P. 1
Sistem Produksi Dan Manajemen Lingkungan Industri Kelapa Sawit PTPN-I Tanjung Seumantoh

Sistem Produksi Dan Manajemen Lingkungan Industri Kelapa Sawit PTPN-I Tanjung Seumantoh

|Views: 2,194|Likes:
Published by agung utomo
LAPORAN PRAKTIK LAPANGAN

MEMPELAJARI PROSES PRODUKSI DAN SITEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA I TANJUNG SEUMANTOH, ACEH TAMIANG

Oleh AGUNG UTOMO F34070012

2010 DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 1

I.
A. Latar Belakang

PENDAHULUAN

Sektor pertanian umumnya dan sektor perkebunan khususnya memiliki peran yang penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Dalam kondisi perekonomian Indonesia sekarang ini, akibat n
LAPORAN PRAKTIK LAPANGAN

MEMPELAJARI PROSES PRODUKSI DAN SITEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA I TANJUNG SEUMANTOH, ACEH TAMIANG

Oleh AGUNG UTOMO F34070012

2010 DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 1

I.
A. Latar Belakang

PENDAHULUAN

Sektor pertanian umumnya dan sektor perkebunan khususnya memiliki peran yang penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Dalam kondisi perekonomian Indonesia sekarang ini, akibat n

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: agung utomo on Dec 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/25/2015

pdf

text

original

Sections

A. Bahan Baku Produksi

Bahan baku dalam proses produksi minyak kelapa sawit adalah tanaman kelapa
sawit. Kelapa Sawit terdiri daripada spesies Arecaceae atau famili palma yang digunakan
untuk pertanian komersil dalam pengeluaran minyak kelapa sawit. Kelapa sawit termasuk
tumbuhan pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Bunga dan buahnya berupa
tandan, serta bercabang banyak. Buahnya kecil dan apabila masak, berwarna merah
kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya mengandungi minyak.
Kelapa sawit memiliki banyak jenis, berdasarkan ketebalan cangkangnya kelapa sawit
dibagi menjadi Dura, Pisifera, dan Tenera. Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki
cangkang tebal sehingga dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya

tandan buahnya besar‐besar dan kandungan minyak pertandannya berkisar 18%. Pisifera

buahnya tidak memiliki cangkang namun bunga betinanya steril sehingga sangat jarang
menghasilkan buah. Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan Pisifera. Jenis ini

dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing‐masing induk dengan sifat

cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa tenera unggul
persentase daging perbuahnya dapat mencapai 90% dan kandungan minyak pertandannya
dapat mencapai 28% (Soehardiyono1998).
Kelapa sawit dikirim ke pabrik menggunakan truk-truk pengangkut dari dua
sumber yaitu kebun milik PTPN-I dan kebun rakyat. Penanganan bahan baku dibedakan
berdasarkan sumber bahan baku. Pada pabrik kelapa sawit Tanjung Seumantoh, buah
kelapa sawit yang digunakan adalah buah yang telah mengalami proses sortasi. Proses
sortasi dilakukan dengan memilih buah kelapa sawit berdasarkan fraksinya. Tandan buah
segar kelapa sawit memiliki kriteria panen berdasarkan fraksinya yaitu fraksi 00 - fraksi
V. Fraksi yang diinginkan pada proses pengolahan adalah fraksi I, II, dan fraksi III,
sedangkan fraksi 00, 0, IV, dan fraksi V diharapkan sedikit mungkin masuk pada saat
proses pengolahan.

Tabel 1. kriteria panen dan syarat mutu TBS

No

Kematangan

Fraksi

Jumlah Brondol

Keterangan

1

Mentah

00

0

Tidak ada, buah
berwarna hitam
1-12.5% buah luar
membrondol

Sangat mentah

Mentah

2

Matang

I

II

III

12.5-25% buah luar
membrondol
25-50% buah luar
membrondol
50-75% buah luar
membrondol

Kurang matang

Matang I

Matang II

3

Lewat Matang

IV

70-100% buah luar
membrondol

Lewat matang I

13

V

Buah dalam juga
membrondol, ada buah
yang busuk

Lewat matang II

Sumber : Pusat Penelitian Marihat, 1982.

B. Sarana Produksi

Sarana produksi terdiri dari mesin dan peralatan yang digunakan pada tiap
proses produksi. Mesin dan peralatan merupakan suatu perlengkapan yang digunakan
ntuk membantu dalam menyelesaikan suatu proses produksi sehingga waktu penyelesaian
menjadi lebih singkat dengan jumlah produk yang lebih banyak. PTPN-I Tanjung
Seumentoh menggunakan sarana produksi yang mendukung kinerja proses produksinya.
Sarana tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan tahapan dalam setiap proses yang ada
di pabrik. Pada PTPN-I Tanjung Seumantoh proses dilakukan dalam produksi CPO
(crude palm oil) pengolahan biji sawit, dan pengolahan inti sawit. Mesin dan peralatan
yang digunakan pada proses pengolahan daging (buah), biji sawit, dan inti sawit adalah
sebagai berikut :

1. Tahapan penerimaan buah (Fruit Reception Stasion).
Stasiun penerimaan buah terdiri dari tempat penimbangan bahan masuk, sortasi
bahan yang terdiri dari dua loading rump sesuai sumber kelapa sawit yaitu kebun
PTPN-I dan kebun pihak ke-3 (kebun rakyat), keranjang penampung, dan lori
pengakut kelapa sawit dengan kapasitas 2,4 ton /lori. Pada PTPN-I terdapat 40 lori.

2. Tahapan perebusan (Sterilizing Station).
Stasiun perebusan terdapat alat sterilizer yaitu suatu bejana yang digunakan
untuk melakukan perebusan tandan buah segar. Pada pabrik PTPN-I terdapat 4 unit
sterilizer, pada setiap sterilizer terdapat 10 lori.

3. Tahapan penebah (Threshing Station).
Stasiun penebah terdiri dari hopper ( penampung buah hasil rebusan), hosting
crane (alat pengangkut lori ke thresher), automatic bunch feeder (mengatur

meluncurnya buah agar tidak masuk sekaligus ke drum berputar), drum bunch
thresher (tempat perontokan buah dari tandan dengan kecepatan 23-25 rpm).

4. Tahapan kempa (Pressing Station).
Stasiun pengempaan terdapat alat pelumat (digester), alat pengempa (screw
press), tangki pemisah pasir (Desanding Device), ayakan getar (vibrating Screen),
dan tangki penampung (Crude Oil Tank).

5. Tahapan Pemurnian Minyak (Clarification Station).
Stasiun pemurnian minyak terdiri dari CST (continuous settling tank), POT
(pure oil tank), vakum dryer, sludge oil tank, sludge separator, decanter, Fat Pit, dan
Storage Tank.

14

6. Tahapan Pengolahan biji sawit (Nut Plant Station).
Pada stasiun ini terdapat Cake Breaker Conveyor, Depericarper, Nut Silo, Ripple
Mill, Cracked Mixture Separating Columm, Claybath,dan Kernel Silo.

7. Proses pengolahan inti sawit

Pada proses ini, mesin dan peralatan yang digunakan adalah mulai dari rolling
mill, broken kernel conveyor, broken kernel elevator, flacking mill, flakes conveyor,

flkes elevator, conditioner, screw press, filter press, vibrating screen, sampai

berakhir di storage tank. Rolling mill dilengkapi dengan magnetic trap yang secara
khusus menangkap benda-benda asing yang terbuat dari logam yang bercampur
dengan inti sawit. Rolling mill memiliki tingkat ketebalan yang berbeda yaitu
berturut-turut tingkat tebal inti yang dihasilkan pada tingkat I-II yaitu menjadi 1.5
mm, 1.3 mm, dan 1 mm. Flacking mill yaitu alat yang terdiri dari dua buah roll yang
tidak bergerigi untuk menipiskan kembali inti sawit yang telah melalui rolling mill
tersebut, sehingga mencapai ketebalan 0.3 mm. Conditioner adalah suatu instalasi
yang berfungsi untuk penggorengan inti sawit yang telah tipis.

C. Proses Produksi

Proses pengolahan dibagi menjadi beberapa proses produksi yaitu proses
produksi CPO (crude palm oil) dan pengolahan biji sawit, serta pengolahan inti sawit.
Proses produksi CPO pada PTPN-I Tanjung seumantoh terbagi atas beberapa tahap yang
dilakukan di beberapa station. Station-station pada proses pengolahan kelapa sawit yaitu
station penerimaan buah, perebusan, penebah, kempa, pemurnian minyak, dan

pengolahan. Proses pengolahan TBS dimulai dengan persiapan TBS di loading rump,
perebusan, penebahan, pengepresan, pengolahan, pemurnian hingga berakhir di storage
tank. Berbagai perlakuan harus dipenuhi dalam proses pengolahan ini sehingga dihasilkan

minyak kelapa sawit yang berkualitas baik.

C.1. Pabrik Kelapa Sawit

1. Tahapan Penerimaan Buah (Fruit Reception Station)

Proses pengolahan dimulai dari penimbangan buah. Tandan buah segar (TBS)
yang berasal dari kebun-kebun diangkut ke pabrik untuk ditimbang terlebih dahulu.
Pengangkutan secepatnya dilakukan setelah pemetikan (diterima pabrik maksimum
24 jam setelah dipetik). Hal ini bertujuan untuk mencegah timbulnya kandungan
kadar asam lemak bebas yang tinggi pada kelapa sawit akibat keterlambatan
pemrosesan. Untuk mengurangi hal tersebut dilakukan pencampuran antara buah
lama dan buah yang baru dengan perbandingan buah baru yang dicampur jumlahnya
lebih dominan daripada buah lama.
Tujuan dilakukannya penimbangan adalah untuk mengetahui jumlah tandan
buah segar (TBS) yang akan diolah, mengetahui rendemen minyak dan inti serta
berat tandan rata-rata. Dari penimbangan juga dapat diketahui tingkat produksi TBS
yang dicapai tiap sumber kebun. Jenis timbangan yang digunakan adalah timbangan
digital dan dilengkapi dengan sistem komputer yang berkapasitas maksimal 60 ton.

15

Setelah dilakukan penimbangan, TBS di pindahkan ke loading rump. Pada
loading rump ini dilakukan sortasi buah yang bertujuan untuk pengawasan terhadap

kandungan minyak dalam proses pengolahan dan kadar asam lemak bebas dari TBS
tersebut. Sortasi dilakukan terhadap setiap unit TBS yang masuk. Sortasi TBS
dilakuakn berdasarkan criteria panen yang dibagi berdasarkan fraksi buahnya.
kriteria panen dan syarat mutu TBS telah disajikan pada tabel 1.
TBS yang terdapat pada loading rump yang telah mengalami proses sortasi
kemudian dimasukkan ke dalam lori-lori tempat meletakkan buah kelapa sawit untuk
proses perebusan yang berkapasitas 2.4 ton TBS pada setiap lorinya. TBS
dimasukkan ke dalam lori dengan membuka pintu loading. Lori yang telah terisi
dengan TBS kemudian dimasukkan ke dalam sterilizer untuk dilakuakn perebusan
dengan bantuan capstand yang berfungsi untuk menarik lori masuk-keluar sterilizer.

Diagram 1. Diagram alir proses dari tahapan penerima buah sampai penebahan

Kebun

Penimbangan

Loading rump

Sortasi

Lori

Perebusan
(sterilizer)

Hosting crane

Thresher

Brondolan

Tandan kosong

Incinerator

Pelumatan
(digester)

16

2. Tahapan Perebusan (Sterilizing Station)

Pada tahapan ini akan dilakukan proses sterilisasi. Proses sterilisasi adalah
proses perebusan di dalam suatu bejana yang disebut dengan sterilizer. Sterilizer
memiliki kapasitas maksimal 10 lori yang dapat masuk ke dalamnya. Setelah lori
yang berisi TBS masuk ke dalam sterilizer, pintu alat tersebut ditutup rapat untuk
dilanjutkan proses perebusan. Proses perebusan dilakukan selama 100-110 menit
dengan media pemanasnya adalah uap. Uap didapatkan dari turbin yng bertekanan 2-
3 kg/cm3
.
Metode Perebusan

Untuk mendapatkan hasil yang terbaik, maka perlu diperhatikan cara perebusan.
Metode perebusan yang digunakan adalah dengan sistem tiga puncak (Triple Peak).
Prinsip triple peak adalah tiga kali penguapan uap (uap basah) ke dalam sterilizer
dan tiga kali pembuangan uap (blow down).
Tahap perebusan dengan pola triple peak adalah perebusan dengan tahapan
pencapaian puncak pada tiga kali pemasukan uap dan pembuangan uap. Jumlah
puncak dalam pola rebusan ditunjukkan oleh jumlah pembukaan dan penutupan dari
steam masuk atau ateam keluar selama perebusan berlangsung, yang diatur secara
manual dan otomatis.

Sebelum dimasukkan uap untuk mencapai puncak I, terlebih dahulu dilakukan
deaerasi (pembuangan udara) selama 5 menit. Kemudian baru dimasukkan uap untuk

mencapai puncak I yang dilakukan dengan cara membuka pipa steam masuk selama
12-15 menit atau dicapai tekanan sebesar 1.5 kg/cm2

, lalu pipa steam ditutup
sedangkan pipa kondesat dan pipa exhaust dibuka. Setelah tekanan turun sampai
sebesar 0kg/cm2

atau selama 5 menit pipa tersebut ditutup. Pada puncak pertama
proses yang terjadi adalah membuang udara yang terperangkap di dalam sterilizer.
Pipa steam masuk kemudian dibuka kembali selama 15 menit atau sampai dicapai
puncak II dengan tekanan 2.5 kg/cm2

. Setelah tekanan turun sampai sebesar 0 kg/cm2
atau 5 menit pipa tersebut ditutup. Pada puncak kedua, proses yang terjadi adalah
pengurangan kadar air dari buah dan proses awal sterilisasi. Setelah melalui dua
puncak awal, perebusan dilanjutkan dengan membuka pipa steam masuk sampai
dicapai puncak III dengan tekanan 3 kg/cm2

. Lalu tekanan itu dipertahankan selama
45 menit, sebelum dilakukan pembuangan steam terakhir. Pada puncak ketiga terjadi
proses setrilisasi sempurna dan melekangkan cangkang dan kernel agar tidak
menyatu dan memudahkan emecahan nut.
Setelah penahanan tekanan steam selesai, maka steam yang berada di dalam
sterilizer di buang. Pemasukan steam secara tiba-tiba pada pencapaian puncak I dan

II bertujuan untuk memberikan mechanical shock dan thermal shock terhadap TBS,
sehingga buah yang semula kaku menempel pada tandan akan lunak dan akan lebih
mudah lepas dari tandan saat di tebah dalam thresher. Sedangkan penahanan tekanan
pada puncak II bertujuan untuk memberikan kondisi yang cukup agar kadar asam
lemak bebas (ALB) didalam TBS dapat dikurangi.

17

Grafik 1. Grafik perebusan sistem triple peak

3. Tahapan Penebah (Threshing Station)

Lori-lori yang berisi buah yang telah direbus dikeluarkan dari dalam Steriliser
dengan menggunakan capstand menuju kestasiun penebah dengan menggunakan
alat pengangkat hosting crane. Pada tahapan ini buah dipipil untuk menghasilkan
brondolan dan tandan kosong.
Lori-lori diangkat dengan menggunakan hosting crane, yang berdaya angkut 5
ton. Kemudian hasil perebusan dituangkan satu persatu ke dalam hopper. Buah di
dalam hopper jatuh melalui automatic bunch feeder ke dalam drum berputar yang
berbentuk silinder drum ini dilengkapi dengan sudut-sudut yang memanjang di
sepanjang drum. Dengan bantuan sudut-sudut ini, buah terangkat dan jatuh
terbanting sehingga brondolan buah terlepas dari tandannya. Prinsip kerjanya adalah
dengan menggunakan gaya sentrifugal yang terjadi akibat putaran drum. Gaya
sentrifugal (lawan dari gaya sentripetal) merupakan efek semu yang ditimbulkan
ketika sebuah benda melakukan gerak melingkar (sentrifugal berarti menjahui pusat
putaran. Tandan yang masuk akan melekat pada dinding drum yang sedang
berputar, kemudian jatuh dengan adanya gaya gravitasi. Kapasitas drum ini adalah
10 ton TBS. bantingan yang dilakukan secara berulang-ulang akan menyebabkan
brondolan terlepas dari tandannya dan melalui celah-celah drum jatuh kebagian
bawah drum yaitu ke botton cross conveyor, sedangkan tandan kosong akan
terlempar keluar dan jatuh ke empty hunc conveyor dan dibawa ke incinerator untuk
dibakar. Brondolan yang berada pada bottom cross conveyor diangkut ke fruit
elevator lalu ke top cross conveyor dan kemudian diteruskan ke fruit distribution

conveyor untuk dibagikan ke dalam tiap-tiap digester untuk proses pelumatan.

18

pengepresan

minyak kasar

ampas kempa

desanding
device

pemecahan

vibrating
screen

fat pit

minyak

non-oil solid

crude oil tank

pelumatan
(digester)

continuous
settling tank

pemurnian

Diagram 2. Diagram alir proses stasiun pengempaan.

4. Tahapan Pengempaan (Pressing Station)

Tahapan pengempaan adalah tahapan pengambilan minyak dari pericarp (daging
buah) dilakukan dengan melumat dan mengempa. Pelumatan dilakukan dalam
digester , sedangkan pengempaan dilakukan dalam kempa ulir (Screw press).

Proses pelumatan disebut juga dengan proses pengadukan. Tujuan proses ini
adalah agar daging buah terlepas dari biji dan menghancurkan sel-sel yang
mengandung minyak. Pengadukan dilakukan dalam digester yang berbentuk silinder,
masing-masing digester berkapasitas 7.5 ton. Di dalam digester dipasang pengaduk
yang berputar pada sumbunya sehingga sebagian besar daging buah terpisah dari
bijinya. Pada pengadukan ini dilakukan pemanasan untuk memudahkan pelumatan
buah dengan menggunakan uap air yang temperaturnya selalu dijaga agar stabil
antara 90-950

C.
Hasil pengempresan adalah minyak kasar yang keluar dari silinder, dan melalui
oil guitter akan menuju desanding device untuk proses pengendapan. Hasil lain

adalah ampas kempa yang terdiri dari biji, serat dan ampas yang akan dipecahkan
dengan menggunakan cake broker conveyor.
Minyak hasil pengempaan pada Screw press merupakan minyak mentah yang
masih banayak mengandung kotoran-kotoran. Desanding device adalah sebuah
bejana yang berbentuk silinder yang berfungsi untuk mengendapkan partikel-partikel
yang mempunyai densitas tinggi. Minyak yang masih mengandung serat dan sedikit

19

kotoran berada pada bagian atas, kemudian dipompakan ke ayakan getar, sedangkan
kotoran dan lumpur berada pada bagian bawah bejana yang akan dialirkan ke fat pit.
Vibrating screen adalah alat yang terdiri dari dua lapisan screen dengan ukuran

masing-masing 30 mesh untuk top screen dan 40 mesh untuk bottom screen, yang
digetarkan dengan kecepatan 1500 rpm. Proses penyaringan menggunakan vibrating
screen yang bertujuan untuk memisahkan non-oil solid (NOS) yang berukuran besar

seperti serabut, pasir, tanah, dan kotoran-kotoran lain yang terbawa dari desanding
device. NOS yang tertahan pada ayakan akan dikembalikan ke digester melalui

bottom cross conveyor, sedangkan minyak dipompakan ke crude oil tank.

Minyak yang dikeluarkan dari vibrating screen dialirkan ke crude oil tank untuk
ditampung sementara sebelum di pompakan ke stasiun pemurnian. Pada crude oil
tank minyak dipanaskan dengan steam menggunakan sistem pipa pemanas dengan

suhu yang dipertahankan 90-95o

C. Kemudian minyak dipompakan ke continuous

settling tank (CST).

5. Tahapan Pemurnian Minyak (Clarification Station)

crude oil
tank

continuous
settling tank

skimmer

sludge

pure oil
tank

sludge oil
tank

oil
purifier

kotoran dan air

kotoran dan
air

densitas besar

densitas
kecil

proses blow
down

vacum dryer

Fat pit

pemompaan

storage tank

(CPO)
Diagram 3. Diagram alir proses stasiun pemurnian (clarification station).

20

Minyak kelapa sawit kasar yang berasal dari stasiun pengempaan masih banyak
mengandung kotoran-kotoran yang berasal dari daging buah seperti lumpur, air dan
lain-lain. Keadaan ini menyebabkan minyak mudah mengalami penurunan mutu
sehingga sulit dalam pemasaran. Untuk mendapatkan minyak yang memenuhi
standar maka perlu dilakukan proses pemurnian terhadap minyak tersebut.
Dari crude oil tank minyak dipompakan ke CST untuk mengendapkan lumpur
dalam crude oil tank berdasarkan berat jenisnya. Proses pengendapan ini dapat
berlangsung dengan sempurna jika temperatur minyak dapat dipertahankan pada 90-
95oC, karena pada temperatur tersebut mniyak yang memiliki densitas lebih besar
akan mengendap pada dasar tanki. Minyak pada bagian atas CST dikumpul dengan
bantuan skimmer menuju pure oil tank, sedangkan sludge yang masih mengandung
minyak terletak pada bagian bawah yang dialirkan ke sludge oil tank.
Minyak dari CST menuju ke pure oil tank untuk ditampung sementara waktu
sebelum dialirkan ke oil purifier. Dalam pure oil tank juga terjadi pemanasan dengan
tujuan untuk mengurangi kadar air. Pemanasan dilakukan pada suhu 90-95o

C. di
dalam oil purifier dilakukan pemurnian berdasarkan atas perbedaan densitas dengan
menggunakan gaya sentrifugal. Dengan kecepatan perputarannya adalah 7500 rpm.
Kotoran dan air yang memiliki densitas yang lebih besar akan berada pada bagian
luar (dinding bowl), sedangkan minyak mempunyai densitas yang lebih kecil
bergerak ke arah poros dan keluar melalui sudut-sudut untuk dialirkan ke vacum
dryer. Kotoran dan air yang melekat pada dinding di bowl down ke seluruh

pambuangan untuk dibawa ke fat pit.
Minyak yang keluar dari oil purifier masih mengandung air, maka untuk
mengurangi kadar air tersebut, minyak dipompakan ke vacum dryer. Di sini minyak
disemprot dengan menggunakan noozle sehingga campuran minyak dan air tersebut
akan pecah. Hal tersebut akan mempermudah pemisahan air dalam minyak, dimana
minyak yang memiliki tekanan uap lebih tinggi dari air akan turun dan dipompakan
ke storage tank. Sludge yang masih mengandung minyak pada bagian bawah CST di
alirkan ke sludge oil tank untuk mengendapkan lumpur (campuran air dan NOS) dari
minyak. Untuk mempercepat pengendapan lumpur, sludge dipanaskan pada suhu 80-
90oC dengan menggunakan uapyang dialirkan melalui coil pemanas sehingga
densitas minyak menjadi lebih besar dan lumpur halus yang melekat pada minyak
akan terlepas dan mengendap pada dasar tangki.
Lumpur yang mengendap di blow down tiap selang waktu tertentu. Kemudian
dialirkan ke fat pit melalui saluran pembuangan, sedangkan lumpur yang masih
mengandung minyak dialirkan self cleaning straine yang merupakan saringan
berbentuk silinder dan berlubang lebih halus. Dengan adanya perputaran poros,
timbul gaya sentrifugal dan minyak akan berada dibagian tengah dan dihisap oleh
pompa menuju balancing tank. Dari balancing tank ini minyak yang masih
mengandung lumpur halus dibagi ke sludge operator dan decanter.
Pada sludge operator ini terjadi 2 fase pemisahan minyak kasar dan sludge yang
mengandung air. Pada tahap ini minyak dipisahkan dari NOS berdasarkan perbedaan
densitas oleh gaya sentrifugal dengan kecepatan putar 7500 rpm, serta dilakukan juga
pemanasan dengan air pemanas yang berasal dari hot water tank. Minyak yang
mempunyai densitas lebih keciil akan menuju poros dan terdorong keluar melalui
sudut-sudut (paring disk) yang kemudian dialirkan ke CST. Sedangkan sludge yang

21

mengandung air memiliki densitas lebih besar sehingga akan terdorong ke bagian
dinding bowl dan melalui nozzle, kemudian sludge keluar melalui saluran
pembuangan menuju fat pit.
Pada decanter terjadi pemisahan 3 fase yaitu minyak, air, dan padatan. Decanter
bekerja berdasarkan gaya sentrifugal yang terdiri dari dua bagian yaitu bagian yang
diam (canting) dan bagian berputar. Bagian berputar merupakan tabung (bowl)
dengan putaran 3500 rpm dan di dalamnya terdapat ulir (screw conveyor) dengan
putaran sedikit lebih lambat dari putaran tabung. Akibat gaya sentrifugal padatan
bergerak ke dinding bowl dan didorong oleh screw ke bawah. Padatan yang
berbentuk lumpur dibuang sedangkan cairan bergerak berlawanan arah dengan
padatan dan akan terjadi pemisahan lebih lanjut akibat adanya gaya sentrifugal.
Cairan dengan densitas lebih kecil yakni minyak akan menuju poros dan dialirkan
kembali ke CST, sedangkan air kotornya dialirkan kesaluran pembuangan menuju fat
pit. Fat pit merupakan kolam untuk menampung air limbah yang masih terdapat
minyak. Disini diinjeksikan uap sebagai pemanas untuk mempermudah proses
pemisahan minyak dengan kotoran. Selanjutnya minyak yang ada pada permukaan
dibiarkan melimpah dan ditampung pada pinggiran kolam fat pit, dan dipompaka ke
CST untuk proses pemurnian kembali. Minyak yang sudah melewati vacuum dryer
dipompakan ke storage tank. Minyak yang dihasilkan dari daging buah ini disebut
juga crude palm oil (CPO).
Produk minyak kelapa sawit sebagai bahan makanan mempunyai dua aspek
kualitas. Aspek pertama berhubungan dengan kadar dan kualitas asam lemak,
kelembaban dan kadar kotoran. Aspek kedua berhubungan dengan rasa, aroma dan
kejernihan serta kemurnian produk. Kelapa sawit bermutu prima (SQ, Special
Quality) mengandung asam lemak (FFA, Free Fatty Acid) tidak lebih dari 2 % pada
saat pengapalan. Kualitas standar minyak kelapa sawit mengandung tidak lebih dari
5 % FFA. Setelah pengolahan, kelapa sawit bermutu akan menghasilkan rendemen

minyak 22,1 % ‐ 22,2 % (tertinggi) dan kadar asam lemak bebas 1,7 % ‐ 2,1 %

(terendah). Mutu minyak kelapa sawit dapat dibedakan menjadi dua arti, pertama,

benar‐benar murni dan tidak bercampur dengan minyak nabati lain. Mutu minyak

kelapa sawit tersebut dapat ditentukan dengan menilai sifat‐sifat fisiknya, yaitu

dengan mengukur titik lebur angka penyabunan dan bilangan yodium. Kedua,
pengertian mutu sawit berdasarkan ukuran. Dalam hal ini syarat mutu diukur
berdasarkan spesifikasi standar mutu internasional yang meliputi kadar ALB, air,
kotoran, logam besi, logam tembaga, peroksida, dan ukuran pemucatan. Kebutuhan
mutu minyak kelapa sawit yang digunakan sebagai bahan baku industri pangan dan

non pangan masing‐masing berbeda. Oleh karena itu keaslian, kemurnian, kesegaran,

maupun aspek higienisnya harus lebih Diperhatikan. Rendahnya mutu minyak kelapa

sawit sangat ditentukan oleh banyak faktor. Faktor‐faktor tersebut dapat langsung

dari sifat induk pohonnya, penanganan pascapanen, atau kesalahan selama
pemrosesan dan pengangkutan. Dari beberapa faktor yang berkaitan dengan standar
mutu minyak sawit tersebut, didapat hasil dari pengolahan kelapa sawit, seperti
Crude Palm Oil, Crude Palm Stearin, RBD Palm Oil, RBD Olein, RBD Stearin, Palm
Kernel Oil, Palm Kernel Fatty Acid, Palm Kernel, Palm Kernel Expeller (PKE),
Palm Cooking Oil, Refined Palm Oil (RPO), Refined Bleached Deodorised Olein

22

(ROL), Refined Bleached Deodorised Stearin (RPS), Palm Kernel Pellet, dan Palm
Kernel Shell Charcoal. Syarat mutu inti kelapa sawit adalah sebagai berikut:

1. Kadar minyak minimum (%): 48; cara pengujian SP‐SMP‐13‐1975

2. Kadar air maksimum (%):8,5 ; cara pengujian SP‐SMP‐7‐1975

3. Kontaminasi maksimum (%):4,0; cara pengujian SP‐SMP‐31‐19975

4. Kadar inti pecah maksimum (%):15; cara pengujian SP‐SMP‐31‐1975
(Fauzi, Y, Y.E. Widyastuti, Iman S., dan Rudi Hartono 2006).

Komposisi Kimia Minyak Sawit

Kelapa sawit mengandung kurang lebih 80% pericarp dan 20% buah yang
dilapisi kulit tipis, kadar minyak dalam pericarp sekitar 34-40%. Kandungan karoten
dapat mencapai 1000 ppm atau lebih, tetapi dalam minyak dari jenis tenara kurang lebih
500-700 ppm. Kandungan tokoferol bervariasi dan dipengaruhi oleh penanganan selama
produksi. Rata-rata komposisi asam lemak kelapa sawit dapat dilihat pada table dibawah
ini.

Tabel 2. komposisi asam lemak minyak kelapa sawit dan minyak inti sawit.

Asam lemak

Minyak kelapa sawit (%)

Minyak inti sawit (%)

Asam kaprilat

-

3 – 4

Asam kaproat

-

3 – 7

Asam laurat

-

46 – 52

Asam miristat

1.1 – 2.5

14 – 17

Asam palmintat

30 – 46

6.5 – 9

Asam stearat

3.6 – 4.7

1 – 2.5

Asam oleat

39 – 45

13 – 19

Asam linoleat

7 – 11

0.5 – 2

(Ketaren, 1986)

Sifat Fisika Minyak Kelapa Sawit

Sifat-sifat fisika dari minyak kelapa sawit pada umumnya dipengaruhi oleh temperatur.
Beberapa sifat fisika yang telah diketahui adalah sebagai berikut :
1. Tidak dapat larut dalam air, hal ini disebabkan oleh adanya asam lemak berantai
karbon panjang dan tidak adanya gugus polar.
2. Densitas minyak sawit adalah 0.9087 gram/cm3

(350

C).

3. Tegangan permukaan 35 dyne/cm (60-700

C).
4. Tegangan antar muka dengan air 30 dyne/cm (60-700

C).
5. Kelarutan minyak kelapa sawit di dalam air 0.14% dari jumlah minyak keseluruhan
(diukur pada 320

C).
6. Keseluruhan udara dalam minyak kelapa sawit sekitar 8 volume udara / 100 volume
minyak pada 300

C dan 13 volume udara / 100 volume minyak pada 1500

C.

7. Indeks bias minyak kelapa sawit adalah 1.4521 pada 600

C.

8. Titik cair minyak kelapa sawit adalah 400

C.
9. Konduktifitas minyak kelapa sawit adalah 0.0004 cal/ s cm 0

C pada 210

C dan

0.00039 cal/s cm0

C pada 1000

C.

23

Sifat Kimia Minyak Kelapa Sawit

Adapun sifat-sifat kimia kelapa sawit adalah sebagai berikut :
1. Asam lemak jenuh dan minyak mempunyai rantai lurus monokarboksilat dengan
karbon genap.
2. Bila terjadi kontak dengan sejumlah oksigen, maka akan terjadi reaksi oksidasi yang
menyebabkan minyak menjadi tengik.
3. Dilihat dari strukturnya, minyak berasal dari trigliserida – ester atau trigliserida yang
terbentuk dari kondensasi dari 1 molekul gliserol dan 3 molekul asam lemak. Pada
reaksi hidrolisa minyak akan diubah menjadi asam lemak bebas dan gliserol.
4. Pada reaksi hidrolisa minyak akan diubah menjadi asam lemak bebas dan gliserol.
5. Penambahan sejumlah basa akan terjadi reaksi penyabunan (saponifikasi).
6. Komposisi asam lemak yang utama pada minyak adalah asam palmitat (40-46%) dan
pada minyka inti sawit asam laurat (46-56%).
Untuk memperoleh minyak kelapa sawit sesuai dengan standar serta mutu yang
yang baik, maka perlu diperhatikan factor-faktor yang mempengaruhi. Mutu
produksi sangat mempengaruhi, terutama asam lemak bebas (ALB) dalam minyak
kelapa sawit. ALB adalah faktor mutu yang paling cepat berubah selama proses
terjadi, ALB dalam konsentrasi tinggi yang terikut dalam minyak kelapa sawit sangat
merugikan. Tingginya ALB ini mengakibatkan rendemen minyak turun, sehingga
perlu dilakukan usaha pencegahan terbentuknya ALB dalam minyak sawit. Kenaikan
kadar ALB ditentukan dari saat tandan dipanen sampai diolah pabrik. Kenaikan ALB
ini disebabkan adanya reaksi hidrolisa pada minyak yang dipercepat dengan faktor-
faktor seperti apanas, air, keasaman, katalis(enzim) (Fauzi, dkk. 2006).
Pemanenan pada waktu yang tepat merupakan salah satu usaha untuk menekan
kadar ALB sekaligus untuk menaikkan rendemen minyak. Faktor-faktor yang
mempercepat pembentukan ALB setelah tandas dipotong sebelum direbus yaitu
banyak buah yang rusak, lamanya pengangkutan, tingkat kematangan, dan
pengumpulan buah yang tertunda. Peningkatan kadar ALB juga dapat terjadi pada
proses hidrolisa dipabrik. Pada proses tersebut terjadi penguraian kimia yang dibantu
oleh air, berlangsung pada kondisi tertentu. Air panas dan uap air tertentu merupakan
bahan pembantu pada proses pengolahan. Akan tetapi, proses pengolahan yang
kurang cermat mengakibatkan efek samping yang tidak diinginkan, mutu minyak
mengalami penurunan. Karena itu, setelah proses pengolahan minyak sawit,
dilakukan pengeringan pada bejana hampa pada suhu 900

C (Lubis.1982).

Tabel 3. Sifat fisika-kima dari kelapa sawit.

Sifat

Minyak sawit

Minyak inti sawit

Berat jenis pada suhu kamar
Indeks bias D 400

C

Bilangan Iod
Bilangan penyabunan

0.900

1.4565-1.4585
48-86
196-206

0.900-0.913

1.459-1.415
14-20
244-254

(Ketaren, 1986).

24

C.2. Pabrik Inti Sawit (PIS)

Tahapan Pengolahan Biji Sawit (Nut Plant Station)

screw press

serat

biji

cake breaker conveyor

pemisahan

depericarper

fraksi
ringan

fraksi
berat

pemisahan

polishing

(fibre
cyclon)

drum

shell bin

pengikisan

boiler

nut silo

pemecahan

ripple mill

pemecahan
II

25

pemecahan II

cracked mixture
separating
columm

fraksi
ringan

fraksi
berat

separating

screened

columm

particle
drum

penghisapan

ripple mill

fibre
conveyor

pemcahan

shell bin

pemisahan
(clay
bath)

boiler

shell bin

kernel silo

boiler

pengeringan

Diagram 4. Diagram alir proses pengolahan ampas kempa.

Tujuan dari pengolahan ini adalah untuk memisahkan inti (kernel) dari
cangkangnya dan untuk mempersiapkan biji yang akan diiolah di pabrik pengolahan inti
sawit. Pengolahan biji sawit pada dasarnya adalah proses pemisahan serabut dari biji,
pemeraman biji, pemisahan inti dari cangkangnya dan proses pengeringan.
Ampas kempa dari screw press yang terdiri dari serat dan biji yang masih
menggumpal masuk ke cake breaker conveyor (CBC). CBC merupakan suatu talang yang
terdiri dari pedal-pedal yang berputar pada poros yang dilengkapi dengan steam jacked
untuk mengalirkan steam sebagai media pengering dengan temperatur 90-950

C. CBC
berfungsi untuk mengeringkan dan memecahkan gumpalan-gumpalan ampas kempa agar
memudahkan pemisahan biji dan serat. Kemudian dibawa ke depericarper.
Depericarper adalah alat untuk memisahkan ampas dan biji dari sisa-sisa serabut

yang masih melekat pada biji. Alat ini terdiri dari separating columm dan polishing drum.
Ampas dan biji dari CBC masuk ke separating columm. Disini fraksi ringan yang berupa
serat (fibre), inti pecah halus, cangkang halus, dan debu terpisah di fibre cyclone dan

26

melalui air lock masuk dan ditampung dalam shell bin yang akan digunakan sebagai
bahan bakar boiler. Sedangkan fraksi berat seperti biji utuh, biji pecah, inti utuh dan
pecah akan ke polishing drum. Di dalam polishing drum akan terjadi perputaran yang
mengakibatkan terjadinya gesekan sehingga serabut terkikis dan terlepas dari biji
bersamaan fraksi kecil lainnya jatuh melalui lubang cincin nut elevator dan diperam di
nut silo. Di dalam nut silo tingkatan suhu (udara panas) Yang digunakan dibagi menjadi

tiga yaitu berturut-turut dari atas kebawah adalah 700

C, 600

C, dan 500

C. Biji yang telah
diperam akan dipecahkan menggunakan mesin ripple mill yang diatur oleh nut shaking
grate. Nut shaking grate terletak pada dasar nut silo.

Biji yang masuk dari rotor pada ripple mill akan mengalami gaya sentrifugal
sehingga biji keluar dari rotor dan terbanting dengan kuat yang menyebabkan inti pecah.
Kecepatan putarannya adalah 900 rpm. Setelah dipecahkan, inti yang masuk bercampur
dengan kotoran-kotoran dibawa ke cracked mixture separating columm melalui cracked
mixture conveyor dan elevator. Campuran tersebut terkadang mengandung kotoran
berupa pasir yang akan tertinggal saat pembawaan.
Pada cracked mixture separating columm akan terjadi pemisahan dimana fraksi-
fraksi ringan akan diserap oleh separating columm fan. Fraksi –fraksi ringan tersebut
akan dibawa ke shell bin oleh fibre conveyor. Fraksi berat disortir terlebih dahulu dari
batu-batuan oleh vibrating grade kemudian akan turun dan masuk ke screened particle
drum. Biji utuh hasil pemisahan pada vibrating grade dan screened particle drum di

kembalikan ke ripple mill untuk dipecahkan kembali.
Inti dan sebagian cangkang yang belum terpisahkan, dipisahkan lagi pada dust
separating columm air lock. Inti hasil pemisahan dibawa ke kernel silo melalui
konveyor. Cangkang hasil serapan dust conveyor air lock dibawa ke shell bin dan akan
bercampur dengan serabut dari fibre cyclone sebagai bahan bakar boiler.
Pada proses ini juga terdapat proses pemisahan inti, inti pecah, dan cangkang
secara basah dengan menggunakan claybath. Pemisahan ini memanfaatkan berat jenis
dari bahan yang dipisahkan dengan larutan koloid yang mempunyai berat jenis diantara
kedua bahan tersebut. Bagian yang ringan akan mengapung dan bagian yang berat akan
tenggelam. Inti yang merupakan fraksi yang ringan akan dibawa ke kernel silo untuk
disimpan pada suhu tertentu.

Inti yang masih mengandung air perlu dikeringkan sampai kadar air 7 %. Inti
yang berasal dari kernel distribution conveyor didistribusikan ke unit kernel silo untuk
dilakukan proses pengeringan. Inti akan dikeringkan dengan menggunakan udara panas
dari boiler yang merupakan hasil kontak dengan steam. Suhu yang digunakan pada kernel
silo sama dengan nut silo.

Biji kelapa sawit yang diolah menghasilkan minyak inti sawit atau disebut juga
palm kernel oil(PKO) dan hasil samping dari pengolahan inti kelapa sawit berupa palm

kernel meal (PKM). Minyak kelapa sawit yang baik berkadar asam lemak bebas yang

rendah dan berwarna kuning terang serta mudah dipucatkan. Bungkil inti sawit yang
diinginkan berwarna relatif cerah dan nilai gizi serta kandungan asam aminonya tidak
berubah.
Tabel 4. Komposisi rata-rata inti sawit .

No

Komponen

Jumlah

1 Minyak

47-52

2 Air

6-8

27

3 Protein

7.5-9.0

4 Extratctable non nitrogen

23-24

5 Selulosa

5

6 Abu

2

Terdapat variasi inti sawit dalam hal padatan non minyak dan non protein.
Extractable non nitrogen mengandung sejumlah sukrosa, gula pereduksi dan pati, tetapi

dalam beberapa contoh tidak mengandung pati. Pemisahan minyak inti sawit pada proses
pengolahan merupakan pemisahan campuran zat padat dan zat cair yang dilakukan
dengan cara pengepresan dan pengendapan. Kecepatan pengendapan memegang peran
penting. Kecepatan pengendapan ini tergantung pada perbedaan kerapatan dari zat cair
dan zat padat, volume dari zat-zat padat, dan viskositas dari zat cair. Semakin kecil dan
ringan bagian-bagian dari zat padat serta semakin kental zat cair, maka akan semakin
lambat pula pengendapan berlangsung.
Pada PTPN-I Tanjung Seumantoh pengolahan inti dari buah kelapa sawit untuk
mendapatkan minyak inti sawit atau lebih dikenal dengan palm kernel oil terdiri dari
bebrapa tahapan.

Inti yang berasal dari silo turun dan masuk ke vibrating case kemudian
dilakukan penyortiran inti sebelum masuk ke rolling mill. Pada rolling mill yang terjadi
hanya proses fisik, yaitu inti sawit diremukkan secara mekanis oleh roll-roll yang
bergerigi. Inti yang telah melalui rolling mill dibawa dengan menggunakan broken kernel
conveyor dan broken kernel elevator dibawa kedalam flacking mill untuk menipiskan

kembali inti sawit yang telah melalui rolling mill. Dengan proses tersebut diharapkan
permukaan sawit mampu menyerap udara panas lebih cepat dan dapat memaksimalkan
perolehan minyak inti sawit.

Untuk memperoleh minyak yang terkandung di dalam inti sawit, maka inti yang
keluar dari flacking mill tersebut dibawa dengan menggunakan flakes conveyor dan flakes
elevator ke dalam conditioner. Penggorengan menggunakan conditioner dilakukan

dengan uap kering yang bertemperatur 800

C dan tekanan 11 bar.
Dalam screw press, inti ditekan dengan tekanan mencapai 40 bar dan temperatur
800C. Dari proses ini dihasilkan minyak inti sawit (palm kernel oil) dan ampas inti sawit
(palm kernel mill). Minyak inti akan turun menuju filter press lalu ke vibrating screen
untuk memisahkan inti kotor (crude kernel oil) dengan sisa ampas. Minyak inti sawit
yang telah dipisahkan dari ampas dan kotorannya dipompakan ke storage tank dengan
suhu simpan 45-600

C.

28

Diagram 5. Diagram alir proses pengolahan inti sawit.

silo

Vibrating
case

Penyortiran
inti

Rolling mill

Flacking mill

Penggorengan
(Conditioner)

Pengepresan
(screw press)

Minyak inti
sawit kasar

Ampas inti
sawit

Vibrating
screen

PKO (palm
kernel oil)

Ampas

Storage

29

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->