P. 1
SURAT EDARAN MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 110-2666 TAHUN 1998

SURAT EDARAN MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 110-2666 TAHUN 1998

|Views: 352|Likes:
Published by Komhukum Corp
SURAT EDARAN MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 110-2666 TAHUN 1998
TENTANG
PENYAMPAIAN PERATURAN MENAGRARIA/KEPALA BPN NO. 5 TAHUN 1998
SURAT EDARAN MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 110-2666 TAHUN 1998
TENTANG
PENYAMPAIAN PERATURAN MENAGRARIA/KEPALA BPN NO. 5 TAHUN 1998

More info:

Published by: Komhukum Corp on Dec 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2010

SUKATEDARAN

MENTERI NEGARA AGRARIAI imPALA HAnAN PEKTANAHAN NASIONAL NOMOK I i 0 .. 2666 TAHUN 1998 TENTANG

PENY AMPAIAN PEKATlJRAN MENAGKARlAI ImPALA BPN NO.5 TH. 1998

___ Surat Edaran MenagrarialKepala BPN No. 110-2666 Th. 1998

.. .•

~~.. ~-~ ~\

, ... ~ A '. ",

t~~' ;Il

" ",.~,J

-~" ~/

"" ~".,; .

.... . ....... :.-~

io..; . ._

MENTER! NEGARA AGRARIA/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL

Nemor Lampiran Perihal

110 - 2666 1 (satu)

Penyampaian Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor Th. 1998 tentang Perubahan Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai Atas Tanah Untuk Rumah Tinggal Yang Dibebani Hak Tanggungan Menjadi Hak Milik.

Jakarta, 3 Agustus 1998 Kepada Yth

1. Para Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi di seluruh Indonesia;

2. Para Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten /Kotamadya di

seluruh Indonesia seluruh Indonesia;

3. Para PPAT di seluruh Indonesia.

Bersama ini disampaikan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahunl998 tentang Perubahan Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai Atas Tanah Untuk Rumah Tinggal Yang Dibebani Hak Tanggungan Menjadi Hak Milik, untuk menjadikan maklum dan dilaksanakan sebagaimana mestinya. Peraturan ini menegaskan ketentuan hukum dan prosedur yang berlaku dalam hal dilakukan perubahan hak atas tanah yang dibebani Hak Tanggungan, khususnya dalam pelaksanaan perubahan Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai menjadi Hak Milik berdasarkan Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 1997, Nemor 2 Tahun 1998 dan Nomor 6 Tahun 1998. Keragu-raguan telah timbul karena menurut hukum Hak Tanggungan hapus

Penyampaian PermenagrarialKep. BPN No.5 Th. 1998-------1'.'."1-.

St,rat Edaran M.enagrarialKepaia BPN No .. 110·2.666 Th. 1998 _

dengan sendirinya apabila hak atas tanah yang dibebani hapus (Pasal 18 ayat (1) huruf d Undang-undang Hak Tanggungan). Dengan demikian Hak Tanggungan yang membebani Hak Guna Bangunan atau Hak Paka; termaksud di atas juga gugur dengan hapusnya Hak Guna Bangunan/Hak Pakai tersebut yang telah menjadi Hak Milik. Berhubung dengan itu maka dapat dimengerti bahwa kredltor/bank berkeberatan akan diubahnya Hak Guna Bangunan/Hak Pakai itu menjadi Hak Milik tanpa kepastian mengenai jaminan untuk pelunasan kredit yang telah diberikannya. Aki_batnya pemegang Hak Guna Bangunan atau Hak Pakar yang sedang dibebani Hak Tanggungan tidak dapat rnendattarkan perubahan Hak Guna BangunanjHak Pakainya rnenjadl Hak Milik apabila tidak melunasi terlebih dahulu kreditnya atau tidak dapat menyediakan jaminan dalam bentuk lain. Sehubungan dengan itu perlu diberikan jalan keluar kepada para pemegang Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai tersebut, terutama yang berasal dari golongan ekonomi lemah, agar mereka dapat mendaftarkan Hak MHik atas tanahnya tanpa terlebih dahulu harus melunasl kreditnya atau menyediakan jaminan lain, dan di lain pihak tetap memberi kepastian kepada pemegang Hak Tanggungan akan kelangsungan jaminan pelunasan kreditnya. Jalan keluar itu adalah dengan membuat Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan atas Hak Milik yang diperoleh ybs ... Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 1997, Nomor 2 Tahun 1998 atau Nomor 6 Tahun 1998 sebelum hak tersebut didaftar, yang kemudian dapat digunakan sebagai dasar pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan setelah Hak Milik tersebut didaftar apeblla pemberi Hak Tanggungan tidak dapat hadir. Hal ini dimungkinkan karena walaupun belum didaftar obyek Hak Tanggungan itu sudah pastl,

Perubahan Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai atas tanah yang dibebani Hak Tanggungan menjadi Hak Milik selain rnemberl kepastian hukum kepada pemegang hak atas tanah yang bersangkutan juga menguntungkan pemegang Hak Tanggungan. Dengan tidak adanya batas waktu berlakunya Hak Milik pelunasan kredit akan lebih terjamin. Disamping itu perubahan hak tersebut memberi peluang kepada pemberi kredit untuk menyesuaikan

' .. ' 1111' llI1·,t-----penYampaian PermenagrarialKep. BPN No.5 Th.1998

___ Surat Edaran MenagrarialKepala BPN No. 110-2666 Th. 1998

jangka waktu pelunasan kredit dengan kemampuan debitomya tanpa khawatir Hak Tanggungannya hapus karena jangka waktu hak atas tanah yang dibebaninya terbatas. Oleh karena itu diharapkan dalam proses perubahan hak ini semua pihak dapat saling membantu. Perubahan hak inipun juga untuk kepentingan Kantor Pertanahan, karena merupakan pelaksanaan kebijaksanaan Pemerintah dalam memberi kepasian kelangsungan hak atas tanah untuk rumah tinggal bagi perseorangan warganegara Indonesia, dan sekaligus juga membuat pelaksanaan tugas Pemerintah, khususnya Badan Pertanahan Nasional, menjadi lebih effisien, yaitu dengan tidak perlunya lagi pemegang hak datang ke Kantor Pertanahan untuk memperpanjang atau memperbaharui haknya di waktu yang akan datang. PPATpun sebagai pejabat yang bertugas di bidang pertanahan juga perlu memahami tugas pembuatan aktaakta dalam proses ini sebagai pelaksanaan tugas pelayanan yang menjadi tanggung-jawabnya. Dalam hubungan ini PPAT diharapkan dapat menyumbangkan peranannya dengan meringankan biaya pelayanannya, khususnya untuk golongan ekonomi lemah.

Dalam pelaksanaan peraturan ini hendaknya diperhatikan halhalsebagai berikut:

1. Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai yang dibebani Hak Tanggungan adalah Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai yang dijadikan jaminan pelunasan utang dengan membebaninya dengan Hak Tanggungan secara sempuma, yaitu sudah dibuatkan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) dan sudah didaftar serta dikeluarkan sertipikat Hak Tanggungannya. Dalam hal penjaminan Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai itu hanya dilakukan dengan pembuatan Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT), maka perubahan hak tersebut menjadi Hak Milik tidak memerlukan persetujuan formal dari pemegang Hak Tanggungan. Sudah cukup apabila kepada Kantor Pertanahan diserahkan sertipikat asli Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai yang bersangkutan. Dalam hal demikian maka "peminjaman" sertipikat tersebut dari bank untuk keperluan perubahan hak dapat didahului dengan pembuatan Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3.

Penyampaian PermenagrarialKep. BPN No.5 m.

Surat Edaran MenagrarialKepala BPN No. 110-2666 Th.1998, _

2. Penghapusan Hak Tanggungan berhubung dengan hapusnya Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai yang dijadikan jaminan dilakukan oleh Kepala Kantor Pertanahan karena jabatan. Oleh karena itu untuk keperluan in! tidak diperlukan surat permohonan atau surat persetujuan khusus dalam bentuk persetujuan roya atau sejenisnya. Langkah ini adalah sesuai dengan ketentuan Pasal 122 ayat (4) jo. Ayat (6) Peraturan Menterl Negara Agrarla/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997.

Demikianlah diSampalkan untuk dlperhatikan dan

dilaksanakan.

MENTER! NEGARA AGRARIAI KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL

ltd.

HASAN BASRI DURIN

Tembusan disampaikan kepada Yth :

1. Menteri Negara Perumahan dan Permukiman;

2. Gubernur Bank Indonesia;

3. Sekretarls dan para Asisten Menteri Negara Agraria;

4. Para Deputl Badan Pertanahan Nasional; S. BP Perbanas;

6. BPP IPPAT;

7. DPP ASPPATi

8. PP INI.

_____ Penyampalan PermenagrarialKep. BPH No. S Th. 1998

____________ ,Permenkeu No. 911 PMK.0312006

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 91/PMK.03/2006

TENTANG

PERU BAHAN KEDUA ATAS KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 561/KMK.04/2004

TENTANG PEMBERIAN PENGURANGAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN

Menimbang

Mengingat

MENTERI KEUANGAN,

a. bahwa Keputusan Menteri Keuangan Nemer S61/KMK.03/2004 tentang Pemberian Pengurangan Bea Perelehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nemer 104/PMK.03/200S belum menampung mengenai pemberian pengurangan Bea Perelehan Hak atas Tanah dan Bangunan bagi para Wajib Pajak yang terkena bencana alam gempa bum! di Previnsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan sebagian Previnsi Jawa Tengah pada tanggal 27 Mei 2006, serta gempa bumi dan tsunami di pesisir pantai selatan pulau Jawa pada tanggal17 Juli 2006;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan

sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Perubahan Kedua atas Keputusan Menteri Keuangan Nemer 561/KMK.03/2004 tentang Pemberian Pengurangan Bea Perelehan Hak Atas Tanah dan Bangunan;

1. Undang-Undang Nemer 21 Tahun 1997 tentang Sea Perelehan Hak Atas Tanah dan Sangunan (Lembaran Negara Republik

Perub. Kedua Atas Kepmenkeu No. S61IKMK.0312004------.'II1·iIlF.'

Permenkeu No. 91IPMK.0312006 _

Indonesia Tahun 1997 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3688) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3988);

2. Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005;

3. Keputusan Menteri Keuangan Nomor

561jKMK.03/2004 tentang Pemberian

Pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangungan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 104/PMK.03/2005;

MEMUTUSKAN :

Menetapkan

PERATURAN MENTERl KEUANGAN TENTANG PERU BAHAN KEDUA ATAS KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 561/KMK.04/2004 TENTANG PEMBERIAN PENGURANGAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN.

PasalI

Beberapa ketentuan dalam KeputusanMenteri Keuangan Nomor 561/KMK.03/2004 tentang Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak Atas T nah dan Bangungan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keruangan Nomor 104/PMK.03/2005 diubah sebagai berikut :

1. Ketentuan Pasal 1 diubah dengan menambah 1 (sa.u) angka pada huruf b, yaitu angka 11, sehingga Pasal 1 berbunyi sebagai berikut :

____________ Permenkeu No. 91/ PMK.03/ 2006

nPasall

Atas permohonan Wajib Pajak, dapat diberikan pengurangan Sea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dalam hal :

a. Kondisi tertentu Wajib Pajak yang ada hubungannya dengan Objek Pajak yaitu :

1. Wajib Pajak orang pribadi yang memperoleh hak baru melalui program pemerintah di bidang pertanahan dan tidak mempunyai kemampuan secara ekonomis;

2. Wajib Pajak Badan yang memperoleh hak baru selain Hak Pengelolaan dan telah menguasai tanah dan atau bangunan secara fisik lebih dari 20 (dua puluh) tahun yang dibuktikan dengan surat pernyataan Wajib Pajak dan keterangan dari Pejabat Pemerintah Daerah setempat;

3. Wajib Pajak orang pribadi yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan Rumah Sederhana (RS); dan Rumah Susun Sederhana serta Rumah Sangat Sederhana (RSS) yang diperoleh langsung dari pengembangan dan dibayar secara angsuran;

4. Wajib Pajak orang pribadi yang menerima hibah dari orang pribadi yang mempunyai hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah.

b. Kondisi Wajib Pajak yang ada hubungannya dengan sebab-sebab tertentu yaitu :

1. Wajib Pajak yang memperoleh hak atas tanah melalui pembelian dari hasll ganti rugi pemerintah yang nilai ganti ruginya di bawah Nilai Jual Objek Pajak;

2. Wajib Pajak yang memperoleh hak atas tanah sebagai pengganti atas tanah dibebaskan oleh pemerintah untuk kepentingan umum;

3. Wajib Pajak Badan yang terkena dampak krisis ekonomi dan moneter yang berdampak luas pada kehidupan perekononuan nasional sehingga Wajib Pajak harus melakukan restrukturisasi usaha dan

Perub. Kedua Atm Kepmenkeu No. 561 IKMK. 03 12004 ------IIIIW:.

I

I I

I

j

I j

I

Permenkeu No. 91IPMK.0312006, _

atau utang usaha sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah;

4. Wajib Pajak Bank Mandiri yang memperoleh hak atas tanah yang berasal dari Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Pembangunan Indonesia, dan Bank Ekspor Impor dalam rangkaian proses penggabungan usaha (merger);

5. Wajib Pajak Badan yang melakukan Penggabungan Usaha (merger) atau Peleburan Usaha (konsolidasi) dengan atau tanpa terleblh dahulu mengadakan likuidasi dan telah memperoleh keputusan persetujuan penggunaan Nilai Buku dalam rangka penggabungan atau peleburan usaha dari Direktur Jenderal Pajak;

6. Wajib Pajak yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan yang tidak berfungsi lagi seperti semula disebabkan bencana alam atau sebab-sebab lainnya seperti kebakaran, banjir, tanah longsor, gempa buml, gunungmelebJs, dan huru-hara yang terjadi dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak penandatanganan akta;

7. Wajib Pajak orang pribadi Veteran, pegawai Negeri Slpil (PNS), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Polisl Republik Indonesia (POLRI), Pensiunan PNS, Pumawirawan TNI, Purnawirawan POLRI atau janda/duda-nya yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan rumah dinas Pemerintah; 8.

Wajlb Pajak Badan Korps pegawai Republik Indonesia (KORPRI) yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan dalam rangka pengadaan perumahan bagi anggota KORPRI/PNS;

9. Wajib Pajak Badan anak perusahaan dari perusahaan asuransi dan reasuransi yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan yang berasal dari perusahaan induknya selaku pemegang saham tunggal sebagai kelanjutan dari pelaksanaan Keputusan Menteri Keuangan tentang Kesehatan

___________ -----'Permenkeu No. 911PMK.0312006

Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi.

10. Wajib Pajak yang domisilinya termasuk dalam wilayah program rehabilitasi dan rekonstruksi yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan melalui program Pemerintah di bidang pertanahan atau Wajib Pajak yang Objek Pajaknya terkena beneana alam gempa bumi dan gelombang tsunami di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias, Sumatera Utara.

11. Wajib Pajak yang Objek Pajaknya terkena beneana alam gempa bumi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan sebagian Provinsi Jawa Tengah yang perolehan haknya atau saat terutangnya terjadi 3 (tiga) bulan sebelum terjadinya bencana.

12. Wajib Pajak yang Objek Pajaknya terkena beneana alam gempa-bumi dan tsunami dl pesisir pantai selatan pulau Jawa yang perolehan haknya atau saat terutangnya terjadi 3 (tiga) bulan, sebelum terjadinya beneana.

c. Tanah dan atau bangunan digunakan untuk kepentingan sosial atau pendidikan yang semata-mata tidak untuk meneari keuntungan antara. lain untuk panti asuhan, panti jompo, rumah yatim piatu, sekolah yang tidak ditujukan meneari keuntungan, rumah sakit swasta milik institusi pelayanan sosial masyarakat.

d. Tanah dan atau bangunan di Nanggroe Aceh Darussalam yang selama masa rehabilitasi berlangsung yang digunakan untuk kepentingan sosial atau pendidikan yang semata-mata tidak untuk meneari keuntungan antara lain untuk panti asuhan, panti jompo, rumah yatim piatu, sekolah yang tidak ditujukan untuk mencari keuntungan, rumah sakit swasta milik institusi pelayanan sosial masyarakat."

2. Ketentuan Pasal 2 hurut d diubah, sehingga Pasal 2 berbunyi sebagai berikut :

Perub. Keclua Atas Kepmenkeu No. 561IKMK.0312004 _

Permenkeu No. 91IPMK.0312006, _

·P.sal'2,·

Besamya pengurangan Sea Perolehan Hak Atas Tanah dan

Bangunan ditetapkan sebagai: berik~t: ,J ,'"

a. sebesar 25%-(dua puluhlima',persen), dari pajak yang terutang untuk. WajibPajak'sebagaimana dimaksud

dalamPasal Lhurufa:angka3;, !,' .. "

. b. ,sebesar-SQ%. Oima pul.uh' persen). dari pajak yang . '. .- terutaeg. untuk:.,Waj!bl':.pajak;;:,sebagaimana dimaksud c·-dalamJ Pasah.Ll huruff:.:8,tangka 2,danangka 4, huruf b angka 1, angka!2i-.angka 5;:angka.6i .. dan angka 9, serta 'hurnf 0;', t- ,1,-,,>:(; .- .: !._! til;

C. sebesar 75%:(tujUh puluh lima ,persen) dari pajak yang terutarig;;'untuk r W~jlb :Pajak'sebagaimana dimaksud dalam:P,asaLli huruf a angka I, dan huruf b angka 3 dan

angka7;. ";'::"'. -c_;. _,

d. sebesar 1000/.0(se~tus persen). dan'pajak yang terutang untuk Wajib:Pajak,sebagaimana,dimaksl:ld dalam Pasal 1 - huruf h,angka 4, angka:) 8,· angka, 10, dan angka 11, ·angka12 dan ~a~al.l hUl1Jf:d." , .

, ... , :'. -. - ' ~

3. Ketentuan· ,PasaL,'3' ayat.:;(r2)::' diubah; sehingga Pasal 3

berbunyi·;sebaga~.beriku.t : ii" :-: ".,,'r.. •. :

'~-: :;_; ~:"~; ~~:~~.-::-:.;,.:. ' .

. _ k. ",:.PasaI3:_. .' :. .;

",'1

(1) WajibPajakiC"dapaL merngh~ng: sendiri besarnya pengurangan Sea· Perolehan: Hak:, atas .Tenah dan -Bangulian:. sebelum ':melakukan:' : pern baya ran dan membavarBea.Peroleben Hak:8tas Tanahdan Bangunan terutang-sebesar perhltungan setelah .pengurangan. (2)WajibPajak"sebagaimana:·_ dimaksud dalam ayat (1) di

. -.' 't atas :.,wajibi ~mengaj~kan : permohonan . pengurangan Bea Perolehai1 Hak atas Tanah dan Bangunan .dalem jangka waktu sebagaimana dlmaksud: dalam Pasal 5 ayat (4), ayat (4a) atau ayat (5).

4. Ketentuan Pasal 4 diubah, sehinggaberbunyi sebagai berikut:

Kedua Atm Kepmenlceu No. 561IKMK.0312004

___________ ---'Permenkeu No. 91IPMK.0312006

"Pasal4

(1) Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan atas nama Menteri Keuangan berwenang memberikan Keputusan Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a, dan huruf b angka 1, angka 2, angka 6, angka 7, angka 8, angka 9, angka 10 dan angka 11, angka 12 serta huruf c dalam hal pajak yang terutang paling banyak Rp 2.500.000.000,00 (dua miliyar lima ratus juta rupiah).

(2) Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak atas nama Menteri Keuangan berwenang memberikan Keputusan Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a, dan huruf b angka 1, angka2, angka 6, angka 7, angka 8, angka 9, angka 10 dan angka 11, angka 12 serta huruf c dalam hal pajak yang terutang lebih dari Rp 2.500.000.000,00 (dua miliyar lima ratus juta rupiah).

(3) Direktur Jenderal Pajak atas nama Menteri Keuangan berwenang memberikan Keputusan Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan selain dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2)."

5. Ketentuan Pasal 5 diubah dengan mengubah ayat (4) dan menambahkan satu ayat yakni ayat (4a) di antara ayat (4) dan ayat (5), sehingga Pasal 5 berbunyi sebagai berikut :

(1) Wajib Pajak mengajukan permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan yang wilayah kerjanya meliputi letak tanah dan atau bangunan atau dapat mengajukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf b angka 3, angka 4, dan angka 5.

Perub. Kedua Atas Kepmenk.eu No. 561 IKMK. 03 12004 ----1'."1&,.1 ...

Permenkeu No. 91 IPMK. 03 12006 _

(2) Dalam hal kewenangan memberikan Keputusan

Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak Tanah dan Bangunan berada pad a Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2), Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan meneruskan permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak atasannya dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari sejak tanggal diterimanya surat permohonan.

(3) Dalam hal kewenangan memberikan Keputusan

Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan berada pada Direktur Jenderal Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3), Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan meneruskan permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari sejak tanggal diterimanya surat permohonan.

(4) Permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dalam hal Pasal 1 huruf a angka 1 dan angka 3, dan Pasal 1 huruf b angka 1, angka 2, angka 7, angka 8, dan angka 9 diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan yang jelas dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak saat terutang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

(4a) Permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam hal Pasal 1 huruf b angka 6, angka 10; angka 11, dan angka 12 diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan yang jelas dalam jangka waktu paling lama hingga tanggal 31 Desember 2007.

(5) Permohonan pengurangan Sea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam hal Pasal 1 huruf a angka 2 dan Pasal 1 huruf b angka 31 angka 4 dan angka 5 diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan yang jelas

____________ ,Permenkeu No. 911 PMK.0312006

dalam jangka waktu paling lama 3 (tlga) bulan sejak saat pembayaran sebesar Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan terutang setelah pengurangan sebagaimana dltetapkan dalam Pasal 2."

(6) Ketentuan Pasal C diubah dengan mengubah ayat (1), sehingga Pasal 6 berbunyi sebagai berikut :

"Pasal6

(1) Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan atau Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak sesuai dengan kewenangannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) dan (2), dalam waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterimanya surat perrnohonan harus memberikan keputusan atas perrnohonan pengurangan Sea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang diajukan Wajib Pajak.

(2) Direktur Jenderal Pajak sesuai dengan kewenangannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3), dalam waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal diterimanya surat permohonan harus memberikan keputusan atas permohonan pengurangan Sea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang diajukan Wajib Pajak.

(3) Keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) berupa mengabulkan sebagian, atau mengabulkan seluruhnya, atau menolak.

(4) Apabila dalam waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) telah lewat dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan atau Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak atau Direktur Jenderal Pajak tidak memberikan suatu keputusan, permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang diajukan dianggap dikabulkan dengan mengacu kepada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2."

Perub. KeduaAtasKepmenkeuNo. 561IKMK.0312004 _

Permenkeu No. 91IPMK.0312006, _

Pasalll

Peraturan Menteri Keuangan Ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan mempunyai daya laku surut terhitung sejak tanggal 1 lunl 2006.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menterl Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita "Negara Republlk Indonesia.

Ditetapkan dllakarta pada tanggal 13 Oktober 2006

MENTERI KEUANGAN,

Ttd

SRI MULYANIINDRAWATI

.'II"tilit.-----perub. Kedua Atas Kepmenlceu No. S61IKMK.0312004

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->