BAB III PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT A.

Pengertian Filsafat Dalam wacana ilmu pengetahuan, banyak orang yang memandang bahwa filsafat adalah merupakan bidang ilmu yang rumit, kompleks dan sulit dipahami secara definitif. Namun demikian sebenarnya tidak dapat seorangpun dapat menghindar dari kegiatan berfilsafat. Dengan lain perkataan setiap orang dalam hidupnya senantiasa berfilsafat, sehingga berdasarkan kenyataan tersebut maka sebenarnya filsafat itu sangat mudah dipahami. Secara etimologis istilah “filsafat” berasal dari bahasa Yunani “philein” yang artinya “cinta” dan “sophos” yang artinya “hikmah” atau “kebijaksanaan” atau “wisdom” (Nasution. 1973). Jadi secara harfiah istilah “filsafat” mengandung makna cinta kebijaksanaan. Dan nampaknya hal ini sesuai dengan sejarah timbulnya ilmu pengetahuan, yang sebelumnya dibawah naungan filsafat. Namun demikian jikalau kita membahas pengertian filsafat dalam hubungannya dengan lingkup bahasanya maka mencakup bidang bahasan antaralain tentang manusia, alam, pengetahuan, etika, logika, dan lain sebagainya. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka muncul pula filsafat yang berkaitan dengan bidang-bidang ilmu tertentu antara lain filsafat politik, social, hokum, bahasa, ilmu pengetahuan, agama, dan bidang-bidang ilmu lainnya. Keseluruhan arti filsafat yang meliputi berbagai masalah tersebut dapat dikelompokan menjadi dua macam sebagai berikut. Pertama : Filsafat sebagai produk yang mencakup pengertian. 1. Filsafat sebagai jenis pengetahuan, ilmu, konsep, pemikiran-pemikiran dari suatu filsuf pada zaman dahulu yang lazimnya merupakan suatu aliran atau sistem filsafat tertentu, misalnya rasionalisme, materialism, pragmatism dan lain sebagainya. 2. Filsafat sebagai suatu jenis problema yang dihadapi oleh manusia sebagai hasil dari aktivitas berfilsafat. Jadi manusia mencari suatu kebenaran yang timbul dari persoalan yang bersumber pada akal manusia. Kedua : Filsafat sebagai suatu proses, yang dalam hal ini filsafat diartika sebagai
1

Rumusan Kesatuan Sila-sila Pancasila Sebagai Suatu Sistem Pancasila yang terdiri atas lima sila pada hakikatnya merupakan suatu sitem filsafat. Dasar filsafat Negara Indonesia terdiri atas lima sila yang masing-masing merupakn suatu asas peradaban. Susunan Kesatuan Sila-sila Pancasila yang Bersifat Organis Isi sila-sila Pancasila pada kahikatnya merupakan suatu kesatuan. 1. Metodologi 4. saling bekerja sama untuk suatu tujuan tertentu dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh. Fungsi sendiri-sendiri namun secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang sistematis. Metafisika 2. Namun demikian sila-sila Pancasila itu merupakan suatu kesatuan dan keutuhan yaitu setiap sila merupakan unsur (bagian yang mutlak) . dalam proses pemecahan suatu permasalahan dengan menggunakan suatu cara dan metode tertentu sesuai dengan objeknya. Epistimologi 3. Sistem lazimnya memiliki cirri-ciri sebagai berikut : 1) Suatu kesatuan bagian-bagian 2) Bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri 3) Saling berhubungan dan saling ketergantungan 4) Keseluruhannya dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu (tujuan tertentu) 5) Terjadi dalam suatu lingkungan yang kompleks (Shore dan Voich. Pengertian sistem adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang saling bergubungan. Etika 6. 1974) Pancasila terdiri atas bagian-bagian yaitu sila-sila Pancasila setiap sila pada hakikatnya merupakan suatu asas sendiri.bentuk suatu aktifitas berfilsafat. Logika 5. Estetika B. Adapun cabang-cabang yang pokok adalah sebagai berikut: 1.

manusia. ‘sifat kodrat’ individu-makhluk social. Setiap unsur memiliki fungsi masing namunsaling berhubungan. Susunan Pancasila yang Bersifat Hierarkhis dan Berbentuk Piramidal Susunan Pancasila adalah hierarkhis dan berbentuk pyramidal. rakyat. Unsur-unsur hakikay manusia tersebut merupakan suatu kesatuan yang bersifat organis dan harmonis. dan adil (Notonagoro. Konsekuensinya setiap sila tidak dapat berdiri sendiri-sendiri terlepas dari sila-sila lainnya serta di antara sila satu dan lainnya tidak saling bertentangan.dari Pancasila. maka segala hal yang berkaitan dengan sifat dan hakikat Negara harus sesuai dengan landasan sila-sila Pancasila Rumusan Pancasila yang Bersifat Hierarkhis dan Berbentuk Piramidal 3 . Secara ontologism hakikat sila-sila Pancasila mendasarkan pada landasan sila-sila Pancasila Yaitu: Tuhan. Pengertian matematis pyramidal digunakan untuk menggambarkan hubungan hierakhi silasila Pancasila dalam urutan-urutan yang luas (kwantitas) dan juga dalam hal isi sifatnya (kwalitas). Oleh karena sila-sila Pancasila merupakan penjelmaan hakikat manusia ‘monopluralis’ yang merupakan kesatuan organism aka sila-sila Pancasila juga memiliki kesatuan yang bersifat organis pula. ‘susunan kodrat’ jasmani-rokhani. Maka Pancasila merupakan suatu kesatuan yang majemuk tunggal. Kalau dilihat dari intinya urutan-urutan lima sila menunjukan suatu rangkaian tingkat dalam luas dan isi sifatnya merupakan pengkhususan dari sila-sila di mukanya. isi dari sila-sila Pancasila yaitu hakikat manusia ‘monopluralis’ yang memiliki unsur-unsur. 1975:49) Berdasarkan hakikat yang terkandung dalam sila-sila Pancasila dan Pancasila sebagai dasar filsafat Negara. satu. Kesatuan sila-sila Pancasila yang bersifat organis tersebut pada hakikatnya secara filosofois bersumber pada hakikat dasar ontologism manusia sebagai pendukung dari inti. 2. dan ‘kedudukan kodrat’ sebagai pribadi berdiri sendiri-makhluk Tuhan yang Maha Esa.

persatuan Indonesia. kemanusiaan yang adil dan beradab. Sila Ketuhanan yang Maha Esa 2. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan serta keadilan sosila bagi seluruh rakyat Indonesia. Rumusan Hubungan Kesatuan Sila-sila Pancasila yang Mengisi dan Mengkualifikasi Kesatuan sila-sila Pancasila yang majemuk tunggal hierarkhis piramidal juga memiliki sifat salingmengisi dan saling mengkualifikasi. Sila pertama : Ketuhanan yang Maha Esa adalah meliputi dan menjiwai silasila kemanusiaan yang adil dan beradab. persatuan Indonesia. Sila ketiga : persatuan Indonesia adalah diliputi dan dijiwai sila Ketuhanan yang Maha Esa. kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.kemanusiaan yang adil dan beradab. Sila kelima : keadilan sosial bagi seliruh rakyat Indonesia adalah diliputi dan dijiwai oleh sila-sila Ketuhanan yang Maha Esa. 3. serta meliputi dan menjiwai sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 3. 5. kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 4. Sila keempat : kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan adalah diliputi dan dijiwai oleh sila-sila Ketuhanan yang Maha Esa. kemanusiaan yang adil dan beradab. Adapun rumusan kesatuan sila-silaPancasila yang saling mengisi dan mengkualifikasi tersebut adalah sebagai berikut : 1.1. 2. meliputi dan menjiwai sila persatuan Indonesia. meliputi dan menjiwai sila kerakyatan Indonesia. Sila kedua : Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah meliputi dan dijiwai sila Ketuhanan yang Maha Esa. Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat . persatuan Indonesia.

raga da jiwa jasmani dan rokhani. Adapun pendukung pokok Negara adalah rakyat dan unsure rakyat itu adalah manusia itu sendiri. oleh karena itu hakikat dasar juga disebut sebagaidasar antropologis. Sila Persatuan Indonesia 4. Sebagai suatu system filsafat landasan sila-sila Pancasila iti dalam hal isinya menunjukan suatu hakikat makna yang betingkat (Notonagoro. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut : 5 . Kesatuan Sila-sila Pancasila sebagai Suatu Sistem Filsafat Kesatuan sila-sila Pancasila pada hakikatnya bukanlah hanya merupakan kesatuan yang bersifat formal logis saja namun juga meliputi kesatuan dasar ontologism. Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia C. Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan 5. Dasar ontologism pada hakikatnya adalah manusia yang memiliki hakikat mutlak monopluralis.sehingga tepatla jikalau dalam filsafat Pancasila bahwa hakikat dasar antropologis sila-sila Pancasila adalah manusia. dasar epiteomologis serta dasar aksiologis dari sila-sila Pancasila. Manusia sebagai pendukung pokok sila-sila Pancasila secara ontologism memiliki hal-hal yang mutlak yaitu terdiri dari susunan kodrat. sifat kodrat manusia adalah sebagai makkhluk individu dan makhluk sosial. Demikian juga jikalau kita pahami dari segi filsafat Negara bahwa Pancasila adalah dasar filsafat Negara. serta ditinjau dari keluasannya memiliki bentuk pyramidal.3. 1. Pancasila yang terdiri atas lima sila setiap sila bukan merupakan asas yang berdiri sendiri melainkan memiliki satu kesatuan dasar ontologism. Dasar Antropologis Sila-sila Pancasila Pancasila sebagai suatu kesatuan system filsafat tidak hanya kesatuanyangmenyangkut sila-silanya saja melainkan juga meliputi hakikat dasar dari sila-sila pancasila atau secara filosofis meliputi dasar ontologism sila-sila pancasila. tanpa tahun : 7). Selain kesatuan sila-sila Pancasila itu hierarkhi dalam hal kuantitas juga dalam halisi sifatnya yaitu menyangkut makna serta hakikat sila-sila Pancasila.

kedua tentang teori kebenaran pengetahuan manusia. Maka dengan demikian mempunyai implikasi terhadap bangunan epistemology. ketiga tentang watak pengetahuan manusia. dan dalam arti bahwa adil itu dapat dikatakan mengandung unsur pula yang sejenis dengan asa hubungan sebab dan akibatdan termasuk dalam lingkungannya juga sebagai penggerak atau pendorong utama. (Notonagoro. Dalam kehidupan sehari-hari Pancasila merupaka pedoman atau dasar bagi bangsa Indonesia dalam memandang realitas alam semesta. bangsa dan Negara tentang makna hidup serta sabagai dasar bagi manusia dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam hidup dan kehidupan. 1984: 20). 1975:156). masyarakat. yaitu bangunan epistemology yang ditempatkan dalam bangunan filsafat manusia (Pranaka. Oleh karena itu dasar epistemologis Pancasila tidak dapat dipisahkan dengan konsep dasarnya tentang hakikat manusia kalau manusia merupakan basis ontologis dari Pancasila. manusia. 1996: 32) Terdapat tiga persoalan yang mendasar dalam epistemology yaitu: pertama tentang sumber pengetahuan manusia.“sebenarnya ada hubungan sebab akibat antara Negara pada umumnya dengan manusia karena Negara adalah lembaga kemanusiaan. yang diadakan oleh manusia. 1975 :55. maka dari iti merupakan tujuan dari bangsa kita dalam bernegara. (Titus. Persoalan epistemologi dalam hubungannya dengan Pancasila dapat dirinci sebagai berikut. Pancasila sebagai suatu ideology bersumber pada nilai-nilai dasarnya yaitu filsafat Pancasila (Soeryanto 1991: 50). Selain itu sila keadilan sosial adalah merupakan tujuan dari keempat sila yang mendahuluinya. Adil adalah dasar dari cita-cita kemerdekaan setiap bangsa. . “ (Notonagoro.56). Jadi hubungan antara Negara dengan adil tyermasuk pula dalam golongan hubungan yang harus ada atau mutlak. 2. jika suatu bangsa tidak merdeka tidak mempunyai Negara sendiri itu tidak adil. Dasar epistemologis Pancasila pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dengan dasar ontologisnya. Dasar Epistemologis Sila-sila Pancasila Pancasila sebagai suatu system filsafat pada hakikatnya juga merupakan suatu system pengetahuan.

7 . bukannya hanya merupakan perenungan serta pemikiran seseorang atau beberapa orang saja namun dirumuskan oleh wakilwakil bangsa Indonesia dalam mendirikan Negara. Terdapat berbagai macam teori tentang nilai dalam hal ini sangat tergantung pada titik tolak dan sudut pandangnya masing-masing dalam menentukan tentang pengertian nilai dan hierarkhinya. Oleh karena itu sumber pengetahuan Pancasila adalah bangsa Indonesia sendiri yang memiliki nilai-nilai adat-istiadat serta kebudayaan dan nilai religious maka diantara bangsa Indonesia sebagai pendukung sila-sila Pancasila dengan Pancasila sendiri sebagai suati system pengetahuan memiliki kesesuaian yang bersifat korespondensi. Banyak pandangan tentang nilai terutama dalam menggolongkan nilai dan penggolongan tersebut amat beraneka raga tergantung pada sudut pandangnya masing-masing. Dengan lain pertkataan bahwa bangsa Indonesia adalah sebagai kuasa materialis Pancasila. Pembahasan berikutnya adalah pandangan Pancasila tentang pengetahuan manusia. hanya nilai apa saja yang ada serta bagaimana hubungan nilai tersebut dengan manusia. Pada hakikatnya segala sesuatu itu bernilai. 3. Sebagai suatu paham epistemologi maka Pancsila mendasarkan pandangannya bahwa ilmu pengetahuan pada hakikatnya tidak bebas nilai karena harus dilewatkan pada kerangka moralitas kodrat manusia seperti moralitas religious dalam upaya untuk mendapatkan suatu tingkatan pengetahuan yang mutlak dalam hidup manusia. Bukan berasal dari bangsa lain.Pancasila sebagai suati objek pengetahuan pada hakikatnya meliputi maslah sumber pengetahuan Pancasila dan susunan pengetahuan Pancasila. sebagaimana dipahami bersama bahwa sumber pengetahuan pancasila adalah nilai-nilai yang ada pada bangsa itu sendiri. Dasar Aksiologis Sila-sila Pancasila Sila-sila sebagai suatu sistem filsafat juga memiliki suatu kesatuan dasar aksiologisnya sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila pada hakikatnya juga merupakan suatu kesatuan. Tentang sumber pengetahuan pancasila. Sebagaimana di jelaskan dimuka bahwa masalah emitemologi pancasila diletakan dalam kerangka banguna filsafat manusia.

kemanusiaan. terhadap dirinya sendiri serta terhadap manusia lain dan masyarakat sehingga dengan demikian maka dalam Pancasila terkandung implikasi moral yang terkandung dalam substansi Pancasila yang merupakan suatu nilai. Substansi Pancasila dengan kelima silanya yang terdapat pada ketuhanan. kerakyatan. Prinsip dasar yang mengandung kualitas tertentu itu merupakan cita-cita dan harapan atau hal yang akan di capai oleh bangsa Indonesia yang akan diwujudkan menjadi kenyataan kongkrit dalam kehidupannya baikdalam hidup bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Hakikat Pancasila adalah merupakan nilai. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itu mempunyai tingkatan dalam hal kuantitas maupun kualitasnya.Nilai – nilai Pancasila sebagai Suatu Sistem Isi arti sila-sila Pancasila pada hakikatnya dapat dibedakan atas hakikat Pancasila yang umum universal yang merupakan substansi sila-sila Pancasila. Hal ini dapat dipahami berdasarkan pengertian bahwa yang berketuhanan. sebagai pedoman pelaksanaan dan penyelenggaraan Negara yaitu sebagai dasar Negara yang bersifat umum kolektif serta realisasi pengamalan Pancasila yang bersifat khusus dan kongkrit. yang akan memberikan pola atau patron bagi sikap. dan keadilan merupakan suatu sitem nilai. yang berkemanusiaan yang berpersatuan. persatuan. Bangsa Indonesia dalam hal ini merupakan pendukung nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai itu berhubungan secara erat dan nilai-nilai itu masing-masing merupakan bagian yang integral dari suatu system nilai yang dimiliki bangsa Indonesia. yang berkerakyatan dan yang berkeadilan pada hakikatnya adalah manusia. Secara demikian ini sesuai dengan isi yang terkandung dalam Pancasila secara ontologis mengandung tiga masalah pokok dalam kehidupan manusia yaitu bagaimana seharusnya manusia itu terhadap Tuhan yang Maha Esa. Hal ini sebagaimana kita pahami bhwa sila-sila Pancasila iti pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan yang bulat dan utuh atau merupakan seatu kesatuan organic bertingkat dan berbentuk piramidal. namun nilai-nilai itu merupakan suatu kesatuan saling berhubungan serta saling melengkapi. adapun sebagai pedoman Negara adalah merupakan norma adapun aktualisasi atau pengamalannya adalah merupakan realisasi kongkrit Pancasila. .

dan keadilan. mengandung makna bahwa dalam setiap aspek kehidupan kebangsaan kemasyarakatan dan kenegaraan harus berdasarkan nilai-nilai ketuhanan. Dasar Filosofi Pancasila sebagai dasar filsafat Negara serta sebagian filsafat hidup bangsa Indonesia pada hakikatnya merupakan suatu nilai-nilai yang bersifat sistematis. C. Dalam pengertian inilah maka silasila Pancasila merupakan suatu system filsafat. persatuan. Pemikiran filsafat kenegaraab bertolak dari suatu pandangan bahwa Negara adalah merupakan suatu persekutuan hidup manusia atau organisasi kemasyarakatan. persatuan. Nilai-nilai Pancasila bersifat objektif dapat dijelaskan sebagai berikut 9 . yang merupakan masyarakat hokum (legal society). Artinya esensi nilai-nilai Pancasila adalah bersifat universal yaitu ketuhanan. Dalam hubungannya dengan pengertian nilai sebagaimana tersebut diatas makapancasila tergolong nilai kerokhanian. Selain itu juga kausalitas bahwa nilai-nilai Pancasila adalah bersifat objektif dan juga subjektif. kerakyatan dan keadilan. akan tetapi nilai kerokhanian yang mengakui adanya nilai material dan nilai vital karena pada hakikatnya menurut Pancasila bahwa Negara adalah jasmani rokhani. Dasar pemikiran filosofis yang terkandung dalam setiap sila. Pancasila sebagai Nilai Dasar Fundamental bagi Bangsa dan Negara Republik Indonesia 1. fundamental dan menyeluruh. Maka sila-sila Pancasila merupakan suatu kesatuan yang bulat dan utuh. kemanusiaan. dijelaskan sebagai berikut. Sehingga dimungkinkan dapat diterapkan pada Negara lain walaupun barangkali namanya bukan Pancasila. Suatu hal yang perlu diperhatikan yaiti meskipun nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila berbeda-beda dan memiliki tingkatan serta luas yang berbeda-beda pula namun keseluruhan nilai tersebut merupakan suatu kesatuan dan tidak saling bertentangan. kemanusiaan. kerakyatan.hierarkhis dan sistematis. Pancasila sebagai filsafat bangsa dan Negara Republik Indonesia.tingkah laku dan perbuatan Bangsa Indonesia.

Nilai-nilai Pancasila sebagai Nilai Fundamental Negara Nilai-nilai Pancasila sebagai dasar filsafat Negara Indonesia pada hakikatnya merupakan suatu sumber hukum dari segala sumber hokum dalam Negara Indonesia. 2. diperkuat Tap. kebudayaan. estetis. 2. Tap. Dalam pengertian inilah maka sebenarnya dapat disimpulkan bahwa bahwa keberadaan nilai-nilai Pancasila itu bergantung atau terlekat pada bangsa . karena merupakan suatu nilai. No. Rumusan dari sila-sila itu Pancasila itu sendiri sebenarnya hakikat maknanya yang terdalam menunjukan adanya sifat-sifat yang umum universal dan abstrak. Jo. Nilai-nilai Pancasila itu bagi bangsa Indonesia menjadi landasan. kenegaraab maupun dalam kehidupan keagamaan. 1.kebijaksanaan. 2. Pancasila yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.XX/MPRS/1996.V/MPRS/1973. 3.dan nilai religius. cita-cita hokum. Dengan perkataan lain bahwa nilai-nilai Pancasila merupakan das sollen atau cita-cita tentang kebaikan yang harus diwujudkan menjadi suatu kenyataan atau das sein. kebaikan.1. 3. Nilai-nilai Pancasila timbul dari bangsa Indonesia Nilai-nilai Pancasila merupakan filsafat (pandangan hidup) bangsa Indonesia Nilai-nilai Pancasila di dalamnya terkandung ketujuh nilai-nilai kerokhanian yaitu nilai kenbenaran. Nilai-nilai Pancasila terkandung dalam Pembukuan UUD 1945 secara yuridis memiliki kedudukan sebagai Pokok Kaidah Negara yang Fundamental. dasar serta motivasi atas segala perbuatan baik dalam kehidupan kenegaraan. hal ini sebagaimana terkandung dalam ketetapan MPRS No. Inti nilai-nilai Pancasila akan tetapada sepanjang masa dalam kehidupan bangsa Indonesia dan mungkin juga pada bangsa lain baik dalam adat kebiasaan. serta watak bangsa Indonesia.keadilan. Sebagai suatu sumber dari segala sumber hukum secara objektif merupakan suatu pandangan hidup. Sebaliknya nilai-nilai subjektif Pancasila dapat diartikan Indonesia sendiri. serta citacita moral yang luhur yang meliputi suasana kejiwaan. etis. kesadaran. NoIX/MPRS/1978.

Inti Isi Sila-sila Pancasila Sebagai suatu dasar filsafat Negara maka sila-sila Pancasila merupakan suatu system nilai. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa Sila Ketuhanan Yang Maha Esa ini niali-nilainya meliputi dan menjiwai keempat sila lainnya. kebebasan dan hak asasi wargw Negara 11 . Oleh karena itu bagi bangsa Indonesia dalam era reformasi dewasa ini seharusnya bersifat rendah hati dan mawas diri dalam upaya untuk memperbaiki kondisi dan nasib bangsa ini hendaklah didasarkan pada moralitas yang tertuang dalampokokPikiran keempat tersebut yaitu moral Ketuhanan dan kemanusiaan agar kesengsaraan rakyat tidak semakin bertambah.oleh karena itu nilai-nilai Pancasila yang dituangkan dalam Pokok pikiran keempat ini merupakan suatu dasar fundamental moral dalam kehidupan kenegaraan. Adapun nilainilai yang terkandung dalam setiap sila sebagai berikut 1.Pancasila merupakan dasar yang Fundamental bagi Negara Indonesia terutama dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan Negara. Oleh karena itu sila-sila Pancasila itu padahakikatnya merupakan suatu kesatuan. hukum dan peraturan perundang-undangan Negara. Oleh karena itu meskipun dalam uraian berikut ini menjelaskan nilai-nilaiyangterkandung dalam setiap sila. pemerintahan Negara. politik Negara.dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa terkandung nilai bahwa Negara yang didirikan adalah sebagai pengejawantahan tujuan manusia sebagai makhlik Tuhan yang Maha Esa. Hal ini di tegaskan dalam pokok Pikiran keempat yang menyatakan bahwa Negara berdasarkan atas Ketuhanan yang Maha Esa berdasarkan atas kemanusiaan yang adil dan beradab. Hal ini mengandung arti bahwa kehidupan kenegaraan harus didasarkan pada moral etika yang bersumber pada nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dan menjunjung moral kemanusiaan yang adil dan beradab. Selain itu bahwa nilai-nilai Pancasila juga merupakan suatu landasan moral etik dalam kehidupan kenegaraan. molar penyelenggara Negara .Oleh karena itu segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan dan penyelenggaraan Negara bahkan moral Negara. namun kesemuaannya itu tidak dapat dilepaskan keterkaitannya dengan sila-sila lainnya. D.

2. Nilai kemanusiaan yang beradab adalah perwujudan nilai kemanusiaan sebagai makhluk yang berbudaya bermoral dan beragama. dan kemasyarakatan. Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah mengandung nilai dari suatu kesadaran sikap moral dan tingkah laku manusia yang didasarkan potensi budu nurani manusia dalam hubungan dengan norma-norma dan kebudayaan pada umumnya baik terhadap diri sendiri. Oleh karena itu dalam kehudupan keneharaan terutama dalam peraturan perundang-undangan Negara harus mewujudkan tercapainya tujuan ketinggian harkat dan martabat manusia. 3. Dlam sila kemanusiaan terkandung nilai-nilai bahwa Negara harus menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang beradab. golongan maupun kelompok agama. Oleh karena itu perbedaan . Persatuan Indonesia Nilai yang terkandung dalam sila Persatuan Indonesia tidakdapat dipisahkandengan keempat sila yang lainnya karena seluruh sila merupakan suatu kesatuan yang bersifat sistematis. serta mendasari dan menjiwai ketiga sila berikutnya. Sila kemanusiaan sebagai dasar fundamental dalam kehidupan kenegaraan. ras. kebangsaan. Sila Persatuan Indonesia di dasari dan dijiwai oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang adil dan beradab serta mendasari dan dijiwai sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/perwakilan dan Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia. Dalam sila Persatuan Indonesia terkandung nilai bahwa Negara adalah sebagai penjelmaan sifat kodrat manusia monodualis yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. suku. terutama hakkodrat manusia sebagai hak dasar (hak asasi) harus dijamin dalam peraturan perundang-undangan Negara.harus dijiwai nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. kelompok. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Sila Kemanusiaan yang adil dan Beradab secara sistematis didasari dan dijiwai oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa. terhadap manusia maupun lingkungannya. Negara adalah merupakan suatu persekutuan hidup bersama di antara elemen-elemen yang membentuk Negara yang berupa.

maupun agama. Sehingga dalam sila kerakyatan terkandung nilai demokrasi. ras. (5)mengakui adanya persamaan hak yangmelekat pada setiap individu. kelompok. suku. Dan mendasari serta menjiwai sila Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia Nilai filosofis yang terkandung didalamnya adalah bahwa hakikat Negara adalah sebagai penjelmaan sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.adsalah merupakan bawaan kodrat manusia dan juga merupaka siri khas elemenelemen yang membentuk Negara. 4. (7) Menjunjung tinggi asas musyawarah sebagai moral kemanusiaan yang beradab. Negara adalah dari oleh dan untuk rakyat. (6) Mengarahkan perbedaan dalam suatu kerja sama kemanusiaan yang beradab. Konsekuensinya Negara dalam beraneka ragam tetapi satu. suku. Rakyat adalah merupaka subjek pendukung pokok Negara. (2) Menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan. (8) Mewujudkan dan mendasarkan suatu keadilan dalam kehidupan sosial agar tercapainya tujuan bersama. Kerakyatan yangDipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan Nilai yang terkandung dalam sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan didasari oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa.mengikat diri dalam suatu persatuan yang dilukiskan dalam suati seloks Bhineka Tunggal ika Perbedaan bukannya untuk diruncingkan menjadi konflik dan permusuhan melainkan diarahkan pada suatu sintesa yang saling menguntungkan yaitu persatuan dalam kehidupan bersama untuk mewujudkan tujuan bersama. ras. Hakikat rakyat adalah merupakan sekelompok manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa yang bersatu dan bertujuanmewujudkan harkat dan martabat manusia dalam suatu wilayah Negara. Maka nilai-nilai demokrasi yang terkandung dalam sila kedua adalah (1) adanya kebebasan yang harus dengan tanggung jawab baik terhadap masyarakat bangsa maupun secara moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa.Kemanusiaan yang Adil dan Beradab serta Persatuan Indonesia. Demikian nilai-nilai yang terkandung dalam sila Kerakyatan yang 13 . agama. (3) Menjamin danmemperkokoh persatuan dan kesatuan dalam hidup bersama. kelompok. karena perbedaan aalah kodrat manusia. (4) Mengakui atasperbedaan individu.

keadilan tersebut didasari dan dijiwai oleh hakikat keadilan kemanusiaan.Dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Persatuan Indonesia. Dalam sila kelima terkandung nilai-nilai tujuan Negara sebagai tujuan dalam hidup bersama. .demikian pula nilai-nilai keadilan tersebut. Nilai-nilai keadilan tersebut haruslah merupakan suatu dasar yang harus diwujudkan dalam hidup bersama kenegaraan.sebagai dasar pergaulan antar Negara sesame bangsa di dunia dan prinsip ingin menciptakan ketertibanhidup bersama dalam suatu pergaulan antar bangsa di dunia dengan berdasarkan suatu prisip kemerdekaan bagi setiap bangsa. Kemanusiaan yang Adila dan Beradab. 5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia Nilai yang terkandung dalam sila keadilan social bagi seluruh Rakyat Indonesia didasari dan dijiwai oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa. perdamaian abadi serta keadilan dalam hidup bersama (keadilan sosila). serta Kerakyatan yang Dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful