P. 1
an Dan Pemilihan Elemen Mesin

an Dan Pemilihan Elemen Mesin

|Views: 1,122|Likes:
Published by Eridson Vitado Hans

More info:

Published by: Eridson Vitado Hans on Dec 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/01/2013

pdf

text

original

1

KATA PENGANTAR


Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT, karena berkat rahmat dan
karunianya kami dapat menyelesaikan makalah ini sebagai tugas akhir dari mata
kuliah Mechanical Design.
Tugas ini diperlukan sebagai evaluasi akhir dari teori – teori mata kuliah
Mechanical Design yang telah diberikan. Dengan begitu mahasiswa dapat
mengetahui secara langsung aplikasinya di lapangan.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada pihak-pihak yang telah
membantu sehingga makalah ini dapat terselesaikan, diantaranya dosen
pembimbing kami, Pak Jos Istianto, dan pihak lain yang tak dapat kami sebutkan
satu persatu.
Semoga isi makalah ini dapat berguna bagi pembaca dalam memberikan
informasi yang dibutuhkan berkaitan dengan Perancangan Mekanikal. Terima
kasih.






Penyusun




2
DAFTAR ISI



Kata Pengantar
Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penyusunan
1.2 Ruang Lingkup Masalah
1.3 Metode Pengumpulan Data
1.4 Data dan Asumsi

BAB II PERENCANAAN DAN PEMILIHAN ELEMEN MESIN
2.1 Shaft (poros)
2.2 Bearing (bantalan)
2.3 Chain (rantai)

BAB III PENUTUP
3.1 Analisa
3.2 Kesimpulan

Lampiran

Daftar Pustaka






3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penyusunan

Pada umumnya didalam aktivitas perkuliahan setiap hari, seorang dosen
memberikan sebuah teori kepada para mahasiswa. Sehingga apa yang diperoleh
para mahasiswa hanyalah terbatas pada apa yang disampaikan dosen pada saat
perkuliahan dan mungkin beberapa tambahan pengetahuan karena keaktifan
mahasiswa dalam membaca buku diluar jam perkuliahan. Hal inilah yang nantinya
akan berdampak pada kualitas para mahasiswa dalam menyelesaikan suatu
permasalahan engineering yang akan terlihat pada waktu yang akan datang.
Apalagi seperti yang kita ketahui, bahwa sekarang ini persaingan dunia kerja
semakin ketat dan juga semakin pesatnya perkembangan teknologi menuntut
adanya kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing dengan lulusan
universitas dalam dan luar negeri.
Oleh karena beberapa hal tersebut diatas, maka diperlukan peningkatan
kualitas para lulusan sarjana yang nantinya diharapkan mampu bersaing didalam
dunia kerja. Salah satu cara peningkatan kualitas lulusan sarjana, khususnya
sarjana Teknik adalah dengan mengaplikasikan teori-teori yang diberikan dalam
perkuliahan untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Dan
salah satu contoh aplikasi teori yang diperoleh dari perkuliahan adalah laporan
yang telah kami susun dalam makalah ini.
Sehingga dengan adanya pengenalan mahasiswa dalam pengaplikasian teori-
teori yang mereka peroleh secara tidak langsung akan memberikan pengalaman
serta kemampuan kepada mahasiswa dalam memecahkan suatu permasalahan
nyata dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan bidang keahlian mereka
masing-masing. Dengan semakin meningkatnya kemampuan mahasiswa dalam
memecahkan suatu pemasalahan maka secara tidak langsung akan meningkatkan
pula kualitas sumber daya manusia yang diharapkan para lulusannya mampu
bersaing dalam dunia kerja seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin
pesat.
4
1.2 Ruang Lingkup Masalah

Pada makalah yang kami susun ini pembahasan dititik beratkan pada
permasalahan yang terdapat pada sepeda motor yang berjenis Honda Sport 160cc
( Mega Pro ). Kemudian dari sepeda motor Honda sport tersebut, pembahasan
kami titikberatkan pada perhitungan tiga komponen yang terdapat pada roda
belakang sepeda motor Honda Mega Pro. Ketiga komponen yang kami bahas
adalah poros ( shaft ), Rantai ( chain ), dan juga bantalan ( bearing ). Kemudian
dari dari poros (shaft) dilakukan perhitungan mengenai gaya-gaya yang bekerja
dengan beberapa kondisi asumsi, jenis material yang dipakai sebagai bahan poros,
momen aksial, dan beberapa perhitungan yang lainnya. Pada rantai (chain)
dilakukan perhitungan mengenai kecepatan sudut pada sprocket, perbandingan
variasi kecepatan, dan juga pemilihan rantai rol. Kemudian pada bearing
dilakukan perhitungan mengenai masa pakai bearing, beban dinamik, serta faktor
kecepatan.

1.3 Metode Pengumpulan Data

Pada makalah yang kami susun ini, perhitungan dimulai dengan
pengumpulan data-data yang dibutuhkan dalam perhitungan ketiga komponen
tersebut. Untuk mendapatkan hasil perhitungan yang akurat dan maksimal, kami
melakukan beberapa metode pengumpulan data yang antara lain tersebut dibawah
ini :
( i ) Pengukuran langsung pada benda yang akan dilakukan perhitungan. Pada
shaft dilakukan pengukuran pada panjang dan diameter. Pada rantai
dilakukan pengukuran pada pitch, panjang rantai (jumlah pitch), diameter
roller. Pada bearing dilakukan pengukuran pada diameter lingkaran dalam
sampai lingkaran terluar.
( ii ) Mengumpulkan data yang terdapat pada buku referensi. Pada metode ini
kami menggunakan beberapa buku referensi, antara lain : buku Hamrock,
buku Sularso, dan beberapa buku lainnya.
5
( iii ) Metode polling. Metode ini kami lakukan dalam memperoleh data berat
rata-rata dari tiap orang yang nantinya dipakai untuk perhitungan beban
sepeda motor.

1.4 Data Dan Asumsi






Sp e si f i k a si Te k ni s
Panjang X lebar X tinggi 2.033 x 754 x 1.062 mm
Jarak sumbu roda 1.281 mm
Jarak terendah ke tanah 149 mm
Berat kosong 114 kg
Tipe rangka Pola Berlian
Tipe suspensi depan Teleskopik
Tipe suspensi belakang
Lengan ayun dan peredam kejut dapat disetel pada 5
posisi
Ukuran ban depan 2,75 - 18 - 42P
Ukuran ban belakang 3,00 - 18 - 47P
Rem depan Tipe cakram hidrolik, dengan piston ganda
Rem belakang Tromol
Kapasitas tangki bahan bakar 12,4 liter (cadangan 2,3 liter)
Tipe mesin 4 Langkah OHC, pendinginan udara
Diameter x langkah 63,5 x 49,5 mm
Volume langkah 156,7 cc
Perbandingan kompresi 9,0 : 1
Daya maksimum 13,8 PS / 8.500 RPM
Torsi maksimum 1,3 kgf.m / 6.500 RPM
Kapasitas minyak pelumas mesin 0,9 liter pada penggantian periodik
Kopling Manual, tipe basah dan pelat majemuk
Gigi transmsi 5 kecepatan, bertautan tetap
Pola pengoperan gigi 1-N-2-3-4-5
Starter Pedal dan elektrik
Aki 12 V - 5 Ah
Busi ND X 24 EP-U9 / NGK DP8EA-9
Sistem pengapian CDI-DC, Baterai
Jenis rantai mesin Silent chain
Konsumsi bahan bakar
51,4 km / liter pada kecepatan 50 km/jam (standard
pabrik)
Sumber : www.astra-honda.com
6
Simplifikasi dilakukan dengan menganggap motor sebagai suatu rigid body
yang ditopang oleh roda sebagai tumpuan.



Penyederhanaan dari body mot or


Front
















Front







Roda yang menopang mot or di asumsi kan sebagai t umpuan rol

Dalam perancangan poros roda belakang diambil kondisi ekstrim pada saat
roda motor depan terangkat sebesar 45º sehingga motor hanya bertumpu pada roda
belakang.
Dalam perhitungan, kami mengasumsikan bahwa sepeda motor sedang
dinaiki oleh dua orang yang beratnya masing-masing adalah 60 kg (data didapat
dari hasil poling terhadap 20 orang penghuni asrama UI Depok).
7
Dalam perhitungan beban yang mengenai poros, berasal dari besarnya reaksi
tumpuan yang ada pada roda akibat beban motor (berat kosong motor ditambah
berat bahan bakar) dan beban penumpang. Nilai reaksi tumpuan ini kemudian
dikalikan dengan sudut kemiringan motor dan kemiringan shock-absorber
sehingga dihasilkan beban pada shock-absorber. Beban inilah yang kemudian
dibagi menjadi dua sebagai beban yang mengenai poros. Karena shock-absorber
memiliki kemiringan terhadap poros, maka gaya/beban ini diuraikan dalam arah x
dan y.
Dalam penghitungan bearing, beban maksimal yang digunakan adalah
resultan dari reaksi tumpuan terbesar yang dihasilkan pada perhitungan
sebelumnya. Bearing hanya dihitung untuk bearing yang terkena gaya yang
terbesar saja. Pemilihan bearing didasarkan pada katalog SKF.
Untuk perhitungan rantai, dipakai data sebagai berikut;
z
1
= Jumlah gigi sproket kecil = 12
z
2
= Jumlah gigi sproket besar = 44
ω
1
= Kecepatan sudut sproket kecil = Torsi maximum = 6.500 rpm
Jarak sumbu kedua sproket telah diketahui sebesar ≈ 530 mm.













8


BAB II DASAR TEORI

A. Poros (Shaft)
Poros (Shaft) merupakan salah satu elemen pada mesin yang berputar maupun
tetap(stationary) yang biasanya mempunyai bentuk silinder dengan penampang
melingkar (diameter) yang lebih kecil dari pada panjangnya dan merupakan tempat bagi
elemen lain ditempatkan (mounted) disana, seperti elemen transmisi daya; roda gigi
(gear), pulley, belt, rantai (chain), flywheels, sprocket dan juga bentalan bearing (laher).










Poros roda belakang honda-megapro

Beban yang terjadi pada poros dapat berupa bending, tranverse, torsi, dan juga
beban axial (tarik-tekan).
Dalam mendesain poros, beberapa faktor yang harus diperhatikan yaitu faktor kekuatan
dengan menggunakan pandekatan yield atau fatigue sebagai kriterianya; defleksi; dan
juga critical speed dari poros yang akan kita disain.

Beberapa mesin elemen yang digabungkan( mounted) di poros menghasilkan
beban pada arah transversal (tegak lurus terhadap sumbu poros). Oleh karena itu,
bending moment terjadi di poros. Poros yang “membawa” satu atau lebih elemen mesin
9
I
Mc
x
= 
64
4
d
I

=
yang lain harus didukung (ditumpu) oleh bearings. Untuk kepentingan desain, maka
bearing tersebut harus mampu menahan batas maximum dari bending yang terjadi pada
poros.

Desain poros kali ini, kelompok kami menghitung poros roda belakang dari
motor honda-MegaPro 160 cc dengan spesifikasi terlampir pada bagian perhitungan
poros. Poros pada roda belakang ini hanya berfungsi untuk menahan beban yang terjadi
pada motor dan tidak mengalami perputaran. Atau dengan kata lain merupakan jenis
stationary shaft, sehingga tidak mengalami beban torsi, dan juga kami mengabaikan
critical speed.

Dalam melakukan perhitungan kali ini prosedur umum yang kami gunakan yaitu:
1. Membuat free body diagram dari model beban yang sudah disimplifikasi dari
keadaan real

2. Menggambar bending moment diagram dalam arah x-y dan x-z, dan mencari
resultan dari gaya tersebut yang terjadi pada seluruh bagian poros
Untuk perhitungan bending digunakan persamaan


Persamaan 2(persamaan 11.2 buku hamrock hal 428)

dengan : σ
x
: bending moment (N/m
2
)
M : moment maksimum (Nm)
c : jarak dari sumbu netral poros ke bagian terluar (jari-jari) (m)
I : inersia dari poros (m
4
)
Inersia dari poros yang berbentuk poros dapat dihitung dengan persamaan


persamaan 2(persamaan 11.4 buku hamrock hal 428)
d : diameter poros (m)

10
2
2
2 , 1
2 2
xy
x x

 
  + |
.
|

\
|
± =



Selanjutnya dapat dihitung principal normal stress yang terjadi pada poros dengan :



persamaan 3(persamaan 11.7 buku hamrock hal. 428)

dengan : σ
1
= bending maksimum (Pa)
σ
2
= bending minimum (Pa)
σ
x
= bending yang terjadi dari persamaan 1 (Pa)
τ
xy
= tegangan geser (Pa)

3. Mencari bahan yang digunakan dalam poros menggunakan analisa prediksi
kegagalan DET , karena pada umumnya bahan yang digunakan sebagai poros
yaitu bahan yang memiliki sifat ductile (metal).

Poros biasanya terbuat dari baja batang yang ditarik dingin dan kemudian
dilakukan finishing agar mencapai kekuatan maksimum bahan, baja karbon
konstruksi mesin yang dihasilkan dari baja yang dioksidasikan dengan
ferrosilikon dan dicor; kadar karbonnya terjamin. Meskipun demikian, bahan
poros jenis ini masih dapat mengalami deformasi karena tegangan yang kurang
seimbang; misalnya jika diberi alur pasak. Tetapi permukaan dingin membuat
material bertambah keras dan kuat.

Poros yang digunakan untuk meneruskan putaran yang tinggi dan beban
yang berat umumnya dibuat dari baja paduan dengan pengerasan yang tahan
terhadap keausan. Sekalipun demikian pemakaian bahan poros dengan baja
paduan khusus tidak selalu dianjurkan jika hanya karena alasan putaran tinggi
dan juga beban yang berat. Dalam hal seperti ini, perlu digunakan baja dengan
perlakuan panas yang sesuai untuk memperoleh kekuatan yang dibutuhkan.
11
2 2 3
4
3
32
T M
S
n
d
y
s
+ =

3
1
2 2
32

|
|
.
|

\
|
+ +
|
|
.
|

\
|
+ =
a fs
e
y
m a f
e
y
m
y
s
T K
S
S
T M K
S
S
M
S
n
d



Bahan yang ingin dicari tahu didapatkan dari besarnya yield strength
(Sy) dari bahan tersebut dan kemudian mencocokkan nilainya dengan nilai yang
terdapat di tabel material.

Besarnya S
y
suatu bahan dapat diketahui dengan menggunakan persamaan:



Persamaan 4(persamaan 11.13 buku hammrock 429)
Dengan : n
s
: safety factor
S
y
: yield strength (Pa)
M : Moment (Nm)
T : Torsi ( Nm)

Selanjutnya, untuk analisa terhadap beban dinamis (cycles loading) dapat
digunakan persamaan





Persamaan 4 (persamaan 11.35 buku hamrock hal 435)

d : diameter minimum untuk menahan beban dinamis (m)
n
s
: safety factor
S
y
: Yield Strength (Pa)
M
m
: Momen mean (rata-rata dari beban dinamis) (Nm)
S
e
: Endurance limit of material (Pa)
K
f
: Fatigue stress consentration factor
M
a
: Momen alternating (Nm)
12
T
m
: Torsi mean (rata-rata) (Nm)
T
a
: Torsi alternating (Nm)
B. Bearing ( Ball Bearing )
Bearing adalah elemen mesin yang menumpu poros berbeban, sehingga putaran
atau gerakan bolak-baliknya dapat berlangsung secar halus, aman, dan mempunyai masa
pakai yang lama. Bearing harus cukup kokoh untuk memungkinkan poros serta elemen
mesin lainnya bekerja dengan baik. Jika bearing tidak berfungsi dengan baik maka
kinerja seluruh sistem juga akan menurun atau tak dapat bekerja dengan semestinya.
Jadi, bearing dalam permesinan dapat disamakan peranannya dengan pondasi pada
sebuah bangunan.

Klasifikasi Bearing
Bearing dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
(1). Atas dasar gerakan bearing terhadap poros
a. Bearing luncur. Pada bearing jenis ini terjadi gesekan luncur antara poros dan
bearing karena permukaan poros ditumpu oleh permukaan bearig dengan
perantaraan lapisan pelumas.
b. Bearing Gelinding (ball bearing). Pada bearing ini terjadi gesekan gelinding
antara bagian yang berputar dengan yang diam melalui elemen gelinding seperti
bola, rol jarum, dan rol bulat.
(2) Atas dasar arah beban terhadap poros
a. Bearing radial. Arah beban yang ditumpu bearing ini adalah tegak lurus sumbu
poros.
b. Bearing aksial. Arah beban bearing ini sejajar dengan sumbu poros.
c. Bearing gelinding khusus. Bearing ini dapat menumpu beban yang arahnya
sejajar dan tegak lurus sumbu poros.

Pada tugas akhir ini akan menitikberatkan pada bearing gelinding ( ball bearing ).

Bantalan gelinding mempunyai keuntungan dari gesekan gelinding yang sangat
kecil dibandingkan dengan bantalan luncur. Pada bearing jenis ini elemen bola dipasang
diantara cincin luar dan cicnin dalam. Dengan memutar salah satu cincin tersebut, bola
13
akan membuat gerakan gelinding sehingga gesekan di antaranya akan jauh lebih kecil.
Untuk bola, ketelitian tinggi dalam bentuk dan ukuran merupakan keharusan. Karena
luas bidang kontak antara bola dengan cincinnya sangat kecil maka besarnya beban
persatuan luas atau tekanannya menjadi sangat tinggi. Dengan demikian bahan yang
dipakai harus mempunyai ketahanan dan kekerasan yang tinggi.

Kelakuan Pada Bantalan Gelinding
Diameter poros d (mm) dikalikan dengan putaran per menit n (rpm) disebut harga
d.n. Harga ini untuk suatu bantalan mempunyai batas empiris yang besarnya tergantung
pada macmnya dan cara pelumasannya. Bantalan bola alur dan bantalan bola sudut serta
bantalan rol silinder pada umumnya dipakai untuk putaran tinggi; bantalan rol kerucut
untuk putaran sedang; bantalan aksial untuk putaran rendah. Untuk bantalan yang
diameter dalamnya dibawah 10 mm, atau lebih dari 200mm, terdapat harga-harga yang
lebih rendah. Dalam hal pelumasan dengan gemuk, harga-harga batas tersebut adalah
untuk umur gemuk 1000 jam.

Nomor Nominal Bantalan Gelinding
Ukuran utama bantalan gelinding adalah diameter lubang, diameter luar, lebar, dan
lengkungan sudut. Pada umumnya, diameter lubang diambil sebagai patokan dengan
diameter luar dan dalam digabungkan.
Nomor nominal bantalan gelinding terdiri dari nomor dasar dan pelengkap. Nomor
dasar yang terdapat merupakan lambing jenis, lambing ukuran( lambing lebar, diameter
luar), nomor diameter lubang, dan lambing sudut kontak.
Lambang-lambang pelengkap meliputi lambang sangkar, lambang sekat, bentuk
cincin, pemasangan, kelonggaran, dan kelas. Lambang jenis menyatakan jenis bantalan.
Baris tunggal alur dalam diberi tanda 6; rol silinder diberi tanda huruf seperti N, NF,
dan NU, yang menyatakan macam kerahnya.
Lambang ukuran menyatakan lebar untuk bantalan radial dan tinggi untuk
bantalan aksial; dapat juga menyatakan diameter luar dari bantalan-bantalan tersebut.
Untuk bantalan roda radial tidak ada lambing lebar. Diameter membesar dalam urutan;
7,8,9,0,1,2,3, dan 4. Lambang diameter luar 0,2, dan 3 umumnya yang banyak dipakai.
14
Lambang diameter luar 0 dan 1 menyatakan jenis beban sangat ringan; 2 jenis beban
ringan; 3 jenis beban sedang; dan 4 jenis beban berat.
Nomor diameter lubang dinyatakan dengan dua angka. Untuk bantalan yang
berdiameter 20-500 mm, kalikanlah dua angka lambang tersebut dengan 5 untuk
mendapatkan diameter lubang yang sebenarnya (dalam mm). Nomor tersebut bertingkat
dengan kenaikan sebesar 5mm tiap tingkatannya. Untuk diameter lubang dibawah
20mm, nomor 00 menyatakan 10mm; 01, 12mm; 15mm; dan 03,17mm diameter
lubang, Untuk diameter lubang dibawah 10mm, nomor tanda sama dengan diameter
lubangnya.








Kapasitas Nominal Bantalan Gelinding
Ada dua macam kapasitas nominal, yaitu kapasitas nominal dinamis spesifik dan
kapasitas nominal statis spesifik.
Misalkan sejumlah bantalan membawa beban tanpa variasi dalam arah yang tetap.
Jika bantalan tersebut adalah bantalan radial, maka bebannya adalah radial murni,
Cincin luar diam dan cincin dalam berputar. Jika bantalan tersebut adalah bantalan
aksial, maka kondisi kondisi bebannya adalah aksial murni, satu cincin diam dan cincin
yang lain berputar. Jumlah putaran adalah 1.000.000 (atau 33.3 rpm selama 500 jam).
15
Setelah menjalani putaran tersebut, jika 90% dari jumlah bantalan tersebut tidak
menunjukkan kerusakan karena kelelahan oleh beban gelinding pada cincin atau elemen
gelindingnya, maka besarnya beban terse x 3.647 Dbut dinamakan kapasitas nominal
dinamis spesifik dan umur yang bersangkutan disebut umur nominal.
Jika bantalan membawa beban dalam keadaan diam dan pada titik kontak yang
menerima tegangan maksimim besarnya deformsi permanen pada elemen gelinding
ditambah besarnya deformasi cincin menjadi 0.0001 kali diameter elemen gelinding,
maka beban tersebut dinamakan kapasitas nominal statis spesifik. Kedua macam beban
diatas merupakan factor dasar yang pertama dalam pemilihan bantalan. Untuk
menghitung besarnya kapasitas nominal dinamis spesifik dapat dihitung dengan rumus
sebagai berikut :
- Untuk diameter bola kurang dari atau sama dengan 25.4 mm
C = f
c
( i cos )
0 ,7
Z
2/3
D
a
1,8


- Untuk diameter bola lebih dari 25.4 mm
C =f
c
( i cos )
0 ,7
Z
2/3
x 3.647 D
a

1,4


- Untuk bantalan rol
C = f
c
( il
a
cos  )
7/9
Z
3/4
D
a
29/27


Dimana : C = kapasitas nominal spesifik
i = Jumlah baris bola dalam satu bantalan
 = Sudut kontak nominal
Z = Jumlah bola dalam tiap baris
D
a
= Diameter bola
f
c
= Faktor yang besarnya tergantung pada jenis, kelas ketelitian, dan
bahan bagian-bagian bantalan
l
a
= Panjang efektif rol

Perhitungan Umur Bearing
16
Umur nominal L ( 90% dari jumlah sample, setelah berputar satu juta putaran,
tidak memperlihatkan kerusakan karena kelelahan gelinding ) dapat ditentukan sebagai
berikut:

Jika C (kg) menyatakan beban nominal dinamis spesifik dan P (kg) beban ekivalen
dinamis, maka factor kecepatan f
n
adalah ;

Untuk bantalan bola f
n
=
3 . 1
3 . 33
|
.
|

\
|
n

Untuk bantalan rol, f
n
=
10 / 3
3 . 33
|
.
|

\
|
n


Faktor umur adalah :
Untuk kedua bantalan, f
n
= f
n
P
C


Umur nominal L
h
adalah :
Untuk bantalan bola, L
h
= 500 f
3
h

Untuk bantalan rol, L
h
= 500 f
10/3
h


Dengan bertambah panjangnya umur karena adanya perbaikan besar dalam mutu
bahan dan arena tuntutan keandalan yang lebih tinggi, maka bantalan modern
direncanakan dengan L
h
yang dikalikan dengan factor koreksi. Jika L
n
menyatakan
keandalan umur (100-n)(%), maka :

L
n
= a
1
.a
2.
a
3.
L
h


Dimana :
a
1
= Faktor keandalan; a
1
: 1 jika keandalan 90% dipakai seperti biasanya,
atau 0.21 bila keandalan 99% dipakai.
a
2
= Faktor bahan. a
2
: 1 untuk bahan bantalan yang dicairkan secara
terbuka, dan kurang lebih = 3 untuk baja bantalan de-gas hampa.
17
a
3
= Faktor kerja. a
3
= 1 untuk kondisi kerja normal, dan kurang dari satu
untuk hal-hal berikut :

i. Bantalan bola, dengan pelumasan minyak berviskositas 13 cSt
atau kurang.
ii. Bantalan rol, dengan pelumasan minyak berviskositas 20 cSt atau
kurang.
iii. Kecepatan rendah, yang besarnya sama dengan atau kurang dari
1000 rpm dibagi diameter jarak bagi elemen gelinding.

Faktor Beban f
w

1. Untuk putaran halus tanpa beban tumbukan (motor listrik)
F
w
=1 – 1.1

2. Untuk kerja biasa ( roda gigi reduksi, roda kereta )

F
w
= 1.1 – 1.3

3. Untuk kerja dengan tumbukan ( penggiling rol, alat-alat besar )

F
w
= 1.2 – 1.5

Jika beban maksimum dapat ditetapkan, maka f
w
dapat diambil sama dengan 1.
Beban Rata-rata P
m



P
m
=
p
m n
p
n n n
p
n t t
Pp n t P n t
) ... (
....
1
1 1 1
+ +
+ +


n
m
= (t
1
n
1
+….+t
n
n
n
)/(t
1
+…+t
n
)

Jika frekuensi masing-masing putaran dinyatakan sebagai t
1
/∑t = o
1
, t
2
/∑t = o
2
,
dan seterusnya, maka :

P
m
=
p
m
p
n n n
p
n
p n P n   + +...
1 1 1

Bila putaran tetap, maka

18
P
m
=
p
n
p
n
p
P P   + +...
1 1

Dimana p = 3 untuk bantalan bola, dan 10/3 untuk bantalan rol. Harga p = 3 diatas
diperoleh dari percobaan, sedangkan harga 10/3 ditetapkan atas dasar studi oleh banyak
peneliti.

C. Roller Chain (Rantai)
Roller chain (rantai) merupakan komponen mesin yang digunakan untuk
meneruskan power (daya) dari mesin melalui perputaran sprocket pada saat yang sama.
Rantai mengait pada gigi sprocket dan meneruskan daya tanpa slip; jadi menjamin
putaran daya yang tetap. Rantai sebagai penerus daya mempunya keuntungan -
keuntungan seperti: mampu meneruskan daya yang besar karena memiliki kekuatan
yang besar, memiliki keausan kecil pada bantalan, dan mudah untuk memasangnya..
Roller chain juga mempunyai efisiensi yang tinggi sehingga bagus digunakan dalam
komponen mesin.



Dipihak lain, rantai juga memiliki kekurangan, yaitu; variasi kecepatan yang tidak
dapat dihindari karena lintasan busur pada sprocket yang mengait mata rantai, suara dan
juga getaran yang ditimbulkan karena tumnukan antara mata rantai dan kaki-kaki
sprocket, dan juga perpanjangan rantai karena keausan pena dan bus yang diakibatkan
gesekan yang terjadi pada sprocket.




19

÷
+
+
+ =
Pt
Cd
N N N N
Pt
Cd
Pt
L
2
2
4
) 1 2 (
2
2 1 2



Pada umumnya rantai terbagi atas dua jenis; rantai rol (roler chain), dan rantai gigi
(gear chain). Pada perhitungan kali ini, kelompok kami melakukan perhitungan pada
rantai motor honda mega pro 160 cc yang merupakan bentuk roler chain rangkaian
tunggal. Rantai jenis ini biasanya dipakai bila diperlukan transmisi yang positif( tanpa
slip) dengan kecepatan mencapai 600 m/min, tanpa pembatasan bunyi dan juga harga
yang murah.
Pada roller chain ini sangat berhubungan dengan komponen sprocket. Sehingga
untuk menghitung panjang jarak pusat sprocket besar dengan sprocket kecil dapat
digunakan dengan data-data yang diperoleh pada roller chain. Kemudian begitu juga
sebaliknya, untuk menghitung panjang rantai (chain length) diperlukan data-data dari
sprocket. Panjang ranrai (chain length) dapat dihitung dengan rumus :





(persamaan 18.26 buku hamrock halaman 851)

dengan :
L = Chain length (m)
C
d
= Center distance (m)
N
1
= Jumlah gigi sprocket kecil
N
2
= Jumlah gigi sprocket besar
P
t
= Pitch

Salah satu faktor penting yang mempengaruhi kelicinan pada saat pengoperasian
roller chain, khususnya pada kecepatan yang tinggi adalah Chordal Rise yang dapat
dicari dengan rumus :

r
c
= r cos 
r
2
2
2
B
A A
Pt
Cd
÷ + =
persamaan 18.23 buku hamrock hal 851

sehingga
∆r = r- r
c
= r ( 1- cos 
r
) = r [ 1 – cos (
N
180
) ]
persamaan 18.24 buku hamrock hal 851


Kemudian dengan menggunakan hubungan antara sprocket dan roller chain dapat
dihitung jarak antara pusat sprocket besar (belakang) dengan pusat sprocket kecil (pada
mesin) atau biasa disebut Center Distance. Besarnya nilai center distance dapat dihitung
dengan rumus :



persamaan 18.23 buku hamrock hal 851

Dimana :
A =
2
2 1 N N
Pt
L +
÷
B =
 2
1 2 N N ÷

21
2 1
a a h h
p pr
=
Untuk mencari nilai center distance, pada umumnya direkomendasikan nilai
Pt
Cd
berada
diantara 30 dan 50 pitch.

Kemudian pada rantai juga dapat diukur besarnya kecepatan dengan menggunakan
rumus :

U
1
=
12
1 1
D N
a

;

U
1
=
12
1
N P N
t a


persamaan 18.30;18.31 buku hamrock hal 852

Dimana : N
a1
= Speed of member 1, rpm

Daya yang dibutuhkan untuk menggerakkan sprocket pada rantai dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan




persamaan 18.32 buku hamrock hal 852
dengan :
h
p
: daya yang ditransmisikan (dapat dilihat pada tabel 18.11 buku hamrock hal 853)
a
1
: service faktor (dapat dilihat pada tabel 18.12 buku hamrock hal 854)
a
2
: multiple strand factor (dapat dilihat pada tabel 18.13 buku hamrock hal 854)








22


BAB III PERENCANAAN DAN PEMILIHAN
ELEMEN MESIN


A. Perhitungan Poros ( Shaft )

480 N pada masing -
masing shock breaker

30°
Gambar dari samping


R
Bx
dan R
Cx


R
By
Dan R
Cy


F
y 480 N

30°
D


F
x
R
Cx
C

F
y 480 N

R
Bx
30° B


R
Cy


A

F
x


R
By



Gaya pada Shock-Absorber diuraikan dalam arah x dan y
F
y
¬ F
y
= 480

Cos 30
o
F
R
= 480 N

= 415,692 N 30°

23
¬ F
x
= 480 Cos 60
o

= 240 N F
x
 Gaya-gaya yang Bekerja pada Poros dalam Arah y

415,692 N 415,692 N


A B C D


0,048 0,0605 0,052
R
By
0.6285 m R
Cy


¬ 0 = E
x
F
¬ 0 = E
y
F
831,384 – R
By
– R
Cy
= 0
R
By
+ R
Cy
= 831,384 N
¬ 0 = E
B
M
415,692 ( 0,048 ) - R
Cy
( 0,0605 ) + 415,692 ( 0,1125 ) = 0
R
By
= 388,208 N
R
Cy
= 443,176 N

- Gaya-gaya Dalam
1). Ruas A-B ( 0 s x s 0,048 )
415,692 N V

A N
M

X

¬ 0 = E
x
F
¬ 0 = E
y
F
415,692 + V = 0
V = - 415,692 N
¬ 0 = E
X
M
24
415,692 x + M = 0
M = - 415,692 x

2). Ruas B-C ( 0,048 s x s 0,1085 )
415,692N V
B
A N
R
By
M

x


¬ 0 = E
x
F
¬ 0 = E
y
F
415,692 – 388,208 + V = 0
V = - 27,484N
¬ 0 = E
X
M
415,692 x – 388,208 ( x – 0,048 ) + M = 0
M = - 27,484 x -18,6339

3). Ruas C-D ( 0,1085 s x s 0.1605 )
415,692 N V
M
A B
C
N
R
Ay
R
By

x




¬ 0 = E
x
F
¬ 0 = E
y
F
415,692 – 388,208 – 443,176 + V = 0
V = 415,692 N
¬ 0 = E
X
M
415,692 x – 388,208 ( x – 0,048 ) – 443,176 ( x – 0,1085) + M = 0
M = 415,692 x – 66,7185

- Diagram V dan M






 Gaya-gaya yang Bekerja pada Poros dalam Arah x

240 N 240 N


A B C D

Diagram V
-1500
-1000
-500
0
500
1000
1500
Diagram M
0
-94.17
-72.96
0
-100
-90
-80
-70
-60
-50
-40
-30
-20
-10
0
26

0,048 0,0605 0,052
R
Bx
0.6285 m R
Cx


¬ 0 = E
x
F
¬ 0 = E
y
F
480 – R
Bx
– R
Cx
= 0
R
Bx
+ R
Cx
= 480 N
¬ 0 = E
B
M
240 ( 0,048 ) - R
Cy
( 0,0605 ) + 240 (0,1125 ) = 0
R
Bx
= 255,867 N
R
Cx
= 224,133 N

- Gaya-gaya Dalam
1). Ruas A-B ( 0 s x s 0,048 )
240 N V

A N
M

X

¬ 0 = E
x
F
¬ 0 = E
y
F
240 + V = 0
V = - 240 N
¬ 0 = E
X
M
240 x + M = 0
M = -240 x

2). Ruas B-C ( 0,048 s x s 0,1085 )
240 N V
B
A N
R
Bx
M

27
x


¬ 0 = E
x
F
¬ 0 = E
y
F
240 – 224,133 + V = 0
V = - 15,867 N
¬ 0 = E
X
M
240 x – 224,133 ( x – 0,048 ) + M = 0
M = - 15,867 x – 10,75838

3). Ruas C-D ( 0,1085 s x s 0.1605 )
240 N V
M
A B
C
N
R
Ay
R
By

x




¬ 0 = E
x
F
¬ 0 = E
y
F
240 – 224,133 – 255,867 + V = 0
V = 271,734 N
¬ 0 = E
X
M
240 x – 224,133 ( x – 0,048 ) – 255,167 ( x – 0,1085 ) + M = 0
M = 239,3 x – 38,444

- Diagram V dan M
28




 Perhitungan untuk Bahan Poros yang Digunakan

¬ M
max
=
2 2
y x
M M +
= ( ) ( )
2 2
616 , 21 47 , 12 ÷ + ÷
= 99236 , 077 . 47
= 14,73 N.m



¬ n
s
( nilai safety factor )
Diagram V
-800
-600
-400
-200
0
200
400
600
800
Diagram M
0
-43.966
-34.074
0
-50
-45
-40
-35
-30
-25
-20
-15
-10
-5
0
29
Berdasarkan tabel 1.1 dan 1.2 buku “ Fundamental of Machine Element”
karangan B.J Hamrock.
Nilai A : good ¬ alat-alat manufakturnya sudah modern, bahan pembuatnya
sudah teruji dengan baik.
B : fair ¬ pada saat pemakaian, tidak dapat mengatur berapa
beban yang ada.
C : fair ¬ analisa untuk beban dan stress telah dilakukan dengan
pengumpulan data yang benar.
→ n
sx
= 2,3

Nilai D : very serious¬ Berhubungan dengan nyawa pengguna.
E : serious ¬ Menyangkut dana yang tidak kecil, baik untuk
perbaikan maupun pembuatan.
→ n
sy
= 1,5

n
s
= n
sx
. n
sy
= 2,3 . 1,5
= 3,45
¬ Berdasarkan Pengukuran
d
poros
= 15 mm = 0,015 m
M
max
= 14,73 N.m
¬ Dengan Menggunakan DET ( Distortion Energy Theory )

3
1
2 2
max
4
3 32
|
|
.
|

\
|
+ = T M
S
n
d
y
s
poros



2 2
max
3
4
3 32
T M
d
n
S
s
y
+ =


=
( )
( )
( ) ( )
2 2
3
0
4
3
73 , 14
015 , 0
45 , 3 32
+


= 153.372.737,9 Pa
= 153,3727379 MPa
30
Berdasarkan Tabel Sifat-sifat bahan, bahan yang memiliki nilai S
y
yang
mendekati nilai S
y
di atas adalah Steel Alloy 4140 (AISI 4140/SCM 4)yang
dinormalisasi pada suhu 870º C yang mempunyai nilai S
y
= 1570 MPa. Bahan
ini, menurut tabel 1.2 dalam buku “Dasar Perencanaan dan Pemilihan
Komponen Mesin” karangan Sularso merupakan salah satu bahan yang biasa
digunakan dalam pembuatan poros.

 Principal Stress
¬
( )
( )
4
3
3
max
max
10 . 15
64
10 . 5 , 7 73 , 14
÷
÷
=
×
=


I
y M
waqa
= 44.455.866,06 Pa
= 44,45586606 MPa
¬ 0 0
max
= · = = T
J
Tc
 (poros tidak mengalami beban torsi; T=0)
¬ Principal Stress

max
2
max max
2 , 1
2 2

 
 + |
.
|

\
|
± =
0
2
4586606 , 44
2
45586606 , 44
2
+ |
.
|

\
|
± =
= 22,22793303 ± 22,22793303
0 22793303 , 22 22793303 , 22
1
= ÷ =  MPa
45586606 , 44 22793303 , 22 22793303 , 22
2
= + =  MPa

 Defleksi
Untuk arah y
Persamaan momen untuk AB
45 , 105 25 , 141 ÷ = x M
AB

¬
íí
= dx M
EI
y
AB
1

=
íí
÷ dx x
EI
45 , 105 25 , 141
1

31
=
í
+ ÷ dx C x x
EI
1
2
45 , 105 625 , 70
1

= ( )
2 1
2 3
275 , 52 5417 , 23
1
C x C x x
EI
+ + ÷
¬ Boundary Condition
- 08 , 0 0 = · = x y
- 23 . 0 0 = · = x y
Menghasilkan
- C
1
= 14,5155
- C
2
= -0,8358
¬ Persamaan Defleksi pada AB untuk arah y
( ) 8358 , 0 5155 , 14 725 , 52 5417 , 23
1
2 3
÷ + ÷ = x x x
EI
y

Untuk arah x
Persamaan momen untuk AB
2424 , 49 9496 , 65 ÷ = x M
AB

¬
íí
= dx M
EI
y
AB
1

=
íí
÷ dx x
EI
2424 , 49 9496 , 65
1

=
í
+ ÷ dx C x x
EI
1
2
2424 , 49 9748 , 32
1

= ( )
2 1
2 3
6212 , 24 9916 , 10
1
C x C x x
EI
+ + ÷
¬ Boundary Condition
- 08 , 0 0 = · = x y
- 23 . 0 0 = · = x y
Menghasilkan
- C
1
= 6,7788
- C
2
= -0,3904

32
¬ Persamaan Defleksi pada AB untuk arah x
( ) 3904 , 0 7788 , 6 6212 , 24 9916 , 10
1
2 3
÷ + ÷ = x x x
EI
y

 Diameter Shaft untuk Beban Dinamis (Berdasarkan Fatique)
¬ · = MPa 0
1
 Minimum stress
· = MPa 71 , 326
2
 Maximum stress
¬ Mean Stress
MPa
m
355 , 163
2
0 71 , 326
2
1 2
=
÷
=
÷
=
 

¬ Alternating Stress Maximum
MPa
m a
355 , 163 355 , 163 71 , 326
2
max
= ÷ = ÷ =   
¬ Moment alternating maximum dan Moment mean

y
I
M M
a m a m
.
max

  = = · =
=
3
9 6
10 . 4 , 7
10 . 354 , 2 . 10 . 355 , 163
÷
÷

= 51,96 N.m
¬ Asumsi kemiringan dari lubang/ gelombang jalan yang dilalui oleh motor
adalah 12º
Sehingga Momen Alternating (M
a
) = M
a max
. sin(12º)
= 51,96 . sin(12º)
= 10,803 Nm

¬ Dengan Menggunakan DET,

3
1
2 2
4
3 32
¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
|
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
+ +
|
|
.
|

\
|
+ =
a fs
e
y
m a f
e
y
m
y
s
T K
S
S
T M K
S
S
M
S
n
d



Dengan S
e
= k
f
. k
s
. k
r
. S
e

33
k
f
= 0,2 ·Berdasarkan Grafik 7.7 buku “Fundamentals of Machine
Elements” karangan B.J Hamrock dkk.
k
s
= 1,189(d)
-0,112
= 1,189(15)
-0,112
= 0,8779
k
r
=

0,87 (asumsi kepercayaan 90%)
S
e


= 0,5.S
ut
= 860.10
6
Pa

Semua nilai di atas didapat dari Hamrock chapter 7 dan Tabel material, dan nilai
S
ut
dari bahan adalah 1720 MPa (Callister, Jr. William D.2003.Materials Science
and Engineering an Introduction 6
th
Edition.Utah : John Wiley & Sons, Inc.)

→ S
e
= k
f
. k
s
. k
r .
S
e

=0,2 . 0,8779 . 0,87 . 860 . 10
6

= 131,3 . 10
6
Pa

( )
3
1
2 2
6
6
6
0 0
4
3
803 , 10 . 1
10 . 3 , 131
10 . 1570
96 , 51
10 . 1570
075 , 3 . 32
¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
|
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
+ +
|
|
.
|

\
|
+ =
fs
e
y
K
S
S
d


= 0,01534 m
= 15,34 mm

¬ Koreksi terhadap nilai S
e
, masukkan kembali nilai d yang didapat untuk
mendapatkan faktor ukuran (K
s
),
k
s
= 1,189(15,34)
-0.112
= 0,875
S
e
= 0,2 . 0,875 .0,87 . 860 . 10
6
= 130,935 . 10
6
Pa

( )
3
1
2 2
6
6
6
0 0
4
3
803 , 10 . 1
10 . 935 , 130
10 . 1570
96 , 51
10 . 1570
075 , 3 . 32
¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
|
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
+ +
|
|
.
|

\
|
+ =
fs
e
y
K
S
S
d

= 0,01536 m
= 15,36 mm

Sehingga diameter minimum untuk menahan beban dinamis 15,36 mm.
34



B. Perhitungan Bearing
¬ Beban maksimal pada Bearing ; F
r
= 1454,98 N
F
a
= 0 N
Jari-jari roda belakang ; R = 30 cm
Kecepatan ; - untuk jalan lurus yang kondisinya baik ; v
1
= 80 km/jam ; q
1
= 0,4
- untuk jalanyang rusak ; v
2
= 30 km/jam ; q
2
= 0,3
- untuk tikungan ; v
3
= 20 km/jam ; q
3
= 0,3
(data didapat dari hasil poling 20 mahasiswa yang menggunakan sepeda motor)
¬ Kecepatan sudut

( )
( ) 1000
3600 1000 60
2 v
x
R
=
 


R
v
45 , 2652 = 
- rpm 355 , 707
300
80
45 , 2652
1
= |
.
|

\
|
= 
- rpm 258 , 265
300
30
45 , 2652
2
= |
.
|

\
|
= 
- rpm 839 , 176
300
20
45 , 2652
3
= |
.
|

\
|
= 



¬ Faktor beban
- f
w1
= 1 → pada saat kerja halus, tanpa beban tumbukan
- f
w2
= 1,3 → pada saat kerja biasa
- f
w3
= 1,5 → untuk kerja dengan tumbukan
¬ Berdasarkan Tabel 4.9 Buku “Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin”,
karya Soelarso dan Kiyokatsu Suga.
35
- V = 1,2 → Beban putar ada pada cincin luar dari bearing
- X = 1 ; Y = 0 → nilai e
F V
F
r
a
s
.
, karena nilai F
a
= 0
¬ Beban ekivalen dinamis
( )
w a r r
f YF XVF P . + =
- ( ) ( ) 976 , 1745 1 . 0 98 , 1454 . 2 , 1 . 1 .
1 1
= + = + =
w a r r
f YF XVF P N
- ( ) ( ) 768 , 2269 3 , 1 . 0 98 , 1454 . 2 , 1 . 1 .
2 2
= + = + =
w a r r
f YF XVF P N
- ( ) ( ) 964 , 2618 5 , 1 . 0 98 , 1454 . 2 , 1 . 1 .
3 3
= + = + =
w a r r
f YF XVF P N
¬ Kecepatan sudut rata-rata dan beban rata-rata
-
3 3 2 2 1 1
q q q
m
    + + =
= 3 , 0 . 839 , 176 3 , 0 . 258 , 265 4 , 0 . 355 , 707 + +
= 415,5711rpm
-
3
1
3
3 3 3
3
2 2 2
3
1 1 1
. . . . . .
|
|
.
|

\
|
+ +
=
m
r r r
m
P q P q P q
P

  

=
( ) ( ) ( )
3
1
3 3 3
5177 , 415
62 , 1466 . 3 , 0 . 84 , 176 07 , 1271 . 3 , 0 . 26 , 265 974 , 1745 . 4 , 0 . 36 , 707
|
|
.
|

\
|
+ +

= 1641,094 N
≈ 164,1094 kg

¬ Untuk bearing roda sepeda motor yang pemakaiannya tidak terus-menerus, menurut
Tabel 4.11 buku “Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin” karya Soelarso
dan Kiyokatsu Saga, mempunyai umur nominal sebesar 5000-15000 jam. Jadi,
bearing yang dipilih harus memiliki umur nominal yang lebih dari atau sama dengan
5000 jam.

¬ Sebagai permisalan, dari katalog SKF dipilih Bearing dengan nomor 6302 yang
didasarkan pada diameter shaft yang besarnya 14,8 mm, sehingga didapatkan ;
- C

( kapasitas nominal dinamis spesifik ) = 895 kg
- C
0
( kapasitas nominal statis spesifik ) = 545 kg
36

¬ Umur Nominal (L
h
)
- Faktor kecepatan (f
n
)
4311 , 0
5711 , 415
3 , 33 3 , 33
3
1
3
1
= |
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
=
m
n
f


- Faktor umur (f
h
)
35 , 2
109 , 164
895
4311 , 0 = |
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
=
m
n h
P
C
f f
- Umur nominal

3
500 h
h
f L =
= ( )
3
35 , 2 500
= 6498,86 jam

Jadi, umur nominal dari bearing nomor 6203 lebih besar dari 5000 jam,
sehingga bearing tersebut dapat dipakai pada sepeda motor Honda MegaPro.
Dimensi dari bearing nomor 6203 berdasarkan katalog SKF ;
- mm d
b
15 = → diameter dalam
- mm d
a
42 = → diameter luar
- mm b
w
13 = → tebal bearing




C. Perhitungan Chain (Rantai)

z
1
= Jumlah gigi sproket kecil = 12
z
2
= Jumlah gigi sproket besar = 44
ω
1
= Kecepatan sudut sproket kecil = Torsi maximum = 6.500 rpm
ω
2
= Kecepatan sudut sproket besar
d
1
= Diameter sproket kecil
37
d
2
= Diameter Sproket besar
r
g = Gear Ratio


¬
1
2
2
1
1
2
z
z
d
d
g
r
= = =



……..Buku Hamrock halaman 850


r
g

=
1
2
N
N
=
12
44
= 3,667

r
g

=
2
1




2
 =
r
g
1

=
667 , 3
500 . 6 rpm
= 1772, 56 rpm
- Jadi, kecepatan sudut pada sproket besar adalah 1772, 56 rpm

¬ Perbandingan variasi kecepatan (ε) :
- Sproket besar
ε =
rata rata
v
v v
÷
÷
min max
=
) / sin(
) / cos( 1
2 z
z

  ÷

=
0713 , 0
0025 , 0
57 , 1
) 44 / 180 sin(
) 44 / 180 cos( 1
2
14 . 3
=
÷

= 0,055



- Sproket kecil
ε =
rata rata
v
v v
÷
÷
min max
=
) / sin(
) / cos( 1
2 z
z

  ÷


=
258 , 0
034 , 0
57 , 1
) 12 / 180 sin(
) 12 / 180 cos( 1
2
14 . 3
=
÷
= 0,2068

38
- Makin besar jumlah gigi sproket, makin kecil perbandingan variasi
kecepatannya, yang berarti makin halus jalannya.

…….Buku Soelarso halaman 199

Memi l i h Rant ai Rol l

1. Daya yang ditransmisikan
P = 13,8 PS = 10, 143 kw
Putaran poros
ω
1
= 6.500 rpm

Perbandingan reduksi putaran
i =
2
1


=
56 , 1772
500 . 6
= 3,67
Jarak sumbu sproket
C ≈ 530 mm
2. Faktor koreksi
F
c
= 1,2 ……………….Tabel 5.17 buku Soelarso
Halaman 196
3. Daya rencana
P
d
= F
c
x P = 1,2 x 10,143
= 12,17 kw


4. Momen rencana
T
1
= 9,74 x 10
5
x (P
d
/ ω
1
)
= 9,74 x 10
5
x (12,17/6500) = 1.823,62 Kg.mm
T
2
= 9,74 x 10
5
x (P
d
/ ω
2
)
= 9,74 x 10
5
x (12,17/1772,56) = 6.978,49 Kg.mm
5. Bahan Poros SCM4 , dengan kekuatan tarik
σ
b
= 100 Kg/mm
2

39
Sf
1
= 6 (untuk S-C dengan pengaruh massa, dan baja paduan)
………Buku Soelarso halaman 8
Sf
2
= 1,3 (pengaruh konsentrasi tegangan akibat alur yang
diberikan, kecil)
τ
a
=
) 3 , 1 6 (
100
x
= 12,82 Kg/mm
2

K
t
= 0,7
C
b
= 1,7
6. Diameter poros
Sproket kecil :
1
s
d = 3
1 , 5
T C K
b t
a

= 3 62 , 823 . 1 . 7 , 1 . 7 , 0
82 , 12
1 , 5
= 9,52 mm  10 mm

Sproket besar :
1
s
d = 3
1 , 5
T C K
b t
a

= 3 49 , 978 . 6 . 7 , 1 . 7 , 0
82 , 12
1 , 5
= 14,89 mm  14 mm

………….Tabel 1.7, halaman 9
Soelarso
7. Nomor rantai 40 dengan rangkaian tunggal sementara diambil.
P = 12,7 mm
Z
1
= 12
F
b
= 1.950 Kg
F
u
= 300 Kg …………..Tabel 5.16 halaman 192. Soelarso

8. Z
2
= 44
- Sproket kecil
d
p
=
) 12 / 180 sin(
7 , 12
= 49,07 mm
d
k
= (0,6 + cot(180/12))P = 55,02 mm

- Sproket besar
40
D
p
=
) 44 / 180 sin(
7 , 12
= 178 mm
D
k
= (0,6 + cot(180/44))12,7 = 185,19 mm

Diameter Naf maksimum
- d
B max
= 12,7(cot(180/12)-1) – 0,76 = 33,9 mm
- D
B max
= 12,7(cot(180/44)-1) – 0,76 = 164,1 mm
 Diameter Naf kedua sproket cukup untuk diameter poros yang
bersangkutan.
9. Kecepatan rantai
v =
60 1000
. .
1 1
x
n z p
=
60 1000
6500 . 12 . 7 , 12
x
= 16,51 m/s
10. Beban rencana
187 , 75
51 , 16
7 , 12 102 102
= = =
x
v
P
F
d
Kg
11. Faktor keamanan
Sf = 93 , 25
187 , 75
1950
=
12. 6 < 25,93…..baik
75,187 < 300….baik
13. Dipilih rantai nomor 40 rangkaian tunggal
14. Panjang rantai (dalam pitch)
C
p
=
¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
÷ ÷ |
.
|

\
| +
÷ + |
.
|

\
| +
÷
2
1 2
2
2 1 2 1
) (
86 , 9
2
2 2 4
1
z z
z z
L
z z
L
=
¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
÷ ÷ |
.
|

\
| +
÷ + |
.
|

\
| +
÷
2
2
) 12 44 (
86 , 9
2
2
44 12
112
2
44 12
112
4
1

= 41, 68 = 42 pi t ch

C = 41,68 x 12,7 = 529, 33 mm
16. Cara pelumasan tetes ………………….Tabel 18.11 halaman 853
Hamrock
41
17. Nomor rantai 40, rangkaian tunggal , 112 mata rantai.
Jumlah gigi sproket : 12 dan 44
Diameter poros sproket : ø 10 mm dan ø 14 mm
Jarak sumbu poros sproket : 529,33 mm
Pelumasan : Pelumasan tetes

















BAB IV PENUTUP

Analisis
Dari perhitungan untuk nilai diameter poros sebenarnya dengan diameter poros
untuk beban dinamis terjadi perbedaan. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan karena
nilai momen alternating yang ”mungkin” tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.
Pada perhitungan principal stress dengan FEM (Ansys) dihasilkan nilai maksimal
42
sebesar 416.668 MPa. Nilai ini juga berbeda dengan nilai yang dihasilkan dengan
perhitungan manual. Perbedaan ini disebabkan karena adanya stress-concentration di
titik beban sebagai akibat pemberian beban dilakukan pada satu titik.
Untuk bearing dipilih bearing yang sesuai dengan bearing sebenarnya yaitu
bearing dengan nomor 6302 yang berjenis single-row, deep-groove ball bearings dengan
dimensi :
- mm d
b
15 = → diameter dalam
- mm d
a
42 = → diameter luar
- mm b
w
13 = → tebal bearing
Jenis bearing ini mempunyai umur nominal L
h
= 6498,86 jam yang masuk dalam range
untuk bearing dengan pemakaian tidak terus-menerus yaitu 5.000 sampai 15.000 jam.
Untuk chain dipilih rantai dengan spesifikasi;
- Nomor rantai 40, rangkaian tunggal , 112 mata rantai.
- Jumlah gigi sproket : 12 dan 44
- Diameter poros pada sproket : ø 10 mm dan ø 14 mm
- Jarak sumbu poros sproket : 529,33 mm
- Pelumasan : Pelumasan tetes
Yang didasarkan pada tata cara pemilihan rantai dari buku Soelarso.


Kesimpulan
Dari perhitungan yang telah dilakukan dihasilkan ;
1. Untuk poros
- Diameter untuk beban statis ; d = 14,8mm
- Diameter untuk beban dinamis ; d
min
= 15,36mm
- Bahan poros adalah Steel Alloy 4140 (AISI 4140/SCM 4)
- Principal Stress ; MPa 71 , 326 = 
- Defleksi
¬ Persamaan Defleksi pada AB untuk arah y
( ) 8358 , 0 5155 , 14 725 , 52 5417 , 23
1
2 3
÷ + ÷ = x x x
EI
y
43
¬ Persamaan Defleksi pada AB untuk arah x
( ) 3904 , 0 7788 , 6 6212 , 24 9916 , 10
1
2 3
÷ + ÷ = x x x
EI
y

2. Untuk Bearing; dipilih berdasarkan katalog SKF, bearing dengan nomor 6302 yang
berjenis single-row, deep-groove ball bearings dengan dimensi :
- mm d
b
15 = → diameter dalam
- mm d
a
42 = → diameter luar
- mm b
w
13 = → tebal bearing
Dengan umur nominal ; L
h
= 6498,86 jam

3. Untuk Rantai; dipilih
- Nomor rantai 40, rangkaian tunggal , 112 mata rantai.
- Jumlah gigi sproket : 12 dan 44
- Diameter poros pada sproket : ø 10 mm dan ø 14 mm
- Jarak sumbu poros sproket : 529,33 mm
- Pelumasan : Pelumasan tetes


44

Gambar 1


Gambar 2

Gambar 1 dan 2 merupakan hasil dari FEM ( Ansys ) yang menunjukkan nilai 1
st

Principal Stress dari poros.
45

Gambar 3
Menunjukkan deformasi dari poros. Ternyata pada poros tidak terjadi perubahan
bentuk yang signifikan terhadap adanya beban.














46
Daftar Pustaka

Callister, Jr. William D.2003.Materials Science and Engineering an Introduction 6
th

Edition.Utah : John Wiley & Sons, Inc.

Hamrock, Bernard J.,Bo O. Jacobson, Steven R. Schmid.1999.Fundamentals of
Machine Elements.Ohio : McGraw-Hill.

Sularso.,Kiyokatsu Suga.1994.Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin.
Jakarta : PT. Pradnya Paramita.

www.astra-honda.com, diakses tanggal 18 November 2005


DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penyusunan 1.2 Ruang Lingkup Masalah 1.3 Metode Pengumpulan Data 1.4 Data dan Asumsi

BAB II PERENCANAAN DAN PEMILIHAN ELEMEN MESIN
2.1 Shaft (poros) 2.2 Bearing (bantalan) 2.3 Chain (rantai)

BAB III PENUTUP
3.1 Analisa 3.2 Kesimpulan

Lampiran Daftar Pustaka

2

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penyusunan

Pada umumnya didalam aktivitas perkuliahan setiap hari, seorang dosen memberikan sebuah teori kepada para mahasiswa. Sehingga apa yang diperoleh para mahasiswa hanyalah terbatas pada apa yang disampaikan dosen pada saat perkuliahan dan mungkin beberapa tambahan pengetahuan karena keaktifan mahasiswa dalam membaca buku diluar jam perkuliahan. Hal inilah yang nantinya akan berdampak pada kualitas para mahasiswa dalam menyelesaikan suatu permasalahan engineering yang akan terlihat pada waktu yang akan datang. Apalagi seperti yang kita ketahui, bahwa sekarang ini persaingan dunia kerja semakin ketat dan juga semakin pesatnya perkembangan teknologi menuntut

adanya kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing dengan lulusan universitas dalam dan luar negeri. Oleh karena beberapa hal tersebut diatas, maka diperlukan peningkatan kualitas para lulusan sarjana yang nantinya diharapkan mampu bersaing didalam dunia kerja. Salah satu cara peningkatan kualitas lulusan sarjana, khususnya sarjana Teknik adalah dengan mengaplikasikan teori-teori yang diberikan dalam perkuliahan untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Dan salah satu contoh aplikasi teori yang diperoleh dari perkuliahan adalah laporan yang telah kami susun dalam makalah ini. Sehingga dengan adanya pengenalan mahasiswa dalam pengaplikasian teoriteori yang mereka peroleh secara tidak langsung akan memberikan pengalaman serta kemampuan kepada mahasiswa dalam memecahkan suatu permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing. Dengan semakin meningkatnya kemampuan mahasiswa dalam memecahkan suatu pemasalahan maka secara tidak langsung akan meningkatkan pula kualitas sumber daya manusia yang diharapkan para lulusannya mampu bersaing dalam dunia kerja seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat.

3

1.2

Ruang Lingkup Masalah

Pada makalah yang kami susun ini pembahasan dititik beratkan pada permasalahan yang terdapat pada sepeda motor yang berjenis Honda Sport 160cc ( Mega Pro ). Kemudian dari sepeda motor Honda sport tersebut, pembahasan kami titikberatkan pada perhitungan tiga komponen yang terdapat pada roda belakang sepeda motor Honda Mega Pro. Ketiga komponen yang kami bahas adalah poros ( shaft ), Rantai ( chain ), dan juga bantalan ( bearing ). Kemudian dari dari poros (shaft) dilakukan perhitungan mengenai gaya-gaya yang bekerja dengan beberapa kondisi asumsi, jenis material yang dipakai sebagai bahan poros, momen aksial, dan beberapa perhitungan yang lainnya. Pada rantai (chain) dilakukan perhitungan mengenai kecepatan sudut pada sprocket, perbandingan variasi kecepatan, dan juga pemilihan rantai rol. Kemudian pada bearing dilakukan perhitungan mengenai masa pakai bearing, beban dinamik, serta faktor kecepatan.

1.3

Metode Pengumpulan Data

Pada makalah yang kami susun ini, perhitungan dimulai dengan pengumpulan data-data yang dibutuhkan dalam perhitungan ketiga komponen tersebut. Untuk mendapatkan hasil perhitungan yang akurat dan maksimal, kami melakukan beberapa metode pengumpulan data yang antara lain tersebut dibawah ini : ( i ) Pengukuran langsung pada benda yang akan dilakukan perhitungan. Pada shaft dilakukan pengukuran pada panjang dan diameter. Pada rantai dilakukan pengukuran pada pitch, panjang rantai (jumlah pitch), diameter roller. Pada bearing dilakukan pengukuran pada diameter lingkaran dalam sampai lingkaran terluar. ( ii ) Mengumpulkan data yang terdapat pada buku referensi. Pada metode ini kami menggunakan beberapa buku referensi, antara lain : buku Hamrock, buku Sularso, dan beberapa buku lainnya.

4

Metode ini kami lakukan dalam memperoleh data berat rata-rata dari tiap orang yang nantinya dipakai untuk perhitungan beban sepeda motor. Baterai Jenis rantai mesin Silent chain 51. pendinginan udara Diameter x langkah 63.5 x 49.4 Data Dan Asumsi Spesifikasi Teknis Panjang X lebar X tinggi Jarak sumbu roda Jarak terendah ke tanah Berat kosong Tipe rangka Tipe suspensi depan 2. bertautan tetap Pola pengoperan gigi 1-N-2-3-4-5 Starter Pedal dan elektrik Aki 12 V .47P Rem depan Tipe cakram hidrolik.m / 6.9 liter pada penggantian periodik Kopling Manual.500 RPM Kapasitas minyak pelumas mesin 0.7 cc Perbandingan kompresi 9. 1.500 RPM Torsi maksimum 1.com 5 .5 Ah Busi ND X 24 EP-U9 / NGK DP8EA-9 Sistem pengapian CDI-DC.281 mm 149 mm 114 kg Pola Berlian Teleskopik Lengan ayun dan peredam kejut dapat disetel pada 5 Tipe suspensi belakang posisi Ukuran ban depan 2.3 liter) Tipe mesin 4 Langkah OHC.4 km / liter pada kecepatan 50 km/jam (standard Konsumsi bahan bakar pabrik) Sumber : www. tipe basah dan pelat majemuk Gigi transmsi 5 kecepatan.astra-honda.75 . dengan piston ganda Rem belakang Tromol Kapasitas tangki bahan bakar 12.18 .4 liter (cadangan 2.5 mm Volume langkah 156.033 x 754 x 1.062 mm 1.00 .18 .8 PS / 8.3 kgf.42P Ukuran ban belakang 3.( iii ) Metode polling.0 : 1 Daya maksimum 13.

Simplifikasi dilakukan dengan menganggap motor sebagai suatu rigid body yang ditopang oleh roda sebagai tumpuan. kami mengasumsikan bahwa sepeda motor sedang dinaiki oleh dua orang yang beratnya masing-masing adalah 60 kg (data didapat dari hasil poling terhadap 20 orang penghuni asrama UI Depok). Penyederhanaan dari body motor Front Front Roda yang menopang motor diasumsikan sebagai tumpuan rol Dalam perancangan poros roda belakang diambil kondisi ekstrim pada saat roda motor depan terangkat sebesar 45º sehingga motor hanya bertumpu pada roda belakang. 6 . Dalam perhitungan.

z1 = Jumlah gigi sproket kecil = 12 z2 = Jumlah gigi sproket besar = 44 ω1= Kecepatan sudut sproket kecil = Torsi maximum = 6. berasal dari besarnya reaksi tumpuan yang ada pada roda akibat beban motor (berat kosong motor ditambah berat bahan bakar) dan beban penumpang.Dalam perhitungan beban yang mengenai poros.500 rpm Jarak sumbu kedua sproket telah diketahui sebesar ≈ 530 mm. Untuk perhitungan rantai. Nilai reaksi tumpuan ini kemudian dikalikan dengan sudut kemiringan motor dan kemiringan shock-absorber sehingga dihasilkan beban pada shock-absorber. Karena shock-absorber memiliki kemiringan terhadap poros. Beban inilah yang kemudian dibagi menjadi dua sebagai beban yang mengenai poros. Pemilihan bearing didasarkan pada katalog SKF. beban maksimal yang digunakan adalah resultan dari reaksi tumpuan terbesar yang dihasilkan pada perhitungan sebelumnya. 7 . Dalam penghitungan bearing. maka gaya/beban ini diuraikan dalam arah x dan y. dipakai data sebagai berikut. Bearing hanya dihitung untuk bearing yang terkena gaya yang terbesar saja.

dan juga beban axial (tarik-tekan). Dalam mendesain poros. Oleh karena itu. Beberapa mesin elemen yang digabungkan( mounted) di poros menghasilkan beban pada arah transversal (tegak lurus terhadap sumbu poros). bending moment terjadi di poros. rantai (chain). Poros (Shaft) Poros (Shaft) merupakan salah satu elemen pada mesin yang berputar maupun tetap(stationary) yang biasanya mempunyai bentuk silinder dengan penampang melingkar (diameter) yang lebih kecil dari pada panjangnya dan merupakan tempat bagi elemen lain ditempatkan (mounted) disana. Poros roda belakang honda-megapro Beban yang terjadi pada poros dapat berupa bending. tranverse. pulley. sprocket dan juga bentalan bearing (laher). Poros yang “membawa” satu atau lebih elemen mesin 8 . belt. torsi. dan juga critical speed dari poros yang akan kita disain. defleksi. seperti elemen transmisi daya. beberapa faktor yang harus diperhatikan yaitu faktor kekuatan dengan menggunakan pandekatan yield atau fatigue sebagai kriterianya. flywheels. roda gigi (gear).BAB II DASAR TEORI A.

Desain poros kali ini.yang lain harus didukung (ditumpu) oleh bearings. Untuk kepentingan desain. sehingga tidak mengalami beban torsi.4 buku hamrock hal 428) d : diameter poros (m) 9 . Membuat free body diagram dari model beban yang sudah disimplifikasi dari keadaan real 2. dan mencari resultan dari gaya tersebut yang terjadi pada seluruh bagian poros Untuk perhitungan bending digunakan persamaan x  Mc I Persamaan 2(persamaan 11. Poros pada roda belakang ini hanya berfungsi untuk menahan beban yang terjadi pada motor dan tidak mengalami perputaran. kelompok kami menghitung poros roda belakang dari motor honda-MegaPro 160 cc dengan spesifikasi terlampir pada bagian perhitungan poros. Atau dengan kata lain merupakan jenis stationary shaft. dan juga kami mengabaikan critical speed. maka bearing tersebut harus mampu menahan batas maximum dari bending yang terjadi pada poros. Menggambar bending moment diagram dalam arah x-y dan x-z.2 buku hamrock hal 428) σx : bending moment (N/m2) M : moment maksimum (Nm) c : jarak dari sumbu netral poros ke bagian terluar (jari-jari) (m) I : inersia dari poros (m4) Inersia dari poros yang berbentuk poros dapat dihitung dengan persamaan dengan : I d 4 64 persamaan 2(persamaan 11. Dalam melakukan perhitungan kali ini prosedur umum yang kami gunakan yaitu: 1.

perlu digunakan baja dengan perlakuan panas yang sesuai untuk memperoleh kekuatan yang dibutuhkan. 10 . Meskipun demikian. Poros biasanya terbuat dari baja batang yang ditarik dingin dan kemudian dilakukan finishing agar mencapai kekuatan maksimum bahan. Poros yang digunakan untuk meneruskan putaran yang tinggi dan beban yang berat umumnya dibuat dari baja paduan dengan pengerasan yang tahan terhadap keausan. kadar karbonnya terjamin. misalnya jika diberi alur pasak. Mencari bahan yang digunakan dalam poros menggunakan analisa prediksi kegagalan DET . baja karbon konstruksi mesin yang dihasilkan dari baja yang dioksidasikan dengan ferrosilikon dan dicor. Dalam hal seperti ini. Tetapi permukaan dingin membuat material bertambah keras dan kuat. 428) 2 dengan : σ1 = bending maksimum (Pa) σ2 = bending minimum (Pa) σx = bending yang terjadi dari persamaan 1 (Pa) τxy = tegangan geser (Pa) 3.7 buku hamrock hal.Selanjutnya dapat dihitung principal normal stress yang terjadi pada poros dengan :    2 1. karena pada umumnya bahan yang digunakan sebagai poros yaitu bahan yang memiliki sifat ductile (metal). bahan poros jenis ini masih dapat mengalami deformasi karena tegangan yang kurang seimbang. 2  x   x   xy 2  2  persamaan 3(persamaan 11. Sekalipun demikian pemakaian bahan poros dengan baja paduan khusus tidak selalu dianjurkan jika hanya karena alasan putaran tinggi dan juga beban yang berat.

Bahan yang ingin dicari tahu didapatkan dari besarnya yield strength (Sy) dari bahan tersebut dan kemudian mencocokkan nilainya dengan nilai yang terdapat di tabel material.13 buku hammrock 429) Dengan : ns Sy M T : safety factor : yield strength (Pa) : Moment (Nm) : Torsi ( Nm) Selanjutnya. untuk analisa terhadap beban dinamis (cycles loading) dapat digunakan persamaan 1  32 n s d   S y  S S      M m  y K f M a    Tm  y K fs Ta      Se Se     2 2     3 Persamaan 4 (persamaan 11. Besarnya Sy suatu bahan dapat diketahui dengan menggunakan persamaan: d3  32ns S y M2  3 T2 4 Persamaan 4(persamaan 11.35 buku hamrock hal 435) d ns Sy Mm Se Kf Ma : diameter minimum untuk menahan beban dinamis (m) : safety factor : Yield Strength (Pa) : Momen mean (rata-rata dari beban dinamis) (Nm) : Endurance limit of material (Pa) : Fatigue stress consentration factor : Momen alternating (Nm) 11 .

Bearing Gelinding (ball bearing). Pada bearing jenis ini terjadi gesekan luncur antara poros dan bearing karena permukaan poros ditumpu oleh permukaan bearig dengan perantaraan lapisan pelumas. bearing dalam permesinan dapat disamakan peranannya dengan pondasi pada sebuah bangunan. Bearing ( Ball Bearing ) Bearing adalah elemen mesin yang menumpu poros berbeban. Arah beban bearing ini sejajar dengan sumbu poros. bola 12 . Atas dasar gerakan bearing terhadap poros a. Arah beban yang ditumpu bearing ini adalah tegak lurus sumbu poros. Bantalan gelinding mempunyai keuntungan dari gesekan gelinding yang sangat kecil dibandingkan dengan bantalan luncur. Pada tugas akhir ini akan menitikberatkan pada bearing gelinding ( ball bearing ). sehingga putaran atau gerakan bolak-baliknya dapat berlangsung secar halus. c. Jika bearing tidak berfungsi dengan baik maka kinerja seluruh sistem juga akan menurun atau tak dapat bekerja dengan semestinya. Pada bearing ini terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar dengan yang diam melalui elemen gelinding seperti bola.Tm Ta : Torsi mean (rata-rata) (Nm) : Torsi alternating (Nm) B. Bearing aksial. Pada bearing jenis ini elemen bola dipasang diantara cincin luar dan cicnin dalam. dan rol bulat. aman. Dengan memutar salah satu cincin tersebut. dan mempunyai masa pakai yang lama. Bearing luncur. b. Bearing radial. Jadi. Bearing harus cukup kokoh untuk memungkinkan poros serta elemen mesin lainnya bekerja dengan baik. Bearing gelinding khusus. b. Klasifikasi Bearing Bearing dapat diklasifikasikan sebagai berikut : (1). rol jarum. (2) Atas dasar arah beban terhadap poros a. Bearing ini dapat menumpu beban yang arahnya sejajar dan tegak lurus sumbu poros.

n. bentuk cincin. bantalan aksial untuk putaran rendah. dan lengkungan sudut. kelonggaran. Dengan demikian bahan yang dipakai harus mempunyai ketahanan dan kekerasan yang tinggi. lambing ukuran( lambing lebar. diameter luar. Lambang jenis menyatakan jenis bantalan. Dalam hal pelumasan dengan gemuk. Baris tunggal alur dalam diberi tanda 6. dan 3 umumnya yang banyak dipakai. lambang sekat. 13 .2. dan kelas. Lambang diameter luar 0. Untuk bola. dapat juga menyatakan diameter luar dari bantalan-bantalan tersebut. Diameter membesar dalam urutan. Pada umumnya. dan lambing sudut kontak.akan membuat gerakan gelinding sehingga gesekan di antaranya akan jauh lebih kecil. atau lebih dari 200mm. dan NU. dan 4. 7. rol silinder diberi tanda huruf seperti N. diameter luar). ketelitian tinggi dalam bentuk dan ukuran merupakan keharusan. Nomor Nominal Bantalan Gelinding Ukuran utama bantalan gelinding adalah diameter lubang. Untuk bantalan yang diameter dalamnya dibawah 10 mm. Nomor dasar yang terdapat merupakan lambing jenis.9. nomor diameter lubang.0. lebar. Karena luas bidang kontak antara bola dengan cincinnya sangat kecil maka besarnya beban persatuan luas atau tekanannya menjadi sangat tinggi.1. Harga ini untuk suatu bantalan mempunyai batas empiris yang besarnya tergantung pada macmnya dan cara pelumasannya. yang menyatakan macam kerahnya.2. terdapat harga-harga yang lebih rendah. pemasangan. Nomor nominal bantalan gelinding terdiri dari nomor dasar dan pelengkap. Lambang ukuran menyatakan lebar untuk bantalan radial dan tinggi untuk bantalan aksial. Untuk bantalan roda radial tidak ada lambing lebar. harga-harga batas tersebut adalah untuk umur gemuk 1000 jam. bantalan rol kerucut untuk putaran sedang. diameter lubang diambil sebagai patokan dengan diameter luar dan dalam digabungkan. Lambang-lambang pelengkap meliputi lambang sangkar.8. NF. Kelakuan Pada Bantalan Gelinding Diameter poros d (mm) dikalikan dengan putaran per menit n (rpm) disebut harga d.3. Bantalan bola alur dan bantalan bola sudut serta bantalan rol silinder pada umumnya dipakai untuk putaran tinggi.

Misalkan sejumlah bantalan membawa beban tanpa variasi dalam arah yang tetap. Kapasitas Nominal Bantalan Gelinding Ada dua macam kapasitas nominal. Jika bantalan tersebut adalah bantalan aksial. kalikanlah dua angka lambang tersebut dengan 5 untuk mendapatkan diameter lubang yang sebenarnya (dalam mm). 14 . Jumlah putaran adalah 1. 15mm. dan 4 jenis beban berat.3 rpm selama 500 jam).17mm diameter lubang. Cincin luar diam dan cincin dalam berputar. 12mm.000. Nomor diameter lubang dinyatakan dengan dua angka. 3 jenis beban sedang. dan 03. nomor tanda sama dengan diameter lubangnya. nomor 00 menyatakan 10mm. maka kondisi kondisi bebannya adalah aksial murni. yaitu kapasitas nominal dinamis spesifik dan kapasitas nominal statis spesifik. Nomor tersebut bertingkat dengan kenaikan sebesar 5mm tiap tingkatannya. 2 jenis beban ringan. satu cincin diam dan cincin yang lain berputar. Untuk diameter lubang dibawah 20mm. maka bebannya adalah radial murni. Jika bantalan tersebut adalah bantalan radial.000 (atau 33. Untuk diameter lubang dibawah 10mm. 01.Lambang diameter luar 0 dan 1 menyatakan jenis beban sangat ringan. Untuk bantalan yang berdiameter 20-500 mm.

dan bahan bagian-bagian bantalan  Z Da fc la = Panjang efektif rol Perhitungan Umur Bearing 15 .647 Da 1.8  Untuk diameter bola lebih dari 25. maka besarnya beban terse x 3. maka beban tersebut dinamakan kapasitas nominal statis spesifik. jika 90% dari jumlah bantalan tersebut tidak menunjukkan kerusakan karena kelelahan oleh beban gelinding pada cincin atau elemen gelindingnya. Jika bantalan membawa beban dalam keadaan diam dan pada titik kontak yang menerima tegangan maksimim besarnya deformsi permanen pada elemen gelinding ditambah besarnya deformasi cincin menjadi 0.647 Dbut dinamakan kapasitas nominal dinamis spesifik dan umur yang bersangkutan disebut umur nominal.4  Untuk bantalan rol C = fc ( ila cos  ) 7/9 Z3/4 Da29/27 Dimana : C i = kapasitas nominal spesifik = Jumlah baris bola dalam satu bantalan = Sudut kontak nominal = Jumlah bola dalam tiap baris = Diameter bola = Faktor yang besarnya tergantung pada jenis.4 mm C =fc ( i cos )0 .7 Z2/3 x 3. kelas ketelitian.0001 kali diameter elemen gelinding.4 mm C = fc( i cos )0 . Kedua macam beban diatas merupakan factor dasar yang pertama dalam pemilihan bantalan.7 Z2/3Da1.Setelah menjalani putaran tersebut. Untuk menghitung besarnya kapasitas nominal dinamis spesifik dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :  Untuk diameter bola kurang dari atau sama dengan 25.

21 bila keandalan 99% dipakai.3  33.Lh Dimana : a 1 = Faktor keandalan. maka : Ln = a1. Lh = 500 f10/3h Dengan bertambah panjangnya umur karena adanya perbaikan besar dalam mutu bahan dan arena tuntutan keandalan yang lebih tinggi. setelah berputar satu juta putaran.a2. fn = fn C P Umur nominal Lh adalah : Untuk bantalan bola. a2 = Faktor bahan. tidak memperlihatkan kerusakan karena kelelahan gelinding ) dapat ditentukan sebagai berikut: Jika C (kg) menyatakan beban nominal dinamis spesifik dan P (kg) beban ekivalen dinamis.Umur nominal L ( 90% dari jumlah sample. fn =    n  3 / 10 Faktor umur adalah : Untuk kedua bantalan. maka bantalan modern direncanakan dengan Lh yang dikalikan dengan factor koreksi. Lh = 500 f3h Untuk bantalan rol.3  Untuk bantalan bola fn =    n  1 . 16 . a1 : 1 jika keandalan 90% dipakai seperti biasanya.a3. maka factor kecepatan fn adalah . a2 : 1 untuk bahan bantalan yang dicairkan secara terbuka. atau 0. Jika Ln menyatakan keandalan umur (100-n)(%).  33. dan kurang lebih = 3 untuk baja bantalan de-gas hampa.3  Untuk bantalan rol.

Untuk kerja dengan tumbukan ( penggiling rol. maka : Pm = p  1n1 P1 p  . Faktor Beban fw 1. Kecepatan rendah. ii.  t n )n m nm = (t1n1+….   n nn pnp nm Bila putaran tetap.+tnnn)/(t1+…+tn) Jika frekuensi masing-masing putaran dinyatakan sebagai t1/∑t = 1. dan seterusnya.3 3. Beban Rata-rata Pm Pm= p t1 n1 P1 p  .5 Jika beban maksimum dapat ditetapkan. Untuk kerja biasa ( roda gigi reduksi... maka 17 . maka fw dapat diambil sama dengan 1. t2/∑t = 2. a3 = 1 untuk kondisi kerja normal.2 – 1. Bantalan bola..1 – 1. alat-alat besar ) Fw = 1. dan kurang dari satu untuk hal-hal berikut : i.1 2.. Bantalan rol.. roda kereta ) Fw = 1.. dengan pelumasan minyak berviskositas 20 cSt atau kurang.  t n n n Pp np (t1  .. Untuk putaran halus tanpa beban tumbukan (motor listrik) Fw =1 – 1. yang besarnya sama dengan atau kurang dari 1000 rpm dibagi diameter jarak bagi elemen gelinding. iii. dengan pelumasan minyak berviskositas 13 cSt atau kurang.a3 = Faktor kerja.

Roller Chain (Rantai) Roller chain (rantai) merupakan komponen mesin yang digunakan untuk meneruskan power (daya) dari mesin melalui perputaran sprocket pada saat yang sama. C. yaitu. dan mudah untuk memasangnya. suara dan juga getaran yang ditimbulkan karena tumnukan antara mata rantai dan kaki-kaki sprocket. Rantai sebagai penerus daya mempunya keuntungan keuntungan seperti: mampu meneruskan daya yang besar karena memiliki kekuatan yang besar.. memiliki keausan kecil pada bantalan. dan juga perpanjangan rantai karena keausan pena dan bus yang diakibatkan gesekan yang terjadi pada sprocket.. jadi menjamin putaran daya yang tetap. dan 10/3 untuk bantalan rol. variasi kecepatan yang tidak dapat dihindari karena lintasan busur pada sprocket yang mengait mata rantai. 18 . Rantai mengait pada gigi sprocket dan meneruskan daya tanpa slip. rantai juga memiliki kekurangan.. sedangkan harga 10/3 ditetapkan atas dasar studi oleh banyak peneliti.   n Pnp Dimana p = 3 untuk bantalan bola.Pm = p  1 P1 p  . Dipihak lain. Harga p = 3 diatas diperoleh dari percobaan. Roller chain juga mempunyai efisiensi yang tinggi sehingga bagus digunakan dalam komponen mesin.

rantai rol (roler chain).Pada umumnya rantai terbagi atas dua jenis. tanpa pembatasan bunyi dan juga harga yang murah. Pada perhitungan kali ini. Rantai jenis ini biasanya dipakai bila diperlukan transmisi yang positif( tanpa slip) dengan kecepatan mencapai 600 m/min. Pada roller chain ini sangat berhubungan dengan komponen sprocket. Kemudian begitu juga sebaliknya. Panjang ranrai (chain length) dapat dihitung dengan rumus : L 2Cd N1  N 2 ( N 2  N 1) 2    Pt Pt 2  Cd  4 2    Pt  (persamaan 18. khususnya pada kecepatan yang tinggi adalah Chordal Rise yang dapat dicari dengan rumus : rc = r cos r 19 . Sehingga untuk menghitung panjang jarak pusat sprocket besar dengan sprocket kecil dapat digunakan dengan data-data yang diperoleh pada roller chain. kelompok kami melakukan perhitungan pada rantai motor honda mega pro 160 cc yang merupakan bentuk roler chain rangkaian tunggal.26 buku hamrock halaman 851) dengan : L = Chain length (m) Cd = Center distance (m) N1 = Jumlah gigi sprocket kecil N2 Pt = Jumlah gigi sprocket besar = Pitch Salah satu faktor penting yang mempengaruhi kelicinan pada saat pengoperasian roller chain. dan rantai gigi (gear chain). untuk menghitung panjang rantai (chain length) diperlukan data-data dari sprocket.

rc = r ( 1. Besarnya nilai center distance dapat dihitung dengan rumus : Cd  A Pt A2  B2 2 persamaan 18.cos r ) = r [ 1 – cos ( 180 )] N persamaan 18.23 buku hamrock hal 851 Dimana : A= B= L N1  N 2  Pt 2 N 2  N1 2 .persamaan 18.24 buku hamrock hal 851 Kemudian dengan menggunakan hubungan antara sprocket dan roller chain dapat dihitung jarak antara pusat sprocket besar (belakang) dengan pusat sprocket kecil (pada mesin) atau biasa disebut Center Distance.23 buku hamrock hal 851 sehingga ∆r = r.

rpm Daya yang dibutuhkan untuk menggerakkan sprocket pada rantai dapat dihitung dengan menggunakan persamaan h pr  h p a1 a 2 persamaan 18.11 buku hamrock hal 853) : service faktor (dapat dilihat pada tabel 18.Untuk mencari nilai center distance.30.31 buku hamrock hal 852 Dimana : Na1 = Speed of member 1. pada umumnya direkomendasikan nilai diantara 30 dan 50 pitch. Cd berada Pt Kemudian pada rantai juga dapat diukur besarnya kecepatan dengan menggunakan rumus : U1 = N a1 D1 12 .32 buku hamrock hal 852 dengan : hp a1 a2 : daya yang ditransmisikan (dapat dilihat pada tabel 18.18. U1 = N a1 Pt N 12 persamaan 18.13 buku hamrock hal 854) 21 .12 buku hamrock hal 854) : multiple strand factor (dapat dilihat pada tabel 18.

BAB III PERENCANAAN DAN PEMILIHAN ELEMEN MESIN A. Perhitungan Poros ( Shaft ) 480 N pada masing masing shock breaker 30° Gambar dari samping RBx dan RCx RBy Dan RCy Fy 30° D Fx RCx Fy RBx A RBy 480 N 480 N C 30° B RCy Fx Gaya pada Shock-Absorber diuraikan dalam arah x dan y Fy  Fy = 480 Cos 30o = 415.692 N 30° FR = 480 N 22 .

384 N  M B  0 415.1125 ) = 0 RBy = 388.052 D RCy RBy 0.RCy ( 0.384 – RBy – RCy = 0 RBy + RCy = 831.692 ( 0.6285 m  F x  0  F y  0 831.692 N  M X  0 23 .692 N V A M X N  F x  0  F y  0 415.415.208 N RCy = 443. Ruas A-B ( 0  x  0.0605 ) + 415.176 N  Gaya-gaya Dalam 1).692 + V = 0 V = .692 N A 0.048 ) 415.048 B 0.692 N 415.0605 C 0.692 ( 0. Fx = 480 Cos 60o = 240 N  Gaya-gaya yang Bekerja pada Poros dalam Arah y Fx 415.048 ) .

Ruas B-C ( 0.176 + V = 0 V = 415.692 – 388.692N B V A RBy x M N  Fx  0  F y  0 415.27.692 x 2).1085  x  0. Ruas C-D ( 0.27.6339 3).484 x -18.048 ) + M = 0 M = .692 x – 388.692 N  M X  0 24 .692 – 388.484N  M X  0 415.415.208 ( x – 0.1085 ) 415.692 x + M = 0 M = .048  x  0.692 N C V M A B N RAy x RBy  F x  0  F y  0 415.1605 ) 415.208 – 443.208 + V = 0 V = .415.

208 ( x – 0.415.17 -72.7185  Diagram V dan M Diagram V 1500 1000 500 0 -500 -1000 -1500 Diagram M 0 -10 -20 -30 -40 -50 -60 -70 -80 -90 -100 -94.692 x – 388.176 ( x – 0.692 x – 66.048 ) – 443.1085) + M = 0 M = 415.96 0 0  Gaya-gaya yang Bekerja pada Poros dalam Arah x 240 N 240 N A B C D .

048 ) 240 N V A M X N  F x  0  F y  0 240 + V = 0 V = .0605 0.048 ) .133 N  Gaya-gaya Dalam 1).048 0. Ruas B-C ( 0.0605 ) + 240 (0.RCy ( 0.867 N RCx = 224.1085 ) 240 N V B A RBx M N 26 .240 N  M X  0 240 x + M = 0 M = -240 x 2).6285 m RCx  F x  0  F y  0 480 – RBx – RCx = 0 RBx + RCx = 480 N  M B  0 240 ( 0.052 RBx 0.048  x  0. Ruas A-B ( 0  x  0.1125 ) = 0 RBx = 255.0.

167 ( x – 0.048 ) + M = 0 M = .x  F x  0  F y  0 240 – 224.444  Diagram V dan M 27 . Ruas C-D ( 0.867 N  M X  0 240 x – 224.15.15.048 ) – 255.133 + V = 0 V = .3 x – 38.133 – 255.1085  x  0.133 ( x – 0.1605 ) 240 N C V M A B N RAy x RBy  Fx  0  F y  0 240 – 224.1085 ) + M = 0 M = 239.867 x – 10.734 N  M X  0 240 x – 224.133 ( x – 0.867 + V = 0 V = 271.75838 3).

077.074 0 0  Perhitungan untuk Bahan Poros yang Digunakan  Mmax = = Mx  My 2 2  12.99236 = 14.966 -34.472   21.Diagram V 800 600 400 200 0 -200 -400 -600 -800 Diagram M 0 -5 -10 -15 -20 -25 -30 -35 -40 -45 -50 -43.m  ns ( nilai safety factor ) 28 .73 N.6162 = 47.

1.372.3 Nilai D : very serious  Berhubungan dengan nyawa pengguna.3 .0153 14. E : serious  Menyangkut dana yang tidak kecil.2 buku “ Fundamental of Machine Element” karangan B.73 N.732  3 02 4 = 153. nsy = 2. bahan pembuatnya sudah teruji dengan baik.45  Berdasarkan Pengukuran d poros = 15 mm = 0. → nsx = 2. tidak dapat mengatur berapa beban yang ada. baik untuk perbaikan maupun pembuatan.3727379 MPa 29 . B : fair  pada saat pemakaian.5 = 3.5 ns = nsx .J Hamrock. Nilai A : good  alat-alat manufakturnya sudah modern.737.m  Dengan Menggunakan DET ( Distortion Energy Theory ) 1 d poros  32ns   S  y 32n s d 3 M max 2 3 3  T2  4   Sy  3 2 M max  T 2 4 = 323.015 m Mmax = 14.Berdasarkan tabel 1. C : fair  analisa untuk beban dan stress telah dilakukan dengan pengumpulan data yang benar. → nsy = 1.45  0.1 dan 1.9 Pa = 153.

22793303  1  22.25x  105. Bahan ini. T=0) J  Principal Stress  1.455.45  y = 1 EI  M AB dx 1 EI 141.5.  Principal Stress   max  M max  y 14.45dx 30 .22793303  0 MPa  2  22.06 Pa = 44.45586606 MPa   max  Tc  0  T  0 (poros tidak mengalami beban torsi.25 x  105.Berdasarkan Tabel Sifat-sifat bahan.4586606      0 2 2   = 22. 2   max     max    max 2  2  2 2 44.2 dalam buku “Dasar Perencanaan dan Pemilihan Komponen Mesin” karangan Sularso merupakan salah satu bahan yang biasa digunakan dalam pembuatan poros.45586606 MPa  Defleksi Untuk arah y Persamaan momen untuk AB M AB  141.22793303  22.10 64     = 44.22793303  22.73 7. bahan yang memiliki nilai Sy yang mendekati nilai Sy di atas adalah Steel Alloy 4140 (AISI 4140/SCM 4)yang dinormalisasi pada suhu 870º C yang mempunyai nilai Sy = 1570 MPa.22793303  44.22793303 ± 22.866. menurut tabel 1.45586606  44.10 3 waqa   I 3 4 15.

6212 x 2  C1 x  C 2 EI    Boundary Condition   y  0  x  0.7788 C2 = -0.275 x 2  C1 x  C 2 EI    Boundary Condition   y  0  x  0.08 y  0  x  0.5155x  0.9496x  49.= = 1 70.5417 x 3  52.8358 EI   Untuk arah x Persamaan momen untuk AB M AB  65.8358  Persamaan Defleksi pada AB untuk arah y y 1 23.2424dx 1 32.2424  y = = = 1 EI 1 EI  M AB dx  65.2424 x  C1 dx EI  1 10.23 Menghasilkan   C1 = 6.5417 x 3  52.725 x 2  14.5155 C2 = -0.23 Menghasilkan   C1 = 14.625x 2  105.08 y  0  x  0.9496x  49.9916 x 3  24.9748x 2  49.3904 31 .45x  C1 dx EI  1 23.

3904 EI    Diameter Shaft untuk Beban Dinamis (Berdasarkan Fatique)   1  0MPa  Minimum stress  2  326.2. Se’ 32 .71  163.7788x  0.4.71  0   163.71MPa  Maximum stress  Mean Stress m   2   1 326.355MPa 2 2  Alternating Stress Maximum  amax   2   m  326.355  163.355. sin(12º) = 10.I y 163. ks . kr . sin(12º) = 51.355MPa  Moment alternating maximum dan Moment mean  m   a  M m  M amax  =  .96 N. Persamaan Defleksi pada AB untuk arah x y 1 10.6212 x 2  6.10 6.10 3 = 51.9916 x 3  24.96 .10 9 7.m  Asumsi kemiringan dari lubang/ gelombang jalan yang dilalui oleh motor adalah 12º Sehingga Momen Alternating (Ma) = Ma max . 1   32n s d   S y       S S    3  M m  y K f M a    Tm  y K fsTa      Se 4 Se    2 2  3     Dengan Se = kf .354.803 Nm  Dengan Menggunakan DET.

ks = 1.075 d  6  1570.189(d) -0.075 d  6  1570.) → Se = kf . Se’ =0.875 .01534 m = 15. 10 6 = 130.87 .34)-0.Sut = 860.Materials Science and Engineering an Introduction 6th Edition.10       Sy    1570.10    2 2  3     Sehingga diameter minimum untuk menahan beban dinamis 15.10  = 0.87 (asumsi kepercayaan 90%) Se’ = 0.2  Berdasarkan Grafik 7.96  1.10. 0.kf = 0.189(15)-0.34 mm  Koreksi terhadap nilai S e. ks .3.106 Pa Semua nilai di atas didapat dari Hamrock chapter 7 dan Tabel material. Inc.10.935.7 buku “Fundamentals of Machine Elements” karangan B.10    2 2  3     = 0.875 Se = 0. kr .10 6 3  51. masukkan kembali nilai d yang didapat untuk mendapatkan faktor ukuran (Ks).3.0. 106 Pa 1   32.01536 m = 15.106 3  51. Jr. 0. 33 .803   0  K fs 0 6     4 Se 130. 10 6 = 131.2 .8779 kr = 0.5.Utah : John Wiley & Sons.36 mm. ks = 1. 860 .803    0  K fs 0  6     4 Se 131. 0. 106 Pa 1   32. dan nilai Sut dari bahan adalah 1720 MPa (Callister.112 = 1.36 mm      Sy    1570.8779 .J Hamrock dkk. 860 .96  1.2003.189(15.112 = 0. William D.935 .112 = 0.3 .87 .3.2 .

45  80    707. v1 = 80 km/jam . R = 30 cm Kecepatan . v2 = 30 km/jam .45   3  2652. q2 = 0. Perhitungan Bearing  Beban maksimal pada Bearing .45 v R  1  2652.45  20    176. 34 . karya Soelarso dan Kiyokatsu Suga. tanpa beban tumbukan → pada saat kerja biasa → untuk kerja dengan tumbukan  Berdasarkan Tabel 4.9 Buku “Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin”.4 . Fr = 1454.98 N Fa = 0 N Jari-jari roda belakang .B. .untuk jalan lurus yang kondisinya baik . q1 = 0.5 → pada saat kerja halus. .839rpm  300   Faktor beban    fw1 = 1 fw2 = 1. q3 = 0.355rpm  300  30    265.3 (data didapat dari hasil poling 20 mahasiswa yang menggunakan sepeda motor)  Kecepatan sudut 2R v  1000 60 x1000 3600   2652.untuk tikungan .3 v3 = 20 km/jam .3 fw3 = 1.258rpm  300    2  2652.untuk jalanyang rusak .

5711rpm 1   1 . 1 .84. Pr 3  XVFr  YFa  f w3   .Pr13   2 .q3 . sehingga didapatkan .1454. 1271.2. karena nilai Fa = 0 V .8 mm.1.   C ( kapasitas nominal dinamis spesifik ) C0 ( kapasitas nominal statis spesifik ) = 895 kg = 545 kg 35 .3 = 415.768 N .98  0 1.26. Y = 0 → nilai  Beban ekivalen dinamis Fa  e .094 N ≈ 164. dari katalog SKF dipilih Bearing dengan nomor 6302 yang didasarkan pada diameter shaft yang besarnya 14.11 buku “Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin” karya Soelarso dan Kiyokatsu Saga.839.4  265.258. Pr 2  XVFr  YFa  f w 2   . 1 .3  176.Fr Pr  XVFr  YFa  f w .3. V = 1.1454.3.0. 1466.964 N .1.0. 1 .98  0  1.4.98  0  1  1745.Pr 2 3   3 .2.5  2618.0.0.q 2 .07  176. bearing yang dipilih harus memiliki umur nominal yang lebih dari atau sama dengan 5000 jam. 1745.  Sebagai permisalan.974  265.36.    Pr1  XVFr  YFa  f w1   .62  3  =   415.1454.1094 kg  Untuk bearing roda sepeda motor yang pemakaiannya tidak terus-menerus.0.0.3  2269.976 N .2 → Beban putar ada pada cincin luar dari bearing  X = 1 .5177   = 1641.355.2.q1 . menurut Tabel 4.Pr 3 3  3  Pm     m   1 3 3 3  707. mempunyai umur nominal sebesar 5000-15000 jam.  Kecepatan sudut rata-rata dan beban rata-rata   m  1q1   2 q2   3 q3 = 707.1. Jadi.

Perhitungan Chain (Rantai) z1 = Jumlah gigi sproket kecil = 12 z2 = Jumlah gigi sproket besar = 44 ω1 = Kecepatan sudut sproket kecil = Torsi maximum = 6. umur nominal dari bearing nomor 6203 lebih besar dari 5000 jam. Umur Nominal (Lh)  Faktor kecepatan (fn) 1 1  33.3  3  33.4311   2.3  3 fn        415.    d b  15mm → diameter dalam d a  42mm → diameter luar bw  13mm → tebal bearing C.35 3 = 6498. sehingga bearing tersebut dapat dipakai pada sepeda motor Honda MegaPro.500 rpm ω2 = Kecepatan sudut sproket besar d 1 = Diameter sproket kecil 36 .109   m  Umur nominal Lh  500 f h 3 = 5002.86 jam Jadi.5711   0.35 P   164. Dimensi dari bearing nomor 6203 berdasarkan katalog SKF .4311     m   Faktor umur (fh) C   895  f h  f n    0.

57 2 sin(180 / 44) 0. 56 rpm gr 3.055 - Sproket kecil ε= v max  vmin  1  cos( / z ) = vrata rata 2 sin( / z ) = 3.258 37 .667 12 1 2 1 6. 56 rpm  Perbandingan variasi kecepatan (ε) : Sproket besar ε= v max  vmin  1  cos( / z ) = 2 sin( / z ) vrata rata 3.d 2 = Diameter Sproket besar g r = Gear Ratio  gr  d 2 1 z 2   d 1  2 z1 …….0713 = = 0.500rpm = = 1772.Buku Hamrock halaman 850 gr = gr = N2 N1 = 44 = 3.14 1  cos(180 / 12) 0.57 = 0.2068 2 sin(180 / 12) 0.667 2 =  Jadi..14 1  cos(180 / 44) 0. kecepatan sudut pada sproket besar adalah 1772.034  1.0025  1.

74 x 10 5 x (Pd/ ω1) = 9.Buku Soelarso halaman 199 Memilih Rantai Roll 1. Makin besar jumlah gigi sproket. makin kecil perbandingan variasi kecepatannya.500 = = 3.56) = 6.8 PS = 10.17 kw ……………….62 Kg. Daya yang ditransmisikan P = 13. dengan kekuatan tarik σb = 100 Kg/mm2 38 . Daya rencana Pd = Fc x P = 1.49 Kg.56 2 4. 143 kw Putaran poros ω1 = 6.500 rpm Perbandingan reduksi putaran i = Jarak sumbu sproket C ≈ 530 mm 2. yang berarti makin halus jalannya.74 x 10 5 x (12. …….2 3.Tabel 5.17 buku Soelarso Halaman 196 1 6.823. Faktor koreksi Fc = 1.978.143 = 12.17/1772.67 1772.17/6500) = 1. Bahan Poros SCM4 .2 x 10.mm 5.mm T2 = 9. Momen rencana T1 = 9.74 x 10 5 x (12.74 x 10 5 x (Pd/ ω2) = 9.

1.89 mm  14 mm 12.Tabel 1.Sf1= 6 (untuk S-C dengan pengaruh massa. Soelarso dk = (0.1.7 = 49.02 mm Sproket besar 39 .52 mm  10 mm 12.62 = 9.3) Kt = 0.07 mm sin(180 / 12) Kg ………….7.7.6 + cot(180/12))P = 55.823.1 0.950 Kg Fu = 300 8. P = 12.82 Kg/mm2 (6 x1. kecil) τa = 100 = 12.49 = 14. halaman 9 Soelarso 7.6.7 Cb = 1.1.7.16 halaman 192.7.7 mm Z1 = 12 Fb = 1.1 0.7.82 …………. Diameter poros Sproket kecil : d s1 = 3 5..978.3 (pengaruh konsentrasi tegangan akibat alur yang diberikan.7 6. dan baja paduan) ………Buku Soelarso halaman 8 Sf2= 1. Nomor rantai 40 dengan rangkaian tunggal sementara diambil.82 Sproket besar : d s1 = 3 5.1 K t CbT a = 3 5.Tabel 5. Z2 = 44 Sproket kecil dp = 12.1 K t C bT a = 3 5.

187 12.68 x 12.7(cot(180/12)-1) – 0.86     2  1  12  44  12  44  2    112   112   (44  12) 2     4  2  2  9.93….6500 = = 16.baik 75.z1 .7.68 = 42 pitch C = 41..6 + cot(180/44))12.19 mm Diameter Naf maksimum dB max = 12.12. 33 mm 16.7   75.7 = 185. 6 < 25.9 mm DB max = 12.76 = 164.11 halaman 853 Hamrock 40 . Beban rencana F 102 Pd 102 x12.1 mm  Diameter Naf kedua sproket cukup untuk diameter poros yang bersangkutan.51 p.7(cot(180/44)-1) – 0. Panjang rantai (dalam pitch) 2  z1  z 2  z1  z 2  1  2    Cp =  L  ( z 2  z1 ) 2   L    4  2  2  9. Cara pelumasan tetes …………………. 9.76 = 33. Kecepatan rantai v = 10.187 < 300….n1 12.7 = 529.Dp = 12.baik 13.51 m/s 1000 x60 1000x60 11.7 = 178 mm sin(180 / 44) Dk = (0.187 Kg v 16. Dipilih rantai nomor 40 rangkaian tunggal 14.Tabel 18. Faktor keamanan Sf = 1950  25.93 75.86     = = 41.

33 mm : Pelumasan tetes BAB IV PENUTUP Analisis Dari perhitungan untuk nilai diameter poros sebenarnya dengan diameter poros untuk beban dinamis terjadi perbedaan. Pada perhitungan principal stress dengan FEM (Ansys) dihasilkan nilai maksimal 41 . Nomor rantai 40. rangkaian tunggal . Jumlah gigi sproket Diameter poros sproket Jarak sumbu poros sproket Pelumasan : 12 dan 44 : ø 10 mm dan ø 14 mm : 529. 112 mata rantai.17. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan karena nilai momen alternating yang ”mungkin” tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.

Jumlah gigi sproket Diameter poros pada sproket Jarak sumbu poros sproket Pelumasan : 12 dan 44 : ø 10 mm dan ø 14 mm : 529.sebesar 416.   326.      Nomor rantai 40. Nilai ini juga berbeda dengan nilai yang dihasilkan dengan perhitungan manual.725 x 2  14. Perbedaan ini disebabkan karena adanya stress-concentration di titik beban sebagai akibat pemberian beban dilakukan pada satu titik.5417 x 3  52.8mm Diameter untuk beban dinamis .33 mm : Pelumasan tetes Yang didasarkan pada tata cara pemilihan rantai dari buku Soelarso.000 jam. Untuk chain dipilih rantai dengan spesifikasi. d min= 15. 112 mata rantai.668 MPa. d = 14. rangkaian tunggal . Kesimpulan Dari perhitungan yang telah dilakukan dihasilkan . 1.5155x  0. Untuk bearing dipilih bearing yang sesuai dengan bearing sebenarnya yaitu bearing dengan nomor 6302 yang berjenis single-row.36mm Bahan poros adalah Steel Alloy 4140 (AISI 4140/SCM 4) Principal Stress . Untuk poros      Diameter untuk beban statis . deep-groove ball bearings dengan dimensi :    d b  15mm d a  42mm bw  13mm → diameter dalam → diameter luar → tebal bearing Jenis bearing ini mempunyai umur nominal Lh = 6498.71MPa Defleksi  Persamaan Defleksi pada AB untuk arah y y 1 23.86 jam yang masuk dalam range untuk bearing dengan pemakaian tidak terus-menerus yaitu 5.8358 EI   42 .000 sampai 15.

 Persamaan Defleksi pada AB untuk arah x y 1 10. deep-groove ball bearings dengan dimensi :    d b  15mm d a  42mm → diameter dalam → diameter luar → tebal bearing bw  13mm Dengan umur nominal .6212 x 2  6. Lh = 6498. Jumlah gigi sproket Diameter poros pada sproket Jarak sumbu poros sproket Pelumasan : 12 dan 44 : ø 10 mm dan ø 14 mm : 529. 112 mata rantai.33 mm : Pelumasan tetes 43 . dipilih berdasarkan katalog SKF. Untuk Rantai.3904 EI   2. dipilih      Nomor rantai 40. rangkaian tunggal . Untuk Bearing.86 jam 3.9916 x 3  24. bearing dengan nomor 6302 yang berjenis single-row.7788x  0.

Gambar 1 Gambar 2 Gambar 1 dan 2 merupakan hasil dari FEM ( Ansys ) yang menunjukkan nilai 1 st Principal Stress dari poros. 44 .

Gambar 3 Menunjukkan deformasi dari poros. Ternyata pada poros tidak terjadi perubahan bentuk yang signifikan terhadap adanya beban. 45 .

Jacobson.Utah : John Wiley & Sons.Materials Science and Engineering an Introduction 6th Edition. Sularso.astra-honda. Jakarta : PT. Inc.2003..1994.com.Bo O. diakses tanggal 18 November 2005 46 . Schmid.Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin. Jr. www.. Pradnya Paramita.Fundamentals of Machine Elements.Ohio : McGraw-Hill.1999. Bernard J. Steven R.Kiyokatsu Suga. Hamrock.Daftar Pustaka Callister. William D.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->