MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------PENYELESAIAN PERSELISIHAN HASIL PEMILUKADA KEPALA DAERAH OLEH MAHKAMAH KONSTITUSI1 Dr. H. M.

Arsyad Sanusi, S.H., M.H.
2

I.

Kewenangan Konstitusional MK dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai salah satu pelaku

kekuasaan kehakiman sebagaimana ditentukan oleh Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) dan Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (UU MK) juncto Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, diberi kewenangan mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final, salah satunya untuk memutus perselisihan tentang hasil Pemilihan Umum (Pemilu). Pada awalnya, MK hanya menyesaikan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) calon anggota DPR, DPD, dan DPD serta Presiden dan Wakil Presiden, sedangkan Pemilihan Umum Kepala keberatan berkenaan dengan hasil Daerah dan Wakil Kepala Daerah

(Pemilukada) diajukan ke Mahkamah Agung (MA) Dalam perkembangannya, pembuat undang-undang

sebagaimana termuat dalam Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum
1 2

Disampaikan dalam Hakim Mahkamah Konstitusi.

, 8 November 2010 di

Makasar.

Penyelesaian PHPU Pemilukada Untuk memperlancar pelaksanaan kewenangan MK dalam PHPU Pemilukada. MK telah mengeluarkan Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK) Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Beracara dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah (PMK 15/2008). kewenangan untuk menyelesaikan perselisihan hasil Pemilukada dialihkan kepada MK. maka kewenangan konstitusional MK untuk menyelesaikan PHPU meliputi: 1) PHPU Calon Anggota DPR.memasukkan Pemilukada dalam rezim Pemilu dan selanjutnya atas kuasa undang-undang yakni Pasal 236C Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. II. 3) PHPU Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. dan DPRD. 2 . PMK 15/2008 menentukan tenggat waktu penyelesaian PHPU Kepala Daerah paling lambat 15 hari kerja. sedangkan permohonan PHPU Kepala Daerah harus sudah diajukan ke MK paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah ditetapkan hasil penghitungan suara Pemilukada di daerah yang bersangkutan. Permohonan yang diajukan setelah melewati tenggang waktu tidak dapat diregistrasi. Acuan awal penyusunan PMK 15/2008 di antaranya adalah UU 32/2004 juncto UU 12/2008 tentang Pemerintahan Daerah (UU Pemda) terutama materi yang berkaitan dengan Pemilukada dan hukum acara PHPU dalam Pasal 74 sampai dengan Pasal 79 UU MK. Pengalihan ini secara efektif berlaku sejak 1 November 2010 yakni setelah dilakukannya serah terima secara resmi pengalihan wewenang mengadili Pemilukada dari MA ke MK pada tanggal 29 Oktober 2008. 2) PHPU Presiden dan Wakil Presiden. Berdasarkan uraian di atas. DPD. PMK ini merupakan produk hukum MK yang berfungsi sebagai pedoman beracara dan mengisi kekosongan hukum yang belum diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Permohonan tidak dapat diterima apabila permohonan tidak 3 . Para pihak yang mempunyai kepentingan langsung dalam perselisihan hasil Pemilukada ini adalah Pasangan Calon sebagai Pemohon dan KPU/KIP provinsi atau KPU/KIP kabupaten/kota sebagai Termohon. PMK PHPU Presiden dan Wakil Presiden juga dijadikan acuan dalam penyusunan PMK 15/2008. Dikaitkan dengan PHPU Kepala Daerah. Hal ini didasarkan pertimbangan bahwa MK merupakan lembaga peradilan yang berkedudukan di Ibukota Negara. maka pemanfaatan video conference merupakan salah satu ikhtiar MK untuk mewujudkan peradilan PHPU Kepala Daerah yang cepat (speedy trial) dan sederhana sebagaimana ditentukan dalam Pasal 2 PMK 15/2008. Pengaturan lain yang ditentukan dalam PMK 15/2008 yakni dikenalkannya pemeriksaan melalui persidangan jarak jauh (video conference). permohonan dikabulkan. dan permohonan ditolak. sehingga para pencari keadilan (justice seeker) yang berada di daerah dapat mengakses keadilan (acces to justice) tanpa perlu datang ke Jakarta yang nota bene membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Berkaitan dengan amar putusan PHPU Kepala Daerah. yakni permohonan tidak dapat diterima. PMK 15/2008 menentukan ada 3 (tiga) jenis. maka mempunyai kesamaan dengan PHPU Presiden dan Wakil Presiden. Adapun sebagai objek PHPU Kepala Daerah adalah hasil penghitungan suara yang ditetapkan oleh Termohon yang memengaruhi penentuan Pasangan Calon yang dapat mengikuti putaran kedua Pemilukada atau terpilihnya Pasangan Calon sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah. Pasangan Calon selain Pemohon dapat juga menjadi Pihak Terkait dalam perselisihan hasil Pemilukada.Selain itu. ditentukan mengenai pihak dan objek dalam PHPU Kepala Daerah. Dilihat dari tenggat waktu pengajuan permohonan dan penyelesaiannya oleh MK serta para pihak dan objek dalam PHPU Kepala Daerah. Jakarta. Oleh karena itu.

telah melewati tenggat waktu yang ditentukan yakni 3 (tiga) hari kerja setelah penetapan hasil penghitungan suara (vide Pasal 5 PMK 15/2008). Oleh karena itu. PMK 15/2008 mengenalkan adanya putusan sela yang terkait dengan penghitungan suara ulang untuk kepentingan pemeriksaan. Dalam perkembangannya. Ruang Lingkup PHPU Kepala Daerah Perselisihan tentang hasil pemilihan umum sebagaimana ditentukan oleh Pasal 24C UUD 1945 adalah menjadi salah satu kewenangan MK untuk menyelesaikannya. dan sebaliknya permohonan ditolak apabila tidak beralasan. bukan objek perselisihan berupa hasil penghitungan suara yang ditetapkan KPU/KIP Provinsi atau KPU/KIP Kabupaten yang mempengaruhi keikutsertaan dalam putaran kedua atau keterpilihan sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah (error in objecto) ataupun bukan merupakan kewenangan MK (vide Pasal 4 PMK 15/2008). pembentuk undang-undang kemudian 4 . Adapun permohonan dikabulkan apabila beralasan. dan tidak memenuhi syarat formil sebuah permohonan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 6 PMK 15/2008. namum terdapat juga putusan sela yang terkait dengan pemungutan suara ulang baik sebagai putusan sela maupun putusan akhir. tidak mempunyai kepentingan langsung dalam PHPU atau tidak memiliki legal standing yaitu bukan sebagai pasangan calon (vide Pasal 3 PMK 15/2008).memenuhi syarat antara lain. Adanya terobosan hukum oleh MK dalam putusan-putusan tersebut karena memang UUD 1945 tidak secara eksplisit mengatur mengenai pengertian dan ruang lingkup PHPU. Ketentuan tersebut tidak secara eksplisit menjelaskan mengenai pengertian dan ruang lingkupnya. Bahkan perkembangan selanjutnya menunjukkan adanya praktik putusan yang terkait dengan pendiskualifikasian salah satu pasangan calon. III. Di samping ketiga jenis putusan di atas. putusan MK dalam PHPU Kepala Daerah tidak terbatas pada hal-hal di atas.

seperti berbagai pelanggaran administratif dan pelanggaran pidana yang ternyata dari pengalaman empiris tampaknya tidak tertangani secara efektif oleh institusi yang berwenang. yakni angka-angka hasil perolehan suara Peserta Pemilu yang ditetapkan oleh KPU. pengertian dan ruang lingkupnya dapat diketemukan dalam Pasal 106 UU Pemda. Berkaitan dengan Pemilukada. apabila MK terpaku pada bunyi undang-undang an sich maka MK turut menyebabkan ketiadaan penyelesaian sengketa dalam proses dan tahapan-tahap Pemilukada. dan DPRD. b. Perselisihan atau tersebut KPU berkaitan dengan yang penetapan penghitungan suara hasil Pemilukada yang ditetapkan oleh KPU provinsi kabupaten/kota mempengaruhi penentuan calon untuk masuk ke putaran kedua Pemilukada atau terpilihnya pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. Dari ketentuan tersebut dapat disimpulkan bahwa: a. MK hanya diminta mengkoreksi kalkulasi suara secara teknis matematis yang telah dilakukan oleh KPU dan jajarannya sebagai penyelenggara Pemilu dengan mengabaikan berbagai pelanggaran dalam proses Pemilu (electoral process). Oleh karena itu. undang-undang nampaknya membatasi masalah PHPU Kepala Daerah hanya pada persoalan perselisihan secara kuantitatif. dan UU Pemda.mengaturnya sebagaimana termuat dalam UU MK. Dari uraian di atas. padahal hal tersebut sangat berpengaruh secara 5 . Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR. Dengan demikian tidak termasuk di dalamnya proses yang mempengaruhi hasil perolehan suara. DPD. Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. Perselisihan hasil Pemilu Kepala Daerah adalah perselisihan antara pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagai Peserta Pemilukada dan KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota sebagai penyelenggara Pemilu.

artinya penyelenggara pemilu. Selain itu. Pelanggaran itu juga aparat pemerintah. MK tidak akan terbelenggu dan terpasung dengan apa yang ditetapkan dalam teks undang-undang dalam menggali sedalamdalamnya nilai keadilan substantif. dan masif yang mempengaruhi hasil Pemilukada. Terobosan hukum ini dilakukan dengan didasarkan bahwa fungsi MK sebagai peradilan konstitusi sehingga tidak boleh membiarkan keadilan prosedural (procedural justice) memasung dan mengesampingkan keadilan substantif (substantive justice) jika secara nyata dan faktual terjadi pelanggaran terhadap konstitusi. Pelanggaran langkah bersifat tertentu. 3 pelanggaran bersifat massif.D-V1/2008 tanggal 2 Desember 2008 6 . menilai bobot pelanggaran dan penyimpangan yang terjadi dalam keseluruhan tahapan proses Pemilukada dan kaitanya dengan perolehan hasil suara bagi para pasangan calon.mendasar pada hasil akhir. dan pasangan calon secara hierarkis dan berjenjang. Dalam kerangka itulah MK sebagai peradian konstitusi yang diberi mandat sebagai pengawal konstitusi dengan didasarkan pada prinsip-prinsip dan spirit yang terkandung dalam UUD 1945. tersruktur. juga dikenalkannya putusan sela yang tidak hanya terkait dengan penghitungan suara ulang namun juga pemungutan suara ulang. Penghitungan dan Pemungutan Suara Ulang Pemilukada Jawa Timur3 Putusan sela dalam Pemilukada Jawa Timur selain membuat terobosan dengan mempermasalahkan dan mengadili setiap pelanggaran yang berakibat pada hasil penghitungan suara. Selain dikatakan seperti yakni itu. adanya ukuran secara kualitas bobot pelanggaran Pemilukada sebagai penilaian MK yakni dilakukan secara sistematis. tersruktur. Perkara Nomor 41/PHPU. bersifat sistematis politik karena untuk direncanakan dan dilakukan dengan matang melalui langkahadanya dilakukan kontrak oleh memenangkan pasangan calon tertentu. IV.

Penilaian ini dilakukan disebabkan banyak hal-hal yang seharusnya selesai sebelum diajukan ke MK. MK menyatakan dalam pertimbangan hukumnya bahwa jika hanya terpaku dan terpasung pada bunyi undang-undang sehingga hanya menghitung ulang suara. Terhadap permasalahan ini. oleh karenanya MK tidak dapat membiarkan pelanggaran-pelanggaran yang diuntungkan. Demikian juga halnya apabila MK tidak memperhitungkan suara salah satu pasangan calon atau memberikan suara di daerah-daerah tertentu kepada salah satu pasangan calon maka samal saja dengan tidak menghargai suara rakyat yang nota nebe sebagai pemegang kedaulatan rakyat dan terjadi ketidakadilan terhadap salah satu 7 . Penilaian terhadap pelanggaran-pelanggaran ini dapat dikatakan sebagai penilaian yang bersifat kualitatif. MK menyatakan mengabulkan atau menolak permohonan dengan menetapkan perolehan suara yang benar.pelanggaran tersebut dilakukan dalam skala yang besar. ternyata dalam persidangan terungkap bahwa hal-hal tersebut belum terselesaikan secara tuntas oleh institusi yang berwenang. yakni menyangkut murni kesalahan penghitungan suara oleh KPU. itu terjadi MK sehingga terdapat pihak-pihak Bagi sebagaimana prinsip yang telah diterima secara universal bahwa “tidak seorang pun boleh diuntungkan oleh penyimpangan dan pelanggaran yang dilakukannya sendiri dan tidak seorang pun boleh dirugikan oleh penyimpangan dan pelanggaran yang dilakukan oleh orang lain” (nullus/nemo commodum capere potest de injuria sua propria). misalnya pelanggaran administrasi dan pidana Pemilu. Ketiga pelanggaran tersebut dinilai secara kumulatif sehingga mempengaruhi perolehan suara pasangan calon. Berkaitan dengan putusan sela yang tidak hanya berarti penghitungan ulang. maka tidak ada manfaatnya pelanggaran dan tidak terjadi terwujud keadilan. Hal ini disebabkan sebelum pemungutan suara. Adapun yang diamatkan oleh undang-undang kepada MK adalah hanya terhadap permasalahan yang bersifat kuantitatif.

pasangan calon. Kalaupun ada pelanggaran maka tidaklah signifikan dan lebih banyak bersifat personal. Putusan sela dalam Pemilukada Jawa Timur menjadi yurisprudensi bagi penanganan PHPU di daerah lainnya sehingga pada dasarnya terdapat kesamaan dasar pertimbangan hukum MK menjatuhkan putusan sela untuk melaksanakan pemungutan ulang dan/atau penghitungan ulang di beberapa daerah. Dasar konstitusional MK dalam dalam mengadili sengketa Pemilukada yang tidak hanya membedah permohonan dengan melihat hasil perolehan suara an sich. Pertimbangan tersebut yakni terjadinya pelanggaran selama proses Pemilukada yang bersifat sistematis. dan rahasia serta jujur dan adil sehingga mempengaruhi hasil Pemilukada. Berbeda halnya dengan putusan-putusan Pemilukada sebelum Jawa Timur yang pada umumnya didasarkan pada asumsi-asumsi dan tanpa memberikan bukti hukum secara konkret. dan sah menurut hukum. Di dalam ketentuan tersebut jelas dinyatakan bahwa MK mengadili dan memutus “hasil 8 . yakni untuk Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Sampang diperintahkan untuk dilakukan pemungutan ulang. umum. sedangkan untuk Kabupaten Pamekasan diperintahkan untuk dilakukan penghitungan suara ulang. signifikan. tersruktur. bebas. dan masif yang mempengaruhi sendi-sendi Pemilukada yang langsung. Berdasarkan hal tersebut MK memilih opsi untuk melakukan penghitungan dan pemungutan suara ulang dibeberapa daerah dengan didasarkan pada tingkat intensitas dan bobot pelanggaran yang terjadi di wilayah pemilihan tersebut. dan masif yang memengaruhi hasil perolehan suara yakni Pasal 24C ayat (1) UUD 1945. melainkan MK juga meneliti secara mendalam adanya pelanggaran yang bersifat terstruktur. sistematis. Pendiskualifikasian terhadap pasangan calon yang melakukan pelanggaran juga tidak dipilih dengan alasan menciderai hak-hak demokrasi pemilih pasangan tersebut yang mempunyai itikad baik memilih pasangan calon tersebut.

tanpa mengikutsertakan salah satu pasangan calon (Pasangan Calon Nomor Urut 7. H. SH). Dirwan Mahmud dan H. pengawal konstitusi dihadapkan pada pilihan undang-undang dan konstitusi.D-VII/2008 tanggal 8 Januari 2009. MK juga pernah memutus menyatakan batal demi hukum (void ab initio). Pelanggaran tersebut yakni Pasangan Calon Nomor Urut 7 khususnya H. 9 . Meskipun secara legal formil MK tidak berwenang menetapkan peserta Pemilukada. MK sebagai lembaga peradilan menjadi lebih tepat jika mengadili “hasil pemilihan umum” dan bukan juga sebagai terjadi peradilan angka hasil penghitungan Pemilu suara. telah secara sengaja dan dengan niat menyembunyikan perbuatan pidana yang pernah dilakukannya. sebagaimana ditentukan oleh undang-undang. namun yang MK note sebagai bene merupakan ranah jika penyelenggaran Pemilu in casu KPU. yakni dalam Pemilukada Bengkulu Selatan periode 2008-2013.pemilihan umum” dan bukan sekadar “hasil penghitungan suara pemilihan umum” saja. Pembatalan dan Pendiskualifikasian Pasangan Calon Pemilukada Bengkulu Selatan4 Dalam perkara sengketa Pemilukada. MK berpendapat bahwa Pemilukada Bengkulu Selatan sejak awal telah cacat yuridis dan telah melanggar asasasas pemilu khusunya jujur yang dilakukan bukan hanya oleh penyelenggara Pemilu tetapi juga oleh salah satu pasangan calon. Dalam hal kelalaian yang terjadi tidak dapat ditolerir 4 Perkara Nomor 57/PHPU. MK memerintahkan untuk dilaksanakannya pemungutan suara ulang. dan melainkan sebagai peradilan yang mengadili masalah-masalah yang dalam proses-proses pelaksanaan Pemilukada. Selain itu. Hartawan. V. Dirwan Mahmud. maka MK harus memilih konstitusi dan mengesampingkan norma undangundang. Hal ini jelas melanggar asas-asas Pemilu yang termaktub dalam Pasal 22E ayat (1) UUD 1945 juncto Pasal 56 ayat (1) UU Pemda.

S. Syarat pencalonan dukungan minimal baik yang berasal dari partai politik ataupun calon perseorangan juga dapat juga dapat dijadikan namun alasan sampai pembatalan sekarang dari dan/atau sengketa pendiskualifikasian Pemiluakda di berbagai daerah yang diajukan ke MK. Dirwan Mahmud. intimidasi. Dalam putusan ini. seperti halnya yang diajukan dalam sengketa Pemilukada Kabupaten Kotawaringin Barat yang mempermasalahkan adanya money politic. karena salah satunya. yakni tidak memenuhi syarat formil sebagai peserta Pemilukada. MK juga menegaskan lagi bahwa MK tidak dapat dipasung hanya oleh bunyi undang-undang an sich melainkan juga harus menggali rasa keadilan dengan berpedoman pada makna substantif undang-undang itu sendiri. maka MK berwenang meluruskan keadaan sehingga Pemilukada dapat berjalan serasi sesuai dengan keseluruhan asas-asas demokrasi yang termaktub dalam konstitusi. Berdasarkan uraian terhadap perkara ini maka pelanggaran tentang persyaratan menjadi calon yang bersifat prinsip dan dapat diukur. Pada dasarnya jenis-jenis Perkara Nomor 57/PHPU..H. H. 5 dan penganiayaan. belum ada yang dapat dibuktikan secara hukum di hadapan persidangan MK. Oleh karena itu agar tercipta keadilan maka harus dilakukan pemungutan ulang untuk seluruh Kabupaten Bengkulu Selatan dengan mendiskualifikasi Pasangan Calon Nomor Urut 7. VI. Pendiskualifikasian dan Penetapan kualitatif Pemenang yang sering Pemilukada Kotawaringin Barat5 Pelanggaran-pelanggaran secara diajukan ke MK yakni terjadinya tindak pidana Pemilu.D-VII/2008 tanggal 8 Januari 2009. 10 . seperti seperti syarat tidak pernah dijatuhi pidana penjara dapat dijadikan dasar untuk membatalkan hasil Pemilu atau Pemilukada dan pendiskualifikasian peserta yang tidak memenuhi syarat sejak awal.(intolerable condition). telah mengakibatkan Pemiluakada Bengkulu Selatan cacat yuridis.

Namun. Tim Kampanye sampai dengan relawan di tingkat RT. Pelanggaran-pelanggaran tersebut berupa money politic disertai intimidasi. melakukan rekrutmen warga sebagai relawan yang dipersiapkan dengan organisasi yang tersusun dari tingkatan paling atas Pasangan Calon Nomor Urut 1.pelanggaran tersebut ditangani oleh instansi yang fungsi dan wewenangnya telah ditentukan oleh undang-undang. yakni tidak hanya mengadili perkara Pemilukada sebatas pada hasil penghitungan suara akan tetapi juga telah memasuki proses peradilan dengan memutus fakta hukum yang nyata-nyata menciderai hak asasi manusia dan demokrasi. sementara peserta Pemilukada hanya 2 pasangan calon dan salah satunya secara hukum tidak diperbolehkan mengikuti pemungutan suara ulang apabila dilaksanakan sebagai 11 . dengan mendasarkan pada tingkat pelanggaran yang dilakukan oleh Pasangan Calon Nomor Urut 1 yang merupakan pelanggaran serius di seluruh wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat. MK yang berfungsi sebagai pengawal konstitusi telah memaknai dan memberikan penafsiran yang luas demi tegaknya keadilan. MK mendasarkan bahwa telah terjadi adanya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Pasangan Calon Nomor Urut 1 secara massive yang sangat berpengaruh terhadap perolehan suara pasangan calon. yakni dengan melakukan persiapan pendanaan secara tidak wajar untuk membayar relawan. tekanan atau ancaman yang dilakukan sebelum berlangsungnya pemungutan suara. maka pasangan tersebut perlu diskualifikasi sebagai Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2010. Permasalahan hukum akan muncul jika hanya membatalkan Pemilukada. Oleh karena itu. MK tidak dapat membiarkan terjadinya pelanggaran atas prinsip Pemilu yang Luber dan Jurdil sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi. Dalam menjatuhkan putusan terhadap sengketa Pemilukada Kotawaringin Barat. Pelanggaran-pelanggaran tersebut juga dilakukan secara sistematis dan terstruktur.

melainkan juga meneliti secara mendalam adanya pelanggaran yang bersifat terstruktur. Kewenangan MK dalam Pemilukada sebagaimana terlihat dalam putusan-putusannya dengan tidak hasil hanya sebatas membedah an sich permohonan melihat perolehan suara sebagaimana ditentukan dalam undang-undang. dihadapkan mengabulkan atau menolak penghitungan yang benar menurut tetapi juga suara dapat memerintahkan untuk dilakukan ulang atau pemungutan suara ulang. Penutup Salah satu kewenangan konstitusional MK adalah memutus perselisihan tentang atas hasil kuasa pemilihan umum. sama Oleh saja maka dengan karena yang baik sebagai karena mengandung pelanggaran pengawal terhadap Pemilukada menjatuhkan Pemohon. Untuk mendukung kelancaran penyelesaian perselisihan Pemilukada yang oleh undang-undang diberi tenggat waktu 14 hari kerja. sistematis. penghitungan Penghitungan atau pemungutan suara ulang baik melalui putusan sela maupun putusan akhir dapat diperintahkan untuk dilaksanakan 12 . Atas dasar itu dan dengan memaknai dan memberikan penafsiran yang luas atas Pasal 77 ayat (3) UU 24/2003 juncto Pasal 13 ayat (3) huruf b PMK 15/2008. dalam untuk mengamanatkan Jurdil.konsekuensi adanya pembatalan Pemiliukada.dan masif yang mempengaruhi perolehan suara. tidak putusannya. VII. undang-undang. MK pidana. ketiga tersebut akan administrasi konstistui konstitusi yang maupun tersebut membiarkannya pelanggaran-pelanggaran Luber pelanggaran prinsip-prinsip itu. MK mengeluarkan PMK 15/2008 sebagai salah satu pedoman beracara. maka MK menyatakan berwenang menetapkan pemenang dalam Pemilukada Kotawaringin Barat. MK Dalam diberi perkembangannya. Apabila diketemukan sifat tidak yang dan MK pelanggaran-pelanggaran secara kumulatif. kewenangan untuk menyelesaikan perselisihan hasil Pemilukada.

*** 13 . Bahkan dalam perkembangannya. MK telah mendiskualifikasi pasangan calon dan menetapkan pemenang Pemilukada.pada seluruh wilayah atau sebagian wilayah tergantung dari fakta hukum yang terungkap dalam proses pembuktian di persidangan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful