MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------PENYELESAIAN PERSELISIHAN HASIL PEMILUKADA KEPALA DAERAH OLEH MAHKAMAH KONSTITUSI1 Dr. H. M.

Arsyad Sanusi, S.H., M.H.
2

I.

Kewenangan Konstitusional MK dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai salah satu pelaku

kekuasaan kehakiman sebagaimana ditentukan oleh Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) dan Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (UU MK) juncto Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, diberi kewenangan mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final, salah satunya untuk memutus perselisihan tentang hasil Pemilihan Umum (Pemilu). Pada awalnya, MK hanya menyesaikan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) calon anggota DPR, DPD, dan DPD serta Presiden dan Wakil Presiden, sedangkan Pemilihan Umum Kepala keberatan berkenaan dengan hasil Daerah dan Wakil Kepala Daerah

(Pemilukada) diajukan ke Mahkamah Agung (MA) Dalam perkembangannya, pembuat undang-undang

sebagaimana termuat dalam Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum
1 2

Disampaikan dalam Hakim Mahkamah Konstitusi.

, 8 November 2010 di

Makasar.

3) PHPU Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. sedangkan permohonan PHPU Kepala Daerah harus sudah diajukan ke MK paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah ditetapkan hasil penghitungan suara Pemilukada di daerah yang bersangkutan. kewenangan untuk menyelesaikan perselisihan hasil Pemilukada dialihkan kepada MK. 2) PHPU Presiden dan Wakil Presiden. maka kewenangan konstitusional MK untuk menyelesaikan PHPU meliputi: 1) PHPU Calon Anggota DPR. Permohonan yang diajukan setelah melewati tenggang waktu tidak dapat diregistrasi. PMK 15/2008 menentukan tenggat waktu penyelesaian PHPU Kepala Daerah paling lambat 15 hari kerja. II. PMK ini merupakan produk hukum MK yang berfungsi sebagai pedoman beracara dan mengisi kekosongan hukum yang belum diatur dalam peraturan perundang-undangan. Berdasarkan uraian di atas. MK telah mengeluarkan Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK) Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Beracara dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah (PMK 15/2008). dan DPRD. Acuan awal penyusunan PMK 15/2008 di antaranya adalah UU 32/2004 juncto UU 12/2008 tentang Pemerintahan Daerah (UU Pemda) terutama materi yang berkaitan dengan Pemilukada dan hukum acara PHPU dalam Pasal 74 sampai dengan Pasal 79 UU MK. DPD. Penyelesaian PHPU Pemilukada Untuk memperlancar pelaksanaan kewenangan MK dalam PHPU Pemilukada.memasukkan Pemilukada dalam rezim Pemilu dan selanjutnya atas kuasa undang-undang yakni Pasal 236C Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 2 . Pengalihan ini secara efektif berlaku sejak 1 November 2010 yakni setelah dilakukannya serah terima secara resmi pengalihan wewenang mengadili Pemilukada dari MA ke MK pada tanggal 29 Oktober 2008.

yakni permohonan tidak dapat diterima. Dikaitkan dengan PHPU Kepala Daerah. Pengaturan lain yang ditentukan dalam PMK 15/2008 yakni dikenalkannya pemeriksaan melalui persidangan jarak jauh (video conference). Hal ini didasarkan pertimbangan bahwa MK merupakan lembaga peradilan yang berkedudukan di Ibukota Negara. Jakarta. PMK 15/2008 menentukan ada 3 (tiga) jenis. dan permohonan ditolak.Selain itu. maka mempunyai kesamaan dengan PHPU Presiden dan Wakil Presiden. permohonan dikabulkan. Permohonan tidak dapat diterima apabila permohonan tidak 3 . maka pemanfaatan video conference merupakan salah satu ikhtiar MK untuk mewujudkan peradilan PHPU Kepala Daerah yang cepat (speedy trial) dan sederhana sebagaimana ditentukan dalam Pasal 2 PMK 15/2008. ditentukan mengenai pihak dan objek dalam PHPU Kepala Daerah. Adapun sebagai objek PHPU Kepala Daerah adalah hasil penghitungan suara yang ditetapkan oleh Termohon yang memengaruhi penentuan Pasangan Calon yang dapat mengikuti putaran kedua Pemilukada atau terpilihnya Pasangan Calon sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah. sehingga para pencari keadilan (justice seeker) yang berada di daerah dapat mengakses keadilan (acces to justice) tanpa perlu datang ke Jakarta yang nota bene membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu. Para pihak yang mempunyai kepentingan langsung dalam perselisihan hasil Pemilukada ini adalah Pasangan Calon sebagai Pemohon dan KPU/KIP provinsi atau KPU/KIP kabupaten/kota sebagai Termohon. Pasangan Calon selain Pemohon dapat juga menjadi Pihak Terkait dalam perselisihan hasil Pemilukada. Berkaitan dengan amar putusan PHPU Kepala Daerah. Dilihat dari tenggat waktu pengajuan permohonan dan penyelesaiannya oleh MK serta para pihak dan objek dalam PHPU Kepala Daerah. PMK PHPU Presiden dan Wakil Presiden juga dijadikan acuan dalam penyusunan PMK 15/2008.

Dalam perkembangannya. bukan objek perselisihan berupa hasil penghitungan suara yang ditetapkan KPU/KIP Provinsi atau KPU/KIP Kabupaten yang mempengaruhi keikutsertaan dalam putaran kedua atau keterpilihan sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah (error in objecto) ataupun bukan merupakan kewenangan MK (vide Pasal 4 PMK 15/2008). Adanya terobosan hukum oleh MK dalam putusan-putusan tersebut karena memang UUD 1945 tidak secara eksplisit mengatur mengenai pengertian dan ruang lingkup PHPU. Adapun permohonan dikabulkan apabila beralasan. Di samping ketiga jenis putusan di atas. III. telah melewati tenggat waktu yang ditentukan yakni 3 (tiga) hari kerja setelah penetapan hasil penghitungan suara (vide Pasal 5 PMK 15/2008). putusan MK dalam PHPU Kepala Daerah tidak terbatas pada hal-hal di atas.memenuhi syarat antara lain. PMK 15/2008 mengenalkan adanya putusan sela yang terkait dengan penghitungan suara ulang untuk kepentingan pemeriksaan. tidak mempunyai kepentingan langsung dalam PHPU atau tidak memiliki legal standing yaitu bukan sebagai pasangan calon (vide Pasal 3 PMK 15/2008). namum terdapat juga putusan sela yang terkait dengan pemungutan suara ulang baik sebagai putusan sela maupun putusan akhir. pembentuk undang-undang kemudian 4 . Oleh karena itu. dan sebaliknya permohonan ditolak apabila tidak beralasan. Bahkan perkembangan selanjutnya menunjukkan adanya praktik putusan yang terkait dengan pendiskualifikasian salah satu pasangan calon. Ruang Lingkup PHPU Kepala Daerah Perselisihan tentang hasil pemilihan umum sebagaimana ditentukan oleh Pasal 24C UUD 1945 adalah menjadi salah satu kewenangan MK untuk menyelesaikannya. dan tidak memenuhi syarat formil sebuah permohonan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 6 PMK 15/2008. Ketentuan tersebut tidak secara eksplisit menjelaskan mengenai pengertian dan ruang lingkupnya.

Perselisihan atau tersebut KPU berkaitan dengan yang penetapan penghitungan suara hasil Pemilukada yang ditetapkan oleh KPU provinsi kabupaten/kota mempengaruhi penentuan calon untuk masuk ke putaran kedua Pemilukada atau terpilihnya pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah.mengaturnya sebagaimana termuat dalam UU MK. MK hanya diminta mengkoreksi kalkulasi suara secara teknis matematis yang telah dilakukan oleh KPU dan jajarannya sebagai penyelenggara Pemilu dengan mengabaikan berbagai pelanggaran dalam proses Pemilu (electoral process). dan UU Pemda. padahal hal tersebut sangat berpengaruh secara 5 . Perselisihan hasil Pemilu Kepala Daerah adalah perselisihan antara pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagai Peserta Pemilukada dan KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota sebagai penyelenggara Pemilu. Berkaitan dengan Pemilukada. seperti berbagai pelanggaran administratif dan pelanggaran pidana yang ternyata dari pengalaman empiris tampaknya tidak tertangani secara efektif oleh institusi yang berwenang. apabila MK terpaku pada bunyi undang-undang an sich maka MK turut menyebabkan ketiadaan penyelesaian sengketa dalam proses dan tahapan-tahap Pemilukada. pengertian dan ruang lingkupnya dapat diketemukan dalam Pasal 106 UU Pemda. Dengan demikian tidak termasuk di dalamnya proses yang mempengaruhi hasil perolehan suara. Oleh karena itu. b. Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. dan DPRD. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR. Dari uraian di atas. DPD. yakni angka-angka hasil perolehan suara Peserta Pemilu yang ditetapkan oleh KPU. Dari ketentuan tersebut dapat disimpulkan bahwa: a. undang-undang nampaknya membatasi masalah PHPU Kepala Daerah hanya pada persoalan perselisihan secara kuantitatif.

bersifat sistematis politik karena untuk direncanakan dan dilakukan dengan matang melalui langkahadanya dilakukan kontrak oleh memenangkan pasangan calon tertentu. artinya penyelenggara pemilu. tersruktur. dan masif yang mempengaruhi hasil Pemilukada. Terobosan hukum ini dilakukan dengan didasarkan bahwa fungsi MK sebagai peradilan konstitusi sehingga tidak boleh membiarkan keadilan prosedural (procedural justice) memasung dan mengesampingkan keadilan substantif (substantive justice) jika secara nyata dan faktual terjadi pelanggaran terhadap konstitusi. adanya ukuran secara kualitas bobot pelanggaran Pemilukada sebagai penilaian MK yakni dilakukan secara sistematis.mendasar pada hasil akhir. 3 pelanggaran bersifat massif. Penghitungan dan Pemungutan Suara Ulang Pemilukada Jawa Timur3 Putusan sela dalam Pemilukada Jawa Timur selain membuat terobosan dengan mempermasalahkan dan mengadili setiap pelanggaran yang berakibat pada hasil penghitungan suara. Pelanggaran langkah bersifat tertentu. Perkara Nomor 41/PHPU. Selain dikatakan seperti yakni itu. juga dikenalkannya putusan sela yang tidak hanya terkait dengan penghitungan suara ulang namun juga pemungutan suara ulang. Pelanggaran itu juga aparat pemerintah. MK tidak akan terbelenggu dan terpasung dengan apa yang ditetapkan dalam teks undang-undang dalam menggali sedalamdalamnya nilai keadilan substantif. menilai bobot pelanggaran dan penyimpangan yang terjadi dalam keseluruhan tahapan proses Pemilukada dan kaitanya dengan perolehan hasil suara bagi para pasangan calon. IV. Dalam kerangka itulah MK sebagai peradian konstitusi yang diberi mandat sebagai pengawal konstitusi dengan didasarkan pada prinsip-prinsip dan spirit yang terkandung dalam UUD 1945. tersruktur. Selain itu.D-V1/2008 tanggal 2 Desember 2008 6 . dan pasangan calon secara hierarkis dan berjenjang.

Demikian juga halnya apabila MK tidak memperhitungkan suara salah satu pasangan calon atau memberikan suara di daerah-daerah tertentu kepada salah satu pasangan calon maka samal saja dengan tidak menghargai suara rakyat yang nota nebe sebagai pemegang kedaulatan rakyat dan terjadi ketidakadilan terhadap salah satu 7 . Penilaian ini dilakukan disebabkan banyak hal-hal yang seharusnya selesai sebelum diajukan ke MK. Berkaitan dengan putusan sela yang tidak hanya berarti penghitungan ulang. misalnya pelanggaran administrasi dan pidana Pemilu. yakni menyangkut murni kesalahan penghitungan suara oleh KPU. Penilaian terhadap pelanggaran-pelanggaran ini dapat dikatakan sebagai penilaian yang bersifat kualitatif. Terhadap permasalahan ini. MK menyatakan dalam pertimbangan hukumnya bahwa jika hanya terpaku dan terpasung pada bunyi undang-undang sehingga hanya menghitung ulang suara. Ketiga pelanggaran tersebut dinilai secara kumulatif sehingga mempengaruhi perolehan suara pasangan calon. Hal ini disebabkan sebelum pemungutan suara. Adapun yang diamatkan oleh undang-undang kepada MK adalah hanya terhadap permasalahan yang bersifat kuantitatif. MK menyatakan mengabulkan atau menolak permohonan dengan menetapkan perolehan suara yang benar. maka tidak ada manfaatnya pelanggaran dan tidak terjadi terwujud keadilan.pelanggaran tersebut dilakukan dalam skala yang besar. oleh karenanya MK tidak dapat membiarkan pelanggaran-pelanggaran yang diuntungkan. itu terjadi MK sehingga terdapat pihak-pihak Bagi sebagaimana prinsip yang telah diterima secara universal bahwa “tidak seorang pun boleh diuntungkan oleh penyimpangan dan pelanggaran yang dilakukannya sendiri dan tidak seorang pun boleh dirugikan oleh penyimpangan dan pelanggaran yang dilakukan oleh orang lain” (nullus/nemo commodum capere potest de injuria sua propria). ternyata dalam persidangan terungkap bahwa hal-hal tersebut belum terselesaikan secara tuntas oleh institusi yang berwenang.

sistematis. melainkan MK juga meneliti secara mendalam adanya pelanggaran yang bersifat terstruktur. Pertimbangan tersebut yakni terjadinya pelanggaran selama proses Pemilukada yang bersifat sistematis. yakni untuk Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Sampang diperintahkan untuk dilakukan pemungutan ulang. bebas. signifikan. Pendiskualifikasian terhadap pasangan calon yang melakukan pelanggaran juga tidak dipilih dengan alasan menciderai hak-hak demokrasi pemilih pasangan tersebut yang mempunyai itikad baik memilih pasangan calon tersebut. Berdasarkan hal tersebut MK memilih opsi untuk melakukan penghitungan dan pemungutan suara ulang dibeberapa daerah dengan didasarkan pada tingkat intensitas dan bobot pelanggaran yang terjadi di wilayah pemilihan tersebut. Di dalam ketentuan tersebut jelas dinyatakan bahwa MK mengadili dan memutus “hasil 8 . tersruktur. Putusan sela dalam Pemilukada Jawa Timur menjadi yurisprudensi bagi penanganan PHPU di daerah lainnya sehingga pada dasarnya terdapat kesamaan dasar pertimbangan hukum MK menjatuhkan putusan sela untuk melaksanakan pemungutan ulang dan/atau penghitungan ulang di beberapa daerah. dan masif yang memengaruhi hasil perolehan suara yakni Pasal 24C ayat (1) UUD 1945. umum. dan sah menurut hukum. sedangkan untuk Kabupaten Pamekasan diperintahkan untuk dilakukan penghitungan suara ulang. dan masif yang mempengaruhi sendi-sendi Pemilukada yang langsung. Kalaupun ada pelanggaran maka tidaklah signifikan dan lebih banyak bersifat personal.pasangan calon. dan rahasia serta jujur dan adil sehingga mempengaruhi hasil Pemilukada. Berbeda halnya dengan putusan-putusan Pemilukada sebelum Jawa Timur yang pada umumnya didasarkan pada asumsi-asumsi dan tanpa memberikan bukti hukum secara konkret. Dasar konstitusional MK dalam dalam mengadili sengketa Pemilukada yang tidak hanya membedah permohonan dengan melihat hasil perolehan suara an sich.

Meskipun secara legal formil MK tidak berwenang menetapkan peserta Pemilukada. Dalam hal kelalaian yang terjadi tidak dapat ditolerir 4 Perkara Nomor 57/PHPU. sebagaimana ditentukan oleh undang-undang. Dirwan Mahmud dan H. H. tanpa mengikutsertakan salah satu pasangan calon (Pasangan Calon Nomor Urut 7.D-VII/2008 tanggal 8 Januari 2009. MK berpendapat bahwa Pemilukada Bengkulu Selatan sejak awal telah cacat yuridis dan telah melanggar asasasas pemilu khusunya jujur yang dilakukan bukan hanya oleh penyelenggara Pemilu tetapi juga oleh salah satu pasangan calon. Hartawan.pemilihan umum” dan bukan sekadar “hasil penghitungan suara pemilihan umum” saja. SH). Selain itu. pengawal konstitusi dihadapkan pada pilihan undang-undang dan konstitusi. Dirwan Mahmud. namun yang MK note sebagai bene merupakan ranah jika penyelenggaran Pemilu in casu KPU. yakni dalam Pemilukada Bengkulu Selatan periode 2008-2013. MK sebagai lembaga peradilan menjadi lebih tepat jika mengadili “hasil pemilihan umum” dan bukan juga sebagai terjadi peradilan angka hasil penghitungan Pemilu suara. MK juga pernah memutus menyatakan batal demi hukum (void ab initio). MK memerintahkan untuk dilaksanakannya pemungutan suara ulang. 9 . Pembatalan dan Pendiskualifikasian Pasangan Calon Pemilukada Bengkulu Selatan4 Dalam perkara sengketa Pemilukada. Pelanggaran tersebut yakni Pasangan Calon Nomor Urut 7 khususnya H. telah secara sengaja dan dengan niat menyembunyikan perbuatan pidana yang pernah dilakukannya. Hal ini jelas melanggar asas-asas Pemilu yang termaktub dalam Pasal 22E ayat (1) UUD 1945 juncto Pasal 56 ayat (1) UU Pemda. V. maka MK harus memilih konstitusi dan mengesampingkan norma undangundang. dan melainkan sebagai peradilan yang mengadili masalah-masalah yang dalam proses-proses pelaksanaan Pemilukada.

Berdasarkan uraian terhadap perkara ini maka pelanggaran tentang persyaratan menjadi calon yang bersifat prinsip dan dapat diukur.D-VII/2008 tanggal 8 Januari 2009. maka MK berwenang meluruskan keadaan sehingga Pemilukada dapat berjalan serasi sesuai dengan keseluruhan asas-asas demokrasi yang termaktub dalam konstitusi. karena salah satunya.H. Dalam putusan ini. telah mengakibatkan Pemiluakada Bengkulu Selatan cacat yuridis. Oleh karena itu agar tercipta keadilan maka harus dilakukan pemungutan ulang untuk seluruh Kabupaten Bengkulu Selatan dengan mendiskualifikasi Pasangan Calon Nomor Urut 7. belum ada yang dapat dibuktikan secara hukum di hadapan persidangan MK. VI. 5 dan penganiayaan.(intolerable condition).. MK juga menegaskan lagi bahwa MK tidak dapat dipasung hanya oleh bunyi undang-undang an sich melainkan juga harus menggali rasa keadilan dengan berpedoman pada makna substantif undang-undang itu sendiri. yakni tidak memenuhi syarat formil sebagai peserta Pemilukada. seperti seperti syarat tidak pernah dijatuhi pidana penjara dapat dijadikan dasar untuk membatalkan hasil Pemilu atau Pemilukada dan pendiskualifikasian peserta yang tidak memenuhi syarat sejak awal. S. 10 . Dirwan Mahmud. H. intimidasi. Pada dasarnya jenis-jenis Perkara Nomor 57/PHPU. Syarat pencalonan dukungan minimal baik yang berasal dari partai politik ataupun calon perseorangan juga dapat juga dapat dijadikan namun alasan sampai pembatalan sekarang dari dan/atau sengketa pendiskualifikasian Pemiluakda di berbagai daerah yang diajukan ke MK. seperti halnya yang diajukan dalam sengketa Pemilukada Kabupaten Kotawaringin Barat yang mempermasalahkan adanya money politic. Pendiskualifikasian dan Penetapan kualitatif Pemenang yang sering Pemilukada Kotawaringin Barat5 Pelanggaran-pelanggaran secara diajukan ke MK yakni terjadinya tindak pidana Pemilu.

melakukan rekrutmen warga sebagai relawan yang dipersiapkan dengan organisasi yang tersusun dari tingkatan paling atas Pasangan Calon Nomor Urut 1. Namun.pelanggaran tersebut ditangani oleh instansi yang fungsi dan wewenangnya telah ditentukan oleh undang-undang. yakni dengan melakukan persiapan pendanaan secara tidak wajar untuk membayar relawan. Permasalahan hukum akan muncul jika hanya membatalkan Pemilukada. Pelanggaran-pelanggaran tersebut berupa money politic disertai intimidasi. Dalam menjatuhkan putusan terhadap sengketa Pemilukada Kotawaringin Barat. yakni tidak hanya mengadili perkara Pemilukada sebatas pada hasil penghitungan suara akan tetapi juga telah memasuki proses peradilan dengan memutus fakta hukum yang nyata-nyata menciderai hak asasi manusia dan demokrasi. Tim Kampanye sampai dengan relawan di tingkat RT. dengan mendasarkan pada tingkat pelanggaran yang dilakukan oleh Pasangan Calon Nomor Urut 1 yang merupakan pelanggaran serius di seluruh wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat. MK mendasarkan bahwa telah terjadi adanya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Pasangan Calon Nomor Urut 1 secara massive yang sangat berpengaruh terhadap perolehan suara pasangan calon. Oleh karena itu. MK tidak dapat membiarkan terjadinya pelanggaran atas prinsip Pemilu yang Luber dan Jurdil sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi. sementara peserta Pemilukada hanya 2 pasangan calon dan salah satunya secara hukum tidak diperbolehkan mengikuti pemungutan suara ulang apabila dilaksanakan sebagai 11 . Pelanggaran-pelanggaran tersebut juga dilakukan secara sistematis dan terstruktur. tekanan atau ancaman yang dilakukan sebelum berlangsungnya pemungutan suara. maka pasangan tersebut perlu diskualifikasi sebagai Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2010. MK yang berfungsi sebagai pengawal konstitusi telah memaknai dan memberikan penafsiran yang luas demi tegaknya keadilan.

MK pidana. MK mengeluarkan PMK 15/2008 sebagai salah satu pedoman beracara. Atas dasar itu dan dengan memaknai dan memberikan penafsiran yang luas atas Pasal 77 ayat (3) UU 24/2003 juncto Pasal 13 ayat (3) huruf b PMK 15/2008. Untuk mendukung kelancaran penyelesaian perselisihan Pemilukada yang oleh undang-undang diberi tenggat waktu 14 hari kerja. sistematis. kewenangan untuk menyelesaikan perselisihan hasil Pemilukada. VII.dan masif yang mempengaruhi perolehan suara. Kewenangan MK dalam Pemilukada sebagaimana terlihat dalam putusan-putusannya dengan tidak hasil hanya sebatas membedah an sich permohonan melihat perolehan suara sebagaimana ditentukan dalam undang-undang. Penutup Salah satu kewenangan konstitusional MK adalah memutus perselisihan tentang atas hasil kuasa pemilihan umum. dalam untuk mengamanatkan Jurdil. dihadapkan mengabulkan atau menolak penghitungan yang benar menurut tetapi juga suara dapat memerintahkan untuk dilakukan ulang atau pemungutan suara ulang. MK Dalam diberi perkembangannya. tidak putusannya. maka MK menyatakan berwenang menetapkan pemenang dalam Pemilukada Kotawaringin Barat. undang-undang. sama Oleh saja maka dengan karena yang baik sebagai karena mengandung pelanggaran pengawal terhadap Pemilukada menjatuhkan Pemohon. penghitungan Penghitungan atau pemungutan suara ulang baik melalui putusan sela maupun putusan akhir dapat diperintahkan untuk dilaksanakan 12 . Apabila diketemukan sifat tidak yang dan MK pelanggaran-pelanggaran secara kumulatif.konsekuensi adanya pembatalan Pemiliukada. melainkan juga meneliti secara mendalam adanya pelanggaran yang bersifat terstruktur. ketiga tersebut akan administrasi konstistui konstitusi yang maupun tersebut membiarkannya pelanggaran-pelanggaran Luber pelanggaran prinsip-prinsip itu.

MK telah mendiskualifikasi pasangan calon dan menetapkan pemenang Pemilukada. *** 13 .pada seluruh wilayah atau sebagian wilayah tergantung dari fakta hukum yang terungkap dalam proses pembuktian di persidangan. Bahkan dalam perkembangannya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful