P. 1
PSIKO KOGNITIF; Penalaran

PSIKO KOGNITIF; Penalaran

|Views: 1,092|Likes:
Published by cilukbaa

More info:

Published by: cilukbaa on Dec 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/26/2013

pdf

text

original

PSIKOLOGI KOGNITIF PENALARAN

Disusun Oleh: Afifah Gilang Raka Pratama M. Syifaul Qulub Reza Inspirawan IV A

FAKULTAS PSIKOLOGI UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2009

BAB I PENDAHULUAN .

Sementara itu. 1988). kerana memang beberapa bentuk penalaran biasanya merupakan bagian dari pemecahan masalah itu sendiri (Ellis dan Hunt.BAB II PEMBAHASAN A. Studi-studi tentang penalaran secara historis berhubungan langsung dengan studistudi mengenai logika. Penalaran dan Logika Studi mengenai penalaran (reasoning) berkaitan erat dengan bagaimana manusia mencapai kesimpulan-kesimpulan tertentu baik dari premis langsung maupun tidak langsung. atau secara logika dikatakan sebagai argumen shahih ataupun tidak shahih. aturan-aturan ini merupakan pernyataan yang menentukan kesimpulankesimpulan tertentu yang mencerminkan kebenaran premis-premis yang mendahului kesimpulan itu. dan mengevaluasi apakah kesimpulan yang dihasilkan itu valid atau tidak valid. berpikir adalah proses umum untuk mempertimbangkan berbagai isu di dalam pikiran manusia. logika adalah suatu sistem berpikir formal yang di dalamnya terdapat seperangkat aturan atau prinsip untuk menarik kesimpulan yang shahih dari premis-premis yang menjadi sumbernya. Eysenck (1984) mengatakan bahwa yang pokok di dalam sistem logika ialah seperangkat prinsip-prinsip atau aturan-aturan mengenai penarikan kesimpulan (inferensi). Kesimpulannya. Kesimpulan logis atau tidak logis secara tidak langsung sangat tergantung pada keshahihan argumentasinya. 1993). Penalaran terlibat di dalam proses pemecahan masalah. mencoba untuk memahami baik dan yang jelek. Studi-studi tentang logika yang merupakan bagian dari filsafat dan matematika. Logika Menurut Solso (1988) logika adalah ilmu pengetahuan tentang berpikir. Titik berat dari penalaran adalah bagaimana sesorang menarik suatu kesimpulan. Hampir semua orang sependapat bahwa penalaran dan pemecahan masalah meruapakn komponen penting dari intelegensi manusia (Solso. Di sana terlihat bahwa ia tidak secara jelas menguraikan aspek-aspek apa yang dikaji oleh logika ilmu berpikir. a. Contoh: ”Semua manusia tentu akan mati” ”Sania adalah manusia” Jadi ” Sania tentu akan mati juga” .

Penalaran deduktif sebagaimana dicontohkan itu. B. kemudian menentukan kesimpulan-kesimpulan. bahwa penalaran yang melibatkan pencapaian kesimpulan yang didasarkan atas asumsi-asumsi yang diketahui kebenarannya disebut penalaran deduktif.Kesimpulan yang diturunkan dari premis-premis atau pangkal pikir akan sedemikian rupa. Penalaran penalaran atau sering juga disebut jalan pikiran. b. Contoh penalaran silogisme linier: Maman lebih tinggi daripada Ja’far Ja’far lebih tinggi daripada Hamdan Jadi. Lebih lanjut Ellis dan Hunt (1993) memberikan penjelasan secara singkat. Beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa penalaran ialah suatu proses kognitif dalam menilai hubungan di antara premis-premis yang akhirnya menuju pada penarikan kesimpulan tertentu. penalaran induktif dan penalaran deduktif. maka kesimpulan yang mengikutinya juga benar. Menurut Soekadijo (1988) penalaran adalah aktivitas menilai hubungan proposisi-proposisi yang disusun di dalam bentuk premis-premis. Penalaran yang menghasilkan kesimpulan yang tidak lebih luas daripada premis-premisnya disebut penalaran deduktif. Sesungguhnya banyak pemikir berpendapat bahwa manusia seringkali tidak logis di dalam bernalar mengenai sesuatu hal atau kejadian tertentu. Maman lebih tinggi daripada Hamdan (1) (2) (3) Jika diasumsikan bahwa pernyataan pertama dan kedua benar. Meskipun sistem logika memberikan aturan-aturan bagi penalaran yang benar. namun tidak dapat menggambarkan secara tepat bagaimana kebanyakan orang bernalar di dalam kehidupan sehari-hari. Penalaran yang menghasilkan kesimpulan lebih luas daripada premis-premisnya disebut penalaran induktif. Jenis Keterampilan Penalaran Secara umum penalaran dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar. melibatkan pencapaian suatu kesimpulan yang didasarkan atas asumsi-asumsi umum atau premis- . sehingga di dalamnya tampak terpolakan oleh aturan-aturan yang logis. menurut Keraf (1991) adalah suatu proses berpikir yang berusaha menghubungkan fakta-fakta yang diketahui menuju satu kesimpulan. Pendapat serupa juga diberikan oleh Kafie (1989) bahwa penalaran merupakan jalan pikiran (proses) ketika orang akan mengambil kesimpulan tertentu.

yakni analogi hubungan sebabakibat. apa yang dikemukakan oleh Sternberg itu dapat ditambahkan lagi. karena masih memungkinkan orang lain menambahkan jenis penalaran lain di dalamnya. dan hubungan bagian-keseluruhan. yang di dalamnya tidak memiliki sub bagian yang lebih kecil seperti hal nya pada penalaran analogi-induktif. Penalaran deduktif terbagi ke dalam dua kelompok: silogisme kategorik dan silogisme linier. Sebaliknya.Klasifikasi C. Ternyata memang demikian. Suatu induksi merupakan suatu yang cenderung dibenarkan atas dasar pengalaman yang lalu. Jika aturan-aturan logika deduktif diikuti. Penalaran Deduktif Penalaran deduktif adalah suatu proses berpikir yang menghasilkan informasi baru berdasarkan informasi lama (yang tersimpan dalam ingatan). yakni penalaran kondisional yang oleh para ahli dimasukkan ke dalam penalaran deduktif seperti Overton. Penalaran deduktif bertujuan . yaitu penalaran kondisional (proporsional). atau disebut juga keterampilan intelektual yang didasarkan atas teori sub-komponen dan tinjauan pemprosesan informasi kognitif ditinjau dari kawasan tugas. sedang analogi terdiri dari dua sub bagian. tetapi tentu tidak menjamin hal tersebut benar secara mutlak. dan O’Brien. Keterampilan Penalaran Penalaran Induktif Penalaran Deduktif Analogi Hubungan Sebab akibat Analogi Total+asosiasi Penalaran Silogisme Kategorik Silogisme Penalaran Linier Kondisional Hubungan bagian. Stenberg membagi keterampilan penalaran. Penalaran induktif terdiri atas dua kelompok: analogi. Dengan demikian. asosiasi. Black.premis yang shahih. keterampilan penalaran dibedakan menjadi dua: penalaran induktif. dan penalaran deduktif. maka kesimpulan deduktif harusnya dianggap shahih. Sternberg sendiri menamakan struktur pembagian keterampilan penalaran itu sebagai sesuatu yang tidak lengkap. Noveck. dan klasifikasi. penalaran induktif adalah suatu proses penarikan kesimpulan berdasarkan atas kejadian-kejadian khusus. ada jenis penalaran lain yang belum termasuk pembagian menurut Sternberg.

Oleh karena terdasapat masalah yang kontroversial berkaitan dengan fenomena penalaran deduktif. 1. Setiap penalaran memiliki aturan-aturan penyimpulan tersendiri yang berbeda satu dengan yang lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpulan yang meminta konstruksi hanya satu model akan lebih mudah daripada yang melebihi satu model. dan Tabossi (1989) terdapat tiga pandangan pokok yang diajukan baik di dalam psikologi kognitif maupun intelegensi buatan. a. 3. Selama satu dasawarsa terakhir para peneliti lebih . Orang-orang dibimbing oleh skema penalaran pragmatis. lalu dikaitkan dengan pengembangan sistem hasil. Byrne. penalaran dua dimensi hubungan spatial.untuk menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang shahih. (2) aturan formal penyimpulan digunakan untuk melahirkan kesimpulan-kesimpulan. Contoh skema ”keperbolehan”. Teori Model Mental Teori ini memiliki asumsi bahwa model-model mental mempunyai struktur yang sama seperti situasi-situasi yang direpresentasikan. 2. maupun penalaran proporsional. Teori aturan Formal Menurut teori aturan formal beranggapan bahwa mekanisme penarikan kesimpulan meliputi langkah-langkah: (1) seseorang harus membentuk seperti pada model logika mengenai premis-premis. Teori model mental telah berhasil diuji oleh Johnson-Laird dan kawan-kawan (1989) baik dalam bentuk premis kuantifikasi tunggal (misalnya. beberapa penelitian juga masih terus dilakukan oleh para ahli. Studi-studi tentang penalaran deduktif yang mendasarkan pada mekanisme mental hampir sama tua dengan psikologi eksperimen. atau konklusi-koklusi yang benar berdasarkan premis-premis atau pengamatan yang mendahuluianya. semua psikolog adalah eksperimental). Teori Aturan Khusus Isi Gagasan mengenai aturan khusus isi untuk penarikan kesimpulan pertama kali diajukan dalam konteks intelegensi buatan atau tiruan. suatu aturan umum yang dipakai untuk sekelompok tujuan khusus. dan membuat interpretasi di dalam bahasa internal sehingga melahirkan struktur sinteksis. Teori Penarikan Kesimpulan Menurut Johnson-Laird. jika prakondisi B tidak terpuaskan maka tindakan A harus tidak dilakukan. jika tindakan A dilakukan maka prakondisi B harus dipuaskan.

Silogisme Kategorik Silogisme katagorik adalah suatu bentuk formal dari deduksi yang terdiri atas proposisi-proposisi kategorik. Harimau lebih besar daripada kucing. Silogisme kategorik mencakup tiga langkah: premis major. Bentuk Dasar Silogisme Kategorik Premis major Premis minor Kesimpulan Semua M adalah P Semua S adalah M Semua S adalah P Semua buruh adalah pekerja Semua tukang batu adalah buruh Semua tukang batu adalah pekerja Jenis kalimat yang digunakan di dalam silogisme kategorik A Semua S adalah P Semua psikolog adalah jujur B I O Tidak ada S adalah P Beberapa S adalah P Beberapa S adalah bukan P Tidak ada pelajar adalah guru Beberapa pelajar adalah mahasiswa Beberapa ilmuan adalah bukan pelajar c. Pernyataan kedua sebagai premis minor. b. Bentuk silogisme linier biasanya digunakan dengan lebel seperti: A > B dan B > C (A lebih besar daripada B. Contoh: (1) Gajah kebih besar daripada harimau. dan kesimpulan Contoh: Semua pahlawan adalah orang berjasa Kartini adalah seorang pahlawan Jadi. Binatang apa yang paling besar? . pertanyaan pertama merupakan premis major atau proposisi universal. sedangkan pernyataan ketiga adalah kesimpulan yang diturunkan dari premis pertama dengan bantuan dari pernyataan kedua. Silogisme Linier Silogisme Linier didefinisikan sebagai suatu sistem penarikan kesimpulan melalui dua premis atau lebih yang menggambarkan adanya hubungan diantara bagianbagian dari satu premis dengan premis lainnya.mencurahkan perhatiannya pada bagaimana pemprosesan informasi ketika orangorang sedang bernalar. B lebih besar daripada C). Kartini adalah orang yang berjasa (1) (2) (3) Pada contoh. sehingga menghasilkan kesimpulan menurut aturan-aturan penalaran tertentu. premis minor.

maka ia kaya Johan kaya Oleh karena itu. maka ”q” yang menjadi implikasi atau kesimpulannya. . karena menggunakan kalimat bersyarat ”jika. maka ia kaya Johan Cerdas Oleh karena itu. sebab kesalahan logika sering dibuat seseorang baik dalam kehidupan sehari-hari maupun aktivitas ilmiah. Jika Johan cerdas. bukan q maka tidak p” sebagai hubungan antesedan dan konsekuen.Bagian premis yang tumpang tindih pada contoh adalah ”harimau”. Johan cerdas Jika Johan cerdas. Contoh: Jika saya haus maka saya minum Saya haus Oleh sebab itu. p maka q:. saya minum p p q q Aturan penalaran ini dapat juga diterangkan dengan simbol: ”jika p maka q.q -q -p p–q q p p–q Tidak Shahih Shahih Shahih 2. Argumen nomer 3 merupakan kasus yang sangat menarik. jika Johan cerdas. 3. maka ia kaya 4. Penalaran ini sering juga disebut penalaran kondisional atau penalaran probabilistik. Untuk dapat menjawab pertanyaan diatas. Argumen Modus Ponen bagi Penalaran Kondisional 1. Johan kaya Jika Johan cerdas. dalam contoh adalah “gajah dan kucing”. Johan tidak cerdas . Argumen 3 dan 4 adalah contoh penyimpulan yang tidak shahih (invalid). d. yakni didasarkan pada modus ponen dan kontra positif atau aturan modus tollen.. juga terdapat kata sifat penghubung yang membandingkan bagianbagian di dalam suatu premis yang digunakan juga pada premis yang lain secara sejajar. dan ketika diketahui ”p”.maka”. dan ”jika p maka q. terlebih dahulu seseorang harus mencapai kesimpulan yang menghubungkan antara bagian dari satu premis dengan premis lain yang tidak tumpang tindih. Argumen 1 dan 2 merupakan contoh penarikan kesimpulan yang shahih (valid). Penalaran Proporsional Pada penalaran proporsional semua proposisi direpresentasikan melalui simbol: ”p dan q”.. Pada penalaran ini selain adan bagian tertentu yang tumpang tindih diantara premis-premisnya.p – q p p -. maka ia kaya Johan tidak cerdas Oleh karena itu. Terdapat empat jenis pokok dari argumen modus ponen seperti contoh pada tabel.

semuanya merupakan contoh-contoh penalaran induktif. dan Kunda. Jepson. Penalaran Klasifikasi Sebagai salah satu bentuk penalaran induktif. Pada generalisasi induktif seharusnya lebih meyakinkan seandainya generalisasi didasarkan pada jumlah contoh yang lebih besar dan juga bukan contoh yang menyimpang. D. Pembentukan konsep. Misalnya konsep-konsep seharusnya dapat dilihat dan diterapkan dengan lebih meyakinkan apabila konsep-konsep itu memakai jarak yang sempit di antara objek-objek yang didefinisikan secara jelas daripada konsepkonsep yang memakai jarak yang luas. Krantz. Penalaran Induktif Nisbett. pengujian hipotesis. generalisasi contoh-contoh. semua keluarga saya adalah sarjana UGM . dan prediksi (Nisbett. a. generalisasi. 1983).Johan tidak cerdas Oleh karena itu. beraneka ragam. Penalaran induktif harus memenuhi prinsip-prinsip statistik tertentu. Contoh: Adik saya adalah sarjana ekonomi UGM Kakak saya adalah sarjana psikologi UGM Saya sendiri adalah sarjana tekhnik UGM Jadi. Krantz. Suatu prediksi seharusnya menjadi lebih dapat dipercaya apabila didasarkan pada korelasi yang tinggi antara dimensi-dimensi dari prediksi yang dibuat. Johan tidak kaya -p -q Tidak Shahih Banyak penalaran ilmiah yang melibatkan tindakan prediksi dari sebuah teori. juga seharusnya pertanyaan lebih ditunjukan kepada variabilitas yang tinggi. Jepson. Penalaran induktif dapat menjadi benar jika memenuhi tiga kriteria: prinsip statistik. dan didefinisikan secara tidak jelas yang dapat dikacaukan dengan objek di luar konsep itu. dan pembuatan keputusan tertentu apabila hasil penelitian ternyata mendukung teori itu. dan tindakan membuat prediksi. dan Kunda (1983) berargumentasi bahwa penalaran induktif merupakan aktivitas manusia dalam pemecahan masalah yang memiliki arti sangat penting dalam kehidupan sehari-hari dan berada dimana-mana. penalaran klasifikasi merupakan suatu proses penarikan kesimpulan umum yang diturunkan dari beberapa contoh objek atau peristiwa khusus yang serupa. Penalaran ini sering disebut generalisasi induktif.

apa yang dialami oleh A dan B sebagai penderita penyakit kanker akibat kebanyakan merokok. prinsip. juga diberlakukan pada C yang memiliki kebiasaan serupa. lalu terkena penyakit kanker C kebanyakan merokok Jadi. Penalaran analogi termasuk jenis penalaran yang banyak diteliti para ahli psikologi kognitif baik yang menyangkut proses maupun strategi berpikir analogis. penyusunan teori. . Penalaran Analogi Analogi atau sering disebut analogi induktif adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari dua peristiwa khusus yang mirip satu sama lain. b. atau hipotesis. tanpa dibuktikan terlebih dahulu. Penalaran analogi menurut Sternberg (1977) dapat menembus ke dalam kehidupan sehari-hari.Hasil penalaran generalisasi induktif juga disebut generalisasi. 1991). Contoh: A kebanyakan merokok. Di bidang pendidikan dan pengajaran. Spearman meyakini bahwa dapat dipastikan jika tes-tes analogi disusun dan digunakan secara tepat akan memiliki korelasi dengan semua faktor ”g” (IQ). Penalaran ini terutama digunakan untuk menemukan hukum. lalu terkena penyakit kanker B kebanyakan merokok. 1991). analogi merupakan suatu alat pengajaran yang sangat berguna karena dapat mendorong transfer atau mapping tentang hubunganhubungan abstrak di antara kawasan pengetahuan yang telah dikenal dengan pengetahuan yang kurang dikenal atau baru yang menjadi kawasan target (Zook dan Di Vesta. kemudian menyimpulkan bahwa apa yang berlaku bagi peristiwa yang satu akan berlaku juga bagi yang lain (Keraf. Raven juga berpendapat serupa bahwa penalaran analogi merupakan pusat dari inteligensi manusia. yakni kebanyakan merokok. Kemampuan intelektual yang didefinisikan sebenarnya serupa dengan kemampuan bernalar analogis. Psikologi diferensial sudah lama mengenal hubungan erat antara penalaran analogi dengan inteligensi. karena melibatkan kesadaran individu mengenai hubungan-hubungan di antara ciri-ciri tertentu yang dialami. Seseorang menggunakan penalaran analogi ketika ia membuat keputusan tentang suatu hal yang baru di dalam pengalamanya melalui penarikan kesimpulan yang sejajar dengan sesuatu yang lama. C juga terkena penyakit kanker Pada contoh itu.

Pada analogi hubungan sebab-akibat. mengenai kemampuan penalaran mereka setelah mengikuti program ppada bidang pendidikan selama empat tahun. dan psikologi.68.Hasil penelitian Sternberg (1977) menemukan hubungan antara faktor ”g” atau general intelligent dengan skor penalaran analogi sebagai berikut: people-piece 0. Ia lebih lanjut menyimpulkan bahwa penalaran analogi dapat menjadi ukuran yang diandalkan bagi inteligensi umum. analogi verbal 0. untuk ilmu pengetahuan alam mencakup biologi. Penalaran analogi dibedakan menjadi dua bagian.87. Berbagai bidang studi yang dipilih mahasiswa dikategorikan menjadi: ilmu sosial. ekonomi. dan bidang kimia untuk kategori ilmu pengetahuan deterministik. ilmu politik. . sosiologi. Penelitian Longitudinal yang dilakukan oleh Lehman dan Nisbet (1990) terhadap mahasiswa-mahasiswa program pendidikan sarjana muda atau setara dengan S1 di Indonesia. dan Nisbet (1988) meneliti pengaruh berbagai bidang ilmu yang diajarkan pada pendidikan Program Master terhadap kemampuan penalaran mahasiswa.74. Mahasiswa-mahasiswa yang telah belajar baik dibidang ilmu pengetahuan probabilistik maupun non ilmu pengetahuan mengalami peningkatan kemampuan penalaran kondisional. seseorang menganalogikan dua hal atau kejadian yang serupa menurut sifat-sifat tertentu berdasarkan struktur hubungan sebab-akibat. dan analogi geometrik 0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang telah belajar ilmu pengetauan probabilistik mengalami peningkatan pada kemampuan penalaran statistik dan metodologis. yang meliputi antropologi. yaitu analogi hubungan sebab-akibat. Lempert. sebab banyak aspek inteligensi yang tercakup di dalamnya. Analogi hubungan bagian-total atau bagian keseluruhan ialah proses penyimpulan yang mempersamakan dua kejadian yang sebenarnya berbeda. Pendidikan dan Pelatihan Penalaran a. Bagi mahasiswa yang telah belajar dibidang ilmu pengetahuan deterministik(kimia) tidak mengalami peningkatan apapun dari ketiga penalaran tersebut. Pendidikan dan Kemampuan Penalaran Lehman.bidang kedokteran dan psikologi untuk kategori ilmu pengetahuan probabilistik. Berbagai bidang itu dikategorikan menjadi: bidang hukum termasuk kategori non-ilmu pengetahuan. dan hubungan bagian keseluruhan + asosiasi. karena keduanya memiliki kesamaan sifat-sifat tertentu menurut strukrur hubungan bagiankeseluruhan E.

Misalnya seseorang terampil menarik kesimpulankesimpulan secara induktif karena ia menguasai prinsip-prinsip penalaran induktif. Perbedaan pengaruh di antara berbagai bidang ilmu pengetahuan yang diajarkan disebabkan oleh perbedaan sistem masing-masing ilmu pengetahuan dan penekanannya.sehingga seseorang atau sekelompok orang menjadi lebih terampil didalam menarik kesimpulan menurut prinsip-prinsip penalaran. Suharnan dan Wirawan (1993) telah mengadakan penelitian eksperimental untuk mengetahui pengaruh pelatihan penalaran terhadap keterampilan belajar konsep. pelatihan penalaran tidak ditujukan untuk mengajarkan pengetahuan atau teori tentang prinsip-prinsip penalaran tertentu tetapi lebih menekankan pada penguasaan prinsip-prinsip itu dan penerapannya. Berdasarkan analisi data tentang nilai atau skor yang diperoleh mereka selama mengikuti pelatihan. Subjek eksperimen adalah siswa sekolah SMA. Temuan-temuan itu dapat disimpulkan bahwa suatu program pendidikan yang diikuti oleh seseorang berpengaruh terhadap kemampuan penalaran tertentu. menunjukkan bahwa siswa-siswa mengalami peningkatan keterampilan penalaran secara signifikan.kimia. mikrobiologi dan fisika. b. sejarah. Program pendidikan dibidang ilmu pengetahuan alam dan humanistik berpengaruh terhadap kemampuan penalaran kondisional mengenai masalah sehari-hari sedangkan pada ilmu sosial tidak berpengaruh sama sekali. untuk humanistik meliputi komunikasi. Seseorang terampil menarik kesimpulan-kesimpulan secara deduktif. karena ia menguasai prinsip-prinsip penalaran deduktif. bahasa inggris. Mereka dibagi menjadi 2 kelompok: kelompok pertama adalah siswa-siswa yang diberi latihan penalaran induktif.dan kelompok kedua diberi latihan penalaran deduktif.bidang ilmu pengetahuan alam dan humanistik pengaruhnya sangat kecil terhadap kedua penalaran ini meskipun tetap ada. . Adapun yang dimaksud dengan pelatihan penalaran adalah serangkaian tugas mengerjakan soal-soal atau problem-problem penalaran yang dilakukan secara berulang-ulang. jurnalistik. Dengan demikian. dan filsafat. Penelitian ini menemukan bahwa pendidikan dan pelatihan pada bidang ilmu-ilmu sosial mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kemampuan penalaran metodologi dan statistik. Sementara itu. baik mereka yang tergabung dalam kelompok deduktif atau induktif. Pelatihan Penalaran Penalaran merupakan kemampuan berpikir atau keterampilan intelektual yang dapat ditingkatkan melalui pelatihan secara langsung dan intensif. ilmu bahasa.

Berdasarkan hasil-hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa keterampilan penalaran yang merupakan bagian penting dari kemampuan berpikir atau intelektual dapat ditingkatkan melalui serangkaian pelatihan yang secara sengaja dirancang untuk itu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mereka mengalami kenaikan kemampuan berpikir induktif dibandingkan dengan kelompok kontrol. Berdasarkan hasil penelitian ini dan sebelumnya. ia menyimpulkan bahwa program pelatihan berpikir atau penalaran induktif dapat dilakukan secara efektif kepada anak-anak yang memiliki kemampuan intelektual tinggi ataupun rerata/biasa.Klauer (1996) mengadakan penelitian eksperimental dengan tujuan melatih anak-anak yang memiliki kemampuan intelektual tinggi (IQ 115-139) untuk meningkatkan kemampuan berpikir induktif mereka. . Dengan demikian tidak alasan yang cukup kuat bagi seseorang untuk mengatakan bahwa keterampilan intelektual manusia tidak dapat ditingkatkan.

Hal ini disebabkan oleh sistem yang berlaku pada disiplin ilmu yang diajarkan pada program studi itu. . Misalnya. maka mereka harus diberikan banyak tugas mengerjakan soal-soal penalaran induktif. • Secara garis besar penalaran dibagi menjadi dua macam: penalaran induktif dan penalaran deduktif. jika diharapkan anak-anak di sekolah memiliki keterampilan penalaran induktif. bermula dari hal-hal khusus menuju pada kesimpulan umum atau sejajar. logika merupakan bagian penting dari proses berpikir dan pemecahan masalah. Sementara itu. sementara penalaran deduktif bermula dari halhal yang umum menuju kesimpulan yang khusus • Suatu program pendidikan (studi) yang ditempuh seseorang dapat mempengaruhi kemampuan atau keterampilan penalaran tertentu. yang ketiganya tidak dapat dipisahkan antara satu sama lainnya. Penalaran induktif. • Keterampilan penalaran baik penalaran induktif maupun penalaran deduktif dapat ditingkatkan melalui pelatihan-pelatihan yang dirancang untuk iyu.BAB III PENUTUP • Penalaran merupakan salah satu keterampilan intelektual penting dan biasanya menjadi bagian dalam sistem logika.

2006. Surabaya: Penerbit Srikandi Surajiyo. Psikologi Kognitif. Dasar-Dasar Logika. 2005.DAFTAR PUSTAKA Suharnan. dkk. Jakarta: Bumi Aksara .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->