P. 1
konflik Sosial

konflik Sosial

|Views: 2,472|Likes:
Published by arinnira

More info:

Published by: arinnira on Dec 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/31/2013

pdf

text

original

PAPER SOSIOLOGI

MASALAH KONFLIK SOSIAL ANALISIS KONFLIK SOSIAL DI ACEH

OLEH : ANNISA BONITA ( APRIFANNY ( ARIANI (0911233005) FANANTIKA (

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2010
1

I.

PENDAHULUAN
1.1.Latar belakang masalah

Rumusan Tujuan Manfaat
II. DESKRIPSI

Pengertian Konflik social Macam-macam konflik social Faktor penyebab konflik Solusi pemecahan konflik
III. PEMBAHASAN

Analisis Konflik Sosial di Aceh Faktor penyebab konflik Aceh Solusi Pemecahan Masalah
IV. PENUTUP

Kesimpulan Saran
DAFTAR PUSTAKA

2

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba -Nya menyelesaikan paper ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun paper ini tidak akan sanggup terselesaikan dengan baik. Paper ini disusun agar pembaca dapat mengetahui tentang berbagai masalah konflik sosial mulai dari faktor penyebab masalah sosial sampai bagaiamana cara pemecahannya yang kami sajikan , berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Paper ini di susun unuk memenuhi nilai tugas sosiologi. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan YME akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini memuat tentang ³Masalah Konflik Sosial beserta analisis Konflik social di Aceh´ yang sangat berbahaya yang terjadi di Indonesia. Walaupun paper ini kurang sempurna tapi paper ini juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca. Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen sosiologi yaitu Bapak Pof Dr.Ir.Sanggar Kanto, MS yang telah membimbing kelompok kami agar dapat mengerti tentang bagaimana cara kami menyusun paper ini. Semoga paper ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun paper ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelompok kami mohon untuk saran dan kritiknya supaya paper kami ke depan bisa menjadi lebih baik . Terima kasih.

3

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah Manusia sebagai makhluk sosial selalu berinteraksi dengan sesama manusia. Ketika berinteraksi dengan sesama manusia, selalu diwarnai dua hal, yaitu konflik dan kerjasama. Dengan demikian konflik merupakan bagian dari kehidupan manusia. Masalah social sendiri merupakan suatu fenomena atau gejala abnormal yang terjadi dalam masyarakat. Dikatakan abnormal karena dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang berlaku sehingga dapat menjadi patologi (penyakit) sosial yang mempengaruhi kelanggengan kehidu pan masyarakat. Masalah social terjadi akibat adanya ketidaksesuaian antara unsur -unsur dalam kebudayaan atau masyarakat yang membahayakan hidupnya kelompoksosial. Konflik ini sudah banyak terjadi di Indonesia. Diantaranya konflik yang terjadi di: a) Timor-Timur b) Maluku Selatan yang membentuk Republic Maluku Selatan (RMS) yang terjadi Di Ambon penyebabnya adalah ketidakadilan politik dalam arti posisi-posisi penting dalam jabatan politis dijabat oleh orang-orang Muslim sehingga membuat kelompok Kristen tidak senang. Masalah itu kemudian ditambah masalah ekonomi. Sebab-sebab substansial itu lalu dipicu oleh perkelahian pemuda mabuk. Hal yang sama juga terjadi di Poso. Yang terjadi di Ambon ini sebenarnya bukan konflik antara agama Islam dan Kristen melainkan kaum penganut Islam atau kaum penganut Kristen keduanya adalah korban dari taktik dan strategi gerakan separatis. c) Papua yang membentuk Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang disebabkan oleh adanya sejumlah orang yang meminta kerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk menyerahkan kemerdekaan kepada Irian Jaya sesuai dengan Janji Alkitab, Janji Leluhur dan Janji tanah ini bahwa bangsa terakhir yang terbentuk dan menuju akhir jaman adalah bangsa Papua. d) Nanggroe Aceh Darussalam yang membentuk Gerakan Aceh Merdeka yang bertujuan mendirikan seluruh wilayah Indonesia menjadi sebuah Republik Islam dengan melancarkan sejumlah serangan terhadap Negara Indonesia. Hal ini juga menjadi tujuan kelompok-kelompok Islam militan di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Pemberontakan ini berakhir pada tahun 1962. Pemberontakan berakhir karena pada saat itu Pemerintahan Soekarno memberikan jaminan bahwa Aceh akan diberi status sebagai sebuah daerah istimewa dengan otonomi luas di bidang agama, hukum adat dan

4

pendidikan. Tetapi, selama bertahun-tahun, janji yang diberikan kepada masyarakat secara umum tidak terpenuhi.

1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Apa sajakah macam-macam konflik yang terjadi di masyarakat ? 1.2.2 Bagaimanakah penyelesain konflik yang terjadi ? 1.2.3 Analisis salah satu konflik yang terjadi di Indonesia yaitu di Aceh !

1.3 Tujuan 1.3.1 Untuk mengetahui apa yang menjadi faktor penyebab terjadinya masalah sosial dalam masyarakat. 1.3.2 Untuk mengetahui cara pemecahan masalah konflik sosial yang terjadi di masyarakat. 1.3.3 Untuk mengetahui masalah konflik yang terjadi di Aceh

1.4 Manfaat
y

Bagi mahasiswa Memperluas wawasan serta membantu mahasiswa dalam mengetahui dan memahami masalah konflik sosial yang meliputi faktor penyebab serta bagaimana cara pemecahannya.

y

Bagi penulis Makalah ini secara tidak langsung membantu kami dalam memah ami lebih jauh masalah konflik sosial yang terjadi di masyarakat sehingga kami dapat menghindarinya.

y

Bagi masyarakat Manfaat makalah ini bagi masyarakat khususnya pembaca adalah membantu memberi pemahaman mengenai masalah konflik social, khususnya konflik konflik social yang terjadi di masyarakat sekitar mereka sendiri sehingga tidak sampai mengakibatkan kerugian baik materil maupun non materil.

5

BAB II DESKRIPSI
2.1 Pengertian Konflik Sosial
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Konflik, dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2002) diartikan sebagai percekcokan, perselisihan, dan pertentangan. Menurut Kartono & Gulo (1987), konflik berarti ketidaksepakatan dalam satu pendapat emosi dan tindakan dengan orang lain. Keadaan mental merupakan hasil impuls-impuls, hasrat-hasrat, keinginan-keinginan dan sebagainya yang saling bertentangan, namun bekerja dalam saat yang bersamaan. Konflik biasanya diberi pengertian sebagai satu bentuk perbedaan atau pertentangan ide, pendapat, faham dan kepentingan di antara dua pihak atau lebih. Pertentangan ini bisa berbentuk pertentangan fisik dan non -fisik, yang pada umumnya berkembang dari pertentangan non-fisik menjadi benturan fisik, yang bisa berkadar tinggi dalam bentuk kekerasan (violent), bisa juga berkadar rendah yang tidak menggunakan kekerasan (non violent). Konflik adalah hubungan antara dua pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki tujuan atau kepentingan yang berbeda. Dalam bermasyarakat terjadi jalinan atau interaksi sosial antarpribadi, antarkelompok, antarkomunitas, dan antarorganisasi. Dalam berinteraksi terdapat kecenderungan terjadi bias persepsi, streotipe diantara pihak-pihak yang terlibat. Terkadang salah satu pihak mempersepsikan dengan caranya sendiri sehingga menjadi bias. Stereotip merupakan salah satu faktor timbulnya prasangka yang akan berlanjut pada ketidakpercayaan, kecurigaan, kecemburuan, dan diskriminasi. Pada akhirnya terjadi tindakan kekerasan. Prasangka menimbulkan gejolak sosial dan memungkinkan terjadi pertentangan dan rusaknya hubungan sosial yang telah terbangun. Prasangka merupakan sifat negatif terhadap kelompok atau individu terten semata-mata karena tu keanggotaannya dalam kelompok tertentu. Prasangka muncul karena adanya bias persepsi (stereotip) yang memunculkan generalisasi lebih awal tanpa di dasarkan fakta atau bukti akurat. Hal ini mengakibatkan dampak negatif terhadap pihak lainnya. Jika sasaran prasangka mencakup kelompok minoritas dalam arti jumlah maupun status. Prasangka kemudian direalisasikan dalam perilaku atau tindakan diskriminasi kepada kelompok lain.

6

Konflik sosial adalah Secara teoritis, konflik sosial muncul karena adanya perbedaan otoritas dan kepentingan. Munculnya kelompok konflik ini berawal dari kelompok semu (quasi group), kemudian terbentuk kelompok kepentingan (interest group), dan baru muncu kelompok konflik l (conflict group).

2.2 Macam-Macam Konflik Sosial
Konflik sosial dapat dibedakan : Konflik sosial horisontal : antar etnis, antar agama, antar kampung, dll Konflik sosial vertikal : antar pelapisan sosial, antar pemimpin dan rakyat, antar daerah dan pusat, dll Konflik yang terjadi pada manusia ada berbagai macam ragamnya, bentuknya, dan jenisnya. Soetopo(1999) mengklasifikasikan jenis konflik, dipandang dari segi materinya menjadi empat, yaitu: 1. Konflik tujuan Konflik tujuan terjadi jika ada dua tujuan atau yang kompetitif bahkan yang kontradiktif. 2. Konflik peranan Konflik peranan timbul karena manusia memiliki lebih dari satu peranan dan tiap peranan tidak selalu memiliki kepentingan yang sama. 3. Konflik nilai Konflik nilai dapat muncul karena pada dasarnya nilai yang dimiliki setiap individu dalam organisasi tidak sama, sehingga konflik dapat terjadi antar individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan organisasi. 4. Konflik kebijakan Konflik kebijakan dapat terjadi karena ada ketidaksetujuan individu atau kelompok terhadap perbedaan kebijakan yang dikemuka- kan oleh satu pihak dan kebijakan lainnya. Konflik dipandang destruktif dan disfungsional bagi individu yang terlibat apabila:

1. Konflik terjadi dalam frekuensi yang tinggi dan menyita sebagian besar kesempatan individu untuk berinteraksi. Ini menandakan bahwa problem tidak diselesaikan secara kuat. Sebaliknya, konflik yang

7

konstruktif terjadi dalam frekuensi yang wajar dan masih memungkinkan individu-individunya berinteraksi secara harmonis. 2. Konflik diekspresikan dalam bentuk agresi seperti ancaman atau paksaan dan terjadi pembesaran konflik baik pembesaran masalah yang menjadi isu konflik maupun peningkatan jumlah individu yang terlibat. Dalam konflik yang konstruktif isu akan tetap terfokus dan dirundingkan melalui proses pemecahan masalah yang saling menguntungkan. 3. Konflik berakhir dengan terputusnya interaksi antara pihak-pihak yang terlibat. Dalam konflik yang konstruktif, kelangsungan hubungan antara pihak-pihak yang terlibat akan tetap terjaga. Sedangkan Handoko (1984) membagi konflik menjadi 5 jenis yaitu: (1) konflik dari dalam individu, (2) konflik antar individu dalam organisasi yang sama, (3) konflik antar individu dalam kelompok, (4) konflik antara kelompok dalam organisasi, (5) konflik antar organisasi Menurut Dahrendorf (1986), konflik dibedakan menjadi 4 macam: (1) konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya anta peranan-peranan dalam ra keluarga atau profesi (konflik peran (role), (2) konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank), (3) konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa),dan (4) konflik antar satuan nasional (perang saudara). Dari hasil dari sebuah konflik adalah sebagai berikut: (1) meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (in-group) yang mengalami konflik dengan kelompok lain; (2) keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai; (3) perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbul nya rasa dendam, benci, saling curiga dan sebagainya; (4) kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia; dan

8

(5) dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik.

Para pakar teori konflik mengklaim bahwa pihak-pihak yang berkonflik dapat memghasilkan respon terhadap konflik menurut sebuah skema dua-dimensi; pengertian terhadap hasil tujuan kita dan pengertian terhadap hasil tujuan pihak lainnya. Skema ini akan menghasilkan hipotesa sebagai berikut. 1. Pengertian yang tinggi untuk hasil kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk men cari jalan keluar yang terbaik. 2. Pengertian yang tinggi untuk hasil kita sendiri hanya akan menghasilkan percobaan untuk "memenangkan" konflik. 3. Pengertian yang tinggi untuk hasil pihak lain hanya akan menghasilkan percobaan yang memberikan "kemenangan" konflik bagi pihak tersebut. 4. Tiada pengertian untuk kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk menghindari konflik.

2.3 Faktor Penyebab Konflik Sosial
a. Perbedaan Individu Perbedaan kepribadian antar individu bisa menjadi faktor penyebab terjadinya konflik, biasanya perbedaan individu yang menjadi sumber konflik adalah perbedaan pendirian dan perasaan. Setiap manusia adalah individu yang unik, artinya setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dala menjalani m hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbedabeda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.

b. Perbedaan latar belakang kebudayaan Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi pribadi yang berbeda. Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola -pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.

9

c. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan

yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda- beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon -pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sin jelas terlihat i ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka. d. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat

Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubaha itu berlangsung n cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotong royongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan prosesproses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.

10

2.4 Solusi Pemecahan Konflik
Konflik dapat berpengaruh positif atau negatif, dan selalu ada dalam kehidupan. Oleh karena itu konflik hendaknya tidak serta merta harus ditiadakan. Persoalannya, bagaimana konflik itu bisa dimanajemen sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan disintegrasi sosial. Pengelolaan konflik berarti mengusahakan agar konflik berada pada level yang optimal. Jika konflik menjadi terlalu be sar dan mengarah pada akibat yang buruk, maka konflik harus diselesaikan. Alternatif pemecahan konflik yaitu sebagai berikut. ‡ Memberdayakan berbagai komponen masyarakat dan pemerintah untuk menangkal dan meredam konflik ‡ Melalui proses akomodasi, antara lain : a) Compromise : pihak-pihak yang berselisih saling mengurangi tuntutannya sehingga dicapai kesepakatan b) Mediation : Ada pihak ketiga sebagai mediator dan bersifat netral dalam penyelesaian konflik c) Conciliation : Melalui organisasi yang merupakan perwakilan dari pihak ketiga dan pihak-pihak yang berkonflik guna mencapai kesepakatan bersama d) Arbitration : Pihak ketiga bertindak sebagai wasit dalam penyelesai an konflik. Pihak ketiga ini bisa dipilih oleh pihak-pihak yang berkonflik atau oleh lembaga yang kedudukannya lebih tinggi. e) Coercion : upaya penyelesaian konflik dengan cara paksaan

11

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Analisis konflik sosial yang terjadi di Aceh
Wilayah Aceh juga dikenal dengan sebutan ³Serambi Makkah´ yang bermakna bahwa bagian wilayah ini merupakan wilayah terdekat dari tanah suci al-Makkah al-Mukarramah. Di daerah ini terjadi konflik separatis dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang disebut Gerakan Aceh Merdeka atau GAM. Gerakan Aceh Merdeka atau yang sering kita sebut GAM adalah suatu gerakan separatis yang terdapat disemua wilayah Nanggroe Aceh Darrusallam. GAM berdiri pada 4 Desember 1976 atas prakarsa dari Teungku Hasan Muhammad Tiro yang tidak lain adalah keturunan dari Cik Di Tiro seorang pembela bumi Aceh. Separatisme atau Separatis merupakan suatu gerakan untuk mendapatkan kedaulatan dan memisahkan suatu wilayah atau kelompok manusia (biasanya kelompok dengan kesadaran nasional yang tajam) dari satu sama lain (atau suatu negara lain). Separatis merupakan suatu pemisahan yang dilakukan oleh suatu daerah terhadap daerah yang sebelum. GAM ini lahir karena tujuan para anggotanya yang ingin merubah wilayah Indonesia menjadi 7 Wilayah Republik Islam. Awal dari pemberontakan yang dilakukan para anggota GAM yaitu pada masa kemerdekaan lebih tepatnya ketika pemerintahan Soekarno -Hatta baru berumur sebulan, yaitu pada tanggal 15 September 1945 yang pada saat Teuku Muhammad Daud Cumbok, putra Ulee Balang menentang kemerdekaan RI di Aceh. Hal yang paling mendasar dari konflik ini adalah adanya keinginan dari masyarakat untuk menjadikan seluruh wilayah Indonesia menjadi wilyah islam. Keinginan tersebut sering melahirkan perlawanan terhadap pemerintah. Puncaknya yaitu pada saat mereka melancarkan perlawanan Islam terhadap Republik Indonesia di tahun 1953. Perlawanan tersebut disebut Darul Islam, yang menekadkan tujuan mereka yaitu untuk mendirikan seluruh wilayah Indonesia menjadi sebuah Republik Islam. Hal ini juga menjadi tujuan kelompok-kelompok Islam militan di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Pemberontakan ini berakhir pada tahun 1962. Pemberontakan berakhir karena pada saat itu Pemerintahan Soekarno memberikan10 jaminan bahwa Aceh akan diberi status sebagai sebuah daerah istimewa dengan otonomi luas di bidang agama, hukum adat dan pendidikan. Tetapi, selama

12

bertahuntahun, janji yang diberikan kepada masyarakat secara umum tidak terpenuhi. Pada 4 Desember 1976, ketika Muhammad Hasan di Tiro mendeklarasikan kemerdekaan Aceh. Mereka menamai pemberontakan itu dengan nama Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang mempunyai tujuan yaitu berniat untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

3. 2 Faktor Penyebab Terjadinya Konflik
Hal yang paling mendasar dari konflik ini adalah adanya keinginan dari masyarakat untuk menjadikan seluruh wilayah Indonesia menjadi wilyah islam. Keinginan tersebut sering melahirkan perlawanan terhadap pemerintah. Puncaknya yaitu pada saat mereka melancarkan perlawanan Islam terhadap Republik Indonesia di tahun 1953. Perlawanan tersebut disebut Darul Islam, yang menekadkan tujuan mereka yaitu untuk mendirikan seluruh wilayah Indonesia menjadi sebuah Republik Islam. Hal ini juga menjadi tujuan kelompok-kelompok Islam militan di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Pemberontakan ini berakhir pada tahun 1962. Pemberontakan berakhir karena pada saat itu Pemerintahan Soekarno memberikan 10 jaminan bahwa Aceh akan diberi status sebagai sebuah daerah istimewa dengan otonomi luas di bidang agama, hukum adat dan pendidikan. Tetapi, selama bertahuntahun, janji yang diberikan kepada masyarakat secara umum tidak terpenuhi. Kemudian akibat dari itu semua, muncul pemberontakan separatis yang dimulai 4 Desember 1976, ketika Muhammad Hasan di Tiro mendeklarasikan kemerdekaan Aceh. Mereka menamai pemberontakan itu dengan nama Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang mempunyai tujuan yaitu berniat untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

3. 3 Solusi Pemecahan Masalah
Banyak hal yang sudah dilakukan oleh pemerintah terhadap penindakakan penindakan konflik ini, namun banyak hal-hal tersebut masih tetap membuat konflik belum juga mereda diantaranya: 1) Di wilayah timur Indonesia, Otonomi Khusus Papua yang diberlakukan pada tahun 2002 belum mampu menghilangkan secara tuntas keinginan sekelompok masyarakat atau golongan terhadap keinginan untuk memperjuangkan kemerdekaan Papua. Beberapa aktivitas OPM, baik yang secara terang-terangan melakukan perlawanan terhadap pemerintah NKRI maupun kegiatan politik terselubung telah mampu menarik simpati dunia internasional. Oleh karena itu, upaya memperkuat sistem intelijen dan diplomasi luar negeri sangat diperlukan untuk mengonter aktivitas propaganda negatif OPM di luar negeri. 2) Aktivitas separatisme Republik Maluku Selatan (RMS) perlu diwaspadai. Bahaya laten yang selama ini kurang mendapatkan perhatian sewaktuwaktu bisa muncul ke permukaan. Kejadian di Kota Ambon berupa pengibaran bendera separatis oleh kelompok penari cakalele pada acara Hari Keluarga

13

Nasional XIV pada tanggal 29 Juni 2007 perlu disikapi dengan serius dan selalu waspada terhadap ancaman laten kelompok separatis. 3) Namun yang paling mengesankan adalah langkah penyelesaian k onflik yang terjadi di Timor Timur. Wilayah ini sudah resmi berpisah. Bahkan yang sangat disayangkan lagi ketika itu BJ Habibie selaku Kepala Negara 11 dari Indonesia sendiri memberikan pilihan yang sangat fatal yaitu dengan memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk memilih keinginan mereka sendiri. Entah apa tujuannya. Tapi yang jelasnya kejadian-kejadian yang sudah terjadi itu menjadi motivasi bagi pemerintah Negara Indonesia kedepannya. Melihat apa yang melatar belakangi dari semua konflik diatas, maka perlu diadakan langkah-langkah kebijakan yang harus ditempuh. Langkah kebijakan yang harus ditempuh dalam upaya pencegahan dan penanggulangan separatisme itu diantaranya adalah: 1. Pemulihan kondisi keamanan dan ketertiban serta menindak secara tegas para pelaku separatisme bersenjata yang melanggar hak-hak masyarakat sipil. 2. Peningkatan kualitas pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi serta demokratisasi. 3. Peningkatan deteksi dini dan pencegahan awal potensi konflik dan separatisme. 4. Peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah rawan konflik atau separatisme melalui perbaikan akses masyarakat local terhadap sumber daya ekonomi dan pemerataan pembangunan antardaerah. 5. Pelaksanaan pendidikan politik secara formal, informal, dialogis, serta melalui media massa dalam rangka menciptakan rasa saling percaya. Hal yang utama dalam mencapai keberhasilan penyelesaian masalah separatisme Aceh adalah melalui kesepakatan yaitu Kesepahaman antara Pemerintah Indonesia dan Kelompok. Pelaksanaan kesepahaman diawali dengan pemberian amnesti dan abolisi kepada mantan anggota GAMoleh pemerintah sendiri. Selanjutnya Pemerintah perlu membahas segala permasalahan secara intens, baik di Commision on Security Arrangement (CoSA) maupun aktivitas penting lainnya seperti sosialisasi MoU.

Selain itu upaya pengembangan ketahanan nasional juga perlu perbaiki diantaranya dengan: 1. Penyelenggaraan pengkajian kebijakan ketahanan nasional dalam rangka mewujudkan tujuan nasional dan keselamatan negara dari ancaman terhadap kedaulatan, persatuan, dan kesatuan. 2. Pengembangan automasi sistem pemantapan nilai-nilai kebangsaan (pembangunan laboratorium pengembangan ketahanan nasional) 3. Pendidikan strategis ketahanan nasional guna meningkatkan kualitas kader pemimpin nasional.

Setelah itu perlu diadakan proses penindaklanjutannya. Adapun upaya penindaklanjutan yang diperlukan dalam pengembangan penyelidikan, pengamanan dan penggalangan keamanan Negara yaitu dengan: 1. Pengembangan intelijen negara yang didukung intelijen teritorial dan intelijen sektoral/fungsional agar mampu melakukan deteksi dini terhadap gerakan separatisme dan penanggulangan perang urat

14

syaraf dari berbagai anasir separatisme yang sudah memasuki berbagai aspek kehidupan (melalui counter opinion, peperangan informasi, dan pengawasan wilayah). 2. Pengoordinasian seluruh badan intelijen pusat dan daerah di seluruh wilayah NKRI untuk mencegah dan menanggulangi separatisme. 3. Pengkajian analisis intelijen perkembangan lingkungan strategis, pengolahan dan penyusunan produk intelijen dalam hal deteksi dini untuk mencegah dan menanggulangi separatisme. Hal yang lainnya yaitu penegakan kedaulatan dan penjagaan keutuhan wilayah NKRI. Yaitu dengan mengadakan langkah: 1. Antisipasi dan pelaksanaan operasi militer atau nonmiliter terhadap gerakan separatisme yang berusaha memisahkan diri dari NKRI, terutama gerakan separatisme bersenjata yang mengancam kedaulatan dan keutuhan wilayah Indonesia. 2. Antisipasi dan pelaksanaan operasi militer atau nonmiliter terhadap aksi radikalisme yang berlatar belakang primordial etnik, ras, agama, dan ideologi di luar Pancasila, baik yang berdiri sendiri maupun yang memiliki keterkaitan dengan kekuatan di luar negeri. 3. Pelaksanaan diplomasi untuk memperoleh dukungan internasional terhadap keutuhan wilayah dan kedaulatan NKRI.

15

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Manusia sebagai makhluk sosial selalu berinteraksi dengan sesama manusia. Ketika berinteraksi dengan sesama manusia, selalu diwarnai dua hal, yaitu konflik dan kerjasama. Dengan demikian konflik merupakan bagian dari kehidupan manusia. Konflik biasanya diberi pengertian sebagai satu bentuk perbedaan atau pertentangan ide, pendapat, faham dan kepentingan di antara dua pihak atau lebih. Pertentangan ini bisa berbentuk pertentangan fisik dan non-fisik, yang pada umumnya berkembang dari pertentangan non-fisik menjadi benturan fisik, yang bisa berkadar tinggi dalam bentuk kekerasan (violent), bisa juga berkadar rendah yang tidak menggunakan kekerasan (non violent). Pertentangan dikatakan sebagai konflik manakala pertentangan itu bersifat langsung, yakni ditandai interaksi timbal balik di antara pihakpihak yang bertentangan. Selain itu, pertentangan itu juga dilakukan di atas dasar kesadaran pada masing-masing pihak bahwa mereka saling berbeda atau berlawanan. Konflik pada dasarnya merupakan bagian dari kehidupan sosial, karena itu tidak ada masyarakat yang steril dari realitas konflik. Konflik dan konsensus, integrasi dan perpecahan adalah proses fundamental yang walau dalam porsi dan campuran yang berbeda, merupakan bagian dari setiap sistem sosial yang dapat dimengerti. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Strategi yang dipandang lebih efektif dalam pengelolaan konflik meliputi: (1) koesistensi damai, yaitu mengendalikan konflik dengan cara tidak saling mengganggu dan saling merugikan dengan , menetapkan peraturan yang mengacu pada perdamaian serta diterapkan secara ketat dan konsekuen; (2) dengan mediasi (perantaraan). Jika penyelesaian konflik menemui jalan buntu, masing -masing pihak bisa menunjuk pihak ketiga untuk menjadi perantara yang berperan secara jujur dan adil serta tidak memihak. Faktor utama yang menjadi penyebab adanya Gerakan Aceh Merdeka atau GAM ini adalah karena adanya suatu keinginan dari sekelompok orang untuk menjadikan seluruh wilayah Indonesia menjadi wilayah Islam. Awalnya hal ini mendapatkan respon dari pemerintahan soekarno yang

16

kemudian menjanjikan bahwa wilyah Indonesia akan menjadi wilayah yang berbasis islam. Namun hal itu tidak pernah ada kenyataannya. Sejak saat itu Muhammad Hasan di Tiro mendeklarasikan kemerdekaan Aceh pada tanggal 4 Desember 1976. Kemudian mereka berniat untuk memisahkan diri dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan pada saat itu pula terjadi perlawanan terhadap pemerintah yang pertam kali dilakukan. Banyak kejadian-kejadian yang dilakukan oleh para propokator-propokator GAM. Setelah pemerintah melakukan perlawanan terhadap GAM, dan

mereka mengaku kalah, maka mereka menandatangani MoU Damai antara Pemerintah RI dan GAM 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia.

4.2 Saran

17

DAFTAR PUSTAKA

http://www.wikipedia.com http://www.kbricanberra.org.au

18

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->