P. 1
Jamaah Anshorut Tauhid Kepada Penguasa

Jamaah Anshorut Tauhid Kepada Penguasa

|Views: 309|Likes:
Published by shecutesib9835

More info:

Published by: shecutesib9835 on Dec 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/15/2011

pdf

text

original

Jamaah Anshorut Tauhid Kepada Penguasa

Thursday, 02 December 2010 19:39 |

TADZKIROH JAMA’AH ANSHORUT TAUHID BAGI RAKYAT DAN PENGUASA NEGRI INDAH YANG TERUS DIRUNDUNG MUSIBAH ‫السلم عليكم ورحمة الله وبركاته‬ ‫إن الحمد لله نحمده نستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده‬ ‫الله فل مضل له ومن يضلله فل هادي له و أشهد أن ل إله إل الله وحده ل شريك له و أشهد أن‬ ‫محمدا عبده ورسوله‬ Wahai kaum muslimin rohimani wa rohimakumulloh, perhatikanlah bahwa pada hari ini kita hidup didalam alam kemunafikan sedangkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala sangat membenci kaum munafikin. Bukti yang jelas dari kemunafikan kita adalah bahwa sejak bangsa ini dikaruniai kemerdekaan dari bangsa kafir, kita telah menyatakan perlawanan terang -terangan kepada Alloh Azza wa Jalla atas nama persatuan dan kesatuan bangsa yakni menghapus kalimat ... kewajiban menjalankan Syari’at Islam bagi para pemeluknya ... dari dasar negara. Alloh Azza wa Jalla berfirman : Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. ( QS. An Nisaa’ : 60 – 61 ) Dari kesalahan fatal ini, maka segala kebijakan dan arah pemerintahan negara yang dijalankan oleh siapapun penguasanya akan senantiasa mengundang murka Alloh Azza wa Jalla. Karena UU dan segala peraturan turunannya menjadikan akal dan hawa nafsu kita menjadi sumber hukum untuk mengatur ratusan juta rakyat dan membuang sumber hukum yang suci dari Alloh Robbul ‘Alamiin yakni Al Qur-anul Kariim dan As Sunnah Asy Syariif kecuali hanya sebagai teori yang dipelajari belaka. Alloh Azza wa Jalla berfirman : Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayatayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. ( QS Al A’raaf : 96 ) Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi was sallam bersabda : "Bagaimana kalian apabila terjadi lima perkara, dan aku berlindung kepada Allah mudahmudahan lima perkara itu tidak terjadi pada kamu atau kamu tidak menjumpainya, yaitu, 1. Tidaklah perbuatan zina itu tampak pada suatu kaum, dikerjakan secara terang-terangan, melainkan tampak dalam mereka penyakit ta'un dan kelaparan yang tidak pernah dijumpai oleh nenek moyang dahulu. 2. Dan tidaklah kaum itu menahan zakat, melainkan mereka ditahan oleh Allah turunnya hujan dari langit, andai kata tidak ada binatang ternak tentu mereka tidak akan dihujani. 3. Dan tidaklah kaum itu mengurangi takaran dan timbangan, melainkan mereka disiksa oleh Allah dengan kesengsaraan bertahun-tahun dan sulitnya kebutuhan hidup dan nyelewengnya

Written by Shodiq Ramadhan |

penguasa. 4. Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka itu menghukumi dengan selain kitab yang diturunkan oleh Allah, melainkan mereka akan dikuasai oleh musuh yang merampas sebagian kekuasaan mereka. 5. Dan tidaklah mereka itu menyia-nyiakan kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya, melainkan Allah menjadikan bahaya di antara mereka sendiri." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah) Kenyataan yang dibentuk dari pengingkaran kepada nikmat Alloh berupa Diinul Islam ini menunjukkan betapa bangsa ini telah mengalami apa – apa yang dikhawatirkan oleh Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam diatas. Ditambah lagi, bangsa ini seperti tidak merasa bersalah dengan secara terus menerus memerangi para Wali-wali Alloh dalam bentuk memusuhi, menangkapi, menyiksa dan membunuhi mereka yang secara konsisten berjuang untuk meninggikan kalimatillah dalam wujud penegakkan Syari’at Islam di negri ini. Padahal Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi was sallam telah bersabda : “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi waliKu, maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. ( Diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Hurairoh rodhiyallohu ‘anhu ) Wahai kaum muslimin rohimani wa rohimakumulloh, pelaku kezhaliman dan yang mendiamkan kezhaliman pada dasarnya berada pada posisi yang sama sedangkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan kezhaliman atas Dzat-Nya Yang Maha Suci dan IA juga mengharamkan kezhaliman atas hamba-hambaNya. Jika Alloh Subhanahu wa Ta’ala kemudian menimpakan berbagai musibah dalam berbagai bentuknya maka itu semua adalah masih dalam konteks RahmatNya agar manusia kembali kejalan yang benar, yakni jalan yang ditunjukiNya melalui para NabiNya. Jalan itu adalah kembali kepada Diinul Islam secara menyeluruh meliputi aqidah, syari’ah dan akhlaq Islam yang lurus dan benar. Tentu saja kita berduka dengan banyaknya jatuh korban harta dan nyawa serta berbagai penderitaan yang dialami rakyat dengan sebab bencana – bencana yang terus menerus terjadi itu. Maka sebagai orang yang beriman mestinya semua bencana itu kita jadikan sebagai sebuah peringatan Alloh dan sudah seharusnya kita mau mengambil pelajaran penting dari semua musibah yang nilainya sangat mahal terkait jatuhnya korban harta dan nyawa tersebut. Dan bukan malah mengabaikan apalagi berprasangka buruk terhadap taqdir Alloh Azza wa Jalla. Kita mendengar bahwa ada diantara pemimpin negri ini berkomentar tentang ketidak – terkaitan bencana alam dengan kehendak Penciptanya. Kita juga tahu ada seorang jurnalis yang menuduh Alloh itu kejam, Maha Suci Alloh dari penyifatan mereka yang jahil. Jadi bencana alam itu justru makin mengeraskan hati dan membuat gelap nurani mereka. Kenapa mereka tidak juga sadar dan tidak segera bertaubat ? Wahai kaum muslimin rohimani wa rohimakumulloh, tidak ada jalan lain sekiranya kita berkeinginan memperbaiki keadaan negri ini selain kembali kepada ajaran Alloh dan RosulNya yakni dengan menerapkan Diinul Islam di seluruh aspek kehidupan. Kesalahan fatal yang dilakukan founding fathers negeri ini harus dikoreksi total dan jangan malah diberhalakan. Negara dan bangsa ini harus diatur dengan Syari’at Islam, jika terus kita melawan Alloh Azza wa Jalla, maka fikirkanlah : apakah kalian akan menang ? Alloh akan tetap menjadi Yang Maha Hidup dengan segenap ke-Maha Kuasa-Nya sedang kita akan mati dan tidak berdaya dihadapan MahkamahNya kelak di yaumil Qiyyamah. Demikianlah Tadzkiroh ( peringatan ) ini kami sampaikan, alhamdulillahi Robbil ‘alamiin, was sholatu wa sallamu ‘ala Muhammadin wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in !

/feeds/posts/default?orderby=updated

Ustadz Abu Nasehati Pimpinan MPR
Thursday, 29 April 2010 21:43 |

Amir Jamaah Anshorut Tauhid Ustadz Abu Bakar Ba'asyir memberikan nasehat kepada lima pimpinan MPR tentang pengelolaan negara. Menurut Baasyir hendaknya negara ini dikelola berdasarkan Syariat Islam. Nasehat itu disampaikan oleh Ba'asyir di Pondok Pesantren Islam Al-Mukmin Ngruki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah saat menerima rombongan pimpinan MPR yang diketuai oleh Taufik Kiemas, Kamis (29/4). Selama dialog dengan pengasuh Ponpes Al Mukmin itu, Taufiq Kiemas didampingi empat Wakil Ketua MPR yakni Melani Leimana (Partai Demokrat), Hajriyanto Y. Thohari (partai Golkar), Ahmad Farhan Hamid (unsur DPD), dan Lukman Hakim Saifuddin (PPP). Usai bertemu dengan kelima pimpinan MPR itu, Ustadz Abu mengatakan dalam pertemuan yang dikatakannya hanya sebagai silaturahmi tersebut, ia memberi masukan kepada para pimpinan MPR dalam mengelola negara. Menurutnya hanya dengan cara yang sesuai dengan hukum Islam, negara ini akan selamat. Menanggapi pertemuan antara pimpinan MPR dengan Baasyir itu, Farchan Hamid, selaku juru bicara pimpinan MPR, mengatakan para pimpinan MPR merasa sangat senang telah bertemu Ba'asyir yang merupakan salah seorang tokoh masyarakat. Nasihat yang disampaikan Baasyir akan ditampung sebagai masukan seorang warga negara sebagai bentuk perhatiannya. "Ada beberapa buah pemikiran yang sejalan dan memang ada yang perlu dipikirkan kembali. Namun semua itu berupa masukan yang berharga. Yang pasti dari pertemuan ini terlihat bahwa Ustadz Ba'asyir sangat perhatian kepada bangsa dan negara," ujar wakil ketua dari unsur DPD tersebut. Sedangkan wakil ketua dari Partai Golkar Hajriyanto Tohari memaparkan, dalam pertemuan tersebut kelima pimpinan MPR mendapat oleh-oleh dari Ba'asyir berupa sejumlah buku. Bukubuku tersebut berupa sikap-sikap dan pandangan-pandangan keagaman dalam menyoal akidah, tauhid maupun mengelola negara. "Ini sebuah perkembangan, karena sudah dibukukan. Sebelumnya kan hanya disampaikan secara lisan sehingga mungkin lupa. Kalau dalam bentuk buku seperti ini akan mudah dipelajari dengan seksama berulang-ulang, terlepas kita setuju atau tidak," ujarnya. Sementara Wakil Ketua MPR dari Partai PPP Lukman Hakim Saefudin mengatakan, "Ustad Abu Bakar Ba'asyir ini komitmennya kuat sekali untuk bagaimana bangsa dan negara ini bisa lebih baik". Selain itu, Abu Bakar Baasyir juga menyatakan tidak sefaham adanya kekerasan dengan cara pengeboman yang terjadi beberapa waktu lalu. "Ustad Baasyir tidak sepaham cara-cara yang dilakukan dengan kekerasan. Ini sekaligus ini menunjukkan kehadiran kita bahwa tidak benar tuduhan sebagian kalangan bahwa pesantren Al Mukmin Ngruki dan ustad Abu Bakar Ba'asyir adalah teroris, karena tidak mungkin lembaga seperti MPR mengunjungi tokoh kharismatik seperti ini yang dituduh teroris" katanya. Dalam kesempatan tersebut, Ba'asyir juga menitipkan amplop berisi buku-buku untuk diserahkan kepada SBY dan istrinya. Dua amplop buku tersebut diserahkan kepada Taufiq Kiemas. Taufiq lalu menyerahkan dua amplop besar itu kepada Melani Leimena Suharli, wakil ketua MPR dari Partai Demokrat. Buku yang diberikan itu antara lain berjudul "Menghancurkan Demokrasi" dan "Nasihat Ulama Kepada Penguasa". (detik/muslimdaily/shodiq ramadhan)

Written by Shodiq Ramadhan |

,,

Subhanallah.. Mantap ust Abu, nasihatin aja tuh para pemimpin. biar mereka nyaho klo tanpa syariat islam negara ini ga bakalan bener.. AllahuAkbar!!
o o

1 0

ReplyQuote

|2010-04-30 10:19:02 Khairy Nasywan - OK'z

Indonesia tetep butuh Ulama besar spt Ust. Abu Setidaknya bisa jadi kontrol sosial masyarakat bagi pemerintah
o o

0 0

ReplyQuote

|2010-04-30 13:09:29 zen - tegas

wah..wah.. dahsyat ustadz! ini presiden yang saya cariii... tegas eui...biarin dah sistem demokrasi asal syariatnya islam dan presidennya ustadz abu...tapi kapan ya?!
o o

0 0

ReplyQuote

|2010-08-13 16:58:39 mm2010

Ya Allah, ya rabb, knp berita ini tidak pernah di beritakan di media masa umum..padahal ini menyangkut pejabat negara sekelas pimpinan MPR..pasti ini ada sesuatu, ya mungkin menyangkut orng2 yg tdk senang dng ust. Abu..
o o

0 0

ReplyQuote

|2010-09-22 17:29:29 abu zaid - Allahu akbar

Alhamdulillah kita masih punya ulama spt ust abu yang konsisten dg syariat islam

Indonesia Perlu Solusi Radikal
Sunday, 28 November 2010 16:39 |

Written by Shodiq Ramadhan |

Dalam diskusi Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan (FKSK) Rabu, 24 November lalu di Jakarta terungkap bahwa program deradikalisasi yang diluncurkan oleh pemerintah dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebagai operatornya tidak lepas dari grand design AS dalam war on terrorism. Dan sasaran dari program tersebut adalah mereka yang berjuang untuk tegaknya syariah dan system pemerintahan Islam, khilafah. Sehari setelah acara FKSK, sekretariat FUI mendapatkan kiriman file presentasi program deradikalisasi oleh BNPT yang disampaikan dalam salah satu proyek sosialisasinya,

yakni di Halaqah Nasional Penanggulangan Terorisme di MUI 6 November lalu. Setelah memaparkan kasus terorisme yang menonjol sejak Bom Natal tahun 2000 hingga bom Marriot II tahun 2009 pada slide 2, presentasi yang disampaikan oleh Kepala BNPT Ansyaad Mbai itu pada slide 3 langsung menuding Khilafah Islamiyah/Daulah Islamiyah dan Syariat Islam sebagai tujuan terorisme aktual. Disebutkan bahwa itu adalah hasil investigasi alias pengakuan para teroris. Bagi mereka yang kurang informasi dan berfikir dangkal tentu akan serta merta menyetujui pernyataan slide tersebut dan selanjutnya akan menyetujui sasaran program deradikalisasi, yakni pemberangusan ide-ide Islam kaffah, ideology Islam, syariat Islam, system pemerintahan Islam, daulah khilafah Islamiyah, dan setiap gerakan yang berjuang untuk mewujudkan ide-ide Islam tersebut di tengah masyarakat muslim.
Padahal tidak ada dosa dari kelompok anak kaum muslimin itu kecuali bahwa mereka menyajikan solusi untuk probolematika bangsanya, kaum muslim yang terbesar di dunia ini, dengan solusi Islam. Sebab dalam pikiran Ansyaad Mbai dan orang yang serupa dengannya, tidak ada solusi Islam untuk negara ini. Negara ini sudah final. Tidak ada lagi wacana yang memperbolehkan syariat Islam sebagai solusi berbagai masalah bangsa dan negara, baik dalam bidang ekonomi, politik, social budaya, dan lain-lain. Menurut mereka, negara ini telah menganut 4 azimat negara, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Itu mereka artikan bukan Islam dan tidak boleh Islam. Artinya, mereka mengharamkan adanya ide-ide dan hokum syariat Islam dalam keempat azimat itu. Jadi tidak boleh ada Pancasila yang Islami, UUD 1945 yang Islami, NKRI yang Islami, dan Bhineka Tunggal Ika yang Islami. Bahkan untuk memberikan tafsiran implementasinya saja, seperti RUU-Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU-APP) mereka tolak habis-habisan karena mereka nilai telah memasukkan penafsiran Islam ke dalam RUU tersebut. Mereka ingin UU di NKRI harus steril dari pikiranpikiran syariat Islam sekalipun 90 persen penduduk NKRI adalah umat Islam. Alasan klasik mereka, negara kita bukan negara agama dan meskipun mayoritas, umat Islam tidak sendiri, tapi kita hidup bersama umat lain. Kita hidup dalam masyarakat plural. Janganlah Bhineka Tunggal Ika kita dihancurkan karena memaksakan syariat Islam, atau memaksakan RUU-APP yang mengandung muatan syariat Islam! Tentu saja alasan-alasan klise mereka itu bagi orang yang mau berfikir sedikit mendalam dan jernih jelas sangat lemah. Mereka menolak masuknya syariat Islam dalam UU –bahkan belakangan mereka juga persoalkan perda-perda “syariat” di berbagai daerah—dengan alasan umat Islam, walau mayoritas, tapi bukan satu-satunya unsur dalam bangsa dan negara Indonesia. Sementara mereka memasukkan penafsiran liberal untuk implementasi pasal 33 UUD 1945 tetang pengelolaan sumber daya alam. Sehingga UU Migas yang menganut pikiran neo liberal mereka loloskan. Padahal kaum neolib jumlahnya hanya segelintir orang di negeri ini. Kenapa alasan yang sama untuk menolak syariat Islam tidak mereka terapkan kepada penafsiran kaum neoliberal? Akhirnya dengan UU Migas, UU Sumber Daya Air, UU Penanaman Modal, dan UU serupa yang berhaluan liberal tersebut para kapitalis manca negara mendapat kemudahan untuk semakin menguasai sumber-sumber kekayaan kita. Negara kita yang punya empat azimat tersebut semakin terseret ke dalam pusaran arus ekonomi liberal yng digerakkan oleh kaum serakah dunia. Dan dalam peta dunia kita menjadi negara obyek, bukan syubyek. Kita menjadi negara yang kekayaannya dirampok habis-habisan, kantong kita dirogoh, bahkan keringat kita pun diperas sampai kering. Rakyat banyak, khususnya para santri yang ahlu ibadat yang selama ini dibius dengan kalimat negara kita sudah final, dan waspadai gerakan trans nasional yang membawa ideology syariat, itu tidak banyak membaca berita bahwa sudah ratusan hingga ribuan triliun

kekayaan emas kita di Mimika diangkut oleh Freeport McMoran, Tambang emas kita di NTB diambil Newmont, Blok Cepu kita yang bercadangan minyak 2 milyar barrel diambil Exxon Mobil wakto Condy Rice datang, juga Blok D Natuna yang bercadangan 6 ribu Triliun dipastikan untuk AS, dan masih banyak lagi! Semua itu dibiarkan oleh para pejabat penjaga empat azimat negara ini. Dan empat azimat negara ini tidak pernah bisa menolak perampokan besar-besaran itu karena steril dari syariat Islam. Oleh karena itu, kenapa tidak kita coba syariat Islam sebagai sistem ekonomi dan pemerintahan kita terapkan untuk mencegah pembobolan berbagai kekayaan negara kita oleh asing dan para kroninya yang menguasai negara ini? Memang itu solusi radikal. Tapi bukankah Indonesia perlu itu?. Muhammad Al Khaththath

Ruang Tahanan Tak Layak, Kesehatan Ustadz Abu Memburuk
Wednesday, 01 December 2010 17:46 |

Kesehatan ustadz Abu Bakar Ba'ayir terus menurun selama berada di dalam sel tahanan Mabes Polri. Mata dan kaki sebelah kiri Ustadz Abu, demikian ia akrab dipanggil, diserang penyakit.

Written by Jaka |

Menurut Asisten Pribadi Ustadz Abu, Hasyim Abdullah, dokter menyarankan agar Amir JAT itu segera menjalankan operasi agar tidak bertambah parah. Lebih lanjut, Hasyim menyampaikan, rumah sakit yang disepakati oleh keluarga dan Polri untuk tempat operasi adalah Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Namun, karena dokter mata yang ditunjuk sedang melakukan ibadah haji, maka operasi ditunda sampai yang bersangkutan pulang ke Tanah Air. "Dokternya pulang tanggal 6 (Desember). Mungkin tanggal 8," jelasnya. Ruang Tahanan Tak Layak

Sementara itu Direktur Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), Joserizal Jurnalis menyatakan memburuknya kondisi Ustad Abu disebabkan oleh kondisi ruang tahanan yang tidak layak. Menurut Jose yang dua pekan silam memeriksanya, kondisi tahanan tersebut tidak layak ditempati oleh orang yang sudah berumur seperti Ustadz Abu. "Ustad itukan sudah 70 tahun, butuh perawatan yang layak," tuturnya saat dihubungi, Rabu (1/12/2010). Jose menggambarkan, ruang tahanan yang ditempati Ustadz Abu kondisinya sangat lembab. Hal ini yang membuat penyakit pengapuran Amir Jamaah Anshorut Tauhid ini bertambah parah. Selain itu, sinar matahari juga tidak dapat masuk ke dalam sel yang ditempati Pengasuh Ponpes al Mukmin Ngruki itu. Kondisi sel ini menurutnya pernah dikeluhkan oleh Ba'asyir sendiri dan juga pihak keluarganya. "Kami sudah minta dipindahkan ke sel yang tidak lembab dan bisa dimasuki sinar maatahari," tutur Jose. Namun, permintaan ini ditolak pihak kepolisian.", ujarnya.

Di saat kesehatannya memburuk, Polri sudah melimpahkan berkas acara pemeriksaan tersangka tindak pidana terorisme ini ke kejaksaan. Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Iskandar Hasan, menjelaskan saat ini Polri sedang menunggu penetapan dari kejaksaan. "Penahanan Ba'asyir sampai 13 Desember. Tapi berkas sudah dilimpahkan ke penuntut umum (kejaksaan)," ujar Iskandar saat jumpa pers di Ruang Rapat Humas Mabes Polri, Jakarta, Rabu (1/12/2010). Menurut Iskandar, batas masa penahanan seseorang di kepolisian sampai empat bulan sebelum berkasnya ditetapkan P21 (lengkap) oleh kejaksaan. Jika sudah ditetapkan, ungkapnya, maka Ba'asyir akan menjadi tahanan kejaksaan dengan masa penahanan maksimal dua bulan. Terkait dengan memburuknya kondisi kesehatan Ustad Abu, Iskandar mengatakan dokter dari Polri sudah melakukan pemeriksaan terhadap Ba'asyir. Ia pun menyatakan siap memperhatikan kesehatan Ba'asyir. Ustadz Abu ditangkap polisi pada awal Agustus lalu di daerah Banjar, Ciamis, Jawa Barat saat pulang dari aktivitas dakwah. Ia dijerat dengan pasal berlapis dalam UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Pasal yang disangkakan antara lain pasal 14 junto pasal 7, pasal 9, pasal 11 dan atau pasal 15 junto pasal 7 dan pasal 9, pasal 11 dan atau pasal 13 huruf (a) atau ( b) atau huruf (c) Undang-undang nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. (mj/bs)

YA Rabb limpahkanlah kesehatan untuk para pejuangMu,hilangkalah rasa sakit yg dideritanya, berikanlah kemudahaan saat menjalani KEJUJURAN MEMPERTAHAANKAN IMAN INI,Amin. TUMBUH DAN MUNCULKANLAH GENERASI SELANJUTNYA YG LEBIH BAIK DAN LEBIH KUAT DARI GENERASI PEJUANGMU SEBELUMNYA.....PERTEMUKANLAH KAMI DENGAN AL-MAHDI, AGAR KAMI MAMPU MENEGAKAN KALIMATMU DIMUKA BUMI INI DAN BERIKANLAH KAMI KEMAMPUAN UNTUK MENGAHNCURKAN SISTEM DAJJAL DIMUKA BUMI INI,AMIN.
o o

0 0

ReplyQuote ‘PERSELINGKUHAN’ SBY, ICAL dan GAYUS
Wednesday, 01 December 2010 14:50 | Written by Shodiq Ramadhan |


Indikasi tukar guling kasus antara kedua kepentingan menunjukkan betapa bobroknya penegakan hukum di Indonesia… Semakin jelas bahwa Gayus dan Century Gate hanya merupakan alat untuk masing-masing pihak melakukan tukar guling kepentingan sesaat. Dunia politik penuh dengan intrik, cubit sana cubit sini itu sudah lumrah… Mungkin bait lagu Iwan Fals inilah yang bisa menggambarkan betapa perseteruan dua elit politik negeri ini, Abu Rizal Bakrie (Ical) dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang amat meresahkan kita rakyat yang menyaksikannya. Perseteruan itu dimulai ketika SBY berpidato di tengah agenda penyerahan piala Citra Bakti Abdi Negara kepada Gubernur, Walikota dan Bupati, di Istana Negara, Jakarta Kamis, (11/2/2010). Pidato SBY dalam acara tersebut mengungkapkan bahwa ada perusahaan yang harus membayar pajak tapi karena ada kongkalikong bisa tidak membayar, atau membayar rendah. Terungkapnya tunggakan royalti dua perusahaan milik Ical, PT Kaltim Prima Coal (PT KPC) dari 2001 hingga 2007 menurut data dari Departemen ESDM nilainya cukup besar yakni mencapai US$ 127,1 juta. Sementara perusahaan Ical lainnya PT Arutmin Indonesia memiliki tunggakan sebesar US$ 75,4 juta dolar. Mendengar pidato SBY yang dikutip berbagai media itu Ical meradang, Pernyataan SBY seputar kejahatan pajak diartikan Ical sebagai tekanan terhadap dirinya. Kemudian dengan sigap Ical segera menyandra orang dekat SBY di kabinet Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani yang kebetulan terlibat dalam Skandal Century (Century Gate) yang merugikan negara sebesar 6,7 triliun rupiah. Namun tensi terhadap Sri Mulyani maupun kasus pajak perusahaan-perusahan Ical belakangan menurun. Telah menjadi rahasia umum bahwa SBY memberikan lampu hijau terhadap kemauan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie alias Ical, agar Sri Mulyani tidak lagi menjabat posisi Menkeu. Namun di sisi lain, SBY meminta imbal balik, agar Fraksi Golkar di DPR tidak terlalu ngotot untuk melanjutkan proses politik Skandal Century. Beberapa sumber juga menyebutkan, SBY meminta Ical untuk melunasi seluruh hutang pajak dan royalti di atas 11 triliun rupiah. Terakhir yang paling hangat adalah isu keterlibatan Partai Demokrat dalam Initial Public Offering (IPO) Krakatau Steel dan di sisi yang lain Partai Golkar sedang menghadapi isu pertemuan antara Gayus Tambunan dengan Ical. Namun belakangan tensi dari keberadaan kasus tersebut di tengah-tengah publik juga mulai diredam lewat pertemuan antara Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie dengan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum di Hotel Mulia Jakarta, Kamis (25/11/2010). Ical dihadapan para wartawan mengungkapkan pertemuan ini untuk meredam isu di kedua partai tersebut. Semua kasus yang melilit hubungan antara SBY-Ical kini Partai Demokrat-Partai Golkar menjadi fenomena politik yang harus dikritisi, indikasi tukar guling kasus antara kedua kepentingan menunjukkan betapa bobroknya penegakan hukum di Indonesia. Jangan sampai pertemuan tersebut menjadi transaksi problem hukum. Jika terjadi transaksi, maka keduanya dapat merusak tatanan hukum. Padahal penegakan hukum di Indonesia sedang mengalami masamasa sulit. Dua kasus terakhir yang mendera kedua partai tersebut merupakan kejahatan dengan potensi kerugian negara besar. Hubungan SBY, Ical dan Gayus Hubungan SBY, Gayus dan Ical bukan tidak ada. Selama ini, Gayus mengakui dirinya mengemplang pajak dari sejumlah perusahaan milik Ical. Pengakuan tersangka mafia pajak Gayus Halomoan Tambunan ini terungkap ketika menjadi saksi dalam persidangan dengan terdakwa AKP Sri Sumartini di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Selasa, (3/8/2010) Gayus mengaku menerima uang 5 miliar rupiah dalam penanganan kasus pajak perusahaan miliknya PT KPC. Sejumput kisah itulah yang disinyalir menggiring isu Gayus sengaja ke Bali untuk menemui Bakrie.

Kini Gayus kembali jadi sorotan. Keberadaannya di Bali menjadi pembicaraan berhari-hari. Ical pun jadi sasaran dan kena getahnya. Gayus tentu bukan orang biasa. Walau hanya menjadi terdakwa kasus pajak, dia tetap dapat perlakuan istimewa sejak dibawa dari Singapura menuju Indonesia, Gayus tidak diborgol. Dia dibawa dengan santai. Bahkan di dalam pesawat, beberapa kali Gayus tersenyum, walau puluhan wartawan menjepretnya,. Dia seolah tanpa beban, meski menjadi buronan dan tertangkap polisi. Berbeda dengan tersangka teroris yang tertangkap polisi. Gayus diperlakukan istimewa sekali. Sejak awal, terbongkarnya kasus Gayus dianggap karena berkat kepiawaian Satgas Anti mafia Hukum. Satgas bentukan SBY ini menjadi begitu ngetop seketika setelah kasus Gayus terbongkar. Namun masih tetap saja ada kurangnya, tertangkapnya Gayus di Singapura menjadi rebutan dan saling sikut Antara Satgas dan Mabes Polri, demi bisa membawa Gayus pulang ke Indonesia. Tapi deal kemudian terjadi. Satgas kebagian mengumumkan keberhasilan mereka menemukan Gayus berada di Singapura. Sementara Mabes Polri punya jatah membawa Gayus ke Indonesia. Dua belah pihak berhasil jadi berita utama. Inilah awal hubungan perselingkuhan Satgas Mafia Hukum bentukan SBY, Mabes Polri, SBY dan Ical. Semakin jelas bahwa Gayus dan Century Gate hanya merupakan alat untuk masing-masing pihak melakukan tukar guling kepentingan sesaat. Berkaca Dengan Islam Mari kita berkaca pada masa kejayaan Islam ketika ada seorang perempuan dari Makhzumiyah melakukan pencurian. Kasus ini menjadi perhatian besar kaum Quraisy. Mereka lalu berdiskusi untuk meminta keringanan dari Nabi Muhammad SAW agar wanita itu bebas dari jerat hukum. Akhirnya, mereka sepakat untuk mengutus Usamah bin Zaid, orang yang sangat dicintai oleh Rasulullah Saw. Usamah pun menyampaikan misinya. Mendengar hal itu, Rasulullah berkata kepada Usamah, “Wahai Usamah, apakah engkau hendak meminta keringanan atas penerapan salah satu hukum Allah?” Beliau lantas berpidato di hadapan masyarakat, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena jika ada yang mencuri dari kalangan bangsawan atau pejabat mereka membiarkannya. Sebaliknya, ketika ada yang mencuri dari kalangan masyarakat lemah mereka menerapkan hukum dengan tegas. Demi Allah, andai saja Fathimah binti Muhammad mencuri, pasti akan aku potong tangannya.” (Imam al-Bukhari, Abu Dawud dan an-Nasai). Merujuk pada hadist tersebut, setidaknya banyak pelajaran yang dapat kita petik. Pertama: kita perlu waspada, di Indonesia, hukum hanya berlaku bagi kaum papa. Pejabat yang merampok uang rakyat dalam kasus Century tetap bebas berkuasa, begitu pula dengan para pengusaha pengemplang pajak, mereka berkolaborasi melakukan tukar guling kasus sesuai kepentingan politik dan partainya. Sebaliknya, Nenek Minah yang mengambil tiga kakao seharga 1500 rupiah dijatuhi hukuman. Kedua, Rasulullah SAW sangat keras menolak permintaan keringanan hukuman bagi pelaku kejahatan sekalipun dia keluarga pembesar Quraisy. Kalau hal demikian saja ditentang oleh Nabi Saw., apalagi makelar kasus alias markus. Bahkan samapai Rasulullah SAW bersabda, “Penegak hukum itu ada tiga jenis; dua masuk neraka dan satu masuk surga. Penegak hukum yang menegakkan hukum yang tidak benar, padahal ia tahu, ia di neraka. Penegak hukum yang menegakkan hukum yang tidak benar, sementara ia tidak tahu sehingga terampaslah hak masyarakat, ia pun di neraka. Penegak hukum yang menegakkan hukum yang benar ada di surga.” (HR al-Baihaqi dan An-Nasa’i). (Jaka Setiawan)

NEGARA TANPA PENJARA
Thursday, 25 November 2010 18:32 | Written by Shodiq Ramadhan |


Oleh: Habib Rizieq Syihab (Ketua Umum DPP Front Pembela Islam) "Apakah Hukum Jahiliyyah yang mereka kehendaki ? Dan hukum siapakah yang lebih baik dari pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?" (QS. Al-Maaidah [05]: 50) Orang beriman pasti yakin bahwasanya tidak ada hukum mana pun dan dari siapa pun yang lebih baik dari pada Hukum Allah SWT. Hukum Sipil maupun Hukum Adat tak kan pernah bisa menandingi Hukum Islam, karena Hukum Islam adalah Hukum Allah SWT. Selain Hukum Islam hanyalah hukum yang penuh dengan kebobrokan, dan hanya akan mengantarkan kepada kehancuran peradaban. Dalam surat An-Nisaa' ayat 13 dan 14, Allah SWT menegaskan bahwa ketentuan-ketentuan hukum-Nya harus dipatuhi. Allah SWT menjanjikan Surga bagi siapa saja yang mematuhi ketentuan hukum-Nya, sebaliknya Dia mengancam dengan Neraka bagi siapa saja yang melanggar ketentuan hukum-Nya. Dan ini berlaku bagi semua ketentuan hukum Allah SWT, baik terkait ibadat maupun mu'amalat, perdata atau pun pidana. Kebobrokan Hukum Indonesia Masyarakat Indonesia dikejuntukan dengan sejumlah kasus yang menjadi ironi penegakan hukum, antara lain: Kasus Nenek Minah di Banyumas yang memungut tiga butir kakao divonis sebulan lima belas hari. Kasus Basir dan Kholil dari Pasuruan yang dipenjara karena mengambil sebutir semangka. Kasus Manisih dan dua anaknya yang ditahan, dianiaya, diintimidasi dan diperas oknum aparat karena memungut kapuk randu sisa panen senilai dua belas ribu rupiah. Kasus Nenek Rusminah yang ditahan dan disidangkan gara-gara dituduh mencuri tiga piring usang. Sementara itu, Aulia Pohan, Ayin (Artalyta Suryani, red), Anggodo, Gayus, Miranda S Goeltom, Sri Mulyani, serta para aktor Century lainnya, yang telah merugikan negara milyaran hingga trilyunan rupiah, mendapat dispensasi perlakuan hukum dan fasilitas mewah di pejara bak istana, bahkan ada yang seolah kebal hukum, sehingga tidak tersentuh hingga sekarang. Bobrok betul hukum kita ! Diskriminasi hukum macam inilah yang telah menjadi penyebab kehancuran bangsa-bangsa terdahulu, sebagaimana riwayat hadits muttafaqun 'alaih yang bersumber dari Sayyidah 'Aisyah RA bahwa Nabi SAW pernah menegur keras Usamah RA yang meminta dispensasi bagi seorang wanita makhzumiyyah (salah satu anak suku Quraisy) yang terbukti mencuri. Beliau SAW menyatakan : "Hai Usamah, apakah kau ingin memberi petolongan dalam hukum yang sudah ditentukan Allah SWT ?! Sesungguhnya telah binasa umat sebelum kamu dahulu karena jika seorang terpandang dari pada mereka mencuri dibiarkan tidak dihukum, sedangkan jika seorang lemah dari pada mereka mencuri dihukum berat. Demi Allah, andaikata Fathimah putri Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya". Lihatlah sistem hukum yang dibangun Nabi SAW, begitu kokoh berdiri di atas kejujuran, keadilan dan ketegasan. Dan lihatlah bagaimana Nabi SAW memberi contoh karakter yang semestinya dimiliki para penegak hukum, karena sistem hukum yang baik, apabila dijalankan oleh penegak hukum yang bejat, maka hasilnya akan bobrok sebagai akibat dari penyelewengan sistem yang dilakukan oleh si penegak hukum yang bejat tersebut. Pelajaran penting : sistem hukum yang baik dan dijalankan dengan penegak hukum yang baik pula, maka hasilnya pasti baik. Subhaanallaah ! Kebobrokan hukum di Indonesia bersumber dari kebobrokan sistem hukumnya. Jika sistem hukum sudah bobrok, walau dijalankan oleh penegak hukum yang baik, hasilnya tetap bobrok, apalagi jika dijalankan oleh penegak hukum yang bejat, maka hasilnya lebih bobrok lagi. Penjara Dalam Sistem Hukum Indonesia menjadi satu-satunya jenis sanksi hukum yang paling diandalkan, karena sistem hukum Indonesia menganut sistem Hukum Sipil Barat. Padahal,

penjara mestinya jadi pilihan terakhir dalam suatu sistem hukum, karena penjara tidak efektik, tidak solutif dan tidak produktif. Bahkan idealnya, negara itu dibangun tanpa penjara. Lalu hukum mana yang bisa menjadikan penjara sebagai pilihan terakhir dari sistemnya? Dan bagaimana pula cara membangun negara tanpa penjara?. Hukum Positif Jika kita mendengar istilah Hukum Positif disebut, maka yang terlintas di benak banyak orang adalah produk Hukum Sipil. Padahal penggunaan istilah tersebut yang diperuntukkan secara khusus bagi Hukum Sipil harus dikaji ulang dan dikoreksi kembali, karena jika Hukum Sipil disebut Hukum Positif, maka logikanya selain Hukum Sipil adalah Hukum Negatif, termasuk Hukum Islam. Inilah, salah satu perang istilah yang harus dimenangkan oleh umat Islam. Standar apa yang digunakan untuk menentukan kepositifan suatu jenis hukum?. Standar sekularisasinya atau standar kemampuannya dalam menuntaskan persoalan hukum?. Jika standar pertama yang jadi tolok ukur, maka jelas sangat subjektif, sehingga naif dan tidak ilmiah. Sdengan jika standar kedua yang jadi tolok ukur, maka harus dibuktikan dulu, apa benar Hukum Sipil sehebat itu ?. Karenanya, perlu dibuat komparasi hukum untuk mengetahui kemampuan suatu jenis hukum dalam menuntaskan persoalan hukum, sehingga perlu dilakukan studi banding antara Hukum Sipil dengan Hukum Islam, misalnya dalam kasus pembunuhan. Jika si A membunuh si B dengan sengaja, maka dalam Hukum Sipil maupun Hukum Islam si A sebagai pelaku pembunuhan harus diperiksa, disidik dan diadili. Proses hukum tersebut harus dilaksanakan untuk pembuktian hukum secara adil dan jujur, agar tidak terjadi kesalahan dalam menjatuhkan sanksi hukum. Hanya saja, Hukum Sipil dan Hukum Islam memiliki perbedaan besar yang sangat mendasar, baik dalam proses penetapan vonis mau pun dalam jenis sanksi untuk pelaku pembunuhan. Dan perbedaan tersebut sangat menentukan untuk mengetahui mana jenis sanksi hukum yang mampu menyelesaikan masalah hingga tuntas dan mana yang tidak. Hukum Sipil Dalam kasus pembunuhan seperti contoh di atas, jika ditangani dengan Hukum Sipil, yaitu KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) yang berlaku di Indonesia, maka si pelaku dianca hukuman mati, tapi dalam banyak kasus hanya dipenjara dengan berbagai masa hukuman, mulai dari tahunan, belasan tahun hingga puluhan tahun. Itu pun tanpa memperhatikan pandangan atau kondisi keluarga korban, seperti isteri korban yang jadi janda atau anakanaknya yang jadi yatim atau keluarga lainnya yang selama ini jadi tanggungannya. Hukum Sipil tersebut menyisakan banyak persoalan, bahkan melahirkan problem baru di tengah kehidupan masyarakat. Pertama, problem sosial yang dihadapi keluarga korban sepeninggal tulang-punggung keluarganya. Misalnya, jika si isteri korban yang jadi janda dan anak-anaknya yang jadi yatim terlantar, atau jika si isteri jatuh sakit karena tak kuat menanggung beban hidup yang teramat berat sehingga anak-anaknya terbengkalai, atau jika si isteri tak kuat iman lalu jual diri dengan melacur untuk bertahan hidup, atau mungkin bunuh diri karena putus asa, bahkan bisa jadi bunuh diri masal bersama anak-anak yatimnya. Semua problem sosial tersebut merupakan akibat dari penerapan sanksi hukum KUHP yang tidak berperikemanusiaan, sehingga menjadi produk Hukum Sipil yang kejam dan biadab. Kedua, problem dendam keluarga korban yang tidak tuntas, sehingga api dendam tersebut akan terus membara dan bisa membakar kapan saja. Misalnya, jika si pembunuh bebas setelah usai menjalani hukuman belasan tahun, lalu menjadi sasaran balas dendam dari keluarga korban, sehingga ia dibunuh lagi. Maka dendam tersebut tidak akan berkesudahan, karena keluarga si pembunuh tidak akan terima anggota keluarganya yang telah menjalani hukuman belasan tahun lalu dibunuh juga, sehingga lahir lagi dendam baru, yang kemudian ke depan akan menjadi dendam kesumat turun temurun antar dua keluarga, dan seterusnya. Problem ini pun merupakan produk Hukum Sipil yang keji, karena telah dengan sengaja melestarikan dendam dan memelihara permusuhan serta menyuburkan kebencian.

Ketiga, problem pemborosan uang negara, karena negara dibebankan untuk membangun penjara bagi para pembunuh, lengkap dengan sarana dan prasarananya seperti ruang sel, air dan listrik, termasuk juga keperluan hidup mereka seperti makanan, minuman dan kesehatan. Belum lagi gaji dan kesejahteraan para petugas Rumah Tahanan dan Lembaga Pemasyarakatan. Problem ini juga merupakan produk Hukum Sipil yang bodoh, karena telah menghamburkan uang negara untuk hal yang sebenarnya tidak perlu. Keempat, problem efek jera. Selama ini, penjara tidak efektik membuat jera pelaku pembunuhan. Kehidupan dalam penjara di Indonesia tidak manusiawi, sehingga LP sering diplesetkan sebagai kependekan dari Lembaga Pembinatangan. Seorang pencuri masuk penjara, setelah keluar malah jadi perampok. Seorang pembunuh masuk penjara, setelah keluar makin bernafsu untuk membunuh lagi. Problem macam ini juga merupakan produk Hukum Sipil yang tidak efektif, karena tidak memiliki efek jera yang memadai. Kelima, problem rasa aman masyarakat, karena pembunuh yang tak jera. Bila si pembunuh bebas, lalu makin petantang-petenteng menebar ancaman untuk membunuh siapa saja yang tak disukainya, tentu akan meresahkan kehidupan masyarakat. Problem ini adalah produk Hukum Sipil yang lemah, karena tidak mampu memberikan jaminan keamanan sebagaimana mestinya. Kesimpulannya, Hukum Sipil tidak menuntaskan masalah, bahkan menyisakan banyak persoalan dan melahirkan problem baru ditengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Hukum Islam Masih dalam kasus pembunuhan seperti contoh di atas, jika ditangani dengan Hukum Islam, setelah terbukti di Mahkamah Syariah bahwa si pembunuh memang bersalah, maka Mahkamah memberikan dua opsi bagi keluarga korban, yaitu : Qishosh atau Diyat. Jika Qishosh yang dipilih, maka nyawa harus dibayar dengan nyawa, sehingga si pembunuh harus divonis hukum mati oleh Mahkamah. Sdengan jika Diyat yang dipilih, maka keluarga korban berhak mendpt denda jiwa berupa seratus ekor unta, atau di Indonesia berupa seratus ekor sapi / kerbau, atau harganya, yang wajib dibayar si pembunuh, baik dibayar sendiri jika mampu, atau dibantu keluarga dekat dan jauh jika tidak mampu. Dengan demikian, jika keluarga korban ingin melampiaskan dendam secara elegan dan terhormat serta benar secara hukum, atau ingin menjaga kehormatan dengan nyawa dibayar nyawa, maka bisa memilih opsi pertama, yaitu Qishosh, sehingga dendam tuntas saat itu juga. Dan jika keluarga korban bersikap lebih arif dan bijak dengan memaafkan si pembunuh, maka si pembunuh terbebas dari sanksi hukuman mati, tapi si pembunuh secara sendiri atau bersama keluarga dekat dan jauhnya, wajib membayar denda berupa seratus ekor sapi / kerbau atau harganya. Itu pun berarti dendam sudah tuntas, karena sudah dimaafkan oleh keluarga korban. Jadi, dalam Hukum Islam terkait pembunuhan, posisi keluarga korban sangat strategis dan menentukan, serta kepentingannya sangat diperhatikan. Dari mekanisme pengambilan keputusan Mahkamah Syariah hingga kedua opsi vonisnya tersebut, maka Hukum Islam tidak menyisakan persoalan dan tidak melahirkan problem baru di tengah kehidupan masyarakat, bahkan menjadi hukum yang efektif dan solutif. Pertama, Hukum Islam memberi kesempatan kepada keluarga korban untuk mendapat Diyat (denda jiwa), yang akan sangat manfaat bagi keluarga korban, khususnya untuk isterinya yang jadi janda dan anak-anaknya yang jadi yatim, atau anggota keluarga ahli waris lainnya, sehingga menghilangkan problem sosial yang dihadapi keluarga korban sepeninggal tulangpunggung keluarganya. Kedua, Hukum Islam memberi kesempatan kepada keluarga korban untuk membalas dendam dengan cara yang elegan dan terhormat, sehingga tidak melahirkan problem dendam baru, apalagi dendam kesumat yang turun temurun. Tentu saja, Islam bukan agama balas dendam, tapi Islam agama yang sangat memahami fitrah manusia yang pendendam, sehingga Islam memberi solusi hukum dan obat mujarab agar penyakit dendam terobati dan tidak

berkelanjutan. Ketiga, menghemat pengeluaran negara, karena tidak perlu membangun penjara untuk para pembunuh, kalau pun ada penjara hanya sekedar Rutan untuk menanti vonis. Opsi sanksi hukum mana pun yang dipilih keluarga korban untuk si pembunuh, Qishosh atau Diyat, maka penjara tidak diperlukan lagi. Keempat, menciptakan efek jera yang meluas, baik bagi si pelaku pembunuhan mau pun bagi yang lainnya. Dengan Qishosh si pembunuh tidak bisa lagi melakukan pembunuhan kedua kalinya, dan bagi yang lain akan berpikir seribu kali untuk membunuh, karena membunuh berarti dibunuh. Kalau pun lolos dari hukum mati karena kebaikan hati keluarga korban, maka masih harus membayar Diyat yang sangat berat. Kelima, menjamin rasa aman masyarakat, karena jika si pembunuh dihukum mati, maka satu ancaman hilang dari kehidupan masyarakat, bahkan menjadi jaminan kehidupan bagi masyarakat luas dari ancaman pembunuhan. Kalau pun si pembunuh lolos dari ancaman Qishosh karena dimaafkan oleh keluarga korban, tapi Diyat yang berat akan membuat dirinya jera, apalagi jika keluarga ikut membayar Diyat, maka seluruh keluarga si pembunuh akan ikut mengontrolnya agar tidak mengulangi perbuatannya di kemudian hari. Orang lain pun dengan keluarganya masing-masing akan saling menjaga dan mengingatkan agar tidak melakukan pembunuhan, karena membunuh berarti dibunuh, atau sekurangnya menguras harta yang tidak sedikit. Itulah rahasianya, dalam surat Al-Baqarah ayat 179, Allah SWT menyatakan bahwa dalam Qishoh ada kehidupan. Dengan Qishosh, seorang pembunuh dihukum mati, sehingga tidak bisa melakukan pembunuhan lagi, berarti kehidupan bagi orang lain. Dengan Qishosh, orang akan takut untuk membunuh, sehingga masyarakat aman dari pembunuhan, berarti kehidupan bagi orang banyak. Dengan Qishosh, menghukum mati satu pembunuh berarti menyelamatkan kehidupan banyak orang. Alhamdulillaah! Selain itu, penerapan Hukum Islam dalam kasus pembunuhan memiliki manfaat agama yang luar biasa, antara lain: Pertama, mendatangkan pengampunan dari Allah SWT kepada si pembunuh, manakala ia menyesal dan ridho dengan Hukum Allah SWT. Kedua, mendatangkan keberkahan dari Allah SWT bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Dimensi Hukum Barat menuduh bahwa Hukum Islam tidak manusiawi, bahkan melanggar HAM. Bagi Barat, hukum penjara adalah hukum yang paling manusiawi dan sesuai dengan HAM. Namun dengan uraian di atas, terungkap jelas bahwa Hukum Sipil yang berasal dari Barat lah yang tidak manusiawi, bahkan justru yang melanggar HAM. Dan fakta membuktikan bahwa hukum penjara tidak efektif, nihil solutif dan kontra produktif. Karenanya, penjara tidak menjadi hukum andalan dalam Hukum Islam, bahkan pilihan hukum terakhir yang terburuk. Hukum Sipil miskin Dimensi Sosial maupun Dimensi Ekonomi, apalagi Dimensi Ukhrowi. Sedeang Hukum Islam kaya dimensi, baik duniawi mau pun ukhrowi. Selain itu, Hukum Islam sangat praktis dan dinamis, sehingga sanksi-sanksi hukumnya menjadi mudah dipahami dan ringan diimplementasikan. Misalnya, pemabuk dicambuk, pencuri dipotong tangan, perampok tanpa membunuh dipotong kaki dan tangan secara silang, perampok dengan membunuh dibunuh dan disalib jasadnya sebelum dikuburkan, penzina yang muhshon dirajam hingga mati, penzina yang tidak muhshon dicambuk seratus kali dan diasingkan setahun, pelaku Qodzaf dicambuk delapan puluh kali, pemberontak diperangi, pembunuhan dan penganiayaan ada dua opsi yaitu Qishosh atau Diyat. Sdengan selain pidana di atas dihukum dengan hukum ta'zir, yaitu sesuai dengan ijtihad hakim atau ketetapan undang2 negara, selama tidak bertentangan dengan Syariat Islam. Hukum Ta'zir ini beragam, mulai dari yang ringan seperti dijemur dan bakti sosial, hingga yang berat seperti kerja paksa dan hukuman mati. Ada segelintir orang bodoh dari kalangan Liberal menyatakan bahwa dengan hukum potong tangan pencuri, maka akan banyak orang yang cacat karena dipotong tangannya. Namun orang-orang cerdas dari gerakan Islam menyatakan: justru dengan potong tangan seorang pencuri, maka orang lain tidak berani mencuri, sehingga tidak ada lagi pencurian dan tidak

perlu ada lagi yang dipotong tangannya. Kesimpulan Dengan uraian di atas, tampak jelas bahwa Hukum Sipil tidak layak disebut sebagai Hukum Positif, karena mengakibatkan banyak hal yang negatif, seperti problem sosial, pewarisan dendam, pemborosan uang negara, tidak ada efek jera, dan tidak menjamin rasa aman masyarakat. Selain itu, Hukum Sipil tidak memiliki manfaat agama seperti pengampunan dan keberkahan, bahkan sebaliknya hanya menambah dosa dan menghilangkan keberkahan, sehingga membuat negara semakin bobrok dan hancur. Sdengan Hukum Islam jelas manfaat agamanya, dan menuntaskan masalah hingga ke akar persoalannya. Hukum Islam sangat solutif, efektif dan produktif. Berbagai hal positif dilahirkan oleh Hukum Islam, sehingga patut disebut sebagai Hukum Positif. Dengan demikian, sesuai standar kemampuan suatu jenis hukum dalam menuntaskan persoalan hukum, maka Hukum Sipil tidak pantas disebut sebagai Hukum Positif, tapi Hukum Islam lah yang paling pantas menyandangnya, sehingga sudah sepatutnya Hukum Islam diformalisasikan sebagai Undang-Undang Negara Republik Indonesia. Akhirnya, yakinlah bahwa dengan Syariat Islam mestinya kita mampu membangun NEGARA TANPA PENJARA. Insya Allah. []

• • •

Add New Search RSS

Comments (2)

|2010-11-28 20:15:06 abu lazuardi

Aslmkm, ana mohon izin mw share article ini buat bahan diskusi sama orang-orang sekuler dan buat mencerahkan orang di lingkungan ana. syukron
o o

1 0

ReplyQuote

|2010-12-01 10:35:35 asif - tak perlu

kedengarannya sich gampang dan seperti manusia bakal selamat. anda boleh berangan seperti itu, tapi terealisasinya jangan berharap. secara tidak langsung anda ingin menjadikan negara ini negara Islam kan. ya seperti anda lihat pakistan atau afghanistanlah contohnya; setiap hari selalu aja perang, gak pernah damai. apakah negara ini juga mau dibuat seperti itu?
o o

0 1

ReplyQuote

Habib Rizieq: Soal Timur Pradopo, LBH Cemburu
Monday, 18 October 2010 14:11 |

Written by Shodiq Ramadhan |

Sejumlah LSM dan tokoh liberal mencak-mencak, gara-gara Presiden SBY menunjuk Komjen Pol Timur Pradopo sebagai calon tunggal Kapolri menggantikan Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri. Mereka kemudian memunculkan berbagai isu untuk memojokkan Kepala Baharkam Mabes Polri itu, termasuk soal dugaan keterlibatannya dalam kasus Trisakti dan Semanggi pada saat reformasi 12 tahun silam. Konon kabarnya, menurut berbagai sumber Suara Islam, kalangan liberal menilai Timur Pradopo dekat dengan Ormas Islam, khususnya Front Pembela Islam (FPI). Sebabnya, Timur pernah datang ke Markas FPI di Kawasan Petamburan Jakarta Pusat saat FPI merayakan miladnya beberapa waktu yang lalu. Selain Timur, Gubernur Fauzi Bowo juga hadir dalam acara tahunan itu. Bagi Ketua Umum FPI Habib Rizieq Syihab, Timur adalah sosok yang supel dan memiliki kedekatan dengan berbagai organisasi. Namun ia membantah dugaan jika organisasinya memiliki kedekatan khusus dengan Timur. "Beliau memang sangat menyukai dialog dengan semua kalangan," ujar Habib Rizieq seusai membezuk Ustad Abu Bakar Baasyir, di Mabes Polri, Jakarta, Senin (18/10/2010). Sementara itu, terkait penolakan yang sempat muncul dari sejumlah kalangan liberal, Habib Rizieq menilai hal itu sebagai kecemburuan semata. "Sorotan itu hanya kecemburuan LBH saja. LBH selama ini pendaringannya dari pemerintah jadi takut kehilangan pendaringan," tukas Rizieq. Timur sendiri tak menampik kabar kedekatannya dengan FPI. Sebagai polisi yang berfungsi sebagai pelindung dan pengayom masyarakat, menurutnya harus dekat dengan

semua kelompok. Tujuannya juga untuk menciptakan dan menjaga keamanan. Menurut jenderal kelahiran Jombang ini, di dalam kelompok FPI juga ada pribadi-pribadi yang merupakan bagian dari masyarakat dan dituakan. "Mereka juga ada tokoh masyarakat yang bisa membantu menjaga keamanan," ucap Timur pada 6 Oktober 2010 lalu. (shodiq ramadhan)

FPI: Tuntaskan Century, Perangi Korupsi, Ganyang Liberal dan Neo PKI
Sunday, 08 August 2010 15:46 |

Written by Shodiq Ramadhan |

Sabtu pagi (7/8/2010) jalan di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat dipenuhi massa berseragam putih-putih. Mereka adalah ribuan anggota Front Pembela Islam (FPI) yang sedang merayakan peringatan Milad Front Pembela Islam (FPI) ke-12 dan HUT Kemerdekaan RI ke-65.
Massa FPI itu datang dari berbagai daerah di Indonesia, seperti: Kalimantan, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogjakarta, Jawa Barat, Aceh, dan Jabodetabek. Peringatan Milad FPI yang juga dihadiri oleh Gubernur DKI Fauzi Bowo dan Kapolda DKI Jaya Irjen Pol Timur Pradopo itu mengambil tema "Tuntaskan Century, Perangi Korupsi, Ganyang Liberal dan Neo PKI". Bukan hanya menggelar peringatan di Petamburan, massa FPI juga melakukan konvoi keliling DKI Jakarta. Salah satu tempat yang dituju adalah Istana Negara Jakarta. Aksi konvoi dilakukan dengan mengendarai kendaraan motor, angkot, bis, dan kendaraan bak terbuka yang dikawal ketat petugas kepolisian. Sesampainya di depan istana, Ketua Umum FPI Habib Rizieq Syihab langsung menyampaikan orasi. Ia meminta pemerintah menuntaskan kasus Century, membubarkan kelompok Liberal dan juga Ahmadiyah. "Kehadiran kita disini untuk tuntaskan kasus Century dan bubarkan Ahmadiyah," seru Habib Rizieq kepada ribuan anggotanya. Orasi Habib Rizieq disambut anggota FPI yang menyemut di depan istana. Mereka mendendangkan salawat dan nyanyian dengan syair meminta pemerintah membubarkan Ahmadiyah dan menuntaskan skandal Bank Century yang mereka nilai telah merugikan negara sebanyak Rp6,7 triliun. Selain itu, Habib Rizieq juga menyinggung tentang upaya sejumlah kelompok liberal untuk membubarkan FPI beberapa waktu lalu. "Kemarin ribut-ribut kita mau dibubarkan, eh malah tahunya Kapolda dan Gubernur datang ke kita. Tambah stroke orang-orang liberal itu melihat kita," ujarnya. Habib Rizieq juga mengaku heran dengan perilaku kelompok liberal. Ketua FPI Rizieq Shihab menilai LBH sebagai LSM yang tidak tahu diri. Menurut dia jauh lebih baik bila LBH dan LSM

yang selama ini kritis terhadap aksi-aksi FPI dibubarkan saja. "Bukan FPI, tapi LBH dan LSM liberal lainnya yang harus dibubarkan," seru Habib Rizieq dalam aksi yang dijaga ketat aparat kepolisian itu. Dia mengaku sangat bingung dengan ulah LBH yang selalu bersuara miring terhadap semua tindakan FPI. Termasuk ketidaksukaan mereka terhadap rencana Polda Metro Jaya dan Pemprov DKI Jakarta menyertakan massa FPI dalam kegiatan pengamanan bulan suci Ramadan tahun ini. "Semuanya dibilang salah. Apa coba maunya? Harusnya mereka tahu diri karena dibiayai pemda. Sedangkan kegiatan kita tidak ada yang biayai," ujarnya disambut gempita massa FPI yang memadati lokasi acara. Selain kelompok liberal, FPI juga mendesak pemerintah unruk membubarkan aliran sesat Ahmadiyah dan juga kelompok Neo PKI. Untuk para pengikut Ahmadiyah, FPI mengaku siap untuk membina jika mereka kembali ke jalan yang benar (ruju' ilal haq). "Kami siap membina mereka kembali kepada yang haq," seru Rizieq disambut pekik takbir massa FPI. (shodiq ramadhan)

• • •

Add New Search RSS

Comments (6)

|2010-08-08 17:48:49 ECHJELIS - FPI besar karena menegakkan yg haq

alhamdulillah fpi masih eksis sampai sekarang, semua itu tidak lepas dari pertolongan Allah. Allah akan menolong siapa saja yg mau menolong agama Allah dan menegakkan yg haq dgn keimanan tertingginya. Selama di jalan Allah ana doakan Allah memberi kemuliaan kpd FPI, pengurus dan anggotanya dan manfaat nyatanya bisa dirasakan langsng oleh masyarakat muslim kelas bawah. Amiin ya Robbal Alaamiiin
o o

0 0

ReplyQuote

|2010-08-08 19:42:40 anti thogut - Komprador

LSM dan LBH adalah para KOMPRADOR yg makan uang negara dan asing dengan dalih menegakan HAM dan HUKUM padahal mereka adalah organisasi2 yg memposisikan diri sebagai musuh2 Islam.
o o

0 0

ReplyQuote

|2010-08-09 00:39:03 andri - hidup FPI

LSM,LBH KOMNAS ham. mereka itu budaknya negara barat dan dibiayai barat agar negri ini rusak.dgn dalih ham. knapa ga teriak ham sm amerika laknatullah yg masih bunuhin muslim di timur tengah.mereka dikendalikan barat agar menyudutkan ormas islam krn negara barat mengetahui apabila ulama dan ormas islamnya kuat. akan sgt sulit negri ini dijajah. krn pd jaman belanda yg berjihad sampai negri ini merdeka adalah para ulama,santri dan sebagian rakyat. makanya lsm,lbh dan komnas ham tdk pernah dekat dgn ormas islam dan ulama. krn mereka penghianat agama dan bangsa

|2010-08-09 08:10:12 Power muslim

Kita harus selidiki siapa2 yg duduk dalam keanggotaan LBH tersebut,"kalo mereka ngaku Islam,bagaimana cara Pandang dan pemikiran mereka tentang Islam Yang Sebenarnya,DAN juga kita harus TAU dari Lulusan mana mereka....Kalo mereka lulusan AS,EROPA,AUSTRALIA,"maka kita harus WASPADA dan memantau terus keberadaan mereka,,,,Kalo mereka ber-ALIRAN Islam Liberal,maka mereka harus kita LAWAN dan terus kita LAWAN dengan cara Menasehati serta memberi penjelasan tentang ISLAM yg sebenar-benarnya sebagaimana yg di ajarkan oleh RASULULLAH SAW,,,,sampai mereka insaf dan bertaubat,,,,,, kalo mereka KERAS KEPALA maka tidak ada jalan lain kecuali di asingkan dari bumi PERTIWI INDONESIA.....Allahu Akbar
o o

0 0

ReplyQuote

|2010-08-09 10:07:52 ABI - SELAMAT DAN SUCCESS MILAD FPI KE 12

Dengan mengucap Takbir, kami warga negara indonesia mengucapkan

SELAMAT ATAS MILAD FPI KE 12, semoga FPI makin exist
dan jaya, istiqomah dan mendapat karomah, maju terus fpi kami selalu mendukungmu, hadapi musuh2 mu, karena yang haq tidak akan bisa kompromi dengan kebatilan. Allahu Akbar !!!!
o o

1 1

ReplyQuote

|2010-08-12 20:27:45 eko

dengan krisis ekonomi yg mengantam barat, orang2 kafir sudah mulai menyetop pemberian dana kpd para KOMPRADOR-nya (dendeng usus 88, lsm, lbh, jil, dll) liat aja jil, mereka "hidup segan matipun tak mau" mereka kehabisan dana proyak mereka banyak yg mati ditengah jalan, spt; "Al-Qur'an edisi kritis" maklum mereka itu cuma keledai yg mengabdi kpd tuannya(orang2 kafir) ketika tuannya bangkrut, darimana mereka dapet duit untuk mendanai gerakannya? mari kita doakan semoga kebangkrutan ekonomi amerika ikut pula menghancurkan para KOMPRADOR-nya di IndonesiaTANTANGAN UNTUK BUSYRO MUQODDAS
Friday, 26 November 2010 15:48 |

Oleh: Amran Nasution (Staf Ahli Suara Islam)

Written by Shodiq Ramadhan |

Dulu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sempat bergigi. Tapi kini jadi letoi setelah petingginya ditangkap polisi. Busyro Muqoddas, Ketua Komisi Yudisial itu, terpilih sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggantikan Antasari Azhar. Sebuah pemungutan suara di Komisi 3 DPR, sore 25 November lalu, menempatkan Muqoddas sebagai pemenang. Sebagai pernyataan pertama kepada pers, ia membantah akan berkompromi sedikit pun dalam memberantas korupsi. Tapi bila dilihat kepemimpinannya selama ini di Komisi Yudisial, jelas ia bukan seorang galak yang tak kenal kompromi. Malah sejawatnya pengurus Komisi Yudisial tertangkap basah oleh KPK menerima suap dari pengusaha yang ingin menjual lahan ke Komisi Yudisial. Wajar kalau Presiden SBY segera menyampaikan ucapan selamat kepada Muqoddas. Sebelumnya pun, bersama Bambang Widjojanto, calon Ketua KPK yang tersisih, Muqoddas sudah diterima Presiden SBY. Semua ini menandakan SBY amat senang kepada Muqoddas. Kenapa? Setidaknya, dari gaya kepemimpinan, Muqoddas bukanlah Antasari Azhar, Ketua KPK yang berani menangkap dan menahan Aulia Pohan dalam kasus dana Yayasan BI, membuat nama KPK waktu itu berkibar. Padahal Aulia Pohan adalah besan kandung Presiden SBY. Tak aneh kalau Mabes Polri kemudian menangkap Antasari dengan tuduhan pembunuhan berencana. Walau pun ada saksi yang menyatakan bahwa alat bukti peluru dan pistol ada perbedaan, toh majelis hakim memvonis Antasari 18 tahun penjara. Selain itu, dua pimpinan KPK, Chandra Hamzah dan Bibit Samad Ryanto juga ditangkap polisi dituduh menyalahgunakan jabatan, dalam kasus koruptor yang melarikan diri, Anggorowijoyo. Maka dengan Busyro Muqoddas, orang meragukan KPK berani menuntaskan kasus Bank Century, sesuai rekomendasi DPR. Selama ini pun KPK tak berani membuka kasus itu. Keengganan tersebut diduga karena Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto masih terikat ‘’ekornya’’ di Kejaksaan Agung untuk kasus pidana yang dituduhkan kepada mereka. Kalau KPK berani mengusut Bank Century, artinya mereka harus memeriksa bekas Menteri Keuangan Sry Mulyani dan Wakil Presiden Budiono. Bahkan pemeriksaan bisa saja sampai Presiden SBY. Kasus ini sesuai dengan hasil audit BPK telah merugikan negara Rp 6,7 trilyun. Bukan cuma itu masalah KPK. Coba lihat kasus Mafia Pajak Gayus Tambunan. Ada sekitar 60 kasus pengemplang pajak yang terbongkar bersama terungkapnya kasus

Gayus. Ternyata sampai sekarang polisi hanya mengusut kasus paling kecil yaitu PT Surya Alam Tunggal, dengan kerugian negara hanya Rp 570 juta. Semestinya karena polisi tak mau mengusut perkara itu, KPK turun tangan. Ternyata tidak. KPK tampak tak mau membuat kepolisian tersinggung karena khawatir terulangnya kasus Bibit-Chandra. Apalagi Presiden SBY sudah buka suara agar kasus Gayus ditangani polisi saja. Malah untuk perkara yang tak berhubungan dengan pemerintah pun KPK tampaknya ‘’letoi’’, yaitu kasus suap dalam pemilihan Deputi Gubernur Bank Indonesia Miranda Gultom. Betul, KPK telah menetapkan 26 tersangka. Mereka adalah mantan anggota DPR, kecuali Panda Nababan dari Fraksi PDIP. Selain duduk di DPR, Panda menjabat Ketua DPD PDIP Sumatera Utara. Hanya saja perkara ini jadi aneh: ada penerima suap tapi tak jelas siapa pemberi suap. Ini terjadi karena KPK tampaknya menghindar untuk mencari penyuap sesungguhnya yang mengarah kepada seorang konglomerat terkenal. Padahal mestinya mencari sang penyuap dalam kasus ini tak sulit karena ada bukti-bukti pembelian cek perjalanan dari BII yang kemudian dibagi-bagikan kepada para mantan anggota DPR itu. Kenapa pembeli cek perjalanan itu tak dibikin jelas? Kenapa konglomerat itu tak diperiksa? Hanya orang-orang KPK yang tahu jawabnya. LEBIH MAHAL RP 1 TRILYUN Maka sejak dibentuk di zaman pemerintahan Presiden Megawati sampai sekarang, KPK lebih banyak menangani perkara korupsi sepele, seperti kasus Rochmin Dahuri atau Mulyana W.Kusumah. Perkara kakap, jangan diharap. Sekarang yang banyak diurusi KPK adalah korupsi setingkat bupati. Maka jangan heran kalau perkara kakap macet di sana. Itulah agaknya yang terjadi dalam kasus dugaan penyelewengan di PT Telkom yang merugikan negara trilyunan rupiah, yang dikenal sebagai kasus MGTI. MGTI (Mitra Global Telekomunikasi Indonesia) adalah perusahaan mitra PT Telkom untuk Kerja Sama Operasi (KSO) membangun jaringan telekomunikasi di Provinsi Jawa Tengah. Perusahaan itu dimiliki Indosat bekerjasama dengan perusahaan telekomunikasi Australia, Telstra. Mestinya baru di tahun 2010, seluruh proyek yang dibangun dan dikelola MGTI itu diserahkan kepada PT Telkom. Tapi karena krisis ekonomi 1998, ada pertimbangan proyek itu diserahkan lebih cepat . Maka MGTI pada tahun 2003 menawarkan proyek itu ke Telkom seharga 266 juta dollar (sekitar Rp 2,4 trilyun). Tapi PT Telkom hanya menawar 212 juta dollar. Terjadi selisih harga 54 juta dollar (hampir Rp 500 milyar). Negosiasi gagal. MGTI melalui perantara Sandiago Uno, yang dikenal sebagai usahawan muda itu,

kemudian bernegosiasi dengan ALBERTA, anak perusahaan SARATOGA Group milik Edwin Soeryadjaya. Pengusaha dari keluarga bekas pemilik Astra itu memang ‘’kuat’’ di Telkom. Buktinya, Aria West International, perusahaannya adalah pemegang proyek KSO untuk Jawa Barat. Dan Edwin baru saja meraih Ernst and Young Award 2010, sebagai pengusaha berprestasi. Singkat cerita, Januari 2004, dua pihak setuju jual-beli proyek itu seharga 260 juta dollar. Kenapa begitu mahal? Ternyata Alberta membayarnya lewat kredit dari Bank Mandiri dengan agunan proyek Telkom di Jawa Tengah yang dibangun MGTI itu. Kredit model begitu diperoleh Alberta berkat bantuan Bahana Sekuritas. Sampai di sini masalah mulai bermunculan. Soalnya, dalam perjanjian KSO disebutkan MGTI boleh mengalihkan haknya kepada pihak lain, tapi dengan syarat pihak lain itu adalah operator telekomunikasi. Sedangkan Alberta tampaknya selain bukan perusahaan seperti itu, bidang usahanya pun tak jelas. Ini satu masalah. Tapi masalah terbesar ketika pada tahun itu juga PT Telkom membeli proyek itu dari Alberta dengan harga 390 juta dollar, atau lebih mahal 124 juta dollar (sekitar Rp 1,1 trilyun) dari harga yang dulu ditawarkan MGTI kepada PT Telkom. Selain masalah ini ada lagi masalah permainan dalam pembayaran pajak. Tapi entah apa yang terjadi, walau sejak tahun 2007 kasus ini dilaporkan ke KPK oleh Serikat Karyawan Telkom, sampai sekarang kasus ini tak pernah sampai ke pengadilan. Malah, sejumlah pejabat Telkom, MGTI, atau ALBERTA, yang bertanggungjawab dalam kasus ini, belum pernah dipanggil atau diperiksa KPK. Apalagi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) juga sudah mengauditnya dan menemukan masalah itu. Sekarang masanya Busyro Muqoddas membuktikan kepada masyarakat bahwa dia tak berkompromi dalam melawan korupsi. Siapa pemberi suap dalam kasus 26 mantan anggota DPR harus segera dibikin jelas, kasus Bank Century harus diusut, dan bagaimana proyek MGTI bisa disulap jadi lebih mahal Rp 1 trilyun, harus terangbenderang. []

Oleh: Ustadz Abu Jibriel Perjalanan Dakwah dan Jihad adalah perjalanan hidup orang-orang mulia dan terpuji sepanjang sejarah. Itulah perjalanan para Nabi, Rasul Allah dan orang-orang Shalih. Satu perjalanan yang tidak menawarkan arama harum dari minyak kasturi, kilauan intanmutiara dan emas berlian yang bercahaya, sebaliknya dipenuhi onak dan duri, batu dan kerikil, tanah pejal mendaki dan berkelok. Hampir tidak ada yang ingin mengikuti dan menempuhnya kecuali hamba-hamba-Nya yang diberi Rahmat dan Barakah. Teror dan berbagai ancaman ditimpakan kepada para Rasul Allah Swt, para Sahabat-sahabat dan Orang-orang Shalih dari para Ulama’ dan Para Mujahid sesudah para Sahabat, tidak ada

yang terlepas dari kezaliman, siksaan, pembantaian dan pembunuhan. Perhatikanlah firman Allah Swt berikut: 1) Nabi Nuh As telah di ancam rajam. “Mereka berkata: “Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti Hai Nuh, niscaya benarbenar kamu akan Termasuk orang-orang yang dirajam.” (QS As Syua’ara, 26:116) 2) Nabi Luth As diancam untuk diusir. “Mereka menjawab: “Hai Luth, Sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu Termasuk orang-orang yang diusir.” (QS. As Syua’ara, 26:167) 3) Nabi Ibrahim As diancam untuk dibakar. “Mereka berkata: “Bakarlah Dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.” Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.”(QS. Al Anbiya’, 21:68-69) 4) Nabi Yusuf As diancam untuk dipenjara. “Wanita itu berkata: “Itulah Dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan Sesungguhnya aku telah menggoda Dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi Dia menolak. dan Sesungguhnya jika Dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya Dia akan dipenjarakan dan Dia akan Termasuk golongan orang-orang yang hina.” Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku Termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf, 21:32-33) 5) Nabi Musa As diancam penjara dan bunuh. Fir’aun berkata: “Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain Aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan.” (QS. As Syua’ara, 26:29) “Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena Sesungguhnya aku khawatir Dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” Dan Musa berkata: “Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari Setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.” (QS. Al Mukmin, 40:26-27) 6) Para Nabi diancam untuk diusir dan dirajam. “Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka: “Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri Kami atau kamu kembali kepada agama kami”. Maka Tuhan

mewahyukan kepada mereka: “Kami pasti akan membinasakan orang- orang yang zalim itu, dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku.” (QS. Ibrahim, 14:13-14) Mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami bernasib malang karena kamu, Sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya Kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.” (QS Yasin, 36:18) 7) Adapun Nabi Muhammad Saw dihina dan dikatakan sebagai seorang penyair gila. “Dan mereka berkata: “Apakah Sesungguhnya Kami harus meninggalkan sembahansembahan Kami karena seorang penyair gila?.” (QS. As Shaffat 37:36) Dan beliau diancam untuk; ditangkap, dipenjara, diusir dan dibunuh, “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al Anfal, 8:30) Dan pernah juga Rasulullah Saw difitnah dalam keluarganya, isterinya yang sangat dicintainya Ash Shiddiqah binti Ash Shiddiq, Aisyah Ra yang terkenal dengan HADITUL IFIK (Berita Bohong). Dan hal ini merupakan suatu bentuk yang akan terus berulang pada setiap generasi, dimana sasaran utama dari tuduhan itu sebenarnya diarahkan kepada pemimpin dengan tujuan hendak menghancurkan kepercayaan para pendukung beliau terhadap kepemimpinan tersebut. Itulah tradisi yang selalu berulang disepanjang sejarah, bila kekuatan fisik tidak mampu membunuh karakter pimpinan, maka di hadapan musuh tidak ada lagi jalan yang bisa ditempuhnya selain perang psikologis terhadap kepemimpinan tersebut, dengan cara menghancurkannya lewat perang seperti ini. Karena itu, di sini ditampilkan kisah keteladanan ini (HADITUL IFIK) supaya para Da’i dan Mujahid serta para pendukungnya tidak mudah lemah dalam menghadapi segala ujian dan fitnah yang menimpanya, karena musuh selalu menggunakan isu seperti ini, sebagai perang isu yang disebarluaskan oleh musuh dikalangan barisan Islam untuk menghancurkan pimpinan. Yang terpenting diingat dalam peristiwa ini adalah bahwa berita bohong itu sebagaimana yang telah jelas bersumber dari kaum munafik di bawah bendera pimpinan mereka, Abdullah bin ubay bin Salul. Ketika berita bohong itu masih beredar di kalangan orangorang munafik, memang tidak ada bahaya apa pun yang bisa mereka timbulkan. Akan tetapi, ketika berita itu sudah masuk ke dalam lingkungan kaum Muslimin, dengan segera berita itu menyebar bagai api membakar jerami. Barulah saat itu tampak betapa besar bahaya keberadaan kaum munafik di tengah umat Islam. Nash Al Qur’an sendiri, ketika menceritakan peristiwa ini, ternyata lebih banyak

mengarahkan tegurannya terhadap kaum Muslimin daripada kepada kaum munafik. Agaknya Al-Qur’an hendak memberi pendidikan terhadap kaum Mukminin yang benarbenar beriman, tapi masih dapat dipengaruhi oleh berita bohong ini dan masih mau menerima pembicaraan orang yang menyangka-nyangka tanpa bukti. Adapun pelajaran-pelajaran terpenting yang dapat dikemukakan dalam kaitannya dengan berita bohong ini, ialah sebagai berikut. Pertama, menghindari tuduhan yang masih bersifat prasangka adalah kewajiban pokok yang wajib ditunaikan kaum muslimin. Mereka -terutama para pemimpin- juga harus menyadari bahwa prasangka seperti itu menjadi pusat perhatian lawan maupun kawan. Karena itu, sedapat mungkin agar dapat menghindari tempat-tempat dan hal apa pun yang bisa menimbulkan prasangka buruk. Kedua, jangan menerima isu begitu saja, sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala dalam al Qur’anul Karim, “Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah di sisi Allah adalah pendusta.” (QS. An Nur, 24:13) Berita apa pun yang tidak diperkuat dengan bukti, harus ditolak oleh setiap Muslim. Hendaklah pula dia menyadari bahwa menceritakan isu kepada orang lain dan menularkan berita yang tidak diperkuat dengan bukti akan mengubah statusnya menjadi pendusta. Ini adalah ketetapan Al Qur’an terhadap manusia-manusia semacam itu mereka adalah pendusta di sisi Allah, sekalipun orang itu sebenarnya bukanlah yang mengadangada berita tersebut dan sekalipun dia sekedar menukilkan dengan sejujurnya apa yang sebenarnya dia dengar dari seseorang, namun dia di sisi Allah tetap tergolong para pendusta. Ketiga, untuk menimbang secara cermat dalam menilai benar-tidaknya suatu isu, bandingkanlah pribadi orang yang diisukan itu dengan diri anda sendiri. Dengan demikian, pastilah Anda akan tetap memercayai teman Anda itu seperti halnya memercayai diri Anda sendiri. Cara menimbang seperti itu diakui dan dipuji oleh Al Qur’anul Karim, yaitu berkenaan dengan suatu perbincangan antara Abu Ayyub Al Anshari dengan istrinya, Ummu Ayub Ra. Wanita itu berkata, ”Tidaklah kamu mendengar apa yang dikatakan orang mengenai Aisyah?” “Ya, tapi itu bohong,” jawab si suami, “Apakah kamu melakukannya juga, hai ummu Ayyub?” “Tidak, demi Allah,”kata si istri, “Mengapa aku harus meniru orang-orang itu?” “Abu Ayyub menegaskan, “Demi Allah, Aisyah itu lebih baik darimu.” (Ibnu Hisyam, (As Sirah An Nabawiyah, II/303).

Semoga saudaraku, yang masih juga menyebarluaskan isu mengenai temannya atau pemimpinnya, kiranya mau menghitung-hitung barang sedikit, benarkah temannya atau pemimpinnya itu lebih jelek perhatiannya terhadap agama ketimbang dirinya dan benarkah keduanya lebih rapuh kepatuhannya kepada agama dan lebih rendah budinya ketimbang dirinya? Andaikan menimbang diri seperti itu dia lakukan pastilah prasangka buruk itu akan musnah dari pikirannya dan robohlah kabar bohong itu sampai ke akarakarnya. Keempat, jangan sekali-kali membiarkan hawa nafsu ikut campur dan berperan dalam menyelesaikan soal tersebarnya kabar bohong. Di sini, ada dua contoh yang saling berlawanan berkenaan dengan berita bohong tersebut di atas. Yang satu lebih suka memperturutkan hawa nafsu, sedangkan yang lain tidak. Dua contoh itu ditampilkan oleh dua wanita Muslimat bersaudara kandung. Yang pertama ialah Zainab binti Jahsy Ra, salah seorang istri Rasulullah Saw dan yang kedua ialah Hamnah binti Jahsy Ra. Al Muqrizi telah meriwayatkan dari Zainab tentang dialog yang dilakukannya dengan Rasulullah Saw, di mana istri yang baik budi itu mengatakan kepada suaminya, “Terpeliharalah kiranya pendengaranku dan penglihatanku. Aku tidak melihat pada Aisyah kecuali yang baik-baik saja. Demi Allah, aku tak pernah mengajaknya bicara dan aku memang benar-benar mendiamkannya, tetapi aku hanya mengatakan yang benar.” (Al Muqrizi, Imta’ul Asma’ 1/208). Jika seorang ‘madu’ sedemikian hebatnya mampu menahan hawa nafsunya untuk tidak ikut-ikut menyebarkan isu, itu menunjukkan betapa tinggi derajat keluhuran budi yang telah dicapai oleh wanita Muslimat ini. Kemudian menyatakan bahwa Zainab sama sekali tidak terlibat dalam menyebarkan berita bohong ini. Dalam suatu pembicaraan, Aisyah Ra. Bahkan pernah mengatakan, “Tidak seorang pun yang menyaingiku di sisi Rasulullah Saw selain Zainab binti jahsy.” Dengan pernyataan ini, agaknya Aisyah menempatkan Zainab pada posisinya secara tepat dalam persaingannya dengan dirinya sebagai sesama istri Rasulullah Saw. Namun demikian, dia tidak berkeberatan untuk memuji madunya itu berkenaan dengan kasus berita bohong tersebut. Aisyah mengatakan, “Adapun Zainab benar-benar dipelihara Allah, berkat kepatuhannya kepada agamanya. Dia tidak berkata apa-apa.” Lain halnya dengan sikap kedua yang ditunjukkan oleh Hammah, saudara perempuan kandung Zainab. Dia justru ikut menyebarluaskan berita bohong itu dari rumah ke rumah, seolah-olah tak ada halangan apa pun di depan matanya, meski semua itu sebenarnya dia lakukan demi membela posisi Zainab di sisi Rasulullah Saw. Sampai-sampai Aisyahsberkata, menanggapi perbuatan saudara madunya itu, “Adapun saudara perempuan Zainab, Hammah, dia menyebarkan berita bohong itu seluas-luasnya. Dia melawan aku demi saudaranya. Tapi gara-gara itu, dia celaka.”

Bagaimanapun, kita kagum sekali kepada Aisyah Ra. Karena ternyata dia mampu membedakan antara dua sikap yang berbeda dari kedua wanita bersaudara kandung itu dan sama sekali tidak menimpakan kepada Zainab kesalahan yang dilakukan saudaranya itu. Kelima, beban terberat dalam mengahdapi haditsul-ifki adalah sikap yang mesti diambil oleh orang yang diisukan. Adapun manhaj yang harus menjadi pegangan dalam hal ini ialah janganlah membalas berita bohong dengan berita bohong yang lain dan janganlah membalas isu yang dusta dengan isu lain yang serupa. Hendaklah pula orang yang diisukan itu mampu menahan diri. Maksudnya, jangan membiarkan lidahnya berbicara yang melanggar kehormatan orang lain, sekalipun orang lain itu telah menganiaya dirinya, sampai terbukti dirinya benar dan tidak bersalah. Inilah sikap yang sangat penting, yang kita serukan kepada siapa pun yang sedang terkena isu. Sekarang, baiklah kita perhatikan teladan yang baik yang telah dicontohkan oleh tiga contoh yang terlanggar kehormatannya dalam kasus haditsul ifki tersebut di atas. Muhammad Rasulullah Saw, junjungan seluruh umat manusia, yang diwaktu itu beliau juga berstatus sebagai panglima, kepada Negara, dan pemegang kekuasaan. Dengan hanya satu isyarat saja dari beliau, sebenarnya dapat saja melayang nyawa siapa pun yang berani mempecundangi kehormatan beliau. Namun demikian, dalam mengahdapi masalah ini -setelah bermusyawarah dengan para sahabatnya yang terkemuka- beliau hanya berpidato di hadapan kaum muslimin di atas mimbar seraya berpesan, setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, “Hai sekalian manusia, mengapa ada orang-orang yang menyakitiku mengenai keluargaku dan mengatakan yang tidak benar mengenai mereka. Demi Allah, aku lihat keluargaku baik-baik saja. Orang-orang itupun mengatakan pula hal yang serupa terhadap seorang lelaki, yang demi Allah, aku lihat dia pun baik-baik saja dan dia tak pernah masuk ke salah satu rumah di antara rumah-rumah (keluarga)ku kecuali bersamaku.” Begitu pula terjadi suatu krisis hubungan antara dua kelompok, Aus dan Khajraj, berkenaan dengan berita bohong ini, Rasulullah Saw tak lebih hanya menjadi penengah, sekalipun salah satu pihak menyatakan pembelaannya terhadap orang-orang yang terlibat dalam mencaci maki Aisyah s. Sedang yang lain menyerangnya dengan berbagai tuduhan. Walaupun demikian, beliau hanya meredakan emosi masing-masing dan tidak berpihak kepada siapapun karena beliau tidak memiliki bukti-bukti untuk membantah pihak yang menuduh. Walaupun ketika Shafwan Ra. Melampiasakan kekesalannya yang amat sangat dalam membela dirinya, lalu dipukulnya Hasan bin Tsabit atas tuduhannya, Rasulullah Saw tetap tidak mendorongnya atau pun memberinya semangat untuk meneruskan tindakannya itu selagi belum ada bukti, padahal beliau tengah berupaya membersihkan segala tuduhan atas diri orang yang paling ia cintai, Aisyah ra. Pada waktu itu, Hassan maupun Shafwan telah hadir di hadapan Rasulullah Saw. Marilah kita perhatikan pengadilan yang tenang itu terhadap dua orang prajurit yang telah

bertindak melampaui batas. Shafwan Ibnul Mu’athal berkata, “Ya Rasul Allah, dia telah menyakiti hatiku dan mengejekku, lalu aku marah sampai aku memukulnya.” Bersabdalah Rasulullah Saw kepada Hassan, “Bersikap baiklah kamu hai Hassan, Tegakah kamu menjelek-jelekkan kaumku, padahal Allah telah menunjuki mereka kepada Islam?” Beliau lalu menasehatinya pula seraya bersabda, “Berbuat baiklah kamu, hai Hassan, mengenai pukulan yang telah menimpa dirimu.” Hassan pun menerima nasihat beliau, lalu dia serahkan diyat (denda) atas pukulan itu kepada beliau, seraya berkata, “Diyat-nya untukmu wahai Rasul Allah.” Menurut riwayat Ibnu Ishak, “Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Ibrahim bahwa Rasulullah Saw kemudian memberi Hassan sebidang tanah sebagai pengganti dari diyatnya itu dan ditambahnya pula dengan seorang budak wanita mesir bernama Sirin. Wanita itu dikemudian hari melahirkan untuknya seorang anak bernama Abdurrahman bin Hassan.” (Ibnu Hisyam, II/305-306) Demikian pukulan yang di lakukan Shafwan terhadap Hassan telah dibayar dengan sebidang tanah dan seorang budak wanita. Rasulullah-lah yang membayarnya kepada Hassan bin Tsabit, setelah dia menyatakan memberi maaf kepada Shafwan Ibnu Mu’aththal, padahal orang yang diberi itu tadinya telah mengubah sya’ir yang berisi tuduhan terhadap istri beliau sendiri dan dengan sya’irnya itu ia pergi ke mana-mana menyebarluaskan isu itu tanpa henti. Abu Bakar Ra dan istrinya, Ummu Ruman. Mereka berdua telah mendapat cobaan luar biasa yang tak pernah menimpa seorang Muslim lainnya. Walau demikian, yang dikatakan oleh ibu yang penyabar itu, yang telah dipecundangi kehormatannya, dikecam dan dihina, tak lebih dari, “Anakku, tenangkan dirimu. Demi Allah, seorang wanita cantik menjadi istri seorang lelaki yang mencintainya, sedangkan madunya pun banyak, jarang sekali yang luput dari omongan-omongan yang di lontarkan oleh madu-madunya maupun oleh orang lain.” Adapun Abu Bakar Ra tak bisa berbicara apa-apa selain, “Saya tak pernah melihat satupun keluarga di kalangan bangsa Arab yang mengalami cobaan seperti yang dialami keluarga Abu bakar. Demi Allah, omongan-omongan ini tak pernah di ucapkan orang terhadap kami di zaman Jahiliyah, di kala kami tidak menyembah Allah. Tetapi, di masa Islam, justru kami mengalaminya!” Aisyah, yang tak henti-hentinya menangis sehingga dia yakin tangis itu akan menghentikan detak jantungnya. Ketika dia berhadapan dengan Rasulullah Saw dan beliaupun menanyakan kepadanya mengenai berita itu, dan dia hanya mengatakan, “Sesungguhnya aku, demi Allah, telah tahu betul bahwa tuan-tuan telah mendengar berita ini, lalu hati tuan tuan-tuan termakan olehnya lalu mempercayainya. Jadi, kalaupun aku katakan kepada tuan-tuan bahwa aku tidak bersalah, tuan-tuan takkan mempercayaiku.

Kalau pun aku mengakui kepada tuan-tuan tentang sesuatu, yang Allah pasti tahu aku bersih darinya, barulah tuan-tuan akan mempercayaiku. Sesungguhnya aku, demi Allah, tidak mendapatkan suatu teladan untuk diriku selain ayah nabi Yusuf ketika dia berkata, “….maka kesabaran baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah di mohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu sekalian ceritakan. (QS. Yusuf : 18). Sungguh, itulah sikap yang tiada taranya dalam sejarah dari sebuah keluarga paling suci di muka bumi ini. Mereka dipecundangi kehormatan dan kemuliaanya, namun tidak seorang pun dari mereka yang keluar batas dan tidak terlontar sepatah kata pun dari mereka yang meninggung perasaan orang lain, bahkan masing-masing tetap mampu mengendalikan urat sarafnya. Adapun yang keluar batas hanyalah Shafwan Ibnu Mu’aththal Ra. Saking kesalnya, dia pukul Hassan dengan pedangnya dan hampir saja ketelanjurannya mengakibatkan perisyiwa besar seandainya tidak segera dilerai oleh Rasulullah Saw. Demikianlah adab Islam yang luhur terhadap orang-orang yang menyebarluaskan isu yang keliru dan berita bohong. Keenam, sikap terakhir yang dapat kita simpulkan dari peristiwa haditsul-ifki ialah menghukum orang-orang yang terpedaya yang terlibat dalam menyebarkan fitnah. Dengan demikian, berarti tidak cukup dengan pernyataan bahwa si tertuduh tidak bersalah dan tidak cukup dengan sekadar sang pemimpin menolak segala perkataan buruk yang dilontarkan kepada pihak yang terkena fitnah, lalu habis perkara. Harus ada hukuman tegas yang dilaksanakan di tengah masyarakat muslim terhadap siapa pun yang menyebarkan isu, setelah dilakukan pemeriksaan secermat-cermatnya. Akan tetapi, kenyataan yang terjadi sekarang, gerakan Islam malah membiarkan begitu saja si penyebar isu dan berita bohong. Karenanya, masyarakat tak habis-habisnya digoncang oleh berbagai macam fitnah. Sebagai contoh, cukuplah kita sampaikan bahwa hukum Islam terhadap tiga tokoh penyebar berita bohong tersebut, Misthah bin Utsatsah, Hassan bin Tsabit, dan Hammah binti Jahsy, ialah dijatuhkannya hukuman had al-qadzaf kepada mereka, yakni didera delapan puluh kali, sekalipun ada sebagian riwayat yang menyatakan bahwa jenis hukuman ini baru diterapkan sesudah itu. Jadi, tidak dilaksanakan terhadap ketiga orang itu. Hal ini karena mereka melakukan tuduhan sebelum turunnya ayat mengenai hukuman-hukuman had. Peristiwa seperti ini justru terjadi pada periode da’wah ini karena sejarah da’wah sebelumnya memang tak pernah menyaksikan terjadinya peristiwa yang serupa di kalangan masyarakat Islam sendiri. Jadi, dapat kita simpulkan bahwa terjadinya isu biasanya pada saat lemahnya bangunan internal dan pada saat ada kesiapan untuk menerima isu. Sebaliknya, di kala umat sibuk dengan perjuangan dan peperangan menghadapi musuh, jarang sekali isu dapat memengaruhi jiwa mereka.

Dari pelajaran diatas cukuplah bagi kaum Muslimin dan Muslimah yang baru bergabung dalam perjuangan ini menjadikannya sebagai teladan hidup yang paling berharga.Semoga keberkatan untuk kita. Wallahu’alam… Oleh: Ustadz Abu Jibriel Source: http://www.abujibriel.com

Source: http://arrahmah.com/index.php/blog/read/10119/teladan-rasulullah-menyikapifitnah-dan-ujian-dalam-dakwah-dan-jihad#ixzz16yEeBdlg

Taushiyah Ustadz Abu Bakar Ba’asyir: Hikmah Idul Adha dan Perjuangan Islam
Oleh Malika Alexandrina pada Rabu 17 November 2010, 09:17 AM Print Selasa (16/11/10) saat dibesuk di sel bareskrim Mabes Polri Usatadz Abu Bakar Ba'asyir memberikan taushiyahnya kepada umat Islam yang saat ini sedang merayakan hari raya Idul Adha. Dengan ilmiah beliau menjelaskan apa saja hikmah hari raya idul adha dan apa kaitannya dengan perjuangan menegakkan Islam, dan berikut inilah taushiyah beliau mengenai hikmah Idul Adha. Idul qurban, qurban di sini dalam bahasa arab asalnya (‫ )قرب‬qoruba artinya mendekat. َ َُ Jadi sebenarnya pelajaran dari idul qurban yaitu untuk menguji kebenaran iman. Kebenaran iman itu harus dibuktikan dan siap untuk berkorban, dalilnya mana? Yaitu ketika Nabi Ibrahim mulai punya anak, setelah diberi anak satu yaitu Ismail diperintahkan Ibu (Hajar) dan anaknya pergi; ٍ ْ َ ِ ِ ْ َ ٍ َ ِ ِ ّ ّ ُ ْ ِ ُ ْ َ ْ َ ِّ َ َّ ‫ربنا إني أسكنت من ذريتي بواد غير ذي زرع‬ "Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman." (Qs. Ibrahim : 37) Menurut akal anak dan ibunya ini akan mati, tidak ada tumbuh-tumbuhan tidak ada air yang sekarang jadi masjidil haram - nah itu ujian iman. Kalau menurut akal tidak akan mau melaksanakan perintah itu. Tapi kerena Nabi Ibrahim imannya itu di atas segalagalanya maka di letakkan betul anak dan istrinya di sana. Memang ada kesulitan, sampai Hajar berlari-lari dari shafa ke marwa terus mucul sumur zam-zam semua kan ujian itu. Jadi iman itu harus dibuktikan dengan ta'at meski perintah itu sepertinya berbahaya. Ini ujian yang pertama.

Dalam surat As-Shafat ayat 102; َ ْ ّ ُ َ َ َ ََ ّ ََ ‫فلما بلغ معه السعي‬ "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim..." Nabi Ibrahim yang mempunyai anak begitu baik sangat sayang, tetapi setelah dia dewasa, membantunya kerja dan akhlaqnya baik baik tiba-tiba ada lagi wahyu lewat mimpi, ayatnya; ‫قا َ يا بني إني أرى في المنام أني أذبحك فانظر ماذا ترى‬ َ َ َ َ ْ ُ ْ َ َ ُ َ ْ َ َّ ِ َ َ ْ ِ َ َ ِّ ّ َ ُ َ ‫َ ل‬ artinya; "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Nabi Ibrahim mendapat wahyu lewat mimpi untuk menyembelih Ismail. Bayangkan! orang yang sudah tua, baru punya anak satu yang begitu menyenangkan hati diperintahkan untuk menyembelih, disampaikanlah: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!". Dan ismail itu imannya sama dengan ayahnya, tidak banyak cakap; Ia menjawab: َ ِ ِ ّ َ ِ ّ َ َ ْ ِ ُِ ِ ََ ُ َ ْ ُ َ ْ َ ْ ِ ََ َ ‫َ ل‬ ‫قا َ يا أبت افعل ما تؤمر ستجدني إن شاء ال من الصابرين‬ ُ artinya; "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Nah ini ujian yang kedua. Ujian itu yang kalau dipikir pakai akal bias stress. Allah Cuma mau nguji mau taat atau tidak, itu saja! Itulah hikmah idul adha, menguji ketaatan, iman itu prinsipnya pada ketaatan. Kemudian dilaksanakan betul (oleh Nabi Ibrahim); ِ ِ َ ْ ِ ُ َّ َ َ َْ َ ّ ََ ‫فلما أسلما وتله للجبين‬ "Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya)." (Qs. As-Shafat : 103) Setelah dicelentangkan mau disembelih diganti oleh Allah dengan kambing, terus ayat selanjutnya itu kan Allah menguji, ُ ُِ ْ ُ َ َْ َ ُ َ َ َ ّ ِ ‫إن هذا لهو البلء المبين‬ "Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata." (Qs. As-Shafat : 106) Itulah iman. Dalam surat Al-Ankabut ayat 2-3 Allah berfirman:

ّ َ َْ َ ََ ُ َ َ َ ِ ّ ّ ّ َ َْ َ ََ ْ ِ ِْ َ ْ ِ َ ِ ّ ّ َ َ ْ َ ََ ‫أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم ل يفتنون ) ( ولقد فتنا الذين من قبلهم فليعلمن ال الذين صدقوا وليعلمن‬ ُ َ َُ ْ ُ َ ْ ُ َ َّ َ ُ ُ َ ْ َ ُ َ ْ ُ ْ َ ُ ّ َ ِ َ َ َ ِِ َ ْ ‫الكاذبين‬ "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." Kalau dengan mulut semua orang bisa, tetapi ketika ada perintah Allah mau taat atau tidak? Itu persoalannya. Jadi idul adha itu titik beratnya pejaran iman untuk mengajarkan iman yang benar itu harus dibuktikan dengan taat, sami'na wa atha'na tidak boleh dibahas, dicocok-cocokan, hanya kita diberi kelonggaran menurut kemampuan. Sebab orang beriman itu modalnya percaya hanya kepada Allah dan RasulNya itu mutlak, pokoknya dari Allah dan Rasul itu benar titik! Apakah akal bisa memahami maslahatnya atau tidak, pokoknya dari Allah dan Rasul itu paling benar, paling ilmiah, paling modern titik! Sikap yang seperti ini namanya mukmin, sikap yang seperti ini yang dinamakan oleh orangorang kafir itu ekstrimis, fundamentalis. Tapi memang begitu, iman itu harus begitu. Maka dalam ayat yang lain; َ ُ ِْ ُ ْ ُ ُ َ ِ َ َُ َ ْ َ ََ َ ْ ‫ِ ّ َ َ َ َ ْ َ ْ ُ ْ ِ ِ َ ِ َ ُ ُ َِ ّ َ َ ُ ِ ِ ِ َ ْ ُ َ َ ْ َ ُ ْ َ ْ َ ُ ُ َم‬ ‫إنما كان قول المؤمنين إذا دعوا إلى ال ورسوله ليحكم بينهم أن يقولوا س ِعنا وأطعنا وأولئك هم المفلحون‬ ِ "Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan." "Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung" (Qs. AnNur : 51) Kami dengar kami taati. Bukan kami dengar kami koreksi, itu syaitan, takabur itu. Seperti iblis kan begitu tidak mau sujud karena mengoreksi perintahnya Allah; "wong saya dari api dan dia dari tanah ya Allah kok saya yang suruh sujud" (lihat Qs. Al-A'raf : 12, Shad : 76). Itu kan mengoreksi namanya, diusir, dilaknat sampai hari kiamat karena itu takabur. Jadi idul adha itu prinsipnya mengajarkan tentang iman, iman yang benar itu dibuktikan dengan taat mutlak kepada Allah dan RasulNya menurut kemampuan, tidak boleh membantah, tidak boleh dikoreksi, kita harus mempunyai modal (iman); َ ُ ِ ّ ُ ُ َ ِ َ ُ ّ ِ ِ َ ِ ْ ِ ِ ُ ْ ََ ْ ِ ِ َ ْ َ ِ ُ َ َ َ ُ َ ْ َ ْ َ ّ ُ ِ ِ ُ َ َ ّ ِ ُ َ َ َ ِ ّ َ ُ ِ ْ ُ ْ َ ّ ِ ‫إنما المؤمنون الذين آمنوا بال ورسوله ثم لم يرتابوا وجاهدوا بأموالهم وأنفسهم في سبيل ال أولئك هم الصادقون‬ ِ ِ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar." (Qs. Al-Hujarat : 15) Keterkaitannya dengan perjuangan, di dalam ayat itu (Al-Hujarat ayat 15) karakter orang beriman itu ada dua.

Satu, imannya kepada Al-Qur'an dan Sunnah didasari yakin sehingga menimbulkan taat mutlak. Nah karakter semacam ini menimbulkan karakter yang kedua yaitu; ِ ّ ِ ِ َ ِ ْ ِ ِ ُ ْ ََ ْ ِ ِ َ ْ َ ِ ُ َ َ َ ‫وجاهدوا بأموالهم وأنفسهم في سبيل ال‬ "...dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah..." Hidupnya itu hanya untuk berjuang menegakkan Islam dengan harta dan nyawa. Berjuang dengan sistim perang, berjuang dengan sistim dakwah berjuang dengan harta masing-masing menurut kemampuan. Jadi otomatis orang beriman itu hidupnya untuk berjuang menegakkan Islam di luar itu tidak! Nah kalau sudah dua karakter ini ada baru ditutup ayat ini; َ ُ ِ ّ ُ ُ َ َِ ُ ‫أولئك هم الصادقون‬ "...mereka itulah orang-orang yang benar ." itu kaitan idul adha dengan perjuangan. Demikianlah taushiyah ustadz Abu Bakar Ba'asyir mengenai hikmah Idul Adha dan hendaknya setiap muslim merenungkan apa yang beliau nasihatkan agar perayaan idul adha yang diperingati setiap tahun bukan sekedar menjadi ritual rutinitas tanpa makna namun sarat akan hikmah untuk memperkuat keimanan sebagai modal dalam memperjuangkan tegaknya Islam. Semoga Allah membebaskan beliau ...!

Source: http://arrahmah.com/index.php/blog/read/9949/taushiyah-ustadz-abu-bakarbaasyir-hikmah-idul-adha-dan-perjuangan-islam#ixzz16yEr3iUN

Khutbah Idul Adha 1431 H: Menolak Syari’ah Menuai Bencana
Oleh Saif Al Battar pada Senin 15 November 2010, 04:44 PM Print Oleh: Ustadz Irfan S. Awwas (Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin) Bismillahirrahmanirrahim... MENGAWALI khutbah ini, terlebih dahulu marilah kita memuji kebesaran Ilahy, yang telah menunjukkan jalan hidayah, sehingga kita menjadi orang-orang yang beriman. Kita bersyukur kepada Allah Swt yang telah mencukupkan segala kebutuhan makhluk-Nya.

Allah Swt mengetahui, makhluk-Nya membutuhkan sinar mentari agar senantiasa menyinari bumi, dan malam untuk beristirahat, maka Allah tidak menghentikan peredaran matahari, dan tidak mencabut perputaran malam; walau sepanjang malam dan siang hari banyak manusia bergelimang dalam dosa, menolak perintah dan mengabaikan larangan-Nya. Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad Saw, keluarga, para shahabat, tabi'it-tabi'in serta seluruh kaum Muslimin yang setia mengikuti sunnah beliau hingga hari kiamat. Kemudian, sebagai khatib pada kesempatan khutbah Idul Adha 1431 H ini, kami mengingatkan diri pribadi dan segenap jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan taqwa, agar Allah Swt berkenan memberi solusi atas problem yang kita hadapi. Marilah peningkatan taqwa ini kita jadikan sebagai agenda hidup yang utama, agar menjadi manusia ideal menurut Islam, seperti firman-Nya: "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di hadapan Allah adalah orang yang paling bertaqwa. Sesung- guhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Qs. Al-Hujurat, 49:13) Di zaman kita sekarang ini, sedikit orang yang menjadi kan taqwa sebagai pola hidupnya, yaitu menjalani hidup di bawah naungan syari'at Allah. Kebanyakan umat Islam adalah 'Muslim Otodidak' yang mengamalkan Islam menurut pemahaman dan penghayatan pribadinya, sehingga adakalanya benar dan lebih sering keliru mema hami dan mengamalkan perintah taqwallah. Sebagai manifestasi pola hidup taqwa, Islam mengajar- kan supaya manusia menjalani kehidupan berdasarkan petunjuk Allah. Dan mengikuti petunjuk Allah berarti menjalani kehidupan ini sebagai hamba Allah, menyembah-Nya sesuai dengan yang diperintahkanNya, serta melaksa- nakan syari'at Islam agar tercapai missi rahmatan lil alamin. Prinsip utama beragama Islam adalah memiliki aqidah yang lurus tanpa dicampuri kesyirikan, ibadah yang benar, akhlak yang terpuji, dan muamalah (hubungan sosial) yang baik. Adapun pilar-pilar aqidah meliputi iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitabkitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhirat, dan takdir, yang kita kenal dengan rukun iman. Ibadah yang benar adalah ibadah yang didasarkan atas perintah Allah, bukan karena bisikan jin atau berdasarkan wangsit juru kunci merapi. Sedangkan prinsip akhlak dan muamalah yang baik mengikuti tauladan rasulullah Saw. Beriman kepada rukun iman yang enam, menuntut pengakuan terhadap satu-satunya agama yang benar, adalah Islam. Oleh karena itu, dalam segala urusan, orang berimana tidak pantas mengikuti gaya hidup orang kafir, sekuler, liberal, yang tidak mengimani rukun iman itu. Tidak pantas bagi orang beriman mengikuti jalan hidup yang ditunjukkan oleh kaum sesat dan dimurkai Allah seperti Yahudi, Nasrani serta orang-orang musyrik. Lebih tidak pantas lagi, ketika rakyat Indonesia ditimpa musibah tsunami, gempa dan gunung berapi, anggota DPR RI malah ngelencer ke Belanda, belajar hukum kolonial

pada mantan penjajah. Atau belajar etika dan moral, ke negeri Plato Yunani, sekadar menghabiskan anggaran belanja. Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah ‫ال اكبر ال اكبر ول الحمد‬ Di hari Idul Adha yang penuh barakah ini, marilah kita memperbanyak istighfar, membasahi bibir dengan lantunan takbir, tahmid, dan tahlil sebagai manifestasi rasa syukur kita kepada Allah swt. Pada hari Senin kemarin, 9 Dzulhijjah 1431 H, sekitar 3 juta orang dari 1,5 milliar umat Islam seluruh dunia, wukuf di Arafah, menunaikan ibadah haji, rukun Islam yang ke lima. Sungguh menakjubkan, belum pernah ada seruan apapun di muka bumi ini selain dari seruan Allah yang mampu menghimpun manusia sebanyak itu di satu lokasi yang sama, pada waktu yang sama, untuk tujuan yang sama, dan mengenakan pakaian ihram yang sama. Wuquf di padang Arafah merupakan puncak ibadah haji. Seluruh jamaah berkumpul, mengenakan pakaian ihram. Mereka melepaskan segala pakaian kemewahan duniawi, segala kedudukan dan jabatan duniawi, mereka lupakan negeri asal mereka, bahkan harta kekayaan maupun jabatan duniawi tak lagi berarti. Pikiran dan hati hanya terfokus untuk menghadap Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Pengampun. Sementara, kita yang belum berkesempatan menunai- kan ibadah haji tahun ini, hari ini dalam suasana kepriha- tinan mendalam atas musibah merapi, kita berkumpul di tempat ini untuk beribadah kepada Allah, melaksanakan perintah agama: 'Idul Qurban, sambil mengumandangkan takbir, tahmid dan tahlil. Inilah hari besar kemanusiaan dan keimanan, untuk mengenang peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim setelah beliau menerima wahyu Ilahy melalui mimpi, yang memerintahkan untuk menyembelih puteranya, Ismail As. Sekiranya spirit kebersamaan dengan motivasi iman seperti ditunjukkan di padang Arafah itu, ditauladani dan menjadi inspirasi bagi pemerintah Indonesia khususnya dan pemerintah di negeri-negeri Muslim umumnya, tentulah perbedaan hari raya Idul Adha tidak perlu berulangkali terjadi. Mengapa harus ngotot dengan egoisme masing-masing, melestarikan perbedaan dengan dalih rukyah ataupun hisabiyah. Semestinya bangsa Indonesia dapat mempelopori persatuan kaum Muslimin, dengan saling merendahkan sayap sesama Muslim, agar tidak melestarikan perbedaan parsial. Bukankah ka'bah yang menjadi kiblat shalat kaum Muslim sedunia hanya ada di Makkah, sebagaimana padang Arafah tempat wukuf, tiada duanya di muka bumi ini, selain di Makah? Nuansa politisasi ibadah, masih kental dalam perbedaan hari Idul Adha ini. Dimasa rasulullah Saw dan khulafaur rasyidin, penentuan Idul Adha mengikuti penentuan hari wukuf Arafah. Tidak pernah ditentukan dengan cara lain, karena itu menyalahi cara ini

berarti menyalahi cara Rasulullah Saw. Perbuatan demikian adalah bid'ah yang sesat dan menyesatkan. Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah ‫ال اكبر ال اكبر ول الحمد‬ Sambil memuji dan membesarkan asma Allah, marilah kita merenungkan dan mengambil i'tibar dari berbagai musibah yang tak henti-hentinya menghempas kehidupan masyarakat dan bangsa kita. Situasi dan kondisi bangsa Indonesia hari ini, bagai berdiri ditepi jurang pada malam gelap gulita. Berbagai musibah alam dan kejadian memilukan, telah membuat rakyat negeri ini kebingungan menghadapi banyak persoal- an hidup, dan mengkhawatirkan persoalan-persoalan yang akan datang berikutnya. Barangkali benar, bangsa Indonesia tengah menuai akibat perbuatan mungkarat yang dilakukan manusia-manusia tidak bermoral, pejabat yang zalim, ingkar dan tidak tunduk pada aturan Allah dalam menyuburkan bumi dan mengelola negeri ini. Seakan tidak ada tempat tinggal yang aman dan nyaman untuk didiami. Menurut Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 83 persen wilayah Indonesia rawan bencana. Dalam kurun waktu 381 tahun sejak 1629 hingga 2010, tsunami sudah terjadi sebanyak 171 kali di Indonesia. Dan dalam sepuluh tahun terakhir, ada lebih dari enam ribu bencana terjadi di Indonesia. Ibarat kata, rakyat Indonesia terus menerus dikejar-kejar bencana, di dalam negeri hingga mancanegara. Lihatlah nasib TKI dan TKW, berapa banyak di antara mereka yang dianiaya atau diperkosa majikannya; bahkan nasib calon jamaah haji kita pun setiap tahun tak henti dirundung sial. Ada yang ditimpa kelaparan, juga kehilang- an barang bawaan di pemondokan; bahkan banyak yang tidak bisa berangkat ke tanah suci sekalipun sudah melunasi ONH dan memegang visa. Pertanyaannya, mengapa negeri kita kian akrab dengan adzab dan kian jauh dari rahmat Allah? Alangkah bijaksana jika bangsa Indonesia merenungkan firman Allah dalam AlQur'an surat Al-A'raf ayat 97-99, sebagai jawaban atas pertanyaan ini. "Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari tatkala mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka diwaktu pagi ketika mereka sedang bermain-main? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga). Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi." (Qs. Al-A'raf, 7:97-99) Perilaku umat yang kering dari ajaran agama akan menyuburkan kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah. Seperti dikatakan seorang ulama, Hasan Albasri:

"Seorang mukmin mengerjakan amal taat dengan hati dan perasaan yang senantiasa takut pada Allah, sedang orang yang durhaka berbuat maksiat dengan rasa aman."

MENYIKAPI MUSIBAH Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah Bangsa Indonesia patut berkabung, karena negeri kita tidak saja terancam bencana alam. Tapi yang lebih memprihatinkan, negeri kita juga terancam virus korupsi, dekadensi moral, kemiskinan, kerusuhan sosial antar warga, narkoba, aliran sesat, bahkan penculikan dan jual beli anak. Lebih memprihatinkan lagi, semakin sering musibah menimpa, masyarakat luas malah semakin berani dan terbuka berbuat dosa. Segala musibah ini, bukannya mendorong kita untuk taqarrub ilallah, menyadari dosa dan kesalahan, lalu memperbaiki diri dengan meningkatkan amal shalih. Tapi justru semakin ingkar dan memusuhi syari'at Allah. Di kalangan masyarakat, nampaknya belum juga menyadari, bahwa segala derita dan kesengsaraan yang kita alami, berkaitan erat dengan kemaksiatan dan dosa yang merajalela. Allah Swt berfirman: "Apakah belum jelas bagi mereka yang mewarisi suatu negeri sesudah lenyap penduduknya yang lama, bahwa jika Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga tidak dapat mendengar pelajaran lagi?" (Qs. Al-A'raf, 7:100) Ayat ini mempertanyakan cara kita menyikapi bencana yang datang bertubi-tubi silih berganti. Apakah belum cukup untuk menyadarkan kita, berapa banyak umat yang sebelum kita telah ditimpa bencana? Belumkah cukup untuk mengingatkan kita, segala peristiwa bencana mulai Tsunami Aceh Desember 2004, gempa bumi di jogjakarta (2006) hingga bencana dahsyat Gempa tektonik 30 September 2009 di Padang, Sumatera Barat. Bahkan di atas puing-puing jenazah mereka kita berjalan, menjadi kan nya daerah wisata. Kini dan disini, sejak 26 Oktober lalu, kita diliputi awan panas gunung merapi. Sungguh pedih, menyaksikan korban anak-anak, orang tua dan wanita yang terpanggang bara lahar pijar, awan panas dan debu merapi. Perkam- pungan penduduk luluh lantak, sehingga memaksa lebih dari 100.000 orang dievakuasi, dan lebih dari 100 orang meninggal. Sebelumnya 25 Oktober, lebih dari 400 orang meninggal di Kepulauan Mentawai dan lebih dari 15.000 orang kehilangan tempat tinggal akibat tsunami. Puluhan orang masih tidak ditemukan. Begitupun, banjir yang melanda Wasior di Papua Barat menyebabkan sedikitnya 148 orang meninggal.

Subhanallah, apa dosa rakyat Indonesia, sehingga terus menerus digoncang fitnah dan dilanda musibah? Amirul Mukminin, Ali bin Thalib ra berkata: "Tidaklah turun bencana kecuali diundang oleh dosa. Dan tidak akan dicabut suatu bencana kecuali dengan tobat." Dosa yang dilakukan secara individu maupun kolektif di negeri ini sungguh dahsyat. Di zaman orde lama, rakyat Indonesia digiring pada ideologi Nasakom, sehingga kaum anti tuhan PKI hidup subur. Di zaman orde baru, bangsa Indonesia ditaklukkan dengan asas tunggal pancasila, yang kemudian atas tuntutan reformasi dihapuskan oleh Presiden BJ Habibi. Pada saat ini, kezaliman dan korupsi merajalela. Dan di zaman reformasi ini, berkembang aliran sesat dan melakukan deradikalisasi Islam melalui terjemahan Alqur'an terbaru dengan misi liberalisme dan sekularisme. Semua perbuatan ini adalah terkutuk yang mengundang murka Allah. Para pemimpin formal maupun informal, seharus- nya menjadi contoh yang baik, bukan contoh yang buruk bagi rakyatnya. Sebab, para pemimpin menjadi simbol kebangkitan atau kehancuran suatu bangsa. Merekalah yang bertanggung jawab terhadap kerusakan dan penyelewengan-penyelewengan di penjuru negeri yang mengakibatkan lahirnya kemungkaran kolektif secara merata. Di dalam Qur'an disebut model kepemimpinan di duni ini ada dua, yaitu pemimpin yang mengajak kepada Nur dan pemimpin yang mengajak kepada Nar. Pemimpin yang mengajak pada Nur, digambarkan di dalam Al-Qur'an sebagai sosok yang memimpin rakyatnya ke jalan Allah. "Kami jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka menyembah." (Qs. Al-Anbiya, 21:73) Ketika para pemimpin menyimpang dari petunjuk Allah dan meninggalkan syari'at Islam dalam menjalankan roda pemerintahan, mereka pasti membawa rakyatnya mengikuti jalan syetan yang akan menjerumuskan mereka pada malapetaka di dunia dan di akhirat. Karena itu, semestinya bangsa Indonesia tidak mempercayakan nasib dan masa depan negeri ini pada mereka yang akan mencelakakan rakyatnya: "Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru manusia ke neraka dan di hari kiamat mereka tidak akan ditolong. Dan Kami ikutkanlah la'nat kepada mereka di dunia ini, dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orangyang dijauhkan dari rahmat Allah." (Qs. Al-Qashas, 28:41-42) Oleh karena itu, seruan untuk menegakkan Syari'at Islam di lembaga negara, bukan saja untuk membebaskan manusia dari belenggu kemiskinan dan penindasan. Tetapi juga untuk membebaskan umat dari ancaman siksa Allah yang datang mungkin disaat kita sedang tidur, atau disaat kita sibuk bermain-main di pagi hari; atau disaat yang kita tidak sangka, yang tidak dapat dipantau sekalipun menggu- nakan teknologi canggih.

Pada saat negeri kita diguncang bencana seperti sekarang, alangkah baiknya jika para pemimpin negeri ini belajar pada kebijakan khalifah Umar Ibnul Khathab, tatkala rakyat yang dipimpinnya mengalami pacekelik. Beliau yang bergelar Al-Faruq, telah meletakkan dasar-dasar semangat saling membantu dan meringankan beban sesama, tentang bagaimana seharusnya para pemimpin berbuat pada saat rakyatnya mengalami penderitaan? Pada masa kekhalifahan Umar Ibnul Khattab ra, pernah terjadi kemarau panjang, diikuti bencana alam, gempa bumi dan angin badai. Akibatnya, kelaparan merajalela, wabah penyakit melanda masyarakat dan hewan ternak. Demikian sedih menyaksikan kondisi rakyatnya, sehingga beliau bersumpah tidak akan makan daging dan minum susu sebelum bahan makanan tersebut dinikmati oleh semua penduduk. Umar yang Agung berusaha keras menundukkan ambisi pribadinya, mengendalikan kepentingan diri dan keluarganya, demi mengutamakan kepentingan rakyat yang lebih membutuhkan. Sehingga keluarlah ucapannya yang terkenal: "Bagaimana aku dapat memperhatikan keadaan rakyat, jika aku sendiri tidak merasakan apa yang mereka rasakan." Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah ‫ال اكبر ال اكبر ول الحمد‬ Negeri ini sedang menantikan fajar menyingsing, sambil menelusuri jejak yang dapat membimbing ke jalan hidayah. Adakah solusi atau jalan keluar dari segala ancaman musibah ini? Al-Qur'an menjelaskan, manusia akan dapat terbebas dari murka Allah, asalkan mau mematuhi aturan-aturan Allah dalam bentuk ibadah, perilaku sosial, termasuk dalam sistem pemerintahan. Jaminan ini termaktub dalam Qs. Al A'raf ayat 96: "Sekiranya penduduk negeri-negeri di dunia ini beriman dan bertaqwa kepada Allah niscaya Allah akan membukakan pintu-pintu berkah dari langit dan dari bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka akibat perbuatannya." Ayat ini menjelaskan, bahwa kunci pembuka rezki dan pembebas dari bencana adalah iman dan taqwa. Artinya, jika kita ingin menikmati indahnya Islam dan merasakan berbahagianya menjadi Muslim, kerjakanlah perintah dan jauhi larangan Allah, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram. Allah akan memberi berkah kepada rakyat yang beriman, taat dan menjauhi syirik. Sebaliknya akan mengazab rakyat yang berbuat syirik, maksiat dan mengingkari syari'at Allah.

MUNAJAT

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah ‫ال اكبر ال اكبر ول الحمد‬ Mengakhiri khutbah ini, marilah kita berdo'a, dengan meluruskan niat, membersihkan hati dan menjernihkan fikiran. Semoga Allah memperkenankan do'a hamba-Nya yang ikhlas, memperbaiki kehidupan kita, sehingga negeri ini menjadi baldatun thayyibatun warabbun ghafur, negeri dengan predikat 'gemah ripah loh jinawi' dan mendapat ampunan Allah Swt. ِ ِ ُ ّ َ ُ َ ِ ْ ِ َ ْ َ ِ َ َ َ ّ َ ِ ِ َ ُ َّ ُ َ َ ِ َ َ ْ ِ َ َ ِ َ ِ ْ َ َ ْ َ َ َ َ ْ َ ِ ِ ُ ْ ُ َ َ َ ِ َ ْ َ ْ ِ َ َ ْ ِ ْ ّ ُ ّ َ ‫اللهم اقسم لنا من خشيتك ما تحول به بيننا وبين معصيتك ، ومن طاعتك ما تبلغنا به جنتك ، ومن اليقين ما تهون به‬ ‫علينا مصائب الدنيا ، اللهم متعنا بأسماعنا ، وأبصارنا ، وقواتنا ، ماأحييتنا ، واجعله الوارث منا ، واجعل ثأرنا على‬ ََ َ َ ْ َ ْ َ ْ َ ّ ِ َ ِ َ ْ ُ ْ َ ْ َ َ َ ْ َ ْ َ َ َ ِ ّ ُ َ َ ِ َ ْ ََ َ ِ َ ْ َ ِ َ ْ ِ َ ّ ُ ّ َ َ ْ ّ َ ِ َ َ َ ْ ََ َ َ َ ِ ْ ِ َ َْ َ َ َ ّ َ َ َ ْ َ َ ْ ّ ِ َ ْ َ َ َ َ ِ ْ ِ ْ ِ َ َ َ ْ ِ ُ َ ْ َ َ َ َ َ َ ْ َ ََ َ ْ ُ ْ َ َ َ ََ َ ‫منْ ظلمنا ، وانصرنا على من عادانا ، ول تجعل مصيبتنا في ديننا ، ول تجعل الدنيا أكبر همنا ، ومبلغ علمنا ، ول‬ ‫تسلط علينا من ل يرحمنا اللهم ألف بين قلوبنا ، وأصلح ذات بيننا ، واهدنا سبل السلم ، ونجنا من الظلمات إلى‬ َِ ِ َ ُّ َ ِ َ ّ َ َ ِ َ ّ َ ُ ُ َ ِ ْ َ َ ِ ْ َ َ َ ْ ِْ ََ َ ِ ْ ُُ َ ْ َ ْ َّ ّ ُ ّ َ َ ُ َ ْ َ َ ْ َ َ ْ ََ ْ َّ ُ ُ ْ ِ ّ ُ ّ ّ َ ْ َ َ ّ ِ َ ْ ََ ْ َُ َ ِ ّ ّ ُ َ َ ِ َ ْ ََ َ ِ ْ ُُ َ َ ِ َ ْ ََ َ ِ َ ْ َ ْ ِ َ َ ْ ِ َ َ ِ ْ ّ ‫. النور ، وبارك لنا في أسماعنا ، وأبصارنا ، وقلوبنا ، وأزواجنا ، وذرياتنا ، وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم‬ ‫وصلى ال على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ، والحمد ل رب العالمين ، اللهم اغفر لنا ولوالدينا وارحمهم كما‬ َ َ ْ ُ ْ َ ْ َ َ ْ ِ ِ َ َِ َ َ ْ ِ ْ ّ ُ ّ َ َ ْ ِ َ َ ْ ّ َ ِ ُ ْ َ ْ َ َ ْ ِ َ ْ َ ِ ِ ْ َ َ ِ ِ ََ َ ٍ ّ َ َ ََ ُ َّ َ ‫ربونا )ربيانا( صغارا ، ولجميع المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الحياء منهم والموات ، اللهم ربنا آتنا‬ َ ِ َ ّ َ ّ ُ ّ َ ِ َ ْ َ ْ َ ْ ُ ْ ِ ِ َ ْ َ ْ ِ َ ِ ْ ُ ْ َ َ ْ ِ ِ ْ ُ ْ َ ِ َ ِْ ُ ْ َ َ ْ ِ ِْ ُ ْ ِ ِ َ َِ ً َ ِ َ َ َ َ َ ْ َّ ‫ِ ّ ْ َ َ َ َ َ َ ِ ْ ِ َ ِ َ َ َ َ َ ِ َ َ َ َ ّ ِ َ َّ ُ ََ ُ َ ّ ٍ َ ََ ِ ِ َ َ ْ ِ ِ َ ْ َ ِ ْ َ ُ ْ َ َ َّك‬ َ ‫في الدنيا حسنة وفي الخرة حسنة وقنا عذاب النار ، وصلى ال على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ، سبحان رب‬ َ ْ ِ َ َ ْ ّ َ ّ ُ ْ َ ْ َ َ ْ َِ ْ ُ ْ ََ ٌ َ َ َ َ ُ ِ َ ّ َ ِ ّ ِ ْ ّ َ ‫رب العزة عما يصفون ، وسلم على المرسلين والحمد ل رب العالمين‬ ِ Ya Allah, ya Rab kami, bagi-bagikanlah kepada kami demi takut kepada-Mu apa yang dapat kiranya menghalang antara kami dan ma'siat kepada-Mu; dan (bagi-bagikan juga kepada kami) demi taat kepada-Mu apa yang sekiranya dapat menyampaikan kami ke sorga-Mu; dan (bagi-bagikan juga kepada kami) demi taat kepada-Mu dan demi suatu keyakinan yang kiranya meringankan beban musibah dunia kami. Ya Allah, ya Rab kami, senangkanlah pendengaran-pendengaran kami, penglihatan -penglihatan kami dan kekuatan kami pada apa yang Engkau telah menghidupkan kami, dan jadikanlah ia sebagai warisan dari kami, dan jadikanlah pembelaan kami (memukul) orang-orang yang menzhalimi kami serta bantulah kami dari menghadapi orang-orang yang memusuhi kami; dan jangan kiranya Engkau jadikan musibah kami mengenai agama kami, jangan pula Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita kami yang paling besar, tidak juga sebagai tujuan akhir dari ilmu pengetahuan kami; dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menaruh sayang kepada kami (HR. Tirmidzi dan ia berkata hadist ini hasan.) Ya Allah, persatukanlah hati-hati kami dan perbaikilah keadaan kami dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan serta entaskanlah kami dari kegelapan menuju cahaya yang terang. Dan jauhkanlah kami dari kejahatan yang tampak maupun tersembunyi dan berkatilah pendengaran-pendengaran kami, penglihatan-penglihatan kami, hati-hati kami dan isteri-isteri serta anak keturunan kami, dan ampunilah kami sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Shalawat atas Nabi Muhammad SAW dan ahli keluarga serta sahabat-sahabat beliau semuanya. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

(Disampaikan di hadapan Jamaah Shalat 'Idul Adha 10 Dzulhijjah 1431 H/ 16 November 2010 M, di Halaman Balai Kota, Jogjakarta)

Source: http://arrahmah.com/index.php/blog/read/9922/khutbah-idul-adha-1431-hmenolak-syariah-menuai-bencana#ixzz16yFLsZO3

Akar Terorisme dan Konspirasi Kristen di Indonesia
Masalah terorisme selalu menjadi perhatian publik di Indonesia. Beragam pendapat diutarakan, beragam solusi diusulkan, namun sangat jarang yang melihat akar persoalannya. Presiden SBY, diamini para pembantunya, berusaha meyakinkan bahwa akar terorisme adalah kemiskinan dan kebodohan. Sebuah analisis yang kurang cerdas mengingat beberapa orang yang dituduh teroris justru bukan orang bodoh dan miskin. Dr. Azahari misalnya, seorang doktor dan dosen universitas ternama. Jelas dia tidak bodoh, tidak juga miskin atau pengangguran tanpa kerjaan. Di level dunia, tertuduh gembong teroris adalah Usamah bin Ladin, seorang lulusan univertas dan pengusaha konstruksi terkemuka di Timur Tengah. Wakil Usamah adalah dr. Ayman Azh Zhawahiri, seorang dokter spesialis bedah. Bodoh sekali orang yang menganggap Ayman miskin dan bodoh. Dari beberapa contoh tadi, jelas analisis tersebut kurang valid, kalau tidak bisa dibilang ngawur. Mungkin juga yang ngawur bukan SBY, melainkan para pembantu dan pembisiknya. Di sisi lain, kelompok liberal dan sekuler melihat bahwa penyebabnya adalah ajaran agama Islam. Ayat-ayat dan hadits yang mendorong perilaku radikal dituding jadi kambing hitam. Ini sejalan dengan upaya Amerika untuk menghilangkan poin-poin syariat Islam tentang jihad fi sabilillah yang dianggap sebagai biang ideologi terorisme. Di Timur Tengah, misalnya, mereka mengedarkan Furqanul Haq. Sebuah versi Al-Quran edisi minus ayat-ayat jihad. Padahal, tak hanya Islam, agama lain juga memiliki konsep “jihad.” Lihat saja Kristen, apa yang membuat mereka bisa melancarkan Perang Salib selama beberapa abad kalau bukan konsep mereka tentang Holy War? Maka pandangan kelompok liberal dan sekuler ini tidak fair. Mereka ingin dunia damai dan aman dari terorisme, tetapi kuncinya dengan mengebiri semangat perlawanan umat Islam pada penindasan dan penjajahan. Maklum saja, majikan mereka, bangsa-bangsa penjajah Barat, sangat khawatir menghadapi perlawanan jihad Muslim.

Pada masa lalu, Inggris menciptakan sekte sesat bernama Ahmadiyah di India yang sedang dijajahnya. Pemimpinnya, Mirza Ghulam Ahmad, mengharamkan jihad melawan Inggris. Ia juga membanggakan Inggris sebagai tuan besar yang wajib ditaati. Yang lebih gila, ia mengaku nabi dan mengkafirkan orang Islam yang tak percaya pada kenabiannya. Sangat jelas bahwa Inggris ingin melemahkan semangat jihad Islam agar bisa leluasa menjajah India. Menguasai dan menguras potensi alamnya. Sebuah metode menetralisir musuh agar tak terus melawan. Padahal melawan penindasan, perang dan militer adalah hal yang manusiawi. Manusia pasti ingin survive. Manusia pasti ingin melawan jika ditindas dan diperlakukan tak adil. Apapun agamanya, apapun rasnya. Bahkan semut pun menggigit jika manusia merusak sarangnya. Terorisme yang dituduhkan kepada sekelompok umat Islam yang berjihad sebenarnya adalah upaya perlawanan. Sudah terlalu lama umat Islam dijajah, ditindas dan dikuras kekayaannya. Sudah terlalu banyak darah tertumpah oleh bangsa-bangsa penjajah Barat yang kafir. “Teroris” menyerang sasaran sipil karena Inggris, Amerika dan penjajah lain tak segan membantai Muslim sipil. “Teroris” meledakkan bom karena negeri-negeri Muslim yang dijajah diratakan dengan rudal dan roket. “Teroris” merampok musuhnya karena kekayaan alam negeri mereka dikuras para penjajah dengan bantuan boneka lokal yang setia pada tuannya. Akar persoalan teroris, jika mau jujur, sebenarnya adalah upaya menuntut keadilan. Rangkaian bom Natal dan bom Bali terjadi karena dipicu serangan Kristen pada Muslim di Ambon. Muslim dizhalimi tetapi tak ada pembelaan memadai dari aparat keamanan. Pada titik ini pembalasan menjadi pilihan. Bahkan jika ditarik lebih jauh, munculnya Darul Islam (DI/TII) pada 1949 pun merupakan reaksi Muslim pada ketidakadilan. Awalnya Muslim dan Kristen sudah sepakat dalam perumusan UUD 1945. Panitia Sembilan menyepakati Piagam Jakarta yang menjamin berlakunya syariat Islam bagi Muslim dengan rumusan “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya. Baru sehari merdeka, kesepakatan itu dikhianati, seorang tokoh Kristen dari Indonesia Timur mengancam akan keluar dari NKRI. Melalui seorang perwira Jepang, tokoh itu menekan Soekarno dan Hatta agar menghapus kewajiban menjalankan syariat Islam dari Konstitusi. Inilah benih separatisme pertama dalam sejarah Indonesia, mengancam memisahkan diri dari republik karena dengki pada umat lain yang ingin menjalankan syariatnya. Akibatnya terjadilah kezhaliman hukum. Umat Islam mayoritas tetapi dihalangi menjalankan hukum syariatnya. Mereka dipaksa tunduk pada hukum Kristen dan sekuler warisan Belanda. Apalagi diplomasi Soekarno waktu itu begitu mengalah pada Belanda,

perundingan Rennville membuat Jawa Barat dikosongkan. Wilayah dan penduduknya yang Muslim seolah diserahkan pada Belanda. Inilah yang memicu Darul Islam berdiri. Ketidakadilan persoalan hukum dan ketidakpuasan karena diserahkan pada Belanda. Ini juga akar semua perlawanan Islam di Indonesia. Sebenarnya mereka hanya menuntut satu hal saja, bisa menegakkan syariat Islam untuk dirinya sendiri. Namun keinginan itu selalu dihalang-halangi. Para aktornya pun selalu itu-itu saja. Piagam Jakarta dijegal berkat tekanan seorang tokoh Kristen. Renville ditandatangi PM Amir Syarifudin yang Kristen. Komji hingga Tanjung Priok didalangi oleh Benny Moerdani. Terakhir, konspirasi itu semakin telanjang. Muslim di Kalimantan dibantai oleh Dayak Kristen, berlanjut ke Ambon dan Poso. Kasus di Poso bahkan menunjukkan adanya kerjasama Protestan dan Katholik. Fabianus Tibo cs yang Katholik memimpin serangan awal kepada Muslim. Belakangan mereka merasa diumpankan oleh kelompok Protestan. Kemudian, Muslim bereaksi dan melawan. Mereka berhasil membalas dan menghentikan kezhaliman Kristen. Tetapi mereka yang melawan kemucian diberi cap teroris dan disikat tanpa ampun dengan Densus 88. Unit khusus yang dibiayai Amerika dan Australia. Unit itu jelas sekali diproyeksikan untuk memusuhi Muslim. Mereka dipuji-puji ketika menangkap, menyiksa dan membunuh Muslim. Namun ketika mereka menangkap aktivis RMS, Australia mengancam akan menyelidiki kasus itu sebagai “pelanggaran HAM.” Kini Densus 88 diotaki oleh Gorries Mere. Secara resmi komandannya Tito Karnavian. Namun insiden ributnya Densus di Polonia dengan Provost AU membuktikan hal lain. Gorries memimpin langsung di lapangan meskipun ia sebenarnya bertugas di Badan Narkotika Nasional (BNN). Semua rangkaian di atas membuktikan satu hal: semua kezhaliman yang menimpa umat Islam di Indonesia dan seluruh dunia merupakan buah konspirasi penjajah Barat yang Kristen dengan boneka lokalnya. Sementara semua aksi perlawanan, yang dicap terorisme, adalah reaksi terhadap kezhaliman tersebut. Inilah akar terorisme yang sebenarnya.

Filed under: analisa Khutbah Ied: Memberantas Terorisme, Hentikan Kezaliman dan Tegakkan Keadilan
Oleh Fadly pada Jum'at 18 September 2009, 03:13 PM Print

Khotbah ini disampaikan oleh Irfan S Awwas, Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin, di hadapan Jamaah Shalat ‘Idul Fithri 1 Syawal 1430 H/ 20 September 20099 M, di Lapangan Gedongan, Desa Muruh, Kec. Gantiwarno, Kabupaten Klaten. Allahu Akbar 9 x ُ َ ّ ‫ِ ّ ْ َ ْ َ ِ َ ْ َ ُ ُ َ َ ْ َ ِ ْ ُ ُ َ َ ْ َ ْ ِ ُ ُ َ َ ُ ْ ُ ِ ِ ِ ْ ُ ُ ْ ِ َ ْ ُ ِ َ َ ِ ْ َّ َ ِ َ ْ َ ِ َ َ ْ َ ْ ِ ِ ُ َ َ ُض‬ ‫إن الحمد ل, نحمده ونستعينه ونستغفره, ونعوذ بال من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا, من يهده ال فل م ِل له‬ ْ َّ َ ّ َ ّ ُ ّ َ ُ ُْ ُ َ َ ‫َ َ ْ ُ ِْ ْ ُ َ َ َ ِ َ َ ُ ََ ْ َ ُ َ ْ ََِ َ ِ ّ ُ َ ْ َ ُ َ َ ِ ْ َ َ ُ ََ ْ َ ُ َ ّ ُ َ ّ ً َ ْ ُه‬ ‫ومن يضلله فل هادي له, وأشهد أن لإله إل ال وحده لشريك له وأشهد أن محمدا عبد ُ ورسوله, أللهم صل وسلم‬ .‫على محمد وعلى آله وأصحابه وأمته المطيعين المجاهدين‬ َ ْ ِ ِ َ َ ْ َ ْ ِ ْ ِ ُ ْ ِ ِ ّ َُ ِ ِ َ ْ ََ ِ ِ ََ َ ٍ ّ َ ُ ََ ً ْ َ َ َ ْ َ َ ُ َْ ُ َ َ َ ِ ِ ُ ْ َ َ ْ ُ َ ْ ُ ُ ْ ُ َْ ِ ْ َ َ ْ ُ َ َ ْ َ ْ ُ َ ْ ِْ ُ ً ْ ِ َ ً ْ َ ُْ ُ َ َ ْ ُ ّ ْ ُ َ َ َ ْ ِ ّ َ ّ َ َ ‫ياأيها الذين أمنوا اتقوا ال وقولوا قول سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفرلكم ذنوبكم ومن يطع ال ورسوله فقد فاز فوزا‬ َ ْ ُ ُّ ْ َ َ ْ َ َ ِ ‫عظيما. أما بعده : أوصيكم وإياي بتقوى ال فقد فاز المتقون‬ َ ْ َ ِ َ ّ َِ ْ ُ ْ ِ ْ ُ ُ ُ ْ َ ّ َ ً ْ ِ َ Mengawali khutbah ini, terlebih dahulu marilah kita memupuji kebesaran Ilahy yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga pada hari ini kita dapat melaksanakan perintah agama, shalat Idul Fithri di tempat ini. Kita bersyukur kepada Allah Swt yang telah menciptakan segala sesuatu, dan menurunkan syari’at sebagai petunjuk jalan bagi makhluk ciptaan-Nya dalam mengarugi kehidupan dunia ini. Semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan kesejahteraan kepada Nabi Muhammad Saw, keluarga, para shahabat, tabi’it-tabi’in serta seluruh kaum Muslimin yang setia mengikuti beliau dengan baik hingga hari kiamat. Kemudian, sebagai khatib pada kesempatan khutbah hari raya ini, perkenankan kami mengingatkan diri pribadi dan segenap jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan taqwa kepada Allah Swt. Marilah peningkatan taqwa ini kita jadikan sebagai agenda hidup yang utama, agar menjadi manusia ideal menurut Islam. Yakni, menjadi manusia mulia dan dimuliakan oleh Allah Swt sebagaimana firman-Nya (yang artinya): “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di hadapan Allah adalah orang yang paling bertaqwa.” (Qs. Al-Hujurat, 49:13) Di zaman kita sekarang sedikit orang yang menjadikan taqwa sebagai agenda hidupnya, yaitu menjalani hidup di bawah naungan syari’at Allah. Kebanyakan umat Islam adalah ‘Muslim Otodidak’ yang mengamalkan Islam menurut pemahaman dan penghayatan pribadinya, sehingga adakalanya benar dan lebih sering keliru dalam memahami dan mengamalkan perintah taqwallah (takut pada Allah). Sekalipun kalimat taqwa menjadi bagian dari sumpah jabatan para pejabat Negara, tapi faktanya, pemerintah belum pernah memberi contoh yang benar tentang praktik taqwa pada Allah Swt. Yang kita saksikan justru sebaliknya, berbagai penolakan dan pelanggaran terhadap ajaran Islam yang dilakukan masyarakat dan pejabat Negara. Ketika ada orang Islam mengimplementasikan pola hidp taqwa dengan mengamalkan syari’at Islam dan menuntut pelaksanaannya melalui lembaga Negara, malah dicurigai sebagai fundamentalis. Belum adanya standar hidup taqwa dalam agenda pemerintahan

Negara, menyebabkan penilaian masyarakat menjadi kacau. Orang shalih dianggap salah, mengenakan pakaian taqwa (jibab) bagi Muslimah dipersulit bekerja di perusahaan atau masuk lembaga pendidikan karena dianggap budaya Arab, sementara para koruptor dimanjakan, sebaliknya lembaga pemberantas korupsi dicurigai dan sebagainya. Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah... Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu Pada hari ini kita tengah menapaki hari perdana di bulan Syawal 1430 H dengan menunaikan shalat ‘Idul Fithri sebagai penutup kesempurnaan zikir, mengingat dan menyebut asma Allah Swt. Marilah kita bersungguh-sungguh di dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, dan menjauhi kesalahan dan dosa agar kita beruntung dengan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan pahala yang banyak sesudah mati. Kini bulan suci Ramadhan telah berlalu, dan ia akan menjadi saksi yang menguntungkan atau memberatkan atas amalan-amalan yang telah kita kerjakan. Jika selama bulan Ramadhan yang kita lakukan adalah amal-amal yang shalih, hendaklah kita memuji Allah atas hal itu dan hendaklah bergembira dengan pahala yang baik. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang berbuat kebajikan. Sebaliknya, siapa yang melakukan amal yang buruk, hendaklah ia segera bertaubat kepada Allah dengan taubatan nashuha, karena sesungguhnya Allah menerima taubat orang yang bertaubat kepada-Nya. Sesungguhnya kaum Muslimin sangat merindukan kembalinya kejayaan Islam, agar dapat menciptakan dunia yang penuh kedamaian, kesejahteraan, kasih sayang, keadilan dan persatuan bagi segenap umat manusia. Harapan ini merupakan missi Islam yang diproklamirkan oleh Rasulullah Saw sejak beliau memulai dakwahnya di Makkah yang dikenal dengan misi Rahmatan lil Alamin. Sebenarnya banyak sekali umat Islam dewasa ini yang siap menerima apapun yang sesuai dengan ajaran Islam, tetapi semua ini cepat berubah manakala muncul konflik antara Islam dan kekafiran. Kelemahan ini bahkan terdapat di kalangan orang-orang yang menyatakan diri sebagai pembela-pembela Islam. Mereka meneriakkan puji-pujian terhadap Islam, melakukan aktivitas keislaman, membentuk jamaah zikir dengan puluhan ribu pengikutnya. Namun, jika diseru supaya melaksanakan syari’at Islam dalam urusan pribadi, keluarga, Negara, relasi-relasi bisnis, lembaga pendidikan, dan di segala aspek kehidupan, mereka akan menjawab: “Negara kita bukan Negara Islam, lebih baik kita abaikan dulu untuk sementara waktu menunggu momentum yang tepat agar kita tidak dicurigai.” Kapankah kondisi yang aman damai itu akan tiba, sehingga kebenaran dapat disampaikan dengan terus terang? Hingga hari kiamat sekalipun kondisi demikian tidak akan pernah datang, karena orang-orang kafir akan terus membuat makar untuk mendiskreditkan dakwah Islam. Ingatlah nasihat Khalifah Umar bin Khathab bahwa, “Kebenaranlah yang

membuat kamu menjadi kuat, dan bukan kekuatan kamu yang membuat jayanya kebenaran.” Sedangkan Khalifah Utsman berpesan, “Kejayaan umat ini akan terpelihara selama Al Qur’an berdampingan dengan kekuatan. Bilamana kekuatan tanpa Qur’an akan menjadi anarkhis dan bilamana Qur’an tanpa kekuatan tidak bermakna bagi kehidupan.” Kesan yang kini sangat dominan di kalangan kaum Muslimin, bahwa menegakkan kehidupan berbasis Islam seakan ancaman terhadap keselamatan dirinya. Ada juga di kalangan umat Islam yang salah faham terhadap ajaran Allah Rabbul Alamin. Bila Allah Swt memerintahkan suatu perbuatan tertentu, mereka menganggap akan merugikan dan menyusahkan hidupnya, sedang bila dilarang mengerjakan tindakan tertentu, justru melanggar larangan dianggap menguntungkan dirinya. Hal ini tercermin pada keengganan umat Islam untuk berterus terang dengan agamanya dan menerima stigmatisasi musuh-musuh Islam, seolah-olah Islam adalah agama yang telah kehilangan relevansi untuk terus dipertahankan di era globalisasi ini. Dengan stigmatisasi seperti ini menjadi berat bagi tokoh-tokoh Islam, terutama para politisinya, untuk mengibarkan bendera syari’at Islam secara jujur dan terus terang. Kondisi demikian menciptakan hubungan yang tegang, saling mencurigai diantara komunitas Muslim sehingga muncul pengelompokan Islam moderat dan radikal, toleran versus ektrem, inklusif versus eksklusif, dan nasional versus transnasional. Pemetaan seperti ini sengaja dibuat oleh musuh-musuh Islam, sehingga kekuatan Islam dipecah-pecah sesuai program mereka. Sehingga menjadi beban berat bagi umat Islam yang memiliki komitmen tinggi terhadap agamanya. Dampak negatifnya, muncullah perasaan tertindas, tertekan di kalangan Muslim; merasa teraniaya dan hidupnya menjadi sengsara. Mentalitas yang merasa sengsara karena Islam, merasa tertindih beban berat bila mengamalkan Al-Qur’an dikoreksi dan mendapat teguran keras dari Allah Swt: “Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orangyang takut kepada Allah.” (Qs. Thaha, 20:2-3). Al-Qur’anul Karim diturunkan bukan untuk menjadikan manusia hidup dalam tatanan yang membawa kesengsaraan, kemiskinan, penderitaan dan saling menindas. Tetapi untuk memberikan tatanan hidup yang dapat membangun kasih sayang, berbuat kebajikan, perdamaian, persaudaraan, dan saling menghormati martabat manusia satu dengan lainnya. Ibarat kafilah di tengah padang sahara yang sedang kehabisan bekal perjalanan. Tidak cukup untuk meneruskan perjalanan dan tidak pula cukup digunakan buat kembali ke tempat asal. Di saat kebingungan dan rasa panik, datanglah seorang pengembara menawarkan pertolongan, mengajak mereka ke suatu taman nan hijau di tengahnya membentang kolam air yang jernih dan menyegarkan. Di antara anggota kafilah itu ada yang belum puas dan ingin di ajak ke tempat yang lebih nyaman, tapi sebagian lain menyatakan, “kami puas dengan keadaan ini dan kami ingin tinggal menetap disini.”

Begitulah perumpamaan kehadiran Nabi Muhammad Saw dengan Al-Qur’an, pemberi petunjuk bagi kafilah manusia yang kebingungan di tengah sahara tandus, kehilangan kompas kehidupan, terlunta di tengah kegelapan akibat maksiat dan kemungkaran. Mengawasi Juru Dakwah Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah... Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu Pada masa akhir-akhir ini, kondisi yang mencekam dan menakutkan menimpa kaum Muslimin, terutama ketika Islam dikait-kaitkan dengan terorisme. Munculnya gagasan aparat keamanan untuk mengawasi juru dakwah dengan dalih pemberantasan terorisme, mengundang kekhawatiran mendalam. Apalagi, dengan mudahnya mengidentifikasikan seseorang sebagai jaringan teroris, melalui atribut pakaian berjubah, bercadar bagi Muslimah, memanjangkan jenggot dan celana komprang. Sesungguhnya juru dakwah merupakan urat nadi kehidupan sosial, bukan pengacau dan bukan pula penyebar teror. Adakalanya seorang juru dakwah tampil sebagai tabib di tengah-tengah masyarakat, atau menjadi pengamat sosial yang berinisiatif mengubah masyarakat yang bobrok, jorok atau bodoh menjadi masyarakat yang terhormat. Bahkan seorang juru dakwah bisa menjadi pendamping yang produktif bagi si kaya, dan sekaligus menjadi pendamping yang kreatif bagi si miskin. Namun kini, umat Islam di berbagai belahan dunia justru mengalami terror dari musuhmusuh Islam, bahkan diteror di dalam hatinya sendiri. Ketika terdapat tokoh dan orangorang tertentu yang tidak bersahabat dengan Islam, dan merusak citra Islam dengan mengatakan, bahwa salah satu ayat Qur’an dalam surat Al Maidah ayat 44, 45, 47, tentang penguasa kafir, faseq dan zalim, merupakan pemicu terorisme. Inilah teror terhadap umat Islam yang dilakukan oleh orang yang mengaku beragama Islam. Padahal sepanjang sejarahnya, Islam tidak ada kaitannya dengan terorisme. Memang Islam memerintahkan jihad fisabilillah, dan jihad jelas bukan terorisme. Maka, dalam kaitan ini kita perlu menyampaikan himbauan Islam kepada para penguasa agar tidak membiarkan aparat keamanan untuk mencari-cari kesalahan rakyat apalagi mengintimidasi mereka. Rasulullah Saw bersabda: [‫عن أبي أمامة عن النبي قال : إن المير إذا ابتغى الريبة في الناس أفسدهم ]رواه أبوداود‬ ْ ُ َ َ ْ َ ِ ّ ِ َ َْ ّ ْ َ َْ َ ِ َ ْ ِ َ ّ ِ َ َ ّ ِّ ِ َ َ َ َ ُ َِ ْ َ “Dari Abu Umamah, Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya apabila penguasa mencaricari hal yang mencurigakan dari rakyatnya, maka dia akan menghancurkan rakyatnya.” Bila rakyat terus menerus dimata-matai intelijen, dengan dalih pemberantasan terorisme, rakyat jadi kehilangan inisiatif untuk berprestasi. Dari fakta sejarah kita ketahui bahwa

akar terorisme sebenarnya adalah kezaliman dan ketidakadilan penguasa. Inilah yang dengan kasat mata kita saksikan, bahwa kejahatan yang dilakukan oleh Amerika dan sekutunya di Negara-negara Muslim seperti Iraq, Afghanistan, Pakistan, dan negerinegeri lain termasuk Indonesia. Kenyataan ini mengingatkan kita ke zaman Fir’aun, 2500 tahun SM, yang sezaman dengan Nabi Musa As. Ketika itu terjadi kezaliman dan berbagai bentuk ketidak adilan yang dilakukan oleh Fir’aun terhadap bani Israel. Rakyat diintimidasi dan diprovokasi seperti termatub dalam firman Allah Swt : “Dan ingatlah ketika Kami selamatkan kamu dan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu sikasaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Rabmu.” (Qs. Al Baqarah, 2:49). Rezim fir’aun menyembelih anak-anak, menelantarkan kaum wanita dan mematai-matai gerak gerik setiap orang dari bani Israel karena distigmatisasai sebagai ancaman terhadap Negara. Akibat dari sikap paranoid Fir’aun dan rezimnya, maka kaum ibu bani Israel takut melahirkan bayi laki-laki, sebab hal ini berarti menjadi alasan penguasa untuk membunuh bayinya dan sekaligus memenjarakan ibunya. Jika hendak mmemberantas terorisme, maka hentikan kezaliman dan hentikan kerjasama dengan penguasa jahat, baik di barat maupun di timur. Pemerintah hendaknya menjauhkan diri dari kezaliman dalam kebijakannya, terutama sekali berkaitan dengan pengelolaan alam untuk tidak diserahkan pada orang asing. Pemerintah jangan memosisikan diri sebagai elite penguasa yang memandang Indonesia sebagai pasar kapitalis global, sehingga rakyat tetap terpuruk dalam perjuangan mencapai kesejahteraan. Harus ada keberanian menghadapi tekanan asing yang menginginkan kekuatan Islam di Indonesia menjadi lumpuh seperti yang dilakukan kaum salibis di Spanyol lima abad yang lalu. Rasulullah Saw menasihati para penguasa agar berbuat adil dan menjauhi kezaliman, dalam sabdanya: [‫قال رسول ال : اتقوا الظلم فإن الظلم ظلمات يو َ القيامة ]رواه مسلم‬ ِ َ َ ِ ْ ‫ّ ْ َ َ ِ ّ ّ ْ َ ُُ َ ٌ َ ْم‬ ُّ ِ ُ ْ ُ َ َ َ Rasulullah Saw bersabda: “Jauhilah kedzaliman, karena sesungguhnya kedzaliman membuahkan kegelapan pada hari kiamat.” Kezaliman akan semakin merajalela bila rakyat tidak berani mencegahnya. Maka bila ada ulama yang berani mencegah kezaliman penguasa, rakyat harus bersyukur dan membelanya karena dia telah berusaha mencegah malapetaka dan murka Allah. Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah...

Allahu Akbar, Allahu Akbar walillhil Hamdu Kaum Muslimin bangsa Indonesia supaya menyadari posisi dirinya sebagai pemilik sah negeri ini. Karena hanya umat Islam satu-satunya yang paling konsistensi mempertahankan NKRI. Sedang umat lain, justru menuntut keluar dari Indonesia seperti yang dilakukan oleh pengikut Kristen di Papua dan kelompok RMS di Maluku. Para tokoh Islam baik di organisasi politik maupun massa tidak menjadi bagian dari agenda musuh Islkam untuk mengerdilkan peran umat Islam di Indonesia, seperti yang dilakukan oleh JIL, Islam oderat yang mengajak umat Islam untuk menukar aqidahnya dengan pluralisme atau tata dunia baru yang berbaris pada doktrin zionisme dan HAM. Karena sikap-sikap ambivalen hanya akan melahirkan orang Islam yang sekadar puas menjalankan ibadah, tetapi mengabaikan ajaran Islam sebagai jalan kehidupan. Para ulama jangan pernah memosisikan diri sebagai terompet jahat musuh Islam, dengana menolak berlakunya syariat Islam di lembaga Negara. Merekalah yang seharusnya memimpin rakyat agar berani meluruskan apa yang bengkok dari penguasa, berani berkata benar secara terus terang. Rasulullah Saw bersabda: ً ْ َ ْ ُ ‫َ ُ ْ ُ ُ َ َ َ َ ُ ُْ ْ َ َ َ ُ َ ّ ََ ْ ِ ْ َ َ َ َ ُ ْ َ ِ ّ ِ َ ْ َ ُ َ ْض‬ ‫عن معاوية بن أبي سفيان ، عن النبي قال : يكون أمراء يقولون ول يرد عليهم ، يتهافتون في النار يتبع بع ُهم بعضا‬ ّ ِّ ِ َ َْ ُ ْ َِ ْ َ َِ َ ُ ْ َ [‫]رواه الطبراني‬ “Dari Mu’awiyah bin Abu sufyan, dari Nabi Saw bersabda: “Akan muncul para penguasa yang berkata sesuka mereka dan tidak ada yang membantahnya. Mereka akan berjatuhan masuk neraka beriringan satu demi satu.” DO’A Ma’asyiral Muslim Rahimakumullah... Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil Hamdu Mengakhiri khutbah ini, merilah kita berdo’a, dengan meluruskan niat, membersihkan hati dan menjernihkan fikiran. Semoga Allah memperkenankan do’a hamba-Nya yang ikhlas. ‫اللهم اقسم لنا من خشيتك ماتحول به بينتا وبين معصيتك ومن طاعتك ماتبلغنا به جنتك ومن اليقين ما تهون به علينا‬ َ ْ ََ ِ ِ ُ ّ َ ُ َ ِ ْ ِ َ ْ َ ِ َ َ َ ّ َ ِ ِ َ ُ َّ ُ َ َ ِ َ َ ْ ِ َ َ ِ َ ِ ْ َ َ ْ َ َ َ َ ْ َ ِ ِ ُ ْ ُ َ َ َ ِ َ ْ َ ْ ِ َ َ ْ ِ ْ ّ ُ ّ َ ‫مصآئب الدنيا اللهم متعنابأسماعنا وأبصارنا وقوتنا ماأحييتنا واجعله الوارث منا واجعل ثأرنا على من ظلمنا‬ َ َ ََ ْ َ ََ َ َ ْ َ ْ َ ْ َ ّ ِ َ ِ َ ْ ُ ْ َ ْ َ َ َ ْ َ ْ َ َ َ ِ ّ ُ َ َ ِ َ ْ ََ َ ِ َ ْ َ ِ َ ْ ّ َ ّ ُ ّ َ َ ْ ّ َ ِ َ َ َ ْ َ َ ْ ََ ْ َّ ُ َ َ َ ِ ْ ِ َ َْ َ َ َ ّ َ َ َ ْ َ َ ْ ّ ِ َ ْ َ َ َ َ ِ ْ ِ ِ َ َ َ ْ ِ ُ ْ َ ْ َ َ َ َ َ َ ْ َ ََ َ ْ ُ ْ َ ‫وانصرنا على من عادانا ولتجعل مصيبتنا فى ديننا ولتجعل الدنيا أكبر همنا ومبلغ علمنا ولتسلط علينا من ل‬ .‫ير َمنا. اللهم العن الكفرة من أهل الكتاب والمشركين الذين يصدون عن سبيلك ويكذبون رسلك ويقاتلون اوليآءك‬ َ َ َ ِْ َ َ ْ ُِ َ َُ َ َُ ُ َ ْ ُ ّ َ ُ َ َ ِْ ِ َ ْ َ َ ْ ّ ُ َ َ ْ ِ ّ َ ْ ِ ِ ْ ُ ْ َ ِ َ ِ ْ ِ ْ َ ْ ِ َ َ َ َ ْ ِ َ ْ ّ ُ ّ َ َ ُ ‫َ ْح‬ ‫اللهم الف بين قلوبنا واصلح ذات بيننا واهدنا سبل السلم ونجنا من الظلمات إلى النور وبارك لنا فى أسماعنا‬ َ ِ َ ْ َ ِ َ َ ْ ِ َ َ ِ ْ ّ َِ ِ َ ُّ َ ِ َ ّ َ َ ِ َ ّ َ ُ ُ َ ِ ْ َ َ ِ ْ َ َ َ ْ ِْ ََ َ ِ ْ ُُ َ ْ َ ْ َّ ّ ُ ّ َ ِ ِ ْ َ َ ِ ِ ََ َ ٍ ّ َ ُ ََ ُ َّ َ ِ ْ ِ ّ ُ ّ ّ َ ْ َ َ ّ ِ َ ْ ََ ْ َُ َ ِ ّ ّ ُ َ َ ِ َ ْ ََ َ ِ ْ ُُ َ َ ِ َ ْ ََ ‫وابصارنا وقلوبنا وأزواجنا وذرياتنا وتب علينا إنك أنت التوب الرحيم . وصلى ال على محمد وعلى آله وصحبه‬ .‫اجمعين. والحمد ل رب العالمين‬ َ ِْ َ َ ّ َ ِ ُ ْ َ ْ َ َ ِْ َ ْ َ Ya Allah, ya Rab kami, bagi-bagikanlah kepada kami demi takut kepada-Mu apa yang dapat kiranya menghalang antara kami dan ma'siat kepada-Mu; dan (bagi-bagikan juga

kepada kami) demi taat kepada-Mu apa yang sekiranya dapat menyampaikan kami ke sorga-Mu; dan (bagi-bagikan juga kepada kami) demi taat kepada-Mu dan demi suatu keyakinan yang kiranya meringankan beban musibah dunia kami. Ya Allah, ya Rab kami, senangkanlah pendengaran-pendengaran kami, penglihatan – penglihatan kami dan kekuatan kami pada apa yang Engkau telah menghidupkan kami, dan jadikanlah ia sebagai warisan dari kami, dan jadikanlah pembelaan kami (memukul) orang-orang yang menzhalimi kami serta bantulah kami dari menghadapi orang-orang yang memusuhi kami; dan jangan kiranya Engkau jadikan musibah kami mengenai agama kami, jangan pula Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita kami yang paling besar, tidak juga sebagai tujuan akhir dari ilmu pengetahuan kami; dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menaruh sayang kepada kami (HR. Tirmidzi dan ia berkata hadist ini hasan.) Ya Allah, laknatilah orang-orang kafir ahli kitab dan orang-orang musyrik yang menghalang-haalangi jalan-Mu, mendustakan Rasul-rasul-Mu, dan membunuh kekasihkekasih-Mu Ya Allah, persatukanlah hati-hati kami dan perbaikilah keadaan kami dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan serta entaskanlah kami dari kegelapan menuju cahaya yang terang. Dan jauhkanlah kami dari kejahatan yang tampak maupun tersembunyi dan berkatilah pendengaran-pendengaran kami, penglihatan-penglihatan kami, hati-hati kami dan isteri-isteri serta anak keturunan kami, dan ampunilah kami sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Shalawat atas Nabi Muhammad SAW dan ahli keluarga serta sahabat-sahabat beliau semuanya. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

Source: http://arrahmah.com/index.php/blog/read/5689/khutbah-ied-memberantasterorisme-hentikan-kezaliman-dan-tegakkan-keadilan#ixzz16yFmCxZz

Majelis Mujahidin Temukan Seribu Kekeliruan Dan Kesalahan Fatal Terjemahan Harfiyah Versi Depag
Oleh Adhes Satria pada Kamis 02 Desember 2010, 08:08 AM

JAKARTA (Arrahmah.com) - Selasa (30/11) pagi, Amir dan pengurus Majelis Mujahidin (MM) lainnya mendatangi sekretariat Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jalan Proklamasi, Jakarta, untuk bertemu dengan Pimpinan Pusat MUI. Amir Majelis Mujahidin Ustadz Muhammad Thalib meminta MUI membahas temuaan MM ihwal

banyaknya kekeliruan dan kesalahan fatal terjemahan harfiyah versi Departemen Agama RI sejak penerbitan awal hingga sekarang. Amir MM Ustadz Muhammad Thalib, didampingi Ustadz Abu Jibriel, Ustadz Irfan S Awwas, Ustadz Muhammad Shabbarin Syakur, dan pengurus MM lainnya, diterima oleh Ketua MUI KH Ma'ruf Amin dan para pengurus MUI lainnya. Diantaranya, Ichwan Syam, Syukri Ghazali, Natsir Zubaidi, Umar Syihab, Anwar Abbas dan lain-lain. Rupanya Pimpinan Gontor KH. Syukri Ghazali yang juga merupakan salah satu ketua MUI, menyadari hal yang sama terkait kekeliruan terjemahan Al Qur'an versi Depag. MM menilai, maraknya berbagai aliran sesat yang mengatasnamakan agama, baik yang moderat maupun radikal, tidak dinafikan merupakan pengaruh serta dampak negatif dari penerjemahan Al Qur'an berbahasa Indonesia secara harfiyah, yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah dan syar'iyah. Seperti diketahui, Al Qur'an dan terjemahnya versi Depag RI dilakukan secara harfiyah (leterliyk). Padahal, terjemahan Al Qur'an secara harfiyah, menurut Fatwa Ulama Jam'iyah Al-Azhar Mesir, Kerajaan Saudi Arabia, dan Negara-negara Timur Tengah, yang dikeluarkan tahun 1936 dan diperbarui lagi tahun 1960, hukumnya haram. Dinyatakan haram, karena bobot kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan secara syar'iyah maupun ilmiyah, sehingga dapat menyesatkan serta mengambangkan aqidah kaum Muslimin. Dalam audiensi dengan MUI, MM menyampaikan beberapa persoalan yang menjadi domain MUI berkaitan dengan adanya fatwa resmi beberapa negara Timur Tengah tentang penerjemahan Al Qur'an ke bahasa 'Ajam (non Arab) dan kekeliruan terjemahan Al Qur'an versi Depag (Kemenag) RI yang beberapa kali mengalami revisi (edisi terbaru adalah Al Qur'an dan Terjemahannya cetakan 2010). Setelah melakukan penelitian dan kajian seksama terhadap Al Qur'an dan Terjemahnya versi Depag RI, dari masa ke masa mulai penerbitan awal hingga sekarang, MM menemukan banyak kekeliruan dan penyimpangan yang sangat fatal dan berbahaya, baik dari segi makna lafadh secara harfiyah, makna lafadh dalam susunan kalimat, makna majazy atau haqiqi, juga tinjauan tanasubul ayah, asbabun nuzul, balaghah, penjelasan ayat dengan ayat, penjelasan hadits, penjelasan sahabat, sejarah dan tata bahasa Arab (kaidah yang direkomendasikan oleh Abu Hayyan). Termasuk yang dikemukakan oleh Imam Dzahabi, bahwa seorang mutarjim Al Qur'an ke bahasa lain harus memperhatikan perbedaan struktur bahasa Arab dengan bahasa terjemahannya. "MUI sebagai lembaga fatwa harus memiliki sikap tegas menanggapi fatwa seputar terjemah Al Qur'an secara harfiyyah dalam bahasa Indonesia yang sudah lama beredar di Indonesia , bahkan dicetak oleh percetakan Arab Saudi. Diantara yang sudah beredar adalah terjemahan yang dilakukan oleh tim Depag RI yang dilakukan sejak 1968 kemudian direvisi oleh Kemenag RI (2010). Dan ternyata tetap mempertahankan terjemahan Al Qur'an secara harfiyyah," ujar Sekjen Majelis Mujahidin Ustadz Muhammad Shabbarin Syakur menambahkan.

MM mendesak para ulama di Indonesia , khususnya MUI untuk membahas tarjamatul Qur'an secara syar'iyyah dan 'ilmiyyah. Dalam kaitan itu, MM dapat berpartisipasi menyampaikan pokok-pokok pikiran berkenaan dengan tarjamatul Qur'an ke dalam bahasa Indonesia . MM percaya bahwa MUI tidak akan menganggap sepele persoalan ini, dan bersedia melakukan kajian hingga tuntas, kemudian mengumumkan kepada masyarakat Indonesia dan kaum Muslimin khususnya. Tak dipungkiri, persoalan ini memerlukan pembahasan yang mendalam, waktu yang tidak pendek dan tentunya mengundang pihak-pihak yang kapabel guna mendapatkan kebenaran yang meyakinkan dan shahih. Atas laporan MM, Ketua MUI KH M'aruf Amin berjanji akan mempelajari kekeliruan Al Qur'an dan Terjamahnya versi Depag RI . Bahkan MUI akan menjadi mediator untuk menyampaikan persoalan ini ke Kementerian Departemen Agama. (Adhes Satria/arrahmah.com)

Showing 8 comments
Urutan tampil

þÿ

Subscribe by email

Subscribe by RSS

Devil
• • • •

13 jam yang lalu

dari dulu sampai sekarang, depag masih ada aja pekerjaannya yang nggak beres. Flag 2 people liked this. Setuju Banget Jawab Jawab jaka 11 jam yang lalu

• • • •

depag kan Departemen Paling KORUP... mau nyetak alquran aja harus nyogok... padahal isinya kiyai dan ustad... gila...gila... koplak!! Flag Setuju Banget Jawab Jawab Luthfi Dinandank 8 jam yang lalu

• • • •

klo tau begini sementara hentikan produksi dulu lah Flag Setuju Banget Jawab Jawab Alamsyah Sari 8 jam yang lalu

• •

Ini berita gembira dan berguna mari kita bersyukur dan gak usah mencela,. Untuk memperbaiki sesuatu kita perlu memulai dari diri sendiri terutama akhlak kita Flag Setuju Banget Jawab Jawab

Murizal Syah Putra

7 jam yang lalu

• • •

Cepat berbaiki mana yang keliru dan salah, supaya umat tidak bimbang menafsirkan Al-Qur'an. yang keliru dan salah tarik dari peredaran. Kalau sudah selesai umumkan ke publik. Flag Setuju Banget Jawab Jawab Suherlan Imam 4 jam yang lalu

• • •

Sungguh ironis DEPAG yg harusnya paling tahu.Anda membawa amanah Alloh....Jangan main2,Tinggal menunggu kehancuran jika anda mengkianati amanah Alloh. Flag Setuju Banget Jawab Jawab noerjanata 4 jam yang lalu

• • • •

depag keliru, Dia juga menghujat mujahidin dengan teroris, berarti hujatannya pasti keliru besar karena Al Qur'annya keliru Flag Setuju Banget Jawab Jawab Ozkar Jukardi 3 jam yang lalu

Yaa ayyuhalladziina aamanuttaqullaaha wakuunuu ma'ashshaadiqiina. ( 9 ) : 119.

Source: http://arrahmah.com/index.php/news/read/10128/majelis-mujahidin-temukanseribu-kekeliruan-dan-kesalahan-fatalterjemahan-#ixzz16yGDfSlB

Mabes Polri Diminta Manusiawi terhadap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir
Oleh Althaf pada Kamis 02 Desember 2010, 08:03 AM Print 3 Comments advertisement

JAKARTA (Arrahmah.com) - Pemuda Muhammadiyah meminta Mabes Polri memberikan izin kepada Amir Anshorut Tauhud (JAT) Ustadz Abu Bakar Baasyir untuk berobat ke rumah sakit. Pengurus Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah menyambangi Bareskrim Mabes Polri pada Rabu (1/12) siang tadi. Pemuda Muhammadiyah meminta Mabes Polri mengizinkan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir yang sudah sepuh ini bisa keluar tahanan untuk berobat ke rumah sakit. "Mabes Polri tidak memiliki alasan untuk melarang Abu Bakar Baasyir yang sudah sepuh untuk berobat di luar tahanan," cetus Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Saleh P. Daulay.Hari Selasa (30/11) Ustadz Abu Bakar Baasyir akhirnya diizinkan berobat ke rumah sakit di luar lingkungan rutan Bareskrim Polri. Ustadz Baasyir telah mengantongi surat izin dari Mabes Polri yang memperbolehkannya menjalani operasi katarak itu. “Kemarin (Selasa) izinnya telah keluar. Disampaikan oleh pihak penyidik ke ustadz, saya, dan pengacara,” kata asisten pribadi Ustadz Baasyir, Hasyim Abdullah, di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (1/12). Segera Membuktikan Saleh pun mendesak Mabes Polri agar segera membuktikan dan membeberkan bukti keterlibatan Ustadz Baasyir dalam kasus terorisme. Juga membebaskan Ustadz Ba'asyir jika ternyata mereka tak mampu membuktikan keterlibatan Ustadz Ba'asyir dalam kasus terorisme. "Kami melihat kasus beliau belum bisa dibuktikan oleh Mabes Polri. Jika tidak terbukti bersalah, kami inginkan yang bersangkutan segera dibebaskan demi keadilan dan kemanusiaan," imbuh dia. Desakan pembebasan Ba'asyir terus didengungkan mengingat masa penahanan Ustadz Baasyir akan segera berakhir pada 13 Desember mendatang. Saleh meminta masa penahanan tersangka kasus terorisme itu tidak diperpanjang oleh Polri. Menurut Saleh, bila Baasyir tidak tidak diberi kesempatan berobat, maka publik akan menilai institusi penegak hukum di negeri ini pilih kasih. Sebab, lanjut dia, tercatat pemerintah telah memberikan grasi kepada terpidana kasus korupsi mantan Bupati Kutai Kertanegara Syaukani HR. "Apalagi publik sudah mengetahui ada terdakwa kasus yang bisa keluar masuk tahanan seenaknya tanpa alasan, seperti Gayus Tambunan," ungkapnya. Saleh mengingatkan, sangat ironi jika bila seorang tersangka koruptor diperkenankan keluar masuk tahanan dengan leluasa, sedangkan orang tua sepuh seperti Ustadz Baasyir tidak diperkenankan untuk keluar meskipun untuk berobat.

"Kami minta Ustadz Abu Bakar Ba'asyir diperlakukan manusiawi," tandasnya. (hid/arrahmah.com)

Source: http://arrahmah.com/index.php/news/read/10127/mabes-polri-dimintamanusiawi-terhadap-abu-bakar-baasyir#ixzz16yGLVcqM

Keluhkan Sakit Mata, Ustadz Abu Akan Jalani Operasi Mata
Oleh Saif Al Battar pada Rabu 01 Desember 2010, 04:53 PM Print 5 Comments advertisement

Jakarta (Arrahmah.com) - Pimpinan Jamaah Anshorut Tauhid, Ustadz Abu Bakar Ba'asyir mengeluh sakit mata selama mendekam di bui. Ba'asyir bahkan mengaku sudah sulit melihat dengan jelas dalam kondisi saat ini. "Ustadz punya keluhan mata di sebelah kiri, tidak bisa melihat," kata salah satu pengacara Ba'asyir, Luthfie Hakim, di Bareskrim, Jl Trunojoyo, Jaksel, Selasa (30/11/2010). Luthfie mengatakan, sakit mata yang diderita Ba'asyir sudah terasa sejak 6 bulan lalu. Namun karena tidak diobati maka harus segera dioperasi. "Jika tidak kena saraf ototnya. Kita minta izin Densus," ujar dia. Selain itu, menurut Luthfie, kliennya juga mengeluhkan beberapa bagian tubuh yang sakit. "Lutut kakinya juga nyeri karena ruangan yang baru, tidak cukup cahaya. Kita berharap jika keluar dari rumah sakit beliau dapat tempat yang layak. Kalau perlu kita mengharapkan ustadz tidak ditahan," papar Luthfie. Menurut Lutfie, Ba'asyir telah diperiksa oleh dokter internal dan dari pihak Mer-C. Pengajuan izin operasi sedang dilakukan. Amir JAT ini ditangkap di Banjar, Ciamis, Jawa Barat, pada Senin 9 Agustus 2010. Ba'asyir diduga mendanai aktivitas pelatihan militer di Aceh. Ba'asyir dijerat UU Terorisme dan terancam hukuman mati. Berdasarkan data yang dituduhkan Polri, Ba'asyir menggelontorkan langsung duit senilai

Rp 175 juta dan US 5000 kepada Ubaid (Bendahara Pelatihan Militer Aceh) yang kemudian diserahkan kepada Dulmatin. Penyerahan duit tersebut dilakukan secara tunai. (voa-islam/arrahmah.com)

bowopatih

1 hari yang lalu

• • •

Semoga Lekas sembuh ikhwani, namun bagaimanapun manusia tidak bisa melwan sunatullah bahwa manusia itu semakin lama semakin bertambah usia dan tua, walau tetap kesehatan dijaga sekalipun. Dan semoga tetap semangat dalam memprjuangkan Islam hingga akhir hayat. Kami dan saudara-saudaramu dinerinegeri lain senantiasa mendoakan pada Alloh semoga perjuangan dalam menegakkan Islam diBumi Alloh tetap terus terlaksana. Flag Dian Herdianto and 5 more liked this Setuju Banget Jawab Jawab kandahar 1 hari yang lalu

• • •

ustad abu kalau boleh jujur saat ini hanya engaku ustad yg paling gigih memperjuangkan umat islam dan berani menentang pemerintahan kafir di mataku(meskipun aku tahu d luar sana masih banyak ustad seperti engkau)semoga Allah memberikan kesehatan bagimu dan memberikan kehinaan di dunia dan akhirat bagi orang2 yg menjebak dan mencelakimu Flag noerjanata and 5 more liked this Setuju Banget Jawab Jawab Suherlan Imam 18 jam yang lalu

• • • •

Sabar ya...ustad.Ini salah bentuk pengorbanan dari sebuah perjuangan kebenaran.Sakit anda akan di balas dgn sorga. Flag Dian Herdianto and 1 more liked this Setuju Banget Jawab Jawab Ozkar Jukardi 17 jam yang lalu

Ya Allah lindungi dan selamatkan ustad Abu Bakar Ba'asyir, lakhaola wala quwwata illa billahil'aliyyil adzim. Innamal mu'minuunalladzina aamanuu billaahi warasuulihii tsumma lamyartaabuu wajaahaduu biamwaalihim wa anfuusihim fii sabiilillaahi ulaaika humushaadikuuna. ( 49 ) : 15. Flag

• • •

Dian Herdianto liked this Setuju Banget Jawab Jawab Insya Allah sakitmu penggugur dosa dan menambah amal.

MMI: Regulasi Pornografi Berdasarkan Syariat Islam Solusi Free Sex
Oleh Saif Al Battar pada Rabu 01 Desember 2010, 03:55 PM Print 4 Comments advertisement

Jakarta (Arrahmah.com) - Menanggapi santernya pemberitaan Hasil survei Badan Kordinasi dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengenai tingkat keperawanan remaja di Jabodetabek, MMI menilai Pemerintah tidak perlu menyalahkan pihak sekolah atau remaja soal banyaknya remaja yang melakukan hubungan pranikah. "Pemerintah tidak perlu menyalahkan sekolah dan remaja, dan tidak perlu ada pendidikan seks sejak dini," kata Majelis Mujahidin Indonesia, Sobarin Sakur di Gedung MUI, Selasa (30/11/2010). Sebaliknya lanjut Sobarin, pendidikan yang diperlukan adalah pendidikan akhlak karena dalam pendidikan akhlak diatur hubungan pria dan wanita. "Lainnya adalah perlu adanya ketegasan pemerintah dalam regulasi soal pornografi yang jelas dan Indonesia harus memakai Syariat Islam," imbuhnya Keperawanan Tak Terkait Moralitas Hasil survei Badan Kordinasi dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengenai tingkat keperawanan remaja di Jabodetabek memicu polemik berkepanjangan. Sekretaris Solidaritas Perempuan, Komisi Perlindungan AIDS Divisi Migrasi Tracfiking HIV AIDS Thaufeik Zulbahary mengatakan hasil survei tersebut tidak ada kaitannya dengan moralitas remaja. “Yang terpenting adalah membangun moralitas remaja itu sendiri. Karena remaja berhak mendapatkan informasi seputar kesehatan reproduksinya,” katanya Selasa (29/11/2010).

Lebih jauh dia juga mempertanyakan metodologi dan validitas survei yang telah digelar BKKBN. Bagi dia, hal penting yang harus dilakukan adalah menghilangkan stigma negatif bahwa perempuan tidak perawan adalah remaja nakal. Bukan sekadar mengekspose data tingkat keperawanan remaja. Selain itu diperlukan kesadaran orang dewasa untuk mau mendengarkan dan memberikan masukan yang positif serta kepercayaan kepada remaja. "Tanpa semua itu mereka semakin menutup channel, cendrung defensif dan mencoba-coba,” tutupnya. (Voaislam/arrahmah.com)

Source: http://arrahmah.com/index.php/news/read/10115/mmi-regulasi-pornografiberdasarkan-syariat-islam-solusi-free-sex#ixzz16yGeUnpb

ISTIQOMAHLAH DI JALAN INI
Berkata Ibnu Taimiyah : Din ini tidak akan terhapus selamanya. Akan tetapi ada orangorang yang berusaha untuk menyelewengkan, mengganti, berbohong dan menyembunyikan sehingga bercampur aduklah antara yang haq dengan yang batil. Dan harus ada orang-orang yang menegakkan hujjah menggantikan kedudukan Rasul sehingga hilanglah penyelewengan orang-orang yang melampui batas, kedustaan orangorang yang berbuat kebatilan, penyimpangan makna orang-orang bodoh. Sehingga Allah menampakkan yang haq dan menampakkan yang batil walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya. [ Majmu’ fatawa : ]. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang dishahihkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dan lain-lainnya bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: َ ْ ِِ َ ْ ‫َ ْ ِ ُ َ َ ْ ِ ْ َ ِ ْ ُ ّ ََ ٍ ُ ُ ُْ ُ َ ْ َ ْ َ َ ْ ُ َ ْ ِ ْ َ ْ َ ّ ْ َ َ ْ ِ َ َ ْ ُ ْ ِِ ْ َ َ ِ ْ ِ ْل‬ ‫يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله ينفون عنه تحريف الغالين و انتحال المبطلين و تأوي َ الجاهلين‬ “Ilmu ini akan dibawa oleh orang-orang yang adil dari setiap generasi, mereka itu menentang perubahan orang-orang yang melampui batas, kedustaan orang-orang yang berbuat kebatilan, penyimpangan makna orang-orang bodoh.” Kita hari ini hidup pada suatu zaman yang berat. Para pengusung kebenaran seperti orang asing yang hidup dikerumunan orang-orang yang bejat. Sehingga pengusung kebenaran seperti penggenggam bara api. Jika ia pegangi bara itu, berarti ia akan merasakan panasnya, akan tetapi jika ia lepas, lepaslah din ini dari dirinya. Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda : ‫عن أنس بن مالك رضي ال عنه قال : قال رسول ال صلى ال عليه وسلم : » يأتي على الناس زمان القابض على‬ ََ ُ ِ َ ٌ َ َ ِ ّ َ َ ِ ْ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ُ َّ ِ ُ ْ ُ َ َ َ َ َ ُ ْ َ ُ َ ِ َ ِ ِ َ ُ ٍ َ َ ْ َ ‫دينه كالقابض على الجمر « رواه الترمذي‬ ِ َ َ ْ َ َ ِ ِ َ َْ ِ ِْ ِ Dari Anas Ibnu Malik Radhiyallahu ‘anhu berkata : Bersabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam : Akan datang pada manusia suatu zaman, orang yang memegang dinnya seperti orang yang memegang bara api. [ HR. At Turmudzi ]. Diriwayatkan dari Fudhoil bin ‘Iyâdh Rahimahulloh bahwa beliau pernah berkata,

“Bagaimana jika dirimu hidup hingga di suatu zaman di mana manusia tidak lagi membedakan antara yang haq dan yang batil, antara orang mukmin dan orang kafir, antara orang yang bisa dipercaya dengan pengkhianat, antara orang bodoh dan orang berilmu, tidak mengenali perkara makruf, dan tidak mengingkari perkara yang mungkar?” Al-Imam Ibnu Bathoh mengomentari perkataan Fudhoil ini dengan mengatakan, “Innâ li `l-Lâhi wa Innâ ilaihi Rôji‘ûn…kita telah sampai kepada zaman tersebut, kita mendengarnya dan menyaksikan sebagian besarnya. Seandainya orang yang Alloh beri nikmat berupa akal yang sehat dan cara pandang yang jeli, lalu ia amati dan renungi kondisi Islam dan pemeluk-pemeluknya, lalu ia cocokkan dengan ajaran Islam yang masih lurus, tentu ia akan melihat dengan jelas bahwa mayoritas manusia sudah meninggalkan agamanya dan menyimpang dari petunjuk yang benar. Sungguh pada hari ini manusia telah berubah menganggap baik apa yang dulu mereka anggap buruk, menghalalkan apa yang dulu mereka haramkan, dan menganggap makruf apa yang dulu mereka anggap kemungkaran.” [ qobidhul jamar, syaikh Abu Mus’ab az Zarqowi ]. Itulah tekanan realita yang terjadi. Maka sebagai seorang mujahid ia tidak bleh kendor dari semangat untuk berdakwah dan berjihad. Dan sangat na’if jika ia malah mundur kebelakang atau bahkan mengikuti arus orang-orang awam atau mengikuti jalan-jalan kebatilan. Ingatlah bahwa para penggenggam bara tersebut akan mendapatkan pahala yang besar di akhirat nanti sebanding dengan beratnya ujian yang ia hadapi. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda : ِ ّ ِ َ َ ُ َ ْ ُ ْ ِ َ ِ ْ َ ُ ْ َ ِ ْ ََ ْ ُ ْ َ َ ِ ٍ ِ َ ْ َ ّ ِ ْ ِ ِ ّ َ َ ُ ْ ِ ِ ْ ّ َ َّ ْ ُ ِ َ َ ْ ِ ّ ِ ‫إن من ورائكم أيام الصبر للمتمسك فيهن يومئذ بما أنتم عليه أجر خمسين منكم. قالوا يا نبي ال‬ ْ ُ ِْ ْ َ َ َ ْ ُ ِْ ْ َ ‫.أو منهم ؟ قال بل منكم‬ “ Akan datang sesudah masa kalian nanti hari-hari penuh ujian yang menuntut kesabaran. Pada saat itu, orang yang berpegang teguh dengan apa yang kalian pegangi saat ini akan mendapat pahala lima puluh orang di antara kalian.” Para shahabat bertanya,” Ya Rasulullah, apa bukan pahala lima puluh orang di antara mereka ?” Beliau menjawab,” Bukan. Ia mendapat pahala lima puluh orang di antara kalian.” (HR. Thabrani dan Ibnu Nadhr dari shahabat ‘Utbah bin Ghazwan.) Di hadapan kita hanya ada dua pilihan ; kendur, patah semangat dan tidak bersabar untuk mencari keselamatan dunia, atau tetap bersemangat, bersabar, melanjutkan risalah Islam dan istiqamah untuk mencari keselamatan akhirat. Hukum bagi mereka yang menggembosi jihad Adanya beberapa kelompok yang menggembosi jihad dalam rangka menolong din Allah Ta’ala serta membela kehormatan ummat islam, menolak keganasan orang-orang kafir terhadap ummat Islam serta tujuan untuk menerapkan syari’at islam di bumi, maka menggembosinya dalam rangka mencari ridho orang-orang kafir termasuk diantara pembatal-pembatal keislaman. Karena mereka telah mengambil orang-orang kafir sebagai walinya dan meninggalkan orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala telah berlepas diri dari perbuatan mereka. Allah berfirman : “Hai orangorang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani

menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maa-idah: 51). Sedangkan dosa menghalang-halangi jihad terhadap orang kafir adalah sebesar-besar dosa. Karena tidak ada fitnah yang lebih besar dari pada munculnya orang-orang kafir di negeri-negeri kaum muslimin. Dan menguasainya mereka terhadap kaum muslimin. Maka barang siapa melindungi orang-orang musyrik tersebut, ia termasuk berserikat dengan mereka. Dan termasuk diantara kelompok mereka. Allah Ta’ala berfirman : Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam ( An-Nisaa : 140) Allah Ta’ala berbicara tentang seseorang yang duduk-duduk dengan orang-orang munafiq, dan tidak mengingkari pembicaraan mereka yang batil. Bagaimana dengan orang-orang yang menlong ahlul batil terhadap kebatilan mereka ?. Dan bagaimanakah keadaan orang-orang yang memerangi ahlul haq dalam rangka mencari keridhoan ahlul batil ?. Sudah kita ketahui bersama bahwa barang siapa menolong suatu kaum dan berwali pada mereka, Allah Ta’ala akan kumpulkan mereka di hari kiamat. Dan barang siapa menolong para mujahidin serta berwali pada mereka Allah Ta’ala akan kumpulkan mereka dengan para mujahidin. Kita berlepas diri dari mereka pada hari yang tidak ada manfaat harta dan anak kecuali yang datang pada Allah dengan hati yang selamat. Pada hari itu pula mereka saling berlepas diri satu dengan yang lainnya atas kesalahan yang dilakukan teman-temannya. Kita memohon pada Allah untuk istiqomh di jalan jihad. dan janganlah sedikitpun mundur dan tertarik dengan jalan-jalan para penggembos, karena kita akan rugi dunia dan akhirat. Kita juga berdo’a agar kita dikumpulkan dengan para mujahidin di hari akhir nanti karena kecintaan dan perwalian kita pada mereka. [ Amru ] Filed under: tazkiyah

Sidney Jones & International Crisis Group (ICG) – Laporan Kebohongan yang Menyakitkan
Posted on 31 Agustus 2010 by indradotadota 1 Vote

Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, Minggu, 6 Juni 2004. Seorang wanita paruh baya, kurus, dan berkaca mata itu terlihat bingung. Kemarahan terlihat memancar dari wajah wanita berkewarganegaraan AS yang menjabat sebagai Direktur ICG (International Crisis Group) Indonesia ini. Apa boleh buat, wanita berambut pirang itu memang harus “angkat koper” dari negeri ini. Pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA 826 akhirnya membawa wanita tersebut meninggalkan Indonesia menuju Singapura. Wanita tersebut adalah Sidney Jones. Wanita asal Amerika berperawakan kurus tinggi tersebut memang sangat tidak disukai bangsa ini. Dirinya seringkali melakukan perbuatan tidak menyenangkan dan merugikan negeri ini. Laporan dan hasil penelitian lembaga yang dipimpinnya, International Crisis Group (ICG), memang sering menyakitkan bagi bangsa negeri ini, terutama kaum Muslimin. Selama di Indonesia, Sidney Jones aktif memata-matai aktivitas kaum Muslimin, Mujahidin, dan juga wilayah-wilayah strategis. Biasanya, hasil laporannya selain dipublikasikan di situsnya, juga dikirimkan secara berkala ke luar negeri, ke negaranegara Barat sebagai donatur ICG. Padahal dalam laporan dan penelitiannya tersebut banyak hal tidak benar, bahkan lebih banyak yang mendiskriditkan kaum muslimin dan aktivitasnya. Ketidaksukaan kepada Sidney Jones pernah diperlihatkan oleh mahasiswa Muslim di kota Semarang. Di kota tersebut, sedikitnya 50 mahasiswa dari dua kelompok yang berbeda, yakni Perhimpunan Mahasiswa Muslim Antarkampus (Pammas) dan Forum Komunikasi Mahasiswa IAIN Walisongo, membakar boneka yang menyerupai Sidney Jones di halaman Kantor Citibank, di Jalan Pahlawan, Semarang. Aksi para mahasiswa yang memaksa masuk ke halaman kantor bank swasta asing itu, sempat dihalang-halangi satpam dan puluhan polisi dari Polwiltabes Semarang. Sempat terjadi ketegangan karena terjadi aksi saling dorong di pintu pagar. Gagal menerobos pintu pagar, mahasiswa kemudian nekad melompat pagar dan masuk ke halaman kantor tersebut. ”Kita harus melihat lebih dalam lagi, sebenarnya sejauh mana manfaat penelitian ICG tentang demokrasi dan demokratisasi bagi rakyat Indonesia, karena ternyata hasil studinya justru diserahkan kepada negaranya,” tukas Mukhtarom, salah seorang demonstran. Sewaktu meninggalkan Indonesia di tahun 2004 Sidney Jones sempat mengatakan kepada Tempo News Room di ruang kerjanya : “Apa boleh buat, saya harus pergi beberapa lama dan berharap bisa kembali ke Indonesia,” Teryata, Sidney Jones tidak mau berlama-lama meninggalkan Indonesia. Setahun kemudian dia sudah kembali ke negeri ini dan melakukan aktivitas yang sama, mematamatai kaum muslimin. Dalam perhelatan Islamic Book Fair ke 7 di Istora Senayan, wanita yang selalu mengumbar senyum itu terlihat berjalan dengan seorang lelaki paruh

baya, yang juga berkacamata dan terlihat sebagai warga negara asing. Seperti biasa, Sidney Jones memantau perkembangan penerbitan Islam dan aktivitas kaum Muslimin dalam pameran tersebut. Di situs resmi ICG sendiri, Sidney Jones mulai membuat laporan-laporan bulanannya tentang aktivitas Islam dan kaum Muslimin. Dalam laporan terbarunya, yang dirilis bulan Februari 2008, Sidney Jones mengangkat tema Industri Penerbitan Jama’ah Islamiyyah. Tentu saja, sebagaimana laporan-laporan terdahulunya, laporan kali ini begitu tendensius, dan berupaya membuat citra buruk terhadap aktivitas dakwah dan jihad kaum Muslimin. Tampaknya Sidney Jones tidak kapok dengan pendeportasiannya waktu itu. Padahal, karena laporannya tentang Mujahidin Maluku dan Poso dengan tajuk “Weakening Indonesia’s Mujahidin Networks: Lessons from Maluku and POSO” dia dideportasi. Sejak membuka kantornya di Jakarta pada tahun 2000, ICG telah menerbitkan 37 laporan dan briefing paper berkaitan dengan masalah konflik termasuk Aceh, Papua, Jemaah Islamiyah, kekerasan komunal, dan transisi Indonesia dari era militer ke civil society. Seluruh laporan ICG dapat dilihat dan di-down load di situs mereka Laporan Bohong dan Menyakitkan Sidney Jones sudah berada di Indonesia cukup lama, yakni sejak era 1970-1980-an di bawah payung LSM asing Amnesty International dan Human Right Watch. Sudah pasti, LSM yang dipakai hanya kedok dari misi sebenarnya, memata-matai kaum muslimin. Aktivitasnya mulai meningkat dan namanya mulai populer ketika Sidney Jones masuk dalam camp AS untuk memerangi kaum muslimin dan mujahidin yang dicap sebagai terorisme, pasca WTC tahun 2001. Setahun setelah itu, Sidney Jones merilis makalah berjudul Al-Qaeda in Southeast Asia: The Case of The Ngruki Network; in Indonesia. Inilah laporan bohong dan menyakitkan pertama yang dibuatnya. Sidney Jones, berasal dari New York Amerika, dan lahir pada tanggal 31 Mei 1952. Dia adalah Lulusan Universitas Pennsylvania di bidang Studi Oriental dan Hubungan Internasional. Dia juga pernah di Universitas Pahlevi di Shiraz, Iran, selama setahun. Sejak awal dia sudah aktif di Ford Foundation selama tujuh tahun hingga 1984. Selain itu, dia juga aktif di Amnesty International dan Human Right Watch. Akhirnya, mulai Mei 2002, ia berganti organisasi dari Human Right Watch ke International Crisis Group atau ICG, dimana dia menjadi direktur organisasi tersebut yang berbasis di Belgia, untuk wilayah Indonesia. Pasca Bom Bali I Sidney Jones pun kembali mengeluarkan laporan bohong dan menyakitkan seputar masalah tersebut dengan judul “Jaringan Teroris Indonesia: Cara Kerja Jemaah Islamiyah”. Dalam laporan tersebut Sidney Jones memfitnah Ustadz Abu Bakar Baasyir ikut dalam beberapa rapat yang membahas rencana peledakan bom Bali. Ustadz Abu Bakar Baasyir angkat bicara melalui sebuah wawancara dengan sebuah stasiun televisi dari Rumah Sakit Polri tempat dia di rawat, membantah tuduhan itu. Ia

meminta Jones agar memberikan bukti-bukti yang mendukung kebenaran isi laporannya itu. Dan tentu saja Sidney Jones tidak bisa memberikan bukti-bukti atas kebohongannya tersebut. Pada laporan sebelumnya, Sidney Jones berkesimpulan bahwa Baasyir adalah pemimpin spiritual organisasi Jamaah Islamiyah, organisasi yang mendapat stempel terlarang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Mendapat kecaman keras, Sidney Jones meralat keterangannya. Rapat yang menurutnya berlangsung di Surabaya, Jawa Timur dan Lamongan serta Mojokerto, Jawa Tengah pada bulan September 2002, tidak membahas rencana peledakan bom Bali. Sidney Jones juga meralat keterangannya bahwa Ustadz Abu Bakar Baasyir hadir dalam rapat itu. Sebelumnya ia mengatakan bahwa Ustadz Abu Bakar Baasyir hadir dalam rapat-rapat tersebut dan menentang rencana peledakan bom, berdasarkan keterangan sumbernya yang juga ikut hadir. Lalu, siapa sumbernya Sidney Jones yang ikut hadir tersebut ? Mengapa Sidney Jones tidak memberitahukan secara terus terang kepada publik ? Bukankah sumber Sidney Jones selama ini adalah pihak kepolisian atau intelejen ? Lewat SMS (pesan tertulis lewat telepon genggam) kepada Tempo News Room, ia mengaku telah menyerahkan laporan ini kepada polisi. Namun, beberapa menit sebelumnya dalam sebuah wawancara, Sidney Jones justru mengatakan sebaliknya. “Tidak melaporkan secara resmi ke polisi. Tidak ada yang bisa dijadikan sebagai bukti bagi polisi,” kata dia. Sungguh plin-plan dan tidak profesional apa yang dilakukan oleh Sidney Jones dan ICGnya ini. Dalam laporan keduanya ini Jones juga membuat kesimpulan bahwa sekitar 50 peristiwa peledakan bom yang tejadi di berbagai tempat mulai April 1999 hingga bom Bali, merupakan hasil kerja JI. Namun dalam wawancara dengan Tempo akhir Oktober 2002 lalu, Jones dengan jelas mengatakan, “Saya tidak tahu apakah organisasi ini ada dibelakang beberapa pengeboman.” Jadi, Sidney Jones ini bisa dengan seenaknya menuduh JI sebagai pelaku peledakan dan secepatnya pula dia menafikan ucapannya tersebut. Betul-betul tidak bisa dipegang ucapannya tersebut. Perilaku buruk Sidney Jones ini juga disampaikan oleh Yudi Latif, seorang peneliti LIPI dan mengomentari pendapat Sidney Jones yang mengeneralisir pesantren sebagai basis terorisme. Menurut Yudi Latif, Sidney Jones telah melakukan sweeping generalization, generalisasi serampangan. Kalau pun dia menemukan satu pesantren, apakah kemudian seluruh pesantren kemudian bersimpati terhadap terorisme? Jangan-jangan bukan pesantren yang ia temukan, tapi hanya alumni-alumni pesantren tertentu, yang barulah punya aspirasi terhadap terorisme setelah berinteraksi dengan relasi-relasi sosial di luar pesantren, dengan berbagai elemen, ideologi, dan kekecewaan-kekecewaan sosial yang terjadi. Itu namanya pos pro toto, bagian kecil dijadikan statement untuk keseluruhan.

Biasanya, demikianlah cara dan metode yang sering dilakukan oleh Sidney Jones dan orang-orang serta lembaga semisalnya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Geert Wilders dengan filmnya Fitna, mengutip-ngutip Islam sebagian-sebagian untuk kemudian dijadikan kesimpulan untuk menggambarkan Islam dan kaum Muslimin secara keseluruhan. Sebuah tindakan dan sikap yang menunjukkan kebodohan pelakunya terhadap Islam. Memang, kalau membaca laporan-laporan Sidney Jones begitu saja, tanpa memahami latar belakangnya dan situasi perang salib global saat ini akan terkecoh. Namun, bagi aktivis Islam dan kaum muslimin yang ‘sadar’ maka tidak mudah dan percaya terhadap laporan Sidney Jones, alias harus dilakukan tabayyun terlebih dahulu untuk tidak membuangnya begitu saja. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Irfan S Awwas, Ketua Lajnah Tanfidziyyah Majelis Mujahidin dalam sebuah artikel, dikatakan bahwa aktivitas Sidney Jones lebih kental nuansa intelejennya daripada seorang ilmuan atau peneliti. Berikut kutipannya : Sejak tahun 1980-an, ketika merebak kasus subversi yang diidentikkan dengan gerakan Islam radikal, dan ketika banyak aktivis Islam ditahan dan mendapat perlakuan tidak wajar dari pemerintah Orde Baru, Sidney Jones dengan bendera Amnesti Internasional tampil sebagai pembela yang simpatik dan manusiawi. Ia banyak mendokumentasikan berbagai proses pengadilan, dokumen persidangan, dan berbagai data lainnya. Semuanya itu, ternyata menjadi barang berharga pasca-tragedi WTC 911, suatu hal yang barangkali tidak diduga, bahkan oleh Sidney Jones sendiri. Secara teknis upaya pengumpulan data yang dilakukan Sidney Jones dan kemudian dipublikasikan dalam bentuk laporan berkala, tidak perlu dibantah. Ia lumayan berpengalaman di bidang itu. Namun, hal yang juga tidak bisa dibantah adalah adanya kepentingan intelijen yang menyertai gerak langkahnya, terutama di masa propaganda anti-terorisme digencarkan AS. Baik itu intelijen asing seperti CIA, yang tentu saja bekerja sama dengan lembaga intelijen maupun LSM lokal di Indonesia. Setiap laporan yang dipublikasikan, dilengkapi dengan catatan kaki, maraji’ (merujuk) yang jelas dan terang sumber-sumbernya, baik dari media massa, buku-buku, wawancara, termasuk juga dari dokumen (informasi) intelijen. Bagi mereka yang berada di “lapangan” ketika membaca laporan yang diterbitkan ICG, meski perlu sedikit waktu, namun tetap bisa dirasakan bagian-bagian mana yang berasal dari dokumen (informasi) intelijen, mana informasi yang jelas faktanya dan mana yang hanya fiktif belaka. Laporan ICG tentang terorisme, sebenarnya kebanyakan berasal dari dokumen (informasi) intelijen lokal. Dari fakta ini jelas bahwa laporan ICG tidak selalu akurat, bahkan seringkali hanya sebuah kebohongan yang menyakitkan kaum muslimin. Masih menurut Irfan S Awwas, Pada laporannya tanggal 8 Agustus 2002 misalnya, di bawah judul, “Al Qaeda in Southeast Asia: ‘Ngruki Network’ in Indonesia”, antara lain dikesankan bahwa penulis dan Agus Dwikarna (kini menjadi terpidana 10 tahun penjara di Filipina), sudah berkawan sejak lama, semenjak menjadi sesama aktivis menentang asas tunggal

Pancasila. Padahal, penulis pertama kali berjumpa dan kenal Agus Dwikarna pada Agustus 2000, ketika ia membawa banyak partisipan dari Makassar mengikuti Kongres Mujahidin I yang diadakan di Yogyakarta. Agus Dwikarna adalah aktivis KPPSI (Komite Persiapan Penegakan Syariah Islam) di Sulawesi Selatan, jauh sebelum Kongres Mujahidin berlangsung. Kemudian, Agus Dwikarna menjadi wakil sekretaris Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin periode 20002003. Patut dipertanyakan, dari mana Sidney Jones mendapat informasi itu? Kemungkinan dari dokumen (informasi) badan intelijen. Sebab, bila ia mewawancarai penulis atau Agus, pastilah tidak akan ada kesalahan laporan seperti itu. Jadi, pengusiran Sidney Jones harusnya tidak dilakukan hanya untuk permainan politik belaka demi segelintir orang atau rezim yang berkuasa, melainkan harus dilakukan secara serius dan permanen. Hal ini dikarenakan keberadaan LSM asing tersebut sudah meresahkan dan membahayakan kaum Muslimin. Lembaga semacam ICG yang tugasnya memprovokasi serta berperan sebagai intelejen serta kaki tangan pasukan salib, utamanya AS, sudah seharusnya dienyahkan sampai ke akar-akarnya dari tengah-tengah kaum Muslimin. Ini adalah sebuah kewajiban bersama yang harus segera dilaksanakan. (M.Fachry/arrahmah.com) International Crisis GroupUcapan Terimakasih TERBITNYA buku ini hingga sampai ke tangan khalayak pembaca, selain telah menempuh proses perjalanan yang cukup panjang, juga telah meminta kontribusi sejumlah sahabat. Untuk itulah, melalui kesempatan ini kami merasa perlu menyampaikan ucapan terimakasih. Pertama, tentu saja kepada ustadz Abu Bakar Ba'asyir yang setelah melalui upaya yang cukup alot, akhirnya kami berhasil meyakinkan beliau akan pentingnya buku ini. Beliau yang pada mulanya menolak, namun setelah kami yakinkan bahwa buku ini sangat penting karena merupakan dokumentasi atas sepenggal sejarah bangsa yang telah dihinakan oleh kekuatan asing. Dengan adanya dokumentasi ini, semoga saja dapat membuka kesadaran generasi muda untuk kelak tidak mengulang kesalahan para seniornya. Kedua, Kepada Tim Pembela Hukum Abu Bakar Ba'asyir, yang telah memberikan kontribusi terbesar berupa dokumen tertulis yang menjadi bahan baku utama buku ini. Ketiga, akhi fillah Drs. Fauzan Al-Anshori, MM (Departemen Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia) yang telah turut memberikan sumbangan berbagai informasi dan data yang diperlukan terutama untuk bagian Catatan Editor. Keempat, Sidney Jones, Direktur ICG untuk Indonesia, yang meski tidak bersedia menuliskan Kata Pengantar bagi buku ini, namun telah merekomendasikan Dr. Tim

Behrend sebagai sosok yang tepat untuk menulis Kata Pengantar. Kepada Sidney Jones, telah kami kirimkan naskah lengkap calon buku "Pengadilan Teroris" namun setelah beliau membacanya, agaknya dia tidak bersedia menuliskan Kata Pengantar, sebagaimana disampaikannya melalui e-mail (yang dikirimkan pada Tue, April 13, 2004 12:43 pm) sebagai berikut: "Terimakasih atas naskah buku. Maaf tidak bisa kasih kata pengantar, karena jelas pendekatan kami tidak cocok dengan tema buku tersebut. Saya menghormati pandangan anda walaupun kita akan tetap berbeda pendapat dan tafsiran fakta. Salam, Sidney." Padahal, yang kami harapkan dari Sidney Jones, adalah Kata Pengantar yang tidak harus memihak. Sebuah komentar yang meskipun itu bertentangan dengan "tema" buku ini, tetap merupakan sesuatu yang berharga bagi kami, karena koemntar seperti itu akan memberikan nilai objektif atas buku ini. Alasan utama meminta pengantar Sidney Jones, karena ICG adalah lembaga pertama yang mengekspos tentag organisasi Jama'ah Islamiyah serta Jaringan Ngruki, sebelum kasus Ustadz Abu Bakar Ba'asyir digelar di sidang pengadilan. Maka kami ingin tahu bagaimana persepsinya terhadap kasus teroris ini, setelah ternyata pengadilan membebaskan Ustadz Ba'asyir dari tuduhan makar dan teroris. Ketidaksediaan memenuhi undangan editor untuk sekadar memberikan klarifikasi fakta dan data kemudian menuangkannya melalui Kata Pengantar buku ini, kian membersitkan sebuah kekhawatiran: jangan-jangan Sidney Jones dan lembaga ICG yang dimpimpinnya adalah bagian dari jaringan konspirasi dan matarantai intelijen asing yang beroperasi di Indonesia? Dan terakhir, secara khusus, ucapan terimakasih saya tujukan kepada Dr. Timothy Earl Behrend, yang secara sukarela bersedia menuliskan Kata Pengantar yang cukup lugas dan menyentuh atas buku ini. Sebagai pengamat politik Islam dan lector senior di Universitas Auckland, New Zealand, beliau sangat antuasias menerima permintaan editor untuk menuliskan Kata Pengantar, sebagaimana dituliskannya pada e-mail (Monday, April 12, 2004 7:09 PM), sebagai berikut: Yang terhormat Saudara Irfan Awwas, Terima kasih atas surat saudara tertanggal 10 April 2004, serta undangan untuk menyumbangkan sepatah kata pengantar untuk buku "Pengadilan Teroris". Secara prinsip saya bersedia menyiapkan tulisan dimaksud. Sangat pentinglah, bahwa dokumen mentah yang riil berada di tangan masyarakat, dan saya sangat senang ikut nyumbang dalam rencana Wihdah Press (memang Wihdah yang bakal menerbitkannya?) untuk memperkaya keberadaan sumber-sumber informasi tentang kasus Ustadz Abu Bakar. Namun, saya merasa sangat penting juga untuk menjaga kenetralan saya sebagai sarjana pemantau, jangan sampai dinilai memihak secara pribadi. Dan memang ada aspek dari ajaran Ustadz Abu yang tidak saya setujui. Kenetralan viewpoint tersebut niscaya bakal nyata dalam tulisan saya, dan kenetralan itu pun, perlu Wihdah hormati, seandainya saya jadi menulis kata pengantar. Kesan saya, saudara Irfan dan orang MMI tidak akan keberatan dengan 'tuntutan'

saya ini. Saya sudah memiliki beberapa dokumen dari berkas Ustadz Abu dalam bentuk fotocopy, tetapi demi kelengkapan, saya minta agar teks buku Pengadilan Teroris dikirim kepada saya sebagai file-file lampiran. Selain demi kelengkapan, saya juga merasa perlu mengetahui dengan persis seluruh isi buku sebelum menulis pengantar. Bersama-sama Kata Pengantar ini, dengan rendah hati Behrend menawarkan jasa baiknya: "Dalam file yang dikirim kepada saya tempo hari, saya menemukan beberapa kesalahan -sebagian salah ketik, sebagaian kesalahan dalam pemakaian bahasa Inggris. Kalau mau, saya bisa mengirim daftar ralat tersebut. Saya menunggu berita Pak Irfan sebelum menyertakannya." Selain itu, Guru Besar yang rendah hati ini, menitipkan pertanyaan yang saya yakin menjadi pertanyaan selruh rakyat Indonesia. Dia mengatakan: "Saya baca-baca di banyak koran bahwa Ustadz Abu akan ditahan terus, untuk pemeriksaan baru. Apakah itu betul? Pada saat Spanyol dan beberapa negara lain mulai berani menolak tekanan Amerika, mengapa Indonesia justru mau takluk? Mengingat waktunya yang mendesak, buku ini segera naik cetak, saya terpaksa kurang sabar menerima tawaran luar biasa ini. Tetapi saya telah berusaha meminimalkan kesalahan yang dimaksud. Tentu saja, saya tidak akan "intervensi" atas netralitas Tuan Behrend, bukan saja hal itu kurang bijaksana dan tidak perlu, tetapi faktor utamanya adalah keinginan menjaga obyektifitas serta dorongan yang kuat untuk mengetahui bagaimana pandangan para ilmuan serta pengamat politik luar negeri mengenai kasus yang sarat rekayasa ini. Akhirnya, untuk semuanya, terutama sahabat-sahabat yang tidak mungkin saya sebutkan namanya satu per satu, saya menyampaikan Jazakumullah, atas segala bantuan dan simpatinya sehingga buku ini dapat terwujud seperti adanya sekarang., Sidney Jones « Lagi, Bukti Kejahatan Iblis Perang Israel Di Gaza Terungkap Siapa Habib (Palsu) Abdurrahman Assegaf ? » Bab III : PEMBELAAN PENGADILAN TERORIS MENZALIMI ULAMA MAJELIS Hakim dan Majelis Jaksa yang semoga diampuni oleh Allah. Majelis Pembela yang semoga dilimpahi rahmat oleh Allah. Hadirin dan hadirat serta wartawan yang saya hormati. Dalam menyampaikan pembelaan atas tuntutan Jaksa Penuntut Umum dalam sidang ini hati saya diliputi harapan dan firasat. Harapan saya tumpahkan kepada Allah Swt, semoga Dia memberi petunjuk kepada Majelis Hakim sebagai hamba-Nya yang beriman dan tengah memikul amanah dari pada-Nya, sehingga benar-benar majelis memutuskan dengan adil menurut ukuran syariat Allah, berdasarkan fakta obyektif dan kongkrit yang didasari ketaqwaan dan kejujuran dan sikap tidak memihak kecuali hanya kepada Allah Swt saja; dengan demikian benar-benar yang putih tampak putih, yang hitam kelihatan

hitam, yang benar dibenarkan dan yang salah disalahkan tanpa takut kepada sispapun kecuali hanya kepada Allah Swt. Adapun firasat yang meliputi hati saya ialah majelis tidak bebas dalam memutuskan perkara ini karena adanya campur tangan dan tekanan dari musuh-musuh Islam yang sangat anti terhadap berlakunya syariat Islam secara kaaffah, baik tekanan itu datangnya dari dalam maupun dari luar, sehingga dalam memutuskan perkara ini timbullah kepincangan penilaian yang mendasari keputusan akhirnya, sehingga dengan demikian yang benar dipaksa untuk disalahkan dan yang salah dipaksa untuk dibenarkan. Firasat ini timbul bukan karena sikap tidak percaya atau ragu-ragu terhadap i�tikad baik Majelis Hakim, sekali-kali tidak. Majelis hakim sebagai hamba Allah yang beriman saya bersangka baik mempunyai kemauan untuk menegakkan keadilan sesuai dengan syariat Islam, karena majelis percaya bahwa keputusannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Akan tetapi, firasat saya muncul setelah menyaksikan adanya kenyataan yang terjadi di negeri ini akhir-akhir ini, yaitu adanya petunjuk yang jelas tentang adanya campur tangan dalam negeri oleh tangan-tangan asing terutama oleh musuh-musuh Islam, pemerintah teroris Amerika dan antek-anteknya yang sangat anti penerapan syariat Islam yang saya perjuangkan di negeri ini, dengan cara tekanan ekonomi dan isu-isu teroris yang diarahkan kepada pejuang-pejuang penegak syariat. Penguasa negeri ini ternyata takluk terhadap tekanan dan campur tangan ini sehingga langkah-langkah pemerintah dalam beberapa persoalan terutama yang berhubungan dengan menghadapi perjuangan penegakan syariat merupakan perpanjangan tangan pemerintah teroris Amerika. Indikator hal ini nampak jelas dari sikap petinggi-petinggi kepolisian dalam menangani kasus-kasus akhir-akhir ini, yaitu antara lain: 1. Menangani kasus bom Bali setengah-setengah, tidak ada kemauan menemukan otaknya. Pertanyaan: Benarkah anak-anak muda macam Amrozy, Mukhlas, Ali Imron, Imam Samudra, sanggup membuat bom sedahsyat itu, sedangkan TNI dan Kepolisian sendiri tidak sanggup? Lalu siapa yang sebenarnya membuat bom sedahsyat itu? Pertanyaan ini belum terjawab dan nampaknya Polisi tidak ada kemauan untuk mengusut tuntas sampai terjawab! Mengapa? Saya menduga karena pengusutan yang berakhir dengan pengadilan pelaku-pelakunya sudah memuaskan musuh Allah, pemerintah Amerika dan antek-anteknya. 2. Penahanan diri saya. Polisi lebih mendengar suara-suara asing Amerika, Singapura, Australia daripada suara sebagian besar umat Islam dan ulama-ulamanya. 3. Pemindahan diri saya yang masih dalam kondisi lemah dari RS PKU Muhammadiyah Solo ke Jakarta dengan paksa tanpa kepentingan yang jelas selain karena kepentingan menyenangkan Amerika. 4. Pengawalan diri saya yang super ketat waktu menuju ke lokasi sidang yang memakan biaya besar menghamburkan uang rakyat dan sama sekali tidak masuk akal, adalah untuk

konsumsi luar negri, terutama untuk memuaskan musuh Allah pemerintah Amerika, yang menuduh diri saya sebagai tokoh teroris Asia Tenggara. Disamping itu saya menduga kuat bahwa Majelis Hakim tidak memberi ijin saya untuk merekam suara guna memberi sambutan konggres MMI di Solo adalah karena adanya tekanan untuk membentuk opini bahwa: betapa berbahayanya diri saya sampai suara saya saja tidak boleh didengar masyarakat. 5. Isu apa yang dinamakan JI sengaja dibesar-besarkan karena sangat menguntungkan strategi musuh Allah, yakni pemerintah Amerika Serikat, dalam usahanya memerangi dunia Islam. Itulah antara lain indikator-indikator yang menunjukkan bahwa pemerintah terutama polisi benar-benar bekerja keras untuk membantu suksesnya rencana jahat pemerintah AS terhadap dunia Islam dan umat Islam, baik disadari atau tidak. Kenyataan-kenyataan ini sudah pasti berdampak kepada proses pengadilan kasus penegakan Syariat Islam yang sedang saya alami ini, sehingga dengan demikian pengadilan tidak bebas, tetapi dipaksa berjalan menuju ke arah yang dikehendaki oleh musuh Islam dan musuh Allah, yakni Amerika Serikat. Oleh karena itu pembelaan dalam pengadilan ini hampir tidak ada gunanya. Inilah firasat saya. Namun demikian saya masih tetap melangkah mengajukan pembelaan sebagai usaha melawan musuh-musuh Islam dengan harapan semoga Allah berkenan menolong perjuangan ini dan membimbing dan melindungi Majelis Hakim dari tekanan musuhmusuh Allah dan memberi cahaya terang sehingga benar-benar keputusannya nanti mencerminkan keadilan sesuai dengan garis syariat Allah Swt, sehingga benar-benar keputusan yang diridlai-Nya. Aamien. Majelis Hakim dan Majelis Jaksa yang semoga diampuni Allah, Majelis Pembela yang semoga dilimpahi rahmat oleh Allah. Para hadirin dan hadirat yang terhormat. Jabatan Hakim adalah suatu jabatan amanat yang terhormat. Karena hakim telah menempatkan dirinya sebagai penegak keadilan dalam masyarakat. Hukum akan tegak apabila para hakim berpegang teguh kepada keadilan tanpa takut ancaman dan tekanan dari siapapun. Takutnya kepada ancaman dan siksaan Allah di akhirat nanti, karena ia selalu ingat perintah Allah Swt agar selalu adil dalam mengadili suatu perkara. Allah berfirman: �Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah maha Mendengar lagi Maha Melihat.� (QS. An-nisa�:58). Rasulullah Saw juga memberi peringatan keras kepada para hakim agar melaksanakan tugasnya berdasarkan ilmu, yakni (ketentuan-ketentuan syariat Allah), jangan berdasarkan kebodohan dan ketidakjujuran sehingga keputusasnnya dhalim. Baginda Rasulullah Saw bersabda: �Ada tiga golongan hakim: satu golongan masuk surga dan dua golongan masuk neraka,

1. Seorang hakim yang mengerti kebenaran (Al-Haq) lalu menjatuhkan hukuman dengan kebenaran itu (adil) maka ia masuk surga. 2. Seorang hakim yang mengerti kebenaran (Al-Haq) kemudian ia menjatuhkan hukuman yang bertentangan dengan kebenaran itu (tidak jujur), maka ia masuk neraka. 3. Seorang hakim yang bodoh (tidak tahu kebenaran), maka karena kebodohannya itu ia masuk neraka karena keputusannya dhalim.� (HR. Abu Daud dan lainnya). Oleh karena itu Hakim wajib selalu berorientasi dan berpegang teguh kepada kebenaran dan senantiasa berdiri di atas al-haq. Disamping itu hakim wajib memahami apa yang dimaksud Al-Haq (kebenaran). Definisi kebenaran mutlak hak Allah Swt, manusia tidak.berhak memberi batasan apa kebenaran itu sebab akal dan ilmu manusia sangat terbatas, sehingga terpeleset kepada kekeliruan lebih besar daripada ketepatannya, itulah sebabnya untuk menentukan benar dan salah perlu bantuan wahyu (dinul-islam). Dalam Al-Qur'an Allah dengan tegas menerangkan apa Al-Haq itu, dalam firmanNya: �Kebenaran itu dari Tuhanmu sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.� (Al-Baqarah, 2 :147). Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman: �Dan katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barang siapa yang ingin beriman hendaknya beriman dan barang siapa yang ingin kafir, biarlah ia mengkafiri� (Al-Kahfi, 18: 29). Dari dua ayat ini jelas bahwa ukuran kebenaran adalah wahyu Allah, yang diturunkan kepada umat manusia lewat para utusan-Nya, termasuk yang diturunkan lewat utusanNya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad Saw yang berupa Al-Qur�an dan Sunnahnya (Syariat Islam). Maka kita, khususnya hakim harus yakin tidak boleh ragu sedikit pun bahwa ukuran kebenaran itu adalah syariat Islam, semua perkara yang tidak bertentangan dengan syariat Islam itu pasti benar, dan semua perkara yang bertentangan dengan syariat Islam itu pasti batil dan wajib disalahkan. Apabila hakim memahami ini, namanya hakim yang beriimu dan apabila jujur keputusannya adil. Tetapi apabila hal ini tidak dipahami oleh hakim, maka itu namanya hakim bodoh dan keputusannya pasti sesat dan dhalim. Semoga Majelis Hakim dikaruniai ilmu seperti ini dan semoga dalam menunaikan amanat Allah, Majelis Hakim selalu bermonoloyalitas kepada Allah Swt Penguasa dan Pemilik alam semesta ini, termasuk negeri yang diamanatkan kepada kita yakni NKRI; mudah-mudahan bukan bermonoloyaiitas kepada pemerintah penguasa sementara negeri ini; sehingga dengan demikian itu Majelis Hakim selalu berjalan di atas jalan yang lurus dan terang dalam menunaikan tugas sucinya. Amien. SANGGAHAN TERHADAP TUDUHAN JAKSA Majelis hakim yang semoga diampuni oleh Allah Swt. Dengan izin Allah Swt saya akan menyampaikan sanggahan terhadap semua tuduhan JPU, dengan tuduhan yang saya rasakan mendhalimi diri dan perjuangan saya. Dalam hal ini saya akan menyanggah bukti-bukti yang diajukan oleh JPU untuk memperkuat tuduhannya adapun sanggahan secara yuridis saya serahkan kepada tim pengacara yang membela saya karena beliau-beliaulah yang memiliki keahlian di bidang hukum.

Pada dasarnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuduh diri saya dengan 4 (empat) tuduhan sebagai berikut: 1. JPU menuduh diri saya melakukan makar terhadap NKRI dan mendirikan NII. 2. JPU menuduh diri saya memasukkan keterangan palsu ke dalam akta otentik. 3. JPU menuduh diri saya memalsukan surat. 4. JPU menuduh diri saya sebagai orang asing yang berada di wilayah RI secara tidak sah. A. Sanggahan Tuduhan ke-1 Tuduhan makar ini didasarkan atas bukti-bukti yang menurut JPU sbb: Saya dituduh sebagai amir apa yang dinamakan JI menggantikan alm. Ustadz Abdullah Sungkar (AS), berdasarkan keterangan saksi-saksi yang diajukan oleh JPU antara lain lewat teleconference. Meskipun saya tidak mengikuti sidang para saksi yang diajukan lewat teleconference tetapi dari kesaksian mereka yang tertulis dalam surat tuntutan JPU dan keterangan-keterangan yang dikutip media masa membuat saya bisa mengetahui isi kesaksian mereka, maka dengan izin Allah Swt saya memberi tanggapan sebagai berikut: Kesaksian semua saksi yang dajukan dalam hal ini sama sekali tidak benar, saya sama sekali tidak pernah diangkat dan dilantik menjadi naib amir apa yang dinamakan JI semasa hidupnya alm Ustadz AS, semua keterangan saksi saksi yang menerangkan bahwa saya adalah naib amir apa yang dinamakan JI semata-mata dugaan tidak berdasarkan fakta yang jelas. Bahkan saya sebagai orang yang dekat dengan alm Ustadz AS tidak pernah tahu dan tidak pernah mendengar bahwa beliau adalah amir apa yang dinamakan JI, kalau hal ini benar mustahil saya tidak tahu. Tetapi yang saya tahu bahwa beliau adalah seorang muballigh yang aktif bertablighh baik dikalangan anggota jamaah Ittibaaussunnah yaitu kelompok pengajian orang Malaysia yang dipimpin oleh seorang ulama yang bernama Ustadz Hasyim Ghani yang berpusat di Kuala Pilah Negeri Sembilan. Disamping itu beliau juga aktif berdakwah di masjid-masjid umum terutama di Kuala Lumpur. Selanjutnya saya dituduh amir apa yang dinamakan JI menggantikan Ustadz AS setelah belia wafat. Tuduhan ini pun sama sekali tidak benar. Wallahi, sama sekali saya tidak pernah dilantik sebagai amir apa yang dinamakan JI. Bagaimana bisa saya dituduh sebagai amir apa yang dinamakan JI, sedang saya baru mendengar istilah JI setelah saya berada dalam tahanan baik melalui mulut-mulut polisi maupun dari media masa. Kecerobohan JPU menuduh saya sebagai amir apa yang dinamakan JI hanya didasarkan atas keterangan-keterangan saksi yang sebagian besar didengar keterangan mereka lewat teleconference yang saya boikot karena menyalahi aturan dan semua saksi yang didengar adalah berstatus tahanan di bawah UU rimba ISA, dimana kondisi tahanan sarat dengan tekanan. Disamping itu kesaksian ini diberikan dalam wilayah Negara Asing bukan di Kedutaan atau Atase RI. Sungguh ini proses sidang yang kacau. Disamping itu teleconference ini dibiayai oleh kerajaan kafir Singapura, yang jelas punya kepentingan menangkap saya. Proses sidang kesaksian ini sarat dengan rekayasa dan tekanan agar saksi-saksi yang di bawah tahanan hukum rimba ISA memberikan keterangan yang menguntungkan mereka. Semoga Allah SWT menghukum yang merekayasa ini, Aamien.

Lebih dari itu, keterangan para saksi hanya didasarkan berita dari orang lain; mereka tidak pernah melihat sendiri proses pelantikan dan pengangkatan yang konon saya dilantik dan diangkat sebagai amir apa yang dinamakan JI untuk menggantikan alm. Ustadz AS. Nara sumber berita yang mereka andalkan hanyalah satu orang yaitu Hambali. Kesaksian yang sumber beritanya dari satu orang sama sekali tidak bisa dipercaya, itu namanya kesaksian yang kacau, seorang JPU yang senior dan jujur tidak akan mau mengajukan saksi-saksi yang proses kesaksiannya kacau seperti ini. Apakah JPU dalam sidang pengadilan tidak senior dan tidak jujur? Saya berprasangka baik bahwa JPU dalam sidang ini adalah senior dan jujur, tetapi ia terpaksa mengambil jalan kesaksian yang kacau ini nampaknya karena adanya tekanan untuk memenuhi target yang diminta oleh pesan sponsor asing, yaitu musuh Allah pemerintah Amerika dan antekanteknya. Dan semua saksi yang diajukan oleh jaksa dari negara asing ini sebenarnya orang-orang yang tidak begitu saya kenal yang jarang bertemu saya bahkan di antara mereka ada yang bertemu saya dua kali saja selama saya di Malaysia, dia itu adalah Hasyim bin Abas dari Singapura, bahkan saksi yang namanya Jafar bin Mistoki sama sekali saya tidak kenal dan saya tidak pernah melihat wajahnya, dan saya baru tahu nama orang ini dari surat tuntutan JPU dan media masa. Dalam surat tuntutan JPU dan berita media masa saya mengetahui bahwa orang ini konon menasehati saya agar saya mengaku saja dengan jujur dan dia minta maaf kepada kerajaaan Singapura. Bagaimana mungkin orang yang tidak saya kenal menasihati saya agar saya mengaku seperti yang dituduhkan oleh JPU, untuk membenarkan kesaksiannya. Dan mana mungkin orang beriman yang konon berjuang menegakkan syariat Islam tapi akhirnya minta maaf kepada negara kafir Singapura sebagai sarang Yahudi di Asia Tenggara yang aktif memusuhi perjuangan syariat Islam, dengan alasan memerangi teroris. Berdasarkan kenyataan ini akhirnya saya mencurigai jangan-jangan orang ini adalah mata-mata Singapura yang pura-pura ditahan untuk menjadi saksi agar membenarkan dan meyakinkan adanya apa yang dinamakan JI, dan memperkuat tuduhan terhadap diri saya. Dan saya juga mengetahui bahwa saksi Faiz bin Abubakar Bafana sewaktu memberikan kesaksian dalam teleconference ia menangis, ini merupakan petunjuk yang jelas adanya tekanan batin karena ia harus mengatakan dan menerangkan yang bertentangan dengan hati nuraninya karena ia mendapat tekanan. Dan anehnya hampir semua saksi dalam teleconference setelah selesai dalam kesaksian memberi nasehat pada saya sebagai mana yang saya baca dalam surat tuntutan JPU dan berita media agar saya mengaku saja dengan jujur. Keadaan ini nampak sekali bahwa sudah direkayasa sebelumnya untuk mencapai target tekanan bukan untuk menegakkan keadilan. Ya Allah hukumlah perekayasa jahat karena inilah yang akan merusak Islam dan Umat Islam. Adapun saksi-saksi yang memberikan kesaksian lewat teleconference yang ada di Malaysia hampir tidak ada bedanya dengan saksi-saksi yang ada di Singapura. Mereka juga ditahan di bawah hukum rimba ISA yang sarat dengan tekanan, jangankan mereka sebagai rakyat biasa sedang mantan wakil PM Malaysia Datuk Anwar Ibrahim yang ditahan di bawah ISA juga tidak luput dari tekanan dan siksaan; apalagi saksi-saksi beliau disiksa habis-habisan oleh polisi agar mengakui

seperti yang dikehendaki polisi. Disamping itu kesaksian mereka juga hanya didasarkan kata orang lain yang ujungnya juga kembali kepada kata Hambali, tidak seorang pun di antara mereka yang mendengar sendiri dari keterangan saya atau melihat sendiri pengangkatan dan pelantikan saya menjadi amir apa yang dinamakan JI seperti yang mereka tuduhkan. Adapun kesaksian Ali Imron yang terungkap dalam persidangan hanya didasarkan dugaan dan penafsiran sendiri. Dan kesaksian Mubarok didasarkan atas berita yang ia dengar dari seorang yang namanya Fahim yang sampai hari ini orang tersebut misterius. Disamping kesaksian mereka yang diajukan oleh JPU, juga terungkap kesaksian para Ustadz yang diajukan oleh tim pembela semua saksi-saksi ini orang yang dekat dengan saya yang hampir tidak pernah berpisah dalam perjuangan menegakkan syariat Islam. Mereka-mereka itu ialah Doctor Helmy Bakar, Ustadz Afif Abdul Majid, KH Mudzakir, Ustadz Wahyudin, Ustadz Sholeh Ibrahim, Ustadz Said Sungkar dan Ustadz Mujiono; semua mereka menerangkan bahwa tidak pernah ada apa yang dinamakan JI, dan tidak benar bahwa saya adalah amirnya. Kalau benar saya sebagai amir apa yang dinamakan JI mereka pasti saya beritahu dan saya ajak bersama-sama memasuki apa yang dinamakan JI. Tetapi anehnya JPU membuang begitu saja kesaksian para Ustadz ini dan tetap mengambil kesaksian mereka yang lemah dasar sumbernya dan prosesnya bermasalah. Mengapa semua ini bisa terjadi? Sekali lagi karena adanya tekanan politik untuk memenuhi target pesanan. Wahai Sdr JPU bertobatlah! Sungguh langkah-langkah anda ini mendhalimi sesama orang beriman dan merugikan perjuangan demi menegakkan kalimat Allah. Tahukah anda bahwa dengan langkah anda orang kafir yang sedang memusuhui Islam bersorak-sorai sedang kaum muslimin hatinya sedih. Ya Allah berilah petunjuk sdr saya ini atau ambillah tindakan menurut kehendak-Mu, bila Engkau menghendaki! Engkau Maha Tahu dan Maha Bijaksana. JPU menuduh diri saya menyusun apa yang dinamakan PUPJI yang konon sebagai pedoman operasi apa yang dinamakan JI. Tuduhan ini berdasar kesaksian Ferial Muhlis yang mengatakan dalam kesaksiannya bahwa alm. Ustadz AS mengadakan pertemuan dengan saya dan Mukhlas untuk menyusun PUPJI sedang yang mengetik adalah saksi sendiri. Tuduhan ini sama sekali tidak benar; tidak pernah ada pertemuan semacam ini. Ferial Muhlis adalah pengusaha las yang membuat pintu dan pagar besi , ia sangat sibuk dengan pekerjaannya melayani pesanan sehingga datang ke pengajian saja sangat jarang apalagi mau mengikuti pertemuan-pertemuan untuk menyusun suatu konsep lalu jadi juru tulisnya, ini sangat tidak mungkin karena kesibukan kerjanya yang luar biasa. Bahkan saya lebih yakin bahwa pengakuan Ferial Muhlis ini karena tekanan dan rekayasa oleh karena dia menantu alm. ustadz AS maka seolah-olah tepat kalau diberi tugas sebagai penulisnya. Kepalsuan tuduhan dan kesaksian ini juga terungkap adanya pengakuan Mukhlas dalam persidangan saksi perkara saya, bahwa Mukhlas pernah mendengar apa yang dinamakan PUPJI pada tahun 1996/1997 (lihat surat tuntutan hal. 40). Menurut pendapatnya PUPJI hanyalah makalah hasil kajian jamaah-jamaah yang ada di dunia. Keterangan Mukhlas ini menunjukan berarti Mukhlas tidak pernah mengikuti suatu pertemuan dengan alm. AS dan saya untuk menyusun apa yang dinamakan PUPJI seperti yang diterangkan oleh Ferial Muhlis. Maka terbuktilah bahwa pertemuan itu tidak pernah

ada dan kesaksian Ferial Muhlis tentang hal ini sama sekali tidak benar. Lebih jauh dapat saya tambahkan bahwa di dalam dokumen yang oleh JPU dinamakan PUPJI itu terdapat istilah-istilah yang aneh, bahkan ada yang tidak dikenal dalam Bahasa Arab: Manthiqi Ula, Manthiqi Thalib, Manthiqi Rabi�ah, Ushulul Manhaj, dan penggunaan istilah Manthiqi dalam konteks yang katanya dibicarakan dalam PUPJI itu, tidak mungkin dipergunakan oleh orang yang menguasai Bahasa Arab dan mengerti kaidah-kaidahnya. Sedang setahu saya, saya merasa mengerti Bahasa Arab dan kaidahkaidahnya (lihat Surat Tuntutan halaman 6 dan 7). JPU menuduh diri saya (surat tuntutan hal. 128) mengetahui dan meyetujui saksi-saksi: Mas Slamet Kastari, Faiz Abu Bakar Bafana, Jafar Mistoki, Hasyim bin Abas, Achmad Sajuli, Agung Riyadi, Utomo Pamungkas alias Mubarok dan Suryadi Mas'ud, mengirim anggota Jamaah Islamiyah ke Afghanistan dan Philipina, dan menuduh saya pernah datang meninjau ke kamp pelatihan militer Al-Jama�ah Al-Islamiyyah di Mindanao Philipina, berdasarkan kesaksian Suryadi Mas�ud. Tuduhan ini dipaksakan dan sama sekali tidak benar. Saya sama sekali tidak tahu apa yang dinamakan kamp militer AlJama�ah Al-Islamiyyah, dan baru tahu istilah ini dari surat tuntutan JPU. Saksi yang dijadikan dasar tuntutan ini yakni orang yang namanya Suryadi Ma�sud dengan saya tidak saling mengenal dan dalam persidangan dia mengatakan hal ini berdasar pendengarannya dari pembicaraan Fathurrohman Al-Ghozi. Tuduhan ini sama sekali tidak benar, saya tidak pernah berurusan dengan mereka dalam hal hal seperti ini. Bahkan orang yang namanya Suryadi Mas�ud yang tidak saya kenal dan juga dia tidak mengenal saya kecuali lewat media, dalam pengakuannya di muka sidang waktu menjadi saksi kasus saya, ia menerangkan bahwa ia pernah mengirim orang ke Philipina lewat yayasan �Wahdah Islamiyah� yang diketuai oleh Ustadz Zaitun (surat tuntutan hal. 56). Sedang Achmad Sajuli megirim 20-30 orang ke Afghanistan dan Philipina tetapi tidak menerangkan bahwa pengiriman tersebut saya ketahui dan saya restui seperti yang dituduhkan oleh JPU. Maka jelaslah tuduhan ini tidak benar, hanya direka-reka oleh JPU. JPU menuduh diri saya bahwa saya menyetujui dan merestui Suryadi Mas�ud, Utomo Pamungkas, Mas Slamet Kastari, Jafar Mistoki, Ahmad Sajuli dan Fais Abu Bakar Bafana serta anggota Jamaah Islamiyah lainnya ke Afghan dan Kamp Hudaibiyah serta kamp Abu bakar di Mindanao Philipina, berdasarkan kesaksian mereka yang tersebut diatas. Tuduhan ini nampaknya hanya direka-reka saja dan saya tidak pernah sama sekali dan tidak pernah tahu keberangkatan ke tempat-tempat tersebut. Dalam persidangan kesaksian mereka tidak ada yang mengatakan bahwa saya merestui dan menyetujui keberangkatan mereka ke tempat-tempat tersebut seperti yang disebut dalam surat tuntutan. Bahkan orang yang namanya Suryadi Mas'ud tidak saya kenal dan dia juga tidak kenal saya kecuali tahu dari media masa, dan tidak pernah bertemu saya baik di Indonesia maupun di Malaysia dan tempat-tempat lain. Sungguh tuduhan ini merupakan fitnah dan kedhaliman yang luar biasa, yang lahir akibat tekanan dan untuk mengejar target yang telah ditetapkan. Saya tidak pernah tahu buku yang namanya Islamic Military Academy Al Jamaah Al Islamiyah, kecuali setelah diperlihatkan oleh majelis hakim dalam persidangan. Saya tidak tahu menahu dan tidak mengerti buku ini.

JPU menuduh (surat tuntutan hal. 129) bahwa berdasar keterangan Fais Abu Bakar Bafana bahwa ia bersama Zulkifli Marzuki dan Hambali menemui saya sekitar bulan November 2000 di Solo guna meminta persetujuan saya untuk meledakkan gereja-gereja di Indonesia, antara lain di Batam dan di Jakarta. Tuduhan ini sama sekali tidak benar. Faiz Abu bakar Bafana tidak pernah bertemu saya baik di Solo maupun di tempat lain sejak kepulangan saya ke Indonesia dari Malaysia tahun 1999 sampai hari ini. Adapun peledakan gereja-gereja jelas telah diakui oleh pelakunya yaitu Imam Samudra atas insiatifnya sendiri dkk antara lain Sa�ad dan Dhani, karena ia meyakini perbuatan itu sebagai pelaksanaan jihad Fiisabiilillah untuk membalas kekejaman sebagian orang-orang Nasrani yang membantai umat Islam di Maluku/Ambon. Hal ini terungkap dalam persidangan kesaksian Imam Samudra terhadap diri saya (surat tuntutan hal. 42). Demikian juga kesaksian pelaku-pelaku peledakan bom malam natal dan Atrium yaitu Taufiq bin Abdul Halim alias Dhani dan Eddy Setiono alias Abbas alias Usman (surat tuntutan hal. 31-33). Semua saksi-saksi ini dalam kesaksiannya sama sekali tidak menyebut bahwa saya tersangkut dan memberi restu pengeboman-pengeboman tersebut dan memang saya sama sekali tidak tahu perkara ini. Maka keterangan Fais Abu bakar Bafana seperti yang disebut di atas adalah sama sekali tidak mempunyai dasar dan tidak benar. JPU menuduh saya pernah didatangi Fais Abu bakar Bafana pada bulan April 2001 di rumah saya lalu mengadakan pertemuan dengan saya membicarakan pembuatan surat pengangkatan untuk Mukhlas alias Ali Gufron untuk menjadi ketua Manthiqi Ula, pertemuan ini disaksikan oleh orang yang bernama Mustakim. Disamping itu Fais Abu Bakar Bafana melaporkan hasil peledakan bom di gereja-gereja: di Batam, Pakanbaru, Medan, Jakarta, Bandung dan Mojokerto pada malam Natal tahun 2000. Dalam pertemuan ini dikatakan saya menyetujui pengangkatan Mukhlas sebagai ketua Manthiqi Ula. Dalam tuduhan JPU ini juga dikatakan bahwa saya menyetujui diteruskannya penyerangan terhadap gereja-gereja tetapi diarahkan kepada padri/pendeta dan jangan sampai mengenai orang awam yang menjadi korban. Tuduhan ini sama sekali tidak benar. Sejak saya pulang dari Malaysia ke Indonesia tahun 1999 sampai hari ini saya belum pernah berjumpa Fais Abu Bakar Bafana baik di Solo atau di tempat lain. Ustadz Sholeh Ibrahim yang bertanggung jawab mengkoordinir santri yang menjaga pintu gerbang pondok dan mendaftar tamu pondok, dalam kesaksiannya mengatakan bahwa tidak pernah ada orang yang namanya Fais Abubakar Bafana bertamu ke pondok, tidak ada dalam catatan buku tamu. Padahal kalau ada tamu yang ingin menemui saya di rumah, harus melalui pintu pondok dan mendaftarkan lebih dahulu di bagian tamu (surat tuntutan hal 112). Jadi sama sekali tidak ada bukti yang menunjukkan Fais Abubakar Bafana pernah datang ke rumah saya. Adapun orang yang namanya Mustakim yang dikatakan menyaksikan pertemuan saya dengan Faiz Abubakar Bafana itu sampai sekarang masih misterius, JPU tidak sanggup mendatangkan dia ke sidang pengadilan untuk menjadi saksi adanya pertemuan itu, karena orang ini mungkin tidak pernah ada. Adapun pengakuan Fais tentang surat pengangkatan untuk Mukhlas sebagai

ketua Manthiqi Ula juga dibantah oleh Mukhlas sendiri dalam kesaksiannya di depan pengadilan ini. Dalam tuduhannya JPU menyatakan bahwa Faiz Abu bakar Bafana ketika datang ke Solo menginap di hotel Beteng Jaya. Keterangan ini bertentangan dengan saksi Maryono pegawai hotel Beteng Jaya bagian tamu yang menyatakan bahwa Fais Abubakar Bafana memang pernah bertamu tetapi dia tidak menginap; dia berada di hotel ini hanya selama 3 jam saja (surat tuntutan hal. 48). Keterangan JPU yang bertentangan dengan pegawai hotel Beteng Jaya ini menunjukkan kecerobohan JPU dalam menyusun tuduhan. JPU menuduh konon Faiz Abubakar Bafana pernah datang lagi ke rumah saya mengadakan pertemuan yang dihadiri Amrozi, Arkom dan Zulkarnaen: dalam pertemuan ini saya minta kepada Faiz Abu Bakar Bafana agar menyampaikan kepada Mukhlas agar membunuh Megawati. Ini benar-benar fitnah keji yang sama sekali tidak didukung bukti. Sebagaimana saya katakan bahwa benar-benar sejak saya kembali ke Indonesia pulang dari Malaysia tahun 1999 sampai hari ini saya tidak pernah berjumpa dengan Faiz Abubakar Bafana baik di Solo atau di tempat lain bahkan tidak didapatkan bukti sedikit pun kedatangan Fais ke rumah saya karena tidak tercatat dalam buku tamu pondok; setiap tamu datang ke rumah saya pasti tercatat dalam buku tamu pondok. Bahkan Mukhlas dalam kesaksiannya di muka sidang pengadilan ini membantah sekeras-kerasnya bahwa dia pernah mendapat perintah dari saya melalui Fais Abubakar Bafana untuk membunuh Megawati. Sedangkan menurut pengakuan Amrozi, bahwa dia pernah datang ke pondok Ngruki dua kali bersama Ustadz Zakaria menjemput saya untuk memberi ceramah santrisantri pondok Al-lslam, ini berarti bertentangan dengan pengakuan Fais Abubakar Bafana yang dijadikan dasar tuduhan JPU bahwa Amrozi pernah menghadiri pertemuan antara saya dan Fais Abubakar Bafana di rumah saya. Maka menjadi jelaslah bahwa tuduhan JPU tentang pertemuan ini sama sekali tidak benar dan tidak ada bukti yang mendukung sedikit pun. Kesimpulan Sanggahan Tuduhan Pertama 1.a. Bahwa semua saksi yang diajukan oleh JPU untuk membuktikan bahwa saya sebagai amir dari apa yang dinamakan JI adalah sangat lemah karena semua saksi hanya mendengar dari orang lain yang puncak narasumbernya hanya seorang, yakni Hambali. Sedang para saksi tidak pernah mendengar langsung dari saya atau melihat sendiri pengangkatan dan pelantikan saya sebagai amir dari apa yang dinamakan JI sebagaimana yang dituduhkan. b. Semua saksi yang dari Malaysia dan Singapura sarat dengan tekanan karena mereka ditahan di bawah ISA dan di dalam memberikan kesaksian mereka berada di wilayah negara asing, disamping itu kesaksian lewat teleconference tidak ada UU yang mendasarinya. 2. Tuduhan bahwa saya menyusun apa yang dinamakan PUPJI bersama alm. Ustadz AS dan Mukhlas tidak terbukti, karena hanya didasarkan kesaksian Ferial Muhlis seorang tahanan ISA yang sarat dengan tekanan-tekanan dan kesaksian ini juga bertentangan dengan keterangan Mukhlas bahwa ia hanya pernah mendengar apa yang dinamakan

PUPJI pada tahun 1996/1997 bukan ikut menyusunnya . 3. Bahwa saya tidak mengetahui apa lagi menyetujui pengiriman dan pemberangkatan beberapa anggota apa yang dinamakan JI ke Afghanistan dan Philipina untuk latihan . 4. Saya tidak tahu menahu dan tidak pernah melihat tentang buku apa yang dinamakan �Buku Islamic Military Academy Al Jamaah Al Islamiyah�. 5. Saya tidak pernah didatangi Faiz Abu bakar Bafana yang konon untuk minta persetujuan meledakkan gereja-gereja. Bahkan sejak kepulangan saya ke Indonesia dari Malaysia tahun 1999 sampai hari ini saya tidak pernah berjumpa dengan Faiz Abu Bakar Bafana baik di rumah saya atau di tempat lain di Solo, atau ditempat lain di luar Solo. 6. Tidak pernah ada pertemuan antara saya dan Faiz Abu Bakar Bafana di rumah saya yang konon untuk membicarakan surat pengangkatan Mukhlas sebagai apa yang dinamakan Qoid Manthiqi Ula bahkan sejak kepulangan saya dari Malaysia 1999 sampai hari ini saya tidak pernah berjumpa Faiz abubakar Bafana. 7. Tidak pernah ada pertemuan antara saya dan Faiz Abubakar Bafana, Amrozi, Arkam dan Zulkarnaein di rumah saya yang konon untuk menyampaikan perintah saya kepada Mukhlas agar membunuh Megawati. Bahkan Amrozi mengakui bahwa dia hanya pernah datang ke rumah saya dua kali bersama Ustadz Zakaria untuk meminta saya memberi wejangan santri-santri pondok Al Islam Lamongan yang baru tamat. Jadi Amrozi tidak pernah datang ke rumah saya bersama Fais Abu Bakar Bafana. Disamping itu Mukhlas membantah keras saat kesaksian dalam sidang pengadilan ini tentang adanya perintah dari saya kepadanya untuk membunuh Megawati. Sekali lagi saya tegaskan bahwa saya tidak pernah berjumpa Fais Abu Bakar Bafana sejak kepulangan saya ke Indonesia tahun 1999 sampai hari ini. Maka jelaslah sudah bahwa tidak ada perbuatan saya baik ketika saya di Malaysia maupun setelah saya ke tanah air saya Indonesia, yang bertujuan makar untuk menjatuhkan NKRI dan mendirikan NII seperti yang dituduhkan JPU. Saya bukan amir apa yang dinamakan JI; bahkan saya tidak tahu apa yang dinamakan JI, saya tidak tahu dan tidak pernah berurusan dengan pengeboman- pengeboman yang terjadi dan tidak pernah terbetik di dalam hati saya untuk membunuh Megawati. Perbuatan saya selama di Malaysia hanya mencari rizki dan bertabligh mengajarkan Islam kepada masyarakat baik di rumah-rumah, mushola-mushola dan masjid-masjid tergantung dari permintaan mereka. Setelah kembali ke tanah air Indonesia hanya mengajar di pondok pesantren Ngruki, bertabligh di masjid-masjid, pengajian-pengajian umum dan memperjuangkan syariat Islam secara kafah lewat organisasi MMI, dengan langkah-langkah yang tidak bertentangan dengan peraturan yang ada. Maka Wallahi, menuduh saya berbuat makar untuk menjatuhkan pemerintahan NKRI dan menghukum saya karena tuduhan itu adalah merupakan perbuatan fitnah yang bertujuan menghalangi perjuangan menegakkan syariat Islam secara kaaffah di negara karunia Allah ini. Maka barang siapa yang berani menghalangi perjuangan Syariat Islam secara kaaffah ia termasuk Hizbu Syaithan, musuh Allah dan kaum muslimin. Bantahan Tuduhan Kedua dn Selanjutnya

JPU menuduh saya telah kehilangan kewarganegaraan Indonesia dan saya berstatus sebagai orang asing dengan alasan karena selama 14 tahun saya tinggal di Malaysia, saya tidak pernah menyatakan keingingan saya untuk tetap menjadi WNI (melapor) kepada kedubes Indonesia di Malaysia. Tuduhan ini saya rasakan sangat kejam dan tendensius. Saya tinggal di Malaysia bukan karena sebagai turis dan bukan pula untuk mencari pekerjaan tetapi akibat karena saya berjuang menentang penyelewangan Orba yakni menjadikan Pancasila sebagai satusatunya asas, lalu saya diancam dan dihukum semena-mena dengan ditahan selama empat tahun tanpa boleh didampingi pengacara, setelah itu diajukan pengadilan sandiwara, maka saya meyakini bahwa keputusan pengadilan waktu itu adalah merupakan kedhaliman yang wajib ditolak. Untuk menghindari ancaman ini saya berhijrah ke Malaysia dan menunggu sampai Allah menjatuhkan ORBA. Keberadaan saya di Malaysia terus dipantau dan diawasi lewat Kedubes Indonesia di Kuala Lumpur oleh pemerintah ORBA untuk sedapat mungkin ditangkap, bahkan rumah saya di Negeri Sembilan pernah didatangi dua orang intel ORBA: seorang dari BAKIN dan yang lain dari Atase Militer Kedubes; maka jelaslah bahwa Kedubes Indonesia di Kuala Lumpur pada zaman ORBA adalah tempat yang rawan bagi saya yang sedang menghindari usaha penangkapan ORBA terhadap diri saya. Itulah sebabnya saya tidak berani melapor ke Kedubes RI di Kuala Lumpur tentang keberadaan saya di Malaysia. Kalau saya nekat melapor dan memasuki komplek Kedubes saya pasti ditangkap. Jadi ketiadaan saya melapor ke Kedubes RI di Malaysia bukan karena saya melecehkan UU yang ada dan bukan juga berkeinginan melepaskan kewarganegaraan NKRI, tetapi karena ada alasan yang logis, yakni alasan keamanan akibat perjuangan menentang penyelewengan ORBA. Suatu saat yang saya nilai aman dari ancaman ORBA dan antek-anteknya, saya pulang ke Indonesia, meskipun semua dokumen perjalanan saya hilang; saya tidak sabar menunggu mengurus dokumen baru karena mengurus ini memerlukan waktu lama sedang dorongan keinginan saya untuk segera pulang ke tanah air untuk melanjutkan perjuangan sangat kuat. Kalau saya sudah tidak ada keinginan lagi untuk menjadi WNI tentu saya akan memilih tinggal di Saudi Arabia karena jalan untuk itu lapang bagi saya karena waktu itu saya dan teman-teman kalau mau akan dibantu oleh alm. Bapak M. Natsir untuk tinggal di Saudi Arabia, dan segala keperluan keluarga dicukupi. Tetapi langkah ini tidak saya pilih karena memang itu bukan tujuan saya. Tetapi tujuan saya untuk tetap melanjutkan perjuangan di negara saya sendiri, NKRI sampai akhir hayat. Adapun surat Akuan Pengenalan yang saya punyai, tujuan saya mencari surat ini ialah agar supaya saya dapat pergi ke Mekkah untuk menunaikan Ibadah haji. Dan pemahaman saya dan orang-orang Indonesia di Malaysia yang mempunyai surat ini memahami bahwa surat ini sama sekali tidak menyebabkan kehilangan kewarganegaraan Indonesia. Perlu diketahui bahwa orang Indonesia yang tinggal di Malaysia terutama yang tujuannya bekerja, banyak yang mempunyai surat Akuan Pengenalan. Dan pemerintah Indonesia selama ini tidak pernah mempersoalkan; dan mereka pulang kembali ke Indonesia seperti biasa. Tetapi mengapa hal ini dipersoalkan pada diri saya, padahal perjuangan saya menentang penyelewengan ORBA sesuai dengan keputusan Sidang MPR setelah gerakan reformasi. Yakni dicabutnya azaz tunggal yang selama ini saya tentang, sampai saya

dikejar kejar ke Malaysia, dan dicabutnya UU Subversif yang digunakan untuk menjerat saya. Jadi perjuangan saya saat itu bukan suatu kejahatan tetapi suatu usaha untuk meluruskan penyelewengan penguasa. Maka seharusnya persoalan ini tidak diperberat. Saya menduga keras JPU nekat berusaha melepaskan kewarganegaraan saya lewat tuntutan ini, karena ada maksud tersembunyi yaitu ingin menyerahkan diri saya ke negara asing yang sangat menentang perjuangan saya untuk menegakkan Syariat Islam secara kaaffah di Indonesia, dengan imbalan bantuan ekonomi. Sebab Singapura pernah menuntut kepada pemerintah RI agar saya diekstradisi ke negara ini, untuk diadili karena saya dianggap terlibat usaha-usaha meledakkan kepentingan Amerika di Singapura. Tetapi permintaan Singapura ini terhalang oleh adanya UU yang melarang warga negara Indonesia diekstradisi ke negara asing. Satu-satunya jalan untuk melicinkan tujuan ini mesti harus dicabut kewarganegaraan saya. Sungguh ini akhlak yang tidak terpuji. Maka saya mengharap Majelis Hakim mempertimbangkan soal ini dengan jernih dan jujur. Oleh karena saya masih yakin bahwa saya adalah WNI dan Indonesia adalah tanah air saya, di Indonesia saya dilahirkan dan dibesarkan oleh kedua orangtua saya, air dari tanah Indonesia yang saya minum dan makanan yang tumbuh di Indonesia yang saya makan, maka sekembali saya ke Indonesia, saya mengurus KTP karena KTP saya yang lama sudah habis. Dan proses pengurusan KTP ini saya laksanakan melalui peraturan yang ada dan menurut petunjuk pejabat-pejabat yang berwenang. Oleh karena itu saya sama sekali tidak merasa memalsukan dokumen dan memasukkan keterangan palsu sepeti yang dituduhkan JPU. Tanggapan Tentang Hal-hal yang Dipandang oleh JPU Memberatkan Diri Saya Majelis Hakim yang semoga diampuni oleh Allah Swt dalam kesempatan ini saya merasa perlu menanggapi hal-hal yang dipandang oleh JPU memberatkan saya sebagai berikut: 1. Terdakwa berusaha menggulingkan pemerintah yang sah. Tanggapan: Kesimpulan JPU ini sama sekali tidak didukung oleh fakta dan kenyataan. Kenyataan yang sebenarnya justru sebaliknya, yakni perbuatan saya selalu membantu pemerintah meskipun dalam bentuk kritik-kritik, nasehat-nasehat untuk meluruskan halhal yang bengkok. Pemerintah saya ingatkan agar kembali ke hukum Allah, mengatur syariat negara dengan hukum Allah demi keselamatan negara dan bangsa. Peringatan ini saya lakukan dengan mengirim surat kepada petinggi petinggi negara mulai presiden sampai menteri-menteri, di samping itu saya bersama-sama dengan ormas Islam lain menyampaikan pernyataan-pernyataan yang membangun lewat MPR/DPR. Kalau peringatan saya diikuti saya yakin pemerintah akan mampu mengatasi kerusakankerusakan yang ada. Inilah kenyataan tindakan-tindakan saya tentu saja ini bukan perbuatan makar. Sebaliknya saya tidak pernah menggerakkan rakyat untuk merongrong pemerintah, saya tidak pernah membuat kekacauan-kekacauan, misalnya dengan menggerakkan demonstrasi yang anarkis; setiap demonstrasi yang saya ikuti selalu berjalan tertib.

2. Perbuatan terdakwa menimbulkan keresahan Tanggapan: Kesimpulan ini pun sama sekali bertentangan dengan kenyataan. Perbuatan saya sehari-hari tidak pernah menimbulkan keresahan tetapi sebaliknya justru memberi ketenangan pada masyarakat, sebab sehari-hari pekerjaan saya mengajar dan berdakwah; dakwah saya ini tidak pernah menimbulkan keresahan, buktinya saya sampai hampir tidak punya waktu istirahat di rumah karena banyaknya permintaan dari masyarakat untuk mengisi pengajian-pengajian dan tabligh akbar. Sekiranya perbuatan saya selama ini meresahkan masyarakat, pasti saya diboikot dan tidak diminta untuk mengisi pengajian. Bahkan dalam kenyataannya yang menimbulkan keresahan justru perbuatan polisi yang menangkapi pejuang-pejuang penegak syariat Islam dan memata-matai mereka, menangkap saya waktu sakit dengan paksa dengan memecahkan pintu-pintu dan jendela kaca RS PKU Muhammadiyah Solo. Termasuk perbuatan yang meresahkan masyarakat tuntutan JPU terhadap diri saya yang begitu berat yang benar-benar menggembirakan musuh musuh Islam, dan mengecewakan umat Islam; inilah sebenarnya perbuatan yang meresahkan masyarakat. Semoga Majelis Hakim benarbenar arif dalam menanggapi hal ini. 3. Terdakwa sudah pernah dihukum Tanggapan: Saya dihukum oleh pemerintah Orde Baru bukan karena korupsi atau mernbunuh orang atau mencuri, tetapi saya dihukum karena saya meluruskan pemerintah ORBA yang menyalah-gunakan dasar negara Pancasila yang dijadikan sebagai asas tunggal. Perjuangan saya ini ternyata dibenarkan oleh MPR hasil reformasi yang telah mencabut asas tunggal itu. Jadi saya dihukum bukan karena saya salah, tetapi karena saya meluruskan kesalahan ORBA. Oleh karena itu sebenarnya saya didhalimi, bukan dihukum. Saya yakin semua orang yang jujur setelah reformasi ini tidak akan menyalahkan tindakan saya menentang aGERAKAN TERORIS DALAM MASYARAKAT ISLAM: ANALISIS TERHADAP GERAKAN JEMAAH ISLAMIYAH (JI)∗) Oleh: Zulkifli Haji Mohd Yusoff & Fikri Mahmud Abstract The Islamic society have been uproared recently by terrorism activities. Many observers assumed that among the terrorism movements have root causes in the Moslem community theirself. One of the groups were frequently connected with terrorist activities is Jemaah Islamiyah (JI). This article tries to discourse on this group detailly as it’s origin, ideology, and strategy of struggle, afterwards attempts to give the proper estimation to this group has

been listed into the terrorist organizations in the Southeast Asia. PENDAHULUAN Dalam setiap kelompok masyarakat, sama ada berbentuk agama dan kepercayaan mahupun aliran pemikiran dan kebudayaan, selalu sahaja ada sebahagian daripada mereka yang cenderung mendominasi kelompok lain. Tidak jarang keinginan tersebut diwujudkan secara paksa dan kadang-kadang dengan kekerasan. Persaingan antara kelompok sudah mewarnai sejarah kehidupan manusia, sejak dahulu hingga ke hari ini. Sejarah terorisme dirancakkan dengan munculnya kelompokkelompok pelampau dari berbagai agama. Kelompok ekstrim Yahudi, Zealot, terlibat dalam pembunuhan terhadap pegawai tinggi pemerintahan Rom yang dikenali sebagai kegiatan Sicarii sekitar tahun 66-73 M.; Assassin dilakukan oleh sebahagian kelompok Syi‘ah Isma‘iliyyah Nizariyyah pada abad ke-11 M.[1] Malahan sejarah terorisme moden diawali pada zaman revolusi Perancis (tahun 17931794) oleh kelompok Jacobin[2] yang dipimpin Robespierre;[3] sehinggalah ke abad 21 ini, gerakan terorisme tidak sepi daripada kumpulan-kumpulan agama. Tetapi di atas segala hal, masalah politik merupakan faktor utama di sebalik kemunculan gerakan keganasan ini. Banyak penganalisis di Barat yang lupa bahwa kekerasan yang timbul dari kalangan umat Islam secara tidak langsung disebabkan langkah dan tindakantindakan yang dilakukan oleh pihak luar, iaitu negara-negara Barat sendiri, mereka lalu mencari akar sejarah kepercayaan Islam yang dikatakan sebagai faktor pendorong gerakan tersebut; agama dianggap sebagai akar kekerasan dalam Islam.[4] Jihad dipandang sebagai punca timbulnya keganasan.[5] Pada sudut yang lain, kelompok-kelompok Muslim yang melakukan tindak keganasan sering dipanggil sebagai kelompok Islam fundamentalis, Islamis, radikal, ekstremis, militan dan sebagainya; sehingga apabila istilahistilah ini disebut maka yang terbayang dalam fikiran pendengarnya adalah sama dengan teroris. Padahal istilah-istilah tersebut mempunyai pengertiannya yang tersendiri. Seseorang mungkin saja seorang fundamentalis, tetapi belum tentu ia teroris. Walaupun kelompok-kelompok tersebut sering dikaitkan dengan kekerasan, namun tidak bererti semuanya mengamalkan terorisme. Karena itu mempersamakan mereka secara keseluruhan dengan teroris adalah suatu pengeliruan. Artikel ini membicangkan kumpulan Jemaah Islamiyah, salah satu kumpulan Muslim yang dikaitkan dengan keganasan di Asia Tenggara. Perbincangan meliputi asal-usul, ideologi, strategi perjuangan, dan wilayah

operasinal kumpulan tersebut; kemudian penulis akan memberikan penilaian yang sepatutnya, apakah Jemaah Islamiyah merupakan kelompok pengganas atau bukan. ASAL-USUL JEMAAH ISLAMIYAH Jemaah Islamiyah[6] (JI) adalah nama untuk kumpulan Muslim yang beroperasi di Asia Tenggara. Kumpulan ini menjadi popular selepas peristiwa pengeboman sebuah pusat hiburan di Bali pada 12 Oktober 2002, yang mengorbankan 202 nyawa, dan pengeboman di hotel J.W. Marriot, Jakarta, pada 5 Ogos 2003, yang membunuh 12 orang. Kemudian JI juga dipercayai bertanggungjawab ke atas pengeboman di depan pejabat Kedutaan Australia di Jakarta pada 9 September 2004, dan beberapa siri pengeboman gereja di Indonesia pada tahun-tahun sebelumnya. Oleh itu, JI secara rasmi dimasukkan ke dalam senarai organisasi teroris di PBB pada 23 Oktober 2002. Walaupun dilaporkan bahawa JI baru ditubuhkan di Malaysia sekitar tahun 1990-an oleh Abdullah Sungkar[7] bersama-sama dengan veteran perang Afghanistan yang terlibat dengan al-Qa‘idah, namun menurut sebahagian pengamat, akar kumpulan JI telah bermula sejak tahun 1970-an, ketika Sungkar dengan Abu Bakar Ba’asyir[8] mendirikan Sekolah Agama atau Pondok Pesantren al-Mukmin yang dikenali sebagai Pondok Ngruki di Solo, Jawa Tengah.[9] JI merupakan transformasi daripada gerakan Darul Islam (DI) yang pernah memberontak sekitar tahun 1950-an, bertujuan untuk mendirikan Negara Islam Indonesia (NII).[10] Dikabarkan bahwa Sungkar dan Ba’asyir masuk ke dalam DI tahun 1976. [11] Sungkar dilantik menjadi gabenor militer NII wilayah Jawa Tengah.[12] Pada bulan Februari 1977 ia menubuh dan memimpin kelompok pejuang yang diberi nama Jemaah Mujahidin Ansharullah (JMA) dan dianggap oleh sebahagian pengamat sebagai mukadimah bagi gerakan JI sekarang.[13] Menurut Mark Hong, Sungkar dan Ba’asyir akrab dengan Abdul Wahid Kadungga,[14] dialah yang memperkenalkan kepada mereka gerakan Jama‘ah Islamiyyah (Islamic Group), sebuah gerakan militan Muslim yang merupakan pecahan daripada Ikhwan al-Muslimin (IM) dan mulai popular di Mesir tahun 1970-an.[15] Ketika Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) ditubuhkan pada tahun 1967, Sungkar dan Ba’asyir memimpin cawangannya di Jawa Tengah. Mereka mendirikan stesyen Radio Dakwah Islamiyah Surakarta, yang secara terbuka menyeru melaksanakan jihad di Jawa Tengah, kemudian stesyen radio tersebut diarahkan oleh pemerintah supaya ditutup pada tahun 1975. Kerana itu, ketika menjelaskan kumpulan Jemaah Islamiyah, ICG Asia Report,[16] menyatakan:
Organisasi tersebut [JI] merupakan jelmaan sebuah hibrida ideologi (ideological hybrid). Ada pengaruh kuat dari kelompok Islam radikal di Mesir, dalam erti struktur organisasi, kerahsiaan, dan misi jihadnya. Gerakan Darul Islam pada tahun 1950an masih tetap menjadi ilham yang kuat, akan tetapi ada warna anti-Kristian yang menonjol pada ajaran-ajaran JI yang bukan ciri Darul Islam. Menurut orang-orang yang dekat dengan Abdullah Sungkar, hal itu akibat hubungan masa lalunya dengan

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), yang oleh seorang ilmuwan disebut “memiliki obsesi hampir paranoid, yang melihat usaha-usaha misionaris Kristian sebagai ancaman terhadap Islam, serta orientasi yang kian kuat kepada Timur Tengah, terutama Arab Saudi”.[17]

Pada tahun 1978, Sungkar dan Basyir dipenjarakan oleh pemerintahan Soeharto, kerana didakwa bersubuhat dengan kumpulan Komando Jihad[18] yang diketuai oleh Haji Ismail Pranoto (Hispran) untuk mencetuskan tindakan subversi, dan menuntut pelaksanaan Syari‘ah Islam di Indonesia. [19] Pada tahun 1982, mereka dibebaskan, namun kemudian ekoran peristiwa Tanjung Priok tahun 1984 yang mengorbankan banyak nyawa, keduanya kembali dituduh melakukan subversi. Inilah yang menyebabkan Sungkar dan Ba’asyir melarikan diri ke Malaysia tahun 1985 melalui Medan.[20] Dalam perjalanannya ke Medan, menurut sebahagian pengamat, Sungkar sempat singgah di daerah transmigrasi Lampung, Sumatera Selatan, iaitu kawasan penempatan transmigrasi (perpindahan penduduk) asal Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia sempat membentuk kumpulan yang dinamakan Jemaah Islamiyah di daerah Way Jepara. [21] Lampung telah menjadi asas gerakan Darul Islam yang kuat sejak 1970-an, dipimpin Abdul Qadir Baraja,[22] yang pernah menjadi guru dan turut mendirikan Pondok Ngruki dan kawan rapat Abu Bakar Ba’asyir, yang juga turut hadir pada kongres pendirian Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan dilantik sebagai ketua bahagian fatwanya. Way Jepara merupakan tempat bagi apa yang disebut sebagai Sekolah Satelit Pondok Ngruki, yang pada tahun 1989 menjadi pusat sebuah pertempuran berdarah antara warga Pesantren dengan Tentera Nasional Indonesia (TNI).[23] Mereka dikenali sebagai kelompok Mujahidin Warsidi. Mereka dianggap menentang ideologi negara, Pancasila.[24] Tiba di Malaysia Sungkar dan Ba’asyir bertemu dengan Abdul Wahid Kadungga, dialah yang menguruskan tempat tinggal bagi mereka. Sungkar dan Ba’asyir menetap di Kuala Pilah dengan menggunakan nama samaran; Sungkar menggunakan nama “Abdul Halim”, sedangkan Ba’asyir menggunakan nama “Abdus Somad”.[25] Di Malaysia mereka bertemu dengan pendatang lainnya yang berasal dari kelompok pemisah Aceh dan Sulawesi yang sebelumnya ada hubungan dengan DI. [26] Sungkar dan Ba’asyir meneruskan dakwahnya. Walaupun mereka sudah berada di Malaysia, namun tetap berhubung dengan rakan-rakannya di Indonesia, bukan sahaja yang berada di Jawa Tengah, tetapi juga di Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan. Mereka merekrut anggota yang bersedia berperang di Afghanistan.[27] Sungkar merekrut sukarelawan melalui Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dan mulai menghantar mereka ke Afghanistan sejak tahun 1985 dengan bantuan dana daripada Rabitah al-‘Alam al-Islami (Islamic World League).[28] IDEOLOGI JEMAAH ISLAMIYAH Menurut Sidney Jones, ada empat sumber yang mewarnai gerakan Jemaah Islamiyah.[29] Pertama, ideologi Salafiyah yang telah berakar sebelumnya pada gerakan Darul Islam (DI), yaitu berjuang untuk mewujudkan negara Islam untuk menegakkan syari‘ah Islam semurni-

murninya sebagaimana yang telah dilaksanakan oleh Nabi, para sahabat, dan generasi terdahulu (salaf). Sebahagian anggota gerakan DI Jawa Barat adalah anggota organisasi Persatuan Islam (PERSIS) yang didirikan oleh Ahmad Hassan pada tahun 1920-an, dan memiliki beberapa persamaan di segi fahaman keagamaan dengan faham Wahabi di Arab Saudi. Imam Samudera (Abdul Aziz) yang dituduh melakukan pengeboman di Bali adalah berasal daripada keluarga PERSIS.[30] Ketika masih belajar, Imam Samudera sangat akrab dengan salah seorang gurunya, Kyai Saleh As’ad, yang pernah jadi pemimpin Darul Islam di Banten pada tahun 1970-an.[31] Kedua, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang didirikan tahun 1967 oleh Mohammad Natsir dan rakan-rakannya yang merupakan bekas anggota Masyumi.[32] Natsir sendiri pernah memimpin PERSIS dan Parti Islam Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia) pada tahun 1950-an.[33] DDII semakin berorientasikan Salafiyah setelah Rabitah al-‘Alam al-Islami (Islamic World League) yang didirikan tahun 1962 dan berpusat di Arab Saudi, memberikan dana bantuan pendidikan, dakwah, dan pembangunan masjid melaluinya.[34] Natsir juga pernah menjawat jawatan wakil presiden Rabitah.[35] Dan Rabitah juga yang mendanai latihan ketenteraan yang diikuti oleh pengikut Abdullah Sungkar di Afghanistan. Ketiga, Ikhwan al-Muslimin (IM) di Mesir dan kumpulan pecahannya yang lebih keras, yaitu Jama‘ah Islamiyyah yang telah dihuraikan sebelum ini. Pemikiran tokoh-tokoh IM mempengaruhi Sungkar dan Ba’asyir serta memberi inspirasi bagi mereka untuk mendirikan gerakan usrah di Jawa Tengah. Sungkar juga meniru pola gerakan Jama‘ah Islamiyyah Mesir yang dipimpin oleh Syaikh ‘Umar ‘Abd al-Rahman yang tertuduh bersubuhat dalam kasus pengeboman WTC (World Trade Center), New York, tahun 1993. Dikatakan bahwa pada pertengahan tahun 1990-an, Sungkar dan Ba’asyir pernah berhubung dengan Usamah Rusydi dari kumpulan Jama‘ah Islamiyyah, Mesir.[36] Keempat, ideologi Mujahidin Afghanistan dan al-Qaedah, khususnya Abdullah Azzam. Sukarelawan yang dihantar oleh Sungkar ke Afghanistan mendapat latihan di kem pejuang yang dipimpin oleh Abdul Rasul Sayyaf yang berfahamkan Wahabi. Sayyaf ada hubungan dengan Azzam yang ketika itu memimpin Rabitah al-‘Alam al-Islami cawangan Peshawar. Azzam juga memimpin Maktab al-Khidmat yang merekrut, mendanai, dan melatih sukarelawan dari negara-negara Islam untuk berjuang melawan Soviet Union di Afghanistan. Tulisan-tulisan Azzam yang berkaitan dengan jihad diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Pustaka Al-Alaq, yang dipercayai mempunyai jaringan dengan JI atau Pondok Ngruki di Solo. Mukhlas (Ali Gufran) [37] mengakui bahwa ia banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Azzam. [38] STRATEGI PERJUANGAN JI

Seorang murid Sungkar mengatakan bahwa ia kerap memperbandingkan perjuangan kaum Muslimin di Indonesia dengan perjuangan Rasul di Makkah. Seperti Rasul yang harus merancang strategi perjuangan secara senyap, maka setiap upaya untuk berjuang secara terbuka bagi menegakan sebuah negara Islam akan ditumpaskan oleh musuh-musuh Islam.[39] Karena itu, JI merupakan sebuah organisasi rahsia. Strategi yang dilakukan JI untuk mencapai cita-citanya adalah dengan Iman, Hijrah dan Jihad.[40] Tahap-tahap perjuangan Rasul mulai dari Makkah secara sembunyi-sembunyi dan kemudian berhijrah ke Madinah setelah mendapat tentangan hebat dari kaumnya; pada akhirnya berjihad setelah umat Islam kuat, kembali semula ke Makkah menakluki kota tersebut dari penguasa jahiliyah, banyak mempengaruhi gerakan-gerakan Islam di berbagai negara.[41] Terinspirasi oleh gerakan Ikhwan al-Muslimin (IM), bahwa Negara Islam tidak mungkin akan berdiri tanpa terlebih dahulu digerakkan usaha Islamisasi terhadap individu-individunya (Islamisasi mulai dari bawah); maka langkahlangkah yang ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut adalah sebagai berikut: Pertama, mendakwah individu-individu muslim, ini dilakukan secara umum di masjid-masjid. Kedua, individu-individu yang sudah menerima dakwah tadi dikelompokkan ke dalam kumpulan kecil yang dipanggil usrah (daripada bahasa Arab, bermakna: keluarga). Dalam usrah-lah anggota baru mendapat pendidikan. Kegiatan usrah ini biasanya dilakukan dari rumah ke rumah secara bergilir-gilir, ini dilakukan secara tertutup. Ketiga, daripada kumpulan-kumpulan usrah tadi dibentuklah kelompok yang lebih besar lagi, Jama‘ah Islamiyyah. Dan akhirnya, himpunan daripada Jama‘ah ini akan membentuk sebuah Negara Islam. Sungkar dan Ba’asyir meminta para alumni pesantren al-Mukmin supaya masuk ke dalam jaringan usrah-usrah tersebut.[42] Pola gerakan usrah yang berasal daripada Ikhwan al-Muslimin (IM) ini kemudian juga menyebar di kampus-kampus universitai.[43] Sebahagian anggota gerakan ini kemudian banyak mengkritik dan menentang pemerintah Indonesia.[44] Cara yang dilakukan JI dalam merekrut anggota pejuangnya adalah sebagai berikut: Pertama, menyampaikan dakwah secara umum di masjid-masjid dan di pesantren-pesantren; Kedua, orang-orang yang nampaknya tertarik dengan dakwah tadi dijemput untuk menghadiri halaqah, yaitu pengajian tertutup dalam kumpulan kecil yang keanggotaannya lebih sedikit (usrah). Dalam halaqah ini anggota akan dibimbing oleh seorang murabbi (instruktor), dialah yang akan memimpin anggota melalui empat tahap: tabligh (penyampaian dakwah dan informasi), ta‘lim (pengajaran tentang agama Islam), tarbiyah (pendidikan dan latihan mental dan fizikal), dan tamhis (penyaringan). Pada peringkat tamhis, para peserta akan disaring dan diuji bakat serta keupayaan mereka, kemudian mereka akan dibai‘ah menjadi anggota yang setia sebagai pengikut JI.[45] Sungkar mengatakan bahwa untuk mewujudkan Dawlah Islamiyah itu diperlukan tiga kekutan: Quwwatul Aqidah (kekuatan akidah), Quwwatul

Ukhuwwah (kekuatan persaudaraan sesama muslim), dan Quwwatul Musallahah (kekuatan bersenjata). Namun cara atau alat yang amat penting dalam mencapai tujuan tersebut, menurutnya, adalah dengan melaksanakan jihad (perang). [46] JI juga membentuk pasukan khusus yang dipanggil dengan nama Laskar Khas. Antara tugas pasukan ini adalah melakukan serangan-serangan dan pengeboman.[47] WILAYAH OPERASI JEMAAH ISLAMIYAH JI bekerjasama dengan al-Qaeda setelah Abdullah Sungkar bertemu dengan Osama bin Laden di Afghanistan, awal tahun 1990-an.[48] JI yang telah mendapat semangat baru ini, sebagai tangan kanan al-Qaeda di Asia, tidak hanya bercita-cita mendirikan Negara Islam Indonesia sebagaimana diimpikan oleh DI, melainkan bertujuan lebih jauh lagi, iaitu mendirikan Negara Islam di Asia Tenggara atau Dawlah Islamiyyah Nusantara, yang terdiri dari Malaysia, Indonesia, Brunei, Thailand Selatan, dan Mindanao di Filipina, bahkan juga mencakupi Papua dan Australia. Pada akhirnya, JI berniat mendirikan Khilafah Islamiyyah yang akan menaungi umat Islam secara keseluruhannya. JI membagi Asia Tenggara kepada beberapa Mantiqi (region): 1. Mantiqi I, meliputi Semenanjung Malaysia dan Singapura, dipimpin oleh Hambali[49], kemudian setelah ia tertangkap dipimpin oleh Muchlas (Ali Ghufron). Mantiqi ini berperanan menyediakan keperluan ekonomi untuk operasi JI; 2. Mantiqi II, meliputi sebahagian besar wilayah Indonesia. Mantiqi ini merupakan sasaran jihad, dipimpin oleh Abdullah Anshori (alias Abu Fatih)[50]; 3. Mantiqi III, meliputi Mindanao, Sabah dan Sulawesi, berperanan melaksanakan latihan ketenteraan, dipimpin oleh Mustopa[51]; 4. Mantiqi IV, meliputi wilayah Papua dan Australia, berperanan mengumpul dana, dipimpin oleh Abdul Rahim.[52] Kemudian masing-masing mantiqi dibagi pula kepada wakalah (district, atau perwakilan), dan wakalah dibagi lagi menjadi fi’ah (cell, atau kelompok).[53] HUBUNGAN JI DENGAN KUMPULAN LAINNYA JI mempunyai hubungan dengan al-Qaeda, MILF, Abu Sayyaf, dan kumpulan-kumpulan pemisah Muslim lainnya yang ada di Asia Tenggara. Kumpulan-kumpulan tersebut secara organisasi tidak dapat dikatakan mempunyai hubungan langsung, masing-masing kumpulan mempunyai struktur organisasi yang bersifat independen. Apa yang mempersamakan mereka adalah ideologi dan cita-cita hendak mendirikan negara Islam. Hubungan antara mereka terjalin sejak anggota-anggota kumpulan berkenaan turut sama-sama terlibat dalam latihan tentera di Afghanistan - Pakistan, sama ada semasa perang melawan Soviet Union, mahupun sesudahnya. Sejak tahun 1994 pemimpin JI memutuskan untuk memindahkan pusat latihan

anggotanya dari Afghanistan ke Mindanao, dengan alasan kos yang lebih murah dan kedudukan logistiknya yang lebih dekat. JI sendiri membuka kem latihan baru dekat kem latihan Abu Bakar milik MILF, terletak antara Maguindanao dan Lanao del Sur, yang dinamakan dengan kamp Hudaibiyah. Kem ini kemudiannya diserang dan berjaya diduduki oleh pasukan pemerintah Filipina pada bulan April 2001. Pusat latihan dipindahkan ke kem Jabal Quba di Gunung Kararao. Dalam kem latihan tersebut anggota-anggota dari kumpulan JI, MILF, dan Abu Sayyaf mendapat latihan bersama-sama. Sebahagian anggota JI bahkan juga terlibat dalam beberapa peristiwa pengeboman di Filipina. Fathur Rohman al-Ghozi[54], misalnya, terlibat bersama-sama dengan anggota MILF dalam merancang lima serangan bom secara serentak di Manila pada 30 Disember 2000, bertepaatan dengan hari Rizal. Zulkifli[55], pemimpin kem JI perwakilan Hudaibiyah, terlibat pula bersama-sama dengan anggota MILF dan Abu Sayyaf dalam merancang beberapa serangan bom di Mindanao.[56] Selain daripada kem latihan di Mindanao tersebut, JI dan MILF juga membuka kem latihan baru di Poso, Sulawesi, Balikpapan dan Sampit di Kalimantan. Bahkan JI juga punya kem latihan di Blue Mountains, Australia.[57] Akhir tahun 1999, Abu Bakar Ba’asyir mengadakan pertemuan di Universiti Islam Antara Bangsa Malaysia, bagi mendirikan Rabitatul Mujahidin (RM).[58] RM merupakan gabungan kelompok pemisah yang berasal daripada Filipina, Indonesia, Malaysia, Myanmar, dan Thailand. Antara kumpulan yang turut terbabit dalam gabungan tersebut adalah Kelompok Mujahidin Malaysia (KMM, yang sering disebut sebagai Kumpulan Militan Malaysia); Laskar Jundullah, Darul Islam, Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Republik Islam Aceh dari Indonesia; MILF dari Filipina Selatan; the Rohingya Solidarity Organisation (RSO) dan Arakan Rohingya Nationalist Organisation (ARNO) dari Myanmar; dan the Pattani United Liberation Organisation (PULO) dari Thailand Selatan.[59] Malahan juga dikatakan bahwa pada pertemuan kedua RM yang dilaksanakan di Kuala Lumpur, pertengahan tahun 2000, turut hadir ialah wakil dari kumpulan Jihad Islam Mesir (Egyptian Islamic Jihad).[60] PENILAIAN TERHADAP JEMAAH ISLAMIYAH Pertama yang hendak dijelaskan adalah bahwa gerakan keganasan memang ada dilakukan oleh sekelompok anggota JI. Namun tidak semua anggota JI terlibat dalam kegiatan tersebut, sebahagian daripada mereka ada yang moderat, seperti yang dinyatakan oleh Greg Fealy, mereka turut serta dalam pendidikan agama yang menganjurkan kedamaian dan terbabit dalam kerja-kerja kebajikan.[61] Bahkan Abu Bakar Ba’asyir, menurut hasil penyelidikan ICG Asia Report, lebih bersikap moderat dan menentang aksi-aksi pengeboman. Ketika Abdullah Sungkar meninggal dunia pada November 1999, Ba’asyir menggantikannya sebagai ketua JI. Tetapi ramai pengikut Sungkar yang direkrut di Indonesia, terutama anakanak muda yang lebih keras, tidak berpuas hati dengan peralihan

kepemimpinan ke tangan Ba’asyir. Kelompok tersebut di antaranya termasuk Riduan Isamuddin (alias Hambali), Abdul Aziz (alias Imam Samudra), Ali Gufron (alias Muchlas), dan Abdullah Anshori (alias Abu Fatih), dan lain-lain. Mereka menganggap Ba’asyir terlalu lemah, terlalu bersikap akomodatif, serta terlalu mudah dipengaruhi orang lain. Perpecahan tersebut kian teruk ketika Ba’asyir bersama Irfan Awwas Suryahardy[62] dan Mursalin Dahlan[63], mendirikan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) pada bulan Ogos 2000. Menurut kelompok tadi, konsep MMI telah menyimpang dari ajaran-ajaran Abdullah Sungkar. Misalnya, mereka menganggap hal itu merupakan pengkhianatan terhadap ijtihad politik Sungkar agar JI tetap bergiat di bawah tanah hingga muncul saat yang tepat untuk menegakkan negara Islam. Tetapi, Abu Bakar Ba’asyir berdalih bahawa ruang keterbukaan yang ada pasca Soeharto membuka peluang-peluang baru; jika peluang tersebut tidak dimanfaatkan, maka hal itu bukan sahaja langkah yang salah, bahkan satu dosa. Kelompok tersebut membantah bahwa sistem politik mungkin sahaja lebih terbuka saat ini, namun ia masih dikuasai kaum kafir. Pengikut Sungkar menolak pandangan Fuad Amsyari, setiausaha MMI, yang mengusulkan perjuangan menegakan syari‘ah Islam sebaiknya melalui jalur parlimen seperti DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) serta memilih calon dari partai Islam pada pilihan raya. Pasca pengakuan Omar Al-Faruq yang kemudian dimuat dalam majalah Time edisi September 2002, terjadi pertemuan antara MMI dengan JI. MMI menyampaikan pandangan Abu Bakar Ba’asyir yang melihat aksi perjuangan bersenjata seperti peledakan bom sebaiknya dihentikan. Karena, hal itu akan memberi impak negatif bagi gerakan Islam.[64] Dilaporkan telah terjadi pertemuan antara MMI dengan JI di beberapa tempat antara lain di daerah Perak, Surabaya, Lamongan, Mojokerto. Dalam pertemuan itu pihak MMI membujuk JI untuk membatalkan kemungkinan melakukan pengeboman. Sebab, kalau Amerika Syarikat dan pemerintah Indonesia bertindak serentak, maka banyak aktiviti gerakan Islam akan turut terseret dan ditumpaskan. Pandangan Ba’asyir yang disampaikan wakil MMI dalam pertemuan itu tidak dihiraukan oleh anggota JI berhaluan keras. Meskipun secara de jure mereka masih mengakui Abu Bakar Ba’asyir sebagai ketua, tetapi mereka mulai mencari figur-figur baru calon pemimpin yang lebih sejalan dengan pemikiran mereka. Mungkin Ba’asyir mengetahui banyak tentang jaringan JI dan aksi-aksi pengeboman. Namun, hanya kemungkinan kecil sahaja dirinya dianggap sebagai perancang disebalik aksi-aksi tersebut.[65] Sebaliknya, kelompok berhaluan keraslah yang bertanggungjawab dalam perkara tersebut. Kedua, ideologi yang dipegangi oleh kelompok JI, sama ada dari Salfisme, atau Ikhwan al-Muslimin, dan lain-lainnya seperti telah dijelaskan

sebelum ini, tidak dapat dikatakan sebagai penyebab utama yang membuat anggota JI bertindak ganas.[66] Muhammad Rasyid Rida dan bahkan pendiri Ikhwanul Muslimin (IM) sendiri, Hasan al-Banna serta pengikut awalnya juga dikatakan mengikuti fahaman salaf (salafisme);[67] Tetapi, mereka bukanlah pengganas dan tidak menganjurkan tindakan keganasan.[68] Mohammad Natsir, pendiri DDI, juga seorang demokrat dan berfikiran moden. Dengan demikian, ideologi tidaklah dapat dikatakan sebagai penyebab utama timbulnya keganasan dari sebahagian anggota kelompok JI tersebut. Jika benar demikian, tentulah semua orang yang berpegang pada ideologi itu akan terbabit dalam tindakan keganasan. Dalam laporan ICG Asia Report, no. 83, 13 September 2004, terungkap bahwa pengikut aliran salaf di Indonesia terpecah menjadi dua: salafi murni, dan salafi jihadi. Yang pertama bertujuan memurnikan ajaran Islam daripada unsur-unsur syirik, bid‘ah dan khurafat. Mereka memahami jihad (dalam pengertian perang) sebagai usaha membela diri daripada serangan musuh, bukan menggempur atau memulai serangan (jihad talab} atau jihad hujum). Mereka juga tidak membabitkan diri dalam urusan politik, dan menolak pendekatan revolusi menggulingkan pemerintahan yang dipegang oleh seorang muslim. Sedangkan yang kedua bersikap sebaliknya, mereka ini umumnya adalah veteran perang Afghanistan.[69] Penulis berpendapat bahwa ada faktor kejiwaan yang mendorong kelompok berkenaan bertindak ganas. Secara umum mereka yang terlibat dalam kegiatan keganasan itu adalah golongan yang lebih muda, yang penuh dengan semangat dan keberanian, lebih-lebih lagi setelah mereka turut berperang di Afghanistan. Maka jiwa mereka telah serasi dengan suasana perang, dan cenderung menggunakan kekerasan terhadap orang-orang yang mereka anggap sebagai musuh. Dalam kumpulan al-Qaeda pun tidak semuanya menyetujui tindak keganasan. Abdullah Azzam sendiri, mentor Usamah bin Ladin, tidak merestui perjuangan menggunakan cara-cara keganasan. Sebaliknya, golongan yang lebih muda, seperti Ayman al-Zawahiri dan rakan-rakan yang berasal dari kumpulan Jihad Islam Mesir, inilah yang mendorong untuk melakukan kegiatan keganasan.[70] Ketiga, banyak pemerhati yang lupa bahwa lahirnya keganasan dari sekumpulan umat Islam itu secara tidak langsung disebabkan oleh tindakantindakan yang dilakukan oleh pihak luar negara, negara-negara Barat yang bersikap ‘double standard’. Mereka lupa bahwa pengeboman di Bali adalah setelah Amerika Syarikat dan sekutu-sekutunya menyerang Afghanistan dan memporak-perandakan Iraq. Malah pada masa yang sama, penindasan terhadap rakyat Palestin tetap berterusan. Keempat, tidak ada yang salah dalam fahaman Salafisme atau pun Wahabisme seperti yang banyak diungkapkan; seketat apa pun pandangan dan pendapat mereka, mereka tetap berniat untuk mengikuti ajaran Islam yang benar, sesuai dengan yang pernah diamalkan oleh Rasulullah, para sahabat, dan generasi sesudahnya. Apa yang salah adalah sikap yang terbit dari

segolongan pengikutnya untuk memaksakan fahaman mereka pada orang lain dan cenderung menafikan fahaman lainnya. Kelima, adanya kecenderungan pihak Barat untuk mengaitkan fundamentalisme, Salafisme, Wahabisme, atau pun Islamisme dengan terorisme. Tindakan ini adalah salah kerana membuat kesimpulan secara umum (generalisation). Hal ini sebetulnya juga mencerminkan sikap mereka yang terlalu fanatik kepada sekularisme yang cenderung menolak peranan agama dalam kehidupan bermasyarakat. Jangankan menjadikan Islam sebagai dasar kehidupan bernegara, menjadikan Kristian sekalipun sebagai dasar negara akan tetap mereka tentang. Penulis melihat bahwa ini merupakan suatu helah daripada Barat sekular untuk mengajak dunia umumnya menolak peranan agama dalam kehidupan bernegara, sehingga setiap anjuran untuk kembali kepada agama akan dilabel dengan istilah-istilah yang bersifat pejoratif dan tidak enak didengar. Mengikut kepada Roger Garaudy,[71] sikap seperti ini pun sebetulnya dapat juga disebut sebagai fundamentalisme, yaitu fundamentalisme sekular. KESIMPULAN Jemaah Islamiyah sebenarnya adalah organisasi dakwah yang berorientasikan politik, bercita-cita hendak mendirikan negara Islam di Asia Tenggara. Sepeninggalan Abdullah Sungkar, JI terpecah menjadi dua bahagian : Yang pertamanya, adalah kelompok moderat yang lebih menekankan pada perjuangan dengan cara Islamisasi dari bawah dan memanfaatkan peluang politik yang ada; dan yang keduanya, adalah kelompok berhaluan keras yang cenderung menggunakan tindak kekerasan, bahkan keganasan bagi mencapai tujuan. Oleh itu, tidaklah adil untuk mengatakan bahwa JI adalah organisasi teroris, hanya karena sekelompok kecil anggotanya melakukan tindakan keganasan.

∗) Artikel ini diterbitkan pada Jurnal Usuluddin, Bil. 21, J. Akhir 1426H / Julai 2005, hh. 39-62. [1] Warter Laqueur (1977), Terrorism, c. 4. Boston-Toronto: Little, Brown and Company, hh. 6-8; Tom O’Connor (2004), “The Criminology of Terrorism: History, Law, Definitions, Typologies”, dlm. Laman web: http://faculty.ncwc.edu/toconnor/429/429lect01.htm, tarikh akses 25 April 2004. [2] Kelompok Jacobin mulanya berasal daripada the Club Breton di Versailles, kemudian diberi nama Jacobin setelah mendapat saran dari para paderi golongan Dominican atau Jacobin di Paris tahun 1789. Dominican adalah Ordo Praedicatorum (OP), dikenali juga sebagai Friars Preachers (Para Rahib Pembaca Khotbah), Black Friar, atau Jacobin, didirikan oleh St. Dominic di Italy tahun 1216 untuk membela dan memelihara kepercayaan Katholik Roma. Lihat Robert Allen (ed.) (1994), Chambers Encyclopedic English Dictionary. Cambridge: The University Press, h. 376 dan 668. [3] Robespierre (Maximilien François Marie Isodore de) (1758-94), seorang pemimpin dalam revolusi Perancis. Ia adalah anggota kelompok Jacobin, dalam Majelis Kebangsaan (the National Assembly) terkenal sebagai seorang radikal dan ‘the

incorruptible’ (tak dapat disogok). Ia terpilih sebagai wakil Paris dalam Konvensi Kebangsaan (the National Convention). Pada tahun 1793 ia bergabung dengan Komisi Keselamatan Rakyat (the Committee of Public Safety), tiga bulan kemudian menguasai negara dan memperkenalkan Pemerintahan Terror (the Reign of Terror). Ia menggunakan kekuasaan tanpa belas kasihan, akhirnya ia ditangkap dan bersama anggota-anggota setianya dan dijatuhi hukuman mati oleh tribunal revolusi. Lihat Robert Allen (ed.) (1994), op.cit., h. 1081. [4] Lihat François Burgat (2003), Face to Face with Political Islam. London – New York: I.B. Tauris, h. xiii. [5] Lihat Zulkifli Hj. Mohd. Yusoff & Fikri Mahmud (2004), “Islam dan Imej Keganasan: Satu Analisa Tentang Prinsip Jihad Dalam al-Qur’an”, (Kertas Kerja, Seminar Pemikiran Islam Antarabangsa, Fakulti Pengajian Islam, Universiti Kebangsaan Malaysia, 7-9 Disember 2004), dapat juga diakses dalam laman web http://fikrimahmud.tripod.com/artikel.htm. [6] Jemaah Islamiyah berasal daripada bahasa Arab, Jama‘ah Islamiyyah yang berarti: kelompok Islam atau Islamic Organisation. [7] Abdullah Sungkar, lahir tahun 1937 di Solo, berasal dari keluarga ternama pedagang batik, berketurunan Arab Yaman. Ia ikut mendirikan Pondok Ngruki (Pesantren al-Mukmin) di Solo, Jawa Tengah dan Pesantren Luqmanul Hakiem di Johor, Malaysia. Ditahan beberapa waktu tahun 1977 kerana mempengaruhi masyarakat untuk golput (golongan putih: tidak mengundi dalam pilihanraya), kemudian ditangkap bersama Abu Bakar Ba'asyir pada tahun1978 atas tuduhan subversif, kerana didakwa terbabit dengan kumpulan Komando Jihad/Darul Islam, dipenjarakan selama tiga setengah tahun. Beliau kemudian lari ke Malaysia tahun 1985, kerana dituduh menghasut orang ramai menolak Pancasila yang mengakibatkan terjadinya peristiwa Tanjung Priok tahun 1984. Setelah kejatuhan rejim Soeharto, Sungkar pulang ke Indonesia dan wafat di Indonesia pada bulan November 1999. Lihat “Indonesia Backgrounder: How The Jemaah Islamiyah Terrorist Network Operates”, ICG (International Crisis Group) Asia Report, No.43, 11 Disember 2002, h. 32. [8] Abu Bakar Ba'asyir bin Abu Bakar Abud, biasa dipanggil Ustaz Abu, lahir di Jombang, 17 Agustus 1938, juga berketurunan Arab Yaman. Pendidikannya adalah mantan Siswa Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur (1959) dan alumni Fakultas Dakwah Universitas Al-Irsyad, Solo, Jawa Tengah (1963). Menjadi aktivis Himpunan Mahasiswa Islam Solo; menjawat jawatan Setiausaha Pemuda Al-Irsyad Solo; terpilih menjadi Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (1961), Ketua Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam; memimpin Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Solo, Jateng (1972); lari ke Malaysia 1985, kembali ke Indonesia setelah Soeharto berundur. Ikut mendirikan Robitatul Mujahidin (RM, sekutu kumpulan pemisah dari Filipina, Indonesia, Malaysia, Myanmar, dan Thailand) di Malaysia akhir tahun 1999, dan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) bulan Ogos 2000. Beliau kononnya menggantikan kepemimpinan Abdullah Sungkar di Jemaah Islamiyah setelah ia wafat tahun 1999, tetapi dianggap kurang radikal oleh anggota JI. Lihat Levi Silalahi (2004), “Abu Bakar Ba’asyir”, Tempo Interaktif, 17 April 2004 dan ICG Asia Report, No. 43, h. 32. [9] Lihat “Jemaah Islamiyah in South East Asia: Damaged but Still Dangerous”, ICG Asia Report, No. 63, 26 Agustus 2003, h. 2. Pondok Pesantren Al-Mukmin didirikan pada 10 Mac 1972 oleh Abu Bakar Ba'asyir bersama Abdullah Sungkar, Yoyo Roswadi, Abdul Qohar H. Daeng Matase dan Abdul Qadir Baraja. Lokasi Pondok Pesantren ini terletak di Jalan Gading Kidul 72 A, Desa Ngruki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Ia menempati kawasan seluas 8.000 meter persegi, terletak 2.5 kilometer dari Solo. Kewujudan pondok ini adalah bermula dari kegiatan pengajian kuliah Zuhur di Masjid Agung Surakarta. Apabila jumlah jamaah semakin ramai, para mubaligh dan ustaz kemudiannya berusaha mengembangkan pengajian itu menjadi Madrasah Diniyah. Lihat “Sekilas Ustadz Abu Bakar Ba'asyir”,

http://www.majelis.mujahidin.or.id/index.php?option=com_content&task= view&id=144, tarikh akses 01 Mai 2004. [10] Dalam wawancaranya dengan Nida’ul Islam, Sungkar menjelaskan: “The embryo of this Jama'ah [JI], which is more well known as Darul Islam (DI/TII) has already declared its proclamation as the Islamic Nation of Indonesia (NII) on the 7th Agustus 1949 in Malangbong, West Java”. Lihat “Soeharto’s Detect, Defect and Destroy Policy Toward Islamic Movement”, dimuat dalam laman web http://www.islam.org.au/articles/17/indonesia.htm, tarikh akses, 24 April 2005. [11] Lihat Barry Desker (2003), “The Jemaah Islamiyah (JI) Phenomenon in Singapore”, Contemporary Southeast Asia, Vol 25, No. 3, Disember 2003, h. 495. Gerakan Darul Islam (DI) bermula sejak tahun 1947, dipimpin oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo. Pada Januari 1948, Kartosuwirjo mendirikan Tentara Islam Indonesia (TII). Bulan Agustus 1949, Kartosuwirjo mengisytiharkan Negara Islam Indonesia (NII) yang kemudian dikenali juga sebagai Darul Islam (DI). Tahun 1950-an DI/NII melancarkan perang melawan pemerintah. Walaupun pemberontakan DI berpangkalan di Jawa Barat, namun kemudiannya ia juga tersebar ke Aceh tahun 1950, dipimpin oleh Tengku Muhammad Daud Beureueh, dan ke Sulawesi Selatan tahun 1953, yang dipimpin oleh Kahar Muzakkar. Menjelang kematiannya pada 1962, Kartosuwirjo dilaporkan menunjuk Daud Beureueh sebagai Imam kedua NII. Pemimpin Darul Islam di Jawa Timur, Haji Ismail Pranoto (Hispran), pada tahun 1973 atau 1974 ketika ke Aceh memohon restu daripada Daud Beureueh untuk menghidupkan kembali Darul Islam. Sebagai Imam, Daud Beureueh dilaporkan secara peribadi mendukung Hispran dalam membawa masuk Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar ke dalam Darul Islam pada tahun 1976, meskipun ia sendiri tidak pernah bertemu secara langsung dengan mereka. Lihat ICG Asia Report, No. 43, h. 9 [12] Lihat Sidney Jones (2003), “Jemaah Islamiyah: A Short Description”, Jurnal Kultur, Vol. III, No. 1, Th. 2003, http://www.pbbiainjakarta.or.id/kultur/? Berita=052403035304&Kategori=16&Edisi=9, tarikh akses 24 April 2005. [13] Bilveer Singh (2004), “The Emergence of the Jemaah Islamiyah Threat in Southeast Asia: External Linkages and Influences”, (Kertas Kerja pada workshop “International Terrorism in Southeast Asia and Likely Implications for South Asia”,The Observer Research Faoundation, New Delhi, India, 28-29 April 2004). [14] Abdul Wahid Kadungga adalah menantu kepada Kahar Muzakkar, pemimpin DI Sulawesi Selatan. Tahun 1971 ia pergi ke Eropa dan menjadi pelajar di Cologne, Jerman. Ia bergabung dengan PPME (Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa). Dalam persatuan tersebut ia berkenalan dengan aktivis-aktivis pemuda dari Timur Tengah, dan menjadi lebih radikal. Kadungga merupakan seorang aktivis Islam antarabangsa. Menurut Suara Hidayatullah, kadang kala Kadungga berada di Belanda, kadangkadang ia berbincang dengan pemimpin PAS (Partai Islam Se-Malaysia) di Kelantan atau Terengganu, dan kadang kala ia bertemu dengan Osam bin Laden di pedalaman Afghanistan. Lihat “Abdul Wahid Kadungga: Aktivis Internasional”, Suara Hidayatullah, Oktober 2000, http://www.hidayatullah. com/2000/10/siapa.shtml; Lihat juga ICG Indonesia Briefing, 8 Agustus 2002, h. 16. [15] Mark Hong (2003), “Jemaah Islamiyah: The Threat and Responses”, (Kertas Kerja, Institute of Defence and Strategic Studies (IDSS), Nanyang Technological University, Singapore), h. 3. Lihat http://sam11.moe.gov.sg/racialharmony/download %5CJemaah_Islamiyah_final.pdf, tarikh akses 24 April 2005. Pada awal tahun 1970an, Jama‘ah Islamiyah (JI) Mesir sangat akrab dengan pemerintah. Presiden Anwar Sadat yang baru sahaja berkuasa membebaskan tokoh-tokoh Ikhwan al-Muslimin yang dipenjarakan dan memanfaatkan kelompok-kelompok Islam untuk melawan kelompok kuat yang menganut paham marksisme yang sebelumnya didukung oleh Presiden Gamal Abdul Nasser. Walaupun demikian, berbeda dengan pemerintah negaranya, JI bertujuan untuk mendirikan Negara Islam. Sejak tahun 1970-an, Abdullah Sungkar sudah mengisyaratkan perlunya mendirikan organisasi (kumpulan) baru yang dapat bekerja lebih efektif guna mencapai sebuah negara Islam, dan

organisasi tersebut ia namakan Jamaah Islamiyah (JI). Ada kemiripan antara JI Mesir dan JI Sungkar – Ba’asyir. Unsur-unsur kesamaannya adalah perekrutan, pendidikan, ketaatan, dan jihad. Lihat International Crisis Group (ICG) Asia Report, No. 43, 11 Disember 2002, h. 5. [16]Ibid. [17] Martin van Bruinessen (2002), “Geneaologies of Islamic Radicalism in Post-Suharto Indonesia”, ISIM dan Utrecht University. Lihat http://www.let.uu.nl/~martin.vanbruinessen/personal, tarikh akses 24 April 2005. [18] Komando Jihad adalah nama yang digunakan pemerintah Soeharto bagi gerakan Darul Islam yang diaktifkan semula pada pertengahan 1970-an. Gerakan ini sebetulnya diaktifkan oleh Ali Moertopo, panglima kanan Angkatan Darat (Tentera Darat) yang bertanggung jawab terhadap operasi rahsia, untuk menyingkirkan kelompok Muslim yang menentang Soeharto sebelum pilihanraya 1977. Pemerintah masa itu sering menggunakan istilah Komando Jihad dan Jemaah Islamiyah secara silih berganti. Untuk huraian lebih lanjut, lihat “Al-Qaeda in Southeast Asia: The case of the “Ngruki Network” in Indonesia”, ICG Indonesia Briefing, 8 Agustus 2002, hh. 58. [19] ICG Asia Report, No. 43, 11 Disember 2002, h. 39. [20] Pada tahun 1983, Sungkar dan Ba'asyir ditangkap. Mereka dituduh menghasut orang ramai untuk menolak Pancasila yang menyebabkan terjadinya peristiwa Tanjung Priok; melarang pelajarnya melakukan upacara hormat kepada bendera negara kerana menurut mereka ianya adalah perbuatan syirik; mereka bahkan dianggap bahagian daripada gerakan Hispran (Haji Ismail Pranoto). Oleh ini, keduanya dihukum 9 tahun penjara oleh mahkamah. Pada 11 Februari 1985 ketika kesnya dibicarakan masuk kasasi, Ba'asyir dan Sungkar dikenakan tahanan rumah, saat itulah Ba'asyir dan Sungkar melarikan diri ke Malaysia. Mereka menyeberang ke Malaysia melalui Medan. Lihat “Sekilas Ustazd Abu Bakar Ba’asyir”, op. cit. [21] Lihat Greg Barton (t.t.), “Assessing the Threat of Radical Islamism in Indonesia”, dalam laman web http://www.sisr.net/apo/Islamism_in_Indonesia.rtf, tarikh akses 31 Mai 2005 [22] Abdul Qodir Baraja merupakan rakan Sungkar dan Ba’asyir sejak awal dan pernah mengajar di Pondok Ngruki. Ia mengarang sebuah buku “Hijrah dan jihad” yang ditulisnya pada pertengahan 1970-an, dan salah satu tuduhan yang dikenakan kepada Baraja adalah bahwa ia berusaha menghakis ideologi negara, Pancasila, pada masa Soeharto dengan cara menyebarkan buku tersebut. Baraja dipenjarakan dua kali kerana tindakan kekerasan. Pertama kerana tertuduh sebagai anggota kumpulan “Teror Warman” (julukan yang juga diberikan oleh pemerintah untuk jenayah yang dilakukan oleh anggota Jemaah Islamiyah). Mulai bulan Januari 1979, ia dipenjarakan tiga setengah tahun. Tindakan kekerasannya yang kedua yang menyebabkan dia dihukum penjara selama tiga belas tahun berkaitan dengan pengeboman pada sebuah gereja di Malang pada bulan Disember 1984, dan di Borobudur pada 21 Januari 1985. Meskipun lahir di Sumbawa, Baraja menghabiskan sebagian besar zaman dewasanya di Lampung. Pada tahun 1997, setelah dibebaskan dari penjara, Baraja mendirikan organisasi baru yang bertujuan untuk mengembalikan khilafah Islamiyah. Organisasi itu bernama Khilafatul Muslimin, berpusat di Teluk Betung, Lampung, dan cawangannya ialah di kampung halaman Baraja di Taliwong, Sumbawa. Pokok-pokok pemikiran Baraja disajikan secara umumnya dalam sebuah buku yang diterbitkan tahun 2001 bertajuk Gambaran Global Pemerintahan Islam (diterbitkan oleh penerbit Rayyan al Baihaqi Press, Surabaya). Buku tersebut menyeru penerapan syari‘ah Islam di bawah pemerintahan yang dipimpin wakil Allah bernama Ulil Amri. ICG Asia Report, No. 43, 11 Disember 2002, h. 16; dan ICG Indonesia Briefing, 8 Agustus 2002, h. 8. [23] ICG Asia Report, No. 43, 11 Disember 2002, h. 8. [24] Untuk huraian lebih terperinci lihat “Al-Qaeda in Southeast Asia: The case of the “Ngruki Network” in Indonesia”, ICG Indonesia Briefing, 8 Agustus 2002, h. 15.

[25]Tempo, 9 November 2002; Kumar Ramakrishna (2004), “Constructing” The Jemaah Islamiyah Terrorist: A Preliminary Inqury”, (Kertas Kerja, Institute of Defence and Strategic Studies Singapore, No. 71, Oktober 2004), h. 10. [26] Bruinessen (2002), op. cit. [27] Greg Barton (t.t.), op. cit. [28] ICG Asia Report, No. 63, 26 Agustus 2003, h. 4. [29] Lihat Sidney Jones (2003), “Jemaah Islamiyah: A Short Description”, Jurnal Kultur, Vol. III, No. 1, tahun 2003, dalam http://www.pbbiainjakarta.or.id/kultur/? Berita=052403035304&Kategori= 16&Edisi=9, tarikh akses 24 April 2005. [30] Abdul Aziz (alias Imam Samudra) adalah dituduh sebagai perancang utama pengboman Bali, ditangkap 21 November 2002. Lahir di Serang, Banten, Jawa bahagian Barat. Beliua lulus dengan predikat salah satu lulusan terbaik tahun 1990 dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I di Serang. Pada 1988, ia menjadi ketua HOSMA (Himpunan Osis Madrasah Aliyah). Dalam himpunan tersebut beliau terkenal sebagai aktivis agama dan bersifat radikal kerana didikan salah seorang guru pada madrasahnya, bekas pemimpin Darul Islam, Kyai Saleh As'ad. Abdul Aziz berangkat ke Malaysia tahun 1990. Ibu-bapanya, Ahmad Sihabudin dan Embay Badriyah, merupakan pengikut PERSIS. ICG Asia Report, No. 43, 11 Disember 2002, h. 34. [31] Ibid,, h. 27. [32] Masyumi dibubarkan oleh Presiden Soekarno tahun 1960-an, kerana sebahagian daripada pemimpinnya (termasuk Natsir) berkonfrontasi dengan Soekarno dan terlibat dalam pemberontakan PRRI di akhir tahun 1950-an. Setelah kekuasaan dipegang oleh Soeharto, Masyumi tetap dilarang bergerak dan bekas pemimpinpemimpinnya tidak dibenarkan berpolitik. Ketika itu Natsir dan kawan-kawannya beralih ke bidang dakwah, mereka mendirikan DDII. “Before we used politics as a way to preach, now we use preaching as a way to engage in politics” (Dulu kita berpolitik sebagai cara untuk berdakwah, sekarang kita berdakwah sebagai cara untuk berpolitik), kata Natsir. Lihat Ramakrishna (2004), op. cit., h. 5. [33] Patut diingat bahwa pemimpin-pemimpin DI, Kartosuwirjo (Jawa Barat), Kahar Muzakkar (Sulawesi Selatan) dan Daud Beureueh (Aceh), adalah berasal dari kalangan Masyumi. Tetapi berbeza dengan mereka, Natsir dan rakan-rakannya lebih bersifat moderat dan demokratik, ia memilih memperjuangkan Islam sebagai dasar negara secara demokratik, melalui konstitusi (parlimen). [34] DDII juga menjadi saluran utama di Indonesia guna memberikan biasiswa kepada para pelajar untuk melanjutkan pelajaran ke Timur Tengah. Natsir juga yang menganjurkan penubuhan LIPIA (Lembaga Pengetahun Islam dan Arab) di Jakarta tahun 1980. LIPIA merupakan cawangan Universiti Imam Muhammad bin Saud di Riyadh. Kurikulum dan buku-buku rujukannya berasal dari Arab Saudi. Ramakrishna (2004), op. cit., h. 6. [35] Lihat Bruinessen (2002), op. cit. [36] Greg Barton (t.t.), op. cit. [37] Ali Gufron (alias Muklas/Muchlas alias Huda bin Abdul Haq), berasal dari Lamongan, Jawa Timur, abang kepada Amrozi, lulusan Pondok Ngruki tahun 1982, veteran perang Afghanistan, penduduk tetap Malaysia. Beliau mengajar di Pesantren Luqman al-Hakiem di Johor. Ia berkahwin dengan Farida, saudara perempuan Nasir Abbas dan Hashim Abbas yang juga anggota JI. Beliau kononnya mengambil alih tanggungjawab operasi JI di Singapura dan Malaysia daripada Hambali ketika pihak antarabangsa berusaha untuk menangkap Hambali. ICG Asia Report, No. 43, 11 Disember 2002, h. 35. [38] Lihat “Jemaah Islamiyah in South East Asia: Damaged but Still Dangerous”, ICG Asia Report, no. 63, 26 Agustus 2003, h. 3. [39] ICG Asia Report, no. 43, 11 Disember 2002, h. 5 [40] Kepada Nida’ul Islam Sungkar mengatakan: “Jama'ah Islamiyyah which has the purpose of establishing Dawlah Islamiyyah by applying the strategies of Eeman

[Iman], Hijrah and Jihad”. Lihat “Soeharto’s “Detect, Defect and Destroy Policy Toward Islamic Movement”, op. cit. [41] Pola perjuangan yang menerapkan konsep hijrah dan jihad banyak digunapakai oleh gerakan-gerakan Islam. Kelompok-kelompok tersebut membina perkampungan tersendiri dan menganjurkan kepada para pengikutnya untuk berhijrah ke sana, meninggalkan lingkungan masyarakat yang dianggap jahiliyah. Kemudian mereka mengembelingkan kekuatan untuk melancarkan perang (jihad) melawan pemerintah. Kelompok Jama‘ah Islamiyyah dan Takfir wa al-Hijrah di Mesir, misalnya, menerapkan pola seperti ini. Perjuangan Sungkar dan Ba’asyir yang mendapat tantangan dari pemerintah Indonesia pada tahun 1970-an dan awal 1980-an, kemudian mereka berhijrah ke Malaysia, setelah itu kembali semula ke Indonesia untuk melancarkan jihad, juga mencerminkan perkara di atas. [42] Ramakrishna (2004), op. cit., hh. 8-9. Menurut Assegaff, Ba’asyir adalah pencetus gerakan usrah tersebut. Lihat FarhaAbdul Kadir Assegaff (1995) , “Peran perempuan Islam (penelitian di Pondok Pesantren Al Mukmin, Sukoharjo, Jawa Tengah)”, (Thesis S-2 (MA), Fakultas Ilmu-ilmu Sosial, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1995), h. 196. [43] Lihat Martin van Bruinessen (2003),“Post-Suharto Muslim Engagements with Civil Society and Democratisation”, (Kertas Kerja, the Third International Conference and Workshop “Indonesia in Transition”, diselenggarakan oleh the KNAW dan Labsosio, Universitas Indonesia, 24-28 Agustus, 2003). [44] Martin van Bruinessen (t.t.), “The Violent Fringers of Indonesia’s Radical Islam”, artikel pada laman web http://www.let.uu.nl/~martin.vanbruinessen/personal/publications/violent_fringe.htm, tarikh akses 29 Julai 2004. Kajian tentang peranan usrah dalam gerakan penentangan terhadap pemerintah boleh dirujuk pada, misalnya Abdul Syukur (2001), “Gerakan Usroh di Indonesia: Kasus Peristiwa Lampung 1989”, (Tesis S-2 (M.A), Jurusan Sejarah, Universitas Indonesia, 2001). Patut diingat bahwa tidak semua gerakan usrah berorientasikan politik, sebahagian daripadanya hanya menekankan pada pemurnian moral dan peningkatan pengetahuan dan penghayatan agama bagi anggota-anggotanya. Seperti dijelaskan Bruinessen: “What came to be known as Indonesia’s Usroh movement was far from homogeneous, and did not adopt the same combination of Brotherhood ideas. Most of the student groups were quietist and apolitical; they were primarily concerned with individual moral selfimprovement and with the Usroh as a moral haven in an immoral world. But there were also Usroh groups affiliated with such NII/TII leaders as Abu Bakar Ba’asyir, which believed in the necessity of establishing an Islamic state and imposing the sharia on fellow Muslims”. Lihat Bruinessen (2002), op. cit. [45] “Indonesia Backgrounder: Jihad in Central Sulawesi”, ICG Asia Report, No.74, 3 Februari 2004, h. 18. [46] “These three elements of strength are essential in order to establish Dawlah Islamiyyah by means of Jihad. These amongst others, form points which are deemed vital by Jama'ah Islamiyyah, whereas other Jama'ah's ignore and generally disregard these strengths”, kata Sungkar. Lihat “Soeharto’s “Detect, Defect and Destroy Policy Toward Islamic Movement”, op. cit. [47] ICG Asia Report, No. 63, 26 Agustus 2003, h. 11. [48] Rohan Gunaratna (2003a), Inside Al Qaeda: Global Network of Terror, c. 2. London: Hurst & Company, h. 194. [49] Hambali, atau Riduan Isamuddin, nama aslinya Encep Nurjaman, anak yang kedua daripada sebelas adik beradik, lahir pada 4 April 1966, di Cianjur, Jawa Barat. Ia pergi ke Afghanistan tahun 1983, ikut berperang melawan Soviet Union. Antara tahun 1987 dan 1990, Hambali berjumpa dengan Usamah bin Ladin. Seminggu setelah pulang ke kampung halamannya, ia pergi ke Malaysia tahun 1991, kemudian menjadi penduduk tetap di sana. Hambali berjumpa dengan Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir di Malaysia. Ia berkahwin dengan Noralwizah Lee Abdullah, warga Malaysia

berketurunan Cina, yang pernah belajar di sekolah agama Luqmanul Hakim, yang didirikan oleh anggota JI di Ulu Tiram, Johor. Hambali ditangkap bersama isterinya di Thailand pada 11 Agustus 2003. Untuk mengetahui riwayatnya lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Hambali. [50] Abdullah Anshori (Abu Fatih nama perangnya, alias Ibnu Thoyib), berasal dari Pacitan, Jawa Timur, saudara kandung Abdul Rochim, guru di pondok Ngruki. Ia dituduh sebagai salah seorang pemimpin utama JI. Lari ke Malaysia Juni 1986, mengikuti Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir. Ikut merekrut sukarelawan untuk dikirim ke Afghanistan. Ia sendiri mendapat latihan di Mindanao. [51] Mustopa (Mustafa, alias Abu Thalout, nama aslinya Pranata Yudha), pernah belajar di bidang kedoktoran di Semarang sebelum berpindah ke Universitas Gajah Mada di Yogyakarta, untuk mempelajari sains kedokteran hewan (veterinary), tidak sempat menamatkan pengajiannya. Ia adalah salah seorang veteran perang Afghanistan, kemudian menjadi instruktur kem latihan di Mindanao. [52] “Jemaah Islamiyah in South East Asia: Damaged but Still Dangerous”,ICG Asia Report, No. 63, 26 Agustus 2003, h. 11. Abdul Rahim adalah saudara Abdullah Anshori (alias Abu Fatih, atau Ibnu Thoyib), ia merupakan salah seorang guru di Pondok Ngruki. Di Australia JI mempunyai cabang di Perth, Melbourne and Sydney, JI mendirikan kem latihan dan merekrut anggota dari kalangan mahasiswa. Dilaporkan bahwa antara tahun 1991 dan 1998, Abu Bakar Ba’asyir mengunjungi Australia sebanyak 11 kali, hal ini menunjukkan pentingnya kedudukan Australia bagi JI. Lihat Mark Hong (2003), op. cit., h. 4. [53] Secara militer JI mempunyai struktur yang teridiri daripada mantiqi (brigades), waklah (batatallions), khatibah (companies), qirdas (platoons), dan fi’ah (squads). Lihat ICG Asia Report, No. 63, 26 Agustus 2003, h. 11. [54] Fathur Rahman al-Ghozi, (alias Mike), lahir 17 Februari 1971 di Kebonzar, Madiun, Jawa Timur. Ayahnya, Zainuri, pernah dihukum penjara kerana dituduh mempunyai kaitan dengan Komando Jihad. Al-Ghozi lulus dari Pondok Ngruki tahun 1989, kemudian belajar di Ma’had al-Maududi (1990-95), Pakistan. Ketika itulah ia bertemu dengan dua orang anggota JI, Usaid dan Jamaludin, kedua-duanya warga Indonesia, dan langsung masuk JI. Al-Ghozi pergi ke Turkum, Pakistan, dan sempadan Afghanistan untuk mendapat latihan di kem al-Qaeda antara tahun 1993 dan 1994. Ia berkebolehan sebagai instruktor al-Qaeda dalam membuat bom dan bertugas merekrut anggota baru di Asia Tenggara untuk bergabung dengan al-Qaeda. Ia juga bertugas melatih anggota-anggota JI baru yang berasal dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura di kem latihan MILF, Mindanao. Al-Ghozi pernah menetap di Malaysia dan beristerikan wanita Malaysia. Al-Ghozi mati ditembak ketika pertempuran dengan pasukan Filipina di Pigcawayan, Cotabato Utara, Filipina, pada 12 Oktober 2003. [55] Zulkifli, juga dikenal sebagai Julkipli, Gul Kipli, Jul, Geol, Zol, Jol, Jabbar dan (mungkin) Badrudin dan Bro, lulusan Pondok Ngruki dan merupakan kadet angkatan pertama warga Indonesia yang mendapat latihan di kem Hudaibiyah pada bulan September 1998, kemudian ditunjuk sebagai pemimpin (qa’id) Wakalah Hudaibiyah pada bulan Julai 2000. Ia merupakan arkitek beberapa peristiwa pengeboman di Mindanao sejak dari tahun 2000, sehingga ia ditahan oleh pihak berkuasa Malaysia di Sabah pada bulan September 2003. [56] Lihat “Southern Philippines Backgrounder: Terorism and the Peace Process”, ICG Asia Report, No. 80, 13 Julai 2004, h. 18 dan seterusnya. [57] Rohan Gunaratna (2003b), “Understanding Al Qaeda and Its Network in Southeast Asia”, dlm. Kumar Ramakrishna and See Seng Tan (eds.), After Bali: The Threat of Terrorism in Southeast Asia. Singapore: World Scientific & Institute of Defence and Strategic Studies, h. 127. [58] ICG Asia Report, no. 43, 11 Disember 2002, h. 38 [59] Kumar Ramakrishna (2003), “US Strategy in Southeast Asia: Counter-Terrorist or counter-Terrorism?”, dlm. Kumar Ramakrishna and See Seng Tan (eds.), op. cit., h. 311.

[60] Gunaratna (2003a), op. cit., h. xxxix, khususnya nota no.60. [61] Greg Fealy (2004), “Islamic Radicalism in Indonesia: The Faltering Revival?”, Southeast Asian Affairs 2004 (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies,2004), hh. 104-121, khususnya h. 113. [62] Irfan Awwas Suryahardy. Lahir di desa Tirpas-Selong, Lombok Timur, pada 4 April 1960. Pernah belajar di pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Menjadi redaktur surat kabar ar-Risalah di awal 1980-an, mendirikan organisasi aktivis Badan Komunikasi Pemuda Mesjid (BKPM). Ditangkap atas tuduhan subversi dan dijatuhi hukuman penjara 13 tahun pada 8 Februari 1984, ia menjalani hukuman hanya sembilan tahun. Irfan adalah Ketua Eksekutif Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Ia juga merupakan saudara kandung kepada Fikiruddin Muqti (alias Abu Jibril, alias Mohammad Iqbal bin Abdurrahman). [63] Mursalin Dahlan, ikut mendirikan MMI, aktif dalam Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), bekas aktivis mahasiswa pada Institut Teknologi Bandung, dipenjara selama enam bulan menjelang sidang khusus MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) tahun 1978, dipenjarakan bersama dengan tokoh Darul Islam Jawa Barat, Panji Gumilang (alias Abu Toto). Panji kemudian mendirikan pesantren Al-Zaitun atau AlZaytun di Indramayu, Jawa Barat; sekolah agama yang sangat makmur, dilengkapi sarana yang canggih dan kampus yang sangat luas. Mursalin Dahlan mengepalai cawangan Partai Umat Islam (PUI) di Jawa Barat. [64] Lihat “Confessions of an al-Qaeda Terorist”, Time, 23 September 2002. Omar alFaruq (alias Moh. Assegaf) diduga berkebangsaan Kuwait (tapi disangkal oleh pemerintah Kuwait) merupakan pelaksana senior al-Qaeda yang menetap di Indonesia selama beberapa tahun dan aktif membentuk atau mendukung sel-sel JI di Indonesia dan Filipina. Sejak bulan Disember 2002, ia menjadi tahanan AS, ditahan di Pangkalan Udara Bagram di Afghanistan. [65] Lihat ICG Asia Report, No. 43, 11 Disember 2002, hh. 5-6. [66] Ada anggapan di kalangan sarjana bahwa ideologilah yang menjadi penyebab utama anggota JI bersifat radikal. Lihat, misalnya, Kumar Ramakrishn (2002), “Jemaah Islamiah: Aims, Motivations and Possible Counter-Strategies”, http://www.ntu.edu.sg/idss/Perspective/research_ 050221.htm, tarikh akses 24 April 2004. [67] Lihat Nazih N. Ayubi (1994), Political Islam: Religion and Politics in the Arab World, c. 3. London and New York: Routledge, h. 68. [68] Dalam salah satu Risalahnya, Hasan al-Banna menjelaskan sikap terhadap pemerintah: “sikap kita terhadap mereka [pemerintah] ialah sebagai penasihat yang bersikap belas kasihan, sentiasa mengharapkan kerajaan-kerajaan ini akan menemui jalan yang betul dan mendapat taufiq, mengharapkan Allah akan memperbaiki kehancuran yang ada ini melalui mereka”. Lihat Hasan al-Banna (1984), Risalah Muktamar Keenam Ikhwan Muslimin. Alias Othman (terj.). Kuala Lumpur: Pustaka Salam, h. 28. Adapun jalan yang ditempuh oleh Ikhwanul Muslimin dan prinsip yang dipeganginya dijelaskan: “Tarbiyyah adalah jalan kita dan menjauhi kekerasan adalah prinsip kita”. Lihat Jum’ah Amin Abdul Aziz (1999), Tsawabit dalam Manhaj Gerakan Ikhwan. Tate Qomaruddi (terj.). Bandung: Asy Syamil Press & Grafika, h. 31. [69] Lihat “Indonesia Backgrounder: Why Salafism and Terrorism Mostly Don't Mix”, ICG Asia Report, No. 83, 13 September 2004. [70] Abdullah Azzam mengatakan: Many Muslims know about the hadith in which the Prophet ordered his his companions not to kill any women or children, etc, but very few know that there are exceptions to this cases. In summary, Muslims do not have to stop an attack on mushrikeen [polytheists], if non-fighting women and children are present. But, Muslims should avoid the killing of children and non-fighting women, and should not aim at them…Islam does not urge its followers to kill anyone amongst the kufar except the fighters, and those who supply mushrikeen and other enemies of the

Islam with money or advice, because the Qur’anic verse says: “And fight in the cause of Allah those who fight you. Lihat Gunaratna (2003a), op. cit., h. 22. [71] Menurut Garaudy, fundamentalisme merupakan fenomena yng tidak hanya terbatas pada agama sahaja; terdapat pula fundamentalisme dalam bidang politik, sosial dan budaya. Lihat Azyumardi Azra (1996), Pergolakan Politik Islam Dari Fundamentalisme, Modernisme Hingga Post-Modernisme. Jakarta: Penerbit Paramadina, h. 108.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->