P. 1
gangguan sensori

gangguan sensori

|Views: 834|Likes:
Published by Dwi Satria

More info:

Published by: Dwi Satria on Nov 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/28/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG
Halusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi. Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara-suara yang bising atau mendengung, tapi yang paling sering berupa kata-kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang agak sempurna. Biasanya kalimat tadi membicarakan mengenai keadaan pasien sedih atau yang dialamatkan pada pasien itu. Akibatnya pasien bisa bertengkar atau bicara dengan suara halusinasi itu. Bisa pula pasien terlihat seperti bersikap dalam mendengar atau bicara keras-keras seperti bila ia menjawab pertanyaan seseorang atau bibirnya bergerak-gerak. Kadang-kadang pasien menganggap halusinasi datang dari setiap tubuh atau diluar tubuhnya. Halusinasi ini kadang-kadang menyenangkan misalnya bersifat tiduran, ancaman dan lain-lain. Persepsi merupakan respon dari reseptor sensoris terhadap stimulus eksternal, juga pengenalan dan pemahaman terhadap sensoris yang diinterpretasikan oleh stimulus yang diterima. Jika diliputi rasa kecemasan yang berat maka kemampuan untuk menilai realita dapat terganggu. Persepsi mengacu pada respon reseptor sensoris terhadap stimulus. Persepsi juga melibatkan kognitif dan pengertian emosional akan objek yang dirasakan. Gangguan persepsi dapat terjadi pada proses sensori penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan pengecapan. Menurut May Durant Thomas (1991) halusinasi secara umum dapat ditemukan pada pasien gangguan jiwa seperti: Skizoprenia, Depresi, Delirium dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alcohol dan substansi lingkungan.Berdasarkan hasil pengkajian pada pasien dirumah sakit jiwa Medan ditemukan 85% pasien dengan kasus halusinasi. Sehingga penulis merasa tertarik untuk menulis kasus tersebut dengan pemberian Asuhan keperawatan mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi.

1

B.Tujuan Penulisan Berpijak pada rumusan masalah yang ada. Apa persepsi tersebut? 2. 2. maka kami merumuskan masalah kami sebagai berikut: 1. Apa pengertian halusinasi? 3. Bagaimana tindakan yang harus dilakukan pada px perubahan sensori? C. Rumusan Masalah Berdasarkan deskripsi tentang latar belakang masalah di atas. maka tujuan kami ini adalah : 1. untuk mengetahui pengertian dari persepsi untuk mengetahui pengertian dari halusinasi untuk mengetahui tindakan yg yang harus dilakukan pada px perubahan sensori 2 . 3.

objek atau pemikiran. perabaan atau pengecapan). Halusinasi Merupakan salah satu gangguan persepsi. dimana terjadi pengalaman panca indera tanpa adanya rangsangan sensorik (persepsi indra yang salah). Jadi gangguan persepsi adalah ketidakmampuan manusia dalam membedakan antara rangsang yang timbul dari sumber internal seperti pikiran. Misalnya sensoris terhadap rangsang. Gangguan persepsi dapat terjadi pada proses sensoris dari pendengaran. hal 725) b. membedakan dengan pengalaman dan dapat memvalidasikan serta mengevaluasinya secara akurat. Persepsi Adalah proses diterimanya rangsang sampai rangsang itu disadari dan dimengerti penginderaan/sensasi : proses penerimaan rangsang. penciuman. Judith. Menurut Cook dan Fotaine (1987). penglihatan. Manusia yang mempunyai ego yang sehat dapat membedakan antara fantasi dan kenyataaan. Dengan maksud bahwa manusia masih mempunyai kemampuan dalam membandingkan dan mengenal mana yang merupakan respon dari luar dirinya. sedangkan menurut Wilson (1983). Gangguan ini dapat bersifat ringan. 1987. (Harber. halusinasi adalah gangguan penyerapan/persepsi panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat terjadi pada sistem penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu 3 . penglihatan. sensasi somatik dengan impuls dan stimulus eksternal. pengenalan dan pengertian akan perasaan seperti : ucapan orang. Persepsi mengacu pada respon reseptor sensoris terhadap stimulus eksternal. penciuman. perasaan. Persepsi melibatkan kognitif dan pengertian emosional akan objek yang dirasakan. Mereka dalap menggunakan proses pikir yang logis. halusinasi adalah persepsi sensorik tentang suatu objek.sementara atau lama. berat. Jika ego diliputi rasa kecemasan yang berat maka kemampuan untuk menilai realitas dapat terganggu. PENGERTIAN a.BAB II PEMBAHASAN A. perabaan dan pengecapan. gambaran dan pikiran yang sering terjadi tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan (pendengaran.

Halusinasi dapat juga terjadi pada saat keadaan individu normal yaitu pada individu yang mengalami isolasi. Penyebab halusinasi pendengaran secara spesifik tidak diketahui namun banyak faktor yang mempengaruhinya seperti faktor biologis . E T I O L O G I Menurut Mary Durant Thomas (1991). kurangnya pendengaran atau adanya permasalahan pada pembicaraan.penuh dan baik. pemicu masalah sumber-sumber koping dan mekanisme koping. Halusinasi juga dapat dialami sebagai efek samping dari berbagai pengobatan yang meliputi anti depresi. yang hanya dirasakan oleh klien dan tidak dapat dibuktikan. kondisi infeksi sistemik dengan gangguan metabolik. MANIFESTASI KLINIK Tahap I • • • • • Tahap II • • Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukkan ansietas misalnya peningkatan nadi. B. Maksudnya rangsangan tersebut terjadi pada saat klien dapat menerima rangsangan dari luar dan dari individu. Halusinasi dapat terjadi pada klien dengan gangguan jiwa seperti skizoprenia.dan stressor pencetusnya adalah stress lingkungan . anti inflamasi dan antibiotik. perubahan sensorik seperti kebutaan. anti kolinergik. psikologis . Halusinasi adapat juga terjadi dengan epilepsi. C. demensia dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lainnya. Dengan kata lain klien berespon terhadap rangsangan yang tidak nyata. depresi atau keadaan delirium. biologis . sosial budaya. pernafasan dan tekanan darah Penyempitan kemampuan konsenstrasi Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara Gerakan mata yang cepat Respon verbal yang lambat Diam dan dipenuhi sesuatu yang mengasyikkan 4 . sedangkan obat-obatan halusinogenik dapat membuat terjadinya halusinasi sama seperti pemberian obat diatas.

Asuhan keperawatan tersebut dimulai dari tahap pengkajian sampai dengan evaluasi. menerima dan mengevaluasi perasaan sendiri sehingga dapat menggunakan dirinya secara terapeutik dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap klien halusinasi perawat harus bersikap jujur. Tidak mampu berespon terhadap petunjuk yang kompleks Tidak mampu berespon terhadap lebih dari satu orang Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasinya dari pada menolaknya Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain Rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik Gejala fisik dari ansietas berat seperti berkeringat. ketidakmampuan untuk mengikuti petunjuk menarik diri atau katatonik D. empati. terbuka dan selalu memberi penghargaan namun tidak boleh tenggelam juga menyangkal halusinasi yang klien alami. Tahap III • • • • Tahap IV • • • • • Prilaku menyerang teror seperti panik Sangat potensial melakukan bunuh diri atau membunuh orang lain Kegiatan fisik yang merefleksikan isi halusinasi seperti amuk. agitasi. Pengkajian Pada tahap ini perawat menggali faktor-faktor yang ada dibawah ini yaitu : a. Untuk itu perawat harus mempunyai kesadaran yang tinggi agar dapat mengenal.Diperoleh baik dari klien maupun 5 . Adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress.ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI :HALUSINASI Klien yang mengalami halusinasi sukar untuk mengontrol diri dan sukar untuk berhubungan dengan orang lain. 1. tremor. Faktor predisposisi.• Dipenuhi dengan pengalaman sensori dan mungkin kehilangan kemampuan untuk membedakan antara halusinasi dengan realitas.

• Faktor Sosiokultural faktor dimasyarakat dapat menyebabkan seorang merasa Berbagai • disingkirkan oleh kesepian terhadap lingkungan tempat klien dibesarkan. objek yang ada di lingkungan juga suasana sepi/isolasi adalah sering sebagai pencetus terjadinya halusinasi karena hal tersebut dapat meningkatkan stress dan kecemasan yang merangsang tubuh mengeluarkan zat halusinogenik. Faktor Presipitasi Yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan. Prilaku Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga. prilaku merusak diri. c. tidak mampu 6 . mengenai factor perkembangan sosial kultural. perasaan tidak aman. biokimia. Faktor Biokimia Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Adanya rangsang lingkungan yang sering yaitu seperti partisipasi klien dalam kelompok. b. tetapi hasil studi menunjukkan bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini. psikologis dan genetik yaitu faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress. • Faktor Perkembangan Jika tugas perkembangan mengalami hambatan dan hubungan interpersonal terganggu maka individu akan mengalami stress dan kecemasan. kurang perhatian. gelisah dan bingung.keluarganya.ancaman/tuntutan yang memerlukan energi ekstra untuk koping. • Faktor genetik Gen apa yang berpengaruh dalam skizoprenia belum diketahui. ketakutan. terlalu lama diajak komunikasi. Dengan adanya stress yang berlebihan dialami seseorang maka didalam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia seperti Buffofenon dan Dimetytranferase (DMP). • Faktor Psikologis Hubungan interpersonal yang tidak harmonis serta adanya peran ganda yang bertentangan dan sering diterima oleh anak akan mengakibatkan stress dan kecemasan yang tinggi dan berakhir dengan gangguan orientasi realitas.

Isi halusinasi dijadikan sistem kontrololeh individu tersebut. intoksikasi alkohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama. seolah-olah ia merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial. namun merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tak jarang akan mengontrol semua prilaku klien. Individu asyik dengan halusinasinya.  Dimensi Sosial Dimensi sosial pada individu dengan halusinasi menunjukkan adanya kecenderungan untuk menyendiri. Menurut Rawlins dan Heacock. kontrol diri dan harga diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata.Pada awalnya halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri untuk melawan impuls yang menekan. penggunaan obat-obatan. sehingga jika perintah halusinasi berupa ancaman. dirinya atau orang lain individu cenderung untuk itu. serta mengusakan klien tidak menyendiri sehingga klien selalu berinteraksi dengan 7 .  Dimensi Emosional Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi.mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata.  Dimensi Intelektual Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa individu dengan halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego. Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti kelelahan yang luar biasa. Oleh karena itu. Isi dari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan menakutkan. aspek penting dalam melaksanakan intervensi keperawatan klien dengan mengupayakan suatu proses interaksi yang menimbulkan pengalaman interpersonal yang memuaskan. 1993 mencoba memecahkan masalah halusinasi berlandaskan atas hakekat keberadaan seorang individu sebagai mahkluk yang dibangun atas dasar unsur-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi dapat dilihat dari lima dimensi yaitu :  Dimensi Fisik Manusia dibangun oleh sistem indera untuk menanggapi rangsang eksternal yang diberikan oleh lingkungannya. demam hingga delirium. Klien tidak sanggup lagi menentang perintah tersebut hingga dengan kondisi tersebut klien berbuat sesuatu terhadap ketakutan tersebut.

d. Pada individu tersebut cenderung menyendiri hingga proses diatas tidak terjadi.PERENCANAAN TINDAKAN Diagnosa 1: Risiko mencederai diri. 2. Saat halusinasi menguasai dirinya individu kehilangan kontrol kehidupan dirinya. Individu dapat mengatasi stress dan anxietas dengan menggunakan sumber koping dilingkungan. e. Sumber Koping Suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi seseorang. orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perubahan sensori perseptual : halusinasi. dukungan sosial dan keyakinan budaya.  Dimensi Spiritual Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial. sehingga interaksi dengan manusia lainnya merupakan kebutuhan yang mendasar. Adapun diagnosa keperawatan yang mungkin terjadi pad aklien dengan halusinasi adalah sebagai berikut : 1. Perubahan sensori perseptual : halusinasi berhubungan dengan menarik diri. 3. orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perubahan sensori perseptual : halusinasi. Mekanisme Koping Tiap upaya yang diarahkan pada pelaksanaan stress. termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri 2. dapat membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stress dan mengadopsi strategi koping yang berhasil. Sumber koping tersebut sebagai modal untuk menyelesaikan masalah. DIAGNOSA KEPERAWATAN Masalah yang dapat dirumuskan pada umumnya bersumber dari apa yang klien perlihatkan sampai dengan adanya halusinasi dan perubahan yang penting dari respon klien terhadap halusinasi. 1. 8 . individu tidak sadar dengan keberadaannya dan halusinasi menjadi sistem kontrol dalam individu tersebut.lingkungannya dan halusinasi tidak berlangsung. Risiko mencederai diri. orang lain dan lingkungan. Tujuan umum : klien tidak mencederai diri sendiri.

) Diskusi tentang situasi yang menimbulkan halusinasi. Tindakan : 1. Identifikasi bersama tentang cara tindakan jika terjadi 9 .) Bantu mengenal halusinasinya dengan menanyakan apakah ada suara yang didengar dan apa yang dikatakan oleh suara itu. 2. Klien dapat mengontrol halusinasinya. 2. Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar suara itu.) halusinasi. b). Katakan perawat akan membantu. tempat.) Ajak membicarakan hal-hal yang ada di lingkungan.) Salam terapeutik – perkenalan diri – jelaskan tujuan – ciptakan lingkungan yang tenang – buat kontrak yang jelas (waktu. Klien dapat mengenal halusinasinya. 3. frekuensi terjadinya halusinasi serta apa yang dirasakan saat terjadi halusinasi. b) Klien dapat mengenal halusinasinya c) Klien dapat mengontrol halusinasinya d) Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol halusinasinya e) Klien dapat menggunakan obat untuk mengontrol halusinasinya a)Klien dapat membina hubungan saling percaya.) Beri kesempatan mengungkapkan perasaan. waktu. topik). Tindakan : 1. 5.) Kontak sering dan singkat.2. tetapi perawat tidak.) Empati. Tujuan khusus : a) Klien dapat membina hubungan saling percaya. 4. c.) Dorong untuk mengungkapkan perasaan saat terjadi halusinasi. 3. 4. Tindakan : 1.) Observasi tingkah laku yang terkait dengan halusinasi (verbal dan non verbal).

Tujuan Umum: Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal 2.) 5. d. Tindakan : 1. e. waktu). Diagnosa 2: Perubahan sensori perseptual : halusinasi berhubungan dengan menarik diri. obat.) 3.) Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama pasien.” 4. 3. frekuensi. bicara dengan orang lain bila muncul halusinasi.) Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien dan cara Bantu memilih dan melatih cara memutus halusinasi : baru untuk mengontrol halusinasinya. 1. Tujuan Khusus: a. Beri kesempatan melakukan cara yang telah dipilih dan Libatkan klien dalam TAK : stimulasi persepsi beri pujian jika berhasil. cara merawat. Klien dapat menggunakan obat dengan benar untuk mengontrol halusinasinya.) Beri pendidikan kesehatan pada pertemuan keluarga tentang gejala.) Tanyakan hasil upaya yang telah dipilih/dilakukan. efek dan efek samping minum obat. Tindakan : 1. memutus halusinasi.) Diskusikan tentang dosis. cara. cara. dosis. Klien dapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya. 2. 4.) Anjurkan membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan. nama.2.) 6. 2.) Beri reinforcement positif klien minum obat yang benar. melakukan kegiatan.) Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga. mengatakan pada suara tersebut “saya tidak mau dengar. Klien dapat membina hubungan saling percaya Rasional : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksi selanjutnya 10 . informasi waktu follow up atau kapan perlu mendapat bantuan.

) Tunjukan sikap empati dan menerima klien apa adanya 8.) Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien 5. 2.) Jelaskan tujuan pertemuan 6.) apa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal 3.) Pengertian tentang kemampuan yang dimiliki diri memotivasi untuk tetap mempertahankan penggunaannya Tindakan: 1.) Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negative 3.) Pujian yang realistik tidak menyebabkan klien melakukan kegiatan hanya karena ingin mendapatkan pujian Tindakan: 1.) Perkenalkan diri dengan sopan 4.) Jujur dan menepati janji 7. kontrol diri atau integritas ego diperlakukan sebagai dasar asuhan keperawatannya.) Reinforcement positif akan meningkatkan harga diri klien 3.) Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien 2.) Keterbukaan dan pengertian tentang kemampuan yang dimiliki adalah prasyarat untuk berubah. 2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Rasional : 1.) Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit 11 .) Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapetutik 2.) Diskusikan tingkat kemampuan klien seperti menilai realitas.) Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien.) Utamakan memberikan pujian yang realistic c. b.Tindakan : 1. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan Rasional : 1.

) Memberikan kesempatan kepada klien ntk tetap melakukan kegiatan yang bisa dilakukan Tindakan: 1.) Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah e.) Kegiatan dengan bantuan sebagian c.2.) Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien 3.) Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan 4.) Reinforcement positif dapat meningkatkan harga diri klien 3.) Beri pujian atas keberhasilan klien 3.) Membentuk individu yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.) Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan 2. 12 . 2.) Memberikan kesempatan kepada klien mandiri dapat meningkatkan motivasi dan harga diri klien 2.) Support sistem keluarga akan sangat berpengaruh dalam mempercepat proses penyembuhan klien.) Contoh peran yang dilihat klien akan memotivasi klien untuk melaksanakan kegiatan Tindakan: 1. d.) Kegiatan yang membutuhkan bantuan total 2. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada Rasional: 1.) Kegiatan mandiri b.) Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya Rasional : 1.) Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan a.) Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya. 3.) Klien perlu bertindak secara realistis dalam kehidupannya. 2. Klien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki Rasional : 1.) Mendorong keluarga untuk mampu merawat klien mandiri di rumah.

) Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat 3.) Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah 13 . Tindakan: 1.) Meningkatkan peran serta keluarga dalam merawat klien di rumah.3.) Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah 2.

pendengaran. Akibatnya pasien bisa bertengkar atau bicara dengan suara halusinasi itu. Biasanya kalimat tadi membicarakan mengenai keadaan pasien sedih atau yang dialamatkan pada pasien itu. Jika diliputi rasa kecemasan yang berat maka kemampuan untuk menilai realita dapat terganggu.Sedangkan persepsi merupakan respon dari reseptor sensoris terhadap stimulus eksternal. juga pengenalan dan pemahaman terhadap sensoris yang diinterpretasikan oleh stimulus yang diterima. tapi yang paling sering berupa kata-kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang agak sempurna.BAB III PENUTUP KESIMPULAN Halusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi. Gangguan persepsi dapat terjadi pada proses sensori penglihatan. Persepsi mengacu pada respon reseptor sensoris terhadap stimulus. penciuman. perabaan dan pengecapan 14 . Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara-suara yang bising atau mendengung. Persepsi juga melibatkan kognitif dan pengertian emosional akan objek yang dirasakan.

) Residen Bagian Psikiatri UCLA. Standar Asuhan Keperawatan Jiwa. Surabaya. Dep. Ilmu Kedokteran Jiwa. Buku Saku Psikiatri. W.) Rasmun. RSJP Bandung.) Keliat Budi. Anna. Jen Yan. dkk. Edisi I. Erlangga Universitas Press.) Aziz R. Dit. EGC. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Teori 6. Kes R.) Tim Direktorat Keswa.) Sagung Seto. Kes. 1997 15 . Amino Gonohutomo. Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. 1999 3. 1995 2. 2001. Jakarta : EGC. 9. 2003 4. 7. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Sundeen. CV. Bandung.) Keliat Budi Ana. Keperawatan Jiwa. Edisi 1. 1990 8. 10.) Directorat Kesehatan Jiwa. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi dengan Keluarga.DAFTAR PUSTAKA 1.F. Jakarta.) Stuart GW.I. 2000 5.) Maramis. Jakarta : EGC. Peran Serta Keluarga Dalam Perawatan Klien Gangguan Jiwa. EGC.

P STIKES INSAN SE AGUNG BANGKALAN 2008/2009 KATA PENGANTAR 16 . Dwi Satria Wahyudi 4. Alvin Salman Al farisy 2. Teguh Wahyu. Qomarul Ali 6.S 5. Aris amrullah 3. Eko sutrisno B.PERUBAHAN SENSORI Di Susun Oleh : 1.

Tak lupa kami menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan yang ada. baik dari kontens materi maupun berbagai kekurangan lain sebagai akibat keterbatasan kami sebagai penyusun makalah ini. 08-06-2010 Tim Penyusun i DAFTAR ISI 17 . semoga makalah ini bermanfaat bagi kami dan bagi para pembaca. namun akhirnya berkat kerja sama yang baik dari para anggota. makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. hambatan dan kesulitan itu dapat diatasi Untuk itu dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pengajar yang telah memberi pengarahan dalam penyusunan makalah ini. segala puji kami haturkan kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Saran dan kritik dari semua pihak kami harapkan demi perbaikan makalah yang telah kami susun. Bangkalan.Alhamdulillah. Akhirnya. Dalam menyusun makalah ini banyak sekali hambatan dan kesulitan.

...1 B.................5 BAB III PENUTUP Kesimpulan ………….....Manifestasi Klinis.....Tujuan Penulisan ………………………………………………........….........Pengertian …………………………………………………...........4 D......i DAFTAR ISI ……………………………………………………………………...................Latar Belakang ……………………………………………………............................4 C..KATA PENGANTAR …………………………………………………………….................ii BAB I PENDAHULUAN A..Etiologi………………………………………………………….....Rumusan Masalah ………………………………………………….3 B..................Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Persepsi Sensori ....2 BAB II PEMBAHASAN A...............………………………………………………… 14 DAFTAR PUSTAKA ii 18 .2 C...

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->