P. 1
Percepatan Aplikasi Teknologi Hasil Penelitian Hortikultura

Percepatan Aplikasi Teknologi Hasil Penelitian Hortikultura

|Views: 27|Likes:
Published by wietadiyoga

More info:

Published by: wietadiyoga on Dec 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2010

pdf

text

original

LAPORAN KEGIATAN ANALISIS KEBIJAKSANAAN 2001

PERCEPATAN APLIKASI TEKNOLOGI HASIL PENELITIAN HORTIKULTURA
Witono Adiyoga

LATAR BELAKANG Dalam berbagai kesempatan diskusi atau pertemuan menyangkut evaluasi kinerja lembaga penelitian, jumlah teknologi unggulan yang dihasilkan seringkali dijadikan parameter utama ukuran keberhasilan. Pengalaman menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan yang diukur dengan parameter utama tersebut cenderung one-sided, karena penilaiannya lebih banyak dilihat dari sudut pandang peneliti. Terminologi teknologi unggulan menjadi kehilangan arti pada saat aspek guna laksananya disertakan sebagai salah satu kriteria penentu keunggulan. Dengan kata lain, sejauhmana teknologi unggulan tersebut pada kenyataannya dapat diaplikasikan di tingkat pengguna, dan selanjutnya diadopsi, seringkali masih dipertanyakan. Sementara itu, di dalam program penelitian yang secara reguler terus diperbaiki, terminologi demand-driven, bahkan demand-driving selalu menjadi kata kunci persyaratan komponen-komponen teknologi yang direncanakan akan diprioritaskan. Secara fungsional, lembaga penelitian sebagai suatu sistem memiliki beberapa tugas kunci, yaitu: (a) menyusun prioritas dan formulasi agenda penelitian, (b) memo-bilisasi dan menggunakan sumberdaya finansial yang dibutuhkan secara efektif, (c) mengembangkan dan memelihara infrastruktur fisik yang dibutuhkan, (d) mengembangkan dan membina personil peneliti yang dimiliki, (e) memanfaatkan seluruh kapabilitas keilmuan di tingkat nasional dan internasional, (f) menjamin kelancaran arus informasi antara peneliti, penyuluh, petani, pengambil kebijakan dan publik, dan (g) memonitor dan mengevaluasi program penelitian (Stoop, 1988). Agar fungsi-fungsi di atas dapat berjalan dan terwujud dalam bentuk kontribusi nyata lembaga penelitian terhadap pembangunan pertanian, diperlukan saling keterkaitan yang kuat antara lembaga penghasil teknologi, petani dan lembaga transfer teknologi (Bourgeois, 1990). Secara lebih spesifik, keterkaitan yang kuat diantara segitiga teknologi (technology triangle – research, extension and farmer/user) memungkinkan terjadinya: (a) penelitian menangani prioritas kebutuhan dan masalah yang dihadapi pengguna, (b) petani dan penyuluh memperoleh kemudahan untuk mengikuti perkembangan teknologi, (c) hasil penelitian dapat diaplikasikan untuk memecahkan masalah petani dan memperluas oportunitas usahatani, (d) teknologi yang tersedia dapat diadaptasikan sesuai dengan kondisi agroekologis dan sosioekonomis lokal, (e) teknologi tepat-guna dipromosikan dan didistribusikan secara luas kepada petani, pengguna memiliki kemudahan untuk memperoleh informasi, input dan pelayanan yang diperlukan untuk mendukung aplikasi teknologi, dan (f) peneliti dapat mengkapitalisasi pengetahuan pengguna dan memperoleh umpan balik menyangkut relevansi serta keragaan teknologi (Merrill-Sands, et.al., 1989). Teknologi pertanian telah dan akan terus memainkan peran penting sebagai akselerator pembangunan nasional dalam suatu perekonomian yang memiliki dukungan signifikan dari sektor pertanian (Johnson and Kellogg, 1984). Kepentingan tersebut terutama berkaitan dengan upaya perbaikan kesejahteraan petani kecil yang mewakili kelompok terbesar dalam sektor pertanian. Sehubungan dengan itu, teknologi pertanian harus mempertimbangkan kerangka referensi yang lebih luas dan mencakup pemahaman bahwa proses menuju adopsi teknologi merupakan bagian dari proses-proses perubahan sosial ekonomi yang jauh lebih kompleks dari sekedar modifikasi pola teknologi (Pineiro,

1990). Hal ini mengimplikasikan bahwa teknologi pertanian per se, secara berdiri sendiri, tidak akan cukup untuk menimbulkan perubahan-perubahan signifikan menyangkut kondisi sosial ekonomi petani kecil. Walaupun demikian, teknologi pertanian dapat diposisikan sebagai komponen sentral dalam perencanaan strategis yang dirancang untuk memperbaiki kesejahteraan petani kecil. Catatan khusus mengenai hal ini adalah terpenuhinya persyaratan bahwa teknologi yang dikembangkan harus sejalan dengan permintaan petani dan dapat diaplikasikan sesuai dengan lingkungan produksi (teknis/non-teknis) usahatani (Mukhopadhyay, 1988). Jawaban pertanyaan menyangkut bagaimana mempercepat aplikasi teknologi hasil penelitian pada dasarnya berhubungan erat dengan efektivitas keterkaitan antara berbagai pihak di dalam segitiga teknologi. Secara ideal, hal ini mengindikasikan perlunya penelusuran melalui pendekatan sistem teknologis, yang mencakup sub-sistem kelembagaan penghasil teknologi, kelembagaan transfer teknologi dan kelembagaan pengguna teknologi. Namun demikian, sesuai dengan kapasitas yang dimiliki, pembahasan awal akan lebih ditekankan pada penelaahan dari sisi penelitian. . KETERKAITAN ANTARA PENGHASIL TEKNOLOGI DAN TEKNOLOGI TRANSFER Konsep keterkaitan mengimplikasikan terselenggaranya komunikasi dan hubungan kerja antara dua atau lebih organisasi yang memiliki tujuan bersama, dalam rangka membina kontak dan perbaikan produktivitas secara reguler. Keterkaitan adalah terminologi yang digunakan untuk menjelaskan dua sistem yang saling dihubungkan oleh pesan-pesan (aliran informasi dan umpan balik) sehingga membentuk suatu sistem yang lebih besar Eponou, 1993; Eponou, 1996). Hubungan komunikasi yang efektif antara peneliti dan penyuluh berperan penting dalam upaya modifikasi rekomendasi teknologi serta inisiasi penelitian lebih lanjut, sehingga teknologi baru atau perbaikan teknologi yang dirancang bersama memiliki daya adaptasi tinggi terhadap kondisi ekologis setempat/lokal. Tipe keterkaitan penelitian-penyuluhan dapat ditentukan berdasarkan kerangka teoritis yang menggunakan dua kriteria umum, yaitu (a) status relatif kedudukan organisasi penelitian dan penyuluhan, dan (b) metode transfer berkaitan dengan penentuan masalah penelitian, tema/topik penelitian dan diseminasi hasil penelitian – pendekatan top-down atau bottom-up (Agbamu, 2000). Mengacu pada kriteria tersebut, keterkaitan penelitian-penyuluhan dapat diklasifikasikan sebagai berikut: • Tipe A: Organisasi penelitian dan penyuluhan berjalan dengan status yang sejajar/sama serta menggunakan pendekatan bottom-up dalam pengambilan keputusan menyangkut kegiatan keterkaitan. • Tipe B: Kedua organisasi memiliki status operatif yang sejajar/sama, tetapi menggunakan pendekatan top-down berkaitan dengan manajemen keterkaitan. • Tipe C: Organisasi penelitian dan penyuluhan berjalan dengan status yang tidak sejajar/sama, dan sistem keterkaitan diantara keduanya berjalan berdasarkan pendekatan manajemen bottom-up. • Tipe D: Kedua organisasi memiliki status operatif yang tidak sejajar/sama dan sistem keterkaitan diantara keduanya berjalan berdasarkan pendekatan manajemen top-down. • Tipe E: Tidak terdapat sistem keterkaitan yang terorganisasi antara organisasi penelitian dan penyuluhan. Organisasi penelitian dan penyuluhan di Indonesia berada di bawah koordinasi Departemen Pertanian dengan status operatif yang berbeda. Berbeda dengan penyuluhan, organisasi penelitian tidak beroperasi secara independen di tingkat propinsi, tetapi memiliki cakupan nasional. Sementara itu, garis koordinasi dan supervisi untuk kegiatan penyuluhan secara hirarkis lebih melekat di tingkat pemerintah daerah (propinsi, kabupaten, kecamatan). Penelitian/percobaan on-farm dilaksanakan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang beroperasi di tingkat propinsi dan dimonitor secara berkala oleh Pusat Penelitian Sosial Ekonomi. Staf BPTP yang menangani penelitian-penelitian adaptif bekerja sama dengan subject matter specialist mengembangkan paket-paket teknologi dan selanjutnya diteruskan ke institusi penyuluhan. Dalam konteks ini, BPTP berfungsi sebagai linkage interface antara organisasi penelitian dan penyuluhan di Indonesia.
1

Sistem Pengetahuan Pertanian Formal

Penyuluh (Diseminasi Teknologi)

Subject-matter specialist (Layanan Penghubung)

Peneliti (Generasi Teknologi)

Aktivitas Keterkaitan • • • • • Identifikasi kebutuhan penelitian Penelitian di lahan petani Evaluasi gabungan/bersama Pertemuan komite Kegiatan partisipatif petani

Tingkat Operasional Administratif • • • Nasional dan regional Propinsi Lokal atau grassroot

Metode Keterkaitan Sistem Klien Keluarga usahatani (pengguna akhir inovasi) sasaran • • Formal Informal

Masalah • • • • Isu-isu organisasional Metode keterkaitan Finansial Uji-uji adaptif

Gambar 1 Konsep Skematik Fungsionalisasi Keterkaitan Antara Penelitian dan Penyuluhan

Pada dasarnya, penyuluh, subject matter specialist dan peneliti merupakan sumber informasi menyangkut topik/masalah/kebutuhan penelitian. Namun demikian, keputusan akhir berkaitan dengan pemilihan masalah dan tema penelitian lebih banyak ditentukan oleh peneliti di balai nasional. Institusi penyuluhan menerima paket-paket inovasi dari lembaga penelitian melalui subject matter specialist yang ditempatkan di BPTP. Walaupun interaksi antara peneliti, penyuluh dan petani di tingkat propinsi cenderung semakin membaik, hal ini belum mengarah pada pengambilan keputusan akhir menyangkut keterkaitan yang sepenuhnya dikendalikan di tingkat propinsi atau kabupaten. Manajemen keterkaitan penelitian-penyuluhan sangat bergantung pada balai-balai di bawah supervisi Badan Litbang Pertanian (AARD-supervised
2

institutes) dan cenderung masih didominasi oleh pendekatan top-down. Mengacu pada kondisi tersebut, Agbamu (2000) mengklasifikasikan keterkaitan penelitian-penyuluhan di Indonesia ke dalam Tipe D (sistem keterkaitan penelitian-penyuluhan diken-dalikan secara nasional – pengambilan keputusan masih terkonsentrasi di balai-balai nasional, dan institusi penelitian-penyuluhan memiliki status operatif yang tidak sejajar/sama). Sebagai bahan perbandingan, klasifikasi keterkaitan penelitian-penyuluhan di beberapa negara lain adalah: Jepang (Tipe A), Mexico (Tipe C), Nigeria (Tipe D), Korea Selatan (Tipe B), Tanzania (Tipe D), dan Thailand (Tipe E). Studi menyangkut keterkaitan peneliti-penyuluh untuk sub-sektor tanaman pangan dan hortikultura (Adiyoga, 1994) memberikan gambaran bahwa tingkat partisipasi peneliti dan penyuluh dalam mekanismemekanisme keterkaitan cenderung masih rendah. Mekanisme yang paling menonjol diikuti oleh keduanya adalah komunikasi personal informal. Peneliti dan penyuluh beranggapan bahwa efektivitas mekanisme keterkaitan, terutama berkaitan dengan intensitas pertukaran sumberdaya dan informasi masih rendah. Tingkat koordinasi antara institusi penelitian dan penyuluhan dipersepsi masih rendah, terutama karena kurangnya keterpaduan program serta terbatasnya ketersediaan sumberdaya. Rendahnya tingkat koordinasi ini oleh peneliti juga dipersepsi sebagai akibat dari kurangnya tekanan internal untuk berkolaborasi, sementara itu penyuluh mempersepsi bentuk/sifat (nature) organisasi yang lebih berperan penting sebagai penyebab rendahnya koordinasi. Ketersediaan dan relevansi teknologi baru dipersepsi moderat baik oleh peneliti, maupun penyuluh. Persepsi penyuluh menyangkut jumlah teknologi yang diterima ternyata lebih rendah dibandingkan dengan persepsi peneliti berkenaan dengan jumlah teknologi yang ditawarkan kepada penyuluh. Dilain pihak, persepsi peneliti menyangkut tingkat promosi dan diseminasi teknologi baru ternyata lebih rendah dibandingkan dengan persepsi penyuluh. Konflik struktural yang terjadi sebagai akibat dari kurangnya koordinasi, rendahnya ketersediaan teknologi baru dan keberagaman lingkungan/agro-ekosistem yang harus ditangani dipersepsi rendah. Sementara itu, konflik operasional yang terutama diakibatkan oleh kemungkinan adanya konflik struktural, juga dipersepsi jarang terjadi. Penelitian lebih awal mengenai hubungan antara peneliti dan penyuluh di Indonesia, dengan penekanan pada aspek komunikasi dan persepsi antara satu dengan lainnya juga telah dilakukan oleh Seegers dan Kaimowitz (1989). Sebagian besar peneliti (61,5%) berpendapat bahwa penyuluh sangat dibutuhkan dalam menentukan prioritas penelitian. Walaupun demikian, hanya < 25% peneliti yang melakukan kontak langsung/personal dengan penyuluh dan frekuensinya ternyata relatif rendah, yaitu kurang dari satu kali per tahun. Peneliti menyatakan bahwa 33%-55% artikel/laporan yang ditulis pada dasarnya diarahkan agar dapat dimanfaatkan oleh penyuluh. Lebih dari separuh peneliti pernah terlibat (satu sampai dua kali setahun) dalam pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan penyuluh. Sementara itu, partisipasi peneliti dalam kegiatan demplot atau temu lapang dinilai rendah. Mayoritas peneliti menganggap bahwa salah satu penyebab utama non-adopsi teknologi adalah kegiatan penyuluhan yang kurang/tidak efektif, sebagai akibat dari kurangnya pendidikan dan pelatihan, buruknya insentif serta seringnya pergantian personil. Di sisi lain, sebagian besar penyuluh tidak meragukan kompetensi teknis peneliti, tetapi banyak mempertanyakan mengenai belum cukupnya (jumlah) penelitian yang dilaksanakan, penelitian yang kurang/tidak sesuai dengan kebutuhan serta belum optimalnya upaya peneliti untuk mengkomunikasikan hasil penelitiannya. Beberapa studi di atas memberikan gambaran menyangkut status atau perkembangan aspek keterkaitan penelitian-penyuluhan di Indonesia yang berkaitan erat dengan tingkat kecepatan aplikasi teknologi baru. Ditinjau dari sisi sistem teknologi pertanian, berbagai perbaikan masih perlu dilakukan, tidak saja menyangkut penguatan mekanisme keterkaitan, tetapi juga berkenaan dengan fungsionalisasi spesifik dari masing-masing komponen di dalam sistem. Sebagai contoh, hubungan tata-kerja antara Balai Nasional dengan BPTP yang telah disepakati ternyata masih belum terefleksi di dalam koordinasi program, bahkan jenis kegiatan penelitian (komponen teknologi vs paket teknologi) yang dilakukan cenderung tidak jauh berbeda. Dengan kata lain, ditinjau dari sisi sub-sistem, misalnya dari perspektif penelitian, secara internalpun ternyata masih banyak hal yang perlu diperbaiki sehubungan dengan upaya percepatan aplikasi hasil-hasil penelitian.
3

KETERSEDIAAN DAN RELEVANSI TEKNOLOGI HORTIKULTURA Terminologi "ketersediaan" pada dasarnya digunakan untuk menggambarkan proses yang mencakup: (a) suatu teknologi baru ditemukan, (b) penyuluh dan pengguna mengetahui keberadaan teknologi baru tersebut, dan (c) pengguna memiliki kemudahan untuk memperoleh input serta pelayanan yang diperlukan untuk mengaplikasikan teknologi baru tersebut. Dengan demikian, tingkat ketersediaan teknologi tergantung dari: (a) berapa banyak teknologi tersebut dihasilkan, (b) sejauhmana efektivitas promosi teknologi bersangkutan, serta (c) sejauhmana keterandalan dan kemudahan produser/pengguna mendapatkan input dan pelayanan yang dibutuhkan. Sementara itu, terminologi "relevansi" berkaitan dengan kesesuaian suatu teknologi baru dalam merespon kebutuhan petani/pengguna. Parameter utama dari relevansi suatu teknologi baru adalah sampai sejauhmana teknologi bersangkutan diadopsi oleh petani/pengguna. Beberapa peubah yang menentukan tingkat adopsi suatu teknologi diantaranya adalah: (a) profitabilitas dan akseptabilitas sosial dari teknologi tersebut, (b) tingkat kepentingan teknologi tersebut berkaitan dengan sistem produksi petani/pengguna, serta (c) sampai sejauhmana teknologi bersangkutan dikembangkan sebagai respon terhadap permintaan yang secara jelas diartikulasikan oleh petani/pengguna dan penyuluh (Kaimowitz; Snyder and Engel, 1989). Mengacu pada berbagai laporan evaluasi program penelitian, berbagai teknologi unggulan hortikultura telah terdokumentasi secara lengkap (mencakup varietas, teknologi budidaya, teknologi pengendalian hama penyakit, teknologi pra/pasca panen dan pengolahan). Namun demikian, dari berbagai kesempatan ekspose internal maupun eksternal, pertanyaan menyangkut penyebaran (adopsi lambat, adopsi parsial dan non-adopsi) berbagai teknologi tersebut di tingkat pengguna seringkali tidak dapat dijawab secara memuaskan. Hal ini sekaligus juga menimbulkan kesulitan untuk meyakinkan pengguna/calon pengguna dan pengambil keputusan mengenai dampak hasil penelitian yang telah dilakukan. Beberapa kemungkinan yang dapat menjelaskan mengapa hal ini terjadi, diantaranya adalah: (a) ketersediaan informasi penyebaran teknologi yang sangat terbatas, karena dari sisi internal belum ditangani secara khusus, (b) upaya diseminasi yang belum optimal disertai dengan kurang efektifnya mekanisme transfer teknologi, dan (c) kelayakan - teknis, sosial dan ekonomis - teknologi itu sendiri masih diragukan dan kurang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Klarifikasi dari berbagai kemungkinan tersebut tentunya memerlukan penelaahan yang seimbang. Namun dalam kajian awal ini tampaknya akan lebih bermanfaat, jika penelaahan lebih dititik-beratkan ke sisi internal. Pada dasarnya, upaya untuk mempercepat aplikasi hasil-hasil penelitian hortikultura akan sangat bergantung pada ketersediaan dan relevansi dari teknologi unggulan yang sudah ada. Dengan kata lain, upaya percepatan aplikasi tersebut sebenarnya dimulai sejak proses inovasi berlangsung. Sehubungan dengan itu, observasi kualitatif status teknologi unggulan hortikultura dikaitkan dengan terminologi "ketersediaan" dan "relevansi", diharapkan dapat memberikan petunjuk awal/sementara untuk tidak lanjut percepatan aplikasinya. Perlu dipahami bahwa beberapa parameter ketersediaan teknologi merupakan mandat tugas institusi non-penelitian. Namun demikian, sampai batas-batas tertentu, beberapa aspek mandat tersebut juga dilaksanakan oleh institusi penelitian, misalnya promosi teknologi (temu lapang, ekspose) dan akses input dan pelayanan (penyediaan bibit penjenis, konsultasi teknis). Tanda √ menunjukkan observasi bobot relatif antar parameter dari sisi upaya/pencapaian. Observasi kualitatif mengindikasikan masih perlunya perbaikan untuk promosi teknologi dan pemberian kemudahan input/pelayanan. Sementara itu, untuk parameter relevansi, hanya sebagian kecil teknologi unggulan yang telah melewati pengkajian sosial ekonomi dan verifikasi lapangan menyangkut kepentingannya di dalam sistem produksi pengguna. Observasi bobot relatif, secara implisit mengindikasikan adanya urgensi peningkatan upaya internal untuk memperbaiki proses perancangan teknologi (metodologi penelitian) yang memberikan penekanan pada partisipasi/keterlibatan pengguna (stake-holders).

4

1

Ketersediaan

Jumlah dan jenis teknologi yang dihasilkan √√√

Tingkat efektivitas promosi teknologi √ Tingkat kepentingan teknologi berkaitan dengan sistem produksi petani

Akses input dan pelayanan bagi calon pengguna √ Teknologi dikembangkan sebagai respon terhadap permintaan yang secara jelas diartikulasikan petani/ pengguna dan penyuluh. ?

2

Relevansi

Profitabilitas & akseptabilitas sosial teknologi

UPAYA PERCEPATAN APLIKASI TEKNOLOGI HORTIKULTURA Percepatan aplikasi teknologi hortikultura pada dasarnya sangat bergantung pada ketersediaan dan relevansi teknologi itu sendiri. Dalam konteks yang lebih luas, keter-sediaan teknologi hortikultura yang relevan dengan kebutuhan pengguna hanya mungkin terwujud jika terdapat keterkaitan kuat antara berbagai sub-sistem dalam sistem teknologi (penelitian - penyuluhan - pengguna). Dari sisi internal penelitian, tanpa mengecilkan arti upaya promosi, percepatan aplikasi tidak dapat dipungkiri akan berkorelasi positif dengan ketersediaan teknologi unggulan yang dikembangkan secara partisipatif untuk merespon permintaan yang diartikulasikan oleh petani/pengguna dan penyuluh (stakeholders). Dengan kata lain, peluang keberhasilan upaya percepatan aplikasi hasil penelitian akan semakin tinggi jika diawali dengan ketersediaan teknologi unggulan yang dikembangkan secara partisipatif dan didukung oleh mekanisme diseminasi serta promosi yang terkoordinasi. Paradigma penelitian partisipatif berkembang setelah timbulnya kritik tajam bahwa teknologi yang dikembangkan di luar area aplikasinya, cenderung didasarkan pada asumsi yang salah/kurang tepat berkenaan dengan kondisi sosial dan lingkungan yang dihadapi petani (Ashby and Sperling, 1994). Hal ini memberikan penegasan perlunya inkorporasi pengetahuan petani ke dalam proses perancangan teknologi. Petani berpartisipasi dalam proses diagnosis dan identifikasi masalah, uji coba inovasi , evaluasi serta difusi inovasi. Tersirat pula bahwa inkorporasi tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk partisipasi yang tidak selalu harus berlaku untuk setiap tahapan atau jenis penelitian. Bentuk partisipasi dapat berubah mengikuti tahapan perkembangan atau jenis kegiatan penelitian. Bentuk partisipasi petani dalam kegiatan penelitian yang telah/sedang berlangsung atau dapat dikembangkan untuk merakit teknologi unggulan hortikultura, diantaranya adalah:
No 1 Bentuk Partisipasi Kontraktual Petani meminjamkan lahan dan tenaga kerja kepada peneliti dengan pembayaran langsung atau in-kind • • • • • • • • • • • Kegiatan Penelitian Uji varietas Pola tanam Sistem pertanaman Perbaikan teknik budidaya PHT (tunggal/ ganda) Konservasi lahan Pengelolaan hara Seleksi varietas partisipatif PHT Pra dan pasca panen PHT skala luas 5

2

Konsultatif Peneliti berkonsultasi dengan petani dalam proses diagnosa permasalahan

3

Kolaboratif

Kemitraan antara petani dengan peneliti 4 Kolegial Peneliti mendorong petani untuk melakukan eksperimentasi dan penelitian independen Farmer-led Petani melakukan identifikasi masalah dan merancang eksperimen untuk memperoleh solusi

• • • • •

Pengelolaan hara Pemuliaan partisipatif (CGIAR, 2000) PHT Pemilihan atau seleksi benih/bibit ?

5

Penggunaan pendekatan partisipatif cenderung meningkatkan efisiensi kinerja institusi penelitian, karena (a) teknologi dirancang secara lebih baik dan melibatkan klien dalam pengembangannya, sehingga memiliki probabilitas adopsi lebih tinggi, (b) semakin sedikit jumlah teknologi yang berada di pipeline menunggu diuji oleh klien, sehingga dapat menghemat pendanaan dan mempercepat aplikasi hasil penelitian. Keterlibatan klien dapat mengurangi beban institusi penelitian publik, jika mekanisme pengembangan partisipatif dikelola untuk mengkatalisasi kemampuan inovatif petani. Namun demikian, penggunaan pendekatan partisipatif juga mengandung beberapa kemungkinan risiko distorsi yang harus dicermati, misalnya: (a) keterlibatan klien memungkinkan timbulnya kompromi terhadap penelitian ilmiah sebagai akibat dari pendelegasian wewenang kepada klien yang kurang tepat atau kecenderungan klien/petani untuk mencari pemecahan sederhana dan cepat, (b) distorsi yang terjadi dalam proses pengambilan keputusan, karena kemungkinan bias terhadap kelompok klien yang terorganisasi lebih baik dan lebih vokal. Mempertimbangkan risiko tersebut, institusionalisasi pendekatan partisipatif harus disertai dengan prosedur eksplisit yang secara jelas mendefinisikan: (a) siapa klien yang akan dilibatkan, (b) agenda siapa yang digunakan untuk menghela proses pengembangan partisipatif, dan (c) inovasi organisasional apa yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan kebijaksanaan pendekat-an partisipatif tersebut ke dalam lembaga penelitian. Berdasarkan uraian di atas, sintesis kebijaksanaan prioritas dalam rangka mendo-rong percepatan aplikasi hasil penelitian hortikultura pada dasarnya diarahkan untuk melem-bagakan pendekatan penelitian pengembangan partisipatif dan strategi promosi teknologi.
Kebijaksanaan • Mempromosikan keterlibatan lembaga swadaya masyarakat dan organisasi/kelompok tani sebagai jembatan penghubung antara petani dan peneliti Meningkatkan kapasitas lembaga swadaya masyarakat dan organisasi/kelompok tani untuk terlibat dalam kegiatan penelitian dengan meminimalkan hambatan birokratis Meningkatkan partisipasi lembaga swadaya masyarakat dan organisasi/kelompok tani dalam mendefinisikan agenda penelitian di tingkat lokal, regional dan nasional Mendorong partisipasi petani (kecil) untuk berpartisipasi dalam proses identifikasi dan kreasi inovasi, evaluasi inovasi dan demonstrasi inovasi ke petani lainnya • • Instrumen Petunjuk kebijaksanaan (policy guidelines) yang jelas dan terfokus mengenai misi, peranan, tanggung-jawab, pendanaan serta mekanisme koordinasi dari berbagai pihak yang terlibat dalam kemitraan generasi dan difusi teknologi

Perwakilan lembaga swadaya masyarakat dan organisasi/kelompok tani yang memiliki kapabilitas untuk mendefinisikan agenda penelitian Kesepakatan/perjanjian/kontrak (tertulis) antara lembaga swadaya masyarakat dan organisasi/ kelompok tani dengan lembaga penelitian Dana khusus untuk mempromosikan, melindungi dan memberikan kompensasi terhadap kreativitas individual/kolektif, inovasi dan property rights Desentralisasi fiskal yang memungkinkan kemudahan pendelegasian otoritas serta penyediaan sumberdaya bagi lembaga swadaya masyarakat dan organisasi/kelompok tani Pemahaman menyangkut kapasitas inovatif yang dimiliki

Memperbaiki penyebaran inovasi petani melalui komunikasi

6

dari petani ke petani •

petani sebagai sumber inovasi teknologi Promosi lateral, pembelajaran horisontal dari pe-tani ke petani melalui lokakarya, kunjungan lapang dan penggunaan metode komunikasi massa Pengiriman peneliti, penyuluh dan petani ke lembaga pelatihan nasional atau internasional yang memiliki reputasi tinggi di bidang penelitian pengembangan partisipatif Pembentukan unit khusus dalam lembaga penelitian (semacam in-house service bagi peneliti) yang bertanggung jawab untuk mengidentifikasi kebutuhan dan partisipasi petani serta berbagai aspek yang dapat memberikan fasilitasi percepatan diseminasi hasil penelitian dan aliran umpan balik Pembentukan unit promosi yang bertanggung-jawab untuk menentukan strategi promosi dan memilih metode diseminasi yang paling efektif

Melembagakan pelatihan metodologi penelitian partisipatif kepada peneliti, penyuluh dan petani

Melembagakan mekanisme promosi untuk teknologi unggulan yang dirancang melalui pendekatan partisipatif

DAFTAR PUSTAKA Adiyoga, W. (1994). Research and extension linkages in technology generation and transfer for food and horticultural crops, in West Java, Indonesia. Unpublished doctoral dissertation, University of Illinois, Champaign-Urbana. Agbamu, J. U. 2000. Agricultural research extension linkage systems: An international perspectives. Network Paper No. 106a, Agricultural Research and Extension Network, ODI. Ashby, J.A and L. Sperling. 1994. Institutionalizing participatory, client-driven research and technology development in agriculture. Network Paper No. 49, Agricultural Research and Extension Network, ODI. Bourgeois, R. 1990. Structural linkages for integrating agricultural research and extension. Working Paper no. 35. International Service for National Agricultural Research. CGIAR. 2000. Guidelines for developing participatory plant breeding program. Plant Breeding Working Group, SWP PRGA. Eponou, T. 1993. Partners in agricultural technology: Linking research and technology transfer to serve farmers. Research Report No. 1. The Hague: ISNAR. Eponou, T. 1999. Partners in technology generation and transfer: Linkages between research and farmers’ organization in three selected African countries. Research Report No. 9. The Hague: ISNAR. Johnson, S. H. and E. D. Kellogg. 1984. Extension's role in adapting and evaluating new technology for farmers. In B. E. Swanson (Ed.), Agricultural extension: A reference manual (pp. 40-55). Rome: FAO. Kaimowitz, D., M. Snyder & P. Engel. 1989. A conceptual framework for studying the links between agricultural research and technology transfer in developing countries (Linkages Theme Paper No. 1). The Hague: ISNAR. Merrill-Sands, D., D. Kaimowitz, K. Sayce. & S. Chater. 1989. The technology triangle: Linking farmers, technology transfer agents, and agricultural researchers. The Hague: ISNAR. Mukhopadhyay, S. K. 1988. Factors influencing agricultural research and technology: A case study of India. In I. Ahmed & V. W. Ruttan (eds.), Generation and diffusion of agricultural innovations: The role of institutional factors (pp. 129-185). Vermont: Gower Publishing Company Ltd.
7

Pineiro, M. E. 1990. Generation and transfer of technology for poor small farmers. In A. M. Kesseba (Ed.), Technology systems for small farmers: Issues and options (pp. 65-78). Boulder, CO: Westview Press. Seegers, S. & D. Kaimowitz. 1989. Relations between agricultural researchers and extension workers: The survey evidence (Linkages Discussion Paper No. 2). The Hague: ISNAR. Stoop, W. A. 1988. NARS linkages in technology generation and technology transfer. Working Paper no. 11. International Service for National Agricultural Research.

8

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->