P. 1
Anak Yatim Dan Fakir Miskin Bersabarlah

Anak Yatim Dan Fakir Miskin Bersabarlah

|Views: 16|Likes:
Published by cakim88

More info:

Published by: cakim88 on Dec 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2010

pdf

text

original

Minggu V, Januari 2008

17

MODUS ACEH

Parlementaria

Seorang guru dengan penuh ketulusan sedang membimbing siswanya dalam belajar kelompok.

■ MODUS/Herman Lamlhom

Anak Yatim dan Fakir Miskin, Bersabarlah!
Usulan tambahan anggaran yang diajukan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Rp 180 miliar untuk bantuan pendidikan langsung kepada 100.000 anak yatim dan fakir miskin di Aceh, gagal disalurkan. Padahal, dana itu sudah disetujui DPR Aceh 2007 lalu.
2007 lalu. Alasan belum ada data lengkap. Padahal, program pencacahan masyarakat miskin telah dilakukan Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Aceh, bekerja sama dengan Lembaga Pemberdayaam Masyarakat Aceh (LPMA). Wakil Ketua DPR Aceh, Raihan Iskandar mengaku kecewa dengan masalah ini. Menurutnya, pemerintah seharusnya bekerja lebih baik agar dana yang sudah dianggarkan tersebut dapat langsung disalurkan. Apalagi, ujar Raihan, pencacahan keluarga mikisn masih bermasalah. Padahal, dana yang dianggarkan mencapai puluhan miliar. Lalu, bagaimana dengan 2008 ini? “Akhirnya kita (DPRA) sepakat bersama Gubernur Irwandi, tahun 2008 ini dianggarkan kembali dan dibahas ulang untuk masalah dana pendidikan anak yatim dan fakir miskin tadi,” ujar Raihan Iskandar. Kata Raihan, tim yang dibentuk pemerintah untuk sementara hanya mampu mengidentifikasi anak yatim dan anak miskin sebanyak 45 persen. Sedangkan 55 persen lagi masih dalam proses identifikasi. Sehingga dana pendidikan tersebut belum bisa disalurkan. Ditanya tentang kemungkinan adanya penyelewengan saat penyaluran nanti, Raihan berpendapat. Pemerintah daerah sendiri, pihak sekolah, dan masyarakat umum perlu mengawasi dan mengingatkan agar dana beasiswa yang disiapkan daerah untuk mengatasi kesulitan pembiayaan sekolah bagi kaum tak mampu, bisa benar-benar tersalur sesuai dengan sasaran. Pengalaman selama ini, kemalasan dan ketidakjelian birokrat pendidikan dalam menggali data secara akurat di tingkat sekolah, menjadi potensi untuk menimbulkan kasus salah alamat dalam penyaluran beasiswa. Birokrat cenderung menempuh jalan pintas dengan hanya memanfaatkan data anak miskin yang tercatat di sekolah, tanpa mau berupaya menggali data anak-anak yang tidak bersekolah. Masih kata Raihan, diharapkan, dana beasiswa Rp 180 miliar itu hendaknya menyentuh semua lapisan siswa dari keluarga tidak mampu. “Tidak boleh ada perlakuan beda antara mereka yang sekolah negeri atau swasta maupun pesantren,” kata Raihan lagi. Bukan hanya itu. “Tahun 2008 ini, seluruh dana-dana yang dianggarkan untuk masyarakat miskin harus dapat segera disalurkan. Karena bagaimanapun itu semua adalah hak mereka sebagai masyarakat Aceh,” ujar Raihan. Akankah terlaksana dengan baik? Kita lihat saja.***

J

angankan hidup, disebut miskin saja, tentu tidak enak. Selain sering dipandang “sebelah” mata. Status miskin sering pula menjadi “objek” politik banyak pihak. Karena itu, tak ada anak manusia yang mau hidup miskin. Namun, suratan hiduplah yang membuat seseorang terjerat dalam kemiskinan. Bisa jadi, tekad dan semangat memberantas kemiskinan itulah yang membalut Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, untuk mengucurkan dana bantuan. Termasuk kepada seribu anak yatim di daerah ini. Nah, untuk memuluskan rencana tadi, Irwandi Yusuf mengusulkan dana Rp 180 miliar. Hasilnya, masyarakat miskin dan anak yatim tadi, memang harus bersabar dan

Raihan Iskandar menunggu lebih lama untuk memperoleh dana bantuan. Maklum, hingga kini program tadi masih belum jelas jutrungnya. Rencana awal, usulan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf ini, agar anak yatim dan fakir miskin di Aceh bisa memperoleh dana bantuan pendidikan langsung. Sumber dananya berasal dari APBD Aceh. Tentu tak semudah membalik telapak tangan. Ada konsekwensi yang harus ditempuh. Setidaknya, ada 14 mata anggaran yang dihapus dan dipangkas. Direncanakan, setiap anak akan memperoleh Rp 150.000 per bulan. Namun, usaha mulia ini lagi-lagi gagal dilaksanakan pada tahun

Martha Andival

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->