P. 1
makalah

makalah

|Views: 548|Likes:
Published by djenionassis
mpkt
mpkt

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: djenionassis on Dec 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/23/2013

pdf

text

original

1

PERILAKU SEKS BEBAS REMAJA DENGAN BERBAGAI PERSPEKTIF DAN UPAYA-UPAYA PENCEGAHANNYA

KELAS MPKT C KELOMPOK 1

Bobby Rahdyan,1006687190 Diandra Putri Mauliandina,1006661531 Fernando Simanjuntak,1006770002 Melyza Ulfah,1006687852 Rivian Yuris A.,1006688205 Salma Izzatii,1006688256

Makalah Untuk Mata Kuliah Pendidikan Dasar perguruan Tinggi

Fakultas Hukum Universitas Indonesia

2

ABSTRAK

Perilaku seks bebas di kalangan remaja sudah semakin parah. Hal ini haruslah disikapi dengan sebijak mungkin karena ternyata cara pencegahan serta penanggulangannya tidaklah semudah yang dikira. Agama telah melarang seks bebas, begitu pula budi pekerti manusia. Tetapi, menurut kacamata kemanusiaan yang memegang asas kebebasan, bahwa semua orang bebas memilih jalan apa yang ia mau, seks bebas adalah pilihan bagi manusia itu sendiri. Upaya pencegahannya adalah dengan filter lintas budaya yang dapat menahan pengaruh-pengaruh negatif dari budaya asing dan penegakan norma sosial serta norma hukum. Kata Kunci: Agama; budi pekerti; filter lintas budaya; kemanusiaan; norma hukum; norma sosial; remaja; seks bebas.

3

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG Remajalah yang memegang dan melanjutkan bangsa ini pada masa yang akan datang. Boleh dikatakan bahwa apa yang telah diusahakan oleh bangsa ini setelah sekian lama ada di tangan para remaja untuk melanjutkannya atau malah menghancurkannya. Tapi betapa disayangkan, perilaku dan akhlak remaja zaman sekarang banyak yang mengalami penurunan. Penurunan akhlak yang paling terasa adalah frekuensi perilaku seks bebas remaja yang melambung tinggi sejak beberapa dekade terakhir. Data dan survei yang dilakukan mendukung fakta bahwa memang terjadi penurunan akhlak remaja mengenai perilaku seks bebas. Fenomena ini haruslah dipelajari dan ditangani secara serius oleh semua pihak: keluarga, pemerintah, dan remaja sendiri.

B. PERUMUSAN MASALAH Penurunan moral individu remaja yang dicerminkan dengan semakin banyaknya remaja yang melakukan seks bebas adalah mengkhawatirkan. Bagaimanakah perilaku seks bebas remaja ini di perspektif agama, penerapan akhlak, dan kemanusiaan? Dan apa saja upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegahnya?

4

5

C. TUJUAN PENULISAN Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberi pengetahuan bagaimana perlaku seks bebas remaja di berbagai perspektif: agama, penerapan akhlak, dan kemanusiaan; dan juga untuk memberi pengetahuan tentang apa saja upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah seks bebas.

D. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang dipakai dalam membuat makalah ini adalah metode kepustakaan, yaitu memperoleh data dari buku, jurnal, serta artikel dari media cetak maupun elektronik.

E. SISTEMATIKA PENULISAN Makalah ini terbagi menjadi tiga bab. Bab I merupakan pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, perumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. Bab II merupakan isi makalah yang terdiri dari pembahasan mengenai keadaan remaja sekarang, seks bebas dari berbagai perspektif, cara-cara pencegahannya, dan dampak kesehatannya bagi remaja. Bab III merupakan penutup yang terdiri kesimpulan dan saran.

6

BAB II

PERILAKU SEKS BEBAS REMAJA DENGAN BERBAGAI PERSPEKTIF DAN UPAYA-UPAYA PENCEGAHANNYA

A. POTRET REMAJA INDONESIA ZAMAN SEKARANG

Remaja merupakan suatu masa yang pasti dilalui oleh setiap insan manusia yang hidup dan berkembang menjadi dewasa didunia ini..Masa remaja merupakan suatu masa dimana terjadinya peralihan dari masa kanak-kanak menjadi pribadi yang dewasa seutuhnya,baik secara fisik maupun mental.Masa remaja merupakan suatu masa yang berperan vital dalam membentuk kepribadian seseorang dalam hidupnya.Masa dimana adanya perubahan sikap dan fisik dari yang kanak-kanak menjadi dewasa.Masa dimana timbulnya keinginan yang kuat dari pribadi individu untuk mencari jati dirinya.Dalam masa ini,setiap individu merasakan adanya kebimbangan dalam peran dan statusnya.Dalam masa ini juga,timbul rasa keinginan untuk mencoba dan lebih tahu mengenai hal-hal yang ada disekitarnya.Tentu hal ini menyebabkan banyak sekali gejolak-gejolak dalam kepribadian individu tersebut. Para remaja pada umumnya akan lebih bersikap frontal serta ingin serba tahu dalam hidupnya.Pada masa ini,para remaja juga mulai mengenal dan ingin lebih tahu mengenai masalah seks.Dalam hal ini tentu perlu adanya peran orang tua serta lingkungan dalam mengakomodir keinginan para remaja dalam mempelajari dunia seks.Tetapi pada zaman sekarang banyak sekali timbul perilaku-perilaku seks bebas dalam dunia remaja. Pada kesempatan ini,akan diuraikan beberapa hasil penelitian yang berfokus pada perilaku seks remaja di Indonesia

7

Beberapa penelitian menunjukkan, remaja putra maupun putri pernah berhubungan seksual. Di antara mereka yang kemudian hamil pranikah mengaku taat beribadah. Penelitian di Jakarta tahun 1984 menunjukkan 57,3 persen remaja putri yang hamil pranikah mengaku taat beribadah. Penelitian di Bali tahun 1989 menyebutkan, 50 persen wanita yang datang di suatu klinik untuk mendapatkan induksi haid berusia 15-20 tahun. Menurut Prof. Wimpie, induksi haid adalah nama lain untuk aborsi. Sebagai catatan, kejadian aborsi di Indonesia cukup tinggi yaitu 2,3 juta per tahun. “ Dan 20 persen di antaranya remaja,” kata Guru Besar FK Universitas Udayana, Bali ini. Penelitian di Bandung tahun 1991 menunjukkan dari pelajar SMP, 10,53 persen pernah melakukan ciuman bibir, 5,6 persen melakukan ciuman dalam, dan 3,86 persen pernah berhubungan seksual. Dari aspek medis, menurut Dr. Budi Martino L., SPOG, seks bebas memiliki banyak konsekwensi misalnya, penyakit menular seksual,(PMS), selain juga infeksi, infertilitas dan kanker. Tidak heranlah makin banyak kasus kehamilan pranikah, pengguguran kandungan, dan penyakit kelamin maupun penyakit menular seksual di kalangan remaja (termasuk HIV/AIDS). Di Denpasar sendiri, menurut guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, per November 2007, 441 wanita dari 4.041 orang dengan HIV/AIDS. Dari 441 wanita penderita HIV/AIDS ini terdiri dari pemakai narkoba suntik 33 orang, 120 pekerja seksual, 228 orang dari keluarga baik. Karena keadaan wanita penderita HIV/AIDS mengalami penurunan sistem kekebelan tubuh menyebabkan 20 kasus HIV/AIDS menyerang anak dan bayi yang dilahirkannya. Tindakan remaja yang seringkali tanpa kendali menyebabkan bertambah panjangnya problem sosial yang dialaminya. Menurut WHO, di seluruh dunia, setiap tahun diperkirakan sekitar 40-60 juta ibu yang tidak menginginkan kehamilan melakukan aborsi. Setiap tahun diperkirakan 500.000 ibu mengalami kematian oleh kehamilan dan persalinan. Sekitar 30-50 % diantaranya meninggal akibat komplikasi abortus yang tidak aman dan 90 % terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia.

8

B. PERILAKU SEKS BEBAS REMAJA DARI PERSPEKTIF AGAMA Selama ini orang-orang mengira bahwa seks adalah hal yang tabu untuk dibicarakan, apalagi dalam konteks keagamaan. Orang-orang mencoba untuk menghilangkan secara sepenuhnya unsur seks itu karena dianggap sebagai dosa dan tidak pantas dibicarakan. Pada banyak pesantren yang masih memakai cara ajar lama, pendidikan seks untuk remaja kurang mencukupi dan para remaja tadi diasingkan dan disterilkan dari bahaya penularan seks. Apakah benar agama tidak menyadari hal ini dan menganggapnya sesuatu yang tabu? Agama (yang pada kali ini dibahas adalah agama Islam) sangat memahami hal ini dan menyediakan solusi-solusi yang sangat aplikatif bagi umatnya dalam menanggulangi dorongan seksual yang dialami oleh remaja yang masih labil ini. Dorongan seks adalah sunatullah, bahwa manusia menurut fitrahnya memiliki dorongan biologis untuk meneruskan keturunannya. Dorongan ini mempunyai sisi positif yaitu dengan dorongan ini, manusia akan terjamin kelangsungan hidup jenisnya. Tetapi apabila dorongan ini tidak terkontrol dan terarahkan dengan baik, maka akan terjadi zina atau serong yang terkutuk itu. Seks bebas menurut agama adalah perbuatan keji dan terkutuk, sesuai dengan firman Allah yang tercantum pada Surah Al Isra ayat 32: “Dan janganlah dekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” Jadi, jelaslah bahwa agama tidak memandang seks sebagai sesuatu yang tabu, tetapi sesuatu yang alami yang harus dijaga dan disalurkan melalui cara yang benar yaitu pernikahan. Seks bebas di kalangan remaja pula sangat dikecam oleh agama dan merupakan dosa besar.

9

B. PERILAKU SEKS BEBAS REMAJA DARI PERSPERKTIF PENERAPAN AKHLAK DAN BUDI PEKERTI Akhlak itu tingkah laku, peringai manusia yang terdapat dorongan dan keinginan untuk berbuat yang baik sesuai dengan ajaran agama dan falsafah, sehingga dari sini bisa dibedakan antara manusia dan hewan. Budi pekerti bisa membedakan hal-hal yang baik dan buruk sesuai tanggung jawab dan kewajiban. Pada umumnya budi pekerti dan akhlak adalah sama namun berbeda secara khususnya.Yang membedakan adalah objeknya, jika akhlak berorientasi pada agama dan falsafahnya sedangkan budi pekerti berorientasi pada hal-hal nyata dan hubungan sosial akhlak dalam kehidupan pribadi dan sosial budaya Manusia sebagai makhluk pribadi terikat dengan aturan-aturan yang menyangkut diri manusia berkaitan dengan kehidupan sosial yang diterapkan di dalam dirinya. yang paling dekat dengan seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya seseorang itu menyadari dirinya sendiri karena dengan sadar kepada diri sendirilah dapat menjadi pangkal kesempurnaan akhlak yang utama. Aplikasi nilai akhlak itu terdapat dalam hak dan kewajiban yang diterapkan dalam diri pribadinya, seperti tidak berperilaku menyimpang. Manusia adalah individu sosial yang memiliki peran ganda, baik untuk dirinya sendiri maupun terhadap lingkungannya. Sebagai seorang individu sekaligus sebagai makhluk sosial, manusia terikat akan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan sekitarnya, memiliki tanggug jawab yang dibarengi hak dan kewajiban, antara hak dan kewajiban ini bersifat saling timbal balik, baik dalam pemenuhan kebutuhan pribadinya maupun dalam interaksi sosialnya terhadap manusia lainnya. Didasarkan atas harkat dan martabatnya sebagai makhluk yang beradab, manusia berada dalam ruang lingkup budaya dan adat istiadat sosial masyarakat

10

yang wajib dipelihara dan dijunjung tinggi. Individu yang baik mampu berperan sebagai pribadi yang berakhlak dan berbudi pekerti luhur. Ditinjau dari segi individual, atau sebagai pribadi manusia itu sendiri, perilaku seks bebas merupakan perilaku yang menyimpang dari kebenaran yang digunakan nurani sendiri. Perilaku seks bebas merupakan pelanggaran kaidah kesusilaan yang hidup dalam masyarakat, terutama pada masyarakat yang menjunjung budaya ketimuran. Derasnya arus budaya yang masuk tanpa dibarengi dengan akulturasi yang cakap oleh individu menyebabkan banyak dari arus budaya tersebut ditelan mentah-mentah dan merasuki kehidupan pribadi individu tersebut. Banyak dari para remaja yang tidak ragu lagi melakukan perbuatan-perbuatan yang pada dasarnya tidak sesuai dengan hati nurani mereka. Dalam perilaku seks bebas sendiri, fakta menunjukkan bahwa remaja sadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal yang salah dan bertentangan dengan hati nurani mereka. Namun karena kurangnya akhlak dan budi pekerti baik yang berasal dari ajaran ruang lingkup keluarga hingga ruang lingkup lingkungan masyarakat menjadikan bahwa perilaku menyimpang tersebut lambat laun menjadi kewajaran dalam pergaulan remaja. Berbeda dengan remaja yang memiliki akhlak dan budi pekerti yang baik, perilaku seks bebas jelas akan bertentangan dengan keyakinan dan melahirkan suatu dosa dalam akibat perbuatannya

C. PERILAKU SEKS BEBAS REMAJA DARI PERSPEKTIF MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU, SOSIAL, DAN BUDAYA Sebagai makhluk individu, sosial, dan budaya, kecenderungan manusia untuk berinteraksi dengan lingkungannya mengakibatkan perkembangan manusia secara langsung memang dipengaruhi lingkungannya. Perilaku seks remaja

11

bersumber dari interaksi remaja tersebut dengan lingkungannya. Selain itu manusia juga memiliki dorongan untuk berhubungan seksual. Hubungan seks sebelum pernikahan makin hari makin menjadi sorotan. Salah satu sebabnya adalah makin banyaknya kasus-kasus hubungan seks sebelum nikah di masyarakat. Sebab yang lebih mendasar lagi adalah masih belum bisa diterimanya perilaku seks sebelum nikah oleh sebagian besar anggota masyarakat. Norma yang berlaku hanya bisa menerima perilaku seksual dalam wadah perkawinan. Jika budaya kita memang seperti ini, mengapa perilaku seks remaja semakin meningkat dari hari ke hari? banyak sekali faktor yang menyebabkan tumbuhnya budaya free sex di kalangan remaja, salah satunya adalah akibat kurangnya moral dan pendidikan untuk menyaring budaya-budaya luar yang masuk ke Indonesia lewat berbagai media. Sebagai makhluk sosial manusia selalu ingin bergaul. Sebagai makhluk budaya manusia bebas menentukan budaya apa yang mau dianutnya. Sebagai makhluk individu manusia berhak melakukan apapun yang dianggapnya benar. Tetapi pada akhirnya lingkungan lah yang sangat berpengaruh bagi remaja. Remaja mulai menentukan ‘hitam-putih’nya dari pembelajaran tiap hari yang diamati dari lingkungannya. Yang tak kalah kuat pengaruhnya adalah pergaulan dengan teman sebaya. Remaja di Indonesia sekarang, khususnya di kota besar, merasa bahwa seks itu hal biasa. Jika di antara teman mereka belum pernah melakukan seks, justru menjadi bahan olok-olok. Hal inilah yang membuat presentase seks pranikah semakin tinggi. Kesimpulannya saat ini kita hanya bisa menyerukan agar melakukan safe sex. Karena pemerintah tidak bisa ikut campur masalah moral yang bersifat

12

sensitive ini. Tiap remaja harus dibekali pengetahuan sex dan agama yang cukup untuk paling tidak bisa menekan laju seks pranikah.

D. PERAN FILTER INTERAKSI LINTAS BUDAYA DALAM PERILAKU SEKS BEBAS REMAJA

Interaksi lintas budaya merupakan pertukaran informasi atau budaya yang terjadi antara budaya yang satu dengan budaya lainnya. Misalnya saja saat ini kita mendapat banyak pengaruh informasi, teknologi, maupun budaya sosial dari negara-negara lain. Perkembangan yang sangat bebas dan tanpa batas, sebagai akibat dari interaksi lintas budaya, mengakibatkan tercampur aduknya berbagai macam nilai-nilai kehidupan, antara yang baik atau buruk, antara yang terpuji dan tecela. Arti kata ’filter’ sendiri adalah saringan; alat untuk menyaring; penyaring; penapis. Dengan demikian, yang dimaksud dengan filter dalam interaksi budaya adalah sesuatu yang dapat menyaring dan memilih-milih budaya mana yang patut dicontoh dan budaya yang tidak patut dicontoh. Sesuatu tersebut dapat berupa akhlak yang baik atau budi pekerti yang baik. Selain itu, keimanan terhadap agama, keterikatan keluarga, dan pancasila juga dapat menjadi filter dalam interaksi lintas budaya yang kita alami. Seks bebas sendiri merupakan perilaku atau gaya hidup seks seseorang baik sebelum menikah ataupun setelah menikah namun bergonta ganti pasangan. Seperti yang sudah kita ketahui sejak dulu, kita sebagai budaya timur sangat menjunjung tinggi norma asusila dan kesopanan, oleh karena itu dapat dibilang seks bebas sendiri bukanlah berasal dari budaya kita. Dengan demikian, dapat dikatakan seks bebas masuk ke budaya kita melalui arus lintas budaya dan orangorang yang melakukannya dapat dikatakan tidak memiliki daya filter budaya yang cukup kuat.

13

Maka dari itu, peran filter interaksi lintas budaya dalam perilaku seks bebas adalah sebagai substansi pencegah atau pervention agar seks bebas tidak masuk ke dalam budaya masyarakat.

E. PERAN NORMA SOSIAL DAN NORMA HUKUM DALAM MENCEGAH SEKS BEBAS

Secara umum yang dimaksud dengan norma adalah segala aturan atau pola-pola tindakan yang digunakan sebagai pedoman atau acuan hidup bagi sesorang dalam bertingkah laku. Norma tersebut diyakini sebagai suatu keadaan yang ideal dan diakui oleh masyarakat sebagai milik bersama sehingga mereka menundukkan diri dan mematuhi norma-norma tersebut. Pada umumnya norma dibagi menjadi norma yang meliputi aspek kehidupan pribadi dan aspek kehidupan antar pribadi. Norma sosial dan norma hukum merupakan bagian dari norma yang meliputi hubungan antar pribadi. Norma sosial dan norma hukum sama-sama berasal dari luar diri manusia dan ditujukan terhadap sikap lahir manusia agar tecipta suatu ketertiban. Akan tetapi, norma sosial dan norma hukum memiliki pebedaan dalam hal sanksi dan daya kerja. Sanksi norma sosial berasal dari masyarakat secara tidak resmi, biasanya berupa cemoohan maupun pengucilan. Sedangkan sanksi hukum berasal dari masyarakat secara resmi (dari negara melalui lembaga peradilan) berupa hukuman denda, penjara, bahkan sampai hukuman mati. Berdasarkan daya kerjanya norma hukum membebankan kewajiban dan memberi hak, sedangkan norma hukum hanya membebankan kewajiban. Norma sosial dan norma hukum menganggap seks bebas sebagai suatu perilaku yang dapat mengganggu ketertiban hidup antar pribadi, meskipun oleh beberapa pihak masalah seksual dianggap sebagai suatu hal yang bersifat pribadi. Perilaku seks bebas dipandang dapat menurunkan moral bangsa serta dapat

14

membawa berbagai akibat buruk bagi masyarakat seperti penyebaran penyakit kelamin dan adanya anak yang tidak jelas siapa orang tuanya. Di dalam masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia, norma sosial berperan sebagai salah satu pencegah terjadinya seks bebas. Masyarakat Indonesia berpendapat bahwa hubungan seks hanya boleh dilakukan oleh pasangan yang sudah terikat dalam hubungan perkawinan. Meskipun hubungan tersebut dilakukan oleh pasangan yang “suka sama suka” dan berkomitmen dalam melaksanakan hubungannya, seperti pada pasangan “kumpul kebo”, namun hal tersebut tetap dianggap dianggap sebagai hal yang tabu dan menyalahi kepatutan dan kebiasaan yang ada di masyarakat. Pelaku seks bebas biasanya dicemooh dan dikucilkan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut tentu membuat seseorang akan menjauhi seks bebas karena sebagai makhluk sosial manusia pasti membutuhkan manusia lain/masyarakat dalam kehidupannya. Selain norma sosial, norma hukum juga turut mencegah seks bebas, meskipun secara eksplisit tidak ada aturan hukum yang mengatur seks bebas. Aturan hukum yang ada hanya berada dalam lingkup perzinahan (KUHP pasal 284), bersetubuh dengan wanita dibawah umur (KUHP pasal 287), serta pornografi dan pornoaksi (UU no.44/2008). Peraturan-peraturan tersebut, paling tidak, melarang sebagian hal yang disebut dengan seks bebas, serta mencegah faktor-faktor yang dapat memicu timbulnya perilaku tersebut. Dikatakan sebagian karena seks bebas sulit untuk dijerat hukum karena sulitnya dilakukan pembuktian terhadap hubungan badan yang dilakukan atas dasar saling suka tersebut. Lain halnya dengan perkosaan dan pencabulan yang dapat dibuktikan dengan relatif lebih mudah dikarenakan adanya pihak yang dirugikan oleh kegiatan seksual tersebut.

15

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN Frekuensi perilaku seks bebas di kalangan remaja telah meningkat dengan tajam dalam beberapa dekade terakhir, dan globalisasi serta cara-cara pencegahan yang kurang tepat yang dilakukan oleh orang tua dan pemerintah turut berperan atas ini. Pandangan terhadap seks bebas remaja juga beragam: agama dan budi pekerti manusia memandang seks bebas remaja sebagai dosa dan patut dijauhi, sedangkan dari kacamata kemanusiaan yang liberal mengatakan bahwa seks bebas adalah pilihan yang dibuat oleh manusia dan negara tidak boleh ikut campur. Upaya-upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan memakai filter lintas budaya yang dapat menahan unsur-unsur negatif dari kebudayaan asing dan penerapan norma sosial dan norma hukum yang dapat mengatur manusia.

SARAN Cara pencegahan yang lama yaitu mengisolir para remaja dari seks bebas dan menganggap pembicaraan tentang seks adalah sesuatu yang tabu terbukti tidak berhasil menyelamatkan para remaja dari perbuatan seks bebas ini. Maka, sudah seharusnya para orang tua mengganti cara pencegahannya menjadi sesuatu yang lebih efektif: penanaman keimanan yang kuat dan budi pekerti pada anak-anak semenjak kecil, pemberian kasih sayang yang lebih mencukupi, pemakaian filter lintas budaya, serta memahami norma sosial dan norma hukum yang ada.

16

BAB IV

UCAPAN TERIMA KASIH

Pertama, kami mengucapkan terima kasih pada Tuhan yang Maha Esa yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini. Kedua, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dosen Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi Kelas C Chairul Anam yang telah membimbing kami untuk mengerjakan makalah ini. Terakhir, kami mengucapkan terima kasih pada setiap pihak yang telah membantu kami, baik secara materiil maupun riil, dalam menulis makalah ini.

Depok, 2010 Penulis

17

DAFTAR PUSTAKA

A. Waskito, Kamus Praktis Bahasa Indonesia, hlm.167, Jakarta: Wahyu Media. Bahiej, Ahmad. “Tinjauan Yuridis Perzinahan Dalam Hukum Pidana Indonesia” http://www.docstoc.com/docs/18358417/Tinjauan-Yuridis-Perzinahan-dalamHukum-Pidana-Indonesia DR. Drs. H. Zakky Mubarak, MA, et al., 2010. Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi Buku Ajar II, Depok: Badan Penerbit FKUI. Dr. Nurul Muzayyanah, ”Dampak Perilaku Seks Bebas Bagi Kesehatan Remaja” http://halalsehat.com/index.php/Remaja-Sukses/DAMPAK-PERILAKU-SEKSBEBAS-BAGI-KESEHATAN-REMAJA-*.html (19 Mei 2008) Maryati, Kun dan Juju Suryawati. 2001. Sosiologi : Jilid 1. Tanpa kota : ESIS. Mulder, Nielse. 2000. Individu, Masyarakat Dan Sejarah: Kajian Kritis BukuBuku Pelajaran Sekolah. Yogyakarta: Kanisius. Rachmat Mulyono, “Agama dan Penyimpangan Seks Remaja”, Tazkiya, No. 3/Desember 2002, Jakarta. Wahid, Musthafa Abdul.1990. Al-Islam wa al Musykilah al-Jinsiyyah. Mesir: Dar al-I’tisham.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->