PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA KHALIFAH ALI BIN ABI THALIB 1.

Situasi Terakhir Pemerintahan Utsman bin Affan r.a Sudah dimaklumi bahwa satu peristiwa pasti berkaitan dengan peristiwa yang lain, hal itu bisa disebut dengan kausalitas. Begitu juga peristiwa yang menyangkut dengan pemerintahan Ali bin Abi Thalib, besar hubungannya dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada pemerintahan Utsman bin Affan, terutama pada masa-masa akhir pemerintahannya. Utsman bin Affan dibunuh secara tragis oleh salah seorang yang disebut dalam sejarah-sejarah sebagai rombongan penentang pemerintahan kekhalifahan Utsman bin Affan. Pembunuhan kepada sang khalifah terjadi akibat berbagai insiden yang mendera pemerintahan Utsman dan rakyatnya. Peristiwa itu diawali dengan pembangkangan yang dilakukan penduduk Kuffah, Mesir dan Basharah terhadap kekhalifahan Utsman bin Affan. Mereka memprotes kebijakan Utsman yang dinilai terlalu mementingkan sukunya. Oleh karena itu, mereka meminta kepada khalifah Utsman untuk memecat para pejabat pemerintahan yang mereka tidak sukai. Diantaranya adalah AlWalid bin Uqbah (Gubernur Kuffah), Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah (Gubernur Mesir). Mereka bergabung menjadi satu koalisi pergi ke Madinah untuk memprotes dan menentang terhadap kebijakan-kebijakan Utsman. Khalifah Utsman akhirnya bersedia untuk mengabulkan permintaan mereka dengan mengganti AlWalid bin Uqbah dengan Sa’id bin Ash, dan Sa’ad bin Abi Sarah dengan Muhammad memberi bin rasa Abu lega Bakar. Keputusan ini untuk koalisi sementara kepada rombongan

penentang dan memberi optimism kembalinya perdamaian.

6

sumber hukum dan dasar keputusan politik yang akan dilaksanakan oleh Ali adalah kitab suci al-Qur’an. Mereka membawa sepucuk surat rahasia yang dirampas dari seorang budak Utsman yang sedang berlari kencang menuju Mesir. ultimatum para penentang ini tidak digubris oleh Utsman. sedikitnya ada lima visi politik Ali dari pidatonya itu. Ini tidak berarti bahwa Ali akan mengabaikan alSunnah. Pidatonya tersebut secara umum menggambarkan garis besar dari visi politiknya.a Pembai’atan Ali berjalan dengan mulus dan mayoritas penduduk Madinah menerima kekhalifahan Ali dengan antusias. Pertama. Pemerintahan dan Kebijakan Politik Ali r. Beberapa saat kemudian. Bahkan ia meminta dibawakan bukti dan dua orang saksi untuk mengklarifikasi keberadaan surat itu. Setelah tiga hari tiga malam. Anehnya Khalifah Utsman pun berani bersumpah bahwa ia tidak pernah menulis surat semacam itu. beberapa orang berhasil menerobos barisan penjaga gedung Utsman dari atap rumah bagian samping lalu membunuh Khalifah Utsman yang sedang membaca al-Qur’an. Setelah dilantik menjadi khalifah. sebab al-Qur’an hanya dapat dilaksanakan secara tepat jika ia dibimbing oleh Sunnah Nabi saw. Menurut Jeje Zainuddin. Isi surat yang berstempel Khalifah Utsman tersebut memerintahkan kepada Gubernur Mesir agar menangkap dan membunuh para penentang khalifah. 2. rombongan itu kembali lagi ke Madinah dengan membawa kemarahan meluap-luap. Ali bin Abi Thalib menyampaikan pidato politik untuk pertama kalinya. sejarah berbicara lain. dan Ali tentulah orang 7 .Karena itu pula mereka bersedia membubarkan diri untuk kemudian pulang ke negeri asal mereka.

akan tetapi ada beberapa kelompok dari kalangan kaum muslimin saat itu dalam menyikapi kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Ketiga. Abdullah bin Sallam. Diantaranya adalah Hasan bin Tsabit. Sementara dari tokoh-tokoh pendukung setianya yang ikut melarikan diri ke Syam adalah Qudamah bin Madh’un. Diantaranya adalah Sa’ad bin Abi Waqqas. Usamah bin Zaid. Kelima. melindungi kehormatan jiwa dan harta benda rakyat dari segala gangguan kezaliman lidah dan tangan. Keempat. kelompok yang sengaja tidak mau memberikan bai’at kesetiannya kepada Ali bin Abi Thalib meskipun mereka tetap berada di Madinah saat pembaiatan Ali. Mereka adalah anak cucu Bani Umayyah dan para pendukung setianya. Muhammad bin Salamah. Rafi’ 8 .yang paling memahami persoalan ini. Ka’ab bin Malik. Kedua. membangun kehidupan masyarakat yang bertanggungjawab terhadap bangsa dan Negara dengan landasan ketaatan kepada Allah swt. tulus ikhlas dalam memimpin dan mengutamakan integrasi kaum muslimin. Pertama. mewujudkan nilainilai kebaikan ideal al-Qur’an dan menolak segala keburukan dalam masyarakat. dan Salamah bin Salamah bin Raqis. Di antaranya adalah tokoh dari Bani Umayyah adalah Marwan bin al-Hakam dan al-Walid bin Uqbah. Mughirah bin Syu’bah dan Nu’man bin Basyir. Abdullah bin Tsabit. Ketiga. Kedua. Menarik untuk dibahas. meskipun pembai’atan Ali berjalan mulus dan lancar. kelompok yang melarikan diri dari Madinah menuju Syam segera setelah terbunuhnya Utsman dan menghindari ikut campur dalam pembai’atan pengangkatan Khalifah. kelompok yang menangguhkan pembai’atan terhadap Ali dan menyatakan menunggu perkembangan situasi. Zaid bin Tsabit.

Khadij. Abu Sa’id al-Khudry. Mereka disebut-sebut sebagai kelompok yang sangat loyal terhadap Utsman bin Affan. sebagian kecil mereka tidak pulang ke Madinah melainkan menunggu perkembangan situasi dari Mekkah. Yang sangat penting dilakukan pada saat itu adalah bagaimana meredakan berbagai isu yang sedang dan akan timbul setelah kematian Utsman bin 7 . Hal ini menjadi preseden tidak baik bagi situasi politik yang dihadapi Ali. Gambaran situasi awal pembaiatan Ali seperti diungkapkan diatas cukup menjadi isyarat tentang rumitnya situasi politik menjelang dan pasca pembunuhan Utsman. Madinah adalah ibukota Negara dan pusat kewibawaan agama semenjak Nabi Muhammad hingga tiga Khalifah sesudahnya. Sikap kaum muslimin di atas. sahabat penduduk Madinah yang menunaikan ibadah haji pada tahun itu dan belum pulang saat terjadi pembai’atan. berpengaruh besar terhadap pemerintahan khalifah Ali di kemudian hari. Muhammad bin Maslamah. Ali ra. Meskipun keadaan politik saat itu begitu rumit. Setelah terjadi pembai’atan. Untuk saat itu. maka penduduk di luar Madinah akan lebih sulit lagi untuk bersatu menerimanya. disinilah berkumpulnya para sahabat Nabi yang sangat dihormati oleh generasi sesudahnya. Kelompok. sebagai seorang khalifah tetap menjalankan berbagai program untuk merealisasikan visi pemerintahannya. dan Maslamah bin Mukhallad. Sebab. Bagaimanapun. dapatlah dikatakan Madinah menjadi barometer keutuhan umat. Keputusan politik dan keagamaan yang disepakati penduduk Madinah menjadi acuan bagi seluruh wilayah Islam yang ada di luarnya. Termasuk di antara mereka adalah Aisyah radiyallahu ’anhaa. Jika penduduk Madinah saja sudah tidak utuh dan bilat dalam suatu keputusan politik public.

setelah tiba di Makkah dan bertemu dengan Aisyah. Pengadilan dan Militer. Peristiwa-Peristiwa Penting yang Terjadi Beberapa kejadian penting terjadi di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Data tersebut memberikan informasi pada kita. Kebijakan-kebijakan Ali itu antara lain mengganti Para Pejabat. Terlebih Aisyah mendapatkan kabar bahwa Ali telah dibaiat menjadi khalifah pengganti Utsman. meminta izin kepada Ali bin Abi Thalib untuk pergi ke Makkah dalam rangka menunaikan umrah. Hasan Ibrahim bahkan menyebut Thalhah bin Ubaidillah sebagai orang yang pertama kali membaiat Ali bin Abi Thalib. yang dikenal mempunyai analisa yang tajam terhadap teks-teks keagamaan. Dr. bahwa Thalhah bin Ubaidillah dan Zuber bin Awwam pada awalnya telah membaiat Ali bin Thalib sebagai khalifah. Pembenahan Bait al-Mal dan Perpajakan. Pembenahan Administrasi Kepegawaian. beliau menangguhkan kepulangannya mendengar berita khalifah Utsman. Sedikitnya ada tiga kejadian yang menurut kami sangat penting untuk dibahas. Perang Jamal dan Perang Siffin serta pemberontakan Khawarij. serta menghadapi Para Penantang. Aisyah. Perang Jamal Ketika setelah Aisyah telah menunaikan kematian umrah dan akan kembali ke Madinah. Namun. 1.Affan. Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam yang saat itu berada di Madinah. supaya Ali mengusut tuntas siapa pembunuh Utsman. menunut hal yang sama seperti Muawiyyah. kedua sahabat itu akhirnya sepakat untuk sama-sama 8 . 3. Yang terakhir ini dilakukan agar kekacauan politik dunia Islam stabil.

Untuk itu. agar memberontak terhadap Ali. ia menghasut bibi dan ibu asuhnya.menunut Ali agar mengusut dan menghukum para pembunuh Ali. Muhammad Ziyadah mengungkapkan dalam tesisnya. Ini penting untuk diperhatikan agar tidak terjadi salah yang paham. terutama Thalhah dan Zubeir dari Mekkah yang mendapat sokongan dari Aisyah”. Aisyah. Informasi-informasi di atas juga memberi gambaran kepada kita. yang juga menjadi rujukan primer di UIN. menjadi khalifah yang keempat. Dasar gerakan ‘Aisyah adalah 7 . Tetapi segera ia mendapat tantangan dari pemuka-pemuka yang ingin pula menjadi khalifah. tidak ada riwayat shahih yang menyebut ‘Aisyah mencabut bai’atnya terhadap Ali. Hipotesa beberapa penulis di atas jauh berbeda dengan Asma’ Muhammad Ziyadah. Seperti dinyatakan Asep Sobari Lc. Dengan redaksi yang kurang lebih sama. Ali sebagai calon terkuat. Badri Yatim mengutip pendapat Ahmad Syalabi yang menyatakan bahwa Abdullah ibn Zubair adalah penyebab terjadinya pemberontakan terhadap Ali dan mempunyai ambisi besar untuk menduduki kursi khilafah. “Setelah Utsman wafat. Dalam salah satu bukunya. Harun Nasution juga menyatakan bahwa. jadi khalifah Penentangan pengganti mereka seperti bukan yang mempermasalahkan siapa yang sebenarnya dan seharusnya Utsman. dengan harapan Ali gugur dan ia dapat menggantikan posisi Ali. diungkapkan oleh beberapa analis sejarah. Aisyah. bahwa penentangan yang dilakukan oleh Muawiyyah. Thalhah dan Zubeir faktor utamanya adalah penuntasan hukum qishah terhadap pembunuh Utsman.

Ali sebenarnya paham dan memaklumi tuntutan para sahabat itu. atau bebas. Thalhah. dapat dilihat dari beberapa surat dan dialiog antara Aisyah. Bagi mereka. termasuk di dalamnya Thalhah dan Zuber. Bukan atas dasar sentiment pribadi terhadap Ali.menuntut penghukuman orang-orang yang membunuh Utsman. Penentangan Aisyah terhadap Ali adalah murni dari pemahamannya terhadap teks al-Qur’an yang mewajibkan hukum qishash bagi para pelaku pembunuhan. maka lebih jauhnya upaya lagi pemberontakan terhadap pemimpin (Imam) dimasa yang akan datang bisa sering terjadi. Zuber dan Ali yang tidak pernah menyinggung masalah khalifah. murni karena menuntut pengusutan tuntas terhadap pelaku pembunuh Utsman. Kesulitan yang dihadapi Ali itu disampaikan 8 . bahwa penentangan dari pihak Aisyah. Jika para pembunuh Utsman itu pembunuhan dibiarkan berkeliaran khususnya. Tentang penuntutan qishash itu. Sementara Zubair bin Thalhah memiliki dasar pikiran yang sama sehingga mereka bergabung untuk mencari jalan keluar persoalan ini. sebab khawatir kejadian serupa akan terulang kembali di masa yang akan datang. setelah empat bulan dari tragedy qishash pembunuhan terhadap Usman. Namun. persoalan segera pembunuh Utsman harus diselesaikan. Bukti lain yang menguatkan statemen itu. menurut Mahmud Abbas al-Aqqad. Begitu juga dari berbagai pidato Aisyah dalam rangka mendapat dukungan maupun menjawab delegasi-delegasi Ali. Di sini juga perlu ditegaskan sekali lagi. saat itu Ali berada dalam posisi terjepit.

meninggal dunia. Perang pertama antara dua kubu muslim ini dikenal dengan sebutan Perang Jamal.kepada rombongan delegasi para sahabat di Madinah. Selain itu. apa yang dapat aku lakukan kepada satu kaum yang mereka menguasai kita dan kita tidak menguasai mereka. maka peperanganpun tidak bisa dihindari. Telah memberontak bersama mereka budak-budak kalian dan orang-orang Badui memperkuat mereka sementara mereka ada disela-sela kalian dapat menimpakan keburukan atas kalian. Tetapi. tidaklah aku lalai dari apa yang kalian ketahui. Buktinya Ali meyalati para korban dari kedua pihak. Perang itu sendiri dimenangkan oleh Ali bin Abi Thalib. Sikap Ali di atas menunjukkan bahwa peperangan itu bukanlah peperangan untuk menentukan siapa mukmin siapa kafir. Bahkan dua tokoh sahabat. Setelah mengurusi korban. Ali mengatakan. Padahal saat itu. Ali memulangkan Aisyah ke Madinah dengan penuh 9 . Thalhah dan Zubeir yang oleh Rasulullah dijamin masuk surga. “Wahai saudaraku. Thalhah dan Zubeir telah mengundurkan dari medan pertempuran dan menyesali sikapnya yang berlebihan dalam menentang Ali. menyalati dan menguburkannya. Ibnu Katsir menyebut kurang lebih dari sepuluh ribu orang dari kedua belah pihak menjadi korban. Karena perbedaan pandangan antara kedua kubu itu. Ali beserta pengikutnya kemudian mengurusi para korban dan menyalatkannya. Apakah kalian menemukan satu celah untuk kuasa bertindak sesuatu sebagaimana yang kalian inginkan. Perang ini memakan banyak korban. Dikatakan Perang Jamal karena saat itu Aisyah menaiki unta ketika berperang.

Barang bukti ini kemudian digantungkan di atas mimbar Masjid Jamik Syria. Aisyah menghabiskan umurnya untuk beribadah dan mengajarkan hadist kepada para penuntut ilmu di Madinah. dan menuntut agar para pelaku pembunuhan dihukum qishash. tatkala datang utusan khalifah Ali bin Abi Thalib yang menuntut janji ketaatan (baiat) terhadap Ali. Keadaan semakin memanas. Ditambah lagi. Para penduduk yang memang sangat menghormati Utsman terharu melihat barang bukti itu. Ia menjauhkan diri dari hiruk pikuk percaturan politik yang terus bergejolak sampai akhir hayatnya. Nailah. kebanyakan penduduk di Syiria menangguhkan – bukan menolak – pembantaian terhadap Ali sebelum para pembunuh Utsman dikupas tuntas. ada dua alas an mengapa Muawiyyah tidak membaiat Ali bin Abi Thalib. sejak kejadian tersebut. Perang Siffin Saat Affan Utsman terbunuh oleh dan para perusuh jadi yang korban mengepung rumahnya. 10 . bagi Muawiyyah. Menurut Ali Audah. 2. Banyak merenung dan menyesali perbuatannya karena ikut terlibat dalam peperangan. Pertama. keputusan Ali memecat Muawiyyah. istri Khalifah Utsman bin yang menyaksikan para perusuh sekaligus kebrutalan sehingga jari-jari tangannya terputus dengan tebusan pedang mereka.penghormatan. Karenanya. sehingga menulis surat untuk Muawiyah di Syria yang menuturkan kronologis pembunuhan Khalifah. Menurut Joesoef Souyb. Beserta surat ini dikirimkan juga barang bukti berupa pakaian Utsman yang berlumuran darah dan jari-jari tangan Nailah yang terpotong.

Ini semakin memperkuat dugaan Muawiyyah bahwa memang Ali bersekutu dengan para pemberontak.tuntutan para pembunuh Utsman harus terlebih dahulu ditangkap dan dihukum. anak angkat Ali bin Abi Thalib. Namun. Telah disinggung sebelumnya. yang menjadi saksi pembunuhan Utsman. istri Utsman. tetapi banyak orang yang masuk. Apalagi adanya sikap Ali yang menangguhkan pengusutan pembunuhan Utsman dan penegakkan hukuman qishash. mengapa pihak Muawiyyah masih saja terus menuntut Ali untuk melakukannya. bahkan Muhammad bin Abi Bakar diangkat menjadi Gubernur. dan tidak mau membaiatnya sebelum urusan pembunuhan Usman dituntaskan. Saat itu muawiyyah beragumen. Ada dugaan saat itu bahwa Ali berada di belakang para pemberontak yang membunuh Ustman. Nailah. bagaimana dan mengapa Ali menangguhkan qishash terhadap pelaku pembunuh Utsman. wajah-wajah yang 11 . Harun Nasution mencatat bahwa salah seorang pemuka pemberontak-pemberontak Mesir. ketika ditanya Ali bin Abi Thalib “siapa pembunuh Utsman”? Nailah menjawab: “Saya tidak tahu. yang datang ke Madinah dan kemudian membunuh Utsman adalah Muhammad Ibn Abi Bakar. tak ada suara bulat dari kalangan terkemuka muslim (para sahabat senior). Tetapi. bahwa sikapnya yang menolak untuk membaiat Ali tidak berarti dia berontak terhadap Imam. tetapi alasannya. lebih-lebih karena tak ada suara bulat dari kalangan untuk membaiatnya. Dengan mengutip pakar sejarah Islam klasik. al-Thabari. Kedua. Ali saat itu tidak mengambil tindakan keras terhadap pemberontakpemberontak itu.

Saya sudah bertaubat kepada Allah. peperangan dilanjutkan kembali awal bulan Shafar dengan sangat hebatnya karena kedua belah pihak sudah tidak lagi ingin mengakhiri pertempuran yang sudah sangat melelahkan itu. Tepat pada akhir bulan Dzulqaidah tahun 36 H. Perang pun terjadi. “dia sudah keluar meninggalkan rumah itu sebelum terjadi pembunuhan”. Nailah hanya menyebut nama Muhammad bin Abi Bakar. “Saya memang ikut masuk dan setelah ia (Utsman) mengingatkan saya kepada ayah (abu Bakar). dan segera setelah itu Muawiyyah pun menyiapkan pasukan dengan kekuatan Sembilan puluh ribu hingga seratus lima puluh ribu personil. suatu tempat di lembah sungai Efrat yang menjadi perbatasan Irak dan Syiria. Kata Muhammad bin Abi Bakar. juga saya tidak mencegah mereka yang akan membunuhnya. peperangan antara kubu Ali dengan Muawiyah dalam waktu yang tidak lama lagi akan terjadi. korban meninggal dari 7 . kemudian terselingi gencatan senjata selama bulan Muharram awal tahun 37 H.saya tidak kenal. Muhammad bin Abi Bakar juga hadir”. Muhammad bin Abi Bakar membenarkan statement Nailah. Singkatnya. Demi Allah saya tidak membunuhnya. Saat itu pula Ali langsung bertanya kepada Muhammad bin Abi Bakar untuk menguatkan kesaksian Nailah. saya meninggalkan dia. Kedua pasukan tersebut akhirnya bertemu di Shiffin. Ali memutuskan untuk bergerak menuju Syam dengan kekuatan pasukan sekitar seratus ribu hingga seratus lima puluh ribu personil. Rencana Ali itu sampai pada Muawiyyah. Di sumber lain. kata Nailah. tetapi. Sejak pertempuran pertama kali terjadi. Kedua pasukan itu berperang sepanjang bulan Dzulhijjah tahun 36 H.

dua pihak diperkirakan tujuh puluh ribu orang. akhirnya menyuruh beberapa pasukannya untuk mengangkat Mushap al-Qur’an sebagai isyarat untuk menghentikan pertempuran. Meskipun di kubu Ali waktu itu terbagi kepada dua suara. Maka terjadilah kekacauan di arena persidangan. Muawiyyah yang sudah berpengalaman dalam bidang politik dan peperangan. Sedangkan pihak Ali menunjuk Abu Musa al-Asy’ari. sementara pasukan Ali berada di atas angina. Pada minggu kedua dari bulan Safar. kubu Ali terbagi Ali kepada tidak dua bagian. pasukan Muawiyyah mulai mendesak. Pihak muawiyyah menunjuk Amr bin Ash. Ada yang menyarankan untuk menerima penghentian pertempuran sebelum ada pihak yang kalah dan menang. Perundingan tersebut dilakukan dengan cara masing-masing kubu mengirim delegasinya sebagai juru rundingnya. Perundingan tersebut rencananya akan dilaksanakan pada bulan Ramadhan di tempat Adzrah. Sedang luka korban fisik tidak terhitung. Ada juga yang menyuruh Ali untuk menerimanya. Tetapi saat pembacaan keputusan Amr yang berbicara belakangan menghianati kesepakatan dengan menetapkan Muawiyyah sebagai Khalifah karena Ali yang telah diberhentikan oleh Abu Musa. 8 . Banyak riwayat yang dituturkan pada kitab-kitab tarikh bahwa Abu Musa dan Amr saat itu sepakat melepaskan jabatan khilafah dari Ali maupun Muawiyyah dan mengembalikannya kepada Syura kaum muslimin. namun akhirnya mereka sepakat untuk mengakhiri pertempuran dan melakukan perundingan damai (tahkim). daerah Daumatul Jundal yang menjadi wilayah perbatasan Irak dan Syam. Melihat itu.

Gagallah misi perundingan. sebagian orang Khawarij meneriakinya dengan kata-kata. Ada yang keluar dan menyudutkan posisi Ali. Sementara Amr bergabung dengan Muawiyyah dan mendapat kedudukan yang terhormat di hadapannya.000 orang pulang menuju Kuffah. Mereka mengecam Ali dan menuduhnya telah berbuat kufur serta syirik karena menyerahkan ketetapan hukum kepada manusia. Kelompok ini merasa kecewa dengan keputusan Ali yang menerima tahkim. “tidak ada hukum selain milik Allah “. Ada yang tetap mendukung Ali dengan setia. 3. Setelah proses tahkim selesai. Kelompok kedua inilah yang disebut sebagai Khawarij. Putusan hanya dari Allah dengan kembali kepada hukum-hukum yang ada dalam al-Qur’an. Padahal menurut mereka hukum itu hanya milik Allah. sekitar 12. Mereka berpendapat bahwa perkara yang terjadi antara Ali dan Muawiyah seharusnya tidak boleh diputuskan oleh arbitrase manusia. Gerakan Kaum Khawarij Setelah proses tahkim berakhir dan kemenangan berada di pihak Muawiyah. Amr balik menghina Abu Musa dengan menyindirnya sebagai keledai yang memikul kitab. kelompok Ali terbelah menjadi dua. Ali mengancam mereka. dengan rasa kecewa. Mereka membuat markas militer tersendiri di Harura. Abu Musa mengasingkan diri ke Madinah karena malu kepada Ali. Ketika Ali sedang berkhutbah Jumah. “Aku tidak melarang kalian datang ke mesjid kami dan kami tidaka akan menindak kalian selama kalian tidak berbuat terlebih 7 .Abu Musa mengecam Amr yang telah khianat sebagai anjing yang menjulur lidahnya.

Hingga akhirnya Ali tewas ditangan seorang yang Abdurrahman bin Mulzam. Tetapi kehancuran pasukan Khawarij tidak membuat mereka surut. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada mereka salah terus melakukan Khawarij serangan amat kepada militan.dahulu memerangi kami”. Ali menumpas mereka pada perang Nahrawan dan Harura. Abdullah bin Wahab ar Rasyibi ditunjuk sebagai panglima perang mereka. Tetapi sebagian dari mereka tetap bersikukuh pada pendiriannya dan membentuk keimaman sendiri. “hukum itu hanya milik Allah”. Abdullah bin Khabbab dan istrinya yang sedang hamil menjadi korban pembantaian mereka. kelompok Ali maupun Muawiyah. Tetapi mereka semakin agresif menyudutkan Ali dan mengkampanyekan pahamnya dengan slogan. Ali mengajak mereka berdialog dan berdebat tentang masalah tahkim itu secara fair dengan hati yang tenang dan akal yang jernih. Terlebih lagi setelah terbukti gerakan Khawarij menimbulkan kekacauan baru dengan membunuh siapa saja yang tidak mau mempersalahkan Ali. sehingga putra seorang sahabat Nabi. Ibnu abbas ditugaskan mendebat kaum Khawarij dan ribuan dari mereka mau kembali bergabung dengan Ali setelah menyadari kekeliruan pendapat mereka dan bahwa pendapat Ali itulah yang benar. 7 . Ali terpaksa menumpas kaum Khawarij dengan kekuatan pedang setelah nyata kepadanya bahwa mereka tidak dapat diajak berdialog dan kompromi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful