeli yang berbeda atas dasar selain mutu dan jumlah yang dilepas. Alasannya. persyaratan-persyaratan apa yang harus ada dalam pranata hukum Indonesia. dengan adanya liberalisasi perdagangan arus keluar masuk barang menjadi semakin lancar. Anggapan dasar dalam pasar bebas adalah adanya arus informasi yang sempurna yang memberi kemungkinan pada pembeli dan penjual untuk memilih barang dan jasa secara rasional. b) kartel impor. . posisi konsumen khususnya di negara berkembang dirugikan. Contoh kasus buah impor. (2) Resale price maintenance: penjual merancang harga yang dapat dibebankan kepada konsumen. c) kartel domestik. a) merger dan akuisisi. c) penetapan kouta ekspor. 3) Trade policy. masih lemah nya pengawasan dibidang standardisasi mutu barang. dari segi jenis/macam barang. maupun harga.

Sapai pada tahapan hubungan penyaluran atau distribusi tersebut menghasilkan suatu hubungan yang sifatnya massal. semua tujuan tersebut hanya dapat dicapai bila hukum perlindungan konsumen dapat diterapkan secara konsekuen. syarat lingkungan. Produsen sangat membutuhkan dan sangat bergantung atas dukungan konsumen sebagai pelanggan. distribusi pada pemasaran dan penawaran. syarat kesehatan. karna sifatnya yang massal. yakni adanya permintaan yang meningkat dari masyarakat sehingga produsen dituntut untuk meningkatkan produktifitasnya. Proses sampai hasil produksi barang atau jasa dilakukan tanpa campur tangan konsumen sedikit pun. dan sebagainya. Secara umum dan mendasar. Untuk mewujutkan harapan tersebut. syarat pengemasan. dengan jelas terlihat bahwa kedudukan konsumendi dalam era perdagangan babas sangat lemah. hukum ini juga akan mendorong produsen untuk melakukan usaha dengan penuh tanggung jawab. tidak mungkin produsen dapat terjamin kelangsungan usahanya. cara prosedur produksi. Rangkaian kegiatan tersebut merupakan rangkaian perbuatan dan perbuatan hukum yang tidak mempunyai akibat hukum dan yang mempunyai akibat hukum baik terhadap semua pihak maupun hanya terhadap pihak tertentu saja. maka peran negara sangat dibutuhkandalam rangka melindungi kepentingan konsumen pada umumnya. yakni adanya permintaan yang meningkat dari masyarakat sehingga produsen dituntut untuk meningkatkan produktivitasnya. hubungan antara produsen (perusahaan penghasilan barang dan/atau jasa) dengan konsumen (pemakai akhir dari barang dan/atau jasa untuk dari sendiri ataukeluarganya) merupakan hubungan yang terus-menerus dan berkesinambungan. Secara tidak langsung. jadi tidak membebani produsen dengan tanggung jawab.Dari apa yang telah dipaparkan CI diatas. Namun. perlu dipenuhi beberapa persyaratan minimal. (3) Peningkatan kesadaran konsumen akan hak-haknya. sesuai dengan tingkat ketergantungan akan kebutuhan yang tidak terputus-putus. konsumen kebutuhannya sangat bergantung dari hasil produksi produsen. Tujuan hukum pelindungan konsmen secara langsung adalah untuk meningketkan martabat dan kesadaran konsumen. Hubungan tersebut terjadi karena keduanya memang saling menghendaki dan mempunyai tingkat ketergantungan yang cukup tinggi antara yang satu dengan yang lain. Hal tersebut secara sistematis dimanpaatkan oleh produsen dalam suatu sistem distribusi dan pemasaran produk barang guna mencapai tingkat produktivitas dan efektivitas dalam rangka mencapai sasaran usaha. (4) mengubah sistem nilai dalam masyarakat ke arah sikap tindak yang mendukung pelaksanaan perlindungan konsumen. Untuk itu perlu diatur perlidungan konsumen berdasarkan undang-undang antara lain menyangkut mutu barang. Karena sifatnya yang masal tersebut. antara lain: (1) hukum perlindungan konsumen harus adil bagi konsumen maupun produsen. Saling ketergantungan karena kebutuhan tersebut dapat menciptakan suatu hubungan yang terus-menerus dan berkesinambungan sepanjang masa. tetapi juga melindungi hak-haknya untuk melakukan usaha dengan jujur: (2) aparat pelaksa hukumnya harus dibekali dengan sarana yang memadai dan disertai dengan tanggung jawab. . Tanpa dukungan konsumen. Hubungan antara produsen dan konsumen yang berkelanjutan sejak proses produksi. Sebaliknya. Perlunya undang-undang perlindungan konsumen tidak lain karena lemahnya posisi konsumen dibandingkan posisi produsen.

kebutuhan para pihak pada rentang waktu tertentu. 4. Kecurangan ini tidak hanya merugikan konsumen saja. koprasi. yaitu antarnegara asosiasi produsen sejenis. Untuk itu aspek hukum publik sangat dominan. Persepsi yang keliru di kalangan pengusaha ini akan dengan mudah diluruskan apabila disadari beberapa pertimbangan berikut ini. 3. Hubungan hukum yang spesifik ini sangat bervariasi. hubungan hokum seringkali melemahkan posisi konsumen karena secara sepihak para produsen/distributor sudah menyiapkan satu kondisi perjanjian dengan adanya perjanjian baku. Keadaan-keadaan seperti di atas. (1) bahwa konsumen dan produsen adalah pasangan yang saling membutuhkan. Diawali dengan sistem pengawasan tarhadap mutu dan kesehatan serta ketepatan pemanfaatan bahan untuk sasaran produk. Setelah hubungan bersifat personal. (3) kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan usaha bagi produsen yang bertanggung jawab dapat diwujudkan tidak dengan jalan merugikan kepentingan . pada dasarnya akan sangat mempengaruhi dan menciptakan kondisi perjanjian yang juga sangat bervariasi. Kedala yang dihadapi dalam upaya perlindungan konsumen di indonesia tidak terbatas pada rendahnya kesadaran konsumen akan hak. dan usaha swasta. dan sebagainya. dan bahkan antarpara pihak yang mempunyai pengaruh untuk produk tertentu dalam rangka memperebutkan pasar. 2. yang syarat-syaratnya secara sepihak ditentukan pula oleh produsen atau jaringan distributornya. usaha produsen tidak akan dapt berkembang dengan baik bila konsumen berada pada kondisi yang tidak sehat akibat banyaknya produk yang cacat. tetapi membutuhkan pula perangkat hukum internasional dalam jaringan kerja sama antar negara dan kerja sama internasional. Campur tangan negara. kerja sama antarnegara. fasilitas yang ada. dibutuhkan berbagai aspek hukum agar konsumen dapat dilindungi dengan adil sejak awal produksi. penawaran dan syarat perjanjian.Bertolak dari luas dan komleksnya hubungan antara produsen dan konsumen serta banyaknya mata rantai penghubung keduanya. sebelum dan purna jual.Dipenghuninya persyaratan diatas akan mengangkat harkat Dan martabat konsumen. maka untuk melindungi konsumen sebagai pemakai akhir dari produk barang atau jasa. sehingga mereka juga dapat diakui sebagai salah satu subjek dalam sistem perekonomian nasional di samping BUMN. hukum perdata lah yang lebih dominan dalam rangka melindungi masing-masing pihak. antar kawasan ekonomi. Hubungan antara produsen dan konsumen yang bersifat massal tersebut menciptakan hubungan secara individual/personal sebagai hubungan hukum yang spesifik. Hal ini sangat penting mengingat konflik antara negara dan pihak berkepentingan di dalam era perdagangan bebas makin luas. yang sangat dipengaruhi oleh berbagai keadaan antara lain: 1. terbuka. Paa era pasar bebas dimana hubungan produsen dan konsumen menjadi makin dekat dan makin terbuka. harga dari satu jenis komoditas tertentu. (2) bahwa ada produsen yang melakukan kecurangan dalam melakukan kegiatan usahanya. Sistem perlindungan tersebut tidak dapat hanya memanfaatkan perangkat hukum nasional saja. konsumen dan sistem perlindungan konsumen. dan makin bervariasi. tetapi juga akan merugikan produsen yang jujur dan bertanggung jawab. yaitu guna mengatur pola hubungan rodusen. kondisi. tetapi juga adanya persepsi yang salah dikalangan sebagian besar produsen bahwa perlindungan terhadap konsumen akan menimbulkan kerugian terhadap rodusen. dan kerja sama internasional sangat dibutuhkan. Dalam praktik nya.

Artinya. Ia menyebutkan.konsumen. Diancam dengan pidana paling lama satu tahun empat bulan. (4) bahwa beban kompensasi atas kerugian konsumen akibat pemakaian produk cacat telah diperhitungkan dalam komonen produksi. Ada juga yang berpedapat. Bentrok dari keadaan yang demikian. Nasution mengakui. di dalam pergaulan hidup. Adapun hukum konsumen diartikan sebagai keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan hubungan dan masalah antara berbagai pihak satu sama lain berkaitan dengan barang dan/jasa konsumen. Adapun yang masih belum jelas dari pernyataan Az. baik tertulis maupun tidak tertulis. Nasution. Namun. melainkan oleh sistem perangkat hukum yang mampu memberikan perlindungan yang simultan dan komperehensif sehingga terjadi persaingan yang jujur yang secara langsung atau tidak langsung akan menguntungkan konsumen. hukum perlindungan konsumen merupakan bagian dari hukum konsumen yang lebih luas itu. sekaligus tujuan hukum itu adalah memberikan perlindungan (pengayoman) kepada masyarakat. Karena posisi konsumen yang lemah maka ia harus dilindungi oleh hukum.J. Az.HUKUM KONSUMEN DAN HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN Istilah“hukum konsumen’’dan“hukum perlindungan konsumen’’sudah sangat sering terdengar.rules of law which recognize the bargaining weakness of the individual consumer and which ensure that weakness is not unfairly exploited. apakah kedua“cabang’’ hukum itu identik. belum jelas benar apa yang masuk kedalam materi keduanya. secara hokum sebenarnya hukum konsumen dan hukum perlindungan konsumen ini seperti yang dinyatakan oleh Lowe yakni: …. hukum dagang. M. Nasution berkaitan dengan kaidah-kaidah hukum perlindungan konsumen yang senantiasa bersifat mengatur. C. hukum administrasi (negara) dan hukum internasional terutama konvensi-konvensi yang berkaitan dengan kepentingan-kepentingan konsumen. asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah konsumen itu tersebar dalam berbagai bidang hukum. tetapi ditanggung bersama oleh seluruh konsumen yang memakai produk yang cacat. seperti hukum perdata. (2) mengenai jenis keadaan atau banyaknya barang yang diserahkan dengan menggunakan tipu muslihat. tetai dapat dicapai melalui penindakan terhadap produsen yang melakukan kecurangan dalam melakukan kegiatan usahanya. hukum pidana. Salah satu sifat. perlindungan hukum terhadap hak konsumen tidak dapat diberikan oleh satu aspek hukum saja. Jadi. Apakah kaidah yang sifatnya memaksa. inti persoalannya bukan terletak pada kaedah yang harus “mengatur“ dan “memaksa“. seorang penjual yang berbuat crang terhadap pembeli: (1) karena sengaja menberikan barang lain daripada yang ditunjuk untuk dibeli. tetapi memberikan perlindungan terhadap konsumen tidak termasuk dalam hukum perlindungan konsumen? Untuk itu jelasnya dapat dilihat ketentuan Pasal 383 KUHP berikut ini. dan juga mengandung sifat yang melindungi kepentingan konsumen. . misalnya berpendapat bahwa hukum konsumen yang memuat asas-asas atau kaidah-kaidah bersifat mengatur.Leder menyatakan: In a sense there is not such creature as consumer law. sebenarnya hukum konsumen dan hukum perlindungan konsumen adalah dua bidang hukum yang sulit dipisahkan dan ditarik batasnya. Sekalipun demikian. Az. Seharusnya ketentuan memaksa dalam pasal 383 KUHP juga memenuhi syarat untuk dimasukkan kedalam wilayah hukum perlindungan konsumen. Juga.

antara lain lembaga pembinaan dan perlindungan konsumen (LP2K) di semarang yang berdiri sejak Februari 1988 dan pada 1990 bergabung sebagai anggota consumers international (CI).H. pembagian yang adil atas hak dan keistimewaan. institusi hukum dan profesi hukum.S Loemban Tobing. Pembangunan yang komperhensif harus memperhatikan hak-hak manusia. Keduanya tidak dalam kondisi yang berlawanan dan dengan demikian pembangunan akan menarik partisipasi masyarakat. Apabila kita ingin tiga tingkat pembangunan di jalani secara serentak. tentu Indonesia masih harus “belajar“ banyak. yakni dengan menyelenggarakan pekan promosi swakarya II dan III yang benar-benar dimanfaatkan oleh kalangan produsen dalam negeri. 11 mei 1973.H. D. dengan akta No. dan singapura. Kartina Sujono Prawirabisma bahwa YLKI bertujuan melindungi konsumen. Ketertinggalan itu tidak hanya dibandingkan dengan Negara-negara sekitar Indonesia. kemudian muncul beberapa organisasi serupa. Diluar itu. hukum konsumen berkala lebih luas meliputi berbagai aspek hukum yang terdapat kepentingan pihak konsumen di dalamnya. Dalam mencapai tujuan tersebut diperlukan pembauran hukum. S. yakni dengan berdirinya lembaga swadayamasyarakat (nongovernmental organization) yang bernama yayasan lembaga konsumen Indonesia (YLKI). institusi hukum dan profesi hukum. Dilihat dari sejarahnya gerakan perlindungan konsumen di Indinesia baru benarbenar dipopulerkan sekitar 20 tahun lalu. yang semula bertujuan mempromosikan hasil produk Indonesia. dewasa ini cukup banyak lembaga swadaya masyarakat serupa berorientasi pada kepentingan pelayanan konsumen. kesejahteraan manusia. Dalam sambutan guru besar UI. seyogyanya dikatakan. dapat mendorong pertumbuhan perdagangan dan industri. perlindungan konsumen di Indonesia masih tertinggal. Ajang promosi yang diberi nama pekan swakarya ini menimbulkan ide bagi mereka untuk mendirikan wadah bagi gerakan perlindungan konsumen di Indonesia. Hal ini menjadi tambah penting karena bangsa kita berada dalam era globalisasi. Kita harus memiliki hukum. tugas dan beban. seperti yayasan lembaga bina konsumen Indonesia (YLBKI) di Bandung dan perwakilan YLKI di berbagai provinsi di tanah air. YLKI muncul dari sekelompok kecil anggota masyarakat yang diketuai oleh lasmidjah hardi. Erman rajagukguk menjelaskan bahwa di Indonesia untuk pertumbuhan ekonomi dan pemerataan dapat dilaksanakan dalam waktu bersamaan. Setelah YLKI. budaya hokum di Indonesia harus dapat mengakomodasi tujuan-tujuan yang demikian itu.GERAKAN PERLINDUNGAN KONSUMEN DI INDONESIA Jika melihat kemajuan perkembangan konsumen di Amerika Serikat. yang mampu menjaga integrasi dan persatuan nasional. serta berfungsi memajukan keadialan social.Dengan demikian. seperti Malaysia. Dalam suasana kerja sama ini kemudian lahir motto yang dicetuskan oleh Ny. Yayasan ini sejak semula tidak ingin berkonfrontasi dengan produsen (pelaku usaha) apalagi dengan pemerintah. Persatuan nasional. Ide ini dituangkan dalam anggaran dasar yayasan di hadapan Notaris G. Hal ini dibuktikan benar oleh YLKI. Kata aspek hukum ini sangat bergantung pada kemauan kita mengartikan. menjaga martabat produsen dan membantu pemerintah. atinya harus bersaing dengan bangsa-bangsa lain. sekarang CI) Erna Witoelar. pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan social mesti dapat tercermin dalam setiap pengambilan keputusan. 26. . Filipina. Thailand. Sebagaimana pernah disinyalir oleh ketua internasional organization of consumers union (IOCU.

Sementara itu. Demikian juga dalam berbagai pertemuan ilmiah dan pembahasan peraturan perundang-undangan. YLKI mampu berperan besar khususnya dalam gerakan menyadarkan konsumen akan hak-haknya. masih belum dikenal dengan baik oleh para penegak hukum di Indonesia. (3) alat-alat elektronik. Dari inventarisasi sampai 1991. dan (8) lingkungan hidup. Ditinjau dari kemajuan peraturan perundang-undangan di Indonesia dibidang perlindungan konsumen. keputusan bersama dari beberapa mentri. secara rutin menyediakan kolom khusus untuk membahas keluhan-keluhan konsumen. yaitu (1) obat-obatan dan bahan berbahaya. Jika dibangdingkan dengan perjalanan panjang gerakan konsumen diluar negeri khususnya di Amerika Serikat. (2) makanan dan minuman. mulai dari ordonansi dan undang-undang. Pengalaman menangani kasus-kasus yang merugikan konsumen di negara-negara yang lebih maju dapat dijadikan studi yang bermanfaat sehingga Indonesia tidak perlu lagi harus mengulang keslahan yang serupa. termasuk yang di prakarsai YLKI mencatat prestasi besar setelah naskah akademik UUPK berhasil di bawa ke DPR. keputusan dirjen.YLKI memiliki cabang-cabang di berbagai provinsi dan mempunyai pengaruh yang cukup besar karena didukung oleh media massa. (5) metrology dan tera. YLKI cukup beruntung karena tidak harus memulainya dari nol sama sekali. penerbitan dan menerima pengaduan. dan keputusan gubernur (d. peraturan mentri. (4) kendaraan bermotor. Beberapa harian besar Nasional. Gerakan ini belum mempunyai kekuatan lobi untuk memberlakukan atau mencabut suatu peraturan. banyak hakim yang masih ragu-ragu untuk menerimanya. peraturan pemerintah atau yang sederajat. Untuk mewakili gugatan-gugatan di msyarakat. tetapi sekaligus juga mengadakan upaya advoksasi melalui jalur pengadilan. pengaturan yang memuat unsur perlindungan konsumen tersebar pada delapan bidang. Perhatian produsen terhadap publikasi demikian juga terlihat dari reaksi-reaksi yang diberikan. Alasan yang utama tentu karena YLKI sendiri bukan badan pemerintah seperti FDA di Amerika Serikat dan tidak memiliki kekuasaan public untuk menerapkan suatu peraturan atau menjatuhkan suatu sanksi. (7) pengawasan mutu barang. sampai saat ini masih sangat minim.h. keputusan mentri. Hal ini menunjukan dalam perjalanan memasuki dasawarsa ketiga. walaupun ada preseden yang mengakui eksistensi gugatan kelompok tersebut. YLKI dapat menggunakan lembaga hukum gugatan kelompok (class action). (6) industri. YLKI juga tidak sepenuhnya dapat mandiri seperti food and drug administration (FDA). . Demikian pula dengan kasus-kasus kegagalan advokasi konsumen. seperti media Indonesia dan Kompas. instruksi dirjen. tidak banyak membuahkan hasil. Gerakan konsumen di Indonesia. instruksi presiden. Selama ini upaya hukum individual dari konsumen untuk menggugat produsen baik pemerintah maupun swasta. gugatan massal yang mewakili masyarakat luas. Namun. keputusan ketua pelaksana bursa komoditi. Hasil-hasil penelitian YLKI yang dipublikasikan di media massa juga membawa dampak terhadap konsumen.i gubernur KDH DKI Jakarta). Jenis peraturan perundangundangannya pun bervariasi. Lembaga ini tidak sekedar melakukan penelitian atau pengujian. baik berupa koreksi maupun bantahan. Metode kerja YLKI baru pada penelitian terhadap sejumlah produk barang/jasa dan mempublikasikan hasilnya kepada masyarakat. Keberadaan YLKI juga sangat membantu dalam upaya peningkatan kesadaran atas hak-hak konsumen. YLKI dianggap mitra yang representatif. Selanjut nya rancangannya di sahkan menjadi undang-undang. daik dilihat dari kualitas peraturannya maupun kedalaman materi yang dicakupnya.

UUPK ini masih memerlukan waktu satu tahun untuk berlaku efektif. Australia. predictability. dengan resolusinya No. Kemudian sejak 1995 berubah nama menjadi cnsumers international (CI). Misalnya pada tahun 1994 dikumandangkan tema sentral hak konsumen untuk memperoleh kebutuhan pokok. YLKI mencoba mengajukan gugatan kelompok kepada pemerintah dalam berbagai kasus. UUPK ini dihasilkan atas inisiatif DPR. A/RES/39/248 juga disuarakan seruan penghormatan terhadap hak-hak konsumen. Setelah pemerintah RI mengesahkan undang-undang No. yaitu stability. antara lain terhadap PT Persero Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Telkom. andil terbesar yang “memaksa“ kehadiran UUPK ini adalah juga karena cukup kuatnya tekanan dari dunia internasional. Hukum yang kondusif bagi pembangunan sedikitnya mengandung lima kualitas. . 2111 tahun 1978. 7 tahun 1994 tentang agreement establishing the world trade organization (persetujuan pembentukan organisasi perdagangan dunia). Sementara Malaysia dan fhilipina memiliki lima organisasi dan Indonesia ada dua organisasi (YLKI Jakarta dan LP2K di semarang). 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen (UUPK) disahkan dan diundangkan pada 20 April 1999. Stabilitas juga berarti hukum berpotensi untuk menjaga keseimbangan dan mengakomodasi kepentingankepentingan yang saling bersaing. Perlunya predictability sangat besar di Negara-negara di mana masyarakatnya untuk pertama kali memasuki hubunganhubungan ekonomi melampaui lingkungan tradisional mereka. Setiap 15 maret CI memperingati “hari hak konsumen sedunia“ dan memberi tema berbeda-beda tiap tahun. Anggota CI mencapai 203 organisasi konsumen berasal dari 90 negara di seluruh dunia. Gerakan konsumen sejak 1960 memiliki wadah yang cukup berwibawa. Tanpa mengurangi penghargaan terhadap upaya terus menerus yang dilakukan oleh YLKI. Dalam jangka panjang ketiadaan standar tersebut menjadi sebab utama hilangnya ligitimilasi pemerintah. Namun. Dalam satu Negara dapat saja ada lebih dari satu organisasi konsumen yang terdaftar sebagai anggota CI. Tidak adanya standar yang adil dan apa yang tidak adil adalah masalah besar yang dihadapi Negaranegara berkembang. misalnya mempunyai 15 organisasi anggota CI. standard sikap pemerintah. yang disebut intenational organization of comsumers unions (IOCU). dari perkara yang dibawa ke pengadilan itu belum mampu menghasilkan dampak sebesar seperti yang pernah dilakukan Ralph Nader terhadap General Motors.Terlepas dari kondisi ini. Aspek keadilan (fairness) seperti persamaan didepan hukum. E. adalah perlu untuk memelihara mekanisme pasar dan untuk mencegah birokrasi yang berlebihan. yang notabene hak itu tidak pernah sejak orde baru berkuasa pada 1966. fairness. 1966. Perkembangan baru dibidang perlindungan konsumen terjadi setelah penggantian tampuk kekuasaan di Indonsia. education dan kemampuan meramalkan adanya prasyarat untuk berfungsinya system ekonomi. maka ada kewajiban bagi Indonesia untuk mengikuti standard-standar hukum yang berlaku dan diterima luas oleh Negara-negara anggota WTO. PROSPEK GERAKAN KONSUMEN Perhatian terhadap gerakan perlindungan hak-hak konsumen (konsumerisme) mendapat pengakuan dan dukungan dari dewan ekonomi dan social PBB. kemudian pada 16 April 1985 dengan resolusinya No. Yaitu tatkala undang-undang No. Salah satu diantaranya adalah perlunya eksistensi UUPK.

Dalam hal ini berarti. dan jasa prinsip-prinsip non-discrimination. transparency kemudian menjadi substansi peraturan-peraturan nasional Negaranegara anggota. tidak ada produk yang hanya dibuat di satu negara. Faktor kedua. sebagian komponennya dibuat diberbagai negara di luar jepang. mencantumkan beberapa ketentuan yang harus di penuhi di Negara-negara anggota berkaitan dengan penanaman modal. globalisasi ekonomi menimbulkan akibat yang besar sekali pada bidang hukum. maka dewasa ini tuntutan itu demikian kuat bergema. Jika tidak. General agreement on tariff and trade (GATT) misalnya. gejala ini dipercepat oleh kemajuan komunikasi dan transportasi teknologi. misalnya. termasuk masyarakat indonesia. Teknologi dibidang pengemasan yang diterapkan di Amerika Serikat. Bagaimanapun juga karakteristik dan hambatannya. Toyota. Itu berarti masalah mutu barang dari jumlah ketersediaannya dipasaran tidak lagi menjadi keprihatinan utama karena produsen dengan sendirinya berlomba-lomba untuk memenuhinya. Perhatian konsumen di dalam negeri sama dengan perhatian konsumen di berbagai negara. Globalisasi menyebabkan berkembangnya saling ketergantungan pelaku-pelaku ekonomi dunia. Globalisasi juga menyebabkan terjadi globalisasi hukum. Konsumen Indonesia merupakan bagian dari konsumen global. tetapi pada kebutuhan listrik. antara lain melalui perjanjian-perjanjian internasional.Hak atas kebutuhan pokok ini tidak terbatas pada pangan. investasi melewati batas-batas negara meningkatkan intensitas persaingan. pos dan telekomunikasi. globalisasi hukum tersebut tidak hanya didasrkan pada kesepakatan internasional antarbangsa tetapi juga pemahaman tradisi hukum dan budaya antara barat dan timur. Gejala-gejala itu memberi pengaruh pada gerakan konsumen didunia dan di indonesia. bahkan saat ini sertifikasi itu sudah berjalan. Persaingan antar produsen saat ini semakin ketat dan dan yang dihadapi bukan lagi competitor dalam negeri. Uang tidak lagi mengenal bendera. dan segera mengubah pola dibidang terkait. Tentu mereka memilih yang terbaik diantara produk barang/jasa yang tersedia. hak milik intelektual. misalnya cepat diadopsi kenegara lain. dan papan. globalisasi perdagangan. antara ain dengan terbenuknya lembaga pengkajian pangan. produsen demikian akan kalah dalam persaingan. dan mempengaruhi kesadaran konsumen lokal untuk berbuat hal yang sama. tampak makin kritis. Modal seperti air yang mencari tempat yang sesuai. national treatment. Manufaktur. . Menurut Emil Salim. sandang. gerakan konsumen global ditandai oleh globalisasi diberbagai bidang. most favored nation. sehingga gerakan konsumen di dunia internasioanal mau tak mau menembus batas-batas Negara. Hal ini berarti. globalisasi teknologi. Pertama. globalisasi finansial. Globalisasi hukum terjadi melalui usaha-usaha standardinasi hukum. tuntutan-tuntutan masyarakat dunia internasional. Globalisasi keempat ini membawa konsekuensi makin tergesernya alat-alat produksi tradissional mengarah kepada modernisasi dan mekanisasi. Keempat. Disamping itu. Hal ini tampak dari dihilangkannya dinding-dinding tarif sehingga dunia menjadi satu pasar. yakni mulai beralihnya isu-isu konsumen dari sekedar mempersoalkan mutu menuju kearah yang lebih berskala makro dan universal. globalisasi produksi. konsumen mempunyai banyak pilihan terhadap produk barang/jasa yang dikonsumsinya. air minum. perdagangan. Jika dulu masih banyak yang belum berani menyuarakan agar di Indonesia dilakukan sertifikasi “halal” untuk produkproduk tertentu. obat-obatan. Konsumen kita menjadi konsumen global. dan kosmetika majelis ulama Indonesia (LP POM MUI). Ketiga.

budaya. lingkungan. DAN KEWAJIBANNYA Sebagai suatu konsep. Friedman. dan sebagainya. pengadilan yang mandiri dan partisipasi masyarakat melalui lembaga-lembaganya. BAB 2 PENGERTIAN HAK DAN KEWAJIBAN KONSUMEN SERTA PELAKU USAHA A. HAK. Arus tuntutan konsumen melalui gerakan-gerakan tadi makin lama makin deras. Alhasil. telah pula berdiri organisasi konsumen internasional. jasa-jasa dan bidang-bidang ekonomi lainnya mendekati Negara-negara maju (converagence). Di Indonesia telah pula berdiri berbagai organisasi konsumen seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) di Jakarta. Istilah konsumen berasal dari alih bahasa dari kata consumer (inggris-amerika). sehingga tidak mustahil menimbulkan instabilitas bagi negara-negara yang produsen dan pemerintahnya belum siap benar. baik di dunia internasional maupun di Indonesia. tidak ada jaminan peraturan-peraturan tersebut memberikan hasil yang sama disemua tempat. Dalam hal menghadapi hal yang demikian itu perlu check and balance dalam bernegara.Globalisasi hukum akan menyebabkan peraturan-peraturan Negara-negara berkembang mengenai investasi. adalah siap dengan pembangunan unsur-unsur system hukumnya. Surabaya. Namun. Pengertian dari consumer atau consument itu tergantung dalam posisi mana ia berada. Tetapi terlebih-lebih bagi pemerintahnya. maupun untuk tujuan mempersiapkan dasar-dasar penerbitan suatu peraturan perundang-undangan tentang perlindungan konsumen. Sejalan dengan perkembangannya itu. Di samping itu. yaitu international organiztion of consumers unions (IOCU). atau consument/konsument (belanda). ekonomi dan budaya. Hal mana yang dikarenakan perbedaan sitem politik. dan organisasi konsumen lain di bandung. Yogyakarta. Di indonesia telah banyak diselenggarakan studi. pada masa-masa mendatang menghadapi suasana yang jauh lebih kompleks. Begitu pula kamus indonesia-inggris memberi arti kata consumer sebagai pemakai atau konsumen. Tujuan penggunaan barang atau jasa nanti menentukan termasuk konsumen kelompok mana pengguna tersebut. gerakan konsumen. mengatakan bahwa tegaknya peraturan-peraturan hukum tergantung pada budaya hukum anggotaanggotanya yang dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan. posisi atau kedudukan bahkan kepentingan-kepentingan. PENGERTIAN KONSUMEN. “konsumen“ telah diperkenalkan beberapa puluh tahun lalu diberbagai negara dan sampai saat ini sudah puluhan negara memiliki undang-undang atau peraturan khusus yang memberikan perlindungan kepada konsumen termasuk sarana penyediaan peradilannya. baik yang bersifat akademis. Secara harafiah arti kata consumer adalah (lawan dari produsen) setiap orang yang menggunakan barang. Dalam naskah akademik . Kesiapan tersebut tidak sekedar dalam arti “siap bersaing dan berinovasi”. Check and balance hanya bisa dicapai dengan parlemen yang kuat. Apa yang disebut hukum itu tergantung pada persepsi masyarakat. berbagai negara telah pula menetapkan hak-hak konsumen yang digunakan sebagai landasan pengaturan perlindungan konsumen konsumen. perdagangan.

b. Namun. any item of property other than the detective product it self. or destruction of. Umumny dibedakan antara konsumen antara dan konsumen akhir. ada pula yang termuat dalam pasal tertentu bersamasama dengan pengaturan sesuatu bentuk hubungan hukum. memberikan berbagai perbandingan. Article 9 For the purepos of article 1. Batasan konsumen dari yayasan lembaga konsumen indonesia: pemakai barang atau jasa yang tersedia dalam masyarakat bagi kepentingan diri sendiri. sedangkan statutory orders dapat langsung berlaku bagi semua warga negara dari negara-negara anggota EC. Pengertian “konsumen“ di Amerika Serikat dan MEE. and . baik korban tersebut pembeli. c. antara lain: a. Badan pembinaan hukum nasional-departemen kehakiman (BPHN). Ketentuanketentuan dalam directive harus diimplementasikan ke dalam hukum nasional dulu sebelum dapat diterapkan. menyusun batasan tentang konsumen akhir. maupun melalui statutory orders yang berlaku terhadap warga negara seluruh anggota EC. dan tidak untuk diperjualbelikan. Directive ini mengedepankan konsep liability without fault. bukan pembeli tapi pemakai. bahkan juga korban yang bukan pemakai. provided that the item of property: (i) is a type ordinarily for private use or consumption. yaitu pemakai akhir dari barang. karna perlindungan hukum dapat dinikmati pula bahkan oleh korban yang bukan pemakai. Peraturan perundang-undangan negara lain. berbunyi: Konsumen adalah setiap orang atau keluarga yang mendapatkan barang untuk dipakai dan tidak untuk diperdagangkan. Dalam merumuskannya. keluarga atau orang lain dan tidak untuk diperdagangkan kembali. ada yang secara tegas mendefenisikannya dalam ketentuan umum perundang-undangan tertentu. Pengertian “konsumen” (consumers) tidak dijabarkan secara rinci dalam directive. “damage” means: (a) damage caused by death or by personal injuries. with a lower threshold of 500 ECU. cukup banyak dibahas dan dibicarakan tentang berbagai peristilahan yang termasuk dalam lingkup perlindungan konsumen. digunakan untuk keperluan diri sendiri atau orang lain. Upaya perlindungan terhadap konsumen dari pemakaian produk-produk yang cacat di negara-negara anggota European Economic Community (EC/MEE) dilakukan dengan cara menyusun product liability directive yang nantinya harus diintegrasikan kedalam instruktur hukum masing-masing negara anggota EC. kata “konsumen“ yang berasal dari consumer sebenarnya berarti “pemakai“. Sedang dalam naskah akademis yang dipersiapkan fakultas hukum Universitas Indonesia (FH-UI) bekerja sama dengan departemen perdagangan RI. Untuk memahaminya dapat dilakukan dengan menelaah pasal 1 dikaji bersama-sama dengan pasal 9 directive yang isinya sebagai berikut: Article 1 The producer shall be liable for damage caused by a defect in his product. (b) damage to.dan/atau berbagai naskah pembahasan berbagai rancangan peraturan perundangundangan. Dari naskah-naskah akademik itu yang patut mendapat perhatian. di Amerika Serikat kata ini dapat diartikan lebih luas lagi sebagai “korban pemakaian produk yang cacat“.

Kalau itu distributor atau pedagang berupa barang setengah jadi atau barang jadi yang menjadi mata dagangannya. keluaga atau rumah tangganya (produk konsumen). Unsur inilah. barang/jasa itu adalah barang/jasa konsumen. mereka memerlukan produk konsumen (barang/jasa konsumen) yang aman bagi kesehatan tubuh atau (ii) . Perumusan ini sedikit lebih sempit dibandingkan dengan pengertian serupa di Amerika Serikat. This article shall be without prejudice to national provisions relating to non material damage. Bagi konsumen akhir (selanjutnya disebut konsumen). keluarga dan atau rumah tangga dan tidak untuk diperdagangkan kembali (nonkomersial). Sedang bagi konsumen akhir. dominasi pasar dengan berbagai praktik bisnis yang menghambat masuknya perusahaan baru atau merugikan perusahaan lain dengan cara-cara yang tidak wajar. maupun benda) akibat pemakaian produk yang cacat untuk keperluan pribadinya. b. keluarga atau rumah tangganya. Konsumen antara adalah setiap orang yang mendapatkan barang dan/atau jasa untuk digunakan dengan tujuan membuat barang/jasa lain atau untuk diperdagangkan (tujuan komersial) c. Tampaknya perlakuan hukum yang lebih bersifat mengatur dan/atau mengatur dengan diimbuhi perlindungan. bahan penolong atau komponen dari produk lain yang akan diproduksinya (produsen). konsumen adalah setiap orang yang mendapatkan barang atau jasa digunakan untuk tujuan tertentu. yakni: a. berupa bahan baku. kesehatan. Sebagaimana disinggung sebelumnya. dan terdiri dari barang/jasa yang umumnya digunakan di rumah tangga masyarakat. barang/jasa itu adalah barang/jasa kapital. yang pada dasarnya merupakan beda kepentingan masing-masing konsumen yaitu.was used by the injured person mainly for his own private use or consumtion. kepentingan mereka dalam menjalankan usaha atau profesi mereka tidak “tergangu” oleh perbuatan persaingan-persaingan yang tidak wajar. konsumen yang dapat memperoleh kompensasi atas kerugian yang dideritanya adalah “pemakaian produk yang cacat untuk keperluan pribadi”. dan yang sejenis dengan itu. Az Nasution menegaskan beberapa batasan konsumen. Jadi. Mereka memerlukan kaedah-kaedah hukum yang mencegah perbuatan-perbuatan yang tidak jujur dalam bisnis. yang penggunanya bagi konsumen akhir adalah untuk dirinya sendiri. Konsumen antara ini mendapatkan barang/jasa itu dipasar industri atau pasar produsen. Konsumen akhir adalah setiap orang alami yang mendapatkan dan menggunakan barang/jasa untuk tujuan memenuhi kebutuhan hidupnya pribadi. yaitu barang/jasa yang biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi. bagi konsumen antara yang sebenarnya adalah pengusaha atau pelaku usaha. dapat disimpulkan bahwa konsumen berdasarkan directive adalah pribadi yang menderita kerugian (jiwa. Bagi konsumen antara. penggunaan suatu produk untuk keperluan atau tujuan tertentu yang menjadi tolak ukur dalam menentukan perlindungan yang diperlukan. Barang/jasa konsumen ini umumnya diperoleh dipasar-pasar konsumen. Unsur untuk membuat barang/jasa lain dan/atau diperdagangkan kembali merupakan pembeda pokok. perbuatan penguasaan pasar secara monopoli atau oligopi. merupakan pertimbangan tentang perlunya pembedaan dari konsumen itu. antara lain konsumen antara (produk kapital) dan konsumen akhir (produk konsumen).

keamanan jiwa. Untuk itu. apakah hanya orang individual yang lazim disebut natuurlijke persoon atau termasuk juga badan hukum (rechtpersoon). jujur. tempat iklan ditayangkan. 8 tahun 1999 tentang hukum perlindungan konsumen dalam pasal 1 ayat (2) yakni: Konsumen adalah setiap orang pemakai barang/jasa yang tersedia dalam masyarakat. pelaku usaha ini juga mencakup perusahaan media. yang secara eksplisit membedakan kedua pengertian persoon diatas. barang/jasa yang dipakai tidak serta merta hasil dari transaksi jual beli. Bahkan. maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. maka diperlukan kaedah hukum yang dapat melindungi. keluarga. dan bertanggung jawab. dan terminologi lain yang lazim diberikan. kata “pemakai“ menekankan. bagaimana proses pembuatannya serta strategi pasar apa yang dijalankan untuk mendistribusikannya. Karena itu yang diperlukan adalah kaedah-kaedah hukum yang menjamin syarat-syarat aman setiap produk konsumen bagi konsumsi manusia. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen Penegrtin konsumen menurut UU No. digunakan kata “pelaku usaha” yang bermakna lebih luas. Karena pada umumnya konsumen tidak mengetahui dari bahan apa suatu produk itu dibuat. Hal ini berbeda dengan pengertian yang diberikan untuk “pelaku usaha” dalam pasal 1 angka (3). dasar hubungan hukum antara konsumen dan pelaku usaha tidak perlu harus kontraktual (the privity of contract). Namun konsumen harus juga mencakup juga badan usaha dengan makna usaha yang lebih luas daripada badan hukum. tidak sekedar formil. Artinya. dalam kehidupan manusia Indonesia sebagaimana dikehendaki oleh falsafah bangsa dan negara ini. pemakai sesuai dengan penjelasan pasal 1 angka (2) UUPK. Dengan kata lain. dengan menyebutkan kata-kata: “orang perseorangan atau badan usaha“. orang lain. setiap orang subjek yang disebut sebagai konsumen adalah setiap orang yang berstatus sebagai pemakai barang/jasa. UUPK tampaknya berusaha menhindari penggunaan kata “produsen“ sebagai lawan kata “konsumen“. Perlindungan itu sesungguhnya berfungsi menyeimbangkan kedudukan konsumen dan pengusaha. konsumen adalah konsumen akhir (ultimate consumer). dengan siapa mereka saling berhubungan dan saling memebutuhkan. produsen. Istilah “orang” sebetulnya menimbulkan keraguan. penyalur. sebagai konsumen tidak selalu harus memberikan prestasinya dengan cara membayar uang untuk memperoleh barang/jasa itu. Keadaan seimbang diantara para pihak yang saling berhubungan. 1. dilengkapi dengan informasi yang benar. sekaligus menunjukan. . Istilah terakhir ini dipilih untuk memberi arti sekaligus bagi kreditur (penyedia dana). Unsur-unsur defenisi konsumen: a. Pengertian konsumen dalam UU No. b. untuk kasus-kasus yang spesifik seperti dalam kasus periklanan. akan lebih menerbitkan keserasian dan keselarasan matriil. penjual. Istilah “pemakai” dalam hal ini tepat digunakan dalam rumusan ketentuan tersebut. Tentu yang paling tepat tidak membatasi pengertian konsumen itu sebatas pada orang perseorangan. serta pada umumnya untuk kesejahteraan keluarga atau rumah tangganya. baik bagi kepentingan diri sendiri.

konsumen tidak lagi diartikan sebagai pembeli dari suatu barang/jasa. c. baik dapat dihabiskan maupun tidak dapat dihabiskan. layanan yang bersifat khusus (tertutup)ndan individual. termasuk peralihan kenikmatan dalam menggunakannya. Konsumen memang tidak sekedar pembeli (buyer atau koper) tetapi semua orang (perseorangan atau badan usaha) yang mengonsumsi barang/jasa. Sementara itu jasa diartikan sebagai setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang disediakan bagi masyarakat menunjukan. tidak dapat perbuatannya itu sebagai transaksi konsumen. Di Amerika Serikat cara pandang seperti itu telah lama ditinggalkan. baik berwujud maupun tidak berwujud. Dewasa ini. dibagikan sampel yang diproduksi khusus dan sengaja tidak diperjualbelikan. Pertanyaannya. yang paling penting terjadinya transaksi konsumen (consumer transaction) berupa peralihan barang/jasa. Jika demikian halnya. Mengartikan konsumen secara sempit. Transaksi konsumen memiliki banyak sekali metode. terlebih dahulu dilakukan pengenalan produk kepada konsumen. walau baru dilakukan pada awal abad ke-20. seseorang memperoleh paket hadiah atau parsel (parcel) pada hari ulang tahunnya. seseorang yang karena kebutuhan mendadak lalu menjual rumahnya kepada orang lain. tidak tercakup dalam pengertian tersebut. Orang yang mengonsumsi produk sampel juga merupakan konsumen. asalkan memang dirugikan akibat penggunaan suatu produk. Dengan demikian. dipakai. Artinya. jika menggunakan prinsip the privity of contract tentu tidak ada hubungan kontraktual antara penerima hadiah dan pihak pasar swalayan karena pembeli parsel adalah orang lain. tetapi termasuk bukan pemakai langsung. Semula kata produk hanya mengacu pada pengertian barang. apakah penerima paket seorang konsumen juga? Jika ia menggugat pasar swalayan itu. harus lebih dari 1 orang. atau dimanfaatkan oleh konsumen. sebagai pengganti terminologi tersebut digunakan kata produk. Oleh karena itu wajib dilindungi hakhaknya. seperti hanya sebagai orang yang mempunyai hubungan kontraktual pribadi (in privity of contract) dengan produsen atau penjual adalah cara pendefinisian konsumen yang paling sederhana. Saat ini “produk“ sudah berkonotasi barang/jasa. Isi paketnya makanan dan minuman yang dibeli si pembeli di pasar swalayan. atau dimanfaatkan”. UUPK tidak menjelaskan perbedaan istilah-istilah “dipakai. apakah ada dasar gugatan yang cukup kuat baginya? Hal ini patut dipertanyakan. Artinya. dipergunakan. sudah lazim terjadi sebelum suatu produk dipasarkan. Dalam dunia perbankan. Untuk itu. Istilahnya product knowladge. UUPK mengganti barang sebagai setiap benda. d. yang tersedia dalam masyarakat . UUPK sedah selayaknya meninggalkan prinsip yang sangat merugikan konsumen. barang dan/atau jasa berkaitan dengan istialah barang/jasa. Jadi. dipergunakan.Sebagai ilustrasi dari uraian itu dapat diberikan contoh berikut. baik bergerak maupun tidak bergerak. misalnya istilah produk dipakai juga untuk menamakan jenis-jenis layanan perbankan. Kata-kata “ditawarkan kepada masyarakat” itu harus ditafsirkan sebagai bagian dari transaksi konsumen. jasa itu harus ditawarkan kepada masyarakat. yang dapat untuk diperdagangkan. Si pembeli tidak dapat dikategorikan sebagai “konsumen” menurut UUPK.

yaitu hak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat sehingga keseluruhannya dikenal sebagai panca hak konsumen. melaikan terlebih-lebih hakhaknya yang bersifat abstrak. memutuskan untuk menambah 1 hak lagi sebagi pelengkap hak dasar konsumen. tetapi juga barang/jasa itu diperuntukan bagi orang lain (diluar diri sendiri dan keluarganya). berkaitan dengan kepentingan pribadi orang itu untuk memiliki kucing yang sehat. sulit menetapkan batas-batas seperti itu.barang/jasa yang ditawarkan dalam masyarakat sudah harus tersedia di pasaran (lihat juga bunyi pasal 9 ayat 1 huruf e UUPK). keberadaan barang yang diperjualbelikan bukan sesuatu yang diutamakan. Seseorang yang membeli makanan untuk kucing peliharaannya. Dalam perdagangan yang makin kompleks dewasa ini. organisasi-organisasi konsumen yang tergabung dalam the international organization of consumers unions (IOCU) menambahkan lagi beberapa hak. misalnya. 4. tidak semua organisasi konsumen menerima penambahan hak-hak tersebut. Secara umum dienal ada 4 (empat) hak dasar konsumen. Namun. seperti futures trading. e. Unsure yang diletakkan dalam defenisi itu mencoba untuk memperluas pengertian kepentingan. YLKI. dan hak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. setiap tindakan manusia adalah bagian dari kepentingannya. seperti hewan dan tumbuhan. juga tidak terlepas dari kepentingan pribadi. bahkan untuk makhluk hidup lain. yakni hanya konsumen akhir. yaitu 1. Secara teoritis hal demikian terasa cukup baik untuk mempersempit ruang lingkup pengertian konsumen. Dalam perkembangannya. hak-hak konsumen istilah “perlindungan konsumen” berkaitan dengan perlindungan hukum. 2. 3. penguraian unsur itu tidak menambah makna apa-apa karena pada dasarnya tindakan memakai suatu barang/jasa (terlepas ditujukan untuk siapa dan makhluk hidup lain). Dengan kata lain. perusahaan pengembang (develover) perumahan sudah biasa mengadakan transaksi terlebih dahulu sebelum bangunannya jadi. orang lain. bagi kepentingan diri sendiri. Bahkan. hak untuk mendapatkan informasi ( the right to be informed). orang lain dan makhluk hidup lain. keluarga. seperti hak mendapatkan pendidikan konsumen. hak untuk mendapatkan keamanan (the right to safety). hak untuk memilih ( the right to choose). Oleh karena itu. makhluk hidup lain transaksi konsumen ditujukan untuk kepentingan diri sendiri. hak mendapatkan gati kerugian. . misalnya. Kepentingan ini tidak sekedar ditujukan untuk diri sendiri dan keluaga. Mereka bebas untuk menerima semua atau sebagian. Oleh sebab itu. 2. barang dan/atau jasa itu tidak untuk diperdagangkan pengertian konsumen dalam UUPK ini dipertegas. walaupun dalam kenyataannya. untuk jenis-jenis transaksi konsumen tertentu. syarat itu tidak mutlak lagi dituntut oleh masyarakat konsumen. Batasan itu sudah biasa dipakai dalam peraturan perlindungan konsumen di berbagai negara. Misalnya. keluarga. Dari sisi teori kepentingan. perlindungan konsumen mengandung aspek hukum. f. perlindungan konsumen identik dengan perlindungan yang diberikan hukum tentang hak-hak konsumen. hak untuk didengar ( the right to be heard). Adapun materi yang mendapatkan perlindungan itu bukan sekadar fisik. Empat hak dasar ini diakui secara internasinaol.

tidak dimasukkan dalam UUPK ini karena UUPK secara khusus mengecualikan hak-hak atas kekayaan intelektual (HAKI) dan dibidang pengolaan lingkungan. yang dapat dijadikan sebagai landasan perjuangan untuk mewujudkan hak-hak tersebut. f. apabila barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang/jasa d. Tidak jelas kenapa kedua bidang hukum ini yang di kecualikan secara khusus. hak atas informasi yang benar. b. ada juga hak untuk dilindungi dari akibat negatif persaingan curang. Langkah untuk meningkatkan martabat dan kesadaran konsumen harus diawali dengan upaya untuk memahami hak-hak pokok konsumen. hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen. g. Ketentuan-ketentuan ini sesungguhnya diperuntukan bagi sesama pelaku usaha. jika semua hak-hak yang disebutkan itu disusun kembali secara sistematis (mulai dari yang diasumsikan paling mendasar). empat hak dasar yang dikemukakan oleh John F. Hak konsumen sebagaimana tertuang dalam pasal 4 UU No. akan diperoleh urutan sebagai berikut: a. Selain hak yang dibutuhkan itu. Hak konsumen untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Disamping hak-hak dalam pasal 4. hak untuk mendapatkan konpensasi ganti rugi/ penggantian. Hal ini berangkat dari pertimbangan. Selanjutnya. Akhirnya. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya. UUPK seharusnya dapat mengatur hak-hak konsumen itu secara komprehensif. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang/jasa yang digunakan. hak untuk memilih barang/jasa serta mendapatkan barang/jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan. khususnya dalam pasal 7 yang mengatur tentang kewajiban pelaku usaha. 5 tahun 1999 tentang larangan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. juga terdapat hak-hak konsumen yang dirumuskan dalam pasal berikutnya. Kendati demikian. kompetisi tidak sehat diantara mereka pada jangka panjang pasti berdampak negatif bagi konsumen karena pihak yang dijadikan sasaran rebutan adalah konsumen itu sendiri. Dalam hukum positif indonesia. tidak bagi konsumen langsung. pelanduk mati di tengah-tengah“. Hak konsumen Mendapatkan Keamanan . kegiatan bisnis yang dilakukan tidak secara jujur. hak atas kenyamanan dan keselamatan dalam mengonsumsi barang/jasa. c.Dalam UUPK. h. yang dalam hukum dikenal dengan terminologi “persaingan curang“ (unfair competition). 8 tahun 1999 adalah sebagi berikut: a. sehingga kewajiban pelaku usaha dapat dilihat sebagai hak konsumen. Disini letak arti penting mengapa hak ini perlu dikemukakan. e. mengingat sebagai undang-undang paying (umberella act). masalah persaingan curang (dalam bisnis) ini diatur secara khusus pada pasal 382 bis kitab undang-undang hukum pidana. agar tidak berlaku pepatah: “dua gajah berkelahi. hak untuk mendapatkan advokasi perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. Kewajiban dan hak merupakan antinomi dalam hukum. Kennedy tersebut juga di akomodasi. sejak 5 maret 2000 diberlakukan juga UU No.

Konsumen berhak mendapatkan keamanan dari barang dan jasa yang ditawarkan kepadanya. Produk barang dan jasa itu tidak boleh membahayakan jika dikonsumsi sehingga konsumen tidak dirugikan baik secara jasmani dan rohani. Hak untuk memperoleh keamanan ini penting ditempatkan pada kedudukan utama karena berabad-abad berkembang suatu falsafah berpikir bahwa konsumen (terutama pembeli) adalah pihak yang wajib berhati-hati, bukan pelaku usaha. Falsafah yang disebut caveat emptor (let the buyer beware) ini mencapai puncaknya pada abad ke-19 seiring berkembangnya paham rasional individualisme di Amerika Serikat. Dalam perkembangannya kemudian, prisip yang merugikan konsumen ini telah ditinggalkan. Dalam barang dan/atau jasa yang dihasilkan dan dipasarkan oleh pelaku usaha berisiko sangat tinggi terhadap keamanan konsumen, Pemerintah selayaknya mengadakan pengawasan secara ketat. Misalnya zat atau obat yang tergolong narkotika dan psikotropika. Undang-undang No.5 Tahun 1997 tentang psikotropika dan Undang-undang No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika menetapkan psikotopika dan narkotika golongan I hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, tidak dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan.Restriksi demikian perlu dilakukan semata-mata demi menjaga keamanan masyarakat atas akibat negatif dari produk tersebut. Satu hal juga seiring dilupakan dalam kaitan dengan hak untuk mendapatkan keamanan adalah penyediaan fasilitas umum yang memenuhi syarat yang ditetapkan. Di Indonesia, sebagian besar fasilitas umum, seperti pusat perbelanjaan, hiburan, rumah sakit,dan perpustakaan belum cukup akomodatif untuk menopang keselamatan pengunjungnya. Hal ini tidak saja bagi pengguna produk barang atau jasa (konsumen) yang berfisik normal pada umumnya, tetapi juga tidak berlebih-lebih mereka yang cacat fisik dan lanjut usia. Akibatnya, besar kemungkinan mereka ini tidak dapat leluasa berajalan dan naik tangga di tempattempat umum karena tingkat resiko yang sangat tinggi. b. Hak untuk Mendapatkan Informasi yang Benar Setiap produk yang diperkenalkan kepada konsumen harus disertai informasi yang benar. Informasi ini diperlukan agar konsumen tidak sampai mempunyai gambaran yang keliru atas produk barang dan jasa. Informasi ini dapat

disampaikan dengan berbagai cara, seperti lisan kepada konsumen, melalui iklan di berbagai media, atau mencantumkan dalam kemasan produk (barang). Jika dikaitkan dengan hak konsumen atas keamanan, maka setiap produk yang mengandung risiko terhadap keamanan konsumen, wajib disrtai informasi berupa petunjuk pemakaian yang jelas. Sebagai contoh, iklan yang secara ideal diartikan sebagai sarana pemberi informasi kepada konsumen, seharusnya terbebas dari mani pulasi data. Jika iklan memuat informasi yang tidak benar, maka perbuatan itu memenuhi kriteria kejahatan yang lazim disebut fraudulent misrepresentation. Bentuk kejahatan ini ditandai oleh (1)pemakaian pernyataan yang jelas-jelas salah (false statement), seperti menyebutkan diri terbaik tanpa indikator yang jelas, dan (2) pernyataan yang menyesatkan (mislead), misalnya menyebutkan adanya khasiat tertentu padahal tidak. Menurut Troelstup, konsumen pada saat ini membutuhkan banyak informasi yang lebih relavan dibandingkan dengan saat sekitar 50 tahun lalu. Alasannya, saat ini: (1) terdapat lebih banyak produk, merek, dan tentu saja penjualnya, (2) daya beli konsumen makin meningkat, (3) lebih banyak variasi merek yang beredar di pasaran, sehingga belum banyak diketahui semua orang, (4) modelmodel produk lebih cepat berubah, (5) kemudahan transportasi dan komunikasi sehingga mem buka akses yang lebih besar kepada bermacam-macam produsen atau penjual. Hak untuk mendapatkan informasi menurut Prof.Hans W.Micklitz, seorang ahli hukum konsumen dari jerman, dalam ceramah di Jakarta, 26-30 Oktober1998 membedakan konsumen berdasarkan hak ini. Ia menyatakan, sebeum kita melangkah lebih detail dalam perlindungan konsumen, terlebih dulu harus ada persamaan persepsi tentang tipe konsumen yang akan mendapatkan perlindungan. Menurutnya, secara garis besar dapat dibedakan dua tipe konsumen, yaitu a. konsumen yang terinformasi (well-informed) b. konsumen yang tidak terinformasi. Ciri-ciri konsumen yang terinformasi sebagai tipe pertama adalah: Memiliki tingkat pendidikan tertentu ; • • mempunyai sumberdaya ekonomi yang cukup, sehingga dapat berperan dalam ekonom pasar, dan lancer berkomunikasi.

Dengan memiliki tiga potensi, konsumen jenis ini mampu bertanggung jawab dan relative tidak memerlukan perlindungan. Ciri-ciri konsumen yang tidak terinformasi sebagai tipe kedua memiliki ciriciri antara lain : • • • kurang berpendidikan ; termasuk kategori kelas menengah ke bawah ; tidak lancar berkomunikasi.

Konsumen jenis ini perlu dilindungi, dan khususnya menjadi tanggung jawab Negara untuk memberikan perlindungan. Selain ciri-ciri konsumen yang tidak terinformasikan, karena hal-hal khusus dapat juga dimasukkan kelompok anak-anak, orang tua, dan orng asin (yang tidak dapat berkomunikasi dengan bahasa setempat) sbagai konsumen yang wajib dilindungi oleh negara. Informasi ini harus diberikan secara sama bagi semua konsumen (tidak diskriminatif). Dalam perdagangan yang sangat mengandalkan informasi, akses kepada infoasi yang tertutup misalnya dalam praktik insider trading di bursa efek, dianggap sebagai bentuk kejahatan yang serius. Penggunaan teknologi tinggi dalam mekanisme produksi barang dan/atau jasa akan menyebabkan makin banyaknya infomasi yang harus dikuasai oleh masyarakat konsumen. Di sisi lain mustahil mengharapkan sebagian besar konsumen memiliki kemampuan dan akse informasi secara sama besarnya. Apa yang dikenal dengan consumer ignorance, yaitu ketidakmampuan konsumen menerima infomasi akibat kemajuan teknologi dan keragaman produk yang dipasarkan dapat saja dimanfaatkan secara tidak sewajarnya oleh pelaku usaha. Itulah sebabnya, hukum perlindungan konsumen memberikan hak konsumen atas informasi yang benar, yang didalam nya tercakup juga hak atas infomasi dan diberikan secara tidak diskriminatif. c. Hak untuk Didengar Hak yang erat kaitannya dengan hak untuk mendapatkan informasi adalah hak untuk didengar. Ini disebabkan oleh informasi dari pihak yang berkepentingan atau berkompeten erring tidak cukup memuaskan konsumen. Untuk itu konsumen berhak mengajukan permitaan infomasi lebih lanjut.

dan dalam bentuk serta cara yang sama dengan penyampaian isi siaran dan/atau berita yang disanggah. Jika monopoli itu diberikan kepada perusahaan yang tidak berorientasi pada kepentingan konsumen. akhirnya konsumen pasti didikte untuk mengonsumsi . maupun pengiklan. d. bila diminta oleh konsumen. Penyanggah berita ini mungkin adalah konsumen dari produk tertentu. Ia tidak boleh mendapat tekanan dari pihak luar sehingga ia tidak lagi bebas untuk membeli atau tidak membeli. maka besar kemungkinan konsumen kehilangan hak untuk memilih produk yang satu dengan produk lain. harus bersedia memberikan penjelasan mengenai suatu iklan tertentu. media. konsumen berhak menentukan pilihannya. Jika seseorang atau suatu golongan diberikan hak monopoli untuk memproduksi dan memasarkan barang atau jasa. Hak untuk Memilih Dalam mengonsumsi suatu produk.5 Tahun 1999 tentang Praktik Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat mengartikan monopoli sebagai penguasaan atas produksi dan /atau pemasaran dan/atau atas penggunaan jasa tertentu oleh salah satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha. Dampak dari praktik monopoli ini adalah adanya persaingan usaha tidak sehat (unfair competition) yang merugikan jepentingan umum (konsumen). Undang-Undang No.32 Tahun 2002 tentang penyiaran dinyatakan lembaga penyiaran wajib meralatisi siaran dan/atau berita. Seandainya ia jadi membeli. Pengaturan demikian.Dalam tata karma dan tata cara periklanan Indonesia disebutkan. ia juga bebas menentukan produk mana yang akan dibeli. Ketentuan dalam Undang-Undang penyiaran itu jelas-jelas menunjukkan hak untuk didengar. maka baik perusahaan periklanan. sekalipun masih berbentuk kode etik (self regulation) akan mengarah kepada langkah positif menuju penghormatan hak konsumen untuk didengar. Ralat atau pembetulan wajib dilakukan dalam waktu selambat-lambatnya satu kali 24 jam berikutnya atau pada kesempatan pertama pada ruang mata acara yang sama. yang dalam doctrin hukum dapat diidentikkan dengan hak untuk membela diri. Hak untuk memilih ini erat kaitannya dengan ituasi pasar. Dalam pasal 44 UU No.

biasanya konsumen terpaksa mencari produk alternatif (bila masih ada). Dalam keadaan seperti itu. Namun. Jika setuju silakan beli. Untuk menghindar dari kewajiban memberikan ganti kerugian. pelaku usaha dapat saja mendikte pasar dengan menaikkan harga. Hak untuk Mendapatkan Ganti Kerugian Jika konsumen merasakan.barang atau jasa itu tanpa dapat berbuat lain. jika tidak silakan mencari tempat yang lain (padahal di tempat lain pun pasar sudah dikuasainya). Monopoli juga dapat timbul akibat perjanjian antar pelaku usaha yang bersifat membatasi konsumen untuk memilih. pelaku usaha dapat secara sepihak mempermainkan mutu barang dan harga jual. kuantitas dan kualitas barang dan/atau yang dikonsumsinya tidak sesuai dengan nilai tukar yang di berikannya. Dalam dunia perdagangan dikenal apa yang disebut market sharing agreements. yang boleh jadi kualitasnya malahan lebih buruk. ia berhak mendapatkan ganti rugi yang pantas. sering terjadi pelaku usaha mencantumkan klausul-klausul eksonerasi di dalam hubungan hukum antara produsen/penyalur produk dan konsumennya. Hak untuk Mendapatkan Produk Barang dan/atau Jasa Sesuai dengan Nilai Tukar yang Diberikan Dengan hak ini berarti konsumen harus dilindungi dari permainan harga yang tidak wajar. maka pihak pertama dapat saja mambebankan biaya tertentu yang sewajarnya tidak ditanggung konsumen. dalam ketakbebasan pasar. Klausul seperti . e. maintenance. quota agreement. Akibat tidak berimbangnya posisi tawar-menawar antara pelaku usaha dan konsumen. resale price maintenance. f. Dalam situasi demikian. Pratik yang tidak terpuji ini lazim dikenal dengan istilah externalities. kuantitas dan kualitas barang dan/atau jasa di konsumsi harus sesuai dengan nilai uang yang dibayar sebagai penggantinya. Konsumen dihadapkan pada kondisi : take it or leave it. dan konsumen menjadi korban dari ketiadaan pilihan. price fixing agreements. Dengan kata lain. Jenis dan jumlah ganti rugi itu tentu saja harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau atas kesepakatan masing-masing pihak. dan sebagainya (dalam sejarah perdagangan dikenal sejak 1870-an).

Hak untuk Mendapatkan Lingkungan Hidup yang Baik dan Sehat Hak konsumen atas lingkungan yang baik dan sehat merupakan hak yang diterima sebagai salah satu hak dasar konsumen oleh berbagai organisasi konsumen di dunia. dan setiap . konsumen tidak selalu harus menempuh upaya hukum terlebih dahulu. Lembaga penyiaran tidak terbebas dari tanggung jawab atas tuntutan hukum yang tuntutan hukum yang diajukan oleh pihak yang merasa dirugikan. Tentu ada beberapa karateristik tuntutan yang tidak memperbolehkan tuntutan ganti kerugian ini. Dalam uraian tentang hak untuk didengar dikatakan. Jika penyanggah isi siaran itu konsumen. Undang-Undang No. seperti dalam upaya legal stnding LSM yang dibuka kemungkinannya dalam Pasal 46 ayat (1) Huruf c UUPK. Dengan kata lain. Hak untuk Mendapatkan Penyelesaian Hukum Hak untuk mendapatkan ganti kerugian harus ditempatkan lebih tinggi daripada hak pelaku usaha (produsen/penyalur produk) untuk membuat klausul eksonerasi secara sepihak. g. walaupun ralat dimuat. termasuk advokasi. h. Hak untuk mndapatkan penyelesaian hukum ini sebenarnya meliputi juga hak untuk mendapatkan ganti kerugaian.maka konsumen berhak mendapatkan penyelesaian hukum. hak konsumen tidak berarti dengan sendirinya hilang. Pencantuman secara sepihak demikian tetap tidak dapat menghilangkan hak konsumen untuk mendapatkan ganti kerugian. Lingkungan hidup yang baik dan sehat berate sangat luas. tetapi kedua hak tersebut tidak berarti identik. setiap upaya hukum pada hakikatnya berisikan tuntutan memperoleh ganti kerugian oleh salah satu pihak.“barng yang dibeli tidak dapat dikembalikan” merupakan hal yanglazim ditemukan pada toko-toko. Untuk memperoleh ganti kerugian. konsumen berhak menuntut pertanggungjawaban hukum dari pihak-pihak yang dipandang merugikan karena mengonsumsi produk itu. Jika permintaan yang diajukan konsumen dirasakan tidak mendapat tanggapan yang layak dari pihak-pihak terkait dalam hubungan hukum dengannya. Sebaliknya.32 Tahun 2002 tentang penyiaran mewajibkan lembaga penyiaran wajib mencantumkan ralat isi siaran dan/atau berita yang disanggah pihak lain.

Dalam pasal 22 Undang-undang No. Pada kesempatan berikutnya.23 Tahun 1992 tentang kesehatan dan pasal 5 ayat (1) UU No. Hak untuk Dilindungi dari Akibat Negatif Persaingan Curang Persaingan curang atau dalam Undang-Undang No. Tujuannya untuk merebut pasar.Ketentuan demikian sangat penting artinya. dan produsen saingannya akan berhenti berproduksi. i. mulai tahun 2000 semua perusahaan yang berkaitan dengan hasil hutan. Misalnya munculnya gerakan konsumerisme hijau (green consumerism) yang sangat peduli pada kelestarian lingkungan. Lingkungan hidup meliputi lingkungan hidup dalam arti fisik dan lingkungan nonfisik. Desakan pemenuhan hak konsumen atas lingkungan hidup yang baik dan sehat makin mengemuka akhir-akhir ini. Sementara itu. jika telah memperoleh ecolabeling certificate. Dalam posisi demikian. karena praktis pangsa pasar terbesarnya adalah Negara-negara anggota ITTO. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.5 Tahun 1999 disebut dengan “persaingan usaha tidak sehat” dapat terjadi jika seorang pengusaha berusaha menarik langganan atau klien pengusaha lain untuk memajukan usahanya atau memperluas penjualan atau pemasrannya dengan menggunakan alat atau sarana yang bertentangan dengan iktikad baik dankejujuran dalam pergaulan perekonomian. konsumen pula yang dirugikan. Contoh bentuk yang kerap terjadi dalam persaingan curang adalah permainan harga (dumping). khususnya bagi produsen hasil hutan tropis. hak untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat ini diyatakan dengan tegas. seperti Indonesia. . baru dapat menjual produknya di Negara-negara yang bergabung dalam The International Tropical Timber Organazation (ITTO).makhluk hidup adalah konsumen atas lingkungan hidupnya. Untuk itu lembaga Ekolabeling Indonesia (LEI) pada tahun 1998 mulai melakukan audit atas sejumlah perusahaan perkayuan Indonesia agar dapat diberkan sertifikat ekolabeling yang disebut SNI 5000. Satu produsen yang kuat mencoba mendesak produsen saingannya yang lebih lemah dengan cara membanting harga produk. dalam pasar yang monopolistic itulah harga kembali dikendalikan oleh si produsen yang curng ini.

termasuk bila kerugian timbul akibat cacatnya barang yang merupakan komponen dalam proses produksinya. (2) (3) Produsen bahan mentah atau komponen suatu produk. Demikian pula tanggung jawab . Ketentuan ini sengaja dicantumkan untuk melindungi konsumen dari kemungkinan harus menggugat produsen asing (yang pusat kegiatannya) di luar lingkungan EC. khususnya oleh pemerintah guna mencegah munculnya akibat-akibat langsung yang merugikan konsumen. pemboikotan.Hak konsumen untuk dihindari dari akibat negatif persaingan curng dapat dikatakan sebagai upaya pre-emptive yang harus dilakukan. Ketentuan ini mengharuskan importir yang mengimpor barang dari eksportir negara ketiga mendapatkan jaminan melalui suatu perjanjian yang menyatakan bahwa pihak eksportir bertanggung jawab sepenuhnya atas barang yang dimasukkan EC. bertanggung jawab atas barang tersebut. yang dengan membubuhkan nama. antara lain dalam pasal 17 sampai dengan pasal 24. pembagian wilayah. oligopsoni. Selanjutnya Pasal 3 ayat (2) Directive menyebutkan bahwa: siapa pun yang mengimpor suatu produk ke lingkungan EC adalah produsen. perjanjian tertutup. Siapa saja. penetapan harga. wajar bila masih banyak konsumen (1) Pihak yang menghasilkan produk akhir berupa barang-barang manufaktur. pedagang/penyalur yang mengedarkan barang yang tidak jelas identitas produsennya. integrasi vertical. trust. Mereka ini bertanggung jawab atas segala kerugian yang timbul dari barang yang mereka edarkan ke masyarakat. termasuk dalam bentuk perjanjian yang dilarang adalah oligopoli. dan perjanjian dengan pihak luar negeri yang mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan/atau persaingan tidak sehat. kartel. Dalam Undang-undang No. dan (2) kegiatan yang dilarang. Oleh karena itu. Hak untuk Mendapatkan Pendidikan Konsumen Masalah perlindungan konsumen di Indonesia termasuk masalah yang baru. Lebih lanjut lagi. ataupun tanda- tanda lain pada produk menampakkan dirinya sebagai produsen dari suatu barang. J. merek.5 tahun 1999 disebutkan adanya (1) perjanjian dilarang.

5) kerugian yang timbul (sebagian) akibat kelalaian yang dilakukan oleh produsen lain dalam kerja sama produksi (di beberapa negara bagian yang mengakui joint and several liability). 4) barang yang diproduksi secara individual tidak untuk keperluan produksi. Hak-hak produsen dapat ditemukan antara lain pada faktor-faktor yang membebaskan produsen dari tanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh konsumen.penyalur/pedagang ini timbul atas barang yang diimpor dari negara ketiga. b. Dalam Pasal 6 UU No. faktor-faktor yang membebaskan produsen dari tanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh konsumen meliputi: 1) kelalaian si konsumen penderita. tapi tidak jelas importimya. . gugatan atas produk liability dapat diajukan ke pengadilan yang jurisdiksinya meliputi tempat timbulnya kerugian. hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan. 4) produk pesanan pemerintah pusat (federal). 2) cacat timbul di kemudian hari. 5) cacat timbul akibat ditaatinya ketentuan yang ditetapkan oleh penguasa. yaitu apabila: 1) produk tersebut sebenarnya tidak diedarkan. 8 Tahun 1999 Produsen disebut sebagai pelaku usaha yang mempunyai hak sebagai berikut: a. 3) cacat timbul setelah produk berada di luar kontrol produsen. yaitu 6 (enam) tahun setelah pembelian. hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beriktikad tidak baik. meskipun kerusakan timbul akibat cacat pada produk. Sebagian besar negara anggota EC telah meratifikasi Konvensi tentang Jurisdiksi. tidak terduga pada saat produk dibuat (unforseeable misuse). 3) lewatnya jangka waktu penuntutan (daluarsa). 2) penyalahgunaan produk yang. sehingga berdasar Pasal 5 ayat (3) konvensi ini. Di Amerika Serikat. atau 10 tahun sejak barang diproduksi.

jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan. memberi kompensasi ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/ jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian. e. sedangkan bagi konsumen diwajibkan beriktikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa.c. menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku. karena meliputi semua tahapan dalam melakukan kegiatan usahanya. c. f. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. Adapun dalam Pasal 7 diatur kewajiban pelaku usaha. hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan. b. sebaliknya konsumen hanya diwajibkan beriktikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau . e. d. d. Dalam UUPK pelaku usaha diwajibkan beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya. memberi kompensasi. ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan. Dalam UUPK tampak bahwa iktikad baik lebih ditekankan pada pelaku usaha. memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan. dan pemeliharaan. sebagai berikut: a. beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya. hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum sengketa konsumen. sehingga dapat diartikan bahwa kewajiban pelaku usaha untuk beriktikad baik dimulai sejak barang dirancang/diproduksi sampai pada tahap puma penjualan. memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriniinatif. memberikan informasi yang benar. perbaikan. g. pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan.

yang akan sangat merugikan konsumen. Kerugian yang dialami oleh konsumen di Indonesia dalam kaitannya dengan misrepresentasi banyak disebabkan karena tergiur oleh iklan-iklan atau brosur-brosur produk tertentu. sedangkan bagi konsumen. Hal ini tentu saja disebabkan oleh kemungkinan terjadinya kerugian bagi konsumen dimulai sejak barang dirancang/diproduksi oleh produsen (pelaku usaha). dan pemeliharaan. disebabkan karena informasi di samping merupakan hak konsumen. Peringatan yang merupakan bagian dari pemberian informasi kepada konsumen ini merupakan pelengkap dari proses produksi. Hal ini berarti bahwa tugas produsen pembuat tersebut tidak berakhir hanya dengan nienempatkan suatu produk dalam sirkulasi. karena salah satu penyebab terjadinya kerugian terhadap konsumen adalah terjadinya misrepresentasi terhadap produk tertentu. perbaikan. Hal ini berlaku bagi . sedangkan Man atau brosur tersebut tidak selamanya memuat informasi yang benar karena pada umumnya hanya menonjolkan kelebihan produk Peringatan ini sama pentingnya dengan instruksi penggunaan suatu produk yang merupakan informasi bagi konsumen. Diperlukan representasi yang benar terhadap suatu produk.jasa. Peringatan yang diberikan kepada konsumen ini memegang peranan penting dalam kaftan dengan keamanan suatu produk. agar konsumen tidak salah terhadap gambaran mengenai suatu produk tertentu. peringatan. Pentingnya penyampaian informasi yang benar terhadap konsumen mengenai suatu produk. kemungkinan untuk dapat merugikan produsen mulai pada saat melakukan transaksi dengan produsen) Tentang kewajiban kedua pelaku usaha yaitu memberikan informasi yang benar. Dengan demikian pabrikan (produsen pembuat wajib menyampaikan peringatan kepada konsumen). juga karena ketiadaan informasi yang tidak memadai dari pelaku usaha merupakan salah satu jenis cacat produk (cacat informasi). walaupun keduanya memiliki fungsi yang berbeda yaitu instruksi terutama telah diperhitungkan untuk menjamin efisiensi penggunaan produk. jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan. sedangkan peringatan dirancang untuk menjamin keamanan penggunaan produk. Produk yang dibawa ke pasar tanpa petunjuk cars pemakaian dan peringatan atau petunjuk dan peringatan yang sangat kurang/tidak memadai menyebabkan suatu produk dikategorikan sebagai produk yang cacat instruksi. Penyampaian informasi terhadap konsumen tersebut dapat berupa representasi. maupun yang berupa instruksi.

peringatan sederhana, misalnya "simpan di luar jangkauan anak-anak" dan berlaku pula terhadap peringatan mengenai efek samping setelah pemakaian suatu produk tertentu. Peringatan demikian maupun petunjuk-petunjuk pemakaian harus disesuaikan dengan sifat produk dan kelompok pemakai. Selain peringatan, instruksi yang ditujukan untuk menjamin efisiensi penggunaan produk juga penting untuk mencegah timbulnya kerugian bagi konsumen. Pencantuman informasi bagi konsumen yang berupa instruksi atau petunjuk prosedur pemakaian suatu produk merupakan kewajiban bagi produsen agar produknya tidak dianggap cacat (karena ketiadaan informasi atau informasi yang tidak memadai). Sebaliknya, konsumen berkewajiban untuk membaca, atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselarnatan. Daftar Pertanyaan 1. Apakah terdapat perbedaan konsumen antara dan konsumen akhir? Jelaskan disertai contoh! 2. Sebut dan jelaskan secara singkat unsur-unsur definisi konsumen! 3. Mengapa tingkat pendidikan konsumen menjadi sangat berpengaruh pada penyampaian informasi, dan siapa yang paling berhak untuk dilindungi, konsumen yang terinformasi atau konsumen yang tidak terinformasi? Jelaskan disertai contoh! 4. Apa yang menjadi alasan sehingga lingkungan hidup yang baik dan sehat juga mendapat perhatian dan merupakan hak konsumen untuk mendapatkannya, jelaskan secara singkat! 5. Mengapa pengusaha dalam Pasal 7 UU No. 8 Tahun 1999 diwajibkan untuk beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya?

BAB 3 PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAMPERATURAN PERUNDANGUNDANGAN A. PENDAHULUAN Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 memiliki ketentuan yang menyatakan bahwa kesemua undang-undang yang ada dan berkaitan dengan perlindungan konsumen tetap berlaku, sepanjang tidak bertentangan atau telah diatur khusus oleh undangundang. Oleh karena itu, tidak dapat lain haruslah dipelajari juga peraturan perundang-undangan tentang konsumen dan/atau perlindungan konsumen ini dalam kaidah-kaidah hukum peraturan perundang-undangan umum yang mungkin atau dapat mengatur dan/atau melindungi hubungan dan/atau masalah konsumen dengan penyedia barang atau jasa. Sebagai akibat dari penggunaan peraturan perundangundangan umum ini, dengan sendirinya berlaku pulalah asas-asas hukum yang terkandung di dalamnya pada berbagai pengaturan dan/atau perlindungan konsumen tersebut. Padahal, nanti akan nyata, di antara asas hukum tersebut tidak cocok untuk memenuhi fungsi pengaturan dan/atau perlindungan pada konsumen, tanpa setidaktidaknya dilengkapi/diadakan pembatasan berlakunya asas-asas hukum tertentu itu. Pembatasan dimaksudkan dengan tujuan "menyeimbangkan kedudukan" di antara para pihak pelaku usaha dan/atau konsumen bersangkutan. Yang dimaksudkan dengan peraturan perundang-undangan umum adalah semua peraturan perundangan tertulis yang diterbitkan oleh badan-badan yang berwenang untuk itu, baik di pusat maupun di daerah-daerah. Peraturan perundangundangan itu antara lain adalah (di Pusat) Undang-Undang Dasar 1945, UndangUndang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang

Peraturan Presiden, dan seterusnya, dan (di daerah-daerah) Peraturan Daerah (Peraturan Daerah Provinsi atau Kabupaten/Kota serta peraturan Desa dan sebagainya). Purnadi2) dalam bukunya menyebut perundang-undangan umum ini sebagai undang-undang dalam arti materiil. Az. Nasution menjelaskan3) konsekuensi dari upaya menyusun rancangan undang-undang tentang perlindungan konsumen yang sekarang sudah diberlakukan dapat disebut sebagai membangun tata hukum konsumen secara tersendiri yang berada dalam Sistem Hukum Indonesia. Sungguh ini pekedaan yang bukan sederhana sebagai contoh dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama, apabila kits mengkaji peraturan yang berkaitan dengan masalah standar, seperti yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan, Menteri Perindustrian dan Perdagangan dan berbagai Menteri lain, dapat dikatakan bahwa standar yang ditetapkan itu selain dimaksud untuk memberi perlindungan kepada konsumen juga melindungi konsumen yang berstatus pengusaha, ataupun masyarakat umum lainnya. Demikian pula pengaturan mengenai ukuran, timbangan, takaran atau ketentuan mengenai label, ketentuan daluwarsa, dan sebagainya. Kedua, ketentuan dalam hukum pidana yang berkaitan dengan penipuan, pemalsuan, penjualan barang dapat membahayakan jiwa manusia (Pasal 383, 263, 202, 382, 383). Ketentuan ini termasuk sebagai delik pidana, yaitu perbuatan yang bersifat melawan hukum yang dilarang dan diancam dengan pidana. Ketentuan ini termasuk pula melindungi konsumen, namun juga melindungi masyarakat pada umumnya. Ketiga, ketentuan dalam hukum perdata yang berkaitan dengan perikatan (Pasal 1233, 1234, 1313, 1351) mengatur hubungan perjanjian pars pihak baik yang berstatus konsumen maupun status pengusaha sebagai produsen barang atau jasa. Keempat, Ketentuan tentang bidang peradilan, Undang-Undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman mengatur mengenai peradilan umum yang disebut Pengadilan Negeri. Pengadilan ini selanjutnya merupakan lembaga peradilan yang mengadili perkara pidana dan perdata yang bagi perkara yang menyangkut masyarakat umum termasuk konsumen. Dari keempat catatan tersebut, ada upaya membangun tata hukum yang diperuntukkan bagi konsumen Indonesia dalam sistem Hukum Indonesia yang sudah berlaku dewasa ini.

karena dalam suatu hubungan hukum dengan penjual. hukum konsumen "ditemukan" di dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku. konsumen merupakan pengguna barang dan jasa untuk kepentingan diri sendiri dan tidak untuk diproduksi ataupun diperdagangkan. Akan tetapi. Umumnya. Undang-Undang Dasar dan Ketetapan MPR Hukum Konsumen. Sekalipun peraturan perundang-undangan itu tidak khusus diterbitkan untuk konsumen atau perlindungan konsumen. di samping itu. . berarti untuk "membela" kepentingan konsumen. Alinea ke-4 berbunyi: Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia. masih harus dipelajari semua peraturan perundang-undangan umum yang berlaku. setidaktidaknya is merupakan cumber juga dari hukum konsumen dan/atau hukum perlindungan konsumen. a. Tetapi peraturan perundangundangan umum yang berlaku memuat juga berbagai kaidah menyangkut hubungan dan masalah konsumen. B. b.1) 1.Alasan yang dapat dikemukakan untuk menerbitkan peraturan perundangundangan yang secara khusus mengatur dan melindungi kepentingan konsumen dapat disebutkan sebagai berikut. terutama Hukum Perlindungan Konsumen mendapatkan landasan hukumnya pada Undang-Undang Dasar 1945. Dengan demikian dan ditambah dengan ketentuan Pasal 64 (Ketentuan Peralihan) undang-undang ini. Sebelumnya. telah diuraikan bahwa Undang-Undang Perlindungan Konsumen berlaku setahun sejak disahkannya (tanggal 20 April 2000). Konsumen memerlukan pengaturan tersendiri. Pembukaan. Beberapa di antaranya akan diuraikan berikut ini. SUMBER-SUMBER HUKUM KONSUMEN Di samping Undang-Undang Perlindungan Konsumen. sampai saat ini orang bertumpu pada kata "segenap bangsa" sehingga ia diambil sebagai asas tentang persatuan seluruh bangsa Indonesia (asas persatuan bangsa). dari kata "melindungi" menurut Az. Konsumen memerlukan sarana atau acara hukum tersendiri sebagai upaya guns melindungi atau memperoleh haknya.

khususnya sejak tahun 1978. Selanjutnya. menjamin atau melindungi kepentingan konsumen tersebut. pasal-pasal ini mengenal hak-hak warga negara. Dengan ketetapan terakhir Majelis Permusyawaratan Rakyat Tahun 1993 (TAPMPR) makin jelas kehendak rakyat atau adanya perlindungan konsumen. dalam hal ini khususnya melindungi konsumen. Kalau pada TAP-MPR 1978 digunakan istilah "menguntungkan" konsumen. untuk melindungi dan atau mencegah terjadinya gangguan tersebut. . maka alai-alai negara akan turun Langan. Sayangnya. Susunan kalimat tersebut berbunyi: “…………. meningkatkan pendapatan produsen dan melindungi kepentingan konsumen". la merupakan hak dasar bagi rakyat secara menyeluruh. dalam satu baris kalimat. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) telah menetapkan berbagai ketetapan MPR. TAP-MPR 1988 "menjamin" kepentingan konsumen. Penghidupan yang layak. Salah satu yang menarik dari TAP-MPR 1993 ini adalah disusunnya dalam satu napas. orang kota atau orang desa. sekalipun dengan kualifikasi yang berbeda-beda pada masing-masing ketetapan. Perlindungan hukum pada segenap bangsa itu tentulah bagi segenap bangsa tanpa kecuali. tentang kaftan produsen dan konsumen. Landasan hukum lainnya terdapat pada ketentuan termuat dalam Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). dalam masingmasing TAP-MPR tersebut tidak terdapat penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan menguntungkan. Penjelasan autentik Pasal 27 ayat (2) ini berbunyi: Telah jelas. baik diminta atau tidak. maka pada tahun 1993 digunakan istilah "melindungi kepentingan konsumen".Nasution di dalamnya terkandung pula asas perlindungan (hukum) pada segenap bangsa tersebut. untuk melaksanakan perintah UUD 1945 melindungi segenap bangsa. Ketentuan tersebut berbunyi: Tiap warga Negara berhak atas penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Sesungguhnya. apalagi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan merupakan hak dari warga negara dan hak semua orang. orang asli atau keturunan dan pengusaha/pelaku usaha atau konsumen. orang kaya atau orang miskin. apabila kehidupan seseorang terganggu atau diganggu oleh pihak/pihak lain. Baik ia laki-laki atau perempuan.

penguasaan pasar yang dominan. Kepentingan mereka dalam menggunakan barang atau jasa adalah untuk kegiatan usaha memproduksi dan/atau berdagang itu. bahan penolong. bermanfaat bagi . Kepentingan peningkatan pendapatan atau penghasilan pelaku usaha adalah dalam rangka pelaksanaan kegiatan usaha mereka. Terdapat kelemahan dalam menjalankan usaha tertentu atau tidak efisien dalam menjalankan manajemen usaha (perlu ketentuan-ketentuan tentang pembinaan) atau b. Dalam hubungannya dengan pars konsumen. Perlindungan hukum yang mereka perlukan adalah agar penghasilan dalam berusaha dapat meningkat. Sifat kepentingan khas produsen (lebih tepat pelaku usaha atau pengusaha) telah ditunjukkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. dan/atau mengedarkan produk hasil usaha mereka. seperti praktik persaingan melawan hukum. keluarga atau rumah tangganya (kepentingan nonkomersial). Sebelumnya.Dengan susunan kalimat demikian. nyata bahwa konsumen tidak sematamata menggunakan ukuran-ukuran komersial sebagaimana yang menjadi ukuran pelaku usaha dalam penggunaan barang dan/atau jasa yang mereka konsumsi. tetapi semata-mata untuk memenuhi kebutuhan raga dan jiwa konsumen. Oleh karena itu. telah diterangkan bahwa pengusaha dalam menjalankan kegiatan memproduksi atau berdagang menggunakan barang atau jasa sebagai bahan baku. terlihat lebih jelas arahan Majelis Permusyawaratan Rakyat tentang kekhususan kepentingan produsen (dan semua pihak yang dipersamakan dengannya) dan kepentingan konsumen. atau bahan pelengkap. bahan tambahan. adalah untuk meningkatkan pendapatan atau penghasilan mereka (tujuan komersial). kegiatan usaha pengusaha adalah dalam rangka memproduksi. Adanya praktik-praktik niaga tertentu yang menghambat atau menyingkirkan pars pengusaha dari pasar. sebagai pribadi penggunaan barang dan/jasa itu adalah untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. dan lain-lain (memerlukan ketentuanketentuan pengawasan). tidak merosot atau bahkan hilang sama sekah baik karena: a. Adapun bagi konsumen akhir. menawarkan. adalah agar barang/jasa konsumen yang mereka peroleh. Nilai barang atau jasa yang digunakan konsumen dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka tidak diukur atas dasar untung rugi secara ekonomis belaka. Kepentingan konsumen dalam kaftan dengan penggunaan barang dan/atau jasa.

bahkan coati usahanya. lebih banyak menimbulkan kerancuan dan kesulitan daripada kemanfaatan. Bagi konsumen. kepentingan nonkomersial mereka yang harus diperhatikan adalah akibat-akibat kegiatan usaha dan persaingan di kalangan pelaku usaha terhadap jiwa. Sekalipun diakui bahwa persaingan merupakan suatu yang biasa dalam dunia usaha. kesehatan. dalam penyusunan peraturan perundang-undangan haruslah jelas siapa yang dimaksudkan dengan pelaku usaha dan siapa pula konsumen. dan keserasian di antara keduanya.kesehatan/keselamatan tubuh. yang menonjol dalam perlindungan kepentingan konsumen ini adalah perlindungan pada jiwa. 2. keselarasan. Pelaku usaha adalah pelaku usaha. dan seperti bagaimana bagaimana mendapatkan tambahan penolong. Hukum Konsumen dalam Hukum Perdata Dengan hukum perdata dimaksudkan hukum perdata dalam arti lugs. spa hak-hak dan/atau kewajiban yang sesuai kepentingan masing-masing pihak. menjalankan bahan kegiatan usaha. tubuh atau harta benda mereka. haruslah diciptakan keadaan yang seimbang. mengangkutnya dan memasarkannya. seperti pemikiran sementara orang pada saat ini. keamanan jiwa dan harta benda. Pencampuradukan keduanya. diri. keluarga dan/atau rumah tangganya (tidak membahayakan atau merugikan mereka). dan selaras dalam kehidupan di antara keduanya. dan konsumen adalah konsumen. Oleh karena itu. tetap harus dijaga keseimbangan. Persaingan haruslah berjalan secara wajar dan tidak terjadi kecurangan-kecurangan yang mengakibatkan kalangan pelaku usaha tidak saja tidak meningkat pendapatannya. termasuk di dalamnya bagaimana menghadapi persaingan usaha. serasi. termasuk hukum perdata. Dalam keadaan bagaimanapun. hukum dagang serta kaidah-kaidah keperdataan yang termuat dalam berbagai . Perbedaan prinsipil dari kepentingan-kepentingan dalam penggunaan barang/ jasa dan pelaksanaan kegiatan antara pelaku usaha dan konsumen dengan sendirinya memerlukan jenis pengaturan perlindungan dan dukungan yang berbeda pula. memproduksinya. harta dan/atau kepentingan kekeluargaan konsumen. tetapi persaingan antarkalangan usaha itu haruslah sehat dan terkendali. Jadi. Haruslah ada peraturan perundangundangan yang mengatur tentang usaha dan mekanisme persaingan itu. Bagi kalangan pelaku usaha perlindungan itu adalah untuk kepentingan komersial mereka bahan dalam bake.

Akan tetapi.peraturan perundang-undangan lainnya. Selanjutnya menganggap tidak berlaku beberapa pasal dari KUH Perdata. buku ketiga. dan buku keempat memuat berbagai kaidah hukum yang mengatur hubungan konsumen dan penyedia barang atau jasa konsumen tersebut. yang tidak tertulis tetapi ditunjuk oleh pengadilan dalam perkara-perkara tertentu. masih tampak hidup dan terlihat dalam berbagai putusan pengadilan. tampaknya termuat puts kaidah-kaidah hukum yang mempengaruhi dan/ atau termasuk dalam bidang hukum perdata. maupun buku kedua. Mahkamah Agung menganggap Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (13W) tidak'sebagai undang-undang tetapi sebagai dokumen yang hanya menggambarkan suatu kelompok hukum tidak tertulis. Hubungan hukum perdata dan masalahnya dalam lingkungan berlaku Hukum Adat. untuk selebihnya dalam pengalaman di pengadilan sepanjang kemerdekaan sampai waktu ini. Terutama buku kedua. mengatur tentang hak-hak dan kewajiban yang terbit dari. KUH Perdata bahkan tampak seperti lebih dominan berlakunya dibandingkan dengan kaidah-kaidah hukum adat atau kaidah-kaidah hukum tidak tertulis dan putusan-putusan pengadilan negeri maupun pengadilan-pengadilan luar negeri yang berkaitan. sekalipun sudah amat berkurang. Kesemuanya itu baik hukum perdata tertulis maupun hukum perdata tidak tertulis (hukum adat). Antara lain tentang siapa yang dimaksudkan . Di samping itu. Patut kiranya diperhatikan kenyataan yang ada dalam pemberlakuan berbagai kaidah hukum perdata tersebut. Begitu pula dalam KURD. Kaidah-kaidah hukum perdata umumnya termuat dalam Kitab UndangUndang Hukum Perdata (KUH Perdata). dalam berbagai peraturan perundang-undangan lain. Beberapa putusan pengadilan tentang masalah keperdataan berkaitan dengan perlindungan konsumen masih terlihat. atau tidak bersamaan hukum yang berlaku bagi mereka. baik buku pertama. memuat pula berbagai ketentuan hukum perdata bagi konsumen. tentu saja jugs kaidahkaidah hukum perdata adat. Akan tetapi di samping itu. khususnya Hukum Perdata Internasional. dapat diberlakukan Hukum Internasional dan asasasas hukum internasional. Pada tahun 1963. khususnya (jasa) perasuransian dan pelayaran. KUH Perdata memuat berbagai kaidah hukum berkaitan dengan hubungan hukum dan masalah antarpelaku usaha penyedia barang dan/atau jasa dan konsumen pengguna barang-barang atau jasa tersebut. Adapun hubungan-hubungan hukum atau masalah antara penyedia barang atau jasa dan konsumen dari berbagai negara yang berbeda.

kalau dirangkum keseluruhanriya. Berta tats cars penyelesaian masalah yang ter adi dalam Sengketa antara konsumen dan penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa yang diatur dalam peraturan perundang-undangan bersangkutan. Undang-Undang tentang Kesehatan ( Undang-Undang No. Perumusan norma Pasal 1365 KUH Perdata lebih merupakan struktur norma daripada substansi ketentuan hukum yang sudah lengkap. 21 Tahun 1982). 8 Tahun 1999.sebagai subjek hukum dalam suatu hubungan hukum konsumen. ketiga. Beberapa di antaranya (yang terbaru) adalah Undang-Undang tentang Metrologi Legal (Undang-Undang No. terlihat bahwa kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah hukum antara pelaku usaha penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa dengan konsumennya masing-masing terlihat termuat dalam:    KUH Perdata. 14 Tahun 1992). KURD. 7 Tahun 1996). Undang-Undang tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers (Undang-Undang No. 4 Tahun 1982). Berbagai peraturan perundang-undangan lain yang memuat kaidah-kaidah hukum bersifat perdata tentang subjek-subjek hukum. 5 Tahun 1984). 16 Tahun 1985). dan keempat. dan terakhir UndangUndang Perlindungan Konsumen (UndangUndang No. Lembaran Negara Tahun 1999 No. terutama dalam buku kedua. hak-hak dan kewajiban masing-masing. Jadi. Oleh karena itu. Undang-Undang tentang Rumah Susun (Undang-Undang No. Perbuatan Melawan Hukum (Pasal 1365 KUH Perdata) Dalam Sengketa Antara Konsumen dan Pelaku Usaha Perbuatan melawan hukum di Indonesia secara normatif selalu merujuk pada ketentuan Pasal 1365 KUH Perdata. Rumusan norma dalam pasal ini unik tidak seperti ketentuan pasal lainnya. hubungan hukum dan masalah antara penyedia barang atau penyelenggara jasa tertentu dan konsumen. 42). UndangUndang tentang Perindustrian (Undang-Undang No. Undang-Undang tentang Lalu Lintas danAngkutan Jalan (Undang-Undang No. substansi ketentuan Pasal 1365 KUH Perdata senantiasa memerlukan . UndangUndang tentang Pangan ( Undang-Undang No. 2 Tahun 1981). 23 Tahun 1992). Undang-Undang tentang Lingkungan Hidup (Undang-Undang No. Buku Kesatu dan Buku Kedua.

atau disebabkan oleh barang-barang yang berada di bawah pengawasannya. Dilihat dari dimensi waktu. Pasal 1370 KUH Perdata menyatakan bahwa dalam hal tedadi pembunuhan dengan sengaja atau kelalaiannya maka suami atau istri. Perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) sama dengan perbuatan melawan undang-undang (on wetmatigedaad). Pasal-pasal tersebut mengatur bentuk tanggung jawab atas Perbuatan Melawan Hukum yang terbagi atas: Pertama. Kedua. Perbuatan Melawan Hukum Indonesia yang berasal dari Eropa Kontinental diatur dalam Pasal 1365 KUH Perdata sampai dengan Pasal 1380 KUH Perdata. anak. Pasal 1372 menyatakan bahwa tuntutan terhadap penghinaan adalah bertujuan untuk mendapat ganti rugi dan pemulihan nama baik. Pasal 1367 ayat (1) KUH Perdata menyatakan: Seseorang tidak hanya bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya sendiri tetapi juga disebabkan karena perbuatan orangorang yang menjadi tanggungannya. 3. Ketiga. pernyataan bahwa perbuatan yang dilakukan adalah melawan hukum. 4. Perbuatan Melawan Hukum terhadap nama baik. ganti rugi dalam bentuk uang atas kerugian yang ditimbulkan.materialisasi di luar KUH Perdata. . melarang dilakukannya perbuatan tertentu. seperti kiasan yang sudah kits kenal bahwa Pasal 1365 KUH Perdata ini "Tak lekang kena pangs. tanggung jawab tidak hanya karena perbuatan melawan hukum yang dilakukan diri sendiri tetapi juga berkenaan dengan perbuatan melawan hukum orang lain dan barang-barang di bawah pengawasannya. Perbuatan Melawan Hukum terhadap tubuh dan jiwa manusia. Dengan kata lain. ketentuan ini akan "abadi" karena hanya merupakan struktur. sesuai dengan kedudukan dan keadaan pars pihak. ganti rugi dalam bentuk natura atau dikembalikan dalam keadaan semula. Beberapa tuntutan yang dapat diajukan karena perbuatan melawan hukum ialah: 1. 2. Masalah penghinaan diatur dalam Pasal 1372 sampai dengan Pasal 1380 KUH Perdata. orang tug korban yang lazimnya mendapat nafkah dari pekerjaan korban. berhak untuk menuntut ganti rugi yang harus dinilai menurut keadaan dan kekayaan kedua belah pihak. tak lapuk kena hujan".

perkara bermula dari pembelian mobil jenis BMW 318i yang dilakukan oleh Penggugat. Istri penggugat langsung menekan tombol klakson mobil BMW untuk mints pertolongan. gugatan yang berkenaan dengan ganti rugi berkaitan dengan materi yang kemudian diatur dalam undang-undang tersebut didasarkan pada Pasal 1365 KUH Perdata. Perkara berikut ini menunjukkan perubahan penerapan Pasal 1365 KUH Perdata dalam. istri penggugat berteriak sekeras-kerasnya dengan harapan ada yang mendengarkan dan bisa membantu keluar dari mobil. misalnya undangundang tentang perlindungan konsumen. Karena kondisi kaki istri penggugat masih terasa nyeri maka tidak bisa keluar mobil bersamaan dengan penggugat dan ketika hendak keluar. hubungan dengan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha. Sesampainya di rumah.Penerapan Pasal 1365 KUH Perdata mengalami perubahan melalui putusan pengadilan dan undang-undang. Harapan istri penggugat temyata jugs sic-sic karena tidak seorang pun mendengarkan teriakannya karena ia berada dalam ruangan kedap . Berbagai undang-undang telah secara khusus mengatur tentang gaud rugi karena perbuatan melawan hukum. Sebelum undang-undang tersebut lahir. lalu ia berusaha mencopot panel yang ada di dalam mobil namun tidak berhasil memecahkannya. Sebagaimana yang wring dilakukan oleh penggugat ketika mengendarai jenis mobil yang lainnya karena sekalipun dikunci dari luar. menurut Tergugat salah sate kecanggihan mobil BMW adalah sistem elektroniknya akan memberi keamanan dan kenyamanan. penggugat tidak bisa menahan buang air kecil karena menderita suatu penyakit sehingga terburu-buru masuk ke toilet yang terletak di dalam rumah sambil menutup pintu mobil yang menggunakan remote control. istri penggugat lalu membuka pintu mobil dari dalam namun tidak berhasil sehingga merasa ketakutan karena terperangkap di dalam mobil. Akhimya. penumpang yang masih berada di dalam mobil tetap bisa keluar dari mobil dengan cara membuka pintu dari dalam. Pada suatu hari penggugat pergi mengantarkan istri penggugat untuk mengurut kakinya ke suatu tempat dengan mengendarai mobil BMW. tetapi klakson tidak berfungsi karena seluruh sistem elektroniknya coati. dan kunci elektroniknya tidak mungkin dipalsukan. Namun dengan lahirnya undang-undang yang secara khusus mengatur mengenai tuntutan ganti kerugian maka telah terjadi perubahan dalam penerapan Pasal 1365 KUH Perdata.

tanpa disadari tangan istri penggugat terluka dan berlumuran darah. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen di samping Perbuatan Melawan Hukum (Pasal 1365 KUH Perdata) maka sesuai dengan asas hukum lex specialis derogat lex generalis dan asas hukum lex posteriori derogat legi priori. . Akhimya jiwa istri penggugat dapat diselamatkan meskipun dalam keadaan yang sangat menyedihkan. dan hampir merenggut nyawa serta menimbulkan kerugian yang besar bagi penggugat. Berdasarkan kejadian tersebut. dan menurut penggugat hal ini jelas merupakan perbuatan melawan hukum. Setelah itu barulah ia dapat menghirup udara segar yang masuk dari lubang kaca mobil. tindakan Tergugat I dan Tergugat II memproduksi mobil BMW dengan menggunakan sistem double lock. Tanga pikir panjang istri penggugat merobek kaca mobil yang sudah retak dengan tangannya dan berhasil membentuk lubang angin. sangat berakibat fatal. BMW Group Indonesia sebagai tergugat II dan PT Astrea International Tbk sebagai tergugat III dengan dalil Perbuatan Melawan Hukum. Istri penggugat kembali berteriak untuk meminta tolong yang temyata dapat didengar oleh penggugat yang sebelumnya beranggapan bahwa istri penggugat sudah masuk ke dalam rumah. hukum yang berlaku dalam perkara ini adalah Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Tergugat dalam jawabannya mendalilkan bahwa karena penggugat telah mengajukan tuntutan pelanggaran Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. penggugat menggugat BMW AG yang berkedudukan di Jerman sebagai Tergugat I.suara (dalam mobil BMW yang terkunci) sehingga pada saat itu kondisi istri penggugat sangat lemah dan mengenaskan akibat banyaknya mengeluarkan tenaga serta kehabisan oksigen. Setelah empat puluh menit berjuang akhirnya istri penggugat berhasil meretakkan kaca mobil dengan sebuah bends yang berhasil ditemukan di dalam mobil BMW. sistem penguncian double lock yang diprodilksi tergugat I dan tergugat 11 tidak menjamin keamanan dan keselamatan konsumen di dalam memakai produk tersebut. serta tindakan Tergugat III yang tidak memberikan informasi yang jelas tentang kondisi mobil serta cara pemakaiannya kepada penggugat. Menurut penggugat. Menurut penggugat. Lebih lanjut penggugat juga mendalilkan bahwa pars tergugat yang telah memproduksi mobil BMW dengan sistem penguncian double lock tersebut juga telah melanggar Undang-Undang No.

210/ Pdt. Berdasarkan Pasal 23 Undang-Undang Perlindungan Konsumen. ketentuan- . 385/ Pdt. Dalam kaftan ini antara lain ketentuan perizinan usaha.DKI. hukum acara perdata dan/ataii hukum acara pidana dan hukum internasional khususnya hukum perdata internasional. Jadi. gugatan harus diajukan ke pengadilan negeri di mana konsumen/penggugat bertempat tinggal. 3. Termasuk hukum publik dan terutama dalam kerangka hukum konsumen dan/atau hukum perlindungan konsumen. bukan ke Pengadilan Negeri di mana salah satu Tergugat bertempat tinggal sebagaimana diatur dalam Pasal 118 (2) HIR. hukum pidana. Menurut Majelis Hakim dalam hal gugatan mengenai tanggung jawab dari pelaku usaha terhadap konsumennya yang berlaku adalah Undang-Undang Perlindungan Konsumen sebagai aturan khusus/specialis (lex specialis derogat legi generali). Hukum Konsumen dalam Hukum Publik Dengan hukum publik dimaksudkan hukum yang mengatur hubungan antara negara dan alai-alai perlengkapannya atau hubungan antara negara dengan perorangan. dapat pula diberlakukan. segala kaidah hukum maupun asas-asas hukum ke semua cabangcabang hukum publik itu sepanjang berkaitan dengan hubungan hukum konsumen dan/atau masalahnya dengan penyedia barang atau penyelenggara jasa. hal tersebut karena adanya aturan khusus (Pasal 23 Undang-Undang Perlindungan Konsumen) yang didahulukan dari aturan umum (Pasal 118 ayat (2) HIR) lex specialis derogat legi generali.Jkt.Pst berpendapat bahwa Pasal 1365 adalah suatu aturan umum/generalis dalam hal mengajukan gugatan terhadap suatu Perbuatan Melawan Hukum yang dilakukan oleh tergugat sedangkan Undang-Undang No. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan tidak berwenang mengadili perkara ini. Dalam amar putusannya./2004/PT.G/2002/PN. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen adalah merupakan suatu aturan khusus yang mengatur mengenai tanggung jawab dari pelaku usaha terhadap konsumen bila tedadi suatu kesalahan atau suatu Perbuatan Melawan Hukum dari pelaku usaha tersebut terhadap konsumennya.Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat melalui Putusan No. adalah hukum administrasi negara. Putusan ini diperkuat oleh Pengadilan Tinggi Jakarta sebagai Peradilan Banding melalui Putusan No.

75). Ketentuan hukum administrasi. 23 Tahun 1992. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 LN Tahun 1985 No. izin praktik atau izin lain yang diberikan Berta penjatuhan hukum disiplin berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan yang . Diantara kesemua hukum publik tersebut.ketentuan pidana tertentu. hukum internasional khususnya hukum perdata internasional dan hukum acara perdata Berta hukum acara pidana paling banyak pengaruhnya dalam pembentukan hukum konsumen. misalnya menentukan bahwa Pemerintah melakukan pengaturan dan pembinaan rumah susun dan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang (termuat dalam Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang tentang Rumah Susun. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan). tampaknya hukum administrasi negara. ketentuan-ketentuan hukum acara dan berbagai konvensi dan/atau ketentuan hukum perdata internasional. hukum pidana. Undang-Undang No. Dari peraturan perundang-undangan di atas terlihat beberapa departemen dan atau lembaga pemerintah tertentu menj alankan tindakan administratif berupa pengawasan dan pembinaan terhadap pelaku usaha dengan perilaku tertentu dalam melaksanakan perundang-undangan tersebut. Dalam Pasal 76 undang-undang itu dijelaskan pula peran pengawasan yang dijalankan oleh pemerintah. selanjutnya disebut hukum administrasi. Misalnya tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan/atau sarana kesehatan yang melanggar undang-undang (Pasal 77 UU No. Selanjutnya dalam Undang-Undang Kesehatan. Penjelasan pasal ini menentukan: tindakan administratif dalam pasal ini dapat berupa pencabutan izin usaha. Pasal 77 itu berbunyi: Pemerintah berwenang mengambil tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan/atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan ini. Pasal 73 ditentukan: Pemerintah melakukan pembinaan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan. sedang Pasal 77 menegaskan wewenang pemerintah untuk mengambil berbagai tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan/atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap undangundang ini.

ditetapkan bahwa Bank Indonesia dapat menetapkan sanksi administratif kepada bank yang tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana ditentukan pertimbangan kepada Menteri Keuangan untuk mencabut izin usaha bank bersangkutan. Struktur Hukum Perlindungan Konsumen Hukum Konsumen / Hukum Perlindungan Konsumen Hukum Perdata (dalam Arti Luas) Hukum Publik Hukum Perdata Hukum Administrasi Hukum Dagang Hukum Pidana Hukum Perdata Internasional . Tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dilakukan setelah mendengar pertimbangan Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan. solvabilitas dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Pasal 29 menegaskan bahwa tugas pembinaan dan pengawasan bank-bank di Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia. kualitas aset.berlaku. Ayat (2) pasal ini menentukan bahwa Bank Indonesia menetapkan ketentuan tentang kesehatan bank dengan memperhatikan aspek permodalan. Pasal 52 dan -Pasal 53 (Ketentuan Pidana dan sanksi administratif). kualitas manajemen. rentabilitas. hukum konsumen dan/atau hukum perlindungan konsumen itu berbentuk sebagai berikut. likuiditas. Secara skematis. Selanjutnya. Begitu pula dengan tindakan administratif Menteri Kehakiman dalam mengesahkan Anggaran Dasar suatu Perseroan Terbatas atau Perubahannya sebagaimana termuat dalam Undang-Undang No. Juga berdasarkan Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.

sebagai pengguna jasa angkutan (UU No. Tentunya. baik hukum perdata maupun hukum publik dapat digunakan untuk menyelesaikan hubungan dan/atau masalah konsumen dengan penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa. 1. Adapun hak-hak dan kewajiban pelaku usaha (istilah digunakan untuk penglisaha) diatur dalam Pasal 6 dan 7. memenuhi persyaratan dan/atau cukup untuk melindungi kepentingan-kepentingan konsumen. dilakukan oleh siapa. Keadaannya agak berbeda dengan pengaturan yang ditentukan dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Peraturan perundangan umum ini sebagaimana telah diuraikan di atas. C. Oleh karena itu. penitip barang (bewaargever. Misalnya. . Pasal 1457 dan seterusnya KUH Perdata). terlepas dari apakah perundang-undangan yang telah ada. 14 Tahun 1992) yang dapat dilakukan oleh pelaku usaha atau oleh konsumen. peminjam (verbruiklener. tidak dikenal istilah consumers atau consument (istilah Inggris dan Belanda).Dari skema ini terlihat bahwa pembagian berdasarkan hukum perdata dalam arti lugs dan hukum publik memberikan gambaran yang menyeluruh tentang struktur dan permasalahan perlindungan konsumen. Di dalam undang-undang ini secara tegas ditentukan hak-hak konsumen (Pasal 4) dan kewajiban-kewajibannya (Pasal 5). apakah pelaku usaha atau konsumen. Pasal 1694 dan seterusnya). Keduanya diatur bersamaan. dalam KUH Perdata kits menemukan istilahistilah pembeli (koper. Yang harus mendapatkan perhatian adalah pelanggaran perundang-undangan itu. tetapi hukum umum ini ternyata mengandung berbagai kelemahan tertentu dan menjadi kendala bagi konsumen atau perlindungan konsumen. penyewa (harder. KUH Perdata dan KUHD tidak Mengenal Istilah Konsumen Hal ini mudah dipahami karena pada saat undang-undang itu diterbitkan dan diberlakukan di Indonesia. Pasal 1548 dan seterusnya). tidak menetapkan terpisah pelaku usaha atau konsumen. Di Negeri Belanda istilah koper atau huurder (istilah Belanda yang berarti pembeli atau penyewa) digunakan dalam perundangundangannya. MASALAH YANG DIHADAPI Sekalipun berbagai instrumen hukum umum (peraturan perundang-undangan yang berlaku umum).

tetapi secara materiil akan terlihat. bahkan dengan bentuk-bentuk perjanjian lain dari apa yang termuat dalam KUH Perdata (berbeda dengan sistem tertutup yang dianut Buku Ke-2 KUH Perdata). Keadaan mempersamakan formal memang memikat. lengkaplah sudah kebebasan setiap orang untuk mengadakan perjanjian. 3. jadi setiap orang dapat saja mengadakan persetujuan dalam bentukbentuk lain dari yang disediakan oleh KUH Perdata. is menimbulkan kepincangan tertentu dalam hubungan hukum atau masalah mereka satu sama lain. mungkin . termasuk perjanjian yang dipaksakan kepadanya. tidak membedakan apakah mereka itu sebagai konsumen akhir atau konsumen antara. tingkat pendidikan dan/atau kemampuan days saingnya. Adapun Kitab Undang-Undang Hukum Dagang ditemukan istilah tertanggung (verzekerde. Hukum Perjanjian (Buku ke-3 KUH Perdata) Menganut Asas Hukum Kebebasan Berkontrak. Dengan asas kebebasan berkontrak. setiap orang dapat mengadakan sembarang perjanjian. Kalau yang mengadakan perjanjian adalah mereka yang seimbang kedudukan ekonomi. penyewa. Subjek hukum pembeli. Semua Subjek Hukum tersebut Adalah Konsumen. Demikian pula dengan konsumen akhir. Pasal 341 dan seterusnya Buku Kedua). sistem terbuka dan bahwa hukum perjanjian itu merupakan hukum pelengkap saja. tanpa pemberdayaan (empowering) pihak yang historis lemah.Pasal 1754 dan seterusnya). dan sebagainya. Sistemnya Terbuka dan Merupakan Hukum Pelengkap Asas kebebasan berkontrak memberikan pada setiap orang hak untuk dapat mengadakan berbagai kesepakatan sesuai kehendak dan persyaratan yang disepakati kedua pihak. dengan syarat-syarat subjektif dan objektif tentang sahnya suatu persetujuan tetap dipenuhi (Pasal 1320). Dengan sistem terbuka. 2. Keadaan ini kemudian diimbuhi pula dengan catatan bahwa hukum perjanjian itu merupakan hukum pelengkap. Pengguna Barang dan/atau Jasa Sebagaimana telah diuraikan dalam bab pertama. Para pengusaha yang disebut juga sebagai konsumen antara mempunyai tujuan dan kepentingan tersendiri. konsumen itu terdiri dari dua jenis yang berbeda kepentingan dan tujuan dalam penggunaan barang atau jasanya. Pasal 246 dan seterusnya Buku Kesatu) dan penumpang (opvarende. tertanggung atau penumpang terdapat dalam KUH Perdata dan KUHD.

Kessler bahkan lebih tajam lagi tinjauannya. terutama konsumen dari negara-negara berkembang yang merupakan pihak yang lemah tersebut. bentuk usaha dan praktik bisnis yang pada masa diterbitkannya KUH Perdata dan KUHD belum dikenal. jasa asuransi. tidak terkecuali di Indonesia. pihak yang lebih kuat akan dapat memaksakan kehendaknya atas pihak yang lebih lemah. Man dan yang sejenis dengan itu. jasa perbankan. alat-alat rumah tangga. Pengalaman nyata memang menunjuk pada keadaan itu. ternyata pihak konsumenlah. kedudukan hukum berbagai cars pemasaran produk konsumen seperti penjualan dari rumah ke rumah. Dilengkapi dengan penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia dan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. bentuk perjanjian baku. yang kemudian dijadikan dasar dari keputusan Sidang Umum PBB pada tahun 1985 tentang Perlindungan Konsumen. 4. alat-alat transportasi.masalahnya menjadi lain. Pedanjian dengan syarat-syarat baku ini telah sangat mendalam merasuk ke dalam kehidupan masyarakat. Beberapa hal pokok tentang subjek hukum dari suatu perikatan. perikatan beli sews. Apa yang dimaksudkan Kessler. Berbagai produk konsumen. Antara lain mengenai pembelian rumah. promosipromosi dagang. . la mengatakan bahwa hukum perjanjian itu adalah pelindung dari pembagian kekuasaan yang tidak merata dalam masyarakat sehingga memungkinkan pemaksaan kehendak pihak yang kuat atas pihak-pihak yang lemah. Berta berbagai praktik niaga lainnya yang tumbuh karena kebutuhan atau kegiatan ekonomi. yaitu pars pihak tidak seimbang. Dalam keadaan sebaliknya. dan sebagainya. alat-alat elektronik. tidak terakomodasi secara sangat sumir dalam perundangundangan itu. Perkembangan Pesat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) Perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi sangat mempengaruhi kegiatan bisnis di mans pun di dunia. nanti akan terlihat dalam bentuk-bentuk perjanjian dengan syarat-syarat baku (perjanjian baku/klausul baku). Berbagai penelitian termasuk penelitian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 19731985. kini sudah menjadi pengalaman kita.

menyebabkan KUH Perdata dan KUHD tertinggal di belakang. Mahkamah Agung dan kemungkinan Peninjauan kembali di Mahkamah Agung). Hukum Acara Hukum acara yang dipergunakan dalam proses perkara perdata pun tidak membantu konsumen dalam mencari keadilan. yang tidak saja makan waktu berlarutlarut. ditambah dengan beban pembuktian merupakan kendala bagi konsumen dan perlindungannya. yang hams dikeluarkan oleh konsumen bersangkutan dalam mempertahankan haknya di pengadilan-pengadilan Indonesia. Pengadilan Tmggi. Pengadilan Tinggi.00 (dua juta lima ratus ribu rupiah).500. Bayangkan saj a berapa banyak waktu. Pencampuradukan sistem hukum yang melanda masyarakat karena kebutuhannya itu. Mahkamah Agung. Tingkat-tingkat peradilan (Pengadilan Negeri. misalnya pembelian barang atau jasa yang tidak melebihi jumlah Rp 2. sistem pemasaran yang digunakan.500. yaitu konsumen yang jumlah pembeliannya tidak melebihi suatu jumlah tertentu.000. tetapi juga memakan tenaga dan biaya. karena kebutuhan telah pula dipraktikkan dan kadang-kadang tanpa persyaratan dan pembatasan yang menurut hukum berlaku bagi perikatan di negeri asalnya. lamanya masa proses sampai didapatkan putusan yang efektif. Bayangkan pula proses persidangan di Pengadilan Negeri. Beban ini lebih banyak tidakdapat dipenuhi dalam hubungan antara konsumen dan penyedia barang atau penyelenggara jasa pada masa kini. Contoh konkret adalah pembelian 1 (satu) unit televisi berwama dengan harga kurang lebih Rp 2. kerahasiaan perusahaan dan tanggung jawab perusahaan yang hanya pada pemegang sahamnya saja. Pasal 1865 KUH Perdata menentukan pembuktian hak seseorang atau kesalahan orang lain dibebankan pada pihak yang mengajukan gugatan tersebut.000. Hal ini terutama karena tidak pahamnya konsumen atas pembuatan produk. 5. Proses produksi dan pemasaran produk yang makin canggih. Apalagi bagi konsumen kecil. berapa besar biaya.Begitu pula bentuk-bentuk perikatan yang tampaknya berasal dari negaranegara yang menggunakan sistem hukum berbeda (Anglo Saxon). tenaga dan hal-hal lain berkaitan dengan pembelian itu.00 (dua juta lima ratus ribu rupiah). . dan/atau proses peninjauan kembali. maupun jaminan puma jual yang digunakan oleh pelaku usaha. memperbesar jarak antara konsumen dengan produk konsumen yang is gunakan di samping hal-hal yang dikemukakan di atas.

Dengan demikian. Doktrin yang dianut KUH Perdata/KUHD adalah liberalisme. melindungi konsumen dan pengusaha yang jujur dan beriktikad baik dari perilaku pelaku usaha yang menyimpang atau melanggar hukum dan dapat menimbulkan kerugian pada mereka. penyidikan dan penuntutan diselenggarakan oleh (aparat) pemerintah. pidana (yang termuat dalam KUHP atau di luar KUHP). 7. Bahkan dengan ketentuan-ketentuan termuat . Dengan cara menggunakan Surat keputusan suatu tindakan administratif atau putusanputusan pengadilan yang berkaitan dengan kasus kerugiannya. Adapun doktrin. beban beracara yang terberat bagi konsumen dalam mengajukan kasus kerugiannya ke pengadilan yaitu beban pembuktian adanya sesuatu hak dan/atau peristiwa yang melanggar hukum (Pasal 1865 KUH Perdata dan Pasal 163 HIR) serta hal-hal lain tampak menjadi ringan. Hukum Publik Sesuai fungsinya menurut hukum.  Pengumpulan bukti-bukti serta semua proses untuk tindakan administratif dan/atau peradilan atas pelaku dijalankan oleh pemerintah.6. atas setiap perilaku usaha yang memenuhi unsur-unsur pidana dan pelaksanaannya dijalankan oleh pejabat yang berwenang untuk itu. Kemanfaatan instrumen hukum publik terlihat antara lain:  Semua pelaksanaan kegiatan pengawasan dan/atau penyelidikan. dan selaras. Begitu pula halnya dengan penerapan peraturan perundang-undangan. falsafah Indonesia adalah Pancasila yang pemikiran politik ekonominya adalah kesejahteraan rakyat dengan perikehidupan yang seimbang. Yang Sangat Penting Pula Adalah Dasar Pemikiran Filsafat Dianut dari KUH Perdata/KUHD dan falsafah hukum yang sekarang hams dijadikan pangkal tolak pernikiran hukum kita yang sama sekali sudah tidak sejalan lagi.  Semua biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan pengawasan dan peradilan dipikul oleh pemerintah. serasi. mempunyai peran yang sangat membantu upaya perlindungan konsumen. seperti juga bagi pengusaha yang jujur dan beriktikad baik. Tindakan administratif yang dijalankan oleh instansi berwenang terhadap mereka yang melanggar ketentuan dari peraturan perundang-undangan (administratif).

Akan tetapi. Konsumen masih harus menjalankan acara lainnya lebih lanjut. penarikan nomor daftar produk. Bagi konsumen Indonesia tampaknya tiga peraturan perundangundangan yang sangat dibutuhkan. Pada sementara kasus. . yang secara perdata juga merugikan kepentingan konsumen. antara lain: UndangUndang tentang Pangan. Sampai saat ini belum pernah terjadi penggunaan acara penggabungan perkara sesuai KUHAP dalam suatu perkara pidana. antara lain: 1. juga menjadi pengalaman. oleh instansi yang berwenang. dan/atau juga sulit pengawasannya. Dianutnya pendirian kalangan usaha bahwa tanggung jawab (direksi) perusahaan hanya pada pemegang sahamnya saja. 2. Kalau diperhatikan falsafah bangsa dan negara Pancasila temyata bahwa banyak hal belum cukup diatur dalam perundang-undangan yang pada saat ini. tetapi mempunyai berbagai kendala bahkan juga tentang substansinya. Di samping itu. Alasan yang paling banyak dikemukakan pada waktu ini adalah karena industri/bisnis kita masih termasuk "industri bagi" (infant-industry) sehingga memerlukan waktu agar mereka menjadi mapan dan kuat bersaing.dalam Kitab Undang-Undang HukumAcara Pidana (KUHAP) proses beracara ini dapat dipermudah lagi. suatu tindakan administratif tidak dijalankan atau dijalankan dengan kualifikasi "akan ditindak tegas" tetapi tanpa kelanjutan karena satu dan lain alasan. Terhadap konsumen is menjadi masalah besar. Putusan pengadilan dan/atau tindakan administratif (larangan mengedarkan. yaitu siapa yang harus dipertanggungjawabkan tentang sesuatu perilaku kegiatan perusahaan atau produknya yang menimbulkan kerugian pada konsumen. sekalipun dapat dimanfaatkan oleh (hukum) konsumen. Juga tidak dalam kasus kematian karena peristiwa biscuit beracun. kesemuanya itu masih harus diuji di dalam masyarakat dan pengadilan-pengadilan kita. tidak sertamerta diketahui dan/atau memberikan ganti rugi atau sesuatu penyelesaian tertentu bagi konsumen. Dari hal-hal terurai di atas terlihat bahwa peraturan-peraturan umum. memberikan dampak negatif lainnya pada konsumen. pencabutan izin usaha dan sebagainya) terhadap perilaku pelaku usaha yang menyimpang dan merugikan konsumen. 3. terlihat pula berbagai kelemahannya. Peralihan pemilikan suatu badan usaha berkali-kali terjadi tanpa ada pengawasan. sayangnya.

oligopoli. persediaan dan penggunaan serta segala sesuatu yang berkaitan dengan itu. Bagi masyarakat Indonesia. bagaimana mereka berhubungan dengan para penyedia barang atau jasa kebutuhan mereka. karena dalam undang-undang ini diatur berbagai perbuatan pelaku usaha yang dilarang. Peraturan perundang-undangan tentang Pangan mengatur tentang makanan dan minuman (pangan) baik yang telah diolah maupun tidak. Sebutkan tindakan administratif dari pemerintah di bidang tertentu apabila ada pihak yang merugikan konsumen (barang/jasa) dan berikan dasar hukumnya! 3. persaingan yang mengganggu perdagangan dan industri dan sebagainya. Apakah yang dimaksud dengan asas kebebasan berkontrak dan apa kaitannya dengan hukum perlindungan konsumen? Jelaskan! 5. pengaturan atau penetapan harga (price fixing). Mengapa dalam KUH Perdata dan KUHD tidak mengenai istilah konsumen? Jelaskan! 4. seperti perilaku usaha monopoli. tata cara peradilan bagi konsumen keeil. dan Undang-Undang tentang Persaingan Usaha. Daftar Pertanyaan 1. Sedangkan UndangUndang Perlindungan Konsumen mengatur tentang siapa konsumen. Kalau Undang-Undang Persaingan Usaha sangat dibutuhkan oleh Para usahawan beriktikad baik di Indonesia. serta segala sesuatu berkaitan dengan itu. hak dan kewajibannya. sehingga mereka tidak merusak diri sendiri dan/atau merugikan konsumennya.Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen. seperti jugs bagi Para konsumen. khususnya konsumen Indonesia agaknya dari sudut kepentingan konsumen pemecahan masalah perlindungan konsumen tidak lain adalah diterbitkannya suatu Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen. Mengapa dalam penerapan peraturan-peraturan hukum ada kendalakendala? Jelaskan dan berikan contohnya! . Undang-Undang Persaingan Usaha mengatur tentang perilaku yang harus diialankan oleh para pelaku usaha penyedia barang dan/atau jasa. Apakah dalam UUD 1945 diatur mengenai perlindungan bagi warga negara (konsumen)? Jelaskan disertai pasalnya! 2. termasuk pengadaan. bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bab 4 . tentu saja juga kaidahkaidah hukum perdata adat. Buku kesatu dan Buku kedua. hukum dagang Berta kaidah-kaidah keperdataan yang termuat dalam berbagai peraturan perundang-undangan lainnya. Kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah hukum antara pelaku usaha penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa dengan konsumennya masing-masing termuat dalam: 1.BAB 4 BERBAGAI ASPEK HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN A. 2. Beberapa hal yang dinilai penting dalam hubungan konsumen dan penyedia barang dan/atau penyelenggara jasa (pelaku usaha) antara lain sebagai berikut. Di samping itu. tetapi ditunjuk oleh pengadilanpengadilan dalam perkara-perkara tertentu. hubungan hukum dan masalah antara penyedia barang atau penyelenggara jasa tertentu dan konsumen. dan keempat. KUHD. termasuk hukum perdata. ketiga. ASPEK-ASPEK KEPERDATAAN Yang dimaksudkan hukum perdata yakni dalam arti lugs. Kaidah-kaidah hukum perdata umumnya termuat dalam Kitab UndangUndang Hukum Perdata (KUH Perdata). Kesemuanya itu baik hukum perdata tertulis maupun hukum perdata tidak tertulis (hukum adat). KUH Perdata. Berbagai peraturan perundang-undangan lain yang memuat kaidah-kaidah hukum bersifat perdata tentang subjek-subjek hukum. terutama dalam Buku kedua. 3. yang tidak tertulis.

penyusun peraturan perundang-undangan secara umum atau dalam rangka deregulasi. tentang jaminan atau garansi produk. tersediannya pelayanan jasa jurnal-jual. Dengan transasi konsumen dimaksudkan diadakannya hubungan hokum (jual beli. atau standar lain yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang. Kesemuanya itu baik hukum perdata tertulis maupun hukum perdata tidak tertulis (hukum adat). baik secara dicantumkan maupun dimuat didalam wadah atau pembungkusnya (antara lain label dari produk makanan dalam kemasan). Dari sudut penyusunan peraturan perundang-undangan terlihat informasi itu termuat sebagai suatu keharusan. informasi tentang barang/jasa merupakan kebutuhan pokok.atau apa pun nama lainnya) untuk mengadakan transaksi konsumen tentang barang/jasa tersebut. KUP Perdata. tentang kualitas produk. Berbagai peraturan perundang-undangan lain yang memuat kaidah-kaidah hokum bersifat perdata tentang subjek-subjek hokum. dan lain-lain yang berkaitan dengan itu. Kaidah-kaidah hokum perdata umumnya termuat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata). Hal-hal yang berkaitan dengan informasi Bagi konsumen.honor. persediaan suku cadang. Sedang untuk produk hasil industri lainnya. standar internasional. hubungan hokum dan masalah antara penyedia barang atau penyelenggara jasa tertentu dan konsumen/ Beberapa hal yang dinilai penting dalam hubungan konsumen dan penyedia barang/penyelenggara jasa (pelaku usaha) antara lain sebagai berikut : 1. Informasi-informasi tersebut meliputi tentang ketersediaan barang/jasa yang dibutuhkan masyarakat konsumen. terutama dalam Buku Kedua. tentu saja juga kaidah-kaidah hokum perdata adat. keamanannya. beli-sewa. keterangan. Buku kesatu dan Buku kedua 3. Ketiga.Berbagai aspek hukum perlindungan konsumen 1. Kaidah-kaidah hokum yang mengatur hubungan dan masalah hokum antara pelaku usaha penyedia barang/penyelenggara jasa dengan konsumennya masingmasing termuat dalam : 1. tetapi ditunjuk oleh pengadilan-pengadilan dalam perkara-perkara tertentu. Di samping itu. hukum dagang serta kaidah-kaidah keperdataan yang termuat dalam berbagai peraturan perundang-undangan lainnya. . sewa-menyewa. dan Keempat 2. siaran. informasi tentang produk itu terdapat dalam bentuk standar yang ditetapkan oleh pemerintah. Beberapa di antaranya. termasuk hukum perata. ditetapkan harus dibuat.Aspek-aspek keperdataan Yang dimaksudkan hukum perdata yakni dalam arti luas. sebelum ia menggunakan sumber dananya (gaji. tentang berbagai persyaratan / cara memperolehnya. dan tindakan pemerintah pada umumnya atau tentang sesuatu produk konsumen. harga. yang tidak tertulis.upah. KUHD. Informasi dari kalangan pemerintah dapat diserap dari berbagai penjelasan. pinjam-meminjam. dan sebagainya) tentang produk konsumen dengan pelaku usaha itu.

meng-iklankan suatu barang dan jasa secara tidak benar dan seolah-olah dan seterusnya. Yang terdapat dalam perundang-undangan ini hanyalah berbagai larangan dan suruhan berkaitan dengan periklanan saja. Pasal 9 ayat (1) berbunyi: “pelaku usaha dilarang menawarkan. sekalipun pada akhir – akhir ini termasuk juga yang diatur didalam Undang – Undang tentang Perlindungkan Konsumen (Pasal 9. pamphlet.12. tampaknya yang paling berpengaruh pada saat ini adalah informasi yang bersumber dari kalangan pelaku usaha. .23 dengan segala tambahan dan/atau memuat kaidah – kaidah tentang periklanan. Iklan adalah bentuk informasi yang umumnya bersifat sukarela.163 c. Menurut ketentuan dari UU No. catalog. mempertahankan dan meningkatkan pangsa pasar produk yang telah atau ingin lebih lanjut di raih. `Beberapa bentuk informasi Diantara berbagai informasi tentang barang atau jasa konsumen yang diperlukan konsumen. Bahan-bahan informasi ini pada umumnya disediakan atau di buat oleh kalangan usaha dengan tujuan memperkenalkan produknya. Adapun label merupakan informasi yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan tertentu. majalah dan berita resmi YLKI. tanggapan atau protes organisasi konsumen. importer. khusus menyangkut prilaku pengumuman iklan keputusan pengadilan tentang pernyataan pailit dan segala akibatakibatnya dari seseorang atau suatu badan usaha (pasal 13 jjs. Dari kalangan usaha (penyedia dana. diketahui sumber-sumber informasi itu umumnya terdiri dari berbagai bentuk iklan baik melalui media nonelektronik atau elektronik. surat-surat pembaca pada media massa. tanpa mengurangi pengaruh dari berbagai bentuk informasi pengusaha lainnya. dan lainlain sejenis dengan itu. berbagai siaran kelompok tertentu. Satu – satunya ketentuan termuat dalam KUH Perdata yang tampaknya dapat digunakan adalah ketentuan tentang perbuatan melanggar atau melawan hokum (Pasal 1365 KUH Perdata). Tentang Iklan KUH Perdata (Kitab Undang – Undang Hukum Perdata) dan/atau KUHD (Kitab Undang – Undang Hukum Dagang). 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. yaitu sepanjang iklan tertentu menimbulkan kerugian pada pihak lain. mempromosikan.Informasi dari konsumen atau organisasi konsumen tampak pada pembicaraan dari mulut ke mulut tentang suatu prosuk konsumen. seperti brosur.17 dan Pasal 20) a. yaitu Warta Konsumen (WK).105. produsen. keduanya diumumkan pada tanggal 30 April 1847 dalam Staatsblad No.13. 2. atau lain-lain pihak yang berkepentingan). Adapun dalam undang-undang kepailitan. seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tentang hasil-hasil penelitian dan riset produk konsumen tertentu. dapat ditemukan pada harian-harian umum. pasal 16. label termasuk pembuatan berbagai selebaran. terlepas untuk siapa perundang-undangan itu berlaku. dan seterusnya).10.” Sayangnya dalam undang-undang ini tidak dicantumkan apa yang dimaksud dengan iklan. Terutama dalam bentuk iklan atau label.

Memuat informasi yang keliru. Departemen Kesehatan (Peraturan Menteri Kesehatan No. Mengelabui jaminan/garansi tergadap barang atau jasa c. 7 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Mengelabui konsumen mengenai kualitas. Sampai saat ini tidak terdapat gangguan apa pun baik terhadap masyarakat pembuat maupun pengguna produk konsumen yang diiklankan berdasarkan masing-masing rumusan yang bersangkutan.Dari hal-hal terurai diatas tentang kedudukan periklananini dalam masyarakat usaha. yang satu ditetapkan oleh Departmen Kesehatan dan yang lainnya oleh sistem penyiaran nasional. Tentu saja terlepas dari mana yang baik dan tepat. dan mempromosikan. baik secara langsung maupun tidak langsung”. Pasal 1 butir (6) menyatakan siaran iklan niaga adalah siaran iklan komersial yang disiarkan melalui penyiaran radio atau televisi dengan tujuan memperkenalkan. adalah sebagai berikut: 1) Pelaku usaha periklanan dilarang memproduksi iklan yang: a. dan gagasan yang dapat dimanfaatkan oleh khalayak dengan atau tanpa imbalan kepada lembaga penyiaran yang bersangkutan. dan bertanggung jawab (Pasal 5 butir (1)). jelas. jujur. memasyarakatkan. kuantitas. setidak-tidaknya terdapat dua batasan iklan. barang. informasi produk konsumen sangat menentukan shingga haruslah informasi itu memuat keterangan yang benar. Kedua batasan iklan tersebut berjalan bersama masing-masing untuk bidang masing-masing. Pasal 1 Butir 13) menetapkan sebagai “iklan adalah usaha dengan cara apa pun untuk meningkatkan penjualan. barang atau jasa kepada khalayak sasaran untuk memengaruhi konsumen agar menggunakan produk yang ditawarkan. Bagi konsumen. seimbang. bahan. Kebenaran isi dari pernyataan atau label tersebut merupakan tanggung jawab dari pihak yang membuat dan menyiarkan. dan bertanggung jawab. salah. atau tidak tepat mengenai barang dan jasa . Mengenai prilaku periklanan yang lengkap diatur dalam Pasal 17 UndangUndang No. kegunaan dan harga barang atau tariff jasa serta ketepata waktu penerimaan barang atau jasa b. 329 Tahun 1976. Adapun sistem penyiaran nasional (Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang penyiaran) Pasal 1 butir (5) merumuskan siaran iklan adalah siaran informasi yang bersifat komersial dan layanan masyarakat tentang tersedianya jasa. Keberadaan Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang penyiaran diarahkan antara lain untuk memberikan informasi yang benar.

menipu atau mengakibatkan cedera pada konsumen untuk memasang iklan perbaikannya (corrective advertisement) di surat kabar atau televisi iklan koreksi seperti ini telah tumbuh dan menjadi hokum di Negara-negara lain. Ketiga pelaku usaha di atas. yaitu. Pengiklan. Satu hal yang menarik dari Undang-undang Perlindungan Konsumen berkaitan dengan periklanan ini yakni dalam Pasal 17 ayat (1) huruf f. Apabila dengan etika itu dimaksudkan kode etik periklanan. maka dialah yang mempertanggung jawabkan. 1. Media. berkaitan dengan tanggung jawab pelaku usaha periklanan ini diatur dalam Pasal 20. Sekiranya tanda tangan pengiklan (tanda acc) terdapat pada konsep iklan itu. Ketiga jenis pelaku usaha tersebut dalam undang-undang ini termasuk pelaku usaha. Undang-undang Perlindungan Konsumen tidak memuat tindakan administratif tersebut. dan menawarkan produk yang mereka edarkan 2. yaitu perusahaan yang memesan iklan untuk mempromosikan. memasarkan. Mengeksploitasi kejadian dan seseorang tanpa izin yang berwenang atau persetujuan yang bersangkutan f.d. undang-undang ini berbunyi : melanggar etika atau ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai periklanan. maka berarti Undang-Undang ini telah membeikan “status hokum” pada kode etik periklanan yang di Indonesia disebut sebagai tata karma dan tata cara periklanan Indonesia. Apakah yang dimaksud denagn etika periklanan? Penjelasan pasal ini memuat kalimat “cukup jelas”.? Dari sudut pelaku usaha periklanan menurut Azm Nasution terdapat tiga jenis pelaku usaha. terdapat timdakan administratif yang dapat dijatuhkan pada pelaku usaha periklanan yang menyiarkan iklan menyesatkan. sebagai berikut. Tidak memuat informasi mengenai resiko pemakaian barang dan jasa e. dapat dipertanggungjawabkanm tetapi secara tepatnya pelaku usaha manakah yang harus bertanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam pasal 20 tersebut? Menurut Az. yang menyiarkan atau menayangkan iklan-iklan tersebut. Nasution tergantung bagaimana hakim pengadilan negeri mengambil putusannya. Perusahaan iklan. adalah perusahaan atau biro yang bidang usahanya adalah mendesain atau membuat iklan untuk para pemesannya 3. Melanggar etika dan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai periklanan 2) Pelaku usaha periklanan dilarang melanjutkan peredaran iklan yang telah melanggar ketentuan pada ayat (1) Selanjutnya. Pelaku usaha periklanan bertanggung jawab atas iklan yang diproduksi dan segala akibat yang ditimbulkan oleh iklan tersebut. media elektronik atau nonelektronik atau bentuk media lain. . padahal kegunaannya sangat baik sebagai upaya pencegah “gegabahnya” para pelaku usaha periklanan. Kemudian. Berkaitan dengan perilaku periklanan yang dilarang dan tentang tanggung jawabnya itu.

tempat barang-barang itu diperdagangkan dan alat-alat reklame. Pasal 1 dan 2. dapat dinyatakan sebagai tindak pidana ekonomi (Pasal 9).memberikan informasi tentang barang. bentuk banyaknya dan kegunaan barang-barang yang baik diharuskan maupun tidak diperbolehkan dibubuhkan atau dilekatkan pada barang pengbungkusnya. 79 Tahun 1978 tentang Label dan periklanan Makanan. sifat. bentuk. UU No. Pengaturan tentang informasi yang disebut dengan berbagai istilah seperti penandaan. sifat. Permenkes No. kecuali makanan yang cukup diketahui komposisinya secara umum  Isi netto . menyebutkan : Etiket adalah label yang dilekatkan. 10 Tahun 1961. Ketentuan tersebut terdapat dalam berbagai peraturan perundang-undangan. ditetapkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan. atau dicantumkan dengan jalan apa pun pada wadah atau pembungkus. 2.b. Baik produk makanan. 1. diukir. maupun obat diwajibkan mencantumkan label pada wadah atau pembungkusnya. UU Barang. Selanjutnya keterangan yang harus dimuat pada label/etiket tersebut ditetapkan (Pasal 7 ayat (1) dan (2) terdiri atas :  Nama makanan atau merk dagang  Komposisi. Tentang Label Informasi produk konsumen yang bersifat wajib ini. Perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan atau melanggar ketentuan tersebut di atas. dicetak. Nama dan tanda-tanda itu harus dibubuhkan atau dilekatkan pada pembungkusnya tempat barang itu di perdagangkan dan pada alat-alat reklame. Pasal 2 ayat (4) UU ini menentukan: Pemberian nama dan tanda-tanda yang menunjukkan asal. dapat dikenakan ketentuan pidana ekonomi. atau etiket. Label. susunan bahan. susunan. pun cara pembubuhan atau melekatkan nama dan tandatanda itu. bahan. Nama atau tanda-tanda itu memuat asal. Dengan demikian setiap perilaku pengusaha yang melanggar ketentuan dalam peraturan perundangundangan ini. Pemberian nama atau tanda-tanda menunjuk pada label dari barang bersangkutan. dan banyaknya serta kegunaannya.

23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. d.000. ketentuan tentang pelabelan makanan ditegaskan lebih lanjut. (pasal 41-45) Ketentuan tentang sanksi-sanksi atas pelanggaran kewajiban memesang label pada makanan (dalam kemasan) tersebut memang tidak begitu jelas. dan tahun kadaluarsa Ketentuan lainnya Dalam penjelasan Pasal ini (huruf d) dinyatakan bahwa ketentuan lainnya misalnya pencantuman kata atau tanda halal menjamin bahwa makanan dan minuman dimaksud diproduksi dan diproses sesuai persyaratan makanan halal. bulan. Pasal 85) SK Menteri Menteri Kesehatan tanggal 21 Agustus 1971 No. etiket atau brosur yang diikutsertakan pada penyerahan atau penjualan sesuatu obat. Perbuatan mengedarkan makanan tanpa label dinyatakan sebagai tindak pidana pelanggaran dengan ancaman pidana kurungan maksimum satu tahun dan denda maksimum Rp15. nilai gizi.   Nama dan alamat perusahaan yang memproduksi atau mengedarkan Nomor pendaftaran Kode produksi  Untuk jenis makanan tertentu yang ditetapkan oleh menteri kesehatan. Setiap makanan yang dikemas wajib diberi tanda atau label (Pasal 21 ayat (2)) yang memuat tentang : a. b. c. Sebagai akibatnya kemudian dalam perundang-undangan yang lebih baru.000. Undang-undang No. petunjuk penggunaan dan cara penyimpanannya. baik yang diberikan bersama obat itu maupun yang diberikan sesudah atau sebelum penyerahan obat yang bersangkutan. tidak menggunakan istilah label atau etiket. yang berbunyi : Tulisan-tulisan dan pernyataan-pernyataan pada pembungkus. Pengertian tentang penandaan termuat dalam Pasal 1 angka 4.00 (Pasal 84 jo. harus dicantumkan tanggal kadaluarsa. Bahan yang dipakai Komposisi setiap bahan Tanggal. 193 Tahun 1971 tentang Pembungkusan dan Penandaan obat. tetapi penandaan. Perbuatan mengedarkan makanan tanpa label sebagaimana dimaksudkan dalam peraturan Menteri Kesehatan tersebut dinyatakan dilarang dan dapat diancam dengan sanksi-sanksi sebagaimana termuat dalam KUHP dan tindakan administratif berupa penarikan nomor daftar produk itu dan tindakan lain berdasarkan perundangundangan yang berlaku. Adapun dalam Pasal 3 SK Mentei Kesehatan tersebut ditentukan : .

c. syaratsyarat perikatan. Pada penandaan. batas daluarsa dan tanda-tanda lain yang dianggap perlu Ketentuan berikut dalam pasal itu dan pasal 4-6 memuat rincian berbagai keharusan tata cara tentang permuatan isi label atau etiket tersebut.indikasi sebagaimana disetujui pada pendaftaran. tentang resiko jenis-jenis perikatan tertentu. label atau etiket pemuatan informasi yang bersifat wajib dilakukan dengan sanksi-sanksi administratif dan pidana tertentu apabila tidak dipenuhi persyaratan-persyaratan etiket dan label tersebut. dan lain-lain). komposisi obat dan susunan kuantitatif zat-zat berkhasiat. Selanjutnya. akan mengakibatkan hukuman di lapangan administratif. tetapi dengan batas-batas minimum sehingga tidak menyesatkan atau menipu (iklan melawan hokum). Selain mengakibatkan hukuman di bidang pidana dan penyitaan obat. syarat-syarat pembatalannya. kontra indikasi yang ditetapkan pemerintah untuk dicantumkan. Adapun Pasal 12 Surat Keputusan Menteri Kesehatan ini menetapkan bahwa pelanggaran atas ketentuan-ketentuan antara lain. khususnya tentang pelabelan tersebut. Perikatan yang terjadi karena undang-undang. Hal-hal yang Berkaitan dengan Perikatan Dalam KUH Perdata Buku ke-III. Pasal 41 ayat (2) memuat ketentuan tentang penandaan dan informasi sebagai berikut: Penandaan dan informasi sediaan farmasi dan alat kesehatan harus memenuhi persyaratan objektivitas dan kelengkapan serta tidak menyesatkan. angkutan. nomor pendaftaran. Pasal 1233 menyebutkan jenis-jenis perjanjian (prestasi)yang dapat diadakan terdiri atas memberikan sesuatu. bobot netto atau volume obat. . nama pabrik dan alamatnya (sedikitnya nama kota dan negaranya). sandang papan. dapat timbul karena undangundang. cara penyimpanan. Dari uraian diatas tampak bahwa informasi produk konsumen itu dapat ditemukan dalam penandaan atau informasi lain. dan berbagai bentuk perikatan yang dapat diadakan (Pasal 1233). baik karena undang-undang maupun sebagai akibat perbuatan seseorang. nomor batch.Pada bungkus luar dan wadah obat jadi atau obat paten dan bahan kontras harus dicantumkan tanda atau etiket yang menyebutkan nama jenis atau nama barang obat. seperti iklan dalam segala bentuk kreativitasnya. ketentuan-ketentuan diatas mendapatkan “porsi” baru. cara penggunaan. termuat ketentuan-ketentuan tentang subjek-subjek hokum dari perikatan. Hal ini berkaitan dengan bahan informasi yang selalu mengusik adalah mengapa suatu hasil uji laboratoris produk konsumen (antara lain oleh instansi pemerintah) tidak disiarkan kepada masyarakat agar mereka mengetahui bermutu atau bergizi tidaknya sesuatu produk konsumen (pangan. Dalam UU Kesehatan. berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu. tentang Perikatan (van Verbintenissen). dosis.

maka berdasarkan undang-undang dapat juga timbul atau terjadi hubungan hokum antara orang tersebut dan orang yang menimbulkan kerugian itu. mengganti kerugian tersebut. dan bunga (Pasal 1236 dalam hal perjanjian memberikan sesuatu. Perikatan juga dapat terjadi tanpa adanya perjanjian. dan seterusnya. juga termasuk keuntungan (winstderving) yang diharapkan yang tidak diterima karena perbuatan ingkar janji tertentu. oktroi. dapat mengakibatkan terjadinya cedera janji (wanprestatie). Pasal 1243. setelah dipenuhinya syarat tertentu. kerugian yang dialami. Apabila seseorang dirugikan karena perbuatan orang lain. Dalam perikatan yang timbul karena perjanjian. dan hak merk). dan Pasal 1242 dalam hal perjanjian berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Pasal 1365 KUH Perdata berbunyi : Setiap perbuatan melanggar hokum yang membawa kerugian pada orang lain.1246). Kerugian-kerugian itu selain dari biaya-biaya yang sungguh-sungguh telah dikeluarkan. kehormatan dan nama baik seseorang. hak-hak pribadi perseorangan (persoonlijkrechten) seperti hak-hak atas integritas (harga diri). Pasal 1239. . kerugian. Yang dimaksudkan adalah hak-hak subjektif orang lain.1353m dan seterusnya). yang terpenting terlihat pada perikatan karena terjadinya perbuatan atau kealpaan yang melanggar atau melawan hokum (selanjutnya disebut PMH). Kedalamnya termasuk hak-hak kebendaan dan lain-lain hak yang bersifat mutlak (seperti hak milik.Perbuatan itu dapat berupa perbuatan yang diperbolehkan (halal) atau perbuatan yang melanggar hokum (Pasal 1352. sedang diantara mereka itu tidak terdapat suatu perjanjian (hubunganhukum perjanjian). tidak dipenuhi atau dilanggarnya butir-butir perjanjian itu. Perbuatan cedera janji ini memberikan hak pada pihak yang dicederai janji untuk menggugat ganti rugi berupa biaya. mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu.1244. Unsur-unsur Perbuatan Melawan Hukum: 1) Unsur pelanggaran atas hak-hak orang lain. Antara lain.

hokum pidana. Jadi. yang dapat digunakan dengan berdiri sendiri.2) Unsur bertentangan dengan kewajiban hukum pelaku Yang dimaksudkan adalah kewajiban hokum yang diletakkan perundangundangan dalam arti materiil. Di Indonesia. Sejak tahun 1919. adalah hokum administrasi Negara. tujuan unifikasi . penerapan kitab di atas diunifikasikan sejak 1918. hokum acara perdata. 3) Unsur bertentangan dengan kehati-hatian yang hidup atau harus diindahkan dalam kehidupan masyarakat. kodifikasi hokum pidana teersebut jauh-jauh hari berlaku untuk semua golongan penduduk. 73 Tahun 1958. 1 Tahun 1946. Setelah Indonesia merdeka. Pada pokoknya orang haruslah memperhatikan perilaku yang dianggap patut (behoorlijk) dalam masyarakat dikaitkan dengan kepentingan perorangan satu sama lain. Karena perkembangan poliik. yakni sejak pertama kali diberlakukan wetboek van strfrecht voor Nederlandsch-indie. adopsi undang-undang yang semula bertujuan untuk unifikasi itu. Hukum Pidana Pengaturan hokum positif dalam lapangan hokum pidana secara umum terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Kitab UndangUndang itu lalu diadopsi secara total. Dualisme hokum tetap terjaddi karena perbedaan penafsiran terhadap perubahan-perubahan yang di buat pada masa penjajahan belanda dan Jepang. Mengenai penerapannya harus dilihat kasus per kasus. dan hokum acara pidana dan hokum internasional khususnya hokum perdata internasional. 1. baik secara terlepas dari atau bersama-sama unsure-unsur lainnya. berbeda dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang masih bersifat pluralistis. melalui Undang-Undang No. baik bersifat perdata maupun public (misalnya perbuatan pelanggaran atau kejahatan seperti termuat dalm KUHP). tidak mencapai tujuannya. Termasuk hokum publik dalam rangka hokum konsumen dan hokum perlindungan konsumen. ditetapkan oleh lembaga yang berwenang. Aspek hukum publik Dengan hukum publik dimaksudkan hukum yang mengatur hubungan antara Negara dan alat-alatnya perlengkapannya atau hubungan Negara dengan peroranagan. Ia menunjuk pada kebiasaan tidak tertulis. Baru kemudian dengan Undang-Undang No. 2. unsur ini tampaknya merupakan unsur yang terpenting dalam penenruan tolok ukur perbuatan melawan hukum.

dan hokum internasional. antara lain (yang paling luas dipakai) adalah karya Alm. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tidak disebut kata “konsumen”. Jika perbuatan mengakibatkan matinya orang. Di antara semua aspek hokum public itu. 2.yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama stau tahun empat bulan atau kurungan paling lama satu tahun. Prof. 1). 1 Tahun 1946 itu dapat dicapai. yang bersalah dikenakan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama waktu tertentu paling lam dua puluh tahun. dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan atau kurungan paling lama enam bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah.S. Pasal 360: Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain mendapat luka-luka berat. secara implicit dapat ditarik beberapa pasal yang memberikan perlindungan hokum bagi konsumen. Kendati demikian. 3.hokum acara. diserahkan atau dibagi-bagikan.H. Belum ada satu pun terjemahan yang dinyatakan resmi. 4. diancam dengan pidana penjara lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun. yang diketahui bahwa membahayakan nyawa atau kesehatan orang. yang paling banyak menyangkut perlindungan konsumen adalah hokum pidana dan hokum administrasi Negara. Kitab ini diberlakukan diseluruh Indonesia dengan nama resmi Wetboek van Strafrecht atau dapat disebut juga Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan atau . Pasal 204: Barang siapa menjual. Moeljanto. antara lain : 1.. diancam. Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian rupa sehingga timbul penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian selama waktu tertentu. Pasal 359: Barang siapa karenakealpaannya menyebabkan matinya orang lain. padahal sifat berbahaya itu tidak diberitahukan. Barang-barang itu dapat disita.dalam kategori ini termasuk pula hokum administrasi Negara. Jadi.yang diinginkan Undang-Undang No. Pasal 205: Barang siapa karena kealpaannya bahwa barang-barang yang berbahaya bagi nyawa atau kesehatan orang dijual. Jika perbuatan mengakibatkan matinya orang. Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.menyerahkan atau membagi-bagikan barang. berarti secara resmi sebenarnya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang berlaku di Indonesia itu masih berbahasa Belanda. Hokum pidana sendiri termasuk dalam kategori hokum publik. diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun (LN 1906 No. Adapun terjemahan yang dipakai saat ini masih merupakan karya individual atau institusi tertentu.menawarkan. tanpa diketahui sifat berbahayanya oleh yang membeli atau yang memperoleh.

minuman atau obat-obatan yang diketahui bahwa itu palsu. ternyata belum secara intens mengarahkan perhatiannya kepada kepentingan tersebut. diancam dengan pidnaan penjara paling lama empat tahun. dengan menggunakan tipu muslihat. melakukan perbuatan curang untuk menyesatkan khalayak umum atau seorang tertentu diancam. 6. (2) mengenai jenis keadaan atau banyaknya barang yang diserahkan. jika karenanya dapat timbul kerugian bagi konkuren-konkurrennya atau orang lain itu. Tindak pidana berupa pembajakan hak cipta. 7 Tahun 1996 tentang Pangan. Bahan makanan. Selain itu juga dalam pengaturan hak-hak atas kekayaan intelekual. Sayangnya. Pasal 382: Barang siapa mejual. dan menyembunyikan hal itu. menawarkan.menyerahkan atau menyerahkan makanan.kurungan paling lama enam bulan atau denda paling tinggi tiga ratuus rupiah (LN 1960 No. khususnya dari sudut penerapan sanksi pidananya. karena persaingan curang.jika nilainya atau faedahnya menjadi kurang karena dicampur dengan sesuatu bahan lain. dana-dana atau surat-surat berharga menjadi turun atau naik. Pasal 390: Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hokum. 8. Ketentuanketentuan dilapangan hokum kesehatan dapat dikatakan merupakan instrumen hokum yang paling luas namun tidak berarti memadai dalam mengatur hak-hak konsumen dibandingkan dengan lapangan huukum lainnya. seorang penjual yang berbuat curang teerhadap pembeli: (1) karena sengaja menyerahkan barang lain daripada yang ditunjuk untuk dibeli. dewasa ini diberi perhatian yang cukup besar. Pasal 382 bis: barang siapa untuk mendapatkan. Pasal 383: Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan. paten.yang berlaku sejak 4 November 1996.minuman atau obat-obatan itu dipalsu. diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan. dengan menyiarkan kabar bohong yang menyebabkan harga barang-barang dagangan. Di luar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana terdapat banyak sekali ketentuan pidana yang beraspekkan perlindungan konsumen. dan hak atas merk. peraturan-peraturan di bidang hak aras kekayaan intelektual yang sebenarnya bersinggungan erat dengan kepentingan konsumen. 7. melangsungkan atau memperluas debit perdagangan atau perusahaan kepunyaan sendiri atau orang lain. 1) 5. Lapangan pengaturan yang paling luas kaitannya dengan hokum perlindungan konsumen terdapat pada bidang kesehatan. Perlindungan yang diberikan porsi terbanyak justru kepada individual atau badan yang menjadi . misalnya sekarang diubah dari deliik aduan menjadi delik biasa. dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau denda paling banyak Sembilan ratus rupiah. Termasuk dalam kelompok ini adalah Undang-Undang No. seperti hak cipta.

Jadi.pemegang hak-hak di atas. Seandainya tidak tertampung dalam undang-undang yang bersifat khusus dan sektoral seperti diatas. sebagai lawan dari pendirian yang formal. . Dalam penafsiran ekstensi. bukan pada konsumen sebagai bagian terbesar masyarakat Indonesia. Jika terjadi pelanggaran. Pemerintah RI kepada pengusaha/penyalur tersebut.tetap ada sandaran peraturannya. Tentu saja konsekuensi lain adalah dalam mengartikan perbuatan melawan hokum (wederrechtelijke daad) dilapangan hokum pidana tidak seleluasa dilapangan hokum perdata. tetapi justru kepada pengusaha. Jika dilakukan. Rupanya para ahli hokum lain seperti Simmons. masih memepertahankan cara berpikir formal. hanya ada perbedaan gradual. Suatu rumusan tindak pidana dapat kehilangan sifat melawan hukumnya hanya jika ada peraturan (minimal) setingkat dengan itu (misalnya sama-sama undang-undang) yang mengecualikan. Kecenderungan seperti yang terjadi dalam hukum bidang hak atas kekayaan intelektual ini seharusnya mulai di antisipasi. Akibatnya. Pengakomodasian ini penting. dan Langemeyers. ini berarti bertentangan dengan asas legalitas. makna suatu rumusan diberi pengertian menurut kebutuhan masyarakat saat itu. baik itu produsen maupun para penyalur hasil-hasil produknya. Pada hakikatnya penafsiran ekstensi dan analogi itu sama. Cuma dibari penafsiran yang lebih luas. Cara berpikir Vost ini disebut dengan pendirian material. Sanksi administratif tidak ditujukan pada konsumen pada umumnya. yang berbeda dengan makna tatkala rumusan ittu di buat oleh pembentuk undang-undang. Sanksi administratif berkaitan dengan perizinan yang diberikan. hokum administrasi Negara adalah instrumen hokum publik yang penting dalam perlindungan konsumen. 2. Hanya inti (rasio) dari aturan itu yang masih dipertahankan. pada analogi sudah tidak lagi bersandar pada suatu rumusan peraturan. aparat penegek hokum (dalam hal ini khususnya hakim) tidak dapat dengan leluasa menetapkan tindak pidana yang baru diluar rumusan undangundang. Putusan-putusan pengadilan berkaitan dengan perluasan penafsiran tentang perbuatan melawan hokum memang juga mempengaruhi pemikiran para ahli hukum pidana. dalam hokum pidana dikenal larangan melakukan analogi-analogi berbeda pengertiannya dengan penafsiran ekstensi. Sebaliknya. dapat diakomodasikan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang menurut rencana akkan segera diperbaharui. izin-izin itu dapat dicabut secara sepihak oleh pemerintah. tidak sekadar yang oleh undang-undang dilarang. Hukum Administrasi Negara Seperti halnya hokum pidana. karena berbeda dengan lapangan hokum perdata. sehinggga menjadi perbuatan yang oleh masyarakat tidak diperbolehkan. Jonkers. menganut pemikiran agar dalam hokum pidana pun unsur perbuatan melawan hokum ini dapat ditafsirkan secara luas. Sanksi-sanksi hokum secara perdata dan pidana seringkali kurang efektif jika tidak disertai sanksi administratif. Vost misalnya.

mungkin dari instansi-instansi Pemerintah terkait. Contohnya adalah ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. yakni mencegah jatuhnya lebih banyak korban. untuk kasus-kasus teertentu. konsumen juga dihadapkan pada posisi tawar-menawar yang tidak selalu menguntungkan disbanding dengan produsen. Campur tangan administrator Negara idealnya harus dilatarbelakangi iktikad melindungi masyarakat luas dari bahaya. Tentuu saja. sehingga berlaku efektif. Pengertian bahaya disini terutama berkenaan dengan kesehatan daan jiwa. Hak-hak konsumen yang dirugikan dapat dituntut dengan bantuan hokum perdata atau pidana. bagi pihak yang terkena sanksi ini dibuka kesempatan untuk “membela diri”. sepanjang memang didukung oleh bukti-bukti yang cukup. Dikatakan demikian karena penguasa sebagai pihak pemberi izin tidak perlu meminta persetujuan terlebih dahulu dari pihak manapun. diawasi secara ketat. Walaupun secara teoretis instrument hokum administrasi negara ini cukup efektif.obat-obatan dan zat-zat kimia. Ada beberapa alasan untuk mendukung pernyataan ini. peraturan-peraturan tentang produk makanan. kedua pertimbangan tersebut seharusnya tidak menjadi alasan pemaaf bagi pengusaha yang merugikan konsumen tersebut. sanksi perdata atau pidana acapkali tidak membawa efek “jera” bagi pelakunya. tetap ada kendala dalam penerapannya. Pemerintah tampaknya menjadikan sanksi administratif ini sebagai ultimum remedium. Kedua. Dengan demikian. dapat berua barang atau jasa. .sanksi administrati jug tidak perlu melaui proses pengadilan. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Sanksi administratif ini sering lebih efektif dibandingkan dengan sanksi perdata atau pidana. antara lain mengajukan kasus tersebut ke pengadilan tata usaha Negara. Untuk gugatan secara perdata. Itulah sebabnya. Produksi disini harus diartikan secara luas. Belum lagi mekanisme penjatuhan putusan itu yang biasanya berbelit-belit dan membutuhkan proses yang lama. Pertama. sehingga konsumen sering menjadi tidak sabar. kalaupun ini dibutuhkan. Peraturanperaturan masa kolonial itu bahkan cukup banyak yang masih berlaku sampai seekarang. Memang. karena dikaitkan dengan pertimbangan tenaga kerja dan perpajakan. dampaknya secara tidak langsung berarti melindungi konsumen pula. Adapun pemulihan hak-hak korban (konsumen) yang dirugikan bukan lagi tugas instrument hokum administrasi Negara.Pencabutan izin hanya bertujuan menghentikan proses produksi dai produsen/penyalur. Persetujuan. tetapi sanksi itu sendiri dijatuhkan terlebih dulu. Pemerintah masih mengandalkan inisiatif konsumen untuk mempersalahkannnya. Syarat-syarat pendirian perusahaan yang bergerak dibidang tersebut dan pengawasan terhadap proses produksinya dilakukan ekstra hati-hati. seperti pencemaran oleh PT Inti Indorayon di Sumatera Utara.sanksi administratif dapat diterapkan secara langsung dan sepihak. Nilai ganti rugi dan pidana yang dijatuhkan mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan keuntungan yang diraih dari perbuatan negative produsen. Bahkan. sejak prakemerdekaan. Snksi administratif terhadap perusahaan-perusahaan yang mencemari lingkungan masih teramat jarang dilkukan.

Misalnya tindakan administratif terhadap tenag kesehatan atau sarana kesehatan yang melanggar undang-undang (Pasal 77 UU No. Undang-Undang No. kualitas manajemen. Tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dilakukan setelah mendengar pertimbangan Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan. Selanjutnya. Ayat (2) pasal ini menentukan bahwa Bank Indonesia menetapkan ketentuan tentang kesehatan bank dengan memperhatikan aspek permodalan. Undang-Undang No. . Juga berdasarkan UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. izin prakti atau izin lain yang diberikan. ditetapkan bahwa Bank Inndonesia dapat menetapkan sanksi administrative kepada bank yang tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana ditentukan dalam undang-undang ini atau menyampaikan peritmbangan kepada Menteri Keuangan untuk mencabut izin usaha bank bersangkutan. sedang Pasal 77 menegaskan wewenang pemerntah untuk mengambil berbagai tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap undang-undang ini. dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank.Ketentuan hokum administrasi. 23 Tahun 1992. Pasal 52 dan 53 (Ketentuan Pidana dan sanksi administratif). kualitas aset. Pasal 77 itu berbunyi : Pemerintah berwenang mengambil tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan ini.solvabilitas. 75) Selanjutnya dalam Undang-Undang Kesehatan. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan). 16 Tahun 1985 LN Tahun 1985 No. Pasal 73 ditentukan: Pemerntah melakukan pembinaan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan. serta penjatuhan hokum disiplin berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.rentabilitas. Pasal 29 menegaskan tugas pembinaan dan pengawasan bank-bank di Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Dalam Pasal 76 undang-undang itu dijelaskan pula peran pengawasan yang dijalankan oleh pemerintah. Penjelasan pasal ini menentukan tindakan administratif dalam pasal ini dapat berupa pencabutan izin usaha. misalnya menentukan bahwa: Pemerintah melakukan pengaturan dan pembinaan rumah susun dan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang (termuat dalam Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 20 Ayat (1) Undang-Undang tentang Rumah Susun. Begitu pula dengan tindakan administratif Menteri Kehakiman dalam mengeshkan Anggaran Dasar suatu Perseroan Terbatas atau Perubahannya sebagaimana termuat dalam Undang-Undang No. Dari peraturan perundang-undanagan diatas terlihat beberapa departemen atau lembaga pemerintah tertentu yang menjalankan tindakan administratif berupa pengawasan dan pembinaan terhadap pelaku usaha dengan perilaku tertentu dalam melaksanakan perundang-undangan tesebut. likuiditas.

Hukum Transnasional Sebutan “hukum transnasional” mempunyai dua konotasi. hukum transnasional yang berdimensi perdata. melainkan bagian dari hukum perdata nasional. Sumber terpenting dari hukum internasional adalah perjanjian antarnegara dan konvensi-konvensi internasional. namun intensitas gerakan tersebut tidak selalu sama pada tiap-tiap Negara. Pertama. pola perlindungan konsumen perlu diiarahkan pada pola kerja sama antarnegara. Masalh perlindungan konsumen merupakan salah satu bukti diantaranya. Walaupun begitu. Demikian pula halnya dengan resolusi-resolusi yang di buat oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hukum perdata internasional sesungguhnya bukan hukum yang berdiri sendiri. Oleh karena itu.3. maka yang seharusnya terjadi adalah persaingan jujur. yang biasanya dikenal sebagai hukum internasional publik. keberadaan sumber-sumber hukum internasional iu tetap tidak banyak artinya jika belum diartifikasi oleh Negara yang bersangkutan. DALAM Pada era perdagangan bebas dimana arus barang dan jasa dapat masuk ke semua Negara dengan bebas. hukum internasional yang berdimensi public. Kepentingan nasional masing-masing Negara kerapkali membuatnya harus menjadi “macan kertas” yang dengan sendirinya tidak bergigi dan tidak mempunyai kekuatan memaksa. Kedua. yang notabene tanpa ratifikasi pun harrusnya berlaku secara serta-merta terhadap semua Negara anggota badan dunia itu. antarsemua pihak yang berkepentingan agar terciptanya suatu model perlindungan yang harmonis berdasarkan atas persaingan jujur. PERANAN HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN C. Gerakan ini memang berkembang pesat diberbagai penjuru dunia. yang lazim disebut hukkum perdata Internasional. Melalui petunjuk inilah lalu ditentukan hukum atau pengadilan mana yang akan menyelesaikan perselisihan hukum tersebut. Hukum perdata internasional hanya berisi petunjuk tentang hukum nasional mana yang akan diberlakukan jika tedapat kaitan lebih dari satu kepentingan hukkum nasional. . Persaingan jujur adalah suatu persaingan dimana konsumen dapat memiliki barang atau jasa karena jaminan kualitas dengan harga yang wajar. Hukum internasonal sering dinilai sebagai instrument yang “mandul” daalm menangani banyak kasus hukum yang berdimensi lintas Negara. Kondisi suatu Negara sangat dominan menentukan seberapa jauh gerakan ini mendapat tempat di masyarakat.

Bertolak dari pemikiran diatas. yang sudah mengandung unsure melindungi kepentingan konsumen antara lain :       Undang-undang kesehatan Undang-undang barang Undang-undang hygiene untuk usaha Undang-undang pengawasan atau edar barang Peraturan tentang wajib daftar obat Peratutan tentang produksi dan peredaran produk tertentu . yaitu: 1. yakni dari sisi pasar domestic dan dari sisi pasar globlal. pada dasarnya dapat dikaji dari dua pendekatan. Hak keamanan dan keselamatan Hak atas informasi Hak untuk memilih Hak untuk didengar dan Hak atas lingkungn hidup Aspek-aspek hukum terhadap perlindungan konsumen didalam era pasar bebas. 3. pada dasarnya negara dapat diketahui bahwa aspek hukum public dan aspek hukum perdata mempunyai peran dan kesempatan yang sama untuk melindungi kepentingan konsumen. 5. Kemenangan dan peran tersebut dapat diwujudkan mulai dari :  Politic will/ kemauan politik untuk melindungi kepentingan konsumen domestic didalam persaingan globlal dan atas persaingan tidak sehat local. didistribusikan/dipasarkan dan diedarkan sampai barang dan jasa tersebut dikonsumsi oleh konsumen. pemerintahan instansi yang mempunyai peran dan kemenangan untuk melindungi konsumen.  Birokrasi dengan sadar dan senang hati menciptakan kondisi dengan berbisnis jujur dalam mewujudkan persaingan sehat. 2.Sampai saat ini secara universal diakui adanya hak-hak konsumen yang harus dilindungi dan dihormati. Aspek hukum public berperan dan dapat dimanfaatkan oleh Negara. 4. Keduanya harus diawali dan sejak barang dan jasa diproduksi.  Di dalam hukum positif.

Keadaan yang demikian mendorong para pihak produsen. distributor. diharapkan diikuti dengan pengawasan. pembinaan dan pemberian sanksi yang pasti dan tegas apabila terjadi pelanggaran mengenai syarat dan operasional dari perusahaan produsen. Untuk mengurangi ketidakseimbangan tersebut. termasuk didalamnya hukum administrasi Negara. Hal inilah yang menyebabkan tidak seimbangnya hubungan hukum para pihak. membina dan mencabut izin sesuai dengan ketentuan apabila terbukti :   Melanggar ketentuan undang-undang Merugikan kepentingan umum/konsumen Aspek hukum perdata secara umum hanya dapat dimanfaatkan oleh pihak untuk kepentingan-kepentingan subjektif. Meskipun demikian mengingat hubungan hukum para pihak terjadi karena berbagai alasan dan factor kebutuhan. mempunyai sumbangan terbesar dalam rangka melindungi kepentingan konsumen. BAB 5 PRINSIP-PRINSIP HUKU PERLINDUNGAN KONSUMEN . Fakta selalu menunjukkan bahwa posisi calon konsumen dalam keadaan lebih karena factor ekonomi dan kebutuhan. memperkuat posisinya dengan menyiapkan dokumen yang ditentukan secara sepihak. Dari aspek hkum public. Sumbangan yang terbesar pada hukum public disini adalah kemampuan untuk mengawasi. dan sebagainya. maka sudah waktunya apabila disiapkan adanya syarat-syarat bahkan yang harus dipenuhi apabila ada pihak berniat menyiapkan perjanjian baku bagi calon konsumennya.\ Syarat-syarat baku minimal antara lain mengenai :   Waktu atau batas waktu untuk mengajukan keberatan Syarat atas pemenuhan janji  Syarat kesanggupan untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan promosi. Peraturan tentang perizinan.

5. seseorang baru dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum jika ada unsure kesalahan yang dilakukannya. yaitu : 1. dan 1367. mengharuskan terpenuhinya empat unsure pokok.dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Adanya perbuatan Adanya unsure kesalahan Adanya kerugian yang diderita Adanya hubungan kausalitas antara kesalahan dan kealpaan Yang dimaksud kesalahan adalah unsure yang bertentangan dengan hukum. . diberlakukan keberhati-hatian daalm menganalisis siapa yang harus bertanggung jawab dan seberapa jauh tanggung jawab dapat dibebankan kepada pihak-pihak terkait. 3. Prinsip Tanggung Jawab Berdasarkan Unsur Kesalahan Prinsip tanggungjawab berdasarkan unsure kesalahan adalah prinsip yang cukup umum berlaku dalam hukum pidana dan perdata. seperti peraturan perundang-undangan dan perjanjian standar di lapangan hukum keperdataan kerap memberikan pembatasanpembatasan terhadap tanggungjawab yang dipikul oleh sipelanggar hak konsumen. Secara umum. yang lazim dikenal sebagai pasal tentang perbuatan melawan hukum. 4. Beberapa sumber formal hukum. prinsip ini di pegang secara teguh. 2. khususnya Pasal 1365. PRINSIP-PRINSIP TANGGUnG JAWAB Prinsip tentang tanggung jawab merupakan perihal yang sangat penting dalam hukum perlindungan konsumen.A. Kesalahan Praduga selalu bertanggung jawab Praduga selalu tidak bertanggung jawab Tanggung jawab mutlak Pembatasan tanggung jawab 1. Dalam kasus-kasus pelanggaran hak konsumen. tetapi juga kepatutan dan kesusilaan dalam masyarakat. Pengertian “hukum” tidak hanya bertentangan dengan undang-undang. Prinsip ini menyatakan. 2. 4. 3. Pasal 1365 KUH Perdata. 1366. prinsip-prinsip tanggungjawab dalam hukum dapat dibedakan sebagai berikut: 1.

2. sampai ia dapat membuktikan ia tidak bersalah. Doktrin yang terakhir ini disebut ostensible agency. Latar belakang penerapan prinsip ini adalah konsumen hanya melihat semua dibalik dinding suatu korporasi itu sebagai sati kesatuan. yakni asas kedudukan yang sama antara semua pihak yang berperkara. Dalam doktrin hukum dikenal asas vicarious liability dan corporate liability. yang sebenarnya juga berlaku umum untuk prinsip-prinsip lainnya adalah definisi tentang subjek pelaku kesalahan (lihay Pasal 1367 KUP Perdata). asas ini mengikuti ketentuan Pasal 163 (HIR) atau Pasal 283 (Rbg) dan Pasal 1865 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Maksudnya. Menurut doktrin ini. Di sini hakim harus memberi para pihak beban yang seimbang dan patut sehingga masing-masing memiliki kesempatan yang sama untuk memenangkan perkara tersebut. khususnya pengangkutan udara. prinsip tanggung jawab ini pernah diakui.maka tanggung jawabnya beralih pada si pemakai karyawan tadi. maka sudah cukup syarat bagi korporasi itu untuk wajib bertanggung jawab secara vicarious terhadap konsumen. Ketentuan diatas juga sejalan dengan teori umum dalam hukum acara. Ia tidak dapat membedakan mana yang berhubungan secara organic dengan korporasi dan mana yang tidak. barangsiapa yang mengakui mempunyai suatu hak.perawat.Secara common sense. Corporate liability pada prinsipnya memiliki pengertian yang sama dengan vicarious liability. asas tanggung jawab ini dapat diterima karena adalah adil bagi orang yang berbuat salah untuk mengganti kerugian bagi pihak korban. orang yang bekerja disitu (dokter. beban pembuktian ada pada si tergugat. Mengenai pembagian beban pembuktiannya. dalam hubungsn hukum antara rumah sakit dan pasien. tergugat selalu dianggap bertanggung jawab. Jadi. Prinsip Praduga untuk Selalu Bertanggung Jawab Prinsip ini menyatakan. Di situ dikatakan. Dengan kata lain. harus membuktikan adanya hak atau peristiwa itu. Sebagai contoh. tetapi untuk karyawan nonorganic (misalnay dokter yang dikontrak kerja dengan pembagian hasil). Perkara yang perlu diperjelas dalam prinsip ini. lembaga yang menaungi suatu kelompok pekerja mempunyai tanggung jawab terhadap tenaga-tenaga yang dipekerjakannya. semua tanggung jawab atas pekerjaan tenaga medic dan paramedic dokter adalah menjadi beban tanggung jawab rumah sakit tempat mereka bekerja. jika suatu korporasi (misalnya rumah sakit) memberi kesan kepada masyarakat (pasien). Dalam hukum pengangkutan. let the master answer.dan lain-lain) adalah karyawan yang tunduk dibawah perintah korporasi tersebut. Jika karyawan itu dipinjamkan kepihak lain. sebagaimana dapat dilihat dalam Pasal 17. Vicarious liability atau disebut juga respondeat superior. tidak adil jika orang yang tidak bersalah harus mengganti kerugian yang diderita orang lain. mengandung pengertian majikan bertanggung jawab atas kerugian pihak lain yang ditimbulkan oleh orang-orang atau karyawan yang berada dibawah pengawasannya. Prinsip ini diterapkan tidak saja untuk karyawan organiknya (digaji oleh runah sakit).18 Ayat .

3. jika diterapkan dalam kasus konsumen akan tampak. Tergugat ini yang haus menghadirkan bukti-bukti dirinya tidak bersalah. Dalam konteks hukum pidana di Indonesia.(1). UUPK pun mengadopsi system pembuktian terbalik ini. kemudian dalam perkembangannya dihapuskan dengan Protokol Guatemala 1971. asas demikian cukup relevan. ssebagaimana ditegaskan dalam pasal 19. Dasar pemikiran dari teori Pembalikan Beban Pembuktian adalah seseorang dianggpa bersalah. Berkaitan dengan prinsip tanggung jawab ini. ia mengambil suatu tindakan yang diperlukan untuk menghindari timbulnya kerugian. Posisi konsumen sebagai penggugat selalu terbuka untuk digugat balik oleh pelaku usaha. 100 Tahun 1939. Hal ini tentu bertentangan dengan asas hukum praduga tidak bersalah yang lazim dikenal dalam hukum. Namun. Pasal 20 Konvensi Warsawa 1929 atau Pasal 24. Pasal 19 jo. kerugian ditimbulkan oleh hal-hal diluar kekuasannya. dan pembatasan demikian biasanya secara common sense dapat dibenarkan. yang biasanya dibawa . omkering van bewijslast juga diperkenalkan dalam Undang-Undang tentang Tindak Pidana Korupsi. Prinsip Praduga untuk tidak selalu bertanggung jawab hanya dikenal dalamlingkup transaksi konsumen yang sangat terbatas. c) Pengangkut dapat membebaskan diri dari tanggng jawab jika ia dapat membuktikan. tepatnya pada Pasal 17 dan 18. Jika digunakan teori ini. dan 23 (lihat ketentuan Pasal 28 UUPK). Pasal 29 Ordonansi Pengangkutan udara No. dalam doktrin hukum pengangkutan khususnya. dalam praktiknya pihak kejaksaan RI sampai saat ini masih keberatan untuk menggunakan kesempatan yang diberikan prinsip beban pembuktian terbalik. Prinsip Praduga untuk Tidak Selalu Bertanggung Jawab Prinsip ini adalah kebalikan dari prinsip kedua. kerugian yang timbul bukan karena kesalahannya d) Pengangkut tidak bertanggung jawab jika kerugian itu ditimbulkan oleh kesalahan/kelalaian penumpang atau karena kualitas/mutu barang yang diangkut tidak baik Tampak beban pembuktian terbalik (omkering van bewijslast) diterima dalam prinsip tersebut.22.25. maka yang berkewajiban untuk membuktikan kesalahan itu ada di pihak pelaku usaha yang digugat. Namun. Contoh dalam penerapan prinsip ini adalah dalam hukum pengangkutan. dikenal empat variasi: a) Pengangkut dapat membebaskan diri dari tanggung jawab kalau ia dapat membuktikan. Tentu saja konsumen tidak lalu berarti dapat sekehendak hati mengajukan gugatan.28 jo. jika ia gagal menunjukkan kesalahan si tergugat. Kehilangan atau kerusakan pada bagasi kabin/bagasi tangan. sampai yang bersangkutan dapat membuktikan sebaliknya. b) Pengangkut dapat membebaskan diri dari tanggung jawab jika ia dapat membuktikan.

Ada unsure kelalaaiaan. bagasi kabin/bagasi tangan tetap dapat dimintakan pertanggungjawaban sepanjang bukti kesalahan pihak pengangkut (pelaku usaha) dapat ditunjukkan. Melanggar jaminan. misalnya khasiat yang timbul tidak sesuai dengan janji yang tertera dalam kemasan produk B. dalam Pasal 44 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. yaitu produsen lalai memenuhi standar pembuatan oba yang baik C.dan diawasi oleh sipenumpang (konsumen) adalah tanggung jawab dari penumpang. tanggung jawab mutlak adalah prinsip tanggung jawab yang menetapkan kesalahan tidak sebagai factor yang menentukan. ada penegasan. Artinya. ia hanna perlu membuktikan adanya hubungan kausalitas antara perbuatan pelaku usaha . Namun. misalnya keadaan force majeur. Pihak yang dibebankan untuk membuktikan kesalahan itu ada pada si penumpang. Pada tanggung jawab mutlak . Asas tanggungjawab itu dikenal dengan nama product liability. Namun. ada pandangan yang agak mirip. Prinsip Tanggung Jawab Mutlak Prinsip tanggung jawab mutlak sering diidentikkan dengan prinsip tanggung jawab absolut. “prinsip praduga untuk tidak selalu bertanggungjawab” ini tidak lagi diterapkan secara mutlak. Dalam risk liability.hubungan itu harus ada. Selain itu. 40 Tahun 1995 tentang Angkutan Udara. Kendati demikian ada pula para ahli yang membedakan kedua terminology di atas. Menerapkan tanggung jawab mutlak Variasi yang sedikit berbeda dalam penerapan tanggung jawab mutlak terletak pada risk liability. konsumen tetap diberikan beban pembuktian. ada pengecualian-pengecualian yang memungkinkan untuk dibebaskan dari tanggung jawab. produsen wajib bertanggung jawab atas kerugian yang diderita konsumen atas penggunaan produk yang dipasarkannya. khususnya produsen barang. Ada pendapat yang mengatakan. Sementara pada tanggung jawab absolute hubungan itu tidak selalu ada. Sebaliknya. kewajiban mengganti rugi dibebankan kepada pihak yang menimbulkan resikoadanya kerugian itu. Menurut asas ini. dan mengarah kepada prinsip tanggung jawab dengan pembatasan uang ganti rugi (setinggitingginya satu juta rupiah). Dalam hal ini. yang memasarkan produknya yang merugikan konsumen. Dalam hal ini. pelaku usaha tidak dapat diminta pertanggungjawaban Sekalipun demikian. Gugatan product liability dapat dilakukan berdasarkan tiga hal : A. yang mengaitkan perbedaaan keduanya pada ada atau tidak adanya hubungan kausalitas antara subjek yang bertanggungjawab dan kesalahannya. 4. walaupun tidak sebesar si tergugat. Prinsip tanggung jawab mutlak dalam hukum perlindungan konsumen secara umum digunakan untuk “menjerat” pelaku usaha. tanggung jawab absolute adalah prinsip tanggung jawab tanpa kesalahan dan tidak ada pengecualiannya.

product liability Kebutuhan-kebutuhan akan reformasi hukum. maka konsumen hanya dibatasi ganti kerugiannya sebesar sepuluh kali harga saru rol film baru. Menurut Johannes Gunawan.(produsen) dan kerugian yang dideritanya. Salah satu lembaga hukum yang berdimensi internasional yang perlu diperhatikan dalam revisi maupun pembentukan hukum ekonomi nasional adalah tanggung jawab produk ( product liability). ditentukan bila film yang ingin dicetak itu hilang atau rusak (termasuk akibat kesalahan petugas). Memberi perlindungan kepada konsumen b. Indonesia dituntut memebentuk hukum nasional yang harus mampu berperan dalam memperlancar lalu lintas hukum ditingkat international. pembentukan hukum nasional yang baru perlu memperhatikan dimensi internasional. khususnya hukum ekonomi dalam perkembangan dewasa ini sangatlah mendesak. Produsen harus berhai-hati denagn produknya. Dalam UU No. Adalah fakta bahwa terdapat ketentuan-ketentuan yang baik yang berasal dari legal culture bangsa lain ataupun konvensi-konvensi internasional yang dapat dimanfaatkan dalam rangka modernisasi hukum nasional. Jika ada pembatasan mutlak harus berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang jelas. Dengan lembaga ini produsen yang pada awalnya menerapkan strategi prosuct oriented dalam pemasaran produknya harus mengubah strateginya menjaddi consumer oriented. Selebihnya dapat digunakan prinsip strict liability. Agar terdapat pembebanan resiko yang adil antara produsen dan konsumen . tujuan utama dari dunia memperkenalkan product liability adalah : a. termasuk membatasi maksimal tanggung jawabnya. karena tanggung jawab dalam product. yang ditandai dengan saling ketergantungan antara Negara satu dengan Negara lainny. 8 Tahun 1999 seharusnya pelaku usaha tidak boleh secara sepihak menentukan klausul yang merugikan konsumen. prodct liability lahir karena ketidakseimbangan tanggung jawab antara produsen dan konsumen. Dalam perjanjian cuci cetak film misalnya. \ Prinsip tanggung jawab ini sangat merugikan konsumen bila ditetapkan secara sepihak oleh pelaku usaha. Apalagi dalam era globlalisasi seperti sekarang ini. 5. Secara historis. Prinsip Tanggung Jawab denagn Pembatasan Prinsip tanggung jawab dengan pembatasan sangat disenangi oleh pelaku usaha untuk dicantumkan sebagai klausul eksonerasi dalam perjanjian standar yang dibuatnya. b.

Product liability adalah suatu tanggung jawab secara hukum dari orang atau badan yang menghasilkan suatu produk atau dari badan yang bergerak dalam suatu proses untuk menghasilkan suatu produk atau badan yang menjual produk tersebut. and even bystanders. Adapun cirri-ciri dari product liability dengan mengambil pengalaman dari masyarakat eropa dan terutama Negeri Belanda. makers and distributors of products for harm the products have caused to other.dengan memperbesar saving. Orientasi kegiatan terarah kepada mekanisme pasar. termasuk para pengusaha bengkel dan pergudangan. Bahkan dilihat dari konvensi tentang product liability diperluas terhadap orang/badan yang terlibat dalam rangkaian komersial tentang persiapan atau penyebaran dari produk. Pengertian lain dikemukakan oleh zigurds L. Adapun Agnes M. Henry Campbell dalam Black’s Law Dictionary mendefinisikan prouct liability sebaagi berikut : Refers to the legal liability of manufacturers and sellers to compensate buyers. users. Zile: Product liability denotes the civil liability of developers. Pengertian product liability dapat ditemukan pada beberapa sumber berikut.Toar memberikan pengertian product liability sebagai : Tanggung jawab para produsen untuk produk yang telah dibawanya kedalam peredaran yang menimbulkan/menyebabkan kerugian karena cacat yang melekat pada produk tersebut. sementara capital output ratio ditekan serendah-rendahnya. dan optimalisasi penumpukan dan pemanfaatan capital. for damages or injuries suffered because of defect in good purchase.    Yang dapat dikualifikasikan sebagai produsen adalah Pembuat produk jadi Penghasil bahan baku Pembuat suku cadang . Pengertian Product Liability Istilah product liability diterjemahkan secara bervariasi kedalam bahasa Indonesia seperti “tanggung gugat produk” atau juga “tanggung jawab produk”. dapat dikrmukakan secara singkat sebagai berikut: 1.1.

Penampilan produk Maksud penggunaan produk Saat ketika produk ditempatkan dipasaran Tangggung jawab tersebut sehubungan dengan produk yang cacat/rusak sehingga menyebabkan atau turut menyebabkan kerugian bagi pihak lain (konsumen). 4. Yang dapat dikualifikasikan sebagai produk adalah benda bergerak. antara lain: a. Yang dapat dikualifikasikan sebagai kerugian adalah kerugian pada manusia dan keugian pada harta benda. c. baik kerugian badaniah. dalam hal identitas dari produsen atau importer tidak dapat ditentukan 2. kematian atau harta benda. atau tidak menyediakan syarat-syarat keamanan bagi manusia atau harta benda dalam penggunaannya. Yang dapat dikualifikasikan sebagai konsumen adalah konsumen akhir. adalah: Setiap produk yang tidak dapat memenuhi tujuan pemuatannya baik karena kesengajaan atau kealpaan dalam proses produksinya maupun disebabkan hal-hal lainyang terjadi dalam peredarannya. listrik. disewakan. atau bentuk distribusi lain dalam transaksi perdagangan  Pemasok. Setiap orang yang menampakkan dirinya sebagai produsen dengan jalan mencantumkan namanya. b. selain dari produk yang bersangkutan 5. tanda pengenal tertentu. pada produk tertentu  Importer suatu produk dengan maksud untuk diperjualbelikan. Apakah yang dimaksud dengan produk cacat di Indonesia?. disewagunakan. . sekalipun benda bergerak tersebut telah menjadi komponen/bagian dari benda bergerak atau benda tetap lain. atau tanda lain yang membedakan dengan produk asli. dengan pengecualian produk-produk pertanian dan perburuan. Definisi produk cacat menurut Emma Suratman. sebagaimana diharpkan orang. 3. Produk dikualifikasi sebagai menganduung kerusakan apabila produk itu tidak memenuhi keamanan yang dapat diharapkan oleh seseorang dengan mempertimbangkan semua aspek.

kesehatan tubuh atau jiwa konsumen. seperti importir produk. tanggung jawab produk cacat ini berbeda dari tanggung jawab pelaku usaha produk pada umumnya. Jadi. Atau dapat pula peringatan agar dalam penggunaannya harus menggunakan voltase listrik tertentu. Cacat-cacat demikian dapat pula termasuk cacat desain. 2. atau pedagang pengecernya. Atau dapat pula cacat itu demikian rupa sehingga dapat membahayakan harta bendanya. bermotor selama menggunakannya. tanpa kesalah dari pihaknya. Cacat produk Cacat produk adalah keadaan produk yang umumnya berada dibawah tingkat harapan konsumen. Tanggung jawab produk cacat terletak pada tanggung . termasuk produk cacat. atau pengguna yang biasa meminum minuman keras melebihi ukuran tertentu harus meminta nasehat dokter. Misalnya peringatan produk harus disimpan pada suhu kamar atau suhu lemari pendingin (makanan dalam kemasan). yaitu: a. Perkembangan ini sebenarnya dipicu juga oleh tujuan yang ingin dicapai doktrin ini. Cacat peringatan atau intruksi Cacat peringatan ini adalah cacat produk karena tidak dilengkapi dengan peringatan-peringatan tertentu atau intruksi penggunaan tertentu. larangan memakai kendaraan. Menyediakan sarana hukum ganti rugi bagi (korban) produk cacat yang tidak dapat dihindari. seperti juga tepung gandum tidak berisi potongan-potongan kecil besi. dengan syarat-syarat tertentu. yang tanggung jawabnya secara tegas dibebankan pada produsen dari produk yang bersangkutan. Menekan lebih rendah tingkat kecelakaan karena produk cacat tersebut. Misalnya. b. Produk yang tidak memuat peringatan tertentu sebagaimana diutarakan diatas. 2). saus tomat tidak terbuat dari labu siam sitambah dengan zat pewarna. sebab kalau desain produk itu dipenuhi sebagaimana mestinya. beban tanggung jawab itu dapat pula diletakkan diatas pundak pelaku usaha lainnya. distributor. 3. cacat (tidak dapat memenuhi tujuan Cacat produk atau manufaktur Cacat desain Cacat peringatan atau cacat 1). Akan tetapi disamping produsen. setiap orang mengharapkan air minum dalam botol tidak berisi butir-butir pasir. tidaklah kejadian merugikan konsumen tersebut dapat terjadi.Dari batasan ini terlihat bahwa pihak yang bertanggung jawab adalah pelaku usaha pembuat produk tersebut (produsen). Suatu produk dapat disebut pembuatannya) karena: 1. dan sebagainya.

Karena produsen dianggap bersalah.jenis tanggung jawab (liability) semacam ini disebut no fault liability atau strict liability. Namun demikian.Dilihat dari segi ini. dapat dikemukakan bahwa product liability merupakan lembaga hukum yang tetap menggunakan kontruksi hukum tort (perbuatan melawan hukum).jawab cacatnya produk berakibat pada orang. 3. d.Hal-hal yang dapat membebaskan tanggung jawab produsen tersebut adalah a.konsumen menjadi korban masih harus membuktikan ketiga unsure lainnya. Dengan beberapa modifikasi.konsumen jelas sangat diringankan dari beban untuk membuktikan kesalahan produsen.seperti yang dianut didalam tort. Jika produsen tidak mengedarkan produknya (put into circulation). Dari perkembangan product liability di berbagai Negara.untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan kesalahan yang menimbulkan kerugian kepada konsumen. 2.pihak produsen dapat membebaskan diri dari tanggung jawabnya. Bahwa produk tersebut tidak dibuat oleh produsen baik untuk dijual atau diedarkan untuk tujuan ekonomis maupun dibuat atau diedarkan dalam rangka bisnis.karena karakter dasar dari product liability adalah tort. Karena produsen sudah dianngap bersalah. b. Cacat yang menyebabkan kerugian tersebut tidak ada pada saat produk diedarkan oleh produsen. Modifikasi tersebuut adalah : Produsen langsung dianggap bersalah jika terjadi kasus product liability.konsenkuensinya ia harus bertanggung jawab (liable) untuk memberi ganti rugi secara langsung kepada pihak konsumen yang menderita kerugian.yaitu perbuatan produsen adalah perbuatan melawan hukum dengan kerugian dan hubungan kausal antara perbuatan melawan hukum dengan kerugian yang timbul.maka konsumen yang menjadi korban tidak perlu lagi membuktikan unsure kesalahan produsen. .sehingga didalamnya dianut prinsip praduga bersalah (presumption of fault) berbeda dengan praduga tidak bersalah (presumption of no fault)yang dianut oleh tort. c. Bahwa terjadinya cacat pada produk tersebut akibat keharusan yang dikeluarkan oleh pemerintah.yang relative sangat sukar. Meskipun system tanggung jawab dalam product liability berlaku prinsip strict liability. orang lain atau barang lain. 1.atau terjadinya cacat tersebut baru timbul kemudian. Sedang tanggung jawab pelaku usaha karena perbuatan melawan hukum adalah tanggung jawab atas rusaknya atau tidak berfungsinya produk itu sendiri.Dalam hal ini beban pembuktian justru dialihkan (shifting the burden of proof) kepada pihak produsen .baik untuk seluruhnya atau untuk sebagian.

Produk Liability di Indonesia Seperti telah dikemukakan pada pendahuluan. 4.Indonesia sedang menuju era industrialisasi.8 Tahun 1999 telah menggunakan prinsip semi-strict liability sebagaimana yang diatur dalam pasal 19 Bab IV tentang Tanggung Jawab Pelaku Usaha.Dari pengertian produk dan produsen yang begitu luas. Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal transaksi. 2.dapat terlindungan karena dapat diketahui apa yang dapat dituntut dan kepada siapa tuntutan itu harus ditunjukkan.state of art defense) pada saat produk tersebut diedarkan tidak mungkin terjadi cacat.Devisa yang dihasilkan sangat diperlukan bagi keperluan impor produk-produk yang tidak dapat dihasilkan didalam negeri. Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud ada ayat pada ayat (1) dan ayat (2) tidak mengharuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasarkan pembuktian lebih jelas mengenai adanya unsure kesalahan.menunjukkan luuasnya kepentingan konsumen yang dapat dijangkau oleh lembaga hukum ini. Undang-undang No. Bahwa secara ilmiah dan teknis (state of scientic and technical knowledge.e.dan atau kerugian konsumen akibat mengonsumsi barang dan atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan.pencemaran . Dari cakupan product liability tesebut. persaingan yang lebih berkualitas. Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang atau penggantian barang dan jasa yang sejenis atau setara nilainya atau perawatan kesehatan dan atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Produuk-produk yang dihasilkan industry itu ditunjukkan baik untuk memenuhi keperluan dalam negeri maupun untuk keperluan ekspor. 1.Inti masalahnya terletak pada kulitas produk yang dihasilkan.khususnya tentang produk liability atau tanggung jawab produsen.dijelaskan sebagai berikut : Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan.persaingan yang lebih ketat baik didalam maupun diluar negeri dari sebagai akibat globasasi dan perdagangan bebas dan sebagainya.mulai dari penyediaan sumber daya manusia yang berkualitas. 3.penguasaan ilmu dan teknologi. .Masalah produk liability ini erat kaitannya dengan masalah persaingan dalam era perdagangan bebas maupun dengan makin meningkatnya perhatian terhadap perlindungan konsumen. 2.Hal penting lain yang perlu mendapat perhatian serius dalam era industrialisasi adalah bidang hukum. Dalam memasuki era industrialisasi tersebut berbagai hal perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh.mengatisipasi tuntutan akan barang dan jasa yang lebih berkualitas.

5. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku apabila pelaku usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen. Dalam juga,pasal 20 yang berbunyi bahwa pelaku usaha periklanan bertanggung jawab atas iklan yang diproduksi dan segala akibat yang ditimbulkan oleh iklan tersebut.Disamping itu,tanggung gugat juga diberlakukan bagi importir barang atau jasa sebagai pembuat barang yang diimpor atau sebagia penyedia jasa asing jika importasi barang tersebut atau penyediaan jasa asing tersebut tidak dilakukan oleh agen atau perwakilan produsen luar negeri atau perwakilan produsen luar negeri atau perwakilan penyedia jasa asing. Selain itu,dalam pasal 28 dinyatakan bahwa pembuktian terhadap ada tidaknya unsure kesalahan dalam gugatan ganti rugi merupakan beban dan tanggung jawab pelaku usaha.Hal ini berarti berlaku system pembuktian terbalik,baik dalam perkara pidana maupun perkara perdata,sesuatu yang menyimpang dari hukum acara biasa.Didalam hukum acara pidana,beban pembuktian terletak pada jaksa (penuntut umum),sedangkan didalam hukum acara perdata baik berdasarkan pasal 163 Herziene Inlands Reglement (HIR),pasal 383 Reglement buitengewesten (RBg),maupun pasal 1865 BW,beban pembuktian diletakkan pada penguggat. Berdasarkan system hukum yang ada kedudukan konsumen sangat lemah dibanding produsen.Salah satu usaha untuk melindungi dan menibgkatkan kedududkan konsumen adalah dengan menerapkan prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability ) dalam hukum tentang tanggung jawab produsen.Dengan diberlakukannya prinsip tanggung jawab mutlak diharpkan pula para produsen/industrawan Indonesia menyadari betapa pentingnya menjaga kwlaitas produk – produk yangt telah dihasilkannya,sebab bil tidak selain akan merugikan konsumen juga akan sangat besar resiko yang harus ditanngungnya.Para produsen akan llebih berhati-hati dalam memproduksi sebelum dilempar ke pasaran sehinnga para konsumen,baik dalam maupun luar negeri tidak akan ragu-ragu membeli barang produksi Indonesia.Demlian juga bila kesadaran oara produsen /industriawan terhadap hukum tentang tanggung jawab produsen tidak ada,dikhawatirkan akan berakibat tidak baik terhadap perkembangan/eksitensi dunia industry nasional maupun ada daya saing produk nasional terutama diluar negeri. Penerapan prinsip tanggung jawab mutlak di Indonesia meliputi 3 bagian penting.Pertama factor-faktor eksternal hukum yang mempengaruhi perkenbangan dan pembaharuan hukum perlindungan konsumen teramsuk penerapan prinsip tanggung jawab mutlak.Kedua,factor internal system hukum yaitu elemen struktur dan budaya hukum ddalam rangka penerapan prinsip tanggung jawab mutlak di Indonesia.Ketiga,adalah ruang lingkup materi atau substansi dari prinsip tanggung jawab mutlak yang perlu diatur dalam undang-undang. Namun demikian,dengan memberlakukan prinsip strict liability dalam hukum tentang product liability tidak berarti pihak produsen tidak mendapat perlindungan.Pihak produsen masih diberi kesempatan untuk membebaskan diri dari tanggung jawabnya dalam hal – hal tertentu yang dinyatakan dalam undngundang.Disamping itu,pihak produsen juga dapat mengasuransikan tanggung jawabnya sehingga secara ekonomis dia tida mengalami kerugian yang berarti.

Konsekuensinya dari pembalikan beban pembuktian adalah tergugat wajib membuktikan ketidaksalahannya.Apabila tergugat tidak dapat membuktikan ketidaksalahanya,maka tergugat harus dikalahkan karena apa yang didalihkan oleh penggugat terbukti.Dalam perkara pidana,juga berlaku hal sama,bahwa apabila tersangka tidak dapat membuktikan ketidaksalahannya,ia harus dintakan terbukti melakukan tindak pidana yang disangkakan kepadanya.Akan tetapi,Undang-undang No.8 Tahun 1999 tentangg perlindungan Konsumen juga membebaskan pelaku usaha untuk memberikan ganti rugi apabila pelaku usaha dapat membuktikan kalau kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen(pasal 19 ayat (5)).Selain itu,pelaku usaha yang memproduksi barang dibebaskan dari tanggung jawab atas kerugian yang diderita konsumen apabila : a. Barang tersebut terbukti seharusnya tidak diedarkan atau tidak dimaksudkan untuk diedarkan; b. c. d. Cacat barang timbul pada kemudian hari; Cacat timbul akibat ditaatinya ketentuan mengenai kulifikasi barang; Kelalaianyang diperjanjikan yang diakibatkan oleh konsumen; 4 tahun sejak barang dibeli\ atau

e. Lewatnya waktu pennututan lewatnya jangka waktu (pasal 27).

Adapun system beban pembuktian terbalik juga digunakan jika kasus perlindungan konsumen diangkat sebagai kasus pidana.Hali ini berarti meskipun ganti rugi telah diberikan namun tidak menghapus kemungkinan adanya tuntutan piadana berdasrkan pembuktian lebih lanjut mengenai adanya unsure kesalahan ini digunakan system beban pembutian terbalik.Pasal 22,menegaskan bahwa pembuktian terhadap ada tidaknya unsure kesalahan dalam kasus pidana merupakan beban dan tanggung jawab pelaku usaha tanpa menutup kemungkinan bagi jaksa untuk melakukan pembuktian.

c. PENYALAHGUNAAN KEADAAN VAN OMSTANDIGHEDEN)

(MISBRUIK

“penyalahgunaan keadaan” menguraikan penerapan lembaga ini dalam sengketa transaksi konsumen yang akan direkomendsikan untuk diterima menjadi salah satu prinsip penting dalam hukum Indonesia. Perkjanjian merupakan salah satu sumber perkitan yang dapat dikatakan sebagai sumber formal hukum yang utama dalam transaksi konsumen.Salah satu isu pokok dalam transakssi konsumen misalnya terkait dengan keberadaan perjanjian standar (baku) yang oleh banyak pihak dinilai menggerototi hak kebebasan berkontrak dari pihak konsumen. Secara klasik sebagiamana dimuat dalam kitab undang-undang Hukum Perdata,salah satu asas penting dalam perjanjian adalah prinsip kebebasan

berkonrak.Asas ini pertama kali dapat disimpulkan dari pasal 1320 Kitab UndangUndang Hukum Perdata,yang menetapkan empat syarat sah suatu perjanjian, yakni : 1. 2. 3. 4. Kesepakatan kedua belah pihak Kecakapan Suatu pokok persoalan tertentu Suatu sebab yang halal dengan syarat subjektif, sedangkan dua objektif. Menurut Subekti, pelanggaran itu terancam untuk dapat dimintakan objektif tidak dipenuhi, perjanjian itu

Dua syarat yang pertama berkaitan syarat terakhir berhubungan dengan syarat syarat subjektif menyebabkan perjanjian pembatalannya. Di sisi lain, bila syarat terancam batal demi hukum.

Pasal 1321 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menebutkan tiga alas an untuk melakukan pembatalan perjanjian, yakni : 1. 2. 3. Kekhilafan atau kesesatan Paksaaan Penipuan

Tiga alasan warisan hukum colonial belanda itu tetap berlaku sampai sekarang, sekalipun di negeri Belanda terjadi satu perkembangan yang sangant berarti, khususnya dipandang dari sudut hukum perlindungan konsumen. Kemajuan dimaksud adalah dimasukkannya alasan keempat, yaitu penyalahgunaan keadaan. Keempat alasan itu dicantumkan dalam Buku III Pasal 44 ayat (1) Kitab UndangUndang Hukum Perdata belanda yang baru. Penyalahgunaan keadaan berkaitan dengan kondisi yang ada pada saat kesepakatan terjadi. Kondisi itu membuat ada salah satu pihak berada dalam keadaan tidak bebas untuk menyatakan kehendaknya. Itu sebabnya, ada ahli yang berpendapat penyalahgunaan keadaan ini sebagai salah satu bentuk dari cacat kehendak juga. Satu hal yang harus diingat, penyalahgunaan keadaan sejak semula tidak dapat dianggap sebagai hal yang dapat dibenarkan oleh hukum. Sebenarnya, penyalahgunaan keadaan sejak dulu dimasukkan sebagai keadaan yang bertentangan dengan ketertiban umum atau kebiasaan yang baik. atas dasar itu, suatu perjanjian dapat dinyatakan tidak berlaku, baik seluruhnya maupun bagian tertentu saja. Dengan demikian, ada anggapan “sebab” yang terlarang sama dengan “isi” perjanjian yang tidak di benarkan. Padahal, penyalahgunaan tidak semata-mata berkaitan dengan “isi” perjanjian. Isinya mungkin tidak terlarang, tetapi ada sesuatu yang lain, yang terjadi pada saat lahirnya perjanjian, yang menimbulkan kerugian pada salah satu pihak. Inilah yang dinamakan “penyalahgunaan keadaan”. Menurut Van Dunne, penyalahgunaan keadaan terjadi karena ada dua unsur, yaiitu kerugian bagi salah satu pihak dan penyalahgunaan kesempatan oleh pihak lain.

kesulitan keuangan yang mendesak 3.”penyalahgunaan keadaan” ini sanagat relevan untuk disinggung dalam kaitannay dengan persengketaan transaksi konsumen. memang belum diadopsi ke dalam Kitab undang-Undang Hukum Perdata (eks Kolonial Belanda) yang tetap berlaku di Indonesia. ketiadaan pengaturan itu tidak . salah satu pihak ada dalam keadaan terjepit 2. hubungan majikan-buruh. Factor kerugian disini tidak harus berwujud kerugian materiil. suami dan istri. dokter dan pasien. Di lain pihak. Pada keunggulan psikologis. yang bersifat ekonomis/psikologis. orang tua/wali-anak belum dewasa 4. Jelas sekali. Adanya ketergantungan relatif (misalnya antara orang tua dan anak. boleh jadi ketergantungan ekonomis itu tidak ada. Keadaan yang dimaksud disebabkan.timbul sifat perbuatan. Sebagai contoh.Satrio menambahkan lagi enam factor yang dapat dianggap sebagai cirri dari penyalahgunaan keadaan. Perjanjian itu mengandung hubungan yang timpang dalam kewajiban timbale balik antara para pihak (prestasi yang tak seimbang). Salah satu pihak menyalahgunakan keadaan pihak lain untuk kepentingannya. karena ia sudah sangat membutuhkan rumah tinggal yang layak dan pemerintah tidak menyediakan fasilitas perbankan yang lebih ringan daripada itu. Keunggulan ekonomis terjadi bila posisi kemampuan ekonomi kedua belah pihak tidak seimbang sehingga salah satu tergantung pada yang lain. yaitu ada keunggulan pada salah satu pihak. Kondisi ini tercipta karena : 1.J. pendeta dan jemaatnya). seperti segala sesuatu yang menyebabkan orang pada posisi tidak menguntungkan. Karena hubungan atasan-bawahan. dan kurang informasi. Kerugian yang sangat besar dari salah satu pihak. tetapi salah satu pihak mendominasi secara kejiwaan. Karena keadaan. Pada waktu menutup perjanjian. Melengkapi pandangan Dunne. Persoalannya “ penyalahgunaan keadaan”. keunggulan ekonomis pada salah satu pihak. pembebasan majikan dari resiko dan menggesernya menjadi tanggungan si buruh 6. kurang jelas. seperti pasien membutuhkan pertolongan dokter ahli 5. Walaupun demikian. gegabah. Keunggulan ekonomis dan psikologis dari si pelaku usaha sering sangat dominan sehingga mempengaruhi konsumen untuk memutuskan kehendaknya secara rasional. dan 2. Karena keadaan ekonomis. sebagai berikut : 1. sering pelaku usaha secara sistematis memasang iklan di media massa untuk menggiring psikologi konsumen agar berperilaku konsumtif. konsumen perumahan sering terdesak nutuk menyetujui suatu perjanjian kredit dengan bank berdasarkan system bunga fluktuatif yang sangat tidak menguntungkan. tetapi dapat meliputi kerugian”subjektif”.Dari unsure yang kedua itu. misalnya yang bersangkutan belum berpengalaman.

Dalam ketentuan itu dikatakan. Manfaat Keadilan Keseimbangan Keamanan dan keselamatan Kepastian hukum Pada asas keadilan. budaya. setiap konsumen memiliki hak untuk dilakukan atau di layani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif berdasarkan suku. Pesan ini tampaknya perlu juga diperhatikan oleh lembaga legislatif kita. dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak dua miliar rupiah. Penjelasan Pasal 2 UUPK menyebutkan adanya lima asas perlindungan konsumen. yang dalam konsiderannya memuat pertimbangan “penyalahgunaan keadaan” oleh salah satu pihak. kaya. perlu “campur tangan” pembentuk undang-undang untuk melindungi kepentingan konsumen. Pangabean. salah satu hak konsumen adalah hak untuk diperlakukan atatu dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif. Pasal 18 UUPK meletakkan hak-hak yang setara antara konsumen dan pelaku usaha bedasarkan prinsip kebebasan berkontrak. yaitu asas : 1. pelaku usaha dalam menawarkan barang atau jasa dilarang melakukan dengan cara pemksaan atau cara lain yang dapat menimbulkan gangguan baik fisik maupun psikis terhadap konsumen. perlu diberi keseimbangan antara kepentingan konsumen. Pasal 15 UUPK bahkan secara tegas mengatakan. agama. Pasal 4 huruf g UUPK menyebutkan pula. Van Dunne melihat. 1904K/Sip 1982. UUPK sendiri secara umum membuka kemungkinan pengajuan gugatan oleh konsumen kepada pelaku usaha berdasarkan factor penyalahgunaan keadaan ini.”penyalahgunaan keadaan” tidak dapat diterapkan dalam penyelesaian kasuskasus perdata di Indonesia. misalnya menyebutkan ada putusan hakim yang dapat dianggap sebagai yuris-prudensi. seluruh rakyat diupayakan agar dapat berpartisipasi semaksimal mungkin dan agar diberi kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannnya secara adil. 4. dalam kaitannya dengan perjanjian standar yang banyak sekali dibuat oleh para pelaku usaha dewasa ini. Artinya. dan pemerintah dalam arti materiil dan spiritual. 3431K/Pdt/1985. sebaiknya penerapan ajaran “penyalahgunaan keadaan” ini tidak sepenuhnya diserahkan pada hakim. 3. 4 Maret 1987 dan Putusan No. Pelanggaran terhadap kedua paasl di atas merupakan tindak pidana menurut ketentuan Pasal 62 UUPK. 28 Januari 1984. Kemudian. dijelaskan. dan status social lainnya. miskin. . dalam asas keseimbangan disebutkan. pelaku usaha. pendidikan. Selanjutnya dalam hubungannya dengan perjanjian standar. 5. Putusan itu termuat dalam putusan MA No.berarti. Henry P. daerah. 2. Penjelasan dari ketentuan tersebut secara jelas dapat ditafsirkan sebagai keterkaitan dengan larangan “penyalahgunaan keadaan”.

Kalaupun hukum digunakan untuk menjangkaunya itu pum hanya sebatas kepada mereka yang menjadi tumbal space-goal tarik-menarik kepentingan tersebut. Ketidakjelasan ini menyulitkan konsumen bila ia mengalami kerugian akibat produk barang atau jasa tersebut. cepat. bila tidak distigma antiworld trade organization (WTO). dalam hal ini Undang-Undang No. cepat dan biaya ringan. juga lebih banyak didasarkan pada : a. Sering terjadi perbedaan-perbedaan putusan pengadilan dalam kasus serupa. Sikap menghindari konflik meskipun hak-haknya sebagai konsumen dilanggar pengusaha. padahal telah sangat dirugikan oleh pengusaha. kalau perlu penyelesaian melalui jalur hukum. termasuk akses kepada pengambil keputusan. dan biaya ringan c. Paling tidak ada 3 penyebab yang dapat dikategorikan sabagai hambatan-hambatan dalam perdagangan bebas. tetapi pada tataran paktik dan kenyataannya tidak mudah dilakukan karena berbagai sebab yang bersifat yuris-politis-sosiologis. Kedua. Pertama. Yaitu. sebagian besar konsumen Indonesia enggan berperkara ke pengadilan. Keengganan konsumen Indonesia ini disamping disebabkan oleh ketidak kritisan mereka. hal ini berada diluar jangkauan hukum. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. . Dalam kasu berskala nasional saja pengadilan belum mampu bessikap konsisten. karena tidak konsistennya badan peradilan kita atas putusanputusannya.secara sosiologis. Inggris. Ketiga. Masuk nya barang dan jasa impor ke Indonesia bukannya tanpa permasalahan. Bagaimana dengan kasus-kasus konsumen pada era perdagangan bebas yang bersuasana internasional. “keengganan” ini akan sangat berbeda jka dibandingkan dengan konsumen-konsumen di Negara-negara peserta perdagangan bebas lainnya. Praktik peradilan kita yang tidak sederhana. Masih banyak makanan impor yang diketahui dengan jelas siapa distributornya di Indonesia. Mereka telah terbiasa mempertanyakan produk-produk yang dikonsumsinya. Secara teoritis itu dapat saja diselesaikan. seperti Amerika Serikat. Secara yuridis muncul pula masalah benturan system hukum antara Indonesia dengan Negara-negara lain. Belum dapat diterapkannya norma-norma perlindungan di Indonesia. bila perundang-undangan Indonesia bertentangan dengan ketentuan (WTO). tarik-menarik berbagai kepentingan diantara para pelaku ekonomi yang memiliki akses kuat diberbagai bidang. sehingga diperlukan waktu sosialisasi pemberlakuannya selama 1 tahun b. bagaimana mekanisme penyelesaiannya yang sederhana. Permasalahan muncul jika ada pengaduan konsumen atas barang dan jasa impor tersebut. dan lain-lain. yang relative masih baru.d. Norma-norma perlindungan konsumen Era perdagangan bebas menghendaki bahwa semua barang dan jasa yang berasal dari Negara lain harus dapat masuk ke Indonesia.

e. dan pengusaha kecil tidak masuk akal. meskipun pembangunan hukum dan ekonominya masih tertinggal jika dibandingkan dengan Negara-negara ASEAN lainnya. Adapun kepentingan konsumen menurut Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa No.Terlampau dini bagi kita untuk memberikan penilaian efektif tidaknya normanorma perlindungan konsumen yang integral (Undang-Undang No. 39/248 tentang Guidelines for Consumer Protection. sampai saat ini tidak bangkit. Dari pada itu. b. Apa yang telah dilakukan EEC (Masyarakat Ekonomi Eropa/MEE) pada \bulan juli 1985 dengan . Perlindungan konsumen dari bahaya-bahaya terhadap kesehatan dan keamanannya. Idealnya doktrin product liability sebagai salah satu norma perlindungan konsumen. Kekhawatiran adanya UndangUndang Perlindungan Konsumen bias menghancurkan perkembangan industry. Butir (a) kepentingan konsumen tersebut dapat direalisasi melalui penerapan doktrin product liability kedalam doktrin perbuatan melawan hukum (tort). Adanya Undang-Undang Perlindungan Konsumen memberikan dampak ekonomi yang positif bagi dunia usaha. Indonesia sebagai salah satu Negara terkemuka di ASEAN. khususnya menyangkut product liability. Sementara itu. Promosi dan perlindungan kepentingan social ekonomi konsumen c. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen) dalam tata hukum kita. dunia usaha dipacu untuk meningkatkan kualitas produk barang dan jasa sehingga produknya memilki keunggulan kompetitif di dalam dan diluar negeri. karena norma-norma ini masih dalam taraf sosialisasi selama setahun sejak diundangkan pada tanggal 20 April 1999 yang lalu. Pengusaha kecil yang sudah ada pada awal munculnya isu perlindungan konsumen di Indonesia hamper ¼ abad yang lalu. dituangkan dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen. hendaknya dapat memprakarsai harmonisasi hukum di kawasan ASEAN. Pendidikan konsumen Tersedianya upaya ganti rugi yang efektif f. perdagangan. dalam perspektif perlindungan konsumen. Tersedianya informasi yang memadai bagi konsumen untuk memberikan kemampuan mereka melakukan pilihan yang tepat sesuai kehendak dan kebutuhan pribadi d. sebagai berikut : a. Kebebasan untuk membentuk organisasi konsumen atau organisasi lainnya yang relevan dan memberikan kesempatan kepada organisasi tersebut untuk menyuarakan pendapatnya dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan mereka. Yakni. bahkan tergilas sepak terjang konglomerat yang menggurita. hakikat perlindungan konsumen menyiratkan keberpihakan kepada kepentingan-kepentingan (hukum) konsumen. hukum positif yang ada tidak jelas arah dan tujuannya bila digunakan sebagai instrument hukum dalam melindungi kepentingan (hukum) konsumen.

BADAN PERLINDUNGAN KONSUMEN NASIONAL Dalam undang – undang No. Warga Negara Indonesia 2. Berbadan sehat 3. Berkelakuan baik 4. Memiliki pengetahuan dan pengalaman dibidang perlindungan konsumen 6. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan Konsumen masih dalam taraf sosialisasi.8 tahun 1999 tentang Hukum Perlindungan Konsumen disebutkan adanya Badan Perlindungan Konsumen Nasional. (2. BAB 6 PERANNYA LEMBAGA/INSTANSI KONSUMEN DAN DALAM PERLINDUNGAN A.) pelaku usaha.) tenaga ahli. Kesenjangan tersebut tercipta dalam bentuk berbagai kenaikan harga barang dan jasa konsumen tanpa diikuti dengan daya beli dan kualitas produk yang memadai. (3. Sebaliknya. Keanggotaan badan perlindungan konsumen nasional / BPKN ini di angkat oleh presiden atas usulan menteri (bidang perdagangan) setelah dikonsultasikan kepada dewan perwakilan rakyat. Badan ini terdiri atas 15 orang sampai dengan 25 orang anggota yang mewakili unsure : (1. sementara itu UndangUndang No. maka Pemerintah harus menangani kesenjangan ekonomi antarpelaku ekonomi. Dalam perspektif kebijakan pemerintah pada awalnya Pembangunan Jangka Panjang Kedua (PJP II) yang menekankan pada pemerataan pembangunan dan hasilhasilnya. dan dapat di amanat kembali untuk satu kali masa jabatan berikutnya. (4.) lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. Syarat – syarat keanggotaannya menurut pasal 37 UUPK adalah : 1. Tidak pernah dihukum karena kejahatan 5. Masa jabatan mereka adalah 3 tahun.)Pemerintah. Syarat diatas persis seperti yang juga berlaku untuk menjadi anggota badan penyelesaian .memberlakukan Directive Nomor 85/374/EEC on strict Product Liability di seluruh kawasan Eropa dapat dianggap sebagai salah satu tindakan harmonisasi hukum yang dilakukan Dewan Menteri Eropa. Mereka siap menghadapi produk-produk impor terutama dari Negara-negara berrkembang. kita baru memulai sosialisasi norma-norma perlindungan konsumen itu.) akademisi dan (5. Berusia sekurang – kurangnya 30 tahun. Sebagai bahan perbandingan pada era perdagangan bebas Negara-negara peratifikasi keputusann-keputusan (WTO) sudah cukup lama memiliki perangkat Undang-Undaang Perlindungan Konsumen. dalam hal ini antara pengusaha dan konsumen.

Melakukan penelitiaan dan pengkajian terhadap peraturan perundangundangan yang berlaku dibidang perlindungan konsumen 3. Untuk melaksanakan tugas – tugasnya. atau pelaku usaha 7. pengkajian dan pengembangan. keanggotaan BPKN berhenti karena : 1. Fungsi BPKN ini hanya memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah dalam upaya mengembangkan perlindungan konsumen di Indonesia. 3. 2. Menurut pasal 38 UUPK. (2) penelitian. Melakukan survei yang menyangkut kebutuhan konsumen Diluar BPKN yang independen. Meninggal dunia. Mengundurkan diri atas permintaan sendiri.q. Menyebarluaskan informasi melalui media mengenai perlindungan konsumen dan memasyarakatkan sikap keberpihakan kepada konsumen 6. dalam pasal 29 dan 30 UUPK diamanatkan. 5. Memberikan saran dan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka penyusunan kebijaksanaan di bidang perlindungan konsumen 2. keanggotaan BPKN dicantumkan secara tegas batas masa jabatannya dan kapan yang bersangkutan dapat berhenti sebagai anggota. Anturan demikian tidak disebutkan untuk keanggotaan badan penyelesaian sengketa konsumen. BPKN dapat membentuk perwakilan di Ibukota provonsi. Mendorong berkembang nya lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat 5. (4) pelayanan informasi. atau 6. menteri yang membidangi perdagangan ditugasi juga untuk mengkoordinasikan pembinaan dan pengawasan perlindungan konsumen secara . BPKN berkedudukan di Jakarta dan bertanggung jawab langsung kepada presiden/ jika diperlukan. dan (5) kerja sama internasional. Menerima pengaduan tentang perlindungan konsumen dari masyarakat. 4. Diberhentikan. Sekretariat ini paling tidak terdiri atas lima bidang. Bedanya adalah dalam UUPK. pemerintah c. BPKN dibantu oleh suatu secretariat yang dipimpin oleh seorang secretariat yang diangkat oleh Ketua BPKN. Sakit secara terus – menerus. (3) pengaduan. Untuk menjalankan fungsi tersebut. Berakhir masa jabatan sebagai anggota. yaitu (1) administrasi dan keuangan. badan ini mempunyai tugas (pasal 34 UUPK) : 1. Bertempat tinggal diluar wilayah Negara Republik Indonesia.Konsumen (pasal 49 UUPK). Melakukan penelitian terhadap barang dan jasa yang menyangkut keselamatan konsumen 4. lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat.

LPKSM dan cabangnya di daerah harus mengontrol dengan sungguh – sungguh kelayakan produk barang yang dipasarkan melalui penyuluhan kepada masyarakat tentang tertib niaga dan hokum perlindungan konsumen agar mereka tidak terjebak tindakan pelaku usaha yang hanya memproriotaskan keuntungan dan mengorbakan masyarakat. Ketidaktahuan masyarakat dapat memberi peluang pelaku usaha atau penjual untuk membodohi masyarakat dengan produk yang tidak memenuhi standar.nasional. maka perlu keseriusan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) perlu memantau secara serius pelaku usaha/penjual yang hanya mengejar profit semata dengan mengabaikan kualitas produk barang. dan masih banyak lagi. Problematika yang muncul dengan kehadiran LPKSM adalah dari fungsi serupa yang selama ini telah dijalankan oleh lembaga – lembaga konsumen sebelum berlakunya UUPK. masyarakat. minuman botol. B. PENGERTIAN DAN PERAN LPKSM (LEMBAGA PERLINDUNGAN KONSUMEN SWADAYA MASYARAKAT) Kian ketatnya persaingan dalam merebut pangsa pasar melalui bermacam – macam produk barang. BPKN berfungsi memberikan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka penyusunan kebijakan di bidang perlindungan konsumen. Oleh karena itu. ia diperlukan untuk memberikan jaminan accountability lembaga – lembaga konsumen tersebut. namun di sisi lain. LPKSM diharapkan sering melakukan advokasi melalui media masa agar masyarakat selektif serta hati – hati dalam membeli produk barang yang muncul deras dipasaran. Hal ini disebabkan oleh masih banyaknya produk tidak bermutu yang palsu yang beredar bebas dimasyarakat. Menteri yang membidangi perdagangan iu berwenang membenuk tim koordinasi pengawasan barang dan jasa yang beredar di pasar. seperti penghentian produksi atau peredaran barang/jasa yang dinilai melanggar peraturan yang berlaku. Pembinaan dan pengawasan yang lebih khusus dilakukan oleh menterimenteri teknis sesuai bidang tugas mereka. apalagi. Ada pandangan kehadiran LPKSM bentuk intervensi Negara terhadap kebebasan berserikat dan berkumpul dari kelompok masyarakat. obat – obatan. Tim ini terdiri atas wakil instansi terkait. dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat (LPKSM). sementara tim koordinasi yang di bentuk oleh menteri itu berfungsi memberikan rekomendasi berupa tindakan konkret atas setiap permasalahan yang timbul di lapangan. Hasil temuan LPKSM yang disampaikan masyarakat juga harus mendapat tindak lanjut dan . unit pengaduan masyarakat perlu dibentuk sebagai sarana pengaduan masyarakat yang dirugikan dari produk barang yang digunakan. ada perbedaan antara BPKN dan tim di atas. Dengan demikian. masyarakat pedesaan yang belum memahami efek atau indikasi dari produk barang yang digunakan. sehingga kehadiran LPKSM ini betul – betul dirasakan manfaatnya pleh masyarakat. misalkan makanan kaleng. Fungsi tim pun hanya sebatas memberikan rekomendasi kepada menteri untuk melakukan tindakan konkret. Selain itu.

yakni sebagai berikut : (1). membantu konsumen dalam memperjuangkan haknya. baik jasa pelayanan yang disediakan oleh industry maupun pelayanan umum yang disediakan oleh pemerintah. Berkaitan dengan implementasi perlindungan konsumen. termasuk menerima keluhan atau pengaduan konsumen. melakukan pengawasan bersama pemerintah pelaksanaan perlindungan konsumen.penyelesaian secara tuntas. Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam mewujudkan perlindungan konsumen. (2). d. Undang – Undang No. Kennedy pada tahun 1962 mengukuhkan adanya hak – hak konsumen. menyebarkan informasi dalam rangka meningkatkan kesadaran atas hak dan kewajiban dan kehati – hatian konsumen dalam mengonsumsi barang dan/atau jasa. Konsumen mulai mempermaslahkan adanya ketidaksesuaian harga dengan mutu barang atau jasa serta keselamatan penggunaanya. Diharapkan pula kehadiran PLKSM bukan justru berpihak kepada pelaku usaha atau penjual dengan mengorbankan konsumen. dan masyarakat terhadap PERAN SERTA YLKI (YAYASAN LEMBAGA KONSUMEN INDONESIA) DALAM PERLINDUNGAN KONSUMEN. Kepopuleran dan paham konsumerisme ini baru mulai mendapat perhatian dunia bisnis maupun birokrasi sejak Presiden Amerika Serikat. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengatur tugas dan wewenang LPKSM sebagaimana tertuang dalam Pasal 44. Pemasaran barang dan jasa serta keselamatan penggunaannya. b. Pemerintah mengakui lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat. Pengukuhan ini timbul atas desakan konsumen di Amerika pada tahun 1930-an yang sudah mulai mempertanyakan adanya ketidakadilan dalam memperoleh pelayanan. e. . Pemasaran barang dan jasa secara bebas dan canggih di Negara liberal itu telah menimbulakan mekanisme defensive di kalangan konsumen dan mulai terdapat ketidak percayaan akan informasi sepihak yang disampaikan para produsen. Munculnya gerakan “konsumerisme” dalam segala permasalahnnya kepermukaan masih relative baru. bekerja sama dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan perlindungan konsumen. memberikan nasihat kepada konsumen yang memerlukannya . C. Tugas lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat meliputi kegiatan : a. (3). c.

air minum. Keberadaan kelompok konsumen tentu saja berbeda dengan organisasi konsumen. telepon. KTP.Di sisi lain Pemerintah dengan inisiatifnya sendiri memang sudah menyediakan pelayanan umum kepada masyarakat atau konsumen. dan lain – lain sering berakhir dengan kekecewaan. tidaklah gratis. tetapi sebenarnya konsumen dalam menggunakan pelayanan tersebut. sampai saat ini kenyataannya masih banyak konsumen yang belum memperoleh kepuasan dalam menggunakan pelayanan public meskipun pemerintah telah berubah status menjadi penyedia jasa monopoli. Berhubungan dengan hamper segala bentuk pelayanan yang disediakan oleh birokrasi pemerintah dalam kehidupan sehari – hari seperti PAM. angkutan. Segala kemudahan akan segala diperoleh masyarakat jika uang pelicin tersedia. Satu hal yang diperjuangkan guidelines itu adalah struktur kelompok – kelompok konsumen yang independen. dan angkutan transportasi. Merekalah satu system bekerjanya. pelayanan yang bersifat profit misanya jasa telekomunikasi. dimana dinyatakan dalam paragraph pertama bahwa pemerintah – pemerintah berbagai Negara sepakat untuk memfasilitasi/mendukung pengembangan kelompok – kelompok konsumen (guidelines 1e). A/RES/39/248 tanggal 16 April 1985 tentang Perlindungan Konsumen. dan lain – lain. IMBm imigrasi. Keadaan ini mungkin akan diperburuk lagi dengan adanya pernyataan pemerintah sehingga siapa yang punya uang dialah yang mendapatkan pelayanan. Pada hakikatnya kelompok konsumen lebih merupakan pengelompokan . The UN Guidelines for Consumer Protection yang diterima dengan suara bulat oleh Majelis Umum Perserikatan – Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) melalui Resolusi PBB No. mengandung pemahaman umum dan luas mengenai perangkat perlindungan konsumen yang asasi dan adil. hal ini merupakan kemajuan yang sangat berarti di bidang perlindungan konsumen. Dengan bangkitnya kesadaran konsumen ini tampaknya aparat pemerintah belum siap menerima tuntutan dan masyarakat baik dalam segi dana maupun SDMnya. cepat atau lambat. Ada berbagai jenis layanan yang disediakan oleh Pemerintah. IMB. malah akan merugikan dirinya sendiri baik dari segi waktu dan tenaga. Pada dasarnya para aparatlah yang tahu apakah suatu pengurusan KTP misalnya.misalnya PLN dan pelayanan yang bersifat nonprofit seperti KTP. jauh sebelum upaya perlindungan konsumen ini ada. Misalnya fasilitas kereta api. Masyarakat hanya bisa pasrah. jalan raya. listrik. Semua ini dilakukan untuk memberikan pelayanan kepada konsumen dan memastikan konsumen dapat menggunakan fasilitas umum tersebut dengan biaya yang murah dan bahkan tanpa bayar. pelayanan yang bersifat monopoli. Mereka sudah membayarnya melalui pajak. pelayanan rumah sakit umum. catatan sipil. Sebagai anggota masyarakat yang telah membayar pajak yang mencoba untuk melawan dengan pelayanan yang diberikan. Hanya saja.

1. keduanya memiliki tujuan yang sama. Hasilnya. Adapun organisasi – organisasi konsumen merupakan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang perlindungan konsumen. Mereka harus nonprofit making dalam profil aktivitasnya. 3. Mereka tidak boleh mengizinkan eksploitasi atas informasi dan advis yang mereka tidak mereka berikan kepada konsumen untuk kepentingan perdagangan. dengan hasil – hasil survey dan penelitian yang dilakukan.? Sebagian dapat tercapai. sulit rasanya bagi Indonesia untuk dapat bersaing di Abad XXI. baik atas prakasa produsen dan asosiasinya maupun prakasa pemerintah. Artinya. Mereka tidak boleh mengizinkan kebebasan tindakan dan komentar mereka dipengaruhi atau dibatasi pesan – pesan sponsor/pesan – pesan tambahan. 5. dan sebagainya. Indah sukmaningsih berpendapat bahwa bertahun – tahun Yayan Lembaga Konsumen Indonesia berusaha bekerja untuk membuat keadaan sedikit lebih menguntungkan kondisi konsumen. Didalam segala aktivitasnya tentu saja organisasi konsumen seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia(YLKI) bertindak dalam kapasitasnya selaku perwakilan konsumen (consumer representation). Kemajuan perdagangan akan tidak adanya artinya jika diperoleh dengan cara – cara yang merugikan konsumen. 6. mengenai karateristik ini terdapat 6 (enam) kualifikasi kebebasan yang harus memiliki organisasi konsumen dan kelompok konsumen. baik bagi organisasi konsumen maupun kelompok konsumen. tapi lebih banyak yang tak terselesaikan.konsumen pada berbagai sector. Mereka tidak boleh menerima iklan – iklan untuk alasan – alasan komersial apa pun dalam publikasi – publikasi mereka. 2. Prinsip kebebasan (idependence) merupaskan karateristik penting. Pada tataran kebijakan (policy) ketika menangani pengaduan – pengaduan konsumen. 4. mencoba untuk mengubah keadaan melalui dialog dengan para pengambil keputusan dan juga membantu konsumen untuk memecahkan masalhnya dalam berhadapan dengan birokrasi pemerintah. Walaupun demikian. . kelompok komsumen barang – barang elektronik. Mereka harus secara ekskusif mewakili kepentingan – kepentingan konsumen. organisasi konsumen sering dihadapkan pada konstruksi perwakilan. Pada beberapa tulisan yang ada di media massa disebutkan bahwa jika pelayanan birokrasi masih seperti sekarang. misalkan kelompok konsumen pemengang kartu kredit. yaitu melayani dan meningkatkan martabat dan kepentingan konsumen. organisasi konsumen seperti YKLI bertindak mewakili kepetingan – kepentingan dan pandangan – pandangan konsumen dalam suatu kelembagaan yang dibentuk. Apabila dikatakan bahwa kelompok konsumen bertindak dalam kapasitasnya selaku konsumen.

jadwal pelayanan dan pelaksanaannya. yang dilengkapi dengan alur proses. Perilaku petugas pelayanan Pengabdian. adanya informasi pelayanan. Keterbukaan Artinya. termasuk disiplin dan kemampuan melaksanakan tugas. yakni sebagai berikut : 1. Adanya pegaturan tugas dan penunjukkan petugas haruslah pasti dan sesuai dengan keahlian. Dalam keterbukaan. mencakup upaya publikasi. 2. rapi. artinya penyebaran informasi yang dilakukan melalui media atau benruk penyuluhan tentang adanya pelayanan yang dimaksud. ada terpampang dengan jelas waktu pelayanan. Untuk biaya pelayanan. 5. dan layanan pengaduan. Kantor pelayanan hendaknya mencantumkan jam kerja kantor untuk pelayanan masyarakat. 3. pengaturan tarif dan penerapannya harus sesuai dengan ketentuas yang berlaku. merata dalam memberikan subjek pelayanan tidak diskriminatif. dan petugas pelayanan. Keamanan dan Kenyamanan Hasil produksi pelayanan memenuhi kualitas tekhnis (aman) dan dilengkapi dengan jaminan purna pelayanan secara administrasi (pencatat/dokumentasi. 4. Artinya. kotak saran.tagihan) maupun jaminan purna pelayanan secara teknis. Prosedur pelayanan meliputi pengaturan yang jelas terhadap prosedur yang harus dilalui oleh masyarakat yang akan menggunakan pelayanan. Dari segi etika keramahan dan sopan santun juga perlu diperhatikan. seorang petugas haruslah tanggap dan peduli dalam memberikan pelayanan. mencakup proses pelayanan dan persyaratan pelayanan. Kepastian Artinya. keterampilan dan etika petugas. laki atau perempuan. biaya pelayanan. Dilengkapi juga dengan petunjuk pelayanan. . yang dapat berupa loket informasi yang dimiliki dan terpampang jelas. Selain itu dilengkapi dengan sarana/prasarana pelayanan ( misalnya peralatannya ada) dan digunakan secara optimal. bersih. Penataan ruangan dan lingkungan kantor terasa fungsional. dan nyaman. Kesedehanaan Artinya. 6. Keadilan Artinya.Ada beberapa indicator pelayanan umum yang baik.. Adapun persyaratan pelayanan adalah administrasi yang jelas. tidak membedakan si kaya dan si miskin.

c. d. Hubungan hokum antara pelaku usaha/pejualan dengan konsumen tidak tertutup kemungkinan timbulnya perselisihan/sengketa konsumen. wakil ketua meranggkap anggota. namun pada kenyataannya yang tidak dapat dipungkiri bahwa lembaga pengadilan pun tidak akomodatif untuk menampung sengketa konsumen karena proses perkara yang berlaku lama dan sangat birokratis. dengan cara melalui mediasi. Berdasarkan Pasal 45 UUPK setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum. apalagi dengan pemerintah karena YLKI bertujuan melindungi konsumen. b. Setiap unsure tersebut berjumlah 3 (tiga)orang atau sebanyak – banyaknya 5 (lima) orang. 51). dan badan ini mempunyai anggota – anggota dari unsure pemerintah. Tugas dan wewenang BPSK (Pasal 52) meliputi: a. Melapor kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran undang – undang ini. yaitu Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). Putusan dari BPSK tidak dapat disbanding kecuali bertentangan dengan hokum yang berlaku. Hal ini berlaku untuk gugatan secara perorangan. dan anggota dengan dibantu oleh sebuah sekertariat (Pasal 50 jo. Pengawasan klausul baku. D. menjaga martabat produsen dan membantu pemerintah. Badan ini penuh di setiap daerah tingkat II (Pasal 49) BPSK di bentuk untuk penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan (Pasal 49 ayat 1). Kenggotaan Badan terditi atas ketua merangkap anggota. Mekanisme gugatan dilakukan secara suka rela dari kedua belah pihak yang bersengketa. sedangkan gugatan secara kelompok (class action) dilakukan melalui peradilan umum. konsumen dan pelaku usaha. sederhana dan murah. . Dengan demikian. PENGERTIAN DAN PERAN BPSK (BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN). yang semuanya diangkat dan diberhentikan oleh Menteri (Perindustrian dan Perdagangan). Melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen. Selama ini sengketa konsumen diselesaikan melalui gugatan dipengadilan. BPSK adalah pengadilan khusus konsumen (small claim court) yang sangat diharapkan dapat menjawab tuntutan masyarakat agar proses bepekara berjalan cepat. Dilingkungan peradilan umum UUPK membuat trobosan dengan menfasilitasi para konsumen yang merasa dirugikan dengan mengajukan gugatan kepada pelaku usaha di luar pengadilan. BPSK hanya menerima perkara yang nilai kerugiannya kecil.Yayasan sejak semula tidak ingin berkonfrontasi dengan produsen (pelaku usaha). arbitrasi atau konsliasi. Memberikan konsultasi perlindungan konsumen. Pemeriksaan dilakukan oleh hakim tunggal dan kehadiran penuh pihak ketiga (pengacara) sebagai wakil pihak yang bersengketa tidak diperkenankan.

i. j.e. l. dokumen atau alat – alat bukti lain guna penyelidikan dan/atau pemeriksaan. k. meneliti dan/atau menilai surat. saksi ahli dan/atau setiap orang yang dianggap melakukan pelanggaran itu. maksimum 100 (seratus) hari (total dari proses pertama sampai terakhir). f. Memanggil pelaku usaha pelanggar. BPSK wajib menjatuhkan putusan selama – lamanya 21 (dua puluh satu) hari sejak dijatuhkan gugatan diterima (Pasal 55). Putusan yang dijatuhkan Majelis BPSK bersifat final dan mengikat (Pasal 54 ayat (3)). g. m. Dalam menyelesaikan sengketa konsumen dibentuk majelis yang tediri atas sedikitnya 3 (tiga) anggota dibantu oleh seorang panitera (Pasal 54 ayat (1) dan (2)).8 Tahun 1999 terlihat setidak – tidaknya dari sudut biaya dan waktu penyelenggaraan keadilan itu pihak konsumen dan pelaku usaha yang jujur dan bertanggung jawab dimudahkan dan dipercepat (putusan yang mempunyai kekuatan hokum pasti dapat dijatuhkan dalam jangka waktu relative pendek. atau apabila ia keberatan dapat mengajukannya kepada Pengadilan Negeri dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari. lisan atau tertulis. Selanjutnya kasasi pada putusan pengadilan negeri ini diberi luang waktu 14 hari untuk mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung. . Memutuskan dan menetapkan ada tidaknya kerugian konsumen. Melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa konsumen. Memberitahukan keputusan kepada pelaku usaha pelanggaran undang – undang. Menghadirkan saksi.tentang dilanggarnya perlindungan konsumen. Pengadilan Negeri yang menerima keberatan pelaku usaha memutuskan perkara tersebut dalam jangka waktu 21 hari sejak diterimanya keberatan tersebut (Pasal 58). Meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan mereka tersebut huruf g apabila tidak mau memenuhi panggilan. Keputusan BPSK itu wajib dilaksanakan pelaku usaha dalam jangka 7 (tujuh) hari setelah diterimanya. Menerima pengaduan dari konsumen. Menjatuhkan sangsi administrasi kepada pelaku usaha pelanggar undang – undang. Mendapatkan. Dari uraian di atas dapat dibuat skema proses penyelesaian sengketa melalui BPSK sebagai berikut. Keputusan Mahkamah Agung wajib dikeluarkan dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak permohonan kasasi (Pasal 58). Dari keseluruhan proses persidangan berdasarkan ketentuan Undang – Undang No. h.

Pasal 55 Mediasi. Penyelesaian: dan Bentuk Keputusan 21 Hari.meriksaan Sanksi administrasi Final dan Mengikat 14 Hari. Memanggil pihak. Pengawasan klau. do-kumen alat bukti i.Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Dati II (Pasal 49 ayat 1) Pemerintah/Pelaku Usaha/Konsumen 3-5 per Unsur Nonmasa Kerja Tugas Wewenang Pasal 52 a. arbitrasi.gainnya h.K c. sanksi dan seba. j. Penelitian dan pe.sul baku d. Meneliti surat.25 Maksimum 200 juta g. Menerima penga. Memutus dan meadanya kerugian Memberitahu putusan hukuman netapkan Esekusi PN di tempat Konsumen Pasal 57 Pengadila Negeri Putusan 21 Hari Pasal 52 ayat (2) Makamah Agung putusan 30 Hari Pasal 58 ayat (3) k. Keberatan Pasal 56 ayat (2) Pelanggaran atas Pasal 19 ayat (2) Pasal 20. Konsultasi P. konsiliasi b. Menjatuhkan administratif .duan f. Melapor penyidik e.

Hal ini tidak terjadi pada distributor karena produk yang diperjual belikan menjadi miliknya. Kedua istilah ini memiliki sejumlah perbedaan. yang dapat disebut pska transaksi konsumen. PENGANTAR Sebagian besar predikat konsumen diperoleh sebagai konsekuensi mengonsumsi barang dan jasa melalui suatu transaksii konsumen. perikatan transaksi konsumen itu tidak serta merta terjadi begitu saja. tetapi langsung kepada pihak principal. Dengan demikian. sementara melakukan transaksi atas nama prinsipalnya. Setelah transaksi konsumen dilaksanakan. BAB 7 ISU – ISU HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN A. Proses untuk menghasilkan iklan itu disebut dengan periklanan. Perikatan konsumen merupakan pelaksanaan dari perikatan sebelumnnya. Kareteristik yang berbeda ini tentu mempengaruhi konstruksi hokum dalam transaksi konsumen di antara para pihak terkait. Itulah sebabnya. Transaksi konsumen adalah peralihan barang atau jasa termasuk didalamnya peralihan kenikmatan dalam menggunakannya. Dalam kacamata hokum perdata. Distributor bertindak atas namanya. masih ada perikatan lain yang harus dipenuhi kedua belah pihak. Tahapan pratransaksi konsumen biasanya ditandai oleh penawaran dari penjual kepada calon pembelinya. Berikut ini dikemukakan 3 isu pokok dari sekuen – sekuen transaksi konsumen. Mengigat salah satu tolok ukur dari majunya suatu Negara adalah nilai dari pelayanan terhadap masyarakat oleh aparatur Negara. yang . Pada saat ini penawaran lazimnya dilakukan melalui media masa yang dikemas secara menarik. Konsumen antara dapat berupa distributor atau agen. yang terutama bersangkut paut dengan perikatan keperdataan. pembeli dapat saja tidak membayar melalui perantaraan si agen. UUPK tidak menkatagorikan “konsumen antara” ini sebagai konsumen yang dilindungi oleh UUPK. Pihak yang disebutkan terakhir inilah yang menjebatani antara produsen dan konsumen akhir. Kemasan penawaran demikian disebut dengan iklan. paling tidak berperan indicator atau criteria yang ditawarkan diatas semaksimal mungkin dipenuhi. Diluar transaksi konsumen dikenal juga transaksi komersial. konsumen mengharapkan pelayanan birokrasi menjadi lebih baik. dalam pelunasan harga barang atau jasa. yang biasanya dilakukan oleh produsen sebagai principal dengan sipedagang antara. Abdi Negara sudah harusnya melayani kepentingan masyarakat dan bukan dilayani oleh masyarakat. Ada prolog yang mendahuluinya.Dalam menghadapi Abad XXI. para perantara ini disebut juga dengan intermediate consumer. Transaksi konsumen merupakan suatu perikatan. yang dapat disebut pratransaksi konsumen.

pada akhir 1992. Inilah yang biasanya disebut layanan purna jual. Untuk melakukan pengawasan demikian. Kosmetika. Isu yang banyak dipermasalahkan pada tahap ini adalah existensi dari perjanjian standar atau perjanjian baku. Selama jangka waktu itu. Minuman. bidang kesehatan merupakan sector yang relative lebih lengkap pengaturannya dalam melindungi konsumen dibandingkan bidang – bidang lain. Dibandingkan dengan instansi – instansi lainnya. sebab dimanapun ia pergi. yaitu pengiklan. PERIKLANAN DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN (IKLAN OBAT) Diantara sekian banyak sector. Makanan. seperti media audio dan media cetak yang tersebar di seluruh Indonesia. Disini selalu dipertanyakan apakah dalam perjanjian baku itu masih tedapat kebebasan kontrak? Hal ini terjadi karena perjanjian standar itu di tentukan secara sepihak oleh produsen atau penyalur produknya (penjual). Menteri Kesehatan RI pernah melontarkan kritikan yang sangat tajam terhadap iklan obat – obatan yang beredar dimasyarakat. untuk itu selanjutnya dibentuk panitia khusus/ bersama. Biasanya konsumen tidak punya pilihan lain. Sekalipun demikian. Tahapan ketiga dari proses transaksi konsumen ini adalah perikatan setelah peralihan barang atau jasa yang pokok dilakukan. Sering terjadi. Tahapan berikutnya adalah pelaksanaan dari transkasi konsumen itu. Menteri Kesehatan berkewajiban mengawasi menteri periklanan sesuai dengan criteria teknis medis dan etis. tidak satupun yang memberikan informasi yang jujur. Departemen Kesehatan sebenarnya memiliki rambu – rambu pengaman yang relative lebih lengkap dalam melindungi konsumen. perusahaan periklanan.252/Menkes/SKB/VIII/80 dan NO. disini terkait pada perlindungan hokum bagi konsumen. misalnya tiga tahun. Sesungguhnya apa yang di ungkapkan Menteri Kesehatan sejak lama menjadi keluhan pengamat dan aktivis perlindungan konsumen. yang keanggotaannya berasal . kecuali menerima alternative yang pertama. kosmetika.lainnya. baik sendiri – sendiri maupun bersama – sama memiliki potensi untuk melanggar hak – hak konsumen. B. dan media masa. khusus mengenai periklanan. setiap keluhan konsumen atas barang tersebut. dan alat kesehatan. belum di media lainnya. Menurut Surat Keputusan Bersama itu. sedangkan Menteri Penerangan melakukan pengawasan materi secara umum. sepanjang bukan disebabkan kesalah pemakaian. Ketiga unsure ini. Itu baru disatu media. makanan. Namun keluhan – keluhan demikian biasanya tidak mendapat publikasi yang luas karena berbagai pertimbangan komersial. khususnya yang ditayangkan ditelevisi. Departemen ini mempunyai lembaga tersendiri yang mengawasi peredaran dan penggunaan obat (termasuk obat tradisional). khususnya yang berkaitan dengan periklanan diterbitkan Surat Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Penerangan (NO. Dapat dibayangkan jika sinyalemen Menteri Kesehatan itu benar. terutama sejak diperolehnya kembali siaran iklan ditelevisi. sedangakan konsumen tinggal memutuskan : menerima atau menolaknya. Menurutnya. Tugas demikian dibebankan kepada Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (Ditjen POM). Frekuensi keluhan itu terus meningkat. berarti dari iklan obat – obatan yang disiarkan ditelevisi. untuk pembelian barang – barang tertentu produsen atau penyalur produk memberikan garansi dalam jangka waktu terbatas. dapat diajukan kepada produsen atau penyalur produk. semua iklan itu menyesatkan.melibatkan 3 unsur utama masyarakat periklanan. ia akan disodorkan perjanjian baku dengan subtansi yang hampir sama oleh produsen atau penyalur produk (penjual)lainnya.122/Kep/Menpen/1980) tentang Pengendalian dan Pengawasan Iklan Obat. dan Alat Kesehatan (OMKA).

misalnya antara lain diatur dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. dengan penandatangan oleh tujuh instansi pada 19 Agustus 1996. Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) 5. 0282 – 3/A/SK/XI/90 tentang Kriteria Terperinci. Dalam praktiknnya. Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS). tidak diperkenankan untuk diiklankan selama belum didaftarkan di Departemen Kesehatan (Pasal 3 Peraturan Menteri Kesehatan No. Dengan dihapusnya instansi Departemen Penerangan dalam struktur pemerintah saat ini. Dalam memproduksi iklan. ternyata banyak sekali iklan yang sitayangkan diberbagai media yang melenceng jauh dari naskah yang diserahkan ked an disetujui oleh Direktorat Jederal POM. bukan obat keras.246/Menkes/Per/V/1990). Panitia yang dimaksud tidak pernah dibentuk dan kosekuensinya.660). sebelum akhirnya disebarluaskan ke media yang diingini. Masalah iklan obat. tampaknya amanat tersebut tinggal menjadi kenangan. ide yang di amanatkan SuratKeputusan Bersama tersebut tidak ditindaklanjuti. Untuk obat – obatan tradisional. Ketujuh instansi tersebut adalah:\ 1.dari dua departemen serta kalangan periklanan dan anggota masyarakat lainnya. 6.23 Tahun 1992 tentang kesehatan. Namun. Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI). sampai dengan pencabutan izin usaha industry obat yang bersangkutan. Ironisnya. Saat ini dapat dipastikan semua iklan obat di televise yang pernah dipersoalkan oleh Menteri Kesehatan diserahkan pembuatannya kepada perusahaan periklanan (production house). Tidak adil rasanya bila segala beban penyimpangan harus dipersalahkan sepenuhnya ke pihak produsen obat – obatan. sama sekali tidak membuat “kecut” pelakunya. Jenis obat yang boleh diiklankan hanya jenis obat bebas dan terbatas. Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) 4. Ditempat inilah iklan itu diproduksi. Asosiasi Pemrakarsa dan Penyantun Iklan Indonesia (Aspindo) 3. dan . Dalam peraturan itu juga ditegaskan bahwa iklan yang diberikan tidak boleh menyimpang dari apa yang disetujui dalam pendaftaran. Ordonansi itu memerlukan penjabaran itu lebih lanjut dalam peraturan perundang – undangan yang lebih rendah tingkaatannya. surat keputusan itu tidak dapat dijadikan dasar peganganpenerbit periklanan OMKA. pihak perusahaan periklanan dikawal ketat oleh kode etik yang ditanda tangani oleh lima asosiasi (termasuk Perusahaan Periklanan Indonesia) pada 17 September 1981. Selain mengacu kepada ketentuan Undang – Undang No. Dalam ketentuan yang disebutkan terakhiran disyaratkan bahwa setiap iklan obat harus memuat informasi sesuai dengan persetujuan yang diberikan Departemen Kesehatan pada saat obat itu didaftarkan. Kelengkapan Permohonan dan Tata Laksana Pendaftaran Obat Jadi. ancaman sangsi yang diberikan Departemen Kesehatan mulai dari teguran. Selain itu sejak 1989 naskah iklan obat – obatan harus diserahkan pula kepada Direktorat Jenderal POM untuk mendapatkan persetujuan. Asosiasi Perusahaan Media Luar Ruang Indonesia (AMLI) 2. Sesuai namanya. ordonansi tersebut tidak secara khusus mengatur masalah periklanan. dalam melakukan pengawasan Direktorat Jenderal POM samapai sekarang masih mendasarkan diri pada Ordonansi Pemeriksaan Bahan – Bahan Farmasi (Staatsblad 1936 No. Pembatalan pendaftaran. Tata Cara dan Tata Periklanan Indonesia ini selalu disempurnakan.

Selanjutnya dinyatakan bahwa pembinaan dan pengwasan tersebut akan ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Dalam Bab Undang – Undang VII No. Yayasan Televisi Republik Indonesia. Sebagai mana diuraikan diatas surat keputusan bersama dari dua menteri (1980) menyatakan pengawasan periklanandi bidang OMKA dilakukan oleh panitia tersendiri. . Untuk obat – obatan. (The Federal Trade Commission). atau atribut – atribut profesi medis lainnya juga dilarang. dan keputusan setingkat menteri seperti itu tidak berwenang mencantumkan sanksi. atau “bebas resiko” tanpa keterangan lengkap yang menyertainya. Keberadaan panitia itu kiranya cukup urgen untk di wujudkan karena memudahkan dalam melakukan koordinasi. Kendati demikian. ahli farmasi. mekanisme pengawasannya masih berjalan dengan baik. Apalagi jika pihak produsen yang lebih kuat itu didukung oleh fasilitas yang memungkinkannya bertindak secara monopolitis. Pemakaian tenaga professional kesehatan sebagai model iklan. Demikina juga badan yang kewenangannya antara lain yang mengawasi masalah periklanan.. tapi hanya boleh menyatakan membantu menghilangkan gejala penyakit. iklan tidak boleh memuat kata – kata yang berisi janji penyembuhan penyakit. yang dinegara asalnya (Inggris dan Amerika Serikat) sudah pula ditinggalkan. iklan obat – obat ) membuktikan. Oleh karena itu. Mayoritas konsumen di Indonesia masih terlalu rentan dalam menyerap informasi iklan yang “tidak sehat”. sangat riskan kiranya bilatidak diadakan pengawasan yang memadai dan konsumen dibiarkan menimbang – nimbang serta memutuskan sendiri iklan apa yang pantas untuk dipercaya. “tidak berbahaya”. Bentuk peraturan demikian tidak dikenal dalam tata urutan peraturan perundang – undangan di Indonesia. Dari sebagian kecil rumus kode etik itu saja tampak banyak iklan obat yang tidak memnuhi persyaratan.7. Selain itu. Cara berfikir yang dalam hokum dikenal sebagai caveat emtor (let the buyer beware) demikian hanya cocok untuk Negara kapasitas abad ke – 19. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. terlebih dahulu perlu dijabarkan secara jelas batas kewenangan panitia tersebut. Juga tidak boleh mencantumkan kata – kata “aman”. sesungguhnya ditegaskan bahwa Pemerintah berwenang untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan upaya penyelenggaraan kesehatan. rumah sakit. kode etik periklanan juga mensyaratkan iklan harus sesuai dengan indikasi jenis produk yang disetujui oleh Departemen Kesehatan. Posisi yang tidak berimbang antara produsen dan konsumen akan mudah disalahgunakan (machtpositie) oleh pihak yang lebih kuat. Dalam hokum pembentukan panitia bersama di atas tentu akan lebih baik jika tidak berbentuk surat keputusan bersama. Iklan obat yang “tidak sehat” seperti itu tentu saja merugikan perusahaan obat sejenis. perawat. Ini berarti dibuka kesempatan untuk membentuk suatu badan pengawasan yang lebih bergigi. tapi (lebih – lebih) merugikan konsumen yang tidak berhati – hati. seperti dokter. agar tidak tumpang tindih dengan mikanisme pengwasan serupa yang dimiliki instansi dijajar departemen lain. Lolosnya penayangan iklan yang menyesatkan (dalam hal ini. juga dibentuk berdasarkan undang – undang. Sebagai perbandingan di Amerika Serikat badan yang mengawasi masalah makan dan obat (The Food and Drug Administration) dibentuk atas produk hokum setingakt undang – undang.

Konsekuensinya. biasanya diiklankan terlebih dahulu oleh si produsen. Sementara itu. tentu akan dipertanyakan. Polemic ini sesungguhnya tidak akan dapat dituntaskan jika akar permasalahan. Rumusan pasal ini mengacu kepada pencantuman label “halal” yang sesuai dengan syariah Islam. Departemen Kesehatan dan Agama menginginkan agar label ini dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan setelah mendapat rekomendari dari Majelis Ulama Indonesia. Informasi yang diberikannya paling tidak dapat dijadikan bahan perbandingan bagi masyarakat. Yakni “memberi rasa nyaman pada konsumen” tidak ditempatkan pada proritas utama. Juga masih samar – samar tentang pengertian “pangan yang diperdagangkan”. Artinya.Khusunya hal periklanan di bidang OMKA dengan dasar hokum yang lebih sesuai. Peranan YLKI antara lain secara berkala melakukan pengujian suatu produk tertentu dan mempublikasikannya. Selain sarana pengawasan di tingkat aparatur Negara. apa yang dilakukan YLKI ini seyogyanya disambut dengan positif. sejauh mana konsumen akan merasa aman dan yakin kebenaran isinya. Iklan adalah produk kreativitas dan komersial. Sampel – sampel tersebut tentu tidak untuk diperdagangkan. Pasal 34 dari Undang – Undang Pangan juga membawa polemic yang tidak kalah menariknya. Kantor Menteri Urusan Pangan dulu ingin menyerahkan kepada masing – masing produsen. mengawasi dan melakukan tindakan yang diperlukan agar iklan tentang pangan yang diperdagangkan tidak memuat keterangan yang dapat menyesatkan.7 Tahun 1996 tentang Pangan disebut secara jelas mengenai iklan pangan. jika label (dan iklan) itu diserahkan sepenuhnya kepada produsen. bahwa setiap orang yang menyatakan dalam table atau iklan bahwa pangan yang diperdagangkan adalah sesuai dengan persyaratan agama tau kepercayaan tertentu bertangguang jawab atas kebenaran pernyataan berdasarkan agama atau kepercayaan tersebut. setiap label dan/atau iklan tentang pangan yang diperdagangkan harus memuat keterangan mengenai pangan dengan benar dan tidak menyesatkan. Dengan demikian. Di situ dinyatakan. peranan yang tidak kalah pentingnya juga harus darang dari masyarakat seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YKLI). C. Untuk itu pemerintah mengatur. produk pangan dengan merek baru yang masih dalam masa perkeenalan kepada konsumen. PERJANJIAN STANDAR DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN . Sebagaimana diatur dalam Pasal 71 dan 72 Undang – Undang Kesehatan. ia akan dikenakan sangsi hokum. pengawasannya tidak boleh sampai mematikan dua ciri di atas. jika produsen melanggar. sampel – sampel produk itu di bagikan secara ngratis kepada masyarakat. Sebaliknya. Dalam Undang – Undang No. Hal ini menimbulakan pertanyaan : bagaimana untuk “pangan yag tidak diperdagangkan”? dalam kenyataannya dapat dilihat. tepatnya ke sasaran konsumen yang dinilai paling potensial. Dan ketetuan Undang – Undang Pangan ini sebenarnya tidak mempunyai aspek konstitutif yang berarti banyak karena masih harus menunggu peraturan pelaksanaannya. dan rasa tidak adil jika dikecualikan dari ketentuan Pasal 33 UU Pangan. dan sejauh mana pula Pemerintah mampu mencegah dan menindakk tindakan produsen yang tidak bertangguang jawab. Pasal 33 dari undang – undang ini menyatakan. disamping informasi yang sehari – hari mereka dapatkan dari iklan.

Jadi. Sebenarnya. sebenarnya dikenalkan sejak zaman Yunani Kuno. yang dibakukan bukan formulir perjanjian tersebut. Oleh karena itu. Contohnya dapat dibuat dalam bentuk pengumuman yang ditempelkan tempat penjual menjalankan usahanya. perjanjian standar ini kemudian dikenal dengan nama take it or leave it contract. warna. Di Indonesia. sehingga pihak yang lain (konsumen) hanya memiliki dua pilihan : menyetujui atau menolaknya. perjanjian standar bahkan merambah ke sector property dengan cara – cara yang secara yuridis masih kontrovesial. Selain itu. bertolak dari tujuan itu. 1338 KUH Perdata). tenaga dan biaya yang dapat dihemat. misalnya yang menyangkut jenis. perjanjian standar adalah perjanjian yang ditetapkan secara sepihak. bagaimana pihak konsumen masih diberi hak untuk menyetujui (take it) atau menolak perjanjian yang diajukan kepadanya (leave it). Karena lahir dari kebutuhan akan kebutuhan efisiensi serta efektivitas kerja. antara lain perjanjian baku dibuat oleh salah satu pihak saja dan tidak melalui suatu bentuk perundingan. waktu. jumlah. tidak lagi sekadar masalah harga. Misalnya. dan mengandung ketentuan yang berlaku umum (massal). klausul yang ada di dalamnya biasanya .99 persen perjanjian yang dibuat di Amerika Serikat berbentuk perjanjian standar. tempat. Akan tetapi. disisi yang lain ia harus menurut terhadap isi perjanjian yang disodorkan kepadanya. bentuk perjanjian seperti ini sangat menguntungkan. Plato (423 – 347 SM). jika dilihat dari beberapa banyak waktu. tanpa memperhatikan perbedaan mutu makanan tersebut. Menurut sebuah laporan dalam Harvard Law Review pada 1971. Perjanjian standar tidak perlu selalu dituangkan dalam bentuk formulir walaupun memang lazim dibuat tertulis. Dalam perkembangannya. harga. Tujuan dibuatnya perjanjian standar untuk memberikan kemudahan (kepraktisan) bagi para pihak yang bersangkutan. diperbolehkan system pembelian satuan rumah susun (strata title) secara inden dalam bentuk perjanjian standar. Adapun yang belum dibakukan ada beberapa hal. isi perjanjian yang telah distandarisasi. Adanya unsure pilihan ini oleh sementara pihak dikatakan perjanjian standar tidaklah melanggar atas kebebasan berkontak (Pasal 1320 jo. Artinya. Mariam Darus Badrulzaman lalu mendefenisikan perjanjian standar sebagai perjanjian yang isinya dibakukan dan dituangkan dalam bentuk formulir. Itu sebabnya. tentu saja penentuan secara sepihak oleh produsen/penyalur produk (penjual). Sutan Remi Sjahdeini mengartikan perjanjian standar sebagai perjanjian yang hampir seluruh klausul – klausulnya dibakukan oleh pemakaiannya dan pihak lain pada dasarnya tidak mempunyai peluang untuk merundingkan atau meminta perubahan. yakni oleh produsen/penyalur produk (penjual).Perjanjian standar (baku). misalnya pernah memaparkan praktik penjualan makanan yang harganya ditentukan secara sepihak oleh penjual. di sisi yang lain bentuk perjanjian seperti ini tentu saja menempatkan pihak yang tidak ikut membuat klausul – klausul di dalam perjanjian itu sebagai pihak yang baik yang langsung maupun tidak sebagai pihak dalam perjanjian itu memiliki hak memiliki kedudukan seimbang dalam menjalakan perjanjian tersebut. melainkan klausal – klausalnya. Tentu saja fenomena demikian tidak selamanya berkonotasi negative. dan beberapa hal yang spesifik dari objek yang diperjanjikan. Di satu sisi. tetapi mencakup syarat – syarat yang lebih detail. maka bentuk perjanjian baku ini pun memiliki karateristik yang khas yang tidak dimiliki oleh perjanjian yang lain pada umumnya. Sjahdeini menekankan. bidang – bidang yang diatur dengan perjanjian standar pun makin bertambah luas.

Sons & Co (1893) dab Bahama International Trust Co. exluding and modifying aremedy or a ability arising out of breech of a contractual obligation yang diterjemahkan secara bebassebagai setiap bagian dari suatu perjanjian yang membatasi. memberikan defenisi terhadap klausul tersebut sebagai klausul yang berisi pembatasan pertanggung jawaban dari kreditor. Sorotan para ahli hokum dari berlakunya perjanjian baku selain dari segi keabsahannya adalah adanya klausul – klausul yang tidak adil dan sangat memberatkan salah satu pihak. dibatasi atau dihapuskan (misalnya. membebaskan atau merekayasa ganti rugi atau tanggung jawab yang timbul dari pelanggaran terhadap suatu perjanjian. Ketiga bentuyk yuridis tersebut terdiri atas: a. Kewajiban – kewajiban diciptakan (syarat – syarat pembebasan oleh salah satu pihak dibebankan dengan memikulkan tanggung jawab pihak yang lain yang mungkin ada untuk kerugian yang diderita pihak ketiga.V Threadgold (1974) yang mengemukakan bahwa exemption clause di artikan sebagai …. Jika ada yang perlu dikuatirkan dengan kehadiran perjanjian standar. tidak lain karena dicantumkannya klausul eksonerasi (exemption clause) dalam perjanjian tersebut. A clause in a contract or a term in a notice which appears to exclude or restrict a liability or legal duty that would otherwise arise. b. Perjanjian baku banyak memberikan keuntungan dalam penggunaannya. Demikian juga David Yates. yang lebih memilih mengunakan istilah exclusion clause. Mariam Darus Badrulzaman. perjanjian keadaan darurat). Menurut Engels menyebut adannya tiga bentuk yuridis dari perjanjian dengan syarat – syarat eksonerasi. karena kurang baik dalam melaksanakan kewajiban – kewajiban perjanjian. yaitu sisi kelemahannya dalam mengakomodasikan posisi yang seimbang bagi para pihaknya. Dalam pengertiannya yang lebih luas David Yates menunjuk pada yurisprudensi pada kasus Bensten v. Taylor. memberikan defenisi any term in a contract restricting. Kelemahan – kelemahan perjanjian baku ini bersumber dari karateristik perjanjian baku yang dalam wujudnya merupakan suatu perjanjian yang dibuat oleh salah satu pihak dan suatu perjanjian terstandarisasi yang menyisakan sedikit atau bahkan tidak sama sekali ruang bagi pihak lain untuk menegosiasikan isi perjanjian itu.merupakan klausul yang telah menjadi kebiasaan secara luas dan berlaku secara terus menerus dalam waktu yang lama. c. Klausul eksonerasi adalah klausul yang mengandung kondisi membatasi atau bahkan menghapus sama sekali tanggung jawab yang semestinya dibebankan kepada pihak produsen/penyalur produk (penjual). Kewajiban – kewajiban sendiri yang biasanya dibebankan kepada pihak untuk mana syarat dibuat. Perjanjian eksonerasi yang membebaskan tanggung jawab seseorang pada akibat – akibat hokum yang terjadi karena kuraang pelaksanaan kewajiban - . Tanggung jawab untuk akibat – akibat hokum. terhadap resiko dan kelalaian yang semestinya ditanggungnya. dengan istil ahnya klausul eksonerasi. tetapi dari berbagai keuntungan yang ada tersebut terdapat sisi lain dari pengunaan serta perkembangan perjanjian baku yang banyak mendapat sorotan kritis dari para ahli hokum. yang diterjemahkan secara bebas adalh klausul yang kehadirannya untuk membebaskan atau membatasi tanggung jawab yang mungkin saja muncul.

membuka peluang luas baginya untuk menyalah gunakan kedudukannya. - Disini dilihat betapa tidak adanya keseimbangan posisi tawar menawar antara produsen/penyalur produk (penjual) yang lazim tersebut kreditor dan konsumen (debitur) di lain pihak. Ganti rugi tidak dijalankan apabila dala persyaratan eksonerasi tercantum hal ini. bahwa perjanjian standar dapat diterima sebagai perjanjian berdasarkab fiksi adanya kemauan dan kepercayaan yang mengakibatkan keyakian. yang mengatakan perjanjian standar itu mengikuti karena setiap orang yang menandatangani suatu perjanjian harus dianggap mengetahui dan menyetujui sepenuhnya isi kontrak tersebut.kewajiban yang diharuskan oleh perundang – undangan. walaupun secara teoritis yuridis. Pendapat Pitlo ini mengingatkan kita pada pendapat Hondius. Adanya pembatasan terhadap tanggung jawab terhadap kecelakaan jasmani yang diderita oleh penumpang. Dari berbagai defenisi yang ada tersebut maka dapat disimpulkan bahwa klausul pembebasan adalah klausul yang memberikan pembatasan atau pembebasan tanggung jawab hokum salah satu pihak atas segala bentuk ketidak terpenuhinya kewajiban atas perjanjian tersebut. posisi yang didominasi oleh pihak pelaku usaha. kedudukan pengusaha dalam perjanjian ini adalah seperti pembentuk undang – undang swasta (legio particuliere wetgever). terlebih – lebih lagi ditinjau dari asas – asas hokum nasional. Namun dalam kenyataanya. Mariam Darus Badrulzaman menyimpulkan bahawa perjanjian standar itu bertentang dengan asas kiebebasan kontrak yang bertanggung jawab. antara lain tentang maslah ganti rugi dalam hal perbuatan ingkar – janji. Pendapat pertama dating dari Sluijter. berarti ia secara sukarela setuju pada isi perjanjian tersebut. Kemudian Stein mencoba memecahkan masalah ini dengan mengemukakan pendapat. para pihak mengikatkan diri pada perjanjian itu. Akhirnya. perjanjian ini tidak memnuhi ketentuan undang – undang dan ditolak oleh beberapa ahli hokum. Pelaku usaha hanya mengatur hak – haknya dan tidak kewajibannya. Syarat – syarat yang ditentukan pengusaha didalam perjanjian itu adalah undang – undang. Sehubungan dengan pertanyaan : apakah ada kebebasan berkontrak dalam perjanjian standar ini. kedudukan pelaku usaha dan konsumen tidak seiumbang. dapat disebutkan pedapat yang lebih tegas dari Asser Rutten. yang menyatakan perjanjian standar bukan perjanjian. Adanya pembatasan tanggung jawab ganti rugi bagi perusahaan pengangkutan berkaitan dengan kehilangan barang bawaan penumpang. dalam hal pengembangan tidak dapat memenuhi janjinya untuk melaksanakan penyelesaian pembangunan atas rumah yang dibeli. yang dalam disertasinya menyatakan bahwa perjanjian standar itu mengikat berdasarkan kebiasaan (gebruik) yang berlaku dilingkungan masyarakat dan lalu lintas perdagangan. bukan perjanjian! Pitlo mengatakannya sebagai perjanjian paksa (dwang contract). . kebutuhan masyarakat berjalan dalam arah yang berlawanan dengan keinginan hokum. tepat pada waktunya. di mana kepentingan masyarkatlah yang didahulukan. Dalam perjanjian standar.? Ada beberapa pendapat yang menegaskan kontroversi di dalamnya. Ahli Hukum Indonesia. Jika debitur menerima perjanjian itu. Contoh dari klausul tersebut adalah : Adanya pembebasan tanggung jawab pihak pengembangan dalam perjanjian pembelian rumah. Alasannya.

Akan tetapi.Menurutnya. Dalam UUPK. Materi perjanjian yang terjadi di masyarakat sedemikian luasnya dan heterogennya. KUHP Perdata juga meyebutkan tiga alasan yang dapat menyebabkan suatu perjanjian. Perjanjian berskala luas yang dimaksud berkaitan dengan keputusan berkaitan dengan kepentingan missal. tentu tidak harus distandarisasi. terdapat ketetuan yang mengatakan. Pasal 1 angka 10 mendefinisikan klausul baku sebagai setiap aturan atau ketentuan dan syarat – syarat yang dipersiapkan dan ditetapkan terih dahulu secara sepihakoleh pelaku usaha yang dituangkan dalam usaha dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen. Menurut Remy Sjahdeini. Dengan demikian. Misanya. misalnya. Dalam KUHP Perdata Baru Negeri Belanda. melainkan juga isisnya yang bersifat pengalihan kewajiban atau tanggung jawab pelaku usaha. Pasal 18 ayat (1) huruf (a) UUPK menyatakan pelaku usaha dalam menawwarka barang dan/atau jasa yang ditunjukkan untuk diperdagangkan dilarang membuat atau mencantumkan klausul baku pada setiap dokumen dan/ atau perjanjian jika menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha. Campur tangan pengadilan dapat dijumpai dalam penyebab putusnya perjanjian yang dikenal dengan penyalahgunaan keadaan (misbruik van omstanddigheden). dikhawatirkan akan dibuat banyak klausul eksonerasi yang merugikan masyarakat. Campur tangan pemerintah lebih diharapkan pada perjanjian – perjanjian yang berskala luas. Padahal. agar tidak terjadi penyalahgunaan terhadap asas kebebasan berkontrak ini oleh pihak yang berkedudukan lebih kuat. yang ada adalah “klausul baku”. walaupun tidak sepenuhnya bersifat public seperti dibidang perburuhan dan agrarian. pengertian “klausul eksonerasi” tidak sekedar mempersoalkan prosedur pembuatannya. dan kepentingan dunia perdagangan tidak pula dirugikan. untuk perjanjian – perjanjian keperdataan yang dibuat oleh notaries. kiranya tidak semua perjanjian standar dapat diperlakukan demikian. Dalam hokum perburuhan . bukan mengenai isinya. kekhilafan (dwaling). penyalahgunaan keadaan ini dikukuhkan sebagai alasan keempat dari cacat kehendak. Misalnya saja dalam lapangan perburuhan agrarian. dan penipuan (bedrog). Sutan Remy Sjahdeini berpendapat dalam kenyataanya KUH Perdata sendiri memberikan pembatasan – pembatasan terhadap asas kebebasan berkontrak itu. Perjanjian – perjanjian yang disebutkan berakhir ini tumbuh melalui kebiasaan dan permintaan masyarakat sendiri. perjanjian standar ini tidak boleh dibiarkan tumbuh secara liar dab karena itu perlu ditertibkan. dank arena itu jika diserahkan sepenuhnya pembuatannya secara sepihak kepada pelaku usaha. harus ada campur tangan pemerintah. istilah klausul eksonerasi sendiri tidak ditemukan. yakni paksaan (dwang). maka diperlukan campur tangan melalui undang – undang dan pengadilan. campur tangan yang disarankan ini dapat dilakukan oleh pemerintah. Dalam kenyataannya. Ketiga alas an ini dimaksudkan oleh undang – undang sebagai pembatasan terhadap belakunya asas kebebasan berkontrak. jika asas kebebasan berkontrak ingin ditegakkan. satu – satunya cara adalah dengan membatasi pihak pelaku usaha dalam klausul eksenorasi. Ketentuan huruf (b) dan seterusnya sebenarnya memberikan contoh bentuk – bentuk pengalihan tanggung . Jadi yang ditekankan oleh prosedur pembuatannya yang berifat sepihak. Tentu Darus Barulzaman. ada pembatasan – pembatasan dalam kontrak kerja. sangat banyak dilakukan standarisasi perjanjian. suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan kata sepakat kedua belah pihak atau karena alasan lain yang dinyatakan dengan undang – undang.

Jika ada konsumen yang meeras dirugikan. Di Amerika Serikat. huruf c. Jika hal – hal yang disebutkan dalam ayat (1) dan (2) itu tidak dipenuhi. tetapi isinya tidak boleh mengarah kepada klausul eksonerasi. termasuk sejauh mana Pemerintah dapat campur tangan dalam penyusunan kontrak. jika pihak produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor mengetahui atau seharusnya mengetahui bahwa pihak konsumen tidak akan menerima perjanjian tersebut jika ia mengetahuinya isinya.000. atau di cabut setelah mendapat persetujuan Menteri Kehakiman. diubah. Salah satunya adalah pasal 1337. perubahan. Pasal 9. atau menolak penyerahan kembali uang yang dibayar. dapat diperoleh jawaban sementara bahwa kedua istilah itu berbeda. klausul baku sama dengan klausul eksonerasi? Jika melihat kepada ketentuan pasal 18 ayat (1) UUPK. Secara umum. Di belanda. seperti pelaku usaha dapat menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen. ketentuan lainnya menyatakan bahwa perjanjian standar ini dapat pula dibatalkan. memang dapat ditunjukkan beberapa pasal yang ada dalam Kitab Undang – Undang Hukum Perdata. Pasal 17 ayat (1) huruf a. kesusilaan. atau ketertiban umum. misalnya pembatasan kewenangan pelaku usaha untuk membuat klausul eksenorasi lebih banyak diserahkan kepada inisiatif konsumen.000. Pasal 18 ayat (2) mempertegas pengertian tersebut.jawab itu. Apakah dengan demikian. huruf b. Loangkah yang . berdasarkan Uniform Commercial Code 1978. untuk menguji sejauh mana perjanjian itu bertentangan. dan ayat (2). sekalipun demikian. ia dapat mengajukan gugatan kepengadilan. Bagi kita di Indonesia. Di situ dinyatakan bahwa bidang – bidang usaha yang boleh meberapkan perjanjian standar harus ditentukan dengan peraturan dan perjanjian itu baru dapat ditetapkan. atau pencabutan itu baru memperoleh kekuatan hokum setelah mendapat persetujuan Raja/Ratu yang dituangkan dalam Berita Negara. dengan mengatakan bahwa klausul baku harus diletakkan pada tempat yang mudah terlihat dan dapat jelas dibaca dan mudah dimengerti. Dengan demikian. Artinya. perjanjian standar dimasukkan pengaturannya dalam Kitab Undang – Undang Hukum Perdata yang baru. Ketentuan satu – satunya beru ditemukan dalam UUPK.000. kekuatan yurisprudensi dalam sisitem hokum Indonesia tidak berlaku seperti di Negara – Negara Anglo saxon/Anglo Amerika. Putusan – putusan pengadilan inilah yang kemudian dijadikan masukan perbaikan legislasi yang telah ada. yang menyatakan suatu perjanjian tidak boleh dibuat bertentangan dengan undang – undang. Pasal 10. maka klausul baku itu menjadi batal hokum. huruf e. Kemudian penetapan.00 (dua miliar rupiah). klausul baku adalah klausul yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha. Pasal 15. walaupun di situ digunakan istilah “klausul baku” yang ternyata berbeda pengertiannya dengan “klausul eksonerasi”. dan pasal 18 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp2. Tidak disitu saja pengaturan tentang klausul baku ini berhenti karena terhadap pelanggaran yang dilakukan berkaitan dengan tidak dipenuhinya ketentuan pada Pasal 18 ini juga diberikan ancaman sanksi pidana sebagaimana diatur pada Pasal 62 UUPK ayat (1) : Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimasudkan dalam Pasal 8. dan sebagainya. Pasal 13 ayat (2). perlu diperoses melalui gugatan pengadilan. Padahal. ketentuan yang membatasi kewenangan pembuatan klausul eksonerasi ini belum diatur secara tegas di dalam undang – undang.

kiranya dapat di pertimbangkan untuk ditiru. sering konsumen tentu menghadapi kendala memperbaiki barangnya karena ketiadaan suku cadang. Demikian pula dengan tanggung jawab produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor dalam memenuhi hak konsumen. Meski demikian penggunaan perjanjian baku atau jika dapat dikatakan lebih luas ketidakseimbangan daya tawar para pihak merupakan suatu hal yang sangat sulit untuk diawasi atau dikendalikan. Selain paling tidak memberikan gambaran bahwa perlu adanya suatu sarana bagi peningkatan perlindungan terhadap penggunaan perjanjian baku dan segala atributnya. Masalah lainnya yang menyangkut layanan purnajual adalah soal garansi dalam jangka waktu tertentu yang memberikan produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor pada konsumennya. dikatakan jus yang dijual adalah sari jeruk asli. Konsumen tidak boleh ditipu memperoleh barang dengan kualitas tertentu. padahal hanya essence dari bahan – bahan kimia. yang tentu saja merugikan salah satu pihak pada perjanjian. Perkembangan teknologi yang sangat cepat misalnya pada tegnologi perangkat computer. Selain dengan mencantumkannya dalam Kitab Undang – Undang – Undang Hukum Perdata. yang bisa kita hindari. dengan adanya pengaturan terhadap pemakaian perjanjian baku ini adalah adanya eksploitasi atau keadaan yang sedemikian merugikan bagi puhak yang lemah akibat adanya pengunaan paksaan maupun penyalahgunaan keadaan oleh pihak yang lebih kuat. Dengan adanya pengaturan terhadap Perlindungan Konsumen terutama pada peraturan yang berkaitan dengan klausul baku sedikit menyadarkan masyarakat bahwa mereka sebagai pihak dalam perjanjian memiliki hak yang (semestinya) sejajar dengan pihak lainnya dalam perjanjian baku. jika ada kerusakan dari suatu tipe produk. Secara sederhana dapat kita katakana bahwa yang kuat adalah yang menang masih berlaku. . padahal kenyamanannya tidak demikian. Akibatnya. dan sebagainya. sering membuat produsen harus mengubah tipe – tipe produknya mengikuti selera dan kebutuhan konsumen harus mengubah tipe – tipe produknya mengikuti selera dan kebutuhan konsumen yang terus berganti dalam waktu singkat. serta adanya kebutuhan dari pihak yang berdaya tawar lebih rendah untuk menerima isi dari perjanjian itu. karena hal ini berkaitan dengan adanya unsure perlindungan dan kepentingan sepihak yang lebih besar daya tawarnya untuk melindungi kepentingannya. Kertas tisu yang dikemas dalam kotak yang dinyatakan beratnya 10 ons. Misalnya. yakni dengan membuat ketentuan khususus mengenai tata cara pembuatan perjanjian standar. Di mana pengaturan ini merupakan tonggak awal baginya keseimbangan dalam penempatan pihak pada suatu perjanjian. D. juga dapat dimuat dalam undang – undang yang mengatur mengenai perlindungan konsumen.ditempuh oleh Belanda. LAYANAN PURNAJUAL DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN Layanan purnajual (after sales service) merupakan kepentingan konsumen yang sangat vital dewasa ini. terutama hak untuk memiliki barang/jasa yang sesuai dengan nilai tukar yang diberikan. ternyata hanya 9 ons.

namun baru untuk bidang farmasi. Setiap orang yang mengimpor produk untuk dijual. menjadi kewajiban produsen untuk menjamin barang yang dijualnya bebas dari cacat tersembunyi. Memberikan perlindungan kepada masyaraka terhadap penggunaan produk farmasi yang cacat. yaitu tahapan ketiga ( pasca transaksi konsumen). Membatasi tanggung jawab produk hanya pada pergantian atas produk yang cacat berarti tidak member banyak kemajuan bagi perlindungan konsumen. disewakan. atau memberikan tanda khusus untuk membedakan produknya dengan produk orang lain. 2. Setiap orang yang memasang nama. Tanggung jawab dari si produsen dan pihak – pihak yang menyalurkan produknya secara tanggungan renteng seluruhnya bersifat tanggung jawab mutlak (strict liability) atau tanggung jawab tanpa kesalahan (liability without fault). sehingga dapat mencapai tujuan peruntukan dan penggunaanny. Pengaturan tentang tanggung jawab produk ini belum ada pengaturannya di Indonesia. 2. misalnya dinyatakan dalam Pasal 3 Pedoman Masyarakat Eropa. Di lingkungan Uni Eropa. Tujuannya dari pengembangan itu adalah untuk : 1. 3. Tanggung jawab produk adalah bagian dari transaksi konsumen. atau dipasarkan (tanpa mengurangi tanggung jawab si pemilik produk). Tim Kerja Naskah Akademis Badan Pembinaan Hukum Nasional pernah menyarakan agar dikembangkan system baru pertanggung jawaban hokum atau produk. tetapi caveat venditor (produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditorlah yang bertanggung jawab. jika pembuatnya tidak diketahui atau pembuat produknya diketahui. 4. Sejak dahulu. Setiap pemasok produk. Seharusnya tanggung jawab produk ini jangan dibatasi hanya pertanggung jawaban atas produk yang cacat. Perluasan subjek yang dapat dimintai tanggung jawabnya telah pula diterapkan diberbagai Negara.Tampak masalah layanan purnajual adalah masalah perlindungan konsumen yang tidak dapat dipisahkan dengan tahapan – tahapan transaksi konsumen lainnya. 3. . Memudahkan proses pembuktian akibat penggunaan produk farmasi yang cacat. 1. yang lazim disebut tanggung jawab produk. Mengembalikan kesimbangan masyarakat akibat penggunaan dan beredarnya proguk cacat. yakni: 1. 4. Produsen dari bahan – bahan mentah atau komponen dari produk itu. tanggung jawab produk adalah tanggung jawab dari pembuatan produk cacat yang bersangkutan. merek perusahaan. Meningkatkan mutu produk farmasi yang beredar. yang berlaku bukan lagi prinsip caveat emptor. Jaminan ini merupakan perikatan yang otomatis dibebankan kepada produsen/penyalur produk (penjual) atau kreditor. tetapi mengimpornya tidak diketahui.

juga jika ia tidak memenuhi atau gagal memenuhi jaminan atau garansi yang diperjanjikan. Dalam Pasal 19 UUPK secara jelas diatur. dan terutama mencakup masalah kepastian atas : 1. layanan purnajual diakomodasikan pula. Waktu yang demikian pendek sangat mungkin tidak mencukupi bagi konsumen utnuk meneliti kembali hasil perbaikkan itu secara keseluruhan. dapat diperbaiki secara Cuma – Cuma selama jangka waktu garansi. Untuk itu. pencemaran. Barang yang digunakan. 3. walaupun hanya dalam beberapa rumusan yang umum. Dalam UUPK tampaknya klausull eksenorasi demikian akan dihilangkan. Pasal 27 huruf e UUPK bahkan memberi batas waktu kadaluarsa untuk melakukan penuntutan atau gugatan ini selama empat tahun sejak barang dibeli atau setelah lewat masa garansi. Pelaku usaha tersebut wajib bertanggung jawab atas tuntutan ganti rugi dan/atau gugatan konsumen jika pelaku usaha itu tidak menyediakan atau lalai menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas perbaikan. seperti “barang yang telah dibeli tidak dapat dikembalikan). jika mengalami kerusakan tertentu. penyelesaian kasus purnajual seperti dinyatakan dalam Pasal 25 UUPK itu masih memerlukan upaya penuntutan ganti rugi dan/atau gugatan konsumen. bahwa pelaku usaha yang memproduksi barang yang pemanfaatannya berkelanjutan dalam batas waktu sekurang – kurangnya satu tahun. Persoalannya adalah pelaku usaha sering secara sepihak mencantumkan masa garansi secara tidak proposional. untuk garansi perbaikan alat – alat elektronika ditetapkan lamanya selam satu tahun sejak barang diserahkan kembali.Jaminan dalam undang – undang ini pun dalam praktik dicoba untuk diminimalisasi dengan menyatakan sepihak ( klausul eksenorasi). Misalnya. Suku cadang selalu tersedia dalam jumlah cukup dan tersebar luas dalam jangka waktu yang relative lama setelah transaksi konsumen dilakukan. wajib menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas penjualan dan wajib memenuhi jaminan atau garansi sesuai dengan yang diperjanjikan. Di sinilah diperlukan sosialisasi UUPK dan upaya gencar pendidikan konsumen. masa garansi itu . walaupun besar kemungkinan secara sosiologis masih digunakan secara luas oleh produsen. 2. Ketentuan dalam pasal yang disebutkan terakhir ini memberikan tenggang waktu pelayanan kepada konsumen sampai pada akhir masa garansi. Ganti rugi jika barang/jasa yang diberikan tidak sesuai dengan perjanjian semula. Layanan purnajual sebenarnya meliputi permasalahan yang lebih luas. Dalam UUPK. Jelaslah. ketentuan ini agak berbeda dengan ketentuan tentang masa garansi dalam Pasal 27 UUPK. dan diberi jangka waktu & hari setelah tanggal transaksi. Ganti rugi ini bersifat serta merta. Namun. dan/atau kerugian yang diderita konsumen akibat mengonsumsi barang dan/atau jasa. pelaku usaha wajib mengganti kerugian atas kerusakan. Pasal 25 UUPK menyatakan.

p Direktur Bina Pasar (untuk produk asal impor). (10) pompa air listrik untuk rumah tangga. Tata cara pendaftaran diatur dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan Pedagangan No. Khusus untuk produk elektronika. (7) mesin pengatur suhu udara (AC). Dalam keputusan ini tidak jelas alasannya mengapa produk elektronika yang diwajibkan hanya dibatasi pada sebelas jenis tersebut. Ditjen Industri Logam Mesin Elektronika dan Aneka. serta masyarakat konsumen pada umumnya. (6) lemari es (refrigerator). Pelaku usaha dapat melakukan permohonan tanda pendaftaran manual dan kartu jaminan/garansi ini baik secara individual maupun melalui asosiasi usaha atas perubahan itu ke instansi yang sama.perlu ditetapkan batas minimalnya oleh pembentuk undang – undang. yang antara lain wajib memuat informasi mengenai ongkos perbaikkan gratis selama garansi dan jaminan ketersediaan suku cadang. (8) mesin cuci. Dalam peraturan yang disebutkan di atas.Ditjen Pajak. Ditjen Bea dan cukai. kejaksaan. Pelaku usaha yang menurut tim pemeriksa melakukan pelanggaran. dapat dikenakan sanksi administrative. (9) kompor gas. (3) pesawat televise. Untuk kepentingan perlindungan konsumen. (2) alat perekam atau reproduksi. yakni pencabutan izin usaha industry (IUI) atau tanda daftar industry (TDI). (4) printer. maka yang bersangkutan harus mengajukan pendaftaran atas perubahan itu ke instansi yang sama. dab Ditjen Perdagangan Dalam Negeri.p. Pelaku usaha dapat melakukan permohonan tanda pendaftaran manual dan kartu jaminan/garansi baik secara individual maupun melalui asosiasi usaha terkait.7/MPP/Kep/1/2000. (5) monitor computer. Sebelum jenis produk yang beredar di Indonesia juga wajib dilengkapi kartu jaminan/garansi dalam bahasa Indonesia. dan (11) microwave oven. sanksinya berupa pencabutan angka mengenal omportir (API) atau angka pengenal importer terbatas (APIT). E. Kewajiban ini berlaku selama yang bersangkutan menjalankan kegiatan usahanya di Indonesia. Permohonan juga dapat dilakukan memalui jasa pos.608/MPP/Kep/10/1991 tentang petun juk penggunaan (manual) dan kartu jaminan/garansi dalam bahasa Indonesia bagi produk elektronika. Dalam peredarannya. Kartu jaminan/garansi itu berlaku sekurang – kurangnya 1 tahun. Jika ada perubahan terhadap isi manual dan/atau kartu jaminan/garansinya sebagai akibat pergantian atau penambahan model (tipe) produk. produk elektronika yang mendapatkan tanda pendaftaran itu wajib mencantumkan nomor surat tanda pendaftaran tersebut secara manual dan kartu jaminan/garansi yang dikeluarkan oleh produsen atau inportir tadi. yaitu (1) radio cassette/mini compo. Bagi importer yang melanggar. dalam keputusan itu disebutkan bahwa manual dan kartu jaminan/garansi produk elektronika tertentu perlu dilakukan pendaftaran. Direktur Industri Elektronika (untuk produk dalam negeri) atau ke Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negara u. HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL . Tim ini akan bekerja sam dengan asosiasi pelaku usaha terkait dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. pemerintah pembentuk tim pemerintah yang terdiri ats unsure kepolisian. bergantung pada klasifikasi (jenis) barang atau jasa yang diberikan oleh pelaku usaha itu. pengaturan tentang layanan purnajual dicantumkan dalam keputusan menteri perindustrian dan perdagangan no. Permohonan tanda pendaftaran diajukan ke Direktorat Jenderal Industri Logam Mesin Elektronika dan Aneka u. hanya sebelas jenis produk elektronika yang wajibkan pendaftaran.

untuk mengetahui hak – hak konsumen bidang tersebut. merek. Hal ini secara jelas tampak dari dimasukkannya perjanjian mengenai Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) sebagai salah satu perjanjian utama yang dihasilkan oleh perundingan Putaran Uruguay itu setelah diadakan ratifikasi. Tiga jenis hak yang terakhr dikenal juga sebagai hak milik industry (industrial property rights). tidak mengherankan jika dalam Pasal 50 Undang – Undang No. sebenarnya konsumen hanya berkepentingan agar ciptaan. National treatment. Maksudnya.merek. oleh karena itu. 15 Tahun 2001 tentang Merek 3. Hokum dibidang HAKI ini termasuk subtansi hokum yang sangat pesat perkembangannya. yakni pemilik hak atas kekayaan intelektual (HAKI) asing harus diberi perlindungan yang sama dengan warga Negara dari Negara yang bersangkutan. Dilihat dari kacamata konsumen. UUPK tidak mengatur lagi bidang hak atas kekayaan intelektual (HAKI) ini. desain produk indutri. kita perlu melihat pengaturannya dalam undang – undang yang lain. Undang – Undang No. yakni: 1. Ini berarti. yang memaksa Negara anggota untuk lebih terbuka dalam ketentuan perundang-undangan dan pelaksanaan anturan nasional dalam bidang perlindungan HAKI. dan rahasia dagang. undisclosed information (trade secret). 1. seperti layout design. paten.5 Tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. merek dagang. paten. tetapi terlebih—lebih untuk melindungi produsen. . Karena perjanjian putaran Uruguay ini diadakan dalam kerangka pembentukan Badan Perdagangan Dunia (Word Trade Organization) yang menjadi pengganti GATT. merek. Transparancy. kkhususnya yang ada di luar negeri. Prinsipprinsip itu antara lain adalah prinsip. Hak atas kekayaan intelektual adalah hak – hak yang diberikan kepada pelaku usaha untuk monopoli. Sementara untuk desain produk industri sampai sekarang belum diatur secara khusus dalam suatu undang-undang. UUPK secara khusus mengecualikan pengaturan hak – hak konsumen yang muncul dalam bidang HAKI. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Ketiga undang-undang tersebut dilengkapi pula dengan peraturan pelaksanaannya. dan sebagainya. dan paten yang diterapkan untuk suatu barang atau jasa adalah benar-benar seperti apa yang ditampilkan. Ironisnya. 2.Hak atas kekayaan intelektual (intellectual property rights) dalam garis besarnya mencakup hak cipta. dinyatakan bahwa larangan monopoli itu tidak berlaku untuk perjanjian yang berkaitan dengan hak atas kekayaan intelektual. Undang – Undang No. dan desai produk industry. serta perjanjian yang berkaitan dengan waralaba. perkembangan ini bukan karena pertimbangan untuk melindungi konsumen. Di luar itu. Undang – Undang No. maka prinsip-prinsip GATT dalam bidang HAKI ini juga diterapkan. seperti lisensi. Oktober 1994 (Undang-Undang No. hak cipta. 7 Tahun 1994).14 Tahun 2001 tentang Paten 2. sering juga disebutkan jenis lain dari hak atas kekayaan intelektual. Konsumen akan dirugikan jika ciptaan. rangkaiaan elektronika terpadu. Most favoured-nation atau nondiskriminasi antara pemilik HAKI asing dari suatu Negara dibandingkan dengan pemilik HAKI asing dari Negara lain 3. dan paten itu ternyata tidak seperti yang dibayangkan karena dipalsukan oleh pelaku usaha.

factor manusia. Dimasa mendatang aka nada kelompok konsumen yang menyebut dirinya sebagai “pencinta dodol Garut” atau “ konsumen tembakau Deli” yang secara sepihak bersedia mengajukan permintaan perlindungan indikasi geografis atas produk yang mereka konsumsi. atau kombinasi dari kedua factor tersebut memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan. Mengenai hal ini UUPK mencantumkannya dalam Pasal 9 ayat (1) huruf h. Berbekal putusan itu. Dari Pasal 59. sekalipun memenuhi semua unsure untuk disebutkan sebagai indikasi geografis. F. seharusnya istilah “pemegang hak” tidak digunakan karena memang hak atas indikasi asal itu. yaitu: 1. Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 tergolong perusahaan asuransi yang cukup . dapat disimpulkan ada dua factor pembedaanya dengan indikasi geogarfis. Contoh dari barang yang berindikasi geografis adalah anggur Champaigne. tempat. melainkan tanda. huruf atau kombinasi dari unsureunsur tersebut. Indikasi asal itu meliputi produk baik berupa barang maupun jasa. Oleh karena itu. 15 Tahun 2001 juga di ajukan oleh kelompok konsumen dari barang – barang tersebut. Sangat menarik. Undang-undang No. gambar. daerah atau wilayah. Padahal dalam indikasi geografis.Salah satu ketentuan yang barangkali termasuk baru dalam masalah HAKI ini. Untuk kondisi di Indonesia. Pemakai hak atas indikasi asal dapat saja meningkatkan haknya menjadi pemegang hak. Istilah lain yang diatur dalam Undang – Undang No. Akan lebih tepat jika digunakan istilah “pemakai hak”. Factor pertama memberikan petunjuk. dan 2. Indikasi geografis ini bukan termasuk merek. Indikasi asal tidak didaftarkan. Nama – nama perusahaan asuransi jiwa seperti. Undang – Undang No. Tanda teresbut dapat berupa nama. ASURANSI Yusuf Shofie mengutamakan bahwa bisnis perasuransian di Indonesia hampir sama tuanya dengan bisnis perbankan. 15 Tahun 2001 memberikan pengertian tentang indikasi geografis sebagai : “tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang yang karena factor lingkungan geografis termasuk alam. Prancis. walaupun boleh jadi penerapannya tidak sesederhana yang dibayangkan. indikasi asal tidak perlu didaftarkan karena secara otomatis akan dilindungi. ia dapat mengehentikan kegiatan usaha dari pelaku usaha lainnya. yang artinya diproduksi oleh produsen anggur dari daerah Champaigne. Di Indonesia memang belum lazim terbentuk asosiasi atau kelompok konsumen dari barang – barang tertentu. Catatan lain tehadap indikasi asal ini adalah penggunaan kata barang dan jasa. dan sangat erat kaitannya dengan perlindungan konsumen adalah tentang indikasi geografi dan indikasi asal. Produsen dan pelaku usaha anggur manapun diluar daerah itu tidak diperkenalkan memakai label “anggur Champaigne” dalam produk mereka. mungkin kita juga dapat menggunakan prinsip yang sama untuk produk seperti “dodol Garut” atau “ martabak Bangka”. misalnya berupa eitket atau label yang dilekatkan pada barang yang dihasilkan. 15 Tahun 2001 adalah tentang Indikasi asal.15 Tahun 2001 menyebutkan indikasi itu hanya untuk produk barang. kata. Kesalahan ini tentu cukup fundamental dan sangat berpengaruh terhadap upaya perlindungan hak – hak konsumen. bahwa dalam indifikasi geografis menurut pasal 56 ayat (2) Undang – Undang No. tetapi harus melalui putusannya pengadilan.

Untuk mendorong kegiatan perarsuransian di Indonesia. asuransi kendaraan bermotor. tak mau kalah dalam persaingan bisnis ini.33 tahun 1964). Konsumen masih sering merasakan bahwa asuransi tak melindungi aktivitasnya. Pertama. asuransi jiwa. industry perasuransian kurang banyak dapat perhatian konsumen. Dalam . New Hamshire Agung. asuransi jiwa. 33 tahun 1964). Sebagian konsumen cenderung memisahkan sebagian penghasilannya untuk disimpan dibank dari pada digunakan untuk asuransi. bahkan cenderung merugikannya. petanggungan jawab kecelakaan lalulintas jalan (Undang – Undang No.M. terdapat sekitar 130 perusahaan asuransi. Pada tahun 1991 pernah terjadi persaingan premi perusahaan asuransi telah membuat suatu pilihan untuk mendapatkan konsumen sebanyak – banyaknya tanpa memperhitungkan apakah penetapan besarnya premi yang tidak proporsional tersebut dapat dipertanggung jawabkan dari sisi underwriting. misalnya rumah seseorang tebakar sehingga pemiliknya mengalami kerugian. misalnya asuransi kerbakaran. dan konsumen). asuransi dibedakan menjadi dua jenis. Kedua. dan lain – lain. BUMN. asuransi yang bersifat suka rela.25 tahun 1981). Lippo Life. Dibandingkan industry perbankan. meliputi asuransi kerugian.67 tahun 1991). berbagai resiko senantiasa mengincar konsumen setiap saat. H. Koprasi. Sewu New York Life. padahal sejalan dengan semakin konpleksnya aktifitas pelaku ekonomi (pemerintah. Setelah dikeluarkannya paket ketentuan itu. Menurut sementara pejabat departemen keuangan RI. asuransi social pegawai negeri (dikelola PT. dan sebagainya. Karena besarnya resiko ini dapat diukur dengan nilai barang yang mengalami peristiwa diluar kesalahan pemiliknya. Asuransi Cigna Indonesia. dan asuransi social.Purwo sudjibto memberikan pengertian resiko tidak lain adalah beban kerugian yang diakibatkan karena suatu peristiwa diluar kesalahannya. apalagi dalam era perdagangan. Ditinjau dari sudut sifat dan berlakunya.dikenal masyarakat. tradisi berasuransi masih dianggap hal baru oleh sebagian masyarakat konsumen. Ansuransi Jiwa Buana Putra.undang No. Nama – nama terkenal lain seperti Dharmala Manulife.33 tahun 1964). jaminan social tenaga kerja (diselenggarakan astek berdasarkan Undang – Undang No.taspen berdasarkan peraturan pemerintah No. meskipun kesan itu tak semuanya benar. yaitu kemampuan untuk membayar polis kelak akibatnya klaim asuransi konsumen ditolak tanpa alas an yang benar dan patut. Tidak mudah mencari tahu seberapa jauh pemahaman konsumen pada umumnya tehadap produk – produk asuransi. didalamnya terdapat dua unsure. manfaat peralihan resiko inilah yang diperoleh konsumen. maka resiko ini dapat di alihkan kepada perusahaan asuransi kerugian dalam bentuk pembayaran klaim asuransi. Resiko diartikan pula sebagai kerugianyang tidak pasti. Keikut sertaan konsumen dalam berbagai program dan jenis asuransi sangat pergantung pada pemahaman konsumen terhadap produk yang ditawarkan. reasuransi. Pengalihan resiko ini di imbangi dalam bentuk pembayaran premi kepada perusahaan asuransi kerugian setiap bualan atau tahun bergantung pada perjanjian yang tetuang dalam polis. Persaingan mendapatkan konsumen memang terjadi dikalangan perusahaan asuransi. yaitu ketidak pastian dan kerugian. Ansuransi Astra Buana. asuransi yang bersifat wajib berdasarkan ketentuan undang – undang misalnya pertanggungan wajib kecelakaan penumpang ( Undang . Dalam pada itu. perusahaan swasta. sehingga produk itu tidak marketable. tak tanggung – tanggung pemerintah telah mengeluarkan paket kebijakan 20 Desember 1988. Inilah resiko yang harus ditanggung pemiliknya. produk – produk asuransi tergolong rumit dan sukar dipahami. asuransi abri ( dikelola berdasarkan peraturan pemerintah No.

4. juga menatapkan mereka dalam posisi tawar yang lebih kuat. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen. pelindungan dan upaya penyelesaian sengketa secara patuh. . Terbitnya undang – undang No. 5.8 tahun1999 antara lain : 1. Artinya. tanpa dipahami secara mendalam konsekuensi yuridisnya. Asuransi termasuk jasa yang bisa dinikmati konsumen dengan terlebih dahulu menandatangani polis sebagai bentuk persetujuan keikut sertaan dengan memenuhi kewajiab membayar premi setiap bulan atau tahunnya. 2.keadaan seperti ini. nasabah hanya membaca sekilas perjanjian tersebut. 3.8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen memberi jaminan supaya hak – hak tertanggung lebih diperhatikan. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mempunyai hak untuk mendapatkan kompensasi. Namun. Hak atas kenyamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang atau jasa. taka ada perlindungan resiko yang dialami konsumen sebaliknya perusahaan asuransi sudah mendapatkan premi yang dibayarkan konsumen. Hak – hak lainnya yang ditegaskan dalam Undang – undang No. Hak untuk mendapatkan advokasi. Sebagai pihak yang berjanji tertangguang dan penanggung memiliki posisi yang setara dan tidak ada yang dibawah dan di atas. Masih banyak hak – hak yang diatur dalam UU sehingga posisi konsumen semakin kuat. Dalam undang – undang ini ditegaskan juga hak konsumen untuk memperoleh informasi yang benar jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang atau jasa yang dibelinya serta hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang atau jasa yang digunakan. yang membuat para asuransi sering tidak tahu apa yang menjadi haknya. Hak untuk memilih barang atau jasa serta mendapatkan barang atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kodis serta jaminan yang dijanjikan. Padahal konsumen asuransi sebagaimana tertuang daam UU No. Permasalahan asuransi adalah permalahan jamak yang penyelesaian akhirnya seringkali membuat konsumen diposisi yang lemah. 6. Keluhan – keluhan konsumen sekarang sudah terjawab dengan hadirnya undang – undang perlindungan konsumen. Hak untuk diberlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminasi. Bedasarkan undang – undang ini konsumen berhak meminta keterangan segala sesuatu yang akan diperjanjikan dalam asuransi dan selaku pihak penjual produk. Hubungan antara perusahaan asuransi dan nasabahnya diatur dalam perjanjian yang mengikat dan disepakati oleh kedua belah pihak. perusahaan asuransi harus bersedia menjelaskan isi dan makna kontrak dalam polis hingga konsumen benar –benar memahaminya terhadap konsumen apakah pemakai produk atau pengguna jasa yang merasa dirugikan karena diperjanjikan atau sebagaiman mestinya undang – undang ini menjamin agar meraka mendapat konpensasi atau ganti rugi. yang dibuat dalam semangat reformasi selain memberi perlindungan kepada konsumen. dimana isi perjanjian dibuat dengan kata-kata yang sulit dipahami dan dibuat dalam tulisan kecil-kecil(klausul baku) sehingga kesepakatan tersebut terjadi pada saat nasabah hanya memahami sebagaian kecil dari perjanjian tersebut. Hak – hak yang diatur dalam ketentuan – ketentuan peraturan perundang – undangan lain. dalam pelaksaannya posisi antara nasabah dan perusahan asuransi eringkali timpang.

dalam hal ini klaim uang pertanggungan setelah masa pertanggungan berakhir (dalam praktik disebut pula “klaim habis kontrak”) diminta untuk memperbarui polis asuransinya dengan alas an petugas penagih premi belum menyerahkan premi asuransi si konsumem kepada perusahaan. jelas dan jujur mengenai jaminan barang/jasa serta member penjelasan penggunaan perbaikan dan pemeliharaan. dan ia akan berada pada posisi yang sangat dirugikan. Ini membuktikan bahwa perusahaan asuransi tidak dibenarkan mengelak dari tanggung jawabnya. Pelaku usaha dilarang mencantukan klausul baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas. sehingga PT ASKES dapat dituntut seperti apa yang tertuang dalam Pasal 18 ayat (2) UU No. Dalam hal petugas premi tidak menyerahkan uang premi konsumen kepada . bertindak untuk dan atas nama perusahaan asuransi. masalahnya adalah obat-obatan tersebut yang memilihkan dokter yang merawat. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen bahwa kewajiban pelaku usaha adalah beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya. Padahal konsumen sudah membayar preminya. Karena masuk RS melalui Gawat Darurat. segala tindakannya menjadi tanggung jawab perusahaan asuransi. klaim dapat diterima.ganti rugi / penggantian. Kasus lain seperti yang diuraikan Yusuf Shofie dimana terkadang konsumen pemegang polis asuransi jiwa yang belum waktunya mengajukan klaim asuransi. konsekuensinya pengeluaran konsumen akan bertambah perbulan atau pertahunnya. apabila barang atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. Sebab kelalaian petugas penagih premi ( agen asuransi) dalam bentuk tidak disetorkannya premi kepada perusahaan asuransi. Bahwa pelaku usaha yang memperdagangkan jasa wajib memenuhi jaminan atau garansi yang disepakati / yang diperjanjikan. 2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian. diterima atau ada jalan lain. perlu dilihat apakah dibuat dalam bentuknya yang sulit terlihat. Akan tetapi. memberikan informasi yang benar. atau pengungkapannya sulit dimengerti. Petugas penagih premi memberikan bukti pembayaran premi asuransi yang sah bersamaan atau pada saat konsumen menyerahkan pembayaran uang premi. Saran dari YLKI adalah melihat kembali perjanjian antara PT Askes dengan Bapak Imron selaku konsumen dari perusahaan asuransi. Apabila konsumen menurut saja. dibebankan kepada konsumen. Pembaruan polis itu membawa akibat jumlah premi yang harus dibayarkan meningkat. Apabila ada klausul yang mengatur tentang pembatasan obat yang harus diterima. petugas penagih premi. Padahal menurut Undang-Undang No. Keluhan dari konsumen berkaitan dengan klaim asuransi dapat kita lihat dari contoh kasus yang ditujukan pada YLKI yakni sebagai berikut : Bapak Imron saat ini sedang mengajukan klaim asuransi kepada PT ASKES atas perawat di salah satu RS Swasta. dari klaim Rp7. Dalam hal ini harusbagaimana bersikap. baik secara perorangan ataupun badan hokum.6 juta hanya dikabulkan sebesar Rp 590 ribuan saja dengan alas an obat-obatan yang dipakai bukan yang termasuk dalam daftar PT ASKES. atatu yang pengungkapannya sulit dimengerti. apabila setelah dicermati tidak ada aturan tentang pembatasan obat yang harus digunakan maka Bapak Imron dapat meminta kompensasi sesuai apa yang menjadi kewajiban dari PT ASKES. Konsekuensinya sepanjang petugas tersebut telah diberi kuasa untuk itu. Dalam hal ini pelaku usaha dapat diminta tanggung jawab atas kewajibannya sesuai Pasal 7 UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengenai klausal baku.

Kecermatan menghitung besar nya premi dan membandingkannya dengan penghasilan perbulan. Dianjurkan agar konsumen tidak mudah tertarik dengan besarnya uang pertanggungan. Prinsip Indemnity. daftar atau table nilai tunai ini pada prinsipnya wajib diinformasikan kepada konsumen. Karenanya bila konsumen didatangi petugas sales promotion perusahaan asuransi jiwa. dalam hal ini Pasal 302-308 KUHD. Secara umum inilah yang disebut sebagai perjanjian konsensual. nilai tunai selama masa pertanggungan. Alasan yang dicari-cari untuk menolak klaim konsumen seharusnya dihindarkan asas iktikad baik harus diutamakan dalam pelaksanaan perjanjian asuransi. semakin besar pula premi yang harus dibayarkan. Besarnya nilai tunai itu tercantum dalam daftar atau table yang dilampirkan atau merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari polis asuransi. di mata hokum tidak ada lagi kawan dan bukan kawan atau relasi dan bukan relasi. serta syarat-syarat umum polis. Terutama dalam penetapan besarnya premi. Seringkali dengan terbitnya polis itu berarti secara serta merta konsumen tunduk pada syarat-syarat umum polis yang dibuat secara sepihak oleh perusahaan asuransi. Keterikatan hubungan konsumen dengan pihak perusahaan asuransi muncul sejak adanya kata sepakat dari pihak konsumen kepada perusahaan asuransi.5 niliar berdasarka UndangUndang Usaha Perasuransian. sebagian perusahaan asuransi enggan menjelaskan system perhitungan besarnya premi yang harus dibayarkan. semakin muda usia konsumen. lebih baik konsumen tunda dulu kebutuhan berasuransi. serta ketentuan-ketentuan instansi Pembina perasuransian. Sedangkan kegiatan perusahaan asuransi tunduk pada Undang-Undang No. asuransi menjadi lapse atau perlindungan tak lagi dijamin. yaitu perjanjian asuransi bertujuan memberikan ganti rugi terhadap kerugian yang diderita oleh tertanggung yang disebabkan oleh bahaya sebagaimana ditentuka dalam polis. semakin kecil besarnya premi. Keterikatan itu dibuktikan dengn diterbitkan polis. Semestinya ketentuan yang tertuang. ketika petugas sales promotion menawarkan produk asuransi. Subtansi polis tunduk pada ketentuan-ketentuan tentang pertanggungan yang diatutr dalam KItab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD). Dalam hal pembayaran premi menunggak. petugas itu patut diduga melakukan penggelapan asuransi yang dapat diancam hukkuman maksimal 15 tahun dan denda maksimal Rp 2. Apabila tidak diminta atas desakan konsumen. Padahal kedekatan petugas dengan konsumen tidak akan berpengaruh terhadap berbagai konsekuensi hokum keikutsertaan konsumen dalam asuransi. menghindarkan konsumen dari tertunggaknya pembayaran premi. konsumen diharapkan tidak mudah tergiur terhadap berbagai manfaat mengikuti asuransi tersebut. Demikian pula. . baik dalam polis maupun syarat-syarat umum polis dibuat secara berimbang dan tidak merugikan konsumen dan perusahaan asuransi. Disamping itu terdapat keharusan menyelesaikan klaim asuransi denagn sebaik-baiknya. tidak boleh merugikan konsumen serta tidak mengancam kelangsungan perusahaan asuransi.perusahaan asuransi sekalipun telah diperingatkan atau bahkan malah menghilang. Apabila sudah menjumpai masalah. dalam hal ini Menteri Keuangan Republik Indonesia. Secara umum prinsip-prinsip yang berlaku dalam perjanjian asuransi. Semakin besar uang pertanggungan. Apabila besarnya premi yang ditawarkan sangat mempengaruhi pengeluaran konsumen dalam sebulan atau setahun. Selaanjutnya perusahaan asuransi akan membayarkan nilai tunainya sesuai masa pertanggungan yang telah dijalani konsumen. 2 Tahun 1992. baik dengan menggunakan mata uang dalam negeri maupun luar negeri. Tak jarang petugas itu ternyata masih relasi konsumen sehingga mudah bagi konsumen untuk mengiyakannya. yaitu: 1.

Jenis asuransi ini memberikan beasiswa untuk anak konsumen pada waktu yang telah ditentukan selama masa pertanggungan. Janagn heran. Untuk ini diperlukan pemahaman konsumen terhadap produk-produk asuransi jiwa yang ditawarkan. terdapat pula produk asuransi jiwa yang dikemas dengan program beasiswa berencana. Terlalu mudah menurut besarnya premi yang ditawarkan petugas asuransi akan membuat kesulitan bagi konsumen dikemudian hari. Besarnya manfaat yang diperoleh tertanggung / pihak yang ditunjuk bergantung pada .017/1993 tentang Penyelenggaraan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan reasuransi. Prinsip subrogasi. disamping menerima uang pertanggungan.2. Pihak-pihak yang terikat dalam perjanjian. maka tertanggung tidak berhak menerimanya. Sebagai contoh mengenai isi perjanjian asuransi. 3. Manfaat asuransi. Dalam polis dilarang pencantuman klausul yang dapat ditafsirkan bahwa tertanggung tidak dapat melakukan upaya hokum. yakni sejumlah pembayaran dan kompensasi yang menjadi hak konsumen atau pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran. Besarnya jumlah uang pertanggungan ini akan berpengaruh pula terhadap besarnya premi yang dibayarkan 4. dengn sendirinya sama dengan masa pembayaran premi asuransi jiwa yang diikuti konsumen 6. pemegang polis. Penetapan lamanya masa pertanggungan atas dasar kesepakatan kedua belah pihak. Dalam hal dicantumkan klausul pengecualian tentang resiko yang ditutup. apabila konsumen meninggal dunia dalam masa pertanggungan. pihak yang ditunjuk untuk menerima uang pertanggungan. dan hak itu beralih kepada penanggung Agar is polis tidak merugikan tertanggung. menguraikan mengenai hal-hal yang biasanya dituangkan dalam polis asuransi jiwa dan ketentuan umum polis dan harus diperhatikan adalah sebagai berikut: 1. Jumlah uang pertanggungan sesuai kesepakatan kedua belah pihak. 4. meliputi: penanggung. Jenis asuransi. yaitu bila tertanggung telah menerima ganti rugi ternyata mempunyai tagihan kepada pihak lain. baik Karena terjadinya resiko kematian pada tertanggung atau berakhirnya masa pertanggungan.pertanggungan jiwa yang diikuti konsumen. kepentingan mana dinilai dengan uang. misalnya akan terjadi penunggakan pembayaran premi asuransi 5.15 atau 20 tahun. Masa berlakunya polis berkisar 10. pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan Indonesia No. Besarnya premi yang dibayarkan hendaknya dihitung dan dipahami secara teliti oleh konsumen sesuai dengan kemampuan keuangan konsumen. anak konsumen akan tetap menerima beasiswa pada waktu yang telah ditentukan dalam polis 3. Prinsip kejujuran sempurna yaitu kewajiban tertanggung menginformasikan segala sesuattu yang diketahuinya mengenai objek yang dipertanggungkan secara benar. yaitu pihak yang bermaksud akan mengasuransikan sesuatu harus mempunyai kepentingan dengan objek yang diasuransikan. sehingga harus menolak pembayaran klaim. Prinsip kepentingan. 225/KMK. 2. klausul itu harus dicetak sedemikian rupa supaya mudah diketahui.

dan bukti identitas yang bersangkutan kepada perusahaan asuransi. Pembatalan polis sering dilakukan secara sepihak oleh perusahaan asuransi dalam hal terpenuhinya satu atau lebih syarat. Perusahaan asuransi mematahkan argumentasi konsumen dengan rumusan pasal :” penagihan premi asuransi di alamat penagihan atau melalui cara penagihan lainnya yang diselenggarakan perusahaan asuransi. [pemberian keterangan/ pernyataan tersebut diberikan sebelum diterbitkannya polis (perjanjian) asuransi. Kemudahan pelayanan pembayaran premi. tertanggung menyerahkan polis asuransi jiwa. meskipun tertanggung masih hidup. pemengang polis memeberikan keterangan atau persyaratan tidak jujur atau sengaja dipalsukan pada waktu mengisi formulir – formulir yang disi0terlebih dahulu oleh perusahaan asuransi. tidak membebaskan pemengang polis dari kewajibannya untuk selalu melunasi premi asuransi”. sebagai berikut: a. konsumen sering disudutkan solah –olah menunggak pembayaran premi. Selambat – lambatnya dalam masa leluasa (biasanya kurang lebih 3 bulan) sejak tertunggaknya pembayaran premi tertanggung belum juga melunasi pembayarannya. b. bukti pembayaran premi terakhir. polis asuransi jiwa b. surat keterangan dokter/ pejabat yang berwenang menerangkan sebab-sebab meninggalnya tertanggung berakhirnya masa pertanggungan dengan sendirinya mewajibkan perusahaan asuransi membayarkan manfaat asuransi. Tata cara pembayaran manfaat asuransi. . maka pihak yang ditunjuk untuk menerima manfaat asuransi segera mengajukan klaim pembayaran manfaat asuransi. Sebelum menerima pembayaran itu. sebaiknya konsumen tetap mewaspadai.jenis asuransi jiwa yang diikuti. pengajuan klaim dilengkapi persyaratan : a. bukti identitas yang bersangkutan d. 7. Polis konsumen dapat saja terancam batal dengan alas an pembayaran premi tertunggak. Pemahaman konsumen terhadap produk asuransi jiwa mutlak sangat diperlukan. hendaknya konsumen membiasakan tertib adminisdtrasi dengan meminta bahkan mendesak perusahaan asuransi untuk memberikan bukti pengajuan pembayaran pancairan klaim manfaat asuransi. atas berbagai bentuk pelayanan pembayaran premi yang ditawarkan perusahaan asuransi. Untuk kepentingan hokum konsumen. Dalam syarat – syarat umum polis yang tertuang dalam rumusan kalimat yang kecil – kecil (sering kali sulit dibaca saking kecilnya). seperti penagihan premi ke alamat rumah/kantor konsumen. 8. 9. Dalam hal tertanggungmeninggal dunia. pada hakikatnya salah satu bentuk pemasaran asuransi. persoalan muncul bila petugas penagih premi membawa lari uang premi tertanggung. bukti pembayaran premi terakhir c. dan sebagainya. Tata cara penagihan/pembayaran premi asuransi. penagian premi lewat kartu kredit. Bila argumentasi konsumen merujuk pada kelalaian petugas.

penyelewengan uang pembayaran premi konsumen oleh petugas asuransi yang berakibat dilakukannya “pemutihan” polis asuransi konsumen dengan kondisi yang baru. Sebaliknya. Apabila ini sering terjadi. Lebih baik menyimpan dibank yang sewaktu – waktu bisa diambil kembali ketika diperlukan. Penolakan pembayaran klaim manfaat asuransi terjadi dalam hal : a. polis menentukan bahwa pembayaran premi asuransi atau klaim asuransi . Pastikan pula informasi nilai tunai yang diinformasikan itu tidak berbeda dengan yang dilampirkan pada polis asuransi. tidak memberikan hak apa pun kepada konsumen untuk menuntut pembayaran. 10. kecuali sebagai pihak yang membela diri. Sangat dianjurkan kepada konsumen untuk meminta penjelasan secara terperinci mengenai peritungan nilai tunai itu sebelum konsumen menyutujui mengikuti asuransi jiwa. ternyata klaimnya ditunda sampai memakan waktu 3 minggu atau bahkan lebih dengan alas an berkasnya tidak lengkap. memberi hak kepada konsumenatas pembayaran nilai tunai bila polisnya telah mempunyai nilai tunai. tertanggung meninggal dunia karena perkelahian. yaitu menolak klaim yyang seharusnya dibayarkan. tertanggung meninggal dunia karena kejahatan yang dilakukannya c. 3. perincian besarnya nilai tunai itu sesuai dengan daftar yang dilampirkan pada polis. Berkas pengajuan klaim sudah dipenuhi pihak yang ditunujuk untuk menerima manfaat asuransi. Dalamperaktik peransuransian. terdapat phenomena untuk mempersulit pengajuan klaim manfaat asuransi jiwa. yaitu pihak yang ditunjuk untuk menerima uang pertanggung. perusahaan asuransi tetap berkewajiban membayar nilai tunainya atas polis yang telah memiliki nilai tunai. Tidak hanya itu. Walaupun perusahaan asuransi menolak pembayarannya berdasarkan salah satu alas an itu. Ketidak adilan subtansi syarat – syarat umum polis. maka pihak perusahaan asuransi dibebaskan untuk tidak membayar apapun kepada pihak ketiga itu. yaitu bila tertanggung mengalami kecelakaan yang berakibat cacat tetap sebagian diberikan santunan sesuai persentase dalam table polis sebaliknya bila berakibat cacat total tetap tidak diberikan santunan apapun. tertanggung meninggal dunia karena bunuh diri b. Pada tahun 1996 – 1998 YLKI menerima beberapa pengaduan asuransi yang dapat diringkas sebagai berikut : 1. Penetapan atau pematokan curve secara sepihak terhadap klaim nilai tunai dan jatuh tempo pada polis asuransi jiwa yang dippertanggungkan dengan mata uang asing. 2. masyarakat konsumen akan semakin jauh dari asuransi jiwa. alas an – alas an sebagai mana disebut pada butir 9 a dan b diatas digunakan perusahaan asuransi dengan iktikad baik. Premi yang akan dibayarkan menjadi lebih tinggi dari sebelm dilakukan pemutihan.Konsekuensi pembatalan polis berdasarkan alas an butir a. bila tertanggung terbukti meninggal dunia akibat kejahatan yang dilakukan pihak ketiga. Sebaliknya pembatalan polis pada butir b. terutama dolar amerika serikat padahal polis dan ketentuan umum. kecuali consumen dapat membuktikan keterangan atau pernyataannya deiberikan secara jujur dan benar.

baik perorangan atau pun badan hokum.bukan kah petugas premi. efesiensi birokrasi dalam pencairan klaim. karena terkadang informasi awal dari suatu produk asuransi belum belum tentu sesuai dengan yang dijanjikan dalam pelksanaannya sebaliknya meminta bukti otentik sebagai dokumen tertulis pasda waktu pembayaran premi. kurang kompeten.diperhitungkan menurut kurs Bank Indonesia atau kurs yang berlaku sesuai pengumuman otoritas moneter pada saat jatuh tempo. Menurut Laily Zuriah selaku sekretaris BPSK Kota malang untuk kasus asuransi.. tempat kedudukan tidak jelas. Iklim deregulasi hokum. Namun domisili perusahaan asuransi tersebut tidak tetap. lebih teliti dan menyerap informasi produk dari perusahaan asuransi tersebut. tidak ada perebutan nasabah di lapangan. dalam kasus ini konsumen jelas dirugikan karena terikat dengan perjanjian yang tidak jelas dan dalam pelaksanaannya tidak ada iktikad baik dari pelaku usaha. seharusnya pihak asuransi tidak hanya membekali petugas pemsarannya dengan berbagai keunggulan produk asuransinya tetapi mengenai juga ketentuan umum polis. bukan dengan melakukan pembatalan polisnya untuk kemudian diikuti dengan pembaruan polis. serta ada pelayanan optimal bagi konsumen. bertindak untuk dan atas nama perusahaan asuransi. namun konsumen harus hati – hati. uang premi yang dibayarkan oleh konsumen menjadi semakin tinggi: apalagi semakin tua usia konsumen. Yang terakhir ini wajib pula diinformasikan kepada calon konsumen secara jujur da proposional. dari isi perjanjian memang menjanjikan bagi konsumen karena masing – masing perusahaan asuransi mempunyai aturan – aturan sendiri. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen belum cukup untuk melindungi konsumen. Perusahaan asuransi seharunya melayani dan melindungi sebaik –baiknya konsumen yang mengalami kejadian ini. melakukan praktik dengan benar. Mengenai perjanjian asuransi terkadang terjadi karena rotasi petugas asuransi maka polis tersebut hilang dalam kerangka hokum perusahaan asuransi harus melakukan pengawasan terhadap petugasnya yang ada dilapangan sebagai bentuk tanggung jawab dan perlindungan hokum bagi konsumen dengan memberikan informasi yang benar dalam polis perusahaan asuransi dikelola lebih proposional. Apabila konsumen ragu – ragu supaya tidak memberi harapan pada pihak pemasaran.? konsekuensinya. tindakkan petugas itu menjadi tanggung jawab perusahaan asuransi. Semartono selaku kepala disperindag sekaligus ketua BPSK kota malang memberikan masukan agar konsumen lebih berhati – hati serta teliti dalam membeli produk asuransi. bahkan Undang – undang No. premi dari tertanggung (konsumen) berupa emas. tindakan pembatalan polis ini sama saja dengan sikap mengelakn dari tanggung jawab yang dibebakan hokum kepada perusahaan asuransi. semakin besar premi yang harus dibayarkannya. . Menyikapi hak konsumen atas informasi produk asuransi. tata cara perhitungan premi dan nilai tunai. Laily memperjelaskan dengan memberikan contoh mengenai perusahaan asuransi swasta. Pembatalan polis seperti ini tentunya sangat merugikan konsumen dengan melakukan pembaruan polis. modal tidak jelas akhirnya waktu jatuh tempo premi yang berupa emas tersebut dilarikan. konsumen harus tetap was pada. Ibarat berjalan di atas buih air. Hendaknya petugas asuransi tidak mendesak konsumen untuk segera mengikuti perjanjian asuransi sebelum calon konsumen mempelajari dasn mengalami betul seluk beluk produk asuransi yang ditawarkan informasi yang disampaiikan secara tidak jujur dan proposioanal kepada calon konsumen sebenarnya menunujukan adanya dugaan kejahatan penipuan terhadap konsumen.

Pasal 1337 BW menentukan: suatu kausa adalah terlarang. Pasal 45 ayat 1 UUPK menyatakan : 1. dan/atau ketertiban umum. Setiap konsumen yang dirugikan dapat mengugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui pradilan yang berada di lingkungan umum. Pasal 1338 ayat (3) BW menentukan semua perjanjian yang dibuat pihak – pihak harus dilaksanakan dengan iktikad baik. pasal ini ditafsirkan bahwa isi atau klausul – klausul suatu perjanjian tidak boleh bertentangan dengan undang – undang. pelanggan dan lain – lain tidak dapat berbuat sesuatu kecuali terpaksa menerima persyaratan yang disodorkan embel – embel take it or leave it baru menyadari kalau dia berada dalam posisi yang lemah kalau mengalami kerugian. melainkan karena inisiatif dari pihak yang sengketa dalam hal ini pengugat baik itu produsen atau pun konsumen pengadilan yang memberikan pemecahan atas hokum perdata yang tidak dapat bekerja di antara para pihak secara suka rela. Pasal ini haruslah ditafsirkan bahwa bukan hanya ketentuan kebiasaan dan undang – undang yang membolehkan atau berisi suruhan saja yang mengikat atau berlaku bagi suatu perjanjian tetapi juga ketentuan yang melarang mengikat atau berlaku bagi perjanjian itu. Istilah produsen berperkara didahului dengan pendaftaran surat gugatan dikepanitraan perkara perdata dipengadilan negeri. modal. PENYELESAIAN SENGEKETA DIPERADILAN UMUM Sengketa konsumen dibatasi pada sengketa perdata. memakai jasa konsumen. Sebelumnya itu berarti surat gugatan harus sudah dipersiapkan terlebih dahulu secara teliti dan cermat. Entah salah satu pakar hokum perjanjian dan akademisi di malang menjelaskan bahwa dengan pelaksanaan “asas kebebasan berkontrak” yang melahirkan perjanjian baku termasuk asuransi polis asuransi secara umum terbatasi atau dikendalikan oleh ketentuan – ketentuan sebagi berikut: 1. larangan yang ditentukan oleh kepatutan. atau undang – undang. apabila kausa itu dilarang oleh undang – undang atau bertentangan dengan modal atau dengan ketertiban umum. Terhadap syarat – syarat baku terhadap masyarakat kita belum memperhatikan kecuali mereka yang pernah mengajukan klaim ganti rugi. BAB 8 PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN A. Pasal 1339 BW menentukan : perjanjian – perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal – hal yang dengan tegas dinyatakan didalamnya tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat dari persetujuan itu diharuskan oleh kepatutan. Aspek negatifnya pihak yang berminat. Oleh karena itu perjanjian baku dalam hal ini termasuk polis asuransi mengandung aspek positif dan asfek negative. kebiasaan dan undang – undang merupakan juga syarat – syarat dari satu perjanjian.Menurut Aloysius R. Dengan kata lain. 2. kebiasaan. Masuknya suatu sengketa kedepan pengadilan bukanlah karena kegiatan sang hakim. . Aspek positifnya ialah perjanjian baku yang dibuat sepihak oleh penangguh mengurangi biaya pembuatan dan waktu berunding di antara para pihak. 3.

Dalam kasus perdata diperadilan negeri . Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu pihak atau oleh pihak yang bersengketa. mengingat makin banyaknya perusahaan multinasional yang beroprasi di Indonesia juga tidak menutup kemungkinan ada konsumen yang menggugat pelaku usaha diperadilan Negara lain. Penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau diluar pengadilan berdasarkan pilihan suka rela para pihak yang bersengketa.2. 4. konsumen yang dirugikan haknya. Hal yang dikemukan terakhir ini dapat terjadi. Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat. pihak konsumen yang diberikan hak konsumen mengajukan gugatan menurut pasal 46 UUPK adalah : 1. 4. Seorang konsumen yang dirugikan yang bersangkutan 2. sehingga sengketa konsumen ini pun dapat bersifat trans nasional. misalnya dalam kaitannya dengan kebijakan aparat pemerintah yang ternyata dipandang merugikan konsumen secara individual bahkan. Dari pernyataan pasal 45 ayat 3 jelas seharusnya bukan hanya tanggung jawab pidana yang tetap dibuka kesempatannya untuk diperkarakan melainkan juga tanggung jawab lainnya. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 tidak menghilangkan tanggung jawab pidana sebagai mana diatur dalam undang – undang. . 3. tidak hanya diwakilkan oleh jaksa dalam penuntutan peradilan umum untuk kasus pidana tetapi ia sendiri dapat juga mengugat pihak lain lingkungan peradilan tata usaha Negara jika terdapat sengeketa administrasi didalamnya. Pemerintah terkait jika barang dan jasa yang konsumsi mengakibatkan kerugian materi yang besar dan korban yang tidak sedikit. misalnya dibidang administrasi Negara. yaitu berbentuk badan hokum atau yayasan yang dalam anggaran dasarnya menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan yang didirikannya organisasi itu ialah untuk kepentingan perlindungan konsumen dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggran dasar. Sekelompok konsumen yang mempunyai yang sama 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful