P. 1
SEMIOTIKA KONTEMPORER

SEMIOTIKA KONTEMPORER

|Views: 3,901|Likes:
Published by si egia

More info:

Published by: si egia on Dec 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/14/2015

pdf

text

original

Sections

  • A. Sekilas Identitas Pemikiran Peirce
  • B. Kebudayaan Sebagai Jaringan Sistem Semiotik
  • D. Analisis Semiotik Model Petofi

Dadan Rusmana, M.Ag

TOKOH

TOKOH DAN

DAN PPEMIKIRAN
EMIKIRAN

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

DDARI

ARI SSEMIOTIK

EMIOTIK SSTRUKTURAL

TRUKTURAL HHINGGA

INGGA DDEKONSTRUKSI
EKONSTRUKSI

TTAZKIYA

AZKIYA PPRESS
RESS

2005

2005

3

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

SSEPENGGAL

EPENGGAL

CCATATAN

ATATAN PPAMUKA
AMUKA

A. Kendala Metodologi dan Sitematika

Buku yang ada di hadapan Anda ini tidak lebih dari
kumpulan tulisan yang isinya mungkin saja menjadi
semacam korpus tautologi, yakni repetisi tulisan dari
tek-teks sebelumnya yang tidak menambah kejelasan.
Dengan demikian, pembaca diharapkan berhati-hati
sejak awal hingga akhir pembacaan isi tulisan dalam
buku ini, agar tidak tertipu, terjebak pada kesalahan,
atau kekaguman yang disebabkan karena
ketidakmengertian. Dalam konteks yang terakhir,
seringkali terjadi dalam kehidupan manusia, orang
mengaku terkagum-kagum pada hal-hal baru, padahal
ia sendiri sebenarnya tidak mengerti. Seyogyanyalah
memahami buku ini harus selalu diikuti oleh pembacaan
buku lain atau mencari informasi-informasi lain, sebagai
penyeimbang, mengenai isi buku ini. Dalam agama
Islam, setiap pembaca selalu diingatkan bahwa,
“apabila datang kepadamu kabar yang belum jelas
(apakah benar atau salah) lakukanlah verifikasi”, atau
“bertanyalah kepada ahl dzikr (profesional).”
Isi buku ini sekalipun mengusung tajuk ‘semiotik’,
namun isinya tidak semuanya berkutat pada persoalan
semiotik. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, yakni:
Pertama, penulisan buku ini bertumpu pada eksposisi
pemikiran dari tokoh-tokoh yang diklaim orang sebagai
tokoh semiotik; klaim itu dapat saja benar, namun dapat
juga salah. Dengan kata lain, mungkin saja buku ini

4

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

mengulang kesalahan klaim dari teks sebelumnya ketika
mengeksposisi pemikiran tokoh. Mungkin saja banyak
tokoh yang justru pantas dimasukkan sebagai tokoh
semiotik namun tidak ditulis dalam buku ini; hanya
karena buku lain tidak menulis. Kedua, tidak semua
tokoh secara eksplisit menyebut pemikiran dan
analisisnya sebagai proses semiologis, namun karena
mereka berbicara tentang tanda, signifikasi, atau
makna; kemudian secara simplistis mereka diklaim
sebagai tokoh semiotik.
Ketiga, pencandraan buku ini sebagai buku semiotik
tidaklah terlalu tepat pula, karena tokoh-tokoh yang
ditulis di dalamnya juga mewakili tradisi ilmu
pengetahuan lainnya. Misalnya, apakah Ferdinand de
Sasussure harus ditempatkan sebagai tokoh strukturalis,
linguis, strukturalis-linguis, linguis-strukturalis,
strukturalis-semiotik, atau semiotik-strukturalis? Hal ini
merupakan permasalah yang sampai kini tidak berujung
pangkal. Demikian pula memosisikan tokoh-tokoh
lainnya, itu pun hal yang cukup rumit. Lechte (2001)
misalnya, menempatkan Roman Jakobson dan Jacques
Lacan sebagai bagian dari strukturalis; Ferdinand de
Saussure, Charles Sanders Peirce, A.J. Greimas, Louis
Hjelmslev, Roland Barthes, Umberto Eco, Julia Kristeva,
dan Tzvetan Todorov ditempatkan sebagai tokoh
semiotik, sedangkan Jacques Derrida ditempatkan
sebagai tokoh Post-strukturalis. Tetapi, Alex Sobur
(2003) memberikan preferensi tokoh semiotik, yaitu
Charles Sanders Peirce, Ferdinand de Saussure, Roman
Jakobson, Louis Hjelmslev, Roland Barthes, Umberto
Eco, Julia Kristeva, Michael Riffaterre, dan Jacques
Derrida. Lihatlah posisi Roman Jakobson, Greimas,
Riffaterre, dan Todorov, di hadapan Lechte dan Alex
Sobur!

Dalam kertas kerja ini, semua tokoh tersebut
dikategorikan sebagai tokoh “bernuansa” semiotik,

5

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

dengan asumsi karena mereka mewacanakan tentang
analisis tanda di antara sekian wacana lainnya yang
dimunculkan oleh mereka. Demikian pula tokoh-tokoh
lainnya, seperti Halliday, Paul Ricoeur, dan Riffaterre
akan dieksplor pemikiran tentang semiotiknya..
Sekalipun demikian, kompleksitas pemikiran mereka
tidak dipaksa (atau bahkan dimanipulasi) agar persis
dengan konsep semiotik. Ibarat nada-nada instrumen
dalam orkestra, tulisan ini berusaha menonjolkan suara-
suara instrumen tertentu tanpa mengabaikan suara-
suara yang lain yang membentuk sebuah simponi.
Keempat, dari hal tersebut maka tema-tema
pemikiran yang berada di dalam buku ini, seringkali
tidak bernuansa khas semiotik, melainkan justru
bernuansa linguistik struktural, formalisme,
strukturalisme, dekonstruksi, atau bahkan hermeneutik,
yang aromanya cukup tajam menusuk pencerapan
nalar. Keadaan seperti ini, bagi sebagian kalangan
memang biasa, sungguh sukar dihindari, sebab sudah
begitu terbiasanya ketumpangtindihan batas-batas
ataupun konsep-konsep di dalam tradisi pemikiran di
sekitar “ilmu tentang tanda” (the science of signs).
Namun tentunya bagi sebagian kalangan keadaan ini
tidak dapat diterima, karena buku yang baik bagi
kalangan kedua ini adalah buku yang mampu mengurai
benang-benang kusut dan merajutnya sedemikian rupa
hingga mampu menyajikan, meminjam istilah Barthes,
tulisan yang enak dibaca (lisible) dan sekaligus enak
ditulis (scriptible).

Tujuan Penulisan Buku Ini

Buku ini merupakan buku yang sifatnya
mengantarkan pembaca untuk mengenal pemikiran-
pemikiran semiotik dari tokoh-tokoh yang diangkat di
dalam buku ini. Setiap tokoh disertakan biografi
singkatnya agar pembaca mengerti akar-akar

6

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

intelektualitas dan sosial-budaya dari setiap tokoh. Dari
pemahaman ini dapat diketahui apa, mengapa, dan
bagaimana si tokoh memormulasikan pemikiran
semiotiknya. Dengan kata lain, buku ini ingin mengajak
pembaca untuk memahami konteks ruang dan waktu
dari pemiiran tokoh semiotik.
Sebagaimana buku lainnya, buku ini disusun bukan
hanya diinginkan sebagai science for science atau
knowlegde for knowledge melainkan diharapkan
berbagai ilmu atau pengetahuan tentang tanda akan
menumbuhkan kesadaran, pemahaman, interpretasi,
dan reproduksi tanda. Pada tingkat keadaran,
diharapkan pembaca memiliki kesadaran tentang tanda
atau menyadari dirinya sebagai homo semioticus, yakni
makhluk yang hidup dari, oleh, dan untuk “tanda”. Ia
harus sadar bahwa tanda ada di mana-mana dan
mengepung kehidupannya ada tanda yang “baik” dan
ada tanda yang “buruk”, jelas keduanya perlu direspon.
Apabila kesadaran ini telah tumbuh, maka
diharapkan ia mau dan mampu memahami tentang
bagaimana tanda itu tumbuh dan berkembang di setiap
ruang dan waktu. Pada tahap selanjutnya, diharapkan
pembaca mampu mau dan mampu menginterpretasi
dan mereproduksi tanda agar tanda-tanda itu menjadi
bermanfaat untuk peningkatan kualitas kehidupan
manusia, baik tingkat individu maupun kolektif.

Cara Membaca Buku Ini

Membaca buku ini dapat diawali dari mana saja
atau dapat dilakukan secara acak, dari awal atau dari
tengah, ataupun dari akhir. Namun sebaiknya dibaca
secara urut agar dapat diketahui kontinuitas dan
kesinambungan pemikiran para tokoh semiotik, karena
sebagian tokoh memiliki geneologis intelektual dan
pemikiran yang sinambung.

7

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

Ucapan Terima Kasih

Penulisan buku ini mungkin saja dapat dikatakan
selesai, dalam arti ia diinginkan untuk dianggap selesai,
namun ini bukan berarti isi teks telah berakhir. Hal ini,
mengikuti penalaran Roland Barthes dalam The Death
of Author,
bahwa ketika teks selesai ditulis maka
eksistensi author pun secara perlahan juga hilang (mati)
mengikuti rangkaian penulisan, namun teks terus hidup
secara otonom. Saya kini adalah sebagai pembaca
(reader) yang kedudukannya sama dengan pembaca
yang lain. Dengan demikian, usaha yang dilakukan oleh
saya kini adalah sama yaitu berupaya untuk
reenacment (reproduksi makna) dari teks yang ditulis
oleh saya masa lalu. Karenanya wajar bila kemudian
saya melakukan autokritik terhadap isi tulisan ini, dan
merupakan keharusan bagi saya untuk berdiskusi atau
mendapatkan informasi yang lebih akurat dalam upaya
reproduksi makna dari isi buku ini. Wajar pula bila saran
dan kritik pedas dilontarkan terhadap buku ini, agar ia
dapat direkonstruksi di masa yang akan datang.
Tulisan ini terwujud karena adanya keterlibatan
jalinan seluruh kosmik, mikrokosmos, makrokosmos,
dan metakosmos. Oleh karena itu, seharusnyalah bila
ucapan syukur selalu terpanjatkan kepada Dzat yang
telah “mengajarkan” al-asma kepada manusia melalui
perantara kalam. Shalawat serta salam semoga selalu
tercurah kepada junjunan alam, dambaan kalbu,
tambatan spiritual suci, dan sumber mata air para
kekasih Allah, sayyidina Muhammad saw., keluarga suci,
para sahabat nabi terpilih, dan seluruh manusia.
Curahan kasih dan sayang terlebih saya haturkan
kepada mutiara kalbu, tambatan hati, dan pelita zaman,
Didah Saidah, Salsabila Nadya Pratami Rusmana, dan
Tazkiya Zahratul Aulia Aqilah Rusmana, yang dalam
setiap tarikan napas dan degupan jantung selalu
melantunkan do’a-do’a tulus untuk kehidupan yang

8

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

lebih baik di masa yang akan datang. Tak lupa ucapan
terima kasih, saya sampaikan kepada teman-teman,
terutama Pak Agus Salim, Pak Hannan, Awang, dan Dani
yang telah memberikan kontribusi pemikiran
konstruktifnya dan memberi motivasi sehingga tercipta
goresan-goresan dalam teks ini; ma kasih banget deh
untuk semuanya. Akhirnya saya berlindung kepada
Allah dari bisikan-bisikan iblis dan syetan yang
bergelayutan di benak, hati, dan dada; juga berlindung
dari salah dan kesalahan yang telah, sedang, dan akan
diperbuat.

9

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

DDAFTAR

AFTAR IISI
SI

Sepenggal Catatan Pamuka

iii

Daftar Pustaka

vi

1

Semiotik Di Eropa Zaman Klasik dan
Pertengahan

1

2

Semiotik Modern dan Kompleksitas Kajian

5

3

Akar dan Madzhab Semiotik di Eropa dan
Amerika Modern

17

4

Semiologi Signifikasi Ferdinand de Saussure

29

5

Semiotik Komunikasi Charles Sanders Peirce

49

6

Analisis Struktural Roman Jakobson

58

7

Metasemiotik dan Glosematik Louis
Hjelmslev

75

8

Wacana Naratif dan Analisis Aktansial A.J.
Greimas

84

9

Roland Barthes: Dari Struktural ke Post-
Struktural

96

1
0

Semiotik Sosial M.A.K. Halliday

12
4

1
1

Semiotik Long Road Paul Ricoeur

13
3

1
2

Semiotik Psikoanalisis Jacques Lacan

13
7

1
3

Dekosntruksi Jacques Derrida

15
3

1
4

Semiotik Model Petofi Umberto Eco

18
0

1
5

Semanalisis dan Semiotik Revolusioner Julia
Kristeva

20
3

1
6

Semiotik Narasi Formalis Tzvetan Todorov

21
6

1
7

Semiotik Superreader Michael Riffaterre

22
4

10

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

1
8

Al-Qur’an dan Interpretasi Semiotik
Mohammed Arkoun

23
6

Daftar Pustaka

28
6

11

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

SSEMIOTIK

EMIOTIK DDII EEROPA

ROPA ZZAMAN
AMAN

KKLASIK

LASIK DAN

DAN PPERTENGAHAN
ERTENGAHAN

A. Prolog

Semiotik bukanlah istilah baru, istilah ini berasal dari
kata Yunani, semeion (berarti tanda) atau dari kata
semeiotikos (berarti ‘teori tanda’). Di Yunani sendiri,
pemakaian semeion dan semeiotikos digunakan oleh
para musisi untuk mencari not-not lagu pada alat musik,
sebagaimana dipergunakan pula oleh para ahli bedah
atau dokter untuk menditeksi penyakit. Embrio semiotik
dalam kajian tanda-tanda dalam bahasa dan budaya
seringkali dikaitkan dengan Plato dan Aristoteles. Plato
dianggap sebagai orang yang pertama kali meneliti asal
muasal bahasa dalam Cratylus. Sedangkan Aristoteles
selalu mencermati kata benda dalam bukunya Poetics
dan On Interpretation. Tanda pun telah menjadi bahan
polemik kira-kira tahun 300 SM antara madzhab Stoik
dan Epicurian. Dalam Madzhab Stoik, pengamatan
masalah semiotik sudah tumbuh sejak tahun 330-264
SM, yaitu melalui kajian Zeno, tokoh aliran Stoa yang
berasal dari Kition (Cyprus, Yunani). Ia melakukan
penelitian lewat tanda-tanda tangis dan tertawa. Hasil
penelitian Zeno ini membuahkan perbedaan tanda dari
aspek penanda dan petandanya. Berdasarkan
pengamatan Zeno ini tangis seseorang yang terlihat
dalam bentuk penampilannya merupakan penandanya.
Hal ini disebabkan bahwa ekspresi tangis itu secara
cepat dapat diamati melalui gerak, penampilan, suara,
atau nada tangisnya. Di balik gerak ekspresi lahiriyah,
yaitu makna menangis, merupakan petandanya.
Mengapa seseorang menangis? Apa sebabnya ia

12

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

menangis? Jawaban dari pertanyaan tersebut
merupakan penelusuran makna yang dapat dipahami
dari tangisan seseorang.
Pengkajian masalah tertawa yang dilakukan Zeno
pun dapat menimbulkan aspek penanda dan petanda.
Apa yang terlihat dalam penampilan, gerak tertawanya
merupakan penandanya. Sebaliknya, apa yang menjadi
maksud dan tujuan tertawa, misalnya sinis, mengejek,
lucu, jengkel, dan gembira merupakan petandanya.
Bentuk tangis dan tawa secara semiotik mengandung
dwimakna. Seseorang yang menangis belum tentu
bersedih hati. Adakalanya menangis karena
mendapatkan kegembiraan, yaitu sebagai luapan emosi
atau perasaannya yang meledak-ledak dan tidak
tertahankan. Penyaluran dari rasa emosi yang tidak
tertahankan itulah wujud dari tangisnya. Seseorang
tertawa pun bukan berarti selalu mendapat kesenangan,
adakalanya tertawa karena terkenang akan masa lalu,
sakit ingatan, jengkel, marah, atau sekedar
melampiaskan segala kesedihannya. Bermula dari
kajian semiotik Zeno tentang tangis dan tawa itulah
maka ilmu semiotik mulai dikembangkan.
Puji Santosa (1993:8-9) memberikan contoh yang
sama tentang kedwimaknaan antara tangis dan tawa
yang ditemukan dalam salah satunya puisi Sutardji
Calzoum Bachri yang berjudul Luka. Ekspresi luka dalam
sajak itu adalah “ha ha”. Makna kata luka berdasarkan
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1989:535)
memiliki arti leksikal (1) belah (pecah, cedera, lecet,
dsb) pada kulit karena kena barang yang tajam atau
lainnya; (2) menderita luka. Biasanya, orang yang
terkena luka ia akan mengaduh, bersakit hati, atau
menangis. Mengapa Sutardji justru mengekspresikan
luka dengan ha ha (tawa). Kata ha-ha berdasarkan KBBI
(1989:290) mempunyai arti leksikal, (1) kata seru
menyatakan girang; (2) kata seru untuk mengejek; (3)
kata seru untuk menyatakan lega; (4) suara orang

13

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

tertawa. Puisi Sutardji yang berjudul Luka dan isi
puisinya ha ha, menyiratkan makna tertawa dan
menangis. Jika hasil pengamatan Zeno tidak dikenal,
barangkali puisi Sutardji tersebut sulit dipahami.
Mungkin, kontradiksi atau kemenduaan jiwa manusia
(masochisme) lah yang ingin diungkapkan oleh puisi
Sutardji di atas.

Dalam kultur abad pertengahan, semiotik menjadi
ilmu tentang wacana (scientia sermocinalis; sermo
berarti wacana), yaitu kajian tentang lambang atau
simbol kebahasaan dengan mengacu pada logika
Aristoteles. Eugenio Coseriu menyebut bahwa pemikir
keagamaan yang merintis semiotik, terutama
terorientasikan pada “kitab suci” adalah Saint
Agustinus, yakni seorang uskup Roma yang hidup
sekitar abad kelima Masehi. Bahkan Coseriu mengklaim
bahwa St. Agustinus merupakan ‘pendiri semiotik
sebenarnya’, sekalipun menurut Winfred Noth banyak
ahli menyandarkan asal mula tradisi semiotik kitab suci
kepada nama Coseriu sendiri (Meuleman, 1996b:36).
Pengkajian intensif Agustinus terhadap kitab suci,
bermula dari pergolakan batin yang radikal yang
menghantarkannya bertobat kepada Tuhan untuk
menjadi manusia saleh dan alim. Kelak, selaku
pemimpin agama yang terkemuka, Saint Agustinus
meletakkan dasar sistem tanda di dalam mengkaji al-
Kitab.

Menurut Saint Agustinus, tanda tidak secara
langsung menunjuk pada sesuatu; ia hanya
mengekspresikan. Akan tetapi, apa yang diekspresikan
bukanlah individualitas pengirim tanda, melainkan
sesuatu yang bersifat internal dan prelinguistik, yang
ditentukan oleh berbagai faktor antara lain 1)
pengetahuan yang melekat pada sebuah tanda, dan 2)
pengetahuan imanen, yang sumber awalnya tidak lain
dari Tuhan (Yasraf, 2002:2). Segala sesuatu dapat

14

Immanent Knowledge

Outer World

Outer World (spoken)

Inner World (Thought)

Divine Power

Object of Knowledge

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

menjadi tanda, selama ia dapat membawa sebuah
makna tertentu. Satu-satunya yang tidak dapat menjadi
tanda adalah Tuhan itu sendiri; Tuhan justru memberi
warna pada setiap petanda akhir (ultimate signified). Ia
melihat hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara
setiap tanda yang digunakan manusia dalam proses
komunikasi, dan sumber-sumber kekuasaan Tuhan yang
memberi fondasi jaminan makna akhir pada setiap
tanda tersebut. St. Agustinus mengatakan bahwa ada
tanda dan makna yang lebih dalam lagi, yaitu petanda
dan makna-makna yang berkaitan dengan tanda-tanda
ketuhanan (divine signs).
Signs denotation connotation
myth divine signified

Atau

St. Agustinus mengklasifikasikan empat makna kitab

suci, yaitu

1.Analogi, yaitu penggunaan gambaran
sebuah teks untuk menjelaskan teks yang
lain (intertekstualitas; munasabah);
2.Etiologi (etiology), yaitu upaya mencari
sebab dari sebuah peristiwa yang dilukiskan
dalam kitab suci. Ini tentunya mendekati
pengertian

indeks

dalam terminologi

semiotik;

15

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

3.Alegori (allegory), yaitu sebuah cerita yang
mengandung makna kedua yang
tersembunyi di balik makna literal atau
makna yang tampak; dan
4.makna historis atau makna literal.
St. Agustinus memandang bahwa ‘tanda’ memainkan
peranan penting dalam teologi Kristen, karenanya wajar
bila persoalan tanda dan signifikasi menjadi perhatian
utama sejak awal sejarah gereja. St. Agustinus
beranggapan bahwa dunia ciptaan mengandung tanda
kehendak Allah. Bertolak dari pandangan ini, St.
Agustinus tidak membatasi berfungsinya tanda pada
bidang kebahasaan saja, namun ia menekankan adanya
pan-semiotik (semua yang ada adalah tanda dari
kehendak Tuhan). Pandangan St. Agustinus mengenai
pentingnya tanda, lambang dan parabel dalam teks al-
Kitab, telah mempengaruhi seluruh visi dunia Kristen
pada Abad Pertengahan dan menimbulkan apa yang
disebut oleh Noth sebagai pandangan ‘pan-semiotik
mengenai jagat raya”.
Berkat kegiatan dan ketekunannya yang tidak
pernah mengenal lelah, Agustinus berhasil
menerjemahkan bahasa al-Kitab dari bahasa Ibrani ke
dalam bahasa Roma. Terlahir dari konsep-konsep
Agustinus-lah, sampai sekarang, al-Kitab dapat
diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk
bahasa Indonesia. Selain usaha kerasnya dalam
menerjemahkan bahasa al-Kitab, Augustinus juga
meletakkan dasar-dasar pendidikan dengan melalui
tanda. Seseorang tidak akan dapat mengajar tanpa
dibantu adanya tanda-menanda. Lebih jauh, Augustinus
menegaskan bahwa tanpa menggunakan tanda, suatu
pengajaran atau pendidikan tidaklah memuaskan.
Peranan tanda menjadi penting sebagai media
pendidikan, yaitu dalam melaksanakan proses belajar-
mengajar yang lebih luas dan tinggi. Jika dalam

16

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

melaksanakan proses belajar-mengajar itu tanpa
menggunakan tanda-tanda, maka hanya dapat
mencapai tataran yang rendah.
Pengamatan Saint Agustinus ini membantu sekali
bila seseorang akan mengajarkan sastra kepada siswa.
Petunjuk dengan menggunakan tanda-tanda dapat
berupa teks sastra, baik itu berupa puisi, cerita pendek,
novel, film, maupun drama (sastra lakon). Lebih jauh
diharapkan, melalui pengajaran sastra dengan
menggunakan tanda-menanda dapat mendorong subjek
didik memiliki rasa kecintaan terhadap sastra. Setelah
rasa kecintaan itu tumbuh, rasa memiliki pun mendasari
rasa penghargaan terhadap karya sastra, yaitu sebagai
potensi karya budaya manusia. Rasa kecintaan dan rasa
memiliki akan karya sastra itu sendiri, merupakan
bagian dari kehidupan yang tidak terpisahkan dari
dirinya.

17

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

18

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

SSEMIOTIK

EMIOTIK MMODERN
ODERN

DDAN

AN KKOMPLEKSITAS
OMPLEKSITAS KKAJIAN
AJIAN

A. Menyoal Nama dan Definisi

Semiotik atau semiologi merupakan pseudo-

scientific

yang memokuskan kajiannya untuk
membedah tanda. Term pseudo-scientific dipergunakan
sebagai sebuah kompromi pandangan antara kubu yang
menyatakan bahwa semiotik merupakan sebuah ilmu
sebagaimana dikonstruk oleh Ferdinand de Saussure,
sebagian lagi menyebutkan bahwa semiotik hanya
merupakan sudut pandang, metode analisis, atau
pendekatan. Dalam buku, ini semiotik ditempatkan
sebagai “semacam” ilmu yang berisi objek kajian,
metode, pendekatan, dan teknik analisis; sebagai studi
sistematis mengenai reproduksi dan interpretasi makna,
bagaimana cara kerjanya, dan apa manfaatnya
terhadap kehidupan manusia.
Sebagaimana disebutkan di awal bahwa term
semiotik bukanlah istilah baru. Istilah ini berasal dari
kata Yunani, semeion, yang berarti tanda atau dari kata
semeiotikos yang berarti ‘teori tanda’. Menurut Paul
Colbey, kata dasar semiotik dapat pula diambil dari kata
seme (Yunani) yang berarti “penafsir tanda”. Namun,
meski semiotik sudah dikenal sejak masa Yunani, tetapi
sebagai satu cabang keilmuan, semiotik baru
berkembang sekitar tahun 1900-an. Istilah semiotik
sendiri baru digunakan pada abad XVIII oleh Lambert,
seorang filosof Jerman. Selain Lambert, menurut R.H.
Robin (1995:258), bahwa terdapat beberapa ahli yang
mempersoalkan tanda ini, yaitu Wilhelm von Humbolt

3

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

dan Schliercher.

Perbincangan sistematis semiotik baru menempati
posisi signifikan dalam khazanah ilmu pada abad
keduapuluh, yakni ketika logosentrisme menempati
posisi yang amat penting dalam filsafat. Arus
wacananya digulirkan dua tokoh founding father
semiotik, yaitu Ferdinand de Saussure dan Charles
Sander Peirce, masing-masing melalui karya anumerta
mereka. Meskipun hidup sejaman, kedua orang ini
tidaklah saling mengenal, karena tempat tinggal mereka
berjauhan, Saussure berada di daratan Eropa dan Peirce
berada di daratan Amerika. Arus wacana semiotik yang
mereka intodusir hampir berbarengan, sekalipun
menyandarkan prinsip semiotik mereka pada landasan
yang berbeda hingga melahirkan konsep-konsep yang
berbeda pula. Oleh karena disiplin yang mereka tekuni
berbeda, Peirce seorang pakar bidang linguistik dan
logika sedangkan Saussure seorang pakar linguistik
modern, menyebabkan adanya perbedaan yang
mendasar dalam penerapan konsep-konsep semiotik
sekarang ini.

Berkat penemuannya di bidang semiotik, Ferdinand
de Saussure (1875-1913) dinobatkan sebagai "Bapak
Semiotik Modern” bersama-sama Charles Sanders
Peirce (1839-1914). Semiotik pun kemudian menjadi
trend dalam wacana pemikiran dengan lahirnya
berbagai karya yang dilabeli semiotik atau sign, seperti
Elements de Semiologie (Barthes; 1953), Massge et
Signaux
(L.J. Prieto; 1966), Semieotike (Julia Kristeva,
1969), Introduction a la semiologie (G. Mounin, 1970),
Writings on the General Theory of Sign (Charles Morris,
1971), The Problem of l’arbitraine du signe (Gam
Krelidze, 1974), Coup d’Oeil sur le Development de la
semiotique
(Jakobson, 1975), A Theory of Semiotics
(Eco, 1976), dan Contribution to the Doctrine of Sign
(Sebeok, 1977) (Robin, 1995:258-282).

4

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

Dalam konteks Eropa dan Amerika modern, ada dua
istilah populer yang digunakan untuk menyebut ‘ilmu”
tentang tanda ini, yaitu semiologi dan semiotics. Bagi
para penutur dan lingkungan bangsa Eropa, terutama
dalam bahasa dan kebudayaan Prancis, nama semiologi
menjadi istilah yang populer. Mereka beramai-ramai
menggunakan istilah semiologi itu ke dalam berbagai
dunia ilmu pengetahuan, yang tidak terbatas pada ilmu
bahasa dan ilmu susastra, tetapi juga dalam disiplin
pengetahuan yang lain, misalnya seni lukis, arsitektur,
interior, antropologi budaya, filsafat, dan psikologi
sosial. Ferdinand de Saussure merupakan salah satu
tokoh yang gencar menggunakan istilah semiologi,
yang mula-mula merupakan bagian dari psikologi
sosial. Dalam definisi Saussure, semiologi merupakan
sebuah ilmu yang mengkaji kehidupan tanda-tanda di
tengah masyarakat. Beberapa buku dan kertas kerja
pun segera muncul dengan menggunakan istilah
semiologi, antara lain Barthes (1964), Derrida (1968),
Todorov (1966), Pierre Guiraud (1971), dan Kristeva
(1971), Eco (1976), L. Hjemslev, A.J. Greimas,
Leutricchia (1980), dan Aart van Zoest (1987) (Puji
Santosa, 1993:2). Mereka mempertahankan istilah
semiologi bagi kajiannya untuk menegaskan perbedaan
mereka dengan karya-karya semiotik yang menonjol di
Eropa Timur, Italia, dan Amerika Serikat.
Para penutur bahasa Inggris dan dalam dunia Anglo
Saxon (negeri Paman Sam), nama semiotics telah
menjadi istilah umum. Istilah ini pertama kali terlahir
dari buah pemikiran sang filusuf Amerika, Charles
Sanders Peirce. Semiotik Peirce merujuk pada “doktrin
formal tentang tanda-tanda”. Ia menyamakan semiotik
dan logika serta mengembangkan semiotik dalam
hubungannya dengan filsafat pragmatisme. Filsafat
pragmatisme Amerika yang digagas Peirce
dikembangkan oleh pengikut-pengikutnya, antara lain

5

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

William James (1842-1910), John Dewey (1859-1952),
dan George Herbert Mead (1863-1931) (Puji Santosa,
1993:3).

Menyoal penggunaan dua istilah yang berbeda
untuk menyebut studi tentang tanda ini, yakni semiologi
dan semiotik, sering diartikan sebagai dialektika antara
dua kubu semiotik modern, yakni kubu Ferdinand de
Saussure dan kubu Charles Sanders Peirce, yang
tentunya menyiratkan variasi-variasi penting dalam
penerapan konsep antara kedua kiblat semiotik tersebut
(Alex Sobur, 2001:110). Variasi-variasi tersebut bukan
hanya berkutat pada persoalan istilah, tetapi
menyangkut paradigma pemikiran tentang tanda, ranah
semiotik, metode interpretasi semiotik, dan proses
pengaplikasian analisis semiotiknya. Ada sebagian besar
pakar semiotik yang berkiblat pada Saussure, terutama
penerapan semiotik dari konsep-konsep linguistik dan
psikologi sosial. Ada sebagian pakar semiotik yang lain
berkiblat pada teori Peirce, terutama penerapan
semiotik dari konsep-konsep filsafat pragmatisme dan
logika. Bahkan ada pakar yang menggabungkan konsep
semiotik Peirce dan Saussure dalam menelaah bidang
disiplin ilmu pengetahuan lain, seperti Umberto Eco.
Sebagaimana disinggung di atas, Ferdinand de
Saussure memaksudkan semilogi sebagai “A science
that studies the life of signs within society is
conceivable, it would be a part of social psychology and
consequently of general psychology; I shall call it
semiology (from the Greek semeion ‘sign’. Semiology
would show what conastitutes signs, what laws govern
them
(sebuah ilmu yang mengkaji tanda-tanda di dalam
masyarakat. Ia bakal menjadi bagian dari psikologi
sosial dan, dengan begitu, psikologi general; saya akan
menamakannya semiologi [dari bahasa Latin semeion
tanda’]. Semiologi akan menunjukkan hal-hal apa yang
membangun tanda-tanda, hukum-hukum apa yang

6

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

mengaturnya). Implikasinya, tanda itu berperan
sebagai bagian dari kehidupan sosial dan juga sebagai
aturan sosial yang berlaku. Semiologi Saussure
dikembangkan di atas fundamen teori linguistik umum.
Kekhasan teoriya terletak pada kenyataan bahwa ia
menganggap bahasa sebagai sebuah sistem tanda.
Ketertarikan de Saussure ini berkisar pada persoalan
bahasa dan struktur yang digunakan oleh manusia
dalam menyingkap relasi-relasi unsur-unsur yang
membentuk suatu totalitas kompleks pada fenomena-
fenomena termasuk bahasa sebagai tanda. Subjek tidak
dianggap penting karena hanya pengguna, begitu pula
pertanyaan tentang sejarah dan perubahan. Ia
mengkonsentrasikan pada struktur atau seperangkat
unsur-unsur dalam satu sistem dan satu waktu tertentu
(sinkronik).

Peirce memaknai semiotik sebagai “studi tentang
tanda dan segala yang berhubungan dengannya; cara
berfungsinya (sintaksis semiotik), hubungan dengan
tanda-tanda lain (semantik semiotik), serta pengirim
dan penerimanya oleh mereka yang menggunakannya
(pragmatik semiotik)” (Panuti dan van Zoest, 1996:5-6).
Karenanya, menurut Peirce, tanda tidak hanya menjadi
otoritas bahasa dan kebudayaan melainkan dapat
dikembangkan pada seluruh gejala alam (pansemiotik).
Menurut Peirce, logika harus mempelajari bagaimana
orang menalar. Penalaran itu, menurut hipotesis teori
Peirce yang mendasar dilakukan melalui tanda-tanda.
Tanda-tanda memungkinkan manusia berhubungan
dengan orang lain dan memberi makna pada fenomena
alam.

Beberapa pakar susastra lain telah mencoba
mendefinisikan semiotik yang berkaitan dalam bidang
keilmuannya. Khusus dalam bidang susastra, menurut
A. Teeuw (1982: 42) “semiotik adalah tanda sebagai
tindak komunikasi.” Dalam buku yang lain, A. Teeuw

7

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

menyempurnakan definisi semiotik sebagai “model
sastra yang mempertanggungjawabkan semua faktor
dan aspek hakiki untuk pemahaman gejala susastra
sebagai alat komunikasi yang khas di dalam masyarakat
manapun juga”. Mempelajari semiotik susastra berati
pula mempelajari ilmu kebahasan yang tidak terlepas
pada pemahaman masalah tanda-menanda. Hal ini
dikarenakan bahwa susastra bermediumkan bahasa
yang tidak mungkin tidak dapat dihilangkan oleh
pengarang. Oleh karena itu, Teeuw (1983:12)
menyatakan bahwa dalam mengkaji semiotik susastra
kode pertama yang harus dikuasai adalah kode bahasa,
selain harus mengetahui pula kode sastra dan kode
budaya. Bagaimanapun karya sastra tidak dapat
memisahkan dan mengasingkan diri dari setting sosio-
historis-kultural.

Dick Hartoko (1984:42) memberi batasan semiotik
sebagai “bagaimana karya itu ditafsirkan oleh para
pengamat dan masyarakat lewat tanda-tanda atau
lambang-lambang.” Sedangkan Luxemburg (1984:48)
menyatakan bahwa semiotik merupakan “ilmu yang
secara sistematis mempelajari tanda-tanda dan
lambang-lambang, sistem-sistemnya dan proses
pelambangan.” Aart van zoest mendefinisikan semiotik
sebagai “studi tentang tanda dan segala yang
berhubungan dengannya, yakni cara berfungsinya,
hubungannya dengan tanda-tanda lain, pengirimannya,
dan penerimaannya oleh mereka yang
mempergunakannya.” Sebuah batasan yang dapat
dianggap sempurna adalah batasan yang diberikan
Sutadi Wiryaatmadja (1981:4) yang mendefinisikan
semiotik sebagai “ilmu yang mengkaji kehidupan tanda
dalam maknanya yang luas di dalam masyarakat, baik
yang lugas (literal) maupun yang kias (figuratif), baik
yang menggunakan bahasa maupun non-bahasa.”
Pendapat ini didukung oleh Rene Wellek (1956) yang

8

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

memasukkan image (citra), metaphor (metafora),
symbol (lambang) dan myth (mitos) ke dalam cakupan
semiotik.

B. Polemik tentang Tapal Batas Semiotik

Menanggapi pertanyaan tentang tapal batas
semiotik, beberapa ahli semiotik, seperti Umberto Eco
(1979:7-14), Roland Barthes (1967:109), serta Coward
dan Ellis (1977:1), tampaknya bersepakat tentang satu
hal, bahwa apapun bentuk tanda yang digunakan, siapa
pun ‘subyek’ yang terlibat, selama ia digunakan dalam
suatu sistem pertandaan dan komunikasi, serta
berlandaskan pada kesepakatan sosial (konvensi atau
kode) tertentu, dengan asumsi ‘makna’ tertentu, maka
ia merupakan fenomena semiotik (termasuk komunikasi
di dalam ilmu-ilmu agama).
Tanda ada di mana-mana; ia mencakup segala hal,
mulai dari bahasa, gerak-gerik, pakaian, boneka, menu
makanan, musik, lukisan film, sabun, bahkan dunia itu
sendiri. Pokoknya segala sesuatu yang secara
konvensional dapat menggantikan atau mewakili
sesuatu yang lain dapat disebut tanda. Sedemikian
banyaknya tanda yang “mengepung” manusia, sampai-
sampai manusia tidak menyadari bahwa apa pun yang
ada di sekelilingnya adalah tanda. Dalam kaitan dengan
hal ini, Charles Sanders Pierce menegaskan bahwa
manusia hanya dapat berpikir dengan sarana tanda.
Sudah pasti tanpa sarana tanda ini, manusia pun tidak
dapat berkomunikasi (Panuti & van Zoest, 1996:vii). Tak
seorang pun sanggup berhubungan dengan realitas,
kecuali bermediumkan berbagai tanda. Oleh karena itu,
salah satu cara untuk memahami manusia adalah
berupaya mengkaji bagaimana manusia menciptakan
dan menggunakan tanda.
Semiotik menganggap bahwa semua fenomena
masyarakat dan kebudyaan sebagai tanda. Semiotika

9

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

mempelajari sistem, aturan-aturan, dan konvensi-
konvensi yang memungkinkan tandatnada tersebut
mempunyai arti. Dengan demikian, jika semiotik atau
semiologi merupakan ilmu yang secara sistematik
mempelajari tanda, lambang, dan proses perlambangan,
menurut Ferdinad de Saussure, maka ilmu bahasa pun
dapat dikatakan sebagai semiologi, karena bahasa
merupakan salah satu sistem tanda di antara sekian
sistem tanda yang ada. Kata atau proposisi adalah
tanda sebagaimana gerak, lampu lalu lintas, bendera,
dan sebagainya. Bahkan bahasa Tuhan pun dapat
dikatakan “tanda”, baik itu yang ada dalam alam
maupun tanda tanda yang terdapat dalam firman-
firman-Nya (kitab suci atau wahyu). Struktur karya
sastra, struktur riil, bangunan, artefak, nyayian, mode
pakaian, atau sejarah dapat dianggap sebagai tanda.
Langkah Saussure selanjutnya adalah mengembangkan
pengertian semiologi menjadi ilmu yang bertugas
meneliti berbagai sistem tanda (Teeuw, 1984:46-47).
Bila salah satu bidang garapan semiotik adalah
mempelajari fungsi tanda dalam teks, maka tujuannya
adalah untuk memahami sistem tanda yang ada dalam
teks agar berperan membimbing pembacanya agar bisa
menangkap pesan yang terkandung di dalamnya.
Dengan ungkapan lain, semiotik berperan untuk
melakukan 'interograsi" terhadap kode-kode yang
dipasang penulis agar pembaca bisa memasuki bilik-
bilik makna yang tersimpan dalam sebuah teks.
Berkenaan dengan masalah tanda-tanda dalam bahasa,
Charles Morris, sebagaimana dikutip Alex Sobur,
(2001:102) membagi tiga klasifikasi semiotik sebagai
berikut:

1.Semiotik sintaktika (studi relasi formal tanda-
tanda), yakni studi tentang tanda yang berpusat
pada penggolongan, hubungan antar-tanda,
proses kerja samanya dalam menjalankan

10

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

fungsinya.
2.Semiotik semantika (studi relasi dengan
penafsirannya), yaitu studi tentang tanda yang
menonjolkan hubungan tanda-tanda dengan
acuannya dan dengan interpretasi yang
dihasilkannya.
3.Semiotik Pragmatika, yaitu studi tentang tanda
yang mementingkan hubungan antaa tanda
dengan pengirim dan penerimanya.
Dalam lapangan kritik sastra, semiotika meliputi
analisis sastra sebagai penggunaan bahasa yang
bergantung pada konvensi-konvensi tambahan dan
yang meneliti ciri-ciri atau sifat-sifat yang memberi
makna bermacam-macam cara wacana (Nyoman Kutha
Ratna, 2004:96).

Jika semiotik menggarap semua tanda yang ada,
maka ruang lingkup kajian semiotik akan menjadi begitu
luas. Hal ini, menurut Umberto Eco (1976), mungkin
akan menimbulkan kesan ‘imperialistis’. Kesan ini tidak
perlu dipersalahkan begitu saja karena semiotik, dengan
sejarahnya yang cukup panjang dan kepustakaannya
yang sangat luas, memang menyangkut makna
sehingga, sebagai konsekuensinya, cakupannya
menjadi begitu luas. Karenanya tidak salah jika
Ferdinand de Saussure dan Charles Sanders Peirce,
keduanya sebagai penggagas semiotik, meramalkan
bahwa semiotik akan banyak berguna bagi pelbagai
disiplin. Ramalan keduanya, dari hari ke hari,
menampakkan kebenarannya. Semiotik, yang mula-
mula diterima di lingkaran-lingkaran akademis terbatas,
semakin merambah ke dalam relung-relung disiplin
lainnya; bukan hanya ilmu sastra dan linguistik yang
dapat mengklaim pendekatan semiotik sebagai bagian
darinya. Namun, kuantitas dan kualitas intervensi
semiotik terhadap disiplin ilmu yang lain masih
diperdebatkan.

11

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

Pertanyaannya, menurut Yasraf (2002a:1) apakah
semiotik melingkupi segala jenis dan bentuk tanda,
mulai ekspresi muka, praktek ibadat, ritual, matahari,
arsitektur, seni fashion, film, sastra, dan ekspresi muka?
apakah semiotik melingkupi semua bentuk penggunaan
tanda, komunikasi, serta segala subjek yang terlibat di
dalamnya? Harus disadari bahwa karena wujud tanda
menyebar begitu luas, yaitu maka kemudian ranah
semiotik pun memiliki cakupan yang sangat luas.
Menurut Yasraf (2002a:1), setidaknya terdapat lima
‘subyek’ dalam berbagai rantai komunikasi, yaitu 1)
manusia, 2) makhluk lain, 3) alam, 4) benda/mesin, dan
5) Tuhan. Hubungan komunikasi antar manusia dikaji
dalam semiotik umum. Hubungan komunikasi antar-
fauna dikaji secara khusus dalam zoo-semiotics
(semiotik binatang). Komunikasi antara manusia-
komputer dikaji melalui semiotik formal. Namun, apakah
fenomena komunikasi manusia dengan jin atau malaikat
atau makhluk atau Tuhan atau lainnya merupakan
semiotik juga?

Semiotik pun merasuk ke dalam ilmu medis, dikenal
medical semiotics. Dokter mendiagnosa atau mengkaji
hubungan antara gejala (symptom) sebagai sebuah
‘tanda’ dengan penyakit tertentu. Dalam medical
semiotics,
terdapat beberapa ranah khusus, seperti
neurosemiotik dan psikosemiotik. Neurosemiotik lebih
khusus lagi dibanding psikosemiotik, yakni mencakup
kajian mengenai bagaimana realitas-realitas kognitif
yang ditunjukkan psikosemitotik direalisasikan secara
fisik di dalam otak, dengan implikasi bagi disiplin
afasiologi dan neurologi. Sedangkan, psikosemitik
mencakup seluruh aspek teori semiotik yang didasarkan
atas temuan-temuan psikologi, baik secara
eksperimental atau observasional. Secara lebih
spesisfik, psikosemiotik meliputi 1) eksperimetasi
psikologi yang didesain untuk mengukur sistem-sistem

12

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

semiotik yang ada di dalam benak manusia; 2) kajian
atas perkembangan penguasaan sistem-sistem semiotik
tersebut pada anak-anak; 3) penyusunan berbagai teori
semiotik yang dapat mengakomodasi dan menjelaskan
data psikologis tentang bagaimana manusia belajar dan
mengingat sistem-sistem semiotik selain bahasa; 4)
penerapan-penerapan psikologi terhadap semiotik
diakronis; dan zoosemiotik (Kris Budiman, 1999:96).
Meteorologi, membaca kondisi cuaca sebagai tanda
untuk mengetahui perubahan cuaca. Ilmu ekonomi
melihat kondisi pasar sebagai ‘tanda’ untuk mengetahui
trend pasar. Di negara-negara maju, seperti Amerika,
Prancis, atau Jepang, semiotik telah ikut merasuk ke
dalam displin-displin tradisional seperti antropologi,
arsitektur, ilmu politik, ilmu komunikasi, ilmu
pendidikan, geografi, seni dan desain, bahkan sampai
pada kajian bisnis, pemasaran, akuntansi, manajemen
periklanan, hukum, pariwisata, dan kesehatan. Secara
keseluruhan, luas atau tidaknya cakupan semiotik
tergantung pada batasan pengertian terhadap fokus
kajiannya, yakni tanda. Sementara itu, Mansoer Pateda
(2001:29) menyebutkan sembilan macam semiotik,
yaitu:

1.Semiotik analitik, yakni semiotik yang
menganalisis sistem tanda. Peirce menyatakan
bahwa semiotik berobjekkan tanda dan
menganalisisnya menjadi ide, objek, dan makna.
Ide dapat dikatakan sebagai lambang, sedangkan
makna adalah beban yang terdapat dalam
lambang yang mengacu kepada objek tertentu.
2.Semiotik deskriptif, yakni semiotik yang
memperhatikan sistem tanda yang dapat dialami
oleh setiap orang, meskipun ada tanda yang
sejak dahulu tetap seperti yang disaksikan
sekarang. Misalnya, langit mendung sebagai
tanda bahwa hujan akan segera turun,

13

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

merupakan tanda permanen dengan interpretasi
tunggal (monosemiotik).
3.Semiotik faunal (zoosemiotics), yakni semiotik
yang menganalisis sistem tanda dari hewan-
hewan ketika berkomunikasi di antara mereka
dengan menggunakan tanda-tanda tertentu, yang
sebagiannya dapat dimengerti oleh manusia.
Misalnya, ketika ayam jantan berkokok pada
malam hari, dapat dimengerti sebagai penunjuk
waktu, yakni malam hari sebentar lagi berganti
siang. Induk ayam berkotek-kotek sebagai
pertanda ayam itu telah bertelur atau ada yang
ditakuti.
4.Semiotik kultural, yakni semiotik yang khusus
menelaah sistem tanda yang berlaku dalam
kebudayaan masyarakat tertentu. Olah karena
semua suku, bangsa, atau negara memiliki
kebudayaan masing-masing, maka semiotik
menjadi metode dan pendekatan yang diperlukan
untuk ‘membedah’ keunikan, kronologi,
kedalaman makna, dan berbagai variasi yang
terkandung dalam setiap kebudayaan tersebut.
5.Semiotik naratif, yakni semiotik yang menelaah
sistem tanda dalam narasi yang berujud mitos
dan cerita lisan (foklorer). Menurut Mansoer
Pateda (2001:31), ancangan ini dipraktekkan
oleh Greimas.
6.Semiotik natural, yakni semiotik yang khusus
menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh
alam. Misalnya, Badan Meteorologi dan Geofisika
(BMG) melihat “awan yang bergulung di atas Kota
Jakarta”, sebagai dasar perkiraan “hujan akan
turun mengguyur kota Jakarta”. Misal lainnya,
“petir” yang menyertai hujan menandakan bahwa
“terdapat awan yang bergulung tebal, dan hujan
dipastikan turun dengan lebat”.

14

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

7.Semiotik normatif, yakni semiotik yang khusus
menelaah sistem tanda yang dibuat manusia
yang berujud norma-norma.
8.Semiotik sosial, yaitu semiotik yang khusus
menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh
manusia berujud lambang, baik lambang berujud
kata aatau pun kalimat. Ancangan ini
dipraktekkan oleh Halliday. Tokoh yang satu ini
memaksudkan judul bukunya Language and
Social Semiotik,
sebagai semiotik sosial yang
menelaah sistem tanda yang terdapat dalam
bahasa.
9.Semiotik struktural, yaitu semiotik yang khusus
menelaah sistem tanda yang dimanifestasikan
melalui struktur bahasa.
Sebagian ahli mengelompokan aliran semiotika
berdasarkan bidang-bidang kajian yang lebih
sederhana, yaitu:
1.Aliran semiotika komunikasi, dengan intensitas
kualitas tanda dalam kaitannya dengan pengirim dan
penerima, tanda yang disertai dengan maksud yang
digunakan secara sadar sebagai signal, seperti
rambu-rambu lalu lintas. Aliran ini dipelopori oleh
Buyssens, Prieto, dan Mounin.
2.Aliran semiotika konotatif, atas dasar-dasar ciri
denotasi kemudian diperoleh makna-makna
konotasinya, arti pada bahasa sebagai sistem model
kedua, tanda-tanda maksud langusng, sebagai
symptomp (gejala), di samping dalam sastra juga
diterapkan dalam berbagai bidang kemasyarakatan.
Aliran ini dipelopori oleh Roland Barthes.
3.Aliran semiotika ekspansif, diperluas dengan bidang
psikologi (terutama deepty psychology Freudian) dan
sosiologi Marxis, termasuk filsafat. Aliran ini
dipelopori oleh Julia Kristeva.

15

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

D. Bahan Dasar Semiotik

Kedua aliran besar semiotik bersepakat mengenai
komponen dasar semiotik. Komponen dasar semiotik
tidak terlepas dari masalah-masalah pokok mengenai
tanda (sign), lambang (symbol), dan isyarat (signal),
yang ketiganya memungkinkan terjadinya komunikasi
antara subjek dan objek dalam jalur pemahaman.
Pemahaman masalah lambang akan mencakup
pemahaman masalah penanda (signifier; signans;
signifant
) dan petanda (signified; signatum; signifie).

1. Tanda (sign)

Tanda diartikan sebagai representasi dari gejala
yang memiliki sejumlah kriteria seperti nama, peran,
fungsi, tujuan, dan makna. Tanda tersebut. berada di
seluruh kehidupan manusia dan dengan demikian ia
menjadi nilai intrinsik dari setiap kebudayaan manusia
dan menjadi sistem tanda yang digunakannya sebagai
pengatur kehidupannya. Oleh karena itu, tanda-tanda
itu (yang berada dalam sistem tanda) sangatlah akrab
dan bahkan melekat pada kehidupan manusia yang
penuh makna (meaningful action) seperti teraktualisasi
pada bahasa, religi, seni, sejarah, dan ilmu pengetahuan
(Alex Sobur, 2001:124).
Tanda merupakan sesuatu yang menandai sesuatu
hal atau keadaan untuk menerangkan atau
memberitahukan objek kepada subjek. Tanda-tanda
bersifat tetap, statis, tidak berubah, tanpa kreatif
apapun atau tanda adalah arti yang statis, umum, lugas,
dan objektif (Puji Santosa, 1993:4). Dalam hal ini tanda
selalu menunjukkan pada sesuatu hal yang nyata,
misalnya benda, kejadian, tulisan, bahasa, tindakan,
peristiwa, dan bentuk-bentuk tanda yang lain. Contoh
konkret, yaitu adanya hujan selalu ditandai oleh adanya
mendung yang mendahuluinya. Wujud tanda-tanda

16

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

alamiah ini merupakan satu bagian dari hubungan
secara alamiah pula, yang menunjuk pada bagian yang
lain, yakni adanya hujan dikarenakan adanya awan
bergulung. Tanda-tanda juga dibuat oleh manusia yang
dilekatkan pada makhluk lain yang tidak memilki sifat-
sifat kultural, misalnya bunyi-bunyi binatang
(onomatopea) yang menunjuk pada nama binatang itu
seniri. Seolah-olah bunyi yang ditimbulkan oleh binatang
itu tidak mempunyai makna apa-apa, kecuali sebagai
petanda dari binatang itu sendiri. Tiruan bunyi seperti
“kotek-kotek” akan menunjuk nama binatang ayam ,
“embe” menunjuk nama binatang kambing, “aum”
menunjuk nama binatang harimau, dsb.

2. Symbol (Lambang)
Lambang adalah sesuatu hal atau keadaan yang
membimbing pemahaman si subjek kepada objek.
Hubungan antara subjek dan objek terselip adanya
pengertian sertaan. Suatu lambang selalu dikaitkan
dengan adanya tanda-tanda yang sudah diberi sifat-sifat
kultural, situasional, dan kondisional. Warna merah
putih pada bendera bangsa Indonesia merupakan
lambang kebanggan bangsa Indonesia. Warna merah
diberi makna secara situasional, kondisional, dan
kultural oleh bangsa Indonesia adalah gagah, berani,
dan semangat yang berkobar-kobar untuk meraih cita-
cita luhur bangsa Indonesia, yaitu masyarakat adil
makmur. Di samping itu warna merah pada bendera
Indonesia melambangkan semangat yang tak mudah
dipadamkan, yakni semangat juang dan semangat
membangun. Demikian pula pada warna putih, secara
kondisional, situasional, dan kultural diberi makna: suci,
bersih, mulia, luhur, bakti, dan penuh kasih-sayang. Jadi,
lambang adalah tanda yang bermakna dinamis, khusus,
subjektif, kias
, dan majas.
Dalam karya sastra, baik yang berupa puisi, cerita

17

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

rekaan maupun drama, terdapat berbagai lambang,
antara lain lambang warna, lambang benda, lambang
bunyi, lambang suasana, lambang nada, dan lambang
viusalisasi imajinatif yang ditimbulkan dari tata wajah
atau tifografi. Sebaliknya, tanda yang terdapat dalam
karya sastra hanya bermanfaat untuk mengenal aspek
formal atau bentuk struktur fisiknya. Unsur-unsur cerita
rekaan seperti alur, penokohan, latar, sudut pandang,
gaya, dan suasana dapat dikenali dari pemahaman
tanda-tanda struktur sebuah cerita rekaan. Peirce
berpendapat bahwa lambang merupakan bagian dari
tanda. Setiap lambang adalah tanda, tetapi tidak setiap
tanda itu berarti lambang. Adakalanya tanda dapat
menjadi lambang secara keseluruhan, yaitu dalam
bahasa. Hal ini dimungkinkan karena bahasa merupakan
sistem tanda yang arbitrer sehingga setiap tanda dalam
bahasa merupakan lambang. Khusus dalam puisi
terdapat lambang bunyi, baik bunyi vokal maupun bunyi
konsonan yang menyiratkan makna tertentu.

Tanda

Lambang

Subjek Pengertian

Objek

lain

18

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

Gambar: Perbedaan antara Tanda dan Lambang (Puji

Santosa, 1993:5)

Bahasa sesungguhnya merupakan kesatuan yang
tidak dapat dipisahkan antara penanda dan petandanya.
Penanda adalah yang menandai dan sesuatu yang
segera terserap dan teramati, mungkin terdengar
sebagai bunyi atau terbaca sebagai tulisan, misalnya
(cinta), tetapi mungkin pula terlihat dalam bentuk
penampilan, msalnya: wajahnya memerah, nafasnya
terengah-engah, gerakannya gemetaran, tampangnya
menyeramkan, dan sebagainya. Petanda adalah sesuatu
yang tersimpulkan, tertafsirkan, terpahami maknanya
dari ungkapan bahasa dan non-bahasa.
Hubungan antara penanda dan petanda terdapat
berbagai kemungkinan dalam penggunaan bahasanya.
Pemahaman akan berbagai kemungkinan yang terjadi
dalam penggunaan bahasa akan menjadi dasar struktur
semiotis. Penanda adalah sesuatu yang ada dari
seseorang bagi sesuatu (yang lain) dalam suatu
pandangan. Penanda itu dapat bertindak menggantikan
sesuatu, dan sesuatu itu adalah petandanya. Penanda
itu menggantikan sesuatu bagi seseorang; seseorang ini
adalah penafsir. Penanda ini kemudian menggantikan
sesuatu bagi seseorang dari suatu segi pandangan; segi
pandangan ini merupakan dasarnya. Jadi, dalam
komponen dasar semiotik ini akan dikenal adanya
empat istilah dasar, yaitu penanda (signifier), petanda
(signified), penafsir (representament)
, dan dasar
(ground)
. Gejala hubungan antara keempat hal tersebut
akan menentukan hakikat yang tepat mengenai
semiosis sehingga dalam menghadapi berbagai
persoalan susastra-baik secara wajar berdasarkan

19

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

konvensi maupun yang tidak secara wajar (dengan
pemutarbalikan konvensi atau penyimpangan kaidah)
dapat diatasi dengan baik melalui ancangan semiotik.

3. Isyarat (signal)
Isyarat adalah sesuatu hal atau keadaan yang
diberikan oleh si subjek kepada objek. Dalam keadaan
ini si subjek selalu berbuat sesuatu untuk
memberitahukan kepada si objek yang diberi isyarat
pada waktu itu juga. Jadi, isyarat selalu bersifat
temporal (kewaktuan). Apabila ditangguhkan
pemakaiannya, isyarat akan berubah menjadi tanda
atau perlambang. Ketiganya (tanda, lambang, dan
isyarat) terdapat nuansa, yakni perbedaan yang sangat
kecil mengenai bahasa, warna, dan lainnya.

20

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

21

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

AAKAR

KAR DAN

DAN MMADZHAB

ADZHAB SSEMIOTIK
EMIOTIK

DDII EEROPA

ROPA DDAN

AN AAMERIKA

MERIKA MMODERN
ODERN

Isi tulisan yang terkandung di bawah judul di atas
tentunya tidaklah sehebat judulnya. Yang ingin dicapai
adalah sekedar indeks-metonimik, yakni hanya
menyebutkan sebagiannya untuk menggambarkan
sesuatu yang besar. Indeks-metonimik ini ibarat “teori
gunung es di lautan”, yang muncul hanya sebagian
kecil, sedangkan sebagian besarnya berada di dalam
lautan. Oleh karena itu, tulisan bagian ini berusaha
memaparkan sebagian kecil kecendrungan dan
pemikiran ‘tokoh semiotik’ (atau tepatnya beberapa
tokoh yang diklaim mewakili ‘tokoh semiotik’) di
belahan dunia Eropa dan Amerika Modern. Sekali lagi,
pembaca tidak usah membayangkan bahwa buku ini
memaparkan ‘tokoh-tokoh semiotik’ yang ada di dua
benua tersebut satu per satu. Yang ada adalah upaya
‘meng-ekor’ terhadap klaim-klaim dalam memilih dan
memilah tokoh dan pemikiran. Mungkin saja, tulisan ini
masih mempraktekkan logosentrisme, yakni terjebak ke
dalam “opini logo” yang dipromosikan orang lain.
Menurut Noth ada empat tradisi yang
melatarbelakngi kelahiran semiotika, yaitu semantik,
logika, retorika, dan hermeneutika.

A. Marginalisasi Teks

Dalam sejarah di dua benua tersebut, teks memiliki
sejarah panjang, hampir sebanding dengan sejarah
manusia. Namun demikian teks tidak pernah menduduki
posisi yang mapan di sepanjang zaman. Selama abad
ke-19, misalnya, ketika kaum Romantik dan
Ekspresionis mendominasi praktek kajian teks,

3

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

perhatian utama teori dan studi teks terfokus kepada
pengarang sebagai penghasil karya sastra. Tolok ukur
penilaian karya sastra (literary work) adalah persoalan
orisinalitas, jenialitas, kreativitas, dan individualitas
pengarang (penulis), bukan karya sastra sendiri sebagai
teks. Teks dimarjinalkan sebagai komplemen dari sang
pengarang (dirinya, jiwanya, daya ciptanya, intensinya,
dan sebagainya).
Pada abad ke-20, teks yang semula marginal
diangkat pamornya sebagai objek vital di tangan kaum
Formalisme di Rusia tahun 1914-1915, yang kemudian
disusul oleh Strukturalisme di Praha 1930-an, dan
terwujud pula gerakan New Criticism di Amerika. Dapat
dikatakan bahwa kemunculan Formalisme, yang
merupakan reaksi terhadap Romatisme dan
Ekpresionisme pada abad ke-19, telah membawa
tranformasi menuju babak baru kajian teks, terutama
dalam ilmu sastra. Pergeseran itu terjadi karena para
teoritikus menyadari bahwa teks merupakan fakta
objektif, wilayah otonom, dan terlepas dari pengarang
dan pembaca. Dalam konteks studi sastra, misalnya,
teks menjadi perhatian utama, bukan lagi hal-hal yang
berkaitan dengan pengarang dengan berbagai
atributnya. Hal ini sesuai dengan ungkapan Dresden
(Teeuw, 1991:218) yang menyatakan, “hal terpenting
adalah dunia dalam kata”.
Kendati keyakinan otonomi teks (sastra) berhasil
menggeser pemikiran teori teks (sastra) abad ke-19,
pada masa-masa selanjutnya (dalam abad ke-20 dan
21) timbul kesadaran baru bahwa ternyata bahasa
sastra tidak mampu menyajikan seluruh idealitas,
impian, harapan, pengalaman, dan kekecewaan
manusia. Orientasi pemikiran teori sastra bergerak dari
otonomi teks (sastra) ke arah pembaca yang diberi
kebebasan relatif sampai absolut untuk merekonstruksi
bahkan mendekonstruksi teks. Sehingga, teks sastra

4

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

secara radikal tidak lagi diklaim sebagai wilayah otonom
yang mampu memenuhi dirinya sendiri, tetapi memiliki
kebergantungan yang tinggi dengan wilayah di luarnya,
misalnya dengan teks-teks lain (interteks) atau dengan
respons-respons pembaca. Berkaitan dengan respons-
respons pembaca, terlihat bahwa penafsiran teks
merupakan sifat yang sangat mencolok mengenai kritik
sastra di abad ke-20. Untuk menafsir teks dibutuhkan
pendekatan yang dapat digunakan untuk membedah
teks, misalnya teks kesusastraan.
Semiotik, sebagai salah satu alternatif untuk
mengkaji teks, terutama teks karya sastra, mucul sejak
perhatian pakar sastra memfokuskan diri pada
hubungan antara petanda dan penanda. Dalam proses
memahami, makna bukan secara tiba-tiba tampil di
hadapan pembaca, melainkan melalui proses panjang
sebagai kelanjutan dari ancangan sebelumnya, yakni
formalisme Rusia dan Strukturalisme Praha. Kaum
formalisme Rusia berpendirian bahwa ada hubungan
antara perkembangan karya sastra dan sikap terhadap
karya sastra itu sendiri. Dalam hal ini nilai susastra terus
menerus berubah sehingga sukar untuk menentukan
sebuah batasan tentang pengertian susastra itu sendiri.
Perubahan inilah yang tampaknya mendominasi
pandangan para Formalis Rusia itu. Penganut faham
Formalisme Rusia ini sama sekali tidak memahami karya
sastra sebagai media tanda yang memungkinkan
terjadinya komunikasi, baik karya itu sendri secara
otonom, karya sastra dengan pembaca, karya sastra
dengan semesta, karya sastra dengan pengarangnya
sendiri, maupun. dialog antara pengarang dan
pembaca. Semua yang diabaikan Formalisme Rusia
tersebut menjadi pusat perhatian kaum strukturalisme
Praha. Menurut anggapan faham ini karya sastra
sebagai teks atau naskah adalah tanda yang otonom
dalam proses komunikasi. Ia sama sekali bukan ekspresi

5

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

langsung pengarangnya dan juga bukan cermin jiwa
pembacanya. Jadi, karya sastra dalam kedudukannya
yang otonom dalam proses komunikasi akan hilang
eksistensinya sebagai karya seni. Karya sastra hanyalah
artefak atau benda seni, yang tidak mungkin dipahami
tanpa diberi makna oleh pembacanya (Puji Santosa,
1993:1).

Mengatasi terjadinya kemacetan komunikasi dalam
merebut makna karya sastra ini, maka diciptakan
sebuah acangan semiotik. Dasar dari semiotik ini adalah
tanda sebagai tindak komunikasi (Teeuw, 1982:18).
Berdasarkan pengertian ini maka setiap tanda yang
terdapat dalam karya sastra baik mengenai penanda
maupun petandanya selama masih dapat
memungkinkan terjadinya komunikasi dengan berbagai
pihak terkait, terutama insan susastra, maka dapat
dikategorikan termasuk ancangan semiotik. Bermula
dari bahasa sebagai sistem tanda, maka karya sastra
yang bermediumkan bahasa merupakan sistem semiotik
atau sistem tanda. Pengarang pun ketika
mengekspresikan idenya menggunakan bahasa,
karenanya pengarang pun harus memanfaatkan
semiotik dalam karya sastranya. Jadi, sastra merupakan
sistem tanda tingkat kedua karena menggunakan
bahasa sebagai bahasa dasarnya (Puji Santosa, 1993:2).
Bila sudut pandang ini dapat diterima, maka
semiotik merupakan hasil atau respon terhadap
stagnasi formalisme dan strukturalisme. Namun
demikian, dapat dikatakan bahwa formalisme,
strukturalisme, dan semiotika, masing-masing berakar
pada kondisi yang berbeda sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni,
sosial, dan budaya yang menghasilkannya. Keterkaitan
sejarah dan tradisi intelektual antara strukturalisme dan
semiotik kemudian memunculkan anggapan bahwa teori
keduanya menjadi identik, sebagaimana dikatakatan

6

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

Culler, yakni strukturalisme memokuskan kajiannya
pada karya, sedangkan semiotik memokuskannya pada
tanda. Raman Selden menganggap keduanya berada
wilayah kajian yang sama sehingga dapat dioperasikan
secara bersama-sama. Menurut Selden, untuk
menemukan makna terdalam dari sebuah karya harus
dikaji melalui kajian struktural yang dilanjutkan dengan
kajian semiotik. Dengan demikian, masih menurut
Selden, kajian semiotik mengharuskan adanya kajian
struktural. Dalam hubungan ini, proses dan cara kerja
analisis keduanya bagaikan dua sisi mata uang, yang
tidak dapat saling dipisahkan.

B. Pertentangan Filosofis Materialisme dan
Idealisme

Pada dasarnya, wacana semiotik modern pun
dilatarbelakangi oleh pertentangan filosofis, khusunya
yang berkaitan dengan hubungan antara ‘tanda’,
‘makna’, dan ‘realitas’, yaitu antara paham
materialisme dan idealisme (Yasraf, 2002a:2). Paham
materialisme menegaskan bahwa realitas itu otonom—
dari dan untuk dirinya sendiri—yang melingkupi seluruh
realitas, serta mengikuti hukumnya sendiri, tanpa
campur tangan sesuatu yang melampauinya. Menurut
paham ini, makna atau pertandaan sistem komunikasi
diproduksi oleh manusia di dunianya dengan sistem dan
kodenya sendiri, tanpa campur tangan kode-kode
transendental.

Sebaliknya, menurut paham idealisme dalam sistem
penandaan dan komunikasi, makna dari tanda
dikatakan bersifat transenden, yakni melampaui realitas
itu sendiri. Dengan kata lain, paham ini menuntut
adanya satu fondasi atau titik pusat (centre), tempat
bersandarnya suatu sistem tanda. Sifat transenden
dalam pertandaan seperti diyakini oleh paham
idealisme, dikatakan, melekat pada pemikiran semiotik

7

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

Saussure. Hal ini disebabkan pemahamannya bahwa
individu itu tidak lebih dari “pengguna” kode-kode sosial
yang telah tersedia. Pemahaman Saussure ini kemudian
membuatnya tidak tertarik lagi untuk mengkaji bahasa
secara diakronik, yakni dari sudut pandang sejarah dan
perkembangan penggunaan bahasa, melainkan lebih
tertarik pada struktur yang menopang bahasa tersebut
(Yasraf, 2002a:2).
Pemikiran Saussure ini melahirkan lingkaran
intelektual yang sangat berpengaruh dalam jangka
waktu antara tahun 1950-1960. Madzhab pemikirannya
ini kemudian diberi identitas sebagai madzhab
strukutralisme. Sesuai namanya, strukturalisme
berkaitan dengan “penyingkapan struktur berbagai
aspek pemikiran dan tingkah laku”. Strukturalisme
tidaklah berusaha untuk menyoroti mekanisme sebab-
akibat dari suatu fenomena, melainkan tertarik pada
konsep, bahwa satu totalitas yang kompleks dapat
dipahami sebagai satu rangkaian unsur-unsur yang
saling berkaitan. Sebuah unsur hanya dapat dipahami
sebagai satu rangkaian secara total. Fokus utama
strukturalisme terletak pada analisis relasi antar
berbagai unsur, bukan pada hakikat unsur tersebut.
Menurut strukturalisme, ‘makna’ dari setiap unsur, pada
situasi tertentu, tidak dapat diungkapkan di dalam unsur
itu sendiri, melainkan hubungan antara unsur tersebut
dengan unsur-unsur lainnya. Misalnya, kata ayam
seperti yang terlihat pada realitas, ia bukan ‘ayah’,
‘maya’, ‘ayat’, atau ‘azan’.
Pemikiran strukturalisme ini secara singkat dapat
disimpulkan sebagai berikut; 1) strukutralisme tidak
menganggap penting individu sebagai “subjek”
pencipta, dan melihatnya lebih sebagai pengguna kode
yang tersedia; 2) Strukturalisme memberikan perhatian
yang sedikit pada masalah sebab akibat, dan
memusatkan dirinya pada kajian tentang struktur; 3)

8

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

Strukturalisme tidak menganggap penting pertanyaan
tentang sejarah dan perubahan, dan lebih
berkonsentrasi pada jalinan hubungan antara
seperangkat unsur-unsur di dalam satu sistem pada
satu waktu tertentu (Yasraf, 2002:4). Lebih jauh lagi,
langkah-langkah kritik sastra strukturalis adalah sebagai
berikut:
1.Mereka menganalisi prosa naratif, dan merealisasikan
teks pada tataran yang lebih besar berdasarkan
pada struktur, seperti a) Konvensi dari genre sastra
secara partikular, atau b) Jaringan kerja dari koneksi-
koneksi intertekstual, atau c) Model relasi sebuah
struktur naratif yang universal, atau d) Gagasan
naratif dianggap sebagai pengulangan pola yang
kompleks.
2.Mereka menginterpretasikan sastra dalam suatu
tatanan yang berhubungan dengan struktur bahasa
sebagaimana diungkapkan dalam linguistik modern.
Contohnya, mitem (mytheme) dari Levi Strauss,
mendenotasikan sebuah unit terkecil dari pengertian
(sense) naratif yang dianalogikan sebagai morfem,
yang dalam linguistik berarti unit terkecil dari
penngertian (sense) gramatikal.
3.Mereka meletakkan konsep peolaan dan penstrukturan
sistematik pada seluruh wilayah kebudayaah barat,
dan lintas budaya, menganggap kebudayaan
sebagai ‘sistem tanda’; apapun mulai dari mitos
Yunani kuno hingga merk sabun dan bedak (Barry,
1995:49).

Menurut Fages, sebagaimana dikutip oleh Noth
(1995:295), analisis struktural biasanya mengikuti
sebagian atau keseluruhan dari ketujuh kaidah sebagai
berikut:

1.Imanensi. Analisis struktural melihat struktur
dalam rangkan sistem dan dalam perspektif
sinkronis. Jadi, struktur adalah suatu bangun yang

9

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

abstrak yang komponen-komponennya terikat
dalam suatu jaringan relasi, baik di dalam
struktur (secara sintagmatis) maupun ke luar
struktur (secara asosiatif).
2.Petinensi. Analisis struktural melihat makna suatu
komponen struktur denganmengidentifikasi ciri
pembeda di antara komponen tersebut dengan
komponen(-komponen) yang lain dalam rangka
suatu sistem. Akhirnya, ciri pembeda itu sendiri
menjadi lebih dipentingkan daripada
komponennya sendiri.
3.Komutasi. Analisis struktural menggunakan tes
komutasi, yakni tes oposisi pasangan minimal
untuk mengindektifikasi ciri pembeda antar-
komponen dalam suatu sistem.
4.Kompabilitas. Analisis struktural melihat
komponen-komponen struktur dalam rangka
kombinasi dan kesesuaian antarkomponen (relasi
sintagmatis).
5.Integrasi. Analisis struktural melihat struktur
sebagai suatu kesatuan (totalitas) dalam suatu
sistem.
6.Sinkroni sebagai dasar analisis. Analisis diakronis
adalah analisis berdasarkan poros waktu
(memperlihatkan perkembangan), sedangkan
analisis sinkronis adalah analisis pada satu
lapisan waktu dan ruang dalam poros waktu.
Dalam melakukan kajian diakronis, analisis
struktural bertumpu pada lapisan-lapisan analisis
sinkronis.
7.Fungsi. Analisis struktural melihat komponen-
komponen struktur dalam suatu sistem sebagai
memiliki fungsi tertentu (dalam hal bahasa, fungsi
dilihat dalam rangka komunikasi).
Melihat Ferdinand de Saussure yang menggagas
semiologi dan di sisi lain ia dianggap sebagai perintis

10

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

strukturalisme, maka kemudian muncul anggapan
bahwa semiotik tidaklah mungkin dipisahkan dari
strukturalisme. Bagi sebagian kalangan, perbincangan
tentang semiotik harus diletakkan dalam konteks
perkembangan strukturalisme, karena seolah-olah
semiotik lahir sesudah strukturalisme. Hal yang jelas
adalah bahwa lahirnya semiotik, khususnya di Eropa,
tidak dapat dilepaskan dari bayangan strukturalisme
yang mendahuluinya dalam perkembangan ilmu
pengetahuan budaya. Dalam upaya menjelaskan
budaya, teori strukturalisme dapat dipergunakan,
namun itu tidak cukup karena strukturalisme seringkali
tidak dapat menjelaskan beberapa gejala budaya secara
tuntas. Karenanya, semiotik muncul sebagai langkah
selanjutnya. Dengan demikian, kebudayaan tidak hanya
dilihat sebagai struktur, tetapi juga sistem tanda.
Noth (1990:258-386) mengetengahkan bahwa pada
perkembangan strukturalisme, pada tahap tertentu,
berujung di semiotik. Perkembangan dari strukturalisme
ke semiotik terbagi dua, yakni 1) yang sifatnya
melanjutkan sehingga ciri-ciri strukturalisme masih
sangat kental kelihatan (kontinuitas); seperti nampak
dalam konsep-konsep semiotik Roland Barthes (pada
fase awal) (1915-1980), Roman jakobson (1896-1982),
atau Greimas (1917-1992). Sudut pandang kelompok
pertama ini sering dikenal sebagai dikotomis atau diadik
(masih dekat dengan strukturalisme), dan 2) yang
sifatnya mulai meninggalkan sifat-sifat strukturalisme
untuk lebih menonjolkan kebudayaan sebagai sistem
tanda (evolusi). Usaha ini nampak pada pemikiran
Kristeva, Lacan, dan Umberto Eco. Tokoh terakhir
terkenal dengan padangan trikotomis atau triadik (tidak
ada hubungan dengan strukturalisme). Namun, bertolak
dari tujuh kaidah strukturalis (imanensi, pertinensi,
komutasi, kompabilitas, integrasi, sinkroni sebagai
dasar diakronis,
dan fungsi), terlihat bahwa para

11

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

semiotikus (semiotician) masih mempertahankan atau
menyinggung analisis struktur.
Pada perkembangannya, sekalipun semiotik diklaim
sebagai salah satu ujung strukturalisme, namun
terdapat perbedaan yang mendasar antara kajian
strukturalisme dan semiotik. Para semiolog melihat
bahwa kajian-kajian strukturalisme bersifat idealistik
serta tertutup dalam strukturnya. Disebut idealistik
karena kognisi manusia merupakan acuan dasar
strukturalisme dalam memahami realitas dunia. De
Saussure sendiri menyatakan bahwa bahasa merupakan
suatu sistem (atau struktur) yang abstrak. Bahasa
berada dalam wilayah kognisi masyarakat serta tidak
mempunyai referensi dengan realitas. Bersifat tertutup
dalam arti bahwa relasi antar-unsur dalam struktur dan
sistem bersifat terbatas. Strukturalisme hanya
mengenai relasi sintagamatik (relasi antara unsur dalam
struktur yang sama atau relasi im presenstia) dan relasi
paradigmatik (relasi antar-unsur dalam satu struktur
dengan unsur di luar struktur atau relasi im absentia).
Adapun semiotik mengusulkan bahwa sistem tanda
mempunyai hubungan erat dengan realitas. Semiolog
seperti Peirce mamandang bahwa pemberian makna
(signifikasi) menjadi penting ketika manusia berhadapan
dengan realitas seperti memberi nama pada benda.
Pada Eco, dunia merupakan opera operta (kaya terbuka)
yang mengundang manusia untuk menafsirkannya,
yakni realitas tidak otonom tetapi dibentuk oleh
manusia.

D. Madzhab dan Pemikiran Semiotik Eropa dan
Amerika Modern

Berbagai teori yang lahir di Eropa dan Amerika
umumnya lahir sebagai sebuah respon atau penajaman
analisis terhadap unsur yang terdapat dalam sistem
komunikasi bahasa, termasuk komunikasi sastra.

12

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

Unsur-unsur itu, minimal, terdiri dari penulis (pengirim),
pembaca (penerima), tulisan (teks; wicara), kode, dan
konteks. Teori-teori yang lahir dalam penajaman analisis
tersebut adalah romantik (dan ekspresionisme),
marxisme, formalisme, strukturalisme, dan orientasi-
pembaca.

Teori-teori romantik (dan ekspresionisme)
menekankan proses kreatif penulis dan kehidupannya.
“Kritik sastra-pembaca” (kritik sastra fenomenologis)
memusatkan diri pada pembaca. Teori-teri formalis
berpusat pada kodrat tulisan secara otonom. Kritik
sastra marxis memandang konteks kemasyarakatan dan
kesejarahan sebagai dasar. Selanjutnya, poetika
strukturalis memberikan penekanan pada kode-kode
yang digunakan untuk menyusun arti. Menurut Raman
Selden (1996:xi), tidak ada satu pun teori-teori itu
mengabaikan dimensi komunikasi sastra yang lain
secara total. Misalnya, dalam kritik sastra Marxis,
penulis, pembaca, dan teks semuanya terangkum dalam
sebuah perspektif kemasyarakatan secara umum.
Namun sebaliknya, tidak ada satupun teori yang benar-
benar memberikan penekanan pada seluruh dimensi
komunkasi sastra tersebut. Apabila semiotik kemudian
ditempatkan sebagai evolusi dari strukturalisme, maka
dalam hal ini fokus kajian utama semiotik adalah kode.
Namun demikian, sekian banyak tokoh semiotik tetap
saja memperhatikan unsur-unsur lain, bahkan sebagian
semiotik bergerak memberi penekanan-penekanan pada
unsur-unsur lain, selain kode.

Konteks

Penulis

Tulisan

Pembaca

Kode

13

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

Marxis

Romatik

Formalist
ik

Orientasi-
Pembaca

Struktura
lis

Dalam sejarahnya, banyak tokoh semiotik (atau
mungkin para pencinta semiotik mengelompokkan
tokoh-tokoh tersebut sebagai tokoh semiotik) yang lahir.
Demikian pula dengan madzhab-madzhab semiotik.
Namun dalam konteks madzhab semiotik, jarang
seorang tokoh menyebutkan madzhab yang
dilahirkannya, tetapi kebanyakan orang yang hidup
belakangan (terutama murid-murid, atau penganut
paham seorang tokoh), mengidentikkan pemikiran
seorang tokoh kepada madzhab tertentu. Katakanlah
Ferdinand de Saussure ketika ia mengintrodusir
pemikiran dalam bidang linguistik dan semiologi, ia
tidak memproklamirkan madzhab strukturalisme atau
semiologi-strukturalis. Para murid dan penganut
pemikirannya lah yang menyebutkan bahwa Saussure
merupakan pendiri strukturalisme atau semiologi
struktural. Dalam hal ini tentunya pula, sebagaimana
disebutkan di awal tulisan ini, tipologi madzhab-
madzhab semiotik di bawah ini berdasarkan anggapan
populer tentang identitas seorang tokoh dalam bidang
semiotik; dengan kata lain, apa identitas madzhab
semiotik yang diberikan oleh para penulis sebelumnya,
maka penulis ikuti di sini.
Sebagaimana diklaim banyak orang bahwa terdapat
semacam ‘kubu-kubu’-an dalam semiotik Eropa dan
Amerika. Semiotik Eropa atau dikenal pula sebagai
semiotik kontinental dibangun di atas temuan
intelektual Ferdinand de Sasussure dalam bidang
linguistik. Pandangan semiotik de Saussure

14

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

dikembangkan lebih lanjut oleh Roland Barthe dan
Hjelmslev (seorang strukturalis asal Denmark).
Sedangkan semiotik Amerika atau dikenal pula sebagai
semiotik Anglo Saxon dikembangkan oleh Charles
Sanders Peirce yang berdiri di atas filsafat pragmatisme.
Tentunya seperti diklaim, bahwa perbedaan pijakan
dari de Saussure dan Peirce menyebabkan hasil kajian
keduanya menjadi berbeda.
Di samping penyebutan madzhab semiotik
berdasarkan geografis di atas, masih banyak penamaan
madzhab atau nama aliran semiotik lainnya yang
disandarkan kepada fokus kajian atau konsep yang
dimunculkan oleh tokoh tersebut. Misalnya, Panuti
Sudiman dan Zoest (1922:3-4) menyebutkan adanya
aliran semiotik konotasi yang dipelolpori oleh Roland
Barthes, aliran semiotik ekspansionis yang dipelopori
Julia Kristeva, dan aliran semiotik behavioris yang
dipelopori oleh Charles Moris. Prinsipnya, penamaan ini
dibuat secara berbeda oleh setiap penulis, tergantung
kepada pemahaman dan perspektif para penulis ketika
mengapresiasi karya-karya dari para tokoh semiotik
tersebut. Sekali lagi, nama-nama ini merupakan kerjaan
orang yang hidup belakangan atau orang yang ingin
menyimpelkan saja. Misal, karena Roland Barthes lebih
banyak menganalisis aspek konotatif dari objek-objek
telaahnya, maka secara serampangan saja orang
menyebutnya sebagai tokoh semiotik konotasi.
Demikian pula aliran-aliran lainnya.
Memang terdapat banyak arus utama (madzhab)
pemikiran semiotik semenjak Saussure merancang
bangun semiologi dan Peirce mengkonstruksi semiotik,
namun rata-rata tidak menyebut nama alirannya. Oleh
karena itu, ketika setiap orang memberi ‘label’ kepada
hasil “olah intelektual’ para tokoh tersebut, adalah
menjadi sah dan menjadi hak setiap orang, ya.. demi
kebebasan ekspresi dan reproduksi makna. Tentunya,

15

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

penamaan yang terdapat dalam tulisan ini pun ingin
didudukkan dalam ‘koridor’ tersebut, yakni kebebasan
ekspresi dan repsroduksi makna, namun tentunya tidak
melepaskan alasan ‘rasionalitas’ penamaan. Ada banyak
tokoh dan penamaan semiotik yang ditulis di sini, yiatu
Ferdinand de Saussure (Praha) dengan semiotik
signifikasi, Peirce (Amerika) dengan semiotik
komunikasi, Roman Jakobson (imigran asal Rumania,
menetap di Prancis) dengan semiotik struktural,
Hjemslev (Swedia) dengan Glosematika, Greimas
(imigran asal Lithuania menetap di Prancis) dengan
aktansial-wacana Naratif, Roland Barthes (Prancis)
dengan semiotik transisi dari Strukturalis ke Post-
Strukturalis, Haliday dengan semiotik sosial, Paul
Ricoeur dengan Semiotik Long Road, Jaques Lacan
(Prancis) dengan Psikoanalisis, Jacques Derrida (terlahir
di Aljajair kemudian berimigrasi ke Prancis) dengan
dekonstruksi, Umberto Eco (terlahir di Alexandria, Italia)
dengan Semiotik Model Petofi, Julia Kristeva (imigran
asal Bulgaria menetap di Prancis) dengan semiotik
revolusioner, Todorov (imigran asal Rusia menetap di
Prancis dengan semiotik narasi, dan terakhir Riffaterre
dengan semiotik Superreader. Selain itu, Mohammed
Arkoun ditambahkan di sini sebagai bahan
perbandingan.

Namun demikian, terdapat hal yang perlu dieliminir
bahwa membaca dan memahami berbagai aliran dan
pemikiran semiotik tersebut, biasanya, pembaca
dihadapkan pada pelbagai stream of thought,
meminjam istilah William James, dengan segala
implikasi pemikirannya. Misalnya, ketika pembaca
memahami ‘hubungan antar tanda dan realitas’, maka
pembaca dihadapkan pada dua pendapat bertentangan,
yakni Saussure dan Peirce. Saussure menyatakan
bahwa tanda merupakan akumulasi sistem bahasa yang
berada pada kognisi manusia dan terlepas dari

16

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

realitasnya; sementara Peirce justru menekankan
bahwa ‘hubungan erat antara tanda dengan realitas’ lah
yang memungkinkan dinamisasi eksplorasi tanda.
Contoh lain, de Saussure menyatakan bahwa tidak
diperlukan medium dalam penandaan; sedangkan ahli
semiotik lainnya justru memperkuat keberadaan
medium dalam penandaan; Roland Barthes menyebut
medium tersebut sebagai relasi, Eco menyebutnya
signifikasi, sedangkan Peirce menyebutnya interpretant.
Semiotik Saussure menekankan pada makna denotatif,
tidak bermotif, dan arbiter; sedangkan sifat pemaknaan
pada semiotik lainnya membuat makna tanda yang
bermotif. Keunikan-keunikan yang dipikirkan dan
dikonstruk oleh para ahli semiotik inilah yang ingin
dipotret dalam bagian tulisan selanjutnya.
Madzhab dan pemikiran tokoh semiotik pun oleh
sebagian penulis, sebagaimana dijelaskan Richard
Harland, dapat diposisikan pada tipologi madzhab
strukturalisme dan post-strukturalisme. Tentunya, untuk
kesekian kalinya perlu disebutkan bahwa generalisir
seperti ini hanya ditujukan untuk membuat opini atau
sekedar ingin menyederhanakan pemahaman. Richard
Harland dalam bukunya Superstructuralisme (1987),
secara garis besar membedakan strukturalisme dan
poststrukturalism. Strkturalisme masih bertolak dari
upaya “mengetahui” dan “menemukan” sesuatu dalam
dunia manusia, mencari “objektivitas” dan “kebenaran”
sesuai dengan kaidah ilmu (terutama ilmu alam),
sekalipun sebagain strukturalis sudah menetapkan
bahwa struktur ada pada kognisi manusia sebagai
warga masyarakat (artinya sudah meluas dari sekedar
ilmu alam, seperti diungkapkan Piaget yang melingkupi
ilmu alam, biologi, dan matematika). Objektivitas yang
dimaksud adalah dalam melihat sebuah struktur dalam
suatu gejala sosial budaya ditinjau dari pandangan
manusia. Namun, dalam kepanjangannya, teori

17

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

strukturalis lebih mengutamakan kebudayaan sebagai
objek analisis daripada alam. Kalaupun gejala alam yang
dibicarakan, maka itu ditinjau dalam kerangka
kebudayaan. Analisis tanda pada masa strukturalis ini
masih terikat pada kaidah-kaidah yang mengikat
masyarakat atau interpreter (seperti langue pada
konsep Saussure; atau superstuktur pada konsep
Harland).

Pada kalangan post-strukturalis sikap ini
berkembang menjadi mementingkan tanda dan
pemaknaannya sebagai objek kajian, sehingga tidak lagi
mengutamakan “objektivitas” ilmu, sekalipun konsep
yang menggambarkan adanya “struktur” masih tetap
ada (Beny H. Hoed, 2003:23). Post-strukturalisme yang
dimaksudkan di sini merupakan sebuah wacana
multidispliner dan heterogen yang lahir dari lingkaran
strukturalisme Prancis. Pengaruh yang paling utama
terhadap teori-teori pascastrukturalis adalah seorang
filosof dekonstruksionis Prancis (Jacques derrida) dan
teoritikus kultural (Michael Foucault), selain juga melalui
karya-karya psikoanalisis Jacques Lacan. Pemikiran-
pemikiran pascastrukturalis memberikan dampak yang
besar terhadap kritik sastra di Amerika sejak tahun
1970-an, khususnya terhadap kelompok kritikus yang
bermarkas di universitas Yale atau dikenal dengan
“Dekonstruksionis Yale”. Pentolan utama kelompok ini
antara lain adalah Paul de Man yang pendapat-
pendapatnya banyak sependapat dengan difference-nya
Derrida (Kris Budiman, 1999:90).
Pada periode poststrukturalisme ini, terlihat makin
besarnya kebebasan dalam melihat dan menganalisis
gejala sosial budaya sebagai tanda. Initinya adalah
bahwa segala gejala sosial budaya mempunyai nilainya
melalui kognisi, melalui pikiran manusia yang hidup
berkonvensi sosial. Jadi, yang dicari adalah suatu
superstruktur untuk mendasari teori mereka. Namun,

18

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

pada perkembangan selanjutnya, pencarian semakin
dalam, tidak hanya superstruktur yang mereka cari,
tetapi makna yang diberikan oleh manusia kepada
tanda sebagai gejala sosial budaya dalam kerangka
sebuah superstruktur. Yang dicari adalah sebuah
“struktur utama” yang memayungi struktur-struktur
bawahan.

Foucault, misalnya, berbicara mengenai episteme
yang dasarnya adalah sistem representasi dalam
kehidupan manusia yang mencakup tiga ranah, yakni
bahasa (“kata” mewakili realitas), ekonomi (“uang”
sebagai tanda), dan alam (“flora” dan “fauna” sebagai
tanda yang mewakili alam). Episteme adalah konsep
tentang realitas di tiga ranah itu dan merupakan
semacam superstruktur yang memayungi realitas di tiga
ranah itu. Apa yang dibicarakan adalah episteme dan
bukan realitasnya sendiri. Realitas di sini dilihat dari
kacamata budaya, yakni melalui pandangan manusia
sebagai warga dalam hidup bermasyarakat. Dari kajian
tentang episteme itu, makna yang diberikan oleh
manusia tentang bahasa, ekonomi, dan alam dapat
diperoleh (Beny H. Hoed, 2003:24).
Lacan berusaha membentuk superstruktur dalam
teori psikoanalisisnya. Ia mencari suatu model
pemaknaan atas “bawah sadar” atau “Yang Lain” yang
menurutnya tidak dapat ditemukan kecuali melalui apa
yang ada di dalam penanda sistem “bawah sadar”. Hal
ini karena dalam bahasa “bawah sadar” batas antara
penanda dan petanda sulit ditembus sehingga
pemaknaan harus dilakukan dengan mempelajari
hubungan antarpenanda agar dapat ditafsirkan apa
yang ada dalam tataran petanda “bawah sadar”. Model
seperti ini adalah sebuah superstruktur pula.

19

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

SSEMIOLOGI

EMIOLOGI SSIGNIFIKASI
IGNIFIKASI

FFERDINAND

ERDINAND DE

DE SSAUSSURE
AUSSURE

A. Sekedar Mengenalkan

Siapa kenal strukturalisme, seyogyanyalah ia
mengenal Ferdinand de Sauusure, seorang linguist asal
Jenewa. Hal ini karena strukturalisme, sebagai arus
pemikiran paling dominan di kalangan intelektual
mondial, terutama Prancis abad ke-20, kelahirannya
dibidani oleh Saussure, sang arsitek linguistik sinkronik.
Karenanya tidaklah heran jika salah satu ciri utama
strukturalisme terletak pada usaha para intelektualnya
untuk menerapkan model linguistik Saussure dalam
objek-objek studinya.
Sarjana yang punya nama lengkapnya Mongin-
Ferdinand de Saussure ini lahir di Jenewa pada 26
November 1857 dari keluarga Protestan Prancis
(Huguenot) yang beremigrasi dari daerah Lorraine
ketika perang agama pada akhir abad ke-16. Talentanya
dalam bidang linguistik sudah nampak sejak kecil. Pada
umur 15 tahun, ia menulis karangan “Essay sur
Langues” dan pada 1874 ia mulai belajar Sansakerta.
Mula-mula ia—sesuai dengan tradisi keluarga-- belajar
ilmu kimia dan fisika di Universitas Jenewa. Kemudian ia
belajar linguistik di Leipzig (1876-1878) dan di Berlin
(1878-1879). Talentanya dalam kajian linguistik semakin
menonjol ketika ia belajar kepada dua tokoh besar
linguistik waktu itu, yaitu Brugmann dan Hübschmann.
Selain itu, ia juga terobsesi dengan karya ahli linguistik
Amerika, William Dwight Whitney, pengarang The Laife

20

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

and Growth of Language: An Outline of Linguistic
Science
(1875), yang sangat mempengaruhi teori
linguistiknya kelak. Ia mendapat gelar doktor summa
cum laude
dari Universitas Leipzig pada 1880 dengan
disertasi De l’emploi du genitif absolu en sanscrit.
Dua tahun sebelum memperoleh gelar doktor, yaitu
pada 1878, Saussure telah membuktikan
kecemerlangan dirinya sebagai linguist historis dengan
meluncurkan karya Memoire sur le systeme primitif des
voyeles dans les langues Indo-europeennes
(Catatan
tentang sistem vokal purba dalam bahasa-bahasa Indo-
Eropa). Karya ini merupakan masterpiece pertama
Saussure yang telah mempopulerkan dirinya sebagai
salah seorang linguist handal di kelompok
Junggrammatiker. Karya ini berisi penerapan metode
rekonstruksi-internal guna menjelaskan hubungan
ablaut dalam bahasa-bahasa Eropa. Saussure
menformulasikan analisis fonologis atas pola-pola
morfologis. Hipotesis Saussure ini dikuatkan
kebenarannya ketika bahasa Hatti ditemukan oleh
sarjana Polandia J. Kurylowicz pada 1927.
Setelah meraih gelar doktor, Saussure mengajar
bahasa Sansakerta, Gotik, Jerman Tinggi, serta linguistik
komparatif Indo-Eropa di Ecole Pratique des Hautes
Etudes Universitas Paris hingga 1891. Setelah itu, ia
pindah dan mengajar di Jenewa. Di Jenewa-lah ia
memperoleh gelar professor dalam bidang linguistik dan
mendirikan Madzhab Jenewa. Di antara para linguist
sezaman yang dikenalnya adalah Baudouin de Courtnay
dan Kruszewski; keduanya dikenal sebagai pelopor teori
fonologi. Sedangkan di antara murid-muridnya terdapat
linguist terkenal seperti Meillet dan Grammont.
Saussure telah berjasa besar memberikan
sumbangan bagi linguistik historis, namun ia lebih
dikenal karena sumbangannya dalam linguistik umum.
Ia menjadi sangat populer karena sebuah buku yang

21

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

tidak pernah ditulisnya. Buku tersebut merupakan
kumpulan tiga seri kuliahnya tentang linguistik umum
yang dikumpulkan oleh murid-muridnya, yaitu Ch. Bally,
A. Sechehaye, dan A. Riedlinger. Ketiganya menerbitkan
versi masing-masing. Kumpulan kuliah itu diberi judul
Cours de Linguistique Generale terbit pada tahun 1916.
Buku ini seringkali dianggap sebagai magnum opus
Saussure yang mengantarkannya sebagai peletak dasar
linguistik modern dan lebih jauh jauh dianggap sebagai
peletak dasar strukturalisme.
Namun, karena ketiga murid Saussure tersebut
menulis buku dengan versi yang berbeda, menurut
Harimukti Kridalaksana, maka wajar apabila dalam
masing-masing edisi buku tersebut terdapat kelemahan;
di antaranya a). sistematika, urutan logis, dan
argumentasi penyajiannya mungkin tidak seperti yang
dibuat Saussure; b) pembahasan tentang tanda bahasa
tidak setuntas dalam catatan kuliahnya; c) uraian
tentang bunyi bahasa tidak secermat yang disangka
dilakukan Saussure. Oleh karena itu, kemudian muncul
beberapa sejumlah eksegesis buku Cours de
Linguistique Generale
seperti dilakukan oleh R. Godel
(1957) dan R. Engler (1967).
Dalam konteks sejarah linguistik, pendekatan
Saussure tentang bahasa merupakan sistensis dari dua
pandangan mainstream, yaitu padangan ‘rasional’
tentang bahasa dan pendekatan linguistik historis abad
ke-19. Pandangan ‘rasional’ tentang bahasa diusulkan
oleh Lancelot pada tahun 1660 dan Arnaud dalam
Grammaire de Port Royal. Pandangan ini mengusulkan
bahwa bahasa merupakan cerminan pikiran sehingga
terdapat keterkaitan yang erat antara konstruk pikiran
dengan obyek yang dinamakan. Konsep ini berlaku
universal.

Pendekatan linguistik historis abad ke19
berpandangan bahwa sejarah sauatu bahasa dapat

22

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

menjelaskan situasi ragam bahasa pada saat yang
sama. Neogrammarian karya Franz Bopp merupakan
representasi pendekatan ini. Bopp mengatakan bahwa
struktur bahasa Sansakerta sebagai bahasa suci India
kuno dapat memberikan keterkaitan hubungan dengan
bahasa lain. Bahasa-bahasa di dunia ketika dikaji dalam
konteks pendahulunya dengan cara mundur ke
belakang akan mendekatkan dengan penyatuan sejarah
dan bahasa. Sebenarnya, pendekatan historis ini,
terutama ketika ia tergabung dalam Junggrammatiker,
yang telah mempopulerkan nama de Saussure pertama
kali. Namun ketidakpuasan de Saussure kepada kedua
mainstrem yang ada di dunia linguistik saat itu, telah
mengantarkannya untuk melakukan inovasi dalam
linguistik. Untuk itulah ia mencanangkan semiologi
sebagai induk baru kajian linguistik dan budaya, sebagai
pengganti filsafat.
Dalam linguistik, sebenarnya pendekatan rasional
dan linguistik historis (terutama, sinkronik) mempunyai
keterkaitan khusus. Bahasa dipahami sebagai proses
penamaan—melabelkan nama pada realitas. Jika nama
suatu benda atau verba dikaitkan dengan gagasan
pemikiran tertentu maka perspektif ini dapat ditarik
mundur kebelakang dengan cara melihat rangkaian
historis dari bahasa-bahasa lain yang mempengaruhinya
sehingga penamaan mempunyai kesatuan dengan
nama dan penamaan pada bahasa lain. Saussure
menyebutkan konteks bahasa ini sebagai nomenklatur
(penamaan), sekumpulan nama bagi obyek dan
gagasan.

Semenjak Saussure, kajian tentang struktur menjadi
trend di Prancis, terutama dalam kajian bahasa.
Selebihnya, Jean Piaget, seorang guru besar psikologi di
Universitas Jenewa, Swiss, melalui Structuralism (1971)
menjadi corong yang fasih tentang pengarus-utamaan
strukturalisme di Eropa. Melalui buku tersebut, Jean

23

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

Peaget menunjukkan bahwa strukturalisme tidak hanya
berkembang di wilayah linguistik tetapi mengintervensi
bidang sastra, sejarah, aristektur, psikologi, biologi,
fisika, botani, ekonomi, bahkan manajemen. Metode
strukturalisme menjadi kajian multidisipliner
sebagaimana dikembangkan oleh Levi-Strauss dalam
etnologi, Jacques Lacan dalam psikoanalisis, Louis
Althusser di Sosiologi, L.S. Vgotsky dalam psikologi, dan
Guenther Schiwy dalam bidang agama.

B. Semiologi Ferdinand de Saussure

Strukturalisme Saussure merupakan sebuah aliran
pemikiran yang memandang dunia sebagai realitas
berstruktur dan menstruktur. Kemudian bagian
terpenting suatu struktur adalah adanya hubungan satu
sama lain antar sub-sub dalam struktur maupun di luar
struktur. Hubungan-hubungan fungsional antar sub-sub
struktur inilah yang kemudian membentuk sistem. Maka
untuk meneliti keabsahannya adalah dengan menguji
bagian-bagian di dalam hubungan terhadap perbedaan,
pertukaran, dan pergantian.
Sebagai sebuah struktur, bahasa selalu tersusun
dengan cara tertentu karena ia merupakan suatu sistem
(atau struktur) di mana setiap struktur yang menjadi
bagiannya menjadi tidak bermakna jika dilepaskan dari
struktur yang lain. Dengan demikian, bahasa tidak
ditentukan oleh nilai intrinsiknya melainkan oleh
hubungan diferensial antara struktur yang terkait.
Menurut Saussure, bahasa tertentu tidak diikat oleh
kata dan benda melainkan oleh hubungan antar-struktur
yang membentuk totalitas dari bahasa tersebut.
Misalnya, bahasa Arab atau Inggris, secara keseluruhan
mempunyai nilai unggul ketika dibandingkan dengan
bahasa lainnya. Strukturnya lebih lengkap dan
sistematis dibanding bahasa lain, kosa katanya lebih
lengkap dibanding bahasa lain, dan stratifikasi sosialnya
lebih lunak dibanding dengan bahasa lainnya.

24

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

Dalam kaitan dengan bahasa pula, Saussure
menginginkan otonomi relatif bahasa dalam kaitannya
dengan realitas yang membedakannya dengan
pandangan sebelumnya. Ia menekankan bahwa suatu
tanda bahasa ‘bermakna’, bukan karena referensinya
dengan realitas. Yang ingin ditandakan dalam tanda
bahasa bukan benda, melainkan konsep tentang tanda.
Bagi Saussure, setiap tanda memiliki objek sebagai
acuannya (referensi). Keberadaan objek tersebut tidak
niscaya bersifat fisik, melainkan mungkin saja hanya
berupa buah pikiran tertentu, suatu sosok dalam mimpi,
atau mungkin makhluk imajiner. Dengan demikian
bahasa tidaklah berhubungan dengan realitas. Realitas
benda-benda bukanlah bahasa karena bahasa adalah
tanda atau simbol. Individu bebas menyebutkan kata
‘pesawat terbang’, plane, atau ‘avion’ tanpa harus
merujuk pada realitas bendanya. Dengan kata lain
akumulasi bahasa merupakan konvensi masyarakat
sebagai pengguna bahasa tentang konstruksi
pemikirannya. Dengan demikian, bagi Saussure, kata-
kata memperoleh maknanya dari struktur paradigmatik,
yakni hubungannya dengan tanda-tanda lain yang
terdapat di dalam bahasa, sehingga sifat referensi
menjadi arbitrer, sesaat, dan --dalam beberapa kasus—
berada di luar ruang lingkup kajian semiotik.
Untuk sampai ke dalam hubungan sistemik dalam
struktur, Saussure memperkenalkan sejumlah distingsi
yang memainkan peran penting dalam semiologinya,
yaitu langage-langue-parole, signifier-sigfied, sikronik-
diakronik,
dan sintagma-paradigma. Dengan sejumlah
distingsi tersebut, Saussure ingin menjelaskan bahwa
bahasa pada dasarnya merupakan suatu sistem yang
saling berkait satu sama lain. Pengertian bahasa
sebagai suatu sistem inilah yang menjadi landasan atau
dasar bagi pengertian struktur. Pemakaian kata struktur
dalam strukturalisme adalah senantiasa disertai oleh

25

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

seluruh konteks distingsi-distingsi di atas. Dalam kaitan
dengan hal tersebut, Barthes mengemukakan bahwa
untuk menjelaskan perbedaan strukturalisme dengan
aliran pemikiran lainnya, pastilah harus kembali kepada
distingsi-distingsi yang diperkenalkan Saussure.

1. Distingsi Sinkronik dan Diakronik

Dalam abad ke-19, para junggrammatiker
berpandangan bahwa satu satunya cara ilmiah
mempelajari bahasa adalah melalui pendekatan historis
atau diakronis (diachronous), yakni dengan melihat
perkembangan bahasa dari masa ke masa. Pendekatan
ini merupakan pendekatan yang populer terutama di
kalangan para antropolog bahasa. Sekalipun Saussure
terdidik dalam paradigma historis di Leipzig dan Berlin,
namun ia senantiasa merasakan ketidakpuasan
terhadap penelitian bahasa yang dilakukan secara
historis (diakronik) ini. Menurut Harimurti Kridalaksana
(1996:5), Ketidakpuasan itu memuncak ketika ia
mempelajari buku Emile Durkheim (1858-1917) yang
bertajuk Des Regles de la Methode Sosiologiques
(1855). Kebetulan, saat Saussure masih mengajar di
Paris, teori Durkheim sedang naik daun.
Beberapa pemikiran Durkheim memberikan stimulus
kepada Saussure dalam penyelidikan bahasa. Bahasa
dapat dianggap sebagai organisme (benda) terlepas
dari pemakaian penuturnya sekarang, karena mayoritas
unsur bahasa bersifat turun temurun. Dengan demikian,
bahasa merupakan fakta sosial karena meliputi suatu
masyarakat, yang mengikat dan membatasi individu
dalam masyarakat bahasa. Oleh karena itu, bahasa
dalam taraf tertentu merupakan kesadaran kolektif yang
sangat sedikit memberi ruang bagi individu untuk
berkreasi. Bahasa sebagai fakta sosial berada lepas dari
perkembangan historisnya; bahasa yang ada sekarang
secara kualitatif berbeda dengan bahasa sebelumnya

26

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

karena memperoleh unsur baru dan kehilangan unsur
lain. Bahasa sebagai fakta sosial dapat dipelajari secara
tepat terpisah dari perilaku penuturnya. Dengan kata
lain, bahasa dapat dipelajari secara sinkronik
(syncrhronic) dalam pengertian hubungan di antara
unsur dalam satu ‘wadah waktu yang abadi’ (Saussure,
1989:13-14). Penelitian diakronis berarti mengkaji
bahasa dalam perkembangan sejarah dari waktu ke
waktu, studi tentang evolusi bahasa, studi mengenai
elemen-elemen individual pada waktu berbeda,
sedangkan penelitian sinkronis berarti mengkaji bahasa
pada masa tertentu, hubungan elemen-elemen bahasa
yang saling berdampingan. Perbedaan di antara
keduanya sebanding dengan pemotongan kayu.
Diakronis seperti memotong kayu secara memanjang,
sedangkan sinkronik apabila memotong secara
melintang sehingga akan tampak hubungan antarserat
kayu.

Menurut Harimurti Kridalaksana (1996:5), dua di
antara pemikiran Emile Durkheim yang mempengaruhi
pemikiran Saussure adalah (a) penyelidikan sosiologi
yang bersifat sinkronik dan (b) dikotomi kesadaran
kolektif
dan kesadaran individu dalam budaya. Emile
Durkheim mengemukakan bahwa masyarakat pantas
diteliti secara ilmiah karena interaksi anggota-
anggotanya menimbulkan adat istiadat, tradisi, dan
kiadah perilaku yang seluruhnya membentuk kumpulan
data mandiri. Fenomena yang disebutnya sebagai fakta
sosial
tersebut dapat diteliti secara ilmiah, sebagaimana
penyelidikan fisika dan kimia terhadap objek benda.
Sekalipun fakta sosial itu terlahir di dalam dan mengatur
budi manusia, fenomena itu ada di luar individu.
Fenomena itu, mayoritas bukan ciptaan individu itu,
melainkan telah ada sebagai warisan budayanya.
Karenanya, fenomena itu ada di luar kehendak si
individu, mengendalikan impuls-impuls dasar dari

27

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

jiwanya dan mengatur perilakunya agar sesuai dengan
standard masyarakat. Atas dasar itu, Durkheim
membedakan kesadaran kolektif dan kesadaran
individu.

Pengaruh pemikiran pertama nampak dalam
komitmen Saussure untuk menerapkan penyelidikan
sinkronik dalam linguistik. Ia berkesimpulan bahwa
kajian mengenai bahasa dapat bersifat ilmiah tanpa
harus kembali ke sejarah. Ia berpendapat bahwa
beberapa aspek bahasa dapat dipahami dengan
mempelajari sejarah bahasa, tetapi ada fakta-fakta lain
yang hanya dapat diperoleh bila dipandang secara
sinkronis. Untuk menjelaskan kedua sudut pandang itu,
ia mengilustrasikan perbedaan batang pohon yang
dipotong secara horisontal dan yang dipotong secara
vertikal, seperti disebutkan di atas. Pengaruh pemikiran
kedua Durkheim nampak dalam penjelasan Saussure
mengenai langage, langue dan parole. Nampaknya,
Saussure mengasosiasikan langage dengan budaya,
langue dengan kesadaran kolektif, dan parole dengan
kesadaran individu.

2. Distingsi Langage, Langue, dan Parole

Dalam suratnya kepada Antoine Meillet, salah satu
muridnya, pada tahun 1894, Saussure mengeluh bahwa
hingga saat itu linguistik tidak pernah berusaha
menentukan hakekat objek yang diselidikinya. Padahal
tanpa operasi yang elementer seperti itu, suatu ilmu
tidak dapat mengembangkan metode yang tepat. Dari
keresahan itu, terformulasinya pertanyaan dihadapan
Saussure, yaitu “Apa wujud objek otentik dan konkret
bagi linguistik?” dan “Apakah hubungan antara kata
dan benda?” Untuk menjawab permasalah tersebut,
Saussure mengemukakan suatu perbedaan antara
langue dan parole dalam langage. Saussure
memaksudkan langage sebagai fenomena bahasa

28

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

secara umum, artinya langage memiliki segi sosial dan
segi individual. Karenanya, dalam langage harus
dibedakan antara langue (segi sosial) dan parole (segi
individual).

Menurut Saussure (1990:75), langue merupakan
produk masyarakat dari langage yang berisi himpunan
konvensi seluruh masyarakat. Langue juga merupakan
suatu benda tertentu di dalam kumpulan heteroklit
peristiwa-peristiwa langage. Langue berisi sistem kode
yang diketahui oleh semua anggota masyarakat
pemakai bahasa tersebut telah disepakati bersama di
masa lalu oleh pemakai bahasa. Langue bersumber dari
keseluruhan kebiasaan yang diperoleh secara pasif yang
diajarkan oleh masyarakat bahasa, yang memungkinkan
para penutur saling memahami dan menghasilkan
unsur-unsur yang dipahami dalam masyarakat. Oleh
karena itu, menurut Saussure, langue merupakan fakta
sosial, seperti halnya bahasa nasional merupakan fakta
sosial. Dapat dikatakan bahwa langue adalah
setengahnya dari langage, meupakan suatu institusional
sekaligus juga sebagai sistem nilai. Sebagai sistem
sosial, langue bukan tindakan dan tidak direncanakan
sendiri individu tidak dapat membuatnya dan
mengubahnya. Ia harus berdasarkan suatu kesepakatan
bersama atau konvensi. Jadi dalam kehidupan sosial
orang harus mengikuti konvensi tersebut dan konvensi
itu bersifat otonom yaitu orang tidak dapat
menggunakannya kecuali telah mempelajarinya terlebih
dahulu.

Yang dimaksud parole adalah manifestasi atau
penggunaan bahasa secara individual atau tindakan
individual, namun bukan semata-mata sebentuk kreasi-
otonom. Dengan kata lain parole adalah keseluruhan
apa yang diujarkan orang, termasuk konstruk-konstruk
individu yang muncul dari pilihan penutur, atau
pengucapan-pengucapan yang diperlukan untuk

29

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

menghasilkan konstrukasi-konstruksi ini berdasarkan
pilihan bebas. Penutur seolah-olah memilih unsur
tertentu dari kamus umum tersebut. Menurut Saussure,
parole itu bukan merupakan fakta sosial, karena
seluruhnya merupakan hasil individu yang sadar.
Jika seorang Indonesia mendengar ucapan (parole)
dari masyarakat lain yang tidak dikenal bahasanya,
maka ia hanya mendengar bunyi, bukan fakta sosial dari
bahasa. Ia tidak dapat menghubungkan bunyi-bunyi itu
dengan fakta-fakta sosial yang oleh masyarakat bahas
itu dengan bunyi-bunyi itu. Dengan demikian, pertama-
tama, parole dapat dipandang sebagai kombinasi
tindakan individual terseleksi dan terakulturasi yang
memungkinkan subjek (penutur) sanggup menggunakan
kode bahasa untuk mengungkapkan pemikirannya. Lalu
parole juga dapat ditempatkan sebagai mekanisme
psiko-fisik yang memungkin menampilkan kombinasi-
kombinasi tadi. Aspek kombinatif ini mengimplikasikan
bahwa parole tersusun dari tanda-tanda yang identik
dan senantiasa berulang. Karena adanya keberulangan
inilah, setiap tanda dapat menjadi elemen langue.
Bila seorang Inodesia mendengar ucapan (parole)
dalam masyarakat yang dikenal bahasanya, maka ia
menghubungkan bunyi-bunyi itu dengan fakta-fakta
sosial menurut seperangkat kaidah. Kaidah-kaidah ini
lazimnya disebut tata bahasa (grammar) dan
merupakan hasil konvensi serta ditransfer secara
kontinyu dan simultan melalui pengajaran. Kaidah-
kaidah ini bersifat universal meliputi dan mengikat
seluruh masyarakat bahasa, sehingga individu
(pengguna bahasa) tidak diberi pilihan lain dalam
mengaitkan bunyi dengan fakta sosial untuk
berkomunikasi. Kaidah-kaidah inilah yang dimaksudkan
oleh Saussure sebagai langue. Jika langue merupakan
produk yang direkam individu secara pasif dan bukan
merupakan abstraksi, maka parole merupakan kegiatan

30

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

aktif individu untuk mengungkapkan gagasannya.

Pengungkapan tidak pernah dilakukan secara massal;
pengungkapan selalu individual, dan individu selalu
menjadi tuan pengungkapannya sendiri. Kita akan
menyebutnya parole. Sedangkan langue bukanlah
kegiatan penutur, melainkan langue merupakan produk
yang direkam individu secara pasif. Langue tidak pernah
mengasumsikan kegiatan premeditasi, dan penalaran
hanya turut dalam kegiatan klasifikasi. Parole sebaliknya
adalah satu tindak individual dari kemauan dan
kecerdasan dan dalam tindak ini perlu dibedakan: 1)
kombinasi-kombinasi kode bahasa yang dipergunakan
penutur untuk mengungkapkan gagasan-gagasan
pribadinya; 2) mekanisme psiko-fisik yang memungkinkan
dia mengungkapkan kombinasi-kombinasi tersebut
(Saussure, 1990:80).

Dengan demikian, langage merupakan gabungan
dari langue dan parole. Langage memiliki makna
sepenuhnya kecuali dengan parole dialektik yang
menghubungkannya satu sama lain. Jadi kedua unsur di
atas bagaikan dua sisi mata uang yang satu sama
lainnya sangat bergantung. Tidak ada langue tanpa
parole dan tidak ada parole yang berada diluar langue
dan dengan hubungan inilah terletak aktivitas linguistik.
Langue dan parole ini beroposisi tapi sekaligus
bergantung. Ini tidak berarti tidak ada yang lebih utama
antara keduanya. Di satu pihak , sistem yang berlaku
dalam langue adalah hasil dari kegiatan parole; di lain
pihak pengungkapan parole serta pemahamannya
hanya mungkin berdasarkan penelusuran langue
sebagai sebuah sistem. Dikotomi ini, secara simplistis,
menimbulkan dua model bahasa, yaitu 1) bahasa
sebagai sebuah sistem (langue), dan 2) bahasa
sebagaimana dipraktekkan oleh penutur (parole).
Sebagai sebuah totalitas struktur, maka bahasa tertata
dengan cara tertentu, sehingga individu, yang menjadi

31

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

bagian dari bahasa, menjadi tidak bermakna
(meaningless) keberadaannya, jika dilepaskan dari
struktur tersebut.
Contoh terkenal yang diberikan Saussure untuk
menjelaskan langue sebagai sistem ini adalah sebuah
permainan catur. Pelaksanaan permainan catur
ditetapkan oleh “aturan-aturan” seperti cara
menjalankan “kuda” (mengikuti huruf L), “raja”
(selangkah-selangkah ke segala arah, kecuali
“diagonal”) atau “ratu” (dapat berjalan dengan langkah
tak terbatas ke segala arah, kecuali “diagonal”). Setiap
pemain catur dipedomani oleh langue (tata aturan
abstrak) permainan catur untuk diwujudkan dalam
parole (praktik) permainan catur. Aturan-aturan
(langue) itu disepakati bersama oleh para pemain catur.
Menurut Saussure yang paling penting dalam permainan
catur adalah aturan-aturannya. Jadi hubungan antara
unsur yang satu dengan unsur lainnya serta fungsi dari
setiap unsur (raja, bidak, dll). Permainan itu sama
dengan langage. Bagi setiap pemain tersedia
seperangkat unsur dan aturan-aturan yang mengatur
hubungan antar unsur. Setiap pemain terikat pada
aturan permainan tersebut, namun si pemain dapat
menentukan sendiri kapan ia mau memainkan unsur
(anak catur) yang ditentukannya sendiri dan bagaimana
ia memainkannya. Itu semua merupakan tindakan
bebas si pemain sendiri, sama halnya dengan parole
sebagai penggunaan langue secara individual. Dengan
begitu dapat dikatakan bahwa menurut Saussure,
sebuah unsur bahasa baru mempunyai arti setelah
pengguna bahasa menentukan nilainya dalam sistem
bahasa bersangkutan dengan menyebutkan
pertentangan dengan unsur-unsur lainnya. Arti sebuah
unsur bahasa ditentukan oleh sejauh mana unsur itu
membedakan diri dengan unsur lainnya dalam sistem
yang sama.

32

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

Secara keseluruhan, menurut Saussure, langue lah
yang dapat dijadikan objek kajian linguistik, karena ia
bersifat permanen, stabil (setidaknya dalam jangka
waktu tertentu), dan konkret karena merupakan
seperangkat tanda bahasa yang disepakati secara
kolektif. Langue bukan merupakan fakta fisik, tetapi
sepadan dengan fakta sosial karena mengandung pola-
pola di belakang ujaran-ujaran pada penutur.
Sedangkan parole tidak dapat diselidiki karena bersifat
heterogen dan tidak mungkin digambarkan secara
terinci karena ucapan kata yang terkecil sekalipun
melibatkan gerak otot yang tidak terhitung jumlahnya
yang sulit sekali dikenali dan ditandai dengan tulisan.
Menurut Saussure, sekalipun langue memiliki
determinasi terhadap parole, namun sebagai sistem
total konvensi bahasa. Dari sisi individu manapun yang
menggunakannya, sistem tersbut telah tersedia—
pengguna bahasa tidak menciptakan konvensi ini,
sehingga walaupun yang menggunakan bahasa
tersebut beraneka ragam gaya, pilihan, dan kombinasi
katanya, hal ini tidak akan mempengaruhi kemapanan
sistem tadi.

Ambil contoh lain, yaitu gedung. Tentu di sini dapat
dibedakan sistem langage, langue, dan parole yang
berbeda sesuai dengan realitas yang digunakan dalam
komunikasi. Dalam bangunan yang tertulis atau
rancangan yang digambarkan oleh seorang arsitek
dengan bantuan bahasa yang diucapkan dapat
dikatakan di sini parole tidak ada. Rancangan yang
digambarkan tidak pernah sesuai dengan aturan-aturan
yang pembangunan, itu merupakan suatu ketentuan
sistem tanda dan aturan atau dengan kata lain adalah
langue dalam keadaan yng murni. Langue dalam
pembangunan gedung terdiri dari: 1) Oposisi
pembangunan ukuran-ukuran, unsur-unsur yang rinci
yang variasinya menimbulkan perubahan makna

33

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

(memakai cerobong asap, dll). 2) Aturan-aturan yang
mendahului penguraian satuan-satuan pembangunan
gedung. Sedangkan, parole mencakup semua fakta
produksi yang sudah mengikuti aturan, atau cara
penggunaan gedung tersebut (ukuran gedung, tingkat
pemeliharaan dsb). Dialektika di sini menghubungkan
bangunan (langue) dan penggunaaan gedung (parole).
Misal lain lagi adalah tentang ‘makanan’. Langue
‘makanan’ terbentuk dari, 1) Aturan-aturan yang
mengucilkan (larangan memakan suatu macam
makanan); 2) Oposisi (misalnya: oposisi antara rasa asin
dan manis); 3) Aturan-aturan dan asosiasi makanan baik
yang bersamaan (gabungan dalam

suatu
hidangan/menu); atau 4) Protokol penggunaan makanan
yang mungkin berperan sebagai suatu retorika umum.
Adapun parolenya adalah terdiri dari semua variasi
pribadi atau keluarga dalam menghidangkan dan dalam
asosiasi (tetap dapur keluarga yang mempunyai
kebiasaan-kebiasaan tertentu sebagai idiolek).
Perbedaan antara langue dan parole dalam bahasa
ini mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadap
disiplin keilmuan lain selain semiotik. Hal ini karena
pada hakekatnya distingsi ini menggambarkan
hubungan antara sebuah ‘institusi’ dan ‘ peristiwa’ yang
dimungkinkan oleh adanya institusi ini; antara sistem
yang menopang, dan tingkah laku aktual yang
dimungkinkannya. Menurut Jonathan Culler,
sebagaimana dikutip Yasraf (2002:3), melalui model
bahasa ini, segala praktek sosial dapat dianggap
sebagai satu sistem pertukaran tanda dan makna di
antara subyek-subyek yang terlibat, yang bersandar
pada kode sosial yang telah melembaga. Istilah ‘kode’
ini sendiri dapat dijelaskan sebagai seperangkat aturan
atau konvensi yang disepakati bersama dalam
pengkombinasian tanda-tanda untuk memungkinkan
disampaikannya pesan.

34

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

Claude Levi Strauss, misalnya, melihat tingkah laku
kultural, upacara, ritus, hubungan kekerabatan, serta
cara memasak dan menghidangkan masakan, tidak
sebagai satu fenomena sosial yang berdiri sendiri dan
bersifat intrinsik, melainkan dapat dipandang sebagai
suatu sistem pertandaan dan pemaknaan, yang
bersandar pada kode sosial tertentu. Hubungan
kekerabatan, misalnya, diatur oleh seperangkat kode
sosial, yang berkaitan misalnya dengan kode siapa yang
boleh atau tidak boleh mengawini siapa di dalam satu
masyarakat. Perkawinan menandai posisi seseorang
dalam satu masyarakat, dengan demikian ia juga
merupakan ‘tanda’ (Hawkes, 1979:34; Leach, 1976:44).
Demikian pula, Roland Barthes melihat fenomena
kultural seperti fashion, furniture, periklanan, media
massa, dan arsitektur sebagai satu sistem tanda, yang
dapat menandai posisi sosial tertentu bagi orang yang
menggunakannya. Pakaian, misalnya, lewat bentuk,
warna, bahan, dan motifnya dapat mengkomunikasikan
kepada masyarakat tentang makna-makna status, kelas
sosial, ideologi, atau kepercayaan pemakainya (Roland
Barthes, 1967:109.

3. Distingsi Signifier dan Signified

Bentuk determinasi oposisi biner seperti di atas
masih dijumpai pada pemikiran tentang distingsi
signifier dan signified, yang pada gilirannya sangat
mempengaruhi pemikiran aliran semiotik strukturalis
secara keseluruhan. Distingsi bentuk ini adalah tanda
yang oleh Saussure diletakkan dalam konteks manusia
dengan pemilahan antara signifier (signifiant atau
penanda) dan signified (signifie atau petanda). Signifier
berkaitan dengan aspek sensoris dari tanda-tanda, yang
dalam bahasa lisan mengambil bentuk sebagai citra
bunyi atau citra akustik (sound image) atau kesan
mental
dari sesuatu yang bersifat verbal atau visual,
seperti tulisan, suara, atau benda. Substansi signifier

35

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

senantiasa bersifat material, yakni bunyi-bunyi, objek-
objek, imaji-imaji, dan sebagainya. Hakikat signifier
adalah murni sebagai sebuah relatum yang
pembatasannya tidak mungkin dilepaskan dari signified.
Kosep signified (signifie atau petanda) merupakan
aspek abstrak atau aspek mental atau makna yang
dihasilkan oleh tanda. Signified (petanda) juga seringkali
diidentikan dengan konsep. Term Signified bukanlah
“sesuatu yang diacu oleh tanda” (referen), melainkan
sebuah representasi mental dari “apa yang diacu”.
Pengertian signified seperti ini seringkali dianggap
terlalu kaku dan metalistik oleh Roland Barthes dan ahli
semiologi setelah Saussure lainnya. Namun demikian,
pengertian tentang signified dari Saussure tetap
bermanfaat sebagai suatu cara untuk menganalisis
makna tanda tanpa dirancukan dengan referensi.
Signifier dan signified ini berelasi dalam sebuah ikatan
yang disebut signification (pertandaan) atau hubungan
antara penanda dan petanda, yaitu cara tertentu
sebuah citraan mental berhubungan dengan sebuh
makna. Keterkaitan kedua unsur tersebut seperti dua
sisi (atas-bawah) selembar kertas.

Tanda bahasa menyatukan, bukan hal nama, melainkan
konsep dengan gambaran akustis. Yang terakhir ini
bukannya bunyi materiil sesuatu yang murni fisik
melainkan kesan psikis yang ditinggalkan bunyi tersebut,
pengungkapan yang diberikan kepada kita oleh kesaksian
indera kita pada bunyi tersebut; ia bersifat sensoral dan
kalau kita terpaksa menyebutnya materil, itu hanyalah
dengan makna di atas dan berbeda dengan istilah lain
dalam asosiasi, yaitu konsep yang pada umumnya
anstrak. Jadi lambang bahasa adalah satuan psikis yang
bermuka dua. Kedua unsur itu bersatu dan saling memicu
(Saussure, 1990:148).

36

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

Sign

Signifie
r

tand
a

Arbor
(pohon
)

Sound image
(penanda)

Konsep
(petanda)

Signifie
d

Ç

Menurut Saussure hubungan antara penanda dan
petanda itu bersifat semena (arbiter), artinya tidak ada
kaitan ilmiah antara petanda dan penanda. Kerabitreran
hubungan penanda dan petanda berlangsung pada
awalnya, namun kemudian menjadi permanen (stabil)
ketika terjadi konvensi. Hanya kesepakatan atau
konvensi sosial sajalah yang mengatur. Dalam contoh di
atas, kata ‘arbor’ atau ‘pohon’ tidak merujuk pada
‘pohon yang ada di mana pun’. Kata ‘arbor’ itu hanya
merupakan sound image (bunyi). Ketika sesorang
menyebut kata ‘pohon’, maka penamaan ‘sesuatu’
dengan kata ‘pohon’ tersebut tidak mempunyai
hubungan langsung dan alamiah dengan konsep ‘pohon’
tersebut. Hubungannya hanya dilegitimasi oleh
konvensi. Setiap orang boleh menamakan Çdengan kata
apapun, terbukti dengan beragamnya kata untuk
menamakan Ç tersebut, seperti ‘pohon’, ‘tangkal’,
‘arbor’, ‘tree’, dan sebagainya.
Misal lainnya, “supermarket” dimaknai sebagai
“tempat untuk belanja bergaya modern, yang
dibedakan dengan “pasar tradisional”, dan tidak
dimaknai dengan “tempat untuk memancing”.
Mengambil contoh lain dari hubungan sosial ibadah,
dapat dijelaskan, bahwa adalah konvensi sosial yang
mengatur, bahwa ‘menepuk tangan’ adalah ‘tanda’

37

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

yang digunakan oleh makmun wanita untuk menandai
kekeliruan imam dalam shalat. Imamnya sendiri
memahami bahwa ‘tepuk atangan’ itu merupakan
‘teguran’ dari makmun wanita. ‘Tepuk tangan’ itu
secara konvensi berbeda dengan siulan, suitan,
teriakan, pluit, atau bahkan dengan ‘tepuk tangan
pramuka’ misalnya. Di lain pihak, bentuk teguran ‘tepuk
tangan’ yang dilakukan makmun wanita secara
konvensi dibedakan dengan cara teguran makmun pria,
yakni perkataan subhâna Alah. Salah satu alasan yang
sering diungkapkan adalah karena secara konvensi
Muslim (terutama Arab-Muslim) bahwa suara wanita
merupakan aurat. Jadi suara wanita sedapat mungkin
diminumalisir, temasuk dalam shalat (Yasraf, 2002:3).
Saussure (1990:148) menyebutkan bahwa ‘Ikatan
yang mempersatukan penanda dan petanda bersifat
semena, atau juga, karena lambang bahasa diartikan
sebagai keseluruhan yang dihasilkan oleh asosiasi suatu
penanda dengan suatu petanda, maka dapat dikatakan
bahwa tanda bersifat semena. Saussure menyebutkan
pula bahwa masalah bahasa itu pada dasarnya tidak
lebih dari masalah diferensi (difference) atau
“perbedaan yang sepenuhnya negatif”, dan tidak dapat
diperoleh di luar tuturan. Dengan kata lain, menurut
Saussure, di dalam bahasa hanya ada perbedaan-
perbedaan tanpa terma positif. Di dalam aspek penanda
dan petanda bahasa, tidak terkandung bunyi-bunyi atau
gagasan-gagasan yang ada sebelum sistem bahasa itu
sendiri, kecuali hanya perbedaan-perbedaan fonik dan
koseptual yang dihasilkan oleh sistem itu.
Persoalan kepermanenan (kestabilan) hubungan
penanda danpetanda dari Saussure mengundang kritik
dari para ahli sesudahnya. Roland Barthes dan Jacques
Lacan menolak kaitan yang stabil di antara penanda dan
petanda. Menurut mereka, penanda-penanda
“mengapung” atau “melayang” atau “ mengambang”

38

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

dengan bebas. Sebagai konsekuensinya, mereka
kemudian mengedepankan aspek penanda dan
merancukan perbedaan antara penanda dan petanda
(Kris Budiman, 1999:93).

4. Distingsi Sintagmatik dan paradigmatik

Distingsi selanjutnya dalam semiologi Saussure
adalah hubungan sintagmatis dan paradigmatis. Bagi
Saussure, kunci untuk mengerti tanda adalah dengan
memahami hubungan strukturalnya dengan tanda yang
lain. Ada dua tipe hubungan struktural, yaitu hubungan
paradigmatis (lebih mengacu pada pilihan) dan
hubungan sintagmatis (lebih mengacu pada kombinasi).
Sifat dasar lain dari hubungan penanda dan petanda
adalah susunannya yang linear dan berlangsung dalam
waktu. Menurut Saussure, hal ini terutama tampak
dalam penanda, yang unsur-unsurnya dilafalkan satu
persatu dan membentuk rangkaian, dan karenanya
selalu berada dalam garis waktu. Jenis hubungan ini
disebut oleh Saussure sebagai sintagma. Hubungan
sintagmatik merupakan hubungan in praesentia antar-
kata, antar-gramatika, antar-ujaran, atau antar-tindak
tutur.

Di satu pihak, di dalam wacana, kata-kata bersatu demi
kesinambungan, hubungan yang didasari oleh sifat langue
yang linear, yang meniadakan kemungkinan untuk
melafalkan dua unsur sekaligus. Unsur-unsur itu mengatur
diri yang satu sesudah yang lain di rangkaian parole.
Kombinasi tersebut yang ditunjang oleh keluasan, dapat
disebut sintagma. Jadi sintagma selalu dibentuk oleh dua
bentuk atau sejumlah satuan berurutan (Saussure,
1990:219).

Hubungan paradigmatik (atau hubungan asosiatif)
merupakan relasi terma-terma secara in absentia
(secara potensial di dalam rangkaian memori). Di dalam

39

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

bahasa, sebuah kata berhubungan secara paradigmatik
dengan sinonim-sinonim atau antonim-antonimnya; juga
dengan kata-kata lain yang memiliki bentuk dasar yang
sama atau berbunyi mirip dengannya. Kata-kata yang
mempunyai kesamaan tertentu saling berasosiasi di
dalam memori (benak) sebagai bagian dari gudang
batiniah membentuk bahasa masing-masing penutur.
Struktur paradigmatik ini menyajikan sebuah ruang
substitusi potensial yang dapat menghasilkan metafora
(Kris Budiman, 1999:89).
Cobley dan Jansz (1999: 16-17) memberikan contoh
sebagai berikut: kata mengambil sekumpulan tanda
“seekor kucing berbaring di atas karpet”. Kata “kucing”
dapat menjadi bermakna sebab ia dapat dibedakan
dengan “seekor, berbaring, dan karpet”. Kemudian kata
kucing ini dikombinasikan dengan elemen-elemen
lainnya, maka kata kucing akan menghasilkan
rangkaian yang membentuk sebuah sintagma
(kumpulan tanda yang berurut secara logis). Melalui
cara ini kata “kucing“ dapat dikatakan memiliki
hubungan paradigmatik (hubungan yang saling
menggantikan) dengan singa, anjing, dan lain
sebagainya.

D. Dari Distingsi ke Semiologi

Distingsi-distingsi yang diusulkan oleh de Saussure
merupakan fundamen semiologi yang dicanangkannya.
Distingsi-distingsi tersebut dapat diletakkan sebagai
oposisi biner. Oposisi sendiri diartikan sebagai
“pengaturan terma-terma secara internal di dalam
suatu medan asosiatif atau paradigmatik”. Sedangkan
oposisi biner dimaksudkan sebagai “segala hubungan
oposisional yang di dalamnya penanda dari sauatu
terma dicirikan oleh kehadiran sebuah elemen signifikan
(marka) yang tidak dimiliki oleh penanda dari terma
yang lain. Distingsi-distingsi tersebut merupakan unsur

40

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

utama semilogi Saussure. Ferdinand de Saussure
memaksudkan semilogi sebagai “A science that studies
the life of signs within society is conceivable, it would be
a part of social psychology and consequently of general
psychology; I shall call it semiology (from the Greek
semeion ‘sign’. Semiology would show what
conastitutes signs, what laws govern them
(sebuah ilmu
yang mengkaji tanda-tanda di dalam masyarakat dapat
dibayangkan; ia bakal menjadi bagian dari psikologi
sosial dan, dengan begitu, psikologi general; saya akan
menamakannya semiologi [dari bahasa Latin semeion
tanda’]. Semiologi akan menunjukkan hal-hal apa yang
membangun tanda-tanda, hukum-hukum apa yang
mengaturnya).

Jika Saussure mendefinisikan semilogi sebagai “ilmu
yang mengkaji peran tanda sebagai bagian dari
kehidupan sosial”, maka implikasinya, tanda itu
berperan sebagai bagian dari kehidupan sosial dan juga
sebagai aturan sosial yang berlaku. Fokus utama
kajiannya berkisar pada persoalan bahasa dan struktur
yang digunakan oleh manusia dan menyingkap reasi-
relasi unsur-unsur yang membentuk suatu totalitas
kompleks pada fenomena-fenomena termasuk bahasa
sebagai tanda. Subjek tidak dianggap penting karena
hanya pengguna, begitu pula dengan sejarah dan
perubahan. Istilah semiologi atau semiotik sudah
terdapat dalam karya Saussure. Tanda memang
merupakan unsur utama dalam teori Saussure tentang
bahasa. Ia menjadikan sistem tanda dalam linguistik
sebagai landasan semiologinya. Ia menyatakan bahwa
teori tentang tanda linguistik perlu menemukan
tempatnya dalam sebuah teori yang lebih umum, dan
untuk hal itulah ia mengusulkan nama semiologi.
Linguistik, ia posisikan sebagai bagian dari ilmu umum
(semiologi) itu; hukum yang akan ditemukan oleh
semiologi akan dapat diterapkan pada linguistik dan

41

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

linguistik akan berkaitan dengan suatu bidang khusus.
“Adalah tugas psikolog untuk menempatkan tempat
yang tepat bagi semiologi, sedangkan tugas para
linguist untuk merumuskan apa yang membuat langue
menjadi suatu sistem khas dari kumpulan peristiwa
semiologis, “ tegas Saussure.
Secara simplistis semiologi yang dikembangkan de
Saussure berdiri di atas beberapa prinsip, yakni:
Pertama, prinsip struktural yaitu memandang relasi
tanda sebagai relasi struktural, yang di dalamnya tanda
dilihat sebagai sebuah kesatuan antara sesuatu yang
bersifat material, yang disebut Penanda (signifier) dan
sesuatu yang bersifat konseptual yang disebut Petanda
(signified). Oleh karena itu, semiotik yang
dikembangkan oleh de Saussure sering disebut sebagai
semiologi struktural (structural semiotics) dan
kecendrungan ke arah pemikiran ini disebut
structuralism. Strukturalisme dalam semiotik tidak
menaruh perhatiannya terhadap realsi kausalitas antara
suatu tanda dan causa prima-nya, antara bahasa dan
realitas yang direpresentasikannya, melainkan pada
relasi yang secara total unsur-unsur yang ada di dalam
sebuah sistem bahasa. Sehingga, yang diutamakan
bukanlah unsur itu sendiri melainkan relasi di antara
unsur-unsur tersebut. Apa yang disebut sebagai ‘makna’
tidak dapat ditemukan sebagai bagian intrinsik dari
sebuah unsur, melainkan sebagai akibat dari relasi total
yang ada dengan unsur-unsur lain secara total.
Kedua, prinsip kesatuan (unity). Sebuah tanda
merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan
antara bidang penanda yang bersifat konkret atau
material (suara, tulisan, gambar, objek) dan bidang
petanda (konsep, ide, gagasan, makna). Meskipun
penanda yang abstrak non-material tersebut bukan
bagian dari intrinsik dari sebuah petanda tapi ia
dianggap hadir bersama penandanya yang konkret, dan

42

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

kehadirannya adalah absolut, sehingga ada konsep
metafisika, di mana sesuatu yang bersifat non-fisik
(petanda, konsep, makna, dan kebenaran) dianggap
hadir di dalam sesuatu yang bersifat fisik (penanda).
Ketiga, prinsip konvensional yaitu kesepakatan sosial
tentang bahasa (tanda dan makna) di antara komunitas
bahasa. Tanda disebut konvensional dalam pengertian
bahwa relasi antara penanda dan petandanya
disepakati sebagai konvensi sosial.
Keempat, prinsip sinkronik yaitu kajian tanda sebagai
sebuah sistem yang tetap di dalam konteks waktu yang
dianggap konstan, stabil, dan tidak berubah. Dengan
demikian, ia mengabaikan dinamika, perubahan, serta
transformasi bahasa sendiri di dalam masyarakat.
Kelima, prinsip representasi, yaitu suatu tanda
merepresentasikan suatu realitas yang menjadi rujukan
atau refresentasinya. Keenam, prinsip kontinuitas, yaitu
sebuah relasi waktu yang berkelanjutan dalam bahasa
selalu secara berkelanjutan mengacu pada sebuah
sistem atau struktur yang tidak pernah berubah,
sehingga di dalamnya tidak dimungkinkan adanya
perubahan radikal pada tanda, kode, dan makna.
Perubahan hanya dimungkinkan secara evolutif, yaitu
perubahan kecil pada berbagai elemen bahasa, sebagai
akibat logis dari perubahan sosial itu sendiri.
Lebih lanjut ia mengeleminir bahwa untuk membuat
orang mengerti hakikat semiologi dan disajikan secara
representatif, langue harus dikaji secara internal dan
intensif. Sementara ini, mayoritas orang senantiasa
memposisikan langue hanya sebagai tatabahasa
(structure) dan dipahami secara artifisial. Hal inilah
yang telah menyebabkan omnipotensi langue pada
posisi dan fungsi sebenarnya. Saussure juga mengkritik
pandangan para psikolog yang mengkaji mekanisme
tanda hanya sebagai fenomena individul ansich.
Baginya, sudut pandang ini memang mudah, tetapi

43

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

tidak membawa pemahaman seseorang tentang simbol-
individual, yang hakikatnya juga bersifat sosial.
Saussure juga mengingatkan bahwa apabila orang
mendapat tanda harus dikaji secara sosial; orang hanya
memperhatikan ciri-ciri bahasa yang mengaitkan
dengan pranata-panata lain, yaitu pranata yang kurang
lebih tergantung kepada kemauan manusia.
Bagi Saussure, tanda-tanda muncul secara jelas
hanya dalam langue. Untuk memahami langue,
seseorang harus menandai kesamaan (similaritas)
semua sistem organisasi dan juga memperhatikan
faktor-faktor kebahasaan beserta berbagai medianya
(seperti peran alat wicara). Dengan cara ini, seseorang
tidak hanya memfokuskan kajiannya pada aspek
linguistik murni, tetapi disertai perhatian terhadap ritus,
adat istiadat, dan lainnya sebagai tanda. Seseorang
harus berpikir bahwa fakta bahasa muncul dalam
bentuk lain (tanda tidak tersurat misalnya) dan harus
mengelompokkannya di dalam semiologi diserta
penjelasan kaidah-kaidah tanda tersebut. Dengan kata
lain, Saussure mencoba mengelaborasi tanda ke luar
lintas batas linguistik, sebagaimana dibuktikan nanti
oleh Roland Barthes (ketika mengkaji mitologis dan
fenomena pakaian) dan Levi Strauss (ketika membahas
fenomena antropologis).
Berkaitan dengan konsep semiologi itu, Saussure
selanjutnya menjelaskan kembali tentang
kesinambungan langue dalam waktu. Waktu, kata
Saussure, memungkinkan tanda-tanda bahasa diganti
dalam rentang ruang dan waktu tertentu. Meskipun
demikian, lanjutnya, perubahan dan keterbukaan dari
segi tertentu sama-sama merupakan ciri tanda bahasa.
Fakta tersebut bersifat solider, artinya tanda selalu
berganti tetapi selalu berkesinambungan. Sekalipun
terjadi perubahan, namun unsur lama masih ada,
sekecil apapun ia; ketidaksertaan unsur baru pada masa

44

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

lalu, sifatnya relatif. Itulah sebabnya, Saussure
menyandarkan prinsip pergantian (perubahan) pada
prinsip kesinambungan (ruang dan waktu).
Pergantian tanda dalam ruang dan waktu beraneka
ragam bentuknya dan faktor pemicunya. Perubahan ini
selalu meniscayakan perubahan proses signifikasi,
perubahan antara signifian (penanda) dan signifie
(petanda). Setiap langue sama sekali tidak berkekuatan
untuk mempertahankan diri terhadap faktor-faktor yang
setiap waktu mendorong perubahan hubungan
penanda-petanda. Inilah, menurut Saussure, adalah
konsekuensi dari kesamaan lambang. Menurut
Saussure, pranata manusia selain bahasa--seperti adat
istiadat, hukum, dan lainnya--, semuanya didasari—
dengan tarap yang berbeda—oleh hubungan wajar antar
berbagai tanda. Di dalam pranata terdapat keniscayaan
adanya keselarasan antara sarana (media) yang
digunakan dengan tujuan yang ingin dicapai. Mode
pakaian, misalnya, tidak seluruhnya arbitrer (semena),
karena orang tidak mungkin melepaskan diri dari syarat-
syarat yang ditetapkan oleh tubuh manusia dan
standard sosial.

Usaha Whitney untuk menonjolkan bahwa langue
merupakan pranata murni dan menekankan sifat
kearbitreran tanda linguistik, dinilai Saussure sebagai
langkah tepat. Namun, Whitney dianggap Saussure
tidak cukup melangkah jauh dan tidak memisahkan
kearbiteran langue dari pranata lainnya. Menurut
Saussure, tanda-tanda lingual, selain bersifat linear,
mempunyai karakteristik primordial yang lain, yaitu
arbitrer. Paduan antara penanda dan petanda pada
dasarnya bersifat manasuka (arbitrer). Misalnya saja
gagasan tentang ‘kucing” sama sekali tidak berkaitan
secara intrinsik dengan rangkaian kata k-u-c-i-n-g yang
menjadi penandanya di dalam bahasa Indoensia. Hal ini
bukan berarti bahwa pemilihan penanda-penanda

45

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

tersebut sepenuhnya terserah pada diri si penutur,
melainkan bahwa pemilihan tersebut unmotivated (tak
bermotivasi), tidak berhubungan secara alamiah dengan
hal yang ditandai (petanda) (Kris Budiman, 1999:6-7).
Pemikiran semiotik a la Saussure ini tentunya tidak
memiliki jangkauan yang cukup luas untuk berhadapan
dengan berbagai bentuk tanda yang bukan termasuk
arbitrary signs (tand-tanda yang berifat sewenang-
wenang), seperti yang dicontohkan di atas. Maka untuk
memperluasnya, tipologi tanda yang diajukan oleh
Charles Sasnders Peirce akan sangat membantu. Teori
dari Peirce, sebagaimana teori Saussure, menjadi grand
theory
dalam semiotik. Hal ini karena gagasannya
tersebut bersifat menyeluruh, deskripsi struktural dari
semua sistem penandaan. Peirce ingin mengidentifikasi
partikel dasar dari tanda dan menggabungkan kembali
semua komponen dalam struktural tunggal (Alex Sobur,
2001:97). Dengan pemikiran de Saussure seperti di
atas, maka wajar apabila kaum strukturalis, sebagai
penerus dan turunan dari pemikiran Saussure,
mendapat kritikan pedas. Kelemahannya terletak
karakter pemikiran strukturalisme yang bersifat yang
statis, metafisis, dogmatis, dan transenden. Sifatnya
yang mekanistik “terlalu menyandarkan pada struktur
yang tidak berubah”, maka menghambat proses
perubahan struktur itu sendiri. Ia membatas gerak yang
unthinkable (tak terpikirkan), unimaginable (tak
terbayangkan), dan unrepresentable (tak
terrepresentasikan), sebagaimana dikritik oleh Jacques
Derrida.

Namun demikian, Pada perkembangannya, distingsi-
distingsi Saussurean tersebut telah memberikan
kontribusi besar dalam linguistik dan kritik sastra. dalam
bidang linguistik, madzhab strukturalisme yang
dimunculkan Saussure ini diadaptasi oleh Noam Avram
Chomsky, yang melakukan modifikasi dualitas struktur

46

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

bahasa, yakni struktur dalam (deep structure) dan
struktur luar (surface structure). Selain Chomsky, Levi
Strauss yang dikenal sebagai bapak strukturalisme
antropologis Prancis, mengadaptasi pemikiran Saussure
terutama menyangkut oposisi biner dalam struktur
alaminya (Alex Sobur, 2001:103). Dalam konteks yang
terakhir, kritik sastra strukturalis-Saussurean
memperlakukan teks sastra sebagai ‘sistem tanda’.
Kritikus strukturalis beranggapan bahwa tugas mereka
adalah mempelajari struktur sastra, dengan mengamati
secara objektif hakekat sastra yang khas dan
penggunaan alat-alat fonemis dalam karya sastra, dan
bukan mempelajari amanat, sumber, atau sejarah
sastra. Puisi terjadi dari kata-kata, bukan subjek-subjek
puitis, jadi perhatian kritikus sastra haruslah
ditumpukan pada bahasa dari seni sastra itu sendiri.

47

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

SSEMIOTIK

EMIOTIK KKOMUNIKASI
OMUNIKASI

CCHARLES

HARLES SSANDERS

ANDERS PPEIRCE
EIRCE

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->