PSIKOLOGI KOGNITIF PENALARAN

Disusun Oleh: Afifah Gilang Raka Pratama M. Syifaul Qulub Reza Inspirawan IV A

FAKULTAS PSIKOLOGI UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2009

BAB I PENDAHULUAN .

Studi-studi tentang penalaran secara historis berhubungan langsung dengan studistudi mengenai logika. 1988). mencoba untuk memahami baik dan yang jelek. Kesimpulan logis atau tidak logis secara tidak langsung sangat tergantung pada keshahihan argumentasinya. Penalaran terlibat di dalam proses pemecahan masalah. Kesimpulannya. Eysenck (1984) mengatakan bahwa yang pokok di dalam sistem logika ialah seperangkat prinsip-prinsip atau aturan-aturan mengenai penarikan kesimpulan (inferensi).BAB II PEMBAHASAN A. aturan-aturan ini merupakan pernyataan yang menentukan kesimpulankesimpulan tertentu yang mencerminkan kebenaran premis-premis yang mendahului kesimpulan itu. Contoh: ”Semua manusia tentu akan mati” ”Sania adalah manusia” Jadi ” Sania tentu akan mati juga” . Studi-studi tentang logika yang merupakan bagian dari filsafat dan matematika. atau secara logika dikatakan sebagai argumen shahih ataupun tidak shahih. dan mengevaluasi apakah kesimpulan yang dihasilkan itu valid atau tidak valid. logika adalah suatu sistem berpikir formal yang di dalamnya terdapat seperangkat aturan atau prinsip untuk menarik kesimpulan yang shahih dari premis-premis yang menjadi sumbernya. Penalaran dan Logika Studi mengenai penalaran (reasoning) berkaitan erat dengan bagaimana manusia mencapai kesimpulan-kesimpulan tertentu baik dari premis langsung maupun tidak langsung. Titik berat dari penalaran adalah bagaimana sesorang menarik suatu kesimpulan. Logika Menurut Solso (1988) logika adalah ilmu pengetahuan tentang berpikir. Hampir semua orang sependapat bahwa penalaran dan pemecahan masalah meruapakn komponen penting dari intelegensi manusia (Solso. berpikir adalah proses umum untuk mempertimbangkan berbagai isu di dalam pikiran manusia. a. Sementara itu. 1993). Di sana terlihat bahwa ia tidak secara jelas menguraikan aspek-aspek apa yang dikaji oleh logika ilmu berpikir. kerana memang beberapa bentuk penalaran biasanya merupakan bagian dari pemecahan masalah itu sendiri (Ellis dan Hunt.

Penalaran yang menghasilkan kesimpulan yang tidak lebih luas daripada premis-premisnya disebut penalaran deduktif. Pendapat serupa juga diberikan oleh Kafie (1989) bahwa penalaran merupakan jalan pikiran (proses) ketika orang akan mengambil kesimpulan tertentu. Penalaran penalaran atau sering juga disebut jalan pikiran.Kesimpulan yang diturunkan dari premis-premis atau pangkal pikir akan sedemikian rupa. Meskipun sistem logika memberikan aturan-aturan bagi penalaran yang benar. Penalaran yang menghasilkan kesimpulan lebih luas daripada premis-premisnya disebut penalaran induktif. bahwa penalaran yang melibatkan pencapaian kesimpulan yang didasarkan atas asumsi-asumsi yang diketahui kebenarannya disebut penalaran deduktif. Maman lebih tinggi daripada Hamdan (1) (2) (3) Jika diasumsikan bahwa pernyataan pertama dan kedua benar. melibatkan pencapaian suatu kesimpulan yang didasarkan atas asumsi-asumsi umum atau premis- . Beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa penalaran ialah suatu proses kognitif dalam menilai hubungan di antara premis-premis yang akhirnya menuju pada penarikan kesimpulan tertentu. Menurut Soekadijo (1988) penalaran adalah aktivitas menilai hubungan proposisi-proposisi yang disusun di dalam bentuk premis-premis. B. b. menurut Keraf (1991) adalah suatu proses berpikir yang berusaha menghubungkan fakta-fakta yang diketahui menuju satu kesimpulan. Lebih lanjut Ellis dan Hunt (1993) memberikan penjelasan secara singkat. Contoh penalaran silogisme linier: Maman lebih tinggi daripada Ja’far Ja’far lebih tinggi daripada Hamdan Jadi. Penalaran deduktif sebagaimana dicontohkan itu. penalaran induktif dan penalaran deduktif. kemudian menentukan kesimpulan-kesimpulan. Jenis Keterampilan Penalaran Secara umum penalaran dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar. namun tidak dapat menggambarkan secara tepat bagaimana kebanyakan orang bernalar di dalam kehidupan sehari-hari. sehingga di dalamnya tampak terpolakan oleh aturan-aturan yang logis. Sesungguhnya banyak pemikir berpendapat bahwa manusia seringkali tidak logis di dalam bernalar mengenai sesuatu hal atau kejadian tertentu. maka kesimpulan yang mengikutinya juga benar.

dan O’Brien. apa yang dikemukakan oleh Sternberg itu dapat ditambahkan lagi. dan hubungan bagian-keseluruhan. Stenberg membagi keterampilan penalaran. Jika aturan-aturan logika deduktif diikuti. yaitu penalaran kondisional (proporsional). ada jenis penalaran lain yang belum termasuk pembagian menurut Sternberg. asosiasi. dan penalaran deduktif. Dengan demikian. Ternyata memang demikian. yang di dalamnya tidak memiliki sub bagian yang lebih kecil seperti hal nya pada penalaran analogi-induktif. yakni analogi hubungan sebabakibat. atau disebut juga keterampilan intelektual yang didasarkan atas teori sub-komponen dan tinjauan pemprosesan informasi kognitif ditinjau dari kawasan tugas. tetapi tentu tidak menjamin hal tersebut benar secara mutlak. Keterampilan Penalaran Penalaran Induktif Penalaran Deduktif Analogi Hubungan Sebab akibat Analogi Total+asosiasi Penalaran Silogisme Kategorik Silogisme Penalaran Linier Kondisional Hubungan bagian. Penalaran induktif terdiri atas dua kelompok: analogi. keterampilan penalaran dibedakan menjadi dua: penalaran induktif. maka kesimpulan deduktif harusnya dianggap shahih. Noveck. sedang analogi terdiri dari dua sub bagian.premis yang shahih. karena masih memungkinkan orang lain menambahkan jenis penalaran lain di dalamnya. Sternberg sendiri menamakan struktur pembagian keterampilan penalaran itu sebagai sesuatu yang tidak lengkap. Penalaran Deduktif Penalaran deduktif adalah suatu proses berpikir yang menghasilkan informasi baru berdasarkan informasi lama (yang tersimpan dalam ingatan). Black. Penalaran deduktif bertujuan . penalaran induktif adalah suatu proses penarikan kesimpulan berdasarkan atas kejadian-kejadian khusus. Penalaran deduktif terbagi ke dalam dua kelompok: silogisme kategorik dan silogisme linier. yakni penalaran kondisional yang oleh para ahli dimasukkan ke dalam penalaran deduktif seperti Overton. Sebaliknya. Suatu induksi merupakan suatu yang cenderung dibenarkan atas dasar pengalaman yang lalu. dan klasifikasi.Klasifikasi C.

Teori Aturan Khusus Isi Gagasan mengenai aturan khusus isi untuk penarikan kesimpulan pertama kali diajukan dalam konteks intelegensi buatan atau tiruan. (2) aturan formal penyimpulan digunakan untuk melahirkan kesimpulan-kesimpulan. Contoh skema ”keperbolehan”. dan Tabossi (1989) terdapat tiga pandangan pokok yang diajukan baik di dalam psikologi kognitif maupun intelegensi buatan. jika prakondisi B tidak terpuaskan maka tindakan A harus tidak dilakukan. Teori aturan Formal Menurut teori aturan formal beranggapan bahwa mekanisme penarikan kesimpulan meliputi langkah-langkah: (1) seseorang harus membentuk seperti pada model logika mengenai premis-premis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpulan yang meminta konstruksi hanya satu model akan lebih mudah daripada yang melebihi satu model. Studi-studi tentang penalaran deduktif yang mendasarkan pada mekanisme mental hampir sama tua dengan psikologi eksperimen. semua psikolog adalah eksperimental). Selama satu dasawarsa terakhir para peneliti lebih .untuk menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang shahih. a. jika tindakan A dilakukan maka prakondisi B harus dipuaskan. dan membuat interpretasi di dalam bahasa internal sehingga melahirkan struktur sinteksis. Teori Model Mental Teori ini memiliki asumsi bahwa model-model mental mempunyai struktur yang sama seperti situasi-situasi yang direpresentasikan. Oleh karena terdasapat masalah yang kontroversial berkaitan dengan fenomena penalaran deduktif. Setiap penalaran memiliki aturan-aturan penyimpulan tersendiri yang berbeda satu dengan yang lain. atau konklusi-koklusi yang benar berdasarkan premis-premis atau pengamatan yang mendahuluianya. maupun penalaran proporsional. penalaran dua dimensi hubungan spatial. beberapa penelitian juga masih terus dilakukan oleh para ahli. Teori model mental telah berhasil diuji oleh Johnson-Laird dan kawan-kawan (1989) baik dalam bentuk premis kuantifikasi tunggal (misalnya. 1. Byrne. 2. 3. Teori Penarikan Kesimpulan Menurut Johnson-Laird. lalu dikaitkan dengan pengembangan sistem hasil. Orang-orang dibimbing oleh skema penalaran pragmatis. suatu aturan umum yang dipakai untuk sekelompok tujuan khusus.

Binatang apa yang paling besar? . dan kesimpulan Contoh: Semua pahlawan adalah orang berjasa Kartini adalah seorang pahlawan Jadi. Silogisme kategorik mencakup tiga langkah: premis major. premis minor. b. B lebih besar daripada C). Contoh: (1) Gajah kebih besar daripada harimau. Kartini adalah orang yang berjasa (1) (2) (3) Pada contoh. Silogisme Kategorik Silogisme katagorik adalah suatu bentuk formal dari deduksi yang terdiri atas proposisi-proposisi kategorik. Harimau lebih besar daripada kucing. Pernyataan kedua sebagai premis minor. sehingga menghasilkan kesimpulan menurut aturan-aturan penalaran tertentu. Silogisme Linier Silogisme Linier didefinisikan sebagai suatu sistem penarikan kesimpulan melalui dua premis atau lebih yang menggambarkan adanya hubungan diantara bagianbagian dari satu premis dengan premis lainnya. Bentuk Dasar Silogisme Kategorik Premis major Premis minor Kesimpulan Semua M adalah P Semua S adalah M Semua S adalah P Semua buruh adalah pekerja Semua tukang batu adalah buruh Semua tukang batu adalah pekerja Jenis kalimat yang digunakan di dalam silogisme kategorik A Semua S adalah P Semua psikolog adalah jujur B I O Tidak ada S adalah P Beberapa S adalah P Beberapa S adalah bukan P Tidak ada pelajar adalah guru Beberapa pelajar adalah mahasiswa Beberapa ilmuan adalah bukan pelajar c.mencurahkan perhatiannya pada bagaimana pemprosesan informasi ketika orangorang sedang bernalar. Bentuk silogisme linier biasanya digunakan dengan lebel seperti: A > B dan B > C (A lebih besar daripada B. pertanyaan pertama merupakan premis major atau proposisi universal. sedangkan pernyataan ketiga adalah kesimpulan yang diturunkan dari premis pertama dengan bantuan dari pernyataan kedua.

Argumen 3 dan 4 adalah contoh penyimpulan yang tidak shahih (invalid). Argumen nomer 3 merupakan kasus yang sangat menarik. dan ketika diketahui ”p”. Argumen 1 dan 2 merupakan contoh penarikan kesimpulan yang shahih (valid).q -q -p p–q q p p–q Tidak Shahih Shahih Shahih 2. Terdapat empat jenis pokok dari argumen modus ponen seperti contoh pada tabel.Bagian premis yang tumpang tindih pada contoh adalah ”harimau”. Jika Johan cerdas. Contoh: Jika saya haus maka saya minum Saya haus Oleh sebab itu. dan ”jika p maka q.maka”.p – q p p -.. sebab kesalahan logika sering dibuat seseorang baik dalam kehidupan sehari-hari maupun aktivitas ilmiah. terlebih dahulu seseorang harus mencapai kesimpulan yang menghubungkan antara bagian dari satu premis dengan premis lain yang tidak tumpang tindih. maka ia kaya Johan tidak cerdas Oleh karena itu. p maka q:. bukan q maka tidak p” sebagai hubungan antesedan dan konsekuen. maka ia kaya 4. Argumen Modus Ponen bagi Penalaran Kondisional 1. maka ia kaya Johan kaya Oleh karena itu. karena menggunakan kalimat bersyarat ”jika.. jika Johan cerdas. Penalaran Proporsional Pada penalaran proporsional semua proposisi direpresentasikan melalui simbol: ”p dan q”. Untuk dapat menjawab pertanyaan diatas. Johan kaya Jika Johan cerdas. maka ia kaya Johan Cerdas Oleh karena itu. maka ”q” yang menjadi implikasi atau kesimpulannya. juga terdapat kata sifat penghubung yang membandingkan bagianbagian di dalam suatu premis yang digunakan juga pada premis yang lain secara sejajar. . saya minum p p q q Aturan penalaran ini dapat juga diterangkan dengan simbol: ”jika p maka q. Johan cerdas Jika Johan cerdas. yakni didasarkan pada modus ponen dan kontra positif atau aturan modus tollen. d. Penalaran ini sering juga disebut penalaran kondisional atau penalaran probabilistik. Pada penalaran ini selain adan bagian tertentu yang tumpang tindih diantara premis-premisnya. dalam contoh adalah “gajah dan kucing”. Johan tidak cerdas . 3.

Pada generalisasi induktif seharusnya lebih meyakinkan seandainya generalisasi didasarkan pada jumlah contoh yang lebih besar dan juga bukan contoh yang menyimpang. generalisasi. dan pembuatan keputusan tertentu apabila hasil penelitian ternyata mendukung teori itu. Contoh: Adik saya adalah sarjana ekonomi UGM Kakak saya adalah sarjana psikologi UGM Saya sendiri adalah sarjana tekhnik UGM Jadi. pengujian hipotesis. a. Krantz. dan tindakan membuat prediksi. dan prediksi (Nisbett. penalaran klasifikasi merupakan suatu proses penarikan kesimpulan umum yang diturunkan dari beberapa contoh objek atau peristiwa khusus yang serupa. dan Kunda. beraneka ragam. semua keluarga saya adalah sarjana UGM . dan Kunda (1983) berargumentasi bahwa penalaran induktif merupakan aktivitas manusia dalam pemecahan masalah yang memiliki arti sangat penting dalam kehidupan sehari-hari dan berada dimana-mana. Penalaran induktif harus memenuhi prinsip-prinsip statistik tertentu. Suatu prediksi seharusnya menjadi lebih dapat dipercaya apabila didasarkan pada korelasi yang tinggi antara dimensi-dimensi dari prediksi yang dibuat. Krantz. Penalaran induktif dapat menjadi benar jika memenuhi tiga kriteria: prinsip statistik. Penalaran Klasifikasi Sebagai salah satu bentuk penalaran induktif. semuanya merupakan contoh-contoh penalaran induktif. D. Penalaran Induktif Nisbett. Penalaran ini sering disebut generalisasi induktif. dan didefinisikan secara tidak jelas yang dapat dikacaukan dengan objek di luar konsep itu. Jepson. Misalnya konsep-konsep seharusnya dapat dilihat dan diterapkan dengan lebih meyakinkan apabila konsep-konsep itu memakai jarak yang sempit di antara objek-objek yang didefinisikan secara jelas daripada konsepkonsep yang memakai jarak yang luas. Pembentukan konsep. Johan tidak kaya -p -q Tidak Shahih Banyak penalaran ilmiah yang melibatkan tindakan prediksi dari sebuah teori. generalisasi contoh-contoh.Johan tidak cerdas Oleh karena itu. juga seharusnya pertanyaan lebih ditunjukan kepada variabilitas yang tinggi. 1983). Jepson.

Penalaran ini terutama digunakan untuk menemukan hukum. karena melibatkan kesadaran individu mengenai hubungan-hubungan di antara ciri-ciri tertentu yang dialami. analogi merupakan suatu alat pengajaran yang sangat berguna karena dapat mendorong transfer atau mapping tentang hubunganhubungan abstrak di antara kawasan pengetahuan yang telah dikenal dengan pengetahuan yang kurang dikenal atau baru yang menjadi kawasan target (Zook dan Di Vesta. juga diberlakukan pada C yang memiliki kebiasaan serupa. lalu terkena penyakit kanker B kebanyakan merokok.Hasil penalaran generalisasi induktif juga disebut generalisasi. Di bidang pendidikan dan pengajaran. prinsip. atau hipotesis. 1991). kemudian menyimpulkan bahwa apa yang berlaku bagi peristiwa yang satu akan berlaku juga bagi yang lain (Keraf. Kemampuan intelektual yang didefinisikan sebenarnya serupa dengan kemampuan bernalar analogis. Raven juga berpendapat serupa bahwa penalaran analogi merupakan pusat dari inteligensi manusia. 1991). Psikologi diferensial sudah lama mengenal hubungan erat antara penalaran analogi dengan inteligensi. Contoh: A kebanyakan merokok. Seseorang menggunakan penalaran analogi ketika ia membuat keputusan tentang suatu hal yang baru di dalam pengalamanya melalui penarikan kesimpulan yang sejajar dengan sesuatu yang lama. . penyusunan teori. yakni kebanyakan merokok. lalu terkena penyakit kanker C kebanyakan merokok Jadi. apa yang dialami oleh A dan B sebagai penderita penyakit kanker akibat kebanyakan merokok. Spearman meyakini bahwa dapat dipastikan jika tes-tes analogi disusun dan digunakan secara tepat akan memiliki korelasi dengan semua faktor ”g” (IQ). Penalaran analogi menurut Sternberg (1977) dapat menembus ke dalam kehidupan sehari-hari. b. Penalaran analogi termasuk jenis penalaran yang banyak diteliti para ahli psikologi kognitif baik yang menyangkut proses maupun strategi berpikir analogis. Penalaran Analogi Analogi atau sering disebut analogi induktif adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari dua peristiwa khusus yang mirip satu sama lain. tanpa dibuktikan terlebih dahulu. C juga terkena penyakit kanker Pada contoh itu.

74. Pendidikan dan Kemampuan Penalaran Lehman. Pada analogi hubungan sebab-akibat.bidang kedokteran dan psikologi untuk kategori ilmu pengetahuan probabilistik. dan bidang kimia untuk kategori ilmu pengetahuan deterministik. Berbagai bidang studi yang dipilih mahasiswa dikategorikan menjadi: ilmu sosial. Bagi mahasiswa yang telah belajar dibidang ilmu pengetahuan deterministik(kimia) tidak mengalami peningkatan apapun dari ketiga penalaran tersebut. Berbagai bidang itu dikategorikan menjadi: bidang hukum termasuk kategori non-ilmu pengetahuan.87. Pendidikan dan Pelatihan Penalaran a. sebab banyak aspek inteligensi yang tercakup di dalamnya. mengenai kemampuan penalaran mereka setelah mengikuti program ppada bidang pendidikan selama empat tahun. Analogi hubungan bagian-total atau bagian keseluruhan ialah proses penyimpulan yang mempersamakan dua kejadian yang sebenarnya berbeda. untuk ilmu pengetahuan alam mencakup biologi. seseorang menganalogikan dua hal atau kejadian yang serupa menurut sifat-sifat tertentu berdasarkan struktur hubungan sebab-akibat. ekonomi. . karena keduanya memiliki kesamaan sifat-sifat tertentu menurut strukrur hubungan bagiankeseluruhan E. yang meliputi antropologi. sosiologi. dan hubungan bagian keseluruhan + asosiasi. Lempert. Mahasiswa-mahasiswa yang telah belajar baik dibidang ilmu pengetahuan probabilistik maupun non ilmu pengetahuan mengalami peningkatan kemampuan penalaran kondisional.68. Penalaran analogi dibedakan menjadi dua bagian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang telah belajar ilmu pengetauan probabilistik mengalami peningkatan pada kemampuan penalaran statistik dan metodologis. dan psikologi.Hasil penelitian Sternberg (1977) menemukan hubungan antara faktor ”g” atau general intelligent dengan skor penalaran analogi sebagai berikut: people-piece 0. ilmu politik. Ia lebih lanjut menyimpulkan bahwa penalaran analogi dapat menjadi ukuran yang diandalkan bagi inteligensi umum. dan analogi geometrik 0. dan Nisbet (1988) meneliti pengaruh berbagai bidang ilmu yang diajarkan pada pendidikan Program Master terhadap kemampuan penalaran mahasiswa. Penelitian Longitudinal yang dilakukan oleh Lehman dan Nisbet (1990) terhadap mahasiswa-mahasiswa program pendidikan sarjana muda atau setara dengan S1 di Indonesia. yaitu analogi hubungan sebab-akibat. analogi verbal 0.

pelatihan penalaran tidak ditujukan untuk mengajarkan pengetahuan atau teori tentang prinsip-prinsip penalaran tertentu tetapi lebih menekankan pada penguasaan prinsip-prinsip itu dan penerapannya. Penelitian ini menemukan bahwa pendidikan dan pelatihan pada bidang ilmu-ilmu sosial mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kemampuan penalaran metodologi dan statistik.dan kelompok kedua diberi latihan penalaran deduktif. ilmu bahasa.bidang ilmu pengetahuan alam dan humanistik pengaruhnya sangat kecil terhadap kedua penalaran ini meskipun tetap ada. b. Temuan-temuan itu dapat disimpulkan bahwa suatu program pendidikan yang diikuti oleh seseorang berpengaruh terhadap kemampuan penalaran tertentu. Berdasarkan analisi data tentang nilai atau skor yang diperoleh mereka selama mengikuti pelatihan.kimia. Subjek eksperimen adalah siswa sekolah SMA. jurnalistik. Seseorang terampil menarik kesimpulan-kesimpulan secara deduktif. Mereka dibagi menjadi 2 kelompok: kelompok pertama adalah siswa-siswa yang diberi latihan penalaran induktif. Adapun yang dimaksud dengan pelatihan penalaran adalah serangkaian tugas mengerjakan soal-soal atau problem-problem penalaran yang dilakukan secara berulang-ulang. Suharnan dan Wirawan (1993) telah mengadakan penelitian eksperimental untuk mengetahui pengaruh pelatihan penalaran terhadap keterampilan belajar konsep. Misalnya seseorang terampil menarik kesimpulankesimpulan secara induktif karena ia menguasai prinsip-prinsip penalaran induktif. sejarah. karena ia menguasai prinsip-prinsip penalaran deduktif. baik mereka yang tergabung dalam kelompok deduktif atau induktif. bahasa inggris. mikrobiologi dan fisika. Sementara itu. menunjukkan bahwa siswa-siswa mengalami peningkatan keterampilan penalaran secara signifikan. dan filsafat. untuk humanistik meliputi komunikasi. . Dengan demikian. Pelatihan Penalaran Penalaran merupakan kemampuan berpikir atau keterampilan intelektual yang dapat ditingkatkan melalui pelatihan secara langsung dan intensif.sehingga seseorang atau sekelompok orang menjadi lebih terampil didalam menarik kesimpulan menurut prinsip-prinsip penalaran. Program pendidikan dibidang ilmu pengetahuan alam dan humanistik berpengaruh terhadap kemampuan penalaran kondisional mengenai masalah sehari-hari sedangkan pada ilmu sosial tidak berpengaruh sama sekali. Perbedaan pengaruh di antara berbagai bidang ilmu pengetahuan yang diajarkan disebabkan oleh perbedaan sistem masing-masing ilmu pengetahuan dan penekanannya.

ia menyimpulkan bahwa program pelatihan berpikir atau penalaran induktif dapat dilakukan secara efektif kepada anak-anak yang memiliki kemampuan intelektual tinggi ataupun rerata/biasa. Dengan demikian tidak alasan yang cukup kuat bagi seseorang untuk mengatakan bahwa keterampilan intelektual manusia tidak dapat ditingkatkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mereka mengalami kenaikan kemampuan berpikir induktif dibandingkan dengan kelompok kontrol.Klauer (1996) mengadakan penelitian eksperimental dengan tujuan melatih anak-anak yang memiliki kemampuan intelektual tinggi (IQ 115-139) untuk meningkatkan kemampuan berpikir induktif mereka. Berdasarkan hasil penelitian ini dan sebelumnya. Berdasarkan hasil-hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa keterampilan penalaran yang merupakan bagian penting dari kemampuan berpikir atau intelektual dapat ditingkatkan melalui serangkaian pelatihan yang secara sengaja dirancang untuk itu. .

Sementara itu. maka mereka harus diberikan banyak tugas mengerjakan soal-soal penalaran induktif. Misalnya. logika merupakan bagian penting dari proses berpikir dan pemecahan masalah. jika diharapkan anak-anak di sekolah memiliki keterampilan penalaran induktif. Penalaran induktif. bermula dari hal-hal khusus menuju pada kesimpulan umum atau sejajar. sementara penalaran deduktif bermula dari halhal yang umum menuju kesimpulan yang khusus • Suatu program pendidikan (studi) yang ditempuh seseorang dapat mempengaruhi kemampuan atau keterampilan penalaran tertentu. yang ketiganya tidak dapat dipisahkan antara satu sama lainnya. • Keterampilan penalaran baik penalaran induktif maupun penalaran deduktif dapat ditingkatkan melalui pelatihan-pelatihan yang dirancang untuk iyu. • Secara garis besar penalaran dibagi menjadi dua macam: penalaran induktif dan penalaran deduktif. . Hal ini disebabkan oleh sistem yang berlaku pada disiplin ilmu yang diajarkan pada program studi itu.BAB III PENUTUP • Penalaran merupakan salah satu keterampilan intelektual penting dan biasanya menjadi bagian dalam sistem logika.

dkk. 2006. 2005.DAFTAR PUSTAKA Suharnan. Surabaya: Penerbit Srikandi Surajiyo. Dasar-Dasar Logika. Jakarta: Bumi Aksara . Psikologi Kognitif.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful