P. 1
Artikel Uang Dan Pendidikan

Artikel Uang Dan Pendidikan

|Views: 471|Likes:
Published by edy pekalongan
sebuah artikel tentang uang dan pendidikan di tahun 2002.
sebuah artikel tentang uang dan pendidikan di tahun 2002.

More info:

Published by: edy pekalongan on Nov 30, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/04/2013

pdf

text

original

Arsip Milik : Edy Pekalongan Agustus 2002

Buku Karya Edy Pekalongan

Buku Anahata , Motivasi Inspirasi . ISBN 978 – 602 – 19498 – 1-8. Buku ini mengajak pembaca mengolah perasaannya menjadi seluas samudra sehingga memiliki sifat kuat, tenang dan damai. Memahami bahwa sesungguhnya terlahir sebagai manusia adalah karunia yang luar biasa, gunakanlah kesempatan ini untuk belajar memahami tujuan penciptaan anda di planet bumi ini, bukan hanya sekedar menghabiskan usia dengan makan, minum, sex, mencari uang, mengurus keluarga dan tidur. Dalam diri manusia ada keistimewaan, hanya tidak semua manusia mengetahuinya dan mengembangkannya. Buku ini akan memotivasi anda agar berani menjadi diri sendiri dan menginspirasi anda agar berani bertindak mewujudkan cita cita. Harga : 77 ribu rupiah Info Kunjungi : http://edypekalongan.blogspot.com/2011/12/karyaku-untuk-indonesia-2012.html

Antara Uang dan Pendidikan oleh : B. Herry Priyono

kemarin atau juga hari ini, kita meyakini suatu misi: lewat pendidikan sekolah, kita membentuk arah sejarah.

hanya,karena setiap keyakinan akan mati tanpa pemujaan, dan karena pemujaan biasanya merupakan anak kandung ketidaktahuan, keyakinan itu juga mudah menjadi kemacetan. tidak ada yang aneh pada misi mulia itu. namun semakin kelihatan bahwa misi itu terlalu besar bagi kita, atau kita terlalu kecil untuknya. rupanya,salah satu sebabnya adalah pergeseran kondisi ekonomi - politik. pemikir seperti almarhum Ernest Gellner ( 1983 ), contohnya ,melihat persekolahan sebagai cara mensosialisaikan ( mendidikkan) kepada generasi baru sisi kebijaksanaan, ketrampilan dan cara bertindak yang dibutuhkan untuk hidup suatu komunitas politik,ekonomi dan kultural tertentu. Gellner tidak sedang berbicara normatif, tetapi deskriptif. hanya, bagi dia soal menarik yang relevan ini: mengapa lembaga persekolahan mulai berkembang menjadi massal hanya sejak munculnya negara bangsa modern ( modern nation state ) pada awal abad ke 19 ? jawabannya dua . pertama, pendidikan sekolah merupakan cara institusional yang dipakai para pemimpin negara bangsa untuk menanamkan kultur komunitas politik yang mereka cita citakan. dalam hal ini,pengajaran sejarah, geografi dan bahasa menjadi kunci. kedua. persekolahan merupakan implikasi pengorganisasian masyarakat secara baru yang secara fungsional dituntut oleh ekonomi- politik modernitas, yaitu industrialisme dan juga kapitalisme ) terutama pokok kedua itu sentral untuk memahami apa yang sedang berlangsung dewasa ini. industrialisasi menuntut pasukan tenaga kerja yang bisa saling mengganti ( interchangeable ). kalau anda seorang akuntan dan anda sedang sakit, cuti,phk atau pensiun,kelangsungan kinerja industri menuntut keberadaan orang orang yang siap mengganti. dan itu hanya mungkin bila tersedia orang orang juga mengerti akuntansi. atau hampir semua panduan kerja mesin di kantor/pabrik diberikan lewat tulisan. maka kerja menjalankan mesin menuntut pekerja yang melek huruf juga. mungkin pelukisan ini terdengar kejam. namun inilah kaitan langsung antara persekolahan dan industrialisme.

dalam proses itu tentu saja terlibat berbagai hal, termasuk apa yang biasanya disebut "nilai " ( valeu ). sebelum kita mencanangkan berbagai agenda normatif, ada baiknya kita memahami kondisi yang sedang melingkupi pendidikan sekolah dewasa ini. disini terutama akan ditunjuk kondisi ekonomi- politik yang secara mendalam berpengaruh pada kondisi pendidikan, yaitu pergeseran filsafat ekonomi -politik dan revolusi material. Revolusi material ... sebuah revolusi material sedang terjadi, McVey ( 1992 ) kuang lebih menyebutnya "materialisasi budaya ". Revolusi yang sama juga terjadi di seluruh kawasan asia timur. Academia Sanica ( 1993) sebuah institut riset di taiwan, menamakannya " kelas menengah baru " Richard robinson ( 1996 ) menyebutnya " kaum kaya baru asia ". etosnya terungkap dalam iklan iklan.salah satunya,misalnya dalam bunyi iklan Assosiation of investment trust yang terpampang di berbagai kota besar dunia selama Maret sampai Juli 2001. " Love is pointless. Love will not make you money ". ( cinta itu omongan kosong. Cinta tidak akan menghasilkan uang ") apa yang di tunjuk disini bukan soal "baik" atau "buruk ". melainkan suatu kondisi ekonomipolitik yang entah kita suka atau tidak, berpengaruh secara mendalam pada pendidikan sekolah. sebagai kawanan gejala, perubahan itu membawa serta pergeseran besar. pendidikan sekolah tidak lagi terutama dimengerti dalam arti klasik sebagai pembentukan watak dan keutamaan, dimana penguasaan ilmu,pengetahuan,ketrampilan menjadi bagiannya. sebagai gantinya,pendidikan terutama dipahami sebagai penyiapan anak anak didik untuk masuk pasar kerja masyarakat industrial. sekali lagi, apa yang diajukan disini hanyalah penggambaran deskriptif, bukan penilaian normatif.sebelum melihat bagaimana proses itu terjadi,ada baiknya kita mengenali sosok "filsafat" yang menyangga revolusi ini. homo economicus pada dasawarsa 1970-an sebuah tata ekonomi baru mulai muncul. namanya globalisasi. filsafat ekonomi politiknya disebut neo liberalisme. garis kebijakannya berupa privatisasi dan deregulasi. satu dari berbagai faktor yang sangat menentukan munculnya tata itu ialah terbentuknya pool uang global begitu besar sejak awal dasawarsa 1950-an. namnya eurodollar ". euro dollar adalah dollar yang disimpan di berbagai bank di luar AS dan di AS, bisa diputar dengan kecepatan memencet tombol komputer dan lolos dari regulasi pemerintah. tentu saja, daya jelajah tata ekonomi baru dewasa ini tak terpisahkan dengan revolusi lain di bidang tehnologi, seperti kecepatan komunikasi lewat email,belanja lewat internet, dan sebagainya. euro dollar muncul sebagai sumber finansial berbagai bisnis yang menggerakkan globalisasi dewasa ini.

jantung neo - liberalisme adalah gagasan yang bisa dipadatkan begini : manusia adalah pertama tama dan terutama homo economicus ( manusia ekonomi ). cara kita bertransaksi dalam kegiatan ekonomi bukanlah satu dari berbagai model hubungan antar manusia, melainkan satu satunya model yang mendasari semua tindakan dan relasi antar manusia,entah itu persahabatan,keluarga maupun pendidikan. dengan kata lain, tindakan dan hubungan antar pribadi maupun tindakan dan hubungan lain hanyalah ungkapan dari model hubungan menurut kalkulasi untung rugi individual yang berlaku dalam transaksi ekonomi. proyek neo liberalisme mau mencapai dua hal. pertama, hubungan sosial dan antar pribadi,serta sukses tidaknya suatu kebijakan ( pendidikan, hukum, pertanian dan sebagainya )mesti dipahami dengan memakai konsep ekonomi. maka kemacetan yang terjadi ataupun perubahan yang ingin dilakukan dalam bidang bidang itu juga hanya bisa di dekati dengan solusi ekonomi sistem pasar. misalnya,kalau terjadi gejala luas bahwa para murit tidak meminati pelajaran seperti sejarah atau sastra ( juga dengan mengandaikan daya tarik pengajaran). tengoklah pertama tama apa bidang pelajaran itu punya prospek keuntungan material. kedua, prinsip ekonomi juga merupakan tolak ukur mengevaluasi sukses gagalnya suatu kebijakan. termasuk bidang pendidikan. guna ekonomis dan kinerja pasar bebas adalah meja pengadilan bagi setiap kebijakan. sudah berapa kali kita diberondong dengan gagasan bahwa kriteria sukses sistem pendidikan adalah sejauh mana para lulusan siap pakai dalam kantung kantung lapangan kerja yang ada. gagasan link and match yang laris pada awal dasawarsa 1990-an hanyalah salah satu contohnya. dua pokok diatas bukan sekedar prinsip abstrak,melainkan agenda yang sedang menyusup ke hampir semua aspek hidup kita. dan karena sudah menjadi semacam hawa yang melingkupi kita, kita kesulitan menunjukkan asal muasalnya, tidak juga mudah menetapkan salah benarnya. kriteria material ekonomis itu menyebar dalam perkawinan dengan proyek privatisasi pada hampir semua aspek hidup bersama ( kebijakan "privatisasi " berbagai bumn hanya salah satu aspeknya ) contohnya adalah gagasan neo -liberal tentang modal manusia ( human capital ). ekonomi politik klasik beranggapan bahwa produksi barang/jasa bergantung pada tiga faktor. tanah ( land ), modal ( capital ), tenaga kerja ( labour ). ekonomi neo - liberal tidak melihat modal dan tenaga kerja dalam arti objektif seperti itu,melainkan dalam arti subyektif ( subjective voulentarist ). jadi titik berangkatnya adalah sudut pandang subjektif orang yang melakukan kerja. dalam gagasan neo liberal,misalnya, upah ( wages,salary ) seseorang bukanlah harga bagi tenaga kerja yang dijual, melainkan laba dari "modal " yang dipunyainya ( otot, ketrampilan,pengetahuan dsb). otot, ketrampilan dan pengetahuan bukanlah modal seperti tanah atau gedung,karena "modal" seperti itu

tidak bisa dipisah dari orang sebagai pemiliknya, dimananpun mereka berada. " modal manusia " terdiri dari dua unsur ciri genetis bawaan dan keseluruhan ketrampilan yang dipelajari atau dicapai melalui berbagai proses seperti gizi, pendidikan sekolah, latihan, cinta, afeksi dsb. justru karena itu, dalam gagasan neo- liberal, orang orang yang diupah itu bukanlah buruh atau pegawai yang tergantung pada perusahaan ( atau badan usaha lain ),melainkan wira usahawan /ti ( entrepreneurs ) bebes yang bertanggung jawab atas hidupnya sendiri dan yang ( sama seperti para kapitalis ) berusaha memproduksi nilai surplus ( surplus value ) bagi dirinya sendiri. mereka ( entah buruh, manajer, direktur ataupun guru ) adalah para enterpreneurs yang bebas. singkatnya semua warga adalah " orang swasta ". untuk menyitir ucapan salah satu pelopor neo - liberalisme, Margaret Thatcher pada tahun 1987 " kepentingan bersama itu tidak ada, yang ada hanya kepentingan individu ".dalam bingkai itu, lalu setiap aspek diri ( wajah, tubuh, penampilan,pengetahuan,ketrampilan,pergaulan dsb ) terutama dipahami sebagai asset dan komoditas dalam kompetisi sebagai "pengusaha ", beberapa orangtua siswa secara spontan menuturkan prinsip ini dalam pertemuan dengan staf sekolah " anak adalah asset .( maka soalnya adalah) bagaimana dapat bersaing dalam tantangan global. karena itu semestinya sekolah memirkirkan program dengan bahasa inggris. (kami ) ingin anak punya ketrampilan menghadapi hari depan,melalui pasaran luar negeri."

melalui proses itu, terciptalah "permintaan" ( demand), yang dalam kinerja ekonomi pasar segera melahirkan "penawaran" (supply ). itulah mengapa pendidikan - sekolah juga segera menjadi lahan bisnis. Inilah yang rupanya ada di balik gelaja menjamurnya sekolah sekolah baru yang terkait dengan kelompok bisnis. jaringan sekolah Pelita Harapan dengan kelompok bisnis Lippo, Global Jaya dengan kelompok bisnis Ciputra, dan Laurentia dengan kelompok bisnis argo pantes. dalam proses selanjutnya, kaitan antara demand dan supply laksana sirkularitas ayam dan telur. dengan cepat sekolah sekolah tersebut menjadi sekolah favorite, bukan karena mempunyai tradisi andal dalam edukasi,melainkan karena apa yang ditawarkan mempunyai kesamasebangunan dengan tuntutan revolusi material dan ekonomi politik privatisasi. karena dalam gagasan neo - liberal, masyarakat adalah kerumunan wirausahawan yang bebas, masalah seperti buta huruf, drop -out atau pengangguran, juga bukan lagi dianggap sebagai urusan bersama. masalah masalah itu menjadi tanggung jawab masing masing individu. bukankah ini merupakan konsekwensi logis dari gagasan bahwa setiap warga adalah wirausahawan yang bebas? maka apa yang semula dianggap sebagai masalah sosial ( buta huruf atau pun pengangguran ) lalu juga dianggap sebagai masalah individual. solusinya bukan program sosial ( seperti dalam sistem welfare ) tetapi individual self - care ( perawatan pribadi )

gabungan revolusi material dan privatisasi itu merupakan arus besar yang menyusup jauh ke dalam tata pendidikan -sekolah. kita suka bilang bahwa lewat sekolah, kita akan membentuk arah masyarakat. dalam banyak hal, yang terjadi adalah sebaliknya. revolusi material dan privatisasi yang beralangsung secara global dewasa ini membentuk masalah, solusi dan arah pendidikan -sekolah. seperti apakah kaitan langsung antara pendidikan sekolah dan garis ekonomi politik neoliberal. manusia modular kunci untuk menjawab pertanyaan itu adalah "produktivitas ". produktif untuk apa ? untuk homo economicus. agar menjadi produktif,pendidikan sekolah mesti mempunyai kaitan langsung ( correspondence ) antara di satu pihak apa yang dipelajari dan di lain pihak apa yang akan di kerjakan serta bagaimana mengerjakan ketika anak anak masuk lapangan kerja. "prinsip korespondensi " ini pertama kali di rumuskan oleh dua ekonom, samuel bowles dan herbert Gintis ( 1976 ) kaitan itu menunjukkan pola bahwa kelangsungan kinerja tata bisnis dewasa ini menuntut suatu jenis pendidikan sekolah dengan ciri sebagai berikut, pertama, kesediaan tunduk pada kekuasaan majikan. kedua, kesediaan tunduk menuruti putusan majikan tentang bagaiman kerja mesti dilakukan. ketiga, kesediaan tunduk menerima apa apa yang akan diproduksi dan bagaimana produk serta labanya akan dipakai. disini tampak jelas perpisahan tajam antara pendidikan ( education ) dan persekolahan ( schooling ). ketiga prasyarat itu seolah bertentangan dengan tuntutan psikologis bahwa setiap orang adalah wiraswastawan bebas yang tidak bertanggungjawab pada siapapun. paradoks ini dapat dimengeti hanya dengan melihat bahwa ketiga hal tersebut merupakan kondisi sosiologis, sedang tuntutan psikologis independensi kewirausahaan merupakan agenda tentang bagaimana setiap orang harus merasakan, mengalami dan menghidupi kondisi itu. targetnya satu, yakni agar dalam ketergantungan sekalipun, kita tidak merasa dipaksa, apalagi diperas.maka larislah buku buku manual psikologi yang menyebarkan gagasan bahwa kerja yang kita lakukan bagi akumulasi laba bisnis merupakan pengungkapan jati -diri dan perwujudan talenta kita. misalnya, buku buku seperti "sepuluh cara menjadi orang efektif ", " lima cara tampil pede " dan semacamnya. perubahan dan inovasi yang terjadi dalam dunia bisnis dan industri secara mendalam menentukan isi dan arah pendidikan sekolah. dalam waktu dekat misalnya, ketidakmampuan mengoperasikan komputer akan didefiniskan sebagai buta huruf. demikian pula kemampuan berbahasa inggris dewasa ini telah menjadi syarat mutlak penerimaan kerja. daftar ini bisa diperpanjang lagi.

semua ini menjadi pola massal bukan karena pendidikan menuntutnya, tetapi karena industrialisme mensyaratkan apa yang Gellner (1994) sebut " modular man " . kita bisa digantikan dan menggantikan satu sama lain. istilah modular mungkin terdengar kejam, kata cantiknya adalah fleksibilitas, tetapi keduanya mempunyai substansi yang sama. apa implikasi semua gejala itu bagi arah dan isi pendidikan sekolah kita ? pertama, apa yang di sebut " pembentukan watak dan kepribadian " sebagai cita cita pendidikan tak mungkin mengalah dari kondisi historis revolusi material dan ekonomi politik privatisasi. definisi watak dan kepribadian tidak lagi terutama terkait dengan gagasan keutamaan ( seperti kedalaman, solidaritas ),melainkan dengan perkara kesiapan diri masuk ke dalam pertarungan meraih sukses di pasar kerja yang paling memberi kepuasan dan imbalan material tinggi. tentu dalam setiap gelaja sosiologis terdapat kekecualian. namun bersiap siaplah menerima semakin sedikitnya kekecualian.kedua, makin sentralnya tuntutan bagi perhatian terhadap individu dalam proses pendidikan sekolah. pada akhirnya ketrampilan tidak bisa di kejar di ruang kosong, karena manusia tanpa emosi adalah ilusi. proses emotional yang terlibat dalam pacuan menuju homo economicus itu niscaya akan membuat sekolah menjadi instansi yang akan semakin disibukkan oleh tugas memunguti retakan retakan gelaja psikologis yang bermunculan dan berguguran ( seperti stress, depressi, tajamnya kompetisi dan sebagainya ) ketiga, akan semakin terjadi kesenjangan yang lebih tajam antara sekolah sekolah "favorit " dan sekolah sekolah "rutin" yang ada karena mereka sudah ada disana. Tentu,kesenjangan itu terjadi karena berbagai faktor. namun kekuatan finansial sekolah akan menjadi faktor yang semakin menentukan. karena inovasi prasarana sekolah dalam rangka menyesuaikan dengan kondisi ekonomi - politik di luar sekolah membutuhkan sumberdaya finansial, kelompok sekolah yang tergantung pada budget pemerintah akan semakin jauh tertinggal. pada tahun 1998 misalnya, pemerintah Indonesia hanya menyediakan 2,8 % dari APBN untuk pendidikan, jauh tertinggal dari Malaysia yaitu 6 % ( World Bank 1998: 111 )

keempat,selain untuk urusan retorik, kita semakin tidak bisa lagi mengandalkan pemerintah.untuk memberi prioritas pada pendidikan sekolah. tentu ada banyak faktor, tetapi tidak tersedianya budget merupakan faktor sental. kalau dalam rangka kompetisi global, pajak terus dipotong ( race to bottom ), hampir seluruh sistem persekolahan yang mengandalkan keuangan pemerintah akan semakin pingsan. dalam arti ini, dampak nyata krisis ekonomi 1997 justru sedang mulai. Misalnya, jumlah drop-out murit murit SD dalam periode yang sama naik dari 3,6% menjadi 11,5 % ( world bank ) semua yang diurai secara kikir di atas mungkin defisit utopia. Tidak keliru, karena kita memang sedang membaca kondisi brutal yang langsung menusuk jantung cita cita luhur

tentang pendidikan.seperti dalam banyak hal lain.dan sebagimana para leluhur kita dulu serta anak - cucu kita besok, dalam soal pendidikan sekolah kita juga didera oleh dilema: memutar membalik waktu atau menunggang kereta zaman. karena tidak mungkin menghentikan sungai sejarah, kita akan selalu digelisahkan oleh pertanyaan ini: dengan strategi apa kita mesti menyusun kembali tata pendidikan- sekolah, bila idiom ( maksud ) pendidikan yang kita cita citakan telah menjadi asing ?.

B. Herry. Priyono Peneliti, alumni London School of economic ( LSE ) . Inggris. Sumber : artikel ekonomi pendidikan majalah BASIS nomor 07- 08, tahun ke 51. juli agustus 2002.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->