P. 1
MARTABAT KELUARGA

MARTABAT KELUARGA

|Views: 74|Likes:

More info:

Published by: H Masoed Abidin bin Zainal Abidin Jabbar on Aug 03, 2008
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/25/2010

pdf

text

original

Ramadhan, “Marhaban bil Muthahhir”

Tidak berapa lama lagi, kita akan memasuki Bulan Ramadhan. Bagi umat Islam, Ramadhan merupakan satu bulan mulia yang senantiasa ditunggu secara khusus dan penuh kegembiraan. Bulan ibadah dan bulan pengampunan. Keyakinan ini telah mengakar hingga tampak pada prilaku orang-orang dalam menyambutnya dan menghormatinya. Berbekas pula pada adat kebiasaan anak negeri, khususnya dibeberapa daerah yang masih kokoh dengan adat budayanya. Ramadhan adalah penghulu sekalian bulan, dinamai bulan puasa sesuai ibadah yang dilaksanakan sepanjang bulan itu. Orang Minang menyebutnya juga dengan “bulan basaha” (saha = sahur, satu bentuk Sunnah Rasul yang diujudkan dalam makan parak siang sebelum terbitnya fajar, menurut bimbingan ibadah shaum (puasa) mendahului imsak).

Tatkala Ramadhan datang menjelang, Rasulullah SAW menyambut dengan ucapan :” marhaban bilmuthahhir”, artinya, “selamat datang wahai
H. Mas’oed Abidin

1

pembersih”. Sahabat yang mendengar bertanya,“Wa mal muthahhiru ya Rasulullah?, (siapakah yang di maksud pembersih itu, wahai Rasulullah?)”. Rasulullah SAW menjawab “almuthahhiru syahru Ramadhana, yuthahhiruna min dzunubii wal ma’ashiy (pembersih itu adalah Ramadhan, dia membersihkan kita dari dosa dan ma’shiyat)”.

Marhaban artinya, ’ruangan luas tempat perbaikan untuk mendapatkan keselamatan dalam perjalanan’. Kata-kata ini kerap dipakai untuk menyambut dan menghormat tamu yang mulia. Bermakna ungkapan selamat datang. Ucapan ini menyiratkan makna kegembiraan menyambut kedatangan tamu mulia –bulan Ramadhan— disertai kesiapan dan kelapangan waktu maupun tempat, hingga orang dapat leluasa melakukan amalan (tindakperbuatan) yang berkaitan dengan mengasuh dan mengasah jiwa untuk mewujudkan keberhasilan dan kebersihan bersamanya. Bersih (diri dan jiwa) adalah bukti ketaqwaan seseorang. Puasa (shaum) merupakan ibadah khusus dalam bulan Ramadhan, niscaya sangat berperan membersihkan diri pelakunya (shaimin), manakala bisa menerapkan sikap dan amalan-amalan terpuji tadi. Bimbingan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, jelas menyebutkan di dalam Al Quranul Karim, yang artinya ;

 
 

  

  

   


  

 

2

H. Mas’oed Abidin

”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu (pengikut Taurat dan Injil) agar kamu bertaqwa (tetap terpelihara, bersih dari dosa dan makshiayat)”. (QS.2, al Baqarah,ayat 183).

Ramadhan telah ditetapkan sebagai bulan pelaksanaan puasa juga terhadap umat terdahulu (dalam Taurat, Zabur dan Injil), dan dipilih sebagai bulan turunnya Kitabullah (AlQuran) kepada Muhammad SAW. Al Quran dipersiapakan sebagai petunjuk, bimbingan, pembeda untuk benar dan salah, dan berisikan penjelasan-penjelasan paradigma hidup manusia. Dalam kehidupan orang Minang yang beradat dengan indikasi beragama Islam, maka bulan Ramadhan mendapat tempat yang khusus sejak doeloe. Setiap Mukmin bila datang bulan Ramadhan wajib mengerjakan ibadah shaum (puasa). Bila telah mukallaf (baligh berakal) mesti mengerjakan ibadah puasa secara sadar dan penuh ketaatan (ketaqwaan). Allah telah menyediakan rukhsah (keringanan) dengan mengganti puasa Ramadhan dihari (bulan) lain atau menukarnya dengan pembayaran fidyah (memberi makan orang miskin) bagi orang-orang sakit (tua), musafir (melakukan perjalanan) dan tidak memiliki kesanggupan berpuasa dibulan suci itu. Keringanan ini merupakan bukti kasih sayang Allah, dan bukti pula bahwa Agama Islam adalah ajaran yang tidak memberatkan, sehingga tidak ada alasan seseorang Mukmin menolak melaksanakannya. 3

H. Mas’oed Abidin

Pada hakekatnya semua ibadah (termasuk puasa) adalah pembuktian seorang apakah ia benar beriman dan mampu bersyukur (berterima kasih) kepada Allah yang telah menjadikan dirinya, menyiapkan kehidupan baginya dan menyediakan segala sesuatu keperluannya untuk hidup ini. Dengan demikian haruslah dipahami bahwa umumnya ibadah (diantaranya puasa) sesungguhnya bukti nyata kesiapan seseorang dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dengan jujur. Kejujuran kepada Allah tampak secara pasti pada kesediaan melaksanakan imsak (menahan) nafsu dari makan, minum, bersebadan (sanggama) suami istri di siang hari (sejak mulai imsak hingga datangnya waktu berbuka), atau selama masa basaha itu, juga kesediaan menunaikan semua aturan-aturan berkenaan dengan ibadah yang tengah dilakukan itu. Bagi orang Minang sangat dimengerti puasa dibulan Ramadhan tidak sekedar hanya menahan makan dan minum dalam pengertian umumnya. Lebih khusus lagi, melatih diri senantiasa teguh dalam “menjauhi tegah dan mengerjakan suruh.” Bertindak tidak senonoh dan kurang terpuji seperti bersuara keras, berbohong, memperkatakan orang (bergunjing), menyakiti perasaan orang lain, berakibat mendapatkan peringatan keras dari warga masyarakat sejak doeloe karena dianggap bisa membuat puasa seseorang bata (batal). Inilah yang senantiasa diingatkan, maka bulan puasa dijadikan arena pelatihan fisik dan kejiwaan, pada akhirnya berbekas kepada tindak laku disiplin diri dalam mengangkat harkat martabat (izzatun-nafs) ditengah pergaulan bermasyarakat. 4
H. Mas’oed Abidin

Ibadah puasa adalah ibadah besar yang tegolong kepada jihadun-nafs (pembentukan watak) sabar, setia, taat, dan sifat utama lainnya, sesuai bimbingan Rasulullah SAW; “Man shaama Ramadhana Imanan wah tisaaban, ghufira lahu maa taqaddama min dzanbihi” (Al Hadist). Artinya,”Siapa saja yang melaksanakan puasa (shaum) Ramadhana dengan iman dan ihtisab (perhitunganperhitungan menurut syarat-syarat puasa, memelihara segala aturan-aturan puasa), maka di ampuni dosadosanya terdahulu”. Inilah suatu kesempatan besar yang di janjikan kepada setiap orang yang menunaikan badah puasa didalam Ramadhan, semoga kita semua sempat melaksanakan dan merasakan nikmatnya tahun ini. Insya Allah.

Balimau, persenyawaan adat dan agama di Minangkabau

Bagi orang Minangkabau (Sumatera Barat), Ramadhan yang dipandang sebagai bulan agung merupakan suatu peristiwa yang dinantikan dan sangat di rindui. Kita sudah terbiasa menyambutnya dengan suatu acara yang khas dan hampir teradatkan, bahkan merupakan penggambaran nyata dari rangkaian adat bersendi syarak, syarak bersedi kitabullah.
H. Mas’oed Abidin

5

Kedatangannya dinanti dengan acara balimau. Walaupun tidak ada nash syar’ii sebagai satu kaitan ibadah wajib atau sunat dalam menyambut Ramadhan, tetapi masyarakat Minang secara sadar mengadopsinya sebagai suatu upacara yang tidak dapat dilepas dari kegiatan ritual ibadah Ramadhan (shaum). Acara balimau dinilai berdampak positif dalam tataran kehidupan masyarakat Minangkabau masa dahulu. Pada masa lalu terlihat yang di kembangkan pada “acara balimau” diantaranya kegiatan “jelang menjelang” antara anak-menantu menjelang orang tua dan mertua, kemenakan mendatangi mamak serta karib kerabat. Acara balimau dipakai sebagai sarana untuk penyegaran jiwa pembersihan hati membasuh raga mengangkat daki. Satu jalinan antara kegiatan adat dengan kemasan ajaran agama Islam, sehingga menjadikan peristiwa balimau ini indah sekali. Penekanan ajaran agama Islam dalam kehidupan bermasyarakat yang awalnya dari memelihara hubungan silaturrahmi dan saling memaafkan kesilapan/kesalahan sesama sangat berperan menumbuhkan perangai mulia (akhlaqul karimah) diantaranya pemurah kepada semua orang dikalangan keluarga sekampung ‘karib bait’, akan pasti melahirkan jalinan hubungan harmonis dalam struktur kekeluargaan masyarakat Minangkabau. Yang jauh pulang menjelang, yang dekat datang bertandang. Sedikit banyak dibawa pula antaran berupa buah tangan cenderahati pertanda telah datang hari baik bulan baik.

6

H. Mas’oed Abidin

Wajah yang cerah, hati bersih dengan muka berseri-seri mengawali masuknya Ramaadhan setiap tahunnya pembuka ibadah shalat tarawih, tadarus Al Quran di masjid-masjid dan surau-surau, dengan segala aturan jelas terpelihara. Yang tua-tua dihormati, yang muda disayangi, begitu gambaran susunan kehidupan bermasyarakat dengan ikatan aturan-aturan adat yang terpelihara turun temurun, dalam satu garisan ajaran Islam. Melalui tatanan ini dirasakan nikmat datangnya Ramadhan setiap tahun, merupakan idaman dan penantian.

Pada tahun-tahun terakhir ini dambaan dan idaman serupa jarang ditemui. Kecendrungan membaurkan antara hak dan bathil, antara suruhan dan tegah, antara ibadah dan makshiyat, menjadi nyata dalam kebiasaan keseharian dan amat mencemaskan. Acara-acara balimau, tidak lagi menggambarkan rasa persaudaraan (ukhuwwah). Perilaku bersih (ikhlas) telah banyak di bumbui oleh hura-hura dan foya-foya. Perubahan dan pergeseran nilai-nilai budaya terasa sekali menerpa. Corak warna penyambutan suatu ibadah yang sakral ini mulai sirna. Yang banyak tersua adalah pembauran muda remaja melepaskan rindu dendam, mungkin karena sebulan mendatang ada kemungkinan jarang boleh bersua. Masjid dan langgar tetap juga ramai tetapi diluar dalam langgam dan ragam nan mudo-mudo. Seakan-akan orang Minangkabau tidak lagi hidup didalam keindahan kultur budayanya.Mereka mulai larut dalam kebudayaan tak
H. Mas’oed Abidin

7

berbudaya. Budaya sinkretik (lapis atas campur aduk) dan gaya hidup hedonistik (mambuek apo nan katuju). Budaya menurut alur yang pantas dan patut dianggap sudah ketinggalan zaman, minta dirombak dan ditukar. Lubuk, teluk, sungai, danau, pantai, ngarai, lembah, bukit, semak belukar jadi ramai dikunjungi pencinta acara balimau. Jalan raya dipadati kenderaan yang berpacu tak beraturan. Meningkatnya angka kecelakaan dan pelanggaran lalulintas, sudah dianggap indikasi meriahnya acara-acara balimau kini. Petugas keamanan menambah jumlah dan waktu tugas. Rumah-rumah sakit ikut memperbanyak tenaga para medis, dan obat-obatan. Ambulance disiap siagakan penuh melebihi jumlah sebelumnya. Wartawan sibuk memantau berita kecelakaan, membuat catatan perbandingan dengan tahun sebelumnya. Besok hari dikala Ramadhan mulai masuk surat-surat kabar akan memberitakan korban yang jatuh dalam acara balimau menyambut bulan puasa. Itulah yang sering kita temui pada beberapa tahun terakhir ini. Keadaan yang sebenarnya jauh panggang dari api. Acara balimau tidak lagi indah dan bersih, tapi mulai suram dan sedih. Raso jo pareso mulai kurang berperan. Raso dibao turun, pareso kaalam nyato hanya ada pada sebutan. Pergaulan sangat permisif, sawah tak lagi berpematang, ladang tidak lagi berbintalak. Anak dipangua kamanakan dilantiangkan, adalah bentuk kehidupan permisivistik yang tidak bertemu dalam tataran kebudayaan Minangkabau sejak dahulu. Ninik mamak nan gadang basa batuah, berperan 8
H. Mas’oed Abidin

mengamankan anak kemenakan, dengan memakan kemenakan.

bertukar

sebut

Semua kondisi itu berubah karena alam fikiran adat kita menjadi dangkal sebatas pidato dalam rangkaian pepatah dan petuitih. Begitulah jadinya kalau ajaran agama hanya pada sebutan dan adat menjadi mainan. Bila hal ini diingatkan,tidak jarang tuduhan dan cacian akan dialamatkan dengan gelaran sumbang “kolot tak mengenal kemajuan zaman”. Na’udzubillah. . Ramadhan dan tahun baru. Tahun ini bulan puasa berdekatan dengan tahun baru miladiyah (1998). Penyambutan tahun baru yang sudah menjadi trendy-nya kaum muda, sungguh berbeda dengan menanti Ramadhan, syahrul mubarak. Penyambutan Ramadhan didorong oleh kesadaran diri dari dalam (inner side) untuk siap memelihara kebersihan yang berbekas pada ketundukan dan kepatuhan, serta berbuah kepada iman, shabar, syukur dan bertaqwa (berhati-hati) senantiasa. Sungguh beda dengan old and new ditahun-baru. Penyambutan tahun baru terlihat meriah dengan banyaknya remaja turun kejalanan dengan kegembiraan hura-hura disungkup kabut pemabukan diri. Tepat sekali kebijakan Pemda DKI Jaya, yang mengeluarkan pengumuman jauh hari, supaya perayaan tahun baru yang sulit memisahkan dari perlakuan mabuk-mabukan, istimewa dalam acara old
H. Mas’oed Abidin

9

and new itu tidak diadakan lagi,(minimal sebagai menghormati bulan suci Ramadhan, yang kebetulan datangnya bersamaan). Suatu himbauan simpatik yang perlu didengarkan oleh segala pihak. Tahun Baru (1998) yang kali ini beriringan dengan Ramadhan (1418 H), baiknya kita peringati dengan banyak dzikir di Masjid, melakukan hisab dan introspeksi. Kelak pasti akan berbuah pada percepatan tindakan dalam memacu kemajuan masa datang. Pembangunan fisik sungguh amat ditentukan keberhasilannya dengan lebih dahulu diawali oleh pembangunan jiwa (mental spiritual). Seorang penyair Muslim (Syauqy Bey) telah mengingatkan dalam sebuah hasil sastranya yang berhikmah, “innama umamul akhlaqu maa baqiyat, inhumu dzahabat akhlaquhum dzahabu”, wa

yang bila diartikan bermaksud “tegaknya rumah di atas sendi, sendi runtuh rumah binasa., tegaknya bangsa karena budi, budi hilang, han curlah Bangsa”. Inilah rahasia dalam Ajaran Rasulullah SAW, bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang kokoh taqwanya, dan baik akhlaqnya. Nabi mengingatkan bahwa kehadiran beliau; “innama bu’its-tu li utammi makarimul akhlaq”, yakni “aku di utus untuk menyempurnakan akhlaq (buidi pekerti) manusia”. Di ranah bundo Minangkabau, senantiasa kita diingatkan dengan sebuah untaian kata-kata indah ; “nan kuriak kundi, nansirah sago, nanbaik budi nan indah baso”, 10
H. Mas’oed Abidin

atau kata-kata penyair Minangkabau yang amat dalam artinya ; “Pulau Pandan jauh di tangah, dibaliak pulau si angso duo, hancua badan di kanduang tanah, budi baik dikana juo.” Sumatera Barat di Minangkabau sebagai “negeri beradat”, dengan adatnya bersendi syarak, dan syarak bersendi Kitabullah , selamanya tetap bisa berperan dalam pembangunan bangsa dan negara, bila selalu terjaga adat dan agama berjalinan berkulindan dalam tindak perbuatan sehari-hari,dalam seluruh starata masyarakat dan pimpinannya. Insya Allah, Wallahu a’lamu bish-shawaab. Marhaban Ramadhan

Tinggal berapa hari lagi, kita sudah berada di bulan suci Ramadhan. Umat Islam, menunggu Ramadhan sebagai satu bulan mulia yang didalamnya ada satu ibadah khusus, ibadah puasa, karena itu Ramadhan adalah bulan pengampunan. Keyakinan yang mengakar ini terlihat pada prilaku orang-orang dalam menyambutnya dan menghormatinya, juga adat kebiasaan anak negeri yang masih kokoh dengan adat budayanya. Ramadhan adalah penghulu sekalian bulan. Orang Minang di Sumatera Barat menyebutnya dengan “bulan basaha” (saha = sahur, satu bentuk Sunnah Rasul yang diujudkan dalam makan parak siang sebelum terbitnya
H. Mas’oed Abidin

11

fajar, menurut bimbingan mendahului imsak).

ibadah

shaum

(puasa)

Tatkala Ramadhan datang, Rasulullah SAW menyambut dengan ucapan : ”marhaban bilmuthahhir”, artinya, “selamat datang wahai pembersih”. Tersirat makna kegembiraan jiwa menuju kebersihan melalui pelaksanaan ibadah khusus dibulan itu, sesuai firman Allah :”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu (pengikut Taurat dan Injil) agar kamu bertaqwa (tetap terpelihara, bersih dari dosa dan makshiayat)”. (QS.2, al Baqarah,ayat 183). Disamping sebagai bulan pelaksanaan ibadah shaum (puasa), juga dihormati sebagai bulan turunnya Kitabullah (Al Quran el Karim) yang berisi petunjuk, bimbingan, pembeda antara benar dan salah, penjelasan tentang paradigma hidup manusia. Seorang Mukmin yang memasuki bulan Ramadhan wajib melaksanakan ibadah shaum (puasa), tidak ada alasan untuk meninggalkannya. Bagi yang tidak mampu Allah memberikan keringanan( rukhsah), menggantinya dengan berpuasa dihari (bulan) lainnya. Yang masih tidak sanggup, bisa dengan membayar fidyah (memberi makan orang miskin). Keringanan ini diberikan kepada orang sakit (tua), musafir (melakukan perjalanan) dan tidak sanggup untuk berpuasa. Begitu kemudahan dari Allah untuk umat manusia. Tidak ada yang akan menolak kalau ia termasuk seorang yang percaya (mukmin).

12

H. Mas’oed Abidin

Semua ibadah pada hakekatnya adalah pembuktian keimanan dan tanda kerelaan mensyukuri nikmat Allah yang telah memberikan segala sesuatu keperluan dalam hidup ini. Kewajiban puasa Ramadhan (QS:2,Al Baqarah, ayat 183187), adalah kesiapan melaksanakan perintah Allah secara jujur, kesediaan melaksanakan imsak (menahan) nafsu dari makan, minum, bersebadan (sanggama) suami istri di siang hari (sejak mulai imsak hingga datangnya waktu berbuka). Lebih jauh melatih diri secara teguh menghindari semua tegah dan mengamalkan segala suruh. Orang Minang menyadari puasa di bulan Ramadhan tidak sekedar hanya menahan makan dan minum yang umum itu. Bertindak kurang senonoh tidak terpuji (seperti bersuara keras, berbohong, memperkatakan orang (bergunjing), menyakiti perasaan orang lain, tidak menghormati orang yang tengah beribadah), akan mendapatkan peringatan keras dan sangat dibenci ditengah pergaulan. Inilah yang senantiasa diingatkan oleh orang tua-tua turun temurun sejak dahulu. Puasa Ramadhan adalah arena pelatihan fisik dan kejiwaan, yang berbekas kepada tindak laku disiplin diri dalam mengangkat harkat martabat (izzatun-nafs). Ibadah puasa adalah ibadah besar yang tegolong kepada jihadun-nafs (pembentukan watak) sabar, setia, taat, dan sifat utama lainnya. Sesuai bimbingan Rasulullah SAW; “Man shaama Ramadhana Imanan wah tisaaban, ghufira lahu maa taqaddama min dzanbihi” (Al Hadist).

H. Mas’oed Abidin

13

Artinya,”Siapa saja yang melaksanakan puasa (shaum) Ramadhana dengan iman dan ihtisab (perhitungan-perhitungan menurut syarat-syarat puasa, memelihara segala aturan-aturan puasa), maka di ampuni dosa-dosanya terdahulu”. Inilah suatu kesempatan yang di janjikan kepada orang yang beribadah puasa Ramadhan,semoga kita semua sempat merasakannya tahun ini. Insya Allah***

Balimau adat dan agama

Khusus di Minangkabau (Sumatera Barat), Ramadhan telah dipandang sebagai bulan yang dinantikan dan sangat dirindukan. Kita terbiasa menyambutnya dengan acara khas yang teradatkan, merupakan penggambaran indah jalinan adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah. Kedatangannya dinanti dengan acara balimau yang diperlakukan oleh masyarakat Minang sebagai suatu kegiatan yang punya hubungan erat dengan Ramadhan. Pada awalnya acara balimau didominasi oleh kegiatan kekeluargaan berbentuk “jelang manjelang” antara anak menantu dengan orang tua-tua, kemenakan dengan mamak, dan selingkungan orang sekampung. Tujuannya memperdalam hubungan silaturrahmi, memaafkan yang sudah tersalah, berbuat baik kepada karib bait. Yang jauh dijelang, yang dekat 14
H. Mas’oed Abidin

didatangi. Memperlihatkan putih hati dalam keadaan yang sebenarnya, sebagai pembuktian bahwa telah datang hari baik bulan baik (diantaranya Ramadhan).. Fa’fuu wash-fahuu. Tindakan ini selain bernuansa adat, lebih dalam adalah suruhan agama. Syara’ (Agama Islam) mangato adat memakai. Gejala itu hari ini sudah mulai melemah. Lubuk, teluk, sungai, pantai, danau, ngarai, lembah, bukit, hutan dan semak belukar menjadi tempat ramai dikunjungi pencinta acara balimau. Jalan raya dipadati kenderaan dipacu tak beraturan. Angka kecelakaan dan pelanggaran lalulintas meningkat sebagai indikasi meriahnya acara-acara balimau kini. Petugas keamanan melipat gandakan jumlahnya. Rumah sakitpun menambah tenaga para medis, UGD, obat-obatan, ambulance disiapkan secara istimewa. Wartawan sibuk memantau berita-berita, membuat perbandingan (kecelakaan) dengan tahun-tahun sebelumnya. Diharihari pertama Ramadhan suratkabar berisikan berita korban yang jatuh dalam acara balimau menyambut bulan puasa. Jauh panggang dari api. Itulah yang sering dialami tahun-tahun terakhir ini. Acara balimau tidak lagi indah dan bersih, tapi mulai suram dan sedih. Demikian jadinya kalau agama hanya pada sebutan dan adat menjadi mainan. Kalaulah kita kembali ke akar kata “balimau”, ditemui sebuah pengertian yang luar biasa. Balimau dalam pengertian istilah, digunakan oleh orang Minang untuk menyatakan kegiatan mandi wajib, mandi sesudah junub.. Seseorang akan dipertanyakan “kebersihan”nya dengan pertanyaan: “Alah balimau ko tadi?” Dengan kata lain, orang Minang
H. Mas’oed Abidin

15

mempertanyakan kebersihan orang sebelum memasuki Ramadhan tanpa balimau sebagai sebuah kegiatan mensucikan diri dari “hadats besar.” Melalui kebiasaan ini orang Minang menterjemahkan semua perintah agama dalam kebudayaan yang luar biasa indah. Begitu indahnya, sehingga kita tidak mampu lagi menyatakan itu sebagai pelaksanaan ajaran agama atau sebuah kegiatan budaya. Beberapa kegiatan dalam siklus kehidupan seorang Minangkabau terlihat sangat Islami sekaligus sangat khas Minangkabauwi. Sebutlah antara lain, turun mandi yang dilanjutkan dengan aqiqah yang mengawali keberagamaan dan keberadatan orang Minang. Kemudian ada acara basunaik atau berkhitan. Khatam Qur’an. Sampai kegiatan meminang, nikah-kawin yang semuanya berjalin berkulindan dangan isi budaya dan syariat Islam, termasuk pemberian nama anak turunan yang sangat agamis (baca: merujuk kepada Kitabullah), juga maanta pabukoan di bulan puasa, mengisi surau dan langgar dengan kegiatan ibadah tarawih dan tadarus. Sebuah jalinan kebudayaan yang tidak lagi terlihat batas perintah adat dan aturan syariat. Semua menyatu bagai jarum dan kelindan. Dilaksanakan yang satu maka terlaksana yang lain, dan seperangkat kegiatan yang sangat indah terjalin bersama dengan syariat Islam. Kemajuan zaman membawa pergeseran, jalan di aliah urang lalu, tapian di asak urang mandi. Seakanakan orang Minangkabau tidak lagi hidup didalam keindahan kultur budayanya. Mereka mulai larut dalam kebudayaan tak berbudaya. Dengan budaya sinkretik 16

H. Mas’oed Abidin

(lapis atas campur aduk) dan gaya hidup hedonistik (mambuek apo nan katuju). Kultur menurut alur dan patut (baca: yang pantas ) mulai ditinggalkan, berpindah kepada yang opatut dialur. Raso jo pareso mulai kurang berperan. Raso dibao turun, pareso ka alam nyato hanya ada pada sebutan. Pergaulan sangat permisif, sawah tak lagi berpematang, ladang tidak lagi berbintalak. Anak dipangua kamanakan dilantiangkan, penggambaran kehidupan permisivistik yang tidak bertemu dalam tataran kebudayaan Minang masa dahulu. Ninik mamak nan gadang basa batuah dengan peran mengamankan anak kemenakan, bertukar sebut dengan ‘memakan’ kemenakan. Kondisi itu berubah karena alam fikiran kita tentang adat menjadi dangkal hanya berupa pidato petatah-petitih, atau karena ritual agama hanya berbentuk ceremonial. Tidak jarang bila hal ini diingatkan, cacian bergelar sumbang akan dilekatkan, seperti “kolot tak mengenal kemajuan zaman”. Na’udzubillah. Ramadhan dan tahun baru. Tahun ini bulan puasa bersamaan dengan tahun baru miladiyah (1998). Penyambutan Ramadhan didorong oleh kesadaran diri dari dalam (inner side) untuk siap memelihara kebersihan yang berbekas pada ketundukan dan kepatuhan, serta berbuah kepada iman, shabar, syukur dan bertaqwa (berhati-hati) senantiasa.

H. Mas’oed Abidin

17

Sungguh beda dengan acara penyambutan tahunbaru terlihat meriah dengan banyaknya remaja turun ke jalanan dengan kegembiraan hura-hura yang seringkali diiringi mabuk-mabukan. Tahun Baru (1998) yang beriringan dengan Ramadhan (1418 H), baiknya kita peringati dengan banyak dzikir di Masjid, melakukan hisab dan introspeksi. Kelak pasti berbuah tindakan positif memacu kemajuan masa datang. Pembangunan fisik amat ditentukan oleh berhasilnya pembangunan jiwa (mental spiritual). Seorang penyair Islam menyenandungkan seungkaian kata, “innama umamul akhlaqu maa baqiyat, wa inhumu dzahabat akhlaquhum dzahabu”, artinya “tegaknya rumah di atas sendi, sendi runtuh rumah binasa., tegaknya bangsa karena budi, budi hilang, hancurlah Bangsa”. Inilah rahasia Ajaran Islam, bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang kokoh taqwanya, dan baik akhlaqnya.“Innama bu’isttu li utammi makarimul akhlaq”, yakni “aku di utus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia”. Diranah bundo Minangkabau, kita diingatkan dengan “nan kuriak kundi, nan sirah sago, nanbaik budi nan indah baso”, atau ungkapan sastrawan Minangkabau ,“Pulau Pandan jauh di tangah, dibaliak pulau si angso duo, hancua badan di kanduang tanah, budi baik dikana juo” Sumatera Barat yang dikenal “negeri beradat, dengan adatnya bersendi syarak, dan syarak bersendi Kitabullah , bisa berperan dalam pembangunan bangsa 18
H. Mas’oed Abidin

dan negara, selama adat dan agama terjaga jalinan berkulindan tertuang di dalam tindak perbuatan seharihari. Insya Allah.***

Balimau Gadang Perbauran Adat dengan Agama Islam di Minangkabau

Oleh: H.Mas’oed Abidin

T

idak berapa lama lagi, kita akan memasuki Bulan Ramadhan. Bagi umat Islam, Ramadhan merupakan satu bulan mulia yang senantiasa ditunggu secara khusus dan penuh kegembiraan. Bulan ibadah dan bulan pengampunan. Keyakinan ini telah mengakar hingga tampak pada prilaku orang-orang dalam menyambutnya dan menghormatinya. Berbekas pula pada adat kebiasaan anak negeri, khususnya dibeberapa daerah yang masih kokoh dengan adat budayanya.

Ramadhan adalah penghulu sekalian bulan, dinamai bulan puasa sesuai ibadah yang dilaksanakan sepanjang bulan itu. Orang Minang menyebutnya juga
H. Mas’oed Abidin

19

dengan “bulan basaha” (saha = sahur, satu bentuk Sunnah Rasul yang diujudkan dalam makan parak siang sebelum terbitnya fajar, menurut bimbingan ibadah shaum (puasa) mendahului imsak).

Tatkala Ramadhan datang menjelang, Rasulullah SAW menyambut dengan ucapan :” marhaban bilmuthahhir”, artinya, “selamat datang wahai pembersih”. Sahabat yang mendengar bertanya,“Wa mal muthahhiru ya Rasulullah?, (siapakah yang di maksud pembersih itu, wahai Rasulullah?)”. Rasulullah SAW menjawab “almuthahhiru syahru Ramadhana, yuthahhiruna min dzunubii wal ma’ashiy (pembersih itu adalah Ramadhan, dia membersihkan kita dari dosa dan ma’shiyat)”. Marhaban artinya, ’ruangan luas tempat perbaikan untuk mendapatkan keselamatan dalam perjalanan’. Kata-kata ini kerap dipakai untuk menyambut dan menghormat tamu yang mulia. Bermakna ungkapan selamat datang. Ucapan ini menyiratkan makna kegembiraan menyambut kedatangan tamu mulia –bulan Ramadhan — disertai kesiapan dan kelapangan waktu maupun tempat, hingga orang dapat leluasa melakukan amalan (tindak-perbuatan) yang berkaitan dengan mengasuh dan mengasah jiwa untuk mewujudkan keberhasilan dan kebersihan bersamanya. Bersih (diri dan jiwa) adalah bukti ketaqwaan seseorang. Puasa (shaum) merupakan ibadah khusus dalam bulan Ramadhan, 20
H. Mas’oed Abidin

niscaya sangat berperan membersihkan diri pelakunya (shaimin), manakala bisa menerapkan sikap dan amalan-amalan terpuji tadi. Sesuai firman Allah :”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu (pengikut Taurat dan Injil) agar kamu bertaqwa (tetap terpelihara, bersih dari dosa dan makshiayat)”. (QS.2, al Baqarah,ayat 183). Ramadhan ditetapkan sebagai bulan pelaksanaan puasa sejak umat terdahulu, dan turunnya Kitabullah (AlQuran)kepada Muhammad SAW untuk petunjuk,bimbingan,pembeda antara benar dan salah, penjelasan tentang paradigma hidup manusia. Dalam kehidupan orang Minang yang beradat dengan indikasi beragama Islam, maka bulan Ramadhan mendapat tempat yang khusus sejak doeloe. Setiap Mukmin bila datang bulan Ramadhan wajib mengerjakan ibadah shaum (puasa). Bila telah mukallaf (baligh berakal) mesti mengerjakan puasa. Allah hanya memberikan keringanan( rukhsah), mengganti puasa Ramadhan dengan puasa dihari (bulan) lainnya atau dengan membayar fidyah (memberi makan orang miskin) untuk orang sakit (tua), musafir (melakukan perjalanan) yang tidak sanggup berpuasa. Keringanan ini adalah bukti kasih sayang Allah. Agama Islam adalah ajaran yang tidak memberatkan. Tidak ada alasan seseorang Mukmin menolak melaksanakannya.Pada hakekatnya semua ibadah (termasuk puasa) adalah pembuktian apakah seorang
H. Mas’oed Abidin

21

itu benar beriman dan mampu bersyukur (berterima kasih) kepada Allah yang telah menjadikan manusia dan menyediakan segala sesuatu keperluan dalam hidup ini. Dapat dipahami, bahwa ibadah pada umumnya (diantaranya puasa) adalah kesiapan melaksanakan perintah Allah dengan jujur, yang secara pasti terlihat pada kesediaan melaksanakan imsak (menahan) nafsu dari makan, minum, bersebadan (sanggama) suami istri di siang hari (sejak mulai imsak hingga datangnya waktu berbuka), atau basaha itu. Orang Minang memandang puasa dibulan Ramadhan tidak sekedar hanya menahan makan dan minum yang umum itu. Lebih khusus lagi, melatih diri dengan teguh menjauhi semua tegah dan mengerjakan semua suruh. Bertindak tidak senonoh dan kurang terpuji (seperti bersuara keras, berbohong, memperkatakan orang (bergunjing), menyakiti perasaan orang lain), akan mendapatkan peringatan keras karena dianggap bisa menyebabkan puasa seseorang bata (batal). Inilah yang senantiasa diingatkan oleh orang tua-tua turun temurun sejak dahulu. Karenanya puasa adalah arena pelatihan fisik dan kejiwaan, yang berbekas kepada tindak laku disiplin diri dalam mengangkat harkat martabat (izzatun-nafs). Ibadah puasa adalah ibadah besar yang tegolong kepada jihadun-nafs (pembentukan watak) sabar, setia, taat, dan sifat utama lainnya. Sesuai bimbingan Rasulullah SAW; “Man shaama Ramadhana Imanan wah tisaaban, ghufira lahu maa taqaddama min dzanbihi” (Al Hadist). 22
H. Mas’oed Abidin

Artinya,”Siapa saja yang melaksanakan puasa (shaum) Ramadhana dengan iman dan ihtisab (perhitunganperhitungan menurut syarat-syarat puasa, memelihara segala aturan-aturan puasa), maka di ampuni dosadosanya terdahulu”. Inilah suatu kesempatan yang di janjikan kepada orang yang beribadah puasa Ramadhan,semoga kita semua sempat merasakannya tahun ini. Insya Allah.

Balimau Khusus bagi kita di Minangkabau (Sumatera Barat), Ramadhan telah dipandang sebagai bulan yang dinantikan dan sangat di rindui. Kita sudah terbiasa menyambutnya dengan suatu acara khas yang hampir teradatkan,dan hampir merupakan penggambaran dari rangkaian adat bersendi syarak, syarak bersedi kitabullah. Satu contoh kedatangannya kita nanti dengan acara balimau. Walaupun tidak ada nash yang mendukung sebagai satu kaitan ibadah wajib atau sunat dalam menyambut Ramadhan, akan tetapi kebanyakan masyarakat kita telah mengadopsinya sebagai suatu kegiatan yang punya kaitan erat dengan ibadah Ramadhan (shaum). Kondisi ini sesungguhnya bisa dinilai positif. Karena pada masa dulu itu kita melihat yang di kembangkan dalam acara balimau adalah yang dikenal dengan “jelang men-jelang”, yakni anak dan menantu mendatangi orang tua dan mertua, kemenakan mendatangi mamak dan karib kerabat. Indah sekali.

H. Mas’oed Abidin

23

Kegiatan seperti itu menjalin satu hubungan harmonis dengan makin eratnya tali silaturrahmi diantara keluaarga dekat dan jauh, serta terhubungkannya persaudaraan sesama. Yang jauh pulang menjelang, yang dekat datang bertandang. Sedikit banyak dibawa pula antaran sebagai tanda telah datang hari baik dan bulan baik. Semua wajah jadi gembira, hati bersih dan muka berseri-seri. Insya Allah malam harinya masjid, surau dan langgar penuh oleh semua lapisan keluarga untuk menunaikan ibadah shalat tarawih, tadarus Al Quran dan sebagainya. Keteraturan jelas sekali, yang tua-tua menduduki tempat di depan, anak-anak tertib di belakang, tergambar nyata satu susunan kehidupan masyarakat dengan ikatan aturan-aturan ketat yang terpelihara turun temurun.Yang tua di hormati, yang kecil disayangi. Melalui tatanan itu terasa sekali nikmat datangnya Ramadhan setiap tahun menjadi idaman dan penantian. Akan tetapi, pada masa akhir-akhir ini dambaan dan idaman serupa jarang ditemui. Kecendrungan membaurkan antara yang hak dan yang bathil, antara suruhan dan tegah, antara ibadah dan makshiyat, sudah menjadi suatu kebiasaan dalam kenyataan yang sangat mencemaskan. Acara-acara balimau, tidak lagi menggambarkan rasa persaudaraan (ukhuwwah).Kebersihan (ikhlas) telah banyak di bumbui oleh hura-hura dan foya-foya. Perubahan dan pergeseran nilai-nilai budaya terasa sekali menerpa. Corak warna penyambutan suatu ibadah yang sakral dan ritual telah mulai hilang sirna. 24
H. Mas’oed Abidin

Yang banyak tersua adalah pembauran muda remaja melepaskan rindu dendam, karena sebulan mendatang diri terkekang jarang boleh bersua. Seakan-akan orang Minangkabau tidak lagi hidup didalam keindahan kultur budayanya.Mereka mulai larut dalam kebudayaan tak berbudaya. Bila hal ini diingatkan,tidak jarang tuduhan dan cacian akan dialamatkan dengan satu gelaran sumbang kolot tak mengenal kemajuan zaman. Na’udzubillah. Lubuk, teluk, sungai, pantai, ngarai, bukit, lembah, semak ramai dikunjungi pencinta acara balimau. Jalanjalan raya dipadati kenderaan dipacu tak beraturan. Kerapkali terjadi peningkatan angka kecelakaan dan pelanggaran lalulintas. Petugas keamanan melipatgandakan jumlah dan waktu tugas. Rumah-rumah sakit ikut menambah tenaga para medis, dan obat-obatan. Sekedar berjaga-jaga, ambulance disiap siagakan melebihi jumlah sebelumnya. Wartawan sibuk memantau jumlah kecelakaan, membuat catatan perbandingan dengan tahun sebelumnya. Besok hari dikala Ramadhan mulai masuk tentulah surat-surat kabar akan memberitakan jumlah korban yang jatuh dalam acara balimau menyambut bulan puasa. Itulah yang sering kita temui pada beberapa tahun belakangan ini. Suatu keadaan yang jauh panggang dari api. Acara balimau tiedak lagi indah tapi suram. Tahun ini bulan puasa berdekatan dengan tahun baru miladiyah (1998).

H. Mas’oed Abidin

25

Penyambutan Ramadhan adalah kesiapan penuh kesadaran dari dalam (inner side) untuk siap memelihara kebersihannya selalu, yang berbekas pada ketundukan dan kepatuhan. Membuahkan iman, shabar, syukur dan bertaqwa (berhati-hati) senantiasa. Pada tahun lalu yang terlihat dalam penyambutan Tahun Baru (baca: acara-acara Old and New) adalah turun kejalanan dengan kegembiraan hura-hura disungkup kabut pemabukan diri. Tepat sekali kebijakan Pemda DKI Jaya, yang mengeluarkan pengumuman jauh hari, supaya perayaan tahun baru yang sulit memisahkan dari perlakuan mabuk-mabukan, istimewa dalam acara old and new itu tidak diadakan lagi,(minimal sebagai menghormati bulan suci Ramadhan, yang kebetulan datangnya bersamaan). Suatu himbauan simpatik yang perlu didengarkan oleh segala pihak. Bagaimana dengan daerah kita Sumatera Barat, yang semboyannya adalah “negeri beradat, dengan adatnya bersendi syarak, dan syarak bersendi Kitabullah ?? Siapakah yang akan menjawabnya ???

Bulan Basaha

Bismillahir Rahmanir Rahim; dengan mempersembahkan syukur kepada Allah SWT atas ”rahmat-Nya” kepada kita semua, di hari ini kita telah 26
H. Mas’oed Abidin

berada pada satu bulan mulia yang kita nantikan semua, yaitu bulan Ramadhan, yang berasal dari kata “ramadha ”, berarti “membakar”, sesuai pernyataan Nabi Muhammad SAW ; “innama summiya ramadhana li annahu yarmidhuz-zunuba”,artinya;“sesungguhnya telah diberi nama “ramadhan” karena pada bulan itu dibakar dosa-dosa”. Makna yang lebih dalam adalah bahwa setiap diri (manusia) diberi kesempatan paling berharga dalam satu bulan Ramadhan itu dapat membakar dosa-dosa yang telah terlakukan sebelum ini. Siapakah kiranya diantara manusia yang terlepas dari dosa ?? Adakalanya dosa itu yang datang kepada kita tanpa kesengajaan seperti; mengumpat, membeberkan aib orang lain atau seumpamanya. Ada juga yang diperbuat dengan sadar seumpama; sumpah palsu, menipu, korupsi, kolusi, hingga mengganggu ketenteraman orang banyak,baik yang bertalian dengan tindakan merusak ekonomi, yang berdampak kepada terganggunya keamanan atau rusaknya lingkungan, pendek kata semua perbuatan yang menyangkut hubungan bermasyarakat dan lazimnya disebut “hablum minan-naas”. Ada dosa yang diberikan karena sengaja menunda-nuda melaksanakan perintah Allah yang dibebankan kepada setiap diri, seumpama lalai ibadah, lalai shalat, lalai zakat, yang disebut “hablum minallah” itu. Banyak pula dosa yang mengundang dosa yang lebih besar bobotnya. Pada mulanya berawal dari rasa tersinggung atau marah diatas peringatan yang disampaikan seorang teman agar meninggalkan tabiat (kebiasaan) buruk berbuah dosa, yang pada akhirnya disambut dengan perasaan benci bahkan memusuhinya. Jangan dianggap dosa hanya yang besar
H. Mas’oed Abidin

27

tampak kepermukaan saja, malah yang tersembunyi didalam diri, yang kita sendiri hanya yang tahu. Semua kondisi seperti itu, pada bulan Ramadhan yang mulia ini dibukakan peluang oleh Allah Yang Maha Rahman dan Rahim untuk mendapatkan “keampunan” bagi setiap hambaNya yang beriman dan bersungguhsungguh mengharapkan keampunanNya itu. Disinilah makna besar dari bulan Ramadhan, yang sangat dinantikan kedatangannya oleh seluruh mukmin setiap tahun. “Selamat datang wahai bulan pembersih”, begitu Nabi Muahmmad SAW menyambutnya dan menyatakan;“man shama Ramadhana imaanan wahtisaaban ghufira lahuu mataqaddama”maksudnya “siapa yang mempuasakan Ramadhan dengan iman dan perhitungan (menjaga segala aturan-aturan puasa) niscaya Allah akan ampuni dosa-dosanya terdahulu”. Kuncinya adalah “melaksanakan puasa” yang diwajibkan pada bulan Ramadhan. Jadi tidak asal berada di bulan suci Ramadhan, kemudian tidak ikut melaksanakan ibadah puasa yang diwajibkan pada bulan mulia ini. Sungguh berat peringatan dari Rasulullah SAW; “barangsiapa yang sengaja menanggalkan (baca: membatalkan atau membukakan) puasanya sehari saja di bulan Ramadhan tanpa ada halangan (baca: rukhsah yang membenarkan untuk tidak berpuasa), maka tidak akan ada waktu baginya (baca: pengganti puasa sehari yang sengaja dibatalkannya), walaupun dianya berpuasa setahun penuh”. (Al Hadist). Masyarakat umumnya di Minangkabau (Sumatera Barat) menilai suatu aib besar 28
H. Mas’oed Abidin

bila ditemui ada seorang Minangkabau yang tidak ikut puasa di bulan yang disebut oleh orang awak sebagai “bulan basaha”artinya bulan menahan haus dan lapar, menahan nafsu amarah, menahan perasaan yang diawali dengan ba-saha (=ber-sahur, makan sahur sebelum fajar) sebagai persyaratan ibadah puasa (shaum). Kekokohan masyarakat seperti ini wajib selalu dipelihara untuk dijadikan modal utama memasuki zaman globalisasi dikawasan Asean ini yang pasti akan berbenteng kepada tamaddun (adat budaya dan agama) itu. Semoga.

NIAT

"Innama al-a'maalu bin-niyaat", artinya sungguh amal itu di awali dengan niat, begitu bimbingan sesuai sabda Nabi Muhammad Sallallahu 'Alaihi Wasallam. Dapat disimpulkan bahwa amal (ibadah) adalah suatu perbuatan sesuai dengan suruhan (syari'at) dan dilakukan dengan kesengajaan. Bukan ibadah namanya sesuatu perbuatan bila dikerjakan tanpa kesadaran. Amal ibadah (besar atau kecil) menurut pengertian ini adalah mengerjakan sesuatu perbuatan karena suruhan atau meninggalkan sesuatu larangan secara sadar karena semata-mata mematuhi perintah (suruhan atau larangan ) dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Syariat Islam secara jelas membebankan suatu ibadah terhadap orang yang sehat akalnya (akil baligh) cukup umur tidak

H. Mas’oed Abidin

29

tergolong kepada anak-anak dan sehat rohani, artinya tidak hilang ingatan, dan tidak pula sakit jiwa atau gila. Puasa (shiyam) di bulan Ramadhan, adalah satu ibadah wajib yang diperintahkan oleh Allah kepada setiap Mukmin, semestinya dikerjakan dengan sadar. Kesadaran ini dibuktikan dengan niat bahwa seseorang mengerjakan amal ibadah (puasa) ini hanya karena melaksanakan satu kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT. Jadi, puasa Ramadhan yang dilakukan bukan karena segan terhadap tetangga, atau karena terpaksa dan ingin dihormati oleh orang lain. Namun disadari sungguh-sungguh bahwa puasa yang dikerjakan hanya karena tunduk dan patuh kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sadar bahwa Allah yang telah menjadikan diri kita dan Allah juga yang telah memberikan kepada kita segala sesuatu yang ada dikeliling kita sebagai nikmat anugerah NYA. Dalam sebuah hadist qudsi, Allah berfirman : "Seluruh amalan manusia (anak cucu Adam) diperuntukkan bagi manusia itu kecuali puasa (shiyam). Puasa (shiyam) itu diperuntukkan bagi KU, dan Aku semata yang akan membalasinya". Hadist qudsi ini mengandung makna hanya Allah yang mengatahui nilai puasa seseorang itu. Allah sendiri yang mengetahui apakah puasa seseorang itu dilakukan untuk kepentingan orang lain atau karena kepatuhannya kepada Allah. Apakah puasa seseorang itu benar-benar berarti puasa, atau hanya sekedar menahan haus dan lapar saja. Karena Nabi Muhammad SAW telah bersabda; "Berapa banyak orang yang telah 30
H. Mas’oed Abidin

berpuasa, tetapi dia tidak mendapatkan hasil apapun dari puasanya itu, kecuali hanya lapar dan haus semata." (Al; Hadist). Dari ungkapan Rasulullah SAW ini kita dapat memahami bahwa puasa itu sesungguhnya tidaklah sebatas menahan makan dan minum (atau menunda waktu makan dan minum dari jadwal yang sudah dibiasakan). Tetapi artinya lebih dalam dari itu, yakni menahan diri dari segala yang dilarang dan dari segala yang tidak baik. Inilah yang disebut menahan atau mengendalikan hawa nafsu. Menahan hawa nafsu dari kebiasaan-kebiasaan buruk dan tercela, seperti bergunjing, berkata kasar, berbohong, melihat hal-hal yang tidak baik, atau meninggalkan kelakuan yang kurang senonoh, dan sebagainya itu ternyata sangat berat dari pada menahan makan dan minum atau bergaul suami istri di siang hari. Namun semuanya akan terasa ringan bila dikerjakan karena patuh kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Disinilah peran utama dari "niat" karena Allah itu. Niat itu letaknya di hati. Dan bisa di lafazkan (diucapkan) oleh lidah. Dalam kenyataannya, jauh sebelum lidah mengucapkan, hati telah lebih dahulu menyatakan, karena hati itu sesuatu yang tak pernah berbohong, begiytulah ucapan hati nurani. Niat harus mendahului setiap perbuatan, intinya bahwa perbuatan itu dilaksanakan karena ingin mendapatkan redha Allah dalam upaya senantiasa mematuhi atau menerima perintahNYA dengan segala senang hati.

H. Mas’oed Abidin

31

"Man lam yardhaa bi qadhaa-i wa lam yashbir 'alaa balaa-i fal yathlub rabban siwaai", artinya "kalau tak redha dengan ketentuanKU dan tidak mau shabar dengan cobaanKU, silahkan cari Tuhan yang lain selain Aku", begitu Allah memperingatkan. Jadi, amal ibadah yang kita kerjakan justeru karena kita telah redha dengan segala ketentuanNYA ( yakni segala hukumhukum dan perintah dari Allah), atau karena kita telah sabar dengan segala ujian yang diberikanNYA. Hendaknya dalam puasa yang kita lakukan selama bulan Ramadhan ini dan juga semua amal ibadah (wajib atau sunat) selalu di niatkan karena Allah saja, sesuai ikrar kita sehari-hari "Iyyaka na'buduu wa iyyaka nasta'iin", artinya "Engkau semata yang kai sembah, Engkau semata tempat kami meminta". Semoga sedemikianlah hendaknya, Amin.

IMSAK

Imsak artinya menahan atau menjauhkan diri dari sesuatu. Puasa (shiyaam) menurut pengertian bahasa adalah menahan (imsak) dari makan dan minum serta bergaul (sanggama) suami istri disiang hari. Pengertian lebih dalam menurut syar’i (aturan Islam) adalah menahan diri dari melakukan perbuatan yang membatalkan puasa pada siang hari, mulai terbitnya fajar 32
H. Mas’oed Abidin

hingga datangnya masa berbuka (terbenamnya matahari), disertai dengan niat karena Allah. Shaum (Puasa) merupakan rukun Islam yang keempat, yang wajib dilaksanakan pada bulan Ramadhan, sesuai dengan firman Allah “Bulan Ramadhan adalah bulan di turunkan Al Quran, menjadi petunjuk bagi manusia, berisi penjelasan-penjelasan dari petunjuk itu, dan merupakan furqan (atau pembeda antara suruh dan tegah, antara halal dan haram, antara mukmin dan kafir). Maka siapapun yang memasuki bulan Ramadhan itu, wajib mereka pelakukan puasa” (QS.2:185) Nabi Muhammad Rasulullah SAW menyebutkan dalam sabdanya ;” ‘ura al-Islamu wa qawa’idu ad-diiny tsalatsatun, ‘alaihinna ussisa al-islaamu, man taraka wahidatan minhunna bihaa kaafirun halalu ad-dami; syahadatu an laa ilaaha illa allahu, wa as-shalatu al-maktuubatu, wa shaumu ramadhana”, artinya, “ikatan Islam dan kaedah agama itu ada tiga, diatasnya diasaskan Islam. Barangsiapa yang meninggalkan salah satu dari padanya maka ia adalah kafir dan halal darahnya, yaitu bersaksi bahwasanya tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan mendirikan shalat yang di fardhukan, dan berpuasa di bulan Ramadhan” (HR.Abu Ya’la, Ad Dailami dan disahkan oleh az Zahabi). Maka dipahami dengan hadist ini puasa Ramadhan merupakan salah satu asas dari Islam,
H. Mas’oed Abidin

33

sama halnya dengan kewajiban asasi setiap muslim untuk mengerjakan shalat yang wajib (lima kali sehari semalam) dan pengakuan (syahadat) bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Tentang keutamaan puasa (shaum) Ramadhan ini di sebutkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadist beliau ; “apabila tiba bulan Ramadhan pintu-pintu sorga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu” (HR.Bukhari dan Muslim). Bermakna bahwa selama Ramadhan setiap diri berkewajiban untuk menahan diri dari perbuatan tercela yang menyebabkan dia bisa masuk neraka atau menjauhi perbuatan penghuni neraka karena pintu neraka itu sudah tertutup. Maka semestinya yang dikerjakan adalah amalan ahli sorga yaitu amalan yang baik-baik saja. Tidaklah pula pantas seseorang melakukan perbuatan tercela sebagaimana perangai setan, karena setan itu sendiri dibulan Ramadhan sudah terbelenggu. Selanjutnya Rasulullah SAW telah berkata;” Puasa itu adalah perisai. Apabila seseorang itu berpuasa maka janganlah dia berkata-kata omongan tidak karuan, seandainya ada orang yang mencela atau hendak memukulnya maka katakanlah “Aku berpuasa, Aku berpuasa”. Demi diri Muhammad yang berada di dalam kekuasaan Allah, “bau mulut orang yang berpuasa lebih harum dari kasturi”. Bagi orang yang berpuasa itu ada dua kegembiraan, yaitu dikala dia 34
H. Mas’oed Abidin

berbuka (saat matahari telah terbenam, masa imsak telah berakhir), ia bergembira dengan makanan berbukanya, dan apabila dia berjumpa dengan tuhannya (kelak di akhirat) ia bergembira dengan ibadah puasanya” (HR.Bukhari Muslim dari Abi Hurairah RA). Puasa adalah suatu yang membanggakan hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. di

Inti dari puasa adalah “imsak”atau menahan diri ini. Suatu sikap jiwa yang mulia dan amat tinggi nilainya disisi manusia dan dalam pandangan Allah SWT. Seorang yang bijak dan berani bukanlah yang mampu mengganyang lawannya hingga babak belur, tetapi yang mampu menahan diri dalam situasi kritis sekalipun. Sikap menahan diri ini bisa menjadikan seseorang sentiasa menjaga kepentingan umat banyak, menyebabkan seseorang tidak melakukan pencolengan dan penipuan, bahkan menghindarkan seseorang dari kolusi dan korupsi, dan bisa menahan diri dari menghalalkan setiap cara. Maka dapat di yakini, walaupun seseorang telah memasuki bulan Ramadhan, tetapi tidak menumbuhkan sikap dan sifat terpuji sesudahnya, sebuah pertanda dia tidak pernah mengamalkan ajaran shaum (puasa) itu secara benar. Puasanya sama dengan orang yang tidak berpuasa, dia hanya melakukan imsak terhadap hal-hal yang ringan-ringan (makan,minum) tapi tidak mampu menahan yang berat, tidak mampu meninggalkan sifat tercela. Puasa sedemikian tidak punya makna apa-apa. Mudah-mudaham
H. Mas’oed Abidin

35

kita semua terhindar dari puasa yang mubadzir atau puasa yang di tolak sehingga tidak mendapatkan apa-apa dan puasa yang tidak mampu menjadi perisai diri. Na’udzubillahi min dzalik.

SAHUR

Sabda Rasulullah SAW Bersahurlah kamu, karena dalm sahur itu ada keberkatan (Al Hadist riwayat enam perawi hadist kecuali Abu Daud). Sahur adalah pertanda awal pelaksanaan ibadah puasa di setiap hari. Bersahur adalah suatu suruhan (sunnah) Rasulullah SAW, yang juga merupakan rahmat dari Allah. Sebab itu, sahur memiliki kaitan erat dengan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Satu lagi anjuran Rasulullah tentang sahur ini ialah supaya men-takkhir-kan atau melambatkan waktu makan sahur mendekati waktu subuh. Di samping maksudnya supaya dapat dipersiapakan kekuatan jasmani di siang hari di kala menahan (imsak), juga supaya shalat shubuh sebagai salah satu sendi asas Agama Islam itu tidak tercecerkan.

36

H. Mas’oed Abidin

Sahur merupakan pembeda antara puasa umat Islam dengan kalangan non Islam (Yahudi, Nasrani dan sebagainya Bagi masyarakat kita (Minangkabau) makan sahur disebut makan parak siang atau makan sebelum fajar pertanda siang datang. Selanjutnya bimbingan Allah dalam firmanNya menyebutkan bahwa pada malam hari bulan Ramadhan itu seseorang Muslim dapat melakukan hubungan dengan keluarganya dan juga dibenarkan untuk makan dan minum hingga terbitnya fajar, sebagaimana isi Wahyu Al Quran berbunyi ; wa kuluu wa asyrabuu hatta yatayyana lakum al khiatul abyadhu min al khaitil aswadi minal fajr, tsumma atimmu ash-shiyaama ila al-laili” artinya “makanlah dan minumlah hingga kamu dapat membedakan antara benang putih dan hitam di waktu fajar, dan kemudian sempurnakan puasamu hingga datang malam (QS.2:187). Agama Islam tidak membenarkan seseorang untuk berpuasa sepanjang hari dan malam, sebagaimana dilakukan oleh orangorang Yahudi dan Nasrani yang telah merobah hukumhukum Allah. Untuk itu puasa diawali dengan sahur dan diakhiri dengan ifthar(berbuka) setiap harinya. Demikianlah hudud (ketentuan hukum) dari Allah. Maka pelaksanaan makan sahur sebelum fajar datang adalah kesiapan diri dalam melaksanakan hukum-hukum Allah secara benar dan tanpa reserve. Lebih jauh adalah mengajarkan seseorang Muslim itu teguh dalam memegang serta mengamalkan hukumhukum yang telah digariskan dan ditetapkan dalam hidupnya. Ini bermakna bahwa sebenarnya seseorang Muslim itu melalui ibadah-ibadah yang dikerjakan terdidik menjadi seorang yang teguh untuk mengatakan
H. Mas’oed Abidin

37

dan mengamalkan hukum-hukum kemshlahatan yang berlaku. Dia akan berani mengatakan yang hak itu benar dan yang bathil itu adalah salah. Hukum adalah kebenaran dari Allah, bukan kekuasaan hawa nafsu. Sebagaimana halnya juga dengan puasa (shaum) akan melahirkan sifat sabar (tabah dengan kejujuran) dan istiqamah (konsisten, teguh berpendirian) serta qanaah (sikap merasa cukup sesuai dengan hak yang dimiliki). Ketiga sifat utama ini dilatih dengan intensif pada setiap rukun puasa dengan penuh kedisiplinan diri. Disiplin yang tidak dipaksakan dari luar tapi disiplin yang ditumbuhkan dari dalam, yang mengakar pada sikap dan berbuah dalam tindakan. Dalam keseharian hidup di tengah kemajuan zaman seringkali diri bersedia dijual dengan harga materi bernilai rendah. Nilainya hanya sebatas kenikmatan sesaat, bahkan bisa berakibat ditukarkan dengan kesengsaraan berkepanjangan di hadapan mahkamah Rabbun Jalil, suatu kesengsaraan yang dipikil sendiri, tidak seorang pun bisa meringankannya. Karena itu melalui berbagai kegiatan ibadah, terutama ibadah pusa (shaum) inilah setiap mukmin dilatih bahkan dididik menjadi seorang yang tahu hukum dan bisa mengamalkannya, tanpa harus dipaksa oleh kekuatan penegak hukum di sekelilingnya. Dari dalam dirinya terlahir sikap hemat menggantikan loba sebagai perangai nafsu. Selama bulan-bulan Ramadhan dengan pengamalan ibadah yang ihtisab (penuh pengendalian) itu, seseorang muslim berlati pandai mencukupkan apa yang ada (qanaah) dan menghindari diri dari berfoyafoya (mubadzir). Dalam pelaksanaan sahur Nabi Muhammad SAW menasehatkan; “makanlah dengan 38
H. Mas’oed Abidin

makanan yang ringan-ringan,” artinya tidak terlalu berat pada pencernaan, tidak lain adalah untuk terjaganya kesehatan di siang hari kala puasa. Sungguh benar Rasulullah SAW dengan tugasnya sebagai ”rahmatan lil-alamin”.

Ifthar

Sabda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi Wa Sallam, “laa yazaalu an-naasu bi-khairin maa ‘ajjaluu alfithra”, artinya “manusia akan selalu berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan ifthar (berbuka puasa)” (HR.Bukhari, Muslim dan lain-lainnya). Berbuka puasa (iftharus-shaim) dikala terbenamnya matahari (masuknya waktu maghrib) suatu keharusan (sunnah) dilakukan oleh setiap orang yang berpuasa, sama seperti suruhan mengerjakan sahur sebelum fajar masuk. Puasa seorang muslim dimulai dengan makan sahur dan diakhiri dengan ifthar setiap harinya sebagai dikuatkan oleh Firman Allah QS.2:187. Dengan demikian tersimpullah bahwa “berbuka puasa (ifthar)” dan “makan sahur” adalah pembeda antara puasanya orang-orang Muslim dengan kalangan lainnya secara
H. Mas’oed Abidin

39

umum sejak masa dahulu hingga zaman modern sekarang dengan tumbuhnya beragam bentuk ritualupawasa tanpa bimbingan wahyu Allah, seperti dicontohkan dalam pemahaman kepercayaankepercayaan hasil rekayasa pikiran manusia tanpa bimbingan agama samawi. Pentingnya urusan berbuka puasa ini ditemui dalam banyak penjelasan atau sunnah Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam antara lain,“idza quddimal-‘isyaa-u fa-abda-uu bihi qabla shalatilmaghribi, wa laa ta’-jaluu ‘an-‘asyaaikum”,artinya“ Apabila dihidangkan makanan malam hendaklah kamu dahulukan makan sebelum shalat maghrib, dan janganlah kamu menagguhkannya” (HR.Bukhari Muslim) yang merupakan salah satu sunnah qauliyah (ucapan Rasulullah SAW), dan dalam fi’liyah (perbuatan Rasulullah SAW) di temui kesaksian hadist “kaana Rasulullahi shallallahu ‘alaihi wa sallam yafthuru ‘ala ruthabaatin qabla an yushalli, fa-in lam takun fa ‘alaa tamaraatin, fa-in lam takun hasaa hasawaatin min maa-in,” artinya “Rasulullah SAW berbuka puasa dengan beberapa biji ruthab sebelum shalat. Seandainya tidak ada, beliau berbuka dengan beberapa biji tamar dan bila (tamar) itu pun tidak ada, beliau berbuka dengan beberapa teguk air.” (HR.Abu Daud dan Daruquthni). Bimbingan Sunnah Rasulullah ini sangat menganjurkan pelaksanaan berbuka puasa sesederhana mungkin, supaya terhindar dari celaan perangai syaithan. Maka berbuka puasa tidak mesti dengan persiapan materi “perbukaan” yang jumlahnya berlimpah, jenisnya yang beragam, harga yang mahal dan pada akhirnya 40
H. Mas’oed Abidin

terbuang percuma seperti banyak ditemui dalam sebahagian acara-acara “berbuka bersama”. Semestinya melalui ajaran berbuka puasa (iftharusshaaim) ditanamkan dengan benar sikap sederhana, hemat, tidak mubazir, tidak loba dan tamak terhadap materi, pandai meletakkan sesuatu pada tempatnya sehingga mengerti mana yang berguna dan tidak membuang-buang secara percuma. Lebih jauh melalui ajaran berbuka puasa (ifthar) dipupuk sikap pribadi terpuji dengan moral yang tinggi yang ukurannya tidak lagi semata materi duniawi. Etika akhlaq mulia itu terpantau dari kesiapan diri sesorang yang akrab lingkungan dan peduli dengan nasib orang lain yang hidup disekitarnya. Ajaran berbuka puasa secara lebih mendalam dibuktikan pada kesediaan seseorang mengulurkan tangan (iftharus-shaaim) kepada orang lain disekitarnya terutama orang-orang yang belum bernasib baik (fakir dan miskin) sehingga dengan demikian mereka pun berkesempatan menikmati betapa nikmat sedap dan nikmat gembira berbuka puasa bersama (ifthar al-jamaa’i) itu. Di Ranah Minang kebiasaan seperti ini sebenarnya telah lama tumbuh dalam hubungan kekeluargaan Muslim di kampung-kampung dalam suatu persenyawaan adat dan Islam sesuai kaedah yang berlaku secara turun temurun dalam “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” dengan tata istilah yang sangat tepat ”ma anta pabukoan” yang kemudian dikembangkan dengan buka bersama di masjid-masjid dan di sudahi dengan shalat maghrib berjamaah. Kepuasan berbuka puasa sungguh tidak terletak kepada pesta hidangan perbukaan untuk diri
H. Mas’oed Abidin

41

sendiri. Namun secara hakiki tersimpan pada kemampuan membersitkan kelebihan dalam melipat gandakan pahala puasa melalui kerelaan memberikan perbukaan kepada orang lain manakala waktu berbuka tiba walau hanya berupa sebiji korma, sebuah pisang, bahkan mungkin hanya seteguk air yang dihadiahkan kepada orang yang ingin berbuka puasa secara ikhlas karena mengharap redha Allah. Disinilah letak makna sebenarnya dari berbuka puasa (ifthar) itu. Sabda Rasulullah SAW, “siapa saja yang memberikan perbukaan kepada orang yang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala sebesar pahala puasa orang yang diberinya perbukaan, tanpa mengurangi sedikitpun pahala puasa orang yang diberi itu,” (Al Hadist). Melalui ifthar (berbuka puasa) kita semua mendapatkan peluang besar dalam meningkatkan pemahaman kualitas serta kuantitas pahala puasa di bulan Ramadhan pintu pahala dan kesempatan merebutnya telah terbuka. Semoga kita mampu meraihnya Insya Allah.

Do’a

Salah satu firman Allah disebutkan; “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku 42
H. Mas’oed Abidin

adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang-orang yang berdo’a apabila ia bermohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada pada kebenaran.” (QS.2:186). Secara implisit wahyu ini beriisikan pemberitaan kemuliaan Ramadhan dengan tersedianya kesempatan luas bagi setiap Muslim untuk melakukan suatu ritual yang disebut “do’a”. Do’a adalah suatu ibadah dalam memenuhi kebutuhan hidup ruhaniyah manusia (spiritual,immateriil), yang tak kalah pentingnya dari kebutuhan-kebutuhan materiil lainnya.Di dalam Al Quranul Karim ditampilkan kata-kata do’a pada 203 ayat dengan arti yang banyak kaitannya, antara lain berarti ibadah, memanggil, memuji dan sebagainya. Dalam ayat ini “do’a” bermakna meminta, memohon dan mengharap kepada Allah Yang Maha Kuasa. Manusia adalah makhluk lemah dengan segala keterbatasan alamiah ataupun ilmiah, secara fisikal maupun mental emosional. Kenyataan dalam hidup, manusia selalu dilingkari serba kekurangan dalam meraih harapan dan keinginan-keinginan yang sulit dibatasi. Bila situasi seperti ini kurang disadari acap kali menyeret manusia kepada akibat sangat fatal serta berpeluang menyisakan derita frustrasi dan hidup hilang pegangan. Lebih jauh ketenteraman bathin dan kebahagian yang didambakan tidak kunjung terwujud. Untuk mengatasi kekurangan daya keterbatasan ini, dilakukan upaya meminta pertolongan kepada yang
H. Mas’oed Abidin

43

lebih kuasa di luar diri, mengadukan segala kekurangan, kegelisahan serta kesusuhan yang menghimpit jiwa (soul,ruhani) agar ada yang bisa mengobatnya atau mengatasinya. Upaya dilakukan dengan cara berdo’a kepada Yang Maha Kuasa. Namun, sering dijumpai kerancuan tindakan, yang tampil dikala nikmat telah datang mengganti kesusahan dan keresahan, tanpa sadar manusia melupakan Yang Maha Kuasa tempat do’a di arahkan memohon segala permintaan. Begitulah kebanyakan watak hakiki manusia yang tidak beriman sebagai disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya (QS.41,Fusshilat:51).Na’udzubillah. “Do’a adalah puncak ibadah,”begitu Sunnah Rasul menyebutkan. Maka semestinya sebagai ibadah do’a hanya ditujukan kepada Allah, tidak boleh ditujukan kepada benda-benda keramat, juga tidak kepada kekuatan alam selain dari Allah. Semestinya pula langsung di arahkan kepada Allah Yang Maha Kuasa tanpa perantaraan. Do’a bisa diucapkan dengan bahasa apa saja yang dimengerti oleh yang meminta, karena Allah sungguh amat mengerti dengan apa yang tergerak dalam hati seseorang yang mendo’a itu. Beberapa persyaratan do’a perlu dipersiapkan lebih dahulu, antara lain pembersihan bathin melalui istighfar, menanamkan keyakinan (iman) bahwa do’a akan berterima disisi Allah dengan terlebih dahulu melakukan istighfar, memelihara makanan, minuman, pakaian benar-benar halal, tidak meminta hal-hal yang mustahil, tidak berlaku zalim (melanggar aturan-aturan Allah), dilakukan dengan khidmat, khusyu’ dengan tunduk hati kepada Allah, merendahkan suara dalam bahasa sederhana indah dan dimengerti, memuliakan 44
H. Mas’oed Abidin

Allah dengan mengambil do’a yang utama dari Al Quran atau Hadist Rasulullah, tidak bosan dalam bermohon kepada Allah. Paling utama dilakukan di waktu yang mustajab, antara lain di kala berpuasa, di saat berbuka, di waktu sahur, di malam lailatul qadar, di saat bersujud shalat menghadap kiblat, di bulan Ramadhan. Merugi sekali orang yang tidak memanfaatkan kesempatan emas yang hanya sekali dalam setahun. Sangat tidak pantas Ramadhan di isi dengan hiruk pikuk, gelegar bunyi petasan, mondar-mandir diluar rumah ibadah, asmara subuh, kuncar tarawih sementara orang lain khusyuk beribadah, bahkan sangat tidak patut melewatkan masa di “warung-ota”, atau hanya mendatangi masjid bersafari diluar redha Allah. Kalau itu yang terjadi, tak usah ditanyakan, kenapa “do’a tak berjawab??”.

MUSTAJAB

Ramadhan datang setiap tahun membawa berkat dan rahmat untuk umat manusia (terutama muslim-mukmin), dalam menjelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyebutkan;
H. Mas’oed Abidin

45

“Ramadhan awwalu-hu rahmah, awsathu-hu maghfirah, akhiru-hu ‘itqun minan-naar,”(Al Hadist). Gambaran selengkapnya mengenai keutamaan Ramadhan ini disampaikan Nabi Muhammad SAW dalam satu khutbah yang panjang pada akhir bulan Sya’ban disaat perintah puasa (shaum) pertama kali di wajibkan Allah untuk orang-orang yang beriman (mukmin). Di antaranya Rasulullah SAW bersabda; “.. bahwa sesungguhnya saudara-saudara sekalian kini dinaungi oleh suatu bulan yang besar, bulan yang agung, bulan penuh keberkatan, bulan yang di dalamnya di lipatgandakan amal ibadah serta rezki untuk orang yang beriman, bulan kelapangan dan bulan keampunan…., siapapun di bulan itu mengerjakan suatu kewajiban karena Allah niscaya dia akan mendapatkan pahala seperti tujuhpuluh kali kebajikan yang diwajibkan pada bulan yang lain, dan siapapun yang mengamalkan suatu amalan sunat karena Allah di bulan Ramadhan akan samalah nilainya dengan amalan wajib di bulan lainnya…, karena itu difardhukan kepadamu untuk berpuasa di siang harinya, dan menghidupkan malamnya (qiyamul-lail)….,Ramadhan itu awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka…”,(Hadist Shahih). Khutbah Nabi SAW terlengkap ini,sudah teramat cukup dijadikan pegangan atau rujukan bagi seorang yang hendak memilih mengerjakan amalan terbaik di bulan Ramadhan yang mulia. Keagungan Ramadhan sebagai bulan turunnya Al Quran, menyediakan di dalamnya satu malam rahmah yakni “malam lailatul-qadri” yang memiliki keutamaan melebihi seribu bulan (QS.97:1-5). 46

H. Mas’oed Abidin

Berdo’a kepada Allah dibulan ini akan “maqbul” terutama saat sedang berpuasa, atau pada saat mustajab di waktu sahur dan berbuka puasa, sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW ; “inna lis-shaaimi ‘indal fithri-hi da’watan maa turaddu”, artinya,“Do’a orang berpuasa ketika sedang berbuka tidak ditolak,”(Hadist dari Ibnu Umar Radhiallahu “anhuma). Di bulan ini ada ibadah khusus yang disebut “shalat tarawih”, artinya shalat secara santai. Rasulullah SAW pernah mengerjakan shalat tarawih ini selama tiga malam berturut-turut di Masjid Nabawi Madinah, yang di ikuti oleh para Shahabat sebagai makmum dibelakang Nabi Muhammad SAW. Walau hanya tiga malam, namun berita shalat tarawih ini cepat menyebar ketengah umat, dan pada malammalam berikutnya umat bertambah banyak yang ingin shalat dengan Rasulullah SAW. Akan tetapi Rasulullah SAW tidak pernah keluar dari kamar (bilik) ‘Aisyah RA, disanalah beliau kerjakan shalat tarawih beliau, sebagai dikhabarkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah RA. Rasul SAW keluar di waktu shubuh mengimami orang banyak dan sahabat menanya Rasulullah SAW kenapa beliau tidak keluar untuk shalat malam dimana umat banyak yang menunggu? Rasulullah SAW menjawab bahwa; “beliau takut, seandainya Allah SWT mewajibkan shalat sunat (tarawih) ini, namun ummatku menjadi keberatan mengerjakannya”. Ironis sekali ummat kini, rajin pergi shalat sunat tarawih berjamaah, sementara shalat maktubah acap terlalaikan bahkan mungkin sudah tertinggalkan.

H. Mas’oed Abidin

47

Ramadhan adalah bulan paling mustajab tempat bermunajah kepada Allah, saat taubatan nashuha dengan lidah basah membaca istighfar,mengharapkan ampunan dan maghfirah dari Allah. Namun, semuanya tidak berarti, bila mata hati tertutup melihat dhu’afa (fakir-miskin) yang papa dengan nasib, tidak punya sesuatu untuk di nikmati, diperberat oleh kepahitan hidup dan himpitan ekonomi dibebani pikulan krisis moneter karena pukulan spekulan. Terhadap kalangan “berpunya”yangtidak mau mengulurkan bantuan, Allah SWT mencapnya sebagai “pendustapendusta agama?”, karena “mata mereka tertidur disebabkan perut terlalu kenyang, tetapi disampingnya tergeletak saudaranya yang fakir-miskin dengan bolamata mereka tidak mau tertidur karena kelaparan”. Do’a si fakir miskin sangat mustajab. Yang tak peduli nasib simiskin, sesungguhnya bukanlah golonganku, kata Muhammad SAW. Na’udzubillahi min Dzalik.

Kendali

Sabda Rasulullah SAW mengungkapkan arti dari jihad artinya; "Seseorang tidak dikatakan pemberani karena melompati musuh di medan laga. Tetapi orang yang berani berjihad itu adalah yang mampu menahan diri ( artinya,memiliki ke-sabaran)". Berani tanpa perhitungan bukanlah sebuiah kesabaran. Perhitungan yang matang dengan segala 48
H. Mas’oed Abidin

ketabahan menahan diri senantiasa mendorong seseorang untuk bertindak benar. Berpegang teguh kepada yang haq (kebenaran dari Allah) akhirnya menjadikan seseorang berani dalam bertindak. Berani untuk berjuang mempertahankan kebenaran itu. Kesabaran akan terlihat pada kemampuan seseorang mengendalikan diri yang menjadi pakaian para ekselensi seperti para petinggi negara, para diplomat, para ilmuwan (intelektual), sangat dituntut memiliki kesabaran sebelum bertindak di dalam mengemban tugas-tugasnya. Kemampuan pengendalian diri bukan urusan sepele. Kemampuan adalah urusan besar dan berat, sehingga Baginda Rasulullah SAW menyebutkannya sebagai "jihad akbar", atau "perjuangan yang berat". Sejarah mencatat peristiwa besar sepulangnya rombongan para mujahid dari Perang Badar yang terkenal tempat berkuburnya para syuhada, Baginda Rasulullah SAW bekata, "Kita baru saja keluar dari jihad (perang) yang kecil dan akan memasuki jihad (perang) yang lebih besar lagi" (Al Hadist). Pernyataan Rasulullah SAW ini, mengundang rasa heran dan tanya para sahabat pengikut beliau,"MANA LAGI PERANG (JIHAD) YANG BESAR ITU, WAHAI BAGINDA RASUL?". Karena, para sahabat menilai bahwa perang yang baru ditinggalkan tadi sungguh dirasakan sebagai perang yang paling besar, yang pernah dialami mereka. Baginda Rasulullah SAW memberikan rumusan, “JIHADUL AKBAR, JIHADUN NAFSI"(Al Hadist), artinya “Jihad (perang) yang besar itu, adalah perang mengalahkan nafsu”, maknanya kemampuan mengendalikan diri. Pengendalian diri dalam artian yang
H. Mas’oed Abidin

49

lebih jauh adalah kemampuan suatu bangsa tegak pada prinsip kebangsaan yang telah disepakati bersama, sikap patriotisme yang mendalam berkemampuan mandiri dan tidak tergantung banyak oleh pengendalian dari luar. Jihadun nafs (perjuangan mengendalikan diri) ini, tempat latihannya adalah ibadah shaum atau ibadah puasa. Shaum atau puasa itu, diawali dan diakhiri oleh “pengendalian diri", dengan merasakan sungguhsungguh menahan sejak sahur sampai datangnya waktu berbuka.Tiada semenit pun masa toleransi walaupun perut masih meminta, namun rela membasuh jari mengakhiri makan sahur tanda imsak mulai dijalankan.Begitu pula, dikala berbuka puasa, sungguhpun penganan telah tersedia dihadapan muka, tak akan mau memakannya sampai waktunya datang, menit dan detik rela dinanti. Alangkah dalamnya perlajaran ini. Latihan disiplin yang tinggi, dan pengendalian diri yang utuh. Sebuah latihan, hanya bisa dilihat hasilnya setelah masa latihan terlewati. Keberhasilan melaksanakan puasa (shaum) terlihat berbekas, jika mampu melahirkan sifat-sifat disiplin dalam mengendalikan diri, nanti sesudah Ramadhan pergi. Makin tinggi nilai latihan makin lama bekasnya di dalam diri. Di dalam pembangunan bangsa PJPT-II dan memasuki era globalisasi abad keduapuluhsatu kehadapan, tugas setiap individu semakin berat. Masa kedepan sangat memerlukan manusia yang berkualitas. Memiliki disiplin yang tinggi dalam setiap 50
H. Mas’oed Abidin

kondisi. Kita amat memerlukan bangsa yang tangguh dan ampuh dalam menjalankan misi pembangunan, disegala bidang. Yang diperlukan adalah sumber daya manusia yang rela menahan diri, berhemat, sanggup memikul beban bersama dan memiliki rasa solidaritas (ukhuwah) yang men-dalam. Semuanya hanya bisa diciptakan, melalui latihan latihan yang terus menerus. Kesempatan selalu dibukaan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, melalui ibadah puasa (shaum) ini. Akankah kita biarkan saja Ramadhan tahun ini berlalu tampa kesan. Tampa ada usaha kita mengambil nilai-nilai mulia yang terkandung di dalamnya. tentu tidak. Maka, sewajarnyalah setiap kita berusaha sekuat daya, supaya lingkungan kita dimanapun kita berada, bisa menerapkan amalan puasa (shaum) ini. Inilah tujuan utama, Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan shaum (puasa) itu. La'allakum Tattaquuna. Supaya kamu menjadi orang-orang yang terpelihara, terlindungi. Bangsa yang bertaqwa, adalah bangsa yang mawas diri.

Izzah

DALAM pergaulan hidup Muslim sehari-hari didapati kewajiban melaksanakan tugas kemasyarakatan yang paling asasi yaitu “memberikan
H. Mas’oed Abidin

51

nasehat kepada sesama saudaranya”, yang merupakan pengamalan “amar ma’ruf nahi munkar”. Tugas ini wajib ditunaikan agar masyarakat berkehidupan dalam suasana yang baik dan tidak terperosok kedalam jurang kehinaan, sehingga tercipta tatanan masyarakat utama (khaira ummah). “Amar ma’ruf nahi munkar” adalah kewajiban kembar yang mesti berjalan seiring dan ditunaikan secara tulus dan ikhlas dalam kerangka mardhatillah. Esensinya dalam rumusan “tawashii bil haqqi dan tawashii bis-shabri”, yaitu berwasiat dengan kebenaran (al-haq min rabbika) dan ketabahan (shabar), yang di alaskan kepada sabda Rasulullah SAW; “agama itu adalah nasehat” (ad-diin an-nashihah) yang datang dari Allah SWT menjadi sangat menentukan dalam penciptaan kemashlahatan umat banyak. Bila tugas kembar ini dilalaikan, maka yang akan tampil kepermukaan adalah segala bentuk kekacauan dan kebringasan dengan kemasan fitnah serta berbagai isu yang sulit dibendung. Sebab itu, "amar ma'ruf-nahi munkar" di ketengahkan tanpa kebencian dan dendam, jauh dari perasaan iri dan hasad dengki. Tugas ini tidak mengenal sakit hati, tetapi harus berbingkai asih-asuh berisi cinta sejati sesama hidup, karena “sama-sama ingin masuk surga, samasama ingin terhindar dari neraka, dan terbebas dari godaan iblis-syaitan”. Tujuan yang ingin dicapai adalah kehidupan bermartabat kemanusiaan dengan beralaskan mahabbah dan kasih sayang. Sabda Baginda Rasulullah SAW bahwa di bulan Ramadhan ini, “di bukakan pintu syurga, di tutup pintu neraka, dan dirantai syaithan", hakikinya mengandung 52
H. Mas’oed Abidin

makna mendalam dengan pembuktian pada amalan-amalan yang mendekatkan kepada pintu sorga, yakni segala "kebaikan" sesuai ajaran Allah dan Rasulullah. Kebaikan yang menjadi warna "fitrah" kemanusiaan. Inilah bulan tempat kita berpacu dan berlomba melakukan kebajikan, sebagai penggambaran-kebaikan. Itulah keyakinan mukmin yang utama. Dan yang sudah terbiasa melakukan kejahatan, bertaubat adalah tindakan yang paling tepat. Karena puasa (shaum) tidak hanya sekedar menahan haus dan lapar, tetapi adalah kemampuan menahan diri untuk tidak berbuat kejahatan. Akan halnya "di tutup pintu neraka", sebenarnya adalah sebuah peringatan sangat keras untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang bisa berakibat terbawanya badan kedalam neraka. Selanjutnya supaya tidak berteman dengan syaitan. Jangan di tiru lagak-lagu syaithan, seperti melakukan segala tipu daya yang tidak senonoh. Dakwah ilaa-Allah menjadi kewajiban pribadi (fardhu-‘ain) setiap muslim yang beriman. Dakwah adalah gerakan masal “mempuasakan masyarakat dari segala perangai tidak terpuji", seperti perangai konsumeris, indiviualis, materialis, spekulatip yang berdampak sangat dalam terhadap kemelut moneter yang tengah melanda bangsa, bila kita jujur mengkajinya lebih disebabkan oleh hilangnya kepercayaan diri (baca: rupiah) dan terlampau besarnya kepercayaan kepada milik orang lain (baca: dollar). Ramadhan menumbuhkan “izzatun-nafsi”, yakni taqwa yang terlihat dalam percaya diri, hemat, mawas
H. Mas’oed Abidin

53

diri, istiqamah (teguh-prinsip) dalam menanam nilai kebersamaan (ukhuwwah) ditengah hidup bermasyarakat, dan terjauh dari hanya mementingkan diri sendiri. Sudahkah kini tercipta?? Jawabnya tersimpan dalam “Gerakan Fastabiqul Khairat”.***

Jihad Besar

JIHAD adalah satu keberanian berkemampuan tinggi dalam mengendalikan diri sebagai di ungkapkan Rasulullah SAW sesuai sabdanya; "Seseorang tidak dikatakan pemberani karena melompati musuh di medan laga. Tetapi orang yang berani berjihad itu adalah yang mampu menahan diri ( artinya,memiliki ke-sabaran)" (Al Hadist). Berani dengan perhitungan (iman dan ihtisab) adalah bukti sebuah kesabaran. Perhitungan matang di topang oleh ketabahan dan kemampuan menahan diri akan mendorong seseorang untuk bertindak benar. Berpegang teguh kepada kebenaran (haq dari Allah) membuahkan keberanian dalam bertindak dan akhirnya bersedia untuk berjuang mempertahankan kebenaran itu. Kesabaran adalah kemampuan mengendalikan diri dan menjadi pakaian para ekselensi dan pimpinan dalam mengemban tugas-tugasanya. Kenanam dan menumbuhkan kesabaran bukan satu urusan sepele 54
H. Mas’oed Abidin

tetapi adalah kerja besar dan berat, sesuai sabda Rasulullah SAW menyebutnya sebagai "jihad akbar", atau "perjuangan yang berat". Sejarah mencatat peristiwa besar di bulan Ramadhan dari Perang Badar yang adalah ladang perkuburan para syuhada, sebagai dikatakan oleh Rasulullah SAW, "Kita baru saja keluar dari jihad (perang) yang kecil dan akan memasuki jihad (perang) yang lebih besar lagi" (Al Hadist). Pernyataan Rasulullah SAW ini menimbulkan tanya keheranan para sahabat pengikut Rassulullah yang mohon di jelaskan; "MANA LAGI PERANG (JIHAD) YANG BESAR ITU, WAHAI BAGINDA RASUL?". Para sahabat menilai dan mengalami sendiri perang yang baru ditinggalkan tadi adalah yang paling akbar, paling besar, yang pernah mereka alami. Baginda Rasulullah SAW memberikan rumusan, “JIHADUL AKBAR, JIHADUN NAFSI"(Al Hadist), artinya “Jihad (perang) yang besar itu, adalah perang mengalahkan nafsu”, maknanya kemampuan mengendalikan diri. Pengendalian diri dalam arti mendalam adalah kemampuan suatu bangsa tegak pada prinsip kebangsaan yang telah disepakati bersama, teguh bertindak dengan sikap patriotisme yang mendalam berakar pada kemampuan untuk mandiri dan tidak banyak tergantung dari kendali orang luar. Disinilah suatu perjuangan besar (jihadul akbar) yang berawal dari jihadun nafs (perjuangan mengendalikan diri). Arena latihannya adalah ibadah shaum atau ibadah puasa. Shaum atau puasa itu, diawali dan diakhiri oleh “pengendalian diri", mulai sejak sahur
H. Mas’oed Abidin

55

sampai datangnya waktu berbuka dengan menahan (imsak), tiada semenit pun masa toleransi walaupun perut lapar dan kerongkongan kering dahaga. Kerelaan menahan sampai datang waktunya dibolehkan berbuka merupakan latihan disiplin yang tinggi, dan pengendalian diri yang utuh. Sebuah latihan, hanya bisa dilihat hasilnya setelah masa latihan terlewati. Keberhasilan melaksanakan puasa (shaum) terlihat berbekas, jika mampu melahirkan sifat-sifat disiplin dalam mengendalikan diri, baik selama atau sesudah Ramadhan pergi. Makin tinggi nilai latihan makin lama bekasnya di dalam diri. Di dalam pembangunan bangsa (PJPT-II dan seterusnya) dan memasuki persaingan ketat era globalisasi abad keduapuluhsatu kehadapan, tugas setiap individu semakin berat. Masa kedepan sangat memerlukan manusia yang berkualitas. Memiliki disiplin yang tinggi dalam setiap kondisi. Kita amat memerlukan bangsa yang tangguh dan ampuh dalam menjalankan misi pembangunan, disegala bidang. Yang diperlukan adalah sumber daya manusia yang rela menahan diri, berhemat, sanggup memikul beban bersama dan memiliki rasa solidaritas (ukhuwah) yang men-dalam. Semuanya hanya bisa diciptakan, melalui latihan kebersamaan dan disiplin yang terus menerus. Kesempatan ini dibukaan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, melalui ibadah puasa (shaum) di bulan Ramadhan ini. Konsekwensinya adalah jangan dibiarkan Ramadhan berlalu tanpa ada usaha memetik nilai-nilai mulia yang terkandung di dalamnya, dan sewajarnya setiap diri berusaha sekuat daya, supaya lingkungan 56
H. Mas’oed Abidin

dimanapun berada, bisa menerapkan amalan puasa (shaum), ”La'allakum Tattaquuna” artinya, “supaya kamu menjadi orang-orang yang terpelihara, terlindungi”. Bangsa yang bertaqwa, adalah bangsa yang mawas diri, yang hemat, dan tidak menahan hak orang lain, sesuai firman Allah; “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithan dan syaithan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS.17-Al Isra’,ayat 26-27).

Ad-Din an Nashihah. DALAM Pergaulan hidup Muslim sehari-hari ada suatu tugas bermasyarakat yang mesti di tunaikan yaitu “memberikan nasehat kepada sesama saudaranya”, sebagai suatu kewajiban asasi dalam mengamalkan ajaran “amar ma’ruf nahi munkar”, supaya masyarakat hidup dalam suasana yang baik, aman dan tenteram, sehingga tercipta tatanan masyarakat utama (khaira ummah). “Amar ma’ruf nahi munkar” adalah kewajiban kemanusiaan yang mesti dijalankan dan di tunaikan secara tulus ikhlas dalam kerangka mardhatillah, menurut bingkai “tawashii bil haqqi dan tawashii bisshabri”, yaitu berwasiat dengan kebenaran (al-haq min rabbika) dan ketabahan (shabar), beralaskan sabda Rasulullah SAW; “agama itu adalah nasehat” (ad-diin an-nashihah).
H. Mas’oed Abidin

57

Bila tugas kembar ini dilalaikan, maka yang akan tampil kepermukaan adalah segala bentuk kekacauan dan kebringasan dengan kemasan fitnah serta berbagai isu yang sulit dibendung. Sebab itu, "amar ma'ruf-nahi munkar" di ketengahkan tanpa kebencian dan dendam, jauh dari perasaan iri dan hasad dengki. Tugas ini tidak mengenal sakit hati, tetapi harus berbingkai asih-asuh berisi cinta sejati sesama hidup, karena “sama-sama ingin masuk surga, samasama ingin terhindar dari neraka, dan terbebas dari godaan iblis-syaitan”. Tujuan yang ingin dicapai adalah kehidupan bermartabat kemanusiaan dengan beralaskan mahabbah dan kasih sayang. Sabda Baginda Rasulullah SAW menyebutkan bahwa di bulan Ramadhan, “di bukakan pintu syurga, di tutup pintu neraka, dan di rantai syaithan", hakikinya bermakna setiap orang berketeguhan sikap dalam melaksanakan amal perbuatan yang hanya mendekatkan ke sorga (taqarrub ila Allah), yakni mengerjakan segala "kebaikan" sesuai ajaran Allah dan Rasulullah, karena kebaikan itu adalah “warna fitrah" kemanusiaan. Perlombaan menabur-tanam kebaikan (al khairi, ma’ruf) dan konsekwen dalam menanggalkan keburukan (maksiat, munkarat) merupakan keyakinan mukmin yang tak bisa ditawar-tawar, dalam hal ibadah shaum harusalah diterjemahkan bahwa “puasa (shaum) tidak hanya sekedar menahan haus dan lapar, tetapi adalah kemampuan menahan diri”. Karena itu ibadah shaum (puasa) mampu menghindarkan seseorang dari segala kejahatan pribadi dan kejahatan di tengah kehidupan bermasyarakat, serta menjauhkan seseorang dari sikap ceroboh dan perbuatan tidak senonoh meniru 58
H. Mas’oed Abidin

perangai syaithan dengan segala bentuk tipu daya, adu domba, fitnah, isue dengan rentetan kepalsuan demi kepalsuan. Dakwah ilaa-Allah menjadi kewajiban pribadi (fardhu-‘ain) setiap muslim yang beriman. Dakwah adalah gerakan massal “mempuasakan masyarakat dari segala tindakan tidak terpuji", seperti perangai konsumeris, individualis, materialis, spekulatip yang berakibat terhadap gejolak moneter dan kehidupan ekonomi yang tengah melanda bangsa. Bila kita mau secara jujur mengkaji gejolak moneter yang kita alami hari ini, terjadinya tidak semata-mata di karenakan oleh faktor fisik ekonomi semata, namun sebenarnya bertumbuh tambah besar adalah karena hilangnya kepercayaan kepada diri, atau hilangnya kecintaan bangsa kepada negaranya, hilangnya kepercayaan rakyat kepada pemimpin atau hilangnya kepercayaan pemimpin terhadap rakyatnya, yang secara timbal balik menimbulkan hilangnya kepercayaan kepada milik sendiri (baca: rupiah) dan terlampau besarnya kepercayaan kepada milik orang lain (baca: dollar). Sebagai bangsa kita cenderung merasa lebih aman menyimpankan kekayaan di Lembaga-Lembaga Keuangan Luar Negeri daripada menanamkan kekayaan dimaksud dinegeri sendiri, dan lebih suka mengkonsumsi produk-produk luar negeri dan menganggap hasil dalam negeri sendiri rendah derajatnya. Lebih jauh sebenarnya yang hilang adalah patriotisme kebangsaan dan kecintaan kepada tanah air, sehingga sulit untuk mengharapkan timbulnya kerelaan berkorban, karena sebagai bangsa sudah kehilangan ruhul-jihad (jiwa perjuangan).
H. Mas’oed Abidin

59

Ramadhan melahirkan “izzatun-nafsi” (harga diri) berakar taqwa yang terlihat pada sikap percaya diri, hemat, senantiasa berhati-hati (mawas diri), istiqamah (teguh-prinsip) dalam menanam nilai kebersamaan (ukhuwwah) ditengah hidup bermasyarakat dan berbangsa. Sikap yang mewarnai izzatun nafsi akan berperan dalam membentuk watak bangsa yang besar, yang tidak hanya semata-mata terikat kepada tabiat bernafsi-nafsi atau hanya menyelamatkandiri sendiri, akan tetapi lebih mendahulukan sikap kebersamaan (kegotong royongan) sebagai penggambaran dari suatu budaya bangsa yang ditopang oleh ajaran wahyu agama yang benar yakni “ta ‘aa-wanuu ‘ala al-birri wa at-taqwa” artinya “saling membantu bersama-sama (bergotong royong) dalam kebajikan dan taqwa”. Prinsip inilah sesungguhnya yang telah melahirkan pengorbanan besar para pejuang bangsa dalam merebut kemerdekaan, dan sikap ini pula yang perlu di pelihara dan di tumbuhkan lagi dalam mempertahankan kemerdekaan dan mengisinya melalui program-program pembangunan. Semua jawabannya tersimpan dalam kesediaan kita semua mengamalkan satu jihad besar yang disebut “Gerakan Fastabiqul Khairat” yang melibatkan seluruh lapisan umat. Inilah jihad besar sepanjang masa sesuai bimbingan Allah SWT dalam firman-NYA; ”Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim AS. Dia (Allah) telah menamai kamu 60
H. Mas’oed Abidin

sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat (sembahyang), tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia (Allah) lah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong” (QS.22-Al-Hajj,ayat 78).

H. Mas’oed Abidin

61

Iman Yang Kokoh Melahirkan Moral Yang Stabil

Masalah akhlak merupakan persoalan mendasar dalam hidup manusia. Akhlak memberi corak warna bagi kehidupan manusia. Syauqiy Beyk, seorang sastrawan dan filosof mesir mengungkapkan; Tegak rumah karena sendi. Sendi hancur rumah binasa. Tegaknya bangsa karena budi. Budi rusak, hancurlah bangsa. Di ranah Minangkabau, dikenal sebuah pantun yang sering dengan ungkapan di atas. Nan kunak kundi. Nan sirah sago. Nan baiak budi. Nan indah baso. (basa-basi, sopan santun). 62
H. Mas’oed Abidin

Pendidikan akhlak (moral) berkaitan erat dengan iman. Iman yang kokoh akan melahirkan akhlak (moral) yang stabil. Iman yang labil, akan membuahkan akhlak yang tidak menentu. Nilai akhir yang paling tinggi yang ingin dicapai oleh manusia adalah nilai keakhiratan. Artinya ada kesadaran atas nilai keduniaan yang dimiliki sekarang ini, berfungsi ganda. Nilai keduniaan yang beraspek materil maupun intelektual berperan dalam membentuk nilai keakhiratan. Di samping manfaat pemenuhan kebutuhan manusia di dunia. Dunia dibangun dengan amal. Yang dimaksud amal saleh. Yang baik, yang konstruktif, membangun dan memperbaiki (ishlah). Tentu dunia tidak mau seiring dengan amal salah. Amal saleh dilakukan secara terang-terangan. Sementara amal salah sering dilakukan sembunyi-sembunyi. Begitulah hakekat amal yang terjadi. Amal saleh lahir dari insan bermoral. Amal salah tumbuh dari jiwa yang rusak (a-moral). Amal saleh berisi sikap atau nilai-nilai amanah, jujur, ikhlas, sabar, istiqomah, peduli terhadap orang lain. Sementara amal salah bertendensi individualistik, merusak, jahil (bodoh), fasik, munafik, dan khianat. Karena itu mutlak diperlukan niat (motivasi) yang jelas dikala sebuah amal akan digerakkan. Motivasi amal saleh adalah menuju ridha Allah. v 63

H. Mas’oed Abidin

64

H. Mas’oed Abidin

Selamat Datang Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa diantara kamu hadir (dinegeri tempat tinggalnya) dibulan itu, maka hendaklah dia berpuasa dibulan itu, dan barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajiblah baginya berpuasa, sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaknya kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah, 2 : 185) Setiap kali bulan Ramadhan datang, semasa hidupnya Baginda Rasullullah Shallahu 'Alaihi Wassallam, selalu beliau menyambut kedatangan bulan ini dengan perasaan haru, gembira dan penuh harap. Baginda Rasulullah, mengelu-elukan kedatangan bulan suci Ramadhan ini, dengan ucapan "Ahlan wa sahlan, wamarhaban yaa syahral mubarak". Artinya, selamat datang dengan penuh kegembiraan dan penuh harap kasih sayang, kami sambut kedatangan-mu, wahai bulan yang membawa keberkatan. Begitu kira-kira, Baginda Rasulullah mempersiapkan diri dalam menerima bulan yang suci ini.

H. Mas’oed Abidin

65

Kebesaran bulan Ramadhan, terletak pada ibadah yang terkandung di dalamnya. Juga terletak kepada kemuliaan yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas bulan itu. Yang paling istimewa adalah, bahwa Tuhan Allah sendiri yang menberikan nama terhadap bulan ini. Itu terhadap dalam Wahyu Allah, Surah Al Baqarah, ayat 185, seperti tertera di dalam mukaddimah tulisan ini. Tidak ada penamaan urutan nama-nama bulan di dalam Al'Qur'an, kecuali hanya untuk bulan ini. Yaitu Syahru Ramadhan, dalam bahasa Indonesia disebut bulan Ramadhan. Dalam rumpun bahasa Al Qur'an atau Arab, Ramadhan berakar dari kata Ramadhan artinya pembakaran. Baginda Rasulullah mengartikan, innama summiyya Ramadhan li annahu yarmidhu dzunuuba. Yang artinya, sungguh hanya dinamakan bulan Ramadhan karena di sana kesempatan membakar dosa. Membakar dosa berarti, bahwa di dalam bulan ini umat manusia, lebih khusus lagi orang beriman, berkesempatan menghapuskan dosa-dosanya melalui ibadah yang khusus pula ada di bulan Ramadhan ini. Ibadah khusus di bulan ini ialah shaum (puasa) wajib. Wajibnya terletak kepada dijadikan puasa ramadhan itu, merupakan satu arkaan atau rukun Islam. Seorang Muslim, belum lengkap sebagai muslim, jika dia meninggalkan shaum (puasa) Ramadhan ini. v

66

H. Mas’oed Abidin

Hormati Orang Berpuasa

PUASA (shaum) memiliki nilai ibadah yang tinggi. Pelaksanaannya, bertitik berat kepada diri pribadi orang yang melaksanakannya. Puasa membentuk keikhlasan dan kejujuran mendalam. Orang lain bisa melihat orang yang tengah berpuasa. Tetapi, orang yang melaksanakan shaum itu sendirilah yang amat tahu, apakah dia sebenarnya berpuasa atau hanya pamer dan main-main. Begitulah Allah Subhanahu Wa Ta'ala mejelaskan dengan perantaraan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam, dalam sebuah hadist Qudist: Ash-shaumu lii wa anaa ajziy bihi. Artinya "Puasa (shaum) itu untuk aku semata (kata Allah), dan Aku (Allah) pulalah yang akan menilai balasannya." Hadist ini mengandung hikmah yang dalam. Bahwa seseorang berpuasa hanya karena Allah semata. Inilah yang disebut ikhlas. Allah yang mengetahui, apakah shaum (puasa) seseorang itu baik, sempurna atau buruk dan kurang nilainya. Karena itu, perlulah diingat. Jika kita melihat seseorang tengah berpuasa disamping kita, maka hormatilah dia. Menghormati orang yang tengah berpuasa, berarti menghormati Allah jua adanya. Inilah, satu dari firman Allah; Wa litukabbiru 'illaha 'alaa maa hadaakum.
H. Mas’oed Abidin

67

Artinya, "Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah, atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu." (QS. Al Baqarah, 2 : 185). Begitu tingginya nilai ibadah puasa (shaum) ini, sehingga bagi orang yang menghormati dan memuliakan orang-orang yang tengah berpuasa, mendapatkan balasan (imbalan) sebesar nilai puasa orang yang tengah berpuasa itu. Baginda Rasulullah menjelaskan, "Orang yang memberikan perbukaan bagi orang yang tengah berpuasa, mendapatkan pahala sebesar pahala puasa yang dilaksanakan oleh shaa-im (orang yang tengah berpuasa itu), “(Al Hadist). Begitulah suatu ungkapan Baginda Rasulullah. Besar pahala bagi orang yang menghormati orang yang tengah berpuasa. Betapakah lagi pahala yang diterima oleh orang yang tengah berpuasa. Tentu lebih besar lagi. v

68

H. Mas’oed Abidin

Tahan Rasa Tahan Kata

Pemerintah Republik Indonesia dalam pengamalan Pancasila, khususnya sila Ketuhanan Yang Maha Esa, selalu berupaya memuliakan Ramadhan ini. Tiap tahun mengajak rakyat Indonesia (yang Muslim) untuk mengamalkan ajaran puasa ini, dan meminta non-Muslim menghargainya. Pemerintah Daerah Sumbar, mulai dari Gubernur, kepala-kepala Daerah Tingkat II, selalu mengingatkan agar menghormati orang Islam yang tengah melaksanakan ibadah puasanya. Seyogyanyalah kita menghormati kedua ajakan ini. Ajakan pemerintah supaya tercipta "kerukunan umat ber-agama", tercipta pula ketenangan umat di dalam mengamalkan ajaran agama mereka, yaitu berpuasa (Shaum). Ajakan Allah, yang terang merupakan perintah kepada setiap umat Islam, untuk mengamalkan ibadah puasa ini. Dengan itu, terciptalah kemuliaan hidup. Hablum minallah, yakni hubungan vertikal dengan allah Yang Maha Esa, dalam kaitan pelaksanaan ibadah. Dan hablum minan-naasi, terbinanya hubungan yang langgeng dan kemasyarakatan yang indah sesama anggota masyarakat (manusia), secara menyamping (horisontal), itu. Jikalah masih ada ummat manusia, khususnya di daerah kita Sumatera Barat (Indonesia), yang menganggap enteng suasana Ramadhan ini, niscaya kita tidak dapat mengatakan bahwa mereka itu telah memiliki kesadaran bernegara yang tinggi. Apalagi
H. Mas’oed Abidin

69

kesadaran sebagai ummat yang beragama. Mudah-mudahan itu tidak bakal terjadi lagi ditahun ini. Karena itulah , kepada ummat yang telah bersaksi, bahwa mereka adalah Muslim, seharusnya kita memaksakan diri kita, bagaimanapun beratnya, "Wajib Puasa". Hendaknya jangan ada lagi seorangpun ummat Islam, yang meninggalkan puasa Ramadhan ini. Kalau toh, karena satu dan lain hal kita tidak atau belum memiliki kemampuan mengamalkannya. Sewajibnya kita tidak memakan makanan disembarang tempat, sehingga mengganggu ketentraman saudara-saudara kita yang tengah beribadah puasa. Selain dari itu, karena yang dikatakan puasa (shaum) tidak hanya semata-mata menahan rasa haus dan lapar, juga menahan diri dari berkata-kata yang tidak senonoh dan tidak berkata cabul. Menahan diri pula dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Agar tidak berlaku heboh, tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang masyarakat lainnya menjadi terganggu ketentramannya. v

70

H. Mas’oed Abidin

Pendidikan Ramadhan

SATU hal tidak dapat dilupakan, Ramadhan merupakan bulan pendidikan. Disebut juga syahrul tarbiyyah. Pendidikan mempunyai artian lebih dalam dari sekadar latihan. Keberhasilan pendidikan bisa dilihat dari tumbuhnya sikap-sikap dari buah pendidikan itu. Pendidikan juga dilaksanakan terus-menerus. Berkesinambungan sepanjang usaha manusia. Terus menerus, tidak semasa-semasa. Sasarannya, generasi demi generasi dari manusia, yang menghuni bumi ini. Tujuan utamanya membentuk kader-kader manusia. Manusia dalam arti seutuhnya. Tidak sebahagian-sebahgian. Merupakan rajutan indah dari yang disebut generasi manusia turun temurun. Manusia yang diminati untuk dibentuk, adalah manusia menurut kriteria “Yang Maha Menjadikan” manusia itu. Menurut istilah, hakikat ‘alan-naas atau hakikat manusia sebenarnya. Sehingga melalui pendidikan itu, manusia dapat berperan optimal sebagai makhluk sentral di tengah alam. Memberi warna kehidupan pada alam yang ada sekelilingnya. Menjadi makhluk bijak dalam mengikuti kebijakan Allah Maha Pencipta. Sebagaimana dipesankan oleh Rasulullah SAW. AKU (yakni Allah ‘Azza Jalla) telah menjadikan kamu (manusia) untuk Ku (untuk mengabdi kepada Ku),
H. Mas’oed Abidin

71

dan Aku telah pula menjadikan seluruh alam (baik yang sudah dicerna oleh ilmu pengetahuan, maupun yang tengah/akan diteliti, dalam proses eksperimental masa datang), seluruh alam itu untuk mu (untuk manusia). (Al Hadist Qudsi, Shahih) Bila kita bertitik tolak dari bimbingan (hadist) Rasul Allah ini, terang sekali alam diciptakan untuk kita, untuk manusia. Untuk dimanfaatkan bagi sebesar kemanfaatan dan kepentingan manusia yang hidup di alam ini jua adanya. Dari setiap kurun dalam setiap kondisi. Lebih lanjut, manusia bukanlah objek dari alam. Tetapi sebaliknya, alam adalah objek bagi manusia. Objek bagi kepentingan, kebutuhan dan penelitian oleh manusia. Manusia adalah subjek terhadap alam itu. Bila ilmu pengetahuan alam mengenal adanya geo-centris dimana bumi sebagai pusar kendali kehidupan alamiyah, maka Allah Yang Maha Pencipta, menciptakan manusia sebagai titik sentral dari kehidupan di bumi yang alamiyah ini. Bumi tidak akan menjadi pusat perhatian, bila ditakdirkan tidak dihuni oleh manusia. Sekarang planitplanit lain sudah menjadi pusat perhatian dan bahan penelitian, justeru karena adanya manusia penghuni bumi. v

72

H. Mas’oed Abidin

Meninggalkan Lalai, Menanggalkan Malas

BAGINDA Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Salam, menyebutkan pula bahwa Ramadhan itu, disebut dengan syahrun yuzadu fihi rizqul mukmin, Berarti, "bulan dimana di dalamnya terdapat pertambahan rezeki bagi orang ber-iman". Dalam konteks ini, bermakna Ramadhan adalah bulan pertambahan. Pertambahan rezeki, untuk segala bidang. Rezeki dalam bentuk materi. Rezeki dalam bentuk pahala amaliyah-ubudiyah. Dapat diyakini, bahwa dalam hal mendapatkan rezeki, Islam mengajarkan supaya giat berusaha. Permulaan dari jihad, adalah Meninggalkan lalai. Menanggalkan malas. Menggantinya dengan giat dan rajin. Dalam segala bentuk kegiatan, segala aktivitas. Untuk keperluan dunia dan akhirat, sama saja. Sama-sama hasanah, indah, baik, dan sempurna. Dalam Islam, kebaikan akhirat itu, tergambar dalam kebaikan dunianya. Amal akhirat diperdapat melalui amalan nyata didunia ini. Akhirat, tegasnya adalah padanan dunia ini. Amalan baik disini, balasan baik disana. Amalan buruk disini, siksaan neraka disana. Pada hakekatnya, Akhirat yang baik, adalah hasil rekayasa di dunia ini. Begitu pula sebaliknya. Begitulah konsepsi Islam, tentang akhirat. Akhirat tidak diperoleh tampa dunia. Begitu pula Baginda Rasulullah Shallallahu 'alahi Wa Sallam, bersabda;
H. Mas’oed Abidin

73

"Wa’mal Li Dunyaa Ka Kaannaka Ta'isyu Abadan, (berkarya-lah anda untuk keperluan duniamu, seolah olah anda akan mendiami dunia ini selama-lamanya). "Wa'mal li Akhirat Ka-annaka Tamuutu Ghadan" (ber-amal-lah anda untuk keperluan akhirat anda, seolah-olah anda akan mati sebentar lagi). (Al Hadist). Kaedah ini bermakna, bahwa tiada hari tanpa 'amal. Tiada waktu untuk berlalai-lalai. Tiada masa bersantai-santai. Semua kita dikejar waktu. Semua manusia berburu masa, Berburu untuk mengumpulkan persediaan yang banyak, untuk keperluan bukan setahun dua tahun. Tetapi untuk pemenuhan kebutuhan dunia selama- lamanya (abadi). Untuk itu, dituntut rajin dan giat. Hemat dan penuh perhitungan. Ini, pandangan pertama. Dalam kaitan pemenuhan kebutuhan duniawi. Materials needs, pemenuhan kebutuhan materi, kata orang. Selanjutnya, untuk li-akhiratika, kepentingan hari depan, atau hari akhir kita??? Bagaimana pula ajaran Islam mengatisipasinya??? sebuah pertanyaan yang cukup ilmiah, barangkali. Islam mengajarkan, bahwa kehidupan bukan hanya sekedar, ada disini dan sekarang saja. Not here and now, kata orang di sebelah barat. Hidup itu, untuk hari ini dan esok. Not here and now, but here and after. Kata orang-orang bijak cendikia. Bahasa surau-nya, adalah hidup itu, adalah untuk masa semasa hidup ini, dan untuk hidup sesudah hidup ini. Hidup sebelum mati, dan hidup sesudah mati.

74

H. Mas’oed Abidin

Terang sekali, untuk itu perlu persiapan-persiapan matang. Untuk keperluan hidup sebelum mati, banyak bersifat materi. Karena hidup sebelum mati itu, sifatnya kebendaan. Alam takambang jadi guru. Hidup sesudah mati, tidak lagi memerlukan kebendaan. Hidup setelah mati sifatnya "immateriil", kata orang sono-nya. Dan mati sesudah siang. Bahkan perlu dinantikan. Ibarat menantii datangnya berbuka. Karena itu, konsepsi Baginda Rasulullah amatlah jelasnya. "Beramal-lah untuk akhirat-mu (keperluan hidup sesudah hidup ini) seolah-olah kamu akan mati besok pagi". Maka sebenarnya, aktifitas untuk mempersiapkan kebutuhan hidup sesudah hidup ini, waktunya tidak memadai. Walaupun setiap detik diperuntukkan hanya untuk persiapan-persiapan hidup sesudah mati itu, sebetulnya belum cukup waktu. Sebab hidup sesudah hidup ini, akan panjang sekali. Begitu panjangnya, tiada berbatas. Khalidina fiiha abadan, "masuk kita kedalamnya, selamanya, 'abadi". Jadikan Ramadhan tambahan pertambahan ubudiyah ukhrawi dan amaliyah duniawi. v

H. Mas’oed Abidin

75

Pintu Surga Terbuka

DI Bulan Ramadhan, Tertutup Pintu Neraka. Dibukakan sekalian pintu Syorga. Dirantai iblis dan Syaithan. Demikian gambaran yang dijelaskan Baginda Rasulullah, kepada kita ummat ber-iman. Satu lagi dari kemuliaan bulan suci Ramadhan ini. Telah menjadi pengetahuan kita, bahwa Neraka diperun tukkan bagi orang-orang berdosa. Orang yang kena kutukan Allah. Orang-orang kafir dan aniaya. Memang tidak lain, hanya itulah yang akan mengisi Neraka itu. Seorang yang kafir, yang dzalim, yang aniaya, yang jahat, dan banyak lagi pelaku-pelaku perangai tercela. Sebenarnya tidak usah marah, jika dikabarkan bahwa tempat mereka adalah Neraka. Karena itulah, terminal akhir dari semua bentuk kejahatan. Begitu pula halnya, bahwa syorga hanya disiapkan untuk orang-orang yang ber-iman. Yang ber-amal baik. Yang Amanah, Yang beribadah. Yang jujur. Yang berperangai baik. Pendek kata seluruh yang bermodal mulia, berperangai terpuji, akan menempati syorga. Tidak perlu iri, kalau syorga tidak dibagikan kepada para pelaku kejahatan. Telah dikabarkan juga, bahwa iblis dan Syaitan, adalah teman ke neraka. Perangai-perangai yang buruk, 76
H. Mas’oed Abidin

diidentikkan dengan kelakuan syaithan. Tindakan kejahatan, diserupakan dengan godaan iblis. Sebenarnya tidak perlu marah, jika syaitan dan iblis itu selalu bersama-sama dengan pelaku-pelaku kejahatan (kemaksiatan). Cuma saja, karena pelaku-pelaku itu, adalah manusia, seperti saudara-saudara kita. Maka wajar kalau kita merasa sedih. v

H. Mas’oed Abidin

77

Akhlak Memberi Keringanan

Perintah Shaum adalah kewajiban azasi menurut Al- Qur'an. Dibebankan kepada setiap orang. Hingga orang sakit ataupun dalam perjalanan, bahkan tua sekalipun memiliki kewajiban yang sama. Tetap melaksanakan puasa ini. Akan tetapi, Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan rukhsah atau keringanan dalam pelaksanaannya. Bagi yang sakit atau tidak berpuasa di hari bulan Ramadhan ini. Namun menggantinya di bulan bulan lainnya. Penggantian itu, bisa berbentuk puasa qadha sebagai pembayaran hutang shaum Ramadhan. Boleh pula dengan memberikan makanan untuk orang miskin, satu orang miskin untuk satu hari puasa yang ditinggalkannya. Cara yang kedua ini disebut fidyah. Shaum atau puasa Ramadhan mesti dilaksanakan sebulan penuh. Tidak boleh kurang. Begitu ketentuan Allah menurut Wahyu-Nya. "Wailitukmilul- 'iddah" yang artinya adalah "Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya". Yaitu sebulan penuh, tidak kurang seharipun. Adapun pelaksanaan shaum atau puasa sudah jelas, yakni membesarkan Allah Yang Maha Agung. Di dalam agama kita, puasa dijadikan bukti kerelaan di dalam melaksanakan perintah Allah. Puasa juga dijadikan suatu ibadah yang utama, dii dalam mengganti denda yang harus ditunaikan kepada Allah. 78

H. Mas’oed Abidin

Suatu contoh yang kongrit dapat dilihat. Jika seseorang yang tengah menunaikan ibadah haji, atau umrah ke Masjidil Haram, terlalai melaksanakan rukun hajinya, maka ia harus membayar berbentuk denda (dam). Andaikata dia tidak bisa bayar hudya atau pemotongan hewan qurban, maka para hujjaj itu dibenarkan mengganti dengan shaum (puasa). Puasa tiga hari dimusim haji (ditanah Haram), dan tujuh hari dikampung halaman, setibanya dari haji. Inilah salah satu peran shaum, pengganti hudya. Begitu pula, dikala seseorang membayar kifarat atau sumpah, maka dia juga menghapuskan kifarat itu dengan shaum atau puasa. Sering juga terjadi, dikala seseorang menyampaikan nazar terkabulnya cita-cita, maka dia juga berpuasa. v

H. Mas’oed Abidin

79

Nikmat Memberi, Syukur Menerima

Baginda Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam menyebutkan bulan Ramadhan ini, dengan sebutan Syahru- 'ilmuwasah atau bulan-berlapang-lapang". Lapang-lapang beradat. adalah adat manusia yang

Sifat yang terpuji ini hanya ada pada seseorang yang mau memperhatikan nasib dan keadaan orang lain. Lapang-melapangi adalah sifat yang dipunyai orang yang memilikii kepedulian sosial yang tinggi. Memiliki kepekaan sosial yang mendalam. Kepedulian sosial dan kepekaaan sosial amatlah mustahil dipunyai oleh orang-orang yang egoistis. Perangai yang hanya mau mementingkan dirinya sendiri akan merupakan benalu bagi pohon masyarakat. Kepekaan sosial yang mendalam itu, akan melahirkan hidup bertenggang rasa. Dan pada akhirnya menciptakan kehidupan masyarakat tolong bertolongan. Ta'aawanuu 'Alal birri wat taqwa. Saling tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa. (QS. Al Maidah, 5 : 2). Sikap kegotong royongan atau kebersamaan, yang merupakan modal di dalam gerak pembangunan, hanya akan tumbuh pada masyarakat yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Rasa peduli, adalah hikmah lain dari shaum (puasa).

80

H. Mas’oed Abidin

Baginda Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam, menyebutkan dalam sabda beliau sebagai berikut; "Seseorang yang mampu memberikan perbukaan kepada orang yang berpuasa dikala datang masanya berbuka. Walaupun itu hanya seteguk air, atau sebuah tamar (korma) saja. Niscaya dia akan mendapatkan pahala. Sebesar pahala puasa yang tengah dipuasakan orang yang diberikannya itu. Tampa mengurangi sedikitpun pahala puasa orang yang diberi itu". (Al Hadist). Berdasarkan hadist tersebut, maka seseorang dalam bulan ini, dianjurkan untuk memperbanyak pahala puasanya setiap hari. Dengan jalan "pemurah". Dengan cara peduli terhadap orang yang tengah berpuasa. Suka mengulurkan tangan memberi kepada orang lain. Yang pada akhirnya, tindakan tersebut memiliki nilai pelajaran yang mendalam. Yaitu, ikut memikirkan orang yang ada disekitarnya. Tidak hanya mementingkan dirinya sendiri saja. Dengan demikian, pada hakekatnya seseorang bisa saja melipatgandakan jumlah nilai puasanya. Melalui cara memperbanyak usaha "memberi", kepada orang lain. Memberi dan menerima adalah 'adat hidup bermasyarakaat. Take and give, kata orang. Masyarakat yang hanya mau menerima saja, dan tidak hendak memberi, adalah masyarakat yang sudah mati.

H. Mas’oed Abidin

81

Agama Islam, memulai pendekatannya dari "memberi". Menumbuhkan rasa ni'mat dalam memberi. Menambahkan rasa syukur dalam menerima. Al Yaadul 'ulya. Khairun Minal Yadis-Sufla...", kata Baginda Rasulullah. Maknanya tiada lain adalah, “Tangan di atas (yang memberi), lebih baik dari tangan yang dibawah (yang hanya menerima)". (Al Hadist). Hikmah yang terkandung di dalam bimbingan Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wa Sallam ini, tegas sekali. Bahwa setiap manusia Muslim harus menjadi ummat terbaik Ummat berkualitas, kata orang sekarang. Dan itu tergambar dari satu sikap yang mulia (khairin). Yakni menjadi ummat berkualitas tangan di atas. Ummat yang mampu untuk memberi. Untuk ummat yang mampu memberi tidaklah mudah. Karena kemampuan untuk memberi itu harus ditopang oleh adanya syarat dan rukunnya. Satu dari rukunnya adalah harus berpunya. "Punya" dalam tanda kutip. Punya meteri untuk diberikan. Punya sikap suka memberi. Punya kualitas tidak senang menerima. Punya izzatun-nafs atau harga diri yang tinggi. Suka memberi yang didorong oleh sikap jiwa dari dalam. Dan yang memberi sedemikian itu, perlambang dari "tangan yang di atas". Memberi, karena merasa mempunyai kewajiban untuk memberi. Bukan memberi, dengan maksud menerima lebih banyak. Bukan kerena berbatu kebalikan kata pepatah. dibalik udang, ucap

Karena itu, memberi yang berkualitas itu, tidak akan pernah menumbuhkan sikap angkuh dan 82
H. Mas’oed Abidin

sombong. Apalagi ria atau pamer. Satu dari sikap yang paling tercela dalam Islam. Memberi yang berkualitas itu, melahirkan rasa solidaritas (ukhuwah) yang dalam. Menanamkan kepekaan sosial yang tinggi. Bahkan meghilangkan sikap tak acuh dan membunuh sikap egoistis yang merusak tatanan kemasyarakatan. Lebih jauh, "memberi" yang berkualitas itu, karena berkewajiban untuk memberi. Akan berdampak makin dangkalnya jurang pemisah antara kalangan berpunya dan tidak berpunya. Sementara, orang yang berada pada posisi "menerima", seharusnya dapat pula menjadi "ummat yang bersyukur". Dengan menjadikan "menerima" itu berkualitas. Pihak yang "memberi" dan yang "menerima", memiliki derajat yang sama. Sama-sama memiliki kemuliaan. Yang memberi memiliki kemuliaan, memiliki tangan di atas. Memiliki kewajiban, dan berhak melaksanakan kewajiban itu. Dia akan memberikan haknya kepada pihak yang berhak menerimakan. Fii Ammalihim Haqqum Ma'luum. Lissa-il wal mahrum. Artinya: di dalam harta harta mereka, ada hak orang lain yang wajib ditunaikan", bagi yang meminta hak itu, atau yang tidak mau meminta haknya itu (tetapi sesungguhnya merreka yang tidak meminta itu, mempunyai hak di dalamnya". (QS. Al Ma'arij, 70 : 24-25).

H. Mas’oed Abidin

83

Yang menerima juga memiliki kemuliaan. Dia menerima, karena pantas menerimakan hak. Dia menerima karena memiliki kewajiban untuk menerima hak yang dibayarkan oleh yang memberi. Dia tidak menerima, lantaran yang memberi merasa terpaksa. Dia menerima, karena hendak menyelamatkan yang memberi dari dhalim lantaran menahan hak orang lain. Demikianlah prinsip ajaran Islam. Memberi dan menerima, akhirnya menciptakan tatanan hidup "aman". Karena adanya kelompok yang rela memberi, dan rela pula menerima. Kedua-duanya sama bermanfaat. Sama-sama memiliki kemuliaan. Tidak perlu ada golongan yang dibeli. Tidak pula mesti ada kelompok yang harus menjual martabat. Kepedulian sosial yang ber-keadilan sosial. Ibadah shaum (puasa), memupuk rasa memberi itu. Memberikan hanya sekedar sebutir korma, untuk pembukaan bagi yang berpuasa. Nilainya sama dengan upah puasa orang yang diberi. Yang menerima pemberian, walaupun hanya sebutir tamar, terimalah dengan kemuliaan. Karena pemberian yang diterima itu, tidak bakalan mengurangi nilai puasanya sidikit-pun. Ibadah shaum melahirkan keikhlasan yang tinggi. Yang memberi telah memberi dengan ikhlas. Yang menerima, juga menerima dengan ikhlas. La'allakum Tasykuruuma (supaya kamu bersyukur). Bersyukur adalah pandai berterima kasih. Bersyukur tidak semata sebatas mengucapkan Alhamdulillah. Bersyukur, bermakna juga memelihara apa yang ada. Mempergunakan ni'mat dikeliling,

84

H. Mas’oed Abidin

menurut ketentuan si pemberi Subhanahu Wa Ta'ala. v Melatih Kesabaran

ni'mat yaitu Allah

Jika seluruh tuntunan agama di dalam mengamalkan nilai-nilai Ramadhan ini dapat dilaksanakan, kita yakin sungguh, bahwa Allah Subhanau Wa Ta'ala benar-benar telah menjadikan ibadah ini sebagai suatu sarana bagi pendidikan masyrakat se-umumnya. Kita yakin, bila nilai-nilai Ramadhan ini teramalkan, sudah barang tentu, selesai Ramadhan ini, masyarakat kita telah terlatih memiliki cara-cara hidup yang baik. Telah terlatih menahan diri. Telah terlatih pula untuk hidup sederhana. Telah dapat pula berperangai "tenggang rasa" terhadap sesama manusia. Bisa bersikap saling hormat- menghormati. Dan yang paling utama adalah, akan lahir masyarakat yang bisa saling tolong menolong. Sikap-sikap terpuji, seperti kita sebutkan tadi, adalah hasil dari latihan selama Ramadhan. Sikap laku perangai (mental attitude) sedemikian, teranglah sudah merupakan sikap jiwa yang diperlukan di dalam pembangunan bangsa dan negara. Disinilah kita mendapatkan bahwa nilai ibadah shaum Ramadhan memiliki nilai ibadah yang tinggi. Baik untuk pribadi-pribadi maupun secara ijtima'i (kemasyrakatan). Dalam kaitannya dengan keagungan yang terkandung di dalam Ramadhan ini, Baginda Rasulullah
H. Mas’oed Abidin

85

Shallallahu 'alaihi Wa Sallam menyebutkan beberapa keutamaan bulan Ramadhan ini. Ramadhan disebut sebagai syahru-syabri, yakni bulan melatih kesabaran. Semua manusia mengetahui, bahwa sabar itu adalah sikap yang utama. Seseorang panglima di medan perang, hanya berhasil karena kesabaran yang dimilikinya. Seorang guru yang tengah mendidik, akan berhasil karena memiliki kesabaran. Seorang pencari berita, fakta dan data, akan Terkumpul karena adanya kesabaran. Pedagang di tengah pasar memerlukan kesabaran. Dokter yang sedang menghadapi pasien di meja operasi, akan berhasil lantaran memiliki kesabaran. Kesabaran tiada sekolahnya. Tidak ada juga apotik penjual "pel tablet sabar"itu. Kesabaran hanya bisa diperdapat dan ditumbuhkan melalui latihan latihan. Latihan yang paling utama ialah menahan diri. Agama menyebutkan sebagai imsak. v

86

H. Mas’oed Abidin

Puasa Membentuk Manusia Sukses

"Sesungguhnya kami telah manjadikan apa yang ada dibumi sebagai perhiasan baginya (pakaian/olahraga/alat bagi manusia), agar kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya. (QS. Al-Kahfi, 18 : 7) Di dalam pernyataan ini terselip tentang sarana untuk keberhasilan manusia dibumi. Keberhasilan, hanya diperuntukkan bagi orangorang yang disebut ayyuhum ahsanu 'amalan, sesiapa yang terbaik amalan, usaha atau fikrah mereka. Begitulah garis dari Yang Maha Pencipta manusia. Pendidikan Ramadhan diarahkan kepada insaninsan Mukmin. Dilakukan sangat intensif. Mencakup segi- segi ruhiyat (kejiwaan) dan jismiyat (fisik), sehingga terbentuk insan kamil. Yang mampu melahirkan dari geraknya sebagai jawaban nyata. ayyuhum ahsam 'amalan, siapakah yang terbaik amalan mereka. Untuk menciptakan ahsam amalan (amalan terbaik) itu, manusia memerlukan beberapa sikap positif. Antara lain berbentuk ketahanan lahir dan bathin. Selain itu juga ketabahan jiwa, keteguhan pendirian serta keandalan keyakinan. Ketelatenan dalam berusaha, atau yang disebut istiqomah (consistence), merupakan hasil dari kejernihan berfikir (positif thinking) dan kedisiplinan
H. Mas’oed Abidin

87

dalam penggunaan waktu serta pemakaian benda dan tenaga yang tepat. Secara implisit kesemua sikap positif tadi diperdapat sebagai hasil nyata dari ibadah shaum Ramadhan. Shaum (puasa) Ramadhan yang dilakukan tidak hanya sebagai ceremonial ritual (kebiasaan yang mengarah kepada tradisi), berpeluang besar untuk membentuk watak manusia yang berpuasa. Watak yang dilahirkan oleh tindakan puasa yang benar adalah "memperisai diri" dari segala sikap yang tidak baik. Ashshiyaamu jumatun, (puasa itu adalah benteng), yang akan melindungi diri dari sikap-sikap tercela. Begitu gambaran yang akan disampaikan oleh Rasulullah. Maka, shaum yang benar pasti membentuk manusia- manusia sukses, berhasil dan utuh. Sesuai sabda Rasululllah, "Sesiapa yang tidak meninggalkan kesia-siaan (laghwi) dan kecabulan (rafats), maka tidak bermakna puasa baginya" (Al Hadist). Jelaslah sudah, mereka yang melaksanakan shaum sesuai dengan bimbingan Rasul (mengikuti sunnah dengan benar), tentulah tidak akan melakukan hal yang sia-sia (percuma/waste). Selain itu, tentu tidak akan melakukan kecabulan (dalam arti seluasnya). Apakah kecabulan dalam arti pelecehan sexual, atau dalam arti perbantahan, perkelahian, kerusakan, kata-kata kotor, pemboroson, dan semacam itu. 88
H. Mas’oed Abidin

Yang lahir adalah sikap sikap terpuji, saling menghormati, saling membantu, saling merasakan beban sesama, rasa kebersamaan yang dalam, kepedulian sosial yang tinggi. Kesemuanya merupakan modal utama manusia mencapai sukses dan berhasil dalam hidup. v

H. Mas’oed Abidin

89

Tagwa Membutuhkan Watak Sabar

NILAI taqwa merupakan nilai puncak diminati dan dikejar oleh setiap mukmin.

yang

Muttaqin (orang-orang bertaqwa) mendapatkan jaminan untuk: 1. Mampu mendapatkan dari Al Quran (Wahyu Allah) untuk petunjuk, penerangan, contoh-contoh dan pelajaran di dalam menata kehidupan meteriil maupun immateriil. (lihat QS.2:2/2:66/3:138/5:46/21:48/24:34 dan 69:48). Karena itu mereka akan mudah memahami makna terkandung dalam Al Quran (Wahyu Allah) (QS.19:98). 2. Mendapatkan sorga, tempat kembali terbaik. Memperoleh kehormatan dari Allah (QS.3:133/26:90/38:49/50:31 dan 68:34). Mewarisi kehidupan akhirat yang kekal abadi , sebagai balasan terbaik dari Allah (QS.43:35). 3. Memperoleh kemenangan (QS.78:31), karena mereka selalu disertai oleh Allah (QS.2:194/9:36 dan 123). Dan akan menjadi tamu terhormat dari Allah pada hari setiap manusia dikumpulkan di Yaumil Mahsyar (QS.19:85). 4. Selalu dicintai oleh Allah Maha Pencipta. Karena keteduhan dalam memelihara sifat-sifat terpuji, menepati janji, tak suka berbuat angkuh, berlaku jujur dan lurus, selalu konsisten (istiqomah), (QS.3:76/9:4,7). 90
H. Mas’oed Abidin

5. Selalu mendapatkan jalan keluar (way out) dari setiap problema hidup yang dihadapi. Selalu mendapatkan rezeki yang baik dari sumber-sumber yang tidak disangka. Senantiasa berserah diri (tawakal) kepada Allah. Dan Allah mencukupkan keperluan baginya dalam hidup. Redha dengan ketentuan Allah, sehingga Allah pula yang akan memberikan kemudahan dalam setiap urusan. 6. Bahkan mereka akan mendapatkan penghapusan dari kesalahan-kesalahan karena mereka selalu kembali kepada Allah. Untuk mereka dilipatgandakan amalan dan pahala mereka (QS.65 ayat 2,3,4 dan5). Disinilah terlihat tingginya nilai taqwa. Membentuk watak sabar sebagai ciri-ciri orang Muhsinin (orang dan pahala mereka (QS.12:90). v

H. Mas’oed Abidin

91

Lima Asas Pembentukan Manusia Mukmin

Betapa banyaknya para shaimin (orang yang ikut berpuasa, ikut bertanggung dan menahan dari makan dan minum), tetapi tidak sesuatupun (dari nilai-nilai puasa) yang mereka peroleh, selain hanya lapar dan dahaga. (Al Hadist). Mana yang lebih banyak ditemui, antara yang mendapatkan nilai positif shaum, ataukah hanya sekedar lapar dan haus? Pertanyaan ini mengundang kita untuk merenungi lebih dalam. Nilai-nilai positif dari shaum adalah terbentuknya watak terpuji lagi mulia. Watak yang mendorong pemiliknya bertindak baik dan positif. Menjadikan lagak lakunya bermakna bagi dirinya, keluarga, masyarakatnya secara umum. Positif dan indah dalam bertetangga, berkorong- kampung, berbangsa dan bernegara. Setidak-setidaknya terdapat lima bentuk pendidikan itu tidak ada, patutlah kita bercemas diri dalam meninggalkan generasi sesudah kita. Pendidikan shaum Ramadhan itu, 1. Tarbiyyah kejiwaan. ruhiyah, pendidikan kerohanian, atau

2. Tarbiyyah ubudiyyah, pendidikan ibadah. 3. Tarbiyyah 'aqliyah (fikriyyah), pendidikan, akal, fikir. 4. Tarbiyyah akhlaqiyyah, pendidikan moral, akhalaq. 92
H. Mas’oed Abidin

5. Tarbiyyah jismiyahad keagamaan.

diniyah,

pendidikan

fisik

Kelima bentuk pendidikan ini, berkembang menjadi asas bagi pembentukan generasi manusia mukmin sepanjang masa. Dan merupakan fundamental basic dalam menciptakan generasi yang kuat. Generasi Rabbani yang mandiri. Generasi besok dibentuk oleh generasi hari ini. Apa yang akan dituang esok hari, adalah dari yang ditanam sebelumnya. Bahkan ditentukan juga oleh pemeliharaan generasi yang intensif dari apa yang sudah ditanam. Salah satu usaha pemeliharaan generasi adalah melalui pendidikan yang sambung bersambung itu. Rohani adalah pasangan erat jasmani. Yang menyebabkan ditemuinya arti kehidupan. Bila satu dari keduanya sakit maka kehidupan ini tidak akan bermakna lagi. Kedua unsur ini perlu dipelihara dengan baik. Dirawat dengan telaten. Dan segala kebutuhan dari keduanya menjadi wajib diperhatikan sungguh-sungguh. Sebuah ungkapan kuno menyatakan , “Men sana in carpore sano, “ atau "di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat". Kenyataannya yang bertemu adalah "jiwa yang kuat" dan "jiwa yang sehat" lebih menjamin terciptanya "tubuh yang sehat". Ironis sekali, bahwa titik penekanan manusia lebih banyak kepada pemenuhan kebutuhan jasmani (fisik). Seringkali terlupakan pemenuhan kebutuhan
H. Mas’oed Abidin

93

rohani (kejiwaan). Akibatnya bisa jadi fatal bagi manusia itu. Seharusnya, bila kebuthan rohani tidak bisa diutamakan, setidak-tidaknya antara kedua kebutuhan (rohani dan jasmani) wajib mendapatkan pemenuhan yang sama-seimbang. v

94

H. Mas’oed Abidin

Keberhasilan Ibadah, Karena Kesediaan Mengatur Diri

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya menyembah-Ku (beribadah kepada-Ku) "(QS. Adz Zariat,51 : 56) "Ibadah" atau pengabdian kepada Allah Khaliqul 'Alam selalu hanya didasari kepercayaan dan kepatuhan (ketaatan) kepada-Nya. Ibadah adalah sesuatu yang digariskan oleh Maha Pencipta. Ibadah adalah sesuatu yang ditentukan oleh Ma'bud (=Yang Disembah). Ibadah sama sekali bukan ditentukan oleh yang menyembah ('abid). Ibadah mengandung makna dan jangkauan yang mendalam. Di dalamnya terlihat makna dari pengakuan atau syahadah. Terlihat nyata tindakan berupa pengabdian atau penghambaan, secara utuh. Disertai kerelaan dan kesetiaan. Gambaran ibadah seperti itu dirasakan langsung oleh setiap shaimin (orang yang berpuasa), dibulan Ramadhan. Sari pati yang diperdapat dengan Ramadhan adalah kemenangan dari satu perjuangan berat. Perjuangan yang disebut jihadun nafsi. Melalui ibadah yang teratur rapi, sejak dari makan sahur, imsak (menahan) sehari penuh. Dan kemudian berbuka (ifthar) dengan cara sederhana tidak berlebihan. Hingga mendirikan (qiyamul-lail) malam Ramadhan. Baik

H. Mas’oed Abidin

95

berupa shalat tarawih, tadarus (membaca ayat-ayat Al Quran) atau istiqhfar, zikir, dan ibadah lainnya. Semua itu dirangkaikan secara teratur dan disiplin yang terjaga. Kerangka ini adalah suatu kesungguhan (jihad) yang amat memerlukan ketepatan yang sungguh-sungguh. Tidak bisa dilakukan dengan keengganan atau sambilsambilan. Keberhasilan ibadah ini hanya dimungkinkan karena adanya tekad yang kuat, untuk mangatur diri (self control). Jihadun nafsi dalam suatu ibadah, tampak dalam perjuangan mengendalikan diri, menjinakkan hawa nafsu, yang selalu bersikap pantang kerendahan dan pantang pula terlangkahi. Rasulullah SAW memberikan ukuran yang jelas. "Bukanlah dimaksud berpuasa, hanya sekedar tidak makan dan tidak minum belaka. Berpuasa itu sesungguhnya adalah kesanggupan mengendalikan diri dari berbuat dusta, dari berbuat keonaran dan kebathilan, dan dari segala kelancangan (omongan yang tidak berguna) "(Al Hadist). Keberhasilan lainnya adalah "kemampuan membentuk diri melakukan ibadah yang berguna". Ibadah sebagai suatu deklarasi dari ajaran tauhid. Laa ilaaha illallah. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain hanya Allah. Ini berarti, setiap manusia yang mengakui ajaran tauhid, akan selalu menyembah kepada-Nya. Selalu pula meng-Esa-kan Nya. v

96

H. Mas’oed Abidin

Mengendalikan Diri Berjihad Akbar

BAGINDA Rasulullah mengungkapkan di dalam sabda beliau, artinya "Seseorang tidak dikata mujahid karena melompati musuh di medan laga. Tetapi yang mujahid itu, adalah menahan diri (memiliki ke-sabaran)". Berani tampa perhitungan, bukanlah contoh orang yang sabar. Perhitungan yang matang, dan kesabaran jualah yang sebenarnya mendorong seseorang untuk bertindak benar. Pada akhirnya, kebenaran pula yang menyebabkan seseorang berani dalam bertindak. Berani untuk berjuang mempertahankan kebenaran itu. Jadi, kesabaran terlihat pada kemampuan seseorang mengendalikan dirinya. Para petinggi negara, para diplomat, para ilmuwan, pendek kata para intelektual, dituntut memiliki kesabaran sebelum mereka bertindak di dalam mengemban tugas-tugasnya. Kemampuan pengendalian diri ini, tidaklah urusan sepele. Dia merupakan urusan besar dan berat. Begitu beratnya, maka Baginda Rasulullah menyebutkannya sebagai "jihad akbar", atau "perjuangan yang berat". Sepulangnya dari Perang Uhud yang terkenal itu, dimana para syuhada banyak berguguran, Baginda Rasulullah bekata, "Kita baru saja keluar dari jihad (perang) yang kecil saja. Kita akan memasuki jihad (perang) yang lebih besar lagi", kata beliau.
H. Mas’oed Abidin

97

Pernyataan Baginda Rasulullah ini, mengundang heran dan tanya para sahabat setia dan pengikut beliau. Keterheranan mereka ini, diungkapkan dengan tanya yang langsung ditujukan kepada Baginda Rasulullah, "MANA LAGI PERANG (JIHAD) YANG BESAR ITU, WAHAI BAGINDA RASUL?" Seolah-olah dengan pertanyaan itu, para sahabat menilai bahwa perang baru ditinggalkan tadi, sudah dirasakan sebagai perang yang paling besar, yang pernah dialami mereka. Serta-merta Baginda Rasulullah menjawab, “JIHADUL AKBAR, JIHADUN NAFSI"(Al Hadist). Jihad (perang) yang besar itu, adalah jihad (perang) mengalahkan nafsu (mengendalikan diri), kata beliau. Jihadun nafs (perjuangan mengendalikan diri) ini, tempat latihannya adalah ibadah shaum atau ibadah puasa. Shaum atau puasa itu, diawali dan diakhiri pengendalian diri". Kita bisa merasakan sungguh, bagaimana kita mulai menahan, sesudah sahur berakhir pagi tadi. Tiada semenit- pun masa toleransi. Jika waktunya telah tiba, walaupun perut masih meminta, kita rela membasuh jari mengakhiri makan sahur tadi. Begitu pula, dikala kita sebentar lagi, disore nanti akan berbuka puasa. Sungguhpun penganan telah tersedia dimeja dihadapan muka. Kita belun akan mau menjangkaunya, jika waktunya belum tiba. Tinggal semenit lagi, kita rela menanti. Alangkah dalamnya perlajaran ini. Latihan disiplin yang tinggi, dan pengendalian yang utuh. 98
H. Mas’oed Abidin

Sebuah latihan, hanya bisa dilihat berhasil atau tidaknya, setelah masa latihan itu terlewati. Begitu pula, keberhasilan kita melaksanakan puasa (shaum) ini, terlihat berbekas, jika kita mampu memiliki sifat-sifat disiplin, dan terkendali diri, sesudah Ramadhan pergi. Makin tinggi nilai bekasnya di dalam diri. latihan kita, makin lama

Di dalam pembangunan bangsa yang tengah kita alami sekarang, yaitu PJPT-II (Pembangunan Jangka Panjang Tahap Kedua) dihadapan mata kita. Teranglah tugas setiap individu semakin berat. Kita memerlukan manusia yang berkualitas. Memiliki disiplin yang tinggi dalam setiap kondisi. Kita amat memerlukan bangsa yang tangguh dan ampuh manjalaankan misi pembangunan, disegala bidang. Kita juga amat menghajatkan manusia yang rela menahan diri, berhemat, dan ikut merasakan penanggungan teman lainnya. Memiliki rasa solidaritas (ukhuwah) yang men-dalam. Semuanya hanya bisa diciptakan, melalui latihan latihan yang terus menerus. Kesempatan selalu dibukaan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, melalui ibadah puasa (shaum) ini. Akankah kita biarkan saja Ramadhan tahun ini berlalu tampa kesan. Tampa ada usaha kita mengambil nilai-nilai mulia yang terkandung di dalamnya. tentu tidak. Maka, sewajarnyalah setiap kita berusaha sekuat daya, supaya lingkungan kita dimanapun kita berada, bisa menerapkan amalan puasa (shaum) ini.
H. Mas’oed Abidin

99

Inilah tujuan utama, Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan shaum (puasa) itu. La'allakum Tattaquuna. Supaya kamu menjadi orang-orang yang terpelihara, terlindungi. Bangsa yang bertaqwa, adalah bangsa yang mawas diri. Demikian hendaknya. v

100

H. Mas’oed Abidin

Manusia Yang Taqwa Tidak Sombong

PENDIDIKAN rohani adalah penanaman aqidah imaniyah sedari dini. Pertalian antara Khaliq dengan makhluk-Nya. Aqidah Tauhid, mempercayai hanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada yang berhak disembah selain dari pada-Nya. Kalimat Tauhid adalah kalimat thayyibah. Yang bersemi di dalam kalbu mukmin, ibarat sebuah pohon yang baik dan subur. Uratnya menghujam bumi, dan pucuknya melambai awan. Dari setiap rantingnya muncul buah yang ranum setiap masa. Melahirkan amalan-amalan yang baik dengan izin (bimbingan) Tuhannya. Begitulah perumpamaan yang diberikan Allah terhadap manusia, supaya mereka memikirkan.. (QS.Ibrahim, 14 : 24-25). Taqwa, artinya terpelihara. Orang yang bertaqwa selalu memelihara diri untuk senantiasa mengerjakan apa- apa yang disuruhkan oleh Allah. Dan juga memelihara diri dari apa yang dilarangkan oleh Allah. Taqwa itu, sebagaimana dirumuskan, "mengerjakan yang disuruhkan dan meninggalkan yang dilarangkan oleh Allah." Terlihat disini adanya unsur kepatuhan kepada Allah semata. Lebih dalam lagi, setiap yang dikerjakannya, dan semua yang ditinggalkannya, adalah karena Allah semata. Hanya karena mengharapkan redha Allah.

H. Mas’oed Abidin

101

Taqwa merupakan buah dari iman. Bukan sekadar polesan dari luar. Maka dapat dimengerti, taqwa adalah sikap jiwa yang mantap dan mengakar dari iman. Taqwa letaknya di sini (sambil Rasulullah menunjuk ke dada beliau. Dan diucapkan sampai tiga kali). Begitulah bila kita lihat rumusan Rasulullah tentang peranan taqwa dalam pembentukan jiwa manusia. Manusia bertaqwa memiliki sikap-sikap perbuatan yang terpuji. Diantaranya, memiliki kesabaran yang tinggi. Tidak angkuh dan tidak sombong. Tidak diperbudak oleh benda tetapi mampu menguasai benda/materi (QS. 11:49). Tidak suka berbuat kerusakan dan kebencanaan dalam hidup (QS.28:83). Menjadi panutan di tengah kehidupan (QS.25:74). Mewarisi kesuksesan dalam hidup di bumi. Dan memiliki peluang akhri yang lebih baik (QS.7:128). Dalam perjalanan hidupnya orang-orang bertaqwa selalu memilih yang terbaik. Senantiasa bertindak dengan perangai terpuji. Tidak pernah terhalang dirinya untuk berbuat kebaikan. Segera menyambut amal baik denan ikhlas. Begitulah sikap yang menonjol yang selalu dikenal oleh Allah (QS. 3 :115, 9 : 44). v

102

H. Mas’oed Abidin

Kesetiaan Manusia Hanya untuk Allah

Pengakuan terhadap eksistensi Allah, karena hanya Dia lah Maha Pencipta. Allah Yang Maha Agung, pemilik segala jagadraya beserta segala isinya. Bahkan seluruh mekanisme alam ini tunduk kepada hukum-hukum menurut ketentuan Allah semata. Allah, Dialah Yang Maha Besar. Allahu Akbar. Laailaaha Ilallah. Tiada Tuhan selain Allah. Pengakuan yang menggambarkan pengabdian tanpa reserve. Hubungan manusia dengan Khaliq (hablum minallah) penaka hubungan seorang hamba sahaya yang setia terhadap tuannya. Dalam hubungan ibadah seperti itu, seorang hamba sanggup dan rela mengorbankan apa jua, yang diminta oleh Tuhannya. Dalam hubungan ibadah itu tercipta rasa bahagia yang hakiki.. Seorang insan yang berikrar dengan kalimat tauhid ini, akan bersedia mematuhi kehendak Allah, dimana dan kapan saja. Demikianlah bukti suatu ibadah. Buah atau bukti dari pengakuan terhadap kekuasaan Allah semata. "Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, dan ibadahku, dan hidupku, dan matiku, hanyalah untuk Allah, Penguasa semesta Alam. Tiada sekutu bagi Nya. Dan demikian itulah diperintahkan kepadaku, dan aku
H. Mas’oed Abidin

103

adalah orang yang pertama- tama menyerahkan diri kepada Allah." (QS. Al An'am, 6: 162-163). Allah Rabbul 'Alamin, pengatur, pemelihara dan mengasihi serta menyempurnakan seluruh alam. Dialah hanya yang berhak mendapatkan pujian. Di sinilah letak persoalan yang sebenarnya. Bahwa ketaatan, kepasrahan, ketundukan dan kesetiaan manusia-sebagai makhluk, hanya teruntuk kepada Allah. Semua aturan tentang alam ini ada pada kuasa Nya semata. Berulang kali, di kala para utusan (Rasul Allah) datang ke tengah kehidupan manusia, selalu membawakan Risalah yang sama. Wahai kaum-ku (ummat manusia seklian), Sembahlah hanya kepada Allah, Tiada Tuhan yang berhak disembah olehmu, kecuali hanya Allah semata, Deklarasi "Tiada Tuhan selain Allah", merupakan kunci pembebasan manusia. Pembebasan jiwa manusia dari setiap jerat dan belenggu. Deklarasi itu pula yang mendorong kekuatan intelektual maupun material supaya terbebaskan dari belenggu perbudakan. Yang ada hanya penghambaan kepada Allah semata. Kekuatan itu telah memberikan dorongan hidup bagi jiwa yang ingin merdeka dari penindasan penjajahan. 104
H. Mas’oed Abidin

Di limapuluh tahun silam, kekuatan ini terbukti berkekuatan ampuh memutus belunggu penjajahan atas bahwa ini. Sehingga kekuatan yanglahir dari kalimat tauhid ini berperan besar memanggil para putra terbaik bangsa ini. Untuk menyerahkan jiwa dan raga. Menggantikan dengan syahid dan kemerdekaan bangsa. v

H. Mas’oed Abidin

105

Manusia Modern Dapat Menjadi Manusia Biadab.

Kalimah Thaiyyibah dapat melepaskan manusia dari beban mental psikologis. Kalimat thaiyyibah mampu mengobati jiwa yang kacau balau. Kalimat tauhid ini pula yang akan memberikan piagam sejati bagi kemerdekaan dan kebebasan manusiawi, dari segala macam bentuk perbudakan kebendaan. Implementasi dari kalimat tauhid akan mengangkat derajat manusia. Dari kaula yang dikuasai materialistik, kepada kaula yang menguasai materialistik. Dari genggaman erat kebendaan kepada menggenggam erat benda duniawi untuk kemaslahatan hidup duniawi dan ukhrawi. Disinilah ditemui hakikat tertinggi dari satu tindakan ibadah. Suatu pendidikan ubudiyah yang terlahir dari ajaran Tauhid yang authentik. Setiap incan yang arif akan mengerti, bahwa Ramadhan merupakan arena untuk menyahuti panggilan Allah. Menghidpkan rohani, menyehatkan jasmani dan menggairahkan akal fikiran.

Di setiap relung-relung hari Mu Sekujur muslim menyahuti panggilan Mu dengan ingatan dan sebutan, dengankalimat tasbih memuji Mu 106
H. Mas’oed Abidin

dengan bacaan Al Qur'an Kitab Mu Di sana, kelak setiap jiwa pasti membaca kitab amalan-Nya dan alangkah malangnya wahai badan, yang membiarkan kedua kakinya tergelincir terjerembab. Betapapun pandai dan modernnya manusia, ternyata mereka tetap memerlukan Tuhan. Sejak sejarah manusia masa lalu, hingga ke masa kini telah menunjukkan bukti. Bahwa tanpa pedoman Wahyu, akhirnya manusia akan tergelincir, terjerembab. Manusia akhirnya akan mengalami kefatalan dalam bertindak. Hanya karena mengandalkan kedigjayaan akan fikiran yang berkemampuan amat terbatas itu. Manusia sedang meniti kepunahan dari manusia-manusia pandai dan modern. Di satu ketika mereka sampai kepada satu pengakuan bahwa sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa. Manusia modern dengan peradaban dapat saja menjadi manusia yang paling biadab. Bahkan bertindak paling mengerikan. Dikala kemampuan akal fikiran mulai meninggalkan atau menyisihkan norma-norma Tuhan. v

H. Mas’oed Abidin

107

Kehancuran Bermula dari Kesewenangan Para Mutrafin

PENDIDIKAN akal, tidak hanya sebatas ilmu pengetahuan dan teknologi saja. tercakup juga jiwa dari akal sehat itu, nilai-nilai agama dan nilai-nilai ajaran tauhid. Hikmahnya, semua gerak dan tujuan kehidupan baik secara individual (pribadi) maupun kolektif (masyarakat) tidak hanya dalam batas ruang lingkup kecil. Tetapi mencakup lingkungan yang luas (dunia dan akhirat). Maka akal pikiran manusia dididik untuk diarahkan pada pencapaian mardhatillah. Mendapatkan redha Allah. Firman Allah SWT, "Jikalau seandainya penduduk negeri- negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada meraka keberkatan dari dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat kami itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (sebagai buah dari pikiran yang kosong dari pendidikan ketauhidan)" (QS. Al Isra, 7: 96). Peringatan Allah selanjutnya, “Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah dinegeri itu (supaya mereka mentha'ati Allah), tetapi merekamelakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan

108

H. Mas’oed Abidin

(ketentuan), kami kemudian hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya". (QS. Al Isra', 17 : 16). Jadi kehancuran dari saru negeri, kaum maupun bangsa, bermula dari kesewenangan para mutrafin (pemegang posisi dinegeri itu). Apakah mereka itu para penguasa atau pemilik ilmu pengetahuan. Pada saatnya kita sekarang menolehkan pandangan ke kiri atau ke kanan untuk saling mengulurkan tangan dalam melaksanakan amar makmur dan nahi munkar itu. v Jangan Berbuat Bencana di Bumi

DIKALA norma-norma Tuhan dalam kehidupan ditinggalkan secara sadar, manusia mulain mengelola kepentingannya menurut pola sendiri. Ambisi dan individualistis akan menjadi raja yang wajib diikuti. Terbitlah perlombaan keinginan nafsu. Dalam perjuangan keras, sering kali manusia terjaring dalam perangkap memperturutkan kecendrungan gila yang datang dari dalam dirinya. Dorongan menyelamatkan diri sendiri lebih dominan daripada mengutamakan kepentingan orang banyak. Kemajuan yang diperdapat selain mempertahankan mati-matian. Sering kali bisa menjadi ibarat pisau bermata dua. Bisa mencelakakan kehidupan manusia itu sendiri. Yang demikian bisa terjadi karena kesenjangan yang terciptakan ditengah kehidupan maju, berupa hilangnya keseimbangan.

H. Mas’oed Abidin

109

Keadilan, kesejahteraan, rasa persamaan, keamanan, yang menjadi dambaan sudah sulit ditemui. Yang tersua sering kali kebalikannya. Penindasan dan destruksi terhadap jaringan hidup masyarakat pada gilirannya melahirkan keresahan dan kekalutan. Kenapa semua bisa terjadi? Karena manusia tidak merasa bertanggung jawab terhadap kekuasaan Allah. Kehidupan manusia hanya menuntut batas pertanggungjawaban usaha sebatas diri manusia sendiri. Hukum Allah sudah sering ditinggalkan. Manusia kehilangan kesadaran. Sebenarnya dirinya memikul keterbatasan. Dalam berbagai urusan sebenarnya manusia tidak memiliki kesanggupan yang cukup untuk memahami seluruh aspek realitas kehidupan ini. Bahkan secara nyatanya hanya berkemampuan menangkap beberapa segi saja dari aspek yang kompleks ini. Sebenarnya manusia selalu dikaburkan pandangannya oleh kepentingan atau keinginan nafsu yang picik dan tidak bijak. Sebenarnya mengandalkan semata-mata akal pikiran bukan satu-satunya jawaban dalam hidup. Akal dan pikiran yang jernih pasti akan menangkap jelas, bahwa batas-batas yang ditetapkan mutlak diperlukan oleh manusia. Melalui batasan-batasan yang dibuatkan oleh Allah sebenarnya manusia bisa membuat legislasi, motivasi dan modernisasi dalam seluruh segi kehidupannya. Allah menerangkan dengan jelas, “Janganlah kamu berbuat 110
H. Mas’oed Abidin

bencana dibumi. Sungguh Allah tidak menyukai pembuat bencana (pelanggaran batas-batas yang ditetapkan Allah)" (QS. Al Qashash, 28 : 77). v

H. Mas’oed Abidin

111

Nasehat Tanda Kasih, Larangan Tanda Cinta

DALAM tatanan-gaul, setiap Muslim mempunyai kewajiban asasi. Kewajiban untuk memberikan nasehat kepada sesama saudaranya. Kewajiban untuk menyampaikan yang ma'ruf (amar ma'ruf). Kewajiban memperingatkan agar tidak terjerambab kejurang ke-munkar-an atau nahyun'anil munkar. Kewajiban itu dilakukan secara tulus. Kaena Iman kepada Allah. Agama itu nasehat ucap Baginda Rasulullah. "Amar ma'ruf-nahi munkar" dilaksanakan bukan karena benci. Bukan karena iri. Apalagi karena sakit hati. Dilaksanakan dalam kerangka nasehat-menasehati. Dan disampaikan hanya semata-mata karena kecintaan sejati. Sama-sama ingin masuk surga. Sama-sama ingin terhindar dari neraka. Sama-sama terbebas dari godaan iblis-syaitan. Apakah, usaha amar-ma'ruf dan nahi-munkar itu tidak sesuai dengan harkat-martabat kemanusiaan? Amar ma'ruf nahi-munkar dilaksanakan, semata-mata supaya maratabat manusia tetap berada dalam peri- kemanusiaannya. Hanya bisa dilakukan karena mahabbah. Karena kasih sayang sesama manusia. Dalam kaitannya dengan bimbingan Baginda Rasulullah. Bahwa di bulan Ramadhan ini, “dibukakan pintu syurga". Maka yang paling pantas dikerjakan adalah amalan-amalan yang mendekatkan kepada pintu syurga itu. Yaitu segala usaha kepada "kebaikan" dalam 112
H. Mas’oed Abidin

arti yang hakiki. Kebaikan yang diajarkan Allah dan Rasulullah. Kebaikan yang menjadi warna "fitrah" kemanusiaan itu. Andai kata, selama sebelas bulan dalam setahun, masih terlalaikan amal-amal kebaikan. Selama sebulan Ramadhan ini, jangan pula sempat diabaikan. Inilah bulan, tempat kita berpacu berbuat kebaikan kebaikan itu. Terhadap arti dzahir hadist Baginda Rasulullah, memang kita yakini bahwa dibulan Ramadhan ini, pintu syurga memang dibuka. Itulah keyakinan mukmin, terhadap sabda Baginda Rasulullah. Namun maknanya akan lebih tepat, bla kita meyakini, bahwa kebaikan lebih utama dilaksnakan dihari ini. Bagi yang melakukan kejahatan, bertaubat adalah tindakan yang paling tepat. Maka puasa (shaum) di sini, tidak hanya sekedar menahan haus dan lapar. Tetapi lebih utama disamping itu, menahan dari berbuat kejahatan. Akan halnya "dikunci pintu neraka", merupakan peringatan keras, bahwa dibulan Ramadhan ini jangan lakukan juga perbuatan yang membawa ke neraka itu. Jangan berteman dengan syaitan. Jangan ditiru-tiru lagak-lagu syaithan. Dengan segala tipu daya yang tidak senonoh itu. Jelaslah, bahwa di bulan Ramadhan ini, setiap muslim yang beriman, akan menjadikannya sebagai bulan lomba dan bina. Berlomba-lomba kepada kebaikan. Saling menanamkan kebaikan. Bulan gerakan masal memasyarakatkan puasa (shaum) dan nilai-nilai
H. Mas’oed Abidin

113

Ramadhan", serta "mempuasakan (shaum) masyarakat dari segala perbuatan dan kelakuan yang tidak terpuji". Sebagai ucapan yang lazim kita pakai sehari-hari, dewasa ini. Sudahkan tujuan dan jiwa Ramadhan seperti itu, kita tebar luaskan dalam kenyataan. Sebuah pertanyaan, yang mengundang setiap individu untuk menjawabnya. Dengan amal perbuatan sendiri, mudah-mudahan tercipta...Fastabiqul khairat! v

114

H. Mas’oed Abidin

Di Dunia Menanam di Akhirat Menuai

Dikatakan lagi, dalam bimbingan Baginda Rasulullah, bahwa masa di dunia ini ibarat menanam. Akhirat nanti menuai buahnya. Baginda Rasulullah 'alaihi Wa Sallam bersabda: "Ada dunya daarur'amal, wal akhirah daarul jazaa". "Dunia ini tempatnya berbuat 'amal (karya), dan di akhirat adalah tempat mendapatkan balasan (dari amalan semasa di dunia ini)" (Hadist). Manalah mungkin ada beras, bila tidak ada padi. Buah padi itu adalah hasil dari benih padi yang ditanamkan jua. Buah padi tidak tumbuh dari benih jagung atau lainnya. Di bulan Ramadhan, kata Baginda Rasulullah, yang maksudnya: "amalan-amalan yang wajib, seperti tujuh puluh kali lebih baik dari pada amalan serupa diluar bulan Ramadhan. Amalan yang sunat-sunat dibulan Ramadhan, seumpama nilainya wajib diluar Ramadhan." Ini adalah suatu kelebihan lain dari bulan Ramadhan itu. Maka, bermakna bahwa Ramadhan sebetulnya adalah sarana bagi pertambahan nilai ibadah kita yang kurang- kurang selama ini. Penekanannya terletak kepada "aktifitas" Kepada gerak untuk melaksanakan 'amalan. Nilai sebuah 'amal (karya) tidak akan berarti apaapa. Jika tidak ada usaha merealisir amal (karya) itu.

H. Mas’oed Abidin

115

Sebuah bangunan belum akan berwujud bangunan, kalau masih di atas blue-print, gambaran saja. Bagaimanapun tingginya nilai Ramadhan, tingginya nilai pahala amalan selama bulan Ramadhan, besarnya balasan bagi orang-orang di dalam bulam Ramadhan, namun, nilainya yang tinggi, pahala yang besar, keutamaan yang ada, hanya akan diperoleh bagi mereka yang beramal jua adanya. Bagi yang senang menghitung-hitung, tetapi tak kunjung berbuat, hasilnya akan nihil. Kosong melompong. Yang mendapatkan bangunan yang indah, tidaklah si pembawa gambar blue-print. Yang mendapatkan bangunan yang indah adalah yang berusaha membuat bangunan itu (merealisirnya) sesuai gambar blue-print. Yang memiliki aktifitas, akan mendapatkan hasil sesuai dengan aktifitasnya. Demikian sebuah realita dalam ajaran Islam. Maka dapatlah dikatakan, dorongan tinggi nilai ibadah dalam Ramadhan, semata-mata adalah dorongan supaya manusia memiliki ethos kerja yang tinggi. Ramadhan membentuk watak pekerja, bukan pemimpi. Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Wa likullin darajaatun mimma 'amiluu. (Dan masingmasing orang memperoleh derajat-derajat-yang seimbang dengan apa yang dikerjakannya). "Wa maa rabbuka bi- ghafilin 'amma ya 'maluuna (Dan, Tuhanmu 116

H. Mas’oed Abidin

Allah tidak pernah lengah dari apa-apa yang mereka telah kerjakan) (QS. Al An'aam, 6 : 132). Derajat sebuah kaum, tidak terletak kepada konsepsi pemikiran saja. Tetapi kepada "pengamalan" konsepsi itu. Lihatlah contoh konkrit. Ummat Muslim, tidak dipilih menjadi "Ummat Tauladan". Ketauladanan itu, tidak akan pernah ada, bila ummat Muslim tidak kunjung mengamalkan ajaran-ajaran Islam itu, "Islam itu tinggi, dan tidak ada, yang mampu mengatasi ketinggiannya". kata Baginda Rasulullah. Tetapi di tengah kehidupan ummat Islam, Islam tidak akan tinggi, selama ummat Islam pula yang merendah-rendahkannya. v

H. Mas’oed Abidin

117

Tuju Hal yang Pasti, Tinggalkan Spekulasi

Bila kita menyimak lebih mendalam, maka kita akan sampai pada kesimpulan, bahwa ibadah dalam Islam tidak menyebabkan kegiatan-kegiatan rutin mestui dihentikan sepenuhnya. Agama Islam dtidak mengenal adanya penyendirian dalam ibadah. Berjamaah (bersama-sama) memiliki nilai lebih dibandingkan dilakukan sendiri-sendiri. Contohnya untuk shalat berjamaah. Sungguhpun dianjurkan melaksanakan shalat tahajjud (shalat malam), tetapi itu dilakukan sejenak setelah tertidur. Masih tidak disuruh lebih dahulu mengasingkan diri. Hidup terpisah dari lingkungan bukan begitu ajaran Islam. Masih dalam hubungan ibadah shalat. Jika datang seruan untuk shalat Jum'at (lihat firman Allah, QS. AL Jumu'ah, 62 : 9) lengkapnya berarti; "Wahai orang yang ber-iman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." Perintah Allah sesungguhnya memberikan dorongan besar. Pertama, shalat Jum'at lebih baik dari pekerjaan berharga sekalipun seperti jual beli yang menghasilkan keuntungan (laba). Karena itu laksanakanlah shalat Jum'at karena labanya lebih besar dari perdagangan (jual beli).

118

H. Mas’oed Abidin

Kedua, sebenarnya umat muslimin itu kalau tidak sedang beribadah (shalat), kehidupannya tentulah dipasar (ditempat-tempat berusaha). Ayat ini juga menggambarkan kehidupan yang seimbang antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Ketiga, selesai beribadah laksanakan tugas-tugas rutin. Dalam melaksanakan tugas rutin itu panduannya adalah mencari redha Allah. Keempat, bahwa sebenarnya orang-orang mukmin itu menghitung secara matematis. Ibadah shalat Jum'at sebagai contoh yang waktunya hanya beberapa puluh menit saja menjanjikan keuntungan ukhrawi yang berkali-kali lipat. Sementara perdagangan yang memakan waktu lebih panjang masih menjanjikan keuntungan yang spekulatif. Maka secara sistematis, seorang mukmin dengan dorongan iman dan ilmu memilih hal yang pasti dan meninggalkan hal yang bersifat spekulasi. Dalam beribadah, motivasinya adalah mencari redha Allah. Redha Allah ini mutlak, karena Allah telah menyediakan segala-galanya untuk hidup kita. Kehidupan manusia dan hidupnya nilai-nilai kemanusiaan, yang berperikemanusiaan. v

H. Mas’oed Abidin

119

Kesediaan Jadi Kader Pembangunan Umat

ALHAMDULILLAH, pada bulan Muharram 1416 H, seluruh Jemaah Hajji kloter dari Sumbar telah sampai kembali ke kampung halaman masing-masing. Semoga semuanya menjadi hajji yang mabrur dan makbul dan berterima disisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sesuai doa yang dibisikkan dibawah lindungan ka'bah dipelataran Masjidil Al Haram ditanah Suci Makkah Al Mukkaramah dalam beberapa hari yang lewat itu. Dalam thawaf dan sa'i serta wukuf di 'Arafah. Di antara mereka memang ada yang tidak sempat kembali ke kampung halaman. Menemui sanak keluarga. Karena Allah telah memanggil mereka pulang kehadirat-Nya. Ada yang menempati pekuburan Ma'laa di Makkah atau Baqii di Madinah, bahkan juga di Jeddah. Semua mereka dipanggil ditengah-tengah perjalanan suci, menyahut panggilan-Nya jua. "Panggilan-Mu, aku taati, Ya Allah, panggilan-Mu ku patuhi Tak ada sekutu bagi-Mu" "Sungguh kepunyaan-Mu-lah segala puja dan puji. Nikmat dan Kekuasaan. Tak ada sekutu bagi-Mu." Kalimat talbiyyah seperti ini telah berkumandang. Sedangkan berangkat meninggalkan rumah. 120
H. Mas’oed Abidin

Meninggalkan kampung halaman. Menuju rumah tua (baitil/atiiq) di Makkah Al Mukarramah. Hanya berselimutkan dua potong handuk putih. Tak berjahit membalut badan. Tampa ada pakaian dalam sepotongpun. Menanggalkan segala atribut yang sehari-harian biasanya dipakai. Meninggalkan segala kemewahan dan keharuman. Bertanggang mata, berdiang terik panas mentari padang pasir. Yang suhunya di atas 50 (lima puluh) derajat Celcius. Melebihi setengah titik didih, menerpa kepala tampa penutup. 'Panggilan-Mu ku ta'ati, Ya Allah'. Rasulullah mengibaratkan perjalanan hajji itu seperti perjalanan seorang yang rambutnya dan pakaiannya kusut masai berdebu dalam perjalanan musafir menempuh perjalanan yang jauh. Atau orang-orang yang bau badannya menusuk hidung lantaran tidak sempat membersihkan serta pula berharum-harumman. Semuanya terjadi karena masing-masing disibukkan oleh kerja keras dan ibadah semata. Maka perkalanan hajji di sebut pula sebagai rihlah ibadah. Karena itu, maka Rasulullah menyebutkan upah mereka, dengan ungkapan bersahaja berisikan makna mendalam. "Hajji yang mabruur tidak ada baginya pembalasan selain Syorga" (HR Imam Ahmad dan Baihaqi). Kemabruran itu ada karena adanya pembinaan peribadi. Setelah menempuh latihan-latihan berat dan masa-masa sulit. Kesabaran dalam menghadapi setiap
H. Mas’oed Abidin

121

rintangan alam. Meninggalkan kemewahan dan kesenangan. Mencari keredhaan Allah Khaliqul Rahman. Dan mematuhi setiap aluran, kepatuhan dan peraturan (sunnah dan syari'at), yang tergambar dalam setiap gerak manasik. Dapatlah dikatakan, kemabruran hajji 'para hujjaj' terlihat nyata sekembalinya dari menunaikan ibadah hajji. Selain dari pakaian jubah, kaffieh putih, dan selendang di bahu yang mewarnai para hujjaj turun tangga pesawat dibandara. Maka yang lebih utama adalah pakaian jiwa berupa libaasut taqwa = perhiasan taqwa membalut hati dan jiwa para hujjaj kita. Inilah jawaban yang paling diharapkan. Jawaban itu terlihat dikeseharian kita dalam membasmi kelaparan, kemiskinan dan menyebarkan keselamatan melalui usaha-usaha pribadi, berkelopok atau bermasyarakat. Kesaabran yang tinggi, kebersamaan yang mendalam dengan saling membantu (ta'awunitas). Serta kesediaan diri menjadi kader pembangunan ummat. Tugas ini sungguh berat, namun tinggi nilainya sebagai mata rantai pembangunan bangsa, dalam mencari redha Allah. Hendaknya jangan ada antara para hujjaj kita yang pulang dengan membawa hajji marduud. Haji yang ditolak. Yang kalau dia pedagang, masih tetap membumbui tipu-tepok. Kalau dia seorang guru, masih mengajarkan nilai-nilai contoh yang negatif. Bahkan kalau pejabat, masih tidak melaksanakan tanggung jawab secara amanah. dari 122 Sikap perilaku yang negatif, semestinya terjauh tindak perbuatan para hujjaj. Yang tentunya
H. Mas’oed Abidin

senantiasa mengharap kemabruuran itu.

kepadanya

diberikan

Dalam usaha mensyukuri dan melestarikan nikmat Allah kepada setiap kita, perlu senantiasa menyucikan dan membersihkan iman-tauhuid dengan selalu meningkatkan pemahaman kita terhadap ke-Agungan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Membersihkan diri dan pemahaman kita dari anasir- anasir syirk dan kekufuran. Dengan disertai pengembalian puja dan syukur kepada Allah semata. Permohonan istighfar yang tak henti-hentinya atas segala tindak tanduk kita adalah pencerminan dari kesediaan masing-masing diri melakukan introspeksi dan retrospeksi yang jujur dalam mengevaluasi tindakan (perjuangan hidup) yang telah lalu. Kesediaan untuk melakukan usaha-usaha peningkatan Iman dan keinginan melakukan evaluasi setiap saat dan akhirnya menampilkan citra amaliyah yang lebih sempurna, niscaya akan melahirkan sikap istiqomah (=konsisten). Istiqomah (konsisten) itu penting adanya bagi insan pejuang. Yakni tetap berada dalam garis jalan Allah, dimedan juang apapun kita berada. Dalam mengisi hidup dan kehidupan nyata ini. Nilai-nilai mulia itulah kiranya yang dijemput dan direbut dalam perjalanan hajji seorang Muhtadin (orang yang mendapat petunjuk). v

H. Mas’oed Abidin

123

Pendayagunaan Alam, Ilmu, dan Amal

AGAMA ISLAM, dengan berpedoman kepada Al Quranul Karim (Kitabullah) dan Sunnah Rasulullah adalah agama yang paling intensif menggerakkan pendaya gunaan alam untuk kepentingan ummat manusia. Intensivitas yang dipunyai Agama Islam (Al Quran) tidak dapat disetarakan dengan ajaran manapun. Baik itu dalam anutan ummat terdahulu atau malah mungkin dalam pemahaman ummat belakangan. Al Quran memulainya dengan menanamkan pemahaman iman, yang merupakan keyakinan setiap penganut Islam. Dasarnya "ke- Iman-an kepada Khalik, Allah yang Maha Kuasa dan Maha Menjadikan". Bahwa apapun yang dimiliki oleh manusia, pada hakekatnya adalah 'pemberian Allah' untuk kemaslahatan ummat manusia itu sendiri, atas aluran dan petunjuk Allah. "Sesungguhnya Kami jadikan apa yang dibumi ialah untuk menjadi hiasan baginya( manusia), karena Kami hendak menguji (manusia) siapakah diantara mereka yang paling kerjanya. Sesungguhnya Kami jadikan pula dibumi tanah yang kosong". (QS. Al Kahfi, 18 : 7-8). Sementara itu, manusia diberi kewenangan dengan pemberian untuk mencari kehidupan akhirat dan kebahagiaan duniawiyah. Berbuat baik sesama insan, dan tidak menabur kebencanaan dipermukaan bumi. "Dan carilah dengan kekayaan yang diberikan Allah kepada engkau (manusia)-kebahagian-kampung akhirat. Jangan engkau lupakan bagian engkau di dunia 124
H. Mas’oed Abidin

ini. Buatlah kebaikan sebagaimana Allah telah berbuat kebaikan kepada engkau. Janganlah engkau membuat bencana di muka bumi. Sesungguhnya Allah tiada mencintai orang-orang yang membuat bencana". (QS. Al Qashas, 28 : 77). Al Quran juga memberikan isyarat, bahwa manusia hidup dengan keinginan, perasaan berhasrat, nafsu duniawiyah. "Manusia itu diberi perasaan berhasrat atau bernafsu, misalnya kepada perempuan (istri), anak-anak (keturunan), kekayaan yang berlimpah-limpah, dari emas dan perak, kuda yang bagus (kendaraan dan alat angkutan), binatang ternak dan sawah ladang (perkebunan). Itulah kesenangan hidup dunia. Dan disisi Allah ada tempat kembali yang sebaik- baiknya. (QS. Ali Imran, 3 : 14). Tempat kembali yang terbaik ada disisi Allah. Itulah hidup akhirat yang menjadi tujuan setiap insan yang hidup didunia ini. Disana ada syorga dan keridhaan Allah yang menjadi idaman dan hasrat setiap insan yang ber-Iman. Untuk mencapai keredhaan Allah, jalan yang mesti ditempuh adalah pernyataan iman kepada Allah, permohonan keampunan dari dosa-dosa dengan bersumber dari introspeksi dan restrospeksi dari setiap kegiatan (amal) yang lalu. Evaluasi serta kesediaan membuat sesuatu yang lebih baik di masa mendatang, baik itu madiyah (material) maupun ruhaniyah (spiritual). Selanjutnya adanya keteguhan pendirian menjadi segala kemungkaran dan selalu berharap supaya dihindarkanlah kami dari azab neraka.
H. Mas’oed Abidin

125

Orang-orang yang akan memperoleh tempat kembali yang baik disisi Allah harus memiliki sifat dan sikap jiwa yang konsisten (istiqomah). 1. Orang-orang yang sabar (tabah, tahan uji, intens) 2. Orang-orang yang benar (jujur, amanah, shiddiq) 3. Orang-orang yang patuh kepada Allah 4. Orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan kebaikan (Al Munfiqiina). 5. Orang-orang yang selalu memohon ampun kepada Allah (selalu melakukan koreksi di akhir malam pada setiap tahapan pekerjaan hariannya) (lihat QS. Ali Imran, 2 : 16-17). Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menyediakan alam sebagai sumber daya (material resources) bagi manusia yang hidup di alam (bumi) ini. Alam memang tidak menyiapkan segalanya serba jadi (ready to used). Dia perlu diolah oleh tangan manusia. Sehingga alam itu bisa mendatangkan nilai lebih dan nilai guna yang optimal bagi manusia. Untuk itu, manusia memerlukan alat dan ilmu. Di dalam Islam, setip insan didorong agar memiliki ilmu pengetahuan yang cukup dan memadai. "Sesiapa yang menginginkan dunia dia peroleh dengan ilmu, sesiapa yang inginkan (kebahagiaan) akhirat juga dengan ilmu, bahkan yang menginginkan keduanya, juga hanya dengan ilmu".

126

H. Mas’oed Abidin

Menurut ilmu pengetahuan merupakan asasi bagi setiap Muslim. Demikian dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu alihi wa salam. Diantara sabda beliau menyatakan, "Tuntutlah ilmu dari ayunan hingga ke liang lahat". (Al Hadist). Nilai ajaran Rasulullah (Islam), tiada lain berintikan kewajiban belajar sepanjang hayat, sepanjang usia. Menambah ilmu pengetahuan tidak hanya terbatas pada batas wilayah negeri saja. Malah dianjurkan jika perlu dinegeri lain. "Tuntutlah ilmu walau di/dengan Cina". Begitu bimbingan Islam. Beberapa dorongan ini dicatat oleh sejarah dunia bahwa Islam sejak awalnya telah mengubah sikap manusia. Dari apatis, statis menjadi pribadi-pribadi yang optimis dan dinamis. Hingga tidak dapat dipungkiri, Islam telah mendatangkan perubahan sikap bagi manusia yang menganut ajarannya. Melahirkan pakar-pakar ilmu pengetahuan, seperti Avicienna (Ibnu Sina), Avierroes (Ibnu Rusyid), Al Khawarizmi (logaritma), dan amat banyak lagi yang lainnya. Ilmu pengetahuan semata belum mempunyai arti yang besar sebelum ada usaha untuk meng-amal-kannya. Setinggi apapun ilmu pengetahuan belum akan mendatangkan manfaat sebelum diaplikasi di dalam
H. Mas’oed Abidin

127

kenyataan hidup manusia. Ilmu hanyalah alat semata untuk mendapatkan atau menciptakan kebahagiaan hidup. Dalam realitas hidup, ilmu dan amal itulah yang mendatangkan hikmah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala amat mencela seseorang yang memiliki ilmu tetapi tak mau kunjung mau meng-amal- kan ilmunya. Perhatikanlah ancaman Allah dalam Al Quranul Karim, artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu ucapakan apa-apa yang tiada kamu perbuat? Sangat dibenci oleh Allah, bahwa kamu ucapkan apa- apa yang tiada kamu perbuat". (QS. Ash Shaaf, 61 : 2-3). Ayat ini juga bermakna bahwa ilmu tanpa amal akan mengundang bencana dan kutukan. Kualitas suatu ummat dilihat dari kemampuannya menerapkan ilmu pengetahuan mereka ,pendaya guna ilmu. Dalam mengelola alam kelilingnya hingga lebih bermanfaat dan bernilai guna. Untuk kesejahteraan ummat manusia secara umum. Untuk kesejahteraan diri mereka dan lingkungan mereka dengan amal usaha mereka sendiri. Kualitas ummat itu akan menurun jika mereka ditimpa penyakit enggan dan malas. Suatu indikasi yang menggejala ditengah generasi kini, keengganan itu ternyata ada. Hingga mengundang banyaknya under employment (pengangguran tek kentara) di tengah masyarakat. 128
H. Mas’oed Abidin

Gejala itu terlihat dari enggan membaca dan enggan mendengar. Tertupnya kemungkinan penambahan ilmu pengetahuan. Kemudian disusul dengan keengganan memanfaatkan waktu dan tenaga. Akhirnya enggan mengolah alam keliling. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah memberikan batasan dalam firmannya. Allah tidak akan mengubah apa-apa (keadaan, nasib, tingkat kehidupan) suatu kaum, hingga (lebih dahulu) kaum itu mengubah apa-apa (yang ada) di dalam diri mereka. (QS. Ar Ra'du, 13 : 11). Mudah-mudahan kita semua dapat meningkatkan pendayagunaan ilmu, alam, amal kita berdasarkan iman serta hidup berkualitas. v

H. Mas’oed Abidin

129

Pendekatan Partisipatif Pengembangan Dakwah di Mentawai

Di tengah gencarnya pembicaraan pengembangan kepulauan Mentawai, permasalahan pertama yang mencuat ke permukaan adalah modal pendekatan macam apakah yang paling cocok untuk upaya pengembangan dakwah di kepulauan ini. Disadari, upaya menggelindingkan pembangunan, ibarat 'perjalanan sebuah kereta kencana'. Akselerasi roda besar sangat ditentukan oleh percepatan roda-roda kecil yang ada dibelakangnya. Analogisnya, bagaimanapun majunya daerah-daerah sentra yang ada, tetapi kalau daerah-daerah kecil yang mengelilingi, di kawasan sentra itu masih tetap seperti sediakala, maka keberhasilan secara umum belumnya berarti apa-apa. Secara khusus untuk Sumatera Barat, realitas akan dirasakan, maju atau berhasilnya Sumatera Barat akan dilihat orang secara keseluruhan, termasuk pengembangan dan pembangunan kepulauan Mentawai. Lebih khusus lagi, dalam pengembangan Dakwah Islamiyah di kepulauan Mentawai. Kita merasakan permasalahan yang mendasar dan masih dicarikan jalan pemecahannya. Adalah pola pendekatan yang efektif untuk masyarakat Isalam di kepulauan penyangga Samudera ini.

130

H. Mas’oed Abidin

Selama kita melihat, begitu tercurahnya perhatian sesama ummat Islam terhadap perbaikan taraf 'Iman' dari saudara-saudara kita disana. Dilihat dari aspek aqidah. Begitu pula semestinya terhadap aspek sosial ekonominya. Perhatian itu betul-betul mengambarkan bagaimana rasa Ukhuwah Islamiyah dikalangan ummat cukup berkembang. Pertanyaan yang masih tetap pada posisinya, apakah pendekatan yang dilakukan sudah mengarah kepada sasaran yang kita inginkan. Kalau dalam pengembangan dakwah kepulauan Mentawai, orientasi kita kepada hasil. di

Jujur kita akui, sasaran yang ingin kita tuju masih jauh, baik secara kualitas maupun kuantitas. Dari segi kuantitas, masyarakat Islam Mentawai masih merupakan jumlah yang minoritas di daerahnya. Sementara di daerah lainnya di Sumatera Barat, agama Islam merupakam mayoritas. Sehingga antara adat dan agama di Sumatera Barat diakui berjalan berkelindan. Adatnya sendiri syara', dan syara' bersendi Kitabullah (Islam). Dari segi kualitas jangan dikata. Ukuran kualitas suatu ummat memang tidak jelas. Tetapi berbagai indikasi kentara terlihat nyata. Antara lain tingkat pendidikan, kondisi ekonomi, need of achievment-nya, serta indikasi- indikasi sosial budaya lainnya. Yang menonjol dalam menatap kualitas suatu ummat, diantaranya, bagaimana posisi tawarmenawarnya (bergaining posisition). Tidak mungkin

H. Mas’oed Abidin

131

posisi tawar-menawar akan kuat kalau kondisi sosial ekonominya lemah. Melihat sumber daya alam (natural resources) Mentawai termasuk daerah yang termasuk subur. Berbagai jenis tanaman dapat tumbuh di kepulauan ini. Yang belum ada mungkin pemanfaatan sumber daya alam itu secara optimal. Demikian lagi dengan sumber daya menusia (human resources) Mentawai. Masyarakat Mentawai tergolong memiliki jumlah yang relatif banyak di daerah kepulauan itu. Memiliki kekuatan fisik yang prima. Lagi pula sangat beradapsi dengan lingkungannya. Potensi ini kalau diberi bekal ketrampilan tentu merupakan asset yang besar. Karena didukung Inteligence qoutiente yang tinggi. Permasalahannya sekarang, bagaimana mempergunakan sumber daya tersebut. Model pendekatan yang efektif untuk pengembangan potensi masyarakat Mentawai adalah dengan pola pendekatan 'partisipatif'. Sehingga, tiada sebarang pihak yang berpangku tangan. Perlu dicatat, sikap meniru masyarakat Mentawai masih tergolong tinggi. Sebagaimana lazimnya pada kehidupan masyarakat yang belum tercemar polusi. Kondisi ini sebenarnya dapat dimanfaatkan kepada hal-hal yang positif. Proses pengembangan dan pembangunan. Bila dikaitkan dengan da'wah Islam di daerah sana, terlihatlah kekurangan kita. Secara kuantitas 'para mujahid da'wah' yang betul-betul intens (bersitungkin) 132
H. Mas’oed Abidin

untuk pembangunan jamaah Muthadin masih sedikit jumlahnya. Selain itu para Mujahid da'wah itu masih ada yang belum utuh istiqomah-nya dalam berda'wah. Pendekatan yang dilakukan masih bersifat monotoin (lisan maqaal) saja. Sehingga hasilnya belum optimal. Pembekalan kepada dakwah bil hal, ternyata masih perlu ditingkatkan lagi. Untuk itu, tentu dibutuhkan tenaga-tenaga yang ahli dibidangnya. Seperti spesialisasi pertanian, pertukangan, perikanan, industri rumah tangga, industri kecil dan bentuk lainnya. Sesuai kebutuhan ummat yang sedang dikembangkan. Motivasinya tidak bergeser dari membangun ummat, dengan kewajiban dakwah Ilallah. Jika kita bandingkan dengan lembaga lembaga keagamaan lain, selain dari memiliki intensitas tinggi juga mereka melakukan pendekatan pastisipasi aktif itu, sesuai dengan kebutuhan yang dihajatkannya. Sistem pembinaan mereka berkesinambungan, menggunakan pola rotasi. Sehingga tidak ada kejenuhan dari para penyeru mereka. Walaupun dari beberapa aspek didapatkan kecenderungan kurang mendidik. Sebetulnya kita bukan tidak mempunyai potensi untuk itu. Permasalahannya bukan tidak ada waktu atau tidak bisa. Ketrampilan, ilmu, motivasi sebagai pembekalan bisa ditambah. Yang esensial barangkali, kita baru bekerja selama ini 'masih setengah hati'. Setidak-tidaknya menghadapi saudara-saudara kita didaerah yang masih
H. Mas’oed Abidin

133

perlu dibuka, seperti Mentawai. Kalau bekerja setengah hati, dalam dakwah hasilnya tentu menjadi 'setengah Islam'. Agaknya ini perlu renungan kita bersama. Siapa yang mau dan mampu untuk itu. Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Setiap muslim berkewajiban menjadi Agen of Change, bisa untuk Mentawai dan dapat pula untuk daerah-daerah lain yang serupa. Masa menunggu tanggapan kita, mereka pun menunggu uluran tangan kita. Kini hanya itulah yang dapat mereka lakukan. Jangan hanya janji tinggal janji, berbuat untuk Mentawai hanya mimpi. ; Ingat selalu do’a munajat ‫الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي‬ !Ya Allah, Ya Tuhanku Engkaulah tujuan hidup dan matiku dan keredhaan-Mu adalah yang ku cari

134

H. Mas’oed Abidin

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->