P. 1
Sistem Transmisi Tenaga Elektrik Jlit 2

Sistem Transmisi Tenaga Elektrik Jlit 2

|Views: 861|Likes:
Published by Redi Kurniawan

More info:

Published by: Redi Kurniawan on Dec 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/25/2013

pdf

text

original

Sections

  • 8.10. Tank Chamber Umum
  • 8.13. Penggelaran kabel
  • 8.14. Regangan maksimum yang diizinkan pada kabel
  • 8.19.2. Methoda Murray
  • 8.20.1.Memperbaiki kerusakan lead sheath kabel
  • 8.20.2. Mengganti Kabel yang rusak
  • 9.1.2. Elemen pembanding
  • 9.2.1. Sensitif
  • 9.2.2. Selektif
  • 9.2.3. Cepat
  • 9.2.5. Ekonomis
  • 9.2.6. Sederhana
  • 9.4. Gangguan Pada Sistem Penyaluran
  • 9.4.1. Gangguan Sistem
  • 9.6. Sistem Proteksi SUTET
  • 9.7. Media Telekomunikasi
  • 9.8.1. Prinsip Kerja Relai Jarak
  • 9.8.2. Pengukuran Impedansi Gangguan Oleh Relai Jarak
  • 9.8.3. Gangguan Hubung Singkat Tiga Fasa
  • 9.8.5. Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa Ke Tanah
  • 9.9.1. Karakteristik impedansi
  • 9.9.2. Karakteristik Mho
  • 9.9.4. Karakteristik Quadrilateral
  • 9.10. Pola Proteksi
  • 9.10.1. Pola Dasar
  • 9.11. Current Differential Relai
  • 9. 12. Proteksi Transformator Tenaga
  • 9.14. Proteksi Penyulang 20 KV
  • 10.2.1. Pemeliharaan Rutin :
  • 10.2.2. Pemeriksaan Rutin
  • 10.2.4. Pemeliharaan Korektif
  • 10.2.5. Pemeliharaan Darurat

Aslimeri, dkk.

TEKNIK
TRANSMISI
TENAGA LISTRIK
JILID 3

SMK
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang
TEKNIK
TRANSMISI
TENAGA
LISTRIK
JILID 3
Untuk SMK
Penulis : Aslimeri
Ganefri
Zaedel Hamdi
Perancang Kulit : TIM
Ukuran Buku : 18,2 x 25,7 cm
Diterbitkan oleh
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
ASL ASLIMERI
t Teknik Transmisi Tenaga Listrik Jilid 3 untuk SMK /oleh
Aslimeri, Ganefri, Zaenal Hamdi ---- Jakarta : Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen
Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan
Nasional, 2008.
ix, 121 hlm
Daftar Pustaka : Lampiran. A
ISBN : 978-979-060-159-8
ISBN : 978-979-060-161-1
KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia
Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan
penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk
disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi siswa SMK.
Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang
memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran
melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008.
Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh
penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para
pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia.
Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen
Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan,
dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk
penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi
ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft
copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya
sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah
Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar
ini.
Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya,
kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat
memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini
masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat
kami harapkan.
Jakarta,
Direktur Pembinaan SMK

i
Kata Pengantar
Akhir-akhir ini sudah banyak usaha penulisan dan pengadaan buku-
buku teknik dalam Bahasa Indonesia. Namun untuk Teknik Elektro, hal ini
masih saja dirasakan keterbatasan-keterbatasan terutama dalam
mengungkapkan topik atau materi yang betul-betul sesuai dengan
kompetensi dalam bidang Transmisi Tenaga Listrik untuk Sekolah
Menengah Kejuruan. Hal inilah yang mendorong penulis untuk menyusun
buku ini agar dapat membantu siapa saja yang berminat untuk
memperdalam ilmu tentang Transmisi Tenaga Listrik.

Dalam buku ini dibahas tentang : pemeliharaan sistim DC, pengukuran
listrik, tranformator, gandu induk ,saluran udara tegangan tinggi, kontruksi
kabel tenaga dan pemeliharaan kabel tenaga .

Penulis menyadari masih banyak kekurangan- kekurangan baik
dalam materi maupun sistematika penulisan, untuk itu saran-saran dan kritik
yang membangun guna memperbaiki buku ini akan diterima dengan senang
hati.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak-banyak terima
kasih kepada Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat
Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depertemen
Pendidikan Nasional yang telah memberikan kesempatan kepada penulis
untuk menulis buku ini dan Drs.Sudaryono, MT yang telah bersedia menjadi
editor buku ini. Juga penulis megucapkan terima kasih kepada Maneger
PLN (persero) Udiklat Bogor yang telah banyak membatu penulis dalam
menyediakan bahan untuk penulisan buku ini .

Harapan penulis semoga buku ini ada mamfaatnya untuk
meningkatkan kecerdasan bangsa terutama dalam bidang teknik elektro .

Penulis













ii
Daftar Isi

Kata Pengantar …………….................................................... i
Daftar isi ……………………….......................... ii
Diagram Pencapaian Kompetensi ............................................... ix

JILID 1
BAB. I. PEMELIHARAAN DC POWER .................................. 1
1.1. Hukum Ohm ………....................... 1
1.2. Hukum Kirchoff ......… ........................ 3
1.3. Daya Dalam Rangkaian DC ………………............. 6
1.3.1. Prinsip Dasar Rangkaian DC …............................... 7
1.3.2. Hubungan Antara Arus Tegangan dan Tahanan ............. 8
1.4. Komponen Semikonduktor ……………….................. 15
1.5. Sistem DC Power ………………...................................... 20
1.6. Charger (Rectifier) …………………………………….. 25
1.6.1. Jenis Charger …....................................................... 25
1.6.2. Prinsip Kerja Charger ........................................... 26
1.6.3. Bagian-Bagian Charger ............................... 27
1.7. Automatic Voltaga Regulator ………………........................ 29
1.7.1. Komponen Pengantar Seting Tegangan ....................... 30
1.7.2. Komponen Pengantar Seting Floating ....................... 31
1.7.3. Komponen Pengantar Seting Equalizing ....................... 31
1.7.4. Komponen Pengantar Seting Arus ....................... 31
1.8. Rangkaian voltage Dropper ………………............................ 33
1.9. Rangkaian Proteksi Tegangan Surja Hubung....................... 34
1.10. Pengertian beterai ..................................................... 37
1.10.1. Prinsip kerja baterai ............................................... 37
1.10.2. Prinsip kerja baterai asam-timah ................................. 38
1.10.3. Poses pengisian baterai ....................... ………............. 38
1.10.4. Prinsip kerja baterai alkali.................................................... 39
1.11. Jenis-jenis Baterai ………………................... ... 39
1.12. Bagian-bagian Utama Baterai ………………......................... 46
1.13. Instalasi Sel Baterai ………………...................................... 48
1.14. Pentilasi Ruang Baterai ……………….......................... 52
1.15. Pengertian pemeliharaan DC power ................................... 54
1.15.1. Tujuan Pemeliharaan ............................................... 54
1.15.2. Jenis Pemeliharaan ............................................... 54
1.15.3. Pelaksanaan Pemeliharaan ....................... ………. 55
1.15.4. Kegiatan Pemeliharaan ....................... 56
1.15.5. Pemeliharaan Charger ……………….................................. 58
1.15.6 Pengukuran Arus Output Maksimum .................................... 61
1.16 Jadwal dan Chek list Pemeliharaan Charger ........................ 63
1.16.1. Pemeliharaan Baterai ............................................... 63
1.16.2. Cara pelaksanaan pengukuran tegangan ....................... 64
1.16.3. Pengukuran Berat Jenis Elektrolit ………......................... 65

iii
1.16.4. Pengukuran Suhu Elektrolit ................................... 68
1.16.5. Jadwal pemeliharaan periodik baterai ....................... 70
1.17. Pengujian dan shooting pada DC Power................................. 73
1.17.1. Pengujian Indikator Charger ..................................... 73
1.17.2. Pengujian Kapasitas Baterai ............................................... 75
1.17.3. Pengujian kadar Potassium Carbonate ( K
Z
C0
3
) ............. 81
1.18. Trouble shooting ................................... 90
1.18.1. Kinerja Baterai ……………….................................. 91
1.19. Keselamatan kerja ……………….................................... 95

BAB. II. PENGKURAN LISTRIK ……………….............. 97
2.1. Pengertian Pengukuran ………………........................... 97
2.2. Besaran Satuan dan dimensi ……………….......................... 98
2.3. Karaktaristik dan Klasifikasi Alat Ukur ………...................... 101
2.4. Frekuensi Meter ……………….......................................

109
2.5. Kwh Meter ……….............. ....................................................

111
2.6. Megger ……………………...............................

111
2.7. Fase Squensi ………………............................................ 112
2.8. Pengukuran Besaran Listrik …………................................. 114
2.9. Prinsip kerja Kumparan Putar ………………..........................

116
2.10. Sistem Induksi ………………................................................

117
2.11. Sistem Elektro Dinamis …........................................... 118
2.12. Sistem Kawat Panas ................................................ 120
2.13. Alat Ukur Elektronik …...................................................

120
2.14. Alat Ukur dengan Menggunakan Transformator …........

121
2.15. Macam-macam alat ukur untuk keperluan pemeliharaan........



123
2.15.1.Meter Tahanan Isolasi ...........................................................



123
2.15.2.Meter Tahanan Pentanahan ....................................

123
2.15.3.Tester Tegangan tinggi ....................................

125
2.15.4.Tester Tegangan tembus ....................................

127

BAB. III. TRANSFORMATOR …………………...................... 128
3.1. Prinsip induksi ………………..................................... 128
3.2. Kumparan Transformator ………………......................... 130
3.3. Minyak Transformator ………………..................................... 131
3.4. Bushing ………………............................................................ 132
3.5. Tangki Konservator .......................................................... 132
3.6. Peralatan Bantu Pendingin Transformator …………........ 133
3.7. Tap Changer …………….................................................... 135
3.8. Alat Pernapasan Transformator …………................. ..............

135
3.9. Alat Indikator Transformator ……………….........................


137
3.10.Peralatan Proteksi Internal ...............................................



137
3.11.Peralatan Tambahan Untuk Pengaman Transformator ...........

142
3.12.Rele Proteksi Transformator dan Fungsinya ....................... 144
3.13.Announciator Sistem Instalasi Tegangan Tinggi ............... 150
3.13.Parameter/Pengukuran Transformator ................................... 153

iv
JILID 2

BAB IV. SALURAN UDARA TEGANGAN TINGGI ……………......

159
4.1. Saluran Udara ………........................................................... 160
4.2. Saluran Kabel ……………............................ ........................ 160
4.3. Perlengkapan SUTT/SUTETI ....................................

161
4.3.1.Tower ....................................................................................

161
4.3.2.Bagian-bagian tower ......................................................... 165
4.4. Kondukror .........…………….................................

170
4.5. Kawat Tanah .........…...................... .........................

172
4.5.1.Bahan Kawat Tanah ................................................

173
4.5.2.Jumlah dan Posisi Kawat Tanah ........................................ 173
4.5.3.Pentanahan Tower ............................................................

173
4.6. Isolator ………………………...................................................

174
4.6.1.Isolator Piring ............................................................

174
4.6.2.Nilai Isolator .......................................................................

178
4.6.3.Jenis Isolator ......................................................................

178
4.6.4.Speksifikasi isolator. ...........................................................

180

BAB V. GARDU INDUK .................................................

184
5.1. Busbar …………………................................................

184
5.1.1. Jenis Isolasi Busbar ………..................................................

184
5.1.2. Sistem Busbar (Rel) ..................................................

184
5.1.3. Gardu Induk dengan single busbar .....................................

185
5.1.4. Gardu Induk dengan Doble busbar .....................................

186
5.1.5. Gardu Induk dengan satu setengah / one half busbar ............

186
5.2. Arrester …………………............................................................

187
5.3. Transformator Instrumen ……….......................................

188
5.3.1. Transformator Tegangan ……….......................................

188
5.3.2. Transformator Arus ……….......................................

190
5.3.3. Transformator Bantu ……….......................................

191
5.3.4 Indikator Unjuk kerja Transformator Ukur ………................ 192
5.4. Pemisah (PMS) ………...................................................

194
5.4.1. Pemisah Engsel ………..................................................

195
5.4.2. Pemisah Putar ..............................................................

195
5.4.3. Pemisah Siku ..............................................................

195
5.4.4. Pemisah Luncur ………..................................................

196
5.5. Pemutus tenaga listrik (PMT) ......................................

199
5.5.1. Jenis Isolasi Pemutus Tenaga ............................................

199
5.5.2, PMT dengan Media pemutus menggunakan udara …………. 201
5.5.3. PMT dengan Hampa Udara ................................................. 204
5.5.4. PMT dengan Media pemutus menggunakan Minyak..........

206
5.5.5. PMT dengan Sedikit Minyak .....................................

207
5.6. Jenis Penggerak Pemutus Tenaga .................................... 209
5.6.1. Mekanik Jenis Spering ………...........................................

209
5.6.2. Mekanik Jenis Hidrolik ……….................................................. 212

v
5.6.3. Penutupan PMT ..................................................................

216
5.6.4. Pembukaan PMT .................................................................

216
5.7. Kompesator ........................................................................

220
5.7.1. Kompensator shunt .................................................

221
5.7.2. Kompensator reaktor shunt ....................................

222
5.8. Peralatan SCADA dan Telekomunikasi.................................


223
5.8.1. Prinsip Dasar PLC ................................................

223
5.8.2. Peralatan Kopling ................................................

224
5.8.3. Kapasitor Kopling ................................................

225
5.8.4. Wave trap ..................................

.........................

226
5.8.5. Prinsip Kerja Dasar Wave trap ....................................

227
5.8.6. Line Matching Unit ............................................................

230
5.9 . Peralatan Pengaman ............................................................

231
5.9.1. Lightning Arester .................................................

232
5.10. Aplikasi PLC .............................................................

233
5.10.1. Komunikasi Suara .................................................

233
5.10.2. Penggunaan Kanal Suara .....................................

234
5.10.3. Teleproteksi Protection Signalling ...............................

234
5.10.4. Ramute Terminal Unit (RTU) Tipe EPC 3200........................

235
5.11. Simbul-simbul yang ada pada Gardu Induk

..................... ...

236
5.12. Rele Proteksi dan Annunsiator ....................................

238

BAB VI. SISTEM PENTANAHAN TITIK NETRAL ............

246
6.1. Sistem Pentanahan Titik Netral ................................... 246
6.2. Tujuan Pentanahan Titik Netral .................................... 247
6.2.1. Sistem Yang tidak Ditanahkan …..................................

247
6.2.2. Metode Pentanahan titik Netral .....................................

247
6.3. Pentanahan Titik Netral Tampa Impedansi ..........................

247
6.4. Pentanahan Titik Netral Melalui Tahanan ………...............

248
6.5. Pentanahan Titik Netral Melalui Kumparan Peterson ..............

251
6.6. Tranformator Pentanahan ………...........................

252
6.7. Penerapan Sistem Pentanahan di Indonesia ..............

253
6.8. Pentanahan Peralatan ............................................... 254
6.9. Exposur tegangan ................................................

256
6.10. Pengaruh Busur Tegangan Terhadap Tenaga Listrik..........


258
6.10.1.Pengaruh tahanan Pentanahan Terhadap Sistem ............... 258
6.10.2.Macam-macam Elektroda Pentanahan .............. ..........

258
6.11. Metode Cara Pentanahan .................................................


260
6.11.1.Pentanahan dengan Driven Ground. .......................... 260

6.11.2.Pentanahan Dengan Mesh atau Jala .............. ..................

261
6.12. Tahanan Jenis Tanah .............................................................

262
6.13. Pengkuran Tahanan Pentanahan ....................................

263

BAB VII. KONTRUKSI KABEL TENAGA ........................

265
7.1. Kabel Minyak .......................................................................... 265
7.1.1. Bagian-bagian Kabel Minyak …...................................

265

vi
7.1.2. Konduktor .................................................

265
7.1.3. Isolasi Kabel ........................................................................

266
7.1.4. Data Kimia ........................................................................

267
7.2. Karakteristik Minyak .............................................................

268
7.3. Macam-macam Minyak Kabel .................................................

270
7.4. Tangki Minyak ............................................................. 272
7.5. Perhitungan Sistem Hidrolik .....................................

278
7.6. Keselamatan Kerja …..............................................

280
7.7. Crossbonding dan Pentanahan ..........................

290
7.8. Cara Kontruksi Solid bonding ….................................



292
7.9. Tranposisi dan sambung Silang …................................

294
7.10. Alat Pengukur Tekakan …................... ..............

299
7.11. Tekanan Pada Kabel Minyak …..................................

300
7.12. Kabel Tenaga XLPE …..............................................

303
7.13. Kontruksi Kabel Laut …..............................................

307

JILID 3
BAB VIII. PEMELIHARAAN KABEL TEGANGAN TINGGI .........

310


8.1. Manajemen Pemeliharaan .................................................

310
8.1.1. Manajemen Pemeliharaan Peralatan ..................................

310
8.1.2. Perencanaan ................................................

311
8.1.3. Pengorganisasian ........................................................... 312
8.1.4. Penggerakan ........................................................................

313
8.1.5. Pengendalian ........................................................................

314
8.2. Pengertian dan tujuan Pemeliharan ....................................

314
8.3. Jenis-jenis Pemeliharaan ...............................................

315
8.4. Pemeliharaan Yang Dilakukan Terhadap Kabel Laut
Tegangan Tinggi ................................................................

318
8.5. Prosedur Pemeliharaan ................................................



321
8.6. Dekumen Prosedur Pelaksanan Pekerjaan ..........................

330
8.7. Pemilihan Instalasi Kabel Tanah Jenis Oil Fillied ..............

332
8.8. Spare Kabel ........................................................................ 335
8.9. Termination .......................................................................

335
8.10. Tank Chanber Umum .............................................................

337
8.11. Anti Crossbonding Coverting .....................................

338
7.12. Cara mengukur Tekanan Minyak Dengan Manometer.........

342
8.13. Penggelaran Kabel ................................................

348
8.14. Regangan maksimum yang diizinkan pada Kabel .............

349
8.15. Perhitungan Daya tarik Horizontal ........................

350
8.16. Peralatan Pergelaran kabel ....................................

353
8.17. Jadwal Pemeliharaan ................................................

353
8.18. Kebocoran minyak Kabel Tenaga .........................

354
8.19. Gangguan kabel pada lapisan pelindung P.E. oversheath.....

360
8.19.1.Methoda mencari lokasi gangguan pada lapisan pelindung
kabel.......................................................................................

360
8.19.2.Methoda Murray .............................................................

360

vii
8.20. Memperbaiki Kerusakan Kabel .........................

366
8.20.1.Memperbaiki kerusakan lead sheath kabel ..........................

366
8.20.2.Mengganti Kabel yang rusak ......................................

367
8.21. Auxiliary Cable. ....................................................................

370

BAB . IX. PROTEKSI SISTEM PENYALURAN ........................

372


9.1. Perangkat Sistem Proteksi ....................................

373
9.1.1. Elemen Pengindra .............................. ..............



373
9.1.2 Elemen Pembanding ...............................................

373
9.1.3 Elemen Pengukur ............................................................



373
9.2. Fungsi dan Peralatan Rele Proteksi .....................................

374
9.2.1. Sensitif. .............................. ................................

374
9.2.2. Selektif ..........................................................

374
9.2.3. Cepat ....................................................................................



374
9.2.4. Handal ....................................................................................



375
9.2.5. Ekonomis .....................................................................

...

375
9.2.6. Sederhana ........................................................................



375
9.3. Penyebab Terjadinya Kegagalan Proteksi .........................

375
9.4. Gangguan pada sistem Penyaluran .....................................

376
9.4.1. Gangguan Sistem ......................... ....................

376
9.4.2 Gangguan Non Sistem ....................................

376
9.5. Proteksi Pengantar .............................................................

376
9.6. Sistem Proteksi SUTET .................................................

378
9.7. Media Telekomunikasi .................................................

379
9.8. Relai Jarak ........................................................................

379
9.8.1. Prinsip Kerja Relai Jarak ............................. ................

379
9.8.2. Pengukuran Impedansi Gangguan Oleh Relai Jarak ............

381
9.8.3 Gangguan Hubung Singkat Tiga Fasa .........................

381
9.8.4 Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa .........................

381
9.8.5 Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa Ke Tanah..................

382
9.9. Karakteristik Rele Jarak .................................................

383
9.9.1. Karakteristik Impedansi ............................. ..................

383
9.9.2. Karakteristik Mho ............................................................

383
9.9.3 Karakteristik Reaktance .................................................

384
9.9.4 Karakteristik Quadrilateral ....................................

385
9.10. Pola Proteksi ...........................................................

386
9.10.1. Pola Dasar ...........................................................

386
9.10.2. Pola PUTT ...........................................................

386
9.10.3. Pola Permissive Underreach Transfer Trip .........................

387
9.10.4. Pola Blocking .......................................................................



387
9.11. Current Differential Relay ................................................

390
9.12. Proteksi Transformator Tenaga .....................................

397
9.13. Rele Arus Lebih ................................................

400
9.14. Proteksi Penyulang 20 KV ...............................................

401
9.15. Disturbance Fault ............................................................

402
9.16. Basic Operation ................................................

404

viii
9.17. Auto Recloser ............................................................

405
BAB . X. PEMELIHARAAN SUTT/SUTETI BEBAS TEGANGAN..

410


10.1. Tujuan Pemeliharaan ...........................................................

410
10.2. Jenis-jensi pemeliharaan .............................................

410
10.2.1. Pemeliharaan Rutin : ...........................................................

410
10.2.2. Pemeriksaan Rutin................................................................

410
10.2.3. Pemeriksaan Sistematis........................................................

411
10.2.4. Pemeliharaan Korektif............................................................

412
10.2.5. Pemeliharaan Darurat...........................................................

412
10.3. Prosedur Pemeliharaan SUTT/SUTET .........................

413
10.3.1. Peralatan yang dipelihara ....................................................

413
10.3.2. Peralatan Kerja ...........................................................

418
10.3.3. Petunjuk Pemeliharaan Peralatan ................................. ..

420
10.3.4. Pelaporan Pekerjan Pemeliharaan ................................. ..

421

LAMPIRAN :
Daftar Pustaka . .......................................................................
A

















ix
DI AGRAM PENCAPAI AN KOMPETENSI
menunj ukan t ahapan at au t at a urut an kompet ensi yang diaj arkan dan dilat ihkan kepada pesert a didik dalam kurun
wakt u yang dibut uhkan sert a kemungkinan mult i exit -mult i ent ry yang dapat dit erapkan.

TIG.CIF.0
4
3
TGM.HRB
2
3
TGM.HRB
2
3
TGM.HRB
2
3
TGM.CIF.
2
1
TIG.CIF.0
5
1
TIG.CBH.
5
3
TGM.HRE
4
3
TIG.CIP.0
2
1
TIG.CIF.0
2
2
Teknisi
Konstr
uksi &
Pemeli
Tekn
isi
Instal
asi
Listri
k
TIG.CIF.0
8
1
TMC.Mmc
2
2
TSU.HSC.
1
3
TIG.CIS.0
8
2
TIG.CIF.0
4
2
TIG.CIT.0
4
6
Asiste
n
Teknis
i
Konstr
TMP.HPN.
4
2
TMP.PN.0
4
3
TMP HPN
4
2
TMP.HPN.
4
2
TIG.CIS.0
8
1
TIG.CIT.0
4
9
TIG.CBH.
8
5 Asist
en
Tekn
isi
P
TIG.CBH.
4
4
TIG CIT 0
8
1
TIG.CIT.0
4
1
TGU.HW
2
3
TIG CIT 0
4
7
TGC.HWC
8
3
TIG.CIT.0
4
9
TIG.CBH.0
4
4
Asisten
Teknisi
Konstruks
i &
Pemelihar
Asisten
Teknisi
Konstruks
i &
Pemelihar
TIG CIF 0
1
2
TIG.CIT.0
4
1
TIG CIP 0
4
1
TIG CIT 0
4
8
TIG.CIP.0
4
1
1
TIG.CIC.0
2
4
TIG.CIP.0
1
Asist
en
Tekn
isi
Kons
t k
1
TNP.HPG.
2
Asisten
Teknisi
Konstruksi
&
P lih
Nomor Kode
Kompetensi
Jam Pencapaian
Kompetensi
= Outlet
Nomor Kompetensi dari daftar
keseluruhan kompetensi program keahlian
teknik transmisi
Keterangan
:


310
BAB VIII
PEMELIHARAAN KABEL TEGANGAN TINGGI

8.1. Manajemen Pemeliharaan
Pada umumnya lokasi sumber
energi primer konvensional tidak
selalu dekat dengan pusat beban
sehingga pusat pembangkit listrik
dibangun pada lokasi yang terpisah
jauh dari pusat beban maka
penyaluran daya diselenggarakan
melalui instalasi penyaluran
(saluran transmisi dan gardu
Induk). Instalasi penyaluran ini
melalui daerah perkotaan atau
melalui laut. Untuk itu instalasi
penyaluran didaerah ini terpaksa
menggunakan Kabel Tenaga yang
berupa Kabel tanah maupun kabel
laut.
Perkembangan selanjutnya,
beberapa sistem tenaga listrik
(sebagai contoh : Jawa barat, Jawa
Tengah, Jawa Timur dan bali)
diinterkoneksikan membentuk satu
grup operasi. Peranan instalasi
penyaluran semakin penting,
konfigurasi jaringan semakin
kompleks dan peralatan semakin
banyak, baik dari segi jumlah
maupun ragamnya.
Peralatan utama yang
terpasang di gardu induk dan
saluran transmisi adalah :
Sebagaimana peralatan pada
umumnya, peralatan yang
dioperasikan dalam instalasi
penyaluran tenaga listrik perlu
dipelihara agar unjuk kerjanya
dapat dipertahankan.
Pemeliharaan peralatan
penyaluran tenaga listrik diperlukan
untuk mempertahankan unjuk
kerjanya namun di lain pihak
sebagian besar pemeliharaan itu
memerlukan pembebasan tegangan
yang berarti bahwa peralatan yang
dipelihara harus dikeluarkan dari
operasi.
Keluarnya beberapa peralatan
dari operasi selama pemeliharaan
dapat menyebabkan berkurangnya
keandalan penyaluran, berkurang-
nya kemampuan penyaluran
bahkan padamnya daerah yang
dipasok oleh peralatan tersebut.
Permasalahan tersebut juga
dialami oleh pemeliharaan Kabel
Tenaga dengan memelihara Kabel
Tenaga menyebabkan pemadaman
Kabel Tenaga tersebut. Untuk
mempercepat pekerjaan tersebut
maka diperlukan managemen
pemeliharaan.
8.1.1.Manajemen Pemeliharaan
Peralatan Penyaluran
Suatu sistem tenaga listrik
mempunyai jumlah dan jenis
peralatan instalasi penyaluran yang
sangat banyak yang dihubungkan
satu dengan lainnya membentuk
suatu sistem penyaluran.
Peralatan dengan jumlah dan
jenis yang banyak itu harus
dipelihara untuk mempertahankan
unjuk kerjanya.
Sehubungan dengan
pemeliharaan peralatan sistem
tenaga listrik pada umumnya
membutuhkan dikeluarkannya
peralatan tersebut dari operasi
serta menyangkut jumlah yang
sangat banyak, maka
penanganannya perlu didasari


311
pemikiran manajemen yang baik.
Dalam hal ini perlu perencanaan
(planning), pengorganisasian
(organizing), penggerakan
(actuating) dan pengendalian
(controlling) dengan baik.
8.1.2. Perencanaan
Perencanaan pemeliharaan
peralatan penyaluran tenaga listrik
meliputi koordinasi antara
kebutuhan akan pemeliharaan dan
kondisi (keandalan) sistem. Dalam
hal ini diupayakan agar kedua
kebutuhan itu terpenuhi sebaik
mungkin.
Hasil dari perencanaan ini
adalah jadual dan jenis pekerjaan
yang akan dilaksanakan untuk
setiap peralatan antara lain :
- Setiap Peralatan Memerlukan
Pemeliha- raan
- Petunjuk pabrik pembuat
peralatan pada umumnya
memberikan periode dan jenis
pemeliharaan untuk peralatan
tersebut.
- Dalam hal tidak ada petunjuk
dari pabrik maka pengalaman
masa lalu (Statistik kerusakan)
dapat dipakai sebagai dasar
perencanaan jadwal dan jenis
pemeliharaan.
- Kondisi lokal dimana Peralatan
Tersebut Terpasang
Perlu dipertimbangkan, apakah
ada alternatif pemasokan
menghindari pemadaman selama
peralatan yang dipelihara
dikeluarkan dari operasi.
- Jenis penggunaan listrik yang
dipasok
Ada penggunaan listrik sebagai
penggerak suatu proses yang
tidak boleh terganggu.
Prosesnya hanya berhenti pada
jadwal yang telah ditentukan
Apabila tidak ada alternatif
pasokan daya listrik selama
pelaksanaan pemeliharaan,
maka diperlukan kompromi yang
dapat diperoleh dari hasil
koordinasi.
- Hal Khusus
Ada keadaan-keadaan khusus
yang menyangkut acara-acara
kenegaraan yang harus
dipertimbangkan dalam
perencanaan pemeliharaan.
Dalam hal ini diupayakan untuk
menghindari segala sesuatu
yang kemumingkinan dapat
menyebabkan menurunnya
keandalan atau terjadinya
pemadaman, termasuk
pemeliharaan.
Hasil perencanaan pemeliharaan
peralatan instalasi penyaluran ini
adalah Rencana Pemeliharaan
yang mencakup
÷ Jenis Pemeliharaan
÷ Jadwal Pelaksanaan
÷ Keterangan lain berupa perlu/
tidaknya peralatan
dikeluarkan dari operasi.
÷ Efisiensi Pemeliharaan
Selama ini pedoman dasar
untuk melakukan pemeliharaan
peralatan instalasi listrik adalah SE


312
Direksi No.032/PST/1984 tanggal
23 Mei 1984 tentang Himpunan
Buku Petunjuk Operasi dan
Pemeliharaan Peralatan
Penyaluran Tenaga Listrik dimana
yang menjadi dasar utama untuk
melakukan pemeliharaan adalah
rekomendasi pabrik serta
instruction manual dari masing-
masing peralatan instalasi listrik.
Dengan pengurangan siklus
pemeliharaan ini dapat dipastikan
akan memberikan efisiensi dalam
bidang pemeliharaan, antara lain :
÷ Mengurangi biaya pemeliharaan.
÷ Mengurangi kebutuhan man-
haurs per peralatan.
÷ Mengurangi waktu pemadaman.
÷ Meningkatkan mutu pelayanan
dengan tingkat keandalan dan
kesiapan peralatan yang lebih
tinggi.
÷ Berikut ini merupakan langkah
efisiensi yang dilakukan berupa
perubahan siklus pemeliharaan
peralatan.
Hal yang sama diberlakukan juga
terhadap PMT.
8.1.3. Pengorganisasian
Rencana pemeliharaan sebagai
hasil perencanaan diatas
merupakan dasar dalam
pengaturan orang, alat, tugas,
tanggungjawab dan wewenang
untuk terlaksananya pekerjaan
pemeliharaan.
Pengorganisasian ini perlu
dalam mengalokasikan sumber
daya yang ada atas pekerjaan-
pekerjaan yang diperlukan agar
dapat dimanfaatkan seefisien dan
seefektif mungkin.
- Rincian Pekerjaan Yang Harus
Dilaksanakan
Rincian ini perlu dibuat untuk
membantu kelancaran
pelaksanaan sekaligus
menghindari kesalahan.
Dalam hal ini tingkat rincian yang
diperlukan tergantung kesiapan
yang akan melaksanakan
pekerjaan itu.
- Pembagian Pekerjaan
Kegiatan-kegiatan spesifik yang
sejenis dikelompokkan dengan
memperhatikan kesamaan
pelaksanaan.
Diupayakan agar dalam
pelaksanaan pekerjaan, tidak
ada seseroang yang berbeban
terlalu berat atau terlalu ringan
serta tidak ada yang dibebani
pekerjaan diluar kemampuan-
nya.
- Mengalokasikan sumber Daya
'Who does what' disusun agar
seluruh tahapan pekerjaan
terlaksana dengan baik atau
tidak terjadi saling mengelak
diantara personil untuk
melaksanakan suatu pekerjaan.
Pengalokasian personil ini harus
mempertimbangkan :
- Kemampuan masing-masing
personil
- Beban kerja yang menjadi
tanggung jawab masing-masing
personil.
- Urutan tahapan pekerjaan.
Peralatan yang diperlukan untuk
tiap tahapan pekerjaan
diinventarisir dengan jumlah yang
memadai.
Tidak lengkapnya peralatan,
selain mengakibatkan waktu
pelaksanaan lebih panjang juga
mutu pekerjaan yang lebih rencah.
Demikian juga halnya dengan


313
material.
Dasar penyusunan yang utama
adalah pengalaman dalam
pelaksanaan yang lalu.
- Koordinasi Pekerjaan
Mekanisme koordinasi harus
jelas, mengingat :
- Tuntutan waktu pelaksanaan
seminimum mungkin
- Menghindari kecelakaan
tegangan listrik
- Menghindari gangguan
Kesalahan koordinasi dapat
berakibat fatal pada instalasi
bahkan jiwa personil yang
melaksanakan pekerjaan.
8.1.4. Penggerakan
Setelah ada rencana kerja,
kemudian pengalokasian sumber
daya, tibalah saatnya pada
pelaksanaan pekerjaan
pemeliharaan. Untuk mencapai
sasaran dengan baik seorang
atasan/pimpinan melakukan proses
mempengaruhi kegiatan seseorang
atau suatu kelompok kerja dalam
usaha melaksanakan rencana kerja
yang telah disusun.
Proses ini disebut
penggerakan. Pada tahap ini
sumber daya manusia merupakan
salah satu penentu bagi
keberhasilan pencapaian sasaran
sehingga kepemimpinan, motivasi
dan komunikasi.
- Persiapan Personil
Kondisi personil harus dalam
keadaan baik, mental dan
jasmani. Kesiapan ini harus
dinyatakan saat sebelum
memulai pekerjaan dan masing-
masing personil menyatakan
kesiapannya secara tertulis
dalam blanko-blanko yang sudah
disiapkan.
Kondisi yang tidak baik
(pusing, kurang tidur, letih dan lain-
lain) dapat membahayakan dirinya
serta orang lain. Selanjutnya
diskusi mengenai apa yang akan
dikerjakan akan sangat membantu
pelaksanakan pekerjaan.
- Persiapan Peralatan
Kondisi dan kesiapan
peralatan perlu diperiksa
sebelum saat pelaksanaan,
terutama yang menyangkut
keselamatan jiwa seperti
sabuk pengaman, pelindung
tubuh, tangga, alat uji
tegangan,Gas
cheker,Blower,Baju tahan api
dan lain-lain.
- Kepemimpinan dan Motivasi
Dalam rangka pelaksanaan
pemeliharaan mulai dari
persiapan sampai akhir
pekerjaan diperlukan proses
mempengaruhi dan
mengarahkan orang menuju
ke pencapaian tujuan yaitu
terlaksananya pekerjaan
pemelihara an dengan baik.
Ada berbagai gaya
kepemimpinan yang secara
umum dikenal namun sulit
untuk menyatakan satu gaya
yang terbaik.
Pemimpin yang efektif
menyesuaikan tingkah laku
kepemimpinannya pada
kebutuhan yang dipimpin dan
lingkungannya. Dalam hal ini
perlu diperhatikan tingkat
kedewasaan serta perilaku
manusia yang dipimpin.
Ciptakanlah situasi yang
memungkinkan timbulnya
motivasi pada setiap personil
untuk berperilaku sesuai
dengan tujuan. Salah satu


314
faktor penting disini adalah
unsur kewibawaan.
8.1.5. Pengendalian
Dalam upaya tercapainya
sasaran seperti yang direncanakan,
seorang atasan / pimpinan perlu
melakukan pengendalian karena
pada umumnya terjadi perubahan
situasi dan lingkungan serta
kesalahan pada saat pelaksanaan.
Melalui pengendalian ini,
penyimpangan yang terjadi dapat
dideteksi sedini mungkin sehingga
tindakan koreksi dapat
memperbaiki pelaksanaan
Dalam mencapai tujuan sesuai
dengan yang direncanakan,
diperlukan pengendalian agar
penyimpangan dapat dideteksi
sedini mungkin. Penyimpangan
dalam pelaksanaan dapat saja
terjadi oleh kemungkinan-
kemungkinan :
- Adanya perubahan karena
lingkungan,
- Terjadinya kesalahan karena
informasi kurang jelas,
- Terjadi kesalahan karena
kemampuan personil yang tidak
memadai,
- Ditemukan masalah lain diluar
yang sudah direncanakan.
Untuk dapat melaksanakan
pengendalian diperlukan sasaran
pengendalian, indikator - indikator
dan standar yang jelas.
Pelaksanaan pekerjaan dievaluasi,
hasil yang dicapai dibandingkan
terhadap standar dan
melaksanakan tindakan koreksi bila
diperlukan. Unsur manusia adalah
hal yang paling utama dalam
pengendalian yang menyangkut :
- Kelemahan (kesalahan,
kemalasan, ketidaktahuan ),
- Kecurangan,
- Perbedaan pemahaman/
penafsiran atas sesuatu,
- Keengganan merubah sesuatu
yang sudah dianggap mapan
(kebiasaan cara kerja ).

8.2. Pengertian Dan Tujuan
Pemeliharaan

Pemeliharaan peralatan listrik
tegangan tinggi adalah serangkaian
tindakan atau proses kegiatan
untuk mempertahankan kondisi dan
meyakinkan bahwa peralatan dapat
berfungsi sebagaimana mestinya
sehingga dapat dicegah terjadinya
gangguan yang menyebabkan
kerusakan.
Tujuan pemeliharaan peralatan
listrik tegangan tinggi adalah untuk
menjamin kontinyunitas penyaluran
tenaga listrik dan menjamin
keandalan, antara lain :

1. Untuk meningkatkan
reliability, availability dan
effiency.

Faktor yang paling dominan
dalam pemeliharaan peralatan
listrik tegangan tinggi adalah pada
sistem isolasi. Isolasi disini meliputi
isolasi minyak, udara dan gas atau
vacum. Suatu peralatan akan
sangat mahal bila isolasinya sangat
bagus, dari isolasi inilah dapat
ditentukan sebagai dasar
pengoperasian peralatan.dengan
demikian isolasi merupakan bagian
yang terpenting dan sangat
menentukan umur dariperalatan.
Untuk itu kita harus memperhatikan
/memelihara sistem isolasi sebaik
mungkin, baik terhadap isolasinya
maupun penyebab kerusakan


315
isolasi.
Dalam pemeliharaan peralatan
listrik tegangan tinggi kita
membedakan antara pemeriksaan /
monitoring (melihat, mencatat,
meraba serta mendengar) dalam
keadaan operasi dan memelihara
(kalibrasi / pengujian, koreksi /
resetting serta memperbaiki /
membersihkan ) dalam keadaan
padam.
Pemeriksaan atau monitoring
dapat dilaksanakan oleh operator
atau petugas patroli setiap hari
dengan sistem check list atau
catatan saja. Sedangkan
pemeliharaan harus dilaksanakan
oleh regu pemeliharaan.


8.3. Jenis jenis Pemeliharan
Jenis jenis Pemeliharan pada kabel adalah sebagai berikut :
1. Pemeliharaan harian
Pemeliharaan harian seperti tabel 8.1
Tabel 8.1.Pemeliharaan harian
Jadwal

DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN
:
:
HARIAN
OPERASI

NO.
PERALATAN/KOMPONEN YANG
DIPERIKSA
URAIAN PELAKSANAAN
1 2 3
1. Manometer tekanan Minyak
Kabel
Periksa secara visual dan catat
tekanan minyak pada sealing end
pada manometernya.
2. ROW

Periksa secara visual : rambu
(patok-patok), jembatan kabel, tutup
crosbonding dan box culvert serta
kegiatan pembangunan atau
kegiatan diatas/sekitar jalur sktt.
3. Terminasi Kabel head (sealing
end)
a

Periksa secara visual klem terminasi
kabel head dan bagian yang
bertegangan dari benda asing.
b Periksa sistem pentanahan sealing
end (kabel head).



2. Pemeliharan Mingguan.



316
Pemeliharaan berupa monitoring saluran Kabel Tanah Tegangan Tinggi
yang dilakukan oleh petugas patroli setiap Mingguan serta dilaksanakan
dalam keadaan operasi, seperti tabel 8.2.
Tabel 8.2.Pemeliharaan Mingguan

JADWAL : MINGGUAN
DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : OPERASI

NO.
PERALATAN/KOMPONEN
YANG DIPERIKSA
URAIAN PELAKSANAAN
1 2 3

1. Manometer tekanan Minyak
Kabel

Periksa tekanan minyak pada
sealing end secara visual pada
manometernya.
2. ROW

Periksa secara visual : rambu
(patok-patok), jembatan kabel, tutup
crosbonding dan box culvert serta
kegiatan pembangunan atau
kegiatan diatas/sekitar jalur sktt.

3. Terminasi Kabel head (sealing
end)
a

Periksa secara visual klem terminasi
kabel head dan bagian yang
bertegangan dari benda asing.
b Periksa sistem pentanahan sealing
end (kabel head).
4
Manometer tekanan Minyak
Kabel
Periksa secara visual dan catat
tekanan minyak pada manometer di
setiap Stop Joint yang dapat
diperiksa.










3. Pemeliharaan Semesteran



317
Pemeliharaan berupa monitoring saluran Kabel Tanah Tegangan Tinggi
yang dilakukan oleh petugas patroli setiap Semester serta dilaksanakan
dalam keadaan operasi. seperti tabel 8.3.

Tabel 8.3. Pemeliharaan Semester
JADWAL : SEMESTER
DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : OPERASI
NO.
PERALATAN/KOMPONEN
YANG DIPERIKSA
URAIAN PELAKSANAAN
1 2 3
1. Minyak Kabel

Periksa secara visual dan catat
tekanan minyak pada Stop Joint dan
Sealing end (kabel head) .
2. Terminasi Sealing End (Kabel
head) dan bagian yang
bertegangan
a Pengukuran noktah panas pada
klem sealing end (kabel head) dan
bagian berteganan dengan infrared
thermovision.
b Pengukuran Partial Discharge pada
Sealing end (kabel head) dengan
alat uji Partial Discharge


4. Pemeliharaan Tahunan

Pemeliharaan yang berupa Pengukuran dan pengujian untuk Kabel Tanah
Tegangan Tinggi dan dilakukan oleh petugas Pemeliharaan setiap tahun dan
dilaksanakan dalam keadaan Padam, seperti tabel 8.4.
Tabel 8.4. Pemeliharaan Tahunan
JADWAL : Tahunan
DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : Padam

NO.
PERALATAN/KOMPONEN
YANG DIPERIKSA
URAIAN PELAKSANAAN
1 2 3

1. Tahanan Isolasi Kabel

Pengukuran tahanan isolasi kabel
dengan Megger dan dengan metoda
polarisasi indeks (PI).
2. Cable Covering Protection Unit
(Non Linier Resistor)
Pengukuran arus bocor pada CCPU
dan mengukur tahanan isolasinya


318
3 Lead Sheath. (timah pelindung)
Pengukuran arus bocor pada lead
sheath dan mengukur tahanan
isolasinya

4. Mano Meter


Pengetesan fungsi penunjukan
tekanan minyak dan sistem
pengaman tekanan minyak kabel
(alarm dan tripping).
5. Boks Cross bonding dan Stop
Join serta Oil Tank Chamber
maupun Oil Tank Sunseal
Pemeriksaan dan pembersihan
terhadap Manometer, Tangki
minyak, instalasi pipa minyak,
kandungan Gas berbahaya maupun
kelembaban .
6. Kabel pilot.

Pengukuran tahanan isolasi kabel
pilot.
7 Pressure Control Cabinet (Panel
Box kontrol tekanan)
Pemberihan kabinet, seal pintu
panel, pengukuran tahanan variabel
untuk mengatur tegangan sistem
pengaman (proteksi tekanan
minyak/supervisi).
8.4. Pemeliharaan yang dilakukan terhadap Kabel Laut Tegangan Tinggi
adalah:
1. Pemeliharaan Kabel Laut Harian.
Pemeliharaan berupa monitoring untuk Kabel Laut Tegangan Tinggi yang
dilakukan oleh petugas Patroli dan dilaksanakan secara Harian dalam keadaan
operasi, seperti tabel 8.5.
Tabel 8.5. Pemeliharaan Kabel Laut Harian
JADWAL : HARIAN
DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : OPERASI

NO.
PERALATAN/KOMPONEN
YANG DIPERIKSA
URAIAN PELAKSANAAN
1 2 3

1. R.O.W

Pantau lalu lintas kapal agar tidak
lego jangkar pada daerah koridor
kabel laut
2. Lampu Suar Pantau kedipan lampu rambu suar
apakah masih bekerja baik.
3. Pelampung suar Periksa pelampung suar apakah
masih berada pada tempat yang
ditentukan.


319
2. Pemeliharaan kabel laut mingguan

Pemeliharaan berupa monitoring untuk Kabel Laut Tegangan Tinggi
yang dilakukan oleh petugas Patroli dan dilaksanakan setiap Mingguan dalam
keadaan operasi, seperti tabel 8.6.

Tabel 8.6. Pemeliharaan Kabel Laut mingguan
JADWAL
: MINGGUAN
DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN
: OPERASI
NO.
PERALATAN/KOMPONEN
YANG DIPERIKSA
URAIAN PELAKSANAAN
1. Terminasi Kabel head dan bagian
yang bertegangan

Periksa terminasi
kabel head dan
bagian yang
bertegangan dari
benda asing
secara visual.
2. Tegangan Suplay AC/DC untuk
alat bantu.
Periksa tegangan suplay AC
maupun DC untuk alat bantu
apakah masih normal.
3. Tekanan minyak Periksa tekanan minak kabel
4. Terminasi. Periksa terminasi kabel apakah
masih baik secara visual.























320
3. Pemeliharaan kabel laut Semester

Pemeliharaan yang berupa monitoring untuk Kabel Tanah Tegangan
Tinggi dan dilakukan oleh petugas Patroli setiap Semester dan dilaksanakan
dalam keadaan operasi, seperti tabel 8.7.

Tabel 8.7. Pemeliharaan Kabel Laut Semester
JADWAL : Semester
DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : OPERASI

NO.
PERALATAN/KOMPONEN
YANG DIPERIKSA
URAIAN PELAKSANAAN
1 2 3

1. Terminasi Kabel head dan
bagian yang bertegangan

Pengukuran noktah panas pada
kabel head dan bagian berteganan
dengan infrared thermovision.
2. Terminasi Kabel head dan
bagian yang bertegangan

Pengukuran Partial Discharge pada
kabel head dengan alat uji Partial
Discharge

3. Terminasi Kabel head dan
bagian yang bertegangan

Pembersihan bushing kabel head
terdapap kristal garam serta
pembersihan isolator string pada
gantry, dead end tower.
4. Terminasi Kabel head dan
bagian yang bertegangan
Pembersihan terminasi/sealing end
kabel.
5. Peralatan kontrol minyak dan
alat bantu khusus

Periksa apakah peralatan kontrol
daan alat bantu khusus dapat
berfungsi dengan baik.















321
4. Pemeliharaan Kabel Laut Tahunan.

Pemeliharaan yang berupa Pengukuran dan pengujian untuk Kabel Tanah
Tegangan Tinggi dan dilakukan oleh petugas Pemeliharaan setiap tahun dan
dilaksanakan dalam keadaan Padam, seperti tabel 8.8.

Tabel 8.8. Pemeliharaan Kabel Laut Tahunan

JADWAL : Tahunan
DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : Padam

NO.
PERALATAN/KOMPONEN
YANG DIPERIKSA
URAIAN PELAKSANAAN
1 2 3

1. Sistem pentanahan

Pemeriksaan dan pengukuran
sistem pentanahan kabel laut
dengan Megger pentanahan.
2. Tahanan isolasi Kabel Laut

Ukur tahanan isolasi kabel laut
dengan Megger.
3. Mano Meter

Uji fungsi manometer apakah masih
bekerja baik.
4 Boks Cross bonding dan Stop
Join serta Oil Tank Chamber
maupun Oil Tank Sunseal.
Pemeriksaan dan pembersihan
terhadap Manometer, Tanki, Gas
berbahaya maupun kelembaban
dalam kondisi operasi
5 Tahanan isolasi kabel pilot a Ukur tahanan isolasi dari kabel pilot
apakah masih baik.
b Ukur tahanan kabel pilot (Rdc).
7 Rambu-rambu a Periksa kelengkapan rambu-rambu
dan pelampung suar seperti Batere,
lampu dan panel solar sel.
b Pelihara kelengkapan rambu-rambu
dan pelampung suar penggantian
elektroda anti korosi setiap 5 tahun..
8 R O W Periksa ROW kabel dengan Scan
sonar apakah kabel masih tetap
pada posisi nya setiap 5 tahun.






322
8.5. Prosedur Pemeliharaan
Prosedur pemeliharaan kabel dan kabel laut dapat dilihat pada tabel 8.9
Tabel 8.9. Prosedur pemeliharaan kabel dan kabel laut
LATAR BELAKANG
Kesinambungan penyaluran energi listrik yang
dikelola oleh PLN UBS P3B salah satunya ditentukan
oleh kesiapan operasi gardu induk dan saluran
transmisi. Kesiapan operasi gardu induk dan saluran
transmisi harus didukung oleh pemeliharaan
peralatan secara aman, baik dan benar. Didalam
pelaksanaannya, jika terjadi kesalahan prosedur, akan
mengakibatkan gangguan pada sistem tenaga listrik
dan kerusakan pada peralatan bahkan dapat
mengakibatkan kecelakaan manusia.
Untuk lebih meningkatkan keamanan dan
keselamatan dalam melaksanakan pekerjaan di
instalasi listrik, maka perlu dibuat prosedur
pelaksanaan pekerjaan pada instalasi listrik tegangan
tinggi / ekstra tinggi sebagai penyem- purnaan dari
buku “Manuver Peralatan Instalasi Tegangan Tinggi &
Ekstra Tinggi serta Dokumen Keselamatan Kerja”.
Sesuai Surat Keputusan General Manager PT. PLN
(Persero) UBS P3B No. 005.K / 021 / GM.UBS. P3B /
2002, tanggal 07 Januari 2002, perihal
“Pembentukan Tim Penyempurnaan Prosedur
Operasi Sistem dan Pemeliharaan PT. PLN (Persero)
UBS P3B”, maka diterbitkan buku “Prosedur
Pelaksanaan Pekerjaan Pada Instalasi Listrik
Tegangan Tinggi / Ekstra Tinggi”.
MAKSUD DAN
TUJUAN
- Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan Pada Instalasi
Listrik Tegangan Tinggi / Ekstra Tinggi ini adalah
prosedur yang harus ditaati dan dilaksanakan
oleh semua personil dalam melaksanakan tugas
pekerjaan pada instalasi listrik tegangan tinggi /
ekstra tinggi.
- Dengan prosedur ini setiap pekerjaan pada
instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi dapat
terlaksana dengan aman dan lancar serta selamat
(safety process) sehingga tercapai Zero Accident.

Ruang Lingkup Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan Pada Instalasi


323
Listrik Tegangan Tinggi / Ekstra Tinggi ini berlaku
untuk semua pekerjaan pada instalasi listrik tegangan
tinggi / ekstra tinggi yang meliputi :
Manuver pembebasan tegangan.
Pelaksanaan pekerjaan pada instalasi dalam
keadaan tidak bertegangan.
Manuver pemberian tegangan.

1. PENGORGANISASIAN KERJA
Pengorganisasian
Kerja
Dalam melaksanakan pekerjaan pada instalasi listrik
tegangan tinggi / ekstra tinggi, diperlukan
pengorganisasian kerja yang melibatkan unsur /
personil sebagai berikut :
- Penanggung Jawab Pekerjaan.
- Pengawas K3.
- Pengawas Manuver.
- Pelaksana Manuver.
- Pengawas Pekerjaan.
- Pelaksana Pekerjaan.
Pengawas Manuver, Pengawas Pekerjaan dan
Pengawas K3 tidak boleh dirangkap dan harus berada
dilokasi selama pekerjaan berlangsung.
Peranan Personil Peranan personil pada butir 2.1 adalah sebagai
berikut :
PENANGGUNG
JAWAB PEKERJAAN
Bertanggung jawab terhadap seluruh rangkaian
pekerjaan yang akan dan sedang dilaksanakan pada
instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi.
Penanggung Jawab Pekerjaan adalah kuasa pemilik
asset yaitu Manager UPT.
PENGAWAS K3
Bertugas sebagai pengawas Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) pada pekerjaan instalasi listrik
tegangan tinggi / ekstra tinggi, sehingga keselamatan
manusia dan keselamatan instalasi listrik terjamin.
Personil yang ditunjuk sebagai Pengawas K3 harus
memiliki kualifikasi Pengawas K3.
PENGAWAS
Bertugas sebagai pengawas terhadap proses
manuver (pembebasan / pengisian tegangan) pada
instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi, se-


324
MANUVER hingga keselamatan peralatan dan operasi sistem
terjamin.
Personil yang ditunjuk sebagai Pengawas Manuver
harus memiliki kualifikasi keahlian setingkat Operator
Utama.
PELAKSANA
MANUVER
Bertindak selaku eksekutor manuver pada instalasi
tegangan tinggi / ekstra tinggi.
Pelaksana Manuver adalah Operator Gardu Induk /
Dispatcher Region / Dispatcher UBOS yang dinas
pada saat pekerjaan berlangsung.
PENGAWAS
PEKERJAAN
Bertugas sebagai pengawas terhadap proses
pekerjaan pada instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra
tinggi.
Personil yang ditunjuk sebagai Pengawas Pe- kerjaan
harus memiliki kualifikasi minimal setingkat Juru
Utama Pemeliharaan.
PELAKSANA
PEKERJAAN
Bertugas melaksanakan pekerjaan pada instalasi
listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi.
Personil Pelaksana Pekerjaan ditunjuk oleh
Pengawas Pekerjaan.
TUGAS DAN
TANGGUNG JAWAB
Tugas dan tanggung jawab masing-masing personil
pada butir 2.2. adalah sebagai berikut :
PENANGGUNG
JAWAB PEKERJAAN
- Mengelola seluruh kegiatan pekerjaan yang
meliputi : personil, peralatan kerja, perlengkapan
K3 dan material pekerjaan.
- Melakukan koordinasi dengan Unit lain yang
terkait.
PENGAWAS K3
Mencegah terjadinya kecelakaan kerja dengan cara
sebagai berikut :
- Memeriksa kondisi personil sebelum bekerja.
- Mengawasi kondisi / tempat-tempat yang ber-
bahaya.
- Mengawasi pemasangan dan pelepasan taging,
gembok dan rambu pengaman.
- Mengawasi tingkah laku / sikap personil yang
membahayakan diri sendiri atau orang lain.
- Mengawasi penggunaan perlengkapan kesela-
matan kerja.
PENGAWAS
Menjaga keamanan instalasi dan menghindari
kesalahan manuver yang dilakukan oleh Operator
Gardu Induk dengan cara sebagai berikut :


325
MANUVER
- Mengawasi pelaksanaan manuver.
- Mengawasi pemasangan dan pelepasan taging di
panel kontrol serta rambu pengaman / gembok di
switch yard.
- Mengawasi pemasangan dan pelepasan sistem
pentanahan.
PELAKSANA
MANUVER
- Melakukan eksekusi manuver peralatan instalasi
listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi.
- Melakukan pemasangan dan pelepasan taging di
panel kontrol serta rambu pengaman / gembok di
switch yard.
- Melakukan penutupan dan pembukaan PMS
tanah.

- Menunjuk personil Pelaksana Pekerjaan sebagai
Pelaksana Pengamanan Instalasi listrik untuk
memasang dan melepas taging, gembok, dan
rambu pengaman.
PELAKSANA
PEKERJAAN
- Memasang dan melepas pentanahan lokal.
- Memasang dan melepas taging, gembok dan
rambu pengaman.
- Melaksanakan pekerjaan.


PENDELEGASIAN
TUGAS
Pendelegasian tugas dapat diberikan kepada peja-
bat atau personil yang mempunyai kemampuan
(Formulir 8), dalam hal :
- Personil yang ditunjuk berhalangan melak-
sanakan tugasnya.
- Dalam satu pekerjaan diperlukan beberapa
pengawas.

Pelaksanaan pendelegasian dilaksanakan sebagai
berikut :
PENANGGUNG
JAWAB
PEKERJAAN
Asisten Manager Pemeliharaan atau Ahli Muda
bidang terkait dengan catatan kedua pejabat tersebut
tidak sedang menjadi pengawas lainnya (tidak
merangkap).
PENGAWAS
Operator Utama atau Personil yang mempunyai
pengalaman dan keahlian dalam bidang manuver.


326
MANUVER


PENGAWAS PEKERJAAN
Personil yang mempunyai ketrampilan,
pengalaman dan keahlian dalam bidang
pemeliharaan.
PENGAWAS K3
Personil yang mempunyai pengalaman
serta keahlian dalam bidang K3.
















2. TAHAPAN PELAKSANAAN PEKERJAAN
Tahapan yang Diperlukan Tahapan pelaksanaan prosedur pekerjaan pada
instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi
adalah sebagai berikut :
Persiapan a. Briefing tentang rencana kerja yang akan
dilaksanakan kepada seluruh personil yang
terlibat dalam pekerjaan dilaksanakan oleh :
Pengawas Pekerjaan :
- Memberikan penjelasan mengenai
pekerjaan yang akan dilaksanakan
dengan baik dan aman.
- Membagi tugas sesuai dengan
kemampuan dan keahlian personil
(Formulir 3).
Pengawas K3 :


327
- Memberikan penjelasan mengenai
penggunaan alat pengaman kerja /
pelindung diri yang harus dipakai (Formulir
1).
- Memberikan penjelasan pengamanan
instalasi yang akan dikerjakan.
- Menjelaskan tempat-tempat yang
berbahaya dan rawan kecelakaan
terhadap Pelaksana Pekerja.
Pengawas Manuver :
- Menyampaikan hasil koordinasi dengan
unit terkait.
- Menjelaskan langkah-langkah untuk
manu- ver pembebasan dan pengisian
tegangan (Formulir 4 dan 7).
b. Pengawas Pekerjaan memeriksa alat kerja
dan material yang diperlukan.
c. Pengawas K3 memeriksa peralatan kesela-
matan kerja yang diperlukan (Formulir 1).
d. Pengawas K3 memeriksa kesiapan jasmani /
rohani personil yang akan melaksanakan
pekerjaan (Formulir 2).

Izin Pembebasan Instalasi
untuk Dikerjakan
Dispatcher (UBOS / Region) memberi izin pembe-
basan instalasi kepada Pengawas Manuver.

Pelaksanaan Manuver
Pembebasan Tegangan

Pelaksana Manuver melaksanakan :
a. Memposisikan Switch Lokal / Remote ke
posisi Lokal.
b. Manuver pembebasan tegangan, sesuai
rencana manuver yang telah dibuat (Formulir
4).
c. Pemasangan taging pada panel kontrol dan
memasang gembok pengaman pada box
PMT, PMS Line, PMS Rel dan PMS Tanah.
Semua pekerjaan manuver tersebut diatas
diawasi oleh Pengawas Manuver dan Pengawas


328
K3.
Apabila lokasi pekerjaan di luar jangkauan
pengamatan Operator Gardu Induk, maka
Pengawas Manuver dan Pengawas Pekerjaan
agar menjalin komunikasi.

Pernyataan Bebas
Tegangan
Pengawas Manuver membuat pernyataan bebas
tegangan diserahkan kepada Pengawas
Pekerjaan disaksikan oleh Pengawas K3

Pelaksanaan Pekerjaan Pelaksana Pekerjaan melaksanakan :
a. Pemeriksaan tegangan pada peralatan /
instalasi yang akan dikerjakan dengan
menggunakan tester tegangan.
b. Pemasangan pentanahan lokal pada
peralatan / instalasi listrik yang akan
dikerjakan.
Perhatikan urutan pemasangan (kawat
pentanahan lokal dipasang pada sistem
grounding / arde terlebih dahulu, baru
kemudian dipasang pada bagian instalasi
yang akan dikerjakan), jangan terbalik
urutannya.
c. Pengaman tambahan (pengaman berlapis)
seperti : memasang gembok, lock-pin, dan
memblokir rangkaian kontrol dengan
membuka MCB / Fuse / Terminal.
d. Pemasangan taging, gembok dan rambu
pengaman di switchyard pada daerah
berbahaya dan daerah aman.
e. Pekerjaan dilaksanakan sesuai rencana.
Semua pekerjaan tersebut diatas diawasi oleh
Pengawas Pekerjaan dan Pengawas K3.
Jika pekerjaan belum selesai dan akan
diserahkan ke regu yang lain,


Pekerjaan Selesai Bila pekerjaan telah selesai Pelaksana Pekerjaan
melaksanakan :
a. Melepas pentanahan lokal.
Perhatikan urutan melepas (kawat
pentanahan lokal pada bagian instalasi


329
dilepas terlebih dahulu, kemudian kawat
pentanahan lokal pada bagian sistem
grounding / arde dilepas).
b. Melepas pengaman tambahan seperti
gembok dan lock-pin, mengaktifkan rangkaian
kontrol dengan menutup MCB / Fuse /
terminal.
c. Melepas taging, gembok dan rambu
pengaman di switchyard.
d. Merapikan peralatan kerja.
Semua pekerjaan tersebut diatas diawasi oleh
Pengawas Pekerjaan dan Pengawas K3.


Pernyataan Pekerjaan
Selesai
Pengawas Pekerjaan membuat Pernyataan
Pekerjaan Selesai dan diserahkan kepada
Pengawas Manuver disaksikan oleh Pengawas
K3

Pernyataan Instalasi Siap
Diberi Tegangan
Pengawas Manuver menyatakan kepada
Dispatcher (UBOS / Region) bahwa instalasi
listrik siap diberi tegangan kembali.


Pelaksanaan Manuver
Pemberian Tegangan
Pelaksana Manuver melaksanakan :
a. Melepas gembok pengaman pada PMS Line
dan PMS Rel serta PMS Tanah.
b. Membuka PMS Tanah.
c. Melepas taging pada panel kontrol.
d. Memposisikan switch Lokal / Remote pada
posisi Remote.
Jika remote kontrol Dispatcher gagal, maka
berdasarkan perintah Dispatcher, posisi
switch Lokal / Remote diposisikan Lokal dan
Pelaksana Manuver melaksanakan manuver
penutupan PMT untuk pemberian tegangan.
Semua pekerjaan tersebut diatas diawasi oleh
Pengawas Pekerjaan dan Pengawas K3.




330
8.6. Dokumen Prosedur Pelasanaan Pekerjaan ( DP3 )
Dokumen Prosedur Pelasanaan Pekerjaan dapat dilihat pada tabel 8.10

Tabel 8.10 Dokumen Prosedur Pelasanaan Pekerjaan

1. Daerah Berbahaya dan
Daerah Aman.
Daerah berbahaya (danger area) adalah suatu
tempat (daerah) disekitar peralatan (bagian)
bertegangan, yang batasnya (jaraknya) tidak
boleh dilanggar.

Batas (jarak) daerah berbahaya tergantung
pada besarnya tegangan nominal sistem.
Sedangkan jarak aman (safety distance)
adalah jarak di luar daerah bahaya, dimana
orang dapat bekerja dengan aman dari bahaya
yang ditimbulkan oleh peralatan (bagian) yang
bertegangan.
Untuk berjalan melintas disekitar daerah
peralatan / instalasi yang bertegangan, harus
sangat berhati-hati. Pastikan bahwa peralatan
yang dibawa tidak mencuat / menonjol keatas
ataupun kesamping , usahakan untuk tidak
dipanggul atau dibawa secara melintang.
Jarak aman minimum diperlihatkan pada tabel
berikut ini :
Sistem tegangan
(kV)
Jarak aman
*

(cm)
20
30
70
150
500
70
85
100
150
500
4
*
mengacu pada Electrical Safety Advices
(ESA) dan PUIL 1987


331
2 Formulir DP3
( Formulir Terlampir )
Formulir-formulir yang digunakan untuk
menerapkan prosedur pelaksanaan
pekerjaan pada instalasi tegangan tinggi /
ekstra tinggi ini yang disebut DP3 adalah
terdiri dari :
- Formulir 1 :
Prosedur pengamanan pada instalasi
tegangan tinggi / ekstra tinggi.
Lampiran formulir 1 :
Rencana pengamanan pekerjaan pada
instalasi tegangan tinggi / ekstra tinggi.
- Formulir 2 :
Pemeriksaan kesiapan pelaksana sebelum
bekerja pada instalasi tegangan tinggi /
ekstra tinggi.
- Formulir 3 :
Pembagian tugas dan penggunaan alat
keselamatan kerja.
- Formulir 4 :
Manuver pembebasan tegangan instalasi
tegangan tinggi / ekstra tinggi.



332

- Formulir 5 :
3.10.1 Pernyataan bebas tegangan.
- Formulir 5 lanjutan :
Serah terima pekerjaan.
- Formulir 6 :
.10.2 Pernyataan pekerjaan selesai.
- Formulir 7 :
.10.3 Manuver pemberian tegangan instalasi
listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi.
- Formulir 8 :
Surat pendelegasian tugas.
- Formulir 9 :
.10.4 Permintaan izin kerja, berlaku untuk
pekerjaan yang dilaksanakan oleh pihak
diluar PT PLN UBS P3B.
Jika ada pihak luar yang akan
melaksanakan suatu pekerjaan di Unit
Pelayanan Transmisi, maka harus mengisi
formulir Permintaan Ijin Kerja sebelum
mengisi formulir / dokumen K3 lainnya.




8.7. Pemelihaan Instalasi Kabel Tanah Jenis Oil Filled

Operasi dan pemeliharaan
yang baik akan menghilangkan
penyebab kabel beroperasi secara
darurat. Operator yang baik akan
mengetahui sistem kabel,sehingga
secara cepat operator akan
mengetahui maslah yang
timbul,operator akan mengetahui
langkah-langkah yang harus
dilakukan untuk memisahkan yang
ada masalah, periksa dan lakukan
perbaikan atau
pembetulan.umumnya tanpa
membahayakan sistem atau harus
memadamkan kabel. Walaupun
sistem instalasi kabel sebenarnya
bebas pemeliharaan, pentingnya
operasi yang tepat memerlukan
pemeriksaan pemeliharaan yang
hati-hati dari pada memelihara
secara rutin peralatan. Apabila
diperlukan pemeliharaan tingkat
pemeliharaan dan keahlian
pelaksana harus mempunyai
kompetensi yang tinggi.



334
1. Pemelihaan Instalasi Kabel

Pemeliharaan kabel tanah
secara periodik sebenarnya tidak
diperlukan,tetapi karena kabel
tersebut berisi minyak sebagai
isolasi maka tekanannya harus
selalu dipantau.Pemasok minyak
untuk mempertahankan sifat isolasi
kabel tetap kondisi baik,maka
bergantung pada panjang rute
kabel,makin panjang instalasi
kabel, maka jumlah seksi pemasok
minyak akan bertambah,misalnya
instalasi dengan satu seksi tekanan
minyak,dua seksi dan tiga seksi.
Masing-masing seksi perlu
diperiksa tekanannya setiap minggu
untuk mengetahui kenaikan dan
atau penurunan masing-masing
seksi tekanan

2. Peralatan yang digunakan.

Untuk melaksanakan
pemeliharaan tekanan minyak
diperlukan peralatan kerja sebagai
berikut:

a. Alat kerja dan Alat K3

1. Kaki segitiga
2. Helm
3 Takel rantai
4 Sepatu karet
5..pompa lumpur/air
6. sarung tangan
7..generator
8. masker
9 .tangga aluminium/bambu
10 tabung oksigen
11 .blower
12 .baju tahan api
13 .batere/senter

3. Pelaksanaan Pemeriksaan

Sebelum melakukan pekerjaan
pemeliharaan tekanan minyak,jika
tangki berada didalam ruang bawah
tanah maka yakinkan bahwa tidak
ada gas didalam ruangan bawah
tanah.
1.Bersihkan pcc(panel control
kabinet)
2.Bersihkan manometer
3.catat penunjukan manometer
a.setting
b.Alarem
c.tripping


4. Daftar pemeriksaan tekanan minyak
SKTT : …………………………………
Joint /OTC :
UPT :

No Tangga
l
1
Tekanan minyak Keterang
an
2 R S T R S T
3
4
5



335



8.8. Spare Kabel
Kabel cadangan merupakan
material yang harus tersedia di
gudang .Umumnya material ini
panjangnya kurang lebih 500 m dan
terpasang pada haspel serta
dilengkapi dengan tangki tekanan
minyak . Besarnya tekanan tangki
tersebut antara 0,8 sampai 1,2 bar
dan dilengkapi dengan manometer

Instalasi kabel tanah tegangan
tinggi 70 kV maupun 150 kV
umumnya digunakan pada saluran
transmisi tegangan tinggi didaerah
perkotaan. Jalur kabel untuk
menanam dan menggelar instalasi
malalui daerah pemukiman dan
atau disisi jalan raya. Adanya
kegiatan pembangunan yang
hampir berlangsuing tanpa
kordinasi membuat instalasi kabel
tegangan tinggi tersebut terancam
terkena gangguan.
Bedasarkan pengalaman
instalasi kabel sering mendapat
gangguan dari pekerjaan proyek
maupun kegiatan rumah tangga,
contohnya terkena bor pembuatan
arde telkom,bor sumur warga dan
,terkena begho .
Tujuan memelihara kabel
cadangan adalah untuk mengetahui
kondisi kesiapan kabel cadangan
tersebut kapan diperlukan.

1. Peralatan yang digunakan

Peralatan kerja
Tidak diperlukan peralatan kerja
untuk memeriksa tekanan minyak
kabel cadangan.

2. Peralatan K3
a. Helm
b Sepatu tahan benturan
c. kaca mata
d. Baterre senter
e.Tangga aluminium panjang 3
m
f. Jas hujan


Daftar Hasil tekanan minyak kabel spare
Gudang /Upt : …………………….
Bulan / tahun : ……………………..

No Tanggal Merk/Type Penampang
/panjang (m)
Tekanan
Minyak (bar)
Keterangan



8.9. Termination.
Sealing end atau terminasi
merupakan peralatan yang
digunakan untuk mengeluarkan
konduktor (inti kabel) dari kabel
yang tertanam di bawah tanah, atau
mengeluarkan konduktor yang
terpasang di dalam kompartemen
GIS. Ada dua jenis sealing end
pada instalasi kabel yaitu indoor


336
sealing end dan outdoor sealing
end. Perbedaan fisik yang nyata
antara kedua terminasi tersebut
adalah pada bagian luar terminasi
menggunakan porselen.
Pemeliharaan terminasi adalah
sebagai berikut:
1. Kondisi bertegangan
Pada kondisi bertegangan
pemeliharaan yang dilakukan
adalah memeriksa secara fisik
bushing tersebut apakah kondisinya
normal atau ada gangguan.
2. Kondisi tidak bertegangan.
Pada waktu pemeliharaan
preventive bersamaan dengan
pemeliharaan peralatan yang
lain, maka yang dilakukan terhadap
terminasi atau sealing end adalah
membersihkan porselin isolator.
a. Peralatan dan material yang
digunakan
1.tool kit
2.lap kain yang tidak berserat
3.sakapen
4.alkohol 90 %
5.semen remover
6.Sabun rumah tangga
3. Cara Pelaksanaan pemeliharaan
Pemeliharaan bushing pada
waktu beroperasi yaitu pengecekan
secara fisik apakah kondisinya
baik,dan pada kondisi tidak
bertegangan ialah dengan cara
membersihkan permukaan bushing
menggunakan sabun rumah tangga
atau sakapen.
4. Hasil Pemeliharaan out door termination
SKTT 70/150 kV : ……………………………………..
Pelaksana : ………………………………………
UPT : …………………………………..
LOKASI GI : ………………………………………

Terminasi Bushing Fasa No Tanggal
Kabel I Kabel II
Keterangan
R S T R S T

5. Hasil Pemeliharaan indoor termination
SKTT 70/150 kV : ……………………………………..
Pelaksana : ………………………………………
UPT : …………………………………..
LOKASI GI : ………………………………………

Terminasi Bushing Fasa No Tanggal
Tekanan minyak Kabel
I
Tekanan Minyak Kabel
II
Keteranga
n
R S T R S T



8.10. Tank Chamber Umum


338
Instalasi kabel tanah tegangan
tinggi jenis menggunakan minyak
dilengkapi dengan instalasi
pemasok minyak yang berfungsi
menjaga kondisi tekanan didalam
kabel selalu positip. Pemasok
minyak menggunakan tangki-tangki
yang bertekanan, yang akan
memberikan tekanan pada kondisi
kabel bebannya rendah dan tangki
juga berfungsi untuk menampung
kelebihan tekanan pada waktu
kabel tersebut dibebani .

Fungsi tangki minyak pada
instalasi kabel tegangan tinggi terisi
minyak sangat penting . Umumnya
pemasangan tangki berada
ruangan dibawah tanah,sehingga
seacara fisik tangki minyak berada
pada tempat yang lembab dan
kemungkinan terendam air.Tangki
minyak ini tertentu
jumlahnya,bergantung pada profile
kabel,makin rendah kabel tersebut
ditanam,maka tangki minyak yang
harus disediakan bertambah dan
karakteristi- nyapun berbeda.Untuk
menjaga peralatan ini bekerja
dengan baik dan andal serta terjaga
kondisinya maka perlu dilakukan
pemeliharaannya.
Baik yang dipasang diatas
maupun dibawah tanah harus
selalu dilakukan pemeliharaannya,
namun untuk tangki yang dipasang
dibawah tanah lebih sering
diperiksa khusunya pada musim
hujan. Untuk melakukan
pemeliharaan tangki-tangki tersebut
dapat dilakukan dengan kondisi
ionstalai dalam keadaan
bertegangan yaitu dapat dipakai
tangki cadangan,untuk mengganti
tangki yang dilakukan
pemeliharaan.

1. Peralatan kerja
Untuk melaksanakan pekerjaan
pemeliharaan tangki minyak perlu
disediakan peralatan- peralatan
sebagai berikut:

a.Kaki tiga 3 ton
b.Blower dan slang
c.Tangga aluminium panjang 3 m
d.Generator 5 kw
e.Takel rantai
f.Tool set
g.Pompa lumpur

2. Peralatan K3

a.Baju tahan api
b.Helm
c.Oksigen
d.Sepatu kerja
e.Obat-obatan
f. Senter

3. Prosedur pemeliharaan
a. tangki diatas tanah
b. lakukan pembersihan fisik tangki
dan karat
c. Lakukan pengecatan(jika perlu)

4. Dibawah tanah

a. Buka tutup ruangan tangki
b. Pasang pompa air
c. Sedot air dalam ruangan tangki
d. Pasang blower dan
kelengkapannya
e. Lakukan evakuasi ruangan
f. Petugas masuk ke ruangan
tangki menggunakan peralatan
k3 lengkap
g. Membersihkan ruang dan tangki
h. Mengecat tangki (jika perlu)
j. Mengganti tangki minyak (jika
perlu)


339
k. Membersihkan pipa-pipa minyak dari lumpur dan karat.

5. Hasil pemeliharaan

SKTT 70/150 kV :……………………………….
UPT : ……………………………………………..
UJT : ………………………………………………
Pelaksana :…………………………………….

TANK Type NO. Tanggal
A ………….. B……………… H…………………




8.11. Anti crossbonding,
Converting

Anti corrosion covering
merupakan perangkat srtuktur
kabel yang penting fungsinya, yaitu
sebagai pelindung karat susunan
kabel dan sebagai jalan balik arus
gangguan ke tanah apabila terjadi
kebocoran arus konduktor utama ke
tanah. Logam yang digunakan
untuk kebutuhan struktur susunan
kabel tersebut adalah logam yang
sesuai,karena material tersebut
akan terkena medan magnet dan
medan listrik jika kabel
bertegangan.
Penampangnya disesuaiakn
dengan besarnya arus gangguan
satu fasa ke tanah sistem dimana
kabel tersebut dipasang.
Pemasangan instalasi kabel tanah
150 kV single coremenggunakan
sistem transposisi dan
crossbonding, yaitu sistem
pemasangan instalasi kabel yang
diharapkan dapat menghilangkan
atau mengurangi rugi-rugi transmisi
menggunakan kabel.

Pada kondisi kabel
bertegangan ,maka akan timbul
tegangan induksi pada anti
corrosion covering. Besarnya
tegangan induksi pada ketiga kabel
dengan susunan flat formation tidak
sama, yaitu kabel yang berada
ditengah akan lebih tinggi
dibandingkan dua kabel sebelahnya
,maka pemasangannya dilakukan
transposisi.

Anticorrosion covering perlu
dilakukan pengujiannya ,karena
material ini sesuai fungsinya dalam
sistem crosbonding harus dalam
kondisi selalu mengambang yaitu
tidak terkena tanah dalam satu
major section. Untuk mengetahui
apakah material ini kondisinya baik
,maka pengujian menggunakan HV
test dilakukan setiap 6 bulan,yaitu
untuk mengetahui apakah sistem
crossbonding yang digunakan
masih memenuhi syarat serta
instalasi dilakukan pengujian dalam
keadaan tidak bertegangan.


339
1. Peralatan yang digunakan
Untuk melaksanakan pekerjaan
pengujian anticorrosion covering
diperlukan peralatan peralatan
sebgai berikut:
a. Kaki tiga 3 ton
b. Blower dan slang
c. Tangga aluminium panjang 3 m
d. Generator 5 kw
e. Takel rantai
f. Tool set
g. Pompa lumpur
h. Meger 5000 vOlt
i. Alat uji Hv test 0-30 kV,10 A
j. Alat uji tahanan tanah

2 Peralatan K3
a. Baju tahan api
b. Helm
c. Oksigen
d. Sepatu kerja
e. Obat-obatan
f. Senter
g. Tenda
h. tandu
i. Masker
j. Alat Pemadam Api

3 Material
a. kain Majun
b. Nitrogen
c. Anti karat
d. paking karet
e. kompon
f. gas LPG + blender
g. Amplas
Untuk melaksanakan pekerjaan
pengujian peralatan ini,dapat
dilakukan satu sistem (major
section,Joint 0 sampai joint 3) dan
jika tidak dapat dilakukan maka diuji
seksi yang pendek (minor
section,joint 0 sampai joint 1)
sebagai berikut:
Instalasi kondisi off (ditanahkan
sesuai kebutuhan)
Pasang pagar pengaman antara
lokasi yang diuji
Buka tutup crossbonding (kedua
boks yang diuji)
(untuk boks pentanahan buka link
dan pentanahan,untuk boks
tahanan crosbonding, buka link dan
CCPU)
Pompa air keluar(jika ada)
Periksa tekanan N
2

buka tutupnya boks crossbonding
pada dua sisi yang diuji
pasang pentanahan lokal jika perlu
buka pisau-pisau
crossbonding(r,s,t)
Lakukan uji per fasa (misal fasa R)
pasang Hv test
.kabel tegangan tinggi pada
konduktor acc dan kabel yang lain
ke tanah
atur tegangan sampai 5 kV
catat arus bocornya
.lakukan selama satu menit
(jika tidak dapat dilakukan
pengujian berarti ada kebocoran ke
tanah)
Setelah selesai pasang link bar
(sebelum memasang tutupnya uji
dahulu CCPU seperti par 7)
Pemeliharaan CCPU
Cable covering protection unit
(CCPU) adalah peralatan instalasi
kabel menggunakan sistem
cosbonding yang berfungsi
mengamankan selubung


340
logam(acc) dari tegangan lebih
akibat tegangan
surja.Pemasangannya didalam
boks crossbonding bersamaan
dengan link bar crossbonding.
Masing –masing fasa sebelum
selubung logam dihubungkan ke
tanah pada boks crosbonding
terlebih dahulu dihubungkan
dengan

CCPU. Karakteristik CCPU adalah
sejenis arrester yaitu menggunakan
prinsip tahanan tak linier, pada
kondisi tegangan normal maka
berfungsi sebgai isolator dan pada
kondisi ada tegangan lebih surja
atau sejenis maka bersifat sebagai
konduktor.

3. Tujuan pemeliharaan
Pemeliharaan CCPU
dalakukan bersamaan dengan
pengujian acc karena kedua-
duanya perlu memadamkan
instalasi.Kondisi CCPU yang baik
akan berfungsi mengamankan
kabel dari tekanan tegangan lebih
yang dapat merusak sistem
crossbonding. Pemeliharaan CCPU
tidak hanya dilakukan pada waktu
pemeliharaan kabel dilaksanakan
namun perlu dilakukan
pemeriksaan apabila instalasi kabel
mengalami gangguan yang berat.



a. Peralatan yang digunakan
Untuk melaksanakan pekerjaan
pengujian anticorrosion covering
diperlukan peralatan peralatan
sebgai berikut:
a.Kaki tiga 3 ton
b.Blower dan slang
c.tangga aluminium panjang 3 m
d.Generator 5 kw
e.takel rantai
f.tool set
g.pompa lumpur
h.Megeer 5000 volt
i.Alat uji Hv test 0-30 kV,10 A
10.Alat uji tahanan tanah

4 . Peralatan K3
a.Baju tahan api
b.Helm
c.Oksigen
d.sepatu kerja
e.Obat-obatan
f.gas LPG + blender
g.Amplas
5. Metarial yang digunakan
a.kain Majun
b.Nitrogen
c.Anti karat
d.paking karet
e.kompon
f.senter
g.Tenda
8.tandu

4.Cara pemeliharaan
Bersamaan dengan pekerjaan
pemeliharaan dan pengujian
anticorrosion covering (ACC)
sebagai berikut:
a. buka ccpu dari dudukannya
b. Lakukan pengujian per buah
(satu fasa)
c. lakukan pengukuran tahanan
isolasi dengan megger 1000 volt
antara koonduktor dengan
tanah
d. pasangkan HV test antara
konduktor dengan tanah (ujung-
ujungnya)
e. atur tegangan dari 0 sampai
2 kV*


341
f. Catat arus bocornya g.Jika selesai pasang kembali.
* Ref kabel produksi china

VOLTAGE TEST
ONCORROSION COVERING AND CCPU

SKTT ( LINK) : ……………………………………………….
Tanggal/Bln /Th : …………/………………/…………………….
Pelaksana/P.Jawab : ………………………………………………
UPT :…………………………………………………
A.Anti Corossion Covering
I.Tahanan Isolasi

Peralatan Merah
( ) (MO
Kuning
( ) (MO
Biru
( ) (MO
MEGGER
Merk :


IITegangan tinggi ( 5 kV DC)

Peralatan Merah
(mA)
Kuning
(mA)
Biru
(mA)
Keterangan
BICCO Test 103


B .Uji CCPU
1. Uji Tegangan Tinggi
Fasa 3,5 kV* 6 kV* Keterangan
R *)
S
T
Tegangan
uji dan arus
(mA)

Harga yang
diharapkan
(mA)
I<0,1 I>1
*) Periksa manual book Kabel


2.MEGGER CCPU 1000 Volt
Isolasi CCPU harus lebih besar 10 MO

FASA R (MO) FASA S (MO) FASA T (MO)

Peralatan

Megger



342
1000Volt

* Ref.kabel STK

8.12. Cara Memeriksa Tekanan
Minyak Dengan Manometer

8.12.1.Manometer biasa
Manometer biasa adalah
tabung yang dipasangkan pada
suatu bejana, pipa atau kanal untuk
mengukur tekanan. Persamaan
hydrostatic digunakan untuk
menentukan tekanannya. Sehingga
dari manometer ini dapat diketahui
besarnya tekanan bahkan dapat
digunakan untuk mengetahui
tekanan dari benda cair yang
mengalir.
Untuk menjamin terhadap
pembacaan tekanan karena
akselerasi/percepatan pada
manometer diperlukan suatu tabung
yang pada didingnya diberi skala
dan angka yang terpasang secara
parallel dengan garis aliran dan
tidak terganggu pada saat
pembukaan. Jika manometer berisi
cairan pada suatu bejana
berhubungan seperti pada gambar
8.1(d). sehingga diperlukan bejana
yang cukup panjang(tinggi) jika
tekanannya tinggi maka dibuat
suatu manometer dengan bentuk
khusus dilengkapi jarum penunjuk
yang bebas bergerak sesuai
dengan tekanan dari benda cair
yang diukur.
Tekanan minyak ditunjukan
nilainya oleh jarum pada
manometer yang mempunyai
prinsip kerja berdasarkan tekanan
minyak dan pegas yang porosnya
dipasangkan jarum penunjuk,
dimana pada kondisi seimbang
angka yang ditunjukan sebagai
tekanan yang sebenarnya dari
minyak kabel. Gambar 8.2(c).
dengan teknologi maka manometer
ini dilengkapi dengan saklar yang
difungsikan sebagai alat pemutus
atau penyambung arus dan
dihubungkan dengan indicator atau
rele proteksi sehingga manometer
akan berbungsi sebagai alat Bantu
untuk mengindikasikan tekanan
alarm dan trip atau tekanan
berlebih.

Nilai absolute adalah
penunjukan atau nilai tekanan yang
berbasis pada tekanan nol bar,
pada umumnya manometer
menunjukan nilainya berdasarkan
tekanan udara 1 bar sebagai
tekanan atsmosfer.

8.12.2. Manometer
Manometer Vacuun adalah
manometer yang dapat
menunujukan kevacuuman suatu
ruangan yang secara absolute
(referensinya 0 bars) berarti vakum
disini adalah nilai tekanan ruang
dibawah nilai 1 bar dari tekanan
atsmosfer. Satuan nya seperseribu
bar atau millibars. Walaupun tidak
ada ruang hampa yang mutlak
kosong/hampa atau vacuum.

Tujuan mevacuum suatu
peralatan seperti kabel TT, trafo
dan alat-alat lain adalah untuk
mengupayakan setelah kondisi
vacuum atau kondisi tidak ada
benda asing berada didalam ruang


343
tsb sehingga pada saat diisi dengan
minyak atau gas isolasi (sf6) akan
dapat mengisi ruang-ruang hingga
terkecil maka didapat pengisian
yang baik tanpa ada ruang yang
berisi udara atau terdapat udara
terjebak yang sering berakibat
panas dan terjadi flash
over/gangguan yang cukup fatal
serta kerusakan breakdown isolasi
peralatan.








Pa
P
m
n
h
b

o
w
p
w
p
h
wh p
v a
b
÷ =
=

kPa
Valve
c
l
h
c
c
l
r
hp
hm
w=berat jenis.
c c
wh p =

c p p l
p h w p + =

(a)
(b)
(c)
(d)
Gambar 8.1. dasar manometer


345





Gambar 8.2. dasar Manometer tekanan minyak

8.12.3. Pemeliharaan Pilot Kabel
dan Manometer

Pada instalasi kabel tanah
tegangan tinggi selain kabel power
yang tertanam dibawah tanah ,juga
memerlukan kabel lain dalam satu
saluran,yaitu kabel pilot. Kabel pilot
merupakan instalasi yang
digunakan sebagai kabel-kabel
pengaman yaitu : kabel 7 pair untuk
mengamankan tekanan minyak baik
tekanan yang memberikan alrem
maupun mentripkan kabel,kabel 19
pair merupakan kabel penghubung
pengaman kabel terhadap
gangguan listrik yaitu sebagai
pemasok power ke proteksi
diferential kabel dan kabel 28 pair
digunakan sebagai fasilitas untuk
komunikasi data dan suara. Kabel
tersebut tertanam dekat dengan
kabel power sehingga
memungkinkan terkena induksi
,untuk itu memerlukan desain yang
khusus. Desain khusus dimaksud
adalah kabel pilot dilengkapi
dengan isolasi yang mampu
terhadap tegangan tinggi lebih dari
15 kV.

Kabel pilot secara khusus tidak
memerlukan pemeliharaan, namun
dengan adanya perubahan akibat
umur dan lokasi sekitar ,sehingga
kabel pilot perlu dilakukan
pemeliharaan. Sebagai contoh
bahwa nilai dari tahanan konduktor
berubah,sehingga akan
mempengaruhi kinerja proteksi.
Agar perubahan nilai tahanan dan
tahanan isolasi kabel pilot dapat
diketahui maka kabel tersebut perlu
dilakukan pengukuran dan
pengujian dengan waktu tertentu.

1. Peralatan kerja dan K3
Untuk memelihara kabel pilot
diperlukan peralatan sebagai
berikut:
a Meger 0 sampai 5000 Volt
b. Meger 0 sampai 1000 Volt
c. Pompa air
d. Pompa Lumpur
e. Alat kaki tiga
f. Takel rantai
2. Material
a. Contact cleaner
b. anti karat
c. Majun Pembersih

3. Cara Pemeliharaan Manometer

Manometer sebagai pengindera
tekanan minyak sepanjang waktu
harus mempunyai kinerja yang
benar, karena ketidakakuratan
manometer dapat menyebabkan
salah kerja yang mengakibatkan
kerugian atau dapat mengurangi
keandalan sistem operasi kabel
tanah tegangan tinggi.
Manometer dimaksud
mempunyai jarum penunjuk yang
berfungsi menjalankan alarem


346
(tingkat 1) dan tripping (tingkat 2).
Kedua posisi jarum tersebut harus
akurat penunjukkannya,karena
berkaitan dengan naik dan turunnya
tekanan minyak sepanjang kabel.
Tekanan Minyak akan
mengembang pada saat beban
kabel tinggi dan akan turun pada
waktu beban turun /rendah atau
suhu luar rendah.
Jarum yang lain adalah jarum
berwarna merah,yang berfungsi
untuk mengetahui tekanan tertitnggi
yang pernah dicapai sepanjang
operasi kabel. Dari pengalaman
dilapangan diketahui beberapa
manometer tidak berfungsi dengan
baik yang menyebabkan gangguan
dan kerusakkan kabel.

8.12.4.Pemelihharaan yang
dilakukan pada
manometer adalah :

- Pengujian terhadap kinerja
jarum penunjuk
- Pengujian setting tekanan
normal
- Pengujian terhadap setting
tekanan alalrem
- Pengujian setting tripout

Hasil pemeliharaan Manometer

SKTT 70/150 kV : :……………………………….
UPT : ……………………………………………..
UJT :…… ………………………………………………
Pelaksana :…………………………………….

Manometer fasa Keterangan
No

Tanggal
Tekanan(bar,
Kpa,Kg/cm/,p
si,mmbar)
R S T R S T *)
Normal
Alarem
Tripping

Tertingggi
pernah
dicapai



1. Pilot Kabel.
Seperti kabel instalasi yang
lain,apalagi kabel pilot tertanam
dengan kedalaman kurang lebih 2,5
meter dibawah tanah dengan suhu
tanah yang panas maka akan
terpengaruh oleh kondisi
lingkungan disekitarnya. Khususnya
pada terminal kabel pada panel
control cabinet yang ada didalan
underground tank chamber maupun
yang ada di sunshilled tank atau
panel kontrol. Semua terminal klem
tersebut mempunyai resiko
kelembaban atau bersentuhan
/berhubungan dengan peralatan
yang lain yang dapat menyebabkan
kondisi isolasi kabel pilot menurun
atau nol sama sekali. Untuk
mmengetahui perubahan kinerja


31
kabel pilot harus dilakukan pengukuran-pengukurannya.



2. HASIL PEMELIHARAAN KABEL PILOT

SKTT 70/150 kV :………………………………………………..
UPT : ……………………………………………..
UJT :…… ………………………………………………
Pelaksana :…………………………………….

1. Kabel pilot 7 pair
Cable pair Keterangan
P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 *)
No


Tanggal

Karakteristi
k

1. Tahanan
isolasi

2.Tahanan
DC




*) Menggunakan meger 5000V
2.Kabel pilot 19 pair
No Tanggal
Karakteristik
Cable pair
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tahanan
isolasi

Tahanan DC











347


3.Kabel pilot 28 pair

No

Tanggal

Karakte-
ristik

Cable pair
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1
1
1
2
1
3
1
4
Tahanan
isolasi

Tahanan
DC





8.13. Penggelaran kabel

8.13.1. Penggelaran kabel
Penarikan dengan mesin
Winch

Penarikan kabel yang biasa
dilaksanakan dimaksud adalah
menggunakan tenaga mesin Winch
(mesin bensin atau motor listrik)
dengan menempatkan ‘roler kabel’
sepanjang rute dengan jarak antara
2+3 M pada porsi kelurusan dengan
titik belok max 0,4 m
Pembuatan belokan biasa
dilakukan dengan menyesuaikan
roler yang umum yang diatur baik
secara horizontal maupun vertikal
(sesuai kebutuhan); secara teknik
adalah penyelesaian yang lebih
andal, karena dapat menekan
keregangan langsung antara kabel
dan rolernya , bisa didapatkan
dengan menggunakan struktur yang
diperlihatkan pada kertas lampiran
no. 2272/78/A
Belokan ditempatkan terutama
pada salah satu ujung sambungan
yang pada umumnya dapat dipilh
pada waktu penempatan ‘cable
drums’ pada ujung, ini
dimaksudkan melewati daerah
belokan2 ini dengan pengurangan
peregangan langsung.
‘Cable Drum’ ini dapat diatur di
dua sisi arah secara bertahap dan
berlanjut. Kekencangan penerikan
harus secara terus menerus
dikontrol dengan menggunakan
sebuah dynamometer. Karena
kekencangan ini ditimbulkan oleh
konduktor kabel, dimana mata(titik)
tarikan dikaitkan

hal ini kadang kadang dapat
menjadi gangguan terhadap
komponen kabel yang lain
sebagaimana terlihat pada tabel
(mengidikasikan keregangan


349
maksimum yang diizikan untuk
bebagai kmponen kabel).
Dari semua kasus antara
titik(mata) tarikan kabel dan
tambang(tali) penarikan, harus
digunakan sebuah alat kusus yang
bernama “swivel”, alat ini
mempunya fungsi ganda dapat
meringankan kenaikan torsi tarikan
tambang dan memudahkan dalam
meliwati roler rolel.
Pada rute yang penggelaran
berbelok belok dan penghitungan
regangan tarikan mungkin melebihi
angka reganganya ini diindikasikan
pada poin 3.0 berikut yang perlu
diikuti, kemudian ini perlu juga
untuk mengikuti sistem penarikan
alternative yang lain dan disini
akan diuraikan

8.13.2. Penarikan dengan roler
bertenaga.

Ini bisa jadi mengadopsi kedua
bagian bagian yang diandalkan
dengan tujuan menekan regangan
tarikan mesin Winch, dan sebagai
bagian andalan, apabila diatur
sesuai dengan keadaan parit
(galian)

1. Metoda ikat berlanjut
Regangan tarikan yg
diakibatkan oleh sebuah tambang
baja dimana kabel diikatkan pada
jarak 2 m tali penarik yang dibuat
supaya kabel bergerak.
Hal ini perlu untuk
mempersiapkan tambang yang
sesuai dengan belokan belokan
dan jalan-jalan raya persimpangan.
Dengan tujuan untuk melaksanakan
tipe ini , gelaran tambang
panjangnya dua kali lipat terhadap
rute yang dikehendaki.



2. Peralatan gelar.

Peralatan gelar yang
diperlukan dalam penarikan kawat
adalah katrol, meter dll

8.14. Regangan maksimum yang
diizinkan pada kabel.

8.14.1. Porsi Lurus
Ini adalah aturan yg baik dalam
menggunakan regangan tarikan
untuk konduktor, dimana secara
umum adalah bagian yg paling
rawan. Dia kadang baik dan cocok
untuk menggunakan ukuran
keregangan dan componen kabel
lainnya.

8.14.2. Tarikan ujung, dengan
mata tarikan diikatkan
pada konduktor

- Kabel pole tunggal tembaga
6 kg/mm2 Cu . section
- Alminium 3 kg/mm2 Al. section
- Kabel tiga pole tembaga
5 kg/mm2 total Cu section
- Alminium 3 kg/mm2 total Al
section
nilai peregangan ini adalah sesuai
untuk koduktor berpenguat, pada
conductor berpenguat
dimungkinkan menerima
regangan yg lebih tinggi (14 kg/
mm2 Cu. dan 8 kg/mm2 untuk Al.)
8.14.3.Tarikan ujung dengan
mata tarik diikatkan pada
Armouring.



350
Tarikan ujung dengan mata tarik
diikatkan pada Armouring dilakukan
pada kawat tipe kawat lempengan
baja 8 kg/mm2 total section dari
amouring tsb.

1.Ujung tarikan dengan bungkus
baja

- digunakan tarikan ujung
dengan pembungkus baja pada
kabel berbungkus almn.: 3
kg/mm2 sheat section
- digunakan pada kabel ber ‘lead
sheathed’ : 1 kg/mm2 sheath
section

1. Porsi belok
Aturan umum radius belok tidak
boleh lebih kecil dari 30 kali dari
lingkaran luar kabel

2. Belokan dilengkapi dengan
roler. Tekanan paksa antara
kabel dengan roler tak boleh
melebihi:

- Kabel bebungkus almn. :
200 kg
- Kabel ber ‘lead sheathed ’ :
50 kg
- Kabel tanpa bunkus metal :
50 kg
- Tekanan paksa harus dihitung
dengan rumus berikut:

F
0
= ) (
.
kg
R
d T

Dimana :
F
0
= tekanan paksa antara kabel
dan roler (m)
T = kekencangan tarik setelah
belokan (m)
R = Radius belok kabel (m)
d = Jarak antar roler(m)



3. Belokan2 dengan penyangga
bersambung ( peluncur dan
pipa2)

Tekanan paksa antara kabel
dengan permukaan penyangga
tidak boleh melebihi :
- Kabel bungkus alminium :
2000 kg/m
- kabel ber‘lead sheath’ :
500 kg/m
- Kabel tanpa pembungkus metal:
400 kg/m

8.15. Perhitungan Daya Tarik
Horizontal)
1. Porsi lurus
Daya tariknya adalah:
F = l . p . f ( kg )
Dimana:
F = regangan tarik
l = panjang gelaran porsi lurus
p = berat kabel per meter

f = koifisien gesek ( ab. 0.1 )

2. Porsi belok
Dengan rumus berikut ini kita
bisa melakukan evaluasi panjang
rute lefel equifalen dengan
sempurna, bersamaan dengan
krtegangan tarikan yang sama yang
akan terjadi, apabila penggelaran
menggunakan roler :

L
2
= L
1
. cos hk ˜ + V
1
+
1 . L
k
R
sin hk ˜

dimana :
L
1
= panjang equifalen inlet
K = koifisien gesek ( ab. O.1 )


351
˜ = sudut belok ( radiant )
L
2
= panjang equifalen outlet
panjang equifalen dikalikan
dengan berat kabel dan koifisien
gesek, dengan cara ini besar
tarikan setelah belokan dapat
didapat.
Hal ini perlu lebih jauh untuk
menentukan jumlah roler yang
dihitung yang ada, dengan tujuan
untuk menghindari tekanan kabel
terhadap roler melebihi nilai yang
terindikasi. ; rumus hitungan
sebagai berikut ;

F
t
= L
2
. p . f (kg)
Yang mana arti simbol2 telah kita
ketahui.

3. Gelaran Didalam Saluran Atau
Pipa

Permukaan pipa/saluran harus
halus/licin tanpa bendolan.
Karena alasan ini maka plastic
saluran/pipa tadi harus dipilih.
Bagaimanapun juga kita berikan
koifisien gesek yang berbeda untuk
tipe permukaan pipa- saluran.


Tabel 8.11. Bahan pipa saluran
Bahan pipa saluran gesek Pembungkus luar kabel Koifisien
P V C Lead 0,25
P V C Polyethylene 0,25
Asbestos- cement Lead 0,45
Asbestos- cement Polyethylene 0,33
Beton Jute 0,80
Beton Lead 0,50
Beton Polyethylene 0,40

Untuk menurunkan koifisien
gesek bisa digunakan pelumas,
seperti :
- Air dengan bubuk grafit
- Sabun bubuk dengan air dan grafit
Dengan pelumasan seperti ini
penurunan koifisien gesek sampai
30% dapat dicapai . Diameter
dalam dari pipa saluran harus
paling tidak 1,5 kali dari diameter
luar cabel. Aturan yang baik adalah
hanya diizinkan 1 kabel didalam 1
saluran . Radius belok yang
diizinkan untuk pipa/saluran
tergantung pada jumlah posisi
belokan sepanjang rute dan
peregangan bertahap terjadi antara
kabel dan pipa saluran
Radius belokan pipa harus
tidak pernah lebih kecil dari 40 kali
diameter lingkaran luar kabel.

4.Porsi lurus
Regangan tarik adala :
F = l . p . f ( kg )
Dimana simbol2 mempunyai arti
yang sama dengan rumus pada

5, Porsi belok
Regangan tarik setelah belokan
dievaluasi kurang lebih seperti
rumus berikut:

F
2
= F
1
. e f˜ ( kg)
Dimana:
F
1
= kuat tarik pada
inlet(masuk)


352
f = koifisien gesek
˜ = sudut perubahan arah
(dalam radius)
Setelah itu perlu dicek bahwa
regangan bertabah dalam batas
maksimum. Apa bila kasusnya
berlawanan hal ini perlu
membesarkan radius belokan.
Jadi belokan2 dipertimbangkan
sebagai ‘ titik2 perubahan
kecenderungan”; krena alasan
inilah panjangnya dari porsi lurus
antara dua belokan harus
diperpanjang sesuai dengan dua
sisi panjangnya terhadap
belokannya.
Perhitungan kuat tarik pada posisi miring .

Gambar 8.2 Kuat tarik pada posisi miring .
Dimana :
F
1
= l . p . f . cos ސ ± 1 . p . h

l = panjang porsi pada posisi miring
p = berat kabel per meter
f = koifisien gesek
h = perbedaan level
± = sebagai fungsi arah tarikan
apabila sudut ސ kecil, cos ސ = 1, kemudian

F
1
= l . p . f ± p . h ( kg )















h
l
P cos ސ
ސ
P sin ސ
P


353
8.16. Peralatan Pergelaran .
Peralatan pergelaran dapat dilihat pada table 8.12.
Tabel 8.12 Peralatan pergelaran
Jumlah Uraian keterangan
1 Kawat penarik ‘winch’ 10 H.P

Kecepatan tarik 17 dan 23
meter/menit
Kekuatan 3000 kg
1 Dram besi tambang baja

JUMLAH ISI ± 15 m3

1 Frame untuk said winch Jumlah berat ± 5.5000 kg

1 Pasang trestles penyangga dram


300 Pasang trestless lengkap (shaft
dan hidrolik) jack untuk
mengangkat dram dengan
kemampuan diatas 20 ton


1 Dinamometer 3 ton dan
timbangan


2 Roler kabel


3 Claher roler swivel
1 Gripn (pemegang) penarik
pasang walkie - talkie Jackj
pengangkat


8.17. Jadwal Pemeliharan Saluran kabel Tegangan tinggi .
Jadwal Pemeliharan Saluran kabel Tegangan tinggi seperti table 8.13.

Tabel 8.13. Jadwal Pemeliharan Saluran kabel Tegangan tinggi .

NO Nama Alat Pemeliharaan Periode
1 Kabel minyak - tekanan minyak 1 minggu
2
Kabel minyak
cadangan
- tekanan minyak
1 minggu
3
Terminal Sealing
End
- Visual inspeksi
3 bulan
- pembersihan isolator 1 tahun
4 Tank Chamber - Visual inspeksi 3 bulan


354

- pembersihan dan
pengecatan
1 tahun
5
Sistem
crossbonding
- HV DC test pada
pelindung anti korosi
6 bulan

- HV DC Test pada
CCPU
6 bulan

- Pembersihan
crossbonding
1 tahun
6
Sistem Alarm - pemeriksaan lampu
indicator pada panal
kontrol
1 minggu

- pemeriksaan kontak
signal dari manometer
6 bulan



8.18. Kebocoran Minyak
Bila alarm tentang kebocoran minyak terjadi maka proses
penanggulangan dapat dilakukan seperti flowchart dibawah ini :


355

Gambar alir 8.3 : langkah bila terjadi kebocoran minyak kabel

kebocoran minyak kecil jika
perbedaan tekanan pada ketiga
fasa pada seksi yang sama.
Pemeriksaan dimulai jika
perbedaan tekanannya adalah 30
kPa.
Nilai perubahan tekanan dinyatakan
medium jika kebocoran minyaknya
mengakibatkan tekanan berubah
antara 1.0 kPa/hari <P<10.0
kPa/hari.
1. Kebocoran Kecil.
Tindak lanjut yang lebih detail
diperlukan untuk setiap terjadi
kebocoran yang dijelaskan sebagai
berikut :
2. Kebocoran minyak kecil.
Bila terjadi kebocoran minyak kecil
dari pengalaman disebabkan
karena paking, konektor dan pada
Alarm terjadi dan
diketahui operator
start
Catatan tekanan
sebelumnya
Periksa dan analisa
besarnya perubahan
tekanan minyak.

Perubahan tekanan
minyak tidak dapat
diperiksa/dianalisa
dalam periode
beberapa jam
Kebocoran minyak kecil
jika perubahan tekanan <
1.00 kPa/hari
Jika perubahan
tekanan minyak sangat
besar atau tekanan
minyak sudah menuju
ke trip (switch out).
Kebocoran minyak
besar.
Jika perubahan tekanan


356
saat pembersihan permukaan kabel
dengan benda tajam.
Tindakan yang paling penting dan
segera tidak diperlukan, hasil
pemantauan selama satu minggu
baru dilakukan tindakan jika sudah
diketahui lokasi kebocorannya.
Tekanan minyak selalu di catat
setiap jam sampai perbaikan
selesai.

3. Bagan Alir tindakan untuk kebocoran kecil :

4. Kebocoran Besar.
Pada masalah ini penyebab utama kejadian ini harus diketahui terutama
penyebab kerusakan dari luar (eksternal). Kecepatan tindakan sangat
diperlukan untuk itu dapat dilakukan tindakan sesuai bagan alir dibawah ini :

bagan alir kebocoran besar


Kebocoran minyak kecil jika
perubahan tekanan < 1.00
kPa/hari
Apakah
kebocoran
diantara katup
pd panel dan
Sambungan sementara untuk
pasokan minyak.
Dilokalisir dan perbaikan
kebocoran. Reset
rangkaian minyak.
Sambungan sementara
untuk pasokan minyak.
perbaikan kebocoran. Reset
rangkaian minyak.
Gambar alir 8.4 : langkah awal bila terjadi kebocoran minyak kabel


357

Kebocoran minyak besar.
Jika perubahan tekanan >
10.00 kPa/hari
Apakah
kabel
harus
Kabel
operasi
Apakah kebocoran
minyak diantara pipa
pemasok minyak antara
tangki bertekanan dan
katup serta manometer
pada panel ?
Diproses
dengan
Cari lokasi
Lanjutkan
pasokan minyak
Pencegahan
kebocoran
sementara
1
Apakah
tekanan
minyak
dibawah
level
Apakah
tekanan
minyak
dibawah
level
alarm ?
Apakah
kabel
harus
Kabel
operasi
Diproses dengan
operasi katup A
Pencegahan kebocoran
sementara


358



5. Memperbaiki kabel minyak yang bocor.
Setelah diketemukan lokasi kebocoran maka segera dilakukan perbaikan
dengan urutan sbb :


Lokasi kebocoran minyak Perbaikan sementara
Perbaikan
permanen
Sealing end pada Gas
a. Flange tembaga bagian
bawah tabung
Periksa kekencangan baut-
bautnya
Ganti gasketnya
b. kebocoran pada
permukaan kabel
- Dengan menggunakan
palu untuk memukul
permukaan sehingga
menutup kebocoran tsb
- Melapisi permukaan
dengan plastik tape.
Instalasi
kembali.
c. Konektor pipa pemasok
minyak.
Periksa kekencangan baut-
bautnya
Instalasi
kembali.
d. isolator penghubung Periksa kekencangan baut-
bautnya
Ganti isolator
penghubung
Perbaikan permanen atau mengganti
kabel yang rusak atau accesories
kabelnya
1
Mengembalikan setting pengaman dari
sistem minyak.
Pengoperasian kembali kabel
selesai
Gambar alir 8.5 : langkah bila terjadi kebocoran minyak kabel
cukup besar


359
dengan yang
baru.
Tangki tekanan.
a. Katup.

Bungkus dengan isolasi
/plastik tape
Ganti katupnya
b. Konektor Periksa kekencangan baut-
bautnya
Instalasi
kembali.
Pipa pemasok minyak
a. Konektor Periksa kekencangan baut-
bautnya
Ganti dgn yg
baru atau
Instalasi kembali
Kabel Tenaga
a. Pelindung kabel (lead
sheath)
- Dengan menggunakan
palu untuk memukul
permukaan sehingga
menutup kebocoran tsb
- Melapisi permukaan
dengan plastik tape.
Ganti bagian
kabel yang
bocor.

Yang paling penting untuk
perbaikan kabel dan alat bantunya
(accesories) adalah tekanan yang
agak sedikit rendah dari pada
tekanan normal dan dipertahankan
setiap saat sebagai usaha untuk
menjaga agar kandungan udara
yang lembab masuk kedalam
sistem kabel.

6. Tindakan yang dilakukan untuk
minyak dengan tekanan tinggi.

Prosedure pada kejadian
gangguan minyak dengan tekanan
tinggi sangat diperlukan karena
tekanan minyak maka ke hati-hatian
dan konsentrasi pada masalah
sangat diperlukan. Adapun
prosedurenya adalah sbb :
Pengoperqasian katup(valve).
Sebagai contoh adalah minyak
tekanan tinggi pada salah satu
phasa maka :
1. Katup no 4 harus selalu tertutup
dengan baik.
2. Pipa penghubung untuk
pengeluaran minyak dari tangki
dihubungkan dengan ‘chek
conector’ yang ditempatkan
pada meter tekanan dan “valve
panel”.
3. Katup no 4 dibuka.
4. Alrian minyak tekanan tinggi dari
tangki akan terlihat pada meter
dan “valvepanel” sehingga
penunjukan meter tekanan
berada dibawah batas dari
tekanan minyak tertinggi yang
perbolehkan.
5. perbaikan sehingga rangkaian
menjadi seperti semula.


8.19. Gangguan kabel pada
lapisan pelindung P.E.
oversheath.

8.19.1. Methoda mencari lokasi
gangguan pada lapisan
pelindung kabel.



360
Sebagai hasil pemeriksaan
rutine pada lapisan pelindung kabel
diketahui terjadi kerusakan lapisan
pelindung kabel maka perlu
ditindaklanjuti dengan mencari
lokasi kerusakan lapisan pelindung
kabel.
Untuk mengatasi kerusakan
lapisan pelindung perlu mencari
lokasi untuk itu diperlukan
pengukuran, sehingga kabel
tersebut harus tidak dioperasikan
(bebas Tegangan). Digunkan
bermacam –macam metoda untuk
mencari lokasi keruskan lapisan
pelindung dari yang sederhana
hingga yang paling modern dan
cukup canggih. Disini akan
dijelaskan cara sederhana yang
mana sebenarnya awal dari
sederhana ini berkembang menjadi
seperti kondisi sekarang.

8.19.2. Methoda Murray.
Methoda ini diketemukan oleh
Jhon Murray yang berprinsip dari
cara pengukuran tahanan dengan
methoda jembatan Weatstone.
Prinsip kerjanya dengan
menghubungkan salah satu ujung
kabel antara konduktornya dan
lapisan pelindung dan diujung yang
lain dipasangkan sumber tegangan
DC lengkap dengan saklarnya dan
tahanan geser yang center tapnya
disambungkan ke galvanometer.




Jika galvanometer menunjuk
angka nol setelah mengatur posisi
center tap pada tahanan geser
maka akan diperoleh persamaan
seperti rumus pada sistem
jembatan Weatstone :

2 1
2
2
1
2 .
2
R R
L R
X
X
X L
R
R
+
=
÷
=


G
R1
R2
L
X
Gambar 8.6 : mencari lokasi kerusakan PE oversheath dgn jembatan Murray


361
dimana ; R
1
dan R
2
= tahanan
geser diantara c
L = panjang kabel ( 2L karena
rangkaian tertutup).
X = Jarak lokasi kerusakan dari
titik ukur.

Tahanan geser mempunyai
tingkat dari 0 – 100, yang akan
dibaca dan menjadi acuan
perhitungan prosentase jarak untuk
menentukan jarak dari titik ukur ke
lokasi gangguan pada lapisan
pelindung kabel.

1. Cara pengukuran.
a. Mengisolasi kabel gangguan
dengan cara melepas plat
penghubung diantara kedua sisi
pada links boxes.
b. Hubungkan alat ukur jembatan
Murray ke terminal dari lead
sheath dari kabel yang rusak.
Seperti gambar dibawah ini .



- Sambungkan kabel pelindung
(PE oversheaths) pada terminal
‘ + ‘ dan konduktor utama
disambungkan pada terminal ‘
– ‘ pada alat ukur Murray.
Hubungkan batere sehingga
menjadi rangkaian tertutup
sistem Murrsay seperti pada
gambar.
- Nyalakan alat dengan menekan
saklar on dan biarkan beberapa
menit untuk pemanasan alat.
- Masukan saklar ‘S’ dari batere
eksternal dan atur nilai R
1
dan
sheath
G
E
6 atau 12 Volt
(aki mobil)
S
+ -
Gambar 8.7 : mencari lokasi kerusakan PE oversheath dgn jembatan Murray


362
R
2
sehingga galvanometer
menunjuk nilai ‘0’. Dan akan
diperoleh prosentasi jarak
lapisan pelindung kabel yang
mengalami kerusakan.

c. Mendeteksi lokasi gangguan PE
oversheath di kabel dengan
sistem elektrode.








2. Prinsip kerja

Metode ini menggunakan sifat
karakteristik dari potensial listrik
didalam diluar permukaan tanah
yang disebabkan oleh mengalirnya
arus ke dalam dan keluar dari titik
gangguan, arus yang secara tiba-
tiba menjadi besar atau maksimum
maka arus sebagai indikasi yang
berupa arah jarum dan besarnya
tegangan (polarity) dan menjadi
petunjuk perbedaan (arah dari arus
bocor) arus DC antara konduktor
dan lapisan pelindung dan dari
tanah. Perbedaan potensial tsb
diatas terjadi diatas permukaan
jalur kabel sehingga dengan
menggunakan voltmeter atau
galvanometer yang dilengkapi
dengan elektrode sebagai
penghantar dan pendeteksi lokasi
gangguan.



363

Gambar 8.8 : mencari lokasi kerusakan PE
c. metoda pengukuran.
- Kabel yang gangguan diisolir
dengan cara melepas plat
penghubung diantara kedua
ujung link boxes.
- Sambungkan sumber DC
(generator DC tegangan tinggi)
ke terminal pada link boxes
yang tersambung dengan
lapisan pelindung (leadsheath)
dari kabel yang gangguan.
- Alirkan arus DC dengan bentuk
pulsa ke kabel yang gangguan.
- Masukan batang elektroda
diatas permukaan tanah
dimana kabel yang gangguan.
Tentukan arah arus dilihat dari
arah penunjukan jarum dari
voltmeter atau galvanometer
sehingga dapat diketahui lokasi
gangguan. (ketika tegangan
sumber DC ‘+’ tersambung pada
salah satu elektrode dan pointer
pada galvanometer akan membuat
arah penyimpangan semakin besar
berarti sudah dekat dengan lokasi
gangguan dan akan berbalik jika
lokasi gangguan terlewati).
- Persempit electrode pada
lokasi dimana penyimpangan
jarum paling besar.
Galvanometer atau voltmeter
elektrode
Electric potential
Electric difference
Immediately above
the fault point
Power source


364

Gambar 8.9. Metoda pengukuran

PVC/ PE sheath
Lokasi
Lead sheath
Batere (DC /pulse)
G G G G
Penyimpangan jarum
Penyimpangan berbalik
_
+
sisi
Pembacaan
l t
Gambar 8.10. Metoda pengukuran

DC
POWER
SUPPLA
+
diketanahkan
Lokasi ggangguan
kabel
-
G
G
G
G


365
d. Memperbaiki P.E. oversheath pada kabel.

Jika P.E. oversheath pada kabel mengalami kerusakan, dan telah dibuktikan
maka prioritas selanjutnya adalah perbaikan. Setelah diperbaiki maka untuk
membuktikan bahwa kabel sudah layak dioperasikan maka perlu dilakukan
pengujian-pengujian untuk menjamin bahwa kabel laik untuk dioperasikan.
aminannya adalah hasil pekerjaan yang benar yaitu langkah2 perbaikan yang
baik dan benar seperti berikut :.


Kerusakan pada P.E.
over sheath dari
suatu kabel.

Pelapisan pelindung
dengan resin / glass
tape atau heat
shrinkcabel tube.



Anti – corrosion tape
( polyethylene) P.E.
Adhesive tape.


Adhesive tape
Water proof tape.
Gambar 8.11. Metoda pengukuran
X
X
C
X
B
X
A
D


366
Metoda perbaikan P.E. & PVC over-
sheath.
3.1. pertama bagian yang rusak
pada P.E atau PVC over
sheath berupa serabut kawat
atau sejenis tape yang
berserabut dibersihkan.
3.2. bersihkan dengan sikat dan
bersihkan seluruh permukaan.
3.3. lakukan separuh (½) dari
lapisan epoxy resin dan glass
tape.
3.4. gunakan pelindung dari
heatshrink tube atau PVC
adhesive tape dan ½ lapis anti
corrosive tape (polyethylene).
3.5. gunakan dua ½ lapis dari
water-proof tape dan dua ½ lap
lapisan P.E dan PVC adhesive
tape.

8.20. Memperbaiki kerusakan
Kabel (kerusakan
eksternal).

8.20.1.Memperbaiki kerusakan
lead sheath kabel.

Perbaikan dapat dilaksanakan
jika telah diketemukan lokasi
kerusakan pada sheath dan
dilakukan setelah memenuhi.
petunjuk yang dijelaskan dibawah
ini.
- Kabel harus bebas tegangan.
- Case A : Kerusakan
diperkiraan tidak dari luar
kabel.
- Case B : Terdapat lubang
atau keretakan pada lead
sheath.



1.Case A : Kerusakan
diperkiraan tidak dari
luar kabel.

Pada kasus ini kabel harus
dipadamkan segera (tidak
dioperasikan).
Lakukan pemeriksaan sebagai
berikut :
a. Perubahan yang terjadi pada
bentuk lead sheath.
b. Kerusakan pada screen/lapisan
pelindung.
c. Kerusakan pada isolasi kabel.
d. Air didalam kabel.
e. Benda asing yang
mengakibatkan kontaminasi.
f. Gas yang sudah terkontaminasi
pada kabel.
Berdasarkan penjelasan
tersebut diatas ketentuan yang
harus dilakukan dapat diputuskan.
Jika kabel dengan kondisi
dapat diperbaiki maka perbaikan
sesuai dengan kondisinya, tetapi
jika tidak dapat maka kabel baru
digunakan untuk menyambung
yang rusak.

2. Case B:

Terdapat lubang atau keretakan
pada lead sheath. Setelah
penggalian tanah diatas kabel
selesai maka P.E over sheath dan
serat pelindung maka perbaikan
dapat dilaksanakan dengan
langkah-langkah sbb :.
a. Jika kondisi terjadi kebocoran
kecil karena tertusuk benda
runcing atau karena retak kecil
maka.
1). Sumbat lubang bocor dan
dengan menggunakan palu
serta pemukulan yang tidak
terlalu keras sehingga lubang


367
tertutup. Sama caranya untuk
menutup keretakan digunakan
palu dan lubang keretakan
ditutup dulu kemudian dapat
digunakan cara plumbing yang
disapukan disekitar lokasi yang
retak.
2). Gunakan fibrous tape dan
reinforcement tape untuk
melapisi lead sheath pada
lokasi kerusakan serta

3). Perbaikan oversheath dari
kabel tsb.
Langkah tersebut diatas sudah
mencukupi untuk mengatas
kebocoran karena lubang atau
retak pada lead sheath sehingga
tidak terjadi kebocoran.

b. Jika kondisi tersebut diatas,
walaupun sedikit kebocoran
tetapi mempunyai
kecenderungan menjadi
kebocoran yang lebih besar
maka.
1). Setelah mengupas P.E.
oversheath, fibrous tape dan
reinforcement , diperlukan
penguat dengan cara
mensolder pada daerah yg
mengalami kerusakan.
2). Gunakan 6 lapisan tape yang
tahan minyak dari pita plastik
pada pada daerah yg
mengalami kerusakan.
3). Kemudian gunakan 4 lapisan
tape epoxy resin impregnated
glass diatas semua permukaan
lapisan tahan minyak.
4). Gunakan 4 lapis lembaran dari
F-CO tape (anti corrosive
tape/polyenthylene) dan
ditambah 2 lapisan lembaran
BALCO (waterproof tape) dan 2
lapisan lembaran P.E adhesive
tape.
c. Multymetal.
i. Setelah melapisi P.E
oversheath, fibrous tape dan
reinforcement, dilakukan
pembersihan ditempat terjadi
kerusakan.
5). Tutup valve dikedua sisi
pengisian minyak kabel dan
gunakan campuran multymetal
untuk melapisi di daerah yg
mengalami kerusakan.
6). (lakukan langkah seperti pada
kasus 2) – (3 – 4).

8.20.2. Mengganti Kabel yang
rusak.

Jika kerusakan terjadi pada
kabelnya sendiri, tetapi jika screen
dan insulation paper tidak rusak
maka kabel dapat dioperasikan
dalam waktu yang cukup lama
setelah lead sheath, P.E.
oversheath dan pembersihan/filter
minyak isolasi telah dilakukan pada
kabel tsb.
Kabel yang telah mengalami
kerusakan maka kabel dipotong
dan tidak digunakan lagi sehingga
perlu kabel baru sebagai pengganti.



368

Gambar 8.12. Metoda pengukuran

panjang kabel pengganti sangat
tergantung dengan kondisi
kerusakan seperti kandungan air
pada isolasi, tingkat kontaminasi
minyak kabel dan kondisi
disekitar
permukaan tanah dari jalur
kabel
tersebut.

1. Testing setelah kabel
diperbaiki.

Pelaksanaan testing dilakukan
oleh petugas yang berkompetensi
enginir untuk menjamin kelayakan
kabel tersbut apakah dapat
dioperasikan apa tidak setelah
diperbaiki. Semua hasil pengujian
dicatat dan dianalisa untuk
menentukan kelayakan kabel tsb.

a. Kabel minyak
1). Pengujian tahanan isolasi
kabel.

Pengukuran isolasi
dilaksanakan dengan
mengukur tahanan isolasi
diantara konduktor terhadap
pentanahan menggunakan alat
yang bertegangan 1000 volt dc,
hasil ukurnya harus lebih besar
100 Mȍ. Pengukuran ini pertama
kali dilakukan setelah kabel
selesai disambung.

2). Tahanan DC dari konduktor.
Pengukuran tahanan dc
sambungan konduktor yang
setelah diperbaiki, hasil
pengukuran tahanan dc pada 20º
C adalah 0.0754 ȍ/Km (max)
pada kabel minyak uk 240 mm².
Jenis Pengukuran yang kedua
dilakukan setelah kabel selesai
disambung.

3). Pengujian oversheath.
Pengujian dilakukan setelah
surge diverters dilepas agar pada
saat pengujian tidak mengakibatkan
kerusakan akibat tegangan uji.
Semua instalasi yang menjadi
ketentuan seperti sheats insulatios,
external joint insulation, terminal
base insulation pada bonding leads
dan link boxes, insulation sections
pada pipa minyak serta yang
lainnya dari kabel yang perbaiki
Kabel yang diganti
X
Lokasi gangguan
Kabel baru
Kabel lama
Sambungan Kabel


369
akan menjadi subyek pengujian
tahanan dengan memberikan
tegangan DC 10 kV selama 5
menit. Jenis Pengukuran yang
ketiga dilakukan setelah kabel
selesai disambung dan telah
teriisi minyak kembali.

b. Test tegangan tinggi.
Perbaikan sirkit kabel yang rusak
setelah selesai perbaikan tekanan
minyak telah normal harus
dilakukan pengujian dengan
tegangan tinggi DC antara
konduktor dan sheats selama 15
menit. Pengujian ini semua seksi
dari kabel harus disambung
walaupun secara temporary. Arus
tegangan searah akan mengalir
pada kabel melalui alat test uang
disambung pada ujung kabel
(sealing end) baik yang sf6 maupun
yang konvensional yang telah
dilepas dengan sambungan ke GIS
atau peralatan lain.

c. Pengujian aliran Minyak. (oil
flow test).

Setelah perbaikan, setiap seksi
minyaknya harus diukur alirannya,
hal tersbut untuk menjamin tidak
ada ketidak normalan aliran minyak
pada saluran Kabel minyak tsb.
Pengukuran dilaksanakan
dengan menuangkan/mengalirkan
minyak bertekanan keluar sebagai
salah satu mengukur aliran minyak
bertekanan.
Teori drop tekanan dengan
rumus sbb :
QbL P =

Dimana : P = perbedaan
tekanan pada seksi kabel tsb.
(tergantung route dan profil dan
satuannya (KN/m²).
Q = nilai aliran (liter per detik).
L = panjang seksi kabel (m).
b = koefisien gesekan minyak pada
kabel (MN/m
6
).
atau pipa bulat adalah:

4
3
10 54 , 2
r
n
b
×
=

Dimana n = viskositas dari minyak
9centipoise) pada temperatur pengujian.
r = radius bagiandalam (mm) daratau
kabel diukur bagian dalam (r = 7 mm)

Jika Kabelnya single core maka secara
teori tekanan nya aliran minyak akan
memberikan tekanan pada setiap kabel
adalah sbb :

) 2 (
10
÷
× = QbL P


Dimana : P = perbedaan tekanan
pada seksi kabel tsb. (tergantung route
dan profil dan satuannya (KN/m²).
Q = nilai aliran (liter per detik).
L = panjang seksi kabel (m).
b = koefisien gesekan minyak pada
kabel (MN S/m
6
).
Untuk kabel atau pipa bulat
adalah:
4
3
10 54 , 2
r
n
b
×
=


Dimana n = viskositas dari minyak
9centipoise) pada temperatur pengujian.
r = radius bagian dalam (mm) dari pipa
atau kabel diukur bagian dalam (r = 7
mm)

perbandingan aliran yang diperoleh dari
kabel yang baru selesai dipasang harus
diingatkan bahwa hal tsb sudah
termasuk semua sambungan pada seksi


370
kabel tsb dan hal tersebut hanya
menjadi gambaran dalam
pemeliharaan dan petunjuk.
Perhitungan itu tidak menunjukan
gangguan tak semestinya dari
sistem kabel tsb.


d. Test kooefisient impregnasi.
Setelah selesai secara
lengkap penggelaran kabel dan
penyambungannya, setiap seksi
minyaknya harus diperiksa dengan
tujuan efisiensi dari minyak
impregnasi dengan cara sbb :
manometer air raksa (mercury)
dihubungkan ke kabel dimana
sistim instalasi minyaknya ditutup
dan sisakan sedikit minyak,
biarkan beberapa menit agar
stabil, kemudian diukur jumlahnya
minyak yang tarikannya
menyebabkan penurunan tekanan
yang telah diketahui. Koefisient
impregnasi K didifinisikan sebagai
berikut, tidak boleh leibih besar
dari 4.5x 10
-4
:

dP V
dV
K
1
× =

Dimana :
dV = volume minyak yang tersisa
(liter)
dP = dorpnya tekanan (mmHg).
V = volume minyak didalam seksi
kabel (liter) termasuk isolasi
penghubung tangki.

Ketika kondisi kabel dalam
keadaan alat monitornya terpasang
setiap kabel akan diuji secara
terpisah.
( )
2
2 2
2
2
02 . 1 1
067 . 98 1
10 35559 . 7 1
cm
kg
Bar
m
KN
cm
Kg
mmHg
cm
Kg
=
=
× =

Dalam membandingkan aliran yang
diperoleh pada kabel yang sehat, harus
diingat bahwa semua joint akan ikut
terukur dan secara gambaran teoritis
hanya beberapa saja yang kondisinya
baik dan dijadikan referensi.
Hasil pengujian menunjukan tak
semestinya tidak ada gangguan pada
sistim. Tetsting ini akan dikerjakan
setelah penggantian kabel atau isolasi
sambungan.

8.21. Auxiliary Cable.
1. Continyuity Test

Setelah kabel digelar maka sebelum
disambung diperlukan periksa
kontinyuitas dari semua konduktor
sebagai konfirmasi.

2. test tegangan pada lapisan anti
karat (anti corrosion sheath)

Panjang kabel kabel akan tetap
setelah digelar dan sebelum
disambung tegangan DC 4 kV per
mm dari tebalnya lapisan (seperti
yang tertulis pada spesifikasi teknik
dari kabel tsb) digunakan untuk
menguji ketahanan lapisan terhadap
armour dan permukaan luar untuk
beberapa menit.

3. test tahanan isolasi
Setelah kabel digelar maka sebelum
disambung harus diukur tahanan
isolasi secara individu diantara setiap
kabel serta terhadap armour.


371
Menggunakan alat ukur tahanan
dengan tegangan operasi 500
Volt DC untuk satu menit dan
jangan menggunakan alat
dengan tegangan 5000 V dan
temperatur 20ºC. Pengukuran
tahanan isolasi dilanjutkan lagi
setiap kabel telah tersambung
dengan kabel yang lain dan hasil
tidak boleh lebih kecil dari 50
MǷ/km dan lebih kecil 90 % jika
hasil pengukuran lebih besar
dari 1000 Mȍ/km.

4. Test Ketahanan Tegangan.
Setelah lengkap memasang
kabel maka kabel tersebut harus
diuji ketahanan terhadap
tegangan. Ketahanan Tegangan
kabel adalah antara konduktor
dan konduktor lainnya dan
terhadap armournya yang
terhubung ketanah. Tegangan
dinaikan secara bertahap dan
dipertahanankan selama 1 (satu)
menit. Beberapa hal yang harus
diperhatikan yaitu :
Kabel type 15 kV. Maka
digunakan tegangan 15 kV DC
antara konduktor dan armour.
Jika kabel telah dihubungan
dengan beban yang mungkin
berbentuk koil maka spesifikasi
koil dan beban lain sangat
diperhatikan dan jika perlu
didiskusikan terlebih dulu
dengan engineer yang lebih ahli.

5. Cross Talk.
Cross talk antara urat
(pair) kabel diukur dan tidak
boleh lebih jelek lagi dari nilai 74
dB pada frekuensi 1300 Hz dan
kondisi kabel pada keadaan
seimbang.





372
BAB IX.
PROTEKSI SISTEM PENYALURAN

Relai adalah suatu alat yang
bekerja secara otomatis untuk
mengatur/ memasukan suatu
rangkaian listrik (rangkaian trip atau
alarm) akibat adanya perubahan
lain.

9.1.Perangkat Sistem Proteksi.
Proteksi terdiri dari
seperangkat peralatan yang
merupakan sistem yang terdiri dari
komponen-komponen berikut :
1. Relai, sebagai alat perasa untuk
mendeteksi adanya gangguan
yang selanjutnya memberi
perintah trip kepada Pemutus
Tenaga (PMT).
2. Trafo arus dan/atau trafo
tegangan sebagai alat yang
mentransfer besaran listrik
primer dari sistem yang
diamankan ke Relai (besaran
listrik sekunder)
3. Pemutus Tenaga (PMT) untuk
memisahkan bagian sistem yang
terganggu.
4. Baterai beserta alat pengisi
(bateray charger) sebagai
sumber tenaga untuk bekerjanya
relai, peralatan bantu triping.
5. Pengawatan (wiring) yang terdiri
dari sirkit sekunder (arus
dan/atau tegangan), sirkit triping
dan sirkit peralatan bantu.
Secara garis besar bagian dari
Relai proteksi terdiri dari tiga bagian
utama, seperti pada blok diagram
(gambar.9.1), dibawah ini :




Gambar 9.1 . Blok Diagram Relai proteksi


I
+
Elemen
Pembanding
Elemen
Pengindera
Elemen
Pengukur
Ke rangkaian
Pemutus/sinyal




373

Masing-masing elemen/bagian
mempunyai fungsi sebagai berikut :

9.1.1.Elemen pengindera.
Elemen ini berfungsi untuk
merasakan besaran-besaran listrik,
seperti arus, tegangan, frekuensi,
dan sebagainya tergantung relai
yang dipergunakan.
Pada bagian ini besaran yang
masuk akan dirasakan keadaannya,
apakah keadaan yang diproteksi itu
mendapatkan gangguan atau dalam
keadaan normal, untuk selanjutnya
besaran tersebut dikirimkan ke
elemen pembanding.

9.1.2. Elemen pembanding.
Elemen ini berfungsi menerima
besaran setelah terlebih dahulu
besaran itu diterima oleh elemen
oleh elemen pengindera untuk
membandingkan besaran listrik
pada saat keadaan normal dengan
besaran arus kerja relai.

9.1.3. Elemen pengukur/penentu.
Elemen ini berfungsi untuk
mengadakan perubahan secara
cepet pada besaran ukurnya dan
akan segera memberikan isyarat
untuk membuka PMT atau
memberikan sinyal.
Pada sistem proteksi
menggunakan Relai proteksi
sekunder seperti gambar 9. 2

Transformator arus ( CT )
berfungsi sebagai alat pengindera
yang merasakan apakah keadaan
yang diproteksi dalam keadaan
normal atau mendapat gangguan.
Sebagai alat pembanding sekaligus
alat pengukur adalah relai, yang
bekerja setelah mendapatkan
besaran dari alat pengindera dan
membandingkan dengan besar
arus penyetelan dari kerja relai.
Apabila besaran tersebut tidak
setimbang atau melebihi besar arus
penyetelannya, maka kumparan
Relai akan bekerja menarik kontak
dengan cepat atau dengan waktu
tunda dan memberikan perintah
pada kumparan penjatuh (trip-coil)
untuk bekerja melepas PMT.
Sebagai sumber energi/penggerak
adalah sumber arus searah atau
baterai.

Gambar 9.2. Rangkaian Relai
proteksi sekunder

9.1.4. Fungsi dan Peranan Relai
Proteksi

Maksud dan tujuan pemasangan
Relai proteksi adalah untuk
mengidentifikasi gangguan dan
memisahkan bagian jaringan yang
terganggu dari bagian lain yang
masih sehat serta sekaligus
mengamankan bagian yang masih
C

Rangkaian
Relai




374
sehat dari kerusakan atau kerugian
yang lebih besar, dengan cara :
1. Mendeteksi adanya gangguan
atau keadaan abnormal lainnya
yang dapat membahayakan
peralatan atau sistem.
2. Melepaskan (memisahkan)
bagian sistem yang terganggu
atau yang mengalami keadaan
abnormal lainnya secepat
mungkin sehingga kerusakan
instalasi yang terganggu atau
yang dilalui arus gangguan
dapat dihindari atau dibatasi
seminimum mungkin dan
bagian sistem lainnya tetap
dapat beroperasi.
3. Memberikan pengamanan
cadangan bagi instalasi lainnya.
4. Memberikan pelayanan
keandalan dan mutu listrik yang
tbaik kepada konsumen.
5. Mengamankan manusia
terhadap bahaya yang
ditimbulkan oleh listrik.

9.2. Syarat-syarat Relai Proteksi
Dalam perencanaan sistem
proteksi, maka untuk mendapatkan
suatu sistem proteksi yang baik
diperlukan persyaratan-persyaratan
sebagai berikut :

9.2.1. Sensitif.
Suatu Relai proteksi bertugas
mengamankan suatu alat atau
suatu bagian tertentu dari suatu
sisitem tenaga listrik, alat atau
bagian sisitem yang termasuk
dalam jangkauan pengamanannya.
Relai proteksi mendetreksi
adanya gangguan yang terjadi di
daerah pengamanannya dan harus
cukup sensitif untuk mendeteksi
gangguan tersebut dengan
rangsangan minimum dan bila
perlu hanya mentripkan pemutus
tenaga (PMT) untuk memisahkan
bagian sistem yang terganggu,
sedangkan bagian sistem yang
sehat dalam hal ini tidak boleh
terbuka.

9.2.2. Selektif.
Selektivitas dari relai proteksi
adalah suatu kualitas kecermatan
pemilihan dalam mengadakan
pengamanan. Bagian yang terbuka
dari suatu sistem oleh karena
terjadinya gangguan harus sekecil
mungkin, sehingga daerah yang
terputus menjadi lebih kecil.
Relai proteksi hanya akan
bekerja selama kondisi tidak normal
atau gangguan yang terjadi
didaerah pengamanannya dan tidak
akan bekerja pada kondisi normal
atau pada keadaan gangguan yang
terjadi diluar daerah
pengamanannya

9.2.3. Cepat.
Makin cepat relai proteksi
bekerja, tidak hanya dapat
memperkecil kemungkinan akibat
gangguan, tetapi dapat
memperkecil kemungkinan
meluasnya akibat yang ditimbulkan
oleh gangguan.

9.2.4. Andal.
Dalam keadaan normal atau
sistem yang tidak pernah terganggu
relai proteksi tidak bekerja selama
berbulan-bulan mungkin bertahun-
tahun, tetapi relai proteksi bila
diperlukan harus dan pasti dapat




375
bekerja, sebab apabila relai gagal
bekerja dapat mengakibatkan
kerusakan yang lebih parah pda
peralatan yang diamankan atau
mengakibatkan bekerjanya relai lain
sehingga daerah itu mengalami
pemadaman yang lebih luas.
.Untuk tetap menjaga
keandalannya, maka relai proteksi
harus dilakukan pengujian secara
periodik.

9.2.5. Ekonomis.
Dengan biaya yang sekecilnya-
kecilnya diharapkan relai proteksi
mempunyai kemampuan
pengamanan yang sebesar-
besarnya.

9.2.6. Sederhana.
Perangkat relai proteksi
disyaratkan mempunyai bentuk
yang sederhana dan fleksibel.

9.3. Penyebab Terjadinya
Kegagalan Poteksi

Jika proteksi bekerja
sebagaimana mestinya, maka
kerusakan yang parah akibat
gangguan mestinya dapat
dihindari/dicegah sama sekali, atau
kalau gangguan itu disebabkan
karena sudah adanya kerusakan
(insulation break down di dalam
peralatan), maka kerusakan itu
dapat dibatasi sekecilnya.
Proteksi yang benar harus
dapat bekerja cukup cepat, selektif
dan andal sehingga kerusakan
peralatan yang mungkin timbul
akibat busur gangguan atau pada
bagian sistem/peralatan yang
dilalalui arus gangguan dapat
dihindari dan kestabilan sistem
dapat terjaga.
Sebaliknya jika proteksi gagal
bekerja atau terlalu lambat bekerja,
maka arus gangguan ini
berlangsung lebih lama, sehingga
panas yang ditimbulkannya dapat
mengakibatkan kebakaran yang
hebat, kerusakan yang parah pada
peralatan instalasi dan ketidak
stabilan sistem.
Tangki trafo daya yang
menggelembung atau jebol akibat
gangguan biasanya karena
kegagalan kerja atau kelambatan
kerja proteksi. Kegagalan atau
kelambatan kerja proteksi juga akan
mengakibatkan bekerjanya proteksi
lain disebelah hulunya (sebagai
remote back up) sehingga dapat
mengakibatkan pemadaman yang
lebih luas atau bahkan runtuhnya
sistem (collapse).

Kegagalan atau kelambatan
kerja proteksi dapat disebabkan
antara lain oleh :

- Relainya telah rusak atau tidak
konsisten bekerjanya.
- Setelan (seting) Relainya tidak
benar(kurang sensitif atau
kurang cepat).
- Baterainya lemah atau
kegagalan sistem DC suply
sehingga tidak mampu
mengetripkan PMT-nya.
- Hubungan kotak kurang baik
pada sirkit tripping atau
terputus.
- Kemacetan mekanisme tripping
pada PMT-nya karena kotor,
karat, patah atau meleset.
- Kegagalan PMT dalam
memutuskan arus gangguan




376
yang bisa disebabkan oleh arus
gangguanya terlalu besar
melampaui kemampuan
pemutusan (interupting
capability), atau kemampuan
pemutusannya telah menurun,
atau karena ada kerusakan.
- Kekurang sempurnaan
rangkaian sistem proteksi
antara lain adanya hubungan
kontak yang kurang baik.
- Kegagalan saluran komunikasi
tele proteksi.
- Trafo arus terlalu jenuh.

9.4. Gangguan Pada Sistem
Penyaluran

Jaringan tenaga listrik yang
terganggu harus dapat segera
diketahui dan dipisahkan dari
bagian jaringan lainnya secepat
mungkin dengan maksud agar
kerugian yang lebih besar dapat
dihindarkan.
Gangguan pada jaringan
tenaga listrik dapat terjadi
diantaranya pada pembangkit,
jaringan transmisi atau di jaringan
distribusi. Penyebab gangguan
tersebut tersebut dapat
diakibatkan oleh gangguan sistem
dan non sistem.

9.4.1. Gangguan Sistem
Gangguan sistem adalah
gangguan yang terjadi di sistem
tenaga listrik seperti pada
generator, trafo, SUTT, SKTT dan
lain sebagainya. Gangguan sistem
dapat dikelompokkan sebagai
gangguan permanen dan gangguan
temporer. Gangguan temporer
adalah gangguan yang hilang
dengan sendirinya bila PMT
terbuka, misalnya sambaran petir
yang menyebabkan flash over pada
isolator SUTT. Pada keadaan ini
PMT dapat segera dimasukan
kembali, secara manual atau
otomatis dengan AutoRecloser.
Gangguan permanen adalah
gangguan yang tidak hilang dengan
sendirinya, sedangkan untuk
pemulihan diperlukan perbaikan,
misalnya kawat SUTT putus.

9.4.2. Gangguan Non Sistem
PMT terbuka tidak selalu
disebabkan oleh terjadinya
gangguan pada sistem, dapat saja
PMT terbuka oleh karena relai yang
bekerja sendiri atau kabel kontrol
yang terluka atau oleh sebab
interferensi dan lain sebagainya.
Gangguan seperti ini disebut
gangguan bukan pada sistem,
selanjutnya disebut gangguan non–
sistem.
Jenis gangguan non-sistem
antara lain :
ƒ kerusakan komponen relai ;
ƒ kabel kontrol terhubung singkat ;
ƒ interferensi / induksi pada kabel
kontrol.

9.5. Proteksi Penghantar
Jaringan tenaga listrik secara
garis besar terdiri dari pusat
pembangkit, jaringan transmisi
(gardu induk dan saluran transmisi)
dan jaringan distribusi, seperti
diperlihatkan pada gambar 9.3.







377















Gambar 9.3. Jaringan sistem tenaga listrik

Dalam usaha untuk meningkatkan
keandalan penyediaan energi listrik,
kebutuhan sistem proteksi yang
memadai tidak dapat dihindarkan.
Blok diagram Sistem proteksi
Penghantar diperlihatkan pada
Gambar 9. 4.
























Relai
Proteksi
Catu Daya
(battere)
Masukan
besaran arus
dan tegangan
Transmisi
Perintah buka
Relai
Proteksi
Sinyal kirim
Sinyal terima
Gambar 9.4. Blok diagram sistem proteksi Penghantar
Indikasi relai
Data Scada
Disturbance Recorder
Evaluasi
P
M
G

TRANSMISI GARDU
INDUK
DISTRIBUSI
PUSAT LISTRIK




378

Sistem proteksi jaringan (SUTT
dan SUTET) terdiri dari Proteksi
Utama dan Proteksi Cadangan.
Relai untuk proteksi utama yang
dikenal saat ini :
a) Distance Relai
ƒ Basic atau Step
ƒ PUTT
ƒ POTT
ƒ Blocking
b) Differential Relai
ƒ Pilot
ƒ Current
ƒ Phase
c) Directional Comparison Relai
ƒ Impedance
ƒ Current
ƒ SuperImposed
Proteksi Cadangan adalah sebagai
berikut :
ƒ Sistem proteksi cadangan lokal
: OCR & GFR
ƒ Sistem proteksi cadangan jauh :
Zone 2 GI remote

9.6. Sistem Proteksi SUTET
Pada dasarnya, hanya ada
satu pola pengaman SUTET yang
dipakai pada sistem transmisi 500
kV di pulau Jawa, yaitu suatu pola
yang menggunakan dua Line
Protection (LP) berupa Distance
Relai (Z) + Tele Proteksi (TP) yang
identik, disebut LP(a) dan LP(b).
Pada setiap LP terdapat Directional
Earth Fault Relai (DEF) sebagai
komplemennya.
Pola ini selanjutnya dilengkapi
dengan Reclosing Relai untuk
melakukan SPAR. Pola ini dipakai
di hampir seluruh SUTET PLN di
Jawa dan untuk selanjutnya akan
disebut sebagai pola standar.
Namun demikian, disamping pola
yang standar terdapat dua pola lain
yang non standar.
Pola non standar yang pertama
mempunyai dua LP, yaitu : i) LP(a)
berupa Directional Comparison
(DC) dari jenis Non-Impedance
Relai, yang di-backup oleh sebuah
Distance Relai tanpa Tele Proteksi,
ii) LP(b) berupa distance Relai +
DEF dengan Tele Proteksi, yang di-
backup oleh sebuah Distance Relai
tanpa Tele Proteksi. Pola ini hanya
digunakan pada SUTET Saguling -
Cirata 1.
Pola non standar yang kedua
mempunyai LP(a) berupa Phase
Comparison yang di backup oleh
Distance Relai tanpa Tele Proteksi,
dan LP(b) berupa Distance Relai +
DEF dengan Tele Proteksi yang di-
backup oleh Distance Relai tanpa
Tele Proteksi. Pola ini hanya
digunakan pada SUTET Saguling -
Cirata 2.
















379
Tabel 9.1. Pola Standar

Pola LPa LPb
Main Backup Main Backup
Pola standar Z+DEF+TP Z Z+DEF+TP Z
Pola non
standar I
DC Z Z+DEF+TP Z
Pola non
standar II
PC Z Z + TP Z

9.7. Media Telekomunikasi

Media PLC dapat digunakan
untuk Distance Relai, Comparison
Directional Relai, dan Comparison
Phase Relai. Media Fibre Optic
dapat digunakan untuk Distance
Relai, relai directional comparison,
relai phase comparison, dan relai
current differential.
Media Micro Wave dapat
digunakan untuk distance Relai,
relai directional comparison, relai
phase comparison, dan relai current
differential. Kabel Pilot dapat
digunakan untuk relai pilot
differential.

9.8. Distance Relai ( Relai Jarak)

Relai jarak digunakan sebagai
pengaman utama (main protection)
pada SUTT/SUTET dan sebagai
backup untuk seksi didepan. Relai
jarak bekerja dengan mengukur
besaran impedansi (Z) transmisi
dibagi menjadi beberapa daerah
cakupan yaitu Zone-1, Zone-2,
Zone-3, serta dilengkapi juga
dengan teleproteksi (TP) sebagai
upaya agar proteksi bekerja selalu
cepat dan selektif di dalam daerah
pengamanannya.








Gambar .9.5. Daerah pengamanan relai jarak

9.8.1. Prinsip Kerja Relai Jarak
Relai jarak mengukur tegangan
pada titik relai dan arus gangguan
yang terlihat dari relai, dengan
membagi besaran tegangan dan
arus, maka impedansi sampai titik
terjadinya gangguan dapat di
tentukan. Perhitungan impedansi
dapat dihitung menggunakan
rumus sebagai berikut :
Zone-1
Zone-2
Zone-3




280
Z
f
= V
f
/I
f

Dimana :
Z
f
= Impedansi (ohm)
V
f
= Tegangan (Volt)
I
f
=Arus gangguan
Relai jarak akan bekerja
dengan cara membandingkan
impedansi gangguan yang terukur
dengan impedansi seting, dengan
ketentuan :
ƒ Bila harga impedansi ganguan
lebih kecil dari pada impedansi
seting relai maka relai akan
trip.
ƒ Bila harga impedansi ganguan
lebih besar dari pada impedansi
seting relai maka relai akan
tidak trip.
Gambar 9.6. merupakan block
diagram relai jarak yang terpasang
di instalasi yang terdiri dari :
































Gambar 9.6. Block diagram relai jarak





MCB VT Bus



Close


Trip

Rang. Arus


Posisi PMT

Mekanik PMT







MCB VT Line
HV APPARATUS MK PANEL RELAI
M
M
CR
CS
PANEL PLC
PMS
REL
PMT
CT
PMS
LINE
PMS
TANAH
Syncro
Chek (25)
Auto
Rec (79)
Distance
Relai (21)




381
1. Peralatan tegangan tinggi (HV
apparatus)
ƒ PMT
ƒ PMS
ƒ CT
ƒ PT Line dan Bus
2. Marshalling Kios
ƒ MCB PT
ƒ MCB sumber AC/DC
ƒ Terminal rangkaian arus (CT)
dan tegangan (PT).
ƒ Terminal limit switch PMT dan
PMS
ƒ Terminal rangkaian trip dan
reclose
3. Panel Relai
ƒ MCB AC dan DC
ƒ Relai Jarak
ƒ Relai Lock Out
ƒ Aux. Relai
ƒ
4. Panel PLC
ƒ Sinyal Kirim (carrier send)
ƒ Sinyal terima (carrer reciept)
ƒ Sinyal CIS

9.8.2. Pengukuran Impedansi
Gangguan Oleh Relai Jarak

Menurut jenis gangguan pada
sistem tenaga listrik, terdiri dari
gangguan hubung singkat tiga fasa,
dua fasa, dua fasa ke tanah dan
satu fasa ke tanah. Relai jarak
sebagai pengaman utama harus
dapat mendeteksi semua jenis
gangguan dan kemudian
memisahkan sistem yang terganggu
dengan sistem yang tidak terganggu.



9.8.3. Gangguan Hubung Singkat
Tiga Fasa

Pada saat terjadi gangguan
tiga fasa yang simetris maka
amplitudo tegangan fasa
VR,VS,VT turun dan beda fasa
tetap 120 derajat. Impedansi yang
diukur relai jarak pada saat terjadi
gangguan hubung singkat tiga fasa
adalah sebagai berikut :

Vrelai = V
R

Irelai=I
R

Z
R
= V
R
/I
R


Dimana,
Z
R
= impedansi terbaca oleh relai
V
R
= Tegangan fasa ke netral
I
R
= Arus fasa

9.7.4.Gangguan Hubung Singkat
Dua Fasa

Untuk mengukur impedansi
pada saat terjadi gangguan
hubung singkat dua fasa,
tegangan yang masuk ke
komparator relai adalah tegangan
fasa yang terganggu, sedangkan
arusnya adalah selisih (secara
vektoris) arus-arus yang
terganggu. Maka pengukuran
impedansi untuk hubung singkat
antara fasa S dan T adalah
sebagai berikut :

V relai = V
S
– V
T

I relai = I
S
- I
T









382
Sehingga,
Z
R
=
T S
T S
I I
V V
÷
÷

Tabel. 9.2. Tegangan dan arus masukan relai untuk gangguan hubung
singkat dua fasa

Fasa yang
terganggu
Tegangan Arus
R-S V
R
-V
S
I
R
- I
S

S-T V
S
-V
T
I
S
- I
T

T-R V
T
-V
R
I
R
- I
T



9.8.5. Gangguan Hubung Singkat
Satu Fasa Ke Tanah

Untuk mengukur impedansi pada
saat hubung singkat satu fasa ke
tanah, tegangan yang dimasukkan
ke relai adalah tegangan yang
terganggu, sedangkan arus fasa
terganggu di tambah arus sisa dikali
factor kompensasi.
Misalnya terjadi gangguan hubung
singkat satu fasa R ke tanah, maka
pengukuran impedansi dilakukan
dengan cara sebagai berikut :

Tegangan pada relai : Vrelai = V
R

Arus pada relai : I relai = I
R
+K
0
.I
n

Arus netral : I
n
= I
R
+ I
S
+ I
T

Kompensasi urutan nol : K
0
=1/3(Z
0
- Z
1
/Z
2
)
Z
1
=V
R
/(I
R
+K
0
.I
n
)

Tabel.9.3.Tegangan dan arus masukan relai untuk gangguan hubung singkat
satu fasa ke tanah

Fasa yang
terganggu
Tegangan Arus
R - N V
R
I
R
+ K
0
.I
n

S - N V
S
I
S
+ K
0
.I
n

T - N V
T
I
S
+ K
0
.I
n


Impedansi urutan nol akan timbul
pada gangguan tanah. Adanya K
0

adalah untuk mengkompensasi
adanya impedansi urutan nol
tersebut. Sehingga impedansi yang
terukur menjadi benar.






383
9.9. Karakteristik Relai Jarak

Karakteristik relai jarak
merupakan penerapan langsung
dari prinsip dasar relai jarak,
karakteristik ini biasa digambarkan
didalam diagram R-X.

9.9.1. Karakteristik impedansi

Ciri-ciri nya :

ƒ Merupakan lingkaran dengan
titik pusatnya ditengah-tengah,
sehingga mempunyai sifat non
directional. Untuk diaplikasikan
sebagai pengaman SUTT perlu
ditambahkan relai directional.
ƒ Mempunyai keterbatasan
mengantisipasi gangguan tanah
high resistance.
ƒ Karakteristik impedan sensitive
oleh perubahan beban,
terutama untuk SUTT yang
panjang sehingga jangkauan
lingkaran impedansi dekat
dengan daerah beban.

















Gambar 9.7. Karakteristik Impedansi

9.9.2. Karakteristik Mho

Ciri-ciri :

ƒ Titik pusatnya bergeser
sehingga mempunyai sifat
directional.
ƒ Mempunyai keterbatasan untuk
mengantisipasi gangguan tanah
high resistance.
ƒ Untuk SUTT yang panjang
dipilih Zone-3 dengan
karakteristik Mho lensa geser.






R
X
ZL

Z1 Z2 Z3
Directional




384

















Gambar 9.8. Karakteristik Mho













Gambar 9.9. Karakteristik Mho
Z
1
,Z
2
parsial Cross-polarise Mho, Z
3
Lensa geser

9.9.3. Karakteristik Reaktance

Ciri-ciri :
ƒ Karateristik reaktance
mempunyai sifat non directional.
Untuk aplikasi di SUTT perlu
ditambah relai directional.
ƒ Dengan seting jangkauan
resistif cukup besar maka relai
reactance dapat mengantisipasi
gangguan tanah dengan
tahanan tinggi.









R
X
ZL

Z1 Z2 Z3
R
X
ZL

Z1 Z2 Z3




385














Gambar 9. 10. Karakteristik Reaktance dengan Starting Mho

9.9.4. Karakteristik Quadrilateral

Ciri-ciri :
ƒ Karateristik quadrilateral
merupakan kombinasi dari 3
macam komponen yaitu :
reactance, berarah dan resistif.
ƒ Dengan seting jangkauan
resistif cukup besar maka
karakteristik relai quadrilateral
dapat mengantisipasi gangguan
tanah dengan tahanan tinggi.
ƒ Umumnya kecepatan relai lebih
lambat dari jenis mho.














Gambar 9.11. Karakteristik Quadrilateral






Z3


Z2


Z1
X
R
ZL
R
Z X

Z3


Z2




386
9.10. Pola Proteksi
Agar gangguan sepanjang
SUTT dapat ditripkan dengan
seketika pada kedua sisi ujung
saluran, maka relai jarak perlu
dilengkapi fasilitas teleproteksi.


9.10.1. Pola Dasar
Ciri-ciri Pola dasar :
ƒ Tidak ada fasilitas sinyal PLC
ƒ Untuk lokasi gangguan antara
80 – 100 % relai akan bekerja
zone-2 yang waktunya lebih
lambat (tertunda).





T



Z2 = Timer zone 2
TZ3 = Timer zone 3

Gambar 9.12. Rangkaian logic Basic Scheme
9.10.2. Pola PUTT (Permissive
Underreach Transfer Trip)

Prinsip Kerja dari pola PUTT :
ƒ Pengiriman sinyal trip (carrier
send) oleh relai jarak zone-1.
ƒ Trip seketika oleh teleproteksi
akan terjadi bila relai jarak
zone-2 bekerja disertai dengan
menerima sinyal. (carrier
receipt).
ƒ Bila terjadi kegagalan sinyal
PLC maka relai jarak kembali ke
pola dasar.
ƒ Dapat menggunakan berbeda
type dan relai jarak.
.










CS = sinyal kirim Z
2
= trip zone 2
CR = sinyal terima TZ
2
= waktu trip zone 2

Gambar 9. 13. Rangkaian logic Pola PUTT
Z1
Z3
OR
TRIP
Z2
TZ2
Z1
Z3
OR
TRIP
TZ2
Z2
TZ3 TZ3
CS
Z1
C
OR
TRIP
Z2
TZ2
AND
CS
Z1
C
OR
TRIP
TZ2
Z2
AND




287



9.10.3. Permissive Overreach
transfer Trip

Prinsip Kerja dari pola POTT :
ƒ Pengiriman sinyal trip (carrier
send) oleh relai jarak zone-2.
ƒ Trip seketika oleh teleproteksi
akan terjadi bila relai jarak
zone-2 bekerja disertai dengan
menerima sinyal (carrier
receipt).
ƒ Bila terjadi kegagalan sinyal
PLC maka relai jarak kembali ke
pola dasar.
ƒ Dapat menggunakan berbeda
type dan relai jarak.









CR = sinyal terima tZ
2
= waktu trip zone 2
Gambar 9.14. Rangkaian logic Pola POTT

9.10.4. Pola Blocking (Blocking
Scheme)
Prinsip Kerja dari pola Blocking :
ƒ Pengiriman sinyal block (carrier
send) oleh relai jarak zone-3
reverse.
ƒ Trip seketika oleh teleproteksi
akan terjadi bila relai jarak
zone-2 bekerja disertai dengan
tidak ada penerimaan sinyal
block. (carrier receipt).
ƒ Bila terjadi kegagalan sinyal
PLC maka relai jarak akan
mengalami mala kerja.
ƒ Membutuhkan sinyal PLC
cukup half duplex.
ƒ Relai jarak yang dibutuhkan
merk dan typenya sejenis.












Gambar 9. 15. Ranglaian Logic Blocking Scheme
Z1
OR
TRIP
TZ2
AND
CS
Z1
CR
OR
TRIP
Z2
TZ2
AND
TZ3
Z3
Rev
AND
TZ2
CS
Z3
Re
v
AND
Z2
CR
CS
Z1
CR
TRIP
Z2
TZ2
AND
CS
Z1
CR
TRIP
TZ2
Z2
AND
OR
OR




388
9.10.5. Penyetelan Daerah Jangkauan pada Relai Jarak






















Gambar 9.16. Daerah penyetelan Relai jarak tiga tingkat

Relai jarak pada dasarnya
bekerja mengukur impadansi
saluran, apabila impedansi yang
terukur / dirasakan relai lebih kecil
impedansi tertentu akibat gangguan
( Z
set
< Z
F
) maka relai akan bekerja.
Prinsip ini dapat memberikan
selektivitas pengamanan, yaitu
dengan mengatur hubungan antara
jarak dan waktu kerja relai.
Penyetelan relai jarak terdiri dari
tiga daerah pengamanan,
Penyetelan zone-1 dengan waktu
kerja relai t
1
, zone-2 dengan waktu
kerja relai t
2
, dan zone-3 waktu
kerja relai t
3
.




9.10.6. Penyetelan Zone-1
Dengan mempertimbangkan
adanya kesalahan-kesalahan dari
data saluran, CT, PT, dan peralatan
penunjang lain sebesar 10% - 20 %
, zone-1 relai disetel 80 % dari
panjang saluran yang diamankan.
Zone-1 = 0,8 . Z
L1 (Saluran)
....
Waktu kerja relai seketika, (t
1
= 0)
tidak dilakukan penyetelan waktu .

9.10.7. Penyetelan Zone-2
Prinsip peyetelan Zone-2
adalah berdasarkan pertimbangan-
pertimbangan sebagai berikut :

Zone-2
min
= 1,2 . Z
L1

Local bus Near and bus far and bus
A B C
Zone-1(A)
Zone-2(A)
Zone-3(A)
Zone-1(B)
Zone-2(B)
Zone-3(B)




389
Zone-2
mak
= 0,8 (Z
L1
+ 0,8. Z
L2
)

Dengan : Z
L1
= Impedansi saluran
yang diamankan.
Z
L1
= Impedansi saluran berikutnya
yang terpendek (O )

Waktu kerja relai t
2
= 0.4 s/d 0.8 dt.

9.10.8. Penyetelan zone-3

Prinsip penyetelan zone-3
adalah berdasarkan pertimbangan-
pertimbangan sebagai berikut :

Zone-3
min
= 1.2 ( Z
L1
+ 0,8.Z
L2
)

Zone-3
mak1
= 0,8 ( Z
L1
+ 1,2.Z
L2
)

Zone-3
mak2
= 0,8 ( Z
L1
+ k.Z
TR
)

Dengan :
L1
= Impedansi saluran
yang diamankan
Z
L2
= Impedansi saluran berikutnya
yang terpanjang
Waktu kerja relai t
3
= 1.2 s/d 1.6 dt.

9.10.9. Peyetelan zone-3 reverse

Fungsi penyetelan zone-3
reverse adalah digunakan pada
saat pemilihan teleproteksi pola
blocking. Dasar peyetelan zone-3
reverse ada dua jenis :
- Bila Z3 rev memberi sinyal trip.
Zone-3 rev

= 1.5 Z2-ZL1
- Bila Z3 rev tidak memberi sinyal
trip.
Zone-3 rev = 2 Z2-ZL1.

9.10.10. Penyetelan Starting
Fungsi starting relai jarak adalah :
1. Mendeteksi adanya
gangguan.
2. Menentukan jenis gangguan
dan memilih fasa yang
terganggu.
Prinsip penyetelan starting di bagi
2, yaitu :
1. Starting arus lebih :
I fasa-fasa = 1.2 CCC atau ct
I fasa-netral = 0.1. CCC atau ct
2. Starting impedansi
Zsmin = 1.25 x Zone-3
Zs max= 0.5 x kV/(CCC atau
Ct x¥3)

9.10.11. Penyetelan Resistif reach
Fungsi penyetelan resistif
reach adalah mengamankan
gangguan yang bersifat high
resistance. Prinsip penyetelan
resistif reach (Rb) tidak melebihi
dari kreteria setengah beban (1/2 Z
beban ).
- Untuk system 70 kV :
R
b
= 15 x Zone-1 x k
0
x 2.
- Untuk system 150 dan 500 kV :
R
b
= 8 x Zone-1 x k
0
x 2

9.10.12. Directional Comparison
Relai.

Relai penghantar yang prinsip
kerjanya membandingkan arah
gangguan, jika kedua relai pada
penghantar merasakan gangguan
di depannya maka relai akan
bekerja. Cara kerjanya ada yang
menggunakan directional
impedans, directional current dan
superimposed.







390


















9.11. Current Differential Relai
Prinsip kerja pengaman differensial arus saluran transmisi mengadaptasi
prinsip kerja diferensial arus, yang membedakannya adalah daerah yang
diamankan cukup panjang sehingga diperlukan :
ƒ Sarana komunikasi antara ujung-ujung saluran.
ƒ Relai sejenis pada setiap ujung saluran.
Karena ujung-ujung saluran transmisi dipisahkan oleh jarak yang jauh
maka masing-masing sisi dihubungkan dengan :
ƒ kabel pilot
ƒ saluran telekomunikasi : microwave, fiber optic.
















Gambar 9.18. Relai arus differensial Transmisi
Gambar 9.17. Directional comparison relai
A B
Signalling channel
DIR
T
R
>
&

DIR
T
R
>
&

I
I
B

I
A

Relai B Relai A
End A
End B




391
÷ Tanpa gangguan atau gangguan eksternal
IA +IB = 0
÷ Keadaan gangguan internal
IA +IB = 0 (= IF)

9.11.1. Pilot Relai





















Gambar 9. 20. Circulating Current

Umumnya diterapkan untuk
mengatasi kesulitan koordinasi
dengan relai arus lebih pada
jaringan yang kompleks atau sangat
pendekdan kesulitan koordinasi
dengan relai jarak untuk jaringan
yang sangat pendek. Pada saluran
udara faktor pembatas dari relai ini
adalah panjang dari rangkaian pilot,
sedangkan pada saluran kabel
adalah arus charging kabel dan
sistem pentanahan.
Prinsip kerja relai diferensial
arus saluran transmisi yaitu relai
diferensial dengan circulating
current atau relai diferensial dengan
balanced voltage seperti pada
gambar.9.21.

9.11.2. Phase Comparison Relai
Prinsip kerja membandingkan
sudut fasa antara arus yang masuk
dengan arus yang keluar daerah
pengaman. Prinsip kerja diperlihat-
kan pada gambar, 9.21. dimana
pada saat gangguan internal output
dari comparator memberikan nilai 1

..
Gambar 9. 19. Balanced Voltage
OP
OP
B
B
v v
OP OP
B
I
I
B




392





























Gambar 9. 21. Gelombang sudut fasa pada Phase Comparison Relai

9.11.3. Super Imposed Directional
Relai
Elemen directional mengguna-
kan sinyal superimposed
Superimposed = faulted - unfaulted
Selama gangguan tegangan dan
arus berubah sebesar AVr dan Air,
perubahan ini dikenal sebagai
besaran superimposed.

Untuk gangguan di depan : A Vr
Z-ø rep dan A ir mempunyai
polaritas yang berlawanan
sedangkan untuk gangguan di
belakang : A Vr Z -ø rep dan A ir
mempunyai polaritas yang sama
Arah ditentukan dari persamaan :
Dop = | A Vr Z -ø rep - A ir | - | A
Vr Z -ø rep + A ir |
Dop positip untuk gangguan arah
depan dan Dop negatip untuk
gangguan arah belakang

a. Fasa arus di A
b. Logic fasa arus di A
c. Fasa arus di B
d. Logic fasa arus di B
Output comparator di A :
e = b + d

Output discriminator
Stability
A B A B
Gangguan eksternal
Gangguan internal




393






































Gambar 9. 23. Rangkaian pengukuran Relai tanah selektif





Forward Fault
A ir
t = 0
A Vr
Zs
- A Vr
A ir =
Zs
- A Vr
A ir =
| Zs|
Z -ø s
R
t = 0
A Vr
Zs
A ir
ZL
+ A Vr
A ir =
Zs + ZL
+ A Vr
A ir =
| Zs + ZL|
Z -ø LS
Gambar 9. 22. Prinsip pengukuran superimposed tegangan dan arus
50G
67G
67G
Pht 1
Pht 2




394
9.11.4. Relai tanah selektif
(selection ground Relai)

Rangkaian relai tanah selektif
(50G) dihubungkan seperti pada
gambar. Jika ada gangguan satu
fasa ke tanah pada penghantar 1
maka relai 50G akan merasakan
gangguan demikian juga relai
directional ground (67G).
Penghantar 1 akan trip karena 50G
kerja dan arus yang dirasakan 67G
penghantar 1 > 67G penghantar 2.
Apabila salah satu pmt penghantar
lepas relai 50 G tidak akan bekerja.
Setting waktu relai 50G umumnya <
setting waktu 67G.
Relai ini dipasang pada
penghantar dengan sirkit ganda dan
tidak dapat dioperasikan jika ada
pencabangan dalam penghantar
tersebut (single phi atau single T).


9.11.5. Relai tanah terarah (directional ground Relai)












Relai arah hubung tanah
memerlukan operating signal dan
polarising signal. Operating signal
diperoleh dari arus residual melalui
rangkaian trafo arus penghantar
(Iop = 3Io) sedangkan polarising
signal diperoleh dari tegangan
residual. Tegangan residual dapat
diperoleh dari rangkaian sekunder
open delta trafo tegangan seperti
pada Gambar 9.25.
V
RES
= V
AG
+ V
BG
+ V
CG
= 3Vo
9.11.6 Relai Cadangan (Back Up
Protection)

Diperlukan apabila proteksi
utama tidak dapat bekerja atau
terjadi gangguan pada sistem
proteksi utama itu sendiri. Pada
dasarnya sistem proteksi cadangan
dapat dibagi menjadi dua katagori,
yaitu
a. Sistem proteksi cadangan lokal
(local back up protection
system)
V
RES

A
B
C
Gambar 9. 24. Rangkaian open delta trafo tegangan




395
Proteksi cadangan lokal adalah
proteksi yang dicadangkan
bekerja bilamana proteksi
utama yang sama gagal
bekerja. Contohnya :
penggunaan OCR atau GFR.
b. Sistem proteksi cadangan jauh
(remote back up protection
system)
Proteksi cadangan jauh
adalah proteksi yang
dicadangkan bekerja bilamana
proteksi utama di tempat lain
gagal bekerja. Proteksi cadangan
lokal dan jauh diusahakan
koordinasi waktunya dengan
proteksi utama di tempat
berikutnya. Koordinasi waktu
dibuat sedemikian hingga
proteksi cadangan dari jauh
bekerja lebih dahulu dari proteksi
cadangan lokal. Hal ini berarti
bahwa kemungkinan sekali
bahwa proteksi cadangan dari
jauh akan bekerja lebih efektif
dari proteksi cadangan lokal.
Dengan penjelasan di atas
berarti bahwa waktu penundaan
bagi proteksi cadangan lokal cukup
lama sehingga mungkin sekali
mengorbankan kemantapan sistem
demi keselamatan peralatan.
Dengan demikian berarti pula
bahwa proteksi cadangan lokal
hanya sekedar proteksi cadangan
terakhir demi keselamatan
peralatan.

9.11.7. Operating Time dan Fault
Clearing Time

Kecepatan pemutusan gangguan
(fault clearing time) terdiri dari
kecepatan kerja (operating time)
Relai, kecepatan buka pemutus
tenaga (circuit breaker) dan waktu
kirim sinyal teleproteksi. Fault
clearing time menurut SPLN 52-1
1984 untuk sistem 150 kV sebesar
120 ms dan untuk sistem 70 kV
sebesar 150 ms.
Besaran fault clearing time
berhubungan dengan mutu tenaga
listrik di sisi konsumen, batasan
Kedip menurut SE Direksi PT PLN
(PERSERO) No. 12.E / 012 / DIR /
2000 adalah 140 ms untuk
bekerjanya proteksi utama sistem
150 kV dan 170 ms untuk
bekerjanya proteksi utama di sistem
70 kV, sedangkan untuk proteksi
cadangan maksimum sebesar 500
ms.
Fault clearing time proteksi
cadangan sebesar 500 ms dapat
dicapai dengan memanfaatkan
proteksi cadangan zone 2 distance
Relai dari GI remote. Dari kedua hal
di atas maka untuk PLN UBS P3B
fault clearing time di sistem 150 kV
adalah 120 ms untuk bekerja
proteksi utama dan 500 ms untuk
bekerja proteksi cadangan,
sedangkan di sistem 70 kV adalah
150 ms untuk bekerja proteksi
utama dan 500 ms untuk bekerja
proteksi cadangan.
Untuk memenuhi fault clearing
time di atas maka perlu ditetapkan
batasan operating time dari relai itu
sendiri. Dengan mempertimbang-
kan waktu kerja pmt dan waktu
yang diperlukan teleproteksi maka
operating time relai proteksi utama
di sistem 150 kV adalah tipikal ” 30
ms dan pada SIR 10 dan reach
setting 80 % sebesar ” 40 ms,
sedangkan di sistem 70 kV adalah




396
tipikal ” 35 ms dan pada SIR 10
dan reach setting 80 % sebesar ”
50 ms.
9.11.8. Relai Proteksi Busbar.
Sebagai proteksi utama Busbar
adalah relai Differensial, yang
berfungsi mengamankan pada
busbar tersebut terhadap gangguan
yang terjadi di busbar itu sendiri.
Konfigurasi Busbar ada 3 macam :
1. Busbar tunggal ( Single Busbar ).
2. Busbar ganda ( Double Busbar ).
3. Busbar 1,5 PMT.
Gangguan pada busbar relatif
jarang (kurang lebih 7 % )
dibandingkan dengan gangguan
pada penghantar (kurang lebih 60
%) dari keseluruhan gangguan
[1]

tetapi dampaknya akan jauh lebih
besar dibandingkan pada gangguan
penghantar, terutama jika pasokan
yang terhubung ke pembangkit
tersebut cukup besar.
Dampak yang dapat ditimbulkan
oleh gangguan di bus jika
gangguan tidak segera diputuskan
antara lain adalah a/. kerusakan
instalasi b/. timbulnya masalah
stabilitas transient, c/.
dimungkinkan OCR dan GFR di
sistem bekerja sehingga pemutusan
menyebar.
Persyaratan yang diperlukan
untuk proteksi busbar adalah :
1. Waktu pemutusan yang cepat
(pada basic time)
2. Bekerja untuk gangguan di
daerah proteksinya.
3. Tidak bekerja untuk gangguan di
luar daerah proteksinya.
4. Selektfi, hanya mentripkan pmt-
pmt yang terhubung ke seksi
yang terganggu.
5. Imune terhadap malakerja,
karena proteksi ini mentripkan
banyak PMT.
Jenis/pola proteksi busbar
banyak ragamnya, tetapi yang akan
di bahas disini adalah proteksi
busbar diferensial dengan jenis low
impedans dan high impedans
..














Gambar.9. 25. Wiring diagram sistem proteksi untuk konfigurasi double busbar


R R
1
2
1
2
3
4
5
6
7
8
1 2 3 4 5 6 7 8




397

9. 12. Proteksi Transformator
Tenaga

Proteksi transrmator daya
terutama bertugas untuk mencegah
kerusakan transformator sebagai
akibat adanya gangguan yang
terjadi dalam petak/bay
transformator, disamping itu
diharapkan juga agar pengaman
transformator dapat berpartisipasi
dalam penyelenggaraan selektifitas
sistem, sehingga pengamanan
transformator hanya melokalisasi
gangguan yang terjadi di dalam
petak/bay transformator saja.

9.12.1. Tujuan pemasangan Relai
proteksi Trafo Tenaga.

Maksud dan tujuan
pemasangan relai proteksi pada
transformator daya adalah untuk
mengamankan peralatan /sistem
sehingga kerugian akibat gangguan
dapat dihindari atau dikurangi
menjadi sekecil mungkin dengan
cara :

1. Mencegah kerusakan
transformator akibat adanya
gangguan/ketidak normalan
yang terjadi pada transformator
atau gangguan pada bay
transformator.
2. Mendeteksi adanya gangguan
atau keadaan abnormal lainnya
yang dapat membahayakan
peralatan atau sistem.
3. Melepaskan (memisahkan)
bagian sistem yang terganggu
atau yang mengalami keadaan
abnormal lainnya secepat
mungkin sehingga kerusakan
instalasi yang terganggu atau
yang dilalui arus gangguan
dapat dihindari atau dibatasi
seminimum mungkin dan
bagian sistem lainnya tetap
dapat beroperasi.
4. Memberikan pengamanan
cadangan bagi instalasi lainnya.
5. Memberikan pelayanan
keandalan dan mutu listrik yang
terbaik kepada konsumen.
6. Mengamankan manusia
terhadap bahaya yang
ditimbulkan oleh listrik.

9.12.2. Gangguan pada Trafo
Tenaga

Gangguan pada transformator
daya tidak dapat kita hindari,
namun akibat dari gangguan
tersebut harus diupayakan
seminimal mungkin dampaknya.
Ada dua jenis penyebab gangguan
pada transformator, yaitu gangguan
eksternal dan gangguan internal.

1. Ganggauan eksternal.

Gangguan eksternal sumber
gangguan- nya berasal dari luar
pengamanan transformator, tetapi
dampaknya dirasakan oleh
transformator tersebut, diantaranya
- gangguan hubung singkat pada
jaringan
- beban lebih
- surja petir .

2. Gangguan internal

Gangguan internal adalah
gangguan yang bersumber dari




398
daerah pengamanan/petak bay
transformator, diantaranya :
- gangguan antar fasa pada
belitan
- fasa terhadap ground antar
belitan transformator
- gangguan pada inti
transformator
- gangguan tap changer
- kerusakan bushing
- kebocoran minyak
atauminyak terkontaminasi
- suhu lebih.

9.12.3. Sistem Pentanahan Titik
Netral Trafo Tenaga.

Adapun tujuan pentanahan titik
netral transformator daya adalah
sebagai berikut :
1. Menghilangkan gejala-gejala
busur api pada suatu sistem.
2. Membatasi tegangan-tegangan
pada fasa yang tidak terganggu
(pada fasa yang sehat).
3. Meningkatkan keandalan
(realibility) pelayanan dalam
penyaluran tenaga listrik.
4. Mengurangi/membatasi
tegangan lebih transient yang
disebabkan oleh penyalaan
bunga api yang berulang-ulang
(restrike ground fault).
5. Memudahkan dalam
menentukan sistem proteksi
serta memudahkan dalam
menentukan lokasi gangguan




9.12.4. Metoda Pentanahan Titik
Netral Trafo Tenaga.

Metoda-metoda pentanahan
titik netral transformator daya
adalah sebagai berikut :
a) Pentanahan mengambang
(floating grounding)
b) Pentanahan melalui tahanan
(resistance grounding)
c) Pentanahan melalui reaktor
(reactor grounding)
d) Pentanahan langsung (effective
grounding)
e) Pentanahan melalui reaktor
yang impedansinya dapat
berubah-ubah (resonant
grounding) atau pentanahan
dengan kumparan Petersen
(Petersen Coil).

9.12.5. Jenis Proteksi Trafo
Tenaga.

Trafo tenaga diamankan dari
berbagai macam gangguan,
diantaranya dengan peralatan
proteksi (sesuai SPLN 52-1:1983
Bagian Satu, C) :
- Relai arus lebih
- Relai arus hubung tanah
- Relai beban lebih
- Relai tangki tanah Relai
ganggauan tanah terbatas
(Restricted Earth Fault)
- Relai suhu
- Relai Bucholz
- Relai Jansen
- Relai tekanan lebih
- Relai suhu
- Lightning arrester
- Relle differensial






399

.











































P51N
NP51
87T
96T
63
26
S51-2 S51-1
PU
64V
Gambar 9. 26. Blok Diagram Proteksi Trafo Tenaga




400
9.13. Relai Arus Lebih (Over
Current Relay)

Relai ini berfungsi untuk
mengamankan transformator
terhadap gangguan hubung singkat
antar fasa didalam maupun diluar
daerah pengaman transformator,
seperti terlhat pada foto dibawah ini


Gambar 8.26 Relai arus lebih

Juga diharapkan relai ini
mempunyai sifat komplementer
dengan relai beban lebih. relai ini
berfungsi pula sebagai pengaman
cadangan bagi bagian instalasi
lainnya.

9.13.1. Relai Gangguan Tanah
Terbatas (Restricted Earth
fault Relay )

Mengamankan transformator
terhadap tanah didalam daerah
pengaman transformator khususnya
untuk gangguan didekat titik netral
yang tidak dapat dirasakan oleh
Relai differensial.

9.13.2. Relai arus lebih Berarah .
Directional over current Relai
atau yang lebih dikenal dengan
Relai arus lebih yang mempunyai
arah tertentu merupakan Relai
Pengaman yang bekerja karena
adanya besaran arus dan tegangan
yang dapat membedakan arah arus
gangguan. Relai ini terpasang pada
Jaringan Tegangan tinggi,
Tegangan menengah juga pada
pengaman Transformator tenaga
dan berfungsi untuk mengamankan
peralatan listrik akibat adanya
gangguan phasa-phasa maupun
Phasa ketanah.
Relai Ini Mempunyai 2 buah
parameter ukur yaitu Tegangan dan
Arus yang masuk ke dalam Relai
untuk membedakan arah arus ke
depan atau arah arus ke belakang.
Pada pentanahan titik netral
trafo dengan menggunakan
tahanan, relai ini dipasang pada
penyulang 20 KV. Bekerjanya relai
ini berdasarkan adanya sumber
arus dari ZCT (Zero Current
Transformer) dan sumber tegangan
dari PT (Potential Transformers).
Sumber tegangan PT
umumnya menggunakan
rangkaian Open-Delta, tetapi
tidak menutup kemungkinan ada
yang menggunakan koneksi
langsung 3 Phasa. Untuk
membedakan arah tersebut
maka salah satu phasa dari arus
harus dibandingakan dengan
Tegangan pada phasa yang lain.
- Relai connections
Adalah sudut perbedaan antara
arus dengan tegangan masukan
relai pada power faktor satu.
- Relai maximum torque angle
Adalah perbedaan sudut antara
arus dengan tegangan pada relai




401
yang menghasilkan torsi maksimum.





















9.13.3. Relai gangguan hubung
tanah.

Relai ini berfungsi untuk
mengamankan transformator ganggu-
an hubung tanah, didalam dan diluar
daerah pengaman transformator.
Relai arah hubung tanah memerlukan
operating signal dan polarising signal.
Operating signal diperoleh dari arus
residual melalui rangkaian trafo arus
penghantar (Iop = 3Io) sedangkan
polarising signal diperoleh dari
tegangan residual. Tegangan residual
dapat diperoleh dari rangkaian
sekunder open delta trafo tegangan
seperti pada Gambar 9.24

V
RES
= V
AG
+ V
BG
+ V
CG
= 3Vo
9.14. Proteksi Penyulang 20 KV
Jenis Relai proteksi yang
terdapat pada penyulang 20 kV
adalah sebagai berikut :

9.14.1.Relai Arus Lebih ( Over
Current Relai )
Relai ini berfungsi untuk
memproteksi SUTM terhadap
gangguan antar fasa atau tiga
fasa.

9.14.2. Relai Arus Lebih
berarah ( Directional
OCR )
Relai ini berfungsi untuk
memproteksi SUTM terhadap
gangguan antar fasa atau tiga
Reference
V
Max. torque
line
Zero
torque line
RESTRAIN
RESTRAIN

oi
I
ov
Iv
u o
o
Gambar 9.28 Diagram phasor Torsi




402
fasa dan hanya bekerja pada satu
arah saja. Karena Relai ini dapat
membedakan arah arus gangguan.

9.14.3. Relai Hubung Tanah
(Ground Fault Relay)

Relai ini berfungsi untuk
memproteksi SUTM atau SKTM dari
gangguan tanah. Relai Beban Lebih
(Over Load Relai). Relai ini dipasang
pada SKTM yang berfungsi untuk
memproteksi SKTM dari kondisi beban
lebih.

9.14.4. Relai Penutup Balik
Reclosing Relay ).

Relai ini berfungsi untuk
memproteksi SUTM terhadap
gangguan antar fasa atau tiga fasa
dan hanya bekerja pada satu arah
saja. Karena Relai ini dapat
membedakan arah arus gangguan.

9.14.5. Relai Frekwensi Kurang
(Under Freqwency Relay)

Relai ini berfungsi untuk melepas
SUTM atau SKTM bila terjadi
penurunan frekwensi system.

9.15. Disturbance Fault Recorder
(DFR )

Disturbance Fault Recorder
(DFR) suatu alat yang dapat
mengukur dan merekam besaran
listrik seperti arus ( A ), tegangan ( V )
dan frekuensi ( Hz ) pada saat
sebelum, selama dan setelah
gangguanDisturbance Fault Recorder
( DFR ) yang saat ini sudah
merupakan suatu kebutuhan, yang
dapat membantu merekam data dari
sistem tenaga listrik termasuk
sistem proteksi serta peralatan
terkait lainnya yang pada
akhirnya membantu dalam
analisa dan memastikan bahwa
sistem telah bekerja dengan baik.
DFR akan bekerja secara real
time untuk memonitor kondisi
listrik dan peralatan terkait
lainnya pada saat terjadi
gangguan, karena menggunakan
sistem digital maka semua data
dikonversikan ke bentuk digital
dan disimpan di memori., hasil
monitor tersebut akan tersimpan
secara permanen dalam bentuk
hasil cetakan di kertas dan data
memori.
Manfaat Disturbance Fault
Recorder (DFR )
ƒ Mendeteksi penyebab
gangguan
ƒ Mengetahui lamanya
gangguan ( fault clearing time
)
ƒ Mengetahui besaran listrik
seperti Arus (A),Tegangan(V)
dan Frekuensi (F)
ƒ Mengetahui unjuk kerja
sistem proteksi terpasang
ƒ Melihat harmonik dari sistem
tenaga Listrik

ƒ Melihat apakah CT normal /
tidak ( jenuh)
ƒ Memastikan bahwa PMT
bekerja dengan baik
ƒ Dokumentasi
Pengembangan DFR :
ƒ Time Synchronizing (GPS)
ƒ Master Station
ƒ Monitoring Frekuensi
ƒ DC Monitoring
Bagian dari DFR
(Disturbance Fault Recorder) :




403
DAU (Data Acquisition Unit), AC/DC
Power Supply
Communication Channel, Sistem
Alarm














DC POWER
AC POWER
EXTERNAL

Gambar 9.29 Disturbance Fault Recorder

Mencetak / print out ulang
Record gangguan yang pernah
direkam :
ƒ DFR II harus dalam kondisi
Manual Mode
ƒ Tekan tombol Record Select
display akan tampil Record
Select
ƒ Tekan kunci panah kebawah,
display tampil : Rec No ….
ƒ Setelah ini tekan / masukkan
nomor yang diinginkan kemudian
tekan tombol Enter. Printer akan
bekerja, dan layar akan terbaca
Printing.
ƒ Tunggu sampai selesai
mencetak, atau Cancel untuk
membatalkan.
ƒ Jangan lupa kembali ke Auto
setelah selesai, dengan tombol
Auto
ƒ Kita dapat juga memilih nomor
record dengan menggunakan
tombol Panah Keatas /
Kebawah.
ƒ Apabila nomor record yang akan
dicetak sudahdiperagakan, maka
kita cukup menekan tombol
Enter.

Mencetak Setup Parameter
ƒ DFR II harus dalam kondisi
Manual Mode
ƒ Tekan tombol Print Setup
ƒ Tekan tombol Panah Kebawah
kemudian printer akan bekerja
KE
MASTER DFR

ANALOG
16 Channel



DAU

Data
Acquisition
Unit
ALARM
RELAi
EVENT
32 Channel
HANNE
SYNCHR

PRINTER
COMM
KEY
BOARD
&
SCREEN




404
ƒ Tekan sampai selesai mencetak,
atau Cancel untuk membatalkan
ƒ Jangan lupa kembali ke Auto
setelah selesai, dengam tombol
Auto.

9.16. Basic Operation
Switch on : Menyalakan DFR
Pertama kali dinyalakan DFR II
akan memeriksa keadaan didalam
rangkaian elektroniknya dan
menghitung Memorinya sampai
4096 KB. Setelah semuanya dalam
kondisi baik, maka secara otomatis
display/peragaan di DFR II akan
menampilkan Jam dan Nomor
Record yang ada didalam DFR.
Apabila kita ingin mempercepat
pemeriksaan dan test memory,
tekan tombol Panah Kebawah dan
display akan menampilkan Jam dan
Rec No.
Misalnya :
JJ : MM : SS REC ….
15 : 06:32 REC 041
Setelah itu tekan tombol Reset
Alarm Indicator, maka seluruh
lampu Alarm Indicator harus
padam/tidak menyal. Apabila ada
Alarm Indicator yang menyala,
maka lihat petunjuk bagian Trouble
Shooting.

9.16.1 Automatic Mode : Posisi
DFR siap/otomatis

Pada kondisi Jam dan Nomor
Record tampil dilayar, dan Status
Indicator Led Auto menyala, kondisi
ini disebut Automatic Mode. Dalam
kondisi ini semua key kecuali
Manual Mode dan Reset Alarm dan
Sensor Target tidak dapat
difungsikan. Pada posisi ini DFR
dalam keadaan siap akan merekam
data gangguan/fault secara
otomatis.
Catatan :
Dalam kondisi ini Lampu Status
Indicator yang menyala adalah:
Auto dan Data Memory (kalau ada
data ). Apabila Lampu Status
Indicator lain ada yang menyala,
berarti ada gangguan didalam DFR,
contoh lampu Off Line, artinya DFR
dalam keadaan tidak siap merkam.
Lihat bagian Trouble Shooting.

9,16.2 Manual Mode :
Posisi manual operation :

Merubah ke kondisi manual
untuk dirubah / dioperasikan oleh
operator / manusia Pada posisi ini
kita dapat :
ƒ Merubah Parameter dari DFR
ƒ Melakukan pengetesan/
pemeriksaan komponen
elektronis
ƒ Meminta rekaman data, ataupun
memanipulasikan data rekaman
Dari kondisi Automatic kita dapat
merubah ke kondisi manual dengan
cara :

Tekan tombol Manual, pada
display akan tampil Manual Mode.
Berarti kita sudah ada pada posisi
Manual dan Lampu Status Manual
akan menyala.

9.16.4. Kembali ke posisi /
kondisi Automatic mode

Untuk kembali ke posisi
Automatic mode, setelah kita
selesai dengan posisi Manual
mode, kita harus kembali ke
tampilan layar Manual Mode, yaitu




405
dengan menekan tombol Cancel
beberapa kali(tergantung diposisi
mana kita sedang berada). Lalu
tekan tombol Auto, maka pada layar
akan tampil JAM dan Record No
untuk mempercepat peragaan,
tekan tombol Panah Kebawah atau
Cancel.
Cara menganalisa :
1. Pada kondisi normal, arus dan
tegangan akan menggambarkan
sinusoidal ( 50 Hz ) yang
sempurna.
2. Besaran arus dan tegangan
tersebut dapat diukur dengan
memperhatikan skala rekaman,
serta ratio CT dan PT.
3. Setiap trigger karena besaran
analog yang diluar normal, DFR
akan menggambarkan pada
bagian sensor digital, serta
bentuk sinusoidal arus/tegangan
akan berubah menjadi lebih
besar atau Lebih kecil.
4. Apabila perubahan besaran
analog ini diikuti dengan
bekerjanya proteksi maka diikuti
dengan perubahan status input
digital.
5. Bila PMT juga bekerja, maka
dapat dilihat status PMT sebagai
input digital yang berubah.
6. Setiap trigger karena perubahan
status input digital, DFR akan
menggambarkannya pada
bagian digital, dimana garisnya
akan berubah menjadi terputus

9.17. Auto Recloser.

Saluran udara tegangan tinggi
(SUTT/SUTET) merupakan salah
satu bagian sistem yang paling
sering mengalami gangguan,
sebagian besar dari sumber
gangguan tersebut (sekitar 80 %)
bersifat temporer
[2]
yang akan
segera hilang setelah Pemutus
Tenaga (PMT) trip. Agar
kesinambungan pelayanan/ suplai
energi listrik tetap terjaga serta
batas stabilitas tetap terpelihara
maka PMT dicoba masuk kembali
sesaat setelah kejadian trip diatas.
Dengan memasukan kembali PMT
ini diharapkan dampak gangguan
yang bersifat temporer tersebut
dapat dikurangi Untuk mengurangi
dampak gangguan tersebut
terhadap keandalan penyediaan
tenaga listrik, khususnya pada saat
terjadi gangguan temporer, maka
pada SUTT/ SUTET tersebut
dipasang auto recloser (A/R).
Pengoperasian auto-recloser
diharapkan dapat meningkatkan
availability (ketersediaan) SUTT/
SUTET, hal ini berarti peluang
(lama dan frekuensi) konsumen
terjadi padam dapat dikurangi.
Namun sebaliknya, pengoperasian
A/R secara tidak tepat dapat
menimbulkan kerusakan pada
peralatan, sehingga dapat
menimbulkan dampak pemadaman
meluas serta waktu pemulihan yang
lebih lama.

9.17.1. Kaidah Penyetelan A/R
Penentuan dead time.

Penentuan dead time harus
mempertimbangkan hal berikut :

a. Stabilitas dan sinkronisasi
sistem.

- Tidak berpengaruh pada
jaringan radial tetapi
berpengaruh pada jaringan




406
yang memiliki lebih dari satu
sumber (pembangkit atau IBT).
- Dead time dipilih sesuai
dengan kebutuhan sistem dan
keamanan peralatan.





b. Karakteristik PMT.
Waktu yang diperlukan oleh
PMT untuk trip dan reclose
harus diperhitungkan, khususnya
untuk A/R cepat.
- Waktu de-ionisasi udara seperti
tabel 9.4

Tabel 9.4. Waktu de-ionisasi udara

Tegangan Sistem (kV) Waktu De-ionisi (detik)
66 0.1
110 0.15
132 0.17
220 0.28
275 0.3
400 0.5

- Operating time PMT (0.05 - 0.1
detik).
- Waktu reset mekanik PMT (0.2
detik).
Selain itu pengaruh penurunan
kemampuan PMT karena umur
harus dipertimbangkan dalam
menentukan pola dan waktu
operasi ( lambat atau cepat) A/R.

c. Karakteristik peralatan
proteksi.

Harus diperhitungkan waktu
yang dibutuhkan untuk reset
peralatan proteksi.

d. Penentuan reclaim time.

1) Reclaim time harus lebih lama
dari waktu kerja relai proteksi,
namun untuk basic time
(instanteneous) pertimbangan
ini tidak diperlukan.
2) Reclaim time harus
memperhitungkan waktu yang
diperlukan oleh mekanisme
closing PMT agar PMT tersebut
siap untuk reclose kembali.
Umumnya untuk sistem
hidraulik memerlukan waktu 10
detik.

e. Kriteria Seting Untuk SPAR :
1). Dead time :

- lebih kecil dari seting discrepancy
dan seting GFR
- lebih besar dari operating time
pmt, waktu reset mekanik pmt,
dan waktu pemadaman busur
api + waktu deionisasi udara.
- Tipikal set 0.5 s/d 1 detik.






407
2). Reclaim time :

- Memberi kesempatan pmt
untuk kesiapan siklus O-C-O
berikutnya.
- Tipikal 40 detik.

f. Kriteria Seting Untuk TPAR
1). Dead time :

- lebih besar dari operating time
pmt, waktu reset mekanik pmt,
dan waktu pemadaman busur
api + waktu deionisasi udara.
- Tipikal set 5 s/d 60 detik.

2). Seting berbeda untuk kedua
sisi :

- Untuk sumber di kedua sisi maka
sisi dengan fault level rendah
reclose terlebih dahulu baru
kemudian sisi lawannya.
- Untuk sumber di satu sisi (radial
double sirkit) bila tidak terdapat
S/C untuk operasi manual yang
terpisah dari S/C untuk A/R
maka untuk keperluan manuver
operasi, reclose pertama dapat
dilakukan dari sisi sumber.

3) SUTT yang tersambung ke
pembangkit :

- A/R untuk SUTT yang kedua sisi
tersambung ke Pembangkit
maka pola yang dipilih TPAR
(inisiate gangguan 1 fasa)
dengan seting dead time lebih
lama.
- SUTT yang hanya satu sisi
tersambung ke pembangkit
maka pola yang dipilih TPAR
dengan pola S/C di sisi
pembangkit diseting DL/DB out.

4). Reclaim time :
- Memberi kesempatan pmt untuk
kesiapan siklus O-C-O
berikutnya.
- Tipikal 40 detik.

g. Faktor Teknis Dalam
Pengoperasian Auto Reclose
(A/R)

Auto Recloser tidak boleh bekerja
pada kondisi, sebagai berikut :
a. PMT dibuka secara manual atau
beberapa saat setelah PMT
ditutup secara manual.
b. PMT trip oleh Circuit Breaker
Failure (CBF) atau Direct
Transfer Trip (DTT).
c. PMT trip oleh pengaman
cadangan (Z
2
, Z
3
, OCR/GFR).
d. PMT trip oleh Switch On To
Fault (SOTF).
e. Bila relai proteksi SUTT tidak
dilengkapi dengan fungsi SOTF,
maka perlu ditambahkan sirkit
A/R blok untuk menunda fungsi
A/R setelah PMT dimasukan
secara manual. Lama waktu
tunda sirkit A/R blok akan
ditentukan kemudian.
f. PMT trip oleh out of step
protection.
g. Terjadi ketidak normalan
peralatan teleproteksi di sisi
terima
Auto Reclosertidak boleh
dioperasikan pada :
- SKTT
- SUTT yang tersambung ke trafo
dengan sambungan T.
Mempertimbangkan dampak
terhadap kerusakan peralatan pada
saat gangguan permanen maka
A/R dioperasikan hanya dengan
single shot.




408
Pola A/R yang dapat diterapkan
adalah :
- Auto Recloser cepat untuk 1
(satu) fasa, 3 (tiga) fasa dan 1+3
(satu atau tiga) fasa.
- Auto Recloser lambat untuk 3
(tiga) fasa
Pemilihan pola diatas dengan
mempertimbangkan batasan-
batasan yang dijelaskan di bawah
ini.

h. Faktor Yang Mempengaruhi
Pola

Auto Recloser Pemilihan pola
single phase auto reclosing (SPAR)
atau three phase auto reclosing
(TPAR) dengan waktu reclose
cepat atau lambat harus
mempertimbangkan batas stabilitas
sistem, karaktesitik PMT dan
peralatan proteksi yang digunakan.
Pertimbangan ini menyangkut
besarnya nilai setelan untuk dead
time dan reclaim time.
Pemilihan pola single phase
auto reclosing (SPAR) atau three
phase auto reclosing (TPAR)
dengan waktu reclose cepat atau
lambat harus mempertimbang- kan
konfigurasi jaringan seperti dibawah
ini
a. Jaringan radial sirkit tunggal.
b. Jaringan radial sirkit ganda.
c. Jaringan looping sirkit tunggal.
d. Jaringan looping sirkit ganda.

Pemilihan pola A/R dengan
waktu reclose cepat atau lambat
harus mempertimbangkan
persyaratan pada kedua ujung
saluran antara lain
a. kemungkinan reclose pada
gangguan permanen.
b. kemungkinan gagal sinkron
pada saat reclose.
c. salah satu sisi tersambung ke
unit pembangkit.
d. penutupan dua pmt yang tidak
serentak

i Pengoperasian High Speed
Auto Recloser

Pengoperasian A/R cepat dapat
diterapkan bila persyaratan di
bawah ini dipenuhi, sebagai berikut:
a. Siklus kerja (duty cycle) dari
PMT sesuai untuk operasi
dengan A/R cepat.
b. Sistem proteksi di semua ujung
saluran bekerja pada basic
time/ instantenous.
c. Kemampuan poros turbin
(terutama yang berporos
panjang) dan belitan stator
generator perlu diperhatikan ,
sehingga pengoperasian high
speed A/R 3 fasa pada
SUTT/SUTET di GI pembangkit
atau yang dekat pembangkit
dilakukan setelah ada
kepastian bahwa operasi high
speed A/R 3 fasa tidak
membahayakan turbin dan
generator.
d. Operasi high speed A/R 3 (tiga)
fasa khususnya pada sistem
500 KV (SUTET) tidak boleh
diterapkan bila hasil studi
menunjukan bahwa high speed
reclosing akan dapat
menimbulkan tegangan lebih
transien yang melebihi nilai
desain yang diijinkan.
Penerapan A/R cepat 1(satu) fasa
Dapat diterapkan pada konfigurasi
atau sistem berikut :
a. SUTET
b. SUTT jaringan radial sirkit
tunggal atau ganda.
c. SUTT jaringan looping sirkit
tunggal atau ganda.




409
a. Penerapan A/R cepat 3 (tiga)
fasa Dapat diterapkan pada
konfigurasi atau sistem berikut :
- SUTT jaringan radial sirkit
- tunggal atau ganda.
- SUTT jaringan looping sirkit
tunggal atau ganda.
- Pengoperasian high speed A/R 3
fasa , disamping memberikan
keuntungan pada sistem yaitu
memperbaiki stability margin,
mengurangi terjadinya
pembebanan kritis akibat
gangguan pada SUTT/SUTET
maupun pada saluran
interkoneksi, juga memberikan
resiko berupa kemungkian
terjadinya gangguan yang lebih
parah bila operasi A/R pada saat
ada gangguan permanen.
Dengan demikian maka
pengoperasian high speed A/R
3 (tiga) fasa harus didahului dengan
keyakinan (berupa hasil studi)
bahwa pengoperasian A/R akan
memberi manfaat yang besar
dengan resiko yang kecil



































410
BAB X
PEMELIHARAAN SUTT/SUTETI BEBAS TEGANGAN

Saluran Udara Tegangan Tinggi
(SUTT) dan Saluran Udara
Tegangan Ekstra Tinggi (SUTETI)
adalah sarana instalasi tenaga
listrik diatas tanah untuk
menyalurkan tenaga listrik dari
Pusat Pembangkit ke Gardu Induk
(GI) atau dari GI ke GI lainnya
(antar GI).

SUTT/SUTETI merupakan
peralatan buatan manusia.
Peralatan ini pada dasarnya bisa
rusak baik karena salah
pengoperasian, kesalahan saat
konstruksi maupun telah melampaui
masa kerjanya (life time).
Pengertian Pemeliharaan adalah
kegiatan yang meliputi:
- Perawatan/pemeriksaan
- Perbaikan
- Penggantian
- Pengujian

10.1. Tujuan Pemeliharaan

- Mempertahankan kemampuan
kerja peralatan
- Memperpanjang live time
peralatan
- Menghilangkan, mengurangi
resiko kerusakan
- Mengembalikan kemampuan
kerja peralatan
- Mengurangi kerugian secara
ekonomis
- Memberi keyakinan keandalan
operasinya

10.2. Jenis-jensi pemeliharaan

Banyak metoda pemeliharaan
yang dilakukan mulai dari yang
paling sederhana hingga yang
rumit. Beberapa jenis pemeliharaan
antara lain :
- Pemeliharaan rutin (Preventive
Maintenance)
- Pemeliharaan Korektif
(Corrective Maintenance)
- Pemeliharaan darurat
(Emergency Maintenance)
- Pemeliharaan yang berdasar
kondisi / karakter peralatan
(Condition Base Maintenance /
CBM)

10.2.1. Pemeliharaan Rutin :

Pemeliharaan rutin merupakan
kegiatan / usaha yang secara
periodik dilakukan untuk
mempertahankan kondisi jaringan
agar selalu dalam keadaan baik
dengan keandalan dan daya guna
yang optimal.
Dalam pelaksanaannya
pemeliharaan rutin terdiri dari :

- Pemeliharaan tahunan
- Pemeliharan lima tahunan

10.2.2. Pemeriksaan Rutin

Pemeriksaan rutin merupakan
pemeriksaan secara visual
(inspeksi):
- Ground patrol
- Climb up inspection

Hasil pemeriksaan merupakan
data yang dapat dipakai:
- Evaluasi / perencanaan/
pengembangan
- Penanggulangan dan
pencegahan


411
- Perbaikan / perubahan/
modifikasi
- Penggantian

10.2.2.1. Ground patrol

Ground patrol adalah jenis
pekerjaan
pemantauan/pemeriksaan harian
terhadap jalur transmisi tanpa
memanjat tower dilakukan oleh Line
walker secara terjadwal. Obyek
yang diperiksa adalah :

- Kawat penghantar
- Ground wire
- Ruang bebas (Right of
Way/ROW)
- Tower dan halamannya
- Lingkungan dan aktifitas
masyarakat sekitarnya

10.2.2.2. Climb up inspection

Climb up inspection adalah jenis
pekerjaan pemeriksaan terhadap
tower berikut perlengkapannya
dilakukan oleh Climber dengan cara
memanjat tower pada
SUTT/SUTETI yang dalam keadaan
bertegangan.

Obyek yang diperiksa adalah:
- Besi Tower dan kelengkapannya
- Kawat penghantar sekitar tower
- Ground wire sekitar tower
- Klem pemegang kawat dan
asesorisnya
- Isolator dan asesorisnya
- Benda asing yang terdapat
pada tower , isolator dan kawat

Melalui pemeriksaan ini
diharapkan secara dini dapat
ditemukan abnormaly atau
kelainan-kelainan yang dapat
menimbulkan gangguan. sehingga
kerusakan dapat segera
ditanggulangi yang pada akhirnya
keandalan penyaluran tenaga listrik
tetap terjaga dengan baik.

10.2.3. Pemeriksaan Sistematis

Pemeriksaan Sistematis
adalah pekerjaan pengujian yang
dimaksudkan untuk menemukan
kerusakan atau gejala kerusakan
yang tidak dapat ditemukan atau
diketahui pada saat inspeksi untuk
kemudian disusun saran-saran
perbaikannya.

Pelaksanaan Pemeriksaan
Sistematis ini lebih luas dan lebih
teliti dari pada pemeriksaan rutin.
Untuk memperoleh tingkat ketelitian
yang tinggi dipergunakan peralatan
bantu.

Contoh dari pemeriksaan ini
misalnya adalah pengujian
kemampuan isolator di
laboratorium, pemeriksaan kondisi
sambungan dengan menggunakan
Infra red thermovision, pemeriksaan
tegangan tembus isolator dengan
corona detector,

Beberapa hal yang mempengaruhi
pola pemeliharaan rutin antara lain :

- Kondisi alam setempat
polutif alami, polutif industri,
gempa, kondisi normal,
pertumbuhan tanaman
sepanjang jalur dan disekitar
jalur, petir, longsoran dan lain
sebagainya.
- Karakteristik kerja peralatan
biasanya berdasarkan buku
petunjuk pabrik atau
pengalaman yang terjadi


412
selama ini: isolator gelas yang
sering pecah
- Sosial kemasyarakatan
penggalian liar, pencurian :
grounding – member tower dan
lain sebagainya.

10.2.4. Pemeliharaan Korektif

Pemeliharaan Korektif
(corrective maintenance) adalah
pekerjaan pemeliharaan yang
dilakukan karena peralatan
mengalami kerusakan atau
memerlukan penyempurnaan.
Pemeliharaan korektif kebanyakan
terjadi karena jarang atau tidak
pernah dilakukan pemeriksaan
rutin.

10.2.5. Pemeliharaan Darurat

Pemeliharaan Darurat
dilakukan karena telah terjadi
kerusakan pada SUTT/SUTET yang
disebabkan oleh hal-hal diluar
rencana seperti : banjir, gempa
bumi, longsor, gunung meletus,
kebakaran, tertabrak kendaraan
dan lain sebagainya.
Pemeliharaan jenis ini
sifatnya darurat dan memerlukan
penanganan ekstra serta segera
untuk mengatasinya. Biayanya
tentu saja tidak bisa direncanakan
dan mungkin bisa dimasukkan
dalam katagori biaya tak terduga
karena memang kejadiannya diluar
kendali manusia. Salah satu
solusinya ialah memasang tower
emergency.





10.2.6. Pemeliharaan berdasarkan
kondisi/karakter
peralatan (CBM)

Pemeliharaan ini tidak lagi
berdasar waktu, namun berdasar
kondisi/karakter peralatan. Dalam
satu tahun bisa saja dilakukan
beberapa kali kunjungan atau
pemeriksaan tergantung tingkat
potensi gangguan.

Kerusakan yang terjadi
menjadi statistik dan dapat
disimpulkan sebagai trend
peralatan. Namun adakalanya
kerusakan akibat fenomena alam
yang tidak terlihat sewaktu patroli.
Contoh yang dapat dilakukan CBM
adalah :

- Pemeriksaan isolator dan
asesoris isolator maupun clamp
pada daerah yang polusinya
tinggi.
- Pemeriksaan jarak tower dan
lendutan kawat pada kawasan
luas yang mengalami longsor
secara perlahan
- Pemeriksaan kondisi pondasi
pada daerah longsoran
- Pemeriksaan isolator pada
daerah yang sering tersambar
petir
- Pengukuran nilai pentanahan
tower pada daerah pegunungan
atau musim kemarau.

10.2.7. Contoh Pemeliharaan
SUTT / SUTET

Berbagai macam pemelihara-
an yang pernah terjadi di jaringan
SUTT/ SUTET antara lain :
a. Penggantian isolator pecah atau
rusak lapisan permukaannya


413
b. Pembersihan isolator karena
polusi
c. Perbaikan kawat rantas
d. Perbaikan kawat putus
e. Pengencangan klem-klem
jumper
f. Pembersihan kawat dari layang-
layang
g. Ground patrol
h. Climb up inspection
i. Pemeriksaan stabilatas pondasi
tower (leveling, retak)
j. Pemeriksaan kelengkapan
tapak tower (patok tanda batas
tanah PLN, urugan tanah tapak
tower)
k. Pengecekan Tahanan
Pembumian
l. Pemeriksaan jarak bebas
konduktor dengan benda di
sekitarnya
m. Perbaikan tower yang
mengalami deformasi /
bengkok-bengkok akibat tanah
sekeliling pondasi longsor
n. Pondasi turun/amblas karena
tanah dasar pondasi mengalami
sliding/gelincir oleh arus air
bawah tanah
o. Pengelasan baut-baut tower
untuk mencegah pencurian
p. Perbaikan spacer yang le[pas
dari konduktor
q. Penggantian pentanahan tower
/grounding
r. Penebangan pohon atau antena
komunikasi yang tumbang ke
arah konduktor (diluar row)
s. Penggantian besi tower karena
pencurian
t. Penggantian Tension clamp
konduktor
u. Pemasangan kembali / reposisi
damper yang melorod ke
tengah gawang
v. Penggantian lampu aviasi yang
mati/rusak
w. Penyambungan kembali kawat
yang putus atau rusak berat
x. Penggantian asesoris / clamp
yang karatan
y. Perbaikan klem kawat jumper
yang putus
z. Pemasangan pengaman
halaman tower

10.3. Prosedur Pemelihan
SUTT/SUTET

Langkah kerja pemeliharaan
SUTT/SUTETI adalah :
1. Adanya laporan dari petugas
lapangan maupun masyarakat
atau hasil evaluasi data laporan
yang masuk
2. Melakukan Analisa
Keselamatan Pekerjaan dengan
meninjau lapangan
3. Membahas hasil AKP dan
rencana tindak lanjut yang
diperlukan
4. Mempersiapkan: SDM;
peralatan; metoda pengerjaan;
material pengganti maupun
pendukung lainnya dan
organisasi kerja
5. Menjadwalkan pekerjaan dan
persetujuannya
6. Melakukan persiapan pekerjaan
setelah adanya persetujuan
7. Melaksanakan pekerjaan
8. Melakukan evaluasi
9. Membuat laporan kerja







414
10.3.1. Peralatan yang dipelihara

Peralatan yang dipelihara pada saluran udara tegangan tinggi dan saluran
udara tegangan ektra tinggi seperti tabel 10.1. berikut ini

Tabel 10.1. Peralatan yang dipelihara pada saluran udara tegangan tinggi dan
saluran udara tegangan ektra tinggi

I Ruang Bebas / Lingkungan
1 Jarak pepohonan thd kawat fasa
2 Jarak bangunan thd kawat fasa
3 Jarak pohon terhadap kawat fasa
bila tumbang ke arah kawat
4 Jarak bangunan thd kawat fasa
bila roboh ke arah kawat
5 Jarak jaring pengaman thd kawat
6 Jarak kawat ke tanah
7 Jarak kawat ke tiang perahu/kapal
bila air pasang
8 Kegiatan layang-layang
9 Struktur tanah dekat tiang
II Tiang / Menara / Tower
1 Konstruksi tiang
2 Batang rangka besi
3 Tangga / baut panjat
4 Penghalang panjat (ACD)
5 Plat rambu bahaya
6 Plat nomor / pht / tanda fasa
7 Baut sambungan rangka
8 Indicator lamp (air traffict light)
9 Cat / galvanis badan tiang
10 Klem kawat grounding
11 Kawat grounding
12 Batang penangkal petir
13 Alat penangkal petir lainnya

III Isolator
1 Piringan isolator
2 Arcing horn sisi tiang
3 Arcing horn sisi kawat pht.
4 Assesories isolator (pin, dll)
5 Suspension clamp
6 Tension clamp
7 Ikatan isolator
8 Armour rod


415
9 Posisi rencengan isolator

IV Pondasi & Halaman Tiang
1 Pondasi / chimney
2 Kaki tiang / stub
3 Tumbuhan di halaman tiang
4 Pagar pengaman halaman tiang
5 Patok batas halaman tiang
6 Stabilitas tanah sekitar hal. tiang
7 Talud pengaman
8 Kegiatan pihak lain di halaman tiang

V kawat penghantar
1 Kawat fasa
2 Peredam getaran (Vibr. damper)
3 Spacer
4 Midspan compression joint
5 Repair sleeve
6 Jumper wire
7 Sagging
8 Armour rod
9 Jarak antar kawat fasa
10 Indicator lamp (induction)

VI Kawat Petir & Kawat Optik
1 Kawat petir
2 Peredam getaran (Vibr. damper)
3 Midspan compression joint
4 Repair sleeve
5 Tension clamp
6 Suspension clamp
7 Jumper wire
8 Sagging
9 Armour rod
10 Sign ball (bola pengaman)
11 Klem sambungan ke grounding
12 Kotak sambungan kawat optik
13 Kawat yang turun ke kotak kwt optik







416
10.3.1.1. Jenis-jenis kelainan.

Jenis-jenis kelainan pada saluran udara tegangan tinggi dan saluran
udara tegangan ektra tinggi seperti tabel 10.2

Tabel 10.2 Jenis-jenis kelainan pada saluran udara tegangan tinggi dan saluran
udara tegangan ektra tinggi

No. Jenis Kelainan
1 Amblas
2 Andongan rendah
3 Bahaya I
4 Bahaya II
5 Bahaya III
6 Bengkok
7 Benda asing
8 Cat pudar
9 Dekat jalan
10 Erosi
11 Hilang
12 Karatan
13 Kendor
14 Kotor
15 Kritis
16 Longsor
17 Mekar / rantas
18 Melorod
19 Miring
20 Pecah / retak
21 Putus
22 Rusak
23 Semak belukar
24 Tertimbun
25 Tergenang
26 Tidak seimbang













417
10.3.1.2. Jenis-jenis penanggulangan
Jenis-jenis penanggulangan pada saluran udara tegangan tinggi dan
saluran udara tegangan ektra tinggi, seperti tabel 10.3

Tabel 10.3 Jenis-jenis penanggulangan pada saluran udara tegangan tinggi
dan saluran udara tegangan ektra tinggi

1 Ditinggikan chimneynya
2 Dinaikkan kawatnya
3 Dibongkar
4 Ditebang / dipangkas
5 Diluruskan
6 Dibersihkan
7 Digalvanis / dicat ulang
8 Ditanggul
9 Diganti
10 Dikencangkan
11 Dibabat
12 Dipasang patok
13 Dinormalkan
14 Diarmor rod / dipress
15 Disambung
16 Diposisikan kembali seperti semula
17 Diperbaiki
18 Diperiksa
19 Diseimbangkan

10.3.1.3. Contoh Abnormality Peralatan
1. Kerusakan pada isolator
Kerusakan pada isolator dapat dilihat pada gambar 10.1



Gambar 10.1 Kerusakan pada Isolator


418
2. Kerusakan pada menara
Kerusakan pada menara dapat dilihat pada gambar 10.2





Gambar 10. 2 Kerusakan pada menara

3. Kerusakan pada Kerusakan pada isolator gantung
Kerusakan pada Kerusakan pada isolator gantung dapat dilihat pada
gambar 10.3




Gambar 10. 3 Kerusakan pada isolator gantung


419
3. Kerusakan pada kawat pentanahan
Kerusakan pada kawat pentanahan dapat dilihat pada gambar 10.3



Gambar 10. 4 Kerusakan pada kawat pentanahan

10.3.2. Peralatan kerja
10.3.2.1. Peralatan kerja
Pemeliharaan

- Transportasi peralatan ke-atas/
bawah : tali, katrol dll
- Lever hoist
- Sling
- Karpet
- Pengait pin isolator
- Palu plastik
- Kunci-kunci ( Inggris dan
pas/ring)
- Came along (tiang tension)
- Conductor lifter (tiang
suspension)
- Shackle
- Peralatan bantu
- BV lier
- Sling panjang
- Tambang
- Kunci ring-pas
- Angle level
- Parang
- Tang kombinasi
- Ranging meter
- Obeng minus besar
- Stop meter (5 meter)
- Clinometer
- Palu godam 5 kilogram
- Theodolit
- Water pas
- Gimpole/ tiang pengangkat
- Sling mata itik
- Shackle 5/8”
- Alat ukur pentanahan (tahanan
kaki tiang )
- Gergaji besi
- Corona detector
- Mesin press hydraulic
- Infra red thermovision
- Kikir plat besar
- Rol meter
- Chain saw
- Teropong
- Pakaian kerja
- HT bagi koordinator dan
pengendali mutu Pekerjaan
- Mesin potong
- Mesin bor
- Mesin las


420
- Tir for
- Capstan winch
- Capstan hoist
- Kunci ring
- Kunci sok

10.3.2.2. Peralatan K3
- Grounding + stick
- Voltage detector
- Alat komunikasi / HT
- Buku working permit
- APD :
- Topi pengaman
- Kacamata UV
- Pakaian kerja
- Sabuk pengaman
- Lanyard
- Sepatu pengaman
- Sarung tangan
- Rambu-rambu peringatan
- Rambu K3
- Kotak P3K
- Tandu
- Jas hujan
- Lampu penerangan
































Gambar 10.5 Peralatan kerja pemeliharaan jaringan
1. TOPI PENGAMAN
8. HANDY TALKY (HT)
7. SEPATU PANJAT
6. SARUNG TANGAN
5. SABUK PENGAMAN
4. LANYARD
3. PAKAIAN KERJA (WERK
PACK)
2. KACAMATA ULTRA VIOLET
(U.V)
1
8
7
6
4
5
3
3
2


421

10.3.2.3. Meterial Pemeliharaan
1. Material pengganti existing:
isolator; besi diagonal, kawat
penghantar, ground wire, dan
lain sebagainya
2. Repair sleeve
3. Mid span joint
4. Armor rod
5. BBM mesin
6. Minyak hydraulic
7. Sakapen
8. Majun
9. Minyak WD4

10.3.3. Petunjuk Pemeliharaan
Peralatan

10.3.3.1. Pemeliharaan alat kerja.
1. Setiap peralatan kerja yang
berupa mesin maupun alat ukur
wajib mengikuti buku instruksi
yang dikeluarkan oleh pabrikan
2. Setiap alat kerja wajib diketahui
Safe Working Loadnya (SWL)
3. Setiap beban yang akan
ditanggung oleh alat kerja wajib
diketahui besarannya
4. Setiap petugas wajib
mengetahui Safety faktor (SF)
5. Setiap petugas wajib
mengetahui tanda-tanda
kerusakan pada alat kerja
6. Setiap alat kerja tidak boleh
digunakan kecuali sebagai
fungsinya

10.3.3.2. Pemeliharaan Peralatan
Transmisi

Pemeliharaan peralatan
transmisi wajib mengikuti prosedur
kerjanya atau Instruksi Kerja, agar
tercapai satu kesepakatan untuk
meyelesaikan pekerjaan secara
runtut/bertahap; tertib; lancar dan
aman.

Instruksi Kerja Peralatan
transmisi antara lain:

1. Pemeliharaan isolator
2. Pemeliharaan kawat
penghantar
3. Pemeliharaan ground wire
4. Pemeliharaan rangka tower
5. Pemeliharaan halaman tower
6. Pemeliharaan ruang bebas

10.3.4. Pelaporan Pekerjan
Pemeliharan

Pekerjaan pemeliharaan yang
telah diselesaikan harus dilaporkan
ke pemberi tugas yang memuat :
- Proses persiapan
- Tanggal, hari, jam pelaksanaan
- Personel yang terlibat
- Organisasi kerjanya
- Peralatan yang dipakai
- Material yang digunakan
- Tata laksana kerja
- Kendala yang dihadapi
- Solusi yang telah diterapkan
- Pelaksanaan/penerapan K3
- Masalah lingkungan
- Biaya yang telah dikeluarkan
- Saran dan usulan untuk
perbaikan
- Kesimpulan

Manfaat laporan pekerjaan :
1. Data
2. Bahan analisa untuk pebaikan
dan pengembangan
3. Penilaian unjuk kerja
4. Lain-lain


Lampiran : A
A - 1
DAFTAR PUSTAKA
Bernad Grad ( 2002) Basic Electronic Mc Graw Hill Colage New- York
David E Johnson (2006) Basic Electric Circuit Analisis John Wiley & Sons.Inc
New- York
Diklat PLN Padang . (2007) Transmisi Tenaga Listrik Padang
Diklat PLN Pusat . (2005) Transmisi Tenaga Listrik Jakarta
Fabio Saccomanno (2003) Electric Power System and Control John Wiley &
Sons.Inc New- York
John D. McDonald (2003) Electric Power Substation Engginering CRC Press
London
Jemes A.Momoh (2003) Electric Power System CRC Press London
Luces. M . (1996) Electric Power Distribution and Transmision Prantice Hall
New- York
Oswald (2000) Electric Cables for Pewer Transmision John Wiley & Sons.Inc
New- York
Paul M Anderson (2000) Analisis of Faulted Power System John Wiley &
Sons.Inc New- York
Panagin.R.P ( 2002) Basic Electronic Mc Graw Hill Colage New- York
Stan Stawart (2004) Distributet Swichgear John Wiley & Sons.Inc New- York
Stepen L. Herman (2005) Electrical Transformer John Wiley & Sons.Inc
New- York
Hutauruk (2000)Tranmisi Daya listrik Erlangga Jakarta.








Aslimeri, dkk.

TEKNIK TRANSMISI TENAGA LISTRIK
JILID 3 SMK

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang

TEKNIK TRANSMISI TENAGA LISTRIK
JILID 3
Penulis

Untuk SMK
: Aslimeri Ganefri Zaedel Hamdi

Perancang Kulit

: TIM

Ukuran Buku ASL t

:

18,2 x 25,7 cm

ASLIMERI Teknik Transmisi Tenaga Listrik Jilid 3 untuk SMK /oleh Aslimeri, Ganefri, Zaenal Hamdi ---- Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. ix, 121 hlm Daftar Pustaka : Lampiran. A ISBN : 978-979-060-159-8 ISBN : 978-979-060-161-1

Diterbitkan oleh

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional

Tahun 2008

Direktur Pembinaan SMK . Selanjutnya. Pemerintah. telah melaksanakan penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi siswa SMK. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Oleh karena itu. Kami berharap. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008. saran dan kritik sangat kami harapkan. kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. dapat diunduh (download).KATA SAMBUTAN Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Jakarta. dicetak. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. atau difotokopi oleh masyarakat. pada tahun 2008. berkat rahmat dan karunia Nya. dialihmediakan. dalam hal ini. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia. Dengan ditayangkannya soft copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar ini. digandakan. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional tersebut.

Penulis i .kekurangan baik dalam materi maupun sistematika penulisan. Juga penulis megucapkan terima kasih kepada Maneger PLN (persero) Udiklat Bogor yang telah banyak membatu penulis dalam menyediakan bahan untuk penulisan buku ini .Kata Pengantar Akhir-akhir ini sudah banyak usaha penulisan dan pengadaan bukubuku teknik dalam Bahasa Indonesia. kontruksi kabel tenaga dan pemeliharaan kabel tenaga . hal ini masih saja dirasakan keterbatasan-keterbatasan terutama dalam mengungkapkan topik atau materi yang betul-betul sesuai dengan kompetensi dalam bidang Transmisi Tenaga Listrik untuk Sekolah Menengah Kejuruan. Penulis menyadari masih banyak kekurangan. Namun untuk Teknik Elektro. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depertemen Pendidikan Nasional yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menulis buku ini dan Drs. gandu induk .Sudaryono. tranformator. Hal inilah yang mendorong penulis untuk menyusun buku ini agar dapat membantu siapa saja yang berminat untuk memperdalam ilmu tentang Transmisi Tenaga Listrik. pengukuran listrik. Harapan penulis semoga buku ini ada mamfaatnya untuk meningkatkan kecerdasan bangsa terutama dalam bidang teknik elektro . untuk itu saran-saran dan kritik yang membangun guna memperbaiki buku ini akan diterima dengan senang hati.saluran udara tegangan tinggi. Dalam buku ini dibahas tentang : pemeliharaan sistim DC. MT yang telah bersedia menjadi editor buku ini.

.. Diagram Pencapaian Kompetensi ............ 1............1.....5. Hubungan Antara Arus Tegangan dan Tahanan .............16 Jadwal dan Chek list Pemeliharaan Charger .................2...........15................3...................................... 1. Hukum Ohm ……….. Daya Dalam Rangkaian DC ………………...... 1..........… ..3......7............................. Prinsip Dasar Rangkaian DC …..6 Pengukuran Arus Output Maksimum ...... 1.. 1........ Kegiatan Pemeliharaan ... ……………………………………... Jenis Charger ….......................... Prinsip kerja baterai alkali.................... 1. Bagian-bagian Utama Baterai ……………….......6...... 1.......... 1............6............... i ii ix 1 1 3 6 7 8 15 20 25 25 26 27 29 30 31 31 31 33 34 37 37 38 38 39 39 46 48 52 54 54 54 55 56 58 61 63 63 64 65 ii .............13.... 1... Pelaksanaan Pemeliharaan ........... 1....... PEMELIHARAAN DC POWER . 1....... 1.....7...............................9....15...1.........3.....1..................10................. 1.. Pentilasi Ruang Baterai ………………..........2..... 1..... 1....... Instalasi Sel Baterai ………………...... Pengertian beterai .. Tujuan Pemeliharaan ........................ Rangkaian Proteksi Tegangan Surja Hubung....... ..5..............4.... 1...........6....10..... 1......... 1.......... 1................ 1.................11........................16............. Jenis Pemeliharaan .............7........................ ………........3....1........... 1...6........3...... Rangkaian voltage Dropper ………………. I.....................10...............14. 1......... Komponen Pengantar Seting Equalizing ... Prinsip Kerja Charger ............ Prinsip kerja baterai ........... Komponen Pengantar Seting Arus ... Prinsip kerja baterai asam-timah .. 1. Poses pengisian baterai .............. 1........4..7................... 1... Cara pelaksanaan pengukuran tegangan .10.......15...... JILID 1 BAB... Komponen Pengantar Seting Floating .................................16........ Daftar isi ………………………..................15..... Pengukuran Berat Jenis Elektrolit ………................ 1....... Pemeliharaan Baterai . Pemeliharaan Charger ………………....... 1.................... Komponen Pengantar Seting Tegangan .................. Sistem DC Power ………………..3...........15.........................7. 1..2...2......... Bagian-Bagian Charger .... Komponen Semikonduktor ………………........ 1............................................ 1...........10....2....................... 1...........4. 1.........15.............. Jenis-jenis Baterai ………………...8. 1............1.......................... 1...........................3........................2...12..... Charger (Rectifier) 1........... Automatic Voltaga Regulator ………………........3....... 1... Hukum Kirchoff .... 1.1..........4... 1.... Pengertian pemeliharaan DC power ................1.2.....Daftar Isi Kata Pengantar ……………....................... ………............................16......15...............

....12.15.. Frekuensi Meter ……………….......................................................... 1.......... Alat Pernapasan Transformator …………....... 3....... Trouble shooting ................................. 2........18................... ..................... Kumparan Transformator ……………….......... 2................. 2.. Minyak Transformator ………………........ Pengertian Pengukuran ………………....10.................................. 2..................... Jadwal pemeliharaan periodik baterai ....4. Sistem Induksi ………………..................... Tap Changer …………….....................13..... Alat Ukur Elektronik …............4.11. 2. Pengujian Kapasitas Baterai .........3........................ BAB......15..Parameter/Pengukuran Transformator ... BAB................. 68 70 73 73 75 81 90 91 95 97 97 98 101 109 111 111 112 114 116 117 118 120 120 121 123 123 123 125 127 128 128 130 131 132 132 133 135 135 137 137 142 144 150 153 iii .......1........Tester Tegangan tinggi ...13...3..... Megger ……………………............7...................................... 2.... 3.13.........18.........................................16... 2.... 1..................Meter Tahanan Pentanahan ....... Alat Ukur dengan Menggunakan Transformator …....... 2......... 3..... 3....17... 2. Prinsip induksi ……………….. 1........9... 2.............2....15..... 3............... Karaktaristik dan Klasifikasi Alat Ukur ………......... Tangki Konservator . III.. 1........................... II..................... Pengujian dan shooting pada DC Power.....4........ Pengujian Indikator Charger ....10.15.............. Kwh Meter ………...... 3..17......................... 2...... Bushing ……………….......... 3.............17.........12.. 3... TRANSFORMATOR …………………............ Keselamatan kerja ………………. Pengukuran Besaran Listrik …………...................................Peralatan Proteksi Internal ......1.......5..................... Prinsip kerja Kumparan Putar ……………….............. 3...... 2.........................................11.. Pengukuran Suhu Elektrolit ............................................................7...........1.........................8.......... 2..6.....8.... 2..Peralatan Tambahan Untuk Pengaman Transformator ........Meter Tahanan Isolasi .... 2. Pengujian kadar Potassium Carbonate ( KZC03 ) ............. Sistem Kawat Panas ........................... 2.14..... 3......... Kinerja Baterai ………………..........5..........9................................................2....2............ 3.................. 2.............1................ 3.. 3..... 1...........................16....Tester Tegangan tembus .... 2................ 3.... Macam-macam alat ukur untuk keperluan pemeliharaan.....19.... Alat Indikator Transformator ………………............................... Besaran Satuan dan dimensi ……………….......3...15... Fase Squensi ………………........................................ ............ 1..3........ 1...............5...................... Sistem Elektro Dinamis …....Announciator Sistem Instalasi Tegangan Tinggi ... 1..17...... Peralatan Bantu Pendingin Transformator ………….4........... PENGKURAN LISTRIK ………………......6..1..........Rele Proteksi Transformator dan Fungsinya ....... 2...2.....................................1......

SALURAN UDARA TEGANGAN TINGGI …………….......... Perlengkapan SUTT/SUTETI .................... 5. 5.................. Transformator Arus ………................ 5...................................... 4.. Gardu Induk dengan Doble busbar .................................................. 4....1................5...........................……………...... Saluran Kabel …………….....6......1..........6..........5.....3...........................1.......... Pemisah (PMS) ……….................... 4...................Nilai Isolator ..................2.6....... PMT dengan Sedikit Minyak ...2................................ 4.. 5............. Saluran Udara ……….........5.. 5.......2........................... PMT dengan Media pemutus menggunakan udara ………….6...........5...... 5............. Transformator Instrumen ………..........5.............3.............1............................... Arrester …………………............................................................... 5.................... Isolator ………………………..... Mekanik Jenis Hidrolik ………........... 4..............1.....................................1. Jenis Isolasi Pemutus Tenaga ..................................3...3......................... Jenis Isolasi Busbar ………................. 4....... 4..................5....................…......... 4............................2.......JILID 2 BAB IV............... PMT dengan Media pemutus menggunakan Minyak............. 5........... 5.....3........ ... ............................................................ Pemisah Engsel ………..4....................6.............. 5......................5. 5...2............... 4......4 Indikator Unjuk kerja Transformator Ukur ………..........6...............3............................3.................. 4...........4...................2......... 5.................4.................... PMT dengan Hampa Udara ...4.... Gardu Induk dengan satu setengah / one half busbar ..................................................Pentanahan Tower ....... 5.... Pemutus tenaga listrik (PMT) ......5........ Kawat Tanah ............................ 4.................... 4......... 159 160 160 161 161 165 170 172 173 173 173 174 174 178 178 180 184 184 184 184 185 186 186 187 188 188 190 191 192 194 195 195 195 196 199 199 201 204 206 207 209 209 212 iv ...............3................ Mekanik Jenis Spering ………......5....................... BAB V...............Bahan Kawat Tanah ........1.......................5..... Pemisah Luncur ………. 5......... Kondukror .......................... 5........5.... 5....4............................................... Sistem Busbar (Rel) ...... 5................4........ Transformator Bantu ………......4.6..... 5...............Bagian-bagian tower .....3.................1.... ....... 5.... Busbar …………………. Transformator Tegangan ……….......Jenis Isolator ........... 5...1.....3.2..... 5............. 5....Isolator Piring ......................Jumlah dan Posisi Kawat Tanah .....4...........Tower .......................3....1.....1............2...6....................4............1..... 4....................... 5.... GARDU INDUK .......4..3................. Pemisah Putar ......1................ 5......3..................................... Pemisah Siku ........... Gardu Induk dengan single busbar .... 5.2..........3..........................1....... 4. 5.......Speksifikasi isolator............2..1........ 4..5...................... Jenis Penggerak Pemutus Tenaga ..............

.... 6.. Ramute Terminal Unit (RTU) Tipe EPC 3200. 5..........1...............................6. Penutupan PMT ...........7.. Sistem Pentanahan Titik Netral ... Kapasitor Kopling .............10.......................2.........4........1........... Kompesator .2...8.....................10.......................9............... Pentanahan Titik Netral Melalui Kumparan Peterson ..10..................2. Kompensator shunt ............8........ 6.......... 6....6.................. Pembukaan PMT . BAB VI........... 5........ Exposur tegangan .11. Bagian-bagian Kabel Minyak ….............. 6.. BAB VII..... Aplikasi PLC . 6......... Penggunaan Kanal Suara ................................. 5............. 5...........2....10. Pengkuran Tahanan Pentanahan ....................2........8............................. 5............. Peralatan Kopling ...................... 5.............. Rele Proteksi dan Annunsiator ................. Lightning Arester .........................1.. 6...................................2....................3.....................8.........12................7.. ............................. 5.... Peralatan SCADA dan Telekomunikasi.........4....... 5.......10...........12............10.......... .7....... Metode Cara Pentanahan .........1. Kabel Minyak .......... 5.......1.1..8...................... 6................ 5..............Pentanahan Dengan Mesh atau Jala ........ Metode Pentanahan titik Netral ..5.............................. Prinsip Kerja Dasar Wave trap .3....... Komunikasi Suara ...... 7......3....... KONTRUKSI KABEL TENAGA .............................Pengaruh tahanan Pentanahan Terhadap Sistem ..1....10................. 5............................1. Sistem Yang tidak Ditanahkan ….................... 5. 5....................... 6.... 5. 6.....................Pentanahan dengan Driven Ground.... Tujuan Pentanahan Titik Netral ................8..... 6....4........... Simbul-simbul yang ada pada Gardu Induk ... 6............... Penerapan Sistem Pentanahan di Indonesia ....................1.. 216 216 220 221 222 223 223 224 225 226 227 230 231 232 233 233 234 234 235 236 238 246 246 247 247 247 247 248 251 252 253 254 256 258 258 258 260 260 261 262 263 265 265 265 v ........................... Tranformator Pentanahan ………. Pentanahan Peralatan .... .......1..............4... 6..... 6.. Teleproteksi Protection Signalling ..............13.........Macam-macam Elektroda Pentanahan ...... Prinsip Dasar PLC ..............................................7............1... Wave trap ...... 6............... Peralatan Pengaman ............. 7.2........ 6............................... 5... . 5............. Tahanan Jenis Tanah ...11................... SISTEM PENTANAHAN TITIK NETRAL ..... 5.............................................................5.......... 6.............10. 6.............................. 5...8......... Pentanahan Titik Netral Melalui Tahanan ………......................2...........................3.2....... Pentanahan Titik Netral Tampa Impedansi ..............................6.6.............. Line Matching Unit ........................................ Kompensator reaktor shunt .11.................. ..................... 6............9 ...11... Pengaruh Busur Tegangan Terhadap Tenaga Listrik.... 5....9.....................5........................................................8......................... 6........ 5......

Perhitungan Daya tarik Horizontal .............................7.......... 8. Penggerakan ..................1.......4.................15.....1.....9.......... Macam-macam Minyak Kabel .......10.. 7............... 8........................................... Pemeliharaan Yang Dilakukan Terhadap Kabel Laut Tegangan Tinggi ...17........Methoda Murray . 7......................... Tekanan Pada Kabel Minyak …....... PEMELIHARAAN KABEL TEGANGAN TINGGI . 7................................... 8....... Cara Kontruksi Solid bonding …...................... 8....... Penggelaran Kabel .. Termination ........ 265 266 267 268 270 272 278 280 290 292 294 299 300 303 307 310 310 310 311 312 313 314 314 315 318 321 330 332 335 335 337 338 342 348 349 350 353 353 354 360 360 360 vi ..6......Methoda mencari lokasi gangguan pada lapisan pelindung kabel.......................................11.. Regangan maksimum yang diizinkan pada Kabel ........ 8........ Cara mengukur Tekanan Minyak Dengan Manometer......... 8. 8..........18.......... Konduktor .....19.........................................1.......... 7. Perencanaan .........................1...................12....... 8........ Peralatan Pergelaran kabel ......... 7............ 8............ Anti Crossbonding Coverting .........3.......... Tangki Minyak .........................1................ Jadwal Pemeliharaan ..........7.................................. Prosedur Pemeliharaan ..........1....14....................... 7.................................... JILID 3 BAB VIII............................................ 8.......... 8...... 7.................... 8................. oversheath........................1..........................10.................. Pengendalian ....................... Kontruksi Kabel Laut …............5.......5..... 7............13............. Pengorganisasian ............. Dekumen Prosedur Pelaksanan Pekerjaan ............12.....................................19..... Spare Kabel ............7.......................... 8......1.................9.4. 8................. Alat Pengukur Tekakan ….... Pemilihan Instalasi Kabel Tanah Jenis Oil Fillied ... 8..16............................... 8.. Kebocoran minyak Kabel Tenaga .....................................................3........2........................5......................................... 8............. 8......... Pengertian dan tujuan Pemeliharan ....2...................11....... 8................4............. 8....... Manajemen Pemeliharaan ............. Karakteristik Minyak . 7.................2..........3.....................................1............................. Kabel Tenaga XLPE …............................................... Crossbonding dan Pentanahan .. 7............. Isolasi Kabel ........................ Manajemen Pemeliharaan Peralatan ................ Gangguan kabel pada lapisan pelindung P...................................... Tranposisi dan sambung Silang …... 8...... 8.........4..... Jenis-jenis Pemeliharaan . 7..................... 7.. 7....................... 7................2..........1..... 8......................8...2......................13.......................................................... Perhitungan Sistem Hidrolik ..... 7....3.........................E..................19... 8......... Tank Chanber Umum ..........................6... 8........1..........8....... Keselamatan Kerja …..... ................. Data Kimia ...................

..10..................................... Cepat ...10...........................4......... Pola Blocking ..............3 Karakteristik Reaktance ...... BAB ............ .... Disturbance Fault . Fungsi dan Peralatan Rele Proteksi .....................20..10.......2..Mengganti Kabel yang rusak ................. Sistem Proteksi SUTET ....................................................................1... 9.4 Karakteristik Quadrilateral ................. 9...................... 8....................................................... 9.......6.. 9... Proteksi Transformator Tenaga ......Memperbaiki kerusakan lead sheath kabel ... Current Differential Relay ..8....................... 9.............. Gangguan pada sistem Penyaluran .3 Gangguan Hubung Singkat Tiga Fasa ................................. ............... Memperbaiki Kerusakan Kabel .................................5..1...................4........................................ 9.............14........... 9.....1......................1...................................6.9.... 9...................8.................................................................21..................................... 9.........3.......... 374 374 374 375 375 375 375 376 376 376 376 378 379 379 379 381 381 381 382 383 383 383 384 385 386 386 386 387 387 390 397 400 401 402 404 9................ 9.................. 9.........4... Sensitif....2... 9...... 9.... 9............ Ekonomis ....... vii ....................................16.........4 Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa ... 9..... 9...... 9..5 Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa Ke Tanah. Sederhana ............ 9....... 9... 9..........................1... Proteksi Pengantar ................ Gangguan Sistem .12...................20........9.......4.......................... Karakteristik Mho ..................... 9.... 9.......................... 9.........7....3 Elemen Pengukur ........1.........2................................................ Pengukuran Impedansi Gangguan Oleh Relai Jarak ............... 9..............................................1......... 9. .............................................................. 9... Proteksi Penyulang 20 KV ................3..... Karakteristik Impedansi ....... Auxiliary Cable........................ 9..........10.........................2 Gangguan Non Sistem ....................... Penyebab Terjadinya Kegagalan Proteksi ....2................................ Karakteristik Rele Jarak ...........11................................... 9.....2............2............................... Handal ... 9........... Media Telekomunikasi .. 8.9..........20.... ....... .9.... 9....10.......8......... 9.2............................3................................... 9.................8....... 8........ Pola Proteksi .................2. Pola Permissive Underreach Transfer Trip ........ Elemen Pengindra .......................................2......... IX......................................... 9.......... ...13.........................................2....... 366 366 367 370 372 373 373 373 373 374 9.................8........1.......................................................... .... Perangkat Sistem Proteksi ..............1. Pola Dasar ................. 9..........5.........2............... 9................................1. Relai Jarak ..8......8... Pola PUTT .2 Elemen Pembanding ................. Prinsip Kerja Relai Jarak ......9.......... 9...... 9.................... PROTEKSI SISTEM PENYALURAN ...........1.....2............ Rele Arus Lebih .......................15............... 9........... Selektif .... ......4............ Basic Operation .................

.......... 10... ................................................... Petunjuk Pemeliharaan Peralatan .......................3.... Pemeliharaan Rutin : ....................... 10.... PEMELIHARAAN SUTT/SUTETI BEBAS TEGANGAN.................2........2..... Peralatan yang dipelihara ..2................ ...........3.............. Pelaporan Pekerjan Pemeliharaan ...........4........... 10......................... 405 410 410 410 410 410 411 412 412 413 413 418 420 421 A viii ......17............... BAB .... Peralatan Kerja ......................1...................2...2.... Prosedur Pemeliharaan SUTT/SUTET .............................. Pemeliharaan Korektif........................... 10.................3.. 10..1.......5........... Pemeriksaan Sistematis.............................. 10... ...........4.............2................... Tujuan Pemeliharaan ......................................................3.........3............ Jenis-jensi pemeliharaan ..... 10. 10......... LAMPIRAN : Daftar Pustaka .....3.1..2........................ 10.. X.....................................................3........9......... 10............................... 10..... Auto Recloser ...... Pemeliharaan Darurat............... 10..... Pemeriksaan Rutin....................2.....................

CIF.HRB 8 TIG.0 4 Tekn isi Instal asi Listri k TIG.PN.CIF.0 TIG.CBH.HSC.HPG.CIP.CBH.0 TNP.CIF.0 4 9 4 TIG.0 2 4 TMP HPN 1 4 TIG CIT 0 5 3 5 4 8 TIG. 3 3 3 1 TGM. 2 TGM.CIP.CIT.CIS.Mmc 4 TGU.HRE 4 TIG.0 8 8 TIG.HRB Teknisi Konstr uksi & Pemeli Asisten Teknisi Konstruks i& Pemelihar TIG. 3 1 2 TGM.CIT.HW Asisten Teknisi Konstruks i& Pemelihar 8 2 1 1 1 4 TIG CIF 0 4 Asist en Tekn isi Kons t k Asisten Teknisi Konstruksi & P lih 1 TIG.0 3 4 TIG.CIT.CIF.0 4 TMP.CBH.CIC.0 4 TIG CIT 0 4 2 7 1 1 3 Asiste n Teknis i Konstr TIG.0 2 TSU.HWC 1 TIG. 2 TGM.0 Nomor Kompetensi dari daftar keseluruhan kompetensi program keahlian teknik transmisi Nomor Kode Kompetensi Jam Pencapaian Kompetensi = Outlet 4 ix .CIF. 4 TIG.CIP.HPN.CIT.0 4 Keterangan : 2 6 4 TIG.HRB Asist en Tekn isi P TMP.0 1 TIG CIT 0 2 1 TIG. 2 2 3 2 1 2 3 2 4 TMP.0 2 TGM.0 2 2 TIG. 5 1 4 9 TIG.0 3 TIG.DIAGRAM PENCAPAIAN KOMPETENSI menunjukan tahapan atau tata urutan kompetensi yang diajarkan dan dilatihkan kepada peserta didik dalam kurun waktu yang dibutuhkan serta kemungkinan multi exit-multi entry yang dapat diterapkan.CIF. 4 TIG CIP 0 2 TGC.HPN.CIS.0 8 TMC.CBH. 1 TIG.0 8 TIG.CIT.

Permasalahan tersebut juga dialami oleh pemeliharaan Kabel Tenaga dengan memelihara Kabel Tenaga menyebabkan pemadaman Kabel Tenaga tersebut. Manajemen Pemeliharaan Pada umumnya lokasi sumber energi primer konvensional tidak selalu dekat dengan pusat beban sehingga pusat pembangkit listrik dibangun pada lokasi yang terpisah jauh dari pusat beban maka penyaluran daya diselenggarakan melalui instalasi penyaluran (saluran transmisi dan gardu Induk). maka penanganannya perlu didasari 310 .Manajemen Pemeliharaan Peralatan Penyaluran Suatu sistem tenaga listrik mempunyai jumlah dan jenis peralatan instalasi penyaluran yang sangat banyak yang dihubungkan satu dengan lainnya membentuk suatu sistem penyaluran.1. 8. Instalasi penyaluran ini melalui daerah perkotaan atau melalui laut. Jawa Timur dan bali) diinterkoneksikan membentuk satu grup operasi. Jawa Tengah. Pemeliharaan peralatan penyaluran tenaga listrik diperlukan untuk mempertahankan unjuk kerjanya namun di lain pihak sebagian besar pemeliharaan itu memerlukan pembebasan tegangan yang berarti bahwa peralatan yang dipelihara harus dikeluarkan dari operasi. Sehubungan dengan pemeliharaan peralatan sistem tenaga listrik pada umumnya membutuhkan dikeluarkannya peralatan tersebut dari operasi serta menyangkut jumlah yang sangat banyak. Untuk itu instalasi penyaluran didaerah ini terpaksa menggunakan Kabel Tenaga yang berupa Kabel tanah maupun kabel laut.1. Peralatan utama yang terpasang di gardu induk dan saluran transmisi adalah : Sebagaimana peralatan pada umumnya. Untuk mempercepat pekerjaan tersebut maka diperlukan managemen pemeliharaan. berkurangnya kemampuan penyaluran bahkan padamnya daerah yang dipasok oleh peralatan tersebut. Keluarnya beberapa peralatan dari operasi selama pemeliharaan dapat menyebabkan berkurangnya keandalan penyaluran. konfigurasi jaringan semakin kompleks dan peralatan semakin banyak.1. peralatan yang dioperasikan dalam instalasi penyaluran tenaga listrik perlu dipelihara agar unjuk kerjanya dapat dipertahankan. Perkembangan selanjutnya. beberapa sistem tenaga listrik (sebagai contoh : Jawa barat. baik dari segi jumlah maupun ragamnya.BAB VIII PEMELIHARAAN KABEL TEGANGAN TINGGI 8. Peralatan dengan jumlah dan jenis yang banyak itu harus dipelihara untuk mempertahankan unjuk kerjanya. Peranan instalasi penyaluran semakin penting.

1. pengorganisasian (organizing). Perencanaan Perencanaan pemeliharaan peralatan penyaluran tenaga listrik meliputi koordinasi antara kebutuhan akan pemeliharaan dan kondisi (keandalan) sistem.Kondisi lokal dimana Peralatan Tersebut Terpasang Perlu dipertimbangkan. Dalam hal ini diupayakan untuk menghindari segala sesuatu yang kemumingkinan dapat menyebabkan menurunnya keandalan atau terjadinya pemadaman. apakah ada alternatif pemasokan menghindari pemadaman selama peralatan yang dipelihara dikeluarkan dari operasi. Hasil dari perencanaan ini adalah jadual dan jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan untuk setiap peralatan antara lain : . Prosesnya hanya berhenti pada jadwal yang telah ditentukan Apabila tidak ada alternatif pasokan daya listrik selama pelaksanaan pemeliharaan.raan Memerlukan .2. .Jenis penggunaan listrik yang dipasok Ada penggunaan listrik sebagai penggerak suatu proses yang tidak boleh terganggu. Dalam hal ini perlu perencanaan (planning). penggerakan (actuating) dan pengendalian (controlling) dengan baik. Hasil perencanaan pemeliharaan peralatan instalasi penyaluran ini adalah Rencana Pemeliharaan yang mencakup Jenis Pemeliharaan Jadwal Pelaksanaan Keterangan lain berupa perlu/ tidaknya peralatan dikeluarkan dari operasi. . maka diperlukan kompromi yang dapat diperoleh dari hasil koordinasi. Dalam hal ini diupayakan agar kedua kebutuhan itu terpenuhi sebaik mungkin. Efisiensi Pemeliharaan Selama ini pedoman dasar untuk melakukan pemeliharaan peralatan instalasi listrik adalah SE 311 Petunjuk pabrik pembuat peralatan pada umumnya memberikan periode dan jenis pemeliharaan untuk peralatan tersebut. 8. Dalam hal tidak ada petunjuk dari pabrik maka pengalaman masa lalu (Statistik kerusakan) dapat dipakai sebagai dasar perencanaan jadwal dan jenis pemeliharaan. - . termasuk pemeliharaan.Hal Khusus Ada keadaan-keadaan khusus yang menyangkut acara-acara kenegaraan yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan pemeliharaan.Setiap Peralatan Pemeliha.pemikiran manajemen yang baik.

tugas. .1. Dengan pengurangan siklus pemeliharaan ini dapat dipastikan akan memberikan efisiensi dalam bidang pemeliharaan. Berikut ini merupakan langkah efisiensi yang dilakukan berupa perubahan siklus pemeliharaan peralatan. Pengorganisasian ini perlu dalam mengalokasikan sumber daya yang ada atas pekerjaanpekerjaan yang diperlukan agar dapat dimanfaatkan seefisien dan seefektif mungkin. Diupayakan agar dalam pelaksanaan pekerjaan.3. Urutan tahapan pekerjaan. Hal yang sama diberlakukan juga terhadap PMT. .032/PST/1984 tanggal 23 Mei 1984 tentang Himpunan Buku Petunjuk Operasi dan Pemeliharaan Peralatan Penyaluran Tenaga Listrik dimana yang menjadi dasar utama untuk melakukan pemeliharaan adalah rekomendasi pabrik serta instruction manual dari masingmasing peralatan instalasi listrik. Tidak lengkapnya peralatan. selain mengakibatkan waktu pelaksanaan lebih panjang juga mutu pekerjaan yang lebih rencah. Dalam hal ini tingkat rincian yang diperlukan tergantung kesiapan yang akan melaksanakan pekerjaan itu.Direksi No. tanggungjawab dan wewenang untuk terlaksananya pekerjaan pemeliharaan.Pembagian Pekerjaan Kegiatan-kegiatan spesifik yang sejenis dikelompokkan dengan memperhatikan kesamaan pelaksanaan. Pengorganisasian Rencana pemeliharaan sebagai hasil perencanaan diatas merupakan dasar dalam pengaturan orang.Rincian Pekerjaan Yang Harus Dilaksanakan Rincian ini perlu dibuat untuk membantu kelancaran pelaksanaan sekaligus menghindari kesalahan. alat. tidak ada seseroang yang berbeban terlalu berat atau terlalu ringan serta tidak ada yang dibebani pekerjaan diluar kemampuannya. Demikian juga halnya dengan 312 . Mengurangi kebutuhan manhaurs per peralatan. antara lain : Mengurangi biaya pemeliharaan. Peralatan yang diperlukan untuk tiap tahapan pekerjaan diinventarisir dengan jumlah yang memadai. Mengurangi waktu pemadaman. . Meningkatkan mutu pelayanan dengan tingkat keandalan dan kesiapan peralatan yang lebih tinggi.Mengalokasikan sumber Daya 'Who does what' disusun agar seluruh tahapan pekerjaan terlaksana dengan baik atau tidak terjadi saling mengelak diantara personil untuk melaksanakan suatu pekerjaan. 8. Pengalokasian personil ini harus mempertimbangkan : Kemampuan masing-masing personil Beban kerja yang menjadi tanggung jawab masing-masing personil.

1. Pemimpin yang efektif menyesuaikan tingkah laku kepemimpinannya pada kebutuhan yang dipimpin dan lingkungannya. Dalam hal ini perlu diperhatikan tingkat kedewasaan serta perilaku manusia yang dipimpin.Persiapan Peralatan Kondisi dan kesiapan peralatan perlu diperiksa sebelum saat pelaksanaan. .material. Selanjutnya diskusi mengenai apa yang akan dikerjakan akan sangat membantu pelaksanakan pekerjaan.Blower. . Dasar penyusunan yang utama adalah pengalaman dalam pelaksanaan yang lalu. Pada tahap ini sumber daya manusia merupakan salah satu penentu bagi keberhasilan pencapaian sasaran sehingga kepemimpinan.Koordinasi Pekerjaan Mekanisme koordinasi harus jelas.Gas cheker.Persiapan Personil Kondisi personil harus dalam keadaan baik. Proses ini disebut penggerakan. tangga. Untuk mencapai sasaran dengan baik seorang atasan/pimpinan melakukan proses mempengaruhi kegiatan seseorang atau suatu kelompok kerja dalam usaha melaksanakan rencana kerja yang telah disusun. mental dan jasmani. . 8.4. Penggerakan Setelah ada rencana kerja. Ciptakanlah situasi yang memungkinkan timbulnya motivasi pada setiap personil untuk berperilaku sesuai dengan tujuan. alat uji tegangan.Kepemimpinan dan Motivasi Dalam rangka pelaksanaan pemeliharaan mulai dari persiapan sampai akhir pekerjaan diperlukan proses mempengaruhi dan mengarahkan orang menuju ke pencapaian tujuan yaitu terlaksananya pekerjaan pemelihara an dengan baik. letih dan lainlain) dapat membahayakan dirinya serta orang lain. kemudian pengalokasian sumber daya. Salah satu 313 . pelindung tubuh. mengingat : Tuntutan waktu pelaksanaan seminimum mungkin Menghindari kecelakaan tegangan listrik Menghindari gangguan Kesalahan koordinasi dapat berakibat fatal pada instalasi bahkan jiwa personil yang melaksanakan pekerjaan. Ada berbagai gaya kepemimpinan yang secara umum dikenal namun sulit untuk menyatakan satu gaya yang terbaik.Baju tahan api dan lain-lain. Kesiapan ini harus dinyatakan saat sebelum memulai pekerjaan dan masingmasing personil menyatakan kesiapannya secara tertulis dalam blanko-blanko yang sudah disiapkan. terutama yang menyangkut keselamatan jiwa seperti sabuk pengaman. motivasi dan komunikasi. Kondisi yang tidak baik (pusing. . tibalah saatnya pada pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan. kurang tidur.

Keengganan merubah sesuatu yang sudah dianggap mapan (kebiasaan cara kerja ).5. Pengertian Dan Tujuan Pemeliharaan Pemeliharaan peralatan listrik tegangan tinggi adalah serangkaian tindakan atau proses kegiatan untuk mempertahankan kondisi dan meyakinkan bahwa peralatan dapat berfungsi sebagaimana mestinya sehingga dapat dicegah terjadinya gangguan yang menyebabkan kerusakan. Penyimpangan dalam pelaksanaan dapat saja terjadi oleh kemungkinankemungkinan : Adanya perubahan karena lingkungan. 8. baik terhadap isolasinya maupun penyebab kerusakan 314 . Untuk dapat melaksanakan pengendalian diperlukan sasaran pengendalian.2. Suatu peralatan akan sangat mahal bila isolasinya sangat bagus.1. udara dan gas atau vacum. dari isolasi inilah dapat ditentukan sebagai dasar pengoperasian peralatan. Pengendalian Dalam upaya tercapainya sasaran seperti yang direncanakan. 8. diperlukan pengendalian agar penyimpangan dapat dideteksi sedini mungkin. ketidaktahuan ).indikator dan standar yang jelas. Terjadinya kesalahan karena informasi kurang jelas. Untuk meningkatkan reliability. penyimpangan yang terjadi dapat dideteksi sedini mungkin sehingga tindakan koreksi dapat memperbaiki pelaksanaan Dalam mencapai tujuan sesuai dengan yang direncanakan. hasil yang dicapai dibandingkan terhadap standar dan melaksanakan tindakan koreksi bila diperlukan. Pelaksanaan pekerjaan dievaluasi. Isolasi disini meliputi isolasi minyak. kemalasan. availability dan effiency. seorang atasan / pimpinan perlu melakukan pengendalian karena pada umumnya terjadi perubahan situasi dan lingkungan serta kesalahan pada saat pelaksanaan. Terjadi kesalahan karena kemampuan personil yang tidak memadai. Unsur manusia adalah hal yang paling utama dalam pengendalian yang menyangkut : Kelemahan (kesalahan. Kecurangan. Tujuan pemeliharaan peralatan listrik tegangan tinggi adalah untuk menjamin kontinyunitas penyaluran tenaga listrik dan menjamin keandalan. Untuk itu kita harus memperhatikan /memelihara sistem isolasi sebaik mungkin.dengan demikian isolasi merupakan bagian yang terpenting dan sangat menentukan umur dariperalatan.faktor penting disini adalah unsur kewibawaan. Perbedaan pemahaman/ penafsiran atas sesuatu. Faktor yang paling dominan dalam pemeliharaan peralatan listrik tegangan tinggi adalah pada sistem isolasi. Ditemukan masalah lain diluar yang sudah direncanakan. Melalui pengendalian ini. indikator . antara lain : 1.

tutup crosbonding dan box culvert serta kegiatan pembangunan atau kegiatan diatas/sekitar jalur sktt. Pemeliharaan harian Pemeliharaan harian seperti tabel 8. 1 1.3. Terminasi Kabel head (sealing end) 3 Periksa secara visual dan catat tekanan minyak pada sealing end pada manometernya. mencatat. Sedangkan pemeliharaan harus dilaksanakan oleh regu pemeliharaan. jembatan kabel.1. Dalam pemeliharaan peralatan listrik tegangan tinggi kita membedakan antara pemeriksaan / monitoring (melihat. a Periksa secara visual klem terminasi kabel head dan bagian yang bertegangan dari benda asing.Pemeliharaan harian : HARIAN : OPERASI DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN Jadwal NO. b Periksa sistem pentanahan sealing end (kabel head). 2. PERALATAN/KOMPONEN YANG DIPERIKSA URAIAN PELAKSANAAN 2 Manometer tekanan Minyak Kabel ROW 3. Jenis jenis Pemeliharan pada kabel adalah sebagai berikut : 1.1 Tabel 8. 8.isolasi. 315 . Jenis jenis Pemeliharan Pemeriksaan atau monitoring dapat dilaksanakan oleh operator atau petugas patroli setiap hari dengan sistem check list atau catatan saja. Periksa secara visual : rambu (patok-patok). koreksi / resetting serta memperbaiki / membersihkan ) dalam keadaan padam. meraba serta mendengar) dalam keadaan operasi dan memelihara (kalibrasi / pengujian. 2. Pemeliharan Mingguan.

3. seperti tabel 8.Pemeliharaan berupa monitoring saluran Kabel Tanah Tegangan Tinggi yang dilakukan oleh petugas patroli setiap Mingguan serta dilaksanakan dalam keadaan operasi.2. 3. b Periksa sistem pentanahan sealing end (kabel head). URAIAN PELAKSANAAN 3 Periksa tekanan minyak pada sealing end secara visual pada manometernya. 1 1. Minyak Periksa secara visual dan catat tekanan minyak pada manometer di setiap Stop Joint yang dapat diperiksa. tutup crosbonding dan box culvert serta kegiatan pembangunan atau kegiatan diatas/sekitar jalur sktt. Pemeliharaan Semesteran 316 . jembatan kabel. Periksa secara visual : rambu (patok-patok). Terminasi Kabel head (sealing end) 4 Manometer Kabel tekanan a Periksa secara visual klem terminasi kabel head dan bagian yang bertegangan dari benda asing. Tabel 8. 2.2.Pemeliharaan Mingguan JADWAL DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN PERALATAN/KOMPONEN YANG DIPERIKSA 2 Manometer tekanan Minyak Kabel ROW : MINGGUAN : OPERASI NO.

Pemeliharaan Tahunan JADWAL : Tahunan DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : Padam PERALATAN/KOMPONEN YANG DIPERIKSA 2 Tahanan Isolasi Kabel Cable Covering Protection Unit (Non Linier Resistor) NO. 2.4. Pemeliharaan Tahunan Pemeliharaan yang berupa Pengukuran dan pengujian untuk Kabel Tanah Tegangan Tinggi dan dilakukan oleh petugas Pemeliharaan setiap tahun dan dilaksanakan dalam keadaan Padam. Terminasi Sealing End (Kabel a Pengukuran noktah panas pada klem sealing end (kabel head) dan head) dan bagian yang bagian berteganan dengan infrared bertegangan thermovision.4. Tabel 8.Pemeliharaan berupa monitoring saluran Kabel Tanah Tegangan Tinggi yang dilakukan oleh petugas patroli setiap Semester serta dilaksanakan dalam keadaan operasi. URAIAN PELAKSANAAN 3 Pengukuran tahanan isolasi kabel dengan Megger dan dengan metoda polarisasi indeks (PI). Tabel 8. 2. PERALATAN/KOMPONEN YANG DIPERIKSA 2 Minyak Kabel URAIAN PELAKSANAAN 3 Periksa secara visual dan catat tekanan minyak pada Stop Joint dan Sealing end (kabel head) .3.3. 1 1. Pemeliharaan Semester JADWAL : SEMESTER DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : OPERASI NO. seperti tabel 8. Pengukuran arus bocor pada CCPU dan mengukur tahanan isolasinya 317 . 1 1. b Pengukuran Partial Discharge pada Sealing end (kabel head) dengan alat uji Partial Discharge 4. seperti tabel 8.

O. Pemeliharaan yang dilakukan terhadap Kabel Laut Tegangan Tinggi adalah: 1. Pemeliharaan Kabel Laut Harian JADWAL : HARIAN DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : OPERASI PERALATAN/KOMPONEN YANG DIPERIKSA 2 R.3 4. Pemeriksaan dan pembersihan terhadap Manometer. Pressure Control Cabinet (Panel Box kontrol tekanan) 6. 7 8. Lead Sheath. Periksa pelampung suar apakah masih berada pada tempat yang ditentukan. 1 1. seal pintu panel. Boks Cross bonding dan Stop Join serta Oil Tank Chamber maupun Oil Tank Sunseal Kabel pilot. (timah pelindung) Mano Meter Pengukuran arus bocor pada lead sheath dan mengukur tahanan isolasinya Pengetesan fungsi penunjukan tekanan minyak dan sistem pengaman tekanan minyak kabel (alarm dan tripping). pengukuran tahanan variabel untuk mengatur tegangan sistem pengaman (proteksi tekanan minyak/supervisi). Tabel 8. seperti tabel 8. Pemberihan kabinet. Tangki minyak. 5. Pemeliharaan berupa monitoring untuk Kabel Laut Tegangan Tinggi yang dilakukan oleh petugas Patroli dan dilaksanakan secara Harian dalam keadaan operasi.5. URAIAN PELAKSANAAN 3 Pantau lalu lintas kapal agar tidak lego jangkar pada daerah koridor kabel laut Pantau kedipan lampu rambu suar apakah masih bekerja baik. Pemeliharaan Kabel Laut Harian. 318 . Pengukuran tahanan isolasi kabel pilot.W Lampu Suar Pelampung suar NO.5. 2. instalasi pipa minyak. 3.4. kandungan Gas berbahaya maupun kelembaban .

Periksa tegangan suplay AC maupun DC untuk alat bantu apakah masih normal. 3. Tabel 8.6. Periksa tekanan minak kabel Periksa terminasi kabel apakah masih baik secara visual. Tegangan Suplay AC/DC untuk alat bantu. PERALATAN/KOMPONEN YANG DIPERIKSA Terminasi Kabel head dan bagian yang bertegangan : OPERASI URAIAN PELAKSANAAN Periksa terminasi kabel head dan bagian yang bertegangan dari benda asing secara visual. seperti tabel 8. Pemeliharaan kabel laut mingguan Pemeliharaan berupa monitoring untuk Kabel Laut Tegangan Tinggi yang dilakukan oleh petugas Patroli dan dilaksanakan setiap Mingguan dalam keadaan operasi. 2. 319 . 4. Pemeliharaan Kabel Laut mingguan : MINGGUAN JADWAL DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN NO.2.6. 1. Tekanan minyak Terminasi.

7. URAIAN PELAKSANAAN 3 Pengukuran noktah panas pada kabel head dan bagian berteganan dengan infrared thermovision.3. dead end tower. 4. Pemeliharaan kabel laut Semester Pemeliharaan yang berupa monitoring untuk Kabel Tanah Tegangan Tinggi dan dilakukan oleh petugas Patroli setiap Semester dan dilaksanakan dalam keadaan operasi. 3. 5. Pembersihan terminasi/sealing end kabel. Pengukuran Partial Discharge pada kabel head dengan alat uji Partial Discharge Pembersihan bushing kabel head terdapap kristal garam serta pembersihan isolator string pada gantry. Pemeliharaan Kabel Laut Semester JADWAL : Semester DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : OPERASI PERALATAN/KOMPONEN YANG DIPERIKSA 2 Terminasi Kabel head dan bagian yang bertegangan Terminasi Kabel head dan bagian yang bertegangan Terminasi Kabel head dan bagian yang bertegangan Terminasi Kabel head dan bagian yang bertegangan Peralatan kontrol minyak dan alat bantu khusus NO. seperti tabel 8.7. Periksa apakah peralatan kontrol daan alat bantu khusus dapat berfungsi dengan baik. Tabel 8. 320 . 1 1. 2.

8. Pelihara kelengkapan rambu-rambu dan pelampung suar penggantian elektroda anti korosi setiap 5 tahun. Periksa kelengkapan rambu-rambu dan pelampung suar seperti Batere. Ukur tahanan isolasi kabel laut dengan Megger. Pemeliharaan Kabel Laut Tahunan JADWAL DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN PERALATAN/KOMPONEN YANG DIPERIKSA 2 Sistem pentanahan Tahanan isolasi Kabel Laut Mano Meter Boks Cross bonding dan Stop Join serta Oil Tank Chamber maupun Oil Tank Sunseal. lampu dan panel solar sel. Periksa ROW kabel dengan Scan sonar apakah kabel masih tetap pada posisi nya setiap 5 tahun.. Tanki. 4 URAIAN PELAKSANAAN 3 Pemeriksaan dan pengukuran sistem pentanahan kabel laut dengan Megger pentanahan. 5 7 321 . 2. 1 1.8. Ukur tahanan kabel pilot (Rdc).4. Gas berbahaya maupun kelembaban dalam kondisi operasi Ukur tahanan isolasi dari kabel pilot apakah masih baik. Tabel 8. Tahanan isolasi kabel pilot Rambu-rambu a b a b 8 ROW : Tahunan : Padam NO. Pemeliharaan yang berupa Pengukuran dan pengujian untuk Kabel Tanah Tegangan Tinggi dan dilakukan oleh petugas Pemeliharaan setiap tahun dan dilaksanakan dalam keadaan Padam. 3. seperti tabel 8. Pemeliharaan Kabel Laut Tahunan. Pemeriksaan dan pembersihan terhadap Manometer. Uji fungsi manometer apakah masih bekerja baik.

5.UBS. perihal “Pembentukan Tim Penyempurnaan Prosedur Operasi Sistem dan Pemeliharaan PT. Sesuai Surat Keputusan General Manager PT. Dengan prosedur ini setiap pekerjaan pada instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi dapat terlaksana dengan aman dan lancar serta selamat (safety process) sehingga tercapai Zero Accident. maka perlu dibuat prosedur pelaksanaan pekerjaan pada instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi sebagai penyem. Prosedur Pemeliharaan Prosedur pemeliharaan kabel dan kabel laut dapat dilihat pada tabel 8. PLN (Persero) UBS P3B”. akan mengakibatkan gangguan pada sistem tenaga listrik dan kerusakan pada peralatan bahkan dapat mengakibatkan kecelakaan manusia. Prosedur pemeliharaan kabel dan kabel laut LATAR BELAKANG Kesinambungan penyaluran energi listrik yang dikelola oleh PLN UBS P3B salah satunya ditentukan oleh kesiapan operasi gardu induk dan saluran transmisi.K / 021 / GM.9 Tabel 8. 005. P3B / 2002. Ruang Lingkup Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan Pada Instalasi 322 MAKSUD DAN TUJUAN . PLN (Persero) UBS P3B No.purnaan dari buku “Manuver Peralatan Instalasi Tegangan Tinggi & Ekstra Tinggi serta Dokumen Keselamatan Kerja”.8.9. Untuk lebih meningkatkan keamanan dan keselamatan dalam melaksanakan pekerjaan di instalasi listrik. maka diterbitkan buku “Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan Pada Instalasi Listrik Tegangan Tinggi / Ekstra Tinggi”. Kesiapan operasi gardu induk dan saluran transmisi harus didukung oleh pemeliharaan peralatan secara aman. baik dan benar. jika terjadi kesalahan prosedur. tanggal 07 Januari 2002. Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan Pada Instalasi Listrik Tegangan Tinggi / Ekstra Tinggi ini adalah prosedur yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh semua personil dalam melaksanakan tugas pekerjaan pada instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi. Didalam pelaksanaannya.

se323 PENGAWAS K3 PENGAWAS . Pengawas Manuver. Personil yang ditunjuk sebagai Pengawas K3 harus memiliki kualifikasi Pengawas K3. diperlukan pengorganisasian kerja yang melibatkan unsur / personil sebagai berikut : Penanggung Jawab Pekerjaan. Pengawas Manuver. Manuver pemberian tegangan. Peranan Personil PENANGGUNG JAWAB PEKERJAAN Peranan personil pada butir 2. Penanggung Jawab Pekerjaan adalah kuasa pemilik asset yaitu Manager UPT. PENGORGANISASIAN KERJA Pengorganisasian Kerja Dalam melaksanakan pekerjaan pada instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi. 1. Pelaksanaan pekerjaan pada instalasi dalam keadaan tidak bertegangan. Pengawas K3.Listrik Tegangan Tinggi / Ekstra Tinggi ini berlaku untuk semua pekerjaan pada instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi yang meliputi : Manuver pembebasan tegangan. Pengawas Pekerjaan. Pelaksana Manuver. Bertugas sebagai pengawas Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada pekerjaan instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi. Bertugas sebagai pengawas terhadap proses manuver (pembebasan / pengisian tegangan) pada instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi. Pelaksana Pekerjaan.1 adalah sebagai berikut : Bertanggung jawab terhadap seluruh rangkaian pekerjaan yang akan dan sedang dilaksanakan pada instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi. sehingga keselamatan manusia dan keselamatan instalasi listrik terjamin. Pengawas Pekerjaan dan Pengawas K3 tidak boleh dirangkap dan harus berada dilokasi selama pekerjaan berlangsung.

Bertugas melaksanakan pekerjaan pada instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi.kerjaan harus memiliki kualifikasi minimal setingkat Juru Utama Pemeliharaan. Bertindak selaku eksekutor manuver pada instalasi tegangan tinggi / ekstra tinggi. Mengawasi penggunaan perlengkapan keselamatan kerja. Menjaga keamanan instalasi dan menghindari kesalahan manuver yang dilakukan oleh Operator Gardu Induk dengan cara sebagai berikut : 324 PENGAWAS K3 PENGAWAS . gembok dan rambu pengaman. Mencegah terjadinya kecelakaan kerja dengan cara sebagai berikut : Memeriksa kondisi personil sebelum bekerja. adalah sebagai berikut : Mengelola seluruh kegiatan pekerjaan yang meliputi : personil. Bertugas sebagai pengawas terhadap proses pekerjaan pada instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi. Tugas dan tanggung jawab masing-masing personil pada butir 2. Pelaksana Manuver adalah Operator Gardu Induk / Dispatcher Region / Dispatcher UBOS yang dinas pada saat pekerjaan berlangsung. Personil yang ditunjuk sebagai Pengawas Pe. Personil yang ditunjuk sebagai Pengawas Manuver harus memiliki kualifikasi keahlian setingkat Operator Utama. Mengawasi pemasangan dan pelepasan taging. perlengkapan K3 dan material pekerjaan.MANUVER PELAKSANA MANUVER PENGAWAS PEKERJAAN PELAKSANA PEKERJAAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB PENANGGUNG JAWAB PEKERJAAN hingga keselamatan peralatan dan operasi sistem terjamin. peralatan kerja. Mengawasi kondisi / tempat-tempat yang berbahaya. Mengawasi tingkah laku / sikap personil yang membahayakan diri sendiri atau orang lain.2. Personil Pelaksana Pekerjaan ditunjuk oleh Pengawas Pekerjaan. Melakukan koordinasi dengan Unit lain yang terkait.

Mengawasi pemasangan dan pelepasan sistem pentanahan. Pelaksanaan pendelegasian dilaksanakan sebagai berikut : Asisten Manager Pemeliharaan atau Ahli Muda bidang terkait dengan catatan kedua pejabat tersebut tidak sedang menjadi pengawas lainnya (tidak merangkap). Mengawasi pemasangan dan pelepasan taging di panel kontrol serta rambu pengaman / gembok di switch yard. PELAKSANA MANUVER PELAKSANA PEKERJAAN PENDELEGASIAN TUGAS Pendelegasian tugas dapat diberikan kepada pejabat atau personil yang mempunyai kemampuan (Formulir 8). dalam hal : Personil yang ditunjuk berhalangan melaksanakan tugasnya. dan rambu pengaman. Melakukan eksekusi manuver peralatan instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi. Memasang dan melepas taging. gembok dan rambu pengaman. Memasang dan melepas pentanahan lokal. Dalam satu pekerjaan diperlukan beberapa pengawas.MANUVER Mengawasi pelaksanaan manuver. Operator Utama atau Personil yang mempunyai pengalaman dan keahlian dalam bidang manuver. Melaksanakan pekerjaan. Melakukan penutupan dan pembukaan PMS tanah. Melakukan pemasangan dan pelepasan taging di panel kontrol serta rambu pengaman / gembok di switch yard. 325 PENANGGUNG JAWAB PEKERJAAN PENGAWAS . Menunjuk personil Pelaksana Pekerjaan sebagai Pelaksana Pengamanan Instalasi listrik untuk memasang dan melepas taging. gembok.

Briefing tentang rencana kerja yang akan dilaksanakan kepada seluruh personil yang terlibat dalam pekerjaan dilaksanakan oleh : Pengawas Pekerjaan : Memberikan penjelasan mengenai pekerjaan yang akan dilaksanakan dengan baik dan aman. Membagi tugas sesuai dengan kemampuan dan keahlian personil (Formulir 3). TAHAPAN PELAKSANAAN PEKERJAAN Tahapan yang Diperlukan Persiapan Tahapan pelaksanaan prosedur pekerjaan pada instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi adalah sebagai berikut : a. pengalaman dan keahlian dalam bidang pemeliharaan. Personil yang mempunyai pengalaman serta keahlian dalam bidang K3. 2.MANUVER PENGAWAS PEKERJAAN PENGAWAS K3 Personil yang mempunyai ketrampilan. Pengawas K3 : 326 .

Memposisikan Switch Lokal / Remote ke posisi Lokal. Pengawas Pekerjaan memeriksa alat kerja dan material yang diperlukan.ver pembebasan dan pengisian tegangan (Formulir 4 dan 7). Semua pekerjaan manuver tersebut diatas diawasi oleh Pengawas Manuver dan Pengawas 327 Pelaksanaan Manuver Pembebasan Tegangan . Pengawas Manuver : Menyampaikan hasil koordinasi dengan unit terkait. c. Pengawas K3 memeriksa peralatan keselamatan kerja yang diperlukan (Formulir 1). Menjelaskan tempat-tempat yang berbahaya dan rawan kecelakaan terhadap Pelaksana Pekerja. b. Pemasangan taging pada panel kontrol dan memasang gembok pengaman pada box PMT. Menjelaskan langkah-langkah untuk manu. PMS Line. Pengawas K3 memeriksa kesiapan jasmani / rohani personil yang akan melaksanakan pekerjaan (Formulir 2). sesuai rencana manuver yang telah dibuat (Formulir 4). Manuver pembebasan tegangan. PMS Rel dan PMS Tanah. d. Izin Pembebasan Instalasi untuk Dikerjakan Dispatcher (UBOS / Region) memberi izin pembebasan instalasi kepada Pengawas Manuver. b. c.Memberikan penjelasan mengenai penggunaan alat pengaman kerja / pelindung diri yang harus dipakai (Formulir 1). Pelaksana Manuver melaksanakan : a. Memberikan penjelasan pengamanan instalasi yang akan dikerjakan.

baru kemudian dipasang pada bagian instalasi yang akan dikerjakan). Apabila lokasi pekerjaan di luar jangkauan pengamatan Operator Gardu Induk. c. Semua pekerjaan tersebut diatas diawasi oleh Pengawas Pekerjaan dan Pengawas K3. Pemasangan pentanahan lokal pada peralatan / instalasi listrik yang akan dikerjakan. Pengaman tambahan (pengaman berlapis) seperti : memasang gembok. Pemasangan taging. Perhatikan urutan pemasangan (kawat pentanahan lokal dipasang pada sistem grounding / arde terlebih dahulu. e. b. gembok dan rambu pengaman di switchyard pada daerah berbahaya dan daerah aman. Pekerjaan Selesai Bila pekerjaan telah selesai Pelaksana Pekerjaan melaksanakan : a. lock-pin. jangan terbalik urutannya. Pernyataan Bebas Tegangan Pengawas Manuver membuat pernyataan bebas tegangan diserahkan kepada Pengawas Pekerjaan disaksikan oleh Pengawas K3 Pelaksana Pekerjaan melaksanakan : a. Perhatikan urutan melepas (kawat pentanahan lokal pada bagian instalasi 328 Pelaksanaan Pekerjaan . maka Pengawas Manuver dan Pengawas Pekerjaan agar menjalin komunikasi. Melepas pentanahan lokal.K3. d. Pemeriksaan tegangan pada peralatan / instalasi yang akan dikerjakan dengan menggunakan tester tegangan. Jika pekerjaan belum selesai dan akan diserahkan ke regu yang lain. Pekerjaan dilaksanakan sesuai rencana. dan memblokir rangkaian kontrol dengan membuka MCB / Fuse / Terminal.

dilepas terlebih dahulu, kemudian kawat pentanahan lokal pada bagian sistem grounding / arde dilepas). b. Melepas pengaman tambahan seperti gembok dan lock-pin, mengaktifkan rangkaian kontrol dengan menutup MCB / Fuse / terminal. c. Melepas taging, gembok dan rambu pengaman di switchyard. d. Merapikan peralatan kerja. Semua pekerjaan tersebut diatas diawasi oleh Pengawas Pekerjaan dan Pengawas K3. Pernyataan Pekerjaan Selesai Pengawas Pekerjaan membuat Pernyataan Pekerjaan Selesai dan diserahkan kepada Pengawas Manuver disaksikan oleh Pengawas K3 Pengawas Manuver menyatakan kepada Dispatcher (UBOS / Region) bahwa instalasi listrik siap diberi tegangan kembali. Pelaksana Manuver melaksanakan : a. Melepas gembok pengaman pada PMS Line dan PMS Rel serta PMS Tanah. b. Membuka PMS Tanah. c. Melepas taging pada panel kontrol. d. Memposisikan switch Lokal / Remote pada posisi Remote. Jika remote kontrol Dispatcher gagal, maka berdasarkan perintah Dispatcher, posisi switch Lokal / Remote diposisikan Lokal dan Pelaksana Manuver melaksanakan manuver penutupan PMT untuk pemberian tegangan. Semua pekerjaan tersebut diatas diawasi oleh Pengawas Pekerjaan dan Pengawas K3.

Pernyataan Instalasi Siap Diberi Tegangan

Pelaksanaan Manuver Pemberian Tegangan

329

8.6. Dokumen Prosedur Pelasanaan Pekerjaan ( DP3 ) Dokumen Prosedur Pelasanaan Pekerjaan dapat dilihat pada tabel 8.10 Tabel 8.10 Dokumen Prosedur Pelasanaan Pekerjaan 1. Daerah Berbahaya dan Daerah berbahaya (danger area) adalah suatu tempat (daerah) disekitar peralatan (bagian) Daerah Aman. bertegangan, yang batasnya (jaraknya) tidak boleh dilanggar. Batas (jarak) daerah berbahaya tergantung pada besarnya tegangan nominal sistem. Sedangkan jarak aman (safety distance) adalah jarak di luar daerah bahaya, dimana orang dapat bekerja dengan aman dari bahaya yang ditimbulkan oleh peralatan (bagian) yang bertegangan. Untuk berjalan melintas disekitar daerah peralatan / instalasi yang bertegangan, harus sangat berhati-hati. Pastikan bahwa peralatan yang dibawa tidak mencuat / menonjol keatas ataupun kesamping , usahakan untuk tidak dipanggul atau dibawa secara melintang. Jarak aman minimum diperlihatkan pada tabel berikut ini : Sistem tegangan Jarak aman* (kV) (cm) 70 20 85 30 100 70 150 150 500 500 4 * mengacu pada Electrical Safety Advices (ESA) dan PUIL 1987

330

2

Formulir DP3 ( Formulir Terlampir )

Formulir-formulir yang digunakan untuk menerapkan prosedur pelaksanaan pekerjaan pada instalasi tegangan tinggi / ekstra tinggi ini yang disebut DP3 adalah terdiri dari : Formulir 1 : Prosedur pengamanan pada instalasi tegangan tinggi / ekstra tinggi. Lampiran formulir 1 : Rencana pengamanan pekerjaan pada instalasi tegangan tinggi / ekstra tinggi. Formulir 2 : Pemeriksaan kesiapan pelaksana sebelum bekerja pada instalasi tegangan tinggi / ekstra tinggi. Formulir 3 : Pembagian tugas dan penggunaan alat keselamatan kerja. Formulir 4 : Manuver pembebasan tegangan instalasi tegangan tinggi / ekstra tinggi.

331

berlaku untuk pekerjaan yang dilaksanakan oleh pihak diluar PT PLN UBS P3B. Formulir 8 : Surat pendelegasian tugas. 332 . Operator yang baik akan mengetahui sistem kabel.umumnya tanpa membahayakan sistem atau harus memadamkan kabel. periksa dan lakukan perbaikan atau pembetulan.4 Permintaan izin kerja. Walaupun sistem instalasi kabel sebenarnya bebas pemeliharaan. Formulir 7 : . Pemelihaan Instalasi Kabel Tanah Jenis Oil Filled Operasi dan pemeliharaan yang baik akan menghilangkan penyebab kabel beroperasi secara darurat.3 Manuver pemberian tegangan instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi.operator akan mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan untuk memisahkan yang ada masalah. maka harus mengisi formulir Permintaan Ijin Kerja sebelum mengisi formulir / dokumen K3 lainnya. 8. pentingnya operasi yang tepat memerlukan pemeriksaan pemeliharaan yang hati-hati dari pada memelihara secara rutin peralatan.10.10. Formulir 9 : .2 Pernyataan pekerjaan selesai. Formulir 5 lanjutan : Serah terima pekerjaan.7.10.1 Pernyataan bebas tegangan.sehingga secara cepat operator akan mengetahui maslah yang timbul.Formulir 5 : 3.10. Formulir 6 : . Apabila diperlukan pemeliharaan tingkat pemeliharaan dan keahlian pelaksana harus mempunyai kompetensi yang tinggi. Jika ada pihak luar yang akan melaksanakan suatu pekerjaan di Unit Pelayanan Transmisi.

tangga aluminium/bambu 10 tabung oksigen 11 . Daftar pemeriksaan tekanan minyak SKTT : ………………………………… Joint /OTC : UPT : No 1 2 3 4 5 Tangga l Tekanan minyak R S T R S T Keterang an 334 .jika tangki berada didalam ruang bawah tanah maka yakinkan bahwa tidak ada gas didalam ruangan bawah tanah.tripping 4. masker 9 .blower 12 .pompa lumpur/air 6. 1.baju tahan api 13 .makin panjang instalasi kabel.misalnya instalasi dengan satu seksi tekanan minyak. Alat kerja dan Alat K3 1.. Untuk melaksanakan pemeliharaan tekanan minyak diperlukan peralatan kerja sebagai berikut: a.Alarem c.dua seksi dan tiga seksi. Peralatan yang digunakan. Kaki segitiga 2.tetapi karena kabel tersebut berisi minyak sebagai isolasi maka tekanannya harus selalu dipantau.setting b. maka jumlah seksi pemasok minyak akan bertambah.Bersihkan manometer 3. Helm 3 Takel rantai 4 Sepatu karet 5. Pemelihaan Instalasi Kabel Pemeliharaan kabel tanah secara periodik sebenarnya tidak diperlukan.catat penunjukan manometer a..Bersihkan pcc(panel control kabinet) 2.batere/senter 3. Pelaksanaan Pemeriksaan Sebelum melakukan pekerjaan pemeliharaan tekanan minyak.maka bergantung pada panjang rute kabel.generator 8. Masing-masing seksi perlu diperiksa tekanannya setiap minggu untuk mengetahui kenaikan dan atau penurunan masing-masing seksi tekanan 2.Pemasok minyak untuk mempertahankan sifat isolasi kabel tetap kondisi baik. sarung tangan 7.1.

Tangga aluminium panjang 3 m f. Helm b Sepatu tahan benturan c. 1.Umumnya material ini panjangnya kurang lebih 500 m dan terpasang pada haspel serta dilengkapi dengan tangki tekanan minyak . kaca mata d.8 sampai 1. Sealing end atau terminasi merupakan peralatan yang digunakan untuk mengeluarkan konduktor (inti kabel) dari kabel yang tertanam di bawah tanah. atau mengeluarkan konduktor yang terpasang di dalam kompartemen GIS. Peralatan K3 a.. Termination.2 bar dan dilengkapi dengan manometer Instalasi kabel tanah tegangan tinggi 70 kV maupun 150 kV umumnya digunakan pada saluran transmisi tegangan tinggi didaerah perkotaan. Baterre senter e. Spare Kabel Kabel cadangan merupakan material yang harus tersedia di gudang . 2.8. Besarnya tekanan tangki tersebut antara 0. Jalur kabel untuk menanam dan menggelar instalasi malalui daerah pemukiman dan atau disisi jalan raya. contohnya terkena bor pembuatan arde telkom.terkena begho .8.9. Bedasarkan pengalaman instalasi kabel sering mendapat gangguan dari pekerjaan proyek Daftar Hasil tekanan minyak kabel spare Gudang /Upt : …………………….bor sumur warga dan . Bulan / tahun : ……………………. Tujuan memelihara kabel cadangan adalah untuk mengetahui kondisi kesiapan kabel cadangan tersebut kapan diperlukan. No Tanggal Merk/Type maupun kegiatan rumah tangga. Peralatan yang digunakan Peralatan kerja Tidak diperlukan peralatan kerja untuk memeriksa tekanan minyak kabel cadangan. Adanya kegiatan pembangunan yang hampir berlangsuing tanpa kordinasi membuat instalasi kabel tegangan tinggi tersebut terancam terkena gangguan. Jas hujan Penampang /panjang (m) Tekanan Minyak (bar) Keterangan 8. Ada dua jenis sealing end pada instalasi kabel yaitu indoor 335 .

. Peralatan dan material yang digunakan 1.. Cara Pelaksanaan pemeliharaan Pemeliharaan bushing pada waktu beroperasi yaitu pengecekan secara fisik apakah kondisinya baik. Pada waktu pemeliharaan preventive bersamaan dengan pemeliharaan peralatan yang lain.dan pada kondisi tidak bertegangan ialah dengan cara membersihkan permukaan bushing menggunakan sabun rumah tangga atau sakapen.. LOKASI GI : ……………………………………… No Tanggal Terminasi Bushing Fasa Tekanan minyak Kabel Tekanan Minyak Kabel I II R S T R S T Keteranga n 8.tool kit 2. maka yang dilakukan terhadap terminasi atau sealing end adalah membersihkan porselin isolator. Kondisi bertegangan Pada kondisi bertegangan pemeliharaan yang dilakukan adalah memeriksa secara fisik bushing tersebut apakah kondisinya normal atau ada gangguan. Pemeliharaan terminasi adalah sebagai berikut: 1.alkohol 90 % 5.10. LOKASI GI : ……………………………………… No Tanggal Terminasi Bushing Fasa Kabel I R S T Keterangan Kabel II R S T 5.sakapen 4. Kondisi tidak bertegangan. Hasil Pemeliharaan indoor termination SKTT 70/150 kV : ……………………………………. a.Sabun rumah tangga 3. 2. Tank Chamber Umum 336 . Hasil Pemeliharaan out door termination SKTT 70/150 kV : ……………………………………. Perbedaan fisik yang nyata antara kedua terminasi tersebut adalah pada bagian luar terminasi menggunakan porselen. Pelaksana : ……………………………………… UPT : …………………………………..sealing end dan outdoor sealing end.semen remover 6. Pelaksana : ……………………………………… UPT : ………………………………….lap kain yang tidak berserat 3. 4.

yang akan memberikan tekanan pada kondisi kabel bebannya rendah dan tangki juga berfungsi untuk menampung kelebihan tekanan pada waktu kabel tersebut dibebani . Untuk melakukan pemeliharaan tangki-tangki tersebut dapat dilakukan dengan kondisi ionstalai dalam keadaan bertegangan yaitu dapat dipakai tangki cadangan. namun untuk tangki yang dipasang dibawah tanah lebih sering diperiksa khusunya pada musim hujan.Kaki tiga 3 ton b. Mengganti tangki minyak (jika perlu) 338 .Takel rantai f.bergantung pada profile kabel. Mengecat tangki (jika perlu) j. Fungsi tangki minyak pada instalasi kabel tegangan tinggi terisi minyak sangat penting . tangki diatas tanah b. b.Sepatu kerja e. Lakukan evakuasi ruangan f.Helm c.Tangga aluminium panjang 3 m d. Prosedur pemeliharaan a.Untuk menjaga peralatan ini bekerja dengan baik dan andal serta terjaga kondisinya maka perlu dilakukan pemeliharaannya.nyapun berbeda. Peralatan K3 a.Tool set g. Peralatan kerja Untuk melaksanakan pekerjaan pemeliharaan tangki minyak perlu disediakan peralatan.sehingga seacara fisik tangki minyak berada pada tempat yang lembab dan kemungkinan terendam air. c. Buka tutup ruangan tangki Pasang pompa air Sedot air dalam ruangan tangki Pasang blower dan kelengkapannya e. lakukan pembersihan fisik tangki dan karat c.makin rendah kabel tersebut ditanam.untuk mengganti tangki yang dilakukan pemeliharaan. d.peralatan sebagai berikut: a. Umumnya pemasangan tangki berada ruangan dibawah tanah.Baju tahan api b.Instalasi kabel tanah tegangan tinggi jenis menggunakan minyak dilengkapi dengan instalasi pemasok minyak yang berfungsi menjaga kondisi tekanan didalam kabel selalu positip. Baik yang dipasang diatas maupun dibawah tanah harus selalu dilakukan pemeliharaannya. Senter 3.maka tangki minyak yang harus disediakan bertambah dan karakteristi. Lakukan pengecatan(jika perlu) 4.Tangki minyak ini tertentu jumlahnya. 1.Oksigen d. Pemasok minyak menggunakan tangki-tangki yang bertekanan.Blower dan slang c. Membersihkan ruang dan tangki h.Pompa lumpur 2.Generator 5 kw e. Dibawah tanah a.Obat-obatan f. Petugas masuk ke ruangan tangki menggunakan peralatan k3 lengkap g.

yaitu sebagai pelindung karat susunan kabel dan sebagai jalan balik arus gangguan ke tanah apabila terjadi kebocoran arus konduktor utama ke tanah. : ……………………………………………. Membersihkan pipa-pipa minyak 5.maka pemasangannya dilakukan transposisi.. Tanggal dari lumpur dan karat.yaitu untuk mengetahui apakah sistem crossbonding yang digunakan masih memenuhi syarat serta instalasi dilakukan pengujian dalam keadaan tidak bertegangan.maka pengujian menggunakan HV test dilakukan setiap 6 bulan. yaitu sistem pemasangan instalasi kabel yang diharapkan dapat menghilangkan atau mengurangi rugi-rugi transmisi menggunakan kabel.maka akan timbul tegangan induksi pada anti corrosion covering..11. :………………………………. 339 . Besarnya tegangan induksi pada ketiga kabel dengan susunan flat formation tidak sama. Pada kondisi kabel bertegangan . TANK Type A …………. Anticorrosion covering perlu dilakukan pengujiannya .k. Hasil pemeliharaan SKTT 70/150 kV UPT UJT Pelaksana NO. Logam yang digunakan untuk kebutuhan struktur susunan kabel tersebut adalah logam yang sesuai. Penampangnya disesuaiakn dengan besarnya arus gangguan satu fasa ke tanah sistem dimana kabel tersebut dipasang.karena material ini sesuai fungsinya dalam sistem crosbonding harus dalam kondisi selalu mengambang yaitu tidak terkena tanah dalam satu major section.karena material tersebut akan terkena medan magnet dan medan listrik jika kabel bertegangan. : ……………………………………………… :……………………………………. yaitu kabel yang berada ditengah akan lebih tinggi dibandingkan dua kabel sebelahnya . Pemasangan instalasi kabel tanah 150 kV single coremenggunakan sistem transposisi dan crossbonding. Converting Anti corrosion covering merupakan perangkat srtuktur kabel yang penting fungsinya. B……………… H………………… 8. Anti crossbonding. Untuk mengetahui apakah material ini kondisinya baik .

Kaki tiga 3 ton b. Nitrogen c. Tenda h. Tangga aluminium panjang 3 m d.dapat dilakukan satu sistem (major section. kompon f.lakukan selama satu menit (jika tidak dapat dilakukan pengujian berarti ada kebocoran ke tanah) Setelah selesai pasang link bar (sebelum memasang tutupnya uji dahulu CCPU seperti par 7) Pemeliharaan CCPU Cable covering protection unit (CCPU) adalah peralatan instalasi kabel menggunakan sistem cosbonding yang berfungsi mengamankan selubung 339 .t) Lakukan uji per fasa (misal fasa R) pasang Hv test . buka link dan CCPU) Pompa air keluar(jika ada) Periksa tekanan N2 buka tutupnya boks crossbonding pada dua sisi yang diuji pasang pentanahan lokal jika perlu buka pisau-pisau crossbonding(r. Sepatu kerja e. Senter g. Tool set g. Amplas Untuk melaksanakan pekerjaan pengujian peralatan ini. Anti karat d. Helm c.untuk boks tahanan crosbonding. Meger 5000 vOlt i.s.kabel tegangan tinggi pada konduktor acc dan kabel yang lain ke tanah atur tegangan sampai 5 kV catat arus bocornya . Obat-obatan f.10 A j. Pompa lumpur h. Oksigen d. tandu i. Baju tahan api b. Masker j.joint 0 sampai joint 1) sebagai berikut: Instalasi kondisi off (ditanahkan sesuai kebutuhan) Pasang pagar pengaman antara lokasi yang diuji Buka tutup crossbonding (kedua boks yang diuji) (untuk boks pentanahan buka link dan pentanahan. Alat Pemadam Api 3 Material a. paking karet e. Alat uji tahanan tanah 2 Peralatan K3 a. Alat uji Hv test 0-30 kV. Peralatan yang digunakan Untuk melaksanakan pekerjaan pengujian anticorrosion covering diperlukan peralatan peralatan sebgai berikut: a. gas LPG + blender g. Blower dan slang c. Takel rantai f. Generator 5 kw e.Joint 0 sampai joint 3) dan jika tidak dapat dilakukan maka diuji seksi yang pendek (minor section.1. kain Majun b.

senter g. Peralatan K3 a.logam(acc) dari tegangan lebih akibat tegangan surja. lakukan pengukuran tahanan isolasi dengan megger 1000 volt antara koonduktor dengan tanah d.10 A 10. atur tegangan dari 0 sampai 2 kV* 340 a.Tenda 8. Pemeliharaan CCPU tidak hanya dilakukan pada waktu pemeliharaan kabel dilaksanakan namun perlu dilakukan pemeriksaan apabila instalasi kabel mengalami gangguan yang berat.Alat uji tahanan tanah 4 . pada kondisi tegangan normal maka berfungsi sebgai isolator dan pada kondisi ada tegangan lebih surja atau sejenis maka bersifat sebagai konduktor.kompon f. 3. Tujuan pemeliharaan Pemeliharaan CCPU dalakukan bersamaan dengan pengujian acc karena keduaduanya perlu memadamkan instalasi.Blower dan slang . Metarial yang digunakan a.Helm c.Kondisi CCPU yang baik akan berfungsi mengamankan kabel dari tekanan tegangan lebih yang dapat merusak sistem crossbonding.Cara pemeliharaan Bersamaan dengan pekerjaan pemeliharaan dan pengujian anticorrosion covering (ACC) sebagai berikut: a.kain Majun b.Anti karat d.tandu 4.sepatu kerja e.paking karet e. c.tangga aluminium panjang 3 m d.Obat-obatan f. Peralatan yang digunakan Untuk melaksanakan pekerjaan pengujian anticorrosion covering diperlukan peralatan peralatan sebgai berikut: a.Alat uji Hv test 0-30 kV.Pemasangannya didalam boks crossbonding bersamaan dengan link bar crossbonding.Kaki tiga 3 ton b.tool set g.Oksigen d.Megeer 5000 volt i. Masing –masing fasa sebelum selubung logam dihubungkan ke tanah pada boks crosbonding terlebih dahulu dihubungkan dengan CCPU.gas LPG + blender g. pasangkan HV test antara konduktor dengan tanah (ujungujungnya) e.Baju tahan api b.Amplas 5. Lakukan pengujian per buah (satu fasa) c. Karakteristik CCPU adalah sejenis arrester yaitu menggunakan prinsip tahanan tak linier.takel rantai f.pompa lumpur h.Generator 5 kw e. buka ccpu dari dudukannya b.Nitrogen c.

Anti Corossion Covering I.Jika selesai pasang kembali. Catat arus bocornya * Ref kabel produksi china g.1 I>1 2.Jawab : ……………………………………………… UPT :………………………………………………… A. Uji Tegangan Tinggi Tegangan Fasa uji dan arus R (mA) S T Harga yang diharapkan (mA) *) Periksa manual book Kabel Merah (mA) Kuning (mA) Biru (mA) Keterangan Merah ) (( Kuning (( ) Biru (( ) 3.Tahanan Isolasi Peralatan MEGGER Merk : IITegangan tinggi ( 5 kV DC) Peralatan BICCO Test 103 B . Tanggal/Bln /Th : …………/………………/…………………….MEGGER CCPU 1000 Volt Isolasi CCPU harus lebih besar 10 M Peralatan Megger 341 FASA R (M ) FASA S (M ) FASA T (M ) . Pelaksana/P.f.Uji CCPU 1.5 kV* 6 kV* Keterangan *) I<0. VOLTAGE TEST ONCORROSION COVERING AND CCPU SKTT ( LINK) : ……………………………………………….

8. trafo dan alat-alat lain adalah untuk mengupayakan setelah kondisi vacuum atau kondisi tidak ada benda asing berada didalam ruang 342 . Satuan nya seperseribu bar atau millibars. Walaupun tidak ada ruang hampa yang mutlak kosong/hampa atau vacuum. Gambar 8. Nilai absolute adalah penunjukan atau nilai tekanan yang berbasis pada tekanan nol bar.2(c).1(d).1. Tekanan minyak ditunjukan nilainya oleh jarum pada manometer yang mempunyai prinsip kerja berdasarkan tekanan minyak dan pegas yang porosnya dipasangkan jarum penunjuk. dimana pada kondisi seimbang angka yang ditunjukan sebagai tekanan yang sebenarnya dari minyak kabel.Manometer biasa Manometer biasa adalah tabung yang dipasangkan pada suatu bejana. dengan teknologi maka manometer ini dilengkapi dengan saklar yang difungsikan sebagai alat pemutus atau penyambung arus dan dihubungkan dengan indicator atau rele proteksi sehingga manometer akan berbungsi sebagai alat Bantu untuk mengindikasikan tekanan alarm dan trip atau tekanan berlebih. pipa atau kanal untuk mengukur tekanan. Persamaan hydrostatic digunakan untuk menentukan tekanannya. Jika manometer berisi cairan pada suatu bejana berhubungan seperti pada gambar 8.12.12. Sehingga dari manometer ini dapat diketahui besarnya tekanan bahkan dapat digunakan untuk mengetahui tekanan dari benda cair yang mengalir.2. pada umumnya manometer menunjukan nilainya berdasarkan tekanan udara 1 bar sebagai tekanan atsmosfer. Cara Memeriksa Tekanan Minyak Dengan Manometer 8.1000Volt * Ref.12.kabel STK 8. Untuk menjamin terhadap pembacaan tekanan karena akselerasi/percepatan pada manometer diperlukan suatu tabung yang pada didingnya diberi skala dan angka yang terpasang secara parallel dengan garis aliran dan tidak terganggu pada saat pembukaan. Manometer Manometer Vacuun adalah manometer yang dapat menunujukan kevacuuman suatu ruangan yang secara absolute (referensinya 0 bars) berarti vakum disini adalah nilai tekanan ruang dibawah nilai 1 bar dari tekanan atsmosfer. Tujuan mevacuum suatu peralatan seperti kabel TT. sehingga diperlukan bejana yang cukup panjang(tinggi) jika tekanannya tinggi maka dibuat suatu manometer dengan bentuk khusus dilengkapi jarum penunjuk yang bebas bergerak sesuai dengan tekanan dari benda cair yang diukur.

p wh pa w pv w kPa hb Pa m n (a) o hb w=berat jenis.tsb sehingga pada saat diisi dengan minyak atau gas isolasi (sf6) akan dapat mengisi ruang-ruang hingga terkecil maka didapat pengisian yang baik tanpa ada ruang yang berisi udara atau terdapat udara P terjebak yang sering berakibat panas dan terjadi flash over/gangguan yang cukup fatal serta kerusakan breakdown isolasi peralatan. Valve (c) h c c l c hp l r hm pc (b) wh c pl w php (d) pc Gambar 8.1. dasar manometer 343 .

anti karat c. Alat kaki tiga f.sehingga kabel pilot perlu dilakukan pemeliharaan. Cara Pemeliharaan Manometer Manometer sebagai pengindera tekanan minyak sepanjang waktu harus mempunyai kinerja yang benar. namun dengan adanya perubahan akibat umur dan lokasi sekitar . Kabel pilot secara khusus tidak memerlukan pemeliharaan.12. Majun Pembersih 3.yaitu kabel pilot.3. Manometer dimaksud mempunyai jarum penunjuk yang berfungsi menjalankan alarem 345 . Takel rantai 2. Meger 0 sampai 1000 Volt c. Desain khusus dimaksud adalah kabel pilot dilengkapi dengan isolasi yang mampu terhadap tegangan tinggi lebih dari 15 kV.sehingga akan mempengaruhi kinerja proteksi. dasar Manometer tekanan minyak 8. Peralatan kerja dan K3 Untuk memelihara kabel pilot diperlukan peralatan sebagai berikut: a Meger 0 sampai 5000 Volt b.untuk itu memerlukan desain yang khusus. Sebagai contoh bahwa nilai dari tahanan konduktor berubah.2. Material a. Pompa Lumpur e. Contact cleaner b. Kabel pilot merupakan instalasi yang digunakan sebagai kabel-kabel pengaman yaitu : kabel 7 pair untuk mengamankan tekanan minyak baik tekanan yang memberikan alrem maupun mentripkan kabel. Kabel tersebut tertanam dekat dengan kabel power sehingga memungkinkan terkena induksi . Agar perubahan nilai tahanan dan tahanan isolasi kabel pilot dapat diketahui maka kabel tersebut perlu dilakukan pengukuran dan pengujian dengan waktu tertentu.Gambar 8.juga memerlukan kabel lain dalam satu saluran. karena ketidakakuratan manometer dapat menyebabkan salah kerja yang mengakibatkan kerugian atau dapat mengurangi keandalan sistem operasi kabel tanah tegangan tinggi. Pompa air d. Pemeliharaan Pilot Kabel dan Manometer Pada instalasi kabel tanah tegangan tinggi selain kabel power yang tertanam dibawah tanah . 1.kabel 19 pair merupakan kabel penghubung pengaman kabel terhadap gangguan listrik yaitu sebagai pemasok power ke proteksi diferential kabel dan kabel 28 pair digunakan sebagai fasilitas untuk komunikasi data dan suara.

Untuk mmengetahui perubahan kinerja 346 .Kg/cm/. Kpa. : …………………………………………….karena berkaitan dengan naik dan turunnya tekanan minyak sepanjang kabel. :…… ……………………………………………… :…………………………………….12.5 meter dibawah tanah dengan suhu tanah yang panas maka akan terpengaruh oleh kondisi lingkungan disekitarnya. Seperti kabel instalasi yang lain.yang berfungsi untuk mengetahui tekanan tertitnggi yang pernah dicapai sepanjang operasi kabel.mmbar) Normal Alarem Tripping Tertingggi pernah dicapai Manometer fasa R S T R S T Keterangan *) 1. Jarum yang lain adalah jarum berwarna merah. Kedua posisi jarum tersebut harus akurat penunjukkannya. Tekanan(bar. Semua terminal klem tersebut mempunyai resiko kelembaban atau bersentuhan /berhubungan dengan peralatan yang lain yang dapat menyebabkan kondisi isolasi kabel pilot menurun atau nol sama sekali..4.Pemelihharaan yang dilakukan pada manometer adalah : Pengujian terhadap kinerja jarum penunjuk Pengujian setting tekanan normal Pengujian terhadap setting tekanan alalrem Pengujian setting tripout : :………………………………. 8. Khususnya pada terminal kabel pada panel control cabinet yang ada didalan underground tank chamber maupun yang ada di sunshilled tank atau panel kontrol. Dari pengalaman dilapangan diketahui beberapa Hasil pemeliharaan Manometer SKTT 70/150 kV UPT UJT Pelaksana No Tanggal manometer tidak berfungsi dengan baik yang menyebabkan gangguan dan kerusakkan kabel.apalagi kabel pilot tertanam dengan kedalaman kurang lebih 2. Tekanan Minyak akan mengembang pada saat beban kabel tinggi dan akan turun pada waktu beban turun /rendah atau suhu luar rendah. Pilot Kabel.(tingkat 1) dan tripping (tingkat 2).p si.

Cable pair P1 P2 P3 P4 Karakteristi k 1.Kabel pilot 19 pair No Tanggal Karakteristik Cable pair 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tahanan isolasi Tahanan DC 31 .Tahanan DC *) Menggunakan meger 5000V 2... : ……………………………………………. Kabel pilot 7 pair No Tanggal P5 P6 P7 Keterangan *) 1. Tahanan isolasi 2. :…… ……………………………………………… :……………………………………. HASIL PEMELIHARAAN KABEL PILOT SKTT 70/150 kV UPT UJT Pelaksana :……………………………………………….kabel pilot harus dilakukan pengukuran-pengukurannya. 2.

Kekencangan penerikan harus secara terus menerus dikontrol dengan menggunakan sebuah dynamometer.Kabel pilot 28 pair No Tanggal Karakteristik Cable pair 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 1 1 2 1 3 1 4 Tahanan isolasi Tahanan DC 8.1. ini dimaksudkan melewati daerah belokan2 ini dengan pengurangan peregangan langsung. Penggelaran kabel 8. dimana mata(titik) tarikan dikaitkan hal ini kadang kadang dapat menjadi gangguan terhadap komponen kabel yang lain sebagaimana terlihat pada tabel (mengidikasikan keregangan 347 . ‘Cable Drum’ ini dapat diatur di dua sisi arah secara bertahap dan berlanjut.3. bisa didapatkan dengan menggunakan struktur yang diperlihatkan pada kertas lampiran no. Penggelaran kabel Penarikan dengan mesin Winch Penarikan kabel yang biasa dilaksanakan dimaksud adalah menggunakan tenaga mesin Winch (mesin bensin atau motor listrik) dengan menempatkan ‘roler kabel’ sepanjang rute dengan jarak antara 2+3 M pada porsi kelurusan dengan titik belok max 0. 2272/78/A Belokan ditempatkan terutama pada salah satu ujung sambungan yang pada umumnya dapat dipilh pada waktu penempatan ‘cable drums’ pada ujung. Karena kekencangan ini ditimbulkan oleh konduktor kabel. karena dapat menekan keregangan langsung antara kabel dan rolernya . secara teknik adalah penyelesaian yang lebih andal.13.13.4 m Pembuatan belokan biasa dilakukan dengan menyesuaikan roler yang umum yang diatur baik secara horizontal maupun vertikal (sesuai kebutuhan).

harus digunakan sebuah alat kusus yang bernama “swivel”. 349 .3. Dengan tujuan untuk melaksanakan tipe ini . pada conductor berpenguat dimungkinkan menerima regangan yg lebih tinggi (14 kg/ mm2 Cu. gelaran tambang panjangnya dua kali lipat terhadap rute yang dikehendaki. meter dll 8. dengan mata tarikan diikatkan pada konduktor . Pada rute yang penggelaran berbelok belok dan penghitungan regangan tarikan mungkin melebihi angka reganganya ini diindikasikan pada poin 3. dan 8 kg/mm2 untuk Al. Porsi Lurus Ini adalah aturan yg baik dalam menggunakan regangan tarikan untuk konduktor. 8.Tarikan ujung dengan mata tarik diikatkan pada Armouring.Kabel pole tunggal tembaga 6 kg/mm2 Cu .1. Peralatan gelar. Ini bisa jadi mengadopsi kedua bagian bagian yang diandalkan dengan tujuan menekan regangan tarikan mesin Winch. apabila diatur sesuai dengan keadaan parit (galian) 1. Penarikan dengan roler bertenaga. section . Hal ini perlu untuk mempersiapkan tambang yang sesuai dengan belokan belokan dan jalan-jalan raya persimpangan.Kabel tiga pole tembaga 5 kg/mm2 total Cu section . dan sebagai bagian andalan.Alminium 3 kg/mm2 total Al section nilai peregangan ini adalah sesuai untuk koduktor berpenguat.14.maksimum yang diizikan untuk bebagai kmponen kabel).14.14. dimana secara umum adalah bagian yg paling rawan. 8. Regangan maksimum yang diizinkan pada kabel. 2.14.2.) 8.Alminium 3 kg/mm2 Al. Dari semua kasus antara titik(mata) tarikan kabel dan tambang(tali) penarikan. Peralatan gelar yang diperlukan dalam penarikan kawat adalah katrol.13.0 berikut yang perlu diikuti. alat ini mempunya fungsi ganda dapat meringankan kenaikan torsi tarikan tambang dan memudahkan dalam meliwati roler rolel. kemudian ini perlu juga untuk mengikuti sistem penarikan alternative yang lain dan disini akan diuraikan 8. Dia kadang baik dan cocok untuk menggunakan ukuran keregangan dan componen kabel lainnya.2. section . Tarikan ujung. Metoda ikat berlanjut Regangan tarikan yg diakibatkan oleh sebuah tambang baja dimana kabel diikatkan pada jarak 2 m tali penarik yang dibuat supaya kabel bergerak.

Porsi lurus Daya tariknya adalah: F = l . Porsi belok Aturan umum radius belok tidak boleh lebih kecil dari 30 kali dari lingkaran luar kabel 2. 0. p . Porsi belok Dengan rumus berikut ini kita bisa melakukan evaluasi panjang rute lefel equifalen dengan sempurna.Tarikan ujung dengan mata tarik diikatkan pada Armouring dilakukan pada kawat tipe kawat lempengan baja 8 kg/mm2 total section dari amouring tsb.d (kg ) R Dimana : F0 = tekanan paksa antara kabel dan roler (m) T = kekencangan tarik setelah belokan (m) R = Radius belok kabel (m) d = Jarak antar roler(m) dimana : L1 = panjang equifalen inlet K = koifisien gesek ( ab. bersamaan dengan krtegangan tarikan yang sama yang akan terjadi. Belokan dilengkapi dengan roler. Perhitungan Daya Tarik Horizontal) 1. : 200 kg Kabel ber ‘lead sheathed ’ : 50 kg Kabel tanpa bunkus metal : 50 kg Tekanan paksa harus dihitung dengan rumus berikut: F0 = T .: 3 kg/mm2 sheat section digunakan pada kabel ber ‘lead sheathed’ : 1 kg/mm2 sheath section 3. 1.1 ) 350 . Tekanan paksa antara kabel dengan roler tak boleh melebihi: Kabel bebungkus almn.Kabel bungkus alminium : 2000 kg/m . f ( kg ) Dimana: F = regangan tarik l = panjang gelaran porsi lurus p = berat kabel per meter f = koifisien gesek ( ab. apabila penggelaran menggunakan roler : L2 = L1 . cos hk + V1 + R sin hk k L .15.kabel ber‘lead sheath’ : 500 kg/m .1 - 1. O.1 ) 2. Belokan2 dengan penyangga bersambung ( peluncur dan pipa2) Tekanan paksa antara kabel dengan permukaan penyangga tidak boleh melebihi : .Kabel tanpa pembungkus metal: 400 kg/m 8.Ujung tarikan dengan bungkus baja digunakan tarikan ujung dengan pembungkus baja pada kabel berbungkus almn.

4. Gelaran Didalam Saluran Atau Pipa Permukaan pipa/saluran harus halus/licin tanpa bendolan. 3. dengan cara ini besar tarikan setelah belokan dapat didapat.saluran.11.5 kali dari diameter luar cabel.45 0. Hal ini perlu lebih jauh untuk menentukan jumlah roler yang dihitung yang ada. p . p .Air dengan bubuk grafit .25 0. dengan tujuan untuk menghindari tekanan kabel terhadap roler melebihi nilai yang terindikasi. Porsi belok Regangan tarik setelah belokan dievaluasi kurang lebih seperti rumus berikut: F2 = F1 . f ( kg ) Dimana simbol2 mempunyai arti yang sama dengan rumus pada 5. Bahan pipa saluran Bahan pipa saluran gesek Pembungkus luar kabel PVC Lead PVC Polyethylene Asbestos. Radius belok yang diizinkan untuk pipa/saluran tergantung pada jumlah posisi belokan sepanjang rute dan peregangan bertahap terjadi antara kabel dan pipa saluran Koifisien 0.= sudut belok ( radiant ) L 2 = panjang equifalen outlet panjang equifalen dikalikan dengan berat kabel dan koifisien gesek.50 0.cement Polyethylene Beton Jute Beton Lead Beton Polyethylene Untuk menurunkan koifisien gesek bisa digunakan pelumas. Ft = L2 .25 0.33 0.40 Radius belokan pipa harus tidak pernah lebih kecil dari 40 kali diameter lingkaran luar kabel.Sabun bubuk dengan air dan grafit Dengan pelumasan seperti ini penurunan koifisien gesek sampai 30% dapat dicapai . Aturan yang baik adalah hanya diizinkan 1 kabel didalam 1 saluran .80 0. Diameter dalam dari pipa saluran harus paling tidak 1. seperti : . f (kg) Tabel 8. . rumus hitungan sebagai berikut . Bagaimanapun juga kita berikan koifisien gesek yang berbeda untuk tipe permukaan pipa.Porsi lurus Regangan tarik adala : F = l . e f ( kg) Dimana: F1 = kuat tarik pada inlet(masuk) 351 . Karena alasan ini maka plastic saluran/pipa tadi harus dipilih. Yang mana arti simbol2 telah kita ketahui.cement Lead Asbestos.

f .= koifisien gesek = sudut perubahan arah (dalam radius) Setelah itu perlu dicek bahwa regangan bertabah dalam batas maksimum. p . Dimana : ±1 . cos l = panjang porsi pada posisi miring p = berat kabel per meter f = koifisien gesek h = perbedaan level ± = sebagai fungsi arah tarikan apabila sudut kecil. f Jadi belokan2 dipertimbangkan sebagai ‘ titik2 perubahan kecenderungan”. Perhitungan kuat tarik pada posisi miring . cos = 1. krena alasan inilah panjangnya dari porsi lurus antara dua belokan harus diperpanjang sesuai dengan dua sisi panjangnya terhadap belokannya. Apa bila kasusnya berlawanan hal ini perlu membesarkan radius belokan.h F1 = l . kemudian F1 = l . l P sin P P cos h Gambar 8. h ( kg ) 352 . p . p.2 Kuat tarik pada posisi miring . f ± p .

NO 1 2 3 4 Nama Alat Pemeliharaan Periode 1 minggu 1 minggu 3 bulan 1 tahun 3 bulan 353 Kabel minyak .Visual inspeksi . Tabel 8.16.Visual inspeksi End .talkie Jackj pengangkat keterangan Kecepatan tarik 17 dan 23 meter/menit Kekuatan 3000 kg JUMLAH ISI ± 15 m3 Jumlah berat ± 5.pembersihan isolator Tank Chamber .P Dram besi tambang baja Frame untuk said winch Pasang trestles penyangga dram Pasang trestless lengkap (shaft dan hidrolik) jack untuk mengangkat dram dengan kemampuan diatas 20 ton Dinamometer 3 ton dan timbangan Roler kabel Claher roler swivel Gripn (pemegang) penarik pasang walkie . Jadwal Pemeliharan Saluran kabel Tegangan tinggi . Jadwal Pemeliharan Saluran kabel Tegangan tinggi .5000 kg 1 2 3 1 8. Peralatan Pergelaran . Tabel 8.13.8.tekanan minyak Kabel minyak .13. Jadwal Pemeliharan Saluran kabel Tegangan tinggi seperti table 8.17.tekanan minyak cadangan Terminal Sealing . Peralatan pergelaran dapat dilihat pada table 8.12.12 Peralatan pergelaran Jumlah 1 1 1 1 300 Uraian Kawat penarik ‘winch’ 10 H.

Kebocoran Minyak Bila alarm tentang kebocoran minyak terjadi maka penanggulangan dapat dilakukan seperti flowchart dibawah ini : proses 354 .pemeriksaan lampu indicator pada panal kontrol .Pembersihan crossbonding .18.pembersihan dan pengecatan .HV DC Test pada CCPU .5 Sistem crossbonding Sistem Alarm 6 .pemeriksaan kontak signal dari manometer 1 tahun 6 bulan 6 bulan 1 tahun 1 minggu 6 bulan 8.HV DC test pada pelindung anti korosi .

3 : langkah bila terjadi kebocoran minyak kabel kebocoran minyak kecil jika perbedaan tekanan pada ketiga fasa pada seksi yang sama. Bila terjadi kebocoran minyak kecil dari pengalaman disebabkan karena paking. konektor dan pada 355 . Nilai perubahan tekanan dinyatakan medium jika kebocoran minyaknya mengakibatkan tekanan berubah antara 1. Pemeriksaan dimulai jika perbedaan tekanannya adalah 30 kPa. Kebocoran minyak kecil. Tindak lanjut yang lebih detail diperlukan untuk setiap terjadi kebocoran yang dijelaskan sebagai berikut : 2. Kebocoran minyak kecil jika perubahan tekanan < 1. Perubahan tekanan minyak tidak dapat diperiksa/dianalisa dalam periode beberapa jam Jika perubahan tekanan minyak sangat besar atau tekanan minyak sudah menuju ke trip (switch out).00 kPa/hari Kebocoran minyak besar.start Alarm terjadi dan diketahui operator Catatan tekanan sebelumnya Periksa dan analisa besarnya perubahan tekanan minyak.0 kPa/hari <P<10. Kebocoran Kecil.0 kPa/hari. Jika perubahan tekanan Gambar alir 8. 1.

Bagan Alir tindakan untuk kebocoran kecil : Kebocoran minyak kecil jika perubahan tekanan < 1. hasil pemantauan selama satu minggu baru dilakukan tindakan jika sudah 3. segera tidak diperlukan. Kecepatan tindakan sangat diperlukan untuk itu dapat dilakukan tindakan sesuai bagan alir dibawah ini : bagan alir kebocoran besar 356 . saat pembersihan permukaan kabel Tekanan minyak selalu di catat dengan benda tajam. Gambar alir 8. Kebocoran Besar.00 kPa/hari Apakah kebocoran diantara katup pd panel dan Sambungan sementara untuk pasokan minyak. setiap jam sampai perbaikan Tindakan yang paling penting dan selesai.4 : langkah awal bila terjadi kebocoran minyak kabel 4. Reset rangkaian minyak. Pada masalah ini penyebab utama kejadian ini harus diketahui terutama penyebab kerusakan dari luar (eksternal). Reset rangkaian minyak. Sambungan sementara untuk pasokan minyak. Dilokalisir dan perbaikan kebocoran. perbaikan kebocoran.diketahui lokasi kebocorannya.

00 kPa/hari Apakah kebocoran minyak diantara pipa pemasok minyak antara tangki bertekanan dan katup serta manometer pada panel ? Apakah tekanan minyak dibawah level Apakah tekanan minyak dibawah level alarm ? Apakah kabel harus Kabel operasi Kabel operasi Apakah kabel harus Diproses dengan Cari lokasi Lanjutkan pasokan minyak Pencegahan kebocoran sementara Diproses dengan operasi katup A Pencegahan kebocoran sementara 1 357 .Kebocoran minyak besar. Jika perubahan tekanan > 10.

Lokasi kebocoran minyak Sealing end pada Gas a.5 : langkah bila terjadi kebocoran minyak kabel cukup besar 5. d. Ganti isolator penghubung 358 . Flange tembaga bagian bawah tabung b. Konektor pipa pemasok minyak. Periksa kekencangan bautbautnya Periksa kekencangan bautbautnya c. kebocoran pada permukaan kabel Perbaikan sementara Periksa kekencangan bautbautnya Dengan menggunakan palu untuk memukul permukaan sehingga menutup kebocoran tsb Melapisi permukaan dengan plastik tape. isolator penghubung Instalasi kembali. Memperbaiki kabel minyak yang bocor. Setelah diketemukan lokasi kebocoran maka segera dilakukan perbaikan dengan urutan sbb : Perbaikan permanen Ganti gasketnya Instalasi kembali. Pengoperasian kembali kabel selesai Gambar alir 8.1 Perbaikan permanen atau mengganti kabel yang rusak atau accesories kabelnya Mengembalikan setting pengaman dari sistem minyak.

Tangki tekanan.E.1. Pipa penghubung untuk pengeluaran minyak dari tangki dihubungkan dengan ‘chek conector’ yang ditempatkan pada meter tekanan dan “valve panel”. Tindakan yang dilakukan untuk minyak dengan tekanan tinggi. b. 4. 6. perbaikan sehingga rangkaian menjadi seperti semula. Katup no 4 harus selalu tertutup dengan baik.19. Konektor Pipa pemasok minyak a. 5. oversheath. Konektor Kabel Tenaga a. Ganti dgn yg baru atau Instalasi kembali Ganti bagian kabel yang bocor. Methoda mencari lokasi gangguan pada lapisan pelindung kabel. 359 . Katup. Prosedure pada kejadian gangguan minyak dengan tekanan tinggi sangat diperlukan karena tekanan minyak maka ke hati-hatian dan konsentrasi pada masalah sangat diperlukan. Alrian minyak tekanan tinggi dari tangki akan terlihat pada meter dan “valvepanel” sehingga penunjukan meter tekanan berada dibawah batas dari tekanan minyak tertinggi yang perbolehkan. Sebagai contoh adalah minyak tekanan tinggi pada salah satu phasa maka : 1. a. 8. Adapun prosedurenya adalah sbb : Pengoperqasian katup(valve). Dengan menggunakan palu untuk memukul permukaan sehingga menutup kebocoran tsb Melapisi permukaan dengan plastik tape. 8.19. Katup no 4 dibuka. 3. Gangguan kabel pada lapisan pelindung P. Pelindung kabel (lead sheath) Bungkus dengan isolasi /plastik tape Periksa kekencangan bautbautnya Periksa kekencangan bautbautnya Ganti katupnya Instalasi kembali. 2.dengan yang baru. Yang paling penting untuk perbaikan kabel dan alat bantunya (accesories) adalah tekanan yang agak sedikit rendah dari pada tekanan normal dan dipertahankan setiap saat sebagai usaha untuk menjaga agar kandungan udara yang lembab masuk kedalam sistem kabel.

8. sehingga kabel tersebut harus tidak dioperasikan (bebas Tegangan). Disini akan dijelaskan cara sederhana yang L mana sebenarnya awal dari sederhana ini berkembang menjadi seperti kondisi sekarang. R1 X R2 G Gambar 8.2.Sebagai hasil pemeriksaan rutine pada lapisan pelindung kabel diketahui terjadi kerusakan lapisan pelindung kabel maka perlu ditindaklanjuti dengan mencari lokasi kerusakan lapisan pelindung kabel. Prinsip kerjanya dengan menghubungkan salah satu ujung kabel antara konduktornya dan lapisan pelindung dan diujung yang lain dipasangkan sumber tegangan DC lengkap dengan saklarnya dan tahanan geser yang center tapnya disambungkan ke galvanometer.6 : mencari lokasi kerusakan PE oversheath dgn jembatan Murray Jika galvanometer menunjuk angka nol setelah mengatur posisi center tap pada tahanan geser maka akan diperoleh persamaan seperti rumus pada sistem jembatan Weatstone : R R 1 2 2 L X R 2 . Untuk mengatasi kerusakan lapisan pelindung perlu mencari lokasi untuk itu diperlukan pengukuran. Methoda ini diketemukan oleh Jhon Murray yang berprinsip dari cara pengukuran tahanan dengan methoda jembatan Weatstone.19. Digunkan bermacam –macam metoda untuk mencari lokasi keruskan lapisan pelindung dari yang sederhana hingga yang paling modern dan cukup canggih.2 L R1 R 2 X X 360 . Methoda Murray.

yang akan dibaca dan menjadi acuan perhitungan prosentase jarak untuk menentukan jarak dari titik ukur ke lokasi gangguan pada lapisan pelindung kabel.dimana . Mengisolasi kabel gangguan dengan cara melepas plat penghubung diantara kedua sisi pada links boxes. 1. Nyalakan alat dengan menekan saklar on dan biarkan beberapa menit untuk pemanasan alat. b.7 : mencari lokasi kerusakan PE oversheath dgn jembatan Murray sistem Murrsay seperti pada gambar. Cara pengukuran. Hubungkan alat ukur jembatan Murray ke terminal dari lead sheath dari kabel yang rusak. Tahanan geser mempunyai tingkat dari 0 – 100. Hubungkan batere sehingga menjadi rangkaian tertutup . R1 dan R2 = tahanan geser diantara c L = panjang kabel ( 2L karena rangkaian tertutup). Masukan saklar ‘S’ dari batere eksternal dan atur nilai R1 dan 361 Sambungkan kabel pelindung (PE oversheaths) pada terminal ‘ + ‘ dan konduktor utama disambungkan pada terminal ‘ – ‘ pada alat ukur Murray. X = Jarak lokasi kerusakan dari titik ukur. a. Seperti gambar dibawah ini . S 6 atau 12 Volt (aki mobil) sheath G E + - Gambar 8.

Dan akan diperoleh prosentasi jarak lapisan pelindung kabel yang mengalami kerusakan. 362 . Perbedaan potensial tsb diatas terjadi diatas permukaan jalur kabel sehingga dengan menggunakan voltmeter atau galvanometer yang dilengkapi dengan elektrode sebagai penghantar dan pendeteksi lokasi gangguan.R2 sehingga galvanometer menunjuk nilai ‘0’. Mendeteksi lokasi gangguan PE oversheath di kabel dengan sistem elektrode. 2. Prinsip kerja Metode ini menggunakan sifat karakteristik dari potensial listrik didalam diluar permukaan tanah yang disebabkan oleh mengalirnya arus ke dalam dan keluar dari titik gangguan. c. arus yang secara tibatiba menjadi besar atau maksimum maka arus sebagai indikasi yang berupa arah jarum dan besarnya tegangan (polarity) dan menjadi petunjuk perbedaan (arah dari arus bocor) arus DC antara konduktor dan lapisan pelindung dan dari tanah.

Galvanometer atau voltmeter elektrode

Electric potential

Power source Immediately above the fault point Electric difference

Gambar 8.8 : mencari lokasi kerusakan PE Tentukan arah arus dilihat dari c. metoda pengukuran. arah penunjukan jarum dari Kabel yang gangguan diisolir voltmeter atau galvanometer dengan cara melepas plat sehingga dapat diketahui lokasi penghubung diantara kedua gangguan. (ketika tegangan ujung link boxes. sumber DC ‘+’ tersambung pada Sambungkan sumber DC salah satu elektrode dan pointer (generator DC tegangan tinggi) pada galvanometer akan membuat ke terminal pada link boxes arah penyimpangan semakin besar yang tersambung dengan berarti sudah dekat dengan lokasi lapisan pelindung (leadsheath) gangguan dan akan berbalik jika dari kabel yang gangguan. lokasi gangguan terlewati). Alirkan arus DC dengan bentuk Persempit electrode pada pulsa ke kabel yang gangguan. lokasi dimana penyimpangan Masukan batang elektroda jarum paling besar. diatas permukaan tanah dimana kabel yang gangguan. 363

kabel
DC POWER SUPPLA

-

G

G

G

G

+ diketanahkan Lokasi ggangguan

Gambar 8.9. Metoda pengukuran Penyimpangan jarum

Penyimpangan berbalik G

G

G Lokasi

G

PVC/ PE sheath

Lead sheath Batere (DC /pulse)

sisi + _

Pembacaan l t

Gambar 8.10. Metoda pengukuran

364

d. Memperbaiki P.E. oversheath pada kabel. Jika P.E. oversheath pada kabel mengalami kerusakan, dan telah dibuktikan maka prioritas selanjutnya adalah perbaikan. Setelah diperbaiki maka untuk membuktikan bahwa kabel sudah layak dioperasikan maka perlu dilakukan pengujian-pengujian untuk menjamin bahwa kabel laik untuk dioperasikan. aminannya adalah hasil pekerjaan yang benar yaitu langkah2 perbaikan yang baik dan benar seperti berikut :.

Kerusakan pada P.E. over sheath dari suatu kabel.

X A Pelapisan pelindung dengan resin / glass tape atau heat shrinkcabel tube. B X

X C

Anti – corrosion tape ( polyethylene) P.E. Adhesive tape.

Adhesive tape Water proof tape. X D Gambar 8.11. Metoda pengukuran 365

Jika kabel dengan kondisi dapat diperbaiki maka perbaikan sesuai dengan kondisinya. 2. Berdasarkan penjelasan tersebut diatas ketentuan yang harus dilakukan dapat diputuskan.Metoda perbaikan P. c. tetapi jika tidak dapat maka kabel baru digunakan untuk menyambung yang rusak. a.E dan PVC adhesive tape.1.E.20. Case B : Terdapat lubang atau keretakan pada lead sheath. Sumbat lubang bocor dan dengan menggunakan palu serta pemukulan yang tidak terlalu keras sehingga lubang 366 . d. Kerusakan pada screen/lapisan pelindung.3. 8. Pada kasus ini kabel harus dipadamkan segera (tidak dioperasikan).Memperbaiki kerusakan lead sheath kabel. Benda asing yang mengakibatkan kontaminasi. gunakan pelindung dari heatshrink tube atau PVC adhesive tape dan ½ lapis anti corrosive tape (polyethylene). pertama bagian yang rusak pada P. Perbaikan dapat dilaksanakan jika telah diketemukan lokasi kerusakan pada sheath dan dilakukan setelah memenuhi. f. e.4. 3. & PVC oversheath. b. Case A : Kerusakan diperkiraan tidak dari luar kabel. gunakan dua ½ lapis dari water-proof tape dan dua ½ lap lapisan P. Memperbaiki kerusakan Kabel (kerusakan eksternal). Lakukan pemeriksaan sebagai berikut : a.E atau PVC over sheath berupa serabut kawat atau sejenis tape yang berserabut dibersihkan. bersihkan dengan sikat dan bersihkan seluruh permukaan. 8. 1). lakukan separuh (½) dari lapisan epoxy resin dan glass tape.E over sheath dan serat pelindung maka perbaikan dapat dilaksanakan dengan langkah-langkah sbb :.1. 3. Kerusakan pada isolasi kabel. 1.Case A : Kerusakan diperkiraan tidak dari luar kabel. Perubahan yang terjadi pada bentuk lead sheath. Jika kondisi terjadi kebocoran kecil karena tertusuk benda runcing atau karena retak kecil maka. 3. 3. 3.2. petunjuk yang dijelaskan dibawah ini. Kabel harus bebas tegangan. Setelah penggalian tanah diatas kabel selesai maka P.5. Air didalam kabel.20. Gas yang sudah terkontaminasi pada kabel. Case B: Terdapat lubang atau keretakan pada lead sheath.

tertutup. P. Perbaikan oversheath dari kabel tsb. fibrous tape dan reinforcement . 1). Jika kondisi tersebut diatas. Mengganti Kabel yang rusak.2. fibrous tape dan reinforcement. b. Kemudian gunakan 4 lapisan tape epoxy resin impregnated glass diatas semua permukaan lapisan tahan minyak.E oversheath. 367 . tetapi jika screen dan insulation paper tidak rusak maka kabel dapat dioperasikan dalam waktu yang cukup lama setelah lead sheath. Gunakan 4 lapis lembaran dari F-CO tape (anti corrosive tape/polyenthylene) dan ditambah 2 lapisan lembaran BALCO (waterproof tape) dan 2 lapisan lembaran P. 6). 5). 2). oversheath. 8. Gunakan fibrous tape dan reinforcement tape untuk melapisi lead sheath c. Multymetal. (lakukan langkah seperti pada kasus 2) – (3 – 4). lokasi kerusakan serta 3). Gunakan 6 lapisan tape yang tahan minyak dari pita plastik pada pada daerah yg mengalami kerusakan. 4). Jika kerusakan terjadi pada kabelnya sendiri. Sama caranya untuk menutup keretakan digunakan palu dan lubang keretakan ditutup dulu kemudian dapat digunakan cara plumbing yang disapukan disekitar lokasi yang retak. pada i. Setelah melapisi P. Kabel yang telah mengalami kerusakan maka kabel dipotong dan tidak digunakan lagi sehingga perlu kabel baru sebagai pengganti. dilakukan pembersihan ditempat terjadi kerusakan. oversheath dan pembersihan/filter minyak isolasi telah dilakukan pada kabel tsb. Setelah mengupas P. Tutup valve dikedua sisi pengisian minyak kabel dan gunakan campuran multymetal untuk melapisi di daerah yg mengalami kerusakan. 3). 2).E adhesive tape. Langkah tersebut diatas sudah mencukupi untuk mengatas kebocoran karena lubang atau retak pada lead sheath sehingga tidak terjadi kebocoran.E. walaupun sedikit kebocoran tetapi mempunyai kecenderungan menjadi kebocoran yang lebih besar maka.E.20. diperlukan penguat dengan cara mensolder pada daerah yg mengalami kerusakan.

Jenis Pengukuran yang kedua dilakukan setelah kabel selesai disambung. hasil pengukuran tahanan dc pada 20º C adalah 0. 2).Lokasi gangguan X Kabel yang diganti Sambungan Kabel Kabel lama Kabel baru Gambar 8. Tahanan DC dari konduktor. Semua hasil pengujian dicatat dan dianalisa untuk menentukan kelayakan kabel tsb. Pengukuran ini pertama kali dilakukan setelah kabel selesai disambung.0754 /Km (max) pada kabel minyak uk 240 mm². Pengujian oversheath. Pengukuran isolasi dilaksanakan dengan mengukur tahanan isolasi diantara konduktor terhadap . Pengujian tahanan isolasi kabel. Metoda pengukuran panjang kabel pengganti sangat tergantung dengan kondisi kerusakan seperti kandungan air pada isolasi. Semua instalasi yang menjadi ketentuan seperti sheats insulatios. tingkat kontaminasi minyak kabel dan kondisi disekitar permukaan tanah dari jalur kabel tersebut. insulation sections pada pipa minyak serta yang lainnya dari kabel yang perbaiki 368 1). external joint insulation. hasil ukurnya harus lebih besar 100 M . 1. 3). Kabel minyak pentanahan menggunakan alat yang bertegangan 1000 volt dc. Pengujian dilakukan setelah surge diverters dilepas agar pada saat pengujian tidak mengakibatkan kerusakan akibat tegangan uji. Testing setelah kabel diperbaiki. Pelaksanaan testing dilakukan oleh petugas yang berkompetensi enginir untuk menjamin kelayakan kabel tersbut apakah dapat dioperasikan apa tidak setelah diperbaiki. a. terminal base insulation pada bonding leads dan link boxes. Pengukuran tahanan dc sambungan konduktor yang setelah diperbaiki.12.

c. 54 n 10 r4 3 Dimana n = viskositas dari minyak 9centipoise) pada temperatur pengujian. Q = nilai aliran (liter per detik). atau pipa bulat adalah: b 2 . b = koefisien gesekan minyak pada kabel (MN S/m6 ). Test tegangan tinggi. b = koefisien gesekan minyak pada kabel (MN/m6 ). (oil flow test). (tergantung route dan profil dan satuannya (KN/m²). b. Pengujian aliran Minyak. . Perbaikan sirkit kabel yang rusak setelah selesai perbaikan tekanan minyak telah normal harus dilakukan pengujian dengan tegangan tinggi DC antara konduktor dan sheats selama 15 menit. Pengukuran dilaksanakan dengan menuangkan/mengalirkan minyak bertekanan keluar sebagai salah satu mengukur aliran minyak bertekanan. r = radius bagian dalam (mm) dari pipa atau kabel diukur bagian dalam (r = 7 mm) perbandingan aliran yang diperoleh dari kabel yang baru selesai dipasang harus diingatkan bahwa hal tsb sudah termasuk semua sambungan pada seksi 369 P QbL Dimana : P = perbedaan tekanan pada seksi kabel tsb. Pengujian ini semua seksi dari kabel harus disambung walaupun secara temporary. Untuk kabel atau pipa bulat adalah: b 2 . Teori drop tekanan dengan rumus sbb : Dimana : P = perbedaan tekanan pada seksi kabel tsb. Q = nilai aliran (liter per detik).akan menjadi subyek pengujian tahanan dengan memberikan tegangan DC 10 kV selama 5 menit. r = radius bagiandalam (mm) daratau kabel diukur bagian dalam (r = 7 mm) Jika Kabelnya single core maka secara teori tekanan nya aliran minyak akan memberikan tekanan pada setiap kabel adalah sbb : P QbL 10 ( 2) Setelah perbaikan. (tergantung route dan profil dan satuannya (KN/m²). setiap seksi minyaknya harus diukur alirannya. L = panjang seksi kabel (m). Arus tegangan searah akan mengalir pada kabel melalui alat test uang disambung pada ujung kabel (sealing end) baik yang sf6 maupun yang konvensional yang telah dilepas dengan sambungan ke GIS atau peralatan lain. 54 n 10 3 r4 Dimana n = viskositas dari minyak 9centipoise) pada temperatur pengujian. hal tersbut untuk menjamin tidak ada ketidak normalan aliran minyak pada saluran Kabel minyak tsb. Jenis Pengukuran yang ketiga dilakukan setelah kabel selesai disambung dan telah teriisi minyak kembali. L = panjang seksi kabel (m).

test tahanan isolasi Setelah kabel digelar maka sebelum disambung harus diukur tahanan isolasi secara individu diantara setiap kabel serta terhadap armour. biarkan beberapa menit agar stabil. Hasil pengujian menunjukan tak semestinya tidak ada gangguan pada sistim. Tetsting ini akan dikerjakan setelah penggantian kabel atau isolasi sambungan. Test kooefisient impregnasi. 1 Kg 1 Kg cm 2 cm 2 7. 3.35559 10 2 mmHg 98 . test tegangan pada lapisan anti karat (anti corrosion sheath) Panjang kabel kabel akan tetap setelah digelar dan sebelum disambung tegangan DC 4 kV per mm dari tebalnya lapisan (seperti yang tertulis pada spesifikasi teknik dari kabel tsb) digunakan untuk menguji ketahanan lapisan terhadap armour dan permukaan luar untuk beberapa menit. d. Ketika kondisi kabel dalam keadaan alat monitornya terpasang setiap kabel akan diuji secara terpisah. kemudian diukur jumlahnya minyak yang tarikannya menyebabkan penurunan tekanan yang telah diketahui. setiap seksi minyaknya harus diperiksa dengan tujuan efisiensi dari minyak impregnasi dengan cara sbb : manometer air raksa (mercury) dihubungkan ke kabel dimana sistim instalasi minyaknya ditutup dan sisakan sedikit minyak. Koefisient impregnasi K didifinisikan sebagai berikut. Perhitungan itu tidak menunjukan gangguan tak semestinya dari sistem kabel tsb. 8. Setelah selesai secara lengkap penggelaran kabel dan penyambungannya. Continyuity Test Setelah kabel digelar maka sebelum disambung diperlukan periksa kontinyuitas dari semua konduktor sebagai konfirmasi. Auxiliary Cable. V = volume minyak didalam seksi kabel (liter) termasuk isolasi penghubung tangki. harus diingat bahwa semua joint akan ikut terukur dan secara gambaran teoritis hanya beberapa saja yang kondisinya baik dan dijadikan referensi.kabel tsb dan hal tersebut hanya menjadi gambaran dalam pemeliharaan dan petunjuk.02 kg Dalam membandingkan aliran yang diperoleh pada kabel yang sehat. 1. 2.21.5x 10-4 : dV 1 K V dP Dimana : dV = volume minyak yang tersisa (liter) dP = dorpnya tekanan (mmHg).067 KN cm 2 m2 1 Bar 1 . 370 . tidak boleh leibih besar dari 4.

Test Ketahanan Tegangan. Maka digunakan tegangan 15 kV DC antara konduktor dan armour. Setelah lengkap memasang kabel maka kabel tersebut harus diuji ketahanan terhadap tegangan.Menggunakan alat ukur tahanan dengan tegangan operasi 500 Volt DC untuk satu menit dan jangan menggunakan alat dengan tegangan 5000 V dan temperatur 20ºC. 5. 371 . Tegangan dinaikan secara bertahap dan dipertahanankan selama 1 (satu) menit. Pengukuran tahanan isolasi dilanjutkan lagi setiap kabel telah tersambung dengan kabel yang lain dan hasil tidak boleh lebih kecil dari 50 M /km dan lebih kecil 90 % jika hasil pengukuran lebih besar dari 1000 M /km. 4. Cross Talk. Cross talk antara urat (pair) kabel diukur dan tidak boleh lebih jelek lagi dari nilai 74 dB pada frekuensi 1300 Hz dan kondisi kabel pada keadaan seimbang. Beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu : Kabel type 15 kV. Jika kabel telah dihubungan dengan beban yang mungkin berbentuk koil maka spesifikasi koil dan beban lain sangat diperhatikan dan jika perlu didiskusikan terlebih dulu dengan engineer yang lebih ahli. Ketahanan Tegangan kabel adalah antara konduktor dan konduktor lainnya dan terhadap armournya yang terhubung ketanah.

PROTEKSI SISTEM PENYALURAN Relai adalah suatu alat yang bekerja secara otomatis untuk mengatur/ memasukan suatu rangkaian listrik (rangkaian trip atau alarm) akibat adanya perubahan lain.1).Perangkat Sistem Proteksi. Relai.1. dibawah ini : Ke rangkaian Pemutus/sinyal I Elemen Pembanding Elemen Pengindera Elemen Pengukur + Gambar 9. Pengawatan (wiring) yang terdiri dari sirkit sekunder (arus dan/atau tegangan). sirkit triping dan sirkit peralatan bantu. Pemutus Tenaga (PMT) untuk memisahkan bagian sistem yang terganggu.BAB IX. sebagai alat perasa untuk mendeteksi adanya gangguan yang selanjutnya memberi perintah trip kepada Pemutus Tenaga (PMT). peralatan bantu triping. Proteksi terdiri dari seperangkat peralatan yang merupakan sistem yang terdiri dari komponen-komponen berikut : 1.1 . 2. Blok Diagram Relai proteksi 372 . Trafo arus dan/atau trafo tegangan sebagai alat yang mentransfer besaran listrik primer dari sistem yang diamankan ke Relai (besaran listrik sekunder) 3. 5.9. seperti pada blok diagram (gambar. Baterai beserta alat pengisi (bateray charger) sebagai sumber tenaga untuk bekerjanya relai. 9. Secara garis besar bagian dari Relai proteksi terdiri dari tiga bagian utama. 4.

Pada bagian ini besaran yang masuk akan dirasakan keadaannya. Elemen ini berfungsi untuk merasakan besaran-besaran listrik. frekuensi.4. tegangan. 9. dan sebagainya tergantung relai yang dipergunakan.2.1.1. Apabila besaran tersebut tidak setimbang atau melebihi besar arus penyetelannya. Pada sistem proteksi menggunakan Relai proteksi sekunder seperti gambar 9. yang bekerja setelah mendapatkan besaran dari alat pengindera dan membandingkan dengan besar arus penyetelan dari kerja relai.2. Sebagai alat pembanding sekaligus alat pengukur adalah relai. Sebagai sumber energi/penggerak adalah sumber arus searah atau baterai. Elemen pembanding.1. seperti arus.1. Rangkaian Relai proteksi sekunder Relai C Rangkaian 9.3. 9.Elemen pengindera. Elemen ini berfungsi untuk mengadakan perubahan secara cepet pada besaran ukurnya dan akan segera memberikan isyarat untuk membuka PMT atau memberikan sinyal. Elemen pengukur/penentu.1. Gambar 9. Fungsi dan Peranan Relai Proteksi Maksud dan tujuan pemasangan Relai proteksi adalah untuk mengidentifikasi gangguan dan memisahkan bagian jaringan yang terganggu dari bagian lain yang masih sehat serta sekaligus mengamankan bagian yang masih 373 . 2 Transformator arus ( CT ) berfungsi sebagai alat pengindera yang merasakan apakah keadaan yang diproteksi dalam keadaan normal atau mendapat gangguan.Masing-masing elemen/bagian mempunyai fungsi sebagai berikut : 9. apakah keadaan yang diproteksi itu mendapatkan gangguan atau dalam keadaan normal. Elemen ini berfungsi menerima besaran setelah terlebih dahulu besaran itu diterima oleh elemen oleh elemen pengindera untuk membandingkan besaran listrik pada saat keadaan normal dengan besaran arus kerja relai. maka kumparan Relai akan bekerja menarik kontak dengan cepat atau dengan waktu tunda dan memberikan perintah pada kumparan penjatuh (trip-coil) untuk bekerja melepas PMT. untuk selanjutnya besaran tersebut dikirimkan ke elemen pembanding.

2. dengan cara : 1. Syarat-syarat Relai Proteksi Dalam perencanaan sistem proteksi. 9. Mendeteksi adanya gangguan atau keadaan abnormal lainnya yang dapat membahayakan peralatan atau sistem. Memberikan pelayanan keandalan dan mutu listrik yang tbaik kepada konsumen. Selektif.2.sehat dari kerusakan atau kerugian yang lebih besar. Memberikan pengamanan cadangan bagi instalasi lainnya. Andal. Melepaskan (memisahkan) bagian sistem yang terganggu atau yang mengalami keadaan abnormal lainnya secepat mungkin sehingga kerusakan instalasi yang terganggu atau yang dilalui arus gangguan dapat dihindari atau dibatasi seminimum mungkin dan bagian sistem lainnya tetap dapat beroperasi. sedangkan bagian sistem yang sehat dalam hal ini tidak boleh terbuka. Cepat. Mengamankan manusia terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh listrik.2.2.3. Suatu Relai proteksi bertugas mengamankan suatu alat atau suatu bagian tertentu dari suatu sisitem tenaga listrik. 9.1. tetapi dapat memperkecil kemungkinan meluasnya akibat yang ditimbulkan oleh gangguan.2. Dalam keadaan normal atau sistem yang tidak pernah terganggu relai proteksi tidak bekerja selama berbulan-bulan mungkin bertahuntahun. Selektivitas dari relai proteksi adalah suatu kualitas kecermatan pemilihan dalam mengadakan pengamanan. Makin cepat relai proteksi bekerja. Bagian yang terbuka dari suatu sistem oleh karena terjadinya gangguan harus sekecil mungkin. 9. Relai proteksi mendetreksi adanya gangguan yang terjadi di daerah pengamanannya dan harus cukup sensitif untuk mendeteksi gangguan tersebut dengan rangsangan minimum dan bila perlu hanya mentripkan pemutus tenaga (PMT) untuk memisahkan bagian sistem yang terganggu. alat atau bagian sisitem yang termasuk dalam jangkauan pengamanannya. 4. maka untuk mendapatkan suatu sistem proteksi yang baik diperlukan persyaratan-persyaratan sebagai berikut : 9. sehingga daerah yang terputus menjadi lebih kecil. 3.4. tetapi relai proteksi bila diperlukan harus dan pasti dapat 374 . tidak hanya dapat memperkecil kemungkinan akibat gangguan. Relai proteksi hanya akan bekerja selama kondisi tidak normal atau gangguan yang terjadi didaerah pengamanannya dan tidak akan bekerja pada kondisi normal atau pada keadaan gangguan yang terjadi diluar daerah pengamanannya 9. Sensitif.2.2. 5.

2.Baterainya lemah atau kegagalan sistem DC suply sehingga tidak mampu mengetripkan PMT-nya.Kegagalan PMT dalam memutuskan arus gangguan 375 . karat. 9. sehingga panas yang ditimbulkannya dapat mengakibatkan kebakaran yang hebat.3. . Dengan biaya yang sekecilnyakecilnya diharapkan relai proteksi mempunyai kemampuan pengamanan yang sebesarbesarnya. selektif dan andal sehingga kerusakan peralatan yang mungkin timbul akibat busur gangguan atau pada bagian sistem/peralatan yang dilalalui arus gangguan dapat dihindari dan kestabilan sistem dapat terjaga. Penyebab Terjadinya Kegagalan Poteksi Jika proteksi bekerja sebagaimana mestinya. .Hubungan kotak kurang baik pada sirkit tripping atau terputus. . Sebaliknya jika proteksi gagal bekerja atau terlalu lambat bekerja. 9. .6.Relainya telah rusak atau tidak konsisten bekerjanya.Untuk tetap menjaga keandalannya.5.Setelan (seting) Relainya tidak benar(kurang sensitif atau kurang cepat). Kegagalan atau kelambatan kerja proteksi dapat disebabkan antara lain oleh : . Kegagalan atau kelambatan kerja proteksi juga akan mengakibatkan bekerjanya proteksi lain disebelah hulunya (sebagai remote back up) sehingga dapat mengakibatkan pemadaman yang lebih luas atau bahkan runtuhnya sistem (collapse). maka kerusakan yang parah akibat gangguan mestinya dapat dihindari/dicegah sama sekali.bekerja. Ekonomis. atau kalau gangguan itu disebabkan karena sudah adanya kerusakan (insulation break down di dalam peralatan). kerusakan yang parah pada peralatan instalasi dan ketidak stabilan sistem. patah atau meleset. Perangkat relai proteksi disyaratkan mempunyai bentuk yang sederhana dan fleksibel. sebab apabila relai gagal bekerja dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih parah pda peralatan yang diamankan atau mengakibatkan bekerjanya relai lain sehingga daerah itu mengalami pemadaman yang lebih luas.2. . 9. maka arus gangguan ini berlangsung lebih lama. Proteksi yang benar harus dapat bekerja cukup cepat. . maka relai proteksi harus dilakukan pengujian secara periodik. maka kerusakan itu dapat dibatasi sekecilnya. Sederhana. Tangki trafo daya yang menggelembung atau jebol akibat gangguan biasanya karena kegagalan kerja atau kelambatan kerja proteksi.Kemacetan mekanisme tripping pada PMT-nya karena kotor.

Gangguan seperti ini disebut gangguan bukan pada sistem.Kegagalan saluran komunikasi tele proteksi. Pada keadaan ini PMT dapat segera dimasukan kembali. SKTT dan lain sebagainya. kabel kontrol terhubung singkat . jaringan transmisi (gardu induk dan saluran transmisi) dan jaringan distribusi. sedangkan untuk pemulihan diperlukan perbaikan. interferensi / induksi pada kabel kontrol.1. Gangguan permanen adalah gangguan yang tidak hilang dengan sendirinya. secara manual atau otomatis dengan AutoRecloser. 9. jaringan transmisi atau di jaringan distribusi. Proteksi Penghantar Jaringan tenaga listrik secara garis besar terdiri dari pusat pembangkit. Gangguan Pada Penyaluran Sistem dengan sendirinya bila PMT terbuka. .3.Kekurang sempurnaan rangkaian sistem proteksi antara lain adanya hubungan kontak yang kurang baik. misalnya sambaran petir yang menyebabkan flash over pada isolator SUTT.4.Trafo arus terlalu jenuh. dapat saja PMT terbuka oleh karena relai yang bekerja sendiri atau kabel kontrol yang terluka atau oleh sebab interferensi dan lain sebagainya. Jenis gangguan non-sistem antara lain : kerusakan komponen relai . atau karena ada kerusakan. Gangguan Non Sistem PMT terbuka tidak selalu disebabkan oleh terjadinya gangguan pada sistem. atau kemampuan pemutusannya telah menurun. misalnya kawat SUTT putus. .yang bisa disebabkan oleh arus gangguanya terlalu besar melampaui kemampuan pemutusan (interupting capability). Jaringan tenaga listrik yang terganggu harus dapat segera diketahui dan dipisahkan dari bagian jaringan lainnya secepat mungkin dengan maksud agar kerugian yang lebih besar dapat dihindarkan. 9. selanjutnya disebut gangguan non– sistem. 9. trafo.4. . Gangguan pada jaringan tenaga listrik dapat terjadi diantaranya pada pembangkit. SUTT. Penyebab gangguan tersebut tersebut dapat diakibatkan oleh gangguan sistem dan non sistem. Gangguan temporer adalah gangguan yang hilang 376 . seperti diperlihatkan pada gambar 9.5. 9. Gangguan Sistem Gangguan sistem adalah gangguan yang terjadi di sistem tenaga listrik seperti pada generator. Gangguan sistem dapat dikelompokkan sebagai gangguan permanen dan gangguan temporer.2.4.

4. Blok diagram sistem proteksi Penghantar 377 . kebutuhan sistem proteksi yang memadai tidak dapat dihindarkan. Perintah buka Transmisi Blok diagram Sistem proteksi Penghantar diperlihatkan pada Gambar 9. Jaringan sistem tenaga listrik Dalam usaha untuk meningkatkan keandalan penyediaan energi listrik.3.PUSAT LISTRIK TRANSMISI GARDU INDUK DISTRIBUSI P M G Gambar 9. Masukan besaran arus dan tegangan Relai Proteksi Sinyal kirim Sinyal terima Relai Proteksi Catu Daya (battere) Indikasi relai Data Scada Disturbance Recorder Evaluasi Gambar 9.4.

Pola ini dipakai di hampir seluruh SUTET PLN di Jawa dan untuk selanjutnya akan disebut sebagai pola standar. 378 . Pola non standar yang pertama mempunyai dua LP. Relai untuk proteksi utama yang dikenal saat ini : a) Distance Relai Basic atau Step PUTT POTT Blocking b) Differential Relai Pilot Current Phase c) Directional Comparison Relai Impedance Current SuperImposed Proteksi Cadangan adalah sebagai berikut : Sistem proteksi cadangan lokal : OCR & GFR Sistem proteksi cadangan jauh : Zone 2 GI remote 9. Pola non standar yang kedua mempunyai LP(a) berupa Phase Comparison yang di backup oleh Distance Relai tanpa Tele Proteksi. disamping pola yang standar terdapat dua pola lain yang non standar. yang di-backup oleh sebuah Distance Relai tanpa Tele Proteksi. dan LP(b) berupa Distance Relai + DEF dengan Tele Proteksi yang dibackup oleh Distance Relai tanpa Tele Proteksi. yang dibackup oleh sebuah Distance Relai tanpa Tele Proteksi. Sistem Proteksi SUTET Pada dasarnya. Pola ini hanya digunakan pada SUTET Saguling Cirata 2. yaitu suatu pola yang menggunakan dua Line Protection (LP) berupa Distance Relai (Z) + Tele Proteksi (TP) yang identik. disebut LP(a) dan LP(b). hanya ada satu pola pengaman SUTET yang dipakai pada sistem transmisi 500 kV di pulau Jawa. Pola ini selanjutnya dilengkapi dengan Reclosing Relai untuk melakukan SPAR. Namun demikian. Pada setiap LP terdapat Directional Earth Fault Relai (DEF) sebagai komplemennya.6. yaitu : i) LP(a) berupa Directional Comparison (DC) dari jenis Non-Impedance Relai. ii) LP(b) berupa distance Relai + DEF dengan Tele Proteksi. Pola ini hanya digunakan pada SUTET Saguling Cirata 1.Sistem proteksi jaringan (SUTT dan SUTET) terdiri dari Proteksi Utama dan Proteksi Cadangan.

Relai jarak bekerja dengan mengukur besaran impedansi (Z) transmisi dibagi menjadi beberapa daerah cakupan yaitu Zone-1. Kabel Pilot dapat digunakan untuk relai pilot differential.8.5. serta dilengkapi juga dengan teleproteksi (TP) sebagai upaya agar proteksi bekerja selalu cepat dan selektif di dalam daerah pengamanannya. Relai jarak digunakan sebagai pengaman utama (main protection) pada SUTT/SUTET dan sebagai backup untuk seksi didepan. Daerah pengamanan relai jarak 9. Prinsip Kerja Relai Jarak Relai jarak mengukur tegangan pada titik relai dan arus gangguan yang terlihat dari relai. maka impedansi sampai titik terjadinya gangguan dapat di tentukan. relai phase comparison. Media Fibre Optic dapat digunakan untuk Distance Relai.8.Tabel 9. Zone-2. relai phase comparison.7. Zone-3 Zone-2 Zone-1 Gambar .9. Distance Relai ( Relai Jarak) Media PLC dapat digunakan untuk Distance Relai. relai directional comparison. relai directional comparison. dan relai current differential. Zone-3. Media Micro Wave dapat digunakan untuk distance Relai.1. dengan membagi besaran tegangan dan arus. Perhitungan impedansi dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut : 379 . Media Telekomunikasi 9. dan Comparison Phase Relai.1. Comparison Directional Relai. Pola Standar Pola Main Pola standar Pola standar I Pola standar II non non Z+DEF+TP DC PC LPa Backup Z Z Z Main Z+DEF+TP Z+DEF+TP Z + TP LPb Backup Z Z Z 9. dan relai current differential.

merupakan block diagram relai jarak yang terpasang di instalasi yang terdiri dari : PANEL RELAI HV APPARATUS M PMS REL PMT MK MCB VT Bus Close Trip CT M PMS LINE PMS TANAH Syncro Chek (25) Rang. Bila harga impedansi ganguan lebih besar dari pada impedansi seting relai maka relai akan tidak trip.6. dengan ketentuan : Bila harga impedansi ganguan lebih kecil dari pada impedansi seting relai maka relai akan trip.Zf = Vf/If Dimana : Zf = Impedansi (ohm) Vf = Tegangan (Volt) If =Arus gangguan Relai jarak akan bekerja dengan cara membandingkan impedansi gangguan yang terukur dengan impedansi seting. Arus Posisi PMT Mekanik PMT Auto Rec (79) Distance Relai (21) MCB VT Line PANEL PLC CR CS Gambar 9.6. Gambar 9. Block diagram relai jarak 280 .

3. Pada saat terjadi gangguan tiga fasa yang simetris maka amplitudo tegangan fasa VR.VS.8.8.VT turun dan beda fasa tetap 120 derajat. Relai 4.4. Pengukuran Impedansi Gangguan Oleh Relai Jarak Menurut jenis gangguan pada sistem tenaga listrik. sedangkan arusnya adalah selisih (secara vektoris) arus-arus yang terganggu.Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa Untuk mengukur impedansi pada saat terjadi gangguan hubung singkat dua fasa. Maka pengukuran impedansi untuk hubung singkat antara fasa S dan T adalah sebagai berikut : V relai I relai = = VS – VT IS .1. Relai jarak sebagai pengaman utama harus dapat mendeteksi semua jenis gangguan dan kemudian memisahkan sistem yang terganggu dengan sistem yang tidak terganggu. Panel Relai MCB AC dan DC Relai Jarak Relai Lock Out Aux. terdiri dari gangguan hubung singkat tiga fasa. Panel PLC Sinyal Kirim (carrier send) Sinyal terima (carrer reciept) Sinyal CIS 9. Marshalling Kios MCB PT MCB sumber AC/DC Terminal rangkaian arus (CT) dan tegangan (PT). Peralatan tegangan tinggi (HV apparatus) PMT PMS CT PT Line dan Bus 2. tegangan yang masuk ke komparator relai adalah tegangan fasa yang terganggu. Terminal limit switch PMT dan PMS Terminal rangkaian trip dan reclose 3. dua fasa ke tanah dan satu fasa ke tanah. dua fasa.IT 9.7. Gangguan Hubung Singkat Tiga Fasa 381 .2. Impedansi yang diukur relai jarak pada saat terjadi gangguan hubung singkat tiga fasa adalah sebagai berikut : Vrelai = VR Irelai=IR ZR= VR /IR Dimana. ZR = impedansi terbaca oleh relai VR = Tegangan fasa ke netral IR = Arus fasa 9.

sedangkan arus fasa terganggu di tambah arus sisa dikali factor kompensasi. Misalnya terjadi gangguan hubung singkat satu fasa R ke tanah. Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa Ke Tanah Untuk mengukur impedansi pada saat hubung singkat satu fasa ke tanah.In In = IR + IS + IT K0=1/3(Z0 .IS I S . 9.I T Arus 9.2. Tegangan dan arus masukan relai untuk gangguan hubung singkat dua fasa Fasa terganggu R-S S-T T-R yang Tegangan VR-VS VS-VT VT-VR IR .8.9. maka pengukuran impedansi dilakukan dengan cara sebagai berikut : Vrelai = VR I relai = IR+K0. Sehingga impedansi yang terukur menjadi benar. 382 .5.Sehingga. tegangan yang dimasukkan ke relai adalah tegangan yang Tegangan pada relai Arus pada relai Arus netral Kompensasi urutan nol Z1=VR/(IR+K0.Tegangan dan arus masukan relai untuk gangguan hubung singkat satu fasa ke tanah Fasa yang terganggu R-N S-N T-N Impedansi urutan nol akan timbul pada gangguan tanah. Adanya K0 adalah untuk mengkompensasi adanya impedansi urutan nol Tegangan VR VS VT Arus IR + K0.In) : : : : terganggu. ZR = VS VT IS IT Tabel.Z1/Z2) Tabel.3.In tersebut.In IS + K0.IT IR .In IS + K0.

sehingga mempunyai sifat non directional.9.9. terutama untuk SUTT yang panjang sehingga jangkauan lingkaran impedansi dekat dengan daerah beban. Untuk diaplikasikan sebagai pengaman SUTT perlu ditambahkan relai directional. Karakteristik impedan sensitive oleh perubahan beban. 9. Mempunyai keterbatasan untuk mengantisipasi gangguan tanah high resistance. 383 .7. karakteristik ini biasa digambarkan didalam diagram R-X.9.2.1. Karakteristik Mho Ciri-ciri : Titik pusatnya bergeser sehingga mempunyai sifat directional.9. Karakteristik impedansi Ciri-ciri nya : Merupakan lingkaran dengan titik pusatnya ditengah-tengah. Karakteristik Impedansi 9. Mempunyai keterbatasan mengantisipasi gangguan tanah high resistance. Karakteristik Relai Jarak Karakteristik relai jarak merupakan penerapan langsung dari prinsip dasar relai jarak. X ZL Z1 Z2 Z3 R Directional Gambar 9. Untuk SUTT yang panjang dipilih Zone-3 dengan karakteristik Mho lensa geser.

Z3 Lensa geser 9.9.X ZL Z1 Z2 Z3 R Gambar 9.8. dengan . Karakteristik Mho Z1.3. Untuk aplikasi di SUTT perlu ditambah relai directional.9. Karakteristik Reaktance Ciri-ciri : Karateristik reaktance mempunyai sifat non directional. Dengan seting jangkauan resistif cukup besar maka relai reactance dapat mengantisipasi 384 gangguan tanah tahanan tinggi. Karakteristik Mho X ZL Z1 Z2 Z3 R Gambar 9.Z2 parsial Cross-polarise Mho.

Z3 Z2 Z1 R Gambar 9. Dengan seting jangkauan resistif cukup besar maka X ZL karakteristik relai quadrilateral dapat mengantisipasi gangguan tanah dengan tahanan tinggi. Karakteristik Quadrilateral Ciri-ciri : Karateristik quadrilateral merupakan kombinasi dari 3 macam komponen yaitu : reactance. Umumnya kecepatan relai lebih lambat dari jenis mho. berarah dan resistif. Karakteristik Quadrilateral 385 . Karakteristik Reaktance dengan Starting Mho 9.11.9. 10.4.X Z Z3 Z2 R Gambar 9.

(carrier Underreach Transfer Trip) receipt). Pola Proteksi Agar gangguan sepanjang SUTT dapat ditripkan dengan seketika pada kedua sisi ujung saluran.1. akan terjadi bila relai jarak . Pola PUTT (Permissive menerima sinyal.10. send) oleh relai jarak zone-1.9. Rangkaian logic Basic Scheme zone-2 bekerja disertai dengan 9. Dapat menggunakan berbeda Trip seketika oleh teleproteksi type dan relai jarak. Bila terjadi kegagalan sinyal Prinsip Kerja dari pola PUTT : PLC maka relai jarak kembali ke Pengiriman sinyal trip (carrier pola dasar.12. maka relai jarak perlu dilengkapi fasilitas teleproteksi. 9. 13. Pola Dasar Ciri-ciri Pola dasar : Tidak ada fasilitas sinyal PLC Untuk lokasi gangguan antara 80 – 100 % relai akan bekerja zone-2 yang waktunya lebih lambat (tertunda). Z1 TRIP TZ2 TRIP Z1 Z2 OR OR TZ2 Z2 T Z3 TZ3 TZ3 Z3 Z2 = Timer zone 2 TZ3 = Timer zone 3 Gambar 9. Rangkaian logic Pola PUTT 386 .10. CS Z1 Z2 TZ2 CS Z1 TRIP OR TRIP OR TZ2 Z2 C AND AND C CS = sinyal kirim CR = sinyal terima Z2 = trip zone 2 TZ2 = waktu trip zone 2 Gambar 9.10.2.

CS Z1 TRIP OR TRIP OR TZ2 Z2 AND AND CR CR = sinyal terima tZ2 = waktu trip zone 2 Gambar 9. Rangkaian logic Pola POTT 9. Dapat menggunakan berbeda type dan relai jarak. Trip seketika oleh teleproteksi akan terjadi bila relai jarak CS Z1 Z2 CR TZ2 zone-2 bekerja disertai dengan menerima sinyal (carrier receipt).4. Bila terjadi kegagalan sinyal PLC maka relai jarak kembali ke pola dasar. Relai jarak yang dibutuhkan merk dan typenya sejenis. Trip seketika oleh teleproteksi akan terjadi bila relai jarak zone-2 bekerja disertai dengan Z1 Z2 TZ2 tidak ada penerimaan sinyal block. Bila terjadi kegagalan sinyal PLC maka relai jarak akan mengalami mala kerja.10.10.3.14. Ranglaian Logic Blocking Scheme 287 . (carrier receipt).9. Z1 TRIP OR TZ2 TRIP OR Z2 CR AND AND CR Z3 Rev TZ3 TZ2 Z3 Re v AND CS CS AND Gambar 9. Membutuhkan sinyal PLC cukup half duplex. Permissive transfer Trip Overreach Prinsip Kerja dari pola POTT : Pengiriman sinyal trip (carrier send) oleh relai jarak zone-2. Pola Blocking (Blocking Scheme) Prinsip Kerja dari pola Blocking : Pengiriman sinyal block (carrier send) oleh relai jarak zone-3 reverse. 15.

PT. Penyetelan Zone-1 Dengan mempertimbangkan adanya kesalahan-kesalahan dari data saluran. dan zone-3 waktu kerja relai t3 . zone-2 dengan waktu kerja relai t2 . (t1= 0) tidak dilakukan penyetelan waktu . Penyetelan relai jarak terdiri dari tiga daerah pengamanan. Penyetelan Zone-2 Prinsip peyetelan Zone-2 adalah berdasarkan pertimbanganpertimbangan sebagai berikut : Zone-2 min = 1. Daerah penyetelan Relai jarak tiga tingkat Relai jarak pada dasarnya bekerja mengukur impadansi saluran.10. CT.10.8 ..6. ZL1 388 . yaitu dengan mengatur hubungan antara jarak dan waktu kerja relai. Waktu kerja relai seketika. apabila impedansi yang terukur / dirasakan relai lebih kecil impedansi tertentu akibat gangguan ( Zset < ZF ) maka relai akan bekerja. Penyetelan zone-1 dengan waktu kerja relai t1.20 % . Zone-1 = 0. 9.. Z L1 (Saluran) .. Prinsip ini dapat memberikan selektivitas pengamanan.7. zone-1 relai disetel 80 % dari panjang saluran yang diamankan.16.10. 9. dan peralatan penunjang lain sebesar 10% . Penyetelan Daerah Jangkauan pada Relai Jarak Local bus Near and bus far and bus Zone-3(A) Zone-2(A) Zone-1(A) Zone-1(B) Zone-2(B) Zone-3(B) A B C Gambar 9.5.9.2 .

yaitu : 1. CCC atau ct 2.10.10. Peyetelan zone-3 reverse Fungsi penyetelan zone-3 reverse adalah digunakan pada saat pemilihan teleproteksi pola blocking. ZL2) Dengan : ZL1 = Impedansi saluran yang diamankan. ZL1 = Impedansi saluran berikutnya yang terpendek ( ) Waktu kerja relai t2= 0. Relai penghantar yang prinsip kerjanya membandingkan arah gangguan. Mendeteksi adanya gangguan.ZL2 ) Zone-3mak1 = 0. Menentukan jenis gangguan dan memilih fasa yang terganggu.10. Dasar peyetelan zone-3 reverse ada dua jenis : Bila Z3 rev memberi sinyal trip. Penyetelan Starting Fungsi starting relai jarak adalah : 1. 2. Untuk system 150 dan 500 kV : Rb = 8 x Zone-1 x k0 x 2 9.10. Directional Comparison Relai. Starting arus lebih : I fasa-fasa = 1.8 dt.6 dt. Zone-3 rev = 1.ZL2 ) Zone-3mak2 = 0.2.8 ( ZL1 + 1.8 ( ZL1 + k.10.9. Prinsip penyetelan resistif reach (Rb) tidak melebihi dari kreteria setengah beban (1/2 Z beban ).4 s/d 0.5 x kV/(CCC atau Ct x 3) 9. Prinsip penyetelan starting di bagi 2. Zone-3 rev = 2 Z2-ZL1. Penyetelan zone-3 Prinsip penyetelan zone-3 adalah berdasarkan pertimbanganpertimbangan sebagai berikut : Zone-3min = 1. Cara kerjanya ada yang menggunakan directional impedans. Untuk system 70 kV : Rb = 15 x Zone-1 x k0 x 2.10.8.11.12. 9.2 ( ZL1 + 0. 389 . jika kedua relai pada penghantar merasakan gangguan di depannya maka relai akan bekerja.5 Z2-ZL1 Bila Z3 rev tidak memberi sinyal trip.8. 9. 9.2 CCC atau ct I fasa-netral = 0. Penyetelan Resistif reach Fungsi penyetelan resistif reach adalah mengamankan gangguan yang bersifat high resistance.Zone-2 mak = 0. directional current dan superimposed.1.2 s/d 1.8. Starting impedansi Zsmin = 1.ZTR ) Dengan : L1 = Impedansi saluran yang diamankan ZL2 = Impedansi saluran berikutnya yang terpanjang Waktu kerja relai t3= 1.8 (Z L1 + 0.25 x Zone-3 Zs max= 0.

Karena ujung-ujung saluran transmisi dipisahkan oleh jarak yang jauh maka masing-masing sisi dihubungkan dengan : kabel pilot saluran telekomunikasi : microwave.11. End A End B I IA IB Relai A Relai B Gambar 9.A B DIR DIR T & R T Signalling channel R & Gambar 9. Current Differential Relai Prinsip kerja pengaman differensial arus saluran transmisi mengadaptasi prinsip kerja diferensial arus. yang membedakannya adalah daerah yang diamankan cukup panjang sehingga diperlukan : Sarana komunikasi antara ujung-ujung saluran. fiber optic.18. Relai arus differensial Transmisi 390 .17. Relai sejenis pada setiap ujung saluran. Directional comparison relai 9.

sedangkan pada saluran kabel adalah arus charging kabel dan sistem pentanahan. Circulating Current Umumnya diterapkan untuk mengatasi kesulitan koordinasi dengan relai arus lebih pada jaringan yang kompleks atau sangat pendekdan kesulitan koordinasi dengan relai jarak untuk jaringan yang sangat pendek.11. 391 diferensial dengan circulating current atau relai diferensial dengan balanced voltage seperti pada gambar.2. Prinsip kerja diperlihatkan pada gambar.21.1. dimana pada saat gangguan internal output dari comparator memberikan nilai 1 . Phase Comparison Relai Prinsip kerja membandingkan sudut fasa antara arus yang masuk dengan arus yang keluar daerah pengaman.Tanpa gangguan atau gangguan eksternal IA +IB = 0 Keadaan gangguan internal IA +IB 0 (= IF) 9.21. 19. Prinsip kerja relai diferensial arus saluran transmisi yaitu relai .. Pada saluran udara faktor pembatas dari relai ini adalah panjang dari rangkaian pilot. 20.11. 9. Balanced Voltage B OP I B OP I Gambar 9. 9.9. Pilot Relai OP B OP B v v Gambar 9.

Fasa arus di B d.| Vr -ø rep + ir | Dop positip untuk gangguan arah depan dan Dop negatip untuk gangguan arah belakang 392 . Logic fasa arus di A c. Fasa arus di A B A B b.ir | . perubahan ini dikenal sebagai besaran superimposed.3. Super Imposed Directional Relai Elemen directional menggunakan sinyal superimposed Superimposed = faulted . Gelombang sudut fasa pada Phase Comparison Relai 9. Untuk gangguan di depan : Vr -ø rep dan ir mempunyai polaritas yang berlawanan sedangkan untuk gangguan di belakang : Vr -ø rep dan ir mempunyai polaritas yang sama Arah ditentukan dari persamaan : Dop = | Vr -ø rep .A a.unfaulted Selama gangguan tegangan dan arus berubah sebesar Vr dan ir. Logic fasa arus di B Output comparator di A : e=b+d Output discriminator Stability Gangguan eksternal Gangguan internal Gambar 9. 21.11.

Forward Fault ir Vr Zs t=0 ir = Vr Zs ir ZL ir = - Vr |Zs| -ø s R t=0 Vr Zs ir = + Vr Zs + ZL ir = + Vr -ø LS |Zs + ZL| Gambar 9. 22. Rangkaian pengukuran Relai tanah selektif 393 . 23. Prinsip pengukuran superimposed tegangan dan arus 67G 50G 67G Pht 1 Pht 2 Gambar 9.

Jika ada gangguan satu fasa ke tanah pada penghantar 1 maka relai 50G akan merasakan gangguan demikian juga relai directional ground (67G).11.4. Relai tanah terarah (directional ground Relai) A B C VRES Gambar 9. Tegangan residual dapat diperoleh dari rangkaian sekunder open delta trafo tegangan seperti pada Gambar 9. VRES = VAG + VBG + VCG = 3Vo Diperlukan apabila proteksi utama tidak dapat bekerja atau terjadi gangguan pada sistem proteksi utama itu sendiri. Operating signal diperoleh dari arus residual melalui rangkaian trafo arus penghantar (Iop = 3Io) sedangkan polarising signal diperoleh dari tegangan residual. Penghantar 1 akan trip karena 50G kerja dan arus yang dirasakan 67G penghantar 1 > 67G penghantar 2. 24. Pada dasarnya sistem proteksi cadangan dapat dibagi menjadi dua katagori. Setting waktu relai 50G umumnya < setting waktu 67G.11.11. Rangkaian open delta trafo tegangan 9. Sistem proteksi cadangan lokal (local back up protection system) 394 . yaitu a.5. Apabila salah satu pmt penghantar lepas relai 50 G tidak akan bekerja. 9.25. Relai ini dipasang pada penghantar dengan sirkit ganda dan tidak dapat dioperasikan jika ada pencabangan dalam penghantar tersebut (single phi atau single T). Relai tanah selektif (selection ground Relai) Rangkaian relai tanah selektif (50G) dihubungkan seperti pada gambar.6 Relai Cadangan (Back Up Protection) Relai arah hubung tanah memerlukan operating signal dan polarising signal.9.

7. Operating Time dan Fault Clearing Time Kecepatan pemutusan gangguan (fault clearing time) terdiri dari kecepatan kerja (operating time) Relai. Proteksi cadangan lokal dan jauh diusahakan koordinasi waktunya dengan proteksi utama di tempat berikutnya. Dengan mempertimbangkan waktu kerja pmt dan waktu yang diperlukan teleproteksi maka operating time relai proteksi utama di sistem 150 kV adalah tipikal 30 ms dan pada SIR 10 dan reach setting 80 % sebesar 40 ms.E / 012 / DIR / 2000 adalah 140 ms untuk bekerjanya proteksi utama sistem 150 kV dan 170 ms untuk bekerjanya proteksi utama di sistem 70 kV. Dari kedua hal di atas maka untuk PLN UBS P3B fault clearing time di sistem 150 kV adalah 120 ms untuk bekerja proteksi utama dan 500 ms untuk bekerja proteksi cadangan. Fault clearing time proteksi cadangan sebesar 500 ms dapat dicapai dengan memanfaatkan proteksi cadangan zone 2 distance Relai dari GI remote.Proteksi cadangan lokal adalah proteksi yang dicadangkan bekerja bilamana proteksi utama yang sama gagal bekerja. sedangkan di sistem 70 kV adalah 395 . Contohnya : penggunaan OCR atau GFR. Besaran fault clearing time berhubungan dengan mutu tenaga listrik di sisi konsumen. batasan Kedip menurut SE Direksi PT PLN (PERSERO) No. b. 12. kecepatan buka pemutus tenaga (circuit breaker) dan waktu kirim sinyal teleproteksi. Sistem proteksi cadangan jauh (remote back up protection system) Proteksi cadangan jauh adalah proteksi yang dicadangkan bekerja bilamana proteksi utama di tempat lain gagal bekerja. sedangkan untuk proteksi cadangan maksimum sebesar 500 ms. Untuk memenuhi fault clearing time di atas maka perlu ditetapkan batasan operating time dari relai itu sendiri. Fault clearing time menurut SPLN 52-1 1984 untuk sistem 150 kV sebesar 120 ms dan untuk sistem 70 kV sebesar 150 ms. Koordinasi waktu dibuat sedemikian hingga proteksi cadangan dari jauh bekerja lebih dahulu dari proteksi cadangan lokal. Dengan demikian berarti pula bahwa proteksi cadangan lokal hanya sekedar proteksi cadangan terakhir demi keselamatan peralatan. sedangkan di sistem 70 kV adalah 150 ms untuk bekerja proteksi utama dan 500 ms untuk bekerja proteksi cadangan. 9. Dengan penjelasan di atas berarti bahwa waktu penundaan bagi proteksi cadangan lokal cukup lama sehingga mungkin sekali mengorbankan kemantapan sistem demi keselamatan peralatan.11. Hal ini berarti bahwa kemungkinan sekali bahwa proteksi cadangan dari jauh akan bekerja lebih efektif dari proteksi cadangan lokal.

Dampak yang dapat ditimbulkan oleh gangguan di bus jika gangguan tidak segera diputuskan . 2. Persyaratan yang diperlukan untuk proteksi busbar adalah : 1. 3. 4. Selektfi. Relai Proteksi Busbar. Tidak bekerja untuk gangguan di luar daerah proteksinya. 25. 3. terutama jika pasokan yang terhubung ke pembangkit tersebut cukup besar. kerusakan instalasi b/. 5. Wiring diagram sistem proteksi untuk konfigurasi double busbar 396 .tipikal 35 ms dan pada SIR 10 dan reach setting 80 % sebesar 50 ms.. dimungkinkan OCR dan GFR di sistem bekerja sehingga pemutusan menyebar. Sebagai proteksi utama Busbar adalah relai Differensial. hanya mentripkan pmtpmt yang terhubung ke seksi yang terganggu. Busbar ganda ( Double Busbar ). Gangguan pada busbar relatif jarang (kurang lebih 7 % ) dibandingkan dengan gangguan pada penghantar (kurang lebih 60 %) dari keseluruhan gangguan [1] tetapi dampaknya akan jauh lebih besar dibandingkan pada gangguan penghantar. antara lain adalah a/. c/. yang berfungsi mengamankan pada busbar tersebut terhadap gangguan yang terjadi di busbar itu sendiri. Waktu pemutusan yang cepat (pada basic time) 2. Konfigurasi Busbar ada 3 macam : 1. Imune terhadap malakerja.8. Busbar tunggal ( Single Busbar ). tetapi yang akan di bahas disini adalah proteksi busbar diferensial dengan jenis low impedans dan high impedans 1 2 3 4 5 6 7 8 1 1 2 2 3 4 5 6 7 8 R R Gambar. Jenis/pola proteksi busbar banyak ragamnya. Bekerja untuk gangguan di daerah proteksinya. 9.5 PMT. Busbar 1.11. timbulnya masalah stabilitas transient. karena proteksi ini mentripkan banyak PMT.9.

diantaranya . 6. namun akibat dari gangguan tersebut harus diupayakan seminimal mungkin dampaknya.12.2.surja petir . Gangguan pada Trafo Tenaga Gangguan pada transformator daya tidak dapat kita hindari. Gangguan eksternal sumber gangguan. Ada dua jenis penyebab gangguan pada transformator. Ganggauan eksternal.9. 9. 2. 3. disamping itu diharapkan juga agar pengaman transformator dapat berpartisipasi dalam penyelenggaraan selektifitas sistem. tetapi dampaknya dirasakan oleh transformator tersebut. 1.beban lebih . Mendeteksi adanya gangguan atau keadaan abnormal lainnya yang dapat membahayakan peralatan atau sistem. 2. Mencegah kerusakan transformator akibat adanya gangguan/ketidak normalan yang terjadi pada transformator atau gangguan pada bay transformator. Memberikan pengamanan cadangan bagi instalasi lainnya. Tujuan pemasangan Relai proteksi Trafo Tenaga. yaitu gangguan eksternal dan gangguan internal. Proteksi Transformator Tenaga Proteksi transrmator daya terutama bertugas untuk mencegah kerusakan transformator sebagai akibat adanya gangguan yang terjadi dalam petak/bay transformator. Memberikan pelayanan keandalan dan mutu listrik yang terbaik kepada konsumen. Melepaskan (memisahkan) bagian sistem yang terganggu atau yang mengalami keadaan abnormal lainnya secepat mungkin sehingga kerusakan instalasi yang terganggu atau yang dilalui arus gangguan dapat dihindari atau dibatasi seminimum mungkin dan bagian sistem lainnya tetap dapat beroperasi. Gangguan internal Gangguan internal adalah gangguan yang bersumber dari 397 .gangguan hubung singkat pada jaringan . Mengamankan manusia terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh listrik.12. sehingga pengamanan transformator hanya melokalisasi gangguan yang terjadi di dalam petak/bay transformator saja. Maksud dan tujuan pemasangan relai proteksi pada transformator daya adalah untuk mengamankan peralatan /sistem sehingga kerugian akibat gangguan dapat dihindari atau dikurangi menjadi sekecil mungkin dengan cara : 1.nya berasal dari luar pengamanan transformator. 9. 4.1. 5. 12.

12. Jenis Proteksi Trafo Tenaga. 3. Meningkatkan keandalan (realibility) pelayanan dalam penyaluran tenaga listrik. 5. Sistem Pentanahan Titik Netral Trafo Tenaga. Mengurangi/membatasi tegangan lebih transient yang disebabkan oleh penyalaan bunga api yang berulang-ulang (restrike ground fault). Memudahkan dalam menentukan sistem proteksi serta memudahkan dalam menentukan lokasi gangguan 9. 9. Membatasi tegangan-tegangan pada fasa yang tidak terganggu (pada fasa yang sehat).gangguan pada inti transformator .kerusakan bushing . 9. 4.gangguan antar fasa pada belitan .daerah pengamanan/petak bay transformator.12.kebocoran minyak atauminyak terkontaminasi . diantaranya : . Trafo tenaga diamankan dari berbagai macam gangguan. C) : Relai arus lebih Relai arus hubung tanah Relai beban lebih Relai tangki tanah Relai ganggauan tanah terbatas (Restricted Earth Fault) Relai suhu Relai Bucholz Relai Jansen Relai tekanan lebih Relai suhu Lightning arrester Relle differensial 398 .3. Menghilangkan gejala-gejala busur api pada suatu sistem.gangguan tap changer . Adapun tujuan pentanahan titik netral transformator daya adalah sebagai berikut : 1. diantaranya dengan peralatan proteksi (sesuai SPLN 52-1:1983 Bagian Satu.12. Metoda Pentanahan Titik Netral Trafo Tenaga.5.suhu lebih. 2.4.fasa terhadap ground antar belitan transformator . Metoda-metoda pentanahan titik netral transformator daya adalah sebagai berikut : a) Pentanahan mengambang (floating grounding) b) Pentanahan melalui tahanan (resistance grounding) c) Pentanahan melalui reaktor (reactor grounding) d) Pentanahan langsung (effective grounding) e) Pentanahan melalui reaktor yang impedansinya dapat berubah-ubah (resonant grounding) atau pentanahan dengan kumparan Petersen (Petersen Coil).

Blok Diagram Proteksi Trafo Tenaga 399 .. 26. P51N NP51 96T 26 63 87T S51-1 S51-2 PU 64V Gambar 9.

9.13. Relai Arus Lebih (Over Current Relay) Relai ini berfungsi untuk mengamankan transformator terhadap gangguan hubung singkat antar fasa didalam maupun diluar daerah pengaman transformator, seperti terlhat pada foto dibawah ini

Gambar 8.26 Relai arus lebih Juga diharapkan relai ini mempunyai sifat komplementer dengan relai beban lebih. relai ini berfungsi pula sebagai pengaman cadangan bagi bagian instalasi lainnya. 9.13.1. Relai Gangguan Tanah Terbatas (Restricted Earth fault Relay ) Mengamankan transformator terhadap tanah didalam daerah pengaman transformator khususnya untuk gangguan didekat titik netral yang tidak dapat dirasakan oleh Relai differensial. 9.13.2. Relai arus lebih Berarah . Directional over current Relai atau yang lebih dikenal dengan Relai arus lebih yang mempunyai arah tertentu merupakan Relai

Pengaman yang bekerja karena adanya besaran arus dan tegangan yang dapat membedakan arah arus gangguan. Relai ini terpasang pada Jaringan Tegangan tinggi, Tegangan menengah juga pada pengaman Transformator tenaga dan berfungsi untuk mengamankan peralatan listrik akibat adanya gangguan phasa-phasa maupun Phasa ketanah. Relai Ini Mempunyai 2 buah parameter ukur yaitu Tegangan dan Arus yang masuk ke dalam Relai untuk membedakan arah arus ke depan atau arah arus ke belakang. Pada pentanahan titik netral trafo dengan menggunakan tahanan, relai ini dipasang pada penyulang 20 KV. Bekerjanya relai ini berdasarkan adanya sumber arus dari ZCT (Zero Current Transformer) dan sumber tegangan dari PT (Potential Transformers).

Sumber tegangan PT umumnya menggunakan rangkaian Open-Delta, tetapi tidak menutup kemungkinan ada yang menggunakan koneksi langsung 3 Phasa. Untuk membedakan arah tersebut maka salah satu phasa dari arus harus dibandingakan dengan Tegangan pada phasa yang lain.
Relai connections Adalah sudut perbedaan antara arus dengan tegangan masukan relai pada power faktor satu. Relai maximum torque angle Adalah perbedaan sudut antara arus dengan tegangan pada relai 400

yang

menghasilkan

torsi

maksimum.

Max. torque line

Reference V

i I

Zero torque line

RESTRAIN

v
Iv

RESTRAIN

Gambar 9.28 Diagram phasor Torsi 9.13.3. Relai gangguan hubung tanah. Relai ini berfungsi untuk mengamankan transformator gangguan hubung tanah, didalam dan diluar daerah pengaman transformator. Relai arah hubung tanah memerlukan operating signal dan polarising signal. Operating signal diperoleh dari arus residual melalui rangkaian trafo arus penghantar (Iop = 3Io) sedangkan polarising signal diperoleh dari tegangan residual. Tegangan residual dapat diperoleh dari rangkaian sekunder open delta trafo tegangan seperti pada Gambar 9.24 VRES = VAG + VBG + VCG = 3Vo

9.14. Proteksi Penyulang 20 KV Jenis Relai proteksi yang terdapat pada penyulang 20 kV adalah sebagai berikut : 9.14.1.Relai Arus Lebih ( Over Current Relai ) Relai ini berfungsi untuk memproteksi SUTM terhadap gangguan antar fasa atau tiga fasa. 9.14.2. Relai Arus Lebih berarah ( Directional OCR ) Relai ini berfungsi untuk memproteksi SUTM terhadap gangguan antar fasa atau tiga 401

fasa dan hanya bekerja pada satu arah saja. Karena Relai ini dapat membedakan arah arus gangguan. 9.14.3. Relai Hubung Tanah (Ground Fault Relay) Relai ini berfungsi untuk memproteksi SUTM atau SKTM dari gangguan tanah. Relai Beban Lebih (Over Load Relai). Relai ini dipasang pada SKTM yang berfungsi untuk memproteksi SKTM dari kondisi beban lebih. 9.14.4. Relai Penutup Balik Reclosing Relay ). Relai ini berfungsi untuk memproteksi SUTM terhadap gangguan antar fasa atau tiga fasa dan hanya bekerja pada satu arah saja. Karena Relai ini dapat membedakan arah arus gangguan. 9.14.5. Relai Frekwensi Kurang (Under Freqwency Relay) Relai ini berfungsi untuk melepas SUTM atau SKTM bila terjadi penurunan frekwensi system. 9.15. Disturbance Fault Recorder (DFR )

sistem tenaga listrik termasuk sistem proteksi serta peralatan terkait lainnya yang pada akhirnya membantu dalam analisa dan memastikan bahwa sistem telah bekerja dengan baik. DFR akan bekerja secara real time untuk memonitor kondisi listrik dan peralatan terkait lainnya pada saat terjadi gangguan, karena menggunakan sistem digital maka semua data dikonversikan ke bentuk digital dan disimpan di memori., hasil monitor tersebut akan tersimpan secara permanen dalam bentuk hasil cetakan di kertas dan data memori. Manfaat Disturbance Fault Recorder (DFR ) Mendeteksi penyebab gangguan Mengetahui lamanya gangguan ( fault clearing time ) Mengetahui besaran listrik seperti Arus (A),Tegangan(V) dan Frekuensi (F) Mengetahui unjuk kerja sistem proteksi terpasang Melihat harmonik dari sistem tenaga Listrik Melihat apakah CT normal / tidak ( jenuh) Memastikan bahwa PMT bekerja dengan baik Dokumentasi Pengembangan DFR : Time Synchronizing (GPS) Master Station Monitoring Frekuensi DC Monitoring Bagian dari DFR (Disturbance Fault Recorder) : 402

Disturbance Fault Recorder (DFR) suatu alat yang dapat mengukur dan merekam besaran listrik seperti arus ( A ), tegangan ( V ) dan frekuensi ( Hz ) pada saat sebelum, selama dan setelah gangguanDisturbance Fault Recorder ( DFR ) yang saat ini sudah merupakan suatu kebutuhan, yang dapat membantu merekam data dari

DAU (Data Acquisition Unit). Sistem Alarm ANALOG 16 Channel EVENT 32 Channel PRINTER DAU Data Acquisition Unit COMM KE MASTER DFR ALARM RELAi HANNE SYNCHR KEY BOARD & SCREEN DC POWER AC POWER EXTERNAL Gambar 9. maka kita cukup menekan tombol Enter. atau Cancel untuk membatalkan. AC/DC Power Supply Communication Channel.29 Disturbance Fault Recorder Jangan lupa kembali ke Auto setelah selesai. . Setelah ini tekan / masukkan nomor yang diinginkan kemudian tekan tombol Enter. Apabila nomor record yang akan dicetak sudahdiperagakan. Mencetak Setup Parameter DFR II harus dalam kondisi Manual Mode Tekan tombol Print Setup Tekan tombol Panah Kebawah kemudian printer akan bekerja 403 Mencetak / print out ulang Record gangguan yang pernah direkam : DFR II harus dalam kondisi Manual Mode Tekan tombol Record Select display akan tampil Record Select Tekan kunci panah kebawah. Tunggu sampai selesai mencetak. Printer akan bekerja. dengan tombol Auto Kita dapat juga memilih nomor record dengan menggunakan tombol Panah Keatas / Kebawah. display tampil : Rec No …. dan layar akan terbaca Printing.

kondisi ini disebut Automatic Mode. artinya DFR dalam keadaan tidak siap merkam. Basic Operation Switch on : Menyalakan DFR Pertama kali dinyalakan DFR II akan memeriksa keadaan didalam rangkaian elektroniknya dan menghitung Memorinya sampai 4096 KB. ataupun memanipulasikan data rekaman Dari kondisi Automatic kita dapat merubah ke kondisi manual dengan cara : Tekan tombol Manual. Lihat bagian Trouble Shooting.16. Apabila ada Alarm Indicator yang menyala. Berarti kita sudah ada pada posisi Manual dan Lampu Status Manual akan menyala. Pada posisi ini DFR dalam keadaan siap akan merekam data gangguan/fault secara otomatis. Apabila Lampu Status Indicator lain ada yang menyala. berarti ada gangguan didalam DFR.16. Misalnya : JJ : MM : SS REC …. maka lihat petunjuk bagian Trouble Shooting. 9. Setelah semuanya dalam kondisi baik. 9. atau Cancel untuk membatalkan Jangan lupa kembali ke Auto setelah selesai. kita harus kembali ke tampilan layar Manual Mode.1 Automatic Mode : Posisi DFR siap/otomatis Pada kondisi Jam dan Nomor Record tampil dilayar. Apabila kita ingin mempercepat pemeriksaan dan test memory.4.16.16. dan Status Indicator Led Auto menyala. maka secara otomatis display/peragaan di DFR II akan menampilkan Jam dan Nomor Record yang ada didalam DFR. maka seluruh lampu Alarm Indicator harus padam/tidak menyal. dengam tombol Auto. Catatan : Dalam kondisi ini Lampu Status Indicator yang menyala adalah: Auto dan Data Memory (kalau ada data ).Tekan sampai selesai mencetak. tekan tombol Panah Kebawah dan display akan menampilkan Jam dan Rec No. setelah kita selesai dengan posisi Manual mode.2 Manual Mode : Posisi manual operation : Merubah ke kondisi manual untuk dirubah / dioperasikan oleh operator / manusia Pada posisi ini kita dapat : Merubah Parameter dari DFR Melakukan pengetesan/ pemeriksaan komponen elektronis Meminta rekaman data. yaitu 404 . 15 : 06:32 REC 041 Setelah itu tekan tombol Reset Alarm Indicator. Kembali ke posisi / kondisi Automatic mode Untuk kembali ke posisi Automatic mode. 9. contoh lampu Off Line. pada display akan tampil Manual Mode. Dalam kondisi ini semua key kecuali Manual Mode dan Reset Alarm dan Sensor Target tidak dapat difungsikan. 9.

9. tekan tombol Panah Kebawah atau Cancel. Stabilitas dan sinkronisasi sistem.17. Lalu tekan tombol Auto. hal ini berarti peluang (lama dan frekuensi) konsumen terjadi padam dapat dikurangi. Penentuan dead time harus mempertimbangkan hal berikut : a.1. Kaidah Penyetelan A/R Penentuan dead time. maka pada SUTT/ SUTET tersebut dipasang auto recloser (A/R). Cara menganalisa : 1. arus dan tegangan akan menggambarkan sinusoidal ( 50 Hz ) yang sempurna. Tidak berpengaruh pada jaringan radial tetapi berpengaruh pada jaringan 405 Saluran udara tegangan tinggi (SUTT/SUTET) merupakan salah satu bagian sistem yang paling sering mengalami gangguan. Agar kesinambungan pelayanan/ suplai energi listrik tetap terjaga serta batas stabilitas tetap terpelihara maka PMT dicoba masuk kembali sesaat setelah kejadian trip diatas. maka pada layar akan tampil JAM dan Record No untuk mempercepat peragaan. dimana garisnya akan berubah menjadi terputus 9. 4. serta ratio CT dan PT. 3. sehingga dapat menimbulkan dampak pemadaman meluas serta waktu pemulihan yang lebih lama. Namun sebaliknya. maka dapat dilihat status PMT sebagai input digital yang berubah. 5. DFR akan menggambarkannya pada bagian digital. DFR akan menggambarkan pada bagian sensor digital. pengoperasian A/R secara tidak tepat dapat menimbulkan kerusakan pada peralatan. Dengan memasukan kembali PMT ini diharapkan dampak gangguan yang bersifat temporer tersebut dapat dikurangi Untuk mengurangi dampak gangguan tersebut terhadap keandalan penyediaan tenaga listrik. Auto Recloser. Pengoperasian auto-recloser diharapkan dapat meningkatkan availability (ketersediaan) SUTT/ SUTET. serta bentuk sinusoidal arus/tegangan akan berubah menjadi lebih besar atau Lebih kecil.17. Pada kondisi normal. 6. Apabila perubahan besaran analog ini diikuti dengan bekerjanya proteksi maka diikuti dengan perubahan status input digital. 2. Besaran arus dan tegangan tersebut dapat diukur dengan memperhatikan skala rekaman. Bila PMT juga bekerja. sebagian besar dari sumber . Setiap trigger karena perubahan status input digital. gangguan tersebut (sekitar 80 %) bersifat temporer[2] yang akan segera hilang setelah Pemutus Tenaga (PMT) trip. khususnya pada saat terjadi gangguan temporer.dengan menekan tombol Cancel beberapa kali(tergantung diposisi mana kita sedang berada). Setiap trigger karena besaran analog yang diluar normal.

Dead time : . 2) e. Karakteristik PMT. 406 .5 (instanteneous) pertimbangan ini tidak diperlukan. . Harus diperhitungkan yang dibutuhkan untuk peralatan proteksi. b.2 detik).05 .yang memiliki lebih dari satu sumber (pembangkit atau IBT).3 0. Selain itu pengaruh penurunan kemampuan PMT karena umur harus dipertimbangkan dalam menentukan pola dan waktu operasi ( lambat atau cepat) A/R. Waktu reset mekanik PMT (0.1 detik).lebih besar dari operating time pmt. khususnya untuk A/R cepat. namun untuk basic time waktu reset Waktu De-ionisi (detik) 0.5 s/d 1 detik.Tipikal set 0.15 0. Penentuan reclaim time. Umumnya untuk sistem hidraulik memerlukan waktu 10 detik.17 0.4.lebih kecil dari seting discrepancy dan seting GFR . d. c.0. 1) Reclaim time harus lebih lama dari waktu kerja relai proteksi. Waktu yang diperlukan oleh PMT untuk trip dan reclose harus diperhitungkan. Dead time dipilih sesuai dengan kebutuhan sistem dan keamanan peralatan.4 Tabel 9. dan waktu pemadaman busur api + waktu deionisasi udara. Waktu de-ionisasi udara Tegangan Sistem (kV) 66 110 132 220 275 400 Operating time PMT (0. waktu reset mekanik pmt.28 0. Waktu de-ionisasi udara seperti tabel 9. Kriteria Seting Untuk SPAR : 1). Karakteristik peralatan proteksi.1 0. Reclaim time harus memperhitungkan waktu yang diperlukan oleh mekanisme closing PMT agar PMT tersebut siap untuk reclose kembali.

. SUTT yang hanya satu sisi tersambung ke pembangkit maka pola yang dipilih TPAR dengan pola S/C di sisi pembangkit diseting DL/DB out. PMT trip oleh Switch On To Fault (SOTF). .Untuk sumber di satu sisi (radial double sirkit) bila tidak terdapat S/C untuk operasi manual yang terpisah dari S/C untuk A/R maka untuk keperluan manuver operasi. f. PMT trip oleh pengaman cadangan (Z2. 3) SUTT yang tersambung ke pembangkit : . OCR/GFR). g.Untuk sumber di kedua sisi maka sisi dengan fault level rendah reclose terlebih dahulu baru kemudian sisi lawannya. Dead time : lebih besar dari operating time pmt. Faktor Teknis Dalam Pengoperasian Auto Reclose (A/R) Auto Recloser tidak boleh bekerja pada kondisi.Memberi kesempatan pmt untuk kesiapan siklus O-C-O berikutnya. PMT dibuka secara manual atau beberapa saat setelah PMT ditutup secara manual.SUTT yang tersambung ke trafo dengan sambungan T. Reclaim time : . 2). waktu reset mekanik pmt. PMT trip oleh out of step protection. maka perlu ditambahkan sirkit A/R blok untuk menunda fungsi A/R setelah PMT dimasukan secara manual. sebagai berikut : a. f.A/R untuk SUTT yang kedua sisi tersambung ke Pembangkit maka pola yang dipilih TPAR (inisiate gangguan 1 fasa) dengan seting dead time lebih lama. Lama waktu tunda sirkit A/R blok akan ditentukan kemudian. Terjadi ketidak normalan peralatan teleproteksi di sisi terima Auto Reclosertidak boleh dioperasikan pada : . b. .Tipikal 40 detik. Reclaim time : Memberi kesempatan pmt untuk kesiapan siklus O-C-O berikutnya. dan waktu pemadaman busur api + waktu deionisasi udara. e. 407 . Kriteria Seting Untuk TPAR 1).2). Z3. c. - 4). reclose pertama dapat dilakukan dari sisi sumber.SKTT . d. g. Mempertimbangkan dampak terhadap kerusakan peralatan pada saat gangguan permanen maka A/R dioperasikan hanya dengan single shot.Tipikal 40 detik.Tipikal set 5 s/d 60 detik. . PMT trip oleh Circuit Breaker Failure (CBF) atau Direct Transfer Trip (DTT). Bila relai proteksi SUTT tidak dilengkapi dengan fungsi SOTF. Seting berbeda untuk kedua sisi : .

c. h. c. 408 . salah satu sisi tersambung ke unit pembangkit.kan konfigurasi jaringan seperti dibawah ini a. b. c. penutupan dua pmt yang tidak serentak i Pengoperasian High Speed Auto Recloser Pengoperasian A/R cepat dapat diterapkan bila persyaratan di bawah ini dipenuhi. sehingga pengoperasian high speed A/R 3 fasa pada SUTT/SUTET di GI pembangkit atau yang dekat pembangkit dilakukan setelah ada kepastian bahwa operasi high speed A/R 3 fasa tidak membahayakan turbin dan generator. Sistem proteksi di semua ujung saluran bekerja pada basic time/ instantenous. Jaringan radial sirkit ganda. Jaringan looping sirkit ganda. Jaringan looping sirkit tunggal. kemungkinan gagal sinkron pada saat reclose. d. c. Auto Recloser lambat untuk 3 (tiga) fasa Pemilihan pola diatas dengan mempertimbangkan batasanbatasan yang dijelaskan di bawah ini. Pemilihan pola A/R dengan waktu reclose cepat atau lambat harus mempertimbangkan persyaratan pada kedua ujung saluran antara lain a. d.Pola A/R yang dapat diterapkan adalah : Auto Recloser cepat untuk 1 (satu) fasa. Pemilihan pola single phase auto reclosing (SPAR) atau three phase auto reclosing (TPAR) dengan waktu reclose cepat atau lambat harus mempertimbang. b. karaktesitik PMT dan peralatan proteksi yang digunakan. Penerapan A/R cepat 1(satu) fasa Dapat diterapkan pada konfigurasi atau sistem berikut : a. Jaringan radial sirkit tunggal. SUTT jaringan radial sirkit tunggal atau ganda. Siklus kerja (duty cycle) dari PMT sesuai untuk operasi dengan A/R cepat. 3 (tiga) fasa dan 1+3 (satu atau tiga) fasa. SUTT jaringan looping sirkit tunggal atau ganda. Kemampuan poros turbin (terutama yang berporos panjang) dan belitan stator generator perlu diperhatikan . Pertimbangan ini menyangkut besarnya nilai setelan untuk dead time dan reclaim time. Operasi high speed A/R 3 (tiga) fasa khususnya pada sistem 500 KV (SUTET) tidak boleh diterapkan bila hasil studi menunjukan bahwa high speed reclosing akan dapat menimbulkan tegangan lebih transien yang melebihi nilai desain yang diijinkan. Faktor Yang Mempengaruhi Pola Auto Recloser Pemilihan pola single phase auto reclosing (SPAR) atau three phase auto reclosing (TPAR) dengan waktu reclose cepat atau lambat harus mempertimbangkan batas stabilitas sistem. kemungkinan reclose pada gangguan permanen. d. b. SUTET b. sebagai berikut: a.

a. Penerapan A/R cepat 3 (tiga) fasa Dapat diterapkan pada konfigurasi atau sistem berikut : SUTT jaringan radial sirkit tunggal atau ganda. mengurangi terjadinya pembebanan kritis akibat gangguan pada SUTT/SUTET maupun pada saluran interkoneksi. Dengan demikian maka pengoperasian high speed A/R 3 (tiga) fasa harus didahului dengan keyakinan (berupa hasil studi) bahwa pengoperasian A/R akan memberi manfaat yang besar dengan resiko yang kecil 409 . Pengoperasian high speed A/R 3 fasa . disamping memberikan keuntungan pada sistem yaitu memperbaiki stability margin. juga memberikan resiko berupa kemungkian terjadinya gangguan yang lebih parah bila operasi A/R pada saat ada gangguan permanen. SUTT jaringan looping sirkit tunggal atau ganda.

Pemeliharaan darurat (Emergency Maintenance) .Ground patrol .1.Pemeliharaan yang berdasar kondisi / karakter peralatan (Condition Base Maintenance / CBM) 10. mengurangi resiko kerusakan Mengembalikan kemampuan kerja peralatan Mengurangi kerugian secara ekonomis Memberi keyakinan keandalan operasinya paling sederhana hingga yang rumit.Pemeliharaan rutin (Preventive Maintenance) .BAB X PEMELIHARAAN SUTT/SUTETI BEBAS TEGANGAN Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTETI) adalah sarana instalasi tenaga listrik diatas tanah untuk menyalurkan tenaga listrik dari Pusat Pembangkit ke Gardu Induk (GI) atau dari GI ke GI lainnya (antar GI).Penggantian . Pemeriksaan Rutin Pemeriksaan rutin merupakan pemeriksaan secara visual (inspeksi): .Climb up inspection Hasil pemeriksaan merupakan data yang dapat dipakai: .2. SUTT/SUTETI merupakan peralatan buatan manusia. Peralatan ini pada dasarnya bisa rusak baik karena salah pengoperasian.Perawatan/pemeriksaan .Pengujian 10. Tujuan Pemeliharaan Mempertahankan kemampuan kerja peralatan Memperpanjang live time peralatan Menghilangkan.1.Penanggulangan dan pencegahan 410 10.2.2.Perbaikan . Pemeliharaan Rutin : Pemeliharaan rutin merupakan kegiatan / usaha yang secara periodik dilakukan untuk mempertahankan kondisi jaringan agar selalu dalam keadaan baik dengan keandalan dan daya guna yang optimal. Pengertian Pemeliharaan adalah kegiatan yang meliputi: .Evaluasi / perencanaan/ pengembangan . Beberapa jenis pemeliharaan antara lain : .Pemeliharaan Korektif (Corrective Maintenance) .2. Dalam pelaksanaannya pemeliharaan rutin terdiri dari : Pemeliharaan tahunan Pemeliharan lima tahunan 10. Jenis-jensi pemeliharaan Banyak metoda pemeliharaan yang dilakukan mulai dari yang . kesalahan saat konstruksi maupun telah melampaui masa kerjanya (life time).

Isolator dan asesorisnya .Besi Tower dan kelengkapannya . polutif industri. gempa.2. kondisi normal.2.3.Benda asing yang terdapat pada tower .2. 10. Obyek yang diperiksa adalah: .2. isolator dan kawat Melalui pemeriksaan ini diharapkan secara dini dapat ditemukan abnormaly atau kelainan-kelainan yang dapat menimbulkan gangguan.- Perbaikan modifikasi Penggantian / perubahan/ kerusakan dapat segera ditanggulangi yang pada akhirnya keandalan penyaluran tenaga listrik tetap terjaga dengan baik. Ground patrol Pemeriksaan Sistematis adalah pekerjaan pengujian yang dimaksudkan untuk menemukan kerusakan atau gejala kerusakan yang tidak dapat ditemukan atau diketahui pada saat inspeksi untuk kemudian disusun saran-saran perbaikannya. Climb up inspection adalah jenis pekerjaan pemeriksaan terhadap tower berikut perlengkapannya dilakukan oleh Climber dengan cara memanjat tower pada SUTT/SUTETI yang dalam keadaan bertegangan. pemeriksaan kondisi sambungan dengan menggunakan Infra red thermovision.1. Pelaksanaan Pemeriksaan Sistematis ini lebih luas dan lebih teliti dari pada pemeriksaan rutin. Pemeriksaan Sistematis 10. petir. Obyek yang diperiksa adalah : Kawat penghantar Ground wire Ruang bebas (Right of Way/ROW) Tower dan halamannya Lingkungan dan aktifitas masyarakat sekitarnya Climb up inspection 10. Beberapa hal yang mempengaruhi pola pemeliharaan rutin antara lain : Kondisi alam setempat polutif alami.Kawat penghantar sekitar tower . Karakteristik kerja peralatan biasanya berdasarkan buku petunjuk pabrik atau pengalaman yang terjadi 411 Ground patrol adalah jenis pekerjaan pemantauan/pemeriksaan harian terhadap jalur transmisi tanpa memanjat tower dilakukan oleh Line walker secara terjadwal. sehingga - .Ground wire sekitar tower .2. Untuk memperoleh tingkat ketelitian yang tinggi dipergunakan peralatan bantu. pertumbuhan tanaman sepanjang jalur dan disekitar jalur. Contoh dari pemeriksaan ini misalnya adalah pengujian kemampuan isolator di laboratorium.2. longsoran dan lain sebagainya.Klem pemegang kawat dan asesorisnya . pemeriksaan tegangan tembus isolator dengan corona detector.

2. longsor.2. gempa bumi. Pemeliharaan berdasarkan kondisi/karakter peralatan (CBM) Pemeliharaan ini tidak lagi berdasar waktu.2.- selama ini: isolator gelas yang sering pecah Sosial kemasyarakatan penggalian liar. Pemeriksaan jarak tower dan lendutan kawat pada kawasan luas yang mengalami longsor secara perlahan Pemeriksaan kondisi pondasi pada daerah longsoran Pemeriksaan isolator pada daerah yang sering tersambar petir Pengukuran nilai pentanahan tower pada daerah pegunungan atau musim kemarau. Pemeliharaan Darurat Pemeliharaan Darurat dilakukan karena telah terjadi kerusakan pada SUTT/SUTET yang disebabkan oleh hal-hal diluar rencana seperti : banjir. 10.7.6. pencurian : grounding – member tower dan lain sebagainya. kebakaran. Contoh SUTT / SUTET Berbagai macam pemeliharaan yang pernah terjadi di jaringan SUTT/ SUTET antara lain : a. Pemeliharaan Korektif Pemeliharaan Korektif (corrective maintenance) adalah pekerjaan pemeliharaan yang dilakukan karena peralatan mengalami kerusakan atau memerlukan penyempurnaan. - - 10.4.5. gunung meletus. namun berdasar kondisi/karakter peralatan. Pemeliharaan korektif kebanyakan terjadi karena jarang atau tidak pernah dilakukan pemeriksaan rutin. Salah satu solusinya ialah memasang tower emergency. Penggantian isolator pecah atau rusak lapisan permukaannya 412 .2. 10. Pemeliharaan 10. Contoh yang dapat dilakukan CBM adalah : Pemeriksaan isolator dan asesoris isolator maupun clamp pada daerah yang polusinya tinggi. Dalam satu tahun bisa saja dilakukan beberapa kali kunjungan atau pemeriksaan tergantung tingkat potensi gangguan. Pemeliharaan jenis ini sifatnya darurat dan memerlukan penanganan ekstra serta segera untuk mengatasinya. Kerusakan yang terjadi menjadi statistik dan dapat disimpulkan sebagai trend peralatan. Biayanya tentu saja tidak bisa direncanakan dan mungkin bisa dimasukkan dalam katagori biaya tak terduga karena memang kejadiannya diluar kendali manusia. tertabrak kendaraan dan lain sebagainya. Namun adakalanya kerusakan akibat fenomena alam yang tidak terlihat sewaktu patroli.

material pengganti maupun pendukung lainnya dan organisasi kerja 5. Ground patrol h. Penggantian lampu aviasi yang mati/rusak w. Penggantian Tension clamp konduktor u. Penggantian pentanahan tower /grounding r. Perbaikan kawat rantas d. Perbaikan kawat putus e. Pemasangan kembali / reposisi damper yang melorod ke tengah gawang v. Pemasangan pengaman halaman tower 10. Pembersihan kawat dari layanglayang g. Melakukan Analisa Keselamatan Pekerjaan dengan meninjau lapangan 3. Membuat laporan kerja 413 . Menjadwalkan pekerjaan dan persetujuannya 6. Pemeriksaan jarak bebas konduktor dengan benda di sekitarnya m. retak) j. Pembersihan isolator karena polusi c. Perbaikan spacer yang le[pas dari konduktor q. Pengelasan baut-baut tower untuk mencegah pencurian p. Penggantian asesoris / clamp yang karatan y. Pengecekan Tahanan Pembumian l.3. Prosedur Pemelihan SUTT/SUTET Langkah kerja pemeliharaan SUTT/SUTETI adalah : 1. Penebangan pohon atau antena komunikasi yang tumbang ke arah konduktor (diluar row) s. urugan tanah tapak tower) k. Melakukan persiapan pekerjaan setelah adanya persetujuan 7. Penggantian besi tower karena pencurian t. peralatan. Pondasi turun/amblas karena tanah dasar pondasi mengalami sliding/gelincir oleh arus air bawah tanah o. Pemeriksaan stabilatas pondasi tower (leveling. Perbaikan klem kawat jumper yang putus z. Membahas hasil AKP dan rencana tindak lanjut yang diperlukan 4. Pemeriksaan kelengkapan tapak tower (patok tanda batas tanah PLN. Melakukan evaluasi 9. Melaksanakan pekerjaan 8. metoda pengerjaan.b. Pengencangan klem-klem jumper f. Climb up inspection i. Mempersiapkan: SDM. Adanya laporan dari petugas lapangan maupun masyarakat atau hasil evaluasi data laporan yang masuk 2. Perbaikan tower yang mengalami deformasi / bengkok-bengkok akibat tanah sekeliling pondasi longsor n. Penyambungan kembali kawat yang putus atau rusak berat x.

1.10. berikut ini Tabel 10. Assesories isolator (pin. dll) Suspension clamp Tension clamp Ikatan isolator Armour rod 414 .3. Peralatan yang dipelihara Peralatan yang dipelihara pada saluran udara tegangan tinggi dan saluran udara tegangan ektra tinggi seperti tabel 10.1. Peralatan yang dipelihara pada saluran udara tegangan tinggi dan saluran udara tegangan ektra tinggi I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 II 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 III 1 2 3 4 5 6 7 8 Ruang Bebas / Lingkungan Jarak pepohonan thd kawat fasa Jarak bangunan thd kawat fasa Jarak pohon terhadap kawat fasa bila tumbang ke arah kawat Jarak bangunan thd kawat fasa bila roboh ke arah kawat Jarak jaring pengaman thd kawat Jarak kawat ke tanah Jarak kawat ke tiang perahu/kapal bila air pasang Kegiatan layang-layang Struktur tanah dekat tiang Tiang / Menara / Tower Konstruksi tiang Batang rangka besi Tangga / baut panjat Penghalang panjat (ACD) Plat rambu bahaya Plat nomor / pht / tanda fasa Baut sambungan rangka Indicator lamp (air traffict light) Cat / galvanis badan tiang Klem kawat grounding Kawat grounding Batang penangkal petir Alat penangkal petir lainnya Isolator Piringan isolator Arcing horn sisi tiang Arcing horn sisi kawat pht.1.

tiang Talud pengaman Kegiatan pihak lain di halaman tiang kawat penghantar Kawat fasa Peredam getaran (Vibr. damper) Spacer Midspan compression joint Repair sleeve Jumper wire Sagging Armour rod Jarak antar kawat fasa Indicator lamp (induction) Kawat Petir & Kawat Optik Kawat petir Peredam getaran (Vibr. damper) Midspan compression joint Repair sleeve Tension clamp Suspension clamp Jumper wire Sagging Armour rod Sign ball (bola pengaman) Klem sambungan ke grounding Kotak sambungan kawat optik Kawat yang turun ke kotak kwt optik 415 .9 IV 1 2 3 4 5 6 7 8 V 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 VI 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Posisi rencengan isolator Pondasi & Halaman Tiang Pondasi / chimney Kaki tiang / stub Tumbuhan di halaman tiang Pagar pengaman halaman tiang Patok batas halaman tiang Stabilitas tanah sekitar hal.

Jenis-jenis kelainan pada saluran udara tegangan tinggi dan saluran udara tegangan ektra tinggi seperti tabel 10. Jenis-jenis kelainan.3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Jenis Kelainan Amblas Andongan rendah Bahaya I Bahaya II Bahaya III Bengkok Benda asing Cat pudar Dekat jalan Erosi Hilang Karatan Kendor Kotor Kritis Longsor Mekar / rantas Melorod Miring Pecah / retak Putus Rusak Semak belukar Tertimbun Tergenang Tidak seimbang 416 .2 Tabel 10.1.1.2 Jenis-jenis kelainan pada saluran udara tegangan tinggi dan saluran udara tegangan ektra tinggi No.10.

Jenis-jenis penanggulangan Jenis-jenis penanggulangan pada saluran udara tegangan tinggi dan saluran udara tegangan ektra tinggi.3 Tabel 10. Kerusakan pada isolator Kerusakan pada isolator dapat dilihat pada gambar 10.2. seperti tabel 10.3.10.1.1.3. Contoh Abnormality Peralatan 1.1 Gambar 10.3 Jenis-jenis penanggulangan pada saluran udara tegangan tinggi dan saluran udara tegangan ektra tinggi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Ditinggikan chimneynya Dinaikkan kawatnya Dibongkar Ditebang / dipangkas Diluruskan Dibersihkan Digalvanis / dicat ulang Ditanggul Diganti Dikencangkan Dibabat Dipasang patok Dinormalkan Diarmor rod / dipress Disambung Diposisikan kembali seperti semula Diperbaiki Diperiksa Diseimbangkan 10.3.1 Kerusakan pada Isolator 417 .

3 Kerusakan pada isolator gantung 418 . Kerusakan pada menara Kerusakan pada menara dapat dilihat pada gambar 10. 2 Kerusakan pada menara 3.2 Gambar 10.3 Gambar 10. Kerusakan pada Kerusakan pada isolator gantung Kerusakan pada Kerusakan pada isolator gantung dapat dilihat pada gambar 10.2.

4 Kerusakan pada kawat pentanahan 10. Kerusakan pada kawat pentanahan Kerusakan pada kawat pentanahan dapat dilihat pada gambar 10. katrol dll Lever hoist Sling Karpet Pengait pin isolator Palu plastik Kunci-kunci ( Inggris dan pas/ring) Came along (tiang tension) Conductor lifter (tiang suspension) Shackle Peralatan bantu BV lier Sling panjang Tambang Kunci ring-pas Angle level Parang Tang kombinasi Ranging meter Obeng minus besar Stop meter (5 meter) Clinometer Palu godam 5 kilogram Theodolit Water pas Gimpole/ tiang pengangkat Sling mata itik Shackle 5/8” Alat ukur pentanahan (tahanan kaki tiang ) Gergaji besi Corona detector Mesin press hydraulic Infra red thermovision Kikir plat besar Rol meter Chain saw Teropong Pakaian kerja HT bagi koordinator dan pengendali mutu Pekerjaan Mesin potong Mesin bor Mesin las 419 . Peralatan kerja Pemeliharaan Transportasi peralatan ke-atas/ bawah : tali.3 Gambar 10.3.2.3.3.2.1. Peralatan kerja 10.

V) 3.2. SARUNG TANGAN 7. LANYARD 5. TOPI PENGAMAN 1 2 2.2.3. PAKAIAN KERJA (WERK PACK) 8 4. Peralatan K3 Grounding + stick Voltage detector Alat komunikasi / HT Buku working permit APD : Topi pengaman Kacamata UV Pakaian kerja Sabuk pengaman Lanyard Sepatu pengaman Sarung tangan Rambu-rambu peringatan Rambu K3 Kotak P3K Tandu Jas hujan Lampu penerangan 1.- Tir for Capstan winch Capstan hoist Kunci ring Kunci sok - 10. KACAMATA ULTRA VIOLET (U.5 Peralatan kerja pemeliharaan jaringan 420 . SEPATU PANJAT 8. HANDY TALKY (HT) 3 4 3 6 5 7 Gambar 10. SABUK PENGAMAN 6.

Repair sleeve 3.3. Armor rod 5. Pemeliharaan halaman tower 6.4.3. kawat penghantar.Tanggal. Pemeliharaan rangka tower 5.Kesimpulan Manfaat laporan pekerjaan : 1. Setiap beban yang akan ditanggung oleh alat kerja wajib diketahui besarannya 4.3. Data 2. Pemeliharaan ground wire 4.3. Setiap petugas wajib mengetahui Safety faktor (SF) 5.10. Setiap petugas wajib mengetahui tanda-tanda kerusakan pada alat kerja 6. Pemeliharaan Peralatan Transmisi Pemeliharaan peralatan transmisi wajib mengikuti prosedur kerjanya atau Instruksi Kerja. Majun 9. Petunjuk Pemeliharaan Peralatan 10.Pelaksanaan/penerapan K3 . Bahan analisa untuk pebaikan dan pengembangan 3. Material pengganti existing: isolator.Biaya yang telah dikeluarkan .Tata laksana kerja . Setiap alat kerja tidak boleh digunakan kecuali sebagai fungsinya 10.2. agar tercapai satu kesepakatan untuk meyelesaikan pekerjaan secara runtut/bertahap. tertib. BBM mesin 6. Minyak WD4 10.Saran dan usulan untuk perbaikan . jam pelaksanaan . Minyak hydraulic 7.1. Pemeliharaan isolator 2. Pemeliharaan kawat penghantar 3.Kendala yang dihadapi .Organisasi kerjanya . Pemeliharaan ruang bebas 10. hari. lancar dan aman. Meterial Pemeliharaan 1.Solusi yang telah diterapkan . Mid span joint 4.Personel yang terlibat .Masalah lingkungan . Setiap alat kerja wajib diketahui Safe Working Loadnya (SWL) 3. Pelaporan Pekerjan Pemeliharan Pekerjaan pemeliharaan yang telah diselesaikan harus dilaporkan ke pemberi tugas yang memuat : . Setiap peralatan kerja yang berupa mesin maupun alat ukur wajib mengikuti buku instruksi yang dikeluarkan oleh pabrikan 2.3. dan lain sebagainya 2.3.Peralatan yang dipakai .2.Proses persiapan . besi diagonal.3. Sakapen 8. Pemeliharaan alat kerja. Lain-lain 421 .3. ground wire. Penilaian unjuk kerja 4.Material yang digunakan . 1. Instruksi Kerja transmisi antara lain: Peralatan 1.3.

Inc New.Inc New.York Stepen L.P ( 2002) Basic Electronic Mc Graw Hill Colage New. M . (2005) Electrical Transformer John Wiley & Sons.York Panagin.Inc New.York Oswald (2000) Electric Cables for Pewer Transmision John Wiley & Sons. (1996) Electric Power Distribution and Transmision Prantice Hall New. (2007) Transmisi Tenaga Listrik Padang Diklat PLN Pusat .York Paul M Anderson Sons.York Hutauruk (2000)Tranmisi Daya listrik Erlangga Jakarta.York John D.R. (2005) Transmisi Tenaga Listrik Jakarta Fabio Saccomanno (2003) Electric Power System and Control John Wiley & Sons.Lampiran : A DAFTAR PUSTAKA Bernad Grad ( 2002) Basic Electronic Mc Graw Hill Colage New.Inc New.Inc New.Inc (2000) Analisis of Faulted Power System John Wiley & A-1 . McDonald (2003) Electric Power Substation Engginering CRC Press London Jemes A.York David E Johnson (2006) Basic Electric Circuit Analisis John Wiley & Sons. Herman New.Momoh (2003) Electric Power System CRC Press London Luces.York Diklat PLN Padang .York Stan Stawart (2004) Distributet Swichgear John Wiley & Sons.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->