P. 1
Kearifan Lokal Dalam Pengurangan Resiko Bencana

Kearifan Lokal Dalam Pengurangan Resiko Bencana

|Views: 1,290|Likes:
Published by Lukman Simbah

More info:

Published by: Lukman Simbah on Nov 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/20/2013

pdf

text

original

Sections

  • Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana:
  • Sambutan
  • Kata Pengantar
  • Pendahuluan
  • Daftar Isi
  • Teknologi Karez untuk Pengurangan Bencana Kekeringan di Cina
  • Abstrak
  • Latar Belakang
  • Kisah/Peristiwa
  • Kearifan Lokal
  • Sumur Vertikal
  • Saluran-saluran Air Bawah Tanah dan Permukaan Tanah
  • Tempat Penampungan Air
  • Pelajaran yang Dapat Dipetik
  • 4. Konstruksi dengan Peralatan yang Sederhana. Sebagian besar sistem Karez
  • Daftar Pustaka
  • Negara Bagian Jammu dan Kashmir, India Utara
  • Praktik-praktik Pembangunan Rumah Tradisional yang Aman Gempa di Kashmir
  • Sistem Taq
  • Sistem Dhajji-Dewari
  • Kearifan Lokal dan Ilmu Pengetahuan Modern Memberi Solusi Tempat Bermukim
  • yang Ramah Lingkungan di Kawasan Gurun yang Rawan Banjir di India
  • Kearifan lokal untuk kenyamanan dan keberlanjutan permukiman
  • Bertahannya dan penyebarluasan kearifan lokal dalam hal konstruksi
  • Dukungan ilmu pengetahuan
  • Konservasi Tanah dan Air melalui Penanaman Bambu: Sebuah Teknik
  • Penanggulangan Bencana yang Diadopsi oleh Masyarakat Nandeswar, Assam
  • Latar belakang
  • Simeulue
  • Siberut
  • Nias
  • Prefektur Gifu, Jepang
  • Langkah-Langkah Tradisional untuk Mengurangi Bencana Banjir di Jepang
  • Pencegahan Banjir
  • Pengendalian Erosi
  • Pengurangan Kerusakan
  • Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana pada Masyarakat
  • Penggembala Shiver
  • Peta Penggunaan Lahan
  • Pengetahuan tentang Bencana dan Sebab Akibatnya
  • Kalender Musim
  • Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana: Membangun Upaya untuk Saling
  • Melengkapi antara Pengetahuan Masyarakat dan Pengetahuan Para Ahli
  • Sistem penanaman
  • Memperbaiki terasering
  • Pembuatan pagar
  • Tumpangsari
  • Terai Timur di Nepal dan Distrik Chitral di Pakistan
  • Pengetahuan Lokal tentang Kesiapsiagaan dalam Menghadapi Banjir: Contoh-
  • contoh dari Nepal dan Pakistan
  • Terai Timur
  • Distrik Chitral
  • Mekanisme Bertahan Masyarakat Asli dalam Penanggulangan Bencana di Distrik
  • Mekanisme Bertahan secara Sosial
  • Mekanisme Bertahan secara Fungsional
  • Mekanisme Bertahan secara Sekuensial
  • Desa Singas, Papua Nugini
  • Hidup bersama Banjir di Singas, Papua Nugini
  • Hubungan Sosial
  • Perencanaan Penggunaan Lahan
  • Strategi Pangan
  • Strategi Lingkungan
  • Pelajaran yang dapat dipetik
  • Memadukan Kearifan Lokal dan Ilmiah ke dalam Sistem Peringatan Banjir Kota
  • Dagupan
  • Warna Tingkat Siaga Sinyal Peringatan dengan
  • Kanungkong
  • Pengetahuan Masyarakat Asli tentang Mistisisme Muntahan Lava Gunung Berapi
  • Mayon
  • Kaum Ivatan di Kepulauan Batan, Filipina
  • Dibentuk oleh Angin dan Topan: Kearifan Lokal Kaum Ivatan di Kepulauan
  • Batan, Filipina
  • Perahu air yang unik dan pengetahuan tentang laut
  • Dinamika Sosial Ivatan
  • Provinsi Barat, Kepulauan Solomon
  • Kearifan Lokal Menyelamatkan Banyak Jiwa dalam Tsunami Kepulauan Solomon
  • tahun 2007
  • Kepulauan Surin, Thailand
  • Diselamatkan oleh Sebuah Legenda Kuno dan Pengamatan yang Tajam: Kasus
  • Kaum Moken, Kaum Nomaden yang Tinggal di Laut di Thailand
  • Peramalan Cuaca melalui Kearifan Lokal untuk Budidaya Tanaman di Kawasan-
  • kawasan Rawan Kekeringan di Vietnam
  • Pengamatan atas Bulan
  • Bulan Bermahkota
  • Bulan Bercincin
  • Pengamatan Capung
  • Sekretariat Asia dan
  • Pasifik, Bangkok
  • Sekretariat Jenewa
  • Sekretariat Afrika,
  • Nairobi
  • Sekretariat Amerika,
  • Panama
  • Sekretariat Eropa,
  • Jenewa
  • Sekretariat Asia Barat
  • Cairo
  • UNIVERSITAS
  • KYOTO
  • Uni Eropa

Strategi Internasional untuk Pengurangan Bencana (International Strategy for Disaster Reduction/ISDR

)

Universitas Kyoto

Uni Eropa

Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana: Praktik-praktik yang Baik dan Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Pengalamanpengalaman di Kawasan Asia-Pasifik

2008

1

“Uni Eropa adalah organisasi yang beranggotakan 27 Negara Anggota yang telah memutuskan untuk secara bertahap menggabungkan pengetahuan, sumber daya dan tujuan-tujuan bersama mereka. Dalam perkembangan organisasi selama 50 tahun, secara bersama negara-negara ini telah membangun sebuah kawasan yang stabil, demokratis dan menerapkan pembangunan berkelanjutan, sambil tetap mempertahankan keberagaman budaya, toleransi dan kebebasan individu. Uni Eropa berkomitmen untuk membagikan pencapaian-pencapaian dan nilai-nilai yang dianutnya kepada negara-negara dan bangsa-bangsa yang berada di luar batas-batas wilayahnya.” Catatan “Publikasi ini diterbitkan dengan dukungan Uni Eropa. Isi publikasi ini menjadi tanggung jawab sepenuhnya sekretariat UN/ISDR dan bagaimana pun juga tidak dapat dianggap sebagai mencerminkan pandangan-pandangan Uni Eropa.”

Tim Editor: Rajib Shaw, Noralene Uy, dan Jennifer Baumwoll Desain Grafis oleh Mario Barrantes Foto pada halaman sampul memperlihatkan sebuah Dhani, suatu tempat kediaman tradisional keluarga di distrik Barmer di Rajasthan, India. Kualitas bangunan Dhani telah ditingkatkan dengan menggunakan teknologi modern yang disebut teknologi bata press saling terikat (Stabilized Compressed Interlocking Block technology/SCEB). Untuk informasi lebih lanjut, lihat “Kearifan Lokal dan Ilmu Pengetahuan Modern Memberi Solusi untuk Permukiman yang Ramah Lingkungan di Kawasan Gurun yang Rawan Banjir di India” dalam publikasi ini. (Sumber Foto Halaman Sampul: SEEDS) Silahkan mengirimkan umpan balik dan saran-saran anda (termasuk studi-studi kasus lebih lanjut yang dapat kami pertimbangkan) kepada: Christel Rose Regional Program Officer UN ISDR Asia dan Pacific rosec@un.org www.unisdr.org Catatan: Informasi dan pandangan-pandangan yang terdapat dalam publikasi ini tidak dengan sendirinya mencerminkan kebijakan-kebijakan sekretariat UN/ISDR

2

Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana: Praktik-praktik yang Baik dan Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Pengalamanpengalaman di Kawasan Asia-Pasifik Bangkok, Juli 2008

Foto oleh Steve Evans, Thailand, Suku-suku Perbukitan

3

tetapi lebih-lebih pada keberlanjutan upaya tersebut dalam jangka panjangnya. melakukan upaya. antara lain. pengetahuan dan praktik-praktik asli masyarakat setempat yang dapat diselaraskan dengan gagasan-gagasan baru untuk menciptakan inovasi. pengetahuan tradisional dan warisan budaya yang relevan” yang dapat dibagikan dan diadaptasi oleh masyarakat di tempat lain. saya berharap publikasi ini dapat memberi inspirasi bagi para praktisi dan pengambil kebijakan untuk mempertimbangkan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat-masyarakat lokal dan memadukan kekayaan pengetahuan ini ke dalam kerjakerja kebencanaan di masa yang akan datang. dan menggarisbawahi penggunaan “kearifan lokal. yang menitikberatkan pendidikan dan ilmu pengetahuan. bertindak dan merespons bencana alam dengan menggunakan cara-cara tradisional yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kamboja 4 . Untuk mencapai tujuan ini. Salah satu kegiatan utama yang teridentifikasi di bawah prioritas aksi ini berfokus pada pentingnya pengelolaan dan pertukaran informasi. Dengan meningkatkan pemahaman akan kearifan lokal dan menyajikan contoh-contoh nyata bagaimana memanfaatkannya. Kearifan lokal tidak hanya berkontribusi pada keberhasilan upaya pembangunan.Sambutan Penelitian-penelitian dalam bidang pembangunan memperlihatkan bahwa keberhasilan dan keberlanjutan upaya pembangunan di tingkat masyarakat tergantung pada sejumlah faktor. Partisipasi dan integrasi upaya masyarakat dalam semua proses kebencanaan merupakan salah satu sarana penting untuk mewujudkan Kerangka Aksi Hyogo dan ini menggarisbawahi pentingnya kearifan lokal dalam membantu mengarusutamakan kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik pengurangan risiko bencana. “Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana: Praktik-praktik yang Baik dan Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Pengalaman-pengalaman di Kawasan AsiaPasifik” bertujuan untuk membangun kesadaran akan pentingnya kearifan lokal sebagai suatu alat yang efektif untuk mengurangi risiko bencana alam. kita semua perlu memahami. atau prosedur-prosedur operasional standar dalam tanggap darurat. Perserikatan Bangsa-Bangsa beranggapan bahwa kearifan lokal merupakan sesuatu yang penting dan memasukkannya dalam Prioritas ketiga dari Kerangka Aksi Hyogo. mengakui dan menghormati kearifan lokal sebagai salah satu sumber informasi yang sangat berharga dan kontributor utama bagi upaya pengurangan risiko di banyak tempat di seluruh dunia. pada adanya budaya. Bahkan sebelum kita mengenal sistem-sistem peringatan dini berbasis teknologi tinggi. Jerry Velasquez Senior Regional Coordinator UN/ISDR Asia Pacific Foto oleh Maureen Keogh. banyak masyarakat tradisional di seluruh dunia telah mempersiapkan diri. Publikasi ini.

tsunami dan zud (kondisi iklim yang ekstrim). dan kemungkinan untuk menerapkan praktik-praktik tersebut pada masyarakat lain yang menghadapi situasi serupa. keberhasilannya dalam tetap bertahan atau mengatasi bencana selama ini. tentu saja dengan penyesuaian dengan budaya lokal setempat. Jenis-jenis bencana yang dihadapi termasuk gempa bumi. Publikasi ini menekankan bahwa prinsip-prinsip kearifan lokal dapat diterapkan di tempat-tempat lain. yaitu sebuah abstrak singkat. Bangladesh 5 . dengan membandingkan dan mengkontraskan unsur-unsurnya yang berbeda. informasi latar belakang untuk memberi arah kepada pembaca tentang aspek demografis dan lokasi dari masyarakat yang diulas. penjelasan tentang kisah atau peristiwa spesifik di mana masyarakat bersangkutan berhasil memanfaatkan dengan baik pengetahuan yang dimilikinya. tingkat adaptasi relatifnya selama ini. dan saya berharap para pembaca akan memperoleh pemahaman tentang bagaimana cara menghargai kearifan lokal dan mempraktikkannya untuk mengurangi risiko dari berbagai jenis bencana. Saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua penyumbang tulisan. dan akhirnya ulasan tentang pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari kasus spesifik yang diuraikan. penggambaran tentang kearifan lokal yang dimiliki masyarakat. Penerapan kearifan lokal merupakan sebuah proses dan membutuhkan keterlibatan para pemangku kepentingan yang lebih luas serta dukungan kebijakan. dan mencerminkan cara hidup suatu masyarakat tertentu. Rajib Shaw Universitas Kyoto Foto oleh Sean Hawkey. Oleh karena itu. susunan urutan cerita yang seragam akan memudahkan kasus-kasus dianalisis dan didiskusikan sebagai suatu kelompok. penyebarluasan praktik-praktik kearifan lokal tertentu seringkali menjadi sebuah tantangan. Kearifan lokal merupakan sesuatu yang berkaitan secara spesifik dengan budaya tertentu.Kata Pengantar Publikasi ini menyajikan 18 praktik kearifan lokal yang selama ini berkembang di masyarakat-masyarakat yang tinggal di kawasan Asia-Pasifik. Setiap kasus yang dimuat dalam publikasi ini disajikan dalam format umum yang sama. erosi tanggul sungai. Bagian itu akan menjadi fokus kita di masa yang akan datang. Kasus-kasus yang ditampilkan dipilih berdasarkan kriteria-kriteria berikut: asal-usul pengetahuan yang bersangkutan. Walau setiap kasus bersifat spesifik. angin siklon (topan). hubungannya dengan keterampilan dan bahan-bahan lokal. tanah longsor. kekeringan.

cara penyebarluasan kearifan lokal yang bersifat non-formal memberi sebuah contoh yang baik untuk upaya pendidikan lain dalam hal pengurangan risiko bencana. dapat ditransfer dan diadaptasi oleh komunitas-komunitas lain yang menghadapi situasi serupa. ada dua kisah sukses yang muncul. Kedua. tetapi masih ada banyak contoh yang belum banyak diketahui umum dari masyarakat-masyarakat yang juga telah memanfaatkan kearifan lokal mereka untuk menyelamatkan diri dari kejadian-kejadian bencana dan menghadapi kondisi-kondisi lingkungan hidup yang sulit. menghadapi dan menyelamatkan diri dari bencana-bencana alam yang terjadi belakangan ini telah memberikan banyak pelajaran berharga bagi para praktisi dan pengambil kebijakan akan pentingnya kearifan lokal bagi pengurangan risiko bencana. dikembangkan selama beberapa generasi dan mudah diadaptasi. dimiliki secara kolektif oleh masyarakat bersangkutan. yang hidup di Kepulauan Surin di lepas pantai Thailand dan Myanmar sama-sama memanfaatkan pengetahuan mereka yang diturunkan secara lisan dari nenek moyang mereka untuk menyelamatkan diri dari tsunami yang menghancurkan. berbagai praktik dan strategi spesifik masyarakat asli yang terkandung di dalam kearifan lokal. Kearifan lokal adalah cara-cara dan praktik-praktik yang dikembangkan oleh sekelompok masyarakat. informasi yang terkandung di dalam kearifan lokal dapat membantu meningkatkan pelaksanaan proyek dengan memberikan informasi yang berharga tentang konteks setempat. Pertama. Indonesia dan kaum Moken. Terakhir. Pengetahuan semacam ini mempunyai beberapa karakteristik penting yang membedakannya dari jenisjenis pengetahuan yang lain. Kearifan lokal berasal dari dalam masyarakat sendiri. disebarluaskan secara non-formal. Ketiga. ada empat argumen dasar yang mendukung pentingnya kearifan lokal. yang telah terbukti sangat berharga dalam menghadapi bencana-bencana alam. Walaupun publikasi ini lebih berfokus pada upaya mengumpulkan strategi-strategi dan mekanisme-mekanisme spesifik masyarakat tertentu yang dapat ditransfer dan diadaptasi oleh masyarakat-masyarakat 6 . serta tertanam di dalam cara hidup masyarakat sebagai sarana untuk bertahan hidup. Diskusi-diskusi terkini dalam hal ini berfokus pada potensi kearifan lokal dalam meningkatkan kebijakan-kebijakan pengurangan risiko bencana melalui integrasi kearifan lokal ke dalam pendidikan kebencanaan dan sistem peringatan dini. Dalam khasanah pustaka pengurangan risiko bencana.Pendahuluan Setelah Tsunami Samudera Hindia tahun 2004. Kedua kasus tersebut dalam beberapa tahun belakangan ini menjadi kasus yang paling sering disebut. yang berasal dari pemahaman mendalam mereka akan lingkungan setempat. Pada tahun-tahun belakangan ini semakin banyak orang tertarik untuk mempelajari hubungan antara kearifan lokal dan bencana alam. yang membangkitkan minat baru pada konsep kearifan lokal. yang terbentuk dari tinggal di tempat tersebut secara turun-temurun. pemaduan kearifan lokal ke dalam praktik-praktik dan kebijakankebijakan yang ada akan mendorong partisipasi masyarakat yang terkena bencana dan memberdayakan para anggota masyarakat untuk mengambil peran utama dalam semua kegiatan pengurangan risiko bencana. Penerapan kearifan lokal oleh masyarakat-masyarakat ini dalam mengurangi risiko. Masyarakat Simeulue yang tinggal di lepas pantai Sumatra.

banyak dari masyarakat ini telah mengembangkan pelajaran-pelajaran dan strategi-strategi yang jitu untuk menghadapi bencana-bencana yang berulang kali terjadi serta berhasil menyelamatkan diri dari kejadian-kejadian ekstrim yang bahkan peralatan berteknologi tinggi pun tidak dapat membantu. koleksi ini diharapkan juga akan mendorong adanya analisis lebih lanjut akan pentingnya kearifan lokal. Publikasi ini disusun untuk menggugah kesadaran akan nilai berharga dari kearifan lokal dalam mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh bermacam jenis ancaman dalam berbagai lingkungan dan lingkup budaya berbeda yang terdapat di kawasan Asia dan Pasifik. Semua masyarakat ini pada umumnya memiliki kemampuan untuk bergantung pada diri mereka sendiri dalam situasi bencana dan mempunyai pemahaman akan ancaman-ancaman setempat serta bagaimana mengurangi risiko-risiko ini. yang diharapkan dapat menjadi sebuah forum untuk saling berbagi pengetahuan sehingga pengalaman-pengalaman dan strategi-strategi dari berbagai masyarakat yang ada di kawasan ini dapat dikomunikasikan kepada para pemangku kepentingan pengurangan risiko bencana utama. Walaupun demikian. Upaya penerbitan ini merupakan bagian dari sebuah prakarsa lebih besar di kawasan ini untuk menganalisis pentingnya kearifan lokal dan mengembangkan cara untuk memadukan lebih lanjut pengetahuan ini ke dalam kebijakan dan praktik pengurangan risiko bencana. publikasi ini diharapkan dapat mendorong juga kawasan-kawasan lain untuk mulai mengumpulkan kasus-kasus dari negara-negara di dalam wilayah mereka dan berkontribusi pada upaya untuk menjajaki manfaat global dari kearifan lokal bagi pengurangan risiko bencana. Akhirnya.lain. yang dapat dimanfaatkan dalam penyusunan kebijakan serta pengembangan kurikulum. Publikasi ini adalah langkah pertama. Jennifer Baumwoll Ko-editor 7 . pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari kisah-kisah ini menekankan keseluruhan empat bidang ini. Selain itu. Banyak pengetahuan yang mereka miliki seringkali dianggap oleh pihak luar sebagai inferior dan diabaikan karena dianggap sebagai milik orang-orang yang “terbelakang” dan “kurang terdidik”. Banyak dari masyarakat yang menjadi subjek diskusi dalam publikasi ini hanya mendapat sedikit perhatian dalam mekanisme perencanaan penanggulangan bencana pada umumnya dan mereka telah memanfaatkan pengetahuan mereka untuk menolong diri mereka sendiri dalam menghadapi masa-masa sulit. Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari masyarakatmasyarakat ini.

. Ritual dan Arsitektur di Kawasan Sabuk Gunung Api. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . vii Cina Teknologi Karez untuk Pengurangan Bencana Kekeringan di Cina. . . . . . . iii Kata Pengantar. . . . . Provinsi Perbatasan Barat Laut. . . . . . . Assam. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Julie Dekens Pakistan Mekanisme Bertahan Masyarakat Asli dalam Penanggulangan Bencana di Distrik Mansehra dan Battagram. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Jingning Cai dan Peijun Shi India Praktik-praktik Pembangunan Rumah Tradisional yang Aman Gempa di Kashmir. . Youba Raj Luintel. . . Bhupendra Gauchan dan Kiran Amatya Nepal/Pakistan Pengetahuan Lokal tentang Kesiapsiagaan dalam Menghadapi Banjir: Contoh-contoh dari Nepal dan Pakistan. . . . . . . . Man B. . . . . Koen Meyers dan Puteri Watson Jepang Langkah-langkah Tradisional untuk Mengurangi Bencana Banjir di Jepang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Weihua Fang. . . . . . . . . . . Jessica Mercer dan Ilan Kelman Filipina Menggabungkan Kearifan Lokal dan Pengetahuan Ilmiah dalam Sistem Peringatan Banjir Kota Dagupan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Fei He. . . . . . . . . . . . . . . . . . . Irene Stephen. . . . . . . . . . . Amir Ali Khan India Kearifan Lokal dan Ilmu Pengetahuan Modern Memberi Solusi Tempat Bermukim yang Ramah Lingkungan di Kawasan Gurun yang Rawan Banjir di India. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Victoria Filipina Pengetahuan Masyarakat Asli tentang Mistisisme Muntahan Lava 1 5 9 14 17 23 27 30 35 41 46 52 8 . . . . . . Anshu Sharma dan Mihir Joshi India Konservasi Tanah dan Air melalui Penanaman Bambu: Sebuah Teknik Penanggulangan Bencana yang Diadopsi oleh Masyarakat Nandeswar. . . . . Rajiv Dutta Chowdhury dan Debashish Nath Indonesia Legenda. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Takeshi Komino Papua Nugini Hidup bersama Banjir di Singas. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Pakistan . . Lorna P.. . . . . Papua Nugini. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Thapa. . . . . . .Daftar Isi Sambutan. . . . . . . Bolormaa Borkhuu Nepal Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana: Membangun Upaya untuk Saling Melengkapi antara Pengetahuan Masyarakat dan Pengetahuan Para Ahli . . . . . . . Yukiko Takeuchi dan Rajib Shaw Mongolia Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana pada Masyarakat Penggembala Shiver. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . v Pendahuluan .

. . . Gerardine Cerdena Dibentuk oleh Angin dan Topan: Kearifan Lokal Kaum Ivatan di Kepulauan Batanes. . . . . . . . . . . . . . . . .Filipina Kepulauan Solomon Sri Lanka Thailand Vietnam Gunung Berapi Mayon . . . . . . Madduma Bandara Diselamatkan oleh Sebuah Legenda Kuno dan Pengamatan yang Tajam: Kasus Kaum Moken. . . . . . . . . . . . Noralene Uy dan Rajib Shaw Kearifan Lokal Menyelamatkan Nyawa dalam Tsunami Kepulauan Solomon tahun 2007. . . . . . . . . . . Narumon Arunotai Peramalan Cuaca melalui Kearifan Lokal untuk Budidaya Tanaman di Kawasan-kawasan Rawan Kekeringan di Vietnam . . . . . . . . . . .M. . . . . . . . . . . . . . . . C. . . Kaum Nomaden yang Tinggal di Laut di Thailand . . . . . . . . . . . . . . . . Filipina . . . . . . . Brian G. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Nguyen Ngoc Huy dan Rajib Shaw 55 59 64 68 73 79 9 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . McAdoo. Jennifer Baumwoll dan Andrew Moore Sistem Tangki Air Desa Bertingkat: Pendekatan Tradisional untuk Mitigasi Kekeringan dan Kesejahteraan Masyarakat Desa di Pedesaan-pedesaan Purana di Sri Lanka. . . . . . . . . . . . . . . .

menjadi terkenal akan berbagai jenis produk pertaniannya. Latar Belakang Cekungan (depresi) Turpan. berkapur (cretaceous) serta periode jaman Tersier. terdapat di lembah Turpan yang merupakan lembah terendah kedua di dunia. Karez tersusun dari empat komponen utama: sumur-sumur vertikal. Di daerah Turpan yang merupakan bagian dari Xinjiang. teknologi modern telah pula dipadukan dengan sistem Karez yang tradisional untuk semakin meningkatkan daya guna dari praktik tradisional yang menguntungkan tersebut. Saat ini. sistem Karez masih dipergunakan untuk mensuplai sumber-sumber air untuk irigasi dan kebutuhan rumah tangga. semangka. Fei He. saluran-saluran air bawah tanah. Tingginya suhu udara dan kuatnya radiasi sinar matahari di daerah tersebut menyebabkan tingkat penguapan tahunan yang tinggi. Oleh karena itu. Sistem Karez telah memiliki sejarah yang panjang di daerah Xinjiang di Cina. yang memiliki ketinggian 32. Ketinggian minimum Danau Aiding. musim panas dan musim gugur. kondisi geologis distrik Turpan cocok untuk konstruksi saluran air bawah tanah dengan hanya sedikit penguatan untuk mengumpulkan sumber air yang cukup memadai. Jingning Cai dan Peijun Shi Abstrak Karez adalah sebuah sistem pengairan tradisional yang mampu memanfaatkan air bawah tanah dengan efisien.Turpan. saluran air di atas permukaan tanah dan tempat-tempat penampungan air kecil. dan muskmelon Hami.8 m. Berkat adanya sistem Karez.1 Kawasan Turpan berada di pedalaman daratan dan memiliki tingkat curah hujan 1 Ji ZHAO (2001). Xinjiang. Turpan. Bentang tanah tersebut bersifat keras dan terpatah-patah dan oleh karenanya mudah terbentuk celah-celah yang menampung air. sehingga danau ini menjadi danau yang terendah di Cina. 10 . yang mencapai 2800-3000 mm. sebuah lembah yang terdapat di kawasan kering di Cina bagian Barat Laut. Cina Barat Laut Teknologi Karez untuk Pengurangan Bencana Kekeringan di Cina Weihua Fang.7° C pada musim panas. yang berada di bagian selatan lembah ini. Kawasan Turpan terkenal akan berbagai jenis buah-buahan yang dihasilkannya seperti anggur. Kisah/Peristiwa Dalam semua musim Turpan sangatlah kering dan sangat panas terutama selama musim semi. Batu-batuan terpapar dari Pegunungan Flaming terutama terdiri dari konglomerat berpasir dan batu-batu lumpur dari masa Jurassic. Sebagai sebuah sistem yang menyeluruh. Pada lapisan penampung air bawah tanah yang dekat permukaan terdapat air berlimpah. Bentang tanah pegunungan di sekitar lembah Turpan terutama terbentuk oleh pergerakan hercynian pada akhir masa Paleozoic. adalah sekitar -155 m. Kawasan ini dikelilingi oleh beberapa daerah pegunungan tinggi (3500-5000 m) yang diselimuti gletser atau salju permanen. Suhu udara tertinggi yang tercatat adalah 47.

dan mencapai daerah-daerah pertanian datar di sekitar kaki gunung. Sumur Vertikal Panjang saluran bawah tanah bervariasi antara sekitar 3 km sampai 30 km. yang menggunakan air tanah dengan sangat efisien. www. Fungsi utama dari sumur-sumur vertikal adalah untuk ventilasi. Jadi.org 11 . Total panjangnya mencapai sekitar 3. Dalam pembuatan sumur digunakan bantuan tenaga hewan untuk mengeluarkan pasir dan tanah dari dalam lubang galian. sumur vertikal terutama digunakan untuk membantu dalam menggali saluran-saluran di bawah tanah. Total aliran dari sistem-sistem Karez di lembah Turpan adalah 10 meter kubik per detik yang merupakan sekitar 20% dari keseluruhan air dalam saluran-saluran di lembah itu. Jarak antara sumur-sumur vertikal biasanya sekitar 60-100 meter di bagian atas. Jika tanah pertanian berlokasi di daerah pegunungan.tahunan yang hanya sekitar 16-17 mm. 100 meter di bagian atas. Di bawah lingkungan yang keras ini hanya sedikit tumbuhan maupun hewan yang dapat bertahan hidup. tetapi struktur dasarnya pada hakikatnya tersusun dari empat komponen utama: sumur-sumur vertikal.2 Saat ini fasilitas-fasilitas modern seperti sumur-sumur elektromekanis mulai dipadukan dengan sistem Karez. Air permukaan tanah sangat sulit didapatkan di hampir seluruh kawasan tersebut.016 sistem Karez yang 686 dari antaranya masih operasional. penetapan arah yang benar dari saluran air dalam pembangunannya dan untuk mengawasi serta memperbaiki saluran-saluran air setelah dibangun. curah hujan (air atau salju) yang jatuh di lereng-lereng gunung akan menguap atau merembes ke bawah pasir dan tanah sebelum akhirnya bersatu dan membentuk aliran-aliran air kecil. distrik Shanshan dan Toksun di lembah Turpan. sementara yang paling dalam mencapai 90 meter. Di distrik Turpan ada 1.karez. saluran air di atas permukaan tanah dan tempat-tempat penampungan air kecil (Gambar 1).000 kilometer. Karena kuatnya penguapan yang terjadi atau proses evapotranspirasi. saluran-saluran air bawah tanah. Hampir tidak mungkin menggali saluran air di bawah tanah sepanjang ini tanpa lebih dulu menggali sumur vertikal. Sebagian besar sistem Karez yang ada sekarang pada umumnya dibangun antara abad ke-17 dan ke-20. di distrik Hami dan Turpan. Rata-rata kedalaman saluran air bawah tanah adalah 20 meter. Kedalaman sumur berkisar antara 40-70 meter. Struktur sebuah sistem Karez bisa kompleks. tanah tersebut dibangun pada kipas atau dataran alluvial. 30-60 meter di bagian tengah. dan 10-30 meter di bagian bawah. Kearifan Lokal Karez merupakan suatu sistem irigasi tradisional yang telah memiliki sejarah panjang di kawasan Xinjiang di Cina. 30-40 2 ZHONG dan CHU (1993). Sistem-sistem Karez yang saat ini masih berfungsi tersebar di daerah-daerah kering lereng selatan dari Pegunungan Tianshan di Xinjiang timur. terutama pada jaman-jaman pertanian di masa yang lalu ketika peralatan modern belum dikenal.

Biasanya lapisan tanah dalam di sekitar saluran bawah tanah sangat kuat dan tidak mudah runtuh. karena rendahnya suhu air yang disebabkan oleh cairnya salju atau air yang berasal dari kedalaman dapat menimbulkan dampak merugikan bagi tanaman pangan. kedua sisi digali untuk saluran air bawah tanah. tetapi juga untuk menimba air dari saluran-saluran tersebut setelah keseluruhan sistem Karez selesai dibangun. Saat ini di kota Hami di Cina digunakan juga sebuah kaca yang dapat memantulkan sinar matahari. Pada bagian bawah sumur. Gambar 2 menyajikan foto udara dari sumur-sumur vertikal. Sumur-sumur vertikal dimanfaatkan tidak hanya untuk membantu proses penggalian saluran-saluran air di bawah tanah. dan 3-15 meter di bagian bawah. penting untuk menjamin agar sumber daya air yang tersedia di sepanjang saluran air bawah tanah cukup memadai. tanah di sekitarnya lebih longgar. saluran tersebut menjadi saluran permukaan dan dihubungkan dengan sebuah tempat penampungan air kecil atau langsung dihubungkan dengan sistem saluran pengairan untuk irigasi (Gambar 3b). mayoritas adalah saluran bawah tanah. Jika saluran air bawah tanah mencapai tanah pertanian. Lampu minyak besi yang dilengkapi dengan sebuah panah untuk orientasi arah digunakan untuk menggali saluransaluran di dalam tanah. Saluran air di bawah permukaan tanah pada umumnya merupakan bagian dari sebuah jaringan yang memungkinkan terkumpulnya air bawah tanah (seperti ditunjukkan pada Gambar 3a). Pembangunan tempat-tempat penampungan air ini meningkatkan tinggi permukaan air sehingga dapat mengairi lahan pertanian yang lebih luas. Langkah pertama yang penting adalah menemukan sumber-sumber air di bagian atas dan mengetahui kedalaman air sesuai dengan lokasi lahan pertanian. Pacul dan palu digunakan untuk menggali terowongan-terowongan di bawah tanah. Air yang lebih hangat lebih sesuai untuk keperluan irigasi. Saluran-saluran Air Bawah Tanah dan Permukaan Tanah Dari kedua jenis saluran air.meter di tengah. Biasanya saluran permukaan lebih pendek untuk membatasi penguapan. roda pengerek dan lampu minyak (seperti diperlihatkan pada Gambar 4). Komponen-komponen tipikal sistem Karez Tempat Penampungan Air Air dikumpulkan di dalam tempat-tempat penampungan air kecil yang dapat disesuaikan tingkat ketinggian dan suhu airnya. Selain itu. keranjang. Keranjang dan roda pengerek digunakan untuk mengeluarkan tanah dan pasir. Namun. Dalam membangun berbagai komponen berbeda dari sistem Karez. Gambar 1. Bermacam-macam peralatan sederhana digunakan untuk membangun sistem Karez. saluran air bawah tanah biasanya diperkuat dengan tonggak-tonggak kayu. Agar tidak mudah runtuh. Lampu tersebut juga dapat dengan mudah ditancapkan pada dinding-dinding saluran. Alatalat tersebut antara lain pacul untuk menggali. air yang disimpan di dalam tempat-tempat penampungan ini memperoleh cahaya matahari sehingga suhunya meningkat. pada saluran-saluran yang lebih dekat ke permukaan. 12 . palu untuk memalu.

Foto udara sumur-sumur vertikal di kawasan Turpan. Air yang berasal dari salju yang mencair masuk ke dalam sistem dan tanah berfungsi menjadi penyaring yang baik yang menyingkirkan bahanbahan yang telah terpolusi. Setelah itu. saluran-saluran air bawah tanah juga tidak akan terkena badai debu. Selain itu. 2. walau adanya perubahan-perubahan lingkungan hidup yang terus terjadi dari masa ke masa. Kualitas air yang dihasilkan memenuhi syarat untuk dipergunakan sebagai air minum dan untuk keperluan rumah tangga. Sumber: www. Kualitas Air yang Tinggi. Sumber: www. (a) lampu minyak tradisional dengan panah samping. Gambar 2.sunnychina. selama beribu-ribu tahun kawasan yang memiliki Karez telah didiami oleh populasi penduduk yang stabil.karez.net.Selanjutnya lokasi penggalian sumur dapat ditetapkan. Tidak seperti saluran-saluran air yang berada di atas permukaan tanah. (b) pacul untuk menggali.com Gambar 4. (c) keranjang dan (d) sebuah katrol modern digunakan dalam membangun sistem Karez. Dukungan Gravitasi Bumi. (a) saluran air bawah tanah diperkuat dengan tonggak-tonggak kayu. 3. sumur-sumur dan saluran-saluran air dapat mulai dibangun secara bertahap mulai dari bagian bawah sampai ke bagian atas mengikuti sumber air. Seperti dapat kita lihat. biaya yang dibutuhkan untuk peralatan menaikkan air dan perawatan sistem menjadi sangat sedikit sekali. Kearifan lokal ini memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut: 1.com Pelajaran yang Dapat Dipetik Sistem Karez merupakan teknologi masyarakat asli dalam mengurangi dampak kekeringan yang telah terbukti efektif dan masih dipergunakan.com Gambar 3. walaupun jumlah keseluruhan volume air yang dihasilkan tidak terlalu besar. dan (b) penjangkauan saluran air bawah tanah ke saluran permukaan. Karena sistem Karez memanfaatkan topografi lahan untuk mengalihkan aliran air dalam tanah di bawah permukaan melalui saluran air bawah tanah ke permukaan tanah untuk irigasi dengan memanfaatkan gravitasi bumi. 13 . Saluran air bawah tanah dapat meminimalkan penguapan yang tinggi di distrik Turpan yang berangin banyak.chinahw. Semua ini menyebabkan sistem Karez mampu menyediakan sumber-sumber air yang stabil. Cina. Sumber: www. Sumber: www. dan cersp. saluran-saluran air bawah tanah meminimalkan polusi air dan pada saat yang sama sangat kaya akan mineral-mineral.org. Aliran yang Stabil. sehingga sistem ini tidak akan terlalu terpengaruh oleh dampak perubahan iklim.travelchinaguide. Sumber air utama sistem Karez adalah salju yang mencair dan air bawah tanah.

jpg. Shouyi BAI (eds.org http://blog. Selain itu. Shanghai People’s Press. sistem Karez pun memiliki keterbatasan-keterbatasan. Xinjiang University Press. Turpan Karez Sistem (Sistem Karez di Turpan). 91 S. Halaman 5-19.travelchinaguide. Daftar Pustaka SI Maqian. Sebagian besar sistem Karez dibangun dengan alat-alat pertukangan yang sederhana dan tidak membutuhkan peralatan yang kompleks. Pembangunan dan penggunaan sistem ini terbatas secara spasial pada daerah-daerah tertentu saja. Sebaliknya.). Dengan demikian saat ini ada kebutuhan untuk memperkuat sistem Karez yang tradisional dengan teknologi modern.M. Penggunaan sistem ini harus dipromosikan dalam menghadapi bencana kekeringan yang kian parah di masa yang akan datang.htm. SHIJI (catatan sejarah). General history of China (Sejarah Umum Cina).com/attraction/xinjiang/turpan/karez. Ji ZHAO. Beberapa sistem Karez dibangun di sekitar Dataran Guanzhong di Cina Tengah pada masa Dinasti Han tetapi tidak dapat bertahan karena saluran-saluran air bawah tanahnya runtuh. pengetahuan tradisional ini harus ditingkatkan dan diperkuat dengan teknologi modern. sementara pada musim gugur dan musim dingin jumlahnya banyak. Pada musim semi.).net/homepage/2006/baman/homepage/08xinjiang/01xinjiang/01.cersp. Pada musim panas akan tersedia cukup sumber air bila airnya berasal dari salju yang mencair.sunnychina. Xingqi ZHONG dan Huaizhen CHU (eds. Sistem hanya dapat diterapkan di daerah-daerah yang memiliki suplai air bawah tanah yang stabil dan memiliki jenis tanah yang keras. Higher Education Press.4. Nilai sistem ini sebagai sebuah teknologi pengurangan dampak kekeringan yang efisien yang berbasis kearifan lokal tidak dapat diabaikan. www. volume air pada sistem Karez dapat berubah sesuai dengan musim walau tidak ada banyak perubahan dalam volume hariannya.com/travel_image/14441/1420/1 http://it. 2001. 1993.chinahw. http://www. Hal ini seringkali tidak sejalan dengan kebutuhan air untuk pertanian. 2004. Geography of China (Geografi Cina). 14 . jumlah volume air Karez terbatas.htm. Walaupun demikian.karez. Konstruksi dengan Peralatan yang Sederhana.com/2005/11/06/165519. http://travelguide.

Kondisi iklim bervariasi dari gurun arktik yang dingin di daerah Ladakh sampai temperatur sedang di lembah Kashmir dan subtropis di daerah Jammu. Latar Belakang Negara bagian Jammu dan Kashmir. di mana tingkat kepadatan penduduk di daerah lembah-lembahnya tinggi. perbukitan-perbukitan yang lebih rendah (Deretan Perbukitan Shiwalik). masyarakat yang tinggal di daerah ini mengembangkan praktik-praktik konstruksi setempat untuk pembangunan rumah yang aman gempa.Negara Bagian Jammu dan Kashmir. utamanya: kawasan dataran tinggi pegunungan dan semi semi pegunungan. negara bagian ini dibagi menjadi tiga bagian berbeda.115.5 mm di Srinagar di kawasan Kashmir dan 1. telah terbukti benar-benar tahan gempa.236 km2. yang getarannya dirasakan di seluruh Pakistan dan India. pegunungan di lembah Kashmir dan Deretan Pegunungan Pir Panjal dan Pegunungan-pegunungan Ladakh dan Kargil di daerah Tibet. dan struktur sosial.6 mm di Jammu di daerah Jammu. iklim. sementara di daerah perbukitan rendah. India Utara Praktik-praktik Pembangunan Rumah Tradisional yang Aman Gempa di Kashmir Amir Ali Khan Abstrak Karena kawasan Kashmir seringkali mengalami gempa bumi. perbukitan Kashmir di barat dan daerah Ladakh di utara dan timur laut. terjadi gempa dengan kekuatan 7. Studi kasus berikut ini hendak mempelajari kearifan lokal dalam praktik-praktik pembangunan rumah yang aman gempa di daerah-daerah pedesaan dan perkotaan di negara bagian Jammu dan Kashmir di India bagian Utara. Daerah ini pada dasarnya merupakan kawasan pegunungan.60 LU. negara bagian ini dibagi menjadi empat kawasan geografis. terletak di India bagian utara. Secara administratif. Dari segi topografi. Gempa bumi tersebut melumpuhkan kehidupan sehari-hari yang normal sampai cukup lama karena kerusakan dan kehancuran yang ditimbulkannya pada rumah- 15 .00 BT dekat kota Muzaffarabad. pola curah hujan tahunan juga bervariasi dari 92 mm di Leh di daerah Ladakh. Distrik yang paling parah terkena adalah distrik Poonch di daerah Jammu dan distrik Baramula dan Kupwara di daerah Kashmir. dengan pusat gempa (episenter) terletak pada 34.6 Mw pada kedalaman 26 km. 73. Kawasan ini berbeda dari bagian-bagian lain negara tersebut dalam beberapa hal. Serupa dengan itu. Kisah/Peristiwa Kawasan Kashmir terletak di zona yang memiliki tingkat ancaman gempa bumi yang tinggi. yang memiliki total wilayah seluas 222. Di India bagian utara. Gempa-gempa yang dahsyat terjadi secara rutin. termasuk di antaranya dari segi topografi. Pada tanggal 8 Oktober 2005. yang dikenal sebagai sistem “Taq” dan “Dhajji-Dewari”. yakni daerah Jammu di selatan dan tenggara. dampak terbesar gempa tersebut dirasakan di negara bagian Jammu dan Kashmir. 650. perekonomian. Teknik tersebut. Kondisi tanah di lembah Kashmir buruk dan sangat tidak baik untuk konstruksi bangunan.

Gambar 1. Ciri yang paling penting dari tipe konstruksi semacam ini adalah penggunaan lapisan lumpur yang tipis sebagai campuran tembok (mortar). Dalam bahasa setempat Taq berarti tembok.5–2 kaki persegi dan jendela yang menggantung lebarnya sekitar 3. di mana ada dua jenis praktik konstruksi yang banyak digunakan: sistem Taq (bangunan tembok yang diikat dengan kayu-kayu) dan sistem Dhajji-Dewari (kerangka kayu dengan dinding pengisi). Balkon kecil yang menggantung biasanya memiliki luasan hampir 1. Walaupun tingkat kerusakan dan kehancuran begitu tinggi. Di daerah yang banyak menggunakan konstruksi ini. Foto: Amir Ali Khan Sistem Dhajji-Dewari Sistem Dhajji-Dewari menggunakan kerangka-kerangka kayu untuk mengikat tembok dalam bagian-bagian kecil.000 rumah tangga di Daerah Kashmir dan 8. Sistem Taq Sistem Taq menggunakan balok-balok kayu besar atau kayu gelondongan sebagai balokbalok horisontal yang ditanam ke dalam dinding-dinding bata/batu. Jumlah penduduk yang terkena dampak gempa mencapai lebih dari setengah juta. Balok-balok pengikat berfungsi sebagai penguat horisontal yang pada akhirnya mengikat seluruh bangunan tembok menjadi satu kesatuan.000 di Jammu tertimpa dampak parah dari gempa ini. Tidak ada kebiasaan untuk menggunakan kerangka kayu sepenuhnya. Kerangka kayu tidak hanya memiliki unsur vertikal tetapi juga unsur-unsur diagonal yang membagi tembok dalam berbagai bentuk panel-panel yang kecil. Balok-balok pengikat ini dihubungkan antara satu sama lainnya dengan potongan-potongan kayu yang lebih kecil. Kearifan Lokal Kawasan Kashmir terkenal akan praktik-praktik konstruksi tradisionalnya yang aman gempa. dan dengan demikian mencegah melar serta pecahnya tembok. Gambar 1 memperlihatkan rumah-rumah yang dibangun dengan menggunakan tipe konstruksi Taq. Balok-balok pengikat ini ditempatkan pada lantai dasar dan di atas jendela-jendela. sistem Dhajji-Dewari biasanya digunakan untuk tembok- 16 . sehingga membentuk semacam tangga yang diletakkan/ditempelkan pada tembok menutup dua muka luar dari tembok.rumah dan infrastruktur di kawasan tersebut. Balok-balok ini mengikat semua unsur bangunan atau rumah menjadi satu dan menjaga keseluruhan struktur agar bergerak sebagai satu kesatuan. teknik-teknik konstruksi setempat yang berdasarkan kearifan lokal telah membantu menyelamatkan nyawa banyak orang. Sekitar 90. Rumah-rumah dengan tipe konstruksi khas Taq di Srinagar.5 kaki. serta gangguan yang ditimbulkannya pada komunikasi dan pelayanan-pelayanan masyarakat penting lainnya. Pada umumnya ini mengacu pada tata letak modular dari balkon kecil dan jendela menjorok yang menjadi ciri dari tipe konstruksi ini.

terutama untuk bagian tembok yang menjorok ke luar atau menggantung. praktik-praktik konstruksi yang umum dilaksanakan di daerah itu dipelajari untuk mencari fitur-fitur relevan yang membuatnya aman gempa.tembok di lantai atas. Gempa Bumi Kashmir jelas-jelas memperlihatkan keunggulan praktik-praktik tradisional dalam membangun rumah atau bangunan lain dibandingkan dengan teknik-teknik modern yang diterapkan tanpa menggunakan pengetahuan profesional yang memadai. 17 . Ada banyak contoh di mana bagianbagian rumah atau bangunan yang dibangun dengan sistem Dhajji-Dewari dan Taq mampu mengatasi goncangan gempa. Foto: Amir Ali Khan Pelajaran yang Dapat Dipetik Setelah Gempa Bumi Kashmir pada tahun 2005. Penelitian mendapatkan bahwa kondisi-kondisi bangunan pada umumnya sangat buruk karena kurangnya fitur-fitur aman gempa pada rumah-rumah dan bangunanbangunan yang ada. Gambar 2. dengan batu yang diplester semen dan campuran kapur dan bata yang diplester semen. 3. terbukti mampu menahan gempa. Tanpa adanya bimbingan profesional. Lebih banyak lagi tukang di kawasan Kashmir perlu mendapat pelatihan dalam pembangunan rumah dengan menggunakan teknik-teknik ini. Teknik-teknik tradisional sistem Dhajji-Dewari dan Taq untuk membangun rumah belakangan ini menjadi semakin kurang populer. Beberapa contoh rumah yang dibangun dengan menggunakan tipe konstruksi Dhajji-Dewari dapat anda lihat pada Gambar 2. struktur-struktur bangunan yang menggunakan beton bertulang menjadi sangat berbahaya dan dapat berakibat pada runtuh totalnya struktur bersangkutan jika mendapat goncangan yang besar. Rumah-rumah yang dibangun dengan bahan-bahan berkualitas seperti tembok yang mampu menahan beban. Teknik-teknik tersebut perlu diperkenalkan lagi agar masyarakat mengetahui keunggulan-keunggulannya dibandingkan dengan teknik-teknik modern. Rumah-rumah dan bangunan-bangunan yang dibangun dengan memanfaatkan kearifan lokal. Rumah-rumah dengan sistem konstruksi khas Dhajji-Dewari di Srinagar. 2. Berikut ini beberapa hasil observasi yang didapat: 1. India) – Laporan awal dari Gempa Bumi Kashmir Utara 2005 pada 8 Oktober 2005. baik dengan menggunakan sistem Taq ataupun teknik Dhajji-Dewari. Sumber: Durgesh C Rai dan C V R Murty (IIT Kanpur. a) Bagian-bagian rumah yang menggunakan sistem Dhajji-Dewari (bagian balkon kecil) dan b) sistem Taq (seluruh struktur kecuali bagian balkon) yang selamat dari kerusakan yang diakibatkan oleh gempa bumi tahun 2005. Gambar 3. bahkan walaupun bagian lain dari rumah yang tidak menggunakan sistem tersebut telah runtuh (Gambar 3 a dan b). terbukti tidak dapat bertahan terhadap gempa jika dibangun tanpa bantuan pengetahuan profesional yang tepat dan memadai.

tetapi dibutuhkan adanya dukungan teknologi yang dapat memperkuat agar kearifan lokal dapat menghadapi tantangan bencana-bencana yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya yang berkaitan dengan perubahan iklim. SEEDS dan para mitranya membantu mengembangkan suatu teknologi baru yang memadukan kearifan lokal dengan tambahan masukan teknologi yang terbatas. Hujan yang berlangsung selama terusmenerus lebih dari seratus jam menggenangi beberapa desa sampai ketinggian tiga puluh kaki. India.Barmer. Berdasarkan catatan sejarah. Terletak di sepanjang perbatasan India dan Pakistan. selama dua ratus tahun terakhir hujan dan banjir semacam itu tidak pernah terjadi dan masyarakat serta pemerintah setempat tidak siap untuk menghadapi situasi darurat sedahsyat itu. struktur semacam ini tidak memiliki kapasitas anti air dan oleh karenanya menderita kehancuran yang parah selama banjir. SEEDS bekerja di daerah/blok Sheo dari distrik Barmer di mana mereka membangun 300 hunian untuk keluargakeluarga yang paling parah terkena dampak banjir. Namun. distrik ini sepenuhnya berada di kawasan Gurun Thar. yang akan semakin sering terjadi di masa yang akan datang. Rajasthan. Tim mengkaji praktik-praktik konstruksi tradisional di daerah tersebut. segera melakukan kunjungan ke daerah-daerah yang terkena bencana tersebut dan melakukan pengkajian kerusakan serta sebuah studi tentang lingkungan hidup alamiah setempat dan lingkungan yang telah dibangun. dengan sasaran terutama kelompokkelompok yang secara sosial terpinggirkan dan tidak memiliki kapasitas untuk dapat membangun rumah mereka kembali secara mandiri. dengan desain rumah yang bundar. India Kearifan Lokal dan Ilmu Pengetahuan Modern Memberi Solusi Tempat Bermukim yang Ramah Lingkungan di Kawasan Gurun yang Rawan Banjir di India Anshu Sharma dan Mihir Joshi Abstrak Pada bulan Agustus tahun 2006 beberapa desa di Distrik Barmer yang merupakan bagian dari kawasan gurun dari negara bagian Rajasthan di India Barat yang selalu mengalami kekeringan mengalami hujan deras dan kebanjiran. Dengan bantuan Panitia-panitia Pembangunan Desa dibangun beberapa bangunan baru yang dapat beradaptasi dengan ancaman-ancaman bencana yang ada saat ini. Kearifan lokal memang telah memberikan nilai tambah yang tinggi selama beberapa generasi. walaupun struktur tradisional yang utamanya terdiri dari lumpur ini memang cocok untuk jenis-jenis bencana seperti gempa bumi dan badai pasir. sebuah LSM nasional. 18 . Latar Belakang Distrik Barmer merupakan sebuah distrik yang terletak pada bagian paling barat dari negara bagian Rajasthan. Rumah-rumah semacam ini memiliki banyak keuntungan dalam menghadapi kondisikondisi lingkungan hidup yang dialami saat ini. yang bentuk dasarnya berupa dinding-dinding lumpur dan atap jerami/alang-alang. SEEDS.

memasak dan kegiatan-kegiatan harian lainnya. Beberapa desa yang paling parah terkena meliputi Kavas. banyak yang rusak parah dan hancur akibat banjir. Sarana penghidupan yang tersedia sangat terbatas sekali. Hujan lebat di musim penghujan yang dimulai pada tanggal 16 Agustus 2006 mendera sekitar seratus desa dari 12 distrik yang ada di Rajasthan. Kehidupan di kawasan ini benar-benar sangat berat. 300 mm lebih banyak daripada rata-rata curah hujan tahunannya. dan sekitar 95 persen keluarga yang berada di desa-desa yang terkena (lebih dari 50. menyimpan barang. Kisah/Peristiwa Hujan yang terjadi terus-menerus di gurun di negara bagian Rajasthan menimbulkan salah satu banjir terburuk dalam dua abad terakhir di Rajasthan. Dampak banjir semakin diperparah oleh kenyataan bahwa daerah tersebut memiliki penduduk yang sangat sedikit dan fasilitas-fasilitas infrastruktur pun sangat terbatas sekali. dan ini menjadi tempat tinggal sebuah keluarga yang dalam bahasa setempat disebut Dhani. Tingkat kepadatan penduduk di distrik Barmer termasuk yang paling rendah di India. Komunitas-komunitas ini tinggal dalam kondisi iklim yang sangat keras dan mereka harus menggunakan dengan bijaksana sumber-sumber daya yang sangat terbatas di sekitar mereka untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk membangun rumah-rumah mereka. air banjir menggenang selama berminggu-minggu. Juga karena jenis lapisan tanah bagian dalam yang tidak menyerap air. sementara mereka yang lebih ilmiah mengaitkan banjir itu dengan perubahan iklim. Laporan resmi menyebutkan banjir ini menelan korban jiwa 103 orang. Barmer telah menerima curah hujan sebesar 577 mm hanya dalam waktu tiga hari. Air merupakan masalah utama di daerah ini.000 orang) terpaksa kehilangan rumah tempat tinggal mereka. Banjir juga menimbulkan kehancuran parah karena sebagian besar rumah di kawasan ini pada umumnya dibangun di daerah cekungan yang terletak di sela-sela perbukitan pasir untuk melindungi diri dari badai pasir.Masyarakat setempat tinggal terpencar-pencar dan dalam jumlah yang sangat sedikit. Bahkan rumah-rumah yang masih berdiri tegak di banyak tempat menjadi tidak layak untuk dihuni lagi. 19 . Dalam situasi banjir hal ini sangat merugikan karena tempat tinggal warga menjadi semacam kantung-kantung yang letaknya rendah dan dengan menjadi arah tujuan larinya air banjir. Bhadkha dan Shiv. Sekelompok Dhani membentuk sebuah desa. seringkali lebih dari satu kali dalam sehari. Dalam satu klaster/kelompok permukiman biasanya ada empat sampai lima bangunan bundar yang dikelilingi oleh sebuah tembok rendah. Karena sebagian besar bangunan terbuat dari lumpur. sehingga akses warga terhadap pelayanan pemerintah menjadi sangat sulit. Malua. Perempuan-perempuan desa harus berjalan jauh dengan kendi-kendi di atas kepala untuk mengambil air untuk minum. Beberapa warga setempat berpikiran bahwa bencana merupakan hukuman dari dewa-dewi yang kurang berkenan terhadap kehidupan mereka. Setiap bangunan digunakan untuk berbagai kegiatan berbeda seperti tidur. Pada malam hari tanggal 21 Agustus 2006. Masyarakat setempat sebelumnya tidak pernah mengalami bencana banjir sedahsyat itu dan mereka begitu terkejut serta tidak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi situasi seperti itu. Tinggi permukaan banjir mencapai hampir tiga puluh kaki di atas permukaan tanah.

Gujarat. Kaum perempuan mengerjakan pemlesteran rumah baru dan selanjutnya mereka juga bertanggung jawab atas perawatan rutin tembok-tembok dan lantai.Kearifan Lokal Kearifan lokal untuk kenyamanan dan keberlanjutan permukiman Masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan di Rajasthan selama beberapa generasi telah terbiasa membangun rumah dengan bahan-bahan bangunan setempat dan teknologi tradisional mereke. berdasarkan Peta Kerawanan Gempa India. 20 . Untuk membangun dhani mereka. Kaum lelaki mengumpulkan tanah yang berkualitas baik dari tempat-tempat terdekat. sementara kaum perempuan mengumpulkan kotoran sapi. Karena seluruh anggota keluarga menjadi bagian dari kegiatan pembangunan rumah. yang merupakan sesuatu yang penting di daerah ini karena suhu pada musim panas dapat mencapai 500 C. yang sangat dekat dengan Barmer. Karena kawasan ini juga berlokasi di kawasan rawan gempa sedang sampai tinggi. Rumah yang bundar akan mempermudah aliran udara dengan hambatan yang minimum. semua anggota keluarga memainkan peranan penting dan semua memiliki tanggung jawab masing-masing. Gambar 1 menyajikan diagram struktur sebuah dhani. Pada umumnya ukuran bukaan pintu-jendela sangat kecil untuk mengurangi panas yang masuk dan melindungi dari badai pasir yang sering terjadi di daerah tersebut. Ini terutama dilakukan karena adanya Kawasan Angin dengan Kecepatan Tinggi yang sering mengalami angin kencang terutama di musim panas. Para anggota masyarakat sendiri menjadi penyebar dari teknologi ini dari satu generasi ke generasi berikutnya. hanya sedikit rumah dengan desain serupa di kawasan ini yang mengalami kerusakan. Diagram struktur sebuah dhani Bertahannya dan penyebarluasan kearifan lokal dalam hal konstruksi Teknologi yang berdasarkan kearifan lokal untuk membangun rumah kediaman warga digunakan secara meluas di kawasan tersebut. mereka memiliki rasa kepemilikan terhadap rumah kediaman mereka dan pemahaman akan bahan-bahan bangunan serta cara memprosesnya. Atap dibuat dari anyaman ranting-ranting dan jerami dari tanaman Jowar. Rumah dibangun dengan arah sedemikian rupa sehingga arah angin dan jalan sinar matahari dapat menjamin adanya ventilasi yang baik dan suhu rumah tetap terjaga agar nyaman. Gambar 1. bentuk yang bundar juga dapat memberi rumah kekuatan daya tahan lateral. Masyarakat biasanya membangun rumah berbentuk bundar dan memilih lokasi di daerah yang tidak terlalu tinggi. Pada gempa bumi tahun 2001 di Kutch. yang kemudian dicampur dengan adonan lumpur menjadi bahan bangunan dasar untuk keperluan konstruksi.

Para anggota masyarakat seringkali meniru para pemimpin ini dalam hal perilaku. dan cara hidup pada umumnya. Untuk dapat bertahan hidup dalam kondisi iklim yang ekstrim seperti ini dibutuhkan sebuah rumah yang sesuai. Di desa-desa di Barmer. 2. sehingga tercipta tingkat keamanan struktural yang lebih tinggi bagi rumah 21 .Ada lima faktor utama yang menyebabkan teknologi pembangunan rumah tradisional semacam ini dapat bertahan di kawasan gurun yang terpencil dan bagaimana teknologi ini disebarluaskan ke masyarakat lain di wilayah yang lebih luas. 5. Atap rumah Dhani juga tersambung baik dengan sistem tembok. Rumah-rumah yang terbuat dari beton menjadi seperti oven di kala udara panas dan dalam suhu dingin menjadi seperti lemari es. Walaupun beberapa orang telah mulai memilih membangun rumah dengan bahan-bahan bangunan modern. 4. Para pemimpin masyarakat memberi contoh dengan menggunakan Teknologi ini Salah satu tradisi penting yang sangat umum yang diikuti oleh sebagian besar masyarakat pedesaan di India adalah adanya sekelompok orang terhormat di desa yang memberikan contoh bagi seluruh masyarakat. Tidak ada listrik dan bahan bakar sangat langka serta harganya tak terjangkau untuk digunakan sebagai pengontrol suhu udara. Kondisi-kondisi iklim yang ekstrim Di Barmer. Dinding yang dibuat memiliki kualitas untuk mengisolasi panas atau dingin dan tebal. pilihan-pilihan. para anggota masyarakat lainnya terdorong untuk mengikuti. Hal ini diperlihatkan pada Gambar 2 dan diterangkan di bagian berikut ini. sehingga memberikan suhu udara yang nyaman di dalam rumah baik dalam situasi panas ataupun dingin yang ekstrim. 3. 1. Keterlibatan masyarakat dalam pembangunan rumah Seluruh masyarakat dan para anggota keluarga terlibat dalam berbagai kegiatan dalam rangka pembangunan rumah. rumah modern yang mereka bangun tidak senyaman seperti rumah-rumah tradisional. sebagian besar orang terhormat di masyarakat hidup di Dhani-dhani. Menyaksikan hal tersebut. Desain yang baik untuk keamanan dan kenyamanan Bentuk yang bundar mampu menahan tekanan angin yang ditimbulkan oleh badai pasir dan tekanan gelombang yang ditimbulkan oleh gempa bumi. Tersedianya bahan-bahan bangunan lokal yang gratis Adanya bahan-bahan bangunan lokal. suhu udara pada musim panas dapat mencapai 500 C dan pada musim dingin suhu udara di malam hari mendekati titik beku. merupakan faktor penarik utama bagi masyarakat yang telah dibuat menjadi miskin oleh tidak adanya pilihan-pilihan untuk memperoleh penghidupan dan oleh iklim yang sangat keras. Inilah juga hal yang menjadi salah satu alas an mengapa teknologi ini dapat bertahan dan terus digunakan di kawasan pedesaan dan pusat tradisi ini. Keterlibatan para anggota keluarga serta saudarasaudara dekat mengurangi beban biaya pembangunan rumah dan memperkuat semangat bermasyarakat. yang bebas biaya dan bebas transportasi.

desain yang bundar melindungi struktur bangunan dari angin kencang dan gempa bumi. rumah-rumah yang dibangun sangat kondusif dan memiliki suhu ruang yang sangat nyaman dalam kondisi cuaca ekstrim yang sering terjadi di kawasan tersebut. baik lingkungan hidup alami maupun lingkungan bentukan manusia. Para pemimpin masyarakat memberikan contoh Desain yang baik untuk keamanan dan kenyamanan Teknologi konstruksi rumah asli masyarakat Keterlibatan masyarakat dalam konstruksi rumah Kondisi Iklim yang ekstrim Tersedia bahan bangunan lokal yang gratis Gambar 2. Dukungan ilmu pengetahuan SEEDS mengadakan kunjungan ke daerah-daerah yang terkena bencana segera setelah banjir dan melakukan kajian kerusakan serta sebuah studi atas lingkungan setempat. Gabungan dari keamanan dan kenyamanan ini telah menghasilkan teknologi pembangunan rumah yang teruji sepanjang masa dan dihargai di tingkat lokal atas manfaat langsung ataupun manfaat jangka panjang yang telah diberikannya. dan penelitian ini membawa pada penggunaan teknologi bata press saling terikat yang distabilisasikan (Stabilized Compressed Interlocking Earth 22 . Faktor-faktor yang menentukan kebertahanan dan penyebarluasan teknologi pembangunan rumah milik masyarakat setempat. Tim pengkaji menilai dan mendokumentasikan praktik-praktik pembangunan rumah di daerah tersebut. yang terbukti memiliki beberapa nilai tambah.sebagai suatu unit. dan proses pembangunannya sederhana serta cocok dengan tingkat ketrampilan masyarakat setempat. Tim mendapati bahwa struktur bangunan ternyata sangat ramah lingkungan karena bahan-bahan bangunan yang dicapai sama sekali tidak menciptakan jejak ekologis atau karbon. Program dimulai dengan penelitian tentang teknologi tepat guna yang dapat mendukung sistem pembangunan tradisional yang sudah ada. SEEDS dan berbagai mitranya membantu dalam pembangunan 300 hunian di bawah Program Barmer Ashray Yojana (Program Perumahan Barmer).

Setelah pembangunan rumah selesai. 3. serta sistem-sistem dan proses-proses sosial. para guru sekolah. perempuan. Pembangunan rumah sebagian besar dikerjakan oleh para pemilik rumah sendiri dengan hanya sedikit dukungan dari tim proyek. dan dengan pendanaan dari Departemen Bantuan Kemanusiaan Komisi Eropa. Sebuah sistem yang efisien dibangun untuk memproduksi SCEB secara massal untuk menyediakan rumah kepada keluarga-keluarga yang terkena bencana dalam rentang waktu hanya enam bulan. perwakilan-perwakilan LSM dan personil tim proyek bekerja sama erat dengan para pejabat pemerintah setempat. Pengetahuan dan ketrampilan dalam membangun rumah-rumah ini diturunkan kepada para tukang bangunan setempat sehingga dapat direplikasi dan disebarluaskan di seluruh kawasan. masyarakat setempat lebih memilih struktur-struktur bangunan tradisional ini daripada rumah yang dibangun dengan teknologi beton modern yang disediakan oleh donor lain. Gambar 3. lumpur lokal distabilisasikan dengan semen sebanyak lima persen. Ini akan membuat biaya 23 . Dalam teknologi SCEB. Program-program pembangunan rumah pasca-bencana harus memanfaatkan kearifan lokal yang ada dalam hal bahan-bahan bangunan dan teknologi konstruksi. ilmu bahan bangunan. rumah-rumah dibangun dengan menggunakan teknologi tepat guna ini. 2. Panitia Pembangunan Desa (Village Development Committee/VDC) dibentuk di setiap desa untuk mengambil keputusan dan mengarahkan serta memantau proses pembangunan. Bahan-bahan bangunan yang digunakan untuk pembangunan rumah haruslah sedapat mungkin ramah lingkungan dan berasal dari daerah setempat. tetapi secara minimal saja. kemudian dipress menjadi bentuk bata yang memiliki kekuatan struktural tinggi dan kemampuan anti air. yang berubah menjadi seperti oven di bawah matahari gurun yang panasnya begitu menyengat. Bekerja sama dengan Christian Aid. Panitia ini terdiri dari kaum lelaki. Rumah dhani tradisional Pelajaran yang Dapat Dipetik Pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari intervensi proyek dan pendokumentasian studi kasus ini berkaitan dengan teknologi pembangunan rumah. Jika dibutuhkan teknologi dapat diperkenalkan. Desain tradisional yang bundar dan atap jerami yang “bisa bernafas” tetap dipertahankan. untuk memberi nilai tambah kepada sistem-sistem tradisional yang ada dan membuat sistem-sistem tersebut menjadi lebih tangguh dalam menghadapi ancaman-ancaman baru seperti yang diakibatkan oleh perubahan iklim.Block/SCEB). yang merupakan campuran dari kearifan lokal dan sedikit masukan ilmiah untuk membuatnya semakin tangguh dalam menghadapi ancaman-ancaman baru (Gambar 3a dan 3b). Pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik disarikan pada bagian di bawah ini: 1. karena hal ini telah teruji dari generasi ke generasi dan paling sesuai dengan lingkungan hidup serta budaya setempat. para pemimpin masyarakat setempat.

Dokumen Proyek. 8. sanitasi. Alih teknologi kepada para tukang bangunan setempat merupakan sesuatu hal yang sangat berguna demi menjamin keberlanjutan pendekatan konstruksi. penghidupan dan pendidikan dapat membantu menciptakan paket yang lebih menyeluruh yang berkaitan dengan rumah hunian. Delhi. dan juga untuk mendorong agar para pemangku kepentingan menerima pendekatan yang ditawarkan. 5. dan membuat desain serta proses pembangunan rumah menjadi cukup fleksibel bagi setiap keluarga agar mereka dapat mengatur sendiri unsur-unsur kecil dari pembangunan rumah yang sesuai dengan pilihan dan kebutuhan mereka. 2007. Daftar Pustaka Dewan Promosi Bahan dan Teknologi Bangunan (Building Materials and Technology Promotion Council). - 24 . dan juga meminimalkan jejak karbon dari intervensi proyek. desain dan rincian konstruksi merupakan hal yang sangat menentukan bagi keterlibatan dan kepemilikan masyarakat terhadap proses ini. yang pada jangka panjangnya akan membantu keberlanjutan pendekatan tersebut. kaum akademisi dan sektor swasta merupakan sesuatu hal yang berguna demi melancarkan pelaksanaan proyek-proyek semacam ini. replikasinya dan peningkatannya di kawasan bersangkutan. Hubungan dengan para pemangku kepentingan lokal termasuk pemerintah. 7. Keterlibatan keluarga-keluarga pemilik dalam proses pembangunan rumah sangat berguna dalam menghemat biaya. SEEDS. “Barmer Aashray Yojna – Program Restorasi Hunian Pasca Banjir”. lingkungan hidup dan gaya hidup serta akan memberikan nilai tambah bagi masyarakat setempat. Partisipasi dari para pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan pemilihan tempat.yang dibutuhkan untuk membangun rumah menjadi rendah. 2006. 4. Hubungan dengan sektor-sektor lain seperti sektor air. Pemerintah India. 6. SEEDS. Peta Kerentanan India (Vulnerability Atlas of India). memperkuat rasa memiliki. 2006.

Dengan ditanami bambu.Desa Nandeswar. tingkat pertumbuhan penduduk yang cepat dan tekanan-tekanan pada aliran-aliran sungai telah menyebabkan adanya perubahan aliran-aliran dan saluran-saluran sungai secara terus-menerus. daerah luas di sekitar Assam tergenang. Penghidupan mereka tergantung pada lahan dan kegiatan-kegiatan berbasis pertanian. 2004 dan 2007. Banjir seringkali membobol tanggul dan merusak jalan-jalan yang merupakan penghubung penting antara satu desa dengan desa lainnya. Beberapa teknik tradisional dapat membantu sungai dan saluran-saluran air agar terhindar dari pendangkalan dan peluberan yang berlebihan jika hujan deras. India. tekanan penggunaan lahan. Kondisi fisik kawasan dan faktor-faktor seperti penggundulan hutan. tahun-tahun antara 1953-1998 merupakan saat-saat kejadian banjir yang terburuk. salah satu vegetasi Assam yang paling dapat ditemukan di mana-mana di daerah tersebut. Distrik Goalpara. Assam dan negara-negara bagian timur laut lainnya seringkali mengalami banjir selama musim-musim penghujan dari bulan Juni sampai September. tanggul-tanggul saluran air jadi terlindungi dan tanah terhindar dari erosi lebih lanjut. Rajiv Dutta Chowdhury dan Debashish Nath Abstrak Penanaman pohon bambu di sepanjang tanggul saluran air oleh para warga setempat di Desa Nandeswar dalam banyak hal telah menguntungkan desa mereka. Selama bertahun-tahun. teknik ini telah memelihara dan menjaga tanggul-tanggul serta melindungi jembatan-jembatan dan jalan-jalan raya dari kehancuran yang dapat ditimbulkan oleh curah hujan yang tinggi. putusnya jembatan dan tanah longsor biasanya menyebabkan warga terperangkap. Penanaman bambu membantu melindungi tanggul agar tidak tergerus dan mencegah banjir bandang dari aliran sungai bila sungai meluber pada 25 . India Konservasi Tanah dan Air melalui Penanaman Bambu: Sebuah Teknik Penanggulangan Bencana yang Diadopsi oleh Masyarakat Nandeswar. Sebagian besar warga Desa Nandeswar adalah petani. dan erosi pada tepi sungai di daerah aliran sungai Brahmaputra. masyarakat di kawasan ini berulang kali harus menghadapi hari-hari kebanjiran yang panjang. Assam. Assam Irene Stephen. dan ini mengakibatkan banyak desa dan kota-kota di Assam menjadi terisolasi. Walaupun banjir terjadi setiap tahun di Assam. Selama masa-masa curah hujan tinggi. Latar Belakang Desa Nandeswar terletak di Distrik Goalpara (Gram Panchayat–Karipara di bawah Daerah/Blok Pembangunan Matia). runtuhnya tanggul sungai dan jalan. Secara khusus. Assam. Kisah/Peristiwa Walau daerah ini mengalami kejadian banjir yang parah pada tahun 2002. Kearifan Lokal Masyarakat telah belajar menghindari kerugian dengan menggunakan metode-metode yang terjangkau dan telah dipraktikkan selama beberapa generasi.

Akar-akar rumput membantu mengikat lapisan tanah di bagian atas. Sebagai persiapan untuk menghadapi datangnya hari-hari hujan dari bulan Desember sampai Februari. Tidak seperti di masa lalu. penanaman bambu di sekitar kolam-kolam ikan dan sawah-sawah dapat mencegah erosi tanah serta menjaga agar air tidak menenggelamkan daerah-daerah yang letaknya rendah selama puncak hari-hari banjir. Penanaman bambu telah memegang peranan yang penting dalam hal penghidupan dan upaya bertahan hidup masyarakat di Nandeswar.hari-hari hujan deras (Gambar 1). teknik ini menjadi suatu cara yang ekonomis yang dapat membantu warga setempat dalam menjaga kelestarian air dan menghentikan erosi lapisan tanah bagian atas serta tebing sungai. Biaya untuk memperbaiki dan memelihara tanggul tanah juga sangat ekonomis. bahan dasar untuk kerajinan dan pembuatan kertas. akar-akarnya yang dalam akan menjalar ke segala arah dan menumbuhkan anakan-anakan bambu yang baru serta mengikat tanah. 26 . Akar-akar bambu menjalar di permukaan (dekat lapisan tanah bagian atas) masuk 2. Masyarakat juga telah banyak memetik manfaat dari berbagai kegunaan bambu melalui teknik konservasi yang dikembangkan secara lokal ini. Bambu yang ditanam di sepanjang sungai melindungi sebuah jembatan penting.5 sampai 3 kaki ke dalam tanah dan pada bagian tanah yang lebih dalam bahkan sampai 5 kaki. mengurangi pengendapan yang dibawa oleh hujan deras serta mencegah peluberan air sungai. Tanggul-tanggul tanah dibangun dari tanah endapan dan pasir serta ditanami rumput. Proses ini dilakukan dengan menggunakan metode penanaman lokal yang disebut teknik penekanan akar bambu. Endapan lumpur yang diambil dari sungai juga dapat digunakan untuk berbagai keperluan pertanian. Setelah satu bulan. Sejalan dengan tumbuhnya bambu. Gambar 2. Pelajaran yang Dapat Dipetik Para warga masyarakat Desa Nadeswar telah belajar bagaimana menyiasati banjir dan erosi tanah. Bahan-bahan yang didapat dari pembersihan ini ditumpuk di sepanjang sungai dan saluran air sebagai gundukan tanggul dari tanah. Para warga setempat memperoleh banyak manfaat dari teknik penanaman semacam ini. di mana bambu ditanam hanya untuk keperluan komersial. di sepanjang tanggul tanah dibuat lubang berjarak 24 inchi yang kemudian ditanami bibit/anakan bambu. Bambu yang ditanam di sepanjang sungai di Assam. Kegiatan-kegiatan ini membantu menciptakan lapangan kerja tambahan bagi masyarakat. Gambar 1. Gambar 3. Mereka telah menggunakan penanaman bambu untuk mencegah kerusakankerusakan yang besar. Selain mengurangi tingkat erosi tanah. Permukaannya ditanami rumput untuk mencegah erosi (Gambar 2). Assam. para warga di Desa Nandeswar biasanya membersihkan aliran-aliran sungai dari endapan dan pasir. tanaman bambu yang sudah berumur 5 tahun dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Selain itu. Metode yang digunakan membutuhkan investasi yang lebih sedikit untuk perbaikan dan pemeliharaan tanggul.

yaitu Pulau Simeulue. Luas wilayahnya 4. besar dan kecil. 1 Badan Pusat Statistik Sumatera Utara 27 .030 ha. Latar belakang Simeulue Simeulue adalah bagian dari Provinsi Aceh.771 km². Siberut merupakan pulau terbesar di Kepulauan Mentawai yang terdiri dari sekurang-kurangnya 70 pulau. Wilayahnya berupa kepulauan yang terdiri dari 1 pulau besar.63 ha dan terletak kira-kira 155 km dari pulau utama Sumatra. Luasnya sekitar 205. Secara administratif kepulauan Nias termasuk dalam Provinsi Sumatra Utara. Indonesia Dongeng. Contoh perkampungan khas Siberut dapat dilihat dalam Gambar 2. ketiga pulau itu. yakni Simeulue. yaitu Nias dan Nias Selatan. kira-kira 100 kilometer sebelah barat pantai Sumatra Utara. dan Siberut. metode pembangunan dan perencanaan hunian. Praktik-praktik itu mencakup antara lain sarana komunikasi tradisional.Simeulue. Nias.148.045 jiwa. Nias. telah mengangkat ke permukaan pelbagai praktik kearifan lokal yang sebelumnya luput dari perhatian masyarakat internasional yang peduli pada upaya pengurangan risiko bencana. di mana pengelolaan lingkungan secara tradisional dan sistem-sistem kepercayaan yang terkait berperan penting dalam kehidupan sehari-hari orang-orangnya. Letaknya di sebelah barat lepas pantai Sumatra Barat. Nias Nias terdiri dari sekumpulan pulau yang terletak antara Simeulue dan kepulauan Mentawai. Mereka termasuk dalam kelompok etnik Mentawai dan merupakan salah satu dari sedikit kelompok masyarakat di Asia Tenggara yang cara hidupnya masih banyak bergantung pada lingkungan alam.1 Gambar 1 memperlihatkan pemandangan sebuah perkampungan di Nias. serta upacara ritual yang terkait. Siberut Dengan luas 400. Menurut data sensus tahun 2006. dan Siberut. Lebih dari 35. yang dalam kurun waktu lima tahun mengalami bencana gempa bumi dan tsunami.000 penduduk asli tinggal di Siberut. Ritual. dan Arsitektur di Kawasan Sabuk Gunung Api Koen Meyers dan Puteri Watson Abstrak Praktik-praktik kearifan lokal terbukti telah mengurangi dampak bencana alam di tiga pulau Sumatra. terdiri dari dari dua kabupaten. Di banyak tempat di Siberut masih tampak pola ekonomi yang subsisten. dan sekitar 40 pulau kecil. Dengan kebudayaan yang berbedabeda. jumlah penduduk Nias diperkirakan 713. Praktik-praktik itu akan dibahas secara terinci supaya diperoleh pemahaman yang utuh mengenai dampaknya dan bagaimana relevansi praktik dan kearifan lokal bagi pembangunan modern.

2 3 UNORC (2005) Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) NAD-Nias. Pada Desember 2004 tsunami melanda Simeulue dan Nias. Menurut mereka. Kearifan Lokal Simeulue Salah satu penyebab rendahnya angka korban tewas di Pulau Simeulue adalah kearifan lokal yang dimiliki masyarakat setempat. penduduk Simeulue tahu bahwa mereka harus mengungsi ke tempat yang lebih tinggi karena ada kemungkinan terjadi tsunami. Oktober) 28 . terjadi lagi gempa berkekuatan 8. Sebanyak 140 penduduk tewas dan ratusan lainnya kehilangan tempat tinggal. Laporan resmi pemerintah setempat menyebutkan hanya ada tujuh korban dari keseluruhan populasi yang jumlahnya sekitar 78. Reaksi yang kompak semacam itu dapat dimungkinkan antara lain karena adanya pengetahuan masyarakat yang dikomunikasikan melalui dongeng dan legenda. ketika terjadi sebuah gempa besar yang menimbulkan tsunami hingga menewaskan banyak penduduk pulau.Kisah/Peristiwa Dalam lima tahun terakhir. Perbukitan hanya berjarak ratusan meter dari perkampungan dan garis pantai. hanya jatuh satu korban jiwa. Kendati demikian. Pada tanggal 12 September 2007 sebuah gempa berkekuatan 7. dan pengingat lainnya. Salah satu sebab kecilnya angka korban adalah karena semua orang.9 skala Richter terjadi di dekat Siberut. Ceritacerita tentang peristiwa 1907 ini kemudian diterjemahkan menjadi kisah-kisah. Nias. Oktober) 4 BRR (2005. tepatnya 28 Maret 2005. di mana 95% di antaranya hidup di wilayah pantai.000.7 skala Richter dan merenggut 839 jiwa. Pulau Nias mengalami dampak serius akibat gempa 26 Desember 2004 dan tsunami yang terjadi setelahnya. Kehidupan 90% penduduk terkena dampaknya. Namun. dan Siberut mengalami beberapa kejadian gempa bumi dan tsunami. Simeulue. monumen peringatan.000 rumah harus diperbaiki dan 29.3 Beberapa bulan kemudian. Selain faktor kearifan lokal itu. topografi pulau yang berbukit-bukit juga menjadi faktor penting lain yang memperkecil jumlah korban. 15.4 Dampak gempa sangat dahsyat sehingga di beberapa tempat menyebabkan tanah terangkat hingga lebih dari 2 meter.2 Ketika terjadi gempa pada 26 Desember 2004. kearifan atau pengetahuan itu berasal dari “pengalaman nenek moyang” pada tahun 1907. Reaksi ini telah meminimalkan dampak kerusakan akibat tsunami. (2005. dan menyembulkan karang pantai hingga 100 meter dari garis pantai semula. yang lalu diteruskan kepada anak cucu mereka dengan pola yang bermacam-macam. begitu merasakan gempa. di Simeulue hanya jatuh sedikit korban bila dibandingkan dengan di daerah lainnya. bergegas meninggalkan rumah dan lari ke tempat terbuka.000 lainnya harus dibangun kembali.

Atap bangunan memiliki konstruksi yang serupa dengan struktur alasnya. Atap terdiri dari beberapa lapis balok diagonal yang ditepatkan pada posisi lateral. Tidak jelas apakah sebelum tsunami tahun 1907 istilah smong memang sudah ada. Rumah ditopang oleh tonggak-tonggak vertikal (enomo). Menurut pemahaman penduduk sekarang ini. Kedua ujungnya 29 . di mana unsurunsur strukturnya dikaitkan satu sama lain. Teknik sambungan ini menyebabkan bangunan fleksibel. Dalam cerita-cerita itu dikisahkan juga tentang monumen alam dari peristiwa tsunami. Ndriwa diletakkan di antara enomo. dan dengan demikian berfungsi sebagai pengikat longitudinal dan lateral sekaligus. Mereka saling bertumpu satu sama lain pada bagian bawah. Peristiwa itu rupanya meninggalkan trauma yang amat dalam sehingga darinya muncullah cerita-cerita individual. yakni sebagai murka Tuhan. Orang kerap menyebut peristiwa itu sebagai cara Tuhan untuk meluruskan kembali cara hidup mereka yang telah melanggar norma-norma sosial dan religius. ketika orang-orang sedang kembali ke rumah seusai melaksanakan ibadah di masjid. kemudian gelombang raksasa dan banjir. Di tengah segala kerusakan itu justru tampaklah contoh yang sangat kentara tentang bagaimana praktik tradisional dapat mengurangi dampak bencana. kata smong diturunkan dari ni semongan yang berarti percikan (air). juga pada bagian atas yang tepat bertemu dengan balok horizontal di bawah lantai rumah. bukan dipaku. yang artinya sama dengan tsunami. Cerita-cerita itu dikisahkan tidak dengan tujuan menyiapkan anak cucu menghadapi bencana serupa di masa datang. sebagaimana ditemukan dalam satu dari tiga bahasa setempat. peristiwa itu kemudian memperoleh makna simbolik religius. lalu diikuti oleh surutnya air laut. yang bertumpu pada balok-balok batu dan sejumlah balok diagonal (ndriwa). kebanyakan rumah kayu tradisional yang jumlahnya terus berkurang itu ternyata dapat bertahan terhadap goncangan gempa. Karena tsunami 1907 terjadi pada hari Jumat. Seperti tampak pada Gambar 3. Konon. Nias Gempa tanggal 28 Maret 2005 sangat berdampak terhadap penduduk dan infrastruktur Pulau Nias. misalnya adanya bebatuan karang laut di lahan pertanian di daratan. Tiap-tiap cerita memiliki kisahnya sendiri-sendiri dan tak jarang menyebutkan tentang penderitaan dan kematian anggota keluarga. Adanya istilah lokal untuk menyebut peristiwa tsunami membuktikan bahwa masyarakat setempat memiliki pengetahuan hingga tingkat tertentu berkaitan dengan fenomena alam itu. tetapi banyak orang Simeulue amat yakin bahwa istilah itu sudah ada. dengan arah memanjang dan melintang bangunan. Teknik pengikatan ndriwa secara diagonal ke dua arah ini memungkinkan bangunan bertahan terhadap goncangan gempa yang sangat kuat sekalipun. yang kemudian diceritakan turun-temurun di dalam keluarga atau di masyarakat. Setelah gempa. Peristiwa yang terjadi pada tsunami tahun 1907 diwariskan dari mulut ke mulut dalam masyarakat tanpa struktur yang baku. smong adalah rentetan peristiwa yang diawali oleh gempa yang besar. melainkan untuk memberikan gambaran tentang suatu kejadian dalam sejarah.Masyarakat Simeulue menggunakan kata smong untuk menyebut peristiwa itu. rumah tradisional Nias terbuat dari kayu.

Ia sangat dendam terhadap sang pemilik rumah dan semua yang ikut berpesta. Siberut Pengalaman masyarakat Mentawai atas fenomena alam seperti gempa bumi telah mereka terjemahkan ke dalam pelbagai strategi. Lalu. Puluhan babi dan ratusan ayam disembelih dan dimasak. Sang pemilik rumah sesungguhnya tidak menyukai saudara tirinya ini. Teknik yang khas itu hingga kini tetap dinilai sebagai contoh yang teruji mengenai arsitektur yang tahan gempa di Pulau Nias. kemudian meminta saudara tirinya agar mengambilkan cangkulnya itu. daun sagu dikumpulkan untuk anyaman atap. uma itu selesai dibangun dan termasyhur di seluruh pulau karena keindahannya. Mereka ingin membangun sebuah rumah panjang (uma) yang baru dan megah. Sebagai misal. arwah sang saudara tiri tidak dapat beristirahat dengan tenteram. namun begitu tonggak kayu besar itu tertanam. Ketika si saudara tiri sudah berada di dalam lubang. tibalah waktu untuk menggali lubang bagi tonggak pertama. sebuah dusun kecil di Siberut selatan: “Pada zaman dahulu kala. Sesaat terdengar jerit kesakitan.bertumpu pada balok-balok vertikal dan diagonal. sang pemilik uma menjatuhkan cangkulnya ke dalam lubang. Mereka meminta bantuan sanak saudara dan kenalan yang tinggal di lembah lainnya. 30 . Segala persiapan dilakukan: pohon-pohon besar ditebang untuk dijadikan tonggak. cerita ini juga mengingatkan pendengar bahwa gempa bumi mempunyai asal-usul manusia juga dan berkaitan dengan emosi manusia. hanya ada kesunyian. Selain membangkitkan kesadaran masyarakat atas bahaya gempa. yang berhasil mengurangi dampak bencana gempa. Struktur alas dan atap semacam ini membentuk struktur tiga dimensi yang meningkatkan elastisitas dan stabilitas bangunan ketika terjadi gempa. Berikut ini adalah salah satu versi dongeng di Attabai. Sebelum perayaan berlangsung. dan kulit rotan mereka serut untuk dijadikan tali. Setelah lubang selesai digali. secara kasat mata maupun tidak. Setelah segalanya siap. Sang pemilik rumah mengundang sanak saudara dan kenalan untuk ikut pesta. kayu dipotong-potong untuk dijadikan papan lantai. hiduplah sebuah keluarga besar. sang pemilik rumah memerintahkan para saudara lainnya untuk menghunjamkan tonggak kayu yang besar ke dalam lubang. sang arwah memperingatkan saudara perempuannya dan anakanaknya agar selama pesta mereka tidak makan di dalam uma. Sementara itu. tiba saatnya untuk menyelenggarakan pesta besar-besaran sebagai upacara peresmiannya. Akhirnya. melainkan harus bersembunyi di bawah pohon pisang. Dongeng itu mengisahkan secara detail tentang gempa yang pertama kali terjadi di muka bumi. di sebuah lembah di pantai barat Pulau Siberut. salah satu strategi yang tak kasat mata adalah kisah dongeng yang menekankan adanya kaitan metafisik antara manusia dan peristiwa gempa bumi.

Dalam contoh ini. penyampaian cerita terjadi di dalam rumah dari satu anggota keluarga kepada anggota keluarga lainnya. Cara-cara baru ini harus mengandung informasi yang relevan dan harus dapat meniru keberhasilan tradisi cerita lisan dalam daya sebar dan relevansinya bagi masyarakat lokal. Semenjak hari itu. teteu atau ‘kakek’ memiliki makna yang metafisik. yang menyiratkan antropomorfisasi terhadap fenomena alam yang perlu dihadapi dengan rasa hormat dan gentar. kecuali keluarga sang arwah. Sementara itu. melainkan cenderung menyebarkan informasi dengan cara yang jauh lebih luas. Sesaji diletakkan di dekat tonggak-tonggak utama dengan tujuan menenangkan hati para roh penguasa tanah. perlu dicari cara-cara baru untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat tentang bahaya bencana di daerah mereka. Sigegeugeu dapat diterjemahkan secara harfiah sebagai ‘goncangan’ [dan memiliki makna persis sama dengan kata earthquake dalam bahasa Inggris]. Menurut sistem kepercayaan di sana. Gambar 4 memperlihatkan tokoh adat yang berperan sebagai shaman atau medium. Semua orang di dalamnya mati. Cara-cara komunikasi modern kurang memperhatikan informasi lokal. televisi. Uma yang indah dan megah itu runtuh. ceritacerita itu mengenai informasi setempat. orang-orang Mentawai menyebut gempa bumi sebagai teteu yang berarti ‘kakek’.Ketika orang-orang sedang berpesta pora dan menyantap hidangan di dalam uma. yang berupaya mempersiapkan masyarakat melalui penyebaran brosur atau diskusi focus-group. Hanya merekalah yang selamat dari kejadian itu. Mulailah orang lebih cenderung mengambil pelajaran dari tempat dan peradaban nun jauh di sana. Program-program pembangunan yang modern. Lewat merekalah sistem kepercayaan tradisional diturunkan dan diteruskan. Dua faktor ini merupakan metode komunikasi yang efektif untuk menginformasikan kepada suatu masyarakat tentang risiko bencana di daerah mereka. tibatiba saja tanah bergoncang amat keras. Pertama-tama. serta agar rumah itu dilindungi apabila suatu hari nanti teteu datang lagi. kiranya masih perlu menimba hikmah dari tradisi cerita rakyat. menurut kisah itu. setiap kali orang hendak mendirikan rumah. Seiring dengan masuknya saluran komunikasi modern seperti radio. terjadilah peluasan horizon masyarakat dan mengalirnya informasi yang lebih banyak dan luas.” Ada dua istilah dalam bahasa Mentawai untuk menyebut gempa bumi. dongeng sebelum tidur tentang peristiwa di masa lampau terbukti dapat menyelamatkan ratusan jiwa. Kedua. 31 . bukan dari pengalaman masa lalu atau konteks lokal mereka sendiri. yaitu sigegeugeu dan teteu. dan telepon. Tindakan menyiapkan sesaji berguna untuk menanamkan kesadaran kolektif tentang risiko gempa dan membuatnya tetap hidup dalam kesadaran masyarakat. Pelajaran yang Dapat Dipetik Simeulue Ada beberapa hal yang layak disoroti mengenai tradisi penyampaian cerita di Simeulue yang telah berhasil menyelamatkan banyak jiwa pada tahun 2004. Di Simeulue. mereka harus memberikan sesaji bagi roh penguasa tanah (Taikabaga) agar teteu (kakek) tidak murka dan marah. Gempa bumi itu ungkapan balas dendam sang arwah.

semua ini dapat kehilangan makna dan dampaknya dalam masyarakat lokal. sistem kepercayaan tradisional dan dongeng-dongeng yang terkait tak bisa disangkal berperanan mengurangi risiko bencana. Namun. Ironi ini memperlihatkan kepada kita. Kedua. kerusakan hebat yang diakibatkan oleh gempa Maret 2005 terhadap penduduk dan ekonomi Nias tidak boleh dilupakan. Mereka kerap merujuk pada dongeng dan lagu-lagu tradisional yang menyebabkan mereka bereaksi secara tepat ketika gempa mulai terasa. Nias Sejak gempa Maret 2005. Ini pelajaran penting bagi upaya pengurangan risiko bencana di masa mendatang—suatu pendekatan yang menyeluruh perlu diambil demi melindungi kelompok masyarakat terhadap bencana. Dalam banyak kasus. walaupun hal itu layak disyukuri. Masuknya agama-agama monoteistik 32 . Siberut Cerita tentang teteu merupakan bagian dari sitem kepercayaan tradisional masyarakat Mentawai. Modernisasi merupakan faktor penting yang menyebabkan makin berkurangnya arsitektur tradisional Nias. Seandainya saja akses ke tempat yang aman itu tidak tersedia. Salah satu simbol status di masyarakat adalah menganut desain dan gaya hidup modern. Deforestasi juga membuat keadaan makin parah. dengan bekal pengetahuan tentang kemungkinan datangnya tsunami.Hal yang juga patut diingat adalah peran topografi Pulau Simeulue. Memang ini terasa ironis karena Pulau Nias pada saat itu dan masih sampai hari ini merupakan tempat ditemukannya salah satu arsitektur tahan gempa yang terbaik di dunia. masyarakat dapat menjadi lebih rentan terhadap risiko bencana. orang-orang terselamatkan karena pengetahuan yang mereka peroleh dari dongeng dan lagu. Strategi pengurangan risiko harus diintegrasikan ke dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat tersebut. pelbagai metode dan teknik pembangunan rumah tradisional secara perlahan mulai dilupakan orang karena beton dan batu bata telah menggantikan kayu sebagai bahan bangunan. Penduduk kampung. Dongeng yang telah berperan mengurangi jatuhnya korban gempa mungkin memang tidak dapat dianggap sebagai metode pengurangan risiko bencana karena pengaruhnya terkait erat dengan ritual pembangunan rumah tradisional. pertama-tama. berhasil segera mencapai perbukitan hingga dapat menyelamatkan diri. terbukti bahwa ketika yang tradisional digeser oleh yang modern. Kayu keras yang diperlukan untuk membangun rumah tradisional sekarang makin sulit didapatkan. praktik-praktik asli masyarakat dalam membangun rumah tradisional di Nias diteliti kembali dan telah mendapat pengakuan karena sifat tahan gempanya. Akibat tekanan program pembangunan. bahwa satu praktek kearifan lokal saja tidak dapat berperan banyak dalam mengurangi risiko bencana. Namun. Akibatnya. Ini menunjukkan betapa pentingnya faktor perencanaan permukiman dalam upaya pengurangan risiko bencana. pengetahuan tentang legenda tahun 1907 tidak akan menyelamatkan sedemikian banyak orang. yang menyebabkan banyak orang memilih membangun rumah dengan gaya Melayu yang sebetulnya lebih rentan terhadap gempa.

praktik asli. K. Benang merah dari uraian tentang ketiga contoh praktik asli masyarakat yang diuraikan di atas adalah: semuanya ditemukan di wilayah-wilayah pedalaman dan terbelakang. barulah praktik-praktik asli itu diperhatikan lagi dan diingat-ingat. Pengetahuan Lokal Pulau Simeulue: Sejarah dan Kesinambungannya. http://sumut. kelompok masyarakat menjadi lebih rentan terhadap bencana. Ketika praktik asli tidak digantikan dengan alternatif yang modern. 2005. Sieh. Meletakkan Fondasi. contoh-contoh itu masih dipraktikkan hingga hari ini justru karena pulau-pulau itu terpisah dari daratan Sumatra yang sudah lebih maju. atau sungguh naifkah menganggap praktik-praktik ini sebagai solusi yang mudah dikemas yang dapat direproduksi demi kebaikan generasi mendatang? Kecepatan dan ciri pembangunan modern tidak selalu memberikan ruang bagi praktikpraktik masyarakat asli. pendidikan. Kini. sehingga pemberian sesaji semakin jarang dilakukan. diperlukan alternatif-alternatif modern yang mampu meniru proses penyampaian pengetahuan itu dengan tingkat kepentingan yang sama bagi masyarakat setempat. tetapi pengaruhnya sudah langsung terlihat berkaitan dengan praktik dan kearifan lokal dalam mengurangi risiko bencana. karena kebiasaan ini mulai digantikan oleh kepercayaan yang lebih modern. SMONG. 2006. Pulau-pulau itu hanya sedikit saja bersentuhan dengan infrastruktur. Herry Yogaswara and Eko Yulianto.id/pop/2006/pop05. Jakarta: UNESCO and LIPI.membuat orang kehilangan kepercayaan pada arwah leluhur.bps. pengetahuan tersebut pun mulai terlupakan. Nias. apakah peran praktik masyarakat asli dalam modernisasi ketiga pulau ini? Perlukah diambil langkah-langkah untuk melestarikan contoh praktik masyarakat asli ini.go. agar pengetahuan itu tidak lenyap. Pertanyaan yang mencuat di sini adalah bagaimana pengaruh pembangunan dan modernisasi terhadap praktik masyarakat asli ketika proses pembangunan itu berjalan terus di masa depan? Sehubungan dengan upaya pengurangan risiko bencana.caltech.gps. sebagaimana yang lazim terjadi pada kebanyakan. Membangun Harapan. komunikasi. praktik-praktik asli telah memungkinkan banyak kelompok masyarakat hidup berdampingan dengan bencana. For presentation at the National University of Singapore. dan ketika modernisasi bergerak terlampau cepat.. dan dalam banyak hal dapat dikatakan belum tersentuh perkembangan modern. meski tidak semua. makna dan nilai praktik asli itu di dalam konteks modern tidaklah selalu dapat dipahami. Oleh karena itu. 2007.pdf 33 . Diunduh dari: www. Hanya ketika kemajuan pembangunan disela oleh alam dengan bentuk bencana alam. Present and Future. Oktober. termasuk teteu. dan transportasi modern. Daftar Pustaka Badan Pusat Statistik Sumatera Utara. Program pembangunan baru perlahan-lahan masuk.edu/~sieh/pubs_docs/submitted/Snu. Telah kita lihat bagaimana praktek menyediakan sesaji menguatkan pengetahuan akan gempa dalam ingatan kolektif masyarakat setempat. Dalam kasus Simeulue. dan Siberut. March 7-9.html Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR). NAD – Nias. 6 month Report. The Sunda Megathrust: Past. Selama berabadabad.

Diunduh dari: www.- UNORC. 2005.humanitarianinfo.org/sumatra/mapscentre/docs/81_Simeulue/30_Population/SU M81-020_Simeulue_Population_Village_HIC_2005_04_18_ A4.pdf 34 . Total Population per Simeulue Village District.

aliran udara “Bai-u” pada bulan Juni dan Juli. Ketiga sungai ini mengitari dataran Noubi. dan Ibi. Proses urbanisasi yang deras dan kurang terkendali mengakibatkan juga pemakaian lahan secara tidak sesuai. terletak pada pertemuan tiga sungai: Kiso. dan pengujian teknologi tersebut di pihak lain. seiring dengan meningkat pesatnya kegiatan dan eksploitasi ekonomi. curah hujan mencapai 4. Jepang terletak di area gempa Sabuk Pasifik dan kerap mengalami dampak akibat aktivitas gunung berapi dan gempa yang dahsyat.Prefektur Gifu. sebuah wilayah dataran rendah yang kerap diserang banjir. Japan Water Forum (JWF) (2006). Mayoritas penduduk dari total 100 juta jiwa memadati wilayah dataran yang sempit. Di wilayah pantai selatan yang menghadap ke Samudera Pasifik. prefektur Gifu. Udara lembap dari air terserap dan terkeringkan di daratan berkat topan di musim panas. Nagara. Deretan pegunungan. Nakano et al. Tambahan lagi. Suatu perpaduan antara teknologi pencegahan banjir. beberapa di antaranya hingga 3. sekitar 50% populasi dan hampir 75% tanah milik penduduk terletak di area banjir. (1974). Jepang tengah. dan terbukti efektif. Tiga perempat daratannya berupa pegunungan dengan relief yang cukup tajam.000 meter di atas permukaan laut. Erosi dan pengikisan tanah terjadi sangat cepat di wilayah pegunungan. Dengan mendokumentasikan pengalaman ini.800 milimeter per tahun. yang rawan banjir. hujan salju di musim dingin. verifikasi. Karena bentuk kepulauan Jepang yang sempit dengan topografi yang bervariasi. Akibatnya. sungaisungai di sana pada umumnya pendek dan agak curam. serta peralihan depresi dan aliran udara pada semua musim. dan pengurangan kerusakan tengah diteliti di prefektur Gifu. Jumlah gunung berapi di Jepang kira-kira sepersepuluh gunung berapi di dunia. berarti dua atau tiga kali lipat dari rata-rata daerah lainnya dengan ketinggian yang sama. Berbagai pengubahan lingkungan alam terjadi secara cepat dan besarbesaran. pengendalian erosi. sungai-sungai membanjir. perbedaan iklim udara menjadi sangat besar. Latar Belakang Jepang adalah sebuah kepulauan di wilayah iklim muson yang mengalami udara hangat dan lembap pada musim panas dan udara sejuk di musim dingin. Rata-rata curah hujan 1. Segera setelah turun hujan lebat.000 milimeter.1 Kebanyakan kota di Jepang terkumpul di dataran pantai. memanjang di tengah daratan negeri yang panjang dan sempit ini. 35 . 1 2 T. dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan kearifan dan teknologi lokal mensyaratkan adanya dukungan kebijakan yang sesuai dan kesadaran dari para peneliti di satu pihak. Mengingat 10% lahan di sana rentan terhadap banjir. Jepang Langkah-Langkah Tradisional untuk Mengurangi Bencana Banjir di Jepang Yukiko Takeuchi and Rajib Shaw Abstrak Kearifan lokal dalam penanggulangan bencana banjir di Jepang telah dikembangkan dan diuji dari waktu ke waktu. serta perekaman. salah satu daerah di Jepang yang paling rentan terhadap bencana banjir.2 Secara khusus.

luapan banjir dari sungai dianggap sebagai gejala alam. Karena lokasi dan topografinya. Akibat kebijakan yang dilaksanakan pemerintah pada abad ke-18 terhadap aliran sungai Kiso. Dalam peta sejarah. Selama lebih dari 200 tahun. khususnya pada area kelokan sungai. Tiga jenis pengetahuan dan teknologi tradisional yang dimiliki masyarakat Gifu diterangkan pada Gambar 1 dan dalam pembahasan di bawah ini. pada awal abad ke-19 (zaman dinasti Edo). berbagai teknologi pengendalian banjir diterapkan dengan bantuan para insinyur dari Belanda. frekuensi banjir di daerah ini berkurang. Orang tidak berusaha menghalanginya. tanggul cincin semacam ini ditemukan di beberapa lokasi. tetapi jiwa dan harta milik dapat dilindungi dengan teknologi sederhana. suatu sistem saling bantu. Kearifan Lokal Di masa lalu. dataran Noubi mengalami sejumlah bencana banjir. agaknya karena bentuknya yang secara sepintas mirip dengan seekor 36 . Penduduk menamainya Waju (cincin dalam). Struktur ini disebut Hijiri-ushi yang berarti Sapi Besar. dan saling mengawasi yang meliputi lima keluarga pada kelompok masyarakat tertentu. melainkan membuat perangkat berbasis-pengetahuan untuk mengurangi dampak kerusakan. antara lain. gotong royong. masyarakat di sana berjuang untuk melindungi jiwa dan harta milik dari bencana banjir. dan gotong royong dalam komunitas. masyarakat membangun tanggul cincin tradisional yang berfungsi melindungi beberapa rumah dan lahan pertanian (Gambar 2). Pada akhir abad ke-19 (zaman dinasti Meiji).Kisah/Peristiwa Bencana banjir terjadi setiap tahun di dataran aluvial dan daerah delta prefektur Gifu. serta pengelolaan hutan di dataran banjir. masyarakat membangun beberapa struktur sederhana di tepian sungai. Setiap kampung membentuk pengurus khusus dengan tugas memelihara tanggul cincin itu. keberadaan tanggul cincin itu mulai dirasakan kurang berguna dan di beberapa tempat bahkan dibongkar agar tanahnya dapat digunakan untuk keperluan lain. dan peralatan pompa. tanggul beton. Pengendalian Erosi Untuk meminimalkan erosi. dan Ibi. pintu air. tradisi. Nagara. Pencegahan Banjir Untuk mengurangi dampak banjir. Program lain mencakup penanaman bambu sebagai persiapan dan pengurangan risiko bencana banjir. pengetahuan. Kerja sama ini membantu tumbuhnya rasa percaya diri dan memperkuat ikatan komunitas setempat. masyarakat tidak dapat mengendalikan sungai. Oleh sebab itu. Orang dapat melindungi hidup dan harta milik dengan lebih baik berkat masuknya teknologi seperti. check dam. aktivitas pengurangan risiko bencana banjir dilakukan melalui goninggumi. dan di banyak tempat saling terhubung. Dulu. Sebagai contoh.

Hijiri-ushi dari beton (Foto oleh NIED-KU. Pada tiap kelokan sungai (bergantung pada panjang pendeknya kelokan) biasanya diletakkan sekitar 13-15 set Hijiri-ushi (Gambar 4). 2007) Gambar 4. Tujuan struktur ini adalah mengurangi kekuatan arus air sungai sehingga memperkecil dampak erosi. 2007) Pelajaran yang Dapat Dipetik Walaupun pengetahuan dan teknologi tradisional semakin tersingkir dan semakin jarang diterapkan di kebanyakan wilayah Jepang. Pengetahuan tradisional telah terbukti bermanfaat dalam konteks kebudayaan dan sosio-ekonomi lokal. sebuah gudang penyimpanan dan sebuah kamar mandi.sapi. Biasanya satu set Hijiri-ushi terdiri dari 5 struktur. Ketergantungan terhadap teknologi modern membuat orang terlalu bergantung pada sumber daya luar. Pengurangan Kerusakan Untuk mengurangi kerusakan akibat banjir. Kejadian-kejadian bencana yang terjadi akhir-akhir ini banyak memperlihatkan kegagalan sistem tersebut dalam menolong kelompok masyarakat yang terkena bencana. Dalam perjalanan waktu fungsi Mizuya mulai diubah sehingga dapat dihuni orang untuk waktu yang lebih lama. Terlebih lagi. para pemilik rumah membangun Mizuya dengan menambah ketinggiannya 1. langkah ideal dalam upaya pengurangan bencana seharusnya memuat kombinasi yang seimbang antara teknologi modern dan pengetahuan tradisional. kita perlu memusatkan perhatian pada pengembangan teknologi pengurangan bencana. Pada awalnya. penting jugalah memusatkan perhatian pada 37 . sebagai cadangan hunian pada saat banjir. Mizuya dibangun sebagai ruang penyimpanan harta benda rumah tangga. Keluarga yang cukup kaya biasanya juga mempunyai perahu darurat untuk keperluan evakuasi (Gambar 7). Di satu pihak. ketinggian Mizuya hanya sekitar 2 meter. Prinsip-prinsip tradisional dipertahankan. sehingga meningkatkan kemandirian masyarakat. Ada beberapa jenis Hijiri-ushi berdasarkan bahan yang digunakan. Gambar 3. Ketika terjadi peristiwa banjir besar tahun 1896. Kini beton lebih lazim digunakan daripada kayu sehingga umur pakainya lebih lama. kendati mengalami perubahan dalam perjalanan waktu. Mizuya yang sudah dimodifikasi terdiri dari dua ruang. orang membangun rumah yang ditinggikan. sehingga justru mengurangi kapasitas dan kemampuan mereka untuk menolong diri sendiri.3 meter dari ketinggian semula (Gambar 6). Hijiri-Ushi di Sungai Nagara (Foto oleh NIED-KU. Jenis yang paling umum tampak pada Gambar 3 dan 4. membuat mereka tak berdaya dan menyebabkan kerugian yang lebih banyak. keterlibatan masyarakat merupakan unsur penting dalam praktik kearifan lokal. Di pihak lain. yang disebut Mizuya (Gambar 5). Karena itu. ada beberapa kelemahan jika orang melulu bergantung pada teknologi modern untuk mengurangi dampak bencana. Setelah itu. Keluarga-keluarga yang cukup makmur biasanya mempunyai Mizuya di samping bangunan rumah utama. Patut diperhatikan bahwa teknologi yang sama masih digunakan hingga hari ini dengan sedikit perubahan pada jenis bahan yang dipakai.

dan (iv) klasifikasi teknologi berdasarkan kriteria tertentu. http://www. and I. khazanah kearifan lokal memainkan peran yang amat penting karena berkaitan langsung dengan kelompok masyarakat. Langkah-langkah pendokumentasian mencakup: (i) pengumpulan informasi dasar. juga kalangan akademis. modal yang harus dipenuhi. 2007. Okuda. (ii) verifikasi tentang kekuatan dan kelemahannya.” In Natural Hazards: Local. dalam upaya pengurangan bencana dan dalam penelitian dan pendidikan. peneliti. Komunikasi risiko adalah perangkat interaktif dua arah untuk saling berbagi informasi tentang risiko di antara aparat pemerintah. Agar pengetahuan tradisional dapat dimanfaatkan secara efektif. seandainya ada kebutuhan untuk menerapkan suatu teknologi baru untuk pengurangan bencana. pdf - 38 . 1974. Global.osaka. dan masyarakat setempat. dan sebagainya). perlu ada kebijakan yang jelas pada berbagai tingkatan. and T. 2006. city.jp/section/222_ shougaigakusports/p106-107. edited by White. masyarakat setempat perlu dilibatkan agar mereka dapat memahami kelebihan dan kekurangan teknologi itu (mencakup rincian bahan yang digunakan. Bahkan. Burton. Pemerintah. M. perlu menghargai praktik dan teknik tradisional yang masih diterapkan masyarakat agar dapat mengajukan upaya perbaikan yang berdasarkan konteks dan paling sesuai bagi wilayah tertentu. Kendati demikian. Daftar Pustaka Nakano. dan masyarakat setempat harus saling berbagi pengetahuan. Settu City. Untuk mengoptimalkan komunikasi risiko. demi menunjang pemanfaatannya. pemerintah. National. “Natural hazards: Report from Japan. Mizutani. dan ekonomi). Kadomura.. waktu yang diperlukan. Flood Fighting in Japan: 15. (iii) telaah atas kemungkinan penerapannya pada berbagai konteks (fisik. masyarakat setempat kaya akan kearifan lokal. 231-245. Untuk ini. Informasi risiko perlu dilengkapi dengan kearifan lokal dan pengetahuan tradisional agar dapat secara efektif mengurangi risiko bencana dalam komunitas masyarakat lokal. Oxford: Oxford University Press. Lembaga-lembaga pemerintah dan komunitas peneliti umumnya memiliki ‘informasi risiko’ yang lebih tinggi daripada kelompok-kelompok masyarakat setempat.settsu. G. H. Sekiguchi. peneliti. sosial.implementasi teknologi. Japan Water Forum (JWF). T. Pentinglah mendokumentasikan pengetahuan tradisional itu secara sistematis. budaya. T. menjalani proses hingga ujung dan menjembatani jurang antara teori dan praktik.

Zud adalah bencana alam yang paling sering terjadi. pengetahuan tentang bencana alam. Mongolia. Mandal. Kearifan Lokal 39 . Semua kondisi ini. yang paling sering adalah zud. (ii) temperatur yang luar biasa dingin pada musim gugur dan musim dingin (di bawah -40°C). 160 km dari Ulaanbaatar (ibu kota Mongolia). dan serangan serangga hutan. yakni sejenis bencana musim dingin khas Mongolia yang mengganggu kesejahteraan dan keamanan pangan masyarakat penggembala itu akibat tingginya angka korban jiwa manusia dan juga korban ternak. soum ke dalam beberapa bag. yakni kelompok 4–5 keluarga yang terikat hubungan darah atau kekerabatan. frekuensi peristiwa kekeringan dan zud cenderung meningkat. dengan pembagian lebih rinci aimag ke dalam beberapa soum. Penyebab langsung bencana zud adalah meningkatnya fenomena alam. hujan badai. Selenge. sepanjang waktu berhadapan dengan bahaya bencana zud (bencana musim dingin yang khas Mongolia). kekeringan. kaum penggembala di Mongolia biasanya tergabung dalam khot ail. Masyarakat penggembala Shiver tinggal di soum Mandal. Sejak zaman dahulu. dan organisasi sosial adalah beberapa bidang kearifan lokal yang membantu masyarakat mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana sepanjang tahun. Latar Belakang Mongolia terdiri atas ibu kota dan 21 aimag atau provinsi. khusunya pada musim dingin. Peta penggunaan lahan. kekeringan. Kisah/Peristiwa Masyarakat pedalaman di Mongolia sangat bergantung pada kondisi iklim dan sering terpapar bencana alam. di samping meningkatnya bencana alam. kebakaran hutan. dan serangan serangga hutan. Mongolia Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana pada Masyarakat Penggembala Shiver Bolormaa Borkhuu Abstrak Masyarakat penggembala Shiver di aimag (provinsi) Selenge. Masyarakat Shiver terdiri dari kira-kira 30 keluarga penggembala. Karena perubahan iklim dan ekologi. 200 km dari pusat aimag Selenge. dan distrik ke dalam beberapa horoo. (iv) lapisan es di tanah. Pusat soum Mandal terletak di wilayah utara. kalender musim. ibu kota ke dalam beberapa distrik. (iii) salju tebal (lebih dari 70 cm).Masyarakat Penggembala Shiver. kebakaran hutan. hujan badai. sangat berdampak pada ekonomi negara dan kehidupan penduduk pedalaman. termasuk (i) kekeringan parah yang meluas pada musim panas. dan (v) rendahnya kandungan nutrisi pada rerumputan. Masyarakat secara bersama-sama menerapkan kearifan lokal yang dapat digunakan untuk pengurangan risiko bencana.

Permukiman pada musim gugur terletak berdekatan dengan lokasi permukiman musim dingin. para penggembala membuat sebuah peta tentang tempat tinggal mereka. Galsan bulag. perubahan komposisi tumbuhan. kalender musim. ladang jerami. hutan. jembatan. keakaran hutan. Kalender Musim Kalender musim digunakan untuk menentukan kapan tiba dan berapa lama bencana berlangsung. Tsagaan. Ladang jerami memenuhi daerah lembah sungai Shiver dan berdekatan dengan permukiman musim gugur. pengetahuan tentang sebab dan akibat bencana. Dampaknya pun bermacam-macam. misalnya kematian ternak. jalan. Mereka tahu. Jumlah rumah tangga di permukiman musim panas lebih banuyak daripada musim dingin karena banyak keluarga dari perkotaan datang ke daerah pada musim panas dan lalu pulang pada musim gugur. Khuurai Shaazgait. lahan pertanian. dan kekurangan lahan penggembalaan. Shar Khad. hutan yang terbakar.Masyarakat penggembala Shiver secara bersama-sama menemukan kearifan lokal yang bermanfaat bagi pengurangan risiko bencana (Gambar 1). Pada peta tergambarkan antara lain letak permukiman musiman. September-Oktober pada musim gugur Hujan lebat: Juni-Agustus Serangan serangga hutan: Mei (awal musim tanam)-September Organisasi Sosial 40 . antara lain lembah Chavgants. Pengetahuan tentang Bencana dan Sebab Akibatnya Para penggembala menyebutkan zud. permasalahan seputar lahan penggembalaan. sungai. penggundulan hutan. Beberapa jenis pengetahuan yang penting pun muncul. kekeringan. bencana-bencana itu disebabkan oleh macam-macam kondisi semisal kurangnya penegakan hukum. Berikut ini hasil pengamatan mereka: Zud dan kekeringan: Juni-September Kebakaran hutan: April-Juni pada musim semi. 43 rumah tangga di 8 permukiman musim panas (2-9 rumah tangga tiap permukiman). Marz. dan jejaring sosial. dan perubahan iklim. hujan adai. Urtuunii am. lengkap dengan deskripsi penggunaan lahan (Gambar 2). serta area runtuhan salju selama berlangsung zud. ladang penggembalaan. Permukiman musim dingin terletak agak berjauhan di lembah gunung. mata air. dan serangan serangga hutan sebagai bencana alam yang paling banyak terjadi di wilayah itu. dan Saalinch. Permukiman pada musim panas dapat ditemukan di tepian sungai Ar bulag. dan terusan Nariin. Peta menunjukkan 30 rumah tangga yang tinggal di 13 permukiman musim dingin (1-5 rumah tanggap pada tiap permukiman). Peta Penggunaan Lahan Dengan melakukan survei. antara lain peta penggunaan lahan.

dan pemerintah soum. melakukan aktivitas bisnis. sumber pertolongan yang utama berasal dari para tetangga. kekeringan. serta sangat penting untuk mengurangi risiko bencana yang paling sering terjadi dan paling merusak ekonomi. Bantuan dan dukungan juga datang dari organisasi Palang Merah setempat dan anggota parlemen. Sistem manajemen bencana secara lokal pada tingkat akar rumput diperlukan supaya memampukan para penggembala untuk mengatasi bencana dengan kerugian sekecil mungkin. sangat berbeda dibandingkan dengan negara-negara lain. kaum penggembala dan penduduk lainnya membentuk unit-unit swadaya dan koperasi untuk secara bersama-sama menangani masalah yang diakibatkan oleh kekeringan. maka mereka pulalah yang sangat perlu tahu tentang risiko bencana dan mampu mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak bencana yang akan terjadi. Masyarakat Shiver dapat mengenali bencana-bencana alam yang umum dialami di Mongolia seperti zud. Penghidupan kaum penggembala Mongolia. kerugian yang ditimbulkan amat banyak dan luas. 5. Pentinglah agar manajemen juga mencakup cara-cara pemakaian sumber daya alam di daerah itu secara berkelanjutan. 6. yakni zud. Oleh sebab itu. kaum penggembala di wilayah pedalaman telah berhasil mengambil inisiatif dan membangun semangat untuk bergabung dalam kelompok-kelompok agar dapat bekerja. Masyarakat pedalaman harus mampu memahami kerentanan mereka terhadap bencana yang merugikan ekonomi dan terjadi secara terus-menerus. sanak saudara. dan menyelesaikan berbagai persoalan dan kesulitan melalui usaha bersama. 3. anggota keluarga. permukiman dan pekerjaan mereka. melainkan lebih luas hingga ke persoalan tentang perlindungan lingkungan hidup. 4. serta hujan badai. Masyarakat lokallah yang terkena bencana. Pintu dibuka lebar bagi munculnya inisiatif dari tingkat akar rumput berkenaan dengan perkara yang bukan sekadar soal perlindungan air dan padang rumput. Di Mongolia. dan manajemen bencana. zud. pencegahan dan pengurangan risiko bencana alam. Pemanfaatan kearifan lokal pada masyarakat pedalaman dalam upaya pengurangan risiko bencana adalah metode yang terbukti hemat biaya dan efisien. dan peralihan ke ekonomi pasar. penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan. 1. sistem manajemen bencana yang akan diterapkan di sana harus terlebih dahulu disesuaikan dengan kondisi lokal. Sewaktu terjadi bencana. serta kebakaran hutan dan stepa. Pelajaran yang Dapat Dipetik Ada beberapa pelajaran penting yang dapat dipetik dari masyarakat Shiver berkenaan dengan kearifan lokal untuk mengurangi bencana. Ciri khas bencana alam di sana: durasi cukup lama. Tujuan utama masyarakat penggembala adalah penggunaan ladang penggembalaan secara rasional. Manajemen bencana tidak boleh hanya terpaku pada mengupayakan ladang penggembalaan dan ladang jerami yang mencukupi agar para penggembala dapat melewati musim dingin dengan tenang. 41 . dan kebakaran stepa.Di wilayah pedalaman. Praktik kearifan lokal menjadi penting karena adanya kebutuhan untuk memobilisasi tindakan manajemen bencana di tingkat akar rumput. kekeringan. kebakaran hutan dan stepa. 2.

42 . Persepsi masyarakat tentang kerentanan diri mereka terhadap bencana alam haruslah diubah. Di samping itu. terutama justru di kalangan masyarakat miskin. inisiatif dari akar rumput harus didukung. Lembaga-lembaga negara perlu menerapkan langkah-langkah yang komprehensif dengan tujuan meningkatkan kesadaran penduduk tentang pentingnya upaya pengurangan risiko bencana.7. Pemahaman mereka tentang manajemen bencana sebagai upaya bantuan pasca-bencana belaka perlu diperluas hingga mencakup pula upaya pengurangan risiko dan pencegahan bencana.

Chitwan. disingkat PDMP) mulai dilaksanakan pada tahun 2000 di delapan kampung di empat distrik Nepal. Kampung-kampung itu antara lain Bhandara dan Kathar di Distrik Chitwan. akibat pengendapan lumpur. Penggundulan hutan secara hebat dan praktik pertanian yang 43 . Longsor dapat terjadi di hilir (aliran sungai) atau di hulu (pegunungan). Tujuan proyek ini adalah mendorong para pengambil kebijakan agar memasukkan unsur-unsur kearifan lokal yang amat kaya ke dalam upaya penanggulangan bencana negara itu. Kisah/Peristiwa Tanah longsor biasa terjadi di banyak tempat di Nepal. dan Kiran Amatya Abstrak Nepal rentan terhadap beberapa bencana alam. karena beberapa faktor antara lain topografi wilayahnya. Beberapa kondisi dan perilaku masyarakat turut memperburuk keadaan. dan Tanahu di Nepal. Kahule dan Oreste di Distrik Syangja. kebakaran. Sebagai contoh. dan hemat biaya. gempa bumi. banyak masyarakat terpencil di pedalaman memanfaatkan pelbagai macam praktik tradisional mitigasi dan persiapan untuk mengurangi dampak negatif bencana terhadap nyawa dan harta milik mereka. Akibatnya. semakin banyaknya pengambilan bebatuan dan pasir dari dasar sungai dalam skala besar-besaran telah memperparah masalah. Risti dan Kyamin di Distrik Tanahu. banjir. Chitwan. Latar Belakang Program Penanggulangan Bencana Partisipatif (Participatory Disaster Management Program. antara lain tanah longsor. Nepal Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana: Membangun Upaya untuk Saling Melengkapi antara Pengetahuan Masyarakat dan Pengetahuan Para Ahli Man B. dan kekeringan. Memangkas dan menebang pohon pada waktu yang tidak tepat juga merupakan faktor yang menambah persoalan. Bhupendra Gauchan. Youba Raj Luintel. Syangja. Meningginya dasar sungai di hilir. Proyek Program Penanggulangan Bencana Partisipatif yang didukung oleh UNDP memberikan perhatian banyak pada teknik-teknik mitigasi tanah longsor sebagaimana dipraktikkan oleh masyarakat di distrik Bardiya. Program ini. dan pesatnya pertumbuhan penduduk. bertujuan memadukan pengetahuan modern dan pengetahuan lokal dalam upaya mitigasi dan kesiagaan terhadap bencana. berkelanjutan. Penelitian yang mendalam dan sistematis tentang kearifan lokal dalam penanggulangan bencana adalah hal yang langka di Nepal. Syangja. dapat juga mengakibatkan tanah longsor. dengan sasaran membangun kapasitas masyarakat secara partisipatif. Thapa. dan Tanahu. serta Guleria dan Padnaha di Distrik Bardiya. pembangunan yang tak terencana. yang didasari oleh pengalaman sebelumnya dalam program Peningkatan Kapasitas Penanggulangan Bencana di Nepal. Kurangnya manajemen kehutanan yang baik juga berperan menimbulkan longsor.Distrik Bardiya.

penduduk setempat mengamati tanda-tanda alam yang memungkinkan mereka berjaga-jaga sebelum terjadi bencana. Di samping itu. Praktik khoria (peladangan tebang-dan-bakar) juga mempercepat proses menipisnya sumber daya hutan. ada kaitan erat antara tanah longsor dan banjir. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa pepohonan kecil dan semak dapat mencegah hilangnya humus dan tidak berisiko tumbang jika terjadi hujan lebat. Dengan meletakkan bebatuan dan lumpur pada tepi terasering. dll. Dandhelo terjadi bukan hanya karena kelalaian manusia pada musim kering. tetapi juga menambah pendapatan bagi petani. Akar bambu juga melebar dan saling bertautan dengan akar bambu lainnya sehingga membentuk suatu sistem penguat tanah alami. semak.) yang tidak ramah terhadap lingkungan alam sekitar. Memperbaiki terasering Di daerah yang kurang subur. juga untuk mempermudah cocok tanam. semak. dan rerumputan di kelokan sungai dan di area yang curam dapat melindungi lahan pertanian terhadap risiko erosi dan tanah longsor. Oleh sebab itu. air yang tertahan di teras dapat mengalir melalui pojok itu. untuk mengendalikan larinya air. orang menanam bambu di parit. bahan bakar dan kandang bagi hewan ternak. Dengan cara itu. kadang orang terpaksa bercocok tanam di tanah yang curam. Para petani beranggapan bahwa pepohonan kecil. selama ratusan tahun para petani berhasil membangun terasering untuk mengurangi laju aliran air dan hilangnya lapisan humus. Sistem penanaman Daripada menanam pepohonan besar. Seringkali tanah semacam itu rentan terhadap bencana tanah longsor. Mereka juga menanam amriso (bouquet grass dalam bahasa Inggrisnya) dan babiyo (eulaliopsis) untuk melindungi pematang terasering. Dandhelo (kebakaran hutan) mempercepat menipisnya sumber daya hutan. bukan pada tepinya. erosi parit di punggung bukit dapat menimbulkan tanah longsor. tanah longsor menyebabkan banjir. atau rumput-rumputan di dan sekitar perkampungan. Petani di Terai menanam tumbuhan seperti itu di lahan pinggiran yang tidak cocok untuk ditanami. cekungan. Tetapi.buruk ikut memperburuk keadaan. Semua tanaman ini mengakar secara dalam dan melebar sehingga memperkuat tanah. Selain itu. 44 . melainkan juga karena dilakukan secara sengaja akibat kepercayaan pada mitos bahwa pembakaran hutan membantu proses regenerasi tumbuhan. Kearifan Lokal Masyarakat setempat memiliki serangkaian langkah tradisional untuk menanggulangi tanah longsor. masyarakat di perbukitan lebih suka menanam pepohonan kecil. Praktik penanaman dengan cara demikian itu tidak hanya memberikan makanan. Terakhir. dalam banyak kasus. dan bertambahnya pembangunan jalan (rel. Paritparit alam di punggung bukit terbentuk karena penggundulan rumput oleh ternak secara berlebihan. sistem drainase natural yang kurang tepat. aspal. Demikian juga. Mereka juga berhasil membangun dan mengelola terasering dengan sedikit kemiringan pada pojoknya.

Karena mengangkut batu-batu besar bukanlah pekerjaan mudah. Akar rumput berfungsi menjaga ikatan tanah dan mengurangi laju aliran air hujan maupun air irigasi. petani mendirikan struktur semacam ini pada tepian sungai yang arusnya deras. menanam rumput membantu mengendalikan hilangnya lapisan humus dan mengurangi kemungkinan longsornya dinding terasering. Yang sering digunakan sebagai pagar hidup antara lain sajiwan. Struktur pagar terdiri dari bebatuan besar yang ditumpangkan di atas galian pondasi. Di daerah perbukitan. tanaman berakar dalam ini tidak berebut nutrisi dan udara dengan tanaman pangan seperti gandum. Daun-daunnya yang mati juga berfungsi sebagai zat organik yang menyuburkan tanah. Pagar hidup. kutmiro. phaledo. dabdabe. Pembuatan pagar Membangun pagar adalah salah satu cara yang paling populer untuk melindungi tanaman dari serangan binatang hama dan memungkinkan tanaman dan rerumputan tumbuh pada tanah pinggiran. Pagar semacam ini efektif dalam meminimalkan pengaruh banjir. Tanaman-tanaman ini berakar dalam dan merontokkan daun pada musim dingin sehingga menyediakan sinar matahari bagi tanaman musiman lainnya. dan ambruknya lereng. orang-orang biasanya bergotong royong untuk membangunnya. gindari. Biasanya. Di area dekat lahan pertanian. dan simali. khirro.tanah di lahan curam diubah menjadi lahan pertanian terasering (Gambar 1). teknik tersebut berhasil meminimalkan hilangnya lapisan humus dan mengurangi laju aliran air yang pada akhirnya mengurangi kemungkinan terjadinya longsor. cara ini efektif karena mampu membelokkan aliran sungai dari lahan pertanian. pengikisan tanah. Lebih jauh lagi. siris. dan tanki. Beberapa jenis tanaman pakan hewan juga kadang digunakan (secara tersendiri atau dikombinasikan dengan pepohonan pagar) semisal badhar. Di samping itu. para petani juga membiarkan rerumputan tumbuh di dinding terasering. selain juga dapat mengalihkan banjir dan menjaga agar binatang liar tidak masuk ke dalam lahan pertanian. Pagar semacam ini merupakan alternatif jikalau bebatuan besar sukar didapatkan di sana. Meskipun mendirikan pagar batu merupakan pekerjaan yang mahal dan memerlukan perawatan teratur. Sebagai akibatnya. jika bebatuan mudah didapat. Banyak petani di Terai dan di perkampungan perbukitan lainnya mempraktikkan pembuatan pagar hidup. petani menanam bambu atau tumbuhan lain di samping dinding itu supaya strukturnya lebih kokoh dan awet. koiralo. Dua jenis pagar yang umum ditemui adalah dinding pagar kering dan pagar hidup. 45 . Walau tujuan utamanya untuk memperluas area pertanian. di atas bebatuan kecil yang diletakkan di atas permukaan tanah. longsor. Dinding pagar kering. Tanaman dewasa dan rerumputan mencegah pengikisan tanah dan longsor. pohon neem. petani mendirikan dinding batu pada sisi lahan pertanian atau di dekat aliran sungai dan parit.

pengetahuan itu mempunyai manfaat fungsional dalam masyarakat yang berkepentingan. literatur tentang kearifan lokal bagi persiapan dan mitigasi bencana amatlah jarang dan tercerai-berai. dan sebagainya. kelompok-kelompok masyarakat juga memiliki kemampuan untuk mengenai tanda-tanda bahaya jika akan terjadi longsor. Lebih jauh lagi. menjadi jelaslah bahwa tidak semua kelompok masyarakat memiliki khazanah pengetahuan yang sama luasnya mengenai mitigasi bencana— sebagaimana bisa diduga. Masyarakat yang tinggi kesadarannya akan solidaritas dan harmoni.Tumpangsari Petani di perbukitan dan di Terai meningkatkan perolehan tanaman pangan dengan cara tumpangsari. jika tampak rekahan baru di permukaan tanah. Pengetahuan lokal itu tetap bertahan karena dua sebab: Pertama. bertekstur pegunungan. Kedua. Selain bermacam-macam teknik mitigasi tersebut. Pengalaman petani selama bertahun-tahun membuktikan bahwa lahan yang terbuka rentan terhadap pengikisan oleh angin. bisa dikatakan tidak ada. Setelah hampir setahun lamanya melakukan observasi dan berinteraksi dengan penduduk di delapan perkampungan. memiliki pengetahuan lebih banyak tentang mitigasi bencana. Salah satu tujuan utama intensifikasi ini adalah meningkatkan dan meragamkan panen. 46 . ada kemungkinan itu pertanda akan terjadinya longsor dalam waktu dekat. Beberapa laporan tersedia tentang nilai kearifan lokal bagi pengelolaan sumber daya alam di Nepal. Berubahnya posisi pohon secara vertikal ataupun horizontal juga menandakan terjadinya longsor di daerah itu atau di sekitarnya. Semakin mandiri dan relatif endogen suatu kelompok. Sekaligus juga cara itu efektif untuk mengurangi hilangnya lapisan humus karena menahan laju peluruhan permukaan tanah. Pelajaran yang Dapat Dipetik Nepal adalah sebuah negeri yang kecil. seperti Gurung dan Tharu. Misalnya. gandum dengan kentang. finger millet dengan masyang (black gram). sehingga mereka dapat mempersiapkan diri sebelum bencana terjadi. air dan longsor. semakin besarlah kemungkinan bahwa kelompok itu memiliki khazanah kearifan lokal yang kaya. Pancaran air di tempat baru juga merupakan pertanda lainnya. Penelitian yang mendalam dan sistematis tentang mitigasi bencana pada umumnya dan kearifan lokal pada khususnya. dan sangat rentan terhadap bencana. baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat masyarakat. Menanam satu jenis tanaman pada satu waktu berarti tidak membiarkan lahan pertanian menganggur dan terbuka. Pengetahuan semacam itu lebih kental di dalam kelompok suku yang homogen daripada dalam kelompok-kelompok pendatang (seperti Brahmin dan Chhetri di distrik Terai). Kapasitas negara itu untuk menangani banjir dan bencana alam sangatlah lemah. Di perbukitan mereka menanam jagung dengan kedelai. Namun. telaah atas literatur yang ada memperlihatkan bahwa praktik dan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat setempat ternyata tidak diajarkan di sekolah dan juga tidak dicatat. pengetahuan itu secara dinamis disampaikan dari generasi ke generasi melalui tradisi lisan dan praktik.

S. D. mereka mempunyai strategi sendiri dalam menghadapi bencana yang harus mereka hadapi.H. Honolulu.P.1990. - - - - - 47 . Gurung. D.J. Research Report Series.” an unpublished graduate diploma essay. Farmers’ traditional wisdom: where does it stand within the present agricultural research system of Nepal? Pakhribas Agricultural Center Occasional Paper No.Fisher. Jackson.1991. pp.1989. Navin K. “Indigenous Forest Management Systems in Nepal.1990. Sc. sistematis. and P.G. 18.Thapa. Kathmandu.D.” an unpublished PhD thesis. Karena mereka hidup di tebing atau lembah yang terpencil dan sulit dijangkau. “Increase in tree cover on private farm land in Central Nepal.S. 17. Gilmour. and Man B. Telaah yang mendetail. Honolulu.A.Bagaimanapun juga.J. John J. East-West Center. Rai.” Environment and Policy Institute (EAPI) Working Paper No. 7-15. “An Investigation of an Indigenous Knowledge System and Management Practices of Tree Fodder Resources in the Middle Hills of Nepal.Rood.” an unpublished M. Indigenous Systems of Common Property Forest Management in Nepal.“Conservation practices at an upper-elevation village of West Nepal. Australian National University.J.1989. semua kelompok terancam bahaya makin terkikisnya kearifan lokal antara lain karena pengaruh modernisasi. Dhankuta. R. and R. menyusun. sangatlah perlu dilakukan upaya untuk mengumpulkan.” Mountain Research and Development. HMG Ministry of Agriculture and Winrock International. Metz. Oleh sebab itu. 9(4). 381-391.1989. and D. tetapi juga berkelanjutan dan selaras dengan alam dan budaya. pp. E. Gautam. 4. Perkawinan atau penyatuan kearifan lokal ini dengan pengetahuan ilmiah modern akan dapat meningkatkan kapasitas kelompok masyarakat dalam kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Gilmour. Michigan State University. K.“Indigenous Management of Community Forest Resources in Middle Hills of Nepal: A Case Study. Pencatatan pengetahuan semacam itu akan tampak jika saja ada upaya untuk menjadikan prakarsa peningkatan kapasitas penanggulangan bencana dalam kelompok masyarakat bukan saja hemat biaya. Forest Resources and Indigenous Management in Nepal. Villagers.P. A. Gilmour. Rusten.” Mountain Research and Development. W.A. Australian National University.1989. Indigenous Pasture Management Systems in High Altitude Nepal: A Review. Daftar Pustaka Carter. East-West Center.A. dan mensistematisasikan khazanah kearifan lokal yang amat beragam ini sebelum lenyap ditelan waktu. Forests and Foresters: The Philosophy. 10(1).1991. Michigan. dan intensif tentang kearifan lokal dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif dan penghargaan mengenai peran kearifan lokal demi peningkatan kualitas dan keamanan hidup penduduk. thesis.1992. Chand.1991. B. Fisher. Environment and Policy Institute (EAPI) Working Paper No. Masyarakat memiliki khazanah pengetahuan yang amat luas dan beragam tentang mitigasi bencana berdasarkan kearifan lokal. Kathmandu: Sahayogi Press. Process and Practice of Community Forestry in Nepal.

Sistem kasta dalam agama Hindu mempengaruhi hubungan sosioekonomis secara cukup kuat. Nepal. 2007. Seperti lazim di seluruh Himalaya. pemahaman atas praktik dan kearifan lokal merupakan prasyarat jika hendak mengintegrasikan konteks dan kebutuhan lokal ke dalam program PRB. and Sarlahi di Terai Timur. Proyek PRB niscaya akan memetik manfaat dengan menggabungkan pengetahuan ilmiah eksternal dan kearifan lokal demi terciptanya solusi-solusi yang inovatif dan berkelanjutan. Local Knowledge on Disaster Preparedness in the Eastern Terai of Nepal” dan “Herders of Chitral. Pakistan” Kathmandu: ICIMOD. Pakistan. yang mempengaruhi kerentanan mereka terhadap risiko bencana alam serta cara mereka menanggapinya. sebaliknya. dan pengetahuan ini berperan menyelamatkan jiwa dan mengurangi kerugian harta benda. Mahottari. sebagian besar kelompok masyarakat di Terai tergolong konservatif. Kearifan lokal juga makin terkikis berkat perubahan pesat dalam konteks lingkungan hidup dan sosio-ekonomi. Pakistan. Studi kasus ini menunjukkan perlunya telaah lebih lanjut atas praktik dan kearifan lokal untuk memperkuat praktik lokal yang baik (yang berkelanjutan dan seimbang) dan. Pada akhirnya. Segelintir orang berkasta tinggi di kampung 48 . yang cenderung hanya memperhatikan pengetahuan ilmiah dari luar. kearifan lokal ini sering dipandang sebelah mata saja oleh pihak-pihak luar. Abstrak Kearifan lokal mengenai kesiapsiagaan menghadapi banjir telah dicatat dalam dua studi kasus yang dilakukan di beberapa masyarakat pedalaman di Terai Timur. serta di distrik Chitral di Provinsi Tapal Batas Barat Laut. Rautahat. Terai Timur Diibandingkan dengan masyarakat lain di Nepal. dan berkomunikasi tentang risiko-risiko banjir. mengantisipasi. mengurangi praktik yang tidak berkelanjutan. Nepal. The Lost Messengers? Local knowledge on Disaster Preparedness in Chitral District. Contoh-contoh yang diteliti memperlihatkan bahwa dalam perjalanan waktu pada umumnya masyarakat mengembangkan banyak praktik dan kearifan lokal mengenai kesiapsiagaan menghadapi banjir. baik nasional maupun internasional. Walau demikian. dan di Distrik Chitral. kedua masyarakat menghadapi peruahan pesat dalam konteks lingkungan hidup dan sosioekonomi. beradaptasi dengan. Informasi dikumpulkan mengenai kemampuan orang untuk mengamati.Terai Timur di Nepal dan Distrik Chitral di Pakistan Pengetahuan Lokal tentang Kesiapsiagaan dalam Menghadapi Banjir: Contohcontoh dari Nepal dan Pakistan Julie Dekens Diambil dan diringkas dari “The Snake and the River Don’t Run Straight. Kelompok-kelompok masyarakat pedalaman dalam studi kasus ini kerap menggabungkan pertanian mandiri dan pekerjaan di luar ladang. Latar belakang Studi kasus dilakukan di distrik Dhanusa.

Kondisi geografis di Chitral secara umum tidak menawarkan banyak pilihan yang aman untuk hidup. Lereng pegunungan banyak yang curam. banjir merupakan peristiwa yang selalu berulang hampir setiap tahun. Para petani menanam gandum. musim dingin yang agak agak lembut dan kering. Perbedaan besar dalam hal kerentanan tampak di antara kasta-kasta dan tingkat sosio-ekonomis berbeda. tetapi kerusakan yang menimpa lahan pertanian dan harta benda di rumah warga cukup tinggi. Pada musim muson ini hujan yang deras atau berlangsung agak lama dapat menimbulkan banjir di tanah yang sudah jenuh itu. kerentanan gender lebih mencolok di wilayah yang diteliti karena perempuan dalam kebudayaan Maithali. pohon buah-buahan. yang dominan di perkampungan. Pada umumnya. Daerah lembah sungai terkena banjir berulang-ulang sehingga sama-sama tidak cocok untuk permukiman. di antara kalangan kelompok umur yang berbeda. Hujan terkonsentrasi pada bulan Juni hingga Agustus. Angka korban tewas akibat banjir memang tergolong rendah. terutama tinggal dan bekerja di rumah. sehingga amat berdampak pula pada penghidupan banyak orang karena sebagian besar warga hidup dari pertanian. mereka menggunakan kerbau. dan sayuran. Untuk membajak tanah.5% wilayah Chitral cocok untuk pertanian. orang-orang yang miskin dan berkasta rendah seringkali menggantungkan hidup mereka pada orang berkasta tinggi karena tidak tersedia jalan untuk memperoleh kekayaan. hujan lebat di pegunungan dapat memicu terjadinya banjir bandang. dengan akibat besarnya perbedaan curah hujan antarmusim. Kearifan Lokal 49 . Orang sering dihadapkan pada situasi di mana mereka harus memilih tempat yang paling kecil risikonya.kebanyakan adalah tuan tanah atau rentenir. Kisah/Peristiwa Dalam kedua studi kasus. Bilah-bilah itu kemudian diubah menjadi oasis ketika orang membangun saluran irigasi. seiring bertambahnya migrasi kaum lelaki. Terlebih lagi. semakin banyak lelaki yang bekerja di luar kampung atau bahkan luar negeri sehingga lebih banyak perempuan kini harus juga bekerja di luar rumah. Terai Timur di Nepal beriklim muson yang ditandai dengan musim panas yang panas dan lembap. Orang dapat dengan mudah menarik garis batas antara banjir tahunan normal dan banjir luar biasa yang lebih merusak tetapi dengan siklus kejadian lebih panjang. Sama halnya. tempat itu adalah di sisi pada ujung bilah pegunungan. Tanah yang mengandalkan irigasi air hujan ini sangatlah subur karena perubahan konstan sedimen yang terkikis. tandus. Distrik Chitral Kesenjangan sosio-ekonomis di antara penduduk Chitral tidaklah semencolok di Nepal. dan tidak cocok untuk permukiman. Namun. Maka. dan juga di dalam rumah tangga. Nyaris hanya 3. Yang unik dalam kasus ini adalah lingkungan fisik masyarakat pegunungan yang terpencil itu. terutama untuk memenuhi kebutuhan sendiri.

Mereka juga dapat mengidentifikasi tempat-tempat mana saja yang aman bagi manusia dan ternak peliharaan. rumah. atau tidak membangun. Nepal. penyelenggaraan sistem keuangan mikro. serta langkahlangkah yang diambil untuk mengalihkan aliran sungai. peraturan tentang menggembalakan ternak dan penebangan pohon. memperkuat dan memperkokoh dinding dengan timbunan lumpur. negara. (Gambar 1) Pengetahuan non-teknis: Contoh strategi adaptasi yang bersifat nonteknis antara lain tindakan yang diambil berkaitan dengan mobilitas ruang dan sosial (mis. dan pengalaman masa lalu tentang banjir. adanya ikatan erat dengan lingkungan hidup agar dapat bertahan hidup. Salah satu contoh berkaitan dengan kapasitas orang untuk mengamati lingkungan sekitarnya di Chitral. jika tiba saatnya untuk memasukkan kayu bakar dan makanan lebih duu. pagar bambu. aspek-aspek berikut ini: Pengetahuan sejarah dan lingkungan: Masyarakat setempat memiliki pengetahuan tentang sejarah dan sifat banjir di daerah merka sendiri dengan mengamati dan mengalami sendiri peristiwa banjir. di Terai Timur. dan juga manusia dari air banjir. makanan. dan transportasi.Kearifan lokal yang dimanfaatkan oleh masyarakat yang berperan meningkatkan kapasitas mereka untuk mengurangi risiko bencana mencakup. singkirkan harta milik berharga. Akibatnya. kemampuan untuk mengandalkan dukungan sanak saudara dan tetangga. keamanan pangan. atau menanam sayuran - - - - 50 . perubahan awan). pengelolaan sumber daya alam (mis.). reorganisasi pola tanam dan pengolahan tanah. strategi-strategi diversifikasi usaha). Orang sering dapat mengantisipasi banjir dengan cara mengamati tanda-tanda peringatan alam (misalnya perubahan warna air. yakni kemampuan untuk membaca lingkungan alam. dan menilai didasari oleh pelbagai transaksi. dengan dasar pengamatan sehari-hari atas lingkungan di sekitar mereka. dan karenanya membuat interpretasi tentang di mana tempat membangun. penerapan strategi baru bercocok tanam semisal menanam di sepanjang sungai. persepsi. Pengetahuan tentang proyek pembangunan: Kepercayaan orang tentang akan adanya pihak-pihak dari daerah. Sebagai contoh. sekurang-kurangnya. gudang atas. Pengetahuan organisasional: Kemampuan merencanakan. dan akumulasi pemahaman tentang lingkungan hidup yang disampaikan dari satu generasi ke generasi lainnya. kantor. mengawasi. ternak kecil. salah satu strategi beradaptasi dengan banjir bandang diperoleh dengan dasar pengetahuan lokal. Pengetahuan teknis: Contoh strategi teknis sebagai upaya beradaptasi dengan banjir antara lain langkah-langkah yang berkaitan dengan pembangunan rumah. membangun gudang penyimpanan makanan. Di sana. dsb. air minum. dsb. lalu tinggalkan rumah). atau internasional yang akan mengulurkan tangan ketika mereka mengalami bencana akan berpengaruh pada bagaimana orang akan menanggapi keterlibatan pihak-pihak itu. kepercayaan. atau membangun lantai untuk menghindarkan barang-barang kecil. serta pengaturan waktu (misalnya. orang menerapkan berbagai strategi sederhana untuk mendirikan rumah (misalnya meninggikan undakan. langkah perlindungan dinding. permukiman di Chitral didirikan di daerah yang relatif aman kendati risiko sangat tinggi akibat banjir bandang dan bencana alam lainnya di distrik itu. Ini penting karena pengalaman dan pemahaman masa lalu tentang banjir pasti akan mempengaruhi pengalaman dan pemahaman di masa kini.

seperti halnya di wilayah lain di Himalaya. di samping juga kemampuan meramalkan berdasarkan konstelasi bintang. Namun. Tanda-tanda itu semisal warna. Dengan demikian. Strategi komunikasi: Ini mencakup komunikasi secara lisan maupun tertulis tentang peristiwa banjir di masa lampau maupun tentang yang akan datang. Dalam studi kasus ini. dan ciri-ciri air sungai pegunungan. tidak ada korban jiwa satu pun karena penduduk berhasil menafsirkan perilaku aliran sungai sebagai pertanda awal. Beberapa pemimpin adat disegani dan memiliki keterampilan berkomunikasi yang membuat mereka mampu berbicara di depan publik dan menyampaikan pesan peringatan (misalnya “harap Anda meninggalkan rumah sekarang juga!”) yang akan dipercayai dan diikuti semua penduduk. penduduk setempat telah mampu mempelajari tanda-tanda awal akan terjadinya banjir bandang yang merusak. menyampaikan pengetahuan dan pelajaran yang dipetik dari peristiwa banjir di masa lalu). Pada tahun 2005. GLOF). Dengan demikian. Masyarakat di Chitral juga telah menerapkan strategi-strategi untuk meningkatkan ketahanan mereka terhadap serangan banjir bandang. yang bersifat keseharian dan lokal. masyarakat migran mempunyai pengetahuan lebih sedikit daripada masyarakat yang telah tinggal di suatu daerah secara turun-temurun. tentang lingkungan sekitar mereka. kepercayaan dan sikap batin terhadap perubahan sehingga mampu belajar dari kesalahan masa lampau dan dari peristiwa bencana banjir. dan seisi kampung berhasil menyelamatkan diri tepat pada waktunya (Gambar 2). Tingkat pengetahuan lokal juga bergantung pada sifat suatu masyarakat (misalnya. setiap hari mengamati keadaan alam sekitar. kelompokkelompok masyarakat tidak mencatat sejarah dalam buku. menceritakan dongeng. kelompok masyarakat nomad bisa jadi mempunyai pengetahuan lokal tentang lebih dari satu daerah saja). keterampilan yang berguna dalam pengerjaan meninggikan lantai demi menghindari banjir seperti yang ditemukan di Terai. teriakan. Kendati demikian. lari menuruni bukit). Nepal. serta terbangunnya relasi-relasi institusional dengan pihak di luar lingkaran masyarakat setempat). Contohnya antara lain masyarakat nelayan yang setiap hari hidup berdekatan dengan air. Orang-orang yang dianggap ahli dalam kelompok masyarakat dan beberapa kelompok sosial tertentu juga memiliki pengetahuan spesialis lokal. yakni mereka memiliki keahlian penting tertentu yang tidak diketahui semua orang dan yang dapat bermanfaat bagi kesiapsiagaan menghadapi bencana. sebanyak 106 rumah di kampung Brep hancur karena Luapan Banjir Danau Es (Glacial Lake Outburst Flood. tak aneh jika mereka mahir berenang dan peka terhadap perubahan air. dan internalisasi praktik-praktik tertentu secara turuntemurun. kisah masa lalu disampaikan secara lisan oleh orang-orang tua dengan cara bercerita. Penyebaran pengetahuan ini berlangsung pada dua tingkatan: di antara anggota masyarakat (mis. Pengetahuan tentang kesiapsiagaan menghadapi banjir diwariskan secara lisan dengan cara belajar sambil melakukan (learning by doing). Semua orang mempunyai pengetahuannya sendiri.- di tepian sungai untuk mengurangi dampak banjir. Sebagai contoh. serta adanya sistem peringatan dini (misalnya siulan. Kelompok lainnya lagi mungkin memiliki pengetahuan tentang perkayuan dan anyaman bambu. peran para sesepuh amat penting karena merekalah yang kerap kali menjadi ingatan sosial bagi 51 . peringatan dini tentang akan datangnya banjir) dan di antara generasi (mis. bau.

kegiatan dan upacara ibadat. Pelajaran yang Dapat Dipetik Secara keseluruhan. peristiwa masa lampau. membentuk pengetahuan bersama. berlari menuruni bukit sambil berteriak) sebagai peristiwa katarsis bagi seluruh kelompok masyarakat. ritual. lagu dan puisi merupakan bagian penting dalam kebudayaan Nepali dan Terai. peribahasa. Pakistan. tapi tidak selalu. termasuk kelompok-kelompok yang paling rentan dan paling kurang beruntung. termasuk bencana banjir. Para penyanyi dan pengarang lagu setempat adalah tokoh kunci pembawa pengetahuan dan agen perubahan yang memainkan peran vital dalam pembentukan kesadaran kelompok masyarakat. Ibadat. salah satu etnik minoritas di Distrik Chitral. Salah satu contohnya adalah peribahasa: “Ular dan sungai tidak pernah berjalan lurus”. lagu. bisa dibandingkan dengan gerak ular. ingatan. Nepal. lagu dan peribahasa menjadi gudang simpanan (atau bisa juga dilihat sebagai relay. sesaji. dipercaya. Pada masyarakat yang banyak mengandalkan tradisi lisan. Sebagai contoh.masyarakat atau kelompok tertentu. Lagu dan peribahasa juga dapat membantu membangun kesadaran berkomunitas dan solidaritas di dalam kampung dan/atau dalam beberapa kelompok yang terkait. menyelenggarakan upacara bersama yang disebut lavak natek yang agaknya menstimulasikan unsur-unsur peristiwa banjir melalui gerakgerik dan adegan simbolik (mis. dan membagikan pemahaman yang sama tentang perubahan sehubungan dengan peristiwa banjir yang kadang sering kadang jarang. penerus) atas peristiwa banjir di masa lampau dan dapat membantu merangsang pembelajaran. setiap saat bisa berubah arah dan mengubah keadaan. memiliki kelebihan-kelebihan berikut jika dibandingkan dengan kebanyakan strategi yang datang dari luar dan bersifat dari-atas-ke-bawah: Strategi hemat biaya. Sebagai contoh. masyarakat Kalash. dan kreativitas penduduk (Gambar 3). dua studi kasus itu membuktikan bahwa praktik masyarakat asli seringkali. biasanya. Lagu dan peribahasa juga berperan dalam penyampaian strategi penanganan bencana. syair. dan upacara tertentu membantu mereka dalam memahami dan mengingat kejadian banjir di masa lampau serta meredakan kegelisahan akan bahaya bencana di masa mendatang. untuk mampu mengambil tindakan dan bukan sekadar mengharapkan bantuan dari luar saja 52 . Pada beberapa kasus. dan dimengerti (dihayati) Dimiliki oleh kelompok masyarakat Tanggap terhadap budaya Pengawasan berlangsung terus-menerus Keandalannya teruji oleh waktu Selaras dengan konteks dan kebutuhan setempat Memberdayakan masyarakat. Bentuk sungai di Terai Timur. menggunakan sumber daya dan keterampilan lokal Mudah diterima. yang merujuk pada sifat sungai di daerah itu: saluran-saluran air sangat tidak stabil. sementara lainnya menyebut soal banjir di samping masalah-masalah lain yang dihadapi penduduk. dan sebagainya. ditanamkan ke dalam ingatan melalui cerita dongeng. Beberapa lagu yang dikumpulkan dalam studi kasus di Nepal seluruhnya bercerita tentang banjir.

memungkinkan organisasi-organisasi pelaksana untuk menciptakan solusi-solusi yang inovatif dan berkesinambungan dalam upaya mengurangi risiko bencana. Kearifan lokal semakin tidak dipercaya di dalam kelompok masyarakat sendiri.- Bersifat holistik. tidak relevan. Kearifan lokal sering dimonopoli oleh kelompok yang dominan di dalam masyarakat 4. merupakan unsur penting yang membantu pemahaman kearifan lokal - Banyak keterbatasan dan hambatan bagi digunakannya kearifan lokal dalam penanganan bencana. khususnya di mata rezim yang otoriter 8. Oleh sebab itu. mereka tidak mengerti dan tidak mengakui konteks dan kebutuhan setempat). Dokumentasi dan pemanfaatan kearifan lokal dapat disalahgunakan oleh pihak-pihak luar untuk menguasai masyarakat tersebut dan sumber daya yang mereka miliki Menambah data dan teknologi belaka tidak akan membantu meningkatkan kehidupan masyarakat jika tidak dibarengi pemahaman atas konteks dan kebutuhan setempat. penduduk setempat biasanya telah mengembangkan cukup banyak praktik dan kearifan lokal mengenai kesiapsiagaan menghadapi banjir yang berperan memperbesar peluang selamat dan mengurangi kerugian harta benda Relasi sosial. digunakan. menyeluruh (mempertimbangkan hal-hal dan prioritas lain yang dapat mempengaruhi kerentanan kelompok masyarakat. khususnya sistem kasta. kepercayaan. kearifan lokal. kiranya dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Dalam perjalanan waktu. Contoh penerapan kearifan lokal dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana antara lain sebagai berikut: 53 . atau tidak bisa diketahui lagi seiring perjalanan waktu 6. dan ditiru 3. diuji. Seringkali campur tangan dari pihak luar mengabaikan kearifan lokal (dalam arti. Beberapa kebiasaan. atau individu) Berdasarkan dua studi kasus di atas. Dengan cara itu sesungguhnya pihak-pihak luar itu sedang menciptakan kerentanan dan bencana baru akibat tidak adanya gambaran yang menyeluruh dan analisis yang mendalam tentang konteks kerentanan setempat. Masih dominan kepercayaan bahwa pengetahuan ilmiah “lebih tinggi” daripada kearifan lokal 2. Akibat perubahan yang cepat. Bahaya dan bencana alam telah dianggap sebagai persoalan yang berkaitan dengan ketahanan dan keamanan nasional. Kearifan lokal sulit untuk diidentifikasi. jika dikombinasikan dengan pengetahuan ilmiah. digeneralisasi. Fokus terhadap kearifan lokal dapat dianggap sebagai ancaman bagi kepentingan nasional dan struktur politik. sehingga upaya desentralisasi dalam bidang ini menjadi semakin sulit 9. dan strategi adaptasi lokal tidak berkelanjutan dan/atau tidak berimbang secara sosial 5. terutama di kalangan generasi muda 7. dinilai. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut: 1. praktik dan kearifan lokal semakin menjadi tidak pas. rumah tangga.

Menyesuaikan strategi komunikasi dengan pemahaman dan persepsi orang-orang setempat. Seberapa jauh praktik dan kearifan lokal dapat berperan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana tentulah tidak hitam putih. bagaimana menghentikan praktik yang tidak berkelanjutan. Fokus pada praktik dan kearifan lokal membantu mengidentifikasikan dan memanfaatkan kekuatan yang sudah dimiliki masyarakat dan institusi-institusi setempat (daripada membuat institusi baru yang sejenis) 8. dan hubungan kekuasaan 6. dan strategi yang baru demi perbaikan penanganan bencana dan demi penguatan mekanisme lokal yang relevan dan berkelanjutan untuk menangani bencana 9. Memahami dan mempertimbangkan persepsi masyarakat setempat mengenai bahaya alam yang mempengaruhi bagaimana orang menilai dan bertindak terhadap bahaya. risiko. metode. Memahami dan mempertimbangkan perubahan dalam kerentanan penduduk terhadap bencana alam seiring berjalannya waktu 7. memahami. Mempertimbangkan nasihat dari penduduk setempat tentang tempat-tempat yang aman. mana strategi penanganan yang berkelanjutan. dan pendataan lainnya untuk verifikasi informasi 2. tokoh elite setempat. dan bagaimana mengajak orang untuk turut serta dalam kegiatan pengurangan risiko bencana. lokasi pembangunan bangunan dan jalan—karena kearifan lokal dapat memberikan informasi yang berkaitan dengan keragaman dan kekhususan lingkungan alam setempat 3. dan bencana alam 4. 54 . dan perlu diperkuat). seimbang. Belajar dari kearifan lokal untuk menciptakan konsep. dan memasukkan nilai-nilai lokal ke dalam proses pengambilan keputusan (misalkan sistem peringatan dini) Perubahan lingkungan dan sosio-ekonomi yang berlangsung secara cepat dihadapi oleh banyak kelompok masyarakat sebagai sumber kelemahan baru. serta memelihara praktik dan kearifan lokal 10. Membangun kepercayaan masyarakat bahwa kearifan dan praktik lokal yang mereka miliki masih tetap relevan dalam upaya kesiapsiagaan menghadapi bencana. Mengidentifikasikan mekanisme apa yang dapat diusulkan pada tingkat lokal (mis. tetapi yang pasti tidak dapat diabaikan. namun sekaligus juga peluang baru untuk mengeksplorasi cara-cara baru penganggulangan risiko. Memadukan kearifan lokan dengan pengetahuan ilmiah untuk membuat peta bahaya.1. Mengidentifikasikan. survei. dan mempertimbangkan kelompok-kelompok dan individu-individu yang rentan. Memahami dan mempertimbangkan kompromi (tradeoff) antar risiko yang dilakukan orang dalam kondisi di bawah banyak tekanan 5. Sistem pendidikan yang sekarang berjalan perlu ditimbang ulang supaya terbentuk kaitan yang jelas antara sekolah dan masyarakat setempat sehingga kurikulum sekolah disesuaikan dengan realitas dan kebutuhan setempat.

dan cuaca yang ekstrem semisal hujan lebat. Januari. iklim. (iii) rentan secara ekonomi akibat kemiskinan. dan hujan es. Nyaris sulit ditemukan dataran kecuali petak kecil yang biasanya dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Ada beberapa hal lain yang membedakan wilayah ini. banjir bandang. Provinsi Perbatasan Barat Laut. Iklim bervariasi sepanjang tahun. kontur wilayah yang pegunungan.Distrik Mansehra and Battagram. Karena seringnya kejadian bencana. Topografinya pegunungan. 18-25 dan 15-22. tujuan penanggulangan bencana seharusnyalah meningkatkan kemampuan orang agar dapat menghadapi situasi buruk dengan lebih baik. dan sosial di wilayah itu. cuaca yang ganas. fungsional. dan pashtoon. Semua mekanisme ini bergantung pada kemampuan orang-orang. anak-anak menikah pada usia muda. sayed. Pakistan Mekanisme Bertahan Masyarakat Asli dalam Penanggulangan Bencana di Distrik Mansehra dan Battagram. dan tanah yang tidak subur untuk pertanian. Sebagai akibatnya. dan Februari merupakan bulan-bulan terdingin. dan menjadi pegawai swasta (mis. Karena alasan keagamaan. pengangguran. dan sekuensial untuk menghadapi dampak bencana yang kerap berulang. badai salju. 55 . Masyarakat di sana (i) rentan secara fisik akibat ketinggian lokasi dari permukaan laut. tetapi terbagi-bagi ke dalam berbagai klan dan aliran semisal gujjar. swati. geografis. guru sekolah. dan penurunan hasil pertanian. Pertanian skala kecil. Hujan dan salju umum terjadi di wilayah ini. orang tidak menjalankan keluarga berencana. (ii) rentan secara arsitektural karena buruknya bangunan dan infrastruktur. (iv) rentan secara demografis akibat bertambahnya populasi dan masalah kesehatan. gempa bumi. di mana Desember. Latar belakang Distrik Mansehra dan Battagram di Provinsi Perbatasan Barat Laut Pakistan (Gambar 1) sangat rentan terhadap pelbagai risiko buruk yang disebabkan oleh kondisi lingkungan. karyawan bank) adalah sumber penghasilan utama bagi penduduk Mansehra dan Battagram. Oleh sebab itu. penduduk di wilayah-wilayah ini menghadapi banyak bencana yang terjadi berulang-ulang seperti tanah longsor. sementara Juni dan Juli bulan-bulan terpanas. terutama tanah longsor. badai. Dampak bencana amat dirasakan oleh kelompok-kelompok masyarakat di pedalaman karena efek jangka panjangnya terhadap penghidupan mereka. bahkan kehendak politik untuk menerapkannya pun tidak ada. Selama berabad-abad. Provinsi Perbatasan Barat Laut. penduduk setempat menjadi percaya bahwa bencana adalah bagian kehidupan mereka yang tak dapat dihindari dan mungkin merupakan suatu bentuk hukuman dari Tuhan. tanuli. dan (v) rentan secara politik dan administratif karena di sana tidak ada struktur penanggulangan bencana. Pakistan Takeshi Komino Abstrak Penduduk di distrik Mansehra dan Battangram di Pakistan telah mengembangkan mekanisme bertahan yang bersifat sosial. membuka warung. Seluruh penduduk beragama Islam. Ini dapat dicapai dengan memahami persepsi masyarakat dan memperkuat mekanisme bertahan yang sudah ada sehingga dampak bencana dapat diperkecil.

kekerabatan memungkinkan orang memperoleh dukungan lebih luas berkenaan dengan suatu masalah atau situasi darurat. Mekanisme Bertahan secara Sosial Ada struktur-struktur dan relasi formal maupun non-formal yang dapat mengerahkan sumber daya dan membantu menyelesaikan masalah pada tingkat lokal. di mana orang dapat meminta bantuan dari kenalan atau kampung tetangga. Di dalamnya tercakup struktur-struktur internal maupun eksternal seperti unit-unit kemasyarakatan. Tiap-tiap kategori digunakan oleh masyarakat di Mansehra and Battagram pada beberapa tingkatan masyarakat (individu.yang menjadi faktor penyebab pesatnya pertambahan penduduk. Di samping kelompok-kelompok berbasis komunitas setempat. Hasshar adalah saling memberikan bantuan tenaga untuk menyelesaikan masalah dan dalam keadaan darurat. makanan. mengambil bagian dalam penanggulangan bencana dengan cara bekerja sama dengan departemen kehutanan berkaitan untuk menangani masalah penebangan hutan demi mencegah banjir dan erosi tanah akibat hujan lebat. ketika gempa menyerang wilayah itu dan menyebabkan tanah longsor serta kerusakan parah di banyak tempat. sanak saudara membantu kerabat mereka membangun rumah yang roboh dengan cara menyumbangkan tenaga. Pertama. atau material. Lebih jauh lagi. Terakhir. jirga. lembaga keagamaan. Misalnya. dan sekuensial. Ketika air mencapai batas kritis. Jika ada bahaya. Kelompok-kelompok masyarakat memiliki sistem sosial dan organisasi yang kuat. Masyarakat menggunakan strategi yang mereka peroleh turun-temurun untuk menangani dampak bencana. Tidak ada upaya penanggulangan bencana dari pihak pemerintah di Mansehra dan Battagram ketika gempa terjadi. fungsional. Kearifan Lokal Kearifan lokal di sana dapat dibagi ke dalam tiga kategori berbeda: mekanisme bertahan secara sosial. rumah tangga. dan sistem ekonomi. dan komunitas) untuk menanggulangi bencana. Peristiwa bencana yang terakhir terjadi pada 14 Februari 2004. Kedua. ada empat pranata sosial: kekerabatan. Ketiga. organisasi politik. Jirga biasanya dilakukan untuk menyelesaikan perselisihan dan mencari solusi bagi permasalahan bersama. 56 . hasshar. Komisi Bra-e-Tahaffuz-eJangalat. Pengangguran dan kemiskinan ada di mana-mana. Kisah/Peristiwa Tanah longsor merupakan fenomena yang umum terjadi di Mansehra and Battagram (Gambar 1). misalnya. kelompok-kelompok masyarakat sering mengawasi ketinggian air selama turun hujan. dan “semangat kampung” (village hood). penduduk yang tinggal di tempat yang rentan terkena bencana segera dikabari dengan teriakan atau ketukan pintu. “semangat kampung” memungkinkan orang membeli dari warung dengan cara mengutang. Kaum lelaki kerap bermigrasi ke pusat-pusat perekonomian di negara itu.

Akar pohon 57 . atau nilon sebelum ditumpangi tanah agar atap lebih aman. sherol. khususnya perempuan. Mekanisme Bertahan secara Fungsional Untuk meminimalkan risiko tanah longsor. dan di atas tanah putih. Sebelum musim muson. dan orang cacat. jute. tepi atap dipanjangkan agar air dari atap tidak membasahi dinding. penduduk sangat berhati-hati ketika memilih lokasi bangunan rumah. Sama halnya. masyarakat menerapkan teknik-teknik pembangunan infrastruktur yang dikembangkan selama ratusan tahun.penghuni rumah yang terancam bahaya segera memindahkan barang ke rumah kerabat atau kampung tetangga. ikatan sosial yang kuat merupakan bantuan bagi keluarga-keluarga miskin yang menjadi korban. Di kampung Gantar. menambah jumlah tiang dan balok kayu untuk lebih memperkuat rumah mereka. Umumnya mereka lebih memilih tempat saudara. semisal pembacaan Al-Quran dan doa bersama setelah peristiwa bencana besar. tetangga. Bilah logam agak panjang dipasang di bawah tanah pada tiap tepi atap agar memudahkan aliran air dari atap. teman. atau pemilik warung. atau tetangga.5 kaki menghasilkan kohesi dan mengurangi dampak kerusakan pada infrastruktur. Penduduk yang termasuk golongan lebih kaya. Kemudian. Selain itu. yang menurut kepercayaan setempat berkualitas baik karena lebih padat. Mula-mula dibangun tonggak-tonggak kayu pendukung. Mereka biasanya memilih untuk mendirikan rumah pada area datar. bilah-bilah kayu digunakan pada konstruksi dinding batu untuk menambah kekuatan. Di beberapa kampung. diselenggarakan upacara keagamaan. Konstruksi dinding batu berukuran 2 x 2. Beberapa orang terlebih dahulu menutupi atap dengan lembaran plastik. berton-ton tanah disebarkan ke atas atap untuk menahan rembesan air (Gambar 2). rerumputan yang tumbuh di atap disiangi karena akar rumput berperan menyebabkan perembesan air. dan kikar di sekitar rumah. dekat jalan. Mereka dapat meminjam uang atau bahan makanan dari sanak saudara. sementara sisi-sisinya menyilang dari tepi sehingga memudahkan air mengalir. Rumah-rumah di perkampungan pada umumnya dibangun dengan jarak 2 sampai 3 kaki satu sama lain. jauh dari sumber air. Atap dan bagian sepanjang dinding kemudian dipukuli dengan alat kayu bernama dabkan untuk mencegah rembesan air dan juga untuk memantapkan fondasi rumah. atap berukuran lebar 1 hingga 2 kaki dibuat dengan perhitungan matang. khususnya di kampung Paras. kenalan. mengungsi ke tempat yang aman. Kadang-kadang batu dipasangkan pada tepi atap untuk menjaga agar atap tidak rusak. Untuk mengatasi kerentanan tanah. anak-anak. tugas ini dilakukan secara bergilir di antara warga masyarakat sepanjang musim penghujan. Anggota keluarga. Rumah-rumah yang dibangun berdempetan biasanya paling banyak mengalami kerusakan akibat bencana dan memakan lebih banyak korban jika batu-batu berguguran dari gunung. Akibat bencana yang berulang kali terjadi. Di kampung Paras. Bagian tengah atap dibuat sedikit lebih tinggi. mereka menanam pohon walnut. Pada saat perbaikan pasca-bencana.

terus-menerus tumbuh dan menyesuaikan diri dengan keadaan-keadaan baru. atau bilah-bilah kayu di atap. Departemen ini juga membangun turap-turap penahan tanah di sepanjang tepi jalan yang rentan longsor (Gambar 4). Setelah Februari 2004. waktu. Pada kejadian bencana hebat. semakin mudah diterapkan. perhiasan. Bahan bangunan tradisional itu antara lain kotoran kerbau. untuk kemudian mereka jadikan atap atau dinding. Karena yang paling utama adalah penghidupan. Masyarakat sendirilah yang 58 . selalu dinamis dan kreatif. kenalan. Dahulu arsitektur rumah lumpur didirikan tanpa sambungan antara pilar dan batar. Mekanisme Bertahan secara Sekuensial Pada saat bencana terjadi. dan perawatan (Gambar 3). pengetahuan itu semakin tertanam di dalam kebudayaan. Pengetahuan berevolusi di tempat aslinya. Mereka yang kurang mampu biasa menggunakan lembaran seng sebagai atap dan dengan demikian menghemat tenaga. turun-temurun dari generasi ke generasi melalui perantaraan individu-individu dalam masyarakat. karena memang saat itu tidak ada struktur pemerintah formal yang bertugas menanggulangi bencana. pengetahuan ini berhasil diwariskan secara informal. karung goni yang telah digiling. Lembaga pemerintah. biasanya memilih menjual harta milik mereka (mis. Ketika dampak bencana sangat luas. bebatuan sengaja diletakkan di atas atap seng agar tidak terbawa angin ketika terjadi badai. kadang orang pindah sementara ke kampung lain. terutama jika keluarga yang terkena dampak bencana belum mendapat pertolongan dan tidak mau tinggal di rumah tetangga. Tidak ada seorang pun yang memberikan perhatian pada penerapan strategi tradisional ini sebelum bencana tahun 2004. semakin dikenal. mereka menerapkan strategi untuk mengamankan penghidupan. jerami. bulu kambing. Departemen Pekerjaan Umum. Beberapa orang menggali pondasi rumah hingga kedalaman 2 kaki. di mana spiritualitas. khususnya di bawah bagian dinding bangunan. Pengetahuan ini tertanam dalam suatu sistem yang dinamis. daun cemara. Kadang kala. kelompok-kelompok masyarakat mengerahkan pelbagai sumber daya menurut urutan berdasarkan tingkat kerugian dan kemampuan. Walaupun demikian.menghunjam sampai jauh sehingga memperkuat ikatan tanah. Untuk rumah lumpur. kapas. kerap mengunjungi wilayah itu selama musim penghujan untuk memantau risiko tanah longsor. dan faktor-faktor lainnya saling terhubung dan mempengaruhi satu sama lain. Tidak ada sistem formal di masyarakat untuk menyebarluaskan kearifan lokal ini. tanah). politik lokal. kekerabatan. atau teman. keluarga yang tidak mampu. dan serbuk gergaji. Mereka yang miskin segera mengubah pola dan jenis makanan. sebagai jalan terakhir. warga menggunakan bahan bangunan tradisional yang dicampur dengan lumpur agar stabil. Ketika warga masyarakat sendiri mengembangkan pengetahuan dalam ketiga kategori itu melalui pelbagai macam pengalaman. Kadang-kadang anak-anak lelaki dikirim ke pusat perkotaan terdekat atau ke kota-kota besar untuk bekerja. perangkat besi bernama kalab digunakan untuk mengikat pilar dan bilahbilah kayu atap. ternak.

adanya sistem pendukung yang kuat merupakan tulang punggung keberhasilan mekanisme bertahan di Mansehra dan Battagram. Mekanisme-mekanisme bertahan di Mansehra and Battagram amat bergantung pada kemampuan masyarakat yang bersangkutan. Lebih dari itu.menyebarluaskan dan menerapkan teknik-teknik kearifan lokal dalam beragam cara untuk menangani bencana. menggoyahkan nilai-nilai budaya. seperti yang dapat dilihat di Provinsi Perbatasan Barat Laut Pakistan. 59 . Terbatasnya sumber daya dan persepsi masyarakat tentang bencana sering mempengaruhi diterima atau tidak diterimanya suatu mekanisme tertentu. pengalaman gempa tahun 2004 menunjukkan bahwa teknik pencegahan rembesan air ternyata berperan meningkatkan jumlah bangunan yang rusak akibat beban tanah di atas atap. pemahaman atas sistem-sistem penghidupan masyarakat asli adalah syarat yang penting agar upaya pembangunan tidak malah menghilangkan kemandirian. Program pembangunan dan penanggulangan bencana semestinya mendukung aktivitas yang menggerakkan dan memperkuat sumber daya lokal pada tingkat keluarga dan komunitas. dan ekonomi di suatu daerah niscaya akan mempengaruhi efektivitas mekanisme-mekanisme itu. atau merongrong sistem-sistem penghidupan tradisional. Misalnya lagi. Sebagai contoh. Mekanisme-mekanisme asli ini saja tentu tidaklah mencukupi untuk menanggulangi bencana secara efektif. Sementara pengetahuan ini membantu mengurangi risiko bencana. tetapi pengetahuan macm ini tidak memadai untuk menghadapi bencanabencana baru yang dialami masyarakat. Pelajaran yang Dapat Dipetik Kearifan lokal. mendorong kelompok masyarakat untuk terlibat melalui cara praktik tradisional merupakan strategi yang lebih realistis dan khas-daerahtertentu karena masyarakat setempat memahami situasi mereka berdasarkan pengalaman bencana di masa lalu. mengubah kondisi sosial. Tujuan penanggulangan bencana haruslah untuk meningkatkan kemampuan orang untuk menangani kejadian-kejadian buruk. Ada kebutuhan yang meningkat untuk mengembangkan mekanisme bertahan ini dengan cara yang sedemikian rupa sehingga tidak berdampak negatif terhadap masyarakat. politik. Sebagai misal. dan kemudian mengembangkannya dan memastikan bahwa pembangunan tidak menyebabkan masyarakat semakin rentan terhadap bencana alam. kendati demikian. kapasitas dukungan sosial juga merupakan faktor yang tak ternilai. Para pengambil kebijakan sepatutnya mempertimbangkan untuk melestarikan mekanisme tradisional yang sedemikian efektif itu. dan senantiasa rentan terhadap perubahan lingkungan internal dan eksternal. Ini bisa dicapai dengan memahami persepsi masyarakat dan memperkuat mekanisme bertahan yang sudah ada dengan cara yang mengurangi dampak bencana. Memang kemandirian dan solidaritas dalam keluarga dan masyarakat amat sangat bernilai ketika orang menghadapi bencana. Mekanisme-mekanisme bertahan tradisional bisa jadi tidak selalu pas. dan secara khusus amat berharga bagi penanggulangan bencana di tingkat masyarakat. menyediakan mekanisme yang penting untuk mengurangi risiko bencana.

baik analisis sosio-ekonomi maupun pendekatan penghidupan berbasis komunitas perlu diintegrasikan ke dalam perencanaan dan program-program penanggulangan bencana pada kelompok-kelompok masyarakat yang terancam oleh risiko bencana. Akan sangat membantu jika ada suatu sistem untuk memantau dampak bencana pada tingkat komunitas dan nasional. 60 . melainkan juga sebagai proses pemberdayaan yang efektif untuk mengetahui akar-akar penyebab kerentanan mereka. bagaimana tingkat pemahaman mereka tentang bencana. Partisipasi kelompok masyarakat tidak selayaknya dianggap sebagai proses konsultasi belaka.Pendekatan yang berbasis komunitas—yang bertujuan memahami bagaimana cara komunitas-komunitas menangani bencana yang berbeda-beda. dan sistem peringatan dini pada tingkat komunitas niscayalah juga akan berguna. kesadaran akan bencana. Adanya peta risiko dan bahaya yang disempurnakan. dan bagaimana kemampuan mereka untuk menanggulanginya secara efektif dan berkesinambungan—adalah cara terbaik untuk menerapkan program penanggulangan bencana. Yang paling penting.

Papua Nugini Hidup bersama Banjir di Singas. klinik kesehatan dan pasar terdekat dari Singas. Desa Singas terdiri dari masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran salah satu sungai besar di Papua Nugini. Penduduk desa Singas berjumlah 296 orang dan terbagi menjadi lima kelompok keluarga. akibat adanya suatu penyakit baru yang membunuh pohon tersebut. Contoh ini sangat penting terutama karena sungai tersebut tidak hanya menyimpan potensi bencana namun juga karena sungai tersebut menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar dan dengan demikian sungai itu sangat penting artinya bagi masyarakat tersebut. sekolah menengah. penduduk desa harus berjalan selama dua hari untuk mencapai tempat di mana ada jembatan yang dapat mereka lewati. Kearifan lokal di lima bidang khusus. strategi pangan dan lingkungan. yang merupakan pusat Distrik Markham. masyarakat sekarang sangat menggantungkan mata pencaharian mereka pada penjualan hasil kebun. Di Mutzing Station terdapat gedung-gedung pemerintahan. Meskipun demikian. Namun. Masyarakat ini dulunya menggantungkan sumber pendapatan pada pohon pinang. Sebagai akibatnya. Selama musim penghujan. Kota terdekat adalah Mutzing Station. kelapa. Namun. Rute ini hanya dapat dilewati pada musim kemarau dan bahkan pada saat itupun masih sering berbahaya untuk dilewati. desa tersebut terkena dampak banjir tahunan yang disebabkan oleh hujan deras yang melanda selama musim penghujan. Lebar Sungai Markham bervariasi dari 3-8 km kalau ditempuh ke arah hilir. Tingkat pendidikan di desa tersebut sangat rendah. mangga (kalau sedang musim) dan ikan. Perjalanan menyeberangi sungai dari Singas ke Mutzing Station makan waktu kurang lebih 2 jam tergantung pada arus sungai (Gambar 1). yaitu Sungai Markham. yang buahnya dikunyah seperti tembakau. terletak di seberang sungai dari desa Singas. terutama sebagai akibat dari hilangnya pendapatan dari panen buah pinang. telah membantu meningkatkan peran masyarakat dalam mitigasi dampak banjir yang rutin terjadi setiap tahun. yaitu metode pembangunan. perencanaan penggunaan lahan. Papua Nugini menggambarkan bagaimana kearifan lokal berperan penting dalam upaya mengurangi risiko bencana. yang terletak di Provinsi Morobe. terdapat tiga sekolah dasar tempat anak- 61 . Di dekat desa Singas. itupun sering rusak atau bahkan tidak dapat dilewati sama sekali. sumber-sumber pendapatan semakin beragam dengan diperkenalkannya sumber pemasukan pendapatan yang dihasilkan dari panenan seperti kacang dan kopi. Akibatnya. masyarakat desa Singas sangat proaktif dalam upaya-upaya mitigasi dampak bencana banjir. Papua Nugini Jessica Mercer dan Ilan Kelman Abstrak Pengalaman penduduk yang tinggal di desa Singas. hubungan sosial. dan penyeberangan di desa Singas merupakan titik terlebar.Desa Singas. karena orangtua tidak mampu membayar uang sekolah. Latar Belakang Desa Singas terletak di sebuah daerah kantong di Distrik Markham di Provinsi Morobe sepanjang bantaran sungai Markham di Papua Nugini.

antara lain karena (i) sungai tersebut berharga bagi penghidupan mereka misalnya sebagai tempat mencari ikan. tergantung pada volume curah hujan yang diterima. Situasi semacam itu memang tidak aneh dalam sebuah masyarakat lokal. sehingga tidak dipandang oleh masyarakat sebagai strategi khusus dalam upaya pengurangan risiko bencana. Namun. tidak ada penduduk desa yang bersedia pindah. Biasanya. Dalam berbagai kasus strategi-strategi ini melekat dalam budaya masyarakat dan kehidupan sehari-hari. terutama sepanjang musim hujan. (ii) mereka dekat dengan fasilitas umum (gedung-gedung provinsi terletak di seberang sungai) dan (iii) mereka telah bermukim selama bertahuntahun dan mampu bertahan dari banjir-banjir terdahulu. pertanian. Metode Pembangunan 62 . desa ini dilanda banjir untuk beberapa waktu setiap tahun. Selama tahun-tahun inilah kearifan lokal yang mereka terapkan sungguh-sungguh bermanfaat dalam upaya mengurangi risiko bencana bagi diri mereka sendiri maupun bagi penghidupannya. hubungan sosial. Ada berbagai macam alasan mengapa mereka tidak mau pindah. Kisah/Peristiwa Karena tinggal di sepanjang bantaran salah satu sungai besar di Papua Nugini. dan para murid seringkali harus menyeberangi sungai Markham untuk mencapai sekolah. meskipun akses ke sekolah ini sering terbatas karena banjir yang melanda. masyarakat desa sepenuhnya sadar akan situasi yang mereka hadapi dan sangat proaktif dalam menanggapi banjir agar keberlangsungan hidup mereka di tepi sungai tersebut dapat terjamin. Akibatnya. Beberapa banjir besar terakhir yang terekam dalam ingatan warga desa adalah banjir di tahun 1998 dan 2002 ketika air naik mencapai tiang penyangga rumah panggung dan sampai masuk ke dalam rumah (Gambar 2). Meskipun ada risiko tersebut. namun pada kasus Singas nampak jelas bahwa masyarakat menganggap sungai pertama-tama dan terutama sebagai sumber penghidupan dan menempatkan sungai sebagai ancaman di tempat kedua. perencanaan penggunaan lahan. Penduduk desa Singas telah dihimbau untuk memindahkan pemukiman mereka dari bantaran sungai ke tempat yang lebih tinggi di atas bukit sebagai bagian dari solusi ’topdown’ bagi masalah banjir yang selalu mereka hadapi. masyarakat Singas selalu terancam bahaya banjir.anak bersekolah. persediaan air dan tanah liat untuk membuat bejana untuk memasak. strategi pangan dan lingkungan. strategi pengurangan risiko bencana masyarakat pribumi menyatu dalam kegiatan hidup sehari-hari karena mereka bergulat tiap hari dengan sungai. Kearifan Lokal Strategi utama pengurangan risiko bencana yang dilakukan oleh masyarakat Singas dalam menangani masalah banjir dapat dikelompokkan ke dalam lima kategori umum yang mencakup metode pembangunan.

tingkat kemiskinan. Ada juga sikap positif yang kuat untuk menjamin 1 Campbell (1990). Bangunan rumah yang dibangun di atas tanah terdiri dari dapur yang terbuat dari bahan-bahan kayu yang ringan dan mudah dilepas untuk mengurangi kemungkinan hanyut dalam banjir. maka saat ini hal tersebut secara bertahap menghilang seiring dengan munculnya kebun-kebun yang ditanami warga secara sembarangan tanpa mengikuti perencanaan tradisional. Sumber daya dan pengalaman dibagikan pada tingkat masyarakat. karena seringkali mereka tidak tergantung pada sumber daya mereka sendiri. Mereka juga membangun gundukan tanah yang tinggi di bawah rumah-rumah mereka untuk membendung air sungai yang meluap. Masyarakat Singas juga demikian. Lahan dibuka untuk membangun rumah-rumah di tempat tersebut. dan dengan demikian memperlambat proses pembusukan. Rumah-rumah tersebut dibangun dengan menggunakan bahan-bahan kayu tradisional yang tidak hanya mudah diangkut dan diperbaiki. masyarakat ini membangun rumahnya di atas tiang penyangga (panggung). Jika di masa lalu perhatian lebih ditekankan pada lahan dan perencanaan penggunaan lahan yang dilakukan oleh masyarakat. kemudian digunakan sebagai parit untuk menimbun sampah di mana nantinya sedikit demi sedikit sampah akan menggunung sampai terbentuk gundukan besar. seluruh anggota masyarakat bergotong-royong ikut membantu menggali dan menanam tanaman yang baru. emigrasi dan bentuk-bentuk perdagangan yang lain selain bentuk-bentuk tradisional seperti barter antar desa – Singas sangat tergantung pada sumber daya yang mereka punyai. Meski demikian. Hubungan Sosial Di masa lalu. Gundukan ini kemudian ditutup dengan tanah dan ditanami dengan pohon-pohon sebagai pengencang sebelum memulai pembangunan rumah (Gambar 3). ketika kebun mereka hancur diterjang banjir. Mereka saling membantu pada saat susah seperti pada kerusakan yang diakibatkan oleh kejadian banjir.1 Meskipun ada konsekuensi dari masuknya masyarakat desa ke dalam ekonomi global – termasuk dampak-dampak dari peningkatan jumlah penduduk. sehingga pada saat bencana semua anggota masyarakat sadar akan rencana tindakan terbaik atau di mana mereka akan berkumpul kembali jika perlu. Kerukunan masyarakat ini mungkin karena adanya pemimpin yang berpengaruh dan aktif dalam menjamin terselenggaranya pertemuan warga rutin untuk membahas hal-hal yang relevan dan cara-cara yang harus ditempuh untuk maju (Gambar 4). yang secara bertahap telah diperpanjang setiap tahun untuk mengakomodasi air yang meluap dan insiden banjir yang semakin sering terjadi. jarang terjadi masyarakat yang mengalami stres akibat banjir atau bahaya lingkungan lainnya. Karena sadar akan kemungkinan bahaya banjir. namun juga murah dan mudah diakses. Mereka menggunakan pengetahuan lingkungan mereka yang sangat dalam untuk mencari tempat yang kering dan kokoh untuk membangun rumah mereka.Budaya-budaya pedesaan memiliki jenis rumah tradisional mereka sendiri yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat. Singas merupakan masyarakat yang sangat rukun. Rumah-rumah dibangun pada musim kemarau untuk memberi waktu tiang-tiang penyangga agar dapat tertancap dengan mantap di atas tanah. 63 .

tanaman panen tangguh yang bertahan hidup di air luapan banjir. Tanaman khusus juga digunakan untuk menampung air hujan sepanjang musim penghujan agar penduduk tidak minum air dari sungai ketika banjir dan menjadi jatuh sakit karenanya. Bambu digunakan untuk menyimpan air dan untuk keperluan memasak. Makanan ini dapat bertahan sampai beberapa bulan dalam bejana tanah liat tersebut dan masih dapat dimakan. Jika mungkin. Warga desa Singas membungkus pisang dengan daun agar terlindung dari incaran burung-burung. makanan disimpan di bejana tanah liat sederhana untuk memastikan bahwa makanan tersedia ketika warga terpaksa tidak bisa meninggalkan rumah mereka. Di antara hasil panen bencana desa Singas adalah pisang.keberlangsungan hidup warganya sendiri. yang berkontribusi pada ketahanan masyarakat dalam masa-masa sulit atau sewaktu bencana. karena kalaupun bantuan akan diterima dengan penuh syukur. Pepohonan. tanaman bunga dan tumbuh-tumbuhan ditanam secara teratur untuk melindungi dan menstabilkan tanah. Makanan tradisional di daerah tersebut juga digunakan pada saat-saat kekurangan pangan. yang tidak rawan bahaya tanah longsor. masyarakat memilih tinggal di pemukiman yang berada di tempat tinggi jauh dari serangan badai dan banjir. Terdapat juga lokasi aman yang ditandai untuk tempat warga masyarakat mengungsi pada saat banjir besar terjadi. Menjelang musim hujan dan potensi terjadinya banjir.2 Warga masyarakat Singas yang menyadari adanya ancaman banjir memiliki sistem saluran air yang digali mengelilingi kebun dan lahan mereka sehingga air banjir dialirkan menjauhi tempat-tempat penting. misalnya umbi dan talas ditanam di lereng 2 South Pacific Applied Geo-Science Commission (2004). hanya pohon tertentu saja yang ditebang. 64 . Untuk penanaman ubi talas. Penggunaan lahan dan waktu penanaman direncanakan untuk menghindari musim penghujan untuk memperkecil peluang kerusakan dan kehancuran karena kebun ditanami sepanjang bantaran sungai dengan memanfaatkan tanah yang paling subur. Misalnya. Penanaman dan pemantauan wilayah sekitar yang cermat juga dilakukan untuk mencari bahan-bahan kayu yang dapat dipakai. namun bantuan yang diharapkan mungkin tidak ada. saluran dibuat untuk mengeringkan tanah. terutama yang ada di sekitar pemukiman warga. Strategi Pangan Masyarakat pribumi pedesaan telah mengembangkan berbagai macam varietas panen yang tahan bahaya. Perencanaan Penggunaan Lahan Lokasi desa-desa dan perkampungan telah sering terkena dampak kerentanan bahaya. Makanan dan benih tanaman juga dikeringkan dan disimpan di bawah sinar matahari sampai mencapai jumlah yang cukup untuk dipakai pada masa tanam tahun depan. yaitu pohon-pohon yang paling kuat yang cocok untuk membangun dan pohonpohon yang tidak berdampak buruk pada stabilisasi tanah. Strategi ini memberi waktu bagi pohon-pohon muda untuk tumbuh besar sambil memastikan ketersediaan bahanbahan bangunan ketika diperlukan pada saat banjir. dan di pulaupulau vulkanik yang tidak terjangkau oleh aliran lava dan di mana angin kencang tidak akan meninggalkan timbunan abu atau hujan asam yang merusak hasil panen.

Penanda juga digunakan untuk menentukan perubahan ketinggian air sungai dan warga desa sendiri selalu dalam keadaan siaga dengan rencana matang siap dilaksanakan untuk mengantisipasi bencana banjir yang mungkin terjadi. Dengan saling berbagi sumber daya dan pengalaman pada tingkat masyarakat. Strategi Lingkungan Karena warga masyarakat Singas tergantung pada lingkungan untuk mata pencaharian mereka. Para ibu sampai rela membuat ikat pinggang yang terbuat dari kain atau kulit kayu yang diikatkan di sekeliling pinggang mereka untuk mengurangi rasa sakit karena kelaparan. Di Papua Nugini.pegunungan sebagai tanaman selama masa bencana untuk berjaga-jaga apabila warga desa harus mencari perlindungan sementara di atas bukit. Di dalam keluarga masing-masing. 65 . jika banjir melanda. Banjir tidak memungkinkan warga mencari ikan di sungai karena air meluap dengan cepat sehingga penduduk desa menggunakan dua danau pedalaman untuk persediaan ikan mereka. ”Telik Sandi/intel” sering dikirim ke daerah hulu untuk membaca perilaku sungai dan melaporkan kembali dengan mengirim pesan berantai dari orang yang satu ke orang yang lainnya sehingga pesan dapat sampai ke desa dengan cepat. jika warga dewa mengetahui hujan yang lebat di atas bukit mereka mulai bersiap-siap akan datangnya banjir dengan memberesi barang-barang milik mereka dan memastikan bahwa persediaan makanan cukup banyak. tradisi budaya lisan yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam bentuk legenda. Pelajaran yang dapat dipetik Praktik-praktik kearifan lokal yang digambarkan di atas dan diterapkan oleh masyarakat desa Singas untuk mengurangi risiko bencana telah terbukti berhasil memperkecil risiko yang dihadapi warganya dan sekaligus memudahkan mereka untuk terus memanfaatkan sungai sebagai sumber penghidupan yang berharga. Kearifan lokal yang diterapkan oleh warga desa Singas untuk mengurangi risiko bencana terus menerus diperkaya dalam masyarakat tersebut. Kerukunan warga masyarakat desa dan kerelaan untuk saling membantu merupakan faktor mendasar yang kuat dibalik keberhasilan warga desa Singas dalam mengurangi risiko bencana banjir. visi dan cerita ini sebagai panduan tentang apa yang harus mereka lakukan jika bencana terjadi. penduduk desa sudah mengembangkan pengetahuan yang luas yang membuat mereka mampu mengidentifikasi tanda-tanda bahaya yang akan datang. dipastikan semua warga desa akan mampu membantu satu sama lain. ketika makanan langka sebagai akibat dari bencana banjir. anggota keluarga yang sudah dewasa seringkali membatasi asupan makan mereka agar anak-anak dapat makan lebih banyak. Misalnya. Lebih lanjut lagi. Ibu-ibu kampung bekerja sama membentuk lingkaran yang besar untuk menggiring ikan-ikan ke tengah danau kemudian menangkap ikan-ikan tersebut dengan tangan. sikap dan kerukunan sosial ini telah memungkinkan terjadinya penyebaran pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana dalam masyarakat melalui pertemuan umum dan berbagi pengalaman. visi dan cerita-cerita rakyat banyak jumlahnya dan warga masyarakat sangat tergantung pada legenda.

4 Masyarakat lokal seperti masyarakat Singas selanjutnya dapat mengurangi kerentanan mereka terhadap bahaya banjir melalui perpaduan kearifan lokal dan pengetahuan ilmiah. sehingga warga masyarakat menolaknya karena mereka mendukung strategi mereka sendiri. Dalam kasus desa Singas. Seperti yang dapat dilihat dari contoh berikut ini. Hal ini menegaskan kembali pentingnya pengetahuan yang sudah ada mengenai kebencanaan dan menunjukkan perlunya rasa memiliki pada tingkat lokal. Wilbanks dan Kates (1999). Dengan mengakui keberhasilan masyarakat desa Singas memudahkan warganya untuk berinteraksi dengan para pemangku kepentingan yang tepat untuk selanjutnya memanfaatkan kemampuan mereka dalam usaha mengurangi risiko bencana. (2004).3 Hal ini menyatakan bahwa cara pandang paternalistik masih sering dipaksakan dengan tidak mendengarkan atau bahkan membungkam suara mereka yang lemah. Pengenalan. Meskipun hal ini merupakan strategi yang cukup relevan dalam mengurangi risiko bencana. persiapan dan pemulihan dari bahaya-bahaya lingkungan. Harus ada sistem pendukung yang ada bersamaan dengan strategi masyarakat bilamana dukungan yang lebih banyak diperlukan. Masyarakat desa sangat sadar akan situasi yang mereka hadapi. Yang diperlukan saat ini adalah perlunya pengalamanpengalaman warga desa Singas diketahui oleh masyarakat lain.Pengalaman warga desa Singas sangat bertentangan dengan apa yang terjadi di banyak masyarakat di Papua Nugini. rasa memiliki perlu diatur dari ’bawah-ke-atas (bottom-up)’ dan bukannya disusupkan dari ’atas-ke-bawah (top-down)’ oleh pihak-pihak yang tidak memahami situasi masyarakat yang sebenarnya. para pembuat keputusan. disarankan bahwa masyarakat yang terkena dampak bahaya lingkungan seharusnya menjadi pihak yang mengambil keputusan dan mengembangkan kebijakan yang berhubungan dengan hal tersebut. tetapi warga desa bersikap proaktif dalam strategi mereka menangani bahaya lingkungan. Yang umum terjadi di Papua Nugini. kantor-kantor pemerintahan (misalnya kantor penanggulangan bencana tingkat distrik) dan lembaga swadaya masyarakat. 5 Mercer et al. terjadi sikap mudah menyerah di antara warga setempat akibat kurangnya dukungan pemerintah. Selanjutnya. 66 . interaksi ini akan memudahkan terjadinya penyebarluasan kearifan lokal dan memudahkan warga masyarakat lain untuk mengidentifikasi pelajaran-pelajaran apa yang dipetik dan mengembangkan pengetahuan pengurangan risiko bencana mereka sendiri. Secara bertahap. 2002. (2007). dan promosi mekanisme penanganan bencana lokal dengan strategi ilmiah yang kompatibel secara budaya hanya dapat berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas masyarakat lokal untuk mitigasi. Hay. maka 3 4 Wisner et al. pencatatan. proses-proses anthropogenik dan non-anthropogenik semakin meningkatkan kemungkinan adanya efek kebalikan dari bahaya-bahaya lingkungan terhadap masyarakat lokal.5 Jika itu tercapai. Solusi ’top down’ yang disarankan tidak mempertimbangkan gambaran besar masalah maupun kebutuhan masyarakat. budaya ’turunan’ dan persepsi bahwa tingkat kerentanan tidak mungkin untuk ditangani. sementara pada taraf tertentu memang ada unsur sikap ‘kami tidak dapat berbuat apa-apa’. namun mereka merasa yakin bahwa mereka memiliki pengetahuan yang diperlukan untuk menangani bahaya tersebut.

Mercer. J. Gambar Gambar 1: Menyeberangi Sungai Markham Gambar 2: Lumpur yang ditinggalkan banjir Gambar 3: Perumahan tradisional di desa Singas – foto ini menggambarkan rumah panggung. I. - - - - - - - - 67 . Papua New Guinea National Disaster Risk Reduction and Disaster Management Framework for Action 2005-2015. 401-424. dengan penyangga yang lebih tinggi digunakan lebih sering sekarang terlihat dari rumah yang lebih baru yang ada di latar belakang foto ini dan permulaan dari gundukan tanah yang dikelilingi oleh parit saluran air yang ada di halaman depan sebelum bangunan rumah. Nepal. from a South Pacific perspective. Diakses pada tanggal 08 Desember 2007.org/Depts/Cartographic/map/profile/papua. Diakses pada tanggal 08 Desember 2007. PNG Map (http://www. The Potential for combining indigenous and western knowledge in reducing vulnerability to environmental hazards in small island developing states. Fiji. 2005. South Pacific Applied Geo-Science Commission.praktik-praktik pengurangan risiko bencana dianggap telah berhasil mengatasi kerentanan masyarakat lokal terhadap ancaman-ancaman lingkungan. 1990. 2007. 245-256. Disasters and development in historical context: tropical cyclone response in the Banks Islands. 2005. K.. National Disaster Centre. 2004.. United National Development Program Expert Group Meeting – Integrating Disaster Reduction and Adaptation to Climate Change. International Journal of Mass Emergencies and Disasters 8 (3).org/eng/country-inform/papua-newguinea-disaster. Implementing the Yokohama strategy and plan for action: Pacific Islands Regional Progress Report (1994-2004).unisdr.htm). Integrating disaster risk management and adaptation to climate variability and change: needs. J. Dominey-Howes. Cuba. Havana. Dekens. 2007. Hyogo Framework for Action 2005-2015: Building the Resilience of Nations and Communities to Disasters (http://www.un.pdf). D. benefits and approaches. dan Lloyd. PNG. J..pdf).R. United Nations International Strategy for Disaster Reduction.org/eng/hfa/docs/Hyogo-frameworkfor-action-english. 2004. Local Knowledge for Disaster Preparedness: A Literature Review. Hay. United Nations. Environmental Hazards 7 (4).. International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) Kathmandu. South Pacific Applied Geo-Science Commission. Kelman. 2002.unisdr. Papua New Guinea: Disaster Profile (http://www. 2007. Diakses pada tanggal 29 Oktober 2007. United Nations International Strategy for Disaster Reduction. National Disaster Centre Port Moresby... Gambar 4: Pertemuan warga membahas pengurangan risiko bencana Daftar Pustaka Campbell.E. J. Northern Vanuatu.

Global Change in local places: how scale matters. T.. P. T. R. Cannon.J. Routledge. At Risk: Natural Hazards. People’s Vulnerability and Disasters. I.. 2nd Ed. dan Kates... dan Davis. London.- Wilbanks. Blaikie.W. 2004. 68 . 601-628. B. 1999. Wisner. Climatic Change 43.

Kota Dagupan, Pangasinan, Filipina Memadukan Kearifan Lokal dan Ilmiah ke dalam Sistem Peringatan Banjir Kota Dagupan. Lorna P. Victoria Abstrak Kanungkong adalah alat tradisional dari bambu yang sudah sejak dahulu digunakan untuk memanggil warga masyarakat untuk berkumpul di kantor desa, dan memperingatkan warga desa atau untuk memanggil anak-anak pulang dari bermain. Sistem peringatan dini banjir yang dipasang di delapan desa di Kota Dagupan, Filipina, telah menghidupkan kembali penggunaan kanungkong bersama dengan tiang pengukur penanda banjir di lokasi-lokasi yang strategis di semua desa di Kota Dagupan. Kearifan lokal dipadukan dengan pengetahuan ilmiah modern dan peralatan modern digunakan dalam upaya-upaya pengurangan risiko bencana. Latar Belakang Delapan barangay (desa) yang rawan banjir di Kota Dagupan di Provinsi Pangasinan sebelah barat laut Filipina adalah Mangin, Salisay, Tebeng, Bacayao Norte, Bacayao Sur, Lasip Grande, Lasip Chico dan Pogo Grande, telah menerapkan penggunaan kanungkong untuk menyampaikan pesan peringatan secara berantai ke tiap-tiap rumah di delapan desa tersebut, terutama ke rumah-rumah yang terletak di sepanjang bantaran sungai. Desa-desa ini memprioritaskan kegiatan-kegiatan kesiapan dan mitigasi banjir di bawah naungan proyek yang bernama Program Mitigasi Bencana Hidrometerorologi di kota-kota kecil di Asia (Program for Hydro-meteorological Disaster Mitigation in Secondary Cities in Asia/PROMISE). Warga masyarakat mengadakan lokakarya untuk membahas sistem peringatan diri dan melaksanakan latihan penanganan bencana untuk para warganya. Kisah/Peristiwa Kota Dagupan merupakan kota yang rawan terhadap banjir besar. Di tahun 2007, angin puyuh dengan hujan muson melanda Luzon Utara dan Tengah di sepanjang bulan Agustus dan November yang menyebabkan meluapnya sistem sungai di Kota Dagupan. Peristiwa ini menguji efektivitas sistem peringatan dini yang berbasis pada kanungkong. Karena Badan Koordinasi Bencana Barangay (Barangay Disaster Coordinating Council/BDCC) memantau penanda banjir dan melaporkan hal ini kepada Pusat Operasi Darurat Badan Koordinasi Bencana Kota (Emergency Operations Center of the City Disaster Coordinating Council/CDCC), maka desa-desa tersebut sudah disiagakan untuk mengantisipasi banjir besar yang akan melanda. Sistem tersebut berhasil memberi warga cukup waktu untuk bersiap-siap dalam menanggapi kedatangan bencana. Kearifan Lokal Kanungkong atau kentongan merupakan peralatan komunikasi yang di masa lalu digunakan untuk berbagai macam keperluan oleh masyarakat warga Kota Dagupan, yang

69

dekat dengan kota dan provinsi di Luzon Utara (Gambar 1a dan b). Kanungkong dipergunakan untuk memanggil warga untuk berkumpul di balai desa, memperingatkan warga akan adanya kejadian perampokan di malam hari, memanggil dukun bayi untuk membantu persalinan ibu hamil yang siap melahirkan, dan memanggil anak-anak pulang dari bermain. Dengan adanya cara komunikasi modern, penggunaan kanungkong menjadi terlupakan. Kanungkong berasal dari kata mangkanungkong yang bermakna harafiah ’menimbulkan suara’. Kanungkong terbuat dari bambu yang jika dipukul akan menghasilkan suara kung, kung, kung. Sistem peringatan dini tingkat desa menggunakan kanungkong sebagai media komunikasi pembawa pesan berantai lokal. Untuk pemantauan banjir, dan sebagai dasar untuk penyampaian pesan, tiang penanda atau penanda banjir telah diletakkan dan dipantau di lokasi-lokasi yang strategis di desa-desa tersebut. Saat ini, masyarakat telah terbiasa dengan kode peringatan yang dipakai di kota yang sesuai dengan standar warna bencana internasional. Untuk memasukkan kanungkong ke dalam sistem, persetujuan tentang ritme dan bunyi (misalnya jumlah pukulan kanungkong pada interval waktu yang ditentukan) dibuat sesuai dengan tindakan khusus yang dilakukan. Satu kanungkung di tiap 5 rumah menyampaikan peringatan berantai ke rumah-rumah yang ada di sepanjang bantaran sungai. Tabel 1 menjelaskan kode-kode peringatan. Tongkat penanda telah dibangun pada titik-titik terendah di barangay (desa) untuk menyesuaikan dengan peringatan siaga, berdasarkan pada informasi dari banjir-banjir yang melanda desa-desa tersebut di masa lalu (Gambar 2a, b dan c). Titik nol tadinya disarankan untuk distandarisasi oleh pemerintah kota namun saat ini masing-masing desa memiliki penanda banjir sendiri-sendiri yang disetujui bersama yang diletakkan di tempat-tempat strategis di desa. Pengukur menunjukkan sampai tingkat kritis mana para warga harus bersiap-siap untuk meninggalkan rumah dan mengungsi ke pusat-pusat evakuasi. Tabel 1. Kode peringatan yang dipakai di Kota Dagupan Warna Putih (Siaga I) Kuning (Siaga II) Oranye (Siaga III) Tingkat Siaga Normal Siaga (peringatan bahaya) Bersiap untuk evakuasi atau menuju ke tempat pengungsian (banjir besar datang) Evakuasi penuh (evakuasi dari rumah-rumah menuju ke tempat aman yang telah ditentukan) Evakuasi paksa Sinyal Peringatan dengan Kanungkong 5 kali pukulan kanungkung dengan interval 20 menit 10 pukulan dengan interval 20 menit

Merah

Non-stop (15 pukulan dengan interval 10 menit) Non-stop (20 pukulan pada interval 5 menit)

70

Hijau

Situasi kembali normal

Pemantauan dan penyampaian pesan berantai tentang tingkat banjir yang diperoleh dari tongkat penanda dilakukan oleh tim peringatan dan komunikasi barangay dengan menggunakan radio komunikasi (HT) ke pihak BDCC. Kanungkung kemudian dibunyikan dan disampaikan secara berantai dari satu titik ke titik yang lain (setiap 5 rumah) (Gambar 3). Masing-masing BDCC memiliki hubungan radio dengan CDCC, dan informasi disampaikan satu sama lain melalui radio yang ada di Pusat Operasi Darurat (Posko Darurat). Diagram alur dari sistem peringatan dini dijelaskan di Gambar 4. Tanggap Darurat dan/atau Rencana Managemen Risiko Bencana merinci tanggungjawab dari panitia dan personil CDCC dan BDCC dalam hubungannya dengan peringatan dan evakuasi. Sebagai bagian dari rencana, sistem peringatan dini telah disusun melalui serangkaian konsultasi, kunjungan studi dan lokakarya.
Penyiapan Rencana Tanggap Darurat Kota dan/atau Rencana Badan Koordinasi Manajemen Risiko Bencana

Pemasangan Penanda Banjir (Tiang penanda)

Pemantauan Tingkat Air sungai oleh tim Peringatan dan Komunikasi

Penyampaian informasi berantai ke BDCC dan CDCC melalui radio VHF

- Tindakan diambil oleh BDCC dan CDCC; - Tindakan yang dilakukan warga berdasarkan pada tingkat kesiagaan

Gambar 4: Penyampaian informasi berantai ke warga desa dengan menggunakan kanungkung. Pelajaran yang Dapat Dipetik Sistem peringatan banjir Kota Dagupan yang merupakan perpaduan antara kearifan lokal dan pengetahuan ilmiah modern merupakan tanggapan efektif terhadap masalah klasik banjir yang terjadi di kota tersebut. Dalam merumuskan sistem ada beberapa pelajaran penting sebagai berikut: 1. Penggunaan kanungkong telah memobilisasi kapasitas lokal sambil menghidupkan kembali dan melestarikan praktik-praktik lokal untuk digunakan kembali dalam kesiapsiagaan bencana. 2. Melibatkan masyarakat dalam pengkajian risiko (misalnya pengkajian bahaya, kerentanan dan kapasitas) dan merancang sistem peringatan dini sangat penting dilakukan. 3. Pengujian sistem peringatan dan prosedur evakuasi penting dilakukan melalui simulasi dan latihan praktis yang melibatkan semua anggota masyarakat.

71

Belajar dari praktik-praktik baik dengan mengunjungi warga masyarakat yang terlibat dalam kesiapsiagaan dan mitigasi bencana berbasis masyarakat. Gambar 2a dan b. Kanungkong adalah sarana komunikasi yang digunakan dalam sistem peringatan dini tingkat desa. Ini akan mendorong warga masyarakat dan pemerintah untuk terus melanjutkan kerja keras mereka. 72 . Tiang penanda yang menunjukkan tingkat peringatan yang dipantau oleh tim peringatan dan komunikasi. Gambar 4: Penyampaian informasi secara berantai kepada masyarakat dengan menggunakan kanungkung. Badan Koordinasi Bencana tingkat Desa memberikan peringatan awal dengan menggunakan kanungkung. Kunjungan studi oleh pejabat setempat dan tokoh masyarakat ke proyek-proyek yang sama menumbuhkan refleksi kritis tentang bagaimana meningkatkan kegiatankegiatan yang berhubungan dengan kesiapsiagaan dan mitigasi mereka. Gambar 1a dan b. Gambar 3.4.

Barangay Matanag, Kota Legazpi, Albay, Filipina Pengetahuan Masyarakat Asli tentang Mistisisme Muntahan Lava Gunung Berapi Mayon Gerardine Cerdena Abstrak Tinggal di gunung tidak selalu berarti masyarakat yang tidak dapat berkembang dengan lingkungan sekitarnya. Dalam kasus desa Matanag, penduduk desa tegar dalam menantang bencana yang ditimbulkan oleh gunung berapi, tetapi masih menganggap gunung berapi sebagai tempat tinggal yang nyaman. Kearifan lokal yang dimiliki masyarakat tentang tanda-tanda peringatan dan bagaimana meramalkan letusan gunung api berperan dalam upaya memperkecil risiko dan menangani bahaya yang ditimbulkan oleh gunung berapi Mayon. “Jika Mayon memuntahkan percikan-percikan panas, itu tandanya Mayon akan meletus. Kadang-kadang kami khawatir tentang itu, tetapi kadang-kadang tidak. Gunung berapi selalu menimbulkan suara-suara gemuruh sayup-sayup dan para petanilah yang pertamatama mendengarnya,” Domingo Arias, penduduk desa Matanag. Latar Belakang Sebagai salah satu gunung berapi yang aktif di pulau Luzon, Filipina, Gunung Mayon dianggap oleh beberapa orang sebagai gunung berapi yang berbentuk paling sempurna karena kerucutnya yang sangat simetris (Gambar 1). Sebagai salah satu gunung berapi yang berada dalam “Sabuk Gunung Api”, Mayon terletak di bibir Samudera Pasifik di mana kegiatan vulkanik dan gempa sering terjadi. Gunung berapi itu terletak 15 kilometer ke arah barat laut Kota Legazpi, Albay, Filipina di wilayah Bicol. Gunung Berapi Mayon merupakan gunung berapi basal-andesit yang terletak antara lempengan Eurasian dan Filipina yang terbentuk melalui asap tebal dan guguran lava yang memuntahkan abu selama 400 tahun terakhir (Gambar 2). Lereng bagian atas dari gunung berapi tersebut terjal dan kasar, dengan sudut rata-rata 35-40 derajat, dan ditutup dengan kawah kecil. Lereng-lerengnya mengandung lapisanlapisan lava dan material vulkanik lainnya. Magma terbentuk ketika batuan meleleh dan letusan biasanya terjadi ketika guguran lava seperti air panas menyembur keluar dari rekahan panjang di kawah. Desa Matanag di Kota Legazpi adalah sebuah desa pertanian yang didiami oleh 1.400 penduduk dan merupakan salah satu dari wilayah yang mengapit lereng gunung berapi Mayon yang rawan terlanda lava. Daerah tersebut dinyatakan sebagai zona berbahaya oleh ahli vulkanologi dari Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina dengan menggunakan penginderaan jauh dan satelit. Kisah/Peristiwa

73

Mayon tercatat telah meletus sebanyak 47 kali. Letusan yang paling dahsyat terjadi pada tanggal 1 Februari 1814 yang memakan korban jiwa sebanyak 2.200 orang dan abu vulkanik mengubur kota Cagsawa. Letusan Mayon terakhir yang dahsyat terjadi pada tahun 1993 ketika lava pijar menelan 77 korban jiwa, kebanyakan para petani. Letusan gunung berapi Mayon sering membuat orang takut kehilangan rumah dan sawah mereka. Ditanya tentang dampak letusan Mayon, Bienvenido Belga Sr., Kepala Desa Matanag menyatakan, ”An niyog tapos mga gulayon nagkakaaralang tapos nagkakagaradan pag nagtutuga an Mayon. Su mga gapo nagdadalagasan nin mga kalayo hali sa Mayon kaya minsan nagigipit kami sa negosyo pagmay eruption. – Kelapa dan sayur mayur layu dan mati akibat letusan gunung Mayon. Batuan panas jatuh berguguran dari gunung Mayon sehingga bisnis kami terganggu.” Kota tersebut sangat tergantung pada hasil panenan kelapa dan padi sebagai sumber pendapatan maupun sebagai makanan pokok. Terlebih lagi, lahar dingin yang membawa abu vulkanik serta batuan besar yang meluncur turun dari gunung Mayon dapat membunuh ratusan jiwa dan membawa lumpur yang sangat banyak sehingga dapat menimbun atap rumah. Sebaliknya, letusan dapat juga dipandang sebagai hal yang menguntungkan karena penduduk tahu bahwa abu vulkanik yang berasal dari letusan gunung berapi dapat memperkaya tanah, sehingga dapat menghasilkan panen yang lebih baik. Bahkan, ancaman aktivitas gunung berapi yang meningkat dan letusan selama bertahun-tahun tidak menyurutkan semangat para penduduk desa Matanag. Kearifan Lokal Ketika ditanya tentang kearifan lokal mereka yang berhubungan dengan letusan gunung berapi Mayon, beberapa penduduk desa menyatakan: Dakulon an palatandaan na aram mi tungkol sa pagtuga kang Mayon. – Ada banyak tanda-tanda peringatan menjelang letusan.” Mereka menyebutkan bahwa jika sungai dan anak sungai menjadi kering, ini menunjukkan tanda-tanda awal kapan Mayon akan memuntahkan lava yang mematikan. ”Pag ubas an tubig na talagang diretso sa pirang bulan, aram mi na ma tuga na an Mayon. Tapos an lava an pighahaditan ming maray. – Jika air menjadi kering selama 8 bulan penuh, maka kita tahu bahwa Mayon akan segera meletus. Dan lava yang terbentuk dari gunung berapi itulah satu-satunya yang kita takutkan.” Warga desa juga menyebutkan tentang percikan yang berasal dari gunung berapi yang dengan cepat menciptakan lembah berapi di antara rekahan-rekahan dan menandakan terjadinya letusan gunung Mayon. Selain dari itu, para petani setempat dapat mendengar suara gemuruh dan merasakan gempa bumi yang tidak bisa dirasakan oleh penduduk yang tinggal jauh dari gunung. Seperti dinyatakan oleh Domingo Arias, seorang polisi desa, ”Pag may naguusok na kalayo hali sa Mayon, yan an sinales na matuga na. Minsan nahahadit kami, minsan dai man. Sigeng tagog kang bulkan asin nakakadangong inot su mga para tanom ky maluang daguldol. – Jika Mayon memuntahkan percikan-percikan panas, artinya Mayon akan meletus. Kadang-kadang kami khawatir tentang itu, tetapi kadang-kadang tidak. Gunung berapi selalu menimbulkan suara-suara gemuruh sayup-sayup dan para petanilah yang

74

pertama-tama mendengarnya.” Tiang batu dipakai sebagai tanda untuk melihat apakah angin mengandung abu. Lebih dari itu, binatang seperti baboy-damo (babi hutan liar) dan ayam mengikuti indra perasa elektromagnetiknya. Penduduk desa menyaksikan binatang-binatang ini melarikan diri dari gunung berapi. Ketika binatang-binatang lari menuruni gunung Mayon, ini merupakan pertanda bagi warga bahwa sudah saatnya mengungsi karena binatangbinatang ini dapat merasakan suhu tinggi yang berasal dari gunung api. Menurut salah satu warga, penglihatan gaib dan tahayul yang berhubungan dengan Gunung api Mayon selalu menunjukkan kebenaran. Ditanya tentang apakah mereka khawatir tentang kiamat yang semakin dekat yang disebabkan oleh gunung api ketika mereka melihat dan merasakan tanda-tanda peringatan, mereka menjawab bahwa mereka sudah terbiasa dengan situasi tersebut. ”Tiud na kami pagnagtutuga an Mayon, -Kami sudah kebal dengan naiknya suhu Mayon.” Romeo Nantes, seorang petani kelapa dan bapak tiga anak, mengatakan. ”Kami tidak akan mengungsi sekarang kecuali kalau situasi sudah sangat gawat dan ada letusan yang besar,” Rosario Nantes, istri Romeo Nantes, berkata sambil menjaga toko kecilnya. Itulah kenapa meskipun ada perintah evakuasi, banyak warga desa yang tetap tinggal diam di sawah-sawah sekitar gunung api Mayon untuk merawat sawah, kebun dan ternak sambil menjaga rumah dan harta benda milik mereka. Seorang penduduk Matanag yang sudah lama tinggal di sana, Geronimo Toledo, mengatakan, ”Pag mauran, baha ang mas delikado pag natugna an Mayon. Pero pag maray an oras wara man dapat haditan. – Jika Mayon meletus, banjir jika terjadi hujan itulah yang lebih berbahaya. Namun jika cuaca baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Pengetahuan tentang tanda-tanda gunung api ketika memuntahkan gumpalan asap dan abu yang tinggi berkontribusi terhadap pengurangan risiko bencana. Dengan mengikuti kepercayaan ini, para penduduk setempat mengumpulkan tanda-tanda peringatan bahaya dari ancaman di depan mata dan dengan demikian segera bersiap-siap menghadapinya. Orang-orang ini biasanya bersyukur karena para tetua mereka mewariskan pengetahuan ini kepada mereka. ”An mga gurang mi an nagturo samuya kang gabos na dapat ming maaraman. Maski aki mi aram an mga sinales. – Para tetua kami yang mengajarkan apa yang perlu kami pelajari. Bahkan anak-anak kami pun dapat membaca tanda-tanda bahaya.” Arias menegaskan. Ketika ditanya apakah mereka masih memperhatikan pengumuman yang berdasarkan pada pertimbangan ilmiah, Belga, seorang penduduk desa lainnya menjawab: ”Dai kami nagtutubod sa awtoridad ta sala sinda minsan. Masabi na matuga pero wara man kaming napapansin na palatandaan o babala kaya dai kami mina hiro nangad hanggang sigurado kami. Pero pag aram ming tama, ma hali man sana kami siyempre. – Kadangkadang kami tidak begitu memperhatikan apa yang dikatakan oleh pihak berwenang.

75

Meskipun demikian. Bahkan sebaliknya. Penolakan warga untuk mengungsi ketika gunung berapi memuntahkan lava panas dan mengandung magma yang bergolak murka hanya karena pendirian yang keras kepala kadang-kadang sama saja dengan kekonyolan. kaito pa. Kami sudah tahu hal itu sejak lama. Para ilmuwan yang menggunakan teknologi mutakhir dapat menjembatani kesenjangan antara masyarakat yang berkeras pada pendiriannya agar memanfaatkan hasil yang 76 . para penduduk desa tahu kapan harus menghindari bahaya ketika letusan besar terjadi. tetapi bergantung pada bimbingan penasehat spiritual dan kepercayaan gaib. Cara pandang yang berbeda tentang letusan gunung api menghasilkan adanya salah pengertian antara ilmuwan dan warga masyarakat yang terkena dampak langsung. Sa pagtuga kang Mayon. Sejujurnya. Dengan kearifan lokal yang mereka miliki. Kepercayaan ini membuat mereka mempunyai pengharapan dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi bahaya. tidak semua budaya memandang letusan gunung api sebagai sesuatu yang menghancurkan. Para ahli ilmu sosial mengamati bahwa hal ini bukan lagi merupakan pandangan naif tentang alam.Mereka mengatakan bahwa Mayon akan meletus. namun kami tidak melihat tandatandanya sehingga kami memutuskan untuk tidak mengungsi jika kami tidak yakin sekali. kami hanya bergantung pada naluri kami sendiri. tentu saja kami akan mengungsi. Para penduduk tidak mendengarkan para petugas yang berwenang. kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun membantu mereka memperkecil risiko. Namun cerita dan ritual yang tidak masuk akal ini juga membantu mereka menghadapi bencana. Pelajaran yang Dapat Dipetik Para aparat pemerintahan sering tidak kuasa membujuk penduduk desa untuk meninggalkan zona bahaya meskipun ada kerentanan alam dan bencana. sadiri ming kahiruan an kaipuhan. Aram mi yan. ahli geologi dan vukanologi. menghadapi bahaya yang ditimbulkan oleh alam dan belajar bagaimana bertahan hidup. Warga masyarakat setempat tahu bahwa gunung api tidak memuntahkan sesuatu tanpa alasan. Tinggal dekat dengan gunung api tidak berarti mereka tidak dapat sukses hidup dengan alam sekitarnya. Namun. Pandangan-pandangan ini mengherankan masyarakat ilmiah namun pandangan ini tidak bisa begitu saja dihilangkan.” ”Mga para tanom sana kadklan samo digdi pero aram mi kung ano an dapat hibuhan and tubodan. Tingkat risiko yang akan dihadapi orang karena kearifan lokal mereka mungkin tidak mudah untuk dipercaya. Gunung api kadang dianggap sebagai entitas penting yang melampiaskan dendam dan ketidakadilan pada dunia. Tentang letusan gunung Mayon. dan membawa keadilan bagi ketidakpastian dan kekhilafan umat manusia. Takhayul dan mitos masih menancap dengan kuat dalam kepercayaan masyarakat. – Banyak di antara kami yang hanya petani namun kami tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang harus kami percayai.” kata Belga dengan tegas. jika kami yakin Mayon akan meletus. banyak warga yang tinggal dekat gunung api Mayon memandang letusan sebagai keadaan yang menguntungkan untuk terjadinya penciptaan dan evolusi.

Foto: Jenny Exconde Gambar 2: Awan panas yang menuruni lereng puncak Gunung api Mayon. Gambar 1: Gunung api Mayon dengan kerucut simetris sempurna.mereka ciptakan. Namun. 77 . mereka tidak boleh meremehkan kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat dan harus memahami bagaimana karya mereka akan diterima oleh masyarakat yang sudah sangat akrab mengalami dan menghadapi letusan gunung berapi.

namun selalu hujan minimal 8 hari dan maksimal 21 hari dalam sebulan. serta dinamika sosialnya terbukti mampu bertahan di tengah bencana. Pulau itu dikelilingi oleh terusan Balintang di bagian selatan. lautan yang ganas dan sumber daya yang minim. Batan terdiri dari 10 pulau-pulau kecil dan hanya tiga di antaranya yang dihuni. Bawang putih dan ternak adalah sumber pendapatan panen utama namun ada pula hasil bumi lain seperti beras. 2000. Masyarakat yang mendiami kepulauan Batan disebut kaum Ivatan. dan kemudian turunlah hujan dengan lebatnya. Budaya yang luar biasa ini menunjukkan adanya hubungan yang sangat erat antara masyarakat Ivatan dan lingkungannya sebagai sarana bertahan hidup dalam menghadapi bermacam-macam tekanan lingkungan alam mereka. yaitu Pulau Batan. lembah yang dalam. jagung dan umbi- 78 . kearifan lokal yang menyatu dalam teknik pembuatan rumah tradisional dan perahu. Florentino H. bukit yang melandai. Noralene Uy dan Rajib Shaw Disarikan dan diambil dari Hornedo. namun petir adalah oborku. hujan dan topan. Iklim dan topografi di Batan berbeda dari provinsi lainnya di Filipina. Kemudian datanglah guntur bergemuruh. Filipina. Kepulauan Batan memiliki suhu yang agak sedang yang dapat turun sampai 7o C. dataran tinggi yang naik turun serta pantai-pantai yang dibatasi oleh batuan besar menjadi ciri alam di kepulauan itu. Filipina Dibentuk oleh Angin dan Topan: Kearifan Lokal Kaum Ivatan di Kepulauan Batan. Syair Cerita Rakyat Ivatan Latar Belakang Kepulauan Batan merupakan bagian dari kumpulan pulau-pulau yang terletak di bagian paling utara negara Filipina.656 di tahun 2000) dan luas wilayah (hanya 230 m2). pulau tersebut lebih dekat dengan Taiwan (hanya 218 km) daripada dengan daratan Luzon. Meskipun menghadapi kesulitan seperti ini. Terletak antara 121o 45’ sampai 122o 15’ Bujur Timur dan pada 20o 15’ Lintang Utara. Cuacanya agak sejuk dan berangin. Musim hujan dan musim kemarau tidak terlalu berat. Kepulauan tersebut juga memiliki bentang alam yang sangat unik. Sedikit banyak.Kaum Ivatan di Kepulauan Batan. dan hujan menjadi tongkat jalanku. Tebing yang curam. Provinsi itu selalu dihempas badai. guntur memukul irama langkahku. kemudian datanglah petir menyambar-nyambar. Batan merupakan provinsi terkecil di Filipina dalam hal jumlah penduduk (15. Sabtang dan Itbayat. Maka datanglah badai yang menghantamnya. Menjinakkan Angin: Sejarah Etno-Budaya tentang Kaum Ivatan di Kepulauan Batan Abstrak Kaum Ivatan yang tinggal di Kepulauan Batan telah memiliki sejarah panjang dalam berjuang dan menyesuaikan diri terhadap badai. Kurang lebih 75% penduduk Ivatan adalah petani dan nelayan. provinsi ini mengingatkan kita pada Irlandia atau Selandia Baru.

angin besar merontokkan atap gereja katedral dan membengkokkan menara tanpa kabel. pertanian dan lembaga sosial masyarakat Ivatan telah disesuaikan dengan cuaca yang keras dan berubah-ubah. Rumah tradisional kaum Ivatan dibangun dengan tembok yang tebal yang terbuat dari batu dan gamping dan diberi atap lapisan tebal rumput cogon (sejenis ilalang yang tinggi yang hanya ada di Filipina) untuk menahan terjangan topan yang ganas. gubernur provinsi itu menceritakan beberapa malam sebelumnya ketika ada badai. Pada tahun 1918. Setiap warga Ivatan memiliki cerita sendiri-sendiri tentang Topan. seng itu telah berubah bentuk menjadi bola yang menggelinding ke sana ke mari seperti rumput kering yang dipermainkan angin. perahu air dan dinamika sosial masyarakat kaum Ivatan akan dijelaskan secara terinci pada bagian berikut ini. Masyarakat menanami bagian tepi ladang dengan pohon-pohon yang dapat memecah kemurkaan angin sehingga tanaman yang berakar dapat tumbuh.1 Kearifan Lokal Arsitektur.umbian. kondisi alamnya cocok untuk mencari ikan. Rata-rata 20 angin topan menyerang Filipina setiap tahun. seorang nelayan terapung-apung menuju ke Taiwan. kapal tanker Angkatan Laut Filipina kandas di Basco. Sayangnya. Pada tahun 1952. sebuah keluarga sedang berkumpul menunggu badai datang. seorang warga nekat mengejar atap yang terbuat dari seng yang diterbangkan angin dan akhirnya berhasil menangkapnya sampai gedung balai kota. Pada tahun 1905 angin yang dahsyat menghempaskan ternak sampai mati. Perahu yang lebih kokoh yang dinamakan paluwas berfungsi sebagai moda transportasi utama dari satu pulau ke pulau lainnya. atau angin puyuh. Paginya. perahu nelayan tersapu dari Annam. Koperasi Ivatan dan lembaga bantuan sosial memperkuat ikatan antar anggota masyarakat. adalah angin yang paling sering terjadi di kepulauan Batan karena kepulauan tersebut terletak di sepanjang sabuk angin puyuh. salah satu kota di Pulau Batan. Anin. Beberapa waktu yang lalu. sebuah daerah yang sekarang letaknya di sebelah selatan Vietnam. Terakhir. Rumah tradisional. dengan 8 di antaranya melewati Kepulauan Batan dalam perjalanan dari Filipina selatan menuju ke arah barat laut. Pada tahun 1987. terutama angin yang paling menakutkan. ibukota provinsi. teknik pembuatan perahu. Rumah Tradisional 1 Feleo (2006) 79 . Kisah/Peristiwa Angin merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan kaum Ivatan dan telah ikut membentuk gaya hidup masyarakat Ivatan. Budaya Ivatan secara keseluruhan dibangun atas dasar swa-sembada karena letaknya yang terisolir dari kebudayaan lain. Atap rumah mereka jebol dan seekor sapi jatuh menimpa rumah mereka. Karena desa-desa dan kota-kota di kepulauan tersebut terletak di sepanjang garis pantai. mereka berpesta daging sapi. Pada tahun 1921. dan sebuah bangunan sekolah roboh terbawa angin di Mahatao.

seluruh anggota keluarga tinggal di dalam rumah. Kaum Ivatan tahu kapan saatnya mengisi dapur dengan persediaan ketika daun pohon aruyo telah tumbuh sangat panjang dan lembut. kadang-kadang begitu sempitnya sehingga hampir tidak cukup untuk lewat kendaraan.Evolusi dari apa yang disebut rumah tradisional kaum Ivatan adalah cerita turun-temurun tentang perjuangan masyarakat dalam mempertahankan diri dari segala macam cuaca. Kusina yang merupakan bagian paling penting di rumah. Ketika angin puyuh datang. yaitu rakuh (ruang keluarga) dan kusina (dapur). Pembuatan kapal adalah tradisi dan teknik perahu air telah diketahui selama berabad-abad dengan tidak ada perubahan teknologi sampai pertengahan abad 20. Jalan-jalan yang memisahkan rumah-rumah tersebut dibuat lurus dan sempit. Suhu dalam ruangan dapat disesuaikan agar cukup sejuk selama musim panas dan hangat sepanjang musim badai dingin. Hanya tiga dinding rumah yang memiliki jendela sedangkan dinding yang tidak memiliki jendela menghadap ke arah di mana angin biasa bertiup paling kuat.2 Tata letak pemukiman juga menyesuaikan dengan keadaan alam. Sebuah rumah Ivatan dibangun dengan dinding batu gamping dengan tebal sekitar 2-4 kaki dan sebagai atapnya ditumpul berlapis-lapis rumput cogon dan alang-alang. kaum Ivatan telah tinggal di tempat tinggal batu tradisional untuk melindungi diri dari alam. masyarakat yang memiliki arsitektur rumah tradisional yang terbuat dari batu hanyalah di Kepulauan Batan (Gambar 1). Jendela dan pintu dibuat sangat kecil dan sempit. Daun jendela terbuat dari aneb (daun pintu) kayu yang sangat tebal yang diengselkan ke kusen pintu dengan yembra y machu (engsel) yang tebal pula dan dikunci dari arah dalam dengan panahtah (palang kayu). Bangunan ini melambangkan kehangatan. Sejak berabad-abad yang lalu. dibangun mengelilingi kompor besar menyerupai api unggun. bambu dan atap daun nipah) yang secara luas dipakai sebagai atap di seluruh pelosok negeri. 80 . Struktur ini cukup kokoh untuk menahan serangan angin puyuh yang menerjang kepulauan. Teknik yang unik ini adalah hasil dari usaha untuk menyempurnakan perahu air agar dapat mengurangi risiko hilangnya jiwa di laut karena 2 3 Feleo (2006) Villalon (2000). Cerita itu juga memuat gambaran tentang adaptasi. Di Filipina. Ini merupakan pertanda bahwa angin puyuh akan menerjang mereka dalam hitungan hari.3 Perahu air yang unik dan pengetahuan tentang laut Kaum Ivatan adalah pelaut dan pembuat kapal. keamanan dan sumber kesejahteraan komunal. Rumah masyarakat lain kebanyakan terbuat dari bahan-bahan khas daerah tropis semi-permanen (misalnya kayu. dengan menggunakan batu untuk mempertahankan diri dari angin dan tekanan curah hujan muson. Pemukiman di desadesa tersebut kebanyakan berupa rumah-rumah batu yang beratap rendah dan bertembok tebal ditutup dengan atap jerami tebal dan dibangun berhimpitan dalam kelompokkelompok untuk melindungi rumah-rumah sesama warga dari sapuan angin puyuh yang ganas. asimilasi dan penggunaan kreatif dari bahan-bahan setempat yang tersedia di alam. Kebanyakan rumah-rumah Ivatan memiliki dua unit yang terpisah.

maka akan dikembalikan pada Anda ketika Anda membutuhkannya di masa yang akan datang”. sangat terbukti berperan penting pada saat bencana seperti angin badai. Bayanihan4 merupakan contoh yang jelas. Dengan menggunakan arah dan suhu udara. Karena navigasi antar pulau masih sulit karena arus air yang kuat cenderung tidak dapat diduga. (gambar 2). Paluwa adalah jenis perahu air yang paling umum dijumpai. warga Ivatan tetap saling berhubungan dan membantu satu sama lain. terutama para nelayan. chinarem. Perahu air tradisional Ivatan disebut dengan tataya.5 Untuk memastikan adanya kesempatan yang lebih besar dalam memenangkan perlombaan dengan alam. atau memanen hasil bumi. bentuk paluwa tidak sama dengan banca bergandung khas Asia Tenggara (perahu motor). terutama mengenai pembangunan rumah tradisional dan pembuatan perahu air. membersihkan kampung. dan kapanidungan. untuk berkelana jauh ke tengah laut ketika kondisi cuaca sedang buruk dan dengan demikian memperkecil kecelakaan laut yang mungkin terjadi. mereka meramalkan watak lautan. jika yang Anda investasikan pada saudara yang membutuhkan hari ini.adanya badai yang sering terjadi terutama selama musim angin badai. Dinamika Sosial Ivatan Keterasingan Batan telah menyebabkan masyarakat kaum Ivatan menjadi masyarakat yang sangat kental satu sama lain yang terbiasa dengan kerasnya hidup dan jauh dari kemewahan yang dianggap normal bagi orang lain. warga Ivatan telah menciptakan berbagai macam bentuk koperasi buruh yang berdasarkan pada satu prinsip utama: ”Anda tidak perlu bekerja hari ini. Mereka mengamati waktu dalam sehari dan fase bulan untuk meramalkan pasang surut dan pasang naik. seperti gotong royong memperbaiki rumah tetangga. Paluwa adalah perahu kayu dengan dasar bundar yang terlempar dan bergulung bersama dengan gelombang dan meluncur dalam ombak laut yang dahsyat. Ivatan membaca wajah laut. payuhwan. Koperasi mandiri masyarakat yang disebut yaru di mana setiap rumah tangga mengirimkan setidaknya satu wakil yang sehat secara jasmani untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sekarang ini. Sebagai pelaut yang terdidik. Pangadiran (angin timur) dan sumla (angin selatan) cenderung lebih lembut. Mereka tahu kecepatan arus hanya dengan melihat tekstur dan irama ombak. Ketrampilan bagi pembangunan rumah dengan cara tradisional tidak diajarkan di sekolah namun dipelajari dari praktik dan 81 . chinedkeran dan paluwa. kapaychahwan. paluwa yang digunakan untuk transportasi mempertahankan bentuk tradisionalnya tetapi telah dilengkapi dengan motor. Ketika menyeberangi selat. Ketika alam memporakporandakan kepulauan mereka. mereka menandai kemajuan perjalanan mereka dengan muncul atau menghilangnya pepohonan di pulau yang mereka lewati. Idaud (angin utara) biasanya kasar dan avayat (angin barat) biasanya tidak tentu. pada dasarnya dilakukan dengan magang dan pengamatan partisipatif. Pengetahuan yang luar biasa tentang lautan ini mencegah warga masyarakat. Pola pendidikan yang menularkan kearifan lokal turun temurun. sehingga laut bisa menjadi sangat bergolak. Ini merupakan kode beroperasinya kelompok kerja tetap maupun musiman semacam kayvayvanan.

Pelajaran yang Dapat Dipetik Terlepas dari kaum Ivatan.Cafe Ivatan. 5.com/sports/490/Batan/Batanestoday.6 Beberapa pelajaran dapat dipetik dan kesimpulan dapat diambil dari kasus kaum Ivatan. kelompok masyarakat yang tinggal di kepulauan yang kecil dan terasing mencapai swasembada dengan menggunakan kearifan lokal mereka. metode melakukan sesuatu. Memang penting untuk mengakui nilai-nilai dari kearifan lokal. Pada saat bencana. Diakses pada tanggal 6 Maret 2008. http://uproar. 4. Hal yang sama juga berlaku pada pembangunan perahu air Ivatan. gedung sekolah dibangun tanpa mempertimbangkan kearifan lokal.fortunecity. cara hidup. dan kepercayaan bahwa semua berdasarkan pada kearifan lokal dan kebiasaan setempat merupakan ajaran penting dari budaya Ivatan. Meskipun menghadapi berbagai keterbatasan alam. Budaya tradisional ini telah sangat membantu masyarakat Ivatan dalam berjuang mempertahankan hidup selama berabad-abad. 3. karena nyatanya tingkat kemiskinan di Batan tidak pernah kunjung turun. lembaga-lembaga sosial yang ada membuat upayaupaya komunitas yang terorganisir dan terpadu menjadi mudah. laut yang ganas dan sumber daya yang terbatas. Khasanah kearifan lokal yang kaya tentang masyarakat kaum Ivatan yang memanfaatkan sumber daya setempat dan dengan demikian sangat murah karena hanya memanfaatkan keterampilan dan materi yang tersedia di alam sekitar. Daftar Pustaka . Meskipun demikian. Hal ini mencontohkan hubungan yang selaras antara masyarakat dan lingkungannya. tidak ada budaya satu pun di Filipina yang dengan gemilang berhasil menjinakkan kemarahan angin musiman. Budaya Ivatan merupakan produk dari sejarah panjang perjuangan dan penyesuaian diri dengan angin badai.magang kepada para veteran pembangun rumah di masyarakat. Batan: A Historical and Descriptive Profile of the Ivatans. sejarah dan situasi sekarang menunjukkan bahwa memang budaya tradisional dapat menjamin keberlangsungan hidup.htm. Kaalamang Bayan (kearifan masyarakat). tetapi tidak lebih dari itu. Misalnya. terutama yang sudah terbukti selama berabad-abad dan efektif. Merupakan kebiasaan yang umum dilakukan oleh kaum Ivatan untuk saling membantu. 2. Proyek menjadi percobaan yang sia-sia karena tidak ada bangunan yang tersisa setelah angin badai menyapu desa. Pada umumnya. 82 . kearifan lokal masyarakat kaum Ivatan dianggap sebagai primitif dan sering tidak direkomendasikan atau tidak dianggap penting. 1. meskipun sudah ada teknologi modern. yaitu sumber daya yang terbatas dan kondisi cuaca yang sangat buruk. Ada kebutuhan untuk melaksanakan program pembangunan yang bermakna di Batan yang mengakui keunikan budaya setempat dan menyediakan dukungan bagi kondisi yang ada.

http. 2000. Batan on the Rise.htm. Batan: Sea and Storm Shape the Islands. Manila. Batan: Majestic Harmony between People and Nature. http://www.htm.batanesonline. Challenges in Preserving the Heritage Houses of Batan.ncca. Diakses tanggal 29 Mei 2008.niu. Philippines. Feleo. http. Something Different Up North.batanesonline. 83 . Taming the Wind: Ethno-Cultural History on the Ivatan of the Batan Isles. Batan: Another World. 2002. Florentino H.//rizal. Hornedo. Villalon.%20JOSE%20IGNACIO%20PAP ER%20FOR%20ATENEO.. UST Publishing House.gove. Diakses tanggal 6 Maret 2008.com/Features/Batan_On_The_Rise.. Diakses tanggal 6 Maret 2008.seasite. Lainez. http.htm/ Diakses tanggal 6 Maret 2008.admu. Bibsy M.ph/conf2005/conf/ARCH.com/Features?Majestic.batanesonline. Philippines. Ignacio. 2006. Jose F. Diakses tanggal 6 Maret 2008. Bandillo Batan. Francisco A.edu/Tagalog/Tagalog_Default_files/Philippine_Culture/Regio nal%20Cultures/northern_luzon_cultures.//www. Celerina M.ph/aboutculture-and -arts/articles-on-c-n-a/article.htm. Navarro.- - - - - - Carballo. Diakses tanggal 6 Maret 2008. Augusto F.//www. Datar. Anita.html. Diakses tanggal 6 Maret 2008. http://www.pdf.com/philculture/Philippine_articles/batanes.edu. 2000.livinginthephilippines.//www.com/Features/UpNorth. The Batan Islands. http://www. http. Aileen.lib.php?igm=4&i=226.

2 Richter pada tahun 1959. McAdoo. dan di Honiara di Guadalcanal pada tahun 1952 yang kemungkinan berasal dari gempa yang terjadi jauh di Kachatka di Pasifik Barat laut. Jennifer Baumwoll dan Andrew Moore Abstrak Pada tanggal 2 April 2007. sistem tersebut terbatas pada wilayah yang dekat dengan pusat gempa. Kepulauan Solomon Kearifan Lokal Menyelamatkan Banyak Jiwa dalam Tsunami Kepulauan Solomon tahun 2007 Brian G. para warga mendatangi wilayah Provinsi Barat sebagai bagian dari rencana pemukiman kembali oleh pemerintah Kolonial Inggris.1 Menurut sensus pemerintah Pulau Solomon tahun 2002. penduduk Gilbertese secara turuntemurun merupakan penghuni karang atol yang sangat tergantung pada sumber daya laut. Sejak orang-orang Gilbertese pindah ke daerah tersebut mereka belum pernah mengalami gempa yang berpotensi menimbulkan tsunami. demografi etnis Provinsi Barat berubah ketika kelompok etnis Gilbertese bermigrasi dari tempat tinggal asal mereka di Kiribati.Provinsi Barat. sehingga mayoritas pemukiman penduduknya berada di dekat daerah laguna. Latar Belakang Antara tahun 1955 dan awal tahun 1960-an. Baik penduduk lokal maupun pendatang hanya memiliki waktu singkat untuk bertindak karena desa mereka letaknya sangat dekat dengan pusat gempa. serta pengetahuan mereka tentang lingkungan setempat. karena para pendatang tidak mengenali tanda-tanda kedatangan tsunami.2 Kisah/Peristiwa Pada tanggal 2 April 2007 pukul 7:39 pagi waktu setempat.3 Gempa tersebut 1 2 Matthew (1996) Frits dan Kalligeris (2008) melaporkan keterangan saksi mata tentang adanya tsunami kecil di Ranongga yang ditimbulkan oleh gempa lokal berskala 7. Meskipun sistem peringatan dini berbasis pelampung sangat diperlukan dalam mitigasi dampak tsunami antar samudera yang menerjang garis pantai berjam-jam setelah gempa. tetapi juga lingkungan masyarakat yang terdiri dari bermacam-macam tingkat ekonomi dan budaya. sebuah Negara yang terletak di Samudera Pasifik barat daya di kawasan karang-karang atol yang jauh dari sumber gempa aktif. sebuah gempa bumi berkekuatan 8. Jumlah tersebut kemungkinan akan bertambah banyak jika para penduduk yang tinggal di tepi pantai tidak mengambil tindakan yang tepat.1 Richter menggoncang Provinsi Barat Kepulauan Solomon. Karena menipisnya sumber daya dan kenaikan jumlah penduduk di Kiribati. jumlah penduduk pendatang yang meninggal jauh lebih tinggi daripada warga setempat.1 skala Richter dan disusul tsunami menerjang kepulauan Solomon dan menelan 52 korban jiwa. terutama wilayah-wilayah yang sarana dan prasarananya sudah memadai. sebuah gempa dengan skala 8. Walau tinggal di daerah-daerah dengan tingkat kerusakan serupa. 3 USGS (2007) 84 . Rencana mitigasi tsunami yang ditujukan untuk melatih penduduk setempat harus mempertimbangkan tidak hanya lingkungan fisik wilayah tersebut.

Distribusi ketinggian air naik (run-up heights) tsunami Kepulauan Solomon tanggal 2 April 2007 yang secara spasial berhubungan dengan jumlah korban jiwa.7 Koloni terumbu karang yang tidak begitu padat dengan permukaan luas yang dasarnya telah dikoyak gempa bergeser ke dekat posisi asal tumbuhnya dan akan berpindah jika diseret arus yang sangat kuat.menyebabkan goncangan hebat (cukup hebat sampai banyak orang tidak mampu berdiri tegak) yang berlangsung lebih dari satu menit. air meluap dari karang laguna yang dangkal. menghempaskannya ke pedalaman dan menjatuhkannya dengan sedikit kerusakan – gelombang pasang yang kuat cenderung menggulingkan kendaraan dan merobohkan bangunan.6 Goncangan hebat dan kenaikan seismik juga menghancurkan terumbu karang yang ringkih di laguna. Tsunami kali ini menelan korban jiwa sebanyak 50-52 orang. tetapi kebanyakan korban jiwa ini terjadi pada penduduk pendatang yang minoritas (Dikutip dari McAdoo dkk. (2008) 8 McAdoo dkk (di harian) 85 . memporak-porandakan bangunan dan mengoyak koloni terumbu karang.000 tanah longsor di pulau vulkanik yang terjal di Ranongga – satu gempa terjadi di desa Mondo menelan dua korban jiwa manusia. memperlihatkan dasar laut. Tsunami datang antara 3-10 menit setelah goncangan berhenti. Kearifan Lokal Survei geologis menemukan bahwa tsunami yang menerjang daratan pada ketinggian yang sama di lingkungan fisik yang sama di wilayah dengan demografi yang berbeda menghasilkan pola kematian yang tidak konsisten yang tidak dapat dijelaskan oleh bahaya fisik semata. (2008) 7 McAdoo et al.8 Sementara desa pendatang cenderung memiliki jumlah penduduk yang lebih tinggi. Gambar 1 menjelaskan distribusi geografis ketinggian air ketika naik dalam hubungannya secara spasial dengan jumlah korban jiwa. menurut saksi mata. Gambar 1. dan desa-desa yang dicetak tebal adalah yang menderita korban jiwa. Masing-masing desa memiliki tebing 4 5 McAdoo et al.. Semakin besar tsunami. (2008) Fritz dan Kalligeris 6 McAdoo et al. Desa yang ada di peta adalah desa-desa yang rusak parah. Bangunan di wilayah tersebut rusak parah dan banyak korban luka karena kejatuhan reruntuhan bangunan dan tersiram air mendidih dari kompor. Segera sesudah goncangan berhenti. jumlah korban jiwa juga cenderung lebih besar. di harian Natural Hazards). Tsunami menyeret kendaraan dan rumah. yang akan membawa dampak lama bagi pemulihan perikanan. yang naik dengan cepat dan bukan gelombang pasang yang bergolak liar.5 Gempa juga memicu lebih dari 1. Pendatang Gilbertese meninggal dengan tingkat yang tidak sepadan dibandingkan dengan penduduk Melanesia pribumi. menunjukkan kurangnya pemahaman tentang sifat tsunami. tindakan mereka menghadapi gempa yaitu menyelidiki laguna yang tiba-tiba habis airnya. Bukti dari sana-sini yang didukung oleh pengamatan geologis memperlihatkan ada dua atau tiga gelombang yang saling bersusulan dengan kekuatan rendah.4 sementara pada saat yang sama memperingatkan warga akan potensi terjadinya tsunami. sektor yang menjadi andalan suku Melanesia pribumi dan pendatang Gilbertese.

.9 Menurut mereka yang selamat. Air laut surut hampir segera sesudah goncangan gempa berakhir. dan setiap kepala keluarga memastikan semuanya termasuk anak-anak baik-baik saja dan mengungsi. Bukti geologis menyatakan bahwa bagian depan tebing yang terjal dan laguna yang lebar (100-500 m) memperlambat tsunami yang datang. dilaporkan ke Natural Hazards) 9 McAdoo dkk (2008) McAdoo dkk (2008) 11 Fritz dan Kalligeris (2008) 10 86 . sebuah desa pendatang. lalu mereka membantu menyuruh semua orang naik ke pedalaman.7% penduduk yang meninggal karena tsunami adalah anak-anak. seperti juga halnya desa pendatang Titiana dan kedua desa tersebut memiliki tanah tinggi yang dapat dijangkau untuk menyelamatkan diri. tidak terdapat kematian penduduk pribumi di desa Pailongge di Pulau Solomon (jumlah penduduk 76 orang) yang terletak di pantai selatan Ghizo.11 Setelah goncangan reda. Desa pribumi Pailongge yang terletak di pantai selatan sangat rawan serangan tsunami yang hebat. New Manra. Bukti ini menegaskan bahwa faktor utama yang menyumbang pada tingkat kematian yang tinggi adalah tindakan yang tepat berdasarkan pada kebiasaan warga yang tinggal di lengkungan pulau aktif dekat dengan zona penunjaman (sukduksi). para tetua desa memperhatikan bahwa laguna telah kosong. membanjiri daratan sekitar tiga meter tingginya. Tidak seorang pun yang meninggal dunia di Pailongge. dan hanya dua orang yang meninggal di desa Ghizo yang lebih banyak penduduknya. Bukti dari sana-sini menyatakan bahwa kebanyakan orang dewasa di sini kewalahan menghadapi tsunami sambil menyelamatkan anak-anak mereka. Gambar 2.karang/penyangga laguna yang bagus. seperti Pailongge. 8 dari 13 orang yang meninggal adalah anak-anak yang belum cukup kuat untuk berenang melawan ombak yang datang. dan salah satu dari desa pendatang yang terkena dampak (New Manra) bahkan memiliki rumpun bakau tambahan yang tidak dimiliki oleh desa pribumi. ketika goncangan berhenti dan air laut menyusut dari laguna. menurut saksi mata. sebanyak 67. dan memantulkan sebagian energi ombak kembali ke laut. desa-desa pendatang tercatat memiliki jumlah kematian yang lebih tinggi di Pulau Ghizo. Laguna yang lebar (100-400 meter) terletak pada bagian depan tebing karang. namun juga hutan bakau di depan desa. Di desadesa Gilbertese di New Manra. Penduduk Gizo terdiri dari penduduk asli Kepulauan Solomon (kuning) dan pendatang Gilbertese (merah) yang tinggal di desa-desa terpisah. (McAdoo dkk. tidak hanya memiliki tebing karang yang melindungi. Masyarakat desa pendatang Titiana jauhnya hanya 3 kilometer ke arah timur Pailongge di pantai selatan Pulau Ghizo yang terkena hantaman tsunami terberat. anak-anak yang penasaran berlarian dari desa menuju laguna untuk menyelidiki dasar laut yang tersibak. namun 8 orang dari 206 penduduk desa menjadi korban tsunami. Seperti terlihat dari gambar 2. Di Titiana saja.10 namun ombak masih cukup besar ketika mencapai daratan. di mana masing-masing desa pendatang mencatat adanya kematian tanpa perduli letak geografisnya. Di pihak lain. Titiana dan Nusa Mbaruku.

laguna yang dangkal yang memantulkan serta melemahkan kekuatan gelombang tsunami. maka mereka benar-benar tidak memiliki kearifan lokal tentang lingkungan baru mereka yang mungkin dapat menyelamatkan jiwa. Banyak orang meninggal dunia di desa asli Tapurau. 2008. Kearifan lokal masyarakat Kepulauan Solomon. 2) rute penyelamatan diri yang terjangkau dan efektif serta dataran tinggi yang dibentuk oleh topografi yang ada. Indonesia pada tsunami Samudera Hindia tahun 2004. Namun. akan tetapi mereka juga tidak memiliki kearifan lokal yang membuat mereka mengurungkan niat menelusuri mengapa air laguna tiba-tiba surut. Lokasi-lokasi dengan dataran pantai yang luas akan mengalami kesulitan dalam mengevakuasi warga dari pantai. telah mengurangi dampak tsunami. Ancestral heritage saves tribes during 1 April 2007 Solomon Islands tsunami. 31 orang diantaranya (59. laguna yang lebar dan hutan bakau tidak cukup untuk melindungi penduduk New Manra karena mereka tidak memiliki pengetahuan tentang tsunami di daerah ini. terutama jika kepadatan penduduk sangat tinggi seperti yang terjadi di Banda Aceh. Di desa-desa asli yang terletak di Pulau Ghizo yang terkena terjangan tsunami paling dahsyat. dan N. Daftar Pustaka Fritz H. Doi:10.13 Desa tempat tinggal pendatang Gilbertese yang sama-sama memiliki fisiografi yang sama dan yang diterjang tsunami dengan intensitas yang sama. yang tidak memiliki penghalang tebing koral karena bentuk alam yang berevolusi pada lambung di bawah angin Pulau Simbo. Kearifan lokal dapat menjadi alat pengurangan risiko bencana tsunami yang efektif jika dapat menggabungkan antara pendidikan dan fisiografi. tebing koral.Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari 52 orang yang meninggal dunia selama gempa dan tsunami Kepulauan Solomon.12 Kiribati adalah Negara karang atol. Sebaliknya. New Manra dan Nusa Mbaruku yang tidak mengambil tindakan tepat karena mereka tidak memiliki ingatan akan kejadian serupa dalam tradisi mereka. di mana gunung api aktif dan gempa adalah hal yang biasa. Anak-anak Gilbertese terutama merupakan pihak yang paling rentan karena tidak saja mereka terlalu lemah untuk berenang melawan arus tsunami yang menyeret pelan namun dalam. Kalligeris. sebagian besar mengambil tindakan yang tepat sehingga korban jiwa dapat dikurangi. Karena tidak pernah ada gempa besar yang menyebabkan tsunami selama 50 tahun perpindahan mereka ke tempat yang baru.1029/2007GL031654 12 13 McAdoo dkk (dalam laporan pers) McAdoo dkk (2008) 87 . penduduk asli Kepulauan Solomon. Geophys Res Lett. yang terletak jauh dari sumber gempa rutin mana pun. dampak tsunami dimitigasi dengan menggabungkan 1) tebing koral sehat dengan penghalang yang curam dan lebar di bagian depan. dan 3) kearifan lokal tentang apa yang harus dilakukan selama terjadinya gempa besar yang diikuti oleh surutnya air laguna.6%) adalah pendatang Gilbertese dari Titiana. tidak memiliki kearifan lokal yang kemudian menyebabkan mereka menderita banyak korban jiwa.

2008. Solomon Islands. Hayes E (eds) The Oceania Region’s Harvest. Diakses tanggal 7 Januari 2007 Matthew. dan G. 1996. Dengler.ngdc.. Solomon Islands Earthquake and tsunami damages reef.- - - Galathea Expedition Gizo Tsunami Assistance Fund. P. UK.. Western Province overview. V. 2005.. Cambridge. 88 .. Diakses tanggal 17 Januari 2008. “Kearifan Lokal Menyelamatkan Jiwa selama Tsunami Kepulauan Solomon tahun 2007. affects local economy.noaa. Dapat diakses di http://www. Titov. 2006. Prasetya.ilfhaus. laporan pers.” Natural Hazards National Geophysical Data Center.gov/seg/hazard/tsu. Traffic Network. McAdoo B. Eathquake Spectra 22 (S3): 661-669 McAdoo B dkk.shtml. 2008. Smong: how an oral history saved thousands on Indonesia’s Simeuleu Island..com. Dapat diakses di http://www. Dalam: Sant G.sb/galatheaassist/. L. Volume II. Trade and Management of Sharks and Other Cartilaginous Fish: An Overview. Tsunami Database. EOS McAdoo B dkk.

“Kami menyebut gelombang besar ini ‘laboon”. pengetahuan mendalam akan lingkungan laut dan hutan mereka. Saya belum pernah melihat gelombang semacam itu. oleh karenanya kaum Moken beradaptasi dengan situasi ini dengan tinggal di pondok-pondok sementara di teluk-teluk yang terlindung dan mencari penghidupan mereka dari sekitar desa-desa yang mereka diami. Selama musim penghujan barat daya. kaum nomaden/pengembara yang tinggal di laut di Thailand – bahwa kaum Moken memiliki kearifan lokal yang dapat membantu mereka mengurangi risiko bencana. pengamatan yang tajam akan laut dan perasaaan berhati-hati yang kuat. Ia adalah dewa dari gelombang.” Salama Klatalay. Mereka membicarakan ‘gelombang tujuh ombak’ yang mengunjungi kami sekali setiap dua generasi. Kaum Moken yang berasal dari Kepulauan Surin relatif tetap mempertahankan gaya hidup mereka yang tradisional dibandingkan dengan kelompok-kelompok lainnya. Struktur sosial kaum ini berupa kelompok-kelompok kekerabatan yang terdiri dari dua sampai sepuluh keluarga yang bepergian bersama. dan Pantai Rawai di Provinsi Phuket. cara mereka memilih lokasi pembangunan desa yang cerdik. Phayam.Kepulauan Surin. adalah kelompok nomaden yang tinggal di laut yang di Thailand umumnya dikenal sebagai Chao Lay (orang laut). Selama musim penghujan timur laut yang kering laut cenderung tenang dan kaum Moken tinggal dalam perahuperahu mereka yang disebut kabang. bepergian dari satu pulau ke pulau lainnya di Gugusan Kepulauan Mergui di Laut Andaman untuk mencari penghidupan. Kepulauan Surin di Provinsi Phang-nga. dan keterampilan mereka yang tinggi dalam mengendalikan perahu. laut menjadi ganas dan sulit diprediksi perilakunya. Gelombang tersebut merupakan gelombang pembersih yang datang untuk membersihkan pantai yang kotor. dewa yang marah yang menghabiskan dan menghancurkan apa saja. Thailand Diselamatkan oleh Sebuah Legenda Kuno dan Pengamatan yang Tajam: Kasus Kaum Moken. hanya mendengar tentang itu dari orang-orang tua. Komunitas Moken yang besar di Thailand dapat ditemukan di Pulau-pulau seperti Lao. seorang tetua Moken Latar Belakang Kaum Moken. Sinhai. Walaupun mereka telah tinggal di tempat yang sama 89 . Kaum Nomaden yang Tinggal di Laut di Thailand Narumon Arunotai Abstrak Ada sebuah pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kasus kaum Moken. Tulisan berikut ini mengkaji pelajaran-pelajaran dari kearifan lokal kaum Moken dalam pengurangan risiko bencana dan implikasi dari penerapan pelajaran-pelajaran ini pada kebijakan dan praktik-praktik yang terkait. dan Chang di Provinsi Ranong. Dapat dikatakan bahwa kaum Moken telah diselamatkan oleh sebuah legenda kuno. para “pengembara laut” atau “kaum gipsi yang tinggal di laut” yang tinggal di Laut Andaman.

selama bertahun-tahun. Fasilitasfasilitas untuk turis telah secara bertahap dibangun dan selama tahun 2003 Taman ini menerima lebih dari 36. ada 184 orang Moken tinggal di Kepulauan Surin. Secara administratif Kepulauan Surin merupakan bagian dari Distrik Khuraburi di Provinsi Phang-nga. Selama tahun 2004. Komunitas lainnya. Sebelum tsunami. Bagi beberapa tetua Moken. yang terdiri dari 16 rumah tangga. Saat ini terdapat sekitar 2. dan Elias (2007): 8-9 4 Arunotai. sekitar 60 kilometer lepas pantai barat daya Thailand. yang berdiam di sebuah desa besar di Teluk Bon Besar. dan Elias (2007): 8-9. Kawasan hutan di kepulauan tersebut sangat terjaga baik dan memainkan peranan yang penting dalam cara hidup kaum Moken yang tradisional. dan sepertiga dari populasi adalah anak-anak berusia di bawah sepuluh tahun. 3 Arunotai. berdiam di Teluk Bon Kecil di Pulau Surin Selatan.000 turis selama waktu bukanya yang hanya 6 bulan (dari pertengahan November sampai pertengahan Mei). Wongbusarakum. Hutan hujan tropis merupakan fitur alami utama lainnya di kepulauan tersebut. Sekitar setengah dari populasi ini berusia 18 tahun ke bawah.3 Kepulauan Surin dideklarasikan sebagai taman laut nasional Thailand kedua puluh sembilan pada tahun 1981.4 Sampai dengan bulan Februari 2008. Luas hutan hujan ini mencapai lebih dari 90 persen dari kawasan hutan yang ada.000 warga Moken yang tinggal di Gugusan Kepulauan Mergui di Myanmar dan about 800 orang Moken di Thailand.1 Kepulauan Surin telah menjadi tempat kediaman dan tempat mencari penghidupan bagi kaum Moken selama berabad-abad. Beberapa individu dan keluarga sering berpindah-pindah di antara Kepulauan Surin dan pulau-pulau lainnya di perairan Myanmar dan di antara kedua komunitas yang berdiam di Kepulauan Surin. Gugusan kepulauan ini terletak di Laut Andaman. dan Elias (2007): 12. 90 . mereka masih menggunakan bahan-bahan dari hutan untuk membangun pondok-pondok mereka dan kadang-kadang memindahkan desa mereka ke lokasi-lokasi yang lain. Wongbusarakum. 77 lakilaki dan 107 perempuan. yang terletak kirakira 720 kilometer sebelah barat daya Bangkok. Hal ini terjadi tanpa adanya perubahan cuaca dan mereka menganggap ini sebagai suatu gejala yang sangat tidak biasa. berdiam di Teluk Sai-En di Pulau Surin Utara. hal ini menandakan kedatangan 1 2 Arunotai (2006): 140 Arunotai. ada dua komunitas Moken di Kepulauan Surin. yang terdiri dari 30 rumah tangga. Terumbu karang yang mengelilingi Kepulauan Surin merupakan yang terbesar dan terluas di Thailand. Dari jumlah ini. Fitur alami utama Kepulauan Surin adalah terumbu karang dan hutan. Kisah/Peristiwa Pada pagi hari Minggu tanggal 26 Desember 2004. kaum Moken yang tinggal di Kepulauan Surin mengamati adanya perubahan mendadak pada permukaan laut. Wongbusarakum. Salah satu komunitas. ada sekitar 220 orang Moken di Pulau Surin Selatan. Populasi kaum Moken yang tinggal di Kepulauan Surin berfluktuasi berdasarkan musim dan secara tahunan.2 Phang-nga merupakan satu di antara enam provinsi yang terkena dampak terburuk dari tsunami.

walaupun seluruh desa tersapu habis berikut beberapa perahu warga. semua orang mengetahui bahwa jika air laut di pantai tibatiba surut. Seluruh warga masyarakat dengan cepat berlari menaiki bukit-bukit di balik desa mereka. kewaspadaan dan sikap kehati-hatian mereka. pemilihan yang cerdas akan di mana mereka akan membangun desa.“tujuh gelombang”. dan dengan cerdas mereka menuangkan bahaya dari bencana tsunami ke dalam sebuah legenda tentang laboon atau gelombang yang besar. Kaum Moken dan kabang mereka. tetapi juga karena pengamatan mereka yang tajam. perasaan yang tajam dan ketrampilan-ketrampilan terkait Kaum Moken adalah sebagai berikut: 1. dan sudah merasa cukup percaya diri untuk pulang kembali ke Kepulauan Surin. Walaupun membicarakan laboon secara terbuka dilarang karena takut akan mengundang gelombang mematikan tersebut kepada mereka. dan mereka semua dapat terselamatkan dari bencana tsunami. pengetahuan mendalam akan lingkungan laut dan hutan mereka. Mereka yang mengantarkan turis untuk menyelam di terumbu karang mengamati adanya perubahan pada arus air dan memutuskan untuk mengarahkan perahu menjauh dari pantai. mereka telah menyelamatkan nyawa banyak turis. Sekali lagi. pengetahuan. Secara rinci. kaum Moken di Kepulauan Surin pindah ke daratan dan mengungsi di sebuah kuil setempat. Berkat insting mereka yang tajam dan keterampilan mengendalikan perahu yang tinggi. kaum Mokenlah yang mengarahkan staf Taman Nasional dan para turis naik ke atas jalur di hutan di mana mereka sering mencari makanan untuk mencari tempat yang aman untuk bermalam sambil menanti sebuah kapal yang lebih besar yang akan membawa mereka ke daratan. mereka harus segera berlari ke daratan yang lebih tinggi untuk 91 . Setelah kedua desa mereka tersapu oleh tsunami. tetapi langsung melanjutkan kehidupan sehari-hari mereka seperti pada hari-hari sebelum tsunami. oleh karenanya disebut “tujuh gelombang”. Legenda ini mengajarkan bahwa laboon biasanya datang sebagai serangkaian gelombang. Kaum Moken mampu bertahan hidup tidak hanya karena mereka mengenal legenda tentang tujuh gelombang. Legenda tujuh gelombang. mereka tidak berlama-lama larut dalam kesedihan. Setelah hidup di kawasan pulaupulau dan pantai selama berabad-abad. Gambar 1. Dalam waktu dua minggu mereka sudah merindukan pulau mereka dan laut. Masyarakat Moken adalah suatu kelompok yang buta huruf tetapi “sastra lisan” mereka kreatif dan kaya. sebuah legenda yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Karena mereka adalah kelompok warga yang hanya memiliki sedikit harta-benda. lebih dari 20 warga Moken telah bekerja di Taman Nasional. dan ketrampilan mereka dalam mengendalikan perahu. Pada saat yang sama. nenek moyang mereka telah mengalami kejadian-kejadian tsunami. Foto: Paladej Na Pombejra Kearifan Lokal Kaum Moken yang tinggal di Kepulauan Surin telah menjadi sangat terkenal di Thailand maupun di tingkat internasional sebagai kelompok masyarakat yang dapat terluput dari tsunami tanpa kerugian berarti.

sampai risiko-risiko yang ditimbulkan oleh manusia yang dapat ditelusur balik kepada sejarah panjang kaum Moken yang telah menjadi korban pelecehan dan eksploitasi oleh pihak-pihak luar – para bajak laut. Pengetahuan akan jalur-jalur jalan di hutan dan cara bertahan hidup di alam bebas. tanpa bantuan teknologi modern sama sekali. Hidup sebagai “orang laut” yang hidup di. pedagang budak. 5. Kanan: Tanda peringatan semacam ini dapat “ditanamkan” pada diri kaum muda melalui kearifan lokal. Bagi mereka. kaum Moken mengetahui “ke mana” mereka harus berlari karena mereka sangat mengenal lingkungan dan jalan-jalan di hutan. Kaum Moken yang tinggal di berbagai pulau di Laut Andaman Thailand memilih lokasi yang tepat bagi desa-desa mereka dengan sangat berhati-hati. Hal ini disebabkan oleh banyaknya risiko yang harus mereka hadapi dalam kehidupan mereka sehari-hari – mulai dari risiko-risiko alam seperti badai yang datangnya tiba-tiba. terutama berkaitan dengan perubahan-perubahan pada cuaca dan kejadian-kejadian tidak biasa lainnya. Pengamatan yang tajam dan sikap kehati-hatian.menyelamatkan nyawa mereka. Kiri: Tanda peringatan tsunami yang dapat dilihat di sepanjang pantai selatan Thailand. segera setelah air laut surut secara tidak wajar pada tanggal 26 Desember 2004. dan datangnya ombak putih menunjukkan dengan pasti tanda-tanda datangnya laboon karena hal-hal ini terjadi tanpa adanya perubahan angin atau tanpa adanya tanda perubahan di langit. 3.6 Oleh karena itu. yakni kawasan di bagian timur dari pulau-pulau tersebut. kaum Moken memiliki pengetahuan yang mendalam akan ritme-ritme alam. Setelah berlari mendaki bukit untuk menyelamatkan diri dari dampak tsunami. Mereka menerapkan prinsip kehati-hatian dan selalu waspada. kaum Moken saling memberitahu satu sama untuk melarikan diri dan mengungsi ke bukit di balik desa. Pengetahuan mendalam akan lingkungan laut. Sebuah kajian perbandingan antara permukiman-permukiman masyarakat asli (antara kaum Moken dan Urak Lawoi) membawa pada kesimpulan bahwa setiap permukiman 5 6 Arunotai (2006): 143 Hinshiranan (1996): 131-133 92 . Pengetahuan ini menjadi sistem peringatan bencana alam yang paling efektif. dan mereka yang sedang mengantarkan turis untuk menyelam di terumbu karang segera mengarahkan perahu-perahu mereka menjauh dari daratan untuk menghindari hempasan gelombang. dsb. Gambar 2. hewan-hewan laut dan hutan yang berbahaya. para perampok dan bandit. 4. dari dan oleh laut. suatu kemampuan untuk mengenali tanda-tanda alam dan membedakan antara gejala-gejala yang “biasa” dan “tidak biasa”. Kaum Moken memiliki pengamatan yang tajam.5 Tanda peringatan akan bahaya tsunami tertanam di dalam sistem kognitif mereka. sehingga mereka semua mampu menyelamatkan diri walaupun sebagian besar dari mereka sebelumnya belum pernah melihat tsunami. massa air laut dalam jumlah besar yang tiba-tiba surut dengan cepat merupakan sesuatu yang aneh. 2. Pemilihan lokasi desa yang cerdik.

semuanya mencerminkan kearifan lokal yang membantu kaum Moken hidup dengan nyaman dan aman di lingkungan pantai. dan pondok-pondok mereka. kaum lelaki dan perempuan. 7 8 Arunotai dan Elias (2005). angin kencang. gelombang besar dan badai-badai. para lelaki ini dapat dengan terampil mengarahkan perahu menjauh dari daratan. Dalam perairan yang bergolak. muda dan tua.8 Harus diperhatikan di sini bahwa selamatnya mereka dari tsunami sebagian disebabkan oleh “pengamatan mereka yang tajam” – dari tata letak desa tradisional mereka. Bahkan kaum lanjut usia dan anak-anak mampu berlari dan memanjat ke dataran yang lebih tinggi tanpa banyak kesulitan. 93 . Keterampilan mengendalikan perahu dan keterampilan terkait laut lainnya. Di mata para warga Thailand yang menetap dan hidup di daratan serta memiliki rumah permanen. 4) penemuan-eksplorasi-penemuan kembali. Dari perspektif pendidikan modern. Dengan membangun permukiman di bagian timur pulau warga akan relatif terlindung dari angin barat daya (dan oleh karenanya juga terlindung dari tsunami dari laut lepas). tidak ada sarana untuk mendokumentasikan atau merubah pengetahuan ke dalam bentuk tekstual sehingga orang dapat membaca atau mengikutinya karena bahasa kaum Moken hanya memiliki bentuk lisan. Permukiman tradisional kaum Moken. dan 5) praktik serta peninjauan. relatif dapat mempertahankan kebugaran fisik mereka karena pekerjaan mereka biasanya berkaitan dengan tenaga fisik. tanpa bahasa tulis. dan musim penghujan timur laut yang membawa cuaca yang lebih kering dan angin yang lebih lemah. bentuk desa yang kecil dengan pondok-pondok panjang rumah panggung yang dibangun di atas air telah menjadi sebuah bagian penting dari identitas budaya kaum Moken. 6. 3) coba-coba atau pengalaman terapan. gunung tinggi di balik desa juga memberikan dataran tinggi yang cukup untuk evakuasi. Selain itu. sebagian besar kaum Moken dapat mengamati laut langsung dari pondok mereka. Lebih lanjut. Para lelaki Moken memiliki keterampilan yang tinggi dalam mengendalikan perahu karena sejak sangat muda mereka telah terbiasa menggunakan perahu dayung dan mengoperasikan perahu motor yang lebih besar.berada dalam teluk yang terlindungi di bagian timur. Baik kaum lelaki maupun kaum perempuan juga menguasai keterampilan-keterampilan lainnya yang berkaitan dengan laut seperti berenang dan menyelam. desa. termasuk kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik yang berhubungan dengan pembangunan pondok. kehidupan nomaden dan sederhana kaum Moken tampak kuno. Hal ini disebabkan karena pulau-pulau di Laut Andaman dipengaruhi oleh dua musim penghujan. Terkait dengan penerusan kearifan lokal dari satu generasi ke generasi berikutnya. Arunotai dan Elias (2005).7 Bagi kaum Moken di Kepulauan Surin. hal ini menimbulkan keterbatasan tertentu karena tidak ada cara untuk merekam pengetahuan dan tidak ada “jalan pintas” lain kepada pengetahuan itu kecuali dengan belajar langsung dari mereka yang mengetahui melalui 1) pengamatan. 2) hafalan atau mengingat-ingat. musim penghujan barat daya yang membawa hujan.

Gambar 3. tetapi pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang “tersembunyi” telah terbukti sangat penting bagi keberlangsungan hidup fisik dan budaya kaum Moken. Menghargai dan mempromosikan kearifan lokal melalui pengembangan kurikulum lokal yang sesuai dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pendidikan. Pelajaran yang Dapat Dipetik Pelajaran utama yang dapat dipetik di sini adalah bahwa kearifan lokal kaum Moken yang sebelumnya dianggap sebagai “biasa” atau bahkan “kuno” telah memungkinkan kaum Moken (dan orang-orang lainnya) untuk menyelamatkan diri dari bencana tsunami.10 Sebagai akibatnya. kedatangan laboon telah aktual tercetak di dalam sistem kognitif mereka walau sebelumnya lebih berupa setengah mitos dan setengah kenyataan. Pondok-pondok sebelum tsunami. 12 Arunotai (2006): 148 10 94 . sehingga arah perubahan lebih mengarah pada jenis pembangunan yang didefinisikan dan diperkenalkan oleh pihak-pihak luar yang memandang mereka sebagai terbelakang dan miskin. tetapi juga sangat mengenal jalan-jalan setapak di hutan yang mereka gunakan sebagai jalur penyelamatan diri dan tinggal/hidup di alam bebas juga 9 Arunotai (2003): 116–117. untuk menyerap dan mempraktikkan “pengamatan yang tajam” dan “prinsip kehati-hatian”. 1.”12 Ada beberapa implikasi untuk menerapkan pelajaran-pelajaran ini pada kebijakan dan praktik-praktik terkait. Kearifan lokal ini secara perlahan-lahan dilupakan dan jarang diteruskan kepada generasi-generasi yang lebih muda. Mereka tidak hanya mampu mengenali tanda-tanda peringatan. Terkait dengan legenda dan cerita-cerita rakyat. “Beberapa dari cerita-cerita ini hanyalah versi pendek dari cerita-cerita yang lebih panjang. dan belajar serta menghargai pengetahuan yang mendalam akan lingkungan laut dan hutan. Arunotai (2006): 141. kearifan lokal kaum Moken jarang dikenal atau dihargai. Anak harus mendapat kesempatan untuk belajar dari para tetua di masyarakat.”11 “Kearifan tradisional kaum Moken tidak dianggap sebagai pengetahuan atau ilmu. 2. Pendidikan formal menekankan pengetahuan “eksplisit”. Bagi kaum Moken. dan sastra lisan tidak lagi memiliki banyak arti bagi mereka.9 Ini telah menjadi representasi sosial yang diadopsi oleh kaum Moken sendiri dari masyarakat yang lebih luas. 11 Ivanoff (2001): 3.terbelakang dan tidak ada potensi untuk maju. dengan pintu masuk menghadap ke arah dalam pulau tetapi bagian beranda belakang terbuka ke arah laut. rute melarikan diri dan mencapai tempat penampungan darurat. “Menginternalisasikan” tanda-tanda peringatan dini dan rencana-rencana kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana seperti evakuasi. Sayangnya bentuk-bentuk kearifan lokal ini sekarang hanya terbatas dimiliki oleh orangorang dewasa dan para tetua.

Jacques. S. 2003. The World According to the Moken: Reflection from traditional ecological knowledge on marine environment (Dunia Menurut Kaum Moken: Refleksi dari pengetahuan ekologis tradisional atas lingkungan laut). dan D. harus diupayakan adanya pemetaan kaum lanjut usia. 2006. 2007. Narumon. N. Elias. sehingga mereka saling mengenal satu sama lain dan mengetahui siapa yang membutuhkan bantuan khusus. Untuk masyarakat-masyarakat lain. memanjat. Hinshiranan. 2005. dan orang-orang lainnya yang membutuhkan bantuan khusus sehingga mereka dapat memperoleh perhatian khusus dalam situasi darurat. dalam Kelompok-kelompok Etnis dan Mistifikasi). Arunotai. 1996. selain penyebarluasan bahan-bahan pendidikan tentang bencana alam kepada komunitas dan sekolah-sekolah. Paladej Na Pombejr. Sebuah makalah tidak diterbitkan yang ditulis untuk Proyek Pilot Andaman. Universitas Hawai’i. Untuk masyarakat-masyarakat lain. Agar selalu siap siaga seseorang harus memiliki kebugaran fisik yang prima. Bangkok. Daftar Pustaka Arunotai. dll. “Moken traditional knowledge: an unrecognised form of natural resources management and conservation” (Kearifan tradisional kaum Moken: suatu bentuk manajemen dan konservasi sumber daya alam yang tidak dihargai). and the sustainability of cultural and natural resources: a case of Urak Lawoi people in the - - - - - - 95 . Universitas Chulalongkorn. Thesis Master tidak diterbitkan. N. 2001. loss of knowledge. pertolongan pertama pada kecelakaan. Bridging the gap between the rights and needs of indigenous communities and the management of protected areas: Case Studies from Thailand (Menjembatani kesenjangan antara hak-hak dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat asli dan pengelolaan kawasan-kawasan yang dilindungi: Studi-studi kasus dari Thailand). Arunotai. 3. Bangkok: White Lotus. dibutuhkan adanya praktik dan dril-dril teratur untuk berbagai bentuk bencana yang mungkin terjadi di suatu daerah. Rings of Coral (Lingkar-lingkar Terumbu Karang). Wongbusarakum. Komunitas kaum Moken biasanya kecil. Fakultas Ilmu Politik. Mempelajari pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang penting untuk menyelamatkan diri seperti berenang. (bahasa Thai). dan D.bukan masalah besar bagi mereka. The Analysis of Moken Opportunistic Foragers’ Intragroup and Intergroup Relations (Analisis Hubungan Oportunistik Intragrup dan Antargrup Kaum Pengembara Moken). Supin. Bangkok: Dewan Budaya Nasional. Arunotai. Departemen Kebudayaan. Wongbusarakum. “For a Better Understanding of the Moken Knowledge and Myth about Chao Lay Ethnic Groups” in Ethnic Groups and Mystification (Untuk Pemahaman yang Lebih Baik akan Pengetahuan Kaum Moken dan Mitos tentang Kelompok-kelompok Etnis Chao Lay.. 2003. Narumon. “Moken –Their changing huts and village” (Kaum Moken – pondok-pondok dan desa mereka yang berubah). Ivanoff. Bangkok: UNESCO Bangkok. Jurnal Internasional Ilmu Sosial. 2005. Disertasi Doktoral tidak diterbitkan. mereka yang cacat. N. Loss of traditional practices. 187: 139-150. Elias.

org/themes/ceesp/WAMIP/Aichi%20Paper%20submitted%2031%20 Aug%2005.doc. Thailand Barat Daya).Adang Archipelago. hilangnya kearifan lokal. dan keberlanjutan sumber daya budaya serta alam: sebuah kasus dari kaum Urak Lawoi di Kepulauan Adang. 96 . Diundun pada 7 Februari 2008. Dari http://www. Southwest Thailand (Hilangnya praktik-praktik tradisional.iucn.

890. Provinsi Ninh Thuan. Usaya peternakan juga menjadi salah satu kekuatan dari komunitas An Hai. terbagi dalam sekitar 2. Sumber air utama dalam musim kering adalah air sungai dan air sumur. yang sebagian besar terfokus pada ternak sapi.37 ha lahan untuk pertanian. metode pengamatan bulan dan pengamatan capung untuk meramalkan perubahan cuaca telah memainkan peranan penting dalam kegiatan-kegiatan pertanian komunitas An Hai. Vietnam Peramalan Cuaca melalui Kearifan Lokal untuk Budidaya Tanaman di Kawasankawasan Rawan Kekeringan di Vietnam Nguyen Ngoc Huy dan Rajib Shaw Abstrak Daerah pesisir provinsi Ninh Thuan merupakan salah satu kawasan yang paling kering di Vietnam. “Capung terbang tinggi. Tingkat curah hujan tahunan biasanya berkisar antara 600 mm sampai 800 mm per tahun dengan distribusi yang tidak merata antar bulan. 4833 ha untuk tempat tinggal dan sisanya untuk keperluan budidaya perikanan air tawar serta keperluankeperluan lainnya. Pada musim penghujan masyarakat terutama memanfaatkan air hujan untuk kegiatan bercocok tanam mereka.98 ha dengan 1.Komunitas An Hai. penggunaan kearifan tradisional untuk peramalan cuaca sangat berguna untuk kepentingan pertanian tanaman pangan di masyarakat. langit cerah Terbang rendah. domba dan kambing. Pada tahun 2005. Musim Panas-Musim Gugur dari akhir April sampai awal Agustus dan waktu tanam utama dari bulan September sampai awal Desember. Penghidupan utama masyarakat adalah pertanian.091.057. Kisah/Peristiwa 97 . terutama pertanian padi. langit berawan” (Lirik lagu daerah yang digunakan untuk meramal cuaca) Latar Belakang An Hai merupakan satu dari beberapa komunitas pesisir yang berdiam di sebelah Timur Provinsi Ninh Thuan. Khususnya. Daerah-daerah yang memiliki irigasi dapat menanam padi sebanyak tiga kali: Musim Dingin-Musim Semi dari awal Desember sampai awal April. Total luas geografis kawasan ini adalah 2.596 rumah tangga dalam total 6 dusun. jumlah total penduduk An Hai adalah 12. Karena di beberapa daerah yang masih belum berkembang pelayanan peramalan cuaca hanya tersedia secara terbatas. hujan Terbang tidak tinggi dan tidak rendah. 4239 ha lahan untuk hutan. wortel. cabe dan kentang) sebagai tanaman utama. anggur dan sayur-mayur dengan waktu tanam yang pendek (seperti tomat. Distrik Ninh Phuoc.

Perubahan-perubahan dalam pola curah hujan menjadi kompleks dan bervariasi serta sangat tergantung pada lokasi. beberapa anggota keluarga terpaksa bermigrasi ke kota-kota untuk mencari pekerjaan.Suhu di daratan Vietnam semakin meningkat dan cuaca menjadi semakin ekstrim dan sulit diramalkan. Petani juga telah mulai beralih dari menanam padi kepada jelai atau tanaman-tanaman pangan jangka panjang lainnya serta menggunakan varietas-varietas yang lebih tahan kekeringan. Ninh Thuan adalah satu dari antara sembilan provinsi yang paling terpengaruh oleh kekeringan di Vietnam. Semakin panjangnya hari-hari kering telah menimbulkan kerusakan yang signifikan pada pertanian merubah tingkat salinitas air tanah sehingga merusak budidaya perikanan air tawar. Provinsi ini telah mengalami kekeringan tahunan sejak tahun 2002. Beberapa teknik adaptasi ini memang produktif. Sementara tingkat curah hujan tahunan terus-menerus meningkat. tetapi beberapa lainnya juga ada dampak negatifnya. Kekeringan terus berlanjut pada tahun 2005 dan 2006 dengan curah hujan yang sangat sedikit pada dua musim tanam pertama. Mereka telah menemukan cara-cara untuk menghemat penggunaan air dan memanfaatkan air limbah. Kearifan Lokal Melalui peramalan cuaca didapatkan rekomendasi-rekomendasi berkaitan dengan tanggal-tanggal untuk penanaman dan perubahan varietas tanaman pangan yang harus ditanam agar beras dan tanaman-tanaman pangan lainnya dapat tumbuh dengan baik. Musim penghujan terutama sangat intensif selama tiga bulan antara bulan September sampai Desember. para petani mengalami kekeringan karena hujan sekarang datang dengan sangat intensif dalam waktu yang lebih pendek. Meningkatnya kejadian-kejadian kekeringan di Provinsi Ninh Thuan telah menjadi masalah besar baik bagi pemerintah maupun masyarakat setempat. Curah hujan tahunan di kota pesisir Phan Rang – Thap Cham (sangat dekat dengan komunitas An Hai) adalah sebanyak 712 mm. yang dapat tahan dengan suhu udara tinggi. Pada saat-saat yang sangat sulit. Mereka harus merubah jenis tanaman yang mereka tanam dan jadwal penanaman untuk beradaptasi dengan kondisi-kondisi cuaca dan iklim yang keras. Provinsi ini terlanda kekeringan yang parah pada bulan Agustus tahun 2004 dengan tingkat curah hujan yang turun sampai 50% dari normal. Para petani bekerja bersama untuk menanam tanaman pangan dan memelihara ternak kambing dan domba keturunan Sultan dari India. Ada dua musim di kawasan ini: musim penghujan dari bulan Juli sampai November dan musim panas/kering dari bulan Desember sampai Juni. Umumnya jumlah curah hujan di daerah-daerah pesisir sangatlah rendah. Rata-rata suhu udara saat ini 1º C lebih tinggi daripada 100 tahun yang lalu. Masyarakat selalu mencari cara-cara baru untuk beradaptasi. kecenderungan terbesar adalah menuju musim-musim kering yang lebih panas. 98 . namun demikian. lebih panjang dan lebih kering dan sebaliknya hujan yang lebih intensif selama musim-musim penghujan. Kaum perempuan seringkali terpaksa harus mengalah dalam penggunaan air dan memberikannya untuk para suami dan anak-anak mereka. Pindahnya kaum muda ke kota meningkatkan beban kerja pada mereka yang lebih lanjut usia yang terpaksa tinggal di desa.

Peribahasa ini menyatakan: “Trang quang thi han. “Coronium”. “Mahkota di sekitar bulan. Jenis halo yang paling umum adalah halo 22 derajat. 1 NASA (2003) 99 . hujan akan segera turun. Halo merupakan suatu gejala optikal yang konsepnya lebih kurang mirip dengan pelangi tetapi sekaligus juga sangat berbeda.” Bulan Bermahkota Mahkota atau corona adalah sejenis “atmosfir” plasma dari matahari atau benda-benda langit lainnya. Cincin/Halo di sekitar bulan. Pengamatan atas Bulan Komunitas An Hai memiliki sebuah peribahasa kuno yang telah digunakan dalam observasi cuaca untuk meramalkan kekeringan dan jadwal penanaman. Tingginya temperatur corona memberinya fitur-fitur spektrum yang tidak biasa. Halo terbentuk jika sinar matahari atau sinar bulan direfraksikan atau dibelokkan oleh kristal-kristal es yang ada di awan-awan tipis yang berada di ketinggian. tetapi juga dapat diamati dengan coronagraf. Bulan Bercincin Bulan bercincin atau ber-halo adalah bulan yang dikelilingi oleh sebuah cincin cahaya yang mengelilingi matahari atau bulan dan biasanya tampak sebagai cincin-cincin putih yang terang benderang. Fitur-fitur spektrum ini sekarang telah diketahui berasal dari unsur Besi yang mengandung ion tinggi (Fe (XIV)) yang menunjukkan adanya suhu plasma yang melebihi 10° Kelvin (Aschwanden. Peribahasa ini diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam masyarakat. 2004). Namun. yang menjangkau jutaan kilometer di angkasa. Trang tan thi mira” Lebih kurang berarti.5 mikrometer. sebuah halo yang ada di sekitar bulan atau matahari merupakan penunjuk akan cuaca yang berawan atau akan hujan karena awan-awan cirrus dan cirrostratus yang berada di ketinggian yang menyebabkan adanya halo tersebut cenderung melayang di depan sistem frontal (terutama front-front yang hangat) yang memproduksi curah hujan.1 Seringkali. yang mengakibatkan beberapa orang pada abad ke-19 beranggapan bahwa benda ini mengandung unsur yang sebelumnya tidak dikenal. paling mudah disaksikan ketika terjadi gerhana matahari total. seperti awan cirrus atau cirrostratus. banyak petani menanam tanaman pangan mereka berdasarkan pengamatan atas bulan dan mengamati perilaku serangga-serangga.Karena pada jaman dahulu peramalan cuaca belum tersedia. akan ada tahun kekeringan. sebuah cincin cahaya 22 derajat dari matahari atau bulan diproyeksikan oleh kristal-kristal es heksagonal (dengan enam sisi) yang berdiameter kurang dari 20. Pada halo ini. beberapa cincin juga dapat memiliki pola-pola warna tertentu. Akar kata bahasa Latin dari kata corona berarti mahkota.

Mereka mengamati perilaku capung untuk mengetahui kapan akan hujan dan kapan akan ada sinar matahari. Bulan Bermahkota Sumber: http://www8.Pengamatan Capung Komunitas An Hai juga menggunakan sebuah lagu rakyat lain untuk meramalkan cuaca. Bay cao thi nang. serta menyusun jadwal penanaman mereka dengan semestinya. Lirik bahasa Vietnam dari lagu rakyat tersebut adalah sebagai berikut: “Chuon Chuon bay thap thi mira. Terbang tidak tinggi dan tidak rendah. Gambar 1.scientificillustrator. hujan. peramalan cuaca tradisional berdasarkan pengamatan bulan dan serangga memainkan peranan yang penting bagi kegiatan-kegiatan pertanian. Dengan menggunakan metode pengamatan capung para petani dapat memutuskan waktu untuk menabur dan menanam.ttvnol.com/forum/f_533/862476. Ini semua didasarkan pada pengalaman praktis yang telah digunakan selama kurun waktu yang sangat panjang.ttvn Gambar 2. Bulan Bercincin Sumber: http://www8. langit cerah. Di beberapa daerah yang penduduknya tidak memiliki akses terhadap teknologi tinggi. Bay vira thi ram” Artinya kira-kira: “Capung terbang tinggi.ttvn Gambar 3. Berdasarkan hal tersebut. Terbang rendah.com/forum/f_533/862476. Kearifan lokal ini telah diteruskan selama ribuan tahun oleh masyarakat dari satu generasi ke generasi lainnya. Karena kearifan lokal ini sangat berguna di kawasan-kawasan yang tidak memiliki akses terhadap metode-metode meteorologis untuk meramal cuaca. hari akan segera hujan.com/illustration/insect Pelajaran yang Dapat Dipetik Pengamatan serangga dan gejala-gejala di atmosfir seperti halo telah digunakan sebagai suatu sarana empirik untuk peramalan cuaca sebelum ilmu meteorologi berkembang. Seekor Capung Sumber: http://www. Masalah utama pada komunitas An Hai adalah kurangnya air bersih untuk budidaya pertanian. benih dan waktu untuk menabur serta menanam. Pengetahuan akan musim hujan dan peramalan akan tahun-tahun kemarau yang tepat akan membantu para petani untuk memilih jenis tanaman pangan. para petani kemudian mempersiapkan tanah dan bibit-bibit tanaman pangan mereka. strategi-strategi ini dapat dan harus disebarluaskan kepada 100 . langit berawan” Para petani menjelaskan bahwa jika capung-capung terbang pada jarak kurang dari 80 cm dari tanah.ttvnol.

2007.uk/resources/policy/climate_change/downloads/ninh_thaun_re search. Hue city.masyarakat-masyarakat lain yang masih tinggal di daerah-daerah yang belum begitu berkembang. Dapat diakses di: http://www. 2004. Rovash Mondal. Trang tan thi mua” http://www8. Adaptasi terhadap Kekeringan: Sebuah Studi Kasus atas Provinsi Ninh Thuan. Provash Mondal. Vietnam. Rajib Shaw. Huy Nguyen.. Fisika Mahkota Matahari. Vietnam Shaw. Penjelasan atas peribahasa “Trang quang thi han. J.ttvnol. Prabhakar SVRK. Prabhakar SVRK. 2007.org. Daftar Pustaka Aschwanden.ttvn - - 101 . Praxis Publishing Ltd. M.oxfam.pdf Forum Online Sejarah dan Budaya Vietnam. Huy. Nguyen Ngoc. Sebuah Pengantar (Physics of the Solar Corona. Pertimbanganpertimbangan Manajemen Kekeringan untuk Adaptasi Perubahan Iklim: Fokus pada Kawasan Mekong. Simposium Internasional tentang Mitigasi dan Adaptasi terhadap Bencana-bencana Alam yang Ditimbulkan oleh Perubahan Iklim 20–21 September 2007. An Introduction). Rajib.com/forum/f_533/862476. ISBN 3-540-22321-5.

New Delhi. Pemerintah India.Untuk informasi lebih lanjut tentang praktik-praktik yang baik yang disajikan dalam publikasi ini. National Institute of Disaster Management Departemen Dalam Negeri.org India: Konservasi Tanah dan Air melalui Penanaman Bambu: Sebuah Teknik Penanggulangan Bencana yang Diadopsi oleh Masyarakat Nandeswar. Penasihat Teknis untuk Ilmu-ilmu Lingkungan Hidup k. Goalpara. India alikhanamir@gmail.mbox. UNDP India.jp Rajib Shaw. Assam.cn India: Praktik-praktik Pembangunan Rumah Tradisional yang Aman Gempa di Kashmir Amir Ali Khan. Universitas Kyoto shaw@global. Bagian Pembangunan Berkelanjutan dan Perencanaan Strategis bolorbor@yahoo.kyoto-u. Blok Pembangunan Matia. Pejabat.ecs. Direktur: Strategi anshu@seedsindia.takeuchi@fw7. Kementerian Alam dan Lingkungan Hidup Mongolia.com India: Kearifan Lokal dan Ilmu Pengetahuan Modern Memberi Solusi untuk Tempat Bermukim yang Ramah Lingkungan di Kawasan Gurun yang Rawan Banjir di India Anshu Sharma.com Debashish Nath.meyers@unesco.co.org Rajiv Dutta Chowdhury. Bidang Penanggulangan Bencana. Universitas Kyoto y. India rdchowdhury@gmail. UNESCO Jakarta. silahkan menghubungi langsung para penyumbang tulisan di bawah ini: Cina: Teknologi Karez untuk Pengurangan Bencana Kekeringan di Cina Weihua Fang fang@ires.jp Mongolia: Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana pada Masyarakat Penggembala Shiver Bolormaa Borkhuu. SEEDS India.ac.org Jepang: Langkah-langkah Tradisional untuk Mengurangi Bencana Banjir di Jepang Yukiko Takeuchi. Assam. Program Manajemen Risiko Bencana Irene. Goalpara. Assam Irene Stephen.ac.media. India Indonesia: Legenda. Assistant Professor. Pejabat Pengembangan Pertanian. Ritual dan Arsitektur di Kawasan Sabuk Gunung Api Koen Meyers.kyoto-u.uk Nepal: Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana: Membangun Upaya untuk Saling Melengkapi antara Pengetahuan Masyarakat dan Pengetahuan Para Ahli 102 . Kantor Deputi Komisioner.stephen@undp.

Madduma Bandara.mbox. Universitas Peradeniya.kyoto-u. McAdoo. Poughkeepsie. Profesor Emeritus. Pusat Kesiapsiagaan Bencana (Center for Disaster Preparedness) Oyvictoria@yahoo. Sydney. Sri Lanka madduband@yahoo. Provinsi Perbatasan Barat Laut.jp Kepulauan Solomon: Kearifan Lokal Menyelamatkan Nyawa dalam Tsunami Kepulauan Solomon tahun 2007 Brian G. Vassar College.com 103 .pk Papua Nugini: Hidup bersama Banjir di Singas.uy@ky7.M. Universitas Kyoto noralene.com Filipina: Menggabungkan Kearifan Lokal dan Pengetahuan Ilmiah dalam Sistem Peringatan Banjir Kota Dagupan Lorna P. New York brmcadoo@vassar. Filipina Noralene Uy. Yayasan Dios Mabalos Po Filipina: Dibentuk oleh Angin dan Topan: Kearifan Lokal Kaum Ivatan di Kepulauan Batanes.jp Rajib Shaw.edu Sri Lanka: Sistem Tangki Air Desa Bertingkat: Pendekatan Tradisional untuk Mitigasi Kekeringan dan Kesejahteraan Masyarakat Desa di Pedesaan-pedesaan Purana di Sri Lanka C.thapa@undp.b. Pusat Internasional untuk Pembangunan Pegunungan Terpadu (International Centre for Integrated Mountain Development/ICIMOD) jdekens@icimod.media. Divisi Ilmu-ilmu Lingkungan Hidup dan Kehidupan.org. Universitas Macquarie University.org Nepal/Pakistan: Pengetahuan Lokal tentang Kesiapsiagaan dalam Menghadapi Banjir: Contoh-contoh dari Nepal dan Pakistan Julie Dekens. Thapa.org Pakistan: Mekanisme Bertahan Masyarakat Asli dalam Penanggulangan Bencana di Distrik Mansehra dan Battagram.Man B. Pakistan Takeshi Komino.ac. Papua Nugini Jessica Mercer. Program Penanggulangan Bencana Partisipatif man. Departemen Geografi Manusia. UNDP Nepal. Universitas Kyoto shaw@global.ac. Australia Jessica-mercer@hotmail.kyoto-u.com Filipina: Pengetahuan Masyarakat Asli tentang Mistisisme Muntahan Lava Gunung Berapi Mayon Gerardine Cerdena. New South Wales.ecs. Victoria. Christian World Service Pakistan takeshi@cwspa.

unisdr.UN Conference Centre Building Rajdamnern Nok Avenue Bangkok 10200 Thailand Tel: +66 (0)2 288 2745 isdr-bkk@un.ac.unisdr. Jenewa albrito@un.org www.jp/ Uni Eropa Delegasi Komisi Eropa Bangkok.unisdr. Thailand Tel: +66 2305 2600/2700 Fax: + 66 2255 9113 website: http://ec.jp Sekretariat Asia dan Pasifik.ecs.th Vietnam: Peramalan Cuaca melalui Kearifan Lokal untuk Budidaya Tanaman di Kawasan-kawasan Rawan Kekeringan di Vietnam Nguyen Ngoc Huy.htm 104 .org Sekretariat Jenewa isdr@un. Panama eird@eird.ac.eird.org www. Jurusan Pasca Sarjana Ilmu-ilmu Lingkungan Hidup.org Sekretariat Afrika.org Sekretariat Eropa. Nairobi isdr-africa@unep.ac.org/europe Sekretariat Asia Barat dan Afrika Utara.jp Rajib Shaw.unisdr-wana. Kyoto 606-8501.org Laboratorium Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana. JAPAN Tel/ Fax: 81-75-7535708 (Langsung) Web: http://www.kyoto-u.org/africa Sekretariat Amerika. Universitas Kyoto shaw@global.mbox. Cairo info@unisdr-wana.ges. Kaum Nomaden yang Tinggal di Laut di Thailand Narumon Arunotai.org www.europa. UNIVERSITAS KYOTO Yoshida Honmachi.nguyen@ky7.eu/euro peaid/index_en.org www. Bangkok c/o UNESCAP .kyoto-u.ky otou. Sakyo-ku. Thailand hnarumon@chula.iedm.Thailand: Diselamatkan oleh Sebuah Legenda Kuno dan Pengamatan yang Tajam: Kasus Kaum Moken. Universitas Chulalongkorn. Universitas Kyoto huy.media.org www.ac.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->