DINAMIKA SISTEM PEMERINTAHAN INDONESIA KURUN WAKTU 27 DESEMBER 1949 – 17 AGUSTUS 1950 DAN SAMPAI 5 JULI 1959

Tugas Pendidikan Kewarganegaraan Kelas XII Semester Gasal Tahun Ajaran 2010-2011 Kompetensi Dasar : Sistem Pemerintahan Republik Indonesia Kelas XII IPA 1 / Kelompok II 1. Heratania Aprilia Setyowati 2. Oktaviana Diasdika Putri 3. Septi Dwi Astuti 4. Tutut Ulfa Rosyida 6. Royan Romadhon ( 11 ) ( 14 ) ( 15 ) ( 17 ) ( 31 )

5. Ardhanariswara Wikantyasa ( 21 )

SMA NEGERI 1 YOGYAKARTA OKTOBER 2010 KATA PENGANTAR Puji dan syukur Penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga penyusunan Laporan Dinamika Sistem Pemerintahan Indonesia Kurun Waktu 27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950 dan Sampai 5 Juli 1959 ini dapat terselesaikan dengan baik tanpa kendala. Maksud dan tujuan penyusunan Laporan ini adalah untuk melengkapi persyaratan mendapatkan nilai tugas semester gasal sekolah. Adapun penyusunan Laporan ini berdasarkan data-data yang Penulis peroleh selama melakukan pencarian di segala bentuk media informasi serta data-data dan keterangan dari pembimbing. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Laporan ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. Bapak Zaenal Mursalin S.Pd selaku pembimbing dari sekolah, yang telah memonitor Penulis dari jauh dan memberikan dukungan – dukungan moral. 2. Kedua orang tua Penulis. 3. Pihak-pihak yang tidak dapat Penulis sebutkan, atas bantuan doa restu yang berhubungan dengan kegiatan Laporan tersebut. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak kekurangan, karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan, untuk itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan Laporan ini. Demikian kata pengantar ini Penulis buat, semoga dapat bermanfaat, khususnya bagi Penulis dan pembaca pada umumnya.

Yogyakarta, 23 Oktober 2010 Penulis

................................................................ Pelaksanaan yang Ideal Menurut UUD 1945. DAFTAR ISI............................Kelebihan Pelaksanaan dari Segi Pemerintahan ................... BAB I : PENDAHULUAN A................DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .................. 2........................................................................................................................ Sistem Kabinet yang Dianut .................................................................................................................... 3............................................................................... BAB III : ANALISIS A................................................................................................................................................................................................................................................................................................................. Sistem Pemerintahan Republik Indonesia Menurut UUD 1945 .............................................................................................................................................................................................................................. Kondisi Pelaksanaan / Realisasi Yudikatif . B.............. Kelemahan dan Kegagalan ..................... Catatan / Peristiwa – Peristiwa Penting Kurun Waktu 27 Desember 1949 17 Agustus 1950 dan sampai 5 Juli 1959 .... B........................................... Dinamika Sistem Pemerintahan Indonesia 1.......... ....... BAB IV : PENUTUP A........................... 3................................ Kondisi Pelaksanaan / Realisasi Legislatif ....................................................................................................................................................................... Kesimpulan................................................ Kondisi Pelaksanaan / Realisasi Eksekutif ......................... Pasang Surut Sistem Pemerintahan Indonesia Kurun Waktu 27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950 dan Sampai 5 Juli 1959 1......................................................................... BAB II : DINAMIKA SISTEM PEMERINTAHAN INDONESIA KURUN WAKTU 27 DESEMBER 1949 – 17 AGUSTUS 1950 DAN SAMPAI 5 JULI 1959 A................................................ B.......... Komentar dan Penilaian terhadap Sistem Pemerintahan Indonesia .. 2...............................................................................................................................................

........... LAMPIRAN-LAMPIRAN.......................................................... Dididrikannya uni antara RIS dengan kerajaan Belanda Perubahan bentuk negara dari negara kesatuan menjadi negara serikat mengharuskan adanya penggantian UUD.......... Sistim Pemerintahan Republik Indonesia Kurun Waktu 27 Desember 1949 -17 Agustus 1950 Konstitusi RIS 1949 Dalam perjalannya.......... Penyerahan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat c........... Didirikannya Negara Republik Indonesia Serikat b........... sehingga disusunlah naskah UUD RIS ...... Kritik............... DAFTAR PUSTAKA ............................. Belanda berusaha memecah-belah bangsa indonesia dgn cara membentuk negara Sumatra Timur....... Negara Indonesia Timur....................... Kata Penutup.....................................................B...... C..................... Negara Pasundan. Saran..................................................... PBB turun tangan dengan menyelenggarakann Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag (Belanda) tgl 23 Agustus -2 November 1949.............. KMB menghasilkan 3 buah persetujuan pokok.................. yaitu : a. Sistem Pemerintahan Republik Indonesia Menurut UUD 1945 I.................... & Negara Jawa Timur........... dan Harapan.... BAB I PENDAHULUAN A................... Bahkan Belanda melakukan Agresi Militer I pada thn 1947 (pendudukan terhadap ibukota jakarta) & Agresi Militer II atas kota Yogyakarta pada tahun 1948... Untuk menyelesaikan pertikaian Belanda dgn RI...........

karena presiden adalah kepala negra. sebagaimana diatur dlm pasal 118 ayat 1 dan 2 Konstitusi RIS. Jawa Timur. Bangka. Negara negara bagian itu adalah : Negara Republik Indonesia. Madura.Menteri-menteri c. dimana pemerintah bertanggung jawab terhadap parlemen (DPR) Berikut lembaga-lembaga negara menurut Konstitusi RIS : a.Presiden b. UUD 1945 tetap berlaku hanya untuk negara bagian RI yang meliputi Jawa & Sumatera dengan ibu kota Yogyakarta. Pada ayat (1) ditegaskan bahwa 'Presiden tidak dapat diganggu gugat'. Selama berlakunya Konstitusi RIS 1949. Dengan demikian. Sumatera Selatan. serta sebuah lampiran. Indonesia Timur. Pasundan. Dayak Besar. kepala pemerintahan dijabat oleh Perdana Menteri. Artinya presiden tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas tugas-tugas pemerintahan. Dengan berubah menjadi negara serikat.Senat d. yaitu : Jawa Tengah . Pada pasal 118 ayat (2) ditegaskan bahwa 'Menteri-menteri bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanaan pemerintah baik bersama-sama untuk seluruhnya maupun masing-masing untuk dirinya sendiri'. Selain itu terdapat pula satuan kenegaraan yang berdiri sendiri. Dalam sistem ini.DPR . yang melaksanakan dan bertanggung jawab terhadap tugas-tugas pemerintahan adalah menteri-menteri. Mengenai bentuk negara dinyatakan dlm pasal 1 ayat (1) Konstitusi RIS yang berbunyi 'Republik Indonesia Serikat yg merdeka dan berdaulat adalah negara hukum yg demokratis dan berbentuk federasi'. maka di dalam RIS terdapat beberapa negara bagian dan masing-masing memiliki kekuasaan pemerintahan di wilayah negara bagiannya. Sistem pemerintahan yang digunakan pada masa berlakunya Konstitusi RIS adalah sistem parlementer. bukan kepala pemerintahan. Batang Tubuh yg berisi 6 bab & 197 pasal. yang terdiri atas Mukadimah berisi 4 alinea. Belitung. Sumatera Timur.dan dibuat oleh delegasi RI serta delegasi BFO pada KMB. Daerah Banjar. Kalimntan Tenggara dan Kalimantan Timur. Riau. dengan sistem pemerintahan parlementer. Kalimantan Barat. UUD yang diberi nama Konstitusi RIS tersebut mulai berlaku tgl 27 Desember 1949.

dr. . Ir. Herling Laoh. Dewan Pengawas Keuangan Penyimpangan yang terjadi. tetapi ia lebih Republiken daripada federalis. Wilopo. soekarno terpilih sebagai Presiden RIS. Negara Kesatuan Republik Indonesia berubah menjadi Negara Federasi Republik Indonesia Serikat [ RIS ]. Arnold Mononutu. Tokoh. Mr. Untk membentuk kabinet.17 Agustus 1950 Dalam sidang bersama Parlemen dan Senat RIS tanggal 16 Desember 1945 Ir. Kabinet RIS dibawah pimpinan Hatta memerintah sampai tanggal 17 Agustus 1950. Kekuasaan legislative yang seharusnya dilaksanakan presiden dan DPR dilaksanakan DPR dan Senat. b. Ir. dua orang dari RI yakni Mohammad Hatta dan Sultan Hamengkubuwono IX dan dua orang dari negara federal yakni Anak Agung Gde Agung dan Sultan Hamid II. Memang ada menteri yang yang merupakan anggota partai politik (PNI. Masyumi. II. Dr. Djuanda. Pada hari itu RIS menjelma menjadi RI. sedangkan dari BFO adalah Sultan Hamid II dan Ide Anak Agung Gde Agung. 11 orang diantaranya adalah Republiken. Dalam parlemen NIT ia meimpin fraksi Progresif yang lebih berorientasi pada RI daripada kepada NIT. Anggota.e. Sistim Kabinet Pemerintahan Republik Indonesia Kurun Waktu 27 Desember 1949 . antara lain : a. Leimena. tetapi mereka duduk dalam kabinet bukan sebagai wakil partai. Arnold Mononutu memang berasal dari negara federal NIT. Parkindo). Prof. Supomo. Kabinet ini merupakan zaken kabinet (yang mengutamakan keahlian anggotaanggotanya) dan bukan kabinet koalisi yang besandar pada partai politik.anggota kabinet ini sebagian besar pendukung unitarime dan hanya dua orang pendukung sistem federal yaitu Sultan Hamid II dan Anak Agung Gde Agung.tokoh terkemuka yang duduk dalam kabinet ini antara lain pihak Republik Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Presiden menunjuk empat orang formatur. melainkan sebagai perseorangan.MA f. kabinet RIS terbentuk dengan Mohamma Hatta sebagai perdana menteri.Perubahan tersebut berdasarkan pada Konstitusi RIS. Pada tanggal 20 Desember . Kabinet ini terdiri atas 13 menteri dan 3 menteri negara.

Perdana Menteri diangkat oleh Presiden. LN No. UUDS ini merupakan adopsi dari UUD RIS yang mengalami sedikit perubahan. Indonesia mulai . terutama yang berkaitan dengan perubahan bentuk negara dari negara serikat ke negara kesatuan. Pembubaran secara resmi negara RIS yang berbentuk federasi.III. 1962 dan Feith. Sistem Pemerintahan yang dianut adalah parlementer kabinet dengan demokrasi liberal yang masih bersifat semu. Adapun ciri-cirinya adalah : a. Setelah unitary dari Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). c. Menteri bertanggung jawab atas kebijakan pemerintahan. Pada tanggal yang sama pula. 56/1950) disetujui oleh DPR dan Senat RIS. Landasannya adalah UUD ’50 pengganti konstitusi RIS ’49. Presiden berhak membubarkan DPR. 2. Masa ini merupakan masa berakhirnya Negara Indonesia yang federalis. Diawali dari tanggal 15 Agustus 1950. DPR dan Senat RIS mengadakan rapat di mana dibacakan piagam pernyataan terbentuknya NKRI yang bertujuan: 1. Undang-Undang Dasar Sementara Negara Kesatuan Republik Indonesia (UUDS NKRI. d. Antara 1950 – 1959 Indonesia menggunakan sistem pemerintahan parlementer yang dalam waktu 4 tahun telah terjadi 33 kali pergantian kabinet (Feith. Sistim Pemerintahan Republik Indonesia Kurun Waktu 17 Agustus 1950 .5 Juli 1959 Era 1950-1959 ialah era dimana presiden Soekarno memerintah menggunakan konstitusi Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia 1950. UU No. 1999). dimana periode ini berlangsung dari 17 Agustus 1950 sampai 5 Juli 1959. 7/1850. Pembentukan NKRI yang meliputi seluruh daerah Indonesia dengan UUDS yang mulai berlaku pada tanggal 17 Agustus 1950. b. presiden dan wakil presiden tidak dapat diganggu gugat.

2) Instabilitas Politik. tetapi umumnya diyakini bahwa struktur kepartaian tersebut akan disederhanakan apabila pemilihan umum dilaksanakan. Sistem ekonomi liberal Pertumbuhan ekonomi dari struktur ekonomi kolonial ke ekonomi nasional berjalan lamban sebagai akibat pergolakan di daerah. Partai Katholik (9 kursi). Setelah pembentukan NKRI diadakanlah berbagai usaha untuk menyusun Undang-Undang Dasar baru dengan membentuk Lembaga Konstituante. PSI (17 kursi). Konstituante diserahi tugas membuat undang-undang dasar yang baru sesuai amanat UUDS 1950. Lembaga Konstituante adalah lembaga yang diserahi tugas untuk membentuk UUD baru. yang tak satupun dari mereka mendapat lebih dari 17 kursi. Anggota DPR berjumlah 232 orang yang terdiri dari Masyumi (49 kursi). Pergolakan di daerah (separatis) menyebabkan perhatian ke sektor pembangunan ekonomi berkurang. sedangkan sisa kursi dibagikan kepada partai-partai atau perorangan. Maka Presiden Soekarno menyampaikan konsepsi tentang Demokrasi Terpimpin pada DPR hasil pemilu yang berisi ide untuk kembali pada UUD 1945. PKI (13 kursi). Faktor yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tersendat-sendat: 1) Situasi keamanan dalam negeri yang tidak stabil. 3) Mengandalkan satu jenis ekspor (hasil pertanian & perkebunan) . Ini merupakan suatu struktur yang tidak menopang suatu pemerintahanpemerintahan yang kuat. dan Murba (4 kursi). PNI (36 kursi).menganut sistem Demokrasi Liberal dimana dalam sistem ini pemerintahan berbentuk parlementer sehingga perdana menteri langsung bertanggung jawab kepada parlemen (DPR) yang terdiri dari kekuatan-kekuatan partai. Partai Kristen (5 kursi). Namun sampai tahun 1959 badan ini belum juga bisa membuat konstitusi baru. Sering Resufle Kabinet yang menyebabkan program-program pembangunan tidak berjalan.

50 ke atas menjadi dua.4) Belum adanya tenaga ahli dan dana dalam penataan ekonomi. Sehingga pada Kabinet Ali I kebijakan diganti yang dikenal dengan Sistem Ali Baba. Karena situasi politik tidak menentu program ini juga belum berhasil. Pendeknya usia kabinet menyebabkan programnya tidak bisa berjalan dan . Untuk impor. Tahun 1950-1953 pemberian kredit kepada pengusaha Indonesia.80 menjadi Rp7. Pada masa ini sering terjadi pergantian kabinet. sehingga nilainya tinggal setengah. 3) Untuk menggalakkan perdagangan. Pengharusan pemotongan semua uang kertas yang bernilai Rp2. Upaya penataan ekonomi Indonesia hingga tahun 1959: 1) Peraturan Gunting Syafrudin (Menteri Keuangan) 20 Maret 1950. IV. 4) Dalam mengatasi ekonomi yang memburuk. Usaha itu gagal disebabkan persaingan dengan pengusaha non pribumi. partaipartai politik terkuat (PNI dan masyumi) pada masa itu silih berganti memimpin kabinet. 2) Dalam bidang ekspor.40 untuk setiap dollarnya.60. Kabinet Ali II membentuk Badan Perencanaan Pembangunan. Rp11. Dari hal terkumpul pinjaman wajib dari rakyat Rp1. pengubahan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS. Untuk kepentingan ekspor Rp3. yakni kerjasama antara pengusaha pribumi (Ali) dengan pengusaha nonpribumi (Baba). Sistim Kabinet Pemerintahan Republik Indonesia Kurun Waktu 17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959 Dalam kurun waktu tahun 1950-1959 merupakan masa berkiprahnya partai-partai politik pada pemerintahan RI.6 M dan mengurangi jumlah uang yang beredar. Hal ini pun gagal karena pengusaha non pribumi lebih berpengalaman sehingga pengusaha pribumi hanya diperalat untuk mempermudah dalam mendapatkan kredit.

sosial dan keamanan.ini akan menimbulkan ketidakstabilan dalam bidang politik. Kabinet-kabinet yang pernah berkuasa antara lain : 1) Kabinet Natsir 2) Kabinet Sukiman 3) Kabinet Wilopo 4) Kabinet Ali Sastroamidjojo I 5) Kabinet Burhanudin Harahap 6) Kabinet Alisastroamidjojo II 7) Kabinet Karya Berikut tabel kabinet yang dianut pada masa RIS dan Demokrasi Liberal Awal No Nama Kabinet masa kerja Akhir masa kerja Pimpinan Kabinet Jabatan Jumlah personil 20 * RIS Desember 1949 6 September 1950 Mohammad Hatta Perdana Menteri 17 orang 20 1 Susanto Desember 1949 21 Januari Susanto 1950 Tirtoprodjo Pjs Perdana Menteri 10 orang 2 Halim 21 Januari 1950 6 September Abdul Halim 1950 Perdana Menteri 15 orang 3 Natsir 6 27 April Mohammad Perdana 18 orang . ekonomi.

September 1950 1951 Natsir Menteri 4 SukimanSuwirjo 27 1951 April 3 1952 April Sukiman Wirjosandjojo Perdana Menteri 20 orang 5 Wilopo 3 1952 April 30 1953 Juli Wilopo Perdana Menteri 18 orang Ali 6 Sastroamidjojo I 30 1953 Juli 12 Agustus Ali 1955 Perdana Sastroamidjojo Menteri 20 orang 7 Burhanuddin Harahap 12 Agustus 24 1955 1956 Maret Burhanuddin Harahap Perdana Menteri 23 orang Ali 8 Sastroamidjojo II 24 1956 Maret 9 1957 April Ali Perdana Sastroamidjojo Menteri 25 orang 9 Djuanda 9 1957 April 10 1959 Juli Djuanda Perdana Menteri 24 orang .

Kekuasaan ini dipegang oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan Dewan Perwakilah Rakyat (DPR) di mana sesuai Pasal 3 UUD 1945 hasil amandemen dan Pasal 11 UU No. kewenangan atau kedaulatan dalam suatu negara untuk membuat dan menetapkan undang-undang. Legislatif ialah sebuah kekuasaan. 22 Tahun 2003 tentang pengajuan usul perubahan terhadap Pasal-Pasal dalam UUD begitu pula pada Pasal 20 A ayat 1 UUD 1945 tentang fungsi DPR. Saat Indonesia menganut sistem Konstitusi RIS 1949 (27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950). Kondisi Pelaksanaan / Realisasi Legislatif Sebelum kita membahas kondisi pelaksanaan dan realisasi fungsi legislatif. Dinamika Sistem Pemerintahan Indonesia 1. telah jelas disebutkan pada Pasal 1 ayat 2 Konstitusi RIS yakni ”Kekuasaan kedaulatan Republik Indonesia Serikat dilakukan oleh pemerintah bersama-sama dengan DPR dan senat” dan sistem pemerintahan yang dianut yakni Sistem Perlementer yang berarti menteri harus bertanggung jawab kepada Parlemen atau DPR dan apabila pertanggungjawaban itu tidak diterima oleh DPR .22 Tahun 2003 mengenai tugas dan wewenang MPR untuk mengubah dan menetapkan UUD dan Pasal 12 UU No.BAB II DINAMIKA SISTEM PEMERINTAHAN INDONESIAKURUN WAKTU 27 DESEMBER 1949 – 17 AGUSTUS 1950 dan sampai 5 JULI 1959 A. maka DPR . ada baiknya jika kita mengerti terlebih dahulu apakah arti dari legislatif itu sendiri.

Tambahan anggota atas penunjukan presiden dipertimbangkan jauh oleh kedua pemerintah. mempunyai hak mengadakan perubahan dalam UUD baru. pembentukan kabinet bukan dilakukan oleh Parlemen. parlemen tidak berhubungan dengan pemerintah sehingga DPR tidak punya pengaruh terhadap pemerintah. melainkan presiden. di dalam UUDS 1950 ini. 4. 2. Sistem Parlementer belum dijalankan murni buktinya pada Pasal 122 Konstitusi RIS 1949 tertulis ”DPR yang ditunjuk menurut pasal 109 dan 110 tidak dapat memaksa kabinet atau masing-masing nenteri meletakkan jabatannya” akibatnya timbul Sistem Pemerintahan yang berakhir pada Parlementer Kabinet Semu yakni tindakan. melainkan presiden. 3.tindakan yang dijalankan tidak semestinya seperti : 1. Saat Indonesia menganut sistem UUDS 1950 (17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959). Dengan memasukkan jiwa UUD 1945 ditambah point positif dari Konstitusi RIS 1949 maka dibentuklah UUDS 1950. Karena Konstitusi RIS 1949 menyalahi landasan UUD 1945 terutama Pasal 1 ayat 1 yang bertulis ”Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik” dan bersifat sementara serta banyak pihak yang ingin menyatukan RIS dan RI menjadi satu kesatuan maka pada tanggal 19 Mei 1950 terjadi kesepakatan antara RIS dan RI untuk bergabung kembali menjadi satu kesatuan yang kemudian dituangkan dalam Piagam Persetujuan. DPR Sementara bersama KNIP yang dinamakan Majelis Perubahan UUD. Jadi dari sini bisa kita tarik hipotesis bahwa peran legislatif sangat penting karena mengemban kekuasaan kedaulatan negara dan parlemen (dalam hal ini DPR juga termasuk) memegang sistem yang menjadi dasar dikala itu. kembali dituliskan peran legislatif dalam suatu sistem pemerintahan. Di masa ini kembali tugas legislatif diaktifkan. pengangkatan perdana menteri bukan dilakukan Parlemen. Untuk mangubah negara serikat menjadi kesatuan dibutuhkan suatu UUD negara kesatuan. Pada masa ini kekuasaan negara dipegang oleh beberapa alat perlengkapan negara sehingga kekuasaan negara tidak berpusat pada . pertanggungjawaban menteri adalah kepada DPR. DPR Sementara terdiri atas gabungan DPR RIS dan BPKNIP. namun harus melalui keputusan pemerintah dahulu. Namun sayangnya proses realisasainya tak sejalan dengan konsep awal. diantaranya: 1. 2. Bisa kita simpulkan awal bahwa legislatif harus selalu direalisasikan di tiap sistem pemerintahan tanpa terkecuali.dapat membubarkan kabinet (menteri-menteri) dengan mosi tidak percaya.

sesuai dengan ketentuan-ketentuan bagian ini. DPR. MA dan Dewan Pengawas Keuangan. Berdasarkan pada Pasal 44 UUDS 1950. alat-alat perlengkapan negara terdiri atas presiden dan wakil presiden.satu lembaga atau satu badan saja. Sayangnya. Timbullah ketegangan politik. Pada tanggal 15 Desember 1955 diadakan pemilu untuk memilih anggota konstituante dan tanggal 10 november 1956 sidang pertama konstituante dibuka di Bandung. Sayangnya. Konstituante (pembuat undang-undang) dituntut untuk membuat undang-undang baru untuk mengatasi masalah yang pelik tersebut. proses realisasi ini diwarnai oleh jatuh bangun kabinet yang mengakibatkan kondisi pemerintahan Indonesia menjadi tidak stabil. Hal ini terbukti dalam Pasal 83 ayat 2 UUDS 1950 yang tertulis ”Menteri-menteri bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanaan pemerintah. sistem kepartaian di Indonesia menjadi multipartai. baik bersama-sama untuk seluruhnya. Dari sini bisa kita tarik pernyataan bahwa menteri-menteri tersebut harus bertanggung jawab atas segala kebijaksanaannya kepada Parlementer DPR namun DPR juga tidak semerta-merta bebas berkehendak kareana dalam bagian Sistem Parlementer UUDS 1950 tertuang pasal 84 yang bertulis ”Presiden berhak membubarkan DPR”. Dalam kasus ini. Hal ini mengakibatkan ketegangan antar partai politik yang saling curiga dan hanya memperjuangkan kepentingan golongan saja ditambah demokrasi yang tidak sehat. Perdebatan di kalangan anggota konstituante sulit diselesaikan. konstituante belum berhasil merumuskan RUUD yang baru. Pernyataan ini didukung dan ditegaskan lagi oleh Pasal 89 UUDS 1950 yang tertulis ”Kecuali apa yang ditentukan dalam pasal 140 maka kekuasaan perundang-undangan. dilakuakn oleh pemerintah bersama-sama dengan DPR”. Pasa masa ini Sistem Pemerintahan Parlementer tetap dipertahankan dari Sistem yang sebelumnya. Terlebih lagi setelah dikeluarkannya Maklumat Pemerintah pada 3 November 1945 silam. maupun masing-masing untuk bagiannya sendirisendiri”. Atas keputusan Presiden yang menyatakan pembubaran tersebut. Rakyat dan pemerintah sangat berharap agar Konstituante dapat membentuk UUD baru. maka presiden memerintahkan untuk mengadakan pemilihan DPR baru dalam waktu 30 hari. setelah lebih dari dua tahun bersidang. Nah pada periode ini kekuasaan parlemen masih berperan karena legislatif masih dipegang oleh DPR yang nantinya bersamasama dengan pemerintah membentuk undang-undang. maka untuk sementara dibentuk DPRS. menteri-menteri. Namun karena pada saat itu belum dibentuk DPR yang baru. Harus ada usaha untuk mengembalikan ke UUD 1945 secara konstitusional berdasarkan pasal .

Eksekutif ialah sebuah kekuasaan. 2. dan 2 Juni 1959) untuk memilih kembali ke UUD 1945. Akhirnya pada 22 April 1959 Presiden Soekarno menyampaikan amanat kepada konstituante untuk kembali ke UUD 1945. hasil yang didapat tidak memuaskan. 2. Namun hasil tersebut belum final karena pada kenyatannya konsituante memang tidak mampu lagi menyelesaikan tugas tersebut dan mengaku sudah tak mau lagi untuk megadakan sidang. Seperti yang tertuang dalam UUD 1945 pasal 10 yang tertulis ”Presiden memegang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Darat. 1 Juni 1959. Maka dengan begitu. namun sama seperti bahasan sebelumnya ada baiknya kita harus tahu dulu apakah arti dari eksekutif . . Kenyatannya setelah tiga kali mengadakan pemungutan suara ( 30 Me1 1959. . Perolehan suara tidak mencapai 2/3.150 tahun 1959. dasar hidup asli kita. menetapkan pembubaran konstituante.75 tahun 1959 yang berisi: 1. kewenangan atau kedaulatan dalam suatu negara untuk melaksanakan undang-undang. pembenrukan MPRS dan DPAS yang akan diselenggarakan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.134 UUDS 1950. dan juga pada pasal 4 UUD 1945 yang menyatakan ”Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintah menurut undang-undang dasar”. presiden memiliki kekuasaan untuk mengangkat dan memberhentikan menteri-menteri negara ( pasal 17 UUD 1945) dan tentunya masih banyak lagi kekuasaan presidan yang lainnya. Belum sampai di situ saja. Atas dasar tersebut. dan kemudian dimuat dalam Lembaran Negara RI No. Angkatan Laut. menetapkan UUD 1945 berlaku kembali basi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan tidak berlakunya lagi UUDS 1950. Kondisi Pelaksanaan / Realisasi Eksekutif Setelah kita membahas bentuk realisasi dari legislatif. Diluar dari pergantian sistem pemerintahan dan bentuk kabinet. Kekuasaan ini dimiliki oleh Presiden dan Wakil Presiden. berakhirlah masa UUDS 1950 untuk selanjutnya kita kembalil pada UUD 1945. peran legislatif sangatlah penting dan harus selalu ada dalam setiap negara di manapun itu. kini kita akan membahas masalah realisasai eksekutifnya. dan Angkatan Udara”. 3. maka pada tanggal 5 Juli 1959 Presiden Soekarno akhirnya mengeluarkan sebuh keputusan negara yang disebut Dekrit Presiden dengan Kepres No.

kekuasaan perdana menteri masih dicampur dan ditangani oleh presiden. Kemudian dipertegas oleh pasal 118 ayat 2 Konstitusi RIS 1949 yang tertulis ”Menteri-menteri bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanaan pemerintah. Hal ini menendakan bahwa jabatan Kepala Negara masih tetap dipegang oleh presiden. Sama seperti bahasan sebelumnya peride Konstitusi RIS 1949 berakhir dengan Piagam Persetujuan 19 Mei 1950 mengenai kesepakatan antara RIS dan RI untuk . kedudukan presiden dan wakil presiden tidak dapat diganggu gugat. Artinya. Selain itu. presiden bersama menteri berkedudukan sebagai pemerintah. presiden dipilih oleh orang-orang yang dikuasakan oleh pemerintah negara bagian. 2. 3. namun presiden tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas tugas pemerintahan. Kembali. presiden RIS mempunyai kedudukan rangkap sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan (padahal presiden tidak bertanggung jawab atas tindakan di pemerintahan). Ada beberapa pernyataan yang mendukung bahwa kekuasaan eksekutif prasiden sangatlah besar. konsep atau asas ini juga dikenal dengan istilah The King can do no wrong di Inggris. seperti beberapa isi dari Konstitusi RIS 1949 yang tertulis: 1. presiden tidak boleh berlaku sewenang-wenang terhadap para menteri karena bebas dari tanggung jawab khusus yang itu. 3. maupun masing-masing untuk bagiannya sendiri-sendiri”. Walau begitu. berdasarkan pasal 1 ayat 1 Konstitusi RIS 1949.Saat Indonesia menganut sistem Konstitusi RIS 1949 (27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950) bentuk negara kita masih tetap Republik. 2. Mengapa? Karena dalam Konstitusi RIS 1949 yang harus mempertanggungjawabkan seluruh kebijaksanaan pemerintahan ialah menteri bukan presiden. berlakunya asas pedoman bahwa kehendak didaerah-daerah bagian dinyatakan merdeka menurut jalan demokrasi dll. sama seperti yang telah disebutkan di atas yakni yang melaksanakan dan mempertanggungjawabkan tugas-tugas pemerintahan adalah menteri-menteri. baik bersama-sama untuk seluruhnya. dalam realisasinya tugas eksekutif yang dipegang presiden tersebut disalahgunakan atau menyimpang seperti: 1. 4. sayangnya. Hal ini seraya didukung oleh Konstitusi RIS 1949 pasal 118 ayat 1 yang tertulis ”Presiden tidak dapat diganggu gugat” . pembentukan kabinet oleh presiden yang seharusnya dilakukan oleh parlemen. pengangkatan perdana menteri oleh presiden yang seharusnya tugas parlemen.

Presiden RI berkedudukan sebagai Kepala Negara dan Wakil presiden bertugas sebagai pembantu presiden. Namun seperti yang kita sebutkan sebelumnya. ini merupakan kekuasaan eksekutif presiden dalam lingkup kepala negara sesuai UUD. Dalam UUDS 1950 ternyata kekuasaan eksekutif tidak dipegang seutuhnya oleh presiden. Yudikatif ialah sebuah kekuasaan. perdamaian dan lainnya karena cakupan eksekutifnya sampai hal itu saja. Presiden Soekarno mengeluarkan Konsepsi Presiden pada bulan Februari 1957. seperti: 1. Seharusnya presidan hanya mengurusi bagian hubungan diplomatik. 2. Kedua tindakan presiden tersebut dianggap inkonstitusional atau menyimpang dari konstitusi yang membatasi kekuasaan eksekutifnya. Sesuai pasal 45 UUDS 1950 bahwa ”Presiden ialah Kepala Negara” maka kekuasaan eksekutifnya terbatas dalam lingkup Kepala Negara saja. perang. bukan hanya presiden atau wapres saja. Contohnya saja seperti yang ada dalam pasal 84 UUDS 1950 yang berbunyi ”Presiden berhak membubarkan DPR”. Presiden Soakarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang menyebabkan Kabinet Djuanda menjadi deminisioner. pada masa UUDS 1950 tidak ada pemusatan kekuasaan. Hal ini tertuang dalam UUDS 1950 pasal 1 ayat 1 yang isinya ”Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat ialah suatu negara hukum yang demokratis dan berbentuk kesatuan”. kewenangan atau kedaulatan dalam suatu negara . Sebelumnya mari kita telaah dulu mengenai arti yudikatif itu sendiri.bergabung kembali menjadi satu kesatuan atas dukungan banyak pihak yang ingin menyatukan RIS dan RI. Saat Indonesia menganut sistem UUDS 1950 (17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959) bentuk pemerintahan yang digunakan tetap Republik. Kondisi Pelaksanaan / Realisasi Yudikatif Kini kita akan membahas tentang pelaksanan yudikatif dalam sistem pemerintahan kurun waktu 27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950 dan sampai 5 Juli 1959. 3. Kembali pada masa ini. penyimpangan proses realisasi ke-eksekutif-an presiden mewarnai jalannya pemerintahan. Hal ini berarti presiden sebagai pemilik kekuasaan eksekutif kembali berperan. Kekuasaan eksekutif dijalankan oleh kabinet atau para menteri. melainkan semua kekuasaan negara dikendalikan oleh beberapa aspek alat perlengkapan negara. sekalipun UUD yang digunakan berganti-ganti. Presiden sebagai kepala negara tidak mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan dengan masalah pemerintahan ( lihat lagi dasarnya pada pasal 45 UUDS 1950).

Pada dasarnya MA sering terlibat. Selain sebagai pengawas atas perbuatan pengadilan-pengadilan yang lain. Disebutkan dalam UUD 1945 pasal 24 ayat 1 bahwa ”Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman menurut Undang-Undang”. DPR. DPK dapat diberhentikan oleh presiden atas permintaan sendiri. pengangkatan Mahkamah Agung adalah untuk seumur hidup. Mahkamah Agung dan Dewan Pengawas Keuangan merupakan lembaga negara yang harus ada di sistemnya. .Dalam hal ini yang termasuk yaitu Mahkamah Agung (MA) dan Dewan Pengawas Keuangan (DPK). Sama seperti Konstitusi RIS 1949 hanya tidak ada Senat dan Wakil Presiden serta kata Indonesia.untuk mengawasi pelaksanaan undang-undang. pada saat Indonesia menganut sistem UUDS 1950. bahkan harus terlibat dalam setiap penyaksian sumpah / janji yang dilakukan anggota DPR/MPR/DPD yang akan dilantik dalam Sidang Paripurna. Selain MA dalam lembaga yudikatif juga ada DPK ( Dewan Pengawas Keuangan). MA. Sesuai Konstitusi RIS 1949 yang tertulis ”Lembaga negara terdiri atas Presiden. MA dan DPK juga berperan sebagai alat perlengkapan negara. Sesuai pasal 44 UUDS 1950 tertulis ”Alat-alat perlengkapan negara terdiri atas Presiden dan Wakil Presiden. Pengangkatan anggota DPK seumur hidup. Sesuai pasal 105 Ayat 1 UUDS 1950 tertulis bahwa “Mahkamah Agung adalah Pengadilan Negara Tertinggi”. Menteri-Menteri. dalam hal ini sesuai dengan pasal 14 ayat 1 UUD 1945 yang tertulis “Presiden memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbanagn Mahkamah Agung”. Mahkamah Agung dapat dipecat atau diberhentikan menurut cara dan ditentukan oleh undang-undang ( Pasal 79 Ayat 3 UUDS 1950 ). Senat. wakil ketua dan anggotanya dapat diberhentikan apabila mencapai usia tertentu. DPR. Pada masa Konstitusi RIS 1949 berjalan. dan Dewan Pengawas Keuangan”. MA Indonesia. undang-undang menetapakan ketua. Sebagai lembaga yudikatif atau juga pengawas dari pelaksanaan UUDS 1950. Mahkamah Agung juga memberi nasehat kepada Presiden dalam pemutusan pemberian hak grasi oleh presiden. MenteriMenteri. Tak jauh beda. selain itu diatur pada pasal yang sama dengan ayat 4 disebutkan bahwa ”Mahkamah Agung dapat diberhentikan oleh Presiden atas permintaan sendiri”. dengan begitu kekuasaan yudikatif dalam Negara RI dipegang oleh MA. dan Dewan Pengawas Keuangan”.

Kekurangan: 1. Eksistensinya sangat tergantung pada kekuatan militer Belanda. Kelebihan dan Kelemahan Pelaksanaan Sistem Pemerintahan Semu Parlementer pada Masa RIS (27 Desember 1949 -17 Agustus 1950) Kelebihan: 1. . B. II. Dasar pembentukan Negara Federal di Indonesia tidak jelas dan tanpa dukungan rakyat. Kelebihan dan Kelemahan Pelaksanaan Sistem Pemerintahan Parlementer pada Masa Demokrasi Liberal (17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959) Sistem pemerintahan parlementer memiliki kelebihan dan kelemahan. Jadi kami pikir untuk realisasi ini berjalan lancar dan terkontrol baik. Kelebihan sistem pemerintahan parlementer adalah sebagai berikut : 1. 2. Pembuatan kebijakan dapat ditangani secara cepat karena terjadi menyesuaian pendapat antara eksekutif dan legislative. 3. Selain itu belum kami kumpai tindak penyimpanagn seperi pada bagian legislatif ataupun eksekutif. Pasang Surut Sistem Pemerintahan Indonesia Kurun Waktu 27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950 dan Sampai 5 Juli 1959 Pasang Surut Sistem Pemerintahan Kurun Waktu Masa Republik Indonesia Serikat dan Demokrasi Liberal I. Mungkin karena dipilih sekali seumur hidup itu jadinya tidak terlalu ribet dalam pelaksanaannya. Hal ini disebabkan kekuasaan eksekutif dan legislative berada pada satu partai atau koalisi partai.Sejauh yang kami tahu. proses realisasi pada fungsi yudikatif pada kurun waktu 27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950 dan sampai 5 Juli 1959 berjalan apa adanya.

Garis tanggung jawab dalam pembuatan dan pelaksanaan kebijakan public jelas. 3. Kedudukan badan eksekutif/ kabinet sangat tergantung pada mayoritas dukungan parlemen sehingga sewaktu.17 Agustus 1950 dan sampai 5 Juli 1959 a. Karena pengaruh mereka yang besar di parlemen dan partai. Kelangsungan kedudukan badan eksekutif atau kabinet tidak bisa ditentukan berakhir sesuai dengan masa jabatannya karena sewaktu. Tumbuh demokrasi dengan system multipartai. anggota kabinet dapat menguasai parlemen. Tidak terdapat partai yang menang mayoritas. C. Kabinet dapat mengendalikan parlemen. 2. Memang hasil KMB diterima oleh Pemerintah Republik Indonesia.2. sehingga mempengaruhi stabilitas politik dan pemerintahan dengan sering jatuhnya kabinet.Hasil KMB Bagian penting dari keputusan KMB adalah terbentuknya Negara Republik Indonesia Serikat.” Hal ini terbukti dengan munculnya perbedaan dan . 4. Pengalaman mereka menjadi anggota parlemen dimanfaatkan dan menjadi bekal penting untuk menjadi menteri atau jabatan eksekutif lainnya. Catatan / Peristiwa – Peristiwa Penting Kurun Waktu 27 Desember 1949 . 5. Adanya pengawasan yang kuat dari parlemen terhadap kabinet sehingga kabinet menjadi berhati – hati dalam menjalankan pemerintahan.waktu kabinet dapat dijatuhkan oleh parlemen. Kelemahan sistem pemerintahan parlementer adalah sebagai berikut : 1. 3. 4. Hal itu terjadi apabila para anggota kabinet adalah anggota parlemen dan berasal dari partai mayoritas.waktu kabinet dapat bubar. namun hanya “ setengah hati.jabatan eksekutif. sehingga aprisiasi rakyat memungkinkan tersalurkan. Parlemen menjadi tempat kaderisasi bagi jabatan.

Menuntut pasukan AAPRIS bekas KNIL saja yang bertanggung jawab atas keamanan di Negara Indonesia Timur .pertentangan antar kelompok bangsa. artinya kelompok pendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia 2. Masyumi (57 wakil). Dampak dari terbentuknya Negara RIS adalah konstitusi yang digunakan bukan lagi UUD 1945.Pemberontakan Andi Aziz Pemberontakan Andi Aziz terjadi di Ujung Pandang pada tanggal 5 April 1950 Latar belakang pemberontakan Andi Aziz adalah : . Hasil pemilu tahun 1955 menunjukkan ada empat partai yang memperoleh suara terbanyak yaitu PNI (57 wakil). Tujuan APRA adalah mempertahankan berdirinya negara boneka (Negara Pasundan) dan diakuinya sebagai Tentara Pasundan. d. Soumokil mantan Jaksa Agung Negara Indonesia Timur memproklamirkan berdirinya RMS (Republik Maluku Selatan) di Ambon yang ingin memisahkan diri dari RIS. . e. kelompok unitaris. Dua kekuatan besar yang saling berseberangan yaitu: 1. melainkan Konstitusi RIS tahun 1949.Menolak masuknya pasukan APRIS dari TNI di Makasar . RS. Pemilu dilaksanakan dalam dua tahap yaitu tanggal 29 September 1955 untuk memilih anggota DPR. NU (45 wakil).Pemilihan Umum Tahun 1955 Pemilu diselenggarakan pada masa pemerintahan Kabinet Burhanudin Harahap.Tetap mempertahankan berdirinya Negara Indonesia Timur. dan tanggal 15 Desember 1955 untuk memilih anggota Badan Konstituante (Badan Pembentuk UUD). kelompok pendukung Negara Federal-RIS. Ch. Dr. c. b. dan PKI (39 wakil).Pemberontakan RMS ( Republik Maluku Selatan ) Pada tanggal 25 April 1950 Mr.Pemberontakan APRA ( Angkatan Perang Ratu Adil ) Pemberontakan APRA terjadi di Bandung pada tanggal 23 Januari 1950 yang dipimpin oleh Kapten Raymond Westerling.

Dekrit Presiden 5 Juli 1959 Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit sebagai langkah untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. g. 1.15 Agustus 1950) Assaat = pemangku sementara jabatan presiden RI (27 Desember 1949 .f. BAB III Analisis Sistem Pemerintahan Periode 1949-1950 Lama periode : 27 Desember 1949 – 15 Agustus 1950 Bentuk Negara : Serikat (Federasi) Bentuk Pemerintahan : Republik Sistem Pemerintahan : Parlementer Semu (Quasi Parlementer) Konstitusi : Konstitusi RIS Presiden & Wapres : Ir.15 Agustus 1950) .Soekarno = presiden RIS (27 Desember 1949 .Pemberontakan PRRI ( Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia ) Latar belakang pemberontakan PRRI adalah adanya pertentangan antara pemerintah pusat dengan daerah mengenai masalah otonomi dan perimbangan keuangan yang makin meruncing. Somba.Pemberontakan PERMESTA ( Piagam Perjuangan Semesta ) Pemberontakan Permesta dimulai dengan dibentuknya Dewan Manguni di Manado oleh Letkol Ventje Sumual dan diproklamirkan berdirinya PERMESTA pada tanggal 17 Februari 1958 oleh Letkol DJ. tanggal 15 Februari 1958 Achmad Husein memproklamirkan berdirinya PRRI ( Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia ) dengan Syafrudin Prawiranegara sebagai Perdana Menterinya. Keluarnya Dekrit Presiden menandai berakhirnya Demokrasi Liberal dan dimulainya Demokrasi Terpimpin.Afrika yang terjajah melalui KAA (18 April-24 April 1955) di Gedung Merdeka. Mampu menggalang dukungan internasional guna memperjuangkan dukungan internasional bangsa Asia. Bandung. Indonesia 2.

XX/MPRS/1996).Termasuk pula dalam pemyimpangan mukadimah ini adalah perubahan kata. Konstitusi RIS menentukan suatu bentuk negara yang leberalistis atau pemerintahan berdasarkan demokrasi parlementer. . dalam Sidang Pertama Babak ke-3 Rapat ke-71 DPR RIS tanggal 14 Agustus 1950 di Jakarta. UUDS 1950 ditetapkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1950 tentang Perubahan Konstitusi Sementara Republik Indonesia Serikat menjadi Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia. kata tap MPR no.kata dari kelima sila pancasila.Pada tanggal 27 Desember 1949 Ratu Juliana menandatangani Piagam Pengakuan Kedaulatan RIS di Amesterdam. Bila kita tinjau isinya konstitusi itu jauh menyimpang dari cita-cita Indonesia yang berideologi pancasila dan ber UUD 1945 karena : 1. Sistem Pemerintahan Periode 1950-1959 Lama periode : 15 Agustus 1950 – 5 Juli 1959 Bentuk Negara : Kesatuan Bentuk Pemerintahan : Republik Sistem Pemerintahan : Parlementer Konstitusi : UUDS 1950 Presiden & Wapres : Ir. 2. Konstitusi RIS). dimana menteri-menterinya bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanaan pemerintah kepada parlemen (pasal 118. Mukadimah Konstitusi RIS telah menghapuskan sama sekali jiwa atau semangat pembukaan UUD proklamasi sebagai penjelasan resmi proklamasi kemerdekaan negara Indonesia (Pembukaan UUD 1945 merupakan Decleration of independence bangsa Indonesia. ayat 2 Konstitusi RIS) 3. Inilah yang kemudian yang membuka jalan bagi penafsiran pancasila secara bebas dan sesuka hati hingga menjadi sumber segala penyelewengan didalam sejarah ketatanegaraan Indonesia.Soekarno & Mohammad Hatta UUDS 1950 adalah konstitusi yang berlaku di negara Republik Indonesia sejak 17 Agustus 1950 hingga dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Konstitusi RIS menentukan bentuk negara serikat (federalisme) yang terbagi dalam 16 negara bagian. yaitu 7 negara bagian dan 9 buah satuan kenegaraan (pasal 1 dan 2.

sehingga untuk menyelamatkan negara dan bangsa akibat gagalnya konstituante tersebut. Meski presiden merupakan bagian dari pemerintahan. B. Saran. tanggung jawab pemerintahan berada di tangan perdana menteri bersama para menterinya. pemerintah dapat meminta presiden untuk membubarkan DPR. Kesimpulan 1)Sistem pemerintahan RIS tidak sesuai diterapkan di Indonesia. walaupun secara umum mempunyai goal yang kurang lebih sama. Kata Penutup . Pada masa ini. Karena yang dianut adalah sistem parlementer. secara bersama-sama untuk seluruhnya atau masing-masing untuk bagiannya sendiri. Yang jadi masalah besar pada periode ini adalah kegagalan konstituante dalam menetapkan hukum dasar negara. Penanggung jawab tindakan pemerintah adalah menteri-menteri.sebagai imbangannya. Sehingga terjadi masa “transisi” abadi. presiden dan wakil presiden tidak boleh diganggu-gugat. Kabinet kerap kali jatuh. kondisi perpolitikan kurang begitu stabil. presiden mengeluarkan dekrit presiden pada tanggal 5 Juli 1959. dan Harapan C. BAB IV PENUTUP A.Menurut UUDS. 2)Sistem demokrasi liberal tidak sesuai diterapkan di Indonesia karena sistem pemerintahan kabinetnya labil. karena sering mendapat mosi tidak percaya dari DPR. presiden berfungsi sebagai kepala negara. Kritik.

DAFTAR PUSTAKA Badrika. LKS. I Wayan. Sejarah untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga. Cerah. 2007. 2007. Cerah. Solo: CV. Teguh Karya. Pendidikan Kewarganegaraan SMP Semester II. Pendidikan Kewarganegaraan SMP Semester I. 2006. Solo: . LKS.

Tim Penyusun MGMP Pendidikan Kewarganegaraan Yogyakarta.M.wordpress.com http://superzayedium. Teguh Karya. Sunardi H. 2005.co. Surakarta: Pustaka Mandiri.id www. Drs. Bandung: Ganeca Exact. 2005. www.co.com/page/2/ LAMPIRAN-LAMPIRAN . 2006. Pendidikan Kewarganegaraan (Citizenship) Kelas VIII. Tim Penyusun MGMP Pendidikan Kewarganegaraan Yogyakarta. Pengetahuan Sosial Kewarganegaraan. Yogyakarta: Bumi Aksara.blogspot. Pendidikan Kewarganegaraan (Citizenship) Kelas VII.wikipedia. Drs. dan Mochammad Amin.id www. 2000.S.khanifsalsabila. Halimi.Pd. S.CV.google. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia dan Amandemennya. Surakarta: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Memahami Tata Negara. Rahmat A. dan Mas’udi Asy. Yogyakarta: Bumi Aksara..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful