P. 1
Skripsi

Skripsi

|Views: 1,483|Likes:
Published by aldeqfortunate

More info:

Published by: aldeqfortunate on Dec 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/06/2015

pdf

text

original

KELANGSUNGAN USAHA INDUSTRI GERABAH PASCA GEMPA DI DESA PANJANGREJO KECAMATAN PUNDONG KABUPATEN BANTUL PROVINSI D.I.

YOGYAKARTA Skripsi

Oleh DIAN EQUANTI 00/139426/GE/04806

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS GEOFRAFI YOGYAKARTA 2009

1

KELANGSUNGAN USAHA INDUSTRI GERABAH PASCA GEMPA DI DESA PANJANGREJO KECAMATAN PUNDONG KABUPATEN BANTUL PROVINSI D.I. YOGYAKARTA Oleh Dian Equanti 00/139426/GE/04806 INTISARI Gempa yang melanda Yogyakarta tahun 2006 telah menyebabkan lumpuhnya kegiatan industri kecil khususnya di Kabupaten Bantul sebagai daerah dengan kerusakan terparah. Salah satu industri kecil yang banyak menyerap tenaga kerja yang juga turut menjadi korban adalah industri gerabah di Desa Panjangrejo, Kecamatan Pundong. Penelitian ini bertujuan mengetahui kondisi industri gerabah pasca gempa, mengetahui kelangsungan usaha industri gerabah pasca gempa dan pendapatan usaha industri gerabah pasca gempa. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Panjangrejo dengan metode survei. Responden penelitian ini adalah pengusaha gerabah yang aktif menjalankan produksi gerabah pasca gempa. Sampel yang diambil sebanyak 60 pengusaha gerabah. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan tabulasi silang untuk menjelaskan kondisi dan karakteristik industri gerabah. Metode skoring dipakai untuk menilai kelangsungan usaha yang merupakan skor total nilai produksi dan skor waktu bangkit pasca gempa. Kelangsungan usaha dikategorikan menjadi tiga, yaitu “baik”, “sedang”, dan “buruk”. Industri gerabah di Desa Panjangrejo terdiri dari produksi gerabah tradisional dan keramik. Sebagian besar unit industri rusak berat atau roboh akibat gempa. Lebih dari 90 persen unit usaha mampu bangkit kurang dari 1 tahun pasca gempa dengan nilai produksi rata-rata sebesar Rp1.378.333 per bulan. Hasil penelitian menunjukkan 21,7 persen unit usaha memiliki kelangsungan usaha baik, 60 persen unit usaha memiliki kelangsungan usaha sedang, dan 18,3 persen memiliki kelangsungan usaha buruk pasca gempa. Sebanyak 32,4 persen unit usaha mengalami penurunan nilai produksi sebesar 40 – 80 persen dibanding nilai produksi sebelum gempa. Penyaluran kredit bagi usaha kecil cukup membantu pengusaha dalam mempertahankan kelangsungan usahanya. Ini dibuktikan dengan persentase kelangsungan usaha kategori baik yang lebih tinggi pada pengusaha yang memiliki akses kredit modal usaha yaitu sebesar 30,4 persen dibanding mereka yang tidak memiliki akses kredit modal usaha yaitu sebesar 16,2 persen. Rata-rata pendapatan bersih yang diperoleh industri gerabah adalah Rp755.000 per bulan, dengan lebih dari sepertiga unit usaha memperoleh pendapatan kurang dari Rp500.000 per bulan. Kata kunci: gerabah, gempa, pendapatan bersih

2

BUSINESS SUSTAINABILITY OF POTTERY INDUSTRY AFTER EARTHQUAKE IN PANJANGREJO VILLAGE, PUNDONG DISTRICT, BANTUL REGENCY YOGYAKARTA PROVINCE By Dian Equanti 00/149326/GE/04806 ABSTRACT

Earthquake that hit Yogyakarta in 2006 had stopped small industrial activity especially those located in Bantul Regency as the worst destroyed area. One of small industries which employ a lot of workers is pottery industry in Panjangrejo village, Pundong District. Object of this study was to investigate pottery industries condition after earthquake, describe how business sustainability of pottery industries runs after earthquake and how much net income they get after earthquake. This study was conducted in Panjangrejo village using survey method. Respondents of this research were pottery entrepreneurs who active in producing pottery after earthquake. There are 60 pottery entrepreneurs taken as sample by simple random sampling method. Data was analyzed in descriptive way using cross tables to describe the condition and characteristics of pottery industries. Then scoring of business sustainability was used to describe business sustainability of pottery industry after earthquake which is come from total of sales revenue score and recovery-time score after earthquake. The business sustainability was categorized into tree groups; good, moderate and bad. Pottery industries in Panjangrejo village consist of two groups which are producing traditional pottery and ceramics. Though most of pottery industries units were hard broke or collapsed due to earthquake, more than 90 percent units were recovered before 1 year after earthquake and made Rp1.378.333 in sales per month. The result of this study shows there are 21.7 percent units have good business sustainability after earthquake, 60 percent units are moderate and 18.3 percent units are bad. There are 32.4 percent units have 40 percent to 80 percent sales declining after earthquake. Capital loan for small enterprises could help them to maintain their business run after disaster. It was shown by the higher percentage of good business sustainability of those units that get access of capital loan (30,4 percent) in comparing with those do not get access of capital loan (16,2 percent). Monthly net income of pottery industry units after earthquake is Rp755.000 in average, while more than 1 in 3 other units get below Rp500.000 in average. Key words: pottery, earthquake, net income

3

Kata Pengantar

Alhamdulilahirabbil’alamin. Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala karunia dan rahmat-Nya, sehingga penelitian Penelitian berjudul “Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Pasca Gempa Di Desa Panjangrejo Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul Propinsi D.I. Yogyakarta” dapat diselesaikan. Ucapan terima kasih dan penghormatan setinggi-tingginya saya tujukan kepada : 1. Orang tua, Bapak Sumartoyo dan Ibu Hendra Retnaningsih, atas kesabaran, doa, dukungan baik moril maupun materiil yang tak henti-hentinya diberikan kepada penulis selama ini. 2. Prof. DR. H. Suratman M.Sc. selaku Dekan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada atas kesempatan menempuh studi di Fakultas Geografi. 3. Dr. Pramono Hadi, M.sc selaku Wakil Dekan I Bidang Akademik atas seluruh kesempatan yang diberikan, terimakasih. 4. Drs. Kistini, M.S. selaku dosen pembimbing utama atas bimbingan, kesabaran dan motivasi yang diberikan selama ini. 5. Agus Joko Pitoyo, S,Si. M.A. dosen pembimbing kedua atas bimbingan, kesabaran dan motivasi yang diberikan selama ini. 6. Sudrajat, S.Si., M.P. selaku dosen penguji proposal dalam penulisan

penelitian awal naskah skripsi. 7. Dr. Agus Sutanto, M.Sc selaku dosen penguji atas saran dan kritik membangun bagi penelitian ini.

4

8. Seluruh Dosen, staf pengajaran, dan karyawan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, terimakasih atas ilmu, pendidikan, pengalaman, pelayanan, keramahan dan bantuan yang diberikan. 9. Kepala Desa Panjangrejo, seluruh masyarakat Desa Panjangrejo, Ketua gabungan pengusaha perajin gerabah Kabupaten Pundong atas keramahan, kesediaan waktu dan informasi yang diberikan melaksanakan penelitian. 10. Tanti, terimakasih banyak petanya. Sukses selalu. 11. Dokter Hewan Surono dan keluarga untuk tempat yang nyaman selama berada di Yogya. 12. Teman-teman kos mulwo 4: Eli, Fika, Nisa, Yuli, Mbak Lis atas kebersamaannya selama ini. 13. Teman-teman semasa penulis menuntut ilmu di Fakultas Geografi. 14. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu atas segala bantuannya dan dukungan yang diberikan. Penulis menyadari kekurangan dalam penelitian ini. Kritik membangun demi pengembangan penulisan selanjutnya sangat diharapkan. Semoga penelitian ini dapat memberi manfaat bagi semua pihak khususnya bagi studi industri kecil pasca bencana.

Yogyakarta, 30 Januari 2009 Penulis

5

DAFTAR ISI

Halaman INTISARI.... ...................................................................................................... ii ABSTRACT ....................................................................................................... iii KATA PENGANTAR ....................................................................................... iv DAFTAR ISI ...................................................................................................... vi DAFTAR TABEL ............................................................................................. x DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xi DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xii BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ..................................................................................... 1 1.2. Perumusan Masalah.............................................................................. 7 1.3. Pertanyaan Penelitian................................................................ ............ 8 1.4. Tujuan Penelitian ...................................................................... ........... 8 1.5. Manfaat Penelitian................................................................. ............... 8 1.6. Tinjauan Pustaka ...................................................................... ............ 9 1.6.1. Peran Industri Kecil Dalam Pembangunan Ekonomi ............. 9 1.6.2. Pengembangan Industri Kecil ................................................. 16 1.6.3. Pemulihan Ekonomi Dalam Manajemen Bencana.................. 21 1.6.4. Tinjauan Empiris ..................................................................... 26 1.7. Kerangka Pemikiran .............................................................................. 28 1.8. Definisi Operasional.............................................................................. 31 BAB II METODE PENELITIAN 2.1. Metode Dasar Penelitian ....................................................................... 34 2.2. Penentuan Lokasi Penelitian ................................................................. 34 2.3. Populasi dan Sampel ............................................................................. 35 2.4. Data ....................................................................................................... 35 2.4.1. Sumber dan Jenis Data ............................................................ 35 2.4.2. Pengumpulan Data .................................................................. 36 2.5. Analisis Data ......................................................................................... 38 2.5.1. Editing ..................................................................................... 38 2.5.2. Koding ..................................................................................... 38 2.5.3. Tabulasi ................................................................................... 38 2.5.4. Klasifikasi ............................................................................... 39 BAB III DESKRIPSI WILAYAH 3.1. Kondisi Fisik Wilayah .......................................................................... 41 3.1.1. Letak, Luas dan Batas Daerah Penelitian ................................ 41 3.1.2. Iklim ........................................................................................ 43 3.1.3. Topografi ................................................................................. 43 3.1.4. Kondisi Tanah ......................................................................... 44

6

3.1.5. Penggunaan Lahan .................................................................. 45 3.1.6. Sarana Infrastruktur................................................................. 47 3.1.6.1. Sarana dan Prasarana Transportasi....................................... 48 3.1.6.2. Sarana Komunikasi .............................................................. 50 3.2. Kondisi Sosial Demografi ..................................................................... 52 3.2.1. Kependudukan......................................................................... 52 3.2.2. Jumlah, Kepadatan dan Pertumbuhan Penduduk .................... 52 3.2.3. Komposisi Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin ....... 53 3.2.4. Rasio Beban Tanggungan ...................................................... 54 3.2.5. Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan ............... 55 3.2.6. Komposisi Penduduk Menurut Jenis Pekerjaan ...................... 57 3.3. Sejarah Industri Gerabah ....................................................................... 59 3.4. Kerusakan Infrastruktur dan Tempat Tinggal Akibat Gempa............... 62 BAB IV KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI PENGUSAHA 4.1. Karakteristik Demografi Pengusaha ..................................................... 64 4.1.1. Karakteristik Pengusaha Menurut Jenis Kelamin ................... 64 4.1.2. Karakteristik Pengusaha Menurut Umur ................................. 65 4.1.3. Jumlah Anggota Rumah Tangga ............................................. 66 4.2. Karakteristik Sosial Ekonomi Pengusaha .............................................. 69 4.2.1. Pendidikan ............................................................................... 69 4.2.2. Pendapatan dari Pekerjaan Lain .............................................. 70 4.2.3. Lama Usaha dan Asal Keterampilan ....................................... 71 BAB V KARAKTERISTIK UNIT USAHA INDUSTRI GERABAH 5.1. Kondisi Unit Usaha ................................................................................ 74 5.1.1. Jenis Produksi ......................................................................... 74 5.1.2. Kerusakan Tempat Usaha Akibat Gempa ............................... 78 5.1.3. Bangunan Tempat Usaha Pasca Gempa .................................. 79 5.1.4. Luas Tempat Usaha ................................................................. 80 5.2. Faktor-faktor Produksi ........................................................................... 81 5.2.1. Modal ...................................................................................... 82 5.2.1.1. Modal Pertama Kali Berproduksi ........................................ 82 5.2.1.2. Modal Produksi .................................................................... 84 5.2.1.3. Akses Kredit Modal Usaha .................................................. 86 5.2.2. Peralatan .................................................................................. 89 5.2.3. Bahan Baku ............................................................................. 91 5.2.4. Bahan Bakar ............................................................................ 92 5.2.5. Tenaga Kerja ........................................................................... 94 5.2.6. Pemasaran ............................................................................... 97 5.3. Bantuan Pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat ..................... 99

7

BAB VI KELANGSUNGAN USAHA INDUSTRI GERABAH PASCA GEMPA 6.1. Kelangsungan Usaha .............................................................................. 102 6.1.1. Waktu Bangkit Unit Industri Gerabah Pasca Gempa .............. 103 6.1.2. Nilai Produksi ......................................................................... 104 6.1.3. Kategori Kelangsungan Usaha ................................................ 106 6.1.4. Tingkat Pemulihan .................................................................. 108 6.2. Kelangsungan Usaha Pasca Gempa Terhadap Karakter Pengusaha ...... 111 6.2.1. Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Menurut Umur Pengusaha.......................................................................................... 111 6.2.2. Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Menurut Pendidikan Pengusaha.......................................................................................... 112 6.3. Distribusi Kelangsungan Usaha Menurut Karakter Unit Usaha ............ 114 6.3.1. Kelangsungan Usaha Menurut Kondisi Unit Usaha ............... 114 6.3.1.1. Kelangsungan Usaha Menurut Jenis Produksi ............ 114 6.3.1.2. Kelangsungan Usaha Menurut Kerusakan Tempat Usaha .................................................................................................. 117 6.3.1.3. Kelangsungan Usaha Menurut Luas Tempat Usaha ... 119 6.3.2. Kelangsungan Usaha Menurut Faktor-faktor Produksi .......... 120 6.3.2.1. Kelangsungan Usaha Menurut Biaya Produksi........... 120 6.3.2.2. Kelangsungan Usaha Menurut Akses Kredit Modal Usaha ........................................................................................ 121 6.3.2.3. Usaha Kelangsungan Usaha Menurut Jumlah Tenaga Kerja ......................................................................................... 123 6.4. Pendapatan Industri Gerabah Pasca Gempa ........................................... 125 KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................... 127 1. Kesimpulan ............................................................................................... 127 2. Saran .......................................................................................................... 128 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 129 LAMPIRAN

8

DAFTAR TABEL No. Tabel Judul halaman 1.1. Dampak Gempa Bumi Tahun 2006 Terhadap UKM di Yogyakarta 2 2.1. Distribusi Pengusaha Gerabah di Desa Panjangrejo........................... 34 2.2. Skor Waktu ........................................................................................ 39 2.3. Skor Nilai Produksi Pasca Gempa ...................................................... 39 2.4. Klasifikasi Kelangsungan Usaha ........................................................ 40 3.1. Penggunaan Lahan Di Desa Panjangrejo Tahun 2006 ....................... 46 3.2. Sarana Infrastruktur dan Transportasi Di Desa Panjangrejo .............. 49 3.3. Jenis Alat Komunikasi Di Desa Panjangrejo ...................................... 51 3.4. Klasifikasi Kepadatan Penduduk Desa Panjangrejo........................... 53 3.5. Komposisi Penduduk Desa Panjangrejo Menurut Kelompok Umur .. 54 3.6. Komposisi Penduduk Desa Panjangrejo Menurut Tingkat Pendidikan ............................................................................................................ 56 3.7. Komposisi Penduduk Menurut Matapencaharian .............................. 58 3.8. Kerusakan Fasilitas Umum Akibat Gempa Di Desa Panjangrejo ...... 62 3.9. Jumlah Kerusakan Rumah dan Realisasi Rekonstruksi Pasca Gempa Di Desa Panjangrejo Kecamatan Pundong ......................................... 63 4.1. Komposisi Pengusaha Gerabah Menurut Jenis Kelamin.................... 64 4.2. Komposisi Pengusaha Menurut Umur................................................ 65 4.3. Jumlah Anggota Rumah Tangga Pengusaha ...................................... 68 4.4. Komposisi Pengusaha Industri Gerabah Menurut Tingkat Pendidikan ............................................................................................................ 69 4.5. Jenis Matapencaharian Selain Industri Gerabah ................................. 71 5.1. Perbedaan Proses Produksi Gerabah Tradisional dan Keramik ......... 76 5.2. Jenis Produksi Industri Gerabah ......................................................... 77 5.3. Tingkat Kerusakan Tempat Usaha ...................................................... 79 5.4. Luas Tempat Usaha Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa ................................................................................................. 81 5.5. Modal Uang Untuk Memulai Produksi Gerabah Pasca Gempa Di Desa Panjangrejo......................................................................................... 83 5.6. Modal Produksi Berupa Uang Pada Industri Gerabah Pasca Gempa . 85 5.7. Asal Pinjaman Modal Usaha Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo 88 5.8. Nilai Bahan Baku Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa ............................................................................................................ 91 5.9. Nilai Bahan Bakar Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa ............................................................................................................ 92 5.10. Penggunaan Jumlah Tenaga Kerja Di Industri Gerabah Pasca Gempa ............................................................................................................ 95 6.1. Waktu Bangkit Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa 103 6.2. Nilai Produksi Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa . 105 6.3. Kelangsungan Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa 106 6.5. Distribusi Kelangsungan Usaha Pasca Gempa Menurut Nilai Produksi Di Desa Panjangrejo ........................................................................... 107

9

6.6. 6.7. 6.8. 6.10. 6.11. 6.12. 6.13. 6.14. 6.15.

Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Menurut Kelompok Umur Pengusaha........................................................................................... 111 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Menurut Pendidikan Pengusaha ............................................................................................................ 113 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Pasca Gempa Menurut Jenis Produksi .............................................................................................. 115 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Pasca Gempa Menurut Kerusakan Tempat Usaha ................................................................... 117 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Pasca Gempa Menurut Luas Tempat Usaha ..................................................................................... 119 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Pasca Gempa Menurut Biaya Produksi .............................................................................................. 120 Kelangsungan Usaha Menurut Akses Kredit Modal Usaha .............. 121 Distribusi Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Pasca Gempa ...... Menurut Jumlah Tenaga Kerja ........................................................... 124 Pendapatan Usaha Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa .......................................................................................................... 125

10

DAFTAR GAMBAR No 1. 2. 3. Judul Gambar Kerangka Pemikiran Peta Administrasi Desa Panjangrejo Pemanfaatan Pinjaman Modal Usaha oleh Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo halaman 30 42 87

11

DAFTAR LAMPIRAN No. 1. 2. 3. 4. Lampiran Kuesioner Daftar Responden Perhitungan Statistik Gambar-gambar di Lapangan halaman L–1 L–8 L – 16 L – 29

12

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Ilmu geografi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya. Bintarto (1977) yang mendefinisikan geografi sebagai ilmu yang mempelajari hubungan kausal gejala-gejala muka bumi, baik yang menyangkut fisik maupun makhluk hidup beserta

permasalahannya melalui pendekatan keruangan, ekologi dan regional. Studi geografi mengenai bencana tidak hanya dapat mengungkap interaksi faktor geosfer penyebab terjadinya bencana, tapi juga akan menarik untuk melihat dampak bencana bagi kehidupan masyarakat baik dari aspek sosial maupun ekonomi. BAKORNAS PBP dalam Sutanto (2006) mendefinisikan bencana sebagai peristiwa yang disebabkan oleh alam atau ulah manusia, yang dapat terjadi secara tiba-tiba atau perlahan-lahan, yang menyebabkan hilangnya jiwa manusia, kerusakan harta benda dan lingkungan, serta melampaui kemampuan sumber daya manusia untuk menangulanginya. Pendekatan geografi yang dipakai penelitian industri pasca gempa ini adalah pendekatan ekologi dengan tema human activity – environment analysis (Yunus, 2004). Gempa merupakan faktor lingkungan yang mempengaruhi aktivitas ekonomi dalam hal ini industri gerabah di lokasi penelitian yaitu Desa Panjangrejo Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul.

13

Salah satu peristiwa bencana alam yang banyak menyita perhatian adalah gempa tektonik yang melanda DI. Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menyebutkan kekuatan gempa tersebut 5,9 pada skala Richter. Adapun posisi episenter menurut BMG terjadi di koordinat 110,31O LS dan 8,26O BT (sekitar 25 km selatan-barat daya Yogyakarta) pada kedalaman 33 km

(http://www.id.wikipedia.org/wiki/Gempa_Bumi_Yogyakarta_Mei_2006 diakses 7 Juli 2007) Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Propinsi D.I. Yogyakarta mencatat sebanyak 172.526 rumah rusak berat atau roboh akibat gempa (Kompas, 27 Mei 2007). Gempa tidak hanya menimbulkan kerugian berupa rusaknya bangunan pemukiman, infrastruktur daerah, kehilangan harta benda dan korban jiwa, tapi juga berdampak serius pada usaha kecil dan menengah (UKM). Tabel 1.1 menunjukkan jumlah unit UKM yang menderita kerugian akibat gempa di Yogyakarta tahun 2006 lalu. Tabel 1.1 Dampak Bencana Gempa Bumi Tahun 2006 Terhadap UKM Di Yogyakarta
Kabupaten yang terkena bencana Bantul Kota Yogya Sleman Gunungkidul Kulonprogo Jumlah UKM Jumlah UKM yang Jumlah pekerja sebelum bencana terkena dampak yang terimbas (unit) bencana (persen) (orang) 21.306 68.7 355.730 8.619 28.5 33.870 18.558 12 43.452 21.659 5.6 24.982 22.418 5.5 25.779

Sumber: Perkiraan Tim Penilai Gabungan dalam laporan bersama BAPPENAS, Pemerintah Provinsi D.I Yogyakarta, dan mitra internasional, Juli 2006

14

Tabel 1.1 di atas menunjukkan Kabupaten Bantul menderita kerugian paling besar berdasarkan persentase unit usaha yang terkena dampak gempa serta jumlah tenaga kerja yang terimbas akibat terhentinya kegiatan usaha. Di Kabupaten ini, sebanyak 68,7 persen perusahaannya terkena dampak gempa. Data Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi D.I. Yogyakarta tahun 2004 menyebutkan di D.I. Yogyakarta terdapat 283 sentra industri di cabang industri pangan, sandang, kimia dan bahan bangunan, logam dan elektronika, serta kerajinan yang menyerap 33.094 orang tenaga kerja yang tersebar dalam 9.702 unit usaha. Kabupaten Bantul sendiri terdapat 73 sentra industri yang menyerap 9.671 tenaga kerja pada 2.621 unit usaha (Deperindagkop D.I.Yogyakarta, 2004). Artinya hampir sepertiga industri kecil di propinsi ini berada di Kabupaten Bantul. Kejadian gempa bumi 27 Mei 2006 sangat memukul industri kecil di D.I.

Yogyakarta, karena sekitar sepertiga industri kecil dan menengah (IKM) yang menderita kerusakan ringan, berat maupun roboh berada di Kabupaten Bantul (Kompas, 30 Juni 2006). Disebutkan bahwa setidaknya terdapat 2.014 unit usaha IKM rusak dan mengakibatkan 13.785 tenaga kerja di sektor ini kehilangan pekerjaan. Gempa tektonik Mei 2006 tidak hanya memporakporandakan rumah, namun juga tempat, pabrik, bahan baku, barang jadi, barang siap ekspor dan peralatan usaha. Pemulihan industri kecil dan menengah di D.I. Yogyakarta menjadi isu penting mengingat perannya sebagai tulang punggung ekonomi daerah. Industri kecil merupakan kegiatan ekonomi rakyat yang banyak menyerap tenaga kerja. Bencana yang melanda Bantul sebagai kekuatan industri kecil menuntut dua

15

persoalan yang perlu segera diatasi, yaitu menyangkut akses permodalan dan akses pasar. Penyediaan modal sangat penting untuk memulai usaha, sedangkan akses pasar sangat diperlukan untuk kembali menambah modal

(http://www.peduli-ukm.com diakses tanggal 5 Maret 2007). Kecamatan Pundong di Kabupaten Bantul merupakan salah satu daerah yang menderita kerusakan parah akibat gempa. Berdasarkan data Jogja Media Center (tanggal 4 Juni 2006) tercatat 1.100 rumah rusak berat. Hal ini turut memberi dampak pada kegiatan industri kecil yang banyak dilakukan masyarakat setempat, mengingat sebagian besar usaha merupakan industri kecil yang dikerjakan di rumah-rumah penduduk. Pundong telah lama dikenal sebagai daerah sentra industri kerajinan gerabah di Kabupaten Bantul selain Kasongan yang banyak memberikan kontribusi bagi perekonomian masyarakat. Sentra industri gerabah di Kecamatan Pundong terdapat di tiga desa yaitu Srihardono, Panjangrejo dan Bambanglipuro, dan terpusat di Desa Panjangrejo. Berdasarkan data daftar kerusakan akibat gempa Mei 2006 di sentra industri gerabah di Kecamatan Pundong, tercatat 214 unit usaha di Kecamatan Pundong yang mengalami kerugian akibat gempa, masing-masing berlokasi di Desa Srihardono 25 unit, Desa Panjangrejo 188 unit dan di Desa Bambanglipuro 1 unit usaha. Industri gerabah telah menjadi mata pencaharian yang mampu

memberikan peningkatan pendapatan dan membuka kesempatan kerja di pedesaan. Penyerapan produknya biasanya dilakukan melalui kerja sama dengan sentra gerabah Kasongan yang menjadi salah satu tujuan pemasaran. Selain itu pasar ekspor juga telah lama dibidik oleh para pengusaha gerabah khususnya yang

16

berskala menengah yang telah memiliki jaringan pasar ekspor ke mancanegara (Soemardjito, 2006). Kerugian ekonomi yang diderita akibat terhentinya kegiatan produksi sebagian besar unit usaha tentu berdampak luas pada kondisi perekonomian penduduk. Kehilangan harta benda akibat gempa ditambah berkurangnya sumber pendapatan akan menambah buruk kondisi sosial ekonomi masyarakat, khususnya bagi pengusaha dan perajin industri gerabah. Pada beberapa saat setelah gempa, kegiatan industri terhenti disebabkan antara lain berkurangnya input faktor-faktor produksi maupun terganggunya kegiatan pemasaran. Kegiatan pemasaran di sentra kerajinan seperti pada umumnya yang terdapat di Propinsi D.I. Yogyakarta sangat didukung oleh kegiatan pariwisata selain melayani pesanan ekspor. Berkurangnya kunjungan wisatawan berdampak pada menurunnya hasil penjualan, terlebih hal ini didukung oleh penururan produktivitas perajin dan pengusaha dalam menghasilkan output disebabkan kesulitan modal akibat gempa. Penurunan omzet usaha inilah yang menjadi kekhawatiran khususnya bagi industri berskala kecil dan rumah tangga dalam mempertahankan kelangsungan usahanya. Pemasaran produk kerajinan D.I Yogyakarta biasanya ditopang oleh kegiatan pariwisata dan pesanan khusus. Kejadian gempa berdampak pada penurunan jumlah wisatawan luar negeri yang datang ke Yogyakarta. Data Badan Pariwisata Daerah D.I Yogyakarta menunjukkan penurunan kunjungan wisatawan luar negeri yang berkunjung ke Yogyakarta yaitu dari 103.488 orang pada tahun 2005 menjadi 78.145 orang pada tahun 2006 (Kompas, 27 Februari 2008).

17

Penurunan kedatangan wisatawan ke desa-desa wisata khususnya sentra kerajinan seperti Pundong dan Kasongan disinyalir menyebabkan penururan omzet pengusaha industri gerabah yang berasal dari penjualan langsung produk ke wisatawan. Hal ini diungkapkan oleh beberapa pengusaha gerabah di sentra gerabah Kasongan dan Pundong yang mengeluhkan bahwa memasuki semester ke-2 pasca gempa, usaha mereka masih belum berjalan normal (Kompas, 30 November 2006). Berdasarkan wawancara singkat yang dilakukan di Desa Panjangrejo (Juli 2007) pada salah satu pengusaha gerabah berskala menengah menyebutkan bahwa penurunan omzet setahun pasca gempa mencapai lebih dari 60 persen. Kegiatan produksi hanya dilakukan sebatas memenuhi pesanan. Meskipun diakui jumlah pesanan relatif stabil, sistem penjualan seperti ini dianggap kurang efektif untuk mendongkrak peningkatan omzet yang akan mempercepat proses pemulihan usaha. Penurunan omzet yang terus berlanjut dapat mengancam kelangsungan usaha. Berkurangnya hasil omzet usaha berarti terjadi penurunan pendapatan yang menjadi sumber modal kegiatan produksi. Jika ini terus berlangsung maka dikhawatirkan akan menyebabkan penurunan produktivitas usaha bukan tidak mungkin suatu unit usaha akan berhenti menjalankan kegiatan produksinya. Dampak berhentinya kegiatan industri gerabah ini tidak hanya dirasakan oleh pengusaha yang kehilangan sumber pendapatan tapi juga oleh masyarakat sekitar yang bekerja sebagai tenaga kerja di unit usaha tersebut, maupun kegiatan ekonomi terkait lain seperti jasa transportasi, pengiriman barang dan pengadaan bahan baku.

18

Kelangsungan usaha industri kecil di daerah sentra industri pasca gempa menjadi isu penting karena menyangkut kemampuan ekonomi masyarakat untuk bangkit kembali dari keterpurukan dan menuju taraf kehidupan seperti sebelum bencana. Kelangsungan usaha industri gerabah di Pundong menjadi menarik diteliti karena hampir semua unit usahanya merupakan usaha rumah tangga yang biasanya mengalami permasalahan terbatasnya modal sehingga akan mengalami kesulitan untuk bangkit kembali jika mengalami bencana yang menyebabkan kerugian yang sangat besar. Kondisi ini menyulitkan unit usaha terutama yang menjadi korban bencana untuk memulai usahanya serta kembali pada kondisi sebelum gempa sehingga dapat mengganggu kelangsungan usaha.

1.2. Perumusan Masalah Kerusakan unit usaha akibat gempa menyebabkan terhentinya kegiatan produksi selama beberapa waktu. Terhentinya kegiatan produksi telah menyebabkan hilangnya potensi pendapatan pengusaha dan dapat mengancam kelangsungan usaha. Pemasaran produk gerabah di Desa Panjangrejo hampir seluruhnya bergantung dari pesanan sentra gerabah Kasongan yang di saat bersamaan sempat lumpuh akibat gempa dapat berdampak pada penurunaan pendapatan usaha. Setelah lebih dari satu tahun pasca gempa, muncul pertanyaan tentang bagaimana kelangsungan usaha industri gerabah di Desa Panjangrejo.

19

1.3 Pertanyaan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah di atas pertanyaan dalam penelitian ini yaitu: 1. Bagaimana kondisi usaha industri gerabah di Desa Panjangrejo pasca gempa? 2. Bagaimana kelangsungan usaha industri gerabah di Desa Panjangrejo? 3. Seberapa besar pendapatan bersih usaha industri gerabah pasca gempa di Desa Panjangrejo?

1.4. Tujuan Penelitian 1. Mengetahui kondisi usaha industri gerabah pasca gempa di Desa Panjangrejo. 2. Mengetahui kelangsungan usaha industri gerabah pasca gempa di Desa Panjangrejo. 3. Mengetahui seberapa besar pendapatan bersih usaha industri gerabah pasca gempa di Desa Panjangrejo.

1.5. Manfaat Penelitian 1. Sebagai bahan untuk melengkapi syarat mencapai gelar Sarjana S-1 di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. 2. Sebagai suatu wacana bagi penelitian sejenis mengenai kelangsungan usaha industri kecil pasca bencana.

20

3. Menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah, stakeholder dalam mengambil kebijakan yang diperlukan dalam pemulihan industri kecil pasca bencana.

1.6 Tinjauan Pustaka 1.6.1. Peran Industri Kecil Dalam Pembangunan Ekonomi Secara geografis 69 persen Usaha Kecil dan Menengah (UKM) terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Bali yang mayoritas berada di pedesaan dan bergerak di sektor industri. Berdasarkan data Kementrian Negara Koperasi dan UKM dan BPS tahun 2005, 99 persen unit usaha di Indonesia merupakan industri kecil yang mampu menyerap sekitar 66 persen dari total tenaga kerja di sektor industri. Industri kecil juga turut menyumbang sebesar 54 – 57 persen dari total kontribusi sektor industri terhadap PDB selama tahun 2002 – 2005 (Kuncoro, 2007). Industri kerajinan merupakan industri kecil yang banyak dilakukan

masyarakat. Kinerja industri kerajinan dalam memperoleh devisa lewat ekspor terus meningkat dari tahun ke tahun. Nilai ekspor Indonesia pada tahun 2005 mencapai US$461,1 juta, dengan pertumbuhan ekspor tahun 2004/2005 sebesar 18.75 persen. Berkembangnya isu otonomi dalam pembangunan daerah menuntut tiap daerah melakukan optimalisasi pemanfaatan potensi wilayah, kekayaan alam, sumber daya manusia dan kondisi sosial ekonomi sesuai latar belakang budaya yang dimiliki (Harini, dkk, 2005). Industri kecil dan menengah dalam hal ini mempunyai peran penting bagi pembangunan ekonomi daerah karena sifat yang

21

dimiliki. Pertama jenis produk yang dihasilkan sangat terkait dengan budaya setempat, kedua pemanfaatan sumber daya lokal, baik bahan baku maupun aspek ketenagakerjaan dan keterampilan yang berasal dari budaya masyarakat setempat. Bintarto (1977: 24) mengemukakan bahwa adanya sektor industri di perdesaan seperti industri kerajinan selain dapat mengurangi pengangguran dapat dikurangi dan menambah pendapatan masyarakat, juga dapat menimbulkan daya kreasi di dalam menciptakan sebuah hasil produk dari industri tersebut. Dengan demikian, kehadiran industri perdesaan dan kerajinan secara tidak langsung juga berpengaruh pada kemampuan masyarakat untuk menciptakan kreativitas maupun inovasi produk kerajinan sehingga mengasah keterampilan masyarakat. Berdasar penggolongan skala usaha oleh BPS tahun 2002, industri kecil dan rumah tangga adalah industri yang mempekerjakan tenaga kerja kurang dari 20 orang. Ciri industri kecil dan rumah tangga (IKRT) secara umum adalah masih berskala kecil (terutama dilihat dari kapasitas produksinya), kurang maju dalam teknologi dibanding industri modern, sangat tergantung pada sumber daya lokal, jauh lebih padat tenaga kerja, didukung oleh pekerja yang masih mempunyai hubungan keluarga yang tidak dibayar, dan hanya memiliki akses pada dana milik sendiri atau lokal (Basri, 2002). Industri kecil memiliki karakteristik antara lain sebagai berikut (Staley, 1965): 1. Pengelolaan/manajemen dengan spesifikasi relatif sempit. Industri kecil dicirikan oleh manajemen perseorangan. Manajer dan beberapa asistennya mengelola produksi, keuangan, tenaga kerja, penjualan dan segala aspek bisnis pembelian lainnya. Tidak ada direktur utama untuk tugas spesifik

22

manajemen tertentu dan tidak ada persiapan untuk staf seperti pembedaan dari fungsi lainnya. 2. Hubungan personal yang dekat atau akrab Manajer secara pribadi menjalin komunikasi akrab dengan pelaksana produksi, pelanggan, dan pemilik (pemilik bahkan identik dengan manajer). Industri kecil memiliki kualitas hubungan antar personal yang erat serta fleksibel dalam operasi atau aktivitas harian, misalnya dalam memenuhi pesanan khusus dari pelanggan. 3. Keterbatasan dalam mengakses modal dan kredit. Industri kecil akan menemui risiko yang lebih besar dan menemui kesulitan untuk mendapatkan pinjaman atau kredit dari pihak perbankan maupun institusi keuangan lain. Propinsi D.I. Yogyakarta, industri kecil telah membuktikan perannya dalam penyerapan tenaga kerja sekaligus menjadi sumber pendapatan masyarakat khususnya di pedesaan. Laporan Tahunan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Propinsi D.I. Yogyakarta Tahun 2004 menyebutkan bahwa terjadi peningkatan jumlah unit usaha industri kecil dari 78.100 unit usaha pada tahun 2003 menjadi 78.609 unit usaha pada tahun 2004. Jumlah ini mencapai 97,93 persen dari keseluruhan unit usaha di sektor industri serta menyerap 66,4 persen tenaga kerja sektor industri di propinsi ini (Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Propinsi D.I. Yogyakarta, 2004). Mayoritas industri kecil di D.I. Yogyakarta bergerak di bidang produksi bahan makanan, pengolahan tembakau,

23

tekstil, sandang, kulit, perabot rumah tangga, kerajinan tangan dan barang-barang seni. Peran penting yang dimainkan industri kecil bagi penyediaan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat mendapat perhatian pemerintah melalui upaya pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), baik pusat maupun daerah lewat pemberdayaan usaha kecil. RPJMN 2004 – 2009 menyebutkan bahwa salah satu program pemberdayaan usaha skala mikro bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat yang bergerak di sektor ekonomi informal berskala mikro, terutama yang berstatus keluarga miskin agar memperoleh pendapatan tetap, melalui peningkatan kapasitas usaha sehingga menjadi unit usaha yang lebih mandiri, berkelanjutan dan siap untuk tumbuh dan bersaing. Perhatian pemerintah terhadap pembangunan di sektor industri tertuang dalam kebijakan pembangunan industri dengan sasaran yang ditempuh melalui 2 tahapan yaitu tahapan jangka menengah (2004 – 2009) dan jangka panjang (20102025). Salah satu strategi pokoknya adalah pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) (http://www.dprind.go.id.kebijakan10KIPN – Bab6.pdf. diakses 2 Maret 2008). Keberadaan industri kecil dan menengah di negara berkembang mempunyai peranan strategis dalam pembangunan ekonomi, yaitu untuk mengeliminasi ketimpangan yang diakibatkan proses pembangunan yang tidak merata, terutama karena terjadinya bias pembangunan perkotaan yang

menyebabkan daerah perdesaan menjadi jauh lebih tertinggal dibandingkan daerah perkotaan (Sulistyawati, 2004). Industri perdesaan merupakan alternatif

24

bagi masyarakat desa untuk mengatasi masalah rendahnya pendapatan di sektor pertanian. Industri perdesaan oleh masyarakat dikenal sebagai tambahan sumber pendapatan keluarga yang dapat menunjang kegiatan pertanian sebagai mata pencaharian pokok, sehingga industri perdesaan mempunyai arti penting dalam mengurangi tingkat kemiskinan di perdesaan. Alasan industri perdesaan dipilih sebagai salah satu solusi mengatasi kesulitan pemenuhan kebutuhan hidup adalah karena pada umumnya industri perdesaan merupakan peluang kerja yang tidak membutuhkan pengetahuan maupun tingkat pendidikan yang tinggi, selain modal yang diperlukan relatif kecil dengan penggunaan teknologi yang cukup sederhana (Sulistyawati, 2004). Industri kecil termasuk kerajinan yang sebagian besar berlokasi di perdesaan menjadi alternatif solusi bagi penyediaan lapangan kerja bagi tenaga kerja yang tidak terserap di sektor pertanian sehingga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mengurangi angka pengangguran (Rahardjo, 1984). Verkoren dalam Karwur (1993:20) menyebutkan, kegiatan usaha di luar sektor pertanian di daerah perdesaan dalam bentuk industrialisasi, termasuk di dalamnya industri kecil dan rumah tangga, diarahkan untuk menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan perluasan kesempatan kerja. Pengembangan industri perdesaan baik industri kecil maupun industri rumah tangga bertujuan untuk menciptakan pekerjaan non pertanian bagi penduduk perdesaan yang menganggur dan setengah menganggur, mengatasi arus migrasi ke pusat-pusat perkotaan dan memperkuat landasan ekonomi perdesaan dan memanfaatkan sepenuhnya keterampilan yang ada di daerah perdesaan. Alasan dikembangkannya industri

25

kecil di pedesaan dikemukakan oleh Prayitno (1987) yaitu: (1) karena letaknya di daerah pedesaan maka tidak akan menambah laju urbanisasi; (2) sifatnya yang padat karya sehingga memiliki kemampuan menyerap banyak tenaga kerja per unit yang diinvestasikan, (3) penggunaan teknologi yang sederhana sehingga mudah dipelajari dan dilaksanakan. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kegiatan industri lokal kurang mempunyai nilai ekonomis, yang artinya hanya merupakan manifestasi tradisi setempat dalam bentuk usaha kerajinan tangan yang membantu menambah penghasilan selain kegiatan utama di sektor pertanian. Namun pada penelitian yang dilakukan Yuarsi (1999) tentang industri pengecoran logam di Klaten dikatakan para petani memperoleh pendapatan utama dari kegiatan pertanian dan kerajinan. Pada awalnya usaha para petani di Klaten itu hanyalah usaha sambilan yang dijalankan dengan menginvestasikan surplus hasil produksi pertanian. Dalam perkembangannya usaha kerajinan itu semakin mampu menunjukkan kekuatannya untuk bertahan secara permanen (retainability). Usaha kecil dan menengah lebih mampu bertahan menghadapi perubahan kondisi ekonomi. Pada masa krisis ekonomi tahun 1997 – 1998 menyebabkan kebangkrutan banyak bisnis dan industri. Krisis moneter menciptakan ketidakstabilan nilai tukar uang, meningkatkan inflasi, tingkat bunga, kelangkaan bahan baku industri, penurunan daya beli dan konflik sosial. Selama krisis ekonomi, hanya 4 persen dari UKM yang mengalami kehancuran atau berhenti usahanya. Enampuluh empat persen lainnya selamat dan sisanya menyesuaikan

26

skala industrinya. Menurut Basri (2002), paling tidak ada 3 penyebab UKM dapat bertahan hidup, yaitu:   UKM menggunakan sedikit bahan baku impor UKM mempunyai kemampuan menjual produksinya dengan harga bersaing ke pasar yang lebih luas  Sebagian besar UKM menggunakan modal sendiri untuk memperkecil ketergantungan pada perbankan. Hal di atas senada dengan yang pernah dinyatakan oleh Direktur Institude for Small Scale Industries dari Universitas Filipina, Leon V. Chico (1975 dalam Verkoren,1991) mengemukakan bahwa industri kecil dan kerajinan memiliki beberapa kelebihan dibanding industri besar, yaitu karena memiliki sejumlah fleksibilitas dan kemampuan adaptasi yang sulit dilakukan industri besar, tidak tergantung pada sumber dana perbankan. Karakterstik usaha kecil yang sangat heterogen, struktur investasinya yang sangat bergantung kepada modal kerja, strategi usaha pada umumnya jangka pendek membuat usaha kecil sangat lentur menghadapi perubahan yang terjadi dalam lingkungan usahanya (Sadoko, dkk 1995). Dalam tesisnya Wahyuningsih (2000) menyatakan bahwa industri gerabah Kasongan masih bisa tetap bertahan meskipun telah terjadi kesulitan ekonomi secara umum di Indonesia. Pada sisi lain industri gerabah Kasongan justru menyediakan lapangan kerja baru atau masih mampu menyerap tenaga kerja baru dari sektor industri yang terkena dampak dari krisis moneter, sementara industri menengah dan besar yang lain justru banyak melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap tenaga kerjanya.

27

Perkembangan

UKM

tidak

lepas

dari

faktor-faktor penghambat.

Berdasarkan data BPS 2001, masalah utama yang dihadapi UKM adalah permodalan, pemasaran dan bahan baku. Sedangkan menurut World Bank, dalam Rural Investment Climate Survey Tahun 2006 menyatakan bahwa kendala utama yang dikeluhkan IKM baik di desa maupun di kota adalah permintaan yang melemah, akses kredit, akses jalan, biaya transportasi dan tingkat bunga.

1.6.2. Pengembangan Industri Kecil Dalam usaha pengembangan industri skala kecil di perdesaan perlu memperhatikan masalah-masalah modal serta bahan baku dan bahan tambahan, pemasaran, teknologi produksi dan manajemen (Verkoren, 1991). Usaha pengembangan industri kecil perlu didukung penguatan modal oleh pengusaha. Masalah permodalan sangat penting bagi perkembangan industri kecil. Kesulitan akses modal dari perbankan yang pada umumnya dialami pengusaha kecil memerlukan solusi program kemitraan yang membantu penyediaan modal bagi industri kecil. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa faktor modal menjadi penghambat perkembangan industri kecil disebabkan keterbatasan modal pribadi yang dimiliki untuk usaha. Pada unit usaha yang menjadi korban bencana penyediaan modal sangat diperlukan terutama untuk memulai kembali usaha mereka. Smith (1981) mengatakan bahwa pemasaran adalah salah faktor produksi penting sebagai persyaratan berkembangnya industri pada suatu wilayah, hal ini sejalan dengan sasaran akhir suatu usaha adalah untuk memasarkan hasil atau

28

produk yang dihasilkan. Hal senada dikemukakan Endarto (2006) bahwa hal terpenting dalam kelangsungan usaha adalah pasar atau konsumen. Meskipun usaha didukung oleh permodalan yang memadai namun akan sia-sia jika barang atau jasa yang dihasilkan tidak diserap pasar. Hal kedua yang penting adalah spesifikasi produk yaitu keunggulan produk dibanding produk lain. Produsen industri kerajinan dalam hal ini yang mempunyai produk unik dan berbeda misalnya dalam hal desain, akan mempunyai segmen pasar yang berbeda dalam arti saingan dalam memperoleh konsumen tidak sebanyak mereka yang memiliki desain yang sudah banyak dibuat orang lain. Produsen yang sudah memiliki kesadaran akan pentingnya keunikan produk biasanya akan berusaha melindungi karya cipta mereka di antaranya dengan tidak sembarang memperlihatkan katalog produk pada orang yang bukan konsumen. Konsep pemasaran produk hasil industri kecil di perdesaan di sini harus diupayakan sebagai pemasaran yang berorientasi kepada konsumen. Artinya produk industri kecil termasuk kerajinan di perdesaan hendaknya menjadi produk yang diminati oleh konsumen dengan mengikuti selera pasar. Pemasaran produk industri kecil dan kerajinan harus didukung promosi dan sistem distribusi yang mendorong peningkatan penjualan sehingga dapat meningkatkan pendapatan pengusaha dan pengrajin. Upaya menghubungkan produsen industri kerajinan kepada konsumen atau pembeli potensial salah satunya dengan mengkaitkan industri kecil dengan industri menengah lewat pertemuan kedua belah pihak untuk membantu pemasaran produk-produk industri perdesaan.

29

Untuk menghasilkan produk berkualitas yang mampu bersaing dan diminati pasar, tidak terlepas dari peran teknologi produksi. Penggunaan teknologi produksi yang tepat disamping berperan meningkatkan produktivitas karena

waktu yang diperlukan untuk menghasilkan produk menjadi lebih singkat dengan jumlah yang lebih banyak, juga diharapkan meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan. Pada industri kerajinan perdesaan, upaya penggunaan teknologi industri yang lebih modern dilakukan dengan mendorong pengusaha menemukan sendiri perangkat sesuai kebutuhan usahanya, sehingga teknologi terapan yang dihasilkan dapat mendukung peningkatan produktivitas. Masalah penyediaan bahan baku dan bahan tambahan juga sering kali menjadi kendala, terutama jika bahan-bahan tersebut tidak tersedia di sekitar lokasi industri, atau harus membeli dari tempat atau daerah lain. Pengusaha industri kecil biasanya menjalin kerjasama dengan pemasok bahan baku, sehingga ketersediaan bahan baku terjamin. Jalinan kerjasama antar sentra industri tidak hanya menyangkut penyediaan bahan baku, tapi juga mencakup pemasaran. Pengusaha industri gerabah di Desa Panjangrejo biasanya memproduksi produk pesanan khusus dari Kasongan. Jalinan kerjasama antar pengusaha dalam suatu sentra industri maupun antara sentra industri yang satu dengan sentra industri lain yang saling berkaitan diterangkan dalam penelitian Kuncoro dan Supomo (2003) mengenai pola kluster sentra gerabah Kasongan. Dalam penelitiannya disimpulkan bahwa kluster Kasongan mengikuti sebagian pola Kluster Marshallian dan Hub and Spoke. Salah satu variabel penciri Kluster Marshallian adalah adanya jalinan kerja sama

30

dengan pemasok yang relatif kuat, sedangkan variabel yang mengikuti pola Kluster Hub and Spoke adalah jalinan kerja sama dengan perusahaan lain di luar kluster juga relatif kuat. Jalinan kerjasama baik antar pengusaha di dalam kluster atau antara pengusaha suatu kluster dengan pengusaha di luar kluster sangat membantu perkembangan usaha. Dalam kasus kluster Kasongan, jalinan kerjasama yang erat dengan pemasok bahan baku membuat ketersediaan pasokan bahan baku lebih terjamin. Pada sentra kerajinan Pundong jalinan kerjasama di luar kluster tampak pada jalinan kerjasama yang telah lama dilakukan dengan sentra Kasongan sebagai tujuan pemasaran utama. Manajemen usaha industri kecil sering kurang mendapat perhatian misalnya masih banyak pengusaha yang mencampur adukkan antara pencatatan keuangan pribadi dengan keuangan usaha, sehingga perkembangan usaha sulit diamati. Selain itu manajemen usaha juga terkait dengan kewirausahaan pengusaha dalam mencari peluang untuk pengembangan usahanya. Pada umumnya suatu perusahaan atau unit usaha didirikan dengan tujuan memperoleh keuntungan. Menurut Sune Carlson (dalam Bettie and Taylor, 1994) ada empat kekuatan yang menentukan keuntungan perusahaan yaitu pengetahuan teknis, permintaan produk, suplai faktor, dan suplai kapital atau modal uang. Kesemua faktor produksi tersebut sangat berperan dalam meningkatkan pendapatan yang diperoleh perusahaan yang pada akhirnya akan menambah modal produksi. Dalam kaitannya dengan lokasi suatu industri Renner (1957) menyatakan bahwa industri-industri pengolahan akan lebih menguntungkan apabila lokasi

31

dekat dengan sumber bahan mentah (raw material oriented). Disamping itu pemasaran dapat dilakukan secara langsung di lokasi tersebut. Penghematan lokalisasi, yang berkaitan dengan perusahaan-perusahaan yang memiliki aktivitas yang berhubungan satu sama lain, telah memunculkan fenomena kluster industri. Kluster didefinisikan sebagai kumpulan industri yang terkait satu sama lain berdasarkan hubungan pembeli dan pemasok yang terspesialisasi, atau memiliki keterkaitan dalam teknologi maupun keterampilan. Lebih lanjut Kuncoro (2002) menguraikan bahwa kluster industri (industrial cluster) pada dasarnya merupakan kelompok produksi yang amat terkonsentrasi secara spasial dan biasanya hanya berspesialisasi pada satu atau dua jenis industri. Menurut Tambunan (1999) industri di sentra-sentra dapat berkembang lebih pesat, lebih fleksibel dalam menghadapi perubahan pasar, dan dapat meningkatkan produksinya daripada industri kecil secara individu di luar sentra. Di pihak lain, saat terjadi bencana dalam hal ini gempa yang melanda suatu sentra industri, maka dampak kerugian yang dirasakan pun akan besar karena menimpa begitu banyak unit usaha yang berdekatan dan saling terkait. Penelitian tentang kelangsungan industri oleh Dwiyono (2001) mengenai kelangsungan usaha pasca krisis pada industri batu bata di Kabupaten Blora yang diukur dengan pencapaian efisiensi produksi di dua tempat yang berbeda aksessibilitasnya. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa efisiensi produksi pada unit usaha di lokasi aksessibilitas tinggi lebih baik tinggi dibanding industri di lokasi dengan aksessibilitas rendah. Dengan kata lain, industri dengan aksessibilitas tinggi akan memiliki kelangsungan usaha lebih baik karena mampu

32

melakukan efisiensi lebih tinggi dibandingkan industri di lokasi dengan aksessibilitas rendah. Sedang penelitian mengenai hubungan karakteristik pengusaha dengan produksi pada industri gerabah di Desa Panjangrejo Kab. Sleman menunjukkan adanya korelasi positif antara tingkat pendidikan, riwayat usaha (pengalaman kerja) dengan produksi. Penelitian serupa tentang

perkembangan usaha tatah sungging di Desa Wukirsari Kecamatan Imogiri, Bantul menunjukkan tidak terdapat perbedaan pendapatan dan perkembangan usaha berdasarkan tingkat aksessibilitas.

1.6.3. Pemulihan Ekonomi Dalam Manajemen Bencana Menurut BAKORNAS PBP, bencana adalah peristiwa yang disebabkan oleh alam atau ulah manusia, yang dapat terjadi secara tiba-tiba atau perlahanlahan, yang menyebabkan hilangnya jiwa manusia, kerusakan harta benda dan lingkungan, serta melampaui kemampuan dan sumberdaya manusia untuk menanggulanginya. Bencana sering dianggap sebagai suatu ketidakpastian, sulit direspon, dan dampaknya bisa sampai beberapa generasi. Sesuatu disebut bencana bila yang mengalami masalah atau masyarakat lokal tidak mampu menanganinya. Oleh karena itu perlu keterlibatan masyarakat secara regional atau nasional, bahkan internasional. Bencana berkaitan dengan isu yang luas, bukan saja masalah ekologi, tetapi masalah sosial, ekonomi, bahkan merambah ke wilayah politik. Ketidakmampuan dalam menangani bencana bisa berakibat fatal terhadap kepercayaan masyarakat kepada penguasa (http://www.lppm.ac.id diakses 26 Juni 2007).

33

Munculnya kesadaran akan keterbatasan manusia dalam memprediksi dan menghadapi bencana, diperlukan upaya yang lebih terarah dalam penanggulangan bencana lewat manajemen bencana. Sutanto (2006) mengatakan manajemen bencana adalah proses terus-menerus yang melibatkan pemerintah, dunia usaha dan masyarakat sipil dalam merencanakan dan mengurangi pengaruh bencana, mengambil tindakan segera setelah bencana terjadi, dan mengambil langkahlangkah untuk pemulihan. Manajemen bencana merupakan strategi dan kebijakan dalam mencegah, memprediksi, dan mengantisipasi bencana sebatas kemampuan yang dimiliki serta meminimalkan kerugian. Permasalahan yang ditimbulkan akibat bencana gempa bumi dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu masalah yang timbul pada manusia sebagai individu, masalah yang timbul pada manusia sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dengan lingkungan, dan masalah yang timbul pada pendukung kehidupan manusia (Kedaulatan Rakyat, 18 April 2007). Masalah pada manusia sebagai individu tak hanya terkait dengan pemenuhan kebutuhan dasar seperti penyelamatan jiwa, pangan, sandang, tempat tinggal dan sumber pendapatan, tapi juga mencakup pemulihan dampak psikologis yang timbul akibat bencana seperti kondisi traumatis para korban. Dampak pada lingkungan berupa perubahan fungsi lingkungan baik sebagai tempat manusia menjalani kehidupannya maupun sebagai bagian dari sistem alam. Sedangkan yang dimaksud dengan masalah pada

pendukung kehidupan manusia di antaranya pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat, termasuk pada sarana dan prasarana fisik pendukungnya seperti fasilitas pelayanan masyarakat, pendidikan, kesehatan dan infrastruktur lain.

34

Melihat kompleksnya permasalahan yang muncul, penanganan bencana memerlukan upaya secara menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan manusia sehingga masyarakat korban bencana segera dapat menata dan menjalani kehidupannya seperti sebelumnya. Upaya mengurangi dampak bencana yang dilaksanakan lewat manajemen bencana terdiri dari beberapa tahapan. Tahapan ini terdiri dari mitigasi, tanggapan (response) dan pemulihan (recovery) (Sutanto, 2006). Proses mitigasi, kewaspadaan, tanggapan dan pemulihan ini berlangsung terus menerus sehingga disebut siklus manajemen bencana. Proses mitigasi melibatkan pencegahan bencana agar jangan sampai terjadi dan pengurangan dampak buruk akibat bencana yang sudah terjadi, pada tahap minimal terutama penyelamatan korban jiwa. Saat bencana telah terjadi dilakukan upaya tanggap darurat (response) yaitu tindakan penyaluran bantuan dan penyelamatan yang diperlukan. Langkah tanggap darurat bertujuan

menyelamatkan masyarakat yang masih hidup, mampu bertahan dan segera terpenuhinya kebutuhan dasar yang paling minimal. Sasaran utama dari tahap tanggap darurat adalah penyelamatan dan pertolongan manusia dengan prioritas pada upaya menolong korban yang masih hidup, mengevakuasi jenazah dan menguburkan, penyediaan makanan dan obat-obatan serta memperbaiki sarana dan prasarana dasar agar berfungsi secara minimal. Selanjutnya pada tahap terakhir dimulailah masa pemulihan, yaitu membangun kembali daerah atau tempat yang terkena bencana sehingga keadaannya kembali seperti semula bahkan lebih baik dibanding sebelum bencana.

35

Usaha pemulihan berkaitan dengan pembangunan dan penyediaan kembali bangunan-bangunan dan aset-aset yang hancur atau hilang, terutama infrastruktur yang vital. Termasuk di dalamnya adalah rekonstruksi bangunan-bangunan dan fasilitas yang mengalami kerusakan dan rehabilitasi fungsi-fungsi sosial kehidupan masyarakat. Rekonstruksi adalah pembangunan yang bersifat permanen atau penggantian kerugian fasilitas fisik yang rusak, pemulihan secara penuh pelayanan dan infrastruktur lokal dan revitalisasi ekonomi. Adapun rehabilitasi lebih berfokus pada usaha-usaha meningkatkan kemampuan masyarakat di wilayah yang terkena bencana untuk memulihkan pola hidup normal seperti sebelum bencana. Tahap rehabilitasi bertujuan mengembalikan dan memulihkan fungsi bangunan dan infrastruktur yang mendesak untuk

ditindaklanjuti. Sasaran utama dari tahap rehabilitasi adalah untuk memperbaiki pelayanan publik hingga pada tahap yang memadai. Prioritas penanganan pada tahap ini berkaitan dengan permasalahan pendidikan, kesehatan, perumahan, fasilitas pelayanan umum, perekonomian, pemerintahan, perlindungan sosial dan lingkungan hidup. Pemulihan (recovery) di bidang ekonomi dilakukan melalui upaya pemberdayaan masyarakat. Bentuk-bentuk program pemberdayaan terus

dilakukan oleh pemerintah Pusat, Daerah maupun LSM terkait. Salah satunya melalui program kemitraan yang melibatkan petani, pengrajin, dan industri perdesaan yang diiringi aksi sosial dari lembaga atau instansi pemberi bantuan (Aristanti, 2007). Tahap selanjutnya adalah rekonstruksi yang mencakup memulihkan kehidupan dan penghidupan masyarakat, memperbaiki infrastruktur

36

dan ekonomi dan jalannya pemerintahan lokal. Prioritas harus diletakkan pada pemulihan mata pencarian dan struktur sosial masyarakat yang telah hancur, termasuk perumahan dan tempat penampungan, mendorong kegiatan usaha, menciptakan perdagangan dan pendapatan, membangun kembali mata

pencaharian desa dan menyediakan pelayanan publik. Mayoritas orang yang terkena dampak terburuk dari bencana adalah kelompok masyarakat miskin. Perekonomian masyarakat terhenti selama 10 hari. Bagi orang miskin bencana berarti kehilangan harta, pekerjaan dan kesejahteraan ekonomi. Ini dapat menimbulkan kemunduran ekonomi yang berarti. Oleh sebab itu bantuan rekonstruksi harus dirancang untuk menyelamatkan perekonomian masyarakat, yang dilakukan dengan menginjeksi modal ke dalam masyarakat, menciptakan peluang kerja, serta mendukung dan memperkuat unit-unit ekonomi yang ada. Upaya-upaya ini perlu dilakukan untuk menumbuhkan kembali semangat masyarakat untuk segera memulai kembali kehidupan mereka, sehingga setelah program pemberian bantuan selesai, mereka dapat menjalankan kehidupannya seperti sebelum bencana, bahkan pada kondisi yang lebih baik. Pemulihan industri kecil dan menengah di DI. Yogyakarta menjadi isu penting mengingat perannya sebagai tulang punggung ekonomi daerah. Apalagi industri kecil merupakan kegiatan ekonomi rakyat yang banyak menyerap tenaga kerja. Bencana yang melanda Bantul sebagai kekuatan industri kecil menuntut dua persoalan yang perlu segera diatasi, yaitu menyangkut akses permodalan dan akses pasar. Penyediaan modal sangat penting untuk memulai usaha, sedangkan

37

akses pasar sangat diperlukan untuk kembali menambah modal (www.peduliukm.com diakses tanggal 5 Maret 2007).

1.6.4. Tinjauan Empiris Penelitian tentang industri gerabah di Desa Panjangrejo sebelumnya telah dilakukan Kumalawati (2003) berjudul “Hubungan Antara Karakteristik Pengusaha dengan Produksi Untuk Pengembangan Industri Kerajinan Gerabah Di Desa Panjangrejo Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul”. Menurut Kumalawati (2003) usaha industri gerabah di desa Panjangrejo Kecamatan Pundong didukung oleh tersedianya faktor-faktor pendukung di wilayah tersebut, antara lain modal, bahan baku, bahan bakar, tenaga kerja, transportasi dan aktivitas manusia. Aktivitas manusia melibatkan penyediaan bahan baku, bahan bakar, bahan tambahan atau penolong, dalam proses produksi sampai pemasaran. Permasalahan yang dihadapi para pengusaha industri gerabah di Desa Panjangrejo adalah belum tertatanya lokasi industri kerajinan gerabah serta belum masuknya sarana transportasi umum dan telekomunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan antara karakteristik pengusaha dengan produksi industri gerabah, serta mempelajari hubungan antara kebijakan pemerintah dengan produksi industri gerabah. Hasil yang diperoleh adalah terdapat korelasi positif antara tingkat pendidikan dan tingkat produksi. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi tingkat produksi, meskipun korelasi kedua variabel lemah. Kedua adalah adanya korelasi positif yang lemah antara riwayat usaha dengan tingkat produksi. Di sini dimaksudkan

38

bahwa semakin lama pengusaha menekuni usahanya maka pengusaha tersebut semakin menguasai serta lebih mampu mengembangkan usahanya sehingga mempunyai tingkat produksi yang lebih tinggi. Korelasi signifikan diperoleh dari analisis hubungan manajemen usaha dengan tingkat produksi. Pengusaha yang memiliki manajemen usaha yang lebih baik akan mempunyai tingkat produksi yang lebih tinggi. Pengusaha yang menguasai manajemen akan bisa menangani usaha menjadi lebih produktif. Perkembangan industri gerabah di Desa Panjangrejo juga tidak terlepas dari peran pemerintah berupa kebijakan pemberian pelatihan atau penyuluhan, pelayanan kredit atau modal, pelayanan pemasaran, pembinaan desain serta penggunaan teknologi. Hasil penelitian Kumalawati (2003) menunjukkan adanya korelasi positif antara kebijakan pemerintah terhadap tingkat produksi. Pemanfaatan pelayanan penyuluhan, pelatihan, pembinaan desain dan pemasaran oleh pengusaha akan mencapai pengembangan tingkat produksi yang tinggi. Sebaliknya pengusaha yang tidak ikut aktif memanfaatkan kebijakan pemerintah tidak akan dapat mencapai pengembangan tingkat produksi yang tinggi. Beberapa penelitian mengemukakan faktor modal menjadi penghambat industri kecil kerajinan untuk berkembang disebabkan keterbatasan modal pribadi yang dimiliki untuk usaha. Penelitian Suhendratmo (2003) tentang industri kerajinan mebel bambu (IKMB) di Desa Tirtodadi Kecamatan Mlati Sleman mengemukakan memiliki keterbatasan disebabkan modal yang terbatas, sulitnya membentuk jaringan pemasaran, terbatasnya tenaga terampil dan rendahnya manajemen pembukuan. Lastari (2000) dalam penelitiannya tentang industri

39

kerajinan tanduk menyatakan bahwa pinjaman modal dari bank kurang diminati oleh pengusaha disebabkan ketidakpastian keuntungan yang diperoleh sehingga dikhawatirkan tidak sanggup membayar angsuran pinjaman. Pinjaman hanya dilakukan oleh pengusaha yang cukup besar. Oleh karena itu pada umumnya pengusaha kerajinan lebih banyak menggunakan modal sendiri. Alasan lemahnya permodalan industri kecil diutarakan oleh Said (1991) yaitu: 1. Bentuk perusahaan yang pada umumnya perseorangan, sehingga modal dasar relatif kecil dan hanya berasal dari kalangan sendiri atau pemilik. 2. Tidak mampu membuat perencanaan kebutuhan modal. 3. Kekurangan modal kerja. 4. Tidak adanya modal investasi untuk rehabilitasi dan penggantian mesin. Keterbatasan modal ini menjadi salah satu alasan banyak usaha atau industri yang ditekuni masyarakat pedesaan dilakukan di lingkup rumah atau pekarangan masing-masing (Poerwanto, 2000).

1.7. Kerangka pemikiran Sebagian besar unit usaha industri gerabah yang dijalankan di sentra industri Pundong merupakan industri berskala kecil dan rumah tangga pada umumnya dijalankan di rumah-rumah penduduk. Gempa mengakibatkan rusaknya rumah-rumah pengusaha, yang berarti kehilangan tempat berusaha, akibatnya banyak unit usaha yang berhenti menjalankan aktivitasnya. Namun demikian, karena industri gerabah telah menjadi sumber pendapatan penduduk di Desa Panjangrejo, industri ini kembali ditekuni oleh para pengusahanya, sehingga dapat

40

dikatakan hampir semua unit usaha kembali berlangsung. Hasil observasi lapangan (Mei 2008) menunjukkan waktu yang dibutuhkan suatu unit usaha untuk kembali menjalankan produksi setelah gempa berkisar antara 2 minggu sampai satu setengah tahun, terhitung mulai sehari setelah gempa (27 Mei 2006). Pada penelitian ini, untuk mengamati kelangsungan usaha industri gerabah, unit industri dikelompokkan berdasarkan waktu atau jeda unit usaha tersebut untuk kembali melakukan produksi kembali, yaitu kelompok bangkit kurang dari 6 bulan, 6 – 12 bulan dan lebih dari 12 bulan pasca gempa. Untuk menjawab pertanyaan kelangsungan usaha, dipakai kriteria yaitu: 1) lama waktu suatu unit usaha untuk berproduksi kembali setelah gempa, 2) rata-rata nilai produksi dalam sebulan. Tingkat pemulihan usaha menggambarkan perbandingan perolehan nilai produksi pasca gempa dengan perolehan nilai produksi sebelum gempa. Dalam mengamati kelangsungan usaha industri gerabah, kondisi unit usaha perlu diketahui untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai keadaan industri pasca gempa. Kondisi unit usaha pasca gempa diterjemahkan dalam beberapa poin, yaitu jenis produksi, kerusakan tempat usaha akibat gempa, jenis bangunan pasca gempa dan luas tempat usaha. Hal ini dikarenakan gempa yang menimpa unit usaha kemungkinan akan berdampak pada perubahan kondisi unit usaha berkaitan dengan hal-hal tersebut. Pada akhirnya, kegiatan industri memiliki tujuan untuk memperoleh pendapatan. Pengamatan tentang besar nilai pendapatan bersih pengusaha gerabah dari kegiatan industrinya akan menjawab tujuan no. 3 dalam penelitian ini.

41

Gempa 2006

Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo

Kerusakan Unit Usaha Akibat Gempa

Rusak ringan

Rusak berat

Roboh

Aktivitas industri

Berhenti < 6 bulan

Berhenti 6 – 12 bulan

Berhenti > 12 bulan

Karakteristik Usaha - Kondisi unit usaha - Faktor produksi: • modal • bahan baku • peralatan • pemasaran • tenaga kerja

Kelangsungan Usaha: - Waktu bangkit - Nilai produksi per bulan pasca gempa - Tingkat pemulihan usaha

Karakteristik Pengusaha: - Jenis kelamin - Umur - Jumlah anggota rumah tangga - Pendidikan - Mata pencaharian

Usaha Berlangsung baik

Usaha Berlangsung

sedang

Usaha Berlangsung buruk

Pendapatan Bersih

Gambar 1 Kerangka Pemikiran 1.8. Batasan Operasional

42

-

Kegiatan produksi gerabah adalah seluruh kegiatan yang berhubungan dengan pembuatan produk gerabah, mulai dari persiapan bahan baku hingga menjadi gerabah yang siap untuk dijual (Statistik Industri, 2002).

-

Kondisi usaha industri gerabah pasca gempa adalah keadaan unit industri gerabah yang dijumpai saat penelitian dilakukan, meliputi : 1. Kerusakan bangunan tempat usaha akibat gempa 2. Luas bangunan tempat usaha 3. Jenis bangunan tempat produksi (permanen atau non permanen berdasarkan jenis dinding) 4. Jenis barang yang diproduksi: a. Gerabah tradisional: produk tanah liat yang dibakar berupa barang-barang kebutuhan rumah tangga, misalnya tungku, kuali, padasan, dan lain-lain. b. Keramik: produk tanah liat yang dibakar berupa bendabenda dekoratif, seperti pot bunga, sovenir, vas bunga, kap lampu, dan lain-lain.

-

Faktor produksi: faktor-faktor yang berperan dalam produksi gerabah, mulai dari input sampai menghasilkan produk dan memperoleh pendapatan meliputi modal, bahan baku, bahan bakar, peralatan, dan pemasaran.

-

Kelangsungan industri adalah kemampuan unit usaha industri gerabah untuk tetap melangsungkan kegiatan produksinya pasca gempa yang diamati dari dua hal berikut.

43

1.

Lama waktu henti suatu unit industri gerabah sebelum kembali berproduksi setelah gempa, dibagi dalam 3 kelompok yaitu kelompok berhenti < 6 bulan, kelompok berhenti 6 – 12 bulan, dan kelompok yang berhenti > 12 bulan.

2.

Nilai produksi, yaitu jumlah keseluruhan unit produk yang dihasilkan dalam sebulan dikalikan harga jual tiap unit saat penelitian dilakukan (Rupiah per bulan).

-

Kerusakan unit usaha: kerusakan tempat dilakukannya proses produksi industri gerabah, yang diwakili oleh kerusakan tempat tinggal pengusaha. Jenis kerusakan terdiri dari kategori rusak ringan, rusak berat dan roboh (Satgassos PB, 2006).

-

Rusak ringan : tempat usaha mengalami kerusakan di beberapa tempat dan masih bisa digunakan sebagai tempat produksi (Satgassos PB, 2006).

-

Rusak berat: tempat usaha mengalami rusak yang cukup besar, namun masih berdiri dan dapat dipakai sebagai tempat tinggal di beberapa bagian ruangan (Satgassos PB,

2006). Roboh: tempat usaha mengalami rusak sangat parah akibat gempa ditandai dengan rusaknya dinding rumah, atap dan tiang utama penyangga rumah, sehingga tidak bisa ditempati dan perlu dibangun kembali agar bisa digunakan (Satgassos PB, 2006). Pasca gempa : sehari setelah gempa tanggal 27 Mei 2006 sampai saat penelitian dilakukan (15 – 25 mei 2008).

44

-

Industri rumah tangga : industri yang memiliki tenaga kerja 1 – 4 orang (BPS, 2002)

-

Pengusaha industri gerabah: serorang yang memiliki usaha memproduksi gerabah dengan mempekerjakan orang lain atau bekerja sendiri, mulai dari mengusahakan pengadaan bahan baku, memproduksi gerabah hingga memasarkan produk.

-

Pendapatan bersih usaha pasca gempa: nilai rupiah yang dihasilkan dari industri gerabah, yaitu nilai jual seluruh produk dalam sebulan dikurangi ongkos produksi selama sebulan.

-

Tingkat

pemulihan

usaha:

pencapaian

nilai

produksi

pasca

gempa

dibandingkan nilai produksi sebelum gempa dalam persentase.

45

BAB II METODE PENELITIAN 2.1. Metode Dasar Penelitian Penelitian ini menggunakan metode survei. Survei adalah penelitian yang dilakukan dengan mengambil sampel dari suatu populasi menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok (Singarimbun, dkk, 1989).

2.2. Penentuan Lokasi Penelitian Lokasi penelitian adalah Desa Panjangrejo Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul. Lokasi ini dipilih dengan pertimbangan Desa Panjangrejo merupakan tempat dengan jumlah industri gerabah terbanyak di Kecamatan Pundong. Di Desa Panjangrejo, sentra industri gerabah tersebar di beberapa dusun sebagai berikut: Tabel 2.1. Distribusi Pengusaha Gerabah Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa
Persen (%) 1. Boto 1 0,5 2. Gedong 4 2,1 3. Gunung Puyuh 3 1,6 4. Jetis 60 31,9 5. Krapyak 25 13,3 6. Nglembu 0 0,0 7. Semampir 59 31,4 8. Soronanggan 15 8,0 9. Watu 3 1,6 10. Nglorong 18 9,6 11 Kantongan 0 0,0 Jumlah 188 100 Sumber: Gabungan Kelompok Pengrajin Panjangrejo Pundong (GKP3), Desember 2007 No Dusun Jumlah pengusaha gerabah (orang)

46

Berdasarkan data di atas, selanjutnya secara purposif dipilih 2 dusun sebagai lokasi pengambilan sampel yaitu Dusun Jetis dan Semampir dengan alasan memiliki jumlah pengusaha industri gerabah paling banyak.

2.3. Populasi dan sampel Responden penelitian adalah pengusaha gerabah aktif yaitu pengusaha gerabah yang menjalankan aktivitas produksi gerabah pasca terjadinya gempa saat penelitian dilakukan (Mei 2008). Berdasarkan data tabel di atas, jumlah populasi adalah 188 pengusaha. Sampel yang diambil berjumlah 60 pengusaha aktif dianggap cukup memberi gambaran kondisi industri gerabah pasca gempa di lokasi penelitian.

2.4. Data 2.4.1. Sumber dan Jenis Data • Data sekunder Meliputi kondisi fisik daerah penelitian (letak, luas, batas administrasi, iklim, temperatur udara dan curah hujan, tanah dan penggunaan lahan), dan kondisi penduduk (jumlah, kepadatan, pertumbuhan penduduk, komposisi penduduk, tingkat pendidikan dan mata pencaharian). Data diperoleh dari catatan/dokumen yang tersedia di kantor desa setempat, dan instansi terkait. Untuk membatasi unit administrasi daerah penelitian maka diperlukan peta yaitu peta lokasi penelitian Dusun Jetis dan Semampir Desa Panjangrejo Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul (Kantor Desa Panjangrejo).

47

Data primer Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara observasi, wawancara

terstruktur menggunakan kuesioner bagi para pengusaha gerabah, dan wawancara mendalam dengan informan kunci seperti Kepala Dusun, Ketua Paguyuban Pengrajin dan Pengusaha industri gerabah.

2.4.2. Pengumpulan Data Variabel-variabel utama yang akan diukur dari kuesioner adalah. 1. Karakteristik usaha di masing-masing sentra industri, meliputi: lama usaha, jumlah tenaga kerja upahan dan tenaga kerja rumah tangga, omzet rata-rata per bulan tahun 2008 (data primer), selang waktu beroperasinya kembali unit usaha setelah gempa terjadi, tingkat kerusakan bangunan tempat tinggal pengusaha akibat gempa, luas tempat usaha, nilai produksi, cara pemasaran, pendapatan usaha; 2. Karakteristik pengusaha meliputi kondisi sosial yaitu pendidikan terakhir, pekerjaan selain industri gerabah; dan kondisi demografis meliputi umur, jenis kelamin, jumlah anggota keluarga, dan upaya yang dilakukan pengusaha dalam mengatasi masalah yang dihadapi usahanya; 3. Bantuan yang diterima unit usaha baik dari pemerintah, pihak swasta maupun Lembaga Swadaya Masyarakat/NGO dan instansi lain yang turut berperan dalam mendukung kelangsungan industri gerabah mereka, mencakup bentuk bantuan yang diterima, asal bantuan, alasan bagi yang tidak menerima bantuan.

48

Untuk mengetahui pendapatan usaha (per bulan) industri gerabah pasca gempa diperlukan data: a. modal produksi per bulan terdiri dari: nilai bahan baku dan bahan penolong ongkos tenaga kerja biaya bahan bakar biaya lain (jika ada)

b. nilai produksi per bulan; adalah jumlah produk yang dihasilkan per bulan dikalikan harga per unit produk. c. pendapatan usaha per bulan; adalah nilai produksi per bulan dikurangi modal produksi per bulan. Untuk mengetahui kelangsungan usaha industri gerabah 2 tahun pasca gempa dilakukan penjumlahlan skor pada variabel berikut. 1. Lama waktu unit usaha berproduksi kembali setelah gempa 2. Nilai produksi per bulan Untuk mengetahui seberapa besar pemulihan unit usaha industri gerabah pasca gempa, dilakukan pengukuran tingkat pemulihan usaha secara representatif untuk masing-masing kategori kelangsungan usaha baik, sedang dan buruk. Secara matematis dinyatakan sebagai berikut:

TingkatPemulihanUsaha = Keterangan:

Nilai Pr oduksiPascaGempa x100% Nilai Pr oduksiSebelumGempa

49

Nilai produksi sebelum gempa didapat berdasarkan data GKP3 tahun 2006. 2.4. Analisis data 2.4.1. Editing Editing yaitu meneliti kembali data yang telah diperoleh dari kuesioner, dengan cara menilai apakah data tersebut cukup baik dan relevan untuk diproses lebih lanjut. Hal yang perlu dicermati adalah : kelengkapan pengisian kuesioner, keterbacaan tulisan, relevansi jawaban dengan pertanyaan, dan keseragaman satuan.

2.4.2. Koding Data yang telah diedit kemudian diklasifikasi menurut macamnya. Sebelum data diproses dengan program komputer, data tersebut harus diubah ke dalam bentuk numerik/angka. Proses pengubahan data kualitatif menjadi data angka atau numerik ini yang dinamakan koding (Santoso dan Tjiptono, 2004).

2.4.3. Tabulasi Tabulasi merupakan proses penyederhanaan data agar mudah dibaca dan diamati yaitu dengan cara membuat tabel-tabel frekuensi berisikan data sesuai analisa yang dibutuhkan. Tujuannya adalah mengelompokkan data ke dalam tabel frekuensi yaitu untuk memperoleh gambaran yang jelas dan sistematis mengenai peristiwa yang dinyatakan dalam angka.

50

2.4.4. Klasifikasi Indikator yang dipakai dalam kelangsungan usaha adalah: 1. Lama waktu yang dibutuhkan suatu unit industri gerabah untuk kembali berproduksi setelah gempa. Skor waktu berhenti pasca gempa disajikan pada tabel berikut. Tabel 2.2. Skor Waktu
Waktu (bulan) >12 6 – 12 <6 Bangkit Skor Waktu 1 2 3

Sumber: Diolah dari dari primer, 2008

2.

Nilai produksi, yaitu jumlah keseluruhan unit produk dikalikan harga jual tiap unit, dalam waktu 1 tahun (omzet dalam Rupiah per tahun, dibagi dalam 3 interval kelas, dengan bobot skor sebagai berikut:

Tabel 2.3. Skor Nilai Produksi Pasca Gempa
Nilai Produksi (rupiah per bulan) <600.000 600.000 – 1.519.900 >1.519.900
Sumber: Diolah dari dari primer, 2008

Skor Nilai Produksi 1 2 3

Klasifikasi adalah mengelompokkan data ke dalam beberapa kategori atau kelas-kelas interval yang sesuai dengan ruang lingkup penelitian. Kedudukan atau hirarki data tersebut bersifat relatif karena dibandingkan hanya dengan data pada kelompok tersebut. Dalam penelitian ini skor kelangsungan usaha dibagi dalam 3

51

kelas yaitu: tinggi, sedang dan rendah. Klasifikasi ditentukan dengan rumus berikut (Muta’ali, 2003): Tinggi skor kelangsungan usaha tinggi Sedang = jika nilai skala > X + = > (4,48 + 1,127/2) =>5 = jika nilai skala > X + =4–5
sd ; maka 2 sd sd dan X − ; 2 2 sd ; maka 2

maka skor kelangsungan usaha sedang Rendah skor kelangsungan usaha rendah

= jika nilai skala < X − = <4

Dimana: X adalah rerata nilai skor kelangsungan usaha sd adalah standar deviasi skala Secara singkat hasil akhir klasifikasi tampak pada tabel 2.4. berikut: Tabel 2.4. Klasifikasi Kelangsungan Usaha
Skor Kelangsungan Usaha (KU) = (Skor Waktu) + (Skor Nilai Produksi) Golongan Skor • rendah (jika skor KU <4) • sedang (jika skor KU antara 4 – 5) • tinggi (jika skor KU >5) Kelangsungan usaha • “Baik” jika Golongan Skor “tinggi” • “Sedang” jika Golongan Skor “sedang” • “Buruk” jika Golongan Skor “rendah”

Sumber: Analisis data primer, 2008

52

BAB III DESKRIPSI WILAYAH Bab ini menguraikan deskripsi wilayah penelitian, yaitu Desa Panjangrejo untuk mendapat gambaran secara menyeluruh mengenai kondisi wilayah penelitian.

3.1.

Kondisi Fisik Wilayah Kondisi fisik wilayah merupakan kondisi yang dibentuk elemen-elemen

fisik pada daerah tersebut dan daerah sekitarnya. Elemen-elemen fisik yang ada pada suatu daerah secara langsung akan mempengaruhi dinamika daerah tersebut dan selanjutnya akan berpengaruh terhadap aktivitas penduduknya. Kondisi fisik wilayah yang diutarakan di sini meliputi letak, luas dan batas daerah, iklim, topografi dan kondisi tanah di daerah penelitian.

3.1.1. Letak, Luas dan Batas Daerah Penelitian Secara administratif, Desa Panjangrejo termasuk dalam wilayah Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, sedangkan secara geografis desa ini terletak pada 750 56’ 52” – 750 59’ 00” LS dan 1100 21’ 14” BT (Gambar 2). . Desa ini memiliki luas 528, 358 Ha. Jarak desa ini terhadap pusat pemerintah kecamatan sejauh 1 km, atau 10 km dari ibukota Kabupaten Bantul, sedangkan jarak terhadap ibukota Propinsi D.I. Yogyakarta yaitu 20 km. Batasbatas administrasi Desa Panjangrejo terhadap daerah sekitarnya adalah sebagai berikut :

53

Gambar 2. Peta Administrasi Desa Panjangrejo

54

• • • •

Sebelah Utara Sebelah Selatan Sebelah Barat Sebelah Timur

: Desa Srihardono, Kecamatan Pundong : Sungai Opak : Desa Mulyodadi, Kecamatan Bambanglipuro : Desa Srihardono, Kecamatan Pundong

3.1.2. Iklim Iklim didefinisikan sebagai rata-rata cuaca dalam waktu tertentu (DPMA, 1983). Unsur-unsur iklim adalah temperatur atau suhu udara, curah hujan, angin dan kebasaan. Untuk mengetahui iklim suatu daerah dapat diketahui melalui unsur-unsur iklim yang terpenting saja, yaitu curah hujan dan suhu udara rata-rata. Iklim merupakan salah satu faktor lingkungan fisik yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Dalam kaitannya dengan industri gerabah di Desa Panjangrejo, iklim sangat berpengaruh akan berpengaruh terhadap proses pengeringan produk sebelum dibakar. Desa Panjangrejo memiliki iklim tropis, dengan suhu harian rata-rata berkisar antara 220C – 320C. Banyaknya curah hujan rata-rata dalam setahun adalah ± 3000 mm per tahun. Jumlah hari dengan curah hujan terbanyak terbanyak adalah 104 hari (Desa Panjangrejo, 1986).

3.1.3. Topografi Topografi di suatu daerah akan sangat mempengaruhi perilaku manusia bertempat tinggal di daerah tersebut. Topografi adalah suatu keadaan tinggi rendahnya suatu tempat terhadap permukaan laut. Desa Panjangrejo terletak pada

55

ketinggian ± 20 m dari permukaan laut dengan topografi 98

persen berupa

dataran rendah, dan 2 persen lainnya berupa perbukitan (BPN, Bantul 2001).

3.1.4. Kondisi Tanah Pada dasarnya, kondisi tanah erat kaitannya dengan kehidupan dan mata pencaharian penduduk, terutama bagi penduduk yang bekerja di sektor pertanian. Dalam hal ini, tanah didefinisikan sebagai akumulasi tubuh alam bebas, menduduki daratan, dapat menjadi lahan tempat tumbuhnya tanaman, dan dipengaruhi iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk tertentu selama jangka waktu tertentu. Jenis tanah yang terdapat di Desa Panjangrejo adalah aluvial dan regosol. Jenis tanah aluvial memiliki ciri warna kelabu hingga coklat, tekstur lempung pasir 50 persen, struktur pejal, tidak memiliki batas horizon yang jelas, serta konsistensi teguh saat lembab, plastis saat basah, dan keras saat kering. Sifat kimia tanah aluvial yaitu tingkat kemasaman beraneka, kandungan bahan organik rendah, kejenuhan basa sedang hingga tinggi, daya absorbsi tinggi, permeabilitas rendah, dan memiliki kepekaan erosi tinggi. Meskipun memiliki kepekaan erosi besar, namun karena sebagian besar Desa Panjangrejo berupa dataran, erosi yang terjadi tingkatnya tidak sampai lanjut (BPN, Bantul 2001). Jenis tanah regosol biasanya memiliki tingkat kesuburan yang tinggi, karena berasal dari bahan induk abu vulkan yang memiliki kandungan mineral yang tinggi. Warna tanah kelabu, teksur pasir hingga pasir bergeluh, struktur berbutir tunggal, permeabilitas cepat.

56

Tanah ini memiliki potensi yang sangat besar jika dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Tanah dalam pemanfaatannya sebagai bahan baku industri gerabah, para pengusaha yang memproduksi alat-alat kebutuhan rumah tangga (produk gerabah tradisional) memanfaatkan tanah-tanah liat dari persawahan, sedangkan

pengusaha yang memproduksi jenis gerabah untuk sovenir dan benda-benda dekorasi rumah atau keramik memakai bahan baku tanah liat asal Godean. Perbedaan asal tanah untuk produk yang berbeda selain disebabkan masingmasing produk memerlukan kualitas tanah yang berbeda. Tanah dari daerah setempat sangat baik untuk membuat peralatan rumah tangga, karena akan menghasilkan produk berkualitas baik karena lebih tahan lama atau tidak mudah retak saat dipakai untuk memasak. Berbeda dengan produk sovenir dan barangbarang dekorasi membutuhkan tanah yang bertekstur lebih halus, tanah dari Godean sangat sesuai untuk kebutuhan produk ini. Selain karena tanah regosol dari Godean memiliki kandungan lempung mencapai 40 persen, warnanya juga kelabu kekuningan akan membuat gerabah berwarna kemerahan setelah dibakar sehingga lebih menarik, meskipun pada akhirnya produk-produk tersebut akan mengalami proses pengecatan atau finishing oleh pihak pemesan.

3.1.5. Penggunaan Lahan Penggunaan lahan merupakan pemanfaatan atau pengolahan salah satu bagian lingkungan oleh manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Penggunaan lahan dapat dikatakan sebagai bentuk campur tangan manusia

57

terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Bentuk penggunaan lahan di suatu wilayah merupakan cerminan aktivitas manusia di wilayah tersebut. Secara umum, pengunaan lahan dapat dikelompokkan berdasarkan peruntukan agraris dan non agraris. Peruntukan lahan agraris adalah pemanfaatan lahan yang sifatnya produktif sebagai lahan pertanian, seperti sawah dan tegalan. Peruntukan lahan non agraris bersifat non produktif antara lain pemanfaatan lahan sebagai permukiman, jalan, lapangan, sekolah, dan sebagainya (Suwarno, 1985 dalam Alamsyah, 1995). Penggunaan lahan di Desa Panjangrejo dapat diamati melalui tabel 3.1 di bawah ini. Tabel 3.1 Penggunaan Lahan Di Desa Panjangrejo Tahun 2006
No. 1. 2. 3. 4. 5. Jenis Penggunaan Lahan Tanah Sawah Tegalan Permukiman / Tempat Tinggal Jalan dan Kuburan Tanah Wakaf Luas (Ha)
348,611 6,74 167,225 5,019 0,528 528,358

Persentase (%)
65,98 1,32 31,65 0,95 0,1

Jumlah Sumber : Monografi Desa Panjangrejo, Tahun 2006

100

Pemanfaatan lahan untuk areal persawahan di Desa Panjangrejo mencapai lebih dari separuh luas seluruh lahan, yaitu 65,98 persen. Ini

menunjukkan penduduk Desa Panjangrejo masih sangat menggantungkan hidupnya dari aktivitas bercocok tanam. Sepertiga luas lahan dimanfaatkan

penduduk sebagai tempat tinggal atau pemukiman, yang di dalamnya termasuk juga sekolah, kantor, PUSKESMAS, dan sebagainya. Urutan pemanfaatan lahan dengan proporsi lebih kecil lainnya dipakai untuk tegalan, jalan serta tanah wakaf yang biasanya dimanfaatkan untuk keperluan sarana umum seperti rumah ibadah.

58

Luas kepemilikan sawah oleh petani pada umumnya relatif sempit, meskipun proporsi penggunaan lahan untuk areal persawahan di desa ini paling besar. Hasil survei penelitian menunjukkan kepemilikan sawah kurang dari 0,5 hektar per kepala keluarga petani. Petani yang memiliki sawah seluas 1000 m2 (0,1 hektar) hanya memperoleh hasil panen padi sebanyak 3 – 4 kuintal gabah kering per panen, dengan frekuensi panen 3 kali setahun. Hasil panen yang demikian kecil hanya akan dapat memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga saja (pertanian subsisten). Sebagian lainnya akan terkadang dijual untuk menambah penghasilan sehingga bisa dibelanjakan untuk keperluan lainnya dengan harga jual beras di tingkat petani Rp3.800 per kilo (Mei 2008). Perolehan pendapatan yang kecil ini mendorong penduduk di pedesaan untuk mencari penghasilan di luar sektor pertanian, salah satunya yaitu industri kecil dan rumah tangga. Lahan-lahan pertanian, selain sawah milik para petani yang ditanami padi, diselingi kedelai dan bawang merah, juga terdapat lahan yang disewa perkebunan swasta dan ditanami tanaman tebu. Mereka memperkerjakan buruh tani setempat untuk menanam tebu dan hasilnya akan disetor ke pabrik gula Madukismo.

3.1.6. Sarana Infrastruktur Tingkat perkembangan suatu wilayah dapat diamati salah satunya dari sarana infrastruktur yang tersedia. Sarana infrasruktur berfungsi sebagai sarana penunjang yang akan mempermudah masyarakat dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Sarana infrastruktur yang baik akan memacu tumbuhnya aktivitasaktivitas sosial maupun ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, dalam perencanaan

59

pengembangan wilayah, keadaan sarana dan prasarana penunjang menjadi sangat penting selain pertimbangan kondisi sumber daya alam dan sumber daya manusia.

3.1.6.1. Sarana dan Prasarana Transportasi Perbedaan sumber daya antara suatu daerah dengan daerah lain akan mendorong terjadinya interaksi antar wilayah berupa kegiatan tukar menukar atau perdagangan. Pada tahap selanjutnya interaksi ini tidak hanya berupa perpindahan barang dan jasa, tapi juga mobilitas penduduk antar daerah yang berbatasan. Kelancaran arus barang dan jasa serta kemudahan mobilitas penduduk antar wilayah pada akhirnya akan berpengaruh terhadap pembangunan wilayah tersebut. Untuk mendukung arus pergerakan barang dan jasa maupun mobilitas penduduk, diperlukan prasarana dan sarana transportasi yang memadai. Prasarana dan sarana transportasi terdiri dari jalan dan alat transportasi. Untuk memudahkan aksessibilitas penduduk, keberadaan jaringan jalan sangat penting. Keberadaan jalan sebagai penghubung antara suatu daerah dengan daerah sekitarnya, merupakan hal pertama yang harus ada sebelum tersedia alat-alat transportasi yang lain. Kondisi jalan yang baik akan memperlancar arus barang dan jasa antar daerah. Secara umum jalan-jalan penghubung antara Desa Panjangrejo dengan desa-desa yang berdekatan sudah cukup baik, berupa jalan beraspal. Jalan antar dusun juga cukup baik, sebagian besar telah beraspal atau diperkeras dengan batu. Pada saat gempa, terjadi kerusakan sebagian badan jalan yang kemudian diperbaiki dengan dasar batu-batu dan tanah lempung dari desa setempat. Bagian-

60

bagian inilah yang lama kelamaan menjadi tidak rata, karena sifat kembang-kerut tanah lempung itu sendiri. Sarana transportasi adalah alat yang mengantar manusia, barang maupun jasa dari suatu daerah ke daerah lain, baik berupa sepeda motor, mobil, dan sebagainya. Berikut disajikan sarana penghubung di Desa Panjangrejo, berupa panjang jalan dan alat angkutan yang dipakai penduduk dalam melakukan mobilitasnya. Tabel 3.2 Sarana Infrastruktur dan Transportasi Di Desa Panjangrejo Jalan dan jembatan (km) Jalan dusun 26.500 Gang 34.305 Jembatan 26 Alat Transportasi Jenis Jumlah Persentase (unit) (%) Sepeda 1.799 61,5 Sepeda motor 1.086 37,1 Bus 4 0,1 Mobil 6 0,2 Mobil Pick Up 18 0,6 Becak 13 0,4 Total 2.926 100

Sumber: Monografi Desa Panjangrejo Tahun 2006

Tabel 3.2 menggambarkan alat transportasi pribadi yang digunakan masyarakat Desa Panjangrejo dalam melakukan mobilitas sehari-hari. Sedangkan angkutan umum yang beroperasi di dalam Desa Panjangrejo sampai saat ini belum ada. Trayek angkutan umum yang tersedia hanyalah angkutan dari Kota Yogya dengan tujuan Parangtritis. Persentase masyarakat yang menggunakan sepeda sangat besar yaitu mencapai 61,5 persen, disusul sepeda motor sebanyak 1.086 unit atau 37,1 persen. Kedua jenis kendaraan ini banyak dipakai karena lebih murah dibanding kendaraan roda empat lainnya, baik dari segi perawatan maupun bahan bakar. Kendaraan roda dua ini digunakan penduduk selain untuk bepergian

61

ke tempat-tempat sekitarnya, juga mendukung kegiatan usaha, misalnya mengantar barang hasil industri ke desa-desa lain, atau ke Kota Yogya. Industri yang dikerjakan penduduk sebagian besar adalah industri rumah tangga yang hasil produksinya tidak terlalu banyak. Oleh karena itu penggunaan sepeda dan sepeda motor akan lebih efisien dari segi ongkos angkutnya. Kendaraan roda empat seperti mobil, bus dan mobil pick up berjumlah 37 unit, di antaranya terdapat bus 4 unit dan mobil bak terbuka (jenis pick up) 18 unit. Bus dan mobil bak terbuka merupakan jenis kendaraan yang biasanya dipakai untuk usaha. Jenis kendaraan lainnya adalah becak berjumlah 13 unit, juga digunakan untuk mencari penghasilan pemiliknya, baik untuk mengangkut penumpang, barang hasil pertanian dan lainnya dengan jarak angkut yang tidak terlalu jauh dalam desa.

3.1.6.2.

Sarana Komunikasi Perkembangan suatu wilayah selain dipengaruhi oleh sarana transportasi,

juga dipengaruhi oleh sarana komunikasi yang berperan memperlancar arus informasi penduduk suatu daerah terhadap dunia luar. Hal ini berguna dalam memperluas wawasan masyarakat terhadap pengetahuan, maupun peristiwa yang sedang terjadi di tempat-tempat lain, disamping memudahkan penduduk untuk saling berkomunikasi. Sarana komunikasi yang tersedia di Desa Panjangrejo sebagai berikut.

62

No . 1. 2. 3. 4.

Tabel 3.3 Jenis Alat Komunikasi Di Desa Panjangrejo Alat Komunikasi Jumlah (unit) Radio Televisi Telepon Warung telekomunikasi Jumlah 1.154 1.507 76 2 2.739

Sumber: Monografi Desa Panjangrejo Tahun 2006

Alat komunikasi yang paling banyak digunakan adalah radio dan televisi. Saat ini kepemilikan televisi dan radio sudah bukan menjadi barang mewah bagi sebagian besar masyarakat. Kepemilikan radio dan televisi yang hampir merata di semua lapisan masyarakat akan mempermudah akses informasi baru dan pengetahuan masyarakat akan perkembangan daerah lain. Jumlah sambungan telepon rumah (fixed telephone) sebanyak 76 unit ditambah warung telekomunikasi 2 unit. Kepemilikan telepon bergerak nirkabel (mobile phone) sebenarnya telah banyak dimiliki masyarakat, tapi tidak terdata.

3.2.

Kondisi Sosial Demografi

3.2.1. Kependudukan Penduduk merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan, karena penduduk sebagai sumberdaya manusia, merupakan subjek pelaksana pembangunan sekaligus merupakan objek atau sasaran utama hasil pembangunan itu sendiri. Kondisi kependudukan menguraikan aspek kependudukan Desa Panjangrejo meliputi jumlah, pertumbuhan dan kepadatan penduduk, komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin, komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan, dan komposisi penduduk menurut jenis pekerjaan.

63

Karakteristik penduduk di suatu daerah dapat diketahui melalui komposisi penduduk menurut umur, jenis kelamin dan rasio beban tanggungan. Dalam perencanaan daerah khususnya di bidang kependudukan, data ini berguna antara lain dalam menentukan jumlah kebutuhan fasilitas pendidikan dan kesehatan, perumahan, atau penyediaan lapangan pekerjaan.

3.2.2. Jumlah, Kepadatan dan Pertumbuhan Penduduk Berdasarkan data regristrasi penduduk Mei 2008, jumlah penduduk di Desa Panjangrejo tercatat 11.232 jiwa. Menempati wilayah seluas 528,3 hektar, kepadatan penduduk desa ini di Tahun 2008 adalah 2.119 jiwa per kilometer per segi. Angka kepadatan ini tergolong sangat tinggi, khususnya bagi daerah pedesaan Pertumbuhan penduduk di Desa Panjangrejo antara tahun 2006 – 2008 adalah 4,5 persen per tahun.

Klasifikasi yang dipakai dalam menentukan kelas kepadatan penduduk Desa Panjangrejo ditampilkan pada tabel 3.4 berikut. Tabel 3.4. Klasifikasi Kepadatan Penduduk Desa Panjangrejo
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kelas Kepadatan Penduduk Sangat tinggi sekali Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah Jumlah Penduduk (jiwa/ km2) > 3000 2001 – 3000 1001 – 2000 501 – 1000 101 – 500 < 100

Sumber: Desa Panjangrejo, Tahun 2001

Angka pertumbuhan penduduk yang tinggi di pedesaan akan mengancam semakin sempitnya luas lahan pertanian akibat konversi ke lahan pertanian ke

64

pemukiman, yang selanjutnya menambah angka pengangguran dari sektor pertanian.

3.2.3. Komposisi Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin Informasi komposisi penduduk berguna dalam antara lain dalam perencanaan kependudukan berkaitan dengan pembangunan sumberdaya manusia di suatu daerah, misalnya jumlah fasilitas kesehatan maupun pendidikan yang diperlukan di suatu daerah. Data penduduk Desa Panjangrejo Tahun 2006 (pencatatan setelah gempa) menyatakan jumlah penduduk sebesar 10.268 jiwa, terdiri dari 4.849 jiwa penduduk laki-laki dan 5.419 jiwa berjenis kelamin perempuan sehingga rasio jenis kelamin (sex ratio) antara penduduk laki-laki dan perempuan adalah 89,5. Artinya dari seratus perempuan, terdapat 89 penduduk laki-laki. Di masyarakat yang menganut budaya patriarki, seperti umumnya masyarakat di Jawa, penduduk laki-laki biasanya berperan sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga, karena para wanita banyak menghabiskan waktunya di sektor domestik. Karena itu semakin kecil proporsi pria, pencari nafkah akan menanggung beban ekonomi yang semakin besar. Semakin besar proporsi penduduk perempuan juga bisa diasumsikan bahwa pertumbuhan penduduk akibat kelahiran juga akan semakin besar. Komposisi penduduk berdasarkan kelompok umur dapat terlihat dari Tabel 3.5 berikut.

65

Tabel 3.5 Komposisi Penduduk Desa Panjangrejo Menurut Kelompok Umur
Kelompok Umur (tahun) 0–4 5–9 10 – 14 15 – 19 20 + Jumlah Jumlah (jiwa) 829 787 749 793 7110 10.268

Sumber: Monografi Desa Panjangrejo, Tahun 2006

Jumlah balita pada tahun 2006 adalah 829 orang, atau 7,8 persen penduduk. Sedangkan penduduk usia sekolah dari tingkat sekolah dasar hingga tingkat sekolah lanjutan atas berjumlah 2.329 orang atau 21, 9 persen penduduk.

3.2.4. Rasio Beban Tanggungan Rasio beban tanggungan yaitu jumlah penduduk nonproduktif berusia 0 – 14 dan 65+ tahun yang ditanggung oleh setiap penduduk usia produktif (berusia 15 – 64 tahun). Angka beban tanggungan yang semakin tinggi merupakan penghambat pembangunan, khususnya di bidang ekonomi. Ini disebabkan sebagian penghasilan yang diperoleh penduduk usia produktif harus dipakai untuk memenuhi kebutuhan penduduk nonproduktif lainnya. Di negara berkembang, proporsi penduduk usia anak-anak biasanya cukup tinggi, sehingga rasio beban tanggungan juga relatif tinggi. Berdasarkan komposisi penduduk menurut umur, rasio beban

tanggungan penduduk Desa Panjangrejo adalah 53,4. Nilai 53,4 untuk rasio beban tanggungan bermakna bahwa setiap 100 penduduk usia produktif akan menanggung 53 orang penduduk usia non produktif. Secara singkat dipahami bahwa satu orang usia produktif harus menanggung 1 sampai 2 orang

66

nonproduktif lainnya. Adapun jumlah penduduk usia kerja berusia di desa ini pada tahun 2006 adalah 7.903 orang.

3.2.5. Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan merupakan faktor penting dalam pengembangan sumber daya manusia. Tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap kualitas hidup penduduk, baik dalam cara berpikir, menyerap ilmu pengetahuan, maupun dalam menerima dan menerapkan inovasi baru yang akan meningkatkan taraf hidup mereka. Terdapat suatu kecenderungan semakin maju suatu daerah, semakin tinggi tingkat pendidikan penduduknya. Selain menggambarkan keberhasilan program pemerintah dalam melaksanakan program wajib belajar, tingkat pendidikan secara tidak langsung juga mencerminkan kondisi

kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakatnya. Suatu daerah dikatakan maju apabila kesadaran masyarakatnya untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke tingkat yang lebih tinggi telah cukup baik. Pendidikan yang baik ini dapat diwujudkan apabila masyarakat telah lebih dahulu terpenuhi kebutuhan pokok lainnya seperti pangan dan papan. Tabel 3.6 Komposisi Penduduk Desa Panjangrejo Menurut Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan Jumlah penduduk (orang) Persentase

SD SLTP SLTA Perguruan Tinggi Jumlah Terdata
Sumber: Monografi Desa Panjangrejo, Tahun 2006

3.045 1.615 2.064 311 7.035

43,3 23.0 29.3 4.4 100

67

Data jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan di atas mencakup 68,5 persen dari jumlah penduduk tahun 2006. Angka ini tentu saja tidak memasukkan penduduk yang belum memasuki usia sekolah seperti balita berusia 0 – 4 tahun, mereka yang mungkin belum menamatkan atau masih bersekolah di tingkat pendidikan dasar (berusia 5 – 9 tahun dan 10 – 12 tahun), serta penduduk yang tidak bersekolah sama sekali atau tidak menyelesaikan sekolah dasar. Angka di atas menunjukkan bahwa hampir separuh (43,3 persen) penduduk hanya mengenyam pendidikan setingkat Sekolah Dasar, sedangkan mereka yang berpendidikan SLTA dan Perguruan Tinggi mencapai lebih dari 30 persen, atau 1 dari 3 orang penduduk Desa Panjangrejo telah berpendidikan relatif tinggi. Hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk berusia 45 tahun ke atas hanya bersekolah setingkat sekolah dasar. Generasi lebih muda yang berusia 30-an tahun rata-rata telah menempuh pendidikan setingkat sekolah lanjutan pertama, sedangkan mereka yang berusia 15 tahun sampai 25 tahun sebagian besar sedang menempuh atau telah menamatkan pendidikan setingkat sekolah lanjutan atas. Semakin membaiknya tingkat pendidikan penduduk dari generasi ke generasi lebih dikarenakan semakin membaiknya kondisi perekonomian penduduknya. Seperti diungkapkan beberapa orang penduduk dari kelompok pertama bahwa keinginan melanjutkan sekolah sebenarnya cukup tinggi, namun sekolah mereka terpaksa berhenti karena ketiadaan biaya yang mengharuskan mereka segera bekerja di usia sekolah. Keputusan bersekolah untuk memperoleh keterampilan sehingga dapat bekerja setelah lulus juga tampak dari beberapa temuan murid setingkat SLTA yang lebih

68

memilih sekolah kejuruan atau SMK. Di sekolah-sekolah ini selain memperoleh pelajaran dengan kurikulum yang diberikan di sekolah nonkejuruan, mereka juga mendapat keterampilan sesuai jurusan yang diminati, seperti boga, permesinan dan bahkan teknik industri keramik sehingga dapat mengembangkan industri gerabah yang telah berkembang di Desa Panjangrejo.

3.2.6. Komposisi Penduduk Menurut Matapencaharian Matapencaharian penduduk mencerminkan kondisi sosial ekonomi masyarakat serta interaksi manusia terhadap sumber daya fisik dan nonfisik suatu wilayah lewat usaha penduduk mencari penghasilan. Di daerah pedesaan, karakteristik yang menonjol adalah budaya agrikultur masyarakatnya. Ciri ini tercermin dalam pemanfaatan lahan sebagai lahan pertanian, seperti sawah dan tegalan. Selain tanaman pangan dan hortikultura, bentuk kegiatan pertanian lain dapat berupa perkebunan, perikanan dan peternakan. Seiring pesatnya pertumbuhan penduduk, kebutuhan lahan pemukiman semakin meningkat, diikuti semakin luasnya alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan nonpertanian dan pemukiman. Ini menyebabkan produktivitas lahan pertanian berkurang dan pendapatan dari bidang pertanian tidak lagi menjadi satu-satunya tumpuan hidup bagi keluarga petani di pedesaan. Berbagai kesulitan yang dialami petani seperti kesulitan pupuk, serangan hama pengganggu dan kegagalan panen membuat masyarakat dengan budaya agraris ini semakin sulit bertahan hidup dengan hanya mengandalkan hasil pertanian. Kondisi ini mendorong munculnya kegiatankegiatan ekonomi pedesaan di luar bidang pertanian, yaitu industri kecil dan

69

rumah tangga. Industri-industri ini biasanya masih berkaitan dengan hasil pertanian misalnya produk olahan hasil pertanian berupa makanan ringan yang bahan bakunya berasal dari desa setempat. Industri kecil dan rumah tangga di pedesaan juga dapat muncul dengan memproduksi benda-benda yang dibuat melalui keterampilan yang telah menjadi budaya turun-temurun masyarakatnya. Industri dikenal dengan industri kerajinan. Tabel 3.7 menunjukkan komposisi penduduk Desa Panjangrejo menurut matapencaharian. Tabel 3.7 Komposisi Penduduk Desa Panjangrejo Menurut Matapencaharian
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Matapencaharian Pegawai Negeri Sipil TNI POLRI Pensiunan Karyawan Industri kecil dan rumah tangga Petani Peternak Pedagang Jumlah Jumlah (orang) 633 94 102 315 1.527 2.111 992 105 24 5.903 Persentase (%) 10,7 1,6 1,7 5,3 25,9 35,8 16,8 1,8 0,4 100

Sumber: Monografi Desa Panjangrejo Tahun 2006

Matapencaharian terbesar penduduk Desa Panjangrejo adalah industri kecil dan rumah tangga, sebanyak 35,8 persen. Proporsi terbesar kedua ditempati oleh profesi karyawan. Penduduk yang mencari penghasilan dari hasil pertanian dan peternakan masing-masing hanya sebesar 16,8 persen dan 1,8 persen. Terlihat bahwa industri kecil lebih banyak ditekuni oleh penduduk dibanding pertanian. Ini dapat disebabkan oleh kepemilikan lahan yang relatif sempit oleh petani, hanya beberapa petani saja yang memiliki lahan cukup luas yang dapat menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian. Kepemilikan lahan yang sempit terjadi karena budaya pembagian tanah warisan untuk setiap anak, sehingga tak heran, semakin

70

lama luas lahan yang dimiliki petani akan semakin sempit. Industri kecil dan rumah tangga banyak ditekuni masyarakat selain sebagai alternatif pekerjaan bagi mereka yang sebelumnya menekuni sektor pertanian, jenis industri ini biasanya juga tidak memerlukan modal yang besar dan mudah dipelajari sehingga tidak sulit dilakukan oleh penduduk pedesaan. Profesi karyawan banyak dipilih oleh mereka yang berpendidikan minimal setingkat SLTP dan SLTA. Penduduk yang bekerja sebagai karyawan umumnya memperoleh rasa aman akan penghasilan tetap yang diperoleh tiap bulan, atau periode tertentu, berbeda dengan industri atau usaha wirausaha lain yang penghasilannya tidak stabil.

3.3.

Sejarah Industri Gerabah Desa Panjangrejo merupakan salah satu desa di Kecamatan Pundong

yang berkembang sebagai sentra industri gerabah selain Desa Srihardono. Awal mulanya industri gerabah ini berada di tiga dusun, yaitu Dusun Jetis, Dusun Semampir, dan Dusun Nglorong. Jumlah industri gerabah di ketiga dusun ini paling banyak dibanding dusun-dusun lain di Desa Panjangrejo, Kecamatan Pundong. Produk yang dihasilkan oleh Desa Panjangrejo telah merambah pasar luar negeri seperti Australia, Belanda, dan Amerika dengan sistem pemasaran melalui broker atau eksportir. Aktivitas produksi gerabah di Desa Panjangrejo diperkirakan telah ada sejak tahun 1970-an. Keterampilan membuat gerabah ini diperoleh secara turun-temurun dari orang tua mereka yang kemudian berkembang hingga sekarang. Pada awalnya produk gerabah yang dihasilkan berupa alat-alat dapur seperti kendi, kemaron, tempat minum burung, keren, kuali

71

dan padasan. Pemasaran produknya saat itu masih sangat terbatas karena kondisi sarana dan prasarana transportasi serta sarana komunikasi yang sangat terbatas. Perhatian pemerintah desa kepada pengusaha gerabah mulai diberikan sekitar tahun 1974 dengan memberikan pelatihan keterampilan membuat gerabah. Tujuan pelatihan ini yaitu untuk mengembangkan kualitas gerabah sehingga diharapkan industri ini mampu bertahan dan berkembang. Selanjutnya bantuan dari pihak lain baik instansi maupun individu mulai berdatangan. Industri gerabah di Desa Panjangrejo mulai mengalami perkembangan sangat pesat sejak para pengusahanya memperoleh pelatihan membuat gerabah yang berkualitas dan bernilai seni tinggi yang dipandu oleh Ibu Suliantoro Sulaiman antara tahun 1974 – 1980. Kondisi ini mendorong inisiatif para pengusaha untuk membentuk paguyuban dengan nama “Siti Kencono“ yang masih bertahan hingga saat ini. Pada tahun 1988, Desa Panjangrejo ditetapkan sebagai sentra industri gerabah binaan PKK Kabupaten Bantul, STTNAS, AKSERI, dan ISI Yogyakarta. Pembinaan diarahkan pada peningkatan kualitas dan kuantitas gerabah, termasuk dalam hal desain. Berbekal peningkatan keahlian yang diperoleh, para pengusaha gerabah mulai memperkaya ragam produk. Barang yang dihasilkan tidak lagi terbatas pada barang tradisional kebutuhan rumah tangga di dapur, namun lebih jauh telah berkembang pada benda-benda dekoratif bernilai seni, seperti vas bunga, guci, asbak, tempat lilin, dan cinderamata. Dalam pemasarannya, telah terjalin kerja sama dengan pengusaha gerabah di Kasongan. Kerja sama ini berupa pemasaran gerabah dari Desa

72

Panjangrejo di Kasongan. Dalam perkembangannya, beberapa unit industri gerabah di Kec. Pundong yang mempunyai akses langsung ke pasar ekspor bahkan telah merambah pasar luar ekspor dengan negara tujuan Australia, Amerika, dan Belanda meskipun masih dalam skala kecil (Joewono, 2006). Dampak Bom Bali I (tahun 2002) dan II (tahun 2005) telah memukul industri gerabah di Pundong. Pesanan dari luar negeri berkurang, disebabkan para trader luar negeri khususnya yang berasal dari Eropa dan Australia khawatir untuk berkunjung ke Indonesia. Terlebih lagi pemasaran produk gerabah Pundong sangat bergantung pada pesanan setengah jadi ke daerah-daerah pengekspor

seperti Kasongan, Bali, Surabaya dan Jakarta. Berkurangnya wisatawan luar negeri akan berdampak pada menurunnya pesanan ke desa ini. Setelah beberapa tahun kemudian industri ini kembali bangkit, gempa yang terjadi tahun 2006 kembali memporakporandakan industri gerabah di Desa Panjangrejo. Saat ini meskipun rumah-rumah penduduk dan tempat usaha telah selesai direkonstruksi (Mei 2008), volume pemesanan belum beranjak meningkat. Beberapa pengusaha mengatakan semenjak gempa banyak pelanggan khususnya dari luar negeri yang putus jaringan pemasarannya. Kurangnya promosi guna mengabarkan kondisi industri gerabah Pundong yang saat ini sudah mulai pulih merupakan salah satu penyebab.

3.4.

Kerusakan Infrastruktur dan Tempat Tinggal Akibat Gempa Di Kecamatan Pundong terdapat 3 desa yang ketiganya menderita

kerugian cukup besar akibat gempa. Desa Panjangrejo merupakan satu dari tiga

73

desa di Kecamatan Pundong selain Srihardono dan Seloharjo dengan kerusakan paling parah akibat gempa. Data yang diperoleh dari Kantor Kecamatan Pundong disajikan pada Tabel 3.8. Tabel 3.8 Kerusakan Fasilitas Umum Akibat Gempa Di Desa Panjangrejo
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Nama Gedung Kantor Pemerintah PUSKESMAS Masjid Mushola Gereja Jalan Desa*(km) Gedung Sekolah Saluran irigasi *(km) Jumlah *(tanpa jalan desa dan saluran irigasi) Rusak Total (unit) 0 0 26 9 2 *2 23 *0 62 Rusak Berat (unit) 1 1 2 0 0 0 0 22 26 Rusak Ringan (unit) 1 1 0 2 0 0 0 0 4

Sumber: Kantor Kecamatan Pundong, 2006

Kerusakan yang terjadi mencakup fasilitas umum dan rumah tinggal serta sarana dan prasarana infrastruktur desa. Kerusakan terparah banyak terjadi pada sarana-sarana ibadah. Kerusakan jalan desa sepanjang 2 kilometer berdampak pada terganggunya kegiatan perekonomian masyarakat. Kerusakan tempat tinggal menurut verifikasi Satuan Tugas Sosial Penanggulangan Bencana (Satgassos PB) Pundong, Juli 2006 disajikan Tabel 3.9. Tabel 3.9 Jumlah Kerusakan Rumah dan Realisasi Rekonstruksi Pasca Gempa Di Desa Panjangrejo Kecamatan Pundong
Jenis Kerusakan Rumah Jumlah (unit) Jumlah Terbangun (Unit) Sumber Dana Rusak Total Rusak Berat Rusak Ringan Total 2.270 433 78 2.781 Jumlah (unit)

APBN
JRF (Java Reconstruction Fund) Total

2.293
375 2.668

Sumber: Diolah dari Laporan Koordinator Satgassos PB Pundong, Juli 2006

74

Data di atas menunjukkan sebagian besar rumah penduduk mengalami kerusakan total atau roboh. Dua tahun pasca gempa, seiring dengan berakhirnya tugas Tim Teknis Nasional Penanggulangan Bencana Gempa Yogyakarta pada tanggal 3 Juli 2008, seluruh rencana rekonstruksi bangunan baik rumah tinggal maupun fasilitas umum telah selesai dibangun (Kedaulatan Rakyat, 19 Juli 2008). Sebagian besar dana rekonstruksi berasal dari APBN yang disalurkan melalui kelompok masyarakat (POKMAS). Sebanyak 95.9 persen rumah yang mengalami kerusakan akibat gempa direkonstruksi dengan biaya dari APBN atau LSM, dan sisanya dibangun secara swadaya oleh masyarakat sendiri.

75

BAB IV KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI PENGUSAHA

Upaya yang dilakukan pengusaha dalam mempertahankan usaha mereka tidak terlepas dari karakteristik pengusaha, baik karakteristik sosial maupun demografis. Bab ini akan menguraikan kondisi sosial ekonomi pengusaha yang ditinjau dari aspek demografis dan aspek sosial pengusaha.

4.1. Karakteristik Demografi Pengusaha 4.1.1 Karakteristik Pengusaha Menurut Jenis Kelamin Komposisi pengusaha menurut jenis kelamin tidak menunjukkan perbedaan berarti antara laki – laki dan perempuan, bahkan cukup berimbang dengan perbandingan 56,7 persen laki-laki dan 43,3 persen perempuan. Perimbangan proporsi pengusaha berdasarkan jenis kelamin ini menunjukkan bahwa industri gerabah dapat dikerjakan baik oleh laki-laki atau perempuan. Tabel 4.1 Komposisi Pengusaha Gerabah Menurut Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Total Jumlah (orang) 33 27 60 Persen (%) 55,0 45,0 100,0

Sumber : Diolah dari Data Primer, 2008

Pada umumnya industri ini dikerjakan di rumah-rumah penduduk, sehingga bagi kaum perempuan pekerjaan ini tidak mengganggu peran mereka di sektor domestik karena dapat dilakukan tanpa harus meninggalkan rumah. Sebagaimana umumnya industri rumah tangga, anggota keluarga biasanya ikut

76

dilibatkan dalam menjalankan usaha ini, baik sebagai pekerja dengan atau tanpa dibayar. Anggota keluarga laki-laki bertugas mengangkut tanah dan menggiling tanah, dan mengantarkan produk gerabah mereka ke pemesan, sedangkan pekerjaan memproduksi gerabah hingga pembakaran biasanya dilakukan bersamasama anggota keluarga perempuan.

4.1.2

Karakteristik Pengusaha Menurut Umur Informasi umur pengusaha berkaitan dengan produktivitas usaha, dengan

asumsi pengusaha berusia muda akan lebih mampu secara fisik untuk memproduksi atau memasarkan produk lebih banyak. Umur pengusaha juga berkaitan dengan pengalaman usaha, serta motivasi kerja. pengusaha ditunjukkan pada Tabel 4.2. Tabel 4.2 Komposisi Pengusaha Menurut Umur
Umur (tahun) 30 – 39 40 – 49 50 + Jumlah total Jumlah (orang) 17 17 26 60 Persen 28,3 28,3 43,4 100,0

Komposisi umur

Sumber: Diolah data primer, Tahun 2008

Dengan membagi pengusaha ke dalam kelompok umur kurang dari 40 tahun dan lebih dari 40 tahun, tampak bahwa pengusaha berusia 40 tahun ke atas menempati proporsi paling besar. Jumlah pengusaha berusia kurang dari 40 tahun berjumlah 17 orang dari total 60 pengusaha yang didata atau hanya 28,3 persen, dan sisanya atau lebih dari 70 persen pengusaha berusia lebih dari 40 tahun. Pengusaha berusia kurang dari 40 tahun pada umumnya memiliki rentang waktu menjalankan usaha yang lebih singkat dari mereka yang berusia 40 tahun ke atas.

77

Demikian halnya dengan motivasi kerja. Pengusaha berusia kurang dari 40 tahun saat ini berhadapan dengan kebutuhan memenuhi kebutuhan hidup keluarga serta menanggung biaya anak-anak yang masih bersekolah. Hal yang berbeda kemungkinan terjadi pada pengusaha berusia 50 tahun ke atas. Bagi mereka, usaha membuat gerabah biasanya hanya menjadi usaha sampingan guna mendapatkan tambahan penghasilan yang dipakai memenuhi kebutuhan hidup sendiri, selain memperoleh bantuan dari anak-anak mereka yang telah bekerja. Rendahnya persentase pengusaha industri gerabah berusia muda antara lain disebabkan rendahnya penghasilan yang diperoleh dari industri ini dibandingkan dengan pekerjaan sebagai pedagang, buruh konstruksi atau karyawan. Kecenderungan penurunan minat di usaha ini juga tampak pada generasi muda berusia 20-an tahun.Pengusaha gerabah usia 60 tahun ke atas telah banyak yang berhenti, sehingga usaha industri gerabah diteruskan oleh anak-anak mereka. Bagi pengusaha berusia lanjut tidak ada kewajiban lagi bagi mereka untuk tetap bekerja karena biaya hidupnya telah ditanggung anggota keluarga yang lebih muda.

4.1.3

Jumlah Anggota Rumah Tangga Salah satu karakteristik industri kecil dan rumah tangga adalah adanya

keterlibatan tenaga kerja yang berasal dari anggota rumah tangga. Dalam konteks ini, anggota rumah tangga bagi pengusaha dapat dinilai sebagai beban tanggungan sekaligus faktor produksi. Anggota rumah tangga dapat dianggap sebagai beban tanggungan karena kebiasaan seluruh anggota rumah tangga makan dari satu dapur, artinya penghasilan yang diperoleh kepala rumah tangga dan anggota lain

78

dipakai untuk memenuhi kebutuhan bersama. Di sisi lain anggota rumah tangga merupakan faktor produksi karena anggota rumah tangga menyumbangkan tenaga dan pikiran mereka dalam menjalankan kegiatan produksi dalam industri kerajinan gerabah. Namun demikian, untuk meneliti peran anggota keluarga sebagai faktor produksi perlu meninjau lebih jauh aspek usia anggota keluarga, dan alokasi waktu terbanyak yang dihabiskan anggota keluarga tersebut. Dalam penelitian ini, jumlah anggota keluarga lebih dianggap sebagai beban tanggungan bagi rumah tangga pengusaha industri gerabah. Keterlibatan anggota rumah tangga sebagai tenaga kerja sebagian besar merupakan tenaga kerja tak dibayar. Penghasilan yang diperoleh dari industri sepenuhnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup pengusaha dan keluarganya. Hal ini didukung rasa kekeluargaan yang erat dengan pemahaman bahwa tenaga yang diberikan pada industri milik keluarga merupakan kewajiban setiap anggota keluarga untuk membantu ekonomi keluarga. Namun demikian, penulis juga menemukan adanya penerapan sistem upah bagi pekerja rumah tangga. Hal ini ditemukan pada beberapa unit usaha berskala kecil dengan frekuensi pesanan yang relatif stabil setiap bulan yang memiliki nilai produksi rata-rata di atas Rp2000.000 per bulan. Seiring dengan terjadinya penurunan jumlah pesanan yang menurut sejumlah pengusaha mencapai 50 persen pasca gempa, salah seorang pengusaha yang sebelumnya menerapkan sistem upah bagi pekerja rumah tangga kini tak lagi membayar tenaga kerja rumah tangga. Adapun jumlah para pengusaha gerabah terlihat pada Tabel di 4.3.

79

Tabel 4.3 Jumlah Anggota Rumah Tangga Pengusaha
Jumlah anggota rumah tangga Jumlah pengusaha (orang) (orang) 1–4 39 >4 21 Jumlah Total 60
Sumber : Diolah dari Data Primer 2008

Persentase (%) 65,0 35,0 100,0

Jumlah anggota rumah tangga pengusaha sebagian besar atau 65 persen berkisar 1– 4 orang, 35 persen lainnya memiliki jumlah anggota keluarga lebih dari 4 orang. Hanya ada satu pengusaha dengan anggota rumah tangga 7 orang. Mereka yang memiliki anggota rumah tangga 3 – 4 orang adalah pengusaha yang berasal dari golongan muda berusia kurang 40 tahun, dengan ciri keluarga muda dengan anak-anak berusia sekolah dasar. Anggota rumah tangga 1 – 2 biasanya dimiliki pengusaha berusia lanjut lebih dari 60 tahun. Pada pengusaha ini, biasanya anak-anak mereka sudah cukup dewasa dan memilih untuk meninggalkan desa ini guna mencari pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik sebagai karyawan atau pedagang.

4.2. Karakteristik Sosial Ekonomi Pengusaha 4.2.1. Pendidikan Pendidikan pengusaha mencerminkan kemampuan pengusaha dalam menerima ilmu pengetahuan baru dan kemampuan berpikir dalam upaya mengembangkan usahanya. Sikap mudah menerima hal baru ini tampak dari kesediaan seseorang menerima saran, atau mengubah kebiasaan baik berkaitan keseharian atau usaha mereka agar mencapai hasil yang ebih baik di kemudian hari. Pendidikan secara tidak langsung juga meningkatkan kepercayaan diri

80

seseorang dalam pergaulan, yang dalam konteks usaha merupakan salah satu celah memperluas jaringan pemasaran. Tabel 4.4 Komposisi Pengusaha Industri Gerabah Menurut Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan Tidak sekolah SD SLTP SLTA Jumlah Total Jumlah (orang) 5 33 14 8 60 Persentase (%) 8,4 55,0 23,3 13,3 100

Sumber : Diolah dari Data Primer 2008

Penelitian ini menunjukkan lebih dari 80 persen pengusaha gerabah berpendidikan rendah, yaitu kurang dari SLTA, bahkan 55 persen di antaranya hanya berpendidikan sekolah dasar. Mereka yang berpendidikan sekolah lanjutan atas hanya 13 persen dari keseluruhan pengusaha. Rendahnya tingkat pendidikan pengusaha ini tidak terlepas dari kondisi kemiskinan di masa lalu, mengingat sebagian besar pengusaha berusia lebih dari 40 tahun seperti diuraikan sebelumnya bahwa terlihat indikasi semakin membaiknya tingkat pendidikan penduduk Desa Panjangrejo dari generasi ke generasi.

4.2.2. Pendapatan dari Pekerjaan Lain Selain di industri gerabah, sebagian besar pengusaha industri gerabah lakilaki bekerja sebagai buruh tani dengan upah Rp20.000 per hari atau buruh bangunan dengan upah Rp35.000 per hari. Meskipun beberapa pengusaha memiliki sawah sendiri, namun karena luasnya sangat kecil yang berarti pula hasil panen juga sedikit, mereka masih bekerja sebagai buruh tani pada sawah milik petani lain untuk menambah penghasilan. Pekerjaan sebagai buruh tani hanyalah 81

pekerjaan selingan di kala musim tanam dan panen padi yang berlangsung selama kurang lebih 2 minggu. Pada masa itu pemilik sawah biasanya akan memerlukan tenaga tambahan, sedangkan untuk masa perawatan para petani lebih memilih melakukannya sendiri untuk menghemat biaya tenaga kerja. Di Desa Panjangrejo padi dapat dipanen 3 kali setahun, yang artinya para buruh tani akan bekerja dalam 3 kali masa tanam dan 3 kali masa panen dalam setahun. Pada saat penelitian dilakukan (Mei tahun 2008), Desa Panjangrejo tengah memasuki musim panen. Para perajin gerabah laki-laki yang juga buruh tani akan sibuk di sawah saat pagi hari, sedang para istri membuat gerabah di rumah. Selain tanaman padi, beberapa perajin yang juga petani menambah penghasilan dengan menanam bawang merah dan kedelai seusai panen padi. Dari sejumlah 60 responden yang didata, sebanyak 71,6 persen di

antaranya (43 orang) mengaku memiliki pekerjaan sampingan selain industri gerabah. Jenis pekerjaan yang dilakukan pengusaha selain industri gerabah tampak pada Tabel 4.5. Tabel 4.5 Jenis Matapencaharian Selain Industri Gerabah
Jenis pekerjaan Petani (lahan milik sendiri) Buruh tani Buruh nonpertanian (bangunan, dan lain-lain) Peternak Penambang pasir/batu Lainnya Jumlah terdata Jumlah hanya bekerja di industri gerabah N total
Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Jumlah pengusaha (orang) 14 13 9 3 2 2 43 17 60

Persentase (%) 23,3 21,7 15,0 5,0 3,3 3,3 71,7 28,3 100,0

Ini mengindikasikan industri gerabah belum cukup mampu diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga pengusaha gerabah. Selain jenis bertani,

82

usaha pengusaha gerabah dalam memperoleh penghasilan tambahan adalah dengan memelihara hewan ternak sapi dan menambang pasir di Kali Opak. Hasil dari ternak sapi diperoleh dengan menjual anak sapi berusia 4 bulan, yang bisa laku terjual dengan harga 2 – 4 juta rupiah per ekor, sedangkan dari menambang pasir responden mengaku memperoleh penghasilan sebesar Rp100.000 per bulan.

4.2.3. Lama Usaha dan Asal Keterampilan Usaha membuat kerajinan gerabah adalah tradisi turun-temurun yang diwariskan dari generasi ke generasi di Desa Panjangrejo. Tak heran jika hampir semua responden mengaku memperoleh keterampilan membuat gerabah dari orang tua, tetangga atau pernah menjadi pekerja di usaha gerabah di lingkungannya sebelum akhirnya membuka usaha sendiri. Penduduk berusia 40 tahun ke atas cenderung menjawab pekerjaan sebagai pengusaha gerabah telah ditekuni selama lebih dari sepuluh tahun meneruskan usaha orang tua mereka dahulu. Menurut penduduk setempat, keterampilan ini relatif mudah dipelajari, bahkan bagi penduduk pendatang, misalnya seorang di antaranya yaitu pengusaha asal Nusa Tenggara Barat bernama R. Beliau menjadi penduduk desa ini setelah menikah dengan penduduk setempat dan mulai menekuni usaha pembuatan gerabah dekoratif atau keramik sejak tahun 2000, berupa pot, vas bunga dan lainnya baik dengan metode cetak maupun putar. Beliau adalah salah satu pengusaha yang relatif sukses bahkan jika dibanding kebanyakan penduduk asal desa ini. Di lapangan, sebenarnya tidak dijumpai indikasi mencolok adanya

83

keterkaitan yang bisa diamati antara lama usaha dengan produksi, baik kualitas, dan nilai produksi. Salah seorang pengurus paguyuban pengusaha perajin, NA yang juga pengusaha gerabah mengungkapkan kemauan untuk belajar, keaktifan pengusaha dalam kegiatan yang diadakan kelompok pengrajin, saling bertukar pikiran dengan pengusaha lain akan sangat membantu pengembangan usaha. Namun sayangnya banyak pengusaha yang enggan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan semacam pelatihan, pertemuan-pertemuan antar sesama pengusaha gerabah, dengan alasan tidak ada hasil pendapatan yang bisa langsung diperoleh dari pertemuan-pertemuan tersebut. Padahal partisipasi mereka dalam kegiatankegiatan yang diadakan oleh perkumpulan pengusaha gerabah akan menambah pengetahuan yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas industri gerabah mereka.

84

BAB V KARAKTERISTIK INDUSTRI GERABAH

Kelangsungan usaha suatu industri tidak terlepas dari karakter unit usaha yang melatarbelakanginya. Karakter unit usaha yang berbeda akan memiliki nilai produksi dan waktu bangkit pasca gempa yang berbeda pula. Karakter unit usaha dalam penelitian ini meliputi kondisi unit usaha dan faktor-faktor produksi.

5.1. Kondisi Unit Usaha Kerusakan unit usaha akibat gempa menyebabkan unit usaha mengalami perubahan kondisi dibanding sebelum gempa. Adapun kondisi yang diamati pada unit usaha pasca gempa meliputi jenis produksi, luas tempat usaha, dan jenis bangunan tempat usaha.

5.1.1. Jenis Produksi Berdasarkan produk yang dihasilkan, industri gerabah di Desa panjangrejo dikelompokkan menjadi 2, yaitu industri gerabah tradisional dan industri modern. Industri gerabah tradisional memproduksi barang-barang kebutuhan rumah tangga seperti alat-alat dapur berupa kuali, tungku dan tempat air. Industri gerabah modern menghasilkan produk untuk keperluan dekoratif berupa sovenir, vas bunga, kap lampu dan sebagainya disebut ‘keramik’ oleh penduduk setempat. Proses produksi gerabah secara umum adalah sebagai berikut:

85

I.

Pengambilan tanah liat. Tanah liat yang baik berwarna merah coklat atau putih kecoklatan.Tanah liat diambil dengan cara menggali secara langsung ke dalam tanah, kemudian kemudian dikumpulkan pada suatu tempat.

II.

Persiapan tanah liat. Tanah liat disiram air hingga basah merata kemudian didiamkan selama satu hingga dua hari. Setelah itu, tanah liat digiling agar lebih rekat dan liat. Penggilingan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara manual dan mekanis. Penggilingan manual dilakukan dengan menginjak-injak tanah liat hingga kalis dan halus. Secara mekanis dengan menggunakan mesin giling. Hasil terbaik akan dihasilkan dengan menggunakan proses giling manual.

III.

Proses pembentukan. Setelah melewati proses penggilingan, tanah liat siap dibentuk sesuai dengan keinginan. Jumlah tanah liat dan waktu pembentukan yang diperlukan tergantung pada jumlah, bentuk dan disain gerabah yang akan dihasilkan. Perajin gerabah menggunakan kedua tangan untuk membentuk tanah liat kedua kaki untuk memutar alat pemutar

(perbot). Alat-alat yang digunakan yaitu alat pemutar (perbot), alat pemukul, batu bulat, kain kecil. Air juga sangat diperlukan untuk membentuk gerabah dengan baik. IV. Penjemuran. Setelah bentuk akhir terbentuk, diteruskan dengan penjemuran. Sebelum dijemur di bawah terik matahari, gerabah yang sudah agak mengeras dihaluskan dengan air dan kain kecil lalu dibatik dengan batu api, kemudian dijemur hingga benar-benar kering. Lamanya waktu penjemuran disesuaikan dengan cuaca dan panas matahari.

86

V.

Pembakaran. Gerabah yang keras dan benar-benar kering dikumpulkan dalam suatu tempat atau tungku pembakaran, kemudian dibakar selama beberapa jam hingga benar-benar keras dan tidak mudah pecah. Bahan bakar yang digunakan untuk proses pembakaran adalah jerami kering, daun kelapa kering ataupun kayu bakar.

VI.

Penyempurnaan. Gerabah matang dapat dicat dengan cat khusus atau diglasir sehingga terlihat indah dan menarik sehingga bernilai jual tinggi (http://id.wikipedia.org/wiki/Gerabah).

Perbedaan proses produksi produk gerabah tradisional dan keramik di Desa Panjangrejo seperti dalam Tabel 5.1. Tabel 5.1 Perbedaan Proses Produksi Gerabah Tradisional dan Keramik
Jenis Gerabah Bahan baku Tradisional Tanah sawah (lempung hitam) dan pasir dengan perbandingan 3 : 1 atau 3 : 2 penggilingan Manual dengan tenaga manusia Keramik Tanah liat (berwarna merah) asal Godean tanpa pasir Mekanis dengan mesin penggiling (molen) Metode putar Metode putar dan cetakan (mal dibuat dari bahan gips) Kayu bakar, dedaunan kering, Kayu bakar sabut kelapa ± 2 jam, suhu 100 – 6000C ± 5 jam, suhu 500 – 8000C Tanah lempung merah Cat, pernis, metode tamarin alat-alat rumah tangga dan bermacam sovernir keperluan dapur, seperti ukuran kecil, cas bunga, tungku, kuali, padasan, dll kap lampu, dll

Metode tanah Metode Pencetakan

Bahan Bakar Pembakaran Bahan untuk mewarnai Produk

Sumber: Observasi lapangan Mei 2008

Berkembangnya suatu jenis produk gerabah tertentu dibanding jenis produk yang lain tidak terlepas dari tradisi yang ada di wilayah tersebut. Pada

87

penelitian ini peneliti mengamati bahwa dalam lingkup wilayah administrasi yang relatif kecil yaitu dukuh sekalipun, kita dapat menjumpai perbedaan jenis produksi gerabah yang banyak diproduksi penduduknya. Sebagian besar pengusaha gerabah di Dukuh Jetis memproduksi gerabah keramik, sedangkan di Dukuh Semampir, didominasi oleh pengusaha yang memproduksit gerabah jenis tradisional. Jumlah unit usaha baik jenis produksi tradisional dan keramik yang terdapat di Desa Panjangrejo cukup berimbang seperti ampak pada Tabel 5.2. Tabel 5.2 Jenis Produksi Industri Gerabah
Jenis produksi Tradisional Keramik Total Jumlah unit usaha 33 27 60 Persen % 55 45 100

Sumber: Data primer, Mei 2008

Selain dipengaruhi oleh tradisi jenis gerabah yang berkembang di lingkungan tempat tinggal, preferensi pengusaha untuk memproduksi jenis gerabah tertentu juga dipengaruhi oleh pertimbangan pribadi dan pertimbangan ekonomi. Pertimbangan pribadi disini adalah keahlian dan kebiasaan. Seorang pengusaha yang terbiasa memproduksi gerabah tradisional tidak akan mudah beralih memproduksi gerabah modern atau keramik. Pertimbangan ekonomis pengusaha antara lain kemudahan menjual produk sehingga cepat memperoleh penghasilan. Peralihan produksi jenis gerabah modern ke gerabah tradisional dijumpai pada beberapa pengusaha keramik dengan alasan kesulitan pemasaran produk pasca gempa akibat berkurangnya pesanan, sehingga mereka memilih memproduksi gerabah tradisional yang lebih mudah diterima pasar selain modal yang dibutuhkan juga relatif kecil dibanding keramik. 88

Upaya pemerintah dalam mengembangkan industri gerabah agar menghasilkan produk yang lebih berkualitas lewat pelatihan finishing

(penyempurnaan) sudah sering dilakukan. Namun para pengusaha tetap harus tunduk pada pihak pemesan yang hanya bersedia membeli produk gerabah “abangan” atau setengah jadi. Akibatnya produk gerabah dengan finishing kurang berkembang. Hanya ada segelintir pengusaha yang berusaha mengembangkan produknya dengan memproduksi gerabah modern sampai proses finishing atau mencoba teknik cetak selain metode putar, sehingga produk yang dihasilkan lebih beragam bentuknya dan lebih seragam jika diproduksi dalam jumlah besar. Hal ini seperti dilakukan oleh NA pemilik industri gerabah di Dusun Semampir Desa Panjangrejo bernama “Thoctil Art” yang mulai memproduksi gerabah dengan metode perendaman dengan air asam (tamarin), serta J di Dusun Jetis yang sejak pasca gempa mulai memakai teknis cetak untuk beragam sovenir yang diproduksi.

5.1.2. Kerusakan Tempat Usaha Akibat Gempa Besarnya kerusakan yang dialami Desa Panjangrejo pada saat gempa mengakibatkan rumah-rumah penduduk mengalami rusak berat atau roboh. Kerusakan rumah tinggal bagi pengusaha gerabah berarti juga kerugian bagi usaha industri gerabah, mengingat kegiatan industri dilakukan di rumah-rumah warga.

89

Tabel 5.3 Tingkat Kerusakan Tempat Usaha
Tingkat Kerusakan Tempat Usaha Ringan Rusak Berat Roboh Jumlah
Sumber: Diolah dari data primer 2008

Jumlah (unit) 1 11 48 60

Persentase (%) 1,7 18,3 80,0 100,0

Di Desa Panjangrejo seluruh besar rumah penduduk roboh dan rusak berat akibat gempa, termasuk rumah para pengusaha gerabah. Hanya ada 1,7 persen atau 1 dari 60 unit usaha yang mengalami rusak ringan akibat gempa.

5.1.3. Bangunan Tempat Usaha Pasca Gempa Di daerah rawan gempa, kekuatan bangunan terhadap gempa sebaiknya menjadi pertimbangan dalam membangun tempat tinggal. Ini bertujuan meminimalkan kerusakan berat seperti yang dialami akibat gempa 2006 jika daerah tersebut kembali mengalami bencana serupa. Bangunan-bangunan yang dipakai menjadi tempat usaha pasca gempa berupa bangunan-bangunan semi permanen berdinding bambu atau susunan batu bata, dengan lantai semen atau tanah. Ditinjau dari kualitas bangunan, bangunan-bangunan yang ditempati kemungkinan bukan bangunan yang tahan gempa. Hal ini karena sebagian besar masyarakat kembali membangun tempat tinggal maupun usaha berdasar kemampuan ekonomi tanpa memperhatikan unsur-unsur yang harus dipenuhi bagi rumah di daerah rawan gempa, misalnya susunan tulang beton untuk rumah tempat tinggal. Di Desa Panjangrejo, sebagian besar unit usaha melakukan aktivitas produksinya di pekarangan rumah, teras, dan tempat terbuka lain untuk proses 90

pembuatan, penjemuran dan pembakaran gerabah. Produk gerabah yang telah dijemur akan disimpan di dalam rumah sambil menunggu jumlah yang dihasilkan cukup banyak untuk dibakar sehingga dapat menghemat kayu bakar. Gerabah yang telah dibakar dan siap dipasarkan akan disimpan di bangunan terpisah dari rumah utama atau di dalam rumah pengusaha. Tungku pembakaran gerabah biasanya dimiliki oleh setiap pengusaha, meskipun ada juga beberapa pengusaha yang rumahnya bersebelahan dan memakai satu tungku secara bergantian karena sempitnya lahan pekarangan.

5.1.2.3.

Luas Tempat Usaha Luas tempat usaha dikaitkan dengan kapasitas produksi suatu unit usaha.

Semakin luas tempat yang dipakai untuk melakukan produksi, kemungkinan semakin besar jumlah produk yang diproduksi. Luas tempat produksi di sini adalah luas pekarangan atau bagian rumah yang dijadikan tempat melakukan aktivitas produksi, mencakup pembentukan tanah liat menjadi gerabah, tidak termasuk luas area yang dipakai untuk tungku pembakaran dan tempat penyimpanan produk siap jual. Luas tempat usaha industri gerabah di Desa Panjangrejo seperti tersaji pada Tabel 5.4. Tabel 5.4 Luas Tempat Usaha Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa
Luas Tempat Usaha (m2) < 15 15 – 25 ≥ 26 Total Jumlah (unit) 19 20 21 60 Persen (%) 31,7 33,3 35,0 100,0

Sumber: diolah dari data primer, 2008.

91

Sebagian besar unit usaha memiliki luas kurang dari 50 meter per segi. Industri gerabah di Desa Panjangrejo dilaksanakan di area pemukiman penduduk yang relatif padat, sehingga tempat usaha yang tersedia tidak begitu luas. Bahkan lebih dari separuh industri berskala rumah tangga hanya dilakukan di teras-teras rumah penduduk dengan luas kurang dari 25 m2. Persentase unit usaha dengan luas lebih dari 100 m2 hanya 10 persen dari seluruh pengusaha. Secara umum tidak terjadi perubahan luas tempat usaha pasca gempa, karena para pengusaha hanya membangun kembali rumah dan tempat usaha di lokasi semula. Luas tempat usaha kurang dari 15 m2 lebih banyak dimiliki oleh industri gerabah tradisional, sedangkan luas tempat usaha lebih dari 15 m2 dimiliki berimbang baik oleh industri gerabah tradisional maupun keramik.

5.2. Faktor-faktor Produksi Kegiatan produksi melewati tahapan pengerjaan mulai dari masukan (input), proses (process) hingga menghasilkan barang (output) untuk kemudian memperoleh pendapatan. Rangkaian kegiatan produksi dapat berjalan karena adanya faktor-faktor produksi. Faktor-faktor produksi tersebut terdiri dari modal, bahan baku dan tambahan, tenaga kerja, lahan tempat usaha dan pemasaran.

5.2.1. Modal Modal industri terdiri dari modal tetap dan modal tidak tetap. Modal tetap adalah modal yang harus selalu ada dalam proses produksi, sedangkan modal tidak tetap adalah modal yang habis akibat pemakaian saat proses produksi.

92

Modal industri dapat berupa uang maupun barang, seperti peralatan usaha, lahan, dan tempat usaha. Berkaitan dengan tema kegiatan industri pasca bencana, berikut ini juga diperoleh informasi modal yang dipakai pengusaha saat pertama kali menjalankan usahanya sesaat setelah gempa, selain modal tetap dan modal produksi per bulan.

5.2.1.1. Modal Pertama Kali Berproduksi Pada saat suatu bencana yang cukup besar melanda suatu daerah, para korban bencana akan lebih berkonsentrasi pada pemenuhan kebutuhan dasar terutama yang berasal dari bantuan kemanusiaan. Pemberian bantuan bersifat sementara dan bertujuan agar segera setelah bencana mereda, para penduduk korban bencana mampu kembali memulai aktivitas ekonominya. Pada kondisi terkena bencana, para pengusaha akan berhadapan pada kondisi sulit untuk memulai kembali usaha mereka karena ketiadaaan modal, ditambah lagi bencana telah mengakibatkan kehilangan harta benda yang sangat besar. Oleh sebab itu informasi jumlah modal yang diperlukan pengusaha gerabah untuk memulai usahanya kembali menjadi menarik diamati. Modal untuk memulai usaha industri gerabah pasca gempa yang dimaksud adalah besar modal berupa uang yang dibutuhkan pengusaha untuk memulai kegiatan produksi gerabah setelah terjadi gempa. Informasi ini tidak mudah diperoleh karena banyak pengusaha lupa besar nilai modal yang pertama kali dipakai pasca gempa dua tahun lalu. Dari 60 responden, hanya 34 pengusaha yang menjawab pertanyaan modal pertama pasca

93

gempa ini. Tabel 5.5 menampilkan kisaran modal yang dibutuhkan pengusaha gerabah untuk memulai produksi pasca gempa. Tabel 5.5 Modal Uang Untuk Memulai Produksi Gerabah Pasca Gempa Di Desa Panjangrejo
Modal (rupiah) <180.000 180.000 – 499.000 500.000 + Jumlah terdata Tidak terdata N total
Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Jumlah usaha (unit) 11 5 18 34 26 60

Persentase (%) 18,3 8,3 30,1 56,7 43,3 100,0

Tabel 5.5. menunjukkan sebagian besar responden yang menjawab pertanyaan berapa modal awal yang dibutuhkan untuk memulai produksi gerabah pasca gempa menyebutkan nilai Rp500.000. Sepertiga unit usaha lainnya memulai produksi gerabah dengan modal kurang dari Rp180.000. Rata-rata modal yang dibutuhkan pengusaha gerabah untuk memulai produksi pasca gempa adalah Rp849.120. Modal minimal untuk memulai usaha adalah Rp20.000 sedangkan nilai paling tinggi sebesar Rp5.000.000. Besar kecilnya modal usaha yang pertama dikeluarkan pengusaha untuk memulai industri gerabah pasca gempa tergantung pada kemampuan keuangan pengusaha, dan peralatan atau bahan tanah liat yang masih dapat dipakai. Nilai yang modal yang relatif kecil bagi pengusaha saat pertama kali membuka usaha didorong keinginan yang besar dari pengusaha untuk segera mampu mencari penghasilan tanpa terus bergantung pada bantuan yang diterima. Salah seorang pengusaha menyatakan bahwa ia memulai kembali memproduksi gerabah saat masih berada di tenda pengungsian dengan bahan dan alat seadanya.

94

Informasi yang juga menarik adalah bagaimana pengusaha memperoleh modal untuk memulai kembali usaha mereka. Sebagian besar pengusaha menyebutkan modal diperoleh dari dana milik sendiri. Sebagian lainnya bahkan memanfaatkan dana bantuan kemanusiaan yang diberikan kepada korban gempa berupa pemberian uang jatah hidup satu kali senilai Rp90.000 per orang. Uang ini mereka pakai untuk modal usaha, sedangkan untuk hidup sehari-hari telah tercukupi melalui bantuan kemanusiaan berupa bahan makanan atau uang baik berasal dari sanak saudara, sumbangan para dermawan atau berbagai lembaga sosial.

5.2.1.2. Modal Produksi Perbedaan dalam proses produksi kedua jenis gerabah tradisional dan keramik berdampak pada adanya perbedaan biaya produksi. Perbedaan jenis produksi akan berdampak pada perbedaan rata-rata besaran modal yang dikeluarkan para pengusaha untuk komponen bahan baku dan bahan bakar. Di sini terlihat bahwa biaya produksi gerabah keramik lebih mahal daripada gerabah tradisional. Gerabah tradisional yang tanahnya diambil dari tanah persawahan setempat, hampir tidak memerlukan biaya bahan baku tanah liat. Hampir semua pengusaha gerabah tradisional menyebutkan bahwa tanah diambil dari tanah sawah miliknya, atau tanah sawah milik tetangga yang merelakan tanahnya diambil, meskipun ada pemilik tanah yang menyatakan keberatan tanahnya diambil terus-menerus untuk gerabah dengan alasan sawah menjadi terlalu dalam (“ledok”) dan menyebabkan kesuburan tanah berkurang.

95

Lain halnya dengan pengusaha gerabah tradisional, pengusaha keramik yang harus membeli tanah dari Godean. Para pengusaha yang mengerjakan pesanan dalam jumlah yang relatif kecil (misalnya 500-1500 pesanan sovenir per bulan berdiameter ± 10 cm) biasanya membeli tanah secara eceran seharga

Rp50.000 untuk 1 log tanah liat (satu pikulan seberat kira-kira 50 kg) yang telah digiling dari seorang pengusaha lebih besar yang memiliki mesin penggiling tanah atau molen. Penghematan lain yang dapat dilakukan pengusaha gerabah tradisional adalah dengan mengganti kayu bakar dengan jenis bahan bakar lain seperti dedaunan dan ranting kering dari pepohonan sekitar pantai di dekat desa setempat, jerami sisa panen padi atau membeli sabut kelapa yang harganya lebih murah. Besar modal produksi yang dihabiskan tiap bulan oleh pengusaha industri gerabah ditampilkan pada Tabel 5.6. Tabel 5.6. Modal Produksi Berupa Uang Pada Industri Gerabah Pasca Gempa
Modal produksi per bulan (rupiah) Total

Jumlah usaha (unit) < 100.000 100.100 – 312.400 >312.500 Jumlah
Sumber : Diolah dari Data Primer, 2008

17 22 21 60

Persen (%) 28,3 36,7 35,0 100,0

Rata-rata satu unit usaha memerlukan modal produksi sebesar Rp200.000. Mayoritas usaha gerabah memerlukan modal produksi cukup rendah yaitu kurang dari Rp312.500 per bulan. Nilai terkecil modal yang dipakai pengusaha gerabah adalah Rp50.000 dan nilai modal tertinggi adalah Rp2.728.000. Modal yang besar atau lebih dari Rp1.000.000 biasanya diperlukan bagi unit usaha berskala kecil yang memperkerjakan orang selain pekerja rumah tangga. 96

Besar modal yang dipakai pengusaha bergantung pada jenis produksi dan jumlah pesanan. Industri gerabah keramik akan memerlukan modal produksi yang lebih besar daripada gerabah tradisional. Sebanyak 48,5 persen industri gerabah tradisional menghabiskan modal produksi kurang dari Rp100.000 per bulan, sedangkan pada industri keramik lebih dari separuh unit usaha atau 59,3 persen memerlukan biaya produksi lebih dari Rp312.500 per bulan.

5.2.1.3. Akses Kredit Modal Usaha Akses kredit usaha sangat membantu pengusaha dalam mempertahankan dan mengembangkan usahanya, terlebih dalam keadaan kesulitan modal akibat gempa. Beberapa saat pasca gempa, berbagai bentuk bantuan modal bagi korban gempa baik oleh pemerintah maupun lembaga keuangan banyak bermunculan. Salah satunya berupa penyaluran kredit usaha bagi para pengusaha kecil korban gempa. Untuk memperoleh pinjaman modal dari perbankan, pengusaha harus menunjukkan surat keterangan usaha yang disahkan kelurahan berupa Surat Keterangan Usaha (SKU) dan surat agunan seperti sertifikat rumah atau surat kepemilikan kendaraan bermotor. Para pengusaha biasanya mulai memanfaatkan pinjaman tersebut beberapa bulan atau setahun setelah gempa. Persentase pengusaha yang memanfaatkan kredit usaha yang disediakan oleh lembaga keuangan dan perbankan sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah pengusaha yang tidak melakukan pengajuan kredit usaha. Alasan tidak memanfaatkan kredit usaha dari adalah adanya kekhawatiran pengusaha tidak mampu membayar cicilan pinjaman karena pendapatan usaha yang tidak stabil

97

setiap bulan. Padahal di sisi lain, dengan meminjam modal dari pihak lain, pengusaha akan termotivasi untuk meningkatkan produktivitas usahanya. Namun pemahaman demikian tidak dimiliki oleh semua pengusaha. Gambar 3. menunjukkan proporsi pengusaha yang memanfaatkan kredit usaha.

Ya 38%
Tidak 62%

Apakah Bapak/Ibu memiliki pinjaman modal usaha dari lembaga keuangan, koperasi atau perbankan?
Gambar 3. Pemanfaatan pinjaman modal usaha oleh industri gerabah di Desa Panjangrejo

Persentase pengusaha yang memanfaatkan pinjaman kredit usaha hanya 38 persen, atau berjumlah 23 pengusaha dari 60 pengusaha yang diteliti, sedangkan sisanya yaitu 62 persen tidak memanfaatkan pinjaman modal. Besar nilai pinjaman modal oleh pengusaha gerabah berkisar antara Rp400.000 – Rp9.000.000. Asal pinjaman beragam sebagai berikut: Tabel 5.7 Asal Pinjaman Modal Usaha Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo
Jumlah usaha (unit) Koperasi simpan pinjam 14 Bank 7 Bantuan pemerintah daerah 2 Total 23
Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Asal pinjaman modal

Persentase (%) 60,9 30,4 8,7 100,0

Sebanyak 60,9 persen pinjaman modal berasal dari koperasi desa, dan hanya 30,4 persen yang berasal dari pihak perbankan. Para pengusaha lebih menyukai meminjam modal dari koperasi desa atau lembaga keuangan simpan 98

pinjam yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat setempat, karena pinjaman ini bersifat lunak dengan bunga yang sangat ringan dengan sistem pembayaran mingguan atau bulanan. Besar pinjaman dari koperasi berkisar antara Rp400.000 – Rp5.000.000, sedangkan besar dana yang dipinjam dari perbankan berkisar antara Rp4.000.000 – Rp9.000.000. Meskipun tawaran pinjaman lunak bagi para pengusaha korban gempa cukup banyak, namun persentase pemanfaatan pinjaman dari bank relatif kecil dibanding dari koperasi, disebabkan bunga bank yang lebih tinggi mencapai 10 persen per tahun sehingga cukup memberatkan pengusaha. Ketaatan pembayaran cicilan pinjaman oleh pengusaha kecil sangat tinggi. Ini dibuktikan hampir semua pengusaha yang memiliki pinjaman menyatakan selalu tepat waktu dalam membayar cicilan hutang mereka. Mereka khawatir jika mereka terlambat membayar maka kelak akan mendapat kesulitan jika hendak meminjam kembali akibat kurangnya kepercayaan pihak pemberi pinjaman. Lancarnya pembayaran kredit usaha juga secara tidak langsung merefleksikan kelangsungan usaha. Ini diamati dari asal uang yang diperoleh untuk membayar hutang selama 3 periode pembayaran berturut-turut yang mayoritas berasal dari pendapatan industri gerabah itu sendiri. Jumlah pengusaha yang menyatakan uang yang dipergunakan untuk membayar hutang berasal dari menjual barang pribadi, hutang pihak lain, atau penghasilan lain sangat sedikit. Ini menunjukkan bahwa pinjaman modal cukup membantu pengusaha gerabah dalam mempertahankan kelangsungan usaha mereka. Namun perlu juga dicermati melihat kenyataannya bahwa pemanfaatan kredit usaha di lapangan tidak sepenuhnya dipakai untuk pengembangan usaha gerabah. Kedisiplinan untuk benar-benar mengalokasikan

99

pinjaman modal usaha hanya untuk keperluan usaha masih perlu ditingkatkan. Kondisi pasca gempa, dimana kebutuhan untuk pembangunan rumah meningkat, sementara uang bantuan rekonstruksi dirasa amat tidak mencukupi oleh para korban gempa, akhirnya menjadi celah pengajuan kredit usaha yang dimanfaatkan pengusaha gerabah untuk membangun rumah.

5.2.2. Peralatan Alat adalah alat bantu yang digunakan untuk mempermudah proses produksi suatu barang. Nilai alat mencerminkan nilai investasi yang ditanamkan pengusaha pada industrinya. Pada industri kerajinan gerabah, alat yang dipakai berupa alat putar, tungku, dan penggiling tanah (molen). Sebagian besar pengusaha gerabah di Desa Panjangrejo memproduksi gerabah merah (terracotta), karena itu tidak memakai alat untuk keperluan glazuur. Alat giling tanah bernilai Rp4.000.000 – Rp5.000.000 rupiah, hanya dimiliki 2 pengusaha dari 60 pengusaha yang didata. Selebihnya para pengusaha keramik membeli tanah siap pakai yang telah digiling. Untuk pengusaha gerabah tradisional lebih memilih menggiling tanah secara manual. Pada pengusaha industri gerabah berskala rumah tangga dengan 1 – 4 tenaga kerja, jumlah alat putar yang dimiliki antara 1 – 2 buah, bernilai Rp250.000 – Rp350.000 per buah. Pada usaha berskala kecil dengan jumlah tenaga kerja 5 – 10 orang, alat putar atau perbot yang dimiliki berjumlah 2 – 4 buah. Beberapa pengusaha berskala kecil juga tidak hanya mengandalkan produk dengan metode putar, tapi mulai mengenal gerabah cetakan. Cetakan dibuat dari bahan gips yang dijadikan mal untuk

100

mencetak gerabah sesuai pesanan. Untuk membuat satu cetakan, nilai gips yang dibutuhkan sekitar Rp10.000 per buah. Jumlah cetakan yang dibuat tergantung banyaknya jumlah model baru yang dipesan pembeli. Setelah pesanan diselesaikan, cetakan ini menjadi koleksi pengusaha yang bisa ditawarkan sebagai alternatif model gerabah kepada pemesan berikutnya. Pembakaran gerabah yang menggunakan tungku sederhana yang dibuat dari susunan batu bata, berukuran luas 1,5 x 2 meter dan tinggi kurang lebih satu meter, dengan biaya pembuatannya menghabiskan dana sekitar Rp4.000.000. Beberapa pengusaha ada yang membuat tungku untuk dipakai bersama, meskipun jumlah yang melakukannya tidak banyak. Sebagian besar pengusaha telah memiliki tungku sendiri meskipun bentuknya jauh lebih sederhana. 5.2.3. Bahan Baku Bahan baku utama dalam industri gerabah adalah tanah liat dan pasir. Sebagian tanah liat ini berasal dari desa setempat, terutama bagi industri gerabah tradisional, sedangkan bahan baku industri gerabah modern atau keramik berasal dari Godean. Nilai tanah liat dalam industri gerabah di Desa Panjangrejo terlihat dalam Tabel 5.8. Tabel 5.8 Nilai Bahan Baku Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa
Total Nilai Tanah Liat per bulan (rupiah) N (unit) < 50.000 50.000 – 149.900 >150.000 Total
Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Persen (%) 19 19 22 60 31,7 31,7 36,6 100,0

101

Nilai rata-rata pembelian bahan baku secara keseluruhan oleh industri gerabah tradisional maupun keramik adalah Rp137.258 dengan nilai terendah Rp12.500 dan nilai tertinggi Rp900.000. Lebih dari enam puluh persen unit usaha mengeluarkan biaya bahan baku kurang Rp100.000. Nilai pembelian bahan baku yang relatif kecil bahkan kurang dari Rp50.000 per bulan disebabkan pesanan produk yang rendah, sehingga para pengusaha lebih memilih membeli bahan baku secara eceran sesuai pesanan produk yang sedang dikerjakan. Pada komponen bahan baku, modal yang diperlukan industri gerabah keramik lebih tinggi dibanding gerabah tradisional. Lebih dari separuh pengusaha gerabah tradisional (54,5 persen) membeli bahan baku kurang dari Rp50.000 per bulan, sedangkan pada industri keramik terdapat 70,4 persen unit usaha yang mengeluarkan biaya bahan baku lebih dari Rp150.000 per bulan. Perbedaan nilai bahan baku antara kedua jenis industri gerabah di Desa Panjangrejo ini disebabkan perbedaan asal bahan baku. Industri gerabah tradisional

memanfaatkan tanah liat dan pasir asal desa sekitar, sedangkan tanah liat untuk gerabah keramik dibeli dari daerah Godean yang telah digiling terlebih dahulu sehingga harganya pun menjadi lebih mahal.

5.2.4. Bahan Bakar Metode pembakaran gerabah mentah dalam industri gerabah di desa ini masih menggunakan cara tradisional dengan tungku kayu bakar, bukan oven pengering. Komponen bahan bakar cukup besar dalam proporsi biaya produksi

102

industri gerabah. Biaya yang dihabiskan oleh unit usaha gerabah untuk bahan bakar kayu ditampilkan pada Tabel 5.9. Tabel 5.9 Nilai Bahan Bakar Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa
Nilai Bahan Bakar per bulan (rupiah) < 50.000 50.000 – 100.000 >100.000 Total
Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Total N (unit) 19 14 27 60 Persen (%) 31,7 23,3 45,0 100

Pembelian bahan bakar oleh industri gerabah di Desa Panjangrejo per bulan rata-rata sebesar Rp128.642 dengan nilai paling kecil yaitu Rp15.000 dan nilai tertinggi sebesar Rp960.000. Secara keseluruhan, lebih dari separuh unit usaha mengeluarkan biaya bahan bakar kurang dari Rp100.000 per bulan. Namun demikian unit usaha yang menghabiskan dana lebih dari Rp100.000 per bulan untuk membeli bahan bakar juga cukup besar mencapai 45 persen unit usaha. Nilai pembelian bahan bakar kurang dari Rp25.000 hanya dilakukan oleh pengusaha gerabah tradisional, meskipun jumlahnya kecil yaitu hanya ada 5 dari 33 pengusaha gerabah tradisional (15,2 persen). Mayoritas unit usaha gerabah tradisional atau 51,5 persen mengeluarkan biaya bahan bakar kurang dari Rp50.000 per bulan, sedangkan pada industri keramik biaya bahan bakar yang dikeluarkan pengusaha relatif lebih besar. Sebanyak 63 persen unit industri keramik memerlukan biaya bahan bakar lebih dari Rp100.000 per bulan. Berdasarkan observasi di lapangan tidak ada pengusaha keramik yang mengganti bahan bakar kayu dengan alternatif yang lebih murah seperti memanfaatkan ranting kayu dari hutan, jeramik, dedaunan untuk bahan bakar,

103

berbeda dengan pengusaha gerabah tradisional. Pengusaha keramik lebih memilih kayu bakar karena pembakaran yang lebih stabil sehingga kematangan produk lebih baik. Besarnya jumlah yang dikeluarkan oleh pengusaha untuk membeli bahan bakar berupa kayu tergantung jumlah barang yang diproduksi. Produktivitas industri gerabah yang masih sangat dipengaruhi oleh musim, membuat frekuensi pembakaran akan lebih tinggi saat musim kemarau. Jika pada musim kemarau, pembakaran gerabah dilakukan 3 – 4 kali sebulan, tapi di musim hujan hanya satu kali bahkan 3 bulan sekali karena penjemuran yang tidak sempurna, dan pembakaran tidak mungkin dilakukan pada saat hujan sering turun. Ketiadaan alat pengering menjadi kendala cukup penting bagi kelangsungan usaha gerabah agar dapat tetap berproduksi di musim hujan.

5.2.5. Tenaga Kerja Sebagian besar industri kerajinan gerabah di Desa Panjangrejo berskala rumah tangga yang memanfaatkan pekerja rumah tangga. Penambahan pekerja selain pekerja rumah tangga dilakukan pengusaha hanya jika terdapat pesanan dalam jumlah besar dan harus segera diselesaikan sehingga tidak dapat dikerjakan oleh pengusaha dan keluarganya sendiri. Para pekerja di industri gerabah skala rumah tangga pada umumnya tidak menerima upah layaknya pekerja yang bukan anggota rumah tangga. Meskipun demikian, turut dijumpai sejumlah kecil usaha yang dikelola bersama oleh beberapa keluarga yang masih terikat kekerabatan yang telah menerapkan sistem upah.

104

Upah pekerja biasanya diberikan secara borongan setelah pekerja menyelesaikan sejumlah produk yang dipesan. Upah per buah untuk ukuran kecil atau souvenir berkisar antara Rp50 – Rp200 dengan jumlah total yang dapat dikerjakan antara 100 – 300 buah per hari selama 6 hari kerja. Upah yang diberikan untuk pengerjaan produk gerabah berukuran sedang (tinggi 20 – 45 cm) berkisar antara Rp1.000 – Rp10.000 per buah tergantung tingkat kesulitan pengerjaan. Dari 60 pengusaha yang menjadi sampel dalam penelitian ini, hanya ada 6 pengusaha yang memakai tenaga kerja upahan dengan besar biaya upah tenaga kerja yang dikeluarkan per bulan antara Rp225.000 – Rp1.824.000 yang mencakup 24,8 - 66,9 persen dari seluruh biaya produksi. Adapun jumlah tenaga kerja tanpa memperhatikan tenaga kerja rumah tangga maupun tenaga kerja upahan di masing-masing unit usaha disajikan pada Tabel 5.10. Tabel 5.10 Penggunaan Jumlah Tenaga Kerja Industri Gerabah Pasca Gempa
Tenaga Kerja (orang) 1–3 ≥4 Total
Sumber: Data Primer, 2008

Frekuensi 46 14 60

Persen (%) 76,7 23,3 100,0

Lebih dari 80 persen unit usaha industri gerabah di Desa Panjangrejo merupakan industri berskala rumah tangga dengan tenaga kerja kurang dari 5 orang, bahkan 76,7 persen dari keseluruhan unit usaha hanya memiliki tenaga kerja 1 – 3 orang. Industri berskala kecil sebesar 13,3 persen. Besarnya persentase unit usaha dengan pekerja hanya 1 – 3 orang disebabkan keengganan penduduk untuk bekerja di bidang ini. Terbukti bahwa banyak unit usaha turun temurun yang sudah tidak diminati oleh para kaum muda berusia kurang dari 30 tahun,

105

meskipun ayah dan ibu mereka mengerjakan industri gerabah sebagai mata pencaharian utama. Kalaupun ada remaja dan kaum muda berusia kurang dari 30 tahun yang membantu mengerjakan produksi gerabah milik orang tua mereka, tugas mereka hanya membantu pekerjaan yang ringan seperti penyempurnaan gerabah (masyarakat setempat menyebutnya dengan “servis”). Hanya ada sedikit dari mereka yang mampu mengerjakan proses produksi mulai dari pencetakan dengan cara putar hingga pembakaran, sehingga keterampilan yang dimiliki pun dikhawatirkan tidak lebih baik dari keterampilan orang tua mereka. Namun hal ini akan sedikit terbantu jika ada upaya pengembangan produk gerabah di Pundong. Munculnya industri-industri yang dikelola pengusaha berpendidikan SLTA dan perguruan tinggi mulai menawarkan keunikan desain gerabah modern telah menjadi tempat bekerja sekaligus belajar pemuda-pemuda yang masih ingin meneruskan budaya masyarakatnya di industri ini. Dengan desain yang lebih menarik diharapkan dapat meningkatkan nilai jual serta menarik minat pemuda untuk menekuni usaha ini dengan lebih percaya diri untuk menjadikannya usaha yang bernilai ekonomis tinggi. Keengganan tetap bekerja di industri gerabah ternyata tidak hanya terjadi pada para pemuda, tapi juga pada para perajin yang sebelumnya bekerja di industri gerabah milik orang lain. Hal ini seperti diungkapkan salah satu pengurus GKP3, NA: “Setelah gempa, kami kekurangan banyak tenaga yang mau bertahan di industri ini. Mereka lebih memilih bekerja sebagai pedagang atau tukang bangunan yang penghasilannya lebih tinggi dibanding bekerja di industri gerabah”.

106

Sejumlah pengusaha yang sebelum gempa memiliki lebih dari 5 tenaga kerja, saat ini hanya dibantu 1 – 2 orang tenaga kerja upahan. Lebih dari keengganan pekerja, hal ini lebih dipengaruhi jumlah pesanan yang menurun drastis dibanding beberapa tahun sebelum gempa terjadi. Menurunnya jumlah pesanan membuat para pengusaha tidak lagi membutuhkan banyak pekerja upahan, karena kemampuan membayar upah tenaga kerja juga menurun. Sebagian besar industri gerabah tradisional atau 84,8 persen hanya memiliki 1– 2 orang tenaga kerja, sedangkan pada industri keramik persentase unit usaha dengan 1 – 2 orang tenaga kerja hanya sebesar 48,1 persen. Penggunaan tenaga kerja yang lebih besar pada industri keramik juga teramati dari persentase unit usaha dengan jumlah tenaga kerja tiga sampai empat orang yang mencapai 29,6 persen dibanding industri gerabah tradisional yang hanya 9,1 persen.

5.2.6. Pemasaran Hampir seluruh kegiatan pemasaran produk industri gerabah di Desa Panjangrejo khususnya produk keramik ditujukan untuk memasok ke sentra gerabah Kasongan. Produk gerabah tradisional biasanya langsung dipasarkan oleh pengusaha yang menitipkan kuali, keren atau tungku tanah liat ke warung-warung kecil di pasar yang terdapat di sekitar Desa Panjangrejo, pasar tradisional di Kota Yogyakarta bahkan sampai Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul. Beberapa pengusaha keramik mulai membuka jaringan pasar selain Kasongan, misalnya ke kota Surabaya, Bali, atau ke pasar-pasar ekspor,

107

jumlahnya relatif sangat kecil. Unit usaha yang mampu menjual produknya ke luar Kasongan biasanya memiliki ciri keunggulan antara lain desain produk yang khas atau berbeda dengan usaha sejenis, serta mampu memenuhi standar pesanan baik baik dari segi kualitas maupun nilai produksi. Misalnya produk dengan dekorasi laminasi kulit telur, pasir, atau tamarin yang menghasilkan gerabah berwarna hitam. Upaya memperluas jaringan pemasaran lewat pameran dilakukan dengan bantuan pihak sponsor, misalnya oleh Departemen Perindustrian atau pihak swasta yang memberikan penawaran pameran di beberapa kota seperti Jakarta dan Surabaya. Keikutsertaan industri usaha dalam pameran biasanya secara berkelompok menggunakan satu sampai dua stan pameran. Hasil wawancara terhadap beberapa pengusaha menyatakan tidak banyak diperoleh keuntungan dari pameran-pameran yang diikuti. Pengusaha justru harus mengeluarkan biaya ekstra untuk akomodasi karena tidak ditanggung oleh pihak sponsor, maupun untuk keperluan pameran itu sendiri seperti mencetak kartu nama dan biaya produksi sampel produk. Setelah gempa, bantuan pemasaran melalui internet juga diperoleh beberapa pengusaha dari kegiatan praktek kerja para mahasiswa salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Tidak hanya membangun situs internet, bantuan ini juga mencakup pengelolaan situs internet yang dipakai untuk memasarkan produk gerabah, maupun memberikan informasi jika ada pesanan barang yang diterima. Diakui pengusaha, pemasaran lewat internet sangat membantu meningkatkan nilai penjualan mereka. Dalam hal ini tentu diperlukan pelatihan

108

lebih lanjut tentang pemanfaatan internet agar pengelolaan situs pemasaran gerabah dapat dilakukan secara mandiri oleh pengusaha sendiri. Pemasaran langsung seperti yang banyak dilakukan di sentra Kasongan terkendala masalah letak geografis sentra gerabah Pundong yang jauh dari pusat kota. Sementara itu wacana pengembangan desa wisata masih jauh dari harapan, mengingat kesiapan masyarakat dan infrastruktur yang menunjang kegiatan wisata masih sangat kurang. Beberapa pengunjung yang datang hanya sekedar melihatlihat proses produksi tanpa membeli gerabah dalam jumlah yang cukup banyak sehingga omzet yang diperoleh juga tidak besar. Upaya pemerintah Kabupaten Bantul untuk membantu pengusaha kerajinan agar dapat memasarkan produknya di daerahnya antara lain dengan membangun Pasar Seni Gabusan. Pasar ini diharapkan menjadi tempat bertemunya para pedagang dan pembeli yang dapat meningkatkan omzet pengusaha. Namun kondisi pasar seni Gabusan saat ini masih sangat sepi dari pembeli. Masalah ini mulai mendapat perhatian oleh pemkab Bantul dengan membangun subterminal di samping area pasar seni Gabusan agar para pengguna kendaraan umum yang berhenti di terminal tersebut dapat mampir dan tertarik membeli produk yang diperdagangkan di PSG. Keluhan lain yang datang dari salah seorang pengusaha yaitu karena pasar seni Gabusan belum menjadi tempat bertemunya para pemborong besar dengan tujuan ekspor. Belum lagi persaingan gerabah tradisional bertambah ketat dengan munculnya pengrajin dari daerah lain yang membuat gerabah di saat Pundong terkena bencana seperti Klaten dan

109

sekitarnya juga mulai tergantinya alat-alat rumah tangga seperti padasan, kuali, pot-pot bunga dengan barang-barang terbuat dari plastik.

5.3. Bantuan Pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat Bantuan pemerintah pada korban gempa sangatlah berarti. Perhatian pada penelitian ini adalah bantuan untuk kegiatan industri gerabah di Desa Panjangrejo. Bantuan untuk kegiatan industri yang diberikan secara cuma-cuma berupa bahan baku tanah liat dan peralatan seperti alat putar dan molen. Alat putar diberikan per pengusaha sejumlah 1 – 3 buah per pengusaha berasal dari pemerintah dan LSM, sedangkan molen diberikan per kelompok berjumlah 8 – 10 orang. Bantuan tanah liat oleh PMI diberikan sebanyak 1 kol per pengusaha. Penemuan di lapangan menunjukkan bantuan tanah ini tidak diberikan kepada seluruh pengusaha gerabah di semua dusun. Dalam hal ini pengusaha gerabah di Dusun Jetis menerima bantuan tanah, namun tidak demikian dengan pengusaha di Dusun Semampir. Bantuan yang diterima dari lembaga swadaya masyarakat antara lain pembangunan tempat tinggal sementara berupa bangunan semi permanen dengan luas 4 x 6 meter per segi yang sekarang digunakan penduduk sebagai tempat usaha, pembuatan tungku, dan perkakas alat bantu seperti rak, ember, tempat untuk penjemuran gerabah dan lain-lain. Manfaat bantuan ini tidak sepenuhnya dirasakan oleh para pengusaha korban gempa di Desa Panjangrejo. Berdasarkan survei yang dilakukan, banyak pengusaha yang mengeluhkan alat putar yang diberikan tidak dapat digunakan. Ini karena alat putar pemberian pemerintah yang terlalu tinggi dibanding yang biasa

110

dipakai oleh pengusaha setempat, ataupun putarannya yang tidak stabil. Padahal jumlah pemberian alat putar sebanyak 1 – 3 buah per pengusaha banyak menghabiskan biaya. Jika harga satu alat putar (perbot) senilai Rp200.000 – Rp350.000 maka nilai bantuan alat ini berkisar Rp400.000 sampai lebih dari Rp1.050.000 per pengusaha. Sebaliknya alat putar bantuan salah satu LSM dibuat oleh salah satu penduduk setempat yang mengerti model dan karakter alat putar yang dipakai di desa ini, sehingga dapat dimanfaatkan dengan baik. Hal yang sama terjadi dengan pemberian alat giling tanah atau molen. Beberapa alat ini pada akhirnya hanya dianggurkan karena kebiasaan pengusaha gerabah membeli tanah siap oleh yang sudah digiling dari salah salah seorang pengusaha pemilik molen yang juga menjual tanah bahan baku gerabah. Selain memerlukan tenaga manusia yang cukup kuat untuk menggiling tanah, penggunaan molen untuk menggiling tanah dalam jumlah yang tidak banyak dinilai tidak ekonomis, karena mesin ini memakai tenaga diesel yang membutuhkan solar sebagai bahan bakar. Bantuan-bantuan berupa pelatihan manajemen, pencatatan buku keuangan, teknik produksi seperti finishing dan desain juga diberikan oleh departemen perindustrian ataupun berbagai universitas lewat kegiatan kemahasiswaan. Namun setelah pelatihan tersebut usai, tidak semua pelatihan tersebut dilaksanakan oleh pengusaha. Alasan yang dikemukakan kenapa tidak melakukan pencatatan keuangan misalnya adalah pencatatan keuangan justru dirasakan merepotkan bagi pengusaha, ditambah lagi hal ini justru membebani pikiran pengusaha seperti komentar berikut: ”Pencatatan keuangan justru membuat stres, kami harus mencatat semua uang yang masuk dan keluar padahal pendapatan kami tidak besar. Di buku cuma ada

111

tulisan angka-angka, tapi kenyataannya uang yang diperoleh langsung habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari”.

Demikian pula untuk produk finishing hanya ada beberapa pengusaha yang mulai mencoba pembuatan gerabah sampai pada proses finishing. Ketergantungan pemasaran pada sentra Kasongan membuat produk mereka dibatasi oleh pihak pemesan yang hanya bersedia menerima produk setengah jadi. Hal ini kemungkinan bertujuan mempertahankan penggunaan tenaga finishing yang berasal dari Kasongan sendiri.

112

BAB VI KELANGSUNGAN USAHA INDUSTRI GERABAH PASCA GEMPA

Bab ini merupakan pembahasan penelitian. Didalamnya akan dibahas indikator kelangsungan usaha serta distribusinya secara deskriptif dengan karakteristik pengusaha dan karakteristik unit usaha pasca gempa.

6.1.

Kelangsungan Usaha Kelangsungan usaha industri gerabah pasca gempa merupakan

kemampuan suatu kegiatan industri untuk tetap melakukan aktivitas produksi pada kondisi tertentu. Kelangsungan usaha terwujud oleh berbagai faktor pendukung, mulai dari ketersediaan faktor-faktor produksi, penyerapan produk oleh konsumen, dan faktor eksternal di luar perusahaan seperti pajak, kebijakan pemerintah, dan dukungan masyarakat di sekitar lokasi industri. Dalam hal ini berlangsungnya kegiatan industri gerabah pasca gempa dipengaruhi beberapa faktor yang mendorong aktivitas produksi tetap berjalan. Beberapa hal di antaranya adalah ketersediaan bahan baku, adanya permintaan produk, lingkungan dan kondisi pengusaha gerabah sendiri sebagai korban gempa yang

memungkinkan mereka menjalankan produktivitasnya. Menimbang kelangsungan usaha pasca gempa terkait dengan hal yang sangat kompleks, pembuatan indikator kelangsungan usaha menjadi tidak mudah jika harus melibatkan berbagai aspek seperti terurai di atas. Pada penelitian ini penulis memakai indikator output industri yaitu nilai produksi serta waktu yang

113

dibutuhkan untuk bangkit kembali setelah terjadi gempa. Hal ini bertujuan agar indikator kelangsungan usaha pasca gempa lebih mudah dipahami dalam menilai kemampuan industri tetap bertahan setelah tertimpa bencana.

6.1.1. Waktu Bangkit Unit Usaha Gerabah Pasca Gempa Aktivitas unit usaha pasca gempa diamati berdasarkan waktu yang diperlukan suatu unit usaha untuk kembali berproduksi terhitung sehari setelah gempa terjadi. Dalam penelitian ini waktu henti menjadi salah satu indikator seberapa besar daya tahan unit usaha dalam menghadapi masalah tak terduga seperti bencana, dengan asumsi semakin cepat unit usaha bangkit setelah gempa maka kelangsungan usaha industri tersebut juga semakin baik. Waktu bangkit unit usaha pasca gempa ditampilkan pada Tabel 6.1.
Tabel 6.1 Waktu Bangkit Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa Waktu bangkit industri Jumlah usaha Persentase usaha gerabah (unit) (%) <6 bulan 30 50,0 6 – 12 bulan 25 41,67 > 12 bulan 5 8,33 Total 60 100
Sumber: Diolah dari data primer, 2008.

Data di atas menunjukkan bahwa kemampuan unit usaha gerabah untuk bertahan pasca bencana gempa bumi cukup besar, ditandai dengan besarnya persentase usaha yang berhenti kurang dari setahun pasca gempa. Unit usaha yang berhenti lebih dari satu tahun hanya berjumlah 5 dari 60 usaha yang didata atau 8,33 persen. Informasi ini juga memberi gambaran bahwa pengusaha kerajinan gerabah di Desa Panjangrejo mampu segera bangkit dengan memulai usaha mereka. Selain didorong oleh keiinginan segera bekerja dan memperoleh 114

penghasilan, banyak pengusaha mengaku memanfaatkan momentum banyaknya pesanan khususnya bagi gerabah tradisional. Beberapa saat setelah gempa, permintaan akan peralatan dapur dan rumah tangga yang terbuat dari tanah liat seperti tungku, kuali dan alat dapur lain meningkat. Meningkatnya permintaan barang akan diikuti meningkatnya harga produk, bahkan sampai dua kali lipat harga normal. Hal inilah yang mendorong para pengusaha gerabah tradisional untuk memproduksi gerabah guna meraih nilai penjualan yang tinggi. Angka pesanan yang relatif tinggi beberapa waktu saat setelah gempa tidak hanya dialami oleh pengusaha gerabah tradisional, tapi juga menjadi berkah dialami oleh para pengusaha gerabah modern. Pesanan gerabah dari Kasongan juga meningkat. Peran media yang sampai setahun pasca gempa kerap kali memberitakan perkembangan kondisi daerah korban gempa, termasuk industri kerajinannya secara tidak langsung membantu mempromosikan produk industri gerabah di Kabupaten Bantul yang kemudian dinikmati oleh sentra gerabah Kasongan dan Pundong.

6.1.2. Nilai Produksi Nilai produksi menunjukkan kemampuan suatu unit industri dalam memproduksi sejumlah produk atau barang dalam waktu tertentu dinamakan juga dengan omzet industri. Nilai produksi industri kerajinan gerabah di Desa Panjangrejo tergantung pada banyaknya pesanan yang diterima pengusaha. Nilai produksi industri gerabah di Desa Panjangrejo sebagai berikut:

115

Tabel 6.2 Nilai Produksi Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa
Nilai produksi (rupiah per bulan) <600.000 600.000 – 1.520.000 >1.520.000 Total
Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Jumlah usaha (unit) 17 22 21 60

Persentase (%) 28,3 36,7 35,0 100,0

Rata-rata nilai produksi industri gerabah di desa ini per bulan adalah Rp1.387.333. Sekilas nilai produksi terlihat tinggi, namun jika dicermati nilai ini memiliki kisaran cukup besar yaitu nilai produksi minimal Rp140.000 dan tertinggi Rp10.160.000 per bulan. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan nilai produksi yang sangat lebar antar unit usaha. Unit usaha yang memiliki nilai produksi di atas Rp1.000.000 sebesar 48,3 persen. Artinya, terdapat lebih dari 50 persen unit usaha industri gerabah di Desa Panjangrejo yang meraih nilai produksi kurang dari Rp1.000.000 per bulan dengan persentase unit usaha yang meraih nilai produksi terendah kurang dari Rp600.000 mencapai 28,3 persen. Nilai produksi gerabah tradisional cenderung lebih kecil dibandingkan nilai produksi yang dicapai produk keramik. Hampir separuh unit usaha atau sebesar 48,5 persen industri gerabah tradisional meraih nilai produksi kurang dari Rp600.000 per bulan, sedangkan pada industri keramik terdapat 59,3 persen unit usaha yang mencapai nilai produksi lebih dari Rp1.520.000 per bulan. Besarnya nilai produksi produk keramik tidak terlepas dari jumlah pesanan yang terus diterima pengusaha setiap bulannya.

116

6.1.3. Kategori Kelangsungan Usaha Kategori kelangsungan usaha dibuat dengan sebagai hasil penjumlahan antara skor waktu bangkit dan skor nilai produksi. Skor ini membentuk kategori kelangsungan usaha menjadi “ Usaha berlangsung baik”; “ Usaha berlangsung sedang” dan “usaha berlangsung buruk”. Distribusi unit usaha industri gerabah berdasarkan kelangsungan usaha ditampilkan pada Tabel 6.3.
Tabel 6.3 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa Kelangsungan Usaha Jumlah Usaha Persentase (unit) (%) Buruk 11 Sedang 36 Baik 13 Total 60
Sumber: Diolah dari perhitungan data primer 2008

18,3 60,0 21,7 100

Sebanyak 60 persen unit usaha tergolong memiliki kelangsungan usaha yang sedang, 18,3 persen tergolong buruk dan terdapat 21,7 persen unit usaha yang berlangsung baik pasca gempa. Semakin cepat suatu unit usaha bangkit dan semakin tinggi nilai produksinya, akan semakin tinggi nilai kelangsungan usaha yang diperoleh. Nilai produksi unit usaha yang tergolong sangat baik dalam penelitian ini adalah unit usaha dengan skor kelangsungan usaha 6, diperoleh dari nilai maksimal skor waktu 3 dan nilai maksimal nilai produksi 3. Dengan demikian kelangsungan usaha pasca gempa suatu unit usaha industri gerabah disebut sangat baik jika mampu segera bangkit setelah gempa dalam waktu kurang dari 6 bulan, dan meraih nilai produksi rata-rata lebih dari Rp1.520.000 per bulan. Nilai produksi yang diraih oleh unit usaha dengan kategori memiliki kelangsungan usaha baik rata-rata sebesar Rp2.666.083. Nilai produksi paling rendah pada kategori baik adalah Rp1.020.000 per bulan, dan nilai tertinggi

117

mencapai Rp10.160.000 per bulan. Nilai produksi yang dicapai unit usaha dengan kategori kelangsungan usaha sedang dan buruk bervariasi. Tabel 6.4 menampilkan nilai produksi yang dicapai masing-masing kelompok unit industri berdasarkan kelangsungan usahanya.
Tabel 6.4 Distribusi Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Pasca Gempa Menurut Nilai Produksi Di Desa Panjangrejo Nilai Produksi (rupiah per bulan) < 600.000 600.000 – 1.519.900 ≥ 1.520.000 Jumlah total (N= 60 ) Kelangsungan Usaha Buruk Sedang Baik N % N % N % 10 90,9 7 19,4 0 0,0 1 9,1 21 58,3 0 0,0 0 0,0 8 22,3 13 100,0 11 100,0 36 100,0 13 100,0

Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Tabel 6.4 terlihat bahwa seluruh unit usaha yang berlangsung baik pasca gempa adalah unit usaha yang meraih nilai produksi lebih dari Rp1.520.000 per bulan. Dengan demikian suatu unit usaha disebut berlangsung baik pasca gempa jika memiliki nilai produksi lebih dari Rp1.520.000 per bulan dan bangkit dalam waktu kurang dari 6 bulan pasca gempa. Hampir seluruh industri gerabah yang berlangsung buruk pasca gempa meraih nilai produksi kurang dari Rp600.000 per bulan. Pada industri gerabah dalam kategori berlangsung buruk pasca gempa hanya terdapat 9,1 persen unit usaha yang mampu meraih nilai produksi lebih dari Rp600.000 per bulan. Lebih dari lima puluh persen industri gerabah pada kategori kelangsungan usaha sedang memperoleh nilai produksi berkisar antara Rp600.000 – 1.519.900 per bulan. Pada industri yang tergolong memiliki kelangsungan usaha sedang pasca gempa, unit usaha yang mampu meraih nilai produksi lebih dari Rp1.520.000 per bulan sebesar 22,3 persen. Hampir seluruh industri gerabah yang

118

berlangsung baik pasca gempa adalah industri yang memproduksi keramik, hanya ada 2 dari 13 unit usaha dalam kategori berlangsung baik yang memproduksi gerabah tradisional.

6.1.4. Tingkat Pemulihan Usaha Tingkat pemulihan usaha menggambarkan seberapa jauh industri gerabah di daerah terkena gempa mampu pulih seperti kondisi sebelum gempa. Perbandingan kondisi sebelum dan sesudah gempa dapat dilakukan dengan terlebih dahulu menentukan indikator apa yang akan dibandingkan pada kedua titik waktu tersebut. Beberapa indikator tingkat pemulihan usaha pasca gempa yang dapat dipakai misalnya jumlah tenaga kerja, metode dan jangkauan pemasaran, teknologi industri, kapasitas produksi, nilai produksi dan pendapatan usaha. Dengan mengukur tingkat pemulihan usaha pasca gempa, penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran perbandingan kondisi unit usaha pasca gempa secara relatif terhadap kondisi sebelum gempa. Permasalahan pertama yang muncul dalam upaya mengukur tingkat pemulihan usaha adalah ketersediaan data sebelum gempa yang sulit didapat. Pada daerah sentra industri dengan pemantauan perkembangan industri yang rutin dilakukan, akses data sebelum bencana mungkin diperoleh. Pada penelitian ini, diperoleh rekaman kondisi unit usaha yang terdaftar dalam GKP3 sebelum gempa meliputi nama pengusaha, alamat, luas tempat usaha, jenis bangunan tempat usaha, jumlah tenaga kerja, omzet per bulan sebelum gempa serta alat yang rusak dan nilai kerugian akibat gempa. Data unit industri tersebut diperoleh dari hasil

119

laporan para pengusaha atau pendataan dari para pengurus GKP3. Jika data ini digunakan untuk membandingkan kondisi sebelum dan sesudah gempa, akan muncul masalah ke-2 yaitu perbandingan yang kurang tepat akibat metode pendataan, definisi data yang dapat saja berbeda, karena sumber dan kolektor data yang berbeda. Upaya meminimalkan perbedaan ukuran data, adalah dengan terlebih dahulu menyamakan persepsi ukuran data, sehingga pembandingan data tersebut untuk titik waktu sebelum dan sesudah gempa dapat dilakukan. Pemilihan indikator yang tepat menjadi penting agar maksud pengukuran tingkat pemulihan usaha pasca gempa dapat tercapai. Pulihnya suatu usaha dapat diukur dengan membandingkan output yang dihasilkan unit industri setelah mengalami kondisi yang merugikan seperti terkena bencana dengan output yang diraih sebelum mengalami bencana. Output suatu industri berupa nilai produksi atau pendapatan utama dari penjualan produk. Indikator yang dipakai dalam penelitian ini adalah pencapaian nilai produksi pasca gempa dibandingkan nilai produksi sebelum gempa yang dinyatakan dalam persen. Secara matematis dinyatakan sebagai berikut: TingkatPemulihanUsaha = Nilai Pr oduksiPascaGempa x100% Nilai Pr oduksiSebelumGempa

Responden yang terekam dalam penelitian ini tidak semuanya tercantum sebagai anggota GKP3. Dari 60 pengusaha gerabah aktif pasca gempa yang menjadi responden, hanya 34 pengusaha atau 56,7 persen yang menjadi anggota GKP3. Secara keseluruhan rata-rata tingkat pemulihan usaha mencapai 164,4 persen dan terdapat 32,4 persen unit usaha yang mengalami penurunan nilai

120

produksi. Penurunan nilai produksi berkisar antara 40 – 80 persen dibanding sebelum gempa. Tingkat pemulihan usaha industri gerabah pasca gempa dianalisis berdasarkan kelangsungan usaha pasca gempa untuk tiap kategori buruk, sedang dan baik. Dari 11 unit usaha dengan kelangsungan usaha buruk pasca gempa, terdapat 6 unit usaha yang memiliki informasi nilai produksi sebelum gempa. Pada kelompok dengan kelangsungan usaha buruk tingkat pemulihan usaha berkisar antara 40 – 260 persen. Rata-rata tingkat pemulihan usaha mencapai 121,7 persen, 50 persen unit usaha di antaranya memiliki tingkat pemulihan usaha kurang dari 100 persen, yaitu sebesar 20 – 50 persen. Artinya pada industri gerabah yang tergolong memiliki kelangsungan usaha buruk pasca gempa, terdapat separuh unit usaha yang mengalami penurunan nilai produksi sebesar 50 hingga 80 persen. Pada kelompok unit usaha industri gerabah yang tergolong memiliki kelangsungan usaha sedang pasca gempa, rata-rata tingkat pemulihan usaha mencapai 146,7 persen dengan kisaran tingkat pemulihan usaha antara 40 – 370 persen. Pada industri yang berlangsung sedang, terdapat 38,9 persen unit usaha yang mengalami penurunan nilai produksi pasca gempa sebesar 40 – 60 persen. Pada kelompok unit usaha dengan kelangsungan usaha baik pasca gempa, rata-rata tingkat pemulihan usaha mencapai 220 persen, dan hanya 10 persen unit usaha yang mengalami penurunan nilai produksi dibanding sebelum gempa, dengan besar penurunan nilai produksi sebesar 60 persen.

121

6.2. Kelangsungan Usaha Pasca Gempa Menurut Karakteristik Pengusaha Langkah pengusaha dalam mengambil keputusan, mengatasi masalah yang dihadapi usahanya sangat perlu dipertimbangkan dalam studi industri kecil. Beberapa faktor-faktor karakter individu pengusaha yang dapat dikaitkan dengan kelangsungan usaha, meliputi pendidikan, umur dan jumlah anggota rumah tangga.

6.2.1 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Menurut Umur Pengusaha Umur pengusaha berkaitan dengan lama pengalaman usaha, motivasi berusaha dan kemampuan fisik yang dimiliki mengingat proses produksi gerabah ini masih dilakukan secara manual sehingga membutuhkan banyak tenaga. Tabel 6.5 menunjukkan variasi kelangsungan usaha pada masing-masing kelompok umur pengusaha.
Tabel 6.5 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Menurut Kelompok Umur Pengusaha Umur Pengusaha (tahun) Buruk N 1 0 10 11 Kelangsungan Usaha Sedang N 14 11 11 36 % 38,8 30,6 30,6 100,0 N 2 6 5 13 Baik % 15,4 46,2 38,4 100,0

30 – 39 40 – 49 ≥ 50 Jumlah (N = 60)

% 9,1 0,0 90,9 100,0

Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Sebagian besar unit usaha yang berlangsung buruk pasca gempa dimiliki oleh pengusaha berusia 50 tahun ke atas, sedangkan pada unit usaha yang berlangsung sedang pasca gempa terdistribusi hampir merata pada semua kelompok umur pengusaha. Terjadi peningkatan persentase kelangsungan usaha

122

yang tergolong baik pada pengusaha berumur 40 – 49 tahun dibanding pengusaha berusia 30 – 39 tahun dari 15,4 persen menjadi 46,2 persen, namun menurun pada kelompok umur 50 – 59 tahun menjadi 38,4 persen. Semakin membaiknya kelangsungan usaha pada kelompok umur pengusaha 40 – 49 tahun dibanding pengusaha berusia 30 – 39 tahun dapat disebabkan pengalaman usaha yang dimiliki pengusaha berusia 40 – 49 tahun lebih lama daripada pengusaha berusia 30 – 39 tahun. Tidak terdapat pengusaha lebih dari 60 tahun yang tergolong memiliki kelangsungan usaha baik. Selain disebabkan secara fisik tenaga yang dimiliki sudah berkurang sehingga jumlah produk yang dihasilkan tidak sebanyak saat mereka berusia lebih muda, juga dapat disebabkan menurunnya motivasi untuk memproduksi gerabah lebih banyak karena pada usia ini mereka biasanya tidak lagi terlalu terbebani kewajiban membiayai keluarga.

6.2.2 Kelangsungan Pengusaha

Usaha

Industri

Gerabah

Menurut

Pendidikan

Pendidikan yang diraih seseorang berkaitan dengan cara pikir, terbukanya wawasan dan kemudahan dalam menyerap ilmu pengetahuan dan informasi. Dalam konteks kelangsungan usaha, pengusaha berpendidikan lebih tinggi diharapkan mampu mengatasi permasalahan usaha yang muncul pasca gempa dengan menemukan solusi yang lebih baik sehingga memiliki produktivitas usaha yang lebih tinggi pula. Dengan semakin tinggi produktivitas usaha, diharapkan nilai produksi yang dicapai pengusaha setiap bulannya juga meningkat, yang

123

artinya kelangsungan usaha juga semakin baik. Pengamatan kelangsungan usaha berdasar tingkat pendidikan pengusaha dibantu oleh penyajian data pada Tabel 6.6. Tabel 6.6 Kelangsungan Usaha Menurut Pendidikan Pengusaha
Kelangsungan Usaha Tidak Sekolah N % 3 60,0 1 20,0 1 20,0 5 100,0 Pendidikan Pengusaha SD SLTP N % N % 7 21,2 1 7,1 20 60,6 9 64,3 6 18,2 4 28,6 33 100,0 14 100,0 SLTA+ N % 0 0,0 6 75,0 2 25,0 8 100,0

Buruk Sedang Baik Jumlah (N = 60)

Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Pembacaan Tabel 6.6 menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan usaha secara umum semakin baik dengan semakin tinggi tingkat pendidikan pengusaha. Kelangsungan usaha dengan kategori baik meningkat pada pengusaha berpendidikan sekolah menengah pertama (SLTP) sebanyak 8,6 – 10,4 persen dibanding pengusaha yang tidak bersekolah dan menamatkan sekolah dasar. Pernyataan di atas juga didukung menurunnya persentase industri gerabah dalam kategori kelangsungan usaha buruk pasca gempa secara siginifikan dari 60 persen pada pengusaha yang tidak bersekolah, menjadi 21,2 persen pada pengusaha berpendidikan sekolah dasar, 7,1 persen pada pengusaha berpendidikan SLTP hingga nol persen pada kelompok pengusaha berpendidikan SLTA.

6.3. Kelangsungan Usaha Menurut Karakter Unit Usaha Kelangsungan usaha industri sangat terkait dengan karakter unit usaha. Karakter Unit usaha yang dimaksud meliputi jenis produksi, kerusakan tempat usaha. Dalam penelitian ini kerusakan tempat usaha diwakili oleh kerusakan

124

rumah tinggal pengusaha, mengingat hampir semua usaha industri gerabah di Desa Panjangrejo dilaksanakan menyatu dengan rumah atau pekarangan tempat tinggal) dan luas tempat produksi.

6.3.1.

Kelangsungan Usaha Menurut Kondisi Unit Usaha

6.3.1.1. Kelangsungan Usaha Menurut Jenis Produksi Produk gerabah tradisional dan gerabah keramik memiliki perbedaan penggunaan, karena itu memiliki segmen pasar yang berbeda. Produk tradisional berupa barang-barang kebutuhan rumah tangga seperti alat masak tradisional dan kebutuhan dapur, banyak dipakai terutama oleh penduduk pedesaan atau untuk keperluan khusus berkaitan tradisi seperti guci untuk keperluan penyucian pada upacara keagamaan tertentu. Produk gerabah keramik yang dihasilkan di Desa Panjangrejo sebagian besar berupa sovenir berukuran kecil yang menjadi pelengkap pesta pernikahan dan acara lainnya, benda dekoratif penghias ruang seperti pot bunga atau jambangan, atau benda dengan fungsi lain misalnya tempat pensil, cangkir, asbak, dan lain-lain menjadikan segmen pasar produk jenis ini lebih luas. Perbedaan segmen pasar berdampak penyerapan produk oleh konsumen. Produk yang memiliki segmen pasar yang lebih luas akan diserap oleh lebih banyak konsumen daripada produk yang segmen pasarnya terbatas. Penyerapan produk oleh konsumen akan mempengaruhi nilai produksi mengingat kedua jenis produk kerajinan gerabah tersebut diproduksi oleh pengusahanya atas dasar jumlah pesanan yang diterima.

125

Tabel 6.7 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Pasca Gempa Menurut Jenis Produksi
Kelangsungan Usaha Jenis Produksi Tradisional Keramik N % N % 10 30,3 1 3,7 21 63,6 15 55,6 2 6,1 11 40,7 33 100,0 27 100,0

Buruk Sedang Baik Jumlah (N = 60)

Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Kelangsungan usaha industri keramik dengan kategori baik mencapai 40,7 persen. Nilai ini lebih tinggi daripada persentse kelangsungan usaha industri gerabah tradisional pada kategori baik yang hanya sebesar 6,1 persen. Untuk kategori kelangsungan usaha sedang mencapai lebih dari 50 persen pada kedua jenis produk, masing-masing sebesar 63,6 persen pada produk tradisional dan 55,6 persen pada produk keramik. Angka yang sangat menarik adalah bahwa terjadi selisih sangat besar antara persentase kelangsungan usaha dengan kategori buruk antara jenis produk tradisional dengan keramik. Pada jenis gerabah tradisional, terdapat 30,3 persen unit usaha yang berada dalam kategori kelangsungan usaha buruk pasca gempa. Sebaliknya produk keramik hanya terdapat 1 dari 27 unit usaha atau 3,7 persen yang berkategori memiliki kelangsungan usaha buruk. Secara singkat dapat dikatakan industri keramik memiliki kelangsungan usaha lebih baik daripada industri gerabah tradisional. Berdasarkan pengamatan di lapangan, sebagian besar pengusaha memproduksi gerabah-gerabah dengan bentuk yang hampir serupa. Tampak sovenir dengan bentuk yang sama akan diproduksi oleh banyak pengusaha. Hal ini menimbulkan persaingan harga di antara para pengusaha di Desa Panjangrejo, meskipun kisaran persaingan harga tersebut nilainya relatif kecil yaitu sekitar Rp

126

50 – Rp1.500 per produk. Belum banyak pengusaha yang berani bereksplorasi dengan produk-produk yang memiliki cita rasa seni yang tinggi, misalnya dengan mencoba bentuk-bentuk baru yang belum ada di pasaran atau berbeda dengan produk sejenis yang diproduksi di desa ini. Keluhan yang disampaikan salah seorang pengusaha yang cukup sukses dengan 80 persen produk ditujukan untuk pasar ekspor adalah kurangnya pengetahuan pengusaha mengenai tren produk gerabah yang diminati di pasaran mancanegara. Selama ini para pengusaha hanya memenuhi permintaan barang berdasar permintaan model yang diinginkan pembeli. Kondisi demikian membuat kreativitas dalam menciptakan produk baru juga terbatas. Padahal produk-produk yang seragam dan monoton dikhawatirkan dapat berdampak pada lesunya pemasaran akibat ketidakmampuan pengusaha menarik konsumen yang cenderung mencari alternatif produk yang lebih menarik. Hal ini antara lain disebabkan kurangnya waktu yang tersedia dan rendahnya wawasan guna menggali inspirasi dalam menciptakan produk dengan bentuk baru. Untuk mengatasinya perlu dilakukan kerjasama dengan institusi pendidikan tinggi khususnya di bidang seni rupa guna menumbuhkan ide-ide baru dalam mengembangkan kreativitas pengusaha gerabah. Salah satu ide yang mungkin diterapkan yaitu dengan memberikan sentuhan lukisan batik, atau motif tokohtokoh pewayangan pada produk gerabah berglazuur, sebagai salah satu alternatif baru dalam produk gerabah bercita rasa seni tinggi.

127

6.3.1.2. Kelangsungan Usaha Menurut Kerusakan Tempat Usaha Tingkat kerusakan tempat usaha berdampak pada kelangsungan usaha melalui waktu yang diperlukan unit usaha untuk bangkit pasca gempa. Para pengusaha yang memiliki tempat usaha rusak berat dan ringan, cenderung lebih segera membuat gerabah kembali pasca gempa. Pengusaha dengan tingkat kerusakan tempat usaha sangat parah atau roboh, membutuhkan waktu lebih lama untuk bangkit karena harus terlebih dahulu memenuhi kebutuhan hidup keluarga, baru kemudian menata ulang keperluan produksi gerabah seperti bahan baku, tempat dan peralatan usaha. Tabel 6.7 menggambarkan kelangsungan usaha pada berbagai tingkat kerusakan tempat usaha. Tabel 6.7 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Pasca Gempa Dan Kerusakan Tempat Usaha
Kelangsungan Usaha Buruk Sedang Baik Jumlah (N = 60) Kerusakan Tempat Usaha Rusak Ringan Rusak Berat Roboh N % N % N % 0 0,0 1 9,0 10 20,8 1 100,0 5 45,5 30 62,5 0 0 5 45,5 8 16,7 1 100,0 11 100,0 48 100,0

Sumber: Data Primer, Mei 2008

Tabel 6.7 menunjukkan semakin ringan tingkat kerusakan tempat usaha, semakin baik kelangsungan usaha. Hal ini teramati dengan membandingkan kelompok unit usaha dengan kerusakan tempat usaha roboh dan rusak berat. Pengusaha dengan tempat usaha roboh akibat gempa 16,7 persen di antaranya memiliki kelangsungan usaha baik, sedangkan pada pengusaha dengan tempat usaha rusak berat, kelangsungan usaha kategori baik meningkat lebih dari 2 kali lipat menjadi 45,5 persen. Persentase kelangsungan usaha kategori buruk juga

128

memiliki selisih cukup besar antara unit usaha yang mengalami rusak berat dan roboh masing-masing 9,1 persen pada unit usaha yang mengalami rusak berat dan 22,9 persen pada unit usaha yang roboh. Ini menunjukkan semakin parah tingkat kerusakan tempat usaha akibat gempa, kemungkinan akan semakin buruk kelangsungan usaha industri gerabah tersebut pasca gempa. Pengamatan kelangsungan usaha pada pengusaha dengan tempat usaha rusak ringan gagal dilakukan karena jumlah temuan yang sangat kecil dalam penelitian ini, yaitu hanya 1 dari total 60 responden. Temuan pada salah satu pengusaha lain yang sangat terkenal di Dusun Watu, menyatakan bahwa industri gerabah miliknya hanya berhenti berproduksi selama 2 minggu pasca gempa karena kerusakan tempat usaha yang dialami cukup ringan. Pernyataan menunjukkan kerusakan tempat usaha yang ringan mendorong pengusaha untuk segera bangkit untuk memulai usahanya.

6.3.1.3. Kelangsungan Usaha Menurut Luas Tempat Usaha Luas tempat usaha berkaitan dengan kapasitas produksi suatu industri. Semakin luas tempat usaha, maka kapasitas produksi atau jumlah produk yang mampu dihasilkan akan semakin besar jumlahnya. Dalam konteks barang seni seperti gerabah, luas tempat produksi berkaitan dengan jumlah barang yang dihasilkan. Meskipun demikian, luas tempat usaha tidak dapat dihubungkan dengan nilai produksi karena tiap produk yang dihasilkan memiliki nilai jual berbeda tergantung pada nilai seni, kerumitan dan fungsi suatu barang.

129

Tabel 6.8 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Pasca Gempa Menurut Luas Tempat Usaha
Kelangsungan Usaha Luas Tempat Usaha (m2) <15 15 – 25 N % N % 4 21,1 4 20,0 14 73,6 11 55,0 1 5,3 5 25,0 19 100,0 20 100,0 ≥26 N % 3 14,3 11 52,4 7 33,3 21 100,0

Buruk Sedang Baik Jumlah (N = 60) Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Pada unit usaha dengan luas tempat usaha kurang dari 15 m2 terdapat 21,2 persen unit usaha yang memiliki kelangsungan usaha buruk. Semakin luas tempat usaha, persentase unit usaha dengan kelangsungan usaha buruk menurun, berturutturut adalah 20 persen pada unit usaha dengan luas tempat usaha antara 15 – 25 m2 menjadi 14,3 persen pada unit usaha dengan luas tempat usaha lebih dari 26 m2. Kelangsungan usaha kategori baik meningkat dengan semakin luas tempat usaha, mulai dari 5,3 persen pada luas tempat usaha kurang dari 15 m2, 25 persen pada luas tempat usaha antara 15 – 25 m2 dan menjadi 33,3 persen pada industri dengan luas tempat usaha lebih dari 26 m2. Tidak terdapat unit usaha dengan kategori berlangsung buruk pada luas lebih dari 50m2.

6.3.2. Kelangsungan Usaha Menurut Faktor-faktor Produksi 6.3.2.1. Kelangsungan Usaha Menurut Biaya Produksi Biaya produksi mewakili seberapa besar ongkos yang dikeluarkan pengusaha untuk menjalankan usahanya setiap bulan. Usaha gerabah di Desa Panjangrejo sangat menggantungkan penjualan produknya pada pesanan, membuat munculnya prediksi bahwa besarnya biaya produksi sangat ditentukan oleh besarnya jumlah pesanan yang diterima, sehingga nilai produksi diperkirakan 130

juga semakin besar seiring peningkatan jumlah pesanan produk. Nilai produksi merupakan salah satu faktor yang dinilai dalam kelangsungan usaha, sehingga prediksi selanjutnya yang muncul adalah besar biaya produksi memberi dampak pada semakin baiknya kelangsungan usaha industri gerabah pasca gempa. Interpretasi lebih lanjut dilakukan terhadap Tabel 6.9. Tabel 6.9 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Pasca Gempa Menurut Biaya Produksi
Kelangsungan Usaha Biaya Produksi per unit usaha (rupiah per bulan) < 100.000 100.000 – ≥312.500 312.400 N 7 12 3 22 % 31,8 54,6 13,6 100,0 N 1 10 10 21 % 4,8 47,6 47,6 100,0

N % Buruk 3 17,6 Sedang 14 82,4 Baik 0 0,0 Total 17 100,0 (N = 60) Sumber: diolah dari data primer, 2008

Tabel 6.9 memperlihatkan semakin meningkat biaya produksi diikuti membaiknya kelangsungan usaha. Pernyataan ini didukung semakin

meningkatnya persentase kelangsungan usaha dalam kategori baik mulai dari nol persen pada unit usaha yang menghabiskan biaya produksi kurang dari Rp100.000 menjadi 13,6 persen pada kelompok biaya produksi berkisar antara Rp100.000 – Rp312.400 dan meningkat menjadi 47,6 persen pada unit usaha dengan biaya produki minimal Rp312.500 per bulan.

6.3.2.2. Kelangsungan Usaha Menurut Akses Kredit Modal Usaha Kredit modal usaha bagi industri di daerah korban gempa bertujuan membantu para pengusaha yang mengalami kesulitan modal agar dapat menggerakkan kembali kegiatan industrinya. Namun tidak semua pengusaha

131

korban gempa memperoleh akses kredit modal usaha. Alasan yang diutarakan pengusaha tidak memenuhi persyaratan pengajuan kredit dan khawatir tidak dapat mengembalikan hutang. Tabel 6.10 menampilkan kelangsungan usaha

berdasarkan akses kredit modal usaha. Tabel 6.10 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Menurut Akses Kredit Modal Usaha
Kelangsungan Usaha Buruk Sedang Baik Total N = 60 Memiliki Pinjaman Kredit Modal Usaha Ya Tidak N % N % 1 4,3 10 27,0 15 65,3 21 56,8 7 30,4 6 16,2 23 100,0 37 100,0

Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Secara singkat dapat dikatakan bahwa kredit modal usaha pasca gempa bagi usaha kecil cukup membantu para pengusaha mempertahankan kelangsungan usahanya. Hal ini ditandai dengan besar persentase unit usaha dengan akses kredit modal usaha yang mampu memenuhi kategori kelangsungan usaha baik mencapai 30,4 persen dibandingkan unit usaha yang tidak memiliki akses kredit modal usaha yang hanya sebesar 16,2 persen. Pernyataan ini didukung dengan persentase kelangsungan usaha buruk yang jauh lebih kecil pada usaha dengan akses kredit modal usaha sebesar 4,3 persen dibanding industri tanpa akses kredit modal usaha yang mencapai 27,0 persen. Berdasarkan besar nilai pinjaman, unit usaha yang memiliki kelangsungan usaha baik pasca gempa memiliki pinjaman modal usaha sebesar Rp1.000.000 – Rp9.000.000. Pada unit usaha yang memiliki kelangsungan usaha sedang, nilai pinjaman modal berkisar antara Rp500.000 – Rp5.000.000. Nilai pinjaman satu

132

kasus unit usaha yang tergolong memiliki kelangsungan usaha buruk sebesar Rp2.000.000. Sejauh mana kredit modal usaha bagi industri kecil yang dilanda bencana membantu pengusaha mempertahankan usahanya masih perlu diteliti. Keefektifan pemanfaatan kredit modal usaha guna pembiayaan produksi masih perlu dipertanyakan karena penggunaannya masih sering bercampur dengan upaya memulihkan kondisi rumah tangga pengusaha sebagai korban gempa, misalnya mendanai perbaikan rumah.

6.3.2.3 Kelangsungan Usaha Menurut Jumlah Tenaga Kerja Semakin banyak tenaga kerja yang terlibat dalam unit usaha, diharapkan semakin besar kapasitas produksi unit usaha tersebut, sehingga nilai produksinya juga semakin tinggi. Namun, ketergantungan pemasaran industri gerabah pada pesanan yang diterima oleh pengusaha, membuat jumlah tenaga kerja kurang memberi peran pada nilai produksi. Pada saat pesanan gerabah meningkat, maka produktivitas para pekerja juga meningkat, dan sebaliknya pada saat pesanan berkurang, jumlah unit barang yang dikerjakan para pekerja juga sedikit. Nilai produk industri kerajinan sangat bergantung pada model, kualitas produk, dan nilai seni yang terdapat di dalamnya. Semakin banyak dan semakin rumit pengerjaan produk yang dipesan, maka nilai produksi industri gerabah tersebut juga semakin tinggi. Jumlah pesanan yang tidak menentu setiap bulannya membuat para pengusaha sangat fleksibel dalam merekrut pekerja. Saat pesanan yang diterima banyak sehingga tidak dapat dikerjakan oleh pengusaha dan anggota rumah tangganya sendiri, penambahan pekerja dibayar pun dilakukan.

133

Sebaliknya saat jumlah pesanan sedikit, jumlah pekerja yang dibayar pun berkurang. Pada industri ini, sering dijumpai para pengusaha memilih tidak mempekerjakan orang selain anggota rumah tangga atau bekerja sendiri. Tabel 6.11 menunjukkan distribusi kelangsungan usaha menurut jumlah tenaga kerja. Tabel 6.11 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Pasca Gempa Menurut Penggunaan Jumlah Tenaga Kerja
Kelangsungan Usaha Jumlah Tenaga Kerja (orang/unit usaha) 1-3 ≥4 N % N % 9 19,6 2 14,3 29 63,0 7 50,0 8 17,4 5 35,7 46 100,0 14 100,0

Buruk Sedang Baik Jumlah (N = 60)

Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Pada unit usaha dengan tenaga kerja 1 – 3 orang, persentase unit usaha dengan kelangsungan usaha baik sebesar 17,4 persen. Persentase unit usaha yang memiliki kelangsungan usaha baik tampak meningkat dengan meningkatnya jumlah tenaga kerja, menjadi 35,7 persen pada unit usaha yang mempunyai minimal 4 orang tenaga kerja. Persentase unit usaha dengan kategori kelangsungan usaha buruk turun tipis dari 19,6 persen pada unit usaha dengan tenaga kerja 1 – 3 orang menjadi 14,3 persen pada unit usaha dengan minimal 4 orang tenaga kerja. Terdapat dua unit usaha dengan tenaga kerja lebih dari 4 orang yang memiliki kelangsungan usaha buruk. Ini disebabkan nilai produksi kedua unit usaha tersebut masing-masing hanya pada Rp508.000 dan Rp437.500 sehingga skor kelangsungan usaha kurang dari 4 yang berarti “buruk”. Rendahnya nilai produksi pada unit usaha dengan tenaga kerja lebih dari 4 orang bisa disebabkan pesanan yang diterima saat penelitian dilakukan rendah, sehingga

134

terdapat kemungkinan tenaga kerja yang ada tidak melakukan pekerjaan dengan produktifitas yang sama saat pesanan banyak.

6.4.

Pendapatan Industri Gerabah Pasca Gempa Pendapatan usaha diperoleh dari nilai produksi dikurangi biaya produksi

dalam periode tertentu. Rata-rata pendapatan usaha industri gerabah di Desa Panjangrejo pasca gempa adalah Rp755.000. Nilai pendapatan terendah dari industri ini adalah Rp70.000 perbulan, sedangkan nilai pendapatan tertinggi adalah Rp7.432.000. Tabel 6.12 menyajikan kelompok unit usaha berdasarkan kelas pendapatan usaha.
Tabel 6.12 Pendapatan Usaha Industri Gerabah Pasca Gempa Pendapatan Usaha Jumlah usaha Persentase (rupiah per bulan) (unit) (%) ≤ 405.000 20 33,3 405.100 – 1.267.500 20 33,3 > 1.267.500 20 33,3 Total 60 100,0
Sumber : Diolah dari data primer, 2008

Pada kelompok unit usaha yang memperoleh pendapatan rendah ini biasanya adalah unit usaha yang dijalankan sebagai usaha rumah tangga pengisi waktu luang oleh pengusaha yang bekerja sendiri dengan satu atau 2 orang tenaga kerja, atau oleh mereka yang berusia tua guna memenuhi kebutuhan hidup seharihari. Distribusi pendapatan akan bervariasi berdasarkan jenis gerabah yang diproduksi. Terlihat bahwa industri keramik memiliki potensi memperoleh pendapatan usaha lebih besar dibandingkan industri gerabah tradisional. Persentase unit usaha dengan pendapatan kurang dari Rp405.000 per bulan pada

135

industri gerabah tradisional mencapai 85,0 persen namun tidak dijumpai pada industri keramik. Sebaliknya pada industri keramik terdapat 65 persen unit usaha yang berhasil meraih pendapatan lebih dari Rp1.267.600 per bulan. Dengan demikian terlihat bahwa dibanding industri gerabah tradisional, industri keramik yang mampu meraih pendapatan yang lebih besar. Baik jenis gerabah tradisional maupun keramik, memiliki persentase pendapatan cukup besar antara Rp405.100 – Rp1.267.500 masing-masing 45 persen untuk gerabah tradisional dan 55 persen pada keramik. Menurut pernyataan hampir sebagian besar pengusaha, terjadi penurunan pendapatan dari usaha industri gerabah pasca gempa dibanding sebelum gempa. Selain disebabkan kenaikan harga bahan baku, permintaan khususnya pasar ekspor menurun tajam karena terputusnya kontak dengan para buyer luar negeri setelah terjadinya gempa. Penurunan pendapatan yang dialami bisa mencapai 60 persen dibanding sebelum gempa tahun 2006. Meskipun permintaan cukup tinggi 3 bulan pertama pasca gempa sampai akhir tahun 2007 khususnya untuk kebutuhan alat-alat dapur, pesanan yang diterima para pengusaha tahun 2008 masih relatif kecil dibanding tahun-tahun sebelum gempa. Terlebih lagi pengusaha gerabah di Pundong mulai mendapat saingan dari Klaten, dan Temanggung yang juga mulai memproduksi gerabah tradional serupa untuk mengisi kekosongan produksi saat gempa terjadi.

136

KESIMPULAN DAN SARAN

1.

Kesimpulan Gempa merupakan penyebab utama terhentinya kegiatan produksi gerabah

di Desa Panjangrejo. Meskipun sebagian besar unit usaha roboh dan rusak berat, hampir semua pengusaha berusaha segera bangkit dengan mulai melakukan kegiatan produksi kurang dari setahun pasca gempa. Dengan memanfaatkan peralatan yang masih bisa dipakai, beberapa pengusaha bahkan memproduksi gerabah selagi berada di tenda-tenda pengungsian. Selain didorong keinginan untuk segera memperoleh penghasilan dan tidak bergantung pada bantuan kemanusiaan, para pengusaha juga memanfaatkan momentum peningkatan jumlah pesanan khususnya peralatan dapur yang diiringi peningkatan harga jual produk beberapa saat hingga setahun pasca gempa. Bangkitnya kegiatan industri gerabah juga didukung pemberian bantuan pemerintah dan LSM berupa peralatan industri seperti alat putar, molen dan bahan baku. Persentase unit usaha yang berlangsung baik pasca gempa relatif kecil yaitu sebesar 21,7 persen dari total 60 unit usaha yang terdata. Mengingat keberlangsungan usaha dinilai dari waktu yang dibutuhkan suatu unit usaha untuk bangkit serta nilai produksi, maka dapat dipahami kecilnya persentase unit usaha dalam kategori baik menjadi kecil karena cepatnya waktu bangkit suatu unit usaha tidak selalu diiringi dengan besar nilai produksi yang mampu diraih. Penilaian terhadap tingkat pemulihan usaha menunjukkan terdapat 32,4 persen unit usaha yang mengalami penurunan nilai produksi sebesar 40 – 80 persen dibanding

137

sebelum gempa. Fakta ini menjadi indikasi semakin rendahnya pendapatan usaha gerabah disebabkan menurunnya permintaan yang di sisi lain justru diikuti dengan semakin meningkatnya harga bahan baku. Upaya untuk meningkatkan nilai produksi selama ini dilakukan dengan memberikan pelatihan penyempurnaan produk (finishing), manajemen keuangan dan pemasaran. Di samping itu upaya penguatan modal pengusaha juga dilakukan melalui penyaluran pinjaman lunak baik berasal dari dana pemerintah, perbankan dan koperasi desa. Beberapa kendala berkaitan dengan upaya peningkatan nilai produksi antara lain: (1) ketergantungan pemasaran gerabah Pundong pada satu pasar utama yaitu sentra gerabah Kasongan, menyebabkan daya tawar pengusaha terhadap nilai jual produk rendah; (2) pelatihan finishing tidak disertai perluasan akses pasar yang bersedia membeli produk siap jual yang dihasilkan; (3) rendahnya pemanfaatan kredit usaha disebabkan kurangnya pemahaman prosedur, tidak memiliki agunan, dan kekhawatiran pengusaha tidak mampu

mengembalikan pinjaman. 2. Saran Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan nilai produksi melalui peningkatan nilai jual produk dengan mengembangkan produk-produk siap jual dan memiliki cita rasa seni harus disertai perluasan jaringan pemasaran agar industri gerabah Pundong mampu langsung memasarkan produknya ke pasaran ekspor. Selain itu prosedur penyaluran kredit usaha lunak harus disederhanakan agar semakin banyak pengusaha potensial mampu mengembangkan usaha mereka di masa datang.

138

Daftar Pustaka

Anonim. Daftar Kerusakan Akibat Bencana Gempa Bumi Tanggal 27 Mei 2006 Di Sentra Gerabah Pundong, Bantul. Kantor Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul. Aristanti, Wheny. 2007. Strategi Kelangsungan Hidup Rumah Tangga Korban Gempa Di Desa Segarayasa Kecamatan Pleret Kabupaten Bantul. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. BAPPENAS, 2006. Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian Bencana Alam di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Laporan Bersama BAPPENAS, Pemerintah Provinsi dan Daerah D.I. Yogyakarta, Pemerintah Provinsi dan Daerah Jawa Tengah, dan mitra internasional, Juli 2006. Pertemuan ke-15 Grup Konsultatif Untuk Indonesia, Jakarta, 14 Juni 2006. Basri, Faisal. 2002. Perekonomian Indonesia. Tantangan dan Harapan Bagi Kebangkitan Ekonomi Indonesia. Jakarta: Erlangga. Bettie, Bruce, R and Taylor, Robert,C. 1994. Ekonomi Produksi. Diterjemahkan oleh Soeratno Josohardjono. Yogyakarta: GMU Press. Bintarto. 1977. Pengantar Geografi. Yogyakarta: Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada. Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi D.I. Yogyakarta. 2004. Pendataan Potensi Industri Kecil dan Menengah Tahun 2004 Propinsi D.I. Yogyakarta. Proyek Pemberdayaan Industri Kecil dan Menengah Tahun Anggaran 2004. DPMA, 1983. Petunjuk Klimatologi. Dirjen Pengairan, Departemen Pekerjaan Umum.

Endarto, Eko.2006. Lokasi Bukan Alasan Untuk Sukses. Diakses tanggal 12 Maret 2007 dari http://www.perencanakeuangan.com/files/lokasibukanalasan.html. . Karwur, Hermon Maurits. 1993. Pengaruh Faktor-Faktor Produksi Terhadap Produksi Mebel Di Desa Leilem Kecamatan Sonder Kabupaten Minahasa Propinsi Sulawesi Utara. Tesis. Yogyakarta: Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada.

139

Kompas. (2006). Perekonomian. Sentra Industri, Ujung Tombak Mikroekonomi yang Terkoyak”, Kompas. Diakses pada tanggal 7 Juli 2006, dari
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0606/30/jogja

Kumalawati, Rosalina. 2003. Hubungan Antara Karakteristik Pengusaha Dengan Produksi Untuk Pengembangan Industri Kerajinan Gerabah Di Desa Panjangrejo Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.. Kuncoro, Mudrajad. 2002. Analisis Spasial dan Regional. Studi Aglomerasi dan Kluster Industri Indonesi. Yogyakarta: UPP AMP YKPN. Kuncoro, M. dan Supomo, Irwan A. 2003. Analisis Formasi Keterkaitan, Pola Kluster dan Orientasi Pasar: Studi Kasus Sentra Industri Keramik di Kasongan, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta. Jurnal Empirika. Volume 16, No. 1, Juni 2003. Diakses pada tanggal 6 Desember 2007 dari
http://www.mudrajad.com/upload/jurnal tanggal 14 September 2006

Kuncoro, Mudrajad, 2007. “Profil UKM dan Peluang Kerja Sama SME ASEAN”. Disampaikan dalam Lokakarya Pemanfaatan Skema Kerja sama UKM ASEAN bagi Peningkatan Ekspor Indonesia, Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, tanggal 15 Maret 2007 di Yogyakarta. Lastari. (2000). Industri Kerajinan Tanduk. Kasus Di Desa Pucang Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. Muta’ali, L. 2003. Analisis Keruangan dan Tata Ruang. Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. Prayitno, Hadi. 1987. Pembangunan Ekonomi Pedesaan (Edisi Dua). Yogyakarta: BPFE. Pemerintah Kota Yogyakarta. Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Tahun 2006 (18 April 2007). Kedaulatan Rakyat, hal. 7. Poerwanto, Hari. 2000. Kebudayaan dan Lingkungan Dalam Perspektif Antropologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Rahardjo, Dawam.1984.Transformasi Pertanian, Industrialisasi, dan Kesempatan Kerja. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Renner, G.T, 1957. World Economic Geography. New York: Thomas Y. Crowell Company.

140

Sadoko, I., Maspiyati, Haryadi, D., Schmit, L.Th. 1995. Kebijakan dan Pengembangan Usaha Kecil Di Indonesia. Dalam Tanah, Buruh, dan Usaha Kecil Dalam Proses Perubahan. Kumpulan Ringkasan Hasil Penelitian. Jakarta: AKATIGA. Santoso, S & Tjiptono, F. 2004. Riset Pemasaran: Konsep Aplikasi Dengan SPSS. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Said, Nurmal. 1991. Pola Pembinaan Industri Kecil di Sumatera Barat. Dalam Industri Kecil dan Kesejahteraan Kerja. Padang: Pusat Penelitian Universitas Andalas. Smith, M.D. 1981. Industrial Location, An Economic Geographical Analysis. Second Edition, John Wiley and Sons, New York. Singarimbun, Masri dan Effendi, Sofian. 1989. Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3S

Soemardjito, Joewono. (2006). Kajian Kualitas Hunian Untuk Mendukung Desa Wisata Pada Daerah Sentra Industri Gerabah di Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul. Tesis. Yogyakarta: Program Studi Ilmu Lingkungan Jurusan Antar Bidang. Sekolah Pasca Sarjana. UGM. Suhendratmo.2003. Industri Kerajinan Mebel Bambu Pasca Krisis (Studi Kasus di Desa Tirtoafi Kecamatan Mlati Kabupaten Sleman Propinsi Yogyakarta). Tesis. Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.
Sulistyawati, Dyah Ratih. 2004. Penyerapan Tenaga Kerja Usaha Kecil dan Menengah Di Indonesia 1998 – 2001. Populasi: Buletin Penelitian Kebijakan Kependudukan (Vol. 15: Nomor 2). Yogyakarta: Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan, Universitas Gadjah Mada.

Sutanto, A.B., 2006, Disaster Management Di Negeri Rawan Bencana, Jakarta: PT Aksara Grafika Pratama. Staley, Eugene and Morse, Richard. 1965. Modern Small Industry for Developing Countries. Stanford Research Institude. Mc Graw-Hill Book Company. Tambunan, T. 1999. Perkembangan Industri Skala Kecil Di Indonesia. Jakarta: PT. Mutiara Sumber Widya. Verkoren, Otto. 1991.Industri Pedesaan dan Industrialisasi Pedesaan. Diterjemahkan oleh Agus Sutanto. Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. Wahyuningsih, Nurhayati. 2000. Aktivitas Industri Gerabah Kasongan Terhadap Komponen Sosial Ekonomi dan Sosial Budaya Masyarakat Kasongan. Tesis. Yogyakarta: Program Pasca Sarjana.UGM. 141

Wikipedia. 2006. Gempa Bumi Yogyakarta Mei 2006. Diakses pada tanggal 7 Juli 2007, dari http://www.id.wikipedia.org/wiki/Gempa_Bumi_Yogyakarta_Mei_2006 Wikipedia. 2006. Proses Pembuatan Gerabah. Diakses pada tanggal 20 Agustus 2008, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Gerabah.

Yuarsi, Susi, E. 1999. Dampak Krisis Ekonomi Bagi Pengusaha Industri Kecil : Kasus Industri Pengecoran Logam Di Batur Klaten, dalam Seminar Dampak Krisis Di Pedesaan, 24 April (PAD) Cabang D.I. Yogyakarta dan PPK Universitas Gadjah Mada. Yunus, Hadi, S. 2004. Pendekatan Utama Geografi. Acuan Khusus Pendekatan Keruangan / Ekologis dan Komples Wilayah. Ceramah pada Studium General, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang pada tanggal 24 Maret 2004 di Semarang.

142

KUESIONER PENELITIAN

I. Karakteristik Unit Usaha 1. 2. nama usaha: alamat: (Dusun, Desa,

Kecamatan) 3. 4. 5. 6. Lama usaha (sebutkan tahun) Luas tempat usaha Jenis kerusakan akibat gempa a. ringan b. berat/roboh

Jenis bangunan pasca gempa (dilihat dari jenis dinding) a. Permanen (konblok, plester) b. Non atau semi permanen (kayu, batu bata, bambu)

7.

Usaha produksi dimulai lagi ...........bulan/minggu pasca gempa

II. Karakteristik Pengusaha 1. 2. 3. 4. 5. 6. Nama pengusaha Jenis kelamin Umur Pendidikan terakhir Jumlah Anggota keluarga Keterampilan membuat gerabah diperoleh dari a. belajar sendiri tetangga/lingkungan 7. 8. Pekerjaan selain industri gerabah Pendapatan per bulan dari pekerjaan selain industri gerabah b. Turun-temurun c. Belajar dari

III. Tentang akses modal 1. Bagaimana bapak/ibu memperoleh modal untuk kembali membangun usaha setelah gempa? (jawaban diberi centang, boleh lebih dari satu) a. meminjam dari bank/ koperasi/ lembaga keuangan lain

143

b. Jika meminjam dari bank/ koperasi/ lembaga keuangan/ pinjaman lain, apakah pinjaman modal tersebut sudah lunas? c. Meminjam dari sanak saudara d. menjual aset kepemilikan pribadi (barang berharga seperti perhiasan, tanah, bangunan, kendaraan bermotor, dll) e. menggadaikan asset pribadi? Jika ya, apakah barang tersebut sudah ditebus? f. Berasal dari simpanan uang / dana pribadi 2. 3. 4. Bantuan pemulihan usaha kecil pasca gempa, berupa: pinjaman, sebesar pinjaman bergulir hibah, sebesar Jika mendapat pinjaman modal, bagaimana cara pembayarannya? cicilan per bulan dengan bunga, sebutkan besar bunga cicilan per tahun dengan bunga, sebutkan besar bunga bagi hasil dari keuntungan (berapa persen dari keuntungan) Apakah bapak/ibu selalu lancar membayar cicilan pinjaman tepat waktu? a. Ya b. tidak Alasan: 5. Apakah ada sanksi jika terlambat membayar cicilan pinjaman? a. ada, berupa: - denda (berapa nilainya?) - lainnya b. tidak ada

144

6.

Dari mana asal uang yang dipakai untuk membayar cicilan pinjaman dalam 3 periode terakhir (misal 3 bulan terakhir). (Beri centang pada tabel)
Asal Uang Waktu pembayaran Periode 1 Periode 2 Periode 3

1. pendapatan usaha industri gerabah 2. pendapatan pekerjaan pekerjaan lainnya 3. menjual barang dari asset pribadi 4. simpanan pribadi (misalnya tabungan) 5. meminjam uang dari orang lain/saudara 6. lainnya

145

IV. Produksi
No. 1. Faktor produksi Modal (uang) a. Awal berdiri b. Pasca gempa c. Untuk 1x produksi Jumlah/uni t Asal Nilai (Rupiah)

proses

a. ... b. ... c. ....

a. ... b. .... c. ...

2. Bahan baku/1x proses produksi a. tanah liat b. ... c. ...... d. .... e. .... Bahan tambahan a. cat b. pernis c. .... d. ..... e. .... 5. Peralatan a. .... b. .... c. ..... d. ..... e. ...... f. ..... g. .... 6. Biaya produksi a. bahan bakar b. ongkos transportasi c. biaya kirim d. upah tenaga kerja e. perizinan f. cicilan kredit g. ..... h. ..... i. ..... j. total biaya produksi Nilai produksi per bulan Pendapatan usaha per bulan a. b. c. d. e. f. g. ... ... ... ... ... .... .... a. b. c. d. e. f. g. ... ... ... ... ... ... ... a. b. c. d. e. f. g. ... ... ... ... ... ... ... a. b. c. d. e. ... ... .... .... .... a. b. c. d. e. f. a. b. c. d. e. ... ... ... ... ... a. b. c. d. e. ... .... .... ... ....

3.

4. a. b. c. d. e. ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... a. b. c. d. e. ... ... ... ... ...

(6.d dan 7. diisi berdasar kuesioner produk dan tenaga kerja)

7. 8.

(diisi oleh peneliti)

a. ... b. ... c. ... d. .... e. .... f. ... g. ... h. ... i. ... ......................... (-) .............................

146

V. Tentang Ketenagakerjaan (Tanyakan kepada pengusaha) 1. Berapa jumlah tenaga kerja sebelum gempa? 2. Sebelum gempa, berapa jumlah anggota keluarga bapak/ibu yang bekerja di industri gerabah ini? 3. Kondisi pasca gempa 1. Jumlah tenaga kerja: a. upahan: - laki-laki: - perempuan b. pekerja dari anggota rumah tangga: - laki-laki - perempuan Catatan:
Untuk pekerja borongan, kolom (v) tanyakan berapa unit yang dikerjakan dalam 1 kali borongan

2. Sistem pengupahan
Jenis pekerjaan Jumlah pekerja (ii) Sistem pengupahan a. harian b. mingguan c. borongan d. lainnya …? (iii) Nilai upah (Rp) per satuan sistem upah (iii) (iv) Jumlah unit yang dikerjakan per satuan sistem upah Nilai upah per bulan (diisi sendiri) Jumlah pekerja (jam kerja sehari & jml hari kerja)

(vii) (v) (vi) …s/d … day/ week

(i) L P

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Jumlah total

147

VI.

Produk 1. Jenis dan nilai produk

Jenis produk

(i) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Nilai jual Jumlah unit per unit yang diproduksi produk dalam 1 x proses produksi (ii) (iii)

Nilai total produk dalam 1 kali proses produksi

Berapa kali produksi dilakukan dalam 1 bulan (iv)=(i)*(iii) (v)

Nilai omzet seluruh produk dalam 1 bulan (diisi peneliti)

(vi) = (iv)*(v)

…….. Jumlah total

#######

########

2. Pemasaran a. Cara pemasaran (i) memasarkan sendiri pesanan b. Tujuan pemasaran (i) dalam negeri (sebutkan nilainya) - daerah tujuan - nilai Rupiah (ii) ekspor (sebutkan nilainya) negara tujuan nilai Rupiah

(ii)

memenuhi

-

148

Wawancara Mendalam Ketenagakerjaan • Bagi Pengusaha

Tentang regenerasi pengusaha / penerus usaha Apakah bapak/ibu mengajarkan keterampilan membuat gerabah kepada anak dan anggota keluarga? 1. ya 2. tidak

Apakah Bapak/ibu menginginkan usaha ini diteruskan oleh anak atau anggota keluarga yang lain? 1. ya 2. tidak

Catatan: •

Bantuan yang diterima unit usaha pasca gempa Dari pemerintah : a. Peralatan b. Modal c. Pembinaan d. Lainnya Dari pihak swasta /LSM: Peralatan (nilai dalam Rupiah) Modal (sebutkan nilainya) Pembinaan, berupa: (sebutkan bantuan pemasaran inovasi produk manajemen usaha

e. f. g.

berapa kali pengusaha)

keikutsertaan

- lainnya Catatan: •

Bagi Pekerja

Tentang upah Adakah perbedaan upah sebelum dan sesudah gempa: “apakah upah tenaga kerja di usaha bapak/ibu sekarang meningkat atau sama saja seperti sebelum gempa?”

149

Tentang asal daerah Dari mana asal daerah sebagian besar tenaga kerja di usaha bapak/ibu?

Tentang minat terus bekerja di industri gerabah Selama industri gerabah berhenti pasca gempa, pekerjaan apa yang bapak/ibu lakukan untuk mencari nafkah?

-

Apa pekerjaan sebagian besar tenaga kerja selain di industri gerabah ini?

-

Pekerjaan mana yang penghasilannya lebih banyak / menguntungkan?

-

Jika pekerjaan selain industri gerabah lebih menguntungkan, apakah Bapak/Ibu masih ingin terus bekerja di industri gerabah ini?

-

Apa tujuan bapak/ibu bekerja di industri gerabah ini

a. sebagai pekerjaan utama b. untuk menambah penghasilan dari pekerjaan utama c. belajar sehingga dapat membuka usaha sendiri suatu saat

Strategi Pengusaha 1. ya 2. tidak

1. Apakah menghadapi masalah dengan permodalan? Jika ya, apa upaya yang Bapak/Ibu lakukan

2. Apakah menghadapi masalah dengan bahan baku? Jika ya, apa upaya yang Bapak/Ibu lakukan

1. ya

2. tidak

3. Apakah menghadapi masalah dengan pemasaran? Jika ya, apa upaya yang Bapak/Ibu lakukan

1. ya

2. tidak

4. Apakah menghadapi masalah dengan lainnya? Jika ya, apa upaya yang Bapak/Ibu lakukan

1. ya

2.tidak

150

Lampiran 3: perhitungan statistik Perhitungan Statistik
umur pengusaha (Banded) Frequency 22 18 20 60 Percent 36.7 30.0 33.3 100.0 Valid Percent 36.7 30.0 33.3 100.0 Cumulative Percent 36.7 66.7 100.0

Valid

<= 40 41 - 50 51+ Total

Jenis Kelamin Pengusaha Frequency 33 27 60 Percent 55.0 45.0 100.0 Valid Percent 55.0 45.0 100.0 Cumulative Percent 55.0 100.0

Valid

Lk Pr Total

pendidikan pengusaha Cumulative Percent 8.3 63.3 86.7 100.0

Frequency Valid tidak sekolah SD SMP SLTA Total 5 33 14 8 60

Percent 8.3 55.0 23.3 13.3 100.0

Valid Percent 8.3 55.0 23.3 13.3 100.0

Jumlah Anggota Rumah Tangga Frequency 39 21 60 Percent 65.0 35.0 100.0 Valid Percent 65.0 35.0 100.0 Cumulative Percent 65.0 100.0

Valid

1-4 >4 Total

151

Lanjutan lampiran 3 ....................
Jenis Produksi Frequency 33 27 60 Percent 55.0 45.0 100.0 Valid Percent 55.0 45.0 100.0 Cumulative Percent 55.0 100.0

Valid

tradisional keramik Total

Statistics luas tempat us aha N Valid Missing Mean Median Range Minimum Maximum

60 0 36,45 18,00 194 6 200

luas tempat usaha (m ) Frequency 48 6 6 60 Percent 80,0 10,0 10,0 100,0 Valid Percent 80,0 10,0 10,0 100,0 Cumulative Percent 80,0 90,0 100,0

2

Valid

<50 50-100 >100 Total

kerusakan rumah Frequency Percent Valid Percent Valid rusak berat roboh ringan Total 11 48 1 60 18.3 80.0 1.7 100.0 18.3 80.0 1.7 100.0

Cumulative Percent 18.3 98.3 100.0

152

Lanjutan lampiran 3 ....................
Statistics modal untuk memulai kembali usaha setelah gempa (ribu rupiah) N Mean Median Mode Std. Deviation Range Minimum Maximum Valid Missing 34 0 849.12 500.00 500 1236.909 4980 20 5000

modal untuk memulai kembali usaha setelah gempa (ribu rupiah) (Banded) Frequency 11 5 18 34 26 60 Percent 6.3 2.9 10.3 19.5 80.5 100.0 Valid Percent 32.4 14.7 52.9 100.0 Cumulative Percent 32.4 47.1 100.0

Valid

Missing Total

<180 180 - 499 500+ Total System

Statistics modal produksi yang dibuthkan per bulan (ribu rupiah) N Valid 60 Missing 0 Mean 342.667 Median 197.500 Mode 50.0 Std. Deviation 496.2305 Skewness 3.259 Std. Error of Skewness .309 Range 2678.0 Minimum 50.0 Maximum 2728.0 Percentiles 25 95.125 50 197.500 75 360.000

153

Lanjutan lampiran 3 ....................
modal produksi yang dibuthkan per bulan (ribu rupiah) (Banded) Frequency 17 22 21 60 Percent 28.3 36.7 35.0 100.0 Valid Percent 28.3 36.7 35.0 100.0 Cumulative Percent 28.3 65.0 100.0

Valid

<100.0 100.0 - 312.4 312.5+ Total

modal produksi yang dibuthkan per bulan (ribu rupiah) (Banded) * jenis hasil produksi Crosstabulation jenis hasil produksi tradisional keramik 16 1 48.5% 12 36.4% 5 15.2% 33 100.0% 3.7% 10 37.0% 16 59.3% 27 100.0%

Total 17 28.3% 22 36.7% 21 35.0% 60 100.0%

modal produksi yang dibuthkan per bulan (ribu rupiah) (Banded)

<100.0

100.0 - 312.4

312.5+

Total

Count % within jenis hasil produksi Count % within jenis hasil produksi Count % within jenis hasil produksi Count % within jenis hasil produksi

jika meminjam modal, darimana pinjaman itu diperoleh? Cumulative Percent 60.9 91.3 100.0

Frequency Valid koperasi simpan pinjam bank bantuan pemda Total 14 7 2 23

Percent 60.9 30.4 8.7 100.0

Valid Percent 60.9 30.4 8.7 100.0

Tenaga Kerja Frequenc y 46 14 60 0 60 Valid Percent 76.7 23.3 100.0 Cumulative Percent 76.7 100.0

Valid

Missing Total

1-3 4+ Total System

Percent 76.7 23.3 100.0 .0 100.0

154

Lanjutan lampiran 3 ....................
Statistics nilai tanah liat Valid Missing Mean Median Mode Minimum Maximum

N

60 0 137.258 95.000 200.0 12.5 900.0

nilai tanah liat (Banded) Frequency 19 19 22 60 Percent 31.7 31.7 36.7 100.0 Valid Percent 31.7 31.7 36.7 100.0 Cumulative Percent 31.7 63.3 100.0

Valid

<50.0 50.0 - 149.9 150.0+ Total

nilai tanah liat (Banded) * jenis hasil produksi Crosstabulation jenis hasil produksi tradisional keramik 18 1 54.5% 12 36.4% 3 9.1% 33 100.0% 3.7% 7 25.9% 19 70.4% 27 100.0%

Total 19 31.7% 19 31.7% 22 36.7% 60 100.0%

nilai tanah liat (Banded)

<50.0

50.0 - 149.9

150.0+

Total

Count % within jenis hasil produksi Count % within jenis hasil produksi Count % within jenis hasil produksi Count % within jenis hasil produksi

155

Lanjutan lampiran 3 ....................
Statistics nilai bahan bakar N Valid Missing Mean Median Mode Minimum Maximum

60 0 128.642 76.500 100.0 15.0 960.0

nilai bahan bakar (Banded) Frequency 19 14 27 60 Percent 31.7 23.3 45.0 100.0 Valid Percent 31.7 23.3 45.0 100.0 Cumulative Percent 31.7 55.0 100.0

Valid

<50.0 50.0 - 99.9 100.0+ Total

nilai bahan bakar (Banded) * jenis hasil produksi Crosstabulation jenis hasil produksi tradisional keramik 17 2 51.5% 6 18.2% 10 30.3% 33 100.0% 7.4% 8 29.6% 17 63.0% 27 100.0%

Total 19 31.7% 14 23.3% 27 45.0% 60 100.0%

nilai bahan bakar (Banded)

<50.0

50.0 - 99.9

100.0+

Total

Count % within jenis hasil produksi Count % within jenis hasil produksi Count % within jenis hasil produksi Count % within jenis hasil produksi

156

Lanjutan Lampiran 3 ....................
Nilai produksi rata-rata per bulan tahun 2008 (ribu rupiah) N Valid 60 Missing Mean Median Mode Std. Deviation Ange Minimum Maximum 0 1387.333 923.750 600.0 1557.5512 10020.0 140.0 10160.0

Nilai produksi rata-rata per bulan (Banded) Frequency 17 22 21 60 Percent 28.3 36.7 35.0 100.0 Valid Percent 28.3 36.7 35.0 100.0 Cumulative Percent 28.3 65.0 100.0

Valid

<600.0 600.0 - 1519.9 1520.0+ Total

Nilai produksi rata-rata per bulan (Banded) * jenis hasil produksi Crosstabulation jenis hasil produksi tradisional keramik 16 1 48.5% 12 36.4% 5 15.2% 33 100.0% 3.7% 10 37.0% 16 59.3% 27 100.0%

Total 17 28.3% 22 36.7% 21 35.0% 60 100.0%

Nilai produksi rata-rata per bulan (Banded)

<600.0

600.0 - 1519.9

1520.0+

Total

Count % within jenis hasil produksi Count % within jenis hasil produksi Count % within jenis hasil produksi Count % within jenis hasil produksi

157

Lanjutan Lampiran 3 ....................
kelangsungan usaha Frequency 11 36 13 60 Percent 18.3 60.0 21.7 100.0 Valid Percent 18.3 60.0 21.7 100.0 Cumulative Percent 18.3 78.3 100.0

Valid

buruk sedang baik Total

Statistics RECOVR N Mean Median Mode Std. Deviation Minimum Maximum Percentiles Valid Missing

25 50 75

34 0 164.41 125.00 40a 140.372 20 680 60.00 125.00 202.50

a. Multiple modes exist. The smallest value is shown

158

pendidikan pengusaha * kelangsungan usaha Crosstabulation kelangsungan usaha buruk sedang baik 3 1 1 60.0% 27.3% 7 21.2% 63.6% 1 7.1% 9.1% 0 .0% .0% 11 18.3% 100.0% 20.0% 2.8% 20 60.6% 55.6% 9 64.3% 25.0% 6 75.0% 16.7% 36 60.0% 100.0% 20.0% 7.7% 6 18.2% 46.2% 4 28.6% 30.8% 2 25.0% 15.4% 13 21.7% 100.0%

Total 5 100.0% 8.3% 33 100.0% 55.0% 14 100.0% 23.3% 8 100.0% 13.3% 60 100.0% 100.0%

pendidikan pengusaha

tidak sekolah

SD

SMP

SLTA

Total

Count % within pendidikan pengusaha % within kelangsungan usaha Count % within pendidikan pengusaha % within kelangsungan usaha Count % within pendidikan pengusaha % within kelangsungan usaha Count % within pendidikan pengusaha % within kelangsungan usaha Count % within pendidikan pengusaha % within kelangsungan usaha

159

kelangsungan usaha * umur pengusaha Crosstabulation umur pengusaha >=50 30 - 39 40 - 49 10 0 1 9.1% 5.9% 14 38.9% 82.4% 2 15.4% 11.8% 17 28.3% 100.0% .0% .0% 11 30.6% 64.7% 6 46.2% 35.3% 17 28.3% 100.0% 90.9% 38.5% 11 30.6% 42.3% 5 38.5% 19.2% 26 43.3% 100.0%

Total 11 100.0% 18.3% 36 100.0% 60.0% 13 100.0% 21.7% 60 100.0% 100.0%

kelangsungan usaha

buruk

sedang

baik

Total

Count % within kelangsungan usaha % within umur pengusaha Count % within kelangsungan usaha % within umur pengusaha Count % within kelangsungan usaha % within umur pengusaha Count % within kelangsungan usaha % within umur pengusaha

jenis hasil produksi * kelangsungan usaha Crosstabulation kelangsungan usaha baik buruk sedang 2 10 21 30.3% 90.9% 1 3.7% 9.1% 11 18.3% 100.0% 63.6% 58.3% 15 55.6% 41.7% 36 60.0% 100.0% 6.1% 15.4% 11 40.7% 84.6% 13 21.7% 100.0%

Total 33 100.0% 55.0% 27 100.0% 45.0% 60 100.0% 100.0%

jenis hasil produksi

tradisional

keramik

Total

Count % within jenis hasil produksi % within kelangsungan usaha Count % within jenis hasil produksi % within kelangsungan usaha Count % within jenis hasil produksi % within kelangsungan usaha

160

Lanjutan Lampiran 3 ....................
kerusakan rumah * kelangsungan usaha Crosstabulation kelangsungan usaha buruk sedang baik 1 5 5 9.1% 9.1% 10 20.8% 90.9% 0 .0% .0% 11 18.3% 100.0% 45.5% 13.9% 30 62.5% 83.3% 1 100.0% 2.8% 36 60.0% 100.0% 45.5% 38.5% 8 16.7% 61.5% 0 .0% .0% 13 21.7% 100.0%

Total 11 100.0% 18.3% 48 100.0% 80.0% 1 100.0% 1.7% 60 100.0% 100.0%

kerusakan rumah

rusak berat

roboh

ringan

Total

Count % within kerusakan rumah % within kelangsungan usaha Count % within kerusakan rumah % within kelangsungan usaha Count % within kerusakan rumah % within kelangsungan usaha Count % within kerusakan rumah % within kelangsungan usaha

luas tempat usaha (Banded) * kelangsungan usaha Crosstabulation kelangsungan usaha buruk sedang baik 4 14 1 21.1% 36.4% 4 20.0% 36.4% 3 14.3% 27.3% 11 18.3% 100.0% 73.7% 38.9% 11 55.0% 30.6% 11 52.4% 30.6% 36 60.0% 100.0% 5.3% 7.7% 5 25.0% 38.5% 7 33.3% 53.8% 13 21.7% 100.0%

Total 19 100.0% 31.7% 20 100.0% 33.3% 21 100.0% 35.0% 60 100.0% 100.0%

luas tempat usaha (Banded)

<15

15 - 25

26+

Total

Count % within luas tempat usaha (Banded) % within kelangsungan usaha Count % within luas tempat usaha (Banded) % within kelangsungan usaha Count % within luas tempat usaha (Banded) % within kelangsungan usaha Count % within luas tempat usaha (Banded) % within kelangsungan usaha

161

Lanjutan Lampiran 3 ....................

apakah bapak/ibu memiliki pinjaman modal? * kelangsungan usaha Crosstabulation kelangsungan usaha buruk sedang baik 1 15 7 4.3% 9.1% 10 27.0% 90.9% 11 18.3% 100.0% 65.2% 41.7% 21 56.8% 58.3% 36 60.0% 100.0% 30.4% 53.8% 6 16.2% 46.2% 13 21.7% 100.0%

Total 23 100.0% 38.3% 37 100.0% 61.7% 60 100.0% 100.0%

apakah bapak/ibu memiliki pinjaman modal?

ya

tidak

Total

Count % within apakah bapak/ibu memiliki pinjaman modal? % within kelangsungan usaha Count % within apakah bapak/ibu memiliki pinjaman modal? % within kelangsungan usaha Count % within apakah bapak/ibu memiliki pinjaman modal? % within kelangsungan usaha

Tenaga Kerja * kelangsungan usaha Crosstabulation kelangsungan usaha buruk sedang baik 9 29 8 19.6% 63.0% 17.4% 81.8% 2 14.3% 18.2% 11 18.3% 100.0% 80.6% 7 50.0% 19.4% 36 60.0% 100.0% 61.5% 5 35.7% 38.5% 13 21.7% 100.0%

Total 46 100.0% 76.7% 14 100.0% 23.3% 60 100.0% 100.0%

Tenaga Kerja

1-3

4+

Total

Count % within Tenaga Kerja % within kelangsungan usaha Count % within Tenaga Kerja % within kelangsungan usaha Count % within Tenaga Kerja % within kelangsungan usaha

162

Lanjutan lampiran 3 ....................
kelangsungan usaha * Nilai produksi rata-rata per bulan (Banded) Crosstabulation Nilai produksi rata-rata per bulan (Banded) 600.0 1520.0+ <600.0 1519.9 0 1 10 90.9% 58.8% 7 19.4% 41.2% 0 .0% .0% 17 28.3% 100.0% 9.1% 4.5% 21 58.3% 95.5% 0 .0% .0% 22 36.7% 100.0% .0% .0% 8 22.2% 38.1% 13 100.0% 61.9% 21 35.0% 100.0%

Total 11 100.0% 18.3% 36 100.0% 60.0% 13 100.0% 21.7% 60 100.0% 100.0%

kelangsungan usaha

buruk

sedang

baik

Total

Count % within kelangsungan usaha % within Nilai produksi rata-rata per bulan (Banded) Count % within kelangsungan usaha % within Nilai produksi rata-rata per bulan (Banded) Count % within kelangsungan usaha % within Nilai produksi rata-rata per bulan (Banded) Count % within kelangsungan usaha % within Nilai produksi rata-rata per bulan (Banded)

.

163

Lanjutan lampiran 3 ....................
Statistics rata-rata pendapatan usaha gerabah per bulan pada tahun 2008 (ribu rupiah) N Valid 60 Missing 0 Mean 1078.142 Median 775.000 Range 7362.0 Minimum 70.0 Maximum 7432.0

rata-rata pendapatan usaha gerabah per bulan pada tahun 2008 (ribu rupiah) (Banded) Frequency 20 20 20 60 Percent 33.3 33.3 33.3 100.0 Valid Percent 33.3 33.3 33.3 100.0 Cumulative Percent 33.3 66.7 100.0

Valid

<= 405.0 405.1 - 1267.5 1267.6+ Total

164

Lampiran 4 Gambar-gambar di Lapangan

Gambar 1. Seorang penduduk menunjukkan mesin penggiling tanah atau molen bantuan dari LSM yang jarang dipakai

Gambar 2. Tumpukan tungku gerabah siap jual di tempat penyimpanan menunggu dibeli oleh para pedagang

165

Lanjutan lampiran 4………..

Gambar 3. Berbagai souvenir yang baru saja dicetak sedang dijemur sebelum dibakar

Gambar 4. Bantuan rumah tinggal sementara pasca gempa dari PMI yang masih dimanfaatkan penduduk sebagai tempat produksi dan menyimpan gerabah

166

167

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->