P. 1
Sejarah PMI

Sejarah PMI

|Views: 574|Likes:
Published by BaimLaitupa

More info:

Published by: BaimLaitupa on Dec 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2012

pdf

text

original

Sejarah PMI

GERAKAN PALANG MERAH DAN BULAN SABIT MERAH INTERNATIONAL

A.GERAKAN PALANG MERAH DAN BULAN SABIT MERAH INTERNATIONAL SEJARAH LAHIRNYA GERAKAN

Pada tanggal 24 Juni 1859 di kota Solferino, Italia Utara, pasukan Perancis dan Italia sedang bertempur, melawan pasukan Austria dalam suatu peperangan yang mengerikan. Pada hari yang sama, seorang pemuda warga negara Swiss, Henry Dunant, berada disana dalam rangka perjalanannya untuk menjumpai Kaisar Perancis Napoleon III. Puluhan ribu tentara terluka, sementara bantuan medis militer tidak cukup untuk merawat 40.000 orang yang emnajdi korban pertempuran tersebut. Tergetar oleh penderitaan tentara yang terluka, Henry Dunan bekerjasama dengan penduduk setempat segera bertindak mengerahkan bantuan untuk menolong mereka. Beberapa waktu kemudian, setelah kembali ke Swiss, dia menuangkan kesan dan pengalaman tersebut kedalam sebuah buku berjudul "Kenangan dari Solferino", yang menggemparkan seluruh Eropa. Dalam bukunya, Henry Dunant mengajukan dua gagasan : Pertama, membentuk organisasi kemanusiaan internasional, yang dapat dipersiapkan pendiriannya pada masa damai untuk menolong para prajurit yang cedera di medan perang.

Kedua, mengadakan perjanjian internasional guna melindungi prajurit yang cedera di medan perang serta perlindungan sukarelawan dan organisasi tersebut pada waktu memberikan pertolongan pada saat perang. Pada tahun 1863, empat orang warga kota Jenewa bergabung dengan Henry Dunant untuk mengembangkan gagasan pertama tersebut. Mereka bersama-sama membentuk "Komite Internasional untuk bantuan para tentara yang cedera", yang sekarang disebut Komite

II. Kegiatan perhimpunan nasional beragam seperti bantuan darurat pada bencana.Komite Internasional Palang Merah / International Committee of the Red Cross (ICRC). Konvensi ini kemudian disempurnakan dan dikembangkan menjadi Konvensi Jenewa I. yang didirikan hampir di setiap negara di seluruh dunia. bantuan sosial. atas prakarsa pemerintah federal Swiss diadakan Konferensi Internasional yang dihadiri beberapa negara untuk menyetujui adanya "Konvensi perbaikan kondisi prajurit yang cedera di medan perang". termasuk Palang Merah Indonesia. Persyaratan pendirian suatu perhimpunan nasional diantaranya adalah : omen dapat pengakuan dari pemerintah negara yang sudah menjadi peserta Konvensi Jenewa . Berdasarkan gagasan kedua. 2.Perhimpunan Nasional Palang Merah atau Bulan Sabit Merah. ICRC merupakan lembaga kemanusiaan yang bersifat mandiri. pelayanan kesehatan. pada tahun 1864. Dalam perkembangannya kelak untuk melaksanakan kegiatan kemanusiaan di setiap negara. III dan IV tahun 1949 atau juga dikenal sebagai Konvensi Palang Merah . dan sebagai penengah yang netral.Internasional Palang Merah atau International Committee of the Red Cross (ICRC). ICRC berdasarkan prakarsanya atau konvensi-konvensi Jenewa 1949 berkewajiban memberikan perlindungan dan bantuan kepada korban dalam pertikaian bersenjata internasional maupun kekacauan dalam negeri. maka didirikanlah organisasi sukarelawan yang bertugas untuk membantu bagian medis angkatan darat pada waktu perang. yang kini berjumlah 176 Perhimpunan Nasional. yang dibentuk pada tahun 1863 dan bermarkas besar di Swiss. Konvensi ini merupakan salah satu komponen dari Hukum Perikemanusiaan Internasional (HPI) suatu ketentuan Internasional yang mengatur perlindungan bantuan korban perang. Organisasi tersebut yang sekarang disebut Perhimpunan Nasional Palang Merah atau Bulan Sabit Merah. PALANG MERAH INTERNASIONAL 1. Selain memberikan bantuan dan perlindungan untuk korban perang. pelatihan P3K dan pelayanan transfusi darah. ICRC juga bertugas untuk menjamin penghormatan terhadap Hukum Perikemanusiaan internasional.

3. khusus untuk Federasi Internasional dan anggota perhimpunan nasional juga mengadakan pertemuan Sidang Umum (General Assembly) sebagai forum untuk membahas program kepalangmerahan dan pengembangannya. perhimpunan nasional dan Federasi Internasional) serta seluruh negara peserta Konvensi Jenewa. Bersamaan dengan pertemuan tersebut. Suatu tim yang dibentuk secara khusus untuk menyiapkan pertemuan selang antar konferensi internasional yaitu Komisi Kerja (Standing Commission). khususnya saat itu untuk menolong korban dampak paska perang dunia I dalam bidang kesehatan dan sosial. Komitmen Regional anggota . Gerakan Palang Merah Internasional juga mengadakan pertemuan Dewan Delegasi (Council of Delegates) . dan memfasilitasi pendirian dan pengembangan organisasi palang merah nasional.omen jalankan Prinsip Dasar Gerakan Bila demikian ICRC akan memberi pengakuan keberadaan perhimpunan tersebut sebelum menjadi anggota Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah / International Federation of Red Cross and Red Crescent (IFRC). Dewan Delegasi akan membahas permasalahan yang akan dibawa dalam konferensi internasional. Konferensi ini merupakan badan tertinggi dalam Gerakan dan mempunyai mandat untuk membahas dan memutuskan semua ketentuan internasional yang berkaitan dengan kegiatan kemanusiaan kepalangmerahan yang akan menjadi komitmen semua peserta. warga negara Amerika yang disahkan pada suatu Konferensi Internasional Kesehatan pada tahun 1919 untuk mengkoordinir bantuan kemanusiaan. KOMITMEN KEMANUSIAAN Berikut adalah garis besar program kemanusiaan kepalangmerahan yang terakomodasi antara lain dalam kesepakatan Federasi Internasional (Strategi 2010). Federasi bermarkas besar di Swiss dan menjalankan tugas koordinasi anggota Perhimpunan Nasional dalam program bantuan kemanusiaan pada masa damai. yang anggotanya terdiri atas seluruh komponen Gerakan. Pendirian Federasi diprakarsai oleh Henry Davidson. PERTEMUAN ORGANISASI PALANG MERAH INTERNASIONAL Sesuai dengan Statuta dan Anggaran Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah menyebutkan empat tahun sekali diselenggarakan Konferensi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (Internasional Red Cross Conference). Dua tahun sekali . Konferensi ini dihadiri oleh seluruh komponen Gerakan Palang Merah Internasional (ICRC.

Dokumen yang diadopsi Sidang Umum pada tahun 1999 ini menjabarkan misi Federasi yaitu : "memperbaiki hajat hidup masyarakat rentan dengan memobilisasi kekuatan kemanusiaan". Artinya ada mekanisme organisasi. efektif dan efisien yaitu dengan mengembangkan kerjasama subregional dan mengimplementasikan strategi gerakan. + Kesiapsiagaan penanggulangan bencana. yaitu: + Promosi Prinsip-Prinsip dasar Gerakan dan nilai-nilai kemanusiaan.Memobilisasi Kekuatan Kemanusiaan Pengerahan kapasitas organisasi untuk pelayanan ini akan terjadi bila perhimpunan nasional berfungsi dengan baik. 2. memobilisi sumber keuangan dengan mengembangkan kemitraan dan mengoptimalkan komunikasi dalam Perhimpunan Nasional. Keempat bidang ini adalah suatu paket yang integral dan saling terkait satu sama lain. memobilisasi publik dan advokasi penentu kebijakan serta mengkomunikasikan pesan-pesan dan misi Federasi Internasional.Perhimpunan (Deklarasi Hanoi) dan kesepakatan Konferensi Internasional (Plan of Action).Memperbaiki Hajat Hidup Masyarakat Rentan Strategi ini terfokus melalui empat bidang inti. 1. Tiga tujuan utama yang strategis adalah: 1. kemitraan dengan organisasi internasional lain. STRATEGI 2010 Strategi 2010 (S-2010) adalah seperangkat strategi Federasi Internasional dalam menghadapi tantangan kemanusiaan pada dekade menantang. 2. + Penanggulangan Bencana. yang memiliki dua dimensi yaitu pelayanan dan advokasi.Bekerjasama Secara Efektif Adanya perhimpunan nasional yang kuat akan membentuk sebuah Federasi yang kuat . 3. pengembangan kapasitas. DEKLARASI HANOI "United for Action" . dan + Kesehatan dan perawatan di masyarakat.

yang disepakati oleh 37 perhimpunan nasional se Asia Pasifik dan Timur Tengah yang bertekad . Komitmen Pemerintah Indonesia Memenuhi komitmen untuk meratifikasi Protokol Tambahan I dan II dari Konvensi-Konvensi Jenewa 1949 Memperkuat Legislasi yang berkaitan dengan penggunaan Lambang Palang Merah Memperkuat aspek-aspek kelembagaan dalam perencanaan kesiapsiagaan penanggulangan bencana Mengintensifkan pendidikan dan diseminasi Hukum Humaniter Internasional dan karya-karya organisasi kemanusiaan kepada masyarakat sipil dan militer .2003 Plan of Action 2000 . untuk bersatu demi suatu aksi kemanusiaan. geografis dan latar belakang lain. Hal ini menjadi tantangan bagi Palang Merah untuk membantu meringankan penderitaan umat manusia. Deklarasi Hanoi memfokuskan penanganan program pada isu-isu berikut: + Penanggulangan bencana + Penanganan wabah penyakit + Remaja dan Manula + Kemitraan dengan pemerintah + Organisasi dan Manajemen kapasitas sumber daya + Hubungan masyarakat dan promosi 3.2003 merupakan keputusan Konferensi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah ke-27 di Jenewa pada tahun 1999 .Dokumen ini disahkan melalui Konferensi Regional V di Hanoi. Pemerintah Indonesia dan PMI sebagai peserta menyatakan ikrarnya di bidang kemanusiaan. walau beragam budaya. Kecenderungan bencana alam serta krisis moneter secara global telah melanda wilayah regional dan berdampak pada permasalahan imigrasi penduduk karena menghendaki perbaikan hidup. krisis ekonomi yang menyebabkan angka pengangguran yang semakin meningkat serta berjangkitnya wabah penyakit. Vietnam pada tahun 1998. PLAN OF ACTION 2000 .

yaitu pada tanggal 3 . Perjuangan untuk mendirikan Palang Merah Indonesia sendiri diawali sekitar tahun 1932. Rencana tersebut mendapat dukungan luas terutama dari kalangan terpelajar Indonesia . Melaksanakan program sosial dan kesehatan dalam hal pelayanan darah. yang kemudian dibubarkan pada saat pendudukan Jepang. mereka kembali mencoba untuk membentuk Badan Palang Merah Nasional. RCL Senduk dan Dr Bahder Djohan. saat pendudukan Jepang. Mengintensifkan program kesiapsiagaan penanggulangan bencana di daerah-daerah yang rawan bencana melalui program "community based" dan meningkatkan kemampuan manajemen bencana dan pelatihan sukarelawan serta penyediaan peralatan standar operasional. Kegiatan tersebut dipelopori oleh Dr. namun sekali lagi upaya itu mendapat halangan dari Pemerintah Tentara Jepang sehingga untuk kedua kalinya rancangan itu harus kembali disimpan. Terpaksa rancangan itu disimpan untuk menunggu kesempatan yang tepat. Saat itu. Tujuh belas hari setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Mereka berusaha keras membawa rancangan tersebut ke dalam sidang Konferensi Nerkai pada tahun 1940 walaupun akhirnya ditolak mentah-mentah. Seperti tak kenal menyerah. pendidikan remaja sebaya sebagai upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS atau kegiatan-kegiatan yang berorientasikan pada pelayanan P3K yang berbasis masyarakat. ORGANISASI PALANG MERAH INDONESIA (PMI) SEJARAH PMI Berdirinya Palang Merah di Indonesia sebenarnya sudah dimulai sejak masa sebelum Perang Dunia Ke-II. masalah air dan sanitasi. kesejahteraan kelompok masyarakat rentan di daerah tertinggal dan memperbaiki pelayanan ambulan dan pos P3K. tepatnya pada tanggal 21 Oktober 1873 Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Palang Merah di Indonesia dengan nama Nederlands Rode Kruis Afdeling Indie (Nerkai).Memperkuat kemitraan dengan lembaga-lembaga nasional untuk membantu masyarakat rentan Komitmen Palang Merah Indonesia Program diseminasi nilai-nilai kemanusiaan kepada anggota dan kelompok sasaran tertentu serta mendorong pemerintah untuk menyusun peraturan nasional mengenai lambang dan perjanjian terkait.

PMI mendapat pengakuan secara Internasional pada tahun 1950 dengan menjadi anggota Palang Merah Internasional dan disahkan keberadaannya secara nasional melalui Keppres No. SEKILAS KINERJA PMI DARI MASA KE MASA Dasawarsa I 1945 -1954 Pada masa perang kemerdekaan RI. dr. peranan PMI yang menonjol adalah di bidang Pertolongan pertama.September 1945. yaitu Kemanusiaan.I dan 323 cabang di daerah Tk. Kesatuan dan Kesemestaan. dr. dan dr Djuhana. bekerjasama dengan . Bahder Djohan (Penulis). Kenetralan. Akhirnya Perhimpunan Palang Merah Indonesia berhasil dibentuk pada 17 September 1945 dan merintis kegiatannya melalui bantuan korban perang revolusi kemerdekaan Republik Indonesia dan pengembalian tawanan perang sekutu maupun Jepang. pada tanggal 5 September 1945 membentuk Panitia 5 yang terdiri dari: dr R. maka Dr. terutama tugas kepalangmerahan sebagaimana dipersyaratkan dalam ketentuan Konvensi-Konvensi Jenewa 1949 yang telah diratifikasi oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1958 melalui UU No 59.246 tahun 1963. Sitanala (anggota). Kini jaringan kerja PMI tersebar di 30 Daerah Propinsi / Tk.25 tahun 1959 dan kemudian diperkuat dengan Keppres No. Atas perintah Presiden.II serta dukungan operasional 165 unit Transfusi Darah di seluruh Indonesia. Tugas Pokok PMI : + Kesiapsiagaan bantuan dan penanggulangan bencana + Pelatihan pertolongan pertama untuk sukarelawan + Pelayanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat + Pelayanan transfusi darah ( sesuai dengan Peraturan Pemerintah no 18 tahun 1980) Dalam melaksanakan tugasnya PMI berlandaskan pada 7 (tujuh) prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Dapur Umum. Mochtar (Ketua). PERAN DAN TUGAS PMI Peran PMI adalah membantu pemerintah di bidang sosial kemanusiaan. Kesukarelaan. Oleh karena kinerja tersebut. Kesamaan. dr Marzuki. Buntaran yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia Kabinet I. Pengungsian. Kemandirian. Presiden Soekarno mengeluarkan perintah untuk membentuk suatu badan Palang Merah Nasional. pencarian dan pengurusan repatriasi.

PMI menghubungi ICRC untuk menangani tawanan tersebut. Pada peristiwa Aru 15 Januari 1952. PMI juga mulai menyelenggarakan kegiatan pelayanan sumbangan darah yang masih terbatas di Jakarta dan beberapa kota besar seperti Semarang. anak-anak Indo Belanda dan 35. serta penyelenggaraan sanatoria (perawatan paru-paru untuk anak-anak). murid dan anak-anak sepakat membentuk unit PMR di sekolah-sekolah. Setelah Presiden Soekarno mencetuskan Tri Komando Rakyat (Trikora) untuk membebaskan Irian Barat pada tanggal 19 Desember 1961. Markas Besar PMI mengirimkan kapal-kapal PMI ke daerah tersebut untuk menjemput orang-orang asing di sana dan juga mengirimkan 4 tim medis ke Sumatera serta 6 tim ke Sulawesi Utara. Surabaya dan Makasar dengan nama Dinas Dermawan Darah. sebanyak 55 orang awak kapal perang tersebut menjadi tawanan Belanda sehingga atas permintaan Menteri/KSAL. pertukaran album. Rumah Sakit Umum Palang Merah di Bogor yang semula di bawah pengelolaan Nerkai. yaitu tenggelamnya Kapal Perang RI Macan Tutul. lomba. Medan. korespodensi. Tionghoa. Juga diadakan penyampaian berita keluarga yang hilang/ terpisah serta mengunjungi tawanan. Pengurus Besar PMI memanggil Kesatuan Sukarela seluruh Cabang untuk siap siaga. Berkat usaha Sekjen . Dalam peristiwa pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan).638 anggota remaja di 29 Cabang PMI. Bekerjasama dengan Yayasan Kesejahteraan Guru. penerbitan majalah PMR. Heiho . Bahder Djohan dan BPH Bintara berupa Rumah Sakit terapung di Ambon. Sementara itu diadakan pula pendidikan untuk para juru rawat yang akan dikirim ke pos-pos P3K di daerah pertempuran.ICRC dan Palang Merah Belanda untuk Romusha. PMI bekerjasama dengan ICRC melaksanakan pelayanan kesehatan yang dipimpin oleh Dr. pada tahun 1948 disumbangkan kepada PMI Cabang Bogor dengan nama Rumah Sakit Kedunghalang dan sejak tahun 1951 dikelola menjadi Rumah Sakit Umum PMI hingga sekarang. Sukarelawan Palang Merah yang ditugaskan sebagai perawat berjumlah 259 orang dan 770 orang sebagai cadangan.000 tawanan sipil Belanda dan para Hoakian yang kembali ke RRC. pameran lukisan. PMI mulai mengembangkan kegiatn kepemudaan dengan 7. Kemudian terbentuklah Kesatuan Nasional yang terdiri dari 11 cabang yang telah diseleksi. DASAWARSA II 1955 . Saat itu sudah ada 40 cabang PMI di seluruh Indonesia dan setiap cabang memiliki dua buah Pos P3K sebagai Tim Mobil Collone.1964 Akibat Pemberontakan PRRI di Sumatera Barat dan Permesta di Sulawesi Utara.

Pada tahun 1963 ketika Gunung Agung di Bali meletus . Ambilans yang digunakan adalah ambulance Falcon yang dilengkapi personil. DASAWARSA IV 1975 -1984 Kerjasama PMI-ICRC PMI mulai berperan di Timor Timur bulan Agustus 1975 sejak mengalirnya pengungsi Timor Timur ke perbatasan Timor Barat di Atambua. alat-alat pertolongan pertama. PMI bersama Dinkes Angkatan Darat RI membantu penanggulangan para korban bencana tersebut. Bekerjasama dengan tim medis dari Angkatan Darat. membuka Dapur Umum dan membantu perbaikan 500 buah rumah.PBB. Bencana Alam Ketika gempa bumi melanda Bali Juli 1976 yang melanda 3 dari 5 kabupaten PMI mengerahkan tenaga sukarela. pihak Belanda menyetujui penyerahan awak kapal di Singapura. . seperti: Drs. PMI juga mengadakan Tracing and Mail Service bekerjasama dengan ICRC. Kemudian kelak pada bulan Oktober tahun 1979 PMI bekerja sama dengan ICRC mulai membuka pos bantuan relief di 7 Kecamatan terpencil di Timor Timur.23 dan No. antara lain dengan mendirikan RS Pulau Galang. Atas permintaan Pemerintah RI. Operasi kemanusiaan di Dili dimulai bulan Desember 1975 atas permintaan PSTT (Pemerintah Sementara Timor Timur). Setahun kemudian .024 mengenai pengakuan Pemerintah RI untuk pertamakali terhadap keberadaan Usaha Transfusi Darah (UTD) PMI. Dr. Hatta dan Prof.1971 diresmikan berdirinya suatu DAJR (Dinas Ambulance Jalan Raya) Jakarta Bandung sebanyak 7 pos yang dipusatkan di RSU-PMI Bogor. telah dikirimkan Tim Kesehatan Nasional untuk membantu Operasi TUMPAS di Sulawesi Selatan. PMI didukung UNHCR membentu pengungsi Vietnam di Pulau Galang dalam bidang kesehatan dan kesejahtraan social. Pengurus Besar PMI mengeluarkan suatu medali khusus dan penghargaan kepada perintis-perintis PMI. 17 September 1970 . Moh. Ketika Tim Kesatuan Nasional PMI ke Kalimantan Barat dalam rangka Dwikora (Dwi Komando Rakyat). dan telepon radio. DASA WARSA III 1965-1975 Penerbitan Surat Keputusan mengenai Peraturan menteri Kesehatan RI No. memberikan pelayanan kesehatan makanan dan obat-obatan. Dalam peringatan HUT PMI ke-25 . bahder Johan dan Pengurus PMI Daerah/Cabang seluruh Indonesia.

obat-obatan dan peralatan . Pemerintah Indonesia mempercayakan kepada PMI untuk memimpin pengiriman bantuan masyarakat Indonesia dengan pesawat khusus ke Jordania. untuk korban Perang Teluk sebanyak dua kali.Abdul Muis ke beberapa lokasi. pada tahun 1987 TMS PMI mengurus kunjungan keluarga dari RRC ke Indonesia yang pertama kalinya sejak hubungan diplomatik kedua negara itu tahun 1967 terputus. akhirnya kantor pusat PMI menetap di Jl.Jendral Gatot Subroto Kav. Transfusi Darah.400.1994 Setelah beberapa kali pindah dari Jl.8 Skala Richter. Bencana alam PMI mengerahkan 700 orang KSR/PMR dan 8 tenaga dokter untuk membantu korban banjir bandang di Semarang Jawa Tengah dan juga ikut membantu korban Letusan Gunung Kelud Jawa Timur tahun 1990 dengan bantuan pangan dan obat-obatan senilai Rp. PMI ikut membantu para korban musibah tabrakan kereta api Bintaro berupa pertolongan P3K. Di Jakarta. Perang Teluk tahun 1991 Dengan pecahnya Perang Teluk.583. PMI juga turun langsung membantu korban bencana Galunggung tahun 1982 selama beberapa bulan Transfusi Darah Tahun 1978 Pengurus Pusat memberikan penghargaan Pin Emas untuk pertamakalinya kepada donor darah sukarela 75 kali.8. pangan.96 yang diresmikan oleh Presiden Suharto pada tahun 1985. Bantuan sandang.Untuk turut menanggulangi bencana gempa bumi Tsunami di Flores 12 Desember 1992. serta pemberian pakaian pantas di sejumlah RS di Jakarta tempat korban dirawat.18 th 1980 DASAWARSA V 1984 .Di tahun yang sama gempa bumi melanda Kecamayan Kurima dan Okbibab di Kabupaten Jayawijaya dengan kekuatan 6. PMI membentuk Satgas KSR Serbaguna yang disebut SATGAS MERPATI I. Ketentuan tentang tugas dan peran PMI dalam pelayanan transfusi darah dikeluarkan oleh pemerintah melali Peraturan Pemerintah No. Tracing and Mailing RRC-RI Selain pelayanan Tracing and Mailing Service (TMS) untuk pengungsi di Pulau Galang. TMS.

Juga pada tahun 1999. Tim PMI ikut turun tangan membersihkan jalan-jalan dan fasilitas sosial lainnya dan memberikan bantuan 4000 paket bantuan alat kebersihan. Gempa lainnya berskala 6. DASAWARSA VI 1994 . Dengan bantuan ICRC di Lhoksumawe.Pengurus Pusat membentuk Tim SATGAS MERPATI II untuk membantu korban bencana Gempa Bumi di Liwa-Lampung Barat dan Tsunami di Banyuwangi-Jawa Timur. saat propinsi Bengkulu ditimpa gempa berkekuatan 7. Korea Selatan dan Jepang.2004 Bencana Alam (Gempa Bumi) Kembali pada tahun 1994 .5 richter juga menimpa Banggai di Sulawesi Tengah pada bulan Mei 2002.listrik yang diberikan senilai 249 juta rupiah. Depkes RI memberikan bantuan reagensia untuk pemeriksaan virus HIV kepada PMI yang diperuntukkan bagi segenap UTDC-PMI. dan beberapa bulan kemudian pada Juli 2000 gempa terjadi juga di 24 Kecamatan di Sukabumi dan Bogor. PMI dengan dukungan fasilitas Federasi Internasional dan Palang Merah Norwegia mendirikan rumah sakit lapangan berkapasitas 150 bed menggantikan fungsi rumah sakit setempat yang rusak di kota itu selama 10 bulan. Malaysia. Banjir Lumpur dikuti longsor juga melanda wilayah Jawa Barat selama beberapa hari pada bulan Pebruari. banjir besar juga telah menghancurkan 8 Kecamatan di Kabupaten Nias Sumetera Utara. Uji Saring Darah HIV Penyebaran virus HIV yang semakin meningkat mendorong terbitnya Keputusan Menteri Kesehatan RI No.622/1992 tentang kewajiban pemeriksaan virus HIV pada donor darah. Temu Karya KSR Pada bulan Juli 1992 diadakan Temu karya dan Lomba KSR Tingkat Nasional di Lombok NTB diikuti pula oleh peserta dari Singapura. Banjir Akhir tahun 2000 banjir menimpa wilayah Aceh. 1000 paket bantuan PMI dan 610 petromaks disumbangkan oleh Federasi Internasional melalui PMI.9 skala richter. Banjir bandang terjadi pula di NTB. banjir juga melanda Gorontalo Sulawesi Tengah yang mengakibatkan wilayah tersebut terutama di Kecamatan Ranoyapo terisolir banjir. Awal Agustus 2001. Sejalan dengan itu. PMI telah mengirimkan obat-obatan dan bantuan paket keluarga berupa . Pada periode yang sama. Thailand.

Di samping itu bantuan satu unit kendaraan juga telah dikirim ke Ternate dari Jakarta untuk membantu operasional teknis lapangan. Bantuan disponsori oleh Palang Merah Belanda dengan Fasilitas Federasi Internasional bertujuan memperbaiki status kesehatan masyarakat di wilayah sasaran.655 paket bantuan keluarga kepada korban disamping pelayanan kesehatan di Tobelo dan Galela. sarung. membagikan bantuan pangan. handuk. Di Aceh PMI bekerjasama dengan ICRC secara intensif melakukan kegiatan evakuasi korban luka dan mayat. selimut dan gula untuk memenuhi kebutuhan darurat sehari-hari di Nias. jerigen. pakaian.2004 : A. Penanggulangan Bencana Konflik Suatu konflik vertikal telah berlangsung di Aceh sejak Januari 2000. sabun mandi. PMI berkoordinasi dengan ICRC menyalurkan bantuan 4000 paket keluarga diikuti bantuan dari RCTI berupa tikar. konflik horizontal di Poso Sulawesi Tengah pada 23 Mei 2000 dan kerusuhan hebat di Maluku Utara pada 17 Mei 2001. Karena itu. Sedangkan untuk Poso.Tarakan dan Lampung Proyek pengembangan kesehatan berbasis masyarakat (CBFA) telah dimulai di Kalimantan Timur dan Tengah sejak Juni 2000. terutama kepada mereka yang paling membutuhkan. PMI KINI Dalam rangka menghadapi perkembangan masyarakat Indonesia di masa depan yang semakin global dalam suasana yang semakin demokratis maka PMI harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebagai stakeholder untuk ikut mengambil peran aktif di dalamnya. pelayanan kesehatan darurat serta penyampaian berita keluarga. kembali PMI bekerjasama dengan ICRC menyalurkan 5. sabun cuci dan pakaian yang diperuntukkan kepada 2000 orang. . Sedang untuk konflik yang terjadi di Maluku Utara. Bantuan tambahan sebanyak 4500 paket dan 2000 unit peralatan sekolah dan seragam dari Kedutaan Besar Jepang. PMI telah menetapkan misi dan visi dengan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip kepalangmerahan dan digariskan di dalam garis-Garis Kebijakan PMI 2000 . kelambu nyamuk. dalam semangat kenetralan dan kemandirian.peralatan dapur. Visi PMI diakui secara luas sebagai organisasi kemanusiaan yang mampu menyediakan pelayanan kepalangmerahan yang efektif dan tepat waktu. CBFA.

PROGRAM STRATEGIS PENGEMBANGAN ORGANISASI A. o o Membina Rencana Strategis Pengembangan Organisasi melalui kinerja tim OD Lokakarya bagi pengembangan fungsi markas pusat bagi Kepala Unit Daerah . PROGRAM 2002 o Melanjutkan upaya akurasi data kapasitas organisasi daerah dan cabang dari hasil respon kuistioner yang diberikan Daerah dan Cabang dan Laporan Persemester atau Tahunan. TUJUAN Menyempurnakan organisasi dan tata laksana PMI di semua tingkatan untuk persiapan peningkatan kemandirian dan kenetralan PMI dalam 5 tahun ke depan. khususnya di dalam MUSDA dan MUKERDA. o Melaksanakan pelayanan kepalangmerahan yang bermutu dan tepat waktu. o o Memberikan arahan kepada Daerah untuk mengaktifkan fungsinya melalui: Pengamatan aktif. Melakukan konsolidasi organisasi. advokasi dan membantu implementasi AD/ART. pembinaan potensi dan peningkatan potensi sumber daya manusia dan sumber dana untuk menuju PMI yang efektif dan efiesien. Orientasi kepalangmerahan dan manajemen organisasi untuk daerah dan cabangcabang yang dimiliki. o Menyusun pola standar Orientasi Kepalangmerahan dan implementasi manajemen PMI bagi pengurus. Misi o Menyebarluaskan dan mengembangkan aplikasi prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan sabit Merah serta Hukum perikemanusiaan Internasional (HPI) dalam masyarakat Indonesia . o o Lokakarya Manajemen dan Organisasi bagi daerah dan beberapa cabang terpilih. mencakup: + Bantuan kemanusiaan dalam keadaan darurat + Pelayanan sosial dan kesehatan masyarakat + Usaha Kesehatan Transfusi Darah o o Pembinaan Generasi Muda dalam kepalangmerahan. B.B. kesehatan dan kesejahteraan.

(KAMADA) o Melanjutkan pemberian bantuan kepada korban gempa bumi di Bengkulu. water and sanitation in Bengkulu. 4. Menerbitkan perangkat lunak bagi pengembangan manajemen dan organisasi seperti Petunjuk Bagi Pengurus PMI. dengan pilot program OD di PMI Bengkulu.Memantapkan persiapan untuk MUKERNAS tahun 2002 5. untuk mendukung implementasi program CBFA. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->