P. 1
Penanganan Tata Letak Bahan Pada Industri Gula Merah Tebu Di Kecamatan Kebonsari

Penanganan Tata Letak Bahan Pada Industri Gula Merah Tebu Di Kecamatan Kebonsari

|Views: 1,157|Likes:
Published by agung utomo

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: agung utomo on Dec 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/08/2013

pdf

text

original

Tugas Akhir Mata Kuliah Tata Letak Dan Penanganan Bahan

PENANGANAN TATA LETAK DAN PENANGANAN BAHAN INDUSTRI GULA MERAH TEBU DI KECAMATAN KEBONSARI

Disusun Oleh : Agung Utomo Shinta Permatasari Anisa Rahmi Utami Nasrun Hakim Riztiara Nurfitri Fakhri Maulana Anza Julia W. P M. Arifyandi S. (F34070012) (F34070042) (F34070043) (F34070044) (F34070064) (F34070072) (F34070080) (F34070126)

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2010

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Agroindustri merupakan salah satu uapya dalam meningkatkan nilai tambah produk menuju perdagangan global. Peningkatan perdagangan dapat berasal dari pertanian, perkebunan, kelautan, dan kehutanan. Pertanian merupakan sektor sektor utama bagi Indonesiadalam upaya mengembangkan perekonomian bangsa untuk menghadapi persaingan ekonomi dan perdagangan bebas yang

semakin ketat. Indonesia sebagai negara agraeis yang didukung potensi sumber daya dan kondisi iklim yang baik, harus dapat memberikan nilai tambah pada produk hasil pertanian khususnya di sektor industri. Upaya penembangan perekonomian Indonesia mengalami berbagai hambatan yang cukup berat. Keadaan tersebut mengakibatkan sektor agroindustri kembali dilirik oleh pemerintah dan masyarakat dengan harapan sektor tersebut dapat mengatasi masalah yang muncul. Sejalan dengan semakin padatnya penduduk, kebutuhan akan lapangan kerja juga semakin meningkat sehingga menyebabkan tidak terpenuhinya lapangan kerja di daerah tersebut. Industri gula merah tebu secara langsung dapat membuka lapangan pekerjaan, namun keberadaannya belum mampu mengatasi tingginya pengangguran yang terjadi di Kecamatan Kebonsari. Penentuan plant layout atau tata letak fasilitas produksi yang baik haruslah ditentukan berdasarkan pengaruh faktor-faktor yang ada seperti tahapan proses produksi, macam hasil keluaran produksi, jenis keluaran produksi, jenis perlengkapan yang digunakan serta berdasarkan sifat produksi dari produk yang diproduksi tersebut. Dengan demikian, fasilitas tersebut dapat menghasilkan aliran barang yang efisien.

B. Tujuan Tujuan dari pembuatanmakalah ini adalah untuk menetahui tata letak dan penanganan bahan, kebutuhan tenaga kerja, kebutuhan luas ruangan, layout

perusahaan, dan menganalisis layout inndustri gula merah tebu sesuai tata letak penanganan bahan.

II.

PEMBAHASAN

A. Industri Gula Merah Tebu a. Sejarah dan Perkembangan Industry gula merah tebu di kecamatan kebonsari sudah dimulai sejak tahun 1930. Menurut Soentoro et al,(1990) masa kejayaan gula berakhir menjelang tahun tiga puluhan bersamaan dengan terjadinya depresi ekonomi. Penurunan harga gula yang drastic menyebabkan banyak pabrik gula yang tutup sehingga produksi gula sangat merosot. Salah satu alternatif yang dilakukan petani tebu adalah dengan mengolah sendiri tebu menjadi gula merah tebu yang kemudian dijual di pasar-pasar tradisional sekitar. Dengan demikian industri gula merah tebu terus tumbuh dan berkembang sebagai salah satu usaha petani tebu untuk meningkatkan penghasilannya. Pada awalnya tenaga yang digunakan untuk proses penggilingan tebu adalah tenaga sapi. Pada saat panen tebu, proses pengolahan gula merah tebu dikerjakan selama 24 jam penuh untuk menghindar kerusakan nira tebu yang sudah ditebang. Pada tahun 1975 mulai dikenal mesin diesel untuk menggerakkan mesin giling menggantikan sapi. Dengan mesin ini, waktu prose pengolahan menjadi lebih pendek 10 – 12 jam yang dimulai pada pukul 06.00 pagi untuk menghasilkan gula merah tebu yang sama dengan menggunakan tenaga sapi. Setelah adanya teknologi mesin pada industri gula merah tebu, pengusaha tidak secara langsung terlibat dalam proses pengolahan. Pengolahan gula merah tebu hanya dilakukan oleh tenaga kerja penggiling. Sekitar tahun 1990-an pemerintah melalui Dinas Perkebunan melakukan penyuluhan-penyuluhan pada petani tebu. Materi penyuluhan yang dilakukan umumnya adalah materi di sector hulu seperti pengolahan, perawatan, pengendalian, serta upaya menigkatkan produktivitas perkebunan tebu. Salah satu bentuk penyuluhan mengenai industri gula merah tebu adalah materi pelatihan metode jarak jauh mengenai pengolahan gula merah tebu pada tahun 1997 oleh Dinas Perkebunan Propinsi Jawa Timur.

Pada tahun 1997, industry gula merah tebu yang beroperasi di kecamatan kebonsari berjumlah 70 unit usaha. Setelah reformasi industri gula merah tebu jumlah industri gula merah tebu yang beroperasi semakin berkurang. Hal tersebut disebabkan rendahnya modal kerja yang dimiliki, dan sulit dalam mencari tenaga kerja.

B. Analisis Aspek Ketenagakerjaan Tenaga kerja adalah penjual jasa baik pikiran maupun tenaganya dan mendapat kompensasi yang besarnya telah ditetapkan terlebih dahulu (Hasibuan, 2003). Adisaputro dan Marwan (1992) menambahkan tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang utama dan selalu ada dalam perusahaan, meskipun pada perusahaan tersebut sudah menggunakan mesinmesin. Tenaga kerja dalam industri gula merah tebu adalah orang atau sekelompok yang bekerja mengolah tebu menjadi produk gula merah tebu. Tenaga kerja penggiling termasuk kedalam kelompok tenaga kerja langsung. Menurut Asri dan Adisaputro (1992) yang dikategorikan sebagai tenaga kerja langsung antara lain adalah para buruh pabrik yang ikut serta dalam kegiatan proses produksi dari bahan mentah sampai terbentuk barang jadi. Sebuah industri gla merah tebu di kecamatan Kebonsari menggunakan 5 – 10 orang sebagai tenaga kerja. Tenaga kerja ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu tenaga kerja di pabrik dan tenaga kerja di kebun. Satu kelompok tenaga kerja di pabrik terdiri dari 4 – 5 orang, sedangkan satu kelompok tenaga kerja di kebun terdiri dari 2 – 3 orang. Berdasarkan pekerjaan yang dilakukan maka dalam industry gula merah tebu pekerja dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu : 1. Tukang tebang Tukang tebang biasanya dilakukan oleh 2 – 3 orang yang bekerja di kebun selama 7 -8 jam/hari. Rata-rata dalam sehari tukang tebang mampu menghasilkan 3 – 4 ton tebu yang siap digiling pada hari berikutnya. Pekerjaan yang dilakukan tukang tebang adalah membersihkan batang tebu dari daun-daun

kering, menebang tebu, dan mengangkut tebu dari kebun menuju pabrik.

2. Tukang giling Sebuah mesin penggiling tebu dikerjakan oleh 2 orang tukang giling. Pekerjaan yang dilakukan tukang giling adalah menggiling tebu, mengangkut ampas tebu (bagase) ke ruang bahan bakar, dan menjemur ampas tebu (bagase). Penggilingan tebu biasanya hanya dilakukan seorang tukang giling, sementara seorang lagi mengumpulkan dan mengangkut ampas tebu (bagase) ke ruang bahan bakar.

3. Tukang masak Sebuah tungku pemasakan biasanya dikerjakan oleh 2 – 3 orang tukang masak. Pekerjaan yang dilakukan tukang masak antara lain memindahkan nira dari bak penampungan ke wajan pemasakan, membersihkan nira dari kotoran untuk,

menurunkan larutan gula (gulali) ke wajan pengentalan untuk diaduk, mencuci cetakan lemper, dan mencetak gula merah. Koordinasi antara tukang masak dan tukang obor sangat diperlukan untuk mencegah larutan gula (gulali) tidak gosong.

4. Tukang obor Tukang obor adalah pekerja yang bertanggung jawab terhadap pengaturan suhu api. Ampas tebu (bagase) dan sekam yang dimasukkan sebagai bahan bakar harus diatur sehingga suhu api dapat konstan. Seorang tukang obor harus selalu siap memantau wajan pemasakan. Pemasakan bahan bakar ampas tebu (bagase) dab sekam ketika pemasakan dilakukan secara kontinu, tetapi ketika sudah ada larutan gula (gulali) yang hampir masak pemasakannya dihentikan sampai larutan gula (gulali) diturunkan ke wajan pengentalan.

Dalam pelaksanaannya kelompok pekerja terutama yang bekerja di pabrik tidak hanya mengerjakan pekerjaan tertentu. Sebagai sebuah kelompok, setiap pekerja saling membantu satu sama lain.

C. Tata letak Pabrik a. Perancangan dan Perecanaan Tata Letak Perencanaan tata letak merupakan suatu perencanaan untuk menentukan dan mengatur mesin dan peralatan pada suatu tempat atau lokasi yang paling baik, untuk memberikan aliran bahan yang tercepat dengan tingkat penanganan yang paling rendah dalam memproses suatu produk, sejak dari penerimaan bahan baku sampai pengiriman produk akhir (Mallick Gaudreu, di dalam Machfud dan Agung, 1990). Dalam perencanaan dan perancangan tata letak diperlukan suatu keseimbangan antara system dan fasilitas, perancangan tata letak dan material handling. Perancangan dan perencanaan tata letak suatu fasilitas dirancang dengan baik akan mempengaruhi efisiensi perusahaan, pembentukan laba perusahaan, member kontribusi yang positif dalam optimalisasi proses operasi perusahaan, menjaga keberlanjutan dan kelangsungan serta keberhasilan perusahaan. Perancangan tata letak harus dilakukan seefektif mungkin agar dapat meminimalkan biaya yang dikeluarkan. Material handling berpengaruh besar terhadap proses operasi perusahaan. Perancangan tata letak dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan antara lain pendekatan aliran bahan dan pendekatan sistematik. Pendekatan aliran bahan didasarkan atas pertimbangan bahwa pergerakan bahan secara langsung dari setiap operasi atau proses berikutnya menurut suatu urutan logis yang akan menurunkan biaya penanganan bahan. Pendekatan kedua atau yang disebut dengan pendekatan sistematik (Sistematic Layout Planning= SLP) merupakan suatu pendekatan yang universal (Machfud dan Agung, 1990). b. Analisa tata letak pabrik Tata letak pabrik industri gula merah tebu lampiran 7

Tata letak pabrik awal memiliki kemampuan produksi gulaSetelah itu pertimbangan rancang ulang industri gula merah tebu yang kurang bagus dan ruang produksi kurang bersih. Maka dari itu perlu dilakukan rancangan ulang tata letak industri gula merah tebu. Untuk itu pertimbangan rancang ulang industri gula merah tebu meliputi : a. Perbaikan bentuk bangunan pabrik gula merah tebu b. Membuat ruang produksi menjadi lebih bersih c. Perbaikan aliran proses produksi dan perpindahan bahan d. Penyediaan tempat untuk pembuangan limbah Pertimbangan perbaikan bentuk bangunan pabrik gula merah tebu karena dengan adanya bangunan pabrik yang ideal dapat membuat ruang produksi lebih bersih sehingga mampu mengurangi kontaminasi kotoran dalam proses pengolahan gula merah tebu. Aliran proses yang ada saat ini juga memiliki resiko yang tinggi terhadap kontaminasi kotoran baik terhadap bahan baku dan produk. Nira sebagai bahan baku utama gula merah tebu adalah salah satu bahan pangan yang mudah mengalami kerusakan (Puri, 2005). Menurut Indeswari (1987) nira dikatakan rusak jika sukrosa dalam nira terinversi menjadi gula pereduksi yang terdiri dari glukosa dan fruktosa dalam perbandingan yang sama. Salah satu penyebab terjadinya inverse sukrosa dapat disebabkan aktivitas mikroorganisme. Sukrossa yang sudah terinversi menyebabkan nira menjadi berwarna coklat dan keruh, sehingga dapat menurunkan mutu produk (Indeswari, 1987). Pengurangan resiko sumber-sumber kontaminasi kotoran yang dilakukan dalam industri gula merah tebu diharapkan dapat meningkatkan mutu dan kualitas gula merah tebu yang dihasilkan. Analisa tata letak pabrik menghasilkan peta diagram keterkaitan aktivitas dalam pengolahan gula merah tebu

Peta keterkaitan aktivitas…….. Diagram keterkaitan aktivitas…. Berdasarkan peta keterkaitan aktifitas maka dilakukan analisa kebutuhan dan luas ruang. Analisa kebutuhan ruangan dilakukan sesuai

dengan diagram aliran proses sehingga diketahui ruangan yang diperlukan untuk rancang ulang tata letak industri gula merah tebu. Sementara analisa luas ruangan dilakukan dengan membandingkan antara luas yang digunakan pada tata letak pabrik dengan kebutuhan luas yang diperlukan untuk mengolah tebu sebanyak 300 – 400 kw/hari. Pengukuran dalam analisa meliputi luas mesin peralatan dan kebutuhan aktivitas pekerja. tabel analisa kebutuhan dan luas ruang……

Sebelum dilakukan kegiatan rancang ulang, luas awal untuk kegiatan bongkar muat tebu, penyimpanan tebu sebelum giling, tempat memasukan ampas tebu (bagase), dan tempat pembuangan tidak diketahui secara pasti. Penyimpanan dan penjemuran tebu dilakukan dengan memanfaatkan tempat yang tersedia, limbah untuk hanya dibuang ke selokan, dan limbah abu digunakan untuk menimbun tanah yang rendah. Hasil analisa menunjukkan bahwa kebutuhan luas untuk tempat bongkar muat tebu adalah 10 m2 dengan kelonggaran 50% untuk aktivitas bongkar muat oleh pekerja dan gerak kendaraan. Kebutuhan luas untuk menyimpan tebu sebanyak 10 kw adalah 6.25 m2 dengan ketinggian 1.5 m, sehingga untuk mengolah tebu sebanyak 40 kw per hari luas minimum yang dibutuhkan adalah 25 m2. Luas total untuk mesin giling dan diesel hanya 2 m2, namun karena kedua mesin ini dihubungkan dengan sabuk sehingga luas kebutuhan untuk penempatan mesin ini adalah 7.5m2. Produk gula sebanyak 1 kw disimpan dalam keranjang yang berukuran 0.5 x 0.75 x 0.75. Kebutuhan luas untuk menyimpan gula merah sebanyak 40 kw adalah 15 m2 dengan kelonggaran 85% untuk gang, aktivitas pekerja, dan meningkatkan aktivitas penyimpanan. Ampas tebu yang dihasilkan dari 1 ton tebu hasil penggilingan memerlukan luas 50 m2 untuk dijemur. Pada musim kemarau (ada panas dari energy matahari). Waktu yang diperlukan untuk menjemur ampas tebu (bagase) berkisar antara 1 – 2 jam sehingga volume limbah untuk abu yang dihasilkan adalah 1 m3. Sehingga volume kolam limbah yang diperlukan untuk

menampung selama 1 musim giling (240 hari) adalah 240m3 atau pada tanah seluas 40 m2 dengan tinggi 6 m. c. Rancangan Tata Letak Pabrik Tata letak awal pabrik dapat dilihat pada Lampiran 7. Factor-faktor pembatas rancang ulang industri gula merah tebu antara lain : 1. Batas sebelah timur dan selatan pabrik adalah perumahan 2. Luas area yang tersedia berbentuk L. 3. Gudang produk menyatu dengan bangunan rumah pemilk 4. Posisi tungku pemasaran tidak berubah Adanya keempat factor pembatas menyebabkan rancangan yang dipilih belum sesuai dengan diagram keterkaitan (lampiran 8). Penempatan antara ruang penggilingan, ruang penjemuran, ruang bahan bakar, ruang produksi, dan gudang produk belum sesuai dengan hasil analisa diagram keterkaitan. Hal tersebut mempengaruhi aliran limbah ampas tebu dan aliran produk jadi, sementara aliran proses yang dilakukan diruang produksi tidak berpengaruh. Kondisi sebelum dan setelah rancang ulang dapat dilihat pada tabel 13. Tabel 13. Kondisi sebelum dan setelah rancang ulang. Kondisi Sebelum Rancang Ulang Kondisi Setelah Rancang Ulang 1. Bangunan pabrik semi (i) Bangunan pabrik semi permanen permanen 2. Kondisi pabrik sangat kotor (ii) Hasil rancang ulang mampu akibat debu, ranting, daunmengurangi kotoran sehingga daunan, dan ampas tebu kondisi pabrik lebih bersih. (bagase). 3. Bak nira 1 tidak ditutup (iii) Bak nira 1 ditutup sehingga sehingga memungkinkan mampu mengurangi kotoran terjadinya kontaminasi kotoran. pada nira. 4. Bak nira 2 hanya berfungsi untuk menampung, nira hasil penggilingan sebelum dipindahkan ke wajan pemasakan. 5. Hasil limbah untuk yang disaring pada proses pemasakan dibuang pada ember plastik. Setelah ember tersebut penuh, limbah untuk dibuang ke (iv) Selain berfungsi untuk menampung nira, bak nira 2 didesain untuk mengendapkan kotoran hasil penggilingan. (v) Limbah untuk yang disaring dibuang pada bak pembuangan semi permanen yang langsung disalurkan ke kolam pembuangan melalui pipa yang

selokan. 6. Posisi tempat memasukkan ampas tebu (bagase) berada di bagian depan tungku pemasakan atau sama dengan tempat pengentalan dan percetakan sehingga memungkinkan terjadinya kontaminasi ampas tebu (bagase) pada produk yang dihasilkan. 7. Kegiatan pendinginan dan penyimpanan gula merah tebu yang dihasilkan dilakukan di lantai. 8. Ampas tebu (bagas) hasil penggilingan dipindahkan dengan cara dipikul 9. Persentase gula mutu baik 17%, mutu sedang 48%, dan mutu jelek 36%.

tertanam di bawah tanah (vi) Posisi tempat memasukkan ampas tebu (bagase) dipindahkan pada bagian belakang tungku pemasakan. Pada bagian belakang tungku pemasakan diberi pembatas dinding sehingga mengurangi kontaminasi ampas tebu (bagase) pada produk yang dihasilkan. (vii) Kegiatan pendinginan dan penyimpanan gula merah tebu yang dihasilkan dilakukan di meja. (viii) Ampas tebu (bagase) hasil penggilingan dipindahkan menggunakan gerobak (ix) Persentase gula mutu baik 29%, mutu sedang 42%, dan mutu jelek29%.

Rancang ulang menunjukkan tata letak bangunan pabrik gula merah tebu lebih baik dan rapih, mapu mengurangi kotoran yang berasal dari debu, daundaunan, ranting, dan ampas tebu pada ruang produksi sehingga ruangan menjadi lebih bersih, membuata aliran proses menjadi lebih baik, dan mengurangi pergerakan pekerja. Rancangan yang dipilih belum ideal karena bahan baku tebu belum disimpan pada tempat yang terlindungi matahari yang dapat mengurangi pengucapan, dan adanya kegiatan transportasi (perpindahan) akibat gudang produk terletak agak jauh dari ruang produksi, ruang bahan bakar ampas tebu terletak agak ajuh dari ruang penggilingan, serta tempat umpan bahan bakar ampas tebu terletak agak jauh dari ruang penjemuran. Pada saat implementasi terjadinya kerusakan pada tungku pemasakan menyebabkan dilakukan perbaikan. Tungku pemasakan awal memiliki kelemahan terutama pada cara pembuangan limbah untuk yang dihasilkan pada proses pemasakan, sehingga dalam perbaikan dilakukan modifikasi tungku pemasakan. Selain membuat saluran pembuangan limbah untuk modifikasi terhadap tungku pemasakan membuat kapasitas wajan dari 12 kg gula/wajan menjadi 13 kg gula/wajan. Pada tingkat produksi 26 wajan/hari, modifikasi tungku pemasakan

dapat meningkatkan kemampuan produksi gula merah dari 286 kg gula/hari menjadi 338 kg gula/hari. Berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran, pengurangan resiko sumber-sumber kontaminasi kotoran melalui rancang ulang industry gula merah tebu mampu meningkatkan presentase mutu gula merah tebu yang dihasilkan. Penetapan mutu ini tidak berdasarkan standar SNI melainkan dilakukan secara subjektif oleh pengusaha berdasarkan kriteria warna, rasa, dan kekerasan. Klasifikasi gula merah tabu dengan mutu baik adalah warna cerah (kuning), rasa manis dan tekstur yang keras. Mutu sedang adalah warna kemerahan, rasa manis, dan tekstur agak luak. Mutu jelek dalah wana gelap (hitam), rasa manis sedikit pahit, dan tekstur yang lebih lunak. Sebelum dilakukan rancang ulang rata-rata produksi adalah 286 kg gula/hari dengan mutu baik 48 kg gula (17%), mutu sedang 136 kg gula (48%), dan mutu jelek 102 kg gula (36%), namun setelah dilakukan rancang ulang mengalami perubahan dangan rata-rata produksi sebesar 338 kg gula/hari dengan mutu baik 98 kg gula (29%), mutu sedang 144 kg gula (42%), dan mutu jelek97 kg gula (29%).

III. A. KESIMPULAN

PENUTUP

Perencanaan tata letak merupakan suatu perencanaan untuk menentukan dan mengatur mesin dan peralatan pada suatu tempat atau lokasi yang paling baik, untuk memberikan aliran bahan yang tercepat dengan tingkat penanganan yang paling rendah dalam memproses suatu produk, sejak dari penerimaan bahan baku sampai pengiriman produk akhir. Perancangan dan perencanaan tata letak suatu fasilitas dirancang dengan baik akan mempengaruhi efisiensi perusahaan, pembentukan laba perusahaan, member kontribusi yang positif dalam optimalisasi proses operasi perusahaan, menjaga keberlanjutan dan kelangsungan serta keberhasilan perusahaan. Perancangan tata letak harus dilakukan seefektif mungkin agar dapat meminimalkan biaya yang dikeluarkan. Material handling berpengaruh besar terhadap proses operasi perusahaan. Tata letak dan penanganan bahan pada industri gula merah tebu di Kecamatan Kebonsari, sebelum dilakukan kegiatan rancang ulang, luas awal untuk kegiatan bongkar muat tebu, penyimpanan tebu sebelum giling, tempat memasukan ampas tebu (bagase), dan tempat pembuangan tidak diketahui secara pasti. Penyimpanan dan penjemuran tebu dilakukan dengan memanfaatkan tempat yang tersedia, limbah untuk hanya dibuang ke selokan, dan limbah abu digunakan untuk menimbun tanah yang rendah. Rancang ulang menunjukkan tata letak bangunan pabrik gula merah tebu lebih baik dan rapih, mampu mengurangi kotoran yang berasal dari debu, daun-daunan, ranting, dan ampas tebu pada ruang produksi sehingga ruangan menjadi lebih bersih, membuat aliran proses menjadi lebih baik, dan mengurangi pergerakan pekerja. Sebelum dilakukan rancang ulang rata-rata produksi adalah 286 kg gula/hari dengan mutu baik 48 kg gula (17%), mutu sedang 136 kg gula (48%), dan mutu jelek 102 kg gula (36%), namun setelah dilakukan rancang ulang mengalami perubahan dangan rata-rata produksi sebesar 338 kg gula/hari dengan mutu baik 98 kg gula (29%), mutu sedang 144 kg gula (42%), dan mutu jelek 97 kg gula (29%).

B. SARAN Merancang awal maupun merancang ulang tata letak dan pananganan bahan maupun sebuah industri tidak hanya ditujukan untuk penggunaan ruang agar maksimal, tidak berlebihan, dan efisien tetapi juga harus diperhitungkan faktor kenyamanannya juga karena ini sangat berpengaruh juga terhadap produksivitas pekerja dan juga

dipertimbangkan akan adanya pengembangan jangka panjang. Dengan kata lain, jangan terlalu hemat agar penggunaan ruang bisa seoptimal mungkin dalam segala aspek faktor yang mempengaruhi baik jangka pendek maupun jangka panjang.

DAFTAR PUSTAKA Apple, J. M. 1990. Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan. Terjemahan. ITB Press. Bandung.

Djojosoewardho, S. A. 1983. Usaha-usaha untuk mendapatkan Produksi Tinggi pada Tanaman Tebu. Di dalam Paket Informasi No. 01. BP3G. Perwakilan-perwakilan Wilayah di Jawa untuk Keperluan Petani Tebu. Pasuruan.

Hoffmann, T.R. 1967. Production: Management and Manufacturing System. Wadsworth Publ. Co. Inc., California.

Machfud dan Y.Agung.1990. Perencanaan Tata Letak pada Industri Pangan.PAU Pangan dan Gizi.IPB.Bogor.

Purnomo, H. 2004. Perencanaan dan Perancanganan Fasilitas. Graha Ilmu. Yogyakarta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->